Studi Kritis Hadis Yang Dijadikan Hujjah Oleh Nashibi : Syiah Dajjal

Studi Kritis Hadis Yang Dijadikan Hujjah Oleh Nashibi : Syiah Dajjal

Sebagian nashibi yang berakhlak buruk dan berlisan kotor sering mengumbar-umbar panggilan “Syiah Dajjal” yang ia tujukan pada orang yang ia tuduh Syiah Rafidhah. Tidak hanya penganut Syiah yang mendapat panggilan seperti ini, orang yang bukan penganut Syiah seperti kami pun pernah mendapat panggilan seperti ini. Hal ini membuktikan bahwa tidak penting siapapun orangnya asalkan nashibi itu tidak suka maka akan ia panggil dengan sebutan “Syiah Dajjal”.

Baru-baru ini nashibi tersebut membuat tulisan untuk menjustifikasi akhlak buruk-nya. Ia mengatasnamakan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengenai asal kata “Syiah Dajjal”. Tulisan yang maaf berkualitas rendah karena hanya menukil sana sini tanpa meneliti dengan baik. Walhasil hadis-hadis yang ia jadikan hujjah tidak tsabit. Berikut ini adalah analisis singkat mengenai hadis-hadis yang ia jadikan hujjah.

Kami tidak peduli dengan hadis Syiah yang ia nukil, itu di luar kompetensi kami untuk mengomentarinya. Kami hanya akan meneliti hadis-hadis dari kitab Ahlus Sunnah yang dijadikan hujjah oleh nashibi tersebut. Karena kebiasaan Nashibi yang suka menukil hadis tanpa sanad maka kami akan membawakan hadis tersebut dengan sanad yang lengkap.

حدثنا عبد الله حدثنا أبى ثنا أحمد بن عبد الملك ثنا محمد بن سلمة عن محمد بن إسحاق عن محمد بن طلحة عن سالم عن بن عمر قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم ينزل الدجال في هذه السبخة بمر قناة فيكون أكثر من يخرج إليه النساء حتى ان الرجل ليرجع إلى حميمه والى أمه وابنته وأخته وعمته فيوثقها رباطا مخافة ان تخرج إليه ثم يسلط الله المسلمين عليه فيقتلونه ويقتلون شيعته حتى ان اليهودي ليختبئ تحت الشجرة أو الحجر فيقول الحجر أو الشجرة للمسلم هذا يهودي تحتى فاقتله

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepada kami Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Ahmad bin ‘Abdul Malik yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Salamah dari Muhammad bin Ishaaq dari Muhammad bin Thalhah dari Saalim dari Ibnu Umar yang berkata Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “Dajjal akan turun di lembah Mirqanah, yang keluar kepadanya kebanyakan adalah kaum wanita sampai-sampai ada seorang laki-laki kembali pada orang yang menyusuinya, kembali kepada ibunya, putrinya, saudarinya, bibinya dan mengikatnya karena khawatir akan keluar mengikutinya [Dajjal]. Kemudian Allah SWT akan memberikan kemenangan pada kaum muslimin untuk membunuhnya [Dajjal] dan membunuh Syiah-nya sampai-sampai Yahudi bersembunyi dibelakang pohon atau batu dan pohon atau batu itu berkata kepada orang muslim “ini Yahudi dibelakangku maka bunuhlah ia” [Musnad Ahmad 2/67 no 5353]

Nashibi mengutip perkataan Syaikh Ahmad Syakir yang menyatakan hadis ini shahih. Sayang sekali pernyataan ini keliru. Hadis dengan sanad diatas tidak shahih karena Muhammad bin Ishaaq seorang mudallis, Ibnu Hajar memasukkannya dalam mudallis martabat keempat [Thabaqat Al Mudallisin no 125] dan riwayat Muhammad bin Ishaaq diatas dengan ‘an anah maka kedudukannya dhaif. Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata tentang hadis ini “sanadnya dhaif”.

Ada yang luput dari perhatian nashibi tentang hadis diatas. Syiah Dajjal yang dimaksud dalam hadis diatas adalah orang-orang Yahudi yang mengikuti Dajjal sampai-sampai mereka bersembunyi di belakang pohon atau batu dan pohon atau batu itu berkata “ini Yahudi”. Jadi tidak ada sangkut pautnya terminologi “Syiah Dajjal” dalam hadis diatas dengan kaum muslim.

أخبرنا أبو القاسم العلوي أنا رشأ بن نظيف أنا الحسن بن إسماعيل أنا أحمد بن مروان نا زيد بن إسماعيل نا شبابة بن سوار نا حفص بن مورق الباهلي عن حجاج بن أبي عثمان الصواف عن زيد بن وهب عن حذيفة قال أول الفتن قتل عثمان بن عفان وآخر الفتن خروج الدجال والذي نفسي بيده لا يموت رجل وفي قلبه مثقال حبة من حب قتل عثمان إلا تبع الدجال إن أدركه وإن لم يدركه آمن به في قبره

Telah mengabarkan kepada kami Abul Qaasim Al ‘Alawiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Rasyaa’ bin Nazhiif yang berkata telah menceritakan kepada kami Hasan bin Isma’iil yang berkata telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Marwaan yang berkata telah menceritakan kepada kami Zaid bin Isma’iil yang berkata telah menceritakan kepada kami Syabaabah bin Sawwaar yang berkata telah menceritakan kepada kami Hafsh bin Muwarriq Al Baahiliy dari Hajjaaj bin Abi ‘Utsman Ash Shawwaaf dari Zaid bin Wahb dari Hudzaifah yang berkata awal fitnah adalah pembunuhan Utsman dan akhir fitnah adalah keluarnya Dajjal. Demi Yang jiwaku ada ditanganNya, tidak akan mati seseorang yang dalam hatinya ada kecintaan terhadap pembunuhan Utsman kecuali ia mengikuti Dajjal jika ia menemuinya dan jika ia tidak menemuinya maka ia akan mengimaninya di dalam kuburnya [Tarikh Ibnu Asakir 39/477]

Riwayat Ibnu Asakir ini disebutkan nashibi tanpa sanad tanpa nukilan ulama yang menyatakan shahih bahkan tanpa referensi dari kitab Tarikh Ibnu Asakir. Nashibi hanya berkata “riwayat Ibnu Asakir” kemudian menyebutkan tanpa sanad dan berhujjah dengannya. Riwayat Ibnu Asakir ini kedudukannya sangat dhaif bahkan maudhu’ [palsu] karena

Ahmad bin Marwaan disebutkan Ibnu Hajar bahwa Daruquthni berkata “ia disisiku termasuk pemalsu hadis” dan Maslamah bin Qaasim menyatakan ia tsiqat [Lisaan Al Miizaan juz 1 no 931]. Pernyataan Maslamah tidak bisa dijadikan pegangan karena ia sendiri  dikatakan Adz Dzahabiy “dhaif” [Al Mughniiy no 6237]. Hafsh bin Muwarriq Al Baahiliy tidak ditemukan biografinya sehingga kedudukannya majhul.

أَخْبَرَنِي أَبُو الْحَسَنِ مُحَمَّدُ بْنُ عبد الْوَاحِد بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ جَعْفَرٍ أَخْبَرَنَا عَلِيُّ بْنُ عُمَرَ الدَّارَقُطْنِيُّ حَدَّثَنَا أَبُو الْحسن عَليّ بن مُحَمَّد بْنِ عُبَيْدٍ الْحَافِظُ حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ حَازِمٍ حَدَّثَنَا سَهْلُ بْنُ عَامِرٍ حَدَّثَنَا فُضَيْلُ بْنُ مَرْزُوقٍ عَن أبي الجحالف عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْحَسَنِ عَنْ زَيْنَبَ عَنْ فَاطِمَةَ بِنْتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِعَلِيٍّ يَا أَبَا الْحَسَنِ أَمَا إِنَّكَ وَشِيعَتَكَ فِي الْجَنَّةِ وَإِنَّ قوما يَزْعمُونَ أَنَّهُمْ يُحِبُّونَكَ يَضْفِرُونَ الإِسْلامَ ثُمَّ يَلْفِظُونَهُ يَمْرُقُونَ مِنْهُ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ لَهُمْ نَبَزٌ يُقَالُ لَهُمُ الرَّافِضَةُ فَإِنْ أَدْرَكْتَهُمْ فَقَاتِلْهُمْ فَإِنَّهُمْ مُشْرِكُونَ

Telah mengabarkan kepadaku Abul Hasan Muhammad bin ‘Abdul Wahid bin Muhammad bin Ja’far yang berkata telah mengabarkan kepada kami Aliy bin Umar Daruquthni yang berkata telah menceritakan kepada kami Abul Hasan Aliy bin Muhammad bin Ubaid Al Hafizh yang berkata telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Haazim yang berkata telah menceritakan kepada kami Sahl bin ‘Aamir yang berkata telah menceritakan kepada kami Fudhail bin Marzuuq dari Abul Jahhaaf dari Muhammad bin ‘Amru bin Al Hasan dari Zainab dari Fathimah binti Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata kepada Aliy “wahai Abul Hasan, engkau dan Syiah engkau akan berada di dalam surga dan akan ada kaum yang menganggap bahwa mereka mencintaimu, mereka merendahkan Islam kemudian meninggalkannya, mereka lepas darinya seperti anak panah yang lepas dari busurnya, mereka memiliki nama yang buruk, mereka disebut dengan Rafidhah, jika kamu menemui mereka maka perangilah mereka karena mereka adalah musyrik [Muudhih Awham Al Khatiib 1/51]

Nashibi tersebut mengutip hadis ini dan mengakui bahwa hadis ini lemah. Kami katakan bahwa hadis ini sangat dhaif karena Sahl bin ‘Aamir Al Bajalliy, Abu Hatim mendustakannya dan Bukhari berkata “mungkar al hadiits”. Lafaz Abu Hatim yang dinukil dari anaknya adalah Abu Hatim menyatakan Sahl dhaif dan sering meriwayatkan hadis-hadis bathil. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [Lisaan Al Miizaan juz 3 no 413]

حَدَّثَنَا أَبُو عَلِيٍّ إِسْمَاعِيلُ بْنُ الْعَبَّاسِ الْوَرَّاقُ ، قَالَ : حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ الصَّبَّاحِ الزَّعْفَرَانِيُّ ، قَالَ : حَدَّثَنَا شَبَابَةُ ، قَالَ : حَدَّثَنَا سَوَادَةُ بْنُ سَلَمَةَ ، أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ قَيْسٍ ، قَالَ : اجْتَمَعَ عِنْدَ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ جَاثُلِيتُو النَّصَارَى ، وَرَأْسُ الْجَالُوتِ ، فَقَالَ الرَّأْسُ : أَتُجَادِلُونَ ؟ عَلَى كَمِ افْتَرَقَتِ الْيَهُودُ ؟ قَالَ : عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِينَ فِرْقَةً ، فَقَالَ عَلِيٌّ عَلَيْهِ السَّلامُ : ” لَتَفْتَرِقَنَّ هَذِهِ الأُمَّةُ عَلَى مِثْلِ ذَلِكَ ، وَأَضَلُّهَا فِرْقَةً وَشَرُّهَا الدَّاعِيَةُ إِلَيْنَا أَهْلَ الْبَيْتِ وَآيَةُ ذَلِكَ أَنَّهُمْ يَشْتِمُونَ أَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا

Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Aliy Isma’iil bin ‘Abbaas Al Warraaq yang berkata telah menceritakan kepada kami Al Hasan bin Muhammad bin Ash Shabbaah Az Za’faraaniy yang berkata telah menceritakan kepada kami Syabaabah yang berkata telah menceritakan kepada kami Sawaadah bin Salamah bahwa ‘Abdullah bin Qais berkata “sekumpulan orang nashraniy datang menemui Aliy dan pemimpin mereka adalah ulama besar dari Yahudi. Berkata pemimpin mereka “apakah kamu akan berdebat dengan kami? Berapa banyak kelompok Yahudi terpecah?” ada 71 firqah maka Aliy [‘alaihis salam] berkata “Umat ini pun akan terpecah seperti itu  dan firqah yang paling sesat adalah yang menyeru kepada kami Ahlul Bait dan ciri-ciri mereka adalah bahwa mereka mencaci Abu Bakar dan Umar [radiallahu ‘anhuma] [Al Ibanah Al Kubra Ibnu Baththah 1/1229 no 254]

Nashibi mengutip hadis ini dan berhujjah dengannya seperti biasa untuk merendahkan Syiah bahwa menurut Imam Aliy syiah yang sekarang yang menyeru kepada Ahlul Bait adalah firqah yang paling sesat.

Riwayat Ibnu Baththah diatas dhaif karena Ibnu Baththah dikatakan Adz Dzahabi bahwa ia Imam Qudwah ahli ibadah faqih syaikh Iraq dan Adz Dzahabi juga berkata ““bersama dengan keutamaannya, ia memiliki kesalahan dan kekeliruan” [As Siyar 16/530]. Adz Dzahabiy memasukkan namanya dalam Mughniiy Adh Dhu’afa dimana ia berkata “Imam tetapi ia lemah karena sering melakukan kesalahan” [Al Mughniiy no 3944]

Abul Qaasim Al Azhaariy berkata “Ibnu Baththah dhaif dhaif bukanlah hujjah”. Al Khatib ketika mengomentari salah satu hadis Ibnu Baththah berkata “hadis ini bathil dari hadis Malik dan bathil dari hadis Mush’ab darinya dan bathil dari hadis Al Baghaawiy dari Mush’ab, maudhu’ dengan sanad ini dan yang bertanggung jawab atasnya adalah Ibnu Baththah” [Tarikh Baghdad Al Khatib 10/373]. Sawaadah bin Salamah tidak ditemukan biografinya sehingga kedudukannya majhul.

Berdasarkan pembahasan di atas maka kita dapat melihat sepintas bagaimana metode Nashibi itu dalam berhujjah dengan hadis. Metode Nashibi itu dalam mengutip hadis itu ada tiga macam yaitu

  1. Menukil tanpa sanad, kemudian berhujjah dengannya seolah-olah itu riwayat shahih
  2. Menukil tanpa sanad dan mengutip perkataan salah satu ulama yang menshahihkannya
  3. Menukil tanpa sanad dan tahu bahwa hadis itu lemah tetapi tetap dijadikan hujjah karena Syiah juga berhujjah dengan hadis lemah.

Metode seperti ini adalah kebiasaan yang sering dilakukan oleh sebagian penganut Syiah dalam berdiskusi. Tentu saja kebiasaan seperti ini tidak bermanfaat dan faktanya menghasilkan kesan bahwa penganut Syiah sering berhujjah dengan hadis dhaif. Hal ini disebabkan tidak setiap ulama benar dalam menshahihkan hadis.

Tetapi ada kebiasaan yang jauh lebih aneh yaitu kebiasaan yang dilakukan nashibi si mulut “Syiah Dajjal”. Orang ini suka menuduh penganut Syiah berdusta ketika menukil hadis padahal metode tulisannya tidak jauh berbeda dengan metode penganut Syiah. Kalau dalam bahasa awam itu namanya “tidak tahu malu” atau “gak nyadar kali ya”.

Mungkin nashibi itu beralasan bahwa yang ia lakukan adalah demi membantah Syiah. Nah itu berarti bahwa kualitas nashibi itu sendiri tidaklah berbeda dengan Syiah yang ia cela atau ia tuduh “Syiah Dajjal”. Jika Syiah berhujjah dengan hadis dhaif maka apa ia akan berhujjah dengan hadis dhaif pula. Jika begitu apa bedanya dalil Syiah dan dalil yang ia gunakan. Bagaimana mungkin dikatakan boleh berhujjah dengan hadis dhaif asalkan digunakan untuk membantah Syiah yang berhujjah dengan hadis dhaif?.

Sudah jelas siapapun orangnya apakah Sunni atau Syiah, berhujjah dengan hadis dhaif adalah keliru. Kalau ia menganggap metode dirinya benar maka Syiahpun juga benar. Jika Syiah berdusta maka apa ia akan ikut berdusta pula. Bagaimana mungkin dikatakan dibolehkan berdusta asalkan digunakan untuk membantah kedustaan Syiah?.

Kami tekankan bahwa kami tidak ada masalah dengan siapapun yang mau membela Ahlus Sunnah dan membantah Syiah ataupun sebaliknya tetapi harus diingat bahwa jangan sampai kebablasan dalam membantah sehingga memakai akhlak yang buruk dan lisan yang kotor. Apalagi jika lisan kotor tersebut diimbaskan juga pada orang lain yang bukan Syiah.  Dan yang paling menjijikkan adalah menjustifikasi lisan kotor-nya dengan mengatasnamakan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Semoga Allah SWT melindungi kita dari keburukan yang seperti ini. Salam Damai

Mursi Ingin Kembangkan Hubungan dengan Iran, sedangkan Israel menyatakan Inilah Tragedi

Mursi Ingin Kembangkan Hubungan dengan Iran

Senin, 25 Juni 2012, 15:06 WIB
Mursi Ingin Kembangkan Hubungan dengan Iran
Mohammed Mursi

Presiden terpilih Mesir Mohammed Mursi dalam wawancara dengan kantor berita Iran, Fars, Senin, mengatakan ia ingin mengembangkan hubungan dengan Teheran guna menciptakan “keseimbangan” strategis di wilayah tersebut.

Sebagaimana dikutip Fars, Mursi mengatakan ia tertarik pada hubungan lebih baik dengan Teheran. “Ini akan menciptakan keseimbangan tekanan di wilayah ini, dan ini adalah bagian dari program saya,” katanya.

Fars, sebagaimana dikutip Reuters melaporkan Mursi berbicara beberapa jam sebelum hasil pemilihan umum Mesir diumumkan, Ahad.

Ahad larut malam, dalam pidato pertamanya yang disiarkan televisi, setelah ia secara resmi dinyatakan sebagai pemenang dalam pemilihan presiden, Mursi juga mengatakan ia akan menghormati semua kesepakatan internasional dan menginginkan perdamaian.

“Kami akan bekerja keras untuk menjaga keamanan Mesir … Kami menghormati semua kesepakatan dan konvensi internasional. Kami telah memberitahu dunia bahwa kami mengingini perdamaian,” kata Mursi sebagaimana dikutip Xinhua.

“Kami akan membentuk hubungan yang seimbang dengan semua kekuatan internasional. Itu akan seimbang antara kami dan semua negara lain dengan dasar kepentingan bersama dan saling menghormati. Kami akan berusaha memperlakukan mereka secara sama,” kata pemenang dalam pemilihan presiden Mesir tersebut.

Mursi mengatakan Mesir takkan mencampuri urusan negara lain, atau membiarkan siapa pun mencampuri urusan dalam negerinya. Mursi, calon dari Ikhwanul Muslimin, berjanji akan menjadi presiden buat semua orang Mesir.

“Tak ada perbedaan antara Koptik dan Muslim. Semua diperintah oleh hukum,” kata Mursi. “Persatuan nasional adalah satu-satunya cara untuk membawa Mesir ke luar dari keadaan saat ini.”

Komisi pemilihan presiden, Ahad sore, mengumumkan Mursi sebagai pemenang dalam pemungutan suara, dengan mengantungi 51,7 persen suara, dan mengalahkan mantan perdana menteri Ahmed Shafiq.

Mursi Menang, Israel: Inilah Tragedi

Senin, 25 Juni 2012, 06:05 WIB
Mursi Menang, Israel: Inilah Tragedi
Zionis Israel

Rezim Zionis Israel menyebut kemenangan kandidat presiden dari kubu Islam di Mesir sebagai tragedi bagi Tel Aviv.

Menurut laporan al-Alam Ahad (24/6), Israel setelah pengumuman kemenangan Muhammad Mursi, kandidat presiden Mesir dari kubu Ikhwanul Muslimin menyatakan bahwa kemenangan ini merupakan fase hitam dalam sejarah hubungan Tel Aviv-Kairo.

Salah satu sebab kekhawatiran Israel atas kemenangan Mursi adalah ketakutan Tel Aviv atas pembatalan perjanjian Kamp David. Israel dan Mesir tahun 1978 menandatangani kesepakatan Kamp David guna menormalisasikan hubungan kedua pihak.

Komisi Pemilihan Umum Mesir Ahad (24/6) mengumumkan, Muhammad Mursi, kandidat presiden dari Ikhwanul Muslimin meraih suara 13.230.131 (sekitar 52 persen) dan unggul dari rivalnya, Ahmad Shafiq yang meraih suara 12.347.380 atau sekitar 48 persen.

Setelah 84 Tahun, Organisasi Terlarang Itu Akhirnya Memimpin Mesir

Senin, 25 Juni 2012, 05:33 WIB
Setelah 84 Tahun, Organisasi Terlarang Itu Akhirnya Memimpin Mesir
Anggota Ikhwanul Muslimin saat menggelar demonstrasi di Tahri Square, Kairo, Mesir, (20/4).

Ikhwanul Muslimin akhirnya meraih kekuasaan tertinggi di Mesir setelah berjuang selama 84 tahun di negeri Seribu Menara itu.

Padahal, organisasi yang didirikan dai kesohor Mesir, Hassan Al Banna, pada 1928 itu dinyatakan sebagai organisasi terlarang di tiga era presiden, yaitu sejak Presiden Gamal Abdel Nasser yang berkuasa pada 1956-1970, berlanjut ke Presiden Anwar Saddat (1970-1981), hingga Presiden Hosni Mubarak (1981-2011).

Ikhwanul Muslimin belakangan mendapat momentum ketika dunia Arab dilanda “demam” Revolusi Musim Semi atau Arab Spring dengan tumbangnya rezim pimpinan Presiden Hosni Mubarak pada 11 Februari 2011 menyusul tumbangnya Presiden Tunisia, Zaine Abidin Ben Ali, sebulan sebelumnya.

Di era sebagai organisasi terlarang itu, banyak pemimpin Ikhwanul Muslimin dilaporkan disiksa dan dipenjara tanpa lewat pengadilan.

Bahkan, salah satu tokoh karismatik, Sayed Qutub, dihukum gantung di era Presiden Abdel Nasser pada 1966 atas dakwaan usaha penggulingan pemerintah.

Alhasil, kini Ikhwanul Muslimin telah meraih posisi terhormat dalam kekuasaan, dan diharapkan dapat membawa kesejahteraan bagi masyarakat.

Harapan itu kini berada di pundak akademisi lulusan Amerika Serikat itu. Moursi dilahirkan di desa Adwah, Provinsi Syarqiyah, bagian timur Mesir, pada 20 Agustus 1951 dari keluarga petani sederhana.

Seperti pemimpian Ikhwanul Muslimin lainnya, doktor bidang teknik material jebolan University of Southern California pada 1982 itu telah makan asam garam dalam perjuangan dengan keluar masuk penjara akibat keteguhan sikapnya.

Selain di dunia akademisi, Ketua Partai Kebebasan dan Keadilan, sayap politik Ikhwanul Muslimin, itu juga telah berpengalaman dalam politik sebagai anggota DPR di era Mubarak dalam Pemilu pada 2000 selaku juru bicara kubu Ikhwanul Muslimin di dewan legislatif.

Moursi memiliki seorang istri dan dikaruniai lima anak dan tiga cucu. Kini dunia menanti kiprah organisasi Islam itu untuk menunjukkan kemampuan mereka dalam mengelola pemerintahan yang produktif, bersih dan berwibawa.

wahabi terlibat terorisme di indonesia !

 

Gerakan Wahabi Internasional

Cara NU Mencegah Wahabi Masuk Desa

Ajaran Wahabi mendorong orang menjadi teroris 

Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj.

Kang Said: Ideologi Wahabi Selangkah Lagi Jadi Terorisme

Bendera negara Wahabi 

Bendera negara Wahabi

Apa dan Bagaimana langkah Nahdlatul Ulama (NU) dan pesantren mencegah pergerakan Wahabi Salafi di Indonesia yang masuk ke kampung-kampung dan desa?

Inilah wawancara n  dengan Ketua Umum PBNU Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj.

Berikut petikan wawancaranya:

Bagaimana sebenarnya Wahabi di Indonesia?

Itu sebenarnya sudah lama, tapi eksisnya sejak tahun 80-an setelah Arab Saudi membuka LIPIA (Lembaga llmu Pengetahuan Islam dan Arab). Ketika itu direkturnya masih bujangan yang kawin dengan orang Bogor. Kemudian menampakkan kekuatannya, bahkan mereka membuka yayasan-yayasan.

Jadi, sebenarnya, Wahabi ajarannya bukan teroris, tapi bisa mencetak orang jadi teroris karena menganggap ini itu bid’ah, musyrik, lama-lama bagi orang yang diajari punya keyakinan,” Kalau begitu orang NU boleh dibunuh dong, kalau ada maulid nabi boleh di bom,” dan seterusnya.

Soal pemalsuan kitab-kitab Sunni, khususnya kitab yang jadi referensi NU, bagaimana?

Kita sudah berjuang sekuat tenaga untuk mengkounter pendapat mereka. Kita jangan minder dan merasa kalah. Kalau hanya dihujat maulid nabi gak ada dalilnya, atau ziarah kubur gak ada dalilnya, sudah banyak buku yang ditulis untuk membantahnya. Misalnya yang ditulis pak Munawir-Yogya, Abdul Manan-Ketua PP LTM NU, Idrus santri Situbondo, Muhyiddin Abdus Somad dari Jember, dan lain sebagainya. Banyak yang menulis buku tentang dalil-dalil amaliah kita.

Ziarah kubur dalilnya ini, maulid nabi dalilnya ini, tawassul dalilnya ini. Seperti saya sering mengatakan maulid nabi itu memuji-muji nabi Muhammad, semua sahabat juga memuji nabi Muhammad, setinggi langit bahkan. Nabi Muhammad diam saja tidak melarang.

Tawassul, semua sahabat juga tawassul dengan Rasulullah. Tawassul dengan manusia, Rasulullah lho! Bukan Allahumma langsung, tapi saya minta tolong Rasullulah.sampai begitu! Litarhamna, rahmatilah kami. Labid bin Rabiah mengatakan, kami datang kepadamu wahai manusia yang paling mulia di atas bumi, agar engkau merahmati kami. Coba, minta rahmat kepada Rasulullah, kalau itu dilarang, kalau itu salah, Rasulullah pasti melarang, “jangan minta ke saya, musrik”. Tapi Enggak tuh!

Dalam Al-Quran juga ada dalil, walau annahum idz dzalamu anfusahum jauka fastaghfarullaha wastaghfara lahumurrasul lawajadullaha tawabarrahima (surat Ahzab). Seandainya mereka yang zalim datang kepada Muhammad, mereka istigfar, dan kamu pun (Muhammad) memintakan istighfar untuk mereka, pasti Allah mengampuni.

Bagaimana dengan kitab-kitab Wahabi?

Ya kan sudah banyak yang diterjemah, bahkan kalau ada orang pergi haji pulang dapat terjemahan. Itu dari kitab-kitab Wahabi semua.

Siapa pendiri Wahabi?

Begini, Muhammad bin Abd Wahab, pendiri Wahabi itu mengaku bermazhab Hambali, tapi Hambali versi ibn Taimiyah.

Ibnu Taimiyah adalah pengikut Hambali yang ekstrim. Imam Hambali itu imam ahli sunnah yang empat yang selalu mendahulukan nash atau teks daripada akal, jadi banyak sekali menggunakan hadist ahad. Kalau Imam Hanafi kebalikannya, dekat dengan akal. Murid Imam Hambali lebih ekstrim, lahirlah Ibnu Taimiyah yang kemudian punya pengikut Muhammad bin Abd Wahab. Di sini menjadi luar biasa, malah dipraktekkan menjadi tindakan, bongkar kuburan. Sementara Ibnu Taimiyah masih teori dan wacana.

Asal Usul Wahabi dari mana?

Bukan dari Mekkah, dari Najd, Riyadh. Orang Makkah asli, Madinah asli, Jiddah asli gak ada yang Wahabi, hanya tidak berani terang- terangan.Dulu hampir saja terjadi fitnah, ketika mahkamah Syar’iyyah al ‘ulya (mahkamah tinggi syar’i) menghukumi Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki harus dibunuh karena melakukan kemusyrikan. Keputusannya sudah ditandatangani oleh Raja Khalid, tapi dimasukkan laci oleh Raja Fahd.waktu itu putera mahkota, katakanlah dibekukan! Kalau terjadi, gempar itu!

Untuk membendung gerakan Wahabi, apa yang harus diiakukan NU?

Saya yakin kalau yang keluaran pesantren gak terpengaruh. Saya di sana 13 tahun, sedikitpun, malah berbalik benci. Semua yang keluaran dari NU ke sana, seperti pak Agil Munawar, Masyhuri Na’im, gak ada yang Wahabi.

Semua keluaran sana gak ada yang Wahabi kalau dari sini bekalnya kuat. Atau bukan NU, seperti Muslim Nasution dari Wasliyah, pak Satria Efendi dari PERTI, gak Wahabi meskipun di sana belasan tahun sampai doktor. Pak Maghfur Usman, Muchit Abdul Fattah, pulang malah sangat anti, Wahabinya.

Insya Allah Selama pesantren- NU masih eksis, Wahabi gak akan masuk. Wahabi pertama kali dibawa Tuanku Imam Bonjol yang tokoh Padri. Padri itu pasukan berjubah putih yang anti tahlil. Hanya waktu itu kekerasannya Imam Bonjol untuk menyerang Belanda. Padahal ke internal juga keras. Imam Bonjol itu anti ziarah kubur. Kuburannya di Manado. Waktu saya ke Menado ditawari, “mau ziarah kubur gak?” Ya waktu hidupnya gak seneng ziarah kubur, masak saya ziarahin?

Tentang pengikut Wahabi yang banyak dari kalangan Eksekutif?

Orang kalau sudah punya status sosiai, direktur, sudah dapat kedudukan, terhormat, kaya, yang kurang satu, ingin mendapatkan legitimasi sebagai orang soleh dan orang baik-baik. Nah, mereka kemudian mencari guru agama. Guru agama yang paling gampang ya mereka, ngajarinya gampang. Kalau ngaji sama orang NU kan sulit, detil. Kalau sama mereka yang penting ini Islam, ini kafir, ini halal, ini haram, doktrin hitam putih. Sehingga di antara orang-orang terdidik terbawa oleh aliran mereka. Karena masih instan faham agamanya. Kaiau kita gak, kita faham agamanya sejak kecil.

Inti gerakan Wahabi itu di semua lini ya?

Harus diingat bahwa berdirinya NU itu adalah karena perilaku Wahabi. Wahabi mau bongkar kuburan Nabi Muhammad, KH Hasyim bikin komite Hijaz yang berangkat Kiai Wahab, Haji Hasan Dipo (ketua PBNU pertama), KH Zainul Arifin membawa suratnya kiai Hasyim ketemu Raja Abdul Azis mohon, mengharap, atas nama umat Islam Jawi, mohon jangan dibongkar kuburan Nabi Muhammad. Pulang dari sana baru mendirikan Nahdlatul Ulama.

Jadi memang dari awal kita ini sudah bentrok dengan Wahabi. Lahirnya NU didorong oleh gerakan Wahabi yang bongkar-bongkar kuburan, situs sejarah, mengkafir- kafirkan, membid’ah-bid’ahkan perilaku kita, amaliah kita. Tadinya diam saja, begitu yang mau dibongkar makam Nabi Muhammad, baru KH Hasyim perintah bentuk komite tersebut.

Seberapa Kuat Wahabi Sekarang?

Sebetulnya tidak kuat, sedikit. Tapi dananya itu yang luar biasa. Dan belum tentu orang yang ikut karena percaya Iho! Artinya kan semata-mata karena dapat uang. Uangnya luar biasa. Si Arab-arab itu, kan kebanyakan Arab bukan Habib. Jadi pada dasarnya mereka juga cari uang.

Ancamannya seberapa besar?

Yah, Kalau kita biarkan ya terancam. Kalau setiap hari radio MTA, TV Rodja ngantemin maulid nabi, ziarah kubur, lama-lama orang terpengaruh juga.

Ajaran Wahabi mendorong orang menjadi teroris

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj menyebut ada kaitan antara aliran Wahabi dengan jaringan terorisme. Sebab, ajaran ini menyebutkan ziarah kubur, tahlilan, haul, dan istighosah itu musyrik dan bid’ah.

Nah, di hati dan pikiran anak-anak muda, kalau begitu orang NU musyrik, kalau gitu orang tua saya tahlilan musyrik juga, halal darahnya, bisa dibunuh,” kata dia. Sebab itu, ajaran Wahabi sangat berbahaya.

Sejauh mana pengaruh asing membentuk radikalisme di Indonesia?

Kita awali dulu dari Timur Tengah. Dulu, begitu Anwar Sadat berkuasa di Mesir, tahanan kelompok Ikhwanul Muslimin dipenjara, semua dilepas. Mereka kebanyakan pintar, ahli. Setelah keluar dari tahanan, kebanyakan megajar di Arab Saudi. Di Arab mereka membentuk gerakan Sahwah Islamiyah atau kesadaran kebangkitan Islam. Sebenarnya pemerintah Arab Saudi sudah prihatin, khawatir mereka menjadi senjata makan tuan.

Tapi, kebetulan pada 1980-an, Uni Soviet masuk ke Afghanistan. Pemerintah Arab menjaring, menampung anak-anak, termasuk kelompok Ikhwanul Muslimin, berjihad ke Afghanistan, termasuk Usamah Bin Ladin. Bin Ladin ini keluarga kaya, pemborong Masjidil Haram. Singkat cerita, setelah Soviet lari, kemudian bubar, Arab Saudi memanggil mereka kembali. Yang pulang banyak, yang tidak juga banyak.

Lalu Bin Ladin membentuk Al-Qoidah. Menurut mazhab Wahabi, membikin organisasi bid’ah. Maka Bin Ladin diancam kalau tidak pulang dicabut kewaranegaraannya. Sampai tiga kali dipanggil, tidak mau pulang, maka dicabutlah kewarganegaraanya. Nah, sekarang jadi sambung dengan cerita teroris di Indonesia. Di sini ada DITII, di sana ada Al-Qaiudah. Tapi saya heran, mereka ini berjuang atas nama Islam, tapi tidak pernah ada gerakan Al-Qaidah pergi ke Palestina.

Walau mengebom itu salah, saya heran, padahal mengatasnamakan demi Islam, tapi tidak pernah ada Al-Qaidah pergi ke Israil mengebom atau apalah. Yang dibom, malah Pakistan, Indonesia, dan Yaman. Kenapa tidak pergi ke Israil kalau memang benar-benar ingin berjihad. Walau saya sebenarnya juga tidak setuju kalau sekonyong-konyong mengebom Israel, itu biadab juga. Tapi artinya, kalau benar-benar ingin berjuang kenapa tidak ke Israel.

Lalu hubunganya dengan Indonesia?

Kemudian beberapa organisasi di Indonesia mulai tumbuh. Mohon maaf, ketika beberapa lembaga atau yayasan pendidikan di Indonesia didanai oleh masyarakat Saudi beraliran Wahabi, Ingat, bukan pemerintah Arab Saudi. Dana dari masyarakat membiayai pesantren baru muncul, di antaranya; Asshofwah, Assunnah, Al Fitroh, Annida. Mereka ada di Kebon Nanas, Lenteng Agung, Jakarta, Sukabumi, Bogor, Jember, Surabaya, Cirebon, Lampung dan Mataram.

Mereka mendirikan yayasan Wahabi. Tapi sebentar, jangan salah tulis, saya tidak pernah mengatakan Wahabi teroris, banyak orang salah paham. Tapi doktrin, ajaran Wahabi bisa, dapat mendorong anak-anak muda menjadi teroris. Karena ketika mereka megatakan tahlilan musyrik, haul dan istighosah bidah, musyrik, dan ini-itu musyrik.

Nah, di hati dan pikiran anak-anak muda, kalau begitu orang NU musyrik, kalau begitu orang tua saya tahlilan musyrik juga, halal darahnya, bisa dibunuh. Kalau seperti itu, tinggal ada keberanian atau tidak, ada kesempatan dan kemampuan atau tidak, nekat dan tega atau tidak. Kalau ada kesempatan, ada keberanian, ada kemampuan, tinggal mengebom saja. Walau ajaran Wahabi sebenarnya mengutuk pengeboman, tidak metolerir, tapi ajaran mereka keras,

Contoh, di pesantren Assunnah, Kalisari Jonggrang, Cirebon Kota. Pemimpinnya Salim Bajri, sampai sekarang masih ada, punya santri namanya Syarifudin mengebom masjid Polresta Cirebon, punya santri namanya Ahmad Yusuf dari Losari, mengebom gereja kota di Solo. Ajarannya sih tidak pernah memerintahkan mengebom, tapi bisa mengakibatkan.

Anda setuju Wahabi pembentuk radikalisme?

Saya tidak pernah mengatakan Wahabi teroris, banyak orang salah paham. Tapi doktrin, ajaran Wahabi dapat mendorong anak-anak muda menjadi teroris. Karena ketika mereka megatakan tahlilan musyrik, haul dan istighosah bidah, musyrik, dan ini-itu musyrik. Jadi ajaran Wahabi itu bagi anak-anak muda berbahaya.

Bisa dibilang ada persaingan antara Wahabi dan Sunni?

Ya jelas dong. Jadi mereka punya sistem, uang, dana, pelatih. Tapi sekali lagi jangan salah paham. Saya hormat kepada Raja Abdullah bin Abdul Aziz karena saya alumnus sana. Tapi saya menentang Wahabi.

Jadi sebatas perbedaan pendapat?

Ya, yang saya tentang Wahabi, bukan raja Arab Saudi. Karena duta besar Arab Saudi bilang saya ini mencaci Raja Arab. Itu salah.

Berapa pesantren beraliran Wahabi ini?

Setahu saya ada 12 pesantren, di antaranya Asshofwah, Assunnah, Al Fitrah, Annida. Pesantren seperti ini (Wahabi) lahirnya baru sekitar 1980-an.

Bagaimana anda mengidentifikasi gerakan Wahabi di Indonesia?

Sejak tahun 80-an mulai banyak jaringan Arab Saudi yang bukan jaringan negara tetapi jaringan LSM-nya. Menyebarkan ajaran radikalisme ke seluruh negara non Arab, seperti Pakistan, India, Banglades, dan Indonesia. Di Afrika gerakan ini mengganti nama dari Wahabi menjadi Salafi. Itu ide dua orang Nassirudin Al Albani orang Madinah dan Syekh Mukbil Al- Wakdi di kota Damaz Yaman. Yang salah satu muridnya Jafar Umar Thalib itu.Ini dari sana sama sekali tidak membenarkan pergerakan, tapi hanya purifikasi akidah, seperti memusyrikan tahlil dan haul.

Sekarang ada Wahabi yang ekstrim tinggalnya di London, Abdullah Syururi, ini Wahabi yang pergerakan. Di Indonesia dua-duanya ada di sini. Yang sebatas purifikasi akidah, ini kebanyakan tidak membangun organisasi resmi, pokoknya ceramah sana sini. Tapi ada juga yang harokah, berupa gerakan politik.

Bagaimana membedakan gerakan ini bukan formal kerajaan Arab Saudi, sementara paham ini menjadi mahzab resmi di sana?

Begini, Wahabi dahulu pertama kalinya berdiri memang keras berdarah- darah. Yang menentang di bunuh, kalau tidak menentang minimal tidak boleh mengajar. Namun setelah kekuasaan Abdul Aziz stabil, lalu ada amnesti, walaupun bukan Wahabi dipanggil pulang. Artinya kerajaan Saudi sangat berkembang. Raja Faisal orang yang pertama kali membuka televisi dan madrasah perempuan ini, ditentang oleh ulama-ulama sampai dia ditembak, dibunuh karena melenceng dari mazhab Wahabi.Sekarang pun di sana masih begitu, antara pemerintah dan fundamental itu berseberangan.

Saya tidak mengatakan Wahabi teroris akan tetapi ajaran Wahabi itu bisa membuka pintu dan peluang ke arah teroris. Ketika ada orang yang mengatakan ziarah kubur itu musyrik, bagi anda yang sudah di doktrin mendengar itu, berarti orang NU musyrik, berarti boleh dibunuh. Tinggal tunggu tanggal kapan dia punya keberanian membunuh atau dia tega dan ada kesempatan atau tidak.

Jadi munculnya gelombang pembaharuan ini sekonyong-konyong?

Ini bukan pembaharuan tapi purifikasi, tidak sekonyong-konyong. Jadi waktu itu khilafah Ottoman kedodoran wilayahnya dipereteli oleh penjajah. Tinggal ada jazirah Arabia dan Turki sekarang itu. Islam sedang mengalami kemunduran luar biasa. Itu menurut Muhammad bin Abdul Wahab akibat orang Islam meninggalkan jihad, sibuk dengan kuburan, sibuk dengan tarekat dengan dzikir semangat perangnya tidak ada. Kebetulan ada tokoh masyarakat yang disegani karena dia jawara, namanya Muhammad bin Saud, ingin jadi raja (politik), bekerjasama dengan Abdul Wahab yang kepentingannya ideologi.

Namun pertama bergerak dihantam tentara Turki dari Mesir. Cucunya bin Saud, Abdul Aziz lari ke Bahrain, ketemu dengan Inggris dan Amerika yang sedang mengebor minyak, kemudian dilatih, masuk kembali dan menang.

Bagaimana kelompok Wahabi bisa mengumpulkan dana begitu besar?

Saya kira dari masyarakat mereka yang kaya. Proposal yang diajukan mungkin untuk dakwah, membantu yatim piatu dan fakir miskin, bencana alam masa tidak memberikan. Padahal ketika sampai di sini dananya dibelokkan…

Bapak pernah mengatakan bahwa masjid NU sudah banyak diculik, apa ini benar terjadi?

Bukan masjid NU saja, masjid Muhammadiyah juga banyak, prosesnya pertama kali mereka datang ke situ, bilangnya saya ke sini mau mengabdi tidak usah digaji saya mau jadi marbot. Lama-kelamaan mereka ikut rapat ini itu. Misalnya ada rapat di masjid itu besok Jumat yang ceramah, si ustad anu saja, tidak usah dibayar kok. Datang ustadnya ya itulah antara lain (prosesnya). Mereka punya sistem yang cukup canggih. Teroris ada, ada sistemnya, ada dananya, ada tutornya, ada pelatihnya, ada jaringannya.

Nah keadaan terbuka ini dimanfaatkan secara maksimal oleh mereka. Contoh HTI, di Timur Tengah itu dilarang karena pemikirannya menolak adanya nation, dan hanya mau kembali ke khalifah. Tapi di Indonesia tidak?

Kenapa?

Yaitu, saya juga mempertanyakan hal yang sama.

Bagaimana pola ideologisasi Wahabi di Indonesia, apakah sama dengan di luar negeri?

Sama, mereka awal berdirinya adalah orang Islam yang mengamalkan ajaran Rasullulah sesuai penafsiran Muhammad bin Abdul Wahab, kalau kafir, halal darahnya. Tapi saat ini dari pusatnya tidak sekeras itu, prinsip dakwahnya purifikasi agama Islam.

Prinsipnya masih itu yang dipakai. Akan tetapi agak ke sini setelah Syeh bin Baas, tidak sama pola gerakannya. Hanya jangan ikut bid’ah, tidak ada kata bunuh.

Kalau pola-pola dakwah yang paling utama?

Ya itu tadi di masjid-masjid.

Mereka mendirikan pesantren juga?

Iya, bikin pesantren bikin yayasan, ada 12 yayasan di sini.

Apakah NU pernah mengusulkan Hizbut Tahrir Indonesia ditutup pemerintah?

Secara diskusi sering, bukan langsung perintah, tapi pertimbangan dengan bapak SBY. NU itu diusulkan Ki Wahab kepada Kyai Hasyim didirikan tahun 1914. Namun saat itu belum diizinkan. Tapi tahun 1926 baru diizinkan sebagai reaksi atas Wahabi, karena Wahabi di sana membongkar situs-situs sejarah. Kuburan diratakan dengan tanah. Di Baqi 15.000 kuburan sahabat rata dengan tanah. Kuburanya Nabi Muhammad, Abu Bakar dan Umar yang ada di pojok masjid juga akan dibongkar. Berangkatlah ke sana komite Hijaz, Kyai Wahab, Kyai Zul Arifi n, Syeh Gonaim orang Mesir yang tinggal di Surabaya, dan Hajah Hasan Kipo mohon kepada raja Abdul Aziz agar itu tidak dilakukan.

Soviet saja tidak membongkar kuburan Baihaqi, Buchori yang ada di Samarkand Uzbekistan. Sekarang di Baqi kita mencari kuburan Siti Aisyah saja tidak tahu. Kuburan istri Nabi dimana, bibinya Nabi dimana? Rata dengan tanah. Begitu juga dengan rumah tempat lahirnya Nabi Muhammad ketika pertama kali Wahabi masuk itu dijadikan wc, rumahnya Sayidina Ali dijadikan kandang keledai. Memang sekarang tidak lagi, rumah Nabi jadi perpustakaan, rumah Ali jadi madrasah.

Di masjid itu ada pintu bani Saibah di buang, ada makam Syafi’i dibuang, Baitul Arkom tempat pertama kali Nabi mengkader, dibongkar. Rumahnya Siti Khadijah dibongkar. Rugi besar itu situs sejarah.

Seperti apa tafsiran Abdul Wahab kok bisa luar biasa menyihir?

 Apa yang tidak ada di zaman Nabi Muhammad itu bid’ah, dan bid’ah itu harus diperangi, setiap bid’ahitu sesat, dan setiap sesat itu itu pasti neraka. Itu memang ada dasar dalilnya.

Tapi kita juga kalau mau mencari dasar dalilnya seabreg-abreg. Rasullulah setiap Jumat sore ziarah kubur ke Baqi, setiap tahun ziarah ke Gunung Uhud karena ada kuburan Hamzah, itu kan berarti haul.Apalagi soal memuji-muji Nabi dan sahabat, seabreg-abreg seperti Maulid, saya punya tiga jilid volume buku isinya para sahabat bikin syair memuji Nabi.

Kalau Wahabi bagaimana?

 Mereka hanya mengakui dua hari besar Idul Fitri dan Idul Adha lain itu bid’ah semua. Sekarang rupanya mereka sedang blunder kalau hari nasional tidak diperingati generasi muda tidak akan paham walaupun ada di pelajaran. Bagaimana sejarah berdirinya kerajaan Saudi, apabila tidak diperingati setiap tahun dengan seremonial. Kurang membekas dong.

Apakah dalam hidupnya Abdul Wahab sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad?

 Iya yang ia yakini dijalankan, untuk dirinya dan keluarganya.

Seberapa besar potensi Wahabi di Indonesia mampu membuat kerusakan untuk Islam Indonesia?

 Itu tadi setiap dakwah di daerah mengobrak-abrik yang sudah mapan, terjadilah kerusakan. Masyarakat sudah tenang-tenang setiap syukuran baca maulid, setiap ada kematian baca tahlil, sewaktuwaktu ziarah kubur ke orang tuanya.

Nabi Muhammad itu 13 tahun di Mekah, di masjid ada 330 berhala diatas kabah ada Hubal namanya, tidak pernah diganggu. Setelah hijrah ke Madinah, dan orang Mekah berbondong-bondong masuk Islam, baru dengan kesadaran sendiri membersihkan Masjidil Haram dari berhala.

Jadi mereka kokoh karena selain ideologi juga karena memiliki kekuasaan?

Memang sampai sekarang Wahabi tanpa kekuasaan tidak akan laku. Siapa sih orang bangga ikut Wahabi. Kita bangga dong ikut Syafi’i, Hambali, Maliki, Hanafi , yang jelas kaliber imam besar.

Apa tujuan Wahabi di Indonesia?

 Pertama kali dari sananya itu purifikasi, tapi ditataran action ya ada kepentingan.

 Tapi pemerintah tak bereaksi menghadapi gerakan seperti ini, atau ada pembiaran?

 Ya kita juga tidak tahu kenapa, karena reformasi dan keterbukaan ini setiap orang mendaftarkan LSM Mendagri tidak bisa menolak. Saya pernah diskusi dengan Mendagri di depan Presiden malah. Cobalah ditinjau ulang kembali, tegas saja menurut saya yang bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945 dengan kebhinekaan larang saja organisasinya apapun dan siapa pun.

Tapi sampai sekarang belum ada tindakan?

 Ya itu, belum ada makanya tampak seperti ada pembiaran padahal katakanlah HTI tadi, sudah menolaknation, kalau di Timur Tengah sudah di tolak

Apa Wahabi bisa disebut musuh besar NU dan umat Islam Indonesia?

 Ya musuh dalam tanda petik, bahwa tidak semua yang dari Arab itu bisa kita terima di sini. Kyai Hasyim, Kyai Bisri, Kyai Wahab semua belajar di Arab, pulang tidak jadi kyai Arab, kyai Jawa. Sama saja Pak Hatta kuliah di Belanda pulang gak jadi liberal.

Apa langkah NU untuk mengisolasi gerakan Wahabi dan menyadarkan yang sudah terjebak?

Ya kita tidak henti-hentinya dakwah dan kaderisasi atau memperkuat pelajaran di pesantren. Tapi pertahanan paling kuat adalah keluarga, bila ada anak mendengar khutbah di masjib Wahabi lalu pulang lihat bapaknya tahlil di rumah selesai itu. Mental gak masuk.

Kalau yang namanya ekstrimis itu di mana saja sama. Pokoknya yang bertentangan dengan budaya dan peradaban berarti bertentangan dengan fi trah manusia pasti akan mental, yang langgeng adalah yang moderat dan toleran

Globalis Menciptakan Terorisme Wahhabi Untuk Menghancurkan Islam Dan Menjustifikasi Negara Dunia

Menurut prinsip dialektik Hegel. Pendukung Global telah menciptakan dua kekuatan yang saling bertentangan, “Demokrasi-Liberal” Barat, melawan Terorisme, atau “politik Islam”, mereka memaksa kita untuk menerima alternatif akhir, sebuah Tatanan Dunia Baru.

Barat dan Islam telah lama mengalami masa keserasian, namun sejarah ini telah dikesampingkan untuk membantu mitos “Benturan Kebudayaan” Dalam rangka membakar sentimen Barat melawan Islam. Perhatian kita pusatkan kepada sosok fanatik Wahhabisme, dan lebih spesifik lagi, terhadap seorang exponen paling notorius, yaitu Osama bin Laden.

Sebagaimana diuraikan didalam sebuah tulisan yang bagus oleh Peter Goodgame, The Globalists and the Islamists,, Globalis berperan dalam membentuk dan membiayai semua organisasi teroris abad ke-20, termasuk Ikhwanul Muslimin di Mesir, Hamas di Palestina dan Mujahidin Afghanistan. Akan tetapi sejarah bermuka dua Globalis dapat dilihat jauh ke masa lalu, yaitu pada abad ke-18 ketika Freemasonry Inggris menciptakan sekte Wahhabi di Saudi Arabia, yang diperalat untuk mencapai tujuan imperialis Inggris.

Seorang mata-mata Inggris bernama Hempher bertanggungjawab dalam membentuk ajaran ekstrim Wahhabisme, hal ini disebutkan dalam sebuah karya tulis Turki Mir’at al-Haramain, oleh Ayyub Sabri Pasha antara tahun 1933-1938. Politik Inggris di wilayah jajahan sering menciptakan aliran yang menyimpang, hal ini dilakukan dalam rangka Memecah-belah dan Menaklukan , seperti pembentukkan sekte Islam Ahmadiyyah di India dalam abad ke-19.

Rincian konspirasi ini diuraikan di dalam sebuah dokumen yang kurang dikenal dengan nama The Memoirs of Mr. Hempher diterbitkan dalam bentuk serial (episode) di surat kabar Jerman, der Spiegel , dan kemudian diterbitkan juga di dalam surat kabar terkenal Perancis. Seorang dokter bangsa Libanon menterjemahkan dokumen tersebut ke dalam bahasa Arab, dari bahasa Arab dialih-bahasakan kedalam bahasa Inggris dan beberapa bahasa lainnya.

Dokumen itu merupakan laporan pertanggungjawaban misi Hempher kepada pemerintah Inggris, yang telah menugaskannya ke Timur Tengah untuk menemukan cara-cara bagaimana meruntuhkan Kekaisaran Turki. Diantara rencana jahat Inggris yang dipromosikan Hempher adalah rasialisme, nasionalisme, alkohol, perjudian, pelacuran dan mengupayakan wanita Islam menanggalkan pakaian jilbabnya.

Tapi yang paling penting adalah strategi memasukan bid’ah kedalam ajaran Islam dan kemudian mengkritik Islam sebagai agama teror. Untuk tujuan ini, Hempher memilih orang yang buruk akhlaknya bernama Mohammad Ibn Adbul Wahhab.

Untuk memahami jenis fanatisme yang ditanamkan kedalam ajaran Wahhabisme, pertama-tama penting untuk diketahui bahwa Islam, tanpa melihat suku dan kebangsaannya, menganggap semua orang Islam sebagai saudara se-Iman. Membunuh sesama muslim dilarang keras.

Akan tetapi, sebagai bagian dari siasat Memecah-belah dan Menaklukan, Inggris harus mengadu-domba Arab Islam melawan saudaranya bangsa Turki. Cara satu-satunya untuk melakukan hal tersebut adalah dengan menemukan celah di dalam hukum Islam yang dapat dimanfaatkan, yang dengan itu orang-orang Arab dapat menyatakan Turki sebagai orang yang murtad.

Abdul Wahhab diperalat Inggris agar dapat menyampaikan gagasan jahatnya kepada orang Islam di Semenanjung Arab. Wahhab melaksanakan ide Inggris dengan menghasut para ulama bahwa saudara mereka bangsa Turki telah murtad, oleh karenanya dibolehkan untuk dinunuh bila menolak pembaharuan Islam yang dilakukan Abdul Wahhab, termasuk seluruh dunia Islam yang menolak, memperbudak wanita dan anak-anaknya, kecuali sebagian kecil para pengikutnya yang sesat.

Gerakan Wahhabi tidak berarti tanpa adanya kesetiaan keluarga Saudi, keturunan pedagang Yahudi dari Iraq (were descended from Jewish merchants from Iraq). Para ahli fiqih waktu itu memberikan label kepada Wahhabi sebagai pelaku bid’ah dan mengecam sikap fanatik dan tidak toleran. Meskipun demikian, Wahhabi tetap mempertahankan keyakinannya dengan tidak pandang bulu. melakukan pembantaian terhadap orang Islam dan non-Islam. Kemudian Wahhabi mulai menghancurkan tempat-tempat yang dianggap keramat dan pekuburan umum, mereka mencuri peninggalan Nabi, termasuk Al-Qur’an, karya seni dan barang-barang berupa hadiah yang tak ternilai harganya milik kota yang dikirim ribuan tahun lalu.

Sultan Turki menghentikan perlawanan Wahhabi pertama pada tahun 1818, namun sekte Wahhabi bangkit kembali di bawah pimpinan Saud al-Faisal I. Walaupun tidak kuat, gerakan Wahhabi kemudian bangkit lagi, namun ditumpas lagi oleh Sultan Turki pada akhir abad ke-19.

Setelah Perang Dunia I, bekas wilayah Kekaisaran Turki dipecah-pecah menjadi beberapa wilayah pemerintahan boneka. Untuk membantu meruntuhkan kekuasaan di wilayah itu, Ibnu Saud diberi hadiah oleh Inggris dengan membentuk Kerajaan Saudi Arabia pada tahun 1932. Setahun kemudian, Kerajaan Saudi memberikan konsesi minyak kepada California Arabian Standard Oil Company (Casoc, sekarang bernama CHEVRON), yang dikepalai oleh orang kepercayaan Rothschild, dan pimpinan keluarga Illuminati di Amerika, yaitu Rockefeller. Sejak saat itu, Saudi Arabia menjadi sekutu terpenting Barat di Timur Tengah, bukan hanya sekedar memberikan akses kepada cadangan minyak yang melimpah, tapi juga dalam rangka melemahkan perlawanan Arab terhadap Israel . Kemunafikan penguasa Saudi terlihat jelas dengan menindas secara brutal pihak yang berbeda pandangannya dengan penguasa. Aspek penting lainnya adalah mencegah dan menghalangi para ulama berbicara politik mengkritik rejim penguasa.

Di dalam buku The Two Faces of Islam Stephen Schwartz menulis, : Hawa nafsu mereka membawanya ke kedai minum, kasino, rumah pelacuran … Mereka membeli armada mobil, pesawat jet pribadi, kapal pesiar seukuran kapal perang. Mereka menginvestasikan uangnya dalam seni Barat yang bernilai yang mereka sendiri tidak memahaminya atau yang sejenisnya, seringkali mereka menyakiti perasaan ulama Wahhabi. Mereka membelanjakan uangnya sekehendak hatinya, mereka juga menjadi pola perbudakan seks internasional dan dalam mengeksploitasi anak-anak.

Dalam rangka memperlihatkan dukungannya kepada Islam, rejim Saudi dan ulama bayarannya menyusun versi Islam yang menekankan seremonial agama secara terinci, …. Cara yang dilakukan telah memberikan dukungan atas interpretasi hukum Islam secara harfiah, dan memungkinkan orang-orang seperti bin Laden mengeksploitasi Al-Qur’an sebagai alasan pembenar membunuh orang-orang yang tidak berdosa.

Akhirnya, melimpahnya uang petro-dolar Rothschild dari keluarga Saudi telah memungkinkan bagi mereka melakukan propaganda Islam versi Wahhabi ke bagian dunia lain, terutama sekali ke Amerika, dimana mereka memberikan bantuan keuangan kepada lebih dari 80% mesjid di negeri ini. Wahhabi adalah sebuah versi Islam yang meggantikan kesadaran politik dengan dogma yang menekankan atas pelaksanaan ritual yang fanatik.

Pada tahun 1999 Raja Fahd dari Saudi Arabia menghadiri pertemuan Bilderberg, bersama-sama dengan tokoh lainnya seperti Yasser Arafat dan Paus, untuk membicarakan perannya dalam memajukan kepentingan pemerintahan dunia, Keluarga Saudi jelas merupakan bagian dari jaringan perkumpulan rahasia Illuminati. Kekayaan petro-dolar mereka yang melimpah digunakan untuk mendanai terorisme global, dari Afghanistan sampai ke Bosnia , semata-mata dengan tujuan untuk menimbulkan permusuhan yang kuat dunia melawan Islam.

Pembawa Masuk Islam Pertama Kali Ke Indonesia adalah Syi’ah Imamiyah, Bukan Syi’ah Fathimiyah

oleh : Ustad Husain Ardilla

==========================

Kerajaan Jeumpa Aceh Adalah Kerajaan Islam Pertama Di Nusantara

Teori Islamisasi di Nusantara selama ini Penuh Teori Kebohongan Kaum Sunni dan Penipuan Hindia Belanda

teori Champa ! Gubernur Jenderal Hindia Belanda, TS Raffles, dalam bukunya berjudul The History of Java bahwa Champa bukanlah seperti yang dikenal sekarang di Kambodia. Tapi Champa adalah nama satu daerah di Aceh yakni Jeumpa. Kerajaan Jeumpa Aceh, di dalam buku Ibrahim Abduh yang disadur dari Hikayat Radja Jeumpa adalah sebuah kerajaan yang terletak dari mulai pinggir sungai Peudada hinga Pante Krueng Peusangan Timur! Observasi terkini,  80 meter ke selatan terdapat tapak Maligai Kerajaan Jeumpa yang dikenal dengan sebutan Buket Teungku Keujereun. Di daerah itu ditemukan barang-barang peninggalan kerajaan.

kami mencoba menelusuri kembali jejak-jejak kerajaan Islam Campa di Bireuen ini, karena di kabupaten ini terdapat situs kerajaan Raja Jeumpa, di Desa Blang Seupeung, Kecamatan Jeumpa

TS Raffles yang ber-argumen bahwa: Champa yang banyak di asumsi orang Indonesia bukan berada di Kambodia (Vietnam) sekarang, sebagaimana dinyatakan oleh para peneliti Belanda. Akan tetapi, munurut Raffles, Champa adalah sebuah nama daerah di sebuah wilayah tepatnya berada di Aceh, dan masyarakat Aceh setempat menyebut daerahnya itu dengan nama ”Jeumpa”, sekarang dikenal daerah ini dengan nama kabupaten Aceh Jeumpa kota Bireun.

Kata Jeumpa bagi dialek bahasa Jawa pada saat itu menjadi kata Champa, karena salah penyebutan itu akhirnya bagi ahli sejarah berikutnya mengalamatkan (menghubungkan) Walisongon dengan kerajaan Champa Kambodia dan Vietnam sekarang. Kata Jeumpa di Aceh sendiri terurai indah dalam sebuah lagu clasik Aceh dengan potongan liriknya, “bungong Jeumpa bungong Jeumpa meugah di Aceh” (bunga Jeumpa-bunga  Jeumpa megah di Aceh). Makna dari Bungong Jeumpa adalah, wanita Jeumpa

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Muslim, Rasulullah saw bersabda agar pengikutnya berpegang teguh kepada dua perkara supaya tidak sesat selama-lamanya, yaitu Kitab Allah (al-Qur’an dan Sunnah) dan Itrah (keturunannya). Dua perkara inilah yang menjadi penghubung antara Rasulullah dengan umatnya, sehingga mereka diwajibkan membaca shalawat untuk beliau dan keluarga keturunannya. Karena Ahlul Bayt diamanahkan sebagai benteng utama Islam oleh Allah dan Rasul-Nya dan ummat diperintahkan untuk mencintai, menghormati dan berpegang teguh kepadanya, maka sejak awal kebangkitan Islam para Itrah Rasul mendapat kehormatan dan kedudukan, termasuk di alam Nusantara. Itulah sebabnya ahli sejarah telah mencatat beberapa dinasti Kerajaan Ahlul Bayt Nusantara, baik di wilayah Sumatera, Semenanjung Melayu, Borneo-Kalimantan, Jawa, Sulawesi sampai ke Maluku dan Papua sekarang

.

SEBELUM  ISLAM, ACEH  BERADA  DALAM KEKUASAAN  ORANG ORANG HiNDU DARi GUJARAT,

Kabupaten Bireuen dalam catatan sejarah dikenal sebagai daerah Jeumpa. Dahulu Jeumpa merupakan sebuah kerajaan kecil di Aceh. Menurut Ibrahim Abduh dalam Ikhtisar Radja Jeumpa, Kerajaan Jeumpa terletak di di Desa Blang Seupeung, Kecamatan Jeumpa, Kabupaten Bireuen.Secara geografis, kerajaan Jeumpa terletak di daerah perbukitan mulai dari pinggir sungai Peudada di sebelah barat sampai Pante Krueng Peusangan di sebelah timur.

Silsilah Dinasti Syarief Jamalul Alam (1)

.

Jeumpa, sebelum kedatangan Islam di daerah ini sudah berdiri salah satu Kerajaan Hindu Purba Aceh yang dipimpin turun temurun oleh seorang Meurah dan negeri ini sudah dikenal di seluruh penjuru serta mempunyai hubungan perdagangan dengan Cina, India, Arab dan lainnya.

keberadaan Kerajaan Jeumpa Aceh yang diperkirakan berdiri pada abad ke 7 Masehi

Kerajaan Jeumpa, ketika itu dikuasai Meurah Jeumpa beragama Hindu, kemudiah  datanglah seorang pemuda tampan yang dikenal dengan Syahrianshah Salman  sebagaimana disebut dalam Silsilah keturunan Sultan-Sultan Melayu, yang dikeluarkan oleh Kerajaan Brunei Darussalam dan Kesultanan Sulu-Mindanao dan juga disebutkan dalam Silsilah Raja-Raja Aceh Darussalam oleh Dinas Kebudayaan NAD. Maharaj Syahriar Salman kemudian menikah dengan putri istana Jeumpa bernama Mayang Seludang.

Akibat dari perkawinan itu, Maharaj Syahriar Salman tidak lagi ikut rombongan niaga Persia melanjutkan pelayaran ke Selat Malaka.Sebagian ahli sejarah menghubungkan silsilah Pangeran Salman dengan keturunan dari Sayyidina Hussein ra cucunda Nabi Muhammad Rasulullah saw yang telah menikah dengan Puteri Maharaja Parsia bernama Syahribanun. Dari perkawinan inilah kemudian berkembang keturunan Rasulullah yang telah menjadi Ulama, Pemimpin Spiritual dan Sultan di Dunia Islam, termasuk Nusantara, baik di Aceh, Pattani,Sumatera,Malaya, Brunei sampai ke Filipina dan Kepulauan Maluku

Dikisahkan Pangeran Salman memasuki pusat Kerajaan di kawasan Blang Seupeueng dengan kapal niaga dengan segala awak, perangkat dan pengawal serta muatannya yang datang dari Parsi untuk berdagang dan utamanya berdakwah mengembangkan ajaran Islam, sebagai sebuah misi utama para keturunan Rasulullah saw. Dia memasuki negeri Blang Seupeueng melalui laut lewat Kuala Jeumpa. Sang Pangeran sangat tertarik dengan kemakmuran, keindahan alam dan keramahan penduduknya. Selanjutnya beliau tinggal bersama penduduk dan menyiarkan agama Islam yang telah menjadi anutan nenek moyangnya di Parsia.Rakyat di negeri tersebut dengan mudah menerima Islam karena tingkah laku, sifat dan karakternya yang sopan dan sangat ramah. Apalagi beliau adalah seorang Pangeran dari negara maju Parsia yang terkenal kebesaran dan kemajuannya masa itu

.

Keutamaan dan kecerdasan yang dimiliki Pangeran Salman yang tentunya telah mendapat pendidikan terbaik di Persia negeri asalnya, sangat menarik perhatian Meurah Jeumpa dan mengangkatnya menjadi orang kepercayaan Kerajaan. Karena keberhasilannya dalam menjalankan tugas-tugasnya, akhirnya Pangeran Salman dinikahkan dengan puteri Raja dan dinobatkan menjadi Raja menggantikan bapak mertuanya.

Setelah menjadi Raja,wilayah kekuasaannya diberikan nama dengan Kerajaan Jeumpa. Sejak saat Kerajaan Islam Jeumpa terkenal dan berkembang pesat menjadi kota perdagangan dan transit bagi pedagang-pedagang Arab, Cina, India dan lainnya.Kerajaan Jeumpa menjadi maju dan makmur sekaligus menjadi pusat penyebaran Islam di wilayah Sumatra bahkan Nusantara.

Sal-man  memproklamirkan Kerajaan Islam Jeumpa pada tahun 156 H atau sekitar tahun 777 M. Maka tidak diragukan, Kerajaan Jeumpa adalah Kerajaan Islam pertama di seluruh Nusantara

Jeumpa sebagai Kerajaan Islam pertama di Nusantara memperluas hubungan diplomatik dan perdagangannya dengan kerajaan lainnya. Karena letak geografisnya yang sangat strategis di ujung barat pulau Sumatra, menjadikan wilayah Aceh sebagai kota pelabuhan transit yang berkembang pesat, terutama untuk persiapan logistik dalam pelayaran yang akan menempuh samudra luas dari Cina menuju Persia ataupun Arab

Kerajaan Islam pertama di Aceh, yang juga merupakan Kerajaan Islam pertama di Nusantara adalah Kerajaan Islam Jeumpa yang didirikan oleh salah satu keturunan Nabi Muhammad yang melarikan diri dari Persia bernama Sasaniah Salman al-Parsi pada tahun 154 Hijriah atau sekitar tahun 777 Masehi. Kerajaan Jeumpa menjadi salah satu pusat Islamisasi di Nusantara, khususnya Aceh. Salah seorang Pangeran Jeumpa, Shahrnawi, yang namanya disebut oleh Syekh Hamzah Fansuri, menjadi pelopor pendirian Kerajaan Islam Perlak pada tahun 805 Masehi, dan mengangkat anak saudaranya, Maulana Abdul Aziz keturunan  dari Imam Ja’far Sidiq sebagai Sultan pertama Kerajaan Perlak pada tahun 840 M

.

Pangeran Salman adalah salah seorang pelarian politik dari Persia yang tengah bergejolak akibat peperangan antara Keturunan Nabi saw yang didukung pengikut Syiah dengan Penguasa Bani Abbasiah masa itu (tahun 150an Hijriah). Beliau bersama para pengikut setianya memilih ujung utara pulau Sumatera sebagai tujuan karena memang daerah sudah terkenal dan sudah terdapat banyak pemeluk Islam yang mendiami perkampungan-perkampungan Arab atau Persia.  Jeumpa adalah salah satu pemukiman baru tersebut. Untuk menghindari pengejaran itulah, beliau memilih daerah pinggiriran agar tidak terlalu menyolok. Itulah sebabnya, Pangeran Salman juga dikenal dengan nama-nama lainnya, seperti Meurah Jeumpa, atau ada yang mengatakan beliau sebagai Abdullah

.

Yang perlu dicermati, kenapa Pangeran Salman al-Parsi memilih kota kecil di wilayah Jeumpa sebagai tempat mukimnya, dan tidak memilih kota metropolitan seperti Barus, Fansur, Lamuri dan sekitarnya yang sudah berkembang pesat dan menjadi persinggahan para pedagang manca negara?

1. beliau diterima dengan baik oleh masyarakat Jeumpa dan memutuskan tinggal di sana

2. beliau merasa nyaman dan sesuai dengan penguasa (meurah)

3. keinginan untuk mengembangkan wilayah ini setingkat Barus, Lamuri dan lainnya dan

4. menghindar dari pandangan penguasa

.

Di bawah pemerintahan Pangeran Salman, Kerajaan Islam Jeumpa berkembang pesat menjadi sebuah kota baru yang memiliki hubungan luas dengan Kerajaan-Kerajaan besar lainnya. Potensi, karakter, pengetahuan dan pengalaman Pangeran Salman sebagai seorang bangsawan calon pemimpin di Kerajaan maju dan besar seperti Persia yang telah mendapat pendidikan khusus sebagaimana lazimnya Pangeran Islam, tentu telah mendorong pertumbuhan Kerajaan Jeumpa menjadi salah satu pusat pemerintahan dan perdagangan yang berpengaruh di sekitar pesisir utara pulau Sumatra. Jeumpa sebagai Kerajaan Islam pertama di Nusantara memperluas hubungan diplomatik dan perdagangannya dengan Kerajaan-Kerajaan lainnya, baik di sekitar Pulau Sumatera atau negeri-negeri lainnya, terutama Arab dan Cina.

.

Maharaj Syahriar Salman adalah keluarga bangsawan dari Dinasti Sasanid Persia. Salman yang menjadi panggilannya merupakan seorang pangeran dari Istana Persia, ia berasal dari keluarga kerajaan Persia (H. Awang Muhammad Jamil Al-Sufri, Tarsilah Brunai, 1990 hal 73).

Salman beserta rombongan melakukan perjalanan ke Asia Tenggara untuk menuju ke Selat Malaka, namun sebelum sampai ke sana, Pangeran Salman singgah di negeri Jeumpa dan akhirnya menikah dengan puteri Istana Jeumpa yang bernama Mayang Seludang. Pangeran Salman pun tidak meneruskan perjalanan dengan rombongannya ke Selat Malaka. Akibat dari perkawinan itu, Maharaj Syahriar Salman tidak lagi ikut rombongan niaga Persia melanjutkan pelayaran ke Selat  Malaka.

.

Mayang Seludang adalah puteri dari penguasa Negeri Jeumpa (Bireuen) yang leluhurnya berasal dari Indo Cina, menurut satu riwayat mengatakan bahwa penguasa Jeumpa berdarah campuran lokal dan Indo Cina, karena beberapa abad sebelumnya penguasa Jeumpa menikah dengan seorang puteri Indo Cina dan keturunannya menjadi penguasa Jeumpa.Mereka seterusnya menurunkan Raja dan bangsawan Perlak, Pasai sampai Aceh Darussalam.

.

Menurut penelitian terkini para ahli sejarah,diketahui bahwa sebelum datangnya Islam pada awal abad ke 7 M, Dunia Arab dengan Dunia Melayu-Sumatra sudah menjalin hubungan dagang yang erat sejak 2000 tahun SM atau 4000 tahun lalu. Hal ini sebagai dampak hubungan dagang Arab-Cina melalui jalur laut yang telah menumbuhkan perkampungan perkampungan Arab, Parsia, Hindia dan lainnya di sepanjang pesisir pulau Sumatera

.

Tentu di balik kesuksesan Pangeran Salman membangun dan memimpin Kerajaan Jeumpa, di dukung oleh seorang Maha Ratu yang sangat berperan, karena sebagaimana pepatah menyebutkan di setiap keberhasilan lelaki, pasti ada perempuan yang mendukung keberhasilannya. Siapakah wanita agung yang telah mendukung kegemilangan Maha Raja Jeumpa yang berhasil sebagai pendiri Kerajaan Islam pertama di Nusantara ini?

Menurut Silsilah Sultan Melayu dan Silsilah Raja Aceh, beliau tidak lain adalah Putro Manyang Seulodong atau ada yang menyebutnya dengan Dewi Ratna Keumala, anak Meurah Jeumpa yang cantik rupawan serta cerdas dan berwibawa. Putro Jeumpa inilah yang telah mendukung karir dan perjuangan suaminya sehingga berhasil mengembangkan sebuah Kerajaan Islam yang berwibawa, yang selanjutnya anak keturunannya telah melahirkan Kerajaan Islam di Perlak, Pasai, Pedir dan Aceh Darussalam

.

Menurut penelitian Sayed Dahlan al-Habsyi, Syahri adalah gelar pertama yang digunakan keturunan Nabi Muhammad di nusantara sebelum menggunakan gelar Meurah, Habib, Sayid, Syarief, Sunan, Teuku dan lainnya. Syahri diambil dari nama istri Sayyidina Husein bin Ali, Puteri Syahribanun, anak Maha Raja Parsia terakhir yang ditaklukkan Islam.

menurut pengamatan pakar sejarah Aceh, Sayed Dahlan al-Habsyi, beliau adalah termasuk keturunan Sayyidina Husein ra. Raja Salman menggunakan dua nama ( satu lagi : Abdullah) akibat menghindar dari kejaran para penguasa Parsia yang sedang memburu pelarian keturunan Nabi..Ini artinya, Islam sudah mulai tersebar pada awal abad ke 8 atau sekitar tahun 150-an Hijriah di wilayah Aceh dan memiliki hubungan dengan wilayah Islam lainnya.

Potensi, karakter, pengetahuan dan pengalaman Pangeran Salman sebagai seorang bangsawan calon pemimpin di kerajaan maju dan besar seperti Persia, karena telah mendapat pendidikan khusus sebagaimana lazimnya Pangeran Islam. Semua itu, tentu saja telah mendorong pertumbuhan Kerajaan Jeumpa menjadi salah satu pusat pemerintahan dan perdagangan yang berpengaruh di sekitar pesisir utara pulau Sumatra.Jeumpa sebagai Kerajaan Islam pertama di Nusantara, memperluas hubungan diplomatik dan perdagangannya dengan kerajaan-kerajaan lainnya, baik di sekitar Pulau Sumatera atau negeri lainnya, terutama Arab dan Cina

.

Namun dalam perkembangannya, Kerajaan Perlak tumbuh pesat menjadi kota pelabuhan baru terutama setelah kedatangan rombongan keturunan Nabi yang dipimpin Nakhoda Khalifah berjumlah 100 orang. Syahr Nuwi mengawinkan adiknya Makhdum Tansyuri dengan salah seorang tokoh rombongan tersebut bernama Ali bin Muhammad bin Jafar Sadik, keturunan kepada Nabi Muhammad saw.Dari perkawinan ini lahir seorang putra bernama  Sayyid Abdul Aziz, dan pada  1 Muharram 225  H atau tahun 840 M,  dilantik  menjadi  Raja  dari Kerajaan Islam Perlak dengan gelar Sultan Alaiddin  Sayyid Maulana Abdul Azis Syah

.
Putro Manyang Seuludong bukanlah Cleopatra yang penuh intrik dan tipudaya, walaupun sama-sama Maha Ratu yang memiliki kekuasaan besar terhadap Kerajaan dan rakyatnya. Jika Cleopatra menggunakan kekuasaan, kecantikan dan kecerdasannya untuk memperdaya Yulius dan Anthony serta menghancurkannya, namun Putro Jeumpa ini menggunakannya untuk mendukung kesuksesan suaminya tercinta Pangeran Salman. Bersama suaminya, Sang Maha Ratu Jeumpa ini bahu membahu memajukan Kerajaannya sehingga menjadi sebuah Kerajaan yang terkenal di dunia internasional dan menjadi kota persinggahan para pedagangpedagang dari Arab, Parsia, Cina, india dan lainnya.Apalagi geografi Jeumpa sangat strategis yang berdekatan dengan Barus, Lamuri, Fansur yang lebih dahulu berkembang di ujung barat pulau Sumatra

.

Menurut hasil observasi terkini di sekitar daerah yang diperkirakan sebagai tapak Maligai Kerajaan Jeumpa sekitar 80 meter ke selatan yang dikenal dengan Buket Teungku Keujereun, ditemukan tapak bangunan istana dan beberapa barang peninggalan kerajaan, seperti kolam mandi kerajaan seluas 20 x 20 m, kaca jendela, porselin dan juga ditemukan semacam cincin dan kalung rantai yang panjangnya sampai ke lutut dan anting sebesar gelang tangan. Semua ini tentu menggambarkan kemakmuran dan kemajuan dari Kerajaan Jeumpa 14 abad silam.

Maha Ratu Manyang Seuludong bukan hanya berhasil menjadi pendamping suaminya dalam membangun Kerajaan Jeumpa, tetapi juga berhasil menjadi seorang pendidik agung yang telah melahirkan anak-anak yang melanjutkan perjuangannya menyebarkan dakwah Islamiyah. Sebagai seorang ibu, sudah sepatunya Maha Ratu Jeumpa ini dibanggakan, karena telah berhasil mencetak pemimpin-pemimpin agung untuk agama dan bangsanya. Sang Maha Ratu dikaruniai beberapa orang anak yang menjadi Raja dan Ratu yang sangat berpengaruh dalam perjalanan sejarah pengembangan Islam Nusantara

.

Kecerdasan dan kecantikan Putro Jeumpa ini telah diwariskan kepada keturunannya yang menjadi lambang keagungan putriputri Islam yang berjiwa penakluk dalam memperjuangkan tegaknya Islam di bumi Nusantara. Tidak diragukan bahwa Putro Manyang Seuludong telah menjadi inspirasi bagi perjuangan para Ratu dan putro-putro Jeumpa sesudahnya. Dari keturunan beliaulah telah berkembang puteri-puteri Jeumpa yang terkenal kecantikan dan kecerdasannya ke seluruh kerajaan di Nusantara. Puteri-puteri Jeumpa telah menjadi lambang kewibawaan para Ratu Islam di istana-istana Perlak, Pasai, Malaka . Itulah sebabnya dalam perjalanan sejarah Aceh, senantiasa dipenuhi dengan wanita-wanita agung yang berjiwa patriotik dan penakluk serta membuat sejarah kegemilangannya masing-masing yang tidak pernah dicapai oleh wanita-wanita lainnya di Nusantara, bahkan di negeri Arab sekalipun

.

Menurut silsilah keturunan sultan-sultan Melayu yang dikeluarkan Kerajaan Brunei Darussalam dan Kesultanan Sulu-Mindanao. Kerajaan Islam Jeumpa dipimpin seorang Pangeran dari Parsia yang bernama Syahriansyah Salman atau Sasaniah Salman yang kawin dengan Puteri Mayang Seuludong dan memiliki beberapa anak, diantaranya, Syahri Poli, Syahri Tanti, Syahri Nuwi, Syahri Dito dan Makhdum Tansyuri

1. Syahri Poli alias Syahri Pauli alias Syahri Puli merantau ke negeri Samaindera (Pidie) , Syahri Pauli menjadi Meurah di Negeri Sama indra (sekarang Pidie). Syahri Poli adalah pendiri dari Kerajaan Poli yang selanjutnya berkembang menjadi Kerajaan Pidier di wilayah Pidie sekarang yang wilayah kekuasaannya sampai ujung barat Sumatera. Beliau merantau ke Barat (Pidie, sekarang) kemudian di negeri itu diangkat menjadi penguasa Negeri Sama Indra (Pidie). Syahri Poli menjadi Meurah mendirikan Kerajaan Poli yang selanjutnya berkembang menjadi Kerajaan Pidie

2. Syahri Tanti alias Syahri Dauli alias Syahri Duli pergi merantau ke negeri Indra Purba (Aceh Besar), Syahir Dauli diangkat menjadi Meurah di Negeri Indra Purwa (sekarang Aceh Besar). Beliau merantau ke daerah negeri barat paling ujung (Banda Aceh, sekarang), karena kecakapannya diangkat menjadi penguasa Negeri Indra Pura (Aceh Besar, sekarang). Syahri Tanti mengembangkan kerajaan yang ratusan tahun selanjutnya menjadi cikal bakal berdirinya Kerajaan Samudra-Pasai.

3. Syahri Nuwi (Meurah Fu), pendiri kota Perlak dengan gelar Meurah Syahri Nuwi

4. Syahri Dito alias  Syahri Tanwi alias Syahri Puri  di angkat menjadi Meurah Negeri Jeumpa

5. Makhdum Tansyuri, menikah dengan kepala rombongan Khalifah yang dibawa Nakhoda, Maulana Ali bin Muhammad din Ja’far Shadik, yang melahirkan Maulana Abdul Aziz Syah, Raja pertama Kerajaan Islam Perlak.Makhdum Tansyuri yang menjadi ibu dari Sultan pertama Kerajaan Islam Perlak yang berdiri pada tahun 805 Masehi

Keempat putera Maharaj Syahrian Salman sering dikenal dengan kaum imam empat (kawom imum peuet) atau penguasa empat.Dalam sejarah Aceh selanjutnya, tidak diragukan Putro Jeumpa Manyang Seuludong telah memberikan inspirasi kepada anak keturunannya. Merekalah yang kelak dikenal sebagai “Kaom Imeum Tuha Peut” (penguasa yang empat). Dengan demikian, kawasan-kawasan sepanjang Selat Malaka dikuasai oleh darah keturunan Maharaj Syahriar Salman dari Dinasti Sassanid Persia dan bercampur dengan darah pribumi Jeumpa (sekarang Bireuen)

.

Sultan pertama Perlak adalah Sultan Alaiddin Syed Maulana Abdul Aziz Shah, yang beraliran Syiah dan merupakan keturunan Arab dengan perempuan setempat, yang mendirikan Kesultanan Perlak pada 1 Muharram 225 H (840 M). Ia mengubah nama ibukota kerajaan dari Bandar Perlak menjadi Bandar Khalifah. Sultan ini bersama istrinya, Putri Meurah Mahdum Khudawi, kemudian dimakamkan di Paya Meuligo, Peureulak, Aceh Timur

Kerajaan Islam Perlak akhirnya berkembang menjadi sebuah kerajaan yang maju menggantikan peran dari Kerajaan Islam Jeumpa.Setelah berdirinya beberapa Kerajaan Islam baru sebagai pusat Islamisasi Nusantara seperti  Kerajaan Islam Perlak (840-an) dan Kerajaan Islam Pasai (1200-an), Kerajaan Islam Jeumpa yang menjalin kerjasama diplomatik tetap memiliki peran besar dalam Islamisasi Nusantara, khususnya dalam penaklukkan beberapa kerajaan besar Jawa-Hindu seperti Majapahit

.
Dapat dikatakan bahwa Kerajaan Islam Perlak adalah kelanjutan atau pengembangan dari Kerajaan Islam Jeumpa yang sudah mulai menurun peranannya. Namun secara diplomatik kedua Kerajaan ini merupakan sebuah keluarga yang terikat dengan aturan Islam yang mengutamakan persaudaraan. Apalagi para Sultan adalah keturunan dari Nabi Muhammad yang senantiasa mengutamakan kepentingan agama Islam di atas segala kepentingan duniawi dan diri mereka. Bahkan dalam silsilahnya, Sultan Perlak yang ke V berasal dari keturunan Kerajaan Islam Jeumpa

.

Syahr Nuwi mengawinkan adiknya Makhdum Tansyuri dengan salah seorang tokoh rombongan tersebut bernama Ali bin Muhammad bin Jafar Sadik, keturunan kepada Nabi Muhammad saw. Dari perkawinan ini lahir seorang putra bernama Sayyid Abdul Aziz, dan pada 1 Muharram 225 H atau tahun 840 M dilantik menjadi Raja dari Kerajaan Islam Perlak dengan gelar Sultan Alaiddin Sayyid Maulana Abdul Azis Syah.  Karena wilayahnya yang strategis Kerajaan Islam Perlak akhirnya berkembang menjadi sebuah Kerajaan yang maju menggantikan peran dari Kerajaan Islam Jeumpa

Putri Tansyir Dewi, menikah dengan Sayid Maulana Ali al-Muktabar, anggota rombongan pendakwah yang tiba di Bandar Perlak dengan sebuah kapal di bawah Nakhoda Khalifah. Kapal itu memuat sekitar 100 pendakwah yang menyamar sebagai pedagang. Rombongan ini terdiri dari orang-orang Quraish, Palestina, Persia dan India. Rombongan pendakwah ini tiba pada tahun 173 H (800 M). Sebelum merapat di Perlak, rombongan ini terlebih dahulu singgah di India

.
Sayid Maulana Ali al-Muktabar berfaham Syiah, merupakan keturunan dari Sayid Muhammad Diba`i anak Imam Jakfar Asshadiq (Imam Syiah ke-6) anak dari Imam Muhammad Al Baqir (Imam Syiah ke-5), anak dari Syaidina Ali Muhammad Zainal Abidin, yakni satu-satunya putra Syaidina Husen, putra Saidina Ali bin Abu Thalib dari perkawinan dengan Siti Fatimah, putri dari Muhammad Rasulullah saw.

Keikutsertaan Sayid Maulana Ali al-Muktabar dalam rombongan pendakwah karena Khalifah Makmun bin Harun Al Rasyid (167-219 H/813-833 M) meminta  menyebarkan Islam di Hindi, Asia Tenggara dan kawasan-kawasan lainnya. Khalifah Makmun sebelumnya berhasil meredam “pemberontakan” kaum Syiah di Mekkah yang dipimpin oleh Muhammad bin Ja`far Ashhadiq.

selain sayid ada juga yang orang Arab lainnya dari Bani Hasyim dan juga keturunan Rasulullah lainnya yang datang ke Perlak dalam rangka menyiarkan agama Islam dan kemudian mereka berbaur dengan masyarakat setempat terutama dengan keluarga Meurah seperit Syarifah Azizah yang menikah dengan Sultan Perlak ke-11 Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abadullah Syah Johan Berdaulat.

Adik  bungsu  Syahir  Nuwi   yaitu  Putri Tansyir Dewi, menikah dengan Sayid Maulana Ali al-Muktabar, anggota rombongan pendakwah yang tiba di Bandar Perlak dengan sebuah kapal di bawah Nakhoda Khalifah. Kapal itu memuat sekitar 100 pendakwah yang menyamar sebagai pedagang. Rombongan ini terdiri dari orang-orang Quraish, Palestina, Persia dan India.. Perkawinan Putri Tansyir Dewi dengan Sayid Maulana Ali al-Muktabar membuahkan seorang putra bernama Sayid Maulana Abdul Aziz Syah, yang kelak setelah dewasa dinobatkan sebagai Sultan Alaidin Sayid Maulana Abdul Aziz Syah, sultan pertama Kerajaan Islam Perlak

Selanjutnya, salah satu anak buah Nakhoda Khalifah, Ali bin Muhammad bin Ja`far Shadiq dinikahkan dengan Makhdum Tansyuri, adik dari Syahir Nuwi. Dari perkawinan mereka inilah lahir kemudian Alaidin Syed Maulana Abdul Aziz Syah, Sultan pertama Kerjaan Perlak. Sultan kemudian mengubah ibukota Kerajaan, yang semula bernama Bandar Perlak menjadi Bandar Khalifah, sebagai penghargaan atas Nakhoda Khalifah. Sultan dan istrinya, Putri Meurah Mahdum Khudawi, dimakamkan di Paya Meuligo, Perlak, Aceh Timur.

Sultan Alaidin Syed Maulana Abdul Aziz Syah merupakan sultan yang beralirah paham Syiah. Aliran Syi’ah datang ke Indonesia melalui para pedagang dari Persia. Mereka masuk pertama kali melalui Kesultanan Perlak

Kerajaan Perlak  berdiri tahun 840 M dengan rajanya yang pertama, Sultan Alaidin Syed Maulana Abdul Aziz Syah. Sebelumnya, memang sudah ada Negeri Perlak yang pemimpinnya merupakan keturunan dari Meurah Perlak Syahir Nuwi atau Maharaja Pho He La

Pendiri kesultanan Perlak adalah sultan Alaiddin Sayid Maulana Abdul Azis Shah yang menganut aliran atau Mahzab Syiah. Ia merupakan keturunan pendakwah arab dengan perempuan setempat. Kerajaan perlak didirikannya pada tanggal 1 Muharram 225 H atau 840 masehi, saat kerajaan Mataram Kuno atau Mataram Hindu di Jawa masih berjaya. sebagai gebrakan mula-mula, sultan Alaiddin mengubah nama ibu kota kerajaan dari bandar Perlak menjadi Banda Khalifah.

Kini jelaslah kepada kita bahwa – Kerajaan  (Peureulak) dimulai pada 840 M sampai dengan Sulthan Maghdum Alaiddin Malik Abdul Aziz Shah Johan berdaulat adalah terakhir tahun 1292 M. Artinya, Dinasti Islamiyah di Peureulak telah Berjaya selama 452 tahun lamanya.

Disini dapat kita simpulkan bahwa ada dua tokoh penyebar  Islam ke Aceh yang berasal dari tanah Persia :

1. Maharaj Syahriar  Salman : seorang pangeran keturunan Dinasti Sasanid Persia

2. Sayid Maulana Ali al-Muktabar  keturunan  Rasulullah SAW

Kerajaan Perlak tumbuh pesat menjadi kota pelabuhan baru terutama setelah kedatangan rombongan keturunan Nabi yang dipimpin Nakhoda Khalifah berjumlah 100 orang

Setelah tampilnya Kerajaan Islam Perlak sebagai pusat pertumbuhan perdagangan dan kota pelabuhan yang baru, peran Kerajaan Islam Jeumpa menjadi kurang menonjol. Setelah berdirinya beberapa Kerajaan Islam baru sebagai pusat Islamisasi Nusantara seperti Kerajaan Islam Perlak (840an) dan Kerajaan Islam Pasai (1200an), Kerajaan Islam Jeumpa yang menjalin kerjasama diplomatik tetap memiliki peran besar dalam Islamisasi Nusantara, khususnya dalam penaklukkan beberapa kerajaan besar Jawa-Hindu seperti Majapahit misalnya. Di kisahkan bahwa Raja terakhir Majapahit, Brawijaya V memiliki seorang istri yang berasal dari Jeumpa (Champa), yang menurut pendapat Raffless berada di wilayah Aceh dan bukan di Kamboja sebagaimana difahami selama ini

.

Setelah Kerajaan Islam Perlak yang berdiri pada tahun 805 Masehi tumbuh dan berkembang, maka pusat aktivitas Islamisasi nusantarapun berpindah ke wilayah ini. Dapat dikatakan bahwa Kerajaan Islam Perlak adalah kelanjutan atau pengembangan daripada Kerajaan Islam Jeumpa yang sudah mulai menurun peranannya. Namun secara diplomatik kedua Kerajaan ini merupakan sebuah keluarga yang terikat dengan aturan Islam yang mengutamakan persaudaraan. Apalagi para Sultan adalah keturunan dari Nabi Muhammad yang senantiasa mengutamakan kepentingan agama Islam di atas segala kepentingan duniawi dan diri mereka. Bahkan dalam silsilahnya, Sultan Perlak yang ke V berasal dari keturunan Kerajaan Islam Jeumpa.

 Tansyir Dewi menikah dengan seorang sayid keturunan Arab yang bernama Sayid Maulana Ali al-Muktabar, selain sayid ada juga yang orang Arab lainnya dari Bani Hasyim dan juga keturunan Rasulullah lainnya yang datang ke Perlak dalam rangka menyiarkan agama Islam dan kemudian mereka berbaur dengan masyarakat setempat terutama dengan keluarga Meurah seperit Syarifah Azizah yang menikah dengan Sultan Perlak ke-11 Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abadullah Syah Johan Berdaulat.

Sayid Ali Muktabar bin Muhammad Dibai bin Imam Jakfar al-Shadiq merupakan salah satu keturunan dari Ali bin Abi Thalib, Muhammad bin Jakfar al-Shadiq adalah imam Syiah ke-6 yang juga masih keturunan Rasulullah SAW melalui anaknya Nabi bernama Siti Fatimah

Sebelumnya, dinasti Umayah dan Abasiyah sangat menentang aliran Syiah yang dipimpin oleh Ali bin Ali Abu Thalib, tidak heran pada masa dua dinasti tersebut tidak mendapatkan tempat yang aman dan selalu di ditindas karena jumlah minoritas, sehingga banyak dari penganut Syiah menyingkir dari wilayah yang dikuasai oleh dua dinasti tersebut.

Pada masa pemerintahan Khalifah Makmun bin Harun al-Rasyid (167-219 H/813-833 M) akhirnya mengirim pasukannya ke Mekkah untuk meredakan ketegangan kaum Syiah itu, Khalifah Makmun memutuskan kepada Muhammad bin Jakfar al-Shadiq untuk hijrah dan menyebarkan Islam ke Hindi, Asia Tenggara dan sekitarnya.

Wan Hussein Azmi dalam Islam di Aceh mengaitkan kedatangan mereka dengan Revolusi Syi’ah yang terjadi di Persia tahun 744-747. Revolusi ini di pimpin Abdullah bin Mu’awiyah yang masih keturunan Ja’far bin Abi Thalib. Bin Mu’awiyah telah menguasai kawasan luas selama dua tahun (744-746) dan mendirikan istana di Istakhrah sekaligus memproklamirkan dirinya sebagai raja Madian, Hilwan, Qamis, Isfahan, Rai, dan bandar besar lainnya. Akan tetapi ia kemudian dihancurkan pasukan Muruan di bawah pimpinan Amir bin Dabbarah tahun 746 dalam pertempuran Maru Sydhan. Kemudian banyak pengikutnya yang melarikan diri ke Timur Jauh. Para ahli sejarah berpendapat, mereka terpencar di semenanjung Malaysia, Cina, Vietnam, dan Sumatera, termasuk ke Perlak.

Pendapat Wan Hussein Azmi itu diperkaya dan diperkuat sebuah naskah tua berjudul Idharul Haqq fi Mamlakatil Ferlah w’l-Fasi, karangan Abu Ishak Makarni al-Fasy, yang dikemukakan Prof. A. Hasjmi. Dalam naskah itu diceritakan tentang pergolakan sosial-politik di lingkungan Daulah Umayah dan Abbasiyah yang kerap menindas pengikut Syi’ah. Pada masa pemerintahan Khalifah Makmun bin Harun al-Rasyid (813-833), seorang keturunan Ali bin Abi Thalib, bernama Muhammad bin Ja’far Shadiq bin Muhammad Baqr bin Zaenal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib, memberontak terhadap Khalifah yang berkedudukan di Baghdad dan memproklamirkan dirinya sebagai khalifah yang berkedudukan di Makkah.

Khalifah Makmun berhasil menumpasnya. Tapi Muhammad bin Ja’far Shadiq dan para tokoh pemberontak lainnya tidak dibunuh, melainkan diberi ampunan. Makmun menganjurkan pengikut Syi’ah itu meninggalkan negeri Arab untuk meluaskan dakwah Islamiyah ke negeri Hindi, Asia Tenggara, dan Cina. Anjuran itu pun lantas dipenuhi.

Sebuah Angkatan Dakwah beranggotakan 100 orang pimpinan Nakhoda Khalifah yang kebanyakan tokoh Syi’ah Arab, Persia, dan Hindi —termasuk Muhammad bin Ja’far Shadiq— segera bertolak ke timur dan tiba di Bandar Perlak pada waktu Syahri Nuwi menjadi perintis  Negeri Perlak. Syahri Nuwi kemudian menikahkan Ali bin Muhammad bin Ja’far Shadiq dengan adik kandungnya, Makhdum Tansyuri. Dari perkawinan ini lahir seorang putra bernama Sayyid Abdul Aziz, dan pada 1 Muharram 225 H dilantik menjadi Raja dari kerajaan Islam Perlak dengan gelar Sultan Alaiddin Sayyid Maulana Abdul Azis Syah. 

.

satu kapal yang memuat rombongan angkatan dakwah termasuk di dalamnya Sayid Ali Muktabar. Menurut kitab Idharul Haq fi Mamlakat al-Perlak yang ditulis oleh Syekh Ishak Makarani al-Pasi pada tahun 173 H (800 M) Bandar Perlak disinggahi oleh satu kapal yang membawa kurang lebih 100 orang da’i yang terdiri dari orang-orang Arab suku Qurasy, Palestina, Persia dan India dibawah Nakhoda Khalifah dengan menyamar menjadi pedagang

.

Rombongan Nakhoda Khalifah ini disambut oleh penduduk dan penguasa negeri Perlak yakni pada masa Meurah Syahir Nuwi. Pada masa itu pula, Meurah Syahir Nuwi menjadi raja pertama yang menganut Islam di Perlak. Sayid Ali Muktabar sendiri kemudian menikah dengan adik Syahir Nuwi yang bernama puteri Tansyir Dewi yang kemudian mereka dianugerahi seorang putra bernama Sayid Maulana Abdul Aziz Syah. Saat Sayid Maulana Abdul Aziz Syah dewasa, akhirnya dinobatkan menjadi Sultan Pertama Kerajaan Islam Perlak

Pada masa pemerintahan sultan ketiga, Sultan Alaiddin Saiyid Maulana Abbas Syah, aliran Sunni mulai masuk ke Peureulak. Setelah wafatnya sultan pada tahun 363 H (913 M), terjadi perang saudara antara kaum Syi’ah dan Sunni sehingga selama dua tahun berikutnya tak ada sultan.

Kaum Syi’ah memenangkan perang dan pada tahun 302 H (915 M), Sultan Alaiddin Saiyid Maulana Ali Mughat Syah dari aliran Syi’ah naik tahta. Pada akhir pemerintahannya terjadi lagi pergolakan antara kaum Syi’ah dan Sunni yang kali ini dimenangkan oleh kaum Sunni sehingga sultan-sultan berikutnya diambil dari golongan Sunni.

Pertentangan mahzab yang keras ini sempat ke Peureulak dalam masa sultan Alaiddin Saiyid Maulana Ali Mughaiyad Syah (Bukan Ali Mughaiyad Syah Sultan di Kerajaan Aceh Darussalam) Kaum Ahlusunnah dapat menumbangkan kerajaan Islam Syi’ah Peureulak dan Mendirikan Kerajaan Islam Ahlusunnah Peureulak

Pada tahun 362 H (956 M), setelah meninggalnya sultan ketujuh, Sultan Makhdum Alaiddin Abdul Malik Syah Johan Berdaulat, terjadi lagi pergolakan selama kurang lebih empat tahun antara Syi’ah dan Sunni yang diakhiri dengan perdamaian dan pembagian kerajaan menjadi dua bagian:

v Peureulak Pesisir (Syi’ah) dipimpin oleh Sultan Alaiddin Saiyid Maulana Syah (986‑988) dengan ibukota Bandar Peureulak

v Peureulak Pedalaman (Sunni) dipimpin oleh Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim Syah Johan Berdaulat (986–1023) dengan Ibukota Bandar Khalifah

Pada tahun 375 H atau (986 M), kerajaan Sriwijaya menyerang Peureulak, Peperangan tersebut menyebabkan Sultan Alaidin Saiyid Maulana Mahmud Syah syahid, peperangan dengan kerajaan Sriwijaya terus dilanjutkan, sehingga tahun 393 H (1006 M) tentara Sriwijaya keluar dari Peureulak dengan mengalami kerugian yang besar. Maka Sultan Makhdum Alaidin Malik Ibrahim Syah (dari golongan Sunni) menjadi Sultan tunggal Kerajaan Islam Peureulak dan melanjutkan perjuangan melawan Sriwijaya hingga tahun 1006

Disisi lain peperangan ini membawa dampak positif dengan meluasnya pengaruh ajaran Islam ke daerah pedalaman dan ke pantai Barat Utara oleh para Muhajjirin yang hijrah, dan diantara mereka membuka negeri-negeri Islam baru, Seperti Negeri Samudra Pasai, Negeri Isak dan Negeri Lingga (Aceh Tengah), Negeri Serbajadi dan Negri Peunaron (daerah Tamiang dan Lokop)

Sejarah keislaman di Kesultanan Perlak tidak luput dari persaingan antara kelompok Sunni dan Syiah. Perebutan kekuasaan antara dua kelompok Muslim ini menyebabkan terjadinya perang saudara dan pertumpahan darah. Silih berganti kelompok yang menang mengambil alih kekuasaan dari tangan pesaingnya

.
Aliran Sunni mulai masuk ke Kesultanan Perlak, yaitu pada masa pemerintahan sultan ke-3, Sultan Alaiddin Syed Maulana Abbas Shah. Setelah ia meninggal pada tahun 363 H (913 M), terjadi perang saudara antara kaum Syiah dan Sunni, yang menyebabkan kesultanan dalam kondisi tanpa pemimpin. Pada tahun 302 H (915 M), kelompok Syiah memenangkan perang. Sultan Alaiddin Syed Maulana Ali Mughat Shah dari aliran Syiah kemudian memegang kekuasaan kesultanan sebagai sultan ke-4 (915-918). Ketika pemerintahannya berakhir, terjadi pergolakan antara kaum Syiah dan Sunni, hanya saja untuk kali ini justru dimenangkan oleh kelompok Sunni

.
Kurun waktu antara tahun 918 hingga tahun 956 relatif tidak terjadi gejolak yang berarti. Hanya saja, pada tahun 362 H (956 M), setelah sultan ke-7, Sultan Makhdum Alaiddin Abdul Malik Shah Johan Berdaulat meninggal, terjadi lagi pergolakan antara kelompok Syiah dan Sunni selama kurang lebih empat tahun. Bedanya, pergolakan kali ini diakhiri dengan adanya itikad perdamaian dari keduanya. Kesultanan kemudian dibagi menjadi dua bagian. Pertama, Perlak Pesisir (Syiah) dipimpin oleh Sultan Alaiddin Syed Maulana Shah (986 – 988). Kedua, Perlak Pedalaman (Sunni) dipimpin oleh Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim Shah Johan Berdaulat (986 – 1023)

.

Peureulak kemudian mengalami Penggabungan dengan Samudera Pasai

Champa yang dimaksud dalam sejarah pengembangan Islam Nusantara selama ini, yang menjadi tempat persinggahan dan perjuangan awal Maulana Malik Ibrahim, asal ”Puteri Champa” atau asal kelahiran Raden Rahmat (Sunan Ampel), bukanlah Champa yang ada di Kambodia-Vietnam saat ini. Tapi tidak diragukan, sebagaimana dinyatakan Raffles, ”Champa” berada di Jeumpa dengan kota perdagangan Bireuen, yang menjadi bandar pelabuhan persinggahan dan laluan kota-kota metropolis zaman itu seperti Fansur, Barus dan Lamuri di ujung barat pulau Sumatra dengan wilayah Samudra Pasai ataupun Perlak di daerah sebelah timur yang tumbuh makmur dan maju.

Untuk mendukung Teori Raffles bahwa Champa yang dimaksud bukan di Vietnam sekarang, tetapi di wilayah Jeumpa Bireuen Aceh, ada beberapa dalil yang dapat dikemukakan, antara lain;

(i) Martin Van Bruinessen telah memetik tulisan Saiyid ‘Al-wi Thahir al-Haddad, dalam bukunya Kitab Kuning, Pesantren ..“Putra Syah Ahmad, Jamaluddin dan saudara-saudaranya konon telah mengembara ke Asia Tenggara….. Jamaluddin sendiri pertamanya menjejakkan kakinya ke Kemboja dan Aceh, kemudian belayar ke Semarang dan menghabiskan waktu bertahun-tahun di Jawa, hingga akhirnya melanjutkan pengembaraannya ke Pulau Bugis, di mana dia meninggal.” (al-Haddad 1403 :8-11). Diriwayatkan pula beliau menyebarkan Islam ke Indonesia bersama rombongan kaum kerabatnya.

Anaknya, Saiyid Ibrahim (Maulana Sayyid Ibrahim) ditinggalkan di Aceh untuk mendidik masyarakat dalam ilmu keislaman. Kemudian, Saiyid Jamaluddin ke Majapahit, selanjutnya ke negeri Bugis, lalu meninggal dunia di Wajok (Sulawesi Selatan). Tahun kedatangannya di Sulawesi adalah 1452M dan tahun wafatnya 1453M”. Jadi tidak diragukan bahwa yang ke Kamboja itu adalah ayah Maulana Ibrahim, Saiyid Jamaluddin yang menikah di sana dan menurunkan Ali Nurul Alam. Sedangkan mayoritas ahli sejarah menyatakan Maulana Malik Ibrahim lahir di Samarkand atau Persia, sehingga di gelar Syekh Maghribi. Beliau sendiri dibesarkan di Aceh dan tentu menikah dengan puteri Aceh yang dikenal sebagai ”Puteri Raja Champa”.

(ii) Keadaan Champa Kambodia ketika zaman Maulana Malik Ibrahim sedang huru hara dan terjadi pembantaian terhadap kaum Muslim yang dilakukan oleh Dinasti Ho yang membalas dendam atas kekalahannya pada pasukan Khulubay Khan, Raja Mongol yang Muslim sebagaimana disebutkan terdahulu. Keadaan ini sangat jauh berbeda dengan keadaan Jeumpa yang menjadi mitra Kerajaan Pasai pada waktu itu yang menjadi jalur laluan dan peristirahatan menuju kota besar seperti Barus, Fansur dan Lamuri dari Pasai ataupun Perlak. Kerajaan Pasai adalah pusat pengembangan dan dakwah Islam yang memiliki banyak ulama dan maulana dari seluruh penjuru dunia. Sementara para sultan adalah diantara yang sangat gemar berbahas tentang masalah-masalah agama, di istananya berkumpul sejumlah ulama besar dari Persia, India, Arab dan lain-lain, sementara mereka mendapat penghormatan mulia dan tinggi. Dan Sejarah Melayu menyebutkan bahwa ”segala orang Samudra (Pasai) pada zaman itu semuanya tahu bahasa Arab.

Tarikh atau sejarah yang akan dipaparkan berikut ini adalah rangkaian panjang dari tulisan ”SEJARAH PERJUANGAN UMMAH ACEH-SUMATERA”. Sumber tulisan ini adalah Serial Penelitian dan Penerbitan The Acheh Renaissance Movement, karya Al-Ustadz Hilmy Bakar Alhasany Almascaty. Dia adalah Pendiri dan Presiden Hilal Merah sebagai rekomendasi Mudzakarah Nasional Ulama, Habaib dan Cendekiawan Muslim ke XI di Medan Sumut

.

Bukan hanya itu, Hilmy Bakar juga sebagai Ketua Persaudaraan Pekerja Muslim (PPMI), Direktur RD Universitas Islam Azzahra, Pendiri dan Deputy Presiden Intelektual Muda Muslim Asia Tenggara serta dosen dan Direktur Institut Pendidikan Safa Malaysia, Ketum Yayasan Islam An-Nur NTB. Pernah aktiv di Pelajar Islam Indonesia (PII), Persekutuan Pelajar Islam Asia Tenggara (PEPIAT), dan beberapa jabatan penting lainnya

.

Sebagai catatan, langkah ini sebagai usaha untuk membangkitkan ”batang terendam” sejarah Aceh dari berbagai versi, tentunya dengan tidak diklaim sebagai mutlak benar, tapi setidaknya merupakan sejarah dari hasil penelitian yang ilmiah, tentu tidak tertutup kemungkinan ada versi sejarah yang lain.
Seperti apakah isi buku tersebut? Berikut, bagian pertama dari tulisan panjang yang direncanakan akan dipublikasikan dalam bentuk buku, yang saat ini masih dalam bentuk draft

.
Gubernur Jendral Hindia Belanda dari Kerajaan Inggris yang juga seorang peneliti sosial, Sir TS. Raffles dalam bukunya The History of Java, menyebutkan bahwa Champa yang terkenal di Nusantara, bukan terletak di Kambodia sekarang sebagaimana dinyatakan oleh para peneliti Belanda. Tapi Champa adalah nama daerah di sebuah wilayah di Aceh, yang terkenal dengan nama ”Jeumpa”

.
Kerajaan Jeumpa Aceh, berdasarkan Ikhtisar Radja Jeumpa yang di tulis Ibrahim Abduh, yang disadurnya dari hikayat Radja Jeumpa adalah sebuah Kerajaan yang benar keberadaannya pada sekitar abad ke VIII Masehi yang berada di sekitar daerah perbukitan mulai dari pinggir sungai Peudada di sebelah barat sampai Pante Krueng Peusangan di sebelah timur

.
Istana Raja Jeumpa terletak di desa Blang Seupeueng yang dipagari di sebelah utara, sekarang disebut Cot Cibrek Pintoe Ubeuet. Masa itu Desa Blang Seupeueng merupakan permukiman yang padat penduduknya dan juga merupakan kota bandar pelabuhan besar, yang terletak di Kuala Jeumpa. Dari Kuala Jeumpa sampai Blang Seupeueng ada sebuah alur yang besar, biasanya dilalui oleh kapal-kapal dan perahu-perahu kecil. Alur dari Kuala Jeumpa tersebut membelah Desa Cot Bada langsung ke Cot Cut Abeuk Usong atau ke ”Pintou Rayeuk” (pintu besar)

.
Menurut hasil observasi terkini di sekitar daerah yang diperkirakan sebagai tapak Mahligai Kerajaan Jeumpa sekitar 80 meter ke selatan yang dikenal dengan Buket Teungku Keujereun, ditemukan beberapa barang peninggalan kerajaan, seperti kolam mandi kerajaan seluas 20 x 20 m, kaca jendela, porselin dan juga ditemukan semacam cincin dan kalung rantai yang panjangnya sampai ke lutut dan anting sebesar gelang tangan. Di sekitar daerah ini pula ditemukan sebuah bukit yang diyakini sebagai pemakaman Raja Jeumpa dan kerabatnya yang hanya ditandai dengan batu-batu besar yang ditumbuhi pepohonan rindang di sekitarnya

.
Berdasarkan silsilah keturunan Sultan-Sultan Melayu, yang dikeluarkan oleh Kerajaan Brunei Darussalam dan Kesultanan Sulu-Mindanao, Kerajaan Islam Jeumpa pada 154 Hijriah atau tahun 777 Masehi dipimpin oleh seorang Pangeran dari Parsia (India Belakang?) yang bernama Syahriansyah Salman atau Sasaniah Salman yang kawin dengan Puteri Mayang Seulodong dan memiliki beberapa anak, antara lain Shahri Poli, Shahri Tanti, Shahri Nawi, Shahri Dito dan Puteri Makhdum Tansyuri yang menjadi ibu dari Sultan pertama Kerajaan Islam Perlak

.
Menurut penelitian pakar sejarah Aceh, Sayed Dahlan al-Habsyi, Shahri adalah gelar pertama yang digunakan keturunan Nabi Muhammad di Nusantara sebelum menggunakan gelar Meurah, Habib, Sayid, Syarief, Sunan, Teuku dan lainnya. Syahri diambil dari nama istri Sayyidina Husein bin Ali, Puteri Shahri Banun, anak Maha Raja Parsia terakhir

.
Mengenai keberadaan Shahri Nawi ini, disebutkan oleh Syekh Hamzah Fansuri. Syekh ini adalah Ulama Sufi dan sastrawan terkenal Nusantara yang berpengaruh dalam pembangunan Kerajaan Aceh Darussalam, yang juga merupakan guru Syamsuddin al-Sumatrani yang dikenal sebagai Syekh Islam Kerajaan Aceh Darussalam pada masa Iskandar Muda. A. Hasymi menyebutkan beliau juga adalah paman dari Maulana Syiah Kuala (Syekh Abdul Rauf al-Fansuri al-Singkili). Syekh Fansuri dalam beberapa kesempatan menyatakan asal muasalnya dan hubungannya dengan Shahri Nawi. Diantaranya syair :

Hamzah ini asalnya Fansuri
Mendapat wujud di tanah Shahrnawi
Beroleh khilafat ilmu yang ’ali
Daripada ’Abd al-Qadir Jilani

Hamzah di negeri Melayu,
Tempatnya kapur di dalam kayu

Dari rangkaian syair tadi, jelaslah bahwa ada hubungan antara bumi Shahrnawi (Shahr Nawi) dengan Fansur yang menjadi asal muasal kelahiran Syekh Hamzah Fansuri dan tempat yang terkenal kafur Barus. Sebagaimana disebutkan di atas, Shahrnawi atau Syahr Nawi adalah anak daripada Pangeran Salman (Sasaniah Salman) yang lahir di daerah Jeumpa, di Aceh Bireuen saat ini

.
Syahrnawi adalah salah satu tokoh yang berpengaruh dalam pengembangan Kerajaan Islam Perlak, bahkan beliau dianggap arsitek pendiri kota pelabuhan Perlak pada tahun 805 yang dipimpinnya langsung, dan diserahkan kepada anak saudaranya Maulana Abdul Aziz. Kerajaan Islam Perlak selanjutnya berkembang menjadi Kerajaan Islam Pasai dan mendapat kegemilangannya pada masa Kerajaan Aceh Darussalam

.
Maka tidak mengherankan jika Syekh Hamzah Fansuri, mengatakan kelahirannya di bumi Sharhnawi yang merupakan salah seorang generasi pertama pengasas Kerajaan-Kerajaan Islam Aceh yang dimulai dari Kerajaan Islam Jeumpa. Menurut beberapa data dan analisis yang dikemukakan, bahwa hubungan antara Kerajaan-Kerajaan Islam di Aceh berkaitan satu dengan lainnya

.
Pernyataan Syekh Hamzah Fansuri ini juga menjadi hujjah yang menguatkan teori bahwa Jeumpa, asal kelahiran Shahrnawi adalah Kerajaan Islam pertama di Nusantara. Mengenai kebenaran teori ini tentunya menjadi tantangan buat peneliti selanjutnya untuk membuktikan, karena selama ini Kerajaan Perlak lah yang dikenal sebagai kerajaan Islam pertama di nusantara.

Sejarah mula kedatangan Islam ke Aceh, pemimpinnya dikenal bernama Shir, seperti Shir Poli, Shir Nuwi, Shir Duli. Dalam hikayat hikayat Aceh lama, kata gelar Shir sering pula disebut Syahir. Misal, Shir Nuwi dibaca Syahir Nuwi, Shir Poli dibaca Syahir Poli dst. Kata Syahir ini lebih kurang setara dengan kata Ampon Tuwanku dalam tradisi melayu di Malaysia.

Asal kata shir, datangnya dari keluarga bangsawan di kawasan Persia, dan sekitanya. Maka putri Raja Persia yang setelah negerinya ditaklukkan Umar Ibnul-Khatab, ditawan dan dibawa ke Madinah, mulanya bernama Shir Banu. Setelah dibebaskan oleh Ali bin Abi Thaleb, Shir Banu menikah dengan putra Ali bernama Husen. Sementara dua saudara Shir Banu lainnya menjadi menantu Abubakar dan menantu Umar Ibnul Khattab. Belakangan nama menantu Ali itu berubah menjadi Syahira Banu, dan dalam lafal di Hikayat Hasan Husen, nama itu dipanggil Syari Banon, yang menjadi isteri Sayyidina Husen bin Ali. Husen syahid dibunuh Yazid bin Muawiyah di Karbala pada 10 Muharam. Shir Banu atau Syari Banon menjanda sambil membesarkan anaknya Ali Zainal Abidin, yang sering dipanggil Imam as-Sajad, karena selalu suka bersujud (shalat).

Dalam hikayat Hasan Husen, nama Syari Banon disebut berulang ulang karena beliau ini mendampingi suami dengan sangat setianya, hingga ke kemah terakhir di Karbala, mengantar Husen menuju kesyahidan. Banon bersama putra kesayangannya Ali Zainal Abidin yang masih sangat belia, menyaksikan sendiri tragedy yang jadi sejarah hitam umat Islam, karena darah titisan Rasul saw tumpah di bumi Kufah oleh tangan orang yang mengatasnamakan dirinya khalifah kaum muslimin. Peristiwa Karbala ini, di Aceh diperingati dengan khanduri A‘syura secara turun temurun. Adakalanya diiringi dengan membaca hikayat Hasan Husen, dan para wanita Aceh mempersiapkan penganan sebagai khanduri keu pangulee. Acapkali pula, para pendengar hikayat ini mencucurkan airmata tatkala ceritera sampai kepada pembantaian anak cucu Rasulullah saw itu.

Rafli, penyanyi Aceh kontemporer mendendangkan peristiwa itu dengan lirik:

//”Lheuh syahid Hasan ji prang lom Husen/ Ji neuk poh bandum cuco Sayyidina/ Dum na pasukan bandum di yue tron/ Lengkap ban ban dum alat senjata”// ( Dah syahid Hasan, Husen pun digempur/ Nak dihabisi cucu Sayyidina (Rasulullah)/ Seluruh pasukan disuruh turun/ Lengkap semua dengan senjata.)

Semangat mencintai ahlul bait, keluarga Rasulullah saw itu muncul pula di Aceh dalam bentuk tari tarian. Di antaranya yang terkenal adalah Saman Aceh. Ragam gerak, lirik lagu dan ratoh dipenuhi symbol symbol Karbala . “Tumbok Tumbok Droe”(memukul mukul dada sendiri) dilakukan oleh para pemain Saman Aceh (juga dalam seudati) sebagai symbol penyesalan Karbala . Seluruh gerak tari Saman itu diilhami oleh kepedihan, penyesalan, dan ratap tangis atas syahidnya Sayyidina Husen, yang terperangkap oleh tipu daya penduduk Kufah yang mendukung Yazid bin Muawiyah.

Pengaruh Iran terhadap Indonesia kebanyakan dalam bidang kebudayaan, kesusastraan, pemikiran, dan tasawuf. Pada kenyataannya, kebudayaan bangsa Iran cukup berpengaruh terhadap seluruh dunia. Masyarakat Iran, setelah menerima agama Islam, banyak menemukan keahlian dalam semua bidang ilmu keislaman, yang tidak satu pun dari bangsa lainnya yang sampai kepada derajat tersebut.

Secara khusus, kecintaan bangsa Iran kepada Ahlulbait tidak ada bandingannya. Melalui tasawuf dan kebudayaan Islam, kecintaan tersebut menyebar ke negeri-negeri Islam lainnya, dan karena itulah kebudayaan Iran pun dikenal. Mengenai Ahlubait, orang-orang Iran memiliki cara khusus untuk mengenang peristiwa pembantaian Imam Husain as pada bulan Muharram. Peristiwa ini, atau yang dikenal sebagai tragedi Karbala, adalah sebuah pentas kepahlawanan dunia, yang telah mempengaruhi kebudayaan bangsa-bangsa non-Muslim.

Kisah kepahlawanan ini sudah berabad-abad selalu menjadi inspirasi dan tema penting bagi para penyair dan pemikir Iran. Ia juga merupakan episode sejarah yang penting dalam khzanah ajaran Syi’ah dan Sunah, dan bahkan kesusastraan dunia.

Dalam syi’ah, kecintaan kepada Ahlulbait merupakan kecenderungan yang abadi. Tanpa kecintaan ini, agama akan kosong dari ruh cinta. Bahkan, sebagian orang berkeyakinan bahwa apabila tidak memiliki rasa cinta kepada Ahlulbait, maka seseorang telah keluar dari Islam. Budaya cinta kepada Ahlulbait, yang merupakan bagian dari pemikiran dan tradisi bangsa Iran, telah membekas diseluruh negeri Islam. Hal ini terkadang juga disebut sebagai pengaruh mazhab Syi’ah yang tampak pada kebudayaan Indonesia dan kaum Muslim dunia.

Kebudayaan Iran memiliki pengaruh yang cukup penting terhadap kebudayaan Indonesia. Hal itu menunjukan bahwa sejak dahulu telah terjalin hubungan antara Iran dan Indonesia sehingga berpengaruh sangat kuat terhadap kebudayaan, tasawuf, dan kesusastraan. Meskipun mayoritas Muslim di Indonesia bermazhab Syafi’i, penelitian menunjukan bahwa kecintaan Muslim Indonesia kepada Ahlulbait karena pengaruh orang-orang Iran.

Pengaruh Iran terhadap Indonesia kebanyakannya tampak dalam bentuk kebudayaan dan kesusastraan. Sejarah mencatat bahwa, di samping orang-orang Arab dan orang-orang Islam dari India, orng-orang Iran memiliki peran yang penting dalam perkembangan Islam di Indonesia dan negeri-negeri Timur Jauh lainnya.

Ada dugaan bahwa sebagian besar raja di Aceh bermazhab Syi’ah. Dimungkinkan pada masa awal perkembangan Islam disini, fikih Syi’ah-lah yang berlaku.

Namun, dengan berkembangnya mazhab Syafi’i, mazhab Syi’ah mulai terkikis dan sekarang ini pengaruh fikih Syi’ah di Indonesia tidak terlihat lagi. Azan di Indonesia sedikit berbeda dengan azan di Iran (yang terdengar melalui media elektronik). Shalat Jumat di Indonesia dilakukan disetiap mesjid tetapi di Iran shalat Jumat hanya dilakukan di satu tempat di setiap kota.

Model bangunan makam-makam para wali di Indonesia berbeda dengan makam-makam para imam dan keturunan imam di Indonesia, bahkan bisa dikatakan sangat sederhana.

Adapun pengaruh Iran yang penting setelah revolusi Islam terlihat pada kelompok Syi’ah di Indonesia. Di kepulauan Indonesia, sebagian besar sayid Alawi berasal dari wilayah Hadramaut, Yaman, yang sangat berperan besar dalam dakwah Islam.

Sayid bermakna ’pemimpin atau petunjuk’. Di dalam al-Qur’an, Allah SWT berfirman, Dan mereka berkata, wahai Tuhan kami, kami telah menaati para pemimpin dan orang-orang terhormat di antara kami, dan mereka telah menyesatkan kami dari jalan yang benar.[1]

Rasulullah, Muhammad saw, tentang Fatimah as bersabda, “Fatimah adalah penghulu wanita seluruh alam.”[2]Kemudian, tentang cucunya, Imam Husain as, Nabi saw bersabda, “Al-Husain adalah penghulu para pemuda surga.”[3] Berdasarkan pandangan ini,, dikatakan bahwa para sayid adalah anak keturunan Rasulullah saw serta pemimpin kabilah dan kaum, misalnya al-Ishfahani mengatakan, “Makna sayid adalah penguasa atau pemimpin keluarga, sebagaimana Ustman bin Affan sebagai sayid keluarganya.”[4]

Sayid pun digunakan untuk julukan bagi ahli tasawuf dan para wali[5]. Pada abad ke-8 H, kelompok Syi’ah Dua Belas Imam, para pengikut Imam Ali bin Abi Thalib, juga disebut dengan sayid[6]. Pada abad ke-8 H, terdapat seseorang bernama Naqib Ahlulbait, Abu Barakat bin Ali al-Husaini dikenal dengan julukan as-Sayid asy-Syarif.[7]

Umumnya, julukan “syarif” adalah gelar bagi anak keturunan Hasan bin Ali as, yang kebanyakan hidup di Madinah. Sementara itu, gelar “sayid” digunakan bagi anak keturunan Husain bin Ali as, yang kebanyakan tinggal di Hadramaut, Yaman.[8]

Komunitas para sayid Hadramaut juga dijuluki dengan habib (haba’ib), yang artinya adalah anggota Ahlulbait. Sejumlah besar sayid dari Hadramaut telah berhijrah ke kepulauan Indonesia.

Dikatakan bahwa wilayah Hadramaut di Yaman memiliki pohon-pohon kurma yang kuat, pepohonan yang indah, dan padang-padang berpasir dengan Laut Merah, dan juga memiliki sejarah dan peradaban kuno. Pada abad ke-5 dan 6 M, negeri indah Yaman adalah sumber sengketa antara kekasaisaran Romawi dan Persia. Pada awal abad ke-7 M, negeri ini menjadi bagian dari pemerintahan Islam yang berpusat di Madinah.[9]

Pada masa kejatuhan Irak ke tangan Islam, Muslim Hadramaut memiliki peran besar dalam peperangan antara pasukan Islam dan pasukan kerajaan Sasani. Setelah itu, sejumlah besar masyarakat Hadramaut hijrah ke Irak, secara khusus pada zaman kekuasaan Khalifah Umar bin Khattab. Kemudian, pada zaman ‘Ali bin Abi Thaib as, pasukan Hadramaut yang berada di Irak menjadi pendukung Khalifah Ali as dalam peperangan Jamal dan Shiffin dan sejumlah besar dari mereka menerima mazhab Syi’ah.[10]

Gerakan politik mazhab Syi’ah bertambah besar pada zaman kekuasaan Bani Umayah. Seorang Khalifah Bani Umayah, Hisyam, pada 122 H/740 M, berhasil memenangkan peperangan dan membunuh pemimpin terakhir kaum Syi’ah, Zaid bin Ali, cucu Imam Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib as.

Pada zaman ini pula, 129 H/747 M, di Hadramaut muncul gerakan kelompok Ibadiah dari kalangan Khawarij yang dipimpin oleh Abdullah bin Yahya, yang berjulukanThalibulhaq. Ia terbunuh pada zaman kekuasaan Khalifah Umayah, Marwan bin Muhammad. Pada zaman ini, pengaruh khawarij di Hadramaut menjadi kuat dan Ahmad bin Isa adalah pemimpin terpenting bagi kaum Sayid Hadramaut.

Pada zaman Khalifah al-Mu’tamad (156-276 H/870-892 M), kakek dari Ahmad bin Isa, yaitu Muhammad an-Naqib bin Ali bin Jafar ash-Shadiq bersama putranya bernama Isa, hijrah dari Madinah ke Basrah, Irak. Disanalah, Isa menikah den lahirlah putranya yang bernama Ahmad.

Ahmad dan putranya Abdullah, pada 317 H/929 M hijrah dari Irak ke Hadramaut, Yaman. Ia hijrah karena, di Basrah, kelompok-kelompok Qaramitah dan Zanj (dari Sudan) melakukan kerusakan-kerusakan dan pemerintahan Abasiyah, di masa Khalifah al-Muqtadir (295-320 H/908-932 M), selalu melakukan kezaliman dan penganiayaan terhadap anak keturunan Ali as.[11] Berkenaan dengan hijrah tersebut, Ahmad bin Isa disebut dengan Muhajir ilallah (yang berhijrah kepda Allah).

Ahmad bin Isa dan para pengikutnya secara bertahap berhasil menghentikan pengaruh Khawarij di Hadramaut. Mazhab suni Syafi’i pun berkembang di sana.[12] Dua abad kemudian, pada 521 H/1127 M, sejumlah orang dari Alawi al-Qasim, hijrah ke daerah Tharum, di Selatan Hadramaut. Tharum pernah terkenal sebagai pusat agama dan ilmu, dan di sana para sayid Alawi Hadramaut sangat dimuliakan.

Di sana para sayid mendirikan suatu pergerakan yang diberi nama Ba’alawi, sebagai sarana mengenal para sayid Alawi.[13] Para sayid menyakini bahwa diri mereka berasal dari keluarga Rasulullah saw, dari anak keturunan imam Husain as. Sejumlah besar sayid Hadramaut (para sayid Alawi) telah berhijrah ke Jawa, Indonesia, dan ke Asia Tenggara.[14]

Imam husain as pada tahun 61H/681M, dalam usia 56 tahun, syahid di Karbala. Putranya, Imam Ali Zainal Abidin as, berasal dari istri imam Husain yang merupakan putri Yazgard, raja Iran yang terkenal. [15]

Sumber-sumber sejarah mencatat bahwa para Sayid Alawi hadramaut berasal dari keturunan Ali al-Qasim bil Bashrah, yakni cucu ketiga dari imam Husain as. Dapat dikatakan bahwa para sayid Hadramaut, dari anak keturunan Ahmad bin Isa, sangat terkenal serta memiliki hubungan yang kuat dengan para sayid di Maroko, Hijaz, dan India, dan selalu mendapatkan bantuan keuangan dari mereka.

Secara umum para sayid menguasai bidang ilmu agama dan tasawuf.[16] Ibnu Khaldun menulis bahwa pada zaman Abasiyah, setelah terjadinya berbagai perubahan, ajaran kelompok Rafidhiah (julukan tendensius para penentang Syi’ah. Rafidhiah berasal dari kata rafadha yang berarti “menolak”, yakni menolak tiga khalifah pertama- peny.) sangat berpengaruh besar terhadap tasawuf dan bermunculanlah para tokoh sufi terkenal, misalnya Qushairi dan Imam Abu Hamid Muhammad Ghazali.

Setelah abad ke-4 H atau abad ke-11 M, tasawuf tampil secara sempurna sebagai sebuah cabang ilmu. Di dunia Islam, lahir berbagai kelompok tarekat, yang semuanya bersumber pada ajaran al-Quran. Setiap tarekat memiliki cara khusus dalam berzikir kepada alllah Swt.[17] Tarekat Alawi (tarekat yang didirikan oleh sebagian besar sayid di yaman Selatan) terbagi menjadi dua cabang, batiniah dan zahiriah. Zahiriah mengikuti Imam Abu Hamid Muhammad Ghazali sedangkan batiniah adalah pengikut tarekat Syadziliyah.[18]

Kebanyakan sufi terekat Alawi memiliki karamah dan menyandang sejumlah julukan, misalnya syekh, naqib danquthb, serta mereka mewariskan sejumlah kitab tentang zikir. Dalam kitab-kitab zikir disebutkan sejumlah tokoh terkenal dari kalangan para sayid, seperti Muhammad bin Ali Ba’lawi, Syekh Alin bin Abdullah Baras, Abdurrahman Assegaf dan al-Qutub Umar bin Abdurrahman al-Attas.

Dikatakan bahwa para waliyullah memiliki kemampuan untuk memecahkan batu-batu besar dan menyembuhkan penyakit yang tidak dapat disembuhkan. Masyarakat setempat sangat menghormati mereka dan mendapatkan kesembuhan dengan keberkahan doa mereka.[19] Para sayid Alawi sangat menguasai pelayaran dan perdagangan. Mereka sangat aktif mulai dari Semenanjung Arab hingga ke Teluk Persia, tepatnya di sejumlah pelabuhan misalnya Siraf, Kish dan Ubullah (Bushers).

Sejak Irak jatuh ketangan orang-orang Mongolia, pada 1258 M, pusat perdagangan Arab berpindah ke Eden, di Yaman. Serombongan pedagang, tokoh-tokoh agama, dan ulama dari berbagai penjuru Semenanjung Arab pernah pergi ke sejumlah negeri di Timur Jauh, seperti Cina dan Semenanjung Melayu, yang sebagian dari mereka adalah ahli tasawuf dan agama.[20]

Islam yang diterima di Indonesia merupakan hasil usaha mubalig dari  Iran . Pengaruh tasawuf di sana pun sangat mencolok. Buku Hikayat Raja-raja Pasai dan buku Sejarah Melayu juga mencatat fenomena tersebut.

Setelah berhasil memperkenalkan tasawuf dan tarekat di Malaka, Maulana Abu Bakar pergi ke berbagai wilayah di Indonesia. Di Brunei dan Ceh (Filipina), Ia pun sempat memperkenalkan ajaran Islam. Kebanyakan para mubalig yang datang ke Tanah Melayu menyandang sejumlah julukan, misalnya Syekh, sayid dan syarif. [25]

Sejumlah besar sayid datang dan pergi ke Asia Tenggara, yaitu Jawa, Sumatra dan Semenanjung Melayu hingga masa penjajahan Belanda.[26]

Pada abad ke-16 M, seorang Mubalig Arab bernama Syarif Muhammad bersama beberapa pengikutnya, tiba di Mindanao, di selatan Filipina dari Malaysia untuk menyebarkan Islam. Disebutkan bahwa ia adalah putra dari seorang Arab bernama Syarif Ali Zainal Abidin, dari kalangan para sayid Alawi Hadramaut. [27]

Para sayid Alawi, dalam jumlah besar, datang ke kepulauan Nusantara melalaui jalur India, misalnya Sayid Usman bin Shahab yang memerintah kerajaan Siak dan Sayid Husain al-Qadri yang menjadi sultan di kerajaan Pontianak, di Kalimantan.[28]

Hijrahnya para sayid dari Hadramaut ke Asia Tenggara antara abad ke-17 hingga 20 H, berlangsung dalam beberapa tahapan. Mereka datang ke kepulauan nusantara dari India dan Indo-Cina. Para sayid Alawi berada di India sejak abad ke-7 H atau abad ke-13 H. Kemudian, sejak abad ke-10 H M, mereka sering datang-pergi ke daerah Pahang, di Malaysia.

Di kampung Pematang Pasir, di jazirah Tambun Pekan, di kota Pahang, Malaysia, terdapat sebuah makam orang Arab yang meninggal pada tanggal 14 Rabiul Awwal 419 H atau tahun 999 M.

Menurut sejumlah penulis seperti Nuwairi dan al-Maqrizi, sejak zaman kekuasan Bani Ummayah, beberpa keluarga kelompok Alawi atau Syi’ah telah berada di Jazirah Sila (Korea) dan Cina. Sangat mungkin, kepergian mereka ke sana karena lari dari kezaliman dan kejahatan Bani Umayah.

Demikian pula, terdapat kampung Leran, di Jawa Timur, yang nama kampung tersebut diambil dari kaum Lor, yakni orang-orang Iran yang pernah hijrah ke Jawa. Di kampung itu, terdapat makam seorang wanita Muslimah bernama Fatimah binti Maimun. Ia wafat pada 475 H/1082-1083 M.

Semua keterangan di atas menjelaskan bahwa hubungan negeri Arab dan Teluk Persia dengan Cina dan kepulauan Nusantara sudah ada sejak dahulu kala. Para sayid Alawi Hadramaut yang pernah berhijrah ke Asia Tenggara umumnya berasal dari beberapa marga, misalnya; al-Habsyi, al-Yahya (bin Aqil), Khirid, Hiduwan, as-Segaf, al-Attas, al-Jufri, al-Idrus, al-Haddad, asy-Syihab, dan yang lainnya.[29]

Menurut seorang peneliti dan ahli sejarah, Aboebakar Atjeh, di antara para mubalig yang pernah memperkenalkan ajaran Islam di Indonesia adalah keturuanan Ahlulbait. Aceh adalah wilayah pertama yang didatangi para mubalig dari Arab, Iran, dan India. Sementara itu, mazhab yang pertama kali berkembang di Aceh adalah Syi’ah dan Syafi’i.

Ia juga adalah wilayah yang menjadi tempat pemberhentian dan wilayah transit para pedagang sebelum pergi ke sejumlah pelabuhan, seperti Malaka, kepulauan Nusantara, dan Cina.

Orang Indonesia yang akan menunaikan ibadah haji kerap melintasi Aceh, dengan menggunakan kapal-kapal Aceh atau internasional. Aceh adalah wilayah yang dikenal sebagaiSerambi Mekkah. Aboebakar Atjeh juga menulis bahwa dua orang ahli sejarah Iran, Sayid Mustafa Thabathaba’i dan Sayid Dhiya’ Shahab, dalam buku Hawla al-Alaqah ats Tsaqafiyah bayna Iran wa Indunizi (Tentang Hubungan Kebudayaan antara Iran dan Indonesia) menunjukan bahwa makam Maulana Malik Ibrahim Kasyani (wafat 822 H/1419 M) berada di Gresik, Jawa Timur, dan makamnya Sayid Syarif Qahhar bin Amir Ali Astarabadi (wafat 833 H) dan Hisamuddin Naini berada di Aceh.[30]

Sayid Mustafa juga melihat makam lainnya, yang pada papan makamnya tertulis beberapa baris ayat al-Qur’an dan syair tentang keagungan Imam Ali as, yang terjemahannya kira-kira sebagai berikut;

Pemuka Para Pemberani, Singa Tuhan,

Kekuatan Tuhan

Tidak ada pemuda kecuali Ali,

Tidak ada pedang kecuali Zulfikar.[31]

Masuknya ajaran Islam ke Sumatra umunya melalui usaha para sayid Alawi. Dalam kitab-kitab Arab kuno, kepulauan Nusantara tertulis denga nama Syarq al-Hind (Hindia Timur), Srilanka dengan nama Sarandip, kerajaan Sriwijaya di Sumatra dengan nama Sribaza, Kedah di Malaysia dengan nama Kalah, Jawa dengan nama Zabij, dan Kalimantan dengan nama Ranj.

Para mubalig yang pertama kali datang ke Brunai adalah para sayid dan syarif, dan masih memiliki hubungan keluarga dengan keluarga sultan-sultan di Brunai dan Fhilipina.

Sejarah Serawak, Malaysia, menunjukan bahwa raja Brunei, Sultan Barakat adalah anak keturunan Imam Husain bin Ali as. Demikian pula, para sultan di Mindanao, dan Sulu, di Fhilipina, adalah anak keturunan para sayid. Di Pontianak, Kalimanan, Indonesia, para sultan berasal dari kabilah Qadri. Dikatakan bahwa para sultan Brunei dan sultan Mindanao sama-sama berasal dari anak keturunan Imam Ali Zainal Abidin bin Husain as.

Para leluhur mereka berasal dari Hadramaut yang kemudian hijrah ke Johor, Malaysia. Para sultan Aceh pun berasal dari kalangan para sayid. Di Daerah Talang Sura, Palembang, Sumatra, terdapat makam Sayid Jamaluddin Agung bin Ahmad bin Abdul Malik bin Alwi bin Muhammad, dari keturunan Imam Husain as. Begitu pula dengan Walisongo atau ’Sembilan Wali Jawa’ dan sultan-sultan di Jawa, semuanya berasal dari kalangan para sayid.[32]
Imam Syi’ah Dua Belas Imam


  1. Ali bin Abi Thalib : Dibunuh oleh Abdurrahman bin Muljam, seorang Khawarijdi KufahIrak. Imam Ali ra. ditusuk dengan pisau beracun.. Dimakamkan di Masjid Imam AliNajafIrak
  2. Hasan al-Mujtaba : Diracuni oleh istrinya di MadinahArab Saudi atas perintah dari Muawiyah I.Dimakamkan di Pemakaman Baqi.
  3. Husain asy-Syahid : Dibunuh dan dipenggal kepalanya di Karbala..Dimakamkan di Makam Imam Husain di KarbalaIrak
  4. Ali Zainal Abidin : Menurut kebanyakan ilmuwan Syi’ah, Ali bin Husain diyakini wafat karena diracuni oleh orang suruhan Khalifah al-Walid di Madinah, Arab Saudi.. Dimakamkan di Pemakaman Baqi
  5. Muhammad al-Baqir : Menurut sejumlah ilmuwan Syi’ah, diyakini bahwa Muhammad al-Baqir diracuni oleh Ibrahim bin Walid diMadinahArab Saudi, atas perintah Khalifah Hisyam bin Abdul Malik. Dimakamkan di Pemakaman Baqi.
  6. Ja’far ash-Shadiq : Menurut sumber-sumber Syi’ah, beliau diracuni atas perintah Khalifah al-Mansur di MadinahArab Saudi.Dimakamkan di Pemakaman Baqi
  7. Musa al-Kadzim : Dipenjara dan diracuni oleh Harun ar-Rashiddi BaghdadIrak. Dimakamkan di BaghdadIrak
  8. Ali ar-Ridha : Menurut sumber Syi’ah, beliau diracuni oleh Khalifah al-Ma’mun di MashhadIran. Dimakamkan di Makam Imam Reza,MashhadIran
  9. Muhammad al-Jawad : Diracuni oleh istrinya, anak dari al-Ma’mun di BaghdadIrak atas perintah Khalifah al-Mu’tashim. Dimakamkan di Makam Kazmain di Baghdad
  10. Ali al-Hadi : Menurut sumber Syi’ah, beliau diracuni di Samarra atas perintah Khalifah al-Mu’tazz.[36] Dimakamkan di Masjid Al-Askari di SamarraIr
  11. Hasan al-Askari : Menurut sumber Syi’ah, beliau diracuni di SamarraIrakatas perintah Khalifah al-Mu’tamid. Ia dimakamkan di Masjid Al-Askari, Samarra
  12. Muhammad al-Mahdi : Menurut keyakinan Syi’ah, beliau sekarang berada di dalam persembunyian dan akan muncul selama Allah mengizinkannya

wassalam

Catatan Kaki

1. Q.S. al-Ahzab :67

2. Ibnu Saad, Tabaqat, Leiden, 1940, Vol. VII, p.17.

3. C.V.Avendonk. Art, Sharif, Encyclopedia of Islam, M. TH. Houtsma, A.J Wensink. (eds), Vol. IV S-Z, J. Britll Ltd, Leiden, 1934, p.326.

4. Isfahani, Kitab al-Aghani, Math’ah Bulak, Cairo, 1285 A.H Vol. XVII, p.105-6.

5. Sharji, Thabaqat al-Khawawas, Cairo, 1321 AH, p. 2,3, 195.

6. Dhahabi, Tharikh al-islam, Manuscript, Leiden, 1721, Vol. 65A.

7. Nurwairi, Nihayat al-Arab, Wizarah al-Thaqafah wa al-Isryad al-Gawmi (ed). Dar al Kutub, Cairo, 1955, Vol. II, p.277. Hanya pada zaman kerajaan Fatimiah Mesir, keturunan Imam Hasan dan Imam Husain di juluki “syarif”, silahkan merujuk Mawardi,al-Ahkam as-Sulthaniyah, Enger, (ed), Bonn, 1853 AD, p. 277.

8. Ibnu al-Faqih, Mukhtasar Kitab al Buldan, MJ, de Goeje (ed) Leiden, Brill, 1885, p.33.

9. Mahayudin Haji Yahya, Sejarah Orang Syed di Pahang, Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur, 1984, p.3.

10. Mahayudin Haji Yahya, Sejarah Orang Syed, ibid. p.4.

11. Shalli, Kitab al-Mashra ar-Rawwi fi Manaqib as-Sadah al-Kiram al-Abi Alawi, al-Matba’ah al-Amiriah al-Sharafiyyah, Cairo, 1319 H/1901 M, Vol. I, p. 121.

12. Shalli, Kitab al-Mashra, loc. Cit.

13. Shalli, Kitab al-Mashra, ibid, p.129.

14. R.B.Serjeant, “Historians and Historiography of Hadramaut”, Buletin of SOAS, XXV, No.2, Londom 1962, p.245.

15. Ya’kubi, Tarikh, Mathba’ah al-Ghurri, Najaf, 1358 H, Vol. II, p.219.

16. R.B. Serjenant, The Sayids of Hadramaut, School of Oriental and African Studies, University of London, Luzan and Co, London, 1957, p.3. Lihat Sayid Alwi bin Thahir al-Haddad, Uqud al-Almas (Arabic). Mathba’ah al-Madani, Cairo, 1968, Second Edition, Vol.2.pp. 45-46. Lihat juga al-Idrus bin Umar al-Habsyi, Iqd al-Yawaqit al-Jawahiriah, Cairo, 1317 H, Vol. I, p. 127.

17. Ibnu kHldun, Muqaddimah, Wazarat al-Thaqafah wa al-Irsyad al-Qawmi, Cairo, 1960, pp. 261-262. Lihat H.A. R.Gibb and Kramers (eds), Shorter Encycopeadia of Islam, E.J.Brill, Leiden, 1953, p.573. Lihat juga H.A. R Gibb, Mohammedanism, Oxford University Press, London, 1969, p.104.

18. Sayid Alawi b. Tahir al-Haddad, Uqud al- Almas, op.cit, pp.82-87.

19. Sayid Muhammad b. Salim al-Attas, Aziz al-Manal wa Fath al- Wisal, Malaysia Press, Berhad, Singapura, 1974. Lihat juga Mahyudin Haji Yahya, Sejarah Orang Syed, op.cit, p.16.

20. S.Q. Fatimi, Islam Comes to Malaysia, Sociological Reseach Institute, Ltd, Singapore, 1960, p.94.

21. A.H. Hill (ed), Hikayat Raja-raja Pasai, JMBRAS, No 33, Part 2, 1960, p.32-33.

22. Buzani, “Pengaruh Kebudayaan dan Bahasa Persia Terhdap Kesusastraan Indonesia”, Majalah Fakultas Sastra, Universitas Tehran no I, Tahun ke-14, 1345 Sh, p.6.

23. A.H. Hill, (ed), Hikayat Raja-raja Pasai, JMBRAS, No.3, Part 2 1960, pp.32-33, 117-120.

24. S.R. Winstedt (ed), The Sejarah Melayu (Malay Annals), JMPRAS, XXVI, Pt I, 1938, pp. 170-172.

25. A. Hasjmi (ed), Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia, P.T. Al-Maarif, Jakarta, 1981, p.375. Lihat juga Mhayudin Haji Yahya, Sejarah Orang Syed di Pahang, op, cit, p.23.

26. R.B. Serjeant, The Sayids of Haramaut, op, cit, pp.24-25.

27. Alawi b. Thahir al-Haddad, Uqud al-Almas, op, cit, p.131.

28. Mahayudin Haji Yahya, Sejarah Orang Syed, op, cit., p.25.

29. Shahabudin Ahmad bin Abdul Wahab an-Numairi, Nihayat al-Arab fi Funun al-Adab, Wizarat ath-Thaqafah wa al-Irsyad al-Qawmi, Cairo, 1932, Vol. I, p. 230. Lihat juga Ahmad b. Ali al- Maqrizi, Khitat, Mathbaah Bulak, Cairo, 1279 H, Vol I. lihat juga Haji Aboebakar Atjeh, Sekitar Masuknya Islam ke Indonesia, Panitia Seminar, Medan, 1963, pp. 109-110, 123. Lihat juga Mahayudi Haji Yahya, Sejarah Orang Syed, ibid, pp. 33,37.

30. Aboebakar Atjeh, Aliran Syiah di Nusantara, Islamic Reseach Institute, Jakarta, 1977, p.31-32. Lihat juga Sayid Musthafa A-Thabataba’i and Dhiya Shahab, Hawla al-Alaqah ats-Tsaqafiyah bayna Iran wa Indonesia, Embassy of Iran, Jakarta, 1960.

31. Aboebakar Atjeh, Sekitar Masuknya Islam ke Indonesia, Ramadhani, Solo, Jawa Tengah, 1985, p.29.

32. Aboebakar Atjeh, Masuknya Islam, ibid, p.35-37. Lihat juga S. Baring Gould, A History of Sarawak Under Two White Rajahs, Singapore. Lihat juga Al-Habib Alwi bin Thahir al-Haddad, Sejarah Masuknya Islam di Timur Jauh, Penerbit Lentera, Jakarta, 1995, pp.69-115.

Muawiyah dan anaknya Yazid menurut Syeikh Nuruddin ar-Raniry

Sejarah saling menuding sesat terhadap satu kelompok oleh kelompok lain sudah sangat sangat lama bahkan sama tuanya dengan sejarah agama itu sendiri. Perpecahan antara Sunni dan syiah mengawali sejarah saling tuding tersebut dimana ulama sunni yang menyebut diri sebagai Ahlul Sunnah dan di dukung oleh penguasa zaman itu menuding sesat bakan kafir kepada saudaranya dari kalangan Syiah. Konflik sunni syiah bukan hanya persoalan keyakinan akan tetapi lebih dominan unsur politik dan kepentingan penguasa saat itu.

Sultan pertama Peureulak adalah Sultan Alaiddin Saiyid Maulana Abdul Azis Syah, yang beraliran Syi’ah dan merupakan keturunan Arab dengan perempuan setempat, yang mendirikan Kesultanan Peureulak pada 1 Muharram 225 H (840 M). Ia mengubah nama ibukota kerajaan dari Bandar Peureulak menjadi Bandar Khalifah.

Pada masa pemerintahan sultan ketiga, Sultan Alaiddin Saiyid Maulana Abbas Syah, aliran Sunni mulai masuk ke Peureulak. Setelah wafatnya sultan pada tahun 363 H (913 M), terjadi perang saudara antara kaum Syi’ah dan Sunni sehingga selama dua tahun berikutnya tak ada sultan.

Kaum Syi’ah memenangkan perang dan pada tahun 302 H (915 M), Sultan Alaiddin Saiyid Maulana Ali Mughat Syah dari aliran Syi’ah naik tahta. Pada akhir pemerintahannya terjadi lagi pergolakan antara kaum Syi’ah dan Sunni yang kali ini dimenangkan oleh kaum Sunni sehingga sultan-sultan berikutnya diambil dari golongan Sunni.

Pertentangan mahzab yang keras ini sempat ke Peureulak dalam masa sultan Alaiddin Saiyid Maulana Ali Mughaiyad Syah (Bukan Ali Mughaiyad Syah Sultan di Kerajaan Aceh Darussalam) Kaum Ahlusunnah dapat menumbangkan kerajaan Islam Syi’ah Peureulak dan Mendirikan Kerajaan Islam Ahlusunnah Peureulak

Pada tahun 362 H (956 M), setelah meninggalnya sultan ketujuh, Sultan Makhdum Alaiddin Abdul Malik Syah Johan Berdaulat, terjadi lagi pergolakan selama kurang lebih empat tahun antara Syi’ah dan Sunni yang diakhiri dengan perdamaian dan pembagian kerajaan menjadi dua bagian:

v Peureulak Pesisir (Syi’ah) dipimpin oleh Sultan Alaiddin Saiyid Maulana Syah (986‑988) dengan ibukota Bandar Peureulak

v Peureulak Pedalaman (Sunni) dipimpin oleh Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim Syah Johan Berdaulat (986–1023) dengan Ibukota Bandar Khalifah

Pada tahun 375 H atau (986 M), kerajaan Sriwijaya menyerang Peureulak, Peperangan tersebut menyebabkan Sultan Alaidin Saiyid Maulana Mahmud Syah syahid, peperangan dengan kerajaan Sriwijaya terus dilanjutkan, sehingga tahun 393 H (1006 M) tentara Sriwijaya keluar dari Peureulak dengan mengalami kerugian yang besar. Maka Sultan Makhdum Alaidin Malik Ibrahim Syah (dari golongan Sunni) menjadi Sultan tunggal Kerajaan Islam Peureulak dan melanjutkan perjuangan melawan Sriwijaya hingga tahun 1006

Disisi lain peperangan ini membawa dampak positif dengan meluasnya pengaruh ajaran Islam ke daerah pedalaman dan ke pantai Barat Utara oleh para Muhajjirin yang hijrah, dan diantara mereka membuka negeri-negeri Islam baru, Seperti Negeri Samudra Pasai, Negeri Isak dan Negeri Lingga (Aceh Tengah), Negeri Serbajadi dan Negri Peunaron (daerah Tamiang dan Lokop)

Sejarah keislaman di Kesultanan Perlak tidak luput dari persaingan antara kelompok Sunni dan Syiah. Perebutan kekuasaan antara dua kelompok Muslim ini menyebabkan terjadinya perang saudara dan pertumpahan darah. Silih berganti kelompok yang menang mengambil alih kekuasaan dari tangan pesaingnya

.
Aliran Sunni mulai masuk ke Kesultanan Perlak, yaitu pada masa pemerintahan sultan ke-3, Sultan Alaiddin Syed Maulana Abbas Shah. Setelah ia meninggal pada tahun 363 H (913 M), terjadi perang saudara antara kaum Syiah dan Sunni, yang menyebabkan kesultanan dalam kondisi tanpa pemimpin. Pada tahun 302 H (915 M), kelompok Syiah memenangkan perang. Sultan Alaiddin Syed Maulana Ali Mughat Shah dari aliran Syiah kemudian memegang kekuasaan kesultanan sebagai sultan ke-4 (915-918). Ketika pemerintahannya berakhir, terjadi pergolakan antara kaum Syiah dan Sunni, hanya saja untuk kali ini justru dimenangkan oleh kelompok Sunni

.
Kurun waktu antara tahun 918 hingga tahun 956 relatif tidak terjadi gejolak yang berarti. Hanya saja, pada tahun 362 H (956 M), setelah sultan ke-7, Sultan Makhdum Alaiddin Abdul Malik Shah Johan Berdaulat meninggal, terjadi lagi pergolakan antara kelompok Syiah dan Sunni selama kurang lebih empat tahun. Bedanya, pergolakan kali ini diakhiri dengan adanya itikad perdamaian dari keduanya. Kesultanan kemudian dibagi menjadi dua bagian. Pertama, Perlak Pesisir (Syiah) dipimpin oleh Sultan Alaiddin Syed Maulana Shah (986 – 988). Kedua, Perlak Pedalaman (Sunni) dipimpin oleh Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim Shah Johan Berdaulat (986 – 1023).

Peureulak kemudian mengalami Penggabungan dengan Samudera Pasai

Dalam tradisi pemikiran keagamaan di Aceh, terutama pada pertengahan abad XVII M, sejarah mencatat fakta telah terjadinya kontroversi yang berlarut dan berujung pada pembunuhan pemikiran ajaran tertentu. Ajaran yang dikembangkan Hamzah Fansuri dan Syamsuddin as-Sumatrani, umpamanya, mendapatkan perlawanan yang sengit dari Nuruddin ar-Raniry. Pertentangan disulut oleh penentangan Ar-Raniry terhadap ajaran kedua ulama penganut paham Ibnu Arabi tersebut tentang doktrin wujudiyah, dimana akan dijelaskan pada bagian selanjutnya. Kemenangan Ar-Raniry dinilai berkat kedekatannya dengan penguasa ketika itu, yakni Sultan Iskandar Sani (1637-1641).

Sejarah menulis peranan Ar-Raniry demikian besar dalam mempertahankan ortodoksi Islam di Aceh. Dengan dukungan penguasa, dia dapat mengembangkan paham yang dianutnya. Walhasil, paham keagamaan yang berseberangan terbukti mampu disingkirkan olehnya.

Mengenai Muawiyah dan anaknya Yazid, Syeikh Nuruddin ar-Raniry yang menjadi mufti Kerajaan Aceh Darussalam masa kekuasaan Iskandar Tsani (1045 -1050 M) mengeluarkan fatwa dalam bentuk syair berikut. Kata Nuruddin ebeunu Hasanji, meunan neupekri lam katanya Meupakat ulama dum na Aceh. menoe neupegah kalam calitra Saidina Ali ngon Muawiyah. nibak Allah pangkat beusa, Soe yang ceureuca dua ureung nyan. nibak Tuhan keunong meureuka Misei Yazid aneuk Muaw iyah, Fe/ora lidah he syeedara.

Bek keuh takheun Yazid kaphe, hana dali Yang peusiasa. Hana hadih nibak nabi, hana dali kheun Rabbana. Indonesianya : Kata Nurddin ibn Hasanji, demikian tegas dalam katanya Ulama Aceh telah mufakat demikian riwayat ceritanya Saidina Ali dan Muawiyah, disisi Allah mereka sama Siapa yang cerca orang dua itu. dari Allah murka menimpa Juga Yazid anak Muawiyah, jaga lidahmu wahai saudara Janganlah dikata Yazid kaf’ir, tiada dalil menopangnya Tiada hadis ucapan nabi, tiada bukti firman Ilahi (Dr- Ahmad Daudy. MA .Allah dan Manusia dalam Konsepsi Nuruddin Ar-Raniry, CV. Rajawali Jakarta).

Fatwa itu menunjukkan bahwa telah terjadi perbedaan pemahaman dalam kontek peristiwa Perang Siffin (tahun 37 H) dan Perang Karbala (tahun 60 H) dalam pandangan Sunni. Syeikh Nuruddin mencoba mengaburkan dan memperingatkan ulama-ulama pada masa itu untuk tiduk terpengaruh dengan ajaran Syi’ah. Perbedaan faham antara Syi’ah dan Ahlussunnah terajut dalam rentang sejarah yang panjang yang membias sampai ke Aceh dan mula berdirinya Kerajaan Jeumpa, Kerajaan Peureulak (249 H) disusul Kerajaan Samudra Pase (433 H) sampai pada Kerajaan Aceh Darussalam (920-1322).

Fatwa itu merupakan juga suatu ilustrasi bahwa paham Syi’ah pernah berkembang di Aceh. Bait terakhir adalah merupakan suatu pengunci agar hal itu tidak dibicarakan lagi. Berdasarkan fakta sejarah saya tidak merasa enggan untuk berkesimpulan bahwa faham Syi’ah pernah berkembang di Aceh. Namun dengan banyaknya ulama Ah1ussunnah baik di Aceh ataupun yang datang dari Mekah yang menganut mazhab Syafi’iah pengaruh Syi’ah pun mulai memudar.
Selepas pembinaan pertama oleh Nabi Allah Ibrahim, kaabah telah melalui beberapa siri pembinaan terutamanya selepas kebakaran besar yang berlaku semasa pemerintahan Yazid bin Muawiyah. Abdullah bin Az-zubair telah membiarkan keadaan kaabah yang terbakar sehinggalah musim haji yang berikutnya.


Melihat keadaan orang yang semakin ramai ramai mengunjungi kaabah, abdullah telah meminta pendapat orang ramai sama ada perlu meruntuhkan kaabah yang asal dan dibina yang baru atau hanya diperbaiki binaan yang asal. Ibn Abbas mencadangkan agar hanya diperbaiki binaan yang asal. Ibn Az-zubair telah beristikharah sebanyak 3 kali sebelum bersepakat dengan orang ramai untuk meruntuhkannya dan dibina yang lain di tapak asal itu.

Sesat Menyesatkan dan Konflik Berdarah di Aceh

Nurudin Ar-Raniry yang berasal dari Ranir India ingin sekali menjadi ulama nomor satu di Aceh. Salah satu cara yang dilakukannya adalah menyatakan sesat kepada ulama selain dia. Nurudin Ar-Raniry mengeluarkan pernyataan sesat kepada Hamzah Fanshury yang berpaham wahdaul wujud dan menfatwakan pengikut Hamzah Fanshury halal darahnya. Setelah Nurudin Ar-Raniry mengeluarkan fatwa sesat dan halal darah maka efeknya sungguh tragis dan memilukan. Hampir semua murid-murid Hamzah Fanshury di bunuh. Di depan mesjid raya Baiturahman, pengikut Hamzah Fanshury di bakar hidup-hidup beserta karya-karyanya. Akibat dari perbuatan itu, 100 tahun kemudian Belanda menyerang Aceh dan membakar habis mesjid Raya Baiturahman tanpa sisa dan Aceh melewati sejarahnya dengan berdarah dan konflik yang tak berkesudahan.

Penentangan keras ar-Raniry terhadap doktrin Wujudiyah Hamzah Fansuri dan as-Sumatrani ini, tampaknya merupakan warisan dari pertentangan antara kaum ortodoks dan heretodoks (dalam hal ini kaum filsuf) yang pernah terjadi dalam sejarah pemikiran filsafat Islam sejak berabad-abad sebelumnya. Al-Ghazali, merupakan contoh jelas seorang ulama ortodoks yang dengan gigih berusaha menggugurkan argumen-argumen para filsuf tentang hubungan ontologis antara Tuhan dengan alam yang dianggap ancaman serius atas kandungan Islam yang bersifat wahyu.

Zaman Sultan Iskandar Muda hampir seluruh Aceh menjadi pengamal berbagai macam Tarekat, pengikut terbesar dari Tarekat Syattariyah yang mursyidnya adalah Syekh Abdul Ra’uf As-Singkily yang dikenal dengan Syiah Kuala dan merupakan keponakan dari Hamzah Fanshuri. Aceh mengalami kemajuan dan kemakmuran yang luar biasa. Kemudian pada masa Sultan Alaidin Iskandar Tsani (menantu Iskandar Muda) telah melarang tarekat secara resmi. Pemimpin Tarekat pada masa itu adalah Syamsudin As-Sumatrani (Wafat tahun 1630), murid dari Hamzah Fanshuri. Tgk. H. Abdullah Ujong Rimba dalam bukunya “Ilmu Thariqat dan Hakikat” menceritakan bahwa Ulama-ulama Aceh telah mengadakan musyawarah dibawah pimpinan Mufti Syekh Nurudin Ar-Raniry dan musyawarah memutuskan bahwa penganut tarekat dianggap kafir, murtad dan harus di bunuh mati. Menurut Tgk. H. Hasan Krueng Kale, seorang tokoh ulama di Aceh, pada masa itu telah terbunuh 70 orang penganut tarekat. Akibat tindakan itu Aceh seperti menerima azab dari Allah, diserang oleh Belanda, mesjid di Bakar dan konflik tak berkesudahan.

Pada bulan Oktober 1998 Surau Panton Labu Aceh Utara milik yayasan Prof. Dr. SS. Kadirun Yahya MA M.Sc dibakar masa atas pengaruh beberapa ulama termasuk pernyataan Tgk. Muhibbudin Wali yang mangatakan sesat kepada tarekat Kadirun Yahya. Setelah Alkah Zikir Panton Labu di bakar tidak lama kemudian mulai lagi konflik berdarah di Aceh dengan episode yang lebih memilukan, di mulai dengan Tragedi Ara Kundo, Simpang KKA dan diikuti berbagai macam tragedi lain, ribuan nyawa melayang sampai masa damai sekarang ini.

Saya kagum dengan ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Prof. Dr. Muslim Ibrahim MA, yang tidak pernah sembarang mengeluarkan pernyataan. Ketika orang menanyakan pendapat Beliau tentang tarekat yang disesatkan orang dengan senyum beliau menjawab : “Jangan mudah kita menuduh sesat kepada orang lain karena pertanggung-jawabannya bukan hanya di dunia akan tetapi juga di akhirat kelak di hadapan Allah. Hanya Allah yang mengetahui siapa sesat dan siapa benar”.

Semoga di Aceh akan banyak ulama-ulama arif seperti Prof. Dr. Muslim Ibrahim MA yang sangat bijak menyikapi setiap persoalan dan selalu berpihak kepada ummat bukan berpihak kepada kepentingan politik segelintir orang.

Jeumpa, Kerajaan Islam pertama di Nusantara

oleh : Ustad Husain Ardilla

==========================

Kerajaan Jeumpa Aceh Adalah Kerajaan Islam Pertama Di Nusantara

Teori Islamisasi di Nusantara selama ini Penuh Teori Kebohongan Kaum Sunni dan Penipuan Hindia Belanda

teori Champa ! Gubernur Jenderal Hindia Belanda, TS Raffles, dalam bukunya berjudul The History of Java bahwa Champa bukanlah seperti yang dikenal sekarang di Kambodia. Tapi Champa adalah nama satu daerah di Aceh yakni Jeumpa. Kerajaan Jeumpa Aceh, di dalam buku Ibrahim Abduh yang disadur dari Hikayat Radja Jeumpa adalah sebuah kerajaan yang terletak dari mulai pinggir sungai Peudada hinga Pante Krueng Peusangan Timur! Observasi terkini,  80 meter ke selatan terdapat tapak Maligai Kerajaan Jeumpa yang dikenal dengan sebutan Buket Teungku Keujereun. Di daerah itu ditemukan barang-barang peninggalan kerajaan.

kami mencoba menelusuri kembali jejak-jejak kerajaan Islam Campa di Bireuen ini, karena di kabupaten ini terdapat situs kerajaan Raja Jeumpa, di Desa Blang Seupeung, Kecamatan Jeumpa

TS Raffles yang ber-argumen bahwa: Champa yang banyak di asumsi orang Indonesia bukan berada di Kambodia (Vietnam) sekarang, sebagaimana dinyatakan oleh para peneliti Belanda. Akan tetapi, munurut Raffles, Champa adalah sebuah nama daerah di sebuah wilayah tepatnya berada di Aceh, dan masyarakat Aceh setempat menyebut daerahnya itu dengan nama ”Jeumpa”, sekarang dikenal daerah ini dengan nama kabupaten Aceh Jeumpa kota Bireun.

Kata Jeumpa bagi dialek bahasa Jawa pada saat itu menjadi kata Champa, karena salah penyebutan itu akhirnya bagi ahli sejarah berikutnya mengalamatkan (menghubungkan) Walisongon dengan kerajaan Champa Kambodia dan Vietnam sekarang. Kata Jeumpa di Aceh sendiri terurai indah dalam sebuah lagu clasik Aceh dengan potongan liriknya, “bungong Jeumpa bungong Jeumpa meugah di Aceh” (bunga Jeumpa-bunga  Jeumpa megah di Aceh). Makna dari Bungong Jeumpa adalah, wanita Jeumpa

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Muslim, Rasulullah saw bersabda agar pengikutnya berpegang teguh kepada dua perkara supaya tidak sesat selama-lamanya, yaitu Kitab Allah (al-Qur’an dan Sunnah) dan Itrah (keturunannya). Dua perkara inilah yang menjadi penghubung antara Rasulullah dengan umatnya, sehingga mereka diwajibkan membaca shalawat untuk beliau dan keluarga keturunannya. Karena Ahlul Bayt diamanahkan sebagai benteng utama Islam oleh Allah dan Rasul-Nya dan ummat diperintahkan untuk mencintai, menghormati dan berpegang teguh kepadanya, maka sejak awal kebangkitan Islam para Itrah Rasul mendapat kehormatan dan kedudukan, termasuk di alam Nusantara. Itulah sebabnya ahli sejarah telah mencatat beberapa dinasti Kerajaan Ahlul Bayt Nusantara, baik di wilayah Sumatera, Semenanjung Melayu, Borneo-Kalimantan, Jawa, Sulawesi sampai ke Maluku dan Papua sekarang

.

SEBELUM  ISLAM, ACEH  BERADA  DALAM KEKUASAAN  ORANG ORANG HiNDU DARi GUJARAT,

Kabupaten Bireuen dalam catatan sejarah dikenal sebagai daerah Jeumpa. Dahulu Jeumpa merupakan sebuah kerajaan kecil di Aceh. Menurut Ibrahim Abduh dalam Ikhtisar Radja Jeumpa, Kerajaan Jeumpa terletak di di Desa Blang Seupeung, Kecamatan Jeumpa, Kabupaten Bireuen.Secara geografis, kerajaan Jeumpa terletak di daerah perbukitan mulai dari pinggir sungai Peudada di sebelah barat sampai Pante Krueng Peusangan di sebelah timur.

Silsilah Dinasti Syarief Jamalul Alam (1)

.

Jeumpa, sebelum kedatangan Islam di daerah ini sudah berdiri salah satu Kerajaan Hindu Purba Aceh yang dipimpin turun temurun oleh seorang Meurah dan negeri ini sudah dikenal di seluruh penjuru serta mempunyai hubungan perdagangan dengan Cina, India, Arab dan lainnya.

keberadaan Kerajaan Jeumpa Aceh yang diperkirakan berdiri pada abad ke 7 Masehi

Kerajaan Jeumpa, ketika itu dikuasai Meurah Jeumpa beragama Hindu, kemudiah  datanglah seorang pemuda tampan yang dikenal dengan Syahrianshah Salman  sebagaimana disebut dalam Silsilah keturunan Sultan-Sultan Melayu, yang dikeluarkan oleh Kerajaan Brunei Darussalam dan Kesultanan Sulu-Mindanao dan juga disebutkan dalam Silsilah Raja-Raja Aceh Darussalam oleh Dinas Kebudayaan NAD. Maharaj Syahriar Salman kemudian menikah dengan putri istana Jeumpa bernama Mayang Seludang.

Akibat dari perkawinan itu, Maharaj Syahriar Salman tidak lagi ikut rombongan niaga Persia melanjutkan pelayaran ke Selat Malaka.Sebagian ahli sejarah menghubungkan silsilah Pangeran Salman dengan keturunan dari Sayyidina Hussein ra cucunda Nabi Muhammad Rasulullah saw yang telah menikah dengan Puteri Maharaja Parsia bernama Syahribanun. Dari perkawinan inilah kemudian berkembang keturunan Rasulullah yang telah menjadi Ulama, Pemimpin Spiritual dan Sultan di Dunia Islam, termasuk Nusantara, baik di Aceh, Pattani,Sumatera,Malaya, Brunei sampai ke Filipina dan Kepulauan Maluku

Dikisahkan Pangeran Salman memasuki pusat Kerajaan di kawasan Blang Seupeueng dengan kapal niaga dengan segala awak, perangkat dan pengawal serta muatannya yang datang dari Parsi untuk berdagang dan utamanya berdakwah mengembangkan ajaran Islam, sebagai sebuah misi utama para keturunan Rasulullah saw. Dia memasuki negeri Blang Seupeueng melalui laut lewat Kuala Jeumpa. Sang Pangeran sangat tertarik dengan kemakmuran, keindahan alam dan keramahan penduduknya. Selanjutnya beliau tinggal bersama penduduk dan menyiarkan agama Islam yang telah menjadi anutan nenek moyangnya di Parsia.Rakyat di negeri tersebut dengan mudah menerima Islam karena tingkah laku, sifat dan karakternya yang sopan dan sangat ramah. Apalagi beliau adalah seorang Pangeran dari negara maju Parsia yang terkenal kebesaran dan kemajuannya masa itu

.

Keutamaan dan kecerdasan yang dimiliki Pangeran Salman yang tentunya telah mendapat pendidikan terbaik di Persia negeri asalnya, sangat menarik perhatian Meurah Jeumpa dan mengangkatnya menjadi orang kepercayaan Kerajaan. Karena keberhasilannya dalam menjalankan tugas-tugasnya, akhirnya Pangeran Salman dinikahkan dengan puteri Raja dan dinobatkan menjadi Raja menggantikan bapak mertuanya.

Setelah menjadi Raja,wilayah kekuasaannya diberikan nama dengan Kerajaan Jeumpa. Sejak saat Kerajaan Islam Jeumpa terkenal dan berkembang pesat menjadi kota perdagangan dan transit bagi pedagang-pedagang Arab, Cina, India dan lainnya.Kerajaan Jeumpa menjadi maju dan makmur sekaligus menjadi pusat penyebaran Islam di wilayah Sumatra bahkan Nusantara.

Sal-man  memproklamirkan Kerajaan Islam Jeumpa pada tahun 156 H atau sekitar tahun 777 M. Maka tidak diragukan, Kerajaan Jeumpa adalah Kerajaan Islam pertama di seluruh Nusantara

Jeumpa sebagai Kerajaan Islam pertama di Nusantara memperluas hubungan diplomatik dan perdagangannya dengan kerajaan lainnya. Karena letak geografisnya yang sangat strategis di ujung barat pulau Sumatra, menjadikan wilayah Aceh sebagai kota pelabuhan transit yang berkembang pesat, terutama untuk persiapan logistik dalam pelayaran yang akan menempuh samudra luas dari Cina menuju Persia ataupun Arab

Kerajaan Islam pertama di Aceh, yang juga merupakan Kerajaan Islam pertama di Nusantara adalah Kerajaan Islam Jeumpa yang didirikan oleh salah satu keturunan Nabi Muhammad yang melarikan diri dari Persia bernama Sasaniah Salman al-Parsi pada tahun 154 Hijriah atau sekitar tahun 777 Masehi. Kerajaan Jeumpa menjadi salah satu pusat Islamisasi di Nusantara, khususnya Aceh. Salah seorang Pangeran Jeumpa, Shahrnawi, yang namanya disebut oleh Syekh Hamzah Fansuri, menjadi pelopor pendirian Kerajaan Islam Perlak pada tahun 805 Masehi, dan mengangkat anak saudaranya, Maulana Abdul Aziz keturunan  dari Imam Ja’far Sidiq sebagai Sultan pertama Kerajaan Perlak pada tahun 840 M

.

Pangeran Salman adalah salah seorang pelarian politik dari Persia yang tengah bergejolak akibat peperangan antara Keturunan Nabi saw yang didukung pengikut Syiah dengan Penguasa Bani Abbasiah masa itu (tahun 150an Hijriah). Beliau bersama para pengikut setianya memilih ujung utara pulau Sumatera sebagai tujuan karena memang daerah sudah terkenal dan sudah terdapat banyak pemeluk Islam yang mendiami perkampungan-perkampungan Arab atau Persia.  Jeumpa adalah salah satu pemukiman baru tersebut. Untuk menghindari pengejaran itulah, beliau memilih daerah pinggiriran agar tidak terlalu menyolok. Itulah sebabnya, Pangeran Salman juga dikenal dengan nama-nama lainnya, seperti Meurah Jeumpa, atau ada yang mengatakan beliau sebagai Abdullah

.

Yang perlu dicermati, kenapa Pangeran Salman al-Parsi memilih kota kecil di wilayah Jeumpa sebagai tempat mukimnya, dan tidak memilih kota metropolitan seperti Barus, Fansur, Lamuri dan sekitarnya yang sudah berkembang pesat dan menjadi persinggahan para pedagang manca negara?

1. beliau diterima dengan baik oleh masyarakat Jeumpa dan memutuskan tinggal di sana

2. beliau merasa nyaman dan sesuai dengan penguasa (meurah)

3. keinginan untuk mengembangkan wilayah ini setingkat Barus, Lamuri dan lainnya dan

4. menghindar dari pandangan penguasa

.

Di bawah pemerintahan Pangeran Salman, Kerajaan Islam Jeumpa berkembang pesat menjadi sebuah kota baru yang memiliki hubungan luas dengan Kerajaan-Kerajaan besar lainnya. Potensi, karakter, pengetahuan dan pengalaman Pangeran Salman sebagai seorang bangsawan calon pemimpin di Kerajaan maju dan besar seperti Persia yang telah mendapat pendidikan khusus sebagaimana lazimnya Pangeran Islam, tentu telah mendorong pertumbuhan Kerajaan Jeumpa menjadi salah satu pusat pemerintahan dan perdagangan yang berpengaruh di sekitar pesisir utara pulau Sumatra. Jeumpa sebagai Kerajaan Islam pertama di Nusantara memperluas hubungan diplomatik dan perdagangannya dengan Kerajaan-Kerajaan lainnya, baik di sekitar Pulau Sumatera atau negeri-negeri lainnya, terutama Arab dan Cina.

.

Maharaj Syahriar Salman adalah keluarga bangsawan dari Dinasti Sasanid Persia. Salman yang menjadi panggilannya merupakan seorang pangeran dari Istana Persia, ia berasal dari keluarga kerajaan Persia (H. Awang Muhammad Jamil Al-Sufri, Tarsilah Brunai, 1990 hal 73).

Salman beserta rombongan melakukan perjalanan ke Asia Tenggara untuk menuju ke Selat Malaka, namun sebelum sampai ke sana, Pangeran Salman singgah di negeri Jeumpa dan akhirnya menikah dengan puteri Istana Jeumpa yang bernama Mayang Seludang. Pangeran Salman pun tidak meneruskan perjalanan dengan rombongannya ke Selat Malaka. Akibat dari perkawinan itu, Maharaj Syahriar Salman tidak lagi ikut rombongan niaga Persia melanjutkan pelayaran ke Selat  Malaka.

.

Mayang Seludang adalah puteri dari penguasa Negeri Jeumpa (Bireuen) yang leluhurnya berasal dari Indo Cina, menurut satu riwayat mengatakan bahwa penguasa Jeumpa berdarah campuran lokal dan Indo Cina, karena beberapa abad sebelumnya penguasa Jeumpa menikah dengan seorang puteri Indo Cina dan keturunannya menjadi penguasa Jeumpa.Mereka seterusnya menurunkan Raja dan bangsawan Perlak, Pasai sampai Aceh Darussalam.

.

Menurut penelitian terkini para ahli sejarah,diketahui bahwa sebelum datangnya Islam pada awal abad ke 7 M, Dunia Arab dengan Dunia Melayu-Sumatra sudah menjalin hubungan dagang yang erat sejak 2000 tahun SM atau 4000 tahun lalu. Hal ini sebagai dampak hubungan dagang Arab-Cina melalui jalur laut yang telah menumbuhkan perkampungan perkampungan Arab, Parsia, Hindia dan lainnya di sepanjang pesisir pulau Sumatera

.

Tentu di balik kesuksesan Pangeran Salman membangun dan memimpin Kerajaan Jeumpa, di dukung oleh seorang Maha Ratu yang sangat berperan, karena sebagaimana pepatah menyebutkan di setiap keberhasilan lelaki, pasti ada perempuan yang mendukung keberhasilannya. Siapakah wanita agung yang telah mendukung kegemilangan Maha Raja Jeumpa yang berhasil sebagai pendiri Kerajaan Islam pertama di Nusantara ini?

Menurut Silsilah Sultan Melayu dan Silsilah Raja Aceh, beliau tidak lain adalah Putro Manyang Seulodong atau ada yang menyebutnya dengan Dewi Ratna Keumala, anak Meurah Jeumpa yang cantik rupawan serta cerdas dan berwibawa. Putro Jeumpa inilah yang telah mendukung karir dan perjuangan suaminya sehingga berhasil mengembangkan sebuah Kerajaan Islam yang berwibawa, yang selanjutnya anak keturunannya telah melahirkan Kerajaan Islam di Perlak, Pasai, Pedir dan Aceh Darussalam

.

Menurut penelitian Sayed Dahlan al-Habsyi, Syahri adalah gelar pertama yang digunakan keturunan Nabi Muhammad di nusantara sebelum menggunakan gelar Meurah, Habib, Sayid, Syarief, Sunan, Teuku dan lainnya. Syahri diambil dari nama istri Sayyidina Husein bin Ali, Puteri Syahribanun, anak Maha Raja Parsia terakhir yang ditaklukkan Islam.

menurut pengamatan pakar sejarah Aceh, Sayed Dahlan al-Habsyi, beliau adalah termasuk keturunan Sayyidina Husein ra. Raja Salman menggunakan dua nama ( satu lagi : Abdullah) akibat menghindar dari kejaran para penguasa Parsia yang sedang memburu pelarian keturunan Nabi..Ini artinya, Islam sudah mulai tersebar pada awal abad ke 8 atau sekitar tahun 150-an Hijriah di wilayah Aceh dan memiliki hubungan dengan wilayah Islam lainnya.

Potensi, karakter, pengetahuan dan pengalaman Pangeran Salman sebagai seorang bangsawan calon pemimpin di kerajaan maju dan besar seperti Persia, karena telah mendapat pendidikan khusus sebagaimana lazimnya Pangeran Islam. Semua itu, tentu saja telah mendorong pertumbuhan Kerajaan Jeumpa menjadi salah satu pusat pemerintahan dan perdagangan yang berpengaruh di sekitar pesisir utara pulau Sumatra.Jeumpa sebagai Kerajaan Islam pertama di Nusantara, memperluas hubungan diplomatik dan perdagangannya dengan kerajaan-kerajaan lainnya, baik di sekitar Pulau Sumatera atau negeri lainnya, terutama Arab dan Cina

.

Namun dalam perkembangannya, Kerajaan Perlak tumbuh pesat menjadi kota pelabuhan baru terutama setelah kedatangan rombongan keturunan Nabi yang dipimpin Nakhoda Khalifah berjumlah 100 orang. Syahr Nuwi mengawinkan adiknya Makhdum Tansyuri dengan salah seorang tokoh rombongan tersebut bernama Ali bin Muhammad bin Jafar Sadik, keturunan kepada Nabi Muhammad saw.Dari perkawinan ini lahir seorang putra bernama  Sayyid Abdul Aziz, dan pada  1 Muharram 225  H atau tahun 840 M,  dilantik  menjadi  Raja  dari Kerajaan Islam Perlak dengan gelar Sultan Alaiddin  Sayyid Maulana Abdul Azis Syah

.
Putro Manyang Seuludong bukanlah Cleopatra yang penuh intrik dan tipudaya, walaupun sama-sama Maha Ratu yang memiliki kekuasaan besar terhadap Kerajaan dan rakyatnya. Jika Cleopatra menggunakan kekuasaan, kecantikan dan kecerdasannya untuk memperdaya Yulius dan Anthony serta menghancurkannya, namun Putro Jeumpa ini menggunakannya untuk mendukung kesuksesan suaminya tercinta Pangeran Salman. Bersama suaminya, Sang Maha Ratu Jeumpa ini bahu membahu memajukan Kerajaannya sehingga menjadi sebuah Kerajaan yang terkenal di dunia internasional dan menjadi kota persinggahan para pedagangpedagang dari Arab, Parsia, Cina, india dan lainnya.Apalagi geografi Jeumpa sangat strategis yang berdekatan dengan Barus, Lamuri, Fansur yang lebih dahulu berkembang di ujung barat pulau Sumatra

.

Menurut hasil observasi terkini di sekitar daerah yang diperkirakan sebagai tapak Maligai Kerajaan Jeumpa sekitar 80 meter ke selatan yang dikenal dengan Buket Teungku Keujereun, ditemukan tapak bangunan istana dan beberapa barang peninggalan kerajaan, seperti kolam mandi kerajaan seluas 20 x 20 m, kaca jendela, porselin dan juga ditemukan semacam cincin dan kalung rantai yang panjangnya sampai ke lutut dan anting sebesar gelang tangan. Semua ini tentu menggambarkan kemakmuran dan kemajuan dari Kerajaan Jeumpa 14 abad silam.

Maha Ratu Manyang Seuludong bukan hanya berhasil menjadi pendamping suaminya dalam membangun Kerajaan Jeumpa, tetapi juga berhasil menjadi seorang pendidik agung yang telah melahirkan anak-anak yang melanjutkan perjuangannya menyebarkan dakwah Islamiyah. Sebagai seorang ibu, sudah sepatunya Maha Ratu Jeumpa ini dibanggakan, karena telah berhasil mencetak pemimpin-pemimpin agung untuk agama dan bangsanya. Sang Maha Ratu dikaruniai beberapa orang anak yang menjadi Raja dan Ratu yang sangat berpengaruh dalam perjalanan sejarah pengembangan Islam Nusantara

.

Kecerdasan dan kecantikan Putro Jeumpa ini telah diwariskan kepada keturunannya yang menjadi lambang keagungan putriputri Islam yang berjiwa penakluk dalam memperjuangkan tegaknya Islam di bumi Nusantara. Tidak diragukan bahwa Putro Manyang Seuludong telah menjadi inspirasi bagi perjuangan para Ratu dan putro-putro Jeumpa sesudahnya. Dari keturunan beliaulah telah berkembang puteri-puteri Jeumpa yang terkenal kecantikan dan kecerdasannya ke seluruh kerajaan di Nusantara. Puteri-puteri Jeumpa telah menjadi lambang kewibawaan para Ratu Islam di istana-istana Perlak, Pasai, Malaka . Itulah sebabnya dalam perjalanan sejarah Aceh, senantiasa dipenuhi dengan wanita-wanita agung yang berjiwa patriotik dan penakluk serta membuat sejarah kegemilangannya masing-masing yang tidak pernah dicapai oleh wanita-wanita lainnya di Nusantara, bahkan di negeri Arab sekalipun

.

Menurut silsilah keturunan sultan-sultan Melayu yang dikeluarkan Kerajaan Brunei Darussalam dan Kesultanan Sulu-Mindanao. Kerajaan Islam Jeumpa dipimpin seorang Pangeran dari Parsia yang bernama Syahriansyah Salman atau Sasaniah Salman yang kawin dengan Puteri Mayang Seuludong dan memiliki beberapa anak, diantaranya, Syahri Poli, Syahri Tanti, Syahri Nuwi, Syahri Dito dan Makhdum Tansyuri

1. Syahri Poli alias Syahri Pauli alias Syahri Puli merantau ke negeri Samaindera (Pidie) , Syahri Pauli menjadi Meurah di Negeri Sama indra (sekarang Pidie). Syahri Poli adalah pendiri dari Kerajaan Poli yang selanjutnya berkembang menjadi Kerajaan Pidier di wilayah Pidie sekarang yang wilayah kekuasaannya sampai ujung barat Sumatera. Beliau merantau ke Barat (Pidie, sekarang) kemudian di negeri itu diangkat menjadi penguasa Negeri Sama Indra (Pidie). Syahri Poli menjadi Meurah mendirikan Kerajaan Poli yang selanjutnya berkembang menjadi Kerajaan Pidie

2. Syahri Tanti alias Syahri Dauli alias Syahri Duli pergi merantau ke negeri Indra Purba (Aceh Besar), Syahir Dauli diangkat menjadi Meurah di Negeri Indra Purwa (sekarang Aceh Besar). Beliau merantau ke daerah negeri barat paling ujung (Banda Aceh, sekarang), karena kecakapannya diangkat menjadi penguasa Negeri Indra Pura (Aceh Besar, sekarang). Syahri Tanti mengembangkan kerajaan yang ratusan tahun selanjutnya menjadi cikal bakal berdirinya Kerajaan Samudra-Pasai.

3. Syahri Nuwi (Meurah Fu), pendiri kota Perlak dengan gelar Meurah Syahri Nuwi

4. Syahri Dito alias  Syahri Tanwi alias Syahri Puri  di angkat menjadi Meurah Negeri Jeumpa

5. Makhdum Tansyuri, menikah dengan kepala rombongan Khalifah yang dibawa Nakhoda, Maulana Ali bin Muhammad din Ja’far Shadik, yang melahirkan Maulana Abdul Aziz Syah, Raja pertama Kerajaan Islam Perlak.Makhdum Tansyuri yang menjadi ibu dari Sultan pertama Kerajaan Islam Perlak yang berdiri pada tahun 805 Masehi

Keempat putera Maharaj Syahrian Salman sering dikenal dengan kaum imam empat (kawom imum peuet) atau penguasa empat.Dalam sejarah Aceh selanjutnya, tidak diragukan Putro Jeumpa Manyang Seuludong telah memberikan inspirasi kepada anak keturunannya. Merekalah yang kelak dikenal sebagai “Kaom Imeum Tuha Peut” (penguasa yang empat). Dengan demikian, kawasan-kawasan sepanjang Selat Malaka dikuasai oleh darah keturunan Maharaj Syahriar Salman dari Dinasti Sassanid Persia dan bercampur dengan darah pribumi Jeumpa (sekarang Bireuen)

.

Sultan pertama Perlak adalah Sultan Alaiddin Syed Maulana Abdul Aziz Shah, yang beraliran Syiah dan merupakan keturunan Arab dengan perempuan setempat, yang mendirikan Kesultanan Perlak pada 1 Muharram 225 H (840 M). Ia mengubah nama ibukota kerajaan dari Bandar Perlak menjadi Bandar Khalifah. Sultan ini bersama istrinya, Putri Meurah Mahdum Khudawi, kemudian dimakamkan di Paya Meuligo, Peureulak, Aceh Timur

Kerajaan Islam Perlak akhirnya berkembang menjadi sebuah kerajaan yang maju menggantikan peran dari Kerajaan Islam Jeumpa.Setelah berdirinya beberapa Kerajaan Islam baru sebagai pusat Islamisasi Nusantara seperti  Kerajaan Islam Perlak (840-an) dan Kerajaan Islam Pasai (1200-an), Kerajaan Islam Jeumpa yang menjalin kerjasama diplomatik tetap memiliki peran besar dalam Islamisasi Nusantara, khususnya dalam penaklukkan beberapa kerajaan besar Jawa-Hindu seperti Majapahit

.
Dapat dikatakan bahwa Kerajaan Islam Perlak adalah kelanjutan atau pengembangan dari Kerajaan Islam Jeumpa yang sudah mulai menurun peranannya. Namun secara diplomatik kedua Kerajaan ini merupakan sebuah keluarga yang terikat dengan aturan Islam yang mengutamakan persaudaraan. Apalagi para Sultan adalah keturunan dari Nabi Muhammad yang senantiasa mengutamakan kepentingan agama Islam di atas segala kepentingan duniawi dan diri mereka. Bahkan dalam silsilahnya, Sultan Perlak yang ke V berasal dari keturunan Kerajaan Islam Jeumpa

.

Syahr Nuwi mengawinkan adiknya Makhdum Tansyuri dengan salah seorang tokoh rombongan tersebut bernama Ali bin Muhammad bin Jafar Sadik, keturunan kepada Nabi Muhammad saw. Dari perkawinan ini lahir seorang putra bernama Sayyid Abdul Aziz, dan pada 1 Muharram 225 H atau tahun 840 M dilantik menjadi Raja dari Kerajaan Islam Perlak dengan gelar Sultan Alaiddin Sayyid Maulana Abdul Azis Syah.  Karena wilayahnya yang strategis Kerajaan Islam Perlak akhirnya berkembang menjadi sebuah Kerajaan yang maju menggantikan peran dari Kerajaan Islam Jeumpa

Putri Tansyir Dewi, menikah dengan Sayid Maulana Ali al-Muktabar, anggota rombongan pendakwah yang tiba di Bandar Perlak dengan sebuah kapal di bawah Nakhoda Khalifah. Kapal itu memuat sekitar 100 pendakwah yang menyamar sebagai pedagang. Rombongan ini terdiri dari orang-orang Quraish, Palestina, Persia dan India. Rombongan pendakwah ini tiba pada tahun 173 H (800 M). Sebelum merapat di Perlak, rombongan ini terlebih dahulu singgah di India

.
Sayid Maulana Ali al-Muktabar berfaham Syiah, merupakan keturunan dari Sayid Muhammad Diba`i anak Imam Jakfar Asshadiq (Imam Syiah ke-6) anak dari Imam Muhammad Al Baqir (Imam Syiah ke-5), anak dari Syaidina Ali Muhammad Zainal Abidin, yakni satu-satunya putra Syaidina Husen, putra Saidina Ali bin Abu Thalib dari perkawinan dengan Siti Fatimah, putri dari Muhammad Rasulullah saw.

Keikutsertaan Sayid Maulana Ali al-Muktabar dalam rombongan pendakwah karena Khalifah Makmun bin Harun Al Rasyid (167-219 H/813-833 M) meminta  menyebarkan Islam di Hindi, Asia Tenggara dan kawasan-kawasan lainnya. Khalifah Makmun sebelumnya berhasil meredam “pemberontakan” kaum Syiah di Mekkah yang dipimpin oleh Muhammad bin Ja`far Ashhadiq.

selain sayid ada juga yang orang Arab lainnya dari Bani Hasyim dan juga keturunan Rasulullah lainnya yang datang ke Perlak dalam rangka menyiarkan agama Islam dan kemudian mereka berbaur dengan masyarakat setempat terutama dengan keluarga Meurah seperit Syarifah Azizah yang menikah dengan Sultan Perlak ke-11 Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abadullah Syah Johan Berdaulat.

Adik  bungsu  Syahir  Nuwi   yaitu  Putri Tansyir Dewi, menikah dengan Sayid Maulana Ali al-Muktabar, anggota rombongan pendakwah yang tiba di Bandar Perlak dengan sebuah kapal di bawah Nakhoda Khalifah. Kapal itu memuat sekitar 100 pendakwah yang menyamar sebagai pedagang. Rombongan ini terdiri dari orang-orang Quraish, Palestina, Persia dan India.. Perkawinan Putri Tansyir Dewi dengan Sayid Maulana Ali al-Muktabar membuahkan seorang putra bernama Sayid Maulana Abdul Aziz Syah, yang kelak setelah dewasa dinobatkan sebagai Sultan Alaidin Sayid Maulana Abdul Aziz Syah, sultan pertama Kerajaan Islam Perlak

Selanjutnya, salah satu anak buah Nakhoda Khalifah, Ali bin Muhammad bin Ja`far Shadiq dinikahkan dengan Makhdum Tansyuri, adik dari Syahir Nuwi. Dari perkawinan mereka inilah lahir kemudian Alaidin Syed Maulana Abdul Aziz Syah, Sultan pertama Kerjaan Perlak. Sultan kemudian mengubah ibukota Kerajaan, yang semula bernama Bandar Perlak menjadi Bandar Khalifah, sebagai penghargaan atas Nakhoda Khalifah. Sultan dan istrinya, Putri Meurah Mahdum Khudawi, dimakamkan di Paya Meuligo, Perlak, Aceh Timur.

Sultan Alaidin Syed Maulana Abdul Aziz Syah merupakan sultan yang beralirah paham Syiah. Aliran Syi’ah datang ke Indonesia melalui para pedagang dari Persia. Mereka masuk pertama kali melalui Kesultanan Perlak

Kerajaan Perlak  berdiri tahun 840 M dengan rajanya yang pertama, Sultan Alaidin Syed Maulana Abdul Aziz Syah. Sebelumnya, memang sudah ada Negeri Perlak yang pemimpinnya merupakan keturunan dari Meurah Perlak Syahir Nuwi atau Maharaja Pho He La

Pendiri kesultanan Perlak adalah sultan Alaiddin Sayid Maulana Abdul Azis Shah yang menganut aliran atau Mahzab Syiah. Ia merupakan keturunan pendakwah arab dengan perempuan setempat. Kerajaan perlak didirikannya pada tanggal 1 Muharram 225 H atau 840 masehi, saat kerajaan Mataram Kuno atau Mataram Hindu di Jawa masih berjaya. sebagai gebrakan mula-mula, sultan Alaiddin mengubah nama ibu kota kerajaan dari bandar Perlak menjadi Banda Khalifah.

Kini jelaslah kepada kita bahwa – Kerajaan  (Peureulak) dimulai pada 840 M sampai dengan Sulthan Maghdum Alaiddin Malik Abdul Aziz Shah Johan berdaulat adalah terakhir tahun 1292 M. Artinya, Dinasti Islamiyah di Peureulak telah Berjaya selama 452 tahun lamanya.

Disini dapat kita simpulkan bahwa ada dua tokoh penyebar  Islam ke Aceh yang berasal dari tanah Persia :

1. Maharaj Syahriar  Salman : seorang pangeran keturunan Dinasti Sasanid Persia

2. Sayid Maulana Ali al-Muktabar  keturunan  Rasulullah SAW

Kerajaan Perlak tumbuh pesat menjadi kota pelabuhan baru terutama setelah kedatangan rombongan keturunan Nabi yang dipimpin Nakhoda Khalifah berjumlah 100 orang

Setelah tampilnya Kerajaan Islam Perlak sebagai pusat pertumbuhan perdagangan dan kota pelabuhan yang baru, peran Kerajaan Islam Jeumpa menjadi kurang menonjol. Setelah berdirinya beberapa Kerajaan Islam baru sebagai pusat Islamisasi Nusantara seperti Kerajaan Islam Perlak (840an) dan Kerajaan Islam Pasai (1200an), Kerajaan Islam Jeumpa yang menjalin kerjasama diplomatik tetap memiliki peran besar dalam Islamisasi Nusantara, khususnya dalam penaklukkan beberapa kerajaan besar Jawa-Hindu seperti Majapahit misalnya. Di kisahkan bahwa Raja terakhir Majapahit, Brawijaya V memiliki seorang istri yang berasal dari Jeumpa (Champa), yang menurut pendapat Raffless berada di wilayah Aceh dan bukan di Kamboja sebagaimana difahami selama ini

.

Setelah Kerajaan Islam Perlak yang berdiri pada tahun 805 Masehi tumbuh dan berkembang, maka pusat aktivitas Islamisasi nusantarapun berpindah ke wilayah ini. Dapat dikatakan bahwa Kerajaan Islam Perlak adalah kelanjutan atau pengembangan daripada Kerajaan Islam Jeumpa yang sudah mulai menurun peranannya. Namun secara diplomatik kedua Kerajaan ini merupakan sebuah keluarga yang terikat dengan aturan Islam yang mengutamakan persaudaraan. Apalagi para Sultan adalah keturunan dari Nabi Muhammad yang senantiasa mengutamakan kepentingan agama Islam di atas segala kepentingan duniawi dan diri mereka. Bahkan dalam silsilahnya, Sultan Perlak yang ke V berasal dari keturunan Kerajaan Islam Jeumpa.

 Tansyir Dewi menikah dengan seorang sayid keturunan Arab yang bernama Sayid Maulana Ali al-Muktabar, selain sayid ada juga yang orang Arab lainnya dari Bani Hasyim dan juga keturunan Rasulullah lainnya yang datang ke Perlak dalam rangka menyiarkan agama Islam dan kemudian mereka berbaur dengan masyarakat setempat terutama dengan keluarga Meurah seperit Syarifah Azizah yang menikah dengan Sultan Perlak ke-11 Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abadullah Syah Johan Berdaulat.

Sayid Ali Muktabar bin Muhammad Dibai bin Imam Jakfar al-Shadiq merupakan salah satu keturunan dari Ali bin Abi Thalib, Muhammad bin Jakfar al-Shadiq adalah imam Syiah ke-6 yang juga masih keturunan Rasulullah SAW melalui anaknya Nabi bernama Siti Fatimah

Sebelumnya, dinasti Umayah dan Abasiyah sangat menentang aliran Syiah yang dipimpin oleh Ali bin Ali Abu Thalib, tidak heran pada masa dua dinasti tersebut tidak mendapatkan tempat yang aman dan selalu di ditindas karena jumlah minoritas, sehingga banyak dari penganut Syiah menyingkir dari wilayah yang dikuasai oleh dua dinasti tersebut.

Pada masa pemerintahan Khalifah Makmun bin Harun al-Rasyid (167-219 H/813-833 M) akhirnya mengirim pasukannya ke Mekkah untuk meredakan ketegangan kaum Syiah itu, Khalifah Makmun memutuskan kepada Muhammad bin Jakfar al-Shadiq untuk hijrah dan menyebarkan Islam ke Hindi, Asia Tenggara dan sekitarnya.

Wan Hussein Azmi dalam Islam di Aceh mengaitkan kedatangan mereka dengan Revolusi Syi’ah yang terjadi di Persia tahun 744-747. Revolusi ini di pimpin Abdullah bin Mu’awiyah yang masih keturunan Ja’far bin Abi Thalib. Bin Mu’awiyah telah menguasai kawasan luas selama dua tahun (744-746) dan mendirikan istana di Istakhrah sekaligus memproklamirkan dirinya sebagai raja Madian, Hilwan, Qamis, Isfahan, Rai, dan bandar besar lainnya. Akan tetapi ia kemudian dihancurkan pasukan Muruan di bawah pimpinan Amir bin Dabbarah tahun 746 dalam pertempuran Maru Sydhan. Kemudian banyak pengikutnya yang melarikan diri ke Timur Jauh. Para ahli sejarah berpendapat, mereka terpencar di semenanjung Malaysia, Cina, Vietnam, dan Sumatera, termasuk ke Perlak.

Pendapat Wan Hussein Azmi itu diperkaya dan diperkuat sebuah naskah tua berjudul Idharul Haqq fi Mamlakatil Ferlah w’l-Fasi, karangan Abu Ishak Makarni al-Fasy, yang dikemukakan Prof. A. Hasjmi. Dalam naskah itu diceritakan tentang pergolakan sosial-politik di lingkungan Daulah Umayah dan Abbasiyah yang kerap menindas pengikut Syi’ah. Pada masa pemerintahan Khalifah Makmun bin Harun al-Rasyid (813-833), seorang keturunan Ali bin Abi Thalib, bernama Muhammad bin Ja’far Shadiq bin Muhammad Baqr bin Zaenal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib, memberontak terhadap Khalifah yang berkedudukan di Baghdad dan memproklamirkan dirinya sebagai khalifah yang berkedudukan di Makkah.

Khalifah Makmun berhasil menumpasnya. Tapi Muhammad bin Ja’far Shadiq dan para tokoh pemberontak lainnya tidak dibunuh, melainkan diberi ampunan. Makmun menganjurkan pengikut Syi’ah itu meninggalkan negeri Arab untuk meluaskan dakwah Islamiyah ke negeri Hindi, Asia Tenggara, dan Cina. Anjuran itu pun lantas dipenuhi.

Sebuah Angkatan Dakwah beranggotakan 100 orang pimpinan Nakhoda Khalifah yang kebanyakan tokoh Syi’ah Arab, Persia, dan Hindi —termasuk Muhammad bin Ja’far Shadiq— segera bertolak ke timur dan tiba di Bandar Perlak pada waktu Syahri Nuwi menjadi perintis  Negeri Perlak. Syahri Nuwi kemudian menikahkan Ali bin Muhammad bin Ja’far Shadiq dengan adik kandungnya, Makhdum Tansyuri. Dari perkawinan ini lahir seorang putra bernama Sayyid Abdul Aziz, dan pada 1 Muharram 225 H dilantik menjadi Raja dari kerajaan Islam Perlak dengan gelar Sultan Alaiddin Sayyid Maulana Abdul Azis Syah. 

.

satu kapal yang memuat rombongan angkatan dakwah termasuk di dalamnya Sayid Ali Muktabar. Menurut kitab Idharul Haq fi Mamlakat al-Perlak yang ditulis oleh Syekh Ishak Makarani al-Pasi pada tahun 173 H (800 M) Bandar Perlak disinggahi oleh satu kapal yang membawa kurang lebih 100 orang da’i yang terdiri dari orang-orang Arab suku Qurasy, Palestina, Persia dan India dibawah Nakhoda Khalifah dengan menyamar menjadi pedagang

.

Rombongan Nakhoda Khalifah ini disambut oleh penduduk dan penguasa negeri Perlak yakni pada masa Meurah Syahir Nuwi. Pada masa itu pula, Meurah Syahir Nuwi menjadi raja pertama yang menganut Islam di Perlak. Sayid Ali Muktabar sendiri kemudian menikah dengan adik Syahir Nuwi yang bernama puteri Tansyir Dewi yang kemudian mereka dianugerahi seorang putra bernama Sayid Maulana Abdul Aziz Syah. Saat Sayid Maulana Abdul Aziz Syah dewasa, akhirnya dinobatkan menjadi Sultan Pertama Kerajaan Islam Perlak

Pada masa pemerintahan sultan ketiga, Sultan Alaiddin Saiyid Maulana Abbas Syah, aliran Sunni mulai masuk ke Peureulak. Setelah wafatnya sultan pada tahun 363 H (913 M), terjadi perang saudara antara kaum Syi’ah dan Sunni sehingga selama dua tahun berikutnya tak ada sultan.

Kaum Syi’ah memenangkan perang dan pada tahun 302 H (915 M), Sultan Alaiddin Saiyid Maulana Ali Mughat Syah dari aliran Syi’ah naik tahta. Pada akhir pemerintahannya terjadi lagi pergolakan antara kaum Syi’ah dan Sunni yang kali ini dimenangkan oleh kaum Sunni sehingga sultan-sultan berikutnya diambil dari golongan Sunni.

Pertentangan mahzab yang keras ini sempat ke Peureulak dalam masa sultan Alaiddin Saiyid Maulana Ali Mughaiyad Syah (Bukan Ali Mughaiyad Syah Sultan di Kerajaan Aceh Darussalam) Kaum Ahlusunnah dapat menumbangkan kerajaan Islam Syi’ah Peureulak dan Mendirikan Kerajaan Islam Ahlusunnah Peureulak

Pada tahun 362 H (956 M), setelah meninggalnya sultan ketujuh, Sultan Makhdum Alaiddin Abdul Malik Syah Johan Berdaulat, terjadi lagi pergolakan selama kurang lebih empat tahun antara Syi’ah dan Sunni yang diakhiri dengan perdamaian dan pembagian kerajaan menjadi dua bagian:

v Peureulak Pesisir (Syi’ah) dipimpin oleh Sultan Alaiddin Saiyid Maulana Syah (986‑988) dengan ibukota Bandar Peureulak

v Peureulak Pedalaman (Sunni) dipimpin oleh Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim Syah Johan Berdaulat (986–1023) dengan Ibukota Bandar Khalifah

Pada tahun 375 H atau (986 M), kerajaan Sriwijaya menyerang Peureulak, Peperangan tersebut menyebabkan Sultan Alaidin Saiyid Maulana Mahmud Syah syahid, peperangan dengan kerajaan Sriwijaya terus dilanjutkan, sehingga tahun 393 H (1006 M) tentara Sriwijaya keluar dari Peureulak dengan mengalami kerugian yang besar. Maka Sultan Makhdum Alaidin Malik Ibrahim Syah (dari golongan Sunni) menjadi Sultan tunggal Kerajaan Islam Peureulak dan melanjutkan perjuangan melawan Sriwijaya hingga tahun 1006

Disisi lain peperangan ini membawa dampak positif dengan meluasnya pengaruh ajaran Islam ke daerah pedalaman dan ke pantai Barat Utara oleh para Muhajjirin yang hijrah, dan diantara mereka membuka negeri-negeri Islam baru, Seperti Negeri Samudra Pasai, Negeri Isak dan Negeri Lingga (Aceh Tengah), Negeri Serbajadi dan Negri Peunaron (daerah Tamiang dan Lokop)

Sejarah keislaman di Kesultanan Perlak tidak luput dari persaingan antara kelompok Sunni dan Syiah. Perebutan kekuasaan antara dua kelompok Muslim ini menyebabkan terjadinya perang saudara dan pertumpahan darah. Silih berganti kelompok yang menang mengambil alih kekuasaan dari tangan pesaingnya

.
Aliran Sunni mulai masuk ke Kesultanan Perlak, yaitu pada masa pemerintahan sultan ke-3, Sultan Alaiddin Syed Maulana Abbas Shah. Setelah ia meninggal pada tahun 363 H (913 M), terjadi perang saudara antara kaum Syiah dan Sunni, yang menyebabkan kesultanan dalam kondisi tanpa pemimpin. Pada tahun 302 H (915 M), kelompok Syiah memenangkan perang. Sultan Alaiddin Syed Maulana Ali Mughat Shah dari aliran Syiah kemudian memegang kekuasaan kesultanan sebagai sultan ke-4 (915-918). Ketika pemerintahannya berakhir, terjadi pergolakan antara kaum Syiah dan Sunni, hanya saja untuk kali ini justru dimenangkan oleh kelompok Sunni

.
Kurun waktu antara tahun 918 hingga tahun 956 relatif tidak terjadi gejolak yang berarti. Hanya saja, pada tahun 362 H (956 M), setelah sultan ke-7, Sultan Makhdum Alaiddin Abdul Malik Shah Johan Berdaulat meninggal, terjadi lagi pergolakan antara kelompok Syiah dan Sunni selama kurang lebih empat tahun. Bedanya, pergolakan kali ini diakhiri dengan adanya itikad perdamaian dari keduanya. Kesultanan kemudian dibagi menjadi dua bagian. Pertama, Perlak Pesisir (Syiah) dipimpin oleh Sultan Alaiddin Syed Maulana Shah (986 – 988). Kedua, Perlak Pedalaman (Sunni) dipimpin oleh Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim Shah Johan Berdaulat (986 – 1023)

.

Peureulak kemudian mengalami Penggabungan dengan Samudera Pasai

Champa yang dimaksud dalam sejarah pengembangan Islam Nusantara selama ini, yang menjadi tempat persinggahan dan perjuangan awal Maulana Malik Ibrahim, asal ”Puteri Champa” atau asal kelahiran Raden Rahmat (Sunan Ampel), bukanlah Champa yang ada di Kambodia-Vietnam saat ini. Tapi tidak diragukan, sebagaimana dinyatakan Raffles, ”Champa” berada di Jeumpa dengan kota perdagangan Bireuen, yang menjadi bandar pelabuhan persinggahan dan laluan kota-kota metropolis zaman itu seperti Fansur, Barus dan Lamuri di ujung barat pulau Sumatra dengan wilayah Samudra Pasai ataupun Perlak di daerah sebelah timur yang tumbuh makmur dan maju.

Untuk mendukung Teori Raffles bahwa Champa yang dimaksud bukan di Vietnam sekarang, tetapi di wilayah Jeumpa Bireuen Aceh, ada beberapa dalil yang dapat dikemukakan, antara lain;

(i) Martin Van Bruinessen telah memetik tulisan Saiyid ‘Al-wi Thahir al-Haddad, dalam bukunya Kitab Kuning, Pesantren ..“Putra Syah Ahmad, Jamaluddin dan saudara-saudaranya konon telah mengembara ke Asia Tenggara….. Jamaluddin sendiri pertamanya menjejakkan kakinya ke Kemboja dan Aceh, kemudian belayar ke Semarang dan menghabiskan waktu bertahun-tahun di Jawa, hingga akhirnya melanjutkan pengembaraannya ke Pulau Bugis, di mana dia meninggal.” (al-Haddad 1403 :8-11). Diriwayatkan pula beliau menyebarkan Islam ke Indonesia bersama rombongan kaum kerabatnya.

Anaknya, Saiyid Ibrahim (Maulana Sayyid Ibrahim) ditinggalkan di Aceh untuk mendidik masyarakat dalam ilmu keislaman. Kemudian, Saiyid Jamaluddin ke Majapahit, selanjutnya ke negeri Bugis, lalu meninggal dunia di Wajok (Sulawesi Selatan). Tahun kedatangannya di Sulawesi adalah 1452M dan tahun wafatnya 1453M”. Jadi tidak diragukan bahwa yang ke Kamboja itu adalah ayah Maulana Ibrahim, Saiyid Jamaluddin yang menikah di sana dan menurunkan Ali Nurul Alam. Sedangkan mayoritas ahli sejarah menyatakan Maulana Malik Ibrahim lahir di Samarkand atau Persia, sehingga di gelar Syekh Maghribi. Beliau sendiri dibesarkan di Aceh dan tentu menikah dengan puteri Aceh yang dikenal sebagai ”Puteri Raja Champa”.

(ii) Keadaan Champa Kambodia ketika zaman Maulana Malik Ibrahim sedang huru hara dan terjadi pembantaian terhadap kaum Muslim yang dilakukan oleh Dinasti Ho yang membalas dendam atas kekalahannya pada pasukan Khulubay Khan, Raja Mongol yang Muslim sebagaimana disebutkan terdahulu. Keadaan ini sangat jauh berbeda dengan keadaan Jeumpa yang menjadi mitra Kerajaan Pasai pada waktu itu yang menjadi jalur laluan dan peristirahatan menuju kota besar seperti Barus, Fansur dan Lamuri dari Pasai ataupun Perlak. Kerajaan Pasai adalah pusat pengembangan dan dakwah Islam yang memiliki banyak ulama dan maulana dari seluruh penjuru dunia. Sementara para sultan adalah diantara yang sangat gemar berbahas tentang masalah-masalah agama, di istananya berkumpul sejumlah ulama besar dari Persia, India, Arab dan lain-lain, sementara mereka mendapat penghormatan mulia dan tinggi. Dan Sejarah Melayu menyebutkan bahwa ”segala orang Samudra (Pasai) pada zaman itu semuanya tahu bahasa Arab.

Tarikh atau sejarah yang akan dipaparkan berikut ini adalah rangkaian panjang dari tulisan ”SEJARAH PERJUANGAN UMMAH ACEH-SUMATERA”. Sumber tulisan ini adalah Serial Penelitian dan Penerbitan The Acheh Renaissance Movement, karya Al-Ustadz Hilmy Bakar Alhasany Almascaty. Dia adalah Pendiri dan Presiden Hilal Merah sebagai rekomendasi Mudzakarah Nasional Ulama, Habaib dan Cendekiawan Muslim ke XI di Medan Sumut

.

Bukan hanya itu, Hilmy Bakar juga sebagai Ketua Persaudaraan Pekerja Muslim (PPMI), Direktur RD Universitas Islam Azzahra, Pendiri dan Deputy Presiden Intelektual Muda Muslim Asia Tenggara serta dosen dan Direktur Institut Pendidikan Safa Malaysia, Ketum Yayasan Islam An-Nur NTB. Pernah aktiv di Pelajar Islam Indonesia (PII), Persekutuan Pelajar Islam Asia Tenggara (PEPIAT), dan beberapa jabatan penting lainnya

.

Sebagai catatan, langkah ini sebagai usaha untuk membangkitkan ”batang terendam” sejarah Aceh dari berbagai versi, tentunya dengan tidak diklaim sebagai mutlak benar, tapi setidaknya merupakan sejarah dari hasil penelitian yang ilmiah, tentu tidak tertutup kemungkinan ada versi sejarah yang lain.
Seperti apakah isi buku tersebut? Berikut, bagian pertama dari tulisan panjang yang direncanakan akan dipublikasikan dalam bentuk buku, yang saat ini masih dalam bentuk draft

.
Gubernur Jendral Hindia Belanda dari Kerajaan Inggris yang juga seorang peneliti sosial, Sir TS. Raffles dalam bukunya The History of Java, menyebutkan bahwa Champa yang terkenal di Nusantara, bukan terletak di Kambodia sekarang sebagaimana dinyatakan oleh para peneliti Belanda. Tapi Champa adalah nama daerah di sebuah wilayah di Aceh, yang terkenal dengan nama ”Jeumpa”

.
Kerajaan Jeumpa Aceh, berdasarkan Ikhtisar Radja Jeumpa yang di tulis Ibrahim Abduh, yang disadurnya dari hikayat Radja Jeumpa adalah sebuah Kerajaan yang benar keberadaannya pada sekitar abad ke VIII Masehi yang berada di sekitar daerah perbukitan mulai dari pinggir sungai Peudada di sebelah barat sampai Pante Krueng Peusangan di sebelah timur

.
Istana Raja Jeumpa terletak di desa Blang Seupeueng yang dipagari di sebelah utara, sekarang disebut Cot Cibrek Pintoe Ubeuet. Masa itu Desa Blang Seupeueng merupakan permukiman yang padat penduduknya dan juga merupakan kota bandar pelabuhan besar, yang terletak di Kuala Jeumpa. Dari Kuala Jeumpa sampai Blang Seupeueng ada sebuah alur yang besar, biasanya dilalui oleh kapal-kapal dan perahu-perahu kecil. Alur dari Kuala Jeumpa tersebut membelah Desa Cot Bada langsung ke Cot Cut Abeuk Usong atau ke ”Pintou Rayeuk” (pintu besar)

.
Menurut hasil observasi terkini di sekitar daerah yang diperkirakan sebagai tapak Mahligai Kerajaan Jeumpa sekitar 80 meter ke selatan yang dikenal dengan Buket Teungku Keujereun, ditemukan beberapa barang peninggalan kerajaan, seperti kolam mandi kerajaan seluas 20 x 20 m, kaca jendela, porselin dan juga ditemukan semacam cincin dan kalung rantai yang panjangnya sampai ke lutut dan anting sebesar gelang tangan. Di sekitar daerah ini pula ditemukan sebuah bukit yang diyakini sebagai pemakaman Raja Jeumpa dan kerabatnya yang hanya ditandai dengan batu-batu besar yang ditumbuhi pepohonan rindang di sekitarnya

.
Berdasarkan silsilah keturunan Sultan-Sultan Melayu, yang dikeluarkan oleh Kerajaan Brunei Darussalam dan Kesultanan Sulu-Mindanao, Kerajaan Islam Jeumpa pada 154 Hijriah atau tahun 777 Masehi dipimpin oleh seorang Pangeran dari Parsia (India Belakang?) yang bernama Syahriansyah Salman atau Sasaniah Salman yang kawin dengan Puteri Mayang Seulodong dan memiliki beberapa anak, antara lain Shahri Poli, Shahri Tanti, Shahri Nawi, Shahri Dito dan Puteri Makhdum Tansyuri yang menjadi ibu dari Sultan pertama Kerajaan Islam Perlak

.
Menurut penelitian pakar sejarah Aceh, Sayed Dahlan al-Habsyi, Shahri adalah gelar pertama yang digunakan keturunan Nabi Muhammad di Nusantara sebelum menggunakan gelar Meurah, Habib, Sayid, Syarief, Sunan, Teuku dan lainnya. Syahri diambil dari nama istri Sayyidina Husein bin Ali, Puteri Shahri Banun, anak Maha Raja Parsia terakhir

.
Mengenai keberadaan Shahri Nawi ini, disebutkan oleh Syekh Hamzah Fansuri. Syekh ini adalah Ulama Sufi dan sastrawan terkenal Nusantara yang berpengaruh dalam pembangunan Kerajaan Aceh Darussalam, yang juga merupakan guru Syamsuddin al-Sumatrani yang dikenal sebagai Syekh Islam Kerajaan Aceh Darussalam pada masa Iskandar Muda. A. Hasymi menyebutkan beliau juga adalah paman dari Maulana Syiah Kuala (Syekh Abdul Rauf al-Fansuri al-Singkili). Syekh Fansuri dalam beberapa kesempatan menyatakan asal muasalnya dan hubungannya dengan Shahri Nawi. Diantaranya syair :

Hamzah ini asalnya Fansuri
Mendapat wujud di tanah Shahrnawi
Beroleh khilafat ilmu yang ’ali
Daripada ’Abd al-Qadir Jilani

Hamzah di negeri Melayu,
Tempatnya kapur di dalam kayu

Dari rangkaian syair tadi, jelaslah bahwa ada hubungan antara bumi Shahrnawi (Shahr Nawi) dengan Fansur yang menjadi asal muasal kelahiran Syekh Hamzah Fansuri dan tempat yang terkenal kafur Barus. Sebagaimana disebutkan di atas, Shahrnawi atau Syahr Nawi adalah anak daripada Pangeran Salman (Sasaniah Salman) yang lahir di daerah Jeumpa, di Aceh Bireuen saat ini

.
Syahrnawi adalah salah satu tokoh yang berpengaruh dalam pengembangan Kerajaan Islam Perlak, bahkan beliau dianggap arsitek pendiri kota pelabuhan Perlak pada tahun 805 yang dipimpinnya langsung, dan diserahkan kepada anak saudaranya Maulana Abdul Aziz. Kerajaan Islam Perlak selanjutnya berkembang menjadi Kerajaan Islam Pasai dan mendapat kegemilangannya pada masa Kerajaan Aceh Darussalam

.
Maka tidak mengherankan jika Syekh Hamzah Fansuri, mengatakan kelahirannya di bumi Sharhnawi yang merupakan salah seorang generasi pertama pengasas Kerajaan-Kerajaan Islam Aceh yang dimulai dari Kerajaan Islam Jeumpa. Menurut beberapa data dan analisis yang dikemukakan, bahwa hubungan antara Kerajaan-Kerajaan Islam di Aceh berkaitan satu dengan lainnya

.
Pernyataan Syekh Hamzah Fansuri ini juga menjadi hujjah yang menguatkan teori bahwa Jeumpa, asal kelahiran Shahrnawi adalah Kerajaan Islam pertama di Nusantara. Mengenai kebenaran teori ini tentunya menjadi tantangan buat peneliti selanjutnya untuk membuktikan, karena selama ini Kerajaan Perlak lah yang dikenal sebagai kerajaan Islam pertama di nusantara.

Sejarah mula kedatangan Islam ke Aceh, pemimpinnya dikenal bernama Shir, seperti Shir Poli, Shir Nuwi, Shir Duli. Dalam hikayat hikayat Aceh lama, kata gelar Shir sering pula disebut Syahir. Misal, Shir Nuwi dibaca Syahir Nuwi, Shir Poli dibaca Syahir Poli dst. Kata Syahir ini lebih kurang setara dengan kata Ampon Tuwanku dalam tradisi melayu di Malaysia.

Asal kata shir, datangnya dari keluarga bangsawan di kawasan Persia, dan sekitanya. Maka putri Raja Persia yang setelah negerinya ditaklukkan Umar Ibnul-Khatab, ditawan dan dibawa ke Madinah, mulanya bernama Shir Banu. Setelah dibebaskan oleh Ali bin Abi Thaleb, Shir Banu menikah dengan putra Ali bernama Husen. Sementara dua saudara Shir Banu lainnya menjadi menantu Abubakar dan menantu Umar Ibnul Khattab. Belakangan nama menantu Ali itu berubah menjadi Syahira Banu, dan dalam lafal di Hikayat Hasan Husen, nama itu dipanggil Syari Banon, yang menjadi isteri Sayyidina Husen bin Ali. Husen syahid dibunuh Yazid bin Muawiyah di Karbala pada 10 Muharam. Shir Banu atau Syari Banon menjanda sambil membesarkan anaknya Ali Zainal Abidin, yang sering dipanggil Imam as-Sajad, karena selalu suka bersujud (shalat).

Dalam hikayat Hasan Husen, nama Syari Banon disebut berulang ulang karena beliau ini mendampingi suami dengan sangat setianya, hingga ke kemah terakhir di Karbala, mengantar Husen menuju kesyahidan. Banon bersama putra kesayangannya Ali Zainal Abidin yang masih sangat belia, menyaksikan sendiri tragedy yang jadi sejarah hitam umat Islam, karena darah titisan Rasul saw tumpah di bumi Kufah oleh tangan orang yang mengatasnamakan dirinya khalifah kaum muslimin. Peristiwa Karbala ini, di Aceh diperingati dengan khanduri A‘syura secara turun temurun. Adakalanya diiringi dengan membaca hikayat Hasan Husen, dan para wanita Aceh mempersiapkan penganan sebagai khanduri keu pangulee. Acapkali pula, para pendengar hikayat ini mencucurkan airmata tatkala ceritera sampai kepada pembantaian anak cucu Rasulullah saw itu.

Rafli, penyanyi Aceh kontemporer mendendangkan peristiwa itu dengan lirik:

//”Lheuh syahid Hasan ji prang lom Husen/ Ji neuk poh bandum cuco Sayyidina/ Dum na pasukan bandum di yue tron/ Lengkap ban ban dum alat senjata”// ( Dah syahid Hasan, Husen pun digempur/ Nak dihabisi cucu Sayyidina (Rasulullah)/ Seluruh pasukan disuruh turun/ Lengkap semua dengan senjata.)

Semangat mencintai ahlul bait, keluarga Rasulullah saw itu muncul pula di Aceh dalam bentuk tari tarian. Di antaranya yang terkenal adalah Saman Aceh. Ragam gerak, lirik lagu dan ratoh dipenuhi symbol symbol Karbala . “Tumbok Tumbok Droe”(memukul mukul dada sendiri) dilakukan oleh para pemain Saman Aceh (juga dalam seudati) sebagai symbol penyesalan Karbala . Seluruh gerak tari Saman itu diilhami oleh kepedihan, penyesalan, dan ratap tangis atas syahidnya Sayyidina Husen, yang terperangkap oleh tipu daya penduduk Kufah yang mendukung Yazid bin Muawiyah.

Pengaruh Iran terhadap Indonesia kebanyakan dalam bidang kebudayaan, kesusastraan, pemikiran, dan tasawuf. Pada kenyataannya, kebudayaan bangsa Iran cukup berpengaruh terhadap seluruh dunia. Masyarakat Iran, setelah menerima agama Islam, banyak menemukan keahlian dalam semua bidang ilmu keislaman, yang tidak satu pun dari bangsa lainnya yang sampai kepada derajat tersebut.

Secara khusus, kecintaan bangsa Iran kepada Ahlulbait tidak ada bandingannya. Melalui tasawuf dan kebudayaan Islam, kecintaan tersebut menyebar ke negeri-negeri Islam lainnya, dan karena itulah kebudayaan Iran pun dikenal. Mengenai Ahlubait, orang-orang Iran memiliki cara khusus untuk mengenang peristiwa pembantaian Imam Husain as pada bulan Muharram. Peristiwa ini, atau yang dikenal sebagai tragedi Karbala, adalah sebuah pentas kepahlawanan dunia, yang telah mempengaruhi kebudayaan bangsa-bangsa non-Muslim.

Kisah kepahlawanan ini sudah berabad-abad selalu menjadi inspirasi dan tema penting bagi para penyair dan pemikir Iran. Ia juga merupakan episode sejarah yang penting dalam khzanah ajaran Syi’ah dan Sunah, dan bahkan kesusastraan dunia.

Dalam syi’ah, kecintaan kepada Ahlulbait merupakan kecenderungan yang abadi. Tanpa kecintaan ini, agama akan kosong dari ruh cinta. Bahkan, sebagian orang berkeyakinan bahwa apabila tidak memiliki rasa cinta kepada Ahlulbait, maka seseorang telah keluar dari Islam. Budaya cinta kepada Ahlulbait, yang merupakan bagian dari pemikiran dan tradisi bangsa Iran, telah membekas diseluruh negeri Islam. Hal ini terkadang juga disebut sebagai pengaruh mazhab Syi’ah yang tampak pada kebudayaan Indonesia dan kaum Muslim dunia.

Kebudayaan Iran memiliki pengaruh yang cukup penting terhadap kebudayaan Indonesia. Hal itu menunjukan bahwa sejak dahulu telah terjalin hubungan antara Iran dan Indonesia sehingga berpengaruh sangat kuat terhadap kebudayaan, tasawuf, dan kesusastraan. Meskipun mayoritas Muslim di Indonesia bermazhab Syafi’i, penelitian menunjukan bahwa kecintaan Muslim Indonesia kepada Ahlulbait karena pengaruh orang-orang Iran.

Pengaruh Iran terhadap Indonesia kebanyakannya tampak dalam bentuk kebudayaan dan kesusastraan. Sejarah mencatat bahwa, di samping orang-orang Arab dan orang-orang Islam dari India, orng-orang Iran memiliki peran yang penting dalam perkembangan Islam di Indonesia dan negeri-negeri Timur Jauh lainnya.

Ada dugaan bahwa sebagian besar raja di Aceh bermazhab Syi’ah. Dimungkinkan pada masa awal perkembangan Islam disini, fikih Syi’ah-lah yang berlaku.

Namun, dengan berkembangnya mazhab Syafi’i, mazhab Syi’ah mulai terkikis dan sekarang ini pengaruh fikih Syi’ah di Indonesia tidak terlihat lagi. Azan di Indonesia sedikit berbeda dengan azan di Iran (yang terdengar melalui media elektronik). Shalat Jumat di Indonesia dilakukan disetiap mesjid tetapi di Iran shalat Jumat hanya dilakukan di satu tempat di setiap kota.

Model bangunan makam-makam para wali di Indonesia berbeda dengan makam-makam para imam dan keturunan imam di Indonesia, bahkan bisa dikatakan sangat sederhana.

Adapun pengaruh Iran yang penting setelah revolusi Islam terlihat pada kelompok Syi’ah di Indonesia. Di kepulauan Indonesia, sebagian besar sayid Alawi berasal dari wilayah Hadramaut, Yaman, yang sangat berperan besar dalam dakwah Islam.

Sayid bermakna ’pemimpin atau petunjuk’. Di dalam al-Qur’an, Allah SWT berfirman, Dan mereka berkata, wahai Tuhan kami, kami telah menaati para pemimpin dan orang-orang terhormat di antara kami, dan mereka telah menyesatkan kami dari jalan yang benar.[1]

Rasulullah, Muhammad saw, tentang Fatimah as bersabda, “Fatimah adalah penghulu wanita seluruh alam.”[2]Kemudian, tentang cucunya, Imam Husain as, Nabi saw bersabda, “Al-Husain adalah penghulu para pemuda surga.”[3] Berdasarkan pandangan ini,, dikatakan bahwa para sayid adalah anak keturunan Rasulullah saw serta pemimpin kabilah dan kaum, misalnya al-Ishfahani mengatakan, “Makna sayid adalah penguasa atau pemimpin keluarga, sebagaimana Ustman bin Affan sebagai sayid keluarganya.”[4]

Sayid pun digunakan untuk julukan bagi ahli tasawuf dan para wali[5]. Pada abad ke-8 H, kelompok Syi’ah Dua Belas Imam, para pengikut Imam Ali bin Abi Thalib, juga disebut dengan sayid[6]. Pada abad ke-8 H, terdapat seseorang bernama Naqib Ahlulbait, Abu Barakat bin Ali al-Husaini dikenal dengan julukan as-Sayid asy-Syarif.[7]

Umumnya, julukan “syarif” adalah gelar bagi anak keturunan Hasan bin Ali as, yang kebanyakan hidup di Madinah. Sementara itu, gelar “sayid” digunakan bagi anak keturunan Husain bin Ali as, yang kebanyakan tinggal di Hadramaut, Yaman.[8]

Komunitas para sayid Hadramaut juga dijuluki dengan habib (haba’ib), yang artinya adalah anggota Ahlulbait. Sejumlah besar sayid dari Hadramaut telah berhijrah ke kepulauan Indonesia.

Dikatakan bahwa wilayah Hadramaut di Yaman memiliki pohon-pohon kurma yang kuat, pepohonan yang indah, dan padang-padang berpasir dengan Laut Merah, dan juga memiliki sejarah dan peradaban kuno. Pada abad ke-5 dan 6 M, negeri indah Yaman adalah sumber sengketa antara kekasaisaran Romawi dan Persia. Pada awal abad ke-7 M, negeri ini menjadi bagian dari pemerintahan Islam yang berpusat di Madinah.[9]

Pada masa kejatuhan Irak ke tangan Islam, Muslim Hadramaut memiliki peran besar dalam peperangan antara pasukan Islam dan pasukan kerajaan Sasani. Setelah itu, sejumlah besar masyarakat Hadramaut hijrah ke Irak, secara khusus pada zaman kekuasaan Khalifah Umar bin Khattab. Kemudian, pada zaman ‘Ali bin Abi Thaib as, pasukan Hadramaut yang berada di Irak menjadi pendukung Khalifah Ali as dalam peperangan Jamal dan Shiffin dan sejumlah besar dari mereka menerima mazhab Syi’ah.[10]

Gerakan politik mazhab Syi’ah bertambah besar pada zaman kekuasaan Bani Umayah. Seorang Khalifah Bani Umayah, Hisyam, pada 122 H/740 M, berhasil memenangkan peperangan dan membunuh pemimpin terakhir kaum Syi’ah, Zaid bin Ali, cucu Imam Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib as.

Pada zaman ini pula, 129 H/747 M, di Hadramaut muncul gerakan kelompok Ibadiah dari kalangan Khawarij yang dipimpin oleh Abdullah bin Yahya, yang berjulukanThalibulhaq. Ia terbunuh pada zaman kekuasaan Khalifah Umayah, Marwan bin Muhammad. Pada zaman ini, pengaruh khawarij di Hadramaut menjadi kuat dan Ahmad bin Isa adalah pemimpin terpenting bagi kaum Sayid Hadramaut.

Pada zaman Khalifah al-Mu’tamad (156-276 H/870-892 M), kakek dari Ahmad bin Isa, yaitu Muhammad an-Naqib bin Ali bin Jafar ash-Shadiq bersama putranya bernama Isa, hijrah dari Madinah ke Basrah, Irak. Disanalah, Isa menikah den lahirlah putranya yang bernama Ahmad.

Ahmad dan putranya Abdullah, pada 317 H/929 M hijrah dari Irak ke Hadramaut, Yaman. Ia hijrah karena, di Basrah, kelompok-kelompok Qaramitah dan Zanj (dari Sudan) melakukan kerusakan-kerusakan dan pemerintahan Abasiyah, di masa Khalifah al-Muqtadir (295-320 H/908-932 M), selalu melakukan kezaliman dan penganiayaan terhadap anak keturunan Ali as.[11] Berkenaan dengan hijrah tersebut, Ahmad bin Isa disebut dengan Muhajir ilallah (yang berhijrah kepda Allah).

Ahmad bin Isa dan para pengikutnya secara bertahap berhasil menghentikan pengaruh Khawarij di Hadramaut. Mazhab suni Syafi’i pun berkembang di sana.[12] Dua abad kemudian, pada 521 H/1127 M, sejumlah orang dari Alawi al-Qasim, hijrah ke daerah Tharum, di Selatan Hadramaut. Tharum pernah terkenal sebagai pusat agama dan ilmu, dan di sana para sayid Alawi Hadramaut sangat dimuliakan.

Di sana para sayid mendirikan suatu pergerakan yang diberi nama Ba’alawi, sebagai sarana mengenal para sayid Alawi.[13] Para sayid menyakini bahwa diri mereka berasal dari keluarga Rasulullah saw, dari anak keturunan imam Husain as. Sejumlah besar sayid Hadramaut (para sayid Alawi) telah berhijrah ke Jawa, Indonesia, dan ke Asia Tenggara.[14]

Imam husain as pada tahun 61H/681M, dalam usia 56 tahun, syahid di Karbala. Putranya, Imam Ali Zainal Abidin as, berasal dari istri imam Husain yang merupakan putri Yazgard, raja Iran yang terkenal. [15]

Sumber-sumber sejarah mencatat bahwa para Sayid Alawi hadramaut berasal dari keturunan Ali al-Qasim bil Bashrah, yakni cucu ketiga dari imam Husain as. Dapat dikatakan bahwa para sayid Hadramaut, dari anak keturunan Ahmad bin Isa, sangat terkenal serta memiliki hubungan yang kuat dengan para sayid di Maroko, Hijaz, dan India, dan selalu mendapatkan bantuan keuangan dari mereka.

Secara umum para sayid menguasai bidang ilmu agama dan tasawuf.[16] Ibnu Khaldun menulis bahwa pada zaman Abasiyah, setelah terjadinya berbagai perubahan, ajaran kelompok Rafidhiah (julukan tendensius para penentang Syi’ah. Rafidhiah berasal dari kata rafadha yang berarti “menolak”, yakni menolak tiga khalifah pertama- peny.) sangat berpengaruh besar terhadap tasawuf dan bermunculanlah para tokoh sufi terkenal, misalnya Qushairi dan Imam Abu Hamid Muhammad Ghazali.

Setelah abad ke-4 H atau abad ke-11 M, tasawuf tampil secara sempurna sebagai sebuah cabang ilmu. Di dunia Islam, lahir berbagai kelompok tarekat, yang semuanya bersumber pada ajaran al-Quran. Setiap tarekat memiliki cara khusus dalam berzikir kepada alllah Swt.[17] Tarekat Alawi (tarekat yang didirikan oleh sebagian besar sayid di yaman Selatan) terbagi menjadi dua cabang, batiniah dan zahiriah. Zahiriah mengikuti Imam Abu Hamid Muhammad Ghazali sedangkan batiniah adalah pengikut tarekat Syadziliyah.[18]

Kebanyakan sufi terekat Alawi memiliki karamah dan menyandang sejumlah julukan, misalnya syekh, naqib danquthb, serta mereka mewariskan sejumlah kitab tentang zikir. Dalam kitab-kitab zikir disebutkan sejumlah tokoh terkenal dari kalangan para sayid, seperti Muhammad bin Ali Ba’lawi, Syekh Alin bin Abdullah Baras, Abdurrahman Assegaf dan al-Qutub Umar bin Abdurrahman al-Attas.

Dikatakan bahwa para waliyullah memiliki kemampuan untuk memecahkan batu-batu besar dan menyembuhkan penyakit yang tidak dapat disembuhkan. Masyarakat setempat sangat menghormati mereka dan mendapatkan kesembuhan dengan keberkahan doa mereka.[19] Para sayid Alawi sangat menguasai pelayaran dan perdagangan. Mereka sangat aktif mulai dari Semenanjung Arab hingga ke Teluk Persia, tepatnya di sejumlah pelabuhan misalnya Siraf, Kish dan Ubullah (Bushers).

Sejak Irak jatuh ketangan orang-orang Mongolia, pada 1258 M, pusat perdagangan Arab berpindah ke Eden, di Yaman. Serombongan pedagang, tokoh-tokoh agama, dan ulama dari berbagai penjuru Semenanjung Arab pernah pergi ke sejumlah negeri di Timur Jauh, seperti Cina dan Semenanjung Melayu, yang sebagian dari mereka adalah ahli tasawuf dan agama.[20]

Islam yang diterima di Indonesia merupakan hasil usaha mubalig dari  Iran . Pengaruh tasawuf di sana pun sangat mencolok. Buku Hikayat Raja-raja Pasai dan buku Sejarah Melayu juga mencatat fenomena tersebut.

Setelah berhasil memperkenalkan tasawuf dan tarekat di Malaka, Maulana Abu Bakar pergi ke berbagai wilayah di Indonesia. Di Brunei dan Ceh (Filipina), Ia pun sempat memperkenalkan ajaran Islam. Kebanyakan para mubalig yang datang ke Tanah Melayu menyandang sejumlah julukan, misalnya Syekh, sayid dan syarif. [25]

Sejumlah besar sayid datang dan pergi ke Asia Tenggara, yaitu Jawa, Sumatra dan Semenanjung Melayu hingga masa penjajahan Belanda.[26]

Pada abad ke-16 M, seorang Mubalig Arab bernama Syarif Muhammad bersama beberapa pengikutnya, tiba di Mindanao, di selatan Filipina dari Malaysia untuk menyebarkan Islam. Disebutkan bahwa ia adalah putra dari seorang Arab bernama Syarif Ali Zainal Abidin, dari kalangan para sayid Alawi Hadramaut. [27]

Para sayid Alawi, dalam jumlah besar, datang ke kepulauan Nusantara melalaui jalur India, misalnya Sayid Usman bin Shahab yang memerintah kerajaan Siak dan Sayid Husain al-Qadri yang menjadi sultan di kerajaan Pontianak, di Kalimantan.[28]

Hijrahnya para sayid dari Hadramaut ke Asia Tenggara antara abad ke-17 hingga 20 H, berlangsung dalam beberapa tahapan. Mereka datang ke kepulauan nusantara dari India dan Indo-Cina. Para sayid Alawi berada di India sejak abad ke-7 H atau abad ke-13 H. Kemudian, sejak abad ke-10 H M, mereka sering datang-pergi ke daerah Pahang, di Malaysia.

Di kampung Pematang Pasir, di jazirah Tambun Pekan, di kota Pahang, Malaysia, terdapat sebuah makam orang Arab yang meninggal pada tanggal 14 Rabiul Awwal 419 H atau tahun 999 M.

Menurut sejumlah penulis seperti Nuwairi dan al-Maqrizi, sejak zaman kekuasan Bani Ummayah, beberpa keluarga kelompok Alawi atau Syi’ah telah berada di Jazirah Sila (Korea) dan Cina. Sangat mungkin, kepergian mereka ke sana karena lari dari kezaliman dan kejahatan Bani Umayah.

Demikian pula, terdapat kampung Leran, di Jawa Timur, yang nama kampung tersebut diambil dari kaum Lor, yakni orang-orang Iran yang pernah hijrah ke Jawa. Di kampung itu, terdapat makam seorang wanita Muslimah bernama Fatimah binti Maimun. Ia wafat pada 475 H/1082-1083 M.

Semua keterangan di atas menjelaskan bahwa hubungan negeri Arab dan Teluk Persia dengan Cina dan kepulauan Nusantara sudah ada sejak dahulu kala. Para sayid Alawi Hadramaut yang pernah berhijrah ke Asia Tenggara umumnya berasal dari beberapa marga, misalnya; al-Habsyi, al-Yahya (bin Aqil), Khirid, Hiduwan, as-Segaf, al-Attas, al-Jufri, al-Idrus, al-Haddad, asy-Syihab, dan yang lainnya.[29]

Menurut seorang peneliti dan ahli sejarah, Aboebakar Atjeh, di antara para mubalig yang pernah memperkenalkan ajaran Islam di Indonesia adalah keturuanan Ahlulbait. Aceh adalah wilayah pertama yang didatangi para mubalig dari Arab, Iran, dan India. Sementara itu, mazhab yang pertama kali berkembang di Aceh adalah Syi’ah dan Syafi’i.

Ia juga adalah wilayah yang menjadi tempat pemberhentian dan wilayah transit para pedagang sebelum pergi ke sejumlah pelabuhan, seperti Malaka, kepulauan Nusantara, dan Cina.

Orang Indonesia yang akan menunaikan ibadah haji kerap melintasi Aceh, dengan menggunakan kapal-kapal Aceh atau internasional. Aceh adalah wilayah yang dikenal sebagaiSerambi Mekkah. Aboebakar Atjeh juga menulis bahwa dua orang ahli sejarah Iran, Sayid Mustafa Thabathaba’i dan Sayid Dhiya’ Shahab, dalam buku Hawla al-Alaqah ats Tsaqafiyah bayna Iran wa Indunizi (Tentang Hubungan Kebudayaan antara Iran dan Indonesia) menunjukan bahwa makam Maulana Malik Ibrahim Kasyani (wafat 822 H/1419 M) berada di Gresik, Jawa Timur, dan makamnya Sayid Syarif Qahhar bin Amir Ali Astarabadi (wafat 833 H) dan Hisamuddin Naini berada di Aceh.[30]

Sayid Mustafa juga melihat makam lainnya, yang pada papan makamnya tertulis beberapa baris ayat al-Qur’an dan syair tentang keagungan Imam Ali as, yang terjemahannya kira-kira sebagai berikut;

Pemuka Para Pemberani, Singa Tuhan,

Kekuatan Tuhan

Tidak ada pemuda kecuali Ali,

Tidak ada pedang kecuali Zulfikar.[31]

Masuknya ajaran Islam ke Sumatra umunya melalui usaha para sayid Alawi. Dalam kitab-kitab Arab kuno, kepulauan Nusantara tertulis denga nama Syarq al-Hind (Hindia Timur), Srilanka dengan nama Sarandip, kerajaan Sriwijaya di Sumatra dengan nama Sribaza, Kedah di Malaysia dengan nama Kalah, Jawa dengan nama Zabij, dan Kalimantan dengan nama Ranj.

Para mubalig yang pertama kali datang ke Brunai adalah para sayid dan syarif, dan masih memiliki hubungan keluarga dengan keluarga sultan-sultan di Brunai dan Fhilipina.

Sejarah Serawak, Malaysia, menunjukan bahwa raja Brunei, Sultan Barakat adalah anak keturunan Imam Husain bin Ali as. Demikian pula, para sultan di Mindanao, dan Sulu, di Fhilipina, adalah anak keturunan para sayid. Di Pontianak, Kalimanan, Indonesia, para sultan berasal dari kabilah Qadri. Dikatakan bahwa para sultan Brunei dan sultan Mindanao sama-sama berasal dari anak keturunan Imam Ali Zainal Abidin bin Husain as.

Para leluhur mereka berasal dari Hadramaut yang kemudian hijrah ke Johor, Malaysia. Para sultan Aceh pun berasal dari kalangan para sayid. Di Daerah Talang Sura, Palembang, Sumatra, terdapat makam Sayid Jamaluddin Agung bin Ahmad bin Abdul Malik bin Alwi bin Muhammad, dari keturunan Imam Husain as. Begitu pula dengan Walisongo atau ’Sembilan Wali Jawa’ dan sultan-sultan di Jawa, semuanya berasal dari kalangan para sayid.[32]
Imam Syi’ah Dua Belas Imam


  1. Ali bin Abi Thalib : Dibunuh oleh Abdurrahman bin Muljam, seorang Khawarijdi KufahIrak. Imam Ali ra. ditusuk dengan pisau beracun.. Dimakamkan di Masjid Imam AliNajafIrak
  2. Hasan al-Mujtaba : Diracuni oleh istrinya di MadinahArab Saudi atas perintah dari Muawiyah I.Dimakamkan di Pemakaman Baqi.
  3. Husain asy-Syahid : Dibunuh dan dipenggal kepalanya di Karbala..Dimakamkan di Makam Imam Husain di KarbalaIrak
  4. Ali Zainal Abidin : Menurut kebanyakan ilmuwan Syi’ah, Ali bin Husain diyakini wafat karena diracuni oleh orang suruhan Khalifah al-Walid di Madinah, Arab Saudi.. Dimakamkan di Pemakaman Baqi
  5. Muhammad al-Baqir : Menurut sejumlah ilmuwan Syi’ah, diyakini bahwa Muhammad al-Baqir diracuni oleh Ibrahim bin Walid diMadinahArab Saudi, atas perintah Khalifah Hisyam bin Abdul Malik. Dimakamkan di Pemakaman Baqi.
  6. Ja’far ash-Shadiq : Menurut sumber-sumber Syi’ah, beliau diracuni atas perintah Khalifah al-Mansur di MadinahArab Saudi.Dimakamkan di Pemakaman Baqi
  7. Musa al-Kadzim : Dipenjara dan diracuni oleh Harun ar-Rashiddi BaghdadIrak. Dimakamkan di BaghdadIrak
  8. Ali ar-Ridha : Menurut sumber Syi’ah, beliau diracuni oleh Khalifah al-Ma’mun di MashhadIran. Dimakamkan di Makam Imam Reza,MashhadIran
  9. Muhammad al-Jawad : Diracuni oleh istrinya, anak dari al-Ma’mun di BaghdadIrak atas perintah Khalifah al-Mu’tashim. Dimakamkan di Makam Kazmain di Baghdad
  10. Ali al-Hadi : Menurut sumber Syi’ah, beliau diracuni di Samarra atas perintah Khalifah al-Mu’tazz.[36] Dimakamkan di Masjid Al-Askari di SamarraIr
  11. Hasan al-Askari : Menurut sumber Syi’ah, beliau diracuni di SamarraIrakatas perintah Khalifah al-Mu’tamid. Ia dimakamkan di Masjid Al-Askari, Samarra
  12. Muhammad al-Mahdi : Menurut keyakinan Syi’ah, beliau sekarang berada di dalam persembunyian dan akan muncul selama Allah mengizinkannya

wassalam

Catatan Kaki

1. Q.S. al-Ahzab :67

2. Ibnu Saad, Tabaqat, Leiden, 1940, Vol. VII, p.17.

3. C.V.Avendonk. Art, Sharif, Encyclopedia of Islam, M. TH. Houtsma, A.J Wensink. (eds), Vol. IV S-Z, J. Britll Ltd, Leiden, 1934, p.326.

4. Isfahani, Kitab al-Aghani, Math’ah Bulak, Cairo, 1285 A.H Vol. XVII, p.105-6.

5. Sharji, Thabaqat al-Khawawas, Cairo, 1321 AH, p. 2,3, 195.

6. Dhahabi, Tharikh al-islam, Manuscript, Leiden, 1721, Vol. 65A.

7. Nurwairi, Nihayat al-Arab, Wizarah al-Thaqafah wa al-Isryad al-Gawmi (ed). Dar al Kutub, Cairo, 1955, Vol. II, p.277. Hanya pada zaman kerajaan Fatimiah Mesir, keturunan Imam Hasan dan Imam Husain di juluki “syarif”, silahkan merujuk Mawardi,al-Ahkam as-Sulthaniyah, Enger, (ed), Bonn, 1853 AD, p. 277.

8. Ibnu al-Faqih, Mukhtasar Kitab al Buldan, MJ, de Goeje (ed) Leiden, Brill, 1885, p.33.

9. Mahayudin Haji Yahya, Sejarah Orang Syed di Pahang, Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur, 1984, p.3.

10. Mahayudin Haji Yahya, Sejarah Orang Syed, ibid. p.4.

11. Shalli, Kitab al-Mashra ar-Rawwi fi Manaqib as-Sadah al-Kiram al-Abi Alawi, al-Matba’ah al-Amiriah al-Sharafiyyah, Cairo, 1319 H/1901 M, Vol. I, p. 121.

12. Shalli, Kitab al-Mashra, loc. Cit.

13. Shalli, Kitab al-Mashra, ibid, p.129.

14. R.B.Serjeant, “Historians and Historiography of Hadramaut”, Buletin of SOAS, XXV, No.2, Londom 1962, p.245.

15. Ya’kubi, Tarikh, Mathba’ah al-Ghurri, Najaf, 1358 H, Vol. II, p.219.

16. R.B. Serjenant, The Sayids of Hadramaut, School of Oriental and African Studies, University of London, Luzan and Co, London, 1957, p.3. Lihat Sayid Alwi bin Thahir al-Haddad, Uqud al-Almas (Arabic). Mathba’ah al-Madani, Cairo, 1968, Second Edition, Vol.2.pp. 45-46. Lihat juga al-Idrus bin Umar al-Habsyi, Iqd al-Yawaqit al-Jawahiriah, Cairo, 1317 H, Vol. I, p. 127.

17. Ibnu kHldun, Muqaddimah, Wazarat al-Thaqafah wa al-Irsyad al-Qawmi, Cairo, 1960, pp. 261-262. Lihat H.A. R.Gibb and Kramers (eds), Shorter Encycopeadia of Islam, E.J.Brill, Leiden, 1953, p.573. Lihat juga H.A. R Gibb, Mohammedanism, Oxford University Press, London, 1969, p.104.

18. Sayid Alawi b. Tahir al-Haddad, Uqud al- Almas, op.cit, pp.82-87.

19. Sayid Muhammad b. Salim al-Attas, Aziz al-Manal wa Fath al- Wisal, Malaysia Press, Berhad, Singapura, 1974. Lihat juga Mahyudin Haji Yahya, Sejarah Orang Syed, op.cit, p.16.

20. S.Q. Fatimi, Islam Comes to Malaysia, Sociological Reseach Institute, Ltd, Singapore, 1960, p.94.

21. A.H. Hill (ed), Hikayat Raja-raja Pasai, JMBRAS, No 33, Part 2, 1960, p.32-33.

22. Buzani, “Pengaruh Kebudayaan dan Bahasa Persia Terhdap Kesusastraan Indonesia”, Majalah Fakultas Sastra, Universitas Tehran no I, Tahun ke-14, 1345 Sh, p.6.

23. A.H. Hill, (ed), Hikayat Raja-raja Pasai, JMBRAS, No.3, Part 2 1960, pp.32-33, 117-120.

24. S.R. Winstedt (ed), The Sejarah Melayu (Malay Annals), JMPRAS, XXVI, Pt I, 1938, pp. 170-172.

25. A. Hasjmi (ed), Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia, P.T. Al-Maarif, Jakarta, 1981, p.375. Lihat juga Mhayudin Haji Yahya, Sejarah Orang Syed di Pahang, op, cit, p.23.

26. R.B. Serjeant, The Sayids of Haramaut, op, cit, pp.24-25.

27. Alawi b. Thahir al-Haddad, Uqud al-Almas, op, cit, p.131.

28. Mahayudin Haji Yahya, Sejarah Orang Syed, op, cit., p.25.

29. Shahabudin Ahmad bin Abdul Wahab an-Numairi, Nihayat al-Arab fi Funun al-Adab, Wizarat ath-Thaqafah wa al-Irsyad al-Qawmi, Cairo, 1932, Vol. I, p. 230. Lihat juga Ahmad b. Ali al- Maqrizi, Khitat, Mathbaah Bulak, Cairo, 1279 H, Vol I. lihat juga Haji Aboebakar Atjeh, Sekitar Masuknya Islam ke Indonesia, Panitia Seminar, Medan, 1963, pp. 109-110, 123. Lihat juga Mahayudi Haji Yahya, Sejarah Orang Syed, ibid, pp. 33,37.

30. Aboebakar Atjeh, Aliran Syiah di Nusantara, Islamic Reseach Institute, Jakarta, 1977, p.31-32. Lihat juga Sayid Musthafa A-Thabataba’i and Dhiya Shahab, Hawla al-Alaqah ats-Tsaqafiyah bayna Iran wa Indonesia, Embassy of Iran, Jakarta, 1960.

31. Aboebakar Atjeh, Sekitar Masuknya Islam ke Indonesia, Ramadhani, Solo, Jawa Tengah, 1985, p.29.

32. Aboebakar Atjeh, Masuknya Islam, ibid, p.35-37. Lihat juga S. Baring Gould, A History of Sarawak Under Two White Rajahs, Singapore. Lihat juga Al-Habib Alwi bin Thahir al-Haddad, Sejarah Masuknya Islam di Timur Jauh, Penerbit Lentera, Jakarta, 1995, pp.69-115.

Melewatkan Maghrib, Tindakan Dibenci


Salam alaikum wa rahmatollah. Bismillahi Taala.

Di dalam Syiah Islam, berdasarkan ayat-ayat Quran dan tafsirannya oleh para Imam Ahlulbait(as), waktu Maghrib bermula apabila tenggelamnya matahari, dan sirna sinar merah dari ufuk timur. . Namun, oleh kerana fiqh Ahlulbait(as) membenarkan menjamak solat di waktu ini, maka kita mendapati betapa ramai sekali para pengikut fiqh Ahlulbait(a) yang melewatkan waktu Maghrib sehingga sejam lebih tanpa sebarang sebab yang perlu. Namun hakikatnya, perbuatan ini adalah satu perkara yang sangat-sangat di benci oleh para Imam kita. InsyaAllah kita akan bahaskan perkara ini.

Analisis Hadis:

Berikut adalah kata-kata Syeikh at Tusi tentang waktu perlaksanaan solat Maghrib:

‫و أوّل وقت صلاة المغرب عند غيبوبة الشّمس. و علامته سقوط القرص. و علامة سقوطه عدم الحمرة من جانب المشرق. و آخر وقته سقوط الشّفق، و هو الحمرة من ناحية المغرب

“Waktu awal untuk solat Maghrib adalah ketiadaan matahari, dan tandanya adalah jatuhnya cakera(tenggelamnya matahari). Tanda matahari tenggelam adalah tiadanya kemerahan di ufuk timur. Waktu terakhir adalah hilangnya shafaq dan ia adalah hilangnya kemerahan di ufuk barat.”

Sumber:

1.     Al-Tusi, Al-Nihaayah fee Majarrad Al-Fiqh wa Al-Fataawa, Hal. 59

Malang sekali kita lihat sekarang ramai sekali pengikut Ahlulbait yang melengahkan solat Maghrib sehingga munculnya bintang-bintang di langit.

Jelas ini bukan ajaran sejati Imam Ahlulbait, namun ada riwayat yang menunjukkan ini adalah salah satu kepercayaan pengikut Abu Khatab. Siapakah beliau? InsyaAllah, baca seterusnya.

‫وَ عَنْهُ عَنِ الْعَبَّاسِ بْنِ مَعْرُوفٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْمُغِيرَةِ عَنْ ذَرِيحٍ قَالَ قُلْتُ لِأَبِي عَبْدِ اللَّهِ ع إِنَّ أُنَاساً مِنْ أَصْحَابِ أَبِي الْخَطَّابِ يُمَسُّونَ بِالْمَغْرِبِ حَتَّى تَشْتَبِكَ النُّجُومُ قَالَ أَبْرَأُ إِلَى اللَّهِ مِمَّنْ فَعَلَ ذَلِكَ مُتَعَمِّداً

Aku berkata kepada Abu Abdullah(as) bahawa orang-orang pengikut Abu Khattab melaksanakan solat Maghrib di dalam gelap sehingga kemunculan bintang-bintang. Baginda menjawab: “Allah swt bertabbarra(bara’a) terhadap orang yang melakukannya dengan sengaja.”

Sumber:

1.     Al-Tusi, Tahdhib Al-aHkam, Jil. 2, hal. 33, hadis # 53

Status:

1.     Al-Majlisi berkata hadis ini Sahih 

à Milaadh Al-Akhyaar, jil. 3, hal. 407

‫و بهذا الإسناد عن إبراهيم عن أبي أسامة قال قال رجل لأبي عبد الله (ع) أؤخر المغرب حتى تستبين النجوم؟ قال فقال خطابية إن جبريل أنزلها على رسول الله (ص) حين سقط القرص.

Seseorang bertanya pada Abu Abdullah(as) tentang melewatkan solat Maghrib sehingga kemunculan bintang-bintang. Abu Abdullah menjawab: “Khatabiyyah, sesungguhnya Jibril menurunkan pada Rasulullah(s) bahawa tempoh menunaikan Maghrib adalah jatuhnya cakera(matahari).”

Sumber:

1.     Al-Tusi, Tahdheeb al-aHkaam, jil. 2, bab. 13, hal. 258, hadis # 64

Status:

1.     Al-Majlisi mengatakan hadis ini Muwaththaq

à Milaadh Al-Akhyaar, jil. 4, hal. 319

Sumber lain hadis ini:

1.     Al-Kashee, Ikhtiyaar Ma`aarifah Al-Rijaal, hal. 290, hadis # 510

2.     Al-Toosi, Tahdheeb al-aHkaam, jil. 2, bab. 3, hal. 28, hadis # 31

3.     Al-Toosi, Tahdheeb al-aHkaam, jil. 2, bab. 3, hal. 32, hadis # 49

Disertakan juga hadis berikut yang menunjukkan betapa melewatkan solat sehingga kemunculan bintang adalah sesuatu yang dibenci.

‫وَ قَالَ الصَّادِقُ ع مَلْعُونٌ مَلْعُونٌ مَنْ أَخَّرَ الْمَغْرِبَ طَلَباً لِفَضْلِهَا وَ قِيلَ لَهُ إِنَّ أَهْلَ الْعِرَاقِ يُؤَخِّرُونَ الْمَغْرِبَ حَتَّى تَشْتَبِكُ النُّجُومُ فَقَالَ هَذَا مِنْ عَمَلِ عَدُوِّ اللَّهِ أَبِي الْخَطَّابِ

Al Sadiq(as) bersabda: “Terlaknatlah, terlaknatlah(mala’un, mala’un) kepada sesiapa yang melewatkan solat Maghrib dari masa fadhilahnya. Dan dikatakan padanya bahawa penduduk Iraq melewatkan Maghrib sehingga kemunculan bintang-bintang. Jadi beliau bersabda: “Ini adalah amalan musuh Allah, Abu al Khattab.”

Sumber:

1.     Al-Saduq, Man Laa YaHDuruh Al-Faqeeh, Jil. 1, hal. 220, hadis # 661

Hadis ini di dapati turut diriwayatkan di sisi Sunni, menunjukkan betapa mashyurnya pegangan ini, yakni mengawalkan solat sebelum muncul bintang-bintang.

‫لا تزال أمتي على الفطرة ما لم يؤخروا المغرب حتى تشتبك النجوم

Rasulullah (‫صلى الله عليه وآله وسلم) bersabda: “Ummah ku akan sentiasa berada dalam fitrah selagi mereka tidak melewatkan Maghrib sehingga muncul bintang-bintang.”

Sumber:

1.     Ibn Majah, Sunan, hadis # 689

Status:

1.     Al-Albani smengatakan hadis ini Sahih

à SaHeeH wa Da`eef Sunan Ibn Maajah, Jil. 2, hal. 261, hadis # 689

‫لا تزال أمتي بخير أو قال على الفطرة ما لم يؤخروا المغرب إلى أن تشتبك النجوم

Rasulullah (‫صلى الله عليه وآله وسلم) bersabda: “Ummah ku akan berada dalam keadaan baik, selagi mereka tidak melengahkan maghrib sehingga muncul bintang-bintang.”

Sumber:

1.     Abu Daud, Sunan, hadis # 418

Status:

1.     Al-Albaani mengatakan hadis ini Hasan Sahih

à SaHeeH wa Da`eef Sunan Abee Dawood, jil. 1, hal. 79, hadis # 418

Sekarang sampailah giliran saya membincangkan tentang segala hal yang berkaitan dengan solat, insyaAllah, saya akan cuba sedaya upaya agar mesej ini dapat difahami oleh setiap orang.

Seperti biasa, apa yang saya terangkan di sini sekadar meliputi perkara umum tentang perlaksaan solat, untuk lebih detail, anda semua perlulah merujuk kepada marja’ masing-masing.

Saya mulakan dengan sedikit hadis dari Rasulullah(sawa) tentang solat. Rasulullah(sawa) bersabda:

“Untuk setiap sesuatu ada mukanya, dan muka untuk agama kamu ialah solat. Pastikan tiada di antara kamu mencemar dan merosakkan muka agama kamu ini.”

“Jika solat kamu diterima, maka setiap amal kamu akan diterima.”

Sumber: Bihar al Anwar, Jilid 82, ms 209.)
Adzan Maghrib

Syarat-syarat Sah Solat

Beberapa syarat perlu dipatuhi sebelum sesuatu solat itu dianggap sah.

  1. Masa: Solat mesti ditunaikan mengikut masa yang ditetapkan.
  2. Qiblat: Solat ditunaikan dengan menghadapkan diri ke arah qiblat.
  3. Pakaian: Mestilah mubah(halal cara perolehannya), Tahir(suci dari najis) dan mematuhi beberapa syarat lain.
  4. Tempat Solat: Juga mesti mubah, tahir dan mematuhi beberapa syarat lain.
  5. Taharat(suci): Badan dan segala anggotanya mestilah dalam keadaan suci dari sebarang najis, dalam keadaan wudhuk atau ghusl jika perlu, atau jika tidak boleh keduanya, mestilah bertayamum.

Kepentingan Mubah

Dalam fiqh mazhab Ahlulbait, status mubah adalah sangat-sangat penting kerana ia menentukan sah atau tidak solat kita. Perhatian khusus hendaklah diberikan kepada pakaian yang dipakai ketika solat, tempat kita solat, dan air yang kita gunakan untuk wudhuk atau ghusl.

Antara contoh perkara yang tidak mubah:

1. Air yang kita gunakan untuk berwudhuk milik orang lain dan kita tidak meminta keizinan tuannya, maka wudhuk itu batal, dan sekaligus solatnya.

2. Pakaian yang kita pakai wajib khumus, tetapi kita tidak membayarnya, maka solat kita batil.

3. Kita menjadi tetamu di suatu rumah, dan kita tidak meminta izin untuk solat, lalu kita bersolat di rumah kita menumpang itu tanpa keizinan, maka batil.

Sila ambil perhatian tentang perkara ini.

Pakaian yang makruh untuk dipakai ketika Solat:

  1. Pakaian dengan gambar makhluk
  2. Cincin atau perhiasan yang mempunyai gambar makhluk.
  3. Pakaian hitam, kecuali yang digunakan ketika Azadari

Pakaian Yang Tidak Makruh:

  1. Serban hitam(amama)
  2. Jubah hitam yang dipakai oleh para ulama
  3. Sarung kaki hitam
  4. Chador, sebuah kain hitam yang digunakan untuk menutupi badan.
  5. Untuk kaum wanita, adalah digalakkan memakai sedikit perhiasan ketika solat

Waktu untuk menunaikan solat:

Untuk memastikan solat kita diterima dan sempurna, adalah sangat-sangat wajib, untuk kita mengetahui waktu-waktu solat dengan menimba ilmu tentangterbenam matahari, tengah malam,  muncul matahari(subuh), naiknya matahari, dan tengah hari.

Terbenam Matahari:

Terbenam matahari dapat dibahagikan kepada 2 jenis:

  • Yang diwar-warkan oleh media atau jabatan astrologi(waktu solat mengikut Mazhab Syafi’i, seperti di Malaysia)
  • Waktu terbenam Syiah, iaitu 10-12 minit selepas waktu solat mengikut mazhab Syafi’i..

Antara ciri-ciri lain matahari terbenam Mazhab Syiah ialah:

  1. Apabila matahari di ufuk barat hanya tinggal sedikit, dan mega merah berada rendah di ufuk barat.
  2. Datang tanda-tanda malam di langit timur iaitu, tiada lagi kemerah-merahan di langit tegak atas kepala kita .
  3. Apabila diletakkan benang dihadapan kita, dan kita sudah sukar untuk melihat benang itu, maka matahari dikatakan sebagai terbenam.
  4. Saya lebih prefer memerhatikan sendiri tanda-tanda ini dari hanya bergantung kepada jam sebagai ihtiyat.

Antara sebab perbezaan utama waktu Maghrib mengikut Syafi’i dan  Syiah ialah kerana Imam Syafi’i mengambil Maghrib ketika matahari MULAterbenam(masih cerah) sementara Syiah mengambil Maghrib ketika matahari telah HABIS TERBENAM.

Tengah Malam ialah waktu pertengahan antara terbenam matahari Islam  dan terbit fajar. Mengikut Ayatollah Sistani, Khomeini dan Khamenei.

Tengah Hari ialah waktu pertengahan antara naiknya matahari dan terbenam matahari mengikut semua Mujtahid.

Waktu Maghrib dan Isyak

  • Waktu untuk solat maghrib dan Isyak ialah antara terbenam matahari Islam dan tengah malam.
  • Waktu untuk solat Isyak bermula selepas selesai menunaikan solat maghrib.
  • Adalah satu dosa melambat-lambatkan solat maghrib dan Isyak hingga selepas tengah malam tanpa sebarang sebab yang munasabah(contohnya dalam musafir)
  • Maghrib dan isyak menjadi qadha apabila masuk subuh, dan menjadi satu dosa jika tiada sebab munasabah.
  • Waktu yang mempunyai pahala yang paling banyak untuk solat maghrib ialah jika kita menunaikannya tidak lebih dari tempoh waktu 35-45 minit selepas masuh waktu maghrib.
  • Waktu fadhilat isyak pula kekal dari selepas solat maghrib, sehingga permulaan 1/3 malam.

Waktu Subuh:

  • Waktu subuh bermula apabila terbit fajar, disepakati oleh semua mazhab, kecuali Maliki. Bagaimanapun, lebih elok jika kita menunggu sepuluh minit selepas azan bagi menambah keyakinan kita tentang masuknya waktu subuh.
  • Subuh menjadi solat qada apabila matahari telah naik,(orang-orang tua kata subuh gajah dalam bahasa utara.)

Waktu Zuhur dan Asar:

  • Waktu zuhur bermula di waktu tengah hari, iaitu apabila matahari telah tergelincir ke arah barat, seperti juga Sunni, tetapi saya lebih suka mengambil ihtiyat melambatkan sedikit 10-20 minit, kaji marja’ masing-masing.
  • Waktu Asar pula ialah selepas menunaikan solat Zuhur, sehinggalah matahari terbenam.
  • Mengikut Ayatollah al Khoie, waktu terbaik untuk Zuhur ialah tidak lebih dari 1 jam setengah selepas masuknya waktu.

Waktu bermula puasa:

  • Waktu memulakan puasa ialah dari waktu subuh hinggalah terbenam matahari Islam, mengikut semua Mujtahid.
  • Oleh kerana sukar untuk menentukan waktu terbit fajar, ambil ihtiyat memulakan puasa(berhenti makan dan minum) 10 minit sebelum waktu subuh.

Pendapat Para Ulama Ahlu Sunnah Tentang Ibnu Taimiyah

 


Salam alaikum wa rahmatollah. Bismillahi Taala.

Ibnu Taimiyah adalah nama yang dikaitkan dengan seorang ulama penuh kontroversi. Keberadaan ajarannya sangat menggugat aqidah di dalam Islam dan telah menyebabkan terjadinya bida’ah, perselisihan malah pertumpahan darah dikalangan kaum Muslimin. Di zaman ini, hanya satu kelompok sahaja umat yang mengagungkan beliau. Kelompok Wahabiyun begitu mengagungkan beliau dengan gelaran “Syeikhul Islam” yang sebetulnya, tidak berapa kena untuk diletakkan di hadapan nama beliau.

Kelompok Syiah sememangnya memandang negatif akan ajaran yang cuba beliau bawa dan hidupkan, dan telah banyak pembongkaran dilakukan ke atas kitab-kitab beliau. Namun apa pula pendapat golongan ulama Sunni akan peribadi ini? Selamat membaca

Zahabi menganggap pengikut Ibnu Taimiyah sebagai hina dan pendusta

Zahabi (wafat tahun 774), salah seorang tokoh besar Ahlusunnah yang masyhur dalam ilmu Rijal di zamannya menulis sepucuk surat kepada Ibnu Taimiyah:

يا خيبة! من اتّبعك فإنّه معرض للزندقة والإنحلال … فهل معظم أتباعك إلاّ قعيد مربوط، خفيف العقل، أو عاميّ، كذّاب، بليد الذهن، أو غريب واجم قويّ المكر، أو ناشف صالح عديم الفهم، فإن لم تصدّقنى ففتّشهم وزِنْهم بالعدل … ؛

Alangkah kecewanya kerana barangsiapa yang mengikutimu (Ibnu Taimiyah) maka sesungguhnya ia adalah Zindiq dan merosot… Maka tidakkah kebanyakan pengikut kamu itu ketinggalan, tipis akal, atau orang awam biasa, pendusta, tumpul pemikirannya, kemurungan yang aneh dan kuat tipu daya, kekeringan amalan soleh dan luput pemahaman, andainya kamu tidak mempercayaiku, maka kajilah mereka dan nilailah mereka dengan keadilan…
Zahabi menulis sehinggalah ke perenggan berikut:
فما أظنّك تقبل على قولي وتصغى إلى وعظي، فإذا كان هذا حالك عندي وأنا الشفوق المحبّ الوادّ، فكيف حالك عند أعدائك، وأعداوءك واللّه فيهم صلحاء وعقلاء وفضلاء كما أنّ أولياءك فيهم فجرة كذبة جهلة؛
(1) الإعلان بالتوبيخ، ص 77 و تكملة السيف الصقيل، ص 218.
Maka tidaklah aku kira bahawa kamu akan menerima kata-kataku! tidaklah engkau akan mendengari nasihatku! Sedangkan aku seorang bersimpati yang belas kasihan, maka bagaimana engkau di sisi musuh-musuh engkau, sedangkan musuh-musuhmu itu demi Allah, di kalangan mereka adalah orang yang soleh, berakal dan mulia. Sementara orang yang mendampingimu adalah di kalangan mereka yang keji, pendusta dan bodoh. – Al-Iʻlān bil Tawbikh halaman 77, Takmilah Al-Sayf Al-Ṣaqīl, halaman 218

Ibnu Hajar mengaitkan Ibnu Taimiyah dengan kemunafikan:

Ibnu Hajar Al-ʼAsqalani yang termasuk sebagai tunggak utama ilmu Ahlusunnah dan bergelar sebagai Al-Hafiz Ahlusunnah menulis tentang Ibnu Taimiyah sebagai berikut:

وافترق الناس فيه شيعا، فمنهم من نسبه إلى التجسيم، لما ذكر في العقيدة الحمويّة والواسطيّة وغيرهما من ذلك كقوله: إنّ اليد والقدم والساق والوجه صفات حقيقيّة للّه، وأنّه مستو على العرش بذاته… ؛

Ulama mempunyai berbagai pendapat tentang beliau (Ibnu Taimiyah), di antara mereka mengaitkannya dengan penjisiman, ini disebabkan di dalam kitab Al-Aqidah Al-Hamawiyah, kitab Al-Wasathiyyah dan selain keduanya ia mengatakan seperti: Sesungguhnya tangan, betis dan wajah adalah sifat Allah secara hakikat, dan Allah sendiri bersemanyam di atas ʻArash…

ومنهم من يَنسِبُه إلى الزندقة، لقوله: النبيّ [ صلى‏الله‏عليه‏و‏آله ] لايستغاث به، وأنّ في ذلك تنقيصا ومنعا من تعظيم النبيّ¨] صلى‏الله‏عليه‏و‏آله ] … ؛
Dan di kalangan mereka ada yang mengaitkannya dengan zindiq (berpura-pura beriman atau imannya terpesong). Ini disebabkan ia berkata: Janganlah memohon bantuan daripada Nabi (s.a.w), sesungguhnya perbuatan itu mengurangkan dan mencegah daripada pengagungan Nabi (s.a.w)…

ومنهم من ينسِبُه إلى النفاق، لقوله فى عليّ ما تقدّم ـ أي أنّه أخطأ في سبعة عشر شيئا ـ ولقوله: إنّه – أي عليّ – كان مخذولاً حيثما توجّه، وأنّه حاول الخلافة مرارا فلم ينلها، وإنّما قاتل للرئاسة لا للديانة، ولقوله: إنّه كان يحبّ الرئاسة، ولقوله: أسلم أبو بكر شيخا يدري مايقول، وعليّ أسلم صبيّا، والصبيّ لا يصحّ إسلامه، وبكلامه في قصّة خطبة بنت أبي جهل … فإنّه شنع فى ذلك، فألزموه بالنفاق، لقوله [ صلى‏الله‏عليه‏و‏آله ] : ولايبغضك إلاّ منافق؛
الدرر الكامنة فى أعيان المائة الثامنة، ج 1، ص 155.

Di kalangan mereka ada yang mengaitkannya dengan kemunafikan, kerana pandangan jeleknya tentang Ali bin Abi Talib (iaitu ia melakukan kesalahan dalam tujuh belas perkara). Katanya: Sesungguhnya beliau (Ali bin Abi Talib) adalah orang yang kecewa dan patah harapan sebagaimana yang diketahui beliau berusaha banyak kali untuk mendapatkan kekhalifahan namun beliau tidak pernah mencapainya.  Beliau berperang hanyalah untuk mendapatkan tampuk pemerintahan, bukan kerana agama. Katanya: Sesunggunya beliau gila kuasa. Katanya lagi: Abu Bakar masuk Islam diusia tua kerana ia tahu apa yang dikatakannya, namun Ali masuk Islam ketika masih kanak-kanak, sedangkan keislaman kanak-kanak tidak sah. Termasuk juga kata-katanya tentang kisah lamaran anak perempuan Abu Jahal… sesungguhnya ia terlampau jelek tentang itu, maka lazimlah ia dengan sifat kemunafikan kerana nabi (s.a.w) bersabda: Wahai Ali, tidaklah membencimu melainkan ia adalah orang munafik. – Al-Durar Al-Kaminah Fi Aʻyan Al-Mi’ah Al-Thaminah, jilid 1 halaman 155.
Nota:

Sayuti berkata:

ابن حجر، شيخ الاسلام والإمام الحافظ في زمانه، وحافظ الديار المصرية؛ بل حافظ الدنيا مطلقا، قاضى القضاة؛ ابن حجر، شيخ الاسلام، پيشوا و حافظ زمان خويش در منطقه مصر؛ بلكه حافظ دنيا به شمار مى‏آمد. طبقات الحفاظ، ص 547.

Ibnu Hajar adalah Syeikhul Islam dan Imam Al-Hafiz di zamannya di tanah Mesir; bahkan secara mutlaknya beliau adalah seorang Hafiz dunia – Tabaqat Al-Huffaz, halaman 547.

Al-Subki memutuskan bahawa Ibnu Taimiyah sebagai tukang bid’ah:

Al-Subki (wafat tahun 756 Hijrah) seorang ulama besar Ahlusunnah yang tersohor di zaman Ibnu Taimiyah menulis:

أما بعد، فإنه لما أحدث ابن تيمية ما أحدث في أصول العقائد، ونقض من دعائم الإسلام الأركان والمعاقد، بعد أن كان مستترا بتبعية الكتاب والسنة، مظهرا أنه داع إلى الحق هاد إلى الجنة، فخرج عن الاتباع إلى الابتداع، وشذ عن جماعة المسلمين بمخالفة الإجماع، وقال بما يقتضي الجسمية والتركيب في الذات المقدس، وأن الافتقار إلى الجزء- أي افتقار الله إلى الجزء- ليس بمحال، وقال بحلول الحوادث بذات الله تعالى، وأن القرءان محدث تكلم الله به بعد أن لم يكن، وأنه يتكلم ويسكت ويحدث في ذاته الإرادات بحسب المخلوقات، وتعدى في ذلك إلى استلزام قدم العالم، والتزامه بالقول بأنه لا أول للمخلوقات فقال بحوادث لا أول لها، فأثبت الصفة القديمة حادثة والمخلوق الحادث قديما، ولم يجمع أحد هذين القولين في ملة من الملل ولا نحلة من النحل، فلم يدخل في فرقة من الفرق الثلاث والسبعين التي افترقت عليها الأمة، ولا وقفت به مع أمة من الأمم همة، “””وكل ذلك وإن كان كفرا شنيعا””” مما تقل جملته بالنسبة لما أحدث في الفروع “. ا.هـ

طبقات الشافعيّة، ج 9، ص 253؛ السيف الصقيل، ص 177 و الدرّة المضيئة فى الردّ على ابن تيميّه، ص 5.

Adapun sesungguhnya, Ibnu Taimiyah : Sesungguhnya Ibnu Taimiyah membuat hal baru (bid’ah) dalam usul-usul aqidah dan merosakkan perkara dari pokok-pokok agama Islam iaitu rukun-rukun dan aqidah, setelah dia bersembunyi dengan (seakan-akan) mengikuti Al Kitab dan As-Sunnah, menampilkan diri bahawa dialah yang menyeru kepada yang Haq dan pembimbing ke syurga. Lantas dia keluar dari Ittiba’ (ikut al Qur’an dan As Sunnah) menuju bid’ah, ganjil dan aneh daripada jemaah kaum muslimin dengan menyalahi ijma’ ulama, dan dia mengatakan sesuatu yang mewajibkan penjisiman dan penstrukturan dalam Zat Allah Yang Suci, dan keperluan Allah pada bahagian juzuk tidaklah mustahil, mengatakan bertempatnya mahluk pada dzat Allah, Al Qur’an adalah diciptakan yang Allah berbicara dengannya setelah al Qur’an tidak ada, Allah berbicara dan diam, pada Zatnya terjadi kehendak-kehendak sesuai dengan mahluk-mahluk-Nya, dan berlanjut pada penetapan Qidam (keterdahuluan)-nya alam dan pendapat tidak ada permulaan bagi makhluk …… dan semua (pendapat Ibnu Taimiyah) tersebut, meski pun merupakan kekufuran yang jelek, namun lebih sedikit jumlahnya dinisbahkan pada yang telah di buatnya (Bid’ah?) dalam hal furu’”. – Tabaqat Al-Syafiʻiyyah, jilid 9 halaman 253; Al-Saif Al-Ṣaqīl, halaman 177; Al-Durrah Al-Mudhi’ah fi Al-Rad Ala Ibnu Taimiyah, halaman 5

Nota:
Sayuthi mengatakan tentang Al-Subki sebagai:

شيخ الإسلام، إمام العصر، وتصانيفه تدلّ على تبحره في الحديث؛
طبقات الحفّاظ، ص 55.

Syeikhul Islam, pemimpin di zamannya dan karya-karyanya yang melimpah menunjukkan betapa banyaknya ilmu beliau dalam bidang hadis. – Tabaqat Al-Huffaz, halaman 55.

Selain itu, Ibnu Kathir al-Salafi berkata tentangnya:

«الإمام العلامة … قاضي دمشق … برع في الفقه والأصول والعربية وأنواع العلوم … انتهت إليه رئاسة العلم في وقته؛ سبكى امام و علاّمه، قاضى دمشق در علم فقه، اصول، عربيه و ديگر علوم سرآمد عصر خويش بوده است و رياست علم در زمان خويش به وى منحصر شد. بدايه ونهايه: ج 1، ص 551، شماره 2251.

Al-Imam Al-ʻAllamah… Qadi Damsyiq… pintar dalam ilmu Fiqh, Ushul, Arab dan berbagai klasifikasi ilmu… mencapai kepimpinan ilmu di zamannya. – Al-Bidayah Wa Al-Nihayah, jilid 1 halaman 551, nombor 2251

Al-Hushni Dimasyqi menganggap Ibnu Taimiyah sebagai zindiq

Al-Hushni Dimasqi menulis:
وأن ابن تيمية كما قاله بعض الأئمة الأعلام – الذي كان يوصف بأنه بحر في العلم – يقول عنه أنه زنديق مطلق. وسبب قوله ذلك أنه تتبع كلامه فلم يقف له على اعتقاد، حتى أنه في مواضع عديدة يكفر فرقة ويضللها، وفي موضع آخر يعتقد ما قالته أو بعضه. مع أن كتبه مشحونة بالتشبيه والتجسيم والإشارة إلى الازدراء بالنبي والشيخين وتكفير عبد الله بن عباس وأنه من الملحدين وجعل عبد الله بن عمر رضي الله عنهما من المجرمين وأنه ضال ومبتدع ذكر ذلك في كتاب له سماه (الصراط المستقيم والرد على أهل الجحيم) وقد وقفت في كلامه على المواضع التي كفر فيها الأئمة الأربعة. وكان بعض أتباعه يقول أنه أخرج زيف الأئمة الأربعة يريد بذلك إضلال هذه الأمة لأنها تابعة لهذه الأئمة في جميع الأقطار والأمصار وليس وراء هذا زندقة.
Ibnu Taimiyyah sepertimana yang dikatakan oleh kebanyakan ulama besar – iaitu ulama yang disifatkan sebagai ‘lautan ilmu’ – berkata: Sesungguhnya Ibnu Taimiyah adalah kafir zindiq secara mutlak. Ini disebabkan penelitian atas kata-katanya dan diketahuilah bahawa ia beberapa kali telah mengkafirkan golongan lain dan menyesatkan mereka. Pada ketika yang lain ia mengiyakan apa yang golongan lain katakan, atau mengesahkan sebahagiannya. Sementara itu fakta di dalam bukunya penuh dengan ‘tasybih’ (menyamakan Allah dengan makhluk), ‘tajsim’ (menjisimkan Allah), termasuklah penghinaan terhadap Nabi (s.a.w), penghinaan terhadap Abu Bakar dan Umar, mengkafirkan Ibnu Abbas, dan sesungguhnya ia adalah kafir ateis. Ia mengatakan Abdullah bin Umar sebagai penjenayah, dan sesungguhnya ia adalah sesat, tukang bid’ah, ia mengatakan demikian di dalam kitab yang bernama Al-Shiratul Mustaqim Wa Al-Rad ‘Ala Ahl Al-Jahim’. Aku turut menemui kata-katanya yang berposisi mengkafirkan para imam empat mazhab fiqh dengan tujuan mendakwa bahawa seluruh umat ini sesat kerana mengikuti imam ini di seluruh pelusuk dunia. Tidak terselindung lagi kezindiqan ini.- Dafʻ Syabah ‘An Rasulillah, Tahqiq Jama’ah min Ulama, halaman 125

Al-Hushni Dimasyqi menulis di tempat lain:

وقال (ابن تيميّة): «من استغاث بميّت أو غائب من البشر… فإنّ هذا ظالم، ضالّ، مشرك»، هذا شيء تقشعرّ منه الأبدان، ولم نسمع أحدا فاه، بل ولا رمز إليه في زمن من الأزمان، ولا بلد من البلدان، قبل زنديق حرّان قاتله اللّه ـ عزّ وجلّ ـ وقد جعل الزنديق الجاهل الجامد، قصّة عمر رضى‏الله‏عنه دعامة للتوصّل بها إلى خبث طويّته في الإزدراء بسيّد الأوّلين والآخرين وأكرم السابقين واللاحقين، وحطّ رتبته في حياته، وأنّ جاهه وحرمته ورسالته وغير ذلك زال بموته، وذلك منه كفر بيقين وزندقة محقّقة؛
دفع الشبه عن الرسول، ص 131

Ibnu Taimiyah berkata: Barangsiapa yang memohon bantuan (istighasah) dengan mayat atau orang ghaib dari manusia… Sesungguhnya ini adalah zalim, sesat dan musyrik. Dengan ini badan manusia menggeletar (di mana tawassul dengan para nabi setelah mereka wafat aku anggap sesat), sehingga kini aku belum mendengarnya daripada sesiapa pun. Bahkan tidak seorang pun yang menunjukkan simbol sebegini di zaman manapun, atau di negara mana pun. Sehinggalah sebelum Harran Ibnu Taimiyah (semoga Allah membunuhnya dan Allah telah melakukannya), si kafir zindiq yang tegar kejahilannya telah membuatkan kisah Umar Radhiyallahuanhu yang bertawassul sebagai kekotoran di hari perasaannya dalam menghina Sayyidil Awwalin, dan merendahkan martabatnya di dalam hidupnya, ia ingin mengatakan wibawa, kehormatan, risalahnya dan lain-lain lagi telah luput setelah wafat. Itu meyakinkan bahawa ia telah kafir dan realitinya ia telah zindiq.- Dafʻ Syabah ‘An Rasulillah, halaman 131

Nota:

Khairuddin Al-Zarkali di dalam menceritakan perihal Al-Hushni Al-Dimasyqi mengatakan:
تقي الدين الحصني فقيه ورع من أهل دمشق…
له تصانيف كثيرة، منها…  دفع شبه من شبه وتمرد
Taqiyuddin Al-Hushni, seorang yang alim dan faham agama, wara’, daripada warga Damsyiq… beliau mempunyai banyak karya antaranya… Daf’u Syubah man Syabbaha wa Tamarrada

Qadi Syafi’i menganggap darah pengikut Ibnu Taimiyah adalah halal ditumpahkan.
Ibnu Hajar Al-ʻAsqalani (wafat tahun 825 Hijrah) dan Al-Syaukani (wafat tahun 1255 Hijrah) merupakan dua ulama besar Ahlusunnah yang menulis bahawa Al-Qadi Al-Shafiʻi memberi perintah di Damsyiq:
من اعتقد عقيدة ابن تيمية حل دمه وماله
الدرر الكامنة، ج 1، ص 147؛ البدر الطالع، ج 1، ص 67 و مرآة الجنان، ج 2، ص 242.

Barangsiapa yang berpegang dengan akidah Ibnu Taimiyyah, maka halal darahnya (ditumpahkan) dan hartanya. – Al-Durar Al-Kaminah, jilid 1 halaman 147; Al-Badrul Thaliʻ, jilid 1 halaman 67; Mir’atul Jinan jilid 2 halaman 242

Ibnu Hajar Al-Haythami menanganggap Ibnu Taimiyah sebagai individu yang sesat lagi menyesatkan

Ibnu Hajar Al-Haythami Al-Makki (wafat tahun 974) menulis tentang Ibnu Taimiyah sebagai berikut:

ابن تيمية عبد خذله الله وأضله وأعماه وأصمه وأذله ، وبذلك صرح الأئمة الذين بينوا فساد أحواله وكذب أقواله…
وأهل عصرهم من الشافعية والمالكية والحنفية…
والحاصل أن لا يقام لكلامه وزن بل يرمى في كل وعر وحزن ويعتقد فيه أنه مبتدع ضال ومضل جاهل غال عامله الله بعدله وأجارنا من مثل طريقته وعقيدته وفعله آمين .
الفتاوى الحديثة، ص 86.
Allah mengecewakan Ibnu Taimiyah, menyesatkannya, membutakannya, menulikannya dan menghinanya. Demikian itu para imam yang menerangkan kerosakannya dan pendustaan kata-katanya telah menjelaskan… ahli di zamannya daripada golongan al-Syafiʻi, al-Maliki dan al-Hanafi…kesimpulannya kata-katanya tidak bernilai, bahkan ia adalah tukang bid’ah yang sesat lagi menyesatkan dan jahil. Semoga Allah menegakkan keadilan dan menyelamatkan kita daripada jalannya, akidahnya dan perbuatanyya, Amin. – Al-Fatawa Al-Hadithiyyah, halaman 86.

Kekafiran orang yang memanggil Ibnu Taimiyah sebagai ‘Syeikhul Islam’

Ulama besar Ahlusunnah bernama Al-Shawkani berkata:

صرّح محمّد بن محمّد البخاري الحنفيّ المتوفّى سنة 841 بتبديعه ثمّ تكفيره، ثمّ صار يصرّح في مجلسه: إنّ من أطلق القول على ابن تيميّة أنّه شيخ الإسلام فهو بهذا الإطلاق كافر
بدر الطالع، ج 2، ص 260

Muhammad Al-Bukhari Al-Hanafi yang meninggal pada tahun 841 Hijrah menjelaskan bid’ahnya kemudian mengkafirkannya, kemudian beliau menjelaskan di dalam majlisnya: Barangsiapa yang menggelar Ibnu Taimiyah sebagai Syeikhul Islam, maka ia telah kafir. – Badrul Taliʻ, jilid 2 halaman 260

Ibnu Batutta mengatakan Ibnu Taimiyyah gila

Ibnu Batutta, menulis dalam catatan pengembaraan ilmiyahnya sebagai:

وكان بدمشق من كبار الفقهاء الحنابلة تقي الدين بن تيميّة كبير الشام يتكلّم فى الفنون إلاّ أنّ فى عقله شيء
رحله ابن بطوطه، ج 1، ص 57

Tersebutlah di Damsyiq seorang daripada ahli Fiqh Hanafi yang bernama Taqiyudin Ibnu Taimiyah, berbicara tentang berbagai kesenian, namun akalnya tidak waras.

Asal Usul Azan

 


Salam alaikum wa rahmatollah. Bismillahi Taala.

Dalam artikel pendek ini, dengan izin Allah, kami akan cuba rungkaikan sedikit sebanyak sejarah azan dari sisi pandang Sunni dan membandingkannya dengan hadis-hadis Sahih riwayat Imam-Imam Syiah.

Berikut adalah hadis yang menjadi pegangan saudara Ahlul Sunnah, dan dijadikan dalil sebagai permulaan bagi azan.

Dari Abdullah bin Umar katanya:”Adalah kaum muslimin ketika baru sampai di kota Madinah, berkumpul menunggu waktu sembahyang kerana belum ada cara untuk memberitahu. Pada suatu hari mereka itu bermesyuarat tentang cara pemberitahuan waktu; ada yang mengatakan supaya menggunakan loceng seperti Nasrani dan ada pula yang mengatakan supaya menggunakan trompet seperti Yahudi. Maka berkata Umar bin al-Khattab r.a:” Bukankah lebih baik menyuruh seseorang meneriakkan atau memberitahukan waktu sembahyang?” Bersabda Rasulullah s.a.w:”Hai Bilal, pergilah dan ajaklah orang-orang bersembahyang.” (Sahih, Imam Muslim)

Hadis ini menyatakan bahawa ibadah azan adalah hasil dari buah fikiran Khalifah Umar.

Hadis lain riwayat Abu Dawud mengisahkan bahawa Abdullah bin Zaid r.a meriwayatkan :”Ketika cara memanggil kaum Muslimin untuk solat dimusyawarahkan, suatu malam dalam tidur aku bermimpi melihat ada seseorang sedang memegang sebuah loceng. Aku dekati orang itu dan bertanya kepadanya apakah ia ada maksud hendak menjual loceng itu. Jika memang begitu aku memintanya untuk menjual kepada aku saja. Orang tersebut malah bertanya,” Untuk apa ? Aku menjawabnya, “Bahawa dengan membunyikan loceng itu, kami dapat memanggil kaum Muslimin untuk menunaikan solat.” Orang itu berkata lagi, “Adakah kau mahu jika ku ajarkan cara yang lebih baik ?” Dan aku menjawab ” Ya !”Lalu dia berkata lagi, dan kali ini dengan suara yang amat lantang , ” Allahu Akbar, Allahu Akbar..” Ketika esoknya aku bangun, aku menemui Rasulullah s.a.w dan menceritakan perihal mimpi itu kepada baginda. Dan baginda bersabda: “Itu mimpi yang sebetulnya nyata. Berdirilah di samping Bilal dan ajarkan dia bagaimana mengucapkan kalimat itu. Dia harus mengumandangkan azan seperti itu dan dia memiliki suara yang amat lantang.” Lalu aku pun melakukan hal itu bersama Bilal.” Rupanya, mimpi yang serupa dialami pula oleh Umar r.a, beliau juga menceritakannya kepada Rasulullah s.a.w. Baginda s.a.w bersyukur kepada Allah SWT di atas semua petunjuk tersebut.

Tanpa perlu memberi komentar kepada hadis di atas, berkaitan bagaimana sebuah ritual agama yang sebegitu penting adalah buah fikiran seorang manusia ghair maksum, atau mimpi manusia ghair maksum, dan bukan dari Rasulullah(s), ayuh kita membuat perbandingan dengan hadis-hadis dari pintu kota ilmu Rasulullah(s), Aimmah Ahlulbait(as). Kami kutip hadis berikut dari Furu al Kafi. Bab asal azan dan keutamaannya. Analisis hadis oleh Syeikh Nader Zaveri.

Hadis Pertama

علي بن إبراهيم، عن أبيه، عن ابن أبي عمير، عن عمر بن اذينة، عن زرارة والفضل، عن أبي جعفر (عليه السلام) قال: لما اسري برسول الله

(صلى الله عليه وآله) إلى السماء فبلغ البيت المعمور وحضرت الصلاة فأذن جبرئيل وأقام فتقدم رسول الله (صلى الله عليه وآله) وصف الملائكة والنبيون خلف محمد (صلى الله عليه وآله)

 

Ali bin Ibrahim dari ayahnya(Ibrahim bin Hashim) dari Ibn Abi Umair dari Umar bin Udhaya dari Zurarah bin A’yan dan Fadhl dari Abu Jaafar bersabda: “Apabila Rasulullah(s) di bawa Israk Mi’raj, dan sampai di Baitul Makmur, dan waktu solat tiba, Jibrail melakukan azan dan Iqamah, dan Rasulullah(s) menuju ke hadapan. Para malaikat dan Anbiya membuat barisan untuk bersolat di belakang baginda. (Hasan kerana Ibrahim bin Hashim)

Hadis Kedua

علي بن إبراهيم، عن أبيه، عن ابن أبي عمير، عن حماد، عن منصور بن حازم، عن أبي عبدالله (عليه السلام) قال: لما هبط جبرئيل (عليه السلام) بالاذان على رسول الله (صلى الله عليه وآله) كان رأسه في حجر علي (عليه السلام) فأذن جبرئيل (عليه السلام) وأقام فلما انتبه رسول الله (صلى الله عليه وآله) قال: ياعلي سمعت؟ قال: نعم، قال: حفظت؟ قال: نعم قال: ادع بلالا فعلمه، فدعا علي (عليه السلام) بلالا فعلمه (حسن)

Ali bin Ibrahim dari ayahnya (Ibrahim bin Hashim) dari Ibn Abi Umayr dari Hammad (bin Uthman) dari Mansur bin Hazim dari Abi Abdillah(as) yang bersabda: “Apabila Jibril datang kepada Rasulullah(s) bersama azan, kepala baginda berada di ribaan Ali, jadi Jibril mengucapkan azan dan iqamah(mengajarkannya pada Nabi). Maka apabila Nabi(s) tersedar, baginda bersabda: “Wahai Ali, adakah kamu mendengarnya?” Ali menjawab ya. Baginda bersabda: “Adakah kamu menghafalnya?” Ali menjawab ya. Baginda bersabda: “Panggilkan Bilal dan ajarkan kepadanya.” Maka Ali memanggil Bilal dan mengajarkan kepada beliau. (Hassan kerana Ibrahim bin Hashim)

Maha suci Allah. Solawat ke atas Muhammad dan keluarganya yang disucikan. Persoalannya, yang manakah yang lebih kuat untuk dijadikan pegangan? Yang manakah yang lebih selari dengan Quran dan logik atas kedudukan Rasulullah(s) sebagai pembawa syariat dan penerima wahyu? Inilah persoalan yang perlu difikirkan sendiri oleh para pembaca.

Peringkat-peringkat Syiah Berdasarkan Riwayat Ahlulbait(as)


Salam alaikum wa rahmatollah. Bismillahi Taala.

Dewasa ini, perkataan Syiah semakin popular di kalangan masyarakat Malaysia, apabila ajaran ini semakin menonjol dan dikenali, terima kasih kepada para penceramah anti Syiah dan media-media Massa yang mempopularkan terma ini, samada dari sudut negatif atau positif(jika ada).

Dari sudut bahasa, Syiah bermaksud penolong, pengikut dan pembantu atau ahli parti kepada seseorang atau sesuatu kumpulan. Dari segi istilah yang popular di masa kini pula, kata Syiah ini merujuk kepada satu kumpulan manusia yang beragama Islam, di mana, mereka memegang ideologi atau doktrin Imamah Ahlulbait(as) dan mengikuti mereka dalam segala hal, dari segi fiqh, siyasah, akhlaq, aqidah dan lain-lain hal duniawi juga ukhrawi. Pendek kata, kata Syiah ini merujuk kepada satu mazhab yang mengikuti Ahlulbait.

Namun, ini adalah definasi yang terlampau umum dan tidak terperinci. Benarkah semua yang mengaku Syiah itu adalah Syiah? Untuk mengetahui perkara ini dengan lebih mendalam, insyaAllah, akan dibahaskan secara ringkas, berdasarkan pendapat Imam Ahlulbait(as) tentang hal ini. Ambil perhatian bahawa kami hanya akan membahas peringkat-peringkat ini berdasarkan konteks zaman moden ini.

Kelompok Syiah Yang Pertama: Pengikut Fiqh

Seperti juga Sunni, ini adakah lapisan asas dalam pengikut Syiah, yakni selalunya tetapi tidak semestinya, mereka yang dilahirkan dalam keluarga Syiah. Mereka mungkin memahami atau mungkin tidak tentang doktrin-doktrin asas Syiah, dan hanya mengikuti apa yang diperturunkan dari keluarga mereka. Seperti direkodkan dalam firman Allah:

Dan apabila dikatakan kepada mereka” Turutlah akan apa yang telah diturunkan oleh Allah” mereka menjawab: “(Tidak), bahkan kami (hanya) menurut apa yang kami dapati datuk nenek kami melakukannya”. Patutkah (mereka menurutnya) sekalipun datuk neneknya itu tidak faham sesuatu (apa pun tentang perkara-perkara ugama), dan tidak pula mendapat petunjuk hidayah (dari Allah)? Al Quran(2:170)

Di dalam hati mereka, mungkin ada dan mungkin tidak ada naluri sebagai Syiah kepada Ahlulbait, rasa cinta dan taat kepada mereka. Mereka berpotensi menjadi pengkut yang baik, juga berpotensi berubah menjadi musuh Islam. Sejarah telah berkali-kali menyaksikan bagaimana kelompok ini ada yang menjadi pengikut setia, namun ada juga yang berubah menjadi musuh. Cukuplah peristiwa perang Siffin, peristiwa Khawarij, Kufah dan di zaman sekarang orang-orang Syiah seperti Shah Reza Pahlawi menjadi contoh kepada kumpulan ini.

Seseorang itu mungkin berada di dalam kumpulan tentera Imam Ali, ada menjadi sebahagian dari “Syiah”nya pada awal waktu. Namun apabila merima sogokan dari Muawiyah, contohnya, atau menerima tekanan ketakutan dan dugaan duniawi, mereka kemudian meninggalkan Imam sendirian dan tanggungjawab mereka sebagai pengikut Imam. Begitu juga dengan peristiwa lain, yang menunjukkan bagaimana kelompok ini bertindak, samada positif dan negatif.

Contoh lain, kami ambil konteks di zaman sekarang, seorang pemuda Iran, dilahirkan di dalam keluarga Syiah sudah pastinya akan bermazhab Syiah, bermakna mereka bersolat ikut cara Ahlulbait dan beribadah mengikut fiqh mereka. Namun, adakah beliau mempunyai ittikad yang kuat sebagai Syiah? Mungkin tidak. Beliau boleh sahaja menjadi ejen Amerika dan Zionis untuk menjadi pengintip atau pemorak peranda keamanan dan kesatuan.

Mengapakah terjadinya perkara ini? Ini adalah kerana jiwa dan akal mereka tidak menerima wilayah dan imamah Ahlulbait dengan erti kata sebenar. Mereka tidak memahami doktrin Islam dan Iman, dan hanya Islam pada nama sahaja. Maka segala tindakan mereka, tidak semestinya boleh dinisbatkan kepada mereka yang merupakan Syiah yang benar, mukmin. Malah para Imam kerap menegur mereka, dan tindak balas mereka kepada teguran ini boleh sahaja positif atau negatif.

Seseorang berkata: “Aku berkata kepada Imam Shadiq as: “Sebagian dari pengikutmu melakukan dosa-dosa dan berkata: “Kami memiliki harapan.” Lalu Imam as berkata: “Mereka berbohong. Mereka bukanlah kawan kami. Mereka adalah orang-orang yang membawa harapannya kesana kemari, yang mana ketika mereka mengharap sesuatu, mereka mengejarnya, lalu jika mereka takut akan sesuatu, mereka lari.”.”[Kulaini, Muhammad bin Ya’qub, Al-Kafi, jil. 2, hal. 68, Darul Kutub Islamiah, Tehran, cetakan keempat, 1365 HS]

Imam al-Sadiq (AS) berkata, ‘ Seseorang yang mendakwa mengikut kami dengan lidahnya, tetapi bertindak bertentangan dengan tindakan dan amalan kami, maka beliau bukanlah dari kalangan Syiah kami.’[Bihar al-Anwar, v. 68, hal. 164, no. 13]

Kelompok Syiah Yang Kedua: Pencinta Ahlulbait

Kelompok ini adalah kelompok yang lebih diangkat dari mereka yang sekadar mengikuti fiqh. Mereka memahami dan berpaut pada wilayah dan imamah Ahlulbait(as), meyakininya, beramal dengannya sedaya yang mampu, mencintai mereka dan bertabbara pada musuh-musuh mereka.

Dari luaran, mereka sudah layak digelar Syiah jika tampak ciri-ciri ini. Namun hanya Allah, Rasul dan Imam dari Ahlulbait sahaja yang mengetahui tahap sebenar kedudukan ini, di dalam dada para mukmin. Ini adalah kerana perbezaan antara Syiah sebenar dan pencinta Ahlulbait, hanyalah dari segi kekuatan hati, Iman dan tahap kesetiaan kepada para Imam. Sampai ke tahap manakah seorang mukmin itu sanggup mentaati Imamnya, itulah penentu ukurnya.

Seorang Syiah mungkin sanggup menggadaikan segala hartanya untuk jalan Islam, namun apabila diminta menggadaikan nyawa, tiba-tiba beliau berasa ragu takut dan bimbang. Masih terbuka ruang godaan yang besar untuk mereka digoda syaitan. Namun secara asasnya, mereka adalah mukmin yang baik dan menuju kebaikan.

Seorang lelaki berkata kepada Imam Hasan As, “Saya adalah Syiah(pengikut) Anda,” Imam pun menjawab, “Wahai hamba Tuhan! Jika kamu benar-benar taat kepada perintah kami dan menjauhi larangan kami, maka kamu telah berkata benar, namun jika tidak demikian, maka janganlah menambah dosa-dosamu dengan mendakwa kamu telah mencapai tahap yang sangat mulia dan darjat yang sangat tinggi sedang kamu bukan ahlinya. Janganlah kamu menyatakan, saya adalah Syiah Anda, tetapi katakanlah, “Saya adalah pencinta Anda dan musuh bagi musuh-musuh Anda”. Jika demikian, maka kamu dalam kebaikan dan sedang menuju kepada kebaikan.” (Tanbihul Khawathir, jil. 2, hal. 106)

Imam jelas membuat perbezaan akan dua kumpulan ini dalam banyak ayat-ayat mereka. Contoh yang lain.

Imam Ja’far as berkata:“Sesiapa daripada kalangan Syi‘ah kami dan pencinta kami tidak memiliki Kitab Sulaim Bin Qais al-Hilali, mereka tidak mengetahui urusan kami dengan sebenarnya. Mereka tidak mengetahui sesuatu pun daripada sebab-sebab kami. Ia adalah Abjad Syi‘ah yang mengandungi rahsia daripada rahsia-rahsia keluarga Muhammad Saw.” (Kitab Sulaim). 

Oleh kerana dasar perbezaan antara seorang Syiah dan pencinta Ahlulbait sangat subjektif, maka kami akan teruskan kepada kelompok seterusnya.

Kelompok Syiah Yang Ketiga: Syiah Ahlulbait yang haq

Merekalah pengikut sebenar, mukmin sejati dan dokongan Imam. Apakah ciri-ciri mereka?

“Syi’ah kami adalah ahli/penyandang wara’ dan bersungguh-sungguh dalam ibadah, pemilik ketenangan/keanggunan dan amanat, penyandang zuhud dan gigih beribadah. Pelaksana shalat lima puluh satu rakaat dalam sehari semalam. Berdiri (mengisi malam dengan shalat) puasa di siang hari dan berangkat haji ke tanah suci… dan mereka menjauhkan dri dari setiap yang haram.”[Al Bihâr, 68/167.] 

“Demi Allah, tiada Syi’ah Ali as kecuali orang yang menjaga perutnya dan kemaluannya, berbuat demi Tuhannya, mengharap pahala-Nya dan takut dari siksa-Nya.Wahai Syi’ah Âli (keluarga) Muhammad, sesungguhnya bukan dari kami orang yang tidak menguasai nafsunya di saat marah, tidak berbaik persahabatan dengan orang yang ia temani, dan tidak berbaik kebersamaan dengan orang yang bermasa dengannya serta tidak berbaik shulh dengan orang yang berdamai dengannya.”[Al Bihar, 168] 

Syiah adalah orang yang hati dan lidahnya sejalan dengan kami, begitu pula perilaku dan amal perbuatannya mengikuti kami; merekalah Syiah kami.” (Majlisi, Muhammad Baqir, Biharl Al-Anwar, jil. 65, hal. 164, Muasasah Al-Wafa’, Beirut, Lebanon, cetakan keempat, 1404 H)

Kalian adalah penyokong kebenaran dan saudara dalam aqidah. Kalian adalah perisai di hari kesusahan dan pemegang amanahku di antara mereka yang lain. Dengan sokongan kalian, aku menyerang mereka yang berpaling dan mengharapkan kesetiaan orang yang bergerak ke hadapan. Oleh itu, berikanlah aku sokongan kalian yang bebas dari penipuan dan suci dari keraguan, kerana demi Allah, akulah yang terpilih dari kalangan manusia.[Khutbah 117, Kitab Nahjul Balagha] 

Sudah tentu ramai contoh-contoh personaliti yang jatuh ke dalam kategori ini, antaranya, Salman al Farisi, Miqdad al Aswad, Malik al Asytar, Ammar Ibn Yasser, Abal Fadhl al Abbas dan ramai lagi.

Jelas, dengan artikel ini, seorang Syiah pasti tidak akan membunuh Imam, seperti yang di dakwa golongan bodoh, penduduk “Syiah” Kufah membunuh Imam. Seorang Syiah adalah mereka yang berpihak kepada Imam. Apabila seseorang itu menentang Imam, maka beliau bukan lagi Syiah, malah mereka adalah musuh Ahlulbait yang terlaknat dan wajib bagi pencinta dan Syiah bertabbarra pada mereka.

Kata “Syiah” bermaksud “pengikut; ahli parti“. Dengan demikian, istilah “Syiah” itu
sendiri tidak mempunyai erti negatif atau positif kecuali jika kami gandingkan bersama pemimpin sesuatu kumpulan.

Jika seseorang itu ialah Syiah (pengikut) kepada hamba Allah yang soleh , maka tidak ada salahnya menjadi Syiah kepada beliau, khususnya jika pemimpin parti tersebut telah
ditetapkan oleh Allah. Di sisi lain, jika kita seseorang menjadi Syiah kepada seorang penindas atau orang yg bersalah, maka beliau akan bertemu dengan nasib yang sama dengan pemimpinnya.  Al Quran telah pun menunjukkan
bahawa pada hari kiamat manusia akan dibangkitkan di dalam kumpulan, dan masing-masing kelompok memiliki pemimpin di depannya. Allah, Yang maha Mulia, berfirman:

Suatu hari Kami akan memanggil setiap kumpulan manusia bersama Imam masing-masing. (Quran 17:71)

Pada hari penghakiman, nasib para “pengikut” dari setiap kumpulan sangat bergantung pada nasib Imam-nya (asalkan mereka benar-benar mengikuti Imam). Allah menyebutkan di dalam Quran bahawa ada dua jenis imam. Ada imam yang menjemput manusia ke api neraka. Mereka adalah para pemimpin yang zalim di setiap era (seperti Firaun, dll):

Dan Kami jadikan mereka ketua-ketua (dalam kesesatan) yang mengajak ke neraka (dengan kekufurannya), dan pada hari kiamat pula mereka tidak mendapat sebarang pertolongan.
Dan Kami iringi mereka dengan laknat di dunia ini, dan pada hari kiamat pula adalah mereka dari orang-orang yang tersingkir (dari rahmat Kami) dengan sehina-hinanya.. (Al-Quran
28:41-42).

Tentu saja, menjadi ahli parti-parti Syaitan seperti di atas
sangat dikecam dalam Al-Quran, dan para pengikut parti-parti tersebut akan mengikuti
nasib pemimpin mereka. Namun, Quran juga mengingatkan bahawa akan ada pula imam yang dilantik oleh Allah sebagai Panduan bagi manusia:

Dan Kami jadikan dari kalangan mereka beberapa pemimpin, yang membimbing kaum masing-masing kepada hukum ugama Kami, selama mereka bersikap sabar (dalam menjalankan tugas itu) serta mereka tetap yakin akan ayat-ayat keterangan Kami.”(Al-Quran 32:24)

Tentu saja, yang sesungguhnya golongan (Syiah) Imam ini akan merasa kemakmuran nyata
pada hari kebangkitan. Jadi menjadi Syiah tidak membawa erti apa-apa, kecuali jika kita
mengetahui kita menjadi Syiah kepada siapa. Allah menyebutkan di dalam Quran yang Sesetengah hambanya yang benar ialah Syiah kepada hamba-hamba-Nya yang lain. Contohnya Nabi
Ibrahim disebutkan dalam Quran secara khusus sebagai Syiah kepada Nuh:

“Dan yang paling pasti Ibrahim ialah di antara Syiah kapadanya-Nya (iaitu, Nabi Nuh)” (Al-Quran (37:83)

(Perhatikan bahawa perkataan “Syiah” secara eksplisit digunakan, huruf demi huruf, di atas
ayat dan juga ayat seterusnya.) Dalam ayat lain, Al-Quran menceritakan tentang
Musa melawan Syiah kepada musuh-musuh Nabi Musa:

Dan masuklah ia ke Kamur (Mesir) dalam masa penduduknya tidak menyedarinya, lalu didapatinya di situ dua orang lelaki sedang berkelahi, – seorang dari Syiahnya sendiri dan yang seorang lagi dari pihak musuhnya. Maka orang yang dari Syiahnya meminta tolong kepadanya melawan orang yang dari pihak musuhnya; Musa pun menumbuknya lalu menyebabkan orang itu mati. (pada saat itu) Musa berkata: “Ini adalah dari kerja Syaitan, sesungguhnya Syaitan itu musuh yang menyesatkan, yang nyata (angkaranya) “. Al-Quran(28:15)

Jadi Syiah ialah perkataan rasmi yang digunakan oleh Allah dalam
Quran-Nya untuk menyatakan pangkat serta kualiti nabi-Nya serta para pengikut mereka. Adakah kamu ingin menuduh Nabi Ibrahim seorang sektarian? Bagaimana dengan Nabi Nuh dan Nabi Musa?

Jika seseorang menggelarkan dirinya seorang Syiah, maka ia bukan kerana ada perasaan sektarianisme, atau apa-apa bida’ah. Itu kerana Al-Quran telah menggunakan frasa ini untuk beberapa hamba terbaik-Nya. Ayat di atas yang saya telah sebutkan dalam membela Syiah, telah menggunakan istilah berbentuk tunggal (iaitu, satu kumpulan pengikut). Ini bererti frasa ini membawa erti khusus, seperti: Syiah Nuh (AS), Syiah Musa (AS). Juga dalam
sejarah Islam, Syiah telah secara khusus digunakan untuk “pengikut Ali”.

Individu pertama yang menggunakan istilah ini ialah Rasulullah sendiri:

Rasulullah berkata kepada Ali: “Berita gembira wahai Ali! Sesungguhnya kamu
dan sahabat kamu dan Syiah (pengikut) akan berada di Syurga. “

Rujukan Sunni:

(1) Fadha’il al-Sahabat, oleh Ahmad Ibn Hanbal, v2, p655
(2) Hilyatul wali-wali, oleh Abu Nu’aym, v4, p329
(3) Tarikh, by al-Khateeb al-Baghdadi, V12, p289
(4) al-Awsat, oleh al-Tabrani
(5) Majma ‘al-Zawa’id, by al-Haythami, V10, hlm 21-22
(6) al-Darqunti, yang mengatakan hadis ini telah disebar melalui pelbagai
perawi.
(7) al-Shawd’iq al-Muhriqah, oleh Ibnu Hajar Haythami, Ch. 11, bahagian 1, p247

Dengan demikian Rasulullah (saw & HF) digunakan untuk mengatakan frasa “Syiah Ali”.
Ungkapan ini bukanlah sesuatu yang diciptakan nanti! Nabi Muhammad (saw & HF) berkata
bahawa pengikut sebenar imam Ali akan pergi ke Syurga, dan ini merupakan
kebahagiaan. Juga Jabir bin Abdillah al-Ansari meriwayatkan bahawa:

Rasulullah (saw) berkata: “Syiah Ali akan merasai kemenangan yang nyata pada hari kebangkitan”

Rujukan Sunni:
- Al-Manaqib Ahmad, sebagaimana disebutkan dalam:
- Yanabi al-Mawaddah, oleh Al-Qundoozi al-Hanafi, p62
- Tafsir al-Durr Al-Manthoor, oleh al-Hafidh Jalaluddin al-Suyuti, yang mengutip
hadis berikut: “Kami dengan Nabi saw ketika Ali datang ke
kami. Nabi berkata: Dia dan Syiahnya akan memperoleh keselamatan pada hari
penghakiman. “

“Hari kebangkitan” boleh juga dirujuk kepada hari kebangkitant al-Mahdi (AS). Tetapi dalam
istilah yang lebih umum, itu berarti hari penghakiman. Juga ada sebuah hadith bahawa:

Rasulullah berkata: “Wahai Ali! Pada hari kiamat aku akan Mengharapkan
kepada Allah dan kamu akan mengharapkan kepadaku dan anak-anak kamu akan mengharapkan kepadamu dan Syiahmu akan mengharapkan kepada mereka. Kemudian kamu akan melihat di mana mereka membawa kami.(iaitu Syurga) “

Rujukan sunni: Rabi al-Abrar, oleh al-Zamakhsyari

Selain itu, diceritakan bahawa:

Rasulullah berkata: “Wahai Ali! (Pada hari kiamat)kamu dan Syiah kamu akan datang kepada Allah dengan senang dan menyenangkan, dan akan ada
datang kepada-Nya musuh-musuh kamu yang marah dan angkuh (yakni, kepala mereka di paksa keatas).

Rujukan sunni:
- Al-Tabrani, berdasarkan kuasa Imam Ali
- Al-Shawd’iq al-Muhriqah, oleh Ibnu Hajar al-Haythami, Ch. 11, bahagian 1, p236

Sebuah versi lebih lengkap daripada hadis yang juga telah dilaporkan oleh
Sunni, adalah sebagai berikut:

Ibnu Abbas (RA) meriwayatkan: Ketika ayat “Orang-orang yang beriman dan
amal soleh adalah yang terbaik daripada penciptaan (Al-Quran 98:7) “diturunkan, Rasulullah (saw) berkata kepada Ali: “Mereka adalah kamu
dan Syiahmu. “Dia melanjutkan:” Wahai Ali! (Pada hari kiamat), kamu dan
Syiah kamu akan datang ke arah Allah dengan senang dan menyenangkan, dan
musuhmu akan dating dengan marah serta kepala mereka dipaksa ke atas. Ali berkata: “Siapakah musuhmu? “Nabi (SAAW) menjawab:” Dia yang menjauhkan dirinya
daripada kamu dan mengutukmu. Dan berita kepada mereka yang pertama mencapai di bawah bayang-bayang al-’Arsh pada hari kebangkitan. “Ali bertanya:” Siapakah
mereka, wahai Rasulullah? “Dia menjawab:” Syiahmu, wahai Ali, dan
orang yang mengasihi kamu. “

Rujukan sunni:
- Al-Hafidh Jamaluddin al-Dharandi, tentang kuasa Ibnu Abbas
- Al-Shawd’iq al-Muhriqah, oleh Ibnu Hajar, Ch. 11, bahagian 1, hal 246-247

Kemudian Ibnu Hajar memberikan komentar aneh untuk hadis pertama, beliau berkata:
Syiah Ali adalah Ahlussunnah kerana mereka adalah orang-orang yang mencintai Ahlul –
Bayt sebagaimana Allah memerintahkannya kepada Nabi. Tetapi orang lain (iaitu, selain
Sunni) adalah musuh-musuh Ahlulbait kerana mencintai mereka di luar
batas hukum adalah permusuhan besar. Juga, musuh-musuh Ahlulbait adalah al-Khawarij dan mereka yang bersama-sama daripada Syria, bukan sahabat Muawiyah dan lain-lain kerana mereka ialah Muteawweloon, dan bagi mereka pahala yang baik, dan untuk Ali dan Syiah adalah sebuah pahala yang baik!

Rujukan sunni: al-Shawd’iq al-Muhriqah, oleh Ibnu Hajar, Ch. 11, bahagian 1,
p236

Dan ini adalah caranya bagaimana ulama Sunni menundukkan hadis nabi yang menyokong
“Syiah Ali”! Mereka mengatakan bahawa mereka adalah Syiah yang sebenar!

Mari kita lihat satu lagi hadis berkenaan hal ini:

Rasulullah berkata kepada Ali: ” empat orang Yang pertama yang akan
masuk Syurga adalah aku, kau, al-Hasan, dan al-Husain, dan keturunan kami
akan berada di belakang kami, dan isteri kita akan berada di belakang keturunan kita, dan Syiah kita akan berada di sekeliling kita. “

Rujukan sunni:
- Al-Manaqib, oleh Ahmad
- Al-Tabrani, seperti dikutip dalam:
- Al-Shawd’iq al-Muhriqah, oleh Ibnu Hajar Haythami, Ch. 11, bahagian 1, p246

Dari keterangan di atas, perkataan “Syiah” digunakan oleh Allah di dalam Quran untuk
Para nabi-Nya serta para pengikut mereka. Lebih lanjut lagi, Nabi Muhammad
(SAAW) telah berulang kali menggunakan kata ini untuk para pengikut Imam Ali (AS) dalam memuji kedudukan dan kualiti mereka.

Namun saya tidak menemukan istilah-istilah seperti “Ahlussunnah wal-Jama’ah”,
“al-Wahhabiyyah”, “al-Salafiyyah” di mana sahaja dalam Al-Quran atau
hadis Nabi. Saya bersetuju bahawa kita harus mengikuti Sunnah Nabi,
tetapi saya ingin mencari asal-usul istilah yang tepat di sini. Kami Syiah
berbangga dalam mengikuti Sunnah Nabi. Namun, persoalannya ialah yang mana satukah Sunnah yang asli dan yang mana yang tidak. Perkataan “Sunnah” dengan sendirinya tidak
memenuhi tujuan pengetahuan. Semua umat Islam dengan penuh keyakinan,
mendakwa bahawa mereka mengikuti Sunnah Nabi (sawa).

Harus ditekankan bahawa Rasulullah tidak pernah menginginkan untuk memecah-belahkan kaum Muslimin dalam berbagai pecahan kumpulan. Nabi telah memerintahkan semua orang untuk mengikuti Imam Ali (AS) sebagai pembantu baginda selama hidupnya Rasulullah, dan sebagai khalifah selepas ketiadaan baginda. Nabi berharap para sahabatnya mengikuti perintahnya. Tapi sayangnya para sahabat baginda, yang disayangi dan dikenali sebagai “Syiah Ali” terpaksa menahan pelbagi jenis diskriminasi dan menderita sejak hari pertama daripada kematian rahmat untuk Manusia, Nabi Muhammad (SAAW), sehinggalah sekarang.

Allah berfirman dalam Quran:
“Peganglah teguh-teguh kepada Tali Allah, kalian semua bersama-sama dan tidak berasingan”
(Al-Quran 3:103) “

Tali Allah yang tidak boleh dipisahkan dengan kita, adalah Ahlulbait. Bahkan, beberapa ulama meriwayatkan daripada Imam Ja’far ash-Shadiq (AS) berkata:
“Kami adalah Tali Allah tentang siapa yang Allah telah berfirman:” Peganglah teguh-teguh untuk yang Tali Allah, kalian semua bersama-sama dan tidak berasingan (3:103) ‘

Rujukan sunni:
- Al-Shawd’iq al-Muhriqah, oleh Ibnu Hajar Haythami, Ch. 11, bahagian 1, p233
- Tafsir al-Kabir, by al-Tha’labi, di bawah komentar dari ayat 3:103

Jadi, jika Allah mencela sektarianisme(sifat kepuakan), maka secara tidak langsung Dia juga mencela mereka yang berpisah daripada Tali-Nya, bukan orang-orang yang berpegang teguh kepadanya(Tali Allah). Juga terdapat beberapa pendapat mengatakan Tali Allah ialah Al-Quran. Pendapat ini juga benar. Mari kita lihat hadis berikut yang diriwayatkan oleh Ummu Salamah yang berkata:

Rasulullah berkata: “Ali bersama dengan Quran, dan Quran bersama dengan Ali.
Mereka tidak akan terpisah daripada satu sama lain sehingga mereka berdua kembali kepada-Ku berhampiran telaga ku (Syurga). “

Rujukan sunni:
- Al-Mustadrak, by al-Hakim, v3, p124 pada kuasa Ummu Salamah
- Al-Shawd’iq al-Muhriqah, oleh Ibnu Hajar, Ch. 9, bahagian 2, hlm 191.194
- Al-Awsat, oleh al-Tabrani, juga dalam al-Saghir
- Tarikh al-Khulafa, oleh Jalaluddin Al-Suyuti, p173

Kemudian kita bolehlah menyimpulkan bahawa Imam Ali ialah Al-Quran yang bercakap. Dari hujah ini, dapatlah disimpulkan juga bahawa Imam Ali ialah tali Allah yang kukuh kerana mereka (Al-Quran dan Ali) adalah tidak dapat dipisahkn. Bahkan, ada sejumlah besar hadis Sunni yang Sahih sumbernya di mana Nabi bersabda, “Al-Quran dan Ahlulbaitku tidak dapat dipisahkan dan jika umat Islam ingin tetap berada di jalan yang benar, mereka harus tetap pada KEDUA mereka.

Oleh kerana itu, kita bolehlah menyimpulkan bahawa mereka yang memisahkan diri mereka daripada Ahlulbait adalah bersifat kepuakan, yang dikecam oleh Allah dan Nabi-Nya kerana perbezaan mereka.

Bahkan, pendapat majoriti bukanlah kriteria yang baik untuk membezakan yang palsu
daripada kebenaran. Jika kamu melihat di dalam Quran, kamu akan melihat bahawa Quran terlampau banyak sekali mencela majoriti dengan sering mengatakan bahawa “majoriti tidak memahami “,” majoriti tidak menggunakan logika mereka “,” majoriti mengikuti hawa nafsu “…

Sebagai kesimpulan, saya telah menunjukkan dalam artikel ini bahawa istilah Syiah telah pun digunakan dalam Quran bagi para pengikut besar hamba-hamba Allah, dan dalam hadis-hadis Nabi bagi para pengikut Imam Ali (AS).

Orang yang berakal waras pasti

Semoga bermanfaat. Wallahu alam