Hidayah, Kehendak Tuhan dan Nasib Manusia

Tuhan menyesatkan dan memberi petunjuk

Hidayah secara leksikal berarti petunjuk disertai dengan perhatian.[1] Hidayah ini terbagi kepada dua; menunjukkan jalan dan menyampaikan sesuatu ke tujuannya secara langsung, atau dengan ungkapan lain; hidayah tasyri’i dan hidayah takwini.[2]

Penjelasan

Tatkala seseorang menunjukkan jalan kepada orang yang sedang mencari sebuah alamat, terkadang ia menunjukkan alamat tersebut dengan lengkap; disertai dengan seluruh kriterianya. Akan tetapi, untuk menempuh jalan dan menuju ke tempat tujuannya ia serahkan kepada si pencari alamat tersebut. Namun, terkadang ia mengambil tangannya, dan sambil menunjukkan jalan, ia juga mengantarkannya hingga mencapai tempat tujuannya.

Dengan kata lain, pada cara pertama, yang dijelaskan hanya aturan (qanun), syarat-syarat untuk menempuh jalan dan mencapai tujuan. Namun, pada cara kedua, selain hal tersebut segala sarana perjalanan juga dipersiapkan; menyingkirkan segala rintangan, mencari solusi atas masalah-masalah yang ada, dan membantu serta menjaga para pencari hingga mencapai tujuan.

Tentu saja, lawan dari hidayah adalah kesesatan (dhalalah).

Secara global, permasalahan ini akan menjadi jelas dengan menilik ayat-ayat Al-Qur’an. Al-Qur’an menyatakan bahwa petunjuk dan kesesatan adalah perbuatan Tuhan. Dan keduanya dinisbahkan kepada Tuhan. Dan sekiranya kita ingin membahas seluruh ayat yang menyinggung perkara ini, tentu memerlukan waktu yang panjang. Kami kira sudah memadai jika kita renungkan dua ayat berikut ini:

“Allah memberikan petunjuk kepada siapa saja yang dikehendaki.” (QS. Al-Baqarah [2]: 213).

“… tetapi, Allah memberikan petunjuk kepada siapa saja yang dikehendaki dan menyesatkan siapa saja yang dikehendaki.” (QS. An-Nahl [16]: 93)

Kita juga akan menjumpai ayat-ayat yang mengisyaratkan petunjuk (hidayah) dan kesesatan (dhalalah) yang serupa dengan redaksi kedua ayat di atas.[3]

Dan selain itu, sebagian ayat Al-Qur’an dengan gamblang menafikan hidayah dari sisi Nabi saw. dan menisbahkannya hanya kepada Allah Swt. semata.

“Sesungguhnya engkau sekali-kali tidak dapat memberikan petunjuk kepada orang yang engkau cintai, melainkan Allah memberikan petunjuk kepada siapa saja yang dikehendaki.” (QS. Al-Qashash [28]: 56)

“… Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk. Akan tetapi, Allahlah yang memberikan petunjuk [memberi taufik] kepada siapa yang dikehendaki …. (QS. AI¬Baqarah [2]: 272)

Menelaah hanya pada permukaan ayat-ayat ini dan tidak menyentuh makna ayat tersebut telah menyebabkan sekelompok orang -dalam menafsirkan ayat-ayat ini- terjerembab ke dalam kesesatan, dan menyimpang dari jalan petunjuk serta terperosok dalam Determinisme (jabr). Bahkan, sebagian mufassir terkenal tidak lepas dari petaka ini dan terjatuh ke dalam kesalahan yang fatal. Ia meyakini bahwa urusan petunjuk dan kesesatan dengan segenap tingkatannya merupakan bentuk Determinisme.

Anehnya, lantaran kontradiksi pekercayaan ini dengan prinsip Keadilan dan Hikmah Ilahi, mereka memberikan preferensi yang mengingkari keadilan secara terang-terangan.

Pada prinsipnya bahwa seandainya kita terima Determinisme, maka makna taklif, tanggung-Jawab, pengutusan para rasul dan penurunan kitab-kitab samawi tidak lagi berarti.

Akan tetapi, pendukung paham kebebasan penuh (ikhtiyar) percaya bahwa tidak satu pun akal sehat yang dapat menerima asumsi bahwa Allah Swt. memaksa mereka untuk mengambil jalan kesesatan, dan setelah itu -karena keterpaksaan ini- mereka harus menerima hukuman. Atau ada sekelompok manusia yang telah diberi petunjuk dan setelah itu, tanpa alasan mereka diganjar pahala, padahal keistimewaan yang mereka dapatkan ini bukan karena amalan yang mereka lakukan.

Atas dasar paham inilah memilih cara-cara lain dalam menafsirkan ayat-ayat tersebut.

Penafsiran yang akurat dan relevan dengan seluruh ayat-ayat ihwal petunjuk dan kesesatan adalah penafsiran yang tidak sedikit pun berselisih dengan makna lahiriah ayat-ayat berikut ini:

Hidayah tasyri’i bermakna menunjukkan jalan secara umum tanpa adanya syarat dan ikatan. Sebagaimana ayat yang berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menunjukkan kepada mereka jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pulayang kafir.” (QS. Ad-Dahr: 3) “… dan sesungguhnya engkau benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS. Asy-Syura [42]: 52) Sangat jelas bahwa ajakan nabi ini adalah kepanjangan ajakan Tuhan, karena apa saja yang dimiliki oleh Nabi berasal dari-Nya.

Tentang kaum musyrikin dan sekelompok orang yang tersesat, Allah Swt. berfirman, “… dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka.” (QS. An-Najm [53]: 23)

Adapun hidayah takwini bermakna menyampaikan (ishal) ke tujuan dan menuntun tangan para hamba sehingga mereka dapat menempuh jalan yang berliku, serta menjaga dan menolong mereka hingga sampai di ambang keselamatan.

Hidayah takwint ini menjadi topik pembahasan dalam banyak ayat yang lain tanpa adanya kait dan syarat. Hidayah ini khusus bagi orang-orang yang ciri-ciri khas mereka telah dijelaskan di dalam Al-Qur’an. Dan kesesatan yang berarti sebagai lawan dari hidayah, khusus bagi orang-orang yang ciri-ciri khas mereka juga telah dijelaskan di dalam Al-Qur’an.

Kendati sebagian ayat-ayat ini bersifat mutlak, namun banyak pula ayat-ayat yang menjelaskan kait dan syaratnya secara teliti. Dan ketika ayat-ayat yang berkait (muqayyad) dan mutlak ini bersanding satu dengan yang lainnya, permasalahannya akan menjadi sangat jelas dan tidak tersisa lagi sedikit pun keraguan dan ambiguitas. Ayat-ayat ini tidak hanya tidak bertentangan dengan masalah kebebasan manusia, akan tetapi justru menekankannya.

Kini perhatikan baik-baik penjelasan di bawah ini!

Allah Swt berfirman: “… dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu [pula] banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada orang yang disesatkan Allah kecuali orang-orang fasik. “(QS. Al-Baqarah [2]: 26)

Ayat ini menyitir sumber kesesatan, kefasikan dan keluarnya mereka dari ketaatan dan perintah Allah Swt.

Pada kesempatan yang lain, Allah Swt. berfirman, “…dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zalim.” (QS. AI¬Baqarah [2]: 258)

Ayat ini menerangkan masalah kezaliman (tirani dan despotisme) yang kemudian menjadi lahan tumbuhnya kesesatan.

Pada kesempatan ketiga, kita membaca, “…dan Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada orang-orangyang kafir.” (QS. al¬Baqarah [2]: 264)

Di dalam ayat ini dijelaskan ihwal kekufuran yang menjadi ladang berseminya kesesatan.

Di dalam ayat yang lain Allah berfirman: “…sesungguhnya Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada orang-orang pendusta dan sangat ingkar.” (QS. az-Zumar [39]: 3)

Di dalam ayat ini juga berdusta dan kekafiran disebutkan sebagai awal kesesatan.

Dan di tempat lain disebutkan, “…sesungguhnya Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada orang-orang yang berlebih-lebihan lagi pendusta.” (QS. al-Ghafir [40]: 28) Maksudnya adalah bahwa perbuatan berlebih-lebihan dan berkata dusta menjadi penyebab kesesatan.

Tentu saja, apa yang telah kami sebutkan di sini hanyalah sebagian dari ayat-ayat Al-Qur’an yang bersangkutan dengan dengan pembahasan ini. Sebagian lainnya dengan redaksi yang sama banyak disebutkan secara berulang-ulang di dalam AI-Qur’an.

Konklusinya, penegasan Al-Qur’an bahwa kesesatan hanya berasal dari Allah Swt. semata, hanya khusus bagi orang-orang yang memiliki kriteria kufur, tirani, fasik, dusta, berlebih-lebihan, dan enggan berterima kasih.

Apakah orang-orang yang memiliki kriteria-kriteria seperti ini tidak pantas mendapatkan kesesatan?

Dengan ungkapan lain, apakah terjeratnya seseorang di dalam kriteria-kriteria ini tidak akan menjadi hijab dan kegelapan di dalam hatinya?

Lebih jelas lagi, perbuatan dan kriteria yang dimiliki orang itu mau atau tidak mau akan menjadi tirai yang menutupi mata, telinga dan akalnya sehingga ia akan masuk ke dalam jurang kesesatan. Mengingat bahwa seluruh benda dan efek seluruh sebab-sebab terjadi atas perintah Allah Swt., kesesatan dalam seluruh perkara ini dapat dinisbahkan kepada Allah Swt. Namun, penisbahan ini bersemayam pada ikhtiyar dan kebebasan berkehendak manusia.

Uraian di atas ini berkenaan dengan masalah kesesatan (dhalalah). Adapun mengenai masalah petunjuk (hidayah), AI-Qur’an juga menyebutkan sifat dan syarat-syaratnya. Hal ini menunjukkan bahwa petunjuk juga bukan tanpa sebab, tidak pula bertentangan dengan hikmah Ilahi.

Sebagian dari karakteristik yang menjadikan seseorang berhak mendapatkan petunjuk dan merengkuh kasih sayang Ilahi telah disebutkan pada ayat-ayat di bawah ini:

“Dengan kitab itulah Allah memberi petunjuk kepada orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan [dengan kitab itu pula] Allah mengeluarkan orang-orang dari kegelapan kepada cahaya yang terang benderang dengan izin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalanyang lurus.” (QS.AI-Maidah [5]: 16) Pada ayat ini, mengikuti perintah Allah Swt. dan merengkuh keridaan-Nya merupakan ladang berseminya petunjuk Ilahi.

“…sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan menunjuki orang-orang yang bertaubat kepada-Nya.” (QS. ar-Ra’d [13]: 27)

Di sini ditegaskan bahwa taubat dan inabah (kembali) merupakan penyebab datangnya petunjuk.

“Dan orangyang berjihad [untuk mencari keridhaan] Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami…” (QS. al-Ankabut [29]: 69)

Di sini dijelaskan bahwa jihad (kesungguhan); jihad yang tulus di jalan Allah swt adalah syarat utama petunjuk.

“Dan orang-orang yang mendapat petunjuk, Allah akan menambahkan petunjuk dan menganugrahkan ketakwaan kepada mereka.” (QS.Muhammad [47]: 17)

Di dalam ayat ini disebutkan, melintasi beberapa jalan petunjuk sebagai syarat keberlanjutan jalan ini menuju kemurahan (luthf) Allah Swt.

Konklusi dari ayat-ayat yang disebutkan di atas adalah, bahwa apabila taubat tidak datang dari para hamba, tidak mengikuti perintah-Nya, tidak berjihad dan berusaha, dan tidak melangkahkan kaki di jalan hak, maka kemurahan Ilahi tidak akan mendatangi kehidupan mereka, tidak akan menuntun tangan mereka, dan tidak akan mengantarkan mereka mencapai tujuan.

Apakah mengkhususkan petunjuk untuk orang-orang yang memiliki sifat-sifat ini merupakan hal yang tak berdasar atau termasuk determinisme?

Anda perhatikan bagaimana ayat-ayat Al-Qur’an dalam pembahasan ini sangat jelas dan gamblang. Orang-orang yang tidak mampu atau tidak ingin mengklasifikasikan hal-hal yang benar dari ayat-ayat petunjuk dan kesesatan telah terjebak dalam kesalahan fatal. Karena tidak melihat hakikat, terpaksa memilih Jalan fiktif. Harus diakui bahwa lahan kesesatan ini telah dipersiapkan oleh dirinya sendiri.

Bagaimanapun, kehendak (masyiyah) Ilahi pada ayat-ayat hidayah dan kesesatan bersandar kepada kehendak (kebebasan) tersebut. Kehendak Ilahi itu sama sekali tidak akan berlaku tanpa dasar dan tanpa hikmah. Tetapi pada setiap perkara, kehendak Ilahi itu memiliki syarat-syarat khusus yang selaras dengan sifat kemahabijaksanaan Ilahi.


[1] Mufradat kalimat hada.

[2] Perhatikan baik-baik! Hidayah takwini di sini bermakna luas. Termasuk setiap bentuk petunjuk selain jalan penjelasan undang-undang dan penunjukan Jalan secara langsung.

[3] Misalnya Fathir: 8, az-Zumar: 23, al-Muddatstsir: 31. al-Baqarah: 272, al-An’am: 88, Yunus: 25, ar-Ra’d: 27, dan Ibrahim: 4.

Kehendak Tuhan dalam kebahagiaan dan kesengsaraan hamba-Nya

Dalam Al-Qur’an banyak sekali ayat-ayat serupa yang menjelaskan bahwa Tuhan yang berkehendak untuk memberi hidayah dan menyesatkan manusia, serta menyiksa atau merahmati hamba-Nya. Dengan melihat kehendak-Nya itu, lalu apa arti keadilan Tuhan?

Jawaban Global:

Dalam banyak ayat-ayat Qur’an dijelaskan bahwa Allah swt adalah sebab utama kemulian atau kehinaan hamba-Nya, rizki dan kemiskinan manusia, siksa atau rahmat hamba-hamba. Juga banyak sekali ayat yang menjelaskan bahwa Ia adalah dzat yang menganugerahkan kemuliaan, rizki, kebahagiaan, rahmat kepada hamba-hamba-Nya yang bertakwa dan ikhlas. Semua ayat-ayat tersebut tidak bertentangan satu sama lain, dan semuanya saling mengartikan jika dipahami bersama. Karena kehendak dan keinginan Tuhan selalu berdasarkan hikmah dan adil. Jadi, tidak ada pertentangan antara kehendak Tuhan itu dengan keadilan-Nya.

Jawaban Detil:

Dalam berbagai ayat suci Al-Qur’an dijelaskan bahwa Ia adalah dzat yang memberi kemuliaan, kehinaan, rizki, kemiskinan, karunia, adzab, pahala, dan siksaan kepada hamba-hamba-Nya. Namun tidak hanya itu saja, masih banyak juga ayat-ayat lain yang menegaskan bahwa ketakwaan hamba-hamba berperan penting dalam menentukan nasibnya masing-masing. Ia juga menekankan bahwa kehendak-Nya bergantung pada ikhtiar dan ketakwaan hamba. Setiap hamba bebas berusaha untuk meraih kebahagiaan akherat, atau sebaliknya, mencari kehinaan dan kesengsaraan.

Lalu apakah ayat-ayat tentang kebebasan manusia dan kehendak Tuhan yang sekaan “menggariskan” nasib manusia saling bertentangan?

Untuk membahas pertanyaan ini, pertama kita harus jelaskan bahwa pertanyaan seperti itu hanya muncul di benak orang-orang yang mengira bahwa kehendak Tuhan sama dengan kehendak manusia. Padahal tidak, karena kehendak Tuhan berbeda dengan kehendak hamba-Nya. Kehendak manusia bersumber dari keinginan-keinginan hasrat dan ketertarikan jiwa, yang mungkin saja masuk akal atau tidak, dan bahkan sering kali keinginan itu adalah nafsu yang tak masuk akal.

Adapun kehendak dan keinginan Tuhan bersumber dari hikmah dan keadilan yang takkan pernah berubah sampai kapanpun. Karena Tuhan hanya memberlakukan segala sesuatu berdasarkan aturan sebab akibat yang penuh hikmah, dan sunah (aturan) ini tidak akan pernah berubah.

Dengan penjelasan ini, maka jelas sudah ketika Tuhan memberikan pahala kepada seorang hamba, atau menyiksanya, semua itu tidak tanpa alasan, namun berdasarkan keadilannya. Alasan Tuhan sering menyatakan bahwa kebahagiaan dan kesusahan hamba adalah karena-Nya, karena seluruh alam semesta dan diri manusia beserta ikhtiar dan kehendaknya adalah ciptaan Tuhan semata. Ialah yang memberi manusia jalan dan fasilitas untuk meraih kebahagiaannya ataupun kesengsaraannya. Tuhanlah yang telah membuat aturan yang jika dijalankan manusia maka hamba-Nya akan sampai pada kebahagian dan jika ditentang maka dengan sendirinya akan jatuh pada kesusahan. Dengan demikian bisa dikata semua nasib manusia berasal dari-Nya, dan itu pun tak bertentangan dengan keadilan Tuhan, karena Tuhan telah menciptakan seluruh peraturan itu dengan penuh keadilan. Manusia lah yang dengan kehendak (yang telah dianugerahkan Tuhan itu) untuk meraih kebaikan atau keburukan.[1]

Dengan penjelasan di atas, mari kita kembali tengok ayat di atas. Allah swt berfirman: “Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehandaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya” (QS. Al-Baqarah [2]:284)

Maksud dari kata “dikehendaki-Nya” dalam ayat itu, dan juga dalam ayat-ayat lainnya, adalah kehendak yang didasari oleh hikmah. Yakni Tuhan akan menyiksa hamba “yang layak” untuk disiksa dan juga merahmat hamba “yang layak” untuk dirahmati. Yakni kehendak-Nya berhubungan langsung dengan kelayakan hamba. Tanpa ada sebab yang pasti, Tuhan tidak akan berkehendak apapun.[2]

Oleh karena itu, semua ayat-ayat dalam masalah ini tidak saling bertentangan, jusru semuanya saling mengartikan satu sama lain dan harus dipahami secara bersamaan keseluruhannya. Sunah (aturan dan kebiasaan) Tuhan dalam kebijakan-Nya di alam penciptaan bersumber dari hikmah yang takkan pernah berubah sampai kapanpun. Manusia memiliki kehendak atas dirinya sendiri untuk meraih kebahagiaan atau kesengsaraan. [islamquest]


[1] Nashir Makarim Syirazi, Tafsir Nemune, jil. 2, hal. 498, dengan sedikit perubahan, cetakan Nashr Darul Kutub Islamiah, cetakan pertama , Tehran 1374 HS.

[2] Tafsir Nemune, jil. 22, hal. 92, dengan sedikit perubahan.

Perjanjian Alam Dzarr

Dalam surat Al-A’raf (1), ayat 172 disebutkan, ”Dan [ingatlah] tatkala Tuhanmu mengeluarkan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), ‘Bukankah Aku in; Tuhanmu?’ Mereka menJawab. ‘Benar (Engkau adalah Tuhan kami), kami menjadi saksi. ‘ (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan. ‘Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lalai terhadap hal ini (keesaan Tuhan). ”

Di dalam ayat ini, disebutkan pengambilan janji dari Bani Adam secara umum. Lalu, bagaimanakah bentuk perjanjian ini?

Maksud dari alam dan perjanjian ini adalah “alam potensi” dan perjanjian fitrah dan penciptaan. Urutannya adalah ketika Bani Adan keluar dalam bentuk sperma dari tulang sulbi seorang ayah memasuki rahim seorang ibu di mana ketika itu bentuk Bani Adam tidak lebih dari sebesar biji atom (dzarrah) Allah Swt. menganugerahkan potensi untuk mendapatkan tauhid sejati. Rahasia Ilahi ini diberikan dalam bentuk perasaan jiwa yang bersifat esensial (dzat) dan diletakkan sebagai karakter dan fitrahnya. Bani Adam itu dapat menyadari rahasia ini melalui akal dan nalarnya.

Oleh karena itu, seluruh manusia memiliki ruh tauhid, dan pertanyaan yang diajukan Tuhan kepadanya hanyalah berupa proses penciptaan. Jawaban yang mereka berikan juga melalui proses ini.

Redaksi-redaksi seperti ini dalam dialog-dialog kesehanan juga tidak sedikit kita jumpai. Misalnya kita berkata, ”Warna dan raut wajah seseorang menunjukkan rahasia batinnya” dan ”Matanya yang sayu menandakan bahwa ia tidak tidur semalam.”

Para pakar sastra (udaba) dan orator (khuthaba’) Arab berkata, ”Tanyakanlah kepada bumi ini siapakah yang membuka ruas sungai-sungaimu? Dan pepohonan yang ditanam dan menghasilkan buah-buahan? Apabila bumi tidak menjawab dengan lisan biasa, ia akan menjawabnya dengan penciptaannya.”

Di dalam ayat Al-Qur’an, ungkapan dalam bahasa umum ini telah disebutkan, seperti, “Lalu Ia berkata kepadanya dan kepada bumi, ‘Datanglah kamu berdua menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa. ‘ Keduanya menjawab, ‘Kami datang dengan suka hati dan taat kepada perintah-Mu.’” (QS. Fushshilat [33]: 11)[1]


[1] Tafsir Nemuneh, jilid 7, hal. 6.

Tuhan tidak bisa dilihat dan Manusia berbuat sesuai ikhtiar dan keinginannya masing-masing

Melihat Tuhan, Adzab Setan, Ikhtiar Manusia

Buhlul bin ‘Amr Kufi adalah orang pintar di jaman Imam Musa Kadzim as dan termasuk murid Imam Shadiq as. Ia berpura-pura gila di saat itu. Panjang ceritanya. Misalnya, supaya ia tidak diangkat sebagai hakim oleh Harun Ar Rasyid, ia berpura-pura gila seperti itu. Ia suka sekali berdebat, pandai berbicara, serta jenaka.

Pada suatu hari, ia mendengar bahwa Abu Hanifah (pemimpin madzhab Hanafi) pernah berkata, bahwa Imam Ja’far As Shadiq as menjelaskan tiga hal yang sama sekali tidak diterimanya. Tiga hal itu adalah:

1. Setan kelak disiksa di api neraka. Bagi Abu Hanifah hal itu tidak mungkin, karena setan tercipta dari api, bagaimana ia disiksa dengan api pula?

2. Tuhan tidak bisa dilihat. Menurut Abu Hanifah, segala hal yang ada harus bisa dilihat.

3. Manusia berbuat sesuai ikhtiar dan keinginanya masing-masing. Abu Hanifah tidak menerima itu, karena menurutnya banyak sekali ayat-ayat Al Qur’an yang menjelaskan bahwa perbuatan-perbuatan manusia itu telah ditakdirkan oleh Allah, dan Ia yang telah menentukan serta mengaturnya.

Saat Buhlul melihat Abu Hanifah dalam suatu majelis, ia melemparnya dengan gumpalan tanah yang telah mebatu. Abu Hanifah kesakitan dan memarahi Buhlul. Namun Buhlul merasa tak bersalah dan berkata:

“Apa buktinya kamu sakit karena kulempar? Coba tunjukkan padaku? Aku tidak melihatnya! Berarti kamu berbohong dan sebenarnya kamu tidak sakit! Kamu bilang setan tercipta dari api dan tidak bisa disiksa dengan api; kamu tercipta dari tanah kenapa saat kulempar dengan tanah kamu kesakitan? Kamu bilang manusia tidak punya ikhtiar dan kehendak dalam segala perbuatannya; kalau begitu yang melempar kamu bukanlah aku, tapi Tuhan. Marahi saja Tuhanmu!”

Abu Hanifah diam dan malu. Ia berdiri dari majelis dan sadar bahwa maksud Buhlul adalah mengkritik pemikirannya yang bertentangan dengan Imam Ja’far Shadiq as.[1]


[1] Majalisul Mu’minin, jilid 2, halaman 419; Bahjatul Aamaal, jilid 2, halaman 436.

Apakah Tuhan memang bisa dilihat

Dalam sebuah majelis yang dihadiri oleh sekumpulan Muslimin, terjadi sebuah dialog antara seorang pelajar dengan alim. Simak dialog itu demikian:

Pelajar: “Dalam Al Qur’an, misalnya dalam surah Al A’raf, kita mebaca firman Allah swt:

“Ya Tuhan, tunjukkanlah diri-Mu padaku agar aku bisa melihat-Mu!” Namun Tuhan menjawab: “Engkau tidak akan pernah bisa melihat-Ku.” (QS. Al A’raf: 143)

Pertanyaanku, kita saja tahu bahwa Tuhan tidak memiliki fisik, tidak bertempat, lalu mengapa nabi besar dan termasuk Ulul Azmi seperti nabi Musa as menyatakan permintaan yang tidak masuk akal? Suatu permintaan yang meski bagi orang biasa pun tidak layak.”

Alim: “Kemungkinan apa yang diminta oleh nabi Musa as adalah melihat Tuhan dengan mata hati, bukan mata kepala. Dengan permintaan itu, nabi Musa as ingin mencapai suatu rasa kesadaran penuh dalam memahami Tuhannya dalam akal pemikiran. Ibaratnya nabi Musa as meminta “Ya Tuhan, buatlah aku benar-benar yakin secara sempurna sehingga aku bagai melihatmu dengan mata kepala.”[1] Lagi pula kata “melihat” tidak selamanya bermaksud pengelihatan dengan mata fisik. Misalnya saat kita berkata, “Aku melihat adanya potensi dalam diriku…” Potensi jelas tidak bisa dilihat oleh mata kepala, namun mata batin.”

Pelajar: “Penafsiran seperti itu sangat bertentangan dengan apa yang kita fahami sekilas dari ayat Al Qur’an. Karena ucapan nabi Musa as: “Tunjukkan diri-Mu padaku”, berkaitan dengan pengelihatan fisik. Apa lagi dengan melihat jawaban Tuhan: “Engkau tidak akan pernah melihat-Ku”, kita fahami bahwa nabi Musa as tidak akan pernah bisa melihat Tuhan dengan mata kepalanya. Adapun jika yang nabi Musa as maksud adalah melihat Tuhan dengan mata batin, Tuhan tidak akan menjawab seperti itu dalam firman-Nya. Ia pasti akan mengiyakan permintaan beliau jika yang dimaksud adalah pengelihatan dengan mata hati.”

Alim: “Anggap saja memang nabi Musa as meminta agar ia bisa melihat Tuhan dengan mata kepalanya. Namun jika kita merujuk kepada sejarah, kita akan fahami bahwa permohonan nabi Musa as hanyalah penyampaian permintaan kaumnya. Yakni permintaan kaum yang disampaikan beliau kepada Tuhan. Begitu kaumnya keras kepala ingin melihat Tuhan, ia meminta Tuhan untuk menunjukkan diri kepada mereka.

Penjelasannya, setelah peristiwa tenggelamnya Fir’aun dan diselamatkannya Bani Israel, mereka sering meminta nabi Musa as untuk melakukan “yang tidak-tidak”. Salah satu permintaan yang mereka ajukan secara paksa kepada nabi Musa as adalah melihat Tuhan dengan mata kepala, yang selama mereka tidak bisa melihat Tuhan maka mereka tidak mau beriman. Akhirnya nabi Musa as membawa tujuh puluh orang dari antara Bani Israel lalu membawa mereka ke tempat peribadahannya (bukit Tur) lalu beliau memohon kepada Tuhan dengan permohonan seperti itu. Akhirnya ia mendapat jawaban: “Engkau tidak akan pernah bisa melihatku.” Jawaban itu pun akhirnya didengar oleh Bani Israel sendiri agar mereka sadar.

Sedangkan nabi Musa as sendiri menyadari bahwa Tuhan memang tidak bisa dilihat. Yang bisa dilihat hanyalah tanda-tanda kebesaran-Nya saja.” [2]


[1] Sebagaimana nabi Ibrahim as juga meminta seperti itu agar ia yakin dengan sempurna akan hari kebangkitan.

[2] Seratus Satu Perdebatan, Muhammadi Isytihardi, halaman 383.

Berjumpa dengan Allah, mungkinkah

Dalam beberapa ayat-ayat Al-Qur’an yang membahas Hari Kebangkitan dan Hari Kiamat, terdapat redaksi liqa’ Allah (perjumpaan dengan Tuhan) atau liqa’ ar-Rabb (perjumpaan dengan Rabb). Redaksi ayat ini sarat makna dan memiliki kedalaman arti, betapa pun sebagian mufassir telah menafsirkan ayat-ayat ini secara sambil lalu.

Sebagian dari mereka berpendapat bahwa maksud dari liqa’ Allah adalah pertemuan para malaikat Allah swt pada Hari Kiamat. Sebagian yang lain berkeyakinan bahwa maksudnya adalah perjumpaan setiap makhluk dengan perhitungan (hisab), ganjaran (jaza), dan pahala (tsawab). Dan kelompok ketiga berpendapat bahwa maknanya adalah perjumpaan hukum dan perintah-Nya.

Semua pendapat tersebut mengambil arti redaksi AI-Qur’an tersebut secara implisit. Sementara kita mengetahui bahwa apabila penafsiran implisit bertentangan dengan dzahir sebuah ungkapan (eksplisit), sepanjang tidak ada dalil atasnya, harus kita tinggalkan.

Tak syak lagi bahwa maksud dari redaksi perjumpaan (liqa) bukanlah melihat Tuhan. Lantaran perjumpaan indrawi hanya berlaku pada benda-benda material yang terbatas di dalam ruang dan waktu, berwarna, dan kualitas-kualitas lain sehingga ia mampu untuk dilihat dengan mata kepala.

Dengan demikian, maksud dari perjumpaan di sini adalah syuhud batini, perjumpaan dan pertemuan maknawi dan ruhani dengan Allah swt. Karena pada Hari Kiamat, seluruh hijab akan tersingkap dan tanda-tanda kekuasaan-Nya sedemikian nampak pada hari Mahsyar dan seluruh tempat persinggahan Kiamat, bahkan orang-orang kafir akan berjumpa dengan Allah Swt melalui mata batin mereka (meskipun perjumpaan ini pasti berbeda).

Allamah Thabathabai dalam Tafsir AI-Mizan berkata:

“Hamba-hamba Allah swt berada dalam keadaan tanpa hijab antara mereka dengan-Nya. Lantaran ciri khas Hari Kiamat adalah penampakan seluruh hakikat. Demikian pada surat An-Nur (24), ayat 25, Allah Swt berfirman, “Pada hari itu mereka mengetahui bahwa sesungguhnya Allah-lah Hak Yang Nyata.”

Menariknya, dalam hadis sahih disebutkan bahwa seorang datang kepada Amirul Mukminin Ali as dan berkata: “Aku terjatuh dalam kesangsian terhadap Al-Qur’an.”

Beliau kembali bertanya: “Mengapa?”

Orang itu berkata: “Kita melihat banyak ayat Al-Qur’an yang menegaskan perjumpaan dengan Allah Swt pada Hari Kiamat, dan di sisi lain Dia berfirman, “Mata-mata tidak mampu menjangkau-Nya, dan Ia menjangkau seluruh mata.” Bagaimana ayat ini bisa dipertemukan dengan yang lainnya?”

Beliau menjawab: “Perjumpaan di sini bukan penyaksian dengan mata, akan tetapi perjumpaan pada Hari Kiamat dan bangkitnya orang-orang dari kuburan. Oleh karena itu, pahamilah bahwa seluruh liqa’ (perjumpaan) yang disebutkan dalam AI-Qur’an berarti kebangkitan.”[1]

Sebenarnya, Imam Ali as, memberikan tafsir ihwal perjumpaan dengan Allah swt bahwa penyaksian (Syuhud Allah swt merupakan inherensi-inherensi dari syuhud tersebut. Benar bahwa Hari Kiamat merupakan hari tersingkapnya pelbagai hijab dan tirai, tampaknya tanda-tanda Yang Maha Hak, dan tajalli Allah kepada seluruh hati. Dan setiap orang -sesuai dengan tingkat pikirnya- dapat memahami ucapan beliau ini. Dan seperti yang telah kita katakan, bahwa syuhud batini para kekasih Allah Swt pada Hari Kiamat berbeda dengan perjumpaan orang-orang biasa.[2]

Dalam masalah ini, Fakhrurrazi dalam At-Tafsir AI-Kabir-nya memberikan penjelasan yang menarik. Ia menulis, “Manusia di dunia ini, lantaran hanyut dalam urusan-urusan duniawi dan berupaya untuk mengejar kehidupan dunia, kerap melalaikan Allah. Akan tetapi pada Hari Kiamat, seluruh perhatian duniawi ini akan hilang. Manusia dengan seluruh wujudnya akan tercurah kepada Tuhan semesta alam. Dan inilah arti dari perjumpaan dengan Allah swt”[3]

Hal ini boleh jadi berdasarkan pengaruh takwa, ibadah, dan penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) dalam kehidupan dunia ini yang dapat dijumpai pada sekelompok umat manusia. Sebagaimana dalam Nahjul Balaghah ditegaskan, bahwa salah seorang sahabat alim Imam Ali as, Dza’lab al-Yamani, bertanya kepada beliau, “Apakah Anda melihat Tuhan Anda?”

Imam as, menjawab, “Apakah mungkin aku menyembah Tuhan yang tidak kulihat?”

Dan ketika ingin memberikan penjelasan lebih lanjut, beliau menambahkan, “Seluruh mata kepala sekali-kali tidak akan pernah menyaksikan-Nya, namun mata hatilah -dengan cahaya iman- dapat menyaksikan-Nya.”[4]

Namun, syuhud batini ini pada Hari Kiamat berlaku untuk semua orang. Karena, tanda keagungan dan kekuasaan Allah swt pada hari itu sedemikian jelasnya sehingga setiap hati yang buta juga akan beriman penuh.[5]


[1] Ringkasan Tauhid Shaduq, hal 267

[2] Tafsir Payam-e Qur’an, jilid 5, hal. 44.

[3] At-Tafsir al-Kabir, Fakhrurrazi, ayat yang bersangkutan; Tafsir Nemuneh, jilid 17, hal. 359.

[4] Nahjul Balaghah, ceramah ke-179.

[5] Tafsir Nemuneh, jilid 1, hal. 217

Untuk menjadi Syi’ah tidak cukup hanya mengaku ngaku saja ! Syiah adalah orang yang hati, perbuatan dan lidahnya sejalan dengan imam ahlulbait

Selain mengidap TBC (Tuli Buta Cupet), penganut ajaran sempalan ini juga mengidap SPILIS alias Sedikit Pemahaman Ingin Langsung Ikut-ikutan Salaf shalihin. Sebagai dampaknya tentu saja mereka menjadi manusia inkonsisten bahkan dengan pemahaman mereka sendiri. Di satu sisi tak faham betul tentang segala sesuatu berkenaan dengan salaf shalihin, tetapi di sisi lain ingin seperti salaf shalihin. Benar-benar ajaib.

Mereka berfikir dengan memilih nama “Manhaj Salaf” akan membuat mereka menjadi sebagaimana Salaf Shalihin. Lucunya, menurut mereka Salaf Shalihin itu maksum sedang individu dari Salaf Shalihin belum tentu maksum. Mereka menolak mengikuti Madzhab yang telah dikenal luas dalam dunia Islam. Bahkan dalam anggapan mereka, mengikuti Madzhab adalah syirik karena taklid buta pada individu. Sungguh lucu tapi nyata, karena di sisi lain mereka ternyata begitu fanatik akan ulama-ulamaan dan ustdz-ustadzan mereka. Apapun akan mereka lakukan untuk membela ulama-ulamaan mereka dan ustadz-ustadzan mereka, bila berlu mengkafirkan orang yang menolak fatwa ulama-ulamaan mereka.

Perkara menghukumi atau melabeli orang di luar kelompok mereka adalah special skill dari penganut Wahabi yang berlindung di balik topeng salaf. Siapapun baik yang sebelum maupun yang setelah mereka pun telah mereka kafirkan atau syirikkan atau sesatkan. Mulai dari Adam as  sampai saya sendiri. Mereka juga tanpa ragu menyatakan bahwa kedua orang tua Rasulullah SAW masuk neraka dengan bermodalkan hadits yang sebenarnya masih banyak yang lebih kuat dari hadits yang mereka bawakan. Anehnya lagi mereka menyatakan itu sperti tanpa beban. Sungguh aneh.

Kembali ke masalah pemilihan manhaj salafi. Kalaulah memang mereka ingin seperti salaf shalihin dan pasti lurus lagi masuk surga, mengapa mereka tidak memilih saja nama manhaj shalihi karena orang shalih pastilah orang lurus.

tentu saja siapa pun tahu bahwa di masa salaf ada yang shalih dan ada yang tidak. Di antara yang jauh dari predikat shalih, tersebutlah Musailamah yang bahkan oleh Rasululullah SAW disebut Al Kadzab karena mengatakan dirinya nabi kepada semua orang, bahkan termasuk kepada Rasullah SAW. Benar-benar Al Kadzab.

Kiranya bukanlah suatu kebetulan bila ternyata Syaikhul Wahhabi yang bernama Muhammad bin Abdul Wahhab ternyata berasal dari daerah yang sama dengan Musailamah Al Kadzab yaitu NAJD, yang Rasulullah SAW telah menolak memberkatinya bahkan menyatakan fitnah dan tanduk setan akan muncul dari Najd yang terletak di sebelah Timur Madinah. Perlu pula dicatat ternyata Najd (Riyadh, ibukota Yaudi Wahabia) adalah daerah yang termasuk belakangan dalam menerima Islam di masa Rasulullah SAW.

Apakah Muslim Syiah tidak akan masuk neraka

Pertanyaan: Ada sebuah riwayat dari Imam Ali as: “Umat Islam Syiah tidak akan masuk neraka.” Begitu juga aku membaca dalam sebuah buku bahwa tingkat pertama neraka Jahanam adalah khusus untuk umat Islam (umat nabi) yang pendosa! Mana yang benar?

Jawaban Global:

Tolak ukur perhitungan di hari kiamat untuk menentukan apakah sesorang layak memasuki surga atu neraka berdasar pada kaidah-kaidah yang telah dijelaskan oleh Allah swt dalam ayat-ayat suci-Nya. Tuhan tidak mempedulikan faktor perbedaan kelompok, keturunan, dan bangsa dalam hal ini. Tolak ukur utama adalah amal perbuatan manusia; yakni kenikmatan surga adalah balasan dari iman dan amal saleh, sedangkan neraka adalah balasan kekufuran dan dosa.

Jawaban Detil:

Sepanjang sejarah banyak yang membahas masalah umat yang bakal selamat di akhirat (firqah najiah). Pembahasan tersebut kurang lebih bertumpu pada sebuah hadits yang diaku dari nabi, yang dikenal dengan hadits iftiraq. Para penulis buku-buku sekte dan mazhab-mazhab berusaha mengkategorikan sekte-sekte yang ada sebisa mungkin agar susuai dengan hadits tersebut. Dalam riwayat itu dijelaskan bahwa akan hanya ada satu kelompok yang selamat dan masuk surga. Akhirnya setiap sekte dan mazhab berusaha untuk menyebut dirinya sebagai kelompok yang benar itu dan layak memasuki surga.

Al-Qur’an dalam menyinggung masalah kebahagiaan sejati akhirat sering kali menjelaskan adanya beberapa kelompok yang tak hanya menganggap diri mereka yang layak masuk surga, namun juga berkeyakinan bahwa selain mereka tidak berhak masuk ke dalam surga. Begitu juga dalam riwayat-riwayat Ahlu Sunah dan Syiah banyak sekali ditemukan hadits tentang pahala dan siksa akhirat, dan terkadang setiap salah satu dari mereka memberikan tolak ukur tertentu untuk permasalahan tersebut. Dengan memahami pendahuluan singkat tersebut, kini perlu dijelaskan dua hal:

Pertama: Apakah Tuhan telah menjelaskan toak ukur orang-orang yang berhak masuk surga dan neraka? Atau tidak?

Dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang menjelaskan tentang sebagian kaum yang menyatakan diri merekalah yang paling berhak untuk masuk surga. Mereka mengira bahwa adzab neraka hanya akan mereka rasakan selama beberapa hari saja, lalu akhirnya mereka akan mendapatkan tempat di surga. Dalam menanggapi keyakinan seperti itu, Allah swt berfirman: “Katakanlah: “Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan memungkiri janji-Nya, ataukah kamu hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?”” (QS. al-Baqarah [2]:80)

Setelah itu Allah swt menjelaskan kaidah umum untuk menentukan siapakah yang berhak masuk surga atau neraka. Ya, orang-orang yang melakukan dosa, lalu dampak dosa itu meliputi dirinya, maka orang seperti itu adalah penduduk neraka, dan mereka kekal di sana. Adapun mereka yang beriman dan melakukan amal perbuatan baik, mereka adalah penduduk surga dan untuk selamanya mereka di sana.[1]

Begitu pula sebagian berkeyakinan bahwa hanya Yahudi dan Nashrani saja yang akan masuk surga. Lalu Al-Qur’an menepis pengakuan mereka dan menyatakan bahwa perkataan mereka tidak memiliki bukti, menganggap semua itu hanyalah mimpi dan khayalan mereka saja. Lalu Al-Qur’an menjelaskan tolak ukur sebenarnya dengan berfirman: “…bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah [2]:112)

Ayat suci itu menyatakan bahwa sebab utama masuk surga adalah penyerahan diri kepada perintah Tuhan dan perbuatan baik. Yakni surga tidak akan diberikan kepada orang yang hanya mengaku-aku saja, namun diperlukan iman dan amal saleh. Oleh karena itu, Al-Qur’an menjadikan amal perbuatan sebagai tolak ukur berhaknya seseorang untuk masuk surga atau neraka. Meski juga ada kelompok ketiga yang berada di antara mereka, yang mana Al-Qur’an menjelaskan mereka adalah orang-orang yang memiliki harapan terhadap Tuhannya; namun hanya Ia yang tahu entah mereka dimaafkan atau disiksa.[2]

Kedua: Siapakah yang dimaksud orang-orang Syiah yang dijanjikan masuk surga itu?

Di antara riwayat-riwayat Syiah, juga ada hadits-hadits dari nabi dan para imam maksum yang menjelaskan tentang bahwa umat Syiah akan masuk surga. Kata-kata “Syiah” dalam hadits tersebut membuat kita terdorong untuk mengkaji lebih matang siapakah yang dimaksud dengan “Syiah” dalam hadits-hadits itu? Baru setelah itu kita akan membahas masalah-maslaah lain yang berkaitan dengannya.

Makna Leksikal Syiah

Para ahli bahasa menyebutkan banyak makna untuk kata “Syiah”. Misalnya: kelompok, umat, para penyerta, para pengikut, para sahabat, para penolong, kelompok yang berkumpul pada satu perkara.[3]

Makna Istilah Syiah

Syiah dalam istilah adalah orang-orang yang meyakini bahwa hak kepenggantian nabi ada pada keluarga risalah, dan dalam menerima makrifat-makrifat Islami mereka mengikuti Ahlul Bait as, yakni para imam Syiah as.[4]

Kata Syiah sepanjang sejarah mengalami berbagai perubahan dalam maknanya. Misalnya terkadang diartikan sebagai kelompok politik, terkadang pecinta, atau juga pengikut aliran pemikiran yang berprilaku mengikuti para imam suci as.

Syiah Menurut Para Imam Maksum as

Dari beberapa riwayat yang dinukil dari kalangan Ahlul Bait as dapat difahami bahwa yang dimaksud dengan Syiah adalah orang-orang khusus yang tidak hanya mengaku sebagai pengikut saja. Namun para Imam suci menekankan adanya sifat-sifat khas yang dimiliki mereka, seperti mengikuti para Imam dalam amal dan perilaku. Oleh karena itu sering kali para Imam menegaskan kepada sebagian orang yang mengaku Syiah untuk berprilaku sebagaimana yang diakuinya. Untuk lebih jelasnya mari kita membaca beberapa riwayat yang akan kami sebutkan.

Ada banyak riwayat dari para Imam maksum as yang sampai ke tangan kita tentang siapa Syiah sejati yang sebenarnya. Tak hanya itu, bahkan ada celaan terhadap sebagian orang yang berkeyakinan bahwa diri mereka tidak akan masuk neraka karena Syiah, lalu mereka disebut sebagai Syiah palsu

Seseorang berkata: “Aku berkata kepada Imam Shadiq as: “Sebagian dari pengikutmu melakukan dosa-dosa dan berkata: “Kami memiliki harapan.” Lalu Imam as berkata: “Mereka berbohong. Mereka bukanlah kawan kami. Mereka adalah orang-orang yang membawa harapannya kesana kemari, yang mana ketika mereka mengharap sesuatu, mereka mengejarnya, lalu jika mereka takut akan sesuatu, mereka lari.”.”[5]

Imam Shadiq as pernah berkata: “Bukanlah Syiah (pengikut) kami orang yang mengaku dengan lisannya namun berperilaku bertentangan dengan kami. Syiah adalah orang yang hati dan lidahnya sejalan dengan kami, begitu pula perilaku dan amal perbuatannya mengikuti kami; merekalah Syiah kami.”[6]

Para Imam as sering kali menyebutkan kriteria-kriteria Syiah sejati. Misalnya anda dapat membaca dua riwayat di bawah ini:

Imam Baqir as berkata: “Wahai Jabir, apakah cukup bagi pengkut kami untuk hanya mengaku sebagai Syiah? Demi Tuhan, Syiah kami adalah orang-orang  yang bertakwa dan takut akan Tuhannya, menjalankan perintah-perintah-Nya. Mereka (Syiah) tidak dikenal kecuali sebagai orang yang rendah hati, khusyu’, banyak mengingat Tuhan, berpuasa, shalat, beramah-tamah dengan tetangga yang miskin, orang yang butuh, para pemilik hutang, anak-anak yatim, serta berkata jujur, sering membaca Al-Qur’an, menjaga lidahnya terhadap sesamanya, dan juga orang yang dipercaya oleh keluarganya.”[7]

Imam Ja’far Shadiq as berkata: “Syiah kami adalah orang yang bertakwa, setia, zuhud, ahli ibadah, dan orang yang di malam hari shalat sebanyak lima puluh satu rakaat, dan berpuasa di siang hari, menunaikan zakat hartanya, menjalankan ibadah haji, dan meninggalkan perbuatan-perbuatan haram.”[8]

Jika tidak dijelaskan apa maksud Syiah sejati yang sebenarnya, maka artinya perbuatan buruk diperbolehkan untuk dilakukan oleh sekelompok orang. Di sepanjang sejarah kita pun menyaksikan sebagian kelompok yang mengaku Syiah namun tidak menjalankan perintah-perintah agama, lalu berdalih dengan riwayat-riwayat tersebut seraya menekankan bahwa “agama adalah mengenal Imam”[9], dan mereka pun terus-terusan sembarangan melakukan dosa dan kemunkaran. Akhirnya fenomena tersebut sangat merugikan ke-Syiahan yang sebenarnya yang mana tak dapat terbayar dengan mudah.

Sebagaimana sebelumnya telah dijelaskan bahwa kadar pahala dan siksa seseorang bergantung pada sikapnya terhadap agama. Fakta ini tidak berbeda antara satu kalangan dengan kalangan lainnya. Kelompok, aliran atau apapun tidak akan mendekatkan diri seseorang kepada Tuhan dan tak dapat dijadikan alat untuk lari dari siksaan neraka. Allah swt berfirman: “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian adalah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat [49]:13)

Imam Ridha as berkata kepada saudaranya yang dikenal dengan sebutan Zaida al-Nar: “Wahai Zaid, apakah perkataan para pedagang pasar: “Fathimah telah menjaga dirinya dan Allah mengharamkan api neraka terhadapnya dan juga anak-anaknya.” telah membuatmu sombong? Demi Tuhan bahwa hal itu hanya berlaku untuk Hasan dan Husain serta anak yang lahir dari rahimnya. Apakah bisa Imam Musa bin Ja’far as mentaati Tuhan, berpuasa di siang hari, bertahajud di malam hari dan shalat malam, lalu engkau dengan seenaknya bermaksiat kemudian di akhiran tanti engkau berada di derajat yang sama dengannya? Atau lebih mulia darinya?!”[10]

Salah satu misi agama adalah mengantarkan manusia baik secara individu maupun bersama kepada kesempurnaan. Tujuan itu tidak akan mungkin tercapai tanpa ketaatan akan perintah-perintah Tuhan. Atas dasar itu, agama ini tidak mungkin memberikan jalan bagi suatu kelompok untuk berjalan di luar jalur yang telah ditunjukkan lalu menempatkan mereka di tempat yang sama atau lebih tinggi dari selainnya di akhirat nanti. Hal ini bertentangan dengan tujuan penciptaan yang sebenarnya. Jika yang dimaksud denga Syiah adalah apa yang telah dijelaskan oleh para Imam, maka tidak heran jika orang-orang dengan kriteria seperti itu bakal mendapatkan tempat di surga. Adapun orang-orang yang hanya sekedar mengaku sebagai Syiah, jelas mereka tidak akan mendapatkan apa yang dijanjikan kepada Syiah sejati.

Adapun tentang riwayat yang menjelaskan bahwa tingkat pertama neraka jahanam adalah khusus untuk umat Islam yang pendosa, perlu dikatakan bahwa tolak ukur surga dan neraka menurut Al-Qur’an adalah amal manusia. Hanya sebutan Muslim saja tidak cukup, karena antara Islam dan Iman sangat jauh perbedaannya. Tuhan semesta alam dalam hal ini berfirman kepada orang-orang yang mengaku beriman: “Jangan katakan kami telah beriman, katakan kami telah Muslim.” (QS. Al-Hujurat [49]:14). Ketika seseorang mengucapkan dua syahadat, maka orang itu telah menjadi Muslim; dan hal ini hanya berkaitan dengan kehidupan duniawi dan status sosial saja. Adapun surga dan balasan di dalamnya, adalah untuk orang-orang yang lebih dari sekedar menjadi Muslim saja; yakni sebagaimana yang telah dijelaskan, untuk memasuki surga, seseorang harus menjadi Muslim (menyerahkan diri) dan juga memiliki keimanan di hati, serta melakukan amal saleh dengan raga. Oleh karena itu tolak ukur kelayakan masuk surga atau neraka sangat jelas sekali dalam Al-Qur’an, dan hanya sekedar mengaku sebagai Syiah, atau Islam, tidak akan menghindarkan seorangpun dari siksa api neraka atau memasukkanya ke surga.

Kesimpulannya, amal perbuatan adalah tolak ukur utama, bukan pengakuan sebagai Muslim, Syiah, atau selainnya. Berdasarkan penjelasan Al-Qur’an dan riwayat-riwayat, orang Islam dan Syiah yang tidak menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya pasti tidak akan mendapatkan rahmat Tuhan dan layak untuk disiksa di neraka. Adapun apakah adzab di neraka itu kekal abadi ataukah tidak, lain lagi permasalahannya. Selain itu juga ada masalah Syafa’at yang masih perlu dibahas terkait dengan hal itu di kesempatan lainnya.

Untuk kami ingatkan, maksud kami bukan berarti ke-Syiah-an seseorang sama sekali tak ada gunanya. Namun tak dapat diingkari bahwa pemikiran (atau iman) dan amal perbuatan adalah dua sayap bagi manusia untuk terbang menuju kesempurnaan. Untuk mengkaji lebih jauh, seilahkan merujuk: Turkhan, Qasim, Negaresh i Erfani, Falsafai wa Kalami be Syakhsiyat va Qiyam e Emam Husain as, hal. 440-447. [islamquest]


[1] QS. Al-Baqarah [2]:81-82.

[2] QS. At-Taubah [9]:106.

[3] Ibnu Mandzur, Jamaluddin, Lisan Al-Arab, jil. 8, hal. 188, Dar Shadir, Birut, cetakan pertama, 1410 H.

[4] Thabathabai, Sayid Muhammad Husain, Syi’e dar Esalam, hal. 25-26, Ketabkhane e Bozorg e Eslami, Tehran, 1354 HS.

[5] Kulaini, Muhammad bin Ya’qub, Al-Kafi, jil. 2, hal. 68, Darul Kutub Islamiah, Tehran, cetakan keempat, 1365 HS.

[6] Majlisi, Muhammad Baqir, Biharl Al-Anwar, jil. 65, hal. 164, Muasasah Al-Wafa’, Beirut, Lebanon, cetakan keempat, 1404 H.

[7] Shaduq, Muhammad bin Ali, Al-Amali, terjemahan Kamrei, hal. 626, Islamiah, Tehran, cetakan keenam, 1376 HS.

[8] Majlisi, Muhammad Baqir, Bihar Al-Anwar, jil. 65, hal. 164, Muasasah Al-Wafa’, Beirut, Lebanon, cetakan keempat, 1404 H.

[9] Man La Yahdhuruhul Faqih, jil. 4, hal. 545, Muasasah Nasyr Islami, Qom, cetakan ketiga, 1413 H.

[10] Majlisi, Muhammad Baqir, Bihar Al-Anwar, jil. 43, hal. 230, Muasasah Al-Wafa’, Beirut, Lebanon, cetakan keempat, 1404 H.

0
inShare

Para Imam Ahlulbait as. adalah pewaris kepemimpinan kenabian mereka adalah hujjah-hujjah Allah di atas bumi…. Mereka adalah adillâ’u Ilal Khair/penunjuk jalan menuju kebaikan dunia dan akhirat mengkuti bimbingan para Imam Ahlulbait as. akan menjamin kebahagian umat manusia dalam berbagai kesempatan, para Imam as. mencurahkan perhatian mereka terhadap umat Rasulullah saw. secara umum dan kepada para pecinta dan pengkut secara khusus

Adalah sebuah realita yang tak terbantahkan bahwa ternyata di tengah-tengah umat Islam, ada sekelompok yang berkiblat, meyakini imamah para imam Ahlulbait as. dan menjadikan mereka sebagai rujukan dalam segala urusan agama , mereka itu adalah Syi’ah Ahlulbait/para pengikut Ahlulbait as. eksistenti mereka selalu digandengakan dengan nama Ahlulbait as.

Untuk mereka, para imam suci Ahlulbait as. memberikan perhatian khusus mereka dalam membimbing mereka untuk merealisasikan Islam dengan segenap ajarannya yang paripurna dan kâffah, baik dalam ibadah maupun akhlak dan etika pergaulan.

Dalam artikel ini saya mencoba menyajikan untuk Anda irsyâd dan didikan para imam suci Ahlulbait as. untuk Syi’ah mereka, agar dapat diketahui batapa agung dan mulianya bimbingan mereka as.

Jadilah Kalian Sebagai Penghias Kami

Dalam sabda-sabda mereka, para Imam suci Ahlulbait as. meminta dengan sangat dari Syi’ah agar menjadi penghias bagi para imam dan tidak mencoreng nama harus mereka. Apabila mereka menyandang akhlak islami, beradab dengan didikan para imam pasti manusia akan memunji para imam Ahlulbait sebagai pembimbing yang telah mampu mencetak para pengikut yang berkualitas, mareka pasti akan mengatakan alangkah mulianya didikan para imam Ahlulbait itu terhadap Syi’ah mereka! Begitu juga sebailnya, apabila manusia menyaksikan keburukan sifat dan sikap serta perlakuan, maka mereka akan menyalahkan Ahlulbait as. dan mungkin akan menuduh para imam telah gagal dalam membina para Syi’ah mereka.

Sulaiman ibn Mahrân berkata, “Aku masuik menjumpai Imam Ja’far ibn Muhammad ash Shadiq as., ketika itu di sisi beliau ada beberapa orang Syi’ah, beliau as. bersabda:

معاشِرَ الشيعَةِ! كونُوا لنا زينًا وَ لاَ تكونوا علينا شَيْنًا، و احفَظُوا أَلْسِنَتَكُمْ و كُفُّها عن الفُضُولِ و قُبْحِ القولِ.

“Wahai sekalian Syi’ah! Jadilah kalian penghias bagi kami dan jangan jadi pencoreng kami. Katakan yang baik-baik keada manusia, jagalah lisan-lisan kalian, tahanlah dia dari kelebihan berbicara dan omongan yang jelak.” [1]

Dalam sabda beliau di atas, Imam Ja’far menekankan pentingnya menjadi penghias bagi Ahlulbait as., hal demikian tidak berarti bahwa Ahlulbait as. akan menyandang kemulian disebabkan kebaikan Syi’ah mereka, akan tetapi lebih terkait dengan penilaian manusia tentang mereka yang biasa menilai seorang pemimpin melalui penilaian terhadap para pengikutnya. Imam Ja’far as. menekankan pentinghnya bertutur kata yang baik dan manjaga lisan dari berbicara jelak.

Dalam hadis lain, Imam Ja’far as. bersabda:

يا معشرَ الشيعَةِ! إِنَّكُمْ نُسِبْتُمْ إلينَا، كونوا لنا زينًا وَ لاَ تكونوا علينا شَيْنًا

“Hai sekalian Syi’ah! Sesungguhnya kalian telah dinisbatkan kepada kami, jadilah penghias bagi kami dan jangan menjadi pencorang!” [2]

Dalam sabda lain beliau berkata:

رَحِمَ اللهُ عَبْدًا حَبَبَنَا إلى الناسِ لا يُبَغِّضُنا إليهِمْ. وايمُ اللهِ لَوْ يرْوونَ مَحاسِنَ كلامِنا لَكانوا أَعَزَّ، و ما استَطاعَ أَحدٌ أَنْ يَتَعَلَّقَ عليهِمْ بشيْئٍ.

“Semoga Allah merahmati seorang yang mencintakan kami kepada manusia dan tidak membencikan kami kepada mereka. Demi Allah andai mereka menyampaikn keindahan ucapan-ucapan kami pastilah mereka lebih berjaya dan tiada seorangpun yang dapt bergantung atas (menyalahkan) mereka dengan sesuatu apapun.”[3]

Dalam salah satu pesannya melalui sahabat beliau bernama Abdul A’lâ, Imam Ja’far bersabda:

يَا عبدَ الأعلى … فَأَقْرَأْهُمْ السلام و رحمة الله و قل: قال لكم: رَحِمَ اللهُ عبْدًا اسْتَجَرَّ مَوَدَّةَ الناسِ إلى نفسِهِ و إلينا بِأَنْ يُظْهِرَ ما يَعْرِفُونَ و يَكُفَّ عنهُم ما يُنْكِرُونَ.

“Hai Abdul A’lâ… sampaikan salam kepada mereka (syi’ahku) dan katakana kepada mereka bahwa Ja’far berkata keada kalian, “Semoga Allah merahmati seorang hamba yang menarik kecintaan manusia kepada dirnya dan keada kami dengan menampakkan apa-apa yang mereka kenal dan menahan dari menyampaikan apa-apa yang tidak mereka kenal.”[4]

Wara’ dan Ketaqwaan

Tidak kita temukan wasiat yang paling ditekankan para imam suci Ahlulbait as. untuk Syi’ah mereka seperti ketaqwaan dan wara’. Syi’ah adalah mereka yang mengikuti dan bermusyâya’ah kepada Ahlulbait as.. Dan mereka yang paling berpegang teguh dengan ketaqwaan dan wara’lah yang paling dekat dan paling istimewa kedudukannya di sisi Ahlulbait as., sebab inti kesyi’ahan adalah mengikuti, beruswah dan meneladani. Maka barang siapa hendak mengikuti dan meneladani Ahlulibat as. tidak ada jalan untuk itu selain ketaatan kepada Allah SWT. bersikap wara’ dan bertaqwa.

Abu Shabâh al Kinani berkata, “Aku berkata kepada Abu Abdillah (Imam Ja’far) as. ‘Di kota Kufah kami diperolok-olokkan karena (mengikuti tuan), kami diolok-olok ‘Ja’fariyah’. Maka Imam murka dan bersabda:

إنَّ أصحابَ جعفر مِنكُم لَقليلٌ، إنما أصحابُ جَعْفَر مَنْ اشْتَدَّ وَرَعُهُ و عَمِلَ لِخالِقِهِ.

“Sesungguhnya pengikut Ja’far di antara kalian itu sedikit. Sesungguhnya pengikut ja’fa itu adalah oran yang besar kehait-hatiannya dan berbuat untuk akhiratnya.’”[5]

Syi’ah adalah mereka yang telah menjadikan manusia-manusia suci pilihan Allah SWT sebagai panutan mereka. Para imam itu adalah hamba-hamba Allah yang telah mencapai derajat yang sangat tinggi di sisi Allah disebabkan ketaqwaan mereka, maka dari mereka yang mengikuti para imam Ahlulbait as. itu adalah yang paling berhak menghias diri mereka dengan ketaqwaan dan wara’.

Bassâm berkata, “Aku mendengar Abu Abdillah as. bersabda:

إنَّ أَحَقَّ الناسِ بالورعِ آلُ محمدٍ و شِيْعَتُهُم

“Yang paling berhak bersikap wara’ adalah keluarga Muhammad dan Syi’ah mereka.”[6]

Dan berkat didikan para imamsuci Ahlulbait as., maka sudah seharusnyaSyi’ah Ahlulbait adalah seperti yang disabdakan Imam Ja’far as.:

شيعتُنا أهلُ الورعِ و الإجتهادِ، و أهلُ الوقارِ و الأمانَةِ، أهلُ الزهدِ و العبادَةِ. أصحابُ إحدَى و خمسونَ رَكْعَةً في اليومِ و الليلَةِ، القائمونَ بالليلِ، الصائمونَ بالنهار، يَحِجُّونَ البيتَ… و يَجْتَنِبونَ كُلَّ مُحَرَّمٍ.

“Syi’ah kami adalah ahli/penyandang wara’ dan bersungguh-sungguh dalam ibadah, pemilik ketenangan/keanggunan dan amanat, penyandang zuhud dan getol beribadah. Pelaksana shalat lima puluh satu rakaat dalam sehari sealam. Berdiri (mengisi malam dengan shalat) puasa di siang hari dan berangkat haji ke tanah suci… dan mereka menjauhkan dri dari setiap yang haram.”[7]

Imam Ja’far as. bersabda:

و اللهِ ما شيعَةُ علي (عليه السلام) إلاَّ مَنْ عَفَّ بطنُهُ و فرْجُهُ، و عمل لِخالقِهِ، و رجَا ثوابَهُ، و خافَ عقابَهُ.

“Demi Allah, tiada Syi’ah Ali as. kecuali orang yang menjaga perutnya dan kemaluannya, berbuat demi Tuhannya, mengharap pahala-Nya dan takut dari siksa-Nya.”[8]

Dalam sabda lain Imam Ja’far as. bersabda mengarahkan Syi’ah beliau:

يا شِيْعَةَ آلِ محمَّدٍ، إنَهُ ليسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَملكْ نفسَهُ عندَ الغضَبِ، و لَمْ يُحسِنْ صُحْبَةَ مَن صحِبَهُ، و مرافَقَةَ مَن رافقَهُ، و مصالَحَةَ مَن صالَحَهُ.

“Wahai Syi’ah Âli (keluarga) Muhammad, sesungguhnya bukan dari kami orang yang tidak menguasai nafsunya disaat merah, tidak berbaik persahabatan dengan orang yang ia temani, dan tidak berbaik kebersamaan dengan orang yang bermasa dengannya serta tidak berbaik shulh dengan oranf yang berdamai dengannya.” [9]

Para Imam Ahlubait as. tidak puas dari Syi’ah mereka apabila di sebuah kota masih ada orang selain mereka yang lebih berkualitas. Syi’ah Ahlulbait as. harus menjadi anggota masyarakat paling unggul dalam berbagai kebaikan. Imam Ja’far as. bersabda:

ليسَ مِنْ شيعَتِنا مَنْ يكونُ فِيْ مِصْرَ، يكونُ فيْهِ آلآف و يكون في المصرِ أورَعُ منهُ.

“Tidak termasuk dari Syi’ah kami seorang yang betinggal di sebuah kota yang terdiri dari beribu-ribu masyarakat, sementara di kota itu ada seorang yang lebih wara’ darinya.” [10]

Dengan berwilayah, mengakui imamah Ahlulbait as. dan mengikuti ajaran mereka, Syi’ah benar-benar berada di atas jalan yang mustaqîm dan di atas agama Allah SWT. Jadi dari sisi keyakinan dan I’tiqâd mereka sudah berasa di atas kebenaran, sehingga yang petning sekarang bagi mereka adalah memperbaikit kualitas amal dan akhak mereka. Kulaib ibn Mu’awiyah al Asadi berkata, “Aku mendengar Abu Abdillah (Imam Ja’far) as. bersabda:

و اللهِ إنَّكُمْ لَعلَى دينِ اللهِ و دينِ ملآئكَتِهِ فَأَعِيْنُونِيْ بورَعٍ و اجتهادٍ. عليكُمْ بصلاةِ الليلِ و اعبادَةِ، عليكم بالورعِ.

“Demi Allah kalian benar-benar berada di atas agama Allah dan agama para malaikat-Nya, maka bantulah aku dengan wara’ dan kesungguh-sungguhan dalam ibadah. Hendaknya kalian konsisten shalat malam, beribadah. Hendaknya kalian konsisten berpegang dengan wara’.” [11]

Memelihara hati agar selalu ingat kepada Allah SWT.; perintah dan larangan-Nya juga menjadi sorotan perhatian parta imam suci Ahlulbait as.

Penulis kitab Bashâir ad Darâjât meriwayatkan dari Murâzim bahwa Imam Zainal Abidin as. bersabda kepadanya:

يا مرازِم! ليسَ مِن شيعَتِنا مَنْ خَلاَ ثُمَّ لَمْ يَرْعَ قَلْبَهُِ

“Hai Murâzim, bukan dari Syi’ah kami seorang yang menyendiri kemudian ia tidak menjaga hatinya.”[12]

Diriwayatkan ada seseorang berkata kepada Imam Hsain as., “Wahai putra Rasulullah, aku dari Syi’ah kamu.” Maka Imam bersabda:

إنَّ شِيْعَتَنا مَنْ سَلِمَتْ قلوبُهُم من كُلِّ غِشٍّ و غِلِّ و دَغْلٍ.ُ

“Syi’ah kami, adalah orang-oarng yang hati-hati mereka selamat/bersih dari segala bentuk pengkhianatan, kedengkian dan makar.”[13]

Imam Ja’far as. juga bersabda:

ليسَ مِنْ شيعَتِنا مَن قال بلسانِهِ و خالفَنا في أعمالِنا و آثارِنا، لَكِنْ شيعتُنا مَنْ وافقَنا بلسانِهِ و قلبِهِ و تَب~عَ أثارَنا وَ عمِلَ بِأَعمالِنا. أولئكَ شيعتُنا.

“Bukan termasuk Syi’ah kami orang yang berkata dengan lisannya namun ia menyalahgi kami dalam amal-amal dan tindakan kami. Tetapi Syi’ah kami adalah orang yang menyesuai kami dengan lisan dan hatinya dan mengikuti tindakan-tindakan kami serta beamal dengan amal kami. Mereka itulah Syi’ah kami.”

Hadis di atas adalah pendefenisian yang sempurna siapa sejatinya Syi’ah Ahlulbiat itu, dan sekaligus membubarkan angan-angan dan klaim-klaim sebagian yang mengaku-ngaku sebagai Syiah sementara dari sisi ajaran tidak mengambil dari Ahlulbait as. dan dalam beramal tidak menteladani Ahlulbait as. Semoga kita digolongkan dari Syi’ah Ahlulbait yang sejati. Amin.

Semangat Beribadah

Ciri lain yang seharusnya terpenuhi dapa Syi’ah Ahlulbait as. adalah bergeloranya semangat beribadah kepada Allah SWT. mengisi hari-hari mereka dengan mendekatkan diri kepada Allah, drengan bersujud, menangisi kesahalan dan dosa-dosa yang dikerjakannya dan kekurangan serta keteledorannya, membaca Alqu’an al Karim.

Dalam sebuah sabdanya, Imam al baqir as. bersabda kepada Abu al Miqdâm:

… إِذا جَنَّهُمُ الليلُ اتَّخَذُوا الأرْضَ فِراشًا، و استقلُُّوا الأرضَ بِجِباهِهِمْ ، كثيرٌ سجودُهُم ، كثيرَةٌ دموعُهُمْ، كثيرٌدعاؤُهُم ، كثيرٌ بكاؤُهُمْ ، يَفْرَحُ الناسُ و هُمْ يَحْزَنونَ.

“…jika malam menyelimuti mereka, mereka menjadikan tanah sebagai hamparannya, dan meletakkan dahi-dahi mereka ke bumi. Banyak sujudnya, deras air matanya, banyak doanya dan banyak tangisnya. Orang-orang bergembira sementara mereka bersedih.”[14]

Imam Ja’far as. bersabda:

شيعتُنا أهلُ الورعِ و الإجتهادِ ، و اهلُ الوفاء و الأمانةِ، و أهل الزهدِ و العبادةِ، أصحابُ إحدِىَ و خمسينَ ركعَةً في اليومِ و الليلَةِ، و القَائِمُونَ باللَّيلِ، الصائِمونَ بالنهارِ ،يُزَكُّوْنَ أَموالَهُمْ ، و يَحِجُّوْنَ البيتَ و يَجْتَنِبُوْنَ كُلَّ مُحَرَّمٍ.

“Syi’ah kami adalah ahli (penyandang) wara’, dan kesungguh-sungguhaa dalam ibadah, ahli menepati janji dan amanat, ahli zuhud dan ibadah, ahli (pelaknasa) salat lima puluh sau raka’at dalam sehari, bangun di malam hari, puasa di siang hari, menzakati hartanya, melaksanakan haji, dan menjauhkan diri dari setiap yang diharamkan.”[15]

Rahib Di Malam Hari Dan Singa Di Siang Hari

Nauf, -seorang sahabat Imam Ali as.- mensifati kenangan indahnya bersama Imam Ali as. ketika menghidupkan malamnya di atas atap rumah dengan shalat… Imam Ali as. menatap bintang- gemintang di langit seakan sedih, kemudian beliau bertanya kepada Nauf, “Hai Nauf, apakah engkap tidur atau bangun?” Aku terjaga. Jawab Nauf. Lalu beliau bersabda:

أَ تَدْرِيْ مَنْ شيعتِيْ؟ شيعتِيْ الذُبْلُ الشِفاهِ، الخُمْصٌ البُطُونِ، الذي تُعْرَفُ الرَّهْبانِيَّةُ و الربانية في وُجُوهِهِمْ، رهبانٌ بالليلِ ، أسَدٌ بالنهارِ، إذا جّنَّهُم الليلُ اتَّزَرُوا على أوساطِهِمْ و ارْتَدَوْا على أطرافِهِمْ، و صَفُّوا أقدامَهُمْ و افترشُوا جناهَهُمْ، تَجْرِي الدموعُ على خدودِهِم، يَجْأَرونَ إلى اللهِ فكتكِ رقَبَتِهِمْ مِنَ ، أمَّا الليلُ فَحُلماءُ علماؤ أبرارٌ أتقِياءُ.

“Hai Nauf, tahukan engkau siapa Syi’ahku? Syi’ahku adalah yang layu bibir-bibr mereka, cekung perut-perut mereka, penghambaan dan rabbaniyah dikenal dari wajah-wajah mereka. Mereka adalah para rahib di malam hari, dan singa di siang hari. Jika malam telah menyelimuti mereka, mereka mengencangkan kain ikatan (baju) mereka, mereka berkain di atas pundak mereka, mereka merapatkan kaki-kaki mereka, mereka meletakkan dahi-dahi mereka. Air mata mereka mengalir di atas pipi-pipi mereka, mereka meraung-raung memohon kepada Allah agar dibebaskan dari siksa neraka. Adapun di siang hari mereka adalah orang-orang yang dingin hatinya, pandai, baik-baik dan bertaqwa.”[16]

Sungguh indah gambaran yang dilukiskan Imam Ali as. bagi Syi’ah beliau as. para rahib di malam hari, dan singa di siang hari. Ia adalah ungkapan yang sangat tepat yang menggambarkan kondisi serasi dalam mengombinasikan aktifitas kehidupan mereka. Mereka menguasa mala-malam taktaka kegelapan telah menyelimuti angkasa. Kamu saksikan mereka meletakkan dahi-dahi kerendahan di hadapan Sang Khaliq dalam keadaan khusyu’ dan penuh penghambaan. Mereka meraung-raung menangis mengharap ampunan Allah dan kebebasan dari belenggu ap neraka.

Dan ketika siang datang menyinari bumi, berubalah mereka menjadi para pendekar di ddalam arena perjuangan kehidupan… mereka adalah ulama yang meresap ilmu dan ma’rifahnya tentang Allah SWT…. mereka adalah berhati dingin, pemaaf, bertaqwa dan penyabar serta berjuang tak kenal lelah.

Dzikir dim ala hari, ketaqwaan dan perjuangan dim ala hari… kebuah komposisi seimbang bagi kepribadian seorang Muslim Mukmin yang ideal. Itulah Syi’ah Ali as.!

[1] Amâli ath Thûsi,2/55 dan Bihar al Anwâr,68/151.

[2] Misykât al Anwâr:67.

[3] Ibid.180.

[4] Bihal al Anwâr,2/77.

[5] Al Bihar,68/166.

[6] Bisyâratul Mushthafa:17.

[7] Al Bihâr,68/167.

[8] Ibid.168.

[9] Ibid.266.

[10] Ibid.164.

[11] Bisyâratul Mushthafa:55 dan 174, dan Al Bihâr,68/87.

[12] Bashâir ad Darajât:247 darinya al Bihâr,68/153.

[13] Al Bihâr,68/164.

[14] Al Khishâl,2/58 darinya al Bihâr,68/1490-150.

[15] Shifâtusy Syi’ah:2 dari al Bihâr,68/167 hadis 33.

[16] Al Bihâr,68/191

Keadilan di balik hukuman abadi di neraka

Di dalam surat Hud [11], ayat 106 kita membaca, “Adapun orang-orangyang celaka, maka [tempatnya] di dalam neraka. Di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik nafas [dengan merintih]. Mereka kekal di dalamnya…. “

Dengan menyimak ayat suci di atas, pertanyaan yang muncul adalah bagaimana kita dapat menerima manusia yang selama hidupnya -maksimal usianya seratus tahun, misalnya-melakukan pekerjaan buruk, dan lenyap dalam kekufuran dan dosa namun usia seratus tahun ini harus dibayar dengan siksa, seribu tahun?

Mereka yang mengajukan pertanyaan ini lalai akan satu poin penting, yaitu perbedaan antara hukuman konvensional dan hukuman penciptaan yang merupakan hasil dari rangkaian realitas perbuatan dan kehidupan.

Penjelasan

Terkadang pembuat hukum merumuskan sebuah hukum sehingga setiap orang yang melanggarnya harus membayar tebusan uang dalam jumlah tertentu, atau harus berdiam di dalam penjara selama beberapa waktu. Tentu, dalam asumsi seperti itu kesesuaian antara pelanggaran dan hukuman harus diperhatikan. Hanya lantaran pelanggaran kecil, ia tidak akan dieksekusi atau mendapatkan hukuman abadi. Dan sebaliknya, karena perbuatan seperti membunuh, lalu ia dikenakan hukuman sehari penjara saja, hukuman seperti ini tidaklah memiliki arti baginya. Hikmah dan keadilan menjawab bahwa kedua hukuman ini harus setimpal.

Akan tetapi, hukuman yang pada hakikatnya adalah efek natural sebuah perbuatan dan termasuk tipologi penciptaan, atau hasil langsung perbuatan tersebut di hadapan manusia, ia tidak menerima asumsi tersebut di atas baik dalam kaitannya dengan efek-efek perbuatan di alam dunia ini ataupun di alam yang lain.

Contoh, seseorang melanggar aturan lalu-lintas; melaju melebihi batas kecepatan yang telah ditentukan, berlomba tanpa sebab, dan melintas zona terlarang. Barangkali karena beberapa kali melanggar aturan ia mengalami tabrakan dan patah tangan serta kakinya, atau akan menderita kelumpuhan seusia hidupnya. Resiko buruk akibat sebuah kesalahan kecil ini jelas tidak mencerminnkan keadilan (jika ditinjau dari sisi hukuman konvensional). Tapi hal ini tidak berasal dari hukuman-hukuman konvensional lalu-lintas jalan raya yang di dalamnya keseimbangan antara pelanggaran dan hukuman harus mendapatkan perhatian. Kondisi ini merupakan dampak alami dari perbuatan yang secara sadar dilakukan oleh manusia. Dan ia sendirilah yang membuat dirinya terpuruk ke dalam kondisi tersebut.

Demikian juga ketika dianjurkan kepada Anda agar jangan mengkonsumsi minuman-minuman beralkohol atau bahan-bahan psikotropika lainnya. Lantaran dalam waktu yang singkat, semua jenis minuman itu akan mengoyak hati, perut, otak dan syaraf Anda. Kini sekiranya Anda mengkonsumsinya, niscaya Anda akan menderita syaraf lemah, penyakit-penyakit hati, perut luka dan kerusakan pembuluh darah. Hanya beberapa hari menuruti hawa nafsu, Anda terpaksa menjalani sisa hidup Anda di dalam siksa yang pedih. Di sini tak seorang pun akan keberatan dengan ketidak seimbangan pelanggaran dan hukuman tersebut.

Tentang banyaknya azab dan hukuman kehidupan ukhrawi adalah masalah yang melebihi masalah duniawi. Dampak-dampak riel sebuah perbuatan dan hasil-hasil pembawa mautnya barangkali senantiasa bersandar kepada manusia. Perbuatan-perbuatan itu sendirilah nanti yang akan menjelma di hadapan manusia (tajassum al-a’mal). Dan lantaran kehidupan alam sana adalah kehidupan abadi, perbuatan baik dan buruk juga abadi .

Sebelumnya telah kami singgung bahwa hukuman dan siksa pada Hari Kiamat memiliki dampak riel yang lebih kuat. Al-Qur’an berfirman, “Dan nyatalah bagi mereka keburukan-keburukan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka diliputi oleh [azab] yang mereka selalu memperolok-olokkannya.” (QS. al-Jatsiyah [45]: 33)

Al-Qur’an juga berfirman, “…dan kamu tidak dibalas kecualii dengan apa yang telah Kamu kerjakan.” (QS. Yasin [36]: 54)

Muatan ayat ini, kendati terdapat sedikit perbedaan, juga terkandung dalam ayat-ayat yang lain.

Dengan demikian, ruang untuk pertanyaan ini tidak tersisa lagi, bahwa mengapa kesetimbangan antara hukuman dan pelanggaran tidak diperhatikan?

Manusia harus terbang dengan dua sayap iman dan amal saleh demi mendapatkan kenikmatan surgawi dan kebahagiaan berada di hadirat Tuhan Yang Mahakuasa. Kini, dengan menuruti hawa nafsu barang sedetik atau seratus tahun lamanya, ia telah mematahkan kedua sayapnya sendiri dan untuk selamanya ia harus menderita dalam kehinaan. Di sini, aspek ruang dan waktu, serta ukuran pelanggaran tidak menjadi pokok persoalan. Yang menjadi tolok ukur adalah sebab dan akibat serta dampak lama dan singkatnya. Sebuah korek kecil boleh jadi dapat membakar seisi kota. Dan dengan menanam satu gram duri, barangkali setelah beberapa waktu, sahara yang luas penuh dengan duri dan dapat menggangu manusia selamanya. Demikian juga dengan menanam satu gram bunga, barangkali dengan berlalunya sang waktu, akan tercipta sahara yang dihiasi bunga-bunga yang begitu indah mewangi sehingga semerbak baunya menggairahkan jiwa dan memuaskan hati.

Kini sekiranya seseorang bertanya apa keseimbangan antara sebatang korek dengan terbakarnya sebuah kota, dan antara beberapa tanaman kecil dengan sebuah sahara duri. Maka, perbuatan-perbuatan baik dan buruk juga demikian adanya. Dan barangkali dampak keabadian yang teramat panjang menjadi kenangan dan memori baginya. (perhatikan baik-baik)

Masalah yang penting di sini adalah, para nabi besar dan washi Ilahi telah memberikan peringatan kepada kita bahwa dampak maksiat dan dosa ini adalah azab yang abadi, dan dampak ketaatan dan kebajikan adalah kenikmatan abadi. Persis seperti para penjaga taman yang telah menjelaskan kepada kita dampak keluasan tanaman berduri dan bunga tersebut. Dan kita sendiri dengan sadar yang memilih jalan ini.

Di sini kepada siapa kita harus ajukan keberatan dan kesalahan slapa yang harus kita cari, serta hukum mana yang kita harus protes, selain pada diri kita sendiri?[1]


[1] Tafsir-e Payam-e Qur’an, jilid 6, hal. 501.

Seperti apakah Syiah memandang pelaku dosa besar

Pertanyaan: Seperti apakah Syiah memandang pelaku dosa besar?

Jawaban Global:

Berkenaan dengan masalah dosa besar, banyak sekali pemikiran dan pendapat ekstrim di antara sekte-sekte Islam, yang mana kebanyakan darinya terlahir dari faktor-faktor politik.

Murji’ah dan Khawarij adalah dua contoh yang menonjol dalam hal ini.

Murji’ah dalam usahanya untuk selalu menjaga citra pemimpin-pemimpin zalim mereka, menganggap iman yang nampak dan pengakuan sebagai Muslim dan segala yang bersifat dhahiri sebagai parameter utama yang tidak terpengaruh oleh segala dosa besar dan maksiat, meskipun sampai pada batas menumpahkan darah Ahlul Bait as juga. Di sisi lain, Khawarij dalam usahanya untuk membenarkan kekerasan yang mereka lakukan terhadap sekte-sekte Islam yang lain, terus menerus menyebarkan faham setiap pelaku dosa besar dihukumi murtad atau telah keluar dari Islam. Mu’tazilah memiliki pandangan yang moderat, namun tetap kurang jelas.

Adapun yang dapat difahami dari ajaran Syiah, yang menjadi asas adalah iman, namun jelas sekali iman yang nyata menuntut amal dan orang beriman tidak mungkin terus menerus melakukan dosa besar atau bahkan dosa kecil. Orang yang beriman jika terkadang tergelincir dan berdosa, dengan beberapa cara ia dapat bertaubat dan mengharapkan rahmat Allah untuk diampuni dan Ia pun akan mengampuninya. Kalau tidak, maka dapat disimpulkan bahwa ia tidak memiliki iman yang sebenarnya dan hanya mengaku sebagai orang baik dan beriman. Orang yang tidak memiliki iman dan amal saleh yang sebenarnya, jelas tidak akan melewati ujian Ilahi dan di akherat pintu nerakalah yang terbuka untuknya.

Jawaban Detil:

Pertama-tama perlu dijelaskan bahwa pembagian dosa-dosa besar dan kecil berasal dari ayat-ayat Al-Qur’an, seperti ayat 31 surah An-Nisa’, ayat 37 surah Asy-Syura dan ayat 32 surah An-Najm.

Karena Al-Qur’an tidak menjelaskan masalah-masalah seperti: Apa sajakah dosa-dosa besar itu? Bagaimana derajat orang yang melakukan dosa besar? Maka oleh karenanya banyak terjadi perdebatan sengit antara ulama dan pembesar sekte-sekte Islam.

Tentang masalah pertama, yakni tentang dosa apa sajakah yang disebut sebagai dosa besar, banyak sekali riwayat dalam kitab-kitab riwayat Syiah yang menjelaskannya.[1] Begitu juga sekte-sekte Islam lainnya, mereka telah mengkategorikan dosa-dosa tersebut dalam kitab-kitab teologi dan tafsir mereka.

Adapun tentang masalah yang kedua, sebelumnya kita harus menjelaskan hal-hal berikut ini:

1. Mengenai kedudukan pelaku dosa besar menurut sekte-sekte Islam, lebih sering disimpulkan tidak berdasarkan ajaran-ajaran Islami, namun terpengaruh dengan faktor-faktor politik. Silahkan anda perhatikan fakta-fakta berikut ini:

1.1. Murji’ah: Berpemikiran bahwa antara iman dan amal, iman-lah yang lebih asasi; yakni jika seseorang mengucapkan dua syahadat dan menjadi Muslim, maka dosa apapun yang ia perbuat tidak masalah dan takkan menghalanginya masuk surga di akhirat nanti. Pemikiran seperti ini mendapatkan dukungan keras oleh pemerintahan Umawi, karena mereka menganggap orang-orang pemerintahan meskipun pernah embunuh Ahlul Bait dan orang-orang tak berdosa, meminum minuman keras, dan lain sebagainya, sebagai orang yang bakal mendapatkan keselamatan dan masuk surga; karena mereka semua menunjukkan keimanan secara lahiriah dan melakukan berbagai syi’ar-syi’ar agama seperti shalat, puasa, haji dan lain sebagainya.

Para pemihak pemikiran ini pun berusaha membelanya dengan membawakan ayat-ayat dan riwayat. Misalnya:

Allah swt berfirman: “…(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka. dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Baqarah [2]:3-5)

Orang-orang Murji’ah berdalih bahwa di ayat itu tidak disebutkan bahwa syarat untuk masuk surga adalah “tidak berbuat dosa”. Mereka lupa bahwa kriteria-kriteria di atas adalah milik orang-orang yang bertakwa yang disebut dalam ayat kedua surah itu, dan ketakwaan tidak sejalan dengan dosa-dosa besar.[2] Pola pemikiran seperti inilah yang dimanfaatkan oleh penguasa-penguasa zalim yang hanya merasa cukup mengaku beragama Islam namun mereka melakukan segala kejahatan.

Imam Shadiq as dalam hal ini berkata: “Murji’ah berkeyakinan bahwa orang-orang Bani Umayah yang telah membunuh kami, Ahlul Bait, adalah orang yang beriman!”[3]

1.2. Berbeda dengan Murji’ah yang begitu mengunggulkan sisi lahiriah seseorang dalam keimanan secara berlebihan, ada sekte ekstrim lain yang berada di sebrang pemikirannya, yang menyebut setiap pelaku dosa besar sebagai orang kafir yang telah keluar dari Islam, harta benda dan darah mereka pun halal. Pemikiran ini pun muncul karena beberapa faktor politik di masa pemerintahan Imam Ali as seusai perang Shiffin. Sekelompok yang disebut Khawarij atau Mariqin muncul dengan mengandalkan beberapa ayat Al-Qur’an[4] menyebut hakamiah atau arbitrase sebagai dosa besar, dan berdasarkan hal itu mereka menyebut Imam Ali as sebagai orang kafir dan memeranginya.[5] Mereka berkeyakinan bahwa orang yang melakukan dosa besar adalah kafir dan akan dikekalkan di neraka![6] Alhasil mereka tidak menganggap iman sebagai masalah penting, bagi mereka yang sangat mendasar dan penting sekali adalah amal perbuatan lahiriah. Mereka menganggap iman sebagai bangunan yang mudah roboh yang dengan hancurnya satu batu bata maka seluruh susunan batu bata bangunan tersebut akan hancur. Sayang sekali banyak yang termakan tipuan mereka dan bergabung dengan sekte tersebut. Bertentangan dengan Murji’ah yang berusaha untuk membenarkan semua keburukan pemerintah-pemerintah, mereka berusaha menyemarakkan amal ibadah dan syi’ar-syi’ar agama secara lahiriah.

Oleh karena itu Imam Ali as menyebut pemikiran Bani Umayah lebih buruk dari pemikiran Khawarij.[7]

1.3. Selain itu ada pemikiran lainnya, yaitu pemikiran sekte Mu’tazilah, yang menyebut orang-orang Muslim yang berbuat dosa sebagai orang yang berada di “kedudukan antara dua kedudukan.”[8] Menurut mereka, umat Islam yang melakukan dosa besar bukan orang mukmin dan bukan orang kafir, namun berada di antara keduanya. Meskipun pemikiran mereka mirip dengan pemikiran Syiah, namun tidak dijelaskan secara rinci apa maksud kedudukan di antara dua kedudukan tersebut.

2. Permasalahan lain yang harus dijelaskan sebelum memaparkan pendapat Syiah tentang masalah dosa besar ini, adalah pengkategorian para pelaku dosa-dosa tersebut:

2.1. Orang-orang yang beriman: Iman dalam pemikiran Syiah terbagi menjadi dua bagian: umum dan khusus. Iman yang umum, adalah Islam, tanpa peduli dengan sekte apapun yang bersandang padanya. Sedangkan iman yang khusus adalah iman terhadap akidah-akidah dan keyakinan Islam, ditambah dengan keyakinan terhadap wilayah atau keimaman para Imam Ahlul Bait Rasulullah saw. Banyak sekali riwayat tentang pembagian tersebut. Misalnya, Imam Ja’far Shadiq as berkata: “Islam adalah mengucapkan dua syahadat, mendirikan shalat, membayar zakat, menjalankan ibadah haji, dan puasa bulan ramadhan. Adapun iman, selain apa yang disebutkan di atas, juga harus menerima wilayah atau keimaman.”[9]

2.2. Orang-orang yang tidak beriman: Mereka adalah orang-orang kafir yang tidak memiliki iman dalam artian umum, dan juga orang Muslim yang tidak memiliki iman dalam artian khusus. Jelas sekali kita tidak bisa menyamaratakan orang-orang seperti ini dalam satu garis; misalnya mereka dapat dibagi menjadi dua kelompok:

A. Mustadh’af: Orang-orang yang tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang agama yang benar. Oleh karena itu mereka tidak mengikuti agama yang benar tersebut. Orang-orang seperti itu, jika mereka berperilaku sesuai naluri manusiawi secara alami, tidak berbuat sewena-wena kepada selainnya, karena mereka tidak mendapatkan peluang untuk mengenal agama yang benar, meski terkadang mereka berbuat dosa besar, merka mungkin dapat dimaafkan.

B. Penentang: Orang-orang yang menentang dan memusuhi, adalah orang-orang yang tahu atas dasar bukti-bukti nyata bahwa agama yang ada di hadapan mereka adalah agama yang benar. Namun karena mereka memiliki kepentingan-kepentingan tertentu, mereka enggan menerima agama tersebut. Tidak berimannya mereka cukup untuk membuat mereka kekal di api neraka. Jika mereka melakukan dosa-dosa besar, adzab yang mereka rasakan akan bertambah. Kesimpulan ini dapat difahami dari ayat 88 surah An-Nahl.

Menurut ulama Syiah menyatakan bahwa pemikiran mereka tidak seperti pemikiran Murji’ah yang memberikan “surat izin” kebebasan dari neraka untuk para pelaku dosa besar, tidak juga seperti Khawarij yang menyatakan bahwa seseorang sekali melakukan dosa besar maka ia akan kekal di neraka, dan juga tidak seperti Mu’tazilah yang menempatkan pelaku dosa besar di suatu tempat di antara keimanan dan kekufuran. Menurut Syiah, para pelaku dosa besar dapat disebut sebagai orang mukmin yang fasik, yang mana mereka tetap dapat memperbaiki diri dengan bertaubat dan mengembalikan tingkat keimanannya sehingga mendapatkan jalan kembali untuk meraih surga. Kalau tidak bertaubat, jelas keimanannya semakin merosotdan bisa jadi tidak mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki diri, lalu akhirnya menempati neraka kelak di akhirat. Iman dan amal perbuatan adalah dua hal yang saling berkaitan erat. Orang yang mengaku beriman namun semua amal perbuatannya bertentangan dengan ajaran agama, maka jika demikian ia bukanlah orang yang beriman, dan hal itulah yang akan menyeretnya ke neraka.

Oleh karena itu, rukun pemikiran Syiah dalam masalah ini dapat disimpulkan demikian:

1. Jika seseorang memiliki iman, ia mempunyai kesempatan untuk bertaubat sehingga dosa-dosanya dimaafkan. Dalam hal dosa-dosa yang berkaitan dengan hak-hak orang lain, diperlukan keridhaan orang yang bersangkutan.

2. Orang yang melakukan dosa besar, selama tidak bertaubat, ia akan tersingkir dari derajat “keadilan” yang merupakan salah satu dari derajat keimanan. Namun bukan berarti itu membuatnya terlempar keluar dari golongan orang-orang yang beriman.

3. Melakukan dosa-dosa besar secara terus menerus tanpa bertaubat berujung pada keluarnya pelaku tersebut dari golongan orang yang beriman.

4. Memiliki keimanan dan keyakinan akan wilayah atau keimaman, tidak dapat dijadikan alasan untuk diperbolehkannya melakukan segala macam dosa.

5. Orang mukmin yang hakiki, berhubungan dengan spiritualitasnya, selalu berada dalam keadaan antara “takut” dan “harapan”.

Akan diberikan penjelasan lebih lanjut tentang lima di atas:

1. Orang-orang yang berbuat dosa tidak keluar dari dua keadaan: Pertama, orang itu melakukan dosa karena tidak meyakini keyakinan-keyakinan agamanya, yang mana orang seperti itu selain disebut sebagai pendosa juga disebut orang yang tidak beriman; dalam hal ini tidak ada yang perlu dibahas. Adapun kedua, ada orang-orang yang tetap berpegang teguh pada keyakinan agama mereka, namun terkadang mereka terbujuk hawa nafsu dan bisikan setan sehingga mereka melakukan sebagian dosa-dosa; keadaan kedua inilah yang perlu dibahas.

Allamah Hilli dalam kitab Syarh Tajrid-nya dalam menentang pemikiran Khawarij yang berkeyakinan bahwa pelaku dosa besar akan kekal di neraka, berdalil demikian: Jika kita berkeyakinan bahwa seorang mukmin yang melakukan dosa besar akan dihukum di neraka selamanya, maka orang yang seumur hidup beribadah namun di akhir hayatnya melakukan satu dosa besar tanpa ia kehilangan imannya adalah sama dengan orang yang melakukan dosa seumur hidup; padahal hal itu mustahil, tidak mungkjin kedua orang itu sama-sama dihukum selamanya di neraka. Tak satupun orang berakal menerima hal itu.[10]

Oleh karena itu, orang yang berbuat dosa besar tidak dapat disebut sebagai orang kafir. Banyak sekali ayat-ayat Allah yang menjelaskan tentang luasnya rahmat-Nya yang maha pengampun yang dapat memaafkan dosa hamba-hamba-Nya.[11] Jika rahmat Allah swt yang sedemikian luas itu tidak mencakup hamba-hamba itu, lalu siapakah yang akan mendapatkan rahmat-Nya?

Ya, yang tahu apakah pelaku dosa adalah orang yang tetap beriman ataukah tidak, hanyalah Tuhan semata. Sebagaimana Ia sendiri berfirman: “Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu; jika kamu orang-orang yang baik, maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertaubat.” (QS. Al-Isra’:25) Tuhan maha pengampun, yang mana bahkan di sebagian ayat-ayat-Nya Ia tidak mensyaratkan taubat untuk memaafkan hamba-Nya.[12] Ia akan mengampuni dosa hamba-Nya yang menurut-Nya layak untuk diampuni, kecuali dosa itu adalah kesyirikan.[13] Banyak sekali riwayat yang menjelaskan bahwa kemurahan Tuhan ini juga mencakup orang-orang yang melakukan dosa-dosa besar.[14]

Di dalam Al-Qur’an juga banyak ayat-ayat yang menjelaskan lebih dari itu, yakni dengan beriman maka Tuhan akan memaafkan dosa-dosa hamba yang telah lalu bahkan kesyirikan pun.[15]

Yang jelas dosa-dosa yang dimaksud adalah dosa yang hanya berkaitan antara Tuhan dan hamba-Nya saja. Adapun doa yang berkaitan dengan hak-hak orang lain, misalnya memakan uang anak yatim, pelaku dosa dalam bertaubat harus berusaha meminta keridhaan orang yang bersangkutan. Imam Ali as berkata bahwa di hari kiamat nanti dosa-dosa seperti ini akan dihitung dengan detil tanpa ada keringanan sedikitpun.[16]

Berdasarkan apa yang telah dijelaskan, orang yang beriman dan pendosa meskipun dosanya adalah sebuah bentuk dari kufur nikmat, namun pelakunya tidak bisa kita sebut sebagai orang murtad begitu saja. Beda dengan pemikiran Khawarij yang timbul dari faktor-faktor politik dan malah bertentangan dengan ayat-ayat serta riwayat.

2. Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa Murji’ah menganggap perbuatan dosa sebesar apapun dan sesering apapun dilakukan, sama sekali tidak mempengaruhi keimanan pelakunya. Syiah tidak berkeyakinan seperti itu. Menurut Syiah, pelaku dosa besar derajat keimanannya menurun,[17] tidak disebut “adil” sehingga tak sah untuk dijadikan imam jama’ah,[18] apa lagi untuk menjadi pemimpin umat.

Berdasarkan riwayat-riwayat, para pelaku dosa-dosa besar tidak memiliki derajat keimanan setinggi, serta tidak memiliki martabat keimanan seperti “keadilan”, yang mana orang-orang seperti itu tidak dapat diterima kesaksiannya di pengadilan Islami,[19] tidak boleh ditemani dan menikahkan mereka, dan seterusnya…[20] Mereka disebut orang yang mengkufuri nikmat, yang jika tidak bertaubat dan menyesali perbuatannya maka layak untuk disiksa di api neraka.[21] Kesimpulannya, iman secara lisan saja tidak bisa menjamin bahwa orang itu akan mendapatkan rahmat Tuhan dan pengampunan atas segala dosanya.

3. Perlu diketahui bahwa semakin banyak dosa yang dilakukan, kemungkinan untuk kembali ke derajat keimanan yang tinggi semakin kecil. Meskipun pintu-pintu taubat selalu terbuka lebar, mungkin saja pelaku dosa tidak berhasil atau mendapat taufik untuk benar-benar bertaubat. Perhatikan dua riwayat di bawah ini:

Saat imam Shadiq as ditanya tentang orang yang telah membunuh saudara seimannya dengan sengaja, tanpa menjelaskan bahwa taubatnya tidak akan diterima, imam menjawab bahwa orang itu tidak akan berhasil (mendapat taufik) untuk bertaubat.”[22]

Imam Ali as pernah menjelaskan bahwa orang yang beriman memiliki 40 perisai, dan selain itu para malaikat juga menjaganya dengan sayap-sayapnya, yang mana dengan melakukan sebuah dosa besar, satu dari perisai-perisai tersebut akan hancur. Jika ia terus menerus berbuat demikian, ia akan sampai pada suatu keadaan dimana ia tidak akan meninggalkan dosa tersebut atau bahkan membanggakannya. Lalu akhirnya akan menjadi musuh Ahlul Bait.[23]

Selain itu juga sering dijelaskan bahwa terus menerus melakukan dosa kecil akan merubahnya menjadi dosa besar.[24] Apa lagi terus menerus melakukan dosa besar?!

4. Banyak riwayat yang menjelaskan bahwa iman dan wilayah adalah asas paling penting, dan amal merupakan cabangnya. Meskipun itu benar, namun tak boleh disalahartikan. Misalnya perhatikan dua contoh berikut ini:

Pertama: Seseorang bernama Muhammad bin Madir meriwayatkan: Aku berkata kepada Imam Shadiq as: Aku pernah mendengarmu berkata: “Jika engkau punya iman, apapun yang ingin kau lakukan maka lakukanlah![25] Imam membenarkan perkataannya. Perawi heran dan bertanya: “Berarti orang yang beriman boleh berbuat zina, mencuri dan mabuk?” Imam berkata: “Innalillah… Apa yang kau fahami itu tidak benar sama sekali. Apakah kami orang-orang maksum tetap harus bertanggung jawab atas perbuatan kami, sedangkan kalian pengikut kami bebas melakukan dosa apa saja? Makna perkataanku adalah: Jika engkau punya iman, perbuatan baik apapun yang ingin kau lakukan, entah kecil atau besar, maka lakukanlah; karena dengan iman itu Allah swt akan menerima amalmu.”[26]

Kedua: Ada riwayat lain yang berbunyi: “Mencintai Ali as adalah perbuatan baik, yang mana dengan itu dosa apapun tidak akan bermasalah bagi manusia.”[27]

Banyak juga yang menyalahartikan riwayat tersebut dan mengira bahwa seorang Syiah bebas melakukan dosa apapun! Sebagaimana ada seorang penyair berkata:

Jika penghitungan amal di hari kiamat di tangan Ali,

Aku menjamin, dosa apapun yang ingin kau lakukan, lakukanlah!

Jika syair di atas tidak bermaksud berlebihan, maka maksudnya sama sekali tidak benar. Karena kecintaan kepada Ali as tidak sejalan dengan berbuat dosa dan sewena-wena. Maksud perkataan beliau adalah, jika kita mencintai Imam Ali as, maka kita pasti tidak akan begitu saja berbuat dosa seenaknya karena kita merasa malu di hadapan beliau. Jika kita lalai dan berbuat dosa, atas dasar kecintaan tersebut, kita pasti akan segera menyesali, bertaubat dan membenahi perilaku kita.[28] Jika ada orang yang mengaku Syiah lalu dengan seenaknya melakukan semua dosa dan larangan agama, jelas ia adalah pembohong.

5. Jika kita lihat banyak perbedaan di riwayat-riwayat yang mana sebagian riwayat memerintahkan kita untuk tidak berputus asa akan rahmat Tuhan, namun sebagian riwayat benar-benar mengancam kita akan siksaan-Nya, itu artinya kita sebagai orang beriman tidak dijamin untuk selalu berada dalam rahmat-Nya dan masuk surga, begitu pula orang yang berdosa tidak dijamin pasti masuk neraka dan terlepas dari rahmat Tuhan seluruhnya.

Seorang yang beriman, harus mengharap rahmat dan pengampunan Tuhan. Karena Ia selalu membuka pintu taubat, bahkan untuk orang yang tidak beriman sekalipun. Begitu pula dijelaskan bahwa dengan melakukan perbuatan baik, perbuatan buruk yang pernah dilakukan sebelumnya akan terhapus.[29]

Di sisi lain, karena mungkin saja manusia mati kapan saja, atau dosanya sangat berat sehingga tidak bisa dibenahi hingga akhir umurnya, apa lagi jika kehilangan imannya, faktor-faktor tersebut akan membuatnya tak dapat diberi syafa’at oleh manusia-manusia suci as. Begitu pula sebagian dosa, atau lemahnya iman, akan menyebabkan sirnanya amal perbuatan baik yang pernah dilakukan.[30] Oleh karenanya orang beriman pun harus mengkhawatirkan bahaya tersebut. Jadi, dalam kehidupan spiritual, kita harus takut dan khawatir akan malapetaka tersebut, namun juga terus berharap atas rahmat Allah swt yang sangat luas. [islamquest]


[1] Dalam masalah ini, anda dapat merujuk riwayat-riwayat yang ada dalam kitab Wasail Asy-Syiah, jilid 15 bab 46, halaman 318. Terjemahan judul bab tersebut adalah: Bab Menentukan Dosa Besar Yang Harus Dihindari.

[2] Untuk merujuk lebih lanjut tentang dalih Murji’ah dengan menggunakan ayat ini: Thayib, Sayid Abdul Husain, Athyab Al-Bayan fi Tafsir Al-Qur’an, jilid 1, halaman 259-258, cetakan Penerbitan islamiTehran, 1378 HS.

[3] Kulaini, Muhammad bin Ya’qub, Al-Kafi, jilid 2, halamn 409, hadits 1, Darul Kutub Islamiah, Tehran, 1365 HS.

[4] QS. Al-An’am: 57; QS. Yusuf: 40 dan 67.

[5] Untuk mengkaji lebih lanjut tentang masalah ini, silahkan merujuk: Makarim Syirazi, Nashir, Tafsir Nemune, jilid 9, halaman 419-418, Darul Kutub Al-Islamiyah, Tehran 1374 HS.

[6] Banyak riwayat yang bertentangan dengan pemikiran kaum Khawarij ini, misalnya anda bisa membacar riwayat yang tertera di halaman 421 jilid 33 kitab Biharul Anwar, bab 25, Yayasan Al-Wafa’, Beirut, 1404 H.

[7] Nahjul Balaghah, halaman 94, khutbah 61, penerbit Darul Hijrah, Qom.

[8] Istilah serupa (yang bahasa Arabnya adalah Al-Manzilah bainal Manzilatain) juga digunakan dengan maksud “tidak jabr (keterpaksaan) dan tidak tafwidh (kebebasan total)” yang mana Syiah membenarkan hal itu. Namun Syiah tidak membenarkan istilah tersebut terkait dengan masalah dosa besar yang kita bahas sekarang.

[9] Kulaini, Muhuammad bin Ya’qub, Al-Kafi, jilid 2, halaman 24-25, hadits 4.

[10] Mughniyah, Muhammad Jawad, Tafsir Kasyif, jilid 1, halaman 139, Darul Kutub Al-Islamiah, Tehran, 1424 H, menukil dari Syarah Tajrid.

[11] QS. Al-Baqarah: 192-225; QS. Al-An’am: 147; QS. Al-A’raf: 156; QS. Al-Ghafir: 7; QS. Nuh: 10; dan masih banyak lagi. Di sebagian ayat-ayat tersebut dijelaskan bahwa dosa-dosa hamba yang tidak beriman pun juga dapat dimaafkan.

[12] Dalam sebuah riwayat dari Imam Shadiq as disebutkan bahwa: “Kami akan memberikan syafa’at kepada orang yang melakukan dosa besar, dan mereka yang bertaubat dengan taubat sejati adalah orang-orang yang berbuat baik dan mereka tidak membutuhkan syafa’at.” Silahkan merujuk: Hurr Amili, Muhammad bin Al-Hasan, Wasail Asy-Syi’ah, jilid 5, halaman 334, hadits 20669, Muasasah Alul Bait, Qom, 1409 H.

[13] QS. An-Nisa’: 48 dan 116.

[14] Al-Kafi, jilid 2, halaman 284, hadits 18.

[15] QS. Az-Zumar: 53, “Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.”

[16] Nahjul Balaghah, halaman 255, khutbah 176.

[17] Banyak hadits-hadits dari para imam tentang masalah menurunnya derajat keimanan, sebagaimaa yang disebutkan dalah hadits 21 halaman 284 jilid kedua kitab Ushul Al-Kafi. Semua itu menjelaskan bahwa pelaku dosa besar derajat keimanannya menurun, bukannya menjadi kafir.

[18] Silahkan merujuk riwayat-riwayat seperti yang disebutkan dalam Wasail Asy-Syi’ah, jilid 18, halaman 313-318, bab 11.

[19] Wasail Asy-Syiah, jilid 27, halaman 391, hadits 34932.

[20] Ibid, jilid 25, halaman 312, hadits 31987.

[21] Ibid, jilid 15, halaman 338, hadits 20683.

[22] Ibid, jilid 29, halaman 32, hadits 35077.

[23] Kulaini, Muhammad bin Ya’qub, Al-Kafi, jilid 2, halaman 279, hadits 9.

[24] Wasail Asy-Syi’ah, jilid 15, halaman 337, hadits 20681.

[25] Dengan melihat lanjutan riwayat, ternyata perawi mengira jika kita memiliki iman kita dapat melakukan dosa apapun.

[26] Wasail Asy-Syi’ah, jilid 1, halaman 114, hadits 287.

[27] Ihsa’i, Ibnu Abi Jumhur, ‘Awali Al-La’ali, jilid 4, halaman 86, hadits 103, penerbit Sayid Syuhada, Qom, 1405 H.

[28] Banyak sekali riwayat tentang kesedihan Rasulullah saw dan para Imam as akan dosa yang dilakukan oleh orang yang beriman. Silahkan merujuk: Wasail Asy-Syiah, jilid 16, halaman 107, hadits 21105, dan riwayat-riwayat serupa.

[29] QS. Al-Baqarah: 271; QS. Ali Imran: 195; QS. An-Nisa’: 31; QS. Al-Maidah: 12 dan 65; QS. Al-Anfal: 29; QS. Al-’Ankabut: 7; QS. Az-Zumar: 35; QS. Al-Fath: 5; QS. At-Taghabun: 9; QS. Ath-Thalaq: 5; QS. At-Tahrim: 8; dan seterusnya.

[30] QS. Al-Baqarah: 217; QS. Al-Maidah: 5 dan 53; QS. Al-An’am: 88; QS. Huud: 16; QS. Al-Ahzab: 19; QS. Az-Zumar 65; QS. Al-Hujurat: 2; dan seterusnya.

Syiah bisa seenaknya saja berbuat dosa

Tanya: Syiah berkeyakinan bahwa mereka tidak masalah seperti apapun dosa mereka, karena mereka mencintai Ali. Keyakinan macam apakah ini?

Jawab: Ini juga tidak terbukti. Syiah tidak sama seperti Murji’ah. Penganut aliran Murji’ah lah yang berkata bahwa iman cukup untuk menyelamatkan kita dari api neraka, meskipun kita tidak melakukan amal perbuatan apapun. Justru Syiah kebalikan dari itu. Menurut Syiah, tidak hanya iman itu tidak cukup, bahkan diperlukan amal saleh yang diiringi dengan ketulusan serta ketakwaan. Allah swt berfirman:

“Sesungguhnya Allah menerima amal perbuatan yang dilakukan oleh orang-orang yang bertakwa.” (Al-Maidah:  27)

Imam Baqir as berkata kepada salah satu sahabatnya yang bernama Jabir:

“Wahai Jabir, apakah cukup seseorang mengaku pengikut kami dan Ahlul Bait saja? Sungguh demi Tuhan, pengikut kami yang sebenarnya adalah orang yang berpaling dari dosa dan selalu mentati Tuhannya. Kriteria pengikut kami adalah rendah hati, takut akan Allah, zikir, shalat, puasa dan amalsaleh…”[1]

Ini hanyalah sebuah contoh dari riwayat-riwayat yang ada terkait dengan masalah ini dan masih banyak riwayat yang lainnya. Jika seandainya ditemukan riwayat yang bertentangan dengan riwayat di atas, yakni menyatakan bahwa amal saleh tidak perlu dilakukan, karena itu bertentangan dengan Al-Qur’an maka riwayat sedemikian rupa tidak dapat diterima.

Coba anda tunjukkan Syiah yang mana yang telah seenaknya melakukan dosa karena mengaku mencintai Ahlul Bait?

Bukannya kalian sendiri yang pernah menukilkan bahwa Rasulullah saw berkata kepada para pahlawan Badar (perang Badar):

“Lakukanlah apa yang ingin kalian lakukan sesuka hati, karena aku telah mewajibkan surga atas kalian.”[2]

Kalian kum Salafi telah menginjak kehormatan-kehormatan Ilahi dengan cara mendidik teroris-teroris. Kalian tidak menghormati darah orang tua atau anak kecil, tidak menghormati harta benda kaum Muslimin dan wanita-wanita mereka. Menurut kalian semua umat Islam selain pengikut Muhammad bin ‘Abdul Wahab adalah musyrik dan murtad yang harus kalian tumpahkan darahnya dan rampas hartanya serta menawan wanita-wanitanya. Apakah anda yang seperti ini dengan nyaman membandingkan diri dengan Syiah?


[1] Amali, Syaikh Thusi, hlm. 743; Al-Kafi, jld. 2, hlm. 73.

[2] Shahih Bukhari Nafi’,  kitab Al-Maghazi, 304, hadits 3983.

Membongkar Gerakan PARA MUSYRiK WAHABi menghancurkan Nahdlatul Ulama (N.U)

Membongkar Gerakan PARA MUSYRiK WAHABi menghancurkan Nahdlatul Ulama (N.U)

.

Ajaran Salafi Wahabi adalah, mengkafirkan sufi Ibnu Arabi, Abu Yazid al-Bustani. Mudah mengkafirkan muslim lain. Memvonis sesat kitab “Aqidatul Awam, dan Qashidah Burdah. Mengkafirkan dan menganggap sesat pengikut Mazdhab Asy’ari dan Maturidiyyah. Merubah beberapa bab kitab-kitab ulama klasik, seperti kitab al-Adzkar an-Nawawi. Mereka menolak perayaan Maulid Nabi Muhammad karena menganggap acara tersebut sebagai acara bid’ah, dan perbuatan bid’ah menurut mereka adalah sesat semuanya

.

Mereka menilai acara yasinan tahlilan adalah ritual bi’ah, padahal kedua amalan tersebut tidak bisa dikatakan melanggar syari’at, karena secara umum bacaan dalam susunan tahlil ada dalil-dalilnya baik dari al-Qur’an dan al-Hadits seperti yang sudah disampaikan oleh para ulama-ulama terdahulu. Dan mereka menolak kitab “Ihya’ Ulumuddin” karya Imam al-Ghazali

INILAH INFO LENGKAP PARA MUSYRIK WAHABI

Syaikh Albani Agen Yahudi

Fatwa Syeikh Muhammad Nasiruddin al-Albani, Agen Zionis Berjubah

.
Penyimpangan Akidah Syeikh al Albâni al Wahhâbi as Salafi
Tidak sedikit penyimpangan yang terjadi dalam akidah para pembesar masyâikh Wahhâbi-Salafi, khususnya tentang akidah ketuhanan yang banyak membutuhkan akal sehat dan tidak sekedar menelan mentah-mentah asal riyawat yang diatas-namakan Nabiyyul Islam Muhammad saw. atau atsar sahabat!
.
Syeikh Albâni menukil pendapat sebagin kaum Musyabbihah (yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya) seraya membenarkan bahwa: .

من قال عن الله ‏‏”ويُرى لا في جهة ” فليُراجع عقله.

وقال الالباني “إن اريد بالجهة امر عدمي ‏وهو ما فوق العالم فليس هناك الا الله وحده”.

“Barang siapa berkata tentang Allah, ‘Dia dilihat tidak di sebuah jihah/sudut/sisi tertentu.’ Hendaknya ia mengoreksi akalnya.” [1] Albani berkata, “Jika yang dimaksud dengan jihah adalah perkara ketiadaan dan di adalah di atas alam semesta ini, maka di sana tidak ada selain Allah sendirian.” [2]
.
Demikianlah akidah Salafi yang dibanggakan kaum Salafiyyûn Wahhabiyyûn yang diyakini Syeikh agung mereka yang sering linglung dalam mentashih atau mentadh’if hadis!

.
Coba bandingkan dengan akidah ulama Islam seperti yang dirangkum oleh Imam ath Thahawi dalam Aqîdah-nya:
.

لا تحويه – أي الله – الجهات الست كسائر المبتدعات

“Allah tidak dimuat oleh enam sisi seperti halnya makhluk.”

.
Maksudnya Maha Suci Allah dari berada di sisi tertentu, sebab yang demikian itu meniscayakan bertempat dan dibatasi oleh batas dan segala konsekuensinya, seperti gerak, diam dll dari sifat makhluk
.
Dengan omongannya itu Syeikh Albâni telah menuduh para ulama Islam tidak berakal. Dan pada waktu yang sama ia telah membuktikan bahwa ia telah menyimpang dari akidah Islam yang diyakini para imam Ahlusunnah. Sedangkan Rasulullah saw. telah bersabda:
.

‏ عليكم بالجماعة وإياكم والفرقة فإن الشيطان ‏مع الواحد وهو من الاثنين أبعد فمن أراد بُحبوحة الجنة فليلزم الجماعة} رواه ‏الترمذي.

“Hendaknya kamu bersama Jama’ah, dan hati-hatilah kamu dari perpecahan, sebab setan bersama satu orang dan dari dua orang ia lebih jauh. Barang siapa menginginkan kebahagiaan kehidupan surga hendaknya ia bersama Jama’ah.” HR Turmudzi.
____________________
[1]. Mukhtashar al Ulu, hal, 7, 156, 285
[2]. Al Aqidah Ath Thahawiyah Syarah Wa Ta’liq Al Albani, hal. 25

Catatan Atas Fatwa Sesat al-Albani Tentang Palestina
Syeikh Muhammad Nasiruddin al-Albani, yang dianggap oleh mayoritas Salafi sebagai ulama terbesar mereka, telah mengeluarkan sebuah fatwa beberapa tahun yang lalu yakni bahwa semua kaum muslim di PalestinaLibanon Selatan, dan Dataran Tinggi Golan harus meninggalkan tanah/negeri mereka secara massal dan pergi ketempat lain. Alasan dia (dan dia tetap memegangnya) bahwa setiap Negeri Muslim yang diduduki/dijajah oleh orang Non-Muslim maka menjadi Negeri Non-Muslim. Oleh karenanya setiap Muslim dilarang tinggal/menetap disitu.
.
Ketika beberapa orang menanyakan kepadanya, dengan terheran-heran, bahwa tidak akan ada satu negarapun didunia yang mau menampung orang-orang/bangsa Palestina, bahkan Saudi Arabia pun, dia mengatakan: “Mereka mungkin bisa mencoba pergi ke Sudan, disana mereka mungkin akan ditampung.”
.
Sebagai catatan, al-Albani ini adalah orang yang mengklaim dirinya sendiri sebagai ulama. Banyak yang menantangnya untuk menunjukkan walau satu saja ijazah yang diberikan kepadanya oleh sebarang gurunya (kalaupun dia punya). Dia tidak pernah bisa menunjukkan/membuktikannya sampai sekarang. Yang kelihatan pada al-Albani justru fatwa-fatwanya samasekali tidak berdasar ilmu hadis, sementara para pengikutnya tetap menganggapnya sebagai “Muhaddis Masa Kini”. Dia banyak mengeluarkan fatwa dalam hampir semua ilmu-ilmu Islam. Al-Albani juga mengeluarkan komentar atas buku aqidah “Al-Aqidah at-Tahawiyya”.
.
Berikut ini adalah terjemahan dari salah satu tanggapan/sanggahan Syeikh Buti terhadap al-Albani. Syeikh Buti adalah salah seorang ulama terkemuka Syria: [Diambil dari buku "Strife in Islam" (Al-Jihad fil Islam: Kayfa Nafhamuhu wa Kayfa Numarisuhu), by Dr. Muhammad Sa’id Ramadan al-Buti, 2nd edition, Dar Al-Fikr, Damascus, Syria, 1997.]
.
“Syeikh” Nasiruddin al-Albani telah mengejutkan masyarakat, dalam beberapa bulan terakhir ini, dengan fatwa sesatnya yang sangat jauh dari ajaran-ajaran Syariat Islam dan sangat berlawanan/kontradiksi dengan pokok-pokok dan hukum-hukum agama (Islam – penj).
.
Dia menyatakan secara terbuka dan dihadapan semua saksi, bahwa semua Muslim dan bangsa Palestina yang masih berada di tanah/negeri yang diduduki/dijajah wajib meninggalkan seluruh negeri itu dan menyerahkannya kepada kaum Yahudi, yang telah mengubahnya, setelah mereka menjajahnya, menjadi sebuah Negeri Kafir.
.
Kalaulah tidak dimuat dimedia massa dan tidak ada kaset rekaman suara al-Albani yang mengatakan sendiri hal ini, maka sulit buat saya untuk mempercayainya.
.
Ini karena seorang santri yang paling awampun mengetahui apa yang terdapat pada semua sumber Syariat Islam, bahwa sebuah Negeri Islam akan tetap, secara sah, menjadi Negeri Islam sampai Hari Kebangkitan, tak peduli apapun yang diperbuat oleh orang-orang kafir ataupun musuh terhadap Negeri Islam tersebut. Dan adalah kewajiban bagi setiap muslim untuk memenuhi tanggungjawabnya dengan membersihkan/mengusir para agresor dari negeri tersebut
.
Dan menurut Abu Hanifah yang mengemukakan kemungkinan berubahnya Negeri Islam menjadi Negeri Kafir syaratnya adalah bahwa tanda-tanda Islam telah disingkirkan/dihilangkan darinya dan diganti dengan aturan-aturan kafir, bahwa tidak ada seorang muslim atau kafir dzimmi pun yang masih tinggal disitu merasa aman dengan hukum Islam yang murni/asli, dan bahwa negeri itu diberi batas sebagai Negeri Kafir ataupun Negeri Perang. Dan kita tahu bahwa tidak satupun syarat tersebut ada pada negeri yang sedang dijajah (Palestina – penj), sebab tanda-tanda Islam secara terbuka masih tetap eksis disana, kaum muslimin masih tetap bisa menikmati hukum-hukum Islam, dan tidak ada batas tersendiri sebagai Negeri Kafir ataupun Negeri Perang dalam Wilayah/Negeri Jajahan tersebut, saat ini.
.
Tetapi syeikh (al-Albani), yang menganggap dirinya sebagai “Muhaddis Masa Kini”, telah melanggar ijma’ sah ini, yang mana dia tidak punya pengetahuan tentangnya. Lalu dia mengumumkan/memfatwakan tanpa kesepakatan ummat bahwa Palestina telah berubah, yang tentu saja menguntungkan Israel, menjadi Negeri Kafir dan Negeri Perang. Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban semua muslim yang adalah pemilik dan penduduknya untuk mengecam/menentangnya.
.
Misteri apa yang ada dibalik diamnya si syeikh ini selama bertahun-tahun sebelumnya sampai cahaya keimanan Intifadha muncul dijantung Tanah Jajahan, dan gerakan perlawanan Hamas didirikan yang menimbulkan fenomena teror dihati dan jiwa para penjajah, lalu tiba-tiba si syeikh ingat akan hal ini dan kemudian menyadarinya bahwa inilah saat/waktunya baginya untuk memfatwakannya secara eksplisit disemua media massa. Dan baginya telah tibanya waktunya, yang karenanya dia mulai beraksi itu, adalah dengan munculnya gerakan Intifadha yang bersama para pemilik sah (rakyat – penj) Tanah Jajahan telah meraih segala kesuksesan yang tidak diharapkannya, karena dengan demikian dia dapat membantu Israel keluar dari segala kesulitan yang membelenggu mereka dan telah banyak menguras sumberdaya mereka (Israel – penj).
.
Inikah sesungguhnya waktunya bagi syeikh gadungan/pengkhianat ini untuk memberitahukan kepada kita rahasia dibalik disimpannya fatwa tersebut didadanya selama ini sampai kemudian dia munculkan sekarang?!. Dan, tentang diamnya dia selama ini atas dosa kaum muslimin karena masih tetap tinggal di Negeri Kafir hingga hari ini?!
.
Dan sungguh kita bersyukur kepada Allah bahwa fatwa dia (al-Albani – penj) yang batil tersebut telah gagal yang mana hal ini ditunjukkan dimana rakyat Suriah, Aljazair, Mesir dan Libia  hari-hari ini justru meningkatkan jihad dinegeri mereka masing-masing untuk membebaskan mereka dari belenggu kolonialisasi dan agresi para tiran.
.
Ataukah, kaum muslimin dinegeri-negeri tersebut di atas wajib meninggalkan negeri mereka, sebuah keuntungan bagi musuh mereka, karena negeri mereka sekarang dikategorikan sebagai Negeri Kafir?! (bila hal ini terjadi) Maka hari ini kita akan melihat bahwa para tiran dan penjajah itu memang punya hak yang legal (untuk terus menjajah – penj). Dan siapa yang tahu bahwa memang inilah yang lebih disukai/diinginkan oleh syeikh gadungan/pengkhianat ini?!
.
[Yang tersebut di atas adalah apa yang ditulis oleh Dr. Buti pada Edisi Pertama dan diulangi pada Edisi Kedua dalam buku beliau. Berikut ini apa yang beliau tambahkan pada Edisi Kedua]
.
Dan sekarang saya katakan, tambahan beberapa kalimat pada Edisi Kedua ini setelah kami menunggu si syeikh bakal menarik fatwa sesatnya tersebut, karena kembali kepada kebenaran itu adalah suatu kemuliaan/keutamaan. Tetapi dia tidak pernah melakukannya walaupun seluruh dunia muslim menentangnya gara-gara fatwanya itu.
.
Juga, ada segelintir pembaca yang menilai bahwa penyebutan Gadungan/Pengkhianat (suspected) terhadap syeikh sebagai kurang tepat. Tetapi sebutan itu diberikan kepada seseorang yang mengeluarkan suatu fatwa dengan berkolaborasi dengan pihak asing. Jadi, penyebutan itu tidak ekstrim tetapi sudah sesuai dengan realitas/kenyataan.
.

Albani, Muhaddist pro yahudi Tanpa Sanad Andalan Wahabi

Di kalangan salafi (wahabi), lelaki satu ini dianggap muhaddis paling ulung di zamannya. Itu klaim mereka. Bahkan sebagian mereka tak canggung menyetarakannya dengan para imam hadis terdahulu. Fantastis. Mereka gencar mempromosikannya lewat berbagai media. Dan usaha mereka bisa dikata berhasil. Kalangan muslim banyak yang tertipu dengan hadis-hadis edaran mereka yang di akhirnya terdapat kutipan, “disahihkan oleh Albani, ”.
.
Para salafi itu seolah memaksakan kesan bahwa dengan kalimat itu Al-Albani sudah setaraf dengan Imam Turmuzi, Imam Ibnu Majah dan lainnya.
Sebetulnya, kapasitas ilmu tukang reparasi jam ini sangat meragukan (kalau tak mau dibilang “ngawur”). Bahkan ketika ia diminta oleh seseorang untuk menyebutkan 10 hadis beserta sanadnya, ia dengan entengnya menjawab, “Aku bukan ahli hadis sanad, tapi ahli hadis kitab.” Si peminta pun tersenyum kecut, “Kalau begitu siapa saja juga bisa,” tukasnya
.
Namun demikian dengan over pede-nya Albani merasa layak untuk mengkritisi dan mendhoifkan hadis-hadis dalam Bukhari Muslim yang kesahihannya telah disepakati dan diakui para ulama’ dari generasi ke generasi sejak ratusan tahun lalu. Aneh bukan?
.
Siapakah Nashirudin al- Albani?
Dia lahir di kota Ashkodera, negara Albania tahun 1914 M dan meninggal dunia pada tanggal 21 Jumadal Akhirah 1420 H atau bertepatan dengan tanggal 1 Oktober 1999 di Yordania. Pada masa hidupnya, sehari-hari dia berprofesi sebagai tukang reparasi jam. Dia memiliki hobi membaca kitab-kitab khususnya kitab-kitab hadits tetapi tidak pernah berguru kepada guru hadits yang ahli dan tidak pernah mempunyai sanad yang diakui dalam Ilmu Hadits
.
Dia sendiri mengakui bahwa sebenarnya dia tidak hafal sepuluh hadits dengan sanad muttashil (bersambung) sampai ke Rasulullah, meskipun begitu dia berani mentashih dan mentadh’iftan hadits sesuai dengan kesimpulannya sendiri dan bertentangan dengan kaidah para ulama hadits yang menegaskan bahwa sesungguhnya mentashih dan mentadh’ifkan hadits adalah tugas para hafidz (ulama ahli hadits yg menghapal sekurang-kurangnya seratus ribu hadits).Namun demikian kalangan salafi menganggap semua hadits bila telah dishohihkan atau dilemahkan Albani mereka pastikan lebih mendekati kebenaran
.
Penyelewengan Albani
Berikut diantara penyimpangan-penyimpangan Albani yang dicatat para ulama’
.
1) Menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya sebagaimana dia sebutkan dalam kitabnya berjudulAlmukhtasar al Uluww hal. 7, 156, 285.
2) Mengkafirkan orang-orang yang bertawassul dan beristighatsah dengan para nabi dan orang-orang soleh seperti dalam kitabnya “at-Tawassul” .
3) Menyerukan untuk menghancurkan Kubah hijau di atas makam Nabi SAW (Qubbah al Khadlra’) dan menyuruh memindahkan makam Nabi SAW ke luar masjid sebagaimana ditulis dalam kitabnya“Tahdzir as-Sajid” hal. 68-69,
4) Mengharamkan penggunaan tasbih dalam berdzikir sebagaimana dia tulis dalam kitabnya “Salsalatul Ahadits Al-Dlo’ifah” hadits no: 83.
5) Mengharamkan ucapan salam kepada Rasulullah ketika shalat dg kalimat “Melarang Assalamu ‘alayka ayyuhan-Nabiyy”. Dia berkata: Katakan “Assalamu alan Nabiyy” alasannya karena Nabi telah meninggal, sebagaimana ia sebutkan dalam kitabnya yang berjudul “Sifat shalat an-Nabi”.
6) Memaksa umat Islam di Palestina untuk menyerahkan Palestina kepada orang Yahudi sebagaimana dalam kitabnya “Fatawa al Albani”.
7) Dalam kitab yang sama dia juga mengharamkan Umat Islam mengunjungi sesamanya dan berziarah kepada orang yang telah meninggal di makamnya.
8 ) Mengharamkan bagi seorang perempuan untuk memakai kalung emas sebagaimana dia tulis dalam kitabnya “Adaab az-Zafaaf “,
9) Mengharamkan umat Islam melaksanakan solat tarawih dua puluh raka’at di bulan Ramadan sebagaimana ia katakan dalam kitabnya “Qiyam Ramadhan” hal.22.
10) Mengharamkan umat Islam melakukan shalat sunnah qabliyah jum’at sebagaimana disebutkan dalam kitabnya yang berjudul “al Ajwibah an-Nafiah”.
.
Ini adalah sebagian kecil dari sekian banyak kesesatannya, dan Alhamdulillah para Ulama dan para ahli hadits tidak tinggal diam. Mereka telah menjelaskan dan menjawab tuntas penyimpangan-penyimpangan Albani. Diantara mereka adalah:
1.Muhaddits besar India, Habibur Rahman al-’Adhzmi yang menulis “Albani Syudzudzuhu wa Akhtha-uhu” (Albani, penyimpangan dan kesalahannya) dalam 4 jilid;
.
2.Dahhan Abu Salman yang menulis “al-Wahmu wath-Thakhlith ‘indal-Albani fil Bai’ bit Taqshit” (Keraguan dan kekeliruan Albani dalam jual beli secara angsuran);
.
3.Muhaddits besar Maghribi, Syaikh Abdullah bin Muhammad bin as-Siddiq al-Ghumari yang menulis“Irgham al-Mubtadi` ‘al ghabi bi jawazit tawassul bin Nabi fil radd ‘ala al-Albani al-Wabi”; “al-Qawl al-Muqni` fil radd ‘ala al-Albani al-Mubtadi`”; “Itqaan as-Sun`a fi Tahqiq ma’na al-bid`a”;
.
4.Muhaddits Maghribi, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin as-Siddiq al-Ghumari yang menulis “Bayan Nakth an-Nakith al-Mu’tadi”;
5.Ulama Yaman, ‘Ali bin Muhammad bin Yahya al-’Alawi yang menulis “Hidayatul-Mutakhabbitin Naqd Muhammad Nasir al-Din”;
.
6.Muhaddits besar Syria, Syaikh ‘Abdul Fattah Abu Ghuddah yang menulis “Radd ‘ala Abatil wal iftira’at Nasir al-Albani wa shahibihi sabiqan Zuhayr al-Syawish wa mu’azirihima” (Penolakan terhadap kebatilan dan pemalsuan Nasir al-Albani dan sahabatnya Zuhayr al-Syawish serta pendukung keduanya);
.
7.Muhaddits Syria, Syaikh Muhammad ‘Awwama yang menulis “Adab al-Ikhtilaf” dan “Atsar al-hadits asy-syarif fi ikhtilaf al-a-immat al-fuqaha”;
.
8.Muhaddits Mesir, Syaikh Mahmud Sa`id Mamduh yang menulis “Tanbih al-Muslim ila Ta`addi al-Albani ‘ala Shahih Muslim” (Peringatan kepada Muslimin terkait serangan al-Albani ke atas Shahih Muslim) dan “at-Ta’rif bil awham man farraqa as-Sunan ila shohih wad-dho`if” (Penjelasan terhadap kekeliruan orang yang memisahkan kitab-kitab sunan kepada shohih dan dho`if);
.
9.Muhaddits Arab Saudi, Syaikh Ismail bin Muhammad al-Ansari yang menulis “Ta`aqqubaat ‘ala silsilat al-ahadits adh-dha`ifa wal maudhu`a lil-Albani” (Kritikan atas buku al-Albani “Silsilat al-ahadits adh-dha`ifa wal maudhu`a”); “Tashih Sholat at-Tarawih ‘Isyriina rak`ataan war radd ‘ala al-Albani fi tadh`ifih”(Kesahihan tarawih 20 rakaat dan penolakan terhadap al-Albani yang mendhaifkannya); “Naqd ta’liqat al-Albani ‘ala Syarh at-Tahawi” (Sanggahan terhadap al-Albani atas ta’liqatnya pada Syarah at-Tahawi”;
.
10.Ulama Syria, Syaikh Badruddin Hasan Diaab yang menulis “Anwar al-Masabih ‘ala dhzulumatil Albani fi shalatit Tarawih”.
Saran kami. Hendaknya seluruh umat Islam tidak gegabah menyikapi hadis pada buku-buku yang banyak beredar saat ini, terutama jika di buku itu terdapat pendapat yang merujuk kepada Albani dan kroni-kroninya.
 .

Catatan: Menjadi jelas bagi kaum Muslim diseluruh penjuru dunia bahwa Nasiruddin al-Albani jelas-jelas adalah seorang agen CIA dan bagian dari Tatanan Dunia Baru Zionis

Bukhari menyembunyikan Keburukan dan Kefasikan Sebagian Sahabat dari Umat !

Keburukan dan Kefasikan Sebagian Sahabat harus Disembunyikan dari Umat!

I’tiqad itu mungkin yang mendasari berbagai sikap “amanat” Imam Bukhari dalam kitab tersuci setelah Al Qur’an al-Karim ketika beliau dengan terpaksa -karena dorongan kecemburuannya atas agama- menyembunyikan bukti-bukti kefasikan pembawa agama yang penting diketahui umat Islam di sepanjang zaman…. beliau dalam banyak kesempatan selau manyembunyikan data-data sejarah agama yang dapat membuat buta para pembaca kitab Shahih-nya, sebab kebutaan mereka akan mebuat mereka mapan dalam beragama! itu barangkali yang ada dalam pikiran beliau.

Data di bawah ini salah satu dari puluhan bahkan mungkin ratusan bukti dalam hal ini.

Perhatikan scan di bawah ini:

 

Teks Hadis Dalam Musnad Al-Hamidi

musnad al-hamidi, juz-1, hal-9

13.” … Thawus mengabarkan bahwa ia mendengar Ibnu Abbas: “Telah sampai kepada Umar bahwa Samurah menjual khamr, maka ia berkata, “Semoga Allah membunuh Samurah. Tidakkan ia mengetahui bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Allah mengutuk bangsa yahudi, Allah mengharamkan atas mereka lemak (babi) lalu mereka mencairkannya kemudian mereka menjualnya.”

.

Dalam catatan kaki diterangkan: Hadis itu diriwayatkan Muslim dan Ibnu Majah dari jalur Ibnu Abi Syaibah dari Sufyan di dalamnya juga disebutkan nama terang Samurah. Akan tetapi Bukhari meriwayatkannya dari jalur al-Hamidi, ia mengatakannya: si fulan (dengan merahasiakan nama Samurah_red). Dan itu dalam hemat saya dari perbuatan Bukhari, dn tindakan (dengan merahasiakan nama Samurah_red) itu baik, dan Ibnu Hajar tidak pemberikan peringatan atasnya.

Teks Hadis Dalam Shahih Bukhari:

shahih bukhari_juz_3_kitab_al-buyu’

Perhatikan hadis dalam Shahih Bukhari, ia mengganti nama Samurah dengan kata penyamar fulanan/si fulan dan kata la’ana/Allah mengutuk dengan kata qatala/semoga Allah membunuh!

.

ustad husain ardilla berkata:

 

Dengan tindakan seperti ini dalam banyak tempat Imam Bukhari berandil dalam memperindah gambar kaum munafik dan para penentang syari’at serta membuat buta generasi pelanjut sehingga “keblinger” dengan menganggap indah semua potret sahabat, tidak terkecuali yang munafik dan fasiq!!

_________________________

Bukhari Pun Rusak Akidahnya!

Imam Besar Ahlusunnah Wal Jama’ah Ternyata Rusak Akidahnya!

Hampir tidak ada tokoh hadis yang selamat dari hujatan, vonis menyesatan hingga pengkafiran….  Imam Malik dikecam pengikut Imam Syafi’i… Para pendukung Imam Malik menghajar Imam Syafi’i…. Pembela Imam Ahmad juga ikut-ikutan menghajar Imam Syafi’i…. Ibnu Hibban divonis kafir/zindiq…  mata rantai kecam-mengecam tanpa akhir…!

Kini Imam Besar Ahlusunnah dikafirkan… divonis menyakini keyakinan sesat… dianggap berakidah jahmi yang tentunya sangat kafir menurut Imam Ahmad dan para ulama pendukungnya… juga oleh Muhammad ad Dzihli (tokoh senior Ahli Hadis di zamannya, yang sangat getol memerangi akidah pilihan Imam Bukhari dan juga mengkafirkannya)….

Jadi sebenarnya apa yang sedang terjadi di antara ulama dan para tokoh mazhab ini?

Siapa yang selamat….?

 

Kalau semua diyakini sebagai ulama yang jujur dan tulus dalam vonis yang mereka jatuhkan, maka akibatnya tidak seorang pun ulama yang selamat, semua sesat… semua zindiq.. semua kafir… semua Jahmi…

Dan jika mereka itu menjatuhkan vonis dengan dorongan hawa nafsu, maka pantaskah mereka kita jadikan imam dan rujukan agama kita?

Kini Imam Bukhari divonis berakidah rusak!

Perhatikan Scan di bawah ini!
.
.

.

.

Terjemahan:

Demikianlah pula dengan apa yang terjadi sekaitan masalah Lafadz. Bukhari (rh) Ketika ia diuji tentang masalah itu, para ulama/tokoh mengecamnya karena ia berpendapat bahwa: “Ucapanku dengan (bacaan) Al Qur’an adalah makhluk (bukan qadim, seperti keyakinan Ahmad dan ulama lainnya_pen).

maka mereka (para ulama) mengirimkan jawaban Bukahri ke berbagai penjuru, memberi peringatann akan bahaya akidah Bukhari. Sampai-sampai sekelompok ulama besar Ahi hadis yang diakui keluasan ilmu dan hadis dari kalangan Ahlusunnah wal Jama’ah meninggalkan meriwayatkan hadis dari Bukhari, di antara mereka adalah Abu Hatim ar-Razi dan Abu Zur’ah ar-Razi (dua ulama asal kota Ray).

Putra Abu Hatim menyebutkannya dalam sejarah hidupnya dalam kitabnya al-Jarh wa at-Ta’dil:

Ayahku dan Abu Zur’ah mendengar (meriwayatkan) hadis darinya (Bukhari) kemudian keduanya membuang hadisnya, ketika Muhammad ibn Yahya an an-Naisaburi (adz Dzihli_pen) menyurati keduanya, bahwa Bukhari telah menampakkan akidahnya di tengah-tengah masyarakat bahwa  (lafadznya) bacaan al Qur’annya adalah makhluk.
.

Ustad Husain Ardilla berkata :

Sungguh mengherankan jika di masa hidupnya ia dikecam bahkan divonis berakidah sesat oleh para tokoh senior di zamannya, lalu mengapa ia sekarang menjadi tokoh ahli hadis nomer wahid dan Pendekar Sunnah Sejagat?!

Jika ia memang sesat mengapa berubah menjadi panutan?

Jika ia tidak sesat mengapakah para tokoh senior Ahlusunnah wal jama’ah itu memvonisnya sesat? Apakah vonis itu atas dasar hawa nafsu? Jika demikian mengapakah mereka masih dipercaya sebagai panutan dalam agama?

Tolong para ulama Ahlusunnah membantu saya memecahkan masalah ini… Saya benar-benar mengharap bantuan kalian!!

Shalat Tarawih di Iran ? mayoritas umat Muslim yang menganut mazhab Syiah tidak melaksanakan shalat Tarawih.

عبد الرزاق عن الثوري عن منصور عن مجاهد قال جاء رجل إلى بن عمر قال أصلي خلف الإمام في رمضان قال أتقرأ القرآن قال نعم قال افتنصت كأنك حمار صل في بيتك

Mujahid meriwayatkan seseorang datang kpd Abdullah bin Umar dan bertanya : “haruskan aku shalat dibelakang Imam selama Ramadhan? Ia (Abdullah bin Umar) bertanya : “Kau bisa membaca Al Qur’an?”. Ia menjawab : “Ya”. (Abdullah bin Umar) berkata: “lalu mengapa kau diam2 berdiri seperti keledai, pergilah dan Shalatlah dirumahmu” (Mushanaf Abdulrazaq, j.4 h.264)

وقال مالك وأبو يوسف وبعض الشافعية وغيرهم الأفضل فرادى في البيت

“Berkata Malik dan Abu Yusuf dan beberapa ulama Syafi’i dan yang lainnya mengatakan bahwa lebih baik shalat sendiri-sendiri/masing2 di rumah” (Syarh Sahih Muslim, j. 6 h.39)

Pengikut mazhab Ahlul Bait as tidak solat tarawih pada malam bulan Ramadhan tetapi mereka melakukan qiamul lail atau solat malam mengikut tatacara yang diajarkan oleh a’immah ahlul bait as. Tatacara lengkap boleh dibaca dalam kitab Mafatih al-Jinan

.

Solat malam itu dilakukan mengikut kemampuan seseorang. Paling kurang ialah 2 rakaat. Paling banyak ialah 1000 rakaat untuk selama satu bulan Ramadhan. Solat malam dilakukan secara persendirian dan tidak secara jamaah. Ia dilakukan di rumah masing-masing atau di masjid atau di mana sahaja yang sesuai. Mereka mempergiatkan amalan solat pada malam sepuluh terakhir pada bulan Ramadhan

Tarawih ialah shalat sunnah Ramadhan yang dilakukan dengan berjamaah. Ia dinamakan Tarawih disebabkan adanya waktu istirahat (tarwihah) di dalamnya sesudah tiap empat rakaat. Tapi kami (kaum Syi’ah Imamiiyah) melaksanakan shalat sunnah Ramadhan sendiri-sendiri, sebagaimana yang berlaku pada zaman Rasulullah.

Di antara hasil penakwilan mereka ialah shalat Tarawih yang tidak pernah dilakukan pada zaman Rasulullah maupun masa khilafah Abu Bakar r.a. Shalat tersebut untuk pertama kali ditradisikan oleh Khalifah Kedua, pada tahun 14 H, seperti yang disepakati oleh para ulama

.

Hal ini ditegaskan oleh Al-’Askari dalam keterangannya tentang “Hal-hal Baru yang Diciptakan oleh Umar”, dan kemudian dikutip oleh As-Sayuthi pada pasal tentang Umar bin Khaththab, dalam bukunya, Tarikh Al-Khulafa’, halaman 51.

Dalam “Riwayat Hidup Umar” dari kita Al-Isti’ab, Ibn Abdil-Bar menulis: “Dia (Umar)-lah yang telah menyemarakkan bulan Ramadhan dengan shalat yang jumlah rakaatnya genap’ (yakni shalat Tarawih).”

Al-Allamah Abu Al-Walid Muhammad bin Syuhnah, ketika menyebut kematian Umar pada rangkaian peristiwa tahun ke-23 H dalam kitab sejarahnya Raudhat Al-Manazhir, berkata: “Dialah orang pertama yang melarang penjualan ummahat al-aulad (hamba-hamba perempuan yang beranak dari majikannya). Dialah yang pertama kali mengimami shalat jenazah dengan empat takbir. Dan dia pulalah orang pertama yang menyelenggarakan shalat Tarawih berjamaah dengan dipimpin oleh seorang Imam… dan seterusnya.”

Sebelumnya Anda telah tahu bahwa naskah ini termuat pada keterangan bagian tepi (hamisy) Tarikh Ibn Atsir. Adapun yang kami nukilkan di sini terdapat pada juz II, halaman 122.

Ketika As-Sayuthi menyebutkan dalam kitabnya Tarikh Al-Khulafa’ tentang “Hal-hal Baru yang Diciptakan oleh Umar r.a.”, yang ia kutip dari Al-’Askari, ia berkata: “Dialah orang pertama yang dijuluki Amir Al-Mukminin…, dan seterusnya,” sampai pada keterangan, “Dialah yang pertama mentradisikan shalat Tarawih pada malam-malam bulan Ramadhan, yang pertama kali mengharamkan mut’ah, yang pertama kali melaksanakan shalat Jenazah   dengan empat takbir… dan seterusnya.”

Berkata Muhammad bin Sa’ad, ketika menceritakan biografi Umar bin Khaththab r.a. dalam Ath-Thabaqat, juz III: “Beliaulah orang pertama yang mentradisikan shalat malam-malam Ramadhan (Tarawih) dengan berjamaah. Kemudian ia menginstruksikannya ke seluruh negeri, yaitu pada bulan Ramadhan tahun 14 H. Ia mengangkat dua qari (imam) di Madinah;  seorang mengimami sembahyang Tarawih untuk kaum laki-laki dan seorang lainnya untuk kaum wanita… dan seterusnya.”

Tarawih ialah shalat sunnah Ramadhan yang dilakukan dengan berjamaah. Ia dinamakan Tarawih disebabkan adanya waktu istirahat (tarwihah) di dalamnya sesudah tiap empat rakaat. Tapi kami (kaum Syi’ah Imamiiyah) melaksanakan shalat sunnah Ramadhan sendiri-sendiri, sebagaimana yang berlaku pada zaman Rasulullah.

Pada akhir juz I, dari kitab Shahih Al-Bukhari, yaitu pasal “Shalat Tarawih”, Al-Bukhari merawikan bahwa Rasulullah SAWW pernah bersabda: Barangsiapa mengerjakan shalat (sunnah) pada malam bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan keikhlasan, akan diampuni dosanya yang telah lalu. Kata Al-Bukhari selanjutnya: “… sedemikian itulah keadaannya sampai Rasulullah SAWW wafat, dan juga pada masa Khalifah Abu Bakar serta sebagian dari masa Khalifah Umar. (Yakni, yang pada masa-masa itu belum dikenal “shalat Tarawih”).

Muslim, pada bab “Anjuran Shalat Malam Bulan Ramadhan”, dalam kitab Shahih-nya, juz I, telah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAWW selalu menganjurkan kaum Muslim agar menghidupkan malam-malam bulan Ramadhan dengan shalat sunnah, tanpa mewajibkannya. Dalam hal ini beliau bersabda: Barangsiapa mengisi malam-malam bulan Ramadhan dengan shalat yang disertai keimanan dan keikhlasan kepada Allah, niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Ketika Rasulullah SAWW berpulang ke rahmatullah, keadaannya tetap seperti itu. Begitu pula pada zaman Abu Bakar, hingga awal pemerintahan Khalifah Kedua, Umar bin Khaththab r.a.

Pada pasal “Shalat Tarawih”, Al-Bukhari merawikan dari Abdur-Rahman bin ‘Abd (Al-Qari) katanya: Pada suatu malam di bulan Ramadhan, aku keluar bersama Umar menuju masjid. Kami melihat banyak orang sedang shalat sendiri-sendiri, masing-masing terpisah dari lainnya, Umar berkata: “Seandainya orang-orang itu aku kumpulkan dalam satu jamaah yang dipimpin oleh seorang imam, tentu lebih baik.” Kemudian ia menetapkan niatnya itu dan mengumpulkan mereka dalam. satu jamaah yang dipimpin oleh Ubay bin Ka’ab. Sesudah itu –kata ‘Abdur-Rahman– pada malam yang lain aku keluar bersama Umar lagi, sementara orang-orang sedang melaksanakan shalat mereka di belakang seorang imam. Ketika menyaksikan itu, Umar berkata: “Alangkah baiknya bid’ah ini!”

Nama lengkap ‘Abdur-Rahman ‘Abd (Al-Qari) ialah Ibn Daisy bin Muslim bin Ghalib Al-Madani. Abdur- Rahman ini pada waktu itu adalah pejabat Umar dalam menguruti Bayt Al-Mal. la adalah sekutu Bani Zuhrah. Meninggal dunia pada tahun 80 H, dalam usia 78 tahun.

Pada awal halaman 4, juz V, kitab Irsyad As-Sari fi Syarh Shahih Al-Bukhari, Al-’Allamah Al-Qasthallani, ketika sampai kepada ucapan Umar dalam hadis tersebut (yakni, “Alangkah baiknya bid’ah ini”), berkata: “Ia menamakannya bid’ah, sebab Rasulullah SAWW tidak menyunatkan kepada mereka untuk menunaikannya secara berjamaah. Hal itu juga belum pemah ada di zaman Khalifah Abu Bakar. Baik tentang waktu pelaksanaannya, atau tentang pelaksanaannya pada tiap malam Ramadhan ataupun tentang jumlah rakaatnya. (Yakni duapuluh rakaat seperti sekarang).”

Keterangan seperti itu dapat Anda jumpai pula dalam kitab Tuhfat Al-Bari. Hal ini tidak diperselisihkan oleh siapa pun di kalangan kaum Muslim. Maka, mudah-mudahan Anda cukup puas dengannya sebagai petunjuk atas diberlakukannya pemaafan-pemaafan bagi para penakwil.

.

Allah SWT berfirmah kepada Rasulullah SAWW:

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS Aali Imran: 31)

.

Dan perintah Allah kepada umat Muhammad:
“…apa yang diberikan Rasul kepada kalian, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagi kalian, Maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya” (QS Al-Hasyr: 7)
.
Dan firman Allah:
Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya Maka sungguhlah dia Telah sesat, sesat yang nyata” (QS Al-Ahzab: 36)
.
Semua pemeluk agama Islam pengikut Muhammad Rasulullah SAWW pasti meyakini bahwa bid’ah adalah perbuatan yang harus dijauhi. Hal itu karena terlampau banyak hadis Rasul –baik dalam kitab standart Ahlusunnah maupun Syiah- yang melarang dengan keras dan tegas kepada segenap umatnya dalam pelaksanaan bid’ah. Bahkan dalam beberapa hadis disebutkan bahwa berkumpul dengan pelaku bid’ahpun dilarang, apalagi melakukan bid’ah. Hal itu karena imbas dari ajaran Islam yang mengajarkan ajaran tauhid, termasuk tauhid dalam penentuan hukum agama. Jangankan manusia biasa, Rasulullah pun dilarang untuk membikin-bikin hukum agama. Beliau hanya berhak menyampaikan hukum Allah saja, tanpa diperkenankan untuk menambahi maupun menguranginya. Pelaku bid’ah dapat divonis sebagai penentang dalam masalah tauhid penentuan hukum yang menjadi hak preogatif Tuhan belaka. Hanya Dia yang memiliki otoritas mutlak untuk itu
.
Pada kesempatan kali ini, kita akan menegok kembali hukum ‘Shalat Tarawih’ di bulan suci Ramadhan yang seringnya dilakukan secara berjamaah oleh kebanyakan kaum muslimin, tidak terkecuali di Indonesia. Apakah Rasul pernah mencontohkannya ataukah tidak? Siapa pertama kali yang mempolopori pelaksanaan shalat tarawih berjamaah, dan dengan alasan apa? Jika Rasul tidak pernah mencontohkannya –bahkan memerintahkan untuk shalat sendiri-sendiri- maka pelaksanaannya secara berjamaah apakah tidak termasuk kategori bid’ah, sedang Rasul dalam hadisnya perbah bersabda: “ Bid’ah adalah sesat” (kullu bid’atin dhalalah) dimana ungkapan ini meniscayakan bahwa tidak ada lagi pembagian bid’ah menjadi ‘baik’ (hasanah) dan ‘buruk/sesat’ (dhalalah)?
.

Kita akan mulai dengan apa yang dinyatakan oleh Imam Bukhari dalam kitab shahihnya yang dinukil dari Abdurrahman bin Abdul Qori yang menjelaskan: “Pada salah satu malam di bulan Ramadhan, aku berjalan bersama Umar (bin Khattab). Kami melihat orang-orang nampak sendiri-sendiri dan berpencar-pencar. Mereka melakukan shalat ada yang sendiri-sendiri ataupun dengan kelompoknya masing-masing. Lantas Umar berkata: “Menurutku alangkah baiknya jika mereka mengikuti satu imam (untuk berjamaah)”. Lantas ia memerintahkan agar orang-orang itu melakukan shalat dibelakang Ubay bin Ka’ab. Malam berikutnya, kami kembali datang ke masjid. Kami melihat orang-orang melakukan shalat sunnah malam Ramadhan (tarawih) dengan berjamaah. Melihat hal itu lantas Umar mengatakan: “Inilah sebaik-baik bid’ah!”” (Shahih Bukhari jilid 2 halaman 252, yang juga terdapat dalam kitab al-Muwattha’ karya Imam Malik halaman 73)

.

Dari riwayat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa; Pertama: Shalat terawih berjamaah tidak pernah dilakukan sebelum adanya perintah dari Umar. Kedua: Pertama kali shalat tarawih berjamaah diadakan pada zaman Umar sebagai khalifah. Sedang pada masa Rasul maupun khalifah pertama (Abu Bakar) tidak pernah ada. Ketiga: Atas dasar itulah maka Umar sendiri mengakui bahwa ini adalah ‘hasil pendapat pribadinya’ sehingga ia mengatakan “Ini adalah sebaik-baik bid’ah” (nimatul bid’ah hadzihi). Sekarang yang menjadi pertanyaan; Bolehkan seorang manusia biasa mengada-ngada dengan dasar ‘pendapat pribadinya’ untuk membikin hukum peribadatan dalam Islam? Apa hukum mengada-ngada tersebut? Bagaimana memvonis pengada-ngada dan pelaksana hukum bikinan (baca: bid’ah) tersebut?
.

Kini kita lihat pengakuan beberapa ulama Ahlusunnah tentang hakekat hukum shalat tarawih berjamaah itu sendiri. Di sini kita akan mengambil beberapa contoh dari pribadi-pribadi tersebut. Al-Qosthalani dalam mensyarahi ungkapan Umar (“Ini adalah sebaik-baik bid’ah”) dalam kitab Shahih Bukhari tadi mengatakan: “Ia mengakui bahwa itu adalah bid’ah karena Rasul tidak pernah memrintahkanya sehingga shalat sunah di malam Ramadhan harus dilakukan secara berjamaah. Pada zaman Abu Bakar pun tidak pernah ada hal semacam itu. Begitu pula tidak pernah ada pada malam pertama Ramadhan (di malam hari keluarnya perintah Umar tadi. red). Juga dalam kaitannya dengan jumlah rakaat (shalat tarawih) yang tidak memiliki asal” (Irsyad as-Sari jilid 5 halaman 4). Ungkapan dan penjelasan semacam ini juga dapat kita temukan dalam kitab Fathul Bari, Umdah al-Qori dan beberapa kitab lain yang dikarya untuk mensyarahi Shahih Bukhari. As-Suyuthi dalam kitab “Tarikh al-Khulafa’” menjelaskan bahwa, pertama kali yang memerintahkan untuk melakukan shalat tarawih secara berjamaah adalah Umar bin Khatab

.

Ini pula yang diungkapkan oleh Abu Walid Muhammad bin Syuhnah dalam mengisahkan kejadian tahun 23 H. Sebagaimana juga diakui oleh Muhammad bin Saad sebagaimana yang tercantum dalam jilid ketiga kitab “at-Tabaqoot” sewaktu menyebut nama Umar bin Khatab. Juga yang dinyatakan oleh Ibnu Abdul Bar dalam kitab “al-Isti’ab” sewaktu mensyarahi pribadi Umar bin Khatab. Jadi jelas sekali dan tidak dipungkiri oleh siapapun bahwa; shalat tarawih secara berjamaah adalah ibadah yang tidak pernah dicontohkan apalagi diperintahkan oleh baginda Rasulullah sehingga hal itu tergolong bid’ah yang harus dijauhi oleh setiap pribadi muslim yang mengaku cinta dan taat kepada pribadi mulia Rasulullah

.
Sementara, dalam hadis-hadis lain disebutkan bahwa Rasulullah dengan keras melarang umatnya untuk melakukan shalat sunah secara berjamaah. Sebagai contoh, dalam sebuah hadis sahih disebutkan bahwa Rasul pernah bersabda: “Hendaknya atas kalian untuk melakukan shalat di rumah kalian, karena sebaik-baik shalat adalah yang dilakukan di rumah, kecuali shalat fardhu (wajib)” (Shohih Muslim dengan Syarh Imam Nawawi jilid 6 halaman 39, atau pada kitab Fathul Bari jilid 4 halaman 252)
.
Dengan menggabungkan empat argumen di atas tadi –(1) perintah mengikuti Rasul sehingga mendapat ridho Allah, (2) larangan melakukan bid’ah, (3) shalat tarawih tidak dicontohkan Rasul yang mensicayakan bid’ah dalam peribadatan dan (4) perintah Rasul untuk melakukan shalat sunah di rumah, secara sendiri-sendiri- maka banyak dari ulama Ahlusunnah sendiri yang mereka melakukan shalat tarawih di rumah masing-masing, tidak berjamaah di masjid ataupun mushalla. Malah dalam kitab “al-Mushannaf” disebutkan, Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan bahwa; “Ibnu Umar tidak pernah melakukan shalat tarawih berjamaah”. Dan dalam kitab yang sama, Mujahid mengatakan: “Pernah seseorang datang kepada Ibnu Umar dan bertanya: “Pada bulan Ramadhan, apakah shalat tarawih kita lakukan dengan berjamaah?” Ibnu Umar berkata: “Apakah kamu bisa membaca al-Quran?” Ia (penanya tadi) menjawab: “Ya!?” lantas Ibnu Umar berkata: Lakukan shalat tarawih di rumah!” (Al-Mushannaf jilid 5 halaman 264 hadis ke-7742 dan ke-7743)
.
Namun, sebagian dari ikhwan Ahlsunnah mengelak bahwa itu (tarawih berjamaah) adalah bid’ah berargumen dengan beberapa dalil. Di sini kita akan sebutkan sandaran mereka dengan kritisi ringkas atas dalil yang mereka kemukakan.

Ada dua hadis yang sering dijadikan argumen sebagai landasan hukum legalitas shalat tarawih berjamaah di bulan Ramadhan

;

1- Ummul Mukmin Aisyah berkata: “Pada satu pertengahan malam, Rasulullah keluar dari rumah untuk melaksanakan shalat di masjid. Beberapa orang mengikuti shalat beliau (sebagai makmum. red). Masyarakatpun mulai berdatangan karena kabar yang tersebar. Hal itu berjalan hingga malam ketiga. Masjidpun menjadi penuh. Pada malam keempat, setelah melaksanakan shalat Subuh Rasul berkhutbah di depan masyarakat dengan sabdanya: “…Aku khawatir perbuatan ini akan menjadi (dianggap) kewajiban sedang kalian tidak dapat melaksanakannya”. Sewaktu Rasulullah meninggal, suasana menjadi sedia kala” (Shahih Bukhari jilid 1 halaman 343)
.

Menjadikan hadis di atas sebagai dalil akan legalitas shalat tarawih berjamaah sangatlah lemah dan tidak sempurna. Karena di dalam teks hadis tersebut jelas sekali bahwa, tidak ada penjelasan bahwa itu terjadi pada bulan Ramadhan sehingga itu menunjukkan shalat tarawih. Selain karena hadis itu secara sanadnya terdapat pribadi yang bernama Yahya bin Bakir yang dihukumi lemah (dhaif) dalam meriwayatkan hadis. Hal itu bisa dilihat dalam kitab “Tahdzibul Kamal” jilid 20 halaman 40 dan atau Siar A’lam an-Nubala’ jilid 10 halaman 612. apalagi jika kita kaitkan dengan pengakuan sahabat Umar sendiri yang mengaakan bahwa tarawih adalah; “Sebaik-baik bid’ah”, sebagaimana yang telah kita singung di atas

.

2- Ibn Wahab menukil dari Abu Hurairah yang meriwayatkan bahwa, suatu saat Rasul memasuki masjid. Belioau melihat para sahabat di beberapa tempat sedang sibuk melaksanakan shalat. Beliau bertanya: “Shalat apa yang mereka lakukan?”. Dijawab: “Sekelompok sedang melakukan shalat dengan diimami oleh Ubay bin Ka’ab”. Rasul lantas bersabda: “Apa yang mereka lakukan benar dan mereka telah melakukan kebaikan.” (Fathul Bari jilid 4 halaman 252).
Menjadikan hadis ini sebagai pembenar pelaksanaan shalat tarawih berjamaah pun tidak benar, karena dalam teks hadis jelas tidak dinyatakan shalat apakah yang sedang mereka laksanakan, shalat tarawihkah ataukah shalat fardhu (shalat wajib). Selain itu, Ibnu Hajar sendiri (penulis kitab “Fathul Bari” tadi) setelah menukil hadis tersebut menyatakan kelemahan hadis tersebut dari dua sisi; pertama: Terdapat pribadi yang bernama Muslim bin Khalid yang lemah (dhaif) dalam meriwayatkan hadis. Kedua: Dalam hadis ini disebutkan bahwa Rasul yang mengumpulkan orang-orang agar shalat di belakang Ubay bin Ka’ab, padahal yang terkenal (ma’ruf) adalah sahabat Umar-lah yang mengumpulkan orang-orang untuk shalat bersama Ubay bin Ka’ab
.

Dari sini jelaslah bahwa, pelaksanaan ‘ibadah shalat tarawih berjamaah’ bukan hanya tidak pernah diperintahkan oleh Rasul, bahkan Rasul sendiri tidak pernah mencontohkannya. Dan terbukti pula bahwa sahabat umar-lah yang mempelopori ibadah tersebut. Padahal kita tahu bahwa ‘penentuan amal ibadah’ adalah hak mutlak Allah yang dijelaskan melalui lisan suci Rasulullah. Rasul sendiri tidak berhak menentukan suatu amal ibadah, apalagi manusia biasa, walaupun ia tergolong sahabat. Oleh karenanya, sahabat Umar sendiri mengakui bahwa itu adalah bagian dari Bid’ah. Sedang kita tahu bahwa semua bid’ah adalah sesat, sehingga tidak ada lagi celah untuk membagi bid’ah kepada baik dan tidak baik

.

Semoga dalam bulan suci Ramadhan ini kita bisa mengamalkan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya, termasuk menjauhi segala macam jenis bid’ah seperti melaksanakan shalat tarawih berjamaah. Karena bagaimana mungkin kita akan dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT namun jalan dan sarana yang kita tempuh adalah melalui perbuatan yang dibenci oleh Allah, seperti bid’ah. Mustahil sesuatu yang menjauhkan dari Allah (seperti Bid’ah) akan dapat mendekatkan kepada-Nya (masuk kategori ibadah). Ini adalah dua hal kontradiktif yang mustahil terjadi.

.

Jemaah Shalat Fardhu Atau Tarawih ?

Ah, bulan ramadhan telah tiba, syukur, dapat lagi merasa nikmatnya pada tahun ini. Bila sampai sahaja bulan ini, maka pada awalnya, penuhlah masjid dengan para pengunjung yang datang menunaikan solat Tarawih.

Tidak perlu rasanya saya beritahu, di dalam fikah Syiah, tiada solat tarawih secara berjemaah, yang dianggap bidaah oleh Rasulullah(sawa) dan para Imamnya, yang ada hanya solat-solat nafila yang didirikan secara individu.

Bagaimanapun, bagi saudara Sunni yang meyakini bahawa solat ini adalah satu Sunnah Rasul, maka, teruskan dengan apa yang kalian yakini, dan semoga Allah swt menerimanya.

Yang mahu ditanggapi dalam luahan ini hanyalah perkara yang pernah saya lakukan ketika Sunni dahulu, dan masih dilihat berleluasa amalannya di masa sekarang. Teringat dahulu, saya kerap mementingkan Tarawih berjemaah lebih dari solat fardhu berjemaah. Bukan saya seorang, tetapi ramai lagi saudara Sunni yang lain. Ini dapat dilihat dari tindakan mereka yang sampai ke masjid selepas habis menunaikan solat Isyak, hanya semata-mata untuk tarawih berjemaah. Solat fardhu Isyak mereka telah tunaikan di rumah secara berseorangan. Psikologi ini tidak betul, dan harus diubah.

Sepatutnya, solat fardhu berjemaah mendapat keutamaan yang lebih dari nafila berjemaah, ini adalah sabda Rasul sendiri, yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:

“Sebaik-baik solat adalah solat di rumah, kecuali solat fardhu.”

Ini jelas menunjukkan keutamaan solat fardhu berjemaah berbanding solat nafilah. Jadi lepas ini, selain kejar untuk berterawih berjemaah, maka cubalah sedaya upaya untuk tirit bersolat fardhu secara jemaah juga.

Nasihat ikhlas dari saudara Syiah mu.

Jadi jelas sekali dan tidak dipungkiri oleh siapapun bahwa; shalat tarawih secara berjamaah adalah ‘ibadah’ yang tidak pernah dicontohkan apalagi diperintahkan oleh baginda Rasulullah sehingga hal itu tergolong bid’ah yang harus dijauhi oleh setiap pribadi muslim yang mengaku cinta dan taat kepada pribadi mulia Rasulullah. Dan berdasarkan hadis terkenal Rasul; “Setiap bid’ah adalah sesat” (kullu bid’ah dhalalah) maka tidak ada lagi celah untuk membagi bid’ah menjadi baik dan buruk/sesat.

Studi Kritis atas Shalat Tarawih

 

Allah SWT berfirmah kepada Rasulullah SAWW:

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS Aali Imran: 31)

Dan perintah Allah kepada umat Muhammad:

“…apa yang diberikan Rasul kepada kalian, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagi kalian, Maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya” (QS Al-Hasyr: 7)

Dan firman Allah:

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya Maka sungguhlah dia Telah sesat, sesat yang nyata” (QS Al-Ahzab: 36)

Semua pemeluk agama Islam pengikut Muhammad Rasulullah SAWW pasti meyakini bahwa bid’ah adalah perbuatan yang harus dijauhi. Hal itu karena terlampau banyak hadis Rasul –baik dalam kitab standart Ahlusunnah maupun Syiah- yang melarang dengan keras dan tegas kepada segenap umatnya dalam pelaksanaan bid’ah. Bahkan dalam beberapa hadis disebutkan bahwa berkumpul dengan pelaku bid’ahpun dilarang, apalagi melakukan bid’ah. Hal itu karena imbas dari ajaran Islam yang mengajarkan ajaran tauhid, termasuk tauhid dalam penentuan hukum agama. Jangankan manusia biasa, Rasulullah pun dilarang untuk membikin-bikin hukum agama. Beliau hanya berhak menyampaikan hukum Allah saja, tanpa diperkenankan untuk menambahi maupun menguranginya. Pelaku bid’ah dapat divonis sebagai penentang dalam masalah tauhid penentuan hukum yang menjadi hak preogatif Tuhan belaka. Hanya Dia yang memiliki otoritas mutlak untuk itu.

Pada kesempatan kali ini, kita akan menegok kembali hukum ‘Shalat Tarawih’ di bulan suci Ramadhan yang seringnya dilakukan secara berjamaah oleh kebanyakan kaum muslimin, tidak terkecuali di Indonesia. Apakah Rasul pernah mencontohkannya ataukah tidak? Siapa pertama kali yang mempolopori pelaksanaan shalat tarawih berjamaah, dan dengan alasan apa? Jika Rasul tidak pernah mencontohkannya –bahkan memerintahkan untuk shalat sendiri-sendiri- maka pelaksanaannya secara berjamaah apakah tidak termasuk kategori bid’ah, sedang Rasul dalam hadisnya perbah bersabda: “Setiap Bid’ah adalah sesat” (kullu bid’atin dhalalah) dimana ungkapan ini meniscayakan bahwa tidak ada lagi pembagian bid’ah menjadi ‘baik’ (hasanah) dan ‘buruk/sesat’ (dhalalah)?

Kita akan mulai dengan apa yang dinyatakan oleh Imam Bukhari dalam kitab shahihnya yang dinukil dari Abdurrahman bin Abdul Qori yang menjelaskan: “Pada salah satu malam di bulan Ramadhan, aku berjalan bersama Umar (bin Khattab). Kami melihat orang-orang nampak sendiri-sendiri dan berpencar-pencar. Mereka melakukan shalat ada yang sendiri-sendiri ataupun dengan kelompoknya masing-masing. Lantas Umar berkata: “Menurutku alangkah baiknya jika mereka mengikuti satu imam (untuk berjamaah)”. Lantas ia memerintahkan agar orang-orang itu melakukan shalat dibelakang Ubay bin Ka’ab. Malam berikutnya, kami kembali datang ke masjid. Kami melihat orang-orang melakukan shalat sunnah malam Ramadhan (tarawih) dengan berjamaah. Melihat hal itu lantas Umar mengatakan: “Inilah sebaik-baik bid’ah!”” (Shahih Bukhari jilid 2 halaman 252, yang juga terdapat dalam kitab al-Muwattha’ karya Imam Malik halaman 73).

Dari riwayat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa; Pertama: Shalat terawih berjamaah tidak pernah dilakukan sebelum adanya perintah dari Umar. Kedua: Pertama kali shalat tarawih berjamaah diadakan pada zaman Umar sebagai khalifah. Sedang pada masa Rasul maupun khalifah pertama (Abu Bakar) tidak pernah ada. Ketiga: Atas dasar itulah maka Umar sendiri mengakui bahwa ini adalah ‘hasil pendapat pribadinya’ sehingga ia mengatakan “Ini adalah sebaik-baik bid’ah” (nimatul bid’ah hadzihi). Sekarang yang menjadi pertanyaan; Bolehkan seorang manusia biasa mengada-ngada dengan dasar ‘pendapat pribadinya’ untuk membikin hukum peribadatan dalam Islam? Apa hukum mengada-ngada tersebut? Bagaimana memvonis pengada-ngada dan pelaksana hukum bikinan (baca: bid’ah) tersebut?

Kini kita lihat pengakuan beberapa ulama Ahlusunnah tentang hakekat hukum shalat tarawih berjamaah itu sendiri. Di sini kita akan mengambil beberapa contoh dari pribadi-pribadi tersebut. Al-Qosthalani dalam mensyarahi ungkapan Umar (“Ini adalah sebaik-baik bid’ah”) dalam kitab Shahih Bukhari tadi mengatakan: “Ia mengakui bahwa itu adalah bid’ah karena Rasul tidak pernah memrintahkanya sehingga shalat sunah di malam Ramadhan harus dilakukan secara berjamaah. Pada zaman Abu Bakar pun tidak pernah ada hal semacam itu. Begitu pula tidak pernah ada pada malam pertama Ramadhan (di malam hari keluarnya perintah Umar tadi. red). Juga dalam kaitannya dengan jumlah rakaat (shalat tarawih) yang tidak memiliki asal” (Irsyad as-Sari jilid 5 halaman 4). Ungkapan dan penjelasan semacam ini juga dapat kita temukan dalam kitab Fathul Bari, Umdah al-Qori dan beberapa kitab lain yang dikarya untuk mensyarahi Shahih Bukhari. As-Suyuthi dalam kitab “Tarikh al-Khulafa’” menjelaskan bahwa, pertama kali yang memerintahkan untuk melakukan shalat tarawih secara berjamaah adalah Umar bin Khatab. Ini pula yang diungkapkan oleh Abu Walid Muhammad bin Syuhnah dalam mengisahkan kejadian tahun 23 H. Sebagaimana juga diakui oleh Muhammad bin Saad sebagaimana yang tercantum dalam jilid ketiga kitab “at-Tabaqoot” sewaktu menyebut nama Umar bin Khatab. Juga yang dinyatakan oleh Ibnu Abdul Bar dalam kitab “al-Isti’ab” sewaktu mensyarahi pribadi Umar bin Khatab. Jadi jelas sekali dan tidak dipungkiri oleh siapapun bahwa; shalat tarawih secara berjamaah adalah ibadah yang tidak pernah dicontohkan apalagi diperintahkan oleh baginda Rasulullah sehingga hal itu tergolong bid’ah yang harus dijauhi oleh setiap pribadi muslim yang mengaku cinta dan taat kepada pribadi mulia Rasulullah.

Sementara, dalam hadis-hadis lain disebutkan bahwa Rasulullah dengan keras melarang umatnya untuk melakukan shalat sunah secara berjamaah. Sebagai contoh, dalam sebuah hadis sahih disebutkan bahwa Rasul pernah bersabda: “Hendaknya atas kalian untuk melakukan shalat di rumah kalian, karena sebaik-baik shalat adalah yang dilakukan di rumah, kecuali shalat fardhu (wajib)” (Shohih Muslim dengan Syarh Imam Nawawi jilid 6 halaman 39, atau pada kitab Fathul Bari jilid 4 halaman 252).

Dengan menggabungkan empat argumen di atas tadi –(1) perintah mengikuti Rasul sehingga mendapat ridho Allah, (2) larangan melakukan bid’ah, (3) shalat tarawih tidak dicontohkan Rasul yang mensicayakan bid’ah dalam peribadatan dan (4) perintah Rasul untuk melakukan shalat sunah di rumah, secara sendiri-sendiri- maka banyak dari ulama Ahlusunnah sendiri yang mereka melakukan shalat tarawih di rumah masing-masing, tidak berjamaah di masjid ataupun mushalla. Malah dalam kitab “al-Mushannaf” disebutkan, Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan bahwa; “Ibnu Umar tidak pernah melakukan shalat tarawih berjamaah”. Dan dalam kitab yang sama, Mujahid mengatakan: “Pernah seseorang datang kepada Ibnu Umar dan bertanya: “Pada bulan Ramadhan, apakah shalat tarawih kita lakukan dengan berjamaah?” Ibnu Umar berkata: “Apakah kamu bisa membaca al-Quran?” Ia (penanya tadi) menjawab: “Ya!?” lantas Ibnu Umar berkata: Lakukan shalat tarawih di rumah!” (Al-Mushannaf jilid 5 halaman 264 hadis ke-7742 dan ke-7743).

Namun, sebagian dari ikhwan Ahlsunnah mengelak bahwa itu (tarawih berjamaah) adalah bid’ah berargumen dengan beberapa dalil. Di sini kita akan sebutkan sandaran mereka dengan kritisi ringkas atas dalil yang mereka kemukakan.

Ada dua hadis yang sering dijadikan argumen sebagai landasan hukum legalitas shalat tarawih berjamaah di bulan Ramadhan;

1- Ummul Mukmin Aisyah berkata: “Pada satu pertengahan malam, Rasulullah keluar dari rumah untuk melaksanakan shalat di masjid. Beberapa orang mengikuti shalat beliau (sebagai makmum. red). Masyarakatpun mulai berdatangan karena kabar yang tersebar. Hal itu berjalan hingga malam ketiga. Masjidpun menjadi penuh. Pada malam keempat, setelah melaksanakan shalat Subuh Rasul berkhutbah di depan masyarakat dengan sabdanya: “…Aku khawatir perbuatan ini akan menjadi (dianggap) kewajiban sedang kalian tidak dapat melaksanakannya”. Sewaktu Rasulullah meninggal, suasana menjadi sedia kala” (Shahih Bukhari jilid 1 halaman 343)

Menjadikan hadis di atas sebagai dalil akan legalitas shalat tarawih berjamaah sangatlah lemah dan tidak sempurna. Karena di dalam teks hadis tersebut jelas sekali bahwa, tidak ada penjelasan bahwa itu terjadi pada bulan Ramadhan sehingga itu menunjukkan shalat tarawih. Selain karena hadis itu secara sanadnya terdapat pribadi yang bernama Yahya bin Bakir yang dihukumi lemah (dhaif) dalam meriwayatkan hadis. Hal itu bisa dilihat dalam kitab “Tahdzibul Kamal” jilid 20 halaman 40 dan atau Siar A’lam an-Nubala’ jilid 10 halaman 612. apalagi jika kita kaitkan dengan pengakuan sahabat Umar sendiri yang mengaakan bahwa tarawih adalah; “Sebaik-baik bid’ah”, sebagaimana yang telah kita singung di atas.

2- Ibn Wahab menukil dari Abu Hurairah yang meriwayatkan bahwa, suatu saat Rasul memasuki masjid. Belioau melihat para sahabat di beberapa tempat sedang sibuk melaksanakan shalat. Beliau bertanya: “Shalat apa yang mereka lakukan?”. Dijawab: “Sekelompok sedang melakukan shalat dengan diimami oleh Ubay bin Ka’ab”. Rasul lantas bersabda: “Apa yang mereka lakukan benar dan mereka telah melakukan kebaikan.” (Fathul Bari jilid 4 halaman 252).

Menjadikan hadis ini sebagai pembenar pelaksanaan shalat tarawih berjamaah pun tidak benar, karena dalam teks hadis jelas tidak dinyatakan shalat apakah yang sedang mereka laksanakan, shalat tarawihkah ataukah shalat fardhu (shalat wajib). Selain itu, Ibnu Hajar sendiri (penulis kitab “Fathul Bari” tadi) setelah menukil hadis tersebut menyatakan kelemahan hadis tersebut dari dua sisi; pertama: Terdapat pribadi yang bernama Muslim bin Khalid yang lemah (dhaif) dalam meriwayatkan hadis. Kedua: Dalam hadis ini disebutkan bahwa Rasul yang mengumpulkan orang-orang agar shalat di belakang Ubay bin Ka’ab, padahal yang terkenal (ma’ruf) adalah sahabat Umar-lah yang mengumpulkan orang-orang untuk shalat bersama Ubay bin Ka’ab.

Dari sini jelaslah bahwa, pelaksanaan ‘ibadah shalat tarawih berjamaah’ bukan hanya tidak pernah diperintahkan oleh Rasul, bahkan Rasul sendiri tidak pernah mencontohkannya. Dan terbukti pula bahwa sahabat umar-lah yang mempelopori ibadah tersebut. Padahal kita tahu bahwa ‘penentuan amal ibadah’ adalah hak mutlak Allah yang dijelaskan melalui lisan suci Rasulullah. Rasul sendiri tidak berhak menentukan suatu amal ibadah, apalagi manusia biasa, walaupun ia tergolong sahabat. Oleh karenanya, sahabat Umar sendiri mengakui bahwa itu adalah bagian dari Bid’ah. Sedang kita tahu bahwa semua bid’ah adalah sesat, sehingga tidak ada lagi celah untuk membagi bid’ah kepada baik dan tidak baik.

Taraweh: Bid’ah yang Indah Itu….
Dari kitab Sahih Bukhari[1] dan Sahih Muslim[2] kita dapat mengambil pelajaran bahwa pada zaman Nabi Muhammad Saw dan pada zaman kekhalifahan Abu Bakar serta pada beberapa waktu pemerintahan Umar, tidak terdapat ritual shalat Tarawih.
Kalau kita saksikan dikebanyakan masjid-masjid saudara kita, Ahlussunnah, kita sering menjumpai pada malam-malam bulan Ramadhan terdapat ritual shalat berjamaah yang jumlah raka’atnya sebanyak 8 rakaat, 20 raka’at atau 36 rakaat. Konon Rasulullah Saw hanya mengerjakan 8 rakaat secara berjamaah kemudian melanjutkannya di rumah. Hal ini juga diikuti oleh para sahabat.
.
Namun, bagaimana sebenarnya hukum shalat Tarawih ini? Berikut ini mari kita menyimak tulisan berikut ini dengan tajuk “Bid’ah yang Indah itu..
.
 Dari kitab Sahih Bukhari[1] dan Sahih Muslim[2] kita dapat mengambil pelajaran bahwa pada zaman Nabi Muhammad Saw dan pada zaman kekhalifahan Abu Bakar serta pada beberapa waktu pemerintahan Umar, tidak terdapat ritual shalat Tarawih. Hingga pada suatu waktu dari salah satu malam-malam bulan Ramadhan, Umar masuk ke Masjid dan menyaksikan masyarakat melakukan shalat secara sendiri-sendiri (munfarid). Ia juga melihat di salah satu sudut masjid itu, ada sekelompok kaum muslim melaksanakan shalat secara berjamaah
.
Kemudian Umar berkata, “Kalau semua orang melaksanakan shalat secara berjamaah pasti akan menarik. Lalu ia mengumpulkan mereka untuk melaksanakan shalat di bawah pimpinan seorang imam (Ubay bin Ka’ab). Pada malam berikutnya ia masuk masjid itu dan menyaksikan jamaah masjid melaksanakan shalat secara berjamaah, seraya mengucapkan “Ni’mal bid’atu hadzihi[3]. (Alangkah indahnya bid’ah ini). Jadi pendapat yang mengatakan bahwa bilangan rakaat salat Tarawih itu sebanyak 20 rakaat merupakan pendapat Khalifah Umar bin Khatab.
.
Al-’Allamah al-Qasthalani, ketika sampai pada ucapan Umar dalam hadits tersebut (yakni alangkah baiknya bid’ah ini) berkata: “Ia (Umar) menamakannya bid’ah, sebab Rasulullah Saw sendiri tidak menjadikannya sebagai sunnah kepada mereka untuk dilakukan secara berjamaah.  Hal itu juga belum pernah terjadi pada masa Khalifah Abu Bakar, baik tentang waktu pelaksanaannya, atau tentang pelaksanaannya pada tiap malam Ramadhan, ataupun tentang jumlah rakaatnya.[4]
.
Dalam kitab Fiqh ‘alal Madzahib al Arba’ah[5] ihwal shalat Tarawih, “Adalah mustahab apabila shalat Tarawih ini dilaksanakan secara berjamaah, namun jumlah rakaatnya bukan 20 rakaat dan baru beberapa lama setelah itu ditambahkan. Dari kitab ini juga Anda bisa mengetahui seluk beluk salat Tarawih ini. Penyusun kitab ini, Abdul Rahman al-Jazairi menjelaskan bahwa: “Syaikhan, (Imam Bukhari dan Muslim) meriwayatkan sebuah hadits bahwa Rasulullah Saw keluar dari rumahnya pada tengah malam di bulan suci Ramadhan, yaitu pada malam ketiga, kelima dan kedua puluh tujuh, secara terpisah. Kemudian beliau Saw shalat di dalam masjid. Jamaah masjid pun turut pula melakukan shalat di dalam masjid beliau. Ketika itu beliau Saw melakukan shalat sebanyak 8 rakaat. Tetapi kemudian mereka menyempurnakan shalat mereka di rumah mereka masing-masing…” Kemudian Abdul al-Jaziri menyimpulkan pandangannya sendiri dari riwayat tersebut dan berkata: “Dari riwayat ini jelaslah bahwa Nabi Saw telah menetapkan kesunahan shalat Tarawih secara berjamaah. Tetapi beliau Saw tidak melakukannya -bersama-sama dengan mereka- sebanyak 20 rakaat, sebagaimana yang dilakukan pada masa sahabat (pasca wafat Rasulullah Saw) dan pada masa-masa selanjutnya hingga sekarang ini. Setelah keluar pada tiga malam itu, beliau Saw tidak keluar lagi karena takut nantinya shalat itu akan diwajibkan atas mereka sebagaimana yang juga pada  riwayat lainnya. Dan telah jelas pula bahwa jumlah rakaatnya tidak terbatas hanya 8 rakaat saja sebagaimana yang beliau lakukan bersama mereka. Dalilnya adalah bahwa mereka menyempurnakannya di dalam rumah-rumah mereka. Sementara perbuatan umar menjelaskan bahwa jumlah rakaatnya adalah 20. Dimana ketika itu (ketika Umar berkuasa sebagai Khalifah) dia menganjurkan kaum muslimin agar melakukan shalat Tarawih di dalam masjid sebanyak 20 rakaat, dan hal itu disetujui oleh para sahabat Nabi Saw.
.
Pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz penambahan rakaat shalat Tarawih terjadi lagi sampai 36 rakaat. Tujuan penambahan tersebut ini untuk menyesuaikan keutamaan dan kemuliaan penduduk kota Makkah. Karena mereka melakukan thawaf (mengelilingi Ka’bah) satu kali setelah setiap 4 rakaat. Berdasarkan hal itu, Umar bin Abdul Aziz menganggap perlu untuk menambahkan dalam setiap thawaf sebanyak 4 rakaat”.[6]
.
Dalam salah satu kitab fiqih Sunni “al-Mughni“, ulama Ahli Sunnah yang bernama al-Kharqi berata bahwa shalat Tarawih itu dilakukan sebanyak 20 rakaat. Ibnu Quddamah, seorang ulama Sunni terkenal lainnya berkata di dalam syarahnya bahwa menurut pandangan Imam Ahmad bin Hanbal, yang lebih kuat bahwa shalat Tarawih itu berjumlah 20 rakaat. Hal ini persis dengan pendapat as-Tsauri, Abu Hanifah dan Imam Syafi’i. Namun Imam Malik berpendapat bahwa shalat Tarawih itu berjumlah 36 rakaat. Dia mengatakan bahwa hal itu sesuai dengan perbuatan orang-orang Madinah.
.
Dalam pandangan madzhab Ahli Sunnah, keotentikan kitab al-Bukhari menempati urutan ke dua setelah Al-Qur’an dan sangat banyak yang memberikan komentar atas   kitab ini. Dalam kitab ini, para komentator itu memberikan pandangan beragam tentang jumlah rakaat yang ada pada salat Tarawih, sebagian mereka mengatakan bahwa jumlah rakaat shalat Tarawih itu adalah 13 rakaat, yang lainnya mengatakan 20 rakaat, kelompok yang lain berpendapat 24 rakaat, ada yang mengatakan 28 rakaat, sebagian lagi berujar 36 rakaat, ada juga yang mengatakan 38 rakaat, sebagiannya lagi mengatakan 39 rakaat, pendapat selanjutnya adalah 41 rakaat, pendapat lainnya adalah 47 rakaat, dan begitu seterusnya.
.
Ibnu Abdil Bar menulis: “Dialah Umar yang telah menyemarakkan bulan suci Ramadhan dengan shalat yang jumlah rakaatnya genap (yakitu shalat Tarawih)”[7]
.
Al-Allamah Abu Al-Walid Muhammad bin Syuhnah berkata: Dan dia pulalah orang pertama yang menyelenggarakan shalat Tarawih berjamaah dengan dipimpin oleh seorang imam….”[8]
.
As-Suyuthi menulis di dalam kitabnya Tarikhul Khulafa’ tentang hal-hal baru yang diciptakan oleh Umar, diantaranya ia berkata: “Dialah orang pertama yang mentradisikan shalat Tarawih pada malam-malam bulan Ramadhan”
.
Imam al-Bukhari -setelah meriwayatkan sebuah hadits Rasulullah Saw yang berbunyi: “Barangsiapa yang melakukan shalat (sunat) pada malam bulan Ramadhan……dst”- berkata: “….Sedemikian itulah keadaannya sampai Rasulullah Saw wafat, dan juga pada masa Khalifah Abu Bakar serta sebagian dari masa Khalifah Umar. (Yakni, yang pada masa-masa itu belum dikenal “shalat Tarawih”[9]
.
Muslim pun -di dalam kitab Shahih-nya- mengutip hadits yang sama dan kemudian memberikan komentar yang sama.[10]
.
Kiranya perlu diingat bahwa setelah pengarang kitab Fiqh ‘alal al Arba’ah menjelaskan permasalahan ini, ia kemudian memberikan pembenaran atas bid’ah yang dilakukan oleh Umar ini:[11]
.
Mengapa bid’ah ini diperbolehkan? Bukankah bid’ah yang sangat berpengaruh ini merupakan bentuk kesesatan? Apakah merupakan pengecualian yang berasal dari Nabi Saw?
.
Apakah dengan digantinya 11 rakaat sebagai shalat malam, 20 rakaat yang dilakukan tidak bertentangan dengan petunjuk yang diberikan oleh Nabi Saw?
Apakah menghatamkan seluruh Al Qur’an di antara jamaah masjid sebagai sebuah ibadah yang sunah dan bukan merupakan suatu bid’ah?
.
Apakah Umar berkata, “Lakukan 20 rakaat atau khatamkan Al Qur’an bagi mereka?
Apakah Umar memerintahkan supaya shalat Tarawih dilakukan di seluruh masjid?
Jawaban dari seluruh pertanyaan ini adalah iya. Shalat Tarawih yang digagas oleh ‘Umar ini merupakan suatu bid’ah. Oleh karena itu dalam fiqh Ahlul Bayt As terdapat pelarangan untuk melaksanakan shalat Tarawih karena tidak berasal dari sunnah Nabi Saw, melainkan merupakan sunnah Khalifah Kedua yang tidak dapat dijadikan sebagai sumber hukum.
.
Tentang solat malam pada bulan Ramadhan (qiyamulail fi Ramadhan) menurut pandangan  madzhab Ahlulbait As, memang berbeda dengan madzhab Sunni, baik dalam jumlah rakaatnya maupun dalam waktu dan doa-doa dan cara-cara lainnya. Aimah As dan ulama mereka tidak  berbeda pendapat mengenai jumlah rakaat dan cara melakukan shalat-shalat malam Ramadhan tersebut. Maksumin As dan para ulama AhlulbaitAs melakukan shalat atau qiyamulail pada bulan suci Ramadhan sebanyak seribu rakaat, selama sebulan penuh. Semenjak malam pertama bulan Ramadhan mereka melakukan solat sebanyak dua puluh rakaat. Hal ini mereka lakukan hingga malam ke dua puluh, di mana jumlah keseluruhan dari solat yang mereka lakukan adalah empat ratus rakaat. Selebihnya, yaitu dimulai semenjak malam ke-21 sampai malam terakhir, mereka melakukannya tiga puluh rakaat. Jadi selama sepuluh malam berjumlah tiga ratus rakaat.  Sedang pada tiga malam ganjil, yaitu malam ke 19, 21 dan 23, mereka menambahkannya menjadi seratus rakaat, yang jumlah keseluruhan pada tiga malam ini adalah tiga ratus rakaat. Menurut pandangan madzab Ahlulbait, tiga malam ganjil adalah malam-malam Lailatul Qadar dan mempunyai keutamaan dan kemuliaan ketimbang seribu bulan ibadah. Pada malam-malam lailatul Qadar amalan-amalan yang sangat dianjurkan di antaranya adalah mengadakan perenungan terhadap keadaan diri sendiri, mengadakan majelis-majelis keilmuan, selalu mengingat Allah Swt dengan zikir-zikir yang telah diajarkan oleh para Imam As, bertawassul kepada Ahlulbait As, berdoa dengan khusyu dan lainnya.
.

[1] . Sahih Bukhari, Kitab Shalat Taraweh, Hal. 322. Jil, No. 2009-2012
[2] . Sahih Muslim, Bab Targhib fi Qiyam Ramadhan wa huwa Tarawih, Hal. 334, No. 756
[3] . Sahih Bukhari, Kitab Shalat Tarawih, Hal. 322, No. 2010
[4] . Irsyadu Sahih Bukhari, 5/4
[5] . Jil. 1, Pembahasan tentang Shalat Matbu’, Shalat Tarawih, Hal. 340
[6] . Al Mughni, Jil. 6. Hal. 137-138
[7] . Isti’ab, Ibnu Abdil Bar
[8] . Raudhatal Manadhir, Jil. 2, Hal. 122
[9] . Sahih Bukhari, Juz 1, Pasal Solat Taraweh
[10] . Sahih Muslim, Juz 1,  Anjuran Shalat Malam pada Bulan Ramadhan

[11] . Ibid

 
Nampak jelas kesemua hujah  Imam Syatibi atau ulama2 lain yang mengulas perihal Tarawikh ini berdasarkan satu hal saja: ANDAIAN… Sedangkan prinsip asas hukum termasuk ibadah mestilah berdasarkan nas yg qath’i  (pasti/sahih) kecuali untuk tujuan fadail a’mal (kelebihan beramal) bolehlah digunakan wp hadis yg daif (lemah) tapi bukan yg maudhuk (palsu/rekaan).
.
Sedangkan ulama mereka sendiri menafikan apa yg mereka kata…. Mengapa mereka tidak merujuk kpd pensyarah kitab mereka sendiri lalu membuat syarahan yang baru (kira bid’ah dari segi bahasa lah ni). Lihat;
.
“Amalan ini dikatakan BID’AH kerana Rasulullah S.A.W TIDAK PERNAH MELAKUKAN solat ini secara berjemaah, dan solat ini tidak juga dilaksanakan sedemikian dalam masa al-Siddiq (merujuk kepada khalifah pertama), tidak juga didirikan di bahagian awal malam atau jumlah rakaat yang sedemikian.” (Riwayat Sunni: al-Qastallani, Irshad al-Sari Sharh al-Bukhari, jilid 5, ms. 4; al-Nawawi, Sharh Sahih Muslim, jilid 6, ms 287).
.
“Umar adalah yang pertama menentukan contoh untuk solat malam di bulan Ramadhan, Tarawih, dan mengumpulkan manusia padanya, dan mengarahkan kawasan-kawasan lain mengenai perkara itu. Ini terjadi pada bulan Ramadhan tahun 14 Hijrah. Dia melantik untuk manusia seorang Qari qur’an yang memimpin solat Tarawih untuk lelaki dan wanita.”(Ibn Sa’d, Kitab al-Tabaqat, jilid 3, ms 281; al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa’, ms 137; al-’Ayni, ‘Umdat al-Qari fi Sharh Sahih al-Bukhari, jilid 6, ms 125)
.
 
Bmana mereka boleh lari dari nas yg qath’i dan berpegang kepada andaian.Tidakkah semua org ada andaian tersendiri. Bersediakah mereka yg mempertahankan “sebaik2 bid’ah” ini menerima andaian org lain pula. Jika mereka tidak bersedia maka mereka telah memasukkan “ANDAIAN” sebagai sumber hukum selain Al-Quran dan Sunnah.
.
p/s Mungkin juga di lain masa jika berbangkit isu tarawikh ni mu terangkan bahawa Saidina Ali ketika menjadi khalifah/ ketika berada di Kota Kufah melarang orang ramai melakukan solat terawih dan menyuruh anaknya Saidina Hasan memukul dengan tongkat orang yang melakukannya tetapi orang ramai berkeras terus melakukannya kerana ia sudah menjadi amalan tradisi di zaman Umar.  Jadi pandangan Imam Ali sama dengan pandangan Nabi dan Abu Bakar. Pandangan Umar sama dengan Uthman dan seterusnya hingga kini (bagi yg ingin “melakukan sebaik2 bid’ah)
.
Pandangan Ahl Bait/Keluarga Nabi Mengenai Salat Tarawih
Iman al-Baqir A.S dan Imam al-Sadiq A.S telah ditanya mengenai boleh tidaknya mendirikan solat sunat secara berjemaah di malam-malam Ramadhan. Mereka berdua menyampaikan sebuah hadis Rasulullah S.A.W. di mana baginda bersabda mafhumnya: “Sesungguhnya mendirikan solat nafila (solat sunat) secara berjemaah di masa malam-malam Ramadhan adalah BID’AH, wahai manusia! Janganlah mendirikan solat nafila Ramadhan secara berjemaah. Tidak diragukan, melakukan amalan yang sedikit menyembah Allah yang mematuhi sunnah adalah lebih baik dari melakukan amalan yang banyak yang dihasilkan dari bid’ah.” (al-Hurr al-’Amili, Wasa’il al-Shia’ah, jilid 8, ms 45). Maksudnya menurut AB semasa zaman Nabi lagi, Nabi telah melarangnya.
.
Di kalangan Syiah selalu mementingkan untuk mendirikan solat malam, dipanggil Tahajjud atau Qiyam al-Lail atau Solat al-Lail, pada bahagian terakhir malam setiap bulan, terutama semasa bulan Ramadhan. Syiah juga menggalakkan mendirikan solat Nawafil sebagai tambahan di malam-malam bulan Ramadhan. Bagaimanapun, mereka dirikan solat pilihan ini kebanyakannya di rumah-rumah mereka dan tidak pernah berjemaah walaupun dilakukan di masjid. Dengan melakukan begini mereka telah patuh pada al-Quran dan sunnah Rasulullah S.A.W.
.
Ini bermakna pendapat yang menyatakan Syiah tidak melakukan sembahyang tarawih/solat nafila (sunat) adalah tidak begitu tepat. Yang ditegah oleh syiah ialah sembahyang tarawih/solat nafila berjemaah.
.
Definisi Tarawih:
Perkataan Tarawih tidak pernah disebut oleh al-Quran atau hadis Rasulullah S.A.W. dalam menjelaskan solat berjamaah tambahan pada malam-malam di bulan Ramadhan. Ini adalah istilah yang dihasilkan kemudiannya diantara para Muslim. Dari tatabahasa, perkataan Tarawih adalah jamak dari perkataantarwiha yang merujuk kepada waktu rehat singkat di antara dua atau empat rakaat salat tersebut. Kemudiannya, seluruh solat sunnat berjemaah tambahan ini dipanggil dengan istilah ini – Tarawih. ATAU Definisi Tarawih ialah bermaksud duduk bersenang-senang atau beristirehat. Manakala Solat Tarawih bererti solat sunat dengan rasa senang dan kelapangan hati selepas solat fardhu Isya’.
.
Tarwiha= waktu rehat sekejap (jadi wakru rehat pukul 1-2 adalah Tarwiha)

Tarawih= waktu-waktu rehat sekejap (antara 2/4 rakaat)= semua waktu rehat yg sekejap itu digabungkan menjadi TARAWIH… aneh sekali solat ni… kok rehat-rehat jadi nama solat?

Menurut orang Irantarawih berjamaah itu tidak ada di zaman Rasulullah tapi baru diselenggarakan pada zaman khalifah Umar bin Khattab.Itulah sebabnya mereka tidak tarawih berjamaah di masjid-masjid, melainkan shalat-shalat sendiri di rumah

Sama halnya dengan negara-negara muslim lainnya, masyarakat Iran juga menyemarakkan Ramadhan dengan berbagai agenda yang bernilai ibadah. Hanya saja ada kekhasan budaya masyarakat Iran yang bisa jadi sulit ditemui di tempat lainnya. Kalau kaum muslimin di Indonesia misalnya, mempersoalkan berapa rakaat salat tarawih yang harus ditunaikan secara berjamaah, antara 8 atau 20 rakaat, kaum muslimin di Iran justru tidak melakukannya. 

.

Berbeda dengan mayoritas muslim di Indonesia dan Negara-negara Timur Tengah lainnya, Iran memasuki Ramadhan 12 Agustus 2010. Awal Ramadhan di Iran diumumkan secara resmi oleh Mufti Iran tidak seperti di Indonesia yang biasanya masing-masing Ormas Islam mengumumkan awal puasanya sendiri-sendiri, sehingga terkadang berbeda satu sama lain. Mungkin dikarenakan adanya kedekatan emosional antara rakyat Iran dengan alim ulamanya
.
Sama halnya dengan negara-negara muslim lainnya, masyarakat Iran juga menyemarakkan Ramadhan dengan berbagai agenda yang bernilai ibadah. Hanya saja ada kekhasan budaya masyarakat Iran yang bisa jadi sulit ditemui di tempat lainnya. Kalau kaum muslimin di Indonesia misalnya, mempersoalkan berapa rakaat salat tarawih yang harus ditunaikan secara berjamaah, antara 8 atau 20 rakaat, kaum muslimin di Iran justru tidak melakukannya. Menurut orang Iran, tarawih berjamaah itu tidak ada di zaman Rasulullah tapi baru diselenggarakan pada zaman khalifah Umar bin Khattab. Itulah sebabnya mereka tidak tarawih berjamaah di masjid-masjid, melainkan shalat-shalat sendiri di rumah
.
.
Meskipun tidak menyelenggarakan shalat tarawih secara berjamaah, bukan berarti mesjid sepi. Justru mesjid-mesjid penuh sesak dengan orang-orang semalam suntuk. Khususnya pada malam ke-19, 21 dan 23. Menurut keyakinan orang Iran ada hadits Rasulullah yang menyebutkan, malam lailatul Qadr kemungkinan jatuh pada ketiga malam tersebut. Karenanya pada ketiga malam tersebut masjid-masjid, husainiyah (balai pertemuan), dan rumah-rumah yang memang menyediakan diri untuk ‘open house’, penuh sesak dengan orang-orang yang berburu pahala dan keutamaan malam Lailatul Qadr, yang menurut Al-Qur’an dan hadits, ibadah pada malam itu lebih baik dari ibadah selama seribu bulan. Pada ketiga malam itu, mereka melakukan ibadah sampai menjelang sahur. Di antaranya membaca doa jauzan Kabir.Doa ini memuat seribu Asmaul Husna (nama-nama Allah yang baik dan indah), karenanya butuh berjam-jam untuk membaca doa ini. Dan bisa lebih lama lagi karena di sela-sela bacaan doa, si pembaca doa menyelipkan munajat, syair-syair rintihan penyesalan atas dosa-dosa di hadapan Allah SWT. Tak heran bila suasana sangat emosional dan isak tangis terdengar di sana-sini.
Pada hari ke-25 hingga ke-27 di masjid-masjid diadakan i’tikaf secara nasional. I’tikaf yakni berdiam diri di masjid dengan niat mengisinya dengan beribadah kepada Allah SWT. I’tikaf ini telah menjadi program nasional setiap tahunnya, karenanya biaya konsumsi termasuk fasilitas i’tikaf seperti tasbih, buku-buku doa dan sajadah disediakan pemerintah.Kekhasan lainnya di negeri para mullah ini, tentu saja tradisi berbuka puasa. Sekitar dua jam sebelum berbuka, mereka melakukan majelis-majelis Al-qur’an. Tidak hanya di masjid-masjid, tetapi juga di tempat-tempat terbuka, seperti di taman dan sebagainya. Bulan Ramadhan adalah bulan dimana Al-Qur’an diturunkan, karenanya menurut mereka, Al-Qur’an harus lebih banyak dibaca pada bulan ini. Dalam majelis tersebut, mereka tidak hanya membaca Al-Qur’an tapi juga mengkaji dan mendiskusikannya. Sejak Sayyid Muhammad Husein Tabataba’i seorang bocah 7 tahun meraih gelar Doktor Honoris Causa dari Hijaz College Islamic University, Inggris, dengan nilai 93 karena hafal dan faham Al Quran, dikenal di seluruh dunia, Iran lebih agresif lagi memperkenalkan Al-Qur’an keseluruh dunia..Saat ini sudah ada 600 pusat lembaga kegiatan berbasis Al Quran yang sedang aktif dan dua tahun kedepan ditargetkan ada seribu perpustakan dan Bank CD Qurani di pusat-pusat kegiatan AlQur’an di Iran. Telah berkali-kali Iran menjadi tuan rumah penyelenggaraan Pameran Al-Qur’an Internasional. Dalam Pameran Al-Qur’an Internasional ke XVI 2008 di Teheran ditampilkan juga Al-Qur’an terkecil yang memecahkan rekor dunia. Al-Qur’an yang hanya berukuran 5 x 7 cm ini dibuat oleh kaligrafer Iran Roin Abar Khanzadeh, 94 kali lebih kecil dari Al-Qur’an terkecil sebelumnya. Yang menarik Al Quran terkecil ini ditulis dengan mata telanjang oleh penulisnya dan bila dijejer hanya menempati ukuran kertas A3. Dengan tingkat apresiasi yang tinggi terhadap Al-Qur’an wajar jika Iran menghasilkan banyak Mufassir terkemuka dalam dunia Islam, diantaranya Allamah Mohammad Husain Thabatabai, penulis tafsir Al Mizan yang fenomenal..Seteleh majelis-majelis Al-Qur’an diselenggarakan, merekapun tinggal menanti buka puasa. Berbuka puasa bersama, diselenggarakan di masjid-masjid. Mereka memulai berbuka dengan teh panas, buah kurma dan manisan Zulbiyo bo Mir. Zulbiyo bo Mir adalah makanan khusus yang dibuat hanya pada bulan Ramadhan bahannya 99 % terdiri dari gula. Makanan khas lainnya adalah Ash dan Halim. Ash semacam sup yang dibuat dari sayuran yang dihaluskan, ditambah mie halus yang diatasnya disiramkan saus

.

Sedangkan Halim adalah bubur gandum bercampur serat-serat daging yang dibubuhi kacang peste dan kelapa tabur. Hanya saja Ash dan Halim ini terbilang cukup mahal, sehingga hanya disajikan di restoran-restoran. Masyarakat Iran pada umumnya merasa cukup berbuka dengan menu teh panas, kurma dan manisan Zulbiyo bo Mir yang terkadang di tambah dengan keju putih. Karenanya tidak ada kehebohan belanja di pasar-pasar menjelang berbuka puasa, tidak ada kesibukan khusus mempersiapkan aneka minuman segar berbuka macam es cendol, es buah, es pisang ijo dan sebagainya. Orang-orang Iran sepertinya tidak menganggap bahwa karena seharian puasa, maka saat berbuka perut mesti dimanjakan oleh makanan dan minuman yang variatif. Siang harinya pun, restoran dan penjual juz buah tetap buka, bagi yang tidak berpuasa mungkin karena non muslim, musafir, berhalangan atau karena sakit, tidak sungkan-sungkan menikmati makanan dan minuman di kios-kios yang terbuka. Di Iran tidak ada polisi dan orang-orang yang razia dan menghalang-halangi orang lain untuk makan di siang hari ramadhan.

.

Kekhasan berikutnya, di Iran ada lembaga amal yang sangat terkemuka, yaitu Komite Imdad (pertolongan) Imam Khomeini (KIIK). Program utama lembaga ini membantu Ikramul Aytam (Pemuliaan Anak Yatim). Di tiap bulan Ramadhan, KIIK membuka posko di berbagai kota yang menerima bantuan dan menyalurkan dana dari masyarakat untuk memuliakan anak yatim. Disetiap posko terdapat daftar nama lengkap dengan gambar dan biografi singkat puluhan atau ratusan anak yatim. Bagi yang ingin memberikan bantuannya cukup memilih kepada siapa bantuannya itu diserahkan. Tidak melulu berupa uang, namun juga berupa pakaian, buku-buku atau mainan. Karenanya di hampir setiap posko mudah kita temui tumpukan hadiah dan bungkusan kado yang nanti akan diserahkan kepada anak yatim yang terlah terdaftar. Besarnya animo masyarakat menunjukkan KIIK sebagai lembaga yang dapat dipercaya menyalurkan pertolongan sekaligus tempat ‘berlindung’ bagi yang membutuhkan.

.

Hal istimewa lainnya, hari Jumat pada pekan terakhir bulan Ramadhan orang Iran menyebutnya sebagai Hari Al-Quds. Hari dimana mereka meramaikan jalan-jalan utama di kota-kota besar untuk berdemonstrasi, menuntut pembebasan Palestina dari penjajahan Israel. Pada hari itu, Yel-yel marg bar Israel (kematian bagi Israel),marg bar Amrika (kematian bagi Amerika) dipekikkan di berbagai kota di Iran. Para peserta demo menunaikan sholat Jumat bersama-sama dan membentuk shaf panjang, yang di Teheran bisa mencapai puluhan kilometer. Aksi unjuk rasa besar-besaran ini menunjukkan bentuk solidaritas muslim Iran terhadap muslim Palestina dan ketidak setujuan mereka terhadap aksi penindasan terhadap bangsa lain yang merdeka dan berdaulat.

.

Bulan Ramadhan adalah bulan yang berkah, bulan yang selalu dinanti nanti oleh setiap muslim dimanapun berada, keistimewaan, keagungan, kedahsyatannya membuat umat Islam bangkit dan bersemangat, padahal di bulan ini pula umat Islam harus berpuasa “full” selama sebulan lamanya, kalau dipikir secara akal, tidak akan sampai kesana, tetapi dipikir secara ruhiyah batiniyah… wow greats… anda penasaran? silahkan mencobanya..

Bagi orang orang yang tahu hakikat Ramadhan (puasa dan ibadah ibadah yang dianjurkan selama Ramadhan), tentu akan bersikap seperti yang telah saya paparkan di pembukaan diatas.. yang pada akhirnya akal pikiran kita pun akan mengamininya.

.

Bagi Republik Islam Iran, negara yang baru I Juli 2012 kemarin ditimpa sangsi yang kesekian kalinya oleh negara negara “adikuasa dunia” merupakan negara terbesar muslim “Syiah” di dunia ini, sama halnya dengan Indonesia yang merupakan negara terbesar muslim “Sunni” di dunia, datangnya bulan suci Ramadhan, disambut dengan bahagia dan suka cita, Terminal Bis penuh dengan orang orang yang mudik karena ingin berpuasa di tengah tengah keluarga, mesjid mesjid dihias sedemikian rupa, poster poster di jalan jalan bercerita tentang penyambutan bulan agung ini. acara acara di Tv maupun radio rame berbicara tentang Ramadhan.

.

Pemerintah pun mengumumkan restoran atau kedai kedai makanan harus buka jam berapa selama bulan Ramadhan. beberapa kebutuhan Sembako sudah naik jauh hari sebelum Ramadhan ini akan tiba, Naiknya harga bukan disebabkan karena kedatangan bulan Ramadhan sebagaimana di negara kita, tetapi disebabkan oleh sangsi sangsi tersebut di atas, kita lihat akan seperti apa jadinya…, teman teman Iran saya banyak yang mengeluh dengan kenaikan ini, dan sebagian bahkan ada yang memaki maki pemerintahannya sendiri tanpa tahu harus berbuat apa… kita orang asing disini, merasakan sekali bagaimana kesusahan mereka, karena disini pun kita (mahasiswa asing, red) mengalaminya karena beasiswa yang tidak naik naik angkanya, hiks hiks… berbeda dengan mereka (pekerja asing, diplomat, red) tambah subur dengan tingginya nilai “Dollar atau Euro” disini, yang sekarang mencapai 20.000 riyal per 1 dollar

mmmhhhh

Penetapan 1 Ramadhan

Tidak seperti di Indonesia yang selalu ada dua bahkan tiga atau empat pendapat tentang penetapan 1 Ramadhan, di Iran semuanya kompak, mengikuti pemerintah. untuk tahun ini jatuh pada hari Sabtu 21 Juli 2012. mereka (masyarakat syiah) mempunyai pemimpin spiritual yang harus ditaati, dialah sang Rahbar atau pemimpin tertinggi Iran sekarang “Ayatullah Ali Khomenei”. bagaimana kita orang Indonesia disini? teman saya yang notabene pelatih Badminton di Timnas badminton Iran, menunggu “fatwa” dari KBRI kapan puasa dimulai, dan kapan Tarawih mulai akan dilaksanakan, tetapi sayang sampai tadi malam belum kedengaran “fatwa” tersebut, hehee… padahal dia sebagai warga Indonesia disini, ingin sekali “kompak” dengan orang orang Indonesia disini, terutama dengan KBRI sebagai perwakilan pemerintah.

Makanan “Khas” Bulan Puasa Iran

Sebagaimana di Indonesia, di Iran pun mempunyai makanan makanan tertentu di bulan Ramadhan, tetapi tetap menurut saya makanan Indonesia tetap “Paling TOP” deh kalau soal makanan. diantara makanan khas Iran ketika bulan puasa, adalah Zulbiye, sejenis kue manis terbuat dari sagu, Halim, sejenis bubur terbuat dari gandum yang dicampur dengan daging, Osh reshte, sejenis sup dengan mie, kacang kacangan dan daging, dan lain lain…  Untuk minumannya, Teh panas masih menjadi andalan orang Iran di berbagai musim (seperti kita ketahui, Iran mempunyai 4 musim, Musim Panas, Musim Dingin, Musim Gugur dan Musim Semi), seperti Ramadhan kali ini sama dengan Ramadhan tahun lalu, yaitu musim panas, dimana waktu sahur bisa jam 3.30 pagi dan buka bisa jam 9.30 malam. ini Ramadhan ketiga saya alami di negeri Ahmadinejad ini.

Shalat Tarawih

Untuk Shalat Tarawih, tidak dilaksanakan secara berjamaah di mesjid mesjid Iran, jadi jangan aneh, kalau anda berkunjung kesini di bulan Ramadhan, anda tidak akan bisa mendapati mesjid mesjid penuh sesak dengan jamaah sebagaimana di Indonesia, kecuali di dua tempat suci yaitu di Kota suci Qom dan Mashhad, anda akan merinding bila berkunjung kesana, sebagaimana halnya di Mekah dan Madina, tidak ada matinya, penuh sesak dengan jamaah, apalagi sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, Manusia dari berbagai pelosok di Iran berziarah ke dua tempat itu tak terkecuali dari berbagai pelosok dunia. Kemah atau tenda pun didirikan di sekitar Mesjid pusat peribadatan terbesar di Iran itu (Mesjid Imam Ridha di Mashhad dan Sayyidah Fatimah Maksoma di Qom, red), karena hotel hotel sudah penuh. sebagaimana di Indonesia, disini pun untuk Ifthar atau berbuka puasa, disediakan secara gratis, teh panas dan kurma, atau halim dan Non (Roti Iran).

Islam Syiah beranggapan bahwa shalat sunnah tidak bisa dikerjakan berjamaah, melainkan dikerjakan sendiri sendiri, bahkan shalat sunnah Ramadhan mereka lebih banyak rakaatnya daripada Shalat Tarawih itu sendiri, kalau dikalkulasikan selama sebulan itu mencapai 1000 rakaat. maka terkenal dengan shalat sunnah 1000 rakaat, menjelang Lailatul Qadar adalah waktu yang paling tepat untuk shalat sunnah sebanyak banyaknya.

Budaya Mudik

di Iran, sebagaimana di Indonesia ada juga budaya mudik, Tehran sebagaimana Jakarta, merupakan pusat kota penting tempat dimana orang orang daerah mengadu nasib. jadi wajar ketika ada moment moment penting yang mengharuskan kumpul bersama keluarga besar, mereka pulang kampung alias mudik.

yang membedakannya dengan Indonesia adalah “moment pentingnya”, kalau di Iran, Lebaran Idul Fitri bukan moment penting yang mengharuskan pulang kampung sebagaimana di Indonesia. Tetapi ketika Tahun Baru Iran, mereka akan pulang kampung dan menikmati liburan sampai 3 minggu, termasuk awal bulan Ramadhan mereka pun pulang kampung dengan mengambil cuti, karena tidak ada libur resmi untuk ini.

Pameran Alquran Internasional seperti biasa digelar selama bulan Ramadhan, dan berbagai discount diberikan pada bulan berkah ini,

Kebiasaan ngabuburit di Indonesia, sama sekali tidak dikenal di negeri ini.Berpuasa di negeri mayoritas Muslim ternyata tidak selalu mudah. Di negeri Islam Iran, mayoritas umat Muslim yang menganut mazhab Syiah tidak melaksanakan shalat Tarawih.

Oleh karena itu, sebagai umat yang meganut mazhab Suni, warga Indonesia di Iran, kesulitan untuk melaksanakan shalat Tarawih. Warga Indonesia yang kebanyakan mahasiswa harus pontang-panting mencari masjid yang melaksanakan Tarawih. Saya pun kaget ketika pertama kali datang ke negeri Ahmadinejad ini untuk studi S2 di Universitas Internasional Imam Khomeini.

Namun, bagi yang tinggal di Teheran, seperti saya, mungkin masih lebih beruntung. Karena, Duta Besar Republik Indonesia (KBRI) Teheran di Iran, Iwan Wiranataatmadja, mendatangkan para imam langsung dari Tanah Air untuk memimpin shalat Tarawih.

Tidak hanya memimpin Taraweh, para imam itu juga berceramah seusai shalat Tarawih. Rasanya menghapus dahaga rohani. Berbagai topik disajikan para imam untuk menambah khazanah keislaman warga Indonesia di Iran.

Selain itu, mereka juga menjadi imam pada shalat Jumat di area perkantoran KBRI Teheran. Biasanya, jika tidak ada imam dari Indonesia, yang menjadi imam dan khatib untuk shalat Jumat adalah para mahasiswa yang menempuh studi di negeri Persia ini.

Para imam yang didatangkan dari Indonesia itu, di antaranya Prof Dr Ali Aziz, guru besar IAIN Sunan Ampel Surabaya, Syeikh Mustafa Mas’ud dari Jakarta, dan KH Athian Ali dari Bandung. Tiga imam ini tidak didatangkan sekaligus, melainkan dibagi menjadi tiga tahap, yang pertama di 10 awal Ramadhan, yang kedua 10 hari di pertengahan Ramadhan, sementara yang ketiga di 10 akhir Ramadhan hingga memimpin shalat Idul Fitri mendatang.

Kehadiran imam tersebut menambah semangat masyarakat Indonesia di sana untuk Tarawih. Mereka berduyun-duyun ke KBRI untuk melaksanakan Tarawih sebelum azan Isya berkumandang. Lewat Tarawih berjamaah ini pula, warga Indonesia di Iran dapat bersilaturahim satu dengan yang lainnya.

15 jam

Bulan Ramadhan di negeri orang berbeda dengan di Tanah Air. Jika di Indonesia masyarakat dan media massa begitu antusias menyambut bulan suci ini, di Republik Islam Iran hal itu sama sekali tak tampak. Ini karena budaya masyarakatnya yang berbeda.

Kebiasaan ngabuburit menjelang berbuka puasa di Indonesia tidak dikenal oleh masyarakat Iran.Meski begitu, ada juga warga setempat yang menjual makanan ciri khas menjelang buka puasa, namun jumlahnya relatif sedikit. Makanan tersebut bernama halim, terbuat dari tepung gandum yang dicampur dengan daging kambing.

Saya pernah antre untuk membeli makanan menjelang buka puasa.. Namun, setelah disantap, ternyata rasanya sangat hambar dan tidak cocok dengan lidah Indonesia. Saya agak terheran mengapa Halim menjadi makanan favorit warga Iran?Berbeda dengan di Indonesia yang waktu puasanya (mulai sahur hingga Maghrib) relatif tetap, yakni sekitar 13,5 jam.

Namun, di Iran, jika pada musim panas, waktu berpuasa bisa lebih lama sampai 15 jam lebih. Untuk Ramadhan tahun ini, lama puasa sekitar 15 jam karena bertepatan denga musim panas. Biasanya, kami melaksanaknakan sahur sekitar pukul 04.30 dan buka puasa pukul 19.30 waktu setempat.Ramadhan di Iran diperingati dengan biasa saja, walaupun di setiap jalan banyak terpajang spanduk-spanduk yang bertema Ramadhan. Begitupun di televisi-televisi Iran banyak iklan tentang Ramadhan. Tapi, semua itu hanya di beberapa media, tidak terasa kehidupan sehari-hari.

Sholat Sunnah di Malam Bulan Ramadhan menurut Rasul Saww dan Ahlilbayt Suci yang dilakukan MUNFARID (sendiri sendiri – bukan Jamaah)

Dan ini bukan Tarawih sebagaimana yang di fahamkan khalayak dari hasil Ijtihad seorang Sahabat Nabi.

Berikut Amalan dan detil nya :

Malam Pertama
Shalat sebanyak empat rakaat dengan membaca surah at-Tauhid sebanyak lima belas kali setelah membaca surah al-Fâtihah pada setiap rakaat.
Malam Kedua
Shalat empat rakaat dengan membaca surah al-Qadr sebanyak dua puluh kali setelah membaca surah al-Fâtihah pada setiap rakaat.
Malam Ketiga
Shalat sepuluh rakaat dengan membaca surah al-Fâtihah sekali dan at-Tauhid sebanyak lima puluh kali pada setiap rakaat.
Malam Keempat
Shalat delapan rakaat dengan membaca surah al-Fâtihah sekali dan surah al-Qadr sebanyak dua puluh kali pada setiap rakaat.
Malam Kelima
Shalat dua rakaat dengan membaca surah al-Fâtihah sekali dan at-Tauhid sebanyak lima puluh kali pada setiap rakaat. Dan setelah mengucapkan salam, membaca Allôhumma sholli ‘alâ Muhammad wa Âli Muhammad sebanyak seratus kali.
Malam Keenam
Shalat empat rakaat dengan membaca surah al-Fâtihah dan surah al-Mulk pada setiap rakaat.
Malam Ketujuh
Shalat empat rakaat dengan membaca surah al-Fâtihah sekali dan al-Qadr sebanyak tiga belas kali pada setiap rakaat.
Malam Kedelapan
Shalat dua rakaat dengan membaca surah al-Fâtihah sekali dan at-Tauhid sebanyak sepuluh kali pada setiap rakaat. Setelah mengucapkan salam, membaca subhânallôh sebanyak seribu kali.
Malam Kesembilan
Shalat enam rakaat antara shalat Isya` dan waktu tidur dengan membaca surah al-Fâtihah sekali dan ayat kursi sebanyak tujuh kali pada setiap rakaat. Setelah selesai, membaca Allôhumma sholli ‘alâ Muhammad wa Âli Muhammad sebanyak lima puluh kali.
Malam Kesepuluh
Shalat dua puluh rakaat dengan membaca surah al-Fâtihah sekali dan at-Tauhid sebanyak tiga puluh kali.
Malam Kesebelas
Shalat dua rakaat dengan membaca surah al-Fâtihah sekali dan al-Kautsar sebanyak dua puluh kali pada setiap rakaat.
Malam Kedua Belas
Shalat delapan rakaat dengan membaca surah al-Fâtihah sekali dan al-Qadr sebanyak tiga puluh kali pada setiap rakaat.
Malam Ketiga Belas
Shalat empat rakaat dengan membaca surah al-Fâtihah sekali dan at-Tauhid sebanyak dua puluh lima kali pada setiap rakaat.
Malam Keempat Belas
Shalat enam rakaat dengan membaca surah al-Fâtihah sekali dan az-Zilzâl sebanyak tiga puluh kali pada seetiap rakaat.
Malam Kelima Belas
Shalat empat dengan membaca surah at-Tauhid sebanyak seratus kali setelah membaca al-Fâtihah pada dua rakaat pertama dan lima puluh kali surah at-Tauhid (setelah membaca surah al-Fâtihah) pada dua rakaat berikutnya.
Malam Keenam Belas
Shalat dua belas rakaat dengan membaca surah al-Fâtihah dan dua belas kali surah at-Takâtsur pada setiap rakaat.
Malam Ketujuh Belas
Shalat dua rakaat dengan membaca surah al-Fâtihah dan surah sekehendak hati pada rakaat pertama dan pada rakaat kedua surah al-Fâtihah dan seratus kali surah at-Tauhid. Setelah mengucapkan salam, membaca lâ ilâha illallôh sebanyak seratus kali.
Malam Kedelapam Belas
Shalat empat rakaat dengan membaca surah al-Fâtihah dan dua puluh lima kali surah al-Kautsar pada setiap rakaat.
Malam Kesembilan Belas
Shalat lima puluh rakaat dengan membaca surah al-Fâtihah dan lima puluh kali surah az-Zilzâl. Mungkin maksudnya adalah dalam setiap satu rakaat membaca surah tersebut sekali, (bukan lima puluh kali). Karena, sangat sulit untuk membaca surah az-Zilzâl sebanyak 2500 kali dalam semalam.
Malam Kedua Puluh, Kedua Puluh Satu, Kedua Puluh Dua, Kedua Puluh Tiga, dan Kedua puluh Empat
Shalat delapan rakaat dengan membaca surah sesuka hati.
Malam Kedua Puluh Lima
Shalat delapan rakaat dengan membaca surah al-Fâtihah dan sepuluh kali surah at-Tauhid pada setiap rakaat.
Malam Kedua Puluh Enam
Shalat delapan rakaat dengan membaca surah al-Fâtihah dan seratus kali surah at-Tauhid pada setiap rakaat.
Malam Kedua Puluh Tujuh
Shalat empat rakaat dengan membaca surah al-Fâtihah dan al-Mulk pada setiap rakaat. Jika tidak mampu, hendaknya membaca surah at-Tauhid sebanyak dua puluh kali.
Malam Kedua Puluh Delapan
Shalat enam rakaat dengan membaca surah al-Fâtihah, seratus kali ayat Kursi, seratus kali surah at-Tauhid, dan seratus kali surah al-Kautsar pada setiap rakaat. Setelah selesai mengerjakan shalat, mengirimkan shalawat atas Muhammad dan keluarganya sebanyak seratus kali.
Penulis berkata, “Menurut apa yang telah kutemukan (dalam beberapa hadis), cara mengerjakan shalat malam kedua puluh delapan adalah enam rakaat dengan membaca surah al-Fâtihah, sepuluh kali ayat Kursi, sepuluh kali surah al-Kautsar, sepuluh kali surah at-Tauhid, dan seratus kali shalawat.
Malam Kedua Puluh Sembilan
Shalat dua rakaat dengan membaca surah al-Fâtihah dan dua puluh kali surah at-Tauhid pada setiap rakaat.
Malam Ketiga Puluh
Shalat dua belas rakaat dengan membaca surah al-Fâtihah dan dua puluh kali surah at-Tauhid pada setiap rakaat. Setelah selesai mengerjakan shalat, membaca shalawat untuk Muhammad dan keluarga Muhammad sebanyak seratus kali.
Shalat-shalat tersebut dilakukan dengan satu salam setiap selesai mengerjakan dua rakaat.
Kitab Zâd al-Ma’âd – Allamah al-Majlisi ra

Semoga dalam bulan suci Ramadhan ini kita bisa mengamalkan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya, termasuk menjauhi segala macam jenis bid’ah seperti melaksanakan shalat tarawih berjamaah. Karena bagaimana mungkin kita akan dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT namun jalan dan sarana yang kita tempuh adalah melalui perbuatan yang dibenci oleh Allah, seperti bid’ah. Mustahil sesuatu yang menjauhkan dari Allah (seperti Bid’ah) akan dapat mendekatkan kepada-Nya (masuk kategori ibadah). Ini adalah dua hal kontradiktif yang mustahil terjadi. Semoga dengan menjauhi semua bid’ah kita dapat meninggalkan bulan Ramadhan dengan kembali ke fitrah yang suci, melalui Iedul Fitri. Amin

Sunni menuduh hadis syi’ah penuh kebohongan, lalu Mengapa perawi hadis sunni (seperti Bukhari dll) tidak merujuk kepada Imam Ahlulbait As ?

Sudah jelas siapapun orangnya apakah Sunni atau Syiah, berhujjah dengan hadis dhaif adalah keliru. Kalau ia menganggap metode dirinya benar maka Syiahpun juga benar. Jika Syiah berdusta maka apa ia akan ikut berdusta pula. Bagaimana mungkin dikatakan dibolehkan berdusta asalkan digunakan untuk membantah kedustaan Syiah?

.

Kami tekankan bahwa kami tidak ada masalah dengan siapapun yang mau membela Ahlus Sunnah dan membantah Syiah ataupun sebaliknya tetapi harus diingat bahwa jangan sampai kebablasan dalam membantah sehingga memakai akhlak yang buruk dan lisan yang kotor. Apalagi jika lisan kotor tersebut diimbaskan juga pada orang lain yang bukan Syiah.  Dan yang paling menjijikkan adalah menjustifikasi lisan kotor-nya dengan mengatasnamakan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Semoga Allah SWT melindungi kita dari keburukan yang seperti ini

.

Kaedah Syiah dalam mengesahkan sesuatu hadis, di samping berusaha untuk mengesahkan rantaian perawi hadis yang sah tidak putus , disemak hubung-kait teks hadis dengan al-Quran adalah menjadi sebagai syarat yang perlu dalam menentukan kesahihan. Dari sumber-sumber Syiah walaupun terdapat banyak hadis Nabi dan Imam dengan rantaian perawian yang sah tetapi apabila ia bercanggah dengan al-Quran; ia tidak bernilai apa-apa. Hanya hadis yang menepati semua kriteria di atas boleh dianggap sah.[. Bihar al-Anwaar, jilid.1.m/s.139.]

Lantaran itu, Syiah tidak mengamalkan hadis-hadis yang bercanggahan dengan teks al-Quran. Maka pada hadis yang tidak memenuhi kriteria di atas dan pengesahan mahupun bantahan oleh para Imam belum diperolehi, hadis itu hanya merupakan setakat riwayat atau khabar berita. [Bihar al-anwar, jilid.l.m/s.117.-Sumber: petikan dari buku Syiah dikarang oleh Allamah Sayyid Muhammad Husayn Tabatabaei.]

Tidak dinafikan juga dalam Syiah sendiri, sama seperti sekumpulan Sunni yang menerima kesemua hadis dari pelbagai sumber. Kaedah Syiah dalam kesahihan hadis. Sebuah hadis yang dinyatakan terus dari mulut Nabi mahupun salah seorang daripada Imam akan diterima sebagaimana al-Quran. Manakala hadis yang disampaikan oleh perawi akan diterima rata-rata syiah jika rantaian rawinya tidak terputus kesahihannya atau jika wujud bukti yang jelas tentang kebenaran hadis itu dan  jika mereka peka akan prinsip doktrin yang memerlukan pengetahuan dan kepastian, sesuai dengan teks al-Quran.

Selain daripada dua jenis hadis itu, tiada hadis yang lain mempunyai sebarang kesahihan melalui prinsip pengkhabaran yang sah/mutawatir, maka hadis ini digelar hadis bersumber tunggal. Walau bagaimanapun, dalam menzahirkan syariah dengan kriteria di atas, Syiah menerima juga hadis yang diterima dan dipercayai. Oleh itu, ia boleh dikatakan bahawa untuk Syiah akan menerima hadis mutawatir dan akur dengannya, manakala hadis yang kurang sahih tetapi pada umumnya boleh dipercayai akan digunakan hanya dalam penjelasan pengamatan syariah

.

Ketika Sunni dan Syiah mengakui tuhan yang sama, nabi yang sama, Alquran yang sama, kiblat yang sama, syahadat yang sama, mengapa perbedaan harus dibesar-besarkan?
.
Tentu jika membahas masalah Al Kafi membuat sebagian kalangan marah karena banyak riwayat-riwayat yang terdapat di dalamnya yang bertentangan dengan pemikiran Ahlusunnah. Namun saya sdikit memberikan gambaran tentang Al Kafi agar tidak terjadi perselisihan di tengah masyarakat Muslim yang di inginkan oleh musuh Islam
.
Mereka yang mengkritik Syiah telah membawakan riwayat-riwayat yang ada dalam kitab rujukan Syiah yaitu Al Kafi dalam karya-karya mereka seraya mereka berkata Kitab Al Kafi di sisi Syiah sama seperti Shahih Bukhari di sisi Sunni. Tujuan mereka berkata seperti itu adalah sederhana yaitu untuk mengelabui mereka yang awam yang tidak tahu-menahu tentang Al Kafi. Atau jika memang mereka tidak bertujuan seperti itu berarti Mereka lah yang terkelabui
.
Dengan kata-kata seperti itu maka orang-orang yang membaca karya mereka akan percaya bahwa riwayat apa saja dalam Al Kafi adalah shahih atau benar sama seperti hadis dalam Shahih Bukhari yang semuanya didakwa shahih.  Sungguh sangat disayangkan, karena kenyataan yang sebenarnya adalah Al Kafi di sisi Syiah tidak sama kedudukannya dengan Shahih Bukhari di sisi Sunni
.
Al Kafi memang menjadi rujukan oleh ulama Syiah tetapi tidak ada ulama Syiah yang dapat membuktikan bahwa semua riwayat Al Kafi shahih. Dalam mengambil hadis sebagai rujukan, ulama syiah akan menilai kedudukan hadisnya baru menetapkan fatwa. Hal ini jelas berbeda dengan Shahih Bukhari dimana Bukhari sendiri menyatakan bahwa semua hadisnya adalah shahih, dan sudah menjadi ijma ulama(sunni tentunya) bahwa kitab Shahih Bukhari adalah kitab yang paling shahih setelah Al Quran
.
Kedudukan Al Kafi
Al Kafi adalah kitab hadis Syiah yang ditulis oleh Syaikh Abu Ja’far Al Kulaini pada abad ke 4 H. Kitab ini ditulis selama 20 tahun yang memuat 16.199 hadis. Al Kulaini tidak seperti Al Bukhari yang menseleksi hadis yang ia tulis. Di Al Kafi, Al Kulaini menuliskan riwayat apa saja yang dia dapatkan dari orang yang mengaku mengikuti para Imam Ahlul Bait as. Jadi Al Kulaini hanyalah sebagai pengumpul hadis-hadis dari Ahlul Bait as. Tidak ada sedikitpun pernyataan Al Kulaini bahwa semua hadis yang dia kumpulkan adalah otentik. Oleh karena Itulah ulama-ulama sesudah Beliau telah menseleksi hadis ini dan menentukan kedududkan setiap hadisnya
.
Di antara ulama syiah tersebut adalah Allamah Al Hilli yang telah mengelompokkan hadis-hadis Al Kafi menjadi shahih, muwatstsaq, hasan dan dhaif. Pada awalnya usaha ini ditentang oleh sekelompok orang yang disebut kaum Akhbariyah. Kelompok ini yang dipimpin oleh Mulla Amin Astarabadi menentang habis-habisan Allamah Al Hilli karena Mulla Amin beranggapan bahwa setiap hadis dalam Kutub Arba’ah termasuk Al Kafi semuanya otentik. Sayangnya usaha ini tidak memiliki dasar sama sekali. Oleh karena itu banyak ulama-ulama syiah baik sezaman atau setelah Allamah Al Hilli seperti Syaikh At Thusi, Syaikh Mufid, Syaikh Murtadha Al Anshari dan lain-lain lebih sepakat dengan Allamah Al Hilli dan mereka menentang keras pernyataan kelompok Akhbariyah tersebut. (lihat Prinsip-prinsip Ijtihad Antara Sunnah dan Syiah oleh Murtadha Muthahhari hal 23-30)
.
Dari hadis-hadis dalam Al Kafi, Sayyid Ali Al Milani menyatakan bahwa 5.072 hadis shahih, 144 hasan, 1128 hadis Muwatstsaq(hadis yang diriwayatkan perawi bukan syiah tetapi dipercayai oleh syiah), 302 hadis Qawiy (kuat) dan 9.480 hadis dhaif. (lihat Al Riwayat Li Al Hadits Al Tahrif oleh Sayyid Ali Al Milani dalam Majalah Turuthuna Bil 2 Ramadhan 1407 H hal 257). Jadi dari keterangan ini saja dapat dinyatakan kira-kira lebih dari 50% hadis dalam Al Kafi itu dhaif. Walaupun begitu jumlah hadis yang dapat dijadikan hujjah (yaitu selain hadis yang dhaif) jumlahnya cukup banyak, kira-kira hampir sama dengan jumlah hadis dalam Shahih Bukhari
.
Semua keterangan diatas sudah cukup membuktikan perbedaan besar di antara Shahih Bukhari dan Al Kafi. Suatu Hadis jika terdapat dalam Shahih Bukhari maka itu sudah cukup untuk membuktikan keshahihannya. Sedangkan suatu hadis jika terdapat dalam Al Kafi maka tidak bisa langsung dikatakan shahih, hadis itu harus diteliti sanad dan matannya berdasarkan kitab Rijal Syiah atau merujuk kepada Ulama Syiah tentang kedudukan hadis tersebut
.
Catatan
Oleh karena cukup banyaknya hadis yang dhaif dalam Al-Kafi maka sepatutnya orang harus berhati-hati dalam membaca buku-buku yang menyudutkan syiah dengan menggunakan riwayat-riwayat Hadis Syiah seperti dalam Al-Kafi. Dalam hal ini bersikap skeptis adalah perlu sampai diketahui dengan pasti kedudukan hadisnya baik dengan menganalisis sendiri berdasarkan Kitab Rijal Syiah atau merujuk langsung ke Ulama Syiah
.
Dan Anda bisa lihat di antara buku-buku yang menyudutkan syiah dengan memuat riwayat syiah sendiri seperti dari Al Kafi tidak ada satupun penulisnya yang bersusah payah untuk menganalisis sanad riwayat tersebut atau menunjukkan bukti bahwa riwayat itu dishahihkan oleh ulama syiah. Satu-satunya yang mereka jadikan dalil adalah Fallacy bahwa Al Kafi itu di sisi Syiah sama seperti Shahih Bukhari di Sisi Sunni. Padahal sebenarnya tidak demikian, sungguh dengan fallacy seperti itu mereka telah menyatakan bahwa Syiah itu kafir dan sesat. Sungguh Sayang sekali
.
Peringatan ini jelas ditujukan kepada mereka yang akan membaca buku-buku tersebut agar tidak langsung percaya begitu saja. Pikirkan dan analisis riwayat tersebut dengan Kitab Rijal Syiah (Rijal An Najasy atau Rijal Al Thusi). Atau jika terlalu sulit dengarkan pendapat Ulama Syiah perihal riwayat tersebut. Karena pada dasarnya mereka Ulama Syiah lebih mengetahui hadis Syiah ketimbang para penulis buku-buku tersebut
.
Politik Adu Domba Zionis
Sebenarnya perbedaan pemahaman dalam masalah hadis diatas merupakan hal yang sepele yang tidak menimbulkan perpecahan umat, namun selalu dalam hal ini oleh musuh-musuh islam di gunakan sebagai politik adu domba di tengah masyarakat Islam. Menurut Prof Dr Musthafa ar-Rifa’i lewat kitab bertajuk Islamuna fi at-Taufiq Baina as-Sunni wa asy-Syi’ah, perbedaan antara Sunni-Syiah yang selama ini kerap muncul di permukaan, hakikatnya bukan perbedaan yang prinsipil
.
Perbedaan hanya terletak pada persoalan non-prinsipil furuiyyah yang dapat ditoleransi.  Dalam konteks masa kini, ar-Rafa’i meyakini, faktor lain yang amat kuat memengaruhi dan memanaskan konflik antara Sunni dan Syiah adalah kekuatan eksternal yang datang dari imperalis Barat.
Terutama politik dan konspirasi devide et impera (politik memecah belah) yang diterapkan oleh protokol kaum Zionis yang hendak memecah belah umat. Perpecahan faksi dan sekte yang tumbuh berkembang di internal Muslim, digunakan sebagai momen membenturkan dan mengadu domba berbagai kelompok itu.

Sunni menuduh hadis syi’ah penuh kebohongan, lalu Mengapa perawi hadis sunni (seperti Bukhari dll) tidak merujuk kepada Imam Ahlulbait As ?

Kenapa Bukhari tidak mengumpulkan hadis dari jalur Imam Ja’far Shadiq ??

Jika wahabi menuduh bahwa YANG SESAT BUKAN 12 iMAM, tetapi PENGiKUT nya, maka tanyakan kepada wahabi : “Mengapa perawi hadis sunni (seperti Bukhari dll) tidak merujuk kepada Imam Ahlulbait As ?”

Sebelum terlalu jauh, mari kita ingat beberapa fakta ini:

1. Syiah adalah mazhab Islam terbesar kedua setelah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

2. Syiah adalah mazhab yang dianut oleh jumlah sangat signifikan penduduk negara-negara Timur Tengah (untuk tidak mengatakan mayoritas penduduk Teluk), tempat asal Islam.

3. Syiah adalah mazhab yang dianut oleh mayoritas dua bangsa pemilik tradisi keilmuan paling kuat dan paling kaya di dunia Islam: Iran (90%) dan Irak (68%).

Kedua bangsa yang kemudian menjadi Muslim Syiah ini bisa dibilang adalah pemilik dua khazanah kultural pra Islam (Persia dan Akkadia, Asyuria & Babilonia di wilayah Mesopotamia) yang berkontribusi paling besar terhadap kemajuan umat manusia. Intinya, Persia + Babilonia memiliki “tradisi ilmiah” di atas kebanyakan penduduk Muslim lain–tanpa mengurangi rasa hormat kepada bangsa lain, karena saya sendiri bukan tergolong dari kedua bangsa tersebut.

Ada baiknya kita bertanya: Mungkinkah kedua bangsa pemilik tradisi ilmiah hebat dan kaya itu telah sampai pada tafsir agama yang lebih baik dari kita?

4. Mari kita lihat kembali data populasi Syiah berikut ini: Iran (90%), Iraq (65%–menurut sensus rezim Saddam yang berat sebelah dan tak menunjukkan fakta sebenarnya), Azerbaijan (85%), Lebanon (35-40%), Kuwait (35%–menurut sensus rezim Wahabi yang menyesatkan Syiah), Turkey (25%), Saudi Arabia (10-15%–menurut sensus rezim Wahabi yang mengkafirkan Syiah), Yaman (40%), Uni Emirat Arab (15-20 % –menurut sensus rezim tribal Al-Nahiyan yang anti Iran) dan Bahrain (80%–menurut sensus rezim Wahabi yang menyesatkan Syiah).

Nah, setelah melihat beberapa fakta di atas, marilah kita kembali ke topik hadis Syiah. Berikut saya berikan beberapa tanggapan umum—tanpa merujuk pada poin-poin yang ditulis sebelumnya karena saya takkan terlibat perdebatan:

1. Apa yang disebut Sunnah atau Hadis oleh Syiah bukan hanya berupa ucapan, perilaku, sikap, kebiasaan Nabi, tapi juga seluruh ma’shum yang berjumlah 14. Dengan demikian, era wurud Sunnah tidak berhenti dengan wafatnya Nabi Besar Muhammad–seperti kepercayaan Ahlus Sunnah–melainkan berlanjut terus hingga masa kegaiban besar Imam Muhammad bin Hasan Al-Askari pada 941 M atau 329 H. Karena faktor itulah kita-kitab hadis Syiah ditulis dan dikodifikasikan dalam beberapa periode yang berbeda. Tapi itu tidak berarti bahwa kitab hadis Syiah baru ada di abad ke7 seperti diklaim sebagian orang. Jumlah hadis Syiah juga lebih banyak daripada hadis Sunni. Saya tak pernah hitung berapa persis jumlah surplusnya, tapi yg jelas ada defisit  hadis dalam mazhab Sunni :-)

Dilema justru muncul di kalangan mazhab Ahlus Sunnah yang mengakhiri periode Sunnah pada masa Nabi Muhammad tapi penulisannya terjadi jauh setelah beliau wafat. Ada periode kevakuman yang panjang. Banyak peneliti yg mencurigai bahwa dalam periode ini telah terjadi produksi hadis palsu besar-besaran. Kecurigaan ini didukung berbagai fakta. Tapi saya lagi2 tak tertarik untuk lari2an ke topik lain.

Kekayaan Sunnah dalam mazhab Syiah ini beberapa ratus tahun lalu memunculkan dampak negatif berupa fenomena pola pikir Akhbari. Kaum Akhbari percaya bahwa sunnah 14 Ma’shum sudah mencakupi semua sisi kehidupan manusia, sehingga tak perlu ada ijtihad dan sebagainya. Tapi itu juga isu lain lagi.

2.  Setiap mujtahid dalam Syiah tidak menyandarkan keabsahan hadis pada si pengumpul hadis, namun mereka harus melakukan verifikasi, investigasi dan riset hadis sendiri untuk menilai kredibilitas perawi dan kebasahan matan hadis yang diriwayatkannya. Untuk itulah, mujtahid dalam mazhab Syiah harus menguasai metode verifikasi hadis dengan handal. Bahkan, banyak di antara mujtahid yang juga sekaligus adalah muhaddits. Misalnya, Ayatullah Khoei yang beberapa saat sebelum meninggal dunia sempat mengarang buku rijal sebanyak 24 jilid besar. Kalo ada yang mau lihat buku itu, bisa download di sini: http://www.shiatc.com/Lib_List/t5.xml

3. Karena poin 2 di atas, kalangan Syiah tak mengenal adanya kitab shahih. Pengumpul hadis tak pernah mengklaim hadisnya shahih. Dia hanya mengumpulkan dan menyerahkan penilaian pada masing-masing pakar, terutama yang ingin berijtihad. Allamah Majlisi sampai berhasil menuliskan hadis Syiah dalam 120 jilid.

Di bawah, saya copas satu bab penuh dari karya Allamah Hasan Shadr berkenaan dengan kepeloporan Syiah dalam bidang Hadis.

Bab Kedua

Kepeloporan Syi’ah dalam Ilmu-ilmu Hadis

Sebelum memasuki serangkaian pasal dari bab ini, kami akan mengajak pembaca untuk mengenal alasan kepeloporan kaum Syi’ah dalam ilmu-ilmu hadis. Di sini, saya hendak menyatakan bahwa di antara para sahabat dan para tabi’in terdapat perselisihan besar tentang penulisan ilmu. Banyak dari mereka enggan melakukan penulisan dan penyusunan ilmu, meski ada sebagian dari mereka yang melakukannya, di antaranya ialah Ali ibn Abi Thalib a.s. dan putra beliau yang pertama; Hasan Al-Mujtaba a.s .

Sebagaimana yang dikatakan oleh As-Suyuthi di dalam Tadribur Rawi, bahwa Nabi saw. telah mendiktekan kepada Ali bin Abi Thalib seluruh yang terkumpul di dalam sebuah kitab besar, dan Al-Hakam ibn ‘Uyainah telah melihat kitab tersebut berada di tangan Imam Muhammad Al-Baqir, yaitu ketika di antara mereka berdua terjadi perselisihan pen-dapat tentang suatu masalah, lalu Imam Al-Baqir a.s. mengeluarkan kitab itu dan menjelaskannya lalu menga-takan kepada Al-Hakam: “Ini adalah tulisan tangan Ali ibn Abi Thalib yang didiktekan oleh Rasulullah, dan inilah kitab pertama yang menghimpun ilmu-ilmu pada masa hidup Rasulullah saw.” Maka, kaum Syi’ah mengetahui bagai-mana penyusunan ilmu itu sebegitu rapihnya. Lalu, mereka segera menapaki langkah imam pertama mereka.

Sementara itu, terdapat sekelompok dari selain Syi’ah yang justru melarang penyusunan ilmu ke dalam sebuah kitab, sehingga mereka tertinggal. Al-Jahidz As-Suyuthi di dalam Tadribur Rawi mengatakan: “Karya-karya yang mun-cul pada jaman sahabat dan kaum tabi’in belum tersusun secara rapih, mengingat hafalan mereka yang kuat, selain juga sebelum itu mereka melarang upaya penulisan ilmu-ilmu, sebagaimana yang disinyalir di dalam Shahih Muslim, lantaran kekuatiran mereka terhadap pencampuradukan hadis dengan ayat-ayat Al-Quran. Di samping itu juga karena sebagian besar dari mereka tidak mampu menulis.”

Saya katakan bahwa hal ini terjadi pada selain sahabat dan tabi’in besar Syi’ah. Adapun sahabat dan tabi’in dari Syi’ah, mereka sudah merumuskan ilmu dan menyusunnya, sebagaimana usaha ini telah dimulai oleh Amiril Mukminin Ali ibn Abi Thalib a.s.

Pasal Pertama

Tentang Orang Pertama yang Mengumpulkan Hadis dan Menyusunnya ke dalam Bab-bab

Di antara orang Syi’ah yang pertama kali melakukan proses pengumpulan dan penyusunan itu ialah Abu Rafi’e; budak Rasulullah saw. An-Najasyi di dalam Asma’ Mushannifisy Syi’ah, mengatakan: “Dan Abu Rafi’e budak Rasulullah saw. mempunyai kitab As-Sunan wal Ahkam wal-Qodhoya”. Lalu ia  menyebutkan sanad-sanadnya sampai periwayatan kitab secara bab per bab;  mulai dari bab shalat, puasa, haji, zakat dan tema-tema muamalah. Kemudian dia menyatakan bahwa Abu Rafi’e telah menjadi Muslim secara lebih dahulu di Mekkah lalu hijrah ke Madinah dan ikut serta bersama Nabi saw. dalam banyak peperangan, dan setelah wafat beliau, ia menjadi pengikut setia Amiril Mukminin Ali ibn Abi Thalib a.s.

Abu Rafi’e tergolong sebagai orang Syi’ah yang saleh, dan turut terjun di dalam peperangan bersama Ali ibn Abi Thalib a.s. Ia juga dipercayai sebagai pemegang kunci Baitul Mal di masa kekhalifahan Ali ibn Abi Thalib di Kufah.

Abu Rafi’e meninggal pada tahun 35 H., sesuai dengan kesaksian Ibnu Hajar di dalam At-Taqrib, di mana ia telah membenarkan tahun wafatnya di awal kekhalifahan Ali ibn Abi Thalib a.s. Atas dasar ini, menurut ijma’ para ulama, tidak ada orang yang lebih dahulu dari Abu Rafi’e dalam upaya mengumpulkan hadis dan menyusunnya secara bab perbab. Karena, nama-nama yang disebutkan mengenai penghimpun hadis, semuanya muncul di pertengahan abad kedua.

Sebagaimana yang dicatat di dalam At-Tadrib oleh As-Suyuthi dan dinukil oleh Ibnu Hajar di dalam Fathul Bari, bahwa orang pertama yang mengumpulkan dan menyusun hadis-hadis berdasarkan perintah Umar ibn Abdul Aziz adalah Ibnu Syahab Az-Zuhri. Segera Ibnu Syahab memulai tugasnya di awal abad kedua Hijriyah, lantaran Umar ibn Abdul Aziz menjadi khalifah pada tahun 98 H. atau 99 H., dan meninggal pada tahun 101 H. Di dalam kitab Ta’sisusy Syi’ah li Fununil Islam, kami secara khusus memberikan catatan-catatan kritis terhadap apa yang diterangkan oleh Ibnu Hajar Asqolani.

Pasal Kedua

Tentang Orang Pertama dari Kaum Sahabat yang Syi’ah yang Mengumpulkan Hadis dalam Satu Bab dan Satu Judul

Mereka adalah Abu Abdillah Salman Al-Farisi dan Abu Dzar Al-Ghifari. Rasyiduddin ibn Syarhasub di dalam kitab Ma’alim Ulamau Syi’ah, telah memberikan kesaksiannya atas hal ini. Begitu pula Syeikh Abu Ja’far Ath-Thusi, guru besar Syi’ah, dan Syeikh Abu Abbas An-Najasyi di dalam kitab-kitab mereka, yaitu Asma Mushannifis Syi’ah, ketika mengulas ihwal Abu Abdillah Salman Al-Farisi dan Abu Dzar Al-Gifari. Mereka melacak dan mampu menemukan sanad-sanadnya sampai periwayatan kitab Salman dan kitab Abu Dzar. Kitab Salman adalah kitab hadis Al-Jatsliq dan kitab Abu Dzar adalah sebuah surat khotbah yang di dalamnya menjelaskan pelbagai perkara dan peristiwa yang terjadi setelah wafat Rasulullah saw.

Sayyid Al-Khunsari di dalam kitab Ar-Raudhah fi Ahwalil ‘Ulama’ wa As-Sadat, menerangkan sebuah kitab yang dinukil dari kitab Az-Zinah karya Abu Hatim di juz ketiga; bahwa kata ‘syi’ah’ pada masa Rasulullah saw. adalah nama untuk empat sahabat, yaitu Salman Al-Farisi, Abu Dzar Al-Ghifari, Miqdad Ibnul Aswad Al-Kindi dan Ammar ibn Yasir. Demikian ini telah disebutkan juga di dalam kitab Kasyful Dzunun dan kitab Az-Zinah karya Abu Hatim Sahal ibn Muhammad As-Sajastani yang wafat pada tahun 205 H.

Pasal Ketiga

Tentang Orang Pertama yang Menyusun Kata-kata Hikmah dari Para Tokoh Tabi’in Syi’ah

Para tokoh tabi’in Syi’ah itu melakukan penyusunan di satu masa, hanya saja saya tidak tahu mana di antara mereka yang melakukan hal ini lebih dahulu. Di antara mereka ialah Ali ibn Abi Rafi’e; sahabat Ali ibn Abi Thalib a.s sekaligus sebagai sekretaris dan pemegang kunci Baitul Mal.

An-Najasyi di dalam Asma Mushannifisy Syi’ah, pada bab nama-nama generasi pertama Syi’ah yang mengarang  kitab, mengatakan: “Ali ibn Abu Rafi’e adalah seorang tabi’in dari Syi’ah yang soleh yang bersahabat dekat dengan Amiril Mukminin  Ali ibn Abi Thalib a.s. Ia juga sekretaris beliau dan menghafal banyak hal dan menyusun sebuah kitab yang menghimpun pelbagai bab Fiqih, seperti Wudhu, Shalat, dan bab-bab hukum lainnya. Lalu ia menyambungkan sanadnya sampai ke Ali ibn Abi Thalib a.s.

Dan saudara Ali ibn Abu Rafi’e bernama Ubaidillah ibn Abu Radfi’e adalah sekretaris Ali ibn Abi Thalib a.s. Ia mengarang kitab Kitabul Qodho Amiril Mu’minin dan kitab Tasmiyatu Man Syahida ma’a Amiril Mu’minin Al-Jamala wash Shiffin wan Nahrawan minal Shohabah (kitab yang mencatat nama-nama para sahabat yang ikut bertempur bersama Imam Ali a.s. di perang Jamal, Shiffin dan Nahrawan, pent.). Sebagaimana disebutkan di dalam kitab Al-Fehrest Syeikh Abu Ja’far Ath-Thusi dan di At-Taqrib karya Ibnu Hajar, bahwa Ubaidillah adalah sekretaris Ali ibn Abi Thalib dan perawi yang terpercaya.

Selain dua bersaudara di atas, adalah Ashbagh ibn Nubatah Al-Majasyi’ie. Ia sahabat khusus Amiril Mukminin Ali ibn Abi Thalib a.s. dan berumur panjang hingga masih hidup setelah wafatnya Ali ibn Abi Thalib. Ashbagh telah meriwayatkan surat Ali ibn Abi Thalib tentang pelantikan Malik Al-Asytar sebagai gubernur Mesir. An-Najasyi berkata: “Surat itu adalah surat yang amat masyhur, juga sebagai wasiat Imam Ali ibn Abi Thalib kepada putranya yang bernama Muhammad ibn Hanafiyah.” Syeikh Abu Ja’far Ath-Thusi menambahkan dalam Al-Fehrest, bahwa Ashbagh ibn Nubatah juga mempunyai kitab Maqtalul Husein ibn Ali, yang darinya Ad-Dauri telah meriwayatkan.

Lalu di antara mereka ialah Sulaim ibn Qois Al-Hilali Abu Shadiq, sahabat dekat Ali ibn Abi Thalib. Ia menulis kitab yang sangat bagus. Di dalamnya ia meriwayatkan hadis-hadis dari Imam Ali ibn Abi Thalib, Salman Al-Farisi, Abu Dzar Al-Ghifari, Miqdad, Ammar ibn Yasir, dan sekelompok dari sahabat besar Nabi saw.

Syeikh Imam Abu Abdillah An-Nu’mani, yang perihal dirinya telah diulas pada pasal tokoh-tokoh tafsir terdahulu, di dalam kitab Al-Ghaibah, tepatnya setelah menukil sebuah hadis dari kitab Sulaim ibn Qois, mengatakan: “Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama dan perawi kaum Syi’ah tentang bahwa kitab Sulaim ibn Qois adalah salah satu kitab induk yang banyak dinukil hadis dan riwayatnya oleh para ulama dan perawi hadis Ahlul Bait. Dan kitab itu merupakan kitab rujukan kaum Syi’ah.” Sulaim ibn Qois wafat di awal pemerintahan Hajjaj ibn Yusuf di kota Kufah.

Lalu di antara mereka ialah Maitsam ibn Yahya Abu Soleh At-Tammar. Ia adalah salah satu sahabat dekat Amiril Mukminin Ali ibn Abi Thalib a.s. dan pemegang rahasia-rahasia beliau. Maitsam menulis kitab yang bagus mengenai hadis. Syeikh Abu Ja’far Ath-Thusi, Syeikh Abu Amr Al-Kisyi dan Ath-Thabari di dalam Bisyarotul Musthafa, banyak menukil hadis dari kitab Maitsam ini. Maitsam wafat di Kufah karena dibunuh oleh Ubaidillah ibn Ziyad lantaran kesyi’ahannya.

Lalu di antara mereka ialah Muhammad ibn Qois Al-Bajali. Ia mengarang sebuah kitab yang diriwayatkan dari Amiril Mukminin Ali ibn Abi Thalib a.s. Para tokoh tabi’in Syi’ah telah menyebutkan kitab tersebut. Mereka juga banyak meriwayatkan hadis-hadis darinya. Adapun Syeikh Abu Ja’far Ath-Thusi di dalam Al-Fehrest dari Ubaid ibn Muhammad ibn Qois mengatakan: “Saya mengajukan kitab ini kepada Abu Ja’far Imam Muhammad Al-Baqir a.s., lalu beliau berkata: ‘Kitab ini adalah perkataan Ali ibn Abi Thalib a.s.’. Dan di awal-awal kitab itu, diriwayatkan bahwa jika seseorang hendak melakukan shalat, katakanlah di awal shalatnya… Begitu selanjutnya hingga akhir kitab.”

Ya’la ibn Murroh mempunyai satu naskah kitab itu yang diriwayat-kannya dari Ali ibn Abi Thalib a.s. An-Najasyi di dalam Al-Fehrest telah membawakan sanad kesaksian atas keberadaan naskah tersebut dari Ya’la.

Lalu di antara mereka ialah Ibnul Hurr Al-Ja’fi. Ia seorang tabi’in Kufah dan penyair Persia. Ia memiliki sebuah naskah hadis yang diriwayatkan dari Amiril Mukminin Ali ibn Abi Thalib a.s. Al-Ja’fi wafat di masa kekuasaan Al-Mukhtar. An-Najasyi telah menempatkannya dalam jajaran  pertama dari tokoh-tokoh pengarang Syi’ah.

Lalu di antara mereka ialah Tabi’ah ibn Sami’ie. Ia menulis sebuah kitab tentang bab zakat. An-Najasyi menyebutkan nama ini di generasi pertama dari tokoh-tokoh pengarang Syi’ah. Ia termasuk dari kaum tabi’in.

Lalu Harts ibn Abdillah Al-A’war, dari kota Hamadan. Ia termasuk sahabat Ali ibn Abi Thalib a.s. Harts meri-wayatkan pelbagai permasalahan yang disampaikan oleh Imam Ali a.s. kepada seorang Yahudi, kemudian Ammar ibn Abil Miqdad meriwayatkannya dari Abi Ishaq As-Sami’ie yang ia sendiri meriwayatkannya dari Harts Al-A’war, dan yang terakhir ini meriwayatkan dari Ali ibn Abi Thalib a.s., sebagaimana yang termaktub di dalam Al-Fehrest karya Syeikh Abu Ja’far Ath-Thusi. Harts wafat pada masa kekuasaan Ibnu Zubeir.

Namun, Syeikh Rasyiduddin Ibn Syahrasyub di awal kitabnya, Ma’alimul ‘Ulama’, membawakan sebuah daftar kitab mengenai jawaban yang disampaikan oleh Al-Ghazzali, bahwa kitab pertama yang dikarang di dalam Islam ialah kitab Ibnu Juraij tentang hadis dan tafsir huruf-huruf dari Mujahid dan ‘Atha’ di Mekkah, lalu kitab Mu’ammar ibn Rafi’e Ash-Shan’ani di Yaman, lalu kitab Al-Muwaththa’ karya Malik ibn Anas, lalu kitab Al-Jami’e karya Sufyan Ats-Tsauri.

Kemudian Ibnu Syahrasyub mengatakan: “Namun yang benar ialah bahwa orang pertama yang mengarang kitab di bidang ini dalam Islam ialah Amiril Mukiminin Ali ibn Abi Thalib lalu Salman Al-Farisi, lalu Abu Dzar Al-Ghifari, lalu Ashbagh ibn Nubatah, lalu Ubaidillah ibn Abu Ra’fi’e, lalu Shohifah Kamilah Sajjadiyyah dari Imam Ali Zainal Abidin a.s.”

Syeikh An-Najasyi menyatakan bahwa generasi pertama adalah para pengarang, sebagaimana telah disebutkan, tanpa menerangkan siapa yang lebih dahulu, juga tidak menjelaskan urutan-urutan mereka. Begitu pula Syeikh Abu Ja’far Ath-Thusi menyebutkan nama-nama mereka tanpa menerangkan urutan yang tegas. Mungkin Ibnu Syahrasyub telah menemukan sesuatu yang tidak mereka temukan.

Sebuah catatan di akhir pasal ini ialah bahwa Al-Jahidz Adz-Dzahabi tatkala menyinggung riwayat hidup Aban ibn Taghlab, memberikan kesaksian bahwa mazhab Syi’ah di kalangan tabi’in dan generasi setelah tabi’in amat berkembang dan dikenal dengan ketaatan, warak dan kejujuran. Lalu mengatakan: “Jika ucapan-ucapan mereka itu ditolak, maka akan banyak hadis-hadis Nabi saw. yang tercampakkan. Ini sebuah konsekuensi yang jelas keliru dan merugikan.”

Saya katakan, renungkanlah kesaksian Al-Jahidz ini, dan ketahuilah kemuliaan pada kepeloporan nama-nama mereka yang telah kami bawakan di sini dan nama-nama yang akan kami sebutkan setelah ini, yaitu dari kaum tabi’in Syi’ah dan generasi Syi’ah setelah mereka.

Pasal Keempat

Tentang Orang Pertama Penghimpun Hadis di Pertengahan Abad Kedua

Dari kaum Syi’ah yang menyusun kitab-kitab, pokok-pokok akidah dan perincian hukum-hukum yang diriwayatkan dari jalur Ahlul Bait adalah mereka yang hidup di masa-masa orang yang disebutkan berkenaan dengan orang pertama yang mengumpulkan riwayat dari kalangan Ahli Sunnah. Mereka meriwayatkan hadis-hadis dari Imam Ali Zainal Abidin a.s. dan dari putranya; Imam Muhammad Al-Baqir a.s. Di antara mereka adalah Aban bin Taghlab. Ia telah meriwayatkan tiga puluh ribu hadis dari Imam Ja’far Ash-Shadiq a.s.

Ada pula Jabir ibn Yazid Al-Ja’fi yang meriwayatkan tujuh puluh ribu hadis dari Imam Muhammad Al-Baqir a.s., dari ayah-ayah beliau hingga Nabi saw. Jabir mengatakan: “Aku memiliki lima puluh ribu hadis yang belum aku sampaikan. Semuanya dari Nabi saw. dari jalur Ahlul Bait a.s.”

Terdapat nama-mana lain yang melakukan penghimpunan dan periwayatan hadis sebanyak di atas tadi, seperti Abu Hamzah, Zurarah ibn A’yan, Muhammad ibn Muslim Ath-Thaifi, Abu Bashir Yahya ibn Al-Qosim Al-Asadi, Abdul Mu’min ibn Al-Qosim ibn Qois ibn Muhammad Al-Anshari, Bassam ibn Abdullah Ash-Shairafi, Abu Ubaidah Al-Hidzaie Ziyad ibn Isa Abu Raja’ Al-Kufi, Zakaria ibn Abdullah Al-Fayyad Abu Yahya, Jahdar ibn Al-Mughirah Ath-Thaie, Hajar ibn Zaidah Al-Hadhrami Abu Abdillah, Muawiyah ibn Ammar ibn Abi Muawiyah, Khabbab ibn Abdillah, Al-Mutthalib Az-Zuhri Al-Qurasyi Al-Madani, dan Ab-dullah ibn Maimun ibn Al-Aswad Al-Qoddah. Saya telah singgung kitab dan riwayat hidup mereka masing-masing di dalam Ta’sisusy Sy’ah li Fununil Islam.

Sementara itu, Tsaur ibn Abu Fakhitah Abu Jaham telah meriwayatkan hadis-hadis dari sekelompok sahabat Nabi saw. Dan ia memiliki sebuah kitab yang masih utuh dari Imam Muhammad Al-Baqir a.s.

Pasal Kelima

Tentang Orang Pertama dari Kaum Syi’ah yang Menyusun Kitab Hadis Setelah Pertengahan Abad Kedua

Terdapat sekelompok sahabat Imam Ja’far Ash-Shadiq a.s. yang meriwayatkan hadis dari beliau dan menghimpunnya ke dalam empat ratus kitab dengan judul Al-Ushul. Syeikh Imam Abu Ali Al-Fadhl ibn Al-Hasan Ath-Thabarsi dalam kitabnya, A’lamul Wara’, mengatakan: “Dinukil secara hampir mutawatir oleh banyak kalangan, bahwa orang-orang yang meriwayatkan hadis dari Imam Ja’far Ash-Shadiq a.s. adalah mereka yang tergolong dari tokoh-tokoh besar yang jumlah mereka mencapai empat ribu. Lalu, mereka menyusun hadis-hadis tersebut ke dalam empat ratus kitab yang dikenal di tengah kaum Syi’ah dengan nama Al-Ushul. Kemudian, kitab ini diriwayatkan oleh sabahat-sahabat Imam Ash-Shadiq a.s. dan oleh para sahabat putra beliau; Imam Al-Kadzim a.s.”

Abul Abbas Ahmad ibn ‘Uqdah telah menulis sebuah buku terpisah dengan judul Kitabu Rijali Man Rowa ‘an Abi Abdillah Ash-Shadiq. Kitab ini secara khusus menghimpun nama-nama mereka yang meriwayatkan hadis dari Imam Ja’far Ash-Shadiq a.s. Bahkan, Syeikh Abu Ja’far Ath-Thusi menyebutkan dan menghitung karangan-karangan mereka masing-masing dalam bab ‘Ashabu Abi Abdillah Ash-Shadiq’ dari kitabnya;  Ar-Rijal, yaitu kitab yang disusun menurut nama-nama sahabat setiap dua belas imam a.s.

Pasal Keenam

Tentang Jumlah Kitab yang Dikarang oleh Orang Syi’ah tentang Hadis dari Jalur  Ahlul Bait,

Sejak Masa Imam Ali bin Abi Thalib Sampai Masa Imam Hasan Al-Askari a.s.

Ketahuilah bahwa jumlah kitab-kitab itu melampaui angka 6600, sebagaimana yang dicatat oleh Syeikh Al-Jahidz Muhammad ibn Al-Hasan Al-Hurr, penulis Al-Wasail, dan ia menyatakan jumlah tersebut secara tegas pada bab keempat dari kitabnya yang besar tentang hadis, yaitu Wasailusy Syi’ah ila Ahkamisy Syari’ah. Tentang semua ini, saya juga telah membawakan data-data yang menguatkan jumlah di atas tadi dalam kitab saya yang berjudul Nihayatud Dirayah fi Ushuli Ilmil Hadis.

Pasal Ketujuh

Tentang Generasi Berikut yang Menjadi Tokoh Ilmu Hadis dan Penyusun Kitab-kitab Induk yang Hingga Kini Merupakan Rujukan Hukum-hukum Syar’ie Kaum Syi’ah

Ketahuilah bahwa tiga Muhammad pertama adalah tokoh terdepan dalam penyusunan empat kitab induk hadis. Yang   pertama ialah Muhammad ibn Ya’qub Al-Kulaini, penyusun kitab Al-Kafi. Ia wafat pada 328 H. Di dalam kitab tersebut, Al-Kulaini telah mencatat sebanyak 16099 hadis beserta sanad-sanadnya.

Kedua ialah Muhammad ibn Ali ibn Al-Husein ibn Musa ibn Babaweih Al-Qummi yang wafat pada tahun 381 H. Ia dikenal juga dengan panggilan nasab Abu Ja’far Ash-Shaduq. Ia telah menyusun 1400 kitab tentang ilmu hadis. Yang terbesar di antara kitab-kitab Ash-Shaduq adalah kitab  Man La Yahdhuruhul Faqih yang memuat 9044 hadis menge-nai hukum-hukum syariat dan sunah-sunah.

Ketiga adalah Muhammad ibn Al-Hasan Ath-Thusi yang terkenal dengan gelar Syeikh Ath-Thoifah. Ia telah menulis kitab Tahdzibul Ahkam, dan menyusunnya ke dalam 393 bab, dan mencatat hadis sebanyak 13590. Kitab Ath-Thusi lainnya adalah Al-Istibshor yang memuat 920 bab sehingga mencakup 5511 hadis. Inilah empat kitab induk yang menjadi rujukan utama kaum Syi’ah.

Kemudian tibalah peran tiga Muhammad terakhir yang juga tergolong sebagai tokoh kitab induk hadis. Pertama ialah Imam Muhammad Al-Baqir ibn Muhammad At-Taqie. Ia terkenal dengan nama Al-Majlisi. Kitab besar yang ditulis Al-Majlisi adalah kitab Biharul Anwar; fil Ahaditsil Marwiyyah ‘anin Nabi wal Aimmah min Alihil Ath-har. Kitab ini disusun sebanyak 26 jilid tebal. Dapat dikatakan bahwa kitab ini telah menjadi pegangan kaum Syi’ah. Sebab, tidak ada kitab induk hadis yang paling lengkap selain kitab Biharul Anwar. Sehingga Tsiqotul Islam Allamah An-Nurie menulis sebuah kitab yang berjudul Al-Faidhul Qudsi fi Ahwalil Al-Majelisi dan dicetak di Iran, yakni sebuah kitab yang secara khusus mengulas ihwal kehidupan Al-Majlisi.

Kedua ialah Muhammad ibn Murtadha ibn Mahmud, seorang tokoh besar ilmu hadis dan guru utama di dua bidang ilmu aqli dan naqli. Ia lebih dikenal dengan nama Muhsin Al-Kasyani dan julukan ‘Al-Faydh’. Kitab hadis yang ditulis olehnya berjudul Al-Wafi fi Ilmil Hadis, yang ketebalannya mencapai 14 jilid, dan setiap jilidnya merupa-kan kitab tersendiri. Kitab Al-Wafi menghimpun hadis-hadis yang tercatat di dalam empat kitab induk terdahulu berke-naan dengan akidah, hukum syariat, akhlak dan sunah-sunah. Usia Muhsin Al-Kasyani mencapai 84 tahun dan wafat pada tahun 1091 H. Dalam usainya yang panjang itu, ia telah mengarang kurang lebih dua ratus kitab dari pelbagai bidang ilmu.

Ketiga ialah Muhammad ibn Al-Hasan Al-Hurr Asy-Syami Al-‘Amili Al-Masyghari, seorang ulama hadis yang mayshur di kalangan ahli hadis dengan gelar Syeikhusy Syuyukh (guru para guru). Ia menulis kitab Tafshil Wasailsy Syi’ah ila Tahshil Ahadits Asy-Syari’ah, dan penyusunannya mengacu pada kitab-kitab Fiqih.

Di antara kitab-kitab induk hadis, kitab hadis Al-‘Amili ini tergolong sebagai kitab yang paling  banyak diakses oleh ulama. Di dalamnya telah tercatat hadis-hadis yang dinukil dari 80 kitab induk hadis, 70 dari jumlah itu dinukil dengan perantara, dan dicetak berkali-kali di Iran. Bisa dikatakan bahwa kaum Syi’ah sekarang lebih berkutat pada kitab ini. Muhammad Al-‘Amili dilahirkan pada bulan Rajab 1033 dan wafat pada tahun 1204 H. di Thus-Khurasan (sebuah propinsi di bagian barat Iran)

Dan Syeikh Allamah Tsiqotul Islam Al-Husein ibn Allamah An-Nurie telah menghimpun hadis-hadis yang tidak dicatat oleh penulis Wasailusy Syi’ah, dan menyu-sunnya di dalam sebuah kitab berjilid berdasarkan susunan bab-bab kitab Wasailusy Syi’ah, dan meletakkan judul Mustadrokul Wasail wa Mustanbatul Masail padanya. Secara umum, kitab ini bentuk lain dari kitab Wasailusy Syi’ah. Dan dapat dikatakan bahwa kitab Syeikh An-Nurie ini meru-pakan kitab hadis Syi’ah yang paling besar, di mana Syeikh telah menyelesaikannya pada tahun 1319 H. Ia wafat pada 28 Jumadil Akhir 1320 H.

Dan masih banyak kitab-kitab induk hadis yang disusun oleh ulam-ulama besar hadis Syi’ah. Di antaranya ialah kitab Al-‘Awalim sebanyak 100 jilid, karya seorang ahli hadis yang tersohor bernama Syeikh Abdullah ibn Nurullah Al-Bahrani. Ia hidup semasa dengan Allamah Al-Majlisi, pengarang kitab Biharul Anwar yang telah kami singgung di atas tadi.

Selain Al-‘Awalim adalah kitab Syarhul Istabshor fi Ahaditsul Aimmatil Athhar yang disusun Syeikh Qosim ibn Muham-mad ibn Jawad ke dalam beberapa jilid besar, mirip dengan kitab Biharul Anwar. Syeikh Qosim dikenal dengan panggilan Ibnu Al-Wandi dan panggilan Faqih Al-Kadzimi. Ia hidup semasa dengan Syeikh Muhammad ibn Al-Hasan Al-Hurr; pengarang kitab Wasailusy Syi’ah sebagaimana telah dising-gung. Syeikh Qosim adalah salah seorang murid utama  datuk saya, Allamah Sayyid Nuruddin; saudara Sayyid Muhammad pengarang kitab Al-Madarik.

Selain itu adalah kitab Jami’ul Akhbar fi Idhohil Istibshor. Kitab ini tergolong kitab hadis yang besar yang disusun ke dalam banyak jilid oleh Syeikh Allamah Abdullatif ibn Ali ibn Ahmad ibn Abu Jami’ Al-Haritsi Al-Hamadani Asy-Syami Al-‘Amili. Ia menimba ilmu dari Syeikh Al-Hasan ibn Abu Mansur ibn Asy-Syahid Syeikh Zainuddin Al-‘Amili, penulis kitab Al-Ma’alim dan Al-Muntaqo, dan salah seorang ulama abad keepuluh Hijriyah.

Selain itu adalah kitab induk besar yang berjudul Asy-Syifa fi Hadis Alil Mushtafa. Kitab ini mencakup beberapa jilid tebal, disusun oleh seorang ulama peneliti hadis yang ulung, yaitu Syeikh Muhammad Ar-Ridha, putra seorang ahli fiqih; Syeikh Abdullatif At-Tabrizi. Ia telah menuntaskan penulisan kitab tersebut pada tahun 1158 H.

Selain itu adalah kitab Jami’ul Ahkam yang tercetak hingga mencapai 25 jilid besar, disusun oleh Allamah Abdullah ibn Sayyid Muhammad Ar-Ridha Asy-Syubbari Al-Kadzimi. Pada masa itu, ia dikenal sebagai guru besar kaum Syi’ah dan penulis unggul. Dapat dikatakan bahwa setelah era Allamah Al-Majlisi, tidak ada ulama yang mengarang kitab lebih banyak daripada karya-karyanya. Sayyid Muhammad Ar-Ridha wafat di Kadzimain pada tahun 1242 H.

Pasal Kedelapan

Kepeloporan Kaum Syi’ah dalam Menggagas Ilmu Dirayah dan Membaginya ke Beberapa Cabang Utama

Orang pertama yang memulai perintisan dan penggagasan ilmu ini ialah Abu Abdillah Al-Hakim yang lahir di Naysabur (Khurasan-Iran). Nama lengkapnya adalah Muhammad ibn Abdullah. Ia wafat pada 405 H. Semasa hidupnya, Al-Hakim telah mengarang sebuah kitab yang berjudul Ma’rifatu Ulumil Hadis setebal lima jilid, lalu membagi ilmu-ilmu hadis ke lima puluh cabang.

Kitab Kasyful Dzunun telah menyatakan kesaksiannya atas kepeloporannya dalam penggagasan ilmu Dirayah, dan mengatakan: “Orang pertama yang memulai penggagasan dan pembagian ilmu Hadis ialah Muhammad ibn Abdullah dari Naysabur, kemudian diikuti oleh Ibnu Ash-Shalah.”

Sementara itu, Al-Jahidz As-Suyuthi menyebutkan dalam kitab Al-Wasail fil Awail, bahwa orang pertama yang menyu-sun macam-macam ilmu Hadis dan membaginya menjadi beberapa cabang yang masih dikenal sampai sekarang ialah Ibnu Ash-Shalah. Ia wafat pada tahun 643 H.

Data ini tidaklah bertentangan dengan apa yang baru saja kami bawakan. Sebab, Al-Jahidz hendak menyebutkan orang pertama yang mengerjakan hal itu dari kaum Ahli Sunnah, sedangkan Abu Abdillah Al-Hakim adalah seorang Syi’ah berdasarkan kesepakatan para ulama Ahli Sunnah dan Syi’ah. Syeikh As-Sam’ani di dalam Al-Ansab, Syeikh Ahmad ibn Taimiyah dan Al-Jahidz Adz-Dzahabi di dalam Tadzkirotul Huffadz telah menyatakan secara tegas kesyi’ahan Al-Hakim.

Bahkan dalam Tadzkirotul Huffadz, misalnya, Adz-Dzahabi menuturkan kesaksian Ibnu Thahir yang mengatakan: “Aku bertanya kepada Abu Ismail Al-Anshari perihal Al-Hakim. Ia berkata: ‘Ia adalah perawi yang terpercaya di bidang hadis dan seorang Syi’ah yang penyimpang’”. Lalu Adz-Dzahabi mengatakan: “Lalu Ibnu Thahir berkata: ‘Abu Abdillah Al-Hakim adalah seorang syi’ah yang fanatik dalam taqiyah-nya, namun ia menampakkan kesunniannya dalam permasalahan khilafah dan khalifah pertama setelah Nabi saw. Ia berseberangan dengan Muawiyah dan sanak keluarganya seraya menampakkan pengakuannya pada mereka; suatu hal yang tidak bisa diterima pendiriannya ini.’”

Pada hemat saya, ulama-ulama kami, Syi’ah, juga telah menyatakan kesaksian mereka atas kesyi’ahan Abu Abdillah Al-Hakim, seperti Syeikh Muhammad ibn Al-Hasan Al-Hurr di akhir-akhir kitab Wasailusy Syi’ah. Di dalam Ma’alimul Ulama di bab ‘Al-Kuna’, ia menukil dari Ibnu Syarasyub yang menilai Al-Hakim sebagai salah seorang pengarang Syi’ah, dan ia memiliki kitab tentang keutamaan-keutamaan Ahlul Bait serta sebuah kitab khusus tentang keutamaan-keutamaan Imam Ar-Ridha a.s. Mereka juga menyebutkan sebuah kitabnya khusus berkenaan dengan keutamaan-keutamaan Fatimah Az-Zahra a.s.

Bahkan, Abdullah Afandi telah menerangkan riwayat hidup Al-Hakim secara rinci dalam kitabnya; Riyadul ‘Ulama, di bagian pertama yang secara khusus membahas Syi’ah Imamiyah. Begitu juga, Afandi menyebutkan nama-nya dan memberikan kesaksian atas kesyi’ahannya di bab ‘Al-Alqob’ dan di bab ‘Al-Kuna’. Di dalam kitab itu, ia menyebutkan dua kitab Al-Hakim yang berjudul Ushul Ilmil Hadis dan Al-Makhal ila Ilmish Shohih. Afandi mengatakan: “Dan Al-Hakim telah mencatat hadis-hadis tentang Ahlul Bait yang tidak termaktub di dalam Shahih Al-Bukhari, seperti hadis ‘Ath-Thoirul Masywi’ dan hadis ‘Man Kuntu Maulahu.’”

Setelah Abu Abillah Al-Hakim, terdapat sekelompok tokoh ilmu Hadis dari kaum Syi’ah yang mengarang di bidang Dirayah. Di antara mereka ialah Sayyid Jamaluddin Ahmad ibn Thawus Abul Fadhail. Dialah peletak istilah-istilah hadis Syi’ah Imamiyah berkenaan dengan pembagian hadis kepada empat macam; shahih, hasan, muwatssaq dan dzaif. Ibnu Tawus wafat pada tahun 673 H.

Dan di antara mereka ialah Sayyid Allamah Ali ibn Abdul Hamid Al-Hasani. Ia mengarang kitab Syarh Ushul Dirayatul Hadis. Ia juga melaporkan dari Syeikh Allamah Al-Hilli ibn Al-Muthahhar dan Syeikh Zainuddin yang masyhur dengan gelar Syahid Tsani (sang syahid kedua), sebuah kitab bernama Ad-Dirayah fi Ilmid Dirayah dan syarahnya yang berjudul Ad-Dirayah.

Dan di antara mereka ialah Syeikh Al-Husein ibn Abdul Shomad Al-Haritsi Al-Hamadani; pengarang kitab Wushulul Akhyar ila Ushulil Akhbar, Syeikh Abu Mansur Al-Hasan ibn Zainudin Al-‘Amili; pengarang kitab Muqod-dimatul Muntaqo dan Ushul Ilmil Hadis, dan Syeikh Bahauddin Al-‘Amili pengarang kitab Al-Wajizah fi Ilmi Diroyahtul Hadis. Saya telah menyarahi kitab terakhir ini dalam sebuah kitab yang saya namai dengan judul Syarah Nihayatud Dirayah, dan dicetak di India sampai menjadi kurikulum di sekolah-sekolah pen-didikan agama.

Pasal Kesembilan

Tentang Orang Pertama yang Menyusun Ilmu Rijal dan Riwayat Hidup Para Perawi

Ketahuilah bahwa Abu Abdillah Muhammad ibn Khalid Al-Barqi Al-Qummi adalah seorang sahabat Imam Musa ibn Ja’far Al-Kadzim a.s., sebagaimana Syeikh Abu Ja’far Ath-Thusi mencatat hal ini di dalam kitab Ar-Rijal. Dan Abul Faraj Ibnu Nadim di dalam Al-Fehrest, di awal bagian kelima pasal keenam mengenai riwayat tokoh-tokoh fiqih Syi’ah menyebutkan karya Al-Barqi di bidang ilmu Rijal. Di sana ia mengatakan: “Dan di antara karya-karya Al-Barqi adalah Al-‘Awidh, At-Tabshiroh dan Ar-Rijal. Di dalam kitab terakhir ini, ia menyebutkan nama-nama yang meriwayatkan hadis-hadis dari Amiril Mukminin Ali bin Abi Thalib a.s.”

Setelah Al-Barqi ialah Abu Muhammad Abdullah ibn Jablah ibn Hayyan ibn Abhar Al-Kinani. Ia mengarang kitab Ar-Rijal. Abdullah Al-Kinani berusia panjang dan wafat pada tahun 219 H.

As-Suyuthi dalam Al-Awail mengatakan: “Orang pertama yang membahas ilmu Rijal ialah Syu’bah.” Jelas, bahwa Syu’bah datang setelah Abdullah ibn Jablah, karena yang pertama wafat pada tahun 260 H. Bahkan setelah Abdullah ibn Jablah dan sebelum Syu’bah, terdapat sahabat Imam Al-Jawad a.s. yang bernama Abu Ja’far Al-Yaqthini. Ia menulis Kitabur Rijal, sebagaimana yang dicatat oleh An-Najasyi di dalam Al-Fehrest dan Ibnu Nadim di dalam Al-Fehrest.

Saya bubuhkan di sini, bahwa Abu Abdillah Muhammad ibn Khalid Al-Barqi juga seorang sahabat imam Ahlul Bait, yaitu Imam Musa Al-Kadzim a.s. dan Imam Ali Ar-Ridha a.s. Bahkan, ia juga sempat menjumpai Imam Muhammad Al-Jawad a.s. Kitab Al-Barqi masih terjaga utuh dan tersedia sampai sekarang. Di dalamnya disebutkan nama perawi-perawi yang meriwayatkan hadis dari Ali bin Abi Thalib a.s. dan perawi-perawi setelah mereka. Kitab itu juga memuat tema penting Rijal mengenai Al-Jarah wat Ta’dil (penilaian kritis atas ihwal kehidupan para perawi), sebagaimana yang juga dibahas oleh semua kitab Rijal.

Lalu, Abu Ja’far Ahmad ibn Muhammad ibn Khalid Al-Barqi yang mengarang kitab Ar-Rijal dan kitab Ath-Thabaqot. Abu Ja’far wafat pada tahun 274 H.

Lalu, Syeikh Abul Hasan Muhammad ibn Ahmad ibn Dawud ibn Ali Al-Qummi yang dikenal juga dengan Ibnu Dawud; seorang ulama terkemuka Syi’ah. Ia mengarang kitab Al-Mamduhin wal Madzmumin minar Ruwat, dan wafat pada tahun 368 H.

Lalu, Syeikh Abu Ja’far Muhammad ibn Babaweih Ash-Shoduq yang mengarang kitab Ma’rifatur Rijal dan Kitabur Rijalil Mukhtarin min Ashabin Nabi saw. Ia wafat pada tahun 381 H.

Lalu, Syeikh Abu Bakar Al-Ji’ani yang dinyatakan oleh Ibnu Nadim bahwa ia merupakan salah seorang ulama besar Syi’ah. Al-Ji’ani mengarang kitab Asy-Syi’ah min Ashabil Hadits wa Thabaqotuhum. Tentang kitab ini, An-Najasyi mengatakan bahwa kitab itu dikarang dalam ukuran besar.

Lalu, Syeikh Muhammad ibn Baththah yang mengarang kitab Asma’ Mushannifisy Syi’ah, dan wafat pada tahun 274 H.

Lalu, Syeikh Nashr ibn Ash-Shabah Abul Qosim Al-Balkhi; guru Syeikh Abu Amr Al-Kasyi. Ia mengarang kitab Ma’ri-fatun Naqilin min Ahlil Miah Tsalitsah. Ia wafat pada tahun pada abad ketiga Hijriyah.

Lalu, Ali ibn Al-Hasan ibn Fidhal; pengarang kitab Ar-Rijal. Ia berada di generasi sebelum Syeikh Nashr Al-Balkhi.

Lalu, Sayyid Abu Ya’la Hamzah ibn Al-Qosim ibn Ali ibn Hamzah ibn Al-Hasan ibn Ubaidilah ibn Al-Abbas ibn Ali ibn Abu Thalib a.s., yang mengarang kitab Man Rowa ‘an Ja’far ibn Muhammad minar Rijal. An-Najasyi mengatakan: “Kitab ini bagus, dan At-Tal’akbari meriwayatkan sertifikat pengakuan dan pengesahan darinya”. Hamzah ibn Qosim adalah ulama Syi’ah abad ketiga Hijriyah.

Lalu, Syeikh Muhammad ibn Al-Hasan ibn Ali Abu Abdillah Al-Maharibi yang menyusun kitab bagus yang berjudul Ar-Rijal min Ulama Tsalitsah.

Lalu, Al-Musta’thof Isa ibn Mehran; pengarang Kitabul Muhadditsin. Isa termasuk ulama terdahulu Syi’ah, demikian dicatat oleh Syeikh Ath-Thusi di dalam Al-Fehrest.

Berikutnya, di dalam kitab Ta’sisusy Syi’ah li Fununil Islam, saya telah mengulas karangan-karangan Syeikh Ath-Thusi, An-Najasyi, Al-Kasyi, Allamah ibn Al-Muthahhar Al-Hilli, Ibnu Dawud dan generasi-generasi yang mengarang kitab tentang ilmu Rijal. Dan hingga kini, semua karya mereka masih menjadi rujukan dalam upaya menilai kualitas pribadi para perawi (Al-jarah wa Ta’dil).

Perlu dibubuhkan di sini, bahwa Abul Faraj Al-Qannani Al-Kufi; guru An-Najasyi, mempunyai karangan di bidang ini, berjudul Kitab Mu’jam Rijalil Mufadhal, dan menyusunnya sesuai dengan urutan huruf Hijaiyah.

ayat “Ulaika humul Bariyyah (Qs. Al-Bayyinah [97]:7) yang ditafsirkan oleh Rasulullah Saw untuk Ali bin Abi Thalib dan para pengikutnya (Syiah).

h: Laogi Mahdi

“Tulisan ringan ini adalah sebuah tanggapan ringan atas asumsi yang dibangun oleh salah seorang penyanggah, yang mengomentari artikel Relasi Agama dan Filsafat. Kendati, menurut hemat penulis, komentar yang ditujukan atas tulisan tersebut merupakan komentar salah alamat untuk tidak mengatakan salah kaprah. Karena dalam tulisan tersebut yang diketengahkan adalah masalah-masalah universal dan umum tidak menjurus kepada masalah-masalah partikular dan khusus seperti masalah-masalah mazhab, Sunni-Syiah. Tapi nampaknya penyanggah kurang memperhatikan etika polemik dengan baik, barangkali didorong oleh keinginan untuk memanfaatkan tulisan yang popular yang kemudian dibaca oleh setiap orang dengan mudah dan cepat, sehingga membuat penyanggah lalai akan etika polemik ini. Termasuk tidak menyebutkan nama, email yang dapat menjamin kontiunitas diskusi ini, foot note yang dilampirkan tidak tahu merujuk kemana? Ala kulli hal, dalam tulisan-tulisan polemis antara kedua mazhab besar ini, ayat-ayat Qur’an dan hadis-hadis nabawi yang sering dikemukakan adalah lebih banyak dari apa yang diuraikan oleh sang penyanggah. Seperti dengan mengatakan bahwa dalil Qur’an yang menjadi landasan atau hujjah mazhab Ahlulbait As terdiri dari dua ayat al-Qur’an, surah al-Hud ayat 72-74 dan surah al-Ahzab ayat 28-33, yang kurang lebihnya menyoroti redaksi Ahl al-Bait dari ayat tersebut.”

Sementara ayat-ayat Qur’an yang menegaskan derajat, kedudukan, dan keharusan mengikuti para Imam Ahlulbait lebih banyak dari yang disebutkan, dimana secara selintasan dan sepintas disebutkan kemudian (pada tulisan-tulisan berikutnya, bersambung terus so jangan khawatir). Demikian juga sandaran hadis nabawi terbatas pada hadis al-Ghadir dan ats-Tsaqalain, kendati kalau mau jujur dan fair mengkaji hadis ini telah cukup untuk membuktikan keutamaan Ahlulbait, sementara hadis-hadis yang lain cukup banyak yang menegaskan derajat dan keutamaan Ahlulbait As.

Banyak sanggahan yang diajukan oleh Sdr. Penyanggah atas artikel tersebut, di sini dan pada kesempatan mendatang, penulis akan berusaha menjawabnya satu demi satu. Insya Allah.

Pada kesempatan ini, tulisan ini dimaksudkan untuk mengugurkan asumsi kemunculan Syiah yang ditengarai secara emosional oleh Sdr. Penyanggah dalam bentuk soalan, apakah benar bahwa Syiah merupakan ajaran sungsang yang membuat luruh air mata baginda Nabi Saw? Apakah benar bahwa Syiah sebagai fitnah akhir zaman yang mengatasnamakan Ahlulbait sebagai pembenar ajaran-ajarannya? Apakah benar, bahwa nasionalisme Persialah yang menjadi penyebab utama kemunculan Syiah? Berangkat dari tiga soalan ini penulis menurunkan artikel ringan yang berjudul Melacak Jejak Kemunculan Syiah. Dengan begitu, barangkali menurut hemat penulis, sistematika pembahasan ini dapat terjaga dan terarah dengan baik.

Adapun pembahasan atau soalan tentang tafsir ayat ahl al-bait dari dua surah di atas, pengkhususan para imam dari keturunan Husain saja, dalil Qur’an dan hadis shahih ihwal imamah mereka, akan penulis khususkan pada kesempatan berikutnya.

Beberapa Asumsi Atas Kemunculan Syiah

Dalam menyoroti fenomena dan latar belakang kemunculan Syiah, terdapat beberapa asumsi yang dibangun. Beberapa asumsi tersebut adalah sebagai berikut:

1. Kemunculan Syiah pada masa Rasulullah Saw

2. Kemunculan Syiah pasca Saqifah

3. Kemunculan Syiah setelah syahadah Husain bin Ali As

4. Kemunculan Syiah karena pengaruh orang-orang Persia

5. Kemunculan Syiah karena pengaruh pemikiran Ibnu Saba.

Sdr. Penyanggah dan orang-orang semacamnya yang bersandar pada asumsi keempat menandaskan bahwa Syiah muncul lantaran pengaruh orang-orang Persia. Dengan kata lain, kemunculan Syiah adalah dikarenakan faktor nasionalisme Persia, karena Imam Husain As menikah dengan Syahrbanu keturunan dinasti Sasani Persia. Adapun asumsi-asumsi lainnya yaitu asumsi kedua, ketiga dan kelima, mengingat ruang dan waktu yang terbatas di sini, akan dibahas pada kesemaptan mendatang.

Makna Syiah secara leksikal dan teknikal

Sebelum merangsek lebih jauh, ada baiknya kita menguliti makna Syiah dan Tasyayyu’ terlebih dahulu baik secara leksikal atau pun secara teknikal. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari kerancuan dan memperoleh kejelasan ihwal seluk-beluk Syiah. Syiah secara bahasa memiliki dua makna:

1. Kesepakatan dan koordinasi dua orang atau dua kelompok dalam akidah dan perbuatan, dimana salah seorang dari mereka mengikuti yang lain.

Hal ini disebutkan dalam kitab Lisan al-Arab, Syiah adalah sekelompok orang yang bersepakat dalam satu urusan. Makna syiah menurut definisi pertama juga digunakan dalam al-Qur’an, sebagaimana Nabi Ibrahim As disebut sebagai Syiah Nabi Nuh As.

“Dan Sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongannya (Syiah Nuh).”

2. Mengikuti dan menuruti orang lain

Dalam kamus al-Muhith disebutkan bahwa Syiah seseorang adalah pengikut dan penolongnya. Mengikuti keyakinan, jalan dan adat orang lain biasanya disertai dengan cinta (mahabbah) dan rasa suka. Dalam penggunaan kata Syiah, makna ini juga yang dimaksud.

“Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya.” (Qs. al-Qasas [28]:15)

Dari dua makna yang telah disebutkan, makna kedua yang lebih dikenal dan lebih masyhur.

Makna Syiah secara Teknikal

Para sejarawan dan peniliti dalam bidang Milal wan Nihal (bidang yang membahas sejarah agama-agama, bangsa-bangsa dan mazhab-mazhab) secara mutlak mengatakan bahwa Syiah yang dimaksud adalah Syiah Itsna Asyariyyah. Berikut ini kami akan uraikan satu demi satu definisi ihwal Syiah yang disampaikan oleh para sejarawan dan peneliti. Banyak definisi yang disampaikan tentang Syiah, antara lain,

1. Keyakinan terhadap imamah belâfashl (segera setelah, soon as, immediately) Amirul Mukminin, karena ia lebih utama daripada sahabat yang lain, dan juga Nabi Saw melantiknya sebagai khalifah setelahnya. Dan keyakinan terhadap masalah bahwa imamah akan senantiasa berlanjut di bawah panji putra-putra Fatimah az-Zahra As. Dan tiada orang lain yang memiliki hak untuk mengambil alih urusan ini. Syaikh Mufid tentang masalah ini berkata, kalimat Syiah terkadang digunakan dengan alif lâm (ta’rif) dan kadang tanpanya. Bilamana penggunaan terma Syiah tanpa alif lam ia bermakna alif lâm luas dan lapang. Seperti dapat digunakan pada antek-antek Bani Umayyah (Syiah Bani Umayyah) atau Syiah Bani Abbas, dan Syiah fulan. Akan tetapi kapan saja kata Syiah digunakan dengan alif lâm ia bermakna khusus dan maksud dari kalimat itu adalah orang-orang yang mengikuti Imam Ali sebagai Wali Amr Muslimin dan yakin kepada imamah belafashl selepas kepergian Nabi Saw.

2. Makna Syiah yang kedua adalah orang-orang yang yakin terhadap keutamaan Imam Ali atas seluruh sahabat dan ketiga orang khalifah sebelumnya, kendati orang-orang yang masuk dalam definisi ini tidak meyakini imâmah belafashl Imam Ali As. Dan secara asasi, mereka tidak meyakini adanya nash dalam urusan khilafah dan imamah.

3. Penggunaan lafaz Syiah yang ketiga adalah ekspresi kecintaan dan mawaddah kepada Ahlulbait Nabi Saw.

Dalam terminologi kalam, Syiah yang dimaksud di sini adalah Syiah yang bermakna pertama, yaitu orang-orang yang meyakini khilafah dan imamah belafashl Imam Ali As.

Makna Tasyayyu’ Secara Leksikal

Jauhari dalam Sihah al-Lughat berkata, tasyayyu’ berarti musya’ ya’at (klausul mufa’ala, yang melibatkan dua orang atau lebih), yang bermakna mengikuti, menolong dan berwilayah kepada seseorang. Dalam Taj al-’Arus dan Lisan al-’Arab memuat redaksi yang sama seperti makna tersebut.

Tasyayyu’ secara Teknikal

Tasyayyu’ secara istilah berangkat dari keyakinan bahwa imâmah merupakan kedudukan yang ditentukan oleh Tuhan dan meyakini bahwa pemilihan imam terlaksana melalui nash (baca: wahyu) dan bersumber dari sisi Tuhan. Berangkat dari sini, Nabi Saw dengan mengikuti tradisi para nabi sebelumnya yang mengangkat para imam dan washi – sesuai dengan titah Tuhan – selepas mereka. Dan Nabi Saw memperkenalkan Imam ‘Ali As sebagai Imam pertama dan Imam Mahdi As sebagai Imam terakhir dari dua belas imam yang diperkenalkan oleh Rasulullah Saw sebagai pemimpin agama, pemegang panji wilayah, kekuasaan dan kepemimpinan umat. (Lihat al-Qunduzi, Yanabiul Mawaddah dan Hamuyinii asy-Syafi’i dalam Faraidh as-Simthain tentang silsilah para Imam yang berasal dari keturunan al-Husain, sebagai penjelas dari hadis-hadis yang menyiratkan akan adanya dua belas khalifah pasca Rasulullah sebagaimana yang disebutkan dalam Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Abi Dawud, Sunan at-Tirmidzi dan Shawaiqul Muhriqah).

Syaikh Jawad Mugniyah berkata, tasyayyu’ adalah iman terhadap adanya nash dari sisi Nabi Saw atas imamah dan khilafah Imam Ali As.

Beberapa Asumsi bahwa Syiah adalah Rekaan Bangsa Persia

Nampaknya Sdr. Penyanggah sangat puritan dengan asumsi ini dan seakan memaksakan kehendak bahwa Syiah muncul dikarenakan nasionalisme bangsa Persia buah pernikahan Imam Husain As dengan Syahrbanu putri Raja Yazdghird III. Sdr. Penyanggah mungkin banyak bertaklid kepada Ahmad Amin dan Ahmad AthiyatuLlah dari kalangan Sunni dan orientalis seperti Edward Brown dalam memelihara asumsi ini untuk melacak jejak kemunculan Syiah. Sebagai tambahan dari klaim asumsi nasionalisme ini, ada beberapa asumsi lainnya yang digunakan di antaranya, akidah wishayah dan wiratsah dalam masalah imamah yang merupakan landasan fundamental dalam akidah Syiah, tidak dikenal sebelumnya oleh bangsa Arab, akan tetapi pemerintahan dinasti kerajaan Persia telah sekian lama bertopang pada sistem ini. Kedua, Kekalahan bangsa Iran dan ditaklukkannya Iran oleh lasykar Muslimin menjadi embrio kemunculan dendam dan kusumat bangsa Iran terhadap kaum Muslimin Arab sehingga dengan demikian, untuk menuntut balas dari kekalahan ini, diciptakanlah suatu mazhab yang bernama “Syiah”.

Kerapuhan Asumsi bahwa Syiah adalah rekaan orang-orang Persia

Dalam mengkritisi dan sekaligus menggugurkan asumsi Sdr. Penyanggah dan orang-orang semacamnya, saya minta untuk memperhatikan poin-poin berikut ini:

1. Sebagaimana yang akan dijelaskan secara rinci di bawah, Syiah telah muncul pada masa Rasulullah Saw.

2. Sahabat-sahabat utama Rasulullah Saw seperti Miqdad bin Aswad, Salman al-Farisi, Abu Dzar adalah terkenal sebagai Syiah Ali As.

3. Letak geografis yang terpenting Syiah pada masa-masa awal Islam adalah terletak di daerah-daerah Arab-Hijaz, Iraq dan Yaman bukan Iran. Dan kebanyakan pengikut (Syiah) Ali pada masa hidupnya adalah orang-orang Arab. Sebagaimana terlihat pada lasykar Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib dalam peperangan seperti Jamal, Shiffin dan Nahrawan. Lasykar Imam Ali ini kebanyakan terdiri dari orang-orang Arab dan sahabat-sahabat terdekat Nabi Saw.

4. Menurut catatan sejarah tampak jelas bahwa orang-orang Iran pada masa-masa permulaan memeluk Islam, dengan memperhatikan pemikiran yang menguasai masyarakat ketika itu adalah pemikiran Sunni, adalah bermazhab Sunni setelah itu secara gradual mazhab Syiah tersebar dikarenakan sebab yang beragam. Di antaranya orang-orang Syiah Hijaz, Iraq berhijrah ke Iran dan melalui mereka mazhab Syiah tersebar di persada Iran.

5. Muhammad Abu Zuhra berkata: Orang-orang Persia memeluk Syiah melalui tangan orang-orang Arab, dan sekali-kali Syiah tidak pernah dimunculkan oleh mereka. Banyak ulama-ulama Islam yang dikarenakan takut kepada antek-antek Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah melarikan diri ke daerah-daerah Pars, Khurasan (daerah Persia) dan telah menjadi sebab tersebarnya ajaran Syiah. Dan setelah jatuhnya Bani Umayyah, ajaran Syiah tersebar di wilayah ini. (al-Imam Ja’far Shadiq As, hal. 545)

6. Kerapuhan yang lain dari asumsi ini adalah di samping kedua belas Imam Syiah dari sisi nasab dan kebangsaan adalah Arab, kebanyakan ulama Syiah berasal dari keluarga Arab seperti Ali A’yan, Ali ‘Athiyyah, Bani Darrah, Syaikh Mufid, Sayid Murtadha, Muhaqqiq Hilli, Allamah Hilli, Ibnu Thawus, Ibnu Idris, Fadhil Miqdad, Syahid Awwal dan Syahid Tsani dan yang lainnya. Dan dari sisi lain, tidak satu pun dari para Imam Arba’ah (Maliki, Syafi’i, Hanbali dan Hanafi) adalah orang-orang Arab, melainkan orang-orang yang berlindung kepada orang-orang Arab, sebagaimana para penulis kitab Shihah Ahlussunnah, dan kebanyakan dari para muhaddits, teolog, juris, dan ahli hadis tersohor mereka juga bukan orang-orang Arab. Hampir kebanyakan dari mereka adalah orang-orang Persia..

7. Kemestian dari asumsi ini menegaskan adalah bahwa orang-orang Iran lebih menaruh hormat kepada Syahrbanu bunda Imam Sajjad daripada ibu-ibu para imam lainnya, sementara tidaklah demikian, misalnya kepada Narjis Khatun bunda Imam Mahdi Ajf yang merupakan salah seorang budak Roma. Orang-orang Iran juga tetap menaruh hormat kepada para bunda Imam Ahlulbait As. Dan terlepas dari itu, asumsi ini tidak dapat diterapkan pada Imam Ali dan Imam Hasan As, lantaran secara hierarkis, Imam Ali dan Imam Hasan adalah pendahulu dari Imam Husain As.

8. Apabila orang-orang Iran menaruh hormat kepada para Imam Suci As dikarenakan nasab mereka berasal dari Dinasti Sasani seharusnya mereka juga harus menaruh hormat kepada Bani Umayyah lantaran pada masa Walid bin Abdul Malik, pada salah satu perang Qutaibah bin Muslim, salah seorang cucu Yazdgard bernama Syah Afarid tertangkap, dan Walid menikah dengan wanita tawanan tersebut. Dan dari perkawinan itu, lahirlah Yazid bin Walid yang terkenal sebagai Yazid Naqish. Oleh karena itu, nasab (geneologi) Yazid bin Walid dapat ditelusuri hingga para Raja Sasani.

9. Penisabatan Yazid bin Walid kepada Raja Sasanik ini dari sudut pandang sejarah lebih meyakinkan ketimbang penisbatan Imam Ali bin Husain as-Sajjad As. Karena ihwal pernikahan Imam Husain dan Syahrbanu Yazdghird Sasani III masih diragukan oleh sebagian sejarawan, namun tidak demikian dalam hal pernikahan Walid bin Abdul Malik dengan Syah Farid.

10. Akidah Syiah Itsna Asyari dalam masalah imamah dan masalah-masalah lainnya memiliki akar yang kuat dan panjang dalam al-Qur’an dan hadis nabawi dan riwayat-riwayat Imam Ahlulbait As (seperti yang akan dibuktikan oleh penulis pada tulisan sekuel berikutnya).

11. Saksi-saksi sejarah menegaskan bahwa orang-orang Iran –bukan lantaran gentar dan terpaksa – memeluk Islam, melainkan dimotivasi oleh kerelaan, kegemaran dan kecintaan terhadap Islam. Yang menjadi sebab diterimanya Islam dan berserah dirinya (taslim) orang-orang Iran di hadapan lasykar Muslimin, pertama, kebenaran akidah dan ajaran Islam. Kedua, terbebasnya mereka dari tirani dan oppresi raja-raja Sasani. Dengan kata lain, hukum dan ajaran yang bertengger di atas fondasi keadilan dan kesetaraan dalam Islam dari satu sisi, dan dari sisi lain kesewenang-wenangan dan diskriminasi system pemerintahan Sasani yang membuat orang-orang Iran menerima ajaran Islam.

Syiah dalam Lisan Rasulullah Saw

Kalau ingin ditelusuri sejarah kemunculan Syiah, seorang peneliti dan pencari fair dapat menemukannya pada masa Rasulullah Saw.

Dari banyak riwayat yang terang menjelaskan bahwa redaksi “Syiah” telah tersebar semenjak masa Rasulullah dan beliaulah yang menyebarkan istilah ini.

Di samping riwayat-riwayat yang terdapat pada referensi-referensi mazhab Syiah, juga terdapat pada referensi-referensi mazhab Sunni dimana ayat “Ulaika humul Bariyyah (Qs. Al-Bayyinah [97]:7) yang ditafsirkan oleh Rasulullah Saw untuk Ali bin Abi Thalib dan para pengikutnya (Syiah).

Misalnya Hakim Naisyaburi salah seorang alim terkenal Sunni yang hidup pada abad kelima Hijriah menukil riwayat-riwayat ini dalam kitabnya yang terkenal “Syawâhid at-Tanzil” dengan sanad yang beragam dan kurang lebih dari dua puluh riwayat dimana beberapa dari riwayat tersebut sebagai contoh akan disebutkan di sini.

1. Ibnu Abbas berkata: “Tatkala ayat “Innaladzina A^manû wa ‘Amilûshalihât Ulaika hum Khairul Bariyyah” (Sesungguhnya orang-orang beriman dan beramal shaleh mereka adalah sebaik-baik mahkluk) turun, Rasulullah Saw bersabda kepada ‘Ali: Huwa Anta wa Syia’tuka. Ta’ti Anta wa Syiahtuka Yaumal Qiyâmah Râdhiin wa Mardhiyyîn wa Ya’ti ‘Aduwwuka Ghadbânan Muqhamîn.” (Maksud dari ayat ini adalah dirimu dan Syiahmu yang pada hari Kiamat akan memasuki padang Masyhar dalam keadaan ridha dan diridhai oleh Tuhan. Sementara musuhmu dalam keadaan murka dan dimurkai.” (Syawahid at-Tanzil, jil. 2, hal. 357.)

2. Dalam hadis yang lain yang bersumber dari Abu Barzah dimana ketika Rasulullah Saw membacakan ayat ini, beliau bersabda: “Mereka (Khairul Bariyyah itu) adalah engkau dan Syiahmu wahai Ali, dan perjanjianku dan dirimu di samping telaga Kautsar. (Idem)

3. Dari hadis yang lain dari Jabir bin Abdullah Anshari disebutkan bahwa kami duduk di samping Ka’bah bersama Rasulullah Saw dan ‘Ali datang menuju ke arah kami, tatkala Rasulullah Saw menoleh kepadanya, beliau bersabda: “Qad Atakum Akhi.” (Telah datang saudaraku kepada kalian). Lalu Rasulullah Saw menghadap ke arah Ka’bah dan bersabda: “Wa Rabba Hadzi al-Baniyyah, Inna Hadza wa Syia’atahu Humul Faizun Yaumal Qiyamah..(Demi Tuhan Ka’bah, Aku bersumpah sesungguhnya orang ini (‘Ali) dan Syiahnya adalah orang-orang yang berjaya pada hari Kiamat).” (Idem, Ibnu Hajar, Shawâiqul Muhriqah, hal. 96, dan Muhammad Syablanji, Nurul Abshar, hal. 70 dan 101)

4. Dalam kitab ad-Durrul Mantsur dinukil dari Ibnu Abbas bahwa sewaktu ayat “Innaladzina A^manû wa ‘Amilûshalihât Ulaika hum Khairul Bariyyah” (Sesungguhnya orang-orang beriman dan beramal shaleh mereka adalah sebaik-baik mahkluk) turun, Rasulullah Saw bersabda kepada ‘Ali: : Huwa Anta wa Syia’tuka. Ta’ti Anta wa Syiahtuka Yaumul Qiyâmah Râdhiin wa Mardhiyyîn .” (Maksud dari ayat ini adalah dirimu dan Syiahmu yang pada hari Kiamat akan memasuki padang Masyhar dalam keadaan ridha dan diridhai oleh Tuhan. (ad-Durrul Mantsur, jil. 6, hal. 379).

5. As-Suyuthi menukil dalam hadis yang sama dari Ibnu Mardawiyah dari Hadhrat Ali bahwa Rasulullah Saw bersabda kepadaku: “Alam Tasma’ QauluLlah: Innaladzina A^manu wa ‘Amilushalihât Ulaika hum Khairul Bariyyah” Anta wa Syiahtuka wa Mau’idi wa Mau’idukum al-Haudh, Idza Ji’tu al-Umam lil Hisab, Tud’auna Ghurran Muhajjalin. Apakah engkau tidak mendengar firman Allah: (Sesungguhnya orang-orang beriman dan beramal shaleh mereka adalah sebaik-baik mahkluk)? (yang dimaksud) Adalah engkau dan Syiahmu. Tempat perjanjian antara diriku dan dirimu adalah di telaga Kautsar. Tatkala aku datang untuk menghisab seluruh umat, engkau akan dipanggil sementara keningmu putih dan telah dikenal. (Idem).

Dan banyak lagi dari ulama Sunni dengan redaksi yang sama menukil hadis ini dalam kitab-kitab mereka semisal: Khatib Khawarazmi dalam Manaqib, Abu Nu’aim Isfahani dalam Kifayatul Khisham, dan Thabari dalam Tafsir-nya, Ibnu Shibagh al-Maliki dalam Fushulul Muhimmah, dan Allamah Syaukani dalam Fathul Ghadir dan Syaikh Sulaiman al-Qunduzi dalam Yanabi’ul Mawaddah, dan Alusi dalam Ruhul Ma’ani ketika mereka menafsirkan ayat yang dimaksud di atas. Silahkan Anda merujuk kepada kitab-kitab yang disebutkan di sana untuk membuktikan klaim ini.

Dari hadis-hadis nabawi yang dinukil dari kitab-kitab terdepan Sunni tentang sejarah kemunculan Syiah dapat dikatakan dengan tegas bahwa Syiah telah muncul semenjak masa Rasulullah Saw dan melalui lisan beliaulah Syiah diperkenalkan kepada umat.

Tiadanya Empat Mazhab Hingga Abad Ketiga

Adapun mazhab jumhur Sunni yang terbagi menjadi empat mazhab besar, sesuai catatan sejarah, keempat mazhab Sunni (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali) belum muncul lagi dan belum memiliki pengikut hingga abad ketiga. Lantaran berdasarkan nukilan yang ada:

1. Abu Hanifah, Nu’man bin Tsabit, Imam Mazhab Hanafi lahir pada tahun 80 Hijriah dan wafat pada tahun 150 H.

2. Malik bin Anas Asbahi Madani, pengarang kitab al-Muwattha, Imam Mazhab Maliki lahir pada tahun 95 H dan wafat pada tahun 179 H.

3. Syafi’i, Muhammad bin Idris, Imam Mazhab Syafi’i, lahir pada tahun 150 H dan wafat pada tahun 204 H.

4. Ahmad bin Hanbal, Imam Mazhab Hanbali, lahir pada tahun 164 H dan wafat pada tahun 241 H.

Di sini kita patut mengajukan beberapa pertanyaan kepada saudara penyanggah atau to whom it may concern sebagai berikut:

1. Kaum Muslimin selain Syiah, sebelum lahirnya keempat Imam Mazhab ini, memiliki mazhab apa dan mengikuti imam siapa?

2. Mengapa dan apa yang menjadi alasan kaum Muslimin selain Syiah tidak merujuk kepada Imam Ahlulbait As dan menjadi pengikut mereka?

3. Mengapa dan atas alasan apa, mazhab atau mazhab-mazhab lain (kalau ada) sebelum empat mazhab ini tersingkir dan menjadi pengikut keempat mazhab ini?

4. Mengapa dan atas alasan apa serta bersandar kepada ayat dan riwayat yang mana yang menegaskan bahwa mazhab dan ucapan keempat mazhab ini memiliki hujjah syar’i dan mereka merupakan para marja’ (tempat rujukan) dan imam kaum Muslimin?

5. Mengapa dan atas alasan apa mereka mengabaikan Ahlulbait Nabi Saw, yang dalam ayat dan riwayat menyebutkan keutamaan mereka dan bahkan memerintahkan untuk mengikuti para Imam Ahlulbait, namun menjadi pengikut imam empat mazhab tersebut?

Dari sini dapat disimpulkan bahwa Syiah merupakan murid Senior dan Sunni adalah murid Yunior dari madrasah Rasulullah Saw. Dan jejak kemunculan Syiah dapat ditelusuri semenjak masa kemunculan Islam. Adapun saudara kita, Sunni tiga abad setelahnya.

kitab Nahjul Balaghah yang ditulis oleh Sharif radzi adalah kumpulan pemikiran dan petuah Imam Ali as

Anda tentunya tahu bahwa kitab Nahjul Balaghah yang ditulis oleh Sharif radzi adalah kumpulan pemikiran dan petuah Imam Ali as. Ali adalah Manusia suci yang tak ada duanya sepanjang sejarah. Kata-kata, pidato dan surat-surat yang ditulisnya dan diabadikan oleh Syarif Radhi dalam Nahjul Balaghah adalah manifestasi dari …kemuliaan dan keajaiban, yang mengalir dari hati penuh ma’rifat dan cinta kepada Allah. Karakteristik paling penting dari ucapan-ucapan Imam Ali as adalah kefasihan bahasa dan kedalaman makna yang dapat disaksikan dengan baik dalam Nahjul Balaghah. Sekarang, setelah 14 abad berlalu, umat manusia di era ini masih dapat menikmati keluwesan, keindahan dan keatraktifan Nahjul Balaghah. Syeikh Muhammad Abduh, mufti Mesir tempo dulu, saat berada di negeri asing, berkenalan dengan kitab Nahjul Balaghah. Keberagaman materi dan topik yang dibahas dalam Nahjul Balaghah memberikan kepuasan tersendiri bagi lawan bicaranya dalam berbagai hal. Kitab ini membangkitkan keterpikatan dan ketertarikan luar biasa dalam dirinya sehingga ia sadar telah menemukan harta karun yang sangat berharga. Oleh karena itu, Syeikh Mohammad Abduh menulis syarah atau penjelasan ringkas tentang isi kitab Nahjul Balaghah yang hingga saat ini menjadi rujukan banyak orang yang ingin memahami secara singkat kandungan kata-kata, khotbah dan surat-surat Imam Ali (as)

.

Syeikh Mohammad Abduh Beliau mengatakan : “Di masyarakat Arab, tidak ada seorangpun yang tidak berkeyakinan bahwa ucapan Ali as adalah ucapan paling mulia, paling fasih, paling dalam maknanya dan paling lengkap sesudah al-Qur’an dan Hadits Nabi.” Ali al-Jundi, Dekan Fakultas Ilmu di Universitas Kairo Mesir, dalam buku “Syair dan Hikmah Ali as” mengatakan, “Sebagian orang memiliki kemahiran dalam mengurai kata-kata singkat, sementara sebagian lagi mahir dalam menyampaikan khutbah-khutbah panjang. Dalam kedua hal itu, tak ada yang menandingi Ali as, sebagaimana halnya tak ada yang dapat mengungguli Ali dalam semua keutamaan.” Sayyid Radhi, sekitar seribu tahun yang lalu telah mengumpulkan perkataan-perkataan Ali as dalam bentuk khutbah, surat dan hikmah-hikmah singkat dalam buku berjudul Nahjul Balaghah

.

Beliau berkata, “Salah satu keajaiban yang hanya ada pada diri Ali (as) adalah ketika memperhatikan ucapan beliau tentang kezuhudan, wejangan dan penyadaran, orang akan menyangka bahwa penyampai ucapan ini hanya mengenal zuhud dan hidup menyendiri di mihrab serta menjauhkan diri dari kebisingan urusan duniawi. Tak akan ada yang percaya bahwa ucapan yang bergelombang dan penuh makna ini, keluar dari lisan seorang figur agung, yang ikut terlibat secara langsung di medan peperangan dengan gagah berani menghadapi musuh, meski demikian, ia adalah hamba Allah yang paling zuhud dan paling banyak beribadah

.

” Tidak bisa dipungkiri, bahwa perkataan-perkataan Ali as berasal dari ilmu dan pengetahuannya yang dalam, ruhnya yang mulia dan kekuatan serta kearifannya. Rasulullah saww dalam sabdanya, selalu menunjukkan keistimewaan karakteristik Ali bin Abi Thalib as dan mengajak umat untuk menikmati sumber ilmu dan ma’rifat ini. Ucapan masyhur Rasulullah mengenai Ali adalah sabda beliau yang berbuniy, “Aku adalah kota ilmu dan ‘Ali adalah pintunya.” Alangkah baiknya, kalau kita perhatikan ucapan ‘Ali as sendiri. Suatu hari, salah satu sahabat ‘Ali as ingin menyampaikan sebuah khutbah, tapi ia tak mampu dan lidahnya seakan terkunci. Ali as berkata, “Sesungguhnya lidah adalah bagian dari tubuh dan dikendalikan oleh otak. Jika otak tidak bergolak dan aktif, lidah juga tidak akan menghasilkan apapun. Namun, jika otak terbuka lidah juga akan terbuka. Ali as kemudian berkata, “Sesunguhnya kami adalah pemimpin pasukan kata-kata. Pohon kata-kata berakar di antara kami dan cabang-cabangnya bergantung di atas kepala kami.”

.

Karena hubungan dan ikatannya yang luas dengan Tuhan, maka para kekasih Allah mampu mencapai puncak kesempurnaan tinggi yang tidak mampu dicapai oleh manusia biasa. Imam ‘Ali as merupakan salah satu kekasih Allah yang paling menonjol. Pada pembahasan awal telah kami sebutkan bahwa dalam buku berjudul Nahjul Balaghah, b…eliau dapat lebih baik dikenali. Kitab Nahjlul Balaghah yang bak sebuah sumber air yang jernih dan bening, dapat membuka harta karun berharga dan makrifat Ilahi dalam bagi kita. Salah satu materi yang dalam Nahjul Balaghah dijelaskan dengan indah dan menarik adalah masalah ibadah serta perhatian terhadap zikir atau mengingat Tuhan. Pada prinsipnya, manusia memiliki pandangan yang berbeda dalam masalah ibadah. Sebagian besar orang memandang ibadah secara picik serta menganggapnya hanya sebagai pelaksanaan kewajiban atau bahkan transaksi dengan Tuhan. Sebagian memiliki pandangan yang arif dan bijak dalam masalah ibadah. Ibadah dalam Nahjul Balaghah dijelaskan secara apik, arif dan bijak. Dalam pandangan Imam Ali as, ibadah merupakan tangga untuk naik mendekati Tuhan dan mi’raj ruhani ke arah pengenalan yang lebih jauh terhadap-Nya

.

Dengan kata lain, ibadah adalah perbuatan paling baik dan ungkapan syukur manusia kepada Tuhan pencipta alam semesta. Ali as menyatakan bahwa ibadah adalah mengingat Tuhan. Dan sekaitan dengan hal itu, beliau berkata, “Tuhan telah menjadikan dzikir akan diri-Nya sebagai penyinar hati. Lewat dzikir, jiwa dan hati bisa mendengar, melihat dan menjadi lemah lembut. Di saat tidak ada Nabi di tengah umat, Tuhan memiliki hamba yang dengan mereka Dia menyampaikan rahasia ilahi dan berbicara dengan akal mereka.” Kemudian, Ali as menjelaskan berbagai keadaan dan kedudukan yang dimiliki para ahli ibadah. Imam Ali (as) berkata, “Malaikat-malaikat selalu menjaga mereka, ketenangan memenuhi hati mereka. Pintu-pintu malakuti terbuka bagi mereka. Kasih sayang Ilahi yang tak terbatas, tercurahkan untuk mereka. Allah SWT melihat kedudukan dan derajat yang mereka peroleh melalui penyembahan dan pengabdian, menyukai amal mereka dan memuji kedudukan mereka. Di saat mereka menyebut Tuhan, mereka mencium bau ampunan Ilahi dan merasakan terkoyaknya tirai gelap dosa-dosa.”

.

Dalam Islam, tertulis jelas bahwa ibadah menyatu dengan urusan keseharian. Sebagian ibadah dilakukan secara berkelompok dan memiliki faedah yang luar biasa. Ibadah yang bersifat pribadi juga telah diatur sedemikian rupa sehingga orang yang menjalankannya akan mengenal tugasnya di kehidupan ini. Misalnya shalat yang merupakan manifestasi penuh dari penyembahan dan ibadah, sebagian kewajibannya bersifat etika dan kemasyarakatan. Ibadah ini mengikat manusia dengan hal-hal kesucian, penghormatan hak orang lain, perhatian kepada waktu, dan kecintaan kepada hamba-hamba Tuhan yang mulia. Islam menilai semua pekerjaan sebagai ibadah berdasarkan niat suci yang baik dan benar. Ali as menyatakan bahwa dunia ibadah penuh dengan kenikmatan dan sensasi. Kenikmatan ibadah tidak dapat dibandingkan dengan kenikmatan duniawi apapun. Ibadah penuh dengan semangat dan gelora. Menurut Ali as orang yang beruntung adalah orang yang dibuai oleh belaian ibadah dan munajat. Barangsiapa yang melangkahkan kaki dan bermunajat kepada Allah akan mendapatkan ketenangan, keyakinan hakiki dan memasuki dunia terang penuh cahaya tanpa ada kegelapan di dalamnya atau kekhawatiran. Dunia ini sangat menyenangkan dan penuh keindahan

.

Imam Ali as dalam Nahjul Balaghah berkaitan dengan hal ini berkata, “Betapa beruntung dan berbahagia orang yang melaksanakan perintah Tuhannya. Tuhan menjadi penolong baginya dan memuji pekerjaannya. Kesulitan dan kesusahan ibarat bagai batu yang hancur lebur tergiling ketika ia menyingkirkan rasa kantuk di malam hari dan menyamarakkannya dengan ibadah malam. Mereka adalah sekelompok orang yang mengusir rasa kantuk karena ketakutan akan hari kiamat. Orang-orang ini bangkit dari tempat tidurnya dan bibir-bibir mereka bergerak pelan memanggil dan berdzikir kepada Tuhannya. Mereka adalah pasukan Allah, mereka adalah orang orang yang beruntung.”

.

AL-WILAYAT AL-’AMMAH

Wilayah termasuk konsep yang mendasar dalam menentukan kesempurnaan masyarakat manusia. Tanpanya, manusia tidak akan pernah berhasil mewujudkan suatu masyarakat sehat yang dicita-citakan. Karena pentingnya masalah wilayah, para ulama menempatkannya pada pembahasan inti dalam setiap pembahasan seputar masalah masyarakat dan sistem kemasyarakatan. Mazhab Syiah bahkan memasukkan masalah wilayah ini sebagai salah satu dari Ushul Aqidah. Melihat pentingnya masalah ini maka, meskipun ringkas, kami akan berusaha untuk menuangkannya sacara global dalam tulisan ini. Dan kami berlindung kepada Allah SWT dari segala dosa dan kesalahan.

Manusia adalah Makhluk Sosial

Sejarah perkembangan manusia telah membuktikan bahwa manusia memiliki suatu kecenderungan untuk hidup bermasyarakat. Dalam bentuknya sebagai suatu masyarakat, manusia membangun dan mempertahankan kelangsungan hidup dan keturunan mereka. Islam, dalam firman suci Allah SWT, juga meyakini adanya kemestian hidup manusia sebagai suatu masyarakat. Allah SWT berfirman: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.” (Al-Hujurat: 13).

Bahkan, akal menimbang bahwa manusia mustahil hidup hanya sendirian tanpa bergabung dengan selainnya. Hal itu dikarenakan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, manusia sangat bergantung kepada selainnya. Dapat kita bayangkan bahwa untuk memenuhi kebutuhan makan siang saja, manusia harus mendahuluinya dengan berbagai macam keahlian. Apabila dibayangkan bagaimana manusia menemukan beras sebagai bahan kebutuhan pokok, dan kemudian menanamnya, menuai, melepaskan biji dari kulitnya, mengolahnya, sehingga menjadi nasi. Melihat kepada lauk yang ada dalam sepiring nasi pun menjadikan manusia dapat membayangkan, bagaimana ditemukannya kedelai sebagai bahan utama pembuat tempe dan tahu serta bagaimana mengolahnya. Juga dengan melihat kepada berbagai macam sayuran menjadikan manusia berpikir tentang banyaknya keahlian yang harus dimiliki untuk dapat menjadikannya sebagai suatu hidangan yang lezat. Lebih jauh lagi untuk dipikirkan adalah alat-alat prngolah semua bahan makanan yang ada dalam sepiring nasi itu. Bagaimana harus disediakan panci dan segala perlengkapan lainnya. Bagaimana harus memilih bahan yang baik, membentuknya, dan sebagainya. Semua itu diperlukan suatu keahlian khusus yang berdasarkan kenyataan satu orang saja tidak akan dapat menguasai seluruh keahlian tersebut. Oleh karenanya, manusia harus hidup bersama sehingga satu sama lain dapat berbagi keahlian.

Keharusan Adanya Pemerintah

Ketika sekelompok manusia hidup bersama, apalagi dalam jumlah besar dan membentuk suatu komunitas (masyarakat), maka, di samping akibat-akibat positipnya yang telah kita bahas, akibat-akibat negatif pasti akan selalu timbul manakala tidak ada pengaturan atau pemerintahan di antara mereka. Ini mungkin berupa perbenturan kepentingan, konflik internal, bahkan boleh jadi sampai pertumpahan darah di antara para anggota masyarakat tersebut.

Di samping itu, kekayaan alam tempat masyarakat tinggal, seperti tanah, air, hutan, barang-barang tambang, dan lain-lain, memerlukan pengatur dan pengelola agar dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kepentingan masyarakat tersebut. Di samping, tentu saja, ini dapat menghindarkan masyarakat tersebut dari perpecahan dan konflik karena memperebutkan kekayaan tersebut.

Satu hal lagi, selain hal-hal lain yang tidak mungkin disebutkan satu persatu di sini, adalah bahwa kehadiran pemerintah dalam suatu masyarakat akan dapat mengatur bentuk-bentuk hubungan antar masyarakat tersebut dengan pihak (masyarakat) lain. Ini bermanfaat untuk kemajuan, pergaulan, dan perkembangan, baik masyarakat itu sendiri maupun masyarakat manusia secara keseluruhan.

Lazimnya Pemimpin dalam Pemerintahan

Dengan melihat hal-hal tersebut di atas, jelaslah bahwa pandangan pihak-pihak tertentu bahwa pemerintahan tidak diperlukan, seperti pandangan Kaum Khawarij yang berslogan: “Sesungguhnya hukum (pemerintahan) hanya milik Allah”, tidak berdasar sama sekali dan tidak dapat diterima. Sehubungan dengan masalah ini, Imam Ali AS memberikan jawaban: “Slogan mereka itu benar, tetapi mereka menarik kesimpulan yang salah darinya. Mereka mengatakan bahwa tidak ada pemerintahan kecuali pemerintahan Allah. Tetapi umat harus mempunyai seorang penguasa, baik ia shaleh maupun tidak, yang di bawah pemerintahannya orang-orang beriman dan tidak beriman dapat bekerja dan menikmati hidup.” (Nahjul Balaghah)

Imam Ali ar-Ridha AS bersabda: “Pemimpin, pelindung, dan wali umat merupakan alat bagi penjagaan iman dan penjamin integritas struktur sosial, perkambangan ekonomi, serta pelaksanaan hukum-hukum Ilahi. Eksistensi-Nya menjamin keamanan perbatasan, dan pelaksanaan hukum-hukum Allah; ia memperoleh hak-hak Ilahi, memilihara ontegritas iman, dan melindungi kehormatan orang-orang muslim. Dia meletakkan penderitaan dan kemarahan ke dalam hati orang-orang munafik dan rencana-rencana pengrusakan orang-orang kafir. Imam tak kenal lelah menuntun umat, seorang negarawan yang mampu dan seorang pengelola segala urusan mereka, yang kehendak dan ketetapannya tidak mengenal keletihan dan kelemahan.”

Begitulah, keberadaan seorang pemimpin (wali) dengan otoritas-(wilayah)-nya merupakan kelaziman dalam pemerintahan. Wilayah sendiri mengandung beberapa pengertian, dan akan dijelaskan satu persatu di bawah ini:

1. Wilayah berarti cinta dan kasih-sayang. Ini, misalnya, seperti yang tercantum dalam Surat Taubah ayat 72: “Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi wali bagi sebagian yang lain…”. Juga, “Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin.” (QS Al-Imran 28). Dan, “Ya Allah cintailah orang yang mencintainya (Ali) dan musuhilah orang yang memusuhinya.” (Hadits).

2. Wilayah berarti pembuat undang-undang. Ini dapat ditemui dalam Surat Al-An’aam: “Inil hukmu illa lillah.” Juga dalam Surat Al-Maidah ayat 44: “Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” Dan, “…….maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim” (Ayat 45). Dan, “……..maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik.” (Ayat 47). Juga di dalam Surat An-Nisaa’ 59: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasul dan Ulil Amri di antara kamu.” Imam Mahdi AS bersabda: “Pada akhirnya, kalian hendaknya merujuk pandangan mereka yang meriwayatkan hadits-hadits kami, maka sesungguhnya itulah hujjah untuk kalian dan aku adalah hujjah Allah.” Imam Husain AS bersabda: “Administrasi semua persoalan (al-umur) haruslah berada di tangan orang-orang yang berpengetahuan Ilahiah, yang mengimani dan memelihara dari-Nya (berhubungan dengan perintah-perintah) apa yang telah diperintahkan (halal) dan apa yang telah dilarang (haram).”

3. Wilayah memiliki arti penguasa yang di dalamnya tercakup tiga makna: pemimpin, pengawas, dan pembuat undang-undang.

Berdasarkan pengertian wilayah yang dikemukakan di atas terlihat bahwa pembuat undang-undang nisbat kepada Allah SWT, juga kepada Nabi, Imam, bahkan juga kepada perawi hadits/ulama/fuqaha seperti yang kemukakan di atas.

Wilayah sendiri terbagi menjadi dua, yaitu wilayah takwini dan wilayah tasyri’i. Wilayah takwini adalah wilayah penciptaan atau pengaturan alam. Wilayah ini berasal dan kembali hanya kepada Allah. Sedangkan wilayah tasyri’i, adalah wilayah pembuat undang-undang, pengawasan, atau kepemimpinan. Wilayah ini juga berasal dan kembali kepada Allah, walaupun terkadang juga diserahkan kepada Nabi, Imam, ataupun fuqaha dalam pelaksanaannya. Ini tidaklah bertentangan, karena pada dasarnya hukum-hukum yang dikeluarkan oleh para nabi, imam, ataupun fuqaha itu berasal dan kembalinya tetap kepada Allah SWT.

Syarat-syarat Pemimpin

Syarat-syarat yang dikemukakan di bawah ini hanya berkenaan dengan pemimpin yang bukan berasal dari kalangan maksumin (nabi dan imam), pada masa ke-ghaib-an Imam Mahdi AS. Karena untuk para maksumin, tentu sudah mafhum, dan tidak perlu lagi diuraikan di sini.

Tidaklah dapat seseorang menempati kedudukan sebagai pemimpin (imam), kecuali setelah memiliki sifat-sifat yang telah dibatasi oleh syariat. Dan yang terpenting dari sifat-sifat tersebut adalah:

1. Faqahah (memahami syariat).

2. Bertindak Adil

3. Kafa’ah

Imam Khomeini mengatakan: “Seorang wali harus memiliki dua sifat, yang keduanya merupakan ketentuan mendasar dalam pemerintahan –yakni pemerintahan dengan undang-undang Ilahi– yang tidak dapat diterima akal kecuali dengan keduanya. Yang pertama adalah pemahaman terhadap undang-undang. Dan yang kedua, keadilan. Sedangkan masalah kafa’ah termasuk ke dalam permasalahan ilmu dengan keluasan ungkapannya, yang juga tidak diragukan keharusannya bagi seorang hakim. Dapat juga Anda katakan syarat tersebut merupakan syarat-syarat yang mendasar.” (Kitab al-Bai’, jilid II, hal. 461-467).

Faqahah

Yang dimaksud dengan istilah faqahah di atas adalah pencapaian derajat ijtihad. Yaitu kemampuan secara ilmi dalam menurunkan hukum syariat dari dalil-dalil yang telah tetap baginya. Juga, faqahah sebagai syarat imamah terbagi dua:

* Pertama: bahwa untuk memenuhi tugas dan tanggung jawab, seorang imam hendaknya memiliki kecukupan (kafaah) ilmu dalam setiap permasalahan syariat Islam, mulai dari hukum-hukumnya, tujuan syariat, akhlak syariat, dan metode syariat dalam membenahi setiap perkara, sehingga dia pun dapat mengatur perjalanan politik pemerintah. Dan juga hendaknya memiliki kemampuan ilmi dalam mengatasi kesulitan-kesulitan dengan dasar syariat. Dalam hal ini, seorang imam tidak dibenarkan untuk bersandar kepada mujtahid lain. Karena dalam menentukan ketentuan syariat haruslah sesuai dengan permasalahan politik yang ada. Dan dalam menentukan keperluan umum suatu pemerintahan, diperlukan kebijaksanaan yang selalu sesuai dengan cuaca politik yang ada, serta meliputi seluruh masalah yang diperlukan dalam pemerintahan. Nah, seorang imam harus memiliki pandangan yang jelas tentang seluruh kebutuhan syariat yang harus dimiliki suatu pemerintah. Sehingga itu semua tidak akan dapat dicapai kecuali waliul amr ataupun imam adalah seorang mujtahid.

* Kedua: selain imam adalah seorang mujtahid, sebagai syarat umat dibenarkan taklid kepadanya, akan sangat banyak memudahkan apabila imam juga seorang marji’ taklid, sehingga mempererat keterikatan antara imam dengan umat. Hal ini sangat penting karena keberhasilan pemerintahan islami juga bergantung pada hubungan keterikatan antara imam dan umat.

Bertindak Adil

‘Adalah yaitu sifat istiqamah dalam thariqah dan syariat Islam. Dengan syarat, istiqamah sudah merupakan tabiat yang tetap bagi seorang yang disifati adil. Atau dengan ibarat yang lain, telah menjadi kebiasaan baginya. Demikianlah pendapat yang masyhur di antara para ulama. Mereka tidak mengartikan ‘adalah cukup hanya dengan memenuhi kewajiban dan meninggalkan yang diharamkan. Tetapi sudah merupakan suatu kekuatan dalam menguasai diri, sehingga orang percaya bahwa dia tidak lagi akan melakukan pelanggaran meskipun dalam situasi yang sangat sulit.

Tentu saja definisi ‘adalah seperti di atas merupakan definisi khusus. Sedangkan definisi secara umum, yaitu menjaga diri dan ikhlas terhadap syariat Islam, serta fana terhadap kebaikan syariat dengan mewujudkannya dalam perbuatan. Tetapi definisi ‘adalah bagi imam harus lebih ketat dari definisi ini. Karena seorang imam bertanggung jawab mengantar umat pada kebaikan mereka. Dari sisi lain imam adalah figur terpenting dalam suatu masyarakat, karena daripadanyalah umat terilhami, darinya umat mengambil contoh dan belajar. Dan juga seorang imam adalah figur yang dipercaya dan diimani untuk mengatur kebaikan suatu pemerintahan, baik dalam hukum-hukum ataupun ekonominya. Oleh karena itu imam haruslah seorang yang telah mencapai derajat keadilan tertinggi. Ayatullah Syahid Baqir Shadr mengatakan: “Ketika tanggung jawab lebih besar, lebih luas, dan lebih berbahaya, maka bagi yang memegangnya harus memiliki potensi yang lebih besar dan sempurna dalam menjaga istiqamah, sehingga dapat selamat dari kehancuran. Oleh karena itu benar sekali pendapat yang mengatakan bahwa kedudukan marji’iyah berdiri pada keadilan yang tinggi dalam istiqamah serta keikhlasaan kepada Allah SWT.” (Fatawa al-Wadh’iyah, 121).

Bersabda Rasul SAWW: “Keimamahan itu tidak baik, kecuali bagi seseorang yang memiliki tiga perkara: wara’ yang menghindarkannya dari bermaksiat kepada Allah, kelembutan (hilm) yang menguasai kemarahannya, dan penguasaan (wilayah) yang baik.” Dalam riwayat lainnya beliau bersabda: “Para faqih adalah umana’ para rasul selama belum masuk ke dalam pengaruh dunia,” Juga dari Imam Hasan Al-Askary AS: “Adapun seorang fuqaha yang menjaga diri, mempertahankan agamanya, menentang hawa nafsunya, taat pada perintah maula-nya, maka bagi orang awam hendaklah bertaklid kepadanya.”

Kafa’ah

Makna kafa’ah adalah pemahaman yang dimiliki secara luas mencakup permasalahan kemasyarakatan, politik, dan kemanusiaan, yang semuanya merupakan pendukung untuk sampai kepada wilayah yang baik, seperti yang telah disebutkan dalam hadits. Bersabda Rasul SAWW: “Siapapun yang memimpin kaum muslimin, sementara ia melihat adanya seseorang yang lebih utama darinya, maka ia telah berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya dan kaum muslimin.” Imam Khomeini berkata: “Masalah kafa’ah adalah masalah pengetahuan dalam bentuk luas. Dan tidak diragukan kelazimannya bagi seorang hakim.”

Tugas Pemimpin

Sehubungan dengan peranannya sebagai penguasa, maka seorang pemimpin memiliki tugas-tugas:

1. Membuat Undang-undang. Seperti telah dijelaskan di depan, bahwa tugas ini tidaklah boleh keluar dari wilayah tasyri’i Tuhan. Seluruh produk hukum yang dihasilkannya, haruslah berasal dan kembali kepada Allah SWT.

2. Mengawasi Pelaksanaan Undang-undang. Tugas ini meliputi upaya-upaya seorang penguasa agar pelaksanaan pemerintahan seluruhnya berjalan pada koridor hukum yang telah ada. Tidak boleh keluar dari syariat Allah SWT.

3. Memimpin Pelaksanaan undang-undang. Tugas ini meliputi upaya-upaya untuk memberi hidayah kepada masyarakat, membimbing mereka ke arah syariat Allah SWT. Yang berarti pula hidayah kepada sesuatu yang maslahat bagi mereka.