Apakah mayoritas ulama sunni sepakat berdusta tentang kekhalifahan Ali sang washiyy Nabi SAW ??

Secara lenguistik, iltiqâth berarti mencabut dan mengambil sesuatu dari tanah. Dan aliran pemikiran iltiqâthî (Eklektisme) adalah sebuah istilah yang memiliki cara berpikir yang khusus. Untuk menjelaskannya lebih lanjut, kami harus menjelaskan terlebih dahulu sebuah prolog.

Segenap pemikir (dunia) mengakui premis yang berbunyi “Setiap ilmuwan hanya berhak mengeluarkan pendapat berhubungan dengan ruang lingkup spesialisasinya”. Mereka meyakini bahwa dalam setiap pembahasan yang bersifat spesialisasi, kita harus meminta pendapat dari spesialisnya. Akan tetapi, dalam praktek, akan ditemukan beberapa orang tanpa mengindahkan konsep logis di atas mengeluarkan pendapatnya dalam berbagai disiplin ilmu yang tentunya semua disiplin tersebut berada di luar spesialisasinya. Pemikir-pemikir itu akan memilih satu pandangan yang disukainya di  antara setumpuk pandangan yang berkaitan dengan berbagai bidang. Tanpa lagi memperhatikan kerangka pemikiran (noutic structure) pandangan yang dipilihnya itu, mereka mengemas sekumpulan pandangan dan teori itu menjadi buah pemikirannya sebelum mereka sodorkan kepada orang lain, meski secara jelas tampak inkonsistensi dan kontradiksi di antara unit-unitnya.

Misalnya, di antara studi-studi mereka di bidang Psikologi, Sosiologi, Politik, Hokum, Filsafat, mereka mengemas sebuah paket dari sejumlah teori dan pemikiran dalam bidang-bidang itu yang masing-masing mengacu pada    kecondongannya yang khas. Tentunya, paket ini dikemas tidak lagi berdasarkan pertimbangan yang cermat terhadap dasar dan pola pemikiran tiap teori itu, juga  disuguhkan tanpa lagi mencermati keutuhan dan konsistensi di dalamnya. Tetapi, apa saja yang sesuai dengan selera mereka akan diterima untuk kemudian dikemas menjadi sebuah paket pemikirannnya, dan disodorkan sejajar dengan pemikiran-pemikiran lainnya.

Cacat terbesar dalam upaya yang tidak ilmiah ini ialah inkonsistensi atau bahkan kontradiksi di antara unit-unit dan sisi-sisi pemikiran. Karena inkonsisitensi dan kontradiksi ini, upaya dan produknya tidak akan bisa menjadi paket pemikiran yang rapih dan utuh.

Maka itu, pemikiran eklektis berarti sebuah keranjang yang menampung aneka ragam  pemikiran dan teori yang masing-masing membawa arus yang khas, dan kadangkala saling bertentangan. Karena kerangka dan dasar teori-teori ini  tidak berkesesuaian atau bahkan bertentangan, sebagian dari mereka yang gemar berpikir dengan pola eklektis terjebak ke dalam Pluralisme Agama, Esensialisme Agama, ataupun ke  dalam relatifitas kebenaran.

Sebagaimana yang muncul dalam masyarakat kita yang muslim, khususnya dalam lima puluh tahun terakhir ini, pemikiran eklektis ini telah berkembang di kalangan intelektual yang tidak memiliki kecakapan yang semestinya. Tidak sedikit  mereka yang dari satu sisi sebagai seorang muslim yang tidak siap mengorbankan agama dan kepercayaannya secara total, sementara dari sisi lain terbawa hanyut oleh kemolekan teori dan pemikiran asing menyangkut berbagai bidang, padahal mereka tidak begitu mumpuni dan memiliki spesialisasi yang cukup dalam persoalan-persoalan agama, ataupun dalam semua bidang-bidang yang tengah  mereka  tanggapi.

Tentunya, dalam isu-isu semacam ini, sikap objektif menuntut bahwa seseorang harus memiliki satu pencermatan yang dalam terhadap pemikiran-pemikirannya, supaya hawa nafsu dan kepentingan subjektifnya tidak menguasai logika dan akalnya, sehingga ia tidak terperangkap dalam kepalsuan dan penipuan intelektual.

Dalam sebagian riwayat Islam terdapat sebuah ungkapan dengan istilah ijtihad birra’y (ijtihad subjektif), yakni mendasarkan asumsi-asumsi, pendirian-pendirian apriori, dan  keberpihakan serta kecenderungan pribadinya dalam upaya memahami dan menyimpulkan hukum agama. Metode penafsiran  dan penyimpulan ini begitu kerasnya dihujat oleh riwayat-riwayat tersebut. Pada titik yang berlawanan ialah  penyimpulan  yang benar dan rasional atas agama yang lebih dikenal pula dengan isltilah faqahah.

Sebelum melakukan penelitian dalam setiap persoalan, seseorang mungkin saja mempunyai perceptual set, rangkaian mentalitas dan emosionalitas subjektif yang telah dimiliki sebelumnya, dimana jika semua itu di sepanjang proses  penyelidikan  tidak dikesampingkan, maka konklusi dan kesimpulan dari penyelidikannnya tentu tidak akan murni dan orisinil. Oleh karena itu, merembasnya sebagian motif-motif subjektif seperti; mencari popularitas, mendapatkan perhatian halayak, status social, atau kepentingan-kepentingan pribadi lainnya, tidak terelakkan lagi dalam memahami dan menafsirkan agama. Demikian ini akan menyeret seseorang untuk menafsirkan dan melakukan pembenaran atas hukum-hukum dan ajaran-ajaran agama sedemikian rupa sehingga menguntungkan kepuasaan dan keinginan pribadinya. Inilah yang disebut dengan ijtihad birra’y.

Pemahaman atas agama   yang demikian ini pada hakikatnya yaitu pemaksan satu pandangan, pendirian ataupun kepercayaan pribadi atas agama ketimbang upaya  mendekati pemahaman yang objektif dan tulus pada kebenaran. Adanya syarat ‘adalah  dan takwa di samping syarat ijtihad (yakni kemampuan memahami agama secara metodik dan rasional) bagi mujtahid, adalah untuk mengantisipasi kemungkinan ijtihad birra’y. Dan, dengan mengkombinasikan ijtihad, faqahah bersama keadilan dan ketakwaan, maka syarat keilmuan yang mumpuni juga kelayakan moral pemahaman atas agama tersebut bisa terealisir. Pada gilirannya, apa saja yang disimpulkan sebagai hasil penyelidikan menjadi valid dan hujjah lengkap atas sang mujtahid dan pengikut-pengikutnya.

Istilah lain yang juga digunakan dalam tradisi agama ialah bid’ah, yaitu menisbahkan sesuatu yang bukan bagian dari agama ke dalam agama. Bid’ah dengan pengertian ini merupakan hasil ijtihad birra’y dan buah pemahaman serta pemikiran eklektis atas sumber-sumber agama. Karena, sebagimana yang telah kita isyaratkan, ijtihad birr’y  berarti mencampuradukkan latar belakang mentalitas dan teori-teori yang sudah diterimanya dalam proses memahami agama, sementara teori-teori itu sendiri secara esensial berasal dari aliran dan arus pemikiran yang non agama, atau bahkan anti agama.

Tetapi, jika latar  belakang mentalitas serta teori-teori yang sudah diterima itu bersumber atau bagian dari agama itu sendiri, maka semua itu tidak akan berbenturan dengan bagian-bagaian lain dari agama itu. Oleh sebab itu, bisa dinyatakan secara tegas bahwa bid’ah ialah hasil atau buah pemikiran eklektis, dan pemikiran eklektis ini sendiri adalah hasil pencampuradukan kecenderunagan subjektif dan selera pribadi dalam upaya mengenal dan memahami agama.

Perlu ditambahkan disini bahwa apa saja yang dimasukkan ke dalam agama oleh pemikir-pemikir eklektis, karena tidak dibarengi pemahaman yang steril dan objektif atas agama,  tidak pula disertai  premis-premis dan syarat-syarat perlu dalam upaya intelektual tersebut, maka semua itu itu tidak memiliki validitas, baik bagi pemikir-pemikir eklektis itu sendiri  ataupun bagi selain mereka, baik secara hokum akal ataupun secara hokum syariat. Begitupula,  apa yang dimasukkan ke dalam agama oleh pemikir-pemikir eklektis itu tidak bisa menjadi alasan dan pembelaan di hadapan pertanggungjawaban Tuhan di akhirat kelak atas tingkah laku mereka di dunia.

Soal: Apakah faktor-faktor penyimpangan sebagian kaum intelektual muslim Sunni ?

Jawab:

Sebelum menjawab pertanyaan di atas ini, sebaiknya kita menyelidiki faktor-faktor penyimpangan seorang muslim secara umum, termasuk di dalamnya kaum intelektual muslim.

Pada masa-masa awal Islam di Arabia, Apa yang sekarang disebut sebagai penyelewengan dan penyimpangan diistilahkan dengan fitnah.

Fitnah atau penyimpangan adalah suatu fenomena yang pertama kali muncul dalam tataran pemikiran, dan bisa  saja merambat sampai pada tataran paktis dengan berbagai bentuknya seperti; pembunuhan, teror, memerkosaan hak, dan lain-lain. Maka itu, fitnah (penyelewengan) ini bisa dilacak asal usulnya pada tataran pemikiran. Dan, apa yang tumbuh di dataran praktis merupakan buah dan dampak dari penyelewengan pemikiran tersebut. Oleh karena itu, Al-qur’an menganggap fitnah dan penyimpangan pemikiraan secara normatif lebih keji dari tindakan-tindakan jahat yang muncul darinya. “sesungguhnya fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan”.

Pada masa awal kemunculan Islam, dimana masyarakat muslim masih mengenyam pengajaran akidah  dan pandangan Islam yang murni dari Rarulullah saww, mereka siap berkorban di jalan Islam dan menjaga keselamatan jiwa  sang Nabi, serta berjuang bersamanya di dalam berbagai peperangan. Namun, segera setelah wafatnya rasulullah saww,  mereka melakukan serangkaian tindakan-tindakan yang menjadi  sumber fitnah-fitnah, dimana tidak hanya meninggalkan fitnah yang buruk dan dampak yang fatal atas nasib dan takdir umat islam yang datang di kemudian hari, bahkan meninggalkan sejumlah resiko yang membuat masyarakat manusia selama berabad-abad menjadi terlantar dari kebahagiaan dan kesejahteraan mereka.

Di sini muncul pertanyaan di benak kita, mengapa fitnah-fitnah seperti ini terjadi justru tidak lama  setelah wafatnya rasulullah saw. dan meninggalkan resiko yang begitu fatal?

Pertanyaan ini pernah diutarakan oleh kaum muslimin jaman itu kepada Imam Ali as. Beliau menjawab: “sesungguhnya awal terjadinya fitnah-fitnah adalah menuruti hawa nafsu dan membuat hukum-hukum bid’ah”. Imam Ali dalam jawaban ini menyebutklan dua sebab penyelewengan (fitnah);  hawa nafsu dan membuat hukum bid’ah.

Hawa nafsu ini bermacam-macam, umpamanya rakus atau cinta pada uang dan harta kekayaan, serta segala bentuk perlampiasan hawa nafsu. Salah satu dari hawa nafsu yang tampak dipandang penting dalam banyak mazhab-mazhab agama adalah kecenderungan yang begitu kuat kepada popularitas dan ketersohoran. Seseorang akan mengerahkan segala daya upayanya dan siap menghadapi segala tantangan dan mengeluarkan sedemikian banyak  biaya, semua itu diusahakan untuk merebut perhatian dan hati orang lain.

Disepanjang sejarah, begitu banyak orang-orang yang bertahun-tahun menjalani kesulitan hidup dan kekerasan di penjara bahkan penyiksaan dan pengasingan, sehingga dengan cara itu mungkin mereka mendapatkan pendukung-pendukung yang bisa meneriakkan suara-suara mereka, sebagaimana yang kita jumpai pada sebagian tokoh-tokoh sufi. Karena, tujuan utama mereka adalah mendapatkan perhatian dan popularitas, dan ini tidak mudah selain dengan menyampaikan retorika-retorika yang menarik dan menyenangkan hayalak. oleh karena ini, orang-orang seperti itu memodifikasi dan men-tahrif hakikat sedemikian rupa sehingga tujuan-tujuan mereka bisa terpenuhi.

Lebih dari itu, sebagian mereka bahkan tak segan lagi mengemas reatorikanya secara paradoksikal dan kontradiktif. Dalam upaya pembenaran atas kontradiksi itu, mereka mengatakan: “Semua jalan-jalan itu benar dan lurus, dan semua pendapat itu tidak bisa dipersalahkan. Dengan demikian, mereka pun mampu memperkenalkan diri mereka sebagai  pelopor perdamaian universal.

Factor kemunculan fitnah dan penyimpangan kedua adalah membuat hukum-hukum bid’ah (baru), dan biasa disebut juga sebagai pembaharuan atau bid’ah dalam agama. Faktor kedua ini pada dasarnya berakar pada faktor pertama.

Imam Ali as. Mengangkat dua faktor ini sebagai dua faktor mendasar penyelewengan dan penyimpangan manusia. Pada dasarnya, beliau hendak mengingatkan bahwa dalam penafsiran agama harus meletakkan sikap pasrah sebagai landasannya, bukan kepentingan-kepentingan subjektif dan pendapat-pendapat pribadi.

Dengan kata lain, ada dua cara bagaimana manusia menghadapi teks-teks dan hukum agama: satu, apa yang ada pada ayat dan riwayat yang menjelaskan hukum-hukum Tuhan diterimanya bulat-bulat, dan mengamalkannya, dan dalam memahami sumber-sumber pengetahuan agama (ayat dan riwayat) mengikuti metode inferensi dan ijtihad yang benar. Cara kedua yaitu bahwa ia sebelumnya sudah menerima adanya serangkaian kepercayaan apriori, dan berdasarkan kepercayaan apriori ini ia berusaha menta’wilkan ayat dan hukum-hukum Tuhan. Kebalikan  dari metode pertama di atas, ia menakwilkan ayat dan riwayat sedemikian rupa sehingga sesuai dengan kepercayaan, praanggapan, pemahaman apriori, dan kepentingan pribadinya. Serta, alih-alih ia mengikuti agama dan syariat,. Ia menafsirkan agama sehingga agama mengikuti dirinya dan sesuai dengan keinginananya. Dimana saja ada hukum-hukum agama yang tidak sesuai dengan selera subjektirf dirinya, ia berusaha menampilkan dan mengetengahkan hukum-hukum itu dengan cara yang menyenangkan dirinya dan orang lain.

Demikian di atas ini adalah satu upaya bid’ah dalam agama yang dilakukan demi dengan tujuan memenuhi kepentingan dan menarik perhatian orang lain, popularitas dan memberhalakan dirinya di hadapan mereka. Bid’ah ini mereka ketengahkan dalam bentuk retorika dan ungkapan puitis demikian indahnya dengan topik-topik seperti: penafsiran kotemporer.

Walhasil, dua faktor tersebut diatas dalam ungkapan Imam Ali merupakan akar penyimpangan kaum Islam, termasuk kaum intelektual di dalamnya  yang harus diwaspadai secara saksama.

Para pembaca..

Soal:

Apakah yang dimaksud dengan istilah pengembangan politik? Dan, apakah pandangan Islam berkaitan dengan istilah ini?

Jawab:

Isu pengembangan politik (politic development), yang pada awal mulanya diketengahkan oleh elite-elite politik lalu digunakan oleh kalangan ahli ekonomi dan pemikir politik, telah merebut posisi penting dalam bidang politik.

Kenyataannya, isu ini masih menyimpan  begitu banyak kerancuan dan keterselubungan.[1] Bahkan, bisa kita katakan bahwa isu pengembangan politik tidak terdefinisikan secara cermat dan tegas. Kendatipun demikian, perlu diingatkan di sini bahwa isu pengembangan politik terdiri atas dua kata; pengembangan dan politik, dimana masing-masing pengertiannya bisa memperjelas maksud dari isu tersebut.

Pengembangan (development) yaitu suatu kerja yang dilakukan oleh seseorang atau suatu badan atau seluruh masyarakat dengan memanfaatkan sarana-sarana, alat-alat yang terbaik, dengan  mendasarkan pada perencanaan yang matang, sehingga bisa tercapai tujuan secepat dan sebaik mungkin.

Setidaknya, ada dua aspek dalam pengertian di atas; aspek kualitas dan aspek kuantitas. Kata ‘secepat mungkin’ mengisyaratkan pada aspek kuantitas, yakni jangka waktu pencapaian tujuan,  dimana kesamaan kepentingan kita dengan kepentingan masyarakat akan melahirkan partisipasi massa sebanyak mungkin untuk mencapai kepentingan itu. Adapun kata ‘sebaik mungkin’ menunjuk pada kualitas, yakni cara pencapaian tujuan, dimana kualitas ini bermakna dalam kaitannya dengan perangkat-perangkat dan dengan sisi normatif penggunaannya serta tujuan yang dimaksudkan.

Politik (politic) yaitu kepemimpinan secara damai ataupun paksa atas lalu lintas hubungan antarindividu, kelompok, partai, kekuatan-kekuatan sosial dan fungsi-fungsi pemerintahan di dalam sebuah negara, juga hubungan-hubungan  antarnegara dalam skala internasional[2] untuk mencapai tujuan dan kepentingan masing-masing negara sebuah bangsa atau kelompok tertentu.

Oleh karena ini, pengembangan di bidang pilitik adalah kepemimpianan dan kepengaturan atas hubungan-hubungan antarindividu dan kelompok serta fungsi-fungsi pemerintahan, dan hubungan-hubungan luar negeri antarnegara yang dilakukan untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu.

Jelas, kendati adanya kesamaan dalam sebagian persoalan, tujuan-tujuan masing-masing negara ini lumrah berbeda-beda. umpamanya di negara kita, Iran, tujuan itu ialah memenuhi kesejahteraan materi dan ekonomi yang disertai dengan pertumbuhan budaya dan perkembangan spitirualitas serta dominannya nilai-nilai Islam. Lebih singkatnya, memenuhi kesejahteraan duniawi dan ukhrawi warga yang bisa direalisasikan dengan menjalankan hukum-hukum dan batasan-batasan Islam.

Atas dasar itu, postulat gagasan pengembangan politik terletak  pada aspek kualitas dan aspek kuantitas, yaitu partisipasi rakyat sebanyak mungkin dalam kegiatan politik dan pemahaman mereka sebaik mungkin akan urusan-urusan politik. Hanya saja, pengertian ini pada jaman sekarang, sebagaimana slogan-slogan lainnya, telah dijadikan alasan dan pembenaran oleh Imperialisme, dimana mereka dengan menyodorkan definisi dan ciri-ciri khas tertentu dari  pengembangan politik ini, berusaha mencerabut identitas dan jati diri kebangsaan dari negara-negara yang merdeka dan mempunyai budaya dan ideologi yang khas, khususnya ideologi Islam, dan menyiapkan peluang untuk operasi penyerangan budaya.[3]

Adapun isu pengembangan politik yang merupakan gabungan dari dua kata; pengembangan dan politik, adalah konsep abstraksial yang bisa didefinisikan sesuai dengan ciri-ciri khasnya.[4]

Ciri-ciri khas ini menunjukkan bahwa sebuah negara bisa menilai bahwa dirinya itu berada di tingkat apa dalam pencapaian pengembangan politiknya; berada pada tingkat pertumbuhan  lembaga-lembaga kemayarakatan ataukah berada pada tingkat pengembangan yang labil dan keruntuhan lembaga-lembaga.[5]

Sebagian ahli politik, seiring dengan penekanannya atas peranan partisipasi politik dalam proses pengembangan, mereka menjadikan pelembagaan dan strukturisasi sebagai standar tunggal perkembangan politik. Atas dasar ini, sebagian sistem politik dinyatakan telah  berkembang jika telah melengkapi dirinya dengan lembaga-lembaga yang sudah stabil dan terstruktural. Oleh karena itu, salah satu dari ciri-ciri khas utama dari sistem yang berkembang ialah adanya lembag-lembaga sosial yang kuat dan mapan.

Proses pengembangan politik ini memberikan banyak hasil, sebagaimana yang disebutkan oleh Leonard Binder, di antaranya:

  1. pergeseran identitas, dari identitas agamis menjadi identitas kebangsaan, dari identitas lokal menjadi indetitas nasional.
  2. pergeseran legalitas, dari satu sumber transcendental ke satu sumber nontransendental.
  3. perubahan dalam partisipasi politik, dari elite ke akar rumput, dari keluarga ke golongan.
  4. perubahan criteria  jabatan, dari  kekeluargaan menjadi swakarya dan  kecakapan individu.[6]

Setelah cukup jelas pengertian pengembangan politik, tiba saatnya kita mengulang kembali pertanyaan terdahulu, apakah pengembangan politik itu sesuai dengan agama dan sistem sosial Islam ataukah tidak?

Sebagaimana yang telah lalu, bahwa pengembangan politik adalah sebuah pengertian abstraksial yang didefinisikan sesuai dengan ciri-ciri khasnya. Dari satu sudut pandang, ciri-ciri khas pengembangan politik bisa dibagi kepada dua:  legalitas dan kompetensi (kesanggupan).

Dengan begitu, berkembangnya sebuah negara ditentukan oleh kemajuan dan perkembangannya di dua aspek utama tersebut.

Legalitas yaitu rasionalitas seseorang untuk memerintah dan melarang  atas orang atau kelompok lain. Dengan kata lain, adanya jawaban atas pertanyaan, mengapa seseorang atau sekelompok manusia mempunyai wewenang melarang dan memerintah atas selainnya? Semakin jawaban atas pertanyaan ini cermat dan rasional, maka pemerintahannya pun dari aspek legalitas semakin berkembang dan maju.

Pada seri terdahulu[7], ada sejumlah standar legalitas yang telah kami paparkan. Dalam mengkritisi standar-standar tersebut, di sana telah kami tegaskan pula bahwa standar legalitas yang paling unggul adalah wewenang Tuhan dalam memerintah, melarang dan mengatur umat manusia. Karena, wewenang ini berasal dari dzat-Nya sebagai Yang Maha Penguasa, Yang Maha Pemilik Mutlak, Sang Otoritas penuh dalam kepengaturan cipta (rububiyyah takwiniyyah) dan kepengeturan tinta (rububiyyah tasyri’iyyah)  atas sekujur wujud manusia dan  segenap urusan hidupnya.

Berdasarkan kebijaksaanan-Nya yang maha sempurna, ilmu-Nya yang tak terbatas, dan kemurahan-Nya yang tak terhingga, Allah swt. telah menetapkan aturan-aturan dan arahan-arahan yang mendatangkan kemaslahatan dan kesejahteraan manusia,  di dunia maupun  di akherat. Oleh sebab ini, sistem pemerintahan yang melandaskan  legalitasnya di atas pandangan dunia yang demikian ini adalah sistem sosio-politik yang paling maju dan berkembang.

Lain dari pada itu, ada sejumlah standar dan dampak pengembangan yang implikasinya mengesampingkan alasan ketuhanan yang transcendental dari aspek legalitas,  dan malahan mengacu  pada standar-standar lainnya. Standar dan dampak yang demikian ini bertolak belakang dengan Islam dan sistem sosialnya. Maka itu, tidak bisa diterima sama sekali oleh Islam.

Adapun pada aspek kompetensi,  yang di dalamnya terdapat sebagian ciri-ciri khas pengembangan politik, pandangan dunia ilahi menuntut bahwa kita harus bergerak di dalam batas-batas  hukum Tuhan. Dengan kata lain, manakala sekumpulan ciri-ciri khas itu atau sebagian elemen dari satu ciri khas itu melazimkan peneledoran hukum-hukum yang pasti dan tetap Islam, maka hukum-hukum dan undang-undang Tuhan harus didahulukan. Dan hal-hal yang bertentangan dengan agama mesti dikesampingkan.

Misalkan, salah satu dari  postulat dan ciri khas pengembangan adalah sekularisasi, yakni mentidak-agamakan budaya. Jelas di sini bahwa postulat dan ciri khas ini sama sekali tidak bisa diterima oleh Islam. Atau  kebebasan pers. Yang kedua  ini dapat diterima Islam sejauh tidak menyebabkan penghancuran dan pemberangusan  dasar-dasar agama, nilai-nilai kehormatan dan kepentingan umum serta keamanan bangsa. Sebagaimana semaraknya kegiatan-kegiatan politik sama sekali tidak bisa dijadikan pembenaran atas upaya merongrong kesatuan dan integritas bangsa serta mendongkel sistem pemerintahan Islam.

Dari sisi lain, sekilas melirik kembali usia 20 tahun Revolusi Islam Iran menunjukkan bahwa banyak dari ciri-ciri khas pengembangannya merupakan  buah berkah revolusi Islam, dimana sistem Republik Islam ini telah dikenal sebagai sebuah sistem pemerintahan yang paling populis, paling merakyat dan paling berpolitis di antara sistem-sistem politik di dunia. Hal itu tampak dengan bertambahnya hak suara, banyaknya pemilu yang bebas, bertambahnya partisipasi politik warga dalam berbagai bidang, juga dalam lembaga-lembaga pengambil keputusan, serta adanya kekebasan pers yang memadai. Semua itu merupakan berkah-berkah Revolusi Islam yang besar.

Di samping itu, sense of obedience (rasa taat) pada kewajiban-kewajiban agama merupakan faktor yang begitu kuat dan motif yang berlipat ganda untuk berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan politik seperti; demonstrasi, pemilu, menjalankan tugas-tugas  jabatan pemerintahan, memberikan bantuan materi dan moril, berperang dan bertahan di front-front peperangan. Rasa taat itu adalah factor yang muncul dari kepercayaan rakyat pada citra keilahian dan keislaman pemerintahan mereka.

Tentunya, manakala citra keilahian dan keislaman itu sudah hilang atau memudar, ketika itu pula mereka tidak akan menemukan lagi alternative lain.

Begitupula, independensi lembaga-lembaga yang berarti tidak terlibatnya agama dan ideologi dalam kerangka aktivitas dan tujuan lembaga-lembaga itu, tidak akan dijumpai  dalam masyarakat agamis, karena menganggap agama sebagai sebuah aspek yang terpisah dari ruang lingkup lembaga tersebut sehingga kita secara total terlepas dari agama dalam bekerja di lembaga-lembaga itu, dan agama semata-mata dipandang sebagai satu lembaga yang sejajar dengan lembaga-lembaga lainnya, anggapan ini sama sekali tidak sejalan dengan Islam, karena ia adalah agama yang dalam segenap urusan hidup mansuia mempunyai hukum, aturan, dan undang-undang yang sesuai   dengan tujuan penciptaan mereka.

Oleh karena itu, agama Islam adalah agama yang tidak hanya mendukung pengembangan dan kemajuan dalam berbagai bidang, tetapi iapun menuntut setiap hari yang dilalui umat manusia lebih baik dari hari sebelumnya. Hanya saja, pengembangan dan kemajuan ini harus berlangsung dalam kerangka prinsip, batasan, dan  hukum Islam. Karena, pada dasarnya, kesejahteraan hakiki manusia di dunia ini, selain juga kesejahteraan di akheratnya, bisa diperoleh hanya dengan jalan ini. Jika tidak demikian, bukankah kerusakan dan kebejatan yang begitu beragam, baik yang bersifat kejiwaan, moral, ataupun pemikirin di Barat sekarang ini, dengan segenap perkembangan dan kemajuan yang mereka capai, adalah hal yang tidak bisa ditutup-tutupi.

Bukti  konkret atas gambaran tadi adalah Spanyol pada masa pemerintahan Islam di sana. Berdasarkan pengakuan orang-orang Barat sendiri, jika Islam tidak meninggalkan warisan peradabannya di sana, tentu mereka sampai sekarang dalam keadaan setengah buas dan liar,  mereka sama sekali tidak akan bisa membangun industri dan kemajuan yang ada.

Oleh karena itu, sekelompok yang getol menampilkan agama sebagai penentang dan penghambat proses serta upaya pengembangan, mereka menyisipkan nama agama dalam isu-isu seperti pertentangan antara tradisi dan modernitas, lalu menarik kesimpulan bahwa pengembangan dan medernitaslah yang harus diterima, dan agamalah yang harus dikesampingkan. Atau, komit pada  agama dengan konsekusensi tertinggal dari kafilah kemajuan dan perkembangan. Sesungguhnya mereka tidak memahami Islam, atau mereka bahkan hendak menghancurkan agama dan keberagamaan, setidaknya dalam sektor-sektor sosial, serta mengusahakan dominasi sekuralisme.

Perlu dicamkan disini bahwa postulat pengembangan politik adalah relativitas pengetahuan. Artinya, tidak ada seorang pun dan tidak ada pemikiran yang mutlak  benar. Atas dasar ini, seharusnya bersikap toleran terhadap pemikiran yang berbeda, karena setiap aliran dan arus pemikiran membawa sebagian dari kebenaran. Begitupula, pemahaman kita terhadap agama dan teks-teksnya tidak terkecualikan dari kaidah ini, sebagimana yang digelindingkan oleh istilah qaroathoye mukhtalif (keragaman pemahaman agama). Untuk itu, karena sangat tidak realistis atau berbau kental fanatisme, maka tidak perlu lagi   bersikeras membela ha-hal yang dianggap  sebagai prinsip-prinsip dan nilai-nilai agama yang tidak bisa berubah dan diganggu gugat.

Menjawab peraguan di atas ini perlu ditegaskan bahwa prinsip-prinsip dan hukum-hukum  pasti dan aksiomatis Islam adalah hal-hal yang tetap dan  mutlak. Dan, berdasarkan sahihnya dalil-dalil yang menunjukkan atas semua di atas itu, maka tidak lagi menyisakan satu peluangpun untuk pemahaman yang beragam. Bahkan, pada prinsipnya, jika kita pandang Islam tidak mempunyai serangkaian prinsip dan hokum yang mutlak dan tetap, maka sesungguhnya tidak akan ada lagi yang bisa disebut Islam.


[1] Lihat, Abdurahman Alam, Budtadhaye ilme siyasat, hal. 123, dinukil dari Lucian W.pye

[2] ibid. p.30

[3] sekaitan dengan penjajahan budaya dan startegi musuh dalam mencapai tujuan imperialisnya, kita akan mmbicarakannya dalam soal jawab yang akan datang.

[4]Terpelas dari definisinya, kami juga di sini akan mengurut cirri-ciri khas mendasar dari pengembangan p[olitik:

  1. meningkatnya hak suara dan pemilihan umum yang bebas dengan banyaknya pemilih.
  2. penggalangan pilitis atau partisipasi warga sebanyak mungkin dalam kegiatan pilitik
  3. partisipasi warga dalam lembaga-lembaga pengambil keputusan.
  4. akumulasi kepentingan yang kian bertambah oleh partai-partai politik dengan kestabilan demokrasi.
  5. kebebasan pers dan keanekaan media massa.
  6. pemerataan fasilitas pendidikan
  7. independensi lembaga yudikatif dan supremasi hokum
  8. sekularisasi budaya
  9. angkatan-angkatan militer nonppolitik

sebaliknya, ada sejumlah factor-faktor yang disebut-sebut dapat menghambat proses pengembangan politik, di antaranya:

  1. kebejatan politis karena kepentingan pribadi.
  2. kultus individu pejabat pemerintahan
  3. keberpihakan pegawai pada gairs pilitik partai yang berkuasa
  4. intervensi pihak  asing atas urusan dalam negeri
  5. keterlibatan angkatan-angkatan militer dalam politik
  6. demonstrasi dan aksi protes yang disertai kekerasan
  7. penindasan atas sikap protes dan sakit hati
  8. korupsi yang mewabah
  9. kebobrokan managemen
  10. maksud-maksud kotor politis

[5]ِAdurahman Alam, Budtadhaye ilme siyasat, hal. 127-129.

[6] Abdurrrahman Alam, Bunyadhaye Ilme Siyasat, hal. 126

[7] Jilid pertama hal 13-16

Para Pembaca …

Soal:

Apakah yang dimaksud dengan Keragaman Pemahaman Agama? Apa bedanya dengan perbedaan fatwa di antara para mujtahid dalam sebagian persoalan-persoalan hukum?

Jawab:

Isu Keragaman Pemahaman Agama muncul dari pemikiran Pluralisme Agama dalam konteks teoritis, yaitu pemikiran yang berusaha meyakinkan bahwa agama ialah sebuah hakikat yang hanya ada di sisi Tuhan, sementara umat manusia dan bahkan para Nabi tidak akan mampu menyentuhnya. Lebih dari itu, mereka menafsirkan  fenomena beragamnya agama-agama samawi sebagai tampilan dan manifestasi dari satu hakikat (Ultimate Reality).

Aliran pemikiran ini menganggap bahwa perbedaan antaragama berawal dari beragamnya pemahaman atas agama itu sendiri. Umat Islam mempunyai pemahaman yang khas mengenai agama dan wahyu ilahi, yang berbeda dengan pemahaman umat Kristen dan kaum Yahudi. Sementara, agama adalah satu hakikat yang tetap, utuh dan khusus milik Tuhan, dimana tidak ada satupun dari manusia, sekalipun dia  itu dari kalangan Nabi, dapat mengetahui dan menyingkapnya. Adapun, apa saja yang berada dalam jangkauan pengetahuan manusia tidak lebih dari pemahaman konseptual manusia biasa.

Umpamanya, nabi Muhammad saww. –waliyazubillah- mempunyai pemahaman yang sesuai dengan kondisi-kondisi fisik, social dan nilai-nilai jamannya kala itu menyangkut wahyu dan agama. Beliau sama sekali tidak pernah mengetahui agama sebagaimana yang ada pada Tuhan. Dalam konteks tablighpun, beliau menyampaikan agama Tuhan yang terkontaminasi oleh pemahamannya yang tidak lagi murni, oleh latar belakang pemikiran dan oleh keadaan-keadaan jiwanya.

Pendukung-pendukung Pluralisme ini mengatakan, melihat perkembangan ilmu yang sedemikian pesatnya pada jaman sekarang, sangat mungkin kita masih lebih baik memahami agama daripada Nabi. Pada saat yang sama, mereka menyadari pula, bahwa pemahaman-pemahaman agama yang mereka temukan tidak ada garansi kebenaran dan validitasnya. Oleh karena itu, tidak ada seorang pun yang berhak mengklaim bahwa pemahamannya lebih baik dari pemahaman selainnya.

Atas dasar ini, pandangan sirathaye mustaqim (jalan-jalan yang lurus) menggantikan posisi siratul mustaqim (sebuah jalan yang lurus). Dan, semua pemahaman -dengan segenap keragaman dan perbedaaannya- adalah tampilan-tampilan dari kebenaran tunggal dan mutlak. Semua pemahaman itu bisa mengantarkan kita kepada tujuan. Pada akhirnya, tidak ada satu agamapun  yang lebih unggul dari agama lain.

Jelas sekali bahwa berdasarkan pandangan di atas, benar dan salah, baik dan buruk, agama yang hak dan agama yang batil, adalah kata-kata yang tak bermakna (meaningless). Karena, masih menurut konsekuensi pandangan itu, apa saja yang dianut dan dinyatakan oleh setiap orang atau kelompok menyangkut agama dan ketuhanan masing-masing, kendati saling bertentangan dan saling menyalahkan, semuanya benar  dan tidak perlu dipertanggungjawabkan.

Tampaknya, rapuhnya pandangan sirathaye mustaqim (jalan-jalan yang lurus), sesuai dengan  pengertian di atas tadi, begitu jelas sekilas saja kita merenung. Karena, klaim-klaim agama dalam kebanyakan persoalan itu berbeda-beda dan saling bertentangan. Sementara, pembenaran atas semua agama itu berarti pembenaran atas dua sisi kontradiktif, sebuah sikap intelektual yang oleh akal secara lugas dan blak-blakan ditolak mentah-mentah. Sebagai contoh, tidak ada seorang berakal sehat bisa menerima secara logis konsep trinitas Kristen sekaligus juga mengakui konsep tauhid Islam dalam kapasitas keduanya sebagai dua pemahaman kontradiktif,  lalu menyatakan bahwa  dua pemahaman ini menunjuk pada satu realitas sejati, yaitu Tuhan.

Yang mesti diperhatikan disini adalah perbedaan mendasar antara pemikiran Pluralisme di bidang Epistemologi dan fenomena beragamnya pemahaman para mujtahid atas sumber-sumber hukum dalam sebagian permasalahan-permasalahan parsial dan furu’ agama. Pluralisme epistemologis menegaskan bahwa semua pengetahuan manusia, termasuk pengetahuan agamanya, adalah nisbi dan menurut pada mentalitas serta rangkaian asumsi yang diperolehnya dari bidang-bidang sosial atau ilmu-ilmu pengetahuan lainnya, sementaraa fenomena beragamnya pemahaman para mujtahid tidaklah demikian. Sebab, keduanya berada di  dua bidang yang benar-benar berbeda. Maka, perbedaan fatwa antarmujtahid sama sekali tidak bisa dijadikan alasan dan pembelaan atas kebenaran Pluralisme Agama.

Apa yang dikenal dengan Pluralisme Agama pada tataran teoritis, sebagai versi lain dari pemikiran Keragaman Pemahaman Agama, adalah sebuah pemikiram yang secara logika tidak berdasar. Padahal, bukan hanya perbedaan pemahaman kaum mujtahid mengenai sebagian sumber hukum pada sejumlah persoalan furu’ agama itu sebagai fenomena yang lumrah dan maklum, tetapi juga perubahan pemahamn seorang mujtahid atas satu sumber hokum pada dua masa yang berbeda, dan pada gilirannya berubahnya fatwa sang mujtahid itu, sebagaimana yang contohnya kita temukan dengan sangat mudah, adalah satu realitas yang wajar dan logis.

Untuk memperjelas permasalahan di atas ini, kita akan menguraikan kelaziman membedakan dua bentuk pengetahuan manusia:

  1. pengetahuan-pengetahuan yang tetap dan konstan.
  2. pengetahuan-pengetahuan yang berubah-ubah

Ada sebagian pengetahuan manusia yang tidak bisa diragukan lagi dan tidak bisa diberikan kemungkinan akan berubah. Contoh dari jenis pengetahuan ini bisa kita jumpai begitu banyaknya di deretan pengetahuan-pengetahuan rasional non-agama ataupun di arsip-arsip pengetahuan agama. Misalnya, manusia yakin bahwa ia mempunyai satu kepala di bagian paling atas dari tubuhnya, dan tidak ada satu pun dari manusia yang berakal sehat akan mengatakan bahwa saya sampai sekarang ini salah menyakini bahwa saya mempunyai satu kepada, bahwa seseungguhnya saya mempunyai dua kepada, itupun di bawah dua kaki saya. Atau seseorang yakin bahwa dua tambah dua itu empat. Pemahaman ini begitu primordial dan kunonya, sehingga hasil pertambahan itu pada masa sekarang ini harus kita nyatakan  lima.

Dalam prinsip-prinsip dan aksioma-aksioma agama pun, tidak  ada dari kaum muslim yang menyatakan bawah Tuhan itu dua, atau salat subuh itu satu rakaat, atau puasa wajib bulan ramadhan itu dilakukan di bulan rajab. Kitab-kitab fikih penuh dengan hukum-hukum pasti dan tidak berubah-ubah. Dalam hal itu, tidak  ditemukan perbedaan dan perubahan fatwa.

Adapun, jenis kedua dari pengetahuan manusia adalah dzanni (dugaan) yang dipengaruhi oleh bidang-bidang  ilmu dan kerangka-kerangka budaya serta social. Dan, kadangkala mungkin saja ada ilmu-ilmu lain yang turut berperan dalam kemunculannya. Pengetahuan-pengetahuan seperti ini rentan sekali mengalami perubahan dengan berubahnya asumsi-asumsi apriori dan kerangka khas budaya social, sebagaimana yang terjadi  pada pengetahuan-pengetahuan umumnya manusia.

Dalam pengetahuan-pengetahuan non-agama, tidak sedikit adanya teori-teori ilmiah seperti teori Heleosentris yang terbukti kekeliruannya, ataupun  adanya kemungkinan perubahan di dalamnya. Di antara hukum-hukum furu’ agama, juga ditemukan sejumlah contoh dari perubahan pendapat dan perbedaan fatwa. Misalnya, dari teks-teks sumber fikih yang tersedia, kaum mujtahid terdahulu menyimpulkan bahwa air sumur bukanlah air kur, sehingga pertemuannya dengan benda najis menyebabkannya menjadi najis, dan untuk menyucikannya diperlukan kadar air tertentu. Padahal, kaum mujtahid sekarang memahami bahwa air sumur itu air kur, dan ia tidak menjadi najis tatkala bertemu dengan benda yang najis.

Contoh lain, berbedaan pemahaman kaum mujtahid dalam persoalan apakah pada rakaat ketiga dan keempat solat diwajibkan cukup membaca satu kali tasbih arbaah      ataukah tiga kali. Perbedaan parsial demikian ini dalam memahami sumber-sumber hukum adalah persoalan yang sangat mungkin  terjadi. Tetapi,  yang tidak bisa diterima oleh akal dan logika yaitu bahwa perubahan parsial ini kita jadikan sebagai alasan untuk mengatakan; karena dalam persoalan-persoalan parsial ini terjadi perubahan dan perselisihan pendapat serta fatwa, maka manusia sama sekali tidak akan bisa mempunyai pengetahuan yang tetap dan diyakininya secara penuh dan mutlak. Maka itu, semua pengetahuannya senantisa berubah-ubah.

Pernyataan demikian ini, yang biasa dikenal juga dengan mughalathah (mencampuradukkan yang umum dan yang khusus), lebih merupakan penyataan puitis ketimbang argumentasi rasional dan logis. Oleh karena itu, persoalan perbedaan fatwa antarmujtahid dengan pemikiran Keragaman Pemahaman Agama secara substansial benar-benar berbeda.

Perbedaan fatwa sama sekali tidak bisa dianggap sebagai bagian dari Keragaman Pemahaman Agama. Bahkan pada dasarnya, pemikiran Keragaman Pemahaman Agama dengan pengertian tersebut dahulu adalah pemikiran yang menurunkan banyak kontradiksi, belum lagi secara logika tidak didukung oleh pembenaran rasional.

Mayoritas Sahabat Pasca Nabi wafat tidak mau menerima wasiat tentang seluruh 12 Imam berasal dari satu keluarga bani hasyim (ahlulbait)

Musuh-musuh Syi’ah melihat suksesi yang terjadi pada masa-masa para khalifah awal dan para imam dan lalu mereka mengklaim bahwa ajaran Syi’ah adalah ajaran yang tidak sejalan dengan demokrasi. Seluruh dua belas Imam berasal dari satu keluarga sementara empat khalifah berasal dari suku yang berbeda. Mereka menyimpulkan bahwa madzhab Sunni adalah madzhab yang menerima demokrasi dalam prinsip, yang dianggap sebagai sistem terbaik pemerintahan. Ajaran Syi’ah, dalam benak mereka, bersandarkan kepada aturan hereditas dan dengan demikian bukan sebuah sistem yang baik.

Pertama, tidak ada sistem pemerintahan yang baik atau yang buruk secara esensial; yang ada adalah pemerintahan baik atau buruk tergantung kepada orang yang memegang kekuasaan di tangannya. Dengan demikian, Syi’ah percaya bahwa seorang imam adalah insan ma’sum, terbebas dari setiap kekurangan, cacat dan lebih unggul dalam keutamaan,  berarti kekuasaanya akan lebih sempurna dan lebih adil. Pada satu sisi adalah keadilan tanpa kompromi yang ditunjukkan oleh Imam ‘Ali As, Imam pertama, selama masa singkat imamah beliau, dan di sisi lain, hadits yang diterima dari Nabi Saw tentang imam terakhir, al-Mahdi, bahwa “Ia akan mengisi semesta dengan keadilan dan kesetaraan setelah dipenuhi dengan kezaliman dan ketidakadilan.”[1] Premis kami bukanlah sebuah abstraksi semata.

Kedua, kita harus mengingat bahwa seluruh khalifah Sunni sejak Abu Bakar hingga khalifah terakhir Abbasiyah, al-Mu’tasim Billah (dibunuh oleh Hulagu Khan pada tahun 656 H/1258 M) yang berasal dari suku Quraisy. Apakah hal ini tidak berarti bahwa sebuah keluarga telah berkuasa atas seluruh kaum Muslimin yang terbentang dari Cina bagian utara hingga Spanyol selama enam setengah abad lamanya?

Ketiga, sistem khalifah Sunni, sebagaimana telah disinggung di atas, tidak pernah berdasarkan kepada sistem demokrasi. Khalifah pertama ditimpakan atas kaum Muslimin Madinah oleh beberapa orang sahabat; khalifah kedua dinominasikan oleh khalifah pertama; ketiga dipilih secara nominal oleh lima orang, yang hakikatnya satu orang saja yang memilih. Mu’wiyah mengambil kursi kekhalifaan dengan kekuatan militer. Sistem yang berlaku sebelum dirinya, lebih tepat disebut oligarki; sistem setelahnya merupakan sistem monarki.

‘Umar mengambil keputusan bahwa seorang non-Arab (‘Ajam) tidak dapat mewarisi sesuatu dari seorang Arab kecuali mereka lahir di Arab.[2] Dan juga, hukum Sunni mengalami kemunduran, dan yang paling tragis adalah tidak mengizinkan seorang pria non-Arab menikah dengan seorang wanita Arab, hal ini juga berlaku bagi seorang non-Quraisy atau non-Hasyimi menikah dengan seorang wanita Quraisy atau Hasyimi. Sesuai dengan hukum fiqh madzhab Syafi’i, seorang budak, bahkan yang telah dibebaskan, tidak dapat menikah dengan seorang wanita merdeka.[3] Kenyataan ini, meskipun deklarasi resmi Nabi bahwa: “Tidak ada keunggulan bagi seorang Arab atas non-Arab, seorang non-Arab atas Arab, seseorang yang berkulit putih atas seseorang yang berkulit hitam, kecuali ketakwaan. Manusia berasal dari Nabi Adam dan Adam berasal dari tanah.”[4]

Meskipun praktik yang sudah mapan telah dicontohkan oleh Rasulullah ketika beliau menikahkan saudara sepupunya kepada Zaid bin Haritsa, seorang budak merdeka, dan menyerahkan saudari ‘Abdurrahman bin ‘Auf (seorang Quraisy) untuk menikah dengan Bilal, seorang budak merdeka Etiopia.[5]

Hukum fiqh Syi’ah secara terang menjelaskan bahwa: “Dibolehkan untuk menikahkan seorang wanita merdeka dengan seorang budak, seorang wanita Arab dengan seorang pria non-Arab, seorang wanita Hasyimi dengan seorang pria non-Hasyimi, dan sebaliknya. Demikian juga, dibolehkan seorang wanita terpelajar atau berasal dari keluarga kaya-raya dengan seorang pria awam atau keadaan ekonominya pas-pasan atau profesi-profesi rendah lainnya.[6]

Dalam masalah pembagian ghanimah (harta rampasan perang), Rasulullah Saw telah membangun sebuah sistem kesetaraan; harta ini dibagikan secara merata kepada seluruh orang yang mengambil bagian dalam perang tersebut. Abu Bakar melanjutkan sistem ini, namun ‘Umar pada tahun 15 H, hanya empat tahun berselang setelah wafatnya Nabi, merubah sistem ini. Ia menetapkan gaji tetap tahunan kepada orang-orang, klan-klan dan suku-suku: “Abbas, paman Nabi, diberi jatah 12.000 atau 25.000 Dinar pertahun; ‘Aisyah, 12.000; istri-istri Nabi yang lain, masing-masing mendapat jatah 10.000; orang-orang yang turut serta dalam perang Badar, masing-masing 5.000; mereka yang ambil bagian dalam perang antara perang Badar dan perang Hudaibiyyah, masing-masing, 4000; mereka yang ikut dalam perang setelah perang Hudaibiyyah dan sebelum perang Qadisiyyah, masing-masing, 3000. Jumlahnya secara berkala berkurang dua Dinar pertahun.[7]

Sistem seperti ini merusak tatanan dalam masyarakat Muslim sehingga kekayaan yang menjadi tujuan utama mereka dalam hidup dan yang memberikan mereka manfaat dari agama mereka. Pandangan mereka menjadi materialistik dan, sebagaimana telah disebutkan sebelumya, mereka tidak mentolerir sistem pembagian merata yang kemudian dihidupkan kembali oleh Imam ‘Ali dalam khutbah pertamanya setelah mengambil kedudukan khalifah. ‘Ali diriwayatkan berkata: “Baiklah, setiap orang dari Muhajirin dan Ansar, dari sahabat-sahabat Nabi, yang berpikir bahwa ia lebih baik dari orang lain karena persahabatannya (biarlah mereka ingat) keunggulan bersinar di hadapan Allah kelak ganjarannya dan upahnya yang diberikan oleh Allah. (Ia tidak boleh berharap  menerima ganjarannya di dunia ini). Setiap orang yang menjawab panggilan Allah dan Nabi-Nya, dan menerima kebenaran agama kita dan masuk di dalamnya, dan menghadap kiblat kita, berhak atas seluruh hak yang digariskan dalam Islam; dan seluruh kekayaan adalah milik Allah; harta ini akan dibagikan secara merata di antara kalian; tidak ada preferensi di dalamnya bagi seseorang terhadap yang lainnya.[8]

Mereka yang selama dua puluh tahun sebelum kekhalifaan ‘Ali terbiasa menerima pembagian yang tidak adil ini, memberi nasihat dan meminta kepada Imam ‘Ali untuk berkompromi terhadap prinsip Islam, mereka berkomplot untuk menyingkirkan mereka; dan ‘Ali ternyata tak henti-hentinya  sangat peduli terhadap masalah ini.

Setelah kemenangan Umayyah, ketidakadilan di antara kaum Muslimin berlanjut. Bahkan jika seseorang menerima Islam, ia (pria atau wanita) tidak menerima hak-haknya sebagai Muslim. Dalam beberapa keadaan mereka lebih buruk dari teman-teman non-Muslimnya. Kaum non-Muslim hanya diwajibkan untuk membayar Jizyah,[9] namun Muslim harus membayar jizyah dan zakat. Selama masa Bani Umayyah (kecuali dua setengan tahun di bawah khalifah ‘Umar bin ‘Abudl ‘Aziz), jizyah dipungut  atas seluruh non-Arab termasuk kaum Muslimin.[10]

Tidak sulit membayangkan betapa sedikit kebijakan ini dapat membantu perjuangan Islam. Selama berabad-abad seluruh negara-negara yang kota-kota dan ibukotanya “Islami” menolak untuk masuk Islam. Bahkan kaum Barbar (yang memenuhi panggilan dakwah Islam setelah resistansi pertama mereka terhadap invasi Arab dan berkhidmat sedemikian baik di Spanyol dan Prancis), secara keseluruhan tidak masuk Islam hingga pendirian kerajaan yang bermadzhab Syi’ah di Maghrib. Ketika Idris bin ‘Abdillah, cicit dari Imam al-Hasan dan pendiri dinasti Idris (789-985 M), bergerak melawan mereka, paling banyak di antara mereka adalah non-Muslim ketika itu. Keadaan ini adalah hasil dari perlakuan buruk pada masa-masa sebelumnya. Kita mendengar bahwa ketika Yazid bin ‘Abdil Malik menduduki singgasana Umayyah dan melantik Yazid bin Abi Muslim sebagai Gubernur Maghrib, gubernur ini ,memungut kembali jizyah dari orang yang menjadi Muslim dan memerintahkan mereka untuk kembali ke kampung mereka.[11] Bani Idris mengubah kebijakan ini dan melebarkan secara penuh hak-hak bagi seluruh kaum Muslimin, kebijakan ini membawa kaum Barbar itu masuk Islam.

Pemujaan Arabisme ini dipandang bahkan lebih terjalin berkelindan dalam keputusan para penguasa ketika itu yang memandang bahwa jika sebuah warga negara dalam sebuah negara yang ditaklukkan menerima Islam, ia tidak dapat diterima sebagai seorang Muslim atau diakui hak-haknya sebagai Muslim kecuali ia  menyambungkan dirinya sebagai seorang klien terhadap beberapa suku Arab. Klien semacam ini disebut mawali. Bahkan mereka menjadi objek ejekan dan ketimpangan, perlakuan oleh patron aristokrat mereka dan pada saat yang sama berlanjut diekploitasi oleh birokrat yang berkuasa.

Dengan membatasi hak berkuasa hanya kepada dua belas Imam Ma’sum, Allah memotong akar-akar perseteruan, percekcokan, kekacauan, dan pemilihan palsu, serta ketimpangan sosial dan ras.


[1] . Lihat, Abu Dawud: as-Sunan, vol.4,hal-hal.106-109;Ahmad: al-Musnad,  vol.l, hal-hal 377-430; vol.3, hal.28; al-Hakim: al-Mustadrak, vol. 4, hal-hal 557-865.

[2] . Lihat, Malik: al-Muwatta, vol. 2, hal. 60.

[3] . Lihat, al-Jaziri: al-Fiqh ‘ala ‘l-Madzahibi ‘l-Arba’ah,  vol. 4, hal.60.

[4] . Lihat, as-Suyuti: ad-Durru ‘l-Mantsur,  vol. 6, hal. 98.

[5] . Lihat, Ibnu ‘l-Qayyim: Zadu ‘l-Ma’ad, vol. 4, hal. 22.

[6] . Lihat, al-Muhaqqiq al-Hilli: Syara’i’u ‘l-lslâm, “Kitâbu ‘n-Nikah, vol. 5, hal. 300; al-Hakim: Minhâju ‘s.-Salihin,  Kitabu ‘ n-Nikah,  vol. 2, hal . 279 .

[7] . Lihat, at-Tabari : at-Târikh, Annales I, vol.5, hal-hal. 2411- 2414; Nicholson,R.A. : A Literary History of the Arabs, hal.187.

[8] . Lihat, Ibn Abi ‘l-Hadid: Syarh, vol.7, hal-hal.35-47; Lihat juga khutbah Imam ‘Ali no. 126 dalam Nahju ‘l-Balâghah.

[9] . Jizyah:  pajak yang dibayar oleh non-Muslim,  yang berada di bawah  pemerintahan Muslim,(penerbit).

[10] . Lihat,at-Tabari: at-Tarikh, Annales II), vol. 3, hal-hal.  1354-1367.

[11] . Lihat, al-Amin:  Islamic Shi’ite Encyclopedia, vo1. 1, hal-hal. 38-41.

Para pembaca…

Mayoritas pandangan madzhab Sunni (dalam masalah teologi) dewasa ini adalah mengikuti pandangan Asy’ariyyah. Mereka, sebagaimana Mu’tazilah, meyakini bahwa institusi imamah/khilafah adalah perlu dan menjadi kewajiban seorang manusia untuk menunjuk seorang khalifah.

Kaum Mu’tazilah berpandangan bahwa penunjukan ini wajib sesuai dengan akal. Kaum Asy’ariyah meyakini bahwa penunjukan ini bersifat wajib karena sesuai dengan hadits.

An-Nasafi menulis dalam kitab al-’Aqâid-nya:

“Kaum Muslimin tidak dapat hidup tanpa seorang imam yang akan menempatkan diri dengan menjalankan keputusan-keputusan mereka, dan dalam pelaksanaan hudud-nya dan menjaga batasan-batasannya, menyediakan lasykar-lasykar, menerima sedekah mereka, memberikan hukuman kepada para pencuri dan perampok, mengimami salat Jum’at dan Ied, menghilangkan sengketa yang ada di tengah-tengah masyarakat, menerima bukti-bukti terhadap klaim-klaim hukum, dan menikahkan orang-orang miskin yang tidak memiliki wali dan membagikan harta rampasan perang.”[1]

Sunni menghendaki seorang penguasa semesta…, sementara Syiah mencari seseorang yang dapat membangun kerajaan surga di muka bumi dan mengakhiri segala bentuk kejahatan yang merajalela di muka bumi.”[2]

Oleh karena itu, Madzhab Sunni  mengakui empat prinsip utama dalam memilih seorang khalifah:

  1. Ijma’ yaitu konsensus tentang orang yang memegang kekuasaan dan kedudukan pada sebuah titik tertentu. Mufakat seluruh pengikut Nabi Saw tidak menjadi keharusan, juga tidak terlalu penting untuk mengamankan kedudukan dan kekuasaan orang yang berkuasa di tengah-tengah umat.
  2. Pencalonan oleh khalifah sebelumnya.
  3. Syuraa yaitu pemilihan oleh sebuah komite
  4. Kekuatan Militer, yaitu jika seseorang meraih kekuasaan dengan kekerasan ia akan menjadi khalifah.

Pengarang Kitab Syarhil Maqâsid menjelaskan bahwa bilamana seorang imam wafat dan seorang yang memiliki kualifikasi yang diinginkan untuk kedudukan tersebut (tanpa bai’at) kekhalifaannya akan tetap diakui sepanjang kekuasaannya dapat menundukkan masyarakat; dan bilamana seorang khalifah baru kebetulan seorang yang jahil dan bodoh, nampaknya akan mendapatkan perlakuan yang sama.

Demikian juga, bilamana seorang khalifah telah membangun dirinya dengan kekuatan tapi kemudian ditaklukkan oleh orang lain, ia akan disingkirkan dan orang yang menaklukkanya akan dianggap sebagai imam atau khalifah.[3]

Kualifikasi Seorang Khalifah

Madzhab Sunni menganggap sepuluh syarat seseorang untuk dapat menjadi khalifah:

  1. Muslim
  2. Dewasa
  3. Laki-laki
  4. Berakal sehat
  5. Berani
  6. Merdeka, bukan seorang sahaya
  7. Dapat dihubungi dan tidak tersembunyi
    1. Mampu mengadakan perang dan tahu taktik berperang
    2. Adil
    3. Mampu mengeluarkan fatwa dalam bidang hukum dan agama , yaitu, ia harus seorang mujtahid.[4]

Namun dua yang terakhir hanya bersifat teoritis belaka, sebagaimana disinggung pada bagian sebelumnya. Bahkan, seorang awam dan bermoral buruk dapat menjadi seorang khalifah. Oleh karena itu, syarat-syarat ‘adil dan fakih (mumpuni) dalam bidang agama tidak memiliki landasan sama sekali.

Mereka berpandangan bahwa ismah (infallible) tidak menjadi keharusan bagi seorang khalifah. Kalimat yang dilontarkan oleh Abu Bakar dari mimbar di hadapan para sahabat, dinukil untuk menguatkan pandangan ini. Abu Bakar berkata: “Ayyuhannas!”, “Aku telah dijadikan penguasa atas kalian meskipun aku tidak lebih baik dari kalian; jadi, dalam menunaikan tugasku, aku meminta pertolongan kalian; dan jika aku berbuat salah, kalian harus meluruskanku. Kalian harus tahu bahwa setan senantiasa dapat datang kepadaku. Jadi jika aku marah, menjauhlah dariku.”[5]

At-Taftazani berkata dalam Syarhul ‘Aqâidin Nafisah, “Seorang imam  tidak dapat dijatuhkan dari imamah karena alasan immoral atau kezaliman.”[6]


[1] . Lihat, at-Taftazani: Syarh ‘Aqa’idi’n-Nasafi, hal.185.

[2] . Lihat, Miller,W.M.: terjemahan, al-Babu ‘l-hadi ‘asyar.

[3] . Lihat, at-Taftazani: Syarhu ‘l-Maqâsidi’ t-Tâlibi’n, vol. 2, hal. 272. Lihat juga, al-Hafiz ‘Ali’ Muhammad and Amiru ‘d-Din: Fulku ‘n-Najat fi ‘l-Imâmah wa ‘s-salat, vol. 1, hal. 203.

[4] . Lihat, at-Taftazani, op. cit.

[5] . Lihat, as-Suyuti, Târikhu ‘l-Khulafa‘, hal.71.

[6] . Lihat, at-Taftazani: op. cit.

Para pembaca…

Naiknya Abu Bakar Ke Singgasana Kekuasaan

Menurut Ahli Sunnah, empat khalifah pertama disebut al-Khulafa’ur Rasyidun (khalifah yang mendapat bimbingan). Kini mari kita kaji bagaimana Khalifatur Rasyidah ini muncul.

Segera setelah wafatnya Nabi, kaum Muslimin di Madinah (dikenal sebagai Ansar) berkumpul di Saqifah Banu Sa’idah. Menurut penulis kitab Ghiyatu’l Lugha, tempat ini adalah tempat rahasia di mana bangsa Arab biasa berkumpul untuk melakukan kegiatan-kegiatan jahat mereka.[1] Di tempat ini, Sa’ad bin Ubadah, yang kemudian merana, dibimbing ke kursi dan didudukkan di atasnya, dibungkus dalam sebuah selimut, sehingga ia dapat dipilih menjadi khalifah. Kemudian Sa’ad menyampaikan pidato tentang keutamaan kaum Ansar dan memberitahukan kepada mereka untuk mengambil alih kedudukan khalifah sebelum orang lain melakukannya. Namun, kemudian di antara mereka ada yang bertanya: “Jawaban apa yang akan kita berikan kepada kaum Muhajirin (orang-orang Mekkah yang berhijrah) Quraisy jika mereka menentang gerakan ini dan mengajukan klaim mereka?

Sekelompok orang-orang yang berada di tempat itu berkata: “Kita akan mengatakan kepada mereka, mari kita pilih salah satu pemimpin dari kalian dan satu dari kami.” Sa’ad berkata: “Ini adalah salah satu kelemahan yang telah kalian perlihatkan.”

Seseorang memberi kabar kepada ‘Umar bin Khattâb tentang perhimpunan ini, katanya: “Jika engkau berkehendak untuk meraih kekuasaan sekarang, engkau harus bergegas ke Saqifah sebelum terlambat, yang dapat menimbulkan kesulitan bagimu untuk merubah apa yang sudah diputuskan di sana.” Setelah menerima kabar ini, ‘Umar, bersama Abu Bakar, bergegas bertolak ke Saqifah ditemani juga oleh Abu ‘Ubaidah bin al-Jarrah.

At-Tabari, Ibnu Atsir, Ibn Qutaibah[2]dan sejarawan yang lain merekam dalam kitab sejarah mereka bahwa setelah sampai di Saqifah, Abu Bakar, ‘Umar dan Abu Ubadah nyaris tidak mendapatkan kursi mereka ketika Tsabit bin Qays berdiri dan mulai mendendangkan syair-syair tentang keutamaan kaum Ansar dan menyarankan bahwa kursi khalifah harus ditawarkan kepada salah seorang Ansar. Dilaporkan bahwa setelah itu ‘Umar berkata: “Ketika pembicara Ansar itu selesai berbicara, aku berusaha untuk berbicara, setelah merenung cukup lama, tentang beberapa poin-poin penting. Namun Abu Bakar yang berada di belakangku tetap berdiam diri. Oleh karena itu, aku diam saja. Abu Bakar lebih berkompeten dan lebih berilmu daripada aku. Ia lalu berkata hal yang sama seperti yang aku pikirkan bahkan menyampaikannya lebih baik dari aku.”

Menurut kitab Raudatus Safa, Abu Bakar menyampaikan kepada majelis di Saqifah, “Wahai majelis Ansar! Kami tahu keutamaan dan kualitas kalian. Kami juga tidak melupakan perjuangan dan usaha kalian dalam menegakkan panji Islam. Akan tetapi kehormatan dan kemuliaan bangsa Quraisy di antara bangsa Arab tidak dimiliki oleh suku arab yang lain, dan suku-suku Arab tidak akan menyerah kepada bangsa mana pun kecuali kepada suku Quraisy.”[3]

Dalam Sirah al-Halabiyyah, ditambahkan:

“Bagaimanapun, pada kenyataannya kami adalah kaum Muhajirin, kaum yang pertama menerima Islam. Nabi Islam berasal dari suku kami. Kami adalah kerabat Nabi…dan oleh karena itu..kamilah yang berhak untuk menjabat khalifah…Ada baiknya  mengambil pemimpin di antara kami dan jabatan kementerian dari kalian. Kami tidak akan bertindak sebelum bermusyawarah dengan kalian.”[4]

Adu argumen mulai panas, dan disertai dengan teriakan ‘Umar: “Demi Allah, Aku akan bunuh sekarang siapa saja yang menentang kami.” Al-Hubâb ibn al-Munzir ibn Zaid, seorang Ansari dari suku Khazraj, menentangnya kemudian berkata, “Demi Allah, kami tidak akan membiarkan siapa pun yang berkuasa atas kami sebagai khalifah. Yang harus menjadi pemimpin adalah  seorang berasal dari kalian dan seorang dari kami.” Abu Bakar berkata: “Tidak, hal ini tidak dapat terjadi; Kamilah yang berhak untuk menjadi khalifah dan kalian jadi menteri kami.” Al-Hubab berkata: “Wahai  Ansar! Jangan kalian serahkan diri kalian atas apa yang dikatakan orang-orang ini. Tegarlah..Demi Allah jika ada yang berani menentangku sekarang, aku akan potong hidungnya dengan pedangku.” Umar menimpali: “Demi Allah, dualitas (dua khalifah, -penj.) tidak pantas dalam masalah khilafah. Dalam satu regim tidak bisa ada dua khalifah, dan bangsa Arab tidak akan setuju dengan kepemimpinan kalian, karena Nabi tidak berasal dari suku kalian.”

At-Tabari dan ibn Atsir keduanya mengatakan bahwa pada kejadian itu terjadi tukar-menukar kata dengan sengit antara al-Hubâb dan ‘Umar. ‘Umar melaknat al-Hubâb: “Semoga Allah membunuhmu.”  Al-Hubâb menimpali: “Semoga Allah membunuhmu.”

‘Umar lalu maju dan berdiri di hadapan Sa’ad bin ‘Ubadah dan berkata kepadanya: “Kami akan patahkan seluruh anggota badan kalian.” Karena marah atas tantangan ini, Sa’ad berdiri dan mencengkeram janggut ‘Umar. ‘Umar berkata: “Jika engkau menarik satu helai dariku, engkau akan lihat semua orang akan membencimu.” Lalu, Abu Bakar memohon ‘Umar dan orang-orang untuk tenang. ‘Umar mengalihkan wajahnya kepada Sa’ad yang berkata: “Demi Allah, jika aku cukup memiliki kekuatan untuk bertahan, engkau akan mendengar raungan singa-singa di setiap sudut kota Madinah dan engkau akan bersembunyi di setiap lobang-lobang kota Madinah. Demi Allah, kami akan menggabungkan kalian dengan kaum yang orang-orangnya hanyalah pengikut bukan pemimpin.

Ibn Qutaibah berkata bahwa ketika Basyir bin Sa’d, pemimpin suku Aus, melihat Ansar bersatu di belakang Sa’ad bin Ubadah, pemimpin suku Khazraj, ia diselimuti oleh rasa dengki dan berdiri mendukung klaim Muhajirin dari bangsa Quraisy.

Di tengah-tengah suasana panas dan menegangkan ini, ‘Umar berkata kepada Abu Bakar: “Julurkan tanganmu sehingga aku dapat memberikan bai’at kepadamu.” Abu Bakar berkata: “Tidak, engkau yang harus menjulurkan tanganmu sehingga aku dapat berbai’at kepadamu, karena engkau lebih kuat daripada aku dan lebih pantas untuk menjabat khalifah.”

‘Umar mengambil tangan Abu Bakar dan menyampaikan bai’at kepadanya, katanya: “Kekuatanku tidak ada nilainya sama sekali bila dibandingkan dengan jasa dan senioritasmu. Dan jika ada nilai maka kekuatanku ditambahkan kepadamu akan sukses dalam mengelola khalifah.”

Basyir bin Sa’d mengikuti apa yang berlaku. Suku Khazraj  berteriak kepadanya bahwa ia bertindak karena rasa irinya kepada Sa’ad bin ‘Ubadah. Lalu suku Aus berbicara sesama mereka bahwa jika Sa’ad bin Ubadah menjadi khalifah hari itu, suku Khazraj akan senantiasa merasa lebih unggul dari suku Aus, dan tidak ada satu orang pun dari suku Aus yang akan menerima kehormatan ini. Oleh karena itu, mereka memberikan bai’at-nya kepada Abu Bakar. Seseorang dari suku Khazraj menarik pedangnya namun ditahan oleh yang lain.

Di tengah segala percekcokan ini, ‘Ali dan para sahabatnya sedang sibuk mengurus pemandian jenazah Nabi Saw dan proses penguburan beliau. Dalam keadaan seperti ini, Abu Bakar memanfaatkan kesempatan dan menjabat khalifah a fait acompli.

Ibnu Qutaibah menulis: “Ketika Abu Bakar mengambil kedudukan sebagai khalifah, ‘Ali diseret ke arah Abu Bakar yang ketika itu berulangkali menyatakan, “Aku adalah hamba Allah dan saudara Rasulullah. Lalu ‘Ali diperintahkan untuk memberikan bai’at kepada Abu Bakar. ‘Ali berkata: “Aku lebih memiliki hak sebagai khalifah daripada kalian semua. Aku tidak akan memberikan bai’at kepada kalian. Kalian mengambil bai’at dari kaum Ansar dengan dalih bahwa kalian memiliki hubungan darah dengan Rasulullah. Kalian merampas khalifah dari kami, Ahl al-Bait Nabi. Tidakkah kalian beralasan kepada kaum Ansar bahwa kalian lebih baik menjabat khalifah karena Nabi adalah kerabat kalian, dan mereka menyerahkan pemerintahan kepada kalian dan menerima kepemimpinan kalian? Oleh karena itu, alasan yang paling baik yang kalian ajukan di hadapan kaum Ansar kini diajukan oleh orang yang paling dekat hubungannya kepada Nabi lebih daripada kalian semua. Jika kalian jujur dengan dalil kalian, kalian harus berbuat adil; kalau tidak kalian tahu bahwa kalian telah berbuat zalim.

‘Umar berkata: “Kalau engkau tidak memberikan bai’at, engkau tidak akan dilepaskan. ‘Ali berteriak, peraslah sebanyak yang engkau mampu karena kini ambing berada ditanganmu. Buatlah sekuat mungkin hari ini, karena ia akan menyerahkannya kepadamu esok. ‘Umar, aku tidak akan tunduk kepada perintahmu; aku tidak akan memberikan bai’at kepadanya.” Akhirnya Abu Bakar berkata, Wahai ‘Ali! Jika engkau tidak ingin memberikan bai’at, aku tidak akan memaksamu untuk melakukan itu.”

Ulasan Singkat

Beberapa aspek yang telah disebutkan di atas patut untuk mendapatkan perhatian:

1. Sudah menjadi kebiasaan bangsa Arab bahwa ketika seseorang diumumkan; bahkan dalam sebuah kelompok kecil,  untuk menjabat sebagai kepala suku, yang lain tidak akan menentangnya, dan mau tidak mau mengikuti apa yang berlaku. Tradisi ini yang tersimpan dalam benak ‘Abbas, paman Nabi, ketika ia berkata kepada ‘Ali: “Berikan tanganmu sehingga aku dapat ber-bai’at kepadamu…karena ketika sekali hal ini berlaku maka tidak ada satu orang pun akan melepaskannya.

Dan karena tradisi inilah yang membuat Sa’ad memanfaatkan kaum Ansar untuk mengambil alih khalifah sebelum orang lain melakukannya. Dan juga karena tradisi ini ketika ‘Umar diberitahu untuk segera ke Saqifah sebelum terlambat dan kesulitan baginya untuk merubah apa yang telah diputuskan di sana. Dan karena tradisi ini juga bahwa sekali beberapa orang menerima Abu Bakar sebagai khalifah, mayoritas kaum Muslimin akan mengikuti apa yang berlaku.

2. ‘Ali sangat sadar akan tradisi ini. Oleh karena itulah mengapa ia menolak untuk menjulurkan tangannya untuk menerima bai’at Abbas, yang berkata kepadanya: “Siapa lagi selain aku yang dapat memberikan bai’at kepadamu?[5]

Karena ‘Ali tahu bahwa khalifah Rasulullah Saw bukanlah kepemimpinan suku. Khalifah Rasulullah Saw tidak bersandar kepada deklarasi bai’at di hadapan publik. Khalifah Rasulullah adalah sebuah tanggung jawab yang diberikan oleh Allah Swt, bukan oleh manusia. Dan karena ia telah diumumkan diangkat oleh Allah Swt melalui Nabi akan imamahnya. Tidak perlu baginya untuk bergegas mencari bai’at kepada manusia. Ia tidak menginginkan orang-orang berpikir bahwa imamahnya bersandarkan kepada bai’at manusia; jika orang-orang datang kepadanya dengan bersandar kepada deklarasi Ghadir Khum, baik dan bagus; jika mereka tidak melakukannya, itu merupakan kerugian pada pihak mereka, bukan kerugian pada pihak ‘Ali.

3. Kini kita kembali kepada peristiwa Saqifah; selama hidup Rasulullah Saw, mesjid Nabi merupakan pusat seluruh kegiatan Islam. Di tempat inilah keputusan-keputusan yang berkenaan dengan perang dan perdamaian diambil, perutusan-perutusan diterima, khutbah-khutbah disampaikan, dan masalah-masalah diselesaikan. Dan ketika kabar menyebar tentang wafatnya Rasulullah Saw, kaum Muslimin berkumpul di masjid tersebut.

Lalu mengapa pengikut-pengikut Sa’ad bin ‘Ubadah memutuskan untuk pergi tiga mil di luar Madinah untuk berjumpa di Saqifah yang bukan merupakan tempat  yang baik untuk menyelesaikan persengketaan? Bukankah karena alasan mereka ingin merampas khalifah tanpa diketahui oleh orang-orang dan mempersembahkan Sa’ad sebagai khalifah yang diterima?

Dengan memandang deklarasi Ghadir Khum dan tradisi kesukuan bangsa Arab tidak akan ada penjelasan yang lain dari masalah ini.

  1. Ketika ‘Umar dan Abu Bakar mengetahui perhimpunan di Saqifah, pada saat itu mereka berada di masjid. Mengapa mereka tidak menyampaikan kepada yang lain perihal perkumpulan di Saqifah tersebut? Mengapa mereka, bersama Abu ‘Ubaidah, menyelinap keluar secara rahasia? Apakah karena ‘Ali dan Bani Hasyim hadir di masjid dan di rumah Nabi, dan ‘Umar dan Abu Bakar tidak menginginkan mereka tahu akan rencana licik mereka? Bukankah karena mereka takut bahwa jika ‘Ali tahu tentang pertemuan di Saqifah dan jika dengan kemungkinan yang paling kecil ia memutuskan untuk pergi ke sana sendiri, maka tidak ada satu orang pun yang memiliki peluang untuk sukses menjadi khalifah?
  2. Ketika Abu Bakar memuji keutamaan kaum Muhajirin sebagai kaum yang berasal dari suku Nabi, tidakkah ia tahu bahwa ada orang lain yang lebih kuat haknya untuk mengklaim karena mereka adalah anggota keluarga Rasulullah Saw dan darah daging Rasulullah Saw?

Karena aspek yang penuh pretensi inilah yang membuat ‘Ali berkomentar: “Mereka berdalih dengan pohon (kesukuan) dan mereka merusakkan buahnya (keluarga Nabi).”[6]

Bila kita melihat kejadian ini dengan kaca mata jernih, kita tidak mampu menyebutnya sebagai sebuah proses pemilihan, karena pemberi suara (seluruh kaum Muslimin bertebaran di seluruh semenanjung Arabia, atau, paling tidak, seluruh kaum Muslimin berada di Madinah) bahkan tidak tahu bahwa ada pemilihan ketika itu, apalagi bila dan dimana hal ini diadakan. Terlepas dari pemberi suara, bahkan calon-calon yang ada tidak sadar atas apa yang terjadi di Saqifah. Kembali kita teringat kata-kata Imam ‘Ali berkenaan dengan dua poin yang disebutkan di atas:

Jika engkau mengklaim lebih memiliki wewenang atas urusan kaum Muslimin dengan musyawarah,

Bagaimana hal ini dapat terjadi bila mereka yang diajak bermusyawarah tidak ada!

Dan jika engkau membual di hadapan musuhmu tentang kekerabatan dengan Nabi,

Maka orang lain lebih memiliki hak dan lebih dekat kepadanya.[7]

Dan kita bahkan tidak dapat menyebutnya sebagai sebuah “seleksi” karena mayoritas sahabat-sahabat utama Nabi tidak mengetahui kejadian ini. ‘Ali, ‘Abbas, Utsman, Talha, Zubair, Sa’ad bin Abi Waqqas, Salman al-Farisi, Abu Dzar al-Ghifari, ‘Ammar bin Yasir, Miqdad, ‘Abdur-Rahman bin ‘Auf, tidak satu pun dari mereka yang bermusyawarah atau bahkan diberitahu perihal kejadian ini.

Satu-satunya dalil yang ditawarkan oleh khalifah ini adalah: “Status hukum apa saja yang dikenakan untuk kejadian Saqifah, karena Abu Bakar berhasil (karena tradisi kesukuan) mengambil kendali kekuasaan di tangannya, ia tetap merupakan seorang “khalifah konstitusional.”

Dalam bahasa yang sederhana, Abu Bakar menjadi seorang khalifah konstitusional karena ia berhasil dalam tawarannya atas kekuasaan. Oleh karena itu, kaum Muslimin yang berpikir memuji kejadian ini, adalah lalai berpikir bahwa satu-satunya yang dapat dinilai dari kejadian ini karena kekuasaan. Ketika anda aman duduk di singgasana kekuasaan, segalanya berjalan baik. Anda akan menjadi kepala negara yang konstitusional.

Akhirnya, saya harus mengutip sebuah komentar dari ‘Umar sendiri, yang menjadi dalang atas khalifah ini. Ia berkata dalam sebuah kuliahnya selama menjabat khalifah:

Aku telah diberitahu bahwa seseorang berkata: “Ketika ‘Umar meninggal, aku akan menyatakan bai’at kepada fulan dan fulan.” Baik, seharusnya tidak ada seorang pun yang tersesat seperti ini, berpikir bahwa meskipun bai’at kepada Abu Bakar dilakukan dengan tergesa-gesa, hal ini akan menjadi beres. Tentu saja, karena tergesa-gesa, namun Allah telah menyelamatkan kita dari kejahatannya. Kini jika ada seseorang yang bermaksud untuk menirunya aku akan penggal lehernya.[8]


[1] . Lihat, Ghiyathu ‘d-Din: Ghiyathu ‘l-Lughat, hal. 228.

[2] . Lihat, at-Tabari: at-Târikh, vol.4, hal.1820; Ibnu’l-Atsir: al-Kâmil, peny. C.J.Tornberg, Leiden,1897, vol.2, hal-hal. 325 folio; Ibn Qutaybah: al-lmâmah wa’s-Siyasah, Kairo, 387/1967, vol. 1, hal-hal. 18 folio.

[3] . Lihat, Mir Khwand: Rawdatu ‘s-Safa, vol 2, hal. 221.

[4] . Lihat, al-Halabi: as-Sirah, vol. 3, hal. 357. [11] Ibn Qutaybah: al-Imâmah wa ‘s-Siyasah, vol. 1,hal. 4; al-Mawardi: al-Ahkamu ‘s-Sultâniyyah, hal. 7.

[5] . Lihat, Ibn Qutaibah, al-Imâmah wa ‘s-Siyasah, vol. 1, hal. 4; al-Mawardi, al-Ahkamul Sultâniyyah, hal. 7.

[6] . Lihat, ar -Radi , Nah ju ‘l –Balâghah,   Edisi Subhi Salih, Beirut, hal. 98.

[7] . Ibid., Perkataan no.l90, [hal-hal.502-503] . Kata-kata Imam ‘Ali dinukil oleh asy-Syarif Radi di bawah perkataan no. 190 yang berbunyi sebagai berikut: “Alangkah anehnya! Dapatkah seseorang menjadi khalifah melalui persahabatannya dengan Nabi bukan melalui persahabatan dan kekerabatan?” Menakjubkan untuk disimak bahwa edisi Subhi Salih dan Muhammad Abduh (Beirut, 1973), telah melalaikan kata-kata “tapi tidak melalui persahabatannya!” Untuk versi yang lebih lengkap dari perkataan ini, silahkan lihat, Ibn Abi’ l-Hadid, Syarh Nah ju’l- Balâgha, Kairo,1959, vol. 18, hal. 416.

[8] . Lihat, al-Bukhari ‘: as-Sahih, ” Kitabu ‘l-Muhakibin “, Kairo,  (tanpa tahun), vol.8, hal.210; at-Tabari: at-Târikh, vol.4, hal.1821.

Para pembaca…

Mayoritas  madzhab Sunni meyakini bahwa apa yang terjadi di Saqifah adalah sebuah manifestasi “demokrasi” yang sejalan dengan ruh Islam. Dengan memandang bahwa keyakinan ini masuk akal dengan berharap bahwa “pemilihan demokrasi” (apa saja artinya dalam konteks Saqifah) adalah sebagai basis dari kekhalifahan Islam. Namun hal ini tidaklah demikian adanya.

Abu Bakar merasa berhutang budi kepada ‘Umar dalam mendudukkanya sebagai khalifah dan dia tahu bahwa jika masyarakat diberikan kebebasan untuk memilih, ‘Umar tidak memiliki kans untuk menang. (‘Umar dikenal sebagai orang yang bertabiat keras dan kasar). Oleh karena itu, Abu Bakar memutuskan untuk menominasikan Umar bin Khattab sebagai pengganti baginya.

At-Tabari menulis: “Abu Bakar memanggil Utsman – ketika dia dalam keadaan sekarat – dan memintanya untuk menuliskan sebuah perintah pengangkatan, dan mendiktekan kepadanya: “Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Surat ini adalah surat perintah ‘Abdullah bin Abi Quhafa (Abu Bakar) kepada kaum Muslimin. Mengingat…,” kemudian ia jatuh pingsang. Utsman menambahkan kata-kata: “Aku mengangkat ‘Umar bin al-Khattab sebagai penggantiku bagi kalian.”

Lalu Abu Bakar siuman kembali dan berkata kepada ‘Utsman untuk membacakan surat perintah itu untuknya. ‘Utsman membacanya: “Abu Bakar berkata, Allahu Akbar, dengan gembira dan berkata, Aku pikir engkau takut jikalau orang-orang akan bersilang pendapat sesama mereka jika aku mati dalam keadaan tersebut.”

‘Utsman menjawab: “Iya.” Abu Bakar berkata: “Semoga Allah memberikan ganjaran kepadamu atas jasamu terhadap Islam dan kaum Muslimin.”[1] Kemudian, surat pengangkatan dilengkapi dan Abu Bakar memerintahkan supaya surat tersebut dibacakan di hadapan kaum Muslimin.

Ibn Abil Hadid al-Mu’tazili menulis bahwa ketika Abu Bakar siuman dari pingsannya dan yang menuliskan dikte membaca apa yang telah ditulis olehnya  dan Abu Bakar mendengar nama ‘Umar, ia bertanya, “Bagaimana engkau menulis hal ini?” Orang yang menuliskan dikte berkata, “Engkau tidak dapat melewatinya begitu saja.” Abu Bakar menjawab: “Engkau betul.”[2]

Beberapa saat setelah Abu Bakar wafat, ‘Umar meraih kedudukan khalifah berkat surat pengangkatan ini. Di sini anda teringat akan tragedi yang terjadi tiga hari atau lima hari sebelum wafatnya Rasulullah Saw.

Dalam Sahih Muslim terdapat sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas bahwa: “Tiga hari sebelum wafatnya Rasulullah Saw ‘Umar bin Khattab dan sahabat-sahabat yang lain hadir di sisi beliau. Rasulullah Saw berkata: “Kini biarkan aku menuliskan sesuatu untuk kalian sebagai wasiat sehingga kalian tidak akan tersesat setelahku.” ‘Umar berkata: “Nabi sedang meracau; Kitabullah cukup bagi kita.” Perkataan ‘Umar menyebabkan kegaduhan di antara orang yang hadir di situ. Beberapa orang berkata bahwa permintaan Nabi itu harus dipenuhi sehingga beliau menulis apa saja yang diinginkan oleh Rasulullah Saw untuk kebaikan mereka, dan yang lainnya bersama ‘Umar. Ketika ketegangan dan kegaduhan meningkat, Rasulullah Saw berkata, “Pergilah kalian dari sini.”[3]

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian meninggikan suara kaliad lebih dari suara Nabi…” (Qs. al-Hujurat:2) Perkataan Nabi adalah wahyu dari Allah, “Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsu. Ucapannya tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya.”(Qs. an-Najm:3-4) Dan diperintahkan untuk  mengikuti perintah tanpa adanya “sekiranya” dan “tetapi”; Apa saja yang diberikan oleh Rasul kepadamu ambillah, dan apa saja yang dilarangnya, jauhilah.” (Qs. al-A’raf:59)

Dan ketika Nabi, lima hari sebelum wafatnya, beliau ingin menuliskan petunjuk untuk menyelamatkan kaum Muslimin dari kesesatan, beliau dituduh “sedang meracau”.

Ketika Abu Bakar yang tidak memiliki penjagaan Ilahi dari kesalahan, mulai mendiktekan surat pengangkatan dalam keadaan kritis; sehingga ia jatuh pingsan sebelum menyebutkan nama penggantinya, ‘Umar tidak berkata bahwa ia sedang meracau!

Tidak ada orang yang tahu pasti atas apa yang dinginkan oleh Rasul untuk ditulis, tetapi kalimat yang digunakan oleh beliau  memberikan petunjuk bagi kita bahwa yang diminta oleh beliau untuk ditulis adalah Kitabullah dan Itrahti. Dalam beberapa kesempatan, Rasulullah telah mengumumkan:

Ayyuhannas!, Sesungguhnya Aku tinggalkan bagi kalian dua pusaka yang berharga (tsaqalain) Kitabullâh dan Itrahti, yang merupakan Ahl al-Baitku. Kalian tidak akan tersesat selamanya, jika kalian berpegang teguh kepada keduanya.

Ketika beliau menggunakan kalimat yang sama lima hari sebelum wafatnya (…”Mari aku tuliskan sesuatu sebagai wasiat sehingga kalian tidak akan tersesat setelahku”..), mudah untuk dimengerti bahwa Rasululullah Saw ingin menuliskan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang al-Qur’an dan Ahl al-Bait As.

Barangkali ‘Umar telah menduga hal ini sebelumnya; karena tampak dari klaim yang digunakannya: “Kitabullâh cukup bagi kita.” Ia ingin memberitahukan kepada Rasulullah Saw bahwa ia tidak ingin mengikuti Tsaqalain. Yang pertama sudah cukup baginya.

Dan ia sendiri mengakui dalam pembicaraannya dengan ‘Abdullah bin ‘Abbas, kemudian ia berkata sebagai berikut: “Dan sesungguhnya, Ia (Rasulullah) bermaksud untuk mengumumkan nama ‘Ali, sehingga aku mencegahnya.”[4]

Barangkali dengan menggunakan kalimat “meracau” akan mewujudkan tujuannya bahwa jika sekiranya Rasulullah Saw menuliskan wasiat beliau, ‘Umar dan pengikutnya akan mengklaim bahwa karena wasiat itu ditulis dalam keadaan meracau, maka tidak memiliki keabsahan.

Asy-Syuraa: Komite

Setelah berkuasa kurang-lebih sepuluh tahun, ‘Umar terluka secara serius akibat tikaman seorang budak Zoroaster, Firuz.

‘Umar merasa sangat berhutang budi kepada ‘Utsman (karena surat pengangkatan tersebut) namun tidak ingin secara terbuka menominasikan ‘Utsman sebagai penggantinya; juga tidak ingin melepaskan kaum Muslimin untuk menggunakan kebebasan setelah kematiannya. Ia secara cerdik menciptakan system ketiga.

Ia berkata: “Sesungguhnya Rasulullah telah wafat dan beliau rida dengan keenam orang Quraisy: ‘Ali, Utsman, Talha, az-Zubair, Sa’ad bin Abi Waqqas dan Abdurrahman bin ‘Auf. Dan jika aku memutuskan untuk membuat (seleksi khalifah) dimusyarahkan di antara mereka, mereka dapat memilih salah satu dari keenamnya.”

Mereka dipanggil ketika ia hampir mendekati kematian. Ketika ia melihat kepada mereka, ia bertanya, “Jadi, kalian semua ingin menjadi khalifah setelahku?” Tidak ada yang menjawab. Ia mengulangi pertanyaannya. Lalu az-Zubair angkat bicara: “Apa yang engkau miliki untuk menyingkirkan kami dari pencalonan? Engkau telah mendapatkannya dan mengelolanya; dan kami tidak lebih kecil darimu dalam bangsa Quraisy baik dari sisi keturunan dan hubungan dengan Rasulullah Saw.”

‘Umar bertanya: “Jika sekiranya aku katakan tentang diri kalian semua?

Az-Zubair berkata: “Katakanlah kepada kami, karena walaupun kami memintamu untuk tidak mengatakannya, engkau tetap akan mengatakannya. Lalu ‘Umar mulai menghitung kejahatan-kejahatan az-Zubair, Talha, Sa’ad bin Abi Waqqas dan ‘Abdurrahman bin ‘Auf. Lalu ia menoleh kepada ‘Ali dan berkata, “Demi Allah engkau pantas untuk mendapatkannya (khalifah) jika saja karena bukan tabiat tegasmu. Bagaimanapun, demi Allah, jika engkau membuatnya menjadi pemimpinmu, ia akan pasti membimbingmu ke jalan yang benar dan jalan yang terang.”

Lalu ia memandang kepada ‘Umar dan berkata: “Ambillah dariku. Sepertinya seakan-akan aku melihat bahwa bangsa Quraisy telah meletakkan kalung ini (khalifah) di sekitar lehermu karena cintamu; kemudian engkau akan meletakkan Banu Umayyah dan Banu Abi Mu’ayt (sukunya ‘Utsman) di pundak orang-orang (sebagai penguasa) dan memberikan kepada mereka secara eksklusif harta rampasan (ghanimah) kaum muslimin; dengan demikian sekelompok orang dari srigala-srigala Arab datang kepadamu dan membantaimu di pembaringan.

Demi Allah, jika bangsa Quraisy memberikan khalifah kepadamu, engkau pasti akan memberikan hak-hak eksklusif kepada Banu Umayyah dan jika engkau melakukan hal ini, kaum Muslimin akan membunuhmu.”Lalu ia memegang kening ‘Utsman dan berkata: “Jadi jika hal ini terjadi, ingatlah pesanku; karena pasti hal ini akan terjadi.”

Kemudian ‘Umar memanggil Abu Talha al-Ansari dan berkata kepadanya bahwa setelah penguburannya (‘Umar), ia diminta untuk mengumpulkan lima puluh orang dari Ansar yang bersenjatakan pedang, dan mengumpulkan keenam orang kandidat yang telah disebutkan di atas dalam sebuah rumah untuk memilih salah seorang dari mereka sebagai khalifah. Jika lima orang sepakat dan satunya tidak, maka ia harus dipenggal; jika empat orang sepakat dan dua orang tidak sepakat, keduanya harus dipenggal; jika seimbang, tiga berhadapan dengan tiga, pilihan kelompok Abdurrahman ‘Auf yang menang, dan jika kelompok lainnya tidak setuju atas pilihan Abdurrahman ‘Auf mereka harus dipenggal. Kemudian jika sudah tiga hari berlalu dan mereka tidak mampu mengambil sebuah keputusan, semuanya harus dipenggal dan masalah pemilihah khalifah diserahkan kepada kaum Muslimin.”[5]

Seorang penulis Syi’ah menukil, ketika ‘Umar mengumumkan bahwa kelompok ‘Abdurrahman bin ‘Auf yang akan menang, ‘Abdullah bin ‘Abbas berkata kepada ‘Ali, ” Dan lagi hal ini merupakan kekalahan bagi kita. Orang ini menghendaki ‘Utsman menjadi khalifah.” ‘Ali menjawab, “Aku juga mengetahui hal ini; namun aku masih ingin duduk bersama mereka di dalam syura, karena ‘Umar dengan siasat ini telah – setidaknya – menerima bahwa aku yang pantas menjadi khalifah, padahal sebelumnya ia menegaskan bahwa nubuwwah (kenabian) dan imamah tidak dapat bergabung dalam satu keluarga. Oleh karena itu, aku akan mengambil bagian dalam syurah untuk menunjukkan kepada orang-orang  bahwa dalam pembicaraan dan perbuatannya terdapat kontradiksi.”[6]

Mengapa Ibn ‘Abbas dan ‘Ali yakin bahwa ‘Umar menghendaki ‘Utsman yang menjadi khalifah? Karena konstitusi syura dan kerangka kerjanya.

‘Abdurrahman bin ‘Auf dan ‘Utsman adalah saudara ipar, karena ‘Abdurrahman bin ‘Auf menikah dengan saudarinya ‘Utsman; dan Sa’ad bin Abi Waqqas dan ‘Abdurrahman adalah saudara sepupu.

Memandang kepercayaan yang diikat oleh keluarga dalam bangsa Arab, mustahil Sa’ad akan menentang ‘Abdurrahman atau ‘Abdurrahman tidak mengindahkan ‘Utsman (saudara iparnya). Sehingga semua suara tersebut untuk ‘Utsman, termasuk ‘Abdurrahman yang memutuskan suara.

Talha bin ‘Ubaidillah berasal dari suku Abu Bakar dan sejak hari Saqifah, Bani Hasyim dan Bani Taim bermusuhan satu sama lain. Dan dalam tataran pribadi, ‘Ali telah membunuh pamannya, ‘Umair bin ‘Utsman, saudaranya Malik bin ‘Ubaidillah dan kemenakannya ‘Utsman bin Malik dalam perang Badar.[7] Tidak mungkin baginya mendukung ‘Ali. Az-Zubair merupakan putra dari Safiyyah, bibi ‘Ali, dan setelah peristiwa Saqifah, ia mencabut pedangnya untuk memerangi mereka yang telah menerobos rumahnya ‘Ali untuk membawanya kepada Abu Bakar. Dan tidak masuk akal untuk mengharapkan Zubair dapat membantu ‘Ali. Dan pada sisi yang lain, ia sendiri dapat tergoda untuk menjadi khalifah.

Dengan demikian, orang yang paling bisa diharapkan oleh ‘Ali dalam pemilihan itu adalah az-Zubair. Masih ada empat orang dalam pemilihan tersebut yang menentangnya dan ia akan kalah dalam pemilihan ini. Bahkan jika Talha memilih ‘Ali, ia tidak dapat menjadi khalifah karena dalam skenario dua kelompok yang berimbang, pendapat ‘Abdurrahman yang akan didengar.[8]

Setelah mengkaji kerangka kerja musyawarah ini, apa yang terjadi di dalamnya adalah hanya menarik minat akademik saja. Talha menjatuhkan suaranya kepada ‘Utsman; dengan asumsi bahwa az-Zubair akan memilih ‘Ali, dan Sa’ad memilih ‘Abdurrahman bin ‘Auf.

Pada hari ketiga, ‘Abdurrahman menarik namanya dan berkata kepada ‘Ali bahwa ia akan menjadikannya sebagai khalifah jika; ‘Ali bersumpah untuk mengikuti Kitabullah, sunnah Rasulullah dan sunnah Abu Bakar dan ‘Umar. ‘Abdurrahman tahu betul jawaban ‘Ali. ‘Ali berkata, “Aku ikuti Kitabullah, Sunnah Rasulullah Saw dan keyakinanku sendiri.”

Kemudian ‘Abdurrahman mengajukan syarat yang sama kepada ‘Utsman, yang memang telah bersedia untuk menerima syarat tersebut. Dengan demikian, ‘Abdurrahman mendeklarasikan ‘Utsman sebagai khalifah baru.

‘Ali As berkata kepada ‘Abdurahman: “Demi Allah, engkau tidak melakukannya kecuali dengan harapan yang sama, yang ia (‘Umar) dapatkan dari temannya.” (Ia bermaksud bahwa ‘Abdurahman melantik ‘Utsman sebagai khalifah dengan harapan bahwa ‘Utsman juga akan menominasikannya sebagai penggantinya.)

Kemudian ‘Ali berkata: “Semoga Allah menciptakan permusuhan di antara kalian berdua.” Selang beberapa tahun ‘Abdurahman dan ‘Utsman saling bermusuhan satu sama lain; mereka tidak saling menyapa hingga ‘Abdurahman wafat.

‘Utsman; khalifah ketiga, dibunuh oleh kaum Muslimin yang tidak senang dengan nepotisme yang dipraktikkan olehnya. Keadaan ini tidak memberikannya peluang untuk memilih penggantinya. Kaum Muslimin, untuk pertama kalinya, benar-benar bebas menyeleksi (selection) atau mengeleksi (election) seorang khalifah sesuai dengan pilihan mereka; mereka berkerumun di hadapan pintu rumah ‘Ali As.

Namun, dua puluh lima tahun telah berlalu semenjak wafatnya Rasulullah Saw, tabiat dan pandangan kaum Muslimin telah berubah hingga pada keadaan bahwa banyak orang-orang popular menjumpai pemerintahan ‘Ali berdasarkan kepada keadilan dan kesetaraan mutlak, persis seperti pemerintahan Rasulullah Saw, sehingga mereka tidak kuat mengikuti pemerintahannya.

Setelah syahada Imam ‘Ali As, Imam Hasan ingin melanjutkan perang dengan Muawiyah. Namun banyak orang-orangnya, disuap oleh Mua’wiyah; dan banyak para komandan yang, ketika mereka diutus untuk menghadang Muawiyah, malah menyeberang menjadi pasukan Mua’wiyah dan menjadi musuh Imam Hasan As. Dalam keadaan seperti ini, Imam Hasan terpaksa menerima tawaran berdamai dari Muawiyah.

Setelah gencatan senjata ini, Ahlus Sunnah mengklaim bahwa kekuatan militer adalah jalan yang sah untuk memperoleh khalifah konstitusional.

Oleh karena itu, jalan keempat “konstitusional” khalifah muncul menjadi syarat di antara syarat-syarat menjadi seorang khalifah.

 

Pandangan Umum

Dalam ranah politik, biasanya konstitusi sebuah Negara disiapkan sebelumnya. Dan ketika tiba  saatnya  untuk memilih sebuah pemerintahan atau melantik dewan legislatif, setiap jawatan dilaksanakan berdasarkan provisi-provisi konstitusi. Apapun yang sejalan dengannya, akan dianggap sah dan legal dan sebaliknya, apa saja yang berlawanan dengan kaidah ini, ditolak karena tidak sah dan illegal.

Karena, menurut pandangan Ahlus Sunnah merupakan tugas umat untuk memilih seorang khalifah, wajib bagi Allah dan Rasul-Nya untuk menyediakan mereka sebuah konstitusi (dengan prosedur yang detail untuk memilih seorang khalifah). Dan jika tidak dilakukan, maka kaum Muslimin sendiri yang seharusnya bersepakat untuk menentukan langkah-langkah konstitusional sebagai pendahuluan sebelum prosesi pemilihan seorang khalifah.

Akan tetapi, cukup aneh jika hal ini tidak dilakukan. Dan kini kita temukan sebuah konstitusi unik yang tidak past”i (unsettled) yang tindakan-tindakannya tidak sesuai dengan konstitusi karena memang tidak ada; malah sebaliknya konstitusi yang mengikuti keadaan-keadaan.

Argumen paling baik yang diajukan oleh Ahlus Sunnah untuk mendukung klaim mereka adalah bahwa kaum Muslimin pada masa-masa awal memandang tugas mereka untuk mengangkat seorang khalifah, dan bahwa mereka memandang hal ini penting sehingga mereka melalaikan untuk menghadiri upacara pemakaman Rasulullah dan pergi ke Saqifah Bani Sa’idah untuk menyelesaikan permasalahan khalifah. Dari peristiwa itu mereka memutuskan bahwa pengangkatan seorang khalifah merupakan tugas umat.

Syi’ah mengklaim bahwa peristiwa Saqifah Bani Sa’idah adalah peristiwa illegal; Ahlus Sunnah mengklaim bahwa peristiwa ini legal dan benar. Bagaimana Ahlus Sunnah meletakkan klaim mereka sebagai argumen dan dalil?

Untuk meletakkan klaim sebagai dalil adalah seperti pepatah: “Perbuatanku sah karena aku telah melakukannya.” Mahkamah manakah yang akan menopang argumen semacam ini?

Sisi Praktikal

Kesampingkan sisi akademis dari metode-metode ini, mari kita lihat akibat yang diderita oleh mereka karena masalah kepemimpinan dan mentalitas kaum Muslimin.

Dalam masa tiga puluh tahun setelah wafatnya Rasulullah Saw, segala cara yang mungkin dilakukan untuk memperoleh kekuasaan dan membuat aturan-aturan baku seperti eleksi, seleksi, nominasi dan kekuatan militer. Hasilnya, adalah bahwa hari ini setiap penguasa Muslim yang menghendaki untuk menduduki takhta kekhalifahan dan “kepemimpinan spiritual” kaum Muslimin; dan hal ini merupakan kekurangan dasar dari pandangan kaum Muslimin yang  hingga hari ini senantiasa menjadi penyebab utama instabilitas politik dunia Islam. Setiap penguasa Islam; sebagai seorang Muslim, telah diajarkan bahwa “supremasi militer” merupakan sebuah jalan konstitusional untuk menjadi khalifah. Mereka mencoba untuk melemahkan penguasa Muslim yang lain sehingga ia sendirilah yang dapat muncul sebagai penguasa yang paling agung di antara penguasa-penguasa kaum Muslimin. Dengan cara seperti ini, “konstitusi” ini secara langsung telah menyumbangkan kelemahan bagi dunia Islam hari ini.

Terlepas dari itu, mari kita lihat sekali lagi betapa  metode ini terbukti segera setelah ia diciptakan. Keempat sisi batas khalifah ini sangat tidak aman sehingga seseorang bisa saja memasukinya, tanpa memandang ilmu atau perilakunya. Khalifah pertama setelah Mu’awiyah adalah anaknya, Yazid, yang”dinominasikan” oleh Mua’wiyah dan memiliki “kekuatan militer” yang besar. Kaum Muslimin memberikan bai’at mereka selama masa pemerintahan Mua’wiyah; dengan demikian, terdapat ijma’ juga dalam bai’at ini. Jadi Yazid juga merupakan “khalifah konstitusional”. Namun bagaimana iman dan perilakunya? Yazid adalah orang yang terang-terangan mengingkari Rasulullah Saw. Ia secara jujur menyatakan keyakinannya dalam sebuah syair: “Bani Hasyim telah memainkan sebuah lakon untuk meraih kerajaan; sejatinya tidak ada kabar (dari Tuhan) juga tidak ada wahyu.”[9]

Ia tidak percaya tentang adanya Hari Kiamat: “Wahai kekasihku! Jangan engkau percaya akan bersua denganku setelah mati, karena apa yang mereka katakan kepadamu tentang wujud kita akan dibangkitkan untuk hisab hanyalah sebuah mitos yang membuat hati lupa akan kesenangan hidup di dunia nyata ini.”[10]

Setelah memangku jabatan khalifah, ia secara terbuka bermain-main dengan salat; dan menunjukkan sikap acuhnya terhadap agama dengan mengenakan jubah ulama pada anjing-anjing dan monyet-monyet. Judi dan bermain dengan beruang adalah permainan favoritnya untuk menghabiskan waktu. Ia menghabiskan waktunya dengan meminum anggur, di mana saja dan kapan saja, tanpa ragu. Ia tidak menghormati kaum wanita, bahkan orang-orang yang termasuk muhrimnya seperti, ibu tiri, saudara, bibi dan putri. Mereka ibaratnya seperti wanita-wanita lain di matanya.

Ia mengutus pasukannya ke Madinah. Di kota suci Nabi itu harta-harta para penduduk dijarah secara bebas. Tiga ratus gadis-gadis, terpisah dari wanita-wanita lainnya, diserang oleh tentara-tentaranya. Tiga ratus qurra (pembaca al-Qur’an) dan tujuh ratus sahabat-sahabat Nabi dibantai secara brutal.

Masjid suci ditutup selama berhari-hari. Para tentara Yazid menggunakannya sebagai kandang kuda mereka. Masjid suci ini menjadi tempat persinggahan anjing-anjing dan mimbar Nabi dicemari.

Akhirnya, komandan lasykar memaksa orang-orang Madinah untuk tunduk di hadapan Yazid dengan memberikan bai’at mereka dengan perkataan seperti ini: “Kami adalah budak-budak Yazid; terserah kepadanya apakah ia memberikan kembali kepada kami kebebasan atau menjual kami di pasar budak.” Mereka yang ingin memberikan bai’at dengan syarat bahwa Yazid harus mengikuti dustur al-Qur’an dan Sunnah Nabi Saw, dibunuh oleh antek-antek Yazid.[11] Mungkin relevan jika kita menyitir hadits Nabi yang pernah bersabda bahwa: “Semoga Allah melaknat orang yang memberi ketakutan kepada orang-orang Madinah!”

Kemudian pasukan itu, atas perintah Yazid, bertolak ke Makkah. Kota paling suci Allah itu dikepung. Mereka tidak dapat memasuki kota, lalu mereka menggunakan manjaniq (ketapel): sebuah alat militer kuno yang digunakan untuk melontarkan batu besar terhadap sasaran yang jauh). Dengan alat ini, mereka melontarkan batu-batuan dan obor yang menyala ke Ka’bah. Kiswah (plafon Ka’bah) terbakar dan salah satu bagian dari bangunan suci itu rusak berat.[12]

 Al-Walid dan Harun al-Rasyid

Aturan ini, bukan sebagai sebuah pengecualian,  sudah menjadi aturan umum. Contohnya adalah Al-Walid bin Yazid bin Abdul Malik yang merupakan salah seorang khalifah dari Bani Umayyah. Suatu malam ia sedang minum-minuman keras bersama selirnya, hingga mereka berdua mendengar azan subuh. Ia bersumpah bahwa sang selir tersebut akan memimpin salat. Sang selir mengenakan jubah khalifah dan memimpin salat dalam keadaan yang sama dengan al-Walid, yaitu sedang mabuk.[13]

Suatu hari ia menggangu putri belianya di hadapan wanita budak putrinya tersebut. Ia berkata (itu bukan Islam) itu merupakan agama Majusi. Al-Walid mendendangkan sebuah kuplet: “Pria yang peduli akan (lisan) orang-orang, mati dalam keadaan duka; pria yang berani, akan mendapatkan seluruh kesenangan duniawi.[14]

Harun al-Rasyid, khalifah masyhur dari negeri Seribu Satu Malam ini  dianggap sebagai salah seorang khalifah yang paling berpengaruh, ingin tidur bersama salah seorang selir ayahnya. Wanita tersebut secara tegas menolak dan mengatakan bahwa perbuatan ini termasuk perbuatan zina karena kedudukan wanita itu sebagai ibu baginya. Harun al-Rasyid memanggil al-Qadi Abu Yusuf dan berkata kepadanya untuk menemukan cara untuk memuaskan syahwatnya. Si Qadi berkata: “Dia hanyalah merupakan wanita budak.”

Apakah engkau akan menerima apa saja yang ia katakan? Tidak.

Jangan terima perkataannya.”

Jadilah sang khalifah memuaskan nafsunya.

Ibn Mubarak berkomentar: “Aku tidak tahu siapa di antara tiga orang ini yang lebih mengagetkan: Khalifah yang menaruh tangannya di dalam darah dan harta kaum Muslimin dan tidak menghormati ibu tirinya; atau wanita budak yang menolak untuk mengabulkan keinginan sang khalifah; atau Qadi yang memberikan fatwa kepada sang khalifah untuk menghina ayahnya dan tidur bersama selir ayahnya yang nota-bene masih merupakan ibu tirinya sendiri.”[15]

Pengaruh-pengaruh Kepercayaan Terhadap Keadilan Ilahi dan Ismah (Kesucian)Para Nabi

Telah dijelaskan bahwa keyakinan Ahlus Sunnah ihwal “khalifah konstitusional” melemahkan kaum Muslimin secara politik dan memaksa mereka untuk mentaati setiap orang yang berhasil meraih kekuasaan tanpa memandang kualifikasi atau karakternya.

Seakan-akan hal ini tidak cukup untuk memaksa mereka untuk merubah pandangan dan keyakinan agamanya.

Pertama-tama, mayoritas khalifah yang pernah berkuasa,  kosong dari nilai-nilai agama dan ketakwaan. Untuk menjustifikasi khalifah yang seperti ini, mereka mengklaim bahwa bahkan para nabi biasa melakukan kesalahan. Oleh karena itu, keyakinan mereka terhadap ismah para nabi telah berubah.[16]

Karena barangkali ada ratusan orang yang lebih alim, bertakwa dan lebih memenuhi kualifikasi untuk menjadi khalifah ketimbang khalifah yang berkuasa, mereka dipaksa untuk berkata bahwa tidak ada yang salah dalam memberikan preferensi kepada orang yang lebih rendah tingkat keilmuan, keimanannya (inferior) atas seorang yang memiliki tingkat keilmuan, keimanan yang lebih tinggi dan berkualifikasi.

Syi’ah mengajarkan bahwa perbuatan ini termasuk perbuatan jahat sesuai dengan standar akal-sehat. Tindakan memberikan preferensi kepada yang lebih inferior ketika ada orang yang lebih superior adalah perbuatan jahat, Ahlus Sunnah menyatakan bahwa tidak ada yang baik atau buruk dalam dirinya, apa saja yang diperintahkan oleh Allah adalah baik; apa saja yang dilarang adalah buruk.[17]

Tentang akal, mereka mengingkari keberadaannya di dalam agama. Tidak mungkin menjelaskan secara detail data yang menunjukkan bagaimana keyakinan Ahlus Sunnah “konstitusional khalifah” mempengaruhi seluruh teologi Islam, namun dengan penjelasan secara singkat diharapkan bisa memadai untuk sementara waktu. Jelas bahwa untuk melindungi para khalifah, tidak hanya para nabi disingkirkan dari kedudukan ismah, tapi juga Allah disingkirkan dari keadilan-Nya. Dari sudut pandang ini, kita dapat dengan mudah mengerti signifikansi penuh ayat yang diturunkan di Ghadir Khum.

Wahai Rasul! Sampaikan apa yang telah diwahyukan keapdamu dari Tuhanmu; (tentang khilafah Imam ‘Ali As) dan jika engkau tidak melakukannya, engkau tidak menyampaikan pesan Ilahi (sama sekali); Dan Allah akan menjagamu dari ganguan manusia (Qs. al-Maidah:54)

Kesucian keyakinan dan amal Islam bergantung kepada khalifah ‘Ali As; jika satu pesan tidak disampaikan, maka seakan-akan tidak ada pesan yang disampaikan sama sekali. Keterjagaan seluruh ajaran agama bergantung kepada Khalifah ‘Ali setelah Rasulullah Saw.


[1] . Lihat, at-Tabari: at-Târikh,  hal-hal. 2138-2139.

[2] . Lihat, Ibn Abi ‘l-Hadid: Syarh.Nahju ‘l-Balâgha vol. 1, hal-hal. 163-165.

[3] . Lihat, Muslim: as-Sahih “  Kitabu ‘l-Wasiyyah “, Babu ‘t-tarki ‘l-Wasiyyah, vol. 5, hal-hal.75-76; al-Bukhari: as-Sahih, (Kairo, 1958), vol. 1, ” Kitabu ‘l-’llm“) hal-hal.38-39; vol.4, hal.85; vol.6, hal-hal.11-12; vol. 7, Kitabu ‘t-Tib , hal-hal.155-156; vol. 9, Kitabu ‘iI’ tisam bi ‘l -Kitab wa ‘s-Sunnah,  hal. 137. Menarik untuk disimak bahwa di mana Bukhari memberikan komentar bahwa Rasulullah berbicara dalam keadaan meracau, ia melalaikan nama orang yang menuduh beliau meracau (‘Umar, -penj.); dan di mana ia memparafrasekan komentar tersebut dengan bahasa yang lebih santun, ia menyebutkan nama pembicara – ‘Umar – dengan jelas. Ibn Sa’d: at-Tabaqat, vol. 2, hal-hal. 242-324 folio, 336, 368; Ahmad: al-Musnad, vol. I, hal-hal .232,239, 324 folio, 336,355.

[4] . Lihat, Ibn Abi ‘l-Hadid:  Syarh, vol. 12, hal. 21, (dinukil dari Târi’kh Baghdad).

[5] . Ibid.,  vol. l, hal-hal. 185-188; Lihat juga Ibn Qutaybah : al-Imâmah wa ‘s-Siyâsah, vol. 1, hal- hal. 23-27; dan  at-Tabari:  at-Târikh, (Mesir, tanpa tahun), vol.5, hal-hal. 33-41.

[6].  Lihat, Ibn Abi ‘l-Hadid :Syarh,   hal.189.

[7] .  Lihat, Ash-Shaykh al-Mufid: al-Irsyad , (dengan terjemahan Persia oleh Syaikh Muhammad Baqir Sa’idi Khurasani), hal.65. [Lihat juga terjemahan Inggris oleh I. K.A. Howard, hal .47 ].

[8] .  Analisa ini dinisbahkan kepada ‘Ali As, sendiri oleh at-Tabari dalam at-Tarikh, hal.35; (lihat footnote 78, di atas). Dalam laporan itu, dialog ini dikatakan terjadi antara ‘Ali dan pamannya ‘Abbas.

[9] . Lihat, catatan kaki no. 9 bagian pertama.

[10] . Lihat, Sibt ibn al-Jawzi: Tadzkirah, hal. 291.

[11] . Lihat, as-Suyuti: Tanrikhu ‘l-Khulafa‘,  hal. 209, [Lihat juga, terjemahan Inggrisnya oleh  Major H.S. Jarrett, hal.213]; Abu’l-Fida’: at-Târikh, vol.I, hal.192; Sibt ibn al-Jawzi: Tadzkirah, hal. 288; Mir Khwand: Rawdatu ‘s-Safa,  vol. 3, hal. 66; Ibn Hajar al-Haytami:  as-Sawa’iqu ‘l-Muhriqah, hal. 79.

[12] . Ibid.

[13] . Lihat, ad-Diyar Bakri: Tarikhu ‘l-Khâmis, vol. 2, hal. 320, sebagaimana dikutip oleh Nawwab Ahmad Husayn Khan Payanwan dalam Tari’kh Ahmad, hal. 328 [Ibn Shakir: Fawatu 'l-wafayat, vol.4, hal-hal.255-259.

[14] . Lihat, as-Suyuti: Tari’khu ‘l-Khulafa, hal. 291.

[15] . Ibid.

[16] . Lihat,  Prophethood karya S.A.A. Rizvi, hal.9-18

[17] . Lihat, Justice of God karya S.A.A. Rizvi, hal-hak. 1-2.

Kebohongan Mazhab Sunni terlihat pada hadis 12 khalifah yang mutawatir, Hadits ini tidak dapat dikenakan kepada empat khalifah karena jumlah mereka kurang dari dua belas !

Hadis 12 khalifah menghancurkan mazhab sunni karena :
a. Khalifah sunni cuma 4 yakni Abubakar – Umar -USman dan Ali, sementara khalifah syiah ada 12
b. Dalam hadis shahih lain disebutkan bahwa khalifah umat islam adalah ahlulbait, Abubakar- Umar-Usman bukan ahlulbait, jadi mereka merampas kekhalifahan secara ilegal, maka mustahil ketiganya  dijamin surga
c. Ini artinya hadis Ghadir Kum membenarkan syi’ah tentang pengakatan Ali sebagai khalifah
d. Mayoritas sahabat berkhianat kepada wasiat Ghadir KUm

Khalifah Rasulullah Yang WAJIB di ikuti sesuai Hadist Rasulullah saww.

Dari Zaid bin Tsabit RA yang berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya Aku telah meninggalkan di tengah-tengah kalian dua Khalifah yaitu Kitab Allah yang merupakan Tali yang terbentang antara bumi dan langit, serta KeturunanKu Ahlul BaitKu. Keduanya tidak akan berpisah sampai menemuiKu di Telaga Surga Al Haudh. (Hadis Ini diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal dalam Musnad Ahmad jilid 5 hal 182, Syaikh Syuaib Al Arnauth dalam Takhrij Musnad Ahmad menyatakan bahwa hadis ini shahih. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Kabir jilid 5 hal 154, Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid jilid 1 hal 170 berkata “para perawi hadis ini tsiqah”. Hadis ini juga disebutkan oleh As Suyuthi dalam Jami’ Ash Shaghir hadis no 2631 dan beliau menyatakan hadis tersebut Shahih.)

Hadis di atas adalah Hadis Tsaqalain dengan matan yang khusus menggunakan kata Khalifah. Hadis ini adalah hadis yang Shahih sanadnya dan dengan jelas menyatakan bahwa Al Ithrah Ahlul Bait Nabi SAW adalah Khalifah bagi Umat islam. Oleh karena itu Premis bahwa Sang Khalifah setelah Rasulullah SAW itu ditunjuk dan diangkat oleh Rasulullah SAW adalah sangat beralasan :mrgreen:

Kebohongan Mazhab Sunni terlihat pada hadis 12 khalifah yang mutawatir, Hadits ini tidak dapat dikenakan kepada empat khalifah karena jumlah mereka kurang dari dua belas !

Banyak saudara-saudara kita dari madzhab Sunni cenderung menafsirkan Ulil Amr sebagai “penguasa di antara kalian”, yaitu penguasa kaum Muslimin. Penafsiran ini tidak bersandar kepada logika akal-sehat; mereka semata bersandar kepada daur sejarah.

Mayoritas kaum Muslimin masih berkutat sebagai sebuah budak  kaum monarki dan penguasa, menafsirkan dan menafsirkan ulang Islam dan al-Qur’an sesuai dengan selera penguasa.

Sejarah kaum Muslimin (seperti sejarah-sejarah bangsa lain) dipenuhi dengan nama penguasa yang nota-bene zalim, pelaku maksiat, dan tiranik yang telah menodai citra kudus Islam. Pembahasan ini  akan dipaparkan lebih jauh  pada akhir bagian tulisan ini.

Penguasa-penguasa ini senantiasa dan akan selalu, berkata kepada kita bahwa mereka adalah Ulul Amr yang disebutkan dalam ayat ini.

Jika Allah Swt memerintahkan kita untuk mentaati raja-raja dan penguasa-penguasa seperti ini, keadaan yang mustahil akan tercipta bagi kaum Muslimin. Pengikut-pengikut sial iniakan dikecam karena telah mencari kemurkaan Allah, terlepas dari apa yang mereka lakukan. Jika mereka mentaati penguasa-penguasa ini, mereka telah membangkang perintah Allah, “Janganlah kalian mentaati seorang pendosa”, dan jika mereka membantah kepada penguasa-penguasa tersebut, mereka tetap membantah perintah Allah untuk taat kepada penguasa Muslim.”

Jadi jika kita terima penafsiran ini, kaum Muslimin dilaknat dengan kemurkaan abadi baik mereka mentaati atau membantah penguasa yang bukan ma’sum tersebut.

Juga, ada penguasa Muslim yang berbeda akidah dan madzhabnya. Ada madzhab Syafi’i, Wahabi, Maliki, Hanafi, serta Syi’ah dan Ibadis. Sekarang, sesuai dengan penafsiran Ahli Sunnah yang berada di bawah seorang Ibadi Sultan (seperti di Oman) harus mengikuti ajaran madzhab Ibadi; dan mereka yang berada di bawah kekuasaan seorang Syiah (seperti di Iran) harus mengikuti ajaran madzhab Syiah.

Apakah orang-orang ini memiliki keberanian untuk mengikuti interpretasi ini hingga akhir penalaran logisnya?

Mufassir populer Sunni, Fakhruddin Razi, menyimpulkan dalam Tafsir Kabir-nya[1] bahwa ayat ini membuktikan bahwa Ulil Amr itu harus ma’sum. Ia berargumen bahwa Allah memerintahkan manusia untuk mentaati Ulil Amr secara mutlak; oleh karena itu, ma’sum bagi Ulul Amr adalah suatu hal yang niscaya. Karena jika ada kemungkinan bagi Ulul Amr melakukan kesalahan atau dosa, hal ini berarti bahwa seseorang harus mentaatinya dan juga membantahnya dalam perbuatannya., dan hal ini tentu saja mustahil terjadi. Lalu, untuk membujuk para pembacanya dari kalangan Ahl al-Bait, ia menciptakan teori bahwa kaum Muslimin secara keseluruhan adalah ma’sum. Penafsiran ini termasuk penafsiran unik, karena tidak ada satu pun ulama yang menganut teori ini dan tidak ada dasarnya sama sekali dalam hadits-hadits. Yang mengejutkan adalah bahwa al-Razi menerimam bahwa setiap Muslim bukan orang ma’sum, namun ia masih saja mengklaim bahwa mereka secara keseluruhan adalah ma’sum. Bahkan anak sekolah dasar sekali pun tahu bahwa 200 ekor sapi ditambah 200 ekor sapi hasilnya adalah 400 ekor sapi bukan seekor kuda.

Namun, al-Razi mengatakan bahwa 70 juta non-ma’sum ditambah 70 juta non-ma’sum akan menghasilkan seorang ma’sum. Tidakkah ia ingin kita percaya bahwa jika seluruh pasien rumah sakit jiwa bergabung bersama menghasilkan seorang yang waras?[2]

Pujangga bangsa Timur, Iqbal Lahore bersajak,

“Otak dua ratus keledai tidak akan

menuai pikiran seorang manusia.”

Jelasnya, dengan ilmunya yang hebat ia mampu menyimpulkan bahwa Ulul Amradalah harus seorang yang ma’sum; namun karena prasangkanya, yang memaksanya untuk berkata bahwa kaum muslimin secara kesulurahan adalah ma’sum.

Juga, ia tidak jeda sejenak untuk melihat bahwa ayat ini memuat kata “minkum” (dari kalian) yang menunjukkan bahwa Ulul Amr yang dimaksud seharusnya berasal dari bagian umat Muslimin, bukan secara kesuluruhan, dan jika sekiranya seluruh kaum Muslimin harus ditaati, maka siapa lagi yang tersisa untuk ditaati?

Arti Sesungguhnya Ulul Amr

Kini kita kembali kepada penafsiran yang benar berkenaan dengan ayat di atas.

Imam Ja’far Sâdiq As berkata bahwa ayat ini diturunkan berhubungan dengan ‘Ali bin Abi Tâlib, Hasan dan Husain As.

Setelah mendengar hadits dari Imam Ja’far ini, seseorang bertanya kepada Imam: “Orang-orang berkata, “Mengapa Allah tidak menyebutkan nama ‘Ali dan keluarganya dalam kitab-Nya?”.

Imam menjawab: “Katakan kepada mereka bahwa di dalam al-Qur’an terdapat perintah salat, namun Allah Swt tidak menyebutkan berapa rakaa’t  yang harus dikerjakan; Rasulullahlah yang menjelaskan seluruh permasalahan yang ada dengan seksama, dan perintah zakat diturunkan, akan tetapi Allah tidak menyebutkan zakat dalam setiap empat puluh dirham; Nabilah yang menjelaskan semua ini; dan ketika haji diperintahkan, Allah tidak menyebutkan perintah untuk mengerjakan tawaf tujuh kali – Nabilah yang menjelaskan semua ini. Demikian juga, ayat – taati Allah, dan taati Rasulullah dan Ulil Amri di antara kalian,” berkenaan dengan Ali, Hasan dan Husain As.[3]

Dalam Kitab Kifayatul Athar, ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdilah al-Ansari, yang berisikan penjelasan ayat ini.

Ketika ayat ini diwahyukan, Jabir berkata kepada Nabi Saw: Kami tahu bahwa Allah dan Rasul yang dimaksud dalam ayat ini, tapi siapakah Ulil Amri yang ketaatan kepadanya telah digabungkan bersama ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya?” Nabi Saw berkata: “Mereka adalah khalifahku dan imam setelahku. Pertama adalah ‘Ali, kemudian Hasan, kemudian Husain, kemudian ‘Ali putra Husain, kemudian Muhammad bin ‘Ali, yang  telah disebutkan sebagai al-Baqir dalam Kitab Taurat. Wahai Jabir! Engkau akan bersua dengannya. Bilamana engkau berjumpa dengannya, sampaikan salamku untuknya. Ia akan digantikan oleh putranya Ja’far Sadiq, kemudian Musa bin Ja’far, kemudian ‘Ali bin Musa, kemudian Muhammad bin ‘Ali, kemudian ‘Ali bin Muhammad, kemudian Hasan bin ‘Ali. Ia akan digantikan oleh anaknya yang namanya dan gelarnya (laqab) sama denganku. Ia akan menjadi Hujjatullah di muka bumi, dan Baqiyatullah di antara manusia. Ia akan menaklukkan dunia yang terbentang dari timur ke barat. Sekian lama  ia akan gaib dari pandangan mata para pengikutnya yang  keimanan kepadanya akan tinggal hanya dalam kalbu orang yang telah diuji oleh Allah dengan keimanan.

Jabir berkata: “Wahai Rasulullah!” Akankah para pengikutnya akan mendapat manfaat dari masa gaibnya?”

Nabi Saw berkata: “Iya. Demi Dia yang mengutusku dengan kenabian, mereka akan dibimbing dengan cahayanya, dan manfaat dari wilayah semasa masa gaibnya, sebagaimana orang-orang mendapatkan manfaat dari sinar matahari ketika berada dibalik mega-mega. Wahai Jabir! Hal ini adalah rahasia dari Allah dan khazanah ilmunya.

Jadi jagalah berita ini selain dari orang-orang yang layak mengatahuinya.”[4]

Hadits ini telah dikutip oleh kitab-kitab Syi’ah. Hadits-hadits Sunni tidak mengutip hadits ini secara detail; namun banyak muhaddits (ahli hadits) Sunni yang merujuk kepada Itsna Asyarah Imam. Sebagaimana akan dijelaskan pada bagian selanjutnya dari buku ini.

Kini kita ketahui siapa “Ulil Amri”, jelas bahwa pertanyaan tentang mentaati para tiran dan penguasa-penguasa zalim tidak relevan sama sekali. Kaum Muslimin tidak diminta oleh ayat ini untuk mentaati penguasa-penguasa zalim, tiranik, jahil, ananiyah, dan yang tenggelam dalam maksiat. Ayat ini hakikatnya  memerintahkan mereka untuk mentaati kedua belas Imam yang telah dijelaskan, mereka semuanya adalah insan-insan suci dari dosa dan salah serta terbebas dari amal dan pikiran jahat.

Mentaati mereka tidak memiliki resiko, potensi azab sama sekali. Tidak, bahkan ketaataan kepada mereka melindungi dari segala macam resiko, karena mereka tidak akan pernah memerintahkan manusia untuk menentang kehendak Allah dan para Imam tersebut memperlakukan manusia dengan cinta, keadilan dan kesetaraan.

Dua Belas Khalifah atau Dua Belas Imam?

Kini, ada baiknya kita merujuk kepada beberapa bagian dari bagian ke 77 Yanabi’ul Mawaddah milik al-Hafid Sulaiman bin Ibrahim al-Qunduzi al-Hanafi.

Sebuah hadits yang populer telah dinukil dalam kitab ini bahwa: “Akan ada dua belas khalifah, seluruhnya berasal dari bangsa Quraisy,” hadits ini dimuat dalam banyak kitab-kitab termasuk al-Bukhari, Muslim, Abu Daud, dan al-Tirmidzi.

Penyusun kitab Yanabi’ul Mawaddah menukil banyak hadits yang berisikan sabda Nabi yang menyatakan bahwa: “Aku, Ali, Hasan, Husain dan sembilan keturunan dari Husain adalah insan yang suci dan ma’sum.

Ia juga mengutip bahwa Nabi Saw berkata kepada Imam Husain: “Engkau adalah seorang pemimpin, saudaramu adalah seorang pemimpin. Engkau adalah Imam, anak Imam, saudara Imam. Engkau adalah hujjatullah, anak dari hujjatullah, saudara hujjatullah, dan ayah dari sembilan hujjat. Yang kesembilan adalah al-Mahdi.”

Setelah mengutip banyak hadits yang serupa, ia menulis: “Beberapa ulama berkata bahwa hadits-hadits ini (yang menunjukkan bahwa khalifah sepeninggal Nabi berjumlah dua belas) adalah termasuk hadits masyhur, bersumber dari berbagai sanad (asnad). Kini, dengan berlalunya waktu dan peristiwa-peristiwa bersejarah, kita ketahui bahwa dalam hadits ini Nabi Saw telah merujuk kepada kedua belas Imam dari Ahl al-Baitnya dan keturunannya, karena:

  • Hadits ini tidak dapat dikenakan kepada empat khalifah dari sahabat-sahabatnya, karena jumlah mereka kurang dari dua belas.
  • Hadits ini tidak dapat dikenakan kepada para khalifah dari Dinasti Bani Umayyah, karena (a) jumlah mereka lebih dari dua belas; (b) seluruh khalifah dari Bani Umayyah adalah orang-orang zalim dan tiran (kecuali ‘Umar bin Abdul ‘Aziz); dan (c) mereka tidak berasal dari keturunan Bani Hasyim dan Nabi Saw bersabda dalam sebuah hadits bahwa: “Seluruh khalifah berasal dari Bani Hasyim…”
  • Hadits ini tidak dapat dikenakan kepada para khalifah Dinasti Abbasiyah karena; (a) jumlah mereka lebih dari dua belas; dan (b) mereka tidak memenuhi (tuntutan) ayat: “Katakanlah: Aku tidak memintah upah dari kalian kecuali kecintaan (mawaddah) kepada keluargaku (qurba).” (Qs. 42:23) Juga tidak sesuai dengan hadits al-Kisaa; keturunan Nabi Saw memenuhi tuntutan hadits dan ayat ini.

Oleh karena itu, satu-satunya jalan untuk menafsirkan hadits ini adalah menerima bahwa hadits ini merujuk kepada kedua belas Imam dari keluarga Nabi (Ahl al-Bait), karena mereka, pada masanya, adalah orang-orang yang paling berilmu, paling illustrious, paling bertakwa, paling beriman, paling tinggi dalam garis keturunan nabi, paling mulia dalam kepribadian, paling terhormat di hadapan Allah; dan ilmu mereka bersumber dari datuk mereka (Nabi Saw melalui ayah-ayah mereka, dan warisan dan pengajaran langsung dari Allah Swt.”[5]


[1] . ar-Razi : at-Tafsiru ‘l-kabir, vol.10, hal. l44.

[2] . Meskipun kita tetap memberi hormat kepada pendapat-pendapat yang lain, dan khususnya kepada keyakinan saudara-saudara kita dari Ahlus Sunnah, pada saat yang sama, penulis tidak memiliki alternatif lain kecuali mengkritisi pendapat ar-Razi dengan contoh-contoh tersebut. Tentu saja, kita tidak menganggap bahwa pendapat ar-Razi ini merupakan manifesto seluruh saudara Ahlus Sunnah, (Penerbit).

[3] . Lihat,  al-’Ayyashi: at-Tafsir, vol. 1, hal-hal.249-250; Fayd al-Kashani: at-Tafsir ) as-Safi), vol.1, hal.364.

[4] . al-Khazzaz: Kifayatu ‘l-Athar, hal. 53

[5] . al-Qunduzi’ Yanabi ‘u ‘l-mawaddah, hal-hal  444-447

Para pembaca…

Al-Imâmah secara literal (lughawi) berarti “kepemimpinan”. Al-Imâm berarti “pemimpin”. Dalam terminologi Islam al-Imâmah bermakna “otoritas semesta dalam seluruh urusan agama dan dunia, yang menggantikan peran Nabi Saw.[1] Al-Imâm berarti: “Seorang (pria) yang – menggantikan Nabi – memiliki hak untuk memerintah secara mutlak dalam urusan kaum muslimin baik dalam urusan dunia maupun akhirat.

Kata “seorang (pria)” menunjukkan bahwa seorang wanita tidak dapat menjadi seorang imam. “Memerintah secara mutlak” tidak termasuk mereka yang memimpin salat – mereka juga dipanggil imam – tapi  dalam konteks salat jamaah. Tetapi mereka tidak memiliki otoritas mutlak. Dalam suksesi nabi, suksesi tersebut menunjukkan perbedaan antara seorang nabi dan seorang imam. Imam menjalankan otoritas ini secara tidak langsung, melainkan menjalankan tugas ini untuk menggantikan kedudukan Nabi.

Kata “khilafah” berarti “pergantian” dan “al-khalifah” bemakna “pengganti”. Dalam terminologi Islam “al-khilafah” dan “al-khalifah” secara praktis menandakan arti yang sama dengan “al-imamah” dan “al-imam“.

Adapun al-Wisayah berarti “pelaksanaan wasiat” dan “al-Wasi” bermakna “pelaksana wasiat”. Secara signifikan maknanya sama dengan “al-khilafah” dan “al-khalifah“.

Menarik untuk diperhatikan bahwa banyak nabi-nabi sebelumnya juga khalifah dari nabi-nabi pendahulunya, jadi mereka adalah nabi dan khalifah; sementara nabi-nabi yang lain (yang membawa syari’at baru) bukan khalifah dari nabi-nabi sebelumnya. Dan diantara mereka ada yang menjadi khalifah nabi-nabi tetapi bukan nabi.

Masalah imamah dan khilafah telah meretas – memecah – keutuhan kaum muslimin dan mempengaruhi pola-pikir, falsafah dari kelompok yang berbeda yang telah sedemikian hebat sehingga persamaan yang ada yakni tauhid, meyakini Allah (at-Tauhid) dan nabi (nubuwwah) tidak lagi dapat diselamatkan dari pandangan-pandangan yang berbeda ini.

Inilah subjek yang menjadi perdebatan yang paling hebat dalam teologi (ilmu kalam) Islam. Banyak kaum Muslim yang telah menulis ratusan kitab tentang masalah khilafah.  Masalah yang ada dihadapan penulis, bukan apa yang harus ditulis; melainkan apa yang tidak harus ditulis. Dalam karya kecil seperti ini – anda tidak dapat menyentuh seluruh ragam aspek dari permasalahan ini – biarkan mereka mencarinya sampai detail ihwal topik-topik yang dibahas di dalam buku ini. Buku ini hanya menyuguhkan sebuah garis besar dari ikhtilaf yang ada diantara beberapa madzhab dalam Islam tentang masalah khilafah.

Mungkin dengan menyebutkan bahwa dalam Islam terbagi dalam dua madzhab yang berbeda dalam menyikapi masalah ini, dapat membantu para pembaca dalam berurusan dengan masalah ini. Madzhab Sunni meyakini bahwa Abu Bakar adalah khalifah pertama selepas Nabi Saw. Madzhab Syiah meyakini bahwa ‘Ali bin Abi Tâlib merupakan Imam dan Khalifah setelah wafatnya Nabi Saw.

Perbedaan azasi ini telah menuntun kepada perbedaan-perbedaan yang ada yang akan dijelaskan pada bagian-bagian selanjutnya dari buku ini.

Ikhtisar Perbedaan

Nabi Saw bersabda dalam sebuah hadits yang validitasnya diterima oleh seluruh madzhab dalam Islam:

“Umatku akan terbagi menjadi tujuh puluh firqah (bagian), seluruhnya akan binasa kecuali satu firqah “.[2]

Pencari keselamatan akan selalu – tentu saja – tanpa lelah berusaha untuk mencari tahu masalah ini kemudian menemukan jalan yang benar – jalan keselamatan -, dan memang mesti bagi setiap orang untuk mencarinya, melakukan yang terbaik dan tidak pernah berputus asa untuk mencari kebenaran. Tapi ini hanya mungkin  bila ia memiliki sebuah pandangan yang jernih dalam menyikapi perbedaan-perbedaan yang ada di sekelilingnya, dan membuang segala bias dan prasangka, menguji suatu kebenaran dengan pemikiran yang matang dan dewasa, senantiasa berdoa kepada Allah Swt agar membimbingnya kepada jalan kebenaran.

Atas alasan ini, saya mengajukan secara singkat di sini ikhtilaf-ikhtilaf yang penting dan konflik-konflik yang ada kita hadapi bersama dengan argumen-argumen, dalil-dalil dan penalaran yang sehat dari setiap madzhab, dalam rangka memudahkan kita mencapai kebenaran yang kita cari. Pertanyaan-pertanyaan utama yang mengemukan di sini adalah:

  1. Apakah pengganti Nabi, pengangkatannya dari Allah Swt atau diserahkan sepenuhnya kepada umat untuk memilih siapa saja yang mereka kehendaki sebagai pengganti Nabi?
  2. Dalam kasus terakhir, apakah Allah atau Nabi menyerahkan kepada umat kaidah-kaidah sistematis yang mengandung aturan-aturan dan prosedur bagi pengangkatan seorang khalifah, atau apakah umat dengan kesepakatan yang mereka capai sebelum mengangkat seorang khalifah, menyiapkan seperangkat aturan-aturan yang mereka terapkan dalam mengangkat seorang khalifah, atau apakah umat bertindak berdasarkan kepada apa yang mereka anggap perlu pada suatu waktu dan memanfaatkan kesempatan yang ada.
  3. Apakah akal dan dustur Ilahi menuntut adanya syarat-syarat dan kualifikasi dalam diri seorang imam atau seorang khalifah? Jika demikian, apa saja syarat-syarat dan kualifikasi tersebut?
  4. Apakah Nabi Saw menunjuk seseorang sebagai khalifahnya dan penggantinya atau tidak? Jika memang menunjuk seseorang, siapa orang tersebut? Jika tidak, mengapa?
  5. Setelah wafatnya Nabi Saw, siapa yang dikenali sebagai khalifahnya dan apakah orang ini memiliki kualifikasi-kualifikasi yang ada sebagai syarat untuk menjadi seorang khalifah?[3]

Perbedaan Azasi

Akan menghemat waktu, jika kita menjelaskan permulaan sebab azasi ikhtilaf ihwal tabiat dan karakter imamah dan khalifah. Apakah

karakteristik utama yang ada pada urusan imamah? Apakah seorang imam, pertama dan utama, adalah seorang penguasa sebuah kerajaan? Atau ia merupakan khalifahtullâh dan khalifaturasul?

Karena imamah dan khilafah diterima secara umum sebagai pengganti Nabi, pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak dapat dijawab hingga keputusan dibuat berdasarkan kepada karakter asasi seorang nabi. Kita harus memutuskan apakah seorang nabi adalah penguasa sebuah kerajaan atau merupakan wakil Tuhan di muka bumi.

Dalam sejarah Islam, kita temukan suatu kelompok yang bila ditinjau dari misi kedatangan Nabi Saw, terlihat sebuah usaha yang ingin mendirikan sebuah kerajaan. Pandangan mereka bersifat material, tidak maknawi; gagasan-gagasan mereka bertumpu pada pengumpulan harta, kecantikan dan kekuasaan. Mereka – secara tabiat – menisbahkan motif-motif yang mereka bangun kepada Nabi Saw.

Seperti pada kasus ‘Utbah bin Rabi’ah – bapak mertua Abu Sufyan – yang diutus untuk menjumpai Nabi menyampaikan pesan suku Quraisy.

“Wahai Muhammad! Jika engkau menginginkan kekuasan dan wibawa, kami akan menjadikan engkau sebagai maharaja di Makkah. Apakah engkau berhasrat menikah dengan putri  bangsawan? Engkau dapat meminang putri tercantik di negeri ini. Apakah engkau ingin emas dan perak? Kami dapat menyediakanmu segalanya bahkan lebih dari itu. Tapi engkau harus meninggalkan dakwahmu yang menyerang kami dan menghina nenek-moyang kami yang menyembah berhala.”

Suku Quraisy hampir pasti yakin bahwa Muhammad akan menanggapi tawaran yang menggiurkan itu. Tapi Nabi Muhammad Saw membacakan sebuah ayat suci al-Qur’an sebagai jawaban  beliau – berisikan ancaman – kepada suku Quraisy itu. “Jika mereka berpaling maka katakanlah: “Aku telah memperingatkanmu dengan petir yang menimpa kaum Aad dan kaum Tsamud. (Qs. Fussilat:13)

‘Utbah sangat emosional dengan ancaman yang nyata ini. Ia tidak menerima Islam, tapi memberikan nasihat kepada kaum Quraisy supaya tidak mengganggu Muhammad dan melihat bagaimana ia akan berjalan dengan suku-suku lainnya. Suku Quraisy mengklaim bahwa ‘Utbah pun telah terpengaruh sihir Muhammad.[4]

Kemudian ia ingin menyerahkan urusan Muhammad kepada suku-suku lain. Di satu sisi, ketika Nabi Saw hijrah ke Madinah dan suku Quraisy berperangsatu sama lainnya, suku-suku yang lain berpikir lebih baik meninggalkan Muhammad kepada sukunya sendiri. ‘Amr bin Salamah, seorang sahabat Nabi berkata:

“Bangsa Arab menantikan suku Quraisy menerima Islam. Mereka berkata bahwa Muhammad harus diserahkan kepada kaumnya sendiri. Jika ia muncul sebagai pemenang, tanpa ragu dia adalah seorang Nabi yang hak. Ketika Mekkah ditaklukkan, seluruh suku-suku berlomba-lomba untuk menerima Islam.”[5]

Oleh karena itu, dan menurut mereka, kemenangan adalah kriteria kebenaran! Jika Muhammad Saw ditaklukkan, maka ia akan dipandang sebagai pendusta!!

Pandangan bahwa misi suci ini tidak lain kecuali sebuah urusan duniawi yang berulang kali diumumkan oleh Abu Sufyan dan kaumnya (Bani Umayyah, -penj.).

Pada waktu kejatuhan Mekkah, Abu Sufyan meninggalkan Mekkah untuk menghindar dari kekuatan pasukan muslim. Ia terlihat oleh Abbas – paman Nabi – yang membawanya ke hadapan Nabi dan memberi nasihat kepada Nabi bahwa sebaiknya ia diberikan perlindungan dan penghormatan, dengan harapan semoga ia dapat menerima Islam.

Untuk menyingkat cerita ini, al-’Abbâs membawa Abu Sufyan untuk melihat-lihat lasykar Islam. Ia menunjukkan kepada Abu Sufyan orang-orang besar dari suku yang berlainan dalam susunan pasukan Islam. Sementara itu, Nabi Saw melewati pasukannya yang berseragam hijau. Abu Sufyan berteriak: “Wahai ‘Abbâs! Sesungguhnya kemenakanmu telah memperoleh sebuah kerajaan!”. Al-’Abbâs berkata: “Celakalah engkau! Ini bukan kerajaan; ini adalah kenabian.”[6]

Di sini, kita melihat dua pandangan yang saling berseberangan. Pandangan Abu Sufyan tidak berubah. Ketika ‘Utsman menjadi khalifah, Abu Sufyan datang kepadanya dan memberi nasihat, “Wahai putra Umayyah! Kini kerajaan ini telah datang padamu, mainkanlah ia sebagaimana anak kecil bermain bola dan serahkanlah secara turun- temurun kepada sanak keluargamu. Ini adalah hakikat kebenaran; kita tidak tahu apakah surga dan neraka ada atau tidak.”[7]

Lalu, ia pergi ke Uhud dan menendang kuburan Hamzah (paman Nabi), dan berkata: ” Wahai Abu Ya’la! Lihatlah kerajaan yang engkau berperang atasnya akhirnya telah datang kepada kami.”[8]

Pandangan yang sama diwarisi oleh cucunya yang berkata: Bani Hasyim telah bermain dengan kerajaan; namun akhirnya kini tidak ada kabar, juga tidak ada wahyu yang turun sama sekali.”[9]

Jika pandangan seperti ini dianut oleh kaum muslimin, niscaya ia menyamakan imamah dengan penguasa. Sesuai dengan pemikiran semacam ini, fungsi utama Nabi adalah sebagai penguasa kerajaan, Oleh karena itu, siapa saja yang mengendalikan kekuasaan adalah pengganti sah Nabi Saw.

Tapi masalah yang mengedepan kemudian adalah lebih dari sembilan puluh persen nabi-nabi yang diutus tidak memiliki kekuasaan politik; dan kebanyakan mereka menjadi tumbal atau korban kekuasaan-kekuasaan politik pada masanya. Kejayaan mereka tidak terletak pada takhta dan mahkota, namun pada syahadah dan pengorbanan. Jika karakteristik utama kenabian adalah kekuasaan politik dan penguasaan, maka barangkali – bahkan – tidak ada 50  (dari 124.000) nabi-nabi yang diutus akan bertahan dengan gelar Ilahi mereka sebagai  nabi.

Jadi, sangat jelas bahwa karakteristik utama Nabi Saw tidaklah pada kekuasaan politik, tapi pada khalifatullah, dan bahwa perwakilan ini tidak dianugerahkan kepadanya oleh orang-orang; namun perwakilan ini dianugerahkan oleh Allah Swt sendiri.

Demikian juga, pengganti Nabi, karakteristik utamanya juga tidak pada kekuasaan politik; melainkan pada kenyataan bahwa ia adalah wakil Allah Swt, dan perwakilan ini tidak akan pernah dianugerahkan oleh manusia, perwakilan ini niscaya dan mesti dari Allah Swt sendiri. Singkatnya, jika seorang imam adalah wakil Allah Swt, maka yang mengangkatnya sebagai wakil juga haruslah Allah Swt.

Sistem Kepemimpinan Dalam Islam

Pernah suatu waktu, sistem pemerintahan monarki adalah satu-satunya sistem pemerintahan yang dikenal oleh manusia. Pada saat yang bersamaan, ulama-ulama muslim mengagungkan sistem monarki dengan berkata: “Raja adalah bayangan Tuhan,” seakan-akan Tuhan memiliki bayangan! Kini di abad kiwari, demokrasi sedang digemari dan ulama-ulama Sunni tanpa mengenal lelah menegaskannya dalam artikel-artikel, buku-buku dan risalah-risalah mereka, bahwa sistem pemerintahan Islam berdasarkan sistem pemerintahan demokrasi. Mereka bahkan terlalu cepat mengklaim bahwa demokrasi didirikan oleh Islam, dengan melupakan kota republik Yunani. Pada babak kedua dari abad ini, sosialisme dan komunisme telah mendapatkan perhatian khusus oleh negara-negara yang sedang berkembang atau pun yang sudah berkembang; dan saya tidak terkejut mendengar bahwa banyak cendekiawan muslim menegaskan bahwa Islam mengajarkan dan menciptakan sosialisme. Beberapa orang di Pakistan dan di beberapa tempat yang lain, telah menciptakan slogan “Sosialisme Islam”. Apa maksud dari “Sosialisme Islam” ini, saya tidak tahu. Tapi saya tidak akan terkejut jika dalam sepuluh atau dua puluh tahun ke depan orang-orang seperti ini akan memulai mengklaim bahwa Islam juga mengajarkan komunisme.

Seluruh kecenderungan “berubah bersama angin” ini sedang membuat sebuah lelucon dari kepemimpinan Islam. Beberapa waktu yang lalu dalam sebuah majelis kaum muslimin di sebuah negara di Afrika, seorang pemimpin muslim menyebutkan bahwa Islam mengajarkan: Taati Allah, taati Rasulnya dan penguasa di antara kalian”. Dalam jawabannya, seorang presiden (yang kebetulan adalah seorang penganut Katolik Roma yang setia) berkata bahwa ia  sangat menghargai hikmah dari perintah untuk mentaati Allah dan Rasul-Nya; tapi ia tidak dapat mengerti logika dibalik perintah itu mentaati penguasa kalian ini.

Bagaimana jika seorang penguasa itu tidak adil dan seorang tiran? Apakah Islam memerintahkan kaum muslimin untuk mentaatinya secara membabi-buta tanpa sedikit pun perlawanan.

Pertanyaan yang rasional menuntut jawaban yang rasional pula. Hal ini tidak dapat dipandang remeh. Kenyataan bahwa orang yang mengundang kritikan pedas, melakukan hal itu karena kekeliruan dalam menafsirkan al-Qur’an.

Mari kita uji sistem kepemimpinan dalam Islam. Apakah ia berwarna demokratis? Definisi terbaik demokrasi diberikan oleh Abraham Lincoln (Presiden Amerika yang ke-16, 1861-1865) ketika ia berkata bahwa demokrasi adalah “Pemerintahan rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat”.

Akan tetapi dalam Islam, bukanlah pemerintahan dari rakyat, namun pemerintahan dari Allah Swt. Bagaimana manusia dapat memerintah diri mereka sendiri? Mereka memerintah diri mereka sendiri dengan membuat aturan-aturan sendiri; dalam Islam, hukum tidak dibuat oleh manusia, tapi oleh Allah Swt; hukum ini diajarkan tidak berdasarkan kesepakatan dan keputusan manusia, tapi oleh Nabi Saw sesuai dengan perintah dari Allah Swt. Manusia tidak memilki suara dalam legislasi; mereka diminta untuk mengikuti segala ketentuan yang dibuat oleh Allah Swt, tanpa ada komentar atau usulan tentang hukum-hukum ini dan legislasi.

Sampai pada frase “oleh rakyat”,  mari kita timbang bagaimana manusia memerintah diri mereka sendiri. Mereka melakukannya dengan memilih penguasa mereka sendiri. Nabi Saw merupakan orang yang memangku badan eksekutif, hukum dan seluruh otoritas dalam pemerintahan Islam, dan beliau tidak dipilih oleh manusia. Dalam kenyataannya, jika penduduk Mekkah dibolehkan untuk memilih sendiri, mereka akan memilih, ‘Urwah bin Mas’ud (dari suku Taif) atau al-Maulid bin Mughira (dari Mekkah) sebagai nabi Allah! Menurut al-Qur’an, “Dan mereka berkata: “Mengapa  al-Qur’an ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari satu dua negeri (Mekkah dan Taif) ini.”[10]

Jadi, Nabi Saw tidak hanya seorang kepala negara agung dari negara Islam  yang ditunjuk tanpa konsultasi manusia, namun kenyataanya beliau dipilih bertentangan dengan keinginan mereka. Nabi Saw adalah pemegang otoritas tertinggi dalam Islam. Beliau menggabungkan personalianya dalam fungsi legislatif, eksekutif, dan yudikatif dalam pemerintahan; dan beliau tidak dipilih oleh manusia (rakyat).

Dengan demikian, Islam  bukan pemerintahan rakyat, bukan “oleh rakyat”. Tidak ada legislasi oleh rakyat; eksekutif dan  yudikatif tidak bertanggung jawab kepada rakyat, juga bukan sebuah pemerintahan untuk rakyat”.

Sistem Islam , sejak awal hingga akhir, adalah untuk Allah. Segala sesuatunya harus dilakukan semata-mata untuk Allah; jika dilakukan untuk rakyat, maka ini disebut sebagai “syirik tersembunyi”.  Apa saja yang anda lakukan – apakah salat atau sadaqah, amal sosial atau keluarga, ketaatan kepada orang tua atau cinta kepada tetangga, memimpin salat berjamaah atau memutuskan sebuah perkara, memasuki medan perang atau menyepakati perdamaian – harus dilakukan “qurbatan ilallah” (sebagai pendekatan kepada Allah), untuk meraih keridaan Allah. Dalam Islam, segalanya untuk Allah.

Singkatnya, bentuk pemerintahan Islam adalah pemerintahan Allah melalui perwakilan-Nya, untuk meraih keridaan Allah.

Pemerintahan ini adalah pemerintahan teokrasi, dan merupakan tabiat dan karakter kepemimpinan Islam, dan bagaimana pengaruh makna ayat di atas berkenaan dengan ketaatan, akan kita lihat pada bagian terakhir dari buku ini.


[1]. Lihat, Al-’Allamah al-Hilli:al-Babu ‘l-hadi ‘Asyar, Edisi Bahasa Inggris. penj. W. M. Miller, hal. 62; Mughniyyah:Falsafat Islamiyyah,  hal. 392.

[2] . Lihat, al-Khâtib at-Tabrizi: Mishkatu ‘l-Masabih,  Terjemahan Bahasa Inggris oleh James Robson, vol.l, hal. 45; al-Majlisi telah mengumpulkan dalam sebuah bagian yang lengkap, hadits-hadits yang bertalian dengan masalah ini dalam Biharu ‘l-Anwar, vol. 28, hh.2-36; al-Qummi, Syaikh Abbas: Safinatu ‘l-Bihar, vol. 2, hal-hal. 359-360.

[3] . Lihat, Najmu ‘l-Hasan:an-Nubuwwah wa ‘l-khilâfah, penj. Liqa’ ‘Ali Haidari, hal. 2-3

[4] . Lihat, Ibn Hisyâm:as-Sirah an-Nabawiyyah, vol.l, hal. 313-314.

[5] . Lihat, al-Bukhâri:as-Sahih, vol. 5, hal. 191; Ibn Katsir :al-Bidayah wa ‘n-Nihaya, vol. V, hal. 40.

[6] . Lihat, Abu’l-Fidâ:’  al-Mukhtasar , vol.1, hal-hal. 143-144; al-Ya’qubi : at-Târikh ,vol. 2, hal. 59.

[7] . Ibn ‘Abdi ‘l-Barr: al-lsti’âb,  vol. 4, hal. l679; Ibn Abi ‘l-Hadid mengutip akhir kalimat akhir sebagai berikut: “Dengan namanya Abu Sufyan bersumpah, tidak ada azab dan perhitungan (hisab), juga tidak ada Surga dan Neraka, juga tidak ada hari kebangkitan dan hari hisab. (Lihat, Syarh Nahju ‘l-Balâghah,vol. 9, hal. 53).

[8] . Lihat, Ibn Abi ‘l-Hadid: op. cit., vol. 16, hal. 136.

[9] . Lihat, Sibt ibn al-Jauzi: Tadzkirah, peny. S.M.S. Bahru ‘l ‘Ulum, hal. 261; at-Tabari, at-Târikh, vol.13, hal. 2174.

[10] .Untuk penjelasan “Seorang besar” lihat, as-Suyuti:Lubabu u’n-nuqul fi asbabi’n-Nuzul dicetak bersama Tafsiru ‘l-Jalalayn, hal. 289, 649.

Para pembaca…

Keharusan Imamah

Menurut pandangan Syiah, imamah adalah sebuah pranata yang mesti ada, sesuai dengan hukum akal. Dengan rahmat Allah Swt yang menjadikan hamba-hamba-Nya taat dan menjaganya dari maksiat, tanpa paksaan. Dalam ilmu kalam Syiah, sifat rahmat adalah wajib bagi Allah Swt. Ketika Allah menghendaki seseorang melakukan sesuatu, Dia mengetahui bahwa manusia tidak dapat melakukannya atau ia akan menemui kesulitan untuk melakukannya tanpa memperoleh bantuan dari-Nya. Kemudian, jika Allah tidak membantunya, maka perbuatan itu bertentangan dengan tujuan Allah sendiri.  Jelasnya, kelalaian ini adalah batil menurut ukuran akal. Oleh karena itu, sifat rahmat adalah wajib bagi Allah Swt.

Imâmah adalah rahmat dari Allah Swt.  Karena sebagaimana yang kita ketahui ketika manusia memiliki seorang pemimpin (rais) dan pembimbing yang mereka taati, yang membela kaum tertindasdari penindasan dan menahan kaum penindas, maka ia akan menarik mereka lebih dekat kepada kebaikan dan menjauh dari kerusakan dan penyimpangan, dan karena lutf, wajib bagi Allah Swt untuk mengangkat seorang imam untuk membimbing dan memimpin umat setelah wafatnya Nabi Saw.[1]

Superioritas

Kaum Syiah meyakini bahwa; sebagaimana Nabi Saw, seorang imam harus lebih unggul dari umat dalam segala keutamaan, seperti ilmu pengetahuan, keprawiraan, ketakwaan dan amal saleh, dan dia harus memiliki ilmu yang sempurna tentang hukum-hukum Allah. Jika tidak; dan kedudukan ini diamanahkan kepada orang yang setingkat di bawah orang yang memiliki kesempurnaan, yaitu inferior lebih diutamakan ketimbang superior, maka perbuatan  iniadalah perbuatan keliru menurut hukum akal dan bertentangan dengan Keadilan Ilahi. Oleh karena itu, tidak ada orang inferior yang akan menerima imamah dari Allah Swt bilamana hadir seorang yang lebih superior daripada dia.[2]

 

Ma’sum

Kualifikasi yang kedua adalah ismah (keterjagaan dari dosa dan salah). Jika imam tidak ma’sum maka ia akan dapat dengan mudah terjebak dalam kesalahan dan juga berpotensi untuk mengelabui orang.[3]

Pertama-tama,dalam kasus seperti ini (bila seorang imam  berbuat salah), kita tidak dapat mempercayai terhadap apa yang dikatakan dan didiktekan kepada kita.

Kedua, seorang imam adalah penguasa dan pemimpin umat, dan umat harus mengikutinya tanpa reserve (tedeng aling-aling) dalam segala hal. Sekarang, jika ia berbuat dosa, orang-orang pasti akan mengikutinya untuk berbuat dosa. Tak tertahankannyakedudukan ini bersifat jelas (badihi); karena ketaatan dalam perbuatan dosa adalah batil, haram dan terlarang. Lagi pula, akan berarti bahwa ia harus mentaati dan mengingkarinya pada saat yang bersamaan; yaitu, ketaatan kepadanya akan menjadi wajib dilarang, yang secara nyata bila diikuti akan tampak konyol (absurd).

Ketiga, jika memungkinkan bagi seorang imam untuk berbuat dosa, akan menjadi kewajiban bagi orang lain untuk mencegahnya (karena wajib bagi setiap muslim untuk melakukan amar ma’ruf). Dalam keadaan demikian, imam akan terhina; wibawanya akan berakhir, jangankan akan menjadi pemimpin umat, ia akan menjadi pengikut imam (ma’mum), dan imamahnya tidak akan berguna.

Keempat, imam adalah pembela hukum Allah dan perkara ini tidak akan diamanahkan kepada tangan-tangan yang penuh dosa juga tidak kepada  orang-orang yang akrab dengan salah. Atas alasan ini, kema’suman menjadi syarat mutlak kenabian; dan pertimbangan-pertimbangan yang membuatnya niscaya dan esensial dalam kasus seorang nabi, juga berlaku pada seorang imam dan khalifah.

Pembahasan ini akan dikaji lebih jeluk pada bagian akhir dari buku ini  (Ulul Amr Harus Ma’sum)

Pengangkatan oleh Allah

Seperti dalam kasus  para nabi, kualifikasi-kualifikasi yang disebutkan tersebut tidak memadai sehingga dapat secara otomatis membuat seseorang menjadi imam. Imamah bukanlah sebuah pekerjaan yang diminta; tapi sebuah penunjukan yang dianugerahkan oleh Allah.[4]

Dengan alasan ini, Syiah Itsna Asyariyah meyakini bahwa Dialah (Allah) yang berhak untuk memilih pengganti Nabi; dan umat tidak memiliki pilihan, intervensi dalam hal ini, dan kewajibannya hanya mengikuti titah Ilahi yang telah menunjuk seorang imam atau khalifah baginya.

Ayat-ayat Qur’an

Ayat-ayat berikut ini menegaskan pandangan-pandangan Syiah.

“Dan Tuhanmu yang menciptakan apa yang dia kehendaki dan memilih-Nya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka.” (Qs.al Qasas:68)

Ayat ini secara jelas menunjukkan bahwa manusia tidak memiliki hak dalam memilih; pemilihan ini sepenuhnya berada di tangan Allah Swt.

Sebelum menciptakan Adam, Allah memberi kabar kepada para malaikat; “…Sesungguhnya Aku ingin menjadikan seorang khalifah di muka bumi…” (Qs.al-Baqarah:30)

Kemudisn para malaikat menyatakan protes mereka dengan santun, protes mereka ini ditepis dengan firman-Nya, “…Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang kalian tidak ketahui…” (Qs. al-Baqarah:30)

Jika para malaikat ma’sum ini tidak diberikan sedikit pun peluang untuk berkata dalam penunjukan seorang khalifah, bagaimana mungkin manusia yang dapat berbuat dosa (fallibel) berharap untuk mengemban seluruh otoritas atas penunjukan ini?

Allah sendiri mengangkat Nabi Daud sebagai khalifah di muka bumi;

“Wahai Daud, Sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah dk muka bumi…” (Qs. Saad:26)

Dalam setiap masalah Allah menisbatkan pengangkatan khalifah atau imam secara eksklusif kepada diri-Nya. “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu Imam bagi seluruh umat manusia. Ibrahim berkata: “Dan dari keturunanku.” Allah berfirman: “Janji-Ku ini tidak mengenai orang yang zalim.” (Qs. al-Baqarah:124)

Ayat ini membawa kita kepada jawaban yang benar dari banyaknya pertanyaan mengenai imamah.

Pertama, Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku ingin menjadikan engkau sebagai seorang Imam bagi manusia.” Ayat ini menunjukkan bahwa status imamah adalah pegangkatan-Ilahi; di luar urusan umat.

Kedua, “Perjanjianku ini tidak termasuk orang-orang yang zalim.” Hal ini dengan jelas menunjukkan bahwa seorang non-ma’sum tidak dapat menjadi seorang imam. Secara logis, kita dapat membagi manusia ke dalam empat kelompok:

  1. Kelompok yang tetap berlaku tidak adil selama masa hidupnya.
  2. Kelompok yang tidak pernah berlaku zalim.
  3. Kelompok yang awalnya zalim namun kemudian menjadi adil.
  4. Kelompok yang awalnya adil namun kemudian menjadi zalim.

Ibrahim As, terlalu tinggi kedudukannya untuk memohonimamah yang termasuk kelompok yang pertama atau yang keempat. Dan kini tersisa, dua kelompok (kedua dan ketiga) yang dapat dimasukkan dalam doa Ibrahim tersebut. Namun, Allah Swt menolak salah satu dari keduanya yaitu, kelompok yang awalnya tidak adil kemudian menjadi adil. Kini tersisa, hanya satu kelompok yang memenuhi kualifikasi untuk memegang posisi imamah – mereka yang sama sekali tidak pernah berbuat zalim selama hidupnya, yaitu ma’sum.

Ketiga, Terjemahan literal dari akhir ayat tersebut adalah:

Perjanjianku tidak akan mencapai orang-orang zalim. Perhatikan, Allah tidak berkata, “Orang zalim tidak akan mencapai perjanjianku”, karena yang demikian ini bermakna bahwa ia berada di dalam kekuasaan manusia – meskipun ia seorang yang adil – untuk mencapai kedudukan imamah. Kalimat present (mudâre) tidak menyisakan kesalahpahaman, secara jelas menunjukkan bahwa menerima amanat imamah tidak berada dalam pengurusan manusia; urusan ini sepenuhnya berada di tangan Allah secara eksklusif dan Dia memberi kepada siapa yang Dia kehendaki.

Lalu sebagai aturan umum, disebutkan, “Kami telah menjadikan mereka itu sebagai imam yang memberi petunjuk dengan perintah Kami.” (Qs.al-Anbiya:73)

Ketika Nabi Musa As menghendaki perdana menterinya untuk membantunya, ia tidak menunjuk seseorang dengan menggunakan otoritasnya sebagai nabi. Ia berdoa kepada Allah Swt: “Dan anugerahkan kepadaku seorang pembantu dari keluargaku, Hârun saudaraku.“(Qs.Taha:29-30)  Dan Allah berfirman, “Sesungguhnya telah diperkenankan permintaanmu , wahai Musa.” (Qs.Taha:36)

Seleksi Ilahia ini diberitakan kepada umat melalui nabi atau imam sebelumnya. Deklarasi ini disebuti nass = spesifikasi; determinasi, pengangkatan pengganti imam oleh nabi atau imam sebelumnya. Seorang Imam sesuai dengan keyakinan Syiah, harus mansus dari Allah, yaitu diangkat oleh Allah untuk kedudukan tersebut.

Mukjizat

Jika seseorang tidak mendengar nass tentang sebuah penuntut imamah, maka satu-satunya jalan untuk memastikan kebenaran klaimnya itu adalah melalui mukjizat.[5]

Secara umum, setiap orang bisa saja mengklaim bahwa ia adalah seorang imam atau khalifah nabi dan ma’sum, namun sebuah mukjizat adalah satu-satunya alat penguji kebenaran dalam hal ini. Jika pengklaim dapat membuktikannya dengan sebuah mukjizat untuk menopang klaimnya, maka tanpa ragu, klaimnya akan mudah diterima oleh umat.  Namun jika ia tidak dapat membuktikannya dengan sebuah mukjizat, maka jelas bahwa ia tidak memenuhi kualifikasi  atas imamah dan khalifah, dan klaimnya ini adalah sebuah klaim palsu.

Dapat Menjadi  Teladan

Praktik yang berlaku secara umum dalam memilih penggantinya (atas perintah Allah) berlaku tanpa intervensi ummat.

Sejarah nabi-nabi tidak menyodorkan satu contoh sebagai pengganti nabi dipilih melalui voting dari pengikutnya. Tidak ada alasan mengapa pengganti Nabi Saw yaitu hukum Allah yang mapan ini harus berubah, Allah berfirman, “…dan kamu sekali-kali tiada akan mendapatkan perubahan pada sunnah Allah.” (Qs. al-Ahzab:62)

Alasan-alasan Logis

Alasan yang sama yang membuktikan pengangkatan seorang nabi adalah hak prerogatif Allah, membuktikan dengan kekuasaan yang sama bahwa pengganti nabi juga harus diangkat oleh Allah. Seorang imam atau khalifah; sebagaimana nabi, ditunjuk untuk melaksanakan tugas dari Allah  Swt. Jika ia diangkat oleh manusia, loyalitasnya yang pertama tentu saja bukan untuk Allah, melainkan untuk orang-orang yang akan “bersandarkan kepada otoritasnya”. Ia akan selalu berupaya untuk mencari keridaan manusia, karena jika mereka menarik kepercayaan mereka dari dirinya, ia akan kehilangan jabatannya. Sehingga ia tidak akan melaksanakan kewajiban agama tanpa ada rasa takut atau selera; pandangannya akan senantiasa dipengaruhi oleh pertimbangan-pertimbangan politik. Kemudian, tugas dari Allah tentu saja akan terabaikan.

Di samping itu, sejarah Islam menyajikan bukti-bukti melimpah yang menyoroti ajaran-ajaran agama yang ditunjukkan oleh khalifah yang diangkat oleh manusia. Jadi argumen ini tidak hanya bersifat ilmiah, tapi juga sarat dengan bukti-bukti sejarah.

Juga, hanya Allah yang mengetahui keadaan batin (inner feelings) dan pikiran seseorang; tidak ada yang dapat mengetahui tabiat asli seseorang. Boleh jadi seseorang bersikap seolah-olah sebagai orang yang bertakwa dan beriman hanya untuk memberikan kesan kepada kerabat dan koleganya dan bertujuan untuk meraih nikmat duniawi. Contoh-contoh sikap seperti ini banyak ditemukan dalam catatan sejarah. Sebagai misal, kisah Abdul Malik bin Marwan yang meluangkan hampir seluruh waktunya di masjid untuk berdoa dan membaca Al-Qur’an. Ia sedang membaca Al Qur’an ketika kabar tentang kematian ayahnya sampai kepadanya dan orang-orang menantikan untuk berbaiat kepadanya sebagai khalifah baru. Ia kemudian menutup al-Qur’an dan berkata, “Kini saatnya berpisah denganmu!”[6]

Dengan demikian, kualifikasi yang diperlukan untuk menjabat kedudukan sebagai khalifah dan imam hanya dapat diketahui secara hakiki  oleh Allah, dan hanya Allahlah yang memiliki hak prerogatif untuk mengangkat seorang imam atau khalifah.

Kema’suman para Imam

Kini, mari kita amati apa yang dikatakan oleh al-Qur’an tentang Ahl  al-Bait Nabi Saw.

Sesuai dengan al-Qur’an, ‘Ali, Fâtimah, Hasan, Husain adalah orang-orang yang terjaga dari dosa dan ma’sum pada saat Nabi Saw wafat. Ayat Tathir berbunyi sebagai berikut, “…Sesungguhnya Allah bermaksud menghilangkan dosa darimu, wahai Ahl al-Bait dan mensucikanmu sesuci-sucinya.” (Qs. al-Ahzab:33)

Secara umum disepakati bahwa keempat nama yang tersebut di atas adalah Ahl al-Bait dan adalah orang-orang yang terjaga dari dosa dan terbebas dari segala nista.

Kalimat sebelumnya dan sesudah ayat ini dialamatkan kepada para istri Nabi dan kata ganti (dâmir) dalam ayat ini merupakan gender muannats. Tetapi kata ganti yang digunakan dalam ayat ini mengandung gender mudzakkar. Alasan mengapa ayat ini ditempatkan dalam bentuk mudâre’ tidak terlalu sulit untuk ditebak. Almahrum “Allamah Pooya” menulis dalam catatan kaki No. 1857 dengan terjemahan al-Qur’an oleh S.V.Mir Ahmed Ali.

Kandungan ayat ini; berkenaan dengan kesucian Ahl al-Bait yang telah disucikan oleh Allah Swt, memerlukan sebuah penjelasan yang layak untuk dikomentari dalam konteks yang benar. Kandungan ayat ini merupakan sebuah ayat yang terpisah dengan sendirinya. Pewahyuannya juga terpisah pada peristiwa khusus namun ditempatkan di sini karena ia berhubungan dengan para istri Nabi Saw. Letak ayat ini; jika kita kaji secara seksama, menegaskan bahwa ia memiliki tujuan dan alasan yang signifikan dibaliknya. Ketika mengalamatkan pada awal-awal ayat dalam bentuk gender muannats, ada transisi dalam alamat dari mu’annats kepada mudzakkar.  Ketika merujuk secara bersama-sama kepada Rasulullah Saw, pronomina ini juga secara konsisten bercorak muannats. Karena sebuah gabungan antara pria dan wanita, secara umum gender mudzakkar yang digunakan. Transisi seperti ini dalam penggunanaannya didalam  gramatika bahasa, memberikan penjelasan bahwa klausa ini sedikit berbeda dengan yang digunakan untuk kelompok yang lain dari yang pertama, dan telah secara serasi ditempatkan di sini untuk menunjukkan perbandingan kedudukan Ahl al-Bait di hadapan para istri Nabi Saw.

Amr bin Abi Salamah yang dibesarkan oleh Rasulullah Saw, meriwayatkan:

“Ketika ayat ini turun, Nabi Saw berada di kediaman Ummu Salamah. Pada saat pewahyuan surat ini: “Sesungguhnya Allah ingin menjauhkan dosa darimu wahai Ahl al-Bait! Dan mensucikanmu sesuci-sucinya”, Rasulullah Saw mengumpulkan putrinya Fatimah, putra Fatimah, Hasan dan Husain, dan suaminya, ‘Ali, dan menutupi mereka termasuk dirinya, dengan kisa(kain)-nya dan berkata kepada Allah Swt,  Wahai Tuhanku, mereka inilah keturunanku! Jagalah mereka dari setiap bentuk kekotoran, dan sucikan mereka sesuci-sucinya.

Ummu Salamah, istri budiman Rasulullah Saw, menyaksikan peristiwa ini dengan penuh takjub, dengan rendah-hati, ia meminta kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah! Dapatkah aku bergabung dengan mereka?” Kemudiam dijawab oleh Rasulullah, “Tidak. Tetaplah ditempatmu, sesungguhnya engkau adalah orang yang memiliki kemuliaan.”[7]

Di sini bukan tempatnya menyebutkan referensi-referensi mengenai ayat ini; namun, saya ingin menukil Maulana Wahiduz Zaman, seorang ulama Sunni terkemuka, yang terjemahan dan tafsir Qur’annya beserta bukunya Anwârullughah (sebuah kamus al-Qur’an dan Hadits) adalah di antara salah satu referensi yang diakui. Ia menulis tafsir tentang ayat ini: “Beberapa orang berpikir bahwa ayat ini khusus untuk anggota keluarga yang memiliki hubungan darah dengan Nabi Saw, Ali, Fatimah, Hasan dan Husain. Penerjemah ini berkata bahwa hadits sahih dan mempunyai sanad yang baik hingga Rasulullah mendukung pendapat ini, karena ketika Rasulullah Saw sendiri mengumumkan bahwa anggota keluarga ini hanya mereka ini (lima orang), maka menerima dan meyakininya menjadi wajib. Satu lagi tanda kebenaran dari pandangan ini adalah bahwa pronomina-pronomina yang digunakan sebelum dan setelah ayat ini adalah mua’annats, sementara dalam ayat ini adalah mudzakkar…’[8]

Kembali ia berkata dalam Anwârul Lughah: ” Pandangan yang benar adalah bahwa hanya lima orang yang termasuk dalam ayat tathir ini (Rasulullah, ‘Ali, Fâtimah, Hasan dan Husain), meskipun dalam penggunaan Bahasa Arab, istilah Ahl al-Bait juga digunakan untuk para istri. Beberapa orang yang membuktikan ayat ini bahwa kelima orang ini adalah ma’sum dan tanpa dosa. Tapi jika tidak ma’sum, maka tentu saja mereka mahfuz (terjaga dari perbuatan dosa dan salah).[9]

Saya telah menukil dua referensi di atas dan ingin menunjukkan bahwa tidak hanya Itsna ‘Asyariyah yang mengklaim pendapat di atas, namun ulama Sunni juga menegaskan klaim ini, sesuai dengan kaidah gramatika bahasa Arab dan hadits-hadits sahih Rasulullah, hanya ‘Ali, Fâtimah, Hasan dan Husain yang dimaksud ayat ini, disamping Rasulullah sendiri. Juga, jelas pandangan yang mengatakan bahwa kelima orang ini adalah tanpa dosa, disuarakan oleh ulama Sunni. Nampaknya akhirnya mereka berkata jika mereka tidak ma’sum (secara teori) mereka pasti terjaga dari salah dan dosa (secara praktik).

Ada banyak ayat dan hadits yang membenarkan ismah Ahl al-Bait, tapi karena masalah ruang dan waktu tidak memberikan banyak tempat untuk saya memaparkannya secara lebih detail, meskipun dalam bentuk yang singkat.


[1] . al-’Allamah al-Hilli: al-Babu ‘l-hadi ‘asha, Terjemahan Bahasa Inggris oleh W.M. Miller,hal. 50 dan hal-hal. 62-64.

[2] . Ibid. hal. 69.

[3] . Ibid. hal. 64-68.

[4] . Ibid. hal. 68.

[5] . Ibid., hal. 69.

[6] .   Lihat, as-Suyuti:Târi’khu ‘l-Khulafa,  hal.217.

[7] .Lihat, Holy Qur’an,  terjemahan Bahasa Inggris oleh, S. V. Mir Ahmed Ali, fn. 1857, hal. l261 .

[8] . Lihat. Wahidu ‘z-Zaman: Tafsir Wahidi, pada batas terjemahan al-Qur’an oleh penulis yang sama, parag. 22 catatan kaki. 7, hal. 549.

[9] .Lihat,Wahidu’z-Zaman: Anwârul-Lughah, pada.22,hal.51.

Hadis 12 khalifah menghancurkan mazhab sunni dan membongkar kebohongan sunni

BAGIAN I

Hadis 12 Pemimpin

 

روى‌ جابر بن‌ سَمُرة‌ فقال‌: سمعت‌ُ النبيّ صلّي‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌ يقول‌: يكون‌ اثنا عشر أميراً. فقال‌ كلمة‌ً لم ‌أسمعها، فقال‌ أبي‌: أنّه‌ قال‌: كلّهم‌ من‌ قريش‌.

Jabir bin Samurah meriwayatkan,  “Aku mendengar Nabi (saww) berkata” :”Kelak akan ada Dua Belas Pemimpin.” Ia lalu melanjutkan kalimatnya yang saya tidak mendengarnya secara jelas. Ayah saya mengatakan, bahwa Nabi menambahkan, ”Semuanya berasal dari suku Quraisy.”[Sahih Bukhari (inggris),  Hadits: 9.329, Kitabul Ahkam;  Sahih al-Bukhari (arab) , 4:165, Kitabul Ahkam]

BAGIAN II

Pendapat Para Ulama Sunni

  Ibn Arabi 

…فعددنا بعد رسول‌ الله صلّي‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌ اثني‌ عشر أميرًا، فوجدنا أبابكر، عمر، عثمان‌، عليًّا، الحسن‌، معاوية‌، يزيد، معاوية‌ بن‌ يزيد، مروان‌، عبد الملك‌ بن‌ مروان‌، الوليد، سليمان‌، عمر بن‌ عبد العزيز، يزيد بن‌ عبدالملك ، ‌مروان‌ بن محمد بن مروان، السفّاح‌،… وبعده‌ سبعة‌ وعشرون‌ خليفة‌ بن‌ بني‌ العبّاس‌. وإذا عددنا منهم‌ اثني‌ عشر انتهي‌ العدد بالصّورة‌ إلي‌ سليمان‌ بن‌ عبد الملك‌. وإذا عددناهم‌ بالمعني‌ كان‌ معنا منهم‌ خمسة‌، الخلفاء الاربعة‌، وعمر بن‌ عبد العزيز.

ولم‌ أعلم‌ للحديث‌ معني‌. ابن‌ العربي‌ّ، «شرح‌ سنن‌ التّرمذي‌ّ» 9: 68 ـ 69

Kami telah menghitung pemimpin (Amir-Amir) sesudah Nabi (sawa) ada dua belas. Kami temukan nama-nama mereka itu sebagai berikut: Abubakar, Umar, Usman, Ali, Hasan, Muawiyah, Yazid, Muawiyah bin Yazid, Marwan, Abdul Malik bin Marwan, Yazid bin Abdul Malik, Marwan bin Muhammad bin Marwan, As-Saffah… Sesudah ini ada lagi 27 khalifah Bani Abbas.

Jika kita perhitungkan 12 dari mereka, kita hanya sampai pada Sulaiman. Jika kita ambil apa yang tersurat saja, kita cuma mendapatkan 5 orang di antara mereka dan kepadanya kita tambahkan 4 ‘Khalifah Rasyidin’, dan Umar bin Abdul Aziz….

Saya tidak paham arti hadis ini. [Ibn Arabi, Syarh Sunan Tirmidzi, 9:68-69]

Qadi Iyad Al-Yahsubi  

قال‌: إنّه‌ قد ولي‌ أكثر من‌ هذا العدد. وقال‌: وهذا اعتراض‌ باطل‌ لانّه‌ صلّى‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌ لم‌ يقل‌: لايلي‌ الاّ اثنا عشرخليفة‌؛ وإنّما قال‌: يلي‌. وقد ولي‌ هذا العدد، ولايضرّ كونه‌ وُجد بعدهم‌ غيرهم‌. النووي‌ّ: «شرح‌ صحيح‌ مسلم‌» 12: 201 ـ 202. ابن‌ حجر العسقلاني‌ّ: «فتح‌ الباري‌» 16: 339

Jumlah khalifah yang ada lebih dari itu. Adalah keliru untuk membatasinya hanya sampai angka dua belas. Nabi (saw) tidak mengatakan bahwa jumlahnya hanya dua belas dan bahwa tidak ada tambahan lagi. Maka mungkin saja jumlahnya lebih banyak lagi. [Al-Nawawi, Syarh Shahih Muslim, 12:201-202;  Ibn Hajar al-'Asqalani, Fath al-Bari, 16:339]

Jalaludin as-Suyuti

إن‌ّ المراد وجود اثني‌ عشر خليفة‌ في‌ جميع‌ مدّة‌ الاسلام‌ إلي‌ يوم‌ القيامه‌ يعملون‌ بالحق‌ّ وإن‌ لم‌ تتوال‌ أيّامهم‌…وعلى‌ هذا فقد وُجد من‌ الاثني‌ عشر خليفة‌ الخلفاء الاربعة‌، والحسن‌، ومعاوية‌، وابن‌ الزّبير، وعمر بن‌ عبد العزيز، هؤلاء ثمانية‌. ويحتمل‌ أن‌ يُضم‌ّ إليهم‌ المهتدي‌ من‌ العبّاسيّين‌، لانّه‌ فيهم‌ كعمر بن‌ عبد العزيز في‌ بني‌ أُميّة‌. وكذلك الطاهر لما اوتي‌ من‌ العدل‌، وبقي‌ الاثنان‌ المنتظران‌ أحدهما المهدي‌ لانّه‌ من‌ آل‌ بيت‌ محمّد صلّي‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌. السّيوطي‌: «تاريخ‌ الخلفاء»: 12. ابن‌ حجر الهيثمي‌ّ: الصّواعق‌ المحرقة‌: 19

Hanya ada dua belas Khalifah sampai hari kiamat. Dan mereka akan terus melangkah dalam kebenaran, meski mungkin kedatangan mereka tidak secara berurutan. Kita lihat bahwa dari yang dua belas itu, 4 adalah Khalifah Rasyidin, lalu Hasan, lalu Muawiyah, lalu Ibnu Zubair, dan akhirnya Umar bin Abdul Aziz. Semua ada 8. Masih sisa 4 lagi. Mungkin Mahdi, Bani Abbasiyah bisa dimasukkan ke dalamnya sebab dia seorang Bani Abbasiyah seperti Umar bin Abdul Aziz yang (berasal dari) Bani Umayyah. Dan Tahir Abbasi juga bisa dimasukkan sebab dia pemimpin yang adil. Jadi, masih dua lagi. Salah satu di antaranya adalah Mahdi, sebab ia berasal dari Ahlul Bait Nabi (as).” [Al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa, Halaman 12; Ibn Hajar al-Haytami, Al-Sawa'iq al-Muhriqa Halaman 19]

Ibn Hajar al-’Asqalani 

لم‌ ألق‌ أحدًا يقطع‌ في‌ هذا الحديث‌، يعني‌ بشي‌ء معيّن‌؛ فان‌ّ في‌ وجودهم‌ في‌ عصر واحد يوجد عين‌ الافتراق‌، فلايصح‌ّ أن‌ يكون‌ المراد. ابن‌ حجر العسقلاني‌ّ، «فتح‌ الباري‌» 16: 338 ـ 341

Tidak seorang pun mengerti tentang hadis dari Sahih Bukhari ini.

Adalah tidak benar untuk mengatakan bahwa Imam-imam itu akan hadir sekaligus pada satu saat bersamaan. [Ibn Hajar al-'Asqalani, Fath al-Bari 16:338-341]

 Ibn al-Jawzi 

وأوّل‌ بني‌ أُميّة‌ يزيد بن‌ معاوية‌، وآخرهم‌ مروان‌ الحمار. وعدّتهم‌ ثلاثة‌ عشر. ولايعدّ عثمان‌، و معاوية‌، ولا ابن‌ الزّبير لكونهم‌ صحابة‌. فإذا أسقطناهم‌ منهم‌ مروان‌ بن‌ الحكم‌ للاختلاف‌ في‌ صحبته‌، أو لانّه‌ كان‌ متغلّبًا بعد أن‌ اجتمع‌ النّاس‌على‌ عبد الله بن‌ الزّبير صحّت‌ العدّة‌…وعند خروج‌ الخلافة‌ من‌ بني‌ أُميّة‌ وقعت‌ الفتن‌ العظيمة‌ والملاحم‌ الكثيرة‌ حتّى ‌استقرّت‌ دولة‌ بني‌ العبّاس‌، فتغيّرت‌ الاحوال‌ عمّا كانت‌ عليه‌ تغيّرًا بيّنًا. ابن‌ الجوزي‌ّ ، «كشف‌ المشكل‌» ، نقلاً عن‌ ابن‌ حجر العسقلاني‌ّ في‌ «فتح‌ الباري‌» 16: 340، عن‌ سبط‌ ابن‌ الجوزي‌ّ.

Khalifah pertama Bani Umayyah adalah Yazid bin Muawiyah dan yang terakhir adalah Marwan Al-Himar. Total jumlahnya tiga belas. Usman, Muawiyah dan Ibnu Zubair tidak termasuk karena mereka tergolong Sahabat Nabi (s).  Jika kita kecualikan (keluarkan) Marwan bin Hakam karena adanya kontroversi tentang statusnya sebagai Sahabat atau karena ia berkuasa padahal Abdullah bin Zubair memperoleh dukungan masyarakat, maka kita mendapatkan angka Dua Belas.… Ketika kekhalifahan muncul dari Bani Umayyah, terjadilah kekacauan yang besar sampai kukuhnya (kekuasaan) Bani Abbasiyah. Bagaimana pun, kondisi awal telah berubah total. [Ibn al-Jawzi, Kashf al-Mushkil, sebagaimana dikutip dalam Ibn Hajar al-'Asqalani, Fath al-Bari 16:340 dari Sibt Ibn al-Jawzi]

Al-Nawawi

ويُحتمل‌ أن‌ المراد [بالائمّة‌ الاثني‌ عشر] مَن‌ْ يُعَزُّ الإسلام‌ في‌ زمنه‌ ويجتمع‌ المسلمون‌ عليه‌.

النووي‌ّ، «شرح‌ صحيح‌ مسلم‌» 12: 202 ـ 203

Ia bisa saja berarti bahwa kedua belas Imam berada dalam masa (periode) kejayaan Islam. Yakni ketika Islam (akan) menjadi dominan sebagai agama. Para Khalifah ini, dalam masa kekuasaan mereka, akan menyebabkan agama menjadi mulia.[Al-Nawawi, Sharh Sahih Muslim ,12:202-203]

 Al-Bayhaqi   

وقد وُجد هذا العدد (اثنا عشر) بالصفة‌ المذكورة‌ إلي‌ وقت‌ الوليد بن‌ يزيد بن‌ عبد الملك. ثم‌ّ وقع‌ الهرج‌ والفتنة ‌العظيمة‌…ثم‌ّ ظهر ملك العبّاسيّة‌…وإنّما يزيدون‌ على‌ العدد المذكور في‌ الخبر إذا تركت‌ الصفة‌ المذكورة‌ فيه‌، أو عُدَّ منهم ‌من‌ كان‌ بعد الهرج‌ المذكور فيه‌.

ابن‌ كثير: «البداية‌ والنّهاية‌» 6: 249؛ السّيوطي‌ّ، «تاريخ‌ الخلفاء»:11

Angka (dua belas) ini dihitung hingga periode Walid bin Abdul Malik. Sesudah ini, muncul kerusakan dan kekacauan. Lalu datang masa dinasti Abbasiyah. Laporan ini telah meningkatkan jumlah Imam-imam. Jika kita abaikan karakteristik mereka yang datang sesudah masa kacau-balau itu, maka angka tadi menjadi jauh lebih banyak.” [Ibn Katsir, Ta'rikh, 6:249; Al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa Halaman 11]

 Ibn Katsir

فهذا الّذي‌ سلكه‌ البيهقي‌ّ، وقد وافقه‌ عليه‌ جماعة‌ من‌ أن‌ّ المراد بالخلفاء الاثني‌ عشر المذكورين‌ في‌ هذا الحديث‌ هم ‌المتتابعون‌ إلي‌ زمن‌ الوليد بن‌ يزيد بن عبد الملك‌ الفاسق‌ الّذي‌ قدّمنا الحديث‌ فيه‌ بالذّم‌ّ والوعيد، فانّه‌ مسلك‌ فيه‌ نظر…فان‌ اعتبرنا ولاية‌ ابن‌ الزبير قبل‌ عبد الملك‌ صاروا ستّة‌ عشر، وعلى كلّ تقدير فهم‌ اثنا عشر قبل‌ عمر بن‌ عبد العزيز. فهذا الّذي‌ سلكه‌ على‌ هذا التّقدير يدخل‌ في‌ الاثني‌ عشر يزيد بن‌ معاوية‌، و يخرج‌ منهم‌ عمر بن‌ عبد العزيز الّذي‌ أطبق‌ الائمّة‌ على شكره‌ وعلى مدحه‌، وعدوّه‌ من‌ الخلفاء الرّاشدين‌، وأجمع‌ الناس‌ قاطبة‌ على‌ عدله‌. ابن‌ كثير، «البداية‌ والنّهاية‌» 6: 249 ـ 250

Barang siapa mengikuti Bayhaqi dan setuju dengan pernyataannya bahwa kata ‘Jama’ah’ berarti Khalifah-khalifah yang datang secara tidak berurutan hingga masa Walid bin Yazid bin Abdul Malik yang jahat dan sesat itu, maka berarti ia (orang itu) setuju dengan hadis yang kami kritik dan mengecualikan tokoh-tokoh tadi.

Dan jika kita menerima Kekhalifahan Ibnu Zubair sebelum Abdul Malik, jumlahnya menjadi enam belas. Padahal jumlah seluruhnya seharusnya dua belas sebelum Umar bin Abdul Aziz. Dalam perhitungan ini, Yazid bin Muawiyah termasuk di dalamnya sementara Umar bin Abdul Aziz tidak dimasukkan.  Meski demikian, sudah menjadi pendapat umum bahwa para ulama menerima Umar bin Abdul Aziz sebagai seorang Khalifah yang jujur dan adil. [Ibn Katsir, Ta'rikh, 6:249-250]

MEREKA BINGUNG ?

Kita perlu pendapat seorang ulama Sunni lain yang dapat mengklarifikasi siapa Dua Belas Penerus, Khalifah, para Amir atau Imam-imam sebenarnya.

Al-Dzahabi mengatakan dalam Tadzkirat al-Huffaz , jilid 4, halaman 298, dan Ibn Hajar al-’Asqalani menyatakan dalam al-Durar al Kaminah, jilid 1, hal. 67, bahwa Shadrudin Ibrahim bin Muhammad bin al-Hamawayh al-Juwaini al-Syafi’i  adalah seorang ahli Hadis yang mumpuni.

BAGIAN III

Al-Juwayni Asy-Syafi’i : 

عن‌ عبد الله بن‌عبّاس‌ رضي‌ الله عنه‌، عن‌ النّبي‌ّ  صلّي‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌ أنّه‌ قال‌: أنا سيّد المُرسَلين‌، وعلي‌ّ بن‌ أبي‌ طالب‌ سيّدالوصيّين‌، وأن‌ّ أوصيائي‌ بعدي‌ اثنا عشر، أوّلهم‌ علي‌ّ بن‌ أبي‌ طالب‌، وآخرهم‌ القائم‌.

 dari Abdullah bin Abbas (ra) bahwa Nabi (sawa) mengatakan,”Saya adalah penghulu para Nabi dan Ali bin Abi Thalib adalah pemimpin para penerus, dan sesudah saya akan ada dua belas penerus. Yang pertama  adalah Ali bin Abi Thalib dan yang terakhir adalah al-Qaim.

عن‌ ابن‌ عبّاس‌ رضي‌ الله عنه‌، عن‌ النبي‌ّ صلّي‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌ أنّه‌ قال‌: أن‌ّ خلفائي‌ وأوصيائي‌وححج‌ الله على‌ الخلق‌ بعدي‌ لاثنا عشر، أوّلهم‌ أخي‌، وآخرهم‌ وَلَدي‌. قيل‌: يا رسول‌ الله، ومن‌ أخوك‌؟ قال‌: علي‌ّ بن‌ أبي‌طالب‌. قيل‌: فمن‌ وَلَدُك‌َ؟ قال‌: المهدي‌ّ الّذي‌ يملاها قسطًا وعدلاً كما مُلئت‌ جورًا وظلمًا. والّذي‌ بعثني‌ بالحق‌ّ بشيرًا لو لم‌ يبق‌ من‌ الدّنيا الاّ يوم‌ واحد لطَوَّل‌ الله ذلك‌ اليوم‌ حتّي‌ يخرج‌ فيه‌ ولدي‌ المهدي‌، فينزل‌روح‌ الله عيسى بن‌ مريم‌ فيُصلّي‌ خلفَه‌ُ، وتُشرق‌ الارض‌ بنور ربّها، ويبلغ‌ سلطانه‌ المشرق‌ والمغرب‌.

Dari Ibnu Abbas (r) bahwa Rasulullah (sawa) berkata: ”Sudah pasti bahwa washi-washiku dan Bukti (hujjah) Allah bagi makhluk sesudahku ada dua belas. Yang pertama di antara mereka adalah saudaraku dan yang terakhir adalah anak (cucu) ku.”  Orang bertanya: “Wahai Rasulullah, siapakah saudaramu itu?”. Beliau menjawab: “Ali bin Abi Thalib.” Lalu beliau ditanyai lagi: “ Dan siapakan anak (cucu) mu itu?” Nabi yang suci (sawa) menjawab: ”Al-Mahdi. Dia akan mengisi bumi dengan keadilan dan persamaan ketika ia (bumi) dipenuhi ketidakadilan dan tirani. Dan demi Yang Mengangatku sebagai pemberi peringatan dan memberiku  kabar gembira, meski seandainya masa berputarnya dunia ini tinggal sehari saja, Allah SWT akan memperpanjang hari itu sampai diutusnya (anakku) Mahdi, kemudian ia akan disusul Ruhullah Isa bin Maryam (as) yang turun ke bumi dan berdoa di belakangnya (Mahdi). Dunia akan diterangi oleh sinarnya, dan kekuatannya akan mencapai hingga ke timur dan ke barat.”

رسول‌ الله صلّي‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌ أنّه‌ قال‌: أنا، وعلي‌ّ، والحسن‌، والحسين‌، وتسعة‌ من‌ ولد الحسين‌ مطهّرون‌ معصومون‌. الجويني‌ّ، «فرائد السمطين‌» مؤسّسة‌ المحمودي‌ّ للطّباعة‌ والنشر، بيروت‌، 1978، ص‌

 Rasulullah (sawa) mengatakan: ”Aku dan Ali dan Hasan dan Husain dan sembilan anak cucu Husain adalah yang disucikan (dari dosa) dan dalam kebenaran.”  [Al-Juwaini, Fara'id al-Simthain, Mu'assassat al-Mahmudi li-Taba'ah, Beirut 1978, h. 160.]

Di antara semua mazhab Islam, hanya Syiah Imamiyah Itsna ‘Asyariyah yang percaya pada individu-individu sebagai Dua Belas orang dari Ahlul Bait Raulullah saww yang berhak sebagai Penerus Rasulullah saww.

Kaum Muslimin, di dalam kitab shahih mereka, telah sepakat (ijma’) bahwa Rasulullah saw. telah menyebutkan bahwa jumlah khalifah sesudahnya sebanyak 12 orang, sebagaimana disebutkan di dalam Shahih Bukhari dan Muslim, Bukhari di dalam shahihnya, pada awal Kitab Al-Ahkam, bab Al-Umara min Quraisy (Para Pemimpin dari Quraisy), juz IV, halaman 144; dan di akhir Kitab Al-Ahkam, halaman 153, sedangkan dalam Shahih Muslim disebutkan di awal Kitab Ad-Imarah, juz II, halaman 79. Hal itu juga disepakati oleh Ashhab Al-Shahhah dan Ashhab Al-Sunan, bahwasanya diriwayatkan dari Rasulullah saw:

Agama masih tetap akan tegak sampai datangnya hari kiamat dan mereka dipimpin oleh 12 orang khalifah, semuanya dari Quraisy.
Diriwayatkan dasi jabir bin Samrah, dia berkata: “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: ‘Setelahku akan datang 12 Amir.’ Lalu Rasulullah mengatakan sesuatu yang tidak pernah aku dengar. Beliau bersabda: ‘Ayahku semuanya dari Quraisy’. “

Ringkasnya, seluruh umat Islam sepakat bahwa Rasulullah saw. membatasi jumlah para Imam setelah beliau sebanyak 12 Imam; jumlah mereka sama dengan jumlah Nuqaba bani lsrail; jumlah mereka juga sama dengan jumlah Hawari Isa a.s

.
Dalam Al-Quran ada jumlah yang mendukung jumlah 12 di atas. Kata Imam dan berbagai bentuk turunannya disebutkan sebanyak 12 kali, sama dengan jumlah Imam kaum Muslimin yang dibatasi Rasulullah saw. Kata tersebut terdapat pada ayat-ayat berikut:

1.
Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu sebagai Imam bagi seluruh manusia.”Ibrahim berkata: “Dan saya memohon juga dari keturunanku.” Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak bagi mereka yang zalim.” (Al-Baqarah: 124)
2.
….. Dan diikuti pula oleh seorang saksi (Muhammad) dari Allah dan sebelum AI-Quran itu telah ada Kitab Musa yang menjadi pedoman (imama ) dan rahmat ….. (Hud: 17)
3.
….. Dan jadikanlah kami Imam bagi orang-orang yang bertakwa. (Al-Furqan: 74)
4.
Dan sebelum Al-Quran itu telah ada Kitab Musa sebagai pedoman (imam) dan rahmat …..Al-Ahqaf: 12)
5.
….. Maka Kami binasakan mereka. Dan sesungguhnya kedua
kota itu benar-benar terletak di jalan umum (bi imam) yang terang. (Al-Hijr: 79)
6.
….. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk (Imam) yang nyata. (Yasin: 12)
7.
(Ingatlah) suatu hari yang (di hari itu) Kami panggil setiap umat dengan pemimpinnya (imamihim). (AI-Isra: 17)
8.
….. Maka perangilah pemimpin-pemimpin (aimmah) kaum kafir, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang tidak dapat dipegang janjinya, agar mereka berhenti. (At-Taubah: 12).
9.
Kami telah menjadikan mereka sebagai pemimpin-pemimpin (aimmah) yang memberi petunjuk dengan perintah Kami …… (AI-Anbia: 73)
10.
…… Dan Kami hendak menjadikan mereka sebagai pemimpin­pemimpin (aimmah) dan menjadikan mereka sebagai para pewaris (bumi). (Al-Qashash: 5)
11.
Dan Kami jadikan mereka pemimpln-pemimpin (aimmah) yang menyeru (manusia) ke neraka, dan pada hari kiamat mereka tidak akan ditolong. (Al-Qashash: 41).
12.
Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin (aimmah) yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ….. (Al-Sajdah: 24)

Ulama Sunni Syaikh Sulayman Al-Qunduzi Al-Balkhi Al-Hanafi dan Nama 12 Imam Yang Disebutkan Oleh Rasulullah (saww)

BAGIAN I

Selama ini banyak kalangan yang tidak mengetahui siapa sebenarnya Syaikh Sulaiman Al-Qunduzi Al-Balkhi Al-Hanafi, yang merupakan salah satu Ulama Sunni yang banyak mencatat riwayat-riwayat mengenai keutamaan Rasulullah (saww) dan Ahlul Bait (as). Dan anehnya, oleh kaum Nawashib, Syaikh Sulaiman Al-Hanafi dituduh sebagai Syiah, apa motif dibalik semua itu..? apakah kebiasaan kaum Naswahib yang suka menuduh seseorang yang banyak menulis keagungan Rasulullah (saww) dan Ahlul Bait (as) pada khususnya langsung mereka vonis sebagai Syiah!? hal ini tak jauh beda dengan Ibn Abil Hadid seorang bermazhab Mu’tazilah yang mereka katakan Syiah!

Nawashib harusnya sadar bahwa kedekilan otak mereka sampai detik ini bukanlah suatu yang asing, apakah mereka tidak malu dengan cara mereka yang suka menyembunyikan keterangan yang jelas bahkan terkadang memelintir sebuah riwayat atau membuangnya jika tidak sesuai dengan nafsu mereka..!?

Sayikh Sulaiman Al Hanafi adalah salah satu Mufti Agung Konstantinopel dan Ketua Kekhalifahan Utsmani, pusat islam Sunni pada masanya. Sangat tidak masuk akal jika dikatakan beliau sebagai Syiah dan apakah logis orang syiah menjadi mufti agung dalam kekahlifahan Ustmani tersebut? Sedangkan Ottoman sangat tidak suka dengan Syiah atau siapapun yang cenderung kepada Syiah!

Bahkan sejarah tidak mencatat adanya pengusiran atau tuduhan kepada Syaikh Sulaiman al Hanafi pada saat penulisan kitab beliau yang agung yaitu Yanabiul Mawaddah, jika memang beliau syiah maka pemerintahan Ottoman pasti akan menyingkirkannya.

Pandangan Sunni tentang Syaikh Sulaiman Al Qunduzi Al Balkhi Al Hanafi

Dalam Kitab الأعلام :

“(Al Qunduzi) (1220-1270H) (1805-1863 M) Sualyman putra dari Khuwajah Ibrahim Qubalan Al Husaini Al Hanafi Al Naqshbandi al Qunduzi : Seorang yang shaleh, berasal dari Balakh, wafat di kota Qustantinya, ia memiliki kitab “Yanabiul Mawaddah” yang berisi tentang keutamaan Rasulullah dan Ahlul Baitnya” (الأعلام, j.3, h.125)

.

Umar Ridha Kahalah mencatat dalam معجم المؤلفين :

Sulaiman Al Qunduzi (1220-1294 H) (1805-1877)

Sulaiman bin Ibrahim al Qunduzi al Balkhi al Husaini al Hasymi, seorang Sufi, kitabnya (karyanya) : Ajma al Fawaid, Musyriq al Akwan, Yanabiul Mawaddah….” (Muajam al Mualfiin, oleh Umar Ridha Kahalah, j. 4)

Ulama Sunni Ismail Basya Al Baghdadi (اسماعيل باشا البغدادي) dalam هدية العارفين

Mencatat :

“Al Qunduzi – Sulayman ibn Khuwajah Qalan Ibrahim ibn Baba Khawajah al Qunduzi al Balkhi al Sufi Al Husaini, tinggal di Qustantinya, lahir pada tahun 1220 H dan wafat 1294″ (Hidyat al Arifin, j.1, h. 408)

.

Dalam ايضاح المكنون في الذيل على كشف الظنون Ismail Basya Al Baghdadi juga mencatat :

“Al Qunduzi – Sulayman bin Khawaja Qalan Ibrahim bin baba Khuwaja Al Qunduzi al Balkhi al Sufi al Husaini. Dia tinggal di Qustantiya, lahir pada 1220 H dan wafat tahun 1294 H. Karyanya : Jama’ Al Fawa’id, Masyriq al Akwan, Yanabiul Mawadah mengenai karakteristik Rasulullah (saww) dan hadis dari Ahlul Bait”

.

Yusuf Alyan Sarkys mencatat dalam معجم المطبوعات العربية, j.1 h.586 :

“Sulayman bin Khujah Qublan al Qunduzi al Balkhi. (kitabnya) Yanabiul Mawadah berisi Keutamaan Amirul Mu’minin Ali”

.

Sangat aneh jika dikatakan bahwa Syaikh Sulayman yang bermazhab Hanafi ini di tuduh sebagai Syiah..! Kenyataannya beberapa ulama Sunni (Mazhab Hanafi) seperti :

1. Saim Khisthi al Hanafi dalam Musykil Kushah mengutip banyak Hadis dari Yanabiul Mawaddah yang disusun oleh Syaikh Sulaiman al Hanafi.

2. Dr. Muhamad Tahir ul Qadri (“Hub Ali” hal.28) mengacu pada Yanabiul Mawaddah ketika mengutip Hadis mengenai keutamaan Ahlul Bait (as).

3. Mufti Ghulam Rasul (Hasab aur Nasab, j.1 h.191, London) juga mengacu pada Yanabiul Mawadah ketika mengutip hadis keutamaan Ahlul Bait (as).

Jika memang Syaikh Sulayman Al Hanafi dikatakan Syiah oleh kaum Nawashib lalu apakah beberapa ulama terkemuka Mazhab Hanafi yang disebutkan diatas begitu bodoh atau buta huruf hingga mereka mengutip catatan ulama Syi’ah (yg kata mereka jgn percaya sama syiah) bagi para pembaca Sunni ?

Alasan paling dasar dibalik “pengecapan” dengan menyatakan figur yang sebenarnya Sunni sebagai Syiah oleh kaum Nawashib adalah karena ulama sejati seperti Syaikh Sulayman Al Hanafi dianggap berpihak kepada Syiah hanya karena banyak mencatat hadis Rasulullah (saww) yang mana riwayatnya banyak dianggap sesuai dengan keyakinan Syiah..!

BAGIAN II

Syaikh Sulayman Al Qunduzi Al Hanafi Mencatat Nama-Nama Para Imam Yang Harus Di ikuti Setelah Rasulullah Saww Dalam Kitabnya Yanabiul Mawaddah

Yanabiul Mawaddah (j.3, h.100-101) dan Yanabiul Mawaddah (j.3 h.284, Tahqiq oleh Sayyid Ali Jamali Asyraf Al Husayni), riwayat dari Jabir al-Anshari (ra) berkata :

Jundal bin Janadah berjumpa Rasulullah (saww) dan bertanya kepada beliau beberapa masalah. Kemudian dia berkata :

Riwayat seperti diatas tidak hanya satu dalam kitab Yanabiul Mawaddah, namun ini sudah cukup sebagai bukti bahwa nama para Imam Ahlul Bait telah dijelaskan oleh Rasulullah (saww) dan tercatat dalam Kitab Sunni sendiri.

Beritahukan kepadaku wahai Rasulullah tentang para washi anda setelah anda supaya aku berpegang kepada mereka.

Beliau (saww) menjawab : “Washiku dua belas orang.”

Lalu Jundal berkata : “Begitulah kami dapati di dalam Taurat.”

Kemudian dia berkata : “Namakan mereka kepadaku wahai Rasulullah.”

Maka Beliau (saww) menjawab :

Pertama adalah penghulu dan ayah para washi adalah Ali. Kemudian dua anak lelakinya Hasan dan Husain. Berpeganglah kepada mereka dan janganlah kejahilan orang-orang yang jahil itu memperdayakanmu. Kemudian Ali bin Husain Zainal Abidin, Allah akan mewafatkan (Ali bin Husain) dan menjadikan air susu sebagai minuman terakhir di dunia ini.”

Jundal berkata :

“Kami telah mendapatinya di dalam Taurat dan di dalam kitab-kitab para Nabi (as) seperti Iliya, Syibra dan Syabir. Maka ini adalah nama Ali, Hasan dan Husain, lalu siapa setelah Husain..? siapa nama mereka..?”

Berkata (Rasulullah) saww :

Setelah wafatnya Husain, imam setelahnya adalah putranya Ali dipanggil Zainal Abidin setelahnya adalah anak lelakinya Muhammad, dipanggil al-Baqir. Setelahnya anak lelakinya Ja’far dipanggil al-Shadiq. Setelahnya anak lelakinya Musa dipanggil al-Kadzim. Setelahnya anak lelakinya Ali dipanggil al-Ridha. Setelahnya anak lelakinya Muhammad dipanggil al Taqy Az Zaky. Setelahnya anak lelakinya Ali dipanggil al-Naqiy al-Hadi. Setelahnya anak lelakinya Hasan dipanggil al-Askari. Setelahnya anak lelakinya Muhammad dipanggil al-Mahdi al-Qa’im dan al-Hujjah. Beliau ghaib dan akan keluar memenuhi bumi dengan kejujuran dan keadilan sebagaimana itu dipenuhi dengan kefasadan dan kezaliman. Alangkah beruntungnya bagi orang-orang yang bersabar semasa ghaibnya. Dan alangkah beruntungnya bagi orang-orang yang bertaqwa terhadap Hujjah mereka. Dan mereka itulah orang yang disifatkan oleh Allah di dalam firmanNya “Petunjuk bagi mereka yang bertaqwa yaitu mereka yang beriman kepada yang ghaib.”(1) Kemudian beliau membaca “Maka sesungguhnya partai Allah itulah yang pasti menang.”(2) Beliau bersabda : Mereka adalah dari partai Allah (hizbullah).”

[1]. Surah al-Baqarah (2) : 2-3

[2]. Surah al-Mai’dah (5) :56

Berdasarkan hadith Nabi saaw dalam kitab Ahlul Sunnah antaranya ialah :

Daripada Said bin Jubair daripada Ibn Abbas berkata: Bersabda Rasulullah SAWAW: “Sesungguhnya khalifah-khalifahku dan wasi-wasiku, hujah-hujah Allah di atas makhlukNya selepasku ialah 12 orang; yang pertama Ali dan yang akhirnya cicitku al-Mahdi; maka itulah Isa b. Maryam bersembahyang di belakang al-Mahdi (Yanabi al-Mawaddah, hlm. 447)

Hadith yang dikeluarkan oleh Abu al-Mu’ayyid Ibn Ahmad al-Khawarizmi dengan sanadnya dari Abu Sulaiman yang berkata : “Aku mendengar Rasulullah SAWAW dan Ahli Baitnya berkata: Di malam aku dinaikkan ke langit (Mi’raj) Allah SWT berkata kepadaku…lihatlah di kanan Arasy, lalu aku memaling ke arahnya, maka aku dapati Ali, Fatimah, Hasan, Husayn, Ali b. Husayn, Muhammad b. Ali, Ja’far b. Muhammad, Musa b. Ja’far, Ali b. Musa, Muhammad b. Ali, Ali b. Muhammad, Hasan b. Ali, dan Muhammad al-Mahdi b. Hasan; ia seperti cakerawala yang berputar di kalangan mereka. Dan dia berfirman: “Wahai Muhammad, mereka itulah hujah-hujahKu ke atas hamba-hambaKu, merekalah wasi-wasiKu (khalifah-khalifahku).”(Ya

nabi al-Mawaddah, hlm. 487)

Sila teliti dengan sebaik-baiknya hadis-hadis di bawah yang telah diriwayatkan oleh ulama-ulama sunni:

Hadith-hadith yang menghadkan pengganti Nabi SAW kepada dua belas orang.

Hadith-hadith yang menghadkan pengganti-pengganti Nabi SAWW kepada dua belas orang, telah diriwayatkan oleh jumhur ulama Muslimin Sunnah dan Syi’ah di dalam Sahih-sahih dan Musnad-musnad mereka.

Ahmad bin Hanbal di dalam Musnadnya (al-Musnad, I, hlm 398) meriwayatkan hadith ini daripada Sya’bi daripada Masruq berkata:”Kami berada di sisi ‘Abdullah bin Mas’ud yang sedang memperdengarkan bacaan al-Qur’an kepada kami. Tiba-tiba seorang lelaki bertanya kepadanya: Wahai Abu ‘Abdu r-Rahman! Adakah anda telah bertanya Rasulullah SAWAW berapakah ummat ini memiliki khalifah?” Abdullah bin Mas’ud menjawab:”Tiada seorangpun bertanya kepadaku mengenainya semenjak aku datang ke Iraq sebelum anda.” Kemudian dia berkata:”Ya! Sesungguhnya kami telah bertanya kepada Rasulullah SAWAW mengenainya. Maka beliau menjawab:”Dua belas (khalifah) seperti bilangan naqib Bani Israil.”

Di dalam riwayat yang lain Ahmad bin Hanbal meriwayatkan daripada Jabir bin Samurah, sesungguhnya dia berkata:”Aku mendengar Rasulullah SAWAW bersabda semasa Haji Wida’:”Urusan agama ini masih pada zahirnya di tangan penentangannya dan tidak akan dihancurkan oleh orang-orang yang menyalahinya sehingga berlalunya dua belas Amir, semuanya daripada Quraisy.” (al-Musnad, I, hlm 406, dan V, hlm 89)

Muslim di dalam Sahihnya ( Sahih, II, hlm 79 )meriwayatkan daripada Jabir bin Samurah sesungguhnya dia berkata:”Aku bersama bapaku berjumpa Nabi SAWAW, Maka aku mendengar Nabi SAWAW bersabda:”Urusan ‘ini’ tidak akan selesai sehingga berlaku pada mereka dua belas khalifah.” Dia berkata: Kemudian beliau bercakap dengan perlahan kepadaku. Akupun bertanya bapaku apakah yang diucapkan oleh beliau? Dia menjawab:”Semuanya daripada Quraisy.”
Muslim juga meriwayatkan di dalam Sahihnya daripada Nabi SAWAW beliau bersabda:”Agama sentiasa teguh sehingga hari kiamat dan dua belas khalifah memimpin mereka, semuanya daripada Quraisy. Di dalam riwayat yang lain “Urusan manusia berlalu dengan perlantikan dua belas lelaki dari Quraisy, ” “Sentiasa Islam itu kuat sehingga kepada dua belas khalifah daripada Quraisy” dan “Sentiasa ugama ini kuat dan kukuh sehingga dua belas khalifah daripada Quraisy”
Al-Turmudzi di dalam al-Sunannya (al-sunan, II, hlm 110 ) mencatat hadith tersebut dengan lafaz amir bukan khalifah.

Sementara al-Bukhari di dalam Sahihnya ( Sahih, IV, hlm 120 (Kitab al-Ahkam ) meriwayatkannya daripada Jabir bin Samurah bahawa Nabi SAWAW bersabda:”Selepasku ialah dua belas amir.” Maka beliau berucap dengan perkataan yang aku tidak mendengarnya. Bapaku memberitahuku bahawa beliau bersabda:”Semuanya daripada Quraisy.”

Al-Muttaqi al-Hindi di dalam Kanz al-Ummal ( Kanz al-Ummal, VI, hlm 160 ), meriwayatkan bahawa Nabi SAWAW bersabda:”Selepasku akan (diikuti) oleh dua belas khalifah.”

Ibn Hajr di dalam al-Sawa’iq al-Muhriqah ( al-Sawa’iq al-Muhriqah, bab XI ) meriwayatkan daripada Jabir bin Samurah bahawa Nabi SAWAW bersabda:”Selepasku akan (dikuti) dua belas amair semuanya daripada Quraisy.”

Al-Qunduzi al-Hanafi di dalam Yanabi’ al-Mawaddah (Yanabi’ al-Mawaddah, hlm 444 (bab 7) mencatat riwayat daripada Jabir bin Samurah sesungguhnya dia berkata:”Aku bersama bapaku di sisi Nabi SAWAW beliau bersabda:”Selepasku dua belas khalifah.” Kemudian beliau merendahkan suaranya. Maka akupun bertanya bapaku mengenainya. Dia menjawab: Beliau bersabda: “Semuanya daripada Bani Hasyim.”

Samak bin Harb juga meriwayatkannya dengan lafaz yang sama. Diriwayatkan daripada al-Sya’bi daripada Masruq daripada Ibn Mas’ud bahawa sesungguhnya Nabi SAWAW telah menjanjikan kita bahawa selepasnya dua belas khalifah sama dengan bilangan naqib Bani Isra’il. Dan dia berkata di dalam bab yang sama bahawa Yahya bin al-Hasan telah menyebutkannya di dalam Kitab al-Umdah dengan dua puluh riwayat bahawa khalifah-khalifah selepas Nabi SAWAW adalah dua belas orang. Semuanya daripada Quraisy. Al-Bukhari telah menyebutkannya dengan tiga riwayat, Muslim sembilan riwayat. Abu Daud tiga riwayat, al-Turmudhi satu riwayat dan al-Humaidi tiga riwayat.

Pengkaji-pengkaji menegaskan bahawa hadith-hadith tersebut menunjukkan bahawa khalifah-khalifah selepas Nabi SAWAW ialah dua belas orang. Dan maksud hadith Nabi SAWAW ialah dua belas orang daripada Ahlu l-Baitnya. Kerana tidak mungkin dikaitkan hadith ini kepada khalifah-khalifah yang terdiri daripada bilangan mereka kurang daripada dua belas orang. Dan tidak mungkin dikaitkan dengan khalifah-khalifah Bani Umaiyyah kerana bilangan mereka melebihi dua belas orang dan kezaliman mereka yang ketara selain daripada ‘Umar bin Abdu l-Aziz. Tambahan pula mereka bukan daripada Bani Hasyim. Di dalam riwayat yang lain beliau memilih Bani Hasyim di kalangan Quraisy dan memilih Ahlu l-Baitnya di kalangan Bani Hasyim (Muslim, Sahih, II, hlm 81 (Fadhl Ahlu l-Bait)
.

Di dalam riwayat ‘Abdu l-Malik daripada Jabir bahawa Nabi SAWAW telah merendahkan suaranya ketika menyebutkan Bani Hasyim kerana ‘mereka’ tidak menyukai Bani Hasyim. Hadith ini juga tidak boleh dikaitkan dengan khalifah-khalifah Bani ‘Abbas kerana bilangan mereka melebihi bilangan tersebut. Dan mereka tidak mengambil berat tentang firmanNya “Katakan!” Aku tidak meminta upah daripada kamu kecuali mencintai keluargaku, ” sebagaimana juga mereka tidak menghormati hadith al-Kisa’. Justeru itu, hadith tersebut mestilah dikaitkan dengan dua belas Ahlu l-Baitnya kerana merekalah orang yang paling alim, warak, takwa, paling tinggi keturunan dan ilmu-ilmu mereka adalah daripada datuk-datuk mereka yang berhubungan dengan datuk mereka Rasulullah SAWAW dari segi “warisan” dan hikmah. Mereka pula dikenali oleh para ilmuan. Oleh itu apa yang dimaksudkan oleh hadith tersebut ialah dua belas Ahlu l-Bait Rasulullah Saww (Yanabi’ al-Mawaddah, hlm 445).
Ini juga diperkuatkan oleh hadith thaqalain, hadith al-Safinah, hadith al-Manzilah dan lain-lain.

Al-Qunduzi al-Hanafi (Yanabi’ al-Mawaddah, hlm 445) juga telah meriwayatkan hadith daripada Jabir dia berkata: Rasulullah SAWAW bersabda:”Akulah penghulu para Nabi dan ‘Ali adalah penghulu para wasi. Dan sesungguhnya para wasi selepasku ialah dua belas orang, pertama ‘Ali dan yang akhirnya Qaim al-Mahdi.”

Hadith-hadith yang menerangkan bahawa merekalah para wasi Rasulullah SAWAW di dalam buku-buku Ahlu l-Sunnah adalah banyak, dan ianya melebihi had mutawatir. Ini tidak termasuk hadith-hadith riwayat Syi’ah. Umpamanya hadith daripada Salman RD berkata: Aku berjumpa Nabi SAWAW dan Husain berada di atas dua pahanya. Nabi SAWAW sedang mengucup dahinya sambil berkata:’Anda adalah Sayyid bin Sayyid dan adik Sayyid. Anda adalah imam bin imam dan adik imam. Anda adalah Hujjah bin Hujjah dan adik Hujjah dan bapa hujjah-hujjah yang sembilan. Dan yang kesembilan mereka ialah Mahdi al-Muntazar.”

Al-Hamawaini al-Syafi’i di dalam Fara’id al-Simtin (Fara’id al-Simtin, II, hlm 26), meriwayatkan daripada ‘Ibn Abbas berkata: Aku mendengar Rasulullah SAWAW bersabda:”Aku , Ali, Hasan, Husain dan sembilan daripada anak-anak Husain adalah disuci dan dimaksumkan.”

Ibn ‘Abbas juga meriwayatkan bahawa Nabi SAWAW bersabda:”Wasi-wasiku, hujjah-hujjah Allah ke atas makhlukNya dua belas orang, pertamanya saudaraku dan akhirnya ialah anak lelakiku (waladi).” Lalu ditanya Rasulullah siapakah saudara anda wahai Rasulullah? Beliau menjawab:’Ali. Dan ditanya lagi siapakah anak lelaki anda? Beliau menjawab: al-Mahdi yang akan memenuhi bumi ini dengan kejujuran dan keadilan sebagaimana ianya dipenuhi dengan kerosakan dan kezaliman. Demi Tuhan yang mengutusku dengan kebenaran sebagai kegembiraan dan peringatan, sekiranya dunia ini tinggal hanya satu hari lagi nescaya Allah akan memanjangkannya sehingga keluar anak lelakiku al-Mahdi. Kemudian diikuti oleh ‘Isa bin Maryam. Beliau akan mengerjakan solat di belakang anak lelakiku. Dunia pada ketika itu berseri dengan cahaya Tuhannya dan pemerintahannya meliputi Timur dan Barat.

Al-Qunduzi al-Hanafi di dalam Yanabi’ al-Mawaddah bab 95) meriwayatkan bahawa Jabir bin ‘Abdullah berkata: Rasulullah saww bersabda : Wahai Jabir! Sesungguhnya para wasiku dan para imam selepasku pertamanya Ali kemudian Hasan kemudian Husain kemudian Ali bin Husain kemudian Muhammad bin Ali al-Baqir. Anda akan menemuinya wahai Jabir sekiranya anda mendapatinya, maka sampaikanlah salamku kepadanya. Kemudian Ja’far bin Muhammad, kemudian Musa bin Ja’far, kemudian Ali bin Musa, kemudian Muhammad bin Ali, kemudian Ali bin Muhammad, kemudian Hasan bin Ali. Kemudian al-Qa’im namanya sama dengan namaku dan kunyahnya sama dengan kunyahku, anak Hasan bin Ali. Dengan beliaulah Allah akan membuka seluruh pelosok bumi di Timur dan di Barat, dialah yang ghaib dari penglihatan. Tidak akan percaya kepada imamahnya melainkan orang yang telah diuji hatinya oleh Allah SWT. Jabir berkata: Wahai Rasulullah! Apakah orang2 dapat mengambil manfaat darinya ketika ghaibnya ? Beliau menjawab :”Ya..! Demi yang mengutusku dengan kenabian sesungguhnya mereka mengambil cahaya dari wilayahnya ketika ghaibnya, seperti orang mengambil manfaat dari matahari sekalipun ia ditutupi awan.” Ini adalah di antara rahsia-rahsia ilmu Allah yang tersembunyi. Maka rahsiakanlah mengenainya melain kepada orang yang ahli. (Yanabi’ al Mawaddah, hlm 494)

daripada Jabir al-Ansari berkata: Junda; bin Janadah berjumpa Rasulullah SAWAW dan bertanya kepada beliau beberapa masalah. Kemudian dia berkata: Beritahukan kepadaku wahai Rasulullah tentang wasi-wasi anda selepas anda supaya aku berpegang kepada mereka. Beliau menjawab: Wasi-wasiku dua belas orang. Lalu Jundal berkata: Begitulah kami dapati di dalam Taurat. Kemudian dia berkata: Namakan mereka kepadaku wahai Rasulullah. Maka beliau menjawab: “Pertama penghulu dan ayah para wasi adalah Ali. Kemudian dua anak laki2nya Hasan dan Husain. Berpegang teguhlah kepada mereka dan janganlah kejahilan orang-orang yang jahil memperdayaimu. Kemudian Ali bin Husain Zainal Abidin Allah akan mematikan anda (‘Ali bin Husain) dan menjadikan air susu sebagai bekalan terakhir di dunia ini.” (Yanabi’ al-Mawaddah Bb 76 hlm 441 – 444 )

Jundal berkata: Kami telah mendapatinya di dalam Taurat dan di dalam buku-buku para Nabi AS seperti Iliya, Syibra dan Syabir. Maka ini adalah nama ‘Ali, Hasan dan Husain, maka imam selepasnya dipanggil Zaina l-Abidin selepasnya anak lelakinya Muhammad, dipanggil al-Baqir. Selepasnya anak lelakinya Ja’far dipanggil al-Sadiq. Selepasnya anak lelakinya Musa dipanggil al-Kazim. Selepasnya anak lelakinya ‘Ali dipanggil al-Ridha. Selepasnya anak lelakinya ‘Ali dipanggil al-Naqiyy al-Hadi. Selepasnya anak lelakinya Hasan dipanggil al-Askari. Selepasnya anak lelakinya Muhammad dipanggil al-Mahdi al-Qa’im dan al-Hujjah. Beliau ghaib dan akan keluar memenuhi bumi dengan kejujuran dan keadilan sebagaimana ianya dipenuhi dengan kefasadan dan kezaliman. Alangkah beruntungnya bagi orang-orang yang bersabar semasa ghaibnya. Dan alangkah beruntungnya bagi orang-orang yang bertaqwa terhadap Hujjah mereka. Dan mereka itulah orang yang disifatkan oleh Allah di dalam firmanNya (Surah al-Baqarah(2): 2-3″Petunjuk bagi mereka yang bertaqwa iaitu mereka yang beriman kepada yang ghaib.” Kemudian beliau membaca (Surah al-Mai’dah(5):56)”Sesungguhnya parti Allahlah yang pasti menang.”Beliau bersabda: Mereka itu adalah daripada parti Allah (hizbullah).

Al-Hamawaini di dalam Fara’id al-Simtin (Yanabi’ al-Mawaddah, hlm 446 – 447) telah meriwayatkan hadith ini dan dinukilkan oleh al-Qunduzi al-Hanafi di dalam Yanabi’ al-Mawaddah bab 76 dengan sanad daripada Ibn ‘Abbas dia berkata: Seorang Yahudi bernama Na’thal datang kepada Rasulullah SAWAW dan berkata: Wahai Muhammad! Aku akan bertanya anda beberapa perkara yang tidak menyenangkan hatiku seketika. Sekiranya anda dapat memberi jawapan kepadaku nescaya aku akan memeluk Islam di tangan anda. Beliau SAWAW bersabda:”Tanyalah wahai Abu ‘Ammarah.’ Dia bertanya beberapa perkara sehingga dia berkata: Beritahukan kepadaku tentang wasi anda siapa dia? Tidak ada seorang Nabi melainkan ada baginya seorang wasi. Dan sesungguhnya Nabi kami Musa bin ‘Imran telah berwasiatkan kepada Yusyu’ bin Nun. Maka Nabi SAWAW menjawab”Sesungguhnya wasiku ialah ‘Ali bin Abi Talib, selepasnya dua anak lelakinya Hasan dan Husain kemudian diikuti oleh sembilan imam daripada keturunan Husain.’ Dia berkata: Namakan mereka kepadaku. Beliau menjawab:’Apabila wafatnya Husain, maka anaknya ‘Ali apabila wafatnya ‘Ali, anaknya Muhammad, Dan apabila wafatnya Muhammad, anaknya Ja’far. Apabila wafatnya Ja’far anaknya Musa. Apabila wafatnya Musa, anaknya Ali. Apabila wafatnya Ali, anaknya Muhammad. Apabila wafatnya Muhammad, anaknya ‘Ali. Apabila wafatnya ‘Ali anaknya Hasan. Apabila wafatnya Hasan, anaknya Muhammad al-Mahdi. Mereka semua dua belas orang…..”Akhirnya lelaki Yahudi tadi memeluk Islam dan menceritakan bahawa nama-nama para imam dua belas telah tertulis di dalam buku-buku para Nabi yang terdahulu, dan ia termasuk di antara apa yang telah dijanjikan oleh Musa AS.
Al-Hamawaini di dalam Fara’id al-Simtin meriwayatkan sanadnya kepada Abu Sulaiman penjaga unta Rasulullah SAWAW, dia berkata:”Aku mendengar Rasulullah SAWAW bersabda:”Di malam aku diperjalankan atau dibawa ke langit, Allah SWT berfirman:”Rasul mempercayai apa yang telah diturunkan kepadanya oleh TuhanNya.”Aku bersabda: Mukminun. Dia menjawab: Benar. Allah SWT berfirman lagi: Wahai Muhammad! Kali pertama Aku memerhatikan ahli bumi, Aku memilih anda. Aku menamakan anda dengan salah satu daripada nama-namaku. Oleh itu dimana sahaja Aku diingati, anda diingati bersama. Akulah al-Mahmud dan andalah Muhammad. Kemudian Aku memerhatikannya kali kedua, maka Aku memilih ‘Ali. Maka Aku menamakannya dengan namaku. Wahai Muhammad! Aku telah menjadikan anda dari Aku dan menjadikan ‘Ali, Fatimah, Hasan, Husain dan imam-imam daripada keturunan Husain daripada cahayaKu. Akupun membentangkan wilayah mereka kepada seluruh ahli langit dan bumi. Sesiapa yang menerimanya akan berada di sisiKu sebagai Mukminin. Dan sesiapa yang mengingkarinya akan berada di sisiKu sebagai kafirin. Wahai Muhammad! Sekiranya seorang daripada hamba-hambaKu beribadat kepadaKu tanpa terhenti-henti kemudian mendatangiKu dalam keadaan mengingkari wilayah kalian, nescaya Aku tidak mengampuninya. Allah SWT berfirman lagi kepada Nabi SAWAW: Adakah anda ingin melihat mereka? Beliau menjawab: Ya! Wahai Tuhanku. Dia berfirman: Lihatlah di kanan ‘Arasy, maka aku dapati ‘Ali, Fatimah, Hasan, Husain, ‘Ali bin Husain, Muhammad bin ‘Ali, Ja’far bin Muhammad, Musa bin Ja’far, ‘Ali bin Musa, Muhammad bin ‘Ali, ‘Ali bin Muhammad, Hasan bin ‘Ali dan Muhammad al-Mahdi bin Hasan. Mereka diibaratkan bintang-bintang yang bersinar di kalangan mereka. Kemudian Dia berfirman lagi: Mereka itulah hujjah-hujjah ke atas hamba-hambaKu, mereka itulah wasi-wasi anda. Dan al-Mahdi adalah daripada ‘itrah anda. Demi kemuliaanKu dan kebesaranKu, dia akan membalas dendam terhadap musuh-musuhKu.”

Muwaffaq bin Ahmad al-Hanafi di dalam Manaqibnya meriwayatkan daripada Salman daripada Nabi SAWAW, sesungguhnya beliau bersabda kepada Husain:”Andalah imam anak lelaki seorang imam, saudara kepada imam, bapa kepada sembilan imam. Dan yang kesembilan daripada mereka ialah Qaim mereka (al-Mahdi AS).
Begitulah juga Syahabuddin al-Hindi di dalam Manaqibnya telah menerangkan sanadnya daripada Nabi SAWAW bahawa beliau bersabda:”Sembilan imam adalah daripada anak cucu (keturunan) Husain bin ‘Ali dan yang kesembilan mereka adalah Qaim mereka (imam al-Mahdi al-Muntazar AS).

Al-Hamawaini al-Syafi’e meriwayatkan di dalam Fara’id al-Simtin bahawa Nabi SAWAW bersabda:” Siapa yang suka berpegang kepada ugamaku dan menaiki bahtera kejayaan selepasku, maka hendaklah dia mengikuti ‘Ali bin Abi Talib, memusuhi seterunya dan mewalikan walinya kerana beliau adalah wasiku, dan khalifahku ke atas ummatku semasa hidupku dan selepas kewafatanku. Beliau adalah imam setiap muslim dan amir setiap mukmin, perkataannya adalah perkataanku, perintahnya adalah perintahku. Larangannya adalah laranganku. Pengikutnya adalah pengikutku. Penolongnya adalah penolongku. Orang yang menjauhinya adalah menjauhiku.”
Kemudian Nabi SAWAW bersabda lagi: Sesiapa yang menjauhi ‘Ali selepasku, dia tidak akan ‘melihatku.’ Dan aku tidak melihatnya di hari kiamat. Dan siapa yang menentang ‘Ali, Allah haramkan ke atasnya syurga dan menjadikan tempat tinggalnya di neraka. Siapa yang menjauhi ‘Ali, Allah akan menjauhinya di hari kiamat. Di hari itu akan didedahkan segala-galanya dan sesiapa yang menolong ‘Ali, nescaya Allah akan menolongnya.
Kemudian beliau bersabda lagi: Hasan dan Husain kedua-duanya adalah imam ummatku selepas bapa mereka berdua adalah penghulu-penghulu pemuda syurga. Ibu kedua-duanya adalah penghulu para wasi. Dan sembilan imam adalah daripada anak cucu Husain. Dan yang kesembilan mereka adalah Qaim mereka (imam al-Mahdi). Mentaati mereka adalah ketaatan kepadaku. Mendurhakakan mereka adalah mendurhakaiku. Kepada Allah aku mengadu bagi orang yang menentang kelebihan mereka, dan menghilangkan kehormatan mereka selepasku. Cukuplah bagi Allah sebagai wali dan penghulu kepada ‘itrahku, para imam ummatku. Pasti Allah akan menyiksa orang yang menentang hak mereka.”Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.”(Al-Syuara’(26): 227)

Ayatullah al-’Uzma al-Hulli di dalam bukunya Kasyf al-Haq (Kasyf al-Haq, I, hlm 108) telah menerangkan sebahagian daripada hadith dua belas khalifah dengan riwayat yang bermacam-macam. Seorang musuh ketatnya bernama Fadhl bin Ruzbahan al-Nasibi adalah orang yang paling kuat menentang Ahlu l-Bait AS, di dalam jawapan kepadanya mengakui bahawa apa yang disebutkan oleh Allamah al-Hulli mengenai dua belas khalifah adalah Sahih dan telah dicatat di dalam buku-buku Sahih Ahlu s-Sunnah.

Aku berkata: Riwayat hadith dua belas imam daripada Nabi SAWAW adalah terlalu banyak. Kami hanya menyebutkan sebahagian kecil daripada buku-buku Ahlu s-Sunnah wa l-Jama’ah yang mencatatkan hadith tersebut. Seperti al-Bayan karangan al-Hafiz al-Khanji, Fasl al-Khittab karangan Khawajah Faris al-Hanafi, Arba’in karangan Syeikh As’ad bin Ibrahim al-Hanbali, Arba’in karangan Ibn Abi l-Fawarith dan lain-lain buku Ahlu s-Sunnah. Adapun riwayat Syi’ah mengenainya adalah tidak terhitung banyaknya.

Sayyid Hasyim al-Bahrani di dalam bukunya Ghayah al-Maram (Ghayah al-Maram, I, hlm 309) telah menjelaskan hadith dua belas imam sebanyak enam puluh riwayat dengan sanad-sanadnya menurut metod Ahlu s-Sunnah wa l-Jama’ah. Tujuh riwayat daripada buku Manaqib Amiru l-Mukminin AS karangan Maghazali al-Syafi’i, dua puluh tiga riwayat daripada Fara’id al-Simtin karangan al-Hamawaini, satu riwayat daripada Fusul al-Muhimmah karangan Ibn al-Sibagh al-Maliki dan satu riwayat daripada Syarh Nahj al-Balaghah karangan Ibn Abi l-Hadid.

Aku berkata: Sesungguhnya aku telah mengkaji risalah karangan Syaikh Kazim ‘Ali Nuh RH berjudul Turuq Hadith al-A’immah min Quraisy, hlm. 14. Dia berkata bahawa ‘Allamah Sayyid Hasan Sadr al-Din di dalam bukunya al-Durar al-Musawiyyah Fi Syarh al-’Aqa’id al-Ja’fariyyah telah mengeluarkan hadith dua belas khalifah daripada Ahmad bin Hanbal sebanyak tiga puluh empat riwayat. Hadith ini telah dikeluarkan juga oleh al-Bukhari, Muslim, al-Humaidi, beberapa riwayat Razin di dalam Sahih Sittah, riwayat al-Tha’labi, Abu Sa’id al-Khudri, Abu Bardah, Ibn Umar, Abdu r-Rahman Ibn Samurah, Jabir, Anas, Abu Hurairah, Ibn ‘Abbas, ‘Umar bin al-Khattab, ‘Aisyah, Wa’ilah dan Abi Salma al-Ra’i.

Adapun riwayat Umar bin al-Khattab yang telah dikaitkan kepadanya oleh ‘Ali bin al-Musayyab mengenai sabda Nabi SAWAW ialah: Para imam selepasku di antaranya Mahdi ummat ini. Siapa yang berpegang kepada mereka selepasku, maka sesungguhnya dia telah berpegang kepada tali Allah. Hadith ini juga telah dikaitkan dengan al-Durasti dengan Ibn al-Muthanna yang bertanya kepada ‘Aisyah:”Berapakah khalifah Rasulullah SAWAW. ‘Aisyah menjawab:’Beliau (Rasulullah SAW) memberitahuku bahawa selepasnya dua belas khalifah.’ Aku bertanya: Siapakah mereka? Maka ‘Aisyah menjawab:’Nama-nama mereka tertulis di sisiku dengan imla Rasulullah SAWAW.’ Maka aku bertanya kepadanya: Apakah nama-nama mereka? Maka dia enggan memperkenalkannya kepadaku.’

Sayyid al-Bahrani juga mencatat sebahagian daripada buku-buku Ahlu s-Sunnah yang menyebutkan dua belas khalifah. Di antaranya Manaqib Ahmad bin Hanbal, Tanzil al-Qur’an fi Manaqib Ahlu l-Bait karangan Ibn Nu’aim al-Isfahani, Faraid al-Simtin karangan al-Hamawaini, Matalib al-Su’ul karangan Muhammad bin Talhah al-Syafi’i, Kitab al-Bayan karangan al-Kanji al-Syafi’i, Musnad al-Fatimah karangan al-Dar al-Qutni, Fadhail Ahlu l-Bait karangan al-Khawarizmi al-Hanafi, al-Manaqib karangan Ibn al-Maghazali al-Syafi’i, al-Fusul al-Muhimmah karangan Ibn al-Sibagh al-Maliki, Jawahir al-’Aqdain karangan al-Samhudi, Dhakha’ir al-’Uqba karangan Muhibbuddin al-Tabari, Mawaddah al-Qurba karangan Syihab al-Hamdani al-Syafi’i, al-Sawa’iq al-Muhriqah karangan Ibn Hajr al-Haithami, al-Isabah karangan Ibn Hajr al-’Asqalani, Musnad Ahmad bin Hanbal, Musnad Abi Ya’la al-Mausuli, Musnad Abi Bakr al-Bazzar, Mu’jam al-Tabrani, Jam’ al-Saghir karangan al-Suyuti, Kunuz al-Daqa’iq karangan al-Munawi dan lain-lain.

Aku berkata: Sesungguhnya riwayat-riwayat yang berbilang-bilang yang datang kepada kita menurut metod Ahlu s-Sunnah adalah sekuat dalil, dan hujjah yang paling terang bahawa sesungguhnya khalifah selepas Rasulullah SAWAW secara langsung ialah Imam Amiru l-Mukminin ‘Ali bin Abi Talib AS. Dan selepasnya ialah anak-anaknya sebelas imam yang maksum, pengganti Rasul dan para imam Muslimin satu selepas satu sehingga manusia ‘berhadapan’ dengan Tuhan mereka. Tiada seorangpun yang dapat mengingkari hadith-hadith yang sabit yang diriwayatkan menurut riwayat para ulama besar Ahlu s-Sunnah dan pakar-pakar hadith mereka, lebih-lebih lagi menurut riwayat Syi’ah. Kecuali cahaya pemikirannya telah dipadamkan dan dijadikan di hatinya penutup. Justeru itu ia adalah termasuk di dalam firmanNya di dalam (Surah al-Baqarah (2): 171)”Mereka itu bisu dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti.”Dan firmanNya (Surah al-Zukhruf(43): 36) “Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah, Kami akan adakan baginya syaitan (yang menyesatkan), maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.”Dan firmanNya (Surah al-Kahf(18):57)”Kami jadikan di hati mereka tutupan (sehingga mereka tidak) memahaminya dan (Kami letakkan) sumbatan di telinga mereka, sekalipun kamu menyeru mereka kepada petunjuk, nescaya tidak akan mendapat petunjuk selama-lamanya.”

Ini adalah disebabkan penentangan mereka kepada dalil yang terang dan nas yang zahir kerana fanatik, kufur, dan kedegilan mereka.

Muhammad bin Idris al-Syafi’i memperakui kesahihan apa yang kami telah menyebutkannya dengan syairnya yang masyhur:

Manakala aku melihat manusia telah berpegang
kepada mazhab yang bermacam-macam
di lautan kebodohan dan kejahilan
Aku menaiki dengan nama Allah bahtera kejayaan
mereka itulah Ahlu l-Bait al-Mustaffa
penamat segala Rasul.

Pengiktirafan Syafi’i bahawa ‘Ali adalah imam dan selepasnya sebelas imam merupakan pengiktirafan yang besar daripada seorang imam mazhab empat. Dan ianya menjadi hujjah keimamahan dua belas imam maksum dari keluarga Rasulullah SAWW.

Rasulullah menginginkan penggantinya adalah 12 khalifah Quraisy dari ahlulbait ! Namun suku suku tidak mau Bani Hasyim mendominasi ! Logika syi’ah patahkan sunni

wahabi setan  nejed berkata bahwa madzhab Syi’ah berpegang bahwa Rasulullah Saw hendak membangun sebuah dinasti monarkis bagi keluarganya (yang tampaknya ia gagal melakukan hal ini). Akan tetapi patah arang ketika  Rasulullah Saw bersabda: “Imam berasal dari suku Quraisy dan dari ahlulbait !”

Telah dijelaskan bahwa Abu Bakar mendiamkan kaum Ansar Madinah dengan berkata bahwa karena Rasulullah Saw berasal dari suku Quraisy, bangsa Arab tidak akan menerima setiap orang non-Quraisy menjadi khalifah. Argumen inilah yang berhasil mendiamkan orang-orang Ansar.

Dengan argumen yang sama, jika seorang anggota keluarga Rasulullah (Ahl al-Bait) dijadikan khalifah, seluruhnya akan mentaatinya dan tidak akan ada kesulitan atau perseteruan yang muncul kemudian. Aspek ini dari pengangkatan ‘Ali As, telah diakui juga oleh beberapa penulis non-Muslim. Tuan Sedilot menulis: ” Jika prinsip hereditas suksesi (hak ‘Ali As) diakui sejak pertama, hal ini akan mencegah timbulnya kekacauan yang menenggelamkan Islam dalam pertumpahan darah….Suami Fatimah tergabung dalam kepribadiannya hak mengganti sebagaimana warisan sah Nabi, demikian juga dengan hak eleksi.[Lihat, Sedillot, L.P.E.A.,  Histoire des Arabes, terjemahan Arab, hal.126-127.]

Kenyataannya adalah bahwa orang-orang yang keberatan ini telah melalaikan poin ini sama sekali. Madzhab Syi’ah tidak pernah mengklaim bahwa “warisan” ada hubungannya dengan imamah. Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, seorang Imam haruslah ma’sum, lebih unggul atas umat dalam kebaikan dan mansus min Allah (diangkat oleh Allah).

Namun perkara ini adalah salah satu anugerah dari Allah, dianugerahkan kepada Nabi Ibrahim As dan Rasulullah Saw bahwa, dalam kenyataan dan praktiknya, seluruh Imam yang mengikuti mereka berasal dari keluarganya sendiri; mereka semua memiliki kualifikasi yang diperlukan untuk imamah adalah keturunan mereka (Nabi Ibrahim dan Rasulullah Saw).[]

Jumhur ulama Islam, para imam hadis dan sejarah, dari kalangan Ahlus Sunnah dan Syi’ah telah meriwayatkan hadis tentang dua belas khalifah dalam kitab-kitab sahih dan musnad mereka dengan jalur yang berbeda-beda.

Ahmad bin Hanbal meriwayatkan di dalam Musnad-nya dari asy-Sya’bi dari Masruq yang berkata, “Kami pemah duduk-duduk dalam majelis ‘Abdullah bin Mas’ud, ia mengajarkan al-Qur’an kepada kami. Tiba-tiba ada seorang pria yang berkata kepadanya, “Wahai Aba ‘Abdurrahman, apakah kalian telah bertanya kepada Rasulullah Saw tentang berapa khalifah yang dimiliki oleh umat ini?”

Maka, ‘Abdullah bin Mas’ud berkata, “Tidak ada seorang pun yang bertanya kepadaku tentang hal itu sejak aku datang ke Irak.” Kemudian ia berkata, ‘Ya, kami telah menanyakan hal itu kepada Rasulullah Saw, lalu ia menjawab, “Dua belas, seperti bilangan pemimpin Bani Israil.”

Ahmad bin Hanbal juga meriwayatkan hadis tersebut dengan jalur yang lain.[1]

Ia juga meriwayatkan dalam Musnad-nya dari Jabir bin Samurah yang berkata, “Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda pada Haji Wada’, Agama ini senantiasa akan mengalahkan orang yang memusuhinya dan orang yang menentangnya tidak akan membahayakannya sehingga berlalu dua belas pemimpin dari umatku, semuanya berasal dari Quraisy.175

Muslim meriwayatkan dalam Shahîhnya dari Jabir bin Samurah yang berkata, “Aku bersama ayahku pemah masuk menemui Nabi Saw, lalu aku mendengar ia bersabda, “Sesungguhnya Urusan (agama) ini tidak akan punah sehingga berlalu dua belas khalifah. Kemudian ia berkata sesuatu yang samar bagiku, maka aku menanyakan hal itu kepada ayahku. Ayahku berkata bahwa ia bersabda, Semuanya berasal dari Quraisy.”[2]

Muslim juga meriwayatkan dalam Shahîh -nya dari Nabi Saw bahwa ia bersabda, “Agama ini akan tetap tegak berdiri sehingga tiba hari kiamat dan ada pada mereka dua belas khalifah, semuanya berasal dari Quraisy.”[3]

Dalam riwayat yang lain, “Urusan manusia akan senantiasa berjalan selama mereka dipimpin oleh dua belas orang laki-laki, semuanya berasal dari Quraisy.”

Dalam riwayat yang lain, “Agama Islam ini akan senantiasa mulia selama dipimpin oleh dua belas khalifah, semuanya berasal dari Quraisy.”

Dalam riwayat yang lain, “Agama ini akan senantiasa mulia dan kukuh selama dipimpin oleh dua belas khalifah, semuanya berasal dari Quraisy.”

Dalam Sunan at- Tirmidzi disebutkan hadis yang sama, tetapi dengan menggantikan kata “khalifah” menjadi “amir”.[4]

Dalam Shahih al-Bukhâri dari Jabir bin Samurah bahwa Nabi Saw bersabda, “Setelahku ada dua belas amir (khalifah), “lalu beliau berkata sesuatu yang tidak aku dengar. Ayahku berkata bahwa ia bersabda, “Semuanya berasal dari Quraisy.”[5]

Al-Bukhari juga meriwayatkan bahwa Nabi Saw. bersabda, “Perkara ini (kekhalifahan) akan senanliasa berada pada Quraisy selama masih ada dua belas orang dari mereka.”[6]

Al-Muttaqi menyebutkan dalam Kanzul ‘Ummâl dari Nabi Saw sesungguhnya ia bersabda, “Setelahku ada dua belas khalifah.”[7]

Ibn Hajar menyebutkan dalam Shawa’iq-nya, “Ath­-Thabrani meriwayatkan dari Jabir bin Samurah bahwa Nabi Saw bersabda, ‘Setelahku ada dua belas amir (khalifah), semuanya berasal dari Quraisy.”[8]

Dalam Irsyâddus Sari dan Sunan Abi Dawud diriwayatkan dari jalur asy-Sya’bi dari Jabir bin Samurah bahwa Nabi Saw bersabda, “Agama ini akan senantiasa mulia selama dipimpin oleh dua belas khalifah.”

Dan juga dalam Sunan Abi Dawud diriwayatkan dari jalur Isma’il bin Abi Khalid dari ayahnya dari Jabir bin Samurah bahwa Nabi Saw bersabda, “Agama ini akan senantiasa tegak berdiri sehingga berlalu dua belas khalifah, semuanya disepakati oleh umat ini.”[9]

As-Sadyi, penulis kitab tafsir, menyebutkan (hadis dua belas imam) sebagaimana yang dinukilkan oleh penulis ash-Shirâtul Mustaqim, kemudian ia berkata, “Hadis-hadis tersebut (tentang dua belas imam) menunjukkan dua belas imam dari keturunan Muhammad Saw, dan tidak ada yang sejalan dengan pembatasan dua belas imam tersebut kecuali Syi’ah Imamiyah.”

Al-Qunduzi al-Hanafi menyebutkan dalam Yanâbi’ul Mawaddah’ dari kitab Mawaddah al-Qurbâ dengan sanadnya dari Jabir bin Samurah yang berkata, “Aku pemah bersama ayahku di rumah Nabi Saw lalu aku mendengar Nabi Saw bersabda, “Setelahku ada dua belas khalifah kemudian ia memelankan suaranya, maka aku bertanya kepada ayahku apa yang ia pelankan suaranya itu. Ayahku menjawab, ia bersabda, Semuanya dari Bani Hasyim.”

Ia meriwayatkan dari Samak bin Harb hadis yang serupa.Ia juga meriwayatkan dari asy-Sya’bi dari Masruq dari Ibn Mas’fid bahwasanya dia berkata, “Sesungguhnya Nabi kita Saw telah mengabarkan kepada kita bahwa sepeninggal beliau akan ada dua belas orang khalifah seperti bilangan pemimpin (naqib) Bani Israil.

Ia juga berkata dalam bab yang sarna, “Yahya bin al-Hasan menyebutkan dalam kitab al-’Umdah dua puluh jalur riwayat bahwa para khalifah sepeninggal Nabi Saw dua belas orang, semuanya dari berasal dari Quraisy, dalam Shahîh al-Bukhâri tiga jalur riwayat, dalam Shahîh Muslim sembilan jalur riwayat, dalam Sunan Abi Dawud tiga jalur riwayat, dalam Sunan at-Tirmidzi satu jalur, dan dalam al-Hamidi tiga jalur.” Kemudian ia berkata,”Sebagian muhaqqiq (periset) menyebutkan bahwa hadis­-hadis yang menunjukkan bahwa para khalifah sepeninggal Nabi Saw ada dua belas orang sangatlah terkenal, yang diriwayatkan melalui jalur yang banyak, dan ditinjau dari konteks zaman dan tempat diketahui bahwa yang dimaksud oleh Rasulullah Saw dengan hadis-­hadis Nabi Saw adalah dua belas (imam) dari Ahli Baitnya dan keturunannya. Sebab, hadis-hadis tersebut tidak mungkin diterapkan pada para khalifah sepeninggal beliau dari kalangan sahabatnya karena jumlahnya yang sedikit (kurang dari dua belas orang), dan tidak mungkin diterapkan pada raja-raja dari Bani Umayyah karena jumlah mereka yang melebihi dua belas orang dan juga karena kezaliman mereka yang melampaui batas, kecuali ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, selain itu mereka juga bukan dari Bani Hasyim karena Nabi Saw bersabda, Mereka semuanya dari Bani Hasyim.”

Oleh karena itu, hadis-hadis tentang dua belas khalifah tersebut hanya dapat diterapkan pada para imam dua belas dari Ahlul bait Nabi Saw dan keturunannya. Sebab, mereka adalah orang-orang yang paling alim pada zaman mereka, paling mulia, paling wara’, paling bertakwa, paling mulia nasabnya, dan paling mulia di sisi Allah. Ilmu mereka bersumber dari ayah dan kakek-kakek mereka yang bersambung kepada Nabi Saw dengan mewarisi ilmu mereka dan juga ilmu laduni. Demikianlah sebagaimana diketahui oleh para ahli ilmu dan tahkik, dan juga ahli kasyf dan taufik.

Di antara yang termasuk menguatkan makna sabda Nabi Saw tersebut adalah hadis tsaqalain (yaitu sabda beliau, Aku telah tinggalkan kepada kalian dua hal yang sangat berharga, selama kalian berpegang teguh pada keduanya kalian tidak akan sesat selamanya, yaitu Kitabullah dan Ahlul Baitku”). Demikianlah yang dikatakan oeh al-Qunduzi al-Hanafi dalam kitabnya Yanâbi’ul Mawaddah, silakan Anda merujuk kepadanya.

Al-Qunduzi al-Hanafi juga meriwayatkan dalam kitabnya yang sama, Yanâbi’ul Mawaddah, dari Jabir yang berkata, “Rasulullah Saw bersabda, “Aku adalah pemuka para nabi, sedangkan aku pemuka para washi (penerima wasiat Nabi Saw untuk menjadi khalifah sepeninggalnya). Dan sesungguhnya washi-washi-ku setelahku ada dua belas, permulaannya adalah aku dan yang terakhir adalah al-Qa’im al-Mahdi. “

Syaikhul Islam al-Hamuyini asy-Syafi’i juga meriwayatkan hadis tersebut dalam kitabnya Farâ’idus Simthain dari Ibn ‘Abbas Ra.

Hadis-hadis yang menegaskan bahwa mereka adalah washi-washi Rasulullah Saw dalam kitab-kitab Ahlus Sunnah sangatlah banyak, yang mencapai batas mutawatir, di samping yang diriwayatkan dalam kitab-kitab Syi’ah.

Al-Qunduzi al-Hanafi juga meriwayatkan dalam kitabnya Yanâbi’ul Mawaddah dari Salman yang berkata, “Aku pemah memasuki rumah Nabi Saw aku melihat Husain As sedang berada dalam pangkuannya. Nabi Saw mencium pipinya dan mulutnya, ia bersabda kepadanya, Engkau adalah sayid, anak sayid dan saudara sayid. Engkau adalah imam, anak imam dan saudara imam. Engkau adalah hujah, anak hujah dan saudara hujah serta ayah dan hujah-hujah yang sembian, hujah yang kesembilan dari mereka adalah al-Qa’im al-Mahdi.”

Demikian juga al- Hamuyini asy-Syafi’i meriwayatkan  dalam Farâ’idus Simthain dari Ibn ‘Abbas Ra yang berkata, “Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda, Aku, Ali, Hasan,  Husain, dan sembilan dari anak keturunan al-Husain disucikan dan dipelihara dari perbuatan dosa dan kesalahan (maksum).”

Dan juga diriwayatkan dalam kitab yang sarna dari Ibn ‘Abbas bahwa Nabi Saw bersabda, “Sesungguhnya washi-washi-ku dan hujah-hujah Allah atas makhluk-Nya setelahku ada dua belas; yang pertama di antara mereka adalah saudaraku dan yang terakhirnya anakku.Ditanyakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah, siapakah saudaramu itu?” Beliau menjawab, “Ali.” Lalu beliau ditanya lagi, “Siapakah anakmu?” Beliau menjawab, “al-Mahdi, dialah yang akan memenuhi bumi dengan keadilan, sebagaimana sebelumnya telah dipenuhi dengan kezaliman. Demi Dzat Yang Mengutusku dengan kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, seandainya tidak tersisa dari umur dunia kecuali satu hari, niscaya Allah akan memanjangkan hari itu sehingga muncul pada hari itu anakku al-Mahdi. Kemudian Ruhullah Isa bin Maryam turun, lalu dia akan shalat di belakang anakku, bumi pun akan bersinar dengan cahaya Tuhannya, dan kekuasaannya akan mencapai timur dan barat.”

Dan juga disebutkan dalam Yanâbi’ul Mawaddah, bab ke-95, dari al-Manâqib dengan sanadnya dari Jabir bin’ Abdillah yang berkata, “Rasulullah Saw bersabda, “Wahai Jabir, Sesungguhnya washi-washi-ku dan para imam kaum Muslim sesudahku permulaannya adalah ‘Ali, kemudian Hasan, kemudian Husain, kemudian ‘Ali bin Husain kemudian Muhammad bin Ali yang dikenal dengan al-Baqir, engkau akan menemuinya wahai Jabir. Maka, jika engkau bertemu dengannya, sampaikanlah salam dariku, kemudian Ja’far bin Muhammad, kemudian Musa bin Ja’far, kemudian ‘Ali bin Musa, kemudian Muhammad bin ‘Ali, kemudian ‘Ali bin Muhammad kemudian Al-Hasan bin Ali, kemudian Al-Qa’im, namanya sama dengan namaku, gelarnya sama dengan gelarku. Anak Hasan bin Ali inilah yang kepadanya Allah Swt akan menaklukkan timur bumi dan baratnya. Dia akan mengalami masa kegaiban dari para pengikutnya, suatu kegaiban yang seseorang tidak akan tetap pada pendirian keimamannya kecuali yang hatinya telah telah diuji oleh Allah untuk beriman.”

Jabir berkata, maka aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah orang-orang dapat mengambil manfaat dengannya pada masa kegaibannya itu?” Ia menjawab, “Ya, demi Dzat Yang Mengutusku dengan kenabian, sesungguhnya mereka mendapatkan cahaya dengan cahaya wilayahnya dalam masa kegaibannya, sebagaimana orang-orang mendapatkan manfaat dengan matahari meskipun terhalangi oleh awan. Ini adalah sesuatu yang disembunyikan dari rahasia Allah dan perbendaharaan ilmu Allah, maka rahasiakanlah hal ini kecuali kepada yang ahlinya. “

Juga disebutkan dalam Yanâbi’ul mawaddah, awal bab ke-76, juga dalam kitab al-Manâqib dengan sanadnya dari Jabir al-Anshari yang berkata, “Jandal bin Janadah pemah masuk menghadap Nabi Saw lalu ia menanyakan kepada beliau beberapa masalah, kemudian ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepadaku tentang washi-washi-mu sepeninggalmu agar aku dapat berpegang teguh kepada mereka.”

Nabi Saw menjawab, “Washi-washi-ku ada dua belas orang.” Jandal berkata, “Demikianlah kami mendapatkan mereka dalam Taurat.” Lalu dia berkata, “Wahai Rasulullah, beri tahukanlah kepadaku nama-nama mereka.”

Nabi Saw menjawab, Yang pertama di antara mereka adalah pemuka para washi, ayah para imam, ‘Ali, kemudian kedua anaknya: al-Hasan dan al-Husain, maka berpegang teguhlah kamu kepada mereka, dan janganlah kamu terperdaya oleh kebodohan orang-orang yang bodoh. Apabila telah lahir ‘Ali bin al-Husain Zainal Abidin, maka Allah akan menghendaki engkau menghadap kepada-Nya (waktu kematianmu) dan akhir perbekalanmu dari dunia ini adalah minuman susu yang engkau meminumnya.”

Jandal berkata, “Kami mendapatkannya tertulis dalam Taurat. Dan dalam kitab-kitab para nabi disebutkan: Iliya, Syibran, dan Syabiran, maka ini adalah nama ‘Ali, al-Hasan, dan al-Husain. Maka, siapakah setelah al-Husain dan siapa nama-nama mereka?”

Nabi Saw menjawab, “Jika telah terputus masa al-Husain, maka imam setelahnya adalah ‘Ali, ia dijuluki Zainal Abidin, kemudian anaknya, yaitu Muhammad, ia dijuluki al-Bâqir, kemudian anaknya, yaitu Ja’far, ia dijuluki ash-Shâdiq, kemudian anaknya, yaitu Musa, ia dijuluki al-Kazhim, kemudian anaknya, yaitu Ali, ia dijuluki ar-Ridhâ, kemudian anaknya, yaitu Muhammad, ia dijuluki at-Taqi dan az-Zaki, kemudian anaknya, yaitu’Ali, ia dijuluki at-Taqi dan al-Hâdi, kemudian anaknya, yaitu al-Hasan, ia dijuluki al-Askari, kemudian anaknya, yaitu Muhammad, ia dijuluki al-Mahdi, al-Qâ’im, dan al-Hujjah, ia akan gaib, kemudian ia akan muncul dan memenuhi bumi ini dengan keadilan, sebagaimana sebelumnya telah dipenuhi dengan kezaliman. Beruntunglah orang­-orang yang bersabar dalam masa kegaibannya, beruntunglah orang­-orang yang bertakwa atas hujah mereka. Merekalah orang-orang yang disifatkan Allah dalam Kitab-Nya.”

“Petunjuk. bagi mereka yang bertakwa, yaitu mereka yang beriman kepada yang gaib.” (Qs. Baqarah [2]: 2-3)

Kemudian ia membacakan ayat,

Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah banwa sesungguhnya golongan Allah  itulah golongan yang beruntung.” (Qs. Mujadilah [58]: 22)

AI-Hamuyini meriwayatkan dalam Farâ’idus Simthain dengan sanadnya dari Ibn ‘Abbas yang berkata, “Pemah ada seorang Yahudi yang datang menemui Rasulullah Saw ia bemama Na’tsal. Ia bertanya, “Wahai Muhammad, aku hendak menanyakan kepadamu tentang beberapa hal yang senantiasa bergelora di dalam dadaku, jika engkau dapat menjawab pertanyaanku, niscaya aku akan memeluk agama Islam di hadapanmu.”

Nabi Saw bersabda, “Tanyakanlah wahai Aba ‘Amarah!”

Maka, ia (Na’tsal) menanyakan kepada Nabi Saw beberapa hal sampai pada pertanyaannya, “Beri tahukanlah kepadaku, siapakah washi-mu karena setiap nabi pasti mempunyai seorang washi (pengemban wasiat Nabi Saw untuk menjadi khalifah sepeninggalnya). Sesungguhnya nabi kami,  Musa bin lmran, mewasiatkan kepada Yusya’ bin Nun.”

Nabi Saw menjawab, “Sesungguhnya washiyy-ku adalah ‘Ali bin Abi Thalib, dan setelahnya adalah al-Hasan dan al-Husain, kemudian setelahnya adalah sembilan imam dari tulang sulbi al-­Husain.”

Ia (Na’tsal) berkata, ‘Wahai Muhammad, beri tahukanlah kepadaku nama-nama mereka!.”

Nabi Saw menjawab, “Jika al-Husain telah meninggal dunia, maka penggantinya anaknya, ‘Ali; jika ‘Ali telah meninggal dunia, maka penggantinya anaknya, Muhammad; jika Muhammad telah meninggal dunia, maka penggantinya anaknya, Ja’far; jika Ja’far telah meninggal dunia, maka penggantinya anaknya, Musa; jika Musa telah meninggal dunia, maka penggantinya anaknya, ‘Ali; jika ‘Ali telah meninggal dunia, maka penggantinya anaknya, Muhammad; jika Muhammad telah meninggal dunia, maka penggantinya anaknya, ‘Ali; jika ‘Ali telah meninggal dunia, maka penggantinya anaknya, al-­Hasan; dan jika al-Hasan telah meninggal dunia, maka penggantinya anaknya, al-Hujjah Muhammad al-Mahdi. Merekalah dua belas….”

Kemudian disebutkan bahwa orang Yahudi itu (Na’tsal) memeluk agama Islam dan dia mengabarkan bahwa dia mendapatkan nama-nama mereka (dua belas imam Ahlul bait) di dalam kitab-kitab para nabi yang telah lalu, dan juga termasuk yang disampaikan kepada mereka oleh Musa As.

Al-Hamuyini meriwayatkan di dalam Fara’idus Simthain dan al-Khawarizmi al-Hanafi dengan sanadnya sampai kepada Abu Sulaiman, pengembala unta Rasulullah Saw, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda, “Pada malam akan dimikrajkan ke langit, Allah yang Maha Agung berfirman kepadaku,

“Rasul telah beriman kepada al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya.” (Qs. al Baqarah [2]: 285)

Kemudian aku berkata, “Demikian pula orang-orang yang beriman.”

Allah berfirman, ‘Engkau benar. Wahai Muhammad, sesungguhnya Aku telah memandang penduduk bumi, lalu Aku memilihmu di antara mereka. Maka, Aku mengambil untukmu nama dari nama-nama-Ku. Oleh karena itu, setiap kali Aku disebut di suatu tempat, niscaya engkau juga disebut bersama-Ku. Aku adalah Mahmud (Yang Terpuji), dan engkau adalah Muhammad (yang dipuji).

Kemudian Aku memandang (penduduk bumi) untuk yang kedua kalinya, maka Aku memilih ‘Ali di antara mereka. Aku pun menamakannya dengan nama-Ku. Wahai Muhammad, Aku telah menciptakanmu dan menciptakan ‘Ali, Fatimah, al-Hasan, al–Husain dan para imam dari anak keturunan al-Husain dari cahaya-Ku. Aku juga telah mengemukakan wilayah kalian kepada penduduk langit dan bumi, maka barang siapa menerimanya, dia di sisi-Ku termasuk orang­-orang yang beriman; dan barang siapa mengingkarinya, dia di sisi-Ku termasuk orang-orang yang kafir.

Wahai Muhammad, seandainya seorang hamba dari hamba-­hamba-Ku menyembah-Ku sampai binasa, kemudian dia menghadap kepada-Ku dalam keadaan mengingkari wilayah kalian, niscaya Aku tidak akan mengampuninya. Wahai Muhammad, apakah engkau ingin melihat mereka?”

Aku menjawab, “Ya, wahai Tuhanku.”

Allah berfirman kepadaku, “Lihat ke arah kanan ‘Arsy!”

Lalu, aku melihat, tiba-tiba aku melihat ‘Ali, Fatimah. Al-­Hasan, al-Husain, ‘Ali bin al-Husain, Muhammad bin ‘Ali, Jafar bin Muhammad, Musa bin Ja’far, ‘Ali bin Musa, Muhammad bin ‘Ali, ‘Ali bin Muhammad, al-Hasan bin ‘Ali, dan Muhammad al-Mahdi bin al­Hasan, ia seperti bintang mutiara di tengah-tengah mereka.

Allah berfirman, “Wahai Muhammad, mereka adalah hujah­-hujah-Ku atas makhluk-Ku, dan mereka adalah washi-washi-mu, sedangkan al-Mahd! di antara mereka akan bangkit dari keturunanmu. Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, sesungguhnya dia akan menuntut balas terhadap musuh-musuh-Ku dan memudahkan kepada wali-wali-Ku.”

­Muwaffaq bin Ahmad al-Hanaf’i meriwayatkan dalam Manâqib-nya dari Salman dari Nabi Saw bahwa beliau bersabda kepada al-Husain As, “Engkau adalah seorang imam, anak seorang imam dan saudara seorang imam serta ayah para imam yang sembilan, yang kesembilan di antara mereka adalah al-Qa’im.”

Syihabuddin al-Hindi meriwayatkan dalam Manâqib-nya dengan sanadnya dari Nabi Saw bahwa ia bersabda, “(Akan lahir) dari keturunan al-Husain bin ‘Ali para imam yang sembilan, yang kesembilan di antara mereka adalah al-Qa ‘im.”

Al-Hamuyini meriwayatkan di dalam Farâ’idus Simthain dari Nabi Saw bahwa ia bersabda, “Barang siapa yang meninggalkan ‘Ali sepeninggalku, dia tidak akan melihatku dan aku tidak akan melihatnya pada hari kiamat. Barang siapa menentang ‘Ali, Allah akan mengharamkan untuknya surga, dan Dia akan menjadikan neraka sebagai tempatnya. Barang siapa menelantarkan ‘Ali, Allah akan menelantarkannya pada hari kiamat. Dan barang siapa menolongnya, Allah akan menolongnya pada hari dia bertemu dengan-Nya dan Dia akan mengajarkan kepadanya hujahnya ketika dia dimintai pertanggung-jawaban.”

Nabi Saw bersabda, “al-Hasan dan al-Husain adalah dua orang imam umatku setelah ayah mereka berdua. Keduanya adalah pemuka para pemuda penghuni surga, ibu mereka berdua pemuka kaum wanita, ayah mereka berdua pemuka washi-washi, dan dari keturunan al-Husain sembilan imam, yang kesembilan di antara mereka adalah al-Qa’im, dia adalah anakku. Ketaatan kepada mereka sama dengan ketaatan kepadaku dan penentangan kepada mereka sama dengan penentangan kepadaku. Hanya kepada Allah aku mengadukan orang yang mengingkari keutamaan mereka dan menyia-nyiakan hak mereka sepeninggalku. Cukuplah Allah sebagai Pelindung dan Penolong keturunanku dan para imam umatku, dan Dialah yang menyiksa orang-orang yang mengingkari hak mereka. Dan orang-­orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali

Al-Imamul Akbar, pemuka Syi’ah dan pembaharu syariat, Ayatullah al-’Uzhma, al-Mujahid al-A’zam, Muhammad bin Yusuf yang dikenal dengan sebutan al-’Allamah al-Hilli menyebutkan dalam kitab Kasyful Haqq’ beberapa hadis tentang dua belas khalifah dengan jalur yang berbeda-beda, kemudian al-Fadhl bin Rauzabahan pun mengakui kesahihan hadis-hadis tersebut, padahal ia adalah seorang nashibi, yang sangat membenci Ahlulbait. Al-Fadhl berkata, “Apa yang disebutkan (oleh al-Hum) tentang hadis-hadis yang diriwayatkan berkenaan dengan dua belas khalifah adalah sahih dan diriwayatkan dalam kitab-kitab sahih…”

Aku katakan, telah diriwayatkan dari Nabi Saw hadis tentang dua belas khalifah dalam hadis yang sangat banyak, selain yang telah kami sebutkan di dalam kitab ini, seperti dalam al-Bayân, karangan al-Hafizh al-Kanji; Fashlul Khithâb, karya al-Khawajab Barsa al-­Hanafi; Arba’in, karya Syaikh As’ad bin Ibrahim al-Hanbali; Arba’in, karya Ibn Abil Fawaris, dan kitab al-Hafizh Ibnu al-Khasyab dan selainnya, selain yang diriwayatkan melalui jalur Syi’ah yang jumlahnya sangat banyak.

Sayid Hasyim al-Bahrani meriwayatkan dalam kitabnya Ghâyatul Marâm, hadis dua belas khalifah melalui enam puluh enam jalur dengan sanad-sanadnya dari jalur Ahlus Sunnah. Ia menyebutkan tujuh jalur dari kitab Manaqib Amirul Mu’minin As, karya al-Maghazali asy-Syafi’i, ia meriwayatkan dari Musnad Ahmad bin Hanbal dan Shadrul A ‘immah ‘inda Ahlis Sunnah, karya al-Khawarzimi melalui dua belas jalur.

Ia meriwayatkan dari Abu Na’im al-Hafizh, dari al-Khathib dalam Târikh-nya, dan dari al-Hamuyini dua puluh tiga jalur, dari al-Fushûlul Muhimmah, karya Ibnu as Shibagh al-Maliki, dan dari Syarh Nahjul Balâghah, karya Ibn Abil Hadid, dua jalur.

Aku katakan, aku telah mendapatkan sebuab risalah yang ditulis oleh seorang tokoh Islam terkemuka, Syaikh Kazhim Abu Nuh Rah, ia berisikan jalur-jalur riwayat hadis para imam berasal dari Quraisy. Dalam risalah tersebut, halaman 14, ia berkata, “al-’Allamab as­-Sayyid Hasan Shadruddin meriwayatkan dalam kitabnya ad-Durârul Mûsawiyyah fi Syarhil ‘Aqâ’idil Ja ‘fariyyah hadis dua belas khalifab melalui jalur Ahmad bin Hanbal tiga puluh empat jalur, dan ia menyebutkan jalur-jalur Muslim, al-Bukhari, dan al-Hamidi, dan ia juga menyebutkan jalur-jalur riwayat yang kuat dengan menggabungkan di antara enam kitab sahih, riwayat ats- Tsa’labi, Abu Sa’id al-Khudri, Abu Burdah, Ibnu ‘Umar, ‘Abdurrahman bin Samurah,  Jabir, Anas, Ibnu ‘Abbas, ‘Umar bin al-Khatthab, ‘Aisyah dan riwayat Watsilah dan Abu Sulaiman ar-Ra’i.

Adapun riwayat ‘Umar bin al-Khatthab, ‘Ali bin al-Musayyib telah menyandarkan kepada ‘Umar sabda Nabi Saw, “Para imam selepasku dua belas..”

Ad-Daurusti menyandarkan kepada Ibnu al-Mutsanna sesungguhnya ia bertanya kepada ‘Aisyah, “Berapakah jumlah khalifah Rasulullah Saw?”

‘Aisyah menjawab, “Sesungguhnya ia (Nabi Saw) telah mengabarkan kepadaku bahwa sepeninggalnya ada dua belas khalifah.”

Ibnu al-Mutsanna berkata, “Beritahukanlah kepadaku nama-nama mereka!”

Akan tetapi ‘Aisyah enggan membeberkan nama-nama khalifah dua belas yang dimaksud kepadanya.

Kemudian setelah menyebutkan jalur-jalur riwayat hadis dua belas khalifah, Sayid Hasan Shadruddin menyebutkan kitab-kitab karangan para ulama Ahlus Sunnah yang meriwayatkan hadis tersebut, di antaranya Manâqib Ahmad bin al-Hanbal, an-Nasa’i, Tanzilul Qur’ân fi Manâqib Ahlil Bait, karangan Abu Na’im al-Hafizh al-Ishfahani, Farâ’idus Simthain fi Fadhâ’ilil Murtadhâ waz Zahrâ  karangan al-­Hamayini asy-Syafi’i, Mathtâlibus Sa’ul, karya Muhammad bin Thalhah asy-Syafi’i, Kitâb al-Bayân, karya al-Kanji asy-Syafi’i, Musnad Fathimah, karya ad-Daru Quthni, Kitâb Fadhâi’lil Ahlil Bait, karya al-Khawarizimi al-Hanafi, al-Manâqib, karya Ibn al-Magbazili al-Faqih asy-Syafi’i, al-Fushulul  Muhimmah, karya Ibnu Shibagh al-­Maliki, Jawâhirul ‘lqdâin, karya as-Samhadi al-Mishri, Dzakhâ’irul ‘Uqbâ, karya al-Muhibb ath-Thabari, Mawaddatul Qurbâ, karya ‘Ali bin Syihab al-Hamdani asy-Syafi’i, ash-Shawâ’iqul Muhriqah  karya Ibn al-Haitsami, al-Ishâbah, karya Ibnu Hajar al-’ Asqalani, Jâmi’ul Ushûl, Musnad Ahmad bin Hanbal, Musnad Abi Ya’la al-­Mûshili, Musnad Abi Bakar al-Bazzâr, Ma’âjim, karya ath-Thabrani, Jâmi ‘ush Shaghir, karya as-Suyuthi, dan Kanzud Daqâ’iq, karya al-­Manawi.

Aku katakan, sesungguhnya riwayat-riwayat yang banyak dan bermacam-macam ini, yang sampai kepada kita melalui jalur riwayat Ahlus Sunnah, merupakan dalil yang paling kuat dan hujah yang paling nyata bahwa khalifah sepeninggal Rasulullah Saw secara langsung adalah Amirul Mukminin ‘Ali bin Abi Thalib As, kemudian setelahnya adalah anak keturunannya sebelas Imam Maksum. Mereka adalah khalifah-khalifah Rasulullah Saw dan imam-imam kaum Muslimin, satu demi satu hingga pada hari ketika manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam (pada hari kiamat).

Siapa pun tidak akan sanggup mengingkari hadis-hadis tentang dua belas khalifah ini yang telah diriwayatkan dalam hadis-hadis sahih dari jalur ulama Ahlus Sunnah dan imam-imam hadis mereka, apalagi dari jalur Syi’ah, kecuali orang yang telah tumpul pikirannya dan hatinya telah tertutup (untuk menerima kebenaran).

Orang yang demikian itu adalah seperti yang difirmankan Allah Swt,

“(mereka) itu tuli, bisu, dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti.” (Qs. al-Baqarah .”[2]: 171)

Dan firman-Nya,

“Barang siapa yang berpaling dari pengajaran Tunan Yang Mana Pemurah (al-Qur’an). Kami biarkan baginya setan (yang menyesatkannya) dan yang menjadi teman karibnya.” (Qs. Az -Zuhruf [43]: 36)

Dan juga firman-Nya,

“Sesungguhnya Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka (sehingga mereka tidak) memahaminya, dan (Kami letakkan pula) sumbatan di telinga mereka; dan kendatipun engkau menyeru mereka kepada petunjuk, niscaya mereka tidak akan mendapat petunjuk selama-lamanya.” (Qs. al-Kahfi [18]:57)


[1]. Lihat, Musnad Ahmad bin Hanbal, jil. 1, hal. 406

[2] . Lihat, , Muslim,  Shahîh , jil. 2, hal. 79, Bab Sesungguhnya Orang-orang itu Mengikuti Quraisy.

[3] . Idem.,

[4] . Lihat, Sunan at- Tirmidzi, jil. 2.

[5] . Lihat, Shahîh al-Bukhâri, jil. 4, bab Hukum-hukum.

[6] . Idem, Bab Manakib Quraisy dan dalam bab Para Khalifah berasal dari Quraisy.

[7].  Lihat, al-Muttaqi, Kanzul ‘Ummâl  Jil. 6, hal. 160.

[8] . Lihat, Ibn Hajar, Shawa’iq, bab 11, pasal 2.

[9] .Hadis-hadis tentang dua belas khalifah tersebut hanya dapat  terapkan pada mazhab Syi’ah lmamiyah yang mengakui dua belas imam atau khalifah. Adapun selain Syi’ah lmamiyah sarna sekali tidak dapat diterapkan pada mereka karena mereka membolehkan kepemimpinan di tangan seorang selain dari Quraisy. Selain itu, jumlah raja dari Bani Umayyah dan ‘Abbasiyah melebihi dua belas orang. Apabila dikatakan bahwa yang dimaksud dengan dua belas khalifah adalah orang-orang saleh di antara mereka, maka jawabnya adalah: pertama, orang-orang saleh sesuai pengakuanmu di antara para khalifah Bani Umayyah dan ‘Abbasiyah jumlahnya tidak mencapai dua belas orang. Kedua, jika pendapatmu itu benar, maka hal ini mengharuskan adanya selang waktu antara seorang imam dengan imam yang lain sehingga terdapat kekosongan zaman dari imam. Hal tidak ini dapat dibenarkan sesuai hadis sahih yang diriwayatkan dari Nabi Saw., “Barangsiapa mati dalam keadaan tidak mengenal imam lamannya, maka ia mati dalam keadaan mati jahiliah.”

Para pembaca…

Orang yang pertama memberikan nama Syi’ah kepada para pengikut Amirul Mukminin ‘Ali As adalah Rasulullah Saw dan ia pula sebagai peletak dasar batu fondasinya serta penanam benihnya, sedangkan orang yang mengukuhkannya adalah Amirul Mukminin ‘Ali bin Abi Thalib As. Semenjak saat itu, para pengikut ‘Ali dikenal sebagai Syi’ah ‘Ali bin Abi Thalib.

Ibn Khaldun berkata di dalam Muqaddimah-nya, “Ketahuilah! Sesungguhnya Syi’ah secara bahasa artinya adalah sahabat dan pengikut. Dan di dalam istilah para fuqaha dan ahli kalam, dari kalangan salaf dan khalaf, sebutan Syi’ah ditujukan kepada para pengikut ‘Ali dan anak keturunannya.”[1]

Dan di dalam Khuthathu Syâm, karya Muhammad Kurd ‘Ali, cukuplah sebagai hujjah tentang penamaan istilah Syi’ah. Ia secara tegas berkata bahwa Syi’ah adalah sekelompok dari golongan sahabat Rasulullah Saw yang dikenal sebagai Syi’ah ‘Ali. Muhammad Kurd’ Ali berkata, “Adapun sebagian penulis yang berpandangan bahwa mazhab Tasyayyu’ (Syi’ah) adalah ciptaan ‘Abdullah bin Saba’, yang dikenal dengan Ibn As-Sauda’, maka itu merupakan khayalan belaka dan sedikitnya pengetahuan mereka tentang mazhab Syi’ah.”[2]

Inilah kesaksian Muhammad Kurd’ Ali, padahal ia dikenal bukan sebagai seorang Syi’ ah, bahkan termasuk orang yang mendiskreditkan Syi’ah.

Sesungguhnya hadis-hadis Nabi Saw. menguatkan apa yang telah kami sebutkan, baik yang diriwayatkan melalui jalur ulama-ulama kenamaan Ahlus Sunnah apalagi yang diriwayatkan melalui jalur Syi’ah. Hadis-hadis yang ada mencapai batas mutawatir.

Berikut ini kami sampaikan beberapa hadis tersebut yang diriwayatkan melalui jalur riwayat Ahlus Sunnah, sebagai penjelasan dan penyempurnaan di dalam hujjah kami.

Ibn Hajar al-Haitsami meriwayatkan di dalam kitabnya ash­Shawâ’iqul Muhriqah dari Ibn ‘Abbas sesungguhnya ia berkata, ketika Allah Ta’ala menurunkan ayat, Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah Sebaik-baik makhluk.” (Qs. al-Bayyinah [98]:7)

Rasulullah Saw bersabda kepada ‘Ali, “Mereka itu adalah engkau dan Syi ‘ahmu. Engkau dan Syi’ahmu akan datang pada hari Kiamat dalam keadaan ridha kepada Allah dan Allah pun ridha kepada mereka. Adapun musuhmu akan datang pada hari kiamat dalam keadaan dimurkai (oleh Allah) dan tertengadah (tangan mereka diangkat ke dagu).”[3]

‘Ali berkata, ‘Siapakah musuhku?’

Rasulullah Saw. bersabda, “Yaitu orang yang berlepas diri darimu dan melaknatmu.”[4]

Al-Hakim meriwayatkan di dalam kitabnya dengan sanadnya dari ‘Ali bahwa ia berkata; “Rasulullah Saw. bersabda kepadaku, “Wahai ‘Ali, bukankah engkau mendengar firman Allah Swt,Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah Sebaik-baik makhluk.” (Qs. al-Bayyinah [98]:7)

Mereka itu adalah Syi’ahmu.[5]

Al-Hamuyini asy-Syafi’i meriwayatkan dalam “Farâ’idus Simthain” dengan sanadnya dari Jabir, ia berkata, “Kami pemah berkumpul di rumah Nabi Saw, lalu ‘Ali datang, kemudian ia bersabda, “Telah datang kepada kalian saudaraku.” kemudian ia bersabda, “Demi jiwaku yang berada dalam genggaman-Nya, sesungguhnya orang ini (‘Ali) dan Syi’ahnya adalah orang-orang yang beruntung kelak pada hari kiamat. Sesungguhnya ia (‘Ali) adalah orang yang pertama kali di antara kalian yang beriman kepadaku, orang yang paling menepati janjinya dengan Allah. orang yang paling lurus dalam melaksanakan perintah Allah, orang yang paling berlaku adil di dalam memperlakukan rakyatnya, orang yang paling adil di dalam pembagian, dan orang yang paling agung di antara kalian di sisi Allah di dalam hal kemuliaan.”[6]

Kemudian Jabir berkata, “Dan ayat ini diturunkan berkenaan dengannya (yakni dengan ‘Ali), Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.” (Qs. al-Bayyinah [98]:7)

Dahulu, kata Jiibir lebih lanjut, para sahabat Muhammad Saw jika ‘Ali datang, maka mereka biasa mengucapkan, “Telah datang sebaik-baik makhluk.”

Hadis semisal ini juga diriwayatkan oleh al-Khawarizimi al­Hanafi di dalam Manâqib-nya dari Jabir Ra dari Rasulullah Saw.

Al-Khawarizmi juga meriwayatkan dalam Manâqib-nya dari al-Manshur ad-Dawaniqi dalam sebuah hadis yang panjang, di antaranya ia bersabda, “Dan sesungguhnya ‘Ali dan Syi’ahnya kelak pada hari kiamat adalah orang-orang yang beruntung dengan masuk ke dalam surga.

Ia juga meriwayatkan di dalam kitabnya sarna dari Nabi Saw bahwa ia bersabda, “Wahai ‘Ali, sesungguhnya Allah telah mengampunimu, keluargamu. Syi’ahmu, dan para pecinta Syi’ahmu.

Ia juga meriwayatkan dalam kitabnya yang sama dari Nabi Saw bahwa ia bersabda tentang keutamaan ‘Ali,

“Sesungguhnya ia (‘Ali) adalah orang yang paling pandai di antara manusia, orang yang paling dahulu masuk Islam. dan sesungguhnya ia dan Syi’ahnya adalah orang-orang yang beruntung besok pada hari kiamat.”

Ia juga meriwayatkan di dalam Manâqib-nya,[7] ia berkata, ‘an-Nashir lil Haqq meriwayatkan dalam sebuah hadis bahwa ketika ‘Ali maju menghadap Rasulullah Saw untuk menaklukkan benteng Khaibar, Rasulullah Saw bersabda kepadanya, “Sekiranya aku tidak khawatir sekelompok orang dari umatku akan berkata tentang dirimu, sebagaimana orang-orang Nasrani telah berkata sesuatu tentang al-Masih (‘Isa As), niscaya akan aku katakan tentang dirimu pada hari ini suatu perkataan, yang apabila engkau melewati orang banyak tentu mereka akan mengambi tanah bekas telapak kakimu dan dari bekas air wudhumu untuk mereka jadikan sebagai obat (mengambi/ keberkahan darinya).

Akan tetapi, cukup bagimu bahwa kedudukanmu di sisiku, seperti kedudukan Harun di sisi Musa hanya saja tidak ada nabi sesudahku. Sesungguhnya engkau membayarkan utangku dan engkau berperang di atas Sunnahku. Sesungguhnya engkau kelak di akhirat adalah orang yang paling dekat denganku, sesungguhnya engkau orang pertama yang menjumpaiku di Haudh dan orang pertama yang diberi pakaian bersamaku serta orang pertama yang masuk surga bersamaku dari kalangan umatku. Sesungguhnya Syi’ahmu berada di atas mimbar-­mimbar yang terbuat dari cahaya. Dan sesungguhnya kebenaran senantiasa berada di lisanmu, hatimu, dan di hadapanmu.

Aku katakan, hadis semacam ini juga diriwayatkan di dalarn kitab Kifâyatuth Thâlib, karya al-Kanji asy-Syafi’i, Târikh Baghdâd, karya al-Khathib al-Baghdadi “Majmâ’uz Zawâ’id, dan kitab-kitab lainnya yang dikarang oleh ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Al-Khawarizimi juga meriwayatkan di dalam Manâqib-nya dalam sebuah hadis yang panjang dengan sanadnya dari Ibn ‘Abbas bahwa Jibril telah mengabarkan kepada Nabi Saw bahwa ‘Ali dan Syi’ahnya akan dibawa ke dalam surga berombongan bersama Muhammad Saw.”

Al-Qunduzi al-Hanafi meriwayatkan di dalam kitabnya Yanâbi’ul Mawaddah[8] dari kitab Mawaddatul Qurbâ, karya al­-Hamdani asy-Syafi’i, dari Abu Dzar dari Nabi Saw sesungguhnya ia bersabda:

“Sesungguhnya Allah memandang bumi dari ‘Arsy­-Nya, lalu Dia memilihku dan memilih ‘Ali sebagai menantuku dengan menikahkannya dengan Fatimah al-’Adzra al-Batul, dan Dia tidak memberikan hal itu kepada seorang pun dari nabi-nabi-Nya; Dia mengaruniakan kepadanya al-Hasan dan al-Husain dan tidak mengaruniai seorang pun yang seperti mereka berdua,” hingga pada sabdanya, “Dia memasukkan Syi’ahnya ke dalam surga; dan Dia menjadikan aku sebagai saudaranya, dan tidak ada seorang pun yang bersaudarakan sepertiku. “

Kemudian Nabi Saw bersabda, “Ayyuhannas, barang siapa ingin memadamkan kemurkaan Tuhan dan ingin amalnya diterima oleh Allah, maka hendaklah ia mencintai ‘Ali bin Abi Thalib. Sebab, sesungguhnya mencintai ‘Ali bin Abi Thalib itu menambah keimanan, dan sesungguhnya mencintainya dapat meleburkan dosa­-dosa sebagaimana api meleburkan timah.”

Al-Qunduzi al-Hanafi juga meriwayatkan di dalam kitabnya Yanâbi’ul Mawaddah, dalam bab yang sama dan juga dari kitab yang sama dari Anas dari Nabi Saw bahwa ia bersabda, “Jibril telah menceritakan kepadaku, ia berkata. ‘Sesungguhnya Allah mencintai ‘Ali lebih daripada kecintaan-Nya kepada malaikat. Dan. tidak ada satu tasbih pun yang ditujukan kepada Allah kecuali Allah menciptakan darinya seorang malaikat yang memohonkan ampun kepada pecinta ‘Ali dan Syi’ahnya sampai hari kiamat,

Al-Qunduzi al-Hanafi juga meriwayatkan dalam kitabnya yang sama, dalam bab yang sama dari kitab al-Firdaus dari Ummu Salamah dari Nabi Saw bahwa ia bersabda, “Ali dan Syi’ahnya mereka adalah orang-orang yang beruntung pada hari kiamat.

Ibn al-Maghazali asy-Syafi’i meriwayatkan di dalam Manâqib­nya dengan sanadnya dari ‘Ali, dari Nabi Saw bahwa ia bersabda, “Tujuh puluh ribu orang dari umatku akan masuk ke dalam surga tanpa dihisab,” kemudian ia menoleh kepada ‘Ali seraya bersabda, “Mereka adalah Syi’ahmu dan engkau adalah imam mereka. “

Al-Khawarizimi juga meriwayatkan hadis tersebut dalam Manâqib-nya, tetapi terdapat sedikit perbedaan dalam teks hadis tersebut, “Kemudian ‘Ali As bertanya, “Siapakah mereka itu wahai Rasulullah?” Rasulullah Saw menjawab, ‘Mereka adalah Syi ‘ahmu dan engkau adalah imam mereka.”

Al-Kanji asy-Syafi’i meriwayatkan dalam kitabnya Kifâyatu ath-Thâlib” dari Jabir bin’ Abdillah, ia berkata, “Kami pemah berkumpul bersama Nabi Saw, tiba-tiba ‘Ali bin Abi Thalib datang, lalu ia bersabda, ‘Telah datang kepada kalian saudaraku,’ kemudian beliau bersabda, ‘Demi jiwaku yang berada di dalam genggaman-Nya,’ sesungguhnya orang ini (‘Ali) dan Syi ‘ahnya adalah orang-orang yang beruntung kelak pada hari kiamat. Sesungguhnya dia (‘Ali) adalah yang’ pertama kali di antara kalian yang beriman kepadaku, orang yang paling menepati janjinya dengan Allah, orang yang paling lurus dalam melaksanakan perintah Allah, orang yang paling berlaku adil di dalam memperlakukan rakyatnya. orang yang paling adif di dalam pembagian, dan orang yang paling agung di an/ara kalian di sisi Allah di dalam hal kemuliaan.

Kemudian Jabir berkata, “Dan ayat ini diturunkan berkenaan dengannya (‘Ali), Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.” (Qs. al-Bayyinah [98]:7)

Dahulu, tutur Jabir lebih jauh, “Jika ‘Ali datang pada suatu tempat dan di tempat itu berkumpul para sahabat Muhammad Saw jika ‘Ali datang, maka mereka biasa mengucapkan, “Telah datang sebaik-baik makhluk.”

Al-Kanji asy-Syafi’i berkata, “Demikianlah yang diriwayatkan oleh perawi hadis Syam, lbn ‘Asakir, dalam kitabnya yang dikenal dengan Târikh Ibn ‘Asakir, dengan jalur riwayat yang berbeda-beda.

Hadis ini juga diriwayatkan oleh al-Hamuyini asy-Syafi’i dalam kitabnya Farâ’idus Simthain, jilid pertama, bab ke-31; Al­Khawarizimi al-Hanafi dalam Manâqib-nya; dan selain keduanya dari kalangan tokoh-tokoh ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Ibnus Shabiigh al-Maliki meriwayatkan dalam al-Fushûlul Muhimmah” dan asy-Syablanji asy-Syiifi’i di dalam Nurul Abshar’ dari lbnu ‘Abbas, ia berkata, “Ketika ayat ini turun, Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.” (Qs. al-Bayyinah [98]:7) Nabi Saw bersabda kepada ‘Ali, Engkau dan Syi’ahmu akan datang pada hari kiamat dalam keadaan ridha kepada Allah dan Allah pun ridha kepada mereka, sedangkan musuh-musuhmu datang dalam keadaan dimurkai dan tertengadah (tangan mereka diangkat ke dagu).”[9]

Ummu Salamah berkata, “Rasulullah Saw bersabda, “Ali dan Syi ‘ahnya adalah orang-orang yang beruntung pada hari kiamat.”

Hadis ini diriwayatkan oleh dari Kunuzûl Haqâiq, karya al-Manawi, dan dari Tadzkiratul Khawwâsh, karangan Sibth Ibn al-Jauzi, dengan sedikit perbedaan dalam teks hadisnya.

Ibnu al-Maghazali asy-Syafi’i meriwayatkan dalam Manâqib-nya dari Ibn ‘Abbas, ia berkata, “Aku pemah bertanya kepada Rasulullah Saw tentang firman Allah Swt, Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.” (Qs. al-Bayyinah [98]:7)

Kemudian, ia bersabda, “Jibril telah berkata kepadaku bahwa mereka itu adalah ‘Ali dan Syi’ahnya. Mereka adalah orang-­orang yang paling dahulu memasuki surga, yang didekatkan kepada Allah karena kemuliaannya.”

Al-Khathib juga meriwayatkan hadis tersebut dalam Târikh­nya dan Ibn Mardawaih di dalam al-Manâqib.

Ibn Hajar meriwayatkan dalam Ash-Shawâ’iqul Muhriqah, ia berkata, “Ahmad meriwayatkan di dalam al-Manâqib, halaman 159, bahwa Nabi Saw bersabda kepada ‘Ali, ‘Wahai ‘Ali, apakah engkau tidak ridha bahwa engkau bersamaku di dalam surga, sedangkan al-Hasan, al-Husain, dan kelurunan kita berada di belakang punggung kita, istri-istri kita berada di belakang keturunan kita, dan Syi’ah kita berada di sebelah kanan dan kiri kita,”

Kemudian ia meriwayatkan hadis yang lain dari ad-Dailami bahwa Nabi Saw bersabda kepada ‘Ali, “Wahai ‘Ali, sesungguhnya Allah telah mengampunimu, keturunanmu, keluargamu, dan Syi’ahmu.”

Ibnu Hajar juga meriwayatkan dalam Shawâ’iq-nya, ia berkata, “Ath-Thabrani meriwayatkan bahwa Nabi Saw bersabda kepada ‘Ali, “Orang yang mula-mula masuk surga adalah empat orang, yaitu: Aku, engkau, al-Hasan, dan al-Husain, sedangkan keturunan kita berada di belakang punggung kita, istri-istri kita berada di belakang keturunan kita, dan Syi ‘ah kita berada di sebelah kanan dan kiri kita.

Masih banyak lagi hadis-hadis Nabi Saw yang diriwayatkan oleh para ulama terkemuka Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam buku­buku karangan mereka dan musnad-musnad serta kitab-kitab sahih mereka, yang berisikan pujian terhadap Syi’ah ‘Ali dan Ahlulbaitnya yang telah disucikan oleh Allah dari segala dosa dan kesalahan, yang jumlahnya sangat banyak, bahkan tidak dapat dihitung.

Hujjatul Islam wal Muslimin al-’Allamah as-Sayyid al­’Abbas al-Kasyani telah menghimpun dalam sebuah naskah (yang masih berbentuk manuskrip) sejumlah hadis Nabi Saw, yang diriwayatkan dari Rasulullah Saw yang berisikan pujian terhadap Syi’ah. Hadis-hadis yang ia himpun dalam naskah tersebut  mencapai seratus hadis, yang semuanya diriwayatkan melalui jalur riwayat Ahlus Sunnah wal Jamaah. Aku telah melihat naskah tersebut pada perpustakaannya di Kota Suci Karbala, yaitu pada ketika aku mengunjungi tanah suci tersebut pada tahun 1370 Hijriah. Aku kira naskah tersebut masih dalam bentuk manuskrip (tulisan tangan) bersama naskah-naskah yang lain yang jumlahnya sangat banyak.

Aku memohon kepada Allah Yang Mahakuasa untuk memberikan taufik kepada Maulana al-Hujjah as-Sayyid al-Kasyani dan seluruh ulama kita yang mulia dan berbakti, semoga mereka dapat mencetak dan menerbitkan kitab-kitab karangan mereka agar dengan kehadirannya dapat memberikan manfaat kepada umat Islam. Sesungguhnya Dia Mahadekat lagi Maha Mengabulkan doa hamba­hamba-Nya.[]


[1] . Lihat, Ibnu Khaldun, Muqaddimah, hal. 130.

[2] . Lihat, Khuthathu Syâm, jilid 5, hal. 156.

[3] . Lihat, Ibn Hajar al-Haitsami, ash-­Shawâ’iqul Muhriqah, hal. 128.

[4] . Aku katakan. segala puji bagi Allah yang telah menjadikan Ibn !::!ajar mengucapkan kata-kata yang benar. Sebab, kebenaran itu memang tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi daripadanya. Oi dalam hat ini. hendaklah kita menanyakan kepada orang nawashib dan pendusta ini (Ibn tlajar) tentang orang yang bel1epas diri dari ‘ali a.s. dan melaknatnya, apakah dia buka tuannya, yailu Mu’awfyah Ath- Thagh;yah (orang yang zalim) dan yang mengikuti jalannya? Mu’awiyah adalah orang yang membuat ketetapan yang buruk, yaitu pelaknatan terhadap pemuka para washiyy (Amirul Mukminin ‘Ali bin Abi Thalib a.s.) di alas tujuh puluh ribu mimbar, sebagaimana yang dlrlwayatkan oleh para sejarawan.

[5] . Lihat, al-Hakim, Syawâhidut Tanzil.

[6] . Lihat,  Farii’idus Simthain, jilid 1, bab ke- 31.

[7] . Lihat, Manâqib, hal. 118.

[8] . Lihat, Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanâbi’ul Mawaddah  bab 56.

[9] . Lihat, asy-Syablanji asy-Syiifi’i, Nurul Abshâr’, hal. 102.

Ahlulbid’ah antara lain mazhab yang tidak mengakui ‘Ali adalah Washiyy Rasulullah Saw

Para ulama, dari seluruh mazhab dan aliran dalam Islam, menyebutkan riwayat-riwayat hadis yang tak terbilang, dalam kitab­-kitab karangan mereka, kitab-kitab shahîh, dan musnad, tentang keutamaan Amirul Mukminin ‘Ali bin Abi Thalib As dan keturunannya yang suci, di antaranya:

 

Tidak Diperbolehkan melewati Shirâth tanpa Izin ‘Ali

Ibnu Hajar meriwayatkan dalam ash-Shawâ’iqul Muhriqah, ia berkata, “Ibnuu as-Saman meriwayatkan bahwa Abu Bakar berkata tentang ‘Ali, ‘Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda, “Tidak diperbolehkan bagi seseorang untuk melewati shirâth kecuali yang mendapatkan izin dari ‘Ali.”[1]

Al-Khawarizmi meriwayatkan dalam Maqtalul Husain dengan sanadnya dari al-Hasan al-Bashri dari ‘ Abdullah yang berkata, “Rasulullah Saw bersabda, ‘Pada hari kiamat kelak, ‘Ali bin Abi Thalib akan duduk di atas Firdaus, yaitu di atas puncak gunung yang tertinggi di surga, di atasnya adalah ‘Arsy Tuhan semesta alam, dan di kaki gunungnya memancar sungai-sungai surga dan berpencar di dalam surga-surga. ‘Ali duduk di atas kursi yang terbuat dari cahaya, yang mengalir di hadapannya Tasnim (nama sungai di surga), tidak diperkenankan siapa pun untuk melewati shirâth, kecuali ada bersamanya pernyataan (pengakuan) terhadap wilayahnya dan wilayah Ahlulbaitnya, lalu pecintanya akan masuk surga, sedangkan orang yang membencinya akan masuk neraka.”[2]

Hadis tersebut juga diriwayatkan oleh al Hamuyini asy-Syafi’i dalam Farâ’idus Simthain’.[3]

Al-Muhibb ath-Thabari asy-Syafi’i meriwayatkannya dalam Ar-Riyâdhun Nadhrah.[4] Al-Khathib al-Baghdadi meriwayatkannya dalam Târikh Baghdâd.[5] Ibnu al-Maghazili asy-Syafi’i dalam kitabnya al-Manâqib, dan Abu Bakar bin Syihabuddin asy-Syafi’i dalam Rasyfatush Shâdi.

Dan hadis ini juga diriwayatkan oleh sekelompok sahabat, selain Abu Bakar, Ibnu ‘Abbas, dan Ibnu Mas’ud.

 

‘Ali Pembagi Surga dan Neraka

Al-Khawarizimi al-Hanafi meriwayatkan dalam Manâqib-­nya dari ‘Ali bin Abi Thalib as yang berkata, “Rasulullah Saw bersabda, ‘Wahai ‘Ali, sesungguhnya kamu adalah pembagi surga dan neraka, dan sesungguhnya engkau mengetuk pintu surga, lalu engkau memasukinya tanpa hisab. ‘”

 

Seandainya Manusia Bersepakat dalam Mencintai ‘Ali, Niscaya Allah Tidak Akan Menciptakan Neraka

Al-Qunduzi al-Hanafi meriwayatkan dalam Yanâbi’ul Mawaddah dari al-Hamdani dari ‘Umar bin al-Khathab yang berkata, “Nabi Saw bersabda, “Seandainya manusia bersepakat dalam mencintai ‘Ali bin Abi Thalib, niscaya Allah tidak akan menciptakan neraka.”[6]

Al-’Allamah al-’Askari berkata dalam kitabnya Maqâm al-Imâm Amirul Mu’minin ‘indal Khulafâ,[7] hadis ini diriwayatkan dari ‘Umar bin al-Khathab dan selainnya dari sahabat yang mulia oleh sekelompok ulama Ahlus Sunnah, di antaranya:

Al-Khawarizmi dalam kitabnya Maqtalul Husain, ia meriwayatkan hadis ini dengan sanadnya dari Ibnu ‘Abbas bahwa dia berkata, “Rasulullah Saw bersabda, “Seandainya manusia bersepakat dalam mencintai ‘Ali bin Abi Thalib, niscaya Allah tidak akan menciptakan neraka.”[8]

Muhammad bin Shalih al-Hanafi meriwayatkan dalam kitabnya al-Kawakib ad-Durri, dari ‘Umar bin al-­Khathab yang berkata, “Nabi Saw bersabda, “Seandainya manusia bersepakat dalam mencintai ‘Ali bin Abi Thalib, niscaya Allah tidak akan menciptakan neraka.”[9]

 

Orang yang Paling Dekat kepada Rasulullah Saw adalah ‘Ali As

Al-Khawarizmi al-Hanafi meriwayatkan dalam kitabnya Maqtalul Husain dengan sanad dari asy-Sya’bi yang berkata, “Abu Bakar pernah memandang ‘Ali ketika dia datang seraya berkata, ‘Barang siapa yang ingin memandang kepada orang yang paling dekat kepada Rasulullah Saw, paling mulia lagi paling agung kedudukannya di sisi Allah, maka hendaklah dia memandang kepada orang ini ­sambil menunjuk kepada ‘Ali bin Abi Thalib-karena sesungguhnya aku mendengar Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya  ia (‘Ali) benar-benar seorang yang amat belas kasihan terhadap manusia, dan sesungguhnya dia benar-benar seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.”[10]

Aku katakan, hadis tersebut juga diriwayatkan oleh al-Muttaqi al-Hanafi dalam Kanzul ‘Ummâl ,[11] al-Muhibb ath-Thabari asy-Syafi’i dalam ar-Riyâdhun Nadhrah,[12], dan selain keduanya dengan sedikit perbedaan teks hadis.

 

“Wahai ‘Ali, Tanganmu di Tanganku, Engkau Masuk Surga Bersamaku.”

Al-Muhibb ath-Thabari meriwayatkan dalam Dzakâ’irul ‘Uqbâ dari ‘Umar bahwa ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda kepada ‘Ali, “Wahai ‘Ali, tanganmu berada di tanganku, engkau masuk bersamaku pada hari hamat di tempat yang aku masuk (surga)…”[13]

Hadis tersebut juga diriwayatkan oleh al-Muttaqi dalam Kanzul ‘Ummal,[14] dari Tarikh Ibnu ‘Asakir, dan dari Fadhâ’ilush Shahâbah, karya Abu Na’im, dan juga diriwayatkan oleh Abu Bakar asy-Syafi’i dalam al-Ghîlâniyyat.

Hadis tersebut juga diriwayatkan oleh sekelompok ulama Ahlus Sunnah yang lain, di antaranya: al-Kanji asy-Syafi’i dalam Kifâyatuth Thâlib, dari Anas yang berkata, “Rasulullah Saw bersabda, ‘Didatangkan pada hari kiamat seekor unta dari unta-unta surga, lalu engkau menungganginya wahai ‘Ali, sedangkan lututmu menempel pada lututku, dan pahamu menempel pada pahaku, sehingga engkau masuk surga..” [15]

Al-Hafizh meriwayatkan dari Salim dari Ibnu ‘Umar, ia berkata, “Ketika ‘Umar ditikam dan memerintahkan musyawarah untuk menunjuk penggantinya, ia berkata, “Apa mungkin yang akan dikatakan orang-orang tentang ‘Ali? Aku mendengar  Rasulullah Saw bersabda, “Wahai ‘Ali, tanganmu berada di tanganku pada hari kiamat sehingga engkau masuk ke tempat yang aku masuk (surga).”

Aku katakan, sesungguhnya ini adalah hadis yang agung dan kedudukan yang agung bagi ‘Ali As. Al-’Allamah al-’Askari berkata dalam kitabnya Maqâmul Imâm,[16] “Telah diriwayatkan hadis yang banyak dari jalur ulama Ahlus Sunnah bahwa ‘Ali As bersama Nabi Saw di surga, di antaranya hadis yang diriwayatkan di dalam Dzakâ’irul ‘Uqbâ, halaman 89, dari Zaid bin Arqam bahwa Nabi Saw bersabda kepada ‘Ali, ‘Engkau bersamaku dalam istanaku di surga bersama Fatimah putriku,” kemudian ia membaca ayat, ” Sedangkan mereka bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.” (Qs. al-Hijr [15]:47)

Ahmad bin Hanbal meriwayatkan dalam al-Manâqib dan juga disebutkan dalam Dzakhâ’irul ‘Uqba, dari ‘Abdullah bin Mas’ud, ia berkata, “Rasulullah Saw. bersabda kepada ‘Ali, “Apakah engkau tidak rela bahwa engkau bersamaku dalam surga bersama al-Hasan dan al-Husain, dan keturunan kita di belakang kita, sedangkan istri-istri kita di belakang kelurunan kita, dan para Syi ‘ah (pengikul) kita di sebelah kanan dan sebelah kiri kita.”[17]

 

“Kedudukan ‘Ali di Sisiku, seperti Kedudukanku di Sisi Tuhanku.”

Ibnu Hajar menyebutkan dalam ash-Shawâ’iqul Muhriqah,[18] lbnu as-Saman meriwayatkan dalam kitabnya al-Muwâfaqah dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, “Ketika Abu Bakar dan’ Ali datang untuk menziarahi kuburan Rasulullah Saw” enam hari setelah wafatnya, ‘Ali berkata kepada Abu Bakar, ‘Majulah!’ Yakni, masuklab lebih dabulu ke dalam kamar yang dalamnya terdapat kuburan Rasulullab Saw. Kemudian, Abu Bakar berkata, ‘Aku tidak akan mendahului seseorang yang aku telah mendengar Rasulullab Saw bersabda, ‘Kedudukan ‘Ali di sisiku, seperli kedudukanku di sisi Tuhanku.”

Aku katakan, banyak ulama Ahlus Sunnah yang meriwayatkan hadis tersebut dalam kitab-kitab mereka, di antaranya: Al-Muhibb ath-Thabari asy-Syafi’i dalam Dzakhâ’irul ‘Uqba, halaman 64, dan dalam ar-Riyâdhun Nadhrah, jilid 2, halaman 163.

 

“Sesungguhnya Allah Telah Menganugerahkan kepada Saudaraku, ‘Ali bin Abi Thalib, Keutamaan-Keutamaan yang Tidak Terhitung.”

Al-Kanji asy-Syafi’i meriwayatkan dalam Kifâyatuth Thâlib dengan sanad dari ash-Shadiq As, dari ‘Ali bin al-Husain, dari ayahnya, dari Amirul Mukminin ‘Ali As yang berkata, Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya Allah telah menganugerahkan kepada saudaraku, ‘Ali bin Abi Thalib, keutamaan-keutamaan yang tidak terhitung dan sangat banyak. Barangsiapa menyebutkan salah satu keutamaan dari keutamaan-keutamaannya, dan mengakuinya, nicaya Allah akan mengampuni dosanya yang telah lalu dan yang akan datang; barangsiapa yang menuliskan salah satu keutamaan dari keutamaannya, niscaya malaikat akan senantiasa memohonkan ampunan untuknya, selama tulisan itu masih ada; barangsiapa yang mendengarkan salah satu keutamaan dari keutamaannya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang diakibatkan oleh pendengarannya; dan barangsiapa yang memandang tulisan yang berisikan keutamaan-keutamaannya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang diakibatkan oleh penglihatannya.”[19]

Nabi Saw bersabda; “Memandang saudaraku, ‘Ali, merupakan ibadah dan menyebut (keutamaannya) juga merupakan ibadah. Allah tidak akan menerima iman seorang hamba Allah, kecuali dengan mengakui wilayâh-nya dan berlepas diri dari musuh-musuhnya.”

 

“Aku Berdamai kepada Orang yang Berdamai dengan Penghuni Kemah Ini.”

Al-Khawarizmi al-Hanafi meriwayatkan dalam kitabnya dengan sanad dari Yunus bin Sulaiman at-Tamimi, dari ayahnya, dari Zaid yang berkata, “Aku mendengar Abu Bakar berkata, “Aku pernah melihat Rasulullah Saw memasang sebuah kemah, sedangkan ia bersandar pada sebuah busur. Ketika itu, dalam kemah tersebut terdapat ‘Ali, Fatimah, al-Hasan, dan al-Husain, lalu Rasulullah Saw bersabda,

“Wahai segenap kaum Muslim, aku berdamai kepada orang yang berdamai dengan penghuni kemah ini. Aku memerangi orang yang memerangi mereka. Aku menolong orang yang menolong mereka. Dan aku memusuhi orang yang memusuhi mereka. Tidak ada yang mencintai mereka kecuali orang yang berbahagia dan baik kelahirannya (lahir dari hasil pernikahan yang sah). Tidak ada yang membenci mereka kecuali orang yang celaka dan lahir dari hasil perbuatan zina.”

Kemudian ada seseorang yang bertanya kepada laid, “Wahai Zaid, apakah engkau mendengar Abu Bakar berkata hal itu?” Zaid menjawab, “Ya, demi Tuhan Pemilik Ka’bah.” [20]

Hadis ini juga diriwayatkan oleh ‘Abdullah al-Hanafi dalam kitabnya Arjahul Mathâlib, halaman 309, dan al-Muhibb ath-Thabari asy-Syafi’i dalam ar-Riyâdhun Nadhrah.

 

“Kami Ahlulbait, Tidak Ada Seorang pun yang Dapat Dibandingkan dengan Kami.”

Al-Qunduzi al-Hanafi meriwayatkan dalam Yanâbi’ul Mawaddah dari kitab Mawaddatul Qurbâ, karya al-Hamdani asy-­Syafi’i, yang meriwayatkan dengan sanad dari Abu Wa’il dari Ibnu ‘Umar yang berkata, “Dahulu kami jika menghitung sahabat­sahabat Nabi Saw, kami biasa berkata, ‘Abu Bakar, ‘Umar, dan ‘Utsman.” Lalu ada seseorang yang berkata, ‘Wahai Abu ‘Abdurrahman, lalu ‘Ali siapakah ia?”

Ibnu ‘Umar menjawab, “Ali terrnasuk Ahlulbait, yang tidak dapat dibandingkan dengannya seorang pun. Ia (‘AIi) bersama Rasulullah Saw dalam derajatnya. Sesungguhnya Allah berfirrnan, “Dan orang-orang beriman, dan anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka.” (Qs. at-Thur [52]:21)

Oleh karena itu, Fatimah bersama Rasulullah Saw berada pada derajat yang sama, sedangkan ‘Ali bersama mereka berdua.’”

Al-’Allamah al-’Askari berkata dalam kitabnya Maqâmul Imâm, “Sesungguhnya perkataan Ibnu ‘Umar, “Ali adalah dari Ahlulbait, yang tidak dapat dibandingkan dengannya seorang pun,”[21] dikuatkan oleh banyak hadis Nabi Saw, di antaranya hadis yang diriwayatkan dalarn Dzakhâ’irul ‘Uqbâ karya al-Muhibb ath-­Thabari asy-Syafi’i, halaman 17, dari Anas yang berkata, “Rasulullah Saw bersabda, ‘Kami Ahlulbait tidak dapat dibandingkan dengan seorangpun.”

Hadis ini juga diriwayatkan oleh ‘Ubaidullah al-Hanafi dalarn Arjahul Mathâlib, halaman 330, sama seperti yang diriwayatkan dalam Dzakhâ’irul ‘Uqbâ, hanya saja ia berkata, “Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Mardawaih dalarn al-Manâqib.” Dalam kitab tersebut, pada halaman yang sama, dikatakan, “Ali As berpidato di atas mimbar, di antaranya ia berkata, ‘Kami Ahlulbait Rasulullah Saw, tidak ada seorang pun yang dapat dibandingkan dengan kami.”

Ad-Dailami meriwayatkan dalarn Firdausul Akhbâr dan dalam Yanâbi’ul Mawaddah, halaman 253, setelah menukilkan hadis yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar, ia berkata, “Abdullah bin Ahmad bin Hanbal pemah bertanya kepada ayahnya tentang pengutamaan sahabat, lalu ayahnya menjawab, “Abu Bakar, ‘Umar, dan ‘Utsman, kemudian ia diam.”

‘Abdullah berkata, “Wahai ayahku, di mana ‘Ali bin Abi Thalib?”

Ahmad bin Hanbalmenjawab, “Ali adalah dari Ahlulbait, mereka (Abu Bakar, ‘Umar dan ‘Utsman) itu tidak dapat dibandingkan dengannya.”

 

“‘Ali Adalah Saudaraku, Khalifahku dan Orang yang Mewarisi Ilmuku.”

At-Tirmidzi (Muhammad bin Shalih) al-Hanafi meriwayatkan dalam al-Kawâkib ad-Durri dari ‘Umar yang berkata, “Ketika Rasulullah Saw mengikat persaudaraan di an tara para sahabatnya, ia bersabda, “Ini ‘Ali adalah saudaraku di dunia dan akhirat, khalifahku dalam keluargaku, washiyy (penerima wasial unluk menjadi khalifah)-ku bagi umatku, orang yang mewarisi ilmuku, pembayar utangku, hartanya dariku dan hartaku darinya, memberikan kebaikan kepadanya sama dengan memberikan kebaikan kepadaku, dan memberikan kemudaratan kepadanya sama dengan memberikan kemudaratan kepadaku. Barang siapa yang mencinlainya, berarli dia lelah mencinlaiku; dan barang siapa yang membencinya, berarti dia lelah membenciku.”[22]

Hadis ini juga diriwayatkan oleh al-Qunduzi al-Hanafi dalam Yanâbi’ul Mawaddah, halaman 251.

Aku katakan, sesungguhnya ‘Umar mengakui bahwa ‘Ali adalah washiyy Rasulullah Saw bagi umat dan khalifah dalam keluarganya, dan ia telah meriwayatkan hadis yang sama kandungan hadis ini dari Nabi Saw yang banyak jumlahnya, bahkan lebih dari dua ratus hadis. Kami telah mengumpulkan sebagian di antaranya dalam kitab kami asy-Syi’ah wa Hujjatuhum fit Tasyayyu’ (Syi’ah dan Hujah Mereka di dalam Kesyi’ahan Mereka).

Alangkah baiknya, sekiranya ‘Umar dengan segala pengakuan yang banyak tersebut, yang diriwayatkan di dalam kitab­kitab Ahlus Sunnah, tidak melakukan hal-hal yang menciptakan hal yang merugikan (mudarat) Nabi Saw dan Ahlulbaitnya yang diberkati, seperti penyerbuannya ke rumah Fatimah dan pengumpulan kayu bakar untuk membakar rumahnya berikut orang yang ada di dalamnya serta pemaksaan yang dilakukannya terhadap ‘Ali untuk melakukan baiat (kepada Abu Bakar), dan hal-hal lainnya yang bersumber darinya yang dilakukan secara sengaja terhadap orang-orang yang diperintahkan Allah Swt untuk mencintai mereka, sebagaimana firman-Nya, “Katakanlah, “Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upah pun atas seruanku kecuali kasih sayang (mawaddah) terhadap keluargaku.” (Qs. asy-Syura [42]:23)

Dan juga sabda Nabi Saw, “Aku wasiatkan kepada kalian Ahlulbaitku karena sesungguhnya mereka itu adalah titipanku (amanah) kepada kalian.”

“Ali Adalah Orang yang Paling Utama yang Aku Tinggalkan Setelahku.”

Al-Qunduzi al-Hanafi meriwayatkan dalam Yanâbi’ul Mawaddah dari kitab Mawaddatul Qurbâ, karya al-Hamdani asy-­Syafi’i, dari lbnu ‘Umar, ia berkata, “Pemah Salman al-Farisi berjalan melewati kami, ketika itu kami sedang dalam suatu perkumpulan. Ia bermaksud menengok seseorang. Tiba-tiba ada seseorang di antara kami yang berkata, ‘Jika kalian mau, niscaya akan aku beri tahukan kepada kalian seorang yang paling utama di kalangan umat ini setelah Nabinya, dan ia lebih utama daripada dua orang laki­-laki ini (Abu Bakar dan ‘Umar).

Maka, Salman berkata, ‘Jika kalian mau, niscaya akan aku beri tahukan kepada kalian seorang yang paling utama di kalangan umat ini setelah Nabinya, dan ia lebih utama daripada dua orang laki-laki ini, (      Abu Bakar dan ‘Umar’). Kemudian Salman pergi. Salman ditanya, “Wahai Abu ‘Abdillah, apa yang kamu  katakan?”            Salman menjawab, ‘Aku pemah menghadap Rasulullah     Saw, lalu aku bertanya kepadanya, “Apakah engkau telah berwasiat?”  Rasulullah Saw. bersabda, “Wahai Salman, apakah engkau tahu, siapakah orang-orang yang mendapatkan wasiat (al-Aushiyâ’)?’        Salman berkata, “Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. “

Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya Adam washiyy-nya adalah Syits, dan ia (Syits) adalah putranya yang paling utama yang ditinggalkan setelahnya; washiyy Nuh adalah Sam, dan ia (Sam) adalah orang yang paling utama yang ditinggalkan setelahnya; washiyy Musa adalah Yusya’, dan ia  adalah orang yang paling utama yang ditinggalkan setelah; washiyy Sulaiman adalah Ashif bin Barkhiya, dan ia (Ashif) adalah orang yang paling utama yang ditinggalkan setelahnya; washiyy ‘Isa adalah Syam’un bin Barkhiya, dan ia adalah orang yang paling utama yang ditinggalkan setelahnya; dan sesungguhnya aku telah mewasiatkan (menjadikannya sebagai washiyy) kepada ‘Ali, dan ia adalah orang yang paling utama yang aku tinggakan setelahku.” [23]

Aku katakan, at-Tirmidzi al-Hanafi telah meriwayatkan hadis seperti di atas  dalam al-Kawâkib ad-Durri, halaman 133, bahkan hadis semacam ini telah diriwayatkan dalam riwayat yang berbeda-beda dari ‘Umar dan Ibnu ‘Umar dalam kitab-kitab Ahlus Sunnah.

Jelaslah dari hadis ini dan yang semisalnya, yang sebagiannya telah kami sampaikan, bahwa setiap nabi yang telah lalu mempunyai seorang washiyy yang telah ditentukan dari sisi Allah, dan tidaklah dibenarkan bagi seorang nabi untuk meninggal dunia dalam keadaan ia tidak mewasiatkan kepada seseorang dan meninggalkan syariatnya diabaikan.

Demikian juga Rasulullah Saw, ia sudah semestinya telah berwasiat. Bukankah Anda tahu bahwa ia telah mewasiatkan kepada ‘Ali pada hari ia memberikan peringatan kepada kerabatnya yang terdekat (asyiratakal aqrabin), pada hari Ghadir Khum, dan pada kesempatan yang berbeda-beda, sebagaimana telah dicatat dalam buku-buku sejarah. Bahkan, ketika dalam keadaan sakit yang membawa pada wafatnya, ia meminta kertas dan pena untuk menuliskan wasiatnya agar mereka tidak tersesat selamanya.

Akan tetapi, hal itu ditolak oleh ‘Umar dengan ucapannya, “Sesungguhnya nabi kalian telah meracau (mengigau),” dan ucapannya, “Pada kita telah ada Kitabullah yang itu sudah cukup bagi kita,” seakan-akan Rasulullah Saw tidak tahu bahwa ada Kitabullah di tengah-tengah mereka.

Seandainya Rasulullah Saw tidak meninggalkan wasiat, niscaya ia bertentangan dengan para rasul dan nabi sebelumnya . Perhatikanlah hadis yang diriwayatkan oleh Salman tersebut dan hadis­-hadis lainnya yang semacamnya yang diriwayatkan para sahabat Nabi Saw yang lain.

Dengan demikian, penunjukan seorang washiyy adalah merupakan kewajiban para nabi. Oleh karena itu, mereka menunjuk para washiyy mereka berdasarkan perintah Allah Swt, bukan dari diri mereka sendiri. Sebab, pengetahuan mereka terbatas sehingga mereka tidak diperkenankan menunjuk washiyy mereka berdasarkan kehendak mereka sendiri, tetapi mereka memasrahkannya kepada Allah karena Dialah yang mengetahui segala rahasia.

Allah Swt. berfirman,

Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka.” (Qs. al-Qashash [28]:68)

 

“Sebaik-baik Laki-Laki Kalian Adalah ‘Ali bin Abi Thalib.”

AI-Qundtizi Al-Hanafi meriwayatkan di dalam Yanabi’ul Mawaddah21 dari kitab Mawaddatul Qurba; karangan AI-Hamdiini Asy­Syiifi’i dengan sanadnya dari Ibn ‘Umar dari Rasulullah Saw. bahwasanya beliau bersabda, “Sebaik-baik laki-taki kalian adalah ‘Ali bin Abi Thalib, sebaik-baik pemuda kalian adalah al-Hasan dan al-­Husain, dan sebaik-baik wanita kalian adalah Fatimah binti Muhammad.”

Aku katakan, para ulama Ahlus Sunnah telah meriwayatkan hadis tersebut dan yang semisalnya di dalam kitab-kitab mereka.

AI-Muttaqi al-Hanafi meriwayatkan dalam Kanzul ‘Ummâl, jilid 6, halaman 159, dari Ibnu ‘Abbas sesungguhnya ia berkata, “Rasulullah Saw bersabda, “Ali adalah sebaik-baik manusia.”

Dari Hudzaifah, ia berkata, “Aku mendengar Nabi Saw bersabda, “Ali adaJah sebaik-baik manusia barang siapa menolaknya, maka ia telah kufur.” Demikian diriwayatkan oleh al-Hafizh ad-­Dimasyqi dalam kitab at-Târikh dari al-Khathib al-Hafizh. Demikian juga disebutkan dari Jabir.

Dalam riwayat ahli hadis dari Syam disebutkan, “Tidak ada yang membencinya kecuali orang kafir.” Dan dalam sebuah riwayat , A’isyah dari ‘Atha’, ia berkata, “Aku bertanya kepada ‘A’ isyah tentang ‘Ali, lalu ia menjawab, “Ialah sebaik-baik manusia, tidak ada yang meragukannya kecuali orang kafir.’”

 

“Barangsiapa Mencintai ‘Ali, Allab Akan Menerima Shalat dan Puasanya, dan Ia Sederajat Para Nabi.”

Al-Khawarizmi meriwayatkan dalam Manâqib-nya dengan sanadnya dari Nafi’, dari Ibnu ‘Umar, ia berkata, “Rasulullah Saw bersabda, “Barang siapa mencintai ‘Ali, Allah akan menerima shalat, puasanya, dan ibadah malamnya, Allah juga akan mengabulkan doanya. Barang siapa mencintai ‘Ali. Allah akan memberikan kepada setiap tetesan keringat di badannya dengan ganjaran sebuah rumah di surga. Ketahuilah! Sesungguhnya yang mencintai keluarga Muhammad, ia akan merasa aman ketika dihisab dan pada mizan (timbangan amal) dan ketika menyeberangi shirâth. Ketahuilah! Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan mencintai keluarga Muhammad, maka aku yang menjaminnya masuk surga bersama para nabi. Dan ketahuilah! Sesungguhnya barang siapa yang membenci keluarga Muhammad, kelak akan datang pada hari kiamat dalam keadaan tertulis di antara kedua matanya, ‘Orang yang berputus asa dari rahmat Allah.”[24]

Muhammad bin Shalih al-Hanafi meriwayatkan dalam kitabnya al-Kawâkib ad-Durri”, ia berkata, “Diriwayatkan dari ‘Umar bin al-Khaththab sesungguhnya ia berkata, ‘Nabi Saw bersabda, “Barangsiapa yang mencintaimu wahai ‘Ali, ia akan sederajat bersama para nabi pada hari kiamat; dan barangsiapa membencimu.maka tidak dipedulikan ia mati dalam keadaan Yahudi atau Nasrani. “

Aku katakan, telah banyak diriwayatkan dari Rasulullah hadis­-hadis yang menyebutkan faidah dan kegunaan mencintai Amirul Mukminin ‘Ali As dan bahaya membencinya. Di antaranya, dalam Arjahul Mathâlib, karya ‘Ubaidullah al-Hanafidisebutkan, “Diriwayatkan dari Ibn Mam’ud bahwa Nabi Saw bersabda, ‘Mencintai keluarga Muhammad sehari lebih utama daripada beribadah selama setahun, dan barangsiapa meninggal dunia dalam keadaan mencintai keluarga Muhammad, pasti ia akan masuk surga.”

Dan dalam Kanzul ‘Ummâl, karya al-Muttaqi al-Hanafi disebutkan, “Diriwayatkan dalam al-Mu’jam al-Kabir, karya ath-­Thabrani, dan at-Târikh al-Kabir, karya Ibnu ‘Asakir, dari Abu ‘Ubaidah bin Muhammad bin ‘Ammar bin Yasir, dari ayahnya, dari kakeknya, ia berkata, ‘Rasulullah Saw bersabda, “Aku mewasiatkan kepada orang yang beriman kepadaku dan membenarkanku untuk berwilayah kepada ‘Ali bin Abi Thalib. Barangsiapa yang menjadikan Ali sebagai walinya (pemimpinnya), berarti ia telah menjadikan aku sebagai walinya. Dan barang siapa yang menjadikan aku sebagai walinya, berarti ia telah menjadikan Allah sebagai Walinya. Barangsiapa yang mencintai ‘Ali, berarti ia telah mencintaiku; barang siapa yang mencintaiku, berarti ia telah mencintai Allah; barangsiapa yang membenci ‘Ali, berarti ia telah membenciku; dan barangsiapa yang membenciku, berarti ia telah membenci Allah Swt.”

Ketahuilah! Bahwa kecintaan yang diriwayatkan dalam hadis tersebut dan hadis-hadis yang semisalnya bukanlah sekadar kecintaan yang dianggap oleh sebagian orang. Akan tetapi, kecintaan yang dimaksud dalam hadis tersebut adalah kecintaan yang disertai dengan pengakuan terhadap wilâyah-nya (kepemimpinannya) yang umum.

Jelasnya, orang yang mendahulukan musuh orang yang dicintainya atas orang yang dicintainya itu adalah kecintaan yang palsu dan kedustaan yang nyata. Hal sangat jelas bagi setiap orang yang berpikiran jernih.

Rasulullah Saw tidak memaksudkan kecintaan yang disebutkan dalam hadis tersebut sekadar kecintaan saja, tetapi yang beliau maksudkan adalah kecintaan yang disertai dengan pengakuan terhadap wilâyah (kepemimpinan). Dalil kami akan hal itu adalah hadis-hadis yang banyak yang diriwayatkan dari Rasulullah Saw yang mendorong umatnya untuk mencintai Ahlulbaitnya dan menjadikan mereka sebagai pemimpin.

Oleh karena itu, wajib hukumnya bagi setiap mukallaf untuk mengambil hukum-hukum agamanya, baik ushhuluddin (pokok-pokok agama) maupun furu’uddin (cabang-cabang agama) dari orang-orang yang telah dijamin kemaksuman mereka, sesuai nash AI-Quran dan hadis Rasulullah Saw, yaitu para Imam Ahlulbait.

Sebab, orang yang tidak dijamin kemaksumannya tidak tepat untuk mengemban tugas yang berat ini karena ia dapat melakukan kesalahan. Bisa jadi, dalam hal yang wajib, ia mengeluarkan fatwa yang sebaliknya (sebagaimana terjadi pada masa kekhalifahan ‘Umar bin AI-Khaththab yang terjadi tidak hanya sekali).

Oleh karena itu, dalam keyakinan kami (Syi’ah) seorang imam wajib berdasarkan nash dari Allah Yang mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi, dan Rasulullah Saw. tidak mewasiatkan kekhalifahan kecuali kepada orang yang maksum, yang terpelihara dari dosa dan kesalahan, yang merupakan perintah dari Allah Swt.

 

“Engkau Adalah Saudaraku dan Pembantuku.”

Al-Muttaqi al-Hanafi meriwayatkan dalam Kanzul ‘Ummâl yang ia nukil dari kitab al-Mu’jam al-Kabir, karya ath-Thabrani, dengan sanadnya dari Ibnu ‘Umar, ia berkata, “Rasulullah Saw bersabda kepada ‘Ali, ‘Bukankah aku telah membuatmu rela wahai ‘Ali, engkau saudaraku, pembantuku, pembayar utangku, dan yang melaksanakan janjiku. Barangsiapa yang mencintaimu dalam masa hidupku, maka ia telah memenuhi janjinya; barangsiapa yang mencintaimu di masa hidupmu sepeninggalku, Allah akan mencapnya dengan keamanan dan keimanan; barangsiapa yang mencintaimu sepeninggalku, sedangkan ia tidak melihatmu, maka Allah akan mencapnya dengan keamanan dan keimanan serta akan menjadikannya merasa aman pada hari kiamat; dan barangsiapa membencimu wahai ‘Ali, ia akan mati dalam keadaan mati jahiliah.”

Aku katakan, hadis ini adalah hadis sahih dan hasan, tidak ada keraguan tentang hal ini, sebagaimana ditegaskan oleh ath-Thabrani dan lainnya. Hadis ini juga dikuatkan oleh hadis-hadis lainnya yang diriwayatkan dalam kitab-kitab ulama Ahlus Sunnah, seperti disebutkan di dalarn kitab Hilyâtul Auliyâ’, karya Abu Na’im, jilid I, halaman 86, Kanzul ‘Ummâl, karya al-Muttaqi al-Hanafi, jilid 6, halarnan 155, dan lainnya.

Al-Muttaqi al-Hanafi meriwayatkan dalam Kanzul ‘Ummâl” hadis lain dari Ibnu ‘Abbas, dalamnya terdapat tambahan yang dinukilkan dari kitab al-Mu’jam al-Kabir, ia berkata, “Rasulullah Saw bersabda, “Barang siapa ingin hidup seperti hidupku, meninggal seperti meninggalku, dan menempati surga ‘Aden yang ditanam oleh Tuhanku, maka hendaklah ia menjadilran ‘Ali sebagai walinya (pemimpinnya) sepeninggalku, dan hendaklah ia mengikuli Ahlibaitku sepeninggalku karena sesungguhnya mereka adalah keturunanku. Mereka diciptakan dari tanahku dan dikaruniai pemahamanku dan ilmuku. Celakalah orang-orang yang mendustakan keutamaan mereka dari kalangan umatku, yang memutuskan silaturahimku pada mereka. Sungguh, mereka tidak akan mendapatkan syafaatku.”

Sesungguhnya hadis yang agung ini diriwayatkan dari Nabi Saw yang telah disepakati kesahihannya oleh Ahlus Sunnah dan Syi’ah, bahkan juga disepakati oleh selain keduanya. Hadis ini secara jelas memerintahkan umat Nabi Saw untuk mencintai Ahlulbaitnya dan mengikuti keturunannya, baik dalam urusan agama maupun dunia mereka. Sebab, mereka (Ahlulbai Nabi Saw) telah dikaruniai pemahaman dan ilmu Nabi Saw, sebagaimana ditegaskan olehnya.

Dengan demikian, mereka (Ahlulbait Nabi Saw.) memang layak untuk diikuti karena mereka telah dikaruniai pemahaman dan ilmu Nabi Saw, bukan hanya karena mereka itu sekadar keturunannya saja.

Hadis tersebut seperti hadis-hadis Nabi Saw yang lain yang dikenal dengan hadis “tsaqalain” dan hadis “safinah” secara jelas menegaskan bahwa keberuntungan dan keselamatan seseorang, baik di dunia maupun akhirat, bergantung pada berpegang teguhnya ia kepada Ahlulbaitdan naiknya ia ke dalam bahtera keselamatan dengan mengikuti mereka. Sebab, mereka (Ahlulbait) adalah perbendaharaan ilmu Rasulullah Saw dan mewarisi hikmatnya  serta seluruh hal-lainnya yang dibutuhkan oleh seorang khalifah dan imam.

Rasulullah Saw menerangkan kepada para sahabat beliau agar mereka mengikuti jalan Ahlulbaitnya yang lurus dan berjalan pada jalan mereka yang terang, yang malamnya seperti siangnya, dan beliau sekali-kali tidak meninggalkan umatnya tanpa menunjuk seorang khalifah yang meneruskan kepemimpinan umat ini sepeninggal beliau. Seandainya Nabi Saw meninggalkan umatnya tanpa menunjuk seorang khalifah, maka sama saja ia mengantarkan umatnya pada kebinasaan.

Tentu, sekali-kali tidak akan pernah terjadi hal itu padanya. Sebab, perhatian dan kepeduliannya terhadap umat amat mendalam dan kasih sayangnya sangat besar kepada mereka.

 

“Bintang-Gemintang adalab Pelindung bagi Penduduk Langit, sedangkan Ahlulbaitku Adalab Perlindungan bagi Umatku.”

Ibnu Hajar meriwayatkan dalam Shawâ’iq-nya dari Nabi Saw sesungguhnya ia bersabda, “Bintang-bintang adalah perlindungan bagi penduduk langit, sedangkan Ahlulbaitku adalah perlindungan bagi umatku.”

Kemudian Ibn Hajar berkata, “Hadis ini diriwayatkan oleh sekelompok perawi dengan sanad yang dha’if (lemah).”

Aku katakan, perhatikanlah dengan penilaian yang adil ucapannya, “Hadis ini diriwayatkan oleh sekelompok perawi yang semuanya dengan sanad yang dha’if (lemah),” sesungguhnya ia benar-­benar mempunyai maksud yang buruk. Sebab, hadis tersebut dikuatkan oleh hadis yang lain, yaitu sabda Nabi Saw, “Ahlulbaitku adalah pelindung bagi penduduk bumi. Jika Ahlulbaitku telah sirna, niscaya akan datang bagi penduduk bumi tanda-tanda kiamat yang telah dijanjikan kepada mereka. “

Dalam riwayat lain dari Ahmad bin Hanbal disebutkan, “Jika bintang-bintang telah sirma, niscaya penduduk bumi pun akan sima; dan jika Ahlibaitku telah sirna, niscaya akan simalah penduduk bumi.”

Disebutkan dalam riwayat al-Hakim, dan ia mensahihkannya sesuai syarat al-Bukhari dan Muslim, “Bintang-bintang adalah pelindung bagi penduduk bumi dari kekaraman, sedangkan Ahlibaitku pelindung bagi umatku dari perselisihan. Jika ada kabilah dari bangsa Arab yang menentang mereka (Ahlulbait), niscaya mereka akan senantiasa berselisih dan menjadi partai iblis.”

Dan banyak lagi riwayat yang satu sama lainnya saling menguatkan, misalnya sabda Nabi Saw., “Sesungguhnya perumpamaan Ahlulbaitku di tengah-tengah kalian seperti bahtera Nul!, barangsiapa yang menaikinya, niscaya ia akan selamat.”

Dalam riwayat Muslim disebutkan, “… dan barang siapa yang tertinggal darinya, niscaya ia akan tenggelam, ” dan di dalam riwayat yang lain, “Binasa.”

Ibn Hajar meriwayatkan, “Sesungguhnya perumpamaan Ahlibaitku seperti pintu pengampunan bagi Bani Israil, barangsiapa yang memasukinya, niscaya ia akan diampuni.”

Dan dalam riwayat lain, “Dosa-dosanya akan diampuni.”[25]

 

Penutupan Semua Pintu yang Menuju ke Masjid Kecuali Pintu Rumah ‘Ali

An-Nasa’i meriwayatkan dalam Khashâ’ish-nya dari Zaid bin Arqam sesungguhnya ia berkata, “Dahulu beberapa orang dari sahabat Rasulullah Saw mempunyai pintu yang menuju ke masjid. Lalu Rasulullah Saw bersabda, “Tutuplah pintu-pintu (yang menuju ke Masjid) kecuali pintu ‘Ali.”

Kemudian, beberapa orang membicarakan hal terscbut, lalu ia berpidato, setelah memuji Allah dan menyanjung-Nya, kemudian ia bersabda, “Amma ba’du. Sesungguhnya aku telah memerintahkan untuk menutup pintu-pintu ini, kecuali pintu ‘Ali. Kemudian tidak salah seorang dari kalian yang membicarakan hal itu. Demi Allah, aku tidak menutupnya dan tidak pula membukanya. Akan tetapi, aku diperintahlean (oleh Allah) dengan suatu perintah, dan aku pun mengikutinya.”

Aku katakan, al-Hakim juga meriwayatkan hadis tersebut dalam Mustadrak-nya,jilid 3, halaman 125, dengan sanad yang berbeda dan terdapat sedikit perbedaan dalam teks hadis.

Al-Muhibb ath-Thabari juga meriwayatkannya dalam Dzakhâ’irul ‘Uqbâ, halaman 76, demikian juga para tokoh ulama Ahlus Sunnah yang lainnya meriwayatkan hadis tersebut.

 

‘Ali Bersama al-Qur’an dan al-Qur’an Bersama ‘Ali

AI-Qunduzi al-Hanafi menyebutkan dalam Yanâbi’ul Mawaddah sebuah riwayat bahwa Nabi Saw bersabda ketika ia sakit yang membawa pada wafatnya, “Wahai orang-orang, sudah dekat waktunya nyawaku akan dicabut dengan cabutan yang cepat, dan sesungguhnya aku telah menasihatkan kepada kalian. Ketahuilah! Sesungguhnya aku telah meninggalkan kepada kalian dua peninggalan yang sangat berharga (tsaqalain), yaitu Kitabullah ‘Au;; wa Jalla dan keturunanku Ahlulbaitku.”

Kemudian beliau memegang tangan ‘Ali seraya bersabda, “‘Ali bersama al-Quran, dan al-Quran bersama ‘Ali. Keduanya tidak akan berpisah sehingga keduanya menjumpaiku di Haudh, aku akan menanyakan kepada keduanya apa yang kalian perselisihkan tentang keduanya. “

Al-Hamuyini meriwayatkan dalam Farâ’idush Shimthain, bab ke-36, dengan sanad dari Ummu Salamah Ra yang berkata, “Demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, sungguh aku telah mendengar Rasulullah Saw bersabda, “Ali bersama kebenaran, dan kebenaran bersama ‘Ali. Keduanya tidak akan berpisah sehingga keduanya menjumpaiku di Haudh.”

 

‘Ali Pemimpin Kaum Muslim

Al-Qunduzi al-Hanafi meriwayatkan dalam Yanâbi’ul Mawaddah”, halaman 55, dari Ibnu ‘Abbas sesungguhnya ia berkata, “Rasulullah Saw bersabda kepada Ummu Salamah, “Wahai Ummu Salamah, ‘Ali dariku dan aku dari ‘Ali. Dagingnya dari dagingku dan darahnya dari darahku. Kedudukan ‘Ali di sisiku, seperti kedudukan Harun di sisi Musa. Wahai Ummu Salamah, dengarkanlah dan saksikanlah, ‘Ali adalah pemimpin kaum Muslim.”

 

‘Ali Pemimpin Bangsa Arab

Al-Qundfizi al-Hanafi juga meriwayatkan dalam Yanâbi’ul Mawaddah dari Anas bin Malik yang berkata, “Rasulullah Saw bersabda, “Siapakah pemimpin bangsa Arab?” Para sahabat menjawab, “Engkau wahai Rasulullah.”

Ia bersabda, “Aku adalah pemimpin anak Adam, sedangkan ‘Ali adalah pemimpin bangsa Arab.”

 

‘Ali adalab Makbluk yang Paling Dicintai oleh Allab dan Rasul-Nya

Al-Qunduzi al-Hanafi juga meriwayatkan dalam Yanâbi’ul Mawaddah dari Ahmad bin Hanbal dengan sanad dari Safinah, Maula Nabi Saw, bahwa ia berkata, “Pemah seorang wanita Anshar memberikan kepada Rasulullah Saw daging berupa dua ekor burung yang dipanggang dan dua potong roti. Lalu Nabi Saw berdoa, “Ya Allah, datangkanlah kepadaku makhluk-Mu yang paling dicintai oleh-Mu dan Rasul-Nya, lalu ‘Ali datang, maka dia makan daging burung yang dipanggang itu bersama Nabi Saw sehingga keduanya merasa kenyang.

Aku katakan, hadis ini dikenal dengan hadis daging panggang burung.

 

‘Ali Penakwil Al-Quran

Ibnu Hajar al-Asqalani meriwayatkan dalam al-Ishâbah dari ‘Abdurrahman bin Basyir yang berkata, “Kami pemah duduk-­duduk bersama Nabi Saw, ketika itu ia bersabda, “Ada seorang laki-la di antara kalian yang berperang karena penakwilannya,  ebagaimana aku berperang karena penurunannya,” Kemudian Bakar berkata, “Akukah itu wahai Rasulullah?’ Ia menjawab, “Bukan.” Lalu ‘Umar berkata, “Akukah itu wahai Rasulullah?” Ia menjawab, “Bukan, tetapi orang yang sedang menjahit sandal.”

Kemudian, kami keluar (untuk melihat, siapakah orang yang dimaksud itu), ternyata ia adalah ‘Ali yamg sedang menjahit sandal Rasulullah Saw di kamar ‘A’isyah, lalu kami pun memberikan kabar gembira itu kepadanya.”

Aku katakan, hadis ini juga diriwayatkan oleh al-Qunduzi dalam kitabnya Yanâbi’ul Mawaddah, halaman 90, al-Muhibb ath-Thabari juga meriwayatkan hadis tersebut dalam kitabnya Dzakhâ’irul ‘Uqbâ, halaman 76, dengan sedikit perbedaan dalam teks hadisnya.

 

Allah Swt Memperkuat Nabi-Nya dengan ‘Ali As

Al-Muhibb ath-Thabari meriwayatkan dalam Dzakhâ’irul ‘Uqbâ dari Ibnu al Khamis yang berkata, “Rasulullah Saw bersabda, ‘Ketika aku dimikrajkan ke langit, aku melihat pada kaki ‘Arsy sebelah kanan, di tempat itu aku melihat sebuah tulisan yang aku pahaminya (tertulis), ‘Muhammad Rasul Allah, aku memperkuatnya dengan ‘Ali dan aku menolongnya dengan ‘Ali.”

 

Barang Siapa Membenci ‘Ali, Allah Akan Menyungkurkan Mukanya ke dalam Neraka

Al-Qunduzi al-Hanafi meriwayatkan dalam kitabnya Yanâbi’ul Mawaddah dari al-Hamuyini asy-Syafi’i dalam Farâ’idus Simthain dan as-Sam’lini dalam al-Fadhâ’il dengan sanad dari Abuz Zubair dari Jabir bin’ Abdillah al-Anshari Ra, ia berkata, “Kami pernah bersama Rasulullah Saw di Arafah, saat itu ia bersabda kepada Ali As, “Wahai ‘Ali, letakkanlah telapak tanganmu pada telapak tanganku! Wahai ‘Ali, aku dan engkau diciptakan dari satu pohon, aku adalah pangkalnya, sedangkan engkau adalah cabangnya, al-Hasan dan al-­Husain merupakan ranting-rantingnya. Barangsiapa berpegangan pada ranting-rantingnya, niscaya ia akan masuk surga. Wahai ‘Ali, seandainya umatku banyak mengerjakan shalat sehingga badannya membungkuk seperti busur, dan banyak berpuasa sehingga mereka menjadi seperli tali panah, kemudian mereka membencimu, niscaya Allah akan menyungkurkan muka mereka ke dalam neraka.”

 

‘Ali As adalah Orang yang Pertama Beriman kepada Nabi Saw

Al-Qunduzi al-Hanafi meriwayatkan dalam kitabnya Yanâbi’ul Mawaddah dari Abu Laila al-Ghifari sesungguhnya ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda, “Akan terjadi pada umatku fitnah (perselisihan dan pertikaian). Jika hal itu telah terjadi, ikutilah ‘Ali bin Abi Thalib karena sesungguhnya ia adalah orang yang pertama beriman kepadaku dan orang yang pertama kali bersalaman denganku pada hari kiamat. Ia adalah ash-Shiddiqul Akbar dan ia adalah Fâruq (pembeda antara hak dan batil) umat ini. Ia adalah pemimpin kaum Mukmin, sedangkan harta adalah pemimpin kaum munafik.”[26]

 

‘Ali adalah Washiyy Rasulullah Saw

Al-Qunduzi al-Hanafi meriwayatkan dalam kitabnya Yanâbi’ul Mawaddah dari Ahmad bin Hanbal dari Anas bin Malik sesungguhnya ia berkata, “Kami pernah berkata kepada Salman, ‘Tanyakanlah kepada Nabi Saw tentang washiyy-nya!’ Lalu, Salman bertanya kepada Nabi Saw, “Wahai Rasulullah, siapakah yang menjadi washiyy-ku?’ Kemudian, Nabi Saw berkata, “Wahai Salmdn. siapakah washiyy Milsd?” Salman menjawab, “Yusya’ bin Nun.” Nabi Saw bersabda, “Washiyy-ku, yang mewarisiku. yang membayarkan utangku dan menunaikan janjiku adalah ‘Ali bin Abi Thalib.”[27]

Ibn Mardawaih meriwayatkan dalam Manaqib-nya dari Salman, ia berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah Saw, “Kepada siapa yang kami harus ikuti sepeninggalmu dan mempercayakan urusan kami?”

Rasulullah Saw menjawab, “Khalifahku, saudaraku, pembantuku. dan orang yang paling baik yang aku tinggalkan sepeninggalku adalah ‘Ali bin Abi Thalib. Ialah yang menyampaikan dariku dan melaksanakan janjiku.”

Ibn Mardawaih juga meriwayatkan dalam Manâqib-nya, Abu Na’im dalam Hilyatul Auliyâ’, al-Kanji asy-Syafi’i dalam Kifâyatuth Thâlib, dan al-Khawarizmi dalam Maqtalul Husain dan Manâqib-nya dengan sedikit perbedaan dalam teks hadisnya dari Anas, ia berkata, “Nabi Saw bersabda kepada ‘Ali, “Engkaulah yang menyampaikan risalahku sepeninggalku, menyampaikan dariku, memperdengarkan kepada manusia suaraku, dan mengajarkan Kitabullah kepada manusia apa-apa yang mereka tidak ketahui.”

Ibn Abil Hadid al-Mu’tazili meriwayatkan dalam Syarh Nahjul Balâghah dari Abu Ja’far al-Iskafi sabda Nabi Saw kepada ‘Ali ketika turunnya ayat, “Dan berilah peringatan kepada kerabatmu yang terdekat.” (Qs. asy-Syura [26]214) Ali adalah saudaraku, washiyy-ku, dan khalifahku sepeninggalku.”

Dan al-Muhibb ath-Thabari meriwayatkan dalam kitabnya Dzakhâ’irul ‘Uqbâ dan al-Khawarizmi dalam kitabnya al-Manâqib dari Nabi Saw sesungguhya ia bersabda, “Setiap nabi mempunyai washiyy dan orang yang mewarisi ilmunya dan sesungguhnya ‘Ali adalah washiyy-ku dan orang yang mewarisi ilmuku.”

Sesungguhnya hadis-hadis yang diriwayatkan dari Rasulullah Saw yang menegaskan bahwa ‘Ali As adalah washiyy-nya sangatlah banyak, yang diriwayatkan dalam kitab-kitab Ahlus Sunnah dan Syi’ah. Telitilah dengan saksama, niscaya Anda akan menemukan kebenaran ini. Maka, tidak ada alasan lagi bagi seseorang untuk menolak kebenaran ini (bahwa ‘Ali As adalab khalifab Rasulullah Saw secara langsung sepeninggalnya) setelab sampai kepadanya keterangan yang nyata ini.

“Yaitu agar orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata dan agar  orang yang hidup itu hidupnya dengan keterangan yang nyata pula.” (Qs. al-Anfal [8]: 42)

Al-Hakim meriwayatkan dalam al-Mustadrak dari Abu Dzar al-Ghifari Ra sesungguhnya ia berkata, “Rasulullah Saw bersabda kepada ‘Ali bin Abi Thalib, “Barangsiapa menaatiku,  berarti ia telah menaati Allah; barangsiapa yang menentangku, berarti ia telah menentang Allah; barangsiapa yang menaatimu, berarti ia telah menaatiku; dan barangsiapa yang menentangmu, berarti ia telah menentangku.”[28]

 

Barang Siapa yang Mencintai ‘Ali, Allah Akan Mencintainya

Al-Hakim juga meriwayatkan dalam kitabnya al-Mustadrak dari Ibnu ‘Abbas sesungguhnya ia berkata, “Nabi Saw pernah (pada suatu hari) memandang ‘Ali As, lalu ia bersabda, ‘Wahai ‘Ali, engkau adalah pemimpin (Sayyid) di dunia dan pemimpin di akhirat. Kekasihmu adalah kekasihku dan kekasihku adalah kekasih Allah; musuhmu adalah musuhku, dan celakalah bagi orang yang membencimu sepeninggalku.”[29]

 

Mencintai ‘Ali adalah Tanda Keimanan, Membencinya adalah Tanda Kemunafikan

Ahmad bin Hanbal meriwayatkan dalam Musnad-nya dari ‘Ali As, ia berkata, “Nabi Saw telah mewasiatkan kepadaku bahwa tidak ada yang mencintaimu kecuali Mukmin dan tidak ada yang membencimu kecuali orang munafik.”[30]

Al-Qunduzi al-Hanafi juga meriwayatkan hadis tersebut dalam kitabnya Yanâbi’ul Mawaddah, halaman 47, dengan jalur riwayat yang berbeda.

Al-Hakim meriwayatkan dalam kitabnya al-Mustadrak dari Abu Dzar Ra sesungguhnya ia berkata, “Kami dahulu mengenali orang-­orang munafik dengan pendustaan mereka terhadap Allah dan Rasul-­Nya, tidak mengerjakan shalat, dan kebeneian terhadap ‘Ali bin Abi Thalib As.”[31]

 

Tiga Perkara yang Hanya Dimiliki oleh ‘Ali As

Ahmad bin Hanbal meriwayatkan dalam Musnad-nya dari Ibnu ‘Umar sesungguhnya ia berkata, “Kami biasa berkata pada zaman Nabi Saw, “Rasulullah Saw merupakan sebaik-baik manusia, kemudian Abu Bakar, kemudian ‘Umar. Sungguh, telah dikaruniakan kepada ‘Ali bin Abl Thalib As tiga perkara, seandainya aku diberikan satu saja di antara ketiga perkara tersebut, niscaya lebih aku sukai daripada aku mendapatkan sekawanan unta merah (harta yang paling berharga di kalangan bangsa Arab), yaitu; Rasulullah Saw menikahkannya dengan putrinya dan ia mendapatkan keturunan darinya, penutupan semua pintu yang menuju ke dalam masjid kecuali pintunya, dan pemberian bendera kepadanya pada hari Perang Khabar.”[32]

 

Allah Swt  Mewajibkan Makhluk-Nya untuk Mencintai ‘Ali As

Al-Qunduzi al-Hanafi meriwayatkan dalam kitabnya Yanâbi’ul Mawaddah dari al-Khawarizmi dengan sanad dari Imam Muhammad al-Baqir As dari Jabir bin ‘Abdillah al-Anshari Ra sesungguhnya ia berkata, “Rasulullah Saw bersabda, “Jibril telah datang kepadaku dengan membawa selembar daun yang berwarna hijau dari surga, tertulis padanya, “Sesungguhnya Aku Allah telah mewajibkan makhluk-Ku untuk mencintai ‘Ali, sampaikanlah wahai kekasih-Ku hal itu dari-Ku.”[33]

 

‘Ali As Tidur di Tempat Tidur Rasulullah Saw pada Malam Hijrah

Al-Hakim meriwayatkan dalam al-Mustadrak dari Ibnu ‘Abbas sesungguhnya ia berkata, “Ali mengorbankan dirinya (semata-mata demi mencari keridhaan Allah) dan memakai pakaian Nabi Saw, lalu tidur di tempat tidurnya, padahal ketika itu kaum musyrik sedang mengincar Rasulullah Saw (untuk membunuhnya). Rasulullah Saw memakaikan selimutnya kepada ‘Ali, sedangkan kaum musyrik Quraisy bermaksud membunuhnya.

Lalu mereka (kaum musyrik Quraisy) pun mengintai ‘Ali karena disangkanya ia adalah Rasulullah Saw yang sedang tidur dengan memakai selimut. Ketika kaum musyrik Quraisy menyerbu masuk ke dalam kamar Rasulullah Saw, temyata yang mereka dapatkan adalah ‘Ali, mereka lalu naik pitam seraya mencacinya…”[34]

 

‘Ali Menghancurkan Berhala yang Paling Besar

Al-Hakim meriwayatkan dalam al-Mustadrak dengan sanad yang sampai kepada ‘Ali As sesungguhnya ia berkata, “Ketika malam hari Rasulullah Saw menyuruhku untuk tidur di atas tempat tidurnya, dan ia keluar dari rumahnya untuk melaksanakan hijrah, Rasulullah Saw membawaku ke tempat berhala-berhala, lalu ia bersabda, “Duduklah!’ Maka, aku pun duduk di samping Ka’bah, kemudian Rasulullah Saw naik di atas pundakku, kemudian ia bersabda, ‘Bangunlah” Maka, aku pun bangun mengangkatnya, lalu ketika ia mengetahui kelemahanku dalam mengangkatnya, ia bersabda, ‘Duduklah!’ Maka, aku pun duduk, lalu aku menurunkannya dari pundakku, kemudian ia bersabda kepadaku, ‘Wahai ‘Ali, naiklah di atas pundakku!” Maka, aku pun naik di atas pundaknya, kemudian ia bangkit seraya mengangkatku dan ia mengkhayalkan kepadaku seandainya aku mau, aku dapat meraih langit. Kemudian aku naik di atas Ka’bah. Kemudian Rasulullah Saw menjauh, lalu aku melemparkan berhala yang paling besar, yang dipahat dari besi. Ia bersabda kepadaku, ‘Hancurkanlah ia!’ Maka, aku pun terus berusaha menghancurkan berhala tersebut sampai aku berhasil menghancurkannya, lalu aku turun.”[35]

 

‘Ali Menyampaikan Surat Barâ’ah (berlepas diri) kepada Penduduk Makkah

Ahmad bin Hanbal meriwayatkan dalam Musnad-nya dari Waki’ sesungguhnya ia berkata, “Isra’il berkata, ‘Abu Ishaq berkata dari Zaid bin Yutsai’, dari Abu Bakar bahwa Nabi Saw pernah mengutusnya untuk menyampaikan surat barâ’ah (pemakluman) kepada penduduk Makkah, yang kandungan surat itu adalah sebagai berikut:

“Orang musyrik tidak diperkenankan setelah tahun ini untuk melaksanakan ibadah haji, dan demikian juga tidak dibolehkan seseorang melakukan thawaf dalam keadaan telanjang. Tidaklah akan masuk surga kecuali jiwa yang berserah diri kepada Allah (Muslim). Barangsiapa antara ia dan Rasulullah ada masa perjanjian, maka tundalah perjanjian itu sampai pada masanya. Dan sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri (barâ’ah) dari orang-orang musyrik. Lalu, Abu Bakar melaksanakan tugas Rasulullah Saw yang diamanahkan kepadanya. Akan tetapi, setelah tiga hari Abu Bakar pergi dengan membawa surat itu, Rasulullah Saw bersabda kepada ‘Ali, “Susullah Abu Bakar dan perintahkanlah ia untuk kembali kepadaku, dan sampaikanlah isi surat itu (kepada penduduk Makkah)!” Kemudian, ‘Ali pun melakukan hal itu.

Kemudian setelah Abu Bakar datang menghadap Nabi Saw, ia menangis seraya berkata, “Wahai Rasulullah, apakah telah terjadi sesuatu pada diriku?”

Rasulullah Saw menjawab, “Tidak ada sesuatu yang terjadi pada dirimu kecuali kebaikan. Akan tetapi, aku diperintahkan untuk tidak menyampaikan surat itu (pemakluman kepada penduduk Makkah) kecuali diriku sendiri atau seseorang dariku.”[36]

Hadis tersebut juga diriwayatkan oleh banyak ulama, di antaranya: al-Muhibb ath-Thabari dalam Dzakhâ’irul ‘Uqbâ, halaman 69, dengan sedikit perbedaan dalam teks hadis, at-Tirmidzi dalam Shahîh-nya, jilid 2, halaman 461, an-Naisaburi dalam al-­Mustadrak lish Shahîbain, jilid 2, halaman 51, al-Muttaqi al-Hanafi dalam Kanzul ‘Ummâl, jilid 1, halaman 246 dan 249, Ibnu Hajar al-’Asqalani asy-Syafi’i dalam al-Ishâbah, jilid 2, halaman 509, dan Ibnu Hajar al-Haitsami dalam ash-Shawâ’iqul Mubriqah, halaman 19.

 

Iman ‘Ali As Lebih Berat daripada Penduduk Langit dan Bumi

Al-Muhibb ath-Thabari meriwayatkan dalam kitabnya Dzakhâ’irul ‘Uqbâ” dengan sanad dari ‘Umar bin al-Khaththab sesungguhnya ia berkata, “Aku bersaksi terhadap Rasulullah Saw, sesungguhnya aku mendengar ia bersabda, “Seandainya tujuh petala langit dan bumi diletakkan pada sebuah sisi timbangan dan iman ‘Ali diletakkan pada sisi lainnya, niscaya iman ‘Ali akan lebih berat.”[37]

Aku katakan, hadis ini juga diriwayatkan oleh banyak tokoh ulama Ahlus Sunnah, di antaranya: ath-Thabari asy-Syafi’i dalam kitabnya yang lain ar-Riyâdhun Nadhrah, jilid 2, halaman 226, al-­Qunduzi al-Hanafi dalam kitabnya Yanâbi’ul Mawaddah, halaman 254, al-Khawarizmi al-Hanafi dalam kitabnya al-Manâqib, halaman 78, al-Muttaqi dalam kitabnya Kanzul ‘Ummâl, jilid 6, halaman 156, al-Kanji asy-Syafi’i dalam kitabnya Kifâyatuth Thâlib, halaman 129, dan Ash-Shufuri asy-Syafi’i dalam kitabnya Nuzhatul Majâlis, jilid 2, halaman 240.

 

Pengakuan ‘Umar terhadap Keutamaan ‘Ali As

Ibn Hajar al-Haitsami meriwayatkan dalam kitabnya ash-­Shawâ’iqul Muhriqah, Pasal “Penyebutan Pujian Sahabat terhadap ‘Ali As”, ia berkata, “Ibn Sa’ad meriwayatkan dalam kitabnya ath-Thabâqât dengan sanad dari Abu Hurairah yang berkata, “Umar bin AI-Khaththab berkata, “Ali adalah orang yang paling mengetahui (a’lam) di antara kami tentang masalah hukum.[38]

Ath-Thabari meriwayatkan di dalam ar-Riyâdhun Nadhrah dari ‘Umar bin AI-Khaththab, dia berkata, “‘Orang yang paling mengetahui di antara kam; tentang masalah hukum adalah ‘Ali bin Abi Thalib.”[39]

As-Suyuthi meriwayatkan dalam kitabnya Târikh Khulafâ hadis yang semisal itu di dalam bab tentang keutamaan ‘Ali.

Ibnu ‘Abdil Barr meriwayatkan dalam al-Isti’âb dari Sa’id bin al-Musayyib sesungguhnya ia berkata, “Umar berlindung (kepada Allah) dari suatu masalah yang sulit yang tidak ada di dalamnya Abul Hasan.”[40]

Ath-Thabari juga menyebutkan riwayat tersebut dalam kitabnya Dzakhâ’irul ‘Uqbâ, halaman 82.

Al-Muttaqi al-Hanafi menyebutkan riwayat itu dalam kitabnya Kanzul ‘Ummâl dari ‘Umar bahwasanya dia berkata, “Ya Allah, janganlah Engkau turunkan kepadaku masalah yang berat, kecuali Abul Hasan ada di sisiku.”[41]

Ath-Thabari meriwayatkan di dalam kitabnya Dzakhâ’irul ‘Uqbâ  bahwa ‘Umar sering bertanya kepada ‘Ali As dalam banyak masalah sulit yang dihadapinya, dan ucapan ‘Umar, “Ya Allah, janganlah Engkau turunkan kepadaku masalah yang berat, kecuali Abul Hasan (‘Ali) ada di sisiku.”

Yahya bin ‘Aqil juga menyebutkan bahwa ‘Umar biasa berkata kepada ‘Ali jika ia bertanya kepadanya suatu masalah, lalu ‘Ali memecahkan masalahnya tersebut, “Semoga Allah tidak tetap menghidupkanku sesudahmu wahai ‘Ali.”

Dan diriwayatkan dari Abu Sa’id bahwa ‘Umar berkata kepada ‘Ali, setelah dia menanyakan kepada ‘Ali suatu masalah dan’ Ali telah menjawabnya, “Aku berlindung kepada Allah untuk hidup di dalam suatu hari, sedangkan engkau tidak ada di dalamnya wahai Abal Hasan.”

Al-Kanji asy-Syati’i meriwayatkan dalam Kifâyatuth Thâlib, ia berkata, “Sa’id bin Jubair meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas dari ‘Umar yang berkata, “Ali adalah orang yang paling mengetahui di antara kami tentang masalah hukum,” kemudian “Umar berkata, “Aku mengikuti hal itu dari Rasulullah Saw” maka sekali-kali aku tidak akan pemah meninggalkannya.”

Ibnu ash-Shibagh juga meriwayatkan hal itu dalam al-Fushûlul Muhimmah, halaman 17.

 

Ucapan ‘Umar, “Tidaklah Sempurna Kemuliaan kecuali dengan (Mengakui) Wilayâh ‘AIi.”

Ibn Hajar meriwayatkan dalam kitabnya ash-Shawâ’iqul Muhriqah, ia berkata, “Ibnu ‘Abdil Barr meriwayatkan dalam aI-­Isti’âb dari lbnul Musayyib, ia berkata, “Umar berkata, ‘Cintailah orang-orang yang mulia dan hendaklah kalian saling mencintai serta takutlah terhadap kehormatan kalian, janganlah ia sampai jatuh ke lembah yang paling bawah (nista). Ketahuilah! Sesungguhnya tidaklah sempurna kemuliaan kecuali dengan (mengakui) wilâyah ‘Ali.”

Ucapan ‘Umar tersebut bersumber dari sabda Rasulullah Saw, yaitu dalam hadis terkenal yang diriwayatkan oleh banyak ulama Ahlus Sunnah, seperti: al-Hamuyini asy-Syafi’i dalam Farâ’idus Simthain, jilid 2, halaman 49, Ubaidullah al-Hanafi dalam Arjahul Mathâlib, halaman 320, dan az-Zamakhsyari dalam al-Kasyâf, jilid 2, halaman 339.

Az-Zamakhsyari meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa meninggal dalam keadaan mencintai keiuarga Muhammad, ia meninggal dalam keadaan syahid. Ketahuilah! Barangsiapa meninggal dalam keadaan mencintai keluarga Muhammad, ia meninggal dalam keadaan diampuni dosanya. Ketahuilah! Barangsiapa meninggal dalam keadaan mencintai keluarga Muhammad, ia meninggal dalam keadaan bertobat. Ketahuilah! Barangsiapa meninggal dalam keadaan mencintai keluarga Muhammad, ia meninggal dalam keadaan beriman, yang sempurna imannya. Ketahuilah! Barangsiapa, meninggal dalam keadaan mencintai keluarga Muhammad, malaikat maut akan memberinya kabar gembira dengan masuk surga, kemudian Munkar dan Nakir (juga akan mengabarkan hal yang sama).

Ketahuilah! Barangsiapa meninggal dalam keadaan mencintai keluarga Muhammad, ia akan diantar masuk ke dalam surga, sebagaimana pengantin perempuan diantar ke rumah suaminya. Ketahuilah! Barangsiapa meninggal dalam keadaan mencintai keluarga Muhammad, akan dibukakan baginya dalam kuburnya dua pintu ke surga. Ketahuilah! Barangsiapa meninggal dalam keadaan mencintai keluarga Muhammad, Allah akan menjadikan kuburnya sebagai tempat persinggahan para malaikat… “

Adakah kemuliaan yang lebih besar daripada kemuliaan yang didapatkan pecinta keluarga Muhammad? Dan apakah kemuliaan akan sempuma tanpa mencintai keluarga Muhammad?

Oleh karena itu, perkataan ‘Umar tersebut sesuai dengan apa yang telah dikabarkan oleh Rasulullah Saw dari hasil kecintaan kepada keluarga Muhammad, dan ‘Ali adalah salah seorang dari keluarga Rasulullah Saw yang paling mulia dan paling utama dengan penegasan dari Nabi Saw dalam banyak hadis beliau.

Aku katakan, hadis-hadis yang diriwayatkan dari Rasulullah Saw tentang keutamaan Amirul Mukminin ‘Ali As dan Ahlulbait yang telah disucikan oleh Allah Swt. sangatlah banyak, tidak terhitung. Semua penulis yang menuliskan tentang keutamaan Ahlulbait, walaupun ia telah berusaha dengan segala upayanya, tetap tidak akan mampu menyebutkan semua keutamaan mereka.

Oleh karena itu, kami membatasi yang sekiranya cukup bagi orang-orang yang berpikir, yang mereka ini telah meluruskan niat mereka dan membebaskan diri mereka dari kefanatikan mazhab serta menjauhkan diri dari pertikaian golongan. Adapun pembaca kita yang tetap keras kepala, tidak mau menerima kebenaran yang hakiki, banyaknya hadis Nabi Saw yang diriwayatkan di dalam kitab-kitab Ahlus Sunnah sama sekali tidak memberikan manfaat kepadanya, apalagi hadis-hadis Rasulullah Saw yang diriwayatkan dalam kitab-­kitab Syi’ah, yang diriwayatkan melalui jalur para Imam Ahlulbait As.

Demi Tuhanmu, katakanlah kepadaku wahai pembaca yang budiman, masih adakah bantahan yang layak ditujukan kepada kami, setelah adanya nash-nash yang gamblang dan tegas yang menetapkan kebenaran terhadap keyakinan kami, para pengikut mazhab Ahlulbait?

Dan juga demi Tuhanmu, katakanlah kepadaku wahai pembaca Muslim yang adil, apakah diriwayatkan hadis-hadis sahih tentang keutamaan para sahabat Nabi Saw dalam kitab-kitab hadis Ahlus Sunnah, seperti hadis-hadis sahih, yang diriwayatkan tentang keutamaan-keutamaan Amirul Mukminin ‘Ali bin Abi Thalib dan Ahlulbaitnya dalam kitab-kitab hadis Ahlus Sunnah?

Kemudian, apakah Allah Swt telah menghilangkan dosa dan noda kepada salah seorang dari sahabat Nabi Saw, sebagaimana Allah telah menghilangkan dosa dan noda dari Ahlulbait?

Adakah diturunkan firman Allah Swt kepada salah seorang dari sahabat Rasulullah Saw ayat, “Katakanlah, “Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upah pun atas seruanku kecuali kasih sayang (mawaddah) terhadap keluargaku.” (Qs. asy-Syura [42]:23) selain ‘Ali dan Ahlulbait?

Demi Tuhan Pemilik Ka’bah, tidak pernah sejarah menuturkan kepada kita salah seorang sahabat Nabi Saw yang memperoleh keutamaan seperti yang diperoleh oleh Amirul Mukminin ‘Ali dan keluarganya, kecuali dalam hadis-hadis yang dibikin-bikin (hadis palsu) yang sengaja diciptakan oleh orang-orang, seperti Abu Hurairah, Samurah bin Jundab, dan para pemalsu hadis lainnya yang semisal dengan keduanya.

Apakah layak setelah ini, ada orang lain yang lebih didahulukan daripada ‘Ali dan Ahlulbait yang telah disucikan oleh Allah dari segala dosa dan noda, yang mereka ini selalu berada dalam jalan kebenaran, sesuai nash al-Quran dan hadis Nabi Saw yang mulia?

Ya Allah, hanya kepada-Mu kami mengadu, dan hanya kepada­Mu pula kami berlindung dari musuh-musuh Muhammad dan Ahlulbaitbeliau. Tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah yang Mahatinggi lagi Mahaagung. []


[1] . Lihat, Ibn Hajar, ash-Shawâ’iqul Muhriqah, hal. 78.

[2] . Lihat, al-Khawarizmi, Maqtalul Husain, jil. 2, hal. 39.

[3] . Lihat, al Hamuyini asy-Syafi’i, Farâ’idus Simthain, jil. 1, hal. 54.

[4] . Lihat, al-Muhibb ath-Thabari asy-Syafi’i, ar-Riyâdhun Nadhrah, jil. 2, hal. 173, 177 dan 144.

[5] . Lihat, al-Khathib al-Baghdadi, Târikh Baghdâd, jil. 3, hal. 161.

[6]. Lihat, al-Qunduzi al-Hanafi,  Yanâbi’ul Mawaddah, hal. 251.

[7]. Lihat, al-’Allamah al-’Askari Maqâm al-Imâm Amirul Mu’minin ‘indal Khulafâ, hal. 54.

[8] . Lihat, al-Khawarizmi Maqtalul Husain, jilid 2, hal. 38.

[9] . Lihat,  Muhammad bin Shalih al-Hanafi, al-Kawakib ad-Durri, halaman 122.

[10].  Lihat, al-Khawarizmi al-Hanafi, Maqtalul Husain, hal. 97.

[11] . Lihat, al-Muttaqi al-Hanafi,  Kanzul ‘Ummâl jilid 6, halaman 393

[12] . Lihat, al-Muhibb ath-Thabari asy-Syafi’i, ar-Riyâdhun Nadhrah,  jil. 2, hal. 163

[13] . Lihat, al-Muhibb ath-Thabari,  Dzakâ’irul ‘Uqbâ, hal. 89.

[14].  Lihat, al-Muttaqi al-Hanafi Kanzul ‘Ummal, jil. 6, hal. 159 ز

[15].  Lihat, al-Kanji asy-Syafi’i dalam Kifâyatuth Thâlib hal. 76.

[16].  Lihat ,al-’Allamah al-’Askari, Maqâmul Imâm,  hal. 24.

[17] . Lihat, Dzakhâ’irul ‘Uqba, halaman 90

[18] . Lihat, Ibnu Hajar, ash-Shawâ’iqul Muhriqah, hal. 108.

[19] . Lihat, Kanji asy-Syafi’i, Kifâyatuth Thâlib, hal. 124.

[20] . Lihat, al-Khawarizmi al-Hanafi, al-Manâqib, hal. 206.

[21] . Lihat, al-’Allamah al-’Askari, Maqâmul Imâm, hal. 57.

[22] . Lihat, at-Tirmidzi (Muhammad bin Shalih) al-Hanafi, al-Kawâkib ad-Durri’, hal. 134.

[23] . Lihat, al-Qunduzi al-Hanafi, Yanâbi’ul Mawaddah, hal. 253.

[24] . Lihat, al-Khawarizmi,  Manâqib, hal. 43.

[25] . Demikian diriwayatkan dalam ash-Shawâ’iqul Muhriqah, karya Ibn Hajar. Aku katakan, sesungguhnya Ibn Hajar meriwayatkan banyak riwayat yang sesuai dengan keyakinan Syi’ah, dimana mereka ini adalah orang-orang yang memperwalikan Allah dan Rasul-Nya, serta ‘Ali, Fatimah, al-Hasan, dan al-Husain, yang mereka ini adalah ashâbul kisâ, dimana mereka ini telah diajak oleh Rasulullah Saw  untuk ber-mubahalah dengan kaum Nasrani dan Najran, dan juga sembilan (imam) dari keturunan al-Husain, kemudian setelah itu ia (Ibn tlajar) mengalamatkan celaan dan tuduhan terhadap Syi’ah untuk mengkhayalkan kepada pembaca bahwa mereka ilu bukan Syi’ah yang ada pada zaman permulaan Islam, lalu ia menganggap bahwa dirinyalah dan orang-orang yang semisalnya, dari golongan nawashib yang tercela, yang sebenamya Syi’ah.

[26] . Lihat, Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanâbi’ul Mawaddahh, hal. 82.

[27] . Lihat, Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanâbi’ul Mawaddahh, hal. 128.

[28] . Lihat, Al-Hakim, al-Mustadrak, jil. 3, hal. 128.

[29] . Idem.,

[30] . Lihat , Ahmad bin Hanbal, Musnad, jil 2, hal. 102.

[31] . Lihat, Al-Hakim, al-Mustadrak, jil. 3, hal. 129.

[32] . Lihat , Ahmad bin Hanbal, Musnad, jil 7, hal. 20.

[33] . Lihat, Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanâbi’ul Mawaddah, hal. 78

[34] . Lihat, Al-Hakim, al-Mustadrak, jil. 3, hal. 4.

[35] . Lihat, Al-Hakim, al-Mustadrak, jil. 3, hal. 5.

[36] . Lihat, Ahmad bin Hanbal, Musnad, jil. 1, hal. 156.

[37] . Lihat, al-Muhibb ath-Thabari, Dzakhâ’irul ‘Uqbâ, hal. 100.

[38] . Lihat, Ibnu Hajar al-Haitsami, ash-­Shawâ’iqul Muhriqah

[39] . Lihat, Ath-Thabari, ar-Riyâdhun Nadhrah, hal

[40] . Lihat, Ibnu ‘Abdil Barr, al-Isti’âb, hal.

[41] . Lihat, Al-Muttaqi al-Hanafi, Kanzul ‘Ummâl, hal.

Para pembaca sekalian…


Al-Qunduzi al-Hanafi meriwayatkan dalam kitabnya Yanâbi’ul Mawaddah tentang keluasan ilmu ‘Ali dari kitab Fadhâ’il, karya Ibnu aI-Maghazali asy-Syafi’i dengan sanadnya dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, “Nabi Saw bersabda, ‘Ketika aku berada di hadapan Tuhanku, Dia berbicara kepadaku dan aku bermunajat kepada-Nya. (Ketahuilah’) Setiap ilmu yang aku ketahui, pasti aku ajarkannya kepada ‘Ali, ia adalah pintu ilmuku.”[1]

AI-Khawarizimi al-Hanafi juga meriwayatkan hadis tersebut.

Hadis tersebut juga diriwayatkan di dalam Yanâbi’ul Mawaddah’ dari al-Hamdani asy-Syafi’i dalam kitabnya Mawaddatul Qurbâ, dari Ibnu ‘Abbas, dari Rasulullah Saw sesungguhnya ia bersabda, “Ilmu itu dibagi dalam sepuluh bagian, ‘Ali diberi sembilan bagian, dan ia adalah orang yang paling tahu di antara manusia dalam bagian yang kesepuluh itu.”[2]

Dalam kitab yang sama, Al-Qunduzi juga meriwayatkan dengan sanad dari Ibnu ‘Abbas dari Nabi Saw sesungguhnya ia bersabda kepada Ummu Salamah, “Wahai Ummu Salamah, ‘Ali ini, dagingnya berasal dari dagingku dan darahnya berasal dari darahku, dan ia kedudukannya di sisiku seperti kedudukan Harun  di sisi Musa, hanya saja tidak ada nabi sesudahku. Wahai Ummu Salamah, dengarkanlah dan saksikanlah ‘Ali ini adalah Amirul Mukminin dan pemimpim kaum Muslim. Ia ini (‘Ali) adalah gudang ilmuku, ia adalah pintuku yang aku didatangi darinya, ia adalah saudaraku di dunia dan akhirat, dan ia bersamaku di tempat yang paling tinggi (di dalam surga). “[3]

Hadis semacam ini juga diriwayatkan oleh aI-Hamuyini asy-­Syafi’i dalam kitabnya Farâ’idus Simthain, al-Kanji asy-Syafi’i dalam kitabnya Kifâyatuth Thâlib, al-Khawarizimi alk-Hanafi dalam kitabnya al-Manâqib dalam bab ketujuh tentang keluasan khazanah ilmu ‘Ali As, dan bahwa ia orang yang paling mengetahui masalah hukum di antara para sahabat Rasulullah Saw.

Al-Qunduzi al-Hanafi juga meriwayatkan dalam kitabnya Yanâbi’ul Mawaddah dari al-Khawarizmi dari Jabir al-Anshari Ra yang meriwayatkan hadis yang panjang dari Rasulullah Saw tentang manaqib ‘Ali As, di antaranya ia bersabda, “Dan engkau (wahai ‘AIi) adalah pintu ilmuku.”

Ibnu Abil Hadid al-Mu’tazili juga meriwayatkan hadis Rasulullah Saw dalam Syarah-nya terhadap kitab Nahjul Balâghah, ” ‘Ali adalah perbendaharaan iImuku. “

Al-Qunduzi al-Hanafi juga meriwayatkan dalam kitabnya Yanâbi’ul Mawaddah  al-Hamdani asy-Syafi’i dalam kitabnya Mawaddatul Qurbâ, dari Abu Dzar al-Ghifari Ra, ia berkata, “Rasulullah Saw bersabda, “Ali adalah pintu ilmuku dan yang menjelaskan kepada umatku tentang apa yang atasnya aku diutus sepeninggalku. Mencintainya adalah tanda keimanan, membencinya adalah tanda kemunafikan, dan memandangnya adalah tanda kasih sayang.” [4]

Kemudian ia berkata, “Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Na’im,” dan ia juga meriwayatkannya pada halaman 235 dari Abu ­Darda’ yang berkata bahwa, “Rasulullah Saw. bersabda, “Ali adalah pintu ilmuku.

Al-Qunduzi al-Hanafi juga meriwayatkan dari kitab Mawaddatul Qurbâ, karya aI-Hamdani asy-Syafi’i, dari ‘Umar bin al­-Khaththab, ia berkata, “Sesungguhnya Nabi Saw ketika mengikat persaudaraan di antara para sahabatnya, ia bersabda, Ini ‘Ali adalah saudaraku …dan ia adalah orang yang mewarisi ilmuku.”

Al-Qunduzi al-Hanafi juga meriwayatkan dari kitab Fadhâ’ilush Shahabah, karya as-Sam’iini, dengan sanadnya dari Abu Sa’id al-­Khudri bahwa Nabi Saw bersabda tentang keutamaan ‘Ali, “Dan ia (‘AIi) adalah orang yang paling bersabar di kakangan orang-orang Islam, paling banyak ilmunya di antara mereka, dan paling dahulu memeuk Islam di antara mereka. “

Hadis semisal ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Abil Hadid dalam syarahnya atas kitab Nahjul Balâghah, al-Muhibb ath-Thabari di dalam Dzakhâ’irul ‘Uqbâ dari Ahmad, dan al-Khawarizimi dalam al-Manâqib  dalam sebuah hadis yang panjang.

Al-Qunduzi al-Hanafi juga meriwayatkannya dalam bab ke­54 dari kitab al-Manâqib dengan sanadnya dari Jabir al-Anshari dalam sebuah hadis dari Nabi Saw yang di dalamnya disebutkan para Imam Ahlulbait berikut nama-nama mereka, di antaranya Jabir berkata kepada Imam Muhammad al-Baqir As, “Wahai maulana (tuanku), sesungguhnya kakekmu, Rasulullah Saw, bersabda kepadaku, “Jika engkau bertemu dengannya (Imam Muhammad al-Baqir), sampaikanlah salamku kepadanya.”

Kemudian Jabir berkata kepada Imam Muhammad al-Baqir, “Sesungguhnya ia telah mengabarkan kepadaku, sesungguhnya kalian adalah mam-imam yang membawa petunjuk dari Ahlulbaitnya sepeninggalnya. Kalian adalah orang yang paling arif di antara manusia ketika masih kanak-kanak, dan yang paling pandai di antara mereka pada waktu dewasa. Dan ia juga bersabda, “Janganlah kalian mengajari mereka karena mereka itu lebih pandai daripada kalian.”

Al-Khawarizmi meriwayatkan dalam kitabnya al-Manâqib dengan sanadnya dari Ibnu Mas’ud, ia berkata, “Kami pernah berada di rumah Nabi Saw, lalu kami bertanya kepadanya tentang ilmu ‘Ali. Kemudian, ia bersabda, “Hikmah itu dibagi dalam sepuluh bagian, ‘Ali diberi sembilan bagian darinya, sedangkan orang-orang diberikan satu bagian.”

Al-Qunduzi al-Hanafi juga meriwayatkan hadis itu dalam kitabnya Yanâbi’ul Mawaddah, bab ke-14, dari kitab al-Manâqib, karya Ibnu al-Maghazali, dari kitab Mawaddatul Qurbâ, dari kitab al-Firdaus, dan juga dari kitab Hilyatûl Auliyâ.

Kamaluddin asy-Syafi’i juga meriwayatkan hadis itu dalam Mathâlibus Sa’ul, dan al-Khawarizmi juga meriwayatkan dalam kitabnya al-Manâqib dengan sanadnya dari Salman Ra dari Nabi Saw bahwa ia bersabda, “Umatku yang paling pandai adalah ‘Ali.”

Ia juga meriwayatkannya dari at-Tirmidzi dalam Syarhir Risâlah al-Mausûmah bi Fathi/ Mubin, dan al-Hamuyini meriwayatkannya dalam Farâ’idus Simthain, dalam bab ke-18, dari Salman dari Nabi Saw bahwa ia bersabda, “Umatku yang paling pandai sesudahku adalah ‘Ali bin Abi Thalib.”

Al-Khawarizmi juga meriwayatkan dalam kitabnya al-­Manaqib dengan sanadnya dari Abu Sa’id al-Khudri dan Salman, keduanya berkata, “Nabi Saw bersabda, ‘Sesungguhnya umatku yang paling tahu masalah hukum adalah ‘Ali bin Abi Thdlib.”

Al-Hamuyini meriwayatkan dalam Farâ’idus Simthain, dan al-Qunduzi al-Hanafi meriwayatkan darinya dalam kitabnya Yanâbi’u/ Mawaddah dengan sanadnya dari Salamah bin Kuhail, ia berkata, “Nabi Saw bersabda, ‘Aku adalah kota hikmah, sedangkan ‘Ali adalah pintunya. ‘”

Hadis ini juga diriwayatkan oleh al-Muhibb ath-Thabari dalam kitabnya Dzakhâ’irul ‘Uqbâ dan Abu Thalhah asy-Syafi’i dalam Mathâlibus Sa‘ul dari kitab Mashâbihul Baghawî. 

Al-Muhibb Ath-Thabari meriwayatkan dalam Dzakhâ’irul ‘Uqbâ dari Nabi Saw, ia bersabda, “Barangsiapa ingin melihat Adam dalam i!munya. Nuh dalam pemahamannya, Ibrahim dalam kesabarannya, Yahya bin Zakariyya di dalam kezuhudannya, dan Musa dalam kekuatannya maka hendaklah ia melihat ‘Ali bin Abi Thalib.”

Al-Qunduzi al-Hanafi juga meriwayatkan hadis itu dalam kitabnya Yanâbi’ul Mawaddah, dari kitab Musnad Ahmad bin Hanbal. Shahihul Baihâqi, dan Ibnu Abil Hadid al-Mu’tazili dalan syarahnya (ulasan) pada kitab Nahjul Balâghah dari Nabi Saw bahwa ia  bersabda, “Barang siapa ingin melihat Adam dalam ilmunya, Nuh dalam tekadnya,  Ibrahim dalam kesabarannya, Musa dalam kecerdasannya dan Isa dalam kezuhudannya,  maka hendaklah ia melihat ‘Ali bin Abi Thalib.

Al-Hamuyini asy-Syiifi’i meriwayatkan dalam Farâ’idhus Simthain, al-Khawarizmi dan Ibnu al-Maghazili dalam Manâqib-nya, Kamaluddin asy-Syafi’i dalam Mathâlibus Sa’ul, dari al-­Baihaqi, Ibnush Shibagh al-Maliki dalam al-Fûshulul Muhimmah,  Abu Na’im dalam Hilyatul Auliyâ, al-Kanji asy-Syafi’i dalam Kifâyatuth Thâlib, al-Khawarizmi dalam Maqtalul Husain, dan Ibnu Mardawaih dalam Manâqib-nya dari Anas bahwa Nabi Saw bersabda kepada ‘Ali di rumah Ummu Habibah, “Sesungguhnya engkau penyampai risalahku sepeninggalku, menyampaikan dariku, memperdengarkan kepada orang-orang suaraku,  dan mengajarkan kepada orang-orang Kitabullah apa-apa yang mereka tidak ketahui.”

Aku katakan, hal ini adalah sebagian kecil dari hadis-hadis Nabi Saw yang menunjukkan keutamaan ilmu Amirul Mukminin ‘Ali dan Ahlulbaitnya yang diberkati daripada orang lain, dimana mereka telah dijadikan oleh Allah Swt sebagai perbendaharaan ilmu-Nya dan orang-orang kepercayaan-Nya atas hamba-hamba-Nya, sesuai dengan kesaksian Rasulullah Saw, orang yang dipercaya dalam ucapannya, dan apa yang diucapkannya tidak menurut hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya.

Selain itu, hadis-hadis tentang keluasan ilmu Amirul Mukiminin ‘Ali bin Abi Thalib dan Ahlulbaitnya tersebut sesungguhnya diriwayatkan oleh para perawi yang tsiqah (tepercaya), yang telah terbukti kesahihannya, dari kalangan ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Di samping itu, masih banyak lagi hadis tentang keluasan ilmu ‘Ali dan Ahli Baitnya yang mulia yang diriwayatkan oleh para ulama Syi’ah, silakan Anda merujuk pada kitab-kitab mereka, niscaya Anda akan terpuaskan.

Kesaksian Abu Bakar

AI-Imam al-Bahrani meriwayatkan di dalam Ghâyatul Marâm” dari at-Tirmidzi, ia termasuk tokoh besar ulama Ahlus Sunnah, ia berkata, “Abu Bakar berkata, ‘Copotlah aku (dari jabatan khalifab) karena sesungguhnya ‘Ali lebih berhak daripadaku di dalam urusan (kekhalifaban) ini.”[6]

At-Tirmidzi berkata, “Dalam riwayat disebutkan bahwa ash-­Shiddiq (Abu Bakar) berkata tiga kali, “Copotlah aku (dari jabatan khalifah) karena sesungguhnya aku bukanlah orang yang terbaik di antara kalian, sedangkan ‘Ali berada di tengah-tengah kalian.”

Kemudian at-Tirmidzi berkata, “Sesungguhnya ia (Abu Bakar) berkata yang demikian itu karena ia mengetahui secara benar dan pasti tentang keadaan ‘Ali dan kedudukannya serta lebih berhaknya ia di dalam urusan kekhalifahan.”

Kesaksian ‘Umar

Ibnu Abil Hadid al-Mu’tazili meriwayatkan dalam syarahnya atas kitab Nahjul Balâghah dari ‘Umar bin AI-Khaththab bahwa ia berkata, “Demi Allah, seandainya bukan karena ia-yakni ‘Ali, niscaya tidak akan berdiri kukuh tiang Islam. Ia (‘ Ali) adalah orang yang paling mengetahui tentang masalah hukum di kalangan umat ini, orang yang paling dahulu memeluk Islam, dan orang yang paling utama.”

Ibnu Abil Hadid juga meriwayatkan dalam kitab yang sarna dan juga al-Khawarizmi al-Hanafi meriwayatkan dalam Manâqib-nya dari Ibnu ‘ Abbas bahwa ia berkata, “Aku mendengar ‘Umar berkata, ketika itu dalam rumahnya terdapat sekelompok orang yang sedang membicarakan tentang orang-orang yang paling dahulu memeluk Islam, ‘Adapun ‘AIi, maka aku mendengar Rasulullah Saw bersabda tentang tiga hal. Aku sangat berharap, seandainya aku bisa mendapatkan salah satu dari ketiga hal tersebut, niscaya hal itu lebih aku sukai daripada dunia dan seisinya. Ketika itu, aku, Abu ‘Ubaidah, Abu Bakar, dan sekelompok di antara sahabat beliau, tiba-tiba Nabi Saw menepuk pundak ‘Ali seraya bersabda,

“Wahai ‘Ali, engkau adalah orang pertama yang beriman di kalangan kaum Mukmin, orang Islam pertama yang memeluk agama Islam di antara kaum Muslimin, dan kedudukanmu di sisiku, seperti kedudukan Harun di sisi Musa.”

Ahmad bin Hanbal meriwayatkan di dalam Musnad-nya dan al-Hakim di dalam Mustadrak-nya dari ‘Umar bin al-Khaththab bahwa ia berkata, “Sungguh, telah diberikan kepada ‘Ali bin Abi Thalib tiga hal, seandainya aku diberikan salah satunya dari ketiga hal tersebut, niscaya lebih aku sukai daripada (aku mendapatkan) sekawanan unta merah (harta yang paling berharga di kalangan bangsa Arab). Yaitu, Istrinya, Fatimah binti Rasulillah; bertempat tinggal di Masjid, diperbolehkan baginya apa yang diperbolehkan bagi Rasulullah Saw; dan diserahkannya kepadanya bendera pada waktu Perang Khaibar.”

Ibnu Hajar menyebutkan dalam kitabnya ash-Shawâ’iqul Muhriqah dalam pasal yang di dalarnnya disebutkan pujian para sahabat Nabi Saw kepada ‘Ali, ia berkata, “Ibnu Sa’ad meriwayatkan­ dalarn kitabnya ath- Thabaqât- dengan sanad dari Abu Hurairah, ia berkata, “Umar bin AI-Khaththab berkata, “Ali adalah orang yang paling mengetahui di antara kami tentang masalah hukum.”[7]

Al-Muhibb ath-Thabari meriwayatkan dalam Dzakhâ’irul ‘Uqbâ’ dari ‘Umar bin AI-Khaththab, ia berkata, “Orang yang paling mengetahui di antara kami tentang masalah hukum adalah ‘Ali bin Abi Thalib.”[8]

As-Suyuthi meriwayatkan dalam kitabnya Târikhul Khulafâ, dalam bab tentang keutamaan-keutamaan ‘Ali As, ia berkata, “Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari ‘Ali bahwasanya dia pemah ditanya, “Mengapa engkau orang yang paling banyak meriwayatkan hadis di kalangan sahabat Rasulullah Saw?”

‘Ali As menjawab, “Sesungguhnya jika aku menanyakan sesuatu kepada Rasulullah Saw, ia memberitahukannya kepadaku. Dan jika aku diam, ialah yang memberitahukannya kepadaku.” [9]

Kemudian As-Suyuthi berkata, “AI-Hakim meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, ia berkata, ‘Kami biasa berkata bahwa penduduk Madinah yang paling mengetahui tentang masalah hukum adalah ‘Ali.”

Ia berkata, ‘Sa’id bin al-Musayyib berkata, “Umar bin aI-­Khaththab berlindung kepada Allah dari masalah yang sulit, yang dalamnya tidak ada Abul Hasan (‘ Ali).”

Aku katakan, sesungguhnya berlindungnya ‘Umar kepada Allah dari masalah yang sulit, yang di dalamnya tidak ada Abul Hasan (‘ Ali) diriwayatkan oleh banyak ulama terkemuka dari kalangan Ahlus Sunnah wal Jamaah, sebagaimana telah disebutkan sebelum ini.

 

Kesaksian A’isyah

Al-Hamuyini asy-Syafi’i meriwayatkan dalam kitabnya Farâ’idhus Simthain  bahwa ‘Aisyah berkata tentang ‘Ali As, “Ia adalah yang paling mengetahui tentang Sunnah.” Disebutkan dalarn riwayat al-Khawarizmi dari ‘A’isyah, ia berkata, “Ia (‘ Ali) adalah orang yang paling mengetahui tentang Sunnah.”

Al-Muhibb ath-Thabari meriwayatkan dalam kitabnya Dzakâd’irul  ’Uqbâ ucapan ‘A’isyah tentang ‘Ali, “Adapun ia (‘Ali), maka sesungguhnya ia adalah orang yang paling mengetahui tentang Sunnah.”

Kesaksian ‘A’isyah tersebut tentang Amirul Mukminin ‘Ali As bahwa ia adalah orang yang paling mengetahui tentang Sunnah juga diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abdil Barr dalam kitabnya aI-Isti’âb, Ibnu Hajar dalam kitabnya ash-Shawâ’iqul Muhriqah, al-Muhibb ath-­Thabari dalam kitabnya yang lain, yaitu ar-Riyâdhun Nadhrah, dan al-Khawarizmi dalam kitabnya al-Manâqib.

Dan al-Qunduzi al-Hanati meriwayatkan dalam kitabnya Yanâbi’ul Mawaddah dari ‘A’ isyah bahwa ia berkata tentang ‘Ali, “Itulah sebaik-baik manusia, tidak ada yang meragukannya kecuali orang kafir.”

Kesaksian ‘Abdullah bin ‘Abbas

Al-Qunduzi al-Hanafi rneriwayatkan kesaksian Ibnu ‘Abbas tentang ‘Ali As dalam kitabnya Yanâbi’ul Mawaddah dari kitab Fashlul Khithâb, “Sesungguhnya al-Quran diturunkan dalam tujuh huruf (bacaan). Pada setiap hurufnya terdapat ilmu lahir (zhâhir) dan ilmu batin, dan sesungguhnya ‘Ali rnenguasai iImu lahir dan batin.”[10]

Ia juga meriwayatkan dalam kitabnya yang sarna Yanâbi’ul Mawaddah dari kitab ad-Durrul Manzhûm, karya al-Halabi asy-Syafi’i dari ‘Abdullah bin ‘Abbas bahwa ia berkata, “Telah diberikan kepada Imam’ Ali As sembilan persepuluh bagian ilmu, dan sesungguhnya ia orang yang paling pandai dalam sepersepuluh bagian yang lain.”[11]

AI-Qunduzi al-Hanafi juga meriwayatkan ucapan ‘Abdullah bin’ Abbas semacam itu di dalam al-Isti’âb, ar-Riyâdhun Nadhrah, dan Mathâlibus Sa’ul.

Ia juga meriwayatkan dari kitab Syarhul Fathul Mubin seperti itu, di antaranya ia berkata, “Dahulu para sahabat Nabi Saw merujuk kepadanya-yakni kepada ‘AIi dalam hukum-hukum al-­Quran dan mengambil darinya fatwa-fatwa, sebagaimana ucapan ‘Umar pada beberapa kesempatan, “Seandainya tidak ada’ AIi, pasti binasalah ‘Umar.”

Al-Muhibb ath-Thabari juga meriwayatkan ucapan Ibnu ‘Abbas tersebut dalam kitabnya Dzakhâ’irul ‘Uqbâ.

Ibnu Abil Hadid AI-Mu’tazili meriwayatkan di dalam Syarh  Nahjûl Balâghah dari Ibnu ‘Abbas bahwa ia pemah ditanya, “Bagaimana perbandingan ilmumu dengan iImu anak pamanmu ‘AIi?” Ibnu ‘Abbas menjawab, “Seperti setetes air hujan di samudra yang luas.”

Dan juga disebutkan dalam kitab Syifâ’ush Shudûr, karya an-Naqqas, yang diriwayatkan juga dari Ibnu ‘Abbas bahwa ia berkata, “Sesungguhnya ‘Ali mengetahui iImu yang diajarkan kepadanya dari Rasulullah, dan Rasulullah Saw diajarkan ilmu dari Allah. Oleh karena itu, iImu Nabi berasal dari ilmu Allah, sedangkan iImu ‘Ali berasal dari iImu Nabi, dan iImuku berasal dari iImu ‘Ali. IImu para sahabat Muhammad dibandingkan dengan iImu ‘Ali adalah seperti setetes air di hadapan tujuh samudra.”

AI-Qunduzi juga meriwayatkan hal itu dalam kitabnya Yandâi’ul Mawaddah, bab ke-14, dari al-Kalbi dari Ibnu ‘Abbas.

AI-Muhibb ath- Thabari meriwayatkan dalam kitabnya Dzakhâ’irul ‘Uqbâ dari Ibnu ‘Abbas bahwa ia pemah ditanya tentang ‘Ali, maka ia menjawab, “Semoga Allah mencurahkan rahmat-­Nya kepada Abul Hasan (‘Ali). Demi Allah, ia adalah panji petunjuk, tempat perlindungan orang-orang bertakwa, puncak gunung yang paling menjulang, tempat yang dituju, orang yang paling dermawan, puncak ilmu pengetahuan manusia, cahaya yang menyinari di dalam kegelapan, penyeru pada tujuan yang agung, dan orang yang berpegang teguh pada buhul tali yang amat kuat (al-’urwatul wutsqâ). Ia adalah orang yang paling mulia yang bermunajat (kepada Tuhannya) sesudah Muhammad al-Mushthafa, orang yang ikut shalat dengan menghadap dua kiblat, ayah dari dua orang cucu Nabi Saw (al-Hasan dan aI-Husain), dan istrinya (Fatimah) adalah sebaik-baik wanita. Dengan demikian, tidak ada seorang pun yang mengunggulinya. Aku belum pemah melihat orang yang sepertinya dan belum pernah pula aku melihat orang yang menyamainya.”

Kesaksian ‘Abdullah bin Mas’ud

AI-Qunduzi al-Hanafi meriwayatkan dalam kitabnya Yanâbi’ul Mawaddah dari kitab Mawaddatul Qurbâ, karya al-­Hamdani asy-Syafi’i dari ‘Abdullah bin Mas’ud bahwa ia berkata, “Aku telah membaca tujuh puluh surah (al-Quran) dari lisan Rasulullah Saw, dan aku telah membaca sisanya dari orang yang paling pandai di kalangan umat ini setelah Nabinya Saw, ‘Ali bin Abi Thalib.”[12]

Riwayat ini juga disampaikan oleh AI-Khawarizmi al-Hanafi dan juga diriwayatkan oleh al-Qunduzi al-Hanafi dalam kitabnya Yanâbi’ul Mawaddah dari kitab Farâ’idus Simthain, karya al-­Hamuyini asy-Syafi’i, dengan sanad dari Ibnu Mas’ud bahwa ia berkata, “Al-Quran ini telah diturunkan di dalam tujuh huruf (bacaan), di dalamnya ada ilmu lahir dan ilmu batin, dan sesungguhnya pada ‘Ali terdapat ilmu al-Quran, baik lahir maupun batin.”[13]

AI-Qunduzi al-Hanafi juga menyebutkan riwayat tersebut dari kitab Fashlul Khitâb dari Ibnu Mas’ud.

AI-Karajiki meriwayatkan dalam Kanzul ‘Ummâl dari Ibnu Mas’ud bahwa ia berkata, “Hikmah itu dibagi dalam sepuluh bagian; ‘Ali As diberi sembilan bagian, sedangkan orang-orang diberikan satu bagian, dan ‘Ali adalah orang yang paling pandai di dalam satu bagian tersebut.”

Disebutkan di dalam kitab al-Isti’âb dari Ibnu Mas’ud bahwa ia berkata, “Orang yang paling mengetahui tentang fara’idh (ilmu waris) di kalangan penduduk Madinah adalah ‘Ali bin Abi Thalib.”

Kesaksian ath-Thâghiyah (Orang yang Zalim) Mu’awiyah

Ahmad bin Hanbal meriwayatkan dalam Musnad-nya dari Mu’awiyah bahwa ia berkata, “Sesungguhnya Rasulullah Saw telah mencurahkan ilmu yang banyak kepada ‘Ali.” Ia juga berkata, “Umar jika mengalami kesulitan, ia bertanya kepadanya, yakni kepada ‘Ali.”

Al-Muhibb ath-Thabari juga menyebutkan riwayat itu dalam kitabnya Dzakhâ’irul ‘Uqbâ dengan sedikit perbedaan dalam redaksinya dan al-Hamuyini juga meriwayatkan dalam kitabnya Farâ ‘idus Simthain, jilid 1, bab ke-68.

Ibn Abil Hadid meriwayatkan dalam Syarh Nahjul Balâghah dari Mihfan ibnu Abi Mihfan adh-Dhabbi ketika ia berkata kepada Mu’awiyah, “Aku mendatangimu dari tempat seseorang yang paling kikir (yang ia maksud adalah ‘Ali).”

Lalu, Mu’awiyah berkata kepadanya, “Celaka engkau, bagaimana engkau dapat berkata bahwa sesungguhnya ia (‘ Ali) adalah orang yang paling kikir? Padahal ia adalah orang yang seandainya memiliki sebuah rumah dari emas dan sebuah rumah dari

jerami, niscaya ia akan menafkahkan rumahnya yang dari emas sebelum menafkahkan rumahnya yang dari jerami.

Ia adalah orang yang menyapu baitul mal dan mengerjakan shalat di dalamnya. Ia adalah orang yang berkata, ‘Hai emas dan perak, perdayakanlah orang selainku! Dan ia adalah orang yang tidak meninggalkan warisan, padahal seluruh isi dunia ada di tangannya, kecuali yang ada di Syam.”

 

Kesaksian Dhirar di Hadapan ath-Thâghiyyah Mu’awiyah

Ibnu ash-Shibagh al-Maliki meriwayatkan dalam kitabnya al-­Fushulul Muhimmah, Ibnu al-Jauzi dalam Tadzkiratul Khawwâsh, dan selain keduanya dari kalangan para penulis sejarah bahwa Dhirar bin Dhamrah pemah mendatangi Mu’awiyah. Lalu Mu’awiyah berkata Dhirar, “Ceritakanlah kepadaku tentang ‘Ali!”

Dhirar berkata, “Maafkanlah aku.  Aku tidak dapat menceritakannya kepadamu.”

Mu’awiyah berkata, “Tidak, engkau harus menceritakannya kepadaku.”

Maka, Dhirar berkata, “Baiklah aku akan menceritakannya kepadamu karena engkau telah memaksaku. Demi Allah, sesungguhnya ia (‘Ali) adalah orang yang berpandangan jauh, kuat kepribadiannya, fasih dalam berbicara, adil dalam memutuskan hukum, dan sumber ilmu pengetahuan. Ucapannya memancarkan hikmah. Ia menjauhi dunia dan keindahannya, menyukai kegelapan malam (untuk beribadah dan bermunajat kepada Tuhannya). Ia banyak menangis dan panjang pikirannya, ia suka membolak-balikkan telapak tangannya dan berbicara pada dirinya. Ia lebih menyukai pakaian yang kasar dan makanan yang keras.Ia sederhana dalam penampilan, seperti layaknya seseorang di antara kami. Tidak ada pertanyaan kami yang tidak terjawab olehnya, dan jika kami mengundangnya, ia pasti datang.

Kami, demi Allah, walaupun kami sangat akrab dengannya dan ia pun sangat dekat kepada kami, tetapi kami hampir tidak pemah berbicara kepadanya karena kewibawaannya yang agung. Jika tersenyum, maka gigi-giginya seperti mutiara yang tersusun rapi. Ia memuliakan ulama dan mencintai kaum fakir miskin. Di sisinya, orang yang kuat tidak dapat berbuat semena-mena, sedangkan orang yang lemah tidak akan berputus asa dari keadilannya.

Aku bersaksi kepada Allah, sungguh pada suatu waktu, ketika malam sudah sunyi dan gelap gulita, ia memegangi janggutnya sambil berjalan mondar-mandir. Ia menangis tersedu-sedu, seperti tangisan orang yang sedang dirundung malang. Seakan-akan aku mendengarnya ia berkata, ‘Hai dunia, perdayakanlab orang lain selain diriku! Apakab engkau menolakku atau rindu kepadaku? Jauh, jauh. Sungguh, aku telah menalakmu dengan tiga kali talak, yang membuat aku tidak akan dapat  rujuk lagi kepadamu. Umurmu pendek, kehidupanmu hina, dan bahayamu besar. Ah, ah. Alangkah sedikitnya bekal, jauhnya perjalanan, dan gelapnya jalan.”

Kemudian, Mu’awiyab menangis tersedu-sedu hingga air matanya membasahi janggutnya. Orang-orang yang hadir di majelis itu pun semuanya ikut menangis.

Kemudian Mu’awiyah berkata, “Semoga Allah merahmati Abul Hasan (‘Ali). Memang, demi Allah, ia seperti yang engkau katakan.” Lalu ia berkata, “Bagaimana kesedihanmu terhadapnya wahai Dhirar?”

Dhirar menjawab, “Seperti kesedihan seorang perempuan yang anaknya disembelih di pangkuannya. Tidak akan pernah berhenti tangisannya dan tidak akan pernah reda kesedihannya.”

Kesaksian ‘Amru bin ‘Ash

Para penulis sejarah dan manâqib, di antaranya: al-­Khawarizmi al-Hanafi dalam Manâqib-nya, menyebutkan bahwa Mu’awiyah menulis surat kepada ‘Amru bin’ Ash, yang isinya adalah bujukan agar ‘Amru bin’ Ash mau bergabung bersamanya dalam memerangi Imam’ Ali As. Kemudian, ‘Amru bin’ Ash membalas secara panjang lebar surat Mu’awiyah tersebut, yang di dalamnya ia menyebutkan keutamaan-keutamaan ‘Ali. Di antaranya, ia berkata, “Adapun seruanmu kepadaku untuk melepaskan tali ikatan Islam dari leherku, menceburkan diri di dalam kesesatan bersamamu, pertolonganku kepadamu di dalam kebatilan, dan menghunus pedang di wajah ‘Ali, sedangkan ia (‘ Ali) adalah saudara Rasulullah Saw, washiyy-nya, yang mewarisi ilmunya, yang membayarkan utangnya, dan yang melaksanakan janjinya.

Kemudian ‘Amr” bin’ Ash menyebutkan sabda-sabda Rasulullah Saw tentang ‘Ali As, seperti sabda Nabi Saw di Ghadir Khum,

“Ketahuilah’ Barang siapa yang menjadikan aku sebagai maulanya (pemimpinnya) maka ‘Ali adalah maulanya (pemimpinnya) juga. Ya Allah, tolonglah orang yang menolongnya. Musuhilah orang yang memusuhinya. Belalah orang yang membelanya. Dan telantarkanlah orang yang menelantarkannya.”

Sabda Nabi Saw, “Ya Allah. Datangkanlah kepadaku makhluk-Mu yang paling Engkau cintai agar ia makan bersamaku daging burung ini.” Lalu, datanglah ‘Ali, kemudian makan bersama Nabi Saw.

Sabdanya, “Ali adalah imam orang-orang yang berbakti dan yang memerangi orang-orang yang durhaka. Allah akan menolong orang yang menolongnya dan menelantarkan orang yang menelantarkannya.”

Sabdanya “‘Ali adalah pemimpin kalian sepeninggalku.”

Sabdanya, “Sesungguhnya aku meninggalkan dua pusaka yang sangat berharga (tsaqalain) kepada kalian,  yaitu Kitabullâh dan Itrahti (keturunanku).”

Dan sabdanya, “Aku adalah kota ilmu sedangkan ‘Ali adalah pintunya.”

Kemudian ‘Amru bin ‘Ash menyebutkan kepada Mu’awiyah beberapa ayat al-Quran yang diturunkan berkenaan dengan ‘Ali. Di antaranya:

Firman Allah Swt,

..”Mereka menunaikan nazar…” (Qs. al-Insan [76]:7)

Firman Allah Swt,

“Sesungguhnya wali kamu hanyalah Allah,  Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat (sedekah) sementara mereka sedang melakukan ruku’.” (Qs. al-Maidah [5]:55)

Dan firman Allah Swt.,

“Katakanlah, “Aku tidak, meminta kepadamu sesuatu upah pun atas seruanku kecuali kecintaan kepada keluargaku.” (Qs. asy-Syura [42]:23)

Kemudian ‘Amru bin’ Ash juga mel)yebutkan sdbda Nabi Saw. kepada ‘AIi, “Apakah engkau tidak rela bahwa kedudukanmu di sisiku, seperti kedudukan Harun di sisi Musa. Berdamai denganmu sama dengan berdamai denganku dan berperang denganmu sama dengan berperang denganku. Wahai ‘Ali barangsiapa mencintaimu, berarti ia mencintaiku; dan barang siapa membencimu, berarti dia membenciku. Barangsiapa mencitaimu, Allah akan memaslukkannya ke surga, dan barangsiapa membencimu, Allah akan menjebloskannya ke dalam neraka.”

Kemudian ‘Amru bin ‘Ash berkata kepada Mu’awiyah, “Dan suratmu wahai Mu’iiwiyah, yang ini adalah jawabannya, tidaklah dapat memperdayakan orang yang mempunyai akal dan agama.”

Perhatikanlah pemyataan orang yang licik lagi penipu ini, ‘Amru bin’ Ash, dan pengakuannya atas kebenaran yang dirampas, walaupun demikian ia tetap bersikeras di dalam kebatilan dan keluar dari imam zamannya, Amirul Mukminin ‘Ali bin Abi Thalib As, karena kerakusannya terhadap dunia.

Kesaksian Mu ‘awiyah Ats- Tsani, (Kedua)

AI-Qunduzi al-Hanafi meriwayatkan dalam kitabnya Yanâbi’ul Mawaddah dari Ibnu al-Jauzi, dari al-Qadhi Abi Ya’la dalam kitabnya, ia berkata setelah menyebutkan perbuatan­-perbuatan keji yang dilakukan oleh Yazid, “Sesungguhnya Mu’awiyah bin Yazid ketika tampuk kekuasaan berpindah ke tangannya, ia naik ke mimbar, lalu ia berpidato, ‘Sesungguhnya kekhalifahan ini adalah tali Allah Ta’ala, dan sesungguhnya kakekku, Mu’awiyah, telah bersengketa dalam urusan ini (kekhalifahan) dengan pemangkunya yang sah dan orang yang lebih berhak daripadanya, yaitu ‘Ali bin Abi Thalib.” [14]

Ad-Damiri meriwayatkan di dalam  Hayâtul Hayawân, ia berkata, “Sesungguhnya Mu’awiyah bin Yazid berpidato di atas mimbar di hadapan penduduk Syam, ia berkata, “Ketahuilah! Sesungguhnya kakekku, Mu’awiyah, telah bersengketa di dalam urusan ini (kekhalifahan) dengan orang yang lebih berhak daripadanya (‘Ali bin Abi Thalib As) dan daripada selainnya karena kekerabatannya kepada Rasulullah Saw dan keagungan keutamaannya serta orang yang paling dahulu memeluk Islam. Ia adalah tokoh Muhajirin yang paling besar kedudukannya, paling berani, dan paling banyak ilmunya.”

Dia adalah orang yang pertama kali beriman, paling mulia kedudukan, dan paling dahulu persahabatannya (dengan Rasulullah Saw). Ia adalah anak paman Rasulullah Saw, menantunya, dan saudaranya. Rasulullah Saw telah mengawinkannya dengan putrinya, Fathimah, dan menjadikannya sebagai suaminya. Dia adalah ayah dari kedua cucu Rasulullah Saw, pemuka pemuda ahli surga (al-Hasan dan al-Husain) dan dia adalah orang yang paling utama di kalangan umat.

AI-Khawarizmi juga menyebutkan riwayat yang semacam itu dalam kitabnya.

Kesaksian ‘Umar bin ‘Abdul’ Aziz

Ibnu al-Jauzi al-Hanafi menyebutkan dalam Tadzkiratul Khawâsh  dari  ’Umar bin ‘Abdul ‘Aziz bahwa ia berkata, “Sepengetahuan kami, tidak ada seorang pun dari kalangan umat ini sesudah Rasulullah Saw yang lebih zuhud daripada ‘Ali bin Abi Thalib…”

Ibnu Abil Hadid AI-Mu’tazili meriwayatkan di dalam syarahnya pada kitab Nahjul Balâghah tentang persidangan yang terkenal yang terjadi di persidangan ‘Umar bin’ Abdul’ Aziz. Ketika itu, ada seorang laki-laki yang bersumpah dengan sumpah talak terhadap istrinya bahwa ‘Ali As adalah orang yang paling baik dan orang yang paling utama di kalangan umat ini sesudah Nabinya Saw. Kemudian ayah si istri tersebut menyatakan bahwa ia (putrinya) telah jatuh talaknya dari suaminya tersebut. Kemudian, ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz mengumpulkan orang-orang dari Bani Hasyim dan Bani Umayyah, lalu dia memaparkan kepada mereka masalah tersebut.

Saat itu, ada seorang dari Bani Hasyim dari keluarga ‘Aqil yang berdiri, dia berkata, “Sumpah laki-laki tersebut benar dan tidak jatuh talak terhadap istrinya itu.” Kemudian ia berhujah dengan hadis Nabi Saw bahwa ‘Ali adalah orang yang paling utama di kalangan umat ini.

Kemudian, ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz berkata, “Engkau benar wahai ‘Aqil.”

Kesaksian Abu Ja’far al-Manshur

Al-Qunduzi al-Hanafi meriwayatkan dalam kitabnya Yanâbi’ul  Mawaddah, bab 65, dari kitab Fashlul Khithâb, karya Muhammad Khawiijah al-Bukhiiri, ketika menyebutkan manakib Imam Ja’far ash-Shadiq As dan setelah menyampaikan sanjungan dan pujian yang tinggi kepadanya serta menyifatkannya dengan ilmu yang berlimpah, ia berkata, “Pemah pada suatu malam, Abu Ja’far al-Manshur memanggil pembantunya seraya berkata,  ”Hadapkanlah kepadaku Ja’far ash-­Shadiq sehingga aku dapat membunuhnya.!”

Muhammad Khawajah berkata, “Aku berkata, ia (Imam Ja’far ash-Shadiq As) adalah seorang laki-laki yang telah berpaling dari dunia dan menghadapkan dirinya untuk menyembah Tuhannya, maka ia tidak membahayakanmu.”

Al-Manshur berkata, “Sesungguhnya kamu berkata tentang keimamannya. Demi Allah, sesungguhnya ia imammu, imamku, dan imam seluruh makhluk, sedangkan kekuasaan itu membinasakan. Hadapkanlah ia kepadaku.”

Kemudian disebutkan dalam sebuah riwayat tentang kekeramatan yang agung yang terjadi pada diri Imam Ja’far ash-Shiidiq As.

Aku katakan, perhatikanlah dengan saksama penguasa yang zalim tersebut, Abu Ja’far al-Manshur, bagaimana Allah menjadikannya mengucapkan perkataan yang benar melalui lisannya sehingga ia mengakui keimaman al-Imam Ja’far ash-Shadiq As atas semua makhluk dari sisi Allah. Akan tetapi, setelah itu ia segera membunuhnya dengan meracuninya, kemudian ia menangisinya begitu mendengar kabar kewafatannya. Akan tetapi, dengan segera pula ia menulis surat kepada gubemumya di Madinah untuk membunuh orang yang mendapatkan wasiat (melanjutkan keimamannya) dari Imam Ja’far ash-Shadiq As.

Al-Khawarizmi meriwayatkan dalarn kitabnya al-Manâqib dari Sulaiman bin Mihran dari al-Manshur bahwa ia menceritakan kepadanya kekeramatan-kekeramatan ‘Ali, Fatimah, al-­Hasan, dan al-Husain ‘alaihimus salam dalam sebuah hadis yang sangat panjang. Pada akhir hadis itu dikatakan, Sulaiman berkata kepada al-Manshur,  ”Apakah Anda menjamin keamanan saya?”

Al-Manshur berkata, “Ya, saya jamin keamanan kamu.” Sulaiman berkata, “Bagaimana menurutmu tentang orang yang membunuh mereka itu (‘Ali, Fathimah, al-Hasan, dan al-Husain ‘alaihimus salam)?”

Al-Mansur menjawab, “Ia pasti akan masuk ke dalam neraka, aku sarna sekali tidak meragukan hal itu.”

Sulaiman berkata, “Lalu bagaimana menurutmu tentang orang yang membunuh anak-anak mereka dan cucu-cucu mereka?”

Al-Mansur menundukkan kepalanya, kemudian dia berkata, “Wahai Sulaiman, kekuasaan itu membinasakan.”

 

Kesaksian Harun ar-Rasyid

Al-Qunduzi al-Hanafi meriwayatkan dalam kitabnya Yanâbi’ul Mawaddah dari kitab Fashlul Khithâb, karya Muhammad Khawiijah al-Bukhari, tentang manâqib Ahlulbait ‘alaihimus salam, yang disebutkannya satu demi satu, dan keutamaan-keutamaan mereka yang banyak serta ilmu mereka yang melimpah. Di antaranya disebutkan manâqib Imam Musa al-Kazhim As setelah menyebutkan ilmu Imam Musa al-Kazhim As, kesabarannya, keutamaannya, dan ke­wara‘-annya serta kekeramatannya, al-Qunduzi berkata, “Al-Ma’mun meriwayatkan dari ayahnya, Harun ar-Rasyid, bahwa ia berkata kepada anak-anaknya tentang Musa al-­Kazhim, ‘Orang ini adalah imam manusia, hujah Allah atas makhluk-­Nya, dan khalifah-Nya atas hamba-hamba-Nya.  Aku adalah imam orang banyak secara lahiriah, dengan penguasaan, dan pemaksaan, sedangkan ia (Imam Musa al-Kazhim As), demi Allah, lebih berhak terhadap posisi Rasulullah Saw daripada aku dan daripada semua makhluk. Dan demi Allah, seandainya ia menentangku dalam urusan ini (kekhalifahan), niscaya aku akan membunuhnya karena sesungguhnya kekuasaan itu membinasakan.”[15]

Disebutkan di dalam bab yang sama, Harun ar-Rasyid berkata kepada al-Ma’mun “Wahai anakku, ini adalah orang yang mewarisi ilmu para nabi, ia ini adalah Musa bin Ja’far. Jika engkau menginginkan ilmu yang benar, engkau akan mendapatkannya pada orang ini (Musa bin Ja’far).”

Aku katakan, demi Allah ini adalah pengakuan yang terang­terangan dari seorang penguasa yang zalim tentang hak orang-orang yang diwasiatkan oleh Rasulullah Saw dalam sabdanya, yaitu para Imam Ahlulbait.

Akan tetapi sangat disayangkan, orang yang mengakui hak imam, justru telah memenjarakannya berkali-kali dan berkali-kali pula menaruh raeun pada makanannya. Akhirnya, ia (Harun ar-Rasyid) memerintahkan As-Sanadi bin Syahik untuk membunuh Imam Musa al-Kazhim dengan racun, lalu ia pun melaksanakan perintah tersebut dengan membunuhnya dalam penjara, sebagaimana disebutkan oleh para sejarawan dari Ahlus Sunnah dan Syi’ah. Pembunuhan yang disengaja terhadap Sang Imam ini, apalagi ia adalah hujah Allah atas makhluk-Nya, mewajibkan ar-Rasyid untuk kekal di dalam neraka jahanam.

Kesaksian al-Ma’mun

Al-Qunduzi al-Hanafi meriwayatkan dalam kitabnya Yanâbi’ul Mawaddah  surat al-Ma’mun yang ditujukannya kepada orang-orang dari Bani’ Abbasiyah, yaitu ketika mereka berupaya untuk membatalkan keputusannya mengangkat Imam’ Ali ar-Ridha sebagai putra mahkotanya. Dalam surat yang panjang lebar itu, al-Ma’mun menyebutkan keutamaan-keutamaan ‘Ali bin Abl Thalib As, di antaranya ia berkata,

“Ia (‘Ali bin Abl Thiilib a,s.) adalah orang yang paling mengetahui tentang agama Allah; ia adalah orang yang telah diangkat sebagai pemimpin (oleh Rasulullah Saw) di Ghadir Khum; ia adalah ‘diri’ Rasulullah Saw pada hari mubahalah (dengan kaum Nasrani Najran); dan Allah telah menghimpun untuknya manâqib dan ayat-ayat yang berisi pujian terhadapnya.

Kemudian, kami (Bani’ Abbasiyah) dan anak keturunan ‘Ali As dahulunya merupakan satu tangan sehingga Allah menakdirkan urusan ini (kekuasaan) kepada kami. Lalu kami mempersulit kepada mereka (anak keturunan ‘Ali As) dan kami telah membunuh mereka lebih banyak daripada pembunuhan yang dilakukan oleh Bani Umayyah terhadap mereka.”

Kesaksian Abu Hanifah

Diriwayatkan dari kitab Manâqib Ali bin Abi Thâlib dalam biografi Imam Ja’far ash-Shadiq As dari Musnad Abi Hanifah disebutkan, “Al-Hasan bin Ziyad berkat,a, “Aku mendengar Abu Hanifah ketika ia ditanya tentang siapakah orang yang paling faqih yang pernah engkau lihat?”

Abu Hanifah menjawab, Ja’far bin Muhammad. Ketika ia (Ja’far bin Muhammad) dihadapkan kepadanya, al-Manshur mengutus seseorang menemuiku dengan pesan, ‘Wahai Abu Hanifah, sesungguhnya orang-orang telah diuji dengan Ja’far bin Muhammad, siapkanlah untuku masalah-masalah yang sulit! Lalu aku pun mempersiapkan empat puluh masalah, kemudian aku mengirimkannya kepada Abu Ja’far (al-Manshur), yang ketika itu sedang berada di Hirah.

Kemudian, aku mendatanginya, lalu aku memasuki majelisnya. Saat itu, aku melihat Ja’far (ash-Shadiq) duduk di sebelah kanannya, lalu ketika aku melihatnya, masuk ke dalam hatiku kewibawaan pada diri Ja’far (ash-Shadiq), yang tidak aku aku rasakan ketika aku melihat Abu Ja’far (al-Manshur). Lalu aku memberi salam kepadanya (Abu Ja’far AI-Manshur), kemudian ia memberi isyarat kepadaku, lalu aku pun duduk. Kemudian dia (al-Manshur) menoleh kepadaku seraya berkata, “Kemukakanlah masalah-masalahmu kepada Abu ‘Abdilah (Imam Ja’far Ash-Shadiq As)!”

Lalu, aku pun mengemukakan kepadanya masalah-masalahku satu per satu, ia pun menjawab masalahku. Ia (Imam Ja’far ash-­Shadiq As) berkata, “Kalian berpendapat demikian, sedangkan penduduk Madinah berpendapat demikian, dan kami berpendapat demikian…”

Demikianlah, kata Abu Hanifah, sehingga aku mengemukakan kepadanya empat puluh masalah yang aku hadapi dan tidak ada satu pun yang tidak terjawab olehnya.

Kemudian Abu Hanifah berkata, “Bukankah orang yang paling alim adalah yang paling mengetahui perbedaan orang-orang?”

Kesaksian Abu Hanifah ini juga diriwayatkan dengan sedikit perbedaan dalam teksnya, namun tidak mengubah maknanya, dari Jâmi’ Masânid Abi Hanifah, karya Qadhil Qudha al-Khawarizmi.

Kesaksian Malik bin Anas

Juga diriwayatkan dari kitab Manâqib Ali Abi Thâlib dalam biografi Imam Ja’far ash-Shadiq As bahwa Imam Malik bin Anas berkata, “Tidak pemah terlihat oleh mata, tidak pemah terdengar oleh telinga, dan tidak pula terlintas dalam hati manusia bahwa ada orang yang lebih utama daripada Ja’far ash-Shadiq, dalam hal keutamaan, ilmu, ibadah, dan ke-wara’-an.”

Kesaksian Ahmad bin Hanbal

Muhammad bin asy-Syafi’i bin Thalhah asy-Syafi’i meriwayatkan dalam kitabnya Mathâlibus Sa’ul dari Ahmad bin Hanbal bahwa ia berkata, “Tidak ada seorang pun dari kalangan sahabat Rasulullah Saw, yang diriwayatkan berkenaan dengan keutamaan yang lebih banyak daripada ‘Ali. “

Kesaksian Muhammad bin Idris asy-Syafi’i

Banyak ulama dari kalangan Ahlus Sunnah wal Jamaah yang meriwayatkan dalam kitab-kitab karangan mereka bahwa Imam asy-Syafi’i pemah ditanya tentang Imam ‘Ali bin Abi Thalib, kemudiaan ia menjawab, “Apa yang harus aku katakan tentang seorang laki-laki yang musuh-musuhnya mengingkari keutamaannya karena kedengkian dan ketamakan mereka, sedangkan orang-orang yang mencintainya menyembunyikan keutamaannya karena ketakutan mereka. Akan tetapi, keutamaannya tersebar luas di antara kedua kelompok itu, yang meliputi barat dan timur.”

Berikut ini beberapa bait syait Imam Asy-Syiifi’i tentang keutamaan ‘Ali As dan Ahlulbaitnya, di antaranya yang disebutkan oleh Ibn Hajar dalam Shawâ’iq-nya, ia berkata, “Berkata Imam as-­Syafi’i dalam pujiannya terhadap Ahlulbait Rasulullah Saw:

Wahai Ahli Bait Rasulullah, kecintaan terhadap kalian adalah suatu kewajiban dari Allah

Dalam Al-Quran yang diturunkan-Nya

Cukuplah keagungan yang besar bagi kalian bahwa barangsiapa yang tidak bershalawat kepada kalian, maka shalatnya tidak sah.

Di antaranya yang disebutkan oleh Ibnu ash-Shibagh al-Maliki dalam kitabnya al-Fushûlul Muhimmah bahwa Imam asy-Syafi’i berkata dalam salah satu bait syaimya, di antaranya:

Jika mencintai keluarga Muhammad dituduh sebagai Syi ‘ah, maka saksikanlah jin dan manusia bahwa sesungguhnya aku ini adalah Syi’ah.

Imam asy-Syafi’i juga berkata,

Seandainya al-Murtadha (‘Ali) menampakkan kedudukannya,

 niscaya orang-orang akan merebahkan diri seraya sujud kepadanya.

Dan asy-Syafi ‘i meninggal, sedangkan ia tidak tahu,

‘Ali Tuhannya ataukah Allah Tuhannya.

Imam asy-Syafi’!juga berkata,

Sampai mana aku dikecam, dan sampai kapan pula

Aku dicela karena kecintaanku kepada pemuda ini (‘Ali)?

Apakah Fatimah dinikahkan dengan orang selain ‘Ali?

Dan apakah ada  orang yang sepertinya?

Dan masih banyak lagi syair-syair yang dilantunkan oleh Imam asy-Syafi’i yang secara tegas menyebutkan keutamaan dan keagungan ‘Ali dan Ahlulbaitnya daripada orang-orang selain mereka, sebagaimana yang disebutkan oleh para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam kitab-kitab karangan mereka.[16]

Hal ini adalah sebagian kesaksian dari para tokoh besar umat manusia dan pemimpin mereka dalam hal keutamaan sosok pribadi agung ini (Amirul Mukminin ‘Ali bin Abi Thalib As), yang tidak ada yang mengunggulinya kecuali Muhammad Saw, dan tidak ada seorang pun yang akan dapat menyamainya.

Sekiranya kami tidak mencukupkan diri dengan apa yang telah kami sebutkan perihal kesaksian-kesaksian ini dari para tokoh besar dan cendekiawan umat, lalu kami terus berupaya menggali semua kesaksian mereka tentang Imam’ Ali As, niscaya kami akan memenuhi berjilid­-jilid besar buku tentang keagungan Amirul Mukminin ‘Ali As dan Ahlulbaitnya yang telah disucikan Allah dari segala dosa dan kesalahan. Bahkan, kami pun tetap tidak akan mampu menyebutkan semua riwayat yang menyebutkan tentang keagungan mereka.

Akan tetapi, sesungguhnya riwayat dan kesaksian para tokoh besar dan ulama-ulama kenamaan itu yang telah kami sebutkan itu telah mencukupi bagi orang yang menggunakan pendengarannya, sedangkan dia menyaksikan. []


[1] . Lihat,  Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanâbi’ul Mawaddah, bab ke-14.

[2] .  Idem, bab ke-59.

[3] . Hadis ini diperkuat oleh hadis Nabi Saw yang lain, yaitu sabdanya. “Aku adalah kota iImu, dan Ali adalah gerbangnya.”

[4] . Lihat,  Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanâbi’ul Mawaddah, bab ke-56, hal. 254.

.

[6]. Lihat, aI-Imam al-Bahrani,  Ghâyatul Marâm, bab ke-53.  

[7] . Lihat, Ibnu Hajar, ash-Shawâ’iqul Muhriqah, hal. 78.

[8] . Lihat, al-Muhibb ath-Thabari, Dzakhâ’irul ‘Uqbâ’, jilid 2, hal. 98.

[9] . Lihat, Târikhul Khulafâ, jilid 1, hal. 66

[10] . Lihat, al-Qunduzi al-Hanafi, Yanâbi’ul Mawaddah, bab ke-65.

[11] . Idem.,

[12] . Lihat, al-Qunduzi al-Hanafi, Yanâbi’ul Mawaddah, bab ke-56.

[13] . Idem., bab ke-14.

[14]. Lihat, AI-Qunduzi al-Hanafi, Yanâbi’ul Mawaddah, Bab ke-60

[15] . Lihat, Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanâbi’ul Mawaddah, bab ke-62.

[16] . Wahai kaum Muslim, semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya kepada kalian. Sesungguhnya aku menasihatkan kepada kalian dengan nasihat yang tulus karena Allah Swt semata sebagaimana sabda Rasulullah Saw, ‘Agama tu nasihat.’ Lalu, seorang Muslim yang bijaksana sudah sepatutnya jika diajukan kepadanya suatu nasihat. niscaya ia akan menerimanya, walaupun nasihat itu berasal dari orang yang tidak sepaham dengannya, sebagaimana sabda Rasulullah Saw., ‘Ambillah nasihat walaupun dan mulut orang-orang kafir!’ Apalagj di antara sesama Muslim di antara kita. Kami adalah saudara kalian seagama dan kita disatukan oreh kalimat “La ilaha iIIallah Muhammadur Rasulullah” (tidak ada Tuhan kecuali Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah), kita semua juga mengerjakan semua yang diperintahkan oleh syariat. seperti: shalat. puasa, hajj, dan mengeluarkan zakat. Sesungguhnya kesaksian imam-imam ka!ian yang empat tentang keutamaan Amirul Mukminin ‘Ali dan Ahlulbaitnya yang telah disucikan dan diberkati oleh Allah Swt, menunjukkan secara jelas bahwa mereka itu (Ali dan Ahllbaitnya) lebih layak untuk diikuti daripada se!ain mereka. Lalu, apa yang merugikan kalian wahai kaum Muslim seandainya ka1ian mengikuti mazhab Ahlulbait yang bersumber dari Rasulu!lah Saw? Seandainya mazhab yang empat (Hanafi, Maliki, asy-Syafi’i, dan Hanbali) itu selamat, maka mazhab Ahlulbait. mazhab yang benar ini, tentu lebih seJamat. Semoga salam sejahtera senantiasa dicurahkan kepada orang-orang yang mau mengikuti petunjuk.

Kita sama sekali tidak pernah mendengar bahwa ada salah seorang nabi di antara nabi-nabi yang diutus kepada umatnya, lalu semua umatnya menjadi adil. Bahkan, yang terjadi adalah sebaliknya.

perbedaan yang banyak di antara sesama empat mazhab membuat anda pasti bingung kan ?

“Bukankah Anda mengetahui bahwa mazhab yang empat (madzâhibul arba’ah) itu saling bertentangan satu sama lainnya dalam banyak masalah, dan dalam hal ini mereka tidak berlandaskan pada dalil yang kuat atau keterangan yang jelas dan nyata bahwa ialah yang benar, bukan yang lainnya? Orang yang terikat dengan salah satu mazhab dari empat mazhab tersebut hanyalah menyebutkan dalil-dalil yang tidak ada penopangnya. Sebab, ia tidak semuanya bersumber pada al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw. Ia seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun.

Misalnya, seandainya Anda tanyakan kepada seseorang yang bennazhab Hanafi, ‘Mengapa engkau memilih mazhab Hanafi, bukan yang lainnya? Dan mengapa engkau memilih Abu Hanifah sebagai imam untuk dirimu setelah seribu tahun dari kematiannya?

Niscaya orang tersebut tidak akan memberikan jawaban yang memuaskan hatimu. Demikian juga jika Anda menanyakan hal yang sama kepada seseorang yang mengikuti mazhab asy-Syafi’i, Maliki, atau Hanbali.

Rahasia di balik itu adalah setiap imam dari empat mazhab tersebut bukanlah seorang nabi atau washiyy (orang yang menerima wasiat untuk meneruskan kepemimpinan nabi). Mereka tidak mendapatkan wahyu ataupun mendapatkan ilham, mereka hanya seperti ulama yang lain, dan orang yang seperti mereka amatlah banyak.

Kemudian mereka bukanlah sahabat Nabi Saw, kebanyakan mereka atau bahkan keseluruhan mereka tidak menjumpai Nabi Saw dan tidak pula menjumpai para sahabat Nabi Saw. Setiap orang dari mereka (imam mazhab yang empat) membuat mazhab untuk dirinya sendiri, ia mengikuti mazhabnya itu dan mempunyai pendapat­-pendapat tersendiri, yang boleh jadi terdapat kesalahan atau kelalaian di dalamnya.

Dan setiap dari mereka mempunyai pendapat yang bermacam-macam, yang satu sama lainnya saling bertentangan. Akal sehat tidak akan dapat menerima hal itu, demikian pula hati yang bersih. Sebab, ia tidak berdasarkan pada dalil yang tegas dan kuat, yaitu al-­Qur’an dan Sunnah Nabi Saw.

Maka, orang yang berpegangan atau mengikuti salah satu dari mazhab yang empat tersebut tidak mempunyai hujjah yang jelas lagi kuat kelak di hadapan Allah pada Hari Perhitungan. Sesungguhnya kepunyaan Allah-lah hujah yang jelas lagi kuat itu. Seandainya Allah menanyakan kepada orang yang mengikuti salah satu dari mazhab yang empat itu pada hari kiamat, dengan dalil apa engkau mengikuti mazhabmu ini? Tentu saja ia tidak mempunyai jawaban kecuali ucapannya, Dan Demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatan pun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: “Sesungguhnya Kami mendapati bapak- bapak Kami menganut suatu agama dan Sesungguhnya Kami adalah pengikut jejak-jejak mereka”. (Qs. Az-Zukhruf [43]:23)

Atau, ia berkata,

Ya Tuhan Kami, Sesungguhnya Kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar Kami, lalu mereka menyesatkan Kami dari jalan (yang benar). (Qs. Al-Azhab [33]:67)

“Adapun kami yang mengikuti wilâyah (kepemimpinan) al-’itrah ath-thâhirah (keturunan yang suci), Ahlulbait Nabi Saw yang telah disucikan Allah sesuci-sucinya dari segala dosa, dan kami beribadah kepada Allah Swt dengan mengikuti fiqih al-Ja’fari, kami akan berkata kelak pada Hari Perhitungan, ketika kami berdiri di hadapan Allah Swt.”

‘Wahai Tuhan kami, sesungguhnya Engkau telah memerintahkan kami dengan hal itu karena sesungguhnya Engkau telah berfirman di dalam Kitab-Mu, Apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Amat keras hukumannya.” (Qs. Al-Hasyr [59]:7)

Dan Nabi-Mu, Muhammad Saw, telah bersabda, sebagaimana yang telah disepakati kaum Muslim, “Sesungguhnya aku telah meninggalkan kepada kalian dua pusaka yang sangar berharga (ats-tsaqalain), yaitu Kitabullâh dan Itrah Ahlulbaitku; selama kalian berpegang teguh kepada keduanya, niscaya kalian tidak akan tersesat selamanya, dan sesungguhnya keduanya tidak akan berpisah sehingga menjumpaiku di Haudh.”

Dan Nabi-Mu juga telah bersabda, “Perumpamaan Ahlu/ Bairku di rengah-rengah kalian seperti bahrera Nuh barang siapa menaikinya, niscaya dia akan selamat; dan barangsiapa yang tertinggal darinya, niscaya dia akan tenggelam dan binasa.”

Dan tidak diragukan lagi bahwa Imam Ja’far ash-Shadiq As adalah dari al-i’trah ath-thâhirah (keturunan yang suci), yaitu Ahlulbait Nabi Saw yang telah disucikan Allah sesuci-sucinya dari segala dosa. llmunya adalah ilmu ayahnya, ilmu ayahnya adalah ilmu kakeknya, yaitu Rasulullah Saw, sedangkan ilmu Rasulullah Saw bersumber dari Allah.

Selain itu, semua kaum Muslim telah sepakat akan kejujuran dan keutamaan Imam Ja’far Ash-Shiidiq As: Sesungguhnya ia (Imam Ja’far Ash-Shiidiq As) adalah seorang washiyy keenam dan Imam Maksum, sesuai keyakinan segolongan besar kaum Muslim, yaitu para pengikut mazhab Ahlubait, mazhab yang hak. Dan sesungguhnya ia adalah hujah Allah atas makhluk-Nya.

Imam Ja’far Ash-Shadiq As meriwayatkan hadis dari ayah  dan datuknya yang suci, dan ia tidak berfatwa dengan pendapatnya sendiri. Hadisnya adalah “hadis ayahku dan datukku”. Sebab, mereka adalah sumber ilmu dan hikmah.

Mazhab Imam Ja’far ash-Shadiq As adalah mazhab ayahnya, dan mazhab kakeknya bersumber dari wahyu, yang tidak akan pernah berpaling sedikit pun darinya. Bukan dari hasil ijtihad, seperti lainnya yang berijtihad.

Oleh karena itu, orang yang mengikuti mazhab Ja’far bin Muhammad ash-Shadiq As dan mazhab kakek-kakeknya, berarti ia telah mengikuti mazhab yang benar dan berpegang teguh pada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Saw.

Setelah aku kemukakan dalil-dalil yang jelas dan kuat, Syaikh al-Azhar tersebut mengucapkan banyak terima kasih kepadaku dan ia pun sangat memuliakan kedudukanku.

Kemudian ia menanyakan tentang pandangan Syi’ah terhadap para sahabat Rasulullah Saw. Lalu, aku jelaskan kepadanya bahwa Syi’ah tidak menecela sahabat Rasulullah Saw secara keseluruhan. Akan tetapi, Syi’ah meletakkan mereka sesuai kedudukan mereka. Sebab, di antara mereka ada yang adil dan ada pula yang tidak adil, di antara mereka ada yang pandai dan ada pula yang bodoh, dan di antara mereka ada yang baik dan ada pula yang jahat.

Bukankah Anda tahu apa yang telah mereka lakukan pada hari Saqifah? Mereka telah meninggalkan jenazah Nabi mereka dalam keadaan terbujur kaku di atas tempat tidumya, mereka berlomba-lomba memperebutkan kekhalifahan. Setiap orang dari mereka beranggapan bahwa ialah yang berhak menjadi khalifah, seakan-akan ia adalah barang dagangan yang dapat diperoleh bagi siapa saja yang lebih dahulu mendapatkannya. Padahal mereka telah mendengar nash-nash yang tegas yang telah disampaikan oleh Nabi Saw tentang kekhalifahan ‘Ali bin Abi Thalib As, baik sejak awal dakwahnya maupun hadis Ghadir Khum yang terkenal itu.

Selain itu, mengurusi jenazah Rasulullah Saw lebih penting daripada urusan kekhalifahan. Bahkan, seandainya saja Rasulullah Saw tidak mewasiatkan seseorang untuk menjadi khalifahnya (Rasulullah Saw. secara tegas telah menunjuk ‘Ali untuk menjadi khalifahnya), maka wajib bagi mereka untuk mengurusi jenazah Rasulullah Saw  terlebih dahulu.

Kemudian setelah selesai mengurusi jenazah Rasulullah Saw, seyogyanya mereka menyatakan belasungkawa kepada keluarga beliau, seandainya saja mereka adalah orang-orang yang adi!.

Akan tetapi, dimanakah keadilan dan perasaan hati mereka, dimanakah keluhuran akhlak, dan dimanakah ketulusan dan kecintaan? Dan yang lebih menyakitkan lagi di dalam hati adalah penyerbuan mereka ke rumah belahan jiwa Rasulullah Saw, Fatimah az-Zahra As, yang dilakukan oleh sekitar lima puluh orang pria.

Mereka telah mengumpulkan kayu bakar untuk membakar rumah Fatimah dan semua orang yang di dalamnya. Sehingga ada seseorang yang berkata kepada ‘Umar, “Sesungguhnya di dalam rumah tersebut terdapat al-Hasan, al-Husain, dan Fatimah.”

Akan tetapi, ‘Umar berkata, “Walaupun (di dalam rumah tersebut ada mereka).”

Peristiwa ini banyak disebutkan oleh sejarawan Ahlus Sunnah,[3] apalagi para sejarawan Syi’ah.

Semua orang tahu, baik orang yang berbakti maupun orang yang jahat, bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Fatimah adalah belahan jiwaku. Barang siapa yang menyakitinya, maka ia telah menyakitiku; barang siapa yang membuatnya murka, maka ia telah membuatku murka; barang siapa yang membuatku murka, maka ia teah membuat Allah murka; dan barang siapa membuat Allah murka, maka Allah akan menyungkurkan kedua lubang hidungnya ke dalam neraka.

Peristiwa-peristiwa yang terjadi pada para sahabat Nabi Saw secara jelas menunjukkan bahwa tidak semua sahabat itu adil. Silakan Anda merujuk ke Shahîh al-Bukhâri dan Shahîh al-Muslim tentang hadis Haudh, niscaya Anda akan mendapatkan kebenaran pendapat Syi’ah tentang penilaian mereka terhadap para sahabat Nabi Saw.

Jika demikian adanya, maka dosa apakah bagi mereka (Syi’ah) jika mereka berpendapat bahwa banyak di antara sahabat Nabi Saw yang tidak adil, sedangkan banyak dari mereka sendiri (para sahabat Nabi Saw.) yang menunjukkan jati diri mereka sendiri.

Perang Jamal dan Perang Shiffin adalah dalil dan bukti yang paling jelas terhadap kebenaran pendapat mereka (Syi’ah). Dan al-Qur’an telah menyingkapkan banyak keburukan perbuatan di antara mereka (para sahabat Nabi Saw).

Bukankah Anda juga tahu apa yang telah dilakukan oleh Mu’awiyah, ‘Amru bin ‘Ash, Marwan bin Hakam, Ziyad dan anaknya, Mughirah bin Syu’bah, ‘Umar bin Sa’ad bin Abi Waqqash, Thalhah dan Zubair, yang keduanya telah memberikan baiat kepada Amirul Mukminin ‘Ali As, tetapi keduanya kemudian melanggar baiatnya dan memerangi Imam mereka (‘Ali bin Abi Thalib As) bersama ‘A’isyah di Basrah, yang sebelumnya mereka telah melakukan kejahatan-kejahatan di kota tersebut (Basrah) yang tidak pantas dilakukan oleh seseorang yang mempunyai jiwa satria.

Selain itu, selama keberadaan Nabi Saw di tengah-tengah mereka (para sahabat beliau), banyak di antara mereka yang melakukan perbuatan nifâk (munafik), apakah kemudian setelah Nabi Saw menemui Tuhannya (wafat), mereka lantas menjadi adil semuanya?

Kita sama sekali tidak pernah mendengar bahwa ada salah seorang nabi di antara nabi-nabi yang diutus kepada umatnya, lalu semua umatnya menjadi adil. Bahkan, yang terjadi adalah sebaliknya. Al-Qur’an dan Sunnah telah menjelaskan kepada kita tentang hal itu.

Sesungguhnya apa yang telah kami persembahkan kepada para pembaca adalah bersumber dari  al-Qur’an dan hadis-hadis Nabi Saw, yang diriwayatkan dalam hadis sahih dalam kitab-kitab sahih Sunni, dan merupakan bukti yang kuat terhadap kekhalifahan Amirul Mukminin ‘Ali bin Abi Thalib sepeninggal Rasulullah Saw secara langsung (belâ fashl), sekiranya orang yang menentang kami berlaku adil.

Perhatikanlah dengan seksama dan sungguh-sungguh terhadap semua yang telah kami sebutkan  yaitu hujjah dan keterangan yang jelas, dengan begitu niscaya akan tersingkap kebenaran yang hakiki bagi Anda dan akan memudahkan jalan bagi siapa saja yang hendak menempuh jalan kebenaran. Yaitu, orang-orang yang mengikhlaskan niatnya dan menjauhkan dirinya dari fanatisme mazhab yang membutakan hati dan pikiran sehat dan membinasakan.

Orang yang bersikeras dalam fanatismenya, tidak akan berguna riwayat, walaupun jumlahnya sangat banyak dan telah dikemukakan baginya seribu dalil.

Adapun orang yang mempunyai pikiran yang jemih dan akal yang cerdas, maka yang telah kami persembahkan, dalil-dalil al-Qur’an dan Sunnah, telah memadai baginya karena dalil-dalil tersebut adalah riwayat-riwayat yang sahih yang telah disepakati kebenarannya, baik di kalangan Sunni maupun Syi’ah.

Selain itu, orang yang bersikeras di dalam kefanatikannya, bahkan seandainya Nabi Saw sendiri yang datang kepadanya dan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya dia tetap akan berada di dalam sikap keras kepalanya. Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh   salah seorang di antara mereka, yang keras kepala, kepada saudaraku “Seandainya Jibril turun, dan ikut bersamanya Muhammad dan ‘Ali, aku tetap tidak akan membenarkan ucapanmu.”

Sesungguhnya manusia itu bermacam-macam. Dan merupakan hal yang sulit mendapatkan kerelaan seluruh manusia, bahkan itu merupakan suatu hal yang mustahil diraih.

Semoga Allah Swt. mencurahkan rahmat-Nya kepada ‘Ali al-Kailani, seorang pujangga berkebangsaan Palestina yang berkata,

Jika Tuhannya makhluk tidak meridhai makhluk-Nya,

Maka bagaimana mungkin makhluk dapat diharapkan keridhaannya.


[1] . Allah membukakan hatinya untuk menerima dan mengikuti mazhab yang benar yaitu mazhab Ahlulbait al-Ja’fari.

[2] . Silahkan Anda rujuk pada bagian ketiga dari buku ini.

[3] .  Lihat al-Imâmah was Siyâsah. Ar-Riyadhun Nadhrah, Murujudz Dzahab, Ansâbul Asyrâf, al-Imâm ‘Ali, karya ‘Abdul Fattah ‘Abdul Maqshud, Syarh Nahjul Balâghah, karya Ibn Abil Hadid, dan kitab-­kitab lainnya yang ditulis oleh para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah. Anda akan mendapatkan bahwa mereka menyebutkan peristiwa yang menyedihkan dan memilukan hati ini. Adapun Syi’ah, para sejarawan mereka telah menyebutkan peristiwa yang menyakitkan hati ini berikut nama-nama mereka yang melakukan tindakan kejahatan ini. Mereka menyatakan bahwa perirstiwa penyerbuan ke rumah Fatimah As tersebut dipimpin oleh ‘Umar “seorang pahlawan yang gagah berani” tetapi gagah berani bukan di medan perang.

Abubakar dan Umar dijamin surga ?? Mereka telah meninggalkan jenazah Nabi mereka dalam keadaan terbujur kaku di atas tempat tidumya, mereka berlomba-lomba memperebutkan kekhalifahan pada hari Saqifah

Bismihi Ta’ala

Allahumma bi haqqi Muhammad wa aali Muhammad, shalli ‘ala Muhammad wa aali Muhammad

Kenapa imam Ali  Membai’at  Abubakar  Didepan  Massa ( Orang Ramai ) ??? Abubakar  meraih peluang  besar ketika gelombang kemurtadan  dan penentangan  terhadap islam  melanda Hijaz… Kaum Muslimin  yang  tercekam  MENOLAK  BERPERANG MELAWAN Musailamah  Al  Kadzab  dan  KAUM  MURTAD    kecuali  Imam Ali membai’at  ABUBAKAR…

Sehingga Imam Ali  TERPAKSA  membai’at  Abubakar … Menentang  Abubakar  hanya akan membuat islam lenyap (punah) padahal  KAUM  MUSLiMiN  berkepentingan  menyelamatkan islam agar  langgeng … Jika Imam Ali Memerangi  Abubakar Maka Tidak Ada Lagi Islam Yang Tersisa

Sampai  matipun Fatimah tidak mau menerima Kekhalifahan Abubakar !!! Syi’ah Mencontoh  Al Maksum  Fatimah Karena itu Maqashid  Asy Syariah… Kenapa imam Ali Membai’at Abubakar Didepan Massa ( Orang Ramai ) ??? Abubakar meraih peluang besar ketika gelombang kemurtadan dan penentangan terhadap islam melanda Hijaz…

Kaum Muslimin yang tercekam MENOLAK BERPERANG MELAWAN Musailamah Al Kadzab dan KAUM MURTAD kecuali Imam Ali membai’at ABUBAKAR… Sehingga Imam Ali TERPAKSA membai’at Abubakar …

Menentang Abubakar hanya akan membuat islam lenyap (punah) padahal KAUM MUSLiMiN berkepentingan menyelamatkan islam agar langgeng … Jika Imam Ali Memerangi Abubakar Maka Tidak Ada Lagi Islam Yang Tersisa

Ulama sunni menyatakan  bahwa semua sahabat adalah adil!

Kata-kata itu adalah pembohongan dan rekaan belaka, bagaimana mungkin semua sahabat adil sedangkan Allah melaknati sebahagian mereka. Rasul sendiri telah melaknati sebahagian sahabatnya ! Sahabat pula saling melaknati sesama mereka, memerangi sesama mereka, mencaci sesama mereka dan membunuh sesama mereka bahkan ada yang menindas keluarga Nabi

Mazhab Syi’ah tidak menggugat semua sahabat. Ada sahabat-sahabat Nabi yang memang sangat kami hormati yaitu mereka yang Allah puji dalam Quran. Ayat ayat dalam Quran ini tentunya tidak meliputi semua sahabat. Tidaklah dapat dipahami jika Allah memberikan hak imunitas yang permanen kepada orang-orang yang telah berbuai baik sebelumnya, tetapi kemudian mereka menumpahkan darah ribuan kaum Muslimin sepeninggal Nabi Muhammad. Allah Maha Adil sehingga mustahil memberikan jaminan masuk surga pada sahabat yang berbuat jahat, menumpahkan orang – orang yang tidak berdosa. Jika tidak, maka Allah tidak adil.

Terjadi kekacauan definisi sahabat yang disusun para ulama hadis sehingga orang-orang yang sekadar hidup sezaman dan berada dilingkungan Nabi Muhammad saw, orang-orang yang mabuk tetapi pernah bertemu Nabi, mereka yang diusir Nabi, dan pembunuh pun disebut sahabat.

Rasulullah SAW tidak menjamin surga kepada Abubakar. Setelah beliau bersaksi tentang  para syuhada di perang uhud. Rasul saw kemudian berkata kepada Abubakar : “Sungguh aku   tidak tahu apa yang akan kau lakukan sepeninggalku”. Dan kemudian Abubakar menangis” (Referensi  Ahlusunnah : Imam Malik, dalam “Al-Muwatta’”, kitab “Jihad”)

Lihat juga [Q.S. Ali Imron 153], tentang kejadian perang Uhud dimana sebagian sahabat lari meninggalkan Rasul saww, sebagai berikut : “(Ingatlah) ketika kalian lari dan tidak menoleh kepada seorangpun, sedang Rasul yang berada di antara kawan-kawan kalian yang lain, memanggil kalian…”.

Bahkan termasuk Abubakar dan Umar juga lari dari perang Uhud tersebut. Dan mereka berdua (Abubakar dan Umar) juga lari dari perang Hunain dan Khaibar. Padahal Allah murka kepada mereka yang lari dari perang sebagaimana Firman-Nya pada [ Q.S. Al-Anfaal  15-16 ].

Ref. Ahlusunnah :

  1. Haikal, “Hayat Muhammad”, bab “perang uhud” dan “perang khaibar”.
  2. Al-Waqidi, dalam “Al-Maghazi”.
  3. 3.     Siroh Ibn Hisyam, Jilid 4, bab “Perang Uhud”.
  4. 4.     Ibn Hajar, dalam “Al-Ishobah”, jilid 3, hal. 108, pada muntakhab “Al-Isti’ab”.
  5. 5.     Siroh Al-Halabiyah, pada bab “Perang Hunain” dan “Perang Khaibar”.

dan lain-lain.

Banyak sejarah yang telah dimanipulasi untuk mengangkat derjat dan keutamaan beberapa “sahabat” Nabi. Padahal nyata nyata Allah mengancam menggugurkan amal Abubakar dan Umar. Allah berfirman dalam Q.S. Al-Hujurat  ayat 2,  tentang larangan untuk meninggikan suara melebihi   suara Rasul saw. Tuhan memperingatkan kepada Abubakar dan Umar supaya tidak lagi mengeraskan suaranya melebihi suara Nabi saw.

Asbabun nuzul Ayat ini adalah Abubakar dan Umar yang saling berdebat dengan suara keras dihadapan Rasul saw (Shahih Bukhari, juz 3, kitab “Al-Maghazi”, bab “Waqd Bani Tamim”)

Hasil yang sedemikian besar yang diperoleh dari Fadak jika digunakan oleh kubu Imam Ali maka akan menjadikan mereka sebagai oposisi yang tangguh

Di dalam kitab hadis Ahlus Sunnah, yaitu Sunan Abu Dawud, Jil. 3, hlm. 144, Dzikr Fa’i, tertulis : “Abu Dawud mengatakan bahwa ketika Umar bin Abdul ‘Aziz menjadi khalifah, pendapatan yang diperoleh dari tanah fadak adalah 40.000 Dinar.”

Di dalam Syarah Ibn Abil Hadid, Jil. 4, hlm. 108 tertulis : “Umar  (bin Khaththab) mengeluarkan orang-orang Yahudi dari tanah Fadak. Dan nilai tanah tersebut berikut kurmanya adalah 50.000 Dirham.”

Di antara lembaran hitam sejarah umat Islam yang tak dapat dipungkiri adalah terjadinya sengketa antara Fatimah as. –selaku ahli waris Nabi saw.dan Abu Bakar selaku penguasa terkait dengan tanah Fadak dan beberapa harta waris yang ditinggalkan Nabi saw.

Imam Ali as. menegaskan bahwa Abu Bakar telah berbohong dengan membawa-bawa hadis palsu atas nama Nabi saw tentang perkara kebun FADAK ! Di bawah ini kami sebutkan hadis riwayat Muslim dan Bukhari yang melaporkan pengaduan/sengketa di hadapan Umar –semasa menjabat sebagai Khalifah:

 “… Dan ketika Rasulullah saw. wafat, Abu Bakar berkata, ‘Aku adalah walinya Rasulullah, lalu kalian berdua (Ali dan Abbas) datang menuntut warisanmu dari anak saudaramu dan yang ini menuntut bagian warisan istrinya dari ayahnya. Maka Abu Bakar berkata, ‘Rasulullah saw. bersabda: “Kami tidak diwarisi, apa- apa yang kami tinggalkan adalah shadaqah.”, lalu kalian berdua memandangnya sebagai pembohong (kâdziban)., pendosa (atsiman), penipu (ghadiran) dan pengkhianat (khâinan). Demi Allah ia adalah seorang yang jujur, bakti, terbimbing dan mengikuti kebenaran. Kemudian Abu Bakar wafat dan aku berkata, ‘Akulah walinya Rasulullah saw. dan walinya Abu Bakar, lalu kalian berdua memandangku sebagai pembohong (kâdziban)., pendosa (atsiman), penipu (ghadiran) dan pengkhianat (khâinan)…. “ (HR. Muslim, Kitab al Jihâd wa as Sair, Bab Hukm al Fai’,5/152)

Secara tidak jujur maka Bukhari membuang redaksi tersebut yang merugikan kaum sunni dan menggantinya dengan lafaz: lalu kalian berdua memandangnya sebagai begini dan begitu “(HR. Bukhari,6/191, Kitab an Nafaqât/Nafkah, BabHabsu ar Rajuli Qûta Sanatihi / Seorang menahan kebuhutan pangan setahunya)

Tapi sayangnya, Imam Bukhari masih meninggalkan jejak dan dapat menjadi petunjuk yaitu pembelaan Umar atas dirinya dan juga atas Abu Bakar! Bukhari menyebutkan kata-kata Umar: Allah mengetahui bahwa ia adalah seorang yang jujur, bakti, terbimbing dan mengikuti kebenaran! Dan kata-kata itu dapat menjadi petunjuk awal bahwa apa yang dikatakan Ali dan Abbas paling tidak kebalikan darinya atau yang mendekati kebalikan darinya! Sebab apa latar belakang yang mengharuskan Umar mengatakan kata-kata tersebut andai bukan karena adanya tuduhan Ali dan Abbas ra. atas Abu Bakar dan Umar?!

Maka gugurlah usaha Bukhari agar kaum Muslimin tidak mengetahui kenyataan pahit di atas! Dan ini adalah salah satu bukti bahwa kebenaran/al Haq betapa pun ditutup-tutupi tetap Allah akan membongkarnya ! Maka jika demikian adanya, mungkinkah para imam dan tokoh ulama dari keturunan Imam Ali as. akan menyanjung Abu Bakar dan Umar, meyakininya sebagai dua imam pengemban hidayah, sebagai Shiddîq dan Fârûq dan memandang keduanya dengan pandangan yang berbeda dengan ayah mereka?

Sunni adalah mereka yang telah didoktrinisasikan bahawa semua sahabat adalah jujur dan adil serta Allah dan RasuNya meridhai mereka semua. Kelompok ini dalam rangka mengkultuskan seluruh sahabat, telah terjebak dengan tafsiran-tafsiran al-Quran yang disajikan oleh ulama-ulama mereka, mempedomani  ribuan hadis-hadis palsu keutamaan sejumlah sahabat yang semuanya saling berbenturan dengan al Quran, hadis-hadis sahih yang disepakati, maupun akal yang sihat.

Dalam Kitab Sunan Abu Dawud(klik) tercatat :

13 – أنه جاء هو وعثمان بن عفان يكلمان رسول الله صلى الله عليه وسلم فيما قسم من الخمس بين بني هاشم وبني المطلب فقلت يا رسول الله قسمت لإخواننا بني المطلب ولم تعطنا شيئا وقرابتنا وقرابتهم منك واحدة فقال النبي صلى الله عليه وسلم إنما بنو هاشم وبنو المطلب شيء واحد قال جبير ولم يقسم لبني عبد شمس ولا لبني نوفل من ذلك الخمس كما قسم لبني هاشم وبني المطلب قال وكان أبو بكر يقسم الخمس نحو قسم رسول الله صلى الله عليه وسلم غير أنه لم يكن يعطي قربى رسول الله صلى الله عليه وسلم ما كان النبي صلى الله عليه وسلم يعطيهم قال وكان عمر بن الخطاب يعطيهم منه وعثمان بعده

الراوي: جبير بن مطعم المحدث: الألباني – المصدر: صحيح أبي داود – الصفحة أو الرقم: 2978

خلاصة حكم المحدث: صحيح

Riwayat yang sama dari Sunan Abu Dawud No.2978 :

2978 – حدثنا عبيد الله بن عمر بن ميسرة ثنا عبد الرحمن بن مهدي عن عبد الله بن المبارك عن يونس بن يزيد عن الزهري قال أخبرني سعيد بن المسيب قال

« أخبرني جبير بن مطعم أنه جاء هو وعثمان بن عفان يكلمان رسول الله فيما قسم من الخمس بين بني هاشم وبني المطلب فقلت يا رسول الله قسمت لإخواننا بني المطلب ولم تعطنا شيئا وقرابتنا وقرابتهم منك واحدة فقال النبي ” إنما بنو هاشم وبنو المطلب شىء واحد ” قال جبير ولم يقسم لبني عبد شمس ولا لبني نوفل [ شيئا ] من ذلك الخمس كما قسم لبني هاشم وبني المطلب. قال وكان أبو بكر يقسم الخمس نحو قسم رسول الله غير أنه لم يكن يعطي قربى رسول الله ما كان النبي يعطيهم قال وكان عمر بن الخطاب يعطيهم منه وعثمان بعده. » 72

Telah menceritakan kepada kami Ubaidullah bin Umar bin Maisarah yang berkata telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi dari Abdullah bin Al Mubarak dari Yunus bin Yazid dari Az Zuhri yang berkata telah mengabarkan kepadaku Sa’id bin Musayyab yang berkata telah mengabarkan kepadaku Jubair bin Muth’im, bahwa ia bersama Utsman bin Affan datang untuk berbicara kepada Rasulullah (saww) tentang bagian khumus yang beliau bagikan diantara Bani Hasyim dan Bani al-Muththalib.

Kemudian aku berkata : “Wahai Rasulullah, anda telah membagi untuk saudara-saudara kami Bani Al Muththalib, dan anda tidak memberikan sesuatupun kepada kami, padahal kerabat kami dan kerabat mereka bagi anda adalah satu”.

Kemudian Nabi (saww) bersabda : “Sesungguhnya Bani Hasyim dan Bani al-Muththalib adalah satu.”

Jubair mengatakan Beliau tidak membagikan kepada Bani Abdu Syams dan Bani Naufal dari khumus tersebut sebagaimana beliau membagikan kepada Bani Hasyim dan Bani al-Muththalib.

Jubair berkata : “Abu Bakar membagikan khumus sebagaimana Rasulullah (saww) membagikannya hanya saja ia tidak memberikan (khumus) kepada kerabat (qurba) Rasulullah (saww), sebagaimana Rasulullah (saww) telah memberikan kepada mereka“.

Jubair berkata : Dan Umar bin  Khathab memberikan kepada mereka (kerabat Rasul saww) dari bagian tersebut begitu juga Utsman setelahnya”

Derajat HaditsShahih (klik)

.

“…..hanya saja ia (yaitu ABU BAKAR) tidak memberikan khumus kepada kaum kerabat (qurba) Rasulullah (saww), sebagaimana Rasulullah (saww) telah memberikan khumus kepada mereka

Seperti inikah yang dikatakan khalifah yang adil..??

Gembong Nashibi Ibn Taymiyah dalam Komik kebanggaan para Nashibi (LA) Minhaj As-Sunnah 8/291 (klik), mengatakan  :

وغاية ما يقال إنه كبس البيت لينظر هل فيه شيء من مال الله الذي يقسمه وأن يعطيه لمستحق

Tujuan dari apa yang dikatakan bahwa ia (abu bakar) mendobrak rumah (rumah Fathimah as) adalah untuk melihat jika disana ada harta Allah untuk disalurkan dan diberikan kepada yang layak menerimanya”

Masuk akalkah Ahlul Bait (as) menyimpan harta yang bukan miliknya alias harta ilegal..??  sehingga Abu Bakar mencari-carinya dan mendobrak rumah Fathimah (as) karena alasan tersebut?

0
inShare

Tindakan-tindakah khalifah Abu Bakar yang bertentangan dengan al-Qur’an dan Sunnah Nabi (Saw.) serta akal yang sejahtera melebihi 4 perkara sebagaimana dicatat oleh ulama Ahlus-Sunnah wa l-Jama’ah di dalam buku-buku mereka. Sekiranya mereka berbohong di dalam catatan mereka, maka merekalah yang berdosa dan dipertanggungjawabkan di
hadapan Allah (swt). Dan sekiranya catatan mereka itu betul, kenapa kita menolaknya dan terus memusuhi Sunnah Nabi (Saw.) yang bertentangan dengan tindakan Abu Bakar? Berikut dikemukakan sebagian dari tindakan khalifah Abu Bakar :

1.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi saw, niscaya mereka tidak melarang orang ramai dari menulis dan meriwayatkan Sunnah Nabi (Saw.) Tetapi Khalifah Abu Bakar telah melarang orang ramai dari menulis dan meriwayatkan Sunnah Nabi (Saw.) [al-Dhahabi, Tadhkirah al-Huffaz, I, hlm.3].

2.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak berpendapat bahwa Sunnah Nabi (Saw.) akan membawa perpecahan kepada umat, tetapi khalifah Abu Bakar berpendapat Sunnah Nabi (Saw.) akan membawa perselisihan dan perpecahan kepada umat. Dia berkata: “Kalian meriwayatkan dari Rasulullah (Saw.) hadits-hadits di mana kalian berselisih faham mengenainya. Orang ramai selepas kalian akan berselisih faham lebih kuat lagi.” [Al-Dhahabi, Tadhkirah al-Huffaz, I , hlm.3]

3.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi( Saw.), niscaya mereka meriwayatkan dan menyebarkan Sunnah Nabi (Saw.) di kalangan orang ramai,tetapi khalifah Abu Bakar melarang orang ramai dari meriwayatkannya. Dia berkata: “Janganlah kalian meriwayatkan sesuatu pun (syai’an) dari Rasulullah (Saw.)” [Al-Dhahabi, Tadhkirah al-Huffaz, I , hlm.3]

4.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak akan mengatakan bahwa Kitab Allah adalah cukup untuk menyelesaikan segala masalah tanpa Sunnah Nabi (Saw.), tetapi khalifah Abu Bakar berkata: “Kitab Allah dapat menyelesaikan segala masalah tanpa memerlukan Sunnah Nabi (Saw.)” Dia berkata: “Sesiapa yang bertanya kepada kalian, maka katakanlah: Bainana wa bainakum kitabullah (Kitab Allah di hadapan kita). Maka hukumlah menurut halal dan haramnya.”[Al-Dhahabi, Tadhkirah al-Huffaz, I , hlm.3]

Kata-kata Abu Bakar ini telah diucapkan beberapa hari selepas peristiwa Hari Khamis yaitu bertepatan dengan kata-kata Umar ketika dia berkata:” Rasulullah (Saw.) sedang meracau dan cukuplah bagi kita Kitab Allah (Hasbuna Kitabullah).” Lantaran itu sunnah Abu Bakar tadi adalah bertentangan dengan Sunnah Nabi yang dicatatkan oleh Ahlul Sunnah:”Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara sekiranya kalian berpegang kepada kedua-duanya niscaya kalian tidak akan sesat selama-lamanya ; Kitab Allah dan “Sunnahku.”

5.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak membakar Sunnah Nabi (Saw.), tetapi Khalifah Abu Bakar telah membakarnya. Oleh itu tidak heranlah jika Khalifah Abu Bakar tidak pernah senang hati semenjak dia mengumpulkan lima ratus hadits Nabi (Saw.) semasa pemerintahannya. Kemudian dia membakarnya pula. [al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal, V, hlm. 237]

Dengan ini dia telah menghilangkan Sunnah Rasulullah (Saw.). Oleh itu kata-kata Abu Bakar: “Janganlah kalian meriwayatkan sesuatupun dari Rasulullah (Saw.)” menunjukkan larangan umum terhadap periwayatan dan penulisan hadits Rasulullah (Saw,). Dan hal itu tidak boleh ditakwilkan sebagai berhati-hati atau mengambil berat atau sebagainya.

6.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka menyebarkan Sunnah Nabi (Saw.), dan menjaganya, tetapi khalifah Abu Bakar, melarangnya dan memusnahkannya (Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal,V,hlm. 237] Lantaran itu tindakan khalifah Abu Bakar adalah bertentangan dengan Sunnah Rasulullah (Saw.):”Allah memuliakan seseorang yang mendengar haditsku dan menjaganya, dan menyebarkannya. Kadangkala pembawa ilmu (hadits) membawanya kepada orang yang lebih alim darinya dan kadangkala pembawa ilmu (hadits) bukanlah seorang yang alim.”[Ahmad bin Hanbal, al-Musnad, I, hlm.437; al-Hakim, al-Mustadrak, I, hlm.78] Dan sabdanya “Siapa yang ditanya tentang ilmu maka dia menyembunyikannya, Allah akan membelenggukannya dengan api neraka.” [Ahmad bin Hanbal, al-Musnad, III, hlm.263]

7.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka berkata: “Kami perlu kepada sunnah Nabi (Saw.) setiap masa,” tetapi khalifah Abu Bakar dan kumpulannya berkata: “Kami tidak perlu kepada sunnah Nabi, karena kitab Allah sudah cukup bagi kita.” Dia berkata: “Sesiapa yang bertanya kepada kalian, maka katakanlah: Bainana wa bainakum kitabullah (Kitab Allah di hadapan kita). Maka hukumlah menurut halal dan haramnya.” [Al-Dhahabi, Tadhkirah al-Huffaz,I,hlm.3]

8.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka percaya bahwa taat kepada Nabi (Saw.) adalah taat kepada Allah sebagaimana firman-Nya di dalam Surah al-Nisa’(4) 80 : “Siapa yang mentaati Rasul, maka dia mentaati Allah”. Ini berarti siapa yang mendurhakai Rasul, maka dia mendurhakai Allah, tetapi khalifah Abu Bakar dan kumpulannya percaya sebaliknya ketika dia berkata: : “Sesiapa yang bertanya kepada kalian, maka katakanlah: Bainana wa bainakum kitabullah (Kitab Allah di hadapan kita). Maka hukumlah menurut halal dan haramnya.” [Al-Dhahabi, Tadhkirah al-Huffaz,I,hlm.3; al-Bukhari, Sahih, I, hlm. 36; Muslim, Sahih, III, hlm. 69) Baginya mendurhakai Nabi (Saw.) bukan berarti mendurhakai Allah.

9.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak bermusuhan dengan Ahlu l-Bait Nabi (Saw.), apa lagi mengepung dan coba membakar rumah anak perempuannya; Fatimah (a.s), tetapi mereka telah mengepung dan coba membakarnya dengan menyalakan api di pintu rumahnya.Khalifah Abu Bakar dan kumpulannya telah mengepung dan coba membakar rumah Fatimah al-Zahra' sekalipun Fatimah, Ali, Hasan dan Husain (a.s) berada di dalamnya. Ini disebabkan mereka tidak melakukan bai'ah kepadanya. Khalifah Abu Bakar adalah di antara orang yang dimarahi Fatimah (a.s). Beliau bersumpah tidak akan bercakap dengan mereka sehingga beliau berjumpa ayahnya dan mengadu kepadanya. Al-Bukhari di dalam Sahihnya, IV, hlm.196 meriwayatkan dari Aisyah bahwa Fatimah tidak bercakap dengan Abu Bakar sehingga beliau meninggal dunia. Beliau hidup selepas Nabi saw wafat selama 6 bulan. [Al-Bukhari,Sahih ,VI,hlm.196; Ibn Qutaibah, al-Imamah Wa al-Siyasah ,I,hlm.14; Abu l-Fida, Tarikh,I,hlm.159; al-Tabari,Tarikh,III,hlm.159]

10.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak membawa Ali (a.s) di dalam keadaan lehernya terikat, tetapi khalifah Abu Bakar dan kumpulannya telah memaksa Ali a.s memberi baiah kepadanya di dalam keadaan lehernya terikat (Ibn Qutaibah, al-Imamah wa al-Siyasah , I ,hlm.18-20; al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-‘Ummal,iii,hlm.139;Abul-Fida,Tarikh,I,hlm.159; al- Tabari, Tarikh ,III , hlm.159].

Perlakuan sedemikian adalah menyalahi Sunnah Nabi (Saw.) yang bersifat lembut terhadap Ali (a.s) dan melantiknya sebagai khalifah selepasnya: “Siapa yang telah menjadikan aku maulanya,maka Ali adalah maulanya” dan ia adalah sejajar dengan tuntutan Ali a.s terhadap kedudukan khalifah.(al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi’ al-Mawaddah,hlm.144,al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-‘Ummal ,vi,hlm.2180)

11.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.) , niscaya mereka diizinkan untuk mengerjakan solat jenazah ke atas Fatimah (a.s), tetapi khalifah Abu Bakar dan kumpulannya tidak diizinkan oleh Fatimah (a.s) untuk mengerjakan solat ke atasnya. Beliau telah berwasiat kepada suaminya Ali (a.s) supaya Abu Bakar dan Umar tidak diizinkan mengerjakan solat ke atasnya. Karena perbuatan mereka berdua yang menyakitkan hatinya, khususnya mengenai Fadak [Al-Bukhari, Sahih ,VI, hlm.196; Ibn Qutaibah, al-Imamah Wa al-Siyasah ,I,hlm.14; Abu l-Fida, Tarikh, I ,hlm.159;al-Tabari, Tarikh,III,hlm.159]. Nabi (Saw.) bersabda:” Sesungguhnya Allah marah kepada kemarahanmu (Fatimah) dan ridha dengan keridhaanmu.” [Al-Hakim, al-Mustadrak, III, hlm.153; al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal, VII, hlm.219]

12.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.) , niscaya mereka tidak dirahasiakan tentang makam Fatimah (a.s), tetapi Abu Bakar dan kumpulannya telah dirahasiakan tentang lokasi makam Fatimah (a.s),karena Fatimah (a.s) berwasiat kepada suaminya supaya merahasiakan makamnya dari mereka berdua. Nabi (Saw.) bersabda:” Sesungguhnya Allah marah kepada kemarahanmu (Fatimah) dan ridha dengan keridhaanmu.” [Al-Hakim, al-Mustadrak, III, hlm.153; al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal, VII, hlm.219]

13.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak mencaci Ali dan Fatimah a.s, tetapi Khalifah Abu Bakar telah mencaci Ali (a.s) dan Fatimah (a.s) sebagai musang dan ekornya. Bahkan beliau mengatakan Ali (a.s) seperti Umm al-Tihal (seorang perempuan pelacur) karena menimbulkan soal tanah Fadak. Kata-kata ini telah diucapkan oleh Abu Bakar di dalam Masjid Nabi (Saw.) selepas berlakunya dialog dengan Fatimah (a.s) mengenai tanah Fadak. Ibn Abi al-Hadid telah bertanya gurunya, Yahya Naqib Ja’far bin Yahya bin Abi Zaid al-Hasri, mengenai kata-kata tersebut:”Kepada siapakah hal itu ditujukan?”Gurunya menjawab:”hal itu ditujukan kepada Ali AS.” Kemudian ia bertanya lagi:”Adakah ia ditujukan kepada Ali?” Gurunya menjawab:”Wahai anakku inilah artinya pemerintahan dan pangkat duniawi tidak mengira kata-kata tersebut.”[Ibn Abi al-Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah,IV,hlm.80] . Kata-kata Abu Bakar adalah bertentangan dengan firman-Nya:”Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bayt dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.”[Surah al-Ahzab (33):33] Fatimah dan Ali AS adalah Ahlul Bayt Rasulullah SAW yang telah disucikan oleh Allah SWT dari segala dosa. Rasulullah SAW bersabda:”Kami Ahlul Bayt tidak boleh seorangpun dibandingkan dengan kami.”[Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi' al-Mawaddah,hlm.243]

14.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak menghentikan pemberian khums kepada keluarga Nabi saw, tetapi Khalifah Abu Bakar telah menghentikan pemberian khums kepada keluarga Rasulullah (Saw.). Ijtihadnya itu adalah bertentangan dengan Surah al-Anfal (8):41 “Ketahuilah,apa yang kamu perolehi seperlima adalah untuk Allah,Rasul-Nya,Kerabat,anak-anak yatim,orang miskin,dan orang musafir” dan berlawanan dengan Sunnah Rasulullah (Saw.) yang memberi khums kepada keluarganya menurut ayat tersebut. [Lihat umpamanya al-Zamakhsyari, al-Kasysyaf ,II,hlm.127]

15.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak mengambil kembali Fadak dari Fatimah (a.s) ,tetapi Khalifah Abu Bakar dan kumpulannya telah mengambil kembali Fadak dari Fatimah (a.s) selepas wafatnya Nabi (Saw.).Khalifah Abu Bakar memberi alasan “Kami para nabi tidak meninggalkan pusaka, tetapi apa yang kami tinggalkan ialah sedekah.” Hujah yang diberikan oleh Abu Bakar tidak diterima oleh Fatimah dan Ali (a.s) karena hal itu bertentangan dengan beberapa ayat al-Qur’an seperti berikut:

a) Firman-Nya yang bermaksud ‘Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka) untuk anak-anakmu.”[Surah an-Nisa (4):11] Apa yang dimaksudkan dengan ‘anak-anak’ ialah termasuk anak-anak Nabi (Saw.).

b) Firman-Nya yang bermaksud:”Dan Sulaiman telah mewarisi Daud.”(Surah al-Naml:16). Maksudnya Nabi Sulaiman (a.s) mewarisi kerajaan Nabi Daud (a.s) dan menggantikan kenabiannya.

c) Firman-Nya yang bermaksud:”Maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putra yang akan mewarisiku dan mewarisi sebagian keluarga Ya’qub dan jadikanlah ia, ya Tuhanku seorang yang diridhai.”(Surah Maryam:5-6)

Ketiga-tiga ayat tadi bertentangan dengan dakwaan Abu Bakar yang berpegang dengan hadits tersebut. Dan apabila hadits bertentangan dengan al-Qur’an, maka hal itu (hadits) mestilah diketepikan.

d) Kalau hadits tersebut benar, ia berart Nabi (Saw.) sendiri telah cuai untuk memberitahu keluarganya mengenai Fadak dan hal itu bercanggah dengan firman-Nya yang bermaksud:”Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.”(Surah al-Syua’ra:214)

e) Hadits tersebut hanya diriwayatkan oleh Abu Bakar sahaja dan hal itu tidak boleh menjadi hujah karena Fatimah dan Ali (a.s) menentangnya. Fatimah (a.s) berkata:”Adakah kamu sekarang menyangka bahwa aku tidak boleh menerima pusaka, dan adakah kamu menuntut hukum Jahiliyyah? Tidakkah hukum Allah lebih baik bagi orang yang yakin. Adakah kamu wahai anak Abi Qahafah mewarisi ayah kamu sedangkan aku tidak mewarisi ayahku? Sesungguhnya kamu telah melakukan perkara keji.” (Lihat Ahmad bin Tahir al-Baghdadi, Balaghah al-Nisa’,II,hlm.14;Umar Ridha Kahalah, A’lam al-Nisa’,III,hlm.208; Ibn Abi al-Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah,IV, hlm.79,92)

f) Fatimah dan Ali (a.s) adalah di antara orang yang disucikan Tuhan di dalam Surah al-Ahzab:33, dan dikenali juga dengan nama Ashab al-Kisa’. Dan termasuk orang yang dimubahalahkan bagi menentang orang Nasrani di dalam ayat al-Mubahalah atau Surah Ali Imran:61. Adakah wajar orang yang disucikan Tuhan dan dimubahalahkan itu menjadi pembohong, penuntut harta Muslimin yang bukan haknya?

g) Jikalau dakwaan Abu Bakar itu betul hal itu bermakna Rasulullah (Saw.) sendiri tidak mempunyai perasaan kasihan belas sebagai seorang ayah terhadap anaknya. Karena anak-anak para nabi yang terdahulu menerima harta pusaka dari ayah-ayah mereka.

Kajian mendalam terhadap Sirah Nabi (Saw.) dengan keluarganya menunjukkan betapa kasihnya beliau terhadap mereka khususnya, Fatimah sebagai ibu dan nenek kepada sebelas Imam AS. Beliau bersabda:”Sesungguhnya Allah marah karena kemarahanmu (Fatimah ) dan ridha dengan keridhaanmu.” [Al-Hakim, al-Mustadrak, III , hlm.153; Ibn al-Athir, Usd al-Ghabah, hlm.522; al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal,VI, hlm.219;Mahyu al-Din al-Syafi'i al-Tabari, Dhakhair al-Uqba,hlm.39] Khalifah Abu Bakar dan Umar adalah di antara orang yang dimarahi Fatimah (a.s). Beliau bersumpah tidak akan bercakap dengan mereka sehingga beliau berjumpa ayahnya dan merayu kepadanya.[Ibn Qutaibah,al-Imamah wa al-Siyasah,I,hlm.14]

Beliau berwasiat supaya beliau dikebumikan di waktu malam dan tidak membenarkan seorangpun dari “mereka” menyembahyangkan jenazahnya. [Ibn al-Athir, Usd al-Ghabah,V,hlm. 542;al-Bukhari, Sahih ,VI, hlm, 177; Ibn Abd al-Birr, al-Isti'ab,II,hlm.75]

Sebenarnya Fatimah a.s menuntut tiga perkara:

1. Kedudukan khalifah untuk suaminya Ali AS karena dia adalah dari ahlul Bait yang disucikan dan perlantikannya di Ghadir Khum disaksikan oleh 120,000 orang dan hal itu diriwayatkan oleh 110 sahabat.
2. Fadak.
3. Al-khums, saham kerabat Rasulullah tetapi kesemuanya ditolak oleh khalifah Abu Bakar [Ibn Abi al-Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah,V,hlm.86]

16.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi sawa,niscaya mereka mengenakan hukum had ke atas pelakunya tanpa pilih kasih,tetapi Khalifah Abu Bakar tidak mengenakan hukum hudud ke atas Khalid bin al-Walid yang telah membunuh Malik bin Nuwairah dan kabilahnya. Umar dan Ali (a.s) mau supaya Khalid dihukum rejam.[Ibn Hajr, al-Isabah , III, hlm.336]

Umar berkata kepada Khalid:”Kamu telah membunuh seorang Muslim kemudian kamu terus bersetubuh dengan isterinya. Demi Allah aku akan merejam kamu dengan batu.”[Al-Tabari,Tarikh ,IV, hlm.1928] Kata-kata Umar ini cukup membuktikan bahwa Malik bin Nuwairah adalah seorang Muslim dan Khalid telah berzina dengan isteri Malik sebaik sahaja ia dibunuh. Jika tidak kenapa Umar berkata:”Demi Allah aku akan merejam kamu dengan batu.”

Umar memahami bahwa isteri Malik bin Nuwairah tidak boleh dijadikan hamba. Oleh itu pembunuhan ke atas Malik bin Nuwairah dan kaumnya tidak patut dilakukan karena mereka adalah Muslim. Keengganan mereka membayar zakat kepada Abu Bakar tidak boleh menjadi hujah kepada kemurtadan mereka. Pembunuhan ke atas mereka disebabkan salah faham mengenai perkataan ‘idfi’u, yaitu mengikut suku Kinanah ia berart “bunuh” dan dalam bahasa Arab biasa ia berart “panaskan mereka dengan pakaian” dan tidak menghalalkan darah mereka. Sepatutnya mereka merujuk perkara itu kepada Khalid bagi mengetahui maksudnya yang sebenar.

Tetapi mereka terus membunuh kaumnya dan Malik sendiri telah dibunuh oleh Dhirar yang bukan dari suku Kinanah. Oleh itu Dhirar pasti memahami bahwa perkataaan idfi’u bukanlah perkataan untuk mengharuskan pembunuhan, namun ia tetap membunuh Malik. Lantaran itu alasan kekeliruan berlaku di dalam pembunuhan tersebut tidak boleh menjadi hujah dalam kejahatan Khalid, apatah lagi perzinaannya dengan isteri Malik bin Nuwairah selepas dia dibunuh. Dengan itu tidak heranlah jika Ali AS dan Umar meminta Khalifah Abu Bakar supaya merejam Khalid, tetapi Abu Bakar enggan melakukannya.

Jika tidak membayar zakat djadikan alasan serangan dan pembunuhan, maka Nabi (Saw.) sendiri tidak memerangi sahabatnya Tha’labah yang enggan membayar zakat kepada beliau (Saw.). Allah (swt) menurunkan peristiwa ini di dalam Surah al-Taubah(9):75-77. Semua ahli tafsir Ahlu s-Sunnah menyatakan bahwa ayat itu diturunkan mengenai Tha’labah yang enggan membayar zakat karena beranggapan bahwa hal itu jizyah. Maka Allah (swt) mendedahkan hakikatnya. Dan Nabi (Saw.) tidak memeranginya dan tidak pula merampas hartanya sedangkan beliau (Saw.) mampu melakukannya. Adapun Malik bin Nuwairah dan kaumnya bukanlah mengingkari zakat sebagai satu fardhu agama. Tetapi apa yang mereka ingkar ialah penguasaan Abu Bakar ke atas kedudukan khalifah selepas Rasulullah (Saw.) dengan menggunakan kekuatan dan paksaan. Dan mereka pula benar-benar mengetahui tentang hadits al-Ghadir. Oleh itu tidak heranlah jika Abu Bakar terus mempertahankan Khalid tanpa mengira kejahatan yang dilakukannya terhadap Muslimin karena Khalid telah melakukan sesuatu untuk kepentingan politik dan dirinya. Malah itulah perintahnya di bawah operasi “enggan membayar zakat dan murtad” sekalipun hal itu bertentangan dengan Sunah Nabi (Saw.).

17.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak melantik Umar menjadi khalifah selepasnya secara wasiat, padahal mereka sendiri menolak wasiat Nabi (Saw.) Tetapi Khalifah Abu Bakar telah melantik Umar menjadi khalifah selepasnya secara wasiat, padahal dia sendiri menolak wasiat Nabi (Saw.). Beliau bersabda:”Ali adalah saudaraku, wasiku, wazirku dan khalifah selepasku” dan sabdanya:”Siapa yang menjadikan aku maulanya maka Ali adalah maulanya.”Dan penyerahan kedudukan khalifah kepada Umar adalah menyalahi prinsip syura yang diagung-agungkan oleh Ahlul Sunnah. Justru itu Abu Bakar adalah orang yang pertama merusakkan sistem syura dan memansuhkannya. Pertama, dia menggunakan “syura terhad” bagi mencapai cita-citanya untuk menjadi khalifah tanpa menjemput Bani Hasyim untuk menyertainya. Kedua, apabila kedudukannya menjadi kuat, dia melantik Umar untuk menjadi khalifah selepasnya tanpa syura dengan alasan bahwa Umar adalah orang yang paling baik baginya untuk memegang kedudukan khalifah selepasnya.

18.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka dilantik oleh Nabi (Saw.)untuk menjalankan mana-mana missi/pekerjaan,tetapi Khalifah Abu Bakar tidak pernah dilantik oleh Nabi (Saw.) untuk menjalankan mana-mana missi/pekerjaan, malah beliau melantik orang lain. Hanya pada satu masa beliau melantiknya untuk membawa Surah Bara’ah, tetapi beliau mengambil kembali tugas itu dan kemudian meminta Ali (a.s) untuk melaksanakannya.[Al-Tabari, Dhakha'ir al-Uqba,hlm.61;al-Turmudhi, Sahih,II, hlm.461;Ibn Hajr, al-Isabah,II, hlm.509]

19.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka mengetahui pengertian al-Abb di dalam al-Qur’an,tetapi Khalifah Abu Bakar tidak mengetahui pengertian al-Abb yaitu firman-Nya di dalam Surah ‘Abasa (80):31:”Dan buah-buahan (Fakihatun) serta rumput-rumputan (abban).”Dia berkata:”Langit mana aku akan junjung dan bumi mana aku akan pijak, jika aku berkata sesuatu di dalam Kitab Allah apa yang aku tidak mengetahui?”[al-Muttaqi al-Hindi,Kanz al-Ummal,I,hlm.274]

20.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak akan melakukan bid’ah-bid’ah selepas Rasulullah (Saw.) tetapi Khalifah Abu Bakar telah mengetahui dia akan melakukan bid’ah-bid’ah selepas Rasulullah (Saw.). Malik bin Anas di dalam a-Muwatta bab “jihad syuhada’ fi sabilillah’ telah meriwayatkan dari hamba Umar bin Ubaidillah bahwa dia menyampaikannya kepadanya bahwa Rasulullah bersabda kepada para syahid di Uhud:”Aku menjadi saksi kepada mereka semua.”Abu Bakar berkata:”Tidakkah kami wahai Rasulullah (Saw.) saudara-saudara mereka. Kami telah masuk Islam sebagaimana mereka masuk Islam dan kami telah berjihad di jalan Allah sebagaimana mereka berjihad?” Rasulullah menjawab:”Ya! Tetapi aku tidak mengetahui bid’ah mana yang kalian akan lakukan selepasku.”Abu Bakar pun menangis, dan dia terus menangis. Bid’ah-bid’ah yang dilakukan oleh para sahabat memang telah diakui oleh mereka sendiri, di antaranya al-Bara’ bin Azib.

Al-Bukhari di dalam Sahihnya “Kitab bad’ al-Khalq fi bab Ghuzwah al-Hudaibiyyah” telah meriwayatkan dengan sanadnya dari al-Ala bin al-Musayyab dari ayahnya bahwa dia berkata:”Aku berjumpa al-Barra bin Azib maka aku berkata kepadanya: Alangkah beruntungnya anda karena bersahabat dengan Nabi (Saw.) dan anda telah membai’ah kepadanya di bawah pohon. Maka dia menjawab: Wahai anak saudaraku. Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang kami telah lakukan (Ahdathna) selepasnya.”[Al-Bukhari, Sahih,III, hlm.32]

Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Nabi (Saw.) bersabda kepada orang-orang Ansar:”Sesungguhnya kalian akan menyaksikan sifat tamak yang dahsyat selepasku. Oleh itu bersabarlah sehingga kalian bertemu Allah dan Rasul-Nya di Haudh.”Anas berkata:”Kami tidak sabar.”[Al-Bukhari, Sahih,III, hlm.135]

Ibn Sa’d juga telah meriwayatkan di dalam Tabaqatnya, VIII, hlm. 51, dengan sanadnya dari Ismail bin Qais bahwa dia berkata:”Aisyah ketika wafatnya berkata: Sesungguhnya aku telah melakukan bid’ah-bid’ah (Ahdathtu) selepas Rasulullah (Saw.), maka kebumikanlah aku bersama-sama isteri Nabi (Saw.).” Apa yang dimaksudkan olehnya ialah “Jangan kalian mengkebumikan aku bersama Nabi (Saw.) karena aku telah melakukan bid’ah-bid’ah selepasnya.”

Lantaran itu, khalifah Abu Bakar, al-Barra bin Azib, Anas bin Malik dan Aisyah telah memberi pengakuan masing-masing bahwa mereka telah melakukan bid’ah-bid’ah dengan mengubah Sunnah Nabi (Saw.).

21.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak akan berkata: “Syaitan menggodaku, sekiranya aku betul, maka bantulah aku dan sekiranya aku menyeleweng , maka betulkanlah aku.” Tetapi Khalifah Abu Bakar berkata: “Aku digodai Syaitan. Sekiranya aku betul,maka bantulah aku dan sekiranya aku menyeleweng, maka betulkanlah aku.” [Ibn Qutaibah, al-Imamah wa al-Siyasah,I, hlm. 6; al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal,III, hlm. 126; Ibn Hajr, al-Sawa'iq al-Muhriqah, hlm. 7; al-Syablanci,Nur al-Absar, hlm. 53] Ini berarti dia tidak mempunyai keyakinan diri,dan bagaimana dia boleh menyakinkan orang lain pula?

22.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.) ,niscaya mereka tidak menyesal menjadi seorang manusia, tetapi Khalifah Abu Bakar menyesal menjadi seorang manusia, malah dia ingin menjadi pohon dimakan oleh binatang kemudian mengeluarkannya. Abu Bakar berkata:”Ketika dia melihat seekor burung hinggap di atas suatu pohon, dia berkata:Beruntunglah engkau wahai burung. Engkau makan buah-buahan dan hinggap di pohon tanpa hisab dan balasan. Tetapi aku lebih suka jika aku ini sebatang pohon yang tumbuh di tepi jalan. Kemudian datang seekor unta lalu memakanku. Kemudian aku dikeluarkan pula dan tidak menjadi seorang manusia.”[al-Muhibb al-Tabari, al-Riyadh al-Nadhirah,I,hlm. 134; Ibn Taimiyyah, Minhaj al-Sunnah,III,hlm. 130]

Kata-kata khalifah Abu Bakar itu adalah bertentangan dengan firman Allah (swt) di dalam Surah al-Tin (95):4:”Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia di dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” Dan jika Abu Bakar seorang wali Allah kenapa dia harus takut kepada hari hisab? Sedangkan Allah telah memberi khabar gembira kepada wali-walinya di dalam Surah Yunus(10):62-64,”Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah ini tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih yaitu orang-orang yang beriman dan mereka selalu di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat.Tidak ada perubahan kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

23.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak mengganggu rumah Fatimah (a.s) semenjak awal lagi, tetapi khalifah Abu Bakar telah mengganggunya dan ketika sakit menyesal karena mengganggu rumah Fatimah (a.s). Dia berkata: “Sepatutnya aku tidak mengganggu rumah Fatimah sekalipun beliau mengisytiharkan perang terhadapku.”[Ibn Qutaibah, al-Imamah wa al-Siyasah,I,hlm. 18-19; al-Tabari, Tarikh ,IV, hlm. 52;Ibn Abd Rabbih, Iqd al-Farid,II,hlm.254]

24.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak menjatuhkan air muka Nabi (Saw.), Tetapi Khalifah Abu Bakar telah menjatuhkan air muka Nabi (Saw.) di hadapan musyrikin yang datang berjumpa dengan Nabi (Saw.) supaya mengembalikan hamba-hamba mereka yang lari dari mereka. Musyrikun berkata:”Hamba-hamba kami telah datang kepada anda bukanlah karena mereka cinta kepada agama tetapi mereka lari dari milik kami dan harta kami. Lebih-lebih lagi kami adalah tetangga anda dan orang yang membuat perjanjian damai dengan anda.”Tetapi Nabi (Saw.) tidak mau menyerahkan kepada mereka hamba-hamba tersebut karena khawatir mereka akan menyiksa hamba-hamba tersebut dan beliau tidak mau juga mendedahkan hakikat ini kepada mereka. Nabi (Saw.) bertanya kepada Abu Bakar dengan harapan dia menolak permintaan mereka. Sebaliknya Abu Bakar berkata:”Benar kata-kata mereka itu.” Lantas berubah muka Nabi (Saw.)karena jawabannya menyalahi apa yang dikehendaki Allah dan Rasul-Nya.[al-Nasa'i, al-Khasa'is,hlm. 11; Ahmad bin Hanbal, al-Musnad,I,hlm. 155] Sepatutnya khalifah Abu Bakar dapat memahami apa yang dimaksudkan oleh Nabi, tetapi dia tidak dapat memahaminya, malah diam memihak kepada Musyrikun berdasarkan ijtihadnya.

25.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka telah membunuh Dhu al-Thadyah (seorang lelaki yang mempunyai payudara, akhirnya menentang khalifah Ali), tetapi khalifah Abu Bakar tidak membunuh Dhu al-Thadyah sedangkan Rasulullah telah memerintahkan Abu Bakar supaya membunuh Dhu al-Thadyah. Abu Bakar mendapati lelaki itu sedang mengerjakan solat. Lalu dia berkata kepada Rasulullah (Saw.) :”Subhanallah! Bagaimana aku membunuh lelaki yang sedang mengerjakan solat?” (Ahmad b.Hanbal,al-Musnad,III,hlm.14-150) Sepatutnya dia membunuh lelaki itu tanpa mengira keadaan karena Nabi (Saw.)telah memerintahkannya. Tetapi dia tidak membunuhnya, malah dia menggunakan ijtihadnya bagi menyalahi Sunnah Nabi (Saw.).

26.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak mengatakan bahwa saham jiddah (nenek) tidak ada di dalam al-Qur’an dan Sunnah Nabi (Saw.).Tetapi Khalifah Abu Bakar mengatakan bahwa saham jiddah (nenek) tidak ada di dalam al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah (Saw.). Seorang nenek bertanya kepada Abu Bakar tentang pusakanya. Abu Bakar menjawab:”Tidak ada saham untuk anda di dalam al-Qur’an dan Sunnah Nabi (Saw.).Oleh itu kembalilah.”Lalu al-Mughirah bin Syu”bah berkata:”Aku berada di sisi Nabi (Saw.)bahwa beliau memberikannya (nenek) seperenam saham.”Abu Bakar berkata:”Adakah orang lain bersama anda?” Muhammad bin Muslimah al-Ansari bangun dan berkata sebagaimana al-Mughirah. Maka Abu Bakar memberikannya seperenam.[Malik, al-Muwatta,I,hlm. 335; Ahmad bin Hanbal, al-Musnad,IV,hlm.224;Ibn Rusyd, Bidayah al-Mujtahid,II, hlm.334]

27.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka mengetahui hukum had
ke atas pencuri yang buntung satu tangan dan satu kakinya Tetapi Khalifah Abu Bakar tidak mengetahui hukum had ke atas pencuri yang buntung satu tangan dan satu kakinya. Dari Safiyyah binti Abi Ubaid,”Seorang lelaki buntung satu tangan dan satu kakinya telah mencuri pada masa pemerintahan Abu Bakar. Lalu Abu Bakar mau memotong kakinya dan bukan tangannya supaya dia dapat bermunafaat dengan tangannya. Maka Umar berkata:”Demi yang diriku di tangan-Nya, anda mesti memotong tangannya yang satu itu.” Lalu Abu Bakar memerintahkan supaya tangannya dipotong.”[al-Baihaqi, Sunan,VIII,hlm.273-4]
28.

Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak berpendapat bahwa seorang khalifah bukan semestinya orang yang paling alim .Tetapi Khalifah Abu Bakar berpendapat bahwa seorang khalifah bukan semestinya orang yang paling alim (afdhal).[Ibn Qutaibah, al-Imamah wa al-Siyasah, I,hlm. 16; al-Baqillani, al-Tamhid,hlm. 195; al-Halabi, Sirah Nabawiyyah,III, hlm.386] Ijtihadnya adalah bertentangan dengan firman Tuhan di dalam Surah al-Zumar (39):9:”Katakanlah: Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran” dan firman-Nya di dalam Surah Yunus (10):35:”Maka apakah orang-orang yang menunjuki jalan kepada kebenaran itu lebih berhak diikuti ataukah orang-orang yang tidak dapat memberi petujuk? Mengapa kamu (berbuat demikian)? Bagaimana kamu mengambil keputusan?”

29.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka melakukan korban (penyembelihan) sekali di dalam hidupnya.Tetapi Khalifah Abu Bakar tidak pernah melakukan korban (penyembelihan) karena khawatir kaum Muslimin akan menganggapnya wajib. Sunnahnya adalah bertentangan dengan Sunnah Nabi (Saw.) yang menggalakkannya.[Al-Baihaqi, al-Sunan al-Kubra, IX,hlm. 265; al-Syafi'i, al-Umm, II, hlm.189]

30.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak mengatakan maksiat yang dilakukan oleh seseorang itu telah ditakdirkan oleh Allah sejak azali lagi, tetapi Khalifah Abu Bakar mengatakan maksiat yang dilakukan oleh seseorang itu telah ditakdirkan oleh Allah sejak azali lagi, kemudian Dia menyiksanya di atas perbuatan maksiatnya. Seorang lelaki bertanya kepadanya:”Adakah anda fikir zina juga qadarNya? Lelaki itu bertanya lagi:”Allah mentakdirkannya ke atasku kemudian menyiksa aku?” Khalifah Abu Bakar menjawab:” Ya. Demi Tuhan sekiranya aku dapati seseorang masih berada di sisiku, niscaya aku menyuruhnya memukul hidung anda.”[al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa, hlm.65]

Oleh itu ijtihad Abu Bakar itu adalah bertentangan dengan firman-firman Tuhan di antaranya:

a. Firman-Nya di dalam Surah al-Insan (76):3:”Sesungguhnya kami telah menunjukkinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.”
b. Firman-Nya di dalam Surah al-Balad (90):10:”Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.”
c. Firman-Nya di dalam Surah al-Naml (27):40:”Dan barang siapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk kebaikan dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia’”.

31.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak berkata: Jika pendapat kami betul, maka hal itu dari Allah dan jika hal itu salah maka ia adalah dari kami dan dari syaitan. Tetapi Khalifah Abu Bakar berkata:”Jika pendapatku betul, maka hal itu dari Allah dan jika hal itu salah maka ia adalah dari aku dan dari syaitan.”[Al-Baihaqi, al-Sunan al-Kubra, VI, hlm. 223; al-Tabari, Tafsir, VI hlm. 30; Ibn Kathir, Tafsir, I, hlm.260] Kata-kata Abu Bakar menunjukkan bahwa dia sendiri tidak yakin kepada pendapatnya. Dan dia memerlukan bimbingan orang lain untuk menentukan kesalahannya.

32.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka akur kepada Sunnah Nabi (Saw.) apabila mengetahui kesannya dengan mengilakkan dirinya dari kilauan dunia ,tetapi Khalifah Abu Bakar mengetahui bahwa dia tidak terlepas dari kilauan dunia, lantaran itu dia menangis. Al-Hakim di dalam Mustadrak, IV, hlm. 309 meriwayatkan dengan sanadnya dari Zaid bin Arqam, dia berkata:”Kami pada suatu masa telah berada bersama Abu Bakar, dia meminta minuman, lalu diberikan air dan madu. Manakala dia mendekatkannya ke mulutnya dia menangis sehingga membuatkan sahabat-sahabatnya menangis. Akhirnya merekapun berhenti menangis, tetapi dia terus menangis.

Kemudian dia kembali dan menangis lagi sehingga mereka menyangka bahwa mereka tidak mampu lagi menyelesaikan masalahnya. Dia berkata:kemudian dia menyapu dua matanya. Mereka berkata:Wahai khalifah Rasulullah! Apakah yang sedang ditolak oleh anda? Beliau menjawab:”Dunia ini (di hadapanku) telah “memperlihatkan”nya kepadaku, maka aku berkata kepadanya:Pergilah dariku maka hal itu pergi kemudian dia kembali lagi dan berkata:Sekiranya anda terlepas dariku, orang selepas anda tidak akan terlepas dariku.” Hadits ini diriwayatkan juga oleh ak-Khatib di dalam Tarikh Baghdad, X,hlm. 268 dan Abu Nu’aim di dalam Hilyah al-Auliya’, I, hlm.30]

33.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka mempunyai kata pemutus ke atas pemerintahan mereka,tetapi Khalifah Abu Bakar tidak mempunyai kata pemutus ke atas pemerintahannya melainkan hal itu dipersetujui oleh Umar. Adalah diriwayatkan bahwa “Uyainah bin Hasin dan al-Aqra bin Habis datang kepada Abu Bakar dan berkata:”Wahai khalifah Rasulullah, izinkan kami menanam di sebidang tanah yang terbiar berhampiran kami. Kami akan membajak dan menanamnya. Mudah-mudahan Allah akan memberikan manfaat kepada kami dengannya.”Lalu Abu Bakar menulis surat tentang persetujuannya. Maka kedua-duanya berjumpa Umar untuk mempersaksikan kandungan surat tersebut. Apabila kedua-duanya membacakan kandungannya kepadanya, Umar merebutnya dari tangan mereka berdua dan meludahnya. Kemudian memadamkannya. Lalu kedua-duanya mendatangi Abu Bakar dan berkata:”Kami tidak mengetahui adakah anda khalifah atau Umar.” Kemudian mereka berdua menceritakan kepadanya. Lalu Abu Bakar berkata:”Kami tidak melaksanakan sesuatu melainkannya dipersetujui oleh Umar.”{al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal, VI, hlm. 335; Ibn Hajr, al-Isabah, I,hlm.56] .

34.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak dicaci oleh seorang lelaki di hadapan Nabi (Saw.). Tetapi Khalifah Abu Bakar telah dicaci oleh seorang lelaki di hadapan Rasulullah SAWA. Tetapi Nabi (Saw.)tidak melarangnya sebaliknya beliau tersenyum pula, Ahmad bin Hanbal meriwayatkan bahwa seorang lelaki telah mencaci Abu Bakar dan Nabi sawa sedang duduk, maka Nabi (Saw.) kagum dan tersenyum.[Ahmad bin Hanbal, al-Musnad, VI, hlm.436] .

35.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak bertengkar sehingga meninggikan suara mereka di hadapan Nabi (Saw.) khalifah Abu Bakar dan Umar telah bertengkar sehingga meninggikan suara mereka di hadapan Rasulullah (Saw.) . Abu Bakar berkata:”Wahai Rasulullah lantiklah al-Aqra bin Habi bagi mengetuai kaumnya.” Umar berkata:”Wahai Rasulullah janganlah anda melantiknya sehingga mereka menengking dan meninggikan suara mereka di hadapan Rasulullah (Saw.).” Lalu diturunkan ayat di dalam Surah al-Hujurat(49):2,”Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari Nabi dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak terhapus pahala amalanmu, sedangkan kamu tidak menyedari.” Sepatutnya mereka berdua bertanya dan merujuk kepada Rasulullah (Saw.) mengenainya.[Ahmad bin Hanbal, al-Musnad, IV , hlm.6;al-Tahawi, Musykil al-Athar,I,hlm. 14-42] .

36.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak banyak membuat pengakuan-pengakuan dimana mereka sepatutnya melakukan sesuatu,tetapi Khalifah Abu Bakar banyak membuat pengakuan-pengakuan dimana dia sepatutnya melakukan sesuatu,tetapi tidak melakukannya dan sebaliknya. Ibn Qutaibah mencatatkan dalam bukunya al-Imamah wa al-Siyasah, I, hlm. 18-19,

9 perkara yang disesali oleh Abu Bakar seperti berikut:

“Tiga perkara yang aku telah lakukan sepatutnya aku tidak melakukannya dan tiga perkara yang aku tidak lakukannya sepatutnya aku melakukannya dan tiga perkara yang sepatutnya aku bertanya Rasulullah (Saw.) mengenainya. Adapun tiga perkara yang aku telah melakukannya sepatutnya aku tidak melakukannya:

1. Sepatutnya aku tinggalkan rumah Ali (Fatimah) sekalipun mereka mengisytiharkan perang ke atasku.
2. Sepatutnya aku membai’ah sama Umar atau Abu Ubadah di Saqifah Bani Saidah, yaitu salah seorang mereka menjadi amir dan aku menjadi wazir.
3. Sepatutnya aku menyembelih Fuja’ah al-Silmi atau melepaskannya dari tawanan dan aku tidak membakarnya hidup-hidup.

Adapun tiga perkara yang aku tidak melakukannya sepatutnya aku melakukannya:
1. Sepatutnya ketika al-Asy’ath bin Qais dibawa kepadaku sebagai tawanan, aku membunuhnya dan tidak memberinya peluang untuk hidup, karena aku telah mendengar tentangnya bahwa ia bersifat sentiasa menolong segala kejahatan.
2. Sepatutnya ketika aku mengutus Khalid bin al-Walid kepada orang-orang murtad, aku mesti berada di Dhi al-Qissah, dengan itu sekiranya mereka menang, mereka boleh bergembira dan sekiranya mereka kalah aku boleh menghulurkan bantuan.
3. ???-red

Adapun tiga perkara yang sepatutnya aku bertanya Rasulullah (Saw.) ialah:

1. Kepada siapakan kedudukan khalifah patut diberikan sesudah beliau wafat, dengan demikian tidaklah kedudukan itu menjadi rebutan.
2. Sepatutnya aku bertanya kepada beliau, adakah orang Ansar mempunyai hak menjadi khalifah.
3. Sepatutnya aku bertanya beliau tentang pembagian harta pusaka anak saudara perempuan sebelah lelaki dan ibu saudara sebelah lelaki karena aku tida puas hati tentang hukumnya dan memerlukan penyelesaian.”

Kenyataan di atas telah disebut juga oleh al-Tabari dalam Tarikhnya, IV, hlm. 52;Ibn Abd Rabbih, ‘Iqd Farid,II,hlm. 254;Abu Ubaid, al-Amwal,hlm. 131]

37.
Jika mereka Ahl al-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak mengundurkan diri dari tentara Usamah yang telah dilantik oleh Nabi saw menjadi penglima perang di dalam ushal itu yang muda,tetapi Khalifah Abu Bakar telah mengundurkan diri dari menyertai tentara di bawah pimpinan Usamah bin Zaid, sedangkan Nabi (Saw.) bersabda:”Perlengkapkan tentara Usamah, Allah melaknati orang yang mengundur diri dari tentara Usamah.”[Al-Syarastani, al-Milal, hlm.21; Ibn Sa'd, Tabaqat,II,hlm.249 dan lain-lain lagi].

38.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak menamakan dirinya(Abu Bakar) “Khalifah Rasulullah”.[Tetapi Khalifah Abu Bakar telah menamakan dirinya "Khalifah Rasulullah".[Ibn Qutaibah,al-Imamah wa al-Siyasah ,I,hlm.13];al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa’,hlm.78] Penamaannya adalah bertentangan dengan Sunnah Rasulullah karena beliau tidak menamakannya dan melantiknya, malah beliau menamakan Ali dan melantiknya. Beliau bersabda:”Siapa yang aku menjadimaulanya maka Ali adalah maulanya.”Dan hadits-hadits yang lain tentang perlantikan Ali (a.s) sebagai khalifah selepas Rasulullah (Saw.).

39.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak membakar manusia hidup-hidup,tetapi Khalifah Abu Bakar telah membakar Fuja’ah al-Silmi hidup-hidup, kemudian dia menyesali perbuatannya.[al-Tabari,Tarikh,IV,hlm.52] Dan hal itu bertentangan dengan Sunnah Nabi (Saw.)”Tidak boleh disiksa dengan api melainkan dari Tuhannya.”(Al-Bukhari, Sahih ,X,hlm.83]

40.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak lari di dalam peperangan, tetapi Khalifah Abu Bakar telah lari di dalam peperangan Uhud dan Hunain. Sepatutnya dia mempunyai sifat keberanian melawan musuh. Tindakannya itu menyalahi ayat-ayat jihad di dalam al-Qur’an dan Sunnah Nabi (Saw.) [al-Hakim, al-Mustadrak, III, hlm. 37; al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal,VI,hlm.394;al-Dhahabi,al-Talkhis,III,hlm.37]

41.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak meragukan kedudukan khalifah. Tetapi Khalifah Abu Bakar telah meragukan kedudukan khalifahnya. Dia berkata:”Sepatutnya aku bertanya Rasulullah (Saw.), adalah orang-orang Ansar mempunyai hak yang sama di dalam kedudukan khalifah?” Ini adalah keraguan tentang kesahihan atau kebatilannya. Dialah orang yang menentang orang-orang Ansar manakala mereka mengatakan bahwa Amir mestilah dari golongan Quraisy.” Sekiranya apa yang diriwayatkan olehnya itu benar, bagaimana dia meragukan”nya” pula. Dan jikalau tidak, dia telah menentang orang-orang Ansar dengan “hujah palsu.”[Al-Ya'qubi, Tarikh al-Ya'qubi,II,hlm.127; Ibn Qutaibah, al-Imamah wa al-Siyasah,I,hlm.18,19;al-Masudi, Muruj al-Dhahab,II,hlm.302]

42.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka dapat menyelesaikan persoalan-persoalan yang dikemukakan kepada mereka,tetapi Khalifah Abu Bakar tidak dapat menyelesaikan persoalan-persoalan yang dikemukakan kepadanya oleh orang Yahudi. Anas bin Malik berkata:”Seorang Yahudi datang selepas kewafatan Rasulullah (Saw.). Maka kaum Muslimin menunjukkannya kepada Abu Bakar. Dia berdiri di hadapan Abu Bakar dan berkata: Aku akan kemukakan soalan-soalan yang tidak akan dijawab melainkan oleh Nabi atau wasi Nabi. Abu Bakar berkata:”Tanyalah apa yang anda mau. Yahudi berkata: Beritahukan kepadaku perkara yang tidak ada pada Allah, tidak ada di sisi Allah, dan tidak diketahui oleh Allah? Abu Bakar berkata: Ini adalah soalan-soalan orang zindiq wahai Yahudi! Abu Bakar dan kaum Muslimin mulai marah dengan Yahudi tersebut.

Ibn Abbas berkata: Kalian tidak dapat memberikan jawaban kepada lelaki itu. Abu Bakar berkata: Tidakkah anda mendengar apa yang diperkatakan oleh lelaki itu? Ibn Abbas menjawab: Sekirannya kalian tidak dapat menjawabnya, maka kalian pergilah bersamanya menemui Ali AS, niscaya dia akan menjawabnya karena aku mendengar Rasulullah (Saw.) bersabda kepada Ali bin Abi Talib:”Wahai Tuhanku! Sinarilah hatinya, dan perkuatkanlah lidahnya.” Dia berkata:”Abu Bakar dan orang-orang yang hadir bersamanya datang kepada Ali bin Abi Talib, mereka meminta izin darinya. Abu Bakar berkata: Wahai Abu l-Hasan, sesungguhnya lelaki ini telah bertanya kepadaku beberapa soalan (zindiq).

Ali berkata: Apakah yang anda perkatakan wahai Yahudi? Dia menjawab: Aku akan bertanya kepada anda perkara-perkara yang tidak diketahui melainkan oleh Nabi atau wasi Nabi. Yahudi mengemukakan soalan-soalan kepadanya. Ali berkata: Adapun perkara-perkara yang tidak diketahui oleh Allah ialah kata-kata anda bahwa Uzair adalah anak lelaki Tuhan, dan Allah tidak mengetahui bahwa Dia mempunyai anak lelaki. Adapun kata-kata anda apa yang tidak ada di sisi Allah, maka jawabannya perkara yang tidak ada di sisi Allah ialah kezaliman. Adapun kata-kata anda: Apa yang tidak ada bagi Allah maka jawabannya tidak ada bagi Allah syirik. Yahudi menjawab: Aku naik saksi tiada Tuhan melainkan Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah pesuruh Allah dan sesungguhnya anda adalah wasinya.”[Ibn Duraid, al-Mujtana, hlm.35]

43.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak mempersendakan Nabi (Saw.) di masa hidupnya,apatah lagi pada masa Nabi SAWA sakit dan selepas kematiannya, tetapi khalifah Abu Bakar dan kumpulannya telah mempersendakan Nabi (Saw.) dengan menolak Sunnah Nabi (Saw.) di hadapannya ketika Nabi (Saw.) sedang sakit “ dia sedang meracau” (al-Bukhari, Sahih, I, hlm. 36; Muslim, Sahih, III, hlm. 69),kemudian menghalang penyebarannya. (Al-Dhahabi, Tadhkirah al-Huffaz,I,hlm.3]

44.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak berkata:”Pecatlah aku karena aku bukanlah orang yang baik di kalangan kalian.”Tetapi Khalifah Abu Bakar berkata:”Pecatlah aku karena aku bukanlah orang yang baik di kalangan kalian.”Di dalam riwayat lain,”Ali di kalangan kalian.”[Ibn Qutaibah, al-Imamah wa al-Siyasah,I,hlm.14;al-Muttaqi al-Hindi,Kanz al-Ummal,III,hlm.132] Jikalau kata-katanya benar, berarti dia tidak layak untuk menjadi khalifah Rasulullah SAWA, berdasarkan pengakuannya sendiri.

45.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak membenci orang yang mencintai dan mengamalkan Sunnah Nabi (Saw.), tetapi mereka membenci orang yang mencintai Sunnah Nabi (Saw.)dan mengamalkanya sekiranya Sunnah Nabi (Saw.) bertentangan dengan sunnah Abu Bakar.] Justru itu mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),malah mereka adalah Ahlu s-Sunnah Abu Bakar dan kumpulannya atau Ahlu s-Sunnah ciptaan mereka sendiri.Lantaran Ali dan keluarganya berusaha dengan keras bagi membersihkan kekotoran yang dilakukan oleh Abu Bakar dan pengikutnya.

Para pembaca..

terjadi kekacauan definisi sahabat yang disusun para ulama hadis sunni sehingga orang-orang yang sekadar hidup sezaman dan berada dilingkungan Nabi Muhammad saw, orang-orang yang mabuk tetapi pernah bertemu Nabi, mereka yang diusir Nabi, dan pembunuh pun disebut sahabat.

Rasulullah SAW tidak menjamin surga kepada Abubakar. Setelah beliau bersaksi tentang  para syuhada di perang uhud. Rasul saw kemudian berkata kepada Abubakar : “Sungguh aku   tidak tahu apa yang akan kau lakukan sepeninggalku”. Dan kemudian Abubakar menangis” (Referensi  Ahlusunnah : Imam Malik, dalam “Al-Muwatta’”, kitab “Jihad”)

Lihat juga [Q.S. Ali Imron 153], tentang kejadian perang Uhud dimana sebagian sahabat lari meninggalkan Rasul saww, sebagai berikut : “(Ingatlah) ketika kalian lari dan tidak menoleh kepada seorangpun, sedang Rasul yang berada di antara kawan-kawan kalian yang lain, memanggil kalian…”.

Bahkan termasuk Abubakar dan Umar juga lari dari perang Uhud tersebut. Dan mereka berdua (Abubakar dan Umar) juga lari dari perang Hunain dan Khaibar. Padahal Allah murka kepada mereka yang lari dari perang sebagaimana Firman-Nya pada [ Q.S. Al-Anfaal  15-16 ].

(Ref. Ahlusunnah :Haikal, “Hayat Muhammad”, bab “perang uhud” dan “perang khaibar”..Al-Waqidi, dalam “Al-Maghazi”..    Siroh Ibn Hisyam, Jilid 4, bab “Perang Uhud”..Ibn Hajar, dalam “Al-Ishobah”, jilid 3, hal. 108, pada muntakhab “Al-Isti’ab”..Siroh Al-Halabiyah, pada bab “Perang Hunain” dan “Perang Khaibar”)

Banyak sejarah yang telah dimanipulasi untuk mengangkat derjat dan keutamaan beberapa “sahabat” Nabi. Padahal nyata nyata Allah mengancam menggugurkan amal Abubakar dan Umar. Allah berfirman dalam Q.S. Al-Hujurat  ayat 2,  tentang larangan untuk meninggikan suara melebihi   suara Rasul saw. Tuhan memperingatkan kepada Abubakar dan Umar supaya tidak lagi mengeraskan suaranya melebihi suara Nabi saw.

Asbabun nuzul Ayat ini adalah Abubakar dan Umar yang saling berdebat dengan suara keras dihadapan Rasul saw (Shahih Bukhari, juz 3, kitab “Al-Maghazi”, bab “Waqd Bani Tamim”)

Hasil yang sedemikian besar yang diperoleh dari Fadak jika digunakan oleh kubu Imam Ali maka akan menjadikan mereka sebagai oposisi yang tangguh

Di dalam kitab hadis Ahlus Sunnah, yaitu Sunan Abu Dawud, Jil. 3, hlm. 144, Dzikr Fa’i, tertulis : “Abu Dawud mengatakan bahwa ketika Umar bin Abdul ‘Aziz menjadi khalifah, pendapatan yang diperoleh dari tanah fadak adalah 40.000 Dinar.”

Di dalam Syarah Ibn Abil Hadid, Jil. 4, hlm. 108 tertulis : “Umar  (bin Khaththab) mengeluarkan orang-orang Yahudi dari tanah Fadak. Dan nilai tanah tersebut berikut kurmanya adalah 50.000 Dirham.”

Di antara lembaran hitam sejarah umat Islam yang tak dapat dipungkiri adalah terjadinya sengketa antara Fatimah as. –selaku ahli waris Nabi saw.– dan Abu Bakar selaku penguasa terkait dengan tanah Fadak dan beberapa harta waris yang ditinggalkan Nabi saw.

Imam Ali as. menegaskan bahwa Abu Bakar telah berbohong dengan membawa-bawa hadis palsu atas nama Nabi saw tentang perkara kebun FADAK ! Di bawah ini kami sebutkan hadis riwayat Muslim dan Bukhari yang melaporkan pengaduan/sengketa di hadapan Umar –semasa menjabat sebagai Khalifah:

 “… Dan ketika Rasulullah saw. wafat, Abu Bakar berkata, ‘Aku adalah walinya Rasulullah, lalu kalian berdua (Ali dan Abbas) datang menuntut warisanmu dari anak saudaramu dan yang ini menuntut bagian warisan istrinya dari ayahnya. Maka Abu Bakar berkata, ‘Rasulullah saw. bersabda: “Kami tidak diwarisi, apa- apa yang kami tinggalkan adalah shadaqah.”, lalu kalian berdua memandangnya sebagai pembohong (kâdziban)., pendosa (atsiman), penipu (ghadiran) dan pengkhianat (khâinan). Demi Allah ia adalah seorang yang jujur, bakti, terbimbing dan mengikuti kebenaran. Kemudian Abu Bakar wafat dan aku berkata, ‘Akulah walinya Rasulullah saw. dan walinya Abu Bakar, lalu kalian berdua memandangku sebagai pembohong (kâdziban)., pendosa (atsiman), penipu (ghadiran) dan pengkhianat (khâinan)…. “ (HR. Muslim, Kitab al Jihâd wa as Sair, Bab Hukm al Fai’,5/152)

Secara tidak jujur maka Bukhari membuang redaksi tersebut yang merugikan kaum sunni dan menggantinya dengan lafaz: lalu kalian berdua memandangnya sebagai begini dan begitu “(HR. Bukhari,6/191, Kitab an Nafaqât/Nafkah, Bab Habsu ar Rajuli Qûta Sanatihi / Seorang menahan kebuhutan pangan setahunya)

Tapi sayangnya, Imam Bukhari masih meninggalkan jejak dan dapat menjadi petunjuk yaitu pembelaan Umar atas dirinya dan juga atas Abu Bakar! Bukhari menyebutkan kata-kata Umar: Allah mengetahui bahwa ia adalah seorang yang jujur, bakti, terbimbing dan mengikuti kebenaran! Dan kata-kata itu dapat menjadi petunjuk awal bahwa apa yang dikatakan Ali dan Abbas paling tidak kebalikan darinya atau yang mendekati kebalikan darinya! Sebab apa latar belakang yang mengharuskan Umar mengatakan kata-kata tersebut andai bukan karena adanya tuduhan Ali dan Abbas ra. atas Abu Bakar dan Umar?!

Maka gugurlah usaha Bukhari agar kaum Muslimin tidak mengetahui kenyataan pahit di atas! Dan ini adalah salah satu bukti bahwa kebenaran/al Haq betapa pun ditutup-tutupi tetap Allah akan membongkarnya ! Maka jika demikian adanya, mungkinkah para imam dan tokoh ulama dari keturunan Imam Ali as. akan menyanjung Abu Bakar dan Umar, meyakininya sebagai dua imam pengemban hidayah, sebagai Shiddîq dan Fârûq dan memandang keduanya dengan pandangan yang berbeda dengan ayah mereka?

Sunni adalah mereka yang telah didoktrinisasikan bahawa semua sahabat adalah jujur dan adil serta Allah dan RasuNya meridhai mereka semua. Kelompok ini dalam rangka mengkultuskan seluruh sahabat, telah terjebak dengan tafsiran-tafsiran al-Quran yang disajikan oleh ulama-ulama mereka, mempedomani  ribuan hadis-hadis palsu keutamaan sejumlah sahabat yang semuanya saling berbenturan dengan al Quran, hadis-hadis sahih yang disepakati, maupun akal yang sihat

.

 sejarah telah menunjukkan bahwa Abubakar dan seluruh keluarganya (kecuali putrinya Asma’ dan putranya Muhammad) bersikap bermusuhan terhadap keluarga Nabi SAWW, yangmemiliki konsekwensi sebagai  pembangkangan nyata terhadap apa yg ditetapkan Al Quran atau disabdakan Nabi mengenai penghargaan dan kasih sayang kepada keluarga beliau SAWW.Sebagai bukti, inilah daftar dari keluarga Abubakar yg permusuhannya terhadap keluarga Nabi SAWW sangat mencolok :
.
1. ABUBAKAR, saat kenaikannya ke tahta kekhalifahan, mengirim Umar ke rumah Sayyidah Fathimah untuk memaksa Imam Ali AS, dengan kekerasan, untuk datang dan berbaiat kepadanya. Umar mengancam Sayyidah Fathimah bahwa ia akan membumi hanguskan rumah. Setelah itu Sayyidah Fathimah begitu marah terhadap Abubakar, sehingga sepanjang sisa hidupnya, ia tdk pernah berbicara sepatah kata jua kepada Abubakar. Dan di ranjang kematiannya, ia melarang Abubakar mengiringi pemakamannya
.
2. AISYAH, putri Abubakar, memberontak terhadap Imam Ali AS, sang Khalifah, dan didepan 30 ribu pasukan, ia memimpin perang Jamal, namun dipermalukan dengan kekalahan telak
.
3. ZUBAIR BIN AWWAM, suami Asma’, putri tertua Abubakar, adalah panglima pasukan Aisyah, ditengah pertempuran ia mundur dan hendak melarikan diri ke arah Mekkah, namun terbunuh tak berapa jauh dari medan pertempuran.

4. ABDULLAH, putra Zubair dari Asma’, adalah panglima pasukan infanteri Aisyah. Ia adalah anak angkat Aisyah. Setelah pertempuran, jasadnya ditarik keluar dari setumpuk mayat yg terbaring di medan tempur.

5. THALHAH, sepupu Abubakar dan jg suami putri Abubakar Ummu Kultsum, adalah seorang panglima pasukan Aisyah. Ditengah pertempuran, Marwan bin Hakam (juru tulis dan penasihat jahat khalifah Usman), seorang perwira dari pasukan yg sama , yg melihat Thalhah sibuk bertempur, berkata kepada budaknya, “Baru kemarin Thalhah sibuk menghasut para pembunuh Usman, dan kini ia sibuk membalaskan darahnya. Betapa munafiknya ia dalam mencari kemegahan duniawi!” Selesai berbicara, ia melepaskan anak panah yg menembus kaki Thalhah dan mengenai kudanya yg lalu melonjak liar dari barisan dan Thalhah pun terjerembab ke tanah. Ia segera dibawa ke Basrah tempat ia meninggal dunia setelah beberapa saat.

6. ABU AR RAHMAN, saudaranya Thalhah dan jg sepupunya Abubakar, jg terbunuh dalam pertempuran yg sama.

7. MUHAMMAD, putra Thalhah, ikut tewas dalam pertemputan tersebut.

8. JU’DAH BINTI ASY’ATS, putri Ummu Farwah (saudara perempuan Abubakar), meracuni Imam Hasan AS hingga syahid. Ia disuap agar melakukan kekejian oleh Yazid putra Muawiyah atau oleh Muawiyah sendiri.

9. ISHAQ, putra Ummu Farwah. Kedua bersaudara putra2 Asy’ats menjadi anggota pasukan Yazid bin Muawiyah, yg bertempur melawan Imam Husain AS di karbala. Belakangan, yg pertama tewas dalam pertempuran melawan Mukhtar, yg membalaskan dendam atas pembunuhan Imam Husain AS. Sementara yg kedua, yg telah menelanjangi sebagian tubuh Imam Husain AS, tercabik2 sampai mati oleh kawanan anjing.

10. MUS’AB, putra Zubair (menantu Abubakar), bertempur melawan Mukhtar, yg terbunuh selagi membalaskan dendam atas pembunuhan Imam Husain AS.

Inilah bukti fakta bukan rekayasa tentang permusuhan Abubakar dan keturunannya terhadap keluarga Nabi Muhammad SAWW. Ini adalah bukti sejarah otentik yg tidak bisa dibantah lagi kebenarannya!

.

Umar bin Khattab Pembuka Jalan Bagi Berkuasanya Bani ‘Umayyah

Sepeninggal Rasul, dari empat khalifah yang empat,  tiga di antaranya dibunuh tatkala sedang dalam tugas, yaitu Umar, Utsman dan Ali. Yang menarik adalah ramalan Umar bin Khaththab bahwa Utsman akan dibunuh kerana membuat pemerintahan yang nepotis sepertiyang dikatakannya.

Umar seperti melibat bahaya munculnya sifat-sifat jahiliah ini sehingga tatkala ia baru ditusuk oleh Abu Lu’lu’ah dan mengetahui bahwa ia akan meninggal pada tahun 24 H-645M, ia memanggil keenam anggota Syura yang ia pilih sendiri.

Umar berkata: “Sesungguhnya Rasul Allah telah wafat dan ia rida akan enam tokoh Quraisy: Ali, Utsman, Thalhah, Zubair, Sa’d dan Abdurrahman bin ‘Auf.”

Kepada Thalhah bin Ubaidillah ia berkata: “Boleh saya bicara atau tidak!”

Thalhah:‘Bicaralah!’.

Umar: “Engkau belum pernah berbicara baik sedikit pun juga. Aku ingat sejak jarimu putus pada perang Uhud, orang bercerita tentang kesombonganmu, dan sesaat sebelum RasulAllah wafat, ia marah kepadamu [34] karena kata-kata yang engkau keluarkan sehingga turun ayat hijab…Bukankah engkau telah berkata: “Bila Nabi saww wafat aku akan menikahi jandanya? “Bukankah Allah SWT lebih berhak terhadap wanita sepupu kita, yang menjadi istrinya, dari diri kita sendiri, sehingga Allah SWT menurunkan ayat:

“Tiadalah pantas bagi kamu untuk mengganggu Rasul Allah, atau menikahi janda-jandanya sesudah ia wafat. Sungguh yang demikian itu suatu dosa besar menurut Allah”.[1]

 Di bagian lain: “Bila engkau jadi khalifah, engkau akan pasang cincin kekhalifahan di jari kelingking istrimu”. Demikian kata-kata Umar terhadap Thalhah.

 Seperti diketahui ayat ini turun berkenaan dengan Thalhah yang mengatakan:“ Muhammad telah membuat pemisah antara kami dan putri-putri paman kami dan telah mengawini para wanita kami. Bila sesuatu terjadi padanya maka pasti kami akan mengawini jandanya”Dan  di bagian lain: “Bila Rasul Allah saw wafat akan aku kawini Aisyah kerana dia adalah

sepupuku.” Dan berita ini sampai kepada Rasul Allah saw, Rasul merasa terganggu dan turunlah ayat hijab’. [2]

Kemudian kepada Zubair, Umar berkata : “Dan engkau, ya Zubair, engkau selalu gelisah dan resah, bila engkau senang engkau Mu’min, bila marah, engkau jadi kafir, satu hari engkau seperti manusia dan pada hari lain seperti setan. Dan andaikata engkau jadi khalifah, engkau akan tersesat dalam peperangan. Bisakah engkau bayangkan, bila engkau jadi khalifah? Aku ingin tahu apa yang akan terjadi pada umat pada hari engkau jadi manusia dan apa yang akan terjadi pada mereka tatkala engkau jadi setan, yaitu tatkala engkau marah. Dan Allah tidak akan menyerahkan kepadamu urusan umat ini selama engkau punya sifat ini” [3]

Di bagian lain: “Dan engkau ya Zubir, demi Allah, hatimu tidak pernah tenang siang maupun malam, dan selalu berwatak kasar sekasar-kasarnya; jilfan jafian”. [4]

 Bersama Aisyah, Thalhah dan Zubair setelah membunuh Utsman memerangi Ali dan menyebabkan paling sedikit 20.000 orang meninggal dalam Perang Jamal. Dan selama puluhan tahun menyusul, beribu-ribu kepala yang dipancung banyak tangan dan kaki yang dipotong, mata yang dicungkil dengan mengatas namakan menuntut darah Utsman.

Kepada Utsman, Umar berkata: “Aku kira kaum Quraisy akan menunjukmu untuk jabatan ini kerana begitu besar cinta mereka kepadamu dan engkau akan mengambil Bani‘Umayyah dan Bani Mu’aith untuk memerintah umat. Engkau akan melindungi mereka dan membagi-bagikan Uang baitul mal kepada mereka dan orang-orang akan membunuhmu, menyembelihmu di tempat tidur”[6]

Atau menurut riwayat dari Ibnu Abbas yang didengarnya sendiri dari Umar “Andaikata aku menyerahkan kekhalifahan kepada Utsman ia akan mengambil Banu Abi Mu’aith untuk memerintah umat. Bila melakukannya mereka akan membunuhnya”.[7]

Di bagian lain, dalam lafal Imam Abu Hanifah: “Andaikata aku menyerah kekhalifahan kepada Utsman, ia akan mengambil keluarga Abi Mu’aith untuk memerintah umat, demi Allah andaikata aku melakukannya, ia akan melakukannya, dan mereka akhirnya akan memotong kepalanya”. [8] Atau di bagian lain: Umar berwasiat kepada Utsman dengan kata-kata: “Bila aku menyerahkan urusan ini kepadamu maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah mengambil keluarga Banu Abi Mu’aith untuk memerintah umat’. [9]

Mari kita lihat ‘ramalan’ Umar bin Khaththab. Tatkala Imam Ali menolak mengikuti peraturan-peraturan dan keputusan-keputusan (Sunnah) Abu Bakar dan Umar, dalam pertemuan anggota Syura,Utsman justru sebaliknya. Ia berjanji menaati peraturan dan keputusan Abu Bakar dan Umar. [10] Ia menjadi khalifah tanggal 1 Muharam tahun 24 H pada umur 79 tahun dan meninggal dibunuh tanggal 18 Dzulhijjah tahun 35 H/ 17 Juni 656 M.

Pemerintahannya dianggap nepotis oleh banyak kalangan. Misalnya, ia mengangkat anggota keluarganya, yang bernama Marwan anak Hakam Ibnu ‘Abi’l Ash yang telah diusir Rasul saww dari Madinah kerana telah bertindak sebagai mata-mata musuh. Utsman membolehkania kembali dan mengangkatnya menjadi Sekretaris Negara.

Utsman juga memperluas wilayah kekuasaan Mu’awiyah, yang mula-mula hanya kota Damaskus, sekarang ditambah dengan Palestina, Yordania dan Libanon. Ia memecat gubernur-gubernur yang ditunjuk Umar dan menggantinya dengan keluarganya yang Thulaqa  [11], ada di antaranya yang pernah murtad dan disuruh bunuh oleh Rasul, dilaknat Rasul, penghina Rasul dan pemabuk. Ia mengganti gubernur Kufah Sa’d bin Abi Waqqash dengan Walid bin ‘Uqbah bin Abi Mu’aith, saudara seibu dengannya. Walid disebut sebagai munafik dalam Al-Qur’an.

Ali, Thalhah dan Zubair, tatkala Utsman mengangkat Walid bin ‘Uqbah jadi gubernur Kufah, menegur Utsman: “Bukankah Umar telah mewasiatkan kepadamu agar jangan sekali-kali mengangkat keluarga Abi Waith dan Banu ‘Umayyah untuk memerintah umat?”  Dan Utsman tidak menjawab sama sekali’. [12]

Walid adalah seorang pemabuk dan penghambur uang negara. Utsman juga mengganti gubernur Mesir ‘Amr bin ‘Ash dengan Abdullah bin Sa’id bin Sarh, seorang yang pernah disuruh bunuh Rasul saww kerana menghujat Rasul. Di Bashrah ia mengangkat Abdullah binAmir, seorang yang terkenal sebagai munafik.

Utsman juga dituduh telah menghambur-hamburkan uang negara kepada keluarga dan paragubernur Banu ‘Umayyah’ yaitu orang-orang yang disebut oleh para sejarahwan sebagai takbermoral(fujur), pemabuk (shahibu‘l-khumur), tersesat(fasiq), malah terlaknat oleh Rasulsaww (la’in) atau tiada berguna(‘abats). Ia menolak kritik-kritik para sahabat yang terkenal jujur. Malah ia membiarkan pegawainya memukul saksi seperti Abdullah bin Mas’ud, pemegang baitul mal di Kufah sehingga menimbulkan kemarahan Banu Hudzail.

Ia juga membiarkan pemukulan ‘Ammir bin Yasir sehingga mematahkan rusuknya dan menimbulkan kemarahan Banu Makhzum dan Banu Zuhrah. Ia juga menulis surat kepada penguasa di Mesir agar membunuh Muhammad bin Abu Bakar. Meskipun tidak sampai terlaksana, tetapi menimbulkan kemarahan Banu Taim.

Ia membuang Abu Dzarr al-Ghifari –pemrotes ketidakadilan dan penyalahgunaan uang negara- ke Rabdzah dan menimbulkan kemarahan keluarga Ghifari. Para demonstran dating dari segala penjuru, seperti Mesir, Kufah, Bashrah dan bergabung dengan yang di Madinahyang mengepung rumahnya selama 40 hari  [13] yang menuntut agar Utsman memecat Marwan

yang tidak hendak dipenuhi Utsman. Tatkala diingatkan bahwa uang Baitul Mal adalahmilik umat yang harus dikeluarkan berdasarkan hukum syariat seperti sebelumnya oleh ‘AbuBakar dan Umar ia mengatakan bahwa ia harus mempererat silaturahmi dengan keluarganya.Ia mengatakan: “Akulah yang memberi dan akulah yang tidak memberi. Akulah yang membagi  uang sesukaku!”.[14]

Utsman memberikan kebun Fadak kepada Marwan, yang telah diambil oleh Abu Bakar dari Fathimah  SA putrid Rasulullah SAWW.

Dirham adalah standar mata uang perak dan dinar adalah standar mata uang emas. Satudinar berharga sekitar 10-12 dirham. Satu dirham sama harganya dengan emas seberat 55butir gandum sedang. Satu dinar seberat 7 mitsqal. Satu mitsqal sama berat dengan 72 butirgandum. Jadi satu dinar sama berat dengan 7 X 72 butir gandum atau dengan ukuransekarang sama dengan 4 grain. Barang dagangan satu kafilah di zaman Rasul yang terdiridari 1.000 unta, dan dikawal oleh sekitar 70 orang berharga 50.000 dinar yang jadi milikseluruh pedagang Makkah. Seorang budak berharga 400 dirham.

Contoh penerima hadiah dari Utsman adalah Zubair bin ‘Awwam. Ia yang hanya kepercikanuang baitul mal itu, seperti disebut dalam shahih Bukhari, memiliki 11 (sebelas) rumah diMadinah, sebuah rumah di Bashrah, sebuah rumah di Kufah, sebuah di Mesir…Jumlahuangnya, menurut Bukhari adalah 50.100.000 dan di lain tempat 59.900.000 dinar, disamping [15] seribu ekor kuda dan seribu budak.  [16]

Aisyah menuduh Utsman telah kafir dengan panggilan Na’tsal [17] dan memerintahkan agar iadibunuh. Zubair menyuruh serbu dan bunuh Utsman. Thalhah menahan air minum untukUtsman. Akhirnya Utsman dibunuh. Siapa yang menusuk Utsman, tidak pernah diketahuidengan pasti. Siapa mereka yang pertama mengepung rumah Utsman selama empat bulandan berapa jumlah mereka dapat dibaca sekilas dalam catatan berikut. Mu’awiyah mengejarmereka satu demi satu.

—————————————————————————————————-

  1.  Sebagaimana biasa, banyak perdebatan telah terjadi mengenai kata-kata ‘Umar ini. Bukankah ‘Umar mengatakan bahwa Rasul Allah saww rida kepada mereka berenam?.
  2.  Al-Qur’an, al-Ahzab (33), ayat 53.
  3.  Lihat Tafsir al-Qurthubi jilid 14, hlm. 228; Faidh al-Qadir, jilid,4, hlm. 290; Tafsir Ibnu Katsir, jilid 3, hlm.506; Tafsir Baqawi jilid 5, hlm. 225; Ibn Abil Hadid, Syarh Nahju’l-Balaghah, jilid 1, hlm. 185, 186, jilid 12, hlm. 259 dan lain-lain.
  4. Ibn Abil-Hadid, Syarh Nahju’l-Balaghah, jilid 1, hlm. 175.
  5. Ibn Abil-Hadid, Syarh Nahju’I-Balaghah, jilid 12, hlm. 259.
  6. Ibn Abil-Hadid, Syarh Nahju’l-Balaghah, jilid 1, hlm. 186.
  7. Baladzuri, Ansab al-Asyraf, jilid 5, hlm. 16.
  8.  Abu uysuf dalamal-Atsar, hlm. 215.
  9. 9.      Ibnu Sa’d,Thabaqat, jilid 3, hlm. 247; Baladzuri, Ansab al-Asyraf, jilid 5, hlm 16; Mithibbuddin Thabari,Ar-Riydah an-Nadhirah, jilid 2, hlm. 76
  10. Lihat Bab 15, ‘Sikap ‘Ali terhadap Peristiwa Saqifah’ dan Bab 14: ‘Pembaiatan ‘Umar dan’Utsman’.
  11. Yang dibebaskan, baru memeluk Islam setelah penaklukan Makkah.
  12. Ba-ladzuri, Ansab al-Asyraf, jilid 5, hlm. 30.
  13. Menurut Mas’udi, ‘Utsman dikepung selama 49 hari, Thabari 40 hari, dan ada yang mengatakan lebih dari itu. Ia dibunuh malam Jumat 3 hari sebelum berakhir bulan Dzul Hijah, tahun 34 H, 8 Juli 655 M. LihatMurujadz-Dzahab, jilid 1, hlm. 431-432
  14. Dengan lafal yang sedikit berbeda lihatlah Shahih Bukhari, jilid 5, hlm. 17; Sunan Abu Dawud, jilid 2, hlm.25.
  15. Shahih Bukhari, Kitab Jihad, jilid 5, hlm. 21 dll.
  16. Lihat Mas’udi, Muruj adz-Dzahab, jilid 1, hlm. 424.
  17. Nama lelaki asal Mesir dan berjanggut panjang menyerupai ‘Utsman. Dalam al-Lisan al-’Arab Abu Ubaid berkata: ‘Orang mencerca ‘Utsman dengan nama Na’tsal ini’. Ada yang mengatakan Na’tsal ini orang Yahudi

.

Syahidnya Fathimah as.

Fatimah Az Zahra Wafat karena Di Pukul Perutnya Hingga Keguguran Lalu Sakit Parah Hingga Wafat !!!
Ya Nabi SAW Puterimu Di Zalimi !

Umar menendang pintu dan pintu, Fatimah jatuh tertimpa pintu, -tanpa patah tulang- Fatimah mendorong pintu agar menghalangi mereka masuk, Umar menendang pintu hingga terlepas dan mengenai perut Fatimah hingga Muhsin gugur dari perut ibunya. (Multaqal Bahrain hal 81, Al Jannah Al Ashimah hal 251)

Umar menggunakan pedang dan cambuk tanpa menyentuh pintu. Fatimah berteriak Wahai Ayahku, Wahai Rasulullah, lalu Umar mengangkat pedang yang masih di sarungnya dan memukul perut Fatimah, lalu Fatimah berteriak lagi, wahai ayahku, lalu Umar mencambuk tangan Fatimah,  Fatimah memanggil Wahai Rasulullah, betapa buruk penggantimu, Abubakar dan Umar. Ali melompat dan mencengkeram baju Umar dan membantingnya, dan memukul hidung serta lehernya. Ali berniat membunuh Umar tetapi dia teringat wasiat Rasulullah Shallallahu Alaihi wasallam. (Kitab Sulaim bin Qais , jilid 3 hal 538)

Fatimah didorong di pintu, tanpa ditendang, tanpa pedang, cambuk atau paku Al Mas’udi, seorang ahli sejarah mengatakan : Amirul Mu’minin Ali tinggal di rumahnya beserta beberapa pengikutnya, seperti yang dipesankan oleh Rasulullah, lalu mereka menuju rumah Ali dan menyerbunya, membakar pintu rumah dan memaksa orang yang di dalamnya untuk keluar, mereka mendorong Fatimah di pintu hingga janinnya gugur, mereka memaksa Ali untuk berbaiat dan Ali menolak, dan mengatakan : aku tidak mau, mereka mengatakan : kalau begitu kami akan membunuhmu, Ali mengatakan: jika kalian membunuhku maka aku adalah Hamba Allah dan saudara RasulNya. Lihat Itsbatul Washiyyah hal 123.   Umar menyerbu rumah Ali bersama tiga ratus orang. Diriwayatkan mengenai penyebab wafatnya Fatimah : Umar bin Khattab menyerang rumah Ali dan Fatimah bersama tiga ratus orang. (Lihat dalam kitab Al Awalim jilid 2 hal 58)

Umar memukul Fatimah di jalan, bukan di rumah Fatimah berhasil meminta surat dari Abubakar yang berisi pengembalian tanah Fadak pada Fatimah, ketika di jalan Fatimah bertemu Umar dan kemudian Umar bertanya: wahai putri Muhammad, surat apa yang ada di tanganmu? Fatimah menjawab: surat dari Abubakar tentang pengembalian tanah Fadak, Umar berkata lagi : bawa sini surat itu, Fatimah menolak menyerahkan surat itu, lalu Umar menendang Fatimah Amali Mufid hal 38, juga kitab Al Ikhtishash   Fatimah dicambuk. Yang disesalkan adalah mereka memukul Fatimah Alaihassalam, telah diriwayatkan bahwa mereka memukulnya dengan cambuk. (Talkhis Syafi jilid 3 hal 156  )

Punggungnya dicambuk dan dipukul dengan pedang. Lalu Miqdad berdiri dan mengatakan : putri Nabi hampir  meninggal dunia, sedang darah mengalir di punggung dan rusuknya karena kalian mencambuknya dan memukulnya dengan pedang, sedangkan di mata kalian aku lebih hina dibanding Ali dan Fatimah. (Ahwal Saqifah/ Kamil Al Baha’I, Hasan bin Ali bin Muhamamd bin Ali bin Hasan At Thabari yang dikenal dengan nama Imadudin At Thabari, jilid 1 hal 312.)

perbedaan yang banyak di antara sesama empat mazhab membuat anda pasti bingung kan ?

“Bukankah Anda mengetahui bahwa mazhab yang empat (madzâhibul arba’ah) itu saling bertentangan satu sama lainnya dalam banyak masalah, dan dalam hal ini mereka tidak berlandaskan pada dalil yang kuat atau keterangan yang jelas dan nyata bahwa ialah yang benar, bukan yang lainnya? Orang yang terikat dengan salah satu mazhab dari empat mazhab tersebut hanyalah menyebutkan dalil-dalil yang tidak ada penopangnya. Sebab, ia tidak semuanya bersumber pada al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw. Ia seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun.

Misalnya, seandainya Anda tanyakan kepada seseorang yang bennazhab Hanafi, ‘Mengapa engkau memilih mazhab Hanafi, bukan yang lainnya? Dan mengapa engkau memilih Abu Hanifah sebagai imam untuk dirimu setelah seribu tahun dari kematiannya?

Niscaya orang tersebut tidak akan memberikan jawaban yang memuaskan hatimu. Demikian juga jika Anda menanyakan hal yang sama kepada seseorang yang mengikuti mazhab asy-Syafi’i, Maliki, atau Hanbali.

Rahasia di balik itu adalah setiap imam dari empat mazhab tersebut bukanlah seorang nabi atau washiyy (orang yang menerima wasiat untuk meneruskan kepemimpinan nabi). Mereka tidak mendapatkan wahyu ataupun mendapatkan ilham, mereka hanya seperti ulama yang lain, dan orang yang seperti mereka amatlah banyak.

Kemudian mereka bukanlah sahabat Nabi Saw, kebanyakan mereka atau bahkan keseluruhan mereka tidak menjumpai Nabi Saw dan tidak pula menjumpai para sahabat Nabi Saw. Setiap orang dari mereka (imam mazhab yang empat) membuat mazhab untuk dirinya sendiri, ia mengikuti mazhabnya itu dan mempunyai pendapat­-pendapat tersendiri, yang boleh jadi terdapat kesalahan atau kelalaian di dalamnya.

Dan setiap dari mereka mempunyai pendapat yang bermacam-macam, yang satu sama lainnya saling bertentangan. Akal sehat tidak akan dapat menerima hal itu, demikian pula hati yang bersih. Sebab, ia tidak berdasarkan pada dalil yang tegas dan kuat, yaitu al-­Qur’an dan Sunnah Nabi Saw.

Maka, orang yang berpegangan atau mengikuti salah satu dari mazhab yang empat tersebut tidak mempunyai hujjah yang jelas lagi kuat kelak di hadapan Allah pada Hari Perhitungan. Sesungguhnya kepunyaan Allah-lah hujah yang jelas lagi kuat itu. Seandainya Allah menanyakan kepada orang yang mengikuti salah satu dari mazhab yang empat itu pada hari kiamat, dengan dalil apa engkau mengikuti mazhabmu ini? Tentu saja ia tidak mempunyai jawaban kecuali ucapannya, Dan Demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatan pun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: “Sesungguhnya Kami mendapati bapak- bapak Kami menganut suatu agama dan Sesungguhnya Kami adalah pengikut jejak-jejak mereka”. (Qs. Az-Zukhruf [43]:23)

Atau, ia berkata,

Ya Tuhan Kami, Sesungguhnya Kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar Kami, lalu mereka menyesatkan Kami dari jalan (yang benar). (Qs. Al-Azhab [33]:67)

“Adapun kami yang mengikuti wilâyah (kepemimpinan) al-’itrah ath-thâhirah (keturunan yang suci), Ahlulbait Nabi Saw yang telah disucikan Allah sesuci-sucinya dari segala dosa, dan kami beribadah kepada Allah Swt dengan mengikuti fiqih al-Ja’fari, kami akan berkata kelak pada Hari Perhitungan, ketika kami berdiri di hadapan Allah Swt.”

‘Wahai Tuhan kami, sesungguhnya Engkau telah memerintahkan kami dengan hal itu karena sesungguhnya Engkau telah berfirman di dalam Kitab-Mu, Apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Amat keras hukumannya.” (Qs. Al-Hasyr [59]:7)

Dan Nabi-Mu, Muhammad Saw, telah bersabda, sebagaimana yang telah disepakati kaum Muslim, “Sesungguhnya aku telah meninggalkan kepada kalian dua pusaka yang sangar berharga (ats-tsaqalain), yaitu Kitabullâh dan Itrah Ahlulbaitku; selama kalian berpegang teguh kepada keduanya, niscaya kalian tidak akan tersesat selamanya, dan sesungguhnya keduanya tidak akan berpisah sehingga menjumpaiku di Haudh.”

Dan Nabi-Mu juga telah bersabda, “Perumpamaan Ahlu/ Bairku di rengah-rengah kalian seperti bahrera Nuh barang siapa menaikinya, niscaya dia akan selamat; dan barangsiapa yang tertinggal darinya, niscaya dia akan tenggelam dan binasa.”

Dan tidak diragukan lagi bahwa Imam Ja’far ash-Shadiq As adalah dari al-i’trah ath-thâhirah (keturunan yang suci), yaitu Ahlulbait Nabi Saw yang telah disucikan Allah sesuci-sucinya dari segala dosa. llmunya adalah ilmu ayahnya, ilmu ayahnya adalah ilmu kakeknya, yaitu Rasulullah Saw, sedangkan ilmu Rasulullah Saw bersumber dari Allah.

Selain itu, semua kaum Muslim telah sepakat akan kejujuran dan keutamaan Imam Ja’far Ash-Shiidiq As: Sesungguhnya ia (Imam Ja’far Ash-Shiidiq As) adalah seorang washiyy keenam dan Imam Maksum, sesuai keyakinan segolongan besar kaum Muslim, yaitu para pengikut mazhab Ahlubait, mazhab yang hak. Dan sesungguhnya ia adalah hujah Allah atas makhluk-Nya.

Imam Ja’far Ash-Shadiq As meriwayatkan hadis dari ayah  dan datuknya yang suci, dan ia tidak berfatwa dengan pendapatnya sendiri. Hadisnya adalah “hadis ayahku dan datukku”. Sebab, mereka adalah sumber ilmu dan hikmah.

Mazhab Imam Ja’far ash-Shadiq As adalah mazhab ayahnya, dan mazhab kakeknya bersumber dari wahyu, yang tidak akan pernah berpaling sedikit pun darinya. Bukan dari hasil ijtihad, seperti lainnya yang berijtihad.

Oleh karena itu, orang yang mengikuti mazhab Ja’far bin Muhammad ash-Shadiq As dan mazhab kakek-kakeknya, berarti ia telah mengikuti mazhab yang benar dan berpegang teguh pada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Saw.

Setelah aku kemukakan dalil-dalil yang jelas dan kuat, Syaikh al-Azhar tersebut mengucapkan banyak terima kasih kepadaku dan ia pun sangat memuliakan kedudukanku.

Kemudian ia menanyakan tentang pandangan Syi’ah terhadap para sahabat Rasulullah Saw. Lalu, aku jelaskan kepadanya bahwa Syi’ah tidak menecela sahabat Rasulullah Saw secara keseluruhan. Akan tetapi, Syi’ah meletakkan mereka sesuai kedudukan mereka. Sebab, di antara mereka ada yang adil dan ada pula yang tidak adil, di antara mereka ada yang pandai dan ada pula yang bodoh, dan di antara mereka ada yang baik dan ada pula yang jahat.

Bukankah Anda tahu apa yang telah mereka lakukan pada hari Saqifah? Mereka telah meninggalkan jenazah Nabi mereka dalam keadaan terbujur kaku di atas tempat tidumya, mereka berlomba-lomba memperebutkan kekhalifahan. Setiap orang dari mereka beranggapan bahwa ialah yang berhak menjadi khalifah, seakan-akan ia adalah barang dagangan yang dapat diperoleh bagi siapa saja yang lebih dahulu mendapatkannya. Padahal mereka telah mendengar nash-nash yang tegas yang telah disampaikan oleh Nabi Saw tentang kekhalifahan ‘Ali bin Abi Thalib As, baik sejak awal dakwahnya maupun hadis Ghadir Khum yang terkenal itu.

Selain itu, mengurusi jenazah Rasulullah Saw lebih penting daripada urusan kekhalifahan. Bahkan, seandainya saja Rasulullah Saw tidak mewasiatkan seseorang untuk menjadi khalifahnya (Rasulullah Saw. secara tegas telah menunjuk ‘Ali untuk menjadi khalifahnya), maka wajib bagi mereka untuk mengurusi jenazah Rasulullah Saw  terlebih dahulu.

Kemudian setelah selesai mengurusi jenazah Rasulullah Saw, seyogyanya mereka menyatakan belasungkawa kepada keluarga beliau, seandainya saja mereka adalah orang-orang yang adi!.

Akan tetapi, dimanakah keadilan dan perasaan hati mereka, dimanakah keluhuran akhlak, dan dimanakah ketulusan dan kecintaan? Dan yang lebih menyakitkan lagi di dalam hati adalah penyerbuan mereka ke rumah belahan jiwa Rasulullah Saw, Fatimah az-Zahra As, yang dilakukan oleh sekitar lima puluh orang pria.

Mereka telah mengumpulkan kayu bakar untuk membakar rumah Fatimah dan semua orang yang di dalamnya. Sehingga ada seseorang yang berkata kepada ‘Umar, “Sesungguhnya di dalam rumah tersebut terdapat al-Hasan, al-Husain, dan Fatimah.”

Akan tetapi, ‘Umar berkata, “Walaupun (di dalam rumah tersebut ada mereka).”

Peristiwa ini banyak disebutkan oleh sejarawan Ahlus Sunnah,[3] apalagi para sejarawan Syi’ah.

Semua orang tahu, baik orang yang berbakti maupun orang yang jahat, bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Fatimah adalah belahan jiwaku. Barang siapa yang menyakitinya, maka ia telah menyakitiku; barang siapa yang membuatnya murka, maka ia telah membuatku murka; barang siapa yang membuatku murka, maka ia teah membuat Allah murka; dan barang siapa membuat Allah murka, maka Allah akan menyungkurkan kedua lubang hidungnya ke dalam neraka.

Peristiwa-peristiwa yang terjadi pada para sahabat Nabi Saw secara jelas menunjukkan bahwa tidak semua sahabat itu adil. Silakan Anda merujuk ke Shahîh al-Bukhâri dan Shahîh al-Muslim tentang hadis Haudh, niscaya Anda akan mendapatkan kebenaran pendapat Syi’ah tentang penilaian mereka terhadap para sahabat Nabi Saw.

Jika demikian adanya, maka dosa apakah bagi mereka (Syi’ah) jika mereka berpendapat bahwa banyak di antara sahabat Nabi Saw yang tidak adil, sedangkan banyak dari mereka sendiri (para sahabat Nabi Saw.) yang menunjukkan jati diri mereka sendiri.

Perang Jamal dan Perang Shiffin adalah dalil dan bukti yang paling jelas terhadap kebenaran pendapat mereka (Syi’ah). Dan al-Qur’an telah menyingkapkan banyak keburukan perbuatan di antara mereka (para sahabat Nabi Saw).

Bukankah Anda juga tahu apa yang telah dilakukan oleh Mu’awiyah, ‘Amru bin ‘Ash, Marwan bin Hakam, Ziyad dan anaknya, Mughirah bin Syu’bah, ‘Umar bin Sa’ad bin Abi Waqqash, Thalhah dan Zubair, yang keduanya telah memberikan baiat kepada Amirul Mukminin ‘Ali As, tetapi keduanya kemudian melanggar baiatnya dan memerangi Imam mereka (‘Ali bin Abi Thalib As) bersama ‘A’isyah di Basrah, yang sebelumnya mereka telah melakukan kejahatan-kejahatan di kota tersebut (Basrah) yang tidak pantas dilakukan oleh seseorang yang mempunyai jiwa satria.

Selain itu, selama keberadaan Nabi Saw di tengah-tengah mereka (para sahabat beliau), banyak di antara mereka yang melakukan perbuatan nifâk (munafik), apakah kemudian setelah Nabi Saw menemui Tuhannya (wafat), mereka lantas menjadi adil semuanya?

Kita sama sekali tidak pernah mendengar bahwa ada salah seorang nabi di antara nabi-nabi yang diutus kepada umatnya, lalu semua umatnya menjadi adil. Bahkan, yang terjadi adalah sebaliknya. Al-Qur’an dan Sunnah telah menjelaskan kepada kita tentang hal itu.

Sesungguhnya apa yang telah kami persembahkan kepada para pembaca adalah bersumber dari  al-Qur’an dan hadis-hadis Nabi Saw, yang diriwayatkan dalam hadis sahih dalam kitab-kitab sahih Sunni, dan merupakan bukti yang kuat terhadap kekhalifahan Amirul Mukminin ‘Ali bin Abi Thalib sepeninggal Rasulullah Saw secara langsung (belâ fashl), sekiranya orang yang menentang kami berlaku adil.

Perhatikanlah dengan seksama dan sungguh-sungguh terhadap semua yang telah kami sebutkan  yaitu hujjah dan keterangan yang jelas, dengan begitu niscaya akan tersingkap kebenaran yang hakiki bagi Anda dan akan memudahkan jalan bagi siapa saja yang hendak menempuh jalan kebenaran. Yaitu, orang-orang yang mengikhlaskan niatnya dan menjauhkan dirinya dari fanatisme mazhab yang membutakan hati dan pikiran sehat dan membinasakan.

Orang yang bersikeras dalam fanatismenya, tidak akan berguna riwayat, walaupun jumlahnya sangat banyak dan telah dikemukakan baginya seribu dalil.

Adapun orang yang mempunyai pikiran yang jemih dan akal yang cerdas, maka yang telah kami persembahkan, dalil-dalil al-Qur’an dan Sunnah, telah memadai baginya karena dalil-dalil tersebut adalah riwayat-riwayat yang sahih yang telah disepakati kebenarannya, baik di kalangan Sunni maupun Syi’ah.

Selain itu, orang yang bersikeras di dalam kefanatikannya, bahkan seandainya Nabi Saw sendiri yang datang kepadanya dan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya dia tetap akan berada di dalam sikap keras kepalanya. Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh   salah seorang di antara mereka, yang keras kepala, kepada saudaraku “Seandainya Jibril turun, dan ikut bersamanya Muhammad dan ‘Ali, aku tetap tidak akan membenarkan ucapanmu.”

Sesungguhnya manusia itu bermacam-macam. Dan merupakan hal yang sulit mendapatkan kerelaan seluruh manusia, bahkan itu merupakan suatu hal yang mustahil diraih.

Semoga Allah Swt. mencurahkan rahmat-Nya kepada ‘Ali al-Kailani, seorang pujangga berkebangsaan Palestina yang berkata,

Jika Tuhannya makhluk tidak meridhai makhluk-Nya,

Maka bagaimana mungkin makhluk dapat diharapkan keridhaannya.


[1] . Allah membukakan hatinya untuk menerima dan mengikuti mazhab yang benar yaitu mazhab Ahlulbait al-Ja’fari.

[2] . Silahkan Anda rujuk pada bagian ketiga dari buku ini.

[3] .  Lihat al-Imâmah was Siyâsah. Ar-Riyadhun Nadhrah, Murujudz Dzahab, Ansâbul Asyrâf, al-Imâm ‘Ali, karya ‘Abdul Fattah ‘Abdul Maqshud, Syarh Nahjul Balâghah, karya Ibn Abil Hadid, dan kitab-­kitab lainnya yang ditulis oleh para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah. Anda akan mendapatkan bahwa mereka menyebutkan peristiwa yang menyedihkan dan memilukan hati ini. Adapun Syi’ah, para sejarawan mereka telah menyebutkan peristiwa yang menyakitkan hati ini berikut nama-nama mereka yang melakukan tindakan kejahatan ini. Mereka menyatakan bahwa perirstiwa penyerbuan ke rumah Fatimah As tersebut dipimpin oleh ‘Umar “seorang pahlawan yang gagah berani” tetapi gagah berani bukan di medan perang.

Golongan Islam yang Selamat hanyalah Syi’ah Imamiyah Ushuliyah

sebab-sebab yang mendorongku mengikuti mazhab Syi’ah, ‘yang paling utama; adalah masalah khilafah (kekhalifahan), yang merupakan sebab yang paling besar dan menyebabkan terjadinya perselisihan di antara sesama kaum Muslim.”

Sebab, sangatlah tidak masuk akal jika Rasulullah Saw meninggalkan umatnya tanpa menunjuk seorang penggantinya, yang memerintah dengan melaksanakan syariat Allah, sebagaimana para rasul yang lain yang menunjuk seorang washiy (yang menerima wasiat untuk meneruskan kepemimpinannya, yakni menjadi khalifahnya sepeninggalnya).

Menurutku, telah terbukti secara meyakinkan bahwa kebenaran ada bersama Syi’ah. Sebab, keyakinan mereka menegaskan bahwa Nabi Saw, telah berwasiat kepada ‘Ali untuk menjadi khalifahnya sepeninggalnya (sebelum wafatnya  bahkan sejak awal dakwah beliau), dan setelahnya adalah anak keturunannya, yaitu sebelas imam. Mereka (Syi’ah) ,mengambil hukum-hukum agama, mereka dari dua belas Imam Ahlulbait, yaitu para Imam Maksum (terpelihara dari dosa dan kesalahan) di dalam akidah mereka dengan dalil-dalil yang kuat.

Lantaran sebab itulah dan sebab-sebab yang lainnya,’ aku mengikuti mazhab yang mulia ini, mazhab Ahlulbait. Selain itu, aku tidak menemukan satu pun dalil yang mewajibkan kita mengikuti salah satu dari mazhab yang empat. Sebaliknya, aku mendapatkan dalil-dalil yang sangat banyak yang mewajibkan kita mengikuti mazhab Ahlulbait yang menuntun setiap Muslim ke jalan yang lurus.”

Rasulullah Saw adalah orang yang sangat penyayang dan pengasih terhadap umatnya. Oleh karena itu, mustahil beliau membiarkan umatnya atau tidak memberitahukan kepada mereka hal yang sangat penting, yaitu golongan yang selamat (firqa an-najiyah).

Aku katakan, sesungguhnya golongan yang selamat adalah mereka yang berpegang teguh pada ketaatan kepada Allah, Rasul-Nya, dan para Imam Ahlulbait beliau yang telah disucikan sesuci-sucinya oleh Allah dari segala dosa dan kesalahan, serta berlepas diri dari musuh-musuh mereka. Hal ini merupakan pengamalan sabda Rasulullah Saw dalam sebuah hadis yang telah disepakati kesahihannya, baik oleh Ahlus Sunnah maupun Syi’ah, yaitu sabda beliau, “Barang siapa yang menjadikan aku sebagai maula-nya (pemimpinnya), maka ini ‘Ali adalah maula-nya (pemimpinnya) juga. Ya Allah,  cintailah orang yang mencintainya. musuhilah orang yang memusuhinya, tolonglah orang yang menolongnya, dan telantarkanlah orang yang menelantarkannya.”

Adapun riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi Saw ketika ditanya tentang golongan yang selamat, siapakah golongan itu? Lalu ia bersabda, “Mereka (golongan yang selamat) adalah golongan yang mengikutiku dan para sahabatku, ” riwayat ini tidak sahih. Sebab, para sahabat Nabi Saw tidak semuanya mengikuti Nabi Saw karena terbukti sebagian di antara mereka melakukan hal-hal yang tercela dan tidak diridhai oleh Allah dan Rasul-Nya.

Misalnya, Marwan al-Hakam, ia adalah ath-Tharid (orang yang telah diusir oleh Nabi Saw dari Madinah) bin ath-Tharid dan al-Mal’un (terkutuk) bin al-Ma’un; Mu’awiyah, ‘Amru bin’ Ash, ia adalah orang yang terkenal dengan kelicikan dan penipuannya; al-Mughlrah bin Syu’bah; dan masih banyak lagi yang lainnya.

Allah Swt berfirman,

“Di antara orang-orang Arab Badui yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik; dan (juga) di antara penduduk Madinah. mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. Engkau (Muhammad) tidak mengetahui mereka, (tetapi) kamilah yang mengetahui mereka. nanti mereka akan Kami siksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar.” (Qs. at-Taubah [9]:101)

Sekiranya riwayat yang menyebutkan, “Mereka (golongan yang selamat) adalah golongan yang mengikutiku dan para sahabatku,” adalah riwayat sahih, betapapun menurutku riwayat ini tidak sahih, maka mereka yang dimaksud adalah Ahlulbait Nabi Saw, mereka inilah yang telahd dijadikan  oleh Allah dan Rasul-Nya sebagai panutan bagi orang-orang yang berpikir. Rasulullah Saw telah memerintahkan umatnya agar berpegang teguh kepada Ahlulbaitnya dan melarang mereka untuk berpaling dari Ahlulbaitnya, sebagaimana ditegaskan dalam banyak sabda Nabi Saw.

Adapun pendapat yang berkata bahwa umat Nabi Saw seluruhnya selamat, maka ini bertentangan dengan sabda beliau yang telah disepakati kesahihannya, demikian juga pendapat yang menyatakan bahwa umat beliau seluruhnya binasa.

Dengan demikian, golongan yang selamat hanyalah satu, sebagaimana menurut sabda Nabi Saw. Golongan ini (yang selamat) haruslah berbeda dengan golongan-golongan lainnya.

Syi’ah berbeda dengan golongan-golongan lainnya dalam banyak perkara yang khusus ada pada mereka. Misalnya, pendapat mereka (Syi’ah) tentang kemaksuman para imam dan dikhususkannya kekhalifahan bagi para Imam Ahlulbait dengan dalil-dalil yang mematahkan segala hujah para penentang mereka.

Oleh karena itu, jabatan khalifah tidak sah untuk selain para Imam Ahlulbait As, dan tidaklah sempurna peraturan umat yang dipimpin oleh seorang khalifah yang di luar mereka (para imam Ahlulbait).

Seandainya para sahabat Rasulullah Saw mengikuti ajaran­ajaran Nabi mereka, niscaya tidak akan terjadi pertentangan dan peperangan di antara sesama mereka. Akan tetapi, sayangnya banyak dari mereka yang keluar dari ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, maka terjadilah apa yang telah terjadi pada mereka (yaitu pertikaian dan peperangan).

Maka, cukuplah Allah sebagai Pelindung kami dan Dia adalah sebaik-baiknya Pelindung, dan tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Mahatinggi lagi Mahaagung.

Sesungguhnya dalil-dalil dan nasihat yang telah kami sampaikan telah cukup bagi orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedangkan dia menyaksikannya.

Sebagai akhir kalam dari bagian ini, sekali lagi kami sampaikan bahwa Syi’ah adalah kelompok Mukminin, yang berpegang teguh pada setiap yang berasal atau bersumber dari Rasulullah Saw dan dari Tuhannya. Syi’ah adalah golongan yang selamat, yang berpijak di atas jalan kebenaran serta benar dalam setiap keyakinannya.

Akan tetapi, orang-orang yang jahat mengalamatkan bennacam-macam tuduhan dusta dan keji terhadap Syi’ah, sedangkan ia berlepas diri (bersih) dari segala macam tuduhan dusta dan keji tersebut.

Silakan Anda merujuk kepada kitab-kitab karangan para ulama mereka dengan tulus, niscaya Anda akan mengetahui kebenaran ucapan kami.

Kalimat “Syi’ah” itu sendiri merupakan kemuliaan yang agung karena Al-Quran telah menyebutkannya dalam bentuk pujian. Allah Swt. berfirman,

Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah, Maka didapatinya di dalam kota itu dua orang laki-laki yang berkelahi; yang seorang dari golongannya (Bani Israil) dan seorang (lagi) dari musuhnya (kaum Fir’aun). Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu. Musa berkata: “Ini adalah perbuatan syaitan, Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata (permusuhannya).(Qs. al-Qashash [28]:15)

Dan firman-Nya,

Dan Sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongannya (syiah).” (Qs. ash-Shaffat [37]:83)

Artinya Ibrahim As adalah termasuk Syi’ah (golongan) Nuh As.

Telah beberapa kali Anda membaca dalam buku ini sabda Rasulullah Saw. kepada ‘Ali As, “Engkau dan Syi ‘ahmu adalah orang­-orang yang beruntung kelak pada hari kiamat.

Dengan demikian, Syi’ah mereka adalah pengikut  agama Allah dan pengikut para nabi dan aushiya’ (orang-orang yang telah mendapat wasiat dari Nabi Saw untuk meneruskan kepemimpinan Nabi Saw sepeninggalnya, yaitu para Imam Ahlulbait Nabi Saw). Dan segala puji bagi Allah Swt.

Orang yang pertama memberikan nama Syi’ah kepada para pengikut Amirul Mukminin ‘Ali As adalah Rasulullah Saw dan ia pula sebagai peletak dasar batu fondasinya serta penanam benihnya, sedangkan orang yang mengukuhkannya adalah Amirul Mukminin ‘Ali bin Abi Thalib As. Semenjak saat itu, para pengikut ‘Ali dikenal sebagai Syi’ah ‘Ali bin Abi Thalib.

Ibn Khaldun berkata di dalam Muqaddimah-nya, “Ketahuilah! Sesungguhnya Syi’ah secara bahasa artinya adalah sahabat dan pengikut. Dan di dalam istilah para fuqaha dan ahli kalam, dari kalangan salaf dan khalaf, sebutan Syi’ah ditujukan kepada para pengikut ‘Ali dan anak keturunannya.”[1]

Dan di dalam Khuthathu Syâm, karya Muhammad Kurd ‘Ali, cukuplah sebagai hujjah tentang penamaan istilah Syi’ah. Ia secara tegas berkata bahwa Syi’ah adalah sekelompok dari golongan sahabat Rasulullah Saw yang dikenal sebagai Syi’ah ‘Ali. Muhammad Kurd’ Ali berkata, “Adapun sebagian penulis yang berpandangan bahwa mazhab Tasyayyu’ (Syi’ah) adalah ciptaan ‘Abdullah bin Saba’, yang dikenal dengan Ibn As-Sauda’, maka itu merupakan khayalan belaka dan sedikitnya pengetahuan mereka tentang mazhab Syi’ah.”[2]

Inilah kesaksian Muhammad Kurd’ Ali, padahal ia dikenal bukan sebagai seorang Syi’ ah, bahkan termasuk orang yang mendiskreditkan Syi’ah.

Sesungguhnya hadis-hadis Nabi Saw. menguatkan apa yang telah kami sebutkan, baik yang diriwayatkan melalui jalur ulama-ulama kenamaan Ahlus Sunnah apalagi yang diriwayatkan melalui jalur Syi’ah. Hadis-hadis yang ada mencapai batas mutawatir.

Berikut ini kami sampaikan beberapa hadis tersebut yang diriwayatkan melalui jalur riwayat Ahlus Sunnah, sebagai penjelasan dan penyempurnaan di dalam hujjah kami.

Ibn Hajar al-Haitsami meriwayatkan di dalam kitabnya ash­Shawâ’iqul Muhriqah dari Ibn ‘Abbas sesungguhnya ia berkata, ketika Allah Ta’ala menurunkan ayat, Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah Sebaik-baik makhluk.” (Qs. al-Bayyinah [98]:7)

Rasulullah Saw bersabda kepada ‘Ali, “Mereka itu adalah engkau dan Syi ‘ahmu. Engkau dan Syi’ahmu akan datang pada hari Kiamat dalam keadaan ridha kepada Allah dan Allah pun ridha kepada mereka. Adapun musuhmu akan datang pada hari kiamat dalam keadaan dimurkai (oleh Allah) dan tertengadah (tangan mereka diangkat ke dagu).”[3]

‘Ali berkata, ‘Siapakah musuhku?’

Rasulullah Saw. bersabda, “Yaitu orang yang berlepas diri darimu dan melaknatmu.”[4]

Al-Hakim meriwayatkan di dalam kitabnya dengan sanadnya dari ‘Ali bahwa ia berkata; “Rasulullah Saw. bersabda kepadaku, “Wahai ‘Ali, bukankah engkau mendengar firman Allah Swt,Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah Sebaik-baik makhluk.” (Qs. al-Bayyinah [98]:7)

Mereka itu adalah Syi’ahmu.[5]

Al-Hamuyini asy-Syafi’i meriwayatkan dalam “Farâ’idus Simthain” dengan sanadnya dari Jabir, ia berkata, “Kami pemah berkumpul di rumah Nabi Saw, lalu ‘Ali datang, kemudian ia bersabda, “Telah datang kepada kalian saudaraku.” kemudian ia bersabda, “Demi jiwaku yang berada dalam genggaman-Nya, sesungguhnya orang ini (‘Ali) dan Syi’ahnya adalah orang-orang yang beruntung kelak pada hari kiamat. Sesungguhnya ia (‘Ali) adalah orang yang pertama kali di antara kalian yang beriman kepadaku, orang yang paling menepati janjinya dengan Allah. orang yang paling lurus dalam melaksanakan perintah Allah, orang yang paling berlaku adil di dalam memperlakukan rakyatnya, orang yang paling adil di dalam pembagian, dan orang yang paling agung di antara kalian di sisi Allah di dalam hal kemuliaan.”[6]

Kemudian Jabir berkata, “Dan ayat ini diturunkan berkenaan dengannya (yakni dengan ‘Ali), Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.” (Qs. al-Bayyinah [98]:7)

Dahulu, kata Jiibir lebih lanjut, para sahabat Muhammad Saw jika ‘Ali datang, maka mereka biasa mengucapkan, “Telah datang sebaik-baik makhluk.”

Hadis semisal ini juga diriwayatkan oleh al-Khawarizimi al­Hanafi di dalam Manâqib-nya dari Jabir Ra dari Rasulullah Saw.

Al-Khawarizmi juga meriwayatkan dalam Manâqib-nya dari al-Manshur ad-Dawaniqi dalam sebuah hadis yang panjang, di antaranya ia bersabda, “Dan sesungguhnya ‘Ali dan Syi’ahnya kelak pada hari kiamat adalah orang-orang yang beruntung dengan masuk ke dalam surga.

Ia juga meriwayatkan di dalam kitabnya sarna dari Nabi Saw bahwa ia bersabda, “Wahai ‘Ali, sesungguhnya Allah telah mengampunimu, keluargamu. Syi’ahmu, dan para pecinta Syi’ahmu.

Ia juga meriwayatkan dalam kitabnya yang sama dari Nabi Saw bahwa ia bersabda tentang keutamaan ‘Ali,

“Sesungguhnya ia (‘Ali) adalah orang yang paling pandai di antara manusia, orang yang paling dahulu masuk Islam. dan sesungguhnya ia dan Syi’ahnya adalah orang-orang yang beruntung besok pada hari kiamat.”

Ia juga meriwayatkan di dalam Manâqib-nya,[7] ia berkata, ‘an-Nashir lil Haqq meriwayatkan dalam sebuah hadis bahwa ketika ‘Ali maju menghadap Rasulullah Saw untuk menaklukkan benteng Khaibar, Rasulullah Saw bersabda kepadanya, “Sekiranya aku tidak khawatir sekelompok orang dari umatku akan berkata tentang dirimu, sebagaimana orang-orang Nasrani telah berkata sesuatu tentang al-Masih (‘Isa As), niscaya akan aku katakan tentang dirimu pada hari ini suatu perkataan, yang apabila engkau melewati orang banyak tentu mereka akan mengambi tanah bekas telapak kakimu dan dari bekas air wudhumu untuk mereka jadikan sebagai obat (mengambi/ keberkahan darinya).

Akan tetapi, cukup bagimu bahwa kedudukanmu di sisiku, seperti kedudukan Harun di sisi Musa hanya saja tidak ada nabi sesudahku. Sesungguhnya engkau membayarkan utangku dan engkau berperang di atas Sunnahku. Sesungguhnya engkau kelak di akhirat adalah orang yang paling dekat denganku, sesungguhnya engkau orang pertama yang menjumpaiku di Haudh dan orang pertama yang diberi pakaian bersamaku serta orang pertama yang masuk surga bersamaku dari kalangan umatku. Sesungguhnya Syi’ahmu berada di atas mimbar-­mimbar yang terbuat dari cahaya. Dan sesungguhnya kebenaran senantiasa berada di lisanmu, hatimu, dan di hadapanmu.

Aku katakan, hadis semacam ini juga diriwayatkan di dalarn kitab Kifâyatuth Thâlib, karya al-Kanji asy-Syafi’i, Târikh Baghdâd, karya al-Khathib al-Baghdadi “Majmâ’uz Zawâ’id, dan kitab-kitab lainnya yang dikarang oleh ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Al-Khawarizimi juga meriwayatkan di dalam Manâqib-nya dalam sebuah hadis yang panjang dengan sanadnya dari Ibn ‘Abbas bahwa Jibril telah mengabarkan kepada Nabi Saw bahwa ‘Ali dan Syi’ahnya akan dibawa ke dalam surga berombongan bersama Muhammad Saw.”

Al-Qunduzi al-Hanafi meriwayatkan di dalam kitabnya Yanâbi’ul Mawaddah[8] dari kitab Mawaddatul Qurbâ, karya al­-Hamdani asy-Syafi’i, dari Abu Dzar dari Nabi Saw sesungguhnya ia bersabda:

“Sesungguhnya Allah memandang bumi dari ‘Arsy­-Nya, lalu Dia memilihku dan memilih ‘Ali sebagai menantuku dengan menikahkannya dengan Fatimah al-’Adzra al-Batul, dan Dia tidak memberikan hal itu kepada seorang pun dari nabi-nabi-Nya; Dia mengaruniakan kepadanya al-Hasan dan al-Husain dan tidak mengaruniai seorang pun yang seperti mereka berdua,” hingga pada sabdanya, “Dia memasukkan Syi’ahnya ke dalam surga; dan Dia menjadikan aku sebagai saudaranya, dan tidak ada seorang pun yang bersaudarakan sepertiku. “

Kemudian Nabi Saw bersabda, “Ayyuhannas, barang siapa ingin memadamkan kemurkaan Tuhan dan ingin amalnya diterima oleh Allah, maka hendaklah ia mencintai ‘Ali bin Abi Thalib. Sebab, sesungguhnya mencintai ‘Ali bin Abi Thalib itu menambah keimanan, dan sesungguhnya mencintainya dapat meleburkan dosa­-dosa sebagaimana api meleburkan timah.”

Al-Qunduzi al-Hanafi juga meriwayatkan di dalam kitabnya Yanâbi’ul Mawaddah, dalam bab yang sama dan juga dari kitab yang sama dari Anas dari Nabi Saw bahwa ia bersabda, “Jibril telah menceritakan kepadaku, ia berkata. ‘Sesungguhnya Allah mencintai ‘Ali lebih daripada kecintaan-Nya kepada malaikat. Dan. tidak ada satu tasbih pun yang ditujukan kepada Allah kecuali Allah menciptakan darinya seorang malaikat yang memohonkan ampun kepada pecinta ‘Ali dan Syi’ahnya sampai hari kiamat,

Al-Qunduzi al-Hanafi juga meriwayatkan dalam kitabnya yang sama, dalam bab yang sama dari kitab al-Firdaus dari Ummu Salamah dari Nabi Saw bahwa ia bersabda, “Ali dan Syi’ahnya mereka adalah orang-orang yang beruntung pada hari kiamat.

Ibn al-Maghazali asy-Syafi’i meriwayatkan di dalam Manâqib­nya dengan sanadnya dari ‘Ali, dari Nabi Saw bahwa ia bersabda, “Tujuh puluh ribu orang dari umatku akan masuk ke dalam surga tanpa dihisab,” kemudian ia menoleh kepada ‘Ali seraya bersabda, “Mereka adalah Syi’ahmu dan engkau adalah imam mereka. “

Al-Khawarizimi juga meriwayatkan hadis tersebut dalam Manâqib-nya, tetapi terdapat sedikit perbedaan dalam teks hadis tersebut, “Kemudian ‘Ali As bertanya, “Siapakah mereka itu wahai Rasulullah?” Rasulullah Saw menjawab, ‘Mereka adalah Syi ‘ahmu dan engkau adalah imam mereka.”

Al-Kanji asy-Syafi’i meriwayatkan dalam kitabnya Kifâyatu ath-Thâlib” dari Jabir bin’ Abdillah, ia berkata, “Kami pemah berkumpul bersama Nabi Saw, tiba-tiba ‘Ali bin Abi Thalib datang, lalu ia bersabda, ‘Telah datang kepada kalian saudaraku,’ kemudian beliau bersabda, ‘Demi jiwaku yang berada di dalam genggaman-Nya,’ sesungguhnya orang ini (‘Ali) dan Syi ‘ahnya adalah orang-orang yang beruntung kelak pada hari kiamat. Sesungguhnya dia (‘Ali) adalah yang’ pertama kali di antara kalian yang beriman kepadaku, orang yang paling menepati janjinya dengan Allah, orang yang paling lurus dalam melaksanakan perintah Allah, orang yang paling berlaku adil di dalam memperlakukan rakyatnya. orang yang paling adif di dalam pembagian, dan orang yang paling agung di an/ara kalian di sisi Allah di dalam hal kemuliaan.

Kemudian Jabir berkata, “Dan ayat ini diturunkan berkenaan dengannya (‘Ali), Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.” (Qs. al-Bayyinah [98]:7)

Dahulu, tutur Jabir lebih jauh, “Jika ‘Ali datang pada suatu tempat dan di tempat itu berkumpul para sahabat Muhammad Saw jika ‘Ali datang, maka mereka biasa mengucapkan, “Telah datang sebaik-baik makhluk.”

Al-Kanji asy-Syafi’i berkata, “Demikianlah yang diriwayatkan oleh perawi hadis Syam, lbn ‘Asakir, dalam kitabnya yang dikenal dengan Târikh Ibn ‘Asakir, dengan jalur riwayat yang berbeda-beda.

Hadis ini juga diriwayatkan oleh al-Hamuyini asy-Syafi’i dalam kitabnya Farâ’idus Simthain, jilid pertama, bab ke-31; Al­Khawarizimi al-Hanafi dalam Manâqib-nya; dan selain keduanya dari kalangan tokoh-tokoh ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Ibnus Shabiigh al-Maliki meriwayatkan dalam al-Fushûlul Muhimmah” dan asy-Syablanji asy-Syiifi’i di dalam Nurul Abshar’ dari lbnu ‘Abbas, ia berkata, “Ketika ayat ini turun, Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.” (Qs. al-Bayyinah [98]:7) Nabi Saw bersabda kepada ‘Ali, Engkau dan Syi’ahmu akan datang pada hari kiamat dalam keadaan ridha kepada Allah dan Allah pun ridha kepada mereka, sedangkan musuh-musuhmu datang dalam keadaan dimurkai dan tertengadah (tangan mereka diangkat ke dagu).”[9]

Ummu Salamah berkata, “Rasulullah Saw bersabda, “Ali dan Syi ‘ahnya adalah orang-orang yang beruntung pada hari kiamat.”

Hadis ini diriwayatkan oleh dari Kunuzûl Haqâiq, karya al-Manawi, dan dari Tadzkiratul Khawwâsh, karangan Sibth Ibn al-Jauzi, dengan sedikit perbedaan dalam teks hadisnya.

Ibnu al-Maghazali asy-Syafi’i meriwayatkan dalam Manâqib-nya dari Ibn ‘Abbas, ia berkata, “Aku pemah bertanya kepada Rasulullah Saw tentang firman Allah Swt, Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.” (Qs. al-Bayyinah [98]:7)

Kemudian, ia bersabda, “Jibril telah berkata kepadaku bahwa mereka itu adalah ‘Ali dan Syi’ahnya. Mereka adalah orang-­orang yang paling dahulu memasuki surga, yang didekatkan kepada Allah karena kemuliaannya.”

Al-Khathib juga meriwayatkan hadis tersebut dalam Târikh­nya dan Ibn Mardawaih di dalam al-Manâqib.

Ibn Hajar meriwayatkan dalam Ash-Shawâ’iqul Muhriqah, ia berkata, “Ahmad meriwayatkan di dalam al-Manâqib, halaman 159, bahwa Nabi Saw bersabda kepada ‘Ali, ‘Wahai ‘Ali, apakah engkau tidak ridha bahwa engkau bersamaku di dalam surga, sedangkan al-Hasan, al-Husain, dan kelurunan kita berada di belakang punggung kita, istri-istri kita berada di belakang keturunan kita, dan Syi’ah kita berada di sebelah kanan dan kiri kita,”

Kemudian ia meriwayatkan hadis yang lain dari ad-Dailami bahwa Nabi Saw bersabda kepada ‘Ali, “Wahai ‘Ali, sesungguhnya Allah telah mengampunimu, keturunanmu, keluargamu, dan Syi’ahmu.”

Ibnu Hajar juga meriwayatkan dalam Shawâ’iq-nya, ia berkata, “Ath-Thabrani meriwayatkan bahwa Nabi Saw bersabda kepada ‘Ali, “Orang yang mula-mula masuk surga adalah empat orang, yaitu: Aku, engkau, al-Hasan, dan al-Husain, sedangkan keturunan kita berada di belakang punggung kita, istri-istri kita berada di belakang keturunan kita, dan Syi ‘ah kita berada di sebelah kanan dan kiri kita.

Masih banyak lagi hadis-hadis Nabi Saw yang diriwayatkan oleh para ulama terkemuka Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam buku­buku karangan mereka dan musnad-musnad serta kitab-kitab sahih mereka, yang berisikan pujian terhadap Syi’ah ‘Ali dan Ahlulbaitnya yang telah disucikan oleh Allah dari segala dosa dan kesalahan, yang jumlahnya sangat banyak, bahkan tidak dapat dihitung.

Hujjatul Islam wal Muslimin al-’Allamah as-Sayyid al­’Abbas al-Kasyani telah menghimpun dalam sebuah naskah (yang masih berbentuk manuskrip) sejumlah hadis Nabi Saw, yang diriwayatkan dari Rasulullah Saw yang berisikan pujian terhadap Syi’ah. Hadis-hadis yang ia himpun dalam naskah tersebut  mencapai seratus hadis, yang semuanya diriwayatkan melalui jalur riwayat Ahlus Sunnah wal Jamaah. Aku telah melihat naskah tersebut pada perpustakaannya di Kota Suci Karbala, yaitu pada ketika aku mengunjungi tanah suci tersebut pada tahun 1370 Hijriah. Aku kira naskah tersebut masih dalam bentuk manuskrip (tulisan tangan) bersama naskah-naskah yang lain yang jumlahnya sangat banyak.

Aku memohon kepada Allah Yang Mahakuasa untuk memberikan taufik kepada Maulana al-Hujjah as-Sayyid al-Kasyani dan seluruh ulama kita yang mulia dan berbakti, semoga mereka dapat mencetak dan menerbitkan kitab-kitab karangan mereka agar dengan kehadirannya dapat memberikan manfaat kepada umat Islam. Sesungguhnya Dia Mahadekat lagi Maha Mengabulkan doa hamba­hamba-Nya.[]


[1] . Lihat, Ibnu Khaldun, Muqaddimah, hal. 130.

[2] . Lihat, Khuthathu Syâm, jilid 5, hal. 156.

[3] . Lihat, Ibn Hajar al-Haitsami, ash-­Shawâ’iqul Muhriqah, hal. 128.

[4] . Aku katakan. segala puji bagi Allah yang telah menjadikan Ibn !::!ajar mengucapkan kata-kata yang benar. Sebab, kebenaran itu memang tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi daripadanya. Oi dalam hat ini. hendaklah kita menanyakan kepada orang nawashib dan pendusta ini (Ibn tlajar) tentang orang yang bel1epas diri dari ‘ali a.s. dan melaknatnya, apakah dia buka tuannya, yailu Mu’awfyah Ath- Thagh;yah (orang yang zalim) dan yang mengikuti jalannya? Mu’awiyah adalah orang yang membuat ketetapan yang buruk, yaitu pelaknatan terhadap pemuka para washiyy (Amirul Mukminin ‘Ali bin Abi Thalib a.s.) di alas tujuh puluh ribu mimbar, sebagaimana yang dlrlwayatkan oleh para sejarawan.

[5] . Lihat, al-Hakim, Syawâhidut Tanzil.

[6] . Lihat,  Farii’idus Simthain, jilid 1, bab ke- 31.

[7] . Lihat, Manâqib, hal. 118.

[8] . Lihat, Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanâbi’ul Mawaddah  bab 56.

[9] . Lihat, asy-Syablanji asy-Syiifi’i, Nurul Abshâr’, hal. 102.

Mungkinkah di Masa Depan, Syi’ah Menggeser Dominasi Sunni?

Berdiri Sekolah Tinggi Filsafat Islam Pertama”Berbau” Syiah

Namanya merujuk Mulla Sadra, filsuf mazhab Syiah Imamiyah

Jum’at, 13 Juli 2012

Mengaku sempat terseok-seok selama dua tahun akibat kendala perizinan, akhirnya Sekolah Tinggi Filsafat Islam (STIF) Sadra resmi berdiri tahun ini

.
Lembaga yang berdiri di bawah naungan Yayasan Hikmat Al Mustafa Jakarta ini diresmikan oleh Prof. M. Zein, selaku pewakilan Direktorat Pendidikan Tinggi Islam Kemenag.

Dalam pernyataannya, M. Zein sempat memberikan apresiasi terhadap sekolah filsafat ini. Ia bahka berharap STFI Sadra dapat menjadi kebanggaan umat Islam dalam mempelajari filsafat, al-Qur’an dan Hadits.

“Rasulullah bersabda ambillah hikmah dar imanapun asalnya,” ujarnya saat launching di Gedung Sucofindo, Jakarta Selatan, Kamis, (12/07/2012) kemarin.

Acara dihadiri oleh Wakil Menteri Agama, Prof Dr Nasarudin Umar dan Perwakilan Direktorat Pendidikan Tinggi Islam Prof M. Zein. Juga dihadiri Dewan Penyantun STFI Sadra, Prof. Umar Shihab, Ketua STFI Sadra Umar Shahab dan Direktur Mizan Dr Haidar Bagir,  dan sejumlah pembicara beserta undangan.

Sementara itu Profesor Ahmad Fazeli, Ketua Yayasan Hikmat Al Mustafa turut berterimakasih kepada Kementerian Agama (Kemenag) yang mengeluarkan izin sekolah filsafat ini. Ia berharap smoga STFI Sadra memberikan sumbangan pemikir bagi perkembangan negeri ini.

Beberapa dosen di Sekolah ini di antaranya Prof. Dr. Mulyadhi Kartanegara, Prof Dr. Abdul Hadi MM, Dr. Haidar Bagir (Mizan), Dr Umar Shahab, Dr. Muhsin Labib, Dr. Zainal Abidin Bagir (Center for Religious and Cross-Cultural Studies/CRCS), Dr Donny Gahral Adaian, Prof. Dr Rosikhon Anwar (Guru Besar Ilmu Al-Quran UIN Sunan Gunung Djati Bandung) juga Dr. Khalid Walid, alumnus dari Hawzah Ilmiah Qom, Iran.

Ahmad Jubaili, Ketua Tim Perumus Kurikulum dikutip radio Iran, IRIB, mengatakan, kuliah yang disusun dirancang secara integral, saling terkait. Kampus ini menurutnya merupakan tempat kajian ilmiah yang merujuk pada Filsafat Mulla Sadra yang mampu menggabungkan seluruh pendekatan keilmuan, terutama teologi, filsafat dan Tasawuf.

Mulla Shadra mempunyai nama lengkap Shadr al Din Muhammad Ibn Ibrahim Ibn Yahya Qawami al Syiraz, seorang filsuf terbesar mazhab Syiah Imamiyah.

Sekolah ini dikembangkan dengan model boarding (berasrama) yang direncanakan menampung setiap tahun 80 mahasiwa laki-laki dan perempuan yang direkruit secara ketat dari sekolah terbaik (SMA, Pesatren) di seluruh Indonesia. Mahasiswa yang lulus seleksi di beri beasiswa secara penuh selama  7 tahun.

Sementara itu, Fahmi Salim, MA, Wakil Sekjen Majelis (Waskjen) Intelektual dan Ulama Muda Indonesia, serta Komisi Pengkajian di MUI Pusat mengatakan, dari bentuknya, lembaga ini dinilai dekat dengan Syiah.

“Karena selama ini, gerakan Syiah masuk melalui filsafat,” ujarnya kepada hidayatullah.com, Jumat (13/07/2012) siang.*

Mungkinkah di Masa Depan, Syiah-Iran Menggeser Dominasi Sunni?

IRAN saat ini menjelma menjadi Kekuatan Baru di Pentas politik Dunia. Menurut dosen Politik Islam UIN Malang, Basri Zain, PhD, sebagai kekuatan baru, Iran ditopang 3 faktor pendukung, yakni: minyak, teknologi nuklir dan ideologi syiah. Dalam satu dekade belakangan ini khususnya di era kepemimpinan Ahmadinejad, Iran yang mayoritas bercorak Syiah secara mengejutkan berani mengambil sikap kritis terhadap barat khususnya Amerika dan sekutunya Israel. Hubungan Iran dengan Barat sering tegang terutama berkaitan soal nuklir, selat Hormuz, Palestina dan Israel.
http://syiahali.files.wordpress.com/2012/07/41.jpg?w=300

Ahmadinejad pernah menyerukan dunia tanpa zionis. Ketika gempa melanda Haiti, ia menuding Amerika menggunakan senjata tektonik HAARP-nya untuk menghancurkan negara itu. Iran melalui Ahmadinejad juga menuding Amerika merekayasa gejolak di Timur tengah. Kemudian Ahmadinejad pernah menuding Amerika telah membunuh bonekanya sendiri yaitu Osama yang ditengarai sebagai agen CIA

.

Iran, lain dengan negara tetangganya di Timur tengah yang mayoritas sunni tetapi pemimpinnya cenderung satu suara dengan Amerika dan sekutunya. Para pemimpin negeri-negeri Arab ini tiba-tiba menjadi lemah ketika berhadapan dengan isu Palestina dan program nuklir Iran. Mereka lemah apabila ditekan oleh Washington, maklum saja sebagian pemimpin Arab seperti Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat, Mesir, dan Kuwait tidak lebih merupakan boneka Amerika yang melayani kepentingan tuannya dan apabila sudah tidak berguna bisa dilengserkan dengan revolusi rakyat, sanksi ekonomi, pembunuhan dengan melibatkan intelijen dan serangan militer ala NATO.

Terkait dengan topik tulisan ini, mungkinkah Syiah suatu saat bisa menggeser dominasi sunni dalam tatanan politik islam? Jawabannya Bisa!, syaratnya:

1.  Memperbaiki citranya di dunia Sunni (masalah aqidah dan perlakuan terhadap minoritas Sunni di Iran)

2.  Mampu menggeser pengaruh 2 kekuatan besar islam Sunni yakni, al-Ikhwan al-Muslimun dan Wahabi (1)

3.  Memiliki pemimpin berpengaruh seperti Ayatulllah ruhullah Khomenei yang mampu menggerakkan semua elemen civil society untuk bersatu.

Point Pertama, persoalan Aqidah mereka-lah yang membuat citra Syiah jelek di mata Sunni sehingga tidak mengundang rasa simpati dan dialog. Sebagian besar dialog antara Syiah-Sunni selalu berada dalam tataran segelintir elit mereka saja tetapi untuk level akar rumput yang ada ialah saling membongkar keburukan masing-masing bahkan bentrokan fisik.

Meski dianggap berbeda aqidah, adakalanya ketika Indonesia sebagai negeri mayoritas Sunni butuh bantuan energi dan investasi ekonomi, boleh saja kita ambil manfaat dari mereka. Dan tidak ada masalah dengan kerjasama itu. Lain halnya dengan Israel yang jelas beda agama dan ideologi politik, ketika pemerintah Indonesia mau mewacanakan kerjasama hubungan dagang, teknologi dan pendidikan, ramai-ramai kita protes dengan aksi unjuk rasa besar-besaran bahkan menyerukan boykot produk yahudi.

Kedua, Syiah harus bisa menggeser pengaruh dan dominasi al-Ikhwan al-Muslimun, harakah yang dianggap sebagian pengamat Islam politik ini dianggap sebagai ibu susuan bagi gerakan politik di belahan dunia lainnya seperti FIS di Al-jazair, Hammas di Palestina, PAS Malaysia dan Masyumi. Tiffatul sembiring dalam sebuah kata pengantar untuk buku Efek bola salju PKS (2006), mempunyai teori dalam tesis S2-nya yang berjudul “Rivalry between Modernist and Traditionalist Islamic Movement” di International Politic Center for Asian Studies Strategic Islamabad, Pakistan, bahwa “Tidak ada satu pun gerakan Islam modern di dunia ini yang tidak berpengaruh oleh pemikiran Hassan al-Banna. Pokok-pokok pikiran yang beliau gulirkan merupakan tafsir operasional gerakan, semacam fikih gerakan Islam. Sehingga Gerakan mana saja yang berupaya konsisten dengan al-Qur’an dan Sunnah akan bermuara pada point-point kesimpulan yang telah dirumuskan al-Banna”.

Dibandingkan dengan Wahabi dari sisi finansial Ikhwan jelas tak sebanding, tetapi dari segi kekritisan berfikir, lobi-lobi politik dan militansi jelas tidak sebanding jika dibandingkan dengan wahabi yang bercorak “tekstual” itu. Soal lobi politik, Ikhwan dikatakan dalam buku Diplomasi revolusi Indonesia di luar negeri(Bulan bintang 1980) adalah aktor  utama dibalik kenapa pemerintah Mesir mau mengakui kemerdekaan RI. Oleh karena itu, delegasi Agus salim ketika bertemu dengan al-Banna menyampaikan rasa terima kasih kepada founder Ikhwan tersebut atas bantuannya yang tak terkira.

Nama ikhwan tetap terkenang atas jasa-jasanya membantu RI di masa lalu. Pertanyaannya, mampukah Syiah melalui Iran melakukan hal seperti itu? Apakah pemerintah Iran berani menembakkan rudal balistik ke Israel untuk menggertak mereka sebagai mana yang sering dilakukan oleh Hizbullah? Saya pikir Iran jangan jago kandang saja! Ini adalah tantangan bagi Iran khususnya elit-elit Syiah di sana. Memang sih di berbagai media, presidennya terlihat sering mengkritik Barat dan zionis. Cuma mana aksi nyata Ahmadinejad untuk Palestina sebagaimana Hizbullah di Lebanon yang mempecundangi militer Israel. Atau Iran bisa juga mengikuti jejak Turki dan eks Ikhwan al-Muslimun ketika mengirim Kapal kemanusiaan Freedom flotilia ke Gaza pada Mei 2011.

Soal bagaimana Syiah menggeser dominasi Sunni Wahabi, sebeltulnya cukup bermodalkan dengan teknologi, jalur pendidikan dan dunia penerbitan. Sebenarnya wahabi cuma menang di pendanaan dan propaganda saja. Sampai sekarang juga tak terlihat apa sumbangsih nyata Pemerintah Saudi dalam pembebasan al-Quds. Pernahkah mereka berinisiatif membangun rumah sakit di Palestina sebagaimana yang dipelopori Muslim Indonesia? Atau memindahkan ribuan warga Palestina ke luar negaranya untuk diberdayakan, dididik dan diberi biaya hidup cuma-cuma seperti yang dilakukan Ratu rania dari Yordania.

Ketiga, Memiliki pemimpin yang berpengaruh seperti imam Khomenei. Dalam Revolusi Islam 1979, keberadaan seorang pemimpin yang bijak dan berpengaruh merupakan salah satu karakter utama yang membedakannya dengan revolusi-revolusi yang lain. Imam khomenei boleh jadi salah satu sosok yang berpengaruh itu. Saat ini, Iran butuh pemimpin spiritual seperti itu agar pengaruh politiknya makin kuat.

Revolusi Islam Iran menorehkan kemenangannya di penghujung abad ke-20. Sejarah membuktikan, tak ada satupun revolusi yang bisa mengubah suatu sistem kekuasaan tanpa dilandasi dengan paradigma pemikiran dan ideologi. Kaidah ini menjadi prinsip dasar seluruh revolusi dunia. Revolusi Islam dibangun di atas tiga landasan utama, yaitu: Agama, Kepemimpinan kharismatik dan Persatuan rakyat

Tanpa 3 syarat tersebut, mustahil rezim Syah pahlevi tumbang. Kini pada dekade keempat Revolusi Islam, pemerintah Iran hendaknya mencanangkannya sebagai dekade kemajuan dan keadilan. Namun demikian, dalam literatur Revolusi Islam, kemajuan yang dimaksud berbeda dengan apa yang selama ini didefinisikan Barat. Karena kemajuan yang dikehendaki Revolusi Islam adalah kemajuan yang berkeadilan. Sebab tanpa keadilan, kemajuan hanya akan memperlebar jurang ketimpangan sosial yang akan berujung pada hancurnya tatanan masyarakat. Sebaliknya keadilan yang ada juga mesti dibarengi dengan kemajuan. Karena jika tidak, maka keadilan yang dicapai sama saja dengan menyerah pada keterbelakangan. Tentu saja untuk merealisasikan tujuan mulia itu memerlukan proses panjang dan kerja keras.

Tanpa ketiga langkah di atas, agak sulit bagi Syiah untuk menggeser dominasi muslim sunni. Saat ini peluang itu ada karena dunia sunni sedang bergejolak terutama di Timur tengah. Tinggal bagaimana Syiah mensosialisasikan ijtihad-ijtihad politiknya ke dunia Sunni khususnya Indonesia dengan kemasan menarik sehingga mengundang simpati. Jalur yang efektif bisa dengan melalui pendidikan dan publikasi pers.(2)

End notes:


(1) Sebenarnya selain 2 kekuatan itu masih ada satu kekuatan lagi yakni Khadaffi. Akan tetapi ia tewas mengenaskan ditangan para pemberontak. Di samping itu, negara-negara Arab tidak ada yang membantunya ketika Libya digempur NATO. Sepertinya Khadaffi di negara teluk tak memiliki teman/sekutu

(2) Kajian tentang Syi’ah di Indonesia mulai ramai dilakukan oleh para ilmuwan setelah Imam Khomenei berhasil menumbangkan Syah Iran (Reza Pahlevi) pada tahun 1979 melalui sebuah revolusiPublikasi pers tentang Syiah kian populer terutama di indonesia. Setelah jaringan pengiriman pelajar ke Qum dibuka. Beberapa orang Indonesia belajar di madrasah-madrasah dan perguruan tinggi Qum. Sepulang mereka ke tanah air, mulai mengajarkan Syiah. Syi’ah di Indonesia belum dianggap gerakan politik praktis. Pengembangan fahamnya melalui pengajian, tulisan maupun sekolah dan atau pondok pesantren. Afiliasi pada partai politik selama Pemilu maupun PILKADA juga tidak terdengar.

Berbau Syiah : Sadra, Sekolah Tinggi Filsafat Islam Pertama

launching Sekolah Tinggi Filsafat Islam (STFI) Sadra hari Kamis, (12/07/2012) kemarin,  di Gedung Sucofindo, Jakarta Selatan dihadiri para tokoh. Di antaranya Wakil Menteri Agama, Prof Dr Nasarudin Umar, perwakilan Direktorat Pendidikan Tinggi Islam Prof M. Zein, Dewan Penyantun STFI Sadra, Prof. Umar Shihab, Ketua STFI Sadra Umar Shahab serta Direktur Mizan Haidar Bagir dan sejumlah pembicara beserta undangan.

Beberapa pengajar dalam sekolah tinggi filsafat ini adalah lulusan Iran. Di antaranya, Dr. Khalid Walid, alumnus dari Qom, Iran dengan desertasinya “Pandangan Eskatologi Mulla Shadra”. Walid juga Wakil Ketua Yayasan Hikmat Al-Mustofa Jakarta. Pengajar lain juga ada Abdullah Beik, MA, Qom tahun 1991.

Sementara itu, Fahmi Salim, MA, Wakil Sekjen Majelis (Waskjen) Intelektual dan Ulama Muda Indonesia, serta Komisi Pengkajian di MUI Pusat mengatakan, dari bentuk, link (jalur), lembaga ini dinilai berbau dengan Syiah. Termasuk jalur ke Jamiah Almustafa, Qom, Iran.

“Karena selama ini, gerakan Syiah masuk melalui filsafat,” ujarnya kepada hidayatullah.com, Jumat (13/07/2012) siang.

Juga dari situs hidayatullah.com, disebutkan nama STFI Sadra merujuk Mulla Sadra, filsuf mazhab Syiah Imamiyah

Namanya merujuk Mulla Sadra, filsuf mazhab Syiah Imamiyah

Menurut Ahmad Jubaili, ketua tim perumus kurikulum mengatakan, kampus ini merupakan tempat kajian ilmiah yang merujuk pada Filsafat Mulla Sadra yang mampu menggabungkan seluruh pendekatan keilmuan, terutama teologi, filsafat dan Tasawuf.Seperti dikutip IRIB Indonesia, juga salah satu situs berita yang dikenal ke-Iran-Iran-an.

Sekolah Tinggi Filsafat Islam (STFI) Sadra, beralamat di jl. Pejaten Raya No.19, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Phone: +62-21-780 6545, Fax. +62-21-780 6425

Web: http://www.sadra.ac.id

Blog: http://www.STFI-Sadra.Blogspot.com

wahabi sesat menyesatkan

Kalau tanganmu panas tersentuh api, hindarilah induknya segala api (neraka), selagi masih ada kesempatan hidup…

Penulis web ini (Ustad Husain Ardilla) sudah sejak lama menantang wahabi berdebat face to face, namun mereka pengecut ! Wahabi tak pernah menang verdebat dengan kaum syi’ah, maklum mereka bodoh

kami muak dengan tingkah polah wahabi antek2 yahudi yang merasa paling benar…padahal wahabi paling Bahlul…lihat di samping masjidil Haram dan Nabawie…berdiri mc.donal dan KFC fast food milik yahudi..

Wahabi memukuli jamaah haji yang berusaha mencium Hajar Aswad

Tampak pada gambar di bawah ini polisi-polisi Wahabi berusaha mengamankan Ka’bah! Tampak salah seorang polisi Wahabi memukul jamaah haji yang berusaha mencium Hajar Aswad. Mengapa? Karena SYIRIK!!!

Sungguh aneh. Mencium batu suci yang begitu diagungkan mereka sebut syirik. Perli kita ketahui, kata-kata “syirik, bid’ah, kafir, sesat…” adalah selogan Wahabi! Hati-hati jika anda mendengar kata-kata tersebut.

Kita tidak boleh berfikiran sempit dan tak bijak. Orang tidak akan kembali ke ajaran klenik hanya karena mencium Hajar Aswad. Justru dengan demikian hati mereka menjadi luluh, merasa malu akan dosa-dosa yang pernah dilakukan dan kelak tidak mau melakukan dosa-dosa itu lagi; karena telah mencium batu suci rumah Allah. Mencium adalah ekspresi cinta. Tidak ada yang bisa melarangku mencium orang yang kucintai. Tuhan tidak bisa kucium, aku hanya bisa mencium rumahnya. Maka apa salahnya aku mencium dinding rumah Tuhanku?

sebagai orang biasa, berdasarkan kecintaan kepada Allah dan wali-Nya mereka berziarah. Dengan niat mendekatkan diri kepada-Nya. Kemudian berdoa kepada Allah di dekat wali yang Ia cintai dengan harapan Allah mau melupakan kesalahan-kesalahan mereka karena kini mereka telah berusaha dekat kepada-Nya melalui wali-walinya.

wah..wah, orang yang mengatakan mencium hajar aswad syirik berarti gak ngerti syariat agama. kan dah jelas, haji itu syariat Nabi Ibrahim, lalu disyariatkan juga kepada Nabi Muhammad saw. Maka tata cara pelaksanaan haji adalah perkara syar’i, bukan ranah ijtihadi, baik itu sa’i, wukuf, thawaf, atau taqbil hajar aswad. Liyat hadits deh, ada kok kisah Sayidina Umar mencium hajar aswad dan berkata,…”….kalau bukan karena rasulullah menciummu, aku tidak akan menciummu…” Disini jelas, Sayidina Umar aja ngikutin sunnah Nabi. Sekarang yang ikut sunnah siapa sih?! Wahabi?!

Belakangan ketika isu terorisme kian dihujamkan di jantung pergerakan umat Islam agar iklim pergerakan dakwah terkapar lemah tak berdaya. Nama Wahabi menjadi salah satu faham yang disorot dan kian menjadi bulan-bulanan aksi “tunjuk hidung,” bahkan hal itu dilakukan oleh kalangan ustadz dan kiyai yang berasal dari tubuh umat Islam itu sendiri.

Beberapa buku propaganda pun diterbitkan untuk menghantam pergerakan yang dituding Wahabi, di antaranya buku hitam berjudl “Sejarah Berdarah Sekte Salafi-Wahabi: Mereka Membunuh Semuanya Termasuk Para Ulama.” Bertubi-tubi, berbagai tudingan dialamatkan oleh alumnus dari Universitas di Bawah Naungan Kerajaan Ibnu Saud yang berhaluan Wahabi

Tak mau kalah, para kiyai dari pelosok pun ikut-ikutan menghujat siapapun yang dituding Wahabi. Kasus terakhir adalah statement dari kiyai Muhammad Bukhori Maulana dalam tabligh akbar FOSWAN di Bekasi baru-baru ini turut pula menyerang Wahabi dengan tudingan miring. Benarkah tudingan tersebut?

Menarik memang menyaksikan fenomena tersebut. Gelagat pembunuhan karakter terhadap dakwah atau personal pengikut Wahabi ini bukan hal baru, melainkan telah lama terjadi.

Habib - Habaib

Para Ulama Pendakwah Islam di Bumi Nusantara, Mereka Bukan Salafi Wahabi

Salafi Wahabi mungkin perlu kita tanya: “Bisakah Salafi Wahabi masuk dan berkembang di bumi Nusantara seandainya sekarang ini masyarakatnya masih memeluk agama Hindu Budha?” Pertanyaan seperti ini sungguh tidak mengada-ada, sebab track record dakwah Salafi Wahabi sejak dulu hingga kini selalu  menjadi benalu bagi jama’ah kaum muslimin di mana saja di seluruh dunia. Kita tidak pernah dengar keberhasilan dakwah Salafi Wahabi di tengah-tengah kaum non Islam, lalu kaum non Islam berbondong-bondong memeluk agama Islam ala Salafy Wahabi. Pernahkan ada di suatu negeri atau wilayah keberhasilan Salafi wahabi dalam dakwah  mengajak masyarakat beragama non Islam menjadi pemeluk Islam?

Justru yang sering kita dengar adalah dakwah  Salafi Wahabi selalu berseru lantang  memusyrik-musyrikkan orang-orang yang sudah jelas-jelas beragama Islam. Masyarakat beragama Islam yang sedang berziarah kubur mengikuti Sunnah Nabi Saw disebut-sebut oleh Salafi Wahabi sebagai Penyembah Kuburan, na’udzu billah min dzaalik! Salafi Wahabi mengaku sebagai satu-satunya pengikut Sunnah Nabi tapi Sinis dan benci dengan Ziarah Kubur, padahal Ziarah Kubur adalah Sunnah Nabi Saw.  

Salafi Wahabi tidak punya methode berdakwah di tengah Ummat non Islam, jadi kesimpulannya mereka tidak akan sanggup berdakwah di tengah masyarakat non Islam. Missi dan visi Salafi Wahabi berdakwah bukan mengajak orang-orang non Islam masuk Islam, tetapi missinya adalah membuat onar dengan menebar isu-isu bid’ah, isu-isu kekafiran dan isu-isu  kemusyrikan di tengah Ummat Islam sendiri. Nah, kira-kira siapa gerangan dalang di balik layar dakwah Salafi Wahabi?