peradilan sesat hasil provokasi wahabi digugat

 Senin, 16 Juli 2012 12:03 administrator

Email Cetak PDF

Pada 12 Juli 2012 di Pengadilan Negeri Sampang, Madura, Ustad Tajul Muluk divonis 2 tahun oleh ketua Majelis Hakim dengan dalil penodaan agama pasal 156a KUHP. Dasar dari putusan hakim adalah menganggap Tajul menyebarkan ajaran yang menggunakan al-Quran tidak asli.

 

Putusan berdasarkan dakwaan ini telah dibantah oleh 16 saksi. Namun, hakim tetap menjatuhkan hukuman pada Tajul. Tim kuasa hukum Tajul menilai peradilan tersebut sesat.Untuk itu, Aliansi Solidaritas Sampang ingin merespon hasil putusan tersebut dengan menggelar konferensi pers peradilan sesat atas Tajul Muluk yang akan dilaksanakan pada hari ini Senin (16/7), pukul 14.00-15.30 WIB bertempat di HRWG Jiwasraya Building. RP Soeroso 41, Gondangdia Menteng, Jakarta Pusat .

Sementara pembicara dalam konferensi pers ini adalah Ahmad Taufik (Kuasa hukum Tajul Muluk, Direktur YLBHU), Choirul Anam (HRWG), Sinung Karto (KontraS) dan Febionesta (LBH Jakarta).

Aliansi Solidaritas Sampang sendiri terdiri dari YLBHI, LBH Jakarta, Kontras, SEJUK, ELSAM, ILRC, HRWG, AMAN Indonesia, ANBTI, LSAF, The Wahid Institute, YLBH-Universalia

Aliansi Solidaritas Kasus Sampang menilai, vonis terhadap Ustad Tajul Muluk sangat tidak adil dan dipaksakan. Lantaran itulah, banding pun akan diajukan.

Tajul Muluk divonis 2 tahun penjara pada Kamis (12/7) dalam persidangan di PN Sampang yang diketuai Purnomo Amin Cahyo. Hakim memutuskan terdakwa sedang bertaqiyyah (menyembunyikan keyakinannya).

“Keputusan itu diambil dengan keyakinan yang ceroboh, tanpa bukti-bukti dan saksi-saksi yang menunjang putusan tersebut,” ujar Sinung Karto dari aliansi tersebut.

Lebih jauh, Aliansi juga mengecam penggunaan dalil penodaan agama pasal 156a KUHP. “Kami mengecam keputusan tersebut dan menganggap hakim dan jaksa telah bertindak dalam tekanan (pesanan) sehingga sangat keterlaluan dan memalukan secara hukum,” tuturnya.

Ustad Tajul Muluk dianggap terbukti mengajarkan Al-Quran yang tidak asli. Jaksa dan hakim, sejatinya sebenarnya telah kehilangan seluruh alasan untuk mengkriminalisasi Tajul Muluk karena tak punya cukup bukti dan saksi yang memadai.

Jaksa hanya memiliki dua saksi yang tidak cakap dan tanpa bukti. Sementara pengacara Tajul Muluk telah menghadirkan 16 saksi meyakinkan untuk membantah seluruh dakwaan sesat beserta bukti Alquran yang digunakan Ustad Tajul Muluk yang sama sekali tak berbeda dengan Al-Quran umat Islam lainnya.

Lantaran itulah, menurut Sindung, aliansi akan mengajukan banding dan melakukan sejumlah langkah. Yakni, pertama, melaporkan monitoring kinerja dan putusan hakim kepada Komisi Yudisial (KY) agar KY dapat melakukan kewenangannya terhadap hakim tersebut.

“Kedua, melaporkan ke Ketua Muda Mahkamah Agung Bidang Pengawasan. Tiga, melaporkan kinerja Jaksa Penuntut ke Komisi Kejaksaan. Empat, membuat eksaminasi publik atas putusan tersebut bekerjasama dengan Pukat UGM. Lima, membuat rekam jejak Ketua Majelis Hakim Purnomo Amin Cahyo. Enam, membuat Individual Complaint dan Join Complaint ke United Nations,” tuturnya.[

Sunni menuduh Syiah mengambil aqidah-aqidah mereka dari Abdullah bin Saba’

Kisah Abdullah bin Saba’ Selain Riwayat Saif bin Umar

Siapa yang tidak mengenal Abdullah bin Saba’?. Sosoknya sering dijadikan bahan celaan oleh nashibi untuk mengkafirkan Syiah. Menurut khayalan para nashibi, Abdullah bin Saba’ adalah pendiri Syiah, seorang Yahudi yang berpura-pura memeluk Islam dan menyebarkan keyakinan yang menyimpang dari Islam. Diantara keyakinan yang menyimpang tersebut adalah

  1. Penunjukkan Imam Ali sebagai khalifah setelah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]
  2. Mencela sahabat Nabi yaitu Abu Bakar [radiallahu ‘anhu], Umar bin Khaththab [radiallahu ‘anhu] dan Utsman bin ‘Affan [radiallahu’anhu]
  3. Upaya pembunuhan Khalifah Utsman bin ‘Affan [radiallahu ‘anhu]
  4. Sikap ghuluw terhadap Ali [radiallahu ‘anhu] dan Ahlul Bait
  5. Mencetuskan aqidah bada’ dan tidak meninggalnya Ali [radiallahu ‘anhu]

Nashibi tersebut melanjutkan fitnahnya dengan menyatakan bahwa Syiah mengambil aqidah-aqidah mereka dari Abdullah bin Saba’ dan sampai sekarang masih meyakini aqidah-aqidah tersebut dan membelanya.

Jika diteliti dengan baik maka sebenarnya nashibi tersebut tidak memiliki landasan kokoh atau dasar yang shahih dalam tuduhan mereka tentang Abdullah bin Saba’. Peran Abdullah bin Saba’ yang luar biasa sebagaimana disebutkan nashibi di atas tidaklah ternukil dalam riwayat yang shahih. Nashibi mengais-ngais riwayat dhaif dalam kitab Sirah yaitu riwayat Saif bin Umar At Tamimiy seorang yang dikatakan matruk, zindiq, pendusta bahkan pemalsu hadis. Dari orang seperti inilah nashibi mengambil aqidah mereka tentang Abdullah bin Saba’. Maka tidak berlebihan kalau nashibi yang ngaku-ngaku salafy tersebut kita katakan sebagai pengikut Saif bin Umar.

Syiah sebagai pihak yang difitnah membawakan pembelaan. Para ulama Syiah telah banyak membuat kajian tentang Abdullah bin Saba’. Secara garis besar pembelaan mereka terbagi menjadi dua golongan

  1. Golongan yang menafikan keberadaan Abdullah bin Saba’, dengan kata lain mereka menyatakan bahwa Abdullah bin Saba’ adalah tokoh fiktif yang dimunculkan oleh Saif bin Umar
  2. Golongan yang menerima keberadaan Abdullah bin Saba’ tetapi mereka membantah kalau ia adalah pendiri Syiah, bahkan menurut mereka Abdullah bin Saba’ adalah seorang ekstrim ghulat yang dilaknat oleh para Imam Ahlul Bait.

Bukan nashibi namanya kalau diam saja terhadap Syiah. Nashibi tersebut membantah dengan menyatakan bahwa Abdullah bin Saba’ bukan tokoh fiktif dan tidak hanya muncul dalam riwayat Saif bin Umar tetapi juga ada dalam riwayat-riwayat lain yang mereka katakan shahih. Riwayat-riwayat itulah yang akan dibahas dalam tulisan ini.

.

.

.
Riwayat Abdullah bin Sabaa’ Dalam Kitab Sunniy

حَدَّثَنَا عَمْرِو بْنِ مَرْزُوقٍ ، قَالَ : أنا شُعْبَةُ ، عَنْ سَلَمَةَ بْنِ كُهَيْلٍ ، عَنْ زَيْدِ بْنِ وَهْبٍ ، قَالَ : قَالَ عَلِيٌّ : مَا لِي وَلِهَذَا الْحَمِيتِ الأَسْوَدِ ، يَعْنِي : عَبْدَ اللَّهِ بْنَ سَبَإٍ ، وَكَانَ يَقَعُ فِي أَبِي بَكْرٍ ، وَعُمَرَ

Telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin Marzuuq yang berkata telah mengabarkan kepada kami Syu’bah dari Salamah bin Kuhail dari Zaid bin Wahb yang berkata Ali berkata apa urusanku dengan orang jelek yang hitam ini? Yakni ‘Abdullah bin Saba’ dia mencela Abu Bakar dan Umar [Tarikh Ibnu Abi Khaitsamah 3/177 no 4358]

‘Amru bin Marzuuq terdapat perbincangan atasnya. Ahmad bin Hanbal dan Ibnu Ma’in berkata “tsiqat ma’mun”. Abu Hatim dan Ibnu Sa’ad menyatakan ia tsiqat. As Sajiy berkata shaduq. Ali bin Madini meninggalkan hadisnya. Abu Walid membicarakannya. Yahya bin Sa’id tidak meridhai ‘Amru bin Marzuuq. Ibnu ‘Ammar Al Maushulliy berkata “tidak ada apa-apanya”. Al Ijliy berkata “Amru bin Marzuuq dhaif, meriwayatkan hadis dari Syu’bah yang tidak ada apa-apanya”. Daruquthni berkata “shaduq banyak melakukan kesalahan”. Al Hakim berkata “buruk hafalannya”. Ibnu Hibban berkata “melakukan kesalahan” [At Tahdzib juz 8 no 160]

‘Amru bin Marzuuq tafarrud dalam penyebutan lafaz “yakni Abdullah bin Saba’ dia mencela Abu Bakar dan Umar”. Muhammad bin Ja’far Ghundar seorang yang paling tsabit riwayatnya dari Syu’bah tidak menyebutkan lafaz tersebut.

أخبرنا أبو القاسم يحي بن بطريق بن بشرى وأبو محمد عبد الكريم ابن حمزة قالا : أنا أبو الحسين بن مكي ، أنا أبو القاسم المؤمل بن أحمد بن محمد الشيباني ، نا يحيى بن محمد بن صاعد، نا بندار ، نا محمد بن جعفر ، نا شعبة ، عن سلمة ، عن زيد بن وهب عن علي قال : مالي وما لهذا الحميت الأسود ؟ قال: ونا يحي بن محمد ، نا بندار ، نا محمد بن جعفر ، نا شعبة عن سلمة قال: سمعت أبا الزعراء يحدث عن علي عليه السلام قال: مالي وما لهذا الحميت الأسود

Telah mengabarkan kepada kami Abu Qaasim Yahya bin Bitriiq bim Bisyraa dan Abu Muhammad Abdul Kariim bin Hamzah keduanya berkata telah menceritakan kepada kami Abu Husain bin Makkiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Qaasim Mu’ammal bin Ahmad bin Muhammad Asy Syaibaniy yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya bin Muhammad bin Shaa’idi yang berkata telah menceritakan kepada kami Bundaar yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Salamah dari Zaid bin Wahb dari Aliy yang berkata “apa urusanku dengan orang jelek hitam ini?”. [Mu’ammal] berkata telah menceritakan kepada kami Yahya bin Muhammad yang berkata telah menceritakan kepada kami Bundaar yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Salamah yang berkata aku mendengar Abu Az Za’raa menceritakan hadis dari Ali [‘alaihis salaam] yang berkata “apa urusanku dengan orang jelek yang hitam ini?” [Tarikh Ibnu Asakir 29/7]

Riwayat Ibnu Asakir ini sanadnya shahih. Abu Muhammad Abdul Kariim bin Hamzah disebutkan Adz Dzahabiy bahwa ia syaikh tsiqat musnad dimasyiq [As Siyar 19/600]. Abu Husain bin Makkiy adalah Muhammad bin Makkiy Al Azdiy Al Mishriy muhaddis musnad yang tsiqat [As Siyaar 18/253]. Mu’ammal bin Ahmad Asy Syaibaniy dinyatakan tsiqat oleh Al Khatib [Tarikh Baghdad 13/183]. Yahya bin Muhammad bin Shaa’idi seorang imam hafizh musnad iraaq dinyatakan tsiqat oleh Al Khaliliy [As Siyaar 14/501]. Bundaar adalah Muhammad bin Basyaar perawi kutubus sittah yang tsiqat [At Taqrib 2/58]

Muhammad bin Ja’far Ghundaar adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat. Ia termasuk perawi yang paling tsabit riwayatnya dari Syu’bah. Ibnu Madini berkata “ia lebih aku sukai dari Abdurrahman bin Mahdiy dalam riwayat Syu’bah”. Ibnu Mahdiy sendiri berkata “Ghundaar lebih tsabit dariku dalam riwayat Syu’bah”. Al Ijliy berkata orang Bashrah yang tsiqat, ia termasuk orang yang paling tsabit dalam hadis Syu’bah” [At Tahdzib juz 9 no 129].

Lafaz Abdullah bin Saba’ dalam riwayat Ibnu Abi Khaitsamah mengandung illat [cacat] yaitu tafarrud ‘Amru bin Marzuuq. Ghundaar perawi yang lebih tsabit darinya tidak menyebutkan lafaz ini. ‘Amru bin Marzuuq adalah perawi yang shaduq tetapi bukanlah hujjah jika ia tafarrud sebagaimana telah ternukil jarh terhadapnya dan lafaz “yakni ‘Abdullah bin Saba’ dia mencela Abu Bakar dan Umar” adalah tambahan lafaz dari ‘Amru bin Marzuuq.

.

.

.

Riwayat selanjutnya yang dijadikan hujjah oleh para nashibi adalah riwayat yang menyebutkan bahwa orang hitam jelek itu adalah Ibnu Saudaa’

حدثنا محمد بن عباد ، قال : حدثنا سفيان ، عن عمار الدهني ، قال : سمعت أبا الطفيل يقول : رأيت المسيب بن نجية أتى به ملببه ؛ يعني : ابن السوداء ، وعلي على المنبر ، فقال علي : ما شأنه ؟ فقال : يكذب على الله وعلى رسوله صلى الله عليه وسلم

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abbaad yang berkata telah menceritakan kepada kami Sufyaan dari ‘Ammaar Ad Duhniy yang berkata aku mendengar Abu Thufail mengatakan “aku melihat Musayyab bin Najbah datang menyeretnya yakni Ibnu Saudaa’ sedangkan Ali berada di atas mimbar. Maka Ali berkata “ada apa dengannya?”. Ia berkata “ia berdusta atas nama Allah dan Rasul-Nya” [Tarikh Ibnu Abi Khaitsamah 3/177 no 4360]

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبَّادٍ الْمَكِّيُّ ، نا سُفْيَانُ ، قَالَ : نا عَبْدُ الْجَبَّارِ بْنُ عَبَّاسٍ الْهَمْدَانِيُّ ، عَنْ سَلَمَةَ ، عَنْ حُجَيَّةَ الْكِنْدِيِّ ، رَأَيْتُ عَلِيًّا عَلَى الْمِنْبَرِ ، وَهُوَ يَقُولُ : مَنْ يَعْذِرُنِي مِنْ هَذَا الْحَمِيتِ الأَسْوَدِ الَّذِي يَكْذِبُ عَلَى اللَّهِ ، يَعْنِي : ابْنَ السَّوْدَاءِ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abbaad Al Makkiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Sufyan yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Jabbar bin ‘Abbas Al Hamdaniy dari Salamah dari Hujayyah Al Kindiy yang berkata “aku melihat Ali di atas mimbar dan ia berkata “siapa yang dapat membebaskan aku dari orang jelek hitam ini ia berdusta atas nama Allah, yakni Ibnu Saudaa’ [Tarikh Ibnu Abi Khaitsamah 3/177 no 4359]

Kedua riwayat ini bersumber dari Muhammad bin ‘Abbaad Al Makkiy termasuk perawi Bukhari dan Muslim. Ia seorang yang shaduq hasanul hadis, sering salah dalam hadis. Ibnu Ma’in dan Shalih Al Jazarah berkata “tidak ada masalah padanya”. Ibnu Qani’ berkata “tsiqat”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [Tahrir At Taqrib no 5993]. Diantara kesalahannya dalam hadis telah dinukil oleh Ibnu Hajar dalam At Tahdzib yaitu hadis-hadisnya dari Sufyan yang diingkari bahkan ada hadisnya yang dinyatakan batil dan dusta oleh Ali bin Madini [At Tahdzib juz 9 no 394]. Riwayat di atas termasuk riwayatnya dari Sufyan.

Jika kedua riwayat tersebut selamat dari kesalahan Muhammad bin ‘Abbaad Al Makkiy maka kedudukannya hasan. Tetapi riwayat ini bukanlah hujjah bagi nashibi. Siapakah Ibnu Saudaa’ yang dimaksud dalam riwayat tersebut?. Apakah ia adalah Abdullah bin Sabaa’?. Kalau memang begitu mana dalil shahihnya bahwa Abdullah bin Sabaa’ adalah Ibnu Saudaa’. Orang yang pertama kali menyatakan Abdullah bin Sabaa’ disebut juga Ibnu Saudaa’ adalah Saif bin Umar At Tamimiy dan ia seperti yang telah dikenal seorang yang dhaif zindiq, matruk, kadzab dan pemalsu hadis. Ada sebagian ulama yang mengutip Abdullah bin Sabaa’ sebagai Ibnu Saudaa’ tetapi pendapat ini tidak ada dasar riwayat shahih kecuali  mengikuti apa yang dikatakan oleh Saif bin Umar.

Lafaz Ibnu Saudaa’ pada dasarnya bermakna anak budak hitam, dan ini bisa merujuk pada siapa saja yang memang anak dari budak hitam. Kalau para nashibi atau orang yang sok ngaku ulama nyalafus shalih ingin menyatakan bahwa Ibnu Saudaa’ yang dimaksud adalah Abdullah bin Sabaa’ maka silakan bawakan dalil shahihnya. Silakan berhujjah dengan kritis jangan meloncat sana meloncat sini dalam mengambil kesimpulan. Apalagi dengan atsar seadanya di atas ingin menarik kesimpulan Ibnu Sabaa’ sebagai pendiri Syiah. Sungguh jauh sekali

Matan kedua riwayat Muhammad bin ‘Abbad tersebut juga tidak menjadi hujjah bagi nashibi. Perhatikan apa yang disifatkan kepada Ibnu Saudaa’ dalam riwayat tersebut yaitu ia berdusta atas nama Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada sedikitpun disini qarinah yang menunjukkan kaitan antara Ibnu Saudaa’ dengan Syiah atau aqidah yang ada di sisi Syiah.

.

.

.

أخبرنا أبو البركات الأنماطي أنا أبو طاهر أحمد بن الحسن وأبو الفضل أحمد بن الحسن قالا أنا عبد الملك بن محمد بن عبد الله أنا أبو علي بن الصواف نا محمد بن عثمان بن أبي شيبة نا محمد بن العلاء نا أبو بكر بن عياش عن مجالد عن الشعبي قال أول من كذب عبد الله بن سبأ

Telah mengabarkan kepada kami Abul Barakaat Al Anmaathiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Thaahir Ahmad bin Hasan dan Abu Fadhl Ahmad bin Hasan keduanya berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Malik bin Muhammad bin ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu ‘Aliy bin Shawwaaf yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Utsman bin Abi Syaibah yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al ‘Alla’ yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin ‘Ayyasy dari Mujalid dari Asy Sya’biy yang berkata “orang pertama yang berbuat kedustaan adalah ‘Abdullah bin Sabaa’ [Tarikh Ibnu Asakir 29/7]

Atsar ini sanadnya dhaif. Muhammad bin Utsman bin Abi Syaibah adalah perawi yang diperbincangkan kedudukannya. Shalih Al Jazarah berkata “tsiqat”. Abdaan berkata “tidak ada masalah padanya”. Abdullah bin ‘Ahmad berkata “kadzab” Ibnu Khirasy berkata “pemalsu hadis” [As Siyaar 14/21]. Tuduhan dusta dan pemalsu hadis sebagaimana dikatakan Abdullah bin Ahmad dan Ibnu Khirasy ternyata bersumber dari Ibnu Uqdah seorang yang tidak bisa dijadikan sandaran perkataannya.

Tetapi sebagian ulama lain telah memperbincangkan Muhammad bin Utsman bin Abi Syaibah. Daruquthni berkata “dhaif” [Su’alat Al Hakim no 172]. Al Khaliliy berkata “mereka para ulama mendhaifkannya” [Al Irsyad 2/576]. Baihaqi berkata “tidak kuat” [Sunan Baihaqi 6/174 no 11757]. Adz Dzahabiy sendiri walaupun memujinya dengan sebutan imam hafizh musnad sebagaimana dinyatakan dalam As Siyaar, di kitabnya yang lain Adz Dzahabiy berkata “dhaif” [Tarikh Al Islam 1/25].

Abu Bakar bin ‘Ayyasy juga termasuk perawi yang diperbincangkan. Ahmad terkadang berkata “tsiqat tetapi melakukan kesalahan” dan terkadang berkata “sangat banyak melakukan kesalahan”, Ibnu Ma’in menyatakan tsiqat, Utsman Ad Darimi berkata “termasuk orang yang jujur tetapi laisa bidzaka dalam hadis”. Muhammad bin Abdullah bin Numair mendhaifkannya, Al Ijli menyatakan ia tsiqat tetapi sering salah. Ibnu Sa’ad juga menyatakan ia tsiqat shaduq tetapi banyak melakukan kesalahan, Al Hakim berkata “bukan seorang yang hafizh di sisi para ulama” Al Bazzar juga mengatakan kalau ia bukan seorang yang hafizh. Yaqub bin Syaibah berkata “hadis-hadisnya idhthirab”. As Saji berkata “shaduq tetapi terkadang salah”. [At Tahdzib juz 12 no 151]. Ibnu Hajar berkata “tsiqah, ahli ibadah, berubah hafalannya di usia tua, dan riwayat dari kitabnya shahih” [At Taqrib 2/366]. Ia dikatakan mengalami ikhtilath di akhir umurnya dan tidak diketahui apakah Muhammad bin Al ‘Alla’ meriwayatkan darinya sebelum atau sesudah mengalami ikhtilath. Maka hal ini menjadi illat [cacat] yang menjatuhkan derajat riwayat tersebut.

Riwayat tersebut juga lemah karena Mujalid bin Sa’id Al Hamdaniy ia seorang yang dhaif tetapi bisa dijadikan i’tibar. Ibnu Ma’in berkata “tidak bisa dijadikan hujjah”. Nasa’i berkata “tidak kuat”. Daruquthni berkata “dhaif”. Yahya bin Sa’id mendhaifkannya [Mizan Al I’tidal juz 3 no 7070]. Al Ijliy menyatakan ia hasanul hadis [Ma’rifat Ats Tsiqat no 1685]. Ibnu Hajar berkata “tidak kuat” [At Taqrib 2/159]. Mujallid tidak memiliki penguat dalam riwayat di atas maka kedudukan riwayat tersebut dhaif.

Matan riwayat Asy Sya’biy tersebut juga mungkar karena bagaimana mungkin dikatakan Ibnu Sabaa’ adalah orang pertama yang berbuat kedustaan padahal sebelumnya sudah ada para pendusta yang mengaku sebagai Nabi seperti Musailamah dan pengikutnya. Mustahil dikatakan Asy Sya’biy tidak mengetahui perkara Musailamah.

.

.

.

حَدَّثَنِي أَبُو كُرَيْبٍ مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلاءِ الْهَمْدَانِيُّ ، نا مُحَمَّدُ بْنُ الْحَسَنِ الأَسَدِيُّ ، نا هَارُونُ بْنُ صَالِحٍ الْهَمْدَانِيُّ ، عَنِ الْحَارِثِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ ، عَنْ أَبِي الْجُلاسِ ، قَالَ : سَمِعْتُ عَلِيًّا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، يَقُولُ لِعَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَبَأٍ : ” وَيْلَكَ ، مَا أَفْضَى إِلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا كَتَمَهُ أَحَدًا مِنَ النَّاسِ وَلَقَدْ سَمِعْتُهُ يَقُولُ : إِنَّ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ ثَلاثِينَ كَذَّابًا وَإِنَّكَ لأَحَدُهُمْ؟

Telah menceritakan kepadaku Abu Kuraib Muhammad bin Al ‘Allaa’ Al Hamdaaniy yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Hasan Al Asadiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Haarun bin Shaalih Al Hamdaaniy dari Al Haarits bin ‘Abdurrahman dari Abul Julaas yang berkata aku mendengar Aliy [radiallahu ‘anhu] berkata kepada ‘Abdullah bin Saba’ “celaka engkau, Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak pernah menyampaikan kepadaku sesuatu yang Beliau sembunyikan dari manusia dan sungguh aku telah mendengar Beliau berkata “sesungguhnya sebelum kiamat akan ada tiga puluh pendusta” dan engkau adalah salah satu dari mereka [As Sunnah Abdullah bin Ahmad no 1325]

Abu Ya’la juga membawakan hadis ini dalam Musnad-nya 1/350 no 449 dengan jalan Abu Kuraib di atas. Abu Kuraib memiliki mutaba’ah yaitu Abu Bakar bin Abi Syaibah sebagaimana yang disebutkan Ibnu Abi Ashim dalam As Sunnah no 982 dan Abu Ya’la dalam Musnad-nya 1/350 no 450. Nashibi menyatakan bahwa atsar ini tsabit (kokoh) dan mengutip Al Haitsamiy yang berkata “diriwayatkan Abu Ya’la dan para perawinya tsiqat” [Majma’ Az Zawaid 7/333 no 12486]

Pernyataan nashibi keliru dan menunjukkan kejahilan yang nyata. Atsar ini kedudukannya dhaif jiddan.

  1. Muhammad bin Hasan Al Asadiy ia seorang yang diperbincangkan. Ibnu Hajar berkata “shaduq ada kelemahan padanya” dan dikoreksi dalam Tahrir At Taqrib bahwa ia seorang yang dhaif tetapi bisa dijadikan i’tibar. Ia telah didhaifkan oleh Ibnu Ma’in, Yaqub bin Sufyan, Al Uqailiy, Ibnu Hibban, Abu Ahmad Al Hakim dan As Sajiy. Abu Hatim berkata “syaikh”. Abu Dawud berkata “shalih ditulis hadisnya”. Al Ijliy, Ibnu Adiy dan Daruquthni berkata “tidak ada masalah padanya”. Ditsiqatkan Al Bazzar dan dinukil dari Abu Walid bahwa Ibnu Numair mentsiqatkannya. [Tahrir At Taqrib no 5816]
  2. Haarun bin Shalih Al Hamdaaniy adalah perawi majhul, yang meriwayatkan darinya hanya Muhammad bin Hasan Al Asadiy [Tahrir At Taqrib no 7233]. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [Ats Tsiqat juz 9 no 16198]. Tautsiq Ibnu Hibban tidak memiliki qarinah yang menguatkan.
  3. Harits bin ‘Abdurrahman disebutkan Ibnu Hibban dalam Ats Tsiqat bahwa ia meriwayatkan dari Abu Julaas dan meriwayatkan darinya Harun bin Shalih [Ats Tsiqat Ibnu Hibban juz 6 no 7232]. Tautsiq Ibnu Hibban tidak memiliki qarinah yang menguatkan maka kedudukannya majhul.
  4. Abu Julaas adalah perawi yang majhul sebagaimana disebutkan Ibnu Hajar dan disepakati dalam Tahrir At Taqrib [Tahrir At Taqrib no 8029]

.

.

.

Ibnu Hajar dalam kitab Lisan Al Mizan mengutip salah satu riwayat dari Abu Ishaq Al Fazari, Ibnu Hajar berkata

وقال أبو إسحاق الفزاري عن شعبة عن سلمة بن كهيل عن أبي الزعراء عن زيد بن وهب أن سويد بن غفلة دخل على علي في غمارته فقال إني مررت بنفر يذكرون أبا بكر وعمر يرون أنك تضمر لهما مثل ذلك منهم عبد الله بن سبأ وكان عبد الله أول من أظهر ذلك فقال علي ما لي ولهذا الخبيث الأسود ثم قال معاذ الله أن أضمر لهما إلا الحسن الجميل ثم أرسل إلى عبد الله بن سبأ فسيره إلى المدائن وقال لا يساكنني في بلدة أبدا ثم نهض إلى المنبر حتى اجتمع الناس فذكر القصة في ثنائه عليهما بطوله وفي آخره إلا ولا يبلغني عن أحد يفضلني عليهما إلا جلدته حد المفتري

Abu Ishaaq Al Fazaariy berkata dari Syu’bah dari Salamah bin Kuhail dari Abi Az Za’raa dari Zaid bin Wahb bahwa Suwaid bin Ghaffalah masuk menemui ’Ali [radiallahu ‘anhu] di masa kepemimpinannya. Lantas dia berkata,”Aku melewati sekelompok orang menyebut-nyebut Abu Bakar dan ’Umar. Mereka berpandangan bahwa engkau juga menyembunyikan perasaan seperti itu kepada mereka berdua. Diantara mereka adalah ’Abdullah bin Saba’ dan dialah orang pertama yang menampakkan hal itu”. Lantas ’Ali berkata,”Aku berlindung kepada Allah untuk menyembunyikan sesuatu terhadap mereka berdua kecuali kebaikan”. Kemudian beliau mengirim utusan kepada ’Abdullah bin Saba’ dan mengusirnya ke Al-Madaain. Beliau juga berkata,”Jangan sampai engkau tinggal satu negeri bersamaku selamanya”. Kemudian beliau bangkit menuju mimbar sehingga manusia berkumpul. Lantas beliau menyebutkan kisah secara panjang lebar yang padanya terdapat pujian terhadap mereka berdua [Abu Bakar dan ’Umar], dan akhirnya berliau berkata,”Ketahuilah, jangan pernah sampai kepadaku dari seorangpun yang mengutamakan aku dari mereka berdua melainkan aku akan mencambuknya sebagai hukuman untuk orang yang berbuat dusta. [Lisan Al Mizan juz 3 no 1225]

Nashibi berkata tentang riwayat ini bahwa kedudukannya tsabit. Pernyataan ini keliru, bahkan bisa dikatakan riwayat ini khata’ [salah]. Asal mula riwayat ini adalah apa yang disebutkan Abu Ishaaq Al Fazari dalam kitabnya As Siyar dan Al Khatib dalam Al Kifaayah

أَخْبَرَنَا أَبُو بَكْرٍ أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ غَالِبٍ الْخُوَارَزْمِيُّ قَالَ : ثنا أَبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ حَمْدَانَ النَّيْسَابُورِيُّ بِخُوَارَزْمَ ، قَالَ : أَمْلَى عَلَيْنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْبُوشَنْجِيُّ ، قَالَ : ثنا أَبُو صَالِحٍ الْفَرَّاءُ مَحْبُوبُ بْنُ مُوسَى ، قَالَ : أنا أَبُو إِسْحَاقَ الْفَزَارِيُّ ، قَالَ : ثنا شُعْبَةُ ، عَنْ سَلَمَةَ بْنِ كُهَيْلٍ ، عَنْ أَبِي الزَّعْرَاءِ ، أَوْ عَنْ زَيْدِ بْنِ وَهْبٍ ، أَنَّ سُوَيْدَ بْنَ غَفَلَةَ الْجُعْفِيَّ ، دَخَلَ عَلَى عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، فِي إِمَارَتِهِ ، فَقَالَ : يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ إِنِّي مَرَرْتُ بِنَفَرٍ يَذْكُرُونَ أَبَا بَكْرٍ ، وَعُمَرَ بِغَيْرِ الَّذِي هُمَا لَهُ أَهْلٌ مِنَ الإِسْلامِ ، لأَنَّهُمْ يَرَوْنَ أَنَّكَ تُضْمِرُ لَهُمَا عَلَى مِثْلِ ذَلِكَ ، وَإِنَّهُمْ لَمْ يَجْتَرِئُوا عَلَى ذَلِكَ إِلا وَهُمْ يَرَوْنَ أَنَّ ذَلِكَ مُوَافِقٌ لَكَ ، وَذَكَرَ حَدِيثَ خُطْبَةِ عَلِيٍّ وَكَلامِهِ فِي أَبِي بَكْرٍ ، وَعُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ ، وَقَوْلِهِ فِي آخِرِهِ ” أَلا : وَلَنْ يَبْلُغَنِي عَنْ أَحَدٍ يُفَضِّلُنِي عَلَيْهِمَا إِلا جَلَدْتُهُ حَدَّ الْمُفْتَرِي

Telah mengabarkan kepada kami Abu Bakar Ahmad bin Muhammad bin Ghaalib Al Khawarizmiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu ‘Abbas Muhammad bin Ahmad bin Hamdaan An Naisaburiy di Khawarizm yang berkata imla’ kepada kami Abu ‘Abdullah Muhammad bin Ibrahiim Al Buusyanjiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Shalih Al Farra Mahbuub bin Muusa yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Ishaaq Al Fazariy yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Salamah bin Kuhail dari Abi Az Za’raa’ atau dari Zaid bin Wahb bahwa Suwaid bin Ghafallah Al Ju’fiy menemui Ali bin Abi Thalib [radiallahu ‘anhu] pada masa kepemimpinannya dan berkata “wahai amirul mukminin aku melewati sekelompok orang yang menyebut-nyebut Abu Bakar dan Umar sesuatu dalam islam yang tidak ada pada diri mereka. Mereka berpandangan bahwa engkau juga menyembunyikan perasaan seperti itu kepada mereka berdua dan bahwa mereka tidaklah menyatakan hal itu kecuali mereka berpandangan bahwa hal itu diakui olehmu kemudian disebutkan hadis khutbah Ali yang berbicara tentang Abu Bakar dan Umar akhirnya berkata,”Ketahuilah, jangan pernah sampai kepadaku dari seorangpun yang mengutamakan aku dari mereka berdua melainkan aku akan mencambuknya sebagai hukuman untuk orang yang berbuat dusta [Al Kifaayah Al Khatib 3/333 no 1185]

Riwayat dengan matan yang sama di atas juga disebutkan Abu Ishaaq Al Fazari dalam kitabnya As Siyar hal 327 no 647. Kalau kita membandingkan riwayat Abu Ishaaq Al Fazaariy ini dengan apa yang dinukil oleh Ibnu Hajar maka terdapat kesalahan penukilan yang dilakukan Ibnu Hajar.

  1. Kesalahan pada sanad yaitu Ibnu Hajar menuliskan dari Abu Ishaq dari Syu’bah dari Salamah dari Abu Az Za’raa’ dari Zaid bin Wahb dari Suwaid. Sedangkan riwayat Abu Ishaq sebenarnya adalah dari Syu’bah dari Salamah dari Abu Az Za’raa’ atau dari Zaid bin Wahb dari Suwaid.
  2. Kesalahan pada matan yaitu Ibnu Hajar menuliskan lafaz bahwa diantara mereka ada Ibnu Sabaa’ dan dialah yang pertama kali menampakkan hal itu sehingga Ali [radiallahu ‘anhu] mengusirnya ke Mada’in. Sedangkan riwayat Abu Ishaq sebenarnya tidak ada keterangan tentang Abdullah bin Saba’.

Maka riwayat Abu Ishaaq Al Fazaariy tidak bisa dijadikan hujjah untuk membuktikan khayalan nashibi tentang ‘Abdullah bin Sabaa’. Ada baiknya mereka mengais-ngais riwayat lain karena sepertinya mereka sudah kehabisan hujjah riwayat.

Riwayat Abu Ishaq Al Fazaariy di atas mengandung lafaz syaak [ragu] yaitu Salamah bin Kuhail berkata dari Abi Az Za’raa’ atau dari Zaid bin Wahb. Zaid bin Wahb adalah seorang yang tsiqat dan Abu Az Za’raa’ Abdullah bin Haani’ Al Kuufiy adalah perawi yang dhaif tetapi bisa dijadikan i’tibar. Al Ijli dan Ibnu Sa’ad menyatakan ia tsiqat. Tetapi Al Bukhari berkata “tidak memiliki mutaba’ah dalam hadisnya”. Al Uqailiy memasukkannya dalam Adh Dhu’afa. Dan tidak meriwayatkan darinya kecuali Salamah bin Kuhail [Tahrir At Taqrib no 3677]. Adz Dzahabi memasukkannya dalam Diwan Adh Dhu’afa no 2337.

Jika kedua orang ini adalah perawi yang tsiqat maka lafaz syaak seperti itu tidaklah menjatuhkan kedudukan hadisnya tetapi jika salah satu dari kedua perawi itu dhaif maka ini menjadi illat [cacat] bagi riwayat tersebut. Apakah riwayat tersebut berasal dari perawi yang tsiqat ataukah dari perawi yang dhaif?. Bisa saja riwayat tersebut sebenarnya berasal dari perawi yang dhaif.

.

.

.

Kesimpulan dari pembahasan di atas adalah riwayat-riwayat tentang Abdullah bin Sabaa’ yang diriwayatkan melalui jalur selain Saif bin Umar ternyata sanadnya juga tidak shahih. Jikapun ada yang hasan riwayatnya maka penunjukkannya tidak jelas sebab yang tertera dalam riwayat tersebut adalah Ibnu Saudaa’ dan tidak ada bukti shahih bahwa Ibnu Saudaa’ yang dimaksud adalah ‘Abdullah bin Saba’. Ibnu Saudaa’ berarti anak budak hitam. Jadi riwayat tersebut hanya menunjukkan bahwa di masa Imam Ali terdapat anak budak hitam yang berdusta atas nama Allah SWT dan Rasul-Nya

Sebagian orang melebih-lebihkan dan mengada-ada tanpa dalil shahih bahwa Ibnu Saudaa’ yang dimaksud adalah ‘Abdullah bin Saba’. Kemudian mereka dengan nafsu kejinya menambah-nambahkan lagi bahwa ‘Abdullah bin Sabaa’ adalah pendiri Syiah menyebarkan keyakinan Imamah Ali bin Abi Thalib, menyebarkan akidah raja’ dan bada’, mencela Abu Bakar dan Umar. Padahal mereka tidak mampu membawakan satu dalil shahihpun yang menguatkan hujjah mereka.

Analogi yang pas untuk dongeng ‘Abdullah bin Sabaa’ seperti kisah berikut ada seorang yang dikenal pendusta di sebuah dusun dalam suatu negri. Kemudian negri tersebut terjatuh dalam kekacauan karena ulah pemimpinnya yang korup. Seiring dengan waktu terdapat orang-orang yang punya kepentingan melindungi aib sang pemimpin sehingga menyebarkan syubhat dengan mencatut nama si pendusta dari dusun kecil sebagai penyebab kekacauan negri tersebut. Kemudian para ahli sejarah yang kritis menelaah dan membuktikan bahwa sebenarnya si pendusta ini adalah tokoh fiktif yang dijadikan tameng untuk melindungi aib sang pemimpin. Para ahli lain yang dibayar oleh pihak yang berkepentingan berhasil membuktikan bahwa pendusta yang dimaksud memang ada dan tinggal di dusun tersebut jadi ia tidaklah fiktif maka kaum bayaran itu berbangga hati berhasil membuktikan bahwa ahli sejarah tersebut keliru.

Padahal orang yang punya akal pikiran dan waras pemahamannya akan berkata membuktikan adanya si pendusta bukan berarti membuktikan bahwa si pendusta itu yang mengacaukan negri tersebut. Itu adalah dua hal berbeda yang masing-masing memerlukan pembuktian. Nah begitulah, membuktikan adanya ‘Abdullah bin Sabaa’ bukan menjadi bukti bahwa ‘Abdullah bin Sabaa’ adalah pendiri Syiah. Itu adalah dua hal berbeda yang masing-masing  membutuhkan pembuktian. Apakah para nashibi itu mengerti? Jawabannya tidak, mereka adalah orang-orang yang lemah akalnya hampir-hampir tidak mengerti pembicaraan dan suka mencela untuk mengacaukan persatuan umat.

.

.

.

Nashibi yang kehabisan akal akhirnya kembali mengandalkan Saif bin Umar At Tamimiy. Hanya saja mereka sedikit melakukan akrobat dengan mengatakan Saif memang dhaif dalam hadis tetapi menjadi pegangan dalam sejarah. Dan riwayat tentang Ibnu Sabaa’ termasuk sejarah bukan hadis. Diantaranya mereka mengutip perkataan Ibnu Hajar tentang Saif “dhaif dalam hadis dan pegangan dalam tarikh” [At Taqrib 1/408].

Pembelaan ini tidak bernilai bahkan bisa dibilang inkonsisten. Kalau memang para ulama menjadikan Saif bin Umar sebagai pegangan dalam tarikh maka mengapa banyak para ulama yang melemahkan riwayat Saif bin Umar tentang tarikh ketika Saif menceritakan aib para sahabat Nabi misalnya Utsman bin ‘Affan. Jika untuk menuduh Syiah, Saif bin Umar dijadikan pegangan tetapi jika Saif menyatakan aib sahabat ia dicela habis-habisan. Bukankah ini gaya berhujjah model hipokrit aka munafik.

Saif bin Umar adalah seorang yang dhaif matruk bahkan dikatakan pemalsu hadis. Hal ini menunjukkan bahwa ia seorang pendusta yang tidak segan-segan untuk memalsukan hadis atas nama Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Kalau untuk hadis saja ia berani berdusta maka apalagi tarikh yang kedudukannya lebih rendah dari hadis.

Ibnu Hajar sendiri yang dijadikan hujjah oleh nashibi ternyata di tempat lain menolak riwayat Saif bin Umar. Ia berkata “kemudian dikeluarkan dari jalan Saif bin Umar dalam kitab Al Futhuh kisah panjang yang tidak shahih sanadnya” bahkan Ibnu Hajar mengatakan kabar-kabar tentang Abdullah bin Saba’ dalam kitab tarikh tidak satupun bernilai riwayat [Lisan Al Mizan juz 3 no 1225].

Maka sangat terlihat betapa rendah akal para nashibi dalam berhujjah. Mereka tidak bisa menggunakan akal mereka dengan benar. Hawa nafsu telah menuntun mereka dalam kontradiksi yang nyata. Demi melancarkan tuduhan terhadap Syiah mereka rela menghalalkan apa saja bahkan rela merendahkan akal mereka sendiri.

.

.

Bukankah para ulama Sunniy telah banyak mengutip biografi ‘Abdullah bin Saba’ dan menyatakan bahwa ia pendiri Syiah?. Memang tetapi perlu diingat bahwa para ulama ketika menuliskan biografi terkadang mencampuradukkan riwayat yang shahih dan dhaif atau bahkan ada yang hanya bersandar pada riwayat dhaif. Jadi apa yang mereka tulis bukanlah hujjah shahih jika ternyata hanya bersandar pada riwayat dhaif atau tidak didukung oleh riwayat yang shahih.

Akibatnya jika kita meneliti dengan baik banyak perkataan para ulama yang bertentangan satu sama lain tentang ‘Abdullah bin Sabaa’. Misalnya ada yang mengatakan bahwa ia dibakar Imam Ali tetapi ada yang menyatakan ia diusir Imam Ali ke Mada’in. Ada yang mengatakan bahwa ia disebut juga Ibn Saudaa’ tetapi ada yang menyatakan ia bukan Ibnu Saudaa’ atau menyatakan ia sebenarnya adalah Abdullah bin Wahb Ar Rasibiy pemimpin khawarij. Jadi tidak ada gunanya kalau berhujjah dengan model “katanya” buktikan hujjah dengan riwayat shahih, itulah kaidah ilmiah.

.

.

.
Tinjauan Riwayat Abdullah bin Sabaa’ Dalam Kitab Syiah

Nashibi dalam menegakkan hujjah tuduhan dan celaan mereka bahwa ‘Abdullah bin Sabaa’ pendiri Syiah, mereka juga mengutip berbagai riwayat Syiah dan nukilan Ulama syiah yang mengakui keberadaan ‘Abdullah bin Sabaa’. Secara pribadi kami tidak memiliki kompetensi untuk meneliti kitab-kitab Syiah jadi pembahasan bagian ini merujuk pada tulisan-tulisan sebagian pengikut Syiah.

Berulang kali kami katakan bahwa kami bukan penganut Syiah dan tulisan ini hanya ingin menunjukkan pada orang awam bahwa syubhat salafy nashibi yang mencela Syiah adalah tidak berdasar dan dusta. Kami pribadi mengakui Syiah sebagai salah satu mazhab dalam Islam. Berbagai perbedaan antara Sunni dan Syiah tidak membuat salah satu layak untuk mengkafirkan yang lainnya. Kami mengajak kepada para pembaca untuk bersikap adil tanpa dipengaruhi mazhab manapun, kami tidak pula mengajak para pembaca agar menjadi penganut Syiah atau penganut Sunni. Apapun mazhab Islam yang dianut, hendaknya kita menjaga persatuan, saling menghormati dan menjaga kerukunan sesama muslim.

Telah kami bahas sepintas sebelumnya bahwa di sisi Syiah terkait dengan ‘Abdullah bin Sabaa’ terbagi menjadi dua pendapat

  1. Pendapat yang menganggap ‘Abdullah bin Sabaa’ sebagai tokoh fiktif. Pendapat ini dipopulerkan oleh ulama syiah kontemporer dan diikuti oleh sebagian yang lain.
  2. Pendapat yang mengakui keberadaan ‘Abdullah bin Sabaa’ dan menyatakan bahwa ia seorang yang ghuluw ekstrim bahkan jatuh dalam kekafiran. Hal ini diakui oleh ulama syiah terdahulu dalam kitab-kitab mereka.

Walaupun begitu kedua pendapat ini sepakat menolak tuduhan nashibi ‘Abdullah bin Sabaa’ sebagai pendiri Syiah. Ada yang menolak dengan memfiktifkan tokoh tersebut dan ada yang menolak dengan membawakan riwayat shahih bahwa ‘Abdullah bin Sabaa’ seorang yang dilaknat oleh Imam Ahlul Bait karena mendakwakan ketuhanan Ali [radiallahu ‘anhu]

عن أبان بن عثمان قال سمعت أبا عبد الله يقول لعن الله عبد الله بن سبإ إنه ادعى الربوبية في أمير المؤمنين و كان و الله أمير المؤمنين عبدا لله طائعا الويل لمن كذب علينا و إن قوما يقولون فينا ما لا نقوله في أنفسنا نبرأ إلى الله منهم نبرأ إلى الله منهم

Dari ‘Aban bin Utsman yang berkata aku mendengar Abu ‘Abdillah mengatakan Allah melaknat ‘Abdullah bin Saba’. Sesungguhnya ia mendakwakan Rububiyyah [ketuhanan] kepada Amiirul Mukminiin [Imam Ali], sedangkan Amiirul Mukminiin demi Allah hanyalah seorang hamba yang mentaati Allah. Neraka Wail adalah balasan bagi siapa saja yang berdusta atas nama kami. Sesungguhnya telah ada satu kaum berkata-kata tentang kami sesuatu yang kami tidak mengatakannya. Kami berlepas diri kepada Allah atas apa yang mereka katakan itu, kami berlepas diri kepada Allah atas apa yang mereka katakan itu [Rijal Al Kasysyiy hal 107 no 172]

Riwayat-riwayat semisal inilah yang dikutip oleh para nashibi dan disisi kelimuan Syiah riwayat Al Kasysyiy di atas shahih. Tetapi shahih-nya riwayat di atas tidak menjadi bukti akan kebenaran tuduhan nashibi bahwa ‘Abdullah bin Sabaa’ pendiri Syiah. Riwayat yang shahih di sisi Syiah menunjukkan bahwa ‘Abdullah bin Sabaa’ adalah seorang kafir yang dilaknat yang mendakwakan ketuhanan Ali [radiallahu ‘anhu]. Tentu saja di sisi Syiah tidak ada sedikitpun ajaran yang menuhankan Imam Ali. Syiah berlepas diri dari ‘Abdullah bin Saba’ dan tidak jarang ulama syiah mensifatkan ‘Abdullah bin Sabaa’ dengan kekafiran dan ghuluw ekstrim.

Dengan berpikir secara rasional sungguh sangat tidak mungkin jika ‘Abdullah bin Sabaa’ dikatakan pendiri Syiah karena di dalam kitab Syiah sendiri ia dikenal sebagai seorang ghuluw ekstrim bahkan kafir. Dan tidak ada satupun riwayat shahih dalam kitab Syiah bahwa ada salah satu ajaran Syiah yang bermula atau diambil dari ‘Abdullah bin Sabaa’. Para pengikut Syiah mengambil ajaran mereka dari para Imam Ahlul Bait dan Imam Ahlul Bait sendiri ternyata melaknat ‘Abdullah bin Sabaa’. Anehnya para nashibi tidak mampu berpikir secara rasional, mereka mengutip sesuka hati melompat-lompat dalam menarik kesimpulan, menegakkan waham di atas waham.

Seperti halnya para ulama sunni, ulama syiah juga mengalami kesimpangsiuran dalam kabar yang terkait Abdullah bin Sabaa’.

  1. At Thuusiy berkata bahwa Abdullah bin Sabaa’ kufur dan ghuluw [Rijal Ath Thuusiy hal 80]
  2. Al Hilliy berkata Abdullah bin Sabaa’ ghuluw terlaknat, ia menganggap Aliy Tuhan dan dirinya adalah Nabi [Rijal Al Hilliy hal 237]
  3. Al Mamqaniy berkata “Abdullah bin Sabaa’ dikembalikan padanya kekafiran dan ghuluw yang nyata” ia juga berkata “Abdullah bin Sabaa’ ghuluw terlaknat, Imam Ali membakarnya dengan api, ia mengatakan Ali adalah Tuhan dan ia sendiri adalah Nabi [Tanqiihul Maqaal Fii Ilm Rijaal 2/183-184]. Kami menukil ini dari situs nashibi dan sebagian pengikut syiah berkata bahwa ini bukan perkataan Al Mamqaniy tetapi perkataan Ath Thuusiy dan Al Hilliy sebelumnya.
  4. Sayyid Ni’matullah Al Jaza’iriy berkata bahwa Abdullah bin Sabaa’ mengatakan Ali adalah Tuhan sehingga Imam Ali mengasingkannya di Mada’in [Anwaar An Nu’maniyah 2/234]
  5. An Naubakhtiy berkata bahwa dihikayatkan oleh sekelompok ahli ilmu bahwa Abdullah bin Sabaa’ adalah yahudi yang masuk islam dan menunjukkan loyalitas pada Imam Ali, dan ia yang pertama kali menyatakan Imamah Ali [radiallahu ‘anhu] [Firaq Asy Syiiah hal 32-44]
  6. Sa’d bin ‘Abdullah Al Qummiy menyatakan bahwa kelompok Saba’iyyah adalah pengikut ‘Abdullah bin Sabaa’ ia adalah Abdullah bin Wahb Ar Raasibiy Al Hamdaniy. Dia adalah orang yang pertama kali menampakkan celaan pada Abu Bakar, Umar, Utsman dan sahabat lainnya serta berlepas diri dari mereka [Al Maqaalaat Wal Firaq hal 20]. Dikenal dalam sejarah bahwa Abdullah bin Wahb Ar Raasibiy adalah pemimpin kaum khawarij dan ia disebutkan terbunuh di Nahrawan

Nampak kabar yang simpang siur jika kita memperhatikan perkataan para ulama syiah tersebut. Ada yang mengatakan ia dibakar dengan api, ada yang mengatakan ia diasingkan ke Mada’in. Ada yang mengatakan ia yahudi yang masuk islam, ada yang mengatakan ia Abdullah bin Wahb pimpinan kaum khawarij. Simpang siur ini terjadi karena ulama syiah kebanyakan hanya menukil dan mencampuradukkan antara riwayat yang shahih dengan riwayat dhaif. [sama seperti ulama Sunniy]

Satu-satunya keterangan yang disampaikan dari riwayat Syiah yang shahih perihal Abdullah bin Sabaa’ adalah bahwa ia ghuluw terlaknat meyakini ketuhanan Imam Ali. Tidak benar jika dikatakan bahwa ‘Abdullah bin Sabaa’ yang pertama kali menyatakan imamah Ali [radiallahu ‘anhu] karena tidak ternukil dalam riwayat yang shahih di sisi Syiah.

Perkataan atau nukilan dari Naubakhtiy bahwa sekelompok ahli ilmu menyatakan Abdullah bin Sabaa’ yang pertama menyatakan Imamah Ali [radiallahu ‘anhu] adalah tidak berdasar dan tidak ada riwayat shahih di sisi Syiah yang mengatakannya bahkan tidak dikenal siapa saja ahli ilmu yang menyatakan demikian. Justru banyak ahli ilmu [di sisi Syiah] yang menyatakan ‘Abdullah bin Sabaa’ ghuluw kafir terlaknat.

.

.

.

Apa yang dapat disimpulkan dari pembahasan sejauh ini tentang ‘Abdullah bin Sabaa’?. Kita akan merincikan hal ini dalam kedua bagian yaitu keberadaan ‘Abdullah bin Sabaa’ dan Peran ‘Abdullah bin Sabaa’

Keberadaan Abdullah bin Sabaa’

  1. Tidak ada riwayat shahih di sisi Sunniy yang menyatakan keberadaan ‘Abdullah bin Sabaa’. Riwayat yang dijadikan hujjah nashibi telah dikemukakan illat [cacatnya]. Ada riwayat yang hasan [jika selamat dari illat] bahwa ada seorang yang dicela Imam Ali karena berdusta atas nama Allah SWT yaitu Ibnu Saudaa’ dan tidak ada bukti shahih bahwa ia adalah ‘Abdullah bin Sabaa’
  2. Ada riwayat shahih di sisi Syiah yang menyatakan keberadaan ‘Abdullah bin Sabaa’ bahwa ia ghuluw jatuh dalam kekafiran dan menyebarkan paham ketuhanan Ali [radiallahu ‘anhu]

Peran Abdullah bin Sabaa’

  1. Tidak ada riwayat shahih di sisi Sunniy dan di sisi Syiah yang menyatakan bahwa Abdullah bin Sabaa’ adalah orang yang pertama kali mengenalkan konsep Imamah Ali [radiallahu ‘anhu], celaan terhadap sahabat Abu Bakar dan Umar, konsep rajaa’ dan bada’, dan perannya dalam pembunuhan khalifah Utsman.
  2. Ternukil riwayat-riwayat dhaif baik di sisi Sunni dan di sisi Syiah yang menyatakan peran ‘Abdullah bin Sabaa’ misalnya riwayat Saif bin Umar bahwa Abdullah bin Sabaa’ mengenalkan konsep Imamah Ali dan perannya dalam pembunuhan khalifah Utsman. Begitu juga ternukil tanpa sanad riwayat syiah seperti yang dinukil An Naubakhtiy dan nukilan ulama yang diklaim menyatakan Abdullah bin Sabaa’ yang pertama mengenalkan konsep Imamah Aliy dan mencela Abu Bakar dan Umar. Nukilan ini tidak valid alias tidak terbukti siapa ahli ilmu di sisi Syiah yang menyatakannya dan riwayat tanpa sanad jelas dhaif kedudukannya.
  3. Sebagian ulama Sunni dan ada juga ulama Syiah yang menukil dalam kitab mereka peran ‘Abdullah bin Sabaa’ misalnya anggapan bahwa ia yahudi, mencela Abu Bakar dan Umar, terlibat pembunuhan Utsman, pertama kali mengenalkan Imamah Ali dan sebagainya. Nukilan mereka tidak bisa dijadikan hujjah karena tidak berlandaskan pada riwayat shahih atau mencampuradukkan antara yang shahih dan dhaif. Dalam perkara ini yang menjadi hujjah adalah bukti riwayat shahih bukan nukilan ulama yang terkadang berasal dari riwayat dhaif.

Penelitian yang baik dan ilmiah tentang Abdullah bin Sabaa’ akan menghasilkan kesimpulan bahwa Nashibi telah berdusta atas tuduhan Abdullah bin Sabaa’ pendiri Syiah. Salam Damai

Kebohongan Sunni terungkap karena banyak hadis hadis dalam kitab hadis Sunni yang saling bertentangan ?? Apakah masuk akal Nabi SAW mengucapkan sabda sabda yang saling saling berlawanan ???


Hadis merupakan sumber sunnah Nabi SAW yang menjadi rujukan kedua dalam kajian hukum Islam setelah al-Qur’an al-Karim. Oleh karena itu, kedudukan hadis sangat signifikan dan urgen dalam Islam. Hanya saja urgensi dan signifikansi hadis tidak mempunyai makna, manakala eksistensinya tidak didukung oleh uji kualifikasi histories yang memadai dalam proses transmisinya (periwayatan)
.
Dengan demikian, sebelum hadis itu menjadi sunnah yang merupakan sumber dan landasan suatu istinbat hukum, maka uji kualifikasi histories untuk menentukan otentik tidaknya hadis tersebut merupakan hal yang niscaya dilakukan.
Kajian terhadap periwayatan hadis untuk menentukan otentik-tidaknya sudah banyak dilakukan oleh para ahli baik klasik maupun kontemporer. Dan kajian ini tidak saja dilakukan oleh para pemikir muslim (insider) sendiri akan tetapi juga oleh para orientalis yang nota bene non-muslim (outsider). Para pengkaji hadis dari kalangan muslim yang cukup kritis
.

Syaikh Abul A’la Maududi menyatakan bahwa : “Tidak seorangpun bisa mendakwakan bahwa seluruh hadis Bukhari adalah shahih”

Pihak sunni tidak banyak memperhatikan faktor faktor politik yang mendorong terjadinya pemalsuan hadis. Akibatnya mereka tidak merasa ragu sedikitpun terhadap beberapa hadis, meskipun isinya jelas memberikan dukungan politik terhadap Daulat Amawiyah dan Daulat Abasiyah. Pihak Sunni tidak mampu membedakan mana hadis yang orisinil dengan hadis yang batil

Pihak sunni tidak banyak melakukan kajian mendalam terhadap kondisi sosial yang melingkupi para periwayat atau keadaan pribadinya ataupun hal hal yang mendorongnya melakukan pemalsuan hadis. Seandainya pihak sunni banyak melakukan studi kritik matan dan tidak semata terpaku pada kritik sanad maka pasti Sunni akan menemukan banyak hadis yang sebenarnya palsu

Sunni tidak melakukan studi komprehensif terhadap situasi sosial politik masa itu. Hadis hadis sunni yang saling bertolak belakang membuktikan adanya pemalsuan terorganisir dengan menisbatkan kepada Nabi SAW apa apa yang sebenarnya tidak layak dan tidak sesuai dengan situasi dan kondisi saat itu atau realitas sejarah yang terkadang bertolak belakang

Sunni merupakan kelompok oposisi penentang ahlulbait semenjak pertemuan Bani Tsaqifah yang berupaya menyingkirkan Ahlulbait dari kursi pemerintahan (kekhalifahan) serta mengisolasi mereka dari pentas kehidupan saat itu. Dengan kata lain kemunculan kelompok Sunni merupakan reaksi terhadap syi’ah yang memihak dan membela kepentingan ahlulbait

Pendukung pendukung Ali AS adalah orang orang ANSHAR dan MUHAJiRiN yang telah Allah SWT sebutkan dalam Al Quran serta Allah utamakan mereka atas sahabat sahabat lainnya. Mereka bersedia mengorbankan darahnya demi untuk membela kebenaran yang menyertai Ali. Sedangkan pendukung Mu’awiyah kebanyakan dari orang orang munafik dan musuh musuh Rasul SAW.

Syi’ah atau Sunni YANG SESAT ??? Syi’ah mengikuti sunnah Nabi SAW yang diwariskan melalui para imam ahlulbait SAW, sedangkan Sunni meninggalkan fikih ahlulbait lalu memilih mengikuti mazhab yang tidak pernah Allah SWT syari’atkan seperti Asy’ari dan Syafi’i  yang selalu penuh dengan kontradiksi

Walaupun ahlulbait sebagai keturunan Nabi SAW lebih paham tentang perilaku Nabi SAW dan tidak ada seorang pun yang dapat melebihi mereka dalam ilmu dan amal karena selama lebih dari tiga abad mereka saling waris mewarisi ilmu dan amal melalui para imam 12, namun pihak sunni tetap saja beribadah menurut mazhab empat yang baru muncul pada abad ke II H yang selalu penuh dengan kontradiksi kontradiksi didalamnya disamping selalu mengembangkan sikap permusuhan dan peperangan pada setiap orang yang mengikuti ahli bait Nabi SAW

Kami (syi’ah) tidak pernah memaksa pihak Sunni untuk merubah pandangannya, mereka bebas untuk merubah pandangannya, mereka bebas untuk memilih keyakinannya sebab mereka sendiri nanti yang akan mempertanggung-jawabkan semuanya dihadapan Allah SWT

Jumlah hadis yang disandarkan pada Nabi SAW pada masa thaghut Umayyah dan thaghut Abbasiyah bertambah banyak, sehingga keadaan nya bertambah sulit membedakan mana hadis yang orisinil dan mana hadis yang dibuat buat. Diriwayatkan bahwa Imam Bukhari mengumpulkan 600 ribu hadis, tetapi setelah mengadakan seleksi maka yang dianggapnya hadis orisinil hanya 6000 an (dengan pengulangan) yaitu hanya 1%. Wow !!!

Setiap hadis yang dihimpun BUKHARI tidak semuanya bersifat AL MUTAWATiRAT. Banyak pula diantaranya yang bersifat Al AHAAD  yakni cuma diterima BUKHARi dari satu orang saja, dan pihak yang menyampaikan hadis itu  kepada Bukhari menyebut nama tokoh tokoh utama sebagai jalur (sanad) hadis tersebut dan berakhir pada sahabat Nabi SAW

Imam Bukhari yang wafat pada tahun 257 H (870 M) tidak pernah berjumpa dengan tokoh tokoh utama tersebut  karena satu persatunya sudah meninggal dunia menjelang masa Imam Bukhari. Sehingga perlu peninjauan dan penilaian kembali atas sesuatu hadis yang dinyatakan shahih oleh BUKHARi, apakah Bukhari sudah terbebas dar kesalahan ???

Isi satu persatu hadis sunni terdapat diantaranya PERTENTANGAN. Padahal tidak masuk akal bahwa Nabi SAW akan mengucapkan  sabda sabda yang saling berlawanan. Kenapa ada hadis hadis sunni yang keorisinilan nya tidak disepakati syi’ah ???

Para peneliti hadis pasti akan menemukan banyak hadis hadis yang disandarkan pada Nabi tetapi pada hakekatnya tidak lain adalah bid’ah yang dibuat oleh sebagian sahabat setelah meninggalnya Rasul disertai upaya pemaksaan pada umat untuk melaksanakannya sehingga ulama sunni kemudian meyakini bahwa itu semua dilakukan oleh Nabi SAW

Tidak heran kalau kemudian hadis hadis bid’ah tersebut bertentangan dengan AL QURAN, apakah Sunnah PALSU dapat menghapus Al Quran ??.. Terlebih lagi Abubakar dan Umar secara terang terangan mengingkari hadis Rasul dengan membakar semua catatan hadis yang ada, akibatnya malapetaka lah yang terjadi kini….

Ketika perbedaan perbedaan itu terjadi dalam empat mazhab fikih sunni maka mereka malah diam saja dan menganggapnya sebagai rahmat karena BEDA PADA FURU’ dan  bukan pada USHUL. Sebaliknya pihak Sunni mencaci maki syi’ah jika mereka berbeda pendapat dalam suatu permasalahan sehingga perbedaan menjadi laknat untuk syi’ah

Lucunya mereka pun hanya mengakui pendapat pendapat Imam mereka saja, walaupun Imam Imam tersebut tidak akan pernah menyamai Imam imam yang suci dalam ilmu, amal dan keutamaan. Tidak heran kalau pihak Sunni kemudian juga menolak hadis hadis yang diriwayatkan para imam Ahlulbait walaupun hadis hadis tersebut shahih… Sekarang renungkanlah pembaca, sikap fanatik buta dari pihak Sunni yang menuduh para perawi hadis dari Imam Imam Ahlulbait sebagai orang orang zindiq.

Contoh :

Nikah mut’ah yang secara jelas telah dihalalkan  oleh Al Quran dan Sunnah Nabi SAW. Akan tetapi pihak Sunni  demi membela ijtihad UMAR yang mengharamkannya menyusun berbagai hadis palsu yang disandarkan pada Nabi SAW dan Imam Ali. Padahal kitab kitab hadis sunni mencatat bahwa PARA SAHABAT mengerjakannya pada zaman Rasul SAW, Abubakar dan Umar hingga Umar mengharamkannya

Hadis hadis sunni yang menghalalkan dan mengharamkan  Nikah MUT’AH sama sama kuat dan sama sama shahih dar segi kekuatan sanad dan matannya, sehingga tidak bisa menjatuhkan satu sama lain. Riwayat riwayat yang di utarakan sunni bertentangan satu sama lain sehingga tidak dapat disatukan. Kenapa hadis hadis yang mengandung kontradiksi  ini terjadi ??

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Muhammad bin Al Hanafiyah :  Sesungguhnya Ali berkata pada Ibnu Abbas : ”Sesungguhnya Rasulullah SAW melarang nikah mut’ah dan memakan daging keledai pada hari khaibar”

Hadis hadis sunni yang menerangkan penghapusan NiKAH MUT’AH (apalagi yang mencatut nama Imam Ali seperti diatas )  tidak  dapat dijadikan HUJJAH  karena hadis hadisnya diriwayatkan oleh perorangan (ahad baik dari kalangan sahabat atau tabi’in) seperti ; Salamah bin Akwa’, Sabrah bin Ma’bad, Abu Hurairah dll yang jumlahnya tidak lebih dari 6 orang

Bagaimana pun juga seluruh ulama sepakat bahwa riwayat perorangan tidak dapat dijadikan sebagai penghapus hukum atau hadis yang mutawatir

Selain itu kita harus meneliti sanadnya, sebab dalam riwayat itu ada perawi yang pelupa yang selalu mengubah atau mengganti apa yang ia riwayatkan.

Jika hadis diatas shahih maka tidak mungkin Umar tidak mengetahuinya, buktinya adalah Umar mengatakan bahwa nikah itu pernah ada pada zaman Rasul dan sekarang saya mengharamkannya dan akan mendera orang yang melakukannya

Fakta sejarah membuktikan bahwa ketika menjadi khalifah pasca Usman, Imam Ali AS pernah melakukan nikah mut’ah dengan seorang wanita dari Bani Nasyhal di Kota Kufah.

Firman Allah SWT : “Maka hendaklah orang orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih” (Qs. An Nuur ayat 63)

Firman Allah SWT : “Dan tidaklah patut bagi laki laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukminah, apabila Allah dan Rasul Nya telah menetapkan suatu ketetapan akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul Nya, maka sungguhlah dia telah sesat dengan kesesatan yang nya” (Qs. Al Ahzab ayat 36)

Firman Allah SWT : “Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatannya itu dan Kami masukkan ia kedalam Jahannam, dan Jahannam itu

Dan harus diakui Mu’awiyah berhasil mencapai keberhasilan yang luar biasa dalam menyesatkan umat hingga mereka meyakini bahwa golongannya adalah “AHLUSUNNAH” sementara pengikut pengikut Ali adalah golongan sesat yang telah keluar dari Islam.

Kepentingan politik saat itu tidak memihak ahlulbait Rasul SAW. Mulai dari kekhalifahan  Abubakar hingga puncaknya pada masa Mu’awiyah dan Bani Umayyah. Tidak heran kalau saat itu sesuatu yang salah menjadi benar dan sebaliknya yang benar menjadi salah. Jadilah pengikut Imam Ali sebagai orang orang zindik yang halal darah dan kehormatannya, sementara musuh musuh Allah dan ahlulbait sebagai AHLUSUNNAH

Kalau terhadap Imam Ali saja mereka ( Mu’awiyah cs ) berani mengutuk dan mencaci maki, maka dapat kita bayangkan bagaimana perlakuan yang akan diterima oleh pengikut pengikut Imam Ali yang kebanyakan menemui kematian.

Sosok Mu’awiyah adalah sosok politikus ulung yang licik, kejam dan munafik yang tidak jarang menangis tersedu sedu untuk menarik simpati umat serta menumbuhkan citra bahwa dirinya adalah seorang khalifah yang zuhud dan baik hati.

Abu Zahrah menyatakan : “Pemerintah Bani Umayyah banyak menyembunyikan fatwa fatwa hukum dari Ali. Tidak mungkin mereka yang mengutuk dan mencaci Ali mau meriwayatkan fatwa fatwa hukumnya terutama yang berkaitan dengan dasar dasar hukum Islam” (Sumber : Abu Zahrah, Al Imam Al Shadiq, halaman 161)

Mazhab Sunni meyakini bahwa PERKATAAN DAN PERBUATAN SAHABAT merupakan sunnah yang dapat diamalkan dan tidak mungkin bertentangan dengan Sunnah Nabi SAW walaupun adakalanya perbuatan mereka tersebut tidak lain hanyalah  hasil ijtihad yang disandarkan pada Rasul SAW

Tampaknya pihak sunni tidak mencocokkan hadis hadis para Sahabat dengan AL QURAN, mereka khawatir terbongkar nya pemalsuan pemalsuan hadis yang selama ini mereka lakukan. Mereka sadar bahwa kalau hadis hadis tersebut jika dicocokkan dengan Al Quran  maka banyak yang akan bertentangan, sementara yang sesuai dengan AL QURAN tafsirkan berdasarkan pemahaman mereka sendiri, misal : 12 khalifah Quraisy yang Nabi SAW maksudkan adalah para imam ahlulbait yang suci setelah Nabi SAW wafat, bukan orang orang zalim seperti Mu’awiyah

Imam Ali AS  merupakan satu satunya sahabat yang ketika menjadi khalifah berusaha dengan segenap kemampuannya untuk mengembalikan manusia pada sunnah Nabi SAW. Sayangnya usaha tersebut menemui kegagalan karena MUSUH selalu mengobar kan peperangan untuk mencegah usaha tersebut mulai dari PERANG JAMAL, ShiFFiN, NAHRAWAN hingga pembunuhan terhadap Imam Ali AS

Tidak heran kalau para pengikut Ali yang berada dalam kebenaran menjadi pihak yang salah dan sesat, sementara pihak yang sesat malah menjadi pihak yang dihormati dan dimuliakan. Jadilah pengikut pengikut Ali (Syi’ah Ali) sebagai ahli bid’ah sementara pengikut Mu’awiyah sebagai AHLUSUNNAH WAL JAMA’AH

Pemerintahan Bani Umayyah banyak menyembunyikan fatwa fatwa hukum dari Ali AS. Tidak mungkin mereka yang mengutuk dan mencaci Ali mau meriwayatkan fatwa fatwa hukumnya terutama yang berkaitan dengan dasar dasar hukum Islam

Setelah terbunuhnya Imam Ali  maka Mu’awiyah kemudian memegang tampuk pemerintahan. Dan satu satunya tekad yang ia canangkan sejak dulu adalah memadamkan cahaya agama Islam orisinil dengan segala cara dan upaya serta menghapus SUNNAH NABi yang telah dihidupkan kembali oleh Imam Ali AS dan mengembalikan manusia kepada bid’ah bid’ah sebelumnya yang dirintis oleh Abubakar, Umar dan Usman.

Dan jika kita meneliti buku-buku sejarah secara seksama, kita akan menemukan bahwa PENGUASA Bani Umayyah juga Abbasiyah menggunakan segenap daya untuk mensucikan Abubakar, Umar dan Usman serta menciptakan keutamaan keutamaan dan bukti sahnya kekhalifahan mereka yang dapat menarik simpati umat karena mereka faham bahwa sahnya pemerintahan mereka tidak lepas dari sahnya pemerintahan ABUBAKAR, UMAR dan  USMAN

Dari sinilah kemudian muncul upaya upaya untuk mensucikan khalifah sebelumnya dengan mempropagandakan bahwa semuanya adalah orang orang suci dan adil yang tidak boleh dikritik sedikitpun. Itulah mengapa mereka memilih nama AHLU SUNNAH WAL JAMAAH untuk golongan nya sendiri sementara untuk golongan lain mereka namakan sebagai RAFiDHAH ZiNDiQ hanya karena menolak kekhalifahannya ataupun tidak ikut membai’atnya serta malah mendukung Ali dan ahli bait sebagai sebagai khalifah yang sah

Ulama ulama yang dekat dengan penguasa Bani Umayyah selalu berupaya merubah SUNNAH NABi yang sebenarnya dengan mendukung upaya penyingkiran terhadap Imam Ali dan ahli bait Rasul SAW.

.

Riwayat yang membolehkan penulisan hadits

- Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Tiada seorang pun dari sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang lebih banyak haditnya dariku kecuali Abdullah bin Amru Al-Ash karena dia menulis sedangkan aku tidak menulis.” (HR. Bukhari)

- Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Ikatlah ilmu dengan buku.’” (Diriwayatkan Al-Khatib dalam Taqyidul Ilmi)

Atas dasar perbedaan nash inilah para ulama berselisih pendapat dalam penulisan hadits. Ibnu Shalah berkata, “Para ulama berselisih pendapat dalam penulisan hadits, sebagian diantara mereka melarang penulisan hadits dan ilmu, serta menyuruh untuk menghafalnya. Sedangkan sebagian yang lain membolehkannya.”

Mereka yang melarang penulisan hadits adalah Umar, Ibnu Mas’ud, Zaid bin Tsabit, Abu Musa, Abu Sa’id Al-Khudri, dan sekelompok lainnya dari kalangan sahabat dan tabi’in.

Sedangkan yang membolehkan penulisan hadits adalah Ali, Hasan bin Ali, Anas, Abdullah bin Amru Al-Ash

.

http://syiahali.files.wordpress.com/2012/04/maulid-nabi-muhammad-saw.jpg?w=286

SEJARAH PEMBUKUAN HADiST Sunni

Pembukuan berbeda dengan penulisan. Seseorang yang menulis sebuah shahifah (lembaran) atau lebih disebut dengan penulisan. Sedangkan pembukuan adalah mengumpulkan lembaran-lembaran yang sudah tertulis dan yang dihafal, lalu menyusunnya sehingga menjadi sebuah buku.

pada masa Rasulullah SAW masih hidup belum ada Hadist-hadist  sunni yang terkumpul apalagi dibukukan. Pada masa Khulafaur Rasyidin yaitu setelah Rasullullahwafat, para sahabat mulai menyampaikan pesan-pesan Hadist Nabi SAW. Namun Hadist-hadist sunni  tersebut masih belum terhimpun. Hadist-hadist tersebut berada pada hafalan atau ingatan para Sahabat

.

Saudaraku,ada dua cara meriwayatkan Hadist pada masa Sahabat
1.  Riwayat sesuai  dengan lafadz asli sebagaimana dari Rasullulah SAW.(riwayat secara lafadz). Cara ini ada yang disebabkan para Sahabat menden gar langsung apa yang diucapkan Nabi SAW atau yang diperbuatnya. Ada juga yang sudah melalui perantara Sahabat Nabi,Karenatidak mendengar atau menyaksikan langsung .Jika dibolehkan perawi pertama menukar lafadz yang didengarnya dengan lafadznya sendiri, maka perawi yang kedua tentu boleh melakukan hal yang sama, dan seterusnya perawi-perawi selanjutnya juga boleh melakukan periwayatan bi al-Makna. Apabila hal ini dibolehkan maka kemungkinan hilangnya lafal asli dari nabi menjadi lebih besar, atau setidak-tidaknya akan terjadi kesenjangan dan perbedaan yang mencolok antara ucapan yang diriwayatkan terakhir dengan apa yang dikatakan Nabi saw
.
2.  Riwayat Hadist secara maknawi. Maksudnya,isi Hadist sesuai dengan apa yang diucapkan atau dilakukan Nabi.Sedangkan lafadz atau bahasanya tidak sama.Hal ini terjadi karena daya ingat para Sahabat tidak sama.Selain itu jarak waktu saat meriwayatkan Hadist dengan apa yang dikatakan atau dilakukan Nabi sudah cukup lama. Dengan demikian bisa dimaklumi kalau terdapat beragam Hadist yang maksudnya sama tetapi lafadz dan bahasanya berbeda. Sebagian besar sahabat Nabi tidak pandai tulis baca, mereka hanya mengandalkan ingatan, sedang hadis baru ditulis secara resmi jauh setelah Rasul Allah wafat. Dalam kondisi yang demikian sangat mungkin ada lafadz-lafadz hadis mereka riwayatkan tidak persis seperti yang diucapkan Nabi, karena lamanya hadis tersebut tersimpan dalam ingatan mereka. Karena itu mereka menyampaikan kandungan maknanya dengan lafal dari mereka sendiri
.
 Demikian periwayatan Hadist oleh para Sahabat.Hadist tersebut dihafalkan dari Sahabat,dari oran gtua kepada anak,dari guru kepada murid.Setelah para Sahabat terdekat meninggal dunia,barulah diadakan pengumpulan dan pembukuan Hadist. Kodifikasi hadits baru dimulai pada abad kedua Hijriyah, sehingga sebelum periode itu, antara hadits shahih dan hadits palsu tidak dapat dibedakan disebabkan karena :
1. usaha pembukuan yang terlambat.  Masa pembukuannya pun terlambat sampai pada abad ke-2 H dan mengalami kejayaan pada abad ke-3 H. Sehingga  pencatatan Hadis sunni secara tekstual literatur Hadis tidak mudah dipercaya sebab pencatatan terhadap Hadis dilakukan setelah dua ratus tahun. Pembukuan dalam skala besar dilakukan di abad ketiga Hujriyah melalui para penulis Kutubus Sittah.Dalam konteks histories, periwayatan hadis tidak seberuntung al-Qur’an yang memang sejak awal telah dilakukan kodifikasi dan pembukuan. Sementara kodifikasi al-hadis dilakukan lebih belakangan jauh setelah wafatnya Nabi SAW.Dengan demikian periwayatan hadis menjadi problematic dan banyak mengundang kritik dari para orientalis yang cukup tajam dan bahkan memandang apriori terhadap otentisitasnya
.
2. Bukhari menyaring 3.000 hadits dari 600.000 hadits yang telah ia kumpulkan. dalam sebagian literatur hadits sunni , nama Nabi Muhammad SAW sengaja dicatut untuk menutupi bermacam-macam kebohongan dan keganjilan (“…the name of Mahomet was abused to support all possible lies and absurdities”), dari 4000 hadits yang dianggap shahih oleh Imam Bukhārī, paling tidak separuhnya harus ditolak: “…without hesitation, to reject at least one-half.” Itu dari sudut sumber isnādnya, sedangkan dari sudut isi matannya, maka hadits “must stand or fall upon its own merit”. Hanya sebagian hadis sunni yang memang betul-betul hadits shahih dari Nabi [SAW]. Penguasa telah  memalsukan sebagian  hadits; bahwa sebagian hadis  hadits yang diriwayatkan  sebenarnya bukan berasal dari Nabi SAW, akan tetapi adalah perkataan si pemalsu  sendiri atau perkataan orang lain yang disandarkan kepada Nabi SAW.
.
3. Tidak ada ijma’ kaum syi’ah  tentang keshahihan hadits-hadits  Semua hadis sunni. Hadis sunni yang  kami sepakati tentang kehujahannya berarti sahih
Bahwa perjalanan hadis sunni hingga era kodifikasi dalam korpus resmi telah melewati beberapa fase yang tidak selalu mulus dan murni, bukan saja dari rangkaian sanad-nya tetapi juga materi hadis itu sendiri. Hadis-hadis Nabi tersebut, sampai masa pembukuanya secara resmi  masih bercampur dengan kata-kata dan fatwa sahabat. Hal ini menyebabkan jumlah materi hadis menjadi menggelembung, tetapi setelah diseleksi menjadi sedikit lagi. Sebagian hadis sunni merupakan refleksi interaksi dan konflik pelbagai aliran dan kecenderungan yang muncul kemudian di kalangan masyarakat Muslim pada periode kematangannya, ketimbang sebagai dokumen sejarah awal perkembangan Islam. Sebagian hadith sunni adalah produk bikinan penguasa sunni  beberapa abad setelah Nabi Muhammad SAW wafat, bukan berasal dan tidak asli dari beliau. Sangat sulit untuk mempercayai literatur hadits secara keseluruhannya sebagai rekaman otentik dari semua perkataan dan perbuatan Nabi SAW (“It is difficult to regard the hadīth literature as a whole as an accurate and trustworthy record of the sayings and doings of Muhammad”). Keberagaman data periwayatan Sunni – Syiah merupakan hasil pemalsuan yang terencana dari Sunni
.
4. Ibn Syihab al-Zuhri (w. 123 H) melakukan penulisan Hadis karena tekanan dari Bani Umayyah.Munculnya pemalsuan hadits akibat perselisihan politik dan madzhab setelah terjadinya fitnah, dan terpecahnya kaum muslimin menjadi pengikut Ali dan pengikut Mu’awiyah, serta Khawarij yang keluar dari keduanya
. 
Bukhari misalnya berkata:Bahwa Hadist ini diucapkan kepada saya oleh seseorang bern ama A dan A berkata:diucapkan kepada saya oleh B dan berkata:diucapkan kepada saya dari C dan C berkata:diucapkan kepada saya dari D dan D berkata:diucapkan kepada saya dari dan berkata:diucapkan kepada saya dari F dan F berkata:ducapkan kepada saya dari Nabi SAW
.
         Menurut contoh ini antara Nabi SAW dan Bukhari ada oran g dan (enam) oran g ini tidak mesti,melainkan bisa jadi kurang atau lebih.Tiap- tiap oran g dari A sampai F yang disebutkan tersebut diatas adalah Yang meriwayatkan atau Rawi (perawi).dan sejumlah Rawipada suatu Hadist dinamakan dengan Sanad yang terkadang disebut Isnad
.
pada masa Abdul Malik (sekitar 70-80 H), yakni enam puluh tahun lebih setelah meninggalnya nabi, penggunaan sanad adalam periwayatan hadits juga belum dikenal. Dari sini saya  berkesimpulan bahwa pemakaian sanad baru dimulai pada antara Urwah dan Ibn Ishaq (w. 151 H). Oleh karena itu, sebagian sanad-sanad yang terdapat dalam kitab-kitab hadits adalah bikinan ahli-ahli hadits abad ke dua, bahkan abad ketiga. Tulisan-tulisan Urwah yang dikirimkan kepada Abdul Malik tidak menggunakan sanad. Oleh karena itu, pendapat yang mengatakan bahwa Urwah pernah menggunakan sanad adalah pendapat orang-orang belakangan
.
bahkan sebagian hadits-hadits  sunni yang terdapat dalam al-kutub as-sittah sekalipun tidak dapat dijamin keasliannya: “even the classical corpus contains a great many traditions which cannot possibly be authentic.” Sebagian sistem periwayatan berantai alias isnād merupakan alat justifikasi dan otorisasi yang baru mulai dipraktekkan pada abad kedua Hijriah: “there is no reason to suppose that the regular practice of using isnāds is older than the beginning of the second century.”
.
         Sedangkan yang dimaksud dengan yang mengeluarkan Hadist adalah Orang   yang mencatat Hadist Rasulullah SAW,yaitu para  Ahli Hadist seperti Imam Malik, Bukhari,Muslim,Abu Daud,At-Tarmidzi serta lain-lainnya.
.
 Syi’ah menemukan beberapa Hadis Nabi saw yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Hadis-hadis tersebut terkesan mengucapkan kata-kata ganjil dan kasar, membuatnya heran sebagai sabda-sabda yang konon berasal dari Nabi saw tidak memiliki retorika penuh bunga yang sering dijumpainya dalam berbagai tulisan-tulisan

.

Abu Hurairah berasal dari kabilah Bani Daus dari Yaman. Ia lahir 21 tahun sebelum Hijriah, sejak kecil sudah menjadi yatim. Nama aslinya pada masa jahiliyah adalah Abdu al-Syams (hamba matahari), ia dipanggil sebagai Abu Hurairah (ayah/pemilik kucing) karena suka merawat dan memelihara kucing, ketika mudanya ia bekerja pada Basrah binti Ghazawan, kemudian setelah masuk Islam baru dinikahinya. Tatkala menjadi muslim, ia bersama Thufail bin Amr berangkat ke Makkah, Nabi Muhammad Saw mengubah nama Abu Hurairah menjadi Abdurrahman (hamba Maha Pengasih). Ia tinggal bersama kaumnya beberapa tahun setelah menjadi muslim, sebelum bergabung dengan kaum muhajirin di Madinah tahun 629. Ia menyertai Nabi Muhammad sampai dengan wafatnya Nabi tahun 632 di Madinah.

.

kami menggugat integritas Abu Hurairah  sebagai perawi dengan berbagai tuduhan, diantaranya adalah ia terlalu banyak meriwayatkan (lebih dari lima ribu Hadis) apa yang sebenarnya tidak pasti diucapkan oleh Nabi saw dalam waktu yang singkat. Ia hanya bersama Nabi sekitar tiga tahun, sebagian besar Hadisnya ia tidak mendengar dari Nabi secara langsung akan tetapi ia mendengar dari sahabat dan tabi’in. Apabila setiap sahabat dinyatakan adil sebagaimana jumhur ulama Hadis maka para tabi’in juga sama demikian adanya.

.

kami  mengingatkan bahwa Abu Hurairah masuk Islam ketika ia bergabung bersama Nabi saw dalam peristiwa Khaibar pada tahun 7 H/ 629 M, ini dapat ditemukan dalam berbagai sumber. Abu Hurairah juga dituduh sebagai seorang pemalas yang tidak memiliki pekerjaan tetap selain mengikuti Nabi saw. kemanapun beliau pergi, juga merupakan orang yang rakus terutama setelah beliau mendapatkan posisi penting sebagai gubernur pada masa dinasti Bani Umaiyah
.
Sahifah sahifah pro penguasa misalnya : shahifah Samurah bin Jundub
Ash-shohifah Ash-shohihah, catatan salah seorang Tabi’in Hammam bin Munabbih (w. 130 H). hadits-haditsnya banyak diriwayatkan dari sahabt besar Abu Hurairah, berisikan kurang lebih 138 buah hadits. Haditsnya sampai kepada kita yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya dan oleh Al-Bukhori dalam berbagai bab
.
shahifah sahihah yaitu kumpulan hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah, Kumpulan hadis tersebut disampaikan oleh Abu hurairah kepada Hammam Ibn Munabbih (40 – 131 H) dari generasi Tabiin. Ini memuat 138 hadis. Kemudian Hammam menyampaikan kepada sejumlah muridnya, antara lain Ma’mar Ibn Rasyid (w.154 H/ 770 M) yang memelihar dan membeacakan kepada salah seorang muridnya, Abdur ar-Razaq as-Sam’ani (w.211 H/826 M). selain sebagi ulama terkemuka seperti gurunya, Abd ar-Razaq juga memelihara shahifah tersebut dalam bentuknya yang utuh dan menyampaikannya kepada generasi-generasi sesudahnya. Naskah ini telah ditemukan oleh DR. M. Hamudullah dalm bentuk manuskrip aslinya di Damaskus dan Berlin. Muhammad Ujjaj al-Khatib, As-Sunnah qabla at-Tadwin, (bairut: Dar al-Fikr, 1981), h. 355 – 357. Subhias-Shalih, Ulum al-hadis Wa Musthalahuh, (Bairut: Dar ‘Ilm Li al-Malayin, 1988), h. 32
.
Kitab –Kitab Hadist.

.
a. Abad ke 2 H
1)   Al Muwaththa oleh Malik bin Anas
2)   Al Musnad oleh Ahmad bin Hambal (150 – 204 H / 767 – 820 M)
3)   Mukhtaliful Hadits oleh As Syafi’i
4)   Al Jami’ oleh Abdurrazzaq Ash Shan’ani
5)   Mushannaf Syu’bah oleh Syu’bah bin Hajjaj (82 – 160 H / 701 – 776 M)
6)   Mushannaf Sufyan oleh Sufyan bin Uyainah (107 – 190 H / 725 – 814M)
7)   Mushannaf Al Laist oleh Al Laist bin Sa’ad (94 – 175 / 713 – 792 M)
8)   As Sunan Al Auza’i oleh Al Auza’i (88 – 157 / 707 – 773 M)
9)   As Sunan Al Humaidi (219 H / 834 M)
.
b. Abad ke 3 H
1)       Al Jami’ush Shahih Bukhari oleh Bukhari (194-256 H / 810-870 M)
2)       Al Jami’ush Shahih Muslim oleh Muslim (204-261 H / 820-875 M)
3)       As Sunan Ibnu Majah oleh Ibnu Majah (207-273 H / 824-887 M)
4)       As Sunan Abu Dawud oleh Abu Dawud (202-275 H / 817-889 M)
5)       As Sunan At Tirmidzi oleh At Tirmidzi (209-279 H / 825-892 M)
6)       As Sunan Nasai oleh An Nasai (225-303 H / 839-915 M)
7)       As Sunan Darimi oleh Darimi (181-255 H / 797-869 M)
.
c. Abad ke 4 H
1)        Al Mu’jamul Kabir oleh Ath Thabarani (260-340 H / 873-952 M)
2)        Al Mu’jamul Ausath oleh Ath Thabarani (260-340 H / 873-952 M)
3)        Al Mu’jamush Shaghir oleh Ath Thabarani (260-340 H/873-952 M)
4)        Al Mustadrak oleh Al Hakim (321-405 H / 933-1014 M)
5)        Ash Shahih oleh Ibnu Khuzaimah (233-311 H / 838-924 M)
6)        At Taqasim wal Anwa’ oleh Abu Awwanah (wafat 316 H / 928 M)
7)        As Shahih oleh Abu Hatim bin Hibban (wafat 354 H/ 965 M)
8)        Al Muntaqa oleh Ibnu Sakan (wafat 353 H / 964 M)
9)        As Sunan oleh Ad Daruquthni (306-385 H / 919-995 M)
10)    Al Mushannaf oleh Ath Thahawi (239-321 H / 853-933 M)
11)    Al Musnad oleh Ibnu Nashar Ar Razi (wafat 301 H / 913 M)
.
d. Abad ke 5 H dan selanjutnya
Hasil penghimpunan.
Bersumber dari kutubus sittah saja: Jami’ul Ushul oleh Ibnu Atsir Al Jazari (556-630 H / 1160-1233 M), Tashiful Wushul oleh Al Fairuz Zabadi (1084 M).
Bersumber dari kkutubus sittah dan kitab lainnya, yaitu Jami’ul Masanid oleh Ibnu Katsir (706-774 H / 1302-1373 M).
Bersumber dari selain kutubus sittah, yaitu Jami’ush Shaghir oleh As Sayuthi (849-911 H / 1445-1505 M).
 .
Kitab Al Hadits Hukum, diantaranya :
1)   Sunan oleh Ad Daruquthni (306-385 H / 919-995 M).
2)   As Sunannul Kubra oleh Al Baihaqi (384-458 H / 994-1066 M).
3)   Al Imam oleh Ibnul Daqiqil ‘Id (625-702 H / 1228-1302 M).
4)   Muntaqal Akhbar oleh Majduddin Al Hirani (1254 M).
5)   Bulughul Maram oleh Ibnu Hajar Al Asqalani (773-852 H / 1371-1448 M).
6)   Umdatul Ahkam oleh ‘Abdul Ghani Al Maqdisi (541-600 H / 1146-1203 M).
7)   Al Muharrar oleh Ibnu Qadamah Al Maqdisi (675-744 H / 1276-1343 M).
 .
Kitab Al Hadits Akhlaq.
1)   At Targhib wat Tarhib oleh Al Mundziri (581-656 H / 1185-1258 M)
2)   Riyadhus Shalihin oleh Imam Nawawi (631-676 H / 1233-1277 M)
3)   Syarah (semacam tafsir untuk Al Hadits).
4)   Untuk Shahih Bukhari terdapat Fathul Bari oleh Ibnu Hajar Asqalani (773-852 H / 1371-1448 M).
5)   Untuk Shahih Muslim terdapat Minhajul Muhadditsin oleh Imam Nawawi (631-676 H / 1233-1277 M).
6)   Untuk Shahih Muslim terdapat Al Mu’allim oleh Al Maziri (wafat 536 H / 1142 M).
7)   Untuk Muntaqal Akhbar terdapat Nailul Authar oleh As Syaukani (wafat 1250 H / 1834 M).
8)   Untuk Bulughul Maram terdapat Subulussalam oleh Ash Shan’ani (wafat 1099 H / 1687 M).
.
Para pembaca…

Salah satu kritik yang disampaikan oleh beberapa pihak terkait dengan otentisitas hadits adalah adanya praktik pemalsuan hadits. Kesimpulan yang sering dibuat bahwa banyaknya pemalsuan hadits menyebabkan susah mencari hadits yang otentik sehingga bisa disimpulkan tidak ada hadits yang otentik. Dalam hal ini Ulil dengan mengutip pendapat Abu Rayyah menuliskan:

Imam Bukhari menyuling 2600an hadis yang dianggap valid dari 300 ribuan hadis. Apa yang bisa disimpulkan dari fakta ini? Kata Abu Rayyah: dengan rasio 300.000:2600an, kita bisa mengatakan bahwa hadis pada umumnya adalah palsu atau lemah. Yang valid hanyalah perkecualian saja. Tentu, kita berbicara mengenai era Imam Bukhari. Dengan kata lain, pada zaman itu, betapa pervasif dan luas sekali persebaran hadis-hadis palsu atau minimal lemah. Begitu luasnya persebaran hadis palsu sehingga Abu Rayyah membuat semacam hukum: hadis yang palsu adalah “norm“, sementara hadis yang shahih adalah “exception” (http://ulil.net/).

Tak bisa dipungkiri bahwa dalam perjalanan sejarah memang telah terjadi banyak praktik pemalsuan hadits yang terjadi antara lain karena ulah pendusta. Bahkan praktik dusta itu telah terjadi sejak Rasulullah Saw masih hidup. Hadits Rasulullah Saw yang mengecam para pendusta atas nama Rasulullah menjadi salah satu bukti hal ini. Redaksi haditsnya sebagai berikut:

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Barangsiapa berdusta atas namaku dengan sengaja hendaklah menyiapkan tempat duduknya di neraka”

Hadits tersebut merupakan hadits mutawatir, artinya diriwayatkan oleh banyak orang dari tiap-tiap generasinya. Hadits tersebut telah diriwayatkan oleh tujuh puluh orang lebih sahabat dengan redaksi yang sama (Nurddin Itr, 1988,; h. 405)

.

Motif pemalsuan hadis oleh penguasa :

1. Syi’ah menolak kekhalifahan Umayyah Abbasiyah  ataupun tidak ikut membai’atnya

2.upaya penyingkiran kekhalifahan yang sah yakni “ Imam Ali dan ahli bait Rasul SAW”

3.Bani Umayyah juga Abbasiyah menggunakan segenap daya untuk mensucikan Abubakar, Umar dan Usman serta menciptakan keutamaan keutamaan dan bukti sahnya kekhalifahan mereka yang dapat menarik simpati umat, karena mereka faham bahwa sahnya pemerintahan mereka tidak lepas dari sahnya pemerintahan ABUBAKAR, UMAR dan  USMAN..Ulama ulama yang dekat dengan penguasa Bani Umayyah selalu berupaya merubah SUNNAH NABi yang sebenarnya dengan mendukung  bid’ah bid’ah sebelumnya yang dirintis oleh Abubakar, Umar dan Usman.

Akibatnya ??  hadis sunni terdapat diantaranya PERTENTANGAN. Padahal tidak masuk akal bahwa Nabi SAW akan mengucapkan  sabda sabda yang saling berlawanan

apakah Bukhari sudah terbebas dar kesalahan ??? Bukhari mengumpulkan 600 ribu hadis, tetapi setelah mengadakan seleksi maka yang dianggapnya hadis orisinil hanya 6000 an (dengan pengulangan) yaitu hanya 1%. Wow maraknya hadis palsu !!!

4. mereka memilih nama AHLU SUNNAH WAL JAMAAH untuk golongan nya sendiri sementara untuk golongan lain mereka namakan sebagai RAFiDHAH ZiNDiQ hanya karena menolak kekhalifahannya,pengikut pengikut Ali (Syi’ah Ali) dicap sebagai ahli bid’ah sementara pengikut Mu’awiyah sebagai AHLUSUNNAH WAL JAMA’AH. Jadilah pengikut Imam Ali sebagai orang orang zindik yang halal darah dan kehormatannya, sementara musuh musuh Allah dan ahlulbait sebagai AHLUSUNNAH. Harus diakui Mu’awiyah berhasil mencapai keberhasilan yang luar biasa dalam menyesatkan umat hingga mereka meyakini bahwa golongannya adalah “AHLUSUNNAH” sementara pengikut pengikut Ali adalah golongan sesat yang telah keluar dari Islam.

5.Syaikh Abul A’la Maududi menyatakan bahwa : “Tidak seorangpun bisa mendakwakan bahwa seluruh hadis Bukhari adalah shahih”

Pihak sunni tidak banyak memperhatikan faktor faktor politik yang mendorong terjadinya pemalsuan hadis. Akibatnya mereka tidak merasa ragu sedikitpun terhadap beberapa hadis, meskipun isinya jelas memberikan dukungan politik terhadap Daulat Amawiyah dan Daulat Abasiyah. Pihak Sunni tidak mampu membedakan mana hadis yang orisinil dengan hadis yang batil

Pihak sunni tidak banyak melakukan kajian mendalam terhadap kondisi sosial yang melingkupi para periwayat atau keadaan pribadinya ataupun hal hal yang mendorongnya melakukan pemalsuan hadis. Seandainya pihak sunni banyak melakukan studi kritik matan dan tidak semata terpaku pada kritik sanad maka pasti Sunni akan menemukan banyak hadis yang sebenarnya palsu

Sunni tidak melakukan studi komprehensif terhadap situasi sosial politik masa itu. Hadis hadis sunni yang saling bertolak belakang membuktikan adanya pemalsuan terorganisir dengan menisbatkan kepada Nabi SAW apa apa yang sebenarnya tidak layak dan tidak sesuai dengan situasi dan kondisi saat itu atau realitas sejarah yang terkadang bertolak belakang

Sunni merupakan kelompok oposisi penentang ahlulbait semenjak pertemuan Bani Tsaqifah yang berupaya menyingkirkan Ahlulbait dari kursi pemerintahan (kekhalifahan) serta mengisolasi mereka dari pentas kehidupan saat itu. Dengan kata lain kemunculan kelompok Sunni merupakan reaksi terhadap syi’ah yang memihak dan membela kepentingan ahlulbait

Pendukung pendukung Ali AS adalah orang orang ANSHAR dan MUHAJiRiN yang telah Allah SWT sebutkan dalam Al Quran serta Allah utamakan mereka atas sahabat sahabat lainnya. Mereka bersedia mengorbankan darahnya demi untuk membela kebenaran yang menyertai Ali. Sedangkan pendukung Mu’awiyah kebanyakan dari orang orang munafik dan musuh musuh Rasul SAW.

Syi’ah atau Sunni YANG SESAT ???

Syi’ah mengikuti sunnah Nabi SAW yang diwariskan melalui para imam ahlulbait SAW, sedangkan Sunni meninggalkan fikih ahlulbait lalu memilih mengikuti mazhab yang tidak pernah Allah SWT syari’atkan seperti Asy’ari dan Syafi’i  yang selalu penuh dengan kontradiksi

Walaupun ahlulbait sebagai keturunan Nabi SAW lebih paham tentang perilaku Nabi SAW dan tidak ada seorang pun yang dapat melebihi mereka dalam ilmu dan amal karena selama lebih dari tiga abad mereka saling waris mewarisi ilmu dan amal melalui para imam 12, namun pihak sunni tetap saja beribadah menurut mazhab empat yang baru muncul pada abad ke II H yang selalu penuh dengan kontradiksi kontradiksi didalamnya disamping selalu mengembangkan sikap permusuhan dan peperangan pada setiap orang yang mengikuti ahli bait Nabi SAW

Kami (syi’ah) tidak pernah memaksa pihak Sunni untuk merubah pandangannya, mereka bebas untuk merubah pandangannya, mereka bebas untuk memilih keyakinannya sebab mereka sendiri nanti yang akan mempertanggung-jawabkan semuanya dihadapan Allah SWT

Jumlah hadis yang disandarkan pada Nabi SAW pada masa thaghut Umayyah dan thaghut Abbasiyah bertambah banyak, sehingga keadaan nya bertambah sulit membedakan mana hadis yang orisinil dan mana hadis yang dibuat buat. Diriwayatkan bahwa Imam Bukhari mengumpulkan 600 ribu hadis, tetapi setelah mengadakan seleksi maka yang dianggapnya hadis orisinil hanya 6000 an (dengan pengulangan) yaitu hanya 1%. Wow maraknya hadis palsu !!!

Setiap hadis yang dihimpun BUKHARI tidak semuanya bersifat AL MUTAWATiRAT. Banyak pula diantaranya yang bersifat Al AHAAD  yakni cuma diterima BUKHARi dari satu orang saja, dan pihak yang menyampaikan hadis itu  kepada Bukhari menyebut nama tokoh tokoh utama sebagai jalur (sanad) hadis tersebut dan berakhir pada sahabat Nabi SAW

Imam Bukhari yang wafat pada tahun 257 H (870 M) tidak pernah berjumpa dengan tokoh tokoh utama tersebut  karena satu persatunya sudah meninggal dunia menjelang masa Imam Bukhari. Sehingga perlu peninjauan dan penilaian kembali atas sesuatu hadis yang dinyatakan shahih oleh BUKHARi, apakah Bukhari sudah terbebas dar kesalahan ???

Isi satu persatu hadis sunni terdapat diantaranya PERTENTANGAN. Padahal tidak masuk akal bahwa Nabi SAW akan mengucapkan  sabda sabda yang saling berlawanan. Kenapa ada hadis hadis sunni yang keorisinilan nya tidak disepakati syi’ah ???

Para peneliti hadis pasti akan menemukan banyak hadis hadis yang disandarkan pada Nabi tetapi pada hakekatnya tidak lain adalah bid’ah yang dibuat oleh sebagian sahabat setelah meninggalnya Rasul disertai upaya pemaksaan pada umat untuk melaksanakannya sehingga ulama sunni kemudian meyakini bahwa itu semua dilakukan oleh Nabi SAW

Tidak heran kalau kemudian hadis hadis bid’ah tersebut bertentangan dengan AL QURAN, apakah Sunnah PALSU dapat menghapus Al Quran ??..

Terlebih lagi Abubakar dan Umar secara terang terangan membakar semua catatan hadis yang ada, akibatnya malapetaka lah yang terjadi kini….

Ketika perbedaan perbedaan itu terjadi dalam empat mazhab fikih sunni maka mereka malah diam saja dan menganggapnya sebagai rahmat karena BEDA PADA FURU’ dan  bukan pada USHUL. Sebaliknya pihak Sunni mencaci maki syi’ah jika mereka berbeda pendapat dalam suatu permasalahan sehingga perbedaan menjadi laknat untuk syi’ah

Lucunya mereka pun hanya mengakui pendapat pendapat Imam mereka saja, walaupun Imam Imam tersebut tidak akan pernah menyamai Imam imam yang suci dalam ilmu, amal dan keutamaan. Tidak heran kalau pihak Sunni kemudian juga menolak hadis hadis yang diriwayatkan para imam Ahlulbait walaupun hadis hadis tersebut shahih… Sekarang renungkanlah pembaca, sikap fanatik buta dari pihak Sunni yang menuduh para perawi hadis dari Imam Imam Ahlulbait sebagai orang orang zindiq.

Contoh :

Nikah mut’ah yang secara jelas telah dihalalkan  oleh Al Quran dan Sunnah Nabi SAW. Akan tetapi pihak Sunni  demi membela ijtihad UMAR yang mengharamkannya menyusun berbagai hadis palsu yang disandarkan pada Nabi SAW dan Imam Ali. Padahal kitab kitab hadis sunni mencatat bahwa PARA SAHABAT mengerjakannya pada zaman Rasul SAW, Abubakar dan Umar hingga Umar mengharamkannya

Hadis hadis sunni yang menghalalkan dan mengharamkan  Nikah MUT’AH sama sama kuat dan sama sama shahih dar segi kekuatan sanad dan matannya, sehingga tidak bisa menjatuhkan satu sama lain. Riwayat riwayat yang di utarakan sunni bertentangan satu sama lain sehingga tidak dapat disatukan. Kenapa hadis hadis yang mengandung kontradiksi  ini terjadi ??

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Muhammad bin Al Hanafiyah :  Sesungguhnya Ali berkata pada Ibnu Abbas : ”Sesungguhnya Rasulullah SAW melarang nikah mut’ah dan memakan daging keledai pada hari khaibar”

Hadis hadis sunni yang menerangkan penghapusan NiKAH MUT’AH (apalagi yang mencatut nama Imam Ali seperti diatas )  tidak  dapat dijadikan HUJJAH  karena hadis hadisnya diriwayatkan oleh perorangan (ahad baik dari kalangan sahabat atau tabi’in) seperti ; Salamah bin Akwa’, Sabrah bin Ma’bad, Abu Hurairah dll yang jumlahnya tidak lebih dari 6 orang

Bagaimana pun juga seluruh ulama sepakat bahwa riwayat perorangan tidak dapat dijadikan sebagai penghapus hukum atau hadis yang mutawatir

Selain itu kita harus meneliti sanadnya, sebab dalam riwayat itu ada perawi yang pelupa yang selalu mengubah atau mengganti apa yang ia riwayatkan.

Jika hadis diatas shahih maka tidak mungkin Umar tidak mengetahuinya, buktinya adalah Umar mengatakan bahwa nikah itu pernah ada pada zaman Rasul dan sekarang saya mengharamkannya dan akan mendera orang yang melakukannya

Fakta sejarah membuktikan bahwa ketika menjadi khalifah pasca Usman, Imam Ali AS pernah melakukan nikah mut’ah dengan seorang wanita dari Bani Nasyhal di Kota Kufah.

Firman Allah SWT : “Maka hendaklah orang orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih” (Qs. An Nuur ayat 63)

Firman Allah SWT : “Dan tidaklah patut bagi laki laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukminah, apabila Allah dan Rasul Nya telah menetapkan suatu ketetapan akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul Nya, maka sungguhlah dia telah sesat dengan kesesatan yang nya” (Qs. Al Ahzab ayat 36)

Firman Allah SWT : “Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatannya itu dan Kami masukkan ia kedalam Jahannam, dan Jahannam itu

Dan harus diakui Mu’awiyah berhasil mencapai keberhasilan yang luar biasa dalam menyesatkan umat hingga mereka meyakini bahwa golongannya adalah “AHLUSUNNAH” sementara pengikut pengikut Ali adalah golongan sesat yang telah keluar dari Islam.

Kepentingan politik saat itu tidak memihak ahlulbait Rasul SAW. Mulai dari kekhalifahan  Abubakar hingga puncaknya pada masa Mu’awiyah dan Bani Umayyah. Tidak heran kalau saat itu sesuatu yang salah menjadi benar dan sebaliknya yang benar menjadi salah. Jadilah pengikut Imam Ali sebagai orang orang zindik yang halal darah dan kehormatannya, sementara musuh musuh Allah dan ahlulbait sebagai AHLUSUNNAH

Kalau terhadap Imam Ali saja mereka ( Mu’awiyah cs ) berani mengutuk dan mencaci maki, maka dapat kita bayangkan bagaimana perlakuan yang akan diterima oleh pengikut pengikut Imam Ali yang kebanyakan menemui kematian.

Sosok Mu’awiyah adalah sosok politikus ulung yang licik, kejam dan munafik yang tidak jarang menangis tersedu sedu untuk menarik simpati umat serta menumbuhkan citra bahwa dirinya adalah seorang khalifah yang zuhud dan baik hati.

Abu Zahrah menyatakan : “Pemerintah Bani Umayyah banyak menyembunyikan fatwa fatwa hukum dari Ali. Tidak mungkin mereka yang mengutuk dan mencaci Ali mau meriwayatkan fatwa fatwa hukumnya terutama yang berkaitan dengan dasar dasar hukum Islam” (Sumber : Abu Zahrah, Al Imam Al Shadiq, halaman 161)

Mazhab Sunni meyakini bahwa PERKATAAN DAN PERBUATAN SAHABAT merupakan sunnah yang dapat diamalkan dan tidak mungkin bertentangan dengan Sunnah Nabi SAW walaupun adakalanya perbuatan mereka tersebut tidak lain hanyalah  hasil ijtihad yang disandarkan pada Rasul SAW

Tampaknya pihak sunni tidak mencocokkan hadis hadis para Sahabat dengan AL QURAN, mereka khawatir terbongkar nya pemalsuan pemalsuan hadis yang selama ini mereka lakukan. Mereka sadar bahwa kalau hadis hadis tersebut jika dicocokkan dengan Al Quran  maka banyak yang akan bertentangan, sementara yang sesuai dengan AL QURAN tafsirkan berdasarkan pemahaman mereka sendiri, misal : 12 khalifah Quraisy yang Nabi SAW maksudkan adalah para imam ahlulbait yang suci setelah Nabi SAW wafat, bukan orang orang zalim seperti Mu’awiyah

Imam Ali AS  merupakan satu satunya sahabat yang ketika menjadi khalifah berusaha dengan segenap kemampuannya untuk mengembalikan manusia pada sunnah Nabi SAW. Sayangnya usaha tersebut menemui kegagalan karena MUSUH selalu mengobar kan peperangan untuk mencegah usaha tersebut mulai dari PERANG JAMAL, ShiFFiN, NAHRAWAN hingga pembunuhan terhadap Imam Ali AS

Tidak heran kalau para pengikut Ali yang berada dalam kebenaran menjadi pihak yang salah dan sesat, sementara pihak yang sesat malah menjadi pihak yang dihormati dan dimuliakan. Jadilah pengikut pengikut Ali (Syi’ah Ali) sebagai ahli bid’ah sementara pengikut Mu’awiyah sebagai AHLUSUNNAH WAL JAMA’AH

Pemerintahan Bani Umayyah banyak menyembunyikan fatwa fatwa hukum dari Ali AS. Tidak mungkin mereka yang mengutuk dan mencaci Ali mau meriwayatkan fatwa fatwa hukumnya terutama yang berkaitan dengan dasar dasar hukum Islam

Setelah terbunuhnya Imam Ali  maka Mu’awiyah kemudian memegang tampuk pemerintahan. Dan satu satunya tekad yang ia canangkan sejak dulu adalah memadamkan cahaya agama Islam orisinil dengan segala cara dan upaya serta menghapus SUNNAH NABi yang telah dihidupkan kembali oleh Imam Ali AS dan mengembalikan manusia kepada bid’ah bid’ah sebelumnya yang dirintis oleh Abubakar, Umar dan Usman.

Dan jika kita meneliti buku-buku sejarah secara seksama, kita akan menemukan bahwa PENGUASA Bani Umayyah juga Abbasiyah menggunakan segenap daya untuk mensucikan Abubakar, Umar dan Usman serta menciptakan keutamaan keutamaan dan bukti sahnya kekhalifahan mereka yang dapat menarik simpati umat karena mereka faham bahwa sahnya pemerintahan mereka tidak lepas dari sahnya pemerintahan ABUBAKAR, UMAR dan  USMAN

Dari sinilah kemudian muncul upaya upaya untuk mensucikan khalifah sebelumnya dengan mempropagandakan bahwa semuanya adalah orang orang suci dan adil yang tidak boleh dikritik sedikitpun. Itulah mengapa mereka memilih nama AHLU SUNNAH WAL JAMAAH untuk golongan nya sendiri sementara untuk golongan lain mereka namakan sebagai RAFiDHAH ZiNDiQ hanya karena menolak kekhalifahannya ataupun tidak ikut membai’atnya serta malah mendukung Ali dan ahli bait sebagai sebagai khalifah yang sah

Ulama ulama yang dekat dengan penguasa Bani Umayyah selalu berupaya merubah SUNNAH NABi yang sebenarnya dengan mendukung upaya penyingkiran terhadap Imam Ali dan ahli bait Rasul SAW

.

Kenapa  jutaan  hadis  sunni  PALSU  ??? Ada  apa  ini  ?? Imam Ahmad bin Hanbal yg hafal 1.000.000 hadits (1 juta hadits), anehnya Cuma 20.000 hadits saja yang ditulis, selainnya palsu !!.. Bukhari mengumpulkan 600.000 hadis   tetapi Cuma 7000 yang dia anggap orisinil pasca seleksi.. Nah dari 7000 itulah syi’ah menseleksi dan meninjau ulang mana hadis yang orisinil dan mana hadis yang dibuat buat  antek antek  raja zalim !!

.
sejarah dan hadis tentang Nabi Muhammad saw yang sampai kepada umat Islam Sunni sekarang ada yang  sudah tidak shahih karena ditulis sesuai dengan kepentingan penguasa.
.
Setelah Rasulullah saw wafat dan sejak berkuasanya Dinasti Umayyah dan Abbasiyah, banyak hadits yang dibuat-buat oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab untuk memuliakan dan mengagungkan penguasa serta mengunggulkan mazhabnya. Karena itu, untuk memperoleh sejarah Nabi saw yang benar (shahih) harus memisahkan fakta dari fiksi dan memilah kebenaran dari berbagai dusta yang dinisbatkan kepada Muhammad saw.
.
Metode Studi Kritis
Dalam upaya menguji kebenaran sejarah Nabi Muhammad saw, saya  menggunakan tiga tahap (yang saya sebut metode studi kritis  ).
.
Pertama, mengujinya dengan doktrin al-Quran bahwa Muhammad saw adalah teladan yang baik dan berakhlak mulia. Karena itu, saya menolak hadits atau fakta sejarah yang menggambarkan Nabi Muhammad saw pernah keliru dan tidak mengetahui bahwa dirinya seorang Nabi.
.
Begitu pun tentang peristiwa mendapatkan wahyu yang sampai membuat Muhammad saw ketakutan dan lari kemudian berlindung kepada istrinya (Khadijah) atau bertelanjang dada, bermesraan di depan umum, hendak bunuh diri dan lainnya,   ditolak kebenarannya karena telah merendahkan derajat Nabi Muhammad saw. Sangat tidak mungkin manusia yang disebut berakhlak al-quran melakuk perilaku tidak terpuji dan seperti orang bodoh.
.
Kedua, mempertemukan riwayat Nabi Muhammad saw dengan pesan Allah dalam al-Quran. Jika hadits atau sunah itu sesuai dengan al-Quran maka bisa diterima. Apabila tidak, wajib ditolak.
.
Ketiga, mengujinya dengan kritik sanad (orang yang mengabarkan) dan matan hadits (isi/materi) dengan tambahan analisa aliran politik dari periwayat hadits.
.
Tahapan studi kritis yang mantap
.

Sebagian materi hadits  mempunyai persamaan di kalangan Sunni  dan Syi’ah  Imamiyyah; Seandainya syi’ah sesat tentunya, tidak ada satupun hadis yang secara bersamaan terdapat dalam kitab kelompok-kelompok Islam tersebut. Namun, kenyataan justru menunjukkan; sebagian materi hadis yang memiliki persamaan dan keterkaitan

Jangan belajar syiah dari ulama salafy. Sebagusnya meneliti syiah kalau memang mau ya dari orang syiah sendiri

Kenapa syi’ah imamiyah hanya mau menerima sebagian hadis hadis sunni ??? Tidak ada jaminan hadis hadis sunni tidak mengalami perubahan dan pemalsuan.

Jawab :

1. Dimanakah letak perbedaan dua mazhab besar Islam, Sunni dan Syiah  ?? terletak pada  dasar hadits yang digunakan kedua aliran besar itu. Perbedaan keduanya hanya terletak pada hadits.  Jika hadits Sunni paling besar berasal dari sahabat nabi seperti Abu Hurairoh, maka hadis Syiah berasal dari Ahlul Bait (Keluarga Nabi Muhammad SAW).

Berapa banyak jumlah hadis palsu ini dapat dibayangkan dengan contoh berikut. Dari 600.000 (enam ratus ribu) hadis yang dikumpulkan Bukhari, ia hanya memilih 2.761 (dua ribu tujuh ratus enam puluh satu) hadis.   Muslim, dari 300.000 (tiga ratus ribu) hanya memiiih 4.000 (empat ribu).   Abu Dawud, dari 500.000 (lima ratus ribu) hanya memilih 4.800 (empat ribu delapan ratus) hadis.   Ahmad bin Hanbal, dari sekitar 1.000.000 (sejuta) hadis hanya memilih 30.000 (tiga puluh ribu) hadis

Bagaimana kita bisa memahami Al Quran dan ISlam jika hadis hadis yang dirawi dalam kitab hadis Aswaja sangat sedikit yang bersumber dari itrah ahlul bait dan para imam keturunan Nabi SAW ???? hadis sunni disampaikan dengan jalur antara mata rantai satu dengan berikutnya dan seterusnya jarang yang ada ikatan keluarga (itrah) tapi diduga hanya saling bertemu …

Yang meriwayatkan hadis syi’ah imamiyah bisa keturunan Nabi SAW yaitu ahlul bait, bisa pengikut atau pendukung ahlul bait dan bisa murid murid ahlul bait…. justru hadis syi’ah lebih terjaga karena disampaikan dari jalur { Nabi SAW- Ali- Hasan- Husain- Zainal- Baqir- Ja’far } mereka adalah keluarga jadi tidak mungkin menipu !!!!!!!!

Jika sanad itu bersambung kepada Nabi saw tanpa perantaraan seorang imam, maka hadits semacam ini tidak mudah diterima syiah. Ini disebabkan oleh Keyakinan syiah Imamiyah  bahwa pengetahuan akan keshahihan sebuah hadits sepenuhnya hanya diketahui melalui jalur para imam.

2. Hadis sunni terkadang satu sama lain saling bertentangan padahal masih dalam satu kitab hadis yang samaDalam metode sanad sunni, perawi hanya mengungkapkan apa yang ia dengar/lihat  sehingga like-dislike.

Bagaimanapun, penilaian seseorang sudah tentu mengandung unsur-unsur subyektif. Dan ingatan manusia, seberapapun sempurnanya, tentu mengandung kemungkinan meleset.

Letakkan sebuah kursi di tengah ruangan. Panggil 10 orang duduk mengitari kursi itu. Suruh mereka menulis tentang kursi satu itu. Maka akan muncul 10 cerita yang berbeda. Tidak seorangpun boleh mengatakan ceritanya yang paling benar dan yang lain salah. Orang lain yang akan memilih, cerita mana yang paling masuk akal. Kita tidak perlu saling memaki karena semua orang punya hak untuk berpendapat dan untuk memilih.

hadits dibukukan jauh setelah sumber aslinya wafat. jelas saja menyisakan ruang untuk berbagai kemungkinan dan kepentingan. disinilah kemudian terletak sumber kontroversi yang juga dipicu penggolongan derajat hadits dan munculnya kelompok-kelompok dengan pendekatan berbeda terhadap kekyatan hukum sebuah hadits.

Sunnah adalah apapun yang berupa perkataan, perbuatan dan sikap yang dinisbatkan kepada Nabi SAW.

Siapa itu para pencatat? Manusia yang tidak maksum. Nah ada kemungkinan usil yang lain. Bukankah mereka para pencatat adalah orang-orang yang tidak selalu benar dan mereka punya potensi melakukan kesalahan. jadi bisa saja para pencatat itu melakukan kekeliruan. Ini sebuah kemungkinan yang masih harus dibuktikan tetapi tidak bisa sepenuhnya ditolak

minimal syi’ah beragama dengan Iman dan Akal yg Sehat.

justru menurut saya metode sanad itu lebih memiliki banyak kelemahan mas. bukannya untuk menentukan jujur ato tidak seseorang akan sangat sulit, subyektifitas pasti bermain di sini. misal, perawi A dianggap jujur sama Z, tapi belum tentu dia dianggap jujur ama X. Nah kalo gitu, bukannya yang muncul malah ilmu mencari2 kesalahan orang lain, asal menemukan sedikit kecacatan, maka dianggap riwayatya lemah. Saya kira menilai dari sisi matan, dan membandingkannya degan nilai2 universal dari Al-quran akan lebih bagus untuk menilai sebuah hadits. At least lebih obyektif.

Sebab, kalau kita telaah proses verifikasi sanad, akan kelihatan sekali bahwa fondasinya cenderung subyektif, hal yg sangat wajar jika kita rajin menelaah hadist2 suni bahkan yg muktabar sekalipun, dimana akan banyak kontradiksi di dalam masalah penghukumannnya (ta’dil wa jarh ). Sebab, dasar pokok dari metode sanad adalah penilaian seseorang atas “kualitas” orang lain yang menjadi rawi.

contoh saja: salah seorang perawi sahih Buhori, Haritz bin Uthman jelas dia adalah pendukung bani Umayah, ia melaknat Imam Ali 70x di pagi hari dan 70x di sorenya secara rutin…namun apa juga yg dikatakan Ahmad bin Hambal:”haritz bin uthman adalah Tsiqot!”.

kemudian dalam soheh Muslim pun diceritakan bahwa Muawiyah La. memerintahkan Sa’ad bin Abi waqos untuk menghina dan mencerca Imam Ali a

Hadis  Aswaja sunni  kacau balau  karena menempatkan para perawi atas dasar memihak atau tidaknya kepada ‘Ali ibn Abi Thalib dalam pertikaiannya dengan Mu’awiyah.. Untuk itu, ulama aswaja sunni menyebut seseorang itu Syi’ah manakala ia berpihak kepada ‘Ali…Yang  pro  Ali  mayoritas  hadis nya ditolak  sedangkan  yang  MENCELA  ALi  hadisnya  dianggap tsiqat/shahih… standar  ganda

Anda berhak bertanya akan keseriusan para ulama Sunni dalam menyikapi para pembenci dan pencaci maki sahabat, yang dalam rancangan konsep mereka siapa pun yang membenci dan apalagi juga dilengkapi dengan mencaci-maki sahabat Nabi saw. mereka kecam sebagai zindiq, fasik, pembohong yang tidak halal didengar hadisnya!! Lalu bagaimana dengan perawi yang membenci dan mencai-maki Imam Ali as.? Apakah mereka akan berkonsekuen dalam mengetrapkannya? Atau mereka akan melakukan praktik “Tebang Pilih”!

Jika seoraang perawi mencaci maki Mu’awiyah, ‘Amr ibn al ‘Âsh, Abu Hurairah, Utsman ibn ‘Affân, Umar ibn al Khathtab, atau Abu Bakar misalnya, hukuman itu ditegakkan!

Jika yang dicaci dan dibenci saudara Rasulullah saw. dan menantu tercintanya; Ali ibn Abi Thalib as. maka seakan tidak terjadi apa-apa! Seakan yang sedang dicaci-maki hanya seorang Muslim biasa atau bisa jadi lebih rendah dari itu…. Pujian dan sanjungan tetap dilayangkan… kepercayaan terhadapnya tetap terpelihara… keimanannya tetap utuh… bahkan jangan-jangan bertambah karena mendapat pahala besar di sisi Allah kerenanya, sebab semua itu dilakukan di bawah bendera ijtihad dan keteguhan dalam berpegang dengan as Sunnah!!

Mengapa kegarangan sikap dan ketegasan vonis itu hanyaa mereka tampakkan dan jatuhkan ketika yang dicaci-maki dan dibenci adalah sahabat selain Imam Ali as., betapapun ia seorang fasik berdasarkan nash Al Qur’an, seperti al Walîd ibn ‘Uqbah! Sementara jika Ali as. atau sahabat dekatnya seperti Ammar ibn Yasir, Salman al FarisiAbu Darr ra. dkk. yang dicaci-maki dan dibenci serta dilecehkan semua seakan tuli dan bisu….

Cuma asumsi sayakah ini? Ooh tidak ini bisa dibuktikan. Pernahkah anda membaca riwayat yang menyatakan bahwa Nabi SAW menikahi Maimunah RA disaat ihram. Padahal ada riwayat lain bahwa Nabi SAW melarang menikah di waktu ihram. Nabi SAW melanggar perkataan Beliau sendiri, nggak mungkin banget kan dan puncaknya ada riwayat lain bahwa Pernikahan Nabi SAW dengan Maimunah RA tidak terjadi waktu ihram. Semua riwayat tersebut Shahih.(sesuai dengan Metode penyaringan). Tidak mungkin 2 hal yang kontradiktif bisa benar

Keanekaragaman Inkonsistensi

Penilaian ulama yang berbeda soal hadis akan membuat perbedaan pula terhadap apa itu yang namanya Sunnah. Ulama A berkata hadis ini shahih sehingga dengan dasar ini maka hadis itu adalah Sunnah tetapi Ulama B berkata hadis tersebut dhaif atau bisa saja maudhu’ sehingga dengan dasar ini hadis itu tidak layak disebut Sunnah. Pernah dengar hadis2 yang kontradiktif misalnya nih hadis yang melarang menangisi mayat dan hadis yang membolehkan menangisi mayat. Atau hadis-hadis musykil yang begitu anehnya

  • Nabi Musa telanjang mengejar pakaiannya yang dibawa lari sebongkah batu
  • Nabi Musa menampar malaikat maut sehingga bola mata malaikat itu keluar dan akhirnya Allah SWT mengembalikan bola matanya
  • Hadis yang menjelaskan Nabi SAW berhubungan dengan 9 istrinya dalam satu malam
  • Hadis yang menjelaskan Nabi SAW menikahi anak berumur 9 tahun

Dan masih ada yang lain, semuanya itu hadis-hadis yang Shahih. Belum lagi Sunnah yang diyakini dalam mahzab-mahzab tertentu. Bagi penganut mahzab Syafii, Qunut itu sunnah tetapi bagi mahzab Hanbali dan Salafy Qunnut itu bid’ah yang berarti bukan Sunnah. Jadi apa itu berarti penganut Syafii sudah merekayasa Sunnah?(dengan asumsi mahzab hanbali dan Salafy benar). Dalam mahzab Syiah berpegang pada Ahlul Bait dan menjadikan mereka Syariat adalah Sunnah tetapi bagi mahzab Sunni tidak. Yang anehnya Rekayasa Sunnah ini bahkan sudah terjadi di kalangan sahabat sendiri dimana ada sebagian sahabat yang melarang apa yang sudah ditetapkan dan dibolehkan oleh Nabi SAW salah satunya yaitu Haji tamattu’ (dan bagi Syiah termasuk Nikah Mut’ah).

3. Para imam mazhab sunni dan Bukhari serta perawi lain hadir jauh setelah kehadiran Rasulullah saw  sehingga cara menilai tsiqat tidaknya  HANYA DUGA DUGA !!!!!!!!!!

KALAU MODEL HADiS ASWAJA iNi DALAM METODE Syi’AH DiANGGAP DHAiF ATAU MUWATSTSAQ SAJA KARENA MATA RANTAi SANADNYA HANYA DUGA DUGA !!!!!!!!!!

Coba saja hitung hadis yg diriwayatkan oleh Ali misalnya dg hadis yg diriwayatkan oleh Abu Hurairah dalam Sahih Bukhori, pasti lebih banyak Abu Hurairah. Tidak kurang dari 446 hadis yg berasal dari Abu Hurairah yg terdapat dlm Sahih Bukhori. Sementara hadis Ali cuma 50 yg dianggap sahih atau 1.12 % dari jumlah hadis Abu Hurairah. Padahal Aisyah menuduh Abu Hurairah sbg pembohong dan Umar mengancamnya dg mencambuk kalau masih meriwayatkan hadis2..Apanya yg dirujuk ? Wong Sunni lebih banyak ngambil hadis dari Abu Hurairah dan org2 Khawarij atau dari Muqatil bin Sulaiman al-Bakhi? Kalo ngomong jangan asbun.

setiap pilihan ada resikonya, cara Bukhari bisa dipandang bermasalah ketika diketahui banyak hadis yang menurut orang tertentu tidak layak disandarkan kepada Nabi tetapi dishahihkan Bukhari, kesannya memaksa orang awam untuk percaya “la kan shahih”. Belum lagi beberapa orang yang mengakui perawi-perawi Bukhari yang bermasalah, jadi masalah selalu ada.

Sebut saja misalnya sang Perawi A, ia dinyatakan tsiqat oleh karena itu hadisnya diterima sedangkan Perawi B tertuduh pendusta sehingga hadisnya ditolak. Nah bagaimana bisa anda memastikan kalau si A benar-benar bisa dipercaya dan si B benar-benar tertuduh pendusta.

Verifikasi yang pasti adalah dengan menilai sendiri watak kedua perawi itu alias ketemu langsung dan untuk itu, anda harus melakukan lompatan ruang dan waktu. Gak mungkin bisa kayaknya, jadi standar mesti diturunkan dengan Metode yang memungkinkan yaitu percaya dengan para Sesepuh sebelumnya yang sempat mengenal perawi tersebut atau dari ulama yang pernah belajar sama sesepuh itu atau ulama yang pernah belajar sama ulama yang belajar dari sesepuh.Singkatnya Taklid gitu loh dan bisa dimaklumi kalau orang-orang tertentu tidak berkenan dengan metode ini dan menilainya tidak ilmiah

  • Imam Syafii dinyatakan dhaif oleh Ibnu Main dan tsiqah oleh banyak ulama lain (bisa bayangkan kalau Imam Syafii dhaif, waduh bisa hancur itu mahzab Syafii)
  • Imam Tirmidzi dinyatakan majhul oleh Ibnu Hazm tetapi sangat terpercaya oleh ulama lain(apalagi ini nih masa’ Sunan Tirmidzi kitab majhul/tidak dikenal)
  • Ibnu Ishaq dinyatakan dajjal oleh Imam Malik tetapi beliau juga dipercaya oleh Imam Syafii dan Ali bin Madini serta yang lainnya. Dan sampai sekarang kitab Sirah Ibnu ishaq tetap menjadi referensi umat islam.
  • Katsir Al Muzanni adalah perawi yang sangat dhaif dan ini dinyatakan oleh banyak ulama sampai2 Imam Syafii menyebutnya “Tiang Kebohongan”(ini celaan paling jelek dalam Jarh wat Ta’dil). Anehnya Imam Tirmidzi berhujjah dengan hadis Katsir.
  • Imam Ahmad ibn Hanbal menggugurkan keadilan Ubaidullah ibn Musa al Absi hanya karena ia mendengarnya menyebut-nyebut kejelakan Mu’awiyah ibn Abu Sufyân. Tidak cukup itu, ia (Ahmad) memaksa Yahya ibn Ma’in agar menggugurkan keadilannya dan menghentikan meriwayatkan hadis darinya.

Pihak Sunni menerima hadis hadis yang diriwayatkan oleh Khawarij dan golongan Nawasib . Mereka tidak segan segan untuk menshahihkan hadis hadis palsu yang disusun secara sengaja  untuk memuliakan dan menguatamakan Abubakar Umar Usman dan loayalisnya. Padahal PERAWi  TERSEBUT dikenal  sebagai nawasib

contoh : Ibnu Hajar menyatakan Abdullah bin Azdy sebagai “pembela sunnah Rasul”

Ibnu Hajar juga menyatakan Abdullah bin Aun Al Bisry sebagai “Ahli ibadah pembela sunnah dan penentang bid’ah”

Padahal faktanya mereka berdua membenci Imam Ali dan para pendukungnya

4.. Pemerintahan para penjahat melancarkan propaganda hingga ajaran itrah ahlul bait menjadi asing ditengah tengah umat

Pendapat yang pernah dikemukakan oleh Mahmud Abu Rayyah dalam “Adhwa’ ‘Ala al-Sunnah al-Muhammadiyyah” (Telaah Atas Sunnah Muhammad) patut dipertimbangkan di sini. Dia mengatakan dalam buku itu yang membuat saya terkesima saat membacanya pertama kali dan selalu saya ingat hingga sekarang: menurut informasi dari Imam Bukhari sendiri, dia menyeleksi dari sekitar 300 ribu hadis untuk menyusun kitab koleksi hadisnya yang dianggap sebagai paling otoritatif oleh umat Islam itu. Sebagaimana kita tahu, Sahih Bukhari hanya memuat sekitar 2600an hadis.

Kata Abu Rayyah: bayangkan, Imam Bukhari menyuling 2600an hadis yang dianggap valid dari 300 ribuan hadis. Apa yang bisa disimpulkan dari fakta ini? Kata Abu Rayyah: dengan rasio 300.000:2600an, kita bisa mengatakan bahwa hadis pada umumnya adalah palsu atau lemah. Yang valid hanyalah perkecualian saja. Tentu, kita berbicara mengenai era Imam Bukhari. Dengan kata lain, pada zaman itu, betapa pervasif dan luas sekali persebaran hadis-hadis palsu atau minimal lemah. Begitu luasnya persebaran hadis palsu sehingga Abu Rayyah membuat semacam hukum: hadis yang palsu adalah “norm“, sementara hadis yang shahih adalah “exception“.

MENiNGGAL KAN iTRAH AHLUL BAiT = MENiNGGALKAN ALQURAN.. Itrah ahlul bait dan Al Quran adalah satu tak terpisahkan…

Hadis hadis TENTANG  SEMUA  SAHABAT  ADiL, hadis hadis jaminan surga kepada 3 khalifah, hadis hadis pujian kepada  Mu’awiyah  dan sejenisnya hanyalah  hadis hadis  politik REKAYASA  PENGUASA  dan ulama penjilatnya..

Yang menarik, hadis-hadis politik itu muncul dan beredar di masyarakat jauh setelah khalifah empat (al-khulafa’ al-rashidun) berlalu. Hadis-hadis ini muncul setelah sarjana Islam mulai menulis literatur yang sering disebut sebagai “fiqh al-Siyasah” atau fikih politik.

masalah hadis-hadis politik, tinggal bagaimana kearifan kita dalam memahaminya. iya to!  alias tak seluruhnya dr turats klasik kita itu BAIK. jangan hanya “taken for granted”

Selamanya kaum munafik tidak akan pernah mencintai Imam Ali as…. semua upaya mereka hanya akan tercurah pada bagaimana mereka dapat melampiaskan kedengkian dan kebencian mereka kepada Imam Ali as. dengan berbagai cara:

(1) Melaknati dan memerintah kaum Muslim untuk mentradisikan pelaknatan Imam Ali as., seperti apaa yang ditradisikan oleh Mu’awiyah dan para raja bani Umayyah tekutuk!

(2) Mengejar-ngejar dan membantai para pecinta Imam Ali as. seperti apaa yang ditradisikan oleh Mu’awiyah dan para raja bani Umayyah tekutuk serta sebagian raja bani Abbas!

(3) Mengintimidasi dan menghukum siapa saja yang dituduh mencintai Imam Ali dan Ahlulbait as.

(4) Menuduh siapa saja yang mencintai Imam Ali dan Ahlulbait dengan berbagai tuduhan kejam, seperti Syi’ah atau Rafidhah!

(5) Mencacat siapa saja yang meriwayatkan hadis-hadis Nabi saw. tentang keutamaan Imam Ali dan Ahlulbait dengan berbagai pencacatan tidak berdasar dan palsudan sekaligus menuduhnya sebagai Syi’ah atau Rafidhah!

(6) Memusnahkan atau merahasiakan sebisa mungkin hadis-hadis Nabi saw. tentang keutamaan Imam Ali dan Ahlulbait as. agar tidak menyebar dan mengguga kesadaran umat Islam akan kemuliaan keistimewaan Ahlulbait as.

(7) Menyebarkan hadis-hadis palsu keutamaan musuh-musuh Imam Ali dan Ahlulbait as. sebagai usaha menndingi keisitimewaan Imam Ali dan Ahlulbait as.

(8) Dll.

Situasi politik dan keamanan pada saat pengumpulan hadis hadis sunni tidak kondusif  bagi suasana ilmiah yang netral, buktinya antara lain :

- Imam Al Nasa’i, pengarang sunan Al Nasa’i dipukul dan dianiaya hingga sekarat didalam Masjid karena menyatakan : “saya tidak mengetahui keutamaan apapun dari Mu’awiyah kecuali Allah tidak pernah mengenyangkan perutnya”

- Pemakaman Ibnu Jarir Al Thabary dipekuburan Islam dihalangi dan dicegah karena beliau menshahihkan hadis hadis Ghadir Kum dan menghimpun riwayat riwayat nya hingga mencapai tingkat mutawatir.. Beliau akhirnya dikubur dipekuburan Kristen dan hartanya dirampas

- Al ‘Amary yang meriwayatkan hadis burung panggang (yang menunjukkan keutamaan Imam Ali) di usir dari tempat duduk nya dicuci karena dianggap najis

- Imam Syafi’i dianiya karena mengucapkan syair syair yang memuji ahlulbait, bahkan beliau nyaris dihukum mati.

Sebagian hadis hadis sunni  berlabel shahih ternyata PALSU  dan PENUH  REKAYASA POLiTiK, fakta sejarah :

1. Pihak kerajaan Umayyah (kecuali Umar bin Abdul Aziz) selalu menghina dan mengutuk Ali dan keturunannya.. Bahkan Yazid  membantai  Imam Husain  beserta pendukungnya… Tetapi  mereka memuliakan Abubakar, Umar, Usman dan sahabat sahabat lainnya melalui pembuatan hadis hadis politik jaminan surga dll

2. Pihak kerajaan Umayyah (kecuali Umar bin Abdul Aziz) sangat membenci Imam Ali dan menuduh nya sebagai pendukung pembunuh USMAN

3. Imam Ahmad bin Hambal pada masa kerajaan Abbasiyah yang pertama kali mengusulkan Ali sebagai bagian dari Khulafaurrasyidin

4.Imam Ahmad bin Hambal mendha’ifkan hadis hadis shahih karena perawinya yang pro ahlulbait mengkritik Abubakar Umar USman dan loyalisnya, mereka diberi label “rafidhah”… Ulama ulama hadis  sunni yang lain jauh lebih radikal dari Ahmad bin Hambal

5. Sepeninggal Nabi SAW pihak penguasa bersikap keras dan kejam kepada Imam Ahlulbait dan para pengikutnya, misalnya : Al Mutawakkil yang digelari “Khalifah Pembela Sunnah Nabi” melakukan :

- Membongkar kuburan imam Husain

- Melarang ziarah kubur ke makam Imam Ali dan Husain

- Memberikan hadiah kepada setiap orang yang mencaci maki Imam Ali

- Membunuh setiap bayi yang diberi nama Ali

- Berupaya membela kelompok Nawasib

Para peneliti juga mengetahui bahwa Mu’awiyah, politikus penipu yang ulung itu, telah memerintahkan untuk mengumpul ‘para Sahabat’, agar menyampaikan hadis hadis yang mengutamakan para Sahabat Abu Bakar, Umar dan Utsman untuk mengimbangi keutamaan Abu Turab (Ali bin Abi Thalib). Untuk itu, Mu’awiyah memberikan imbalan berupa uang dan kedudukan kepada mereka.

Abul Hasan Ali bin Muhammad bin Abi Saif alMada’ini, dalam bukunya, alAhdats,Mengutip sepucuk surat Mu’awiyah kepada bawahannya: ‘Segera setelah menerima surat ini, kamu harus memanggil orang orang, agar menyediakan hadis hadis tentang para Sahabat dan khalifah; perhatikanlah, apabila seseorang Muslim menyampaikan hadis tentang Abu Turab (Ali), maka kamu pun harus menyediakan hadis yang sama tentang Sahabat lain untuk mengimbanginya. Hal ini sangat menyenangkan saya, dan mendinginkan hati saya dan akan melemahkan kedudukan Abu Turab dan Syi’ahnya’.

Ia juga memerintahkan untuk mengkhotbahkannya di semua desa dan mimbar (fi kulli kuratin wa’ala kulli minbarin). Keutamaan para Sahabat ini menjadi topik terpenting di kalangan para Sahabat, beberapa jam setelah Rasul wafat, sebelum lagi beliau dimakamkan. Keutamaan ini juga menjadi alat untuk menuntut kekuasaan dan setelah peristiwa Saqifah topik ini masih terus berkelanjutan. Para penguasa dan para pendukungnya membawa hadis hadis  tentang keutamaan sahabat untuk ‘membungkam’ kaum oposisi, dan demikian pula sebaliknya.

Dalam menulis buku sejarah, seperti tentang peristiwa Saqifah, yang hanya berlangsung beberapa jam setelah wafatnya Rasul Allah saw, harus pula diadakan penelitian terhadap para pelapor, prasangka prasangkanya, keterlibatannya dalam kemelut politik, derajat intelektualitas, latar belakang kebudayaannya, sifat sifat pribadinya, dengan melihat bahan bahan sejarah tradisional yang telah dicatat para penulis Muslim sebelum dan setelah peristiwa itu terjadi. Tulisan sejarah menjadi tidak bermutu apabila penulisnya terseret pada satu pihak, dan memilih laporan laporan tertentu untuk membenarkan keyakinannya.

Imam Bukhari takut pada tekanan, sehingga sedikit bergaul dengan alawiyyin pada masa Abbasiyah…Bergaul dengan alawiyyin akan membahayakan keselamatannya, masa itu mengaku sebagai orang kafir jauh lebih selamat nyawa daripada mengaku sebagai syi’ah…

Penguasa Bani Umayyah ( kecuali Umar bin Abdul Aziz ) dan Separuh Penguasa Bani Abbasiyah KEKEJAMAN NYA melebihi Firaun, mereka dengan mudah membunuh orang orang yang tidak bersalah hanya karena ia syi’ah…Inilah yang membuat Bukhari menjauhi syi’ah…

Jumlah hadis-hadis yang bersumber dari Imam Kelima dan Keenam lebih banyak dibandingkan dengan hadis-hadis yang bersumber dari Nabi Saw dan para Imam yang lain.Akan tetapi, pada akhir hayatnya, Imam Ja’far Shadiq ( Imam Keenam) dikenai pencekalan secara ketat oleh Khalifah Abbasiyah, Mansur, yang memerintahkan seperti penyiksaan dan pembunuhan berdarah dingin terhadap keturunan Nabi Saw yang merupakan penganut Syiah sehingga perbuatannya melebihi kekejaman dan kebiadaban Bani Umayyah.

Atas perintah Mansur, mereka ditangkap secara berkelompok, beberapa dilemparkan ke penjara gelap dan pengap kemudian disiksa hingga mati, sementara yang lainnya dipancung atau dikubur hidup-hidup di bawah tanah atau di antara dinding-dinding bangunan, dan dinding dibangun di atas mereka.Hisyam, Khalifah Umayyah, memerintahkan agar Ja’far Shadiq Imam Keenam ditangkap dan dibawa ke Damaskus. Kemudian, Imam Ja’far Shadiq ditangkap oleh Saffah, Khalifah Abbasiyah, dan dibawa ke Irak. Akhirnya, Mansur menangkap Imam Ja’far Shadiq dan membawanya ke Samarra di mana Imam disekap, diperlakukan secara kasar dan beberapa kali berusaha untuk membunuh Imam.

Kemudian, Imam Ja’far Shadiq diperbolehkan untuk kembali ke Madinah di mana Imam Ja’far Shadiq menghabiskan sisa-sisa umurnya dalam persembunyian, hingga ia diracun dan syahid melalui intrik licik Mansur.

Bisakah anda menulis sesuatu dengan sempurna jika nyawa anda taruhannya ?? Kodifikasi hadis seperti kitab Bukhari Muslim dll terjadi pada masa Abbasiyah bukan ???Wajarlah ilmu itrah ahlul bait dalam kitab hadis Aswaja Sangat sedikit …Menangislah … menangislah…

Para pembaca…

Pada masa khalifah Mutawakkil sedang memuncak periwayatan hadis, tetapi sangat sulit dikenali mana yang asli dan mana yang palsu…

Pada masa khalifah Mutawakkil negara berakidah ahlul hadis. Paham ini didukung negara sehingga hadis hadis sunni menjadi mudah di intervensi dengan penambahan penambahan yang di lakukan ULAMA ULAMA BUDAK kerajaan

Ahlul hadis sunni hanya memakai hadis tanpa rasio, padahal hadis hadis yang ada tidak ada jaminan 100% akurat  dari Nabi SAW

Karena fanatisme mazhab, orang orang pada masa tersebut mengarang ngarang hadis agar mazhab nya tetap tegak. Dulu kita tidak tahu, tetapi kini di era informasi semakin mudah didapat bukti bukti…

Di Al Kafi, Al Kulaini menuliskan riwayat apa saja yang dia dapatkan dari orang yang mengaku mengikuti para Imam Ahlul Bait as. Jadi Al Kulaini hanyalah sebagai pengumpul hadis-hadis dari Ahlul Bait as. Tidak ada sedikitpun pernyataan Al Kulaini bahwa semua hadis yang dia kumpulkan adalah otentik.Beliau hanya melakukan koleksi, maka beliau tentunya tidak melakukan penelitian baik sanad ataupun matan dari hadits tsb

Kalau ente menemukan Imam Ja’far bersabda….begini dan begitu.. artinya dia hanya mengutip apa yg disabdakan oleh nabi saw melalui jalur moyangnya spt Ali bin Abi Talib, Hasan, Husein, Ali bin Husein dan Muhammad bin Ali. Dus ucapan para Imam = ucapan Nabi saw. Adapun hadis hadis dha’if dalam kitab syi’ah bukanlah hadis Nabi SAW tapi ucapan ucapan yang dinisbatkan pada Imam imam… Dalam kitab syi’ah tidak ada hadis Nabi SAW yang dha’if apalagi pemalsuan atas nama Nabi SAW

Hadis Nabi SAW, Imam Ali disampaikan oleh Imam Ja’far secara bersambung seperti :[..dari Abu Abdillah (ja’far) dari Ayahnya ( Al Baqir ) dari kakeknya ( zainal ) dari Husain atau dari Hasan dari Amirul Mu’minin ( Imam Ali ) yang mendengar Nabi SAW bersabda …] ada lebih dari 5.000 hadis

Adanya pertentangan dan kontradiksi diinternal hadis sunni  MEMBUKTiKAN  bahwa  sebagian hadis  sunni yang  ditolak  (syi’ah imamiyah)  adalah hadis  BUATAN  rezim penjahat…

Menghujat sahabat adalah kafir  rafidhah ???  bagai mana dengan muawiyah yang memerintahkan  untuk  menghujat  Imam Ali Di mimbar masjid yang diikuti mayoritas  khalifah  bani umayyah ? Apa muawiah kafir??? 

Picture

Para pembaca..

kita bisa lihat Imam Ahmad bin Hanbal yg hafal 1.000.000 hadits (1 juta hadits), berikut sanad dan hukum matannya, hingga digelari Huffadhudduniya (salah seorang yg paling banyak hafalan haditsnya di dunia), (rujuk Tadzkiratul Huffadh dan siyar a’lamunnubala) dan beliau tak sempat menulis semua hadits itu, beliau hanya sempat menulis sekitar 20.000 hadits saja, maka 980.000 hadits lainnya sirna ditelan zaman

Imam Bukhari

Picture

Bukhari manusia super ??? 16 tahun adalah 8.409.600 menit, jika dalam tempo 16 tahun Bukhari mampu mengumpulkan 600 ribu hadis saja berarti Bukhari adalah manusia super yang mampu mencari, menyeleksi dan menshahihkan 1 hadis dalam tempo 14 menit !!! itu belum dipotong waktu makan – shalat – tidur – perjalanan… Wow !!

60 minit x 24 jam x365hari x 16 tahun =8.409.600 minit (16 tahun)

hadis yang dikumpul 600,000 dalam tempoh 16 tahun.

8.409.600 dibahagi 600.000 =14,016 minit untuk 1 hadis

adakah imam bukhari mampu mencari,menyeleksi dan mensahihkan hadith itu dalam tempoh 14,016 minit?

itu belum ditolak waktu tidur,makan,solat,aktiviti memanah dan lain lain.jika ditolak waktu itu mungkin masanya lagi kurang mungkin sekitar 7 minit saja masa yang tinggal.

belum dikira lagi masa perjalanan dari kota ke kota lain dalam mencari hadith.

kita selalu diberikan angka angka ini untuk mewujudkan kekaguman kepada imam bukhari.tapi adakah angka ini betul setelah dikira berasaskan matematik

Diriwayatkan, bahwa Imam Bukhari berkata: “Saya hafal hadits di luar kepala sebanyak 100.000 buah hadits sahih, dan 200.000 hadits yang tidak sahih.”

Muhammad bin Hamdawaih rahimahullah menceritakan: Aku pernah mendengar Bukhari mengatakan, “Aku hafal seratus ribu hadits sahih.” (Hadyu Sari, hal. 654)

.

Bukhari rahimahullah mengatakan, “Aku menyusun kitab Al-Jami’ (Shahih Bukhari, pent) ini dari enam ratus ribu hadits yang telah aku dapatkan dalam waktu enam belas tahun dan aku akan menjadikannya sebagai hujjah antara diriku dengan Allah.” (Hadyu Sari, hal. 656)

.

perkataan Bukhari : “Aku susun kitab Al-Jami’ ini yang dipilih dari 600.000 hadits selama 16 tahun.”

.
Jumlah Hadits Kitab Al-Jami’as-Sahih (Sahih Bukhari)
Al-’Allamah Ibnus-Salah dalam Muqaddimah-nya menyebutkan, bahwa jumlah hadits Sahih Bukhari sebanyak 7.275 buah hadits, termasuk hadits-hadits yang disebutnya berulang, atau sebanyak 4.000 hadits tanpa pengulangan. Perhitungan ini diikuti oleh Al-”Allamah Syaikh Muhyiddin an-Nawawi dalam kitabnya, At-Taqrib

.
Selain pendapat tersebut di atas, Ibn Hajar di dalam muqaddimah Fathul-Bari, kitab syarah Sahih Bukhari, menyebutkan, bahwa semua hadits sahih mawsil yang termuat dalam Sahih Bukhari tanpa hadits yang disebutnya berulang sebanyak 2.602 buah hadits. Sedangkan matan hadits yang mu’alaq namun marfu’, yakni hadits sahih namun tidak diwasalkan (tidak disebutkan sanadnya secara sambung-menyambung) pada tempat lain sebanyak 159 hadits. Semua hadits Sahih Bukhari termasuk hadits yang disebutkan berulang-ulang sebanyak 7.397 buah. Yang mu’alaq sejumlah 1.341 buah, dan yang mutabi’ sebanyak 344 buah hadits. Jadi, berdasarkan perhitungan ini dan termasuk yang berulang-ulang, jumlah seluruhnya sebanyak 9.082 buah hadits. Jumlah ini diluar haits yang mauquf kepada sahabat dan (perkataan) yang diriwayatkan dari tabi’in dan ulama-ulama sesudahnya.

.

Imam Bukhari hafal 100.000 hadits shahih, namun beliau hanya sempat menulis sekitar 7.000 hadits saja pada shahih Bukhari dan beberapa kitab hadits kecil lainnya, dan sisa  hadits lainnya sirna ditelan zaman

.. Bukhari mengumpulkan 600.000 hadis   tetapi Cuma 7000 yang dia anggap orisinil pasca seleksi.. Nah dari 7000 itulah syi’ah menseleksi dan meninjau ulang mana hadis yang orisinil dan mana hadis yang dibuat buat  antek antek  raja zalim !!

.

Muhaddits adalah orang yg berjumpa langsung dg perawi hadits, bukan jumpa dg buku buku, albani hanya jumpa dg sisa sisa buku hadits yg ada masa kini.

Albani wahabi bukan pula Hujjatul Islam, yaitu gelar bagi yg telah hafal 300.000 hadits berikut sanad dan hukum matannya, bagaimana ia mau hafal 300.000 hadits, sedangkan masa kini jika semua buku hadits sunni  itu dikumpulkan maka hanya mencapai kurang dari 100.000 hadits

.

Imam Muslim

Picture

Al-Jami’ atau biasa di kenal dengan Kitab Shahih Muslim merupakan kitab (buku) koleksi hadits yang disusun oleh Imam Muslim (nama lengkap: Abul Husain Muslim bin al-Hajjaj al-Naisaburi) yang hidup antara 202 hingga 261 hijriah. Ia merupakan murid dari Imam Bukhari.

Muslim menyaring isi kitabnya dari ribuan riwayat yg pernah didengarnya. Diceritakan bahwa ia pernah berkata “Aku susun kitab Sahih ini yg disaring dari 300.000 hadits.”

Diriwayatkan dari Ahmad bin Salamah yg berkata “Aku menulis bersama Muslim utk menyusun kitab Sahihnya itu selama 15 tahun. Kitab itu berisi 12.000 buah hadits.

Dalam pada itu Ibn Salah menyebutkan dari Abi Quraisy al-Hafiz bahwa jumlah hadits Sahih Muslim itu sebanyak 4.000 buah hadits. Kedua pendapat tersebut dapat kita kompromikan yaitu bahwa perhitungan pertama memasukkan hadits-hadits yg berulang-ulang penyebutannya sedangkan perhitungan kedua hanya menghitung hadits-hadits yg tidak disebutkan berulang.

Imam Muslim berkata di dalam Sahihnya “Tidak tiap hadits yg sahih menurutku aku cantumkan di sini yakni dalam Sahihnya. Aku hanya mencantumkan hadits-hadits yg telah disepakati oleh para ulama hadits.”

Picture

Apakah Keduanya Mencantumkan Semua Hadits Shahih Dan Komitmen Terhadap Hal itu?

Imam al-Bukhariy dan Imam Muslim tidak mencantumkan semua hadits ke dalam kitab Shahîh mereka ataupun berkomitmen untuk itu. Hal ini tampak dari pengakuana mereka sendiri, seperti apa yang dikatakan Imam Muslim, “Tidak semua yang menurut saya shahih saya muat di sini, yang saya muat hanyalah yang disepakati atasnya.”

banyak hadits-hadits shahih lainnya yang terlewati oleh mereka berdua. Imam al-Bukhariy sendiri mengakui hal itu ketika berkata, “Hadits-hadits shahih lainnya yang aku tinggalkan lebih banyak.”

Dia juga mengatakan, “Aku hafal sebanyak seratus ribu hadits shahih dan dua ratus ribu hadits yang tidak shahih.”

Berapa Jumlah Hadits Yang Dimuat Di Dalam Kitab ash-Shahîhain?

1. Di dalam Shahîh al-Bukhariy terdapat 7275 hadits termasuk yang diulang, sedangkan jumlahnya tanpa diulang sebanyak 4000 hadits.

2. Di dalam Shahîh Muslim terdapat 12.000 hadits termasuk yang diulang, sedangkan jumlahnya tanpa diulang sebanyak lebih kurang 4000 hadits juga.

Ahlusunnah Kehilangan Ratusan Ribu Hadis Shahih!

ِAda anggapan sebagian pemula bahwa Sunnah Nabi saw. telah terangkum dalam kitab-kitab hadis standar Ahlusunnah yang ditulis para ulama dan ahli hadis! Sehingga mereka merasa tentram bahwa Slogan yang selalu mereka dengar agar umat Islam kembali kepada Al Qur’an dan Sunnah Nabi saw. dapat diwujudkan dengan mudah! Sebab Al Qur’an tertulis dan terangkum lengkap dalam mushaf sedangkan Sunnah Nabi saw. juga terekam dengan utuh!

Tetapi, sepertinya angggapan para pemula perlu dikasiani! Sebab ternyata hadis-hadis Nabi saw. yang hendak mereka andalkan itu ternyata banyak yang telam musnah ditelan keganasan zaman! Tidak sampai kepada umat Islam melainkan hanya sedikit saja!

.

.

.

.

Al Iraqi -seperti Anda saksikan dalam scan di atas, menolak mentah-mentah angggapan lugu dan awam seperti itu! Ketika ada anggapan bahwa kitab-kitab hadis standar seperti lima kitab Ushul (induk) yaitu Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Daud, Sunan at Turmudzi dan Sunan an Nasa’i telah memuat hampir seluruh hadis/Sunnah Nabi saw…. dan tidak luput dari rekamannya melainkan hanya sedikit! al Iraqi berkata: Anggapan itu tidak tepat! Sebab:

Berdasarkan ucapan Imam Bukhari: Aku menghafal seratus ribu (100.000) hadis dan dua ratus ribu (200.000) hadis tidak shahih.!

Anggapan Kurang Berdasar!

Ada sebagian orang beranggapan bahwa yang dimaksud dengan jumlah  di atas adalah dengan menghitung berbagai jalur untuk satu hadis misalnya. bukan jumlah hadis itu sendiri! Tetapi anggapan ini telah tidak berdasar!

Kenyataan Pahit!

Seperti diakui oleh Imam as Suyuthi bahwa kenyataan yang terjadi bahwa jumlah hadis yang sekarang beredar dan terangkum dalam berbagai kitab hadis tidak sampai seratus ribu jumlahnya… Bahkan lebih pahit lagi -seperti diakui Imam as Suythi sendiri- bahwa jumlah hadis yang masih tersisa tidak juga sampai lima puluh ribu hadis!

Telaah Terhadap 700 Pembuat Hadis Palsu; Maudhlu’Berapa banyak jumlah hadis palsu ini dapat dibayangkan dengan contoh berikut. Dari 600.000 (enam ratus ribu) hadis yang dikumpulkan alBukhari, ia hanya memilih 2.761 (dua ribu tujuh ratus enam puluh satu) hadis. [1] Muslim, dari 300.000 (tiga ratus ribu) hanya memiiih 4.000 (empat ribu). [2] Abu Dawud, dari 500.000 (lima ratus ribu) hanya memilih 4.800 (empat ribu delapan ratus) hadis. [3], Ahmad bin Hanbal, dari sekitar 1.000.000 (sejuta) hadis hanya memilih 30.000 (tiga puluh ribu) hadis. [4].

Bukhari (194255 H/810869 M), Muslim (204261 H/819875M), Tirmidzi (209279 H/824892 M), Nasa’i (214303 H/829915 M), Abu Dawud (203275 H/818888 M) dan Ibnu Majah (209295 H/824908 M) misalnya telah menyeleksi untuk kita hadishadis yang menurut mereka adalah benar, shahih. Hadishadis ini telah terhimpun dalam enam buku shahih, ashshihah,assittah, dengan judul kitab masing-masing menurut nama mereka; Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Shahih (Sunan) Ibnu Majah, Shahih (Sunan) Abu Dawud, Shahih (Jami’) Tirmidzi dan Shahih (Sunan) Nasa’i.[5]

Tetapi, bila kita baca penelitian para ahli yang terkenal dengan nama Ahlul Jarh wa’ Ta’dil, maka masih banyak hadis shahih ini akan gugur, kerana ternyata banyak di antara pelapor hadis, setelah diteliti lebih dalam adalah pembuat hadis palsu. AlAmini, misalnya, telah mengumpulkan tujuh ratus nama pembohong yang diseleksi oleh Ahlu’l Jarh wa Ta’dil Sunni yang selama ini dianggap adil atau jujur, dan hadis yang mereka sampaikan selama ini dianggap shahih dan tertera dalam buku shahih enam.

Ada di antara mereka yang menyampaikan, seorang diri, beriburibu hadis palsu. Dan terdapat pula para “pembohong zuhud” [6] , yang sembahyang, mengaji dan berdoa semalaman dan mulai pagi hari mengajar dan berbohong seharian. Para pembohong zuhud ini, bila ditanyakan kepada mereka, mengapa mereka membuat hadis palsu terhadap Rasul Allah saw yang diancam api neraka, mereka mengatakan bahwa mereka tidak membuat hadis terhadap (‘ala) Rasul Allah saw tetapi untuk (li) Rasul Allah saw. Maksudnya, mereka ingin membuat agama Islam lebih bagus. [7], Tidak mungkin mengutip semua. Sebagai contoh, kita ambil seorang perawi secara acak dari 700 orang perawi yang ditulis Amini. [8]

“Muqatil bin Sulaiman alBakhi, meninggal tahun 150 H/767 M. Ia adalah pembohong, dajjal dan pemalsu hadis. Nasa’i memasukkannya sebagai seorang pembohong; terkenal sebagai pemalsu hadis terhadap Rasul Allah sa Ia berkata terangterangan kepada khalifah Abu Ja’far alManshur: “Bila Anda suka akan saya buat hadis dari Rasul untukmu”. Ia lalu melakukannya. Dan ia berkata kepada khalifah alMahdi dari Banu Abbas: “Bila Anda suka akan aku buatkan hadis untuk (keagungan) Abbas’. AlMahdi menjawab: “Aku tidak menghendakinya!”[9].

Para pembohong ini bukanlah orang bodoh. Mereka mengetahui sifat-sifat dan cara berbicara para sahabat seperti Umar, Abu Bakar, Aisyah dan lainlain.

Mereka juga memakai nama para tabi’in seperti Ibnu Umar, ‘Urwah bin Zuba sebagai pelapor pertama, dan rantai sanad dipilih dari orang-orang yang dianggap dapat dipercaya. Hadishadis ini disusun dengan rapih, kadangkadang dengan rincian yang sangat menjebak. Tetapi kesalahan terjadi tentu saja kerana namanya tercantum di dalam rangkaian perawi. Dengan demikian para ahli tentang cacat tidaknya suatu hadis yang dapat menyusuri riwayat pribadi yang buruk itu, menolak Hadis-hadis tersebut. [10]

Demikian pula, misalnya hadishadis ang menggunakan kata-kata ‘mencerca sahabat’ tidak mungkin diucapkan Rasul, kerana katakata tersebut mulai diucapkan di zaman Mu’awiyah, lama sesudah Rasul wafat. Seperti kata-kata Rasul “Barang siapa mencerca sahabat-sahabatku maka ia telah mencercaku dan barang siapa mencercaku maka ia telah mencerca Allah dan mereka akan dilemparkan ke api neraka” yang banyak jumlahnya.[11].

Juga, hadishadis berupa perintah Rasul agar secara langsung atau tidak langsung meneladani atau mengikuti seluruh sahabat, seperti ‘Para sahabatku laksana bintang-bintang, siapa saja yang kamu ikuti, pasti akan mendopat petunjuk’ atau ‘Para sahabatku adalah penyelamat umatku’ tidaklah historis sifatnya.

Disamping perintah ini menjadi janggal, kerana pendengarnya sendiri adalah sahabat, sehingga menggambarkan perintah agar para sahabat meneladani diri mereka sendiri, sejarah menunjukkan bahwa selama pemerintahan Banu Umayyah, cerca dan pelaknatan terhadap Ali bin Abi Thalib serta keluarga dan pengikutnya, selama itu, tidak ada sahabat atau tabi’in yang menyampaikan hadis ini untuk menghentikan perbuatan tercela yang dilakukan di atas mimbar masjid di seluruh negeri tersebut. Lagi pula di samping fakta sejarah, alQur’an dan hadis telah menolak keadilan seluruh sahabat. [12]

Atau hadishadis bahwa para khalifah diciptakan atau berasal dan nur (sinar) yang banyak jumlahnya, sebab menurut AlQur’an manusia berasal dari Adam dan Adam diciptakan dari tanah dan tidak mungkin orang yang tidak menduduki jabatan dibuat dari tanah sedang yang ‘berhasil’menjadi khalifah dibikin dari nur.

Para ahli telah mengumpul para pembohong dan pemalsu dan jumlah hadis yang disampaikan.

Abu Sa’id Aban bin Ja’far, misalnya, membuat hadis palsu sebanyak 300.
Abu Ali Ahmad alJubari 10.000 Ahmad bin Muhammad alQays 3.000
Ahmad bin Muhammad Maruzi 10.000
Shalih bin Muhammad alQairathi 10.000 dan banyak sekali yang lain.

Jadi, bila Anda membaca sejarah, dan nama pembohong yang telah ditemukan para ahli hadis tercantum di dalam rangkaian isnad, Anda harus hatihati.

Ada pula pembohong yang menulis sejarah dan tulisannya dikutip oleh para penulis lain. Sebagai contoh Saif bin Umar yang akan dibicarakan di bagian lain secara sepintas lalu. Para ahli telah menganggapnya sebagai pembohong. Dia menulis tentang seorang tokoh yang bernama Abdullah bin Saba’ yang fiktif sebagai pencipta ajaran Syi’ah. Dan ia juga memasukkan 150 [13] sahabat yang tidak pernah ada yang semuanya memakai nama keluarganya. Dia menulis di zaman khalifah Harun alRasyid. Bukunya telah menimbulkan demikian banyak bencana yang menimpa kaum Syi’ah. Bila membaca, misalnya, kitab sejarah Thabari dan nama Saif bin Umar berada dalam rangkaian isnad, maka berita tersebut harus diperiksa dengan teliti

.

Referensi:
[1] Tarikh Baghdad, jilid 2, hlm. 8; AlIrsyad asSari, jilid 1, hlm. 28; Shifatu’s Shafwah, jilid 4, hlm. 143.
[2] Tarikh Baghdad, jilid 13, hlm. 101; alMuntazam, jilid 5, hlm. 3 2; Thabaqat al Huffazh, jilid 2, hlm. 151, 157; Wafayat alAyan, jilid 5, hlm. 194.
[3] Tarikh Baghdad jilid 9, hlm. 57; Thabaqat a1Huffazh, jilid 2, hlm. 154; alMuntazani, jilid 5, hlm. 97; Wafayat alA’yan jilid 2, hlm. 404.
[4] Tarikh Baghdad, jilid 4, hlm. 419420; Thabaqat a1Huffazh, jilid 2, hlm. 17; Tahdzib atTahdzib, jilid 1, hlm. 74; Wafayat alA’yan, jilid 1, hlm. 64.
[5] Menurut metode pengelompokan, hadits-hadits dibagi dalam Musnad, Shahih, Jami’, Sunan, Mujam dan Zawa’id.
[6] Zuhud = orang yang menjauhi kesenangan duniawi dan memilih kehidupan akhirat.
[7] AIAmini, alGhadir, Beirut, 1976, jilid 5, hlm. 209375.
[8] AIAmini, alGhadir, jilid 5, hlm. 266.
[9] Abu Bakar alKhatib, Tarikh Baghdad, jilid 13, hlm. 168; ‘Ala’udin Muttaqi alHindi, Kanzul- Ummal, jilid 5, hlm. 16, Syamsuddin adzDzahabi, Mizan alI’tidal, jilid 3, hlm. 196; alHafizh lbnu Hajar al’ Asqalani, Tahdzib atTahdzib, jilid 10, hlm. 284; Jalaluddin asSuyuthi, alLaAli ul Mashmu’ah, jilid 1, hlm. 168 jilid 2, hlm. 60, 122.

.
[10] Contoh-contoh Ahlul Jarh wa Ta’dil: Ibnu Abi Hatim arRazi, Ahlul Jarh wa Ta’dil (Ahli Cacat dan Penelurusan); Syamsuddin AzDzahabi, Mizan alI’tidal (Timbanga Kejujuran); Ibnu Hajar al’ Asqalani, Tahdzib atTahdzib (Pembetulan bagi Pembetulan) dan Lisan alMizan (Katakata Timbangan); ‘Imaduddin ibnu Katsir alBidayah wa’nNihayah (Awal dan Akhir), Jalaluddin AsSuyuthi,alLa’ali’ul Mashnu’ah (Mutiara-mutiara buatan), Ibnu Khalikan, Wafayat alA’yan wa Anba Abna azZaman (Meninggalnya Para Tokoh dan Berita Anakanak Zaman). Dan masih banyak lagi

.
[11] Lihat AIMuhibb Thabari, Riyadh anNadhirah, jilid 1, hlm. 30.
[12] Lihat Bab 19: ‘Tiga dan Tiga’ sub bab Sahabat Rasul.
[13] Seratus lima puluh.

Abu Hanifah, salah seorang ahli hukum Islam paling terkemuka, bahkan boleh dikatakan sering mengabaikan hadith dalam menulis hukum Islam. Padahal, koleksi hadith tersedia. Kenapa? Kekhawatiran yang sama , hadith sunni terlalu rentan dipalsukan!”

Tidak ada kesepakatan sunni – syi’ah tentang keorisinilan semua hadis Nabi SAW, ini berbeda dengan masalah ayat ayat Al Quran

Karena hadis sunni tidak dihapal dan tidak dicatat sejak awal secara sistematis, maka ahlul hadis sunni kebingungan untuk memastikan mana hadis yang betul betul berasal dari Nabi (orisinil) dan mana hadis yang dibuat buat…

sejarah dan hadis tentang Nabi Muhammad saw yang sampai kepada umat Islam Sunni sekarang ada yang  sudah tidak shahih karena ditulis sesuai dengan kepentingan penguasa.

.

Setelah Rasulullah saw wafat dan sejak berkuasanya Dinasti Umayyah dan Abbasiyah, banyak hadits yang dibuat-buat oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab untuk memuliakan dan mengagungkan penguasa serta mengunggulkan mazhabnya. Karena itu, untuk memperoleh sejarah Nabi saw yang benar (shahih) harus memisahkan fakta dari fiksi dan memilah kebenaran dari berbagai dusta yang dinisbatkan kepada Muhammad saw

.

Sunnah adalah apapun yang berupa perkataan, perbuatan dan sikap yang dinisbatkan kepada Nabi SAW.

Siapa itu para pencatat? Manusia yang tidak maksum. Nah ada kemungkinan usil yang lain. Bukankah mereka para pencatat adalah orang-orang yang tidak selalu benar dan mereka punya potensi melakukan kesalahan. jadi bisa saja para pencatat itu melakukan kekeliruan. Ini sebuah kemungkinan yang masih harus dibuktikan tetapi tidak bisa sepenuhnya ditolak. Mari kita melakukan lompatan ribuan tahun dan kembali ke masa kini. Ada berapa banyak kitab yang memuat Sunnah yang anda ketahui? lumayan banyak baik yang semuanya Shahih(menurut Ulama) atau yang campuran shahih, hasan dhaif dan maudhu’.

Mari pikirkan kemungkinan-kemungkinannya. Rasulullah SAW hidup 1400 tahun yang lalu artinya kita terpisah ruang dan waktu yang sangat jauh untuk mengakses apa itu sebenarnya Sunnah atau Bagaimana Sang Rasul SAW sebenarnya.

Banyak riwayat terpercaya melaporkan bahwa Imam Malik telah menghafal tidak kurang dari 100.000 hadis…. Dari jumlah itulah ia menyusun kitab Muwaththa’nya yang sangat ia bangakan dan juga dibanggakan para ulama; para fakih dan muhaddis Ahlusunnah, seperti Imam Syaf’iI dll.

Dalam kesempatan ini saya ingin berbagi informasi tentang banjir hadis di dunia hadis Ahlusunnah…

Jalaluddin as Suyuthi –seorang ulama, pakar haddis, ahhli fikih, dan bahasa- meraangkum laporan untuk kita dalam mukaddimah syarah Muwaththa’nya yang ia beri judul Tanwîr al Hawâlik….

* Qadhi Abu Bakar ibn al Arabi meriwayatkan dalam syarahh at Turmudzi dari Ibnu Hubâb bahwa Malik telah meriwayatkan seratus ribu hadis. Ia menghimpunnya dalam Muwaththa’ sebanyaak sepuluh ribu, kemudian ia terus-menerus menyocokkannya dengan Al Qur’an dan Sunnah dan menguji kualitasnya dengan atsâr dan akhbâr, sehingga ia kembali (hanya menerima) lima ratus hadis saja.”
* Al Kiya al Harâsi berkata, Sesungguhnya Muwaththa’ Malik terdiri dari sembilan ribu hadis, kemudian ia (Malik) terus-menerus memilih dan memilah sehingga tersisa hanya tujuh ratus hadis.”
* Abu al Hasan ibn Fihr, meriwayatkan dari ‘Atîq ibn Ya’qub, ia berkata, “Malik memuat sekitar 10.000 hadis dalam Muwaththa’, lalu ia senantiasa menelitinya setia tahun, dan ia mengugurkan bagian-bagian tertentu darinya, sehingga tersisa yang sekarang ini.”
* Sulaimn ibn Bilâl berkata, “Malik menulis Muwaththa’ dan di dalamnya terdapat empat ribu hadis atau lebih, dan ketika ia mati yang tersisa hanya seribu hadis lebih sedikit. Setiap tahun ia menyortirnya dan menyisakan yang dalam hematnya mengandung maslahat buat kaum Muslimin dan sesuai untuk agama.”

(Baca Tanwîr al Hawâlik,1/6 mukaddimah III)

Dari paparan di atas dapat kita saksikan betapa hadis palsu telah membanjiri dunia hadis Ahlusunnah…. Dari seratus ribu hadis yang diriwayatkan Malik dari para masyâikhnya, yang hampir keseluruhannya adalah berasal dari kota Madinah, ternyata Malik hanya mampu menyisakan sekitaar 1000 hadis saja…

itu pun masih ternyata masih banyak yang tidak layak dikelompokkan sebagai hadis shahih!! Sehingga ada yang mengatakaan andai kematian Imam Malik ditangguhkan hingga setahun kemudian kuat kemungkinan ia akan menggugurkan seluruh isi kitab Muwaththa’ yang ia tulis selama empat puluh tahun itu. (Tentang waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan kitab Muwaththa’nya, baca Tanwîr al Hawâlik,1/6)

Ini semua bukti nyata bahwa hadis-hadis palsu telah membanjiri dunia hadis Ahlusunnah dan mereka sedang menghapi krisis hadis yang sangat serius!

Lalu, apa tidak mungkin hadis-hadis yang sekarang beredar atas nama agama itu adalah sebagian dari hadis-hadis palsu yang dibuang Imam Malik itu?

Siapa tau?

Kalau Imam Malik saja sudah kehilangan kepercayaan terhadap 99 persen hadis yang ia riwayatkan sendiri dari para masyâikhnya, lalu kini apa yang masih bisa dipercaya?

Dari 100.000 hadis ternyata hanya 1000 yang dapat selamat!

 Legenda :Imam Ahmad bin Hanbal yg hafal 1.000.000 hadits (1 juta hadits) tapi  hanya sempat menulis sekitar 20.000 hadits saja, maka 980.000 hadits lainnya sirna ditelan zaman???

Syi’ah dan Sunni sepakat tentang keorisinilan Al Quran. Syi’ah tidak sepakat tentang keorisinilan semua hadis sunni yang “berlabel shahih”. Logika : Bukhari mengumpulkan 600.000 hadis   tetapi Cuma 7000 yang dia anggap orisinil pasca seleksi ? Nah dari 7000 itulah syi’ah menseleksi dan meninjau ulang mana hadis yang orisinil dan mana hadis yang dibuat buat !

setelah kitab Shahih Bukhari tersusun, muncullah segelintir ulama hadits yang mengkritik isi kitab tersebut. Diantaranya Al-Daaraqutni (wafat 385 H), Abu Ali Al-Ghassani (wafat 365 H), dan lain-lain. Kritikan para ulama ini (yang tertuju tidak lebih dari 100 hadits) dari sudut pandang ilmu-ilmu hadits, yang menurut mereka, terdapat juga di dalamnya hadits yang dhoif.

bahwa hadist yg diriwayatkn oleh Imam Bukhari yg sejak kita belajar Islam sudah ditanamkan bahwa itu hadist sahih- sulit rasanya menerima pandangan yg sebaliknya. Karena suatu hal yg ditanamkan ratusan atau bahkan ribuan tahun, sebagai kebenaran hampir mutlak, butuh keberanian intelektual utk menerima kekritisan cara berpikir yg berbeda dgn pendapat umum Ummat Islam. Karena salah-salah kita bisa dianggap keluar dari millah ini, ujung-ujungnya dikafirkan, ngeri coy.

Pertanyaan :

  1. Apakah Bukhari maksum sehingga kitab hadisnya 100% benar ?
  2. Ada hadis hadis dalam kitab Bukhari yang saling bertentangan, Apakah masuk akal Nabi SAW mengucapkan sabda sabda yang saling saling berlawanan alias plin plan ??? Ingat, Nabi SAW itu maksum (infallible)

Telaah Terhadap 700 Pembuat Hadis Palsu; Maudhlu’

Itu Artinya!

Itu artinya bahwa umat Islam Sunni kehilangan hadis dalam jumlah yang sangat banyak!

Kemanakah raibnya hadis-hadis Nabi saw. itu?

Mungkinkah Anda sanggup mengamalkan Sunnah Nabi saw. jika kenyataannya bahwa lebih dari separuh atau lebih dari Sunnah Nabi saw. itu telah musnah ditelan zaman?!

hanya Allah yang Maha Mengatahui derita yang dialami umat Islam ini!

Inna Lillahi wa Inna Ilaihi raji’un!

Menjadi Syi’ah tidak cukup sekedar mengaku ngaku seperti wahabi ngaku ngaku Salafi

Selain mengidap TBC (Tuli Buta Cupet), penganut ajaran sempalan ini juga mengidap SPILIS alias Sedikit Pemahaman Ingin Langsung Ikut-ikutan Salaf shalihin. Sebagai dampaknya tentu saja mereka menjadi manusia inkonsisten bahkan dengan pemahaman mereka sendiri. Di satu sisi tak faham betul tentang segala sesuatu berkenaan dengan salaf shalihin, tetapi di sisi lain ingin seperti salaf shalihin. Benar-benar ajaib.

Mereka berfikir dengan memilih nama “Manhaj Salaf” akan membuat mereka menjadi sebagaimana Salaf Shalihin. Lucunya, menurut mereka Salaf Shalihin itu maksum sedang individu dari Salaf Shalihin belum tentu maksum. Mereka menolak mengikuti Madzhab yang telah dikenal luas dalam dunia Islam. Bahkan dalam anggapan mereka, mengikuti Madzhab adalah syirik karena taklid buta pada individu. Sungguh lucu tapi nyata, karena di sisi lain mereka ternyata begitu fanatik akan ulama-ulamaan dan ustdz-ustadzan mereka. Apapun akan mereka lakukan untuk membela ulama-ulamaan mereka dan ustadz-ustadzan mereka, bila berlu mengkafirkan orang yang menolak fatwa ulama-ulamaan mereka.

Perkara menghukumi atau melabeli orang di luar kelompok mereka adalah special skill dari penganut Wahabi yang berlindung di balik topeng salaf. Siapapun baik yang sebelum maupun yang setelah mereka pun telah mereka kafirkan atau syirikkan atau sesatkan. Mulai dari Adam as  sampai saya sendiri. Mereka juga tanpa ragu menyatakan bahwa kedua orang tua Rasulullah SAW masuk neraka dengan bermodalkan hadits yang sebenarnya masih banyak yang lebih kuat dari hadits yang mereka bawakan. Anehnya lagi mereka menyatakan itu sperti tanpa beban. Sungguh aneh.

Kembali ke masalah pemilihan manhaj salafi. Kalaulah memang mereka ingin seperti salaf shalihin dan pasti lurus lagi masuk surga, mengapa mereka tidak memilih saja nama manhaj shalihi karena orang shalih pastilah orang lurus.

tentu saja siapa pun tahu bahwa di masa salaf ada yang shalih dan ada yang tidak. Di antara yang jauh dari predikat shalih, tersebutlah Musailamah yang bahkan oleh Rasululullah SAW disebut Al Kadzab karena mengatakan dirinya nabi kepada semua orang, bahkan termasuk kepada Rasullah SAW. Benar-benar Al Kadzab.

Kiranya bukanlah suatu kebetulan bila ternyata Syaikhul Wahhabi yang bernama Muhammad bin Abdul Wahhab ternyata berasal dari daerah yang sama dengan Musailamah Al Kadzab yaitu NAJD, yang Rasulullah SAW telah menolak memberkatinya bahkan menyatakan fitnah dan tanduk setan akan muncul dari Najd yang terletak di sebelah Timur Madinah. Perlu pula dicatat ternyata Najd (Riyadh, ibukota Yaudi Wahabia) adalah daerah yang termasuk belakangan dalam menerima Islam di masa Rasulullah SAW.

Apakah Muslim Syiah tidak akan masuk neraka

Pertanyaan: Ada sebuah riwayat dari Imam Ali as: “Umat Islam Syiah tidak akan masuk neraka.” Begitu juga aku membaca dalam sebuah buku bahwa tingkat pertama neraka Jahanam adalah khusus untuk umat Islam (umat nabi) yang pendosa! Mana yang benar?

Jawaban Global:

Tolak ukur perhitungan di hari kiamat untuk menentukan apakah sesorang layak memasuki surga atu neraka berdasar pada kaidah-kaidah yang telah dijelaskan oleh Allah swt dalam ayat-ayat suci-Nya. Tuhan tidak mempedulikan faktor perbedaan kelompok, keturunan, dan bangsa dalam hal ini. Tolak ukur utama adalah amal perbuatan manusia; yakni kenikmatan surga adalah balasan dari iman dan amal saleh, sedangkan neraka adalah balasan kekufuran dan dosa.

Jawaban Detil:

Sepanjang sejarah banyak yang membahas masalah umat yang bakal selamat di akhirat (firqah najiah). Pembahasan tersebut kurang lebih bertumpu pada sebuah hadits yang diaku dari nabi, yang dikenal dengan hadits iftiraq. Para penulis buku-buku sekte dan mazhab-mazhab berusaha mengkategorikan sekte-sekte yang ada sebisa mungkin agar susuai dengan hadits tersebut. Dalam riwayat itu dijelaskan bahwa akan hanya ada satu kelompok yang selamat dan masuk surga. Akhirnya setiap sekte dan mazhab berusaha untuk menyebut dirinya sebagai kelompok yang benar itu dan layak memasuki surga.

Al-Qur’an dalam menyinggung masalah kebahagiaan sejati akhirat sering kali menjelaskan adanya beberapa kelompok yang tak hanya menganggap diri mereka yang layak masuk surga, namun juga berkeyakinan bahwa selain mereka tidak berhak masuk ke dalam surga. Begitu juga dalam riwayat-riwayat Ahlu Sunah dan Syiah banyak sekali ditemukan hadits tentang pahala dan siksa akhirat, dan terkadang setiap salah satu dari mereka memberikan tolak ukur tertentu untuk permasalahan tersebut. Dengan memahami pendahuluan singkat tersebut, kini perlu dijelaskan dua hal:

Pertama: Apakah Tuhan telah menjelaskan toak ukur orang-orang yang berhak masuk surga dan neraka? Atau tidak?

Dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang menjelaskan tentang sebagian kaum yang menyatakan diri merekalah yang paling berhak untuk masuk surga. Mereka mengira bahwa adzab neraka hanya akan mereka rasakan selama beberapa hari saja, lalu akhirnya mereka akan mendapatkan tempat di surga. Dalam menanggapi keyakinan seperti itu, Allah swt berfirman: “Katakanlah: “Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan memungkiri janji-Nya, ataukah kamu hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?”” (QS. al-Baqarah [2]:80)

Setelah itu Allah swt menjelaskan kaidah umum untuk menentukan siapakah yang berhak masuk surga atau neraka. Ya, orang-orang yang melakukan dosa, lalu dampak dosa itu meliputi dirinya, maka orang seperti itu adalah penduduk neraka, dan mereka kekal di sana. Adapun mereka yang beriman dan melakukan amal perbuatan baik, mereka adalah penduduk surga dan untuk selamanya mereka di sana.[1]

Begitu pula sebagian berkeyakinan bahwa hanya Yahudi dan Nashrani saja yang akan masuk surga. Lalu Al-Qur’an menepis pengakuan mereka dan menyatakan bahwa perkataan mereka tidak memiliki bukti, menganggap semua itu hanyalah mimpi dan khayalan mereka saja. Lalu Al-Qur’an menjelaskan tolak ukur sebenarnya dengan berfirman: “…bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah [2]:112)

Ayat suci itu menyatakan bahwa sebab utama masuk surga adalah penyerahan diri kepada perintah Tuhan dan perbuatan baik. Yakni surga tidak akan diberikan kepada orang yang hanya mengaku-aku saja, namun diperlukan iman dan amal saleh. Oleh karena itu, Al-Qur’an menjadikan amal perbuatan sebagai tolak ukur berhaknya seseorang untuk masuk surga atau neraka. Meski juga ada kelompok ketiga yang berada di antara mereka, yang mana Al-Qur’an menjelaskan mereka adalah orang-orang yang memiliki harapan terhadap Tuhannya; namun hanya Ia yang tahu entah mereka dimaafkan atau disiksa.[2]

Kedua: Siapakah yang dimaksud orang-orang Syiah yang dijanjikan masuk surga itu?

Di antara riwayat-riwayat Syiah, juga ada hadits-hadits dari nabi dan para imam maksum yang menjelaskan tentang bahwa umat Syiah akan masuk surga. Kata-kata “Syiah” dalam hadits tersebut membuat kita terdorong untuk mengkaji lebih matang siapakah yang dimaksud dengan “Syiah” dalam hadits-hadits itu? Baru setelah itu kita akan membahas masalah-maslaah lain yang berkaitan dengannya.

Makna Leksikal Syiah

Para ahli bahasa menyebutkan banyak makna untuk kata “Syiah”. Misalnya: kelompok, umat, para penyerta, para pengikut, para sahabat, para penolong, kelompok yang berkumpul pada satu perkara.[3]

Makna Istilah Syiah

Syiah dalam istilah adalah orang-orang yang meyakini bahwa hak kepenggantian nabi ada pada keluarga risalah, dan dalam menerima makrifat-makrifat Islami mereka mengikuti Ahlul Bait as, yakni para imam Syiah as.[4]

Kata Syiah sepanjang sejarah mengalami berbagai perubahan dalam maknanya. Misalnya terkadang diartikan sebagai kelompok politik, terkadang pecinta, atau juga pengikut aliran pemikiran yang berprilaku mengikuti para imam suci as.

Syiah Menurut Para Imam Maksum as

Dari beberapa riwayat yang dinukil dari kalangan Ahlul Bait as dapat difahami bahwa yang dimaksud dengan Syiah adalah orang-orang khusus yang tidak hanya mengaku sebagai pengikut saja. Namun para Imam suci menekankan adanya sifat-sifat khas yang dimiliki mereka, seperti mengikuti para Imam dalam amal dan perilaku. Oleh karena itu sering kali para Imam menegaskan kepada sebagian orang yang mengaku Syiah untuk berprilaku sebagaimana yang diakuinya. Untuk lebih jelasnya mari kita membaca beberapa riwayat yang akan kami sebutkan.

Ada banyak riwayat dari para Imam maksum as yang sampai ke tangan kita tentang siapa Syiah sejati yang sebenarnya. Tak hanya itu, bahkan ada celaan terhadap sebagian orang yang berkeyakinan bahwa diri mereka tidak akan masuk neraka karena Syiah, lalu mereka disebut sebagai Syiah palsu

Seseorang berkata: “Aku berkata kepada Imam Shadiq as: “Sebagian dari pengikutmu melakukan dosa-dosa dan berkata: “Kami memiliki harapan.” Lalu Imam as berkata: “Mereka berbohong. Mereka bukanlah kawan kami. Mereka adalah orang-orang yang membawa harapannya kesana kemari, yang mana ketika mereka mengharap sesuatu, mereka mengejarnya, lalu jika mereka takut akan sesuatu, mereka lari.”.”[5]

Imam Shadiq as pernah berkata: “Bukanlah Syiah (pengikut) kami orang yang mengaku dengan lisannya namun berperilaku bertentangan dengan kami. Syiah adalah orang yang hati dan lidahnya sejalan dengan kami, begitu pula perilaku dan amal perbuatannya mengikuti kami; merekalah Syiah kami.”[6]

Para Imam as sering kali menyebutkan kriteria-kriteria Syiah sejati. Misalnya anda dapat membaca dua riwayat di bawah ini:

Imam Baqir as berkata: “Wahai Jabir, apakah cukup bagi pengkut kami untuk hanya mengaku sebagai Syiah? Demi Tuhan, Syiah kami adalah orang-orang  yang bertakwa dan takut akan Tuhannya, menjalankan perintah-perintah-Nya. Mereka (Syiah) tidak dikenal kecuali sebagai orang yang rendah hati, khusyu’, banyak mengingat Tuhan, berpuasa, shalat, beramah-tamah dengan tetangga yang miskin, orang yang butuh, para pemilik hutang, anak-anak yatim, serta berkata jujur, sering membaca Al-Qur’an, menjaga lidahnya terhadap sesamanya, dan juga orang yang dipercaya oleh keluarganya.”[7]

Imam Ja’far Shadiq as berkata: “Syiah kami adalah orang yang bertakwa, setia, zuhud, ahli ibadah, dan orang yang di malam hari shalat sebanyak lima puluh satu rakaat, dan berpuasa di siang hari, menunaikan zakat hartanya, menjalankan ibadah haji, dan meninggalkan perbuatan-perbuatan haram.”[8]

Jika tidak dijelaskan apa maksud Syiah sejati yang sebenarnya, maka artinya perbuatan buruk diperbolehkan untuk dilakukan oleh sekelompok orang. Di sepanjang sejarah kita pun menyaksikan sebagian kelompok yang mengaku Syiah namun tidak menjalankan perintah-perintah agama, lalu berdalih dengan riwayat-riwayat tersebut seraya menekankan bahwa “agama adalah mengenal Imam”[9], dan mereka pun terus-terusan sembarangan melakukan dosa dan kemunkaran. Akhirnya fenomena tersebut sangat merugikan ke-Syiahan yang sebenarnya yang mana tak dapat terbayar dengan mudah.

Sebagaimana sebelumnya telah dijelaskan bahwa kadar pahala dan siksa seseorang bergantung pada sikapnya terhadap agama. Fakta ini tidak berbeda antara satu kalangan dengan kalangan lainnya. Kelompok, aliran atau apapun tidak akan mendekatkan diri seseorang kepada Tuhan dan tak dapat dijadikan alat untuk lari dari siksaan neraka. Allah swt berfirman: “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian adalah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat [49]:13)

Imam Ridha as berkata kepada saudaranya yang dikenal dengan sebutan Zaida al-Nar: “Wahai Zaid, apakah perkataan para pedagang pasar: “Fathimah telah menjaga dirinya dan Allah mengharamkan api neraka terhadapnya dan juga anak-anaknya.” telah membuatmu sombong? Demi Tuhan bahwa hal itu hanya berlaku untuk Hasan dan Husain serta anak yang lahir dari rahimnya. Apakah bisa Imam Musa bin Ja’far as mentaati Tuhan, berpuasa di siang hari, bertahajud di malam hari dan shalat malam, lalu engkau dengan seenaknya bermaksiat kemudian di akhiran tanti engkau berada di derajat yang sama dengannya? Atau lebih mulia darinya?!”[10]

Salah satu misi agama adalah mengantarkan manusia baik secara individu maupun bersama kepada kesempurnaan. Tujuan itu tidak akan mungkin tercapai tanpa ketaatan akan perintah-perintah Tuhan. Atas dasar itu, agama ini tidak mungkin memberikan jalan bagi suatu kelompok untuk berjalan di luar jalur yang telah ditunjukkan lalu menempatkan mereka di tempat yang sama atau lebih tinggi dari selainnya di akhirat nanti. Hal ini bertentangan dengan tujuan penciptaan yang sebenarnya. Jika yang dimaksud denga Syiah adalah apa yang telah dijelaskan oleh para Imam, maka tidak heran jika orang-orang dengan kriteria seperti itu bakal mendapatkan tempat di surga. Adapun orang-orang yang hanya sekedar mengaku sebagai Syiah, jelas mereka tidak akan mendapatkan apa yang dijanjikan kepada Syiah sejati.

Adapun tentang riwayat yang menjelaskan bahwa tingkat pertama neraka jahanam adalah khusus untuk umat Islam yang pendosa, perlu dikatakan bahwa tolak ukur surga dan neraka menurut Al-Qur’an adalah amal manusia. Hanya sebutan Muslim saja tidak cukup, karena antara Islam dan Iman sangat jauh perbedaannya. Tuhan semesta alam dalam hal ini berfirman kepada orang-orang yang mengaku beriman: “Jangan katakan kami telah beriman, katakan kami telah Muslim.” (QS. Al-Hujurat [49]:14). Ketika seseorang mengucapkan dua syahadat, maka orang itu telah menjadi Muslim; dan hal ini hanya berkaitan dengan kehidupan duniawi dan status sosial saja. Adapun surga dan balasan di dalamnya, adalah untuk orang-orang yang lebih dari sekedar menjadi Muslim saja; yakni sebagaimana yang telah dijelaskan, untuk memasuki surga, seseorang harus menjadi Muslim (menyerahkan diri) dan juga memiliki keimanan di hati, serta melakukan amal saleh dengan raga. Oleh karena itu tolak ukur kelayakan masuk surga atau neraka sangat jelas sekali dalam Al-Qur’an, dan hanya sekedar mengaku sebagai Syiah, atau Islam, tidak akan menghindarkan seorangpun dari siksa api neraka atau memasukkanya ke surga.

Kesimpulannya, amal perbuatan adalah tolak ukur utama, bukan pengakuan sebagai Muslim, Syiah, atau selainnya. Berdasarkan penjelasan Al-Qur’an dan riwayat-riwayat, orang Islam dan Syiah yang tidak menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya pasti tidak akan mendapatkan rahmat Tuhan dan layak untuk disiksa di neraka. Adapun apakah adzab di neraka itu kekal abadi ataukah tidak, lain lagi permasalahannya. Selain itu juga ada masalah Syafa’at yang masih perlu dibahas terkait dengan hal itu di kesempatan lainnya.

Untuk kami ingatkan, maksud kami bukan berarti ke-Syiah-an seseorang sama sekali tak ada gunanya. Namun tak dapat diingkari bahwa pemikiran (atau iman) dan amal perbuatan adalah dua sayap bagi manusia untuk terbang menuju kesempurnaan. Untuk mengkaji lebih jauh, seilahkan merujuk: Turkhan, Qasim, Negaresh i Erfani, Falsafai wa Kalami be Syakhsiyat va Qiyam e Emam Husain as, hal. 440-447. [islamquest]


[1] QS. Al-Baqarah [2]:81-82.

[2] QS. At-Taubah [9]:106.

[3] Ibnu Mandzur, Jamaluddin, Lisan Al-Arab, jil. 8, hal. 188, Dar Shadir, Birut, cetakan pertama, 1410 H.

[4] Thabathabai, Sayid Muhammad Husain, Syi’e dar Esalam, hal. 25-26, Ketabkhane e Bozorg e Eslami, Tehran, 1354 HS.

[5] Kulaini, Muhammad bin Ya’qub, Al-Kafi, jil. 2, hal. 68, Darul Kutub Islamiah, Tehran, cetakan keempat, 1365 HS.

[6] Majlisi, Muhammad Baqir, Biharl Al-Anwar, jil. 65, hal. 164, Muasasah Al-Wafa’, Beirut, Lebanon, cetakan keempat, 1404 H.

[7] Shaduq, Muhammad bin Ali, Al-Amali, terjemahan Kamrei, hal. 626, Islamiah, Tehran, cetakan keenam, 1376 HS.

[8] Majlisi, Muhammad Baqir, Bihar Al-Anwar, jil. 65, hal. 164, Muasasah Al-Wafa’, Beirut, Lebanon, cetakan keempat, 1404 H.

[9] Man La Yahdhuruhul Faqih, jil. 4, hal. 545, Muasasah Nasyr Islami, Qom, cetakan ketiga, 1413 H.

[10] Majlisi, Muhammad Baqir, Bihar Al-Anwar, jil. 43, hal. 230, Muasasah Al-Wafa’, Beirut, Lebanon, cetakan keempat, 1404 H.

0
inShare

Para Imam Ahlulbait as. adalah pewaris kepemimpinan kenabian mereka adalah hujjah-hujjah Allah di atas bumi…. Mereka adalah adillâ’u Ilal Khair/penunjuk jalan menuju kebaikan dunia dan akhirat mengkuti bimbingan para Imam Ahlulbait as. akan menjamin kebahagian umat manusia dalam berbagai kesempatan, para Imam as. mencurahkan perhatian mereka terhadap umat Rasulullah saw. secara umum dan kepada para pecinta dan pengkut secara khusus

Adalah sebuah realita yang tak terbantahkan bahwa ternyata di tengah-tengah umat Islam, ada sekelompok yang berkiblat, meyakini imamah para imam Ahlulbait as. dan menjadikan mereka sebagai rujukan dalam segala urusan agama , mereka itu adalah Syi’ah Ahlulbait/para pengikut Ahlulbait as. eksistenti mereka selalu digandengakan dengan nama Ahlulbait as.

Untuk mereka, para imam suci Ahlulbait as. memberikan perhatian khusus mereka dalam membimbing mereka untuk merealisasikan Islam dengan segenap ajarannya yang paripurna dan kâffah, baik dalam ibadah maupun akhlak dan etika pergaulan.

Dalam artikel ini saya mencoba menyajikan untuk Anda irsyâd dan didikan para imam suci Ahlulbait as. untuk Syi’ah mereka, agar dapat diketahui batapa agung dan mulianya bimbingan mereka as.

Jadilah Kalian Sebagai Penghias Kami

Dalam sabda-sabda mereka, para Imam suci Ahlulbait as. meminta dengan sangat dari Syi’ah agar menjadi penghias bagi para imam dan tidak mencoreng nama harus mereka. Apabila mereka menyandang akhlak islami, beradab dengan didikan para imam pasti manusia akan memunji para imam Ahlulbait sebagai pembimbing yang telah mampu mencetak para pengikut yang berkualitas, mareka pasti akan mengatakan alangkah mulianya didikan para imam Ahlulbait itu terhadap Syi’ah mereka! Begitu juga sebailnya, apabila manusia menyaksikan keburukan sifat dan sikap serta perlakuan, maka mereka akan menyalahkan Ahlulbait as. dan mungkin akan menuduh para imam telah gagal dalam membina para Syi’ah mereka.

Sulaiman ibn Mahrân berkata, “Aku masuik menjumpai Imam Ja’far ibn Muhammad ash Shadiq as., ketika itu di sisi beliau ada beberapa orang Syi’ah, beliau as. bersabda:

معاشِرَ الشيعَةِ! كونُوا لنا زينًا وَ لاَ تكونوا علينا شَيْنًا، و احفَظُوا أَلْسِنَتَكُمْ و كُفُّها عن الفُضُولِ و قُبْحِ القولِ.

“Wahai sekalian Syi’ah! Jadilah kalian penghias bagi kami dan jangan jadi pencoreng kami. Katakan yang baik-baik keada manusia, jagalah lisan-lisan kalian, tahanlah dia dari kelebihan berbicara dan omongan yang jelak.” [1]

Dalam sabda beliau di atas, Imam Ja’far menekankan pentingnya menjadi penghias bagi Ahlulbait as., hal demikian tidak berarti bahwa Ahlulbait as. akan menyandang kemulian disebabkan kebaikan Syi’ah mereka, akan tetapi lebih terkait dengan penilaian manusia tentang mereka yang biasa menilai seorang pemimpin melalui penilaian terhadap para pengikutnya. Imam Ja’far as. menekankan pentinghnya bertutur kata yang baik dan manjaga lisan dari berbicara jelak.

Dalam hadis lain, Imam Ja’far as. bersabda:

يا معشرَ الشيعَةِ! إِنَّكُمْ نُسِبْتُمْ إلينَا، كونوا لنا زينًا وَ لاَ تكونوا علينا شَيْنًا

“Hai sekalian Syi’ah! Sesungguhnya kalian telah dinisbatkan kepada kami, jadilah penghias bagi kami dan jangan menjadi pencorang!” [2]

Dalam sabda lain beliau berkata:

رَحِمَ اللهُ عَبْدًا حَبَبَنَا إلى الناسِ لا يُبَغِّضُنا إليهِمْ. وايمُ اللهِ لَوْ يرْوونَ مَحاسِنَ كلامِنا لَكانوا أَعَزَّ، و ما استَطاعَ أَحدٌ أَنْ يَتَعَلَّقَ عليهِمْ بشيْئٍ.

“Semoga Allah merahmati seorang yang mencintakan kami kepada manusia dan tidak membencikan kami kepada mereka. Demi Allah andai mereka menyampaikn keindahan ucapan-ucapan kami pastilah mereka lebih berjaya dan tiada seorangpun yang dapt bergantung atas (menyalahkan) mereka dengan sesuatu apapun.”[3]

Dalam salah satu pesannya melalui sahabat beliau bernama Abdul A’lâ, Imam Ja’far bersabda:

يَا عبدَ الأعلى … فَأَقْرَأْهُمْ السلام و رحمة الله و قل: قال لكم: رَحِمَ اللهُ عبْدًا اسْتَجَرَّ مَوَدَّةَ الناسِ إلى نفسِهِ و إلينا بِأَنْ يُظْهِرَ ما يَعْرِفُونَ و يَكُفَّ عنهُم ما يُنْكِرُونَ.

“Hai Abdul A’lâ… sampaikan salam kepada mereka (syi’ahku) dan katakana kepada mereka bahwa Ja’far berkata keada kalian, “Semoga Allah merahmati seorang hamba yang menarik kecintaan manusia kepada dirnya dan keada kami dengan menampakkan apa-apa yang mereka kenal dan menahan dari menyampaikan apa-apa yang tidak mereka kenal.”[4]

Wara’ dan Ketaqwaan

Tidak kita temukan wasiat yang paling ditekankan para imam suci Ahlulbait as. untuk Syi’ah mereka seperti ketaqwaan dan wara’. Syi’ah adalah mereka yang mengikuti dan bermusyâya’ah kepada Ahlulbait as.. Dan mereka yang paling berpegang teguh dengan ketaqwaan dan wara’lah yang paling dekat dan paling istimewa kedudukannya di sisi Ahlulbait as., sebab inti kesyi’ahan adalah mengikuti, beruswah dan meneladani. Maka barang siapa hendak mengikuti dan meneladani Ahlulibat as. tidak ada jalan untuk itu selain ketaatan kepada Allah SWT. bersikap wara’ dan bertaqwa.

Abu Shabâh al Kinani berkata, “Aku berkata kepada Abu Abdillah (Imam Ja’far) as. ‘Di kota Kufah kami diperolok-olokkan karena (mengikuti tuan), kami diolok-olok ‘Ja’fariyah’. Maka Imam murka dan bersabda:

إنَّ أصحابَ جعفر مِنكُم لَقليلٌ، إنما أصحابُ جَعْفَر مَنْ اشْتَدَّ وَرَعُهُ و عَمِلَ لِخالِقِهِ.

“Sesungguhnya pengikut Ja’far di antara kalian itu sedikit. Sesungguhnya pengikut ja’fa itu adalah oran yang besar kehait-hatiannya dan berbuat untuk akhiratnya.’”[5]

Syi’ah adalah mereka yang telah menjadikan manusia-manusia suci pilihan Allah SWT sebagai panutan mereka. Para imam itu adalah hamba-hamba Allah yang telah mencapai derajat yang sangat tinggi di sisi Allah disebabkan ketaqwaan mereka, maka dari mereka yang mengikuti para imam Ahlulbait as. itu adalah yang paling berhak menghias diri mereka dengan ketaqwaan dan wara’.

Bassâm berkata, “Aku mendengar Abu Abdillah as. bersabda:

إنَّ أَحَقَّ الناسِ بالورعِ آلُ محمدٍ و شِيْعَتُهُم

“Yang paling berhak bersikap wara’ adalah keluarga Muhammad dan Syi’ah mereka.”[6]

Dan berkat didikan para imamsuci Ahlulbait as., maka sudah seharusnyaSyi’ah Ahlulbait adalah seperti yang disabdakan Imam Ja’far as.:

شيعتُنا أهلُ الورعِ و الإجتهادِ، و أهلُ الوقارِ و الأمانَةِ، أهلُ الزهدِ و العبادَةِ. أصحابُ إحدَى و خمسونَ رَكْعَةً في اليومِ و الليلَةِ، القائمونَ بالليلِ، الصائمونَ بالنهار، يَحِجُّونَ البيتَ… و يَجْتَنِبونَ كُلَّ مُحَرَّمٍ.

“Syi’ah kami adalah ahli/penyandang wara’ dan bersungguh-sungguh dalam ibadah, pemilik ketenangan/keanggunan dan amanat, penyandang zuhud dan getol beribadah. Pelaksana shalat lima puluh satu rakaat dalam sehari sealam. Berdiri (mengisi malam dengan shalat) puasa di siang hari dan berangkat haji ke tanah suci… dan mereka menjauhkan dri dari setiap yang haram.”[7]

Imam Ja’far as. bersabda:

و اللهِ ما شيعَةُ علي (عليه السلام) إلاَّ مَنْ عَفَّ بطنُهُ و فرْجُهُ، و عمل لِخالقِهِ، و رجَا ثوابَهُ، و خافَ عقابَهُ.

“Demi Allah, tiada Syi’ah Ali as. kecuali orang yang menjaga perutnya dan kemaluannya, berbuat demi Tuhannya, mengharap pahala-Nya dan takut dari siksa-Nya.”[8]

Dalam sabda lain Imam Ja’far as. bersabda mengarahkan Syi’ah beliau:

يا شِيْعَةَ آلِ محمَّدٍ، إنَهُ ليسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَملكْ نفسَهُ عندَ الغضَبِ، و لَمْ يُحسِنْ صُحْبَةَ مَن صحِبَهُ، و مرافَقَةَ مَن رافقَهُ، و مصالَحَةَ مَن صالَحَهُ.

“Wahai Syi’ah Âli (keluarga) Muhammad, sesungguhnya bukan dari kami orang yang tidak menguasai nafsunya disaat merah, tidak berbaik persahabatan dengan orang yang ia temani, dan tidak berbaik kebersamaan dengan orang yang bermasa dengannya serta tidak berbaik shulh dengan oranf yang berdamai dengannya.” [9]

Para Imam Ahlubait as. tidak puas dari Syi’ah mereka apabila di sebuah kota masih ada orang selain mereka yang lebih berkualitas. Syi’ah Ahlulbait as. harus menjadi anggota masyarakat paling unggul dalam berbagai kebaikan. Imam Ja’far as. bersabda:

ليسَ مِنْ شيعَتِنا مَنْ يكونُ فِيْ مِصْرَ، يكونُ فيْهِ آلآف و يكون في المصرِ أورَعُ منهُ.

“Tidak termasuk dari Syi’ah kami seorang yang betinggal di sebuah kota yang terdiri dari beribu-ribu masyarakat, sementara di kota itu ada seorang yang lebih wara’ darinya.” [10]

Dengan berwilayah, mengakui imamah Ahlulbait as. dan mengikuti ajaran mereka, Syi’ah benar-benar berada di atas jalan yang mustaqîm dan di atas agama Allah SWT. Jadi dari sisi keyakinan dan I’tiqâd mereka sudah berasa di atas kebenaran, sehingga yang petning sekarang bagi mereka adalah memperbaikit kualitas amal dan akhak mereka. Kulaib ibn Mu’awiyah al Asadi berkata, “Aku mendengar Abu Abdillah (Imam Ja’far) as. bersabda:

و اللهِ إنَّكُمْ لَعلَى دينِ اللهِ و دينِ ملآئكَتِهِ فَأَعِيْنُونِيْ بورَعٍ و اجتهادٍ. عليكُمْ بصلاةِ الليلِ و اعبادَةِ، عليكم بالورعِ.

“Demi Allah kalian benar-benar berada di atas agama Allah dan agama para malaikat-Nya, maka bantulah aku dengan wara’ dan kesungguh-sungguhan dalam ibadah. Hendaknya kalian konsisten shalat malam, beribadah. Hendaknya kalian konsisten berpegang dengan wara’.” [11]

Memelihara hati agar selalu ingat kepada Allah SWT.; perintah dan larangan-Nya juga menjadi sorotan perhatian parta imam suci Ahlulbait as.

Penulis kitab Bashâir ad Darâjât meriwayatkan dari Murâzim bahwa Imam Zainal Abidin as. bersabda kepadanya:

يا مرازِم! ليسَ مِن شيعَتِنا مَنْ خَلاَ ثُمَّ لَمْ يَرْعَ قَلْبَهُِ

“Hai Murâzim, bukan dari Syi’ah kami seorang yang menyendiri kemudian ia tidak menjaga hatinya.”[12]

Diriwayatkan ada seseorang berkata kepada Imam Hsain as., “Wahai putra Rasulullah, aku dari Syi’ah kamu.” Maka Imam bersabda:

إنَّ شِيْعَتَنا مَنْ سَلِمَتْ قلوبُهُم من كُلِّ غِشٍّ و غِلِّ و دَغْلٍ.ُ

“Syi’ah kami, adalah orang-oarng yang hati-hati mereka selamat/bersih dari segala bentuk pengkhianatan, kedengkian dan makar.”[13]

Imam Ja’far as. juga bersabda:

ليسَ مِنْ شيعَتِنا مَن قال بلسانِهِ و خالفَنا في أعمالِنا و آثارِنا، لَكِنْ شيعتُنا مَنْ وافقَنا بلسانِهِ و قلبِهِ و تَب~عَ أثارَنا وَ عمِلَ بِأَعمالِنا. أولئكَ شيعتُنا.

“Bukan termasuk Syi’ah kami orang yang berkata dengan lisannya namun ia menyalahgi kami dalam amal-amal dan tindakan kami. Tetapi Syi’ah kami adalah orang yang menyesuai kami dengan lisan dan hatinya dan mengikuti tindakan-tindakan kami serta beamal dengan amal kami. Mereka itulah Syi’ah kami.”

Hadis di atas adalah pendefenisian yang sempurna siapa sejatinya Syi’ah Ahlulbiat itu, dan sekaligus membubarkan angan-angan dan klaim-klaim sebagian yang mengaku-ngaku sebagai Syiah sementara dari sisi ajaran tidak mengambil dari Ahlulbait as. dan dalam beramal tidak menteladani Ahlulbait as. Semoga kita digolongkan dari Syi’ah Ahlulbait yang sejati. Amin.

Semangat Beribadah

Ciri lain yang seharusnya terpenuhi dapa Syi’ah Ahlulbait as. adalah bergeloranya semangat beribadah kepada Allah SWT. mengisi hari-hari mereka dengan mendekatkan diri kepada Allah, drengan bersujud, menangisi kesahalan dan dosa-dosa yang dikerjakannya dan kekurangan serta keteledorannya, membaca Alqu’an al Karim.

Dalam sebuah sabdanya, Imam al baqir as. bersabda kepada Abu al Miqdâm:

… إِذا جَنَّهُمُ الليلُ اتَّخَذُوا الأرْضَ فِراشًا، و استقلُُّوا الأرضَ بِجِباهِهِمْ ، كثيرٌ سجودُهُم ، كثيرَةٌ دموعُهُمْ، كثيرٌدعاؤُهُم ، كثيرٌ بكاؤُهُمْ ، يَفْرَحُ الناسُ و هُمْ يَحْزَنونَ.

“…jika malam menyelimuti mereka, mereka menjadikan tanah sebagai hamparannya, dan meletakkan dahi-dahi mereka ke bumi. Banyak sujudnya, deras air matanya, banyak doanya dan banyak tangisnya. Orang-orang bergembira sementara mereka bersedih.”[14]

Imam Ja’far as. bersabda:

شيعتُنا أهلُ الورعِ و الإجتهادِ ، و اهلُ الوفاء و الأمانةِ، و أهل الزهدِ و العبادةِ، أصحابُ إحدِىَ و خمسينَ ركعَةً في اليومِ و الليلَةِ، و القَائِمُونَ باللَّيلِ، الصائِمونَ بالنهارِ ،يُزَكُّوْنَ أَموالَهُمْ ، و يَحِجُّوْنَ البيتَ و يَجْتَنِبُوْنَ كُلَّ مُحَرَّمٍ.

“Syi’ah kami adalah ahli (penyandang) wara’, dan kesungguh-sungguhaa dalam ibadah, ahli menepati janji dan amanat, ahli zuhud dan ibadah, ahli (pelaknasa) salat lima puluh sau raka’at dalam sehari, bangun di malam hari, puasa di siang hari, menzakati hartanya, melaksanakan haji, dan menjauhkan diri dari setiap yang diharamkan.”[15]

Rahib Di Malam Hari Dan Singa Di Siang Hari

Nauf, -seorang sahabat Imam Ali as.- mensifati kenangan indahnya bersama Imam Ali as. ketika menghidupkan malamnya di atas atap rumah dengan shalat… Imam Ali as. menatap bintang- gemintang di langit seakan sedih, kemudian beliau bertanya kepada Nauf, “Hai Nauf, apakah engkap tidur atau bangun?” Aku terjaga. Jawab Nauf. Lalu beliau bersabda:

أَ تَدْرِيْ مَنْ شيعتِيْ؟ شيعتِيْ الذُبْلُ الشِفاهِ، الخُمْصٌ البُطُونِ، الذي تُعْرَفُ الرَّهْبانِيَّةُ و الربانية في وُجُوهِهِمْ، رهبانٌ بالليلِ ، أسَدٌ بالنهارِ، إذا جّنَّهُم الليلُ اتَّزَرُوا على أوساطِهِمْ و ارْتَدَوْا على أطرافِهِمْ، و صَفُّوا أقدامَهُمْ و افترشُوا جناهَهُمْ، تَجْرِي الدموعُ على خدودِهِم، يَجْأَرونَ إلى اللهِ فكتكِ رقَبَتِهِمْ مِنَ ، أمَّا الليلُ فَحُلماءُ علماؤ أبرارٌ أتقِياءُ.

“Hai Nauf, tahukan engkau siapa Syi’ahku? Syi’ahku adalah yang layu bibir-bibr mereka, cekung perut-perut mereka, penghambaan dan rabbaniyah dikenal dari wajah-wajah mereka. Mereka adalah para rahib di malam hari, dan singa di siang hari. Jika malam telah menyelimuti mereka, mereka mengencangkan kain ikatan (baju) mereka, mereka berkain di atas pundak mereka, mereka merapatkan kaki-kaki mereka, mereka meletakkan dahi-dahi mereka. Air mata mereka mengalir di atas pipi-pipi mereka, mereka meraung-raung memohon kepada Allah agar dibebaskan dari siksa neraka. Adapun di siang hari mereka adalah orang-orang yang dingin hatinya, pandai, baik-baik dan bertaqwa.”[16]

Sungguh indah gambaran yang dilukiskan Imam Ali as. bagi Syi’ah beliau as. para rahib di malam hari, dan singa di siang hari. Ia adalah ungkapan yang sangat tepat yang menggambarkan kondisi serasi dalam mengombinasikan aktifitas kehidupan mereka. Mereka menguasa mala-malam taktaka kegelapan telah menyelimuti angkasa. Kamu saksikan mereka meletakkan dahi-dahi kerendahan di hadapan Sang Khaliq dalam keadaan khusyu’ dan penuh penghambaan. Mereka meraung-raung menangis mengharap ampunan Allah dan kebebasan dari belenggu ap neraka.

Dan ketika siang datang menyinari bumi, berubalah mereka menjadi para pendekar di ddalam arena perjuangan kehidupan… mereka adalah ulama yang meresap ilmu dan ma’rifahnya tentang Allah SWT…. mereka adalah berhati dingin, pemaaf, bertaqwa dan penyabar serta berjuang tak kenal lelah.

Dzikir dim ala hari, ketaqwaan dan perjuangan dim ala hari… kebuah komposisi seimbang bagi kepribadian seorang Muslim Mukmin yang ideal. Itulah Syi’ah Ali as.!

[1] Amâli ath Thûsi,2/55 dan Bihar al Anwâr,68/151.

[2] Misykât al Anwâr:67.

[3] Ibid.180.

[4] Bihal al Anwâr,2/77.

[5] Al Bihar,68/166.

[6] Bisyâratul Mushthafa:17.

[7] Al Bihâr,68/167.

[8] Ibid.168.

[9] Ibid.266.

[10] Ibid.164.

[11] Bisyâratul Mushthafa:55 dan 174, dan Al Bihâr,68/87.

[12] Bashâir ad Darajât:247 darinya al Bihâr,68/153.

[13] Al Bihâr,68/164.

[14] Al Khishâl,2/58 darinya al Bihâr,68/1490-150.

[15] Shifâtusy Syi’ah:2 dari al Bihâr,68/167 hadis 33.

[16] Al Bihâr,68/191

Keadilan di balik hukuman abadi di neraka

Di dalam surat Hud [11], ayat 106 kita membaca, “Adapun orang-orangyang celaka, maka [tempatnya] di dalam neraka. Di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik nafas [dengan merintih]. Mereka kekal di dalamnya…. “

Dengan menyimak ayat suci di atas, pertanyaan yang muncul adalah bagaimana kita dapat menerima manusia yang selama hidupnya -maksimal usianya seratus tahun, misalnya-melakukan pekerjaan buruk, dan lenyap dalam kekufuran dan dosa namun usia seratus tahun ini harus dibayar dengan siksa, seribu tahun?

Mereka yang mengajukan pertanyaan ini lalai akan satu poin penting, yaitu perbedaan antara hukuman konvensional dan hukuman penciptaan yang merupakan hasil dari rangkaian realitas perbuatan dan kehidupan.

Penjelasan

Terkadang pembuat hukum merumuskan sebuah hukum sehingga setiap orang yang melanggarnya harus membayar tebusan uang dalam jumlah tertentu, atau harus berdiam di dalam penjara selama beberapa waktu. Tentu, dalam asumsi seperti itu kesesuaian antara pelanggaran dan hukuman harus diperhatikan. Hanya lantaran pelanggaran kecil, ia tidak akan dieksekusi atau mendapatkan hukuman abadi. Dan sebaliknya, karena perbuatan seperti membunuh, lalu ia dikenakan hukuman sehari penjara saja, hukuman seperti ini tidaklah memiliki arti baginya. Hikmah dan keadilan menjawab bahwa kedua hukuman ini harus setimpal.

Akan tetapi, hukuman yang pada hakikatnya adalah efek natural sebuah perbuatan dan termasuk tipologi penciptaan, atau hasil langsung perbuatan tersebut di hadapan manusia, ia tidak menerima asumsi tersebut di atas baik dalam kaitannya dengan efek-efek perbuatan di alam dunia ini ataupun di alam yang lain.

Contoh, seseorang melanggar aturan lalu-lintas; melaju melebihi batas kecepatan yang telah ditentukan, berlomba tanpa sebab, dan melintas zona terlarang. Barangkali karena beberapa kali melanggar aturan ia mengalami tabrakan dan patah tangan serta kakinya, atau akan menderita kelumpuhan seusia hidupnya. Resiko buruk akibat sebuah kesalahan kecil ini jelas tidak mencerminnkan keadilan (jika ditinjau dari sisi hukuman konvensional). Tapi hal ini tidak berasal dari hukuman-hukuman konvensional lalu-lintas jalan raya yang di dalamnya keseimbangan antara pelanggaran dan hukuman harus mendapatkan perhatian. Kondisi ini merupakan dampak alami dari perbuatan yang secara sadar dilakukan oleh manusia. Dan ia sendirilah yang membuat dirinya terpuruk ke dalam kondisi tersebut.

Demikian juga ketika dianjurkan kepada Anda agar jangan mengkonsumsi minuman-minuman beralkohol atau bahan-bahan psikotropika lainnya. Lantaran dalam waktu yang singkat, semua jenis minuman itu akan mengoyak hati, perut, otak dan syaraf Anda. Kini sekiranya Anda mengkonsumsinya, niscaya Anda akan menderita syaraf lemah, penyakit-penyakit hati, perut luka dan kerusakan pembuluh darah. Hanya beberapa hari menuruti hawa nafsu, Anda terpaksa menjalani sisa hidup Anda di dalam siksa yang pedih. Di sini tak seorang pun akan keberatan dengan ketidak seimbangan pelanggaran dan hukuman tersebut.

Tentang banyaknya azab dan hukuman kehidupan ukhrawi adalah masalah yang melebihi masalah duniawi. Dampak-dampak riel sebuah perbuatan dan hasil-hasil pembawa mautnya barangkali senantiasa bersandar kepada manusia. Perbuatan-perbuatan itu sendirilah nanti yang akan menjelma di hadapan manusia (tajassum al-a’mal). Dan lantaran kehidupan alam sana adalah kehidupan abadi, perbuatan baik dan buruk juga abadi .

Sebelumnya telah kami singgung bahwa hukuman dan siksa pada Hari Kiamat memiliki dampak riel yang lebih kuat. Al-Qur’an berfirman, “Dan nyatalah bagi mereka keburukan-keburukan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka diliputi oleh [azab] yang mereka selalu memperolok-olokkannya.” (QS. al-Jatsiyah [45]: 33)

Al-Qur’an juga berfirman, “…dan kamu tidak dibalas kecualii dengan apa yang telah Kamu kerjakan.” (QS. Yasin [36]: 54)

Muatan ayat ini, kendati terdapat sedikit perbedaan, juga terkandung dalam ayat-ayat yang lain.

Dengan demikian, ruang untuk pertanyaan ini tidak tersisa lagi, bahwa mengapa kesetimbangan antara hukuman dan pelanggaran tidak diperhatikan?

Manusia harus terbang dengan dua sayap iman dan amal saleh demi mendapatkan kenikmatan surgawi dan kebahagiaan berada di hadirat Tuhan Yang Mahakuasa. Kini, dengan menuruti hawa nafsu barang sedetik atau seratus tahun lamanya, ia telah mematahkan kedua sayapnya sendiri dan untuk selamanya ia harus menderita dalam kehinaan. Di sini, aspek ruang dan waktu, serta ukuran pelanggaran tidak menjadi pokok persoalan. Yang menjadi tolok ukur adalah sebab dan akibat serta dampak lama dan singkatnya. Sebuah korek kecil boleh jadi dapat membakar seisi kota. Dan dengan menanam satu gram duri, barangkali setelah beberapa waktu, sahara yang luas penuh dengan duri dan dapat menggangu manusia selamanya. Demikian juga dengan menanam satu gram bunga, barangkali dengan berlalunya sang waktu, akan tercipta sahara yang dihiasi bunga-bunga yang begitu indah mewangi sehingga semerbak baunya menggairahkan jiwa dan memuaskan hati.

Kini sekiranya seseorang bertanya apa keseimbangan antara sebatang korek dengan terbakarnya sebuah kota, dan antara beberapa tanaman kecil dengan sebuah sahara duri. Maka, perbuatan-perbuatan baik dan buruk juga demikian adanya. Dan barangkali dampak keabadian yang teramat panjang menjadi kenangan dan memori baginya. (perhatikan baik-baik)

Masalah yang penting di sini adalah, para nabi besar dan washi Ilahi telah memberikan peringatan kepada kita bahwa dampak maksiat dan dosa ini adalah azab yang abadi, dan dampak ketaatan dan kebajikan adalah kenikmatan abadi. Persis seperti para penjaga taman yang telah menjelaskan kepada kita dampak keluasan tanaman berduri dan bunga tersebut. Dan kita sendiri dengan sadar yang memilih jalan ini.

Di sini kepada siapa kita harus ajukan keberatan dan kesalahan slapa yang harus kita cari, serta hukum mana yang kita harus protes, selain pada diri kita sendiri?[1]


[1] Tafsir-e Payam-e Qur’an, jilid 6, hal. 501.

Seperti apakah Syiah memandang pelaku dosa besar

Pertanyaan: Seperti apakah Syiah memandang pelaku dosa besar?

Jawaban Global:

Berkenaan dengan masalah dosa besar, banyak sekali pemikiran dan pendapat ekstrim di antara sekte-sekte Islam, yang mana kebanyakan darinya terlahir dari faktor-faktor politik.

Murji’ah dan Khawarij adalah dua contoh yang menonjol dalam hal ini.

Murji’ah dalam usahanya untuk selalu menjaga citra pemimpin-pemimpin zalim mereka, menganggap iman yang nampak dan pengakuan sebagai Muslim dan segala yang bersifat dhahiri sebagai parameter utama yang tidak terpengaruh oleh segala dosa besar dan maksiat, meskipun sampai pada batas menumpahkan darah Ahlul Bait as juga. Di sisi lain, Khawarij dalam usahanya untuk membenarkan kekerasan yang mereka lakukan terhadap sekte-sekte Islam yang lain, terus menerus menyebarkan faham setiap pelaku dosa besar dihukumi murtad atau telah keluar dari Islam. Mu’tazilah memiliki pandangan yang moderat, namun tetap kurang jelas.

Adapun yang dapat difahami dari ajaran Syiah, yang menjadi asas adalah iman, namun jelas sekali iman yang nyata menuntut amal dan orang beriman tidak mungkin terus menerus melakukan dosa besar atau bahkan dosa kecil. Orang yang beriman jika terkadang tergelincir dan berdosa, dengan beberapa cara ia dapat bertaubat dan mengharapkan rahmat Allah untuk diampuni dan Ia pun akan mengampuninya. Kalau tidak, maka dapat disimpulkan bahwa ia tidak memiliki iman yang sebenarnya dan hanya mengaku sebagai orang baik dan beriman. Orang yang tidak memiliki iman dan amal saleh yang sebenarnya, jelas tidak akan melewati ujian Ilahi dan di akherat pintu nerakalah yang terbuka untuknya.

Jawaban Detil:

Pertama-tama perlu dijelaskan bahwa pembagian dosa-dosa besar dan kecil berasal dari ayat-ayat Al-Qur’an, seperti ayat 31 surah An-Nisa’, ayat 37 surah Asy-Syura dan ayat 32 surah An-Najm.

Karena Al-Qur’an tidak menjelaskan masalah-masalah seperti: Apa sajakah dosa-dosa besar itu? Bagaimana derajat orang yang melakukan dosa besar? Maka oleh karenanya banyak terjadi perdebatan sengit antara ulama dan pembesar sekte-sekte Islam.

Tentang masalah pertama, yakni tentang dosa apa sajakah yang disebut sebagai dosa besar, banyak sekali riwayat dalam kitab-kitab riwayat Syiah yang menjelaskannya.[1] Begitu juga sekte-sekte Islam lainnya, mereka telah mengkategorikan dosa-dosa tersebut dalam kitab-kitab teologi dan tafsir mereka.

Adapun tentang masalah yang kedua, sebelumnya kita harus menjelaskan hal-hal berikut ini:

1. Mengenai kedudukan pelaku dosa besar menurut sekte-sekte Islam, lebih sering disimpulkan tidak berdasarkan ajaran-ajaran Islami, namun terpengaruh dengan faktor-faktor politik. Silahkan anda perhatikan fakta-fakta berikut ini:

1.1. Murji’ah: Berpemikiran bahwa antara iman dan amal, iman-lah yang lebih asasi; yakni jika seseorang mengucapkan dua syahadat dan menjadi Muslim, maka dosa apapun yang ia perbuat tidak masalah dan takkan menghalanginya masuk surga di akhirat nanti. Pemikiran seperti ini mendapatkan dukungan keras oleh pemerintahan Umawi, karena mereka menganggap orang-orang pemerintahan meskipun pernah embunuh Ahlul Bait dan orang-orang tak berdosa, meminum minuman keras, dan lain sebagainya, sebagai orang yang bakal mendapatkan keselamatan dan masuk surga; karena mereka semua menunjukkan keimanan secara lahiriah dan melakukan berbagai syi’ar-syi’ar agama seperti shalat, puasa, haji dan lain sebagainya.

Para pemihak pemikiran ini pun berusaha membelanya dengan membawakan ayat-ayat dan riwayat. Misalnya:

Allah swt berfirman: “…(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka. dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Baqarah [2]:3-5)

Orang-orang Murji’ah berdalih bahwa di ayat itu tidak disebutkan bahwa syarat untuk masuk surga adalah “tidak berbuat dosa”. Mereka lupa bahwa kriteria-kriteria di atas adalah milik orang-orang yang bertakwa yang disebut dalam ayat kedua surah itu, dan ketakwaan tidak sejalan dengan dosa-dosa besar.[2] Pola pemikiran seperti inilah yang dimanfaatkan oleh penguasa-penguasa zalim yang hanya merasa cukup mengaku beragama Islam namun mereka melakukan segala kejahatan.

Imam Shadiq as dalam hal ini berkata: “Murji’ah berkeyakinan bahwa orang-orang Bani Umayah yang telah membunuh kami, Ahlul Bait, adalah orang yang beriman!”[3]

1.2. Berbeda dengan Murji’ah yang begitu mengunggulkan sisi lahiriah seseorang dalam keimanan secara berlebihan, ada sekte ekstrim lain yang berada di sebrang pemikirannya, yang menyebut setiap pelaku dosa besar sebagai orang kafir yang telah keluar dari Islam, harta benda dan darah mereka pun halal. Pemikiran ini pun muncul karena beberapa faktor politik di masa pemerintahan Imam Ali as seusai perang Shiffin. Sekelompok yang disebut Khawarij atau Mariqin muncul dengan mengandalkan beberapa ayat Al-Qur’an[4] menyebut hakamiah atau arbitrase sebagai dosa besar, dan berdasarkan hal itu mereka menyebut Imam Ali as sebagai orang kafir dan memeranginya.[5] Mereka berkeyakinan bahwa orang yang melakukan dosa besar adalah kafir dan akan dikekalkan di neraka![6] Alhasil mereka tidak menganggap iman sebagai masalah penting, bagi mereka yang sangat mendasar dan penting sekali adalah amal perbuatan lahiriah. Mereka menganggap iman sebagai bangunan yang mudah roboh yang dengan hancurnya satu batu bata maka seluruh susunan batu bata bangunan tersebut akan hancur. Sayang sekali banyak yang termakan tipuan mereka dan bergabung dengan sekte tersebut. Bertentangan dengan Murji’ah yang berusaha untuk membenarkan semua keburukan pemerintah-pemerintah, mereka berusaha menyemarakkan amal ibadah dan syi’ar-syi’ar agama secara lahiriah.

Oleh karena itu Imam Ali as menyebut pemikiran Bani Umayah lebih buruk dari pemikiran Khawarij.[7]

1.3. Selain itu ada pemikiran lainnya, yaitu pemikiran sekte Mu’tazilah, yang menyebut orang-orang Muslim yang berbuat dosa sebagai orang yang berada di “kedudukan antara dua kedudukan.”[8] Menurut mereka, umat Islam yang melakukan dosa besar bukan orang mukmin dan bukan orang kafir, namun berada di antara keduanya. Meskipun pemikiran mereka mirip dengan pemikiran Syiah, namun tidak dijelaskan secara rinci apa maksud kedudukan di antara dua kedudukan tersebut.

2. Permasalahan lain yang harus dijelaskan sebelum memaparkan pendapat Syiah tentang masalah dosa besar ini, adalah pengkategorian para pelaku dosa-dosa tersebut:

2.1. Orang-orang yang beriman: Iman dalam pemikiran Syiah terbagi menjadi dua bagian: umum dan khusus. Iman yang umum, adalah Islam, tanpa peduli dengan sekte apapun yang bersandang padanya. Sedangkan iman yang khusus adalah iman terhadap akidah-akidah dan keyakinan Islam, ditambah dengan keyakinan terhadap wilayah atau keimaman para Imam Ahlul Bait Rasulullah saw. Banyak sekali riwayat tentang pembagian tersebut. Misalnya, Imam Ja’far Shadiq as berkata: “Islam adalah mengucapkan dua syahadat, mendirikan shalat, membayar zakat, menjalankan ibadah haji, dan puasa bulan ramadhan. Adapun iman, selain apa yang disebutkan di atas, juga harus menerima wilayah atau keimaman.”[9]

2.2. Orang-orang yang tidak beriman: Mereka adalah orang-orang kafir yang tidak memiliki iman dalam artian umum, dan juga orang Muslim yang tidak memiliki iman dalam artian khusus. Jelas sekali kita tidak bisa menyamaratakan orang-orang seperti ini dalam satu garis; misalnya mereka dapat dibagi menjadi dua kelompok:

A. Mustadh’af: Orang-orang yang tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang agama yang benar. Oleh karena itu mereka tidak mengikuti agama yang benar tersebut. Orang-orang seperti itu, jika mereka berperilaku sesuai naluri manusiawi secara alami, tidak berbuat sewena-wena kepada selainnya, karena mereka tidak mendapatkan peluang untuk mengenal agama yang benar, meski terkadang mereka berbuat dosa besar, merka mungkin dapat dimaafkan.

B. Penentang: Orang-orang yang menentang dan memusuhi, adalah orang-orang yang tahu atas dasar bukti-bukti nyata bahwa agama yang ada di hadapan mereka adalah agama yang benar. Namun karena mereka memiliki kepentingan-kepentingan tertentu, mereka enggan menerima agama tersebut. Tidak berimannya mereka cukup untuk membuat mereka kekal di api neraka. Jika mereka melakukan dosa-dosa besar, adzab yang mereka rasakan akan bertambah. Kesimpulan ini dapat difahami dari ayat 88 surah An-Nahl.

Menurut ulama Syiah menyatakan bahwa pemikiran mereka tidak seperti pemikiran Murji’ah yang memberikan “surat izin” kebebasan dari neraka untuk para pelaku dosa besar, tidak juga seperti Khawarij yang menyatakan bahwa seseorang sekali melakukan dosa besar maka ia akan kekal di neraka, dan juga tidak seperti Mu’tazilah yang menempatkan pelaku dosa besar di suatu tempat di antara keimanan dan kekufuran. Menurut Syiah, para pelaku dosa besar dapat disebut sebagai orang mukmin yang fasik, yang mana mereka tetap dapat memperbaiki diri dengan bertaubat dan mengembalikan tingkat keimanannya sehingga mendapatkan jalan kembali untuk meraih surga. Kalau tidak bertaubat, jelas keimanannya semakin merosotdan bisa jadi tidak mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki diri, lalu akhirnya menempati neraka kelak di akhirat. Iman dan amal perbuatan adalah dua hal yang saling berkaitan erat. Orang yang mengaku beriman namun semua amal perbuatannya bertentangan dengan ajaran agama, maka jika demikian ia bukanlah orang yang beriman, dan hal itulah yang akan menyeretnya ke neraka.

Oleh karena itu, rukun pemikiran Syiah dalam masalah ini dapat disimpulkan demikian:

1. Jika seseorang memiliki iman, ia mempunyai kesempatan untuk bertaubat sehingga dosa-dosanya dimaafkan. Dalam hal dosa-dosa yang berkaitan dengan hak-hak orang lain, diperlukan keridhaan orang yang bersangkutan.

2. Orang yang melakukan dosa besar, selama tidak bertaubat, ia akan tersingkir dari derajat “keadilan” yang merupakan salah satu dari derajat keimanan. Namun bukan berarti itu membuatnya terlempar keluar dari golongan orang-orang yang beriman.

3. Melakukan dosa-dosa besar secara terus menerus tanpa bertaubat berujung pada keluarnya pelaku tersebut dari golongan orang yang beriman.

4. Memiliki keimanan dan keyakinan akan wilayah atau keimaman, tidak dapat dijadikan alasan untuk diperbolehkannya melakukan segala macam dosa.

5. Orang mukmin yang hakiki, berhubungan dengan spiritualitasnya, selalu berada dalam keadaan antara “takut” dan “harapan”.

Akan diberikan penjelasan lebih lanjut tentang lima di atas:

1. Orang-orang yang berbuat dosa tidak keluar dari dua keadaan: Pertama, orang itu melakukan dosa karena tidak meyakini keyakinan-keyakinan agamanya, yang mana orang seperti itu selain disebut sebagai pendosa juga disebut orang yang tidak beriman; dalam hal ini tidak ada yang perlu dibahas. Adapun kedua, ada orang-orang yang tetap berpegang teguh pada keyakinan agama mereka, namun terkadang mereka terbujuk hawa nafsu dan bisikan setan sehingga mereka melakukan sebagian dosa-dosa; keadaan kedua inilah yang perlu dibahas.

Allamah Hilli dalam kitab Syarh Tajrid-nya dalam menentang pemikiran Khawarij yang berkeyakinan bahwa pelaku dosa besar akan kekal di neraka, berdalil demikian: Jika kita berkeyakinan bahwa seorang mukmin yang melakukan dosa besar akan dihukum di neraka selamanya, maka orang yang seumur hidup beribadah namun di akhir hayatnya melakukan satu dosa besar tanpa ia kehilangan imannya adalah sama dengan orang yang melakukan dosa seumur hidup; padahal hal itu mustahil, tidak mungkjin kedua orang itu sama-sama dihukum selamanya di neraka. Tak satupun orang berakal menerima hal itu.[10]

Oleh karena itu, orang yang berbuat dosa besar tidak dapat disebut sebagai orang kafir. Banyak sekali ayat-ayat Allah yang menjelaskan tentang luasnya rahmat-Nya yang maha pengampun yang dapat memaafkan dosa hamba-hamba-Nya.[11] Jika rahmat Allah swt yang sedemikian luas itu tidak mencakup hamba-hamba itu, lalu siapakah yang akan mendapatkan rahmat-Nya?

Ya, yang tahu apakah pelaku dosa adalah orang yang tetap beriman ataukah tidak, hanyalah Tuhan semata. Sebagaimana Ia sendiri berfirman: “Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu; jika kamu orang-orang yang baik, maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertaubat.” (QS. Al-Isra’:25) Tuhan maha pengampun, yang mana bahkan di sebagian ayat-ayat-Nya Ia tidak mensyaratkan taubat untuk memaafkan hamba-Nya.[12] Ia akan mengampuni dosa hamba-Nya yang menurut-Nya layak untuk diampuni, kecuali dosa itu adalah kesyirikan.[13] Banyak sekali riwayat yang menjelaskan bahwa kemurahan Tuhan ini juga mencakup orang-orang yang melakukan dosa-dosa besar.[14]

Di dalam Al-Qur’an juga banyak ayat-ayat yang menjelaskan lebih dari itu, yakni dengan beriman maka Tuhan akan memaafkan dosa-dosa hamba yang telah lalu bahkan kesyirikan pun.[15]

Yang jelas dosa-dosa yang dimaksud adalah dosa yang hanya berkaitan antara Tuhan dan hamba-Nya saja. Adapun doa yang berkaitan dengan hak-hak orang lain, misalnya memakan uang anak yatim, pelaku dosa dalam bertaubat harus berusaha meminta keridhaan orang yang bersangkutan. Imam Ali as berkata bahwa di hari kiamat nanti dosa-dosa seperti ini akan dihitung dengan detil tanpa ada keringanan sedikitpun.[16]

Berdasarkan apa yang telah dijelaskan, orang yang beriman dan pendosa meskipun dosanya adalah sebuah bentuk dari kufur nikmat, namun pelakunya tidak bisa kita sebut sebagai orang murtad begitu saja. Beda dengan pemikiran Khawarij yang timbul dari faktor-faktor politik dan malah bertentangan dengan ayat-ayat serta riwayat.

2. Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa Murji’ah menganggap perbuatan dosa sebesar apapun dan sesering apapun dilakukan, sama sekali tidak mempengaruhi keimanan pelakunya. Syiah tidak berkeyakinan seperti itu. Menurut Syiah, pelaku dosa besar derajat keimanannya menurun,[17] tidak disebut “adil” sehingga tak sah untuk dijadikan imam jama’ah,[18] apa lagi untuk menjadi pemimpin umat.

Berdasarkan riwayat-riwayat, para pelaku dosa-dosa besar tidak memiliki derajat keimanan setinggi, serta tidak memiliki martabat keimanan seperti “keadilan”, yang mana orang-orang seperti itu tidak dapat diterima kesaksiannya di pengadilan Islami,[19] tidak boleh ditemani dan menikahkan mereka, dan seterusnya…[20] Mereka disebut orang yang mengkufuri nikmat, yang jika tidak bertaubat dan menyesali perbuatannya maka layak untuk disiksa di api neraka.[21] Kesimpulannya, iman secara lisan saja tidak bisa menjamin bahwa orang itu akan mendapatkan rahmat Tuhan dan pengampunan atas segala dosanya.

3. Perlu diketahui bahwa semakin banyak dosa yang dilakukan, kemungkinan untuk kembali ke derajat keimanan yang tinggi semakin kecil. Meskipun pintu-pintu taubat selalu terbuka lebar, mungkin saja pelaku dosa tidak berhasil atau mendapat taufik untuk benar-benar bertaubat. Perhatikan dua riwayat di bawah ini:

Saat imam Shadiq as ditanya tentang orang yang telah membunuh saudara seimannya dengan sengaja, tanpa menjelaskan bahwa taubatnya tidak akan diterima, imam menjawab bahwa orang itu tidak akan berhasil (mendapat taufik) untuk bertaubat.”[22]

Imam Ali as pernah menjelaskan bahwa orang yang beriman memiliki 40 perisai, dan selain itu para malaikat juga menjaganya dengan sayap-sayapnya, yang mana dengan melakukan sebuah dosa besar, satu dari perisai-perisai tersebut akan hancur. Jika ia terus menerus berbuat demikian, ia akan sampai pada suatu keadaan dimana ia tidak akan meninggalkan dosa tersebut atau bahkan membanggakannya. Lalu akhirnya akan menjadi musuh Ahlul Bait.[23]

Selain itu juga sering dijelaskan bahwa terus menerus melakukan dosa kecil akan merubahnya menjadi dosa besar.[24] Apa lagi terus menerus melakukan dosa besar?!

4. Banyak riwayat yang menjelaskan bahwa iman dan wilayah adalah asas paling penting, dan amal merupakan cabangnya. Meskipun itu benar, namun tak boleh disalahartikan. Misalnya perhatikan dua contoh berikut ini:

Pertama: Seseorang bernama Muhammad bin Madir meriwayatkan: Aku berkata kepada Imam Shadiq as: Aku pernah mendengarmu berkata: “Jika engkau punya iman, apapun yang ingin kau lakukan maka lakukanlah![25] Imam membenarkan perkataannya. Perawi heran dan bertanya: “Berarti orang yang beriman boleh berbuat zina, mencuri dan mabuk?” Imam berkata: “Innalillah… Apa yang kau fahami itu tidak benar sama sekali. Apakah kami orang-orang maksum tetap harus bertanggung jawab atas perbuatan kami, sedangkan kalian pengikut kami bebas melakukan dosa apa saja? Makna perkataanku adalah: Jika engkau punya iman, perbuatan baik apapun yang ingin kau lakukan, entah kecil atau besar, maka lakukanlah; karena dengan iman itu Allah swt akan menerima amalmu.”[26]

Kedua: Ada riwayat lain yang berbunyi: “Mencintai Ali as adalah perbuatan baik, yang mana dengan itu dosa apapun tidak akan bermasalah bagi manusia.”[27]

Banyak juga yang menyalahartikan riwayat tersebut dan mengira bahwa seorang Syiah bebas melakukan dosa apapun! Sebagaimana ada seorang penyair berkata:

Jika penghitungan amal di hari kiamat di tangan Ali,

Aku menjamin, dosa apapun yang ingin kau lakukan, lakukanlah!

Jika syair di atas tidak bermaksud berlebihan, maka maksudnya sama sekali tidak benar. Karena kecintaan kepada Ali as tidak sejalan dengan berbuat dosa dan sewena-wena. Maksud perkataan beliau adalah, jika kita mencintai Imam Ali as, maka kita pasti tidak akan begitu saja berbuat dosa seenaknya karena kita merasa malu di hadapan beliau. Jika kita lalai dan berbuat dosa, atas dasar kecintaan tersebut, kita pasti akan segera menyesali, bertaubat dan membenahi perilaku kita.[28] Jika ada orang yang mengaku Syiah lalu dengan seenaknya melakukan semua dosa dan larangan agama, jelas ia adalah pembohong.

5. Jika kita lihat banyak perbedaan di riwayat-riwayat yang mana sebagian riwayat memerintahkan kita untuk tidak berputus asa akan rahmat Tuhan, namun sebagian riwayat benar-benar mengancam kita akan siksaan-Nya, itu artinya kita sebagai orang beriman tidak dijamin untuk selalu berada dalam rahmat-Nya dan masuk surga, begitu pula orang yang berdosa tidak dijamin pasti masuk neraka dan terlepas dari rahmat Tuhan seluruhnya.

Seorang yang beriman, harus mengharap rahmat dan pengampunan Tuhan. Karena Ia selalu membuka pintu taubat, bahkan untuk orang yang tidak beriman sekalipun. Begitu pula dijelaskan bahwa dengan melakukan perbuatan baik, perbuatan buruk yang pernah dilakukan sebelumnya akan terhapus.[29]

Di sisi lain, karena mungkin saja manusia mati kapan saja, atau dosanya sangat berat sehingga tidak bisa dibenahi hingga akhir umurnya, apa lagi jika kehilangan imannya, faktor-faktor tersebut akan membuatnya tak dapat diberi syafa’at oleh manusia-manusia suci as. Begitu pula sebagian dosa, atau lemahnya iman, akan menyebabkan sirnanya amal perbuatan baik yang pernah dilakukan.[30] Oleh karenanya orang beriman pun harus mengkhawatirkan bahaya tersebut. Jadi, dalam kehidupan spiritual, kita harus takut dan khawatir akan malapetaka tersebut, namun juga terus berharap atas rahmat Allah swt yang sangat luas. [islamquest]


[1] Dalam masalah ini, anda dapat merujuk riwayat-riwayat yang ada dalam kitab Wasail Asy-Syiah, jilid 15 bab 46, halaman 318. Terjemahan judul bab tersebut adalah: Bab Menentukan Dosa Besar Yang Harus Dihindari.

[2] Untuk merujuk lebih lanjut tentang dalih Murji’ah dengan menggunakan ayat ini: Thayib, Sayid Abdul Husain, Athyab Al-Bayan fi Tafsir Al-Qur’an, jilid 1, halaman 259-258, cetakan Penerbitan islamiTehran, 1378 HS.

[3] Kulaini, Muhammad bin Ya’qub, Al-Kafi, jilid 2, halamn 409, hadits 1, Darul Kutub Islamiah, Tehran, 1365 HS.

[4] QS. Al-An’am: 57; QS. Yusuf: 40 dan 67.

[5] Untuk mengkaji lebih lanjut tentang masalah ini, silahkan merujuk: Makarim Syirazi, Nashir, Tafsir Nemune, jilid 9, halaman 419-418, Darul Kutub Al-Islamiyah, Tehran 1374 HS.

[6] Banyak riwayat yang bertentangan dengan pemikiran kaum Khawarij ini, misalnya anda bisa membacar riwayat yang tertera di halaman 421 jilid 33 kitab Biharul Anwar, bab 25, Yayasan Al-Wafa’, Beirut, 1404 H.

[7] Nahjul Balaghah, halaman 94, khutbah 61, penerbit Darul Hijrah, Qom.

[8] Istilah serupa (yang bahasa Arabnya adalah Al-Manzilah bainal Manzilatain) juga digunakan dengan maksud “tidak jabr (keterpaksaan) dan tidak tafwidh (kebebasan total)” yang mana Syiah membenarkan hal itu. Namun Syiah tidak membenarkan istilah tersebut terkait dengan masalah dosa besar yang kita bahas sekarang.

[9] Kulaini, Muhuammad bin Ya’qub, Al-Kafi, jilid 2, halaman 24-25, hadits 4.

[10] Mughniyah, Muhammad Jawad, Tafsir Kasyif, jilid 1, halaman 139, Darul Kutub Al-Islamiah, Tehran, 1424 H, menukil dari Syarah Tajrid.

[11] QS. Al-Baqarah: 192-225; QS. Al-An’am: 147; QS. Al-A’raf: 156; QS. Al-Ghafir: 7; QS. Nuh: 10; dan masih banyak lagi. Di sebagian ayat-ayat tersebut dijelaskan bahwa dosa-dosa hamba yang tidak beriman pun juga dapat dimaafkan.

[12] Dalam sebuah riwayat dari Imam Shadiq as disebutkan bahwa: “Kami akan memberikan syafa’at kepada orang yang melakukan dosa besar, dan mereka yang bertaubat dengan taubat sejati adalah orang-orang yang berbuat baik dan mereka tidak membutuhkan syafa’at.” Silahkan merujuk: Hurr Amili, Muhammad bin Al-Hasan, Wasail Asy-Syi’ah, jilid 5, halaman 334, hadits 20669, Muasasah Alul Bait, Qom, 1409 H.

[13] QS. An-Nisa’: 48 dan 116.

[14] Al-Kafi, jilid 2, halaman 284, hadits 18.

[15] QS. Az-Zumar: 53, “Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.”

[16] Nahjul Balaghah, halaman 255, khutbah 176.

[17] Banyak hadits-hadits dari para imam tentang masalah menurunnya derajat keimanan, sebagaimaa yang disebutkan dalah hadits 21 halaman 284 jilid kedua kitab Ushul Al-Kafi. Semua itu menjelaskan bahwa pelaku dosa besar derajat keimanannya menurun, bukannya menjadi kafir.

[18] Silahkan merujuk riwayat-riwayat seperti yang disebutkan dalam Wasail Asy-Syi’ah, jilid 18, halaman 313-318, bab 11.

[19] Wasail Asy-Syiah, jilid 27, halaman 391, hadits 34932.

[20] Ibid, jilid 25, halaman 312, hadits 31987.

[21] Ibid, jilid 15, halaman 338, hadits 20683.

[22] Ibid, jilid 29, halaman 32, hadits 35077.

[23] Kulaini, Muhammad bin Ya’qub, Al-Kafi, jilid 2, halaman 279, hadits 9.

[24] Wasail Asy-Syi’ah, jilid 15, halaman 337, hadits 20681.

[25] Dengan melihat lanjutan riwayat, ternyata perawi mengira jika kita memiliki iman kita dapat melakukan dosa apapun.

[26] Wasail Asy-Syi’ah, jilid 1, halaman 114, hadits 287.

[27] Ihsa’i, Ibnu Abi Jumhur, ‘Awali Al-La’ali, jilid 4, halaman 86, hadits 103, penerbit Sayid Syuhada, Qom, 1405 H.

[28] Banyak sekali riwayat tentang kesedihan Rasulullah saw dan para Imam as akan dosa yang dilakukan oleh orang yang beriman. Silahkan merujuk: Wasail Asy-Syiah, jilid 16, halaman 107, hadits 21105, dan riwayat-riwayat serupa.

[29] QS. Al-Baqarah: 271; QS. Ali Imran: 195; QS. An-Nisa’: 31; QS. Al-Maidah: 12 dan 65; QS. Al-Anfal: 29; QS. Al-’Ankabut: 7; QS. Az-Zumar: 35; QS. Al-Fath: 5; QS. At-Taghabun: 9; QS. Ath-Thalaq: 5; QS. At-Tahrim: 8; dan seterusnya.

[30] QS. Al-Baqarah: 217; QS. Al-Maidah: 5 dan 53; QS. Al-An’am: 88; QS. Huud: 16; QS. Al-Ahzab: 19; QS. Az-Zumar 65; QS. Al-Hujurat: 2; dan seterusnya.

Syiah bisa seenaknya saja berbuat dosa

Tanya: Syiah berkeyakinan bahwa mereka tidak masalah seperti apapun dosa mereka, karena mereka mencintai Ali. Keyakinan macam apakah ini?

Jawab: Ini juga tidak terbukti. Syiah tidak sama seperti Murji’ah. Penganut aliran Murji’ah lah yang berkata bahwa iman cukup untuk menyelamatkan kita dari api neraka, meskipun kita tidak melakukan amal perbuatan apapun. Justru Syiah kebalikan dari itu. Menurut Syiah, tidak hanya iman itu tidak cukup, bahkan diperlukan amal saleh yang diiringi dengan ketulusan serta ketakwaan. Allah swt berfirman:

“Sesungguhnya Allah menerima amal perbuatan yang dilakukan oleh orang-orang yang bertakwa.” (Al-Maidah:  27)

Imam Baqir as berkata kepada salah satu sahabatnya yang bernama Jabir:

“Wahai Jabir, apakah cukup seseorang mengaku pengikut kami dan Ahlul Bait saja? Sungguh demi Tuhan, pengikut kami yang sebenarnya adalah orang yang berpaling dari dosa dan selalu mentati Tuhannya. Kriteria pengikut kami adalah rendah hati, takut akan Allah, zikir, shalat, puasa dan amalsaleh…”[1]

Ini hanyalah sebuah contoh dari riwayat-riwayat yang ada terkait dengan masalah ini dan masih banyak riwayat yang lainnya. Jika seandainya ditemukan riwayat yang bertentangan dengan riwayat di atas, yakni menyatakan bahwa amal saleh tidak perlu dilakukan, karena itu bertentangan dengan Al-Qur’an maka riwayat sedemikian rupa tidak dapat diterima.

Coba anda tunjukkan Syiah yang mana yang telah seenaknya melakukan dosa karena mengaku mencintai Ahlul Bait?

Bukannya kalian sendiri yang pernah menukilkan bahwa Rasulullah saw berkata kepada para pahlawan Badar (perang Badar):

“Lakukanlah apa yang ingin kalian lakukan sesuka hati, karena aku telah mewajibkan surga atas kalian.”[2]

Kalian kum Salafi telah menginjak kehormatan-kehormatan Ilahi dengan cara mendidik teroris-teroris. Kalian tidak menghormati darah orang tua atau anak kecil, tidak menghormati harta benda kaum Muslimin dan wanita-wanita mereka. Menurut kalian semua umat Islam selain pengikut Muhammad bin ‘Abdul Wahab adalah musyrik dan murtad yang harus kalian tumpahkan darahnya dan rampas hartanya serta menawan wanita-wanitanya. Apakah anda yang seperti ini dengan nyaman membandingkan diri dengan Syiah?


[1] Amali, Syaikh Thusi, hlm. 743; Al-Kafi, jld. 2, hlm. 73.

[2] Shahih Bukhari Nafi’,  kitab Al-Maghazi, 304, hadits 3983.

Sampai matipun Fatimah tidak mau menerima Kekhalifahan Abubakar !!! Syi’ah Mencontoh Al Maksum Fatimah Karena itu Maqashid Asy Syariah

Bismihi Ta’ala

Allahumma bi haqqi Muhammad wa aali Muhammad, shalli ‘ala Muhammad wa aali Muhammad

Kenapa imam Ali  Membai’at  Abubakar  Didepan  Massa ( Orang Ramai ) ??? Abubakar  meraih peluang  besar ketika gelombang kemurtadan  dan penentangan  terhadap islam  melanda Hijaz… Kaum Muslimin  yang  tercekam  MENOLAK  BERPERANG MELAWAN Musailamah  Al  Kadzab  dan  KAUM  MURTAD    kecuali  Imam Ali membai’at  ABUBAKAR…

Sehingga Imam Ali  TERPAKSA  membai’at  Abubakar … Menentang  Abubakar  hanya akan membuat islam lenyap (punah) padahal  KAUM  MUSLiMiN  berkepentingan  menyelamatkan islam agar  langgeng … Jika Imam Ali Memerangi  Abubakar Maka Tidak Ada Lagi Islam Yang Tersisa

Sampai  matipun Fatimah tidak mau menerima Kekhalifahan Abubakar !!! Syi’ah Mencontoh  Al Maksum  Fatimah Karena itu Maqashid  Asy Syariah… Kenapa imam Ali Membai’at Abubakar Didepan Massa ( Orang Ramai ) ??? Abubakar meraih peluang besar ketika gelombang kemurtadan dan penentangan terhadap islam melanda Hijaz…

Kaum Muslimin yang tercekam MENOLAK BERPERANG MELAWAN Musailamah Al Kadzab dan KAUM MURTAD kecuali Imam Ali membai’at ABUBAKAR… Sehingga Imam Ali TERPAKSA membai’at Abubakar …

Menentang Abubakar hanya akan membuat islam lenyap (punah) padahal KAUM MUSLiMiN berkepentingan menyelamatkan islam agar langgeng … Jika Imam Ali Memerangi Abubakar Maka Tidak Ada Lagi Islam Yang Tersisa

Ulama sunni menyatakan  bahwa semua sahabat adalah adil!

Kata-kata itu adalah pembohongan dan rekaan belaka, bagaimana mungkin semua sahabat adil sedangkan Allah melaknati sebahagian mereka. Rasul sendiri telah melaknati sebahagian sahabatnya ! Sahabat pula saling melaknati sesama mereka, memerangi sesama mereka, mencaci sesama mereka dan membunuh sesama mereka bahkan ada yang menindas keluarga Nabi

Mazhab Syi’ah tidak menggugat semua sahabat. Ada sahabat-sahabat Nabi yang memang sangat kami hormati yaitu mereka yang Allah puji dalam Quran. Ayat ayat dalam Quran ini tentunya tidak meliputi semua sahabat. Tidaklah dapat dipahami jika Allah memberikan hak imunitas yang permanen kepada orang-orang yang telah berbuai baik sebelumnya, tetapi kemudian mereka menumpahkan darah ribuan kaum Muslimin sepeninggal Nabi Muhammad. Allah Maha Adil sehingga mustahil memberikan jaminan masuk surga pada sahabat yang berbuat jahat, menumpahkan orang – orang yang tidak berdosa. Jika tidak, maka Allah tidak adil.

Terjadi kekacauan definisi sahabat yang disusun para ulama hadis sehingga orang-orang yang sekadar hidup sezaman dan berada dilingkungan Nabi Muhammad saw, orang-orang yang mabuk tetapi pernah bertemu Nabi, mereka yang diusir Nabi, dan pembunuh pun disebut sahabat.

Rasulullah SAW tidak menjamin surga kepada Abubakar. Setelah beliau bersaksi tentang  para syuhada di perang uhud. Rasul saw kemudian berkata kepada Abubakar : “Sungguh aku   tidak tahu apa yang akan kau lakukan sepeninggalku”. Dan kemudian Abubakar menangis” (Referensi  Ahlusunnah : Imam Malik, dalam “Al-Muwatta’”, kitab “Jihad”)

Lihat juga [Q.S. Ali Imron 153], tentang kejadian perang Uhud dimana sebagian sahabat lari meninggalkan Rasul saww, sebagai berikut : “(Ingatlah) ketika kalian lari dan tidak menoleh kepada seorangpun, sedang Rasul yang berada di antara kawan-kawan kalian yang lain, memanggil kalian…”.

Bahkan termasuk Abubakar dan Umar juga lari dari perang Uhud tersebut. Dan mereka berdua (Abubakar dan Umar) juga lari dari perang Hunain dan Khaibar. Padahal Allah murka kepada mereka yang lari dari perang sebagaimana Firman-Nya pada [ Q.S. Al-Anfaal  15-16 ].

Ref. Ahlusunnah :

  1. Haikal, “Hayat Muhammad”, bab “perang uhud” dan “perang khaibar”.
  2. Al-Waqidi, dalam “Al-Maghazi”.
  3. 3.     Siroh Ibn Hisyam, Jilid 4, bab “Perang Uhud”.
  4. 4.     Ibn Hajar, dalam “Al-Ishobah”, jilid 3, hal. 108, pada muntakhab “Al-Isti’ab”.
  5. 5.     Siroh Al-Halabiyah, pada bab “Perang Hunain” dan “Perang Khaibar”.

dan lain-lain.

Banyak sejarah yang telah dimanipulasi untuk mengangkat derjat dan keutamaan beberapa “sahabat” Nabi. Padahal nyata nyata Allah mengancam menggugurkan amal Abubakar dan Umar. Allah berfirman dalam Q.S. Al-Hujurat  ayat 2,  tentang larangan untuk meninggikan suara melebihi   suara Rasul saw. Tuhan memperingatkan kepada Abubakar dan Umar supaya tidak lagi mengeraskan suaranya melebihi suara Nabi saw.

Asbabun nuzul Ayat ini adalah Abubakar dan Umar yang saling berdebat dengan suara keras dihadapan Rasul saw (Shahih Bukhari, juz 3, kitab “Al-Maghazi”, bab “Waqd Bani Tamim”)

Hasil yang sedemikian besar yang diperoleh dari Fadak jika digunakan oleh kubu Imam Ali maka akan menjadikan mereka sebagai oposisi yang tangguh

Di dalam kitab hadis Ahlus Sunnah, yaitu Sunan Abu Dawud, Jil. 3, hlm. 144, Dzikr Fa’i, tertulis : “Abu Dawud mengatakan bahwa ketika Umar bin Abdul ‘Aziz menjadi khalifah, pendapatan yang diperoleh dari tanah fadak adalah 40.000 Dinar.”

Di dalam Syarah Ibn Abil Hadid, Jil. 4, hlm. 108 tertulis : “Umar  (bin Khaththab) mengeluarkan orang-orang Yahudi dari tanah Fadak. Dan nilai tanah tersebut berikut kurmanya adalah 50.000 Dirham.”

Di antara lembaran hitam sejarah umat Islam yang tak dapat dipungkiri adalah terjadinya sengketa antara Fatimah as. –selaku ahli waris Nabi saw.dan Abu Bakar selaku penguasa terkait dengan tanah Fadak dan beberapa harta waris yang ditinggalkan Nabi saw.

Imam Ali as. menegaskan bahwa Abu Bakar telah berbohong dengan membawa-bawa hadis palsu atas nama Nabi saw tentang perkara kebun FADAK ! Di bawah ini kami sebutkan hadis riwayat Muslim dan Bukhari yang melaporkan pengaduan/sengketa di hadapan Umar –semasa menjabat sebagai Khalifah:

 “… Dan ketika Rasulullah saw. wafat, Abu Bakar berkata, ‘Aku adalah walinya Rasulullah, lalu kalian berdua (Ali dan Abbas) datang menuntut warisanmu dari anak saudaramu dan yang ini menuntut bagian warisan istrinya dari ayahnya. Maka Abu Bakar berkata, ‘Rasulullah saw. bersabda: “Kami tidak diwarisi, apa- apa yang kami tinggalkan adalah shadaqah.”, lalu kalian berdua memandangnya sebagai pembohong (kâdziban)., pendosa (atsiman), penipu (ghadiran) dan pengkhianat (khâinan). Demi Allah ia adalah seorang yang jujur, bakti, terbimbing dan mengikuti kebenaran. Kemudian Abu Bakar wafat dan aku berkata, ‘Akulah walinya Rasulullah saw. dan walinya Abu Bakar, lalu kalian berdua memandangku sebagai pembohong (kâdziban)., pendosa (atsiman), penipu (ghadiran) dan pengkhianat (khâinan)…. “ (HR. Muslim, Kitab al Jihâd wa as Sair, Bab Hukm al Fai’,5/152)

Secara tidak jujur maka Bukhari membuang redaksi tersebut yang merugikan kaum sunni dan menggantinya dengan lafaz: lalu kalian berdua memandangnya sebagai begini dan begitu “(HR. Bukhari,6/191, Kitab an Nafaqât/Nafkah, BabHabsu ar Rajuli Qûta Sanatihi / Seorang menahan kebuhutan pangan setahunya)

Tapi sayangnya, Imam Bukhari masih meninggalkan jejak dan dapat menjadi petunjuk yaitu pembelaan Umar atas dirinya dan juga atas Abu Bakar! Bukhari menyebutkan kata-kata Umar: Allah mengetahui bahwa ia adalah seorang yang jujur, bakti, terbimbing dan mengikuti kebenaran! Dan kata-kata itu dapat menjadi petunjuk awal bahwa apa yang dikatakan Ali dan Abbas paling tidak kebalikan darinya atau yang mendekati kebalikan darinya! Sebab apa latar belakang yang mengharuskan Umar mengatakan kata-kata tersebut andai bukan karena adanya tuduhan Ali dan Abbas ra. atas Abu Bakar dan Umar?!

Maka gugurlah usaha Bukhari agar kaum Muslimin tidak mengetahui kenyataan pahit di atas! Dan ini adalah salah satu bukti bahwa kebenaran/al Haq betapa pun ditutup-tutupi tetap Allah akan membongkarnya ! Maka jika demikian adanya, mungkinkah para imam dan tokoh ulama dari keturunan Imam Ali as. akan menyanjung Abu Bakar dan Umar, meyakininya sebagai dua imam pengemban hidayah, sebagai Shiddîq dan Fârûq dan memandang keduanya dengan pandangan yang berbeda dengan ayah mereka?

Sunni adalah mereka yang telah didoktrinisasikan bahawa semua sahabat adalah jujur dan adil serta Allah dan RasuNya meridhai mereka semua. Kelompok ini dalam rangka mengkultuskan seluruh sahabat, telah terjebak dengan tafsiran-tafsiran al-Quran yang disajikan oleh ulama-ulama mereka, mempedomani  ribuan hadis-hadis palsu keutamaan sejumlah sahabat yang semuanya saling berbenturan dengan al Quran, hadis-hadis sahih yang disepakati, maupun akal yang sihat.

Dalam Kitab Sunan Abu Dawud(klik) tercatat :

13 – أنه جاء هو وعثمان بن عفان يكلمان رسول الله صلى الله عليه وسلم فيما قسم من الخمس بين بني هاشم وبني المطلب فقلت يا رسول الله قسمت لإخواننا بني المطلب ولم تعطنا شيئا وقرابتنا وقرابتهم منك واحدة فقال النبي صلى الله عليه وسلم إنما بنو هاشم وبنو المطلب شيء واحد قال جبير ولم يقسم لبني عبد شمس ولا لبني نوفل من ذلك الخمس كما قسم لبني هاشم وبني المطلب قال وكان أبو بكر يقسم الخمس نحو قسم رسول الله صلى الله عليه وسلم غير أنه لم يكن يعطي قربى رسول الله صلى الله عليه وسلم ما كان النبي صلى الله عليه وسلم يعطيهم قال وكان عمر بن الخطاب يعطيهم منه وعثمان بعده

الراوي: جبير بن مطعم المحدث: الألباني – المصدر: صحيح أبي داود – الصفحة أو الرقم: 2978

خلاصة حكم المحدث: صحيح

Riwayat yang sama dari Sunan Abu Dawud No.2978 :

2978 – حدثنا عبيد الله بن عمر بن ميسرة ثنا عبد الرحمن بن مهدي عن عبد الله بن المبارك عن يونس بن يزيد عن الزهري قال أخبرني سعيد بن المسيب قال

« أخبرني جبير بن مطعم أنه جاء هو وعثمان بن عفان يكلمان رسول الله فيما قسم من الخمس بين بني هاشم وبني المطلب فقلت يا رسول الله قسمت لإخواننا بني المطلب ولم تعطنا شيئا وقرابتنا وقرابتهم منك واحدة فقال النبي ” إنما بنو هاشم وبنو المطلب شىء واحد ” قال جبير ولم يقسم لبني عبد شمس ولا لبني نوفل [ شيئا ] من ذلك الخمس كما قسم لبني هاشم وبني المطلب. قال وكان أبو بكر يقسم الخمس نحو قسم رسول الله غير أنه لم يكن يعطي قربى رسول الله ما كان النبي يعطيهم قال وكان عمر بن الخطاب يعطيهم منه وعثمان بعده. » 72

Telah menceritakan kepada kami Ubaidullah bin Umar bin Maisarah yang berkata telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi dari Abdullah bin Al Mubarak dari Yunus bin Yazid dari Az Zuhri yang berkata telah mengabarkan kepadaku Sa’id bin Musayyab yang berkata telah mengabarkan kepadaku Jubair bin Muth’im, bahwa ia bersama Utsman bin Affan datang untuk berbicara kepada Rasulullah (saww) tentang bagian khumus yang beliau bagikan diantara Bani Hasyim dan Bani al-Muththalib.

Kemudian aku berkata : “Wahai Rasulullah, anda telah membagi untuk saudara-saudara kami Bani Al Muththalib, dan anda tidak memberikan sesuatupun kepada kami, padahal kerabat kami dan kerabat mereka bagi anda adalah satu”.

Kemudian Nabi (saww) bersabda : “Sesungguhnya Bani Hasyim dan Bani al-Muththalib adalah satu.”

Jubair mengatakan Beliau tidak membagikan kepada Bani Abdu Syams dan Bani Naufal dari khumus tersebut sebagaimana beliau membagikan kepada Bani Hasyim dan Bani al-Muththalib.

Jubair berkata : “Abu Bakar membagikan khumus sebagaimana Rasulullah (saww) membagikannya hanya saja ia tidak memberikan (khumus) kepada kerabat (qurba) Rasulullah (saww), sebagaimana Rasulullah (saww) telah memberikan kepada mereka“.

Jubair berkata : Dan Umar bin  Khathab memberikan kepada mereka (kerabat Rasul saww) dari bagian tersebut begitu juga Utsman setelahnya”

Derajat HaditsShahih (klik)

.

“…..hanya saja ia (yaitu ABU BAKAR) tidak memberikan khumus kepada kaum kerabat (qurba) Rasulullah (saww), sebagaimana Rasulullah (saww) telah memberikan khumus kepada mereka

Seperti inikah yang dikatakan khalifah yang adil..??

Gembong Nashibi Ibn Taymiyah dalam Komik kebanggaan para Nashibi (LA) Minhaj As-Sunnah 8/291 (klik), mengatakan  :

وغاية ما يقال إنه كبس البيت لينظر هل فيه شيء من مال الله الذي يقسمه وأن يعطيه لمستحق

Tujuan dari apa yang dikatakan bahwa ia (abu bakar) mendobrak rumah (rumah Fathimah as) adalah untuk melihat jika disana ada harta Allah untuk disalurkan dan diberikan kepada yang layak menerimanya”

Masuk akalkah Ahlul Bait (as) menyimpan harta yang bukan miliknya alias harta ilegal..??  sehingga Abu Bakar mencari-carinya dan mendobrak rumah Fathimah (as) karena alasan tersebut?

0
inShare

Tindakan-tindakah khalifah Abu Bakar yang bertentangan dengan al-Qur’an dan Sunnah Nabi (Saw.) serta akal yang sejahtera melebihi 4 perkara sebagaimana dicatat oleh ulama Ahlus-Sunnah wa l-Jama’ah di dalam buku-buku mereka. Sekiranya mereka berbohong di dalam catatan mereka, maka merekalah yang berdosa dan dipertanggungjawabkan di
hadapan Allah (swt). Dan sekiranya catatan mereka itu betul, kenapa kita menolaknya dan terus memusuhi Sunnah Nabi (Saw.) yang bertentangan dengan tindakan Abu Bakar? Berikut dikemukakan sebagian dari tindakan khalifah Abu Bakar :

1.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi saw, niscaya mereka tidak melarang orang ramai dari menulis dan meriwayatkan Sunnah Nabi (Saw.) Tetapi Khalifah Abu Bakar telah melarang orang ramai dari menulis dan meriwayatkan Sunnah Nabi (Saw.) [al-Dhahabi, Tadhkirah al-Huffaz, I, hlm.3].

2.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak berpendapat bahwa Sunnah Nabi (Saw.) akan membawa perpecahan kepada umat, tetapi khalifah Abu Bakar berpendapat Sunnah Nabi (Saw.) akan membawa perselisihan dan perpecahan kepada umat. Dia berkata: “Kalian meriwayatkan dari Rasulullah (Saw.) hadits-hadits di mana kalian berselisih faham mengenainya. Orang ramai selepas kalian akan berselisih faham lebih kuat lagi.” [Al-Dhahabi, Tadhkirah al-Huffaz, I , hlm.3]

3.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi( Saw.), niscaya mereka meriwayatkan dan menyebarkan Sunnah Nabi (Saw.) di kalangan orang ramai,tetapi khalifah Abu Bakar melarang orang ramai dari meriwayatkannya. Dia berkata: “Janganlah kalian meriwayatkan sesuatu pun (syai’an) dari Rasulullah (Saw.)” [Al-Dhahabi, Tadhkirah al-Huffaz, I , hlm.3]

4.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak akan mengatakan bahwa Kitab Allah adalah cukup untuk menyelesaikan segala masalah tanpa Sunnah Nabi (Saw.), tetapi khalifah Abu Bakar berkata: “Kitab Allah dapat menyelesaikan segala masalah tanpa memerlukan Sunnah Nabi (Saw.)” Dia berkata: “Sesiapa yang bertanya kepada kalian, maka katakanlah: Bainana wa bainakum kitabullah (Kitab Allah di hadapan kita). Maka hukumlah menurut halal dan haramnya.”[Al-Dhahabi, Tadhkirah al-Huffaz, I , hlm.3]

Kata-kata Abu Bakar ini telah diucapkan beberapa hari selepas peristiwa Hari Khamis yaitu bertepatan dengan kata-kata Umar ketika dia berkata:” Rasulullah (Saw.) sedang meracau dan cukuplah bagi kita Kitab Allah (Hasbuna Kitabullah).” Lantaran itu sunnah Abu Bakar tadi adalah bertentangan dengan Sunnah Nabi yang dicatatkan oleh Ahlul Sunnah:”Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara sekiranya kalian berpegang kepada kedua-duanya niscaya kalian tidak akan sesat selama-lamanya ; Kitab Allah dan “Sunnahku.”

5.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak membakar Sunnah Nabi (Saw.), tetapi Khalifah Abu Bakar telah membakarnya. Oleh itu tidak heranlah jika Khalifah Abu Bakar tidak pernah senang hati semenjak dia mengumpulkan lima ratus hadits Nabi (Saw.) semasa pemerintahannya. Kemudian dia membakarnya pula. [al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal, V, hlm. 237]

Dengan ini dia telah menghilangkan Sunnah Rasulullah (Saw.). Oleh itu kata-kata Abu Bakar: “Janganlah kalian meriwayatkan sesuatupun dari Rasulullah (Saw.)” menunjukkan larangan umum terhadap periwayatan dan penulisan hadits Rasulullah (Saw,). Dan hal itu tidak boleh ditakwilkan sebagai berhati-hati atau mengambil berat atau sebagainya.

6.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka menyebarkan Sunnah Nabi (Saw.), dan menjaganya, tetapi khalifah Abu Bakar, melarangnya dan memusnahkannya (Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal,V,hlm. 237] Lantaran itu tindakan khalifah Abu Bakar adalah bertentangan dengan Sunnah Rasulullah (Saw.):”Allah memuliakan seseorang yang mendengar haditsku dan menjaganya, dan menyebarkannya. Kadangkala pembawa ilmu (hadits) membawanya kepada orang yang lebih alim darinya dan kadangkala pembawa ilmu (hadits) bukanlah seorang yang alim.”[Ahmad bin Hanbal, al-Musnad, I, hlm.437; al-Hakim, al-Mustadrak, I, hlm.78] Dan sabdanya “Siapa yang ditanya tentang ilmu maka dia menyembunyikannya, Allah akan membelenggukannya dengan api neraka.” [Ahmad bin Hanbal, al-Musnad, III, hlm.263]

7.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka berkata: “Kami perlu kepada sunnah Nabi (Saw.) setiap masa,” tetapi khalifah Abu Bakar dan kumpulannya berkata: “Kami tidak perlu kepada sunnah Nabi, karena kitab Allah sudah cukup bagi kita.” Dia berkata: “Sesiapa yang bertanya kepada kalian, maka katakanlah: Bainana wa bainakum kitabullah (Kitab Allah di hadapan kita). Maka hukumlah menurut halal dan haramnya.” [Al-Dhahabi, Tadhkirah al-Huffaz,I,hlm.3]

8.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka percaya bahwa taat kepada Nabi (Saw.) adalah taat kepada Allah sebagaimana firman-Nya di dalam Surah al-Nisa’(4) 80 : “Siapa yang mentaati Rasul, maka dia mentaati Allah”. Ini berarti siapa yang mendurhakai Rasul, maka dia mendurhakai Allah, tetapi khalifah Abu Bakar dan kumpulannya percaya sebaliknya ketika dia berkata: : “Sesiapa yang bertanya kepada kalian, maka katakanlah: Bainana wa bainakum kitabullah (Kitab Allah di hadapan kita). Maka hukumlah menurut halal dan haramnya.” [Al-Dhahabi, Tadhkirah al-Huffaz,I,hlm.3; al-Bukhari, Sahih, I, hlm. 36; Muslim, Sahih, III, hlm. 69) Baginya mendurhakai Nabi (Saw.) bukan berarti mendurhakai Allah.

9.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak bermusuhan dengan Ahlu l-Bait Nabi (Saw.), apa lagi mengepung dan coba membakar rumah anak perempuannya; Fatimah (a.s), tetapi mereka telah mengepung dan coba membakarnya dengan menyalakan api di pintu rumahnya.Khalifah Abu Bakar dan kumpulannya telah mengepung dan coba membakar rumah Fatimah al-Zahra’ sekalipun Fatimah, Ali, Hasan dan Husain (a.s) berada di dalamnya. Ini disebabkan mereka tidak melakukan bai’ah kepadanya. Khalifah Abu Bakar adalah di antara orang yang dimarahi Fatimah (a.s). Beliau bersumpah tidak akan bercakap dengan mereka sehingga beliau berjumpa ayahnya dan mengadu kepadanya. Al-Bukhari di dalam Sahihnya, IV, hlm.196 meriwayatkan dari Aisyah bahwa Fatimah tidak bercakap dengan Abu Bakar sehingga beliau meninggal dunia. Beliau hidup selepas Nabi saw wafat selama 6 bulan. [Al-Bukhari,Sahih ,VI,hlm.196; Ibn Qutaibah, al-Imamah Wa al-Siyasah ,I,hlm.14; Abu l-Fida, Tarikh,I,hlm.159; al-Tabari,Tarikh,III,hlm.159]

10.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak membawa Ali (a.s) di dalam keadaan lehernya terikat, tetapi khalifah Abu Bakar dan kumpulannya telah memaksa Ali a.s memberi baiah kepadanya di dalam keadaan lehernya terikat (Ibn Qutaibah, al-Imamah wa al-Siyasah , I ,hlm.18-20; al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-‘Ummal,iii,hlm.139;Abul-Fida,Tarikh,I,hlm.159; al- Tabari, Tarikh ,III , hlm.159].

Perlakuan sedemikian adalah menyalahi Sunnah Nabi (Saw.) yang bersifat lembut terhadap Ali (a.s) dan melantiknya sebagai khalifah selepasnya: “Siapa yang telah menjadikan aku maulanya,maka Ali adalah maulanya” dan ia adalah sejajar dengan tuntutan Ali a.s terhadap kedudukan khalifah.(al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi’ al-Mawaddah,hlm.144,al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-‘Ummal ,vi,hlm.2180)

11.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.) , niscaya mereka diizinkan untuk mengerjakan solat jenazah ke atas Fatimah (a.s), tetapi khalifah Abu Bakar dan kumpulannya tidak diizinkan oleh Fatimah (a.s) untuk mengerjakan solat ke atasnya. Beliau telah berwasiat kepada suaminya Ali (a.s) supaya Abu Bakar dan Umar tidak diizinkan mengerjakan solat ke atasnya. Karena perbuatan mereka berdua yang menyakitkan hatinya, khususnya mengenai Fadak [Al-Bukhari, Sahih ,VI, hlm.196; Ibn Qutaibah, al-Imamah Wa al-Siyasah ,I,hlm.14; Abu l-Fida, Tarikh, I ,hlm.159;al-Tabari, Tarikh,III,hlm.159]. Nabi (Saw.) bersabda:” Sesungguhnya Allah marah kepada kemarahanmu (Fatimah) dan ridha dengan keridhaanmu.” [Al-Hakim, al-Mustadrak, III, hlm.153; al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal, VII, hlm.219]

12.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.) , niscaya mereka tidak dirahasiakan tentang makam Fatimah (a.s), tetapi Abu Bakar dan kumpulannya telah dirahasiakan tentang lokasi makam Fatimah (a.s),karena Fatimah (a.s) berwasiat kepada suaminya supaya merahasiakan makamnya dari mereka berdua. Nabi (Saw.) bersabda:” Sesungguhnya Allah marah kepada kemarahanmu (Fatimah) dan ridha dengan keridhaanmu.” [Al-Hakim, al-Mustadrak, III, hlm.153; al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal, VII, hlm.219]

13.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak mencaci Ali dan Fatimah a.s, tetapi Khalifah Abu Bakar telah mencaci Ali (a.s) dan Fatimah (a.s) sebagai musang dan ekornya. Bahkan beliau mengatakan Ali (a.s) seperti Umm al-Tihal (seorang perempuan pelacur) karena menimbulkan soal tanah Fadak. Kata-kata ini telah diucapkan oleh Abu Bakar di dalam Masjid Nabi (Saw.) selepas berlakunya dialog dengan Fatimah (a.s) mengenai tanah Fadak. Ibn Abi al-Hadid telah bertanya gurunya, Yahya Naqib Ja’far bin Yahya bin Abi Zaid al-Hasri, mengenai kata-kata tersebut:”Kepada siapakah hal itu ditujukan?”Gurunya menjawab:”hal itu ditujukan kepada Ali AS.” Kemudian ia bertanya lagi:”Adakah ia ditujukan kepada Ali?” Gurunya menjawab:”Wahai anakku inilah artinya pemerintahan dan pangkat duniawi tidak mengira kata-kata tersebut.”[Ibn Abi al-Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah,IV,hlm.80] . Kata-kata Abu Bakar adalah bertentangan dengan firman-Nya:”Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bayt dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.”[Surah al-Ahzab (33):33] Fatimah dan Ali AS adalah Ahlul Bayt Rasulullah SAW yang telah disucikan oleh Allah SWT dari segala dosa. Rasulullah SAW bersabda:”Kami Ahlul Bayt tidak boleh seorangpun dibandingkan dengan kami.”[Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi’ al-Mawaddah,hlm.243]

14.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak menghentikan pemberian khums kepada keluarga Nabi saw, tetapi Khalifah Abu Bakar telah menghentikan pemberian khums kepada keluarga Rasulullah (Saw.). Ijtihadnya itu adalah bertentangan dengan Surah al-Anfal (8):41 “Ketahuilah,apa yang kamu perolehi seperlima adalah untuk Allah,Rasul-Nya,Kerabat,anak-anak yatim,orang miskin,dan orang musafir” dan berlawanan dengan Sunnah Rasulullah (Saw.) yang memberi khums kepada keluarganya menurut ayat tersebut. [Lihat umpamanya al-Zamakhsyari, al-Kasysyaf ,II,hlm.127]

15.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak mengambil kembali Fadak dari Fatimah (a.s) ,tetapi Khalifah Abu Bakar dan kumpulannya telah mengambil kembali Fadak dari Fatimah (a.s) selepas wafatnya Nabi (Saw.).Khalifah Abu Bakar memberi alasan “Kami para nabi tidak meninggalkan pusaka, tetapi apa yang kami tinggalkan ialah sedekah.” Hujah yang diberikan oleh Abu Bakar tidak diterima oleh Fatimah dan Ali (a.s) karena hal itu bertentangan dengan beberapa ayat al-Qur’an seperti berikut:

a) Firman-Nya yang bermaksud ‘Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka) untuk anak-anakmu.”[Surah an-Nisa (4):11] Apa yang dimaksudkan dengan ‘anak-anak’ ialah termasuk anak-anak Nabi (Saw.).

b) Firman-Nya yang bermaksud:”Dan Sulaiman telah mewarisi Daud.”(Surah al-Naml:16). Maksudnya Nabi Sulaiman (a.s) mewarisi kerajaan Nabi Daud (a.s) dan menggantikan kenabiannya.

c) Firman-Nya yang bermaksud:”Maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putra yang akan mewarisiku dan mewarisi sebagian keluarga Ya’qub dan jadikanlah ia, ya Tuhanku seorang yang diridhai.”(Surah Maryam:5-6)

Ketiga-tiga ayat tadi bertentangan dengan dakwaan Abu Bakar yang berpegang dengan hadits tersebut. Dan apabila hadits bertentangan dengan al-Qur’an, maka hal itu (hadits) mestilah diketepikan.

d) Kalau hadits tersebut benar, ia berart Nabi (Saw.) sendiri telah cuai untuk memberitahu keluarganya mengenai Fadak dan hal itu bercanggah dengan firman-Nya yang bermaksud:”Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.”(Surah al-Syua’ra:214)

e) Hadits tersebut hanya diriwayatkan oleh Abu Bakar sahaja dan hal itu tidak boleh menjadi hujah karena Fatimah dan Ali (a.s) menentangnya. Fatimah (a.s) berkata:”Adakah kamu sekarang menyangka bahwa aku tidak boleh menerima pusaka, dan adakah kamu menuntut hukum Jahiliyyah? Tidakkah hukum Allah lebih baik bagi orang yang yakin. Adakah kamu wahai anak Abi Qahafah mewarisi ayah kamu sedangkan aku tidak mewarisi ayahku? Sesungguhnya kamu telah melakukan perkara keji.” (Lihat Ahmad bin Tahir al-Baghdadi, Balaghah al-Nisa’,II,hlm.14;Umar Ridha Kahalah, A’lam al-Nisa’,III,hlm.208; Ibn Abi al-Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah,IV, hlm.79,92)

f) Fatimah dan Ali (a.s) adalah di antara orang yang disucikan Tuhan di dalam Surah al-Ahzab:33, dan dikenali juga dengan nama Ashab al-Kisa’. Dan termasuk orang yang dimubahalahkan bagi menentang orang Nasrani di dalam ayat al-Mubahalah atau Surah Ali Imran:61. Adakah wajar orang yang disucikan Tuhan dan dimubahalahkan itu menjadi pembohong, penuntut harta Muslimin yang bukan haknya?

g) Jikalau dakwaan Abu Bakar itu betul hal itu bermakna Rasulullah (Saw.) sendiri tidak mempunyai perasaan kasihan belas sebagai seorang ayah terhadap anaknya. Karena anak-anak para nabi yang terdahulu menerima harta pusaka dari ayah-ayah mereka.

Kajian mendalam terhadap Sirah Nabi (Saw.) dengan keluarganya menunjukkan betapa kasihnya beliau terhadap mereka khususnya, Fatimah sebagai ibu dan nenek kepada sebelas Imam AS. Beliau bersabda:”Sesungguhnya Allah marah karena kemarahanmu (Fatimah ) dan ridha dengan keridhaanmu.” [Al-Hakim, al-Mustadrak, III , hlm.153; Ibn al-Athir, Usd al-Ghabah, hlm.522; al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal,VI, hlm.219;Mahyu al-Din al-Syafi’i al-Tabari, Dhakhair al-Uqba,hlm.39] Khalifah Abu Bakar dan Umar adalah di antara orang yang dimarahi Fatimah (a.s). Beliau bersumpah tidak akan bercakap dengan mereka sehingga beliau berjumpa ayahnya dan merayu kepadanya.[Ibn Qutaibah,al-Imamah wa al-Siyasah,I,hlm.14]

Beliau berwasiat supaya beliau dikebumikan di waktu malam dan tidak membenarkan seorangpun dari “mereka” menyembahyangkan jenazahnya. [Ibn al-Athir, Usd al-Ghabah,V,hlm. 542;al-Bukhari, Sahih ,VI, hlm, 177; Ibn Abd al-Birr, al-Isti’ab,II,hlm.75]

Sebenarnya Fatimah a.s menuntut tiga perkara:

1. Kedudukan khalifah untuk suaminya Ali AS karena dia adalah dari ahlul Bait yang disucikan dan perlantikannya di Ghadir Khum disaksikan oleh 120,000 orang dan hal itu diriwayatkan oleh 110 sahabat.
2. Fadak.
3. Al-khums, saham kerabat Rasulullah tetapi kesemuanya ditolak oleh khalifah Abu Bakar [Ibn Abi al-Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah,V,hlm.86]

16.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi sawa,niscaya mereka mengenakan hukum had ke atas pelakunya tanpa pilih kasih,tetapi Khalifah Abu Bakar tidak mengenakan hukum hudud ke atas Khalid bin al-Walid yang telah membunuh Malik bin Nuwairah dan kabilahnya. Umar dan Ali (a.s) mau supaya Khalid dihukum rejam.[Ibn Hajr, al-Isabah , III, hlm.336]

Umar berkata kepada Khalid:”Kamu telah membunuh seorang Muslim kemudian kamu terus bersetubuh dengan isterinya. Demi Allah aku akan merejam kamu dengan batu.”[Al-Tabari,Tarikh ,IV, hlm.1928] Kata-kata Umar ini cukup membuktikan bahwa Malik bin Nuwairah adalah seorang Muslim dan Khalid telah berzina dengan isteri Malik sebaik sahaja ia dibunuh. Jika tidak kenapa Umar berkata:”Demi Allah aku akan merejam kamu dengan batu.”

Umar memahami bahwa isteri Malik bin Nuwairah tidak boleh dijadikan hamba. Oleh itu pembunuhan ke atas Malik bin Nuwairah dan kaumnya tidak patut dilakukan karena mereka adalah Muslim. Keengganan mereka membayar zakat kepada Abu Bakar tidak boleh menjadi hujah kepada kemurtadan mereka. Pembunuhan ke atas mereka disebabkan salah faham mengenai perkataan ‘idfi’u, yaitu mengikut suku Kinanah ia berart “bunuh” dan dalam bahasa Arab biasa ia berart “panaskan mereka dengan pakaian” dan tidak menghalalkan darah mereka. Sepatutnya mereka merujuk perkara itu kepada Khalid bagi mengetahui maksudnya yang sebenar.

Tetapi mereka terus membunuh kaumnya dan Malik sendiri telah dibunuh oleh Dhirar yang bukan dari suku Kinanah. Oleh itu Dhirar pasti memahami bahwa perkataaan idfi’u bukanlah perkataan untuk mengharuskan pembunuhan, namun ia tetap membunuh Malik. Lantaran itu alasan kekeliruan berlaku di dalam pembunuhan tersebut tidak boleh menjadi hujah dalam kejahatan Khalid, apatah lagi perzinaannya dengan isteri Malik bin Nuwairah selepas dia dibunuh. Dengan itu tidak heranlah jika Ali AS dan Umar meminta Khalifah Abu Bakar supaya merejam Khalid, tetapi Abu Bakar enggan melakukannya.

Jika tidak membayar zakat djadikan alasan serangan dan pembunuhan, maka Nabi (Saw.) sendiri tidak memerangi sahabatnya Tha’labah yang enggan membayar zakat kepada beliau (Saw.). Allah (swt) menurunkan peristiwa ini di dalam Surah al-Taubah(9):75-77. Semua ahli tafsir Ahlu s-Sunnah menyatakan bahwa ayat itu diturunkan mengenai Tha’labah yang enggan membayar zakat karena beranggapan bahwa hal itu jizyah. Maka Allah (swt) mendedahkan hakikatnya. Dan Nabi (Saw.) tidak memeranginya dan tidak pula merampas hartanya sedangkan beliau (Saw.) mampu melakukannya. Adapun Malik bin Nuwairah dan kaumnya bukanlah mengingkari zakat sebagai satu fardhu agama. Tetapi apa yang mereka ingkar ialah penguasaan Abu Bakar ke atas kedudukan khalifah selepas Rasulullah (Saw.) dengan menggunakan kekuatan dan paksaan. Dan mereka pula benar-benar mengetahui tentang hadits al-Ghadir. Oleh itu tidak heranlah jika Abu Bakar terus mempertahankan Khalid tanpa mengira kejahatan yang dilakukannya terhadap Muslimin karena Khalid telah melakukan sesuatu untuk kepentingan politik dan dirinya. Malah itulah perintahnya di bawah operasi “enggan membayar zakat dan murtad” sekalipun hal itu bertentangan dengan Sunah Nabi (Saw.).

17.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak melantik Umar menjadi khalifah selepasnya secara wasiat, padahal mereka sendiri menolak wasiat Nabi (Saw.) Tetapi Khalifah Abu Bakar telah melantik Umar menjadi khalifah selepasnya secara wasiat, padahal dia sendiri menolak wasiat Nabi (Saw.). Beliau bersabda:”Ali adalah saudaraku, wasiku, wazirku dan khalifah selepasku” dan sabdanya:”Siapa yang menjadikan aku maulanya maka Ali adalah maulanya.”Dan penyerahan kedudukan khalifah kepada Umar adalah menyalahi prinsip syura yang diagung-agungkan oleh Ahlul Sunnah. Justru itu Abu Bakar adalah orang yang pertama merusakkan sistem syura dan memansuhkannya. Pertama, dia menggunakan “syura terhad” bagi mencapai cita-citanya untuk menjadi khalifah tanpa menjemput Bani Hasyim untuk menyertainya. Kedua, apabila kedudukannya menjadi kuat, dia melantik Umar untuk menjadi khalifah selepasnya tanpa syura dengan alasan bahwa Umar adalah orang yang paling baik baginya untuk memegang kedudukan khalifah selepasnya.

18.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka dilantik oleh Nabi (Saw.)untuk menjalankan mana-mana missi/pekerjaan,tetapi Khalifah Abu Bakar tidak pernah dilantik oleh Nabi (Saw.) untuk menjalankan mana-mana missi/pekerjaan, malah beliau melantik orang lain. Hanya pada satu masa beliau melantiknya untuk membawa Surah Bara’ah, tetapi beliau mengambil kembali tugas itu dan kemudian meminta Ali (a.s) untuk melaksanakannya.[Al-Tabari, Dhakha’ir al-Uqba,hlm.61;al-Turmudhi, Sahih,II, hlm.461;Ibn Hajr, al-Isabah,II, hlm.509]

19.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka mengetahui pengertian al-Abb di dalam al-Qur’an,tetapi Khalifah Abu Bakar tidak mengetahui pengertian al-Abb yaitu firman-Nya di dalam Surah ‘Abasa (80):31:”Dan buah-buahan (Fakihatun) serta rumput-rumputan (abban).”Dia berkata:”Langit mana aku akan junjung dan bumi mana aku akan pijak, jika aku berkata sesuatu di dalam Kitab Allah apa yang aku tidak mengetahui?”[al-Muttaqi al-Hindi,Kanz al-Ummal,I,hlm.274]

20.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak akan melakukan bid’ah-bid’ah selepas Rasulullah (Saw.) tetapi Khalifah Abu Bakar telah mengetahui dia akan melakukan bid’ah-bid’ah selepas Rasulullah (Saw.). Malik bin Anas di dalam a-Muwatta bab “jihad syuhada’ fi sabilillah’ telah meriwayatkan dari hamba Umar bin Ubaidillah bahwa dia menyampaikannya kepadanya bahwa Rasulullah bersabda kepada para syahid di Uhud:”Aku menjadi saksi kepada mereka semua.”Abu Bakar berkata:”Tidakkah kami wahai Rasulullah (Saw.) saudara-saudara mereka. Kami telah masuk Islam sebagaimana mereka masuk Islam dan kami telah berjihad di jalan Allah sebagaimana mereka berjihad?” Rasulullah menjawab:”Ya! Tetapi aku tidak mengetahui bid’ah mana yang kalian akan lakukan selepasku.”Abu Bakar pun menangis, dan dia terus menangis. Bid’ah-bid’ah yang dilakukan oleh para sahabat memang telah diakui oleh mereka sendiri, di antaranya al-Bara’ bin Azib.

Al-Bukhari di dalam Sahihnya “Kitab bad’ al-Khalq fi bab Ghuzwah al-Hudaibiyyah” telah meriwayatkan dengan sanadnya dari al-Ala bin al-Musayyab dari ayahnya bahwa dia berkata:”Aku berjumpa al-Barra bin Azib maka aku berkata kepadanya: Alangkah beruntungnya anda karena bersahabat dengan Nabi (Saw.) dan anda telah membai’ah kepadanya di bawah pohon. Maka dia menjawab: Wahai anak saudaraku. Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang kami telah lakukan (Ahdathna) selepasnya.”[Al-Bukhari, Sahih,III, hlm.32]

Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Nabi (Saw.) bersabda kepada orang-orang Ansar:”Sesungguhnya kalian akan menyaksikan sifat tamak yang dahsyat selepasku. Oleh itu bersabarlah sehingga kalian bertemu Allah dan Rasul-Nya di Haudh.”Anas berkata:”Kami tidak sabar.”[Al-Bukhari, Sahih,III, hlm.135]

Ibn Sa’d juga telah meriwayatkan di dalam Tabaqatnya, VIII, hlm. 51, dengan sanadnya dari Ismail bin Qais bahwa dia berkata:”Aisyah ketika wafatnya berkata: Sesungguhnya aku telah melakukan bid’ah-bid’ah (Ahdathtu) selepas Rasulullah (Saw.), maka kebumikanlah aku bersama-sama isteri Nabi (Saw.).” Apa yang dimaksudkan olehnya ialah “Jangan kalian mengkebumikan aku bersama Nabi (Saw.) karena aku telah melakukan bid’ah-bid’ah selepasnya.”

Lantaran itu, khalifah Abu Bakar, al-Barra bin Azib, Anas bin Malik dan Aisyah telah memberi pengakuan masing-masing bahwa mereka telah melakukan bid’ah-bid’ah dengan mengubah Sunnah Nabi (Saw.).

21.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak akan berkata: “Syaitan menggodaku, sekiranya aku betul, maka bantulah aku dan sekiranya aku menyeleweng , maka betulkanlah aku.” Tetapi Khalifah Abu Bakar berkata: “Aku digodai Syaitan. Sekiranya aku betul,maka bantulah aku dan sekiranya aku menyeleweng, maka betulkanlah aku.” [Ibn Qutaibah, al-Imamah wa al-Siyasah,I, hlm. 6; al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal,III, hlm. 126; Ibn Hajr, al-Sawa’iq al-Muhriqah, hlm. 7; al-Syablanci,Nur al-Absar, hlm. 53] Ini berarti dia tidak mempunyai keyakinan diri,dan bagaimana dia boleh menyakinkan orang lain pula?

22.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.) ,niscaya mereka tidak menyesal menjadi seorang manusia, tetapi Khalifah Abu Bakar menyesal menjadi seorang manusia, malah dia ingin menjadi pohon dimakan oleh binatang kemudian mengeluarkannya. Abu Bakar berkata:”Ketika dia melihat seekor burung hinggap di atas suatu pohon, dia berkata:Beruntunglah engkau wahai burung. Engkau makan buah-buahan dan hinggap di pohon tanpa hisab dan balasan. Tetapi aku lebih suka jika aku ini sebatang pohon yang tumbuh di tepi jalan. Kemudian datang seekor unta lalu memakanku. Kemudian aku dikeluarkan pula dan tidak menjadi seorang manusia.”[al-Muhibb al-Tabari, al-Riyadh al-Nadhirah,I,hlm. 134; Ibn Taimiyyah, Minhaj al-Sunnah,III,hlm. 130]

Kata-kata khalifah Abu Bakar itu adalah bertentangan dengan firman Allah (swt) di dalam Surah al-Tin (95):4:”Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia di dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” Dan jika Abu Bakar seorang wali Allah kenapa dia harus takut kepada hari hisab? Sedangkan Allah telah memberi khabar gembira kepada wali-walinya di dalam Surah Yunus(10):62-64,”Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah ini tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih yaitu orang-orang yang beriman dan mereka selalu di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat.Tidak ada perubahan kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

23.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak mengganggu rumah Fatimah (a.s) semenjak awal lagi, tetapi khalifah Abu Bakar telah mengganggunya dan ketika sakit menyesal karena mengganggu rumah Fatimah (a.s). Dia berkata: “Sepatutnya aku tidak mengganggu rumah Fatimah sekalipun beliau mengisytiharkan perang terhadapku.”[Ibn Qutaibah, al-Imamah wa al-Siyasah,I,hlm. 18-19; al-Tabari, Tarikh ,IV, hlm. 52;Ibn Abd Rabbih, Iqd al-Farid,II,hlm.254]

24.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak menjatuhkan air muka Nabi (Saw.), Tetapi Khalifah Abu Bakar telah menjatuhkan air muka Nabi (Saw.) di hadapan musyrikin yang datang berjumpa dengan Nabi (Saw.) supaya mengembalikan hamba-hamba mereka yang lari dari mereka. Musyrikun berkata:”Hamba-hamba kami telah datang kepada anda bukanlah karena mereka cinta kepada agama tetapi mereka lari dari milik kami dan harta kami. Lebih-lebih lagi kami adalah tetangga anda dan orang yang membuat perjanjian damai dengan anda.”Tetapi Nabi (Saw.) tidak mau menyerahkan kepada mereka hamba-hamba tersebut karena khawatir mereka akan menyiksa hamba-hamba tersebut dan beliau tidak mau juga mendedahkan hakikat ini kepada mereka. Nabi (Saw.) bertanya kepada Abu Bakar dengan harapan dia menolak permintaan mereka. Sebaliknya Abu Bakar berkata:”Benar kata-kata mereka itu.” Lantas berubah muka Nabi (Saw.)karena jawabannya menyalahi apa yang dikehendaki Allah dan Rasul-Nya.[al-Nasa’i, al-Khasa’is,hlm. 11; Ahmad bin Hanbal, al-Musnad,I,hlm. 155] Sepatutnya khalifah Abu Bakar dapat memahami apa yang dimaksudkan oleh Nabi, tetapi dia tidak dapat memahaminya, malah diam memihak kepada Musyrikun berdasarkan ijtihadnya.

25.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka telah membunuh Dhu al-Thadyah (seorang lelaki yang mempunyai payudara, akhirnya menentang khalifah Ali), tetapi khalifah Abu Bakar tidak membunuh Dhu al-Thadyah sedangkan Rasulullah telah memerintahkan Abu Bakar supaya membunuh Dhu al-Thadyah. Abu Bakar mendapati lelaki itu sedang mengerjakan solat. Lalu dia berkata kepada Rasulullah (Saw.) :”Subhanallah! Bagaimana aku membunuh lelaki yang sedang mengerjakan solat?” (Ahmad b.Hanbal,al-Musnad,III,hlm.14-150) Sepatutnya dia membunuh lelaki itu tanpa mengira keadaan karena Nabi (Saw.)telah memerintahkannya. Tetapi dia tidak membunuhnya, malah dia menggunakan ijtihadnya bagi menyalahi Sunnah Nabi (Saw.).

26.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak mengatakan bahwa saham jiddah (nenek) tidak ada di dalam al-Qur’an dan Sunnah Nabi (Saw.).Tetapi Khalifah Abu Bakar mengatakan bahwa saham jiddah (nenek) tidak ada di dalam al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah (Saw.). Seorang nenek bertanya kepada Abu Bakar tentang pusakanya. Abu Bakar menjawab:”Tidak ada saham untuk anda di dalam al-Qur’an dan Sunnah Nabi (Saw.).Oleh itu kembalilah.”Lalu al-Mughirah bin Syu”bah berkata:”Aku berada di sisi Nabi (Saw.)bahwa beliau memberikannya (nenek) seperenam saham.”Abu Bakar berkata:”Adakah orang lain bersama anda?” Muhammad bin Muslimah al-Ansari bangun dan berkata sebagaimana al-Mughirah. Maka Abu Bakar memberikannya seperenam.[Malik, al-Muwatta,I,hlm. 335; Ahmad bin Hanbal, al-Musnad,IV,hlm.224;Ibn Rusyd, Bidayah al-Mujtahid,II, hlm.334]

27.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka mengetahui hukum had
ke atas pencuri yang buntung satu tangan dan satu kakinya Tetapi Khalifah Abu Bakar tidak mengetahui hukum had ke atas pencuri yang buntung satu tangan dan satu kakinya. Dari Safiyyah binti Abi Ubaid,”Seorang lelaki buntung satu tangan dan satu kakinya telah mencuri pada masa pemerintahan Abu Bakar. Lalu Abu Bakar mau memotong kakinya dan bukan tangannya supaya dia dapat bermunafaat dengan tangannya. Maka Umar berkata:”Demi yang diriku di tangan-Nya, anda mesti memotong tangannya yang satu itu.” Lalu Abu Bakar memerintahkan supaya tangannya dipotong.”[al-Baihaqi, Sunan,VIII,hlm.273-4]
28.

Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak berpendapat bahwa seorang khalifah bukan semestinya orang yang paling alim .Tetapi Khalifah Abu Bakar berpendapat bahwa seorang khalifah bukan semestinya orang yang paling alim (afdhal).[Ibn Qutaibah, al-Imamah wa al-Siyasah, I,hlm. 16; al-Baqillani, al-Tamhid,hlm. 195; al-Halabi, Sirah Nabawiyyah,III, hlm.386] Ijtihadnya adalah bertentangan dengan firman Tuhan di dalam Surah al-Zumar (39):9:”Katakanlah: Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran” dan firman-Nya di dalam Surah Yunus (10):35:”Maka apakah orang-orang yang menunjuki jalan kepada kebenaran itu lebih berhak diikuti ataukah orang-orang yang tidak dapat memberi petujuk? Mengapa kamu (berbuat demikian)? Bagaimana kamu mengambil keputusan?”

29.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka melakukan korban (penyembelihan) sekali di dalam hidupnya.Tetapi Khalifah Abu Bakar tidak pernah melakukan korban (penyembelihan) karena khawatir kaum Muslimin akan menganggapnya wajib. Sunnahnya adalah bertentangan dengan Sunnah Nabi (Saw.) yang menggalakkannya.[Al-Baihaqi, al-Sunan al-Kubra, IX,hlm. 265; al-Syafi’i, al-Umm, II, hlm.189]

30.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak mengatakan maksiat yang dilakukan oleh seseorang itu telah ditakdirkan oleh Allah sejak azali lagi, tetapi Khalifah Abu Bakar mengatakan maksiat yang dilakukan oleh seseorang itu telah ditakdirkan oleh Allah sejak azali lagi, kemudian Dia menyiksanya di atas perbuatan maksiatnya. Seorang lelaki bertanya kepadanya:”Adakah anda fikir zina juga qadarNya? Lelaki itu bertanya lagi:”Allah mentakdirkannya ke atasku kemudian menyiksa aku?” Khalifah Abu Bakar menjawab:” Ya. Demi Tuhan sekiranya aku dapati seseorang masih berada di sisiku, niscaya aku menyuruhnya memukul hidung anda.”[al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa, hlm.65]

Oleh itu ijtihad Abu Bakar itu adalah bertentangan dengan firman-firman Tuhan di antaranya:

a. Firman-Nya di dalam Surah al-Insan (76):3:”Sesungguhnya kami telah menunjukkinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.”
b. Firman-Nya di dalam Surah al-Balad (90):10:”Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.”
c. Firman-Nya di dalam Surah al-Naml (27):40:”Dan barang siapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk kebaikan dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia’”.

31.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak berkata: Jika pendapat kami betul, maka hal itu dari Allah dan jika hal itu salah maka ia adalah dari kami dan dari syaitan. Tetapi Khalifah Abu Bakar berkata:”Jika pendapatku betul, maka hal itu dari Allah dan jika hal itu salah maka ia adalah dari aku dan dari syaitan.”[Al-Baihaqi, al-Sunan al-Kubra, VI, hlm. 223; al-Tabari, Tafsir, VI hlm. 30; Ibn Kathir, Tafsir, I, hlm.260] Kata-kata Abu Bakar menunjukkan bahwa dia sendiri tidak yakin kepada pendapatnya. Dan dia memerlukan bimbingan orang lain untuk menentukan kesalahannya.

32.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka akur kepada Sunnah Nabi (Saw.) apabila mengetahui kesannya dengan mengilakkan dirinya dari kilauan dunia ,tetapi Khalifah Abu Bakar mengetahui bahwa dia tidak terlepas dari kilauan dunia, lantaran itu dia menangis. Al-Hakim di dalam Mustadrak, IV, hlm. 309 meriwayatkan dengan sanadnya dari Zaid bin Arqam, dia berkata:”Kami pada suatu masa telah berada bersama Abu Bakar, dia meminta minuman, lalu diberikan air dan madu. Manakala dia mendekatkannya ke mulutnya dia menangis sehingga membuatkan sahabat-sahabatnya menangis. Akhirnya merekapun berhenti menangis, tetapi dia terus menangis.

Kemudian dia kembali dan menangis lagi sehingga mereka menyangka bahwa mereka tidak mampu lagi menyelesaikan masalahnya. Dia berkata:kemudian dia menyapu dua matanya. Mereka berkata:Wahai khalifah Rasulullah! Apakah yang sedang ditolak oleh anda? Beliau menjawab:”Dunia ini (di hadapanku) telah “memperlihatkan”nya kepadaku, maka aku berkata kepadanya:Pergilah dariku maka hal itu pergi kemudian dia kembali lagi dan berkata:Sekiranya anda terlepas dariku, orang selepas anda tidak akan terlepas dariku.” Hadits ini diriwayatkan juga oleh ak-Khatib di dalam Tarikh Baghdad, X,hlm. 268 dan Abu Nu’aim di dalam Hilyah al-Auliya’, I, hlm.30]

33.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka mempunyai kata pemutus ke atas pemerintahan mereka,tetapi Khalifah Abu Bakar tidak mempunyai kata pemutus ke atas pemerintahannya melainkan hal itu dipersetujui oleh Umar. Adalah diriwayatkan bahwa “Uyainah bin Hasin dan al-Aqra bin Habis datang kepada Abu Bakar dan berkata:”Wahai khalifah Rasulullah, izinkan kami menanam di sebidang tanah yang terbiar berhampiran kami. Kami akan membajak dan menanamnya. Mudah-mudahan Allah akan memberikan manfaat kepada kami dengannya.”Lalu Abu Bakar menulis surat tentang persetujuannya. Maka kedua-duanya berjumpa Umar untuk mempersaksikan kandungan surat tersebut. Apabila kedua-duanya membacakan kandungannya kepadanya, Umar merebutnya dari tangan mereka berdua dan meludahnya. Kemudian memadamkannya. Lalu kedua-duanya mendatangi Abu Bakar dan berkata:”Kami tidak mengetahui adakah anda khalifah atau Umar.” Kemudian mereka berdua menceritakan kepadanya. Lalu Abu Bakar berkata:”Kami tidak melaksanakan sesuatu melainkannya dipersetujui oleh Umar.”{al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal, VI, hlm. 335; Ibn Hajr, al-Isabah, I,hlm.56] .

34.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak dicaci oleh seorang lelaki di hadapan Nabi (Saw.). Tetapi Khalifah Abu Bakar telah dicaci oleh seorang lelaki di hadapan Rasulullah SAWA. Tetapi Nabi (Saw.)tidak melarangnya sebaliknya beliau tersenyum pula, Ahmad bin Hanbal meriwayatkan bahwa seorang lelaki telah mencaci Abu Bakar dan Nabi sawa sedang duduk, maka Nabi (Saw.) kagum dan tersenyum.[Ahmad bin Hanbal, al-Musnad, VI, hlm.436] .

35.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak bertengkar sehingga meninggikan suara mereka di hadapan Nabi (Saw.) khalifah Abu Bakar dan Umar telah bertengkar sehingga meninggikan suara mereka di hadapan Rasulullah (Saw.) . Abu Bakar berkata:”Wahai Rasulullah lantiklah al-Aqra bin Habi bagi mengetuai kaumnya.” Umar berkata:”Wahai Rasulullah janganlah anda melantiknya sehingga mereka menengking dan meninggikan suara mereka di hadapan Rasulullah (Saw.).” Lalu diturunkan ayat di dalam Surah al-Hujurat(49):2,”Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari Nabi dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak terhapus pahala amalanmu, sedangkan kamu tidak menyedari.” Sepatutnya mereka berdua bertanya dan merujuk kepada Rasulullah (Saw.) mengenainya.[Ahmad bin Hanbal, al-Musnad, IV , hlm.6;al-Tahawi, Musykil al-Athar,I,hlm. 14-42] .

36.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak banyak membuat pengakuan-pengakuan dimana mereka sepatutnya melakukan sesuatu,tetapi Khalifah Abu Bakar banyak membuat pengakuan-pengakuan dimana dia sepatutnya melakukan sesuatu,tetapi tidak melakukannya dan sebaliknya. Ibn Qutaibah mencatatkan dalam bukunya al-Imamah wa al-Siyasah, I, hlm. 18-19,

9 perkara yang disesali oleh Abu Bakar seperti berikut:

“Tiga perkara yang aku telah lakukan sepatutnya aku tidak melakukannya dan tiga perkara yang aku tidak lakukannya sepatutnya aku melakukannya dan tiga perkara yang sepatutnya aku bertanya Rasulullah (Saw.) mengenainya. Adapun tiga perkara yang aku telah melakukannya sepatutnya aku tidak melakukannya:

1. Sepatutnya aku tinggalkan rumah Ali (Fatimah) sekalipun mereka mengisytiharkan perang ke atasku.
2. Sepatutnya aku membai’ah sama Umar atau Abu Ubadah di Saqifah Bani Saidah, yaitu salah seorang mereka menjadi amir dan aku menjadi wazir.
3. Sepatutnya aku menyembelih Fuja’ah al-Silmi atau melepaskannya dari tawanan dan aku tidak membakarnya hidup-hidup.

Adapun tiga perkara yang aku tidak melakukannya sepatutnya aku melakukannya:
1. Sepatutnya ketika al-Asy’ath bin Qais dibawa kepadaku sebagai tawanan, aku membunuhnya dan tidak memberinya peluang untuk hidup, karena aku telah mendengar tentangnya bahwa ia bersifat sentiasa menolong segala kejahatan.
2. Sepatutnya ketika aku mengutus Khalid bin al-Walid kepada orang-orang murtad, aku mesti berada di Dhi al-Qissah, dengan itu sekiranya mereka menang, mereka boleh bergembira dan sekiranya mereka kalah aku boleh menghulurkan bantuan.
3. ???-red

Adapun tiga perkara yang sepatutnya aku bertanya Rasulullah (Saw.) ialah:

1. Kepada siapakan kedudukan khalifah patut diberikan sesudah beliau wafat, dengan demikian tidaklah kedudukan itu menjadi rebutan.
2. Sepatutnya aku bertanya kepada beliau, adakah orang Ansar mempunyai hak menjadi khalifah.
3. Sepatutnya aku bertanya beliau tentang pembagian harta pusaka anak saudara perempuan sebelah lelaki dan ibu saudara sebelah lelaki karena aku tida puas hati tentang hukumnya dan memerlukan penyelesaian.”

Kenyataan di atas telah disebut juga oleh al-Tabari dalam Tarikhnya, IV, hlm. 52;Ibn Abd Rabbih, ‘Iqd Farid,II,hlm. 254;Abu Ubaid, al-Amwal,hlm. 131]

37.
Jika mereka Ahl al-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak mengundurkan diri dari tentara Usamah yang telah dilantik oleh Nabi saw menjadi penglima perang di dalam ushal itu yang muda,tetapi Khalifah Abu Bakar telah mengundurkan diri dari menyertai tentara di bawah pimpinan Usamah bin Zaid, sedangkan Nabi (Saw.) bersabda:”Perlengkapkan tentara Usamah, Allah melaknati orang yang mengundur diri dari tentara Usamah.”[Al-Syarastani, al-Milal, hlm.21; Ibn Sa’d, Tabaqat,II,hlm.249 dan lain-lain lagi].

38.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak menamakan dirinya(Abu Bakar) “Khalifah Rasulullah”.[Tetapi Khalifah Abu Bakar telah menamakan dirinya “Khalifah Rasulullah”.[Ibn Qutaibah,al-Imamah wa al-Siyasah ,I,hlm.13];al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa’,hlm.78] Penamaannya adalah bertentangan dengan Sunnah Rasulullah karena beliau tidak menamakannya dan melantiknya, malah beliau menamakan Ali dan melantiknya. Beliau bersabda:”Siapa yang aku menjadimaulanya maka Ali adalah maulanya.”Dan hadits-hadits yang lain tentang perlantikan Ali (a.s) sebagai khalifah selepas Rasulullah (Saw.).

39.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak membakar manusia hidup-hidup,tetapi Khalifah Abu Bakar telah membakar Fuja’ah al-Silmi hidup-hidup, kemudian dia menyesali perbuatannya.[al-Tabari,Tarikh,IV,hlm.52] Dan hal itu bertentangan dengan Sunnah Nabi (Saw.)”Tidak boleh disiksa dengan api melainkan dari Tuhannya.”(Al-Bukhari, Sahih ,X,hlm.83]

40.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak lari di dalam peperangan, tetapi Khalifah Abu Bakar telah lari di dalam peperangan Uhud dan Hunain. Sepatutnya dia mempunyai sifat keberanian melawan musuh. Tindakannya itu menyalahi ayat-ayat jihad di dalam al-Qur’an dan Sunnah Nabi (Saw.) [al-Hakim, al-Mustadrak, III, hlm. 37; al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal,VI,hlm.394;al-Dhahabi,al-Talkhis,III,hlm.37]

41.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak meragukan kedudukan khalifah. Tetapi Khalifah Abu Bakar telah meragukan kedudukan khalifahnya. Dia berkata:”Sepatutnya aku bertanya Rasulullah (Saw.), adalah orang-orang Ansar mempunyai hak yang sama di dalam kedudukan khalifah?” Ini adalah keraguan tentang kesahihan atau kebatilannya. Dialah orang yang menentang orang-orang Ansar manakala mereka mengatakan bahwa Amir mestilah dari golongan Quraisy.” Sekiranya apa yang diriwayatkan olehnya itu benar, bagaimana dia meragukan”nya” pula. Dan jikalau tidak, dia telah menentang orang-orang Ansar dengan “hujah palsu.”[Al-Ya’qubi, Tarikh al-Ya’qubi,II,hlm.127; Ibn Qutaibah, al-Imamah wa al-Siyasah,I,hlm.18,19;al-Masudi, Muruj al-Dhahab,II,hlm.302]

42.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka dapat menyelesaikan persoalan-persoalan yang dikemukakan kepada mereka,tetapi Khalifah Abu Bakar tidak dapat menyelesaikan persoalan-persoalan yang dikemukakan kepadanya oleh orang Yahudi. Anas bin Malik berkata:”Seorang Yahudi datang selepas kewafatan Rasulullah (Saw.). Maka kaum Muslimin menunjukkannya kepada Abu Bakar. Dia berdiri di hadapan Abu Bakar dan berkata: Aku akan kemukakan soalan-soalan yang tidak akan dijawab melainkan oleh Nabi atau wasi Nabi. Abu Bakar berkata:”Tanyalah apa yang anda mau. Yahudi berkata: Beritahukan kepadaku perkara yang tidak ada pada Allah, tidak ada di sisi Allah, dan tidak diketahui oleh Allah? Abu Bakar berkata: Ini adalah soalan-soalan orang zindiq wahai Yahudi! Abu Bakar dan kaum Muslimin mulai marah dengan Yahudi tersebut.

Ibn Abbas berkata: Kalian tidak dapat memberikan jawaban kepada lelaki itu. Abu Bakar berkata: Tidakkah anda mendengar apa yang diperkatakan oleh lelaki itu? Ibn Abbas menjawab: Sekirannya kalian tidak dapat menjawabnya, maka kalian pergilah bersamanya menemui Ali AS, niscaya dia akan menjawabnya karena aku mendengar Rasulullah (Saw.) bersabda kepada Ali bin Abi Talib:”Wahai Tuhanku! Sinarilah hatinya, dan perkuatkanlah lidahnya.” Dia berkata:”Abu Bakar dan orang-orang yang hadir bersamanya datang kepada Ali bin Abi Talib, mereka meminta izin darinya. Abu Bakar berkata: Wahai Abu l-Hasan, sesungguhnya lelaki ini telah bertanya kepadaku beberapa soalan (zindiq).

Ali berkata: Apakah yang anda perkatakan wahai Yahudi? Dia menjawab: Aku akan bertanya kepada anda perkara-perkara yang tidak diketahui melainkan oleh Nabi atau wasi Nabi. Yahudi mengemukakan soalan-soalan kepadanya. Ali berkata: Adapun perkara-perkara yang tidak diketahui oleh Allah ialah kata-kata anda bahwa Uzair adalah anak lelaki Tuhan, dan Allah tidak mengetahui bahwa Dia mempunyai anak lelaki. Adapun kata-kata anda apa yang tidak ada di sisi Allah, maka jawabannya perkara yang tidak ada di sisi Allah ialah kezaliman. Adapun kata-kata anda: Apa yang tidak ada bagi Allah maka jawabannya tidak ada bagi Allah syirik. Yahudi menjawab: Aku naik saksi tiada Tuhan melainkan Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah pesuruh Allah dan sesungguhnya anda adalah wasinya.”[Ibn Duraid, al-Mujtana, hlm.35]

43.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak mempersendakan Nabi (Saw.) di masa hidupnya,apatah lagi pada masa Nabi SAWA sakit dan selepas kematiannya, tetapi khalifah Abu Bakar dan kumpulannya telah mempersendakan Nabi (Saw.) dengan menolak Sunnah Nabi (Saw.) di hadapannya ketika Nabi (Saw.) sedang sakit “ dia sedang meracau” (al-Bukhari, Sahih, I, hlm. 36; Muslim, Sahih, III, hlm. 69),kemudian menghalang penyebarannya. (Al-Dhahabi, Tadhkirah al-Huffaz,I,hlm.3]

44.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak berkata:”Pecatlah aku karena aku bukanlah orang yang baik di kalangan kalian.”Tetapi Khalifah Abu Bakar berkata:”Pecatlah aku karena aku bukanlah orang yang baik di kalangan kalian.”Di dalam riwayat lain,”Ali di kalangan kalian.”[Ibn Qutaibah, al-Imamah wa al-Siyasah,I,hlm.14;al-Muttaqi al-Hindi,Kanz al-Ummal,III,hlm.132] Jikalau kata-katanya benar, berarti dia tidak layak untuk menjadi khalifah Rasulullah SAWA, berdasarkan pengakuannya sendiri.

45.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak membenci orang yang mencintai dan mengamalkan Sunnah Nabi (Saw.), tetapi mereka membenci orang yang mencintai Sunnah Nabi (Saw.)dan mengamalkanya sekiranya Sunnah Nabi (Saw.) bertentangan dengan sunnah Abu Bakar.] Justru itu mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),malah mereka adalah Ahlu s-Sunnah Abu Bakar dan kumpulannya atau Ahlu s-Sunnah ciptaan mereka sendiri.Lantaran Ali dan keluarganya berusaha dengan keras bagi membersihkan kekotoran yang dilakukan oleh Abu Bakar dan pengikutnya.

Para pembaca..

terjadi kekacauan definisi sahabat yang disusun para ulama hadis sunni sehingga orang-orang yang sekadar hidup sezaman dan berada dilingkungan Nabi Muhammad saw, orang-orang yang mabuk tetapi pernah bertemu Nabi, mereka yang diusir Nabi, dan pembunuh pun disebut sahabat.

Rasulullah SAW tidak menjamin surga kepada Abubakar. Setelah beliau bersaksi tentang  para syuhada di perang uhud. Rasul saw kemudian berkata kepada Abubakar : “Sungguh aku   tidak tahu apa yang akan kau lakukan sepeninggalku”. Dan kemudian Abubakar menangis” (Referensi  Ahlusunnah : Imam Malik, dalam “Al-Muwatta’”, kitab “Jihad”)

Lihat juga [Q.S. Ali Imron 153], tentang kejadian perang Uhud dimana sebagian sahabat lari meninggalkan Rasul saww, sebagai berikut : “(Ingatlah) ketika kalian lari dan tidak menoleh kepada seorangpun, sedang Rasul yang berada di antara kawan-kawan kalian yang lain, memanggil kalian…”.

Bahkan termasuk Abubakar dan Umar juga lari dari perang Uhud tersebut. Dan mereka berdua (Abubakar dan Umar) juga lari dari perang Hunain dan Khaibar. Padahal Allah murka kepada mereka yang lari dari perang sebagaimana Firman-Nya pada [ Q.S. Al-Anfaal  15-16 ].

(Ref. Ahlusunnah :Haikal, “Hayat Muhammad”, bab “perang uhud” dan “perang khaibar”..Al-Waqidi, dalam “Al-Maghazi”..    Siroh Ibn Hisyam, Jilid 4, bab “Perang Uhud”..Ibn Hajar, dalam “Al-Ishobah”, jilid 3, hal. 108, pada muntakhab “Al-Isti’ab”..Siroh Al-Halabiyah, pada bab “Perang Hunain” dan “Perang Khaibar”)

Banyak sejarah yang telah dimanipulasi untuk mengangkat derjat dan keutamaan beberapa “sahabat” Nabi. Padahal nyata nyata Allah mengancam menggugurkan amal Abubakar dan Umar. Allah berfirman dalam Q.S. Al-Hujurat  ayat 2,  tentang larangan untuk meninggikan suara melebihi   suara Rasul saw. Tuhan memperingatkan kepada Abubakar dan Umar supaya tidak lagi mengeraskan suaranya melebihi suara Nabi saw.

Asbabun nuzul Ayat ini adalah Abubakar dan Umar yang saling berdebat dengan suara keras dihadapan Rasul saw (Shahih Bukhari, juz 3, kitab “Al-Maghazi”, bab “Waqd Bani Tamim”)

Hasil yang sedemikian besar yang diperoleh dari Fadak jika digunakan oleh kubu Imam Ali maka akan menjadikan mereka sebagai oposisi yang tangguh

Di dalam kitab hadis Ahlus Sunnah, yaitu Sunan Abu Dawud, Jil. 3, hlm. 144, Dzikr Fa’i, tertulis : “Abu Dawud mengatakan bahwa ketika Umar bin Abdul ‘Aziz menjadi khalifah, pendapatan yang diperoleh dari tanah fadak adalah 40.000 Dinar.”

Di dalam Syarah Ibn Abil Hadid, Jil. 4, hlm. 108 tertulis : “Umar  (bin Khaththab) mengeluarkan orang-orang Yahudi dari tanah Fadak. Dan nilai tanah tersebut berikut kurmanya adalah 50.000 Dirham.”

Di antara lembaran hitam sejarah umat Islam yang tak dapat dipungkiri adalah terjadinya sengketa antara Fatimah as. –selaku ahli waris Nabi saw.– dan Abu Bakar selaku penguasa terkait dengan tanah Fadak dan beberapa harta waris yang ditinggalkan Nabi saw.

Imam Ali as. menegaskan bahwa Abu Bakar telah berbohong dengan membawa-bawa hadis palsu atas nama Nabi saw tentang perkara kebun FADAK ! Di bawah ini kami sebutkan hadis riwayat Muslim dan Bukhari yang melaporkan pengaduan/sengketa di hadapan Umar –semasa menjabat sebagai Khalifah:

 “… Dan ketika Rasulullah saw. wafat, Abu Bakar berkata, ‘Aku adalah walinya Rasulullah, lalu kalian berdua (Ali dan Abbas) datang menuntut warisanmu dari anak saudaramu dan yang ini menuntut bagian warisan istrinya dari ayahnya. Maka Abu Bakar berkata, ‘Rasulullah saw. bersabda: “Kami tidak diwarisi, apa- apa yang kami tinggalkan adalah shadaqah.”, lalu kalian berdua memandangnya sebagai pembohong (kâdziban)., pendosa (atsiman), penipu (ghadiran) dan pengkhianat (khâinan). Demi Allah ia adalah seorang yang jujur, bakti, terbimbing dan mengikuti kebenaran. Kemudian Abu Bakar wafat dan aku berkata, ‘Akulah walinya Rasulullah saw. dan walinya Abu Bakar, lalu kalian berdua memandangku sebagai pembohong (kâdziban)., pendosa (atsiman), penipu (ghadiran) dan pengkhianat (khâinan)…. “ (HR. Muslim, Kitab al Jihâd wa as Sair, Bab Hukm al Fai’,5/152)

Secara tidak jujur maka Bukhari membuang redaksi tersebut yang merugikan kaum sunni dan menggantinya dengan lafaz: lalu kalian berdua memandangnya sebagai begini dan begitu “(HR. Bukhari,6/191, Kitab an Nafaqât/Nafkah, Bab Habsu ar Rajuli Qûta Sanatihi / Seorang menahan kebuhutan pangan setahunya)

Tapi sayangnya, Imam Bukhari masih meninggalkan jejak dan dapat menjadi petunjuk yaitu pembelaan Umar atas dirinya dan juga atas Abu Bakar! Bukhari menyebutkan kata-kata Umar: Allah mengetahui bahwa ia adalah seorang yang jujur, bakti, terbimbing dan mengikuti kebenaran! Dan kata-kata itu dapat menjadi petunjuk awal bahwa apa yang dikatakan Ali dan Abbas paling tidak kebalikan darinya atau yang mendekati kebalikan darinya! Sebab apa latar belakang yang mengharuskan Umar mengatakan kata-kata tersebut andai bukan karena adanya tuduhan Ali dan Abbas ra. atas Abu Bakar dan Umar?!

Maka gugurlah usaha Bukhari agar kaum Muslimin tidak mengetahui kenyataan pahit di atas! Dan ini adalah salah satu bukti bahwa kebenaran/al Haq betapa pun ditutup-tutupi tetap Allah akan membongkarnya ! Maka jika demikian adanya, mungkinkah para imam dan tokoh ulama dari keturunan Imam Ali as. akan menyanjung Abu Bakar dan Umar, meyakininya sebagai dua imam pengemban hidayah, sebagai Shiddîq dan Fârûq dan memandang keduanya dengan pandangan yang berbeda dengan ayah mereka?

Sunni adalah mereka yang telah didoktrinisasikan bahawa semua sahabat adalah jujur dan adil serta Allah dan RasuNya meridhai mereka semua. Kelompok ini dalam rangka mengkultuskan seluruh sahabat, telah terjebak dengan tafsiran-tafsiran al-Quran yang disajikan oleh ulama-ulama mereka, mempedomani  ribuan hadis-hadis palsu keutamaan sejumlah sahabat yang semuanya saling berbenturan dengan al Quran, hadis-hadis sahih yang disepakati, maupun akal yang sihat

.

 sejarah telah menunjukkan bahwa Abubakar dan seluruh keluarganya (kecuali putrinya Asma’ dan putranya Muhammad) bersikap bermusuhan terhadap keluarga Nabi SAWW, yangmemiliki konsekwensi sebagai  pembangkangan nyata terhadap apa yg ditetapkan Al Quran atau disabdakan Nabi mengenai penghargaan dan kasih sayang kepada keluarga beliau SAWW.Sebagai bukti, inilah daftar dari keluarga Abubakar yg permusuhannya terhadap keluarga Nabi SAWW sangat mencolok :
.
1. ABUBAKAR, saat kenaikannya ke tahta kekhalifahan, mengirim Umar ke rumah Sayyidah Fathimah untuk memaksa Imam Ali AS, dengan kekerasan, untuk datang dan berbaiat kepadanya. Umar mengancam Sayyidah Fathimah bahwa ia akan membumi hanguskan rumah. Setelah itu Sayyidah Fathimah begitu marah terhadap Abubakar, sehingga sepanjang sisa hidupnya, ia tdk pernah berbicara sepatah kata jua kepada Abubakar. Dan di ranjang kematiannya, ia melarang Abubakar mengiringi pemakamannya
.
2. AISYAH, putri Abubakar, memberontak terhadap Imam Ali AS, sang Khalifah, dan didepan 30 ribu pasukan, ia memimpin perang Jamal, namun dipermalukan dengan kekalahan telak
.
3. ZUBAIR BIN AWWAM, suami Asma’, putri tertua Abubakar, adalah panglima pasukan Aisyah, ditengah pertempuran ia mundur dan hendak melarikan diri ke arah Mekkah, namun terbunuh tak berapa jauh dari medan pertempuran.

4. ABDULLAH, putra Zubair dari Asma’, adalah panglima pasukan infanteri Aisyah. Ia adalah anak angkat Aisyah. Setelah pertempuran, jasadnya ditarik keluar dari setumpuk mayat yg terbaring di medan tempur.

5. THALHAH, sepupu Abubakar dan jg suami putri Abubakar Ummu Kultsum, adalah seorang panglima pasukan Aisyah. Ditengah pertempuran, Marwan bin Hakam (juru tulis dan penasihat jahat khalifah Usman), seorang perwira dari pasukan yg sama , yg melihat Thalhah sibuk bertempur, berkata kepada budaknya, “Baru kemarin Thalhah sibuk menghasut para pembunuh Usman, dan kini ia sibuk membalaskan darahnya. Betapa munafiknya ia dalam mencari kemegahan duniawi!” Selesai berbicara, ia melepaskan anak panah yg menembus kaki Thalhah dan mengenai kudanya yg lalu melonjak liar dari barisan dan Thalhah pun terjerembab ke tanah. Ia segera dibawa ke Basrah tempat ia meninggal dunia setelah beberapa saat.

6. ABU AR RAHMAN, saudaranya Thalhah dan jg sepupunya Abubakar, jg terbunuh dalam pertempuran yg sama.

7. MUHAMMAD, putra Thalhah, ikut tewas dalam pertemputan tersebut.

8. JU’DAH BINTI ASY’ATS, putri Ummu Farwah (saudara perempuan Abubakar), meracuni Imam Hasan AS hingga syahid. Ia disuap agar melakukan kekejian oleh Yazid putra Muawiyah atau oleh Muawiyah sendiri.

9. ISHAQ, putra Ummu Farwah. Kedua bersaudara putra2 Asy’ats menjadi anggota pasukan Yazid bin Muawiyah, yg bertempur melawan Imam Husain AS di karbala. Belakangan, yg pertama tewas dalam pertempuran melawan Mukhtar, yg membalaskan dendam atas pembunuhan Imam Husain AS. Sementara yg kedua, yg telah menelanjangi sebagian tubuh Imam Husain AS, tercabik2 sampai mati oleh kawanan anjing.

10. MUS’AB, putra Zubair (menantu Abubakar), bertempur melawan Mukhtar, yg terbunuh selagi membalaskan dendam atas pembunuhan Imam Husain AS.

Inilah bukti fakta bukan rekayasa tentang permusuhan Abubakar dan keturunannya terhadap keluarga Nabi Muhammad SAWW. Ini adalah bukti sejarah otentik yg tidak bisa dibantah lagi kebenarannya!

.

Umar bin Khattab Pembuka Jalan Bagi Berkuasanya Bani ‘Umayyah

Sepeninggal Rasul, dari empat khalifah yang empat,  tiga di antaranya dibunuh tatkala sedang dalam tugas, yaitu Umar, Utsman dan Ali. Yang menarik adalah ramalan Umar bin Khaththab bahwa Utsman akan dibunuh kerana membuat pemerintahan yang nepotis sepertiyang dikatakannya.

Umar seperti melibat bahaya munculnya sifat-sifat jahiliah ini sehingga tatkala ia baru ditusuk oleh Abu Lu’lu’ah dan mengetahui bahwa ia akan meninggal pada tahun 24 H-645M, ia memanggil keenam anggota Syura yang ia pilih sendiri.

Umar berkata: “Sesungguhnya Rasul Allah telah wafat dan ia rida akan enam tokoh Quraisy: Ali, Utsman, Thalhah, Zubair, Sa’d dan Abdurrahman bin ‘Auf.”

Kepada Thalhah bin Ubaidillah ia berkata: “Boleh saya bicara atau tidak!”

Thalhah:‘Bicaralah!’.

Umar: “Engkau belum pernah berbicara baik sedikit pun juga. Aku ingat sejak jarimu putus pada perang Uhud, orang bercerita tentang kesombonganmu, dan sesaat sebelum RasulAllah wafat, ia marah kepadamu [34] karena kata-kata yang engkau keluarkan sehingga turun ayat hijab…Bukankah engkau telah berkata: “Bila Nabi saww wafat aku akan menikahi jandanya? “Bukankah Allah SWT lebih berhak terhadap wanita sepupu kita, yang menjadi istrinya, dari diri kita sendiri, sehingga Allah SWT menurunkan ayat:

“Tiadalah pantas bagi kamu untuk mengganggu Rasul Allah, atau menikahi janda-jandanya sesudah ia wafat. Sungguh yang demikian itu suatu dosa besar menurut Allah”.[1]

 Di bagian lain: “Bila engkau jadi khalifah, engkau akan pasang cincin kekhalifahan di jari kelingking istrimu”. Demikian kata-kata Umar terhadap Thalhah.

 Seperti diketahui ayat ini turun berkenaan dengan Thalhah yang mengatakan:“ Muhammad telah membuat pemisah antara kami dan putri-putri paman kami dan telah mengawini para wanita kami. Bila sesuatu terjadi padanya maka pasti kami akan mengawini jandanya”Dan  di bagian lain: “Bila Rasul Allah saw wafat akan aku kawini Aisyah kerana dia adalah

sepupuku.” Dan berita ini sampai kepada Rasul Allah saw, Rasul merasa terganggu dan turunlah ayat hijab’. [2]

Kemudian kepada Zubair, Umar berkata : “Dan engkau, ya Zubair, engkau selalu gelisah dan resah, bila engkau senang engkau Mu’min, bila marah, engkau jadi kafir, satu hari engkau seperti manusia dan pada hari lain seperti setan. Dan andaikata engkau jadi khalifah, engkau akan tersesat dalam peperangan. Bisakah engkau bayangkan, bila engkau jadi khalifah? Aku ingin tahu apa yang akan terjadi pada umat pada hari engkau jadi manusia dan apa yang akan terjadi pada mereka tatkala engkau jadi setan, yaitu tatkala engkau marah. Dan Allah tidak akan menyerahkan kepadamu urusan umat ini selama engkau punya sifat ini” [3]

Di bagian lain: “Dan engkau ya Zubir, demi Allah, hatimu tidak pernah tenang siang maupun malam, dan selalu berwatak kasar sekasar-kasarnya; jilfan jafian”. [4]

 Bersama Aisyah, Thalhah dan Zubair setelah membunuh Utsman memerangi Ali dan menyebabkan paling sedikit 20.000 orang meninggal dalam Perang Jamal. Dan selama puluhan tahun menyusul, beribu-ribu kepala yang dipancung banyak tangan dan kaki yang dipotong, mata yang dicungkil dengan mengatas namakan menuntut darah Utsman.

Kepada Utsman, Umar berkata: “Aku kira kaum Quraisy akan menunjukmu untuk jabatan ini kerana begitu besar cinta mereka kepadamu dan engkau akan mengambil Bani‘Umayyah dan Bani Mu’aith untuk memerintah umat. Engkau akan melindungi mereka dan membagi-bagikan Uang baitul mal kepada mereka dan orang-orang akan membunuhmu, menyembelihmu di tempat tidur”[6]

Atau menurut riwayat dari Ibnu Abbas yang didengarnya sendiri dari Umar “Andaikata aku menyerahkan kekhalifahan kepada Utsman ia akan mengambil Banu Abi Mu’aith untuk memerintah umat. Bila melakukannya mereka akan membunuhnya”.[7]

Di bagian lain, dalam lafal Imam Abu Hanifah: “Andaikata aku menyerah kekhalifahan kepada Utsman, ia akan mengambil keluarga Abi Mu’aith untuk memerintah umat, demi Allah andaikata aku melakukannya, ia akan melakukannya, dan mereka akhirnya akan memotong kepalanya”. [8] Atau di bagian lain: Umar berwasiat kepada Utsman dengan kata-kata: “Bila aku menyerahkan urusan ini kepadamu maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah mengambil keluarga Banu Abi Mu’aith untuk memerintah umat’. [9]

Mari kita lihat ‘ramalan’ Umar bin Khaththab. Tatkala Imam Ali menolak mengikuti peraturan-peraturan dan keputusan-keputusan (Sunnah) Abu Bakar dan Umar, dalam pertemuan anggota Syura,Utsman justru sebaliknya. Ia berjanji menaati peraturan dan keputusan Abu Bakar dan Umar. [10] Ia menjadi khalifah tanggal 1 Muharam tahun 24 H pada umur 79 tahun dan meninggal dibunuh tanggal 18 Dzulhijjah tahun 35 H/ 17 Juni 656 M.

Pemerintahannya dianggap nepotis oleh banyak kalangan. Misalnya, ia mengangkat anggota keluarganya, yang bernama Marwan anak Hakam Ibnu ‘Abi’l Ash yang telah diusir Rasul saww dari Madinah kerana telah bertindak sebagai mata-mata musuh. Utsman membolehkania kembali dan mengangkatnya menjadi Sekretaris Negara.

Utsman juga memperluas wilayah kekuasaan Mu’awiyah, yang mula-mula hanya kota Damaskus, sekarang ditambah dengan Palestina, Yordania dan Libanon. Ia memecat gubernur-gubernur yang ditunjuk Umar dan menggantinya dengan keluarganya yang Thulaqa  [11], ada di antaranya yang pernah murtad dan disuruh bunuh oleh Rasul, dilaknat Rasul, penghina Rasul dan pemabuk. Ia mengganti gubernur Kufah Sa’d bin Abi Waqqash dengan Walid bin ‘Uqbah bin Abi Mu’aith, saudara seibu dengannya. Walid disebut sebagai munafik dalam Al-Qur’an.

Ali, Thalhah dan Zubair, tatkala Utsman mengangkat Walid bin ‘Uqbah jadi gubernur Kufah, menegur Utsman: “Bukankah Umar telah mewasiatkan kepadamu agar jangan sekali-kali mengangkat keluarga Abi Waith dan Banu ‘Umayyah untuk memerintah umat?”  Dan Utsman tidak menjawab sama sekali’. [12]

Walid adalah seorang pemabuk dan penghambur uang negara. Utsman juga mengganti gubernur Mesir ‘Amr bin ‘Ash dengan Abdullah bin Sa’id bin Sarh, seorang yang pernah disuruh bunuh Rasul saww kerana menghujat Rasul. Di Bashrah ia mengangkat Abdullah binAmir, seorang yang terkenal sebagai munafik.

Utsman juga dituduh telah menghambur-hamburkan uang negara kepada keluarga dan paragubernur Banu ‘Umayyah’ yaitu orang-orang yang disebut oleh para sejarahwan sebagai takbermoral(fujur), pemabuk (shahibu‘l-khumur), tersesat(fasiq), malah terlaknat oleh Rasulsaww (la’in) atau tiada berguna(‘abats). Ia menolak kritik-kritik para sahabat yang terkenal jujur. Malah ia membiarkan pegawainya memukul saksi seperti Abdullah bin Mas’ud, pemegang baitul mal di Kufah sehingga menimbulkan kemarahan Banu Hudzail.

Ia juga membiarkan pemukulan ‘Ammir bin Yasir sehingga mematahkan rusuknya dan menimbulkan kemarahan Banu Makhzum dan Banu Zuhrah. Ia juga menulis surat kepada penguasa di Mesir agar membunuh Muhammad bin Abu Bakar. Meskipun tidak sampai terlaksana, tetapi menimbulkan kemarahan Banu Taim.

Ia membuang Abu Dzarr al-Ghifari –pemrotes ketidakadilan dan penyalahgunaan uang negara- ke Rabdzah dan menimbulkan kemarahan keluarga Ghifari. Para demonstran dating dari segala penjuru, seperti Mesir, Kufah, Bashrah dan bergabung dengan yang di Madinahyang mengepung rumahnya selama 40 hari  [13] yang menuntut agar Utsman memecat Marwan

yang tidak hendak dipenuhi Utsman. Tatkala diingatkan bahwa uang Baitul Mal adalahmilik umat yang harus dikeluarkan berdasarkan hukum syariat seperti sebelumnya oleh ‘AbuBakar dan Umar ia mengatakan bahwa ia harus mempererat silaturahmi dengan keluarganya.Ia mengatakan: “Akulah yang memberi dan akulah yang tidak memberi. Akulah yang membagi  uang sesukaku!”.[14]

Utsman memberikan kebun Fadak kepada Marwan, yang telah diambil oleh Abu Bakar dari Fathimah  SA putrid Rasulullah SAWW.

Dirham adalah standar mata uang perak dan dinar adalah standar mata uang emas. Satudinar berharga sekitar 10-12 dirham. Satu dirham sama harganya dengan emas seberat 55butir gandum sedang. Satu dinar seberat 7 mitsqal. Satu mitsqal sama berat dengan 72 butirgandum. Jadi satu dinar sama berat dengan 7 X 72 butir gandum atau dengan ukuransekarang sama dengan 4 grain. Barang dagangan satu kafilah di zaman Rasul yang terdiridari 1.000 unta, dan dikawal oleh sekitar 70 orang berharga 50.000 dinar yang jadi milikseluruh pedagang Makkah. Seorang budak berharga 400 dirham.

Contoh penerima hadiah dari Utsman adalah Zubair bin ‘Awwam. Ia yang hanya kepercikanuang baitul mal itu, seperti disebut dalam shahih Bukhari, memiliki 11 (sebelas) rumah diMadinah, sebuah rumah di Bashrah, sebuah rumah di Kufah, sebuah di Mesir…Jumlahuangnya, menurut Bukhari adalah 50.100.000 dan di lain tempat 59.900.000 dinar, disamping [15] seribu ekor kuda dan seribu budak.  [16]

Aisyah menuduh Utsman telah kafir dengan panggilan Na’tsal [17] dan memerintahkan agar iadibunuh. Zubair menyuruh serbu dan bunuh Utsman. Thalhah menahan air minum untukUtsman. Akhirnya Utsman dibunuh. Siapa yang menusuk Utsman, tidak pernah diketahuidengan pasti. Siapa mereka yang pertama mengepung rumah Utsman selama empat bulandan berapa jumlah mereka dapat dibaca sekilas dalam catatan berikut. Mu’awiyah mengejarmereka satu demi satu.

—————————————————————————————————-

  1.  Sebagaimana biasa, banyak perdebatan telah terjadi mengenai kata-kata ‘Umar ini. Bukankah ‘Umar mengatakan bahwa Rasul Allah saww rida kepada mereka berenam?.
  2.  Al-Qur’an, al-Ahzab (33), ayat 53.
  3.  Lihat Tafsir al-Qurthubi jilid 14, hlm. 228; Faidh al-Qadir, jilid,4, hlm. 290; Tafsir Ibnu Katsir, jilid 3, hlm.506; Tafsir Baqawi jilid 5, hlm. 225; Ibn Abil Hadid, Syarh Nahju’l-Balaghah, jilid 1, hlm. 185, 186, jilid 12, hlm. 259 dan lain-lain.
  4. Ibn Abil-Hadid, Syarh Nahju’l-Balaghah, jilid 1, hlm. 175.
  5. Ibn Abil-Hadid, Syarh Nahju’I-Balaghah, jilid 12, hlm. 259.
  6. Ibn Abil-Hadid, Syarh Nahju’l-Balaghah, jilid 1, hlm. 186.
  7. Baladzuri, Ansab al-Asyraf, jilid 5, hlm. 16.
  8.  Abu uysuf dalamal-Atsar, hlm. 215.
  9. 9.      Ibnu Sa’d,Thabaqat, jilid 3, hlm. 247; Baladzuri, Ansab al-Asyraf, jilid 5, hlm 16; Mithibbuddin Thabari,Ar-Riydah an-Nadhirah, jilid 2, hlm. 76
  10. Lihat Bab 15, ‘Sikap ‘Ali terhadap Peristiwa Saqifah’ dan Bab 14: ‘Pembaiatan ‘Umar dan’Utsman’.
  11. Yang dibebaskan, baru memeluk Islam setelah penaklukan Makkah.
  12. Ba-ladzuri, Ansab al-Asyraf, jilid 5, hlm. 30.
  13. Menurut Mas’udi, ‘Utsman dikepung selama 49 hari, Thabari 40 hari, dan ada yang mengatakan lebih dari itu. Ia dibunuh malam Jumat 3 hari sebelum berakhir bulan Dzul Hijah, tahun 34 H, 8 Juli 655 M. LihatMurujadz-Dzahab, jilid 1, hlm. 431-432
  14. Dengan lafal yang sedikit berbeda lihatlah Shahih Bukhari, jilid 5, hlm. 17; Sunan Abu Dawud, jilid 2, hlm.25.
  15. Shahih Bukhari, Kitab Jihad, jilid 5, hlm. 21 dll.
  16. Lihat Mas’udi, Muruj adz-Dzahab, jilid 1, hlm. 424.
  17. Nama lelaki asal Mesir dan berjanggut panjang menyerupai ‘Utsman. Dalam al-Lisan al-’Arab Abu Ubaid berkata: ‘Orang mencerca ‘Utsman dengan nama Na’tsal ini’. Ada yang mengatakan Na’tsal ini orang Yahudi

.

Syahidnya Fathimah as.

Fatimah Az Zahra Wafat karena Di Pukul Perutnya Hingga Keguguran Lalu Sakit Parah Hingga Wafat !!!
Ya Nabi SAW Puterimu Di Zalimi !

Umar menendang pintu dan pintu, Fatimah jatuh tertimpa pintu, -tanpa patah tulang- Fatimah mendorong pintu agar menghalangi mereka masuk, Umar menendang pintu hingga terlepas dan mengenai perut Fatimah hingga Muhsin gugur dari perut ibunya. (Multaqal Bahrain hal 81, Al Jannah Al Ashimah hal 251)

Umar menggunakan pedang dan cambuk tanpa menyentuh pintu. Fatimah berteriak Wahai Ayahku, Wahai Rasulullah, lalu Umar mengangkat pedang yang masih di sarungnya dan memukul perut Fatimah, lalu Fatimah berteriak lagi, wahai ayahku, lalu Umar mencambuk tangan Fatimah,  Fatimah memanggil Wahai Rasulullah, betapa buruk penggantimu, Abubakar dan Umar. Ali melompat dan mencengkeram baju Umar dan membantingnya, dan memukul hidung serta lehernya. Ali berniat membunuh Umar tetapi dia teringat wasiat Rasulullah Shallallahu Alaihi wasallam. (Kitab Sulaim bin Qais , jilid 3 hal 538)

Fatimah didorong di pintu, tanpa ditendang, tanpa pedang, cambuk atau paku Al Mas’udi, seorang ahli sejarah mengatakan : Amirul Mu’minin Ali tinggal di rumahnya beserta beberapa pengikutnya, seperti yang dipesankan oleh Rasulullah, lalu mereka menuju rumah Ali dan menyerbunya, membakar pintu rumah dan memaksa orang yang di dalamnya untuk keluar, mereka mendorong Fatimah di pintu hingga janinnya gugur, mereka memaksa Ali untuk berbaiat dan Ali menolak, dan mengatakan : aku tidak mau, mereka mengatakan : kalau begitu kami akan membunuhmu, Ali mengatakan: jika kalian membunuhku maka aku adalah Hamba Allah dan saudara RasulNya. Lihat Itsbatul Washiyyah hal 123.   Umar menyerbu rumah Ali bersama tiga ratus orang. Diriwayatkan mengenai penyebab wafatnya Fatimah : Umar bin Khattab menyerang rumah Ali dan Fatimah bersama tiga ratus orang. (Lihat dalam kitab Al Awalim jilid 2 hal 58)

Umar memukul Fatimah di jalan, bukan di rumah Fatimah berhasil meminta surat dari Abubakar yang berisi pengembalian tanah Fadak pada Fatimah, ketika di jalan Fatimah bertemu Umar dan kemudian Umar bertanya: wahai putri Muhammad, surat apa yang ada di tanganmu? Fatimah menjawab: surat dari Abubakar tentang pengembalian tanah Fadak, Umar berkata lagi : bawa sini surat itu, Fatimah menolak menyerahkan surat itu, lalu Umar menendang Fatimah Amali Mufid hal 38, juga kitab Al Ikhtishash   Fatimah dicambuk. Yang disesalkan adalah mereka memukul Fatimah Alaihassalam, telah diriwayatkan bahwa mereka memukulnya dengan cambuk. (Talkhis Syafi jilid 3 hal 156  )

Punggungnya dicambuk dan dipukul dengan pedang. Lalu Miqdad berdiri dan mengatakan : putri Nabi hampir  meninggal dunia, sedang darah mengalir di punggung dan rusuknya karena kalian mencambuknya dan memukulnya dengan pedang, sedangkan di mata kalian aku lebih hina dibanding Ali dan Fatimah. (Ahwal Saqifah/ Kamil Al Baha’I, Hasan bin Ali bin Muhamamd bin Ali bin Hasan At Thabari yang dikenal dengan nama Imadudin At Thabari, jilid 1 hal 312.)

perbedaan yang banyak di antara sesama empat mazhab membuat anda pasti bingung kan ?

“Bukankah Anda mengetahui bahwa mazhab yang empat (madzâhibul arba’ah) itu saling bertentangan satu sama lainnya dalam banyak masalah, dan dalam hal ini mereka tidak berlandaskan pada dalil yang kuat atau keterangan yang jelas dan nyata bahwa ialah yang benar, bukan yang lainnya? Orang yang terikat dengan salah satu mazhab dari empat mazhab tersebut hanyalah menyebutkan dalil-dalil yang tidak ada penopangnya. Sebab, ia tidak semuanya bersumber pada al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw. Ia seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun.

Misalnya, seandainya Anda tanyakan kepada seseorang yang bennazhab Hanafi, ‘Mengapa engkau memilih mazhab Hanafi, bukan yang lainnya? Dan mengapa engkau memilih Abu Hanifah sebagai imam untuk dirimu setelah seribu tahun dari kematiannya?

Niscaya orang tersebut tidak akan memberikan jawaban yang memuaskan hatimu. Demikian juga jika Anda menanyakan hal yang sama kepada seseorang yang mengikuti mazhab asy-Syafi’i, Maliki, atau Hanbali.

Rahasia di balik itu adalah setiap imam dari empat mazhab tersebut bukanlah seorang nabi atau washiyy (orang yang menerima wasiat untuk meneruskan kepemimpinan nabi). Mereka tidak mendapatkan wahyu ataupun mendapatkan ilham, mereka hanya seperti ulama yang lain, dan orang yang seperti mereka amatlah banyak.

Kemudian mereka bukanlah sahabat Nabi Saw, kebanyakan mereka atau bahkan keseluruhan mereka tidak menjumpai Nabi Saw dan tidak pula menjumpai para sahabat Nabi Saw. Setiap orang dari mereka (imam mazhab yang empat) membuat mazhab untuk dirinya sendiri, ia mengikuti mazhabnya itu dan mempunyai pendapat­-pendapat tersendiri, yang boleh jadi terdapat kesalahan atau kelalaian di dalamnya.

Dan setiap dari mereka mempunyai pendapat yang bermacam-macam, yang satu sama lainnya saling bertentangan. Akal sehat tidak akan dapat menerima hal itu, demikian pula hati yang bersih. Sebab, ia tidak berdasarkan pada dalil yang tegas dan kuat, yaitu al-­Qur’an dan Sunnah Nabi Saw.

Maka, orang yang berpegangan atau mengikuti salah satu dari mazhab yang empat tersebut tidak mempunyai hujjah yang jelas lagi kuat kelak di hadapan Allah pada Hari Perhitungan. Sesungguhnya kepunyaan Allah-lah hujah yang jelas lagi kuat itu. Seandainya Allah menanyakan kepada orang yang mengikuti salah satu dari mazhab yang empat itu pada hari kiamat, dengan dalil apa engkau mengikuti mazhabmu ini? Tentu saja ia tidak mempunyai jawaban kecuali ucapannya, Dan Demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatan pun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: “Sesungguhnya Kami mendapati bapak- bapak Kami menganut suatu agama dan Sesungguhnya Kami adalah pengikut jejak-jejak mereka”. (Qs. Az-Zukhruf [43]:23)

Atau, ia berkata,

Ya Tuhan Kami, Sesungguhnya Kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar Kami, lalu mereka menyesatkan Kami dari jalan (yang benar). (Qs. Al-Azhab [33]:67)

“Adapun kami yang mengikuti wilâyah (kepemimpinan) al-’itrah ath-thâhirah (keturunan yang suci), Ahlulbait Nabi Saw yang telah disucikan Allah sesuci-sucinya dari segala dosa, dan kami beribadah kepada Allah Swt dengan mengikuti fiqih al-Ja’fari, kami akan berkata kelak pada Hari Perhitungan, ketika kami berdiri di hadapan Allah Swt.”

‘Wahai Tuhan kami, sesungguhnya Engkau telah memerintahkan kami dengan hal itu karena sesungguhnya Engkau telah berfirman di dalam Kitab-Mu, Apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Amat keras hukumannya.” (Qs. Al-Hasyr [59]:7)

Dan Nabi-Mu, Muhammad Saw, telah bersabda, sebagaimana yang telah disepakati kaum Muslim, “Sesungguhnya aku telah meninggalkan kepada kalian dua pusaka yang sangar berharga (ats-tsaqalain), yaitu Kitabullâh dan Itrah Ahlulbaitku; selama kalian berpegang teguh kepada keduanya, niscaya kalian tidak akan tersesat selamanya, dan sesungguhnya keduanya tidak akan berpisah sehingga menjumpaiku di Haudh.”

Dan Nabi-Mu juga telah bersabda, “Perumpamaan Ahlu/ Bairku di rengah-rengah kalian seperti bahrera Nuh barang siapa menaikinya, niscaya dia akan selamat; dan barangsiapa yang tertinggal darinya, niscaya dia akan tenggelam dan binasa.”

Dan tidak diragukan lagi bahwa Imam Ja’far ash-Shadiq As adalah dari al-i’trah ath-thâhirah (keturunan yang suci), yaitu Ahlulbait Nabi Saw yang telah disucikan Allah sesuci-sucinya dari segala dosa. llmunya adalah ilmu ayahnya, ilmu ayahnya adalah ilmu kakeknya, yaitu Rasulullah Saw, sedangkan ilmu Rasulullah Saw bersumber dari Allah.

Selain itu, semua kaum Muslim telah sepakat akan kejujuran dan keutamaan Imam Ja’far Ash-Shiidiq As: Sesungguhnya ia (Imam Ja’far Ash-Shiidiq As) adalah seorang washiyy keenam dan Imam Maksum, sesuai keyakinan segolongan besar kaum Muslim, yaitu para pengikut mazhab Ahlubait, mazhab yang hak. Dan sesungguhnya ia adalah hujah Allah atas makhluk-Nya.

Imam Ja’far Ash-Shadiq As meriwayatkan hadis dari ayah  dan datuknya yang suci, dan ia tidak berfatwa dengan pendapatnya sendiri. Hadisnya adalah “hadis ayahku dan datukku”. Sebab, mereka adalah sumber ilmu dan hikmah.

Mazhab Imam Ja’far ash-Shadiq As adalah mazhab ayahnya, dan mazhab kakeknya bersumber dari wahyu, yang tidak akan pernah berpaling sedikit pun darinya. Bukan dari hasil ijtihad, seperti lainnya yang berijtihad.

Oleh karena itu, orang yang mengikuti mazhab Ja’far bin Muhammad ash-Shadiq As dan mazhab kakek-kakeknya, berarti ia telah mengikuti mazhab yang benar dan berpegang teguh pada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Saw.

Setelah aku kemukakan dalil-dalil yang jelas dan kuat, Syaikh al-Azhar tersebut mengucapkan banyak terima kasih kepadaku dan ia pun sangat memuliakan kedudukanku.

Kemudian ia menanyakan tentang pandangan Syi’ah terhadap para sahabat Rasulullah Saw. Lalu, aku jelaskan kepadanya bahwa Syi’ah tidak menecela sahabat Rasulullah Saw secara keseluruhan. Akan tetapi, Syi’ah meletakkan mereka sesuai kedudukan mereka. Sebab, di antara mereka ada yang adil dan ada pula yang tidak adil, di antara mereka ada yang pandai dan ada pula yang bodoh, dan di antara mereka ada yang baik dan ada pula yang jahat.

Bukankah Anda tahu apa yang telah mereka lakukan pada hari Saqifah? Mereka telah meninggalkan jenazah Nabi mereka dalam keadaan terbujur kaku di atas tempat tidumya, mereka berlomba-lomba memperebutkan kekhalifahan. Setiap orang dari mereka beranggapan bahwa ialah yang berhak menjadi khalifah, seakan-akan ia adalah barang dagangan yang dapat diperoleh bagi siapa saja yang lebih dahulu mendapatkannya. Padahal mereka telah mendengar nash-nash yang tegas yang telah disampaikan oleh Nabi Saw tentang kekhalifahan ‘Ali bin Abi Thalib As, baik sejak awal dakwahnya maupun hadis Ghadir Khum yang terkenal itu.

Selain itu, mengurusi jenazah Rasulullah Saw lebih penting daripada urusan kekhalifahan. Bahkan, seandainya saja Rasulullah Saw tidak mewasiatkan seseorang untuk menjadi khalifahnya (Rasulullah Saw. secara tegas telah menunjuk ‘Ali untuk menjadi khalifahnya), maka wajib bagi mereka untuk mengurusi jenazah Rasulullah Saw  terlebih dahulu.

Kemudian setelah selesai mengurusi jenazah Rasulullah Saw, seyogyanya mereka menyatakan belasungkawa kepada keluarga beliau, seandainya saja mereka adalah orang-orang yang adi!.

Akan tetapi, dimanakah keadilan dan perasaan hati mereka, dimanakah keluhuran akhlak, dan dimanakah ketulusan dan kecintaan? Dan yang lebih menyakitkan lagi di dalam hati adalah penyerbuan mereka ke rumah belahan jiwa Rasulullah Saw, Fatimah az-Zahra As, yang dilakukan oleh sekitar lima puluh orang pria.

Mereka telah mengumpulkan kayu bakar untuk membakar rumah Fatimah dan semua orang yang di dalamnya. Sehingga ada seseorang yang berkata kepada ‘Umar, “Sesungguhnya di dalam rumah tersebut terdapat al-Hasan, al-Husain, dan Fatimah.”

Akan tetapi, ‘Umar berkata, “Walaupun (di dalam rumah tersebut ada mereka).”

Peristiwa ini banyak disebutkan oleh sejarawan Ahlus Sunnah,[3] apalagi para sejarawan Syi’ah.

Semua orang tahu, baik orang yang berbakti maupun orang yang jahat, bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Fatimah adalah belahan jiwaku. Barang siapa yang menyakitinya, maka ia telah menyakitiku; barang siapa yang membuatnya murka, maka ia telah membuatku murka; barang siapa yang membuatku murka, maka ia teah membuat Allah murka; dan barang siapa membuat Allah murka, maka Allah akan menyungkurkan kedua lubang hidungnya ke dalam neraka.

Peristiwa-peristiwa yang terjadi pada para sahabat Nabi Saw secara jelas menunjukkan bahwa tidak semua sahabat itu adil. Silakan Anda merujuk ke Shahîh al-Bukhâri dan Shahîh al-Muslim tentang hadis Haudh, niscaya Anda akan mendapatkan kebenaran pendapat Syi’ah tentang penilaian mereka terhadap para sahabat Nabi Saw.

Jika demikian adanya, maka dosa apakah bagi mereka (Syi’ah) jika mereka berpendapat bahwa banyak di antara sahabat Nabi Saw yang tidak adil, sedangkan banyak dari mereka sendiri (para sahabat Nabi Saw.) yang menunjukkan jati diri mereka sendiri.

Perang Jamal dan Perang Shiffin adalah dalil dan bukti yang paling jelas terhadap kebenaran pendapat mereka (Syi’ah). Dan al-Qur’an telah menyingkapkan banyak keburukan perbuatan di antara mereka (para sahabat Nabi Saw).

Bukankah Anda juga tahu apa yang telah dilakukan oleh Mu’awiyah, ‘Amru bin ‘Ash, Marwan bin Hakam, Ziyad dan anaknya, Mughirah bin Syu’bah, ‘Umar bin Sa’ad bin Abi Waqqash, Thalhah dan Zubair, yang keduanya telah memberikan baiat kepada Amirul Mukminin ‘Ali As, tetapi keduanya kemudian melanggar baiatnya dan memerangi Imam mereka (‘Ali bin Abi Thalib As) bersama ‘A’isyah di Basrah, yang sebelumnya mereka telah melakukan kejahatan-kejahatan di kota tersebut (Basrah) yang tidak pantas dilakukan oleh seseorang yang mempunyai jiwa satria.

Selain itu, selama keberadaan Nabi Saw di tengah-tengah mereka (para sahabat beliau), banyak di antara mereka yang melakukan perbuatan nifâk (munafik), apakah kemudian setelah Nabi Saw menemui Tuhannya (wafat), mereka lantas menjadi adil semuanya?

Kita sama sekali tidak pernah mendengar bahwa ada salah seorang nabi di antara nabi-nabi yang diutus kepada umatnya, lalu semua umatnya menjadi adil. Bahkan, yang terjadi adalah sebaliknya. Al-Qur’an dan Sunnah telah menjelaskan kepada kita tentang hal itu.

Sesungguhnya apa yang telah kami persembahkan kepada para pembaca adalah bersumber dari  al-Qur’an dan hadis-hadis Nabi Saw, yang diriwayatkan dalam hadis sahih dalam kitab-kitab sahih Sunni, dan merupakan bukti yang kuat terhadap kekhalifahan Amirul Mukminin ‘Ali bin Abi Thalib sepeninggal Rasulullah Saw secara langsung (belâ fashl), sekiranya orang yang menentang kami berlaku adil.

Perhatikanlah dengan seksama dan sungguh-sungguh terhadap semua yang telah kami sebutkan  yaitu hujjah dan keterangan yang jelas, dengan begitu niscaya akan tersingkap kebenaran yang hakiki bagi Anda dan akan memudahkan jalan bagi siapa saja yang hendak menempuh jalan kebenaran. Yaitu, orang-orang yang mengikhlaskan niatnya dan menjauhkan dirinya dari fanatisme mazhab yang membutakan hati dan pikiran sehat dan membinasakan.

Orang yang bersikeras dalam fanatismenya, tidak akan berguna riwayat, walaupun jumlahnya sangat banyak dan telah dikemukakan baginya seribu dalil.

Adapun orang yang mempunyai pikiran yang jemih dan akal yang cerdas, maka yang telah kami persembahkan, dalil-dalil al-Qur’an dan Sunnah, telah memadai baginya karena dalil-dalil tersebut adalah riwayat-riwayat yang sahih yang telah disepakati kebenarannya, baik di kalangan Sunni maupun Syi’ah.

Selain itu, orang yang bersikeras di dalam kefanatikannya, bahkan seandainya Nabi Saw sendiri yang datang kepadanya dan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya dia tetap akan berada di dalam sikap keras kepalanya. Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh   salah seorang di antara mereka, yang keras kepala, kepada saudaraku “Seandainya Jibril turun, dan ikut bersamanya Muhammad dan ‘Ali, aku tetap tidak akan membenarkan ucapanmu.”

Sesungguhnya manusia itu bermacam-macam. Dan merupakan hal yang sulit mendapatkan kerelaan seluruh manusia, bahkan itu merupakan suatu hal yang mustahil diraih.

Semoga Allah Swt. mencurahkan rahmat-Nya kepada ‘Ali al-Kailani, seorang pujangga berkebangsaan Palestina yang berkata,

Jika Tuhannya makhluk tidak meridhai makhluk-Nya,

Maka bagaimana mungkin makhluk dapat diharapkan keridhaannya.


[1] . Allah membukakan hatinya untuk menerima dan mengikuti mazhab yang benar yaitu mazhab Ahlulbait al-Ja’fari.

[2] . Silahkan Anda rujuk pada bagian ketiga dari buku ini.

[3] .  Lihat al-Imâmah was Siyâsah. Ar-Riyadhun Nadhrah, Murujudz Dzahab, Ansâbul Asyrâf, al-Imâm ‘Ali, karya ‘Abdul Fattah ‘Abdul Maqshud, Syarh Nahjul Balâghah, karya Ibn Abil Hadid, dan kitab-­kitab lainnya yang ditulis oleh para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah. Anda akan mendapatkan bahwa mereka menyebutkan peristiwa yang menyedihkan dan memilukan hati ini. Adapun Syi’ah, para sejarawan mereka telah menyebutkan peristiwa yang menyakitkan hati ini berikut nama-nama mereka yang melakukan tindakan kejahatan ini. Mereka menyatakan bahwa perirstiwa penyerbuan ke rumah Fatimah As tersebut dipimpin oleh ‘Umar “seorang pahlawan yang gagah berani” tetapi gagah berani bukan di medan perang.

Al Quran tulisan tangan imam Ali ditemukan ??

Tuesday, June 19, 2012   10:59

oleh : Ustad Husain Ardilla

Al-Quran Karim yang diklaim sebagai tulisan tangan Pemimpin Orang-orang Bertakwa, Imam Ali as. Di stand Penerbit Hizmet Turki, diekspos di Ruang Pameran Al-Quran Internasional.

Penerbit Hizmet yang berada di Istanbul Turki, dalam rangka untuk mengekspos peninggalan-peninggalan sejarah agama yang mereka miliki kepada masyarakat Iran, untuk pertama kalinya, ikut serta dalam pameran yang diadakan di Ruang Pameran Al-Quran Internasional Tehran.

Diantara peninggalan yang dipamerkan kepada para pengunjung adalah sebuah transkripsi Al-Quran Karim yang diklaim sebagai hasil tulisan Imam Ali as dan sebuah buku berjudul “Amanat-amanat Suci” yang berisikan gambar-gambar tentang peninggalan-peninggalan yang berkaitan dengan Rasulullah saw dan para Imam Suci as, terhusus tentang Sayidah Fatimah Az-Zahra as yang tersimpan di Museum Topkapi Istanbul.

Peninggalan lain yang juga di pamerkan pada stand Penerbit Hizmet Turki adalah, sebuah transkripsi Al-Quran yang diklaim sebagai tulisan tangan Ustman bin Affan bergaya tulis Kufah yang dipublikasikan oleh Pusat Penelitian Sejarah, Seni dan Kebudayaan Islam ARSIKA bekerjasama dengan Badan Koperasi Islam dan juga dua orang kaligrafer terkenal Turki.

Meskipun sesi internasional pameran Al-Quran belum resmi dibuka, namun dikarenakan sambutan yang meluas oleh negara-negara kawasan dalam mengikuti even ini, saat ini di Mushala Tehran, stand negara Lebanon dan Turki sudah mulai memamerkan peninggalan-peninggalan yang mereka miliki.

Iran telah meluncurkan Quran Persia tertua selama 18 edisi Pameran Quran Internasional di ibu kota Teheran.

Seorang peneliti Iran Ali Revaqi menemukan kitab tersebut di Perpustakaan Pusat Astan Quds Razavi di kota Masyhad.

Revaqi, yang telah melakukan penelitian ekstensif Quran Persia, menemukan kitab abad ke-10 di antara ribuan naskah Al-Quran disimpan di perpustakaan, menurut kantor berita Iran IRNA

Quran tersebut diterbitkan dalam dua volume berisi teks asli bahasa Arab dan ditulis pula dalam skrip Kufic disertai dengan terjemahan Persia.

Sebagai halaman pertama dan terakhir dari buku yang hilang, identitas penerjemah tidak dapat ditentukan.

Di Pusat Perpustakaan Astan Quds Razavi tardapat 80.000 naskah dan ribuan buku litografi kuno, dari sekitar 16.000 diantaranya adalah naskah Alquran.

Sepuluh dari naskah-naskah Al-Quran tersebut berisi tulisan tangan dari Imam Syiah, Imam Ali (SAW), Imam Husain (SAW), Imam Hassan (SAW), Imam Sajjad (SAW), Imam Reza (saw) dan Imam Kazem (saw).

Lebih dari 340 orang Iran dan 15 penerbit internasional menawarkan produk-produk mereka pada tahun ini di Pameran Quran, dan lebih dari 90 perusahaan sedang melakukan presentasi perangkat lunak Alquran.

Pada pameran tahun ini juga diadakan pertunjukan teater, pameran foto dan resital puisi di sela-sela acara sekaliber internasional tersebut.

Pengunjung juga dapat menikmati melihat langit pada malam hari di atas kota Teheran menggunakan beberapa teleskop didirikan di situs tersebut.

Pameran Manuskrip Qur’an Yang Berhubungan Dengan Para Imam as Dalam Kompetisi Internasional Al-Qur’an

Tim Internasional: Enam mansukrip kuno Al-Qur’an yang dipercaya berhubungan dengan para Imam as dipamerkan di sela-sela kompetisi internasional Al-Qur’an.

Enam manuskrip kuno tulisan tangan Al-Qur’an yang dipercaya pernah ditulis sendiri oleh para Imam Ali as, Imam Hasan as, Imam Husain as, Imam Sajjad as, dan Imam Musa Kadzim as, dipamerkan dalam Ruang Pameran Propinsi Quds Razavi dalam kompetisi Qur’an internasional ke-29 yang sedang berlangsung di Milad Tower Tehran.

Dua manuskrip Qur’an lainnya dipercaya juga tulisan tangan para Imam, namun masih belum dipastikan Imam siapakah yang telah menulisnya.

Manuskrip-manuskrip Qur’an tersebut ditulis dengan khat Kufi. Sedangkan menurut para penanggung jawab Ruang Pameran Propinsi Quds Razavi, ada sekitar 84.000 manuskrip Qur’an yang disimpan dalam perpustakaan Propinsi Quds Razavi.

Para Ulama Sunni dan Syiah sepakat bahwa Imam ‘Ali adalah orang yang pertama kali membukukan Al-Qur’an berdasarkan turunnya wahyu untuk yang pertama kalinya. Banyak hadits sunni dan syiah yang menerangkan bahwa sepeninggal Nabi Muhammad Saaw, Imam ‘Ali bersumpah bahwa ia tidak akan keluar dari rumahnya sampai ia menyelesaikan pembukuan tersebut.

Referensi Sunni :
– Fat’hul Bari fi Sharh Sahih al-Bukhari, oleh Ibn Hajar al-Asqalani, vol 10, hal 386
– al-fihrist, oleh (Ibn) an-Nadim, hal 30
– al-Itqan, oleh al-Suyuti, vol 1, hal 165
– al-Masahif, oleh Ibn Abi Dawud, hal 10
– Hilyatul awliya’, oleh Abu Nu’aym, vol 1, hal 67
– al-Sahibi, oleh Ibn Faris, hal 79
– ‘Umdatul Qari, oleh al-Ayni, vol 20, hal 16
– Kanzul Ummal, oleh al-Muttaqi al-Hindi, vol 15, hal 112-113
– al-Sawa’iq al-Muhriqah, oleh Ibn Hajar al-Haythami, Bab. 9, bagian 4, hal 197
– Ma’rifat al-Qurra’ al-kibar, oleh al-Dhahabi, vol 1, hal 31

Dalam hadits syiah juga diterangkan bahwa Nabi Muhammad lah yang memerintahkan Imam ‘Ali untuk melakukan pembukuan tersebut. (Al-Bihar vol 92 hal 40-41, 48, 51-52)

Adapun keunikan dari Al-Qur’an yang disusun Imam ‘Ali adalah :

A. Dikumpulkan berdasarkan turunnya wahyu, hal inilah yang membuat Muhammad ibn Siren (seorang tabi’i, ulama terkemuka) merasa menyayangkan bahwa Al-Qur’an tsb kini tidak berada di tangan umat muslim “Jika transkip Al-Qur’an itu berada di tangan kita, tentunya banyak pengetahuan yang dapat kita petik”.

Referensi Sunni :
– at-Tabaqat, oleh Ibn Sa’d, vol 2, bag 2, hal 101
– Ansab al-ashraf, oleh al-Baladhuri, vol 1, hal 587
– al-Istiab, oleh Ibn Abd al-Barr, vol 3, hal 973-974
– Sharh Ibn Abi al-Hadid, vol 6, hal 40-41
– al-Tas’hil, oleh Ibn Juzzi al-Kalbi, vol 1, hal 4
– al-Itqan, oleh al-Suyuti, vol 1, hal 166
– al-Sawa’iq al-Muhriqah, oleh Ibn Hajar al-Haythami, Bab. 9, bagian 4, hal 197
– Ma’rifat al-Qurra’ al-kibar, oleh al-Dhahabi, vol 1, hal 32

Berdasarkan transkip tersebut mayoritas ulama sunni menyatakan bahwa surat yang pertama kali turun adalah surat al-iqra/al-alaq (QS 96).

Referensi Sunni:
– al-Burhan, oleh al-Zarkashi, vol 1, hal 259
– al-Itqan, oleh al-Suyuti, vol 1, hal 202
– Fathul Bari, oleh Ibn Hajar al-Asqalani, vol 10, hal 417
– Irshad al-sari, oleh al-Qastalani, vol 7, hal 454

Sedangkan pada kenyataannya surat Al-Alaq justru bukan terletak dibagian awal Al-Quran, tapi justru hampir di akhirnya. Mayoritas muslim juga sepakat bahwa ayat 5:3 merupakan salah satu dari ayat-ayat yang terakhir kali diturunkan (tapi bukan yang terakhir). Tapi pada kenyataannya tidak terletak pada bagian akhir Al-Qur’an.

Hal ini membuktikan bahwa meskipun Al-Quran yang saat ini kita gunakan benar-benar lengkap, namun susunannya tidak sesuai dgn yang semestinya.

Oleh sebab itulah wajar kiranya jika Imam ‘Ali mengatakan : “Tanyakan lah kepadaku sebelum kalian kehilanganku. Demi Allah, jika kalian bertanya tentang apa pun yang terjadi sampai hari pengadilan, aku akan menjawabnya. Tanyalah aku, Demi Allah, kalian tak akan mengetahui apapun sebelum aku mengatakannya kepadamu. Tanyakan kepadaku tentang kitab Allah,Demi Allah sebab tidak ada satu pun ayat yang tidak aku ketahui, baik ketika diturunkan pada siang atau malam hari, baik di gurun maupun di pegunungan.”

Referensi Sunni :
– al-Riyadh al-Nadhirah, oleh al-Muhib al-Tabari, vol 2, hal 198
– at-Tabaqat, oleh Ibn Sa’d, vol 2, bag 2, hal 101
– al-Isabah, oleh Ibn Hajar al-Asqalani, vol 4, hal 568
– Tahdhib al-Tahdhib, oleh Ibn Hajar al-Asqalani, vol 7, hal 337-338
– Fathul Bari, oleh Ibn Hajar al-Asqalani, vol 8, hal 485
– al-Istiab, oleh Ibn Abd al-Barr, vol 3, hal 1107
– Tarikh al-Khulafa, oleh al-Suyuti, hal 124
– al-Itqan, by al-Suyuti, vol 2, hal 319

B. Dalam transkip Al-quran ini didalamnya terdapat tafsir dan ta’wil yang langsung ditafsirkan serta di ta’wilkan oleh Nabi Muhammad Saaw, tapi bukan pada bagian ayat-ayat Al-Quran nya.

C. Dalam transkip ini juga terdapat nama-nama orang, lokasi, serta peristiwa yang menyebabkan suatu ayat diturunkan atau bisa dikatakan asba al-nuzul-nya.

Referensi Sunni :
– Hilyatul Awliyaa, oleh Abu Nu’aym, vol 1, hal 67-68
– at-Tabaqat, oleh Ibn Sa’d, vol 2, bag 2, hal 101
– Kanzul Ummal, oleh al-Muttaqi al-Hindi, vol 15, hal 113
– al-Sawa’iq al-Muhriqah, oleh Ibn Hajar al-Haythami, Bab. 9, Sub-Bab 4, hal 197

Dari keterangan diatas terutama dari ucapan Muhammad ibn Siren dapat disimpulkan bahwa Mushaf Imam ‘Ali bukan hilang beberapa lembar, tapi semuanya. Tapi itu hanya pendapat saya saja, mungkin ada yang mau tambahin atau koreksi….

Mengenal Mushaf Imam Ali

Nubuat  kebangkitan Islam di Iran dalam Al Quran :

“….dan jika mereka berpaling, digantikan satu kaum selain kamu kemudian mereka tidak menjadi seperti kamu” (surah Muhammad, ayat 38)
.

“… mereka bertanya kepada Rasulullah s.a.w: “Siapakah mereka yang jika kami berpaling, kami akan digantikan dan mereka tidak akan jadi seperti kami?” jawab Rasulullah sambil menepuk tangannya ke bahu Salman al-Farisi, sambil bersabda: “dia dan kaumnya, sekiranya ad-Din terletak di bintang Suria nescaya akan dicapai oleh pemuda-pemuda daripada kalangan bangsa Parsi” (Tafsir Ibnu Kathir)
.
Begitu juga Surah Jumuah ayat 3 dalam Sunan Tirmidzi menceritakan hal yang sama.

Yang dimaksud dengan mushaf Imam Ali As adalah naskah al-Qur’an yang dikumpulkan dan disusun oleh Imam Ali As pasca wafatnya Rasulullah Saw.Mushaf ini memiliki beberapa tipologi tertentu seperti susunan tepat ayat-ayat dan surah-surah berdasarkan nuzul (pewahyuan), sesuai dengan bacaan Rasulullah Saw (yang merupakan bacaan paling orisional) yang mencakup tanzil, ta’wil dan lain sebagainya.

Beberapa tipologi ini tidak dapat ditemukan pada mushaf-mushaf lainnya.  Inti keberadaan mushaf seperti ini telah ditetapkan; misalnya pada kitab al-Thabaqât al-Kubrâ, Muhammad bin Sa’ad (w 230 H); Fadhâil al-Qur’ân, Ibnu Dhurais (w 294 H); Kitâb al-Mashâhif, Ibnu Abi Daud (w 316 H); Kitâb al-Fahrast, Ibnu Nadim yang mengutip dari Ahmad bin Ja’far Munadi yang lebih dikenal sebagai Ibnu Munadi; al-Mashâhif, Ibnu Asytah (w 360 H); Hilyât al-Auliyah wa Thabaqât al-Ashfiyah, Abi Nu’aim al-Isfahani (w 430 H);Al-Isti’âb fi Ma’rifat al-Ashhâb, bahkan volume literatur Ahlusunnah dan berita-berita tentang masalah ini lebih banyak dari literatur-literatur Syiah sendiri. .

Ringkasan Pertanyaan
.
Bilamana al-Qur’an yang ada pada zaman kita sekarang ini dikumpulkan?
.
Pertanyaan
Telah jelas bahwa ketika Rasulullah Saw membacakan al-Qur’an untuk masyarakat ketika itu, sahabat-sahabat Nabi, yang bertugas mencatat Wahyu Ilahi pada waktu itu, juga menuliskan ayat-ayat al-Qur’an itu, namun pertanyaannya adalah kapankah terjadi pengumpulan al-Qur’an secara keseluruhan sehingga pengumpulan tersebut menghasilkan “al-Qur’an” yang ada pada zaman kita sekarang?
.

Jawaban :

Ada tiga pendapat yang menyatakan tentang bagaimana al-Qur’an dikumpulkan:

1.       Al-Qur’an dikumpulkan semenjak pada zaman Rasulullah Saw dan dengan pengawasan secara langsung dari beliau meski bukan beliau sendiri yang menulis dan mengumpulkannya.[1]

2.       Al-Qur’an yang ada pada zaman sekarang ini dikumpulkan oleh Imam Ali As dan pengumpulannya beliau lakukan selepas Rasulullah Saw wafat dan melakukan hal ini ketika berdiam diri di rumah.[2]

3.       Al-Qur’an dikumpulkan setelah wafatnya Rasulullah Saw oleh sebagian sahabat Nabi Saw.[3]

Mayoritas ulama Syiah menerima pendapat yang pertama, khususnya ulama-ulama kiwari yang meyakini bahwa al-Qur’an dikodifikasi pada masa Rasulullah Saw dan dilakukan di bawah pengawasan beliau.[4]

Sebagian lainnya menerima pandangan kedua dan memandang bahwa Imam Ali As yang mengkodifikasi al-Qur’an ini.[5]

Namun sebagian besar Ahli Sunah memilih pendapat ketiga. Kaum orientalis juga meyakini kebenaran akan pendapat belakangan ini, bahkan mereka menambahkan bahwa al-Qur’an yang dikumpulkan oleh Imam Ali As tidak mendapat perhatian dari para sahabat sendiri.

Sebagaimana yang telah kita ketahui bersama bahwa sesuai dengan pendapat yang pertama dan kedua, pengumpulan al-Qur’an disandarkan kepada Allah Swt. Demikian pula dengan keberadaan surat-surat beserta urutannya yang juga merupakan Wahyu Allah Swt. Karena Rasulullah, sesuai dengan penjelasan al-Qur’an bahwa, “Dan dia tidak berbicara menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (Qs. al-Najm [53]: 2-3). Segala sesuatu yang disabdakan oleh Nabi Saw, khususnya dalam masalah keagamaan, mengikuti petunjuk wahyu, demikian pula para Imam, selepas wafatnya nabi, adalah penerus jalan risalah dan telah diangkat oleh Allah Swt dengan dibekali ilmu laduni.

Kelompok yang menerima pendapat ketiga, mereka bukan saja tidak akan dapat membuktikan bahwa kedua hal ini bersumber dari Tuhan dan memiliki corak Ilahiah; tentang kemunculan surat-surat dan urutannya yang ada di al-Qur’an, namun juga pada hakekatnya mereka mengingkari bahwa kedua hal ini bersumber dari Tuhan. Mereka berpandangan bahwa selera pribadi para sahabat turut andil dalam menentukan urusan ini.

Dalam pembahasan ini perlu diketahui bahwa:

1.       Allamah Thabathaba’i berkata ketika menafsirkan ayat: Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (Qs. Hijr: 9) bahwa: Ciri-ciri khusus yang dimiliki oleh al-Qur’an, seperti kefasihan dan keindahan gaya bahasa, tidak adanya ikhtilaf antara satu ayat dengan ayat yang lainnya dan juga tidak adanya seorang pun yang bisa menandinginya, semuanya terdapat dalam al-Qur’an yang ada pada tangan kita sekarang. Oleh karena itu kita simpulkan bahwa al-Qur’an yang ada pada zaman sekarang ini, adalah al-Qur’an yang ada pada masa permulaan datangnya agama Islam juga dan yang telah pula dikenal pada zaman Nabi Muhammad Saw sendiri.[6]

Walaupun penafsiran ini menafikan adanya distorsi (tahrif) terhadap Al Qur’an, namun tidak dapat menetapkan dan membuktikan bahwa kumpulan, bentuk dan coraknya adalah bersumber dari Tuhan; lantaran tipologi yang telah disebutkan tersebut, tidak sedimikian sehingga dapat membuktikan urutan kumpulan ayat-ayat yang merajut surah-surah, dan urutan surah-surah yang membentuk al-Qur’an yang ada tidak dapat digunakan sebagai dalil untuk menetapkan bahwa urutan keseluruhan ayat-ayat yang membentuk suatu surat, dan urutan kumpulan surat-surat yang membentuk al-Qur’an yang ada sebagaimana yang ada pada zaman Nabi Saw.

2.       Apabila ada seorang yang mampu menetapkan dan membuktikan kemukjizatan bilangan di samping kosa-kata dan susunan Qur’ani pada domain surah-surah dan urutan-urutannya yaitu antara ayat-ayat yang terdapat pada satu surah dan dengan surah-surah itu sendiri terjalin hubungan bilangan khusus dimana hal tersebut mustahil bagi manusia maka corak Ilahiah surah-surah dan urutannya juga akan terbukti, namun demikian kembali corak Ilahiah urutan seluruh ayat-ayat yang terajut dalam sebuah surah tidak akan terbukti.[7]

Untuk memahami lebih detail tentang pembahasan ini, silahkan Anda merujuk:

Mahdi Hadavi Tehrani, Mabâni Kalâmi Ijtihâd


[1]. Sayid Abdul Wahab Thaliqani, ‘Ulumul Qur’ân, Hal. 83

[2]. Sayid Muhammad Ridha Jalali Naini, Târikh Jam’ Qur’ân Karim, Hal. 87

[3]. Pendapat ini banyak diterima oleh kebanyakan Ahlus Sunah, Idem , Hal. 19-51

[4]. Sayid Abdul Wahab Thaliqani, ‘Ulumul Qur’an, Hal. 83; Sayid Ali Milani, al-Tahqiq fii Nafii al-Tahrif ‘an al-Qur’an al-Syarif, hal. 41-42, dan hal. 46, Muhammad Hadi Ma’rifat, Shiyanat al-Qur’an min al-Tahrif, hal. 34

[5]. Sayid Muhammad Ridha Jalali Naini, Târikh Jam’ Qur’ân Karîm, Hal. 80

[6]. Allamah Thaba-thabai, al-Mizan, jil. 12, Hal. 104, 106 dan 138

[7]. Mahdi Hadavi Tehrani, Mabâni Kalâmi Ijtihâd, Hal. 54-55, Muasasah Farhange Khaneh Khurd, Qum, Cetakan pertama, 1377

hari demi hari kebenaran-kebenaran Syi’ah dan Al Qur’an semakin terbukti.

Al Qur'an dan Ilmu Pengetahuan

Pendahuluan

Tujuan Tuhan menurunkan Al Qur’an adalah mendidik umat manusia. Semakin manusia mengingkari Al Qur’an, keunggulan Al Qur’an semakin terus terlihat pula. Inilah kriteria hakikat. Oleh karena itu pembesar-pembesar kita sering berkata: “Kami tidak takut Al Qur’an dikritik. Kami hanya takut berbohong atas nama Al Qur’an.” Karena perbuatan itu tidak dibenarkan sama sekali.

Tidak benar jika kita katakan Al Qur’an sesuai dengan ilmu pengetahuan manusia seribu empat ratus tahun yang lalu. Banyak permasalahan-permasalahan ilmiah yang disinggung Al Qur’an yang ternyata terbukti di jaman-jaman setelahnya. Jika seandainya Al Qur’an menjelaskan masalah yang sudah jelas-jelas difahami oleh umat manusia di jaman itu, apa istimewanya Al Qur’an? Tidak ada hal yang spesial dalam hal itu. Karena semua orang pun bisa melakukan hal yang sama, yakni melakukan sesuatu yang biasa-biasa saja dan sudah lumrah bagi semua orang. Justru menurut kami sampai saat ini ilmu pengetahuan tidak dapat mencari titik kesalahan apa yang pernah dijelaskan Al Qur’an. Faktanya, hari demi hari kebenaran-kebenaran Al Qur’an semakin terbukti. Profesor Moris Boka berkata:

“Dari sejak awal aku meneliti, banyak sekali permasalahan-permasalahan rinci dan ilmiah dalam Al Qur’an yang terus menerus membuatku kagum, sampai aku tidak percaya banyak sekali penemuan-penemuan masa kini yang sudah pernah ada dalam tulisan kuno berumur seribu empat ratus tahun!”[1]

Salah satu sisi “kemukjizatan” Al Qur’an adalah keilmiahannya. Karena saat Al Qur’an diturunkan, ilmu pengetahuan manusia masih sederhana dan belum mencapai penemuan-penemuan tertentu, namun saat itu juga Al Qur’an telah menjelaskannya. Banyak sekali hal-hal ilmiah dalam Al Qur’an yang dapat kita temukan, yang di antaranya adalah seperti:

1. Berpasang-pasangannya tumbuhan: Al Qur’an menyinggung permasalahan ini dalam beberapa ayat sucinya. Dalam Tafisr Nemune, di bawah ayat yang berbunyi: “Dan apakah mereka tidak memperhatikan bumi, berapakah banyaknya Kami tumbuhkan di bumi itu pelbagai macam tumbuh-tumbuhan yang baik?” (QS. Asy-Syu’ara’ [26]:7), disebutkan:

Dalam ayat di atas, perlu kita perhatikan mengapa digunakan kata zauj. Meskipun para ahli tafsir mengartikannya sebagai “jenis” dan azwaj diartikan dengan “jenis-jenis”, apa salahnya jika kita memaknai kata itu dengan makna aslinya sebagaimana saat kata itu terlintas di pikiran kita untuk pertama kalinya? Yakni dengan makna “pasangan” dengan maksud berpasang-pasangannya tumbuhan. Sejak jaman dahulu kala manusia sudah tahu bahwa tumbuhan juga memiliki jenis jantan dan betina, dan mereka terkadang mengawinkan pasangan-pasangan tumbuhan itu. Contoh yang paling jelas adalah pohon kurma. Pada permulaan abat ke-18, untuk pertama kalinya, Profesor Line, seorang ilmuan botani terkenal dari Swedia berhasil menemukan dan membuktikan bahwa permasalahan berpasangannya tumbuhan adalah kaidah umum dan tumbuh-tumbuhan sama seperti binatang yang berreproduksi dengan cara perkawinan, lalu terjadi pembuahan dan akhirnya muncullah buah sebagai hasilnya. Namun Al Qur’an telah menjelaskan masalah ilmiah ini berkali-kali dalam ayat sucinya jauh sebelum penemuan ilmuan Swedia itu (di ayat ke-4 surah Ar Ra’d, ayat ke-10 surah Luqman, ayat ke-7 surah Qaaf, dan ayat ini).[2]

Permasalahan ilmiah ini tidak pernah difahami oleh umat manusia pada seribu empat ratus tahun yang lalu secara jelas. Akhir-akhir ini saja ilmuan menyingkap fenomena alami yang menakjubkan itu. Bahkan selain keberpasangan tumbuhan, Al Qur’an juga menyatakan bahwa segala sesuatu di alam semesta juga berpasang-pasang. Allah swt berfirman: “Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah.” (QS. Adz-Dzaariyaat [51]:49)

Ini juga salah satu mukjizat Al Qur’an. Karena saat ini para ilmuan juga membuktikan bahwa segala sesuatu memiliki unsur negatif atau positif, atau apapun itu.

2. Gravitasi bumi: Salah satu permasalahan ilmiah yang juga dijelaskan Al Qur’an adalah gravitasi bumi. Allah swt berfirman: “Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembang biakkan padanya segala macam jenis binatang.” (QS. Luqman [31]:10)

Para mufasir di bawah ayat itu menjelaskan permasalahan gravitasi bumi. Mereka berkata: Di ayat itu dijelaskan beberapa dari mukjizat-mukjizat Al Qur’an, yakni menjelaskan sesuatu yang mana orang-orang di saat itu sama sekali belum pernah berfikir tentangnya, dan bahkan membayangkannya pun belum pernah. Salah satu permasalahan itu adalah tiang-tiang tak nampak yang berguna untuk menyangga benda-benda langit dalam tata surya kita. Yang maksudnya adalah daya tarik (gravitasi) dan daya tolak yang menjadi rahasia di balik orbit, rotasi dan evolusi tata surya.

Permasalaha yang lain adalah terjaganya bumi dari goncangan berkat gunung-gunung, dan juga masalah keberpasangan tumbuh-tumbuhan.[3] Al Qur’an menyebut gravitasi sebagai tiang; karena daya tarik yang ada antara bumi dan matahari bagaikan rantai, yang mana menurut penjelasan Al Qur’an bagai tiang yang kuat. Daya itulah yang mengatur jarak antara bumi dan matahari serta perputarannya; yang mana peran itu mirip dengan peran yang dimainkan oleh tiang dalam rumah kita. Fenomena yang telah disinggung Al Qur’an ini adalah salah satu contoh bukit kemukjizatannya yang mana umat manusia baru bisa membuktikan kebenaran masalah tersebut saat ini dengan menggunakan perangkat-perangkat ilmiah moderen.[4]

3. Sedikitnya kadar oksigen di ketinggian: Dalam surah Al An’am Allah swt berfirman: “Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.” (QS. Al-An’am [6]:125)

Sebagian ahli tafsir berkata: Makna yang lebih lembut lagi yang dapat dipahami dari ayat itu adalah: Kini telah terbukti bahwa udara yang biasa terjangkau oleh kita di muka bumi memiliki kadar oksigen yang tinggi sehingga kita dapat bernafas dengan lega. Namun semakin kita menaiki tempat yang lebih tinggi, maka semakin tinggi kita naik semakin sedikit pula kadar oksigen yang dapat kita hirup. Misalnya jika kita menaiki gunung yang tingginya berkilo-kilo meter dari permukaan laut, jika kita tidak menggunakan tabung oksigen untuk bernafas, kita akan semakin sulit untuk menghirup udara, sehingga dada kita terasa amat sesak. Atau bahkan kita bisa sampai pingsan karena itu. Di jaman diturunkannya Al Qur’an permasalahan ilmiah ini sama sekali belum pernah terbukti namun kitab suci itu telah menjelaskannya.[5]

Kesimpulan

Dengan apa yang telah dijelaskan di atas, banyak permasalahan ilmiah yang belum pernah difahami umat manusia pada seribu empat ratus tahun yang lalu. Ilmu pengetahuan saat ini baru membuktikan permasalahan-permasalahan itu dan semakin menjadi bukti kebenaran kitab suci kita. Dengan demikian, kita dapat ungkapkan bahwa semakin tinggi ilmu pengetahuan umat manusia, maka semakin kuat pula kecenderungan mereka kepada Al Qur’an karena kebenarannya. Sebagian orang berkata: “Kini agama dan ilmu semakin dekat jaraknya. Kelak agama dan ilmu akan semakin dekat lagi sehingga semua orang akan menyadari bahwa agama adalah hakikat dan hakikat adalah agama itu sendiri.”[6]

Apa yang dijelaskan di atas hanya sekelumit dari penjelasan yang dapat diberikan. Banyak sekali buku-buku yang lebih mengulas permasalahan di atas dengan lebih jelas dan panjang lebar. Masih banyak lagi hal-hal ilmiah yang dapat dibahas, seperti atmosfer yang diibaratkan Al Qur’an sebagai atap, atau masalah rumit tentang janin, atau akar-akar gunung yang disebut sebagai awtad atau paku-paku bumi. Semua itu membuktikan bahwa Al Qur’an mencakup permasalahan-permasalahan ilmiah yang baru ditemukan umat manusia akhir-akhir ini.

Referensi untuk mengkaji lebih jauh:

1. Moris Boka, Moqayese e Miyan e Towrat, Injil, Qor’an va Elm, hal. 215.

2. Sayid Sajjad Alawi dan Ali Syaikh Zade, Mo’jezat e Jadid Ya E’jaz e Elmi e Qor’an e Karim, hal. 30.

Hadits Penutup: Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa menginginkan ilmu orang-orang terdahulu dan yang akan datang, maka hendaknya merenungi Al Qur’an.”[7]


[1] . Moris Boka, Moqayese i Miyan e Towrat, Injil, Qoran, va Elm,  hal. 215, menukil dari: Mu’jizat e Jadid ya E’jaz e Elmi e Qor’an.

[2] . Nashir Makarim Syirazi dan penulis lainnya, Tafsir e Nemune, jil. 15, hal 191.

[3] . Muhsin Qira’ati, Tafsir e Nur, jil. 9, hal. 236.

[4] . Sayid Sajjad Alawi dan Ali Syaikh Zade, Mo’jezat e Jadid ya E’jaz e Elmi e Qor’an, hal. 30.

[5] . Tafsir e Nemune, jil. 5, hal. 436.

[6] . Reza Pak Nejad, Ezdevaj e Maktab e Ensan Sazi, hal. 177.

[7] . Muttaqi Hindi, Kanzul Ummal, 2454.

Selain kedudukan kenabian dan kerasulan yang mereka miliki, ada tiga kedudukan lainnya yang mereka juga miliki berkaitan dengan umatnya. Di pasal ini, kita akan membahas kedudukan-kedudukan itu berdasarkan penjelasan Al-Qur’an:

1. Menjelaskan dan Menafsirkan Wahyu

Tuntutan kenabian dan risalah tidak lebih dari penyampaian wahyu dari Tuhan ke umat manusia. Secara rasional juga terbukti bahwa Tuhan harus mengutus para nabi untuk menerima wahyu-Nya dan menyampaikannya ke umat manusia. Jadi, kenabian dak kerasulan tidak lebih dari menyampaikan wahyu kepada umat manusia. Umat juga berkewajiban untuk menerima pesan-pesan Ilahi itu lalu mengamalkannya. Hakikatnya, mengamalkan perintah-perintah para nabi adalah ketaatan kepada Allah SWT. Intinya, tugas para nabi dan rasul hanya menyampaikan.

Kewajiban Rasul tidak lain hanyalah menyampaikan. (QS. Al-Ma’idah [5] : 99)

Namun selain kedudukan ini, Al-Qur’an juga menjelaskan bahwa mereka pun memiliki kedudukan lainnya, yaitu sebagai penjelas dan penafsir wahyu. Jelas berbeda sekali antara menyampaikan wahyu begitu saja dengan menyampaiakan serta menjelaskannya. Tugas kenabian dan kerasulan hanya sekedar menyampaikan wahyu. Misalnya, Rasulullah SAW. menerima Al-Qur’an melalui wahyu lalu membacakannya kepada para pengikutnya. Sampai di sini, ia telah melakukan tugasnya sebagai penyampai wahyu. Namun, pada kenyataannya, umat butuh lebih dari itu; yakni seringkali wahyu yang sampai ke telinga mereka membutuhkan penjelasan dan penafsiran. Misalnya, dalam Al-Qur’an ada perintah untuk mendirikan shalat: “maka dirikanlah sembahyang.” (QS. Al-Hajj [22] : 78). Kewajiban shalat dapat difahami dengan jelas saat kita membaca ayat tersebut. Namun bagaimanakah kita harus shalat? Di sinilah umat membutuhkan orang yang dapat menjelaskan hukum-hukum Allah SWT. lebih detil lagi.

Oleh karena itu, selain bertugas untuk menyampaikan wahyu, mereka juga bertugas untuk menjelaskan dan menafsirkan wahyu tersebut. Lalu umat pun juga berkewajiban untuk beramal sesuai penafsiran-penafsiran wahyu tersebut. Allah SWT. berfirman:

Dan Kami tidak mengutus seseorang rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. (QS. An-Nisaa’ [4] : 64)

Dengan melihat ayat tersebut, kita dapat fahami bahwa selain kita harus menaati ucapan-ucapan para nabi berkenaan dengan wahyu itu saja, namun penafsiran-penafsiran mereka akan wahyu juga harus diikuti pula. Jadi, setelah mentaati para nabi di saat mereka menyampaikan wahyu, umat harus mentaati mereka juga saat wahyu-wahyu tersebut ditafsirkan.

Kita dengan mudah dapat benar-benar memahami fakta ini, bahwa para nabi pasti memahami maksud Tuhan dalam wahyu yang Ia turunkan kepada mereka. Oleh karena itu, saat menyampaikan wahyu dengan sendirinya mereka menjelaskan maksudnya pula; dan penjelasan mereka pasti sesuai dengan maksud pengirim wahyu. Maka dari itu umat mereka juga harus menerima penjelasan dan penafsiran wahyu sebagaimana mereka juga harus menerima wahyu itu sendiri.

Namun kebutuhan umat tidak terbatas di situ saja; meskipun tingkat kebutuhan itu secara rasional tidak sampai menuntut pemenuhan kebutuhan oleh Tuhan; Ia memenuhi kebutuhan tersebut melalui perantara para nabi hanya sebagai curahan kasih sayang-Nya. Dengan memenuhi kebutuhan ini, para nabi pun mendapatkan kedudukan lain di tengah-tengah umatnya; yaitu kehakiman.

2. Mengadili dan Menghakimi

Terkadang, umat manusia membutuhkan seorang hakim Ilahi yang dapat mempraktekkan hukum-hukum Tuhan dalam menyelesaikan ikhtilaf di antara mereka. Dengan penjelasan lain, pengetahuan akan hukum-hukum syar’i saja tidak cukup bagi umat manusia; mereka membutuhkan seorang hakim di tengah-tengah mereka yang dapat menjalankan hukum-hukum Ilahi dalam penghakimannya. Seorang hakim yang layak adalah seorang yang benar-benar memahami hukum Ilahi dan tahu bagaimana menjalankannya. Lebih dari itu, ia harus ditaati oleh siapa saja, terutama kedua belah pihak orang yang sedang berikhtilaf agar hakim dapat menyelesaikan permasalahan mereka berdua. Pada dasarnya kebutuhan ini selalu ada dalam jiwa umat manusia sampai kapanpun.

Karena kemurahan dan kasih sayang-Nya, Allah SWT. menjadikan para nabi sebagai hakim untuk hamba-hambanya. Tapi apakah semua nabi memiliki kedudukan ini?

Tidak ada ayat Qur’an yang secara pasti menjelaskan bahwa seluruh nabi memiliki kedudukan itu. Namun mungkin saja dari ke-mutlaq-an[1] sebagian ayat-ayat, kita dapat memahami bahwa kedudukan ini bersifat umum, yakni dimiliki oleh setiap nabi. Allah SWT. berfirman:

Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. (QS. An-Nisaa’ [4] : 80)

Selain ke-mutlaq-an ayat di atas, tidak ada dalil lain yang membuktikan bahwa sifat ini dimiliki semua nabi. Ada sebagian ayat yang menjelaskan adanya kedudukan ini pada sebagian nabi, seperti nabi Daud AS. Allah SWT. berfirman:

Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil. (QS. Shaad [38] : 26)

Dari ayat ini dapat difahami bahwa mengadili dan menghakimi bukanlah kelaziman yang pasti dari kenabian; karena nabi Daud AS. mulanya menjadi nabi, lalu setelah itu mendapat perintah dari Allah SWT. untuk menjadi hakim di tengah-tengah umatnya. Jadi, kedudukan sebagai seorang hakim yang adil adalah kedudukan yang terpisah dari kedudukan sebagai seorang nabi; dan tidak diragukan, banyak nabi-nabi yang memang memiliki kedudukan tersebut.

3. Memerintah

Kebutuhan lain umat manusia adalah adanya seorang yang dapat dijadikan rujukan di zamannya serta memegang tali pemerintahan negara. Oleh karenanya Allah SWT. mengangkat sebagian nabi-Nya untuk menjadi pemerintah bagi umatnya sehingga kebutuhan tersebut dapat terpenuhi sekaligus pemerintahan seorang nabi dapat dijadikan tauladan pemerintahan yang adil di muka bumi. Sebenarnya, kedudukan para nabi sebagai hakim sebagaimana yang telah dibahas sebelumnya, adalah salah satu unsur yang terdapat pada pemerintahan; namun bagaimanapun juga, tetap saja keduanya adalah hal yang berbeda dan kita perlu membahasnya secara terpisah seperti ini. Seringkali masalah penghakiman dan pengadilan terkait dengan permasalahan dua atau tiga orang yang sedang berikhtilaf dan datang kepada hakim untuk diselesaikan permasalahannya. Namun, pemerintahan secara utuh berkaitan dengan semua warga negara dan umat Islam yang sekiranya jika seorang pemerintah mengeluarkan suatu hukum semua orang harus tunduk dan mentaatinya. Di sinilah kita dapat menyadari betapa pentingnya perkara pemerintahan.

Sebagai contoh, jika musuh telah melewati perbatasan negara untuk menyerang kita dan sebagaimana yang kita tahu, kita harus bertahan menghadapi mereka; namun masalah ini masih diperdebatkan tentang bagaimana kita harus melakukan pertahanan tersebut, dan bahkan terjadi ikhtilaf tentangnya. Dalam keadaan seperti ini, jika tidak ada keputusan yang tegas dan cepat, maka akan menimbulkan banyak masalah yang merugikan; yakni setiap kelompok berjalan masing-masing menurut pendapatnya, dan akhirnya kita tidak akan menang. Kita berfikiran seperti ini bukan berarti pemerintahan menjadi hal penting hanya pada saat peperangan saja; tapi maksudnya, salah satu kondisi dimana kita dapat merasakan betapa pentingnya pemerintahan adalah di saat-saat seperti itu.

Alhasil, masyarakat pasti membutuhkan pemerintahan yang sehat dan kokoh. Lalu, apakah setiap nabi harus memiliki kedudukan sebagai pemerintah? Sayangnya untuk membuktikan hal ini tidak ada dalil aqli dan dalil naqli yang cukup. Kita hanya dapat mengatakan bahwa di dalam Al-Qur’an disebutkan ada beberapa nabi yang memiliki kedudukan tersebut, tidak semua; sehingga bisa saja dengan yakin kita berkata bahwa ada para nabi yang tidak memiliki kedudukan ini.

Misalnya, dengan menyimak kisah Thalut dalam Al-Qur’an, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa nabi di zaman itu tidak memiliki wewenang memerintah.

Pembesar Bani Israil mendatangi nabi mereka dan mendesaknya agar meminta Allah SWT. supaya memilih seorang hakim dan pemerintah untuk mereka.

Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka-pemuka Bani Israil sesudah Nabi Musa, yaitu ketika mereka berkata kepada seorang Nabi mereka: “Angkatlah untuk kami seorang raja supaya kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah.”… Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu.” (QS. Al-Baqarah [2] : 246-247)

Ayat di atas dengan jelas menggambarkan bahwa nabi di zaman itu tidak memiliki andil pemerintahan; karena kalau tidak ia pasti menjawab: “Bukankah aku ini adalah hakim dan penguasa bagi kalian?” Sang nabi bertanya kepada mereka, “Jika Allah SWT. mengangkat seseorang sebagai pemimpin untuk kalian, apakah kalian akan mentaatinya?” Mereka menjawab “Ya.” Lalu Allah SWT. menjadikan Thalut sebagai raja bagi mereka. Dengan demikian pada waktu itu yang menjadi pemerintah bukanlah nabi, tapi Thalut, orang biasa.

Kesimpulan pembahasan ini adalah, selain para nabi memiliki kedudukan kenabian, mereka juga punya kedudukan-kedudukan lainnya seperti penafsir wahyu, hakim, dan juga pemerintah. Sebagian dari para nabi memiliki semua kedudukan tersebut, namun sebagian yang lain hanya beberapa di antara ketiganya.


[1] Yakni tidak adanya keterangan-keterangan lain yang membatasi maksud ayat-ayat tersebut.

Tanya: Ketika sedang bergerak dari kota Makkah menuju Kufah, apakah Sayyidus Syuhada imam Husain As telah mengerti bahwa ia akan mati terbunuh di karbala? Dengan kata lain, dengan perjalanannya menuju Iraq, apakah imam Husain As memang sengaja ingin menjemput kesyahidan? Ataukah untuk membentuk pemerintaan adil dan Islami?

Jawab: Sayyidus Syuhada imam Husain As—menurut orang-orang Syiah—adalah seorang pemimpin yang wajib ditaati. Ia adalah imam ketiga Syiah Imamiyah dan termasuk dari para wasi nabi yang memiliki hak untuk dipatuhi. Dan ilmu para imam mengenai segala sesuatu dan setiap kejadian, sebagaimana yang telah ditetapkan oleh dalil-dalil Aqliyah atau Naqliyah ada dua macam dan didapatkan melalui dua jalan yang akan dijelaskan di bawah ini.

Imam As dengan izin Tuhan, dalam situasi dan kondisi apapun memiliki pengetahuan yang pasti akan segala kejadian dan peristiwa; baik yang dapat dijangkau dengan panca indra maupun yang tidak, seperti kejadian-kejadian langit dan peristiwa-peristiwa yang telah terjadi atau yang akan terjadi. Dalil pendapat ini adalah hadis dan riwayat-riwayat yang tercantum dalam kitab-kitab hadis Syiah seperti: Al Kafi, Bashair, kitab-kitab Syaikh Shaduq, Biharul Anwar, dan lain sebagainya. Menurut hadis dan riwayat-riwayat ini, para imam As memiliki banyak pengetahuan yang didapat dari pemberian dan ilham Ilahi; bukan dari usaha mereka sendiri dan tidak didapatkan dengan sendirinya. Dan apa saja yang ingin mereka ketahui, dengan izin Tuhan, mereka dapat mengetahuinya dengan jelas dan pasti.

Memang dalam ayat-ayat Al-Qur’an kita sering membaca bahwasannya ilmu ghaib adalah ilmu yang hanya dimiliki oleh Tuhan dan tidak dimiliki oleh selain-Nya. Tapi ada beberapa ayat yang menjelaskan kandungan ayat-ayat lainnya. Seperti ayat yang berbunyi:

“Maha mengetahui akan hal yang ghaib. Dan Ia tidak memberitahukan hal yang ghaib kepada selain-Nya, melainkan kepada orang-orang yang diridhai-Nya dari para rasul…”[1]

Ayat ini menjelasan kepada kita bahwa memang benar hanya Tuhan yang memiliki ilmu ghaib secara mutlak dan selain-Nya tidak memiliki ilmu seperti ini. Tapi mungkin saja para utusan Tuhan dapat memilikinya dengan cara diberitahukan oleh Tuhan. Mungkin saja orang-orang saleh yang lain juga dapat mengetahuinya dengan cara diberitahukan oleh para utusan Tuhan. Sebagaimana yang disebutkan dalam berbagai riwayat bahwa nabi dan begitu pula setiap imam selalu menurunkan ilmu ghaib keimaman-nya kepada orang yang akan menjadi imam setelahnya di saat ajalnya hampir tiba.

Dengan menggunakan akal murni kita dapat menetapkan bahwa para imam suci memiliki kedudukan yang sangat tinggi dan merupakan manusia ter-sempurna di zamannya masing-masing. Mereka adalah manifestasi seluruh asma dan sifat Tuhan yang mampu memahami segala apa yang ada di alam semesta dan meengetahui semua peristiwa yang terjadi. Setiap kali mereka melihat sesuatu, secepat kilat mereka dapat memahami seluruh hakikat dan kenyataannya. (Kami tidak ingin menjelaskan lebih jauh hal ini karena merupakan pembahasan yang sangat susah dan kurang tepat jika diterangkan dalam tulisan ini. Oleh karenanya, biarlah permasalahan ini dibahas di tempatnya yang sesuai).

Yang perlu ditekankan dalam pembahasan ini adalah, ilmu ghaib yang merupakan pemberian Tuhan dan dimiliki oleh sebagian hamba-hamba-Nya, sebagaimana yang telah ditetapkan dengan dalil-dalil Aqli dan Naqli, merupakan ilmu yang tidak mungkin salah dan berlainan dengan kenyataan sebenarnya. Dengan kata lain, ilmu-ilmu seperti ini adalah pengetahuan terhadap hal-hal yang tercatat dalam Lauhul Mahfudz dan yang sudah ditakdirkan oleh Tuhan yang maha kuasa.

Dengan demikian, tidak ada larangan dan perintah bagi hal yang sudah pasti akan terjadi. Begitu juga kehendak manusia, tidak akan berpengaruh baginya. Karena larangan dan perintah hanya berlaku dalam hal-hal yang mungkin terjadi dan ketika dijalankan atau tidaknya perintah dan larangan tersebut bagi pelaku adalah hal yang dapat dipilih salah satunya. Tapi untuk hal-hal yang sudah pasti terjadi dan telah ditakdirkan untuk terjadi, tidak mungkin manusia diperintahkan untuk melakukan sesuatu supaya hal-hal tersebut terjadi. Misalnya, benar jika Tuhan memerintahkan manusia untuk melakukan suatu pekerjaan atau meninggalkannya karena manusia tersebut dapat melakukannya dan juga dapat meninggalkannya. Dan sebaliknya, tidak mungkin Tuhan memerintahkan manusia untuk melakukan suatu perbuatan atau meninggalkannya yang mana perbuatan tersebut telah ditakdirkan oleh Tuhan sendiri untuk terjadi serta tidak mungkin untuk tak terjadi. Perintah dan larangan seperti ini tidak benar karena tidak ada gunanya dan sia-sia.

Begitu pula seorang manusia yang memiliki niat untuk melakukan suatu pekerjaan. Ia dapat memiliki niat untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang baginya mungkin bisa dilakukan atau tidak dilakukan dan menjadikan dilakukan-nya pekerjaan tersebut sebagai tujuan di balik segala daya dan upayanya. Tetapi hal-hal yang sudah pasti akan terjadi dan tidak mungkin untuk tak terjadi, ia tidak mungkin memiliki niat untuk mewujudkan hal-hal yang sudah pasti akan terwujud tersebut. Ia tidak mungkin bersusah payah untuk mewujudkan hal-hal tersebut. Karena berniat atau tidak berniat, berupaya atau tidak berupaya, hal tersebut pasti akan terjadi.

Dengan keterangan ini dapat menjadi jelas bahwa:

Pertama, ilmu yang telah diberikan kepada imam As ini tidak memiliki pengaruh terhadap amal dan usahanya serta tidak berkaitan dengan taklif dan tugas-tugasnya. Pada dasarnya setiap hal yang jika sudah merupakan hal yang pasti, maka tidak berkaitan lagi dengan perintah dan larangan serta kehendak manusia.

Ya, setiap hal yang sudah ditakdirkan harus direlakan. Sebagaimana imam Husain As di akhir-akhir helaan nafasnya saat terjatuh di tanah yang bercampur darah berkata: “Aku rela dengan takdir-Mu. Tak ada yang layak disembah selain-Mu.”[2]

Kedua, pasti-nya perbuatan manusia dari segi keterkaitannya dengan Qadha Ilahi tidak bertentangan dengan ikhtiariyah[3] manusia dalam melakukannya. Karena Qadha Ilahi berkaitan dengan segala perbuatan dengan segala macam bentuknya; tidak dengan perbuatan itu sendiri secara mutlak. Contohnya, anggap saja Tuhan ingin memerintahkan seorang manusia untuk melakukan suatu perbuatan yang baginya dapat dilakukan dan tidak dilakukan; karena semua hal berada di kekuasaan Tuhan, maka dilakukan atau tidak dilakukannya perintah tersebut telah diketahui-Nya. Ia telah mengetahui apa yang akan terjadi kelak dan pengetahuannya tak mungkin salah. Meskipun demikian, bagi manusia yang melakukan suatu perbuatan—yang telah diketahui oleh Tuhan tentang apa yang akan terjadi kelak—semuanya berjalan biasa-biasa saja dan ia melakukannya dengan penuh kehendak sendiri tanpa adanya rasa terpaksa.

Ketiga, kita tidak boleh melihat gerak-gerik imam Husain As secara dhahir saja dan kita tidak boleh menjadikannya sebagai alasan bahwa beliau tidak memiliki ilmu ghaib alias bodoh akan kejadian yang akan menimpa dirinya yang mana akan menimbulka berbagai pertanyaan seperti: “jika imam Husain As memiliki ilmu ghaib, lalu mengapa ia mengirim Muslim sebagai wakilnya ke Kufah? Mengapa ia menulis surat kepada penduduk Kufah melalui Shaidawi? Mengapa ia sendiri pergi dari Makkah menuju Kufah? Mengapa ia melemparkan dirinya sendiri kedalam kebinasaan padahal Allah Swt telah berfirman: “…dan janganlah kalian lempar diri kalian kedalam kebinAsaan…”? Mengapa? Mengapa?”

Jawaban semua pertanyaan ini akan menjadi jelas dengan sedikit keterangan yang telah saya berikan dan saya tidak perlu mengulanginya lagi.

Rasulullah Saw dan begitu juga imam As adalah manusia sebagaimana manusia biasa yang lain. Segala perbuatan yang mereka lakukan telah mereka lakukan atas dasar kehendak dan pengetahuan biasa sebagaimana orang-orang lain melakukan pekerjaan mereka. Imam As juga seperti orang lain; ia menentukan bahaya dan keuntungan dengan tolak ukut pengetahuan biasa dan setiap perbuatan yang menurutnya layak untuk dilakukan, ia pun melakukannya dan dengan segala upaya dan usaha ia menjalankan tugasnya. Jika situasi dan kondisi memang mengizinkan, ia dapat mencapai tujuanya; dan jika tidak, ia tidak akan berhasil menggapai apa yang diinginkannya. (Adapun Tuhan terkadang mengilhamkan berbagai ilmu ghaib kepadanya, sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, ilmu dan pengetahuan tersebut tidak berpengaruh dengan amal perbuatan Ikhtiari[4] yang ia lakukan).

Imam As juga seperti orang-orang yang lain; ia adalah hamba Tuhan dan memiliki tugas serta kewajiban tertentu yang harus dijalankan. Dalam kedudukannya sebagai seorang imam dan pemimpin umat, ia berkewajiban untuk menghakimi dan menghukumi segalanya dengan tolak ukur yang dapat dipahami oleh masyarakat awam dan sampai kapan pun ia ditugaskan untuk meghidupkan kebenaran dan ajaran-ajaran Tuhan serta menjaganya.

Dengan memperhatikan kondisi di waktu itu, kita dapat sedikit memahami mengapa imam As harus pergi ke sana.

Garis perjalanan sejarah tergelap dan tersuram yang dilewati oleh keluarga suci kenabian adalah masa dua puluh tahun pemerintahan Mu’awiyah.

Setelah bersusah-payah Mu’awiyah merebut kekhilafahan dengan segala macam tipu muslihatnya, akhirnya ia berhasil meduduki kursi kekhilafahan. Dalam kepemimpinannya, ia selalu berusaha untuk memperkuat kekuasaannya dan menindas keturunan Rasulullah Saw. Tak hanya ia ingin menindas keturunan Rasulullah Saw saja; ia juga berusaha untuk menghapus nama mereka dari lidah-lidah masyarakat. Ia berusaha sekuat tenaga untuk membuat masyarakat lupa akan mereka.

Ia memanfaatkan beberapa sahabat yang dipercaya masyarakat untuk membuat hadis-hadis palsu yang sekiranya akan menguntungkannya dan bahkan merugikan Ahlul Bait As. Dan bagaikan sebuah sunah agama, ia mewajibkan setiap orang yang berpidato di atas mimbar-mimbar tanah Islam untuk selalu mencela dan melaknat imam Ali As.

Ia selalu memerintahkan semua anak buah dan kaki tangannya seperti: Ziyad bin Abih, Samrah bin Jundab, Busr bin Urtah, dan orang-orang yang lain untuk menghabisi siapapun yang memiliki hubungan kekerabatan dengan Ahlul Bait As. Ia melakukan segala kekejiannya dengan segala macam cara mulai dari ancaman, siksaan sampai pembunuhan.

Dalam situasi seperti ini, wajar jika masyarakat enggan untuk menyebut nama imam Ali As dan keluarganya. Dan dengan demikian, siapapun yang memiliki hubungan dengan Ahlul Bait As, secara tiba-tiba memotong hubungannya karena takut nyawanya terancam atau harta bendanya dirampas.

Sejarah telah mencatat bahwa masa kepemimpinan imam Husain As sebagai seorang imam adalah sepuluh tahun. Dan selama ia menjadi seorang imam, kecuali beberapa tahun sebelum ajalnya tiba, ia hidup sezaman dengan Mu’awiyah. Selama masa kepemimpinannya sebagai seorang imam yang bertugas untuk menjelaskan hukum dan ajaran-ajaran Islam, tak satupun hadis yang telah diriwayatkan darinya (maksudnya hadis-hadis yang secara langsung didengar oleh masyarakat darinya yang dapat menunjukkan bahwa masyarakat pernah berlalu lalang ke rumahnya untuk menanyakan hukum-hukum Islam. Karena beberapa hadis yang telah diriwayatkan dari beliau adalah hadis yang ditukil oleh imam-imam lain setelahnya; bukan hadis yang diriwayatkan oleh masyarakat biasa secara langsung dari imam Husain As sendiri). Dengan demikian kita dapat memahami bahwa pada waktu itu pintu rumah Ahlul Bait telah tertutup dan tidak ada lalu lalang orang yang mendatangi rumah mereka.

Tekanan dan kondisi kurang mendukung yang telah menyelimuti lingkungan Islam di masa pemerintahan imam Hasan As sebagai imam tidak mengizinkan beliau untuk melanjutkan peperangan melawan Muawiyah. Karena:

Pertama, Muawiyah telah meminta baiat darinya dan dengan adanya baiat, tak seorangpun yang menyertainya.

Kedua, Muawiyah telah menyebut-nyebut dirinya sebagai seorang sahabat terdekat Nabi Muhammad Saw dan salah satu penulis wahyu serta orang yang dipercaya oleh tiga khulafau Arrasyidin semasa mereka hidup. Ia menjadikan sebutan Khal Al-Mukminin sebagai lakab suci bagi dirinya.

Ketiga, dengan tipu dayanya, ia mampu memerintahkan kaki tangannya untuk membunuh imam Hasan As kemudian ia pura-pura bangkit mencari pembunuh dan berlaga seperti orang yang ingin membalas dendam atas terbunuhnya imam Hasan As lalu berpura-pura mengucapkan rasa bela sungkawa kepada keluarganya!

Muawiyah telah berbuat sesuatu yang oleh karenanya imam Hasan sampai-sampai tidak dapat merasakan ketenangan sedikitpun meski di dalam rumah sendiri. Dan ketika ia ingin meminta baiat dari masyarakat untuk anaknya, Yazid, ia membunuh imam Hasan As melalui racun yang diberikan oleh istri imam Hasan As sendiri kepadanya.

Hanya imam Husain As-lah yang setelah kematian Muawiyah bangkit untuk menentang Yazid. Ia mengorbankan diri sendiri, para sahabat, dan keluarga sampai anak-anaknya di jalan ini. Ia sendiri juga tidak mampu melakukan hal ini di masa kehidupan Muawiyah karena akibat tipu daya yang dilakukan Muawiyah, memang pada waktu itu sepertinya kebenaran berada di pihak Muawiyah dan sekutunya.

Inilah penjelasan secara singkat mengenai situasi dan kondisi dunia Islam yang telah diwujudkan oleh Muawiyah. Ia telah menutup rapat pintu rumah Nabi Muhammad Saw. Dan ia juga telah melumpuhkan Ahlul Bait Nabi As sehingga mereka tak kuasa untuk berbuat apa-apa.

Aksi terburuk yang telah ia lakukan terhadap Islam dan kaum Muslimin adalah merubah kekhilafahan Islami menjadi sebuah sistim pemerintahan zalim yang dapat diwariskan kepada setiap orang yang ia kehendaki. Ia telah mendudukkan anaknya, Yazid di kursi pemerintahannya. Padahal Yazid bukanlah seorang manusia yang beragama dan bahkan berpura-pura beragama saja ia tidak pernah. Yazid menghabiskan waktunya untuk berbuat zalim, bermaksiat, menari-nari, dan bermain dengan kera. Ia sama sekali tidak pernah menghormati hukum dan ajaran-ajaran agama. Dan lebih parah dari ini semua, ia sama sekali tidak memiliki keyakinan dan iman kepada agama dan ajaran suci Islam. Salah satu contohnya, ketika para tawanan dari Karbala yang berupa para keluarga Ahlul Bait As beserta kepala-kepala suci yang telah terpisah dari jasad memasuki kota Damaskus, ia bangkit dan pergi menonton mereka dengan penuh kesombongan. Waktu itu, ia mendengar suara burung gagak (yang biasanya adalah pertanda kejadian yang buruk-pent.), ia malah berteriak: “Burung gagak bersuara. Bersuaralah atau jangan bersuara (terserah)! Karena aku telah menagih hutang-hutangku dari rasul.[5]

Begitu juga ketika para tawanan Ahlul Bait dan kepala suci imam Husain As dihadirkan kehadapannya, ia sangat bergembira dan mengucapkan beberapa bait puisi yang salah satu baitnya seperti ini:

Bani Hasyim telah bermain-main dengan kekuasaan

Sungguh tidak ada risalah yang diturunkan dan tak ada juga wahyu.

Pemerintahan Yazid yang bertujuan untuk meneruskan misi politik ayahnya, Muawiyah, telah menjelaskan apa tugas Islam dan kaum Muslimin. Dengan demikian kondisi Ahlul Bait As—padahal hampir saja mereka terlupakan—yang sebenarnya telah terungkap dan semua Muslimin menyadarinya.

Dalam kondisi seperti ini, suatu sikap yang sangat membahayakan keberadaan Islam dan Muslimin adalah membai’at Yazid dan menganggapnya sebagai soerang khalifah yang diridhai nabi dan harus ditaati.

Waktu itu satu-satunya sikap yang harus ditunjukkan oleh imam Husain As adalah menolak untuk membaiat Yazid. Karena jika beliau bersedia membaiatnya, sudah barang tentu bahwa masa depan agama Islam akan hancur. Dengan demikian, tugas imam Husain As adalah melawan Yazid dan Tuhan pun menuntut dilakukannya hal ini oleh imam Husain As.

Dari sisi yang lain, ia mengetahui bahwa jika ia tidak membaiat Yazid, maka ia harus terbunuh. Dengan demikian, hanya ada dua pilihan baginya; membaiat Yazid atau menyerahkan kepalanya. Ia tidak mungkin membaiat Yazid; dengan demikian kesyahidan imam Husain As tidak dapat dihindari lagi.

Demi kebaikan agama dan kaum Muslimin, imam Husain As rela tidak membai’at Yazid meski harus kehilangan nyawanya. Dengan besar hati ia lebih mendahulukan kematian daripada kehidupannya. Dan inilah makna riwayat-riwayat yang mana disebutkan di dalamnya bahwa ketika beliau bermimpi melihat Rasulullah Saw, Rasulullah Saw berkata kepadanya: “Tuhan ingin melihatmu terbunuh.” Beliau sendiri juga sering berkata kepada orang-orang yang berusaha mencegahnya untuk pergi ke Kufah: “Tuhan ingin melihatku terbunuh.” Yang jelas, kehendak Tuhan ini adalah kehendak Tasyri’i[6], bukan Takwini[7]; karena sebagaimana yang telah kami jelaskan sebelumnya bahwa kehendak Takwini Tuhan tidak memiliki dampak dan pengaruh terhadap kehendak makhluk dan perbuatannya.

Ya Sayidus Syuhada As memang lebih memilih untuk tidak membaiat Yazid meski ia harus terbunuh. Ia lebih memilih kematian daripada membaiat Yazid. Tragedi terbunuhnya imam Husain As telah tercatat dalam kitab-kitab sejarah dengan jelas. Syahadah imam Husain As yang sangat menyedihkan dan meluluhkan hati tersebut telah menyingkap betapa terzaliminya mereka. Kejadian di Karbala telah menjelaskan kepada kita siapa yang benar dan siapa yang salah. Setelah kejadian ini pun, sampai dua belas tahun berikutnya, peperangan dan pertumpahan darah terus berlanjut. Dan pintu rumah imam Husain As yang semasa ia hidup selalu tertutup dan tak satupun orang berani mengetuk pintu rumahnya, setelah beberapa tahun, yakni di zaman imam kelima yang mana waktu itu Ahlul Bait As sempat merasakan sedikit ketenangan, mulai terbuka dan masyarakat berbondong-bondong berani mendatanginya. Sejak waktu itulah kediaman kebenaran bersinar dan mulai dikunjungi setiap orang dari pelosok negri yang jauh sekali pun. Sejak waktu itu kemalangan Ahlul Bait As dapat diketahui banyak orang. Dengan demikian jelas sekali perbedaan kondisi Islam ketika imam Husain As masih hidup dengan beberapa tahun setelah ia terbunuh, yakni empat belas abad yang lalu. Hari demi hari kebenaran yang sesungguhnya tersingkap dan keburukan yang tertutupi mulai terbongkar. Sosok imam Husain As semakin dikenal dan bercahaya terang bagi semua orang.

Muawiyah benar-benar menyadari bahwa jika seandainya imam Husain As terbunuh, maka inilah yang akan terjadi. Dengan demikian ia pernah berwasiat kepada anaknya, Yazid, bahwa jika imam Husain As tidak mau membaiatnya, biarlah ia hidup dan jangan sampai ia terbunuh. Muawiyah berwasiat seperti ini bukannya karena merasa kasihan dengan Ahlul Bait As, bahkan karena dia takut jika imam Husain As terbunuh di tangan Yazid, kelak para pengikut dan keturunannya akan marah, memberontak, dan menuntut darahnya. Muawiyah mengerti benar bahwa hal ini akan membahayakan kekuasaan Bani Umayah dan menguntungkan Ahlul Bait As lalu menjadikannya sebagai sarana terbaik untuk berdakwah dan menyebarkan ajaran yang benar.

Sayyidus Syuhada As benar-benar memahami tugas yang diberikan oleh Tuhan kepadanya. Tugas tersebut adalah “tidak membaiat Yazid”. Ia lebih mengerti dari pada yang lain mengenai kekuatan Bani Umayah yang tak tertandingi. Ia juga lebih memahami siapa Yazid sebenarnya. Ia tahu betul bahwa jika ia tidak mau membaiat Yazid, ia pasti akan membunuhnya. Dengan demikian, tugas yang diberikan Tuhan ini adalah sebuah tugas yang berat; taruhannya adalah nyawa dan beliau sendiri sering menyinggung hal ini dalam beberapa kesempatan.

Ketika beliau berada di Madinah, ia pernah berkata: “Orang sepertiku tidak akan membaiat orang seperti Yazid.”

Setelah keluar meninggalkan kota Madinah di malam hari, ia menceritakan bahwa ia pernah bermimpi melihat Rasulullah Saw berkata kepadanya: “Tuhan ingin melihatmu (sebagai sebuah tugas) mati terbunuh.”

Dalam pidato yang ia bacakan ketika ia bergerak dari kota Makkah, untuk menolak ucapan orang-orang yang berusaha mencegahnya untuk pergi ke Kufah, ia juga membicarakan hal tersebut.

Suatu saat seorang Arab terkenal dan ternama berusaha untuk mencegah imam Husain As supaya tidak pergi menuju Kufah; karena tahu bahwa jika imam pergi, ia pasti akan terbunuh. Imam berkata kepadanya: “Saya mengetahui jelas hal ini. Tapi mereka tidak akan pernah melepaskanku; di manapun aku berada, mereka akan memburuku dan membunuhku.” (Sebagian riwayat sedikit memiliki perbedaan dengan riwayat ini. Hal itu mungkin disebabkan perbedaan sanad. Meski demikian, terbukti bahwa kondisi waktu itu memang benar-benar buruk bagi imam Husain As dan keluarganya.)

Sebenarnya maksud kami mengatakan bahwa tujuan imam Husain As adalah menjemput kesyahidan dan Tuhan ingin melihatnya mati syahid, bukan berarti Tuhan memerintahkan imam Husain As untuk tidak membaiat Yazid lalu berteriak kepada anak buahnya “wahai anak buah Yazid! Bunuhlah aku…!”. Jika Tuhan menginginkan hal ini dari imam Husain As, maka betapa menggelikannya tugas ini yang kemudian imam Husain As dengan besar hati mau menjalankannya dan menyebutnya sebagai perjuangan. Sesungguhnya imam Husain As ditugaskan untuk menentang pemerintahan Yazid, tidak membaiatnya dan tidak menuruti kemauannya meski ia harus mati terbunuh.

Dari sinilah kita dapat melihat bahwa setiap sikap dan keputusan imam Husain As dalam suatu masa-masa tertentu berbeda dengan sikap dan keputusannya di saat-saat yang lain dan bergantung dengan situasi dan kondisi yang sedang ia hadapi. Mulanya ia ditekan oleh seorang gubernur di Madinah dan kemudian ia pergi meninggalkan kota Madinah di malam hari lalu ia berlindung beberapa bulan di Makkah yang merupakan kota suci dan Haramullah. Tak lama kemudian keberadaannya di Makkah diketahui oleh kaki tangan Yazid dan mereka berniat untuk membunuhnya di musim Haji atau menangkap dan membawanya ke Syam. Dan di sisi yang lain, imam Husain As kedatangan ribuan surat yang dikirim dari Iraq. Dalam ribuan surat tersebut, penduduk Iraq berjanji untuk memberikan pertolongan dan menyatakan bahwa mereka siap untuk membantu. Mereka mengundang imam Husain As untuk datang ke sana. Dan setelah sampainya sebuah surat terakhir dari penduduk Kufah, sebagai Itmamul Hujjah, (sebagaimana yang diriwayatkan oleh beberapa rawi) ia bergegas untuk berangkat menuju kota tersebut. Mulanya sebagai Itmamul Hujjah ia mengirim seorang wakil bernama Muslim bin Aqil dan beberapa saat kemudian datang surat dari Muslim bin Aqil yang menjelaskan bahwa kondisi memang benar-benar dapat membantu imam Husain As.

Imam berangkat menuju Kufah karena beberapa alasan yang telah disebutkan di atas; yang pertama karena kedatangan beberapa utusan rahasia dari Syam yang berencana untuk membunuh atau menangkap beliau, dan yang kedua demi menjaga kesucian dan keamanan kota Makkah; kemudian karena ia memandang bahwa kota Kufah telah siap untuk ia datangi. Ketika imam Husain As mendengar bahwa Muslim bin Aqil dan Hani telah terbunuh secara mengerikan, rencana beliau untuk bangkit melawan kekuatan Yazid berubah menjadi pertahanan yang sederhana di hadapan kekuatan tak terhingga. Ia menguji para sahabatnya dan menyarankan kepada mereka untuk meninggalkannya lalu hanya tersisia beberapa sahabat berhati mulia saja yang bersama dengan beliau. Hanya beberapa orang saja yang berusaha untuk menemani imam Husain As sampai tetesan darah terakhir beliau.[8]


[1] QS. Al-Jinn: 26 – 27.

[2] Ma’ali As-Sibthain: jil. 2 ; hal.  21 (dengan sedikit perbedaan redaksi).

[3] Keberadaan manusia sebagai pelaku yang memiliki ikhtiar; yakni memiliki kekuasaan untuk melakukan atau tidak melakukan.

[4] Dapat dilakukan dan juga dapat ditinggalkan.

[5] Ditukil oleh Alusi dalam Tafsir Ruh Al-Ma’ani: jil. 26; hal 66, dari kitab sejarah Ibn Al-Wardi dan kitab Wafi Al-Wafiyat.

[6] Yakni kehendak Tuhan yang hanya dapat terwujud dengan dikerjakannya sesuatu yang dikehendaki tersebut oleh makhluk-Nya.

[7] Kehendak yang akan terjadi hanya dengan dikerjakannya sesuatu yang dikehendaki tersebut oleh Dia sendiri.

[8] Tulisan yang telah anda baca tadi telah ditulis oleh Allamah Thabathabai sendiri beberapa tahun yang lalu. Beberapa pembahAsan ini beliau tulis untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh beberapa kelompok peminatnya. Sebagaimana yang Anda ketahui, beliau menjelaskan permasalahan ini dengan sangat sederhana dan ringkas. Sebenarnya, untuk diselesaikannya permasalahan ini, mungkin dibutuhkan beberapa pembahAsan falsafi dan aqli yang cukup susah dan memaksa beliau untuk menulis sebuah buku tersendiri.

Tulisan ini untuk pertama kalinya pada bulan Rabiut Tsani 1391 H dicetak berupa buku kecil yang tebalnya sekitar 32 halaman dan dibagikan secara cuma-cuma kepada setiap orang. Kini agar anda juga dapat membacanya, tulisan ini kami cantumkan di buku ini. (Khosro Shahi).

 

Abu Thalib dikafir musyrikkan oleh Mazhab sunni demi memojokkan Ali AS

Iman Abu Thalib

Ada diskusi menarik antara orang Syiah dan Suni tentang iman Abu Thalib, ayah Ali as.

Orang Suni: “Dalam kitab-kitab kami banyak sekali riwayat tentang Abu Thalib yang bertentangan, sebagian riwayat memuji dan sebagian lagi mencelanya.”

Orang Syiah: “Menurut ulama Syiah, Abu Thalib adalah orang beriman yang berjasa besar untuk Islam.”

Orang Suni: “Kalo begitu, mengapa banyak sekali riwayat yang menjelekkannya?”

Orang Syiah: “Menurutku dosa Abu Thalib satu-satunya adalah karena ia ayah Ali bin Abi Thalib, seorang sahabat yag memiliki banyak musuh. Semua musuhnya menyimpan iri dan dengki di hati. Salah satunya adalah Muawiyah yang membayar siapapun yang mau menciptakan hadits-hadits palsu. Yang mengherankan, begitu parahnya sampai-sampai ada riwayat yang ditukil dari Abu Hurairah bahwa saat nabi menjelang wafat beliau berwasiat agar tangan Ali bin Abi Thalib dipotong.[1]

Oleh karena itu, tuduhan bahwa Abu Thalib adalah musyrik pasti tak jauh dari unsur politik.”

Orang Suni: “Dalam Al Qur’an, ayat 26 surah Al An’am disebutkan: “Dan mereka melarang (orang lain) mendengarkan Al-Quran dan mereka sendiri menjauhkan diri daripadanya…” Yang mana dalam kitab-kitab tafsir kami dijelaskan tentangnya bahwa sebagian orang ada yang berlaga membela nabi padahal dari segi iman justru menjauh dari beliau.”

Orang Syiah: “Bukan seperti itu penjelasan ayat tersebut. Kalaupun memang dapat dimengerti sedemikian rupa, hal apa dari ayat itu yang menjadi alasan kalian mengkafirkan Abu Thalib? Apa bukti maksud ayat tersebut mencakup Abu Thalib juga?”

Orang Suni: “Sufyan Tsauri meriwayatkan dari Habib bin Abi Tsabit bahwa Ibnu Abbas berkata, “Ayat tersebut diturunkan karena Abu Thalib. Karena ia membela nabi namun ia sendiri menjauhinya (dan tidak mengimaninya).”[2]

Orang Syiah: “Aku perlu menjelaskan beberapa hal:

Dengan memperhatikan ayat sebelum dan sesudah ayat tersebut, yang mana berkaitan dengan orang-orang kafir, maknya ayat yang dapat dipahami adalah: “Mereka, orang-orang kafir, mencegah orang-orang untuk mengimani nabi, dan mereka sendiri pun juga tidak mau beriman.”[3]

Di ayat itu disebutkan kata “menjauhkan diri daripadanya…”, padahal Abu Thalib tidak pernah menjauhkan diri dari nabi, justru selalu dekat dengan beliau.

Mengenai riwayat Sufyan Tsauri, yang mana dinisbatkan kepada Ibnu Abbas dan ia berkata bahwa ayat itu diturunkan berkenaan dengan Abu Thalib, riwayat ini perlu dipertanyakan dari berbagai sisi:

Pertama, Sufyan Tsauri adalah orang yang tidak dapat dipercaya dan dikenal oleh para ahli hadits Suni sebagai pembohong.[4] Dan telah ditukil dari Ibnu Mubarak bahwa Sufyan dikenal suka mencapur adukkan yang benar dan yang batil.[5]

Adapun perawi lain yang meriwayatkan riwayat di atas, yakni Habib bin Abi Tsabit, ia pun juga sama seperti yang tadi, begitulah menurut pengakuan Abu Hayyan.[6] Lagi pula riwayat yang ini adalah mursal, yakni tidak jelas siapa perawi-perawi yang menjadi perantara antara Habib hingga Ibnu Abbas.

Ibnu Abbas adalah orang yang dikenal suka mengagungkan Abu Thalib dan menekankan keimanannya. Mana mungkin ia meriwayatkan sebuah riwayat seperti ini?

Di riwayat lainnya, justru ada riwayat dari Ibnu Abbas bahwa orang-orang kafir mencegah semua orang untuk mengikuti Muhammad dan diri merekapun menjauhinya.

Sangkalan lainnya, jika ayat tersebut diturunkan berkenaan dengan Abu Thalib, lalu mengapa ayat itu menggunakan kata “mereka”?

Yang masuk akal adalah maksud ayat itu mencakup paman-paman nabi, yang mana paman nabi ada banyak, namun tiga orang di antara mereka adalah orang baik, seperti Hamzah, Abbas, dan Abu Thalib, yang tidak dimaksud oleh ayat tersebut.

Lagi pula, bukannya kita tahu bahwa nabi selalu menjauhi orang-orang musyrik? Misalnya beliau menjauh dari Abu Lahab. Adapun dengan Abu Thalib, nabi sampai akhir hayat selalu dekat dengannya. Lihatlah tahun di mana Abu Thalib wafat di dalamnya, tahun tersebut dikenal dengan tahun kesedihan.[7]

Apa benar jika kita katakan bahwa nabi sangat mencintai orang musyrik dan saat orang musyrik itu mati beliau sangat bersedih karena kehilangannya? Justru aneh sekali jika demikian. Padahal banyak sekali ayat-ayat Al Qur’an yang memerintahkan beliau untuk menjauhi orang-orang Musyrik.[8]


[1] Syarah Nahjul Balaghah, Ibnu Abil Hadid, jilid 1, halaman 358.

[2] Tafsir Ibnu Katsir, jilid 2, halaman 128.

[3] Al Ghadir, jilid 8, halaman 115.

[4] Mizanul I’tidal, halaman 398.

[5] Tahdzibut Tahdzib, jilid 4, halaman 115.

[6] Ibid, jilid 3, halaman 179.

[7] Tarikh Thabari, sebagaimana yang ditukil oleh kitab Abu Thalib, Mu’minu Quraisy.

[8] Seratus Satu Perdebatan, Muhammad Muhammadi Isytihardi, halaman 337.

Ziarah Abdul Muthalib, Abu Thalib dan iman mereka

Abdul Muthalib kakek nabi, dan Abu Thalib ayah Imam Ali as, dimakamkan di pemakaman Al Hajun, Makkah. Para jamaah Haji Syiah saat melewati pemakaman itu kebanyakan berhenti dan menyempatkan diri menziarahi mereka. Namun selain mereka tidak terlalu mementingkan ziarah itu, dan orang-orang Wahabi bahkan melarangnya.

Pada suatu hari terjadi dialog antara seorang alim dengan Wahabi, petugas Amar Makruf Makkah.

Wahabi: “Mengapa kalian, orang-orang Syiah, suka menziarahi Abdul Muthalib dan Abu Thalib?”

Alim: “Memang apa masalahnya?”

Wahabi: “Abdul Muthalib hidup di zaman fatrah (zaman tanpa nabi). Karena ia meninggal saat Rasulullah saw masih berusia 8 tahun dan belum menjadi nabi. Yakni ia tidak beragama Islam. Lalu untuk apa harus diziarahi? Sedangkan Abu Thalib, ia adalah orang yang mati dalam keadaan musrik!”

Alim: “Tentang Abdul Muthalib, siapa yang berani menyebutnya musyrik? Ia adalah orang yang bertauhid, menyembah Tuhan dan menganut ajaran nabi Ibrahim as.

Dalam kisah penyerangan Ka’bah oleh raja Abrahah diriwayatkan secara jelas perannya. Saat ia mengambil onta-onta yang dirampas oleh tentara Abrahah, raja berkata kepadanya, “Bagiku engkau sangat kecil sekali martabatnya. Engkau datang hanya untuk mengambil onta-ontamu, tidak untuk mencegahku menghancurkan Ka’bah, tempat peribadahanmu.” Abdul Muthalib berkata, “Aku adalah pemilik onta-onta ini. Sedangkan Ka’bah, pemiliknya sendiri yang akan mencegahmu.”

Setelah itu Abdul Muthalib pergi bersimpuh di kaki Ka’bah dan berdoa, “Ya Tuhan, semua orang membela anggota keluarganya. Engkau pun belalah para hamba yang bersimpuh di rumah-Mu.”[1]

Akhirnya doanya pun dikabulkan Tuhan. Burung-burung Ababil berterbangan dan melempari tentara Abrahah dengan batu-batuan dari neraka hingga mereka semua hancur. Kisah inilah yang disebutkan surah Al Fil.

Dalam riwayat-riwayat Syiah disebutkan bahwa Imam Ali as berkata, “Aku bersumpah, bahwa ayahku Abu Thalib, kakekku Abdul Muthalib, sama sekali tidak pernah menyembah berhala. Mereka beribadah menghadap Ka’bah dan memeluk agama Ibrahim as serta berperilaku susai ajarannya.”[2]

Adapun tentang iman Abu Thalib,

Pertama, menurut para ulama Syiah, dan juga para Imam maksum, Abu Thalib meninggal dunia dalam keadaan beriman.

Ibnu Abil Hadid, salah seorang dari ulama Syiah yang sangat terkenal menukil bahwa seseorang bertanya kepada Imam Sajjad as tentang apakah Abu Thalib beriman? Imam menjawab, “Ya.”

Lalu orang lain ikut berbicara, “Di antara kami ada yang mengatakan bahwa Abu Thalib kafir.”

Imam menanggapinya dengan berkata, “Astaga, apakah ia menuduh Rasulullah saw dan Abu Thalib dengan tuduhan yang tidak benar? Rasulullah mencegah pernikahan antara seorang perempuan beriman dengan lelaki kafir. Tak ada yang meragukan Fathimah binti Asad, yang termasuk wanita pertama memeluk Islam. Ia sampai akhir hayatnya tetap menjadi istri Abu Thalib.”[3]

Kedua, banyak riwayat baik dari kalangan Ahlu Sunah pun, bahwa Rasulullah saw pernah berkata kepada ‘Aqil bin Abi Thalib: “Aku mencintaimu karena dua hal: pertma karena engkau termasuk keluargaku, kedua karena aku tahu pamanku Abu Thalib mencintaimu.”[4]

Kecintaan itu membuktikan keimanan Abu Thalib. Karena jika Abu Thalib kafir, maka apa arti kecintaan tersebut bagi seorang nabi?[5]

Jadi keimanan Abu Thalib adalah hal yang jelas jika kita mau merujuk dan membaca. Sayang sekali turun temurun kebanyakan Muslimin menyatakan Abu Thalib adalah orang kafir.

Jelas ada campur tangan politik mengapa Abu Thalib digambarkan sebagai seorang kafir. Tujuannya agar Ali sebagai anaknya terhina dan dianggap sebagai anak seorang lelaki kafir.

Padahal jika kita mau merujuk kepada riwayat-riwayat, Abu Thalib bagaikan “seorang mukmin keluarga Fir’aun” atau “Ashabul Kahfi.”

Diriwayatkan dari Imam Hasan Askari as bahwa Rasulullah ditolong Tuhannya dengan dua kelompok: Kelompok yang menolong secara diam-diam, yang dipimpin oleh Abu Thalib, dan kelompok yang menolong secara terang-terangan, yang dipimpin oleh anaknya, Ali bin Abi Thalib.[6]


[1] Syarah Sirah Ibnu Hisyam, jilid 1, halaman 38; Bulugh Al Arab Al Alusi, jilid 1, halaman 250.

[2] Kamaluddin, halaman 104; Tafsir Al Burhan, jilid 3, halaman 795.

[3] Syarah Nahjul Balaghah, Ibnu Abil Hadid, jilid 3, halaman 312.

[4] Istiy’ab, jilid 2, halaman 509; Dzakhairul Uqba, halaman 222.

[5] Silahkan merujuk Al Ghadir, jilid 7, halaman 330.

[6] Al Hujjah Alal Dzahab, halaman 361.

kebanyakan riwayat-riwayat Al-Kafi adalah Dha’if (lemah).

Riwayat-riwayat Syiah yang bertentangan

Tanya: Banyak sekali pertentangan antara satu riwayat dengan riwayat lain dalam kitab-kitab Syiah sehingga bangkit beberapa ulama untuk menyelaraskan pertentangan-pertentangan itu. Betul tidak?

Jawab: Di masa hidupnya, Rasulullah saw sering mengingatkan tentang adanya para pemalsu hadits di tengah-tengah para sahabatnya. Ia bersabda:

“Janganlah kalian berbohong atasku. Barang siapa berbohong atasku maka ia akan dibakar di api neraka.”[1]

Ia juga bersabda:

“Barang siapa berbohong atasku, maka hendaknya ia menyiapkan tempatnya di api neraka.”[2]

Artinya di masa hidupnya Nabi banyak orang-orang yang bagi Ahlu Sunah adalah sahabat yang adil; padahal mereka sering berbohong atas nama Nabi atau melakukan suatu perbuatan yang mereka suka lalu menisbatkannya kepada beliau.

Apa lagi sepeninggal Nabi, yang mana pada masa itu penulisan hadits secara total dilarang. Banyak orang-orang Yahudi dan Nasrani yang mengaku Muslim namun mereka sering memalsukan hadits. Misalnya Ka’ab Al-Ahbar, Wahab bin Manbah, Tamim Dari, dan lain sebagainya.[3]

Banyaknya hadits-hadits palsu inilah yang menciptakan banyaknya pertentangan antara satu hadits dengan hadits lainnya.

Ibnu Abil Auja’ dibesarkan di rumah Hammad bin Muslim, seorang tokoh hadits besar Ahlu Sunah; ia sering kali menjahili kitab-kitab Hammad dan memalsukan hadits-haditsnya.[4]

Cukup kita mendengar bahwa Bukhari mengaku telah memilih 2.761 hadits dari 600.000 hadits yang ada.

Shahih Muslim memilih 4.000 hadits dari 300.000 hadits yang ada.

Kebanyakan motif dari pemalsuan ini adalah usaha pencapaian kedudukan atau kepentingan materi.

Jika dipikir, andai kita membagi waktu-waktu yang ada pada hayat Nabi menjadi beberapa bagian berbeda-beda, maka kita akan sadari bahwa tidak mungkin Nabi sepanjang umurnya telah mengucapkan sekian banyak hadits, bahkan 1/10 nya saja. Oleh karena itulah ulama Ahlu Sunah hanya mengkategorikan beberapa hadits saja sebagai hadits shahih.

Tentu masih saja banyak ditemukan hadits-hadits palsu sedemikian rupa yang bertentangan dengan hadits-hadits lainnya. Misalnya tentang bahwa Tuhan itu memiliki tubuh, Tuhan bisa dilihat, dan lain sebagainya.

Adapun pertentangan-pertentangan yang ditemukan dalam kitab-kitab hadits Syiah, ya memang ada juga hadits-hadits palsu dalam kitab kami. Namun yang lebih banyak lagi bukanlah faktor pemalsuan yang membuat kita berfikiran bahwa hadits-hadits tersebut terkesan bertentangan, ada faktor-faktor lain seperti:

1. Terpotongnya riwayat

Terkadang ada riwayat yang menukilkan hadits secara sepenggal saja dan penggalan yang lain tidak disebutkan.

2. Riwayat yang hanya menukil kandungan hadits

Sebagian riwayat tidak menyebutkan secara detil hadits atau ucapan maksumin, namun hanya menukilkan kandungan dan maksudnya saja.

3. Pemalsuan hadits

Ada juga hadits-hadits palsu dalam kitab-kitab kami. Kebanyakan adalah ulah para Ghulat (orang-orang Syiah yang berlebihan dalam fahamnya). Misalnya Mughirah bin Sa’id dan Abu Zainab Asadi yang dikenal dengan Abul Khitam; Imam Ja’far Shadiq as menunjuk nama-nama mereka lalu berkata, “Mereka telah berbohong atas aku dan ayahku.”[5]

Dengan demikian ulama Syiah berupaya untuk menyelesaikan masalah-masalah di atas dengan berbagai cara. Yang jelas mereka sama sekali tidak menghiraukan hadits-hadits palsu. Namun bagaimana dengan kitab-kitab anda?


[1] Shahih Bukhari, hadits 106.

[2] Ibid, hadits 107.

[3] Muqadamah Ibnu Haldun, hlm. 439.

[4] Mizanul I’tidal, jld. 1, hlm. 593.

[5] Rijal Kashi, hlm. 196, nomor 103.’

Selain Al Qur'an, kitap apa saja yang disimpan Imam-Imam Syiah

Tanya: Apakah ada kitab selain Al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw? Apakah hanya Ali saja yang mengetahuinya? Apakah kitab-kitab seperti Al-Jami’ah, Shahifah Namus, Shahifah ‘Abithah, Shahifah Du’abatus Saif, Shahifah Ali, Jafr, Mushaf Fathimah, Taurat, Injil dan Zabur juga dimiliki dan disimpan oleh para Imam Syiah?

Jawab: Sepeninggal Rasulullah saw, umat Islam menjadikan Al-Qur’an dan Sunah Nabi sebagai pegangan mereka. Keduanya adalah rukun dasar yang mana berdirinya Islam bergantung pada dua rukun itu. Bagi kami, hadits-hadits para Imam maksum adalah cerminan sunah Nabi; karena kami yakin apa yang mereka katakan pasti dari Nabi.

Untuk menjaga sunah, terkadang Nabi memerintahkan untuk dituliskannya sunah tersebut. Misalnya:

1. Dalam Fathul Makkah, Rasulullah saw berkhutbah lalu setelah itu seseorang dari Yaman mendatangi Nabi lalu meminta agar dituliskan khutbah tersebut untuknya. Rasulullah saw memerintahkan para sahabatnya untuk menuliskan khutbah tersebut.[1]

2. Di akhir hayatnya Rasulullah saw bersabda, “Berilah aku sebuah pena dan kertas agar aku dapat menuliskan wasiat untuk kalian agar kelak kalian tidak akan tersesat.” Namun sayang sekali Umar menghalangi beliau dari penulisan wasiat seraya berkata, “Begitu parah sakit Nabi hingga beliau sampai mengigau. Cukup bagi kami kitab Allah.”[2]

3. Seseorang dari kaum Anshar duduk di dekat Nabi sambil mendengarkan ucapan-ucapannya. Namun ia sering lupa karena ingatannya yang lemah. Lalu ia mengadukan lemahnya ingatan itu kepada Rasulullah saw. Beliau berkata padanya, “Mintalah pertolongan pada menulis.” Yakni ia diperintahkan untuk mencatat daripada hanya mendengarkannya.[3]

Umar bin Syu’aib menukilkan dari kakeknya bahwa ia bertanya kepada Rasulullah saw, “Apakah aku perlu menulis apa yang telah aku dengar darimu?” Beliau menjawab, “Ya, tulislah.”[4]

Al-Qur’an pun memerintahkan jika seandainya kita berhutang kepada seseorang maka kita harus mencatatnya.[5]

Oleh karena alasan begitu pentingnya sunah Nabi, Ali as dan anak-anaknya selalu menulis dan mencatat segala apa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah saw.

Ali bin Abi Thalib as pernah berkata, “Setiap kali aku bertanya pada Nabi, beliau selalu menjawabku. Dan jika aku diam, ia yang selalu memulai memberitahu aku.”[6]

Oleh karena itu, segala kitab dan catatan yang dimiliki oleh Ali as semuanya hadits Nabi yang ia tulis dari apa yang ia dengar dari lisan beliau. Kitab-kitab yang ia tulis memiliki nama yang bermacam-macam dan diwariskan lalu disimpan oleh anak-anak dan keturunan beliau. Dalam riwayat kami sering disebutkan bahwa terkadang Imam Baqir as dan Imam Ja’far Shadiq as memberikan hukum berdasarkan kitab-kitab tersebut.[7]

Bahkan perlu anda ketahui bahwa Ali as tidak hanya selalu mencatat hadits saja, ia merupakan orang pertama yang mencatat Al-Qur’an. Beliau mencatatnya terus menerus selama dua puluh tiga tahun; selama dua puluh tiga tahun, begitu ayat Al-Qur’an diturunkan beliau mencatatnya. Ali as sendiri pernah berkata, “Demi Tuhan, tidak ada satu pun ayat dalam Al-Qur’an kecuali aku tahu untuk apa ayat itu turun dan di mana diturunkannya dan mengenai siapa. Tuhan telah mengkaruniai aku wadah ilmu yang luas dan lidah yang lancar dalam menjelaskannya.”[8]

Oleh karena itu, kitab-kitab yang telah anda sebutkan kebanyakan adalah kitab hadits Nabi. Misalnya seperti Mushaf Fathimah, kita telah jelaskan pula sebelumnya.

Nama-nama kitab yang telah disebutkan dalam pertanyaan tersebut juga disebutkan oleh Bukhari dalam Shahihnya.[9]

Anehnya si penanya menganggap keberadaan kitab-kitab tersebut sebagai titik lemah Syiah. Padahal bagi kami itu kebalikannya. Keberadaan kitab-kitab tersebut justru menunjukkan betapa Ahlul Bait mementingkan terjaganya sunah Nabi.

Di lain sisi, terasa aneh saat kita melihat sejarah Ahlu Sunah bahwa khalifah Umar pernah melarang Muslimin untuk tidak menuliskan hadits.

‘Aisyah pernah berkata, “Suatu malam aku melihat ayahku susah tidur. Aku bertanya apa sebabnya. Namun di pagi hari, dia berkata kepadaku, “Bawakan catatan-catatan hadits yang pernah kau simpan.” Seluruhnya ada sekitar 500 hadits Nabi dalam catatan-catatan itu. Ia mengumpulkannya menjadi satu lalu membakarnya.”[10]

Saat Umar bin Khattab menjadi khalifah, ia menulis surat pengumuman lalu disebarkan; yang isinya: “Barang siapa meulis selain Al-Qur’an dari Nabi, maka hendaknya tulisan itu dilenyapkan.”[11]

Semenjak itulah penulisan hadits dilarang sehingga penulisan hadits mendapatkan kesan buruk bagi masyarakat.

Namun pada pemerintahan Umar bin Abdul Aziz, ia sebagai khalifah merasa bahwa ditinggalkannya penulisan hadits akan mengancam keutuhan sunah nabawi. Kemudian ia menulis surat kepada Abu Bakar bin Hazm (seorang alim di Madinah) untuk menulis kembali hadits-hadits Nabi.[12]

Kondisi yang mencengangkan. Lambat laun muncullah para pedagang hadits yang menjual hadits-hadits palsu buatan mereka sendiri.

Salah jika kita perfikiran bahwa hanya Al-Qur’an saja kitab yang diperlukan umat Islam. Kita perlu kitab-kitab lain yang menjelaskan dan menafsirkan maksud Al-Qur’an.

Adapun para Imam juga menyimpan kitab-kitab langit lainnya seperti Taurat, Injil dan Zabur, itu memang benar dan tidak ada yang perlu dipermasalahkan mengenainya. Saat umat Islam menguasai kandungan kitab-kitab langit lainnya, hal itu dapat menjadi senjata yang ampuh bagi Muslimin untuk meraih kemenangannya saat berdakwah Islam kepada pemeluk agama lain. Sebagai contoh, Imam Ali Ridha as pernah berdebat dengan Ahlul Kitab dengan menggunakan kitab mereka sendiri karena ia menguasai kitab-kitab mereka; kitab yang mana di dalamnya disebutkan tanda-tanda dan ciri-ciri Nabi terakhir, Muhammad saw.


[1] Shahih Bukhari, bab Kitabul Ilm, hadits 112.

[2] Ibid, hadits 114.

[3] Sunan Tirmidzi, jld. 5, hlm. 39.

[4] Ibid, hlm. 125.

[5] Al-Baqarah: 282.

[6] Thabaqat Al-Kubra, Ibnu Sa’ad, jld. 2, hlm. 283; Sunan Tirmidzi, jld. 5, hlm. 638, hadits 2722, dan hlm. 40, hadits 3729; Tarikh Al-Khulafa, Suyuthi, hlm. 170.

[7] Wasailus Syiah, jld. 4.

[8] Thabaqat Al-Kubra, jld. 2, hlm. 338; Kanzul Ummal, jld. 15, hlm. 135.

[9] Shahih Bukhari, bab Kitabatul Ilm, hadits 1.

[10] Tadzkiratul Huffadz, Dzahabi, jld. 1, hlm. 5.

[11] Musnad Ahmad bin Hanbal, jld. 3, hlm. 12 dan 14.

[12] Shahih Bukhari, bab Kaifa Yafidhu Al-Ilm, hadits 4.

Wah, Al-Kafi banyak riwayat dhaifnya

Tanya: Apakah kitab Al-Kafi merupakan Syarah dan kitab tafsir Al-Qur’an? Padahal kebanyakan riwayat-riwayat Al-Kafi adalah Dha’if (lemah).

Jawab: Trik mereka adalah menuduh, lalu mempertanyakan.

Pertama, atas dasar apa anda menyatakan bahwa kebanyakan riwayat-riwayat Al-Kafi adalah Dha’if?

Riwayat-riwayat yang ada dalam Al-Kafi ada empat macam: Shahih, Muwatsaq, Hasan, dab Dha’if.

Ketika Syiah sendiri telah membagi riwayat-riwayat penting mereka menjadi empat bagian seperti di atas, itu menunjukkan bahwa Syiah menerima realita yang ada mengenai riwayat-riwayat mereka. Karena bagi kami tidak ada satupun kitab yang Shahih selain Al-Qur’an. Adapun kitab-kitab lainnya, kita perlu teliti kebenarannya dan juga menimbangnya.

Allamah Majlisi dalam kitab Mir’at Al-’Uqul telah menentukan keempat macam riwayat tersebut.

Penyusun Al-Kafi dalam pendahuluan kitabnya menyebutkan tolak ukurnya dalam menimbang riwayat yang mana tolak ukur tersebut berasal dari para Imam:

“Coba sandingkan dengan Al-Qur’an. Jika sesuaui dengan kandungan Al-Qur’an, maka ambillah (riwayat itu). Namun jika bertentangan dengan Al-Qur’an, maka tolaklah.”[1]

Namun kebalikannya, Ahlu Hadits dan para Salafi, mereka menganggap dari ujung ke ujung Shahih Bukhari dan Muslim semuanya Shahih. Dan akhirnya kini mereka kerepotan sendiri.

Kedua, mengenai Al-Kafi adalah Syarah dan tafsir Al-Qur’an, jika yang dimaksud adalah Al-Kafi menjelaskan hukum-hukum shalat, puasa, zakat, haji dan jihad secara rinci, maka bukan hanya Al-Kafi aja yang sedemikian rupa. Semua kitab-kitab riwayat kami juga seperti itu. Bahkan begitu pula seluruh Shihah dan Sunan milik Ahlu Sunah juga menafsirkan Al-Qur’an sedemikian rupa. Namun jika yang dimaksud adalah, Al-Kafi ditulis dengan tujuan menafsirkan Al-Qur’an, dan susunannya adalah susunan tafsir, maka itu tidak betul.

Seperti apapun Al-Kafi, kami tidak menganggap seluruh riwayatnya Shahih. Kami selalu memilah-milah riwayat, karena semuanya tidak sama. Kebalikannya, kaum Salafi menerima semua Khabar Wahid tidak hanya dalam masalah-masalah Fiqih saja, namun mereka menerimanya dalam dunia praktek atau Amali dan bahkan perkara-perkara keyakinan atau Aqidah. Akhirnya mereka sendiri mengalami banyak masalah saat ini dalam dunia Aqidah.

Akhir-akhir ini di Madinah diadakan sebuah pertemuan dan pembahasan mengenai ke-Hujjah-an Khabar Wahid dalam perkara Aqidah. Kurang lebih seluruh pesertanya, yang mana kebanyakan adalah salafi, setuju dengan itu. Oleh karena itu Aqidah mereka berdiri atas dasar Khabar Wahid. Efeknya, mereka kini meyakini Tajsim, Tashbih, dan determinasi.


[1] Al-Kafi, jld. 1, hlm. 8.

Istilah Thaqalain diucapkan oleh Rasulullah saw di khutbah terakhirnya seusai haji (haji Wada’).

Thaqalain dalam bahasa Arab berarti dua “thaqal”. Kata “thaqal” berarti bekal yang dibawa oleh seorang musafir. Sebagian ahli bahasa lainnya berkeyakinan bahwa kata yang benar adalah “thiql” yang berarti “beban yang berat” atau “harta berharga”. Thaqalain adalah dua hal yang berat. Istilah Thaqalain diucapkan oleh Rasulullah saw di khutbah terakhirnya seusai haji (haji Wada’).

Saat itu beliau berkhutbah menjelaskan dua wasiat berharganya:

Bahwa sesungguhnya aku meninggalkan dua hal besar bagi kalian yang jika kalian berpegangan kepada keduanya, pasti kalian tak akan tersesat selamanya. Yang pertama adalah Al Qur’an, kitab Allah, tali yang memanjang ke langit. Yang kedua adalah Ahlul Baitku. Sungguh Tuhan yang Maha Tinggi telah memberitakan padaku bahwa keduanya tidak akan berpisah hingga hari nanti.

Hadits ini disebutkan dalam referensi-referensi berikut:

Shahih Turmudzi, jilid 5, halaman 662, ditukil dari lebih dari 30 sahabat; Mustadrak Hakim, pasal Fadhilah para Sahabat, jilid 3, halaman 109, 110, 148, 533; Sunan Ibnu Majah, jilid 2, halaman 432; Musnad Ahmad bin Hambal, jilid 3, halaman 14, 17, 26, 59, dan jilid 4, halaman 366, 372; Khasaish Nasa’i, halaman 21 dan 30; Shawaiqul Muhriqah, Ibnu Hajar ‘Asqalani, pasal 11, bagian 1, halaman 230; Kabir, Thabrani, jilid 3, halaman 62; Kanzul Ummal, Muttaqi Hindi, pasal I’tishab bi Hablullah, jilid 1, halaman 44; Tafsir Ibnu Katsir, jilid 4, halaman 113, tafsir ayat 42:23; Thabaqatul Kubra, Ibnu Sa’ad, jilid 2, halaman 194; Majma’uz Zawaid, Haitsami, jilid 9, halaman 163; Durrul Mantsur, Suyuthi, jilid 2, halaman 60; Yanabi’ul Mawaddah, Qunduzi Hanafi, halaman 38, 183; dan masih banyak lagi…

Bagaimana orang-orang Iran menjadi Syiah

Jika dipikir-pikir, Islam masuk di Iran saat khalifah kedua, Umar bin Khattab, berkuasa; lalu bagaimana bisa kebanyakan penduduk Iran memiliki faham Syiah? Ternyata sejarah mencatat bahwa orang-orang Iran mengalami proses panjang untuk menjadi Syiah, yakni tepatnya sejak abad pertama hingga abad kedua Hijriah.

Ada dialog antara seorang Zoroaster dengan Alim Syiah tentang masalah ini. Mari kita simak dialog tersebut:

Tanya: “Aku pikir yang dapat menjad faktor  mengapa orang-orang Syiah dapat dengan mudah menjadi Syiah adalah hal-hal berikut ini:

1. Orang-orang Iran sudah terbiasa dengan sistim pemerintahan kerajaan, sehingga mereka dengan mudah menerima pemerintahan yang berlangsung turun temurun, yaitu imamah (keimaman para Imam Syiah).

2. Orang-orang Iran sejak dulu meyakini kekuasaan para raja adalah kekuasaan Ilahi yang sudah ditakdirkan Tuhan, yang mana keyakinan seperti ini sejalan dengan akidah Syiah Imamiah.

3. Pernikahan Imam Husain as dengan Syahrbanu, putri Yazdgird ke-3, raja Sasanid terakhir, adalah salah satu faktor mengapa faham Syiah dengan mudah tersebar.

4. Faham Syiah mengandung unsur kebanggaan diri orang-orang Persia di hadapan bangsa Arab. Oleh karena itu Syiah adalah buatan orang-orang Iran.”

Jawab: “Tak satu pun dari empat hal di atas yang menjadi faktor ke-Syiahan orang-orang Iran. Karena pondasi pertama Syiah sudah ada di jaman nabi Muhammad saw, yang kemudian pengikut Syiah mulai bertambah mulai dari Salman, Abu Dzar, Miqdad dan seterusnya.

Sejarah bahkan tidak membenarkan apa yang anda nyatakan tentang bagaimana orang-orang Iran menanggapi kerajaan-kerajaan yang ada. Justru orang-orang Iran kesal dengan kerjaan Sasanid saat itu karena mereka tidak melihat adanya keadilan dan kesejahteraan pada rakyat, dan tentunya mereka membenci pemerintahan yang turun menurun seperti itu. Mereka haus dengan datangnya aturan baru yang adil dan benar.

Adapun pernikahan Imam Husain as dengan putri Yazdgird, memang memiliki efek bagi ke-Syiahan orang-orang Iran; namun itu bukanlah faktor utama.”

T: “Jika memang demikian, apa faktor utama itu?”

J: “Panjang ceritanya. Ada 11 faktor yang dapat saya sebutkan mengapara kini kebanyakan penduduk Iran memeluk mazhab Syiah Imamiah, yang mana faktor-faktor tersebut adalah fase yang terus dilewati hingga akhirnya rakyat Iran menjadi seperti apa yang ada sekarang:

1. Pada pertengahan pertama abad ke-1 Hijriah, rakyat Iran memang sedang haus dengan datangnya pemerintahan baru yang adil dan benar. Oleh karena itu dengan kedatangan Islam mereka begitu menyambut dengan penuh kegembiraan. Salman Alfarisi memiliki peran utama dalam hal ini. Ia menjadikan Madain, ibu kota pemerintahan Sasanid waktu itu, sebagai pusat dakwah penyebaran Islam di Persia. Salman mempelajari Islam dari Ali as, dan Ali as dari Rasulullah saw. Yang mana ajaran tersebut adalah ajaran Syiah. Lalu orang-orang Persia pun mempelajari Islam dari Salman Al Farisi; demikian jalurnya.

2. Pemerintahan Islam di masa kekhalifahan Imam Ali as berpusat di Kufah, sebuah kota yang mana orang-orang Persia sering berlalu lalang di sana. Keadilan dan kecintaan beliau kepada rakyat menarik perhatian orang-orang Persia saat itu dan tentunya menjadi faktor mereka mau memeluk Islam.

3. Kebangkitan Imam Husain as yang dikenal dengan peristiwa Karbala. Amarah umat Islam yang sebenarnya pasca terbunuhnya Imam Husain as membuat berita tragis itu tersebar ke mana-mana, hingga ke telinga Muslimin (dan juga selainnya) di Persia. Berita mengejutkan tersebut membuat mereka bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi, dan menggiring mereka mengenal Syiah.

4. Masa keemasan para Imam di jaman Imam Shadiq as sangat memukau. Beliau sampai memiliki lebih dari empat ribu murid, yang setiap dari mereka adalah penyebar ajaran Islam. Yang tentunya memiliki peran istimewa tersebarnya faham Syiah di Iran.

5. Qom adalah tempat aman bagi para imigran Syiah Iraq yang datang ke Iran. Oleh karena itu keberadaan kota suci Qom juga memiliki peran penting tersebarnya faham Syiah di Iran.

6. Diasingkannya Imam Ridha as dari Madinah ke Khurasan (sebuah propinsi di Iran) juga menjadi faktor penting dalam masalah ini.

7. Kedatangan para pecinta Imam Ridha as ke Khurasan, yang akhirnya mereka menyebar di Iran, dan menjadi mubaligh yang mengajarkan faham Ahlul Bait.

8. Lambat laun semakin banyak ulama besar Syiah yang bermunculan, dan mereka membantu tersebarnya faham Syiah ke seluruh penjuru Iran. Mereka misalnya seperti Syaikh Kulaini, Syaikh Thusi, Syaikh Shaduq,  Syaikh Mufid, dan…

9. Pemerintahan dinasti Buwaih (Ali Buwaih) menjadi faktor penting penyebaran Syiah di Iran, yang mana pemerintahan itu adalah pemerintahan Islami Syiah.

10. Menjadi Syiah-nya Sultan Khoda Bandeh berkat Allamah Hilli di permulaan abad ke-8 Hijriah membuat Syiah semakin dikenal akhirnya diresmikan sebagai mazhab di Iran.

11. Berdirinya pemerintahan Shafawiyah yang dipengaruhi oleh ulama Syiah di abad ke-10 dan 11 Hijriah.”

Tanya: Dalam kitab Al-Tauhid karya Syeikh Shoduq, tepatnya ketika memberikan penjelasan mengenai orang-orang yang bertauhid, membawakan sebuah riwayat dari Nabi Muhammad Saw yang berbunyi, “Dan sesungguhnya orang-orang yang bertauhid akan memberikan syafaat ….”[1]Siapakah yang akan menerima syafaat dari mereka? Apakah orang-orang yang tidak bertauhid? Saya tahu, itu tidak mungkin. Oleh karenanya, sudi kiranya Anda memberi sedikit penjelasan.

Jawab: dalam riwayat “Dan sesungguhnya orang-orang yang bertauhid akan memberikan syafaat …” terdapat dua penafsiran. Pertama, yang dimaksud dengan orang-orang yang bertauhid adalah ahli tauhid dan ulama yang telah mencapai tingkat kesempurnaan sebagaimana ayat ini:

“Orang-orang yang menyembah selain-Nya tidak dapat memberikan syafaat kecuali orang-orang yang bersaksi akan kebenaran dan benar-benar faham.”[2]

Dan ayat:

… kecuali orang-orang yang telah diberi izin oleh Allah dan berkata benar.”[3]

Penafsiran kedua, maksud riwayat di atas adalah syafaat orang-orang yang bertauhid untuk orang-orang mustadhafin[4] yang tentang mereka Allah Swt berfirman:

“Dan golongan yang lainnya adalah orang-orang yang terserah apa keputusan Tuhan mengenai mereka; mengadzab mereka ataukah mengampuni mereka …”[5]

Dan tampaknya kebanyakan manusia di dunia ini adalah orang-orang mustadhafin.


[1] Syeikh Shaduq: Al-Tauhid: hal. 29 & 31.

[2] QS. Az-Zukhruf: 86.

[3] QS. An-Naba’: 38.

[4] Yang dimaksud dengan orang-orang mustadhafin adalah orang-orang yang tak mampu memiliki keyakinan yang benar. Silahkan merujuk kitab-kitab tafsir.

[5] QS. At-Taubah: 106.