Riwayat-riwayat Syiah yang bertentangan ?? wahabi tidak memahami syiah

Riwayat-riwayat Syiah yang bertentangan

Tanya: Banyak sekali pertentangan antara satu riwayat dengan riwayat lain dalam kitab-kitab Syiah sehingga bangkit beberapa ulama untuk menyelaraskan pertentangan-pertentangan itu. Betul tidak?

Jawab: Di masa hidupnya, Rasulullah saw sering mengingatkan tentang adanya para pemalsu hadits di tengah-tengah para sahabatnya. Ia bersabda:

“Janganlah kalian berbohong atasku. Barang siapa berbohong atasku maka ia akan dibakar di api neraka.”[1]

Ia juga bersabda:

“Barang siapa berbohong atasku, maka hendaknya ia menyiapkan tempatnya di api neraka.”[2]

Artinya di masa hidupnya Nabi banyak orang-orang yang bagi Ahlu Sunah adalah sahabat yang adil; padahal mereka sering berbohong atas nama Nabi atau melakukan suatu perbuatan yang mereka suka lalu menisbatkannya kepada beliau.

Apa lagi sepeninggal Nabi, yang mana pada masa itu penulisan hadits secara total dilarang. Banyak orang-orang Yahudi dan Nasrani yang mengaku Muslim namun mereka sering memalsukan hadits. Misalnya Ka’ab Al-Ahbar, Wahab bin Manbah, Tamim Dari, dan lain sebagainya.[3]

Banyaknya hadits-hadits palsu inilah yang menciptakan banyaknya pertentangan antara satu hadits dengan hadits lainnya.

Ibnu Abil Auja’ dibesarkan di rumah Hammad bin Muslim, seorang tokoh hadits besar Ahlu Sunah; ia sering kali menjahili kitab-kitab Hammad dan memalsukan hadits-haditsnya.[4]

Cukup kita mendengar bahwa Bukhari mengaku telah memilih 2.761 hadits dari 600.000 hadits yang ada.

Shahih Muslim memilih 4.000 hadits dari 300.000 hadits yang ada.

Kebanyakan motif dari pemalsuan ini adalah usaha pencapaian kedudukan atau kepentingan materi.

Jika dipikir, andai kita membagi waktu-waktu yang ada pada hayat Nabi menjadi beberapa bagian berbeda-beda, maka kita akan sadari bahwa tidak mungkin Nabi sepanjang umurnya telah mengucapkan sekian banyak hadits, bahkan 1/10 nya saja. Oleh karena itulah ulama Ahlu Sunah hanya mengkategorikan beberapa hadits saja sebagai hadits shahih.

Tentu masih saja banyak ditemukan hadits-hadits palsu sedemikian rupa yang bertentangan dengan hadits-hadits lainnya. Misalnya tentang bahwa Tuhan itu memiliki tubuh, Tuhan bisa dilihat, dan lain sebagainya.

Adapun pertentangan-pertentangan yang ditemukan dalam kitab-kitab hadits Syiah, ya memang ada juga hadits-hadits palsu dalam kitab kami. Namun yang lebih banyak lagi bukanlah faktor pemalsuan yang membuat kita berfikiran bahwa hadits-hadits tersebut terkesan bertentangan, ada faktor-faktor lain seperti:

1. Terpotongnya riwayat

Terkadang ada riwayat yang menukilkan hadits secara sepenggal saja dan penggalan yang lain tidak disebutkan.

2. Riwayat yang hanya menukil kandungan hadits

Sebagian riwayat tidak menyebutkan secara detil hadits atau ucapan maksumin, namun hanya menukilkan kandungan dan maksudnya saja.

3. Pemalsuan hadits

Ada juga hadits-hadits palsu dalam kitab-kitab kami. Kebanyakan adalah ulah para Ghulat (orang-orang Syiah yang berlebihan dalam fahamnya). Misalnya Mughirah bin Sa’id dan Abu Zainab Asadi yang dikenal dengan Abul Khitam; Imam Ja’far Shadiq as menunjuk nama-nama mereka lalu berkata, “Mereka telah berbohong atas aku dan ayahku.”[5]

Dengan demikian ulama Syiah berupaya untuk menyelesaikan masalah-masalah di atas dengan berbagai cara. Yang jelas mereka sama sekali tidak menghiraukan hadits-hadits palsu. Namun bagaimana dengan kitab-kitab anda?


[1] Shahih Bukhari, hadits 106.

[2] Ibid, hadits 107.

[3] Muqadamah Ibnu Haldun, hlm. 439.

[4] Mizanul I’tidal, jld. 1, hlm. 593.

[5] Rijal Kashi, hlm. 196, nomor 103.’

Selain Al Qur'an, kitap apa saja yang disimpan Imam-Imam Syiah

Tanya: Apakah ada kitab selain Al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw? Apakah hanya Ali saja yang mengetahuinya? Apakah kitab-kitab seperti Al-Jami’ah, Shahifah Namus, Shahifah ‘Abithah, Shahifah Du’abatus Saif, Shahifah Ali, Jafr, Mushaf Fathimah, Taurat, Injil dan Zabur juga dimiliki dan disimpan oleh para Imam Syiah?

Jawab: Sepeninggal Rasulullah saw, umat Islam menjadikan Al-Qur’an dan Sunah Nabi sebagai pegangan mereka. Keduanya adalah rukun dasar yang mana berdirinya Islam bergantung pada dua rukun itu. Bagi kami, hadits-hadits para Imam maksum adalah cerminan sunah Nabi; karena kami yakin apa yang mereka katakan pasti dari Nabi.

Untuk menjaga sunah, terkadang Nabi memerintahkan untuk dituliskannya sunah tersebut. Misalnya:

1. Dalam Fathul Makkah, Rasulullah saw berkhutbah lalu setelah itu seseorang dari Yaman mendatangi Nabi lalu meminta agar dituliskan khutbah tersebut untuknya. Rasulullah saw memerintahkan para sahabatnya untuk menuliskan khutbah tersebut.[1]

2. Di akhir hayatnya Rasulullah saw bersabda, “Berilah aku sebuah pena dan kertas agar aku dapat menuliskan wasiat untuk kalian agar kelak kalian tidak akan tersesat.” Namun sayang sekali Umar menghalangi beliau dari penulisan wasiat seraya berkata, “Begitu parah sakit Nabi hingga beliau sampai mengigau. Cukup bagi kami kitab Allah.”[2]

3. Seseorang dari kaum Anshar duduk di dekat Nabi sambil mendengarkan ucapan-ucapannya. Namun ia sering lupa karena ingatannya yang lemah. Lalu ia mengadukan lemahnya ingatan itu kepada Rasulullah saw. Beliau berkata padanya, “Mintalah pertolongan pada menulis.” Yakni ia diperintahkan untuk mencatat daripada hanya mendengarkannya.[3]

Umar bin Syu’aib menukilkan dari kakeknya bahwa ia bertanya kepada Rasulullah saw, “Apakah aku perlu menulis apa yang telah aku dengar darimu?” Beliau menjawab, “Ya, tulislah.”[4]

Al-Qur’an pun memerintahkan jika seandainya kita berhutang kepada seseorang maka kita harus mencatatnya.[5]

Oleh karena alasan begitu pentingnya sunah Nabi, Ali as dan anak-anaknya selalu menulis dan mencatat segala apa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah saw.

Ali bin Abi Thalib as pernah berkata, “Setiap kali aku bertanya pada Nabi, beliau selalu menjawabku. Dan jika aku diam, ia yang selalu memulai memberitahu aku.”[6]

Oleh karena itu, segala kitab dan catatan yang dimiliki oleh Ali as semuanya hadits Nabi yang ia tulis dari apa yang ia dengar dari lisan beliau. Kitab-kitab yang ia tulis memiliki nama yang bermacam-macam dan diwariskan lalu disimpan oleh anak-anak dan keturunan beliau. Dalam riwayat kami sering disebutkan bahwa terkadang Imam Baqir as dan Imam Ja’far Shadiq as memberikan hukum berdasarkan kitab-kitab tersebut.[7]

Bahkan perlu anda ketahui bahwa Ali as tidak hanya selalu mencatat hadits saja, ia merupakan orang pertama yang mencatat Al-Qur’an. Beliau mencatatnya terus menerus selama dua puluh tiga tahun; selama dua puluh tiga tahun, begitu ayat Al-Qur’an diturunkan beliau mencatatnya. Ali as sendiri pernah berkata, “Demi Tuhan, tidak ada satu pun ayat dalam Al-Qur’an kecuali aku tahu untuk apa ayat itu turun dan di mana diturunkannya dan mengenai siapa. Tuhan telah mengkaruniai aku wadah ilmu yang luas dan lidah yang lancar dalam menjelaskannya.”[8]

Oleh karena itu, kitab-kitab yang telah anda sebutkan kebanyakan adalah kitab hadits Nabi. Misalnya seperti Mushaf Fathimah, kita telah jelaskan pula sebelumnya.

Nama-nama kitab yang telah disebutkan dalam pertanyaan tersebut juga disebutkan oleh Bukhari dalam Shahihnya.[9]

Anehnya si penanya menganggap keberadaan kitab-kitab tersebut sebagai titik lemah Syiah. Padahal bagi kami itu kebalikannya. Keberadaan kitab-kitab tersebut justru menunjukkan betapa Ahlul Bait mementingkan terjaganya sunah Nabi.

Di lain sisi, terasa aneh saat kita melihat sejarah Ahlu Sunah bahwa khalifah Umar pernah melarang Muslimin untuk tidak menuliskan hadits.

‘Aisyah pernah berkata, “Suatu malam aku melihat ayahku susah tidur. Aku bertanya apa sebabnya. Namun di pagi hari, dia berkata kepadaku, “Bawakan catatan-catatan hadits yang pernah kau simpan.” Seluruhnya ada sekitar 500 hadits Nabi dalam catatan-catatan itu. Ia mengumpulkannya menjadi satu lalu membakarnya.”[10]

Saat Umar bin Khattab menjadi khalifah, ia menulis surat pengumuman lalu disebarkan; yang isinya: “Barang siapa meulis selain Al-Qur’an dari Nabi, maka hendaknya tulisan itu dilenyapkan.”[11]

Semenjak itulah penulisan hadits dilarang sehingga penulisan hadits mendapatkan kesan buruk bagi masyarakat.

Namun pada pemerintahan Umar bin Abdul Aziz, ia sebagai khalifah merasa bahwa ditinggalkannya penulisan hadits akan mengancam keutuhan sunah nabawi. Kemudian ia menulis surat kepada Abu Bakar bin Hazm (seorang alim di Madinah) untuk menulis kembali hadits-hadits Nabi.[12]

Kondisi yang mencengangkan. Lambat laun muncullah para pedagang hadits yang menjual hadits-hadits palsu buatan mereka sendiri.

Salah jika kita perfikiran bahwa hanya Al-Qur’an saja kitab yang diperlukan umat Islam. Kita perlu kitab-kitab lain yang menjelaskan dan menafsirkan maksud Al-Qur’an.

Adapun para Imam juga menyimpan kitab-kitab langit lainnya seperti Taurat, Injil dan Zabur, itu memang benar dan tidak ada yang perlu dipermasalahkan mengenainya. Saat umat Islam menguasai kandungan kitab-kitab langit lainnya, hal itu dapat menjadi senjata yang ampuh bagi Muslimin untuk meraih kemenangannya saat berdakwah Islam kepada pemeluk agama lain. Sebagai contoh, Imam Ali Ridha as pernah berdebat dengan Ahlul Kitab dengan menggunakan kitab mereka sendiri karena ia menguasai kitab-kitab mereka; kitab yang mana di dalamnya disebutkan tanda-tanda dan ciri-ciri Nabi terakhir, Muhammad saw.


[1] Shahih Bukhari, bab Kitabul Ilm, hadits 112.

[2] Ibid, hadits 114.

[3] Sunan Tirmidzi, jld. 5, hlm. 39.

[4] Ibid, hlm. 125.

[5] Al-Baqarah: 282.

[6] Thabaqat Al-Kubra, Ibnu Sa’ad, jld. 2, hlm. 283; Sunan Tirmidzi, jld. 5, hlm. 638, hadits 2722, dan hlm. 40, hadits 3729; Tarikh Al-Khulafa, Suyuthi, hlm. 170.

[7] Wasailus Syiah, jld. 4.

[8] Thabaqat Al-Kubra, jld. 2, hlm. 338; Kanzul Ummal, jld. 15, hlm. 135.

[9] Shahih Bukhari, bab Kitabatul Ilm, hadits 1.

[10] Tadzkiratul Huffadz, Dzahabi, jld. 1, hlm. 5.

[11] Musnad Ahmad bin Hanbal, jld. 3, hlm. 12 dan 14.

[12] Shahih Bukhari, bab Kaifa Yafidhu Al-Ilm, hadits 4.

Wah, Al-Kafi banyak riwayat dhaifnya

Tanya: Apakah kitab Al-Kafi merupakan Syarah dan kitab tafsir Al-Qur’an? Padahal kebanyakan riwayat-riwayat Al-Kafi adalah Dha’if (lemah).

Jawab: Trik mereka adalah menuduh, lalu mempertanyakan.

Pertama, atas dasar apa anda menyatakan bahwa kebanyakan riwayat-riwayat Al-Kafi adalah Dha’if?

Riwayat-riwayat yang ada dalam Al-Kafi ada empat macam: Shahih, Muwatsaq, Hasan, dab Dha’if.

Ketika Syiah sendiri telah membagi riwayat-riwayat penting mereka menjadi empat bagian seperti di atas, itu menunjukkan bahwa Syiah menerima realita yang ada mengenai riwayat-riwayat mereka. Karena bagi kami tidak ada satupun kitab yang Shahih selain Al-Qur’an. Adapun kitab-kitab lainnya, kita perlu teliti kebenarannya dan juga menimbangnya.

Allamah Majlisi dalam kitab Mir’at Al-’Uqul telah menentukan keempat macam riwayat tersebut.

Penyusun Al-Kafi dalam pendahuluan kitabnya menyebutkan tolak ukurnya dalam menimbang riwayat yang mana tolak ukur tersebut berasal dari para Imam:

“Coba sandingkan dengan Al-Qur’an. Jika sesuaui dengan kandungan Al-Qur’an, maka ambillah (riwayat itu). Namun jika bertentangan dengan Al-Qur’an, maka tolaklah.”[1]

Namun kebalikannya, Ahlu Hadits dan para Salafi, mereka menganggap dari ujung ke ujung Shahih Bukhari dan Muslim semuanya Shahih. Dan akhirnya kini mereka kerepotan sendiri.

Kedua, mengenai Al-Kafi adalah Syarah dan tafsir Al-Qur’an, jika yang dimaksud adalah Al-Kafi menjelaskan hukum-hukum shalat, puasa, zakat, haji dan jihad secara rinci, maka bukan hanya Al-Kafi aja yang sedemikian rupa. Semua kitab-kitab riwayat kami juga seperti itu. Bahkan begitu pula seluruh Shihah dan Sunan milik Ahlu Sunah juga menafsirkan Al-Qur’an sedemikian rupa. Namun jika yang dimaksud adalah, Al-Kafi ditulis dengan tujuan menafsirkan Al-Qur’an, dan susunannya adalah susunan tafsir, maka itu tidak betul.

Seperti apapun Al-Kafi, kami tidak menganggap seluruh riwayatnya Shahih. Kami selalu memilah-milah riwayat, karena semuanya tidak sama. Kebalikannya, kaum Salafi menerima semua Khabar Wahid tidak hanya dalam masalah-masalah Fiqih saja, namun mereka menerimanya dalam dunia praktek atau Amali dan bahkan perkara-perkara keyakinan atau Aqidah. Akhirnya mereka sendiri mengalami banyak masalah saat ini dalam dunia Aqidah.

Akhir-akhir ini di Madinah diadakan sebuah pertemuan dan pembahasan mengenai ke-Hujjah-an Khabar Wahid dalam perkara Aqidah. Kurang lebih seluruh pesertanya, yang mana kebanyakan adalah salafi, setuju dengan itu. Oleh karena itu Aqidah mereka berdiri atas dasar Khabar Wahid. Efeknya, mereka kini meyakini Tajsim, Tashbih, dan determinasi.


[1] Al-Kafi, jld. 1, hlm. 8.

Keyakinan tentang Bada’: apakah berarti para Imam lebih tinggi dari Tuhan? membantah wahabi dungu

Keyakinan tentang Bada', yakni para Imam lebih tinggi dari Tuhan

Tanya: Bada’ termasuk kepercayan dan akidah Syiah, padahal di sisi lain mereka meyakini para Imam mengetahui ilmu ghaib. Apakah para Imam lebih tinggi dari Tuhan?

Jawab: Pertanyaan di atas diutarakan berdasarkan sebuah kitab yang ditulis oleh Syaikh Nashir Qafari, yang termasuk sekongkol Salafi.

Kitab tulisan Syaikh Qafari penuh dengan tuduhan yang tidak berdalil terhadap Syiah, yang tentunya ia belajar dari gurunya, Ibnu Taimiyah. Pantas di dalam penuh dengan tuduhan yang tidak masuk akal. Sebagai contoh saya jelaskan beberapa di antaranya; Ia menulis, “Di Iran Imam Khumaini menambahkan namanya sebelum dua syahadat dalam adzan.”[1]

Saya heran mengapa penanya hanya membaca buku orang seperti ini.

Penanya bertanya tentang bada’, lalu berkata bahwa Syiah meyakini bada’; kemudian secara mengherankan ia menyimpulkan bahwa Syiah menganggap para Imamnya lebih tinggi dari Tuhan. Nalar apakah yang telah digunakannya hingga berlogika seperti ini?

Saya akan menjelaskan kedua masalah di atas:

Pertama, bada’ yakni seorang manusia merubah nasib baiknya karena telah melakukan perbuatan buruk. Begitu juga, manusia dapat merubah nasib buruknya dengan melakukan amal perbuatan baik. Allah swt berfirman:

“Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh mahfuzh).” (Ar-Ra’d: 39)

Seorang ahli hadits besar dari kalangan Ahlu Sunah, Jalaluddin Suyuthi dalam kitabnya Ad Durr Al-Mantsur, dalam menafsirkan ayat tersebut membawakan beberapa riwayat dari Nabi yang intinya manusia dapat merubah sebagian dari nasib yang telah ditakdirkan Tuhan dengan melakukan amal perbuatan baik, misalnya berbuat baik kepada orang tua, atau bersedekah, dan lain sebagainya. Misalnya salah satu hadits yang ia bawakan seperti “Sedekah dapat menolak bala’.”[2]

Bada’ dengan pengertian seperti ini dapat diterima oleh semua Muslimin. Bada’ bukan berarti Tuhan tidak tahu akan takdir hambanya. Sebagai contoh, kaum Nabi Yunus telah ditakdirkan untuk menerima adzab karena pertentangannya. Nabi mereka telah memberitahukan mereka bahwa Tuhan hendak mengadzab mereka, beliau pun pergi meninggalkan kawasan yang mereka tinggali itu dan menjauhinya. Namun ternyata mereka menyesal, mereka mendengar perkataan seseorang lalu mereka bersama-sama pergi ke gurun dan meratapi dosa mereka sampai maningisinya. Allah swt menerima taubat mereka dan akhirnya Ia tidak jadi menurunkan siksaan-Nya. Kisah ini disebutkan dalam ayat yang berbunyi:

“Dan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? Tatkala mereka (kaum Yunus itu), beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai kepada waktu yang tertentu.” (Yunus: 98)

Mengenai peristiwa tersebut dapat dikatakan bahwa Tuhan pada mulanya hendak menurunkan adzab kepada umatnya. Namun terjadi bada’ dan Tuhan tidak jadi menurunkan siksaan. Ungkapan ini hanya berlaku bagi manusia sendiri, bukan bagi Tuhan; yakni, dari sudut pandang manusia Tuhan tidak jadi menurunkan siksaan-Nya karena umatnya telah bertaubat; namun dari sudut pandang Tuhan, Ia sejak awal sudah tahu bahwa mereka akan bertaubat. Lalu mengapa kita menggunakan istilah bada’? Alasannya karena Nabi dulu pernah menggunakan istilah tersebut, dan Bukhari pernah menukilnya dalam Shahih nya.[3]

Ada satu hal menarik, Wahabi sendiri dalam membahas “bertawasul kepada amal saleh” mereka menukilkan hadits bada’. Rasulullah saw bersabda:

“Ada tiga orang yang lari ke goa karena menghindar dari hujan. Tiba-tiba jatuh reruntuhan batu yang akhirnya menutup pintu goa. Mereka berbicara satu sama lain dan berkata, “Sungguh demi Tuhan, tidak akan ada yang bisa menyelamatkan kalian selain kejujuran. Siapapun di antara kalian yang pernah melakukan amal kebaikan, maka mintalah kepada tuhan untuk menyelamatkan kita dari kematian atas kehormatan amal tersebut.”…”

Bada’ tidak dapat diartikan sebagai kebodohan Tuhan. Karena Tuhan Maha Suci dari sifat yang sedemikian. Kita sebagai manusia yang memiliki sudut pandang terbatas melihat seolah fenomena yang sudah ditakdirkan Tuhan berubah-ubah. Saat dikatakan “terjadi bada’ bagi Tuhan”, itu hanyalah ungkapan emosional (yang diperuntukkan bagi manusia) saja, tidak bisa dikaitkan secara hakiki dengan ilmu yang Tuhan miliki. Karena Tuhan sejak semulanya mengetahui segala sesuatu dengan perubahan-perubahan yang akan terjadi; hanya kita saja yang tidak tahu.

Oleh karena itu, bada’ tidak bertentangan dengan ke-Maha-Tau-an Tuhan.

Jadi, jika kami meyakini bahwa Imam-Imam maksum memiliki ilmu ghaib, itu bukan berarti mereka lebih tinggi dari Tuhan; ilmu mereka adalah ilmu yang diberikan Tuhan, itupun terbatas; sedangkan ilmu sebenarnya yang dimiliki Tuhan tidaklah terbatas. Ilmu para Imam adalah karunia, sedang ilmu Tuhan adalah ilmu dari dzat-Nya sendiri.


[1] Ushul Madzah Asy Syiah, jld. 3, hlm. 154.

[2] Ad Durr Al-Mantsur, jld. 6, hlm. 661.

[3] Shahih Bukhari, jld. 4, hlm. 172, Kitab Ahadits Al-Anbiya’, hadits nomor 3465, dan Kitab Al-Buyu’, hadits nomor 2215.

Tanya: Apa dampak iman dan keyakinan terhadap hari pembalasan bagi diri pribadi dan perilaku seseorang? Dan permasalahan sosial yang manakah yang dapat dibenahi dengan adanya keyakinan ini? Karena kita tidak dapat mengingkari bahwa perkembangan umat manusia bergantung kepada aktifitas yang mereka lakukan; dan aktifitas umat manusia akan lebih berkembang dengan adanya harapan untuk maju. Yakni, seorang manusia akan mendapatkan semangat untuk meningkatkan kinerja kerjanya ketika ia membayangkan betapa nikmatnya jika ia berhasil menyelesaikan pekerjaannya dengan baik; dan dengan demikian, aktifitas umat manusia dapat berkembang dengan pesat. Ketika seseorang merasakan nikmatnya keuntungan yang ia dapat berkat pekerjaan yang telah ia selesaikan, maka ia akan lebih bersemangat untuk menjalankan aktifitas yang lainnya.

Melalui jalan inilah kehidupan umat manusia dapat semakin berkembang; dan dengan demikian dalam setiap saat dan dalam setiap harinya kinerja kerja umat manusia semakin meningkat. Dengannya umat manusia akan menemukan banyak penemuan-penemuan baru dan segala hal yang lainnya yang berguna. Kini pendapat saya, jika iman dan percaya akan hari pembalasan tidak menyebabkan umat manusia tidak bergairah untuk mencapai perkembangan dunia yang lebih baik, dan tidak menyebabkan aktifitas besar-besaran umat manusia tidak terhambat, maka artinya iman tersebut tidak berpengaruh dalam jiwa dan perilaku umat manusia.

Jawab: Ya, bisa dikatakan semua ajaran agama-agama yang ada di muka bumi selalu mengingatkan pemeluknya akan adanya hari pembalasan yang mana di sana manusia akan diberi balasan dan hukuman; dan Islam adalah salah satu dari agama-agama tersebut. Islam memiliki tiga ajaran dasar dan pokok yang mana iman terhadap hari pembalasan adalah pokok ketiganya. Barang siapa tidak mengimani hari pembalasan, maka sama sama seperti orang yang tidak mengimani Tauhid dan kenabian; belum dapat disebut sebagai seorang muslim sejati. Dengan demikian, sesungguhnya sebagaimana Islam sangat mementingkan Tauhid dan kenabian, Islam juga sangat mementingkan iman terhadap hari pembalasan.

Sebagaimana yang pernah dijelaskan bahwasannya tujuan yang mendasar dalam pendidikan dan ajaran Islam adalah pembangkitan fitrah dan jiwa alamiah manusia yang suci. Yakni Islam ingin mewujudkan manusia yang benar-benar fitri. Oleh karena itu kita dapat mengambil kesimpulan bahwa iman terhadap hari pembalasan merupakan salah satu rukun hayati Manusia Fitri. Seorang manusia tanpa memiliki iman terhadap hari pembalasan, bagai sesosok tubuh tak bernyawa. Padahal nyawa adalah pangkal segala kebahagiaan dan kesempurnaan.

Kita tidak boleh berpikiran buruk dan menganggap ajaran-ajaran Islam hanya sebagai ajaran kering tak bernyawa yang dengan sengaja telah diciptakan untuk menyibukkan diri manusia dan harus diterima secara buta-membuta tanpa ada tujuan-tujuan mulia di baliknya. Bahkan sebenarnya ajaran-ajaran Islam merupakan sistem yang sangat teratur yang telah diciptakan sesuai dengan tabiat manusia yang sangat berguna untuk mengatur keyakinan, jiwa, dan perilaku dengan sebaik-baiknya. Hukum-hukum ini telah diukur dengan kebutuhan-kebutuhan yang akan dirasakan umat manusia selama hidup di dunia ini. Dengan menerima dan mengamalkan ajaran-ajaran Islam, umat manusia akan merasakan nikmatnya memiliki hidup yang teratur. Ayat berikut ini adalah sebaik-baiknya dalil akan hal ini:

“Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah ajakan Allah  dan utusan-Nya ketika mereka mengajak kalian kepada sesuatu yang akan menghidupkan diri kalian…”[1]

“Dengan teguh dan dalam keadaan yang patut menghadaplah ke arah agama ini! Yakni fitrah dan bentuk penciptaan yang mana umat manusia tercipta atas dasar hal itu. Tidak ada perubahan dalam penciptaan Tuhan. Itulah agama yang dapat mengatur hidup umat manusia.”[2]

Dengan demikian, ajaran-ajaran Islam tidak ada bedanya dengan hukum-hukum sosial dalam segi pemenuhan kebutuhan-kebutuhan hayati umat manusia. Tetapi perbedaan yang sangat penting antara ajaran-ajaran Ilahi dengan hukum-hukum ciptaan manusia adalah: hukum-hukum ciptaan umat manusia mengira bahwa kehidupan umat manusia hanya berupa kehidupan duniawi yang berumur beberapa hari saja di dunia; dan asas hukum-hukumnya adalah apa saja yang diinginkan oleh mayoritas umat manusia. Adapun menurut ajaran-ajaran Islam, kehidupan manusia tidak terbatas pada dunia materi ini saja, bahkan kehidupan manusia adalah kehidupan abadi yang akan terus berlanjut di akherat; dan kebahagiaan dan kesengsaraan umat manusia di alam abadi tergantung dengan baik dan buruknya amal perbuatan mereka di duni ini. Oleh karenanya Islam membawakan ajaran-ajaran seperti ini yang mana telah tercipta berdasarkan akal sehat dan tidak mengikuti kemauan keinginan-keinginan mayoritas umat manusia yang didasari oleh hawa nafsu dan emosi.

Menurut kebanyakan orang, keinginan mayotitas masyarakat adalah tolak ukur dapat dijalankannya suatu hukum. Akan tetapi Islam tidak berpikiran seperti itu. Menurut Islam, hukum-hukum yang layak dijalankan oleh semua orang adalah hukum-hukum yang sesuai dengan kebenaran. Jika suatu hukum sesuai dengan kebenaran, maka semua orang wajib menjalankannya; baik sesuai dengan keinginan mereka atau tidak.

Islam menjelaskan bahwa Manusia Alami (yakni manusia yang fitrah alamiahnya belum ternodai segala bentuk keburukan), dengan sendirinya menyadari akan keberadaan hari pembalasan. Oleh karenanya, ia memandang dirinnya sebagai makhluk yang memiliki hayat abadi. Dengan demkian ia merasa untuk harus menjalankan kehidupannya dengan penuh kesadaran berpikir dan tidak boleh lupa sesekalipun akan kenyataan ini. Ia tidak seperti seorang materialis yang sama sekali tidak mengetahui dimanakah ia sebelumnya dan dimanakah kelak ia akan berada. Seorang materialis hanya memiliki pola pikir hewani; dan harapan tertingginya adalah menikmati segala kenikmatan materi sepuas-puasnya. Jadi, iman rerhadap hari pembalasan memiliki dampak positif yang sangat jelas bagi pemikiran, etika, jiwa, dan amal perbuatan setiap individu dan bahkan seluruh umat manusia.

Adapun dampak keimanan tersebut terhadap pikiran manusia, seperti ini: ia akan melihat dirinya dan segala yang ada di sekitarnya sebagaimana apa adanya. Ia akan memangdang dirinya sebagai seorang makhluk yang berusia beberapa hari saja di dunia ini yang merupakan bagian dari tubuh alam yang selalu bergerak. Ia dan segala maujud yang adala bak kafilah yang sedang berjalan menuju alam lain; yaitu alam yang kekal dan abadi. Kafilah ini telah bertolak dari sumber wujud dan bergerak menuju tujuannya. Adapun pengaruhnya terhadap etika, dengan menyadari kenyataan ini, ia akan berusaha menyesuaikan dan membatasi dorongan-dorongan nafsu dan syahwat yang bergejolak dalam batinnya.

Seseorang yang karena kebutuhan-kebutuhannya memandang dirinya sebagai maujud yang berkaitan erat dengan alam, dan bagaikan setitik debu yang terbang kesana kemari tertiup angin kencang dan bergerak berbondong-bondong dengan alam menuju puncak kesempurnaan, maka pandangan diri ini tidak akan pernah membiarkannya terkecoh oleh dorongan-dorongan nafsu dan bujukan syaitan. Ia tidak akan pernah rela menyerahkan diri ke tangan-tangan pemuja syahwat. Jika ia telah menyadari keberadaan dirinya yang sesungguhnya, ia tidak lagi mau menghabiskan waktu untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang biasa dilakukan orang-orang yang tak tahu diri. Jika semua umat manusia telah memiliki kesadaran seperti ini, maka tidak akan ada satupun aktifitas tak berguna yang dilakukan. Umat manusia tidak akan segan mengorbankan nyawanya demi tujuan-tujuan mulia. Mereka memahami bahwa dengan pengorbanan, ia akan terlepas dari kekangan kehidupan materi yang berumur beberapa hari ini dan sebagai gantinya, ia akan memasuki kehidupan baru yang abadi. Ia tidak takut akan kematian, karena ia yakin kelak akan mendapatkan balasan yang sangat besar. Ia tidak seperti seorang materialis yang hanya untuk mengorbankan diri saja, ia harus mengarang hal-hal yang tak ia ketahui demi menenangkan hati mereka dan dengan demikian mereka terpaksa harus menyesatkan orang lain. Karena sesungguhnya kebanyakan materialis telah sering membual dan memerintahkan sesamanya untuk mengorbankan diri dengan harapan namanya akan kekal dan setelah kematian ia akan hidup dengan kebahagiaan abadi. Kita dapat mengerti betul bahwa hal ini hanya sekedar bualan; pada hakikatnya mereka tidak meyakini alam setelah kematian, lalu bagaimana mereka menjanjikan alam kebahagiaan abadi setelah kematian?

Dengan demikian, pernyataan yang telah anda bawakan di akhir baris tulisan surat anda adalah pernyataan yang tak berdasar. Jangan anda pikir dengan mengingat kematian dan mengimani hari kebangkitan, semangat umat manusia untuk beraktifitas akan menurun. Janganlah anda berpikiran bahwa faktor semangat beraktifitas adalah rasa butuh; dan dengan membayangkan hari pembalasan, rasa butuh tersebut akan lenyap. Ini tidak benar; buktinya di masa-masa keemasan Islam yang mana kebanyakan orang Islam waktu itu memiliki iman yang sangat kuat terhadap hari pembalasan, orang-orang Islam telah melakukan berbagai macam aktifitas sosial yang sangat menakjubkan dan tidak dapat dibandingkan dengan orang-orang Islam yang hidup di zaman setelahnya. Ya, yang dampak yang dihasilkan oleh iman terhadap hari pembalasan adalah tercegahnya manusia dari pemujaan nafsu dan cinta materi yang berlebihan serta berkurangnya kejahatan di muka bumi.

Dampak iman terhadap hari pembalasan terhadap jiwa manusia sangat baik sekali. Dengan iman ini, jiwa dan ruh manusia akan tetap hidup. Ketika ia tertimpa kesusahan, dengan tenang ia menyadari bahwa dengan kesabaran ia akan mendapatkan ganjaran yang sangat baik di kehidupan berikutnya. Dan ketika ia melakukan perbuatan terpuji, dengan ikhlas ia menyadari bahwa kelak Tuhannya akan memberikan imbalan yang berkali-kali lipat besarnya.

Dan adapun dampak keimanan ini terhadap perilaku seorang manusia secara pribadi dan begitu juga bagi sekelompok masyarakat, juga sangat baik sekali. Dengan keimanan ini, semua orang akan menyadari bahwa ada Dzat Yang Maha Tahu yang selalu mengawasi gerak-gerik mereka. Ia dapat mengetahui segala amal perbuatan yang mereka lakukan secara diam-diam maupun terang-terangan. Ia adalah Tuhan Yang Maha Mengetahui. Mereka akan sadar bahwa akan datang suatu hari yang mana pada hari itu semua amal perbuatan mereka akan dihitung dan ditimbang dengan sangat teliti. Dengan demikian, manusia akan merasa tercegah untuk melakukan perbuatan keji sekecil apapun; karena ada seorang pengawas yang sangat mengetahui akan apa yang dilakukannya.


[1] QS. Al-Anfal: 24.

[2] QS. Ar-Rum: 30.

Jika Imam Ali as memang telah ditunjuk oleh Rasulullah saw untuk menjadi khalifah, lalu mengapa beliau bersedia membai’at Abu Bakar?

Telah ditentukannya kekhalifahan Imam Ali as

Jika Imam Ali as memang telah ditunjuk oleh Rasulullah saw untuk menjadi khalifah, lalu mengapa beliau bersedia membai’at Abu Bakar? Kalau beliau membai’at Abu Bakar, berarti beliau memang tidak ditentukan nabi sebagai khalifah, atau paling tidak berarti beliau telah menyerahkan haknya kepada orang lain.

 

Pertanyaan ini memiliki dua sisi:

1. Telah ditentukannya kekhalifahan Imam Ali as oleh nabi.

2. Imam Ali as membai’at Abu Bakar.

Tentang telah ditentukannya kekhalifahan Imam Ali as oleh nabi, dalil-dalilnya sangat banyak dan jelas sekali. Dalil-dalil tersebut tentunya sangat lebih dari cukup bagi orang yang berniat mencari kebenaran tanpa fanatisme. Dalil-dalil tersebut diantaranya adalah:

1. Hadits Yaumul Indzar: Rasulullah saw sejak hari pertama beliau mengumumkan kenabiannya kepada keluarga besarnya telah menjelaskan kekhalifahan Imam Ali as. Di hari yang dikenal dengan Yaumul Indzar atau Yaumud Daar, dalam ucapan-ucapannya kepada Bani Hasyim beliau berkata: “Aku diutus oleh Allah swt untuk mengajakmu kepada kebaikan dunia dan akherat. Siapakah di antara kalian yang bersedia untuk membantuku dalam hal ini?”

Beliau menanyakan hal yang sama sebanyak tiga kali namun tak ada yang menjawab beliau selain Ali bin Abi Thalib as. Dua kali Rasulullah saw memintanya untuk diam, namun kali ketiga beliau menerimanya. Lalu beliau bersabda: “Ia adalah saudaraku, pewarisku, dan khalifah setelahku di antara kalian. Maka dengarkanlah perkataannya dan taati ia.”[1]

2. Hadits Manzilah: Selain itu sering sekali beliau menjelaskan kepada semua orang tentang kedudukan Imam Ali as baginya. Ungkapan-ungkapan yang beliau gunakan dalam ucapannya menunjukkan bahwa Imam Ali as adalah pengganti sepeninggal beliau. Saat Imam Ali as kesal mendengar ucapan-ucapan orang munafik, beliau mengadukannya kepada Rasulullah saw. Kemudian nabi berkata kepadanya: “Wahai Ali, tidakkah engkau ridha di sisiku berkedudukan bagai Harun as di sisi Musa as? Hanya saja tidak ada nabi setelahku.”[2] Di riwayat lain disebutkan: “Bagiku engkau seperti Harun as di sisi Musa as, hanya saja tak ada nabi setelahku.”[3]

Dalam hadits tersebut dijelaskan bahwa kedudukan Imam Ali as di sisi nabi bagaikan kedudukan Harun as di sisi Musa as. Jelas jika seandainya dulu nabi Harun as masih hidup, ia pasti menjadi pengganti nabi Musa as.

3. Hadits Tsaqalain: Beberapa kali Rasulullah saw mengucapkan hadits ini. Beliau bersabda: “Sesungguhnya aku meninggalkan dua hal berharga bagi kalian yang jika kalian berpegang teguh kepada keduanya kalian tidak akan pernah tersesat selamanya, dan salah satunya lebih agung dari lainnya: Kitab Allah swt, tali yang menjulur dari langit ke bumi, dan yang kedua Ahlul Baitku; keduanya tidak akan berpisah hingga keduanya masuk ke dalam telaga surga. Maka lihatlah bagaimana diri kalian kelak akan bersikap.”[4] Dalam hadits tersebut beliau menjelaskan bahwa Al-Qur’an adalah pegangan utama umat Islam dan Ahlul-Bait adalah penafsir Al-Qur’an yang harus dijadikan rujukan. Karena Imam Ali as adalah Ahlul-Bait nabi, hendaknya umat Islam menjadikannya rujukan sepeninggal nabi.

4. Hadits Ghadir: Begitu juga saat Rasulullah saw berada di Ghadir Khum, setelah beliau meminta kesaksian dari seluruh umat Islam bahwa dirinya lebih dahulu daripada harta dan jiwa mereka, beliau bersabda: “Barang siapa menjadikanku tuannya, maka hendaknya menjadikan Ali sebagai tuannya pula. Ya Tuhan, tolonglah orang yang menolongnya, dan hinakanlah orang yang menghinanya.”[5]

 

Ahlu Sunah Meragukan Hadits Ghadir

Meskipun Ahlu Sunah dikenal meragukan hadits Ghadir sebagai bukti kekhalifahan Imam Ali as, namun dengan melihat indikasi-indikasi sebelum dan sesudah beliau mengucapkan hadits itu, kenyataannya akan jelas bahwa yang dimaksud “tuan” dalam hadits tersebut berarti “pemimpin”. Sebelum mengucapkan hadits itu Rasulullah saw meminta kesaksian umatnya: “Bukankah aku paling berhak atas kalian? Atas jiwa dan harta kalian?” Setelah semua orang mengiyakan, beliau menyatakan bahwa demikian juga Ali bin Abi Thalib memilki wewenang yang sama sepertinya. Lalu setelah itu nabi berdoa agar melaknat orang yang memusuhi Ali bin Abi Thalib as dan menolong orang yang menolongnya. Nabi juga menjelaskan bahwa mencintai Ali as berarti mencintai Allah swt dan nabi-Nya, memusuhi Ali as juga berarti memusuhi Allah swt dan nabi-Nya. Hal-hal sedemikian rupa membuktikan bahwa maksud Rasulullah dalam hadits Ghadir adalah menyatakan kepada semua orang bahwa Imam Ali as adalah pengganti sepeninggal beliau.

 

Alasan Imam Ali as membai’at Abu Bakar

Adapun Imam Ali as membai’at Abu Bakar, jika itu memang benar, hal itu tidak bertentangan dengan telah ditentukannya kekhalifahan Imam as oleh nabi. Karena tugas beliau adalah memimpin umat; entah beliau diangkat oleh umatnya ataupun tidak, beliau tetap dapat menjalankan tugasnya semaksimal mungkin yang beliau bisa. Imam Ali as membai’at Abu Bakar karena tidak ingin menimbulkan kericuhan di dalam umat Islam. Karena jika tidak maka kekacauan dan perpecahan tersebut akan digunakan oleh musuh-musuh Islam dari Luar, seperti Roma dan Persia saat itu, untuk menyerang dan menghancurkan Islam. Dengan kebijakan tersebut Imam Ali as dapat menghindari keributan di dalam demi memfokuskan fikiran umat Islam bersama untuk menghadapi bahaya musuh-musuh di luar.

Dalam segala keadaan Imam Ali as rela mengorbankan apapun demi Islam. Bagaikan seorang ibu sejati yang rela mengorbankan nyawanya pun demi anaknya.[6] Imam Ali as sendiri berkata: “Demi Allah, aku sama sekali tidak berfikir bahwa Arab akan merampas kekhalifahan dari tangan Ahlul Bait dan menjauhkannya dariku. Aku melihat mereka berbondong-bondong membai’at seseorang. Aku pun enggan untuk membai’atnya. Namun aku melihat ada sekelompok orang yang hendak menghancurkan agama Muhammad saw. Maka aku takut jika aku tidak berbuat apa-apa untuk Islam dan Muslimin maka akan timbul perpecahan di dada Islam, yang mana musibah itu bagiku lebih besar daripada kehilangan kedudukan yang menurut kalian sangat diidamkan.”[7]

 

Untuk mengkaji lebih jauh:

1. Allamah Sayid Muhammad Husain Husaini Thabthabai, Emam Shenashi, penerbit Hekmat, 1421, jil. 4-7.

2. Sayid Syarafuddin Al-Musawi, Rahbari e Emam Ali as Dar Qor’an va Sonnat, terjemahan Muhammad Ja’far Emami, Moawenat e Farhanggi Sazman e Tablighat, 1370.

 

Hadits akhir:

Rasulullah saw bersabda: “Wahai Bani Hasyim! Sesungguhnya saudaraku, pewarisku, dan penggantiku di antara keluargaku adalah Ali bin Abi Thalib as. Ia yang akan menunaikan hutang-hutangku dan menjalankan tugas-tugasku.”[8]

 


[1] Muhammad bin Jarir Thabari, Tarikh Thabari, jil. 2, hal. 321, Tahkik: Muhammad Abul Fadhl Ibrahim; Abdul Rahman bin Muhammad bin Khuldun, Tarikh Ibnu Khuldun, jil. 1, hal. 647; Al-Kamil, jil. 2, hal. 32.

[2] Abul Hasan Ali bin Muhammad bin Atsir, Usdul Ghabah Fi Ma’rifati Ash-Shahabah, jil. 3, hal. 601.

[3] Ahmad bin Ali bin Hajar Al-Asqalani, Al-Ishabah fi Tamyiiz Ash-Shahabah, Tahkik: Adil Ahmad Abdul Maujud dan Ali Muhammad Mu’awidh, jil. 3, hal. 1097; Ahmad bin Yahya bin Jabir Baladzari, Ansab Al Asyraf, Tahkik: Muhammad Hamidullah, jil. 2, hal. 94.

[4] Usdul Ghabah, jil. 1, hal. 490.

[5] Ibid, jil. 1, hal. 439; Abul Fida’ Ismail bin ‘Amr bin Katsir Al-Dimashqi, Al-Bidayah wa An-Nihayah, jil. 5, hal. 210.

[6] Di jaman Umar ada dua orang wanita berselisih mengaku seorang bayi sebagai anaknya. Supaya dapat membuktikan siapa ibu anak itu yang sebenarnya, Imam Ali as berencana untuk memotong anak menjadi dua lalu dibagikan tiap potongnya kepada setiap wanita itu. Salah seorang wanita itu bersedia, namun satunya lagi tidak bersedia dan berkata: “Jangan, lebih baik berikan saja jatahku untuk wanita itu.” Lalu akhirnya Imam Ali menyatakan bahwa ibu yang tidak bersedia anaknya dipotong itu adalah ibu yang sebenarnya. (Qezavat Haye Mohayerol Oqul, Sayid Hasan Muhsin Amin ‘Amili, hal. 37)

[7] Nahjul Balaghah, Faidz Al-Kashani, surat ke 62.

[8] Amali Thusi, 602/1244.

Alasan Imam Ali as Menolak Dibai'at

Mengapa Imam Ali as tidak segera menerima tawaran untuk menjadi khalifah? Bukankah jika beliau menolak berarti ia tidak berhak atas kekhalifahan?

Sepeninggal Rasulullah saw, umat Islam mengalami ikhtilaf dan perpecahan. Sebagian kelompok tidak menghiraukan ucapan-ucapan dan wasiat nabi; mereka memilih pengganti nabi sesuai keinginan mereka sendiri. Padahal Rasulullah saw telah menjelaskan kriteria-kriteria seorang khalifah dan siapa khalifah setelahnya. Namun orang-orang yang haus kekuasaan bertindak sesuai keuntungan yang mereka inginkan. Mereka memilih seseorang yang mereka kehendaki tanpa memperdulikan nasib umat Islam secara keseluruhan. Pelencengan umat Islam dimulai dari seseorang seperti Walid yang memimpin shalat shubuh empat rakaat dalam keadaan mabuk.[1] Belum lagi harta kekayaan Baitul Mal dihisap sebanyak-banyaknya oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab.

Sepeninggal Utsman, umat Islam heboh mendatangi Ali bin Abi Thalib as untuk menjadikannya khalifah. Namun karena kondisi saat itu (akibat ulah khalifah-khalifah sebelumnya) tidak memungkinkan bagi beliau untuk menjadi khalifah yang dapat menegakkan keadilan di tengah-tengah mereka, maka beliau menolak. Imam Ali as sendiri tahu bahwa orang-orang yang telah hidup selama 25 tahun di bawah kepemimpinan yang tidak adil tidak akan mungkin terbiasa dengan pola dan cara Imam Ali as memimpin.

Berikut ini adalah penggalan dari perkataan-perkataan Imam Ali as yang dapat menjelaskan seperti apa kondisi umat Islam saat itu.

Dalam khutbahnya Imam Ali as bercerita bahwa ketika orang-orang berdatangan ke rumahnya untuk membai’atnya, beliau berkata: “Tinggalkanlah aku. Carilah orang lain. Karena kejadian-kejadian yang bermacam-macam dan tak jelas akan mendatangi kita. Kondisi sangat membingungkan dan rumit. Hati-hati tidak tetap dalam masalah ini dan akal-akal tidak tegas. Awan-awan kebejatan beterbangan di langit-langit dunia Islam dan membuatnya gelap. Jalan yang benar telah tertutupi dan menjadi samar. Jika aku menerima tawaran kalian ini, aku akan bertindak sesuai apa yang kuanggap benar dan aku tidak akan mendengar kata-kata siapa saja yang mencaci dan mencemoohku.”[2]

Maksud Imam Ali as adalah: Aku akan selalu bertindak sesuai yang dipesan oleh Rasulullah saw untuk membagikan kekayaan Baitul Mal secara merata kepada siapapun, baik Arab maupun Ajam, baik kulit putih maupun kulit hitam. Namun bagaimana hal itu akan kulakukan? Sedang kalian sudah terbiasa dengan perilaku khalifah-khalifah sebelumnya; terbiasa dengan suap dan uang haram. Maka pergilah dan carilah orang selainku![3]

Ibnu Abil Hadid, yang merupakan pensyarah Nahjul Balaghah, di permulaan khutbah ini mengisyarahkan bahwa jika Imam Ali as memang khalifah yang ditunjuk nabi untuk menggantikannya, maka ia tidak layak untuk berkata: “Tinggalkanlah aku dan carilah selainku.” Lalu ia berkata: “Ucapan Ali bin Abi Thalib as itu (khutbah terkait) memiliki kedalaman yang sangat dan merupakan kabar ghaib yang mana semua orang saat itu tidak tahu. Kabar itu berkaitan dengan perang-perang umat Islam dan timbulnya fitnah-fitnah besar (di kekhalifahan beliau).

Sejarah mencatat bahwa sepeninggal Utsman mereka berkumpul di Masjid dan menceritakan keutamaan-keutamaan imam Ali as untuk memprovokasi pembai’atan Imam Ali as. Akhirnya Imam Ali as pun dibai’at. Setelah itu beliau memuji Tuhan di atas mimbarnya lalu berkata: “Wahai umat! Kalian tahu posisiku sama dengan posisi nabi. Aku tidak akan melenceng dari jalurnya. Nabi berkata bahwa penggantinya yang akan membimbing umat melewati jalan yang lurus akan ditolong dengan malaikat. Namun jika ada yang merebut kepemimpinan dan menggiring umat manusia menuju kebatilan maka akhir nasib mereka adalah api neraka.”

Setelah menyinggung masalah bai’at tersebut, Ibnu Abil Hadid menceritakan masalah pembagian harta Baitul Mal. Ia berkata: “Sejak awalnya sudah ada orang-orang yang mencemooh Ali bin Abi Thalib as karena ia tidak membeda-bedakan antara budak, pemilik budak dan orang berkedudukan dalam pembagian harta. Mulailah mereka membawa-bawa nama para khalifah-khalifah sebelumnya. Di sinilah hikmah perkataan Imam Ali as dulu mulai menjadi nyata; dulu saat beliau berkata: “Carilah orang selainku.”[4]

Sebagaimana yang dijelaskan Ibnu Abil Hadid dalam kitabnya itu, bahwa Imam Ali as sama sekali tidak memiliki keraguan akan kekhalifahan adalah haknya. Namun ia meragukan kesiapan umat yang telah terbiasa dengan pemerintahan yang tak adil; karena begitu Imam Ali as menerima bai’at maka ia akan bertekat untuk mendirikan keadilan setegak-tegaknya meskipun semua orang menentangnya.

Dalam bagian khutbahnya yang lain ia berkata: “Aku sebenarnya tidak mau menerima kekhalifahan itu. Namun semua orang mengerumuniku dan saling ribut sendiri, sampai-sampai aku mengira mereka saling membunuh satu sama lain. Akhirnya aku pun merombak kekhalifahan dan merubah arahnya; sampai rasa kantuk tak pernah menghampiriku.”

Beliau juga pernah berkata: “Sumpah demi Tuhan yang telah memecah biji-bijian dan menciptakan manusia! Semua orang mendatangiku dan ingim membai’atku. Telah sempurna Hujjah Tuhan atasku. Jika bukan karena Allah swt meminta orang yang berakal untuk tidak tinggal diam melihat kerusakan, maka aku sudah meninggalkan kekhalifahan dari sejak lama. Dan kalian tahu dengan baik bahwa dunia kalian bagiku lebih tak berharga dari ingus kambing.”[5]

Dari apa yang dikatakan oleh beliau dapat kita simpulkan bahwa umat Islam saat itu tidak memiliki kapabilitas untuk menjalankan kehidupan dengan pemerintahan yang adil dan beliau sama sekali tidak menunjukkan keridhaan terhadap pemerintahan yang telah ada. Namun karena tak ada cara lain yang lebih baik untuk umatnya, akhirnya beliau menerima dibai’at.

Peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa pemerintahan beliau membuktikan betapa tajam pandangan beliau sejak sebelumnya tentang keadaan umat Islam saat itu. Akhirnya banyak yang melanggar bai’atnya sendiri dan terus memusuhi Imam Ali as sampai beliau wafat. Segala kekacauan yang telah beliau perkirakan itu yang membuatnya enggan dibai’at. Padahal jika bicara tentang hak, jelas kekhalifahan adalah hak beliau. Beliau tidak pernah mundur membela hak-haknya; seperti halnya dalam peristiwa 6 calon penganti Umar dan sebelum terbunuhnya Utsman, beliau menekankan bahwa kekhalifahan adalah hak beliau.

Referensi untuk mengkaji lebih jauh:

1. Nadzem Zade Qomi, Mazhar e Welayat.

2. Muhammad Taqi Ja’fari, Syarah Nahjul Balaghah, jil. 16.

3. Nashir Makarim Syirazi, Payam e Amirul Mu’minin as, jil. 3.

Hadits akhir:

Rasulullah saw menunjuk Ali bin Abi Thalib as dengan jarinya seraya bersabda: “Ia adalah saudaraku, pewarisku, dan penggantiku di tengah-tengah kalian. Dengarkanlah perintahnya dan taatilah ia.”[6]


[1] Ghiyats Al-Din, Habib As-Saiyr, jil. 1, hal. 498.

[2] Nahjul Balaghah, khutbah 92.

[3] Muhammad Taqi Ja’fari, Tarjome va Syarh e Nahjul Balaghah, jil. 16, hal. 90 dan 91.

[4] Ibnu Abil Hadid, Syarah Nahjul Balaghah, jil. 8 dan 7.

[5] Nahjul Balaghah, khutbah 54.

[6] Muhammad Taqi Hindi, Kanzul Ummal, 36419.

Mengapa Ali membai'at para khalifah

Tanya: Ali sejak sebelumnya pasti tahu bahwa ia adalah khalifah Tuhan setelah Nabi. Lalu mengapa ia membai’at Abu Bakar, Umar dan Utsman? Jika ia tidak mempunyai kekuatan untuk melawan, maka dia bukan khalifah Tuhan. Jika punya, mengapa tidak menggunakan kekuatan itu? Bukankah itu penghianatan? Apa jawaban anda?

Jawab: Dalam sejarah tidak pernah tercatat bahwa Ali bin Abi Thalib membai’at Umar dan Utsman. Karena kekhilafahan Umar bin Khattab telah ditentukan oleh Abu Bakar. Orang-orang banyak yang menanyai Abu Bakar, “Mengapa engkau memilih seseorang yang berwatak keras untuk menjadi khalifah? Kelak ia akan menjadi semakin keras dengan begitu. Apa yang akan kau jawab di hadapan Tuhan nanti karena telah menjadikan orang sepertinya sebagai khalifah kami?”

Abu Bakar menjawab mereka, “Jawabanku untuk Tuhan kelak adalah: Aku telah memilih orang terbaik untuk menjadi khalifah.”[1]

Begitupula kekhilafahan Utsman bin Affan, kekhalifahannya juga atas usaha Abdurrahman bin ‘Auf. Dengan demikian apa arti bai’at Ali bin Abi Thalib? Sama sekali mereka tidak membutuhkan bai’atnya untuk menjadi khalifah.

Lalu bagaimana anda menyatakan bahwa Ali membai’at mereka?

Adapun mengenai pembai’atan Ali bin Abi Thalib untuk Abu Bakar, dapat dikatakan bahwa menurut Syiah itu bukanlah bai’at. Adapun dalam versi Ahlu Sunah, Ali bin Abi Thalib membai’at Abu Bakar setelah enam bulan dan sepeninggal istrinya, Fathimah Az-Zahra. Lalu dapat dipertanyakan mengapa Ali bin Abi Thalib mengulur waktu sedemikian lama untuk melakukan perbuatan yang benar (bai’at)? Anggap saja Ali bukan Washi Nabi. Siapapun Ali meski ia bukan Washi Nabi, tak dielakkan bahwa ia pun juga sahabat. Sedang jelas sahabat Nabi seperti apa kedudukannya tetaplah junjungan kita. Lalu mengapa sahabat Nabi ini tidak langsung membai’at Abu Bakar begitu bai’atnya diminta? Apa alasannya? Bahkan istrinya, mengapa ia tidak membai’at Abu Bakar sama sekali sampai akhir hayatnya? Bukankah orang yang meninggal dunia dalam keadaan belum membai’at (mengakui) Imam zamannya mati sebagai matinya orang jahil?[2]

Satu lagi, ungkapan penanya yang berbunyi: “Jika ia tidak punya kekuatan, maka ia bukan Khalifah.” Apakah ia mengira kekhilafahan adalah kedudukan yang dapat dicapai dengan pendapat masyarakat? Bagi kami kekhilafahan adalah kedudukan yang telah ditetapkan oleh Tuhan. Kekhilafahan di mata kami tidak membutuhkan pendapat masyarakat sama sekali. Bagi kami sama seperti kenabian. Apakah menurut anda jika seorang Nabi tidak memiliki kekuatan atau pengikut yang banyak maka ia bukan Nabi?


[1] Al-Kharaj, Abu Yusuf Baghdadi, hlm. 100.

[2] Shaih Muslim, jld. 6, hlm. 22; Sunan Baihaqi, jld. 8, hlm. 156.

Bai'at Ali bin Abi Thalib untuk khalifah

Tanya: Bukankah Ali bin Abi Thalib telah membai’at khalifah? Artinya kekhalifahan itu benar bagi Ali?

Jawab: Syiah berkeyakinan bahwa Ali bin Abi Thalib tidak membai’at siapapun. Karena ia mengaku bahwa dirinya-lah khalifah yang telah ditetapkan Tuhan. Namun ternyata kekhilafahan jatuh ke tangan orang lain, yang kemudian “kemaslahatan bersama” menuntutnya untuk menyertai mereka. Ia sendiri pernah berkata:

“Aku melihat bahwa jika aku bersikeras mengambil hakku (kekhalifahan), maka Islam yang ada sekarang ini pun juga akan musnah.”[1]

Ia tidak menemukan cara lain selain menyertai khalifah-khalifah yang ada dan membimbing mereka.

Bahkan ketika sebagian orang-orang Arab menolak untuk membayar zakat, dan akhirnya mereka dikecam, beliau pun juga tidak bisa melakukan apa-apa selain diam. Namun tidak selamanya seperti itu, pada saat-saat tertentu ia menguak kenyataan yang ada dan berseru mengingatkan masyarakat akan hak-haknya.

Menurut para perawi Ahlu Sunah, Ali bin Abi Thalib membai’at khalifah sepeninggal Fathimah Az-Zahra. Namun selama Fathimah Az-Zahra masih hidup, ia terus menerus kesal terhadap Abu Bakar dan tidak mau berbicara dengannya karena marah.[2]

Anggap saja Ali bin Abi Thalib memang betul telah membai’at khalifah sepeninggal istrinya. Namun seluruh ahli hadits bersepakat bahwa Fathimah Az-Zahra sampai akhir hayatnya tidak pernah membai’at bahkan berpaling dari mereka.

Ibnu Hajar dalam Syarah Shahih Bukhari menukilkan: “Fathimah Az-Zahra marah terhadap Abu Bakar dan selalu menjauhinya. Ia tetap dalam keadaan seperti itu hingga enam hari, baru setelah itu ia meninggal dunia. Ali menyolati jasad istrinya dan ia tidak memberitahukan hal itu kepada Abu Bakar.”[3]

Kini kami bertanya, bukankah Fatimah Az-Zahra juga diakui oleh Shahih Bukhari sebagai wanita terbaik di muka bumi? Lalu mengapa ia tidak membai’at Abu Bakar? Jika Abu Bakar berhak untuk menjadi khalifah, lalu mengapa putri nabi ini marah terhadapnya? Rasulullah Saw pernah bersabda:

“Barang siapa mati dan tidak membai’at serta mengakui khalifah/imam di jamannya, maka ia mati sebagai matinya orang di jaman jahiliah.”[4]

Lalu salah satu dari dua pertanyaan ini harus dijawab:

1. Putri nabi Muhammad Saw tidak membai’at Abu Bakar dan tidak mengakuinya. Apakah ia mati sebagai orang jahiliah?

2. Apakah orang yang mengaku khalifah itu sebenarnya bukan khalifah? Yakni ia tidak berhak untuk menjabat sebagai khalifah?

Kita tidak bisa menjawab “ya” untuk pertanyaan pertama. Karena putri Rasulullah Saw adalah orang yang telah disucikan oleh Allah Swt dari noda dan kesalahan; nabi pun berkata tentangnya: “Fathimah adalah penghulu wanita penghuni surga.”[5]

Beliau juga bersabda, “Wahai Fathimah, sesungguhnya Allah Swt marah karena amarahmu dan Ia ridha karena keridhaanmu.”[6]

Lalu jika demikian, maka Fathimah Az-Zahra adalah perempuan suci yang tidak mungkin ia mati sebagai orang jahiliah.

Kita simpulkan, Fathimah Az-Zahra tidak membai’at khalifah itu karena baginya pengaku khalifah itu bukan khalifah yang layak. Sampai akhir hayat ia dalam hatinya mengakui hanya seorang lah khalifah yang sah, yaitu suaminya, Ali bin Abi Thalib.

Menurut Bukhari (jika memang itu benar), Ali bin Abi Thalib membai’at khalifah setelah enam bulan. Lalu jika memang ia layak dibai’at kenapa harus tertunda sekian lama?

Sungguh aneh jika anda hanya mengandalkan sepenggal kisah sejarah bahwa “Ali membai’at khalifah”, itu saja, sedang anda melupakan segala kesedihan yang pernah menimpa Fathimah Az-Zahra selama hidupnya, sepeninggal nabi.

Dengan penjelasan ini dapat kami jelaskan bahwa bai’at Ali bin Abi Thalib setelah enam bulan tersebut tidaklah berarti apa-apa. Karena khalifah sama sekali tidak membutuhkan bai’at darinya; yakni ia (khalifah) telah duduk di tahta kekhalifahan dengan nyaman saat itu juga. Dan, Ali pun bukan orang yang bisa meninggalkan kewajiban hanya karena seorang istri menghalanginya.

Apapun yang dilakukan Ali bin Abi Thalib bersama khalifah masa itu hanya sebatas menyertai dan mengarahkan khalifah demi terjaganya Islam dari perpecahan dan kemusnahan. Bahkan perlu ditambahkan, bahwa bai’at Ali bin Abi Thalib berdasarkan paksaan dari pihak khalifah. Kenyataan tersebut dapat kita fahami dari sepucuk surat yang pernah ditulis oleh Mu’awiyah kepada Ali bin Abi Thalib.


[1] Nahjul Balaghah, surat ke-62.

[2] Shahih Bukhari, jld. 4, hlm. 42; jld. 5, hlm. 82; jld. 8, hlm. 30.

[3] Fathul Bari, kitab Al-Maghazi, bab Ghazwah Khaibar, jld. 7, hlm. 493, hadits 4240 dan juga kitab Al-Faraidh, jld. 12, hlm. 5, hadits 6726.

[4] Shahih Bukhari, jld. 6, hlm. 22, bab Man Farraqa Amr Al-Muslimin; Sunan Al-Baihaqi, jld. 8, hlm. 156.

[5] Ibid, jld. 4, hlm. 25, bab Manaqib Qarabah Rasulullah.

[6] Ibid, jld. 4, hlm. 210; Mustadrak Al-Hakim, jld. 3, hlm. 154.

Mengapa Ali tidak membela istrinya

Tanya: Jika Fathimah Az-Zahra memang dizalimi oleh para sahabat, lalu mengapa suaminya yang pemberani hanya diam dan tidak membelanya?

Jawab: Pertanyaan di atas seakan menjelaskan kenyataan yang pernah terjadi memang demikian. Padahal tidak ada bukti bahwa Ali bin Abi Thalib tidak membela istrinya.

Ali bin Abi Thalib sesuai dengan tuntutan syari’at telah menjaga kehormatan diri dan keluarganya. Penjagaan dan pembelaan saat itu tidak bisa kita anggap harus dengan bentuk pertumpahan darah dan pertikaian, karena tidak menjadi maslahat Islam. Jika Ali memberontak dan berhadapan dengan mereka, maka akan terbentuk dua kelompok di antara umat Islam: kelompok pendukung khalifah, dan kelompok pendukung Ali bin Abi Thalib yang tetap menjaga bai’at terhadapnya sejak peristiwa Ghadir Khum sebelum wafat Nabi. Perpecahan inilah yang tidak diinginkan oleh Ali bin Abi Thalib.

Banyak sekali kaum munafik di waktu itu yang berusaha memperkeruh keadaan. Misalnya Abu Sufyan, musuh bebuyutan Islam, saat itu mendatangi rumah Ali dan berkata kepadanya, “Wahai Ali, berikan tanganmu, aku ingin membai’atmu.”

Ali bin Abi Thalib tahu bahwa Abu Sufyan berlaga menjadi pendukungnya dan ingin membai’at hanya demi terciptanya perselisihan. Oleh karenanya Ali berkata padanya:

“Demi Tuhan engkau mengucapkan kata-katamu ini dengan niat busuk agar berkobar api fitnah di anatara umat Islam. Engkau selalu menginginkan keburukan untuk Islam dan Muslimin. Pergilah, aku tidak menginginkan semua ini darimu.”[1]

Kepada penanya saya ingin jelaskan, bahwa orang yang berani bukanlah orang yang selalu mencabut pedangnya di setiap keadaan tanpa terkecuali. Orang yang berani adalah orang yang menjalankan tugasnya. Betapa banyak orang yang mengaku pemberani namun mereka enggan dan takut untuk mendengar perkataan yang benar.

Pada suatu hari Rasulullah Saw melihat sekelompok orang berkumpul. Ternyata mereka terkagum-kagum akan seseorang. Beliau bertanya kepada mereka, “Siapakah orang itu?” Dijawab, “Ia adalah pendekar pemberani yang mampu mengangkat beban yang sangat berat.” Lalu beliau berkata, “Itu bukanlah orang yang berani; pemberani adalah orang yang mampu mengalahkan keinginan-keinginan nafsunya.”[2]

Sejarah membuktikan bahwa di masa itu Islam masih belum mengakar kuat di hati umatnya. Islam masih baru tumbuh lemah yang mungkin jika tertiup angin, meski angin itu lembut sekalipun, Islam akan tercabut dengan mudahnya dari hati mereka.

Rasulullah Saw berkata kepada ‘Aisyah: “Jika seandainya Quraisy bukanlah orang-orang yang baru masuk Islam, niscaya aku akan merombak Ka’bah. Lalu sebagai gantinya satu pintu, aku akan letakkan dua pintu untuknya.”[3]

Kita akui tidak ada orang yang lebih pemberani dari Nabi Muhammad Saw. Namun beliau tetap melihat kondisi yang sedemikian rupa dan mempertimbangkannya. Apakah benar jika ada sebagian orang-orang munafik yang enggan membayar zakat berkoar sedang umat Islam yang bersaudara saling bertikai?

Orang-orang munafik berharap Ali bin Abi Thalib yang telah menghunuskan pedangnya kepada kaum kafir di perang Badar dan Uhud melakukan hal yang sama terhadap umat Islam sendiri sepeninggal Nabi dengan pedang yang sama. Jika ada yang membenarkan hal tersebut, maka ia bukanlah orang yang memahami sejarah Islam, dan juga tidak mengenal siapakah Ali yang sebenarnya.


[1] Tarikh Thabari, jld. 2, hlm. 449.

[2] Bihar Al-Anwar, jld. 1, hlm. 77 dan 112.

[3] Musnad Ahmad, jld. 6, hlm. 176.

 

kekhalifahan adalah hak Imam Ali AS. Beliau tidak pernah mundur membela hak-haknya

Alasan Imam Ali as Menolak Dibai'at

Mengapa Imam Ali as tidak segera menerima tawaran untuk menjadi khalifah? Bukankah jika beliau menolak berarti ia tidak berhak atas kekhalifahan?

Sepeninggal Rasulullah saw, umat Islam mengalami ikhtilaf dan perpecahan. Sebagian kelompok tidak menghiraukan ucapan-ucapan dan wasiat nabi; mereka memilih pengganti nabi sesuai keinginan mereka sendiri. Padahal Rasulullah saw telah menjelaskan kriteria-kriteria seorang khalifah dan siapa khalifah setelahnya. Namun orang-orang yang haus kekuasaan bertindak sesuai keuntungan yang mereka inginkan. Mereka memilih seseorang yang mereka kehendaki tanpa memperdulikan nasib umat Islam secara keseluruhan. Pelencengan umat Islam dimulai dari seseorang seperti Walid yang memimpin shalat shubuh empat rakaat dalam keadaan mabuk.[1] Belum lagi harta kekayaan Baitul Mal dihisap sebanyak-banyaknya oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab.

Sepeninggal Utsman, umat Islam heboh mendatangi Ali bin Abi Thalib as untuk menjadikannya khalifah. Namun karena kondisi saat itu (akibat ulah khalifah-khalifah sebelumnya) tidak memungkinkan bagi beliau untuk menjadi khalifah yang dapat menegakkan keadilan di tengah-tengah mereka, maka beliau menolak. Imam Ali as sendiri tahu bahwa orang-orang yang telah hidup selama 25 tahun di bawah kepemimpinan yang tidak adil tidak akan mungkin terbiasa dengan pola dan cara Imam Ali as memimpin.

Berikut ini adalah penggalan dari perkataan-perkataan Imam Ali as yang dapat menjelaskan seperti apa kondisi umat Islam saat itu.

Dalam khutbahnya Imam Ali as bercerita bahwa ketika orang-orang berdatangan ke rumahnya untuk membai’atnya, beliau berkata: “Tinggalkanlah aku. Carilah orang lain. Karena kejadian-kejadian yang bermacam-macam dan tak jelas akan mendatangi kita. Kondisi sangat membingungkan dan rumit. Hati-hati tidak tetap dalam masalah ini dan akal-akal tidak tegas. Awan-awan kebejatan beterbangan di langit-langit dunia Islam dan membuatnya gelap. Jalan yang benar telah tertutupi dan menjadi samar. Jika aku menerima tawaran kalian ini, aku akan bertindak sesuai apa yang kuanggap benar dan aku tidak akan mendengar kata-kata siapa saja yang mencaci dan mencemoohku.”[2]

Maksud Imam Ali as adalah: Aku akan selalu bertindak sesuai yang dipesan oleh Rasulullah saw untuk membagikan kekayaan Baitul Mal secara merata kepada siapapun, baik Arab maupun Ajam, baik kulit putih maupun kulit hitam. Namun bagaimana hal itu akan kulakukan? Sedang kalian sudah terbiasa dengan perilaku khalifah-khalifah sebelumnya; terbiasa dengan suap dan uang haram. Maka pergilah dan carilah orang selainku![3]

Ibnu Abil Hadid, yang merupakan pensyarah Nahjul Balaghah, di permulaan khutbah ini mengisyarahkan bahwa jika Imam Ali as memang khalifah yang ditunjuk nabi untuk menggantikannya, maka ia tidak layak untuk berkata: “Tinggalkanlah aku dan carilah selainku.” Lalu ia berkata: “Ucapan Ali bin Abi Thalib as itu (khutbah terkait) memiliki kedalaman yang sangat dan merupakan kabar ghaib yang mana semua orang saat itu tidak tahu. Kabar itu berkaitan dengan perang-perang umat Islam dan timbulnya fitnah-fitnah besar (di kekhalifahan beliau).

Sejarah mencatat bahwa sepeninggal Utsman mereka berkumpul di Masjid dan menceritakan keutamaan-keutamaan imam Ali as untuk memprovokasi pembai’atan Imam Ali as. Akhirnya Imam Ali as pun dibai’at. Setelah itu beliau memuji Tuhan di atas mimbarnya lalu berkata: “Wahai umat! Kalian tahu posisiku sama dengan posisi nabi. Aku tidak akan melenceng dari jalurnya. Nabi berkata bahwa penggantinya yang akan membimbing umat melewati jalan yang lurus akan ditolong dengan malaikat. Namun jika ada yang merebut kepemimpinan dan menggiring umat manusia menuju kebatilan maka akhir nasib mereka adalah api neraka.”

Setelah menyinggung masalah bai’at tersebut, Ibnu Abil Hadid menceritakan masalah pembagian harta Baitul Mal. Ia berkata: “Sejak awalnya sudah ada orang-orang yang mencemooh Ali bin Abi Thalib as karena ia tidak membeda-bedakan antara budak, pemilik budak dan orang berkedudukan dalam pembagian harta. Mulailah mereka membawa-bawa nama para khalifah-khalifah sebelumnya. Di sinilah hikmah perkataan Imam Ali as dulu mulai menjadi nyata; dulu saat beliau berkata: “Carilah orang selainku.”[4]

Sebagaimana yang dijelaskan Ibnu Abil Hadid dalam kitabnya itu, bahwa Imam Ali as sama sekali tidak memiliki keraguan akan kekhalifahan adalah haknya. Namun ia meragukan kesiapan umat yang telah terbiasa dengan pemerintahan yang tak adil; karena begitu Imam Ali as menerima bai’at maka ia akan bertekat untuk mendirikan keadilan setegak-tegaknya meskipun semua orang menentangnya.

Dalam bagian khutbahnya yang lain ia berkata: “Aku sebenarnya tidak mau menerima kekhalifahan itu. Namun semua orang mengerumuniku dan saling ribut sendiri, sampai-sampai aku mengira mereka saling membunuh satu sama lain. Akhirnya aku pun merombak kekhalifahan dan merubah arahnya; sampai rasa kantuk tak pernah menghampiriku.”

Beliau juga pernah berkata: “Sumpah demi Tuhan yang telah memecah biji-bijian dan menciptakan manusia! Semua orang mendatangiku dan ingim membai’atku. Telah sempurna Hujjah Tuhan atasku. Jika bukan karena Allah swt meminta orang yang berakal untuk tidak tinggal diam melihat kerusakan, maka aku sudah meninggalkan kekhalifahan dari sejak lama. Dan kalian tahu dengan baik bahwa dunia kalian bagiku lebih tak berharga dari ingus kambing.”[5]

Dari apa yang dikatakan oleh beliau dapat kita simpulkan bahwa umat Islam saat itu tidak memiliki kapabilitas untuk menjalankan kehidupan dengan pemerintahan yang adil dan beliau sama sekali tidak menunjukkan keridhaan terhadap pemerintahan yang telah ada. Namun karena tak ada cara lain yang lebih baik untuk umatnya, akhirnya beliau menerima dibai’at.

Peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa pemerintahan beliau membuktikan betapa tajam pandangan beliau sejak sebelumnya tentang keadaan umat Islam saat itu. Akhirnya banyak yang melanggar bai’atnya sendiri dan terus memusuhi Imam Ali as sampai beliau wafat. Segala kekacauan yang telah beliau perkirakan itu yang membuatnya enggan dibai’at. Padahal jika bicara tentang hak, jelas kekhalifahan adalah hak beliau. Beliau tidak pernah mundur membela hak-haknya; seperti halnya dalam peristiwa 6 calon penganti Umar dan sebelum terbunuhnya Utsman, beliau menekankan bahwa kekhalifahan adalah hak beliau.

Referensi untuk mengkaji lebih jauh:

1. Nadzem Zade Qomi, Mazhar e Welayat.

2. Muhammad Taqi Ja’fari, Syarah Nahjul Balaghah, jil. 16.

3. Nashir Makarim Syirazi, Payam e Amirul Mu’minin as, jil. 3.

Hadits akhir:

Rasulullah saw menunjuk Ali bin Abi Thalib as dengan jarinya seraya bersabda: “Ia adalah saudaraku, pewarisku, dan penggantiku di tengah-tengah kalian. Dengarkanlah perintahnya dan taatilah ia.”[6]


[1] Ghiyats Al-Din, Habib As-Saiyr, jil. 1, hal. 498.

[2] Nahjul Balaghah, khutbah 92.

[3] Muhammad Taqi Ja’fari, Tarjome va Syarh e Nahjul Balaghah, jil. 16, hal. 90 dan 91.

[4] Ibnu Abil Hadid, Syarah Nahjul Balaghah, jil. 8 dan 7.

[5] Nahjul Balaghah, khutbah 54.

[6] Muhammad Taqi Hindi, Kanzul Ummal, 36419.

Mengapa Ali membai'at para khalifah

Tanya: Ali sejak sebelumnya pasti tahu bahwa ia adalah khalifah Tuhan setelah Nabi. Lalu mengapa ia membai’at Abu Bakar, Umar dan Utsman? Jika ia tidak mempunyai kekuatan untuk melawan, maka dia bukan khalifah Tuhan. Jika punya, mengapa tidak menggunakan kekuatan itu? Bukankah itu penghianatan? Apa jawaban anda?

Jawab: Dalam sejarah tidak pernah tercatat bahwa Ali bin Abi Thalib membai’at Umar dan Utsman. Karena kekhilafahan Umar bin Khattab telah ditentukan oleh Abu Bakar. Orang-orang banyak yang menanyai Abu Bakar, “Mengapa engkau memilih seseorang yang berwatak keras untuk menjadi khalifah? Kelak ia akan menjadi semakin keras dengan begitu. Apa yang akan kau jawab di hadapan Tuhan nanti karena telah menjadikan orang sepertinya sebagai khalifah kami?”

Abu Bakar menjawab mereka, “Jawabanku untuk Tuhan kelak adalah: Aku telah memilih orang terbaik untuk menjadi khalifah.”[1]

Begitupula kekhilafahan Utsman bin Affan, kekhalifahannya juga atas usaha Abdurrahman bin ‘Auf. Dengan demikian apa arti bai’at Ali bin Abi Thalib? Sama sekali mereka tidak membutuhkan bai’atnya untuk menjadi khalifah.

Lalu bagaimana anda menyatakan bahwa Ali membai’at mereka?

Adapun mengenai pembai’atan Ali bin Abi Thalib untuk Abu Bakar, dapat dikatakan bahwa menurut Syiah itu bukanlah bai’at. Adapun dalam versi Ahlu Sunah, Ali bin Abi Thalib membai’at Abu Bakar setelah enam bulan dan sepeninggal istrinya, Fathimah Az-Zahra. Lalu dapat dipertanyakan mengapa Ali bin Abi Thalib mengulur waktu sedemikian lama untuk melakukan perbuatan yang benar (bai’at)? Anggap saja Ali bukan Washi Nabi. Siapapun Ali meski ia bukan Washi Nabi, tak dielakkan bahwa ia pun juga sahabat. Sedang jelas sahabat Nabi seperti apa kedudukannya tetaplah junjungan kita. Lalu mengapa sahabat Nabi ini tidak langsung membai’at Abu Bakar begitu bai’atnya diminta? Apa alasannya? Bahkan istrinya, mengapa ia tidak membai’at Abu Bakar sama sekali sampai akhir hayatnya? Bukankah orang yang meninggal dunia dalam keadaan belum membai’at (mengakui) Imam zamannya mati sebagai matinya orang jahil?[2]

Satu lagi, ungkapan penanya yang berbunyi: “Jika ia tidak punya kekuatan, maka ia bukan Khalifah.” Apakah ia mengira kekhilafahan adalah kedudukan yang dapat dicapai dengan pendapat masyarakat? Bagi kami kekhilafahan adalah kedudukan yang telah ditetapkan oleh Tuhan. Kekhilafahan di mata kami tidak membutuhkan pendapat masyarakat sama sekali. Bagi kami sama seperti kenabian. Apakah menurut anda jika seorang Nabi tidak memiliki kekuatan atau pengikut yang banyak maka ia bukan Nabi?


[1] Al-Kharaj, Abu Yusuf Baghdadi, hlm. 100.

[2] Shaih Muslim, jld. 6, hlm. 22; Sunan Baihaqi, jld. 8, hlm. 156.

Bai'at Ali bin Abi Thalib untuk khalifah

Tanya: Bukankah Ali bin Abi Thalib telah membai’at khalifah? Artinya kekhalifahan itu benar bagi Ali?

Jawab: Syiah berkeyakinan bahwa Ali bin Abi Thalib tidak membai’at siapapun. Karena ia mengaku bahwa dirinya-lah khalifah yang telah ditetapkan Tuhan. Namun ternyata kekhilafahan jatuh ke tangan orang lain, yang kemudian “kemaslahatan bersama” menuntutnya untuk menyertai mereka. Ia sendiri pernah berkata:

“Aku melihat bahwa jika aku bersikeras mengambil hakku (kekhalifahan), maka Islam yang ada sekarang ini pun juga akan musnah.”[1]

Ia tidak menemukan cara lain selain menyertai khalifah-khalifah yang ada dan membimbing mereka.

Bahkan ketika sebagian orang-orang Arab menolak untuk membayar zakat, dan akhirnya mereka dikecam, beliau pun juga tidak bisa melakukan apa-apa selain diam. Namun tidak selamanya seperti itu, pada saat-saat tertentu ia menguak kenyataan yang ada dan berseru mengingatkan masyarakat akan hak-haknya.

Menurut para perawi Ahlu Sunah, Ali bin Abi Thalib membai’at khalifah sepeninggal Fathimah Az-Zahra. Namun selama Fathimah Az-Zahra masih hidup, ia terus menerus kesal terhadap Abu Bakar dan tidak mau berbicara dengannya karena marah.[2]

Anggap saja Ali bin Abi Thalib memang betul telah membai’at khalifah sepeninggal istrinya. Namun seluruh ahli hadits bersepakat bahwa Fathimah Az-Zahra sampai akhir hayatnya tidak pernah membai’at bahkan berpaling dari mereka.

Ibnu Hajar dalam Syarah Shahih Bukhari menukilkan: “Fathimah Az-Zahra marah terhadap Abu Bakar dan selalu menjauhinya. Ia tetap dalam keadaan seperti itu hingga enam hari, baru setelah itu ia meninggal dunia. Ali menyolati jasad istrinya dan ia tidak memberitahukan hal itu kepada Abu Bakar.”[3]

Kini kami bertanya, bukankah Fatimah Az-Zahra juga diakui oleh Shahih Bukhari sebagai wanita terbaik di muka bumi? Lalu mengapa ia tidak membai’at Abu Bakar? Jika Abu Bakar berhak untuk menjadi khalifah, lalu mengapa putri nabi ini marah terhadapnya? Rasulullah Saw pernah bersabda:

“Barang siapa mati dan tidak membai’at serta mengakui khalifah/imam di jamannya, maka ia mati sebagai matinya orang di jaman jahiliah.”[4]

Lalu salah satu dari dua pertanyaan ini harus dijawab:

1. Putri nabi Muhammad Saw tidak membai’at Abu Bakar dan tidak mengakuinya. Apakah ia mati sebagai orang jahiliah?

2. Apakah orang yang mengaku khalifah itu sebenarnya bukan khalifah? Yakni ia tidak berhak untuk menjabat sebagai khalifah?

Kita tidak bisa menjawab “ya” untuk pertanyaan pertama. Karena putri Rasulullah Saw adalah orang yang telah disucikan oleh Allah Swt dari noda dan kesalahan; nabi pun berkata tentangnya: “Fathimah adalah penghulu wanita penghuni surga.”[5]

Beliau juga bersabda, “Wahai Fathimah, sesungguhnya Allah Swt marah karena amarahmu dan Ia ridha karena keridhaanmu.”[6]

Lalu jika demikian, maka Fathimah Az-Zahra adalah perempuan suci yang tidak mungkin ia mati sebagai orang jahiliah.

Kita simpulkan, Fathimah Az-Zahra tidak membai’at khalifah itu karena baginya pengaku khalifah itu bukan khalifah yang layak. Sampai akhir hayat ia dalam hatinya mengakui hanya seorang lah khalifah yang sah, yaitu suaminya, Ali bin Abi Thalib.

Menurut Bukhari (jika memang itu benar), Ali bin Abi Thalib membai’at khalifah setelah enam bulan. Lalu jika memang ia layak dibai’at kenapa harus tertunda sekian lama?

Sungguh aneh jika anda hanya mengandalkan sepenggal kisah sejarah bahwa “Ali membai’at khalifah”, itu saja, sedang anda melupakan segala kesedihan yang pernah menimpa Fathimah Az-Zahra selama hidupnya, sepeninggal nabi.

Dengan penjelasan ini dapat kami jelaskan bahwa bai’at Ali bin Abi Thalib setelah enam bulan tersebut tidaklah berarti apa-apa. Karena khalifah sama sekali tidak membutuhkan bai’at darinya; yakni ia (khalifah) telah duduk di tahta kekhalifahan dengan nyaman saat itu juga. Dan, Ali pun bukan orang yang bisa meninggalkan kewajiban hanya karena seorang istri menghalanginya.

Apapun yang dilakukan Ali bin Abi Thalib bersama khalifah masa itu hanya sebatas menyertai dan mengarahkan khalifah demi terjaganya Islam dari perpecahan dan kemusnahan. Bahkan perlu ditambahkan, bahwa bai’at Ali bin Abi Thalib berdasarkan paksaan dari pihak khalifah. Kenyataan tersebut dapat kita fahami dari sepucuk surat yang pernah ditulis oleh Mu’awiyah kepada Ali bin Abi Thalib.


[1] Nahjul Balaghah, surat ke-62.

[2] Shahih Bukhari, jld. 4, hlm. 42; jld. 5, hlm. 82; jld. 8, hlm. 30.

[3] Fathul Bari, kitab Al-Maghazi, bab Ghazwah Khaibar, jld. 7, hlm. 493, hadits 4240 dan juga kitab Al-Faraidh, jld. 12, hlm. 5, hadits 6726.

[4] Shahih Bukhari, jld. 6, hlm. 22, bab Man Farraqa Amr Al-Muslimin; Sunan Al-Baihaqi, jld. 8, hlm. 156.

[5] Ibid, jld. 4, hlm. 25, bab Manaqib Qarabah Rasulullah.

[6] Ibid, jld. 4, hlm. 210; Mustadrak Al-Hakim, jld. 3, hlm. 154.

Mengapa Ali tidak membela istrinya

Tanya: Jika Fathimah Az-Zahra memang dizalimi oleh para sahabat, lalu mengapa suaminya yang pemberani hanya diam dan tidak membelanya?

Jawab: Pertanyaan di atas seakan menjelaskan kenyataan yang pernah terjadi memang demikian. Padahal tidak ada bukti bahwa Ali bin Abi Thalib tidak membela istrinya.

Ali bin Abi Thalib sesuai dengan tuntutan syari’at telah menjaga kehormatan diri dan keluarganya. Penjagaan dan pembelaan saat itu tidak bisa kita anggap harus dengan bentuk pertumpahan darah dan pertikaian, karena tidak menjadi maslahat Islam. Jika Ali memberontak dan berhadapan dengan mereka, maka akan terbentuk dua kelompok di antara umat Islam: kelompok pendukung khalifah, dan kelompok pendukung Ali bin Abi Thalib yang tetap menjaga bai’at terhadapnya sejak peristiwa Ghadir Khum sebelum wafat Nabi. Perpecahan inilah yang tidak diinginkan oleh Ali bin Abi Thalib.

Banyak sekali kaum munafik di waktu itu yang berusaha memperkeruh keadaan. Misalnya Abu Sufyan, musuh bebuyutan Islam, saat itu mendatangi rumah Ali dan berkata kepadanya, “Wahai Ali, berikan tanganmu, aku ingin membai’atmu.”

Ali bin Abi Thalib tahu bahwa Abu Sufyan berlaga menjadi pendukungnya dan ingin membai’at hanya demi terciptanya perselisihan. Oleh karenanya Ali berkata padanya:

“Demi Tuhan engkau mengucapkan kata-katamu ini dengan niat busuk agar berkobar api fitnah di anatara umat Islam. Engkau selalu menginginkan keburukan untuk Islam dan Muslimin. Pergilah, aku tidak menginginkan semua ini darimu.”[1]

Kepada penanya saya ingin jelaskan, bahwa orang yang berani bukanlah orang yang selalu mencabut pedangnya di setiap keadaan tanpa terkecuali. Orang yang berani adalah orang yang menjalankan tugasnya. Betapa banyak orang yang mengaku pemberani namun mereka enggan dan takut untuk mendengar perkataan yang benar.

Pada suatu hari Rasulullah Saw melihat sekelompok orang berkumpul. Ternyata mereka terkagum-kagum akan seseorang. Beliau bertanya kepada mereka, “Siapakah orang itu?” Dijawab, “Ia adalah pendekar pemberani yang mampu mengangkat beban yang sangat berat.” Lalu beliau berkata, “Itu bukanlah orang yang berani; pemberani adalah orang yang mampu mengalahkan keinginan-keinginan nafsunya.”[2]

Sejarah membuktikan bahwa di masa itu Islam masih belum mengakar kuat di hati umatnya. Islam masih baru tumbuh lemah yang mungkin jika tertiup angin, meski angin itu lembut sekalipun, Islam akan tercabut dengan mudahnya dari hati mereka.

Rasulullah Saw berkata kepada ‘Aisyah: “Jika seandainya Quraisy bukanlah orang-orang yang baru masuk Islam, niscaya aku akan merombak Ka’bah. Lalu sebagai gantinya satu pintu, aku akan letakkan dua pintu untuknya.”[3]

Kita akui tidak ada orang yang lebih pemberani dari Nabi Muhammad Saw. Namun beliau tetap melihat kondisi yang sedemikian rupa dan mempertimbangkannya. Apakah benar jika ada sebagian orang-orang munafik yang enggan membayar zakat berkoar sedang umat Islam yang bersaudara saling bertikai?

Orang-orang munafik berharap Ali bin Abi Thalib yang telah menghunuskan pedangnya kepada kaum kafir di perang Badar dan Uhud melakukan hal yang sama terhadap umat Islam sendiri sepeninggal Nabi dengan pedang yang sama. Jika ada yang membenarkan hal tersebut, maka ia bukanlah orang yang memahami sejarah Islam, dan juga tidak mengenal siapakah Ali yang sebenarnya.


[1] Tarikh Thabari, jld. 2, hlm. 449.

[2] Bihar Al-Anwar, jld. 1, hlm. 77 dan 112.

[3] Musnad Ahmad, jld. 6, hlm. 176.

Telah ditentukannya kekhalifahan Imam Ali as

Jika Imam Ali as memang telah ditunjuk oleh Rasulullah saw untuk menjadi khalifah, lalu mengapa beliau bersedia membai’at Abu Bakar? Kalau beliau membai’at Abu Bakar, berarti beliau memang tidak ditentukan nabi sebagai khalifah, atau paling tidak berarti beliau telah menyerahkan haknya kepada orang lain.

Pertanyaan ini memiliki dua sisi:

1. Telah ditentukannya kekhalifahan Imam Ali as oleh nabi.

2. Imam Ali as membai’at Abu Bakar.

Tentang telah ditentukannya kekhalifahan Imam Ali as oleh nabi, dalil-dalilnya sangat banyak dan jelas sekali. Dalil-dalil tersebut tentunya sangat lebih dari cukup bagi orang yang berniat mencari kebenaran tanpa fanatisme. Dalil-dalil tersebut diantaranya adalah:

1. Hadits Yaumul Indzar: Rasulullah saw sejak hari pertama beliau mengumumkan kenabiannya kepada keluarga besarnya telah menjelaskan kekhalifahan Imam Ali as. Di hari yang dikenal dengan Yaumul Indzar atau Yaumud Daar, dalam ucapan-ucapannya kepada Bani Hasyim beliau berkata: “Aku diutus oleh Allah swt untuk mengajakmu kepada kebaikan dunia dan akherat. Siapakah di antara kalian yang bersedia untuk membantuku dalam hal ini?”

Beliau menanyakan hal yang sama sebanyak tiga kali namun tak ada yang menjawab beliau selain Ali bin Abi Thalib as. Dua kali Rasulullah saw memintanya untuk diam, namun kali ketiga beliau menerimanya. Lalu beliau bersabda: “Ia adalah saudaraku, pewarisku, dan khalifah setelahku di antara kalian. Maka dengarkanlah perkataannya dan taati ia.”[1]

2. Hadits Manzilah: Selain itu sering sekali beliau menjelaskan kepada semua orang tentang kedudukan Imam Ali as baginya. Ungkapan-ungkapan yang beliau gunakan dalam ucapannya menunjukkan bahwa Imam Ali as adalah pengganti sepeninggal beliau. Saat Imam Ali as kesal mendengar ucapan-ucapan orang munafik, beliau mengadukannya kepada Rasulullah saw. Kemudian nabi berkata kepadanya: “Wahai Ali, tidakkah engkau ridha di sisiku berkedudukan bagai Harun as di sisi Musa as? Hanya saja tidak ada nabi setelahku.”[2] Di riwayat lain disebutkan: “Bagiku engkau seperti Harun as di sisi Musa as, hanya saja tak ada nabi setelahku.”[3]

Dalam hadits tersebut dijelaskan bahwa kedudukan Imam Ali as di sisi nabi bagaikan kedudukan Harun as di sisi Musa as. Jelas jika seandainya dulu nabi Harun as masih hidup, ia pasti menjadi pengganti nabi Musa as.

3. Hadits Tsaqalain: Beberapa kali Rasulullah saw mengucapkan hadits ini. Beliau bersabda: “Sesungguhnya aku meninggalkan dua hal berharga bagi kalian yang jika kalian berpegang teguh kepada keduanya kalian tidak akan pernah tersesat selamanya, dan salah satunya lebih agung dari lainnya: Kitab Allah swt, tali yang menjulur dari langit ke bumi, dan yang kedua Ahlul Baitku; keduanya tidak akan berpisah hingga keduanya masuk ke dalam telaga surga. Maka lihatlah bagaimana diri kalian kelak akan bersikap.”[4] Dalam hadits tersebut beliau menjelaskan bahwa Al-Qur’an adalah pegangan utama umat Islam dan Ahlul-Bait adalah penafsir Al-Qur’an yang harus dijadikan rujukan. Karena Imam Ali as adalah Ahlul-Bait nabi, hendaknya umat Islam menjadikannya rujukan sepeninggal nabi.

4. Hadits Ghadir: Begitu juga saat Rasulullah saw berada di Ghadir Khum, setelah beliau meminta kesaksian dari seluruh umat Islam bahwa dirinya lebih dahulu daripada harta dan jiwa mereka, beliau bersabda: “Barang siapa menjadikanku tuannya, maka hendaknya menjadikan Ali sebagai tuannya pula. Ya Tuhan, tolonglah orang yang menolongnya, dan hinakanlah orang yang menghinanya.”[5]

Ahlu Sunah Meragukan Hadits Ghadir

Meskipun Ahlu Sunah dikenal meragukan hadits Ghadir sebagai bukti kekhalifahan Imam Ali as, namun dengan melihat indikasi-indikasi sebelum dan sesudah beliau mengucapkan hadits itu, kenyataannya akan jelas bahwa yang dimaksud “tuan” dalam hadits tersebut berarti “pemimpin”. Sebelum mengucapkan hadits itu Rasulullah saw meminta kesaksian umatnya: “Bukankah aku paling berhak atas kalian? Atas jiwa dan harta kalian?” Setelah semua orang mengiyakan, beliau menyatakan bahwa demikian juga Ali bin Abi Thalib memilki wewenang yang sama sepertinya. Lalu setelah itu nabi berdoa agar melaknat orang yang memusuhi Ali bin Abi Thalib as dan menolong orang yang menolongnya. Nabi juga menjelaskan bahwa mencintai Ali as berarti mencintai Allah swt dan nabi-Nya, memusuhi Ali as juga berarti memusuhi Allah swt dan nabi-Nya. Hal-hal sedemikian rupa membuktikan bahwa maksud Rasulullah dalam hadits Ghadir adalah menyatakan kepada semua orang bahwa Imam Ali as adalah pengganti sepeninggal beliau.

Alasan Imam Ali as membai’at Abu Bakar

Adapun Imam Ali as membai’at Abu Bakar, jika itu memang benar, hal itu tidak bertentangan dengan telah ditentukannya kekhalifahan Imam as oleh nabi. Karena tugas beliau adalah memimpin umat; entah beliau diangkat oleh umatnya ataupun tidak, beliau tetap dapat menjalankan tugasnya semaksimal mungkin yang beliau bisa. Imam Ali as membai’at Abu Bakar karena tidak ingin menimbulkan kericuhan di dalam umat Islam. Karena jika tidak maka kekacauan dan perpecahan tersebut akan digunakan oleh musuh-musuh Islam dari Luar, seperti Roma dan Persia saat itu, untuk menyerang dan menghancurkan Islam. Dengan kebijakan tersebut Imam Ali as dapat menghindari keributan di dalam demi memfokuskan fikiran umat Islam bersama untuk menghadapi bahaya musuh-musuh di luar.

Dalam segala keadaan Imam Ali as rela mengorbankan apapun demi Islam. Bagaikan seorang ibu sejati yang rela mengorbankan nyawanya pun demi anaknya.[6] Imam Ali as sendiri berkata: “Demi Allah, aku sama sekali tidak berfikir bahwa Arab akan merampas kekhalifahan dari tangan Ahlul Bait dan menjauhkannya dariku. Aku melihat mereka berbondong-bondong membai’at seseorang. Aku pun enggan untuk membai’atnya. Namun aku melihat ada sekelompok orang yang hendak menghancurkan agama Muhammad saw. Maka aku takut jika aku tidak berbuat apa-apa untuk Islam dan Muslimin maka akan timbul perpecahan di dada Islam, yang mana musibah itu bagiku lebih besar daripada kehilangan kedudukan yang menurut kalian sangat diidamkan.”[7]

Untuk mengkaji lebih jauh:

1. Allamah Sayid Muhammad Husain Husaini Thabthabai, Emam Shenashi, penerbit Hekmat, 1421, jil. 4-7.

2. Sayid Syarafuddin Al-Musawi, Rahbari e Emam Ali as Dar Qor’an va Sonnat, terjemahan Muhammad Ja’far Emami, Moawenat e Farhanggi Sazman e Tablighat, 1370.

Hadits akhir:

Rasulullah saw bersabda: “Wahai Bani Hasyim! Sesungguhnya saudaraku, pewarisku, dan penggantiku di antara keluargaku adalah Ali bin Abi Thalib as. Ia yang akan menunaikan hutang-hutangku dan menjalankan tugas-tugasku.”[8]


[1] Muhammad bin Jarir Thabari, Tarikh Thabari, jil. 2, hal. 321, Tahkik: Muhammad Abul Fadhl Ibrahim; Abdul Rahman bin Muhammad bin Khuldun, Tarikh Ibnu Khuldun, jil. 1, hal. 647; Al-Kamil, jil. 2, hal. 32.

[2] Abul Hasan Ali bin Muhammad bin Atsir, Usdul Ghabah Fi Ma’rifati Ash-Shahabah, jil. 3, hal. 601.

[3] Ahmad bin Ali bin Hajar Al-Asqalani, Al-Ishabah fi Tamyiiz Ash-Shahabah, Tahkik: Adil Ahmad Abdul Maujud dan Ali Muhammad Mu’awidh, jil. 3, hal. 1097; Ahmad bin Yahya bin Jabir Baladzari, Ansab Al Asyraf, Tahkik: Muhammad Hamidullah, jil. 2, hal. 94.

[4] Usdul Ghabah, jil. 1, hal. 490.

[5] Ibid, jil. 1, hal. 439; Abul Fida’ Ismail bin ‘Amr bin Katsir Al-Dimashqi, Al-Bidayah wa An-Nihayah, jil. 5, hal. 210.

[6] Di jaman Umar ada dua orang wanita berselisih mengaku seorang bayi sebagai anaknya. Supaya dapat membuktikan siapa ibu anak itu yang sebenarnya, Imam Ali as berencana untuk memotong anak menjadi dua lalu dibagikan tiap potongnya kepada setiap wanita itu. Salah seorang wanita itu bersedia, namun satunya lagi tidak bersedia dan berkata: “Jangan, lebih baik berikan saja jatahku untuk wanita itu.” Lalu akhirnya Imam Ali menyatakan bahwa ibu yang tidak bersedia anaknya dipotong itu adalah ibu yang sebenarnya. (Qezavat Haye Mohayerol Oqul, Sayid Hasan Muhsin Amin ‘Amili, hal. 37)

[7] Nahjul Balaghah, Faidz Al-Kashani, surat ke 62.

[8] Amali Thusi, 602/1244.

Najis dalam pandangan Syi’ah

Yang dimaksud orang kafir yang najis hukumnya adalah:

1. Orang yang mengingkari Tuhan (tidak menerima adanya Tuhan).

2. Orang yang mengingkari kenabian Rasulullah saw.

3. Orang yang tidak mengesakan Tuhan (menganggap ada lebih dari satu Tuhan).

4. Orang yang mengingkari hal-hal paling penting dalam agama, yang sekiranya pengingkaran itu melazimkan pengingkaran terhadap nabi atau menyebabkan tidak sempurnanya agama.

5. Orang yang mencela para imam maksum atau bahkan memusuhi mereka.

Ada kaidah umum dalam fikih yang berbunyi:

Segala sesuatu di dunia ini suci, kecuali jika terkena benda-benda najis.

Lalu apa benda-benda najis tersebut? Ada 11 macam benda najis:

1. Air seni

2. Kotoran/tinja

—> Yang dimaksud adalah air seni dan kotoran/tinja manusia, hewan yang haram dagingnya yang sekiranya jika dipotong lehernya darahnya menyembur.

3. Sperma

4. Bangkai

5. Darah

—> Sperma, bangkai dan darah manusia serta segala hewan yang jika dipotong lehernya darahnya menyembur adalah najis.

6. Anjing

7. Babi

—> Anjing dan babi, seluruh tubuhnya adalah najis.

8. Minuman keras, dan segala minuman yang memabukkan.

9. Fuqa’ (air gandum non medikal) yang juga memabukkan.

10. Orang kafir.

11. Keringat hewan (seperti onta) yang terbiasa memakan kotoran/tinja.

Segala sesuatu, selain 11 benda najis, adalah suci hukumnya. Namun benda yang suci dapat menjadi najis jika benda najis itu basah, atau terkena cairan hingga menjadi basah, lalu basahannya mengenai benda yang tidak najis itu. Hal ini dikarenakan air yang jumlahnya sedikit dapat menjadi najis jika terkena benda najis.

Lalu air yang telah najis itu jika mengenai benda yang lain, maka ia telah membuat benda lain tersebut najis. Lain halnya jika air berjumlah banyak, karena air yang berjumlah banyak tidak akan najis jika terkena benda najis, asal tidak berubah warna, rasa dan baunya.

Cara mensucikan najis dengan air adalah:

1. Mensucikan wadah-wadah makanan:

a. Dengn air yang banyak (kurr) = 1 kali siram

b. Dengan air sedikit = 3 kali siram

2. Mensucikan selain wadah-wadah makanan:

a. Jika najis karena terkena air kencing:

a.1. Dengan air yang banyak = 1 kali siram

a.2. Dengan air yang sedikit = 2 kali siram

b. Jika najis karena terkena selain air kencing:

b.1. Dengan air yang banyak = 1 kali siram

b.2. Dengan air yang sedikit = 1 kali siram

Penjelasan:

Untuk mensucikan najis, pertama-tama, benda najis (ainun najis) harus kita singkirkan terlebih dahulu, lalu pensucian dilakukan sepert di atas.

Ketika mensucikan benda-benda yang dapat menyerap air seperti pakaian, karpet, atau selainnya, harus diperas tiap kali setelah disiram air.

Segala yang terkena najis dapat disucikan dengan perantara:

1. Air;

2. Tanah;

3. Matahari;

4. Perubahan bentuk;

5. Berpindahnya benda najis;

6. Memeluk agama Islam;

7. Taba’iyat;

8. Tak terlihatnya kembali benda najis;

9. Istibra’ hewan pemakan benda najis;

10. Tak terlihatnya seorang Muslim.

Kita akan membahasnya satu per satu. Adapun yang pertama,

Air

Air dapat mensucikan kebanyakan najis. Namun air sendiri memiliki macam-macam yang harus kita fahami. Air memiliki dua jenis: air murni, dan air tidak murni. Air murni adalah air yang tidak bercampur apa-apa, sehingga bisa disebut “air” saja; lain halnya dengan air tidak murni, seperti air kelapa, air buah, dan lain sebagainya (tidak termasuk air hujan, karena murni).

Hukum-hukum air tidak murni (air mudhaf):

1. Air itu tidak bisa digunakan untuk bersuci dan mensucikan najis;

2. Air mudhaf akan menjadi najis jika terkena benda najis sesedikit apapun;

Macam-macam dan hukum air murni (air mutlaq):

Hanya air murni saja yang dapat mensucikan najis dan digunakan untuk bersuci.

Air murni ada beberapa macam: air yang diam, dan air yang tidak diam. Air yang diam, adalah air murni yang disimpan dalam wadah-wadah tertentu, seperti bejana, timba, ember, dan lain sebagainya. Sedang air yang tidak diam, banyak contohnya seperti air hujan, air sungai, dan air sumur (air sumur tidak dikategorikan sebagai air yang diam, meskipun kita lihat air itu diam)

Hukum air yang diam (yang telah saya maksudkan di atas) adalah:

1. Air yang diam, jika jumlahnya banyak disebut dengan air yang banyak (air kurr);

2. Namun jika sedikit, disebut dengan air sedikit (air qalil).

Yang dimaksud banyak adalah: beratnya 377.419 Kg, atau jika air tersebut ditaruh dalam wadah dan diukur volumenya mencapai 3.5 jengkal panjang * 3.5 jengkal lebar * 3.5 jengkal tinggi, yakni 42.975 jengkal. Adapun jika ada air yang volume atau beratnya kurang dari itu, disebut dengan air sedikit.

Air sedikit juga memiliki beberapa hukum, yang di antaranya adalah:

1. Air sedikit akan menjadi najis jika terkena benda najis sesedikit apapun;

2. Air sedikit yang telah menjadi najis, jika tercampur dengan air yang banyak atau air yang mengalir, maka itu menjadi suci.

3. Air sedikit yang telah digunakan untuk mensucikan najis adalah najis hukumnya (air yang telah terbuang dan disiramkan ke najis).

Adapun hukum air yang banyak adalah:

1. Seluruh air murni (selain air yang sedikit) jika terkena benda najis, asal tidak berubah warna, bau dan rasanya, air itu tidak najis. Hukum ini berlaku untuk air yang mengalir seperti sungai, air hujan yang sedang dalam keadaan turun, dan juga air sumur.

Kriteria spesial yang dimiliki air hujan adalah:

1. Jika air hujan turun mengguyur suat benda atau tempat yang pernah terkena benda najis, namun benda najis itu sendiri sudah tidak ada, maka sekali terguyur itu akan suci;

2. Kita dapat menggelar karpet atau pakaian yang najis di bawah guyuran hujan dan semuanya dapat disucikan dengan sendirinya tanpa perlu kita peras;

3. Jika air hujan mengguyur tanah yang najis, maka tanah itu menjadi suci.

Tanah

Jika kita berjalan kaki, lalu sandal, sepatu atau telapak kaki telanjang kita menginjak benda najis, jika kita teruskan perjalanan sampai benda najis di telapak kaki sepatu atau sandal tidak terlihat lagi maka itu dihukumi telah suci. Jadi, tanah hanya dapat mensucikan telapak kaki dan juga bagian bawah sepatu atau sandal. Namun syarat-syaratnya:

1. Tanah sendiri harus suci;

2. Tanah harus kering;

3. Yang dimaksud tanah bisa mencakup tanah biasa, pasir, kerikil, lantai dari batu bata, dan lain sebagainya (yang masih tergolong dari tanah, bukan benda lain seperti aspal, karpet, lantai dari kayu, dst.).

Matahari

Matahari juga dapat mensucikan najis, namun ada syarat-syaratnya:

1 Yang dapat disucikan adalah tanah, dinding, pohon-pohonan, dan segala yang tidak dapat dipindahkan dengan mudah seperti kursi, meja, dst.;

2. Benda najis harus berupa cairan, yang sekiranya dengan teriknya matahari akan menguap dan menghilang karena kering;

3. Terik matahari harus mengena secara langsung, tidak bisa dalam keadaan mendung, atau sinar matahari melewati kaca, terpantul cermin, dll.;

4. Matahari dengan sendirinya yang telah membuatnya kering, tidak karena dibantu oleh angin atau faktor-faktor lainnya;

5. Jika benda najis yang berbentuk cair itu juga bersama dengan benda najis yang tidak cair, yang tidak cair harus dihilangkan dahulu, karena tidak akan bisa hilang begitu saja dengan terik sinar matahari;

6. Jika tanah, lantai atau dinding pernah terkena najis, namun sudah kering, dan ingin disucikan dengan matahari, kita dapat menyiramnya dengan sedikit air agar basah, lalu dikeringkan dengan sinar matahari.

Perubahan bentuk

Jika benda najis berubah menjadi bentuk lain, maka dapat dihukumi suci. Misalnya, bangkai yang telah berubah menjadi tanah; biji-bijian najis yang telah tumbuh menjadi tumbuhan; kayu najis yang terbakar hingga menjadi abu; air najis yang telah menjadi uap; dan seterusnya.

Berpindahnya benda najis

Contoh untuk masalah ini, adalah darah manusia yang dihisap oleh binatang yang tidak menyembur darahnya jika dipotong lehernya, seperti serangga. Jadi, jika sekor nyamuk menggigit kita, darah kita yang telah masuk ke dalam perutnya tidak najis; jika misalnya nyamuk itu hinggap di dinding lalu kita pukul; asal ia tidak dalam keadaan menghisap darah kita, karena itu tetap dihukumi najis.

Islam

Jika orang kafir mengucapkan dua syahadat dan menjadi Muslim, maka tubuh dan segala sesuatu yang pernah menjadi najis karena tersentuh olehnya, dalam keadaan basah misalnya, menjadi suci semua.

Taba’iyat

Yakni dengan sucinya suatu yang najis menyebabkan sucinya najis yang lain. Misalnya, anggur (minuman) terus direbus hingga menjadi cuka, maka wadahnya menjadi suci pula; mayat yang mulanya najis, setelah dimandikan, ranjang tempat pemandiannya pun menjadi suci pula; dan lain sebagainya.

Tak terlihatnya kembali benda najis

Singkatnya dapat dijelaskan dengan contoh ini, misalnya, seekor ayam pernah terlihat ada benda najis di paruhnya, namun esok harinya kita tidak melihatnya lagi, maka paruhnya dihukumi suci.

Istibra’ hewan pemakan najis

Terkadang ada hewan-hewan piaraan yang terbiasa memakan kotoran, yakni benda najis. Air seni dan kotoran hewan-hewan itu dihukumi najis, meskipun hewan yang mulanya halal untuk dimakan. Untuk membuat mereka menjadi suci kembali, mereka perlu dikarantina. Yakni mereka dikurung dan hanya diberi makanan yang suci saja. Namun berapa lama? Demikian sebagian penjelasannya:

1. Onta = 40 hari;

2. Sapi = 20 hari;

3. Kambing = 10 hari;

4. Bebek = 5 hari;

5. Ayam = 3 hari…

Tidak terlihatnya seorang Muslim

Misalnya, jika kita memiliki seorang teman, ia Muslim, lalu pakaiannya terkena najis. Ia pun menyadari bahwa bajunya najis. Lalu ia meletakkannya di suatu tempat. Kemudian kita pergi dan tidak melihat teman kita ini selama beberapa hari. Pada suatu saat kita bertemu dengannya mengenakan pakaian yang pernah terkena najis itu. Di sini kita dapat memberi kemungkinan bahwa ia telah mensucikannya, maka kita dapat menganggapnya suci.

Sunni dan Syi’ah sepakat mengenai pembelahan bulan yang pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad

Syubhat mengenai terbelahnya bulan

Tanya: Apakah ada bukti-bukti berupa ayat maupun riwayat mengenai pembelahan bulan yang pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw sebagai mukjizat? Jika kita melihat bahwa luasnya bulan tidak mungkin dibelah oleh tangan Nabi Saw yang lebih kecil ukurannya, dan secara logis, pelaku dan objeknya sama sekali tidak sesuai dalam kejadian itu. Lalu bagaimana hal itu bisa terjadi?

Jawab: Kisah pembelahan bulan adalah peristiwa yang benar-benar telah terjadi dan ayat-ayat Al-Qur’an serta riwayat pernah mengisyarahkannya; hanya saja riwayat-riwayat yang menceritakan kisah ini berbeda-beda. Dan karena setiap riwayat tersebut adalah khabar wahid dan tidak bisa dijadikan sandaran dengan sendirinya, maka kita tidak bisa terlalu mempercayai hal-hal partikular yang dijelaskan dalam riwayat-riwayat tersebut. Yang pasti, semua riwayat tersebut menerangkan suatu peristiwa yang pernah terjadi di dunia ini, yaitu Nabi Muhammad Saw pernah menunjuk bulan dan dengan izin Tuhan dan sebagai mukjizat bulan pun terbelah menjadi dua. Dan inilah yang diisyarahkan oleh Al-Qur’an.

Di permulaan surah Al-Qamar, Allah Swt berfirman: “Telah dekat datangnya saat itu dan telah terbelah bulan.”[1].

Ini adalah mukjizat Nabi Muhammad Saw yang telah membuktikan kebenaran kenabiannya yang mana orang-orang yang mengingkarinya di saat itu selalu meminta beliau untuk menunjukkan mukjizatnya. Dan jelas sekali jika kita telah meyakini bahwa para nabi mampu membawakan mukjizat, maka tak ada salahnya jika kita meyakini bahwa Nabi Muhammad Saw pernah membawakan mukjizat berupa pembelahan bulan. Lagi pula, setelah Al-Qur’an dan beberapa riwayat telah menerangkan terjadinya peristiwa tersebut, kita tidak dapat mengingkarinya.

Pada dasarnya, akal kita tidak bisa mengingkari mungkinnya kejadian-kejadian yang luar biasa terjadi. Karena akal kita memahami bahwa mungkin saja di balik alam materi ini terdapat sesuatu yang dapat menjadi sebab bagi terwujudnya kejadian-kejadian yang luar biasa. Hanya saja kita tidak memahami sebab-sebab tersebut.

Sebagian orang yang mengingkari mukjizat ini, mengatakan bahwa terbelahnya bulan yang dijelaskan oleh ayat suci tersebut adalah kejadian yang akan terjadi di hari kiamat; bukan yang telah terjadi di masa lalu dan dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw. Akan tetapi sangkalan ini tidak berarti; karena dalam ayat berikutnya Allah Swt berfirman:

“Dan jika mereka melihat (orang-orang musrik) tanda kebesaran Tuhan (mukjizat), mereka berpaling dan berkata: ‘Ini adalah sihir yang terus menerus.’”[2]

Oleh karena itu, jika terbelahnya bulan dalam ayat ini adalah peristiwa yang akan terjadi di hari kiamat, maka apa maksud berpaling-nya orang-orang musyrik yang menyebut kejadian tersebut sebagai sihir?

Sebagian orang yang lain juga menyangkal dan berkata bahwa ayat tersebut telah mengisyarahkan terpisahnya bulan dari matahari; sebagaimana yang telah ditetapkan dan dibuktikan oleh ilmu pengetahuan. Dan sesungguhnya ini adalah bukti keistimewaan Al-Qur’an Al-Karim yang mana beberapa abad sebelum kenyataan ini dibuktikan oleh ilmu pengetahuan, ia telah menerangkannya terlebih dahulu. Akan tetapi dari segi sastra dan bahasa, pengertian ini tidak benar. Karena dalam bahasa Arab, terpisahnya dua benda yang saling menjauhi disebut dengan infishal dan isytiqaq, bukan insyiqaq yang artinya adalah terbelahnya sebuah benda menjadi dua bagian.

Sebagian yang lain juga ada mengatakan bahwa jika seandainya peristiwa ini benar-benar terjadi, maka pasti para sejarawan non-Muslim yang juga mencatat peristiwa tersebut dalam catatan sejarah mereka. Perlu diketahui di sini bahwa sebagian catatan sejarah tidak selamanya mengandung kebenaran sejati; karena kebanyakan sejarah telah diselewengkan dengan berbagai macam tujuan. Jika ada suatu peristiwa yang telah terjadi dan hal itu merugikan suatu kelompok, maka kelompok tersebut kurang lebih berusaha untuk menutupi kenyataan yang ada. Akhirnya mereka melarang siapapun untuk mencatat peristiwa tersebut di buku catatan sejarah mereka. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa sampai saat ini kita masih belum menemukan data-data historis, misalnya, mengenai kehidupan nabi Ibrahim, Musa, dan Isa As. Padahal dalam agama kita mereka dikenal sebagai manusia yang sangat luar biasa dan memiliki berbagai mukjizat yang menakjubkan. Nabi Ibrahim As misalnya, ia pernah dibakar akan tetapi ia tidak terbakar. Nabi Musa As memiliki tongkat yang mampu membelah lautan dan tangan berwarna putuh bersinar. Nabi Isa As mampu menghidupkan orang yang telah mati. Dikarenakan hal-hal seperti ini kurang mengenakkan bagi beberapa pihak, maka mereka berusaha untuk menutupi kenyataan ini. Terbitnya mentari Islam pun juga demikian; ia tidak disukai oleh kebanyakan orang di masanya. Oleh karenanya mereka berusaha untuk menutupinya dan memalsukan catatan sejarah yang sebenarnya.

Lagi pula, ketika peristiwa ini terjadi di kota Makkah, pada waktu itu Negara-negara di benua Eropa yang mana di sana terdapat banyak sejarawan Eropa, memiliki perbedaan waktu yang sangat jauh berbeda dengan waktu kota Makkah. Dengan demikian peristiwa langit yang terjadi di atas kota Makkah selama beberapa saat saja tidak dapat diketahui oleh penduduk tempat lain yang berjarak jaush dari kota tersebut. Sebagaimana pula jika sebaliknya yang terjadi; yakni jika ada peristiwa langit yang teradi di langit salah satu kota di Eropa, penduduk kota Makkah juga tidak dapat mengetahuinya.

 


[1] QS. Al-Qamar: 1.

[2] QS. Al-Qamar: 2.

Apakah yang diungkapkan oleh Imam Ali as tentang tak sempurnanya akal wanita merupakan penghinaan terhadapnya?

Maksud ketidaksempurnaan akal wanita

Pertanyaan

Apakah yang diungkapkan oleh Imam Ali as tentang tak sempurnanya akal wanita merupakan penghinaan terhadapnya?

 

Penjelasan

Imam Ali as dalam khutbah ke 80 Nahjul Balaghah berkata: “Sesungguhnya kaum wanita tak sempurna akalnya.” Hadits ini dan hadits-hadits yang mirip dengannya telah menimbulkan pertanyaan di atas di benak kita. Untuk menjawabnya kita akan mulai dengan dua pendahuluan:

Pertama, kita harus mengkaji dalam kondisi apakah hadits tersebut diungkapkan oleh para Imam, baru setelah itu kita akan lebih mudah memahami maksudnya. Sebagaimana dalam tafsir ayat-ayat Qur’an memiliki Asbabun Nuzul, hadits pun juga demikian. Jika kita memahami Asbabun Nuzul makakita akan lebih mudah memahami maksudnya.

Jika ditelusuri, khutbah ke 80 Imam Ali dalam Nahjul Balaghah itu beliau sampaikan seusai perang Jamal. Sayid Radhi, penyusun Nahjul Balaghah dalam permulaan khutbah tersebut telah mengingatkan kita akan masalah ini. Sebagaimana yang kita ketahui, perang Jamal adalah perang yang dipimpin oleh seorang wanita bernama Aisyah melawan Imam Ali as. Dan perempuan itulah sebab dari segala persengketaan dan percekcokan dalam pemerintahan Imam Ali as. Aisyah dengan emosi kewanitaannya menyulut api perang Jamal, membuat puluhan ribu jiwa melayang, menjadi faktor meletusnya perang Shiffin dan Nahrawan; itu semua hanya karena emosi seorang wanita yang menyimpan permusuhan terhadap Imam Ali as dalam hatinya. Oleh karena itu Imam Ali as berkata: “Para wanita tak sempurna akalnya. Maka janganlah kau turuti semua keinginannya.”[1]

Beliau mencela kaum lelaki yang mengikuti Aisyah dalam perang Jamal seraya berkata: “Kalian adalah tentara seorang wanita dan pengikut hewan (onta yang dinaiki Aisyah).”[2] Dalam penjelasan khutbah ini disebutkan:

“Tak diragukan bahwa khutbah di atas bukanlah satu pernyataan umum yang mencakup seluruh wanita. Karena khutbah ini beliau sampaikan seusai perang Jamal yang dipimpin oleh Aisyah dan memakan banyak korban, maka yang beliau maksud dalam khutbah itu adalah wanita-wanita yang seperti Aisyah. Banyak wanita-wanita yang dijunjung tinggi dalam ajaran kita, seperti Khadijah, Fathimah Azzahra, dan juga seorang wanita pejuang Saudah Hamdaniah yang berkorban demi keadilan. Wanita-wanita seperti itu sangat ditinggikan martabatnya.”[3]

Kedua, Imam Ali as tidak hanya menyebut wanita berakal tak sempurna, bahkan ia juga pernah menyebut beberapa lelaki yang memiliki akal yang tak sempurna pula.

Beliau berkata: “Lelaki yang menyukai dan senang dengan dirinya sendiri adalah lelaki yang tak sempurna akalnya dan lemah.”[4]

Beliau juga pernah berkata: “Lelaki yang kagum atas dirinya sendiri adalah lelaki tolol.”

Ia pernah menyebut lelaki-lelaki Kufah demikian: “Kalian adalah orang-orang yang tidak berakal.”[5]

Beliau pernah juga mencaci penduduk Bashrah dengan berkata: “Akal-akal kalian telah menjadi lemah.”[6]

Oleh karena itu ketidak sempurnaan akal tak terbatas pada wanita saja, namun lelaki terkadang juga demikian. Betapa banyak para wanita yang memiliki akal tinggi dan lelaki yang bodoh. Oleh karena itu hadits-hadits demikian tidak dapat dijadikan keistimewaan atau penghinaan terhadap lelaki dan perempuan.

Dengan penjelasan di atas kita juga dapat menambahkan jawaban yang dapat kita ambil dari Al-Qur’an:

 

Persamaan dalam penciptaan

Al-Qur’an telah menjelaskan bahwa lelaki dan perempuan diciptakan dari “satu” asal, dan oleh karena itu keduanya sama dan tidak ada keistimewaan apapun bagi salah satu terhadap selainnya. Banyak sekali ayat-ayat yang menjelaskan hal tersebut. Misalnya:

“Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya Dia menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya.” (QS. Al-A’raaf [7]:189)

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak.” (QS. An-Nisaa’ [4]:1)

“Allah menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari isteri-isteri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezki dari yang baik-baik.” (QS. An-Nahl [16]:72)

Ayat-ayat di atas menjelaskan bahwa lelaki dan perempuan sama dan tercipta dari satu asal.

Selain itu Al-Qur’an menjadikan lelaki dan perempuan sama-sama sebagai lawan bicaranya tanpa mebeda-bedakan mereka. Allah swt hanya memberikan keistimewaan kepada hambanya karena ketakwaan dan amal saleh. Perhatikan ayat-ayat berikut ini juga:

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam.” (QS. Al-Israa’ [17]:70)

“Dia telah menciptakan manusia dari mani, tiba-tiba ia menjadi pembantah yang nyata.” (QS. An-Nahl [16]:4)

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik” (QS. An-Nahl [16]:97)

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya…” (QS. An-Nuur [24]:30-31)

Banyak sekali ayat-ayat yang menjelaskan kewajiban lelaki dan perempuan secara bersama-sama tanpa membeda-bedakan mereka.

 

Bermacam-macam makna akal dalam riwayat

Imam Ali as berkata: “Akal ada dua: akal alami yang dimiliki seseorang dan akal yang muncul karena pengalaman.”[7]

Akal alami adalah sesuatu yang membedakan manusia dari hewan-hewan. Adapun akal yang satunya adalah akal pemikiran yang muncul karena latihan, pengalaman, percobaan dan lain sebagainya.

Saat beliau berkata wanita lemah akalnya, bukan berarti akal alaminya yang lemah, namun maksudnya adalah para wanita lebih sedikit pengalamannya.

Akal yang muncul karena pengalaman tidak ada kaitannya dengan akal alami dan akal sempurna manusia. Akal alami lelaki dan perempuan sama tak ada bedanya, hanya saja karena perempuan lebih sedikit berpengalaman maka akalnya yang muncul dari pengalaman lebih sedikit daripada lelaki yang banyak pengalaman. Hal itu bukanlah aib bagi perempuan, karena berkaitan dengan perannya masing-masing.

Imam Ali as pernah menyatakan bahwa perempuan yang memiliki banyak pengalaman layak untuk dimintai pertimbangan dan bermusyawarah dengannya. Beliau berkata: “Janganlah kalian bermusyawarah dengan wanita, kecuali jika engkau tahu kesempurnaan akalnya.”[8]

Imam Ali as juga pernah berkata: “Akal adalah suatu daya yang akan bertambah dengan bertambahnya ilmu dan pengalaman.”[9]

Memag lelaki dan perempuan secara esensial tidak berbeda, namun ada faktor-faktor eksternal yang membedakan mereka, seperti jenis kelamin, perbedaan emosional, peran yang dijalankan, pengalaman-pengalaman, dan lain sebagainya.

Para psikolog menyatakan: “Para wanita memiliki emosi dan sensitifitas perasaan yang lebih tinggi. Mereka lebih bisa memahami seni, keindahan, kecantikan, dan lain sebagainya dari pada lelaki. Namun perbedaan-perbedaan itu bukanlah kekurangan dan kelebihan satu jenis terhadap jenis lainnya. Karena memang secara alami demikian dan lelaki dan perempuan dapat saling menyempurnakan dengan adanya perbedaan-perbedaan tersebut.”[10]

 

Kesimpulan

Berdasarkan penjelasan di atas, jelaslah bahwa lelaki dan perempuan secara esensial tidak ada bedanya. Perbedaan-perbedaan yang ada antara lelaki dan perempuan bukanlah aib dan kekurangan, namun dengan adanya perbedaan itu mereka dapat saling menyempurnakan.

 

Referensi untuk mengkaji lebih jauh:

1. Muhammad Ja’far Imami, Muhammad Ridha Ashtiyani, Tarjome e Guyo va Sharh e Feshorde bar Nahjul Balaghah, jil. 1, hal. 39 & 389.

2. Murtadha Muthahari, Nezam e Hoquq e Zan dar Eslam, hal. 208.

 

Hadits akhir:

Rasulullah saw bersabda: “Jangan kalian beda-bedakan anak-anak kalian dalam mengasihi. Jika seandainya aku boleh membedakan, aku lebih memuliakan anak-anak perempuan.”[11]

 


[1] Nahjul Balaghah, khutbah ke-80.

[2] Ibid, khutbah ke-13.

[3] Muhammad Ja’far Imami dan Muhammad Ridha Ashtiyani, Tarjome e Guyo wa Syarh e Feshorde i bar Nahjul Balaghah, jil. 1, hal. 389.

[4] Abdul Wahid Amadi, Ghurarul Hikam, jil. 2, hal. 109.

[5] Ibid, jil. 1, hal. 311.

[6] Nahjul Balaghah, khutbah ke-34.

[7] Biharul Anwar, jil. 78, hal. 9.

[8] Nahjul Balaghah, surat ke-31; Biharul Anwar, jil. 100, hal. 253.

[9] Ghurarul Hikam wa Durarul Hikam, hal. 53.

[10] Murtadha Muthahari, Nezam e Hoquq e Zan dar Eslam, hal. 215.

[11] Nahjul Fashahah, terjemahan Ibrahim Ahmadian, Qom, hal. 325, hadits 3177.

Hidayah, Kehendak Tuhan dan Nasib Manusia

Tuhan menyesatkan dan memberi petunjuk

Hidayah secara leksikal berarti petunjuk disertai dengan perhatian.[1] Hidayah ini terbagi kepada dua; menunjukkan jalan dan menyampaikan sesuatu ke tujuannya secara langsung, atau dengan ungkapan lain; hidayah tasyri’i dan hidayah takwini.[2]

Penjelasan

Tatkala seseorang menunjukkan jalan kepada orang yang sedang mencari sebuah alamat, terkadang ia menunjukkan alamat tersebut dengan lengkap; disertai dengan seluruh kriterianya. Akan tetapi, untuk menempuh jalan dan menuju ke tempat tujuannya ia serahkan kepada si pencari alamat tersebut. Namun, terkadang ia mengambil tangannya, dan sambil menunjukkan jalan, ia juga mengantarkannya hingga mencapai tempat tujuannya.

Dengan kata lain, pada cara pertama, yang dijelaskan hanya aturan (qanun), syarat-syarat untuk menempuh jalan dan mencapai tujuan. Namun, pada cara kedua, selain hal tersebut segala sarana perjalanan juga dipersiapkan; menyingkirkan segala rintangan, mencari solusi atas masalah-masalah yang ada, dan membantu serta menjaga para pencari hingga mencapai tujuan.

Tentu saja, lawan dari hidayah adalah kesesatan (dhalalah).

Secara global, permasalahan ini akan menjadi jelas dengan menilik ayat-ayat Al-Qur’an. Al-Qur’an menyatakan bahwa petunjuk dan kesesatan adalah perbuatan Tuhan. Dan keduanya dinisbahkan kepada Tuhan. Dan sekiranya kita ingin membahas seluruh ayat yang menyinggung perkara ini, tentu memerlukan waktu yang panjang. Kami kira sudah memadai jika kita renungkan dua ayat berikut ini:

“Allah memberikan petunjuk kepada siapa saja yang dikehendaki.” (QS. Al-Baqarah [2]: 213).

“… tetapi, Allah memberikan petunjuk kepada siapa saja yang dikehendaki dan menyesatkan siapa saja yang dikehendaki.” (QS. An-Nahl [16]: 93)

Kita juga akan menjumpai ayat-ayat yang mengisyaratkan petunjuk (hidayah) dan kesesatan (dhalalah) yang serupa dengan redaksi kedua ayat di atas.[3]

Dan selain itu, sebagian ayat Al-Qur’an dengan gamblang menafikan hidayah dari sisi Nabi saw. dan menisbahkannya hanya kepada Allah Swt. semata.

“Sesungguhnya engkau sekali-kali tidak dapat memberikan petunjuk kepada orang yang engkau cintai, melainkan Allah memberikan petunjuk kepada siapa saja yang dikehendaki.” (QS. Al-Qashash [28]: 56)

“… Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk. Akan tetapi, Allahlah yang memberikan petunjuk [memberi taufik] kepada siapa yang dikehendaki …. (QS. AI¬Baqarah [2]: 272)

Menelaah hanya pada permukaan ayat-ayat ini dan tidak menyentuh makna ayat tersebut telah menyebabkan sekelompok orang -dalam menafsirkan ayat-ayat ini- terjerembab ke dalam kesesatan, dan menyimpang dari jalan petunjuk serta terperosok dalam Determinisme (jabr). Bahkan, sebagian mufassir terkenal tidak lepas dari petaka ini dan terjatuh ke dalam kesalahan yang fatal. Ia meyakini bahwa urusan petunjuk dan kesesatan dengan segenap tingkatannya merupakan bentuk Determinisme.

Anehnya, lantaran kontradiksi pekercayaan ini dengan prinsip Keadilan dan Hikmah Ilahi, mereka memberikan preferensi yang mengingkari keadilan secara terang-terangan.

Pada prinsipnya bahwa seandainya kita terima Determinisme, maka makna taklif, tanggung-Jawab, pengutusan para rasul dan penurunan kitab-kitab samawi tidak lagi berarti.

Akan tetapi, pendukung paham kebebasan penuh (ikhtiyar) percaya bahwa tidak satu pun akal sehat yang dapat menerima asumsi bahwa Allah Swt. memaksa mereka untuk mengambil jalan kesesatan, dan setelah itu -karena keterpaksaan ini- mereka harus menerima hukuman. Atau ada sekelompok manusia yang telah diberi petunjuk dan setelah itu, tanpa alasan mereka diganjar pahala, padahal keistimewaan yang mereka dapatkan ini bukan karena amalan yang mereka lakukan.

Atas dasar paham inilah memilih cara-cara lain dalam menafsirkan ayat-ayat tersebut.

Penafsiran yang akurat dan relevan dengan seluruh ayat-ayat ihwal petunjuk dan kesesatan adalah penafsiran yang tidak sedikit pun berselisih dengan makna lahiriah ayat-ayat berikut ini:

Hidayah tasyri’i bermakna menunjukkan jalan secara umum tanpa adanya syarat dan ikatan. Sebagaimana ayat yang berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menunjukkan kepada mereka jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pulayang kafir.” (QS. Ad-Dahr: 3) “… dan sesungguhnya engkau benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS. Asy-Syura [42]: 52) Sangat jelas bahwa ajakan nabi ini adalah kepanjangan ajakan Tuhan, karena apa saja yang dimiliki oleh Nabi berasal dari-Nya.

Tentang kaum musyrikin dan sekelompok orang yang tersesat, Allah Swt. berfirman, “… dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka.” (QS. An-Najm [53]: 23)

Adapun hidayah takwini bermakna menyampaikan (ishal) ke tujuan dan menuntun tangan para hamba sehingga mereka dapat menempuh jalan yang berliku, serta menjaga dan menolong mereka hingga sampai di ambang keselamatan.

Hidayah takwint ini menjadi topik pembahasan dalam banyak ayat yang lain tanpa adanya kait dan syarat. Hidayah ini khusus bagi orang-orang yang ciri-ciri khas mereka telah dijelaskan di dalam Al-Qur’an. Dan kesesatan yang berarti sebagai lawan dari hidayah, khusus bagi orang-orang yang ciri-ciri khas mereka juga telah dijelaskan di dalam Al-Qur’an.

Kendati sebagian ayat-ayat ini bersifat mutlak, namun banyak pula ayat-ayat yang menjelaskan kait dan syaratnya secara teliti. Dan ketika ayat-ayat yang berkait (muqayyad) dan mutlak ini bersanding satu dengan yang lainnya, permasalahannya akan menjadi sangat jelas dan tidak tersisa lagi sedikit pun keraguan dan ambiguitas. Ayat-ayat ini tidak hanya tidak bertentangan dengan masalah kebebasan manusia, akan tetapi justru menekankannya.

Kini perhatikan baik-baik penjelasan di bawah ini!

Allah Swt berfirman: “… dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu [pula] banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada orang yang disesatkan Allah kecuali orang-orang fasik. “(QS. Al-Baqarah [2]: 26)

Ayat ini menyitir sumber kesesatan, kefasikan dan keluarnya mereka dari ketaatan dan perintah Allah Swt.

Pada kesempatan yang lain, Allah Swt. berfirman, “…dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zalim.” (QS. AI¬Baqarah [2]: 258)

Ayat ini menerangkan masalah kezaliman (tirani dan despotisme) yang kemudian menjadi lahan tumbuhnya kesesatan.

Pada kesempatan ketiga, kita membaca, “…dan Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada orang-orangyang kafir.” (QS. al¬Baqarah [2]: 264)

Di dalam ayat ini dijelaskan ihwal kekufuran yang menjadi ladang berseminya kesesatan.

Di dalam ayat yang lain Allah berfirman: “…sesungguhnya Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada orang-orang pendusta dan sangat ingkar.” (QS. az-Zumar [39]: 3)

Di dalam ayat ini juga berdusta dan kekafiran disebutkan sebagai awal kesesatan.

Dan di tempat lain disebutkan, “…sesungguhnya Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada orang-orang yang berlebih-lebihan lagi pendusta.” (QS. al-Ghafir [40]: 28) Maksudnya adalah bahwa perbuatan berlebih-lebihan dan berkata dusta menjadi penyebab kesesatan.

Tentu saja, apa yang telah kami sebutkan di sini hanyalah sebagian dari ayat-ayat Al-Qur’an yang bersangkutan dengan dengan pembahasan ini. Sebagian lainnya dengan redaksi yang sama banyak disebutkan secara berulang-ulang di dalam AI-Qur’an.

Konklusinya, penegasan Al-Qur’an bahwa kesesatan hanya berasal dari Allah Swt. semata, hanya khusus bagi orang-orang yang memiliki kriteria kufur, tirani, fasik, dusta, berlebih-lebihan, dan enggan berterima kasih.

Apakah orang-orang yang memiliki kriteria-kriteria seperti ini tidak pantas mendapatkan kesesatan?

Dengan ungkapan lain, apakah terjeratnya seseorang di dalam kriteria-kriteria ini tidak akan menjadi hijab dan kegelapan di dalam hatinya?

Lebih jelas lagi, perbuatan dan kriteria yang dimiliki orang itu mau atau tidak mau akan menjadi tirai yang menutupi mata, telinga dan akalnya sehingga ia akan masuk ke dalam jurang kesesatan. Mengingat bahwa seluruh benda dan efek seluruh sebab-sebab terjadi atas perintah Allah Swt., kesesatan dalam seluruh perkara ini dapat dinisbahkan kepada Allah Swt. Namun, penisbahan ini bersemayam pada ikhtiyar dan kebebasan berkehendak manusia.

Uraian di atas ini berkenaan dengan masalah kesesatan (dhalalah). Adapun mengenai masalah petunjuk (hidayah), AI-Qur’an juga menyebutkan sifat dan syarat-syaratnya. Hal ini menunjukkan bahwa petunjuk juga bukan tanpa sebab, tidak pula bertentangan dengan hikmah Ilahi.

Sebagian dari karakteristik yang menjadikan seseorang berhak mendapatkan petunjuk dan merengkuh kasih sayang Ilahi telah disebutkan pada ayat-ayat di bawah ini:

“Dengan kitab itulah Allah memberi petunjuk kepada orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan [dengan kitab itu pula] Allah mengeluarkan orang-orang dari kegelapan kepada cahaya yang terang benderang dengan izin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalanyang lurus.” (QS.AI-Maidah [5]: 16) Pada ayat ini, mengikuti perintah Allah Swt. dan merengkuh keridaan-Nya merupakan ladang berseminya petunjuk Ilahi.

“…sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan menunjuki orang-orang yang bertaubat kepada-Nya.” (QS. ar-Ra’d [13]: 27)

Di sini ditegaskan bahwa taubat dan inabah (kembali) merupakan penyebab datangnya petunjuk.

“Dan orangyang berjihad [untuk mencari keridhaan] Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami…” (QS. al-Ankabut [29]: 69)

Di sini dijelaskan bahwa jihad (kesungguhan); jihad yang tulus di jalan Allah swt adalah syarat utama petunjuk.

“Dan orang-orang yang mendapat petunjuk, Allah akan menambahkan petunjuk dan menganugrahkan ketakwaan kepada mereka.” (QS.Muhammad [47]: 17)

Di dalam ayat ini disebutkan, melintasi beberapa jalan petunjuk sebagai syarat keberlanjutan jalan ini menuju kemurahan (luthf) Allah Swt.

Konklusi dari ayat-ayat yang disebutkan di atas adalah, bahwa apabila taubat tidak datang dari para hamba, tidak mengikuti perintah-Nya, tidak berjihad dan berusaha, dan tidak melangkahkan kaki di jalan hak, maka kemurahan Ilahi tidak akan mendatangi kehidupan mereka, tidak akan menuntun tangan mereka, dan tidak akan mengantarkan mereka mencapai tujuan.

Apakah mengkhususkan petunjuk untuk orang-orang yang memiliki sifat-sifat ini merupakan hal yang tak berdasar atau termasuk determinisme?

Anda perhatikan bagaimana ayat-ayat Al-Qur’an dalam pembahasan ini sangat jelas dan gamblang. Orang-orang yang tidak mampu atau tidak ingin mengklasifikasikan hal-hal yang benar dari ayat-ayat petunjuk dan kesesatan telah terjebak dalam kesalahan fatal. Karena tidak melihat hakikat, terpaksa memilih Jalan fiktif. Harus diakui bahwa lahan kesesatan ini telah dipersiapkan oleh dirinya sendiri.

Bagaimanapun, kehendak (masyiyah) Ilahi pada ayat-ayat hidayah dan kesesatan bersandar kepada kehendak (kebebasan) tersebut. Kehendak Ilahi itu sama sekali tidak akan berlaku tanpa dasar dan tanpa hikmah. Tetapi pada setiap perkara, kehendak Ilahi itu memiliki syarat-syarat khusus yang selaras dengan sifat kemahabijaksanaan Ilahi.


[1] Mufradat kalimat hada.

[2] Perhatikan baik-baik! Hidayah takwini di sini bermakna luas. Termasuk setiap bentuk petunjuk selain jalan penjelasan undang-undang dan penunjukan Jalan secara langsung.

[3] Misalnya Fathir: 8, az-Zumar: 23, al-Muddatstsir: 31. al-Baqarah: 272, al-An’am: 88, Yunus: 25, ar-Ra’d: 27, dan Ibrahim: 4.

Kehendak Tuhan dalam kebahagiaan dan kesengsaraan hamba-Nya

Dalam Al-Qur’an banyak sekali ayat-ayat serupa yang menjelaskan bahwa Tuhan yang berkehendak untuk memberi hidayah dan menyesatkan manusia, serta menyiksa atau merahmati hamba-Nya. Dengan melihat kehendak-Nya itu, lalu apa arti keadilan Tuhan?

Jawaban Global:

Dalam banyak ayat-ayat Qur’an dijelaskan bahwa Allah swt adalah sebab utama kemulian atau kehinaan hamba-Nya, rizki dan kemiskinan manusia, siksa atau rahmat hamba-hamba. Juga banyak sekali ayat yang menjelaskan bahwa Ia adalah dzat yang menganugerahkan kemuliaan, rizki, kebahagiaan, rahmat kepada hamba-hamba-Nya yang bertakwa dan ikhlas. Semua ayat-ayat tersebut tidak bertentangan satu sama lain, dan semuanya saling mengartikan jika dipahami bersama. Karena kehendak dan keinginan Tuhan selalu berdasarkan hikmah dan adil. Jadi, tidak ada pertentangan antara kehendak Tuhan itu dengan keadilan-Nya.

Jawaban Detil:

Dalam berbagai ayat suci Al-Qur’an dijelaskan bahwa Ia adalah dzat yang memberi kemuliaan, kehinaan, rizki, kemiskinan, karunia, adzab, pahala, dan siksaan kepada hamba-hamba-Nya. Namun tidak hanya itu saja, masih banyak juga ayat-ayat lain yang menegaskan bahwa ketakwaan hamba-hamba berperan penting dalam menentukan nasibnya masing-masing. Ia juga menekankan bahwa kehendak-Nya bergantung pada ikhtiar dan ketakwaan hamba. Setiap hamba bebas berusaha untuk meraih kebahagiaan akherat, atau sebaliknya, mencari kehinaan dan kesengsaraan.

Lalu apakah ayat-ayat tentang kebebasan manusia dan kehendak Tuhan yang sekaan “menggariskan” nasib manusia saling bertentangan?

Untuk membahas pertanyaan ini, pertama kita harus jelaskan bahwa pertanyaan seperti itu hanya muncul di benak orang-orang yang mengira bahwa kehendak Tuhan sama dengan kehendak manusia. Padahal tidak, karena kehendak Tuhan berbeda dengan kehendak hamba-Nya. Kehendak manusia bersumber dari keinginan-keinginan hasrat dan ketertarikan jiwa, yang mungkin saja masuk akal atau tidak, dan bahkan sering kali keinginan itu adalah nafsu yang tak masuk akal.

Adapun kehendak dan keinginan Tuhan bersumber dari hikmah dan keadilan yang takkan pernah berubah sampai kapanpun. Karena Tuhan hanya memberlakukan segala sesuatu berdasarkan aturan sebab akibat yang penuh hikmah, dan sunah (aturan) ini tidak akan pernah berubah.

Dengan penjelasan ini, maka jelas sudah ketika Tuhan memberikan pahala kepada seorang hamba, atau menyiksanya, semua itu tidak tanpa alasan, namun berdasarkan keadilannya. Alasan Tuhan sering menyatakan bahwa kebahagiaan dan kesusahan hamba adalah karena-Nya, karena seluruh alam semesta dan diri manusia beserta ikhtiar dan kehendaknya adalah ciptaan Tuhan semata. Ialah yang memberi manusia jalan dan fasilitas untuk meraih kebahagiaannya ataupun kesengsaraannya. Tuhanlah yang telah membuat aturan yang jika dijalankan manusia maka hamba-Nya akan sampai pada kebahagian dan jika ditentang maka dengan sendirinya akan jatuh pada kesusahan. Dengan demikian bisa dikata semua nasib manusia berasal dari-Nya, dan itu pun tak bertentangan dengan keadilan Tuhan, karena Tuhan telah menciptakan seluruh peraturan itu dengan penuh keadilan. Manusia lah yang dengan kehendak (yang telah dianugerahkan Tuhan itu) untuk meraih kebaikan atau keburukan.[1]

Dengan penjelasan di atas, mari kita kembali tengok ayat di atas. Allah swt berfirman: “Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehandaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya” (QS. Al-Baqarah [2]:284)

Maksud dari kata “dikehendaki-Nya” dalam ayat itu, dan juga dalam ayat-ayat lainnya, adalah kehendak yang didasari oleh hikmah. Yakni Tuhan akan menyiksa hamba “yang layak” untuk disiksa dan juga merahmat hamba “yang layak” untuk dirahmati. Yakni kehendak-Nya berhubungan langsung dengan kelayakan hamba. Tanpa ada sebab yang pasti, Tuhan tidak akan berkehendak apapun.[2]

Oleh karena itu, semua ayat-ayat dalam masalah ini tidak saling bertentangan, jusru semuanya saling mengartikan satu sama lain dan harus dipahami secara bersamaan keseluruhannya. Sunah (aturan dan kebiasaan) Tuhan dalam kebijakan-Nya di alam penciptaan bersumber dari hikmah yang takkan pernah berubah sampai kapanpun. Manusia memiliki kehendak atas dirinya sendiri untuk meraih kebahagiaan atau kesengsaraan. [islamquest]


[1] Nashir Makarim Syirazi, Tafsir Nemune, jil. 2, hal. 498, dengan sedikit perubahan, cetakan Nashr Darul Kutub Islamiah, cetakan pertama , Tehran 1374 HS.

[2] Tafsir Nemune, jil. 22, hal. 92, dengan sedikit perubahan.

Perjanjian Alam Dzarr

Dalam surat Al-A’raf (1), ayat 172 disebutkan, ”Dan [ingatlah] tatkala Tuhanmu mengeluarkan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), ‘Bukankah Aku in; Tuhanmu?’ Mereka menJawab. ‘Benar (Engkau adalah Tuhan kami), kami menjadi saksi. ‘ (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan. ‘Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lalai terhadap hal ini (keesaan Tuhan). ”

Di dalam ayat ini, disebutkan pengambilan janji dari Bani Adam secara umum. Lalu, bagaimanakah bentuk perjanjian ini?

Maksud dari alam dan perjanjian ini adalah “alam potensi” dan perjanjian fitrah dan penciptaan. Urutannya adalah ketika Bani Adan keluar dalam bentuk sperma dari tulang sulbi seorang ayah memasuki rahim seorang ibu di mana ketika itu bentuk Bani Adam tidak lebih dari sebesar biji atom (dzarrah) Allah Swt. menganugerahkan potensi untuk mendapatkan tauhid sejati. Rahasia Ilahi ini diberikan dalam bentuk perasaan jiwa yang bersifat esensial (dzat) dan diletakkan sebagai karakter dan fitrahnya. Bani Adam itu dapat menyadari rahasia ini melalui akal dan nalarnya.

Oleh karena itu, seluruh manusia memiliki ruh tauhid, dan pertanyaan yang diajukan Tuhan kepadanya hanyalah berupa proses penciptaan. Jawaban yang mereka berikan juga melalui proses ini.

Redaksi-redaksi seperti ini dalam dialog-dialog kesehanan juga tidak sedikit kita jumpai. Misalnya kita berkata, ”Warna dan raut wajah seseorang menunjukkan rahasia batinnya” dan ”Matanya yang sayu menandakan bahwa ia tidak tidur semalam.”

Para pakar sastra (udaba) dan orator (khuthaba’) Arab berkata, ”Tanyakanlah kepada bumi ini siapakah yang membuka ruas sungai-sungaimu? Dan pepohonan yang ditanam dan menghasilkan buah-buahan? Apabila bumi tidak menjawab dengan lisan biasa, ia akan menjawabnya dengan penciptaannya.”

Di dalam ayat Al-Qur’an, ungkapan dalam bahasa umum ini telah disebutkan, seperti, “Lalu Ia berkata kepadanya dan kepada bumi, ‘Datanglah kamu berdua menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa. ‘ Keduanya menjawab, ‘Kami datang dengan suka hati dan taat kepada perintah-Mu.’” (QS. Fushshilat [33]: 11)[1]


[1] Tafsir Nemuneh, jilid 7, hal. 6.

Tuhan tidak bisa dilihat dan Manusia berbuat sesuai ikhtiar dan keinginannya masing-masing

Melihat Tuhan, Adzab Setan, Ikhtiar Manusia

Buhlul bin ‘Amr Kufi adalah orang pintar di jaman Imam Musa Kadzim as dan termasuk murid Imam Shadiq as. Ia berpura-pura gila di saat itu. Panjang ceritanya. Misalnya, supaya ia tidak diangkat sebagai hakim oleh Harun Ar Rasyid, ia berpura-pura gila seperti itu. Ia suka sekali berdebat, pandai berbicara, serta jenaka.

Pada suatu hari, ia mendengar bahwa Abu Hanifah (pemimpin madzhab Hanafi) pernah berkata, bahwa Imam Ja’far As Shadiq as menjelaskan tiga hal yang sama sekali tidak diterimanya. Tiga hal itu adalah:

1. Setan kelak disiksa di api neraka. Bagi Abu Hanifah hal itu tidak mungkin, karena setan tercipta dari api, bagaimana ia disiksa dengan api pula?

2. Tuhan tidak bisa dilihat. Menurut Abu Hanifah, segala hal yang ada harus bisa dilihat.

3. Manusia berbuat sesuai ikhtiar dan keinginanya masing-masing. Abu Hanifah tidak menerima itu, karena menurutnya banyak sekali ayat-ayat Al Qur’an yang menjelaskan bahwa perbuatan-perbuatan manusia itu telah ditakdirkan oleh Allah, dan Ia yang telah menentukan serta mengaturnya.

Saat Buhlul melihat Abu Hanifah dalam suatu majelis, ia melemparnya dengan gumpalan tanah yang telah mebatu. Abu Hanifah kesakitan dan memarahi Buhlul. Namun Buhlul merasa tak bersalah dan berkata:

“Apa buktinya kamu sakit karena kulempar? Coba tunjukkan padaku? Aku tidak melihatnya! Berarti kamu berbohong dan sebenarnya kamu tidak sakit! Kamu bilang setan tercipta dari api dan tidak bisa disiksa dengan api; kamu tercipta dari tanah kenapa saat kulempar dengan tanah kamu kesakitan? Kamu bilang manusia tidak punya ikhtiar dan kehendak dalam segala perbuatannya; kalau begitu yang melempar kamu bukanlah aku, tapi Tuhan. Marahi saja Tuhanmu!”

Abu Hanifah diam dan malu. Ia berdiri dari majelis dan sadar bahwa maksud Buhlul adalah mengkritik pemikirannya yang bertentangan dengan Imam Ja’far Shadiq as.[1]


[1] Majalisul Mu’minin, jilid 2, halaman 419; Bahjatul Aamaal, jilid 2, halaman 436.

Apakah Tuhan memang bisa dilihat

Dalam sebuah majelis yang dihadiri oleh sekumpulan Muslimin, terjadi sebuah dialog antara seorang pelajar dengan alim. Simak dialog itu demikian:

Pelajar: “Dalam Al Qur’an, misalnya dalam surah Al A’raf, kita mebaca firman Allah swt:

“Ya Tuhan, tunjukkanlah diri-Mu padaku agar aku bisa melihat-Mu!” Namun Tuhan menjawab: “Engkau tidak akan pernah bisa melihat-Ku.” (QS. Al A’raf: 143)

Pertanyaanku, kita saja tahu bahwa Tuhan tidak memiliki fisik, tidak bertempat, lalu mengapa nabi besar dan termasuk Ulul Azmi seperti nabi Musa as menyatakan permintaan yang tidak masuk akal? Suatu permintaan yang meski bagi orang biasa pun tidak layak.”

Alim: “Kemungkinan apa yang diminta oleh nabi Musa as adalah melihat Tuhan dengan mata hati, bukan mata kepala. Dengan permintaan itu, nabi Musa as ingin mencapai suatu rasa kesadaran penuh dalam memahami Tuhannya dalam akal pemikiran. Ibaratnya nabi Musa as meminta “Ya Tuhan, buatlah aku benar-benar yakin secara sempurna sehingga aku bagai melihatmu dengan mata kepala.”[1] Lagi pula kata “melihat” tidak selamanya bermaksud pengelihatan dengan mata fisik. Misalnya saat kita berkata, “Aku melihat adanya potensi dalam diriku…” Potensi jelas tidak bisa dilihat oleh mata kepala, namun mata batin.”

Pelajar: “Penafsiran seperti itu sangat bertentangan dengan apa yang kita fahami sekilas dari ayat Al Qur’an. Karena ucapan nabi Musa as: “Tunjukkan diri-Mu padaku”, berkaitan dengan pengelihatan fisik. Apa lagi dengan melihat jawaban Tuhan: “Engkau tidak akan pernah melihat-Ku”, kita fahami bahwa nabi Musa as tidak akan pernah bisa melihat Tuhan dengan mata kepalanya. Adapun jika yang nabi Musa as maksud adalah melihat Tuhan dengan mata batin, Tuhan tidak akan menjawab seperti itu dalam firman-Nya. Ia pasti akan mengiyakan permintaan beliau jika yang dimaksud adalah pengelihatan dengan mata hati.”

Alim: “Anggap saja memang nabi Musa as meminta agar ia bisa melihat Tuhan dengan mata kepalanya. Namun jika kita merujuk kepada sejarah, kita akan fahami bahwa permohonan nabi Musa as hanyalah penyampaian permintaan kaumnya. Yakni permintaan kaum yang disampaikan beliau kepada Tuhan. Begitu kaumnya keras kepala ingin melihat Tuhan, ia meminta Tuhan untuk menunjukkan diri kepada mereka.

Penjelasannya, setelah peristiwa tenggelamnya Fir’aun dan diselamatkannya Bani Israel, mereka sering meminta nabi Musa as untuk melakukan “yang tidak-tidak”. Salah satu permintaan yang mereka ajukan secara paksa kepada nabi Musa as adalah melihat Tuhan dengan mata kepala, yang selama mereka tidak bisa melihat Tuhan maka mereka tidak mau beriman. Akhirnya nabi Musa as membawa tujuh puluh orang dari antara Bani Israel lalu membawa mereka ke tempat peribadahannya (bukit Tur) lalu beliau memohon kepada Tuhan dengan permohonan seperti itu. Akhirnya ia mendapat jawaban: “Engkau tidak akan pernah bisa melihatku.” Jawaban itu pun akhirnya didengar oleh Bani Israel sendiri agar mereka sadar.

Sedangkan nabi Musa as sendiri menyadari bahwa Tuhan memang tidak bisa dilihat. Yang bisa dilihat hanyalah tanda-tanda kebesaran-Nya saja.” [2]


[1] Sebagaimana nabi Ibrahim as juga meminta seperti itu agar ia yakin dengan sempurna akan hari kebangkitan.

[2] Seratus Satu Perdebatan, Muhammadi Isytihardi, halaman 383.

Berjumpa dengan Allah, mungkinkah

Dalam beberapa ayat-ayat Al-Qur’an yang membahas Hari Kebangkitan dan Hari Kiamat, terdapat redaksi liqa’ Allah (perjumpaan dengan Tuhan) atau liqa’ ar-Rabb (perjumpaan dengan Rabb). Redaksi ayat ini sarat makna dan memiliki kedalaman arti, betapa pun sebagian mufassir telah menafsirkan ayat-ayat ini secara sambil lalu.

Sebagian dari mereka berpendapat bahwa maksud dari liqa’ Allah adalah pertemuan para malaikat Allah swt pada Hari Kiamat. Sebagian yang lain berkeyakinan bahwa maksudnya adalah perjumpaan setiap makhluk dengan perhitungan (hisab), ganjaran (jaza), dan pahala (tsawab). Dan kelompok ketiga berpendapat bahwa maknanya adalah perjumpaan hukum dan perintah-Nya.

Semua pendapat tersebut mengambil arti redaksi AI-Qur’an tersebut secara implisit. Sementara kita mengetahui bahwa apabila penafsiran implisit bertentangan dengan dzahir sebuah ungkapan (eksplisit), sepanjang tidak ada dalil atasnya, harus kita tinggalkan.

Tak syak lagi bahwa maksud dari redaksi perjumpaan (liqa) bukanlah melihat Tuhan. Lantaran perjumpaan indrawi hanya berlaku pada benda-benda material yang terbatas di dalam ruang dan waktu, berwarna, dan kualitas-kualitas lain sehingga ia mampu untuk dilihat dengan mata kepala.

Dengan demikian, maksud dari perjumpaan di sini adalah syuhud batini, perjumpaan dan pertemuan maknawi dan ruhani dengan Allah swt. Karena pada Hari Kiamat, seluruh hijab akan tersingkap dan tanda-tanda kekuasaan-Nya sedemikian nampak pada hari Mahsyar dan seluruh tempat persinggahan Kiamat, bahkan orang-orang kafir akan berjumpa dengan Allah Swt melalui mata batin mereka (meskipun perjumpaan ini pasti berbeda).

Allamah Thabathabai dalam Tafsir AI-Mizan berkata:

“Hamba-hamba Allah swt berada dalam keadaan tanpa hijab antara mereka dengan-Nya. Lantaran ciri khas Hari Kiamat adalah penampakan seluruh hakikat. Demikian pada surat An-Nur (24), ayat 25, Allah Swt berfirman, “Pada hari itu mereka mengetahui bahwa sesungguhnya Allah-lah Hak Yang Nyata.”

Menariknya, dalam hadis sahih disebutkan bahwa seorang datang kepada Amirul Mukminin Ali as dan berkata: “Aku terjatuh dalam kesangsian terhadap Al-Qur’an.”

Beliau kembali bertanya: “Mengapa?”

Orang itu berkata: “Kita melihat banyak ayat Al-Qur’an yang menegaskan perjumpaan dengan Allah Swt pada Hari Kiamat, dan di sisi lain Dia berfirman, “Mata-mata tidak mampu menjangkau-Nya, dan Ia menjangkau seluruh mata.” Bagaimana ayat ini bisa dipertemukan dengan yang lainnya?”

Beliau menjawab: “Perjumpaan di sini bukan penyaksian dengan mata, akan tetapi perjumpaan pada Hari Kiamat dan bangkitnya orang-orang dari kuburan. Oleh karena itu, pahamilah bahwa seluruh liqa’ (perjumpaan) yang disebutkan dalam AI-Qur’an berarti kebangkitan.”[1]

Sebenarnya, Imam Ali as, memberikan tafsir ihwal perjumpaan dengan Allah swt bahwa penyaksian (Syuhud Allah swt merupakan inherensi-inherensi dari syuhud tersebut. Benar bahwa Hari Kiamat merupakan hari tersingkapnya pelbagai hijab dan tirai, tampaknya tanda-tanda Yang Maha Hak, dan tajalli Allah kepada seluruh hati. Dan setiap orang -sesuai dengan tingkat pikirnya- dapat memahami ucapan beliau ini. Dan seperti yang telah kita katakan, bahwa syuhud batini para kekasih Allah Swt pada Hari Kiamat berbeda dengan perjumpaan orang-orang biasa.[2]

Dalam masalah ini, Fakhrurrazi dalam At-Tafsir AI-Kabir-nya memberikan penjelasan yang menarik. Ia menulis, “Manusia di dunia ini, lantaran hanyut dalam urusan-urusan duniawi dan berupaya untuk mengejar kehidupan dunia, kerap melalaikan Allah. Akan tetapi pada Hari Kiamat, seluruh perhatian duniawi ini akan hilang. Manusia dengan seluruh wujudnya akan tercurah kepada Tuhan semesta alam. Dan inilah arti dari perjumpaan dengan Allah swt”[3]

Hal ini boleh jadi berdasarkan pengaruh takwa, ibadah, dan penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) dalam kehidupan dunia ini yang dapat dijumpai pada sekelompok umat manusia. Sebagaimana dalam Nahjul Balaghah ditegaskan, bahwa salah seorang sahabat alim Imam Ali as, Dza’lab al-Yamani, bertanya kepada beliau, “Apakah Anda melihat Tuhan Anda?”

Imam as, menjawab, “Apakah mungkin aku menyembah Tuhan yang tidak kulihat?”

Dan ketika ingin memberikan penjelasan lebih lanjut, beliau menambahkan, “Seluruh mata kepala sekali-kali tidak akan pernah menyaksikan-Nya, namun mata hatilah -dengan cahaya iman- dapat menyaksikan-Nya.”[4]

Namun, syuhud batini ini pada Hari Kiamat berlaku untuk semua orang. Karena, tanda keagungan dan kekuasaan Allah swt pada hari itu sedemikian jelasnya sehingga setiap hati yang buta juga akan beriman penuh.[5]


[1] Ringkasan Tauhid Shaduq, hal 267

[2] Tafsir Payam-e Qur’an, jilid 5, hal. 44.

[3] At-Tafsir al-Kabir, Fakhrurrazi, ayat yang bersangkutan; Tafsir Nemuneh, jilid 17, hal. 359.

[4] Nahjul Balaghah, ceramah ke-179.

[5] Tafsir Nemuneh, jilid 1, hal. 217

Untuk menjadi Syi’ah tidak cukup hanya mengaku ngaku saja ! Syiah adalah orang yang hati, perbuatan dan lidahnya sejalan dengan imam ahlulbait

Selain mengidap TBC (Tuli Buta Cupet), penganut ajaran sempalan ini juga mengidap SPILIS alias Sedikit Pemahaman Ingin Langsung Ikut-ikutan Salaf shalihin. Sebagai dampaknya tentu saja mereka menjadi manusia inkonsisten bahkan dengan pemahaman mereka sendiri. Di satu sisi tak faham betul tentang segala sesuatu berkenaan dengan salaf shalihin, tetapi di sisi lain ingin seperti salaf shalihin. Benar-benar ajaib.

Mereka berfikir dengan memilih nama “Manhaj Salaf” akan membuat mereka menjadi sebagaimana Salaf Shalihin. Lucunya, menurut mereka Salaf Shalihin itu maksum sedang individu dari Salaf Shalihin belum tentu maksum. Mereka menolak mengikuti Madzhab yang telah dikenal luas dalam dunia Islam. Bahkan dalam anggapan mereka, mengikuti Madzhab adalah syirik karena taklid buta pada individu. Sungguh lucu tapi nyata, karena di sisi lain mereka ternyata begitu fanatik akan ulama-ulamaan dan ustdz-ustadzan mereka. Apapun akan mereka lakukan untuk membela ulama-ulamaan mereka dan ustadz-ustadzan mereka, bila berlu mengkafirkan orang yang menolak fatwa ulama-ulamaan mereka.

Perkara menghukumi atau melabeli orang di luar kelompok mereka adalah special skill dari penganut Wahabi yang berlindung di balik topeng salaf. Siapapun baik yang sebelum maupun yang setelah mereka pun telah mereka kafirkan atau syirikkan atau sesatkan. Mulai dari Adam as  sampai saya sendiri. Mereka juga tanpa ragu menyatakan bahwa kedua orang tua Rasulullah SAW masuk neraka dengan bermodalkan hadits yang sebenarnya masih banyak yang lebih kuat dari hadits yang mereka bawakan. Anehnya lagi mereka menyatakan itu sperti tanpa beban. Sungguh aneh.

Kembali ke masalah pemilihan manhaj salafi. Kalaulah memang mereka ingin seperti salaf shalihin dan pasti lurus lagi masuk surga, mengapa mereka tidak memilih saja nama manhaj shalihi karena orang shalih pastilah orang lurus.

tentu saja siapa pun tahu bahwa di masa salaf ada yang shalih dan ada yang tidak. Di antara yang jauh dari predikat shalih, tersebutlah Musailamah yang bahkan oleh Rasululullah SAW disebut Al Kadzab karena mengatakan dirinya nabi kepada semua orang, bahkan termasuk kepada Rasullah SAW. Benar-benar Al Kadzab.

Kiranya bukanlah suatu kebetulan bila ternyata Syaikhul Wahhabi yang bernama Muhammad bin Abdul Wahhab ternyata berasal dari daerah yang sama dengan Musailamah Al Kadzab yaitu NAJD, yang Rasulullah SAW telah menolak memberkatinya bahkan menyatakan fitnah dan tanduk setan akan muncul dari Najd yang terletak di sebelah Timur Madinah. Perlu pula dicatat ternyata Najd (Riyadh, ibukota Yaudi Wahabia) adalah daerah yang termasuk belakangan dalam menerima Islam di masa Rasulullah SAW.

Apakah Muslim Syiah tidak akan masuk neraka

Pertanyaan: Ada sebuah riwayat dari Imam Ali as: “Umat Islam Syiah tidak akan masuk neraka.” Begitu juga aku membaca dalam sebuah buku bahwa tingkat pertama neraka Jahanam adalah khusus untuk umat Islam (umat nabi) yang pendosa! Mana yang benar?

Jawaban Global:

Tolak ukur perhitungan di hari kiamat untuk menentukan apakah sesorang layak memasuki surga atu neraka berdasar pada kaidah-kaidah yang telah dijelaskan oleh Allah swt dalam ayat-ayat suci-Nya. Tuhan tidak mempedulikan faktor perbedaan kelompok, keturunan, dan bangsa dalam hal ini. Tolak ukur utama adalah amal perbuatan manusia; yakni kenikmatan surga adalah balasan dari iman dan amal saleh, sedangkan neraka adalah balasan kekufuran dan dosa.

Jawaban Detil:

Sepanjang sejarah banyak yang membahas masalah umat yang bakal selamat di akhirat (firqah najiah). Pembahasan tersebut kurang lebih bertumpu pada sebuah hadits yang diaku dari nabi, yang dikenal dengan hadits iftiraq. Para penulis buku-buku sekte dan mazhab-mazhab berusaha mengkategorikan sekte-sekte yang ada sebisa mungkin agar susuai dengan hadits tersebut. Dalam riwayat itu dijelaskan bahwa akan hanya ada satu kelompok yang selamat dan masuk surga. Akhirnya setiap sekte dan mazhab berusaha untuk menyebut dirinya sebagai kelompok yang benar itu dan layak memasuki surga.

Al-Qur’an dalam menyinggung masalah kebahagiaan sejati akhirat sering kali menjelaskan adanya beberapa kelompok yang tak hanya menganggap diri mereka yang layak masuk surga, namun juga berkeyakinan bahwa selain mereka tidak berhak masuk ke dalam surga. Begitu juga dalam riwayat-riwayat Ahlu Sunah dan Syiah banyak sekali ditemukan hadits tentang pahala dan siksa akhirat, dan terkadang setiap salah satu dari mereka memberikan tolak ukur tertentu untuk permasalahan tersebut. Dengan memahami pendahuluan singkat tersebut, kini perlu dijelaskan dua hal:

Pertama: Apakah Tuhan telah menjelaskan toak ukur orang-orang yang berhak masuk surga dan neraka? Atau tidak?

Dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang menjelaskan tentang sebagian kaum yang menyatakan diri merekalah yang paling berhak untuk masuk surga. Mereka mengira bahwa adzab neraka hanya akan mereka rasakan selama beberapa hari saja, lalu akhirnya mereka akan mendapatkan tempat di surga. Dalam menanggapi keyakinan seperti itu, Allah swt berfirman: “Katakanlah: “Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan memungkiri janji-Nya, ataukah kamu hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?”” (QS. al-Baqarah [2]:80)

Setelah itu Allah swt menjelaskan kaidah umum untuk menentukan siapakah yang berhak masuk surga atau neraka. Ya, orang-orang yang melakukan dosa, lalu dampak dosa itu meliputi dirinya, maka orang seperti itu adalah penduduk neraka, dan mereka kekal di sana. Adapun mereka yang beriman dan melakukan amal perbuatan baik, mereka adalah penduduk surga dan untuk selamanya mereka di sana.[1]

Begitu pula sebagian berkeyakinan bahwa hanya Yahudi dan Nashrani saja yang akan masuk surga. Lalu Al-Qur’an menepis pengakuan mereka dan menyatakan bahwa perkataan mereka tidak memiliki bukti, menganggap semua itu hanyalah mimpi dan khayalan mereka saja. Lalu Al-Qur’an menjelaskan tolak ukur sebenarnya dengan berfirman: “…bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah [2]:112)

Ayat suci itu menyatakan bahwa sebab utama masuk surga adalah penyerahan diri kepada perintah Tuhan dan perbuatan baik. Yakni surga tidak akan diberikan kepada orang yang hanya mengaku-aku saja, namun diperlukan iman dan amal saleh. Oleh karena itu, Al-Qur’an menjadikan amal perbuatan sebagai tolak ukur berhaknya seseorang untuk masuk surga atau neraka. Meski juga ada kelompok ketiga yang berada di antara mereka, yang mana Al-Qur’an menjelaskan mereka adalah orang-orang yang memiliki harapan terhadap Tuhannya; namun hanya Ia yang tahu entah mereka dimaafkan atau disiksa.[2]

Kedua: Siapakah yang dimaksud orang-orang Syiah yang dijanjikan masuk surga itu?

Di antara riwayat-riwayat Syiah, juga ada hadits-hadits dari nabi dan para imam maksum yang menjelaskan tentang bahwa umat Syiah akan masuk surga. Kata-kata “Syiah” dalam hadits tersebut membuat kita terdorong untuk mengkaji lebih matang siapakah yang dimaksud dengan “Syiah” dalam hadits-hadits itu? Baru setelah itu kita akan membahas masalah-maslaah lain yang berkaitan dengannya.

Makna Leksikal Syiah

Para ahli bahasa menyebutkan banyak makna untuk kata “Syiah”. Misalnya: kelompok, umat, para penyerta, para pengikut, para sahabat, para penolong, kelompok yang berkumpul pada satu perkara.[3]

Makna Istilah Syiah

Syiah dalam istilah adalah orang-orang yang meyakini bahwa hak kepenggantian nabi ada pada keluarga risalah, dan dalam menerima makrifat-makrifat Islami mereka mengikuti Ahlul Bait as, yakni para imam Syiah as.[4]

Kata Syiah sepanjang sejarah mengalami berbagai perubahan dalam maknanya. Misalnya terkadang diartikan sebagai kelompok politik, terkadang pecinta, atau juga pengikut aliran pemikiran yang berprilaku mengikuti para imam suci as.

Syiah Menurut Para Imam Maksum as

Dari beberapa riwayat yang dinukil dari kalangan Ahlul Bait as dapat difahami bahwa yang dimaksud dengan Syiah adalah orang-orang khusus yang tidak hanya mengaku sebagai pengikut saja. Namun para Imam suci menekankan adanya sifat-sifat khas yang dimiliki mereka, seperti mengikuti para Imam dalam amal dan perilaku. Oleh karena itu sering kali para Imam menegaskan kepada sebagian orang yang mengaku Syiah untuk berprilaku sebagaimana yang diakuinya. Untuk lebih jelasnya mari kita membaca beberapa riwayat yang akan kami sebutkan.

Ada banyak riwayat dari para Imam maksum as yang sampai ke tangan kita tentang siapa Syiah sejati yang sebenarnya. Tak hanya itu, bahkan ada celaan terhadap sebagian orang yang berkeyakinan bahwa diri mereka tidak akan masuk neraka karena Syiah, lalu mereka disebut sebagai Syiah palsu

Seseorang berkata: “Aku berkata kepada Imam Shadiq as: “Sebagian dari pengikutmu melakukan dosa-dosa dan berkata: “Kami memiliki harapan.” Lalu Imam as berkata: “Mereka berbohong. Mereka bukanlah kawan kami. Mereka adalah orang-orang yang membawa harapannya kesana kemari, yang mana ketika mereka mengharap sesuatu, mereka mengejarnya, lalu jika mereka takut akan sesuatu, mereka lari.”.”[5]

Imam Shadiq as pernah berkata: “Bukanlah Syiah (pengikut) kami orang yang mengaku dengan lisannya namun berperilaku bertentangan dengan kami. Syiah adalah orang yang hati dan lidahnya sejalan dengan kami, begitu pula perilaku dan amal perbuatannya mengikuti kami; merekalah Syiah kami.”[6]

Para Imam as sering kali menyebutkan kriteria-kriteria Syiah sejati. Misalnya anda dapat membaca dua riwayat di bawah ini:

Imam Baqir as berkata: “Wahai Jabir, apakah cukup bagi pengkut kami untuk hanya mengaku sebagai Syiah? Demi Tuhan, Syiah kami adalah orang-orang  yang bertakwa dan takut akan Tuhannya, menjalankan perintah-perintah-Nya. Mereka (Syiah) tidak dikenal kecuali sebagai orang yang rendah hati, khusyu’, banyak mengingat Tuhan, berpuasa, shalat, beramah-tamah dengan tetangga yang miskin, orang yang butuh, para pemilik hutang, anak-anak yatim, serta berkata jujur, sering membaca Al-Qur’an, menjaga lidahnya terhadap sesamanya, dan juga orang yang dipercaya oleh keluarganya.”[7]

Imam Ja’far Shadiq as berkata: “Syiah kami adalah orang yang bertakwa, setia, zuhud, ahli ibadah, dan orang yang di malam hari shalat sebanyak lima puluh satu rakaat, dan berpuasa di siang hari, menunaikan zakat hartanya, menjalankan ibadah haji, dan meninggalkan perbuatan-perbuatan haram.”[8]

Jika tidak dijelaskan apa maksud Syiah sejati yang sebenarnya, maka artinya perbuatan buruk diperbolehkan untuk dilakukan oleh sekelompok orang. Di sepanjang sejarah kita pun menyaksikan sebagian kelompok yang mengaku Syiah namun tidak menjalankan perintah-perintah agama, lalu berdalih dengan riwayat-riwayat tersebut seraya menekankan bahwa “agama adalah mengenal Imam”[9], dan mereka pun terus-terusan sembarangan melakukan dosa dan kemunkaran. Akhirnya fenomena tersebut sangat merugikan ke-Syiahan yang sebenarnya yang mana tak dapat terbayar dengan mudah.

Sebagaimana sebelumnya telah dijelaskan bahwa kadar pahala dan siksa seseorang bergantung pada sikapnya terhadap agama. Fakta ini tidak berbeda antara satu kalangan dengan kalangan lainnya. Kelompok, aliran atau apapun tidak akan mendekatkan diri seseorang kepada Tuhan dan tak dapat dijadikan alat untuk lari dari siksaan neraka. Allah swt berfirman: “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian adalah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat [49]:13)

Imam Ridha as berkata kepada saudaranya yang dikenal dengan sebutan Zaida al-Nar: “Wahai Zaid, apakah perkataan para pedagang pasar: “Fathimah telah menjaga dirinya dan Allah mengharamkan api neraka terhadapnya dan juga anak-anaknya.” telah membuatmu sombong? Demi Tuhan bahwa hal itu hanya berlaku untuk Hasan dan Husain serta anak yang lahir dari rahimnya. Apakah bisa Imam Musa bin Ja’far as mentaati Tuhan, berpuasa di siang hari, bertahajud di malam hari dan shalat malam, lalu engkau dengan seenaknya bermaksiat kemudian di akhiran tanti engkau berada di derajat yang sama dengannya? Atau lebih mulia darinya?!”[10]

Salah satu misi agama adalah mengantarkan manusia baik secara individu maupun bersama kepada kesempurnaan. Tujuan itu tidak akan mungkin tercapai tanpa ketaatan akan perintah-perintah Tuhan. Atas dasar itu, agama ini tidak mungkin memberikan jalan bagi suatu kelompok untuk berjalan di luar jalur yang telah ditunjukkan lalu menempatkan mereka di tempat yang sama atau lebih tinggi dari selainnya di akhirat nanti. Hal ini bertentangan dengan tujuan penciptaan yang sebenarnya. Jika yang dimaksud denga Syiah adalah apa yang telah dijelaskan oleh para Imam, maka tidak heran jika orang-orang dengan kriteria seperti itu bakal mendapatkan tempat di surga. Adapun orang-orang yang hanya sekedar mengaku sebagai Syiah, jelas mereka tidak akan mendapatkan apa yang dijanjikan kepada Syiah sejati.

Adapun tentang riwayat yang menjelaskan bahwa tingkat pertama neraka jahanam adalah khusus untuk umat Islam yang pendosa, perlu dikatakan bahwa tolak ukur surga dan neraka menurut Al-Qur’an adalah amal manusia. Hanya sebutan Muslim saja tidak cukup, karena antara Islam dan Iman sangat jauh perbedaannya. Tuhan semesta alam dalam hal ini berfirman kepada orang-orang yang mengaku beriman: “Jangan katakan kami telah beriman, katakan kami telah Muslim.” (QS. Al-Hujurat [49]:14). Ketika seseorang mengucapkan dua syahadat, maka orang itu telah menjadi Muslim; dan hal ini hanya berkaitan dengan kehidupan duniawi dan status sosial saja. Adapun surga dan balasan di dalamnya, adalah untuk orang-orang yang lebih dari sekedar menjadi Muslim saja; yakni sebagaimana yang telah dijelaskan, untuk memasuki surga, seseorang harus menjadi Muslim (menyerahkan diri) dan juga memiliki keimanan di hati, serta melakukan amal saleh dengan raga. Oleh karena itu tolak ukur kelayakan masuk surga atau neraka sangat jelas sekali dalam Al-Qur’an, dan hanya sekedar mengaku sebagai Syiah, atau Islam, tidak akan menghindarkan seorangpun dari siksa api neraka atau memasukkanya ke surga.

Kesimpulannya, amal perbuatan adalah tolak ukur utama, bukan pengakuan sebagai Muslim, Syiah, atau selainnya. Berdasarkan penjelasan Al-Qur’an dan riwayat-riwayat, orang Islam dan Syiah yang tidak menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya pasti tidak akan mendapatkan rahmat Tuhan dan layak untuk disiksa di neraka. Adapun apakah adzab di neraka itu kekal abadi ataukah tidak, lain lagi permasalahannya. Selain itu juga ada masalah Syafa’at yang masih perlu dibahas terkait dengan hal itu di kesempatan lainnya.

Untuk kami ingatkan, maksud kami bukan berarti ke-Syiah-an seseorang sama sekali tak ada gunanya. Namun tak dapat diingkari bahwa pemikiran (atau iman) dan amal perbuatan adalah dua sayap bagi manusia untuk terbang menuju kesempurnaan. Untuk mengkaji lebih jauh, seilahkan merujuk: Turkhan, Qasim, Negaresh i Erfani, Falsafai wa Kalami be Syakhsiyat va Qiyam e Emam Husain as, hal. 440-447. [islamquest]


[1] QS. Al-Baqarah [2]:81-82.

[2] QS. At-Taubah [9]:106.

[3] Ibnu Mandzur, Jamaluddin, Lisan Al-Arab, jil. 8, hal. 188, Dar Shadir, Birut, cetakan pertama, 1410 H.

[4] Thabathabai, Sayid Muhammad Husain, Syi’e dar Esalam, hal. 25-26, Ketabkhane e Bozorg e Eslami, Tehran, 1354 HS.

[5] Kulaini, Muhammad bin Ya’qub, Al-Kafi, jil. 2, hal. 68, Darul Kutub Islamiah, Tehran, cetakan keempat, 1365 HS.

[6] Majlisi, Muhammad Baqir, Biharl Al-Anwar, jil. 65, hal. 164, Muasasah Al-Wafa’, Beirut, Lebanon, cetakan keempat, 1404 H.

[7] Shaduq, Muhammad bin Ali, Al-Amali, terjemahan Kamrei, hal. 626, Islamiah, Tehran, cetakan keenam, 1376 HS.

[8] Majlisi, Muhammad Baqir, Bihar Al-Anwar, jil. 65, hal. 164, Muasasah Al-Wafa’, Beirut, Lebanon, cetakan keempat, 1404 H.

[9] Man La Yahdhuruhul Faqih, jil. 4, hal. 545, Muasasah Nasyr Islami, Qom, cetakan ketiga, 1413 H.

[10] Majlisi, Muhammad Baqir, Bihar Al-Anwar, jil. 43, hal. 230, Muasasah Al-Wafa’, Beirut, Lebanon, cetakan keempat, 1404 H.

0
inShare

Para Imam Ahlulbait as. adalah pewaris kepemimpinan kenabian mereka adalah hujjah-hujjah Allah di atas bumi…. Mereka adalah adillâ’u Ilal Khair/penunjuk jalan menuju kebaikan dunia dan akhirat mengkuti bimbingan para Imam Ahlulbait as. akan menjamin kebahagian umat manusia dalam berbagai kesempatan, para Imam as. mencurahkan perhatian mereka terhadap umat Rasulullah saw. secara umum dan kepada para pecinta dan pengkut secara khusus

Adalah sebuah realita yang tak terbantahkan bahwa ternyata di tengah-tengah umat Islam, ada sekelompok yang berkiblat, meyakini imamah para imam Ahlulbait as. dan menjadikan mereka sebagai rujukan dalam segala urusan agama , mereka itu adalah Syi’ah Ahlulbait/para pengikut Ahlulbait as. eksistenti mereka selalu digandengakan dengan nama Ahlulbait as.

Untuk mereka, para imam suci Ahlulbait as. memberikan perhatian khusus mereka dalam membimbing mereka untuk merealisasikan Islam dengan segenap ajarannya yang paripurna dan kâffah, baik dalam ibadah maupun akhlak dan etika pergaulan.

Dalam artikel ini saya mencoba menyajikan untuk Anda irsyâd dan didikan para imam suci Ahlulbait as. untuk Syi’ah mereka, agar dapat diketahui batapa agung dan mulianya bimbingan mereka as.

Jadilah Kalian Sebagai Penghias Kami

Dalam sabda-sabda mereka, para Imam suci Ahlulbait as. meminta dengan sangat dari Syi’ah agar menjadi penghias bagi para imam dan tidak mencoreng nama harus mereka. Apabila mereka menyandang akhlak islami, beradab dengan didikan para imam pasti manusia akan memunji para imam Ahlulbait sebagai pembimbing yang telah mampu mencetak para pengikut yang berkualitas, mareka pasti akan mengatakan alangkah mulianya didikan para imam Ahlulbait itu terhadap Syi’ah mereka! Begitu juga sebailnya, apabila manusia menyaksikan keburukan sifat dan sikap serta perlakuan, maka mereka akan menyalahkan Ahlulbait as. dan mungkin akan menuduh para imam telah gagal dalam membina para Syi’ah mereka.

Sulaiman ibn Mahrân berkata, “Aku masuik menjumpai Imam Ja’far ibn Muhammad ash Shadiq as., ketika itu di sisi beliau ada beberapa orang Syi’ah, beliau as. bersabda:

معاشِرَ الشيعَةِ! كونُوا لنا زينًا وَ لاَ تكونوا علينا شَيْنًا، و احفَظُوا أَلْسِنَتَكُمْ و كُفُّها عن الفُضُولِ و قُبْحِ القولِ.

“Wahai sekalian Syi’ah! Jadilah kalian penghias bagi kami dan jangan jadi pencoreng kami. Katakan yang baik-baik keada manusia, jagalah lisan-lisan kalian, tahanlah dia dari kelebihan berbicara dan omongan yang jelak.” [1]

Dalam sabda beliau di atas, Imam Ja’far menekankan pentingnya menjadi penghias bagi Ahlulbait as., hal demikian tidak berarti bahwa Ahlulbait as. akan menyandang kemulian disebabkan kebaikan Syi’ah mereka, akan tetapi lebih terkait dengan penilaian manusia tentang mereka yang biasa menilai seorang pemimpin melalui penilaian terhadap para pengikutnya. Imam Ja’far as. menekankan pentinghnya bertutur kata yang baik dan manjaga lisan dari berbicara jelak.

Dalam hadis lain, Imam Ja’far as. bersabda:

يا معشرَ الشيعَةِ! إِنَّكُمْ نُسِبْتُمْ إلينَا، كونوا لنا زينًا وَ لاَ تكونوا علينا شَيْنًا

“Hai sekalian Syi’ah! Sesungguhnya kalian telah dinisbatkan kepada kami, jadilah penghias bagi kami dan jangan menjadi pencorang!” [2]

Dalam sabda lain beliau berkata:

رَحِمَ اللهُ عَبْدًا حَبَبَنَا إلى الناسِ لا يُبَغِّضُنا إليهِمْ. وايمُ اللهِ لَوْ يرْوونَ مَحاسِنَ كلامِنا لَكانوا أَعَزَّ، و ما استَطاعَ أَحدٌ أَنْ يَتَعَلَّقَ عليهِمْ بشيْئٍ.

“Semoga Allah merahmati seorang yang mencintakan kami kepada manusia dan tidak membencikan kami kepada mereka. Demi Allah andai mereka menyampaikn keindahan ucapan-ucapan kami pastilah mereka lebih berjaya dan tiada seorangpun yang dapt bergantung atas (menyalahkan) mereka dengan sesuatu apapun.”[3]

Dalam salah satu pesannya melalui sahabat beliau bernama Abdul A’lâ, Imam Ja’far bersabda:

يَا عبدَ الأعلى … فَأَقْرَأْهُمْ السلام و رحمة الله و قل: قال لكم: رَحِمَ اللهُ عبْدًا اسْتَجَرَّ مَوَدَّةَ الناسِ إلى نفسِهِ و إلينا بِأَنْ يُظْهِرَ ما يَعْرِفُونَ و يَكُفَّ عنهُم ما يُنْكِرُونَ.

“Hai Abdul A’lâ… sampaikan salam kepada mereka (syi’ahku) dan katakana kepada mereka bahwa Ja’far berkata keada kalian, “Semoga Allah merahmati seorang hamba yang menarik kecintaan manusia kepada dirnya dan keada kami dengan menampakkan apa-apa yang mereka kenal dan menahan dari menyampaikan apa-apa yang tidak mereka kenal.”[4]

Wara’ dan Ketaqwaan

Tidak kita temukan wasiat yang paling ditekankan para imam suci Ahlulbait as. untuk Syi’ah mereka seperti ketaqwaan dan wara’. Syi’ah adalah mereka yang mengikuti dan bermusyâya’ah kepada Ahlulbait as.. Dan mereka yang paling berpegang teguh dengan ketaqwaan dan wara’lah yang paling dekat dan paling istimewa kedudukannya di sisi Ahlulbait as., sebab inti kesyi’ahan adalah mengikuti, beruswah dan meneladani. Maka barang siapa hendak mengikuti dan meneladani Ahlulibat as. tidak ada jalan untuk itu selain ketaatan kepada Allah SWT. bersikap wara’ dan bertaqwa.

Abu Shabâh al Kinani berkata, “Aku berkata kepada Abu Abdillah (Imam Ja’far) as. ‘Di kota Kufah kami diperolok-olokkan karena (mengikuti tuan), kami diolok-olok ‘Ja’fariyah’. Maka Imam murka dan bersabda:

إنَّ أصحابَ جعفر مِنكُم لَقليلٌ، إنما أصحابُ جَعْفَر مَنْ اشْتَدَّ وَرَعُهُ و عَمِلَ لِخالِقِهِ.

“Sesungguhnya pengikut Ja’far di antara kalian itu sedikit. Sesungguhnya pengikut ja’fa itu adalah oran yang besar kehait-hatiannya dan berbuat untuk akhiratnya.’”[5]

Syi’ah adalah mereka yang telah menjadikan manusia-manusia suci pilihan Allah SWT sebagai panutan mereka. Para imam itu adalah hamba-hamba Allah yang telah mencapai derajat yang sangat tinggi di sisi Allah disebabkan ketaqwaan mereka, maka dari mereka yang mengikuti para imam Ahlulbait as. itu adalah yang paling berhak menghias diri mereka dengan ketaqwaan dan wara’.

Bassâm berkata, “Aku mendengar Abu Abdillah as. bersabda:

إنَّ أَحَقَّ الناسِ بالورعِ آلُ محمدٍ و شِيْعَتُهُم

“Yang paling berhak bersikap wara’ adalah keluarga Muhammad dan Syi’ah mereka.”[6]

Dan berkat didikan para imamsuci Ahlulbait as., maka sudah seharusnyaSyi’ah Ahlulbait adalah seperti yang disabdakan Imam Ja’far as.:

شيعتُنا أهلُ الورعِ و الإجتهادِ، و أهلُ الوقارِ و الأمانَةِ، أهلُ الزهدِ و العبادَةِ. أصحابُ إحدَى و خمسونَ رَكْعَةً في اليومِ و الليلَةِ، القائمونَ بالليلِ، الصائمونَ بالنهار، يَحِجُّونَ البيتَ… و يَجْتَنِبونَ كُلَّ مُحَرَّمٍ.

“Syi’ah kami adalah ahli/penyandang wara’ dan bersungguh-sungguh dalam ibadah, pemilik ketenangan/keanggunan dan amanat, penyandang zuhud dan getol beribadah. Pelaksana shalat lima puluh satu rakaat dalam sehari sealam. Berdiri (mengisi malam dengan shalat) puasa di siang hari dan berangkat haji ke tanah suci… dan mereka menjauhkan dri dari setiap yang haram.”[7]

Imam Ja’far as. bersabda:

و اللهِ ما شيعَةُ علي (عليه السلام) إلاَّ مَنْ عَفَّ بطنُهُ و فرْجُهُ، و عمل لِخالقِهِ، و رجَا ثوابَهُ، و خافَ عقابَهُ.

“Demi Allah, tiada Syi’ah Ali as. kecuali orang yang menjaga perutnya dan kemaluannya, berbuat demi Tuhannya, mengharap pahala-Nya dan takut dari siksa-Nya.”[8]

Dalam sabda lain Imam Ja’far as. bersabda mengarahkan Syi’ah beliau:

يا شِيْعَةَ آلِ محمَّدٍ، إنَهُ ليسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَملكْ نفسَهُ عندَ الغضَبِ، و لَمْ يُحسِنْ صُحْبَةَ مَن صحِبَهُ، و مرافَقَةَ مَن رافقَهُ، و مصالَحَةَ مَن صالَحَهُ.

“Wahai Syi’ah Âli (keluarga) Muhammad, sesungguhnya bukan dari kami orang yang tidak menguasai nafsunya disaat merah, tidak berbaik persahabatan dengan orang yang ia temani, dan tidak berbaik kebersamaan dengan orang yang bermasa dengannya serta tidak berbaik shulh dengan oranf yang berdamai dengannya.” [9]

Para Imam Ahlubait as. tidak puas dari Syi’ah mereka apabila di sebuah kota masih ada orang selain mereka yang lebih berkualitas. Syi’ah Ahlulbait as. harus menjadi anggota masyarakat paling unggul dalam berbagai kebaikan. Imam Ja’far as. bersabda:

ليسَ مِنْ شيعَتِنا مَنْ يكونُ فِيْ مِصْرَ، يكونُ فيْهِ آلآف و يكون في المصرِ أورَعُ منهُ.

“Tidak termasuk dari Syi’ah kami seorang yang betinggal di sebuah kota yang terdiri dari beribu-ribu masyarakat, sementara di kota itu ada seorang yang lebih wara’ darinya.” [10]

Dengan berwilayah, mengakui imamah Ahlulbait as. dan mengikuti ajaran mereka, Syi’ah benar-benar berada di atas jalan yang mustaqîm dan di atas agama Allah SWT. Jadi dari sisi keyakinan dan I’tiqâd mereka sudah berasa di atas kebenaran, sehingga yang petning sekarang bagi mereka adalah memperbaikit kualitas amal dan akhak mereka. Kulaib ibn Mu’awiyah al Asadi berkata, “Aku mendengar Abu Abdillah (Imam Ja’far) as. bersabda:

و اللهِ إنَّكُمْ لَعلَى دينِ اللهِ و دينِ ملآئكَتِهِ فَأَعِيْنُونِيْ بورَعٍ و اجتهادٍ. عليكُمْ بصلاةِ الليلِ و اعبادَةِ، عليكم بالورعِ.

“Demi Allah kalian benar-benar berada di atas agama Allah dan agama para malaikat-Nya, maka bantulah aku dengan wara’ dan kesungguh-sungguhan dalam ibadah. Hendaknya kalian konsisten shalat malam, beribadah. Hendaknya kalian konsisten berpegang dengan wara’.” [11]

Memelihara hati agar selalu ingat kepada Allah SWT.; perintah dan larangan-Nya juga menjadi sorotan perhatian parta imam suci Ahlulbait as.

Penulis kitab Bashâir ad Darâjât meriwayatkan dari Murâzim bahwa Imam Zainal Abidin as. bersabda kepadanya:

يا مرازِم! ليسَ مِن شيعَتِنا مَنْ خَلاَ ثُمَّ لَمْ يَرْعَ قَلْبَهُِ

“Hai Murâzim, bukan dari Syi’ah kami seorang yang menyendiri kemudian ia tidak menjaga hatinya.”[12]

Diriwayatkan ada seseorang berkata kepada Imam Hsain as., “Wahai putra Rasulullah, aku dari Syi’ah kamu.” Maka Imam bersabda:

إنَّ شِيْعَتَنا مَنْ سَلِمَتْ قلوبُهُم من كُلِّ غِشٍّ و غِلِّ و دَغْلٍ.ُ

“Syi’ah kami, adalah orang-oarng yang hati-hati mereka selamat/bersih dari segala bentuk pengkhianatan, kedengkian dan makar.”[13]

Imam Ja’far as. juga bersabda:

ليسَ مِنْ شيعَتِنا مَن قال بلسانِهِ و خالفَنا في أعمالِنا و آثارِنا، لَكِنْ شيعتُنا مَنْ وافقَنا بلسانِهِ و قلبِهِ و تَب~عَ أثارَنا وَ عمِلَ بِأَعمالِنا. أولئكَ شيعتُنا.

“Bukan termasuk Syi’ah kami orang yang berkata dengan lisannya namun ia menyalahgi kami dalam amal-amal dan tindakan kami. Tetapi Syi’ah kami adalah orang yang menyesuai kami dengan lisan dan hatinya dan mengikuti tindakan-tindakan kami serta beamal dengan amal kami. Mereka itulah Syi’ah kami.”

Hadis di atas adalah pendefenisian yang sempurna siapa sejatinya Syi’ah Ahlulbiat itu, dan sekaligus membubarkan angan-angan dan klaim-klaim sebagian yang mengaku-ngaku sebagai Syiah sementara dari sisi ajaran tidak mengambil dari Ahlulbait as. dan dalam beramal tidak menteladani Ahlulbait as. Semoga kita digolongkan dari Syi’ah Ahlulbait yang sejati. Amin.

Semangat Beribadah

Ciri lain yang seharusnya terpenuhi dapa Syi’ah Ahlulbait as. adalah bergeloranya semangat beribadah kepada Allah SWT. mengisi hari-hari mereka dengan mendekatkan diri kepada Allah, drengan bersujud, menangisi kesahalan dan dosa-dosa yang dikerjakannya dan kekurangan serta keteledorannya, membaca Alqu’an al Karim.

Dalam sebuah sabdanya, Imam al baqir as. bersabda kepada Abu al Miqdâm:

… إِذا جَنَّهُمُ الليلُ اتَّخَذُوا الأرْضَ فِراشًا، و استقلُُّوا الأرضَ بِجِباهِهِمْ ، كثيرٌ سجودُهُم ، كثيرَةٌ دموعُهُمْ، كثيرٌدعاؤُهُم ، كثيرٌ بكاؤُهُمْ ، يَفْرَحُ الناسُ و هُمْ يَحْزَنونَ.

“…jika malam menyelimuti mereka, mereka menjadikan tanah sebagai hamparannya, dan meletakkan dahi-dahi mereka ke bumi. Banyak sujudnya, deras air matanya, banyak doanya dan banyak tangisnya. Orang-orang bergembira sementara mereka bersedih.”[14]

Imam Ja’far as. bersabda:

شيعتُنا أهلُ الورعِ و الإجتهادِ ، و اهلُ الوفاء و الأمانةِ، و أهل الزهدِ و العبادةِ، أصحابُ إحدِىَ و خمسينَ ركعَةً في اليومِ و الليلَةِ، و القَائِمُونَ باللَّيلِ، الصائِمونَ بالنهارِ ،يُزَكُّوْنَ أَموالَهُمْ ، و يَحِجُّوْنَ البيتَ و يَجْتَنِبُوْنَ كُلَّ مُحَرَّمٍ.

“Syi’ah kami adalah ahli (penyandang) wara’, dan kesungguh-sungguhaa dalam ibadah, ahli menepati janji dan amanat, ahli zuhud dan ibadah, ahli (pelaknasa) salat lima puluh sau raka’at dalam sehari, bangun di malam hari, puasa di siang hari, menzakati hartanya, melaksanakan haji, dan menjauhkan diri dari setiap yang diharamkan.”[15]

Rahib Di Malam Hari Dan Singa Di Siang Hari

Nauf, -seorang sahabat Imam Ali as.- mensifati kenangan indahnya bersama Imam Ali as. ketika menghidupkan malamnya di atas atap rumah dengan shalat… Imam Ali as. menatap bintang- gemintang di langit seakan sedih, kemudian beliau bertanya kepada Nauf, “Hai Nauf, apakah engkap tidur atau bangun?” Aku terjaga. Jawab Nauf. Lalu beliau bersabda:

أَ تَدْرِيْ مَنْ شيعتِيْ؟ شيعتِيْ الذُبْلُ الشِفاهِ، الخُمْصٌ البُطُونِ، الذي تُعْرَفُ الرَّهْبانِيَّةُ و الربانية في وُجُوهِهِمْ، رهبانٌ بالليلِ ، أسَدٌ بالنهارِ، إذا جّنَّهُم الليلُ اتَّزَرُوا على أوساطِهِمْ و ارْتَدَوْا على أطرافِهِمْ، و صَفُّوا أقدامَهُمْ و افترشُوا جناهَهُمْ، تَجْرِي الدموعُ على خدودِهِم، يَجْأَرونَ إلى اللهِ فكتكِ رقَبَتِهِمْ مِنَ ، أمَّا الليلُ فَحُلماءُ علماؤ أبرارٌ أتقِياءُ.

“Hai Nauf, tahukan engkau siapa Syi’ahku? Syi’ahku adalah yang layu bibir-bibr mereka, cekung perut-perut mereka, penghambaan dan rabbaniyah dikenal dari wajah-wajah mereka. Mereka adalah para rahib di malam hari, dan singa di siang hari. Jika malam telah menyelimuti mereka, mereka mengencangkan kain ikatan (baju) mereka, mereka berkain di atas pundak mereka, mereka merapatkan kaki-kaki mereka, mereka meletakkan dahi-dahi mereka. Air mata mereka mengalir di atas pipi-pipi mereka, mereka meraung-raung memohon kepada Allah agar dibebaskan dari siksa neraka. Adapun di siang hari mereka adalah orang-orang yang dingin hatinya, pandai, baik-baik dan bertaqwa.”[16]

Sungguh indah gambaran yang dilukiskan Imam Ali as. bagi Syi’ah beliau as. para rahib di malam hari, dan singa di siang hari. Ia adalah ungkapan yang sangat tepat yang menggambarkan kondisi serasi dalam mengombinasikan aktifitas kehidupan mereka. Mereka menguasa mala-malam taktaka kegelapan telah menyelimuti angkasa. Kamu saksikan mereka meletakkan dahi-dahi kerendahan di hadapan Sang Khaliq dalam keadaan khusyu’ dan penuh penghambaan. Mereka meraung-raung menangis mengharap ampunan Allah dan kebebasan dari belenggu ap neraka.

Dan ketika siang datang menyinari bumi, berubalah mereka menjadi para pendekar di ddalam arena perjuangan kehidupan… mereka adalah ulama yang meresap ilmu dan ma’rifahnya tentang Allah SWT…. mereka adalah berhati dingin, pemaaf, bertaqwa dan penyabar serta berjuang tak kenal lelah.

Dzikir dim ala hari, ketaqwaan dan perjuangan dim ala hari… kebuah komposisi seimbang bagi kepribadian seorang Muslim Mukmin yang ideal. Itulah Syi’ah Ali as.!

[1] Amâli ath Thûsi,2/55 dan Bihar al Anwâr,68/151.

[2] Misykât al Anwâr:67.

[3] Ibid.180.

[4] Bihal al Anwâr,2/77.

[5] Al Bihar,68/166.

[6] Bisyâratul Mushthafa:17.

[7] Al Bihâr,68/167.

[8] Ibid.168.

[9] Ibid.266.

[10] Ibid.164.

[11] Bisyâratul Mushthafa:55 dan 174, dan Al Bihâr,68/87.

[12] Bashâir ad Darajât:247 darinya al Bihâr,68/153.

[13] Al Bihâr,68/164.

[14] Al Khishâl,2/58 darinya al Bihâr,68/1490-150.

[15] Shifâtusy Syi’ah:2 dari al Bihâr,68/167 hadis 33.

[16] Al Bihâr,68/191

Keadilan di balik hukuman abadi di neraka

Di dalam surat Hud [11], ayat 106 kita membaca, “Adapun orang-orangyang celaka, maka [tempatnya] di dalam neraka. Di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik nafas [dengan merintih]. Mereka kekal di dalamnya…. “

Dengan menyimak ayat suci di atas, pertanyaan yang muncul adalah bagaimana kita dapat menerima manusia yang selama hidupnya -maksimal usianya seratus tahun, misalnya-melakukan pekerjaan buruk, dan lenyap dalam kekufuran dan dosa namun usia seratus tahun ini harus dibayar dengan siksa, seribu tahun?

Mereka yang mengajukan pertanyaan ini lalai akan satu poin penting, yaitu perbedaan antara hukuman konvensional dan hukuman penciptaan yang merupakan hasil dari rangkaian realitas perbuatan dan kehidupan.

Penjelasan

Terkadang pembuat hukum merumuskan sebuah hukum sehingga setiap orang yang melanggarnya harus membayar tebusan uang dalam jumlah tertentu, atau harus berdiam di dalam penjara selama beberapa waktu. Tentu, dalam asumsi seperti itu kesesuaian antara pelanggaran dan hukuman harus diperhatikan. Hanya lantaran pelanggaran kecil, ia tidak akan dieksekusi atau mendapatkan hukuman abadi. Dan sebaliknya, karena perbuatan seperti membunuh, lalu ia dikenakan hukuman sehari penjara saja, hukuman seperti ini tidaklah memiliki arti baginya. Hikmah dan keadilan menjawab bahwa kedua hukuman ini harus setimpal.

Akan tetapi, hukuman yang pada hakikatnya adalah efek natural sebuah perbuatan dan termasuk tipologi penciptaan, atau hasil langsung perbuatan tersebut di hadapan manusia, ia tidak menerima asumsi tersebut di atas baik dalam kaitannya dengan efek-efek perbuatan di alam dunia ini ataupun di alam yang lain.

Contoh, seseorang melanggar aturan lalu-lintas; melaju melebihi batas kecepatan yang telah ditentukan, berlomba tanpa sebab, dan melintas zona terlarang. Barangkali karena beberapa kali melanggar aturan ia mengalami tabrakan dan patah tangan serta kakinya, atau akan menderita kelumpuhan seusia hidupnya. Resiko buruk akibat sebuah kesalahan kecil ini jelas tidak mencerminnkan keadilan (jika ditinjau dari sisi hukuman konvensional). Tapi hal ini tidak berasal dari hukuman-hukuman konvensional lalu-lintas jalan raya yang di dalamnya keseimbangan antara pelanggaran dan hukuman harus mendapatkan perhatian. Kondisi ini merupakan dampak alami dari perbuatan yang secara sadar dilakukan oleh manusia. Dan ia sendirilah yang membuat dirinya terpuruk ke dalam kondisi tersebut.

Demikian juga ketika dianjurkan kepada Anda agar jangan mengkonsumsi minuman-minuman beralkohol atau bahan-bahan psikotropika lainnya. Lantaran dalam waktu yang singkat, semua jenis minuman itu akan mengoyak hati, perut, otak dan syaraf Anda. Kini sekiranya Anda mengkonsumsinya, niscaya Anda akan menderita syaraf lemah, penyakit-penyakit hati, perut luka dan kerusakan pembuluh darah. Hanya beberapa hari menuruti hawa nafsu, Anda terpaksa menjalani sisa hidup Anda di dalam siksa yang pedih. Di sini tak seorang pun akan keberatan dengan ketidak seimbangan pelanggaran dan hukuman tersebut.

Tentang banyaknya azab dan hukuman kehidupan ukhrawi adalah masalah yang melebihi masalah duniawi. Dampak-dampak riel sebuah perbuatan dan hasil-hasil pembawa mautnya barangkali senantiasa bersandar kepada manusia. Perbuatan-perbuatan itu sendirilah nanti yang akan menjelma di hadapan manusia (tajassum al-a’mal). Dan lantaran kehidupan alam sana adalah kehidupan abadi, perbuatan baik dan buruk juga abadi .

Sebelumnya telah kami singgung bahwa hukuman dan siksa pada Hari Kiamat memiliki dampak riel yang lebih kuat. Al-Qur’an berfirman, “Dan nyatalah bagi mereka keburukan-keburukan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka diliputi oleh [azab] yang mereka selalu memperolok-olokkannya.” (QS. al-Jatsiyah [45]: 33)

Al-Qur’an juga berfirman, “…dan kamu tidak dibalas kecualii dengan apa yang telah Kamu kerjakan.” (QS. Yasin [36]: 54)

Muatan ayat ini, kendati terdapat sedikit perbedaan, juga terkandung dalam ayat-ayat yang lain.

Dengan demikian, ruang untuk pertanyaan ini tidak tersisa lagi, bahwa mengapa kesetimbangan antara hukuman dan pelanggaran tidak diperhatikan?

Manusia harus terbang dengan dua sayap iman dan amal saleh demi mendapatkan kenikmatan surgawi dan kebahagiaan berada di hadirat Tuhan Yang Mahakuasa. Kini, dengan menuruti hawa nafsu barang sedetik atau seratus tahun lamanya, ia telah mematahkan kedua sayapnya sendiri dan untuk selamanya ia harus menderita dalam kehinaan. Di sini, aspek ruang dan waktu, serta ukuran pelanggaran tidak menjadi pokok persoalan. Yang menjadi tolok ukur adalah sebab dan akibat serta dampak lama dan singkatnya. Sebuah korek kecil boleh jadi dapat membakar seisi kota. Dan dengan menanam satu gram duri, barangkali setelah beberapa waktu, sahara yang luas penuh dengan duri dan dapat menggangu manusia selamanya. Demikian juga dengan menanam satu gram bunga, barangkali dengan berlalunya sang waktu, akan tercipta sahara yang dihiasi bunga-bunga yang begitu indah mewangi sehingga semerbak baunya menggairahkan jiwa dan memuaskan hati.

Kini sekiranya seseorang bertanya apa keseimbangan antara sebatang korek dengan terbakarnya sebuah kota, dan antara beberapa tanaman kecil dengan sebuah sahara duri. Maka, perbuatan-perbuatan baik dan buruk juga demikian adanya. Dan barangkali dampak keabadian yang teramat panjang menjadi kenangan dan memori baginya. (perhatikan baik-baik)

Masalah yang penting di sini adalah, para nabi besar dan washi Ilahi telah memberikan peringatan kepada kita bahwa dampak maksiat dan dosa ini adalah azab yang abadi, dan dampak ketaatan dan kebajikan adalah kenikmatan abadi. Persis seperti para penjaga taman yang telah menjelaskan kepada kita dampak keluasan tanaman berduri dan bunga tersebut. Dan kita sendiri dengan sadar yang memilih jalan ini.

Di sini kepada siapa kita harus ajukan keberatan dan kesalahan slapa yang harus kita cari, serta hukum mana yang kita harus protes, selain pada diri kita sendiri?[1]


[1] Tafsir-e Payam-e Qur’an, jilid 6, hal. 501.

Seperti apakah Syiah memandang pelaku dosa besar

Pertanyaan: Seperti apakah Syiah memandang pelaku dosa besar?

Jawaban Global:

Berkenaan dengan masalah dosa besar, banyak sekali pemikiran dan pendapat ekstrim di antara sekte-sekte Islam, yang mana kebanyakan darinya terlahir dari faktor-faktor politik.

Murji’ah dan Khawarij adalah dua contoh yang menonjol dalam hal ini.

Murji’ah dalam usahanya untuk selalu menjaga citra pemimpin-pemimpin zalim mereka, menganggap iman yang nampak dan pengakuan sebagai Muslim dan segala yang bersifat dhahiri sebagai parameter utama yang tidak terpengaruh oleh segala dosa besar dan maksiat, meskipun sampai pada batas menumpahkan darah Ahlul Bait as juga. Di sisi lain, Khawarij dalam usahanya untuk membenarkan kekerasan yang mereka lakukan terhadap sekte-sekte Islam yang lain, terus menerus menyebarkan faham setiap pelaku dosa besar dihukumi murtad atau telah keluar dari Islam. Mu’tazilah memiliki pandangan yang moderat, namun tetap kurang jelas.

Adapun yang dapat difahami dari ajaran Syiah, yang menjadi asas adalah iman, namun jelas sekali iman yang nyata menuntut amal dan orang beriman tidak mungkin terus menerus melakukan dosa besar atau bahkan dosa kecil. Orang yang beriman jika terkadang tergelincir dan berdosa, dengan beberapa cara ia dapat bertaubat dan mengharapkan rahmat Allah untuk diampuni dan Ia pun akan mengampuninya. Kalau tidak, maka dapat disimpulkan bahwa ia tidak memiliki iman yang sebenarnya dan hanya mengaku sebagai orang baik dan beriman. Orang yang tidak memiliki iman dan amal saleh yang sebenarnya, jelas tidak akan melewati ujian Ilahi dan di akherat pintu nerakalah yang terbuka untuknya.

Jawaban Detil:

Pertama-tama perlu dijelaskan bahwa pembagian dosa-dosa besar dan kecil berasal dari ayat-ayat Al-Qur’an, seperti ayat 31 surah An-Nisa’, ayat 37 surah Asy-Syura dan ayat 32 surah An-Najm.

Karena Al-Qur’an tidak menjelaskan masalah-masalah seperti: Apa sajakah dosa-dosa besar itu? Bagaimana derajat orang yang melakukan dosa besar? Maka oleh karenanya banyak terjadi perdebatan sengit antara ulama dan pembesar sekte-sekte Islam.

Tentang masalah pertama, yakni tentang dosa apa sajakah yang disebut sebagai dosa besar, banyak sekali riwayat dalam kitab-kitab riwayat Syiah yang menjelaskannya.[1] Begitu juga sekte-sekte Islam lainnya, mereka telah mengkategorikan dosa-dosa tersebut dalam kitab-kitab teologi dan tafsir mereka.

Adapun tentang masalah yang kedua, sebelumnya kita harus menjelaskan hal-hal berikut ini:

1. Mengenai kedudukan pelaku dosa besar menurut sekte-sekte Islam, lebih sering disimpulkan tidak berdasarkan ajaran-ajaran Islami, namun terpengaruh dengan faktor-faktor politik. Silahkan anda perhatikan fakta-fakta berikut ini:

1.1. Murji’ah: Berpemikiran bahwa antara iman dan amal, iman-lah yang lebih asasi; yakni jika seseorang mengucapkan dua syahadat dan menjadi Muslim, maka dosa apapun yang ia perbuat tidak masalah dan takkan menghalanginya masuk surga di akhirat nanti. Pemikiran seperti ini mendapatkan dukungan keras oleh pemerintahan Umawi, karena mereka menganggap orang-orang pemerintahan meskipun pernah embunuh Ahlul Bait dan orang-orang tak berdosa, meminum minuman keras, dan lain sebagainya, sebagai orang yang bakal mendapatkan keselamatan dan masuk surga; karena mereka semua menunjukkan keimanan secara lahiriah dan melakukan berbagai syi’ar-syi’ar agama seperti shalat, puasa, haji dan lain sebagainya.

Para pemihak pemikiran ini pun berusaha membelanya dengan membawakan ayat-ayat dan riwayat. Misalnya:

Allah swt berfirman: “…(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka. dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Baqarah [2]:3-5)

Orang-orang Murji’ah berdalih bahwa di ayat itu tidak disebutkan bahwa syarat untuk masuk surga adalah “tidak berbuat dosa”. Mereka lupa bahwa kriteria-kriteria di atas adalah milik orang-orang yang bertakwa yang disebut dalam ayat kedua surah itu, dan ketakwaan tidak sejalan dengan dosa-dosa besar.[2] Pola pemikiran seperti inilah yang dimanfaatkan oleh penguasa-penguasa zalim yang hanya merasa cukup mengaku beragama Islam namun mereka melakukan segala kejahatan.

Imam Shadiq as dalam hal ini berkata: “Murji’ah berkeyakinan bahwa orang-orang Bani Umayah yang telah membunuh kami, Ahlul Bait, adalah orang yang beriman!”[3]

1.2. Berbeda dengan Murji’ah yang begitu mengunggulkan sisi lahiriah seseorang dalam keimanan secara berlebihan, ada sekte ekstrim lain yang berada di sebrang pemikirannya, yang menyebut setiap pelaku dosa besar sebagai orang kafir yang telah keluar dari Islam, harta benda dan darah mereka pun halal. Pemikiran ini pun muncul karena beberapa faktor politik di masa pemerintahan Imam Ali as seusai perang Shiffin. Sekelompok yang disebut Khawarij atau Mariqin muncul dengan mengandalkan beberapa ayat Al-Qur’an[4] menyebut hakamiah atau arbitrase sebagai dosa besar, dan berdasarkan hal itu mereka menyebut Imam Ali as sebagai orang kafir dan memeranginya.[5] Mereka berkeyakinan bahwa orang yang melakukan dosa besar adalah kafir dan akan dikekalkan di neraka![6] Alhasil mereka tidak menganggap iman sebagai masalah penting, bagi mereka yang sangat mendasar dan penting sekali adalah amal perbuatan lahiriah. Mereka menganggap iman sebagai bangunan yang mudah roboh yang dengan hancurnya satu batu bata maka seluruh susunan batu bata bangunan tersebut akan hancur. Sayang sekali banyak yang termakan tipuan mereka dan bergabung dengan sekte tersebut. Bertentangan dengan Murji’ah yang berusaha untuk membenarkan semua keburukan pemerintah-pemerintah, mereka berusaha menyemarakkan amal ibadah dan syi’ar-syi’ar agama secara lahiriah.

Oleh karena itu Imam Ali as menyebut pemikiran Bani Umayah lebih buruk dari pemikiran Khawarij.[7]

1.3. Selain itu ada pemikiran lainnya, yaitu pemikiran sekte Mu’tazilah, yang menyebut orang-orang Muslim yang berbuat dosa sebagai orang yang berada di “kedudukan antara dua kedudukan.”[8] Menurut mereka, umat Islam yang melakukan dosa besar bukan orang mukmin dan bukan orang kafir, namun berada di antara keduanya. Meskipun pemikiran mereka mirip dengan pemikiran Syiah, namun tidak dijelaskan secara rinci apa maksud kedudukan di antara dua kedudukan tersebut.

2. Permasalahan lain yang harus dijelaskan sebelum memaparkan pendapat Syiah tentang masalah dosa besar ini, adalah pengkategorian para pelaku dosa-dosa tersebut:

2.1. Orang-orang yang beriman: Iman dalam pemikiran Syiah terbagi menjadi dua bagian: umum dan khusus. Iman yang umum, adalah Islam, tanpa peduli dengan sekte apapun yang bersandang padanya. Sedangkan iman yang khusus adalah iman terhadap akidah-akidah dan keyakinan Islam, ditambah dengan keyakinan terhadap wilayah atau keimaman para Imam Ahlul Bait Rasulullah saw. Banyak sekali riwayat tentang pembagian tersebut. Misalnya, Imam Ja’far Shadiq as berkata: “Islam adalah mengucapkan dua syahadat, mendirikan shalat, membayar zakat, menjalankan ibadah haji, dan puasa bulan ramadhan. Adapun iman, selain apa yang disebutkan di atas, juga harus menerima wilayah atau keimaman.”[9]

2.2. Orang-orang yang tidak beriman: Mereka adalah orang-orang kafir yang tidak memiliki iman dalam artian umum, dan juga orang Muslim yang tidak memiliki iman dalam artian khusus. Jelas sekali kita tidak bisa menyamaratakan orang-orang seperti ini dalam satu garis; misalnya mereka dapat dibagi menjadi dua kelompok:

A. Mustadh’af: Orang-orang yang tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang agama yang benar. Oleh karena itu mereka tidak mengikuti agama yang benar tersebut. Orang-orang seperti itu, jika mereka berperilaku sesuai naluri manusiawi secara alami, tidak berbuat sewena-wena kepada selainnya, karena mereka tidak mendapatkan peluang untuk mengenal agama yang benar, meski terkadang mereka berbuat dosa besar, merka mungkin dapat dimaafkan.

B. Penentang: Orang-orang yang menentang dan memusuhi, adalah orang-orang yang tahu atas dasar bukti-bukti nyata bahwa agama yang ada di hadapan mereka adalah agama yang benar. Namun karena mereka memiliki kepentingan-kepentingan tertentu, mereka enggan menerima agama tersebut. Tidak berimannya mereka cukup untuk membuat mereka kekal di api neraka. Jika mereka melakukan dosa-dosa besar, adzab yang mereka rasakan akan bertambah. Kesimpulan ini dapat difahami dari ayat 88 surah An-Nahl.

Menurut ulama Syiah menyatakan bahwa pemikiran mereka tidak seperti pemikiran Murji’ah yang memberikan “surat izin” kebebasan dari neraka untuk para pelaku dosa besar, tidak juga seperti Khawarij yang menyatakan bahwa seseorang sekali melakukan dosa besar maka ia akan kekal di neraka, dan juga tidak seperti Mu’tazilah yang menempatkan pelaku dosa besar di suatu tempat di antara keimanan dan kekufuran. Menurut Syiah, para pelaku dosa besar dapat disebut sebagai orang mukmin yang fasik, yang mana mereka tetap dapat memperbaiki diri dengan bertaubat dan mengembalikan tingkat keimanannya sehingga mendapatkan jalan kembali untuk meraih surga. Kalau tidak bertaubat, jelas keimanannya semakin merosotdan bisa jadi tidak mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki diri, lalu akhirnya menempati neraka kelak di akhirat. Iman dan amal perbuatan adalah dua hal yang saling berkaitan erat. Orang yang mengaku beriman namun semua amal perbuatannya bertentangan dengan ajaran agama, maka jika demikian ia bukanlah orang yang beriman, dan hal itulah yang akan menyeretnya ke neraka.

Oleh karena itu, rukun pemikiran Syiah dalam masalah ini dapat disimpulkan demikian:

1. Jika seseorang memiliki iman, ia mempunyai kesempatan untuk bertaubat sehingga dosa-dosanya dimaafkan. Dalam hal dosa-dosa yang berkaitan dengan hak-hak orang lain, diperlukan keridhaan orang yang bersangkutan.

2. Orang yang melakukan dosa besar, selama tidak bertaubat, ia akan tersingkir dari derajat “keadilan” yang merupakan salah satu dari derajat keimanan. Namun bukan berarti itu membuatnya terlempar keluar dari golongan orang-orang yang beriman.

3. Melakukan dosa-dosa besar secara terus menerus tanpa bertaubat berujung pada keluarnya pelaku tersebut dari golongan orang yang beriman.

4. Memiliki keimanan dan keyakinan akan wilayah atau keimaman, tidak dapat dijadikan alasan untuk diperbolehkannya melakukan segala macam dosa.

5. Orang mukmin yang hakiki, berhubungan dengan spiritualitasnya, selalu berada dalam keadaan antara “takut” dan “harapan”.

Akan diberikan penjelasan lebih lanjut tentang lima di atas:

1. Orang-orang yang berbuat dosa tidak keluar dari dua keadaan: Pertama, orang itu melakukan dosa karena tidak meyakini keyakinan-keyakinan agamanya, yang mana orang seperti itu selain disebut sebagai pendosa juga disebut orang yang tidak beriman; dalam hal ini tidak ada yang perlu dibahas. Adapun kedua, ada orang-orang yang tetap berpegang teguh pada keyakinan agama mereka, namun terkadang mereka terbujuk hawa nafsu dan bisikan setan sehingga mereka melakukan sebagian dosa-dosa; keadaan kedua inilah yang perlu dibahas.

Allamah Hilli dalam kitab Syarh Tajrid-nya dalam menentang pemikiran Khawarij yang berkeyakinan bahwa pelaku dosa besar akan kekal di neraka, berdalil demikian: Jika kita berkeyakinan bahwa seorang mukmin yang melakukan dosa besar akan dihukum di neraka selamanya, maka orang yang seumur hidup beribadah namun di akhir hayatnya melakukan satu dosa besar tanpa ia kehilangan imannya adalah sama dengan orang yang melakukan dosa seumur hidup; padahal hal itu mustahil, tidak mungkjin kedua orang itu sama-sama dihukum selamanya di neraka. Tak satupun orang berakal menerima hal itu.[10]

Oleh karena itu, orang yang berbuat dosa besar tidak dapat disebut sebagai orang kafir. Banyak sekali ayat-ayat Allah yang menjelaskan tentang luasnya rahmat-Nya yang maha pengampun yang dapat memaafkan dosa hamba-hamba-Nya.[11] Jika rahmat Allah swt yang sedemikian luas itu tidak mencakup hamba-hamba itu, lalu siapakah yang akan mendapatkan rahmat-Nya?

Ya, yang tahu apakah pelaku dosa adalah orang yang tetap beriman ataukah tidak, hanyalah Tuhan semata. Sebagaimana Ia sendiri berfirman: “Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu; jika kamu orang-orang yang baik, maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertaubat.” (QS. Al-Isra’:25) Tuhan maha pengampun, yang mana bahkan di sebagian ayat-ayat-Nya Ia tidak mensyaratkan taubat untuk memaafkan hamba-Nya.[12] Ia akan mengampuni dosa hamba-Nya yang menurut-Nya layak untuk diampuni, kecuali dosa itu adalah kesyirikan.[13] Banyak sekali riwayat yang menjelaskan bahwa kemurahan Tuhan ini juga mencakup orang-orang yang melakukan dosa-dosa besar.[14]

Di dalam Al-Qur’an juga banyak ayat-ayat yang menjelaskan lebih dari itu, yakni dengan beriman maka Tuhan akan memaafkan dosa-dosa hamba yang telah lalu bahkan kesyirikan pun.[15]

Yang jelas dosa-dosa yang dimaksud adalah dosa yang hanya berkaitan antara Tuhan dan hamba-Nya saja. Adapun doa yang berkaitan dengan hak-hak orang lain, misalnya memakan uang anak yatim, pelaku dosa dalam bertaubat harus berusaha meminta keridhaan orang yang bersangkutan. Imam Ali as berkata bahwa di hari kiamat nanti dosa-dosa seperti ini akan dihitung dengan detil tanpa ada keringanan sedikitpun.[16]

Berdasarkan apa yang telah dijelaskan, orang yang beriman dan pendosa meskipun dosanya adalah sebuah bentuk dari kufur nikmat, namun pelakunya tidak bisa kita sebut sebagai orang murtad begitu saja. Beda dengan pemikiran Khawarij yang timbul dari faktor-faktor politik dan malah bertentangan dengan ayat-ayat serta riwayat.

2. Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa Murji’ah menganggap perbuatan dosa sebesar apapun dan sesering apapun dilakukan, sama sekali tidak mempengaruhi keimanan pelakunya. Syiah tidak berkeyakinan seperti itu. Menurut Syiah, pelaku dosa besar derajat keimanannya menurun,[17] tidak disebut “adil” sehingga tak sah untuk dijadikan imam jama’ah,[18] apa lagi untuk menjadi pemimpin umat.

Berdasarkan riwayat-riwayat, para pelaku dosa-dosa besar tidak memiliki derajat keimanan setinggi, serta tidak memiliki martabat keimanan seperti “keadilan”, yang mana orang-orang seperti itu tidak dapat diterima kesaksiannya di pengadilan Islami,[19] tidak boleh ditemani dan menikahkan mereka, dan seterusnya…[20] Mereka disebut orang yang mengkufuri nikmat, yang jika tidak bertaubat dan menyesali perbuatannya maka layak untuk disiksa di api neraka.[21] Kesimpulannya, iman secara lisan saja tidak bisa menjamin bahwa orang itu akan mendapatkan rahmat Tuhan dan pengampunan atas segala dosanya.

3. Perlu diketahui bahwa semakin banyak dosa yang dilakukan, kemungkinan untuk kembali ke derajat keimanan yang tinggi semakin kecil. Meskipun pintu-pintu taubat selalu terbuka lebar, mungkin saja pelaku dosa tidak berhasil atau mendapat taufik untuk benar-benar bertaubat. Perhatikan dua riwayat di bawah ini:

Saat imam Shadiq as ditanya tentang orang yang telah membunuh saudara seimannya dengan sengaja, tanpa menjelaskan bahwa taubatnya tidak akan diterima, imam menjawab bahwa orang itu tidak akan berhasil (mendapat taufik) untuk bertaubat.”[22]

Imam Ali as pernah menjelaskan bahwa orang yang beriman memiliki 40 perisai, dan selain itu para malaikat juga menjaganya dengan sayap-sayapnya, yang mana dengan melakukan sebuah dosa besar, satu dari perisai-perisai tersebut akan hancur. Jika ia terus menerus berbuat demikian, ia akan sampai pada suatu keadaan dimana ia tidak akan meninggalkan dosa tersebut atau bahkan membanggakannya. Lalu akhirnya akan menjadi musuh Ahlul Bait.[23]

Selain itu juga sering dijelaskan bahwa terus menerus melakukan dosa kecil akan merubahnya menjadi dosa besar.[24] Apa lagi terus menerus melakukan dosa besar?!

4. Banyak riwayat yang menjelaskan bahwa iman dan wilayah adalah asas paling penting, dan amal merupakan cabangnya. Meskipun itu benar, namun tak boleh disalahartikan. Misalnya perhatikan dua contoh berikut ini:

Pertama: Seseorang bernama Muhammad bin Madir meriwayatkan: Aku berkata kepada Imam Shadiq as: Aku pernah mendengarmu berkata: “Jika engkau punya iman, apapun yang ingin kau lakukan maka lakukanlah![25] Imam membenarkan perkataannya. Perawi heran dan bertanya: “Berarti orang yang beriman boleh berbuat zina, mencuri dan mabuk?” Imam berkata: “Innalillah… Apa yang kau fahami itu tidak benar sama sekali. Apakah kami orang-orang maksum tetap harus bertanggung jawab atas perbuatan kami, sedangkan kalian pengikut kami bebas melakukan dosa apa saja? Makna perkataanku adalah: Jika engkau punya iman, perbuatan baik apapun yang ingin kau lakukan, entah kecil atau besar, maka lakukanlah; karena dengan iman itu Allah swt akan menerima amalmu.”[26]

Kedua: Ada riwayat lain yang berbunyi: “Mencintai Ali as adalah perbuatan baik, yang mana dengan itu dosa apapun tidak akan bermasalah bagi manusia.”[27]

Banyak juga yang menyalahartikan riwayat tersebut dan mengira bahwa seorang Syiah bebas melakukan dosa apapun! Sebagaimana ada seorang penyair berkata:

Jika penghitungan amal di hari kiamat di tangan Ali,

Aku menjamin, dosa apapun yang ingin kau lakukan, lakukanlah!

Jika syair di atas tidak bermaksud berlebihan, maka maksudnya sama sekali tidak benar. Karena kecintaan kepada Ali as tidak sejalan dengan berbuat dosa dan sewena-wena. Maksud perkataan beliau adalah, jika kita mencintai Imam Ali as, maka kita pasti tidak akan begitu saja berbuat dosa seenaknya karena kita merasa malu di hadapan beliau. Jika kita lalai dan berbuat dosa, atas dasar kecintaan tersebut, kita pasti akan segera menyesali, bertaubat dan membenahi perilaku kita.[28] Jika ada orang yang mengaku Syiah lalu dengan seenaknya melakukan semua dosa dan larangan agama, jelas ia adalah pembohong.

5. Jika kita lihat banyak perbedaan di riwayat-riwayat yang mana sebagian riwayat memerintahkan kita untuk tidak berputus asa akan rahmat Tuhan, namun sebagian riwayat benar-benar mengancam kita akan siksaan-Nya, itu artinya kita sebagai orang beriman tidak dijamin untuk selalu berada dalam rahmat-Nya dan masuk surga, begitu pula orang yang berdosa tidak dijamin pasti masuk neraka dan terlepas dari rahmat Tuhan seluruhnya.

Seorang yang beriman, harus mengharap rahmat dan pengampunan Tuhan. Karena Ia selalu membuka pintu taubat, bahkan untuk orang yang tidak beriman sekalipun. Begitu pula dijelaskan bahwa dengan melakukan perbuatan baik, perbuatan buruk yang pernah dilakukan sebelumnya akan terhapus.[29]

Di sisi lain, karena mungkin saja manusia mati kapan saja, atau dosanya sangat berat sehingga tidak bisa dibenahi hingga akhir umurnya, apa lagi jika kehilangan imannya, faktor-faktor tersebut akan membuatnya tak dapat diberi syafa’at oleh manusia-manusia suci as. Begitu pula sebagian dosa, atau lemahnya iman, akan menyebabkan sirnanya amal perbuatan baik yang pernah dilakukan.[30] Oleh karenanya orang beriman pun harus mengkhawatirkan bahaya tersebut. Jadi, dalam kehidupan spiritual, kita harus takut dan khawatir akan malapetaka tersebut, namun juga terus berharap atas rahmat Allah swt yang sangat luas. [islamquest]


[1] Dalam masalah ini, anda dapat merujuk riwayat-riwayat yang ada dalam kitab Wasail Asy-Syiah, jilid 15 bab 46, halaman 318. Terjemahan judul bab tersebut adalah: Bab Menentukan Dosa Besar Yang Harus Dihindari.

[2] Untuk merujuk lebih lanjut tentang dalih Murji’ah dengan menggunakan ayat ini: Thayib, Sayid Abdul Husain, Athyab Al-Bayan fi Tafsir Al-Qur’an, jilid 1, halaman 259-258, cetakan Penerbitan islamiTehran, 1378 HS.

[3] Kulaini, Muhammad bin Ya’qub, Al-Kafi, jilid 2, halamn 409, hadits 1, Darul Kutub Islamiah, Tehran, 1365 HS.

[4] QS. Al-An’am: 57; QS. Yusuf: 40 dan 67.

[5] Untuk mengkaji lebih lanjut tentang masalah ini, silahkan merujuk: Makarim Syirazi, Nashir, Tafsir Nemune, jilid 9, halaman 419-418, Darul Kutub Al-Islamiyah, Tehran 1374 HS.

[6] Banyak riwayat yang bertentangan dengan pemikiran kaum Khawarij ini, misalnya anda bisa membacar riwayat yang tertera di halaman 421 jilid 33 kitab Biharul Anwar, bab 25, Yayasan Al-Wafa’, Beirut, 1404 H.

[7] Nahjul Balaghah, halaman 94, khutbah 61, penerbit Darul Hijrah, Qom.

[8] Istilah serupa (yang bahasa Arabnya adalah Al-Manzilah bainal Manzilatain) juga digunakan dengan maksud “tidak jabr (keterpaksaan) dan tidak tafwidh (kebebasan total)” yang mana Syiah membenarkan hal itu. Namun Syiah tidak membenarkan istilah tersebut terkait dengan masalah dosa besar yang kita bahas sekarang.

[9] Kulaini, Muhuammad bin Ya’qub, Al-Kafi, jilid 2, halaman 24-25, hadits 4.

[10] Mughniyah, Muhammad Jawad, Tafsir Kasyif, jilid 1, halaman 139, Darul Kutub Al-Islamiah, Tehran, 1424 H, menukil dari Syarah Tajrid.

[11] QS. Al-Baqarah: 192-225; QS. Al-An’am: 147; QS. Al-A’raf: 156; QS. Al-Ghafir: 7; QS. Nuh: 10; dan masih banyak lagi. Di sebagian ayat-ayat tersebut dijelaskan bahwa dosa-dosa hamba yang tidak beriman pun juga dapat dimaafkan.

[12] Dalam sebuah riwayat dari Imam Shadiq as disebutkan bahwa: “Kami akan memberikan syafa’at kepada orang yang melakukan dosa besar, dan mereka yang bertaubat dengan taubat sejati adalah orang-orang yang berbuat baik dan mereka tidak membutuhkan syafa’at.” Silahkan merujuk: Hurr Amili, Muhammad bin Al-Hasan, Wasail Asy-Syi’ah, jilid 5, halaman 334, hadits 20669, Muasasah Alul Bait, Qom, 1409 H.

[13] QS. An-Nisa’: 48 dan 116.

[14] Al-Kafi, jilid 2, halaman 284, hadits 18.

[15] QS. Az-Zumar: 53, “Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.”

[16] Nahjul Balaghah, halaman 255, khutbah 176.

[17] Banyak hadits-hadits dari para imam tentang masalah menurunnya derajat keimanan, sebagaimaa yang disebutkan dalah hadits 21 halaman 284 jilid kedua kitab Ushul Al-Kafi. Semua itu menjelaskan bahwa pelaku dosa besar derajat keimanannya menurun, bukannya menjadi kafir.

[18] Silahkan merujuk riwayat-riwayat seperti yang disebutkan dalam Wasail Asy-Syi’ah, jilid 18, halaman 313-318, bab 11.

[19] Wasail Asy-Syiah, jilid 27, halaman 391, hadits 34932.

[20] Ibid, jilid 25, halaman 312, hadits 31987.

[21] Ibid, jilid 15, halaman 338, hadits 20683.

[22] Ibid, jilid 29, halaman 32, hadits 35077.

[23] Kulaini, Muhammad bin Ya’qub, Al-Kafi, jilid 2, halaman 279, hadits 9.

[24] Wasail Asy-Syi’ah, jilid 15, halaman 337, hadits 20681.

[25] Dengan melihat lanjutan riwayat, ternyata perawi mengira jika kita memiliki iman kita dapat melakukan dosa apapun.

[26] Wasail Asy-Syi’ah, jilid 1, halaman 114, hadits 287.

[27] Ihsa’i, Ibnu Abi Jumhur, ‘Awali Al-La’ali, jilid 4, halaman 86, hadits 103, penerbit Sayid Syuhada, Qom, 1405 H.

[28] Banyak sekali riwayat tentang kesedihan Rasulullah saw dan para Imam as akan dosa yang dilakukan oleh orang yang beriman. Silahkan merujuk: Wasail Asy-Syiah, jilid 16, halaman 107, hadits 21105, dan riwayat-riwayat serupa.

[29] QS. Al-Baqarah: 271; QS. Ali Imran: 195; QS. An-Nisa’: 31; QS. Al-Maidah: 12 dan 65; QS. Al-Anfal: 29; QS. Al-’Ankabut: 7; QS. Az-Zumar: 35; QS. Al-Fath: 5; QS. At-Taghabun: 9; QS. Ath-Thalaq: 5; QS. At-Tahrim: 8; dan seterusnya.

[30] QS. Al-Baqarah: 217; QS. Al-Maidah: 5 dan 53; QS. Al-An’am: 88; QS. Huud: 16; QS. Al-Ahzab: 19; QS. Az-Zumar 65; QS. Al-Hujurat: 2; dan seterusnya.

Syiah bisa seenaknya saja berbuat dosa

Tanya: Syiah berkeyakinan bahwa mereka tidak masalah seperti apapun dosa mereka, karena mereka mencintai Ali. Keyakinan macam apakah ini?

Jawab: Ini juga tidak terbukti. Syiah tidak sama seperti Murji’ah. Penganut aliran Murji’ah lah yang berkata bahwa iman cukup untuk menyelamatkan kita dari api neraka, meskipun kita tidak melakukan amal perbuatan apapun. Justru Syiah kebalikan dari itu. Menurut Syiah, tidak hanya iman itu tidak cukup, bahkan diperlukan amal saleh yang diiringi dengan ketulusan serta ketakwaan. Allah swt berfirman:

“Sesungguhnya Allah menerima amal perbuatan yang dilakukan oleh orang-orang yang bertakwa.” (Al-Maidah:  27)

Imam Baqir as berkata kepada salah satu sahabatnya yang bernama Jabir:

“Wahai Jabir, apakah cukup seseorang mengaku pengikut kami dan Ahlul Bait saja? Sungguh demi Tuhan, pengikut kami yang sebenarnya adalah orang yang berpaling dari dosa dan selalu mentati Tuhannya. Kriteria pengikut kami adalah rendah hati, takut akan Allah, zikir, shalat, puasa dan amalsaleh…”[1]

Ini hanyalah sebuah contoh dari riwayat-riwayat yang ada terkait dengan masalah ini dan masih banyak riwayat yang lainnya. Jika seandainya ditemukan riwayat yang bertentangan dengan riwayat di atas, yakni menyatakan bahwa amal saleh tidak perlu dilakukan, karena itu bertentangan dengan Al-Qur’an maka riwayat sedemikian rupa tidak dapat diterima.

Coba anda tunjukkan Syiah yang mana yang telah seenaknya melakukan dosa karena mengaku mencintai Ahlul Bait?

Bukannya kalian sendiri yang pernah menukilkan bahwa Rasulullah saw berkata kepada para pahlawan Badar (perang Badar):

“Lakukanlah apa yang ingin kalian lakukan sesuka hati, karena aku telah mewajibkan surga atas kalian.”[2]

Kalian kum Salafi telah menginjak kehormatan-kehormatan Ilahi dengan cara mendidik teroris-teroris. Kalian tidak menghormati darah orang tua atau anak kecil, tidak menghormati harta benda kaum Muslimin dan wanita-wanita mereka. Menurut kalian semua umat Islam selain pengikut Muhammad bin ‘Abdul Wahab adalah musyrik dan murtad yang harus kalian tumpahkan darahnya dan rampas hartanya serta menawan wanita-wanitanya. Apakah anda yang seperti ini dengan nyaman membandingkan diri dengan Syiah?


[1] Amali, Syaikh Thusi, hlm. 743; Al-Kafi, jld. 2, hlm. 73.

[2] Shahih Bukhari Nafi’,  kitab Al-Maghazi, 304, hadits 3983.