Sampai matipun Fatimah tidak mau menerima Kekhalifahan Abubakar !!! Syi’ah Mencontoh Al Maksum Fatimah Karena itu Maqashid Asy Syariah

Bismihi Ta’ala

Allahumma bi haqqi Muhammad wa aali Muhammad, shalli ‘ala Muhammad wa aali Muhammad

Kenapa imam Ali  Membai’at  Abubakar  Didepan  Massa ( Orang Ramai ) ??? Abubakar  meraih peluang  besar ketika gelombang kemurtadan  dan penentangan  terhadap islam  melanda Hijaz… Kaum Muslimin  yang  tercekam  MENOLAK  BERPERANG MELAWAN Musailamah  Al  Kadzab  dan  KAUM  MURTAD    kecuali  Imam Ali membai’at  ABUBAKAR…

Sehingga Imam Ali  TERPAKSA  membai’at  Abubakar … Menentang  Abubakar  hanya akan membuat islam lenyap (punah) padahal  KAUM  MUSLiMiN  berkepentingan  menyelamatkan islam agar  langgeng … Jika Imam Ali Memerangi  Abubakar Maka Tidak Ada Lagi Islam Yang Tersisa

Sampai  matipun Fatimah tidak mau menerima Kekhalifahan Abubakar !!! Syi’ah Mencontoh  Al Maksum  Fatimah Karena itu Maqashid  Asy Syariah… Kenapa imam Ali Membai’at Abubakar Didepan Massa ( Orang Ramai ) ??? Abubakar meraih peluang besar ketika gelombang kemurtadan dan penentangan terhadap islam melanda Hijaz…

Kaum Muslimin yang tercekam MENOLAK BERPERANG MELAWAN Musailamah Al Kadzab dan KAUM MURTAD kecuali Imam Ali membai’at ABUBAKAR… Sehingga Imam Ali TERPAKSA membai’at Abubakar …

Menentang Abubakar hanya akan membuat islam lenyap (punah) padahal KAUM MUSLiMiN berkepentingan menyelamatkan islam agar langgeng … Jika Imam Ali Memerangi Abubakar Maka Tidak Ada Lagi Islam Yang Tersisa

Ulama sunni menyatakan  bahwa semua sahabat adalah adil!

Kata-kata itu adalah pembohongan dan rekaan belaka, bagaimana mungkin semua sahabat adil sedangkan Allah melaknati sebahagian mereka. Rasul sendiri telah melaknati sebahagian sahabatnya ! Sahabat pula saling melaknati sesama mereka, memerangi sesama mereka, mencaci sesama mereka dan membunuh sesama mereka bahkan ada yang menindas keluarga Nabi

Mazhab Syi’ah tidak menggugat semua sahabat. Ada sahabat-sahabat Nabi yang memang sangat kami hormati yaitu mereka yang Allah puji dalam Quran. Ayat ayat dalam Quran ini tentunya tidak meliputi semua sahabat. Tidaklah dapat dipahami jika Allah memberikan hak imunitas yang permanen kepada orang-orang yang telah berbuai baik sebelumnya, tetapi kemudian mereka menumpahkan darah ribuan kaum Muslimin sepeninggal Nabi Muhammad. Allah Maha Adil sehingga mustahil memberikan jaminan masuk surga pada sahabat yang berbuat jahat, menumpahkan orang – orang yang tidak berdosa. Jika tidak, maka Allah tidak adil.

Terjadi kekacauan definisi sahabat yang disusun para ulama hadis sehingga orang-orang yang sekadar hidup sezaman dan berada dilingkungan Nabi Muhammad saw, orang-orang yang mabuk tetapi pernah bertemu Nabi, mereka yang diusir Nabi, dan pembunuh pun disebut sahabat.

Rasulullah SAW tidak menjamin surga kepada Abubakar. Setelah beliau bersaksi tentang  para syuhada di perang uhud. Rasul saw kemudian berkata kepada Abubakar : “Sungguh aku   tidak tahu apa yang akan kau lakukan sepeninggalku”. Dan kemudian Abubakar menangis” (Referensi  Ahlusunnah : Imam Malik, dalam “Al-Muwatta’”, kitab “Jihad”)

Lihat juga [Q.S. Ali Imron 153], tentang kejadian perang Uhud dimana sebagian sahabat lari meninggalkan Rasul saww, sebagai berikut : “(Ingatlah) ketika kalian lari dan tidak menoleh kepada seorangpun, sedang Rasul yang berada di antara kawan-kawan kalian yang lain, memanggil kalian…”.

Bahkan termasuk Abubakar dan Umar juga lari dari perang Uhud tersebut. Dan mereka berdua (Abubakar dan Umar) juga lari dari perang Hunain dan Khaibar. Padahal Allah murka kepada mereka yang lari dari perang sebagaimana Firman-Nya pada [ Q.S. Al-Anfaal  15-16 ].

Ref. Ahlusunnah :

  1. Haikal, “Hayat Muhammad”, bab “perang uhud” dan “perang khaibar”.
  2. Al-Waqidi, dalam “Al-Maghazi”.
  3. 3.     Siroh Ibn Hisyam, Jilid 4, bab “Perang Uhud”.
  4. 4.     Ibn Hajar, dalam “Al-Ishobah”, jilid 3, hal. 108, pada muntakhab “Al-Isti’ab”.
  5. 5.     Siroh Al-Halabiyah, pada bab “Perang Hunain” dan “Perang Khaibar”.

dan lain-lain.

Banyak sejarah yang telah dimanipulasi untuk mengangkat derjat dan keutamaan beberapa “sahabat” Nabi. Padahal nyata nyata Allah mengancam menggugurkan amal Abubakar dan Umar. Allah berfirman dalam Q.S. Al-Hujurat  ayat 2,  tentang larangan untuk meninggikan suara melebihi   suara Rasul saw. Tuhan memperingatkan kepada Abubakar dan Umar supaya tidak lagi mengeraskan suaranya melebihi suara Nabi saw.

Asbabun nuzul Ayat ini adalah Abubakar dan Umar yang saling berdebat dengan suara keras dihadapan Rasul saw (Shahih Bukhari, juz 3, kitab “Al-Maghazi”, bab “Waqd Bani Tamim”)

Hasil yang sedemikian besar yang diperoleh dari Fadak jika digunakan oleh kubu Imam Ali maka akan menjadikan mereka sebagai oposisi yang tangguh

Di dalam kitab hadis Ahlus Sunnah, yaitu Sunan Abu Dawud, Jil. 3, hlm. 144, Dzikr Fa’i, tertulis : “Abu Dawud mengatakan bahwa ketika Umar bin Abdul ‘Aziz menjadi khalifah, pendapatan yang diperoleh dari tanah fadak adalah 40.000 Dinar.”

Di dalam Syarah Ibn Abil Hadid, Jil. 4, hlm. 108 tertulis : “Umar  (bin Khaththab) mengeluarkan orang-orang Yahudi dari tanah Fadak. Dan nilai tanah tersebut berikut kurmanya adalah 50.000 Dirham.”

Di antara lembaran hitam sejarah umat Islam yang tak dapat dipungkiri adalah terjadinya sengketa antara Fatimah as. –selaku ahli waris Nabi saw.dan Abu Bakar selaku penguasa terkait dengan tanah Fadak dan beberapa harta waris yang ditinggalkan Nabi saw.

Imam Ali as. menegaskan bahwa Abu Bakar telah berbohong dengan membawa-bawa hadis palsu atas nama Nabi saw tentang perkara kebun FADAK ! Di bawah ini kami sebutkan hadis riwayat Muslim dan Bukhari yang melaporkan pengaduan/sengketa di hadapan Umar –semasa menjabat sebagai Khalifah:

 “… Dan ketika Rasulullah saw. wafat, Abu Bakar berkata, ‘Aku adalah walinya Rasulullah, lalu kalian berdua (Ali dan Abbas) datang menuntut warisanmu dari anak saudaramu dan yang ini menuntut bagian warisan istrinya dari ayahnya. Maka Abu Bakar berkata, ‘Rasulullah saw. bersabda: “Kami tidak diwarisi, apa- apa yang kami tinggalkan adalah shadaqah.”, lalu kalian berdua memandangnya sebagai pembohong (kâdziban)., pendosa (atsiman), penipu (ghadiran) dan pengkhianat (khâinan). Demi Allah ia adalah seorang yang jujur, bakti, terbimbing dan mengikuti kebenaran. Kemudian Abu Bakar wafat dan aku berkata, ‘Akulah walinya Rasulullah saw. dan walinya Abu Bakar, lalu kalian berdua memandangku sebagai pembohong (kâdziban)., pendosa (atsiman), penipu (ghadiran) dan pengkhianat (khâinan)…. “ (HR. Muslim, Kitab al Jihâd wa as Sair, Bab Hukm al Fai’,5/152)

Secara tidak jujur maka Bukhari membuang redaksi tersebut yang merugikan kaum sunni dan menggantinya dengan lafaz: lalu kalian berdua memandangnya sebagai begini dan begitu “(HR. Bukhari,6/191, Kitab an Nafaqât/Nafkah, BabHabsu ar Rajuli Qûta Sanatihi / Seorang menahan kebuhutan pangan setahunya)

Tapi sayangnya, Imam Bukhari masih meninggalkan jejak dan dapat menjadi petunjuk yaitu pembelaan Umar atas dirinya dan juga atas Abu Bakar! Bukhari menyebutkan kata-kata Umar: Allah mengetahui bahwa ia adalah seorang yang jujur, bakti, terbimbing dan mengikuti kebenaran! Dan kata-kata itu dapat menjadi petunjuk awal bahwa apa yang dikatakan Ali dan Abbas paling tidak kebalikan darinya atau yang mendekati kebalikan darinya! Sebab apa latar belakang yang mengharuskan Umar mengatakan kata-kata tersebut andai bukan karena adanya tuduhan Ali dan Abbas ra. atas Abu Bakar dan Umar?!

Maka gugurlah usaha Bukhari agar kaum Muslimin tidak mengetahui kenyataan pahit di atas! Dan ini adalah salah satu bukti bahwa kebenaran/al Haq betapa pun ditutup-tutupi tetap Allah akan membongkarnya ! Maka jika demikian adanya, mungkinkah para imam dan tokoh ulama dari keturunan Imam Ali as. akan menyanjung Abu Bakar dan Umar, meyakininya sebagai dua imam pengemban hidayah, sebagai Shiddîq dan Fârûq dan memandang keduanya dengan pandangan yang berbeda dengan ayah mereka?

Sunni adalah mereka yang telah didoktrinisasikan bahawa semua sahabat adalah jujur dan adil serta Allah dan RasuNya meridhai mereka semua. Kelompok ini dalam rangka mengkultuskan seluruh sahabat, telah terjebak dengan tafsiran-tafsiran al-Quran yang disajikan oleh ulama-ulama mereka, mempedomani  ribuan hadis-hadis palsu keutamaan sejumlah sahabat yang semuanya saling berbenturan dengan al Quran, hadis-hadis sahih yang disepakati, maupun akal yang sihat.

Dalam Kitab Sunan Abu Dawud(klik) tercatat :

13 – أنه جاء هو وعثمان بن عفان يكلمان رسول الله صلى الله عليه وسلم فيما قسم من الخمس بين بني هاشم وبني المطلب فقلت يا رسول الله قسمت لإخواننا بني المطلب ولم تعطنا شيئا وقرابتنا وقرابتهم منك واحدة فقال النبي صلى الله عليه وسلم إنما بنو هاشم وبنو المطلب شيء واحد قال جبير ولم يقسم لبني عبد شمس ولا لبني نوفل من ذلك الخمس كما قسم لبني هاشم وبني المطلب قال وكان أبو بكر يقسم الخمس نحو قسم رسول الله صلى الله عليه وسلم غير أنه لم يكن يعطي قربى رسول الله صلى الله عليه وسلم ما كان النبي صلى الله عليه وسلم يعطيهم قال وكان عمر بن الخطاب يعطيهم منه وعثمان بعده

الراوي: جبير بن مطعم المحدث: الألباني – المصدر: صحيح أبي داود – الصفحة أو الرقم: 2978

خلاصة حكم المحدث: صحيح

Riwayat yang sama dari Sunan Abu Dawud No.2978 :

2978 – حدثنا عبيد الله بن عمر بن ميسرة ثنا عبد الرحمن بن مهدي عن عبد الله بن المبارك عن يونس بن يزيد عن الزهري قال أخبرني سعيد بن المسيب قال

« أخبرني جبير بن مطعم أنه جاء هو وعثمان بن عفان يكلمان رسول الله فيما قسم من الخمس بين بني هاشم وبني المطلب فقلت يا رسول الله قسمت لإخواننا بني المطلب ولم تعطنا شيئا وقرابتنا وقرابتهم منك واحدة فقال النبي ” إنما بنو هاشم وبنو المطلب شىء واحد ” قال جبير ولم يقسم لبني عبد شمس ولا لبني نوفل [ شيئا ] من ذلك الخمس كما قسم لبني هاشم وبني المطلب. قال وكان أبو بكر يقسم الخمس نحو قسم رسول الله غير أنه لم يكن يعطي قربى رسول الله ما كان النبي يعطيهم قال وكان عمر بن الخطاب يعطيهم منه وعثمان بعده. » 72

Telah menceritakan kepada kami Ubaidullah bin Umar bin Maisarah yang berkata telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi dari Abdullah bin Al Mubarak dari Yunus bin Yazid dari Az Zuhri yang berkata telah mengabarkan kepadaku Sa’id bin Musayyab yang berkata telah mengabarkan kepadaku Jubair bin Muth’im, bahwa ia bersama Utsman bin Affan datang untuk berbicara kepada Rasulullah (saww) tentang bagian khumus yang beliau bagikan diantara Bani Hasyim dan Bani al-Muththalib.

Kemudian aku berkata : “Wahai Rasulullah, anda telah membagi untuk saudara-saudara kami Bani Al Muththalib, dan anda tidak memberikan sesuatupun kepada kami, padahal kerabat kami dan kerabat mereka bagi anda adalah satu”.

Kemudian Nabi (saww) bersabda : “Sesungguhnya Bani Hasyim dan Bani al-Muththalib adalah satu.”

Jubair mengatakan Beliau tidak membagikan kepada Bani Abdu Syams dan Bani Naufal dari khumus tersebut sebagaimana beliau membagikan kepada Bani Hasyim dan Bani al-Muththalib.

Jubair berkata : “Abu Bakar membagikan khumus sebagaimana Rasulullah (saww) membagikannya hanya saja ia tidak memberikan (khumus) kepada kerabat (qurba) Rasulullah (saww), sebagaimana Rasulullah (saww) telah memberikan kepada mereka“.

Jubair berkata : Dan Umar bin  Khathab memberikan kepada mereka (kerabat Rasul saww) dari bagian tersebut begitu juga Utsman setelahnya”

Derajat HaditsShahih (klik)

.

“…..hanya saja ia (yaitu ABU BAKAR) tidak memberikan khumus kepada kaum kerabat (qurba) Rasulullah (saww), sebagaimana Rasulullah (saww) telah memberikan khumus kepada mereka

Seperti inikah yang dikatakan khalifah yang adil..??

Gembong Nashibi Ibn Taymiyah dalam Komik kebanggaan para Nashibi (LA) Minhaj As-Sunnah 8/291 (klik), mengatakan  :

وغاية ما يقال إنه كبس البيت لينظر هل فيه شيء من مال الله الذي يقسمه وأن يعطيه لمستحق

Tujuan dari apa yang dikatakan bahwa ia (abu bakar) mendobrak rumah (rumah Fathimah as) adalah untuk melihat jika disana ada harta Allah untuk disalurkan dan diberikan kepada yang layak menerimanya”

Masuk akalkah Ahlul Bait (as) menyimpan harta yang bukan miliknya alias harta ilegal..??  sehingga Abu Bakar mencari-carinya dan mendobrak rumah Fathimah (as) karena alasan tersebut?

0
inShare

Tindakan-tindakah khalifah Abu Bakar yang bertentangan dengan al-Qur’an dan Sunnah Nabi (Saw.) serta akal yang sejahtera melebihi 4 perkara sebagaimana dicatat oleh ulama Ahlus-Sunnah wa l-Jama’ah di dalam buku-buku mereka. Sekiranya mereka berbohong di dalam catatan mereka, maka merekalah yang berdosa dan dipertanggungjawabkan di
hadapan Allah (swt). Dan sekiranya catatan mereka itu betul, kenapa kita menolaknya dan terus memusuhi Sunnah Nabi (Saw.) yang bertentangan dengan tindakan Abu Bakar? Berikut dikemukakan sebagian dari tindakan khalifah Abu Bakar :

1.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi saw, niscaya mereka tidak melarang orang ramai dari menulis dan meriwayatkan Sunnah Nabi (Saw.) Tetapi Khalifah Abu Bakar telah melarang orang ramai dari menulis dan meriwayatkan Sunnah Nabi (Saw.) [al-Dhahabi, Tadhkirah al-Huffaz, I, hlm.3].

2.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak berpendapat bahwa Sunnah Nabi (Saw.) akan membawa perpecahan kepada umat, tetapi khalifah Abu Bakar berpendapat Sunnah Nabi (Saw.) akan membawa perselisihan dan perpecahan kepada umat. Dia berkata: “Kalian meriwayatkan dari Rasulullah (Saw.) hadits-hadits di mana kalian berselisih faham mengenainya. Orang ramai selepas kalian akan berselisih faham lebih kuat lagi.” [Al-Dhahabi, Tadhkirah al-Huffaz, I , hlm.3]

3.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi( Saw.), niscaya mereka meriwayatkan dan menyebarkan Sunnah Nabi (Saw.) di kalangan orang ramai,tetapi khalifah Abu Bakar melarang orang ramai dari meriwayatkannya. Dia berkata: “Janganlah kalian meriwayatkan sesuatu pun (syai’an) dari Rasulullah (Saw.)” [Al-Dhahabi, Tadhkirah al-Huffaz, I , hlm.3]

4.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak akan mengatakan bahwa Kitab Allah adalah cukup untuk menyelesaikan segala masalah tanpa Sunnah Nabi (Saw.), tetapi khalifah Abu Bakar berkata: “Kitab Allah dapat menyelesaikan segala masalah tanpa memerlukan Sunnah Nabi (Saw.)” Dia berkata: “Sesiapa yang bertanya kepada kalian, maka katakanlah: Bainana wa bainakum kitabullah (Kitab Allah di hadapan kita). Maka hukumlah menurut halal dan haramnya.”[Al-Dhahabi, Tadhkirah al-Huffaz, I , hlm.3]

Kata-kata Abu Bakar ini telah diucapkan beberapa hari selepas peristiwa Hari Khamis yaitu bertepatan dengan kata-kata Umar ketika dia berkata:” Rasulullah (Saw.) sedang meracau dan cukuplah bagi kita Kitab Allah (Hasbuna Kitabullah).” Lantaran itu sunnah Abu Bakar tadi adalah bertentangan dengan Sunnah Nabi yang dicatatkan oleh Ahlul Sunnah:”Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara sekiranya kalian berpegang kepada kedua-duanya niscaya kalian tidak akan sesat selama-lamanya ; Kitab Allah dan “Sunnahku.”

5.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak membakar Sunnah Nabi (Saw.), tetapi Khalifah Abu Bakar telah membakarnya. Oleh itu tidak heranlah jika Khalifah Abu Bakar tidak pernah senang hati semenjak dia mengumpulkan lima ratus hadits Nabi (Saw.) semasa pemerintahannya. Kemudian dia membakarnya pula. [al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal, V, hlm. 237]

Dengan ini dia telah menghilangkan Sunnah Rasulullah (Saw.). Oleh itu kata-kata Abu Bakar: “Janganlah kalian meriwayatkan sesuatupun dari Rasulullah (Saw.)” menunjukkan larangan umum terhadap periwayatan dan penulisan hadits Rasulullah (Saw,). Dan hal itu tidak boleh ditakwilkan sebagai berhati-hati atau mengambil berat atau sebagainya.

6.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka menyebarkan Sunnah Nabi (Saw.), dan menjaganya, tetapi khalifah Abu Bakar, melarangnya dan memusnahkannya (Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal,V,hlm. 237] Lantaran itu tindakan khalifah Abu Bakar adalah bertentangan dengan Sunnah Rasulullah (Saw.):”Allah memuliakan seseorang yang mendengar haditsku dan menjaganya, dan menyebarkannya. Kadangkala pembawa ilmu (hadits) membawanya kepada orang yang lebih alim darinya dan kadangkala pembawa ilmu (hadits) bukanlah seorang yang alim.”[Ahmad bin Hanbal, al-Musnad, I, hlm.437; al-Hakim, al-Mustadrak, I, hlm.78] Dan sabdanya “Siapa yang ditanya tentang ilmu maka dia menyembunyikannya, Allah akan membelenggukannya dengan api neraka.” [Ahmad bin Hanbal, al-Musnad, III, hlm.263]

7.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka berkata: “Kami perlu kepada sunnah Nabi (Saw.) setiap masa,” tetapi khalifah Abu Bakar dan kumpulannya berkata: “Kami tidak perlu kepada sunnah Nabi, karena kitab Allah sudah cukup bagi kita.” Dia berkata: “Sesiapa yang bertanya kepada kalian, maka katakanlah: Bainana wa bainakum kitabullah (Kitab Allah di hadapan kita). Maka hukumlah menurut halal dan haramnya.” [Al-Dhahabi, Tadhkirah al-Huffaz,I,hlm.3]

8.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka percaya bahwa taat kepada Nabi (Saw.) adalah taat kepada Allah sebagaimana firman-Nya di dalam Surah al-Nisa’(4) 80 : “Siapa yang mentaati Rasul, maka dia mentaati Allah”. Ini berarti siapa yang mendurhakai Rasul, maka dia mendurhakai Allah, tetapi khalifah Abu Bakar dan kumpulannya percaya sebaliknya ketika dia berkata: : “Sesiapa yang bertanya kepada kalian, maka katakanlah: Bainana wa bainakum kitabullah (Kitab Allah di hadapan kita). Maka hukumlah menurut halal dan haramnya.” [Al-Dhahabi, Tadhkirah al-Huffaz,I,hlm.3; al-Bukhari, Sahih, I, hlm. 36; Muslim, Sahih, III, hlm. 69) Baginya mendurhakai Nabi (Saw.) bukan berarti mendurhakai Allah.

9.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak bermusuhan dengan Ahlu l-Bait Nabi (Saw.), apa lagi mengepung dan coba membakar rumah anak perempuannya; Fatimah (a.s), tetapi mereka telah mengepung dan coba membakarnya dengan menyalakan api di pintu rumahnya.Khalifah Abu Bakar dan kumpulannya telah mengepung dan coba membakar rumah Fatimah al-Zahra’ sekalipun Fatimah, Ali, Hasan dan Husain (a.s) berada di dalamnya. Ini disebabkan mereka tidak melakukan bai’ah kepadanya. Khalifah Abu Bakar adalah di antara orang yang dimarahi Fatimah (a.s). Beliau bersumpah tidak akan bercakap dengan mereka sehingga beliau berjumpa ayahnya dan mengadu kepadanya. Al-Bukhari di dalam Sahihnya, IV, hlm.196 meriwayatkan dari Aisyah bahwa Fatimah tidak bercakap dengan Abu Bakar sehingga beliau meninggal dunia. Beliau hidup selepas Nabi saw wafat selama 6 bulan. [Al-Bukhari,Sahih ,VI,hlm.196; Ibn Qutaibah, al-Imamah Wa al-Siyasah ,I,hlm.14; Abu l-Fida, Tarikh,I,hlm.159; al-Tabari,Tarikh,III,hlm.159]

10.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak membawa Ali (a.s) di dalam keadaan lehernya terikat, tetapi khalifah Abu Bakar dan kumpulannya telah memaksa Ali a.s memberi baiah kepadanya di dalam keadaan lehernya terikat (Ibn Qutaibah, al-Imamah wa al-Siyasah , I ,hlm.18-20; al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-‘Ummal,iii,hlm.139;Abul-Fida,Tarikh,I,hlm.159; al- Tabari, Tarikh ,III , hlm.159].

Perlakuan sedemikian adalah menyalahi Sunnah Nabi (Saw.) yang bersifat lembut terhadap Ali (a.s) dan melantiknya sebagai khalifah selepasnya: “Siapa yang telah menjadikan aku maulanya,maka Ali adalah maulanya” dan ia adalah sejajar dengan tuntutan Ali a.s terhadap kedudukan khalifah.(al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi’ al-Mawaddah,hlm.144,al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-‘Ummal ,vi,hlm.2180)

11.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.) , niscaya mereka diizinkan untuk mengerjakan solat jenazah ke atas Fatimah (a.s), tetapi khalifah Abu Bakar dan kumpulannya tidak diizinkan oleh Fatimah (a.s) untuk mengerjakan solat ke atasnya. Beliau telah berwasiat kepada suaminya Ali (a.s) supaya Abu Bakar dan Umar tidak diizinkan mengerjakan solat ke atasnya. Karena perbuatan mereka berdua yang menyakitkan hatinya, khususnya mengenai Fadak [Al-Bukhari, Sahih ,VI, hlm.196; Ibn Qutaibah, al-Imamah Wa al-Siyasah ,I,hlm.14; Abu l-Fida, Tarikh, I ,hlm.159;al-Tabari, Tarikh,III,hlm.159]. Nabi (Saw.) bersabda:” Sesungguhnya Allah marah kepada kemarahanmu (Fatimah) dan ridha dengan keridhaanmu.” [Al-Hakim, al-Mustadrak, III, hlm.153; al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal, VII, hlm.219]

12.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.) , niscaya mereka tidak dirahasiakan tentang makam Fatimah (a.s), tetapi Abu Bakar dan kumpulannya telah dirahasiakan tentang lokasi makam Fatimah (a.s),karena Fatimah (a.s) berwasiat kepada suaminya supaya merahasiakan makamnya dari mereka berdua. Nabi (Saw.) bersabda:” Sesungguhnya Allah marah kepada kemarahanmu (Fatimah) dan ridha dengan keridhaanmu.” [Al-Hakim, al-Mustadrak, III, hlm.153; al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal, VII, hlm.219]

13.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak mencaci Ali dan Fatimah a.s, tetapi Khalifah Abu Bakar telah mencaci Ali (a.s) dan Fatimah (a.s) sebagai musang dan ekornya. Bahkan beliau mengatakan Ali (a.s) seperti Umm al-Tihal (seorang perempuan pelacur) karena menimbulkan soal tanah Fadak. Kata-kata ini telah diucapkan oleh Abu Bakar di dalam Masjid Nabi (Saw.) selepas berlakunya dialog dengan Fatimah (a.s) mengenai tanah Fadak. Ibn Abi al-Hadid telah bertanya gurunya, Yahya Naqib Ja’far bin Yahya bin Abi Zaid al-Hasri, mengenai kata-kata tersebut:”Kepada siapakah hal itu ditujukan?”Gurunya menjawab:”hal itu ditujukan kepada Ali AS.” Kemudian ia bertanya lagi:”Adakah ia ditujukan kepada Ali?” Gurunya menjawab:”Wahai anakku inilah artinya pemerintahan dan pangkat duniawi tidak mengira kata-kata tersebut.”[Ibn Abi al-Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah,IV,hlm.80] . Kata-kata Abu Bakar adalah bertentangan dengan firman-Nya:”Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bayt dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.”[Surah al-Ahzab (33):33] Fatimah dan Ali AS adalah Ahlul Bayt Rasulullah SAW yang telah disucikan oleh Allah SWT dari segala dosa. Rasulullah SAW bersabda:”Kami Ahlul Bayt tidak boleh seorangpun dibandingkan dengan kami.”[Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi’ al-Mawaddah,hlm.243]

14.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak menghentikan pemberian khums kepada keluarga Nabi saw, tetapi Khalifah Abu Bakar telah menghentikan pemberian khums kepada keluarga Rasulullah (Saw.). Ijtihadnya itu adalah bertentangan dengan Surah al-Anfal (8):41 “Ketahuilah,apa yang kamu perolehi seperlima adalah untuk Allah,Rasul-Nya,Kerabat,anak-anak yatim,orang miskin,dan orang musafir” dan berlawanan dengan Sunnah Rasulullah (Saw.) yang memberi khums kepada keluarganya menurut ayat tersebut. [Lihat umpamanya al-Zamakhsyari, al-Kasysyaf ,II,hlm.127]

15.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak mengambil kembali Fadak dari Fatimah (a.s) ,tetapi Khalifah Abu Bakar dan kumpulannya telah mengambil kembali Fadak dari Fatimah (a.s) selepas wafatnya Nabi (Saw.).Khalifah Abu Bakar memberi alasan “Kami para nabi tidak meninggalkan pusaka, tetapi apa yang kami tinggalkan ialah sedekah.” Hujah yang diberikan oleh Abu Bakar tidak diterima oleh Fatimah dan Ali (a.s) karena hal itu bertentangan dengan beberapa ayat al-Qur’an seperti berikut:

a) Firman-Nya yang bermaksud ‘Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka) untuk anak-anakmu.”[Surah an-Nisa (4):11] Apa yang dimaksudkan dengan ‘anak-anak’ ialah termasuk anak-anak Nabi (Saw.).

b) Firman-Nya yang bermaksud:”Dan Sulaiman telah mewarisi Daud.”(Surah al-Naml:16). Maksudnya Nabi Sulaiman (a.s) mewarisi kerajaan Nabi Daud (a.s) dan menggantikan kenabiannya.

c) Firman-Nya yang bermaksud:”Maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putra yang akan mewarisiku dan mewarisi sebagian keluarga Ya’qub dan jadikanlah ia, ya Tuhanku seorang yang diridhai.”(Surah Maryam:5-6)

Ketiga-tiga ayat tadi bertentangan dengan dakwaan Abu Bakar yang berpegang dengan hadits tersebut. Dan apabila hadits bertentangan dengan al-Qur’an, maka hal itu (hadits) mestilah diketepikan.

d) Kalau hadits tersebut benar, ia berart Nabi (Saw.) sendiri telah cuai untuk memberitahu keluarganya mengenai Fadak dan hal itu bercanggah dengan firman-Nya yang bermaksud:”Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.”(Surah al-Syua’ra:214)

e) Hadits tersebut hanya diriwayatkan oleh Abu Bakar sahaja dan hal itu tidak boleh menjadi hujah karena Fatimah dan Ali (a.s) menentangnya. Fatimah (a.s) berkata:”Adakah kamu sekarang menyangka bahwa aku tidak boleh menerima pusaka, dan adakah kamu menuntut hukum Jahiliyyah? Tidakkah hukum Allah lebih baik bagi orang yang yakin. Adakah kamu wahai anak Abi Qahafah mewarisi ayah kamu sedangkan aku tidak mewarisi ayahku? Sesungguhnya kamu telah melakukan perkara keji.” (Lihat Ahmad bin Tahir al-Baghdadi, Balaghah al-Nisa’,II,hlm.14;Umar Ridha Kahalah, A’lam al-Nisa’,III,hlm.208; Ibn Abi al-Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah,IV, hlm.79,92)

f) Fatimah dan Ali (a.s) adalah di antara orang yang disucikan Tuhan di dalam Surah al-Ahzab:33, dan dikenali juga dengan nama Ashab al-Kisa’. Dan termasuk orang yang dimubahalahkan bagi menentang orang Nasrani di dalam ayat al-Mubahalah atau Surah Ali Imran:61. Adakah wajar orang yang disucikan Tuhan dan dimubahalahkan itu menjadi pembohong, penuntut harta Muslimin yang bukan haknya?

g) Jikalau dakwaan Abu Bakar itu betul hal itu bermakna Rasulullah (Saw.) sendiri tidak mempunyai perasaan kasihan belas sebagai seorang ayah terhadap anaknya. Karena anak-anak para nabi yang terdahulu menerima harta pusaka dari ayah-ayah mereka.

Kajian mendalam terhadap Sirah Nabi (Saw.) dengan keluarganya menunjukkan betapa kasihnya beliau terhadap mereka khususnya, Fatimah sebagai ibu dan nenek kepada sebelas Imam AS. Beliau bersabda:”Sesungguhnya Allah marah karena kemarahanmu (Fatimah ) dan ridha dengan keridhaanmu.” [Al-Hakim, al-Mustadrak, III , hlm.153; Ibn al-Athir, Usd al-Ghabah, hlm.522; al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal,VI, hlm.219;Mahyu al-Din al-Syafi’i al-Tabari, Dhakhair al-Uqba,hlm.39] Khalifah Abu Bakar dan Umar adalah di antara orang yang dimarahi Fatimah (a.s). Beliau bersumpah tidak akan bercakap dengan mereka sehingga beliau berjumpa ayahnya dan merayu kepadanya.[Ibn Qutaibah,al-Imamah wa al-Siyasah,I,hlm.14]

Beliau berwasiat supaya beliau dikebumikan di waktu malam dan tidak membenarkan seorangpun dari “mereka” menyembahyangkan jenazahnya. [Ibn al-Athir, Usd al-Ghabah,V,hlm. 542;al-Bukhari, Sahih ,VI, hlm, 177; Ibn Abd al-Birr, al-Isti’ab,II,hlm.75]

Sebenarnya Fatimah a.s menuntut tiga perkara:

1. Kedudukan khalifah untuk suaminya Ali AS karena dia adalah dari ahlul Bait yang disucikan dan perlantikannya di Ghadir Khum disaksikan oleh 120,000 orang dan hal itu diriwayatkan oleh 110 sahabat.
2. Fadak.
3. Al-khums, saham kerabat Rasulullah tetapi kesemuanya ditolak oleh khalifah Abu Bakar [Ibn Abi al-Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah,V,hlm.86]

16.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi sawa,niscaya mereka mengenakan hukum had ke atas pelakunya tanpa pilih kasih,tetapi Khalifah Abu Bakar tidak mengenakan hukum hudud ke atas Khalid bin al-Walid yang telah membunuh Malik bin Nuwairah dan kabilahnya. Umar dan Ali (a.s) mau supaya Khalid dihukum rejam.[Ibn Hajr, al-Isabah , III, hlm.336]

Umar berkata kepada Khalid:”Kamu telah membunuh seorang Muslim kemudian kamu terus bersetubuh dengan isterinya. Demi Allah aku akan merejam kamu dengan batu.”[Al-Tabari,Tarikh ,IV, hlm.1928] Kata-kata Umar ini cukup membuktikan bahwa Malik bin Nuwairah adalah seorang Muslim dan Khalid telah berzina dengan isteri Malik sebaik sahaja ia dibunuh. Jika tidak kenapa Umar berkata:”Demi Allah aku akan merejam kamu dengan batu.”

Umar memahami bahwa isteri Malik bin Nuwairah tidak boleh dijadikan hamba. Oleh itu pembunuhan ke atas Malik bin Nuwairah dan kaumnya tidak patut dilakukan karena mereka adalah Muslim. Keengganan mereka membayar zakat kepada Abu Bakar tidak boleh menjadi hujah kepada kemurtadan mereka. Pembunuhan ke atas mereka disebabkan salah faham mengenai perkataan ‘idfi’u, yaitu mengikut suku Kinanah ia berart “bunuh” dan dalam bahasa Arab biasa ia berart “panaskan mereka dengan pakaian” dan tidak menghalalkan darah mereka. Sepatutnya mereka merujuk perkara itu kepada Khalid bagi mengetahui maksudnya yang sebenar.

Tetapi mereka terus membunuh kaumnya dan Malik sendiri telah dibunuh oleh Dhirar yang bukan dari suku Kinanah. Oleh itu Dhirar pasti memahami bahwa perkataaan idfi’u bukanlah perkataan untuk mengharuskan pembunuhan, namun ia tetap membunuh Malik. Lantaran itu alasan kekeliruan berlaku di dalam pembunuhan tersebut tidak boleh menjadi hujah dalam kejahatan Khalid, apatah lagi perzinaannya dengan isteri Malik bin Nuwairah selepas dia dibunuh. Dengan itu tidak heranlah jika Ali AS dan Umar meminta Khalifah Abu Bakar supaya merejam Khalid, tetapi Abu Bakar enggan melakukannya.

Jika tidak membayar zakat djadikan alasan serangan dan pembunuhan, maka Nabi (Saw.) sendiri tidak memerangi sahabatnya Tha’labah yang enggan membayar zakat kepada beliau (Saw.). Allah (swt) menurunkan peristiwa ini di dalam Surah al-Taubah(9):75-77. Semua ahli tafsir Ahlu s-Sunnah menyatakan bahwa ayat itu diturunkan mengenai Tha’labah yang enggan membayar zakat karena beranggapan bahwa hal itu jizyah. Maka Allah (swt) mendedahkan hakikatnya. Dan Nabi (Saw.) tidak memeranginya dan tidak pula merampas hartanya sedangkan beliau (Saw.) mampu melakukannya. Adapun Malik bin Nuwairah dan kaumnya bukanlah mengingkari zakat sebagai satu fardhu agama. Tetapi apa yang mereka ingkar ialah penguasaan Abu Bakar ke atas kedudukan khalifah selepas Rasulullah (Saw.) dengan menggunakan kekuatan dan paksaan. Dan mereka pula benar-benar mengetahui tentang hadits al-Ghadir. Oleh itu tidak heranlah jika Abu Bakar terus mempertahankan Khalid tanpa mengira kejahatan yang dilakukannya terhadap Muslimin karena Khalid telah melakukan sesuatu untuk kepentingan politik dan dirinya. Malah itulah perintahnya di bawah operasi “enggan membayar zakat dan murtad” sekalipun hal itu bertentangan dengan Sunah Nabi (Saw.).

17.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak melantik Umar menjadi khalifah selepasnya secara wasiat, padahal mereka sendiri menolak wasiat Nabi (Saw.) Tetapi Khalifah Abu Bakar telah melantik Umar menjadi khalifah selepasnya secara wasiat, padahal dia sendiri menolak wasiat Nabi (Saw.). Beliau bersabda:”Ali adalah saudaraku, wasiku, wazirku dan khalifah selepasku” dan sabdanya:”Siapa yang menjadikan aku maulanya maka Ali adalah maulanya.”Dan penyerahan kedudukan khalifah kepada Umar adalah menyalahi prinsip syura yang diagung-agungkan oleh Ahlul Sunnah. Justru itu Abu Bakar adalah orang yang pertama merusakkan sistem syura dan memansuhkannya. Pertama, dia menggunakan “syura terhad” bagi mencapai cita-citanya untuk menjadi khalifah tanpa menjemput Bani Hasyim untuk menyertainya. Kedua, apabila kedudukannya menjadi kuat, dia melantik Umar untuk menjadi khalifah selepasnya tanpa syura dengan alasan bahwa Umar adalah orang yang paling baik baginya untuk memegang kedudukan khalifah selepasnya.

18.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka dilantik oleh Nabi (Saw.)untuk menjalankan mana-mana missi/pekerjaan,tetapi Khalifah Abu Bakar tidak pernah dilantik oleh Nabi (Saw.) untuk menjalankan mana-mana missi/pekerjaan, malah beliau melantik orang lain. Hanya pada satu masa beliau melantiknya untuk membawa Surah Bara’ah, tetapi beliau mengambil kembali tugas itu dan kemudian meminta Ali (a.s) untuk melaksanakannya.[Al-Tabari, Dhakha’ir al-Uqba,hlm.61;al-Turmudhi, Sahih,II, hlm.461;Ibn Hajr, al-Isabah,II, hlm.509]

19.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka mengetahui pengertian al-Abb di dalam al-Qur’an,tetapi Khalifah Abu Bakar tidak mengetahui pengertian al-Abb yaitu firman-Nya di dalam Surah ‘Abasa (80):31:”Dan buah-buahan (Fakihatun) serta rumput-rumputan (abban).”Dia berkata:”Langit mana aku akan junjung dan bumi mana aku akan pijak, jika aku berkata sesuatu di dalam Kitab Allah apa yang aku tidak mengetahui?”[al-Muttaqi al-Hindi,Kanz al-Ummal,I,hlm.274]

20.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak akan melakukan bid’ah-bid’ah selepas Rasulullah (Saw.) tetapi Khalifah Abu Bakar telah mengetahui dia akan melakukan bid’ah-bid’ah selepas Rasulullah (Saw.). Malik bin Anas di dalam a-Muwatta bab “jihad syuhada’ fi sabilillah’ telah meriwayatkan dari hamba Umar bin Ubaidillah bahwa dia menyampaikannya kepadanya bahwa Rasulullah bersabda kepada para syahid di Uhud:”Aku menjadi saksi kepada mereka semua.”Abu Bakar berkata:”Tidakkah kami wahai Rasulullah (Saw.) saudara-saudara mereka. Kami telah masuk Islam sebagaimana mereka masuk Islam dan kami telah berjihad di jalan Allah sebagaimana mereka berjihad?” Rasulullah menjawab:”Ya! Tetapi aku tidak mengetahui bid’ah mana yang kalian akan lakukan selepasku.”Abu Bakar pun menangis, dan dia terus menangis. Bid’ah-bid’ah yang dilakukan oleh para sahabat memang telah diakui oleh mereka sendiri, di antaranya al-Bara’ bin Azib.

Al-Bukhari di dalam Sahihnya “Kitab bad’ al-Khalq fi bab Ghuzwah al-Hudaibiyyah” telah meriwayatkan dengan sanadnya dari al-Ala bin al-Musayyab dari ayahnya bahwa dia berkata:”Aku berjumpa al-Barra bin Azib maka aku berkata kepadanya: Alangkah beruntungnya anda karena bersahabat dengan Nabi (Saw.) dan anda telah membai’ah kepadanya di bawah pohon. Maka dia menjawab: Wahai anak saudaraku. Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang kami telah lakukan (Ahdathna) selepasnya.”[Al-Bukhari, Sahih,III, hlm.32]

Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Nabi (Saw.) bersabda kepada orang-orang Ansar:”Sesungguhnya kalian akan menyaksikan sifat tamak yang dahsyat selepasku. Oleh itu bersabarlah sehingga kalian bertemu Allah dan Rasul-Nya di Haudh.”Anas berkata:”Kami tidak sabar.”[Al-Bukhari, Sahih,III, hlm.135]

Ibn Sa’d juga telah meriwayatkan di dalam Tabaqatnya, VIII, hlm. 51, dengan sanadnya dari Ismail bin Qais bahwa dia berkata:”Aisyah ketika wafatnya berkata: Sesungguhnya aku telah melakukan bid’ah-bid’ah (Ahdathtu) selepas Rasulullah (Saw.), maka kebumikanlah aku bersama-sama isteri Nabi (Saw.).” Apa yang dimaksudkan olehnya ialah “Jangan kalian mengkebumikan aku bersama Nabi (Saw.) karena aku telah melakukan bid’ah-bid’ah selepasnya.”

Lantaran itu, khalifah Abu Bakar, al-Barra bin Azib, Anas bin Malik dan Aisyah telah memberi pengakuan masing-masing bahwa mereka telah melakukan bid’ah-bid’ah dengan mengubah Sunnah Nabi (Saw.).

21.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak akan berkata: “Syaitan menggodaku, sekiranya aku betul, maka bantulah aku dan sekiranya aku menyeleweng , maka betulkanlah aku.” Tetapi Khalifah Abu Bakar berkata: “Aku digodai Syaitan. Sekiranya aku betul,maka bantulah aku dan sekiranya aku menyeleweng, maka betulkanlah aku.” [Ibn Qutaibah, al-Imamah wa al-Siyasah,I, hlm. 6; al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal,III, hlm. 126; Ibn Hajr, al-Sawa’iq al-Muhriqah, hlm. 7; al-Syablanci,Nur al-Absar, hlm. 53] Ini berarti dia tidak mempunyai keyakinan diri,dan bagaimana dia boleh menyakinkan orang lain pula?

22.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.) ,niscaya mereka tidak menyesal menjadi seorang manusia, tetapi Khalifah Abu Bakar menyesal menjadi seorang manusia, malah dia ingin menjadi pohon dimakan oleh binatang kemudian mengeluarkannya. Abu Bakar berkata:”Ketika dia melihat seekor burung hinggap di atas suatu pohon, dia berkata:Beruntunglah engkau wahai burung. Engkau makan buah-buahan dan hinggap di pohon tanpa hisab dan balasan. Tetapi aku lebih suka jika aku ini sebatang pohon yang tumbuh di tepi jalan. Kemudian datang seekor unta lalu memakanku. Kemudian aku dikeluarkan pula dan tidak menjadi seorang manusia.”[al-Muhibb al-Tabari, al-Riyadh al-Nadhirah,I,hlm. 134; Ibn Taimiyyah, Minhaj al-Sunnah,III,hlm. 130]

Kata-kata khalifah Abu Bakar itu adalah bertentangan dengan firman Allah (swt) di dalam Surah al-Tin (95):4:”Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia di dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” Dan jika Abu Bakar seorang wali Allah kenapa dia harus takut kepada hari hisab? Sedangkan Allah telah memberi khabar gembira kepada wali-walinya di dalam Surah Yunus(10):62-64,”Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah ini tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih yaitu orang-orang yang beriman dan mereka selalu di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat.Tidak ada perubahan kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

23.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak mengganggu rumah Fatimah (a.s) semenjak awal lagi, tetapi khalifah Abu Bakar telah mengganggunya dan ketika sakit menyesal karena mengganggu rumah Fatimah (a.s). Dia berkata: “Sepatutnya aku tidak mengganggu rumah Fatimah sekalipun beliau mengisytiharkan perang terhadapku.”[Ibn Qutaibah, al-Imamah wa al-Siyasah,I,hlm. 18-19; al-Tabari, Tarikh ,IV, hlm. 52;Ibn Abd Rabbih, Iqd al-Farid,II,hlm.254]

24.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak menjatuhkan air muka Nabi (Saw.), Tetapi Khalifah Abu Bakar telah menjatuhkan air muka Nabi (Saw.) di hadapan musyrikin yang datang berjumpa dengan Nabi (Saw.) supaya mengembalikan hamba-hamba mereka yang lari dari mereka. Musyrikun berkata:”Hamba-hamba kami telah datang kepada anda bukanlah karena mereka cinta kepada agama tetapi mereka lari dari milik kami dan harta kami. Lebih-lebih lagi kami adalah tetangga anda dan orang yang membuat perjanjian damai dengan anda.”Tetapi Nabi (Saw.) tidak mau menyerahkan kepada mereka hamba-hamba tersebut karena khawatir mereka akan menyiksa hamba-hamba tersebut dan beliau tidak mau juga mendedahkan hakikat ini kepada mereka. Nabi (Saw.) bertanya kepada Abu Bakar dengan harapan dia menolak permintaan mereka. Sebaliknya Abu Bakar berkata:”Benar kata-kata mereka itu.” Lantas berubah muka Nabi (Saw.)karena jawabannya menyalahi apa yang dikehendaki Allah dan Rasul-Nya.[al-Nasa’i, al-Khasa’is,hlm. 11; Ahmad bin Hanbal, al-Musnad,I,hlm. 155] Sepatutnya khalifah Abu Bakar dapat memahami apa yang dimaksudkan oleh Nabi, tetapi dia tidak dapat memahaminya, malah diam memihak kepada Musyrikun berdasarkan ijtihadnya.

25.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka telah membunuh Dhu al-Thadyah (seorang lelaki yang mempunyai payudara, akhirnya menentang khalifah Ali), tetapi khalifah Abu Bakar tidak membunuh Dhu al-Thadyah sedangkan Rasulullah telah memerintahkan Abu Bakar supaya membunuh Dhu al-Thadyah. Abu Bakar mendapati lelaki itu sedang mengerjakan solat. Lalu dia berkata kepada Rasulullah (Saw.) :”Subhanallah! Bagaimana aku membunuh lelaki yang sedang mengerjakan solat?” (Ahmad b.Hanbal,al-Musnad,III,hlm.14-150) Sepatutnya dia membunuh lelaki itu tanpa mengira keadaan karena Nabi (Saw.)telah memerintahkannya. Tetapi dia tidak membunuhnya, malah dia menggunakan ijtihadnya bagi menyalahi Sunnah Nabi (Saw.).

26.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak mengatakan bahwa saham jiddah (nenek) tidak ada di dalam al-Qur’an dan Sunnah Nabi (Saw.).Tetapi Khalifah Abu Bakar mengatakan bahwa saham jiddah (nenek) tidak ada di dalam al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah (Saw.). Seorang nenek bertanya kepada Abu Bakar tentang pusakanya. Abu Bakar menjawab:”Tidak ada saham untuk anda di dalam al-Qur’an dan Sunnah Nabi (Saw.).Oleh itu kembalilah.”Lalu al-Mughirah bin Syu”bah berkata:”Aku berada di sisi Nabi (Saw.)bahwa beliau memberikannya (nenek) seperenam saham.”Abu Bakar berkata:”Adakah orang lain bersama anda?” Muhammad bin Muslimah al-Ansari bangun dan berkata sebagaimana al-Mughirah. Maka Abu Bakar memberikannya seperenam.[Malik, al-Muwatta,I,hlm. 335; Ahmad bin Hanbal, al-Musnad,IV,hlm.224;Ibn Rusyd, Bidayah al-Mujtahid,II, hlm.334]

27.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka mengetahui hukum had
ke atas pencuri yang buntung satu tangan dan satu kakinya Tetapi Khalifah Abu Bakar tidak mengetahui hukum had ke atas pencuri yang buntung satu tangan dan satu kakinya. Dari Safiyyah binti Abi Ubaid,”Seorang lelaki buntung satu tangan dan satu kakinya telah mencuri pada masa pemerintahan Abu Bakar. Lalu Abu Bakar mau memotong kakinya dan bukan tangannya supaya dia dapat bermunafaat dengan tangannya. Maka Umar berkata:”Demi yang diriku di tangan-Nya, anda mesti memotong tangannya yang satu itu.” Lalu Abu Bakar memerintahkan supaya tangannya dipotong.”[al-Baihaqi, Sunan,VIII,hlm.273-4]
28.

Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak berpendapat bahwa seorang khalifah bukan semestinya orang yang paling alim .Tetapi Khalifah Abu Bakar berpendapat bahwa seorang khalifah bukan semestinya orang yang paling alim (afdhal).[Ibn Qutaibah, al-Imamah wa al-Siyasah, I,hlm. 16; al-Baqillani, al-Tamhid,hlm. 195; al-Halabi, Sirah Nabawiyyah,III, hlm.386] Ijtihadnya adalah bertentangan dengan firman Tuhan di dalam Surah al-Zumar (39):9:”Katakanlah: Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran” dan firman-Nya di dalam Surah Yunus (10):35:”Maka apakah orang-orang yang menunjuki jalan kepada kebenaran itu lebih berhak diikuti ataukah orang-orang yang tidak dapat memberi petujuk? Mengapa kamu (berbuat demikian)? Bagaimana kamu mengambil keputusan?”

29.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka melakukan korban (penyembelihan) sekali di dalam hidupnya.Tetapi Khalifah Abu Bakar tidak pernah melakukan korban (penyembelihan) karena khawatir kaum Muslimin akan menganggapnya wajib. Sunnahnya adalah bertentangan dengan Sunnah Nabi (Saw.) yang menggalakkannya.[Al-Baihaqi, al-Sunan al-Kubra, IX,hlm. 265; al-Syafi’i, al-Umm, II, hlm.189]

30.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak mengatakan maksiat yang dilakukan oleh seseorang itu telah ditakdirkan oleh Allah sejak azali lagi, tetapi Khalifah Abu Bakar mengatakan maksiat yang dilakukan oleh seseorang itu telah ditakdirkan oleh Allah sejak azali lagi, kemudian Dia menyiksanya di atas perbuatan maksiatnya. Seorang lelaki bertanya kepadanya:”Adakah anda fikir zina juga qadarNya? Lelaki itu bertanya lagi:”Allah mentakdirkannya ke atasku kemudian menyiksa aku?” Khalifah Abu Bakar menjawab:” Ya. Demi Tuhan sekiranya aku dapati seseorang masih berada di sisiku, niscaya aku menyuruhnya memukul hidung anda.”[al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa, hlm.65]

Oleh itu ijtihad Abu Bakar itu adalah bertentangan dengan firman-firman Tuhan di antaranya:

a. Firman-Nya di dalam Surah al-Insan (76):3:”Sesungguhnya kami telah menunjukkinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.”
b. Firman-Nya di dalam Surah al-Balad (90):10:”Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.”
c. Firman-Nya di dalam Surah al-Naml (27):40:”Dan barang siapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk kebaikan dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia’”.

31.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak berkata: Jika pendapat kami betul, maka hal itu dari Allah dan jika hal itu salah maka ia adalah dari kami dan dari syaitan. Tetapi Khalifah Abu Bakar berkata:”Jika pendapatku betul, maka hal itu dari Allah dan jika hal itu salah maka ia adalah dari aku dan dari syaitan.”[Al-Baihaqi, al-Sunan al-Kubra, VI, hlm. 223; al-Tabari, Tafsir, VI hlm. 30; Ibn Kathir, Tafsir, I, hlm.260] Kata-kata Abu Bakar menunjukkan bahwa dia sendiri tidak yakin kepada pendapatnya. Dan dia memerlukan bimbingan orang lain untuk menentukan kesalahannya.

32.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka akur kepada Sunnah Nabi (Saw.) apabila mengetahui kesannya dengan mengilakkan dirinya dari kilauan dunia ,tetapi Khalifah Abu Bakar mengetahui bahwa dia tidak terlepas dari kilauan dunia, lantaran itu dia menangis. Al-Hakim di dalam Mustadrak, IV, hlm. 309 meriwayatkan dengan sanadnya dari Zaid bin Arqam, dia berkata:”Kami pada suatu masa telah berada bersama Abu Bakar, dia meminta minuman, lalu diberikan air dan madu. Manakala dia mendekatkannya ke mulutnya dia menangis sehingga membuatkan sahabat-sahabatnya menangis. Akhirnya merekapun berhenti menangis, tetapi dia terus menangis.

Kemudian dia kembali dan menangis lagi sehingga mereka menyangka bahwa mereka tidak mampu lagi menyelesaikan masalahnya. Dia berkata:kemudian dia menyapu dua matanya. Mereka berkata:Wahai khalifah Rasulullah! Apakah yang sedang ditolak oleh anda? Beliau menjawab:”Dunia ini (di hadapanku) telah “memperlihatkan”nya kepadaku, maka aku berkata kepadanya:Pergilah dariku maka hal itu pergi kemudian dia kembali lagi dan berkata:Sekiranya anda terlepas dariku, orang selepas anda tidak akan terlepas dariku.” Hadits ini diriwayatkan juga oleh ak-Khatib di dalam Tarikh Baghdad, X,hlm. 268 dan Abu Nu’aim di dalam Hilyah al-Auliya’, I, hlm.30]

33.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka mempunyai kata pemutus ke atas pemerintahan mereka,tetapi Khalifah Abu Bakar tidak mempunyai kata pemutus ke atas pemerintahannya melainkan hal itu dipersetujui oleh Umar. Adalah diriwayatkan bahwa “Uyainah bin Hasin dan al-Aqra bin Habis datang kepada Abu Bakar dan berkata:”Wahai khalifah Rasulullah, izinkan kami menanam di sebidang tanah yang terbiar berhampiran kami. Kami akan membajak dan menanamnya. Mudah-mudahan Allah akan memberikan manfaat kepada kami dengannya.”Lalu Abu Bakar menulis surat tentang persetujuannya. Maka kedua-duanya berjumpa Umar untuk mempersaksikan kandungan surat tersebut. Apabila kedua-duanya membacakan kandungannya kepadanya, Umar merebutnya dari tangan mereka berdua dan meludahnya. Kemudian memadamkannya. Lalu kedua-duanya mendatangi Abu Bakar dan berkata:”Kami tidak mengetahui adakah anda khalifah atau Umar.” Kemudian mereka berdua menceritakan kepadanya. Lalu Abu Bakar berkata:”Kami tidak melaksanakan sesuatu melainkannya dipersetujui oleh Umar.”{al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal, VI, hlm. 335; Ibn Hajr, al-Isabah, I,hlm.56] .

34.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak dicaci oleh seorang lelaki di hadapan Nabi (Saw.). Tetapi Khalifah Abu Bakar telah dicaci oleh seorang lelaki di hadapan Rasulullah SAWA. Tetapi Nabi (Saw.)tidak melarangnya sebaliknya beliau tersenyum pula, Ahmad bin Hanbal meriwayatkan bahwa seorang lelaki telah mencaci Abu Bakar dan Nabi sawa sedang duduk, maka Nabi (Saw.) kagum dan tersenyum.[Ahmad bin Hanbal, al-Musnad, VI, hlm.436] .

35.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak bertengkar sehingga meninggikan suara mereka di hadapan Nabi (Saw.) khalifah Abu Bakar dan Umar telah bertengkar sehingga meninggikan suara mereka di hadapan Rasulullah (Saw.) . Abu Bakar berkata:”Wahai Rasulullah lantiklah al-Aqra bin Habi bagi mengetuai kaumnya.” Umar berkata:”Wahai Rasulullah janganlah anda melantiknya sehingga mereka menengking dan meninggikan suara mereka di hadapan Rasulullah (Saw.).” Lalu diturunkan ayat di dalam Surah al-Hujurat(49):2,”Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari Nabi dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak terhapus pahala amalanmu, sedangkan kamu tidak menyedari.” Sepatutnya mereka berdua bertanya dan merujuk kepada Rasulullah (Saw.) mengenainya.[Ahmad bin Hanbal, al-Musnad, IV , hlm.6;al-Tahawi, Musykil al-Athar,I,hlm. 14-42] .

36.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak banyak membuat pengakuan-pengakuan dimana mereka sepatutnya melakukan sesuatu,tetapi Khalifah Abu Bakar banyak membuat pengakuan-pengakuan dimana dia sepatutnya melakukan sesuatu,tetapi tidak melakukannya dan sebaliknya. Ibn Qutaibah mencatatkan dalam bukunya al-Imamah wa al-Siyasah, I, hlm. 18-19,

9 perkara yang disesali oleh Abu Bakar seperti berikut:

“Tiga perkara yang aku telah lakukan sepatutnya aku tidak melakukannya dan tiga perkara yang aku tidak lakukannya sepatutnya aku melakukannya dan tiga perkara yang sepatutnya aku bertanya Rasulullah (Saw.) mengenainya. Adapun tiga perkara yang aku telah melakukannya sepatutnya aku tidak melakukannya:

1. Sepatutnya aku tinggalkan rumah Ali (Fatimah) sekalipun mereka mengisytiharkan perang ke atasku.
2. Sepatutnya aku membai’ah sama Umar atau Abu Ubadah di Saqifah Bani Saidah, yaitu salah seorang mereka menjadi amir dan aku menjadi wazir.
3. Sepatutnya aku menyembelih Fuja’ah al-Silmi atau melepaskannya dari tawanan dan aku tidak membakarnya hidup-hidup.

Adapun tiga perkara yang aku tidak melakukannya sepatutnya aku melakukannya:
1. Sepatutnya ketika al-Asy’ath bin Qais dibawa kepadaku sebagai tawanan, aku membunuhnya dan tidak memberinya peluang untuk hidup, karena aku telah mendengar tentangnya bahwa ia bersifat sentiasa menolong segala kejahatan.
2. Sepatutnya ketika aku mengutus Khalid bin al-Walid kepada orang-orang murtad, aku mesti berada di Dhi al-Qissah, dengan itu sekiranya mereka menang, mereka boleh bergembira dan sekiranya mereka kalah aku boleh menghulurkan bantuan.
3. ???-red

Adapun tiga perkara yang sepatutnya aku bertanya Rasulullah (Saw.) ialah:

1. Kepada siapakan kedudukan khalifah patut diberikan sesudah beliau wafat, dengan demikian tidaklah kedudukan itu menjadi rebutan.
2. Sepatutnya aku bertanya kepada beliau, adakah orang Ansar mempunyai hak menjadi khalifah.
3. Sepatutnya aku bertanya beliau tentang pembagian harta pusaka anak saudara perempuan sebelah lelaki dan ibu saudara sebelah lelaki karena aku tida puas hati tentang hukumnya dan memerlukan penyelesaian.”

Kenyataan di atas telah disebut juga oleh al-Tabari dalam Tarikhnya, IV, hlm. 52;Ibn Abd Rabbih, ‘Iqd Farid,II,hlm. 254;Abu Ubaid, al-Amwal,hlm. 131]

37.
Jika mereka Ahl al-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak mengundurkan diri dari tentara Usamah yang telah dilantik oleh Nabi saw menjadi penglima perang di dalam ushal itu yang muda,tetapi Khalifah Abu Bakar telah mengundurkan diri dari menyertai tentara di bawah pimpinan Usamah bin Zaid, sedangkan Nabi (Saw.) bersabda:”Perlengkapkan tentara Usamah, Allah melaknati orang yang mengundur diri dari tentara Usamah.”[Al-Syarastani, al-Milal, hlm.21; Ibn Sa’d, Tabaqat,II,hlm.249 dan lain-lain lagi].

38.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak menamakan dirinya(Abu Bakar) “Khalifah Rasulullah”.[Tetapi Khalifah Abu Bakar telah menamakan dirinya “Khalifah Rasulullah”.[Ibn Qutaibah,al-Imamah wa al-Siyasah ,I,hlm.13];al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa’,hlm.78] Penamaannya adalah bertentangan dengan Sunnah Rasulullah karena beliau tidak menamakannya dan melantiknya, malah beliau menamakan Ali dan melantiknya. Beliau bersabda:”Siapa yang aku menjadimaulanya maka Ali adalah maulanya.”Dan hadits-hadits yang lain tentang perlantikan Ali (a.s) sebagai khalifah selepas Rasulullah (Saw.).

39.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak membakar manusia hidup-hidup,tetapi Khalifah Abu Bakar telah membakar Fuja’ah al-Silmi hidup-hidup, kemudian dia menyesali perbuatannya.[al-Tabari,Tarikh,IV,hlm.52] Dan hal itu bertentangan dengan Sunnah Nabi (Saw.)”Tidak boleh disiksa dengan api melainkan dari Tuhannya.”(Al-Bukhari, Sahih ,X,hlm.83]

40.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak lari di dalam peperangan, tetapi Khalifah Abu Bakar telah lari di dalam peperangan Uhud dan Hunain. Sepatutnya dia mempunyai sifat keberanian melawan musuh. Tindakannya itu menyalahi ayat-ayat jihad di dalam al-Qur’an dan Sunnah Nabi (Saw.) [al-Hakim, al-Mustadrak, III, hlm. 37; al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal,VI,hlm.394;al-Dhahabi,al-Talkhis,III,hlm.37]

41.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak meragukan kedudukan khalifah. Tetapi Khalifah Abu Bakar telah meragukan kedudukan khalifahnya. Dia berkata:”Sepatutnya aku bertanya Rasulullah (Saw.), adalah orang-orang Ansar mempunyai hak yang sama di dalam kedudukan khalifah?” Ini adalah keraguan tentang kesahihan atau kebatilannya. Dialah orang yang menentang orang-orang Ansar manakala mereka mengatakan bahwa Amir mestilah dari golongan Quraisy.” Sekiranya apa yang diriwayatkan olehnya itu benar, bagaimana dia meragukan”nya” pula. Dan jikalau tidak, dia telah menentang orang-orang Ansar dengan “hujah palsu.”[Al-Ya’qubi, Tarikh al-Ya’qubi,II,hlm.127; Ibn Qutaibah, al-Imamah wa al-Siyasah,I,hlm.18,19;al-Masudi, Muruj al-Dhahab,II,hlm.302]

42.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka dapat menyelesaikan persoalan-persoalan yang dikemukakan kepada mereka,tetapi Khalifah Abu Bakar tidak dapat menyelesaikan persoalan-persoalan yang dikemukakan kepadanya oleh orang Yahudi. Anas bin Malik berkata:”Seorang Yahudi datang selepas kewafatan Rasulullah (Saw.). Maka kaum Muslimin menunjukkannya kepada Abu Bakar. Dia berdiri di hadapan Abu Bakar dan berkata: Aku akan kemukakan soalan-soalan yang tidak akan dijawab melainkan oleh Nabi atau wasi Nabi. Abu Bakar berkata:”Tanyalah apa yang anda mau. Yahudi berkata: Beritahukan kepadaku perkara yang tidak ada pada Allah, tidak ada di sisi Allah, dan tidak diketahui oleh Allah? Abu Bakar berkata: Ini adalah soalan-soalan orang zindiq wahai Yahudi! Abu Bakar dan kaum Muslimin mulai marah dengan Yahudi tersebut.

Ibn Abbas berkata: Kalian tidak dapat memberikan jawaban kepada lelaki itu. Abu Bakar berkata: Tidakkah anda mendengar apa yang diperkatakan oleh lelaki itu? Ibn Abbas menjawab: Sekirannya kalian tidak dapat menjawabnya, maka kalian pergilah bersamanya menemui Ali AS, niscaya dia akan menjawabnya karena aku mendengar Rasulullah (Saw.) bersabda kepada Ali bin Abi Talib:”Wahai Tuhanku! Sinarilah hatinya, dan perkuatkanlah lidahnya.” Dia berkata:”Abu Bakar dan orang-orang yang hadir bersamanya datang kepada Ali bin Abi Talib, mereka meminta izin darinya. Abu Bakar berkata: Wahai Abu l-Hasan, sesungguhnya lelaki ini telah bertanya kepadaku beberapa soalan (zindiq).

Ali berkata: Apakah yang anda perkatakan wahai Yahudi? Dia menjawab: Aku akan bertanya kepada anda perkara-perkara yang tidak diketahui melainkan oleh Nabi atau wasi Nabi. Yahudi mengemukakan soalan-soalan kepadanya. Ali berkata: Adapun perkara-perkara yang tidak diketahui oleh Allah ialah kata-kata anda bahwa Uzair adalah anak lelaki Tuhan, dan Allah tidak mengetahui bahwa Dia mempunyai anak lelaki. Adapun kata-kata anda apa yang tidak ada di sisi Allah, maka jawabannya perkara yang tidak ada di sisi Allah ialah kezaliman. Adapun kata-kata anda: Apa yang tidak ada bagi Allah maka jawabannya tidak ada bagi Allah syirik. Yahudi menjawab: Aku naik saksi tiada Tuhan melainkan Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah pesuruh Allah dan sesungguhnya anda adalah wasinya.”[Ibn Duraid, al-Mujtana, hlm.35]

43.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak mempersendakan Nabi (Saw.) di masa hidupnya,apatah lagi pada masa Nabi SAWA sakit dan selepas kematiannya, tetapi khalifah Abu Bakar dan kumpulannya telah mempersendakan Nabi (Saw.) dengan menolak Sunnah Nabi (Saw.) di hadapannya ketika Nabi (Saw.) sedang sakit “ dia sedang meracau” (al-Bukhari, Sahih, I, hlm. 36; Muslim, Sahih, III, hlm. 69),kemudian menghalang penyebarannya. (Al-Dhahabi, Tadhkirah al-Huffaz,I,hlm.3]

44.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak berkata:”Pecatlah aku karena aku bukanlah orang yang baik di kalangan kalian.”Tetapi Khalifah Abu Bakar berkata:”Pecatlah aku karena aku bukanlah orang yang baik di kalangan kalian.”Di dalam riwayat lain,”Ali di kalangan kalian.”[Ibn Qutaibah, al-Imamah wa al-Siyasah,I,hlm.14;al-Muttaqi al-Hindi,Kanz al-Ummal,III,hlm.132] Jikalau kata-katanya benar, berarti dia tidak layak untuk menjadi khalifah Rasulullah SAWA, berdasarkan pengakuannya sendiri.

45.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak membenci orang yang mencintai dan mengamalkan Sunnah Nabi (Saw.), tetapi mereka membenci orang yang mencintai Sunnah Nabi (Saw.)dan mengamalkanya sekiranya Sunnah Nabi (Saw.) bertentangan dengan sunnah Abu Bakar.] Justru itu mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),malah mereka adalah Ahlu s-Sunnah Abu Bakar dan kumpulannya atau Ahlu s-Sunnah ciptaan mereka sendiri.Lantaran Ali dan keluarganya berusaha dengan keras bagi membersihkan kekotoran yang dilakukan oleh Abu Bakar dan pengikutnya.

Para pembaca..

terjadi kekacauan definisi sahabat yang disusun para ulama hadis sunni sehingga orang-orang yang sekadar hidup sezaman dan berada dilingkungan Nabi Muhammad saw, orang-orang yang mabuk tetapi pernah bertemu Nabi, mereka yang diusir Nabi, dan pembunuh pun disebut sahabat.

Rasulullah SAW tidak menjamin surga kepada Abubakar. Setelah beliau bersaksi tentang  para syuhada di perang uhud. Rasul saw kemudian berkata kepada Abubakar : “Sungguh aku   tidak tahu apa yang akan kau lakukan sepeninggalku”. Dan kemudian Abubakar menangis” (Referensi  Ahlusunnah : Imam Malik, dalam “Al-Muwatta’”, kitab “Jihad”)

Lihat juga [Q.S. Ali Imron 153], tentang kejadian perang Uhud dimana sebagian sahabat lari meninggalkan Rasul saww, sebagai berikut : “(Ingatlah) ketika kalian lari dan tidak menoleh kepada seorangpun, sedang Rasul yang berada di antara kawan-kawan kalian yang lain, memanggil kalian…”.

Bahkan termasuk Abubakar dan Umar juga lari dari perang Uhud tersebut. Dan mereka berdua (Abubakar dan Umar) juga lari dari perang Hunain dan Khaibar. Padahal Allah murka kepada mereka yang lari dari perang sebagaimana Firman-Nya pada [ Q.S. Al-Anfaal  15-16 ].

(Ref. Ahlusunnah :Haikal, “Hayat Muhammad”, bab “perang uhud” dan “perang khaibar”..Al-Waqidi, dalam “Al-Maghazi”..    Siroh Ibn Hisyam, Jilid 4, bab “Perang Uhud”..Ibn Hajar, dalam “Al-Ishobah”, jilid 3, hal. 108, pada muntakhab “Al-Isti’ab”..Siroh Al-Halabiyah, pada bab “Perang Hunain” dan “Perang Khaibar”)

Banyak sejarah yang telah dimanipulasi untuk mengangkat derjat dan keutamaan beberapa “sahabat” Nabi. Padahal nyata nyata Allah mengancam menggugurkan amal Abubakar dan Umar. Allah berfirman dalam Q.S. Al-Hujurat  ayat 2,  tentang larangan untuk meninggikan suara melebihi   suara Rasul saw. Tuhan memperingatkan kepada Abubakar dan Umar supaya tidak lagi mengeraskan suaranya melebihi suara Nabi saw.

Asbabun nuzul Ayat ini adalah Abubakar dan Umar yang saling berdebat dengan suara keras dihadapan Rasul saw (Shahih Bukhari, juz 3, kitab “Al-Maghazi”, bab “Waqd Bani Tamim”)

Hasil yang sedemikian besar yang diperoleh dari Fadak jika digunakan oleh kubu Imam Ali maka akan menjadikan mereka sebagai oposisi yang tangguh

Di dalam kitab hadis Ahlus Sunnah, yaitu Sunan Abu Dawud, Jil. 3, hlm. 144, Dzikr Fa’i, tertulis : “Abu Dawud mengatakan bahwa ketika Umar bin Abdul ‘Aziz menjadi khalifah, pendapatan yang diperoleh dari tanah fadak adalah 40.000 Dinar.”

Di dalam Syarah Ibn Abil Hadid, Jil. 4, hlm. 108 tertulis : “Umar  (bin Khaththab) mengeluarkan orang-orang Yahudi dari tanah Fadak. Dan nilai tanah tersebut berikut kurmanya adalah 50.000 Dirham.”

Di antara lembaran hitam sejarah umat Islam yang tak dapat dipungkiri adalah terjadinya sengketa antara Fatimah as. –selaku ahli waris Nabi saw.– dan Abu Bakar selaku penguasa terkait dengan tanah Fadak dan beberapa harta waris yang ditinggalkan Nabi saw.

Imam Ali as. menegaskan bahwa Abu Bakar telah berbohong dengan membawa-bawa hadis palsu atas nama Nabi saw tentang perkara kebun FADAK ! Di bawah ini kami sebutkan hadis riwayat Muslim dan Bukhari yang melaporkan pengaduan/sengketa di hadapan Umar –semasa menjabat sebagai Khalifah:

 “… Dan ketika Rasulullah saw. wafat, Abu Bakar berkata, ‘Aku adalah walinya Rasulullah, lalu kalian berdua (Ali dan Abbas) datang menuntut warisanmu dari anak saudaramu dan yang ini menuntut bagian warisan istrinya dari ayahnya. Maka Abu Bakar berkata, ‘Rasulullah saw. bersabda: “Kami tidak diwarisi, apa- apa yang kami tinggalkan adalah shadaqah.”, lalu kalian berdua memandangnya sebagai pembohong (kâdziban)., pendosa (atsiman), penipu (ghadiran) dan pengkhianat (khâinan). Demi Allah ia adalah seorang yang jujur, bakti, terbimbing dan mengikuti kebenaran. Kemudian Abu Bakar wafat dan aku berkata, ‘Akulah walinya Rasulullah saw. dan walinya Abu Bakar, lalu kalian berdua memandangku sebagai pembohong (kâdziban)., pendosa (atsiman), penipu (ghadiran) dan pengkhianat (khâinan)…. “ (HR. Muslim, Kitab al Jihâd wa as Sair, Bab Hukm al Fai’,5/152)

Secara tidak jujur maka Bukhari membuang redaksi tersebut yang merugikan kaum sunni dan menggantinya dengan lafaz: lalu kalian berdua memandangnya sebagai begini dan begitu “(HR. Bukhari,6/191, Kitab an Nafaqât/Nafkah, Bab Habsu ar Rajuli Qûta Sanatihi / Seorang menahan kebuhutan pangan setahunya)

Tapi sayangnya, Imam Bukhari masih meninggalkan jejak dan dapat menjadi petunjuk yaitu pembelaan Umar atas dirinya dan juga atas Abu Bakar! Bukhari menyebutkan kata-kata Umar: Allah mengetahui bahwa ia adalah seorang yang jujur, bakti, terbimbing dan mengikuti kebenaran! Dan kata-kata itu dapat menjadi petunjuk awal bahwa apa yang dikatakan Ali dan Abbas paling tidak kebalikan darinya atau yang mendekati kebalikan darinya! Sebab apa latar belakang yang mengharuskan Umar mengatakan kata-kata tersebut andai bukan karena adanya tuduhan Ali dan Abbas ra. atas Abu Bakar dan Umar?!

Maka gugurlah usaha Bukhari agar kaum Muslimin tidak mengetahui kenyataan pahit di atas! Dan ini adalah salah satu bukti bahwa kebenaran/al Haq betapa pun ditutup-tutupi tetap Allah akan membongkarnya ! Maka jika demikian adanya, mungkinkah para imam dan tokoh ulama dari keturunan Imam Ali as. akan menyanjung Abu Bakar dan Umar, meyakininya sebagai dua imam pengemban hidayah, sebagai Shiddîq dan Fârûq dan memandang keduanya dengan pandangan yang berbeda dengan ayah mereka?

Sunni adalah mereka yang telah didoktrinisasikan bahawa semua sahabat adalah jujur dan adil serta Allah dan RasuNya meridhai mereka semua. Kelompok ini dalam rangka mengkultuskan seluruh sahabat, telah terjebak dengan tafsiran-tafsiran al-Quran yang disajikan oleh ulama-ulama mereka, mempedomani  ribuan hadis-hadis palsu keutamaan sejumlah sahabat yang semuanya saling berbenturan dengan al Quran, hadis-hadis sahih yang disepakati, maupun akal yang sihat

.

 sejarah telah menunjukkan bahwa Abubakar dan seluruh keluarganya (kecuali putrinya Asma’ dan putranya Muhammad) bersikap bermusuhan terhadap keluarga Nabi SAWW, yangmemiliki konsekwensi sebagai  pembangkangan nyata terhadap apa yg ditetapkan Al Quran atau disabdakan Nabi mengenai penghargaan dan kasih sayang kepada keluarga beliau SAWW.Sebagai bukti, inilah daftar dari keluarga Abubakar yg permusuhannya terhadap keluarga Nabi SAWW sangat mencolok :
.
1. ABUBAKAR, saat kenaikannya ke tahta kekhalifahan, mengirim Umar ke rumah Sayyidah Fathimah untuk memaksa Imam Ali AS, dengan kekerasan, untuk datang dan berbaiat kepadanya. Umar mengancam Sayyidah Fathimah bahwa ia akan membumi hanguskan rumah. Setelah itu Sayyidah Fathimah begitu marah terhadap Abubakar, sehingga sepanjang sisa hidupnya, ia tdk pernah berbicara sepatah kata jua kepada Abubakar. Dan di ranjang kematiannya, ia melarang Abubakar mengiringi pemakamannya
.
2. AISYAH, putri Abubakar, memberontak terhadap Imam Ali AS, sang Khalifah, dan didepan 30 ribu pasukan, ia memimpin perang Jamal, namun dipermalukan dengan kekalahan telak
.
3. ZUBAIR BIN AWWAM, suami Asma’, putri tertua Abubakar, adalah panglima pasukan Aisyah, ditengah pertempuran ia mundur dan hendak melarikan diri ke arah Mekkah, namun terbunuh tak berapa jauh dari medan pertempuran.

4. ABDULLAH, putra Zubair dari Asma’, adalah panglima pasukan infanteri Aisyah. Ia adalah anak angkat Aisyah. Setelah pertempuran, jasadnya ditarik keluar dari setumpuk mayat yg terbaring di medan tempur.

5. THALHAH, sepupu Abubakar dan jg suami putri Abubakar Ummu Kultsum, adalah seorang panglima pasukan Aisyah. Ditengah pertempuran, Marwan bin Hakam (juru tulis dan penasihat jahat khalifah Usman), seorang perwira dari pasukan yg sama , yg melihat Thalhah sibuk bertempur, berkata kepada budaknya, “Baru kemarin Thalhah sibuk menghasut para pembunuh Usman, dan kini ia sibuk membalaskan darahnya. Betapa munafiknya ia dalam mencari kemegahan duniawi!” Selesai berbicara, ia melepaskan anak panah yg menembus kaki Thalhah dan mengenai kudanya yg lalu melonjak liar dari barisan dan Thalhah pun terjerembab ke tanah. Ia segera dibawa ke Basrah tempat ia meninggal dunia setelah beberapa saat.

6. ABU AR RAHMAN, saudaranya Thalhah dan jg sepupunya Abubakar, jg terbunuh dalam pertempuran yg sama.

7. MUHAMMAD, putra Thalhah, ikut tewas dalam pertemputan tersebut.

8. JU’DAH BINTI ASY’ATS, putri Ummu Farwah (saudara perempuan Abubakar), meracuni Imam Hasan AS hingga syahid. Ia disuap agar melakukan kekejian oleh Yazid putra Muawiyah atau oleh Muawiyah sendiri.

9. ISHAQ, putra Ummu Farwah. Kedua bersaudara putra2 Asy’ats menjadi anggota pasukan Yazid bin Muawiyah, yg bertempur melawan Imam Husain AS di karbala. Belakangan, yg pertama tewas dalam pertempuran melawan Mukhtar, yg membalaskan dendam atas pembunuhan Imam Husain AS. Sementara yg kedua, yg telah menelanjangi sebagian tubuh Imam Husain AS, tercabik2 sampai mati oleh kawanan anjing.

10. MUS’AB, putra Zubair (menantu Abubakar), bertempur melawan Mukhtar, yg terbunuh selagi membalaskan dendam atas pembunuhan Imam Husain AS.

Inilah bukti fakta bukan rekayasa tentang permusuhan Abubakar dan keturunannya terhadap keluarga Nabi Muhammad SAWW. Ini adalah bukti sejarah otentik yg tidak bisa dibantah lagi kebenarannya!

.

Umar bin Khattab Pembuka Jalan Bagi Berkuasanya Bani ‘Umayyah

Sepeninggal Rasul, dari empat khalifah yang empat,  tiga di antaranya dibunuh tatkala sedang dalam tugas, yaitu Umar, Utsman dan Ali. Yang menarik adalah ramalan Umar bin Khaththab bahwa Utsman akan dibunuh kerana membuat pemerintahan yang nepotis sepertiyang dikatakannya.

Umar seperti melibat bahaya munculnya sifat-sifat jahiliah ini sehingga tatkala ia baru ditusuk oleh Abu Lu’lu’ah dan mengetahui bahwa ia akan meninggal pada tahun 24 H-645M, ia memanggil keenam anggota Syura yang ia pilih sendiri.

Umar berkata: “Sesungguhnya Rasul Allah telah wafat dan ia rida akan enam tokoh Quraisy: Ali, Utsman, Thalhah, Zubair, Sa’d dan Abdurrahman bin ‘Auf.”

Kepada Thalhah bin Ubaidillah ia berkata: “Boleh saya bicara atau tidak!”

Thalhah:‘Bicaralah!’.

Umar: “Engkau belum pernah berbicara baik sedikit pun juga. Aku ingat sejak jarimu putus pada perang Uhud, orang bercerita tentang kesombonganmu, dan sesaat sebelum RasulAllah wafat, ia marah kepadamu [34] karena kata-kata yang engkau keluarkan sehingga turun ayat hijab…Bukankah engkau telah berkata: “Bila Nabi saww wafat aku akan menikahi jandanya? “Bukankah Allah SWT lebih berhak terhadap wanita sepupu kita, yang menjadi istrinya, dari diri kita sendiri, sehingga Allah SWT menurunkan ayat:

“Tiadalah pantas bagi kamu untuk mengganggu Rasul Allah, atau menikahi janda-jandanya sesudah ia wafat. Sungguh yang demikian itu suatu dosa besar menurut Allah”.[1]

 Di bagian lain: “Bila engkau jadi khalifah, engkau akan pasang cincin kekhalifahan di jari kelingking istrimu”. Demikian kata-kata Umar terhadap Thalhah.

 Seperti diketahui ayat ini turun berkenaan dengan Thalhah yang mengatakan:“ Muhammad telah membuat pemisah antara kami dan putri-putri paman kami dan telah mengawini para wanita kami. Bila sesuatu terjadi padanya maka pasti kami akan mengawini jandanya”Dan  di bagian lain: “Bila Rasul Allah saw wafat akan aku kawini Aisyah kerana dia adalah

sepupuku.” Dan berita ini sampai kepada Rasul Allah saw, Rasul merasa terganggu dan turunlah ayat hijab’. [2]

Kemudian kepada Zubair, Umar berkata : “Dan engkau, ya Zubair, engkau selalu gelisah dan resah, bila engkau senang engkau Mu’min, bila marah, engkau jadi kafir, satu hari engkau seperti manusia dan pada hari lain seperti setan. Dan andaikata engkau jadi khalifah, engkau akan tersesat dalam peperangan. Bisakah engkau bayangkan, bila engkau jadi khalifah? Aku ingin tahu apa yang akan terjadi pada umat pada hari engkau jadi manusia dan apa yang akan terjadi pada mereka tatkala engkau jadi setan, yaitu tatkala engkau marah. Dan Allah tidak akan menyerahkan kepadamu urusan umat ini selama engkau punya sifat ini” [3]

Di bagian lain: “Dan engkau ya Zubir, demi Allah, hatimu tidak pernah tenang siang maupun malam, dan selalu berwatak kasar sekasar-kasarnya; jilfan jafian”. [4]

 Bersama Aisyah, Thalhah dan Zubair setelah membunuh Utsman memerangi Ali dan menyebabkan paling sedikit 20.000 orang meninggal dalam Perang Jamal. Dan selama puluhan tahun menyusul, beribu-ribu kepala yang dipancung banyak tangan dan kaki yang dipotong, mata yang dicungkil dengan mengatas namakan menuntut darah Utsman.

Kepada Utsman, Umar berkata: “Aku kira kaum Quraisy akan menunjukmu untuk jabatan ini kerana begitu besar cinta mereka kepadamu dan engkau akan mengambil Bani‘Umayyah dan Bani Mu’aith untuk memerintah umat. Engkau akan melindungi mereka dan membagi-bagikan Uang baitul mal kepada mereka dan orang-orang akan membunuhmu, menyembelihmu di tempat tidur”[6]

Atau menurut riwayat dari Ibnu Abbas yang didengarnya sendiri dari Umar “Andaikata aku menyerahkan kekhalifahan kepada Utsman ia akan mengambil Banu Abi Mu’aith untuk memerintah umat. Bila melakukannya mereka akan membunuhnya”.[7]

Di bagian lain, dalam lafal Imam Abu Hanifah: “Andaikata aku menyerah kekhalifahan kepada Utsman, ia akan mengambil keluarga Abi Mu’aith untuk memerintah umat, demi Allah andaikata aku melakukannya, ia akan melakukannya, dan mereka akhirnya akan memotong kepalanya”. [8] Atau di bagian lain: Umar berwasiat kepada Utsman dengan kata-kata: “Bila aku menyerahkan urusan ini kepadamu maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah mengambil keluarga Banu Abi Mu’aith untuk memerintah umat’. [9]

Mari kita lihat ‘ramalan’ Umar bin Khaththab. Tatkala Imam Ali menolak mengikuti peraturan-peraturan dan keputusan-keputusan (Sunnah) Abu Bakar dan Umar, dalam pertemuan anggota Syura,Utsman justru sebaliknya. Ia berjanji menaati peraturan dan keputusan Abu Bakar dan Umar. [10] Ia menjadi khalifah tanggal 1 Muharam tahun 24 H pada umur 79 tahun dan meninggal dibunuh tanggal 18 Dzulhijjah tahun 35 H/ 17 Juni 656 M.

Pemerintahannya dianggap nepotis oleh banyak kalangan. Misalnya, ia mengangkat anggota keluarganya, yang bernama Marwan anak Hakam Ibnu ‘Abi’l Ash yang telah diusir Rasul saww dari Madinah kerana telah bertindak sebagai mata-mata musuh. Utsman membolehkania kembali dan mengangkatnya menjadi Sekretaris Negara.

Utsman juga memperluas wilayah kekuasaan Mu’awiyah, yang mula-mula hanya kota Damaskus, sekarang ditambah dengan Palestina, Yordania dan Libanon. Ia memecat gubernur-gubernur yang ditunjuk Umar dan menggantinya dengan keluarganya yang Thulaqa  [11], ada di antaranya yang pernah murtad dan disuruh bunuh oleh Rasul, dilaknat Rasul, penghina Rasul dan pemabuk. Ia mengganti gubernur Kufah Sa’d bin Abi Waqqash dengan Walid bin ‘Uqbah bin Abi Mu’aith, saudara seibu dengannya. Walid disebut sebagai munafik dalam Al-Qur’an.

Ali, Thalhah dan Zubair, tatkala Utsman mengangkat Walid bin ‘Uqbah jadi gubernur Kufah, menegur Utsman: “Bukankah Umar telah mewasiatkan kepadamu agar jangan sekali-kali mengangkat keluarga Abi Waith dan Banu ‘Umayyah untuk memerintah umat?”  Dan Utsman tidak menjawab sama sekali’. [12]

Walid adalah seorang pemabuk dan penghambur uang negara. Utsman juga mengganti gubernur Mesir ‘Amr bin ‘Ash dengan Abdullah bin Sa’id bin Sarh, seorang yang pernah disuruh bunuh Rasul saww kerana menghujat Rasul. Di Bashrah ia mengangkat Abdullah binAmir, seorang yang terkenal sebagai munafik.

Utsman juga dituduh telah menghambur-hamburkan uang negara kepada keluarga dan paragubernur Banu ‘Umayyah’ yaitu orang-orang yang disebut oleh para sejarahwan sebagai takbermoral(fujur), pemabuk (shahibu‘l-khumur), tersesat(fasiq), malah terlaknat oleh Rasulsaww (la’in) atau tiada berguna(‘abats). Ia menolak kritik-kritik para sahabat yang terkenal jujur. Malah ia membiarkan pegawainya memukul saksi seperti Abdullah bin Mas’ud, pemegang baitul mal di Kufah sehingga menimbulkan kemarahan Banu Hudzail.

Ia juga membiarkan pemukulan ‘Ammir bin Yasir sehingga mematahkan rusuknya dan menimbulkan kemarahan Banu Makhzum dan Banu Zuhrah. Ia juga menulis surat kepada penguasa di Mesir agar membunuh Muhammad bin Abu Bakar. Meskipun tidak sampai terlaksana, tetapi menimbulkan kemarahan Banu Taim.

Ia membuang Abu Dzarr al-Ghifari –pemrotes ketidakadilan dan penyalahgunaan uang negara- ke Rabdzah dan menimbulkan kemarahan keluarga Ghifari. Para demonstran dating dari segala penjuru, seperti Mesir, Kufah, Bashrah dan bergabung dengan yang di Madinahyang mengepung rumahnya selama 40 hari  [13] yang menuntut agar Utsman memecat Marwan

yang tidak hendak dipenuhi Utsman. Tatkala diingatkan bahwa uang Baitul Mal adalahmilik umat yang harus dikeluarkan berdasarkan hukum syariat seperti sebelumnya oleh ‘AbuBakar dan Umar ia mengatakan bahwa ia harus mempererat silaturahmi dengan keluarganya.Ia mengatakan: “Akulah yang memberi dan akulah yang tidak memberi. Akulah yang membagi  uang sesukaku!”.[14]

Utsman memberikan kebun Fadak kepada Marwan, yang telah diambil oleh Abu Bakar dari Fathimah  SA putrid Rasulullah SAWW.

Dirham adalah standar mata uang perak dan dinar adalah standar mata uang emas. Satudinar berharga sekitar 10-12 dirham. Satu dirham sama harganya dengan emas seberat 55butir gandum sedang. Satu dinar seberat 7 mitsqal. Satu mitsqal sama berat dengan 72 butirgandum. Jadi satu dinar sama berat dengan 7 X 72 butir gandum atau dengan ukuransekarang sama dengan 4 grain. Barang dagangan satu kafilah di zaman Rasul yang terdiridari 1.000 unta, dan dikawal oleh sekitar 70 orang berharga 50.000 dinar yang jadi milikseluruh pedagang Makkah. Seorang budak berharga 400 dirham.

Contoh penerima hadiah dari Utsman adalah Zubair bin ‘Awwam. Ia yang hanya kepercikanuang baitul mal itu, seperti disebut dalam shahih Bukhari, memiliki 11 (sebelas) rumah diMadinah, sebuah rumah di Bashrah, sebuah rumah di Kufah, sebuah di Mesir…Jumlahuangnya, menurut Bukhari adalah 50.100.000 dan di lain tempat 59.900.000 dinar, disamping [15] seribu ekor kuda dan seribu budak.  [16]

Aisyah menuduh Utsman telah kafir dengan panggilan Na’tsal [17] dan memerintahkan agar iadibunuh. Zubair menyuruh serbu dan bunuh Utsman. Thalhah menahan air minum untukUtsman. Akhirnya Utsman dibunuh. Siapa yang menusuk Utsman, tidak pernah diketahuidengan pasti. Siapa mereka yang pertama mengepung rumah Utsman selama empat bulandan berapa jumlah mereka dapat dibaca sekilas dalam catatan berikut. Mu’awiyah mengejarmereka satu demi satu.

—————————————————————————————————-

  1.  Sebagaimana biasa, banyak perdebatan telah terjadi mengenai kata-kata ‘Umar ini. Bukankah ‘Umar mengatakan bahwa Rasul Allah saww rida kepada mereka berenam?.
  2.  Al-Qur’an, al-Ahzab (33), ayat 53.
  3.  Lihat Tafsir al-Qurthubi jilid 14, hlm. 228; Faidh al-Qadir, jilid,4, hlm. 290; Tafsir Ibnu Katsir, jilid 3, hlm.506; Tafsir Baqawi jilid 5, hlm. 225; Ibn Abil Hadid, Syarh Nahju’l-Balaghah, jilid 1, hlm. 185, 186, jilid 12, hlm. 259 dan lain-lain.
  4. Ibn Abil-Hadid, Syarh Nahju’l-Balaghah, jilid 1, hlm. 175.
  5. Ibn Abil-Hadid, Syarh Nahju’I-Balaghah, jilid 12, hlm. 259.
  6. Ibn Abil-Hadid, Syarh Nahju’l-Balaghah, jilid 1, hlm. 186.
  7. Baladzuri, Ansab al-Asyraf, jilid 5, hlm. 16.
  8.  Abu uysuf dalamal-Atsar, hlm. 215.
  9. 9.      Ibnu Sa’d,Thabaqat, jilid 3, hlm. 247; Baladzuri, Ansab al-Asyraf, jilid 5, hlm 16; Mithibbuddin Thabari,Ar-Riydah an-Nadhirah, jilid 2, hlm. 76
  10. Lihat Bab 15, ‘Sikap ‘Ali terhadap Peristiwa Saqifah’ dan Bab 14: ‘Pembaiatan ‘Umar dan’Utsman’.
  11. Yang dibebaskan, baru memeluk Islam setelah penaklukan Makkah.
  12. Ba-ladzuri, Ansab al-Asyraf, jilid 5, hlm. 30.
  13. Menurut Mas’udi, ‘Utsman dikepung selama 49 hari, Thabari 40 hari, dan ada yang mengatakan lebih dari itu. Ia dibunuh malam Jumat 3 hari sebelum berakhir bulan Dzul Hijah, tahun 34 H, 8 Juli 655 M. LihatMurujadz-Dzahab, jilid 1, hlm. 431-432
  14. Dengan lafal yang sedikit berbeda lihatlah Shahih Bukhari, jilid 5, hlm. 17; Sunan Abu Dawud, jilid 2, hlm.25.
  15. Shahih Bukhari, Kitab Jihad, jilid 5, hlm. 21 dll.
  16. Lihat Mas’udi, Muruj adz-Dzahab, jilid 1, hlm. 424.
  17. Nama lelaki asal Mesir dan berjanggut panjang menyerupai ‘Utsman. Dalam al-Lisan al-’Arab Abu Ubaid berkata: ‘Orang mencerca ‘Utsman dengan nama Na’tsal ini’. Ada yang mengatakan Na’tsal ini orang Yahudi

.

Syahidnya Fathimah as.

Fatimah Az Zahra Wafat karena Di Pukul Perutnya Hingga Keguguran Lalu Sakit Parah Hingga Wafat !!!
Ya Nabi SAW Puterimu Di Zalimi !

Umar menendang pintu dan pintu, Fatimah jatuh tertimpa pintu, -tanpa patah tulang- Fatimah mendorong pintu agar menghalangi mereka masuk, Umar menendang pintu hingga terlepas dan mengenai perut Fatimah hingga Muhsin gugur dari perut ibunya. (Multaqal Bahrain hal 81, Al Jannah Al Ashimah hal 251)

Umar menggunakan pedang dan cambuk tanpa menyentuh pintu. Fatimah berteriak Wahai Ayahku, Wahai Rasulullah, lalu Umar mengangkat pedang yang masih di sarungnya dan memukul perut Fatimah, lalu Fatimah berteriak lagi, wahai ayahku, lalu Umar mencambuk tangan Fatimah,  Fatimah memanggil Wahai Rasulullah, betapa buruk penggantimu, Abubakar dan Umar. Ali melompat dan mencengkeram baju Umar dan membantingnya, dan memukul hidung serta lehernya. Ali berniat membunuh Umar tetapi dia teringat wasiat Rasulullah Shallallahu Alaihi wasallam. (Kitab Sulaim bin Qais , jilid 3 hal 538)

Fatimah didorong di pintu, tanpa ditendang, tanpa pedang, cambuk atau paku Al Mas’udi, seorang ahli sejarah mengatakan : Amirul Mu’minin Ali tinggal di rumahnya beserta beberapa pengikutnya, seperti yang dipesankan oleh Rasulullah, lalu mereka menuju rumah Ali dan menyerbunya, membakar pintu rumah dan memaksa orang yang di dalamnya untuk keluar, mereka mendorong Fatimah di pintu hingga janinnya gugur, mereka memaksa Ali untuk berbaiat dan Ali menolak, dan mengatakan : aku tidak mau, mereka mengatakan : kalau begitu kami akan membunuhmu, Ali mengatakan: jika kalian membunuhku maka aku adalah Hamba Allah dan saudara RasulNya. Lihat Itsbatul Washiyyah hal 123.   Umar menyerbu rumah Ali bersama tiga ratus orang. Diriwayatkan mengenai penyebab wafatnya Fatimah : Umar bin Khattab menyerang rumah Ali dan Fatimah bersama tiga ratus orang. (Lihat dalam kitab Al Awalim jilid 2 hal 58)

Umar memukul Fatimah di jalan, bukan di rumah Fatimah berhasil meminta surat dari Abubakar yang berisi pengembalian tanah Fadak pada Fatimah, ketika di jalan Fatimah bertemu Umar dan kemudian Umar bertanya: wahai putri Muhammad, surat apa yang ada di tanganmu? Fatimah menjawab: surat dari Abubakar tentang pengembalian tanah Fadak, Umar berkata lagi : bawa sini surat itu, Fatimah menolak menyerahkan surat itu, lalu Umar menendang Fatimah Amali Mufid hal 38, juga kitab Al Ikhtishash   Fatimah dicambuk. Yang disesalkan adalah mereka memukul Fatimah Alaihassalam, telah diriwayatkan bahwa mereka memukulnya dengan cambuk. (Talkhis Syafi jilid 3 hal 156  )

Punggungnya dicambuk dan dipukul dengan pedang. Lalu Miqdad berdiri dan mengatakan : putri Nabi hampir  meninggal dunia, sedang darah mengalir di punggung dan rusuknya karena kalian mencambuknya dan memukulnya dengan pedang, sedangkan di mata kalian aku lebih hina dibanding Ali dan Fatimah. (Ahwal Saqifah/ Kamil Al Baha’I, Hasan bin Ali bin Muhamamd bin Ali bin Hasan At Thabari yang dikenal dengan nama Imadudin At Thabari, jilid 1 hal 312.)

perbedaan yang banyak di antara sesama empat mazhab membuat anda pasti bingung kan ?

“Bukankah Anda mengetahui bahwa mazhab yang empat (madzâhibul arba’ah) itu saling bertentangan satu sama lainnya dalam banyak masalah, dan dalam hal ini mereka tidak berlandaskan pada dalil yang kuat atau keterangan yang jelas dan nyata bahwa ialah yang benar, bukan yang lainnya? Orang yang terikat dengan salah satu mazhab dari empat mazhab tersebut hanyalah menyebutkan dalil-dalil yang tidak ada penopangnya. Sebab, ia tidak semuanya bersumber pada al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw. Ia seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun.

Misalnya, seandainya Anda tanyakan kepada seseorang yang bennazhab Hanafi, ‘Mengapa engkau memilih mazhab Hanafi, bukan yang lainnya? Dan mengapa engkau memilih Abu Hanifah sebagai imam untuk dirimu setelah seribu tahun dari kematiannya?

Niscaya orang tersebut tidak akan memberikan jawaban yang memuaskan hatimu. Demikian juga jika Anda menanyakan hal yang sama kepada seseorang yang mengikuti mazhab asy-Syafi’i, Maliki, atau Hanbali.

Rahasia di balik itu adalah setiap imam dari empat mazhab tersebut bukanlah seorang nabi atau washiyy (orang yang menerima wasiat untuk meneruskan kepemimpinan nabi). Mereka tidak mendapatkan wahyu ataupun mendapatkan ilham, mereka hanya seperti ulama yang lain, dan orang yang seperti mereka amatlah banyak.

Kemudian mereka bukanlah sahabat Nabi Saw, kebanyakan mereka atau bahkan keseluruhan mereka tidak menjumpai Nabi Saw dan tidak pula menjumpai para sahabat Nabi Saw. Setiap orang dari mereka (imam mazhab yang empat) membuat mazhab untuk dirinya sendiri, ia mengikuti mazhabnya itu dan mempunyai pendapat­-pendapat tersendiri, yang boleh jadi terdapat kesalahan atau kelalaian di dalamnya.

Dan setiap dari mereka mempunyai pendapat yang bermacam-macam, yang satu sama lainnya saling bertentangan. Akal sehat tidak akan dapat menerima hal itu, demikian pula hati yang bersih. Sebab, ia tidak berdasarkan pada dalil yang tegas dan kuat, yaitu al-­Qur’an dan Sunnah Nabi Saw.

Maka, orang yang berpegangan atau mengikuti salah satu dari mazhab yang empat tersebut tidak mempunyai hujjah yang jelas lagi kuat kelak di hadapan Allah pada Hari Perhitungan. Sesungguhnya kepunyaan Allah-lah hujah yang jelas lagi kuat itu. Seandainya Allah menanyakan kepada orang yang mengikuti salah satu dari mazhab yang empat itu pada hari kiamat, dengan dalil apa engkau mengikuti mazhabmu ini? Tentu saja ia tidak mempunyai jawaban kecuali ucapannya, Dan Demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatan pun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: “Sesungguhnya Kami mendapati bapak- bapak Kami menganut suatu agama dan Sesungguhnya Kami adalah pengikut jejak-jejak mereka”. (Qs. Az-Zukhruf [43]:23)

Atau, ia berkata,

Ya Tuhan Kami, Sesungguhnya Kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar Kami, lalu mereka menyesatkan Kami dari jalan (yang benar). (Qs. Al-Azhab [33]:67)

“Adapun kami yang mengikuti wilâyah (kepemimpinan) al-’itrah ath-thâhirah (keturunan yang suci), Ahlulbait Nabi Saw yang telah disucikan Allah sesuci-sucinya dari segala dosa, dan kami beribadah kepada Allah Swt dengan mengikuti fiqih al-Ja’fari, kami akan berkata kelak pada Hari Perhitungan, ketika kami berdiri di hadapan Allah Swt.”

‘Wahai Tuhan kami, sesungguhnya Engkau telah memerintahkan kami dengan hal itu karena sesungguhnya Engkau telah berfirman di dalam Kitab-Mu, Apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Amat keras hukumannya.” (Qs. Al-Hasyr [59]:7)

Dan Nabi-Mu, Muhammad Saw, telah bersabda, sebagaimana yang telah disepakati kaum Muslim, “Sesungguhnya aku telah meninggalkan kepada kalian dua pusaka yang sangar berharga (ats-tsaqalain), yaitu Kitabullâh dan Itrah Ahlulbaitku; selama kalian berpegang teguh kepada keduanya, niscaya kalian tidak akan tersesat selamanya, dan sesungguhnya keduanya tidak akan berpisah sehingga menjumpaiku di Haudh.”

Dan Nabi-Mu juga telah bersabda, “Perumpamaan Ahlu/ Bairku di rengah-rengah kalian seperti bahrera Nuh barang siapa menaikinya, niscaya dia akan selamat; dan barangsiapa yang tertinggal darinya, niscaya dia akan tenggelam dan binasa.”

Dan tidak diragukan lagi bahwa Imam Ja’far ash-Shadiq As adalah dari al-i’trah ath-thâhirah (keturunan yang suci), yaitu Ahlulbait Nabi Saw yang telah disucikan Allah sesuci-sucinya dari segala dosa. llmunya adalah ilmu ayahnya, ilmu ayahnya adalah ilmu kakeknya, yaitu Rasulullah Saw, sedangkan ilmu Rasulullah Saw bersumber dari Allah.

Selain itu, semua kaum Muslim telah sepakat akan kejujuran dan keutamaan Imam Ja’far Ash-Shiidiq As: Sesungguhnya ia (Imam Ja’far Ash-Shiidiq As) adalah seorang washiyy keenam dan Imam Maksum, sesuai keyakinan segolongan besar kaum Muslim, yaitu para pengikut mazhab Ahlubait, mazhab yang hak. Dan sesungguhnya ia adalah hujah Allah atas makhluk-Nya.

Imam Ja’far Ash-Shadiq As meriwayatkan hadis dari ayah  dan datuknya yang suci, dan ia tidak berfatwa dengan pendapatnya sendiri. Hadisnya adalah “hadis ayahku dan datukku”. Sebab, mereka adalah sumber ilmu dan hikmah.

Mazhab Imam Ja’far ash-Shadiq As adalah mazhab ayahnya, dan mazhab kakeknya bersumber dari wahyu, yang tidak akan pernah berpaling sedikit pun darinya. Bukan dari hasil ijtihad, seperti lainnya yang berijtihad.

Oleh karena itu, orang yang mengikuti mazhab Ja’far bin Muhammad ash-Shadiq As dan mazhab kakek-kakeknya, berarti ia telah mengikuti mazhab yang benar dan berpegang teguh pada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Saw.

Setelah aku kemukakan dalil-dalil yang jelas dan kuat, Syaikh al-Azhar tersebut mengucapkan banyak terima kasih kepadaku dan ia pun sangat memuliakan kedudukanku.

Kemudian ia menanyakan tentang pandangan Syi’ah terhadap para sahabat Rasulullah Saw. Lalu, aku jelaskan kepadanya bahwa Syi’ah tidak menecela sahabat Rasulullah Saw secara keseluruhan. Akan tetapi, Syi’ah meletakkan mereka sesuai kedudukan mereka. Sebab, di antara mereka ada yang adil dan ada pula yang tidak adil, di antara mereka ada yang pandai dan ada pula yang bodoh, dan di antara mereka ada yang baik dan ada pula yang jahat.

Bukankah Anda tahu apa yang telah mereka lakukan pada hari Saqifah? Mereka telah meninggalkan jenazah Nabi mereka dalam keadaan terbujur kaku di atas tempat tidumya, mereka berlomba-lomba memperebutkan kekhalifahan. Setiap orang dari mereka beranggapan bahwa ialah yang berhak menjadi khalifah, seakan-akan ia adalah barang dagangan yang dapat diperoleh bagi siapa saja yang lebih dahulu mendapatkannya. Padahal mereka telah mendengar nash-nash yang tegas yang telah disampaikan oleh Nabi Saw tentang kekhalifahan ‘Ali bin Abi Thalib As, baik sejak awal dakwahnya maupun hadis Ghadir Khum yang terkenal itu.

Selain itu, mengurusi jenazah Rasulullah Saw lebih penting daripada urusan kekhalifahan. Bahkan, seandainya saja Rasulullah Saw tidak mewasiatkan seseorang untuk menjadi khalifahnya (Rasulullah Saw. secara tegas telah menunjuk ‘Ali untuk menjadi khalifahnya), maka wajib bagi mereka untuk mengurusi jenazah Rasulullah Saw  terlebih dahulu.

Kemudian setelah selesai mengurusi jenazah Rasulullah Saw, seyogyanya mereka menyatakan belasungkawa kepada keluarga beliau, seandainya saja mereka adalah orang-orang yang adi!.

Akan tetapi, dimanakah keadilan dan perasaan hati mereka, dimanakah keluhuran akhlak, dan dimanakah ketulusan dan kecintaan? Dan yang lebih menyakitkan lagi di dalam hati adalah penyerbuan mereka ke rumah belahan jiwa Rasulullah Saw, Fatimah az-Zahra As, yang dilakukan oleh sekitar lima puluh orang pria.

Mereka telah mengumpulkan kayu bakar untuk membakar rumah Fatimah dan semua orang yang di dalamnya. Sehingga ada seseorang yang berkata kepada ‘Umar, “Sesungguhnya di dalam rumah tersebut terdapat al-Hasan, al-Husain, dan Fatimah.”

Akan tetapi, ‘Umar berkata, “Walaupun (di dalam rumah tersebut ada mereka).”

Peristiwa ini banyak disebutkan oleh sejarawan Ahlus Sunnah,[3] apalagi para sejarawan Syi’ah.

Semua orang tahu, baik orang yang berbakti maupun orang yang jahat, bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Fatimah adalah belahan jiwaku. Barang siapa yang menyakitinya, maka ia telah menyakitiku; barang siapa yang membuatnya murka, maka ia telah membuatku murka; barang siapa yang membuatku murka, maka ia teah membuat Allah murka; dan barang siapa membuat Allah murka, maka Allah akan menyungkurkan kedua lubang hidungnya ke dalam neraka.

Peristiwa-peristiwa yang terjadi pada para sahabat Nabi Saw secara jelas menunjukkan bahwa tidak semua sahabat itu adil. Silakan Anda merujuk ke Shahîh al-Bukhâri dan Shahîh al-Muslim tentang hadis Haudh, niscaya Anda akan mendapatkan kebenaran pendapat Syi’ah tentang penilaian mereka terhadap para sahabat Nabi Saw.

Jika demikian adanya, maka dosa apakah bagi mereka (Syi’ah) jika mereka berpendapat bahwa banyak di antara sahabat Nabi Saw yang tidak adil, sedangkan banyak dari mereka sendiri (para sahabat Nabi Saw.) yang menunjukkan jati diri mereka sendiri.

Perang Jamal dan Perang Shiffin adalah dalil dan bukti yang paling jelas terhadap kebenaran pendapat mereka (Syi’ah). Dan al-Qur’an telah menyingkapkan banyak keburukan perbuatan di antara mereka (para sahabat Nabi Saw).

Bukankah Anda juga tahu apa yang telah dilakukan oleh Mu’awiyah, ‘Amru bin ‘Ash, Marwan bin Hakam, Ziyad dan anaknya, Mughirah bin Syu’bah, ‘Umar bin Sa’ad bin Abi Waqqash, Thalhah dan Zubair, yang keduanya telah memberikan baiat kepada Amirul Mukminin ‘Ali As, tetapi keduanya kemudian melanggar baiatnya dan memerangi Imam mereka (‘Ali bin Abi Thalib As) bersama ‘A’isyah di Basrah, yang sebelumnya mereka telah melakukan kejahatan-kejahatan di kota tersebut (Basrah) yang tidak pantas dilakukan oleh seseorang yang mempunyai jiwa satria.

Selain itu, selama keberadaan Nabi Saw di tengah-tengah mereka (para sahabat beliau), banyak di antara mereka yang melakukan perbuatan nifâk (munafik), apakah kemudian setelah Nabi Saw menemui Tuhannya (wafat), mereka lantas menjadi adil semuanya?

Kita sama sekali tidak pernah mendengar bahwa ada salah seorang nabi di antara nabi-nabi yang diutus kepada umatnya, lalu semua umatnya menjadi adil. Bahkan, yang terjadi adalah sebaliknya. Al-Qur’an dan Sunnah telah menjelaskan kepada kita tentang hal itu.

Sesungguhnya apa yang telah kami persembahkan kepada para pembaca adalah bersumber dari  al-Qur’an dan hadis-hadis Nabi Saw, yang diriwayatkan dalam hadis sahih dalam kitab-kitab sahih Sunni, dan merupakan bukti yang kuat terhadap kekhalifahan Amirul Mukminin ‘Ali bin Abi Thalib sepeninggal Rasulullah Saw secara langsung (belâ fashl), sekiranya orang yang menentang kami berlaku adil.

Perhatikanlah dengan seksama dan sungguh-sungguh terhadap semua yang telah kami sebutkan  yaitu hujjah dan keterangan yang jelas, dengan begitu niscaya akan tersingkap kebenaran yang hakiki bagi Anda dan akan memudahkan jalan bagi siapa saja yang hendak menempuh jalan kebenaran. Yaitu, orang-orang yang mengikhlaskan niatnya dan menjauhkan dirinya dari fanatisme mazhab yang membutakan hati dan pikiran sehat dan membinasakan.

Orang yang bersikeras dalam fanatismenya, tidak akan berguna riwayat, walaupun jumlahnya sangat banyak dan telah dikemukakan baginya seribu dalil.

Adapun orang yang mempunyai pikiran yang jemih dan akal yang cerdas, maka yang telah kami persembahkan, dalil-dalil al-Qur’an dan Sunnah, telah memadai baginya karena dalil-dalil tersebut adalah riwayat-riwayat yang sahih yang telah disepakati kebenarannya, baik di kalangan Sunni maupun Syi’ah.

Selain itu, orang yang bersikeras di dalam kefanatikannya, bahkan seandainya Nabi Saw sendiri yang datang kepadanya dan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya dia tetap akan berada di dalam sikap keras kepalanya. Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh   salah seorang di antara mereka, yang keras kepala, kepada saudaraku “Seandainya Jibril turun, dan ikut bersamanya Muhammad dan ‘Ali, aku tetap tidak akan membenarkan ucapanmu.”

Sesungguhnya manusia itu bermacam-macam. Dan merupakan hal yang sulit mendapatkan kerelaan seluruh manusia, bahkan itu merupakan suatu hal yang mustahil diraih.

Semoga Allah Swt. mencurahkan rahmat-Nya kepada ‘Ali al-Kailani, seorang pujangga berkebangsaan Palestina yang berkata,

Jika Tuhannya makhluk tidak meridhai makhluk-Nya,

Maka bagaimana mungkin makhluk dapat diharapkan keridhaannya.


[1] . Allah membukakan hatinya untuk menerima dan mengikuti mazhab yang benar yaitu mazhab Ahlulbait al-Ja’fari.

[2] . Silahkan Anda rujuk pada bagian ketiga dari buku ini.

[3] .  Lihat al-Imâmah was Siyâsah. Ar-Riyadhun Nadhrah, Murujudz Dzahab, Ansâbul Asyrâf, al-Imâm ‘Ali, karya ‘Abdul Fattah ‘Abdul Maqshud, Syarh Nahjul Balâghah, karya Ibn Abil Hadid, dan kitab-­kitab lainnya yang ditulis oleh para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah. Anda akan mendapatkan bahwa mereka menyebutkan peristiwa yang menyedihkan dan memilukan hati ini. Adapun Syi’ah, para sejarawan mereka telah menyebutkan peristiwa yang menyakitkan hati ini berikut nama-nama mereka yang melakukan tindakan kejahatan ini. Mereka menyatakan bahwa perirstiwa penyerbuan ke rumah Fatimah As tersebut dipimpin oleh ‘Umar “seorang pahlawan yang gagah berani” tetapi gagah berani bukan di medan perang.

Al Quran tulisan tangan imam Ali ditemukan ??

Tuesday, June 19, 2012   10:59

oleh : Ustad Husain Ardilla

Al-Quran Karim yang diklaim sebagai tulisan tangan Pemimpin Orang-orang Bertakwa, Imam Ali as. Di stand Penerbit Hizmet Turki, diekspos di Ruang Pameran Al-Quran Internasional.

Penerbit Hizmet yang berada di Istanbul Turki, dalam rangka untuk mengekspos peninggalan-peninggalan sejarah agama yang mereka miliki kepada masyarakat Iran, untuk pertama kalinya, ikut serta dalam pameran yang diadakan di Ruang Pameran Al-Quran Internasional Tehran.

Diantara peninggalan yang dipamerkan kepada para pengunjung adalah sebuah transkripsi Al-Quran Karim yang diklaim sebagai hasil tulisan Imam Ali as dan sebuah buku berjudul “Amanat-amanat Suci” yang berisikan gambar-gambar tentang peninggalan-peninggalan yang berkaitan dengan Rasulullah saw dan para Imam Suci as, terhusus tentang Sayidah Fatimah Az-Zahra as yang tersimpan di Museum Topkapi Istanbul.

Peninggalan lain yang juga di pamerkan pada stand Penerbit Hizmet Turki adalah, sebuah transkripsi Al-Quran yang diklaim sebagai tulisan tangan Ustman bin Affan bergaya tulis Kufah yang dipublikasikan oleh Pusat Penelitian Sejarah, Seni dan Kebudayaan Islam ARSIKA bekerjasama dengan Badan Koperasi Islam dan juga dua orang kaligrafer terkenal Turki.

Meskipun sesi internasional pameran Al-Quran belum resmi dibuka, namun dikarenakan sambutan yang meluas oleh negara-negara kawasan dalam mengikuti even ini, saat ini di Mushala Tehran, stand negara Lebanon dan Turki sudah mulai memamerkan peninggalan-peninggalan yang mereka miliki.

Iran telah meluncurkan Quran Persia tertua selama 18 edisi Pameran Quran Internasional di ibu kota Teheran.

Seorang peneliti Iran Ali Revaqi menemukan kitab tersebut di Perpustakaan Pusat Astan Quds Razavi di kota Masyhad.

Revaqi, yang telah melakukan penelitian ekstensif Quran Persia, menemukan kitab abad ke-10 di antara ribuan naskah Al-Quran disimpan di perpustakaan, menurut kantor berita Iran IRNA

Quran tersebut diterbitkan dalam dua volume berisi teks asli bahasa Arab dan ditulis pula dalam skrip Kufic disertai dengan terjemahan Persia.

Sebagai halaman pertama dan terakhir dari buku yang hilang, identitas penerjemah tidak dapat ditentukan.

Di Pusat Perpustakaan Astan Quds Razavi tardapat 80.000 naskah dan ribuan buku litografi kuno, dari sekitar 16.000 diantaranya adalah naskah Alquran.

Sepuluh dari naskah-naskah Al-Quran tersebut berisi tulisan tangan dari Imam Syiah, Imam Ali (SAW), Imam Husain (SAW), Imam Hassan (SAW), Imam Sajjad (SAW), Imam Reza (saw) dan Imam Kazem (saw).

Lebih dari 340 orang Iran dan 15 penerbit internasional menawarkan produk-produk mereka pada tahun ini di Pameran Quran, dan lebih dari 90 perusahaan sedang melakukan presentasi perangkat lunak Alquran.

Pada pameran tahun ini juga diadakan pertunjukan teater, pameran foto dan resital puisi di sela-sela acara sekaliber internasional tersebut.

Pengunjung juga dapat menikmati melihat langit pada malam hari di atas kota Teheran menggunakan beberapa teleskop didirikan di situs tersebut.

Pameran Manuskrip Qur’an Yang Berhubungan Dengan Para Imam as Dalam Kompetisi Internasional Al-Qur’an

Tim Internasional: Enam mansukrip kuno Al-Qur’an yang dipercaya berhubungan dengan para Imam as dipamerkan di sela-sela kompetisi internasional Al-Qur’an.

Enam manuskrip kuno tulisan tangan Al-Qur’an yang dipercaya pernah ditulis sendiri oleh para Imam Ali as, Imam Hasan as, Imam Husain as, Imam Sajjad as, dan Imam Musa Kadzim as, dipamerkan dalam Ruang Pameran Propinsi Quds Razavi dalam kompetisi Qur’an internasional ke-29 yang sedang berlangsung di Milad Tower Tehran.

Dua manuskrip Qur’an lainnya dipercaya juga tulisan tangan para Imam, namun masih belum dipastikan Imam siapakah yang telah menulisnya.

Manuskrip-manuskrip Qur’an tersebut ditulis dengan khat Kufi. Sedangkan menurut para penanggung jawab Ruang Pameran Propinsi Quds Razavi, ada sekitar 84.000 manuskrip Qur’an yang disimpan dalam perpustakaan Propinsi Quds Razavi.

Para Ulama Sunni dan Syiah sepakat bahwa Imam ‘Ali adalah orang yang pertama kali membukukan Al-Qur’an berdasarkan turunnya wahyu untuk yang pertama kalinya. Banyak hadits sunni dan syiah yang menerangkan bahwa sepeninggal Nabi Muhammad Saaw, Imam ‘Ali bersumpah bahwa ia tidak akan keluar dari rumahnya sampai ia menyelesaikan pembukuan tersebut.

Referensi Sunni :
– Fat’hul Bari fi Sharh Sahih al-Bukhari, oleh Ibn Hajar al-Asqalani, vol 10, hal 386
– al-fihrist, oleh (Ibn) an-Nadim, hal 30
– al-Itqan, oleh al-Suyuti, vol 1, hal 165
– al-Masahif, oleh Ibn Abi Dawud, hal 10
– Hilyatul awliya’, oleh Abu Nu’aym, vol 1, hal 67
– al-Sahibi, oleh Ibn Faris, hal 79
– ‘Umdatul Qari, oleh al-Ayni, vol 20, hal 16
– Kanzul Ummal, oleh al-Muttaqi al-Hindi, vol 15, hal 112-113
– al-Sawa’iq al-Muhriqah, oleh Ibn Hajar al-Haythami, Bab. 9, bagian 4, hal 197
– Ma’rifat al-Qurra’ al-kibar, oleh al-Dhahabi, vol 1, hal 31

Dalam hadits syiah juga diterangkan bahwa Nabi Muhammad lah yang memerintahkan Imam ‘Ali untuk melakukan pembukuan tersebut. (Al-Bihar vol 92 hal 40-41, 48, 51-52)

Adapun keunikan dari Al-Qur’an yang disusun Imam ‘Ali adalah :

A. Dikumpulkan berdasarkan turunnya wahyu, hal inilah yang membuat Muhammad ibn Siren (seorang tabi’i, ulama terkemuka) merasa menyayangkan bahwa Al-Qur’an tsb kini tidak berada di tangan umat muslim “Jika transkip Al-Qur’an itu berada di tangan kita, tentunya banyak pengetahuan yang dapat kita petik”.

Referensi Sunni :
– at-Tabaqat, oleh Ibn Sa’d, vol 2, bag 2, hal 101
– Ansab al-ashraf, oleh al-Baladhuri, vol 1, hal 587
– al-Istiab, oleh Ibn Abd al-Barr, vol 3, hal 973-974
– Sharh Ibn Abi al-Hadid, vol 6, hal 40-41
– al-Tas’hil, oleh Ibn Juzzi al-Kalbi, vol 1, hal 4
– al-Itqan, oleh al-Suyuti, vol 1, hal 166
– al-Sawa’iq al-Muhriqah, oleh Ibn Hajar al-Haythami, Bab. 9, bagian 4, hal 197
– Ma’rifat al-Qurra’ al-kibar, oleh al-Dhahabi, vol 1, hal 32

Berdasarkan transkip tersebut mayoritas ulama sunni menyatakan bahwa surat yang pertama kali turun adalah surat al-iqra/al-alaq (QS 96).

Referensi Sunni:
– al-Burhan, oleh al-Zarkashi, vol 1, hal 259
– al-Itqan, oleh al-Suyuti, vol 1, hal 202
– Fathul Bari, oleh Ibn Hajar al-Asqalani, vol 10, hal 417
– Irshad al-sari, oleh al-Qastalani, vol 7, hal 454

Sedangkan pada kenyataannya surat Al-Alaq justru bukan terletak dibagian awal Al-Quran, tapi justru hampir di akhirnya. Mayoritas muslim juga sepakat bahwa ayat 5:3 merupakan salah satu dari ayat-ayat yang terakhir kali diturunkan (tapi bukan yang terakhir). Tapi pada kenyataannya tidak terletak pada bagian akhir Al-Qur’an.

Hal ini membuktikan bahwa meskipun Al-Quran yang saat ini kita gunakan benar-benar lengkap, namun susunannya tidak sesuai dgn yang semestinya.

Oleh sebab itulah wajar kiranya jika Imam ‘Ali mengatakan : “Tanyakan lah kepadaku sebelum kalian kehilanganku. Demi Allah, jika kalian bertanya tentang apa pun yang terjadi sampai hari pengadilan, aku akan menjawabnya. Tanyalah aku, Demi Allah, kalian tak akan mengetahui apapun sebelum aku mengatakannya kepadamu. Tanyakan kepadaku tentang kitab Allah,Demi Allah sebab tidak ada satu pun ayat yang tidak aku ketahui, baik ketika diturunkan pada siang atau malam hari, baik di gurun maupun di pegunungan.”

Referensi Sunni :
– al-Riyadh al-Nadhirah, oleh al-Muhib al-Tabari, vol 2, hal 198
– at-Tabaqat, oleh Ibn Sa’d, vol 2, bag 2, hal 101
– al-Isabah, oleh Ibn Hajar al-Asqalani, vol 4, hal 568
– Tahdhib al-Tahdhib, oleh Ibn Hajar al-Asqalani, vol 7, hal 337-338
– Fathul Bari, oleh Ibn Hajar al-Asqalani, vol 8, hal 485
– al-Istiab, oleh Ibn Abd al-Barr, vol 3, hal 1107
– Tarikh al-Khulafa, oleh al-Suyuti, hal 124
– al-Itqan, by al-Suyuti, vol 2, hal 319

B. Dalam transkip Al-quran ini didalamnya terdapat tafsir dan ta’wil yang langsung ditafsirkan serta di ta’wilkan oleh Nabi Muhammad Saaw, tapi bukan pada bagian ayat-ayat Al-Quran nya.

C. Dalam transkip ini juga terdapat nama-nama orang, lokasi, serta peristiwa yang menyebabkan suatu ayat diturunkan atau bisa dikatakan asba al-nuzul-nya.

Referensi Sunni :
– Hilyatul Awliyaa, oleh Abu Nu’aym, vol 1, hal 67-68
– at-Tabaqat, oleh Ibn Sa’d, vol 2, bag 2, hal 101
– Kanzul Ummal, oleh al-Muttaqi al-Hindi, vol 15, hal 113
– al-Sawa’iq al-Muhriqah, oleh Ibn Hajar al-Haythami, Bab. 9, Sub-Bab 4, hal 197

Dari keterangan diatas terutama dari ucapan Muhammad ibn Siren dapat disimpulkan bahwa Mushaf Imam ‘Ali bukan hilang beberapa lembar, tapi semuanya. Tapi itu hanya pendapat saya saja, mungkin ada yang mau tambahin atau koreksi….

Mengenal Mushaf Imam Ali

Nubuat  kebangkitan Islam di Iran dalam Al Quran :

“….dan jika mereka berpaling, digantikan satu kaum selain kamu kemudian mereka tidak menjadi seperti kamu” (surah Muhammad, ayat 38)
.

“… mereka bertanya kepada Rasulullah s.a.w: “Siapakah mereka yang jika kami berpaling, kami akan digantikan dan mereka tidak akan jadi seperti kami?” jawab Rasulullah sambil menepuk tangannya ke bahu Salman al-Farisi, sambil bersabda: “dia dan kaumnya, sekiranya ad-Din terletak di bintang Suria nescaya akan dicapai oleh pemuda-pemuda daripada kalangan bangsa Parsi” (Tafsir Ibnu Kathir)
.
Begitu juga Surah Jumuah ayat 3 dalam Sunan Tirmidzi menceritakan hal yang sama.

Yang dimaksud dengan mushaf Imam Ali As adalah naskah al-Qur’an yang dikumpulkan dan disusun oleh Imam Ali As pasca wafatnya Rasulullah Saw.Mushaf ini memiliki beberapa tipologi tertentu seperti susunan tepat ayat-ayat dan surah-surah berdasarkan nuzul (pewahyuan), sesuai dengan bacaan Rasulullah Saw (yang merupakan bacaan paling orisional) yang mencakup tanzil, ta’wil dan lain sebagainya.

Beberapa tipologi ini tidak dapat ditemukan pada mushaf-mushaf lainnya.  Inti keberadaan mushaf seperti ini telah ditetapkan; misalnya pada kitab al-Thabaqât al-Kubrâ, Muhammad bin Sa’ad (w 230 H); Fadhâil al-Qur’ân, Ibnu Dhurais (w 294 H); Kitâb al-Mashâhif, Ibnu Abi Daud (w 316 H); Kitâb al-Fahrast, Ibnu Nadim yang mengutip dari Ahmad bin Ja’far Munadi yang lebih dikenal sebagai Ibnu Munadi; al-Mashâhif, Ibnu Asytah (w 360 H); Hilyât al-Auliyah wa Thabaqât al-Ashfiyah, Abi Nu’aim al-Isfahani (w 430 H);Al-Isti’âb fi Ma’rifat al-Ashhâb, bahkan volume literatur Ahlusunnah dan berita-berita tentang masalah ini lebih banyak dari literatur-literatur Syiah sendiri. .

Ringkasan Pertanyaan
.
Bilamana al-Qur’an yang ada pada zaman kita sekarang ini dikumpulkan?
.
Pertanyaan
Telah jelas bahwa ketika Rasulullah Saw membacakan al-Qur’an untuk masyarakat ketika itu, sahabat-sahabat Nabi, yang bertugas mencatat Wahyu Ilahi pada waktu itu, juga menuliskan ayat-ayat al-Qur’an itu, namun pertanyaannya adalah kapankah terjadi pengumpulan al-Qur’an secara keseluruhan sehingga pengumpulan tersebut menghasilkan “al-Qur’an” yang ada pada zaman kita sekarang?
.

Jawaban :

Ada tiga pendapat yang menyatakan tentang bagaimana al-Qur’an dikumpulkan:

1.       Al-Qur’an dikumpulkan semenjak pada zaman Rasulullah Saw dan dengan pengawasan secara langsung dari beliau meski bukan beliau sendiri yang menulis dan mengumpulkannya.[1]

2.       Al-Qur’an yang ada pada zaman sekarang ini dikumpulkan oleh Imam Ali As dan pengumpulannya beliau lakukan selepas Rasulullah Saw wafat dan melakukan hal ini ketika berdiam diri di rumah.[2]

3.       Al-Qur’an dikumpulkan setelah wafatnya Rasulullah Saw oleh sebagian sahabat Nabi Saw.[3]

Mayoritas ulama Syiah menerima pendapat yang pertama, khususnya ulama-ulama kiwari yang meyakini bahwa al-Qur’an dikodifikasi pada masa Rasulullah Saw dan dilakukan di bawah pengawasan beliau.[4]

Sebagian lainnya menerima pandangan kedua dan memandang bahwa Imam Ali As yang mengkodifikasi al-Qur’an ini.[5]

Namun sebagian besar Ahli Sunah memilih pendapat ketiga. Kaum orientalis juga meyakini kebenaran akan pendapat belakangan ini, bahkan mereka menambahkan bahwa al-Qur’an yang dikumpulkan oleh Imam Ali As tidak mendapat perhatian dari para sahabat sendiri.

Sebagaimana yang telah kita ketahui bersama bahwa sesuai dengan pendapat yang pertama dan kedua, pengumpulan al-Qur’an disandarkan kepada Allah Swt. Demikian pula dengan keberadaan surat-surat beserta urutannya yang juga merupakan Wahyu Allah Swt. Karena Rasulullah, sesuai dengan penjelasan al-Qur’an bahwa, “Dan dia tidak berbicara menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (Qs. al-Najm [53]: 2-3). Segala sesuatu yang disabdakan oleh Nabi Saw, khususnya dalam masalah keagamaan, mengikuti petunjuk wahyu, demikian pula para Imam, selepas wafatnya nabi, adalah penerus jalan risalah dan telah diangkat oleh Allah Swt dengan dibekali ilmu laduni.

Kelompok yang menerima pendapat ketiga, mereka bukan saja tidak akan dapat membuktikan bahwa kedua hal ini bersumber dari Tuhan dan memiliki corak Ilahiah; tentang kemunculan surat-surat dan urutannya yang ada di al-Qur’an, namun juga pada hakekatnya mereka mengingkari bahwa kedua hal ini bersumber dari Tuhan. Mereka berpandangan bahwa selera pribadi para sahabat turut andil dalam menentukan urusan ini.

Dalam pembahasan ini perlu diketahui bahwa:

1.       Allamah Thabathaba’i berkata ketika menafsirkan ayat: Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (Qs. Hijr: 9) bahwa: Ciri-ciri khusus yang dimiliki oleh al-Qur’an, seperti kefasihan dan keindahan gaya bahasa, tidak adanya ikhtilaf antara satu ayat dengan ayat yang lainnya dan juga tidak adanya seorang pun yang bisa menandinginya, semuanya terdapat dalam al-Qur’an yang ada pada tangan kita sekarang. Oleh karena itu kita simpulkan bahwa al-Qur’an yang ada pada zaman sekarang ini, adalah al-Qur’an yang ada pada masa permulaan datangnya agama Islam juga dan yang telah pula dikenal pada zaman Nabi Muhammad Saw sendiri.[6]

Walaupun penafsiran ini menafikan adanya distorsi (tahrif) terhadap Al Qur’an, namun tidak dapat menetapkan dan membuktikan bahwa kumpulan, bentuk dan coraknya adalah bersumber dari Tuhan; lantaran tipologi yang telah disebutkan tersebut, tidak sedimikian sehingga dapat membuktikan urutan kumpulan ayat-ayat yang merajut surah-surah, dan urutan surah-surah yang membentuk al-Qur’an yang ada tidak dapat digunakan sebagai dalil untuk menetapkan bahwa urutan keseluruhan ayat-ayat yang membentuk suatu surat, dan urutan kumpulan surat-surat yang membentuk al-Qur’an yang ada sebagaimana yang ada pada zaman Nabi Saw.

2.       Apabila ada seorang yang mampu menetapkan dan membuktikan kemukjizatan bilangan di samping kosa-kata dan susunan Qur’ani pada domain surah-surah dan urutan-urutannya yaitu antara ayat-ayat yang terdapat pada satu surah dan dengan surah-surah itu sendiri terjalin hubungan bilangan khusus dimana hal tersebut mustahil bagi manusia maka corak Ilahiah surah-surah dan urutannya juga akan terbukti, namun demikian kembali corak Ilahiah urutan seluruh ayat-ayat yang terajut dalam sebuah surah tidak akan terbukti.[7]

Untuk memahami lebih detail tentang pembahasan ini, silahkan Anda merujuk:

Mahdi Hadavi Tehrani, Mabâni Kalâmi Ijtihâd


[1]. Sayid Abdul Wahab Thaliqani, ‘Ulumul Qur’ân, Hal. 83

[2]. Sayid Muhammad Ridha Jalali Naini, Târikh Jam’ Qur’ân Karim, Hal. 87

[3]. Pendapat ini banyak diterima oleh kebanyakan Ahlus Sunah, Idem , Hal. 19-51

[4]. Sayid Abdul Wahab Thaliqani, ‘Ulumul Qur’an, Hal. 83; Sayid Ali Milani, al-Tahqiq fii Nafii al-Tahrif ‘an al-Qur’an al-Syarif, hal. 41-42, dan hal. 46, Muhammad Hadi Ma’rifat, Shiyanat al-Qur’an min al-Tahrif, hal. 34

[5]. Sayid Muhammad Ridha Jalali Naini, Târikh Jam’ Qur’ân Karîm, Hal. 80

[6]. Allamah Thaba-thabai, al-Mizan, jil. 12, Hal. 104, 106 dan 138

[7]. Mahdi Hadavi Tehrani, Mabâni Kalâmi Ijtihâd, Hal. 54-55, Muasasah Farhange Khaneh Khurd, Qum, Cetakan pertama, 1377

hari demi hari kebenaran-kebenaran Syi’ah dan Al Qur’an semakin terbukti.

Al Qur'an dan Ilmu Pengetahuan

Pendahuluan

Tujuan Tuhan menurunkan Al Qur’an adalah mendidik umat manusia. Semakin manusia mengingkari Al Qur’an, keunggulan Al Qur’an semakin terus terlihat pula. Inilah kriteria hakikat. Oleh karena itu pembesar-pembesar kita sering berkata: “Kami tidak takut Al Qur’an dikritik. Kami hanya takut berbohong atas nama Al Qur’an.” Karena perbuatan itu tidak dibenarkan sama sekali.

Tidak benar jika kita katakan Al Qur’an sesuai dengan ilmu pengetahuan manusia seribu empat ratus tahun yang lalu. Banyak permasalahan-permasalahan ilmiah yang disinggung Al Qur’an yang ternyata terbukti di jaman-jaman setelahnya. Jika seandainya Al Qur’an menjelaskan masalah yang sudah jelas-jelas difahami oleh umat manusia di jaman itu, apa istimewanya Al Qur’an? Tidak ada hal yang spesial dalam hal itu. Karena semua orang pun bisa melakukan hal yang sama, yakni melakukan sesuatu yang biasa-biasa saja dan sudah lumrah bagi semua orang. Justru menurut kami sampai saat ini ilmu pengetahuan tidak dapat mencari titik kesalahan apa yang pernah dijelaskan Al Qur’an. Faktanya, hari demi hari kebenaran-kebenaran Al Qur’an semakin terbukti. Profesor Moris Boka berkata:

“Dari sejak awal aku meneliti, banyak sekali permasalahan-permasalahan rinci dan ilmiah dalam Al Qur’an yang terus menerus membuatku kagum, sampai aku tidak percaya banyak sekali penemuan-penemuan masa kini yang sudah pernah ada dalam tulisan kuno berumur seribu empat ratus tahun!”[1]

Salah satu sisi “kemukjizatan” Al Qur’an adalah keilmiahannya. Karena saat Al Qur’an diturunkan, ilmu pengetahuan manusia masih sederhana dan belum mencapai penemuan-penemuan tertentu, namun saat itu juga Al Qur’an telah menjelaskannya. Banyak sekali hal-hal ilmiah dalam Al Qur’an yang dapat kita temukan, yang di antaranya adalah seperti:

1. Berpasang-pasangannya tumbuhan: Al Qur’an menyinggung permasalahan ini dalam beberapa ayat sucinya. Dalam Tafisr Nemune, di bawah ayat yang berbunyi: “Dan apakah mereka tidak memperhatikan bumi, berapakah banyaknya Kami tumbuhkan di bumi itu pelbagai macam tumbuh-tumbuhan yang baik?” (QS. Asy-Syu’ara’ [26]:7), disebutkan:

Dalam ayat di atas, perlu kita perhatikan mengapa digunakan kata zauj. Meskipun para ahli tafsir mengartikannya sebagai “jenis” dan azwaj diartikan dengan “jenis-jenis”, apa salahnya jika kita memaknai kata itu dengan makna aslinya sebagaimana saat kata itu terlintas di pikiran kita untuk pertama kalinya? Yakni dengan makna “pasangan” dengan maksud berpasang-pasangannya tumbuhan. Sejak jaman dahulu kala manusia sudah tahu bahwa tumbuhan juga memiliki jenis jantan dan betina, dan mereka terkadang mengawinkan pasangan-pasangan tumbuhan itu. Contoh yang paling jelas adalah pohon kurma. Pada permulaan abat ke-18, untuk pertama kalinya, Profesor Line, seorang ilmuan botani terkenal dari Swedia berhasil menemukan dan membuktikan bahwa permasalahan berpasangannya tumbuhan adalah kaidah umum dan tumbuh-tumbuhan sama seperti binatang yang berreproduksi dengan cara perkawinan, lalu terjadi pembuahan dan akhirnya muncullah buah sebagai hasilnya. Namun Al Qur’an telah menjelaskan masalah ilmiah ini berkali-kali dalam ayat sucinya jauh sebelum penemuan ilmuan Swedia itu (di ayat ke-4 surah Ar Ra’d, ayat ke-10 surah Luqman, ayat ke-7 surah Qaaf, dan ayat ini).[2]

Permasalahan ilmiah ini tidak pernah difahami oleh umat manusia pada seribu empat ratus tahun yang lalu secara jelas. Akhir-akhir ini saja ilmuan menyingkap fenomena alami yang menakjubkan itu. Bahkan selain keberpasangan tumbuhan, Al Qur’an juga menyatakan bahwa segala sesuatu di alam semesta juga berpasang-pasang. Allah swt berfirman: “Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah.” (QS. Adz-Dzaariyaat [51]:49)

Ini juga salah satu mukjizat Al Qur’an. Karena saat ini para ilmuan juga membuktikan bahwa segala sesuatu memiliki unsur negatif atau positif, atau apapun itu.

2. Gravitasi bumi: Salah satu permasalahan ilmiah yang juga dijelaskan Al Qur’an adalah gravitasi bumi. Allah swt berfirman: “Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembang biakkan padanya segala macam jenis binatang.” (QS. Luqman [31]:10)

Para mufasir di bawah ayat itu menjelaskan permasalahan gravitasi bumi. Mereka berkata: Di ayat itu dijelaskan beberapa dari mukjizat-mukjizat Al Qur’an, yakni menjelaskan sesuatu yang mana orang-orang di saat itu sama sekali belum pernah berfikir tentangnya, dan bahkan membayangkannya pun belum pernah. Salah satu permasalahan itu adalah tiang-tiang tak nampak yang berguna untuk menyangga benda-benda langit dalam tata surya kita. Yang maksudnya adalah daya tarik (gravitasi) dan daya tolak yang menjadi rahasia di balik orbit, rotasi dan evolusi tata surya.

Permasalaha yang lain adalah terjaganya bumi dari goncangan berkat gunung-gunung, dan juga masalah keberpasangan tumbuh-tumbuhan.[3] Al Qur’an menyebut gravitasi sebagai tiang; karena daya tarik yang ada antara bumi dan matahari bagaikan rantai, yang mana menurut penjelasan Al Qur’an bagai tiang yang kuat. Daya itulah yang mengatur jarak antara bumi dan matahari serta perputarannya; yang mana peran itu mirip dengan peran yang dimainkan oleh tiang dalam rumah kita. Fenomena yang telah disinggung Al Qur’an ini adalah salah satu contoh bukit kemukjizatannya yang mana umat manusia baru bisa membuktikan kebenaran masalah tersebut saat ini dengan menggunakan perangkat-perangkat ilmiah moderen.[4]

3. Sedikitnya kadar oksigen di ketinggian: Dalam surah Al An’am Allah swt berfirman: “Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.” (QS. Al-An’am [6]:125)

Sebagian ahli tafsir berkata: Makna yang lebih lembut lagi yang dapat dipahami dari ayat itu adalah: Kini telah terbukti bahwa udara yang biasa terjangkau oleh kita di muka bumi memiliki kadar oksigen yang tinggi sehingga kita dapat bernafas dengan lega. Namun semakin kita menaiki tempat yang lebih tinggi, maka semakin tinggi kita naik semakin sedikit pula kadar oksigen yang dapat kita hirup. Misalnya jika kita menaiki gunung yang tingginya berkilo-kilo meter dari permukaan laut, jika kita tidak menggunakan tabung oksigen untuk bernafas, kita akan semakin sulit untuk menghirup udara, sehingga dada kita terasa amat sesak. Atau bahkan kita bisa sampai pingsan karena itu. Di jaman diturunkannya Al Qur’an permasalahan ilmiah ini sama sekali belum pernah terbukti namun kitab suci itu telah menjelaskannya.[5]

Kesimpulan

Dengan apa yang telah dijelaskan di atas, banyak permasalahan ilmiah yang belum pernah difahami umat manusia pada seribu empat ratus tahun yang lalu. Ilmu pengetahuan saat ini baru membuktikan permasalahan-permasalahan itu dan semakin menjadi bukti kebenaran kitab suci kita. Dengan demikian, kita dapat ungkapkan bahwa semakin tinggi ilmu pengetahuan umat manusia, maka semakin kuat pula kecenderungan mereka kepada Al Qur’an karena kebenarannya. Sebagian orang berkata: “Kini agama dan ilmu semakin dekat jaraknya. Kelak agama dan ilmu akan semakin dekat lagi sehingga semua orang akan menyadari bahwa agama adalah hakikat dan hakikat adalah agama itu sendiri.”[6]

Apa yang dijelaskan di atas hanya sekelumit dari penjelasan yang dapat diberikan. Banyak sekali buku-buku yang lebih mengulas permasalahan di atas dengan lebih jelas dan panjang lebar. Masih banyak lagi hal-hal ilmiah yang dapat dibahas, seperti atmosfer yang diibaratkan Al Qur’an sebagai atap, atau masalah rumit tentang janin, atau akar-akar gunung yang disebut sebagai awtad atau paku-paku bumi. Semua itu membuktikan bahwa Al Qur’an mencakup permasalahan-permasalahan ilmiah yang baru ditemukan umat manusia akhir-akhir ini.

Referensi untuk mengkaji lebih jauh:

1. Moris Boka, Moqayese e Miyan e Towrat, Injil, Qor’an va Elm, hal. 215.

2. Sayid Sajjad Alawi dan Ali Syaikh Zade, Mo’jezat e Jadid Ya E’jaz e Elmi e Qor’an e Karim, hal. 30.

Hadits Penutup: Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa menginginkan ilmu orang-orang terdahulu dan yang akan datang, maka hendaknya merenungi Al Qur’an.”[7]


[1] . Moris Boka, Moqayese i Miyan e Towrat, Injil, Qoran, va Elm,  hal. 215, menukil dari: Mu’jizat e Jadid ya E’jaz e Elmi e Qor’an.

[2] . Nashir Makarim Syirazi dan penulis lainnya, Tafsir e Nemune, jil. 15, hal 191.

[3] . Muhsin Qira’ati, Tafsir e Nur, jil. 9, hal. 236.

[4] . Sayid Sajjad Alawi dan Ali Syaikh Zade, Mo’jezat e Jadid ya E’jaz e Elmi e Qor’an, hal. 30.

[5] . Tafsir e Nemune, jil. 5, hal. 436.

[6] . Reza Pak Nejad, Ezdevaj e Maktab e Ensan Sazi, hal. 177.

[7] . Muttaqi Hindi, Kanzul Ummal, 2454.

Selain kedudukan kenabian dan kerasulan yang mereka miliki, ada tiga kedudukan lainnya yang mereka juga miliki berkaitan dengan umatnya. Di pasal ini, kita akan membahas kedudukan-kedudukan itu berdasarkan penjelasan Al-Qur’an:

1. Menjelaskan dan Menafsirkan Wahyu

Tuntutan kenabian dan risalah tidak lebih dari penyampaian wahyu dari Tuhan ke umat manusia. Secara rasional juga terbukti bahwa Tuhan harus mengutus para nabi untuk menerima wahyu-Nya dan menyampaikannya ke umat manusia. Jadi, kenabian dak kerasulan tidak lebih dari menyampaikan wahyu kepada umat manusia. Umat juga berkewajiban untuk menerima pesan-pesan Ilahi itu lalu mengamalkannya. Hakikatnya, mengamalkan perintah-perintah para nabi adalah ketaatan kepada Allah SWT. Intinya, tugas para nabi dan rasul hanya menyampaikan.

Kewajiban Rasul tidak lain hanyalah menyampaikan. (QS. Al-Ma’idah [5] : 99)

Namun selain kedudukan ini, Al-Qur’an juga menjelaskan bahwa mereka pun memiliki kedudukan lainnya, yaitu sebagai penjelas dan penafsir wahyu. Jelas berbeda sekali antara menyampaikan wahyu begitu saja dengan menyampaiakan serta menjelaskannya. Tugas kenabian dan kerasulan hanya sekedar menyampaikan wahyu. Misalnya, Rasulullah SAW. menerima Al-Qur’an melalui wahyu lalu membacakannya kepada para pengikutnya. Sampai di sini, ia telah melakukan tugasnya sebagai penyampai wahyu. Namun, pada kenyataannya, umat butuh lebih dari itu; yakni seringkali wahyu yang sampai ke telinga mereka membutuhkan penjelasan dan penafsiran. Misalnya, dalam Al-Qur’an ada perintah untuk mendirikan shalat: “maka dirikanlah sembahyang.” (QS. Al-Hajj [22] : 78). Kewajiban shalat dapat difahami dengan jelas saat kita membaca ayat tersebut. Namun bagaimanakah kita harus shalat? Di sinilah umat membutuhkan orang yang dapat menjelaskan hukum-hukum Allah SWT. lebih detil lagi.

Oleh karena itu, selain bertugas untuk menyampaikan wahyu, mereka juga bertugas untuk menjelaskan dan menafsirkan wahyu tersebut. Lalu umat pun juga berkewajiban untuk beramal sesuai penafsiran-penafsiran wahyu tersebut. Allah SWT. berfirman:

Dan Kami tidak mengutus seseorang rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. (QS. An-Nisaa’ [4] : 64)

Dengan melihat ayat tersebut, kita dapat fahami bahwa selain kita harus menaati ucapan-ucapan para nabi berkenaan dengan wahyu itu saja, namun penafsiran-penafsiran mereka akan wahyu juga harus diikuti pula. Jadi, setelah mentaati para nabi di saat mereka menyampaikan wahyu, umat harus mentaati mereka juga saat wahyu-wahyu tersebut ditafsirkan.

Kita dengan mudah dapat benar-benar memahami fakta ini, bahwa para nabi pasti memahami maksud Tuhan dalam wahyu yang Ia turunkan kepada mereka. Oleh karena itu, saat menyampaikan wahyu dengan sendirinya mereka menjelaskan maksudnya pula; dan penjelasan mereka pasti sesuai dengan maksud pengirim wahyu. Maka dari itu umat mereka juga harus menerima penjelasan dan penafsiran wahyu sebagaimana mereka juga harus menerima wahyu itu sendiri.

Namun kebutuhan umat tidak terbatas di situ saja; meskipun tingkat kebutuhan itu secara rasional tidak sampai menuntut pemenuhan kebutuhan oleh Tuhan; Ia memenuhi kebutuhan tersebut melalui perantara para nabi hanya sebagai curahan kasih sayang-Nya. Dengan memenuhi kebutuhan ini, para nabi pun mendapatkan kedudukan lain di tengah-tengah umatnya; yaitu kehakiman.

2. Mengadili dan Menghakimi

Terkadang, umat manusia membutuhkan seorang hakim Ilahi yang dapat mempraktekkan hukum-hukum Tuhan dalam menyelesaikan ikhtilaf di antara mereka. Dengan penjelasan lain, pengetahuan akan hukum-hukum syar’i saja tidak cukup bagi umat manusia; mereka membutuhkan seorang hakim di tengah-tengah mereka yang dapat menjalankan hukum-hukum Ilahi dalam penghakimannya. Seorang hakim yang layak adalah seorang yang benar-benar memahami hukum Ilahi dan tahu bagaimana menjalankannya. Lebih dari itu, ia harus ditaati oleh siapa saja, terutama kedua belah pihak orang yang sedang berikhtilaf agar hakim dapat menyelesaikan permasalahan mereka berdua. Pada dasarnya kebutuhan ini selalu ada dalam jiwa umat manusia sampai kapanpun.

Karena kemurahan dan kasih sayang-Nya, Allah SWT. menjadikan para nabi sebagai hakim untuk hamba-hambanya. Tapi apakah semua nabi memiliki kedudukan ini?

Tidak ada ayat Qur’an yang secara pasti menjelaskan bahwa seluruh nabi memiliki kedudukan itu. Namun mungkin saja dari ke-mutlaq-an[1] sebagian ayat-ayat, kita dapat memahami bahwa kedudukan ini bersifat umum, yakni dimiliki oleh setiap nabi. Allah SWT. berfirman:

Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. (QS. An-Nisaa’ [4] : 80)

Selain ke-mutlaq-an ayat di atas, tidak ada dalil lain yang membuktikan bahwa sifat ini dimiliki semua nabi. Ada sebagian ayat yang menjelaskan adanya kedudukan ini pada sebagian nabi, seperti nabi Daud AS. Allah SWT. berfirman:

Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil. (QS. Shaad [38] : 26)

Dari ayat ini dapat difahami bahwa mengadili dan menghakimi bukanlah kelaziman yang pasti dari kenabian; karena nabi Daud AS. mulanya menjadi nabi, lalu setelah itu mendapat perintah dari Allah SWT. untuk menjadi hakim di tengah-tengah umatnya. Jadi, kedudukan sebagai seorang hakim yang adil adalah kedudukan yang terpisah dari kedudukan sebagai seorang nabi; dan tidak diragukan, banyak nabi-nabi yang memang memiliki kedudukan tersebut.

3. Memerintah

Kebutuhan lain umat manusia adalah adanya seorang yang dapat dijadikan rujukan di zamannya serta memegang tali pemerintahan negara. Oleh karenanya Allah SWT. mengangkat sebagian nabi-Nya untuk menjadi pemerintah bagi umatnya sehingga kebutuhan tersebut dapat terpenuhi sekaligus pemerintahan seorang nabi dapat dijadikan tauladan pemerintahan yang adil di muka bumi. Sebenarnya, kedudukan para nabi sebagai hakim sebagaimana yang telah dibahas sebelumnya, adalah salah satu unsur yang terdapat pada pemerintahan; namun bagaimanapun juga, tetap saja keduanya adalah hal yang berbeda dan kita perlu membahasnya secara terpisah seperti ini. Seringkali masalah penghakiman dan pengadilan terkait dengan permasalahan dua atau tiga orang yang sedang berikhtilaf dan datang kepada hakim untuk diselesaikan permasalahannya. Namun, pemerintahan secara utuh berkaitan dengan semua warga negara dan umat Islam yang sekiranya jika seorang pemerintah mengeluarkan suatu hukum semua orang harus tunduk dan mentaatinya. Di sinilah kita dapat menyadari betapa pentingnya perkara pemerintahan.

Sebagai contoh, jika musuh telah melewati perbatasan negara untuk menyerang kita dan sebagaimana yang kita tahu, kita harus bertahan menghadapi mereka; namun masalah ini masih diperdebatkan tentang bagaimana kita harus melakukan pertahanan tersebut, dan bahkan terjadi ikhtilaf tentangnya. Dalam keadaan seperti ini, jika tidak ada keputusan yang tegas dan cepat, maka akan menimbulkan banyak masalah yang merugikan; yakni setiap kelompok berjalan masing-masing menurut pendapatnya, dan akhirnya kita tidak akan menang. Kita berfikiran seperti ini bukan berarti pemerintahan menjadi hal penting hanya pada saat peperangan saja; tapi maksudnya, salah satu kondisi dimana kita dapat merasakan betapa pentingnya pemerintahan adalah di saat-saat seperti itu.

Alhasil, masyarakat pasti membutuhkan pemerintahan yang sehat dan kokoh. Lalu, apakah setiap nabi harus memiliki kedudukan sebagai pemerintah? Sayangnya untuk membuktikan hal ini tidak ada dalil aqli dan dalil naqli yang cukup. Kita hanya dapat mengatakan bahwa di dalam Al-Qur’an disebutkan ada beberapa nabi yang memiliki kedudukan tersebut, tidak semua; sehingga bisa saja dengan yakin kita berkata bahwa ada para nabi yang tidak memiliki kedudukan ini.

Misalnya, dengan menyimak kisah Thalut dalam Al-Qur’an, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa nabi di zaman itu tidak memiliki wewenang memerintah.

Pembesar Bani Israil mendatangi nabi mereka dan mendesaknya agar meminta Allah SWT. supaya memilih seorang hakim dan pemerintah untuk mereka.

Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka-pemuka Bani Israil sesudah Nabi Musa, yaitu ketika mereka berkata kepada seorang Nabi mereka: “Angkatlah untuk kami seorang raja supaya kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah.”… Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu.” (QS. Al-Baqarah [2] : 246-247)

Ayat di atas dengan jelas menggambarkan bahwa nabi di zaman itu tidak memiliki andil pemerintahan; karena kalau tidak ia pasti menjawab: “Bukankah aku ini adalah hakim dan penguasa bagi kalian?” Sang nabi bertanya kepada mereka, “Jika Allah SWT. mengangkat seseorang sebagai pemimpin untuk kalian, apakah kalian akan mentaatinya?” Mereka menjawab “Ya.” Lalu Allah SWT. menjadikan Thalut sebagai raja bagi mereka. Dengan demikian pada waktu itu yang menjadi pemerintah bukanlah nabi, tapi Thalut, orang biasa.

Kesimpulan pembahasan ini adalah, selain para nabi memiliki kedudukan kenabian, mereka juga punya kedudukan-kedudukan lainnya seperti penafsir wahyu, hakim, dan juga pemerintah. Sebagian dari para nabi memiliki semua kedudukan tersebut, namun sebagian yang lain hanya beberapa di antara ketiganya.


[1] Yakni tidak adanya keterangan-keterangan lain yang membatasi maksud ayat-ayat tersebut.

Tanya: Ketika sedang bergerak dari kota Makkah menuju Kufah, apakah Sayyidus Syuhada imam Husain As telah mengerti bahwa ia akan mati terbunuh di karbala? Dengan kata lain, dengan perjalanannya menuju Iraq, apakah imam Husain As memang sengaja ingin menjemput kesyahidan? Ataukah untuk membentuk pemerintaan adil dan Islami?

Jawab: Sayyidus Syuhada imam Husain As—menurut orang-orang Syiah—adalah seorang pemimpin yang wajib ditaati. Ia adalah imam ketiga Syiah Imamiyah dan termasuk dari para wasi nabi yang memiliki hak untuk dipatuhi. Dan ilmu para imam mengenai segala sesuatu dan setiap kejadian, sebagaimana yang telah ditetapkan oleh dalil-dalil Aqliyah atau Naqliyah ada dua macam dan didapatkan melalui dua jalan yang akan dijelaskan di bawah ini.

Imam As dengan izin Tuhan, dalam situasi dan kondisi apapun memiliki pengetahuan yang pasti akan segala kejadian dan peristiwa; baik yang dapat dijangkau dengan panca indra maupun yang tidak, seperti kejadian-kejadian langit dan peristiwa-peristiwa yang telah terjadi atau yang akan terjadi. Dalil pendapat ini adalah hadis dan riwayat-riwayat yang tercantum dalam kitab-kitab hadis Syiah seperti: Al Kafi, Bashair, kitab-kitab Syaikh Shaduq, Biharul Anwar, dan lain sebagainya. Menurut hadis dan riwayat-riwayat ini, para imam As memiliki banyak pengetahuan yang didapat dari pemberian dan ilham Ilahi; bukan dari usaha mereka sendiri dan tidak didapatkan dengan sendirinya. Dan apa saja yang ingin mereka ketahui, dengan izin Tuhan, mereka dapat mengetahuinya dengan jelas dan pasti.

Memang dalam ayat-ayat Al-Qur’an kita sering membaca bahwasannya ilmu ghaib adalah ilmu yang hanya dimiliki oleh Tuhan dan tidak dimiliki oleh selain-Nya. Tapi ada beberapa ayat yang menjelaskan kandungan ayat-ayat lainnya. Seperti ayat yang berbunyi:

“Maha mengetahui akan hal yang ghaib. Dan Ia tidak memberitahukan hal yang ghaib kepada selain-Nya, melainkan kepada orang-orang yang diridhai-Nya dari para rasul…”[1]

Ayat ini menjelasan kepada kita bahwa memang benar hanya Tuhan yang memiliki ilmu ghaib secara mutlak dan selain-Nya tidak memiliki ilmu seperti ini. Tapi mungkin saja para utusan Tuhan dapat memilikinya dengan cara diberitahukan oleh Tuhan. Mungkin saja orang-orang saleh yang lain juga dapat mengetahuinya dengan cara diberitahukan oleh para utusan Tuhan. Sebagaimana yang disebutkan dalam berbagai riwayat bahwa nabi dan begitu pula setiap imam selalu menurunkan ilmu ghaib keimaman-nya kepada orang yang akan menjadi imam setelahnya di saat ajalnya hampir tiba.

Dengan menggunakan akal murni kita dapat menetapkan bahwa para imam suci memiliki kedudukan yang sangat tinggi dan merupakan manusia ter-sempurna di zamannya masing-masing. Mereka adalah manifestasi seluruh asma dan sifat Tuhan yang mampu memahami segala apa yang ada di alam semesta dan meengetahui semua peristiwa yang terjadi. Setiap kali mereka melihat sesuatu, secepat kilat mereka dapat memahami seluruh hakikat dan kenyataannya. (Kami tidak ingin menjelaskan lebih jauh hal ini karena merupakan pembahasan yang sangat susah dan kurang tepat jika diterangkan dalam tulisan ini. Oleh karenanya, biarlah permasalahan ini dibahas di tempatnya yang sesuai).

Yang perlu ditekankan dalam pembahasan ini adalah, ilmu ghaib yang merupakan pemberian Tuhan dan dimiliki oleh sebagian hamba-hamba-Nya, sebagaimana yang telah ditetapkan dengan dalil-dalil Aqli dan Naqli, merupakan ilmu yang tidak mungkin salah dan berlainan dengan kenyataan sebenarnya. Dengan kata lain, ilmu-ilmu seperti ini adalah pengetahuan terhadap hal-hal yang tercatat dalam Lauhul Mahfudz dan yang sudah ditakdirkan oleh Tuhan yang maha kuasa.

Dengan demikian, tidak ada larangan dan perintah bagi hal yang sudah pasti akan terjadi. Begitu juga kehendak manusia, tidak akan berpengaruh baginya. Karena larangan dan perintah hanya berlaku dalam hal-hal yang mungkin terjadi dan ketika dijalankan atau tidaknya perintah dan larangan tersebut bagi pelaku adalah hal yang dapat dipilih salah satunya. Tapi untuk hal-hal yang sudah pasti terjadi dan telah ditakdirkan untuk terjadi, tidak mungkin manusia diperintahkan untuk melakukan sesuatu supaya hal-hal tersebut terjadi. Misalnya, benar jika Tuhan memerintahkan manusia untuk melakukan suatu pekerjaan atau meninggalkannya karena manusia tersebut dapat melakukannya dan juga dapat meninggalkannya. Dan sebaliknya, tidak mungkin Tuhan memerintahkan manusia untuk melakukan suatu perbuatan atau meninggalkannya yang mana perbuatan tersebut telah ditakdirkan oleh Tuhan sendiri untuk terjadi serta tidak mungkin untuk tak terjadi. Perintah dan larangan seperti ini tidak benar karena tidak ada gunanya dan sia-sia.

Begitu pula seorang manusia yang memiliki niat untuk melakukan suatu pekerjaan. Ia dapat memiliki niat untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang baginya mungkin bisa dilakukan atau tidak dilakukan dan menjadikan dilakukan-nya pekerjaan tersebut sebagai tujuan di balik segala daya dan upayanya. Tetapi hal-hal yang sudah pasti akan terjadi dan tidak mungkin untuk tak terjadi, ia tidak mungkin memiliki niat untuk mewujudkan hal-hal yang sudah pasti akan terwujud tersebut. Ia tidak mungkin bersusah payah untuk mewujudkan hal-hal tersebut. Karena berniat atau tidak berniat, berupaya atau tidak berupaya, hal tersebut pasti akan terjadi.

Dengan keterangan ini dapat menjadi jelas bahwa:

Pertama, ilmu yang telah diberikan kepada imam As ini tidak memiliki pengaruh terhadap amal dan usahanya serta tidak berkaitan dengan taklif dan tugas-tugasnya. Pada dasarnya setiap hal yang jika sudah merupakan hal yang pasti, maka tidak berkaitan lagi dengan perintah dan larangan serta kehendak manusia.

Ya, setiap hal yang sudah ditakdirkan harus direlakan. Sebagaimana imam Husain As di akhir-akhir helaan nafasnya saat terjatuh di tanah yang bercampur darah berkata: “Aku rela dengan takdir-Mu. Tak ada yang layak disembah selain-Mu.”[2]

Kedua, pasti-nya perbuatan manusia dari segi keterkaitannya dengan Qadha Ilahi tidak bertentangan dengan ikhtiariyah[3] manusia dalam melakukannya. Karena Qadha Ilahi berkaitan dengan segala perbuatan dengan segala macam bentuknya; tidak dengan perbuatan itu sendiri secara mutlak. Contohnya, anggap saja Tuhan ingin memerintahkan seorang manusia untuk melakukan suatu perbuatan yang baginya dapat dilakukan dan tidak dilakukan; karena semua hal berada di kekuasaan Tuhan, maka dilakukan atau tidak dilakukannya perintah tersebut telah diketahui-Nya. Ia telah mengetahui apa yang akan terjadi kelak dan pengetahuannya tak mungkin salah. Meskipun demikian, bagi manusia yang melakukan suatu perbuatan—yang telah diketahui oleh Tuhan tentang apa yang akan terjadi kelak—semuanya berjalan biasa-biasa saja dan ia melakukannya dengan penuh kehendak sendiri tanpa adanya rasa terpaksa.

Ketiga, kita tidak boleh melihat gerak-gerik imam Husain As secara dhahir saja dan kita tidak boleh menjadikannya sebagai alasan bahwa beliau tidak memiliki ilmu ghaib alias bodoh akan kejadian yang akan menimpa dirinya yang mana akan menimbulka berbagai pertanyaan seperti: “jika imam Husain As memiliki ilmu ghaib, lalu mengapa ia mengirim Muslim sebagai wakilnya ke Kufah? Mengapa ia menulis surat kepada penduduk Kufah melalui Shaidawi? Mengapa ia sendiri pergi dari Makkah menuju Kufah? Mengapa ia melemparkan dirinya sendiri kedalam kebinasaan padahal Allah Swt telah berfirman: “…dan janganlah kalian lempar diri kalian kedalam kebinAsaan…”? Mengapa? Mengapa?”

Jawaban semua pertanyaan ini akan menjadi jelas dengan sedikit keterangan yang telah saya berikan dan saya tidak perlu mengulanginya lagi.

Rasulullah Saw dan begitu juga imam As adalah manusia sebagaimana manusia biasa yang lain. Segala perbuatan yang mereka lakukan telah mereka lakukan atas dasar kehendak dan pengetahuan biasa sebagaimana orang-orang lain melakukan pekerjaan mereka. Imam As juga seperti orang lain; ia menentukan bahaya dan keuntungan dengan tolak ukut pengetahuan biasa dan setiap perbuatan yang menurutnya layak untuk dilakukan, ia pun melakukannya dan dengan segala upaya dan usaha ia menjalankan tugasnya. Jika situasi dan kondisi memang mengizinkan, ia dapat mencapai tujuanya; dan jika tidak, ia tidak akan berhasil menggapai apa yang diinginkannya. (Adapun Tuhan terkadang mengilhamkan berbagai ilmu ghaib kepadanya, sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, ilmu dan pengetahuan tersebut tidak berpengaruh dengan amal perbuatan Ikhtiari[4] yang ia lakukan).

Imam As juga seperti orang-orang yang lain; ia adalah hamba Tuhan dan memiliki tugas serta kewajiban tertentu yang harus dijalankan. Dalam kedudukannya sebagai seorang imam dan pemimpin umat, ia berkewajiban untuk menghakimi dan menghukumi segalanya dengan tolak ukur yang dapat dipahami oleh masyarakat awam dan sampai kapan pun ia ditugaskan untuk meghidupkan kebenaran dan ajaran-ajaran Tuhan serta menjaganya.

Dengan memperhatikan kondisi di waktu itu, kita dapat sedikit memahami mengapa imam As harus pergi ke sana.

Garis perjalanan sejarah tergelap dan tersuram yang dilewati oleh keluarga suci kenabian adalah masa dua puluh tahun pemerintahan Mu’awiyah.

Setelah bersusah-payah Mu’awiyah merebut kekhilafahan dengan segala macam tipu muslihatnya, akhirnya ia berhasil meduduki kursi kekhilafahan. Dalam kepemimpinannya, ia selalu berusaha untuk memperkuat kekuasaannya dan menindas keturunan Rasulullah Saw. Tak hanya ia ingin menindas keturunan Rasulullah Saw saja; ia juga berusaha untuk menghapus nama mereka dari lidah-lidah masyarakat. Ia berusaha sekuat tenaga untuk membuat masyarakat lupa akan mereka.

Ia memanfaatkan beberapa sahabat yang dipercaya masyarakat untuk membuat hadis-hadis palsu yang sekiranya akan menguntungkannya dan bahkan merugikan Ahlul Bait As. Dan bagaikan sebuah sunah agama, ia mewajibkan setiap orang yang berpidato di atas mimbar-mimbar tanah Islam untuk selalu mencela dan melaknat imam Ali As.

Ia selalu memerintahkan semua anak buah dan kaki tangannya seperti: Ziyad bin Abih, Samrah bin Jundab, Busr bin Urtah, dan orang-orang yang lain untuk menghabisi siapapun yang memiliki hubungan kekerabatan dengan Ahlul Bait As. Ia melakukan segala kekejiannya dengan segala macam cara mulai dari ancaman, siksaan sampai pembunuhan.

Dalam situasi seperti ini, wajar jika masyarakat enggan untuk menyebut nama imam Ali As dan keluarganya. Dan dengan demikian, siapapun yang memiliki hubungan dengan Ahlul Bait As, secara tiba-tiba memotong hubungannya karena takut nyawanya terancam atau harta bendanya dirampas.

Sejarah telah mencatat bahwa masa kepemimpinan imam Husain As sebagai seorang imam adalah sepuluh tahun. Dan selama ia menjadi seorang imam, kecuali beberapa tahun sebelum ajalnya tiba, ia hidup sezaman dengan Mu’awiyah. Selama masa kepemimpinannya sebagai seorang imam yang bertugas untuk menjelaskan hukum dan ajaran-ajaran Islam, tak satupun hadis yang telah diriwayatkan darinya (maksudnya hadis-hadis yang secara langsung didengar oleh masyarakat darinya yang dapat menunjukkan bahwa masyarakat pernah berlalu lalang ke rumahnya untuk menanyakan hukum-hukum Islam. Karena beberapa hadis yang telah diriwayatkan dari beliau adalah hadis yang ditukil oleh imam-imam lain setelahnya; bukan hadis yang diriwayatkan oleh masyarakat biasa secara langsung dari imam Husain As sendiri). Dengan demikian kita dapat memahami bahwa pada waktu itu pintu rumah Ahlul Bait telah tertutup dan tidak ada lalu lalang orang yang mendatangi rumah mereka.

Tekanan dan kondisi kurang mendukung yang telah menyelimuti lingkungan Islam di masa pemerintahan imam Hasan As sebagai imam tidak mengizinkan beliau untuk melanjutkan peperangan melawan Muawiyah. Karena:

Pertama, Muawiyah telah meminta baiat darinya dan dengan adanya baiat, tak seorangpun yang menyertainya.

Kedua, Muawiyah telah menyebut-nyebut dirinya sebagai seorang sahabat terdekat Nabi Muhammad Saw dan salah satu penulis wahyu serta orang yang dipercaya oleh tiga khulafau Arrasyidin semasa mereka hidup. Ia menjadikan sebutan Khal Al-Mukminin sebagai lakab suci bagi dirinya.

Ketiga, dengan tipu dayanya, ia mampu memerintahkan kaki tangannya untuk membunuh imam Hasan As kemudian ia pura-pura bangkit mencari pembunuh dan berlaga seperti orang yang ingin membalas dendam atas terbunuhnya imam Hasan As lalu berpura-pura mengucapkan rasa bela sungkawa kepada keluarganya!

Muawiyah telah berbuat sesuatu yang oleh karenanya imam Hasan sampai-sampai tidak dapat merasakan ketenangan sedikitpun meski di dalam rumah sendiri. Dan ketika ia ingin meminta baiat dari masyarakat untuk anaknya, Yazid, ia membunuh imam Hasan As melalui racun yang diberikan oleh istri imam Hasan As sendiri kepadanya.

Hanya imam Husain As-lah yang setelah kematian Muawiyah bangkit untuk menentang Yazid. Ia mengorbankan diri sendiri, para sahabat, dan keluarga sampai anak-anaknya di jalan ini. Ia sendiri juga tidak mampu melakukan hal ini di masa kehidupan Muawiyah karena akibat tipu daya yang dilakukan Muawiyah, memang pada waktu itu sepertinya kebenaran berada di pihak Muawiyah dan sekutunya.

Inilah penjelasan secara singkat mengenai situasi dan kondisi dunia Islam yang telah diwujudkan oleh Muawiyah. Ia telah menutup rapat pintu rumah Nabi Muhammad Saw. Dan ia juga telah melumpuhkan Ahlul Bait Nabi As sehingga mereka tak kuasa untuk berbuat apa-apa.

Aksi terburuk yang telah ia lakukan terhadap Islam dan kaum Muslimin adalah merubah kekhilafahan Islami menjadi sebuah sistim pemerintahan zalim yang dapat diwariskan kepada setiap orang yang ia kehendaki. Ia telah mendudukkan anaknya, Yazid di kursi pemerintahannya. Padahal Yazid bukanlah seorang manusia yang beragama dan bahkan berpura-pura beragama saja ia tidak pernah. Yazid menghabiskan waktunya untuk berbuat zalim, bermaksiat, menari-nari, dan bermain dengan kera. Ia sama sekali tidak pernah menghormati hukum dan ajaran-ajaran agama. Dan lebih parah dari ini semua, ia sama sekali tidak memiliki keyakinan dan iman kepada agama dan ajaran suci Islam. Salah satu contohnya, ketika para tawanan dari Karbala yang berupa para keluarga Ahlul Bait As beserta kepala-kepala suci yang telah terpisah dari jasad memasuki kota Damaskus, ia bangkit dan pergi menonton mereka dengan penuh kesombongan. Waktu itu, ia mendengar suara burung gagak (yang biasanya adalah pertanda kejadian yang buruk-pent.), ia malah berteriak: “Burung gagak bersuara. Bersuaralah atau jangan bersuara (terserah)! Karena aku telah menagih hutang-hutangku dari rasul.[5]

Begitu juga ketika para tawanan Ahlul Bait dan kepala suci imam Husain As dihadirkan kehadapannya, ia sangat bergembira dan mengucapkan beberapa bait puisi yang salah satu baitnya seperti ini:

Bani Hasyim telah bermain-main dengan kekuasaan

Sungguh tidak ada risalah yang diturunkan dan tak ada juga wahyu.

Pemerintahan Yazid yang bertujuan untuk meneruskan misi politik ayahnya, Muawiyah, telah menjelaskan apa tugas Islam dan kaum Muslimin. Dengan demikian kondisi Ahlul Bait As—padahal hampir saja mereka terlupakan—yang sebenarnya telah terungkap dan semua Muslimin menyadarinya.

Dalam kondisi seperti ini, suatu sikap yang sangat membahayakan keberadaan Islam dan Muslimin adalah membai’at Yazid dan menganggapnya sebagai soerang khalifah yang diridhai nabi dan harus ditaati.

Waktu itu satu-satunya sikap yang harus ditunjukkan oleh imam Husain As adalah menolak untuk membaiat Yazid. Karena jika beliau bersedia membaiatnya, sudah barang tentu bahwa masa depan agama Islam akan hancur. Dengan demikian, tugas imam Husain As adalah melawan Yazid dan Tuhan pun menuntut dilakukannya hal ini oleh imam Husain As.

Dari sisi yang lain, ia mengetahui bahwa jika ia tidak membaiat Yazid, maka ia harus terbunuh. Dengan demikian, hanya ada dua pilihan baginya; membaiat Yazid atau menyerahkan kepalanya. Ia tidak mungkin membaiat Yazid; dengan demikian kesyahidan imam Husain As tidak dapat dihindari lagi.

Demi kebaikan agama dan kaum Muslimin, imam Husain As rela tidak membai’at Yazid meski harus kehilangan nyawanya. Dengan besar hati ia lebih mendahulukan kematian daripada kehidupannya. Dan inilah makna riwayat-riwayat yang mana disebutkan di dalamnya bahwa ketika beliau bermimpi melihat Rasulullah Saw, Rasulullah Saw berkata kepadanya: “Tuhan ingin melihatmu terbunuh.” Beliau sendiri juga sering berkata kepada orang-orang yang berusaha mencegahnya untuk pergi ke Kufah: “Tuhan ingin melihatku terbunuh.” Yang jelas, kehendak Tuhan ini adalah kehendak Tasyri’i[6], bukan Takwini[7]; karena sebagaimana yang telah kami jelaskan sebelumnya bahwa kehendak Takwini Tuhan tidak memiliki dampak dan pengaruh terhadap kehendak makhluk dan perbuatannya.

Ya Sayidus Syuhada As memang lebih memilih untuk tidak membaiat Yazid meski ia harus terbunuh. Ia lebih memilih kematian daripada membaiat Yazid. Tragedi terbunuhnya imam Husain As telah tercatat dalam kitab-kitab sejarah dengan jelas. Syahadah imam Husain As yang sangat menyedihkan dan meluluhkan hati tersebut telah menyingkap betapa terzaliminya mereka. Kejadian di Karbala telah menjelaskan kepada kita siapa yang benar dan siapa yang salah. Setelah kejadian ini pun, sampai dua belas tahun berikutnya, peperangan dan pertumpahan darah terus berlanjut. Dan pintu rumah imam Husain As yang semasa ia hidup selalu tertutup dan tak satupun orang berani mengetuk pintu rumahnya, setelah beberapa tahun, yakni di zaman imam kelima yang mana waktu itu Ahlul Bait As sempat merasakan sedikit ketenangan, mulai terbuka dan masyarakat berbondong-bondong berani mendatanginya. Sejak waktu itulah kediaman kebenaran bersinar dan mulai dikunjungi setiap orang dari pelosok negri yang jauh sekali pun. Sejak waktu itu kemalangan Ahlul Bait As dapat diketahui banyak orang. Dengan demikian jelas sekali perbedaan kondisi Islam ketika imam Husain As masih hidup dengan beberapa tahun setelah ia terbunuh, yakni empat belas abad yang lalu. Hari demi hari kebenaran yang sesungguhnya tersingkap dan keburukan yang tertutupi mulai terbongkar. Sosok imam Husain As semakin dikenal dan bercahaya terang bagi semua orang.

Muawiyah benar-benar menyadari bahwa jika seandainya imam Husain As terbunuh, maka inilah yang akan terjadi. Dengan demikian ia pernah berwasiat kepada anaknya, Yazid, bahwa jika imam Husain As tidak mau membaiatnya, biarlah ia hidup dan jangan sampai ia terbunuh. Muawiyah berwasiat seperti ini bukannya karena merasa kasihan dengan Ahlul Bait As, bahkan karena dia takut jika imam Husain As terbunuh di tangan Yazid, kelak para pengikut dan keturunannya akan marah, memberontak, dan menuntut darahnya. Muawiyah mengerti benar bahwa hal ini akan membahayakan kekuasaan Bani Umayah dan menguntungkan Ahlul Bait As lalu menjadikannya sebagai sarana terbaik untuk berdakwah dan menyebarkan ajaran yang benar.

Sayyidus Syuhada As benar-benar memahami tugas yang diberikan oleh Tuhan kepadanya. Tugas tersebut adalah “tidak membaiat Yazid”. Ia lebih mengerti dari pada yang lain mengenai kekuatan Bani Umayah yang tak tertandingi. Ia juga lebih memahami siapa Yazid sebenarnya. Ia tahu betul bahwa jika ia tidak mau membaiat Yazid, ia pasti akan membunuhnya. Dengan demikian, tugas yang diberikan Tuhan ini adalah sebuah tugas yang berat; taruhannya adalah nyawa dan beliau sendiri sering menyinggung hal ini dalam beberapa kesempatan.

Ketika beliau berada di Madinah, ia pernah berkata: “Orang sepertiku tidak akan membaiat orang seperti Yazid.”

Setelah keluar meninggalkan kota Madinah di malam hari, ia menceritakan bahwa ia pernah bermimpi melihat Rasulullah Saw berkata kepadanya: “Tuhan ingin melihatmu (sebagai sebuah tugas) mati terbunuh.”

Dalam pidato yang ia bacakan ketika ia bergerak dari kota Makkah, untuk menolak ucapan orang-orang yang berusaha mencegahnya untuk pergi ke Kufah, ia juga membicarakan hal tersebut.

Suatu saat seorang Arab terkenal dan ternama berusaha untuk mencegah imam Husain As supaya tidak pergi menuju Kufah; karena tahu bahwa jika imam pergi, ia pasti akan terbunuh. Imam berkata kepadanya: “Saya mengetahui jelas hal ini. Tapi mereka tidak akan pernah melepaskanku; di manapun aku berada, mereka akan memburuku dan membunuhku.” (Sebagian riwayat sedikit memiliki perbedaan dengan riwayat ini. Hal itu mungkin disebabkan perbedaan sanad. Meski demikian, terbukti bahwa kondisi waktu itu memang benar-benar buruk bagi imam Husain As dan keluarganya.)

Sebenarnya maksud kami mengatakan bahwa tujuan imam Husain As adalah menjemput kesyahidan dan Tuhan ingin melihatnya mati syahid, bukan berarti Tuhan memerintahkan imam Husain As untuk tidak membaiat Yazid lalu berteriak kepada anak buahnya “wahai anak buah Yazid! Bunuhlah aku…!”. Jika Tuhan menginginkan hal ini dari imam Husain As, maka betapa menggelikannya tugas ini yang kemudian imam Husain As dengan besar hati mau menjalankannya dan menyebutnya sebagai perjuangan. Sesungguhnya imam Husain As ditugaskan untuk menentang pemerintahan Yazid, tidak membaiatnya dan tidak menuruti kemauannya meski ia harus mati terbunuh.

Dari sinilah kita dapat melihat bahwa setiap sikap dan keputusan imam Husain As dalam suatu masa-masa tertentu berbeda dengan sikap dan keputusannya di saat-saat yang lain dan bergantung dengan situasi dan kondisi yang sedang ia hadapi. Mulanya ia ditekan oleh seorang gubernur di Madinah dan kemudian ia pergi meninggalkan kota Madinah di malam hari lalu ia berlindung beberapa bulan di Makkah yang merupakan kota suci dan Haramullah. Tak lama kemudian keberadaannya di Makkah diketahui oleh kaki tangan Yazid dan mereka berniat untuk membunuhnya di musim Haji atau menangkap dan membawanya ke Syam. Dan di sisi yang lain, imam Husain As kedatangan ribuan surat yang dikirim dari Iraq. Dalam ribuan surat tersebut, penduduk Iraq berjanji untuk memberikan pertolongan dan menyatakan bahwa mereka siap untuk membantu. Mereka mengundang imam Husain As untuk datang ke sana. Dan setelah sampainya sebuah surat terakhir dari penduduk Kufah, sebagai Itmamul Hujjah, (sebagaimana yang diriwayatkan oleh beberapa rawi) ia bergegas untuk berangkat menuju kota tersebut. Mulanya sebagai Itmamul Hujjah ia mengirim seorang wakil bernama Muslim bin Aqil dan beberapa saat kemudian datang surat dari Muslim bin Aqil yang menjelaskan bahwa kondisi memang benar-benar dapat membantu imam Husain As.

Imam berangkat menuju Kufah karena beberapa alasan yang telah disebutkan di atas; yang pertama karena kedatangan beberapa utusan rahasia dari Syam yang berencana untuk membunuh atau menangkap beliau, dan yang kedua demi menjaga kesucian dan keamanan kota Makkah; kemudian karena ia memandang bahwa kota Kufah telah siap untuk ia datangi. Ketika imam Husain As mendengar bahwa Muslim bin Aqil dan Hani telah terbunuh secara mengerikan, rencana beliau untuk bangkit melawan kekuatan Yazid berubah menjadi pertahanan yang sederhana di hadapan kekuatan tak terhingga. Ia menguji para sahabatnya dan menyarankan kepada mereka untuk meninggalkannya lalu hanya tersisia beberapa sahabat berhati mulia saja yang bersama dengan beliau. Hanya beberapa orang saja yang berusaha untuk menemani imam Husain As sampai tetesan darah terakhir beliau.[8]


[1] QS. Al-Jinn: 26 – 27.

[2] Ma’ali As-Sibthain: jil. 2 ; hal.  21 (dengan sedikit perbedaan redaksi).

[3] Keberadaan manusia sebagai pelaku yang memiliki ikhtiar; yakni memiliki kekuasaan untuk melakukan atau tidak melakukan.

[4] Dapat dilakukan dan juga dapat ditinggalkan.

[5] Ditukil oleh Alusi dalam Tafsir Ruh Al-Ma’ani: jil. 26; hal 66, dari kitab sejarah Ibn Al-Wardi dan kitab Wafi Al-Wafiyat.

[6] Yakni kehendak Tuhan yang hanya dapat terwujud dengan dikerjakannya sesuatu yang dikehendaki tersebut oleh makhluk-Nya.

[7] Kehendak yang akan terjadi hanya dengan dikerjakannya sesuatu yang dikehendaki tersebut oleh Dia sendiri.

[8] Tulisan yang telah anda baca tadi telah ditulis oleh Allamah Thabathabai sendiri beberapa tahun yang lalu. Beberapa pembahAsan ini beliau tulis untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh beberapa kelompok peminatnya. Sebagaimana yang Anda ketahui, beliau menjelaskan permasalahan ini dengan sangat sederhana dan ringkas. Sebenarnya, untuk diselesaikannya permasalahan ini, mungkin dibutuhkan beberapa pembahAsan falsafi dan aqli yang cukup susah dan memaksa beliau untuk menulis sebuah buku tersendiri.

Tulisan ini untuk pertama kalinya pada bulan Rabiut Tsani 1391 H dicetak berupa buku kecil yang tebalnya sekitar 32 halaman dan dibagikan secara cuma-cuma kepada setiap orang. Kini agar anda juga dapat membacanya, tulisan ini kami cantumkan di buku ini. (Khosro Shahi).

 

Abu Thalib dikafir musyrikkan oleh Mazhab sunni demi memojokkan Ali AS

Iman Abu Thalib

Ada diskusi menarik antara orang Syiah dan Suni tentang iman Abu Thalib, ayah Ali as.

Orang Suni: “Dalam kitab-kitab kami banyak sekali riwayat tentang Abu Thalib yang bertentangan, sebagian riwayat memuji dan sebagian lagi mencelanya.”

Orang Syiah: “Menurut ulama Syiah, Abu Thalib adalah orang beriman yang berjasa besar untuk Islam.”

Orang Suni: “Kalo begitu, mengapa banyak sekali riwayat yang menjelekkannya?”

Orang Syiah: “Menurutku dosa Abu Thalib satu-satunya adalah karena ia ayah Ali bin Abi Thalib, seorang sahabat yag memiliki banyak musuh. Semua musuhnya menyimpan iri dan dengki di hati. Salah satunya adalah Muawiyah yang membayar siapapun yang mau menciptakan hadits-hadits palsu. Yang mengherankan, begitu parahnya sampai-sampai ada riwayat yang ditukil dari Abu Hurairah bahwa saat nabi menjelang wafat beliau berwasiat agar tangan Ali bin Abi Thalib dipotong.[1]

Oleh karena itu, tuduhan bahwa Abu Thalib adalah musyrik pasti tak jauh dari unsur politik.”

Orang Suni: “Dalam Al Qur’an, ayat 26 surah Al An’am disebutkan: “Dan mereka melarang (orang lain) mendengarkan Al-Quran dan mereka sendiri menjauhkan diri daripadanya…” Yang mana dalam kitab-kitab tafsir kami dijelaskan tentangnya bahwa sebagian orang ada yang berlaga membela nabi padahal dari segi iman justru menjauh dari beliau.”

Orang Syiah: “Bukan seperti itu penjelasan ayat tersebut. Kalaupun memang dapat dimengerti sedemikian rupa, hal apa dari ayat itu yang menjadi alasan kalian mengkafirkan Abu Thalib? Apa bukti maksud ayat tersebut mencakup Abu Thalib juga?”

Orang Suni: “Sufyan Tsauri meriwayatkan dari Habib bin Abi Tsabit bahwa Ibnu Abbas berkata, “Ayat tersebut diturunkan karena Abu Thalib. Karena ia membela nabi namun ia sendiri menjauhinya (dan tidak mengimaninya).”[2]

Orang Syiah: “Aku perlu menjelaskan beberapa hal:

Dengan memperhatikan ayat sebelum dan sesudah ayat tersebut, yang mana berkaitan dengan orang-orang kafir, maknya ayat yang dapat dipahami adalah: “Mereka, orang-orang kafir, mencegah orang-orang untuk mengimani nabi, dan mereka sendiri pun juga tidak mau beriman.”[3]

Di ayat itu disebutkan kata “menjauhkan diri daripadanya…”, padahal Abu Thalib tidak pernah menjauhkan diri dari nabi, justru selalu dekat dengan beliau.

Mengenai riwayat Sufyan Tsauri, yang mana dinisbatkan kepada Ibnu Abbas dan ia berkata bahwa ayat itu diturunkan berkenaan dengan Abu Thalib, riwayat ini perlu dipertanyakan dari berbagai sisi:

Pertama, Sufyan Tsauri adalah orang yang tidak dapat dipercaya dan dikenal oleh para ahli hadits Suni sebagai pembohong.[4] Dan telah ditukil dari Ibnu Mubarak bahwa Sufyan dikenal suka mencapur adukkan yang benar dan yang batil.[5]

Adapun perawi lain yang meriwayatkan riwayat di atas, yakni Habib bin Abi Tsabit, ia pun juga sama seperti yang tadi, begitulah menurut pengakuan Abu Hayyan.[6] Lagi pula riwayat yang ini adalah mursal, yakni tidak jelas siapa perawi-perawi yang menjadi perantara antara Habib hingga Ibnu Abbas.

Ibnu Abbas adalah orang yang dikenal suka mengagungkan Abu Thalib dan menekankan keimanannya. Mana mungkin ia meriwayatkan sebuah riwayat seperti ini?

Di riwayat lainnya, justru ada riwayat dari Ibnu Abbas bahwa orang-orang kafir mencegah semua orang untuk mengikuti Muhammad dan diri merekapun menjauhinya.

Sangkalan lainnya, jika ayat tersebut diturunkan berkenaan dengan Abu Thalib, lalu mengapa ayat itu menggunakan kata “mereka”?

Yang masuk akal adalah maksud ayat itu mencakup paman-paman nabi, yang mana paman nabi ada banyak, namun tiga orang di antara mereka adalah orang baik, seperti Hamzah, Abbas, dan Abu Thalib, yang tidak dimaksud oleh ayat tersebut.

Lagi pula, bukannya kita tahu bahwa nabi selalu menjauhi orang-orang musyrik? Misalnya beliau menjauh dari Abu Lahab. Adapun dengan Abu Thalib, nabi sampai akhir hayat selalu dekat dengannya. Lihatlah tahun di mana Abu Thalib wafat di dalamnya, tahun tersebut dikenal dengan tahun kesedihan.[7]

Apa benar jika kita katakan bahwa nabi sangat mencintai orang musyrik dan saat orang musyrik itu mati beliau sangat bersedih karena kehilangannya? Justru aneh sekali jika demikian. Padahal banyak sekali ayat-ayat Al Qur’an yang memerintahkan beliau untuk menjauhi orang-orang Musyrik.[8]


[1] Syarah Nahjul Balaghah, Ibnu Abil Hadid, jilid 1, halaman 358.

[2] Tafsir Ibnu Katsir, jilid 2, halaman 128.

[3] Al Ghadir, jilid 8, halaman 115.

[4] Mizanul I’tidal, halaman 398.

[5] Tahdzibut Tahdzib, jilid 4, halaman 115.

[6] Ibid, jilid 3, halaman 179.

[7] Tarikh Thabari, sebagaimana yang ditukil oleh kitab Abu Thalib, Mu’minu Quraisy.

[8] Seratus Satu Perdebatan, Muhammad Muhammadi Isytihardi, halaman 337.

Ziarah Abdul Muthalib, Abu Thalib dan iman mereka

Abdul Muthalib kakek nabi, dan Abu Thalib ayah Imam Ali as, dimakamkan di pemakaman Al Hajun, Makkah. Para jamaah Haji Syiah saat melewati pemakaman itu kebanyakan berhenti dan menyempatkan diri menziarahi mereka. Namun selain mereka tidak terlalu mementingkan ziarah itu, dan orang-orang Wahabi bahkan melarangnya.

Pada suatu hari terjadi dialog antara seorang alim dengan Wahabi, petugas Amar Makruf Makkah.

Wahabi: “Mengapa kalian, orang-orang Syiah, suka menziarahi Abdul Muthalib dan Abu Thalib?”

Alim: “Memang apa masalahnya?”

Wahabi: “Abdul Muthalib hidup di zaman fatrah (zaman tanpa nabi). Karena ia meninggal saat Rasulullah saw masih berusia 8 tahun dan belum menjadi nabi. Yakni ia tidak beragama Islam. Lalu untuk apa harus diziarahi? Sedangkan Abu Thalib, ia adalah orang yang mati dalam keadaan musrik!”

Alim: “Tentang Abdul Muthalib, siapa yang berani menyebutnya musyrik? Ia adalah orang yang bertauhid, menyembah Tuhan dan menganut ajaran nabi Ibrahim as.

Dalam kisah penyerangan Ka’bah oleh raja Abrahah diriwayatkan secara jelas perannya. Saat ia mengambil onta-onta yang dirampas oleh tentara Abrahah, raja berkata kepadanya, “Bagiku engkau sangat kecil sekali martabatnya. Engkau datang hanya untuk mengambil onta-ontamu, tidak untuk mencegahku menghancurkan Ka’bah, tempat peribadahanmu.” Abdul Muthalib berkata, “Aku adalah pemilik onta-onta ini. Sedangkan Ka’bah, pemiliknya sendiri yang akan mencegahmu.”

Setelah itu Abdul Muthalib pergi bersimpuh di kaki Ka’bah dan berdoa, “Ya Tuhan, semua orang membela anggota keluarganya. Engkau pun belalah para hamba yang bersimpuh di rumah-Mu.”[1]

Akhirnya doanya pun dikabulkan Tuhan. Burung-burung Ababil berterbangan dan melempari tentara Abrahah dengan batu-batuan dari neraka hingga mereka semua hancur. Kisah inilah yang disebutkan surah Al Fil.

Dalam riwayat-riwayat Syiah disebutkan bahwa Imam Ali as berkata, “Aku bersumpah, bahwa ayahku Abu Thalib, kakekku Abdul Muthalib, sama sekali tidak pernah menyembah berhala. Mereka beribadah menghadap Ka’bah dan memeluk agama Ibrahim as serta berperilaku susai ajarannya.”[2]

Adapun tentang iman Abu Thalib,

Pertama, menurut para ulama Syiah, dan juga para Imam maksum, Abu Thalib meninggal dunia dalam keadaan beriman.

Ibnu Abil Hadid, salah seorang dari ulama Syiah yang sangat terkenal menukil bahwa seseorang bertanya kepada Imam Sajjad as tentang apakah Abu Thalib beriman? Imam menjawab, “Ya.”

Lalu orang lain ikut berbicara, “Di antara kami ada yang mengatakan bahwa Abu Thalib kafir.”

Imam menanggapinya dengan berkata, “Astaga, apakah ia menuduh Rasulullah saw dan Abu Thalib dengan tuduhan yang tidak benar? Rasulullah mencegah pernikahan antara seorang perempuan beriman dengan lelaki kafir. Tak ada yang meragukan Fathimah binti Asad, yang termasuk wanita pertama memeluk Islam. Ia sampai akhir hayatnya tetap menjadi istri Abu Thalib.”[3]

Kedua, banyak riwayat baik dari kalangan Ahlu Sunah pun, bahwa Rasulullah saw pernah berkata kepada ‘Aqil bin Abi Thalib: “Aku mencintaimu karena dua hal: pertma karena engkau termasuk keluargaku, kedua karena aku tahu pamanku Abu Thalib mencintaimu.”[4]

Kecintaan itu membuktikan keimanan Abu Thalib. Karena jika Abu Thalib kafir, maka apa arti kecintaan tersebut bagi seorang nabi?[5]

Jadi keimanan Abu Thalib adalah hal yang jelas jika kita mau merujuk dan membaca. Sayang sekali turun temurun kebanyakan Muslimin menyatakan Abu Thalib adalah orang kafir.

Jelas ada campur tangan politik mengapa Abu Thalib digambarkan sebagai seorang kafir. Tujuannya agar Ali sebagai anaknya terhina dan dianggap sebagai anak seorang lelaki kafir.

Padahal jika kita mau merujuk kepada riwayat-riwayat, Abu Thalib bagaikan “seorang mukmin keluarga Fir’aun” atau “Ashabul Kahfi.”

Diriwayatkan dari Imam Hasan Askari as bahwa Rasulullah ditolong Tuhannya dengan dua kelompok: Kelompok yang menolong secara diam-diam, yang dipimpin oleh Abu Thalib, dan kelompok yang menolong secara terang-terangan, yang dipimpin oleh anaknya, Ali bin Abi Thalib.[6]


[1] Syarah Sirah Ibnu Hisyam, jilid 1, halaman 38; Bulugh Al Arab Al Alusi, jilid 1, halaman 250.

[2] Kamaluddin, halaman 104; Tafsir Al Burhan, jilid 3, halaman 795.

[3] Syarah Nahjul Balaghah, Ibnu Abil Hadid, jilid 3, halaman 312.

[4] Istiy’ab, jilid 2, halaman 509; Dzakhairul Uqba, halaman 222.

[5] Silahkan merujuk Al Ghadir, jilid 7, halaman 330.

[6] Al Hujjah Alal Dzahab, halaman 361.

kebanyakan riwayat-riwayat Al-Kafi adalah Dha’if (lemah).

Riwayat-riwayat Syiah yang bertentangan

Tanya: Banyak sekali pertentangan antara satu riwayat dengan riwayat lain dalam kitab-kitab Syiah sehingga bangkit beberapa ulama untuk menyelaraskan pertentangan-pertentangan itu. Betul tidak?

Jawab: Di masa hidupnya, Rasulullah saw sering mengingatkan tentang adanya para pemalsu hadits di tengah-tengah para sahabatnya. Ia bersabda:

“Janganlah kalian berbohong atasku. Barang siapa berbohong atasku maka ia akan dibakar di api neraka.”[1]

Ia juga bersabda:

“Barang siapa berbohong atasku, maka hendaknya ia menyiapkan tempatnya di api neraka.”[2]

Artinya di masa hidupnya Nabi banyak orang-orang yang bagi Ahlu Sunah adalah sahabat yang adil; padahal mereka sering berbohong atas nama Nabi atau melakukan suatu perbuatan yang mereka suka lalu menisbatkannya kepada beliau.

Apa lagi sepeninggal Nabi, yang mana pada masa itu penulisan hadits secara total dilarang. Banyak orang-orang Yahudi dan Nasrani yang mengaku Muslim namun mereka sering memalsukan hadits. Misalnya Ka’ab Al-Ahbar, Wahab bin Manbah, Tamim Dari, dan lain sebagainya.[3]

Banyaknya hadits-hadits palsu inilah yang menciptakan banyaknya pertentangan antara satu hadits dengan hadits lainnya.

Ibnu Abil Auja’ dibesarkan di rumah Hammad bin Muslim, seorang tokoh hadits besar Ahlu Sunah; ia sering kali menjahili kitab-kitab Hammad dan memalsukan hadits-haditsnya.[4]

Cukup kita mendengar bahwa Bukhari mengaku telah memilih 2.761 hadits dari 600.000 hadits yang ada.

Shahih Muslim memilih 4.000 hadits dari 300.000 hadits yang ada.

Kebanyakan motif dari pemalsuan ini adalah usaha pencapaian kedudukan atau kepentingan materi.

Jika dipikir, andai kita membagi waktu-waktu yang ada pada hayat Nabi menjadi beberapa bagian berbeda-beda, maka kita akan sadari bahwa tidak mungkin Nabi sepanjang umurnya telah mengucapkan sekian banyak hadits, bahkan 1/10 nya saja. Oleh karena itulah ulama Ahlu Sunah hanya mengkategorikan beberapa hadits saja sebagai hadits shahih.

Tentu masih saja banyak ditemukan hadits-hadits palsu sedemikian rupa yang bertentangan dengan hadits-hadits lainnya. Misalnya tentang bahwa Tuhan itu memiliki tubuh, Tuhan bisa dilihat, dan lain sebagainya.

Adapun pertentangan-pertentangan yang ditemukan dalam kitab-kitab hadits Syiah, ya memang ada juga hadits-hadits palsu dalam kitab kami. Namun yang lebih banyak lagi bukanlah faktor pemalsuan yang membuat kita berfikiran bahwa hadits-hadits tersebut terkesan bertentangan, ada faktor-faktor lain seperti:

1. Terpotongnya riwayat

Terkadang ada riwayat yang menukilkan hadits secara sepenggal saja dan penggalan yang lain tidak disebutkan.

2. Riwayat yang hanya menukil kandungan hadits

Sebagian riwayat tidak menyebutkan secara detil hadits atau ucapan maksumin, namun hanya menukilkan kandungan dan maksudnya saja.

3. Pemalsuan hadits

Ada juga hadits-hadits palsu dalam kitab-kitab kami. Kebanyakan adalah ulah para Ghulat (orang-orang Syiah yang berlebihan dalam fahamnya). Misalnya Mughirah bin Sa’id dan Abu Zainab Asadi yang dikenal dengan Abul Khitam; Imam Ja’far Shadiq as menunjuk nama-nama mereka lalu berkata, “Mereka telah berbohong atas aku dan ayahku.”[5]

Dengan demikian ulama Syiah berupaya untuk menyelesaikan masalah-masalah di atas dengan berbagai cara. Yang jelas mereka sama sekali tidak menghiraukan hadits-hadits palsu. Namun bagaimana dengan kitab-kitab anda?


[1] Shahih Bukhari, hadits 106.

[2] Ibid, hadits 107.

[3] Muqadamah Ibnu Haldun, hlm. 439.

[4] Mizanul I’tidal, jld. 1, hlm. 593.

[5] Rijal Kashi, hlm. 196, nomor 103.’

Selain Al Qur'an, kitap apa saja yang disimpan Imam-Imam Syiah

Tanya: Apakah ada kitab selain Al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw? Apakah hanya Ali saja yang mengetahuinya? Apakah kitab-kitab seperti Al-Jami’ah, Shahifah Namus, Shahifah ‘Abithah, Shahifah Du’abatus Saif, Shahifah Ali, Jafr, Mushaf Fathimah, Taurat, Injil dan Zabur juga dimiliki dan disimpan oleh para Imam Syiah?

Jawab: Sepeninggal Rasulullah saw, umat Islam menjadikan Al-Qur’an dan Sunah Nabi sebagai pegangan mereka. Keduanya adalah rukun dasar yang mana berdirinya Islam bergantung pada dua rukun itu. Bagi kami, hadits-hadits para Imam maksum adalah cerminan sunah Nabi; karena kami yakin apa yang mereka katakan pasti dari Nabi.

Untuk menjaga sunah, terkadang Nabi memerintahkan untuk dituliskannya sunah tersebut. Misalnya:

1. Dalam Fathul Makkah, Rasulullah saw berkhutbah lalu setelah itu seseorang dari Yaman mendatangi Nabi lalu meminta agar dituliskan khutbah tersebut untuknya. Rasulullah saw memerintahkan para sahabatnya untuk menuliskan khutbah tersebut.[1]

2. Di akhir hayatnya Rasulullah saw bersabda, “Berilah aku sebuah pena dan kertas agar aku dapat menuliskan wasiat untuk kalian agar kelak kalian tidak akan tersesat.” Namun sayang sekali Umar menghalangi beliau dari penulisan wasiat seraya berkata, “Begitu parah sakit Nabi hingga beliau sampai mengigau. Cukup bagi kami kitab Allah.”[2]

3. Seseorang dari kaum Anshar duduk di dekat Nabi sambil mendengarkan ucapan-ucapannya. Namun ia sering lupa karena ingatannya yang lemah. Lalu ia mengadukan lemahnya ingatan itu kepada Rasulullah saw. Beliau berkata padanya, “Mintalah pertolongan pada menulis.” Yakni ia diperintahkan untuk mencatat daripada hanya mendengarkannya.[3]

Umar bin Syu’aib menukilkan dari kakeknya bahwa ia bertanya kepada Rasulullah saw, “Apakah aku perlu menulis apa yang telah aku dengar darimu?” Beliau menjawab, “Ya, tulislah.”[4]

Al-Qur’an pun memerintahkan jika seandainya kita berhutang kepada seseorang maka kita harus mencatatnya.[5]

Oleh karena alasan begitu pentingnya sunah Nabi, Ali as dan anak-anaknya selalu menulis dan mencatat segala apa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah saw.

Ali bin Abi Thalib as pernah berkata, “Setiap kali aku bertanya pada Nabi, beliau selalu menjawabku. Dan jika aku diam, ia yang selalu memulai memberitahu aku.”[6]

Oleh karena itu, segala kitab dan catatan yang dimiliki oleh Ali as semuanya hadits Nabi yang ia tulis dari apa yang ia dengar dari lisan beliau. Kitab-kitab yang ia tulis memiliki nama yang bermacam-macam dan diwariskan lalu disimpan oleh anak-anak dan keturunan beliau. Dalam riwayat kami sering disebutkan bahwa terkadang Imam Baqir as dan Imam Ja’far Shadiq as memberikan hukum berdasarkan kitab-kitab tersebut.[7]

Bahkan perlu anda ketahui bahwa Ali as tidak hanya selalu mencatat hadits saja, ia merupakan orang pertama yang mencatat Al-Qur’an. Beliau mencatatnya terus menerus selama dua puluh tiga tahun; selama dua puluh tiga tahun, begitu ayat Al-Qur’an diturunkan beliau mencatatnya. Ali as sendiri pernah berkata, “Demi Tuhan, tidak ada satu pun ayat dalam Al-Qur’an kecuali aku tahu untuk apa ayat itu turun dan di mana diturunkannya dan mengenai siapa. Tuhan telah mengkaruniai aku wadah ilmu yang luas dan lidah yang lancar dalam menjelaskannya.”[8]

Oleh karena itu, kitab-kitab yang telah anda sebutkan kebanyakan adalah kitab hadits Nabi. Misalnya seperti Mushaf Fathimah, kita telah jelaskan pula sebelumnya.

Nama-nama kitab yang telah disebutkan dalam pertanyaan tersebut juga disebutkan oleh Bukhari dalam Shahihnya.[9]

Anehnya si penanya menganggap keberadaan kitab-kitab tersebut sebagai titik lemah Syiah. Padahal bagi kami itu kebalikannya. Keberadaan kitab-kitab tersebut justru menunjukkan betapa Ahlul Bait mementingkan terjaganya sunah Nabi.

Di lain sisi, terasa aneh saat kita melihat sejarah Ahlu Sunah bahwa khalifah Umar pernah melarang Muslimin untuk tidak menuliskan hadits.

‘Aisyah pernah berkata, “Suatu malam aku melihat ayahku susah tidur. Aku bertanya apa sebabnya. Namun di pagi hari, dia berkata kepadaku, “Bawakan catatan-catatan hadits yang pernah kau simpan.” Seluruhnya ada sekitar 500 hadits Nabi dalam catatan-catatan itu. Ia mengumpulkannya menjadi satu lalu membakarnya.”[10]

Saat Umar bin Khattab menjadi khalifah, ia menulis surat pengumuman lalu disebarkan; yang isinya: “Barang siapa meulis selain Al-Qur’an dari Nabi, maka hendaknya tulisan itu dilenyapkan.”[11]

Semenjak itulah penulisan hadits dilarang sehingga penulisan hadits mendapatkan kesan buruk bagi masyarakat.

Namun pada pemerintahan Umar bin Abdul Aziz, ia sebagai khalifah merasa bahwa ditinggalkannya penulisan hadits akan mengancam keutuhan sunah nabawi. Kemudian ia menulis surat kepada Abu Bakar bin Hazm (seorang alim di Madinah) untuk menulis kembali hadits-hadits Nabi.[12]

Kondisi yang mencengangkan. Lambat laun muncullah para pedagang hadits yang menjual hadits-hadits palsu buatan mereka sendiri.

Salah jika kita perfikiran bahwa hanya Al-Qur’an saja kitab yang diperlukan umat Islam. Kita perlu kitab-kitab lain yang menjelaskan dan menafsirkan maksud Al-Qur’an.

Adapun para Imam juga menyimpan kitab-kitab langit lainnya seperti Taurat, Injil dan Zabur, itu memang benar dan tidak ada yang perlu dipermasalahkan mengenainya. Saat umat Islam menguasai kandungan kitab-kitab langit lainnya, hal itu dapat menjadi senjata yang ampuh bagi Muslimin untuk meraih kemenangannya saat berdakwah Islam kepada pemeluk agama lain. Sebagai contoh, Imam Ali Ridha as pernah berdebat dengan Ahlul Kitab dengan menggunakan kitab mereka sendiri karena ia menguasai kitab-kitab mereka; kitab yang mana di dalamnya disebutkan tanda-tanda dan ciri-ciri Nabi terakhir, Muhammad saw.


[1] Shahih Bukhari, bab Kitabul Ilm, hadits 112.

[2] Ibid, hadits 114.

[3] Sunan Tirmidzi, jld. 5, hlm. 39.

[4] Ibid, hlm. 125.

[5] Al-Baqarah: 282.

[6] Thabaqat Al-Kubra, Ibnu Sa’ad, jld. 2, hlm. 283; Sunan Tirmidzi, jld. 5, hlm. 638, hadits 2722, dan hlm. 40, hadits 3729; Tarikh Al-Khulafa, Suyuthi, hlm. 170.

[7] Wasailus Syiah, jld. 4.

[8] Thabaqat Al-Kubra, jld. 2, hlm. 338; Kanzul Ummal, jld. 15, hlm. 135.

[9] Shahih Bukhari, bab Kitabatul Ilm, hadits 1.

[10] Tadzkiratul Huffadz, Dzahabi, jld. 1, hlm. 5.

[11] Musnad Ahmad bin Hanbal, jld. 3, hlm. 12 dan 14.

[12] Shahih Bukhari, bab Kaifa Yafidhu Al-Ilm, hadits 4.

Wah, Al-Kafi banyak riwayat dhaifnya

Tanya: Apakah kitab Al-Kafi merupakan Syarah dan kitab tafsir Al-Qur’an? Padahal kebanyakan riwayat-riwayat Al-Kafi adalah Dha’if (lemah).

Jawab: Trik mereka adalah menuduh, lalu mempertanyakan.

Pertama, atas dasar apa anda menyatakan bahwa kebanyakan riwayat-riwayat Al-Kafi adalah Dha’if?

Riwayat-riwayat yang ada dalam Al-Kafi ada empat macam: Shahih, Muwatsaq, Hasan, dab Dha’if.

Ketika Syiah sendiri telah membagi riwayat-riwayat penting mereka menjadi empat bagian seperti di atas, itu menunjukkan bahwa Syiah menerima realita yang ada mengenai riwayat-riwayat mereka. Karena bagi kami tidak ada satupun kitab yang Shahih selain Al-Qur’an. Adapun kitab-kitab lainnya, kita perlu teliti kebenarannya dan juga menimbangnya.

Allamah Majlisi dalam kitab Mir’at Al-’Uqul telah menentukan keempat macam riwayat tersebut.

Penyusun Al-Kafi dalam pendahuluan kitabnya menyebutkan tolak ukurnya dalam menimbang riwayat yang mana tolak ukur tersebut berasal dari para Imam:

“Coba sandingkan dengan Al-Qur’an. Jika sesuaui dengan kandungan Al-Qur’an, maka ambillah (riwayat itu). Namun jika bertentangan dengan Al-Qur’an, maka tolaklah.”[1]

Namun kebalikannya, Ahlu Hadits dan para Salafi, mereka menganggap dari ujung ke ujung Shahih Bukhari dan Muslim semuanya Shahih. Dan akhirnya kini mereka kerepotan sendiri.

Kedua, mengenai Al-Kafi adalah Syarah dan tafsir Al-Qur’an, jika yang dimaksud adalah Al-Kafi menjelaskan hukum-hukum shalat, puasa, zakat, haji dan jihad secara rinci, maka bukan hanya Al-Kafi aja yang sedemikian rupa. Semua kitab-kitab riwayat kami juga seperti itu. Bahkan begitu pula seluruh Shihah dan Sunan milik Ahlu Sunah juga menafsirkan Al-Qur’an sedemikian rupa. Namun jika yang dimaksud adalah, Al-Kafi ditulis dengan tujuan menafsirkan Al-Qur’an, dan susunannya adalah susunan tafsir, maka itu tidak betul.

Seperti apapun Al-Kafi, kami tidak menganggap seluruh riwayatnya Shahih. Kami selalu memilah-milah riwayat, karena semuanya tidak sama. Kebalikannya, kaum Salafi menerima semua Khabar Wahid tidak hanya dalam masalah-masalah Fiqih saja, namun mereka menerimanya dalam dunia praktek atau Amali dan bahkan perkara-perkara keyakinan atau Aqidah. Akhirnya mereka sendiri mengalami banyak masalah saat ini dalam dunia Aqidah.

Akhir-akhir ini di Madinah diadakan sebuah pertemuan dan pembahasan mengenai ke-Hujjah-an Khabar Wahid dalam perkara Aqidah. Kurang lebih seluruh pesertanya, yang mana kebanyakan adalah salafi, setuju dengan itu. Oleh karena itu Aqidah mereka berdiri atas dasar Khabar Wahid. Efeknya, mereka kini meyakini Tajsim, Tashbih, dan determinasi.


[1] Al-Kafi, jld. 1, hlm. 8.

Istilah Thaqalain diucapkan oleh Rasulullah saw di khutbah terakhirnya seusai haji (haji Wada’).

Thaqalain dalam bahasa Arab berarti dua “thaqal”. Kata “thaqal” berarti bekal yang dibawa oleh seorang musafir. Sebagian ahli bahasa lainnya berkeyakinan bahwa kata yang benar adalah “thiql” yang berarti “beban yang berat” atau “harta berharga”. Thaqalain adalah dua hal yang berat. Istilah Thaqalain diucapkan oleh Rasulullah saw di khutbah terakhirnya seusai haji (haji Wada’).

Saat itu beliau berkhutbah menjelaskan dua wasiat berharganya:

Bahwa sesungguhnya aku meninggalkan dua hal besar bagi kalian yang jika kalian berpegangan kepada keduanya, pasti kalian tak akan tersesat selamanya. Yang pertama adalah Al Qur’an, kitab Allah, tali yang memanjang ke langit. Yang kedua adalah Ahlul Baitku. Sungguh Tuhan yang Maha Tinggi telah memberitakan padaku bahwa keduanya tidak akan berpisah hingga hari nanti.

Hadits ini disebutkan dalam referensi-referensi berikut:

Shahih Turmudzi, jilid 5, halaman 662, ditukil dari lebih dari 30 sahabat; Mustadrak Hakim, pasal Fadhilah para Sahabat, jilid 3, halaman 109, 110, 148, 533; Sunan Ibnu Majah, jilid 2, halaman 432; Musnad Ahmad bin Hambal, jilid 3, halaman 14, 17, 26, 59, dan jilid 4, halaman 366, 372; Khasaish Nasa’i, halaman 21 dan 30; Shawaiqul Muhriqah, Ibnu Hajar ‘Asqalani, pasal 11, bagian 1, halaman 230; Kabir, Thabrani, jilid 3, halaman 62; Kanzul Ummal, Muttaqi Hindi, pasal I’tishab bi Hablullah, jilid 1, halaman 44; Tafsir Ibnu Katsir, jilid 4, halaman 113, tafsir ayat 42:23; Thabaqatul Kubra, Ibnu Sa’ad, jilid 2, halaman 194; Majma’uz Zawaid, Haitsami, jilid 9, halaman 163; Durrul Mantsur, Suyuthi, jilid 2, halaman 60; Yanabi’ul Mawaddah, Qunduzi Hanafi, halaman 38, 183; dan masih banyak lagi…

Bagaimana orang-orang Iran menjadi Syiah

Jika dipikir-pikir, Islam masuk di Iran saat khalifah kedua, Umar bin Khattab, berkuasa; lalu bagaimana bisa kebanyakan penduduk Iran memiliki faham Syiah? Ternyata sejarah mencatat bahwa orang-orang Iran mengalami proses panjang untuk menjadi Syiah, yakni tepatnya sejak abad pertama hingga abad kedua Hijriah.

Ada dialog antara seorang Zoroaster dengan Alim Syiah tentang masalah ini. Mari kita simak dialog tersebut:

Tanya: “Aku pikir yang dapat menjad faktor  mengapa orang-orang Syiah dapat dengan mudah menjadi Syiah adalah hal-hal berikut ini:

1. Orang-orang Iran sudah terbiasa dengan sistim pemerintahan kerajaan, sehingga mereka dengan mudah menerima pemerintahan yang berlangsung turun temurun, yaitu imamah (keimaman para Imam Syiah).

2. Orang-orang Iran sejak dulu meyakini kekuasaan para raja adalah kekuasaan Ilahi yang sudah ditakdirkan Tuhan, yang mana keyakinan seperti ini sejalan dengan akidah Syiah Imamiah.

3. Pernikahan Imam Husain as dengan Syahrbanu, putri Yazdgird ke-3, raja Sasanid terakhir, adalah salah satu faktor mengapa faham Syiah dengan mudah tersebar.

4. Faham Syiah mengandung unsur kebanggaan diri orang-orang Persia di hadapan bangsa Arab. Oleh karena itu Syiah adalah buatan orang-orang Iran.”

Jawab: “Tak satu pun dari empat hal di atas yang menjadi faktor ke-Syiahan orang-orang Iran. Karena pondasi pertama Syiah sudah ada di jaman nabi Muhammad saw, yang kemudian pengikut Syiah mulai bertambah mulai dari Salman, Abu Dzar, Miqdad dan seterusnya.

Sejarah bahkan tidak membenarkan apa yang anda nyatakan tentang bagaimana orang-orang Iran menanggapi kerajaan-kerajaan yang ada. Justru orang-orang Iran kesal dengan kerjaan Sasanid saat itu karena mereka tidak melihat adanya keadilan dan kesejahteraan pada rakyat, dan tentunya mereka membenci pemerintahan yang turun menurun seperti itu. Mereka haus dengan datangnya aturan baru yang adil dan benar.

Adapun pernikahan Imam Husain as dengan putri Yazdgird, memang memiliki efek bagi ke-Syiahan orang-orang Iran; namun itu bukanlah faktor utama.”

T: “Jika memang demikian, apa faktor utama itu?”

J: “Panjang ceritanya. Ada 11 faktor yang dapat saya sebutkan mengapara kini kebanyakan penduduk Iran memeluk mazhab Syiah Imamiah, yang mana faktor-faktor tersebut adalah fase yang terus dilewati hingga akhirnya rakyat Iran menjadi seperti apa yang ada sekarang:

1. Pada pertengahan pertama abad ke-1 Hijriah, rakyat Iran memang sedang haus dengan datangnya pemerintahan baru yang adil dan benar. Oleh karena itu dengan kedatangan Islam mereka begitu menyambut dengan penuh kegembiraan. Salman Alfarisi memiliki peran utama dalam hal ini. Ia menjadikan Madain, ibu kota pemerintahan Sasanid waktu itu, sebagai pusat dakwah penyebaran Islam di Persia. Salman mempelajari Islam dari Ali as, dan Ali as dari Rasulullah saw. Yang mana ajaran tersebut adalah ajaran Syiah. Lalu orang-orang Persia pun mempelajari Islam dari Salman Al Farisi; demikian jalurnya.

2. Pemerintahan Islam di masa kekhalifahan Imam Ali as berpusat di Kufah, sebuah kota yang mana orang-orang Persia sering berlalu lalang di sana. Keadilan dan kecintaan beliau kepada rakyat menarik perhatian orang-orang Persia saat itu dan tentunya menjadi faktor mereka mau memeluk Islam.

3. Kebangkitan Imam Husain as yang dikenal dengan peristiwa Karbala. Amarah umat Islam yang sebenarnya pasca terbunuhnya Imam Husain as membuat berita tragis itu tersebar ke mana-mana, hingga ke telinga Muslimin (dan juga selainnya) di Persia. Berita mengejutkan tersebut membuat mereka bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi, dan menggiring mereka mengenal Syiah.

4. Masa keemasan para Imam di jaman Imam Shadiq as sangat memukau. Beliau sampai memiliki lebih dari empat ribu murid, yang setiap dari mereka adalah penyebar ajaran Islam. Yang tentunya memiliki peran istimewa tersebarnya faham Syiah di Iran.

5. Qom adalah tempat aman bagi para imigran Syiah Iraq yang datang ke Iran. Oleh karena itu keberadaan kota suci Qom juga memiliki peran penting tersebarnya faham Syiah di Iran.

6. Diasingkannya Imam Ridha as dari Madinah ke Khurasan (sebuah propinsi di Iran) juga menjadi faktor penting dalam masalah ini.

7. Kedatangan para pecinta Imam Ridha as ke Khurasan, yang akhirnya mereka menyebar di Iran, dan menjadi mubaligh yang mengajarkan faham Ahlul Bait.

8. Lambat laun semakin banyak ulama besar Syiah yang bermunculan, dan mereka membantu tersebarnya faham Syiah ke seluruh penjuru Iran. Mereka misalnya seperti Syaikh Kulaini, Syaikh Thusi, Syaikh Shaduq,  Syaikh Mufid, dan…

9. Pemerintahan dinasti Buwaih (Ali Buwaih) menjadi faktor penting penyebaran Syiah di Iran, yang mana pemerintahan itu adalah pemerintahan Islami Syiah.

10. Menjadi Syiah-nya Sultan Khoda Bandeh berkat Allamah Hilli di permulaan abad ke-8 Hijriah membuat Syiah semakin dikenal akhirnya diresmikan sebagai mazhab di Iran.

11. Berdirinya pemerintahan Shafawiyah yang dipengaruhi oleh ulama Syiah di abad ke-10 dan 11 Hijriah.”

Tanya: Dalam kitab Al-Tauhid karya Syeikh Shoduq, tepatnya ketika memberikan penjelasan mengenai orang-orang yang bertauhid, membawakan sebuah riwayat dari Nabi Muhammad Saw yang berbunyi, “Dan sesungguhnya orang-orang yang bertauhid akan memberikan syafaat ….”[1]Siapakah yang akan menerima syafaat dari mereka? Apakah orang-orang yang tidak bertauhid? Saya tahu, itu tidak mungkin. Oleh karenanya, sudi kiranya Anda memberi sedikit penjelasan.

Jawab: dalam riwayat “Dan sesungguhnya orang-orang yang bertauhid akan memberikan syafaat …” terdapat dua penafsiran. Pertama, yang dimaksud dengan orang-orang yang bertauhid adalah ahli tauhid dan ulama yang telah mencapai tingkat kesempurnaan sebagaimana ayat ini:

“Orang-orang yang menyembah selain-Nya tidak dapat memberikan syafaat kecuali orang-orang yang bersaksi akan kebenaran dan benar-benar faham.”[2]

Dan ayat:

… kecuali orang-orang yang telah diberi izin oleh Allah dan berkata benar.”[3]

Penafsiran kedua, maksud riwayat di atas adalah syafaat orang-orang yang bertauhid untuk orang-orang mustadhafin[4] yang tentang mereka Allah Swt berfirman:

“Dan golongan yang lainnya adalah orang-orang yang terserah apa keputusan Tuhan mengenai mereka; mengadzab mereka ataukah mengampuni mereka …”[5]

Dan tampaknya kebanyakan manusia di dunia ini adalah orang-orang mustadhafin.


[1] Syeikh Shaduq: Al-Tauhid: hal. 29 & 31.

[2] QS. Az-Zukhruf: 86.

[3] QS. An-Naba’: 38.

[4] Yang dimaksud dengan orang-orang mustadhafin adalah orang-orang yang tak mampu memiliki keyakinan yang benar. Silahkan merujuk kitab-kitab tafsir.

[5] QS. At-Taubah: 106.

Riwayat-riwayat Syiah yang bertentangan ?? wahabi tidak memahami syiah

Riwayat-riwayat Syiah yang bertentangan

Tanya: Banyak sekali pertentangan antara satu riwayat dengan riwayat lain dalam kitab-kitab Syiah sehingga bangkit beberapa ulama untuk menyelaraskan pertentangan-pertentangan itu. Betul tidak?

Jawab: Di masa hidupnya, Rasulullah saw sering mengingatkan tentang adanya para pemalsu hadits di tengah-tengah para sahabatnya. Ia bersabda:

“Janganlah kalian berbohong atasku. Barang siapa berbohong atasku maka ia akan dibakar di api neraka.”[1]

Ia juga bersabda:

“Barang siapa berbohong atasku, maka hendaknya ia menyiapkan tempatnya di api neraka.”[2]

Artinya di masa hidupnya Nabi banyak orang-orang yang bagi Ahlu Sunah adalah sahabat yang adil; padahal mereka sering berbohong atas nama Nabi atau melakukan suatu perbuatan yang mereka suka lalu menisbatkannya kepada beliau.

Apa lagi sepeninggal Nabi, yang mana pada masa itu penulisan hadits secara total dilarang. Banyak orang-orang Yahudi dan Nasrani yang mengaku Muslim namun mereka sering memalsukan hadits. Misalnya Ka’ab Al-Ahbar, Wahab bin Manbah, Tamim Dari, dan lain sebagainya.[3]

Banyaknya hadits-hadits palsu inilah yang menciptakan banyaknya pertentangan antara satu hadits dengan hadits lainnya.

Ibnu Abil Auja’ dibesarkan di rumah Hammad bin Muslim, seorang tokoh hadits besar Ahlu Sunah; ia sering kali menjahili kitab-kitab Hammad dan memalsukan hadits-haditsnya.[4]

Cukup kita mendengar bahwa Bukhari mengaku telah memilih 2.761 hadits dari 600.000 hadits yang ada.

Shahih Muslim memilih 4.000 hadits dari 300.000 hadits yang ada.

Kebanyakan motif dari pemalsuan ini adalah usaha pencapaian kedudukan atau kepentingan materi.

Jika dipikir, andai kita membagi waktu-waktu yang ada pada hayat Nabi menjadi beberapa bagian berbeda-beda, maka kita akan sadari bahwa tidak mungkin Nabi sepanjang umurnya telah mengucapkan sekian banyak hadits, bahkan 1/10 nya saja. Oleh karena itulah ulama Ahlu Sunah hanya mengkategorikan beberapa hadits saja sebagai hadits shahih.

Tentu masih saja banyak ditemukan hadits-hadits palsu sedemikian rupa yang bertentangan dengan hadits-hadits lainnya. Misalnya tentang bahwa Tuhan itu memiliki tubuh, Tuhan bisa dilihat, dan lain sebagainya.

Adapun pertentangan-pertentangan yang ditemukan dalam kitab-kitab hadits Syiah, ya memang ada juga hadits-hadits palsu dalam kitab kami. Namun yang lebih banyak lagi bukanlah faktor pemalsuan yang membuat kita berfikiran bahwa hadits-hadits tersebut terkesan bertentangan, ada faktor-faktor lain seperti:

1. Terpotongnya riwayat

Terkadang ada riwayat yang menukilkan hadits secara sepenggal saja dan penggalan yang lain tidak disebutkan.

2. Riwayat yang hanya menukil kandungan hadits

Sebagian riwayat tidak menyebutkan secara detil hadits atau ucapan maksumin, namun hanya menukilkan kandungan dan maksudnya saja.

3. Pemalsuan hadits

Ada juga hadits-hadits palsu dalam kitab-kitab kami. Kebanyakan adalah ulah para Ghulat (orang-orang Syiah yang berlebihan dalam fahamnya). Misalnya Mughirah bin Sa’id dan Abu Zainab Asadi yang dikenal dengan Abul Khitam; Imam Ja’far Shadiq as menunjuk nama-nama mereka lalu berkata, “Mereka telah berbohong atas aku dan ayahku.”[5]

Dengan demikian ulama Syiah berupaya untuk menyelesaikan masalah-masalah di atas dengan berbagai cara. Yang jelas mereka sama sekali tidak menghiraukan hadits-hadits palsu. Namun bagaimana dengan kitab-kitab anda?


[1] Shahih Bukhari, hadits 106.

[2] Ibid, hadits 107.

[3] Muqadamah Ibnu Haldun, hlm. 439.

[4] Mizanul I’tidal, jld. 1, hlm. 593.

[5] Rijal Kashi, hlm. 196, nomor 103.’

Selain Al Qur'an, kitap apa saja yang disimpan Imam-Imam Syiah

Tanya: Apakah ada kitab selain Al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw? Apakah hanya Ali saja yang mengetahuinya? Apakah kitab-kitab seperti Al-Jami’ah, Shahifah Namus, Shahifah ‘Abithah, Shahifah Du’abatus Saif, Shahifah Ali, Jafr, Mushaf Fathimah, Taurat, Injil dan Zabur juga dimiliki dan disimpan oleh para Imam Syiah?

Jawab: Sepeninggal Rasulullah saw, umat Islam menjadikan Al-Qur’an dan Sunah Nabi sebagai pegangan mereka. Keduanya adalah rukun dasar yang mana berdirinya Islam bergantung pada dua rukun itu. Bagi kami, hadits-hadits para Imam maksum adalah cerminan sunah Nabi; karena kami yakin apa yang mereka katakan pasti dari Nabi.

Untuk menjaga sunah, terkadang Nabi memerintahkan untuk dituliskannya sunah tersebut. Misalnya:

1. Dalam Fathul Makkah, Rasulullah saw berkhutbah lalu setelah itu seseorang dari Yaman mendatangi Nabi lalu meminta agar dituliskan khutbah tersebut untuknya. Rasulullah saw memerintahkan para sahabatnya untuk menuliskan khutbah tersebut.[1]

2. Di akhir hayatnya Rasulullah saw bersabda, “Berilah aku sebuah pena dan kertas agar aku dapat menuliskan wasiat untuk kalian agar kelak kalian tidak akan tersesat.” Namun sayang sekali Umar menghalangi beliau dari penulisan wasiat seraya berkata, “Begitu parah sakit Nabi hingga beliau sampai mengigau. Cukup bagi kami kitab Allah.”[2]

3. Seseorang dari kaum Anshar duduk di dekat Nabi sambil mendengarkan ucapan-ucapannya. Namun ia sering lupa karena ingatannya yang lemah. Lalu ia mengadukan lemahnya ingatan itu kepada Rasulullah saw. Beliau berkata padanya, “Mintalah pertolongan pada menulis.” Yakni ia diperintahkan untuk mencatat daripada hanya mendengarkannya.[3]

Umar bin Syu’aib menukilkan dari kakeknya bahwa ia bertanya kepada Rasulullah saw, “Apakah aku perlu menulis apa yang telah aku dengar darimu?” Beliau menjawab, “Ya, tulislah.”[4]

Al-Qur’an pun memerintahkan jika seandainya kita berhutang kepada seseorang maka kita harus mencatatnya.[5]

Oleh karena alasan begitu pentingnya sunah Nabi, Ali as dan anak-anaknya selalu menulis dan mencatat segala apa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah saw.

Ali bin Abi Thalib as pernah berkata, “Setiap kali aku bertanya pada Nabi, beliau selalu menjawabku. Dan jika aku diam, ia yang selalu memulai memberitahu aku.”[6]

Oleh karena itu, segala kitab dan catatan yang dimiliki oleh Ali as semuanya hadits Nabi yang ia tulis dari apa yang ia dengar dari lisan beliau. Kitab-kitab yang ia tulis memiliki nama yang bermacam-macam dan diwariskan lalu disimpan oleh anak-anak dan keturunan beliau. Dalam riwayat kami sering disebutkan bahwa terkadang Imam Baqir as dan Imam Ja’far Shadiq as memberikan hukum berdasarkan kitab-kitab tersebut.[7]

Bahkan perlu anda ketahui bahwa Ali as tidak hanya selalu mencatat hadits saja, ia merupakan orang pertama yang mencatat Al-Qur’an. Beliau mencatatnya terus menerus selama dua puluh tiga tahun; selama dua puluh tiga tahun, begitu ayat Al-Qur’an diturunkan beliau mencatatnya. Ali as sendiri pernah berkata, “Demi Tuhan, tidak ada satu pun ayat dalam Al-Qur’an kecuali aku tahu untuk apa ayat itu turun dan di mana diturunkannya dan mengenai siapa. Tuhan telah mengkaruniai aku wadah ilmu yang luas dan lidah yang lancar dalam menjelaskannya.”[8]

Oleh karena itu, kitab-kitab yang telah anda sebutkan kebanyakan adalah kitab hadits Nabi. Misalnya seperti Mushaf Fathimah, kita telah jelaskan pula sebelumnya.

Nama-nama kitab yang telah disebutkan dalam pertanyaan tersebut juga disebutkan oleh Bukhari dalam Shahihnya.[9]

Anehnya si penanya menganggap keberadaan kitab-kitab tersebut sebagai titik lemah Syiah. Padahal bagi kami itu kebalikannya. Keberadaan kitab-kitab tersebut justru menunjukkan betapa Ahlul Bait mementingkan terjaganya sunah Nabi.

Di lain sisi, terasa aneh saat kita melihat sejarah Ahlu Sunah bahwa khalifah Umar pernah melarang Muslimin untuk tidak menuliskan hadits.

‘Aisyah pernah berkata, “Suatu malam aku melihat ayahku susah tidur. Aku bertanya apa sebabnya. Namun di pagi hari, dia berkata kepadaku, “Bawakan catatan-catatan hadits yang pernah kau simpan.” Seluruhnya ada sekitar 500 hadits Nabi dalam catatan-catatan itu. Ia mengumpulkannya menjadi satu lalu membakarnya.”[10]

Saat Umar bin Khattab menjadi khalifah, ia menulis surat pengumuman lalu disebarkan; yang isinya: “Barang siapa meulis selain Al-Qur’an dari Nabi, maka hendaknya tulisan itu dilenyapkan.”[11]

Semenjak itulah penulisan hadits dilarang sehingga penulisan hadits mendapatkan kesan buruk bagi masyarakat.

Namun pada pemerintahan Umar bin Abdul Aziz, ia sebagai khalifah merasa bahwa ditinggalkannya penulisan hadits akan mengancam keutuhan sunah nabawi. Kemudian ia menulis surat kepada Abu Bakar bin Hazm (seorang alim di Madinah) untuk menulis kembali hadits-hadits Nabi.[12]

Kondisi yang mencengangkan. Lambat laun muncullah para pedagang hadits yang menjual hadits-hadits palsu buatan mereka sendiri.

Salah jika kita perfikiran bahwa hanya Al-Qur’an saja kitab yang diperlukan umat Islam. Kita perlu kitab-kitab lain yang menjelaskan dan menafsirkan maksud Al-Qur’an.

Adapun para Imam juga menyimpan kitab-kitab langit lainnya seperti Taurat, Injil dan Zabur, itu memang benar dan tidak ada yang perlu dipermasalahkan mengenainya. Saat umat Islam menguasai kandungan kitab-kitab langit lainnya, hal itu dapat menjadi senjata yang ampuh bagi Muslimin untuk meraih kemenangannya saat berdakwah Islam kepada pemeluk agama lain. Sebagai contoh, Imam Ali Ridha as pernah berdebat dengan Ahlul Kitab dengan menggunakan kitab mereka sendiri karena ia menguasai kitab-kitab mereka; kitab yang mana di dalamnya disebutkan tanda-tanda dan ciri-ciri Nabi terakhir, Muhammad saw.


[1] Shahih Bukhari, bab Kitabul Ilm, hadits 112.

[2] Ibid, hadits 114.

[3] Sunan Tirmidzi, jld. 5, hlm. 39.

[4] Ibid, hlm. 125.

[5] Al-Baqarah: 282.

[6] Thabaqat Al-Kubra, Ibnu Sa’ad, jld. 2, hlm. 283; Sunan Tirmidzi, jld. 5, hlm. 638, hadits 2722, dan hlm. 40, hadits 3729; Tarikh Al-Khulafa, Suyuthi, hlm. 170.

[7] Wasailus Syiah, jld. 4.

[8] Thabaqat Al-Kubra, jld. 2, hlm. 338; Kanzul Ummal, jld. 15, hlm. 135.

[9] Shahih Bukhari, bab Kitabatul Ilm, hadits 1.

[10] Tadzkiratul Huffadz, Dzahabi, jld. 1, hlm. 5.

[11] Musnad Ahmad bin Hanbal, jld. 3, hlm. 12 dan 14.

[12] Shahih Bukhari, bab Kaifa Yafidhu Al-Ilm, hadits 4.

Wah, Al-Kafi banyak riwayat dhaifnya

Tanya: Apakah kitab Al-Kafi merupakan Syarah dan kitab tafsir Al-Qur’an? Padahal kebanyakan riwayat-riwayat Al-Kafi adalah Dha’if (lemah).

Jawab: Trik mereka adalah menuduh, lalu mempertanyakan.

Pertama, atas dasar apa anda menyatakan bahwa kebanyakan riwayat-riwayat Al-Kafi adalah Dha’if?

Riwayat-riwayat yang ada dalam Al-Kafi ada empat macam: Shahih, Muwatsaq, Hasan, dab Dha’if.

Ketika Syiah sendiri telah membagi riwayat-riwayat penting mereka menjadi empat bagian seperti di atas, itu menunjukkan bahwa Syiah menerima realita yang ada mengenai riwayat-riwayat mereka. Karena bagi kami tidak ada satupun kitab yang Shahih selain Al-Qur’an. Adapun kitab-kitab lainnya, kita perlu teliti kebenarannya dan juga menimbangnya.

Allamah Majlisi dalam kitab Mir’at Al-’Uqul telah menentukan keempat macam riwayat tersebut.

Penyusun Al-Kafi dalam pendahuluan kitabnya menyebutkan tolak ukurnya dalam menimbang riwayat yang mana tolak ukur tersebut berasal dari para Imam:

“Coba sandingkan dengan Al-Qur’an. Jika sesuaui dengan kandungan Al-Qur’an, maka ambillah (riwayat itu). Namun jika bertentangan dengan Al-Qur’an, maka tolaklah.”[1]

Namun kebalikannya, Ahlu Hadits dan para Salafi, mereka menganggap dari ujung ke ujung Shahih Bukhari dan Muslim semuanya Shahih. Dan akhirnya kini mereka kerepotan sendiri.

Kedua, mengenai Al-Kafi adalah Syarah dan tafsir Al-Qur’an, jika yang dimaksud adalah Al-Kafi menjelaskan hukum-hukum shalat, puasa, zakat, haji dan jihad secara rinci, maka bukan hanya Al-Kafi aja yang sedemikian rupa. Semua kitab-kitab riwayat kami juga seperti itu. Bahkan begitu pula seluruh Shihah dan Sunan milik Ahlu Sunah juga menafsirkan Al-Qur’an sedemikian rupa. Namun jika yang dimaksud adalah, Al-Kafi ditulis dengan tujuan menafsirkan Al-Qur’an, dan susunannya adalah susunan tafsir, maka itu tidak betul.

Seperti apapun Al-Kafi, kami tidak menganggap seluruh riwayatnya Shahih. Kami selalu memilah-milah riwayat, karena semuanya tidak sama. Kebalikannya, kaum Salafi menerima semua Khabar Wahid tidak hanya dalam masalah-masalah Fiqih saja, namun mereka menerimanya dalam dunia praktek atau Amali dan bahkan perkara-perkara keyakinan atau Aqidah. Akhirnya mereka sendiri mengalami banyak masalah saat ini dalam dunia Aqidah.

Akhir-akhir ini di Madinah diadakan sebuah pertemuan dan pembahasan mengenai ke-Hujjah-an Khabar Wahid dalam perkara Aqidah. Kurang lebih seluruh pesertanya, yang mana kebanyakan adalah salafi, setuju dengan itu. Oleh karena itu Aqidah mereka berdiri atas dasar Khabar Wahid. Efeknya, mereka kini meyakini Tajsim, Tashbih, dan determinasi.


[1] Al-Kafi, jld. 1, hlm. 8.

Keyakinan tentang Bada’: apakah berarti para Imam lebih tinggi dari Tuhan? membantah wahabi dungu

Keyakinan tentang Bada', yakni para Imam lebih tinggi dari Tuhan

Tanya: Bada’ termasuk kepercayan dan akidah Syiah, padahal di sisi lain mereka meyakini para Imam mengetahui ilmu ghaib. Apakah para Imam lebih tinggi dari Tuhan?

Jawab: Pertanyaan di atas diutarakan berdasarkan sebuah kitab yang ditulis oleh Syaikh Nashir Qafari, yang termasuk sekongkol Salafi.

Kitab tulisan Syaikh Qafari penuh dengan tuduhan yang tidak berdalil terhadap Syiah, yang tentunya ia belajar dari gurunya, Ibnu Taimiyah. Pantas di dalam penuh dengan tuduhan yang tidak masuk akal. Sebagai contoh saya jelaskan beberapa di antaranya; Ia menulis, “Di Iran Imam Khumaini menambahkan namanya sebelum dua syahadat dalam adzan.”[1]

Saya heran mengapa penanya hanya membaca buku orang seperti ini.

Penanya bertanya tentang bada’, lalu berkata bahwa Syiah meyakini bada’; kemudian secara mengherankan ia menyimpulkan bahwa Syiah menganggap para Imamnya lebih tinggi dari Tuhan. Nalar apakah yang telah digunakannya hingga berlogika seperti ini?

Saya akan menjelaskan kedua masalah di atas:

Pertama, bada’ yakni seorang manusia merubah nasib baiknya karena telah melakukan perbuatan buruk. Begitu juga, manusia dapat merubah nasib buruknya dengan melakukan amal perbuatan baik. Allah swt berfirman:

“Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh mahfuzh).” (Ar-Ra’d: 39)

Seorang ahli hadits besar dari kalangan Ahlu Sunah, Jalaluddin Suyuthi dalam kitabnya Ad Durr Al-Mantsur, dalam menafsirkan ayat tersebut membawakan beberapa riwayat dari Nabi yang intinya manusia dapat merubah sebagian dari nasib yang telah ditakdirkan Tuhan dengan melakukan amal perbuatan baik, misalnya berbuat baik kepada orang tua, atau bersedekah, dan lain sebagainya. Misalnya salah satu hadits yang ia bawakan seperti “Sedekah dapat menolak bala’.”[2]

Bada’ dengan pengertian seperti ini dapat diterima oleh semua Muslimin. Bada’ bukan berarti Tuhan tidak tahu akan takdir hambanya. Sebagai contoh, kaum Nabi Yunus telah ditakdirkan untuk menerima adzab karena pertentangannya. Nabi mereka telah memberitahukan mereka bahwa Tuhan hendak mengadzab mereka, beliau pun pergi meninggalkan kawasan yang mereka tinggali itu dan menjauhinya. Namun ternyata mereka menyesal, mereka mendengar perkataan seseorang lalu mereka bersama-sama pergi ke gurun dan meratapi dosa mereka sampai maningisinya. Allah swt menerima taubat mereka dan akhirnya Ia tidak jadi menurunkan siksaan-Nya. Kisah ini disebutkan dalam ayat yang berbunyi:

“Dan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? Tatkala mereka (kaum Yunus itu), beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai kepada waktu yang tertentu.” (Yunus: 98)

Mengenai peristiwa tersebut dapat dikatakan bahwa Tuhan pada mulanya hendak menurunkan adzab kepada umatnya. Namun terjadi bada’ dan Tuhan tidak jadi menurunkan siksaan. Ungkapan ini hanya berlaku bagi manusia sendiri, bukan bagi Tuhan; yakni, dari sudut pandang manusia Tuhan tidak jadi menurunkan siksaan-Nya karena umatnya telah bertaubat; namun dari sudut pandang Tuhan, Ia sejak awal sudah tahu bahwa mereka akan bertaubat. Lalu mengapa kita menggunakan istilah bada’? Alasannya karena Nabi dulu pernah menggunakan istilah tersebut, dan Bukhari pernah menukilnya dalam Shahih nya.[3]

Ada satu hal menarik, Wahabi sendiri dalam membahas “bertawasul kepada amal saleh” mereka menukilkan hadits bada’. Rasulullah saw bersabda:

“Ada tiga orang yang lari ke goa karena menghindar dari hujan. Tiba-tiba jatuh reruntuhan batu yang akhirnya menutup pintu goa. Mereka berbicara satu sama lain dan berkata, “Sungguh demi Tuhan, tidak akan ada yang bisa menyelamatkan kalian selain kejujuran. Siapapun di antara kalian yang pernah melakukan amal kebaikan, maka mintalah kepada tuhan untuk menyelamatkan kita dari kematian atas kehormatan amal tersebut.”…”

Bada’ tidak dapat diartikan sebagai kebodohan Tuhan. Karena Tuhan Maha Suci dari sifat yang sedemikian. Kita sebagai manusia yang memiliki sudut pandang terbatas melihat seolah fenomena yang sudah ditakdirkan Tuhan berubah-ubah. Saat dikatakan “terjadi bada’ bagi Tuhan”, itu hanyalah ungkapan emosional (yang diperuntukkan bagi manusia) saja, tidak bisa dikaitkan secara hakiki dengan ilmu yang Tuhan miliki. Karena Tuhan sejak semulanya mengetahui segala sesuatu dengan perubahan-perubahan yang akan terjadi; hanya kita saja yang tidak tahu.

Oleh karena itu, bada’ tidak bertentangan dengan ke-Maha-Tau-an Tuhan.

Jadi, jika kami meyakini bahwa Imam-Imam maksum memiliki ilmu ghaib, itu bukan berarti mereka lebih tinggi dari Tuhan; ilmu mereka adalah ilmu yang diberikan Tuhan, itupun terbatas; sedangkan ilmu sebenarnya yang dimiliki Tuhan tidaklah terbatas. Ilmu para Imam adalah karunia, sedang ilmu Tuhan adalah ilmu dari dzat-Nya sendiri.


[1] Ushul Madzah Asy Syiah, jld. 3, hlm. 154.

[2] Ad Durr Al-Mantsur, jld. 6, hlm. 661.

[3] Shahih Bukhari, jld. 4, hlm. 172, Kitab Ahadits Al-Anbiya’, hadits nomor 3465, dan Kitab Al-Buyu’, hadits nomor 2215.

Tanya: Apa dampak iman dan keyakinan terhadap hari pembalasan bagi diri pribadi dan perilaku seseorang? Dan permasalahan sosial yang manakah yang dapat dibenahi dengan adanya keyakinan ini? Karena kita tidak dapat mengingkari bahwa perkembangan umat manusia bergantung kepada aktifitas yang mereka lakukan; dan aktifitas umat manusia akan lebih berkembang dengan adanya harapan untuk maju. Yakni, seorang manusia akan mendapatkan semangat untuk meningkatkan kinerja kerjanya ketika ia membayangkan betapa nikmatnya jika ia berhasil menyelesaikan pekerjaannya dengan baik; dan dengan demikian, aktifitas umat manusia dapat berkembang dengan pesat. Ketika seseorang merasakan nikmatnya keuntungan yang ia dapat berkat pekerjaan yang telah ia selesaikan, maka ia akan lebih bersemangat untuk menjalankan aktifitas yang lainnya.

Melalui jalan inilah kehidupan umat manusia dapat semakin berkembang; dan dengan demikian dalam setiap saat dan dalam setiap harinya kinerja kerja umat manusia semakin meningkat. Dengannya umat manusia akan menemukan banyak penemuan-penemuan baru dan segala hal yang lainnya yang berguna. Kini pendapat saya, jika iman dan percaya akan hari pembalasan tidak menyebabkan umat manusia tidak bergairah untuk mencapai perkembangan dunia yang lebih baik, dan tidak menyebabkan aktifitas besar-besaran umat manusia tidak terhambat, maka artinya iman tersebut tidak berpengaruh dalam jiwa dan perilaku umat manusia.

Jawab: Ya, bisa dikatakan semua ajaran agama-agama yang ada di muka bumi selalu mengingatkan pemeluknya akan adanya hari pembalasan yang mana di sana manusia akan diberi balasan dan hukuman; dan Islam adalah salah satu dari agama-agama tersebut. Islam memiliki tiga ajaran dasar dan pokok yang mana iman terhadap hari pembalasan adalah pokok ketiganya. Barang siapa tidak mengimani hari pembalasan, maka sama sama seperti orang yang tidak mengimani Tauhid dan kenabian; belum dapat disebut sebagai seorang muslim sejati. Dengan demikian, sesungguhnya sebagaimana Islam sangat mementingkan Tauhid dan kenabian, Islam juga sangat mementingkan iman terhadap hari pembalasan.

Sebagaimana yang pernah dijelaskan bahwasannya tujuan yang mendasar dalam pendidikan dan ajaran Islam adalah pembangkitan fitrah dan jiwa alamiah manusia yang suci. Yakni Islam ingin mewujudkan manusia yang benar-benar fitri. Oleh karena itu kita dapat mengambil kesimpulan bahwa iman terhadap hari pembalasan merupakan salah satu rukun hayati Manusia Fitri. Seorang manusia tanpa memiliki iman terhadap hari pembalasan, bagai sesosok tubuh tak bernyawa. Padahal nyawa adalah pangkal segala kebahagiaan dan kesempurnaan.

Kita tidak boleh berpikiran buruk dan menganggap ajaran-ajaran Islam hanya sebagai ajaran kering tak bernyawa yang dengan sengaja telah diciptakan untuk menyibukkan diri manusia dan harus diterima secara buta-membuta tanpa ada tujuan-tujuan mulia di baliknya. Bahkan sebenarnya ajaran-ajaran Islam merupakan sistem yang sangat teratur yang telah diciptakan sesuai dengan tabiat manusia yang sangat berguna untuk mengatur keyakinan, jiwa, dan perilaku dengan sebaik-baiknya. Hukum-hukum ini telah diukur dengan kebutuhan-kebutuhan yang akan dirasakan umat manusia selama hidup di dunia ini. Dengan menerima dan mengamalkan ajaran-ajaran Islam, umat manusia akan merasakan nikmatnya memiliki hidup yang teratur. Ayat berikut ini adalah sebaik-baiknya dalil akan hal ini:

“Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah ajakan Allah  dan utusan-Nya ketika mereka mengajak kalian kepada sesuatu yang akan menghidupkan diri kalian…”[1]

“Dengan teguh dan dalam keadaan yang patut menghadaplah ke arah agama ini! Yakni fitrah dan bentuk penciptaan yang mana umat manusia tercipta atas dasar hal itu. Tidak ada perubahan dalam penciptaan Tuhan. Itulah agama yang dapat mengatur hidup umat manusia.”[2]

Dengan demikian, ajaran-ajaran Islam tidak ada bedanya dengan hukum-hukum sosial dalam segi pemenuhan kebutuhan-kebutuhan hayati umat manusia. Tetapi perbedaan yang sangat penting antara ajaran-ajaran Ilahi dengan hukum-hukum ciptaan manusia adalah: hukum-hukum ciptaan umat manusia mengira bahwa kehidupan umat manusia hanya berupa kehidupan duniawi yang berumur beberapa hari saja di dunia; dan asas hukum-hukumnya adalah apa saja yang diinginkan oleh mayoritas umat manusia. Adapun menurut ajaran-ajaran Islam, kehidupan manusia tidak terbatas pada dunia materi ini saja, bahkan kehidupan manusia adalah kehidupan abadi yang akan terus berlanjut di akherat; dan kebahagiaan dan kesengsaraan umat manusia di alam abadi tergantung dengan baik dan buruknya amal perbuatan mereka di duni ini. Oleh karenanya Islam membawakan ajaran-ajaran seperti ini yang mana telah tercipta berdasarkan akal sehat dan tidak mengikuti kemauan keinginan-keinginan mayoritas umat manusia yang didasari oleh hawa nafsu dan emosi.

Menurut kebanyakan orang, keinginan mayotitas masyarakat adalah tolak ukur dapat dijalankannya suatu hukum. Akan tetapi Islam tidak berpikiran seperti itu. Menurut Islam, hukum-hukum yang layak dijalankan oleh semua orang adalah hukum-hukum yang sesuai dengan kebenaran. Jika suatu hukum sesuai dengan kebenaran, maka semua orang wajib menjalankannya; baik sesuai dengan keinginan mereka atau tidak.

Islam menjelaskan bahwa Manusia Alami (yakni manusia yang fitrah alamiahnya belum ternodai segala bentuk keburukan), dengan sendirinya menyadari akan keberadaan hari pembalasan. Oleh karenanya, ia memandang dirinnya sebagai makhluk yang memiliki hayat abadi. Dengan demkian ia merasa untuk harus menjalankan kehidupannya dengan penuh kesadaran berpikir dan tidak boleh lupa sesekalipun akan kenyataan ini. Ia tidak seperti seorang materialis yang sama sekali tidak mengetahui dimanakah ia sebelumnya dan dimanakah kelak ia akan berada. Seorang materialis hanya memiliki pola pikir hewani; dan harapan tertingginya adalah menikmati segala kenikmatan materi sepuas-puasnya. Jadi, iman rerhadap hari pembalasan memiliki dampak positif yang sangat jelas bagi pemikiran, etika, jiwa, dan amal perbuatan setiap individu dan bahkan seluruh umat manusia.

Adapun dampak keimanan tersebut terhadap pikiran manusia, seperti ini: ia akan melihat dirinya dan segala yang ada di sekitarnya sebagaimana apa adanya. Ia akan memangdang dirinya sebagai seorang makhluk yang berusia beberapa hari saja di dunia ini yang merupakan bagian dari tubuh alam yang selalu bergerak. Ia dan segala maujud yang adala bak kafilah yang sedang berjalan menuju alam lain; yaitu alam yang kekal dan abadi. Kafilah ini telah bertolak dari sumber wujud dan bergerak menuju tujuannya. Adapun pengaruhnya terhadap etika, dengan menyadari kenyataan ini, ia akan berusaha menyesuaikan dan membatasi dorongan-dorongan nafsu dan syahwat yang bergejolak dalam batinnya.

Seseorang yang karena kebutuhan-kebutuhannya memandang dirinya sebagai maujud yang berkaitan erat dengan alam, dan bagaikan setitik debu yang terbang kesana kemari tertiup angin kencang dan bergerak berbondong-bondong dengan alam menuju puncak kesempurnaan, maka pandangan diri ini tidak akan pernah membiarkannya terkecoh oleh dorongan-dorongan nafsu dan bujukan syaitan. Ia tidak akan pernah rela menyerahkan diri ke tangan-tangan pemuja syahwat. Jika ia telah menyadari keberadaan dirinya yang sesungguhnya, ia tidak lagi mau menghabiskan waktu untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang biasa dilakukan orang-orang yang tak tahu diri. Jika semua umat manusia telah memiliki kesadaran seperti ini, maka tidak akan ada satupun aktifitas tak berguna yang dilakukan. Umat manusia tidak akan segan mengorbankan nyawanya demi tujuan-tujuan mulia. Mereka memahami bahwa dengan pengorbanan, ia akan terlepas dari kekangan kehidupan materi yang berumur beberapa hari ini dan sebagai gantinya, ia akan memasuki kehidupan baru yang abadi. Ia tidak takut akan kematian, karena ia yakin kelak akan mendapatkan balasan yang sangat besar. Ia tidak seperti seorang materialis yang hanya untuk mengorbankan diri saja, ia harus mengarang hal-hal yang tak ia ketahui demi menenangkan hati mereka dan dengan demikian mereka terpaksa harus menyesatkan orang lain. Karena sesungguhnya kebanyakan materialis telah sering membual dan memerintahkan sesamanya untuk mengorbankan diri dengan harapan namanya akan kekal dan setelah kematian ia akan hidup dengan kebahagiaan abadi. Kita dapat mengerti betul bahwa hal ini hanya sekedar bualan; pada hakikatnya mereka tidak meyakini alam setelah kematian, lalu bagaimana mereka menjanjikan alam kebahagiaan abadi setelah kematian?

Dengan demikian, pernyataan yang telah anda bawakan di akhir baris tulisan surat anda adalah pernyataan yang tak berdasar. Jangan anda pikir dengan mengingat kematian dan mengimani hari kebangkitan, semangat umat manusia untuk beraktifitas akan menurun. Janganlah anda berpikiran bahwa faktor semangat beraktifitas adalah rasa butuh; dan dengan membayangkan hari pembalasan, rasa butuh tersebut akan lenyap. Ini tidak benar; buktinya di masa-masa keemasan Islam yang mana kebanyakan orang Islam waktu itu memiliki iman yang sangat kuat terhadap hari pembalasan, orang-orang Islam telah melakukan berbagai macam aktifitas sosial yang sangat menakjubkan dan tidak dapat dibandingkan dengan orang-orang Islam yang hidup di zaman setelahnya. Ya, yang dampak yang dihasilkan oleh iman terhadap hari pembalasan adalah tercegahnya manusia dari pemujaan nafsu dan cinta materi yang berlebihan serta berkurangnya kejahatan di muka bumi.

Dampak iman terhadap hari pembalasan terhadap jiwa manusia sangat baik sekali. Dengan iman ini, jiwa dan ruh manusia akan tetap hidup. Ketika ia tertimpa kesusahan, dengan tenang ia menyadari bahwa dengan kesabaran ia akan mendapatkan ganjaran yang sangat baik di kehidupan berikutnya. Dan ketika ia melakukan perbuatan terpuji, dengan ikhlas ia menyadari bahwa kelak Tuhannya akan memberikan imbalan yang berkali-kali lipat besarnya.

Dan adapun dampak keimanan ini terhadap perilaku seorang manusia secara pribadi dan begitu juga bagi sekelompok masyarakat, juga sangat baik sekali. Dengan keimanan ini, semua orang akan menyadari bahwa ada Dzat Yang Maha Tahu yang selalu mengawasi gerak-gerik mereka. Ia dapat mengetahui segala amal perbuatan yang mereka lakukan secara diam-diam maupun terang-terangan. Ia adalah Tuhan Yang Maha Mengetahui. Mereka akan sadar bahwa akan datang suatu hari yang mana pada hari itu semua amal perbuatan mereka akan dihitung dan ditimbang dengan sangat teliti. Dengan demikian, manusia akan merasa tercegah untuk melakukan perbuatan keji sekecil apapun; karena ada seorang pengawas yang sangat mengetahui akan apa yang dilakukannya.


[1] QS. Al-Anfal: 24.

[2] QS. Ar-Rum: 30.

Jika Imam Ali as memang telah ditunjuk oleh Rasulullah saw untuk menjadi khalifah, lalu mengapa beliau bersedia membai’at Abu Bakar?

Telah ditentukannya kekhalifahan Imam Ali as

Jika Imam Ali as memang telah ditunjuk oleh Rasulullah saw untuk menjadi khalifah, lalu mengapa beliau bersedia membai’at Abu Bakar? Kalau beliau membai’at Abu Bakar, berarti beliau memang tidak ditentukan nabi sebagai khalifah, atau paling tidak berarti beliau telah menyerahkan haknya kepada orang lain.

 

Pertanyaan ini memiliki dua sisi:

1. Telah ditentukannya kekhalifahan Imam Ali as oleh nabi.

2. Imam Ali as membai’at Abu Bakar.

Tentang telah ditentukannya kekhalifahan Imam Ali as oleh nabi, dalil-dalilnya sangat banyak dan jelas sekali. Dalil-dalil tersebut tentunya sangat lebih dari cukup bagi orang yang berniat mencari kebenaran tanpa fanatisme. Dalil-dalil tersebut diantaranya adalah:

1. Hadits Yaumul Indzar: Rasulullah saw sejak hari pertama beliau mengumumkan kenabiannya kepada keluarga besarnya telah menjelaskan kekhalifahan Imam Ali as. Di hari yang dikenal dengan Yaumul Indzar atau Yaumud Daar, dalam ucapan-ucapannya kepada Bani Hasyim beliau berkata: “Aku diutus oleh Allah swt untuk mengajakmu kepada kebaikan dunia dan akherat. Siapakah di antara kalian yang bersedia untuk membantuku dalam hal ini?”

Beliau menanyakan hal yang sama sebanyak tiga kali namun tak ada yang menjawab beliau selain Ali bin Abi Thalib as. Dua kali Rasulullah saw memintanya untuk diam, namun kali ketiga beliau menerimanya. Lalu beliau bersabda: “Ia adalah saudaraku, pewarisku, dan khalifah setelahku di antara kalian. Maka dengarkanlah perkataannya dan taati ia.”[1]

2. Hadits Manzilah: Selain itu sering sekali beliau menjelaskan kepada semua orang tentang kedudukan Imam Ali as baginya. Ungkapan-ungkapan yang beliau gunakan dalam ucapannya menunjukkan bahwa Imam Ali as adalah pengganti sepeninggal beliau. Saat Imam Ali as kesal mendengar ucapan-ucapan orang munafik, beliau mengadukannya kepada Rasulullah saw. Kemudian nabi berkata kepadanya: “Wahai Ali, tidakkah engkau ridha di sisiku berkedudukan bagai Harun as di sisi Musa as? Hanya saja tidak ada nabi setelahku.”[2] Di riwayat lain disebutkan: “Bagiku engkau seperti Harun as di sisi Musa as, hanya saja tak ada nabi setelahku.”[3]

Dalam hadits tersebut dijelaskan bahwa kedudukan Imam Ali as di sisi nabi bagaikan kedudukan Harun as di sisi Musa as. Jelas jika seandainya dulu nabi Harun as masih hidup, ia pasti menjadi pengganti nabi Musa as.

3. Hadits Tsaqalain: Beberapa kali Rasulullah saw mengucapkan hadits ini. Beliau bersabda: “Sesungguhnya aku meninggalkan dua hal berharga bagi kalian yang jika kalian berpegang teguh kepada keduanya kalian tidak akan pernah tersesat selamanya, dan salah satunya lebih agung dari lainnya: Kitab Allah swt, tali yang menjulur dari langit ke bumi, dan yang kedua Ahlul Baitku; keduanya tidak akan berpisah hingga keduanya masuk ke dalam telaga surga. Maka lihatlah bagaimana diri kalian kelak akan bersikap.”[4] Dalam hadits tersebut beliau menjelaskan bahwa Al-Qur’an adalah pegangan utama umat Islam dan Ahlul-Bait adalah penafsir Al-Qur’an yang harus dijadikan rujukan. Karena Imam Ali as adalah Ahlul-Bait nabi, hendaknya umat Islam menjadikannya rujukan sepeninggal nabi.

4. Hadits Ghadir: Begitu juga saat Rasulullah saw berada di Ghadir Khum, setelah beliau meminta kesaksian dari seluruh umat Islam bahwa dirinya lebih dahulu daripada harta dan jiwa mereka, beliau bersabda: “Barang siapa menjadikanku tuannya, maka hendaknya menjadikan Ali sebagai tuannya pula. Ya Tuhan, tolonglah orang yang menolongnya, dan hinakanlah orang yang menghinanya.”[5]

 

Ahlu Sunah Meragukan Hadits Ghadir

Meskipun Ahlu Sunah dikenal meragukan hadits Ghadir sebagai bukti kekhalifahan Imam Ali as, namun dengan melihat indikasi-indikasi sebelum dan sesudah beliau mengucapkan hadits itu, kenyataannya akan jelas bahwa yang dimaksud “tuan” dalam hadits tersebut berarti “pemimpin”. Sebelum mengucapkan hadits itu Rasulullah saw meminta kesaksian umatnya: “Bukankah aku paling berhak atas kalian? Atas jiwa dan harta kalian?” Setelah semua orang mengiyakan, beliau menyatakan bahwa demikian juga Ali bin Abi Thalib memilki wewenang yang sama sepertinya. Lalu setelah itu nabi berdoa agar melaknat orang yang memusuhi Ali bin Abi Thalib as dan menolong orang yang menolongnya. Nabi juga menjelaskan bahwa mencintai Ali as berarti mencintai Allah swt dan nabi-Nya, memusuhi Ali as juga berarti memusuhi Allah swt dan nabi-Nya. Hal-hal sedemikian rupa membuktikan bahwa maksud Rasulullah dalam hadits Ghadir adalah menyatakan kepada semua orang bahwa Imam Ali as adalah pengganti sepeninggal beliau.

 

Alasan Imam Ali as membai’at Abu Bakar

Adapun Imam Ali as membai’at Abu Bakar, jika itu memang benar, hal itu tidak bertentangan dengan telah ditentukannya kekhalifahan Imam as oleh nabi. Karena tugas beliau adalah memimpin umat; entah beliau diangkat oleh umatnya ataupun tidak, beliau tetap dapat menjalankan tugasnya semaksimal mungkin yang beliau bisa. Imam Ali as membai’at Abu Bakar karena tidak ingin menimbulkan kericuhan di dalam umat Islam. Karena jika tidak maka kekacauan dan perpecahan tersebut akan digunakan oleh musuh-musuh Islam dari Luar, seperti Roma dan Persia saat itu, untuk menyerang dan menghancurkan Islam. Dengan kebijakan tersebut Imam Ali as dapat menghindari keributan di dalam demi memfokuskan fikiran umat Islam bersama untuk menghadapi bahaya musuh-musuh di luar.

Dalam segala keadaan Imam Ali as rela mengorbankan apapun demi Islam. Bagaikan seorang ibu sejati yang rela mengorbankan nyawanya pun demi anaknya.[6] Imam Ali as sendiri berkata: “Demi Allah, aku sama sekali tidak berfikir bahwa Arab akan merampas kekhalifahan dari tangan Ahlul Bait dan menjauhkannya dariku. Aku melihat mereka berbondong-bondong membai’at seseorang. Aku pun enggan untuk membai’atnya. Namun aku melihat ada sekelompok orang yang hendak menghancurkan agama Muhammad saw. Maka aku takut jika aku tidak berbuat apa-apa untuk Islam dan Muslimin maka akan timbul perpecahan di dada Islam, yang mana musibah itu bagiku lebih besar daripada kehilangan kedudukan yang menurut kalian sangat diidamkan.”[7]

 

Untuk mengkaji lebih jauh:

1. Allamah Sayid Muhammad Husain Husaini Thabthabai, Emam Shenashi, penerbit Hekmat, 1421, jil. 4-7.

2. Sayid Syarafuddin Al-Musawi, Rahbari e Emam Ali as Dar Qor’an va Sonnat, terjemahan Muhammad Ja’far Emami, Moawenat e Farhanggi Sazman e Tablighat, 1370.

 

Hadits akhir:

Rasulullah saw bersabda: “Wahai Bani Hasyim! Sesungguhnya saudaraku, pewarisku, dan penggantiku di antara keluargaku adalah Ali bin Abi Thalib as. Ia yang akan menunaikan hutang-hutangku dan menjalankan tugas-tugasku.”[8]

 


[1] Muhammad bin Jarir Thabari, Tarikh Thabari, jil. 2, hal. 321, Tahkik: Muhammad Abul Fadhl Ibrahim; Abdul Rahman bin Muhammad bin Khuldun, Tarikh Ibnu Khuldun, jil. 1, hal. 647; Al-Kamil, jil. 2, hal. 32.

[2] Abul Hasan Ali bin Muhammad bin Atsir, Usdul Ghabah Fi Ma’rifati Ash-Shahabah, jil. 3, hal. 601.

[3] Ahmad bin Ali bin Hajar Al-Asqalani, Al-Ishabah fi Tamyiiz Ash-Shahabah, Tahkik: Adil Ahmad Abdul Maujud dan Ali Muhammad Mu’awidh, jil. 3, hal. 1097; Ahmad bin Yahya bin Jabir Baladzari, Ansab Al Asyraf, Tahkik: Muhammad Hamidullah, jil. 2, hal. 94.

[4] Usdul Ghabah, jil. 1, hal. 490.

[5] Ibid, jil. 1, hal. 439; Abul Fida’ Ismail bin ‘Amr bin Katsir Al-Dimashqi, Al-Bidayah wa An-Nihayah, jil. 5, hal. 210.

[6] Di jaman Umar ada dua orang wanita berselisih mengaku seorang bayi sebagai anaknya. Supaya dapat membuktikan siapa ibu anak itu yang sebenarnya, Imam Ali as berencana untuk memotong anak menjadi dua lalu dibagikan tiap potongnya kepada setiap wanita itu. Salah seorang wanita itu bersedia, namun satunya lagi tidak bersedia dan berkata: “Jangan, lebih baik berikan saja jatahku untuk wanita itu.” Lalu akhirnya Imam Ali menyatakan bahwa ibu yang tidak bersedia anaknya dipotong itu adalah ibu yang sebenarnya. (Qezavat Haye Mohayerol Oqul, Sayid Hasan Muhsin Amin ‘Amili, hal. 37)

[7] Nahjul Balaghah, Faidz Al-Kashani, surat ke 62.

[8] Amali Thusi, 602/1244.

Alasan Imam Ali as Menolak Dibai'at

Mengapa Imam Ali as tidak segera menerima tawaran untuk menjadi khalifah? Bukankah jika beliau menolak berarti ia tidak berhak atas kekhalifahan?

Sepeninggal Rasulullah saw, umat Islam mengalami ikhtilaf dan perpecahan. Sebagian kelompok tidak menghiraukan ucapan-ucapan dan wasiat nabi; mereka memilih pengganti nabi sesuai keinginan mereka sendiri. Padahal Rasulullah saw telah menjelaskan kriteria-kriteria seorang khalifah dan siapa khalifah setelahnya. Namun orang-orang yang haus kekuasaan bertindak sesuai keuntungan yang mereka inginkan. Mereka memilih seseorang yang mereka kehendaki tanpa memperdulikan nasib umat Islam secara keseluruhan. Pelencengan umat Islam dimulai dari seseorang seperti Walid yang memimpin shalat shubuh empat rakaat dalam keadaan mabuk.[1] Belum lagi harta kekayaan Baitul Mal dihisap sebanyak-banyaknya oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab.

Sepeninggal Utsman, umat Islam heboh mendatangi Ali bin Abi Thalib as untuk menjadikannya khalifah. Namun karena kondisi saat itu (akibat ulah khalifah-khalifah sebelumnya) tidak memungkinkan bagi beliau untuk menjadi khalifah yang dapat menegakkan keadilan di tengah-tengah mereka, maka beliau menolak. Imam Ali as sendiri tahu bahwa orang-orang yang telah hidup selama 25 tahun di bawah kepemimpinan yang tidak adil tidak akan mungkin terbiasa dengan pola dan cara Imam Ali as memimpin.

Berikut ini adalah penggalan dari perkataan-perkataan Imam Ali as yang dapat menjelaskan seperti apa kondisi umat Islam saat itu.

Dalam khutbahnya Imam Ali as bercerita bahwa ketika orang-orang berdatangan ke rumahnya untuk membai’atnya, beliau berkata: “Tinggalkanlah aku. Carilah orang lain. Karena kejadian-kejadian yang bermacam-macam dan tak jelas akan mendatangi kita. Kondisi sangat membingungkan dan rumit. Hati-hati tidak tetap dalam masalah ini dan akal-akal tidak tegas. Awan-awan kebejatan beterbangan di langit-langit dunia Islam dan membuatnya gelap. Jalan yang benar telah tertutupi dan menjadi samar. Jika aku menerima tawaran kalian ini, aku akan bertindak sesuai apa yang kuanggap benar dan aku tidak akan mendengar kata-kata siapa saja yang mencaci dan mencemoohku.”[2]

Maksud Imam Ali as adalah: Aku akan selalu bertindak sesuai yang dipesan oleh Rasulullah saw untuk membagikan kekayaan Baitul Mal secara merata kepada siapapun, baik Arab maupun Ajam, baik kulit putih maupun kulit hitam. Namun bagaimana hal itu akan kulakukan? Sedang kalian sudah terbiasa dengan perilaku khalifah-khalifah sebelumnya; terbiasa dengan suap dan uang haram. Maka pergilah dan carilah orang selainku![3]

Ibnu Abil Hadid, yang merupakan pensyarah Nahjul Balaghah, di permulaan khutbah ini mengisyarahkan bahwa jika Imam Ali as memang khalifah yang ditunjuk nabi untuk menggantikannya, maka ia tidak layak untuk berkata: “Tinggalkanlah aku dan carilah selainku.” Lalu ia berkata: “Ucapan Ali bin Abi Thalib as itu (khutbah terkait) memiliki kedalaman yang sangat dan merupakan kabar ghaib yang mana semua orang saat itu tidak tahu. Kabar itu berkaitan dengan perang-perang umat Islam dan timbulnya fitnah-fitnah besar (di kekhalifahan beliau).

Sejarah mencatat bahwa sepeninggal Utsman mereka berkumpul di Masjid dan menceritakan keutamaan-keutamaan imam Ali as untuk memprovokasi pembai’atan Imam Ali as. Akhirnya Imam Ali as pun dibai’at. Setelah itu beliau memuji Tuhan di atas mimbarnya lalu berkata: “Wahai umat! Kalian tahu posisiku sama dengan posisi nabi. Aku tidak akan melenceng dari jalurnya. Nabi berkata bahwa penggantinya yang akan membimbing umat melewati jalan yang lurus akan ditolong dengan malaikat. Namun jika ada yang merebut kepemimpinan dan menggiring umat manusia menuju kebatilan maka akhir nasib mereka adalah api neraka.”

Setelah menyinggung masalah bai’at tersebut, Ibnu Abil Hadid menceritakan masalah pembagian harta Baitul Mal. Ia berkata: “Sejak awalnya sudah ada orang-orang yang mencemooh Ali bin Abi Thalib as karena ia tidak membeda-bedakan antara budak, pemilik budak dan orang berkedudukan dalam pembagian harta. Mulailah mereka membawa-bawa nama para khalifah-khalifah sebelumnya. Di sinilah hikmah perkataan Imam Ali as dulu mulai menjadi nyata; dulu saat beliau berkata: “Carilah orang selainku.”[4]

Sebagaimana yang dijelaskan Ibnu Abil Hadid dalam kitabnya itu, bahwa Imam Ali as sama sekali tidak memiliki keraguan akan kekhalifahan adalah haknya. Namun ia meragukan kesiapan umat yang telah terbiasa dengan pemerintahan yang tak adil; karena begitu Imam Ali as menerima bai’at maka ia akan bertekat untuk mendirikan keadilan setegak-tegaknya meskipun semua orang menentangnya.

Dalam bagian khutbahnya yang lain ia berkata: “Aku sebenarnya tidak mau menerima kekhalifahan itu. Namun semua orang mengerumuniku dan saling ribut sendiri, sampai-sampai aku mengira mereka saling membunuh satu sama lain. Akhirnya aku pun merombak kekhalifahan dan merubah arahnya; sampai rasa kantuk tak pernah menghampiriku.”

Beliau juga pernah berkata: “Sumpah demi Tuhan yang telah memecah biji-bijian dan menciptakan manusia! Semua orang mendatangiku dan ingim membai’atku. Telah sempurna Hujjah Tuhan atasku. Jika bukan karena Allah swt meminta orang yang berakal untuk tidak tinggal diam melihat kerusakan, maka aku sudah meninggalkan kekhalifahan dari sejak lama. Dan kalian tahu dengan baik bahwa dunia kalian bagiku lebih tak berharga dari ingus kambing.”[5]

Dari apa yang dikatakan oleh beliau dapat kita simpulkan bahwa umat Islam saat itu tidak memiliki kapabilitas untuk menjalankan kehidupan dengan pemerintahan yang adil dan beliau sama sekali tidak menunjukkan keridhaan terhadap pemerintahan yang telah ada. Namun karena tak ada cara lain yang lebih baik untuk umatnya, akhirnya beliau menerima dibai’at.

Peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa pemerintahan beliau membuktikan betapa tajam pandangan beliau sejak sebelumnya tentang keadaan umat Islam saat itu. Akhirnya banyak yang melanggar bai’atnya sendiri dan terus memusuhi Imam Ali as sampai beliau wafat. Segala kekacauan yang telah beliau perkirakan itu yang membuatnya enggan dibai’at. Padahal jika bicara tentang hak, jelas kekhalifahan adalah hak beliau. Beliau tidak pernah mundur membela hak-haknya; seperti halnya dalam peristiwa 6 calon penganti Umar dan sebelum terbunuhnya Utsman, beliau menekankan bahwa kekhalifahan adalah hak beliau.

Referensi untuk mengkaji lebih jauh:

1. Nadzem Zade Qomi, Mazhar e Welayat.

2. Muhammad Taqi Ja’fari, Syarah Nahjul Balaghah, jil. 16.

3. Nashir Makarim Syirazi, Payam e Amirul Mu’minin as, jil. 3.

Hadits akhir:

Rasulullah saw menunjuk Ali bin Abi Thalib as dengan jarinya seraya bersabda: “Ia adalah saudaraku, pewarisku, dan penggantiku di tengah-tengah kalian. Dengarkanlah perintahnya dan taatilah ia.”[6]


[1] Ghiyats Al-Din, Habib As-Saiyr, jil. 1, hal. 498.

[2] Nahjul Balaghah, khutbah 92.

[3] Muhammad Taqi Ja’fari, Tarjome va Syarh e Nahjul Balaghah, jil. 16, hal. 90 dan 91.

[4] Ibnu Abil Hadid, Syarah Nahjul Balaghah, jil. 8 dan 7.

[5] Nahjul Balaghah, khutbah 54.

[6] Muhammad Taqi Hindi, Kanzul Ummal, 36419.

Mengapa Ali membai'at para khalifah

Tanya: Ali sejak sebelumnya pasti tahu bahwa ia adalah khalifah Tuhan setelah Nabi. Lalu mengapa ia membai’at Abu Bakar, Umar dan Utsman? Jika ia tidak mempunyai kekuatan untuk melawan, maka dia bukan khalifah Tuhan. Jika punya, mengapa tidak menggunakan kekuatan itu? Bukankah itu penghianatan? Apa jawaban anda?

Jawab: Dalam sejarah tidak pernah tercatat bahwa Ali bin Abi Thalib membai’at Umar dan Utsman. Karena kekhilafahan Umar bin Khattab telah ditentukan oleh Abu Bakar. Orang-orang banyak yang menanyai Abu Bakar, “Mengapa engkau memilih seseorang yang berwatak keras untuk menjadi khalifah? Kelak ia akan menjadi semakin keras dengan begitu. Apa yang akan kau jawab di hadapan Tuhan nanti karena telah menjadikan orang sepertinya sebagai khalifah kami?”

Abu Bakar menjawab mereka, “Jawabanku untuk Tuhan kelak adalah: Aku telah memilih orang terbaik untuk menjadi khalifah.”[1]

Begitupula kekhilafahan Utsman bin Affan, kekhalifahannya juga atas usaha Abdurrahman bin ‘Auf. Dengan demikian apa arti bai’at Ali bin Abi Thalib? Sama sekali mereka tidak membutuhkan bai’atnya untuk menjadi khalifah.

Lalu bagaimana anda menyatakan bahwa Ali membai’at mereka?

Adapun mengenai pembai’atan Ali bin Abi Thalib untuk Abu Bakar, dapat dikatakan bahwa menurut Syiah itu bukanlah bai’at. Adapun dalam versi Ahlu Sunah, Ali bin Abi Thalib membai’at Abu Bakar setelah enam bulan dan sepeninggal istrinya, Fathimah Az-Zahra. Lalu dapat dipertanyakan mengapa Ali bin Abi Thalib mengulur waktu sedemikian lama untuk melakukan perbuatan yang benar (bai’at)? Anggap saja Ali bukan Washi Nabi. Siapapun Ali meski ia bukan Washi Nabi, tak dielakkan bahwa ia pun juga sahabat. Sedang jelas sahabat Nabi seperti apa kedudukannya tetaplah junjungan kita. Lalu mengapa sahabat Nabi ini tidak langsung membai’at Abu Bakar begitu bai’atnya diminta? Apa alasannya? Bahkan istrinya, mengapa ia tidak membai’at Abu Bakar sama sekali sampai akhir hayatnya? Bukankah orang yang meninggal dunia dalam keadaan belum membai’at (mengakui) Imam zamannya mati sebagai matinya orang jahil?[2]

Satu lagi, ungkapan penanya yang berbunyi: “Jika ia tidak punya kekuatan, maka ia bukan Khalifah.” Apakah ia mengira kekhilafahan adalah kedudukan yang dapat dicapai dengan pendapat masyarakat? Bagi kami kekhilafahan adalah kedudukan yang telah ditetapkan oleh Tuhan. Kekhilafahan di mata kami tidak membutuhkan pendapat masyarakat sama sekali. Bagi kami sama seperti kenabian. Apakah menurut anda jika seorang Nabi tidak memiliki kekuatan atau pengikut yang banyak maka ia bukan Nabi?


[1] Al-Kharaj, Abu Yusuf Baghdadi, hlm. 100.

[2] Shaih Muslim, jld. 6, hlm. 22; Sunan Baihaqi, jld. 8, hlm. 156.

Bai'at Ali bin Abi Thalib untuk khalifah

Tanya: Bukankah Ali bin Abi Thalib telah membai’at khalifah? Artinya kekhalifahan itu benar bagi Ali?

Jawab: Syiah berkeyakinan bahwa Ali bin Abi Thalib tidak membai’at siapapun. Karena ia mengaku bahwa dirinya-lah khalifah yang telah ditetapkan Tuhan. Namun ternyata kekhilafahan jatuh ke tangan orang lain, yang kemudian “kemaslahatan bersama” menuntutnya untuk menyertai mereka. Ia sendiri pernah berkata:

“Aku melihat bahwa jika aku bersikeras mengambil hakku (kekhalifahan), maka Islam yang ada sekarang ini pun juga akan musnah.”[1]

Ia tidak menemukan cara lain selain menyertai khalifah-khalifah yang ada dan membimbing mereka.

Bahkan ketika sebagian orang-orang Arab menolak untuk membayar zakat, dan akhirnya mereka dikecam, beliau pun juga tidak bisa melakukan apa-apa selain diam. Namun tidak selamanya seperti itu, pada saat-saat tertentu ia menguak kenyataan yang ada dan berseru mengingatkan masyarakat akan hak-haknya.

Menurut para perawi Ahlu Sunah, Ali bin Abi Thalib membai’at khalifah sepeninggal Fathimah Az-Zahra. Namun selama Fathimah Az-Zahra masih hidup, ia terus menerus kesal terhadap Abu Bakar dan tidak mau berbicara dengannya karena marah.[2]

Anggap saja Ali bin Abi Thalib memang betul telah membai’at khalifah sepeninggal istrinya. Namun seluruh ahli hadits bersepakat bahwa Fathimah Az-Zahra sampai akhir hayatnya tidak pernah membai’at bahkan berpaling dari mereka.

Ibnu Hajar dalam Syarah Shahih Bukhari menukilkan: “Fathimah Az-Zahra marah terhadap Abu Bakar dan selalu menjauhinya. Ia tetap dalam keadaan seperti itu hingga enam hari, baru setelah itu ia meninggal dunia. Ali menyolati jasad istrinya dan ia tidak memberitahukan hal itu kepada Abu Bakar.”[3]

Kini kami bertanya, bukankah Fatimah Az-Zahra juga diakui oleh Shahih Bukhari sebagai wanita terbaik di muka bumi? Lalu mengapa ia tidak membai’at Abu Bakar? Jika Abu Bakar berhak untuk menjadi khalifah, lalu mengapa putri nabi ini marah terhadapnya? Rasulullah Saw pernah bersabda:

“Barang siapa mati dan tidak membai’at serta mengakui khalifah/imam di jamannya, maka ia mati sebagai matinya orang di jaman jahiliah.”[4]

Lalu salah satu dari dua pertanyaan ini harus dijawab:

1. Putri nabi Muhammad Saw tidak membai’at Abu Bakar dan tidak mengakuinya. Apakah ia mati sebagai orang jahiliah?

2. Apakah orang yang mengaku khalifah itu sebenarnya bukan khalifah? Yakni ia tidak berhak untuk menjabat sebagai khalifah?

Kita tidak bisa menjawab “ya” untuk pertanyaan pertama. Karena putri Rasulullah Saw adalah orang yang telah disucikan oleh Allah Swt dari noda dan kesalahan; nabi pun berkata tentangnya: “Fathimah adalah penghulu wanita penghuni surga.”[5]

Beliau juga bersabda, “Wahai Fathimah, sesungguhnya Allah Swt marah karena amarahmu dan Ia ridha karena keridhaanmu.”[6]

Lalu jika demikian, maka Fathimah Az-Zahra adalah perempuan suci yang tidak mungkin ia mati sebagai orang jahiliah.

Kita simpulkan, Fathimah Az-Zahra tidak membai’at khalifah itu karena baginya pengaku khalifah itu bukan khalifah yang layak. Sampai akhir hayat ia dalam hatinya mengakui hanya seorang lah khalifah yang sah, yaitu suaminya, Ali bin Abi Thalib.

Menurut Bukhari (jika memang itu benar), Ali bin Abi Thalib membai’at khalifah setelah enam bulan. Lalu jika memang ia layak dibai’at kenapa harus tertunda sekian lama?

Sungguh aneh jika anda hanya mengandalkan sepenggal kisah sejarah bahwa “Ali membai’at khalifah”, itu saja, sedang anda melupakan segala kesedihan yang pernah menimpa Fathimah Az-Zahra selama hidupnya, sepeninggal nabi.

Dengan penjelasan ini dapat kami jelaskan bahwa bai’at Ali bin Abi Thalib setelah enam bulan tersebut tidaklah berarti apa-apa. Karena khalifah sama sekali tidak membutuhkan bai’at darinya; yakni ia (khalifah) telah duduk di tahta kekhalifahan dengan nyaman saat itu juga. Dan, Ali pun bukan orang yang bisa meninggalkan kewajiban hanya karena seorang istri menghalanginya.

Apapun yang dilakukan Ali bin Abi Thalib bersama khalifah masa itu hanya sebatas menyertai dan mengarahkan khalifah demi terjaganya Islam dari perpecahan dan kemusnahan. Bahkan perlu ditambahkan, bahwa bai’at Ali bin Abi Thalib berdasarkan paksaan dari pihak khalifah. Kenyataan tersebut dapat kita fahami dari sepucuk surat yang pernah ditulis oleh Mu’awiyah kepada Ali bin Abi Thalib.


[1] Nahjul Balaghah, surat ke-62.

[2] Shahih Bukhari, jld. 4, hlm. 42; jld. 5, hlm. 82; jld. 8, hlm. 30.

[3] Fathul Bari, kitab Al-Maghazi, bab Ghazwah Khaibar, jld. 7, hlm. 493, hadits 4240 dan juga kitab Al-Faraidh, jld. 12, hlm. 5, hadits 6726.

[4] Shahih Bukhari, jld. 6, hlm. 22, bab Man Farraqa Amr Al-Muslimin; Sunan Al-Baihaqi, jld. 8, hlm. 156.

[5] Ibid, jld. 4, hlm. 25, bab Manaqib Qarabah Rasulullah.

[6] Ibid, jld. 4, hlm. 210; Mustadrak Al-Hakim, jld. 3, hlm. 154.

Mengapa Ali tidak membela istrinya

Tanya: Jika Fathimah Az-Zahra memang dizalimi oleh para sahabat, lalu mengapa suaminya yang pemberani hanya diam dan tidak membelanya?

Jawab: Pertanyaan di atas seakan menjelaskan kenyataan yang pernah terjadi memang demikian. Padahal tidak ada bukti bahwa Ali bin Abi Thalib tidak membela istrinya.

Ali bin Abi Thalib sesuai dengan tuntutan syari’at telah menjaga kehormatan diri dan keluarganya. Penjagaan dan pembelaan saat itu tidak bisa kita anggap harus dengan bentuk pertumpahan darah dan pertikaian, karena tidak menjadi maslahat Islam. Jika Ali memberontak dan berhadapan dengan mereka, maka akan terbentuk dua kelompok di antara umat Islam: kelompok pendukung khalifah, dan kelompok pendukung Ali bin Abi Thalib yang tetap menjaga bai’at terhadapnya sejak peristiwa Ghadir Khum sebelum wafat Nabi. Perpecahan inilah yang tidak diinginkan oleh Ali bin Abi Thalib.

Banyak sekali kaum munafik di waktu itu yang berusaha memperkeruh keadaan. Misalnya Abu Sufyan, musuh bebuyutan Islam, saat itu mendatangi rumah Ali dan berkata kepadanya, “Wahai Ali, berikan tanganmu, aku ingin membai’atmu.”

Ali bin Abi Thalib tahu bahwa Abu Sufyan berlaga menjadi pendukungnya dan ingin membai’at hanya demi terciptanya perselisihan. Oleh karenanya Ali berkata padanya:

“Demi Tuhan engkau mengucapkan kata-katamu ini dengan niat busuk agar berkobar api fitnah di anatara umat Islam. Engkau selalu menginginkan keburukan untuk Islam dan Muslimin. Pergilah, aku tidak menginginkan semua ini darimu.”[1]

Kepada penanya saya ingin jelaskan, bahwa orang yang berani bukanlah orang yang selalu mencabut pedangnya di setiap keadaan tanpa terkecuali. Orang yang berani adalah orang yang menjalankan tugasnya. Betapa banyak orang yang mengaku pemberani namun mereka enggan dan takut untuk mendengar perkataan yang benar.

Pada suatu hari Rasulullah Saw melihat sekelompok orang berkumpul. Ternyata mereka terkagum-kagum akan seseorang. Beliau bertanya kepada mereka, “Siapakah orang itu?” Dijawab, “Ia adalah pendekar pemberani yang mampu mengangkat beban yang sangat berat.” Lalu beliau berkata, “Itu bukanlah orang yang berani; pemberani adalah orang yang mampu mengalahkan keinginan-keinginan nafsunya.”[2]

Sejarah membuktikan bahwa di masa itu Islam masih belum mengakar kuat di hati umatnya. Islam masih baru tumbuh lemah yang mungkin jika tertiup angin, meski angin itu lembut sekalipun, Islam akan tercabut dengan mudahnya dari hati mereka.

Rasulullah Saw berkata kepada ‘Aisyah: “Jika seandainya Quraisy bukanlah orang-orang yang baru masuk Islam, niscaya aku akan merombak Ka’bah. Lalu sebagai gantinya satu pintu, aku akan letakkan dua pintu untuknya.”[3]

Kita akui tidak ada orang yang lebih pemberani dari Nabi Muhammad Saw. Namun beliau tetap melihat kondisi yang sedemikian rupa dan mempertimbangkannya. Apakah benar jika ada sebagian orang-orang munafik yang enggan membayar zakat berkoar sedang umat Islam yang bersaudara saling bertikai?

Orang-orang munafik berharap Ali bin Abi Thalib yang telah menghunuskan pedangnya kepada kaum kafir di perang Badar dan Uhud melakukan hal yang sama terhadap umat Islam sendiri sepeninggal Nabi dengan pedang yang sama. Jika ada yang membenarkan hal tersebut, maka ia bukanlah orang yang memahami sejarah Islam, dan juga tidak mengenal siapakah Ali yang sebenarnya.


[1] Tarikh Thabari, jld. 2, hlm. 449.

[2] Bihar Al-Anwar, jld. 1, hlm. 77 dan 112.

[3] Musnad Ahmad, jld. 6, hlm. 176.

 

kekhalifahan adalah hak Imam Ali AS. Beliau tidak pernah mundur membela hak-haknya

Alasan Imam Ali as Menolak Dibai'at

Mengapa Imam Ali as tidak segera menerima tawaran untuk menjadi khalifah? Bukankah jika beliau menolak berarti ia tidak berhak atas kekhalifahan?

Sepeninggal Rasulullah saw, umat Islam mengalami ikhtilaf dan perpecahan. Sebagian kelompok tidak menghiraukan ucapan-ucapan dan wasiat nabi; mereka memilih pengganti nabi sesuai keinginan mereka sendiri. Padahal Rasulullah saw telah menjelaskan kriteria-kriteria seorang khalifah dan siapa khalifah setelahnya. Namun orang-orang yang haus kekuasaan bertindak sesuai keuntungan yang mereka inginkan. Mereka memilih seseorang yang mereka kehendaki tanpa memperdulikan nasib umat Islam secara keseluruhan. Pelencengan umat Islam dimulai dari seseorang seperti Walid yang memimpin shalat shubuh empat rakaat dalam keadaan mabuk.[1] Belum lagi harta kekayaan Baitul Mal dihisap sebanyak-banyaknya oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab.

Sepeninggal Utsman, umat Islam heboh mendatangi Ali bin Abi Thalib as untuk menjadikannya khalifah. Namun karena kondisi saat itu (akibat ulah khalifah-khalifah sebelumnya) tidak memungkinkan bagi beliau untuk menjadi khalifah yang dapat menegakkan keadilan di tengah-tengah mereka, maka beliau menolak. Imam Ali as sendiri tahu bahwa orang-orang yang telah hidup selama 25 tahun di bawah kepemimpinan yang tidak adil tidak akan mungkin terbiasa dengan pola dan cara Imam Ali as memimpin.

Berikut ini adalah penggalan dari perkataan-perkataan Imam Ali as yang dapat menjelaskan seperti apa kondisi umat Islam saat itu.

Dalam khutbahnya Imam Ali as bercerita bahwa ketika orang-orang berdatangan ke rumahnya untuk membai’atnya, beliau berkata: “Tinggalkanlah aku. Carilah orang lain. Karena kejadian-kejadian yang bermacam-macam dan tak jelas akan mendatangi kita. Kondisi sangat membingungkan dan rumit. Hati-hati tidak tetap dalam masalah ini dan akal-akal tidak tegas. Awan-awan kebejatan beterbangan di langit-langit dunia Islam dan membuatnya gelap. Jalan yang benar telah tertutupi dan menjadi samar. Jika aku menerima tawaran kalian ini, aku akan bertindak sesuai apa yang kuanggap benar dan aku tidak akan mendengar kata-kata siapa saja yang mencaci dan mencemoohku.”[2]

Maksud Imam Ali as adalah: Aku akan selalu bertindak sesuai yang dipesan oleh Rasulullah saw untuk membagikan kekayaan Baitul Mal secara merata kepada siapapun, baik Arab maupun Ajam, baik kulit putih maupun kulit hitam. Namun bagaimana hal itu akan kulakukan? Sedang kalian sudah terbiasa dengan perilaku khalifah-khalifah sebelumnya; terbiasa dengan suap dan uang haram. Maka pergilah dan carilah orang selainku![3]

Ibnu Abil Hadid, yang merupakan pensyarah Nahjul Balaghah, di permulaan khutbah ini mengisyarahkan bahwa jika Imam Ali as memang khalifah yang ditunjuk nabi untuk menggantikannya, maka ia tidak layak untuk berkata: “Tinggalkanlah aku dan carilah selainku.” Lalu ia berkata: “Ucapan Ali bin Abi Thalib as itu (khutbah terkait) memiliki kedalaman yang sangat dan merupakan kabar ghaib yang mana semua orang saat itu tidak tahu. Kabar itu berkaitan dengan perang-perang umat Islam dan timbulnya fitnah-fitnah besar (di kekhalifahan beliau).

Sejarah mencatat bahwa sepeninggal Utsman mereka berkumpul di Masjid dan menceritakan keutamaan-keutamaan imam Ali as untuk memprovokasi pembai’atan Imam Ali as. Akhirnya Imam Ali as pun dibai’at. Setelah itu beliau memuji Tuhan di atas mimbarnya lalu berkata: “Wahai umat! Kalian tahu posisiku sama dengan posisi nabi. Aku tidak akan melenceng dari jalurnya. Nabi berkata bahwa penggantinya yang akan membimbing umat melewati jalan yang lurus akan ditolong dengan malaikat. Namun jika ada yang merebut kepemimpinan dan menggiring umat manusia menuju kebatilan maka akhir nasib mereka adalah api neraka.”

Setelah menyinggung masalah bai’at tersebut, Ibnu Abil Hadid menceritakan masalah pembagian harta Baitul Mal. Ia berkata: “Sejak awalnya sudah ada orang-orang yang mencemooh Ali bin Abi Thalib as karena ia tidak membeda-bedakan antara budak, pemilik budak dan orang berkedudukan dalam pembagian harta. Mulailah mereka membawa-bawa nama para khalifah-khalifah sebelumnya. Di sinilah hikmah perkataan Imam Ali as dulu mulai menjadi nyata; dulu saat beliau berkata: “Carilah orang selainku.”[4]

Sebagaimana yang dijelaskan Ibnu Abil Hadid dalam kitabnya itu, bahwa Imam Ali as sama sekali tidak memiliki keraguan akan kekhalifahan adalah haknya. Namun ia meragukan kesiapan umat yang telah terbiasa dengan pemerintahan yang tak adil; karena begitu Imam Ali as menerima bai’at maka ia akan bertekat untuk mendirikan keadilan setegak-tegaknya meskipun semua orang menentangnya.

Dalam bagian khutbahnya yang lain ia berkata: “Aku sebenarnya tidak mau menerima kekhalifahan itu. Namun semua orang mengerumuniku dan saling ribut sendiri, sampai-sampai aku mengira mereka saling membunuh satu sama lain. Akhirnya aku pun merombak kekhalifahan dan merubah arahnya; sampai rasa kantuk tak pernah menghampiriku.”

Beliau juga pernah berkata: “Sumpah demi Tuhan yang telah memecah biji-bijian dan menciptakan manusia! Semua orang mendatangiku dan ingim membai’atku. Telah sempurna Hujjah Tuhan atasku. Jika bukan karena Allah swt meminta orang yang berakal untuk tidak tinggal diam melihat kerusakan, maka aku sudah meninggalkan kekhalifahan dari sejak lama. Dan kalian tahu dengan baik bahwa dunia kalian bagiku lebih tak berharga dari ingus kambing.”[5]

Dari apa yang dikatakan oleh beliau dapat kita simpulkan bahwa umat Islam saat itu tidak memiliki kapabilitas untuk menjalankan kehidupan dengan pemerintahan yang adil dan beliau sama sekali tidak menunjukkan keridhaan terhadap pemerintahan yang telah ada. Namun karena tak ada cara lain yang lebih baik untuk umatnya, akhirnya beliau menerima dibai’at.

Peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa pemerintahan beliau membuktikan betapa tajam pandangan beliau sejak sebelumnya tentang keadaan umat Islam saat itu. Akhirnya banyak yang melanggar bai’atnya sendiri dan terus memusuhi Imam Ali as sampai beliau wafat. Segala kekacauan yang telah beliau perkirakan itu yang membuatnya enggan dibai’at. Padahal jika bicara tentang hak, jelas kekhalifahan adalah hak beliau. Beliau tidak pernah mundur membela hak-haknya; seperti halnya dalam peristiwa 6 calon penganti Umar dan sebelum terbunuhnya Utsman, beliau menekankan bahwa kekhalifahan adalah hak beliau.

Referensi untuk mengkaji lebih jauh:

1. Nadzem Zade Qomi, Mazhar e Welayat.

2. Muhammad Taqi Ja’fari, Syarah Nahjul Balaghah, jil. 16.

3. Nashir Makarim Syirazi, Payam e Amirul Mu’minin as, jil. 3.

Hadits akhir:

Rasulullah saw menunjuk Ali bin Abi Thalib as dengan jarinya seraya bersabda: “Ia adalah saudaraku, pewarisku, dan penggantiku di tengah-tengah kalian. Dengarkanlah perintahnya dan taatilah ia.”[6]


[1] Ghiyats Al-Din, Habib As-Saiyr, jil. 1, hal. 498.

[2] Nahjul Balaghah, khutbah 92.

[3] Muhammad Taqi Ja’fari, Tarjome va Syarh e Nahjul Balaghah, jil. 16, hal. 90 dan 91.

[4] Ibnu Abil Hadid, Syarah Nahjul Balaghah, jil. 8 dan 7.

[5] Nahjul Balaghah, khutbah 54.

[6] Muhammad Taqi Hindi, Kanzul Ummal, 36419.

Mengapa Ali membai'at para khalifah

Tanya: Ali sejak sebelumnya pasti tahu bahwa ia adalah khalifah Tuhan setelah Nabi. Lalu mengapa ia membai’at Abu Bakar, Umar dan Utsman? Jika ia tidak mempunyai kekuatan untuk melawan, maka dia bukan khalifah Tuhan. Jika punya, mengapa tidak menggunakan kekuatan itu? Bukankah itu penghianatan? Apa jawaban anda?

Jawab: Dalam sejarah tidak pernah tercatat bahwa Ali bin Abi Thalib membai’at Umar dan Utsman. Karena kekhilafahan Umar bin Khattab telah ditentukan oleh Abu Bakar. Orang-orang banyak yang menanyai Abu Bakar, “Mengapa engkau memilih seseorang yang berwatak keras untuk menjadi khalifah? Kelak ia akan menjadi semakin keras dengan begitu. Apa yang akan kau jawab di hadapan Tuhan nanti karena telah menjadikan orang sepertinya sebagai khalifah kami?”

Abu Bakar menjawab mereka, “Jawabanku untuk Tuhan kelak adalah: Aku telah memilih orang terbaik untuk menjadi khalifah.”[1]

Begitupula kekhilafahan Utsman bin Affan, kekhalifahannya juga atas usaha Abdurrahman bin ‘Auf. Dengan demikian apa arti bai’at Ali bin Abi Thalib? Sama sekali mereka tidak membutuhkan bai’atnya untuk menjadi khalifah.

Lalu bagaimana anda menyatakan bahwa Ali membai’at mereka?

Adapun mengenai pembai’atan Ali bin Abi Thalib untuk Abu Bakar, dapat dikatakan bahwa menurut Syiah itu bukanlah bai’at. Adapun dalam versi Ahlu Sunah, Ali bin Abi Thalib membai’at Abu Bakar setelah enam bulan dan sepeninggal istrinya, Fathimah Az-Zahra. Lalu dapat dipertanyakan mengapa Ali bin Abi Thalib mengulur waktu sedemikian lama untuk melakukan perbuatan yang benar (bai’at)? Anggap saja Ali bukan Washi Nabi. Siapapun Ali meski ia bukan Washi Nabi, tak dielakkan bahwa ia pun juga sahabat. Sedang jelas sahabat Nabi seperti apa kedudukannya tetaplah junjungan kita. Lalu mengapa sahabat Nabi ini tidak langsung membai’at Abu Bakar begitu bai’atnya diminta? Apa alasannya? Bahkan istrinya, mengapa ia tidak membai’at Abu Bakar sama sekali sampai akhir hayatnya? Bukankah orang yang meninggal dunia dalam keadaan belum membai’at (mengakui) Imam zamannya mati sebagai matinya orang jahil?[2]

Satu lagi, ungkapan penanya yang berbunyi: “Jika ia tidak punya kekuatan, maka ia bukan Khalifah.” Apakah ia mengira kekhilafahan adalah kedudukan yang dapat dicapai dengan pendapat masyarakat? Bagi kami kekhilafahan adalah kedudukan yang telah ditetapkan oleh Tuhan. Kekhilafahan di mata kami tidak membutuhkan pendapat masyarakat sama sekali. Bagi kami sama seperti kenabian. Apakah menurut anda jika seorang Nabi tidak memiliki kekuatan atau pengikut yang banyak maka ia bukan Nabi?


[1] Al-Kharaj, Abu Yusuf Baghdadi, hlm. 100.

[2] Shaih Muslim, jld. 6, hlm. 22; Sunan Baihaqi, jld. 8, hlm. 156.

Bai'at Ali bin Abi Thalib untuk khalifah

Tanya: Bukankah Ali bin Abi Thalib telah membai’at khalifah? Artinya kekhalifahan itu benar bagi Ali?

Jawab: Syiah berkeyakinan bahwa Ali bin Abi Thalib tidak membai’at siapapun. Karena ia mengaku bahwa dirinya-lah khalifah yang telah ditetapkan Tuhan. Namun ternyata kekhilafahan jatuh ke tangan orang lain, yang kemudian “kemaslahatan bersama” menuntutnya untuk menyertai mereka. Ia sendiri pernah berkata:

“Aku melihat bahwa jika aku bersikeras mengambil hakku (kekhalifahan), maka Islam yang ada sekarang ini pun juga akan musnah.”[1]

Ia tidak menemukan cara lain selain menyertai khalifah-khalifah yang ada dan membimbing mereka.

Bahkan ketika sebagian orang-orang Arab menolak untuk membayar zakat, dan akhirnya mereka dikecam, beliau pun juga tidak bisa melakukan apa-apa selain diam. Namun tidak selamanya seperti itu, pada saat-saat tertentu ia menguak kenyataan yang ada dan berseru mengingatkan masyarakat akan hak-haknya.

Menurut para perawi Ahlu Sunah, Ali bin Abi Thalib membai’at khalifah sepeninggal Fathimah Az-Zahra. Namun selama Fathimah Az-Zahra masih hidup, ia terus menerus kesal terhadap Abu Bakar dan tidak mau berbicara dengannya karena marah.[2]

Anggap saja Ali bin Abi Thalib memang betul telah membai’at khalifah sepeninggal istrinya. Namun seluruh ahli hadits bersepakat bahwa Fathimah Az-Zahra sampai akhir hayatnya tidak pernah membai’at bahkan berpaling dari mereka.

Ibnu Hajar dalam Syarah Shahih Bukhari menukilkan: “Fathimah Az-Zahra marah terhadap Abu Bakar dan selalu menjauhinya. Ia tetap dalam keadaan seperti itu hingga enam hari, baru setelah itu ia meninggal dunia. Ali menyolati jasad istrinya dan ia tidak memberitahukan hal itu kepada Abu Bakar.”[3]

Kini kami bertanya, bukankah Fatimah Az-Zahra juga diakui oleh Shahih Bukhari sebagai wanita terbaik di muka bumi? Lalu mengapa ia tidak membai’at Abu Bakar? Jika Abu Bakar berhak untuk menjadi khalifah, lalu mengapa putri nabi ini marah terhadapnya? Rasulullah Saw pernah bersabda:

“Barang siapa mati dan tidak membai’at serta mengakui khalifah/imam di jamannya, maka ia mati sebagai matinya orang di jaman jahiliah.”[4]

Lalu salah satu dari dua pertanyaan ini harus dijawab:

1. Putri nabi Muhammad Saw tidak membai’at Abu Bakar dan tidak mengakuinya. Apakah ia mati sebagai orang jahiliah?

2. Apakah orang yang mengaku khalifah itu sebenarnya bukan khalifah? Yakni ia tidak berhak untuk menjabat sebagai khalifah?

Kita tidak bisa menjawab “ya” untuk pertanyaan pertama. Karena putri Rasulullah Saw adalah orang yang telah disucikan oleh Allah Swt dari noda dan kesalahan; nabi pun berkata tentangnya: “Fathimah adalah penghulu wanita penghuni surga.”[5]

Beliau juga bersabda, “Wahai Fathimah, sesungguhnya Allah Swt marah karena amarahmu dan Ia ridha karena keridhaanmu.”[6]

Lalu jika demikian, maka Fathimah Az-Zahra adalah perempuan suci yang tidak mungkin ia mati sebagai orang jahiliah.

Kita simpulkan, Fathimah Az-Zahra tidak membai’at khalifah itu karena baginya pengaku khalifah itu bukan khalifah yang layak. Sampai akhir hayat ia dalam hatinya mengakui hanya seorang lah khalifah yang sah, yaitu suaminya, Ali bin Abi Thalib.

Menurut Bukhari (jika memang itu benar), Ali bin Abi Thalib membai’at khalifah setelah enam bulan. Lalu jika memang ia layak dibai’at kenapa harus tertunda sekian lama?

Sungguh aneh jika anda hanya mengandalkan sepenggal kisah sejarah bahwa “Ali membai’at khalifah”, itu saja, sedang anda melupakan segala kesedihan yang pernah menimpa Fathimah Az-Zahra selama hidupnya, sepeninggal nabi.

Dengan penjelasan ini dapat kami jelaskan bahwa bai’at Ali bin Abi Thalib setelah enam bulan tersebut tidaklah berarti apa-apa. Karena khalifah sama sekali tidak membutuhkan bai’at darinya; yakni ia (khalifah) telah duduk di tahta kekhalifahan dengan nyaman saat itu juga. Dan, Ali pun bukan orang yang bisa meninggalkan kewajiban hanya karena seorang istri menghalanginya.

Apapun yang dilakukan Ali bin Abi Thalib bersama khalifah masa itu hanya sebatas menyertai dan mengarahkan khalifah demi terjaganya Islam dari perpecahan dan kemusnahan. Bahkan perlu ditambahkan, bahwa bai’at Ali bin Abi Thalib berdasarkan paksaan dari pihak khalifah. Kenyataan tersebut dapat kita fahami dari sepucuk surat yang pernah ditulis oleh Mu’awiyah kepada Ali bin Abi Thalib.


[1] Nahjul Balaghah, surat ke-62.

[2] Shahih Bukhari, jld. 4, hlm. 42; jld. 5, hlm. 82; jld. 8, hlm. 30.

[3] Fathul Bari, kitab Al-Maghazi, bab Ghazwah Khaibar, jld. 7, hlm. 493, hadits 4240 dan juga kitab Al-Faraidh, jld. 12, hlm. 5, hadits 6726.

[4] Shahih Bukhari, jld. 6, hlm. 22, bab Man Farraqa Amr Al-Muslimin; Sunan Al-Baihaqi, jld. 8, hlm. 156.

[5] Ibid, jld. 4, hlm. 25, bab Manaqib Qarabah Rasulullah.

[6] Ibid, jld. 4, hlm. 210; Mustadrak Al-Hakim, jld. 3, hlm. 154.

Mengapa Ali tidak membela istrinya

Tanya: Jika Fathimah Az-Zahra memang dizalimi oleh para sahabat, lalu mengapa suaminya yang pemberani hanya diam dan tidak membelanya?

Jawab: Pertanyaan di atas seakan menjelaskan kenyataan yang pernah terjadi memang demikian. Padahal tidak ada bukti bahwa Ali bin Abi Thalib tidak membela istrinya.

Ali bin Abi Thalib sesuai dengan tuntutan syari’at telah menjaga kehormatan diri dan keluarganya. Penjagaan dan pembelaan saat itu tidak bisa kita anggap harus dengan bentuk pertumpahan darah dan pertikaian, karena tidak menjadi maslahat Islam. Jika Ali memberontak dan berhadapan dengan mereka, maka akan terbentuk dua kelompok di antara umat Islam: kelompok pendukung khalifah, dan kelompok pendukung Ali bin Abi Thalib yang tetap menjaga bai’at terhadapnya sejak peristiwa Ghadir Khum sebelum wafat Nabi. Perpecahan inilah yang tidak diinginkan oleh Ali bin Abi Thalib.

Banyak sekali kaum munafik di waktu itu yang berusaha memperkeruh keadaan. Misalnya Abu Sufyan, musuh bebuyutan Islam, saat itu mendatangi rumah Ali dan berkata kepadanya, “Wahai Ali, berikan tanganmu, aku ingin membai’atmu.”

Ali bin Abi Thalib tahu bahwa Abu Sufyan berlaga menjadi pendukungnya dan ingin membai’at hanya demi terciptanya perselisihan. Oleh karenanya Ali berkata padanya:

“Demi Tuhan engkau mengucapkan kata-katamu ini dengan niat busuk agar berkobar api fitnah di anatara umat Islam. Engkau selalu menginginkan keburukan untuk Islam dan Muslimin. Pergilah, aku tidak menginginkan semua ini darimu.”[1]

Kepada penanya saya ingin jelaskan, bahwa orang yang berani bukanlah orang yang selalu mencabut pedangnya di setiap keadaan tanpa terkecuali. Orang yang berani adalah orang yang menjalankan tugasnya. Betapa banyak orang yang mengaku pemberani namun mereka enggan dan takut untuk mendengar perkataan yang benar.

Pada suatu hari Rasulullah Saw melihat sekelompok orang berkumpul. Ternyata mereka terkagum-kagum akan seseorang. Beliau bertanya kepada mereka, “Siapakah orang itu?” Dijawab, “Ia adalah pendekar pemberani yang mampu mengangkat beban yang sangat berat.” Lalu beliau berkata, “Itu bukanlah orang yang berani; pemberani adalah orang yang mampu mengalahkan keinginan-keinginan nafsunya.”[2]

Sejarah membuktikan bahwa di masa itu Islam masih belum mengakar kuat di hati umatnya. Islam masih baru tumbuh lemah yang mungkin jika tertiup angin, meski angin itu lembut sekalipun, Islam akan tercabut dengan mudahnya dari hati mereka.

Rasulullah Saw berkata kepada ‘Aisyah: “Jika seandainya Quraisy bukanlah orang-orang yang baru masuk Islam, niscaya aku akan merombak Ka’bah. Lalu sebagai gantinya satu pintu, aku akan letakkan dua pintu untuknya.”[3]

Kita akui tidak ada orang yang lebih pemberani dari Nabi Muhammad Saw. Namun beliau tetap melihat kondisi yang sedemikian rupa dan mempertimbangkannya. Apakah benar jika ada sebagian orang-orang munafik yang enggan membayar zakat berkoar sedang umat Islam yang bersaudara saling bertikai?

Orang-orang munafik berharap Ali bin Abi Thalib yang telah menghunuskan pedangnya kepada kaum kafir di perang Badar dan Uhud melakukan hal yang sama terhadap umat Islam sendiri sepeninggal Nabi dengan pedang yang sama. Jika ada yang membenarkan hal tersebut, maka ia bukanlah orang yang memahami sejarah Islam, dan juga tidak mengenal siapakah Ali yang sebenarnya.


[1] Tarikh Thabari, jld. 2, hlm. 449.

[2] Bihar Al-Anwar, jld. 1, hlm. 77 dan 112.

[3] Musnad Ahmad, jld. 6, hlm. 176.

Telah ditentukannya kekhalifahan Imam Ali as

Jika Imam Ali as memang telah ditunjuk oleh Rasulullah saw untuk menjadi khalifah, lalu mengapa beliau bersedia membai’at Abu Bakar? Kalau beliau membai’at Abu Bakar, berarti beliau memang tidak ditentukan nabi sebagai khalifah, atau paling tidak berarti beliau telah menyerahkan haknya kepada orang lain.

Pertanyaan ini memiliki dua sisi:

1. Telah ditentukannya kekhalifahan Imam Ali as oleh nabi.

2. Imam Ali as membai’at Abu Bakar.

Tentang telah ditentukannya kekhalifahan Imam Ali as oleh nabi, dalil-dalilnya sangat banyak dan jelas sekali. Dalil-dalil tersebut tentunya sangat lebih dari cukup bagi orang yang berniat mencari kebenaran tanpa fanatisme. Dalil-dalil tersebut diantaranya adalah:

1. Hadits Yaumul Indzar: Rasulullah saw sejak hari pertama beliau mengumumkan kenabiannya kepada keluarga besarnya telah menjelaskan kekhalifahan Imam Ali as. Di hari yang dikenal dengan Yaumul Indzar atau Yaumud Daar, dalam ucapan-ucapannya kepada Bani Hasyim beliau berkata: “Aku diutus oleh Allah swt untuk mengajakmu kepada kebaikan dunia dan akherat. Siapakah di antara kalian yang bersedia untuk membantuku dalam hal ini?”

Beliau menanyakan hal yang sama sebanyak tiga kali namun tak ada yang menjawab beliau selain Ali bin Abi Thalib as. Dua kali Rasulullah saw memintanya untuk diam, namun kali ketiga beliau menerimanya. Lalu beliau bersabda: “Ia adalah saudaraku, pewarisku, dan khalifah setelahku di antara kalian. Maka dengarkanlah perkataannya dan taati ia.”[1]

2. Hadits Manzilah: Selain itu sering sekali beliau menjelaskan kepada semua orang tentang kedudukan Imam Ali as baginya. Ungkapan-ungkapan yang beliau gunakan dalam ucapannya menunjukkan bahwa Imam Ali as adalah pengganti sepeninggal beliau. Saat Imam Ali as kesal mendengar ucapan-ucapan orang munafik, beliau mengadukannya kepada Rasulullah saw. Kemudian nabi berkata kepadanya: “Wahai Ali, tidakkah engkau ridha di sisiku berkedudukan bagai Harun as di sisi Musa as? Hanya saja tidak ada nabi setelahku.”[2] Di riwayat lain disebutkan: “Bagiku engkau seperti Harun as di sisi Musa as, hanya saja tak ada nabi setelahku.”[3]

Dalam hadits tersebut dijelaskan bahwa kedudukan Imam Ali as di sisi nabi bagaikan kedudukan Harun as di sisi Musa as. Jelas jika seandainya dulu nabi Harun as masih hidup, ia pasti menjadi pengganti nabi Musa as.

3. Hadits Tsaqalain: Beberapa kali Rasulullah saw mengucapkan hadits ini. Beliau bersabda: “Sesungguhnya aku meninggalkan dua hal berharga bagi kalian yang jika kalian berpegang teguh kepada keduanya kalian tidak akan pernah tersesat selamanya, dan salah satunya lebih agung dari lainnya: Kitab Allah swt, tali yang menjulur dari langit ke bumi, dan yang kedua Ahlul Baitku; keduanya tidak akan berpisah hingga keduanya masuk ke dalam telaga surga. Maka lihatlah bagaimana diri kalian kelak akan bersikap.”[4] Dalam hadits tersebut beliau menjelaskan bahwa Al-Qur’an adalah pegangan utama umat Islam dan Ahlul-Bait adalah penafsir Al-Qur’an yang harus dijadikan rujukan. Karena Imam Ali as adalah Ahlul-Bait nabi, hendaknya umat Islam menjadikannya rujukan sepeninggal nabi.

4. Hadits Ghadir: Begitu juga saat Rasulullah saw berada di Ghadir Khum, setelah beliau meminta kesaksian dari seluruh umat Islam bahwa dirinya lebih dahulu daripada harta dan jiwa mereka, beliau bersabda: “Barang siapa menjadikanku tuannya, maka hendaknya menjadikan Ali sebagai tuannya pula. Ya Tuhan, tolonglah orang yang menolongnya, dan hinakanlah orang yang menghinanya.”[5]

Ahlu Sunah Meragukan Hadits Ghadir

Meskipun Ahlu Sunah dikenal meragukan hadits Ghadir sebagai bukti kekhalifahan Imam Ali as, namun dengan melihat indikasi-indikasi sebelum dan sesudah beliau mengucapkan hadits itu, kenyataannya akan jelas bahwa yang dimaksud “tuan” dalam hadits tersebut berarti “pemimpin”. Sebelum mengucapkan hadits itu Rasulullah saw meminta kesaksian umatnya: “Bukankah aku paling berhak atas kalian? Atas jiwa dan harta kalian?” Setelah semua orang mengiyakan, beliau menyatakan bahwa demikian juga Ali bin Abi Thalib memilki wewenang yang sama sepertinya. Lalu setelah itu nabi berdoa agar melaknat orang yang memusuhi Ali bin Abi Thalib as dan menolong orang yang menolongnya. Nabi juga menjelaskan bahwa mencintai Ali as berarti mencintai Allah swt dan nabi-Nya, memusuhi Ali as juga berarti memusuhi Allah swt dan nabi-Nya. Hal-hal sedemikian rupa membuktikan bahwa maksud Rasulullah dalam hadits Ghadir adalah menyatakan kepada semua orang bahwa Imam Ali as adalah pengganti sepeninggal beliau.

Alasan Imam Ali as membai’at Abu Bakar

Adapun Imam Ali as membai’at Abu Bakar, jika itu memang benar, hal itu tidak bertentangan dengan telah ditentukannya kekhalifahan Imam as oleh nabi. Karena tugas beliau adalah memimpin umat; entah beliau diangkat oleh umatnya ataupun tidak, beliau tetap dapat menjalankan tugasnya semaksimal mungkin yang beliau bisa. Imam Ali as membai’at Abu Bakar karena tidak ingin menimbulkan kericuhan di dalam umat Islam. Karena jika tidak maka kekacauan dan perpecahan tersebut akan digunakan oleh musuh-musuh Islam dari Luar, seperti Roma dan Persia saat itu, untuk menyerang dan menghancurkan Islam. Dengan kebijakan tersebut Imam Ali as dapat menghindari keributan di dalam demi memfokuskan fikiran umat Islam bersama untuk menghadapi bahaya musuh-musuh di luar.

Dalam segala keadaan Imam Ali as rela mengorbankan apapun demi Islam. Bagaikan seorang ibu sejati yang rela mengorbankan nyawanya pun demi anaknya.[6] Imam Ali as sendiri berkata: “Demi Allah, aku sama sekali tidak berfikir bahwa Arab akan merampas kekhalifahan dari tangan Ahlul Bait dan menjauhkannya dariku. Aku melihat mereka berbondong-bondong membai’at seseorang. Aku pun enggan untuk membai’atnya. Namun aku melihat ada sekelompok orang yang hendak menghancurkan agama Muhammad saw. Maka aku takut jika aku tidak berbuat apa-apa untuk Islam dan Muslimin maka akan timbul perpecahan di dada Islam, yang mana musibah itu bagiku lebih besar daripada kehilangan kedudukan yang menurut kalian sangat diidamkan.”[7]

Untuk mengkaji lebih jauh:

1. Allamah Sayid Muhammad Husain Husaini Thabthabai, Emam Shenashi, penerbit Hekmat, 1421, jil. 4-7.

2. Sayid Syarafuddin Al-Musawi, Rahbari e Emam Ali as Dar Qor’an va Sonnat, terjemahan Muhammad Ja’far Emami, Moawenat e Farhanggi Sazman e Tablighat, 1370.

Hadits akhir:

Rasulullah saw bersabda: “Wahai Bani Hasyim! Sesungguhnya saudaraku, pewarisku, dan penggantiku di antara keluargaku adalah Ali bin Abi Thalib as. Ia yang akan menunaikan hutang-hutangku dan menjalankan tugas-tugasku.”[8]


[1] Muhammad bin Jarir Thabari, Tarikh Thabari, jil. 2, hal. 321, Tahkik: Muhammad Abul Fadhl Ibrahim; Abdul Rahman bin Muhammad bin Khuldun, Tarikh Ibnu Khuldun, jil. 1, hal. 647; Al-Kamil, jil. 2, hal. 32.

[2] Abul Hasan Ali bin Muhammad bin Atsir, Usdul Ghabah Fi Ma’rifati Ash-Shahabah, jil. 3, hal. 601.

[3] Ahmad bin Ali bin Hajar Al-Asqalani, Al-Ishabah fi Tamyiiz Ash-Shahabah, Tahkik: Adil Ahmad Abdul Maujud dan Ali Muhammad Mu’awidh, jil. 3, hal. 1097; Ahmad bin Yahya bin Jabir Baladzari, Ansab Al Asyraf, Tahkik: Muhammad Hamidullah, jil. 2, hal. 94.

[4] Usdul Ghabah, jil. 1, hal. 490.

[5] Ibid, jil. 1, hal. 439; Abul Fida’ Ismail bin ‘Amr bin Katsir Al-Dimashqi, Al-Bidayah wa An-Nihayah, jil. 5, hal. 210.

[6] Di jaman Umar ada dua orang wanita berselisih mengaku seorang bayi sebagai anaknya. Supaya dapat membuktikan siapa ibu anak itu yang sebenarnya, Imam Ali as berencana untuk memotong anak menjadi dua lalu dibagikan tiap potongnya kepada setiap wanita itu. Salah seorang wanita itu bersedia, namun satunya lagi tidak bersedia dan berkata: “Jangan, lebih baik berikan saja jatahku untuk wanita itu.” Lalu akhirnya Imam Ali menyatakan bahwa ibu yang tidak bersedia anaknya dipotong itu adalah ibu yang sebenarnya. (Qezavat Haye Mohayerol Oqul, Sayid Hasan Muhsin Amin ‘Amili, hal. 37)

[7] Nahjul Balaghah, Faidz Al-Kashani, surat ke 62.

[8] Amali Thusi, 602/1244.