hari demi hari kebenaran-kebenaran Syi’ah dan Al Qur’an semakin terbukti.

Al Qur'an dan Ilmu Pengetahuan

Pendahuluan

Tujuan Tuhan menurunkan Al Qur’an adalah mendidik umat manusia. Semakin manusia mengingkari Al Qur’an, keunggulan Al Qur’an semakin terus terlihat pula. Inilah kriteria hakikat. Oleh karena itu pembesar-pembesar kita sering berkata: “Kami tidak takut Al Qur’an dikritik. Kami hanya takut berbohong atas nama Al Qur’an.” Karena perbuatan itu tidak dibenarkan sama sekali.

Tidak benar jika kita katakan Al Qur’an sesuai dengan ilmu pengetahuan manusia seribu empat ratus tahun yang lalu. Banyak permasalahan-permasalahan ilmiah yang disinggung Al Qur’an yang ternyata terbukti di jaman-jaman setelahnya. Jika seandainya Al Qur’an menjelaskan masalah yang sudah jelas-jelas difahami oleh umat manusia di jaman itu, apa istimewanya Al Qur’an? Tidak ada hal yang spesial dalam hal itu. Karena semua orang pun bisa melakukan hal yang sama, yakni melakukan sesuatu yang biasa-biasa saja dan sudah lumrah bagi semua orang. Justru menurut kami sampai saat ini ilmu pengetahuan tidak dapat mencari titik kesalahan apa yang pernah dijelaskan Al Qur’an. Faktanya, hari demi hari kebenaran-kebenaran Al Qur’an semakin terbukti. Profesor Moris Boka berkata:

“Dari sejak awal aku meneliti, banyak sekali permasalahan-permasalahan rinci dan ilmiah dalam Al Qur’an yang terus menerus membuatku kagum, sampai aku tidak percaya banyak sekali penemuan-penemuan masa kini yang sudah pernah ada dalam tulisan kuno berumur seribu empat ratus tahun!”[1]

Salah satu sisi “kemukjizatan” Al Qur’an adalah keilmiahannya. Karena saat Al Qur’an diturunkan, ilmu pengetahuan manusia masih sederhana dan belum mencapai penemuan-penemuan tertentu, namun saat itu juga Al Qur’an telah menjelaskannya. Banyak sekali hal-hal ilmiah dalam Al Qur’an yang dapat kita temukan, yang di antaranya adalah seperti:

1. Berpasang-pasangannya tumbuhan: Al Qur’an menyinggung permasalahan ini dalam beberapa ayat sucinya. Dalam Tafisr Nemune, di bawah ayat yang berbunyi: “Dan apakah mereka tidak memperhatikan bumi, berapakah banyaknya Kami tumbuhkan di bumi itu pelbagai macam tumbuh-tumbuhan yang baik?” (QS. Asy-Syu’ara’ [26]:7), disebutkan:

Dalam ayat di atas, perlu kita perhatikan mengapa digunakan kata zauj. Meskipun para ahli tafsir mengartikannya sebagai “jenis” dan azwaj diartikan dengan “jenis-jenis”, apa salahnya jika kita memaknai kata itu dengan makna aslinya sebagaimana saat kata itu terlintas di pikiran kita untuk pertama kalinya? Yakni dengan makna “pasangan” dengan maksud berpasang-pasangannya tumbuhan. Sejak jaman dahulu kala manusia sudah tahu bahwa tumbuhan juga memiliki jenis jantan dan betina, dan mereka terkadang mengawinkan pasangan-pasangan tumbuhan itu. Contoh yang paling jelas adalah pohon kurma. Pada permulaan abat ke-18, untuk pertama kalinya, Profesor Line, seorang ilmuan botani terkenal dari Swedia berhasil menemukan dan membuktikan bahwa permasalahan berpasangannya tumbuhan adalah kaidah umum dan tumbuh-tumbuhan sama seperti binatang yang berreproduksi dengan cara perkawinan, lalu terjadi pembuahan dan akhirnya muncullah buah sebagai hasilnya. Namun Al Qur’an telah menjelaskan masalah ilmiah ini berkali-kali dalam ayat sucinya jauh sebelum penemuan ilmuan Swedia itu (di ayat ke-4 surah Ar Ra’d, ayat ke-10 surah Luqman, ayat ke-7 surah Qaaf, dan ayat ini).[2]

Permasalahan ilmiah ini tidak pernah difahami oleh umat manusia pada seribu empat ratus tahun yang lalu secara jelas. Akhir-akhir ini saja ilmuan menyingkap fenomena alami yang menakjubkan itu. Bahkan selain keberpasangan tumbuhan, Al Qur’an juga menyatakan bahwa segala sesuatu di alam semesta juga berpasang-pasang. Allah swt berfirman: “Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah.” (QS. Adz-Dzaariyaat [51]:49)

Ini juga salah satu mukjizat Al Qur’an. Karena saat ini para ilmuan juga membuktikan bahwa segala sesuatu memiliki unsur negatif atau positif, atau apapun itu.

2. Gravitasi bumi: Salah satu permasalahan ilmiah yang juga dijelaskan Al Qur’an adalah gravitasi bumi. Allah swt berfirman: “Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembang biakkan padanya segala macam jenis binatang.” (QS. Luqman [31]:10)

Para mufasir di bawah ayat itu menjelaskan permasalahan gravitasi bumi. Mereka berkata: Di ayat itu dijelaskan beberapa dari mukjizat-mukjizat Al Qur’an, yakni menjelaskan sesuatu yang mana orang-orang di saat itu sama sekali belum pernah berfikir tentangnya, dan bahkan membayangkannya pun belum pernah. Salah satu permasalahan itu adalah tiang-tiang tak nampak yang berguna untuk menyangga benda-benda langit dalam tata surya kita. Yang maksudnya adalah daya tarik (gravitasi) dan daya tolak yang menjadi rahasia di balik orbit, rotasi dan evolusi tata surya.

Permasalaha yang lain adalah terjaganya bumi dari goncangan berkat gunung-gunung, dan juga masalah keberpasangan tumbuh-tumbuhan.[3] Al Qur’an menyebut gravitasi sebagai tiang; karena daya tarik yang ada antara bumi dan matahari bagaikan rantai, yang mana menurut penjelasan Al Qur’an bagai tiang yang kuat. Daya itulah yang mengatur jarak antara bumi dan matahari serta perputarannya; yang mana peran itu mirip dengan peran yang dimainkan oleh tiang dalam rumah kita. Fenomena yang telah disinggung Al Qur’an ini adalah salah satu contoh bukit kemukjizatannya yang mana umat manusia baru bisa membuktikan kebenaran masalah tersebut saat ini dengan menggunakan perangkat-perangkat ilmiah moderen.[4]

3. Sedikitnya kadar oksigen di ketinggian: Dalam surah Al An’am Allah swt berfirman: “Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.” (QS. Al-An’am [6]:125)

Sebagian ahli tafsir berkata: Makna yang lebih lembut lagi yang dapat dipahami dari ayat itu adalah: Kini telah terbukti bahwa udara yang biasa terjangkau oleh kita di muka bumi memiliki kadar oksigen yang tinggi sehingga kita dapat bernafas dengan lega. Namun semakin kita menaiki tempat yang lebih tinggi, maka semakin tinggi kita naik semakin sedikit pula kadar oksigen yang dapat kita hirup. Misalnya jika kita menaiki gunung yang tingginya berkilo-kilo meter dari permukaan laut, jika kita tidak menggunakan tabung oksigen untuk bernafas, kita akan semakin sulit untuk menghirup udara, sehingga dada kita terasa amat sesak. Atau bahkan kita bisa sampai pingsan karena itu. Di jaman diturunkannya Al Qur’an permasalahan ilmiah ini sama sekali belum pernah terbukti namun kitab suci itu telah menjelaskannya.[5]

Kesimpulan

Dengan apa yang telah dijelaskan di atas, banyak permasalahan ilmiah yang belum pernah difahami umat manusia pada seribu empat ratus tahun yang lalu. Ilmu pengetahuan saat ini baru membuktikan permasalahan-permasalahan itu dan semakin menjadi bukti kebenaran kitab suci kita. Dengan demikian, kita dapat ungkapkan bahwa semakin tinggi ilmu pengetahuan umat manusia, maka semakin kuat pula kecenderungan mereka kepada Al Qur’an karena kebenarannya. Sebagian orang berkata: “Kini agama dan ilmu semakin dekat jaraknya. Kelak agama dan ilmu akan semakin dekat lagi sehingga semua orang akan menyadari bahwa agama adalah hakikat dan hakikat adalah agama itu sendiri.”[6]

Apa yang dijelaskan di atas hanya sekelumit dari penjelasan yang dapat diberikan. Banyak sekali buku-buku yang lebih mengulas permasalahan di atas dengan lebih jelas dan panjang lebar. Masih banyak lagi hal-hal ilmiah yang dapat dibahas, seperti atmosfer yang diibaratkan Al Qur’an sebagai atap, atau masalah rumit tentang janin, atau akar-akar gunung yang disebut sebagai awtad atau paku-paku bumi. Semua itu membuktikan bahwa Al Qur’an mencakup permasalahan-permasalahan ilmiah yang baru ditemukan umat manusia akhir-akhir ini.

Referensi untuk mengkaji lebih jauh:

1. Moris Boka, Moqayese e Miyan e Towrat, Injil, Qor’an va Elm, hal. 215.

2. Sayid Sajjad Alawi dan Ali Syaikh Zade, Mo’jezat e Jadid Ya E’jaz e Elmi e Qor’an e Karim, hal. 30.

Hadits Penutup: Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa menginginkan ilmu orang-orang terdahulu dan yang akan datang, maka hendaknya merenungi Al Qur’an.”[7]


[1] . Moris Boka, Moqayese i Miyan e Towrat, Injil, Qoran, va Elm,  hal. 215, menukil dari: Mu’jizat e Jadid ya E’jaz e Elmi e Qor’an.

[2] . Nashir Makarim Syirazi dan penulis lainnya, Tafsir e Nemune, jil. 15, hal 191.

[3] . Muhsin Qira’ati, Tafsir e Nur, jil. 9, hal. 236.

[4] . Sayid Sajjad Alawi dan Ali Syaikh Zade, Mo’jezat e Jadid ya E’jaz e Elmi e Qor’an, hal. 30.

[5] . Tafsir e Nemune, jil. 5, hal. 436.

[6] . Reza Pak Nejad, Ezdevaj e Maktab e Ensan Sazi, hal. 177.

[7] . Muttaqi Hindi, Kanzul Ummal, 2454.

Selain kedudukan kenabian dan kerasulan yang mereka miliki, ada tiga kedudukan lainnya yang mereka juga miliki berkaitan dengan umatnya. Di pasal ini, kita akan membahas kedudukan-kedudukan itu berdasarkan penjelasan Al-Qur’an:

1. Menjelaskan dan Menafsirkan Wahyu

Tuntutan kenabian dan risalah tidak lebih dari penyampaian wahyu dari Tuhan ke umat manusia. Secara rasional juga terbukti bahwa Tuhan harus mengutus para nabi untuk menerima wahyu-Nya dan menyampaikannya ke umat manusia. Jadi, kenabian dak kerasulan tidak lebih dari menyampaikan wahyu kepada umat manusia. Umat juga berkewajiban untuk menerima pesan-pesan Ilahi itu lalu mengamalkannya. Hakikatnya, mengamalkan perintah-perintah para nabi adalah ketaatan kepada Allah SWT. Intinya, tugas para nabi dan rasul hanya menyampaikan.

Kewajiban Rasul tidak lain hanyalah menyampaikan. (QS. Al-Ma’idah [5] : 99)

Namun selain kedudukan ini, Al-Qur’an juga menjelaskan bahwa mereka pun memiliki kedudukan lainnya, yaitu sebagai penjelas dan penafsir wahyu. Jelas berbeda sekali antara menyampaikan wahyu begitu saja dengan menyampaiakan serta menjelaskannya. Tugas kenabian dan kerasulan hanya sekedar menyampaikan wahyu. Misalnya, Rasulullah SAW. menerima Al-Qur’an melalui wahyu lalu membacakannya kepada para pengikutnya. Sampai di sini, ia telah melakukan tugasnya sebagai penyampai wahyu. Namun, pada kenyataannya, umat butuh lebih dari itu; yakni seringkali wahyu yang sampai ke telinga mereka membutuhkan penjelasan dan penafsiran. Misalnya, dalam Al-Qur’an ada perintah untuk mendirikan shalat: “maka dirikanlah sembahyang.” (QS. Al-Hajj [22] : 78). Kewajiban shalat dapat difahami dengan jelas saat kita membaca ayat tersebut. Namun bagaimanakah kita harus shalat? Di sinilah umat membutuhkan orang yang dapat menjelaskan hukum-hukum Allah SWT. lebih detil lagi.

Oleh karena itu, selain bertugas untuk menyampaikan wahyu, mereka juga bertugas untuk menjelaskan dan menafsirkan wahyu tersebut. Lalu umat pun juga berkewajiban untuk beramal sesuai penafsiran-penafsiran wahyu tersebut. Allah SWT. berfirman:

Dan Kami tidak mengutus seseorang rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. (QS. An-Nisaa’ [4] : 64)

Dengan melihat ayat tersebut, kita dapat fahami bahwa selain kita harus menaati ucapan-ucapan para nabi berkenaan dengan wahyu itu saja, namun penafsiran-penafsiran mereka akan wahyu juga harus diikuti pula. Jadi, setelah mentaati para nabi di saat mereka menyampaikan wahyu, umat harus mentaati mereka juga saat wahyu-wahyu tersebut ditafsirkan.

Kita dengan mudah dapat benar-benar memahami fakta ini, bahwa para nabi pasti memahami maksud Tuhan dalam wahyu yang Ia turunkan kepada mereka. Oleh karena itu, saat menyampaikan wahyu dengan sendirinya mereka menjelaskan maksudnya pula; dan penjelasan mereka pasti sesuai dengan maksud pengirim wahyu. Maka dari itu umat mereka juga harus menerima penjelasan dan penafsiran wahyu sebagaimana mereka juga harus menerima wahyu itu sendiri.

Namun kebutuhan umat tidak terbatas di situ saja; meskipun tingkat kebutuhan itu secara rasional tidak sampai menuntut pemenuhan kebutuhan oleh Tuhan; Ia memenuhi kebutuhan tersebut melalui perantara para nabi hanya sebagai curahan kasih sayang-Nya. Dengan memenuhi kebutuhan ini, para nabi pun mendapatkan kedudukan lain di tengah-tengah umatnya; yaitu kehakiman.

2. Mengadili dan Menghakimi

Terkadang, umat manusia membutuhkan seorang hakim Ilahi yang dapat mempraktekkan hukum-hukum Tuhan dalam menyelesaikan ikhtilaf di antara mereka. Dengan penjelasan lain, pengetahuan akan hukum-hukum syar’i saja tidak cukup bagi umat manusia; mereka membutuhkan seorang hakim di tengah-tengah mereka yang dapat menjalankan hukum-hukum Ilahi dalam penghakimannya. Seorang hakim yang layak adalah seorang yang benar-benar memahami hukum Ilahi dan tahu bagaimana menjalankannya. Lebih dari itu, ia harus ditaati oleh siapa saja, terutama kedua belah pihak orang yang sedang berikhtilaf agar hakim dapat menyelesaikan permasalahan mereka berdua. Pada dasarnya kebutuhan ini selalu ada dalam jiwa umat manusia sampai kapanpun.

Karena kemurahan dan kasih sayang-Nya, Allah SWT. menjadikan para nabi sebagai hakim untuk hamba-hambanya. Tapi apakah semua nabi memiliki kedudukan ini?

Tidak ada ayat Qur’an yang secara pasti menjelaskan bahwa seluruh nabi memiliki kedudukan itu. Namun mungkin saja dari ke-mutlaq-an[1] sebagian ayat-ayat, kita dapat memahami bahwa kedudukan ini bersifat umum, yakni dimiliki oleh setiap nabi. Allah SWT. berfirman:

Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. (QS. An-Nisaa’ [4] : 80)

Selain ke-mutlaq-an ayat di atas, tidak ada dalil lain yang membuktikan bahwa sifat ini dimiliki semua nabi. Ada sebagian ayat yang menjelaskan adanya kedudukan ini pada sebagian nabi, seperti nabi Daud AS. Allah SWT. berfirman:

Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil. (QS. Shaad [38] : 26)

Dari ayat ini dapat difahami bahwa mengadili dan menghakimi bukanlah kelaziman yang pasti dari kenabian; karena nabi Daud AS. mulanya menjadi nabi, lalu setelah itu mendapat perintah dari Allah SWT. untuk menjadi hakim di tengah-tengah umatnya. Jadi, kedudukan sebagai seorang hakim yang adil adalah kedudukan yang terpisah dari kedudukan sebagai seorang nabi; dan tidak diragukan, banyak nabi-nabi yang memang memiliki kedudukan tersebut.

3. Memerintah

Kebutuhan lain umat manusia adalah adanya seorang yang dapat dijadikan rujukan di zamannya serta memegang tali pemerintahan negara. Oleh karenanya Allah SWT. mengangkat sebagian nabi-Nya untuk menjadi pemerintah bagi umatnya sehingga kebutuhan tersebut dapat terpenuhi sekaligus pemerintahan seorang nabi dapat dijadikan tauladan pemerintahan yang adil di muka bumi. Sebenarnya, kedudukan para nabi sebagai hakim sebagaimana yang telah dibahas sebelumnya, adalah salah satu unsur yang terdapat pada pemerintahan; namun bagaimanapun juga, tetap saja keduanya adalah hal yang berbeda dan kita perlu membahasnya secara terpisah seperti ini. Seringkali masalah penghakiman dan pengadilan terkait dengan permasalahan dua atau tiga orang yang sedang berikhtilaf dan datang kepada hakim untuk diselesaikan permasalahannya. Namun, pemerintahan secara utuh berkaitan dengan semua warga negara dan umat Islam yang sekiranya jika seorang pemerintah mengeluarkan suatu hukum semua orang harus tunduk dan mentaatinya. Di sinilah kita dapat menyadari betapa pentingnya perkara pemerintahan.

Sebagai contoh, jika musuh telah melewati perbatasan negara untuk menyerang kita dan sebagaimana yang kita tahu, kita harus bertahan menghadapi mereka; namun masalah ini masih diperdebatkan tentang bagaimana kita harus melakukan pertahanan tersebut, dan bahkan terjadi ikhtilaf tentangnya. Dalam keadaan seperti ini, jika tidak ada keputusan yang tegas dan cepat, maka akan menimbulkan banyak masalah yang merugikan; yakni setiap kelompok berjalan masing-masing menurut pendapatnya, dan akhirnya kita tidak akan menang. Kita berfikiran seperti ini bukan berarti pemerintahan menjadi hal penting hanya pada saat peperangan saja; tapi maksudnya, salah satu kondisi dimana kita dapat merasakan betapa pentingnya pemerintahan adalah di saat-saat seperti itu.

Alhasil, masyarakat pasti membutuhkan pemerintahan yang sehat dan kokoh. Lalu, apakah setiap nabi harus memiliki kedudukan sebagai pemerintah? Sayangnya untuk membuktikan hal ini tidak ada dalil aqli dan dalil naqli yang cukup. Kita hanya dapat mengatakan bahwa di dalam Al-Qur’an disebutkan ada beberapa nabi yang memiliki kedudukan tersebut, tidak semua; sehingga bisa saja dengan yakin kita berkata bahwa ada para nabi yang tidak memiliki kedudukan ini.

Misalnya, dengan menyimak kisah Thalut dalam Al-Qur’an, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa nabi di zaman itu tidak memiliki wewenang memerintah.

Pembesar Bani Israil mendatangi nabi mereka dan mendesaknya agar meminta Allah SWT. supaya memilih seorang hakim dan pemerintah untuk mereka.

Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka-pemuka Bani Israil sesudah Nabi Musa, yaitu ketika mereka berkata kepada seorang Nabi mereka: “Angkatlah untuk kami seorang raja supaya kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah.”… Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu.” (QS. Al-Baqarah [2] : 246-247)

Ayat di atas dengan jelas menggambarkan bahwa nabi di zaman itu tidak memiliki andil pemerintahan; karena kalau tidak ia pasti menjawab: “Bukankah aku ini adalah hakim dan penguasa bagi kalian?” Sang nabi bertanya kepada mereka, “Jika Allah SWT. mengangkat seseorang sebagai pemimpin untuk kalian, apakah kalian akan mentaatinya?” Mereka menjawab “Ya.” Lalu Allah SWT. menjadikan Thalut sebagai raja bagi mereka. Dengan demikian pada waktu itu yang menjadi pemerintah bukanlah nabi, tapi Thalut, orang biasa.

Kesimpulan pembahasan ini adalah, selain para nabi memiliki kedudukan kenabian, mereka juga punya kedudukan-kedudukan lainnya seperti penafsir wahyu, hakim, dan juga pemerintah. Sebagian dari para nabi memiliki semua kedudukan tersebut, namun sebagian yang lain hanya beberapa di antara ketiganya.


[1] Yakni tidak adanya keterangan-keterangan lain yang membatasi maksud ayat-ayat tersebut.

Tanya: Ketika sedang bergerak dari kota Makkah menuju Kufah, apakah Sayyidus Syuhada imam Husain As telah mengerti bahwa ia akan mati terbunuh di karbala? Dengan kata lain, dengan perjalanannya menuju Iraq, apakah imam Husain As memang sengaja ingin menjemput kesyahidan? Ataukah untuk membentuk pemerintaan adil dan Islami?

Jawab: Sayyidus Syuhada imam Husain As—menurut orang-orang Syiah—adalah seorang pemimpin yang wajib ditaati. Ia adalah imam ketiga Syiah Imamiyah dan termasuk dari para wasi nabi yang memiliki hak untuk dipatuhi. Dan ilmu para imam mengenai segala sesuatu dan setiap kejadian, sebagaimana yang telah ditetapkan oleh dalil-dalil Aqliyah atau Naqliyah ada dua macam dan didapatkan melalui dua jalan yang akan dijelaskan di bawah ini.

Imam As dengan izin Tuhan, dalam situasi dan kondisi apapun memiliki pengetahuan yang pasti akan segala kejadian dan peristiwa; baik yang dapat dijangkau dengan panca indra maupun yang tidak, seperti kejadian-kejadian langit dan peristiwa-peristiwa yang telah terjadi atau yang akan terjadi. Dalil pendapat ini adalah hadis dan riwayat-riwayat yang tercantum dalam kitab-kitab hadis Syiah seperti: Al Kafi, Bashair, kitab-kitab Syaikh Shaduq, Biharul Anwar, dan lain sebagainya. Menurut hadis dan riwayat-riwayat ini, para imam As memiliki banyak pengetahuan yang didapat dari pemberian dan ilham Ilahi; bukan dari usaha mereka sendiri dan tidak didapatkan dengan sendirinya. Dan apa saja yang ingin mereka ketahui, dengan izin Tuhan, mereka dapat mengetahuinya dengan jelas dan pasti.

Memang dalam ayat-ayat Al-Qur’an kita sering membaca bahwasannya ilmu ghaib adalah ilmu yang hanya dimiliki oleh Tuhan dan tidak dimiliki oleh selain-Nya. Tapi ada beberapa ayat yang menjelaskan kandungan ayat-ayat lainnya. Seperti ayat yang berbunyi:

“Maha mengetahui akan hal yang ghaib. Dan Ia tidak memberitahukan hal yang ghaib kepada selain-Nya, melainkan kepada orang-orang yang diridhai-Nya dari para rasul…”[1]

Ayat ini menjelasan kepada kita bahwa memang benar hanya Tuhan yang memiliki ilmu ghaib secara mutlak dan selain-Nya tidak memiliki ilmu seperti ini. Tapi mungkin saja para utusan Tuhan dapat memilikinya dengan cara diberitahukan oleh Tuhan. Mungkin saja orang-orang saleh yang lain juga dapat mengetahuinya dengan cara diberitahukan oleh para utusan Tuhan. Sebagaimana yang disebutkan dalam berbagai riwayat bahwa nabi dan begitu pula setiap imam selalu menurunkan ilmu ghaib keimaman-nya kepada orang yang akan menjadi imam setelahnya di saat ajalnya hampir tiba.

Dengan menggunakan akal murni kita dapat menetapkan bahwa para imam suci memiliki kedudukan yang sangat tinggi dan merupakan manusia ter-sempurna di zamannya masing-masing. Mereka adalah manifestasi seluruh asma dan sifat Tuhan yang mampu memahami segala apa yang ada di alam semesta dan meengetahui semua peristiwa yang terjadi. Setiap kali mereka melihat sesuatu, secepat kilat mereka dapat memahami seluruh hakikat dan kenyataannya. (Kami tidak ingin menjelaskan lebih jauh hal ini karena merupakan pembahasan yang sangat susah dan kurang tepat jika diterangkan dalam tulisan ini. Oleh karenanya, biarlah permasalahan ini dibahas di tempatnya yang sesuai).

Yang perlu ditekankan dalam pembahasan ini adalah, ilmu ghaib yang merupakan pemberian Tuhan dan dimiliki oleh sebagian hamba-hamba-Nya, sebagaimana yang telah ditetapkan dengan dalil-dalil Aqli dan Naqli, merupakan ilmu yang tidak mungkin salah dan berlainan dengan kenyataan sebenarnya. Dengan kata lain, ilmu-ilmu seperti ini adalah pengetahuan terhadap hal-hal yang tercatat dalam Lauhul Mahfudz dan yang sudah ditakdirkan oleh Tuhan yang maha kuasa.

Dengan demikian, tidak ada larangan dan perintah bagi hal yang sudah pasti akan terjadi. Begitu juga kehendak manusia, tidak akan berpengaruh baginya. Karena larangan dan perintah hanya berlaku dalam hal-hal yang mungkin terjadi dan ketika dijalankan atau tidaknya perintah dan larangan tersebut bagi pelaku adalah hal yang dapat dipilih salah satunya. Tapi untuk hal-hal yang sudah pasti terjadi dan telah ditakdirkan untuk terjadi, tidak mungkin manusia diperintahkan untuk melakukan sesuatu supaya hal-hal tersebut terjadi. Misalnya, benar jika Tuhan memerintahkan manusia untuk melakukan suatu pekerjaan atau meninggalkannya karena manusia tersebut dapat melakukannya dan juga dapat meninggalkannya. Dan sebaliknya, tidak mungkin Tuhan memerintahkan manusia untuk melakukan suatu perbuatan atau meninggalkannya yang mana perbuatan tersebut telah ditakdirkan oleh Tuhan sendiri untuk terjadi serta tidak mungkin untuk tak terjadi. Perintah dan larangan seperti ini tidak benar karena tidak ada gunanya dan sia-sia.

Begitu pula seorang manusia yang memiliki niat untuk melakukan suatu pekerjaan. Ia dapat memiliki niat untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang baginya mungkin bisa dilakukan atau tidak dilakukan dan menjadikan dilakukan-nya pekerjaan tersebut sebagai tujuan di balik segala daya dan upayanya. Tetapi hal-hal yang sudah pasti akan terjadi dan tidak mungkin untuk tak terjadi, ia tidak mungkin memiliki niat untuk mewujudkan hal-hal yang sudah pasti akan terwujud tersebut. Ia tidak mungkin bersusah payah untuk mewujudkan hal-hal tersebut. Karena berniat atau tidak berniat, berupaya atau tidak berupaya, hal tersebut pasti akan terjadi.

Dengan keterangan ini dapat menjadi jelas bahwa:

Pertama, ilmu yang telah diberikan kepada imam As ini tidak memiliki pengaruh terhadap amal dan usahanya serta tidak berkaitan dengan taklif dan tugas-tugasnya. Pada dasarnya setiap hal yang jika sudah merupakan hal yang pasti, maka tidak berkaitan lagi dengan perintah dan larangan serta kehendak manusia.

Ya, setiap hal yang sudah ditakdirkan harus direlakan. Sebagaimana imam Husain As di akhir-akhir helaan nafasnya saat terjatuh di tanah yang bercampur darah berkata: “Aku rela dengan takdir-Mu. Tak ada yang layak disembah selain-Mu.”[2]

Kedua, pasti-nya perbuatan manusia dari segi keterkaitannya dengan Qadha Ilahi tidak bertentangan dengan ikhtiariyah[3] manusia dalam melakukannya. Karena Qadha Ilahi berkaitan dengan segala perbuatan dengan segala macam bentuknya; tidak dengan perbuatan itu sendiri secara mutlak. Contohnya, anggap saja Tuhan ingin memerintahkan seorang manusia untuk melakukan suatu perbuatan yang baginya dapat dilakukan dan tidak dilakukan; karena semua hal berada di kekuasaan Tuhan, maka dilakukan atau tidak dilakukannya perintah tersebut telah diketahui-Nya. Ia telah mengetahui apa yang akan terjadi kelak dan pengetahuannya tak mungkin salah. Meskipun demikian, bagi manusia yang melakukan suatu perbuatan—yang telah diketahui oleh Tuhan tentang apa yang akan terjadi kelak—semuanya berjalan biasa-biasa saja dan ia melakukannya dengan penuh kehendak sendiri tanpa adanya rasa terpaksa.

Ketiga, kita tidak boleh melihat gerak-gerik imam Husain As secara dhahir saja dan kita tidak boleh menjadikannya sebagai alasan bahwa beliau tidak memiliki ilmu ghaib alias bodoh akan kejadian yang akan menimpa dirinya yang mana akan menimbulka berbagai pertanyaan seperti: “jika imam Husain As memiliki ilmu ghaib, lalu mengapa ia mengirim Muslim sebagai wakilnya ke Kufah? Mengapa ia menulis surat kepada penduduk Kufah melalui Shaidawi? Mengapa ia sendiri pergi dari Makkah menuju Kufah? Mengapa ia melemparkan dirinya sendiri kedalam kebinasaan padahal Allah Swt telah berfirman: “…dan janganlah kalian lempar diri kalian kedalam kebinAsaan…”? Mengapa? Mengapa?”

Jawaban semua pertanyaan ini akan menjadi jelas dengan sedikit keterangan yang telah saya berikan dan saya tidak perlu mengulanginya lagi.

Rasulullah Saw dan begitu juga imam As adalah manusia sebagaimana manusia biasa yang lain. Segala perbuatan yang mereka lakukan telah mereka lakukan atas dasar kehendak dan pengetahuan biasa sebagaimana orang-orang lain melakukan pekerjaan mereka. Imam As juga seperti orang lain; ia menentukan bahaya dan keuntungan dengan tolak ukut pengetahuan biasa dan setiap perbuatan yang menurutnya layak untuk dilakukan, ia pun melakukannya dan dengan segala upaya dan usaha ia menjalankan tugasnya. Jika situasi dan kondisi memang mengizinkan, ia dapat mencapai tujuanya; dan jika tidak, ia tidak akan berhasil menggapai apa yang diinginkannya. (Adapun Tuhan terkadang mengilhamkan berbagai ilmu ghaib kepadanya, sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, ilmu dan pengetahuan tersebut tidak berpengaruh dengan amal perbuatan Ikhtiari[4] yang ia lakukan).

Imam As juga seperti orang-orang yang lain; ia adalah hamba Tuhan dan memiliki tugas serta kewajiban tertentu yang harus dijalankan. Dalam kedudukannya sebagai seorang imam dan pemimpin umat, ia berkewajiban untuk menghakimi dan menghukumi segalanya dengan tolak ukur yang dapat dipahami oleh masyarakat awam dan sampai kapan pun ia ditugaskan untuk meghidupkan kebenaran dan ajaran-ajaran Tuhan serta menjaganya.

Dengan memperhatikan kondisi di waktu itu, kita dapat sedikit memahami mengapa imam As harus pergi ke sana.

Garis perjalanan sejarah tergelap dan tersuram yang dilewati oleh keluarga suci kenabian adalah masa dua puluh tahun pemerintahan Mu’awiyah.

Setelah bersusah-payah Mu’awiyah merebut kekhilafahan dengan segala macam tipu muslihatnya, akhirnya ia berhasil meduduki kursi kekhilafahan. Dalam kepemimpinannya, ia selalu berusaha untuk memperkuat kekuasaannya dan menindas keturunan Rasulullah Saw. Tak hanya ia ingin menindas keturunan Rasulullah Saw saja; ia juga berusaha untuk menghapus nama mereka dari lidah-lidah masyarakat. Ia berusaha sekuat tenaga untuk membuat masyarakat lupa akan mereka.

Ia memanfaatkan beberapa sahabat yang dipercaya masyarakat untuk membuat hadis-hadis palsu yang sekiranya akan menguntungkannya dan bahkan merugikan Ahlul Bait As. Dan bagaikan sebuah sunah agama, ia mewajibkan setiap orang yang berpidato di atas mimbar-mimbar tanah Islam untuk selalu mencela dan melaknat imam Ali As.

Ia selalu memerintahkan semua anak buah dan kaki tangannya seperti: Ziyad bin Abih, Samrah bin Jundab, Busr bin Urtah, dan orang-orang yang lain untuk menghabisi siapapun yang memiliki hubungan kekerabatan dengan Ahlul Bait As. Ia melakukan segala kekejiannya dengan segala macam cara mulai dari ancaman, siksaan sampai pembunuhan.

Dalam situasi seperti ini, wajar jika masyarakat enggan untuk menyebut nama imam Ali As dan keluarganya. Dan dengan demikian, siapapun yang memiliki hubungan dengan Ahlul Bait As, secara tiba-tiba memotong hubungannya karena takut nyawanya terancam atau harta bendanya dirampas.

Sejarah telah mencatat bahwa masa kepemimpinan imam Husain As sebagai seorang imam adalah sepuluh tahun. Dan selama ia menjadi seorang imam, kecuali beberapa tahun sebelum ajalnya tiba, ia hidup sezaman dengan Mu’awiyah. Selama masa kepemimpinannya sebagai seorang imam yang bertugas untuk menjelaskan hukum dan ajaran-ajaran Islam, tak satupun hadis yang telah diriwayatkan darinya (maksudnya hadis-hadis yang secara langsung didengar oleh masyarakat darinya yang dapat menunjukkan bahwa masyarakat pernah berlalu lalang ke rumahnya untuk menanyakan hukum-hukum Islam. Karena beberapa hadis yang telah diriwayatkan dari beliau adalah hadis yang ditukil oleh imam-imam lain setelahnya; bukan hadis yang diriwayatkan oleh masyarakat biasa secara langsung dari imam Husain As sendiri). Dengan demikian kita dapat memahami bahwa pada waktu itu pintu rumah Ahlul Bait telah tertutup dan tidak ada lalu lalang orang yang mendatangi rumah mereka.

Tekanan dan kondisi kurang mendukung yang telah menyelimuti lingkungan Islam di masa pemerintahan imam Hasan As sebagai imam tidak mengizinkan beliau untuk melanjutkan peperangan melawan Muawiyah. Karena:

Pertama, Muawiyah telah meminta baiat darinya dan dengan adanya baiat, tak seorangpun yang menyertainya.

Kedua, Muawiyah telah menyebut-nyebut dirinya sebagai seorang sahabat terdekat Nabi Muhammad Saw dan salah satu penulis wahyu serta orang yang dipercaya oleh tiga khulafau Arrasyidin semasa mereka hidup. Ia menjadikan sebutan Khal Al-Mukminin sebagai lakab suci bagi dirinya.

Ketiga, dengan tipu dayanya, ia mampu memerintahkan kaki tangannya untuk membunuh imam Hasan As kemudian ia pura-pura bangkit mencari pembunuh dan berlaga seperti orang yang ingin membalas dendam atas terbunuhnya imam Hasan As lalu berpura-pura mengucapkan rasa bela sungkawa kepada keluarganya!

Muawiyah telah berbuat sesuatu yang oleh karenanya imam Hasan sampai-sampai tidak dapat merasakan ketenangan sedikitpun meski di dalam rumah sendiri. Dan ketika ia ingin meminta baiat dari masyarakat untuk anaknya, Yazid, ia membunuh imam Hasan As melalui racun yang diberikan oleh istri imam Hasan As sendiri kepadanya.

Hanya imam Husain As-lah yang setelah kematian Muawiyah bangkit untuk menentang Yazid. Ia mengorbankan diri sendiri, para sahabat, dan keluarga sampai anak-anaknya di jalan ini. Ia sendiri juga tidak mampu melakukan hal ini di masa kehidupan Muawiyah karena akibat tipu daya yang dilakukan Muawiyah, memang pada waktu itu sepertinya kebenaran berada di pihak Muawiyah dan sekutunya.

Inilah penjelasan secara singkat mengenai situasi dan kondisi dunia Islam yang telah diwujudkan oleh Muawiyah. Ia telah menutup rapat pintu rumah Nabi Muhammad Saw. Dan ia juga telah melumpuhkan Ahlul Bait Nabi As sehingga mereka tak kuasa untuk berbuat apa-apa.

Aksi terburuk yang telah ia lakukan terhadap Islam dan kaum Muslimin adalah merubah kekhilafahan Islami menjadi sebuah sistim pemerintahan zalim yang dapat diwariskan kepada setiap orang yang ia kehendaki. Ia telah mendudukkan anaknya, Yazid di kursi pemerintahannya. Padahal Yazid bukanlah seorang manusia yang beragama dan bahkan berpura-pura beragama saja ia tidak pernah. Yazid menghabiskan waktunya untuk berbuat zalim, bermaksiat, menari-nari, dan bermain dengan kera. Ia sama sekali tidak pernah menghormati hukum dan ajaran-ajaran agama. Dan lebih parah dari ini semua, ia sama sekali tidak memiliki keyakinan dan iman kepada agama dan ajaran suci Islam. Salah satu contohnya, ketika para tawanan dari Karbala yang berupa para keluarga Ahlul Bait As beserta kepala-kepala suci yang telah terpisah dari jasad memasuki kota Damaskus, ia bangkit dan pergi menonton mereka dengan penuh kesombongan. Waktu itu, ia mendengar suara burung gagak (yang biasanya adalah pertanda kejadian yang buruk-pent.), ia malah berteriak: “Burung gagak bersuara. Bersuaralah atau jangan bersuara (terserah)! Karena aku telah menagih hutang-hutangku dari rasul.[5]

Begitu juga ketika para tawanan Ahlul Bait dan kepala suci imam Husain As dihadirkan kehadapannya, ia sangat bergembira dan mengucapkan beberapa bait puisi yang salah satu baitnya seperti ini:

Bani Hasyim telah bermain-main dengan kekuasaan

Sungguh tidak ada risalah yang diturunkan dan tak ada juga wahyu.

Pemerintahan Yazid yang bertujuan untuk meneruskan misi politik ayahnya, Muawiyah, telah menjelaskan apa tugas Islam dan kaum Muslimin. Dengan demikian kondisi Ahlul Bait As—padahal hampir saja mereka terlupakan—yang sebenarnya telah terungkap dan semua Muslimin menyadarinya.

Dalam kondisi seperti ini, suatu sikap yang sangat membahayakan keberadaan Islam dan Muslimin adalah membai’at Yazid dan menganggapnya sebagai soerang khalifah yang diridhai nabi dan harus ditaati.

Waktu itu satu-satunya sikap yang harus ditunjukkan oleh imam Husain As adalah menolak untuk membaiat Yazid. Karena jika beliau bersedia membaiatnya, sudah barang tentu bahwa masa depan agama Islam akan hancur. Dengan demikian, tugas imam Husain As adalah melawan Yazid dan Tuhan pun menuntut dilakukannya hal ini oleh imam Husain As.

Dari sisi yang lain, ia mengetahui bahwa jika ia tidak membaiat Yazid, maka ia harus terbunuh. Dengan demikian, hanya ada dua pilihan baginya; membaiat Yazid atau menyerahkan kepalanya. Ia tidak mungkin membaiat Yazid; dengan demikian kesyahidan imam Husain As tidak dapat dihindari lagi.

Demi kebaikan agama dan kaum Muslimin, imam Husain As rela tidak membai’at Yazid meski harus kehilangan nyawanya. Dengan besar hati ia lebih mendahulukan kematian daripada kehidupannya. Dan inilah makna riwayat-riwayat yang mana disebutkan di dalamnya bahwa ketika beliau bermimpi melihat Rasulullah Saw, Rasulullah Saw berkata kepadanya: “Tuhan ingin melihatmu terbunuh.” Beliau sendiri juga sering berkata kepada orang-orang yang berusaha mencegahnya untuk pergi ke Kufah: “Tuhan ingin melihatku terbunuh.” Yang jelas, kehendak Tuhan ini adalah kehendak Tasyri’i[6], bukan Takwini[7]; karena sebagaimana yang telah kami jelaskan sebelumnya bahwa kehendak Takwini Tuhan tidak memiliki dampak dan pengaruh terhadap kehendak makhluk dan perbuatannya.

Ya Sayidus Syuhada As memang lebih memilih untuk tidak membaiat Yazid meski ia harus terbunuh. Ia lebih memilih kematian daripada membaiat Yazid. Tragedi terbunuhnya imam Husain As telah tercatat dalam kitab-kitab sejarah dengan jelas. Syahadah imam Husain As yang sangat menyedihkan dan meluluhkan hati tersebut telah menyingkap betapa terzaliminya mereka. Kejadian di Karbala telah menjelaskan kepada kita siapa yang benar dan siapa yang salah. Setelah kejadian ini pun, sampai dua belas tahun berikutnya, peperangan dan pertumpahan darah terus berlanjut. Dan pintu rumah imam Husain As yang semasa ia hidup selalu tertutup dan tak satupun orang berani mengetuk pintu rumahnya, setelah beberapa tahun, yakni di zaman imam kelima yang mana waktu itu Ahlul Bait As sempat merasakan sedikit ketenangan, mulai terbuka dan masyarakat berbondong-bondong berani mendatanginya. Sejak waktu itulah kediaman kebenaran bersinar dan mulai dikunjungi setiap orang dari pelosok negri yang jauh sekali pun. Sejak waktu itu kemalangan Ahlul Bait As dapat diketahui banyak orang. Dengan demikian jelas sekali perbedaan kondisi Islam ketika imam Husain As masih hidup dengan beberapa tahun setelah ia terbunuh, yakni empat belas abad yang lalu. Hari demi hari kebenaran yang sesungguhnya tersingkap dan keburukan yang tertutupi mulai terbongkar. Sosok imam Husain As semakin dikenal dan bercahaya terang bagi semua orang.

Muawiyah benar-benar menyadari bahwa jika seandainya imam Husain As terbunuh, maka inilah yang akan terjadi. Dengan demikian ia pernah berwasiat kepada anaknya, Yazid, bahwa jika imam Husain As tidak mau membaiatnya, biarlah ia hidup dan jangan sampai ia terbunuh. Muawiyah berwasiat seperti ini bukannya karena merasa kasihan dengan Ahlul Bait As, bahkan karena dia takut jika imam Husain As terbunuh di tangan Yazid, kelak para pengikut dan keturunannya akan marah, memberontak, dan menuntut darahnya. Muawiyah mengerti benar bahwa hal ini akan membahayakan kekuasaan Bani Umayah dan menguntungkan Ahlul Bait As lalu menjadikannya sebagai sarana terbaik untuk berdakwah dan menyebarkan ajaran yang benar.

Sayyidus Syuhada As benar-benar memahami tugas yang diberikan oleh Tuhan kepadanya. Tugas tersebut adalah “tidak membaiat Yazid”. Ia lebih mengerti dari pada yang lain mengenai kekuatan Bani Umayah yang tak tertandingi. Ia juga lebih memahami siapa Yazid sebenarnya. Ia tahu betul bahwa jika ia tidak mau membaiat Yazid, ia pasti akan membunuhnya. Dengan demikian, tugas yang diberikan Tuhan ini adalah sebuah tugas yang berat; taruhannya adalah nyawa dan beliau sendiri sering menyinggung hal ini dalam beberapa kesempatan.

Ketika beliau berada di Madinah, ia pernah berkata: “Orang sepertiku tidak akan membaiat orang seperti Yazid.”

Setelah keluar meninggalkan kota Madinah di malam hari, ia menceritakan bahwa ia pernah bermimpi melihat Rasulullah Saw berkata kepadanya: “Tuhan ingin melihatmu (sebagai sebuah tugas) mati terbunuh.”

Dalam pidato yang ia bacakan ketika ia bergerak dari kota Makkah, untuk menolak ucapan orang-orang yang berusaha mencegahnya untuk pergi ke Kufah, ia juga membicarakan hal tersebut.

Suatu saat seorang Arab terkenal dan ternama berusaha untuk mencegah imam Husain As supaya tidak pergi menuju Kufah; karena tahu bahwa jika imam pergi, ia pasti akan terbunuh. Imam berkata kepadanya: “Saya mengetahui jelas hal ini. Tapi mereka tidak akan pernah melepaskanku; di manapun aku berada, mereka akan memburuku dan membunuhku.” (Sebagian riwayat sedikit memiliki perbedaan dengan riwayat ini. Hal itu mungkin disebabkan perbedaan sanad. Meski demikian, terbukti bahwa kondisi waktu itu memang benar-benar buruk bagi imam Husain As dan keluarganya.)

Sebenarnya maksud kami mengatakan bahwa tujuan imam Husain As adalah menjemput kesyahidan dan Tuhan ingin melihatnya mati syahid, bukan berarti Tuhan memerintahkan imam Husain As untuk tidak membaiat Yazid lalu berteriak kepada anak buahnya “wahai anak buah Yazid! Bunuhlah aku…!”. Jika Tuhan menginginkan hal ini dari imam Husain As, maka betapa menggelikannya tugas ini yang kemudian imam Husain As dengan besar hati mau menjalankannya dan menyebutnya sebagai perjuangan. Sesungguhnya imam Husain As ditugaskan untuk menentang pemerintahan Yazid, tidak membaiatnya dan tidak menuruti kemauannya meski ia harus mati terbunuh.

Dari sinilah kita dapat melihat bahwa setiap sikap dan keputusan imam Husain As dalam suatu masa-masa tertentu berbeda dengan sikap dan keputusannya di saat-saat yang lain dan bergantung dengan situasi dan kondisi yang sedang ia hadapi. Mulanya ia ditekan oleh seorang gubernur di Madinah dan kemudian ia pergi meninggalkan kota Madinah di malam hari lalu ia berlindung beberapa bulan di Makkah yang merupakan kota suci dan Haramullah. Tak lama kemudian keberadaannya di Makkah diketahui oleh kaki tangan Yazid dan mereka berniat untuk membunuhnya di musim Haji atau menangkap dan membawanya ke Syam. Dan di sisi yang lain, imam Husain As kedatangan ribuan surat yang dikirim dari Iraq. Dalam ribuan surat tersebut, penduduk Iraq berjanji untuk memberikan pertolongan dan menyatakan bahwa mereka siap untuk membantu. Mereka mengundang imam Husain As untuk datang ke sana. Dan setelah sampainya sebuah surat terakhir dari penduduk Kufah, sebagai Itmamul Hujjah, (sebagaimana yang diriwayatkan oleh beberapa rawi) ia bergegas untuk berangkat menuju kota tersebut. Mulanya sebagai Itmamul Hujjah ia mengirim seorang wakil bernama Muslim bin Aqil dan beberapa saat kemudian datang surat dari Muslim bin Aqil yang menjelaskan bahwa kondisi memang benar-benar dapat membantu imam Husain As.

Imam berangkat menuju Kufah karena beberapa alasan yang telah disebutkan di atas; yang pertama karena kedatangan beberapa utusan rahasia dari Syam yang berencana untuk membunuh atau menangkap beliau, dan yang kedua demi menjaga kesucian dan keamanan kota Makkah; kemudian karena ia memandang bahwa kota Kufah telah siap untuk ia datangi. Ketika imam Husain As mendengar bahwa Muslim bin Aqil dan Hani telah terbunuh secara mengerikan, rencana beliau untuk bangkit melawan kekuatan Yazid berubah menjadi pertahanan yang sederhana di hadapan kekuatan tak terhingga. Ia menguji para sahabatnya dan menyarankan kepada mereka untuk meninggalkannya lalu hanya tersisia beberapa sahabat berhati mulia saja yang bersama dengan beliau. Hanya beberapa orang saja yang berusaha untuk menemani imam Husain As sampai tetesan darah terakhir beliau.[8]


[1] QS. Al-Jinn: 26 – 27.

[2] Ma’ali As-Sibthain: jil. 2 ; hal.  21 (dengan sedikit perbedaan redaksi).

[3] Keberadaan manusia sebagai pelaku yang memiliki ikhtiar; yakni memiliki kekuasaan untuk melakukan atau tidak melakukan.

[4] Dapat dilakukan dan juga dapat ditinggalkan.

[5] Ditukil oleh Alusi dalam Tafsir Ruh Al-Ma’ani: jil. 26; hal 66, dari kitab sejarah Ibn Al-Wardi dan kitab Wafi Al-Wafiyat.

[6] Yakni kehendak Tuhan yang hanya dapat terwujud dengan dikerjakannya sesuatu yang dikehendaki tersebut oleh makhluk-Nya.

[7] Kehendak yang akan terjadi hanya dengan dikerjakannya sesuatu yang dikehendaki tersebut oleh Dia sendiri.

[8] Tulisan yang telah anda baca tadi telah ditulis oleh Allamah Thabathabai sendiri beberapa tahun yang lalu. Beberapa pembahAsan ini beliau tulis untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh beberapa kelompok peminatnya. Sebagaimana yang Anda ketahui, beliau menjelaskan permasalahan ini dengan sangat sederhana dan ringkas. Sebenarnya, untuk diselesaikannya permasalahan ini, mungkin dibutuhkan beberapa pembahAsan falsafi dan aqli yang cukup susah dan memaksa beliau untuk menulis sebuah buku tersendiri.

Tulisan ini untuk pertama kalinya pada bulan Rabiut Tsani 1391 H dicetak berupa buku kecil yang tebalnya sekitar 32 halaman dan dibagikan secara cuma-cuma kepada setiap orang. Kini agar anda juga dapat membacanya, tulisan ini kami cantumkan di buku ini. (Khosro Shahi).

 

Abu Thalib dikafir musyrikkan oleh Mazhab sunni demi memojokkan Ali AS

Iman Abu Thalib

Ada diskusi menarik antara orang Syiah dan Suni tentang iman Abu Thalib, ayah Ali as.

Orang Suni: “Dalam kitab-kitab kami banyak sekali riwayat tentang Abu Thalib yang bertentangan, sebagian riwayat memuji dan sebagian lagi mencelanya.”

Orang Syiah: “Menurut ulama Syiah, Abu Thalib adalah orang beriman yang berjasa besar untuk Islam.”

Orang Suni: “Kalo begitu, mengapa banyak sekali riwayat yang menjelekkannya?”

Orang Syiah: “Menurutku dosa Abu Thalib satu-satunya adalah karena ia ayah Ali bin Abi Thalib, seorang sahabat yag memiliki banyak musuh. Semua musuhnya menyimpan iri dan dengki di hati. Salah satunya adalah Muawiyah yang membayar siapapun yang mau menciptakan hadits-hadits palsu. Yang mengherankan, begitu parahnya sampai-sampai ada riwayat yang ditukil dari Abu Hurairah bahwa saat nabi menjelang wafat beliau berwasiat agar tangan Ali bin Abi Thalib dipotong.[1]

Oleh karena itu, tuduhan bahwa Abu Thalib adalah musyrik pasti tak jauh dari unsur politik.”

Orang Suni: “Dalam Al Qur’an, ayat 26 surah Al An’am disebutkan: “Dan mereka melarang (orang lain) mendengarkan Al-Quran dan mereka sendiri menjauhkan diri daripadanya…” Yang mana dalam kitab-kitab tafsir kami dijelaskan tentangnya bahwa sebagian orang ada yang berlaga membela nabi padahal dari segi iman justru menjauh dari beliau.”

Orang Syiah: “Bukan seperti itu penjelasan ayat tersebut. Kalaupun memang dapat dimengerti sedemikian rupa, hal apa dari ayat itu yang menjadi alasan kalian mengkafirkan Abu Thalib? Apa bukti maksud ayat tersebut mencakup Abu Thalib juga?”

Orang Suni: “Sufyan Tsauri meriwayatkan dari Habib bin Abi Tsabit bahwa Ibnu Abbas berkata, “Ayat tersebut diturunkan karena Abu Thalib. Karena ia membela nabi namun ia sendiri menjauhinya (dan tidak mengimaninya).”[2]

Orang Syiah: “Aku perlu menjelaskan beberapa hal:

Dengan memperhatikan ayat sebelum dan sesudah ayat tersebut, yang mana berkaitan dengan orang-orang kafir, maknya ayat yang dapat dipahami adalah: “Mereka, orang-orang kafir, mencegah orang-orang untuk mengimani nabi, dan mereka sendiri pun juga tidak mau beriman.”[3]

Di ayat itu disebutkan kata “menjauhkan diri daripadanya…”, padahal Abu Thalib tidak pernah menjauhkan diri dari nabi, justru selalu dekat dengan beliau.

Mengenai riwayat Sufyan Tsauri, yang mana dinisbatkan kepada Ibnu Abbas dan ia berkata bahwa ayat itu diturunkan berkenaan dengan Abu Thalib, riwayat ini perlu dipertanyakan dari berbagai sisi:

Pertama, Sufyan Tsauri adalah orang yang tidak dapat dipercaya dan dikenal oleh para ahli hadits Suni sebagai pembohong.[4] Dan telah ditukil dari Ibnu Mubarak bahwa Sufyan dikenal suka mencapur adukkan yang benar dan yang batil.[5]

Adapun perawi lain yang meriwayatkan riwayat di atas, yakni Habib bin Abi Tsabit, ia pun juga sama seperti yang tadi, begitulah menurut pengakuan Abu Hayyan.[6] Lagi pula riwayat yang ini adalah mursal, yakni tidak jelas siapa perawi-perawi yang menjadi perantara antara Habib hingga Ibnu Abbas.

Ibnu Abbas adalah orang yang dikenal suka mengagungkan Abu Thalib dan menekankan keimanannya. Mana mungkin ia meriwayatkan sebuah riwayat seperti ini?

Di riwayat lainnya, justru ada riwayat dari Ibnu Abbas bahwa orang-orang kafir mencegah semua orang untuk mengikuti Muhammad dan diri merekapun menjauhinya.

Sangkalan lainnya, jika ayat tersebut diturunkan berkenaan dengan Abu Thalib, lalu mengapa ayat itu menggunakan kata “mereka”?

Yang masuk akal adalah maksud ayat itu mencakup paman-paman nabi, yang mana paman nabi ada banyak, namun tiga orang di antara mereka adalah orang baik, seperti Hamzah, Abbas, dan Abu Thalib, yang tidak dimaksud oleh ayat tersebut.

Lagi pula, bukannya kita tahu bahwa nabi selalu menjauhi orang-orang musyrik? Misalnya beliau menjauh dari Abu Lahab. Adapun dengan Abu Thalib, nabi sampai akhir hayat selalu dekat dengannya. Lihatlah tahun di mana Abu Thalib wafat di dalamnya, tahun tersebut dikenal dengan tahun kesedihan.[7]

Apa benar jika kita katakan bahwa nabi sangat mencintai orang musyrik dan saat orang musyrik itu mati beliau sangat bersedih karena kehilangannya? Justru aneh sekali jika demikian. Padahal banyak sekali ayat-ayat Al Qur’an yang memerintahkan beliau untuk menjauhi orang-orang Musyrik.[8]


[1] Syarah Nahjul Balaghah, Ibnu Abil Hadid, jilid 1, halaman 358.

[2] Tafsir Ibnu Katsir, jilid 2, halaman 128.

[3] Al Ghadir, jilid 8, halaman 115.

[4] Mizanul I’tidal, halaman 398.

[5] Tahdzibut Tahdzib, jilid 4, halaman 115.

[6] Ibid, jilid 3, halaman 179.

[7] Tarikh Thabari, sebagaimana yang ditukil oleh kitab Abu Thalib, Mu’minu Quraisy.

[8] Seratus Satu Perdebatan, Muhammad Muhammadi Isytihardi, halaman 337.

Ziarah Abdul Muthalib, Abu Thalib dan iman mereka

Abdul Muthalib kakek nabi, dan Abu Thalib ayah Imam Ali as, dimakamkan di pemakaman Al Hajun, Makkah. Para jamaah Haji Syiah saat melewati pemakaman itu kebanyakan berhenti dan menyempatkan diri menziarahi mereka. Namun selain mereka tidak terlalu mementingkan ziarah itu, dan orang-orang Wahabi bahkan melarangnya.

Pada suatu hari terjadi dialog antara seorang alim dengan Wahabi, petugas Amar Makruf Makkah.

Wahabi: “Mengapa kalian, orang-orang Syiah, suka menziarahi Abdul Muthalib dan Abu Thalib?”

Alim: “Memang apa masalahnya?”

Wahabi: “Abdul Muthalib hidup di zaman fatrah (zaman tanpa nabi). Karena ia meninggal saat Rasulullah saw masih berusia 8 tahun dan belum menjadi nabi. Yakni ia tidak beragama Islam. Lalu untuk apa harus diziarahi? Sedangkan Abu Thalib, ia adalah orang yang mati dalam keadaan musrik!”

Alim: “Tentang Abdul Muthalib, siapa yang berani menyebutnya musyrik? Ia adalah orang yang bertauhid, menyembah Tuhan dan menganut ajaran nabi Ibrahim as.

Dalam kisah penyerangan Ka’bah oleh raja Abrahah diriwayatkan secara jelas perannya. Saat ia mengambil onta-onta yang dirampas oleh tentara Abrahah, raja berkata kepadanya, “Bagiku engkau sangat kecil sekali martabatnya. Engkau datang hanya untuk mengambil onta-ontamu, tidak untuk mencegahku menghancurkan Ka’bah, tempat peribadahanmu.” Abdul Muthalib berkata, “Aku adalah pemilik onta-onta ini. Sedangkan Ka’bah, pemiliknya sendiri yang akan mencegahmu.”

Setelah itu Abdul Muthalib pergi bersimpuh di kaki Ka’bah dan berdoa, “Ya Tuhan, semua orang membela anggota keluarganya. Engkau pun belalah para hamba yang bersimpuh di rumah-Mu.”[1]

Akhirnya doanya pun dikabulkan Tuhan. Burung-burung Ababil berterbangan dan melempari tentara Abrahah dengan batu-batuan dari neraka hingga mereka semua hancur. Kisah inilah yang disebutkan surah Al Fil.

Dalam riwayat-riwayat Syiah disebutkan bahwa Imam Ali as berkata, “Aku bersumpah, bahwa ayahku Abu Thalib, kakekku Abdul Muthalib, sama sekali tidak pernah menyembah berhala. Mereka beribadah menghadap Ka’bah dan memeluk agama Ibrahim as serta berperilaku susai ajarannya.”[2]

Adapun tentang iman Abu Thalib,

Pertama, menurut para ulama Syiah, dan juga para Imam maksum, Abu Thalib meninggal dunia dalam keadaan beriman.

Ibnu Abil Hadid, salah seorang dari ulama Syiah yang sangat terkenal menukil bahwa seseorang bertanya kepada Imam Sajjad as tentang apakah Abu Thalib beriman? Imam menjawab, “Ya.”

Lalu orang lain ikut berbicara, “Di antara kami ada yang mengatakan bahwa Abu Thalib kafir.”

Imam menanggapinya dengan berkata, “Astaga, apakah ia menuduh Rasulullah saw dan Abu Thalib dengan tuduhan yang tidak benar? Rasulullah mencegah pernikahan antara seorang perempuan beriman dengan lelaki kafir. Tak ada yang meragukan Fathimah binti Asad, yang termasuk wanita pertama memeluk Islam. Ia sampai akhir hayatnya tetap menjadi istri Abu Thalib.”[3]

Kedua, banyak riwayat baik dari kalangan Ahlu Sunah pun, bahwa Rasulullah saw pernah berkata kepada ‘Aqil bin Abi Thalib: “Aku mencintaimu karena dua hal: pertma karena engkau termasuk keluargaku, kedua karena aku tahu pamanku Abu Thalib mencintaimu.”[4]

Kecintaan itu membuktikan keimanan Abu Thalib. Karena jika Abu Thalib kafir, maka apa arti kecintaan tersebut bagi seorang nabi?[5]

Jadi keimanan Abu Thalib adalah hal yang jelas jika kita mau merujuk dan membaca. Sayang sekali turun temurun kebanyakan Muslimin menyatakan Abu Thalib adalah orang kafir.

Jelas ada campur tangan politik mengapa Abu Thalib digambarkan sebagai seorang kafir. Tujuannya agar Ali sebagai anaknya terhina dan dianggap sebagai anak seorang lelaki kafir.

Padahal jika kita mau merujuk kepada riwayat-riwayat, Abu Thalib bagaikan “seorang mukmin keluarga Fir’aun” atau “Ashabul Kahfi.”

Diriwayatkan dari Imam Hasan Askari as bahwa Rasulullah ditolong Tuhannya dengan dua kelompok: Kelompok yang menolong secara diam-diam, yang dipimpin oleh Abu Thalib, dan kelompok yang menolong secara terang-terangan, yang dipimpin oleh anaknya, Ali bin Abi Thalib.[6]


[1] Syarah Sirah Ibnu Hisyam, jilid 1, halaman 38; Bulugh Al Arab Al Alusi, jilid 1, halaman 250.

[2] Kamaluddin, halaman 104; Tafsir Al Burhan, jilid 3, halaman 795.

[3] Syarah Nahjul Balaghah, Ibnu Abil Hadid, jilid 3, halaman 312.

[4] Istiy’ab, jilid 2, halaman 509; Dzakhairul Uqba, halaman 222.

[5] Silahkan merujuk Al Ghadir, jilid 7, halaman 330.

[6] Al Hujjah Alal Dzahab, halaman 361.

kebanyakan riwayat-riwayat Al-Kafi adalah Dha’if (lemah).

Riwayat-riwayat Syiah yang bertentangan

Tanya: Banyak sekali pertentangan antara satu riwayat dengan riwayat lain dalam kitab-kitab Syiah sehingga bangkit beberapa ulama untuk menyelaraskan pertentangan-pertentangan itu. Betul tidak?

Jawab: Di masa hidupnya, Rasulullah saw sering mengingatkan tentang adanya para pemalsu hadits di tengah-tengah para sahabatnya. Ia bersabda:

“Janganlah kalian berbohong atasku. Barang siapa berbohong atasku maka ia akan dibakar di api neraka.”[1]

Ia juga bersabda:

“Barang siapa berbohong atasku, maka hendaknya ia menyiapkan tempatnya di api neraka.”[2]

Artinya di masa hidupnya Nabi banyak orang-orang yang bagi Ahlu Sunah adalah sahabat yang adil; padahal mereka sering berbohong atas nama Nabi atau melakukan suatu perbuatan yang mereka suka lalu menisbatkannya kepada beliau.

Apa lagi sepeninggal Nabi, yang mana pada masa itu penulisan hadits secara total dilarang. Banyak orang-orang Yahudi dan Nasrani yang mengaku Muslim namun mereka sering memalsukan hadits. Misalnya Ka’ab Al-Ahbar, Wahab bin Manbah, Tamim Dari, dan lain sebagainya.[3]

Banyaknya hadits-hadits palsu inilah yang menciptakan banyaknya pertentangan antara satu hadits dengan hadits lainnya.

Ibnu Abil Auja’ dibesarkan di rumah Hammad bin Muslim, seorang tokoh hadits besar Ahlu Sunah; ia sering kali menjahili kitab-kitab Hammad dan memalsukan hadits-haditsnya.[4]

Cukup kita mendengar bahwa Bukhari mengaku telah memilih 2.761 hadits dari 600.000 hadits yang ada.

Shahih Muslim memilih 4.000 hadits dari 300.000 hadits yang ada.

Kebanyakan motif dari pemalsuan ini adalah usaha pencapaian kedudukan atau kepentingan materi.

Jika dipikir, andai kita membagi waktu-waktu yang ada pada hayat Nabi menjadi beberapa bagian berbeda-beda, maka kita akan sadari bahwa tidak mungkin Nabi sepanjang umurnya telah mengucapkan sekian banyak hadits, bahkan 1/10 nya saja. Oleh karena itulah ulama Ahlu Sunah hanya mengkategorikan beberapa hadits saja sebagai hadits shahih.

Tentu masih saja banyak ditemukan hadits-hadits palsu sedemikian rupa yang bertentangan dengan hadits-hadits lainnya. Misalnya tentang bahwa Tuhan itu memiliki tubuh, Tuhan bisa dilihat, dan lain sebagainya.

Adapun pertentangan-pertentangan yang ditemukan dalam kitab-kitab hadits Syiah, ya memang ada juga hadits-hadits palsu dalam kitab kami. Namun yang lebih banyak lagi bukanlah faktor pemalsuan yang membuat kita berfikiran bahwa hadits-hadits tersebut terkesan bertentangan, ada faktor-faktor lain seperti:

1. Terpotongnya riwayat

Terkadang ada riwayat yang menukilkan hadits secara sepenggal saja dan penggalan yang lain tidak disebutkan.

2. Riwayat yang hanya menukil kandungan hadits

Sebagian riwayat tidak menyebutkan secara detil hadits atau ucapan maksumin, namun hanya menukilkan kandungan dan maksudnya saja.

3. Pemalsuan hadits

Ada juga hadits-hadits palsu dalam kitab-kitab kami. Kebanyakan adalah ulah para Ghulat (orang-orang Syiah yang berlebihan dalam fahamnya). Misalnya Mughirah bin Sa’id dan Abu Zainab Asadi yang dikenal dengan Abul Khitam; Imam Ja’far Shadiq as menunjuk nama-nama mereka lalu berkata, “Mereka telah berbohong atas aku dan ayahku.”[5]

Dengan demikian ulama Syiah berupaya untuk menyelesaikan masalah-masalah di atas dengan berbagai cara. Yang jelas mereka sama sekali tidak menghiraukan hadits-hadits palsu. Namun bagaimana dengan kitab-kitab anda?


[1] Shahih Bukhari, hadits 106.

[2] Ibid, hadits 107.

[3] Muqadamah Ibnu Haldun, hlm. 439.

[4] Mizanul I’tidal, jld. 1, hlm. 593.

[5] Rijal Kashi, hlm. 196, nomor 103.’

Selain Al Qur'an, kitap apa saja yang disimpan Imam-Imam Syiah

Tanya: Apakah ada kitab selain Al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw? Apakah hanya Ali saja yang mengetahuinya? Apakah kitab-kitab seperti Al-Jami’ah, Shahifah Namus, Shahifah ‘Abithah, Shahifah Du’abatus Saif, Shahifah Ali, Jafr, Mushaf Fathimah, Taurat, Injil dan Zabur juga dimiliki dan disimpan oleh para Imam Syiah?

Jawab: Sepeninggal Rasulullah saw, umat Islam menjadikan Al-Qur’an dan Sunah Nabi sebagai pegangan mereka. Keduanya adalah rukun dasar yang mana berdirinya Islam bergantung pada dua rukun itu. Bagi kami, hadits-hadits para Imam maksum adalah cerminan sunah Nabi; karena kami yakin apa yang mereka katakan pasti dari Nabi.

Untuk menjaga sunah, terkadang Nabi memerintahkan untuk dituliskannya sunah tersebut. Misalnya:

1. Dalam Fathul Makkah, Rasulullah saw berkhutbah lalu setelah itu seseorang dari Yaman mendatangi Nabi lalu meminta agar dituliskan khutbah tersebut untuknya. Rasulullah saw memerintahkan para sahabatnya untuk menuliskan khutbah tersebut.[1]

2. Di akhir hayatnya Rasulullah saw bersabda, “Berilah aku sebuah pena dan kertas agar aku dapat menuliskan wasiat untuk kalian agar kelak kalian tidak akan tersesat.” Namun sayang sekali Umar menghalangi beliau dari penulisan wasiat seraya berkata, “Begitu parah sakit Nabi hingga beliau sampai mengigau. Cukup bagi kami kitab Allah.”[2]

3. Seseorang dari kaum Anshar duduk di dekat Nabi sambil mendengarkan ucapan-ucapannya. Namun ia sering lupa karena ingatannya yang lemah. Lalu ia mengadukan lemahnya ingatan itu kepada Rasulullah saw. Beliau berkata padanya, “Mintalah pertolongan pada menulis.” Yakni ia diperintahkan untuk mencatat daripada hanya mendengarkannya.[3]

Umar bin Syu’aib menukilkan dari kakeknya bahwa ia bertanya kepada Rasulullah saw, “Apakah aku perlu menulis apa yang telah aku dengar darimu?” Beliau menjawab, “Ya, tulislah.”[4]

Al-Qur’an pun memerintahkan jika seandainya kita berhutang kepada seseorang maka kita harus mencatatnya.[5]

Oleh karena alasan begitu pentingnya sunah Nabi, Ali as dan anak-anaknya selalu menulis dan mencatat segala apa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah saw.

Ali bin Abi Thalib as pernah berkata, “Setiap kali aku bertanya pada Nabi, beliau selalu menjawabku. Dan jika aku diam, ia yang selalu memulai memberitahu aku.”[6]

Oleh karena itu, segala kitab dan catatan yang dimiliki oleh Ali as semuanya hadits Nabi yang ia tulis dari apa yang ia dengar dari lisan beliau. Kitab-kitab yang ia tulis memiliki nama yang bermacam-macam dan diwariskan lalu disimpan oleh anak-anak dan keturunan beliau. Dalam riwayat kami sering disebutkan bahwa terkadang Imam Baqir as dan Imam Ja’far Shadiq as memberikan hukum berdasarkan kitab-kitab tersebut.[7]

Bahkan perlu anda ketahui bahwa Ali as tidak hanya selalu mencatat hadits saja, ia merupakan orang pertama yang mencatat Al-Qur’an. Beliau mencatatnya terus menerus selama dua puluh tiga tahun; selama dua puluh tiga tahun, begitu ayat Al-Qur’an diturunkan beliau mencatatnya. Ali as sendiri pernah berkata, “Demi Tuhan, tidak ada satu pun ayat dalam Al-Qur’an kecuali aku tahu untuk apa ayat itu turun dan di mana diturunkannya dan mengenai siapa. Tuhan telah mengkaruniai aku wadah ilmu yang luas dan lidah yang lancar dalam menjelaskannya.”[8]

Oleh karena itu, kitab-kitab yang telah anda sebutkan kebanyakan adalah kitab hadits Nabi. Misalnya seperti Mushaf Fathimah, kita telah jelaskan pula sebelumnya.

Nama-nama kitab yang telah disebutkan dalam pertanyaan tersebut juga disebutkan oleh Bukhari dalam Shahihnya.[9]

Anehnya si penanya menganggap keberadaan kitab-kitab tersebut sebagai titik lemah Syiah. Padahal bagi kami itu kebalikannya. Keberadaan kitab-kitab tersebut justru menunjukkan betapa Ahlul Bait mementingkan terjaganya sunah Nabi.

Di lain sisi, terasa aneh saat kita melihat sejarah Ahlu Sunah bahwa khalifah Umar pernah melarang Muslimin untuk tidak menuliskan hadits.

‘Aisyah pernah berkata, “Suatu malam aku melihat ayahku susah tidur. Aku bertanya apa sebabnya. Namun di pagi hari, dia berkata kepadaku, “Bawakan catatan-catatan hadits yang pernah kau simpan.” Seluruhnya ada sekitar 500 hadits Nabi dalam catatan-catatan itu. Ia mengumpulkannya menjadi satu lalu membakarnya.”[10]

Saat Umar bin Khattab menjadi khalifah, ia menulis surat pengumuman lalu disebarkan; yang isinya: “Barang siapa meulis selain Al-Qur’an dari Nabi, maka hendaknya tulisan itu dilenyapkan.”[11]

Semenjak itulah penulisan hadits dilarang sehingga penulisan hadits mendapatkan kesan buruk bagi masyarakat.

Namun pada pemerintahan Umar bin Abdul Aziz, ia sebagai khalifah merasa bahwa ditinggalkannya penulisan hadits akan mengancam keutuhan sunah nabawi. Kemudian ia menulis surat kepada Abu Bakar bin Hazm (seorang alim di Madinah) untuk menulis kembali hadits-hadits Nabi.[12]

Kondisi yang mencengangkan. Lambat laun muncullah para pedagang hadits yang menjual hadits-hadits palsu buatan mereka sendiri.

Salah jika kita perfikiran bahwa hanya Al-Qur’an saja kitab yang diperlukan umat Islam. Kita perlu kitab-kitab lain yang menjelaskan dan menafsirkan maksud Al-Qur’an.

Adapun para Imam juga menyimpan kitab-kitab langit lainnya seperti Taurat, Injil dan Zabur, itu memang benar dan tidak ada yang perlu dipermasalahkan mengenainya. Saat umat Islam menguasai kandungan kitab-kitab langit lainnya, hal itu dapat menjadi senjata yang ampuh bagi Muslimin untuk meraih kemenangannya saat berdakwah Islam kepada pemeluk agama lain. Sebagai contoh, Imam Ali Ridha as pernah berdebat dengan Ahlul Kitab dengan menggunakan kitab mereka sendiri karena ia menguasai kitab-kitab mereka; kitab yang mana di dalamnya disebutkan tanda-tanda dan ciri-ciri Nabi terakhir, Muhammad saw.


[1] Shahih Bukhari, bab Kitabul Ilm, hadits 112.

[2] Ibid, hadits 114.

[3] Sunan Tirmidzi, jld. 5, hlm. 39.

[4] Ibid, hlm. 125.

[5] Al-Baqarah: 282.

[6] Thabaqat Al-Kubra, Ibnu Sa’ad, jld. 2, hlm. 283; Sunan Tirmidzi, jld. 5, hlm. 638, hadits 2722, dan hlm. 40, hadits 3729; Tarikh Al-Khulafa, Suyuthi, hlm. 170.

[7] Wasailus Syiah, jld. 4.

[8] Thabaqat Al-Kubra, jld. 2, hlm. 338; Kanzul Ummal, jld. 15, hlm. 135.

[9] Shahih Bukhari, bab Kitabatul Ilm, hadits 1.

[10] Tadzkiratul Huffadz, Dzahabi, jld. 1, hlm. 5.

[11] Musnad Ahmad bin Hanbal, jld. 3, hlm. 12 dan 14.

[12] Shahih Bukhari, bab Kaifa Yafidhu Al-Ilm, hadits 4.

Wah, Al-Kafi banyak riwayat dhaifnya

Tanya: Apakah kitab Al-Kafi merupakan Syarah dan kitab tafsir Al-Qur’an? Padahal kebanyakan riwayat-riwayat Al-Kafi adalah Dha’if (lemah).

Jawab: Trik mereka adalah menuduh, lalu mempertanyakan.

Pertama, atas dasar apa anda menyatakan bahwa kebanyakan riwayat-riwayat Al-Kafi adalah Dha’if?

Riwayat-riwayat yang ada dalam Al-Kafi ada empat macam: Shahih, Muwatsaq, Hasan, dab Dha’if.

Ketika Syiah sendiri telah membagi riwayat-riwayat penting mereka menjadi empat bagian seperti di atas, itu menunjukkan bahwa Syiah menerima realita yang ada mengenai riwayat-riwayat mereka. Karena bagi kami tidak ada satupun kitab yang Shahih selain Al-Qur’an. Adapun kitab-kitab lainnya, kita perlu teliti kebenarannya dan juga menimbangnya.

Allamah Majlisi dalam kitab Mir’at Al-’Uqul telah menentukan keempat macam riwayat tersebut.

Penyusun Al-Kafi dalam pendahuluan kitabnya menyebutkan tolak ukurnya dalam menimbang riwayat yang mana tolak ukur tersebut berasal dari para Imam:

“Coba sandingkan dengan Al-Qur’an. Jika sesuaui dengan kandungan Al-Qur’an, maka ambillah (riwayat itu). Namun jika bertentangan dengan Al-Qur’an, maka tolaklah.”[1]

Namun kebalikannya, Ahlu Hadits dan para Salafi, mereka menganggap dari ujung ke ujung Shahih Bukhari dan Muslim semuanya Shahih. Dan akhirnya kini mereka kerepotan sendiri.

Kedua, mengenai Al-Kafi adalah Syarah dan tafsir Al-Qur’an, jika yang dimaksud adalah Al-Kafi menjelaskan hukum-hukum shalat, puasa, zakat, haji dan jihad secara rinci, maka bukan hanya Al-Kafi aja yang sedemikian rupa. Semua kitab-kitab riwayat kami juga seperti itu. Bahkan begitu pula seluruh Shihah dan Sunan milik Ahlu Sunah juga menafsirkan Al-Qur’an sedemikian rupa. Namun jika yang dimaksud adalah, Al-Kafi ditulis dengan tujuan menafsirkan Al-Qur’an, dan susunannya adalah susunan tafsir, maka itu tidak betul.

Seperti apapun Al-Kafi, kami tidak menganggap seluruh riwayatnya Shahih. Kami selalu memilah-milah riwayat, karena semuanya tidak sama. Kebalikannya, kaum Salafi menerima semua Khabar Wahid tidak hanya dalam masalah-masalah Fiqih saja, namun mereka menerimanya dalam dunia praktek atau Amali dan bahkan perkara-perkara keyakinan atau Aqidah. Akhirnya mereka sendiri mengalami banyak masalah saat ini dalam dunia Aqidah.

Akhir-akhir ini di Madinah diadakan sebuah pertemuan dan pembahasan mengenai ke-Hujjah-an Khabar Wahid dalam perkara Aqidah. Kurang lebih seluruh pesertanya, yang mana kebanyakan adalah salafi, setuju dengan itu. Oleh karena itu Aqidah mereka berdiri atas dasar Khabar Wahid. Efeknya, mereka kini meyakini Tajsim, Tashbih, dan determinasi.


[1] Al-Kafi, jld. 1, hlm. 8.

Istilah Thaqalain diucapkan oleh Rasulullah saw di khutbah terakhirnya seusai haji (haji Wada’).

Thaqalain dalam bahasa Arab berarti dua “thaqal”. Kata “thaqal” berarti bekal yang dibawa oleh seorang musafir. Sebagian ahli bahasa lainnya berkeyakinan bahwa kata yang benar adalah “thiql” yang berarti “beban yang berat” atau “harta berharga”. Thaqalain adalah dua hal yang berat. Istilah Thaqalain diucapkan oleh Rasulullah saw di khutbah terakhirnya seusai haji (haji Wada’).

Saat itu beliau berkhutbah menjelaskan dua wasiat berharganya:

Bahwa sesungguhnya aku meninggalkan dua hal besar bagi kalian yang jika kalian berpegangan kepada keduanya, pasti kalian tak akan tersesat selamanya. Yang pertama adalah Al Qur’an, kitab Allah, tali yang memanjang ke langit. Yang kedua adalah Ahlul Baitku. Sungguh Tuhan yang Maha Tinggi telah memberitakan padaku bahwa keduanya tidak akan berpisah hingga hari nanti.

Hadits ini disebutkan dalam referensi-referensi berikut:

Shahih Turmudzi, jilid 5, halaman 662, ditukil dari lebih dari 30 sahabat; Mustadrak Hakim, pasal Fadhilah para Sahabat, jilid 3, halaman 109, 110, 148, 533; Sunan Ibnu Majah, jilid 2, halaman 432; Musnad Ahmad bin Hambal, jilid 3, halaman 14, 17, 26, 59, dan jilid 4, halaman 366, 372; Khasaish Nasa’i, halaman 21 dan 30; Shawaiqul Muhriqah, Ibnu Hajar ‘Asqalani, pasal 11, bagian 1, halaman 230; Kabir, Thabrani, jilid 3, halaman 62; Kanzul Ummal, Muttaqi Hindi, pasal I’tishab bi Hablullah, jilid 1, halaman 44; Tafsir Ibnu Katsir, jilid 4, halaman 113, tafsir ayat 42:23; Thabaqatul Kubra, Ibnu Sa’ad, jilid 2, halaman 194; Majma’uz Zawaid, Haitsami, jilid 9, halaman 163; Durrul Mantsur, Suyuthi, jilid 2, halaman 60; Yanabi’ul Mawaddah, Qunduzi Hanafi, halaman 38, 183; dan masih banyak lagi…

Bagaimana orang-orang Iran menjadi Syiah

Jika dipikir-pikir, Islam masuk di Iran saat khalifah kedua, Umar bin Khattab, berkuasa; lalu bagaimana bisa kebanyakan penduduk Iran memiliki faham Syiah? Ternyata sejarah mencatat bahwa orang-orang Iran mengalami proses panjang untuk menjadi Syiah, yakni tepatnya sejak abad pertama hingga abad kedua Hijriah.

Ada dialog antara seorang Zoroaster dengan Alim Syiah tentang masalah ini. Mari kita simak dialog tersebut:

Tanya: “Aku pikir yang dapat menjad faktor  mengapa orang-orang Syiah dapat dengan mudah menjadi Syiah adalah hal-hal berikut ini:

1. Orang-orang Iran sudah terbiasa dengan sistim pemerintahan kerajaan, sehingga mereka dengan mudah menerima pemerintahan yang berlangsung turun temurun, yaitu imamah (keimaman para Imam Syiah).

2. Orang-orang Iran sejak dulu meyakini kekuasaan para raja adalah kekuasaan Ilahi yang sudah ditakdirkan Tuhan, yang mana keyakinan seperti ini sejalan dengan akidah Syiah Imamiah.

3. Pernikahan Imam Husain as dengan Syahrbanu, putri Yazdgird ke-3, raja Sasanid terakhir, adalah salah satu faktor mengapa faham Syiah dengan mudah tersebar.

4. Faham Syiah mengandung unsur kebanggaan diri orang-orang Persia di hadapan bangsa Arab. Oleh karena itu Syiah adalah buatan orang-orang Iran.”

Jawab: “Tak satu pun dari empat hal di atas yang menjadi faktor ke-Syiahan orang-orang Iran. Karena pondasi pertama Syiah sudah ada di jaman nabi Muhammad saw, yang kemudian pengikut Syiah mulai bertambah mulai dari Salman, Abu Dzar, Miqdad dan seterusnya.

Sejarah bahkan tidak membenarkan apa yang anda nyatakan tentang bagaimana orang-orang Iran menanggapi kerajaan-kerajaan yang ada. Justru orang-orang Iran kesal dengan kerjaan Sasanid saat itu karena mereka tidak melihat adanya keadilan dan kesejahteraan pada rakyat, dan tentunya mereka membenci pemerintahan yang turun menurun seperti itu. Mereka haus dengan datangnya aturan baru yang adil dan benar.

Adapun pernikahan Imam Husain as dengan putri Yazdgird, memang memiliki efek bagi ke-Syiahan orang-orang Iran; namun itu bukanlah faktor utama.”

T: “Jika memang demikian, apa faktor utama itu?”

J: “Panjang ceritanya. Ada 11 faktor yang dapat saya sebutkan mengapara kini kebanyakan penduduk Iran memeluk mazhab Syiah Imamiah, yang mana faktor-faktor tersebut adalah fase yang terus dilewati hingga akhirnya rakyat Iran menjadi seperti apa yang ada sekarang:

1. Pada pertengahan pertama abad ke-1 Hijriah, rakyat Iran memang sedang haus dengan datangnya pemerintahan baru yang adil dan benar. Oleh karena itu dengan kedatangan Islam mereka begitu menyambut dengan penuh kegembiraan. Salman Alfarisi memiliki peran utama dalam hal ini. Ia menjadikan Madain, ibu kota pemerintahan Sasanid waktu itu, sebagai pusat dakwah penyebaran Islam di Persia. Salman mempelajari Islam dari Ali as, dan Ali as dari Rasulullah saw. Yang mana ajaran tersebut adalah ajaran Syiah. Lalu orang-orang Persia pun mempelajari Islam dari Salman Al Farisi; demikian jalurnya.

2. Pemerintahan Islam di masa kekhalifahan Imam Ali as berpusat di Kufah, sebuah kota yang mana orang-orang Persia sering berlalu lalang di sana. Keadilan dan kecintaan beliau kepada rakyat menarik perhatian orang-orang Persia saat itu dan tentunya menjadi faktor mereka mau memeluk Islam.

3. Kebangkitan Imam Husain as yang dikenal dengan peristiwa Karbala. Amarah umat Islam yang sebenarnya pasca terbunuhnya Imam Husain as membuat berita tragis itu tersebar ke mana-mana, hingga ke telinga Muslimin (dan juga selainnya) di Persia. Berita mengejutkan tersebut membuat mereka bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi, dan menggiring mereka mengenal Syiah.

4. Masa keemasan para Imam di jaman Imam Shadiq as sangat memukau. Beliau sampai memiliki lebih dari empat ribu murid, yang setiap dari mereka adalah penyebar ajaran Islam. Yang tentunya memiliki peran istimewa tersebarnya faham Syiah di Iran.

5. Qom adalah tempat aman bagi para imigran Syiah Iraq yang datang ke Iran. Oleh karena itu keberadaan kota suci Qom juga memiliki peran penting tersebarnya faham Syiah di Iran.

6. Diasingkannya Imam Ridha as dari Madinah ke Khurasan (sebuah propinsi di Iran) juga menjadi faktor penting dalam masalah ini.

7. Kedatangan para pecinta Imam Ridha as ke Khurasan, yang akhirnya mereka menyebar di Iran, dan menjadi mubaligh yang mengajarkan faham Ahlul Bait.

8. Lambat laun semakin banyak ulama besar Syiah yang bermunculan, dan mereka membantu tersebarnya faham Syiah ke seluruh penjuru Iran. Mereka misalnya seperti Syaikh Kulaini, Syaikh Thusi, Syaikh Shaduq,  Syaikh Mufid, dan…

9. Pemerintahan dinasti Buwaih (Ali Buwaih) menjadi faktor penting penyebaran Syiah di Iran, yang mana pemerintahan itu adalah pemerintahan Islami Syiah.

10. Menjadi Syiah-nya Sultan Khoda Bandeh berkat Allamah Hilli di permulaan abad ke-8 Hijriah membuat Syiah semakin dikenal akhirnya diresmikan sebagai mazhab di Iran.

11. Berdirinya pemerintahan Shafawiyah yang dipengaruhi oleh ulama Syiah di abad ke-10 dan 11 Hijriah.”

Tanya: Dalam kitab Al-Tauhid karya Syeikh Shoduq, tepatnya ketika memberikan penjelasan mengenai orang-orang yang bertauhid, membawakan sebuah riwayat dari Nabi Muhammad Saw yang berbunyi, “Dan sesungguhnya orang-orang yang bertauhid akan memberikan syafaat ….”[1]Siapakah yang akan menerima syafaat dari mereka? Apakah orang-orang yang tidak bertauhid? Saya tahu, itu tidak mungkin. Oleh karenanya, sudi kiranya Anda memberi sedikit penjelasan.

Jawab: dalam riwayat “Dan sesungguhnya orang-orang yang bertauhid akan memberikan syafaat …” terdapat dua penafsiran. Pertama, yang dimaksud dengan orang-orang yang bertauhid adalah ahli tauhid dan ulama yang telah mencapai tingkat kesempurnaan sebagaimana ayat ini:

“Orang-orang yang menyembah selain-Nya tidak dapat memberikan syafaat kecuali orang-orang yang bersaksi akan kebenaran dan benar-benar faham.”[2]

Dan ayat:

… kecuali orang-orang yang telah diberi izin oleh Allah dan berkata benar.”[3]

Penafsiran kedua, maksud riwayat di atas adalah syafaat orang-orang yang bertauhid untuk orang-orang mustadhafin[4] yang tentang mereka Allah Swt berfirman:

“Dan golongan yang lainnya adalah orang-orang yang terserah apa keputusan Tuhan mengenai mereka; mengadzab mereka ataukah mengampuni mereka …”[5]

Dan tampaknya kebanyakan manusia di dunia ini adalah orang-orang mustadhafin.


[1] Syeikh Shaduq: Al-Tauhid: hal. 29 & 31.

[2] QS. Az-Zukhruf: 86.

[3] QS. An-Naba’: 38.

[4] Yang dimaksud dengan orang-orang mustadhafin adalah orang-orang yang tak mampu memiliki keyakinan yang benar. Silahkan merujuk kitab-kitab tafsir.

[5] QS. At-Taubah: 106.

Riwayat-riwayat Syiah yang bertentangan ?? wahabi tidak memahami syiah

Riwayat-riwayat Syiah yang bertentangan

Tanya: Banyak sekali pertentangan antara satu riwayat dengan riwayat lain dalam kitab-kitab Syiah sehingga bangkit beberapa ulama untuk menyelaraskan pertentangan-pertentangan itu. Betul tidak?

Jawab: Di masa hidupnya, Rasulullah saw sering mengingatkan tentang adanya para pemalsu hadits di tengah-tengah para sahabatnya. Ia bersabda:

“Janganlah kalian berbohong atasku. Barang siapa berbohong atasku maka ia akan dibakar di api neraka.”[1]

Ia juga bersabda:

“Barang siapa berbohong atasku, maka hendaknya ia menyiapkan tempatnya di api neraka.”[2]

Artinya di masa hidupnya Nabi banyak orang-orang yang bagi Ahlu Sunah adalah sahabat yang adil; padahal mereka sering berbohong atas nama Nabi atau melakukan suatu perbuatan yang mereka suka lalu menisbatkannya kepada beliau.

Apa lagi sepeninggal Nabi, yang mana pada masa itu penulisan hadits secara total dilarang. Banyak orang-orang Yahudi dan Nasrani yang mengaku Muslim namun mereka sering memalsukan hadits. Misalnya Ka’ab Al-Ahbar, Wahab bin Manbah, Tamim Dari, dan lain sebagainya.[3]

Banyaknya hadits-hadits palsu inilah yang menciptakan banyaknya pertentangan antara satu hadits dengan hadits lainnya.

Ibnu Abil Auja’ dibesarkan di rumah Hammad bin Muslim, seorang tokoh hadits besar Ahlu Sunah; ia sering kali menjahili kitab-kitab Hammad dan memalsukan hadits-haditsnya.[4]

Cukup kita mendengar bahwa Bukhari mengaku telah memilih 2.761 hadits dari 600.000 hadits yang ada.

Shahih Muslim memilih 4.000 hadits dari 300.000 hadits yang ada.

Kebanyakan motif dari pemalsuan ini adalah usaha pencapaian kedudukan atau kepentingan materi.

Jika dipikir, andai kita membagi waktu-waktu yang ada pada hayat Nabi menjadi beberapa bagian berbeda-beda, maka kita akan sadari bahwa tidak mungkin Nabi sepanjang umurnya telah mengucapkan sekian banyak hadits, bahkan 1/10 nya saja. Oleh karena itulah ulama Ahlu Sunah hanya mengkategorikan beberapa hadits saja sebagai hadits shahih.

Tentu masih saja banyak ditemukan hadits-hadits palsu sedemikian rupa yang bertentangan dengan hadits-hadits lainnya. Misalnya tentang bahwa Tuhan itu memiliki tubuh, Tuhan bisa dilihat, dan lain sebagainya.

Adapun pertentangan-pertentangan yang ditemukan dalam kitab-kitab hadits Syiah, ya memang ada juga hadits-hadits palsu dalam kitab kami. Namun yang lebih banyak lagi bukanlah faktor pemalsuan yang membuat kita berfikiran bahwa hadits-hadits tersebut terkesan bertentangan, ada faktor-faktor lain seperti:

1. Terpotongnya riwayat

Terkadang ada riwayat yang menukilkan hadits secara sepenggal saja dan penggalan yang lain tidak disebutkan.

2. Riwayat yang hanya menukil kandungan hadits

Sebagian riwayat tidak menyebutkan secara detil hadits atau ucapan maksumin, namun hanya menukilkan kandungan dan maksudnya saja.

3. Pemalsuan hadits

Ada juga hadits-hadits palsu dalam kitab-kitab kami. Kebanyakan adalah ulah para Ghulat (orang-orang Syiah yang berlebihan dalam fahamnya). Misalnya Mughirah bin Sa’id dan Abu Zainab Asadi yang dikenal dengan Abul Khitam; Imam Ja’far Shadiq as menunjuk nama-nama mereka lalu berkata, “Mereka telah berbohong atas aku dan ayahku.”[5]

Dengan demikian ulama Syiah berupaya untuk menyelesaikan masalah-masalah di atas dengan berbagai cara. Yang jelas mereka sama sekali tidak menghiraukan hadits-hadits palsu. Namun bagaimana dengan kitab-kitab anda?


[1] Shahih Bukhari, hadits 106.

[2] Ibid, hadits 107.

[3] Muqadamah Ibnu Haldun, hlm. 439.

[4] Mizanul I’tidal, jld. 1, hlm. 593.

[5] Rijal Kashi, hlm. 196, nomor 103.’

Selain Al Qur'an, kitap apa saja yang disimpan Imam-Imam Syiah

Tanya: Apakah ada kitab selain Al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw? Apakah hanya Ali saja yang mengetahuinya? Apakah kitab-kitab seperti Al-Jami’ah, Shahifah Namus, Shahifah ‘Abithah, Shahifah Du’abatus Saif, Shahifah Ali, Jafr, Mushaf Fathimah, Taurat, Injil dan Zabur juga dimiliki dan disimpan oleh para Imam Syiah?

Jawab: Sepeninggal Rasulullah saw, umat Islam menjadikan Al-Qur’an dan Sunah Nabi sebagai pegangan mereka. Keduanya adalah rukun dasar yang mana berdirinya Islam bergantung pada dua rukun itu. Bagi kami, hadits-hadits para Imam maksum adalah cerminan sunah Nabi; karena kami yakin apa yang mereka katakan pasti dari Nabi.

Untuk menjaga sunah, terkadang Nabi memerintahkan untuk dituliskannya sunah tersebut. Misalnya:

1. Dalam Fathul Makkah, Rasulullah saw berkhutbah lalu setelah itu seseorang dari Yaman mendatangi Nabi lalu meminta agar dituliskan khutbah tersebut untuknya. Rasulullah saw memerintahkan para sahabatnya untuk menuliskan khutbah tersebut.[1]

2. Di akhir hayatnya Rasulullah saw bersabda, “Berilah aku sebuah pena dan kertas agar aku dapat menuliskan wasiat untuk kalian agar kelak kalian tidak akan tersesat.” Namun sayang sekali Umar menghalangi beliau dari penulisan wasiat seraya berkata, “Begitu parah sakit Nabi hingga beliau sampai mengigau. Cukup bagi kami kitab Allah.”[2]

3. Seseorang dari kaum Anshar duduk di dekat Nabi sambil mendengarkan ucapan-ucapannya. Namun ia sering lupa karena ingatannya yang lemah. Lalu ia mengadukan lemahnya ingatan itu kepada Rasulullah saw. Beliau berkata padanya, “Mintalah pertolongan pada menulis.” Yakni ia diperintahkan untuk mencatat daripada hanya mendengarkannya.[3]

Umar bin Syu’aib menukilkan dari kakeknya bahwa ia bertanya kepada Rasulullah saw, “Apakah aku perlu menulis apa yang telah aku dengar darimu?” Beliau menjawab, “Ya, tulislah.”[4]

Al-Qur’an pun memerintahkan jika seandainya kita berhutang kepada seseorang maka kita harus mencatatnya.[5]

Oleh karena alasan begitu pentingnya sunah Nabi, Ali as dan anak-anaknya selalu menulis dan mencatat segala apa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah saw.

Ali bin Abi Thalib as pernah berkata, “Setiap kali aku bertanya pada Nabi, beliau selalu menjawabku. Dan jika aku diam, ia yang selalu memulai memberitahu aku.”[6]

Oleh karena itu, segala kitab dan catatan yang dimiliki oleh Ali as semuanya hadits Nabi yang ia tulis dari apa yang ia dengar dari lisan beliau. Kitab-kitab yang ia tulis memiliki nama yang bermacam-macam dan diwariskan lalu disimpan oleh anak-anak dan keturunan beliau. Dalam riwayat kami sering disebutkan bahwa terkadang Imam Baqir as dan Imam Ja’far Shadiq as memberikan hukum berdasarkan kitab-kitab tersebut.[7]

Bahkan perlu anda ketahui bahwa Ali as tidak hanya selalu mencatat hadits saja, ia merupakan orang pertama yang mencatat Al-Qur’an. Beliau mencatatnya terus menerus selama dua puluh tiga tahun; selama dua puluh tiga tahun, begitu ayat Al-Qur’an diturunkan beliau mencatatnya. Ali as sendiri pernah berkata, “Demi Tuhan, tidak ada satu pun ayat dalam Al-Qur’an kecuali aku tahu untuk apa ayat itu turun dan di mana diturunkannya dan mengenai siapa. Tuhan telah mengkaruniai aku wadah ilmu yang luas dan lidah yang lancar dalam menjelaskannya.”[8]

Oleh karena itu, kitab-kitab yang telah anda sebutkan kebanyakan adalah kitab hadits Nabi. Misalnya seperti Mushaf Fathimah, kita telah jelaskan pula sebelumnya.

Nama-nama kitab yang telah disebutkan dalam pertanyaan tersebut juga disebutkan oleh Bukhari dalam Shahihnya.[9]

Anehnya si penanya menganggap keberadaan kitab-kitab tersebut sebagai titik lemah Syiah. Padahal bagi kami itu kebalikannya. Keberadaan kitab-kitab tersebut justru menunjukkan betapa Ahlul Bait mementingkan terjaganya sunah Nabi.

Di lain sisi, terasa aneh saat kita melihat sejarah Ahlu Sunah bahwa khalifah Umar pernah melarang Muslimin untuk tidak menuliskan hadits.

‘Aisyah pernah berkata, “Suatu malam aku melihat ayahku susah tidur. Aku bertanya apa sebabnya. Namun di pagi hari, dia berkata kepadaku, “Bawakan catatan-catatan hadits yang pernah kau simpan.” Seluruhnya ada sekitar 500 hadits Nabi dalam catatan-catatan itu. Ia mengumpulkannya menjadi satu lalu membakarnya.”[10]

Saat Umar bin Khattab menjadi khalifah, ia menulis surat pengumuman lalu disebarkan; yang isinya: “Barang siapa meulis selain Al-Qur’an dari Nabi, maka hendaknya tulisan itu dilenyapkan.”[11]

Semenjak itulah penulisan hadits dilarang sehingga penulisan hadits mendapatkan kesan buruk bagi masyarakat.

Namun pada pemerintahan Umar bin Abdul Aziz, ia sebagai khalifah merasa bahwa ditinggalkannya penulisan hadits akan mengancam keutuhan sunah nabawi. Kemudian ia menulis surat kepada Abu Bakar bin Hazm (seorang alim di Madinah) untuk menulis kembali hadits-hadits Nabi.[12]

Kondisi yang mencengangkan. Lambat laun muncullah para pedagang hadits yang menjual hadits-hadits palsu buatan mereka sendiri.

Salah jika kita perfikiran bahwa hanya Al-Qur’an saja kitab yang diperlukan umat Islam. Kita perlu kitab-kitab lain yang menjelaskan dan menafsirkan maksud Al-Qur’an.

Adapun para Imam juga menyimpan kitab-kitab langit lainnya seperti Taurat, Injil dan Zabur, itu memang benar dan tidak ada yang perlu dipermasalahkan mengenainya. Saat umat Islam menguasai kandungan kitab-kitab langit lainnya, hal itu dapat menjadi senjata yang ampuh bagi Muslimin untuk meraih kemenangannya saat berdakwah Islam kepada pemeluk agama lain. Sebagai contoh, Imam Ali Ridha as pernah berdebat dengan Ahlul Kitab dengan menggunakan kitab mereka sendiri karena ia menguasai kitab-kitab mereka; kitab yang mana di dalamnya disebutkan tanda-tanda dan ciri-ciri Nabi terakhir, Muhammad saw.


[1] Shahih Bukhari, bab Kitabul Ilm, hadits 112.

[2] Ibid, hadits 114.

[3] Sunan Tirmidzi, jld. 5, hlm. 39.

[4] Ibid, hlm. 125.

[5] Al-Baqarah: 282.

[6] Thabaqat Al-Kubra, Ibnu Sa’ad, jld. 2, hlm. 283; Sunan Tirmidzi, jld. 5, hlm. 638, hadits 2722, dan hlm. 40, hadits 3729; Tarikh Al-Khulafa, Suyuthi, hlm. 170.

[7] Wasailus Syiah, jld. 4.

[8] Thabaqat Al-Kubra, jld. 2, hlm. 338; Kanzul Ummal, jld. 15, hlm. 135.

[9] Shahih Bukhari, bab Kitabatul Ilm, hadits 1.

[10] Tadzkiratul Huffadz, Dzahabi, jld. 1, hlm. 5.

[11] Musnad Ahmad bin Hanbal, jld. 3, hlm. 12 dan 14.

[12] Shahih Bukhari, bab Kaifa Yafidhu Al-Ilm, hadits 4.

Wah, Al-Kafi banyak riwayat dhaifnya

Tanya: Apakah kitab Al-Kafi merupakan Syarah dan kitab tafsir Al-Qur’an? Padahal kebanyakan riwayat-riwayat Al-Kafi adalah Dha’if (lemah).

Jawab: Trik mereka adalah menuduh, lalu mempertanyakan.

Pertama, atas dasar apa anda menyatakan bahwa kebanyakan riwayat-riwayat Al-Kafi adalah Dha’if?

Riwayat-riwayat yang ada dalam Al-Kafi ada empat macam: Shahih, Muwatsaq, Hasan, dab Dha’if.

Ketika Syiah sendiri telah membagi riwayat-riwayat penting mereka menjadi empat bagian seperti di atas, itu menunjukkan bahwa Syiah menerima realita yang ada mengenai riwayat-riwayat mereka. Karena bagi kami tidak ada satupun kitab yang Shahih selain Al-Qur’an. Adapun kitab-kitab lainnya, kita perlu teliti kebenarannya dan juga menimbangnya.

Allamah Majlisi dalam kitab Mir’at Al-’Uqul telah menentukan keempat macam riwayat tersebut.

Penyusun Al-Kafi dalam pendahuluan kitabnya menyebutkan tolak ukurnya dalam menimbang riwayat yang mana tolak ukur tersebut berasal dari para Imam:

“Coba sandingkan dengan Al-Qur’an. Jika sesuaui dengan kandungan Al-Qur’an, maka ambillah (riwayat itu). Namun jika bertentangan dengan Al-Qur’an, maka tolaklah.”[1]

Namun kebalikannya, Ahlu Hadits dan para Salafi, mereka menganggap dari ujung ke ujung Shahih Bukhari dan Muslim semuanya Shahih. Dan akhirnya kini mereka kerepotan sendiri.

Kedua, mengenai Al-Kafi adalah Syarah dan tafsir Al-Qur’an, jika yang dimaksud adalah Al-Kafi menjelaskan hukum-hukum shalat, puasa, zakat, haji dan jihad secara rinci, maka bukan hanya Al-Kafi aja yang sedemikian rupa. Semua kitab-kitab riwayat kami juga seperti itu. Bahkan begitu pula seluruh Shihah dan Sunan milik Ahlu Sunah juga menafsirkan Al-Qur’an sedemikian rupa. Namun jika yang dimaksud adalah, Al-Kafi ditulis dengan tujuan menafsirkan Al-Qur’an, dan susunannya adalah susunan tafsir, maka itu tidak betul.

Seperti apapun Al-Kafi, kami tidak menganggap seluruh riwayatnya Shahih. Kami selalu memilah-milah riwayat, karena semuanya tidak sama. Kebalikannya, kaum Salafi menerima semua Khabar Wahid tidak hanya dalam masalah-masalah Fiqih saja, namun mereka menerimanya dalam dunia praktek atau Amali dan bahkan perkara-perkara keyakinan atau Aqidah. Akhirnya mereka sendiri mengalami banyak masalah saat ini dalam dunia Aqidah.

Akhir-akhir ini di Madinah diadakan sebuah pertemuan dan pembahasan mengenai ke-Hujjah-an Khabar Wahid dalam perkara Aqidah. Kurang lebih seluruh pesertanya, yang mana kebanyakan adalah salafi, setuju dengan itu. Oleh karena itu Aqidah mereka berdiri atas dasar Khabar Wahid. Efeknya, mereka kini meyakini Tajsim, Tashbih, dan determinasi.


[1] Al-Kafi, jld. 1, hlm. 8.

Keyakinan tentang Bada’: apakah berarti para Imam lebih tinggi dari Tuhan? membantah wahabi dungu

Keyakinan tentang Bada', yakni para Imam lebih tinggi dari Tuhan

Tanya: Bada’ termasuk kepercayan dan akidah Syiah, padahal di sisi lain mereka meyakini para Imam mengetahui ilmu ghaib. Apakah para Imam lebih tinggi dari Tuhan?

Jawab: Pertanyaan di atas diutarakan berdasarkan sebuah kitab yang ditulis oleh Syaikh Nashir Qafari, yang termasuk sekongkol Salafi.

Kitab tulisan Syaikh Qafari penuh dengan tuduhan yang tidak berdalil terhadap Syiah, yang tentunya ia belajar dari gurunya, Ibnu Taimiyah. Pantas di dalam penuh dengan tuduhan yang tidak masuk akal. Sebagai contoh saya jelaskan beberapa di antaranya; Ia menulis, “Di Iran Imam Khumaini menambahkan namanya sebelum dua syahadat dalam adzan.”[1]

Saya heran mengapa penanya hanya membaca buku orang seperti ini.

Penanya bertanya tentang bada’, lalu berkata bahwa Syiah meyakini bada’; kemudian secara mengherankan ia menyimpulkan bahwa Syiah menganggap para Imamnya lebih tinggi dari Tuhan. Nalar apakah yang telah digunakannya hingga berlogika seperti ini?

Saya akan menjelaskan kedua masalah di atas:

Pertama, bada’ yakni seorang manusia merubah nasib baiknya karena telah melakukan perbuatan buruk. Begitu juga, manusia dapat merubah nasib buruknya dengan melakukan amal perbuatan baik. Allah swt berfirman:

“Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh mahfuzh).” (Ar-Ra’d: 39)

Seorang ahli hadits besar dari kalangan Ahlu Sunah, Jalaluddin Suyuthi dalam kitabnya Ad Durr Al-Mantsur, dalam menafsirkan ayat tersebut membawakan beberapa riwayat dari Nabi yang intinya manusia dapat merubah sebagian dari nasib yang telah ditakdirkan Tuhan dengan melakukan amal perbuatan baik, misalnya berbuat baik kepada orang tua, atau bersedekah, dan lain sebagainya. Misalnya salah satu hadits yang ia bawakan seperti “Sedekah dapat menolak bala’.”[2]

Bada’ dengan pengertian seperti ini dapat diterima oleh semua Muslimin. Bada’ bukan berarti Tuhan tidak tahu akan takdir hambanya. Sebagai contoh, kaum Nabi Yunus telah ditakdirkan untuk menerima adzab karena pertentangannya. Nabi mereka telah memberitahukan mereka bahwa Tuhan hendak mengadzab mereka, beliau pun pergi meninggalkan kawasan yang mereka tinggali itu dan menjauhinya. Namun ternyata mereka menyesal, mereka mendengar perkataan seseorang lalu mereka bersama-sama pergi ke gurun dan meratapi dosa mereka sampai maningisinya. Allah swt menerima taubat mereka dan akhirnya Ia tidak jadi menurunkan siksaan-Nya. Kisah ini disebutkan dalam ayat yang berbunyi:

“Dan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? Tatkala mereka (kaum Yunus itu), beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai kepada waktu yang tertentu.” (Yunus: 98)

Mengenai peristiwa tersebut dapat dikatakan bahwa Tuhan pada mulanya hendak menurunkan adzab kepada umatnya. Namun terjadi bada’ dan Tuhan tidak jadi menurunkan siksaan. Ungkapan ini hanya berlaku bagi manusia sendiri, bukan bagi Tuhan; yakni, dari sudut pandang manusia Tuhan tidak jadi menurunkan siksaan-Nya karena umatnya telah bertaubat; namun dari sudut pandang Tuhan, Ia sejak awal sudah tahu bahwa mereka akan bertaubat. Lalu mengapa kita menggunakan istilah bada’? Alasannya karena Nabi dulu pernah menggunakan istilah tersebut, dan Bukhari pernah menukilnya dalam Shahih nya.[3]

Ada satu hal menarik, Wahabi sendiri dalam membahas “bertawasul kepada amal saleh” mereka menukilkan hadits bada’. Rasulullah saw bersabda:

“Ada tiga orang yang lari ke goa karena menghindar dari hujan. Tiba-tiba jatuh reruntuhan batu yang akhirnya menutup pintu goa. Mereka berbicara satu sama lain dan berkata, “Sungguh demi Tuhan, tidak akan ada yang bisa menyelamatkan kalian selain kejujuran. Siapapun di antara kalian yang pernah melakukan amal kebaikan, maka mintalah kepada tuhan untuk menyelamatkan kita dari kematian atas kehormatan amal tersebut.”…”

Bada’ tidak dapat diartikan sebagai kebodohan Tuhan. Karena Tuhan Maha Suci dari sifat yang sedemikian. Kita sebagai manusia yang memiliki sudut pandang terbatas melihat seolah fenomena yang sudah ditakdirkan Tuhan berubah-ubah. Saat dikatakan “terjadi bada’ bagi Tuhan”, itu hanyalah ungkapan emosional (yang diperuntukkan bagi manusia) saja, tidak bisa dikaitkan secara hakiki dengan ilmu yang Tuhan miliki. Karena Tuhan sejak semulanya mengetahui segala sesuatu dengan perubahan-perubahan yang akan terjadi; hanya kita saja yang tidak tahu.

Oleh karena itu, bada’ tidak bertentangan dengan ke-Maha-Tau-an Tuhan.

Jadi, jika kami meyakini bahwa Imam-Imam maksum memiliki ilmu ghaib, itu bukan berarti mereka lebih tinggi dari Tuhan; ilmu mereka adalah ilmu yang diberikan Tuhan, itupun terbatas; sedangkan ilmu sebenarnya yang dimiliki Tuhan tidaklah terbatas. Ilmu para Imam adalah karunia, sedang ilmu Tuhan adalah ilmu dari dzat-Nya sendiri.


[1] Ushul Madzah Asy Syiah, jld. 3, hlm. 154.

[2] Ad Durr Al-Mantsur, jld. 6, hlm. 661.

[3] Shahih Bukhari, jld. 4, hlm. 172, Kitab Ahadits Al-Anbiya’, hadits nomor 3465, dan Kitab Al-Buyu’, hadits nomor 2215.

Tanya: Apa dampak iman dan keyakinan terhadap hari pembalasan bagi diri pribadi dan perilaku seseorang? Dan permasalahan sosial yang manakah yang dapat dibenahi dengan adanya keyakinan ini? Karena kita tidak dapat mengingkari bahwa perkembangan umat manusia bergantung kepada aktifitas yang mereka lakukan; dan aktifitas umat manusia akan lebih berkembang dengan adanya harapan untuk maju. Yakni, seorang manusia akan mendapatkan semangat untuk meningkatkan kinerja kerjanya ketika ia membayangkan betapa nikmatnya jika ia berhasil menyelesaikan pekerjaannya dengan baik; dan dengan demikian, aktifitas umat manusia dapat berkembang dengan pesat. Ketika seseorang merasakan nikmatnya keuntungan yang ia dapat berkat pekerjaan yang telah ia selesaikan, maka ia akan lebih bersemangat untuk menjalankan aktifitas yang lainnya.

Melalui jalan inilah kehidupan umat manusia dapat semakin berkembang; dan dengan demikian dalam setiap saat dan dalam setiap harinya kinerja kerja umat manusia semakin meningkat. Dengannya umat manusia akan menemukan banyak penemuan-penemuan baru dan segala hal yang lainnya yang berguna. Kini pendapat saya, jika iman dan percaya akan hari pembalasan tidak menyebabkan umat manusia tidak bergairah untuk mencapai perkembangan dunia yang lebih baik, dan tidak menyebabkan aktifitas besar-besaran umat manusia tidak terhambat, maka artinya iman tersebut tidak berpengaruh dalam jiwa dan perilaku umat manusia.

Jawab: Ya, bisa dikatakan semua ajaran agama-agama yang ada di muka bumi selalu mengingatkan pemeluknya akan adanya hari pembalasan yang mana di sana manusia akan diberi balasan dan hukuman; dan Islam adalah salah satu dari agama-agama tersebut. Islam memiliki tiga ajaran dasar dan pokok yang mana iman terhadap hari pembalasan adalah pokok ketiganya. Barang siapa tidak mengimani hari pembalasan, maka sama sama seperti orang yang tidak mengimani Tauhid dan kenabian; belum dapat disebut sebagai seorang muslim sejati. Dengan demikian, sesungguhnya sebagaimana Islam sangat mementingkan Tauhid dan kenabian, Islam juga sangat mementingkan iman terhadap hari pembalasan.

Sebagaimana yang pernah dijelaskan bahwasannya tujuan yang mendasar dalam pendidikan dan ajaran Islam adalah pembangkitan fitrah dan jiwa alamiah manusia yang suci. Yakni Islam ingin mewujudkan manusia yang benar-benar fitri. Oleh karena itu kita dapat mengambil kesimpulan bahwa iman terhadap hari pembalasan merupakan salah satu rukun hayati Manusia Fitri. Seorang manusia tanpa memiliki iman terhadap hari pembalasan, bagai sesosok tubuh tak bernyawa. Padahal nyawa adalah pangkal segala kebahagiaan dan kesempurnaan.

Kita tidak boleh berpikiran buruk dan menganggap ajaran-ajaran Islam hanya sebagai ajaran kering tak bernyawa yang dengan sengaja telah diciptakan untuk menyibukkan diri manusia dan harus diterima secara buta-membuta tanpa ada tujuan-tujuan mulia di baliknya. Bahkan sebenarnya ajaran-ajaran Islam merupakan sistem yang sangat teratur yang telah diciptakan sesuai dengan tabiat manusia yang sangat berguna untuk mengatur keyakinan, jiwa, dan perilaku dengan sebaik-baiknya. Hukum-hukum ini telah diukur dengan kebutuhan-kebutuhan yang akan dirasakan umat manusia selama hidup di dunia ini. Dengan menerima dan mengamalkan ajaran-ajaran Islam, umat manusia akan merasakan nikmatnya memiliki hidup yang teratur. Ayat berikut ini adalah sebaik-baiknya dalil akan hal ini:

“Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah ajakan Allah  dan utusan-Nya ketika mereka mengajak kalian kepada sesuatu yang akan menghidupkan diri kalian…”[1]

“Dengan teguh dan dalam keadaan yang patut menghadaplah ke arah agama ini! Yakni fitrah dan bentuk penciptaan yang mana umat manusia tercipta atas dasar hal itu. Tidak ada perubahan dalam penciptaan Tuhan. Itulah agama yang dapat mengatur hidup umat manusia.”[2]

Dengan demikian, ajaran-ajaran Islam tidak ada bedanya dengan hukum-hukum sosial dalam segi pemenuhan kebutuhan-kebutuhan hayati umat manusia. Tetapi perbedaan yang sangat penting antara ajaran-ajaran Ilahi dengan hukum-hukum ciptaan manusia adalah: hukum-hukum ciptaan umat manusia mengira bahwa kehidupan umat manusia hanya berupa kehidupan duniawi yang berumur beberapa hari saja di dunia; dan asas hukum-hukumnya adalah apa saja yang diinginkan oleh mayoritas umat manusia. Adapun menurut ajaran-ajaran Islam, kehidupan manusia tidak terbatas pada dunia materi ini saja, bahkan kehidupan manusia adalah kehidupan abadi yang akan terus berlanjut di akherat; dan kebahagiaan dan kesengsaraan umat manusia di alam abadi tergantung dengan baik dan buruknya amal perbuatan mereka di duni ini. Oleh karenanya Islam membawakan ajaran-ajaran seperti ini yang mana telah tercipta berdasarkan akal sehat dan tidak mengikuti kemauan keinginan-keinginan mayoritas umat manusia yang didasari oleh hawa nafsu dan emosi.

Menurut kebanyakan orang, keinginan mayotitas masyarakat adalah tolak ukur dapat dijalankannya suatu hukum. Akan tetapi Islam tidak berpikiran seperti itu. Menurut Islam, hukum-hukum yang layak dijalankan oleh semua orang adalah hukum-hukum yang sesuai dengan kebenaran. Jika suatu hukum sesuai dengan kebenaran, maka semua orang wajib menjalankannya; baik sesuai dengan keinginan mereka atau tidak.

Islam menjelaskan bahwa Manusia Alami (yakni manusia yang fitrah alamiahnya belum ternodai segala bentuk keburukan), dengan sendirinya menyadari akan keberadaan hari pembalasan. Oleh karenanya, ia memandang dirinnya sebagai makhluk yang memiliki hayat abadi. Dengan demkian ia merasa untuk harus menjalankan kehidupannya dengan penuh kesadaran berpikir dan tidak boleh lupa sesekalipun akan kenyataan ini. Ia tidak seperti seorang materialis yang sama sekali tidak mengetahui dimanakah ia sebelumnya dan dimanakah kelak ia akan berada. Seorang materialis hanya memiliki pola pikir hewani; dan harapan tertingginya adalah menikmati segala kenikmatan materi sepuas-puasnya. Jadi, iman rerhadap hari pembalasan memiliki dampak positif yang sangat jelas bagi pemikiran, etika, jiwa, dan amal perbuatan setiap individu dan bahkan seluruh umat manusia.

Adapun dampak keimanan tersebut terhadap pikiran manusia, seperti ini: ia akan melihat dirinya dan segala yang ada di sekitarnya sebagaimana apa adanya. Ia akan memangdang dirinya sebagai seorang makhluk yang berusia beberapa hari saja di dunia ini yang merupakan bagian dari tubuh alam yang selalu bergerak. Ia dan segala maujud yang adala bak kafilah yang sedang berjalan menuju alam lain; yaitu alam yang kekal dan abadi. Kafilah ini telah bertolak dari sumber wujud dan bergerak menuju tujuannya. Adapun pengaruhnya terhadap etika, dengan menyadari kenyataan ini, ia akan berusaha menyesuaikan dan membatasi dorongan-dorongan nafsu dan syahwat yang bergejolak dalam batinnya.

Seseorang yang karena kebutuhan-kebutuhannya memandang dirinya sebagai maujud yang berkaitan erat dengan alam, dan bagaikan setitik debu yang terbang kesana kemari tertiup angin kencang dan bergerak berbondong-bondong dengan alam menuju puncak kesempurnaan, maka pandangan diri ini tidak akan pernah membiarkannya terkecoh oleh dorongan-dorongan nafsu dan bujukan syaitan. Ia tidak akan pernah rela menyerahkan diri ke tangan-tangan pemuja syahwat. Jika ia telah menyadari keberadaan dirinya yang sesungguhnya, ia tidak lagi mau menghabiskan waktu untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang biasa dilakukan orang-orang yang tak tahu diri. Jika semua umat manusia telah memiliki kesadaran seperti ini, maka tidak akan ada satupun aktifitas tak berguna yang dilakukan. Umat manusia tidak akan segan mengorbankan nyawanya demi tujuan-tujuan mulia. Mereka memahami bahwa dengan pengorbanan, ia akan terlepas dari kekangan kehidupan materi yang berumur beberapa hari ini dan sebagai gantinya, ia akan memasuki kehidupan baru yang abadi. Ia tidak takut akan kematian, karena ia yakin kelak akan mendapatkan balasan yang sangat besar. Ia tidak seperti seorang materialis yang hanya untuk mengorbankan diri saja, ia harus mengarang hal-hal yang tak ia ketahui demi menenangkan hati mereka dan dengan demikian mereka terpaksa harus menyesatkan orang lain. Karena sesungguhnya kebanyakan materialis telah sering membual dan memerintahkan sesamanya untuk mengorbankan diri dengan harapan namanya akan kekal dan setelah kematian ia akan hidup dengan kebahagiaan abadi. Kita dapat mengerti betul bahwa hal ini hanya sekedar bualan; pada hakikatnya mereka tidak meyakini alam setelah kematian, lalu bagaimana mereka menjanjikan alam kebahagiaan abadi setelah kematian?

Dengan demikian, pernyataan yang telah anda bawakan di akhir baris tulisan surat anda adalah pernyataan yang tak berdasar. Jangan anda pikir dengan mengingat kematian dan mengimani hari kebangkitan, semangat umat manusia untuk beraktifitas akan menurun. Janganlah anda berpikiran bahwa faktor semangat beraktifitas adalah rasa butuh; dan dengan membayangkan hari pembalasan, rasa butuh tersebut akan lenyap. Ini tidak benar; buktinya di masa-masa keemasan Islam yang mana kebanyakan orang Islam waktu itu memiliki iman yang sangat kuat terhadap hari pembalasan, orang-orang Islam telah melakukan berbagai macam aktifitas sosial yang sangat menakjubkan dan tidak dapat dibandingkan dengan orang-orang Islam yang hidup di zaman setelahnya. Ya, yang dampak yang dihasilkan oleh iman terhadap hari pembalasan adalah tercegahnya manusia dari pemujaan nafsu dan cinta materi yang berlebihan serta berkurangnya kejahatan di muka bumi.

Dampak iman terhadap hari pembalasan terhadap jiwa manusia sangat baik sekali. Dengan iman ini, jiwa dan ruh manusia akan tetap hidup. Ketika ia tertimpa kesusahan, dengan tenang ia menyadari bahwa dengan kesabaran ia akan mendapatkan ganjaran yang sangat baik di kehidupan berikutnya. Dan ketika ia melakukan perbuatan terpuji, dengan ikhlas ia menyadari bahwa kelak Tuhannya akan memberikan imbalan yang berkali-kali lipat besarnya.

Dan adapun dampak keimanan ini terhadap perilaku seorang manusia secara pribadi dan begitu juga bagi sekelompok masyarakat, juga sangat baik sekali. Dengan keimanan ini, semua orang akan menyadari bahwa ada Dzat Yang Maha Tahu yang selalu mengawasi gerak-gerik mereka. Ia dapat mengetahui segala amal perbuatan yang mereka lakukan secara diam-diam maupun terang-terangan. Ia adalah Tuhan Yang Maha Mengetahui. Mereka akan sadar bahwa akan datang suatu hari yang mana pada hari itu semua amal perbuatan mereka akan dihitung dan ditimbang dengan sangat teliti. Dengan demikian, manusia akan merasa tercegah untuk melakukan perbuatan keji sekecil apapun; karena ada seorang pengawas yang sangat mengetahui akan apa yang dilakukannya.


[1] QS. Al-Anfal: 24.

[2] QS. Ar-Rum: 30.

Jika Imam Ali as memang telah ditunjuk oleh Rasulullah saw untuk menjadi khalifah, lalu mengapa beliau bersedia membai’at Abu Bakar?

Telah ditentukannya kekhalifahan Imam Ali as

Jika Imam Ali as memang telah ditunjuk oleh Rasulullah saw untuk menjadi khalifah, lalu mengapa beliau bersedia membai’at Abu Bakar? Kalau beliau membai’at Abu Bakar, berarti beliau memang tidak ditentukan nabi sebagai khalifah, atau paling tidak berarti beliau telah menyerahkan haknya kepada orang lain.

 

Pertanyaan ini memiliki dua sisi:

1. Telah ditentukannya kekhalifahan Imam Ali as oleh nabi.

2. Imam Ali as membai’at Abu Bakar.

Tentang telah ditentukannya kekhalifahan Imam Ali as oleh nabi, dalil-dalilnya sangat banyak dan jelas sekali. Dalil-dalil tersebut tentunya sangat lebih dari cukup bagi orang yang berniat mencari kebenaran tanpa fanatisme. Dalil-dalil tersebut diantaranya adalah:

1. Hadits Yaumul Indzar: Rasulullah saw sejak hari pertama beliau mengumumkan kenabiannya kepada keluarga besarnya telah menjelaskan kekhalifahan Imam Ali as. Di hari yang dikenal dengan Yaumul Indzar atau Yaumud Daar, dalam ucapan-ucapannya kepada Bani Hasyim beliau berkata: “Aku diutus oleh Allah swt untuk mengajakmu kepada kebaikan dunia dan akherat. Siapakah di antara kalian yang bersedia untuk membantuku dalam hal ini?”

Beliau menanyakan hal yang sama sebanyak tiga kali namun tak ada yang menjawab beliau selain Ali bin Abi Thalib as. Dua kali Rasulullah saw memintanya untuk diam, namun kali ketiga beliau menerimanya. Lalu beliau bersabda: “Ia adalah saudaraku, pewarisku, dan khalifah setelahku di antara kalian. Maka dengarkanlah perkataannya dan taati ia.”[1]

2. Hadits Manzilah: Selain itu sering sekali beliau menjelaskan kepada semua orang tentang kedudukan Imam Ali as baginya. Ungkapan-ungkapan yang beliau gunakan dalam ucapannya menunjukkan bahwa Imam Ali as adalah pengganti sepeninggal beliau. Saat Imam Ali as kesal mendengar ucapan-ucapan orang munafik, beliau mengadukannya kepada Rasulullah saw. Kemudian nabi berkata kepadanya: “Wahai Ali, tidakkah engkau ridha di sisiku berkedudukan bagai Harun as di sisi Musa as? Hanya saja tidak ada nabi setelahku.”[2] Di riwayat lain disebutkan: “Bagiku engkau seperti Harun as di sisi Musa as, hanya saja tak ada nabi setelahku.”[3]

Dalam hadits tersebut dijelaskan bahwa kedudukan Imam Ali as di sisi nabi bagaikan kedudukan Harun as di sisi Musa as. Jelas jika seandainya dulu nabi Harun as masih hidup, ia pasti menjadi pengganti nabi Musa as.

3. Hadits Tsaqalain: Beberapa kali Rasulullah saw mengucapkan hadits ini. Beliau bersabda: “Sesungguhnya aku meninggalkan dua hal berharga bagi kalian yang jika kalian berpegang teguh kepada keduanya kalian tidak akan pernah tersesat selamanya, dan salah satunya lebih agung dari lainnya: Kitab Allah swt, tali yang menjulur dari langit ke bumi, dan yang kedua Ahlul Baitku; keduanya tidak akan berpisah hingga keduanya masuk ke dalam telaga surga. Maka lihatlah bagaimana diri kalian kelak akan bersikap.”[4] Dalam hadits tersebut beliau menjelaskan bahwa Al-Qur’an adalah pegangan utama umat Islam dan Ahlul-Bait adalah penafsir Al-Qur’an yang harus dijadikan rujukan. Karena Imam Ali as adalah Ahlul-Bait nabi, hendaknya umat Islam menjadikannya rujukan sepeninggal nabi.

4. Hadits Ghadir: Begitu juga saat Rasulullah saw berada di Ghadir Khum, setelah beliau meminta kesaksian dari seluruh umat Islam bahwa dirinya lebih dahulu daripada harta dan jiwa mereka, beliau bersabda: “Barang siapa menjadikanku tuannya, maka hendaknya menjadikan Ali sebagai tuannya pula. Ya Tuhan, tolonglah orang yang menolongnya, dan hinakanlah orang yang menghinanya.”[5]

 

Ahlu Sunah Meragukan Hadits Ghadir

Meskipun Ahlu Sunah dikenal meragukan hadits Ghadir sebagai bukti kekhalifahan Imam Ali as, namun dengan melihat indikasi-indikasi sebelum dan sesudah beliau mengucapkan hadits itu, kenyataannya akan jelas bahwa yang dimaksud “tuan” dalam hadits tersebut berarti “pemimpin”. Sebelum mengucapkan hadits itu Rasulullah saw meminta kesaksian umatnya: “Bukankah aku paling berhak atas kalian? Atas jiwa dan harta kalian?” Setelah semua orang mengiyakan, beliau menyatakan bahwa demikian juga Ali bin Abi Thalib memilki wewenang yang sama sepertinya. Lalu setelah itu nabi berdoa agar melaknat orang yang memusuhi Ali bin Abi Thalib as dan menolong orang yang menolongnya. Nabi juga menjelaskan bahwa mencintai Ali as berarti mencintai Allah swt dan nabi-Nya, memusuhi Ali as juga berarti memusuhi Allah swt dan nabi-Nya. Hal-hal sedemikian rupa membuktikan bahwa maksud Rasulullah dalam hadits Ghadir adalah menyatakan kepada semua orang bahwa Imam Ali as adalah pengganti sepeninggal beliau.

 

Alasan Imam Ali as membai’at Abu Bakar

Adapun Imam Ali as membai’at Abu Bakar, jika itu memang benar, hal itu tidak bertentangan dengan telah ditentukannya kekhalifahan Imam as oleh nabi. Karena tugas beliau adalah memimpin umat; entah beliau diangkat oleh umatnya ataupun tidak, beliau tetap dapat menjalankan tugasnya semaksimal mungkin yang beliau bisa. Imam Ali as membai’at Abu Bakar karena tidak ingin menimbulkan kericuhan di dalam umat Islam. Karena jika tidak maka kekacauan dan perpecahan tersebut akan digunakan oleh musuh-musuh Islam dari Luar, seperti Roma dan Persia saat itu, untuk menyerang dan menghancurkan Islam. Dengan kebijakan tersebut Imam Ali as dapat menghindari keributan di dalam demi memfokuskan fikiran umat Islam bersama untuk menghadapi bahaya musuh-musuh di luar.

Dalam segala keadaan Imam Ali as rela mengorbankan apapun demi Islam. Bagaikan seorang ibu sejati yang rela mengorbankan nyawanya pun demi anaknya.[6] Imam Ali as sendiri berkata: “Demi Allah, aku sama sekali tidak berfikir bahwa Arab akan merampas kekhalifahan dari tangan Ahlul Bait dan menjauhkannya dariku. Aku melihat mereka berbondong-bondong membai’at seseorang. Aku pun enggan untuk membai’atnya. Namun aku melihat ada sekelompok orang yang hendak menghancurkan agama Muhammad saw. Maka aku takut jika aku tidak berbuat apa-apa untuk Islam dan Muslimin maka akan timbul perpecahan di dada Islam, yang mana musibah itu bagiku lebih besar daripada kehilangan kedudukan yang menurut kalian sangat diidamkan.”[7]

 

Untuk mengkaji lebih jauh:

1. Allamah Sayid Muhammad Husain Husaini Thabthabai, Emam Shenashi, penerbit Hekmat, 1421, jil. 4-7.

2. Sayid Syarafuddin Al-Musawi, Rahbari e Emam Ali as Dar Qor’an va Sonnat, terjemahan Muhammad Ja’far Emami, Moawenat e Farhanggi Sazman e Tablighat, 1370.

 

Hadits akhir:

Rasulullah saw bersabda: “Wahai Bani Hasyim! Sesungguhnya saudaraku, pewarisku, dan penggantiku di antara keluargaku adalah Ali bin Abi Thalib as. Ia yang akan menunaikan hutang-hutangku dan menjalankan tugas-tugasku.”[8]

 


[1] Muhammad bin Jarir Thabari, Tarikh Thabari, jil. 2, hal. 321, Tahkik: Muhammad Abul Fadhl Ibrahim; Abdul Rahman bin Muhammad bin Khuldun, Tarikh Ibnu Khuldun, jil. 1, hal. 647; Al-Kamil, jil. 2, hal. 32.

[2] Abul Hasan Ali bin Muhammad bin Atsir, Usdul Ghabah Fi Ma’rifati Ash-Shahabah, jil. 3, hal. 601.

[3] Ahmad bin Ali bin Hajar Al-Asqalani, Al-Ishabah fi Tamyiiz Ash-Shahabah, Tahkik: Adil Ahmad Abdul Maujud dan Ali Muhammad Mu’awidh, jil. 3, hal. 1097; Ahmad bin Yahya bin Jabir Baladzari, Ansab Al Asyraf, Tahkik: Muhammad Hamidullah, jil. 2, hal. 94.

[4] Usdul Ghabah, jil. 1, hal. 490.

[5] Ibid, jil. 1, hal. 439; Abul Fida’ Ismail bin ‘Amr bin Katsir Al-Dimashqi, Al-Bidayah wa An-Nihayah, jil. 5, hal. 210.

[6] Di jaman Umar ada dua orang wanita berselisih mengaku seorang bayi sebagai anaknya. Supaya dapat membuktikan siapa ibu anak itu yang sebenarnya, Imam Ali as berencana untuk memotong anak menjadi dua lalu dibagikan tiap potongnya kepada setiap wanita itu. Salah seorang wanita itu bersedia, namun satunya lagi tidak bersedia dan berkata: “Jangan, lebih baik berikan saja jatahku untuk wanita itu.” Lalu akhirnya Imam Ali menyatakan bahwa ibu yang tidak bersedia anaknya dipotong itu adalah ibu yang sebenarnya. (Qezavat Haye Mohayerol Oqul, Sayid Hasan Muhsin Amin ‘Amili, hal. 37)

[7] Nahjul Balaghah, Faidz Al-Kashani, surat ke 62.

[8] Amali Thusi, 602/1244.

Alasan Imam Ali as Menolak Dibai'at

Mengapa Imam Ali as tidak segera menerima tawaran untuk menjadi khalifah? Bukankah jika beliau menolak berarti ia tidak berhak atas kekhalifahan?

Sepeninggal Rasulullah saw, umat Islam mengalami ikhtilaf dan perpecahan. Sebagian kelompok tidak menghiraukan ucapan-ucapan dan wasiat nabi; mereka memilih pengganti nabi sesuai keinginan mereka sendiri. Padahal Rasulullah saw telah menjelaskan kriteria-kriteria seorang khalifah dan siapa khalifah setelahnya. Namun orang-orang yang haus kekuasaan bertindak sesuai keuntungan yang mereka inginkan. Mereka memilih seseorang yang mereka kehendaki tanpa memperdulikan nasib umat Islam secara keseluruhan. Pelencengan umat Islam dimulai dari seseorang seperti Walid yang memimpin shalat shubuh empat rakaat dalam keadaan mabuk.[1] Belum lagi harta kekayaan Baitul Mal dihisap sebanyak-banyaknya oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab.

Sepeninggal Utsman, umat Islam heboh mendatangi Ali bin Abi Thalib as untuk menjadikannya khalifah. Namun karena kondisi saat itu (akibat ulah khalifah-khalifah sebelumnya) tidak memungkinkan bagi beliau untuk menjadi khalifah yang dapat menegakkan keadilan di tengah-tengah mereka, maka beliau menolak. Imam Ali as sendiri tahu bahwa orang-orang yang telah hidup selama 25 tahun di bawah kepemimpinan yang tidak adil tidak akan mungkin terbiasa dengan pola dan cara Imam Ali as memimpin.

Berikut ini adalah penggalan dari perkataan-perkataan Imam Ali as yang dapat menjelaskan seperti apa kondisi umat Islam saat itu.

Dalam khutbahnya Imam Ali as bercerita bahwa ketika orang-orang berdatangan ke rumahnya untuk membai’atnya, beliau berkata: “Tinggalkanlah aku. Carilah orang lain. Karena kejadian-kejadian yang bermacam-macam dan tak jelas akan mendatangi kita. Kondisi sangat membingungkan dan rumit. Hati-hati tidak tetap dalam masalah ini dan akal-akal tidak tegas. Awan-awan kebejatan beterbangan di langit-langit dunia Islam dan membuatnya gelap. Jalan yang benar telah tertutupi dan menjadi samar. Jika aku menerima tawaran kalian ini, aku akan bertindak sesuai apa yang kuanggap benar dan aku tidak akan mendengar kata-kata siapa saja yang mencaci dan mencemoohku.”[2]

Maksud Imam Ali as adalah: Aku akan selalu bertindak sesuai yang dipesan oleh Rasulullah saw untuk membagikan kekayaan Baitul Mal secara merata kepada siapapun, baik Arab maupun Ajam, baik kulit putih maupun kulit hitam. Namun bagaimana hal itu akan kulakukan? Sedang kalian sudah terbiasa dengan perilaku khalifah-khalifah sebelumnya; terbiasa dengan suap dan uang haram. Maka pergilah dan carilah orang selainku![3]

Ibnu Abil Hadid, yang merupakan pensyarah Nahjul Balaghah, di permulaan khutbah ini mengisyarahkan bahwa jika Imam Ali as memang khalifah yang ditunjuk nabi untuk menggantikannya, maka ia tidak layak untuk berkata: “Tinggalkanlah aku dan carilah selainku.” Lalu ia berkata: “Ucapan Ali bin Abi Thalib as itu (khutbah terkait) memiliki kedalaman yang sangat dan merupakan kabar ghaib yang mana semua orang saat itu tidak tahu. Kabar itu berkaitan dengan perang-perang umat Islam dan timbulnya fitnah-fitnah besar (di kekhalifahan beliau).

Sejarah mencatat bahwa sepeninggal Utsman mereka berkumpul di Masjid dan menceritakan keutamaan-keutamaan imam Ali as untuk memprovokasi pembai’atan Imam Ali as. Akhirnya Imam Ali as pun dibai’at. Setelah itu beliau memuji Tuhan di atas mimbarnya lalu berkata: “Wahai umat! Kalian tahu posisiku sama dengan posisi nabi. Aku tidak akan melenceng dari jalurnya. Nabi berkata bahwa penggantinya yang akan membimbing umat melewati jalan yang lurus akan ditolong dengan malaikat. Namun jika ada yang merebut kepemimpinan dan menggiring umat manusia menuju kebatilan maka akhir nasib mereka adalah api neraka.”

Setelah menyinggung masalah bai’at tersebut, Ibnu Abil Hadid menceritakan masalah pembagian harta Baitul Mal. Ia berkata: “Sejak awalnya sudah ada orang-orang yang mencemooh Ali bin Abi Thalib as karena ia tidak membeda-bedakan antara budak, pemilik budak dan orang berkedudukan dalam pembagian harta. Mulailah mereka membawa-bawa nama para khalifah-khalifah sebelumnya. Di sinilah hikmah perkataan Imam Ali as dulu mulai menjadi nyata; dulu saat beliau berkata: “Carilah orang selainku.”[4]

Sebagaimana yang dijelaskan Ibnu Abil Hadid dalam kitabnya itu, bahwa Imam Ali as sama sekali tidak memiliki keraguan akan kekhalifahan adalah haknya. Namun ia meragukan kesiapan umat yang telah terbiasa dengan pemerintahan yang tak adil; karena begitu Imam Ali as menerima bai’at maka ia akan bertekat untuk mendirikan keadilan setegak-tegaknya meskipun semua orang menentangnya.

Dalam bagian khutbahnya yang lain ia berkata: “Aku sebenarnya tidak mau menerima kekhalifahan itu. Namun semua orang mengerumuniku dan saling ribut sendiri, sampai-sampai aku mengira mereka saling membunuh satu sama lain. Akhirnya aku pun merombak kekhalifahan dan merubah arahnya; sampai rasa kantuk tak pernah menghampiriku.”

Beliau juga pernah berkata: “Sumpah demi Tuhan yang telah memecah biji-bijian dan menciptakan manusia! Semua orang mendatangiku dan ingim membai’atku. Telah sempurna Hujjah Tuhan atasku. Jika bukan karena Allah swt meminta orang yang berakal untuk tidak tinggal diam melihat kerusakan, maka aku sudah meninggalkan kekhalifahan dari sejak lama. Dan kalian tahu dengan baik bahwa dunia kalian bagiku lebih tak berharga dari ingus kambing.”[5]

Dari apa yang dikatakan oleh beliau dapat kita simpulkan bahwa umat Islam saat itu tidak memiliki kapabilitas untuk menjalankan kehidupan dengan pemerintahan yang adil dan beliau sama sekali tidak menunjukkan keridhaan terhadap pemerintahan yang telah ada. Namun karena tak ada cara lain yang lebih baik untuk umatnya, akhirnya beliau menerima dibai’at.

Peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa pemerintahan beliau membuktikan betapa tajam pandangan beliau sejak sebelumnya tentang keadaan umat Islam saat itu. Akhirnya banyak yang melanggar bai’atnya sendiri dan terus memusuhi Imam Ali as sampai beliau wafat. Segala kekacauan yang telah beliau perkirakan itu yang membuatnya enggan dibai’at. Padahal jika bicara tentang hak, jelas kekhalifahan adalah hak beliau. Beliau tidak pernah mundur membela hak-haknya; seperti halnya dalam peristiwa 6 calon penganti Umar dan sebelum terbunuhnya Utsman, beliau menekankan bahwa kekhalifahan adalah hak beliau.

Referensi untuk mengkaji lebih jauh:

1. Nadzem Zade Qomi, Mazhar e Welayat.

2. Muhammad Taqi Ja’fari, Syarah Nahjul Balaghah, jil. 16.

3. Nashir Makarim Syirazi, Payam e Amirul Mu’minin as, jil. 3.

Hadits akhir:

Rasulullah saw menunjuk Ali bin Abi Thalib as dengan jarinya seraya bersabda: “Ia adalah saudaraku, pewarisku, dan penggantiku di tengah-tengah kalian. Dengarkanlah perintahnya dan taatilah ia.”[6]


[1] Ghiyats Al-Din, Habib As-Saiyr, jil. 1, hal. 498.

[2] Nahjul Balaghah, khutbah 92.

[3] Muhammad Taqi Ja’fari, Tarjome va Syarh e Nahjul Balaghah, jil. 16, hal. 90 dan 91.

[4] Ibnu Abil Hadid, Syarah Nahjul Balaghah, jil. 8 dan 7.

[5] Nahjul Balaghah, khutbah 54.

[6] Muhammad Taqi Hindi, Kanzul Ummal, 36419.

Mengapa Ali membai'at para khalifah

Tanya: Ali sejak sebelumnya pasti tahu bahwa ia adalah khalifah Tuhan setelah Nabi. Lalu mengapa ia membai’at Abu Bakar, Umar dan Utsman? Jika ia tidak mempunyai kekuatan untuk melawan, maka dia bukan khalifah Tuhan. Jika punya, mengapa tidak menggunakan kekuatan itu? Bukankah itu penghianatan? Apa jawaban anda?

Jawab: Dalam sejarah tidak pernah tercatat bahwa Ali bin Abi Thalib membai’at Umar dan Utsman. Karena kekhilafahan Umar bin Khattab telah ditentukan oleh Abu Bakar. Orang-orang banyak yang menanyai Abu Bakar, “Mengapa engkau memilih seseorang yang berwatak keras untuk menjadi khalifah? Kelak ia akan menjadi semakin keras dengan begitu. Apa yang akan kau jawab di hadapan Tuhan nanti karena telah menjadikan orang sepertinya sebagai khalifah kami?”

Abu Bakar menjawab mereka, “Jawabanku untuk Tuhan kelak adalah: Aku telah memilih orang terbaik untuk menjadi khalifah.”[1]

Begitupula kekhilafahan Utsman bin Affan, kekhalifahannya juga atas usaha Abdurrahman bin ‘Auf. Dengan demikian apa arti bai’at Ali bin Abi Thalib? Sama sekali mereka tidak membutuhkan bai’atnya untuk menjadi khalifah.

Lalu bagaimana anda menyatakan bahwa Ali membai’at mereka?

Adapun mengenai pembai’atan Ali bin Abi Thalib untuk Abu Bakar, dapat dikatakan bahwa menurut Syiah itu bukanlah bai’at. Adapun dalam versi Ahlu Sunah, Ali bin Abi Thalib membai’at Abu Bakar setelah enam bulan dan sepeninggal istrinya, Fathimah Az-Zahra. Lalu dapat dipertanyakan mengapa Ali bin Abi Thalib mengulur waktu sedemikian lama untuk melakukan perbuatan yang benar (bai’at)? Anggap saja Ali bukan Washi Nabi. Siapapun Ali meski ia bukan Washi Nabi, tak dielakkan bahwa ia pun juga sahabat. Sedang jelas sahabat Nabi seperti apa kedudukannya tetaplah junjungan kita. Lalu mengapa sahabat Nabi ini tidak langsung membai’at Abu Bakar begitu bai’atnya diminta? Apa alasannya? Bahkan istrinya, mengapa ia tidak membai’at Abu Bakar sama sekali sampai akhir hayatnya? Bukankah orang yang meninggal dunia dalam keadaan belum membai’at (mengakui) Imam zamannya mati sebagai matinya orang jahil?[2]

Satu lagi, ungkapan penanya yang berbunyi: “Jika ia tidak punya kekuatan, maka ia bukan Khalifah.” Apakah ia mengira kekhilafahan adalah kedudukan yang dapat dicapai dengan pendapat masyarakat? Bagi kami kekhilafahan adalah kedudukan yang telah ditetapkan oleh Tuhan. Kekhilafahan di mata kami tidak membutuhkan pendapat masyarakat sama sekali. Bagi kami sama seperti kenabian. Apakah menurut anda jika seorang Nabi tidak memiliki kekuatan atau pengikut yang banyak maka ia bukan Nabi?


[1] Al-Kharaj, Abu Yusuf Baghdadi, hlm. 100.

[2] Shaih Muslim, jld. 6, hlm. 22; Sunan Baihaqi, jld. 8, hlm. 156.

Bai'at Ali bin Abi Thalib untuk khalifah

Tanya: Bukankah Ali bin Abi Thalib telah membai’at khalifah? Artinya kekhalifahan itu benar bagi Ali?

Jawab: Syiah berkeyakinan bahwa Ali bin Abi Thalib tidak membai’at siapapun. Karena ia mengaku bahwa dirinya-lah khalifah yang telah ditetapkan Tuhan. Namun ternyata kekhilafahan jatuh ke tangan orang lain, yang kemudian “kemaslahatan bersama” menuntutnya untuk menyertai mereka. Ia sendiri pernah berkata:

“Aku melihat bahwa jika aku bersikeras mengambil hakku (kekhalifahan), maka Islam yang ada sekarang ini pun juga akan musnah.”[1]

Ia tidak menemukan cara lain selain menyertai khalifah-khalifah yang ada dan membimbing mereka.

Bahkan ketika sebagian orang-orang Arab menolak untuk membayar zakat, dan akhirnya mereka dikecam, beliau pun juga tidak bisa melakukan apa-apa selain diam. Namun tidak selamanya seperti itu, pada saat-saat tertentu ia menguak kenyataan yang ada dan berseru mengingatkan masyarakat akan hak-haknya.

Menurut para perawi Ahlu Sunah, Ali bin Abi Thalib membai’at khalifah sepeninggal Fathimah Az-Zahra. Namun selama Fathimah Az-Zahra masih hidup, ia terus menerus kesal terhadap Abu Bakar dan tidak mau berbicara dengannya karena marah.[2]

Anggap saja Ali bin Abi Thalib memang betul telah membai’at khalifah sepeninggal istrinya. Namun seluruh ahli hadits bersepakat bahwa Fathimah Az-Zahra sampai akhir hayatnya tidak pernah membai’at bahkan berpaling dari mereka.

Ibnu Hajar dalam Syarah Shahih Bukhari menukilkan: “Fathimah Az-Zahra marah terhadap Abu Bakar dan selalu menjauhinya. Ia tetap dalam keadaan seperti itu hingga enam hari, baru setelah itu ia meninggal dunia. Ali menyolati jasad istrinya dan ia tidak memberitahukan hal itu kepada Abu Bakar.”[3]

Kini kami bertanya, bukankah Fatimah Az-Zahra juga diakui oleh Shahih Bukhari sebagai wanita terbaik di muka bumi? Lalu mengapa ia tidak membai’at Abu Bakar? Jika Abu Bakar berhak untuk menjadi khalifah, lalu mengapa putri nabi ini marah terhadapnya? Rasulullah Saw pernah bersabda:

“Barang siapa mati dan tidak membai’at serta mengakui khalifah/imam di jamannya, maka ia mati sebagai matinya orang di jaman jahiliah.”[4]

Lalu salah satu dari dua pertanyaan ini harus dijawab:

1. Putri nabi Muhammad Saw tidak membai’at Abu Bakar dan tidak mengakuinya. Apakah ia mati sebagai orang jahiliah?

2. Apakah orang yang mengaku khalifah itu sebenarnya bukan khalifah? Yakni ia tidak berhak untuk menjabat sebagai khalifah?

Kita tidak bisa menjawab “ya” untuk pertanyaan pertama. Karena putri Rasulullah Saw adalah orang yang telah disucikan oleh Allah Swt dari noda dan kesalahan; nabi pun berkata tentangnya: “Fathimah adalah penghulu wanita penghuni surga.”[5]

Beliau juga bersabda, “Wahai Fathimah, sesungguhnya Allah Swt marah karena amarahmu dan Ia ridha karena keridhaanmu.”[6]

Lalu jika demikian, maka Fathimah Az-Zahra adalah perempuan suci yang tidak mungkin ia mati sebagai orang jahiliah.

Kita simpulkan, Fathimah Az-Zahra tidak membai’at khalifah itu karena baginya pengaku khalifah itu bukan khalifah yang layak. Sampai akhir hayat ia dalam hatinya mengakui hanya seorang lah khalifah yang sah, yaitu suaminya, Ali bin Abi Thalib.

Menurut Bukhari (jika memang itu benar), Ali bin Abi Thalib membai’at khalifah setelah enam bulan. Lalu jika memang ia layak dibai’at kenapa harus tertunda sekian lama?

Sungguh aneh jika anda hanya mengandalkan sepenggal kisah sejarah bahwa “Ali membai’at khalifah”, itu saja, sedang anda melupakan segala kesedihan yang pernah menimpa Fathimah Az-Zahra selama hidupnya, sepeninggal nabi.

Dengan penjelasan ini dapat kami jelaskan bahwa bai’at Ali bin Abi Thalib setelah enam bulan tersebut tidaklah berarti apa-apa. Karena khalifah sama sekali tidak membutuhkan bai’at darinya; yakni ia (khalifah) telah duduk di tahta kekhalifahan dengan nyaman saat itu juga. Dan, Ali pun bukan orang yang bisa meninggalkan kewajiban hanya karena seorang istri menghalanginya.

Apapun yang dilakukan Ali bin Abi Thalib bersama khalifah masa itu hanya sebatas menyertai dan mengarahkan khalifah demi terjaganya Islam dari perpecahan dan kemusnahan. Bahkan perlu ditambahkan, bahwa bai’at Ali bin Abi Thalib berdasarkan paksaan dari pihak khalifah. Kenyataan tersebut dapat kita fahami dari sepucuk surat yang pernah ditulis oleh Mu’awiyah kepada Ali bin Abi Thalib.


[1] Nahjul Balaghah, surat ke-62.

[2] Shahih Bukhari, jld. 4, hlm. 42; jld. 5, hlm. 82; jld. 8, hlm. 30.

[3] Fathul Bari, kitab Al-Maghazi, bab Ghazwah Khaibar, jld. 7, hlm. 493, hadits 4240 dan juga kitab Al-Faraidh, jld. 12, hlm. 5, hadits 6726.

[4] Shahih Bukhari, jld. 6, hlm. 22, bab Man Farraqa Amr Al-Muslimin; Sunan Al-Baihaqi, jld. 8, hlm. 156.

[5] Ibid, jld. 4, hlm. 25, bab Manaqib Qarabah Rasulullah.

[6] Ibid, jld. 4, hlm. 210; Mustadrak Al-Hakim, jld. 3, hlm. 154.

Mengapa Ali tidak membela istrinya

Tanya: Jika Fathimah Az-Zahra memang dizalimi oleh para sahabat, lalu mengapa suaminya yang pemberani hanya diam dan tidak membelanya?

Jawab: Pertanyaan di atas seakan menjelaskan kenyataan yang pernah terjadi memang demikian. Padahal tidak ada bukti bahwa Ali bin Abi Thalib tidak membela istrinya.

Ali bin Abi Thalib sesuai dengan tuntutan syari’at telah menjaga kehormatan diri dan keluarganya. Penjagaan dan pembelaan saat itu tidak bisa kita anggap harus dengan bentuk pertumpahan darah dan pertikaian, karena tidak menjadi maslahat Islam. Jika Ali memberontak dan berhadapan dengan mereka, maka akan terbentuk dua kelompok di antara umat Islam: kelompok pendukung khalifah, dan kelompok pendukung Ali bin Abi Thalib yang tetap menjaga bai’at terhadapnya sejak peristiwa Ghadir Khum sebelum wafat Nabi. Perpecahan inilah yang tidak diinginkan oleh Ali bin Abi Thalib.

Banyak sekali kaum munafik di waktu itu yang berusaha memperkeruh keadaan. Misalnya Abu Sufyan, musuh bebuyutan Islam, saat itu mendatangi rumah Ali dan berkata kepadanya, “Wahai Ali, berikan tanganmu, aku ingin membai’atmu.”

Ali bin Abi Thalib tahu bahwa Abu Sufyan berlaga menjadi pendukungnya dan ingin membai’at hanya demi terciptanya perselisihan. Oleh karenanya Ali berkata padanya:

“Demi Tuhan engkau mengucapkan kata-katamu ini dengan niat busuk agar berkobar api fitnah di anatara umat Islam. Engkau selalu menginginkan keburukan untuk Islam dan Muslimin. Pergilah, aku tidak menginginkan semua ini darimu.”[1]

Kepada penanya saya ingin jelaskan, bahwa orang yang berani bukanlah orang yang selalu mencabut pedangnya di setiap keadaan tanpa terkecuali. Orang yang berani adalah orang yang menjalankan tugasnya. Betapa banyak orang yang mengaku pemberani namun mereka enggan dan takut untuk mendengar perkataan yang benar.

Pada suatu hari Rasulullah Saw melihat sekelompok orang berkumpul. Ternyata mereka terkagum-kagum akan seseorang. Beliau bertanya kepada mereka, “Siapakah orang itu?” Dijawab, “Ia adalah pendekar pemberani yang mampu mengangkat beban yang sangat berat.” Lalu beliau berkata, “Itu bukanlah orang yang berani; pemberani adalah orang yang mampu mengalahkan keinginan-keinginan nafsunya.”[2]

Sejarah membuktikan bahwa di masa itu Islam masih belum mengakar kuat di hati umatnya. Islam masih baru tumbuh lemah yang mungkin jika tertiup angin, meski angin itu lembut sekalipun, Islam akan tercabut dengan mudahnya dari hati mereka.

Rasulullah Saw berkata kepada ‘Aisyah: “Jika seandainya Quraisy bukanlah orang-orang yang baru masuk Islam, niscaya aku akan merombak Ka’bah. Lalu sebagai gantinya satu pintu, aku akan letakkan dua pintu untuknya.”[3]

Kita akui tidak ada orang yang lebih pemberani dari Nabi Muhammad Saw. Namun beliau tetap melihat kondisi yang sedemikian rupa dan mempertimbangkannya. Apakah benar jika ada sebagian orang-orang munafik yang enggan membayar zakat berkoar sedang umat Islam yang bersaudara saling bertikai?

Orang-orang munafik berharap Ali bin Abi Thalib yang telah menghunuskan pedangnya kepada kaum kafir di perang Badar dan Uhud melakukan hal yang sama terhadap umat Islam sendiri sepeninggal Nabi dengan pedang yang sama. Jika ada yang membenarkan hal tersebut, maka ia bukanlah orang yang memahami sejarah Islam, dan juga tidak mengenal siapakah Ali yang sebenarnya.


[1] Tarikh Thabari, jld. 2, hlm. 449.

[2] Bihar Al-Anwar, jld. 1, hlm. 77 dan 112.

[3] Musnad Ahmad, jld. 6, hlm. 176.

 

kekhalifahan adalah hak Imam Ali AS. Beliau tidak pernah mundur membela hak-haknya

Alasan Imam Ali as Menolak Dibai'at

Mengapa Imam Ali as tidak segera menerima tawaran untuk menjadi khalifah? Bukankah jika beliau menolak berarti ia tidak berhak atas kekhalifahan?

Sepeninggal Rasulullah saw, umat Islam mengalami ikhtilaf dan perpecahan. Sebagian kelompok tidak menghiraukan ucapan-ucapan dan wasiat nabi; mereka memilih pengganti nabi sesuai keinginan mereka sendiri. Padahal Rasulullah saw telah menjelaskan kriteria-kriteria seorang khalifah dan siapa khalifah setelahnya. Namun orang-orang yang haus kekuasaan bertindak sesuai keuntungan yang mereka inginkan. Mereka memilih seseorang yang mereka kehendaki tanpa memperdulikan nasib umat Islam secara keseluruhan. Pelencengan umat Islam dimulai dari seseorang seperti Walid yang memimpin shalat shubuh empat rakaat dalam keadaan mabuk.[1] Belum lagi harta kekayaan Baitul Mal dihisap sebanyak-banyaknya oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab.

Sepeninggal Utsman, umat Islam heboh mendatangi Ali bin Abi Thalib as untuk menjadikannya khalifah. Namun karena kondisi saat itu (akibat ulah khalifah-khalifah sebelumnya) tidak memungkinkan bagi beliau untuk menjadi khalifah yang dapat menegakkan keadilan di tengah-tengah mereka, maka beliau menolak. Imam Ali as sendiri tahu bahwa orang-orang yang telah hidup selama 25 tahun di bawah kepemimpinan yang tidak adil tidak akan mungkin terbiasa dengan pola dan cara Imam Ali as memimpin.

Berikut ini adalah penggalan dari perkataan-perkataan Imam Ali as yang dapat menjelaskan seperti apa kondisi umat Islam saat itu.

Dalam khutbahnya Imam Ali as bercerita bahwa ketika orang-orang berdatangan ke rumahnya untuk membai’atnya, beliau berkata: “Tinggalkanlah aku. Carilah orang lain. Karena kejadian-kejadian yang bermacam-macam dan tak jelas akan mendatangi kita. Kondisi sangat membingungkan dan rumit. Hati-hati tidak tetap dalam masalah ini dan akal-akal tidak tegas. Awan-awan kebejatan beterbangan di langit-langit dunia Islam dan membuatnya gelap. Jalan yang benar telah tertutupi dan menjadi samar. Jika aku menerima tawaran kalian ini, aku akan bertindak sesuai apa yang kuanggap benar dan aku tidak akan mendengar kata-kata siapa saja yang mencaci dan mencemoohku.”[2]

Maksud Imam Ali as adalah: Aku akan selalu bertindak sesuai yang dipesan oleh Rasulullah saw untuk membagikan kekayaan Baitul Mal secara merata kepada siapapun, baik Arab maupun Ajam, baik kulit putih maupun kulit hitam. Namun bagaimana hal itu akan kulakukan? Sedang kalian sudah terbiasa dengan perilaku khalifah-khalifah sebelumnya; terbiasa dengan suap dan uang haram. Maka pergilah dan carilah orang selainku![3]

Ibnu Abil Hadid, yang merupakan pensyarah Nahjul Balaghah, di permulaan khutbah ini mengisyarahkan bahwa jika Imam Ali as memang khalifah yang ditunjuk nabi untuk menggantikannya, maka ia tidak layak untuk berkata: “Tinggalkanlah aku dan carilah selainku.” Lalu ia berkata: “Ucapan Ali bin Abi Thalib as itu (khutbah terkait) memiliki kedalaman yang sangat dan merupakan kabar ghaib yang mana semua orang saat itu tidak tahu. Kabar itu berkaitan dengan perang-perang umat Islam dan timbulnya fitnah-fitnah besar (di kekhalifahan beliau).

Sejarah mencatat bahwa sepeninggal Utsman mereka berkumpul di Masjid dan menceritakan keutamaan-keutamaan imam Ali as untuk memprovokasi pembai’atan Imam Ali as. Akhirnya Imam Ali as pun dibai’at. Setelah itu beliau memuji Tuhan di atas mimbarnya lalu berkata: “Wahai umat! Kalian tahu posisiku sama dengan posisi nabi. Aku tidak akan melenceng dari jalurnya. Nabi berkata bahwa penggantinya yang akan membimbing umat melewati jalan yang lurus akan ditolong dengan malaikat. Namun jika ada yang merebut kepemimpinan dan menggiring umat manusia menuju kebatilan maka akhir nasib mereka adalah api neraka.”

Setelah menyinggung masalah bai’at tersebut, Ibnu Abil Hadid menceritakan masalah pembagian harta Baitul Mal. Ia berkata: “Sejak awalnya sudah ada orang-orang yang mencemooh Ali bin Abi Thalib as karena ia tidak membeda-bedakan antara budak, pemilik budak dan orang berkedudukan dalam pembagian harta. Mulailah mereka membawa-bawa nama para khalifah-khalifah sebelumnya. Di sinilah hikmah perkataan Imam Ali as dulu mulai menjadi nyata; dulu saat beliau berkata: “Carilah orang selainku.”[4]

Sebagaimana yang dijelaskan Ibnu Abil Hadid dalam kitabnya itu, bahwa Imam Ali as sama sekali tidak memiliki keraguan akan kekhalifahan adalah haknya. Namun ia meragukan kesiapan umat yang telah terbiasa dengan pemerintahan yang tak adil; karena begitu Imam Ali as menerima bai’at maka ia akan bertekat untuk mendirikan keadilan setegak-tegaknya meskipun semua orang menentangnya.

Dalam bagian khutbahnya yang lain ia berkata: “Aku sebenarnya tidak mau menerima kekhalifahan itu. Namun semua orang mengerumuniku dan saling ribut sendiri, sampai-sampai aku mengira mereka saling membunuh satu sama lain. Akhirnya aku pun merombak kekhalifahan dan merubah arahnya; sampai rasa kantuk tak pernah menghampiriku.”

Beliau juga pernah berkata: “Sumpah demi Tuhan yang telah memecah biji-bijian dan menciptakan manusia! Semua orang mendatangiku dan ingim membai’atku. Telah sempurna Hujjah Tuhan atasku. Jika bukan karena Allah swt meminta orang yang berakal untuk tidak tinggal diam melihat kerusakan, maka aku sudah meninggalkan kekhalifahan dari sejak lama. Dan kalian tahu dengan baik bahwa dunia kalian bagiku lebih tak berharga dari ingus kambing.”[5]

Dari apa yang dikatakan oleh beliau dapat kita simpulkan bahwa umat Islam saat itu tidak memiliki kapabilitas untuk menjalankan kehidupan dengan pemerintahan yang adil dan beliau sama sekali tidak menunjukkan keridhaan terhadap pemerintahan yang telah ada. Namun karena tak ada cara lain yang lebih baik untuk umatnya, akhirnya beliau menerima dibai’at.

Peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa pemerintahan beliau membuktikan betapa tajam pandangan beliau sejak sebelumnya tentang keadaan umat Islam saat itu. Akhirnya banyak yang melanggar bai’atnya sendiri dan terus memusuhi Imam Ali as sampai beliau wafat. Segala kekacauan yang telah beliau perkirakan itu yang membuatnya enggan dibai’at. Padahal jika bicara tentang hak, jelas kekhalifahan adalah hak beliau. Beliau tidak pernah mundur membela hak-haknya; seperti halnya dalam peristiwa 6 calon penganti Umar dan sebelum terbunuhnya Utsman, beliau menekankan bahwa kekhalifahan adalah hak beliau.

Referensi untuk mengkaji lebih jauh:

1. Nadzem Zade Qomi, Mazhar e Welayat.

2. Muhammad Taqi Ja’fari, Syarah Nahjul Balaghah, jil. 16.

3. Nashir Makarim Syirazi, Payam e Amirul Mu’minin as, jil. 3.

Hadits akhir:

Rasulullah saw menunjuk Ali bin Abi Thalib as dengan jarinya seraya bersabda: “Ia adalah saudaraku, pewarisku, dan penggantiku di tengah-tengah kalian. Dengarkanlah perintahnya dan taatilah ia.”[6]


[1] Ghiyats Al-Din, Habib As-Saiyr, jil. 1, hal. 498.

[2] Nahjul Balaghah, khutbah 92.

[3] Muhammad Taqi Ja’fari, Tarjome va Syarh e Nahjul Balaghah, jil. 16, hal. 90 dan 91.

[4] Ibnu Abil Hadid, Syarah Nahjul Balaghah, jil. 8 dan 7.

[5] Nahjul Balaghah, khutbah 54.

[6] Muhammad Taqi Hindi, Kanzul Ummal, 36419.

Mengapa Ali membai'at para khalifah

Tanya: Ali sejak sebelumnya pasti tahu bahwa ia adalah khalifah Tuhan setelah Nabi. Lalu mengapa ia membai’at Abu Bakar, Umar dan Utsman? Jika ia tidak mempunyai kekuatan untuk melawan, maka dia bukan khalifah Tuhan. Jika punya, mengapa tidak menggunakan kekuatan itu? Bukankah itu penghianatan? Apa jawaban anda?

Jawab: Dalam sejarah tidak pernah tercatat bahwa Ali bin Abi Thalib membai’at Umar dan Utsman. Karena kekhilafahan Umar bin Khattab telah ditentukan oleh Abu Bakar. Orang-orang banyak yang menanyai Abu Bakar, “Mengapa engkau memilih seseorang yang berwatak keras untuk menjadi khalifah? Kelak ia akan menjadi semakin keras dengan begitu. Apa yang akan kau jawab di hadapan Tuhan nanti karena telah menjadikan orang sepertinya sebagai khalifah kami?”

Abu Bakar menjawab mereka, “Jawabanku untuk Tuhan kelak adalah: Aku telah memilih orang terbaik untuk menjadi khalifah.”[1]

Begitupula kekhilafahan Utsman bin Affan, kekhalifahannya juga atas usaha Abdurrahman bin ‘Auf. Dengan demikian apa arti bai’at Ali bin Abi Thalib? Sama sekali mereka tidak membutuhkan bai’atnya untuk menjadi khalifah.

Lalu bagaimana anda menyatakan bahwa Ali membai’at mereka?

Adapun mengenai pembai’atan Ali bin Abi Thalib untuk Abu Bakar, dapat dikatakan bahwa menurut Syiah itu bukanlah bai’at. Adapun dalam versi Ahlu Sunah, Ali bin Abi Thalib membai’at Abu Bakar setelah enam bulan dan sepeninggal istrinya, Fathimah Az-Zahra. Lalu dapat dipertanyakan mengapa Ali bin Abi Thalib mengulur waktu sedemikian lama untuk melakukan perbuatan yang benar (bai’at)? Anggap saja Ali bukan Washi Nabi. Siapapun Ali meski ia bukan Washi Nabi, tak dielakkan bahwa ia pun juga sahabat. Sedang jelas sahabat Nabi seperti apa kedudukannya tetaplah junjungan kita. Lalu mengapa sahabat Nabi ini tidak langsung membai’at Abu Bakar begitu bai’atnya diminta? Apa alasannya? Bahkan istrinya, mengapa ia tidak membai’at Abu Bakar sama sekali sampai akhir hayatnya? Bukankah orang yang meninggal dunia dalam keadaan belum membai’at (mengakui) Imam zamannya mati sebagai matinya orang jahil?[2]

Satu lagi, ungkapan penanya yang berbunyi: “Jika ia tidak punya kekuatan, maka ia bukan Khalifah.” Apakah ia mengira kekhilafahan adalah kedudukan yang dapat dicapai dengan pendapat masyarakat? Bagi kami kekhilafahan adalah kedudukan yang telah ditetapkan oleh Tuhan. Kekhilafahan di mata kami tidak membutuhkan pendapat masyarakat sama sekali. Bagi kami sama seperti kenabian. Apakah menurut anda jika seorang Nabi tidak memiliki kekuatan atau pengikut yang banyak maka ia bukan Nabi?


[1] Al-Kharaj, Abu Yusuf Baghdadi, hlm. 100.

[2] Shaih Muslim, jld. 6, hlm. 22; Sunan Baihaqi, jld. 8, hlm. 156.

Bai'at Ali bin Abi Thalib untuk khalifah

Tanya: Bukankah Ali bin Abi Thalib telah membai’at khalifah? Artinya kekhalifahan itu benar bagi Ali?

Jawab: Syiah berkeyakinan bahwa Ali bin Abi Thalib tidak membai’at siapapun. Karena ia mengaku bahwa dirinya-lah khalifah yang telah ditetapkan Tuhan. Namun ternyata kekhilafahan jatuh ke tangan orang lain, yang kemudian “kemaslahatan bersama” menuntutnya untuk menyertai mereka. Ia sendiri pernah berkata:

“Aku melihat bahwa jika aku bersikeras mengambil hakku (kekhalifahan), maka Islam yang ada sekarang ini pun juga akan musnah.”[1]

Ia tidak menemukan cara lain selain menyertai khalifah-khalifah yang ada dan membimbing mereka.

Bahkan ketika sebagian orang-orang Arab menolak untuk membayar zakat, dan akhirnya mereka dikecam, beliau pun juga tidak bisa melakukan apa-apa selain diam. Namun tidak selamanya seperti itu, pada saat-saat tertentu ia menguak kenyataan yang ada dan berseru mengingatkan masyarakat akan hak-haknya.

Menurut para perawi Ahlu Sunah, Ali bin Abi Thalib membai’at khalifah sepeninggal Fathimah Az-Zahra. Namun selama Fathimah Az-Zahra masih hidup, ia terus menerus kesal terhadap Abu Bakar dan tidak mau berbicara dengannya karena marah.[2]

Anggap saja Ali bin Abi Thalib memang betul telah membai’at khalifah sepeninggal istrinya. Namun seluruh ahli hadits bersepakat bahwa Fathimah Az-Zahra sampai akhir hayatnya tidak pernah membai’at bahkan berpaling dari mereka.

Ibnu Hajar dalam Syarah Shahih Bukhari menukilkan: “Fathimah Az-Zahra marah terhadap Abu Bakar dan selalu menjauhinya. Ia tetap dalam keadaan seperti itu hingga enam hari, baru setelah itu ia meninggal dunia. Ali menyolati jasad istrinya dan ia tidak memberitahukan hal itu kepada Abu Bakar.”[3]

Kini kami bertanya, bukankah Fatimah Az-Zahra juga diakui oleh Shahih Bukhari sebagai wanita terbaik di muka bumi? Lalu mengapa ia tidak membai’at Abu Bakar? Jika Abu Bakar berhak untuk menjadi khalifah, lalu mengapa putri nabi ini marah terhadapnya? Rasulullah Saw pernah bersabda:

“Barang siapa mati dan tidak membai’at serta mengakui khalifah/imam di jamannya, maka ia mati sebagai matinya orang di jaman jahiliah.”[4]

Lalu salah satu dari dua pertanyaan ini harus dijawab:

1. Putri nabi Muhammad Saw tidak membai’at Abu Bakar dan tidak mengakuinya. Apakah ia mati sebagai orang jahiliah?

2. Apakah orang yang mengaku khalifah itu sebenarnya bukan khalifah? Yakni ia tidak berhak untuk menjabat sebagai khalifah?

Kita tidak bisa menjawab “ya” untuk pertanyaan pertama. Karena putri Rasulullah Saw adalah orang yang telah disucikan oleh Allah Swt dari noda dan kesalahan; nabi pun berkata tentangnya: “Fathimah adalah penghulu wanita penghuni surga.”[5]

Beliau juga bersabda, “Wahai Fathimah, sesungguhnya Allah Swt marah karena amarahmu dan Ia ridha karena keridhaanmu.”[6]

Lalu jika demikian, maka Fathimah Az-Zahra adalah perempuan suci yang tidak mungkin ia mati sebagai orang jahiliah.

Kita simpulkan, Fathimah Az-Zahra tidak membai’at khalifah itu karena baginya pengaku khalifah itu bukan khalifah yang layak. Sampai akhir hayat ia dalam hatinya mengakui hanya seorang lah khalifah yang sah, yaitu suaminya, Ali bin Abi Thalib.

Menurut Bukhari (jika memang itu benar), Ali bin Abi Thalib membai’at khalifah setelah enam bulan. Lalu jika memang ia layak dibai’at kenapa harus tertunda sekian lama?

Sungguh aneh jika anda hanya mengandalkan sepenggal kisah sejarah bahwa “Ali membai’at khalifah”, itu saja, sedang anda melupakan segala kesedihan yang pernah menimpa Fathimah Az-Zahra selama hidupnya, sepeninggal nabi.

Dengan penjelasan ini dapat kami jelaskan bahwa bai’at Ali bin Abi Thalib setelah enam bulan tersebut tidaklah berarti apa-apa. Karena khalifah sama sekali tidak membutuhkan bai’at darinya; yakni ia (khalifah) telah duduk di tahta kekhalifahan dengan nyaman saat itu juga. Dan, Ali pun bukan orang yang bisa meninggalkan kewajiban hanya karena seorang istri menghalanginya.

Apapun yang dilakukan Ali bin Abi Thalib bersama khalifah masa itu hanya sebatas menyertai dan mengarahkan khalifah demi terjaganya Islam dari perpecahan dan kemusnahan. Bahkan perlu ditambahkan, bahwa bai’at Ali bin Abi Thalib berdasarkan paksaan dari pihak khalifah. Kenyataan tersebut dapat kita fahami dari sepucuk surat yang pernah ditulis oleh Mu’awiyah kepada Ali bin Abi Thalib.


[1] Nahjul Balaghah, surat ke-62.

[2] Shahih Bukhari, jld. 4, hlm. 42; jld. 5, hlm. 82; jld. 8, hlm. 30.

[3] Fathul Bari, kitab Al-Maghazi, bab Ghazwah Khaibar, jld. 7, hlm. 493, hadits 4240 dan juga kitab Al-Faraidh, jld. 12, hlm. 5, hadits 6726.

[4] Shahih Bukhari, jld. 6, hlm. 22, bab Man Farraqa Amr Al-Muslimin; Sunan Al-Baihaqi, jld. 8, hlm. 156.

[5] Ibid, jld. 4, hlm. 25, bab Manaqib Qarabah Rasulullah.

[6] Ibid, jld. 4, hlm. 210; Mustadrak Al-Hakim, jld. 3, hlm. 154.

Mengapa Ali tidak membela istrinya

Tanya: Jika Fathimah Az-Zahra memang dizalimi oleh para sahabat, lalu mengapa suaminya yang pemberani hanya diam dan tidak membelanya?

Jawab: Pertanyaan di atas seakan menjelaskan kenyataan yang pernah terjadi memang demikian. Padahal tidak ada bukti bahwa Ali bin Abi Thalib tidak membela istrinya.

Ali bin Abi Thalib sesuai dengan tuntutan syari’at telah menjaga kehormatan diri dan keluarganya. Penjagaan dan pembelaan saat itu tidak bisa kita anggap harus dengan bentuk pertumpahan darah dan pertikaian, karena tidak menjadi maslahat Islam. Jika Ali memberontak dan berhadapan dengan mereka, maka akan terbentuk dua kelompok di antara umat Islam: kelompok pendukung khalifah, dan kelompok pendukung Ali bin Abi Thalib yang tetap menjaga bai’at terhadapnya sejak peristiwa Ghadir Khum sebelum wafat Nabi. Perpecahan inilah yang tidak diinginkan oleh Ali bin Abi Thalib.

Banyak sekali kaum munafik di waktu itu yang berusaha memperkeruh keadaan. Misalnya Abu Sufyan, musuh bebuyutan Islam, saat itu mendatangi rumah Ali dan berkata kepadanya, “Wahai Ali, berikan tanganmu, aku ingin membai’atmu.”

Ali bin Abi Thalib tahu bahwa Abu Sufyan berlaga menjadi pendukungnya dan ingin membai’at hanya demi terciptanya perselisihan. Oleh karenanya Ali berkata padanya:

“Demi Tuhan engkau mengucapkan kata-katamu ini dengan niat busuk agar berkobar api fitnah di anatara umat Islam. Engkau selalu menginginkan keburukan untuk Islam dan Muslimin. Pergilah, aku tidak menginginkan semua ini darimu.”[1]

Kepada penanya saya ingin jelaskan, bahwa orang yang berani bukanlah orang yang selalu mencabut pedangnya di setiap keadaan tanpa terkecuali. Orang yang berani adalah orang yang menjalankan tugasnya. Betapa banyak orang yang mengaku pemberani namun mereka enggan dan takut untuk mendengar perkataan yang benar.

Pada suatu hari Rasulullah Saw melihat sekelompok orang berkumpul. Ternyata mereka terkagum-kagum akan seseorang. Beliau bertanya kepada mereka, “Siapakah orang itu?” Dijawab, “Ia adalah pendekar pemberani yang mampu mengangkat beban yang sangat berat.” Lalu beliau berkata, “Itu bukanlah orang yang berani; pemberani adalah orang yang mampu mengalahkan keinginan-keinginan nafsunya.”[2]

Sejarah membuktikan bahwa di masa itu Islam masih belum mengakar kuat di hati umatnya. Islam masih baru tumbuh lemah yang mungkin jika tertiup angin, meski angin itu lembut sekalipun, Islam akan tercabut dengan mudahnya dari hati mereka.

Rasulullah Saw berkata kepada ‘Aisyah: “Jika seandainya Quraisy bukanlah orang-orang yang baru masuk Islam, niscaya aku akan merombak Ka’bah. Lalu sebagai gantinya satu pintu, aku akan letakkan dua pintu untuknya.”[3]

Kita akui tidak ada orang yang lebih pemberani dari Nabi Muhammad Saw. Namun beliau tetap melihat kondisi yang sedemikian rupa dan mempertimbangkannya. Apakah benar jika ada sebagian orang-orang munafik yang enggan membayar zakat berkoar sedang umat Islam yang bersaudara saling bertikai?

Orang-orang munafik berharap Ali bin Abi Thalib yang telah menghunuskan pedangnya kepada kaum kafir di perang Badar dan Uhud melakukan hal yang sama terhadap umat Islam sendiri sepeninggal Nabi dengan pedang yang sama. Jika ada yang membenarkan hal tersebut, maka ia bukanlah orang yang memahami sejarah Islam, dan juga tidak mengenal siapakah Ali yang sebenarnya.


[1] Tarikh Thabari, jld. 2, hlm. 449.

[2] Bihar Al-Anwar, jld. 1, hlm. 77 dan 112.

[3] Musnad Ahmad, jld. 6, hlm. 176.

Telah ditentukannya kekhalifahan Imam Ali as

Jika Imam Ali as memang telah ditunjuk oleh Rasulullah saw untuk menjadi khalifah, lalu mengapa beliau bersedia membai’at Abu Bakar? Kalau beliau membai’at Abu Bakar, berarti beliau memang tidak ditentukan nabi sebagai khalifah, atau paling tidak berarti beliau telah menyerahkan haknya kepada orang lain.

Pertanyaan ini memiliki dua sisi:

1. Telah ditentukannya kekhalifahan Imam Ali as oleh nabi.

2. Imam Ali as membai’at Abu Bakar.

Tentang telah ditentukannya kekhalifahan Imam Ali as oleh nabi, dalil-dalilnya sangat banyak dan jelas sekali. Dalil-dalil tersebut tentunya sangat lebih dari cukup bagi orang yang berniat mencari kebenaran tanpa fanatisme. Dalil-dalil tersebut diantaranya adalah:

1. Hadits Yaumul Indzar: Rasulullah saw sejak hari pertama beliau mengumumkan kenabiannya kepada keluarga besarnya telah menjelaskan kekhalifahan Imam Ali as. Di hari yang dikenal dengan Yaumul Indzar atau Yaumud Daar, dalam ucapan-ucapannya kepada Bani Hasyim beliau berkata: “Aku diutus oleh Allah swt untuk mengajakmu kepada kebaikan dunia dan akherat. Siapakah di antara kalian yang bersedia untuk membantuku dalam hal ini?”

Beliau menanyakan hal yang sama sebanyak tiga kali namun tak ada yang menjawab beliau selain Ali bin Abi Thalib as. Dua kali Rasulullah saw memintanya untuk diam, namun kali ketiga beliau menerimanya. Lalu beliau bersabda: “Ia adalah saudaraku, pewarisku, dan khalifah setelahku di antara kalian. Maka dengarkanlah perkataannya dan taati ia.”[1]

2. Hadits Manzilah: Selain itu sering sekali beliau menjelaskan kepada semua orang tentang kedudukan Imam Ali as baginya. Ungkapan-ungkapan yang beliau gunakan dalam ucapannya menunjukkan bahwa Imam Ali as adalah pengganti sepeninggal beliau. Saat Imam Ali as kesal mendengar ucapan-ucapan orang munafik, beliau mengadukannya kepada Rasulullah saw. Kemudian nabi berkata kepadanya: “Wahai Ali, tidakkah engkau ridha di sisiku berkedudukan bagai Harun as di sisi Musa as? Hanya saja tidak ada nabi setelahku.”[2] Di riwayat lain disebutkan: “Bagiku engkau seperti Harun as di sisi Musa as, hanya saja tak ada nabi setelahku.”[3]

Dalam hadits tersebut dijelaskan bahwa kedudukan Imam Ali as di sisi nabi bagaikan kedudukan Harun as di sisi Musa as. Jelas jika seandainya dulu nabi Harun as masih hidup, ia pasti menjadi pengganti nabi Musa as.

3. Hadits Tsaqalain: Beberapa kali Rasulullah saw mengucapkan hadits ini. Beliau bersabda: “Sesungguhnya aku meninggalkan dua hal berharga bagi kalian yang jika kalian berpegang teguh kepada keduanya kalian tidak akan pernah tersesat selamanya, dan salah satunya lebih agung dari lainnya: Kitab Allah swt, tali yang menjulur dari langit ke bumi, dan yang kedua Ahlul Baitku; keduanya tidak akan berpisah hingga keduanya masuk ke dalam telaga surga. Maka lihatlah bagaimana diri kalian kelak akan bersikap.”[4] Dalam hadits tersebut beliau menjelaskan bahwa Al-Qur’an adalah pegangan utama umat Islam dan Ahlul-Bait adalah penafsir Al-Qur’an yang harus dijadikan rujukan. Karena Imam Ali as adalah Ahlul-Bait nabi, hendaknya umat Islam menjadikannya rujukan sepeninggal nabi.

4. Hadits Ghadir: Begitu juga saat Rasulullah saw berada di Ghadir Khum, setelah beliau meminta kesaksian dari seluruh umat Islam bahwa dirinya lebih dahulu daripada harta dan jiwa mereka, beliau bersabda: “Barang siapa menjadikanku tuannya, maka hendaknya menjadikan Ali sebagai tuannya pula. Ya Tuhan, tolonglah orang yang menolongnya, dan hinakanlah orang yang menghinanya.”[5]

Ahlu Sunah Meragukan Hadits Ghadir

Meskipun Ahlu Sunah dikenal meragukan hadits Ghadir sebagai bukti kekhalifahan Imam Ali as, namun dengan melihat indikasi-indikasi sebelum dan sesudah beliau mengucapkan hadits itu, kenyataannya akan jelas bahwa yang dimaksud “tuan” dalam hadits tersebut berarti “pemimpin”. Sebelum mengucapkan hadits itu Rasulullah saw meminta kesaksian umatnya: “Bukankah aku paling berhak atas kalian? Atas jiwa dan harta kalian?” Setelah semua orang mengiyakan, beliau menyatakan bahwa demikian juga Ali bin Abi Thalib memilki wewenang yang sama sepertinya. Lalu setelah itu nabi berdoa agar melaknat orang yang memusuhi Ali bin Abi Thalib as dan menolong orang yang menolongnya. Nabi juga menjelaskan bahwa mencintai Ali as berarti mencintai Allah swt dan nabi-Nya, memusuhi Ali as juga berarti memusuhi Allah swt dan nabi-Nya. Hal-hal sedemikian rupa membuktikan bahwa maksud Rasulullah dalam hadits Ghadir adalah menyatakan kepada semua orang bahwa Imam Ali as adalah pengganti sepeninggal beliau.

Alasan Imam Ali as membai’at Abu Bakar

Adapun Imam Ali as membai’at Abu Bakar, jika itu memang benar, hal itu tidak bertentangan dengan telah ditentukannya kekhalifahan Imam as oleh nabi. Karena tugas beliau adalah memimpin umat; entah beliau diangkat oleh umatnya ataupun tidak, beliau tetap dapat menjalankan tugasnya semaksimal mungkin yang beliau bisa. Imam Ali as membai’at Abu Bakar karena tidak ingin menimbulkan kericuhan di dalam umat Islam. Karena jika tidak maka kekacauan dan perpecahan tersebut akan digunakan oleh musuh-musuh Islam dari Luar, seperti Roma dan Persia saat itu, untuk menyerang dan menghancurkan Islam. Dengan kebijakan tersebut Imam Ali as dapat menghindari keributan di dalam demi memfokuskan fikiran umat Islam bersama untuk menghadapi bahaya musuh-musuh di luar.

Dalam segala keadaan Imam Ali as rela mengorbankan apapun demi Islam. Bagaikan seorang ibu sejati yang rela mengorbankan nyawanya pun demi anaknya.[6] Imam Ali as sendiri berkata: “Demi Allah, aku sama sekali tidak berfikir bahwa Arab akan merampas kekhalifahan dari tangan Ahlul Bait dan menjauhkannya dariku. Aku melihat mereka berbondong-bondong membai’at seseorang. Aku pun enggan untuk membai’atnya. Namun aku melihat ada sekelompok orang yang hendak menghancurkan agama Muhammad saw. Maka aku takut jika aku tidak berbuat apa-apa untuk Islam dan Muslimin maka akan timbul perpecahan di dada Islam, yang mana musibah itu bagiku lebih besar daripada kehilangan kedudukan yang menurut kalian sangat diidamkan.”[7]

Untuk mengkaji lebih jauh:

1. Allamah Sayid Muhammad Husain Husaini Thabthabai, Emam Shenashi, penerbit Hekmat, 1421, jil. 4-7.

2. Sayid Syarafuddin Al-Musawi, Rahbari e Emam Ali as Dar Qor’an va Sonnat, terjemahan Muhammad Ja’far Emami, Moawenat e Farhanggi Sazman e Tablighat, 1370.

Hadits akhir:

Rasulullah saw bersabda: “Wahai Bani Hasyim! Sesungguhnya saudaraku, pewarisku, dan penggantiku di antara keluargaku adalah Ali bin Abi Thalib as. Ia yang akan menunaikan hutang-hutangku dan menjalankan tugas-tugasku.”[8]


[1] Muhammad bin Jarir Thabari, Tarikh Thabari, jil. 2, hal. 321, Tahkik: Muhammad Abul Fadhl Ibrahim; Abdul Rahman bin Muhammad bin Khuldun, Tarikh Ibnu Khuldun, jil. 1, hal. 647; Al-Kamil, jil. 2, hal. 32.

[2] Abul Hasan Ali bin Muhammad bin Atsir, Usdul Ghabah Fi Ma’rifati Ash-Shahabah, jil. 3, hal. 601.

[3] Ahmad bin Ali bin Hajar Al-Asqalani, Al-Ishabah fi Tamyiiz Ash-Shahabah, Tahkik: Adil Ahmad Abdul Maujud dan Ali Muhammad Mu’awidh, jil. 3, hal. 1097; Ahmad bin Yahya bin Jabir Baladzari, Ansab Al Asyraf, Tahkik: Muhammad Hamidullah, jil. 2, hal. 94.

[4] Usdul Ghabah, jil. 1, hal. 490.

[5] Ibid, jil. 1, hal. 439; Abul Fida’ Ismail bin ‘Amr bin Katsir Al-Dimashqi, Al-Bidayah wa An-Nihayah, jil. 5, hal. 210.

[6] Di jaman Umar ada dua orang wanita berselisih mengaku seorang bayi sebagai anaknya. Supaya dapat membuktikan siapa ibu anak itu yang sebenarnya, Imam Ali as berencana untuk memotong anak menjadi dua lalu dibagikan tiap potongnya kepada setiap wanita itu. Salah seorang wanita itu bersedia, namun satunya lagi tidak bersedia dan berkata: “Jangan, lebih baik berikan saja jatahku untuk wanita itu.” Lalu akhirnya Imam Ali menyatakan bahwa ibu yang tidak bersedia anaknya dipotong itu adalah ibu yang sebenarnya. (Qezavat Haye Mohayerol Oqul, Sayid Hasan Muhsin Amin ‘Amili, hal. 37)

[7] Nahjul Balaghah, Faidz Al-Kashani, surat ke 62.

[8] Amali Thusi, 602/1244.

Najis dalam pandangan Syi’ah

Yang dimaksud orang kafir yang najis hukumnya adalah:

1. Orang yang mengingkari Tuhan (tidak menerima adanya Tuhan).

2. Orang yang mengingkari kenabian Rasulullah saw.

3. Orang yang tidak mengesakan Tuhan (menganggap ada lebih dari satu Tuhan).

4. Orang yang mengingkari hal-hal paling penting dalam agama, yang sekiranya pengingkaran itu melazimkan pengingkaran terhadap nabi atau menyebabkan tidak sempurnanya agama.

5. Orang yang mencela para imam maksum atau bahkan memusuhi mereka.

Ada kaidah umum dalam fikih yang berbunyi:

Segala sesuatu di dunia ini suci, kecuali jika terkena benda-benda najis.

Lalu apa benda-benda najis tersebut? Ada 11 macam benda najis:

1. Air seni

2. Kotoran/tinja

—> Yang dimaksud adalah air seni dan kotoran/tinja manusia, hewan yang haram dagingnya yang sekiranya jika dipotong lehernya darahnya menyembur.

3. Sperma

4. Bangkai

5. Darah

—> Sperma, bangkai dan darah manusia serta segala hewan yang jika dipotong lehernya darahnya menyembur adalah najis.

6. Anjing

7. Babi

—> Anjing dan babi, seluruh tubuhnya adalah najis.

8. Minuman keras, dan segala minuman yang memabukkan.

9. Fuqa’ (air gandum non medikal) yang juga memabukkan.

10. Orang kafir.

11. Keringat hewan (seperti onta) yang terbiasa memakan kotoran/tinja.

Segala sesuatu, selain 11 benda najis, adalah suci hukumnya. Namun benda yang suci dapat menjadi najis jika benda najis itu basah, atau terkena cairan hingga menjadi basah, lalu basahannya mengenai benda yang tidak najis itu. Hal ini dikarenakan air yang jumlahnya sedikit dapat menjadi najis jika terkena benda najis.

Lalu air yang telah najis itu jika mengenai benda yang lain, maka ia telah membuat benda lain tersebut najis. Lain halnya jika air berjumlah banyak, karena air yang berjumlah banyak tidak akan najis jika terkena benda najis, asal tidak berubah warna, rasa dan baunya.

Cara mensucikan najis dengan air adalah:

1. Mensucikan wadah-wadah makanan:

a. Dengn air yang banyak (kurr) = 1 kali siram

b. Dengan air sedikit = 3 kali siram

2. Mensucikan selain wadah-wadah makanan:

a. Jika najis karena terkena air kencing:

a.1. Dengan air yang banyak = 1 kali siram

a.2. Dengan air yang sedikit = 2 kali siram

b. Jika najis karena terkena selain air kencing:

b.1. Dengan air yang banyak = 1 kali siram

b.2. Dengan air yang sedikit = 1 kali siram

Penjelasan:

Untuk mensucikan najis, pertama-tama, benda najis (ainun najis) harus kita singkirkan terlebih dahulu, lalu pensucian dilakukan sepert di atas.

Ketika mensucikan benda-benda yang dapat menyerap air seperti pakaian, karpet, atau selainnya, harus diperas tiap kali setelah disiram air.

Segala yang terkena najis dapat disucikan dengan perantara:

1. Air;

2. Tanah;

3. Matahari;

4. Perubahan bentuk;

5. Berpindahnya benda najis;

6. Memeluk agama Islam;

7. Taba’iyat;

8. Tak terlihatnya kembali benda najis;

9. Istibra’ hewan pemakan benda najis;

10. Tak terlihatnya seorang Muslim.

Kita akan membahasnya satu per satu. Adapun yang pertama,

Air

Air dapat mensucikan kebanyakan najis. Namun air sendiri memiliki macam-macam yang harus kita fahami. Air memiliki dua jenis: air murni, dan air tidak murni. Air murni adalah air yang tidak bercampur apa-apa, sehingga bisa disebut “air” saja; lain halnya dengan air tidak murni, seperti air kelapa, air buah, dan lain sebagainya (tidak termasuk air hujan, karena murni).

Hukum-hukum air tidak murni (air mudhaf):

1. Air itu tidak bisa digunakan untuk bersuci dan mensucikan najis;

2. Air mudhaf akan menjadi najis jika terkena benda najis sesedikit apapun;

Macam-macam dan hukum air murni (air mutlaq):

Hanya air murni saja yang dapat mensucikan najis dan digunakan untuk bersuci.

Air murni ada beberapa macam: air yang diam, dan air yang tidak diam. Air yang diam, adalah air murni yang disimpan dalam wadah-wadah tertentu, seperti bejana, timba, ember, dan lain sebagainya. Sedang air yang tidak diam, banyak contohnya seperti air hujan, air sungai, dan air sumur (air sumur tidak dikategorikan sebagai air yang diam, meskipun kita lihat air itu diam)

Hukum air yang diam (yang telah saya maksudkan di atas) adalah:

1. Air yang diam, jika jumlahnya banyak disebut dengan air yang banyak (air kurr);

2. Namun jika sedikit, disebut dengan air sedikit (air qalil).

Yang dimaksud banyak adalah: beratnya 377.419 Kg, atau jika air tersebut ditaruh dalam wadah dan diukur volumenya mencapai 3.5 jengkal panjang * 3.5 jengkal lebar * 3.5 jengkal tinggi, yakni 42.975 jengkal. Adapun jika ada air yang volume atau beratnya kurang dari itu, disebut dengan air sedikit.

Air sedikit juga memiliki beberapa hukum, yang di antaranya adalah:

1. Air sedikit akan menjadi najis jika terkena benda najis sesedikit apapun;

2. Air sedikit yang telah menjadi najis, jika tercampur dengan air yang banyak atau air yang mengalir, maka itu menjadi suci.

3. Air sedikit yang telah digunakan untuk mensucikan najis adalah najis hukumnya (air yang telah terbuang dan disiramkan ke najis).

Adapun hukum air yang banyak adalah:

1. Seluruh air murni (selain air yang sedikit) jika terkena benda najis, asal tidak berubah warna, bau dan rasanya, air itu tidak najis. Hukum ini berlaku untuk air yang mengalir seperti sungai, air hujan yang sedang dalam keadaan turun, dan juga air sumur.

Kriteria spesial yang dimiliki air hujan adalah:

1. Jika air hujan turun mengguyur suat benda atau tempat yang pernah terkena benda najis, namun benda najis itu sendiri sudah tidak ada, maka sekali terguyur itu akan suci;

2. Kita dapat menggelar karpet atau pakaian yang najis di bawah guyuran hujan dan semuanya dapat disucikan dengan sendirinya tanpa perlu kita peras;

3. Jika air hujan mengguyur tanah yang najis, maka tanah itu menjadi suci.

Tanah

Jika kita berjalan kaki, lalu sandal, sepatu atau telapak kaki telanjang kita menginjak benda najis, jika kita teruskan perjalanan sampai benda najis di telapak kaki sepatu atau sandal tidak terlihat lagi maka itu dihukumi telah suci. Jadi, tanah hanya dapat mensucikan telapak kaki dan juga bagian bawah sepatu atau sandal. Namun syarat-syaratnya:

1. Tanah sendiri harus suci;

2. Tanah harus kering;

3. Yang dimaksud tanah bisa mencakup tanah biasa, pasir, kerikil, lantai dari batu bata, dan lain sebagainya (yang masih tergolong dari tanah, bukan benda lain seperti aspal, karpet, lantai dari kayu, dst.).

Matahari

Matahari juga dapat mensucikan najis, namun ada syarat-syaratnya:

1 Yang dapat disucikan adalah tanah, dinding, pohon-pohonan, dan segala yang tidak dapat dipindahkan dengan mudah seperti kursi, meja, dst.;

2. Benda najis harus berupa cairan, yang sekiranya dengan teriknya matahari akan menguap dan menghilang karena kering;

3. Terik matahari harus mengena secara langsung, tidak bisa dalam keadaan mendung, atau sinar matahari melewati kaca, terpantul cermin, dll.;

4. Matahari dengan sendirinya yang telah membuatnya kering, tidak karena dibantu oleh angin atau faktor-faktor lainnya;

5. Jika benda najis yang berbentuk cair itu juga bersama dengan benda najis yang tidak cair, yang tidak cair harus dihilangkan dahulu, karena tidak akan bisa hilang begitu saja dengan terik sinar matahari;

6. Jika tanah, lantai atau dinding pernah terkena najis, namun sudah kering, dan ingin disucikan dengan matahari, kita dapat menyiramnya dengan sedikit air agar basah, lalu dikeringkan dengan sinar matahari.

Perubahan bentuk

Jika benda najis berubah menjadi bentuk lain, maka dapat dihukumi suci. Misalnya, bangkai yang telah berubah menjadi tanah; biji-bijian najis yang telah tumbuh menjadi tumbuhan; kayu najis yang terbakar hingga menjadi abu; air najis yang telah menjadi uap; dan seterusnya.

Berpindahnya benda najis

Contoh untuk masalah ini, adalah darah manusia yang dihisap oleh binatang yang tidak menyembur darahnya jika dipotong lehernya, seperti serangga. Jadi, jika sekor nyamuk menggigit kita, darah kita yang telah masuk ke dalam perutnya tidak najis; jika misalnya nyamuk itu hinggap di dinding lalu kita pukul; asal ia tidak dalam keadaan menghisap darah kita, karena itu tetap dihukumi najis.

Islam

Jika orang kafir mengucapkan dua syahadat dan menjadi Muslim, maka tubuh dan segala sesuatu yang pernah menjadi najis karena tersentuh olehnya, dalam keadaan basah misalnya, menjadi suci semua.

Taba’iyat

Yakni dengan sucinya suatu yang najis menyebabkan sucinya najis yang lain. Misalnya, anggur (minuman) terus direbus hingga menjadi cuka, maka wadahnya menjadi suci pula; mayat yang mulanya najis, setelah dimandikan, ranjang tempat pemandiannya pun menjadi suci pula; dan lain sebagainya.

Tak terlihatnya kembali benda najis

Singkatnya dapat dijelaskan dengan contoh ini, misalnya, seekor ayam pernah terlihat ada benda najis di paruhnya, namun esok harinya kita tidak melihatnya lagi, maka paruhnya dihukumi suci.

Istibra’ hewan pemakan najis

Terkadang ada hewan-hewan piaraan yang terbiasa memakan kotoran, yakni benda najis. Air seni dan kotoran hewan-hewan itu dihukumi najis, meskipun hewan yang mulanya halal untuk dimakan. Untuk membuat mereka menjadi suci kembali, mereka perlu dikarantina. Yakni mereka dikurung dan hanya diberi makanan yang suci saja. Namun berapa lama? Demikian sebagian penjelasannya:

1. Onta = 40 hari;

2. Sapi = 20 hari;

3. Kambing = 10 hari;

4. Bebek = 5 hari;

5. Ayam = 3 hari…

Tidak terlihatnya seorang Muslim

Misalnya, jika kita memiliki seorang teman, ia Muslim, lalu pakaiannya terkena najis. Ia pun menyadari bahwa bajunya najis. Lalu ia meletakkannya di suatu tempat. Kemudian kita pergi dan tidak melihat teman kita ini selama beberapa hari. Pada suatu saat kita bertemu dengannya mengenakan pakaian yang pernah terkena najis itu. Di sini kita dapat memberi kemungkinan bahwa ia telah mensucikannya, maka kita dapat menganggapnya suci.

Sunni dan Syi’ah sepakat mengenai pembelahan bulan yang pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad

Syubhat mengenai terbelahnya bulan

Tanya: Apakah ada bukti-bukti berupa ayat maupun riwayat mengenai pembelahan bulan yang pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw sebagai mukjizat? Jika kita melihat bahwa luasnya bulan tidak mungkin dibelah oleh tangan Nabi Saw yang lebih kecil ukurannya, dan secara logis, pelaku dan objeknya sama sekali tidak sesuai dalam kejadian itu. Lalu bagaimana hal itu bisa terjadi?

Jawab: Kisah pembelahan bulan adalah peristiwa yang benar-benar telah terjadi dan ayat-ayat Al-Qur’an serta riwayat pernah mengisyarahkannya; hanya saja riwayat-riwayat yang menceritakan kisah ini berbeda-beda. Dan karena setiap riwayat tersebut adalah khabar wahid dan tidak bisa dijadikan sandaran dengan sendirinya, maka kita tidak bisa terlalu mempercayai hal-hal partikular yang dijelaskan dalam riwayat-riwayat tersebut. Yang pasti, semua riwayat tersebut menerangkan suatu peristiwa yang pernah terjadi di dunia ini, yaitu Nabi Muhammad Saw pernah menunjuk bulan dan dengan izin Tuhan dan sebagai mukjizat bulan pun terbelah menjadi dua. Dan inilah yang diisyarahkan oleh Al-Qur’an.

Di permulaan surah Al-Qamar, Allah Swt berfirman: “Telah dekat datangnya saat itu dan telah terbelah bulan.”[1].

Ini adalah mukjizat Nabi Muhammad Saw yang telah membuktikan kebenaran kenabiannya yang mana orang-orang yang mengingkarinya di saat itu selalu meminta beliau untuk menunjukkan mukjizatnya. Dan jelas sekali jika kita telah meyakini bahwa para nabi mampu membawakan mukjizat, maka tak ada salahnya jika kita meyakini bahwa Nabi Muhammad Saw pernah membawakan mukjizat berupa pembelahan bulan. Lagi pula, setelah Al-Qur’an dan beberapa riwayat telah menerangkan terjadinya peristiwa tersebut, kita tidak dapat mengingkarinya.

Pada dasarnya, akal kita tidak bisa mengingkari mungkinnya kejadian-kejadian yang luar biasa terjadi. Karena akal kita memahami bahwa mungkin saja di balik alam materi ini terdapat sesuatu yang dapat menjadi sebab bagi terwujudnya kejadian-kejadian yang luar biasa. Hanya saja kita tidak memahami sebab-sebab tersebut.

Sebagian orang yang mengingkari mukjizat ini, mengatakan bahwa terbelahnya bulan yang dijelaskan oleh ayat suci tersebut adalah kejadian yang akan terjadi di hari kiamat; bukan yang telah terjadi di masa lalu dan dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw. Akan tetapi sangkalan ini tidak berarti; karena dalam ayat berikutnya Allah Swt berfirman:

“Dan jika mereka melihat (orang-orang musrik) tanda kebesaran Tuhan (mukjizat), mereka berpaling dan berkata: ‘Ini adalah sihir yang terus menerus.’”[2]

Oleh karena itu, jika terbelahnya bulan dalam ayat ini adalah peristiwa yang akan terjadi di hari kiamat, maka apa maksud berpaling-nya orang-orang musyrik yang menyebut kejadian tersebut sebagai sihir?

Sebagian orang yang lain juga menyangkal dan berkata bahwa ayat tersebut telah mengisyarahkan terpisahnya bulan dari matahari; sebagaimana yang telah ditetapkan dan dibuktikan oleh ilmu pengetahuan. Dan sesungguhnya ini adalah bukti keistimewaan Al-Qur’an Al-Karim yang mana beberapa abad sebelum kenyataan ini dibuktikan oleh ilmu pengetahuan, ia telah menerangkannya terlebih dahulu. Akan tetapi dari segi sastra dan bahasa, pengertian ini tidak benar. Karena dalam bahasa Arab, terpisahnya dua benda yang saling menjauhi disebut dengan infishal dan isytiqaq, bukan insyiqaq yang artinya adalah terbelahnya sebuah benda menjadi dua bagian.

Sebagian yang lain juga ada mengatakan bahwa jika seandainya peristiwa ini benar-benar terjadi, maka pasti para sejarawan non-Muslim yang juga mencatat peristiwa tersebut dalam catatan sejarah mereka. Perlu diketahui di sini bahwa sebagian catatan sejarah tidak selamanya mengandung kebenaran sejati; karena kebanyakan sejarah telah diselewengkan dengan berbagai macam tujuan. Jika ada suatu peristiwa yang telah terjadi dan hal itu merugikan suatu kelompok, maka kelompok tersebut kurang lebih berusaha untuk menutupi kenyataan yang ada. Akhirnya mereka melarang siapapun untuk mencatat peristiwa tersebut di buku catatan sejarah mereka. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa sampai saat ini kita masih belum menemukan data-data historis, misalnya, mengenai kehidupan nabi Ibrahim, Musa, dan Isa As. Padahal dalam agama kita mereka dikenal sebagai manusia yang sangat luar biasa dan memiliki berbagai mukjizat yang menakjubkan. Nabi Ibrahim As misalnya, ia pernah dibakar akan tetapi ia tidak terbakar. Nabi Musa As memiliki tongkat yang mampu membelah lautan dan tangan berwarna putuh bersinar. Nabi Isa As mampu menghidupkan orang yang telah mati. Dikarenakan hal-hal seperti ini kurang mengenakkan bagi beberapa pihak, maka mereka berusaha untuk menutupi kenyataan ini. Terbitnya mentari Islam pun juga demikian; ia tidak disukai oleh kebanyakan orang di masanya. Oleh karenanya mereka berusaha untuk menutupinya dan memalsukan catatan sejarah yang sebenarnya.

Lagi pula, ketika peristiwa ini terjadi di kota Makkah, pada waktu itu Negara-negara di benua Eropa yang mana di sana terdapat banyak sejarawan Eropa, memiliki perbedaan waktu yang sangat jauh berbeda dengan waktu kota Makkah. Dengan demikian peristiwa langit yang terjadi di atas kota Makkah selama beberapa saat saja tidak dapat diketahui oleh penduduk tempat lain yang berjarak jaush dari kota tersebut. Sebagaimana pula jika sebaliknya yang terjadi; yakni jika ada peristiwa langit yang teradi di langit salah satu kota di Eropa, penduduk kota Makkah juga tidak dapat mengetahuinya.

 


[1] QS. Al-Qamar: 1.

[2] QS. Al-Qamar: 2.