Apakah benar bahwa sanad hadis-hadis para maksum tidak bersambung kepada Rasulullah Saw?

Konon sanad hadis-hadis para maksum tidak bersambung kepada Rasulullah Saw? Apakah benar demikian adanya? Tolong beri penjelasan

Jawaban dari Ustad Husain ardilla :

Syiah memandang para imam (khalifah Rasulullah Saw) sebagai maksum dan atas dasar ini sebagaimana sabda dan ucapan Rasulullah Saw, ucapan dan sabda para Imam Maksum As memiliki hujjiyah (dapat dipertanggungjawabkan) dan tidak perlu penyandaran kepada Rasulullah Saw. Hadis-hadis yang disampaikan oleh para Imam Maksum As terbagi menjadi dua.

Pertama riwayat-riwayat yang dijelaskan dalam bentuk sanad; artinya silsilah sanadnya juga disebutkan. Setiap imam menukil langsung dari ayah mereka sehingga riwayat semacam ini bermuara sanadnya kepada Rasulullah Saw. Karena itu, riwayat-riwayat semacam ini dari sudut pandang sanad menduduki posisi tertinggi dari sisi keabsahan.

Kedua, riwayat-riwayat yang dijelaskan tanpa penjelasan sanad. Riwayat-riwayat semacam ini, apakah dinukil dari Nabi Saw dengan perantara akan tetapi tidak menyertakan sanadnya dengan demikian riwayat-riwayat semacam ini kendati silsilah sanadnya tidak dijelaskan dan secara lahir tergolong sebagai riwayat-riwayat mursal akan tetapi dengan memperhatikan bahwa para maksum tergolong sebagai orang-orang amin (terpercaya) dan jujur (shadiq) dimana apabila Rasulullah Saw tidak menyampaikan sebuah hadis, maka mereka tidak akan menjelaskannya sebagai sebuah hukum Ilahi atau disandarkan kepada Rasulullah Saw.

Sebagai contoh, silahkan Anda simak hadis berikut ini: “Ali bin Muhammad ‘an Sahli bin Ziyad ‘an Al-Naufali ‘an al-Sakuni ‘an Abi ‘Abdillah As qala qala Rasulullah Saw.” Yang dinukil dalam jumlah ribuan pada sumber-sumber Syiah dan ratusan pada Kutub al-Arba’ah Syiah (Al-Kâfi, Man La Yahdhur al-Faqih, Tahdzib al-Ahkâm dan al-Istibshâr) dengan titel seperti ini. Atau dinukil dari kitab Jâme’e, Mushaf Fatimah, Jufr dan sebagainya yang memiliki sanad dan merupakan hujjah bagi seluruh kaum Muslimin.

Karena itu, dengan memperhatikan beberapa hal yang dijelaskan di atas, hadis-hadis yang dinukil dari para Imam Maksum As adalah memiliki sanad dan memiliki konsideran yang cukup serta tidak ada keraguan secuil pun di dalamnya.

Mengingat bahwa pembahasan ini merupakan salah satu pembahasan internal agama karena itu kami akan menjawab pertanyaan ini dengan menggunakan perspektif Syiah.

Dari sudut pandang Syiah, para imam adalah orang-orang maksum dan diproklamirkan oleh Allah Swt melalui Rasulullah Saw sebagai khalifah dan penggantinya. Atas dasar ini, mereka adalah para hujjah Tuhan atas seluruh ciptaan dan makhluk-Nya di alam semesta. Sabda-sabda dan ucapan-ucapannya laksana sabda dan ucapan Rasulullah Saw yang memiliki hujjiyah nafsi dan tidak memerlukan penyandaran sanad (isnad).

Dengan kata lain, Syiah meyakini bahwa sebagaimana jika Rasulullah Saw bersabda tidak memerlukan penyandaran dan tiada seorang pun yang menuntut sanad darinya serta tiada keraguan bahwa sabda dan ucapannya merupakan hujjah demikian juga hal ini berlaku bagi para Imam Maksum As. Ucapan dan sabda para Imam Maksum tidak memerlukan sanad dan tiada keraguan bahwa ucapan dan sabda mereka adalah hujjah.

Di sebutkan bahwa hadis-hadis yang dinukil dari para Imam Maksum As diklasifikasikan menjadi dua bagian:

1. Sebagian riwayat yang dijelaskan dalam bentuk bersanad; artinya silsilah sanadnya disebutkan dimana setiap imam menukil dari ayah mereka hingga sanad riwayatnya bermuara sampai pada Rasulullah Saw. Karena itu, tidak hanya dalam hadis-hadis ini tidak disebutkan sanadnya dan tiada masalah sanad pun di dalamnya tetapi juga dari sudut pandang sanad, riwayat-riwayat semacam ini memiliki tingkat standar dan konsideran yang tinggi.

Jenis riwayat-riwayat semacam ini juga terbagi menjadi dua bagian:

A. Pertama bahwa nama-nama ayah dan datuk mereka di jelaskan satu dengan yang lain; seperti Abul Hasan al-Ridha As berkata aku mendengar dari ayahku Musa bin Ja’far berkata Aku mendengar dari ayahku Ja’far bin Muhammad berkata Aku mendengar ayahku Muhammad bin ‘Ali berkata Aku mendengar dari ayahku berkata ‘Ali bin Husain berkata Aku mendengar dari ayahku al-Husain bin ‘Ali berkata Aku mendengar dari ayahku Amirul Mukminin ‘Ali bin Abi Thalib As berkata Aku mendengar Rasulullah Saw berkata Aku mendengar Jibril berkata Allah Swt berfirman: “La ilaha illaLah adalah benteng-Ku barangsiapa yang masuk dalam benteng-Ku aman dari azab-Ku.” (Namun) dengan syarat-syaratnya. Dan aku salah satu syaratnya.”[1]

(Zamakhsyari menukil dari Yahya bin Husain Husaini dalam kitab Rabi’ al-Abrar tentang sanad-sanad Shahifa al-Ridha: Apabila hadis ini didengarkan oleh seorang gila maka ia akan menjadi orang yang waras.”[2]

B. Kedua, riwayat-riwayat dengan redaksi “‘an abâihi (dari ayah-ayahnya)” dihapus mengingat kejelasan nama-nama). Dalam keseluruhan kitab riwayat Syiah kurang-lebih terdapat 6671 hadis dinukil dari para Imam Maksum As dalam bentuk bersanad dengan redaksi “‘an abâihi (dari ayah-ayahnya=dari Rasulullah Saw) dimana dari bilangan ini disebutkan 278 dalam Kutub Arba’ah Syiah (60 hadis dalam kitab al-Kâfi, 46 dalam Man La Yahdur al-Faqih, 128 dalam kitab Tahdzib al-Ahkâm, dan 34 dalam kitab al-Ishtibshâr). Sebagai contoh di sini kami akan sampaikan satu hadis mu’an’an (dari-dari) dan mustanad (bersandar): “Ali bin Muhammad ‘an Sahli bin Ziyad ‘an Al-Naufali ‘an al-Sakuni ‘an Abaihi qala qala Rasulullah Saw.” (Ali bin Muhammad dari Sahl bin Ziyad dari al-Naufali dari al-Sakuni dari ayah-ayahnya berkata [bahwa] Rasulullah Saw bersabda).[3]

Jelas bahwa apabila sebuah hadis dinukil dengan jenis sanad seperti ini maka ia termasuk sebaik-baik sanad. Atas dasar ini, kelompok riwayat bagian pertama di sebut sebagai hadis “silsilatu al-Dzahab.”[4] Karena meski berdasarkan pendapat Syiah bahwa seluruh Imam Maksum adalah para hujjah Tuhan di muka bumi dan dari sudut pandang mereka sebagai hujjah, tidak terdapat perbedaan antara mereka dan Rasulullah Saw. Akan tetapi dari sudut pandang non-Syiah mereka adalah sebaik-baik orang dan tergolong dari orang-orang yang dapat diandalkan kebenaran dan kejujurannya.”[5]

2. Kelompok riwayat-riwayat lainnya yang dijelaskan tanpa sanad:

Riwayat-riwayat semacam ini juga terbagi menjadi dua bagian:

A. Riwayat yang dinukil dari Rasulullah Saw dengan perantara akan tidak menyebutkan sanadnya. Sebagai contoh Anda perhatikan hadis berikut ini: ): “Ali bin Muhammad ‘an Sahli bin Ziyad ‘an Al-Naufali ‘an al-Sakuni ‘an Abi ‘Abdillah As qala qala Rasulullah Saw.” (Ali bin Muhammad dari Sahl bin Ziyad dari al-Naufali dari al-Sakuni dari Abi Abdillah berkata (bahwa) Rasulullah Saw bersabda).[6]

Dalam kitab-kitab standar Syiah dinukil sebanyak ribuan dan pada Kutub al-Arba’ah (Al-Kâfi, Man La Yahdhur al-Faqih, Tahdzib al-Ahkâm dan al-Istibshâr)

Hadis-hadis semacam ini juga kendati silsilah sanadnya tidak dijelaskan dan secara lahir terkategorikan sebagai hadis mursal akan tetapi mengingat bahwa para maksum, bahkan dari sudut pandang Ahlusunnah, adalah orang-orang terpercaya (umana) dan orang-orang lurus. Karena itu, harus diterima bahwa mereka apabila sebuah hadis tidak disabdakan oleh Rasulullah Saw mereka tidak akan sampaikan sebagai hukum Ilahi atau menyandarkannya kepada Rasulullah Saw. Imam Shadiq As bersabda: “Hadisku adalah hadis ayahku (Imam Baqir) dan hadis ayahku adalah hadis datukku (Imam Zainal Abidin). Hadis datukku adalah hadis (Imam) Husain dan hadis (Imam) Husain adalah hadis (Imam) Hasan. Hadis (Imam) Hasan adalah hadis Amirulmukminin As dan hadis Amirulmukminin adalah hadis Rasulullah Saw. Hadis Rasulullah Saw adalah firman Allah Swt.”[7]

B. Riwayat-riwayat yang dinukil dari kitab Jâme’e, Mushaf Fatimah, Jufr dan sebagainya yang bagaimana pun adalah riwayat-riwayat yang memiliki sanad dan hujjah bagi seluruh kaum Muslimin.[8]

Karena itu, hadis-hadis ini yang dinukil dari para Imam Maksum As adalah hadis-hadis yang bersanad dan merupakan hadis-hadis standar serta tiada keraguan di dalamnya.

Patut untuk disebutkan bahwa masalah ini telah menjadi persoalan semenjak dulu kala dan dari satu sisi bahwa terdapat orang-orang yang tidak meyakini ucapan-ucapan para maksum sebagai memiliki hujjiyah dzati banyak menuai kritikan sehingga dicarikan banyak jalan untuk memecahkan persoalan ini.

Jabir bin Yazid berkata kepada Imam Baqir As: “Apabila Anda menyampaikan sebuah hadis untukku tolong Anda juga sampaikan sanadnya.” Imam Baqir As bersabda: “Ayahku dari datukku dari Rasulullah Saw dari Jibril As dari Allah Swt berkata hadis kepadaku. Dan setiap hadis yang aku sampaikan untukmu maka sanadnya demikian adanya.”[9]

Pada sebuah riwayat yang lain disebutkan: Muhammad bin Ali (Imam Baqir) pergi ke hadapan Jabir karena penghormatannya kepada Jabir yang dulu sering hadir di majelis Rasulullah Saw. Orang-orang Madinah berkata: Kami tidak melihat yang lebih kurang ajar dari hal ini (karena berkata-kata hadis dari sisi Tuhan). Karena melihat mereka berkata-kata demikian, ia menyampaikan hadis dari Rasulullah Saw. Orang-orang Madinah berkata: Kami tidak melihat orang yang paling pendusta melebihi orang ini (Imam Baqir), menyampaikan kepada kami hadis seseorang yang tidak pernah ia lihat. Karena melihat orang-orang berkata demikian Jabir bin Abdullah menyampaikan hadis dari Rasulullah, kemudian mereka membenarkannya (hadis yang disampaikan Jabir). Padahal Jabir datang kepadanya dan belajar darinya (Imam Baqir As).[10]

Kesimpulan:

Sabda-sabda para Imam Maksum memiliki hujjiyah dzati dan sabda-sabda mereka adalah sabda Rasulullah Saw dan firman Allah Swt meski secara lahir bersanad atau tidak bersanad.

Catatan Kaki:

[1].Syaikh Shaduq, A^mali Shadûq, hal. 235, Intisyarat-e Kitab Khane Islami, 1362 S.

[2]. Bihâr al-Anwâr, jil. 1, hal. 30.

[3]. Kulaini, al-Kâfi, jil. 1, hal. 33, hadis 7, Dar al-Kitab al-Islamiyah, Teheran, 1365 S

 

عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ عَنْ سَهْلِ بْنِ زِيَادٍ عَنِ النَّوْفَلِيِّ عَنِ السَّكُونِيِّ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ (ع) عَنْ آبَائِهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ (ص).

 

[4]. Tsawab al-’Amâl, terjemahan Ghaffari, hal. 23. Orang-orang yang menyampaikan hadis silsilah al-dzahab adalah para maksum dan termasuk sebagai salah satu hadis qudsiyah mengingat yang menyampaikan firman ini adalah Allah Swt.

[5]. Misalnya Sayid Muhammad Rasyid Ridha yang merupakan orang fanatik Ahlusunnah dalam tafsir al-Manar tatkala ingin menukil riwayat dari Imam Shadiq As berkata, “Ruwiya ‘an Jaddina al-Imam Ja’far al-Shadiq Ra (Dinukil dari datuk kami, Imam Ja’far Shadiq Ra)” Muhammad Rasyid Ridha, Tafsir al-Qur’an al-Hakim (Tafsir al-Manâr), jil. 9, hal. 538, Dar al-Ma’rifah, Beirut, Libanon, cetakan kedua.

[6]. Kulaini, al-Kâfi, jil. 3, hal. 269, hadis 8.

 

: عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ عَنْ سَهْلِ بْنِ زِيَادٍ عَنِ النَّوْفَلِيِّ عَنِ السَّكُونِيِّ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ (ع) قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ (ص)

 

[7]. Kulaini, al-Kâfi, jil. 1, hal. 53.

[8]. Silahkan lihat, Kulaini, Al-Kâfi, jil. 1, hal. 239, Terjemahan Mustafawi, hal. 345.

[9]. Mufid, Amali, hal. 42, cetakan Kongre Syaikh Mufid Qum, 1413 Q. Dengan memanfaatkan terjemahan Ustaduwali, hal. 54.

[10]. Kulaini, al-Kafi, jil. 1, hal. 429, dengan memanfaatkan terjemahan Ushul Kafi, penerjamah Mustafawi, jil. 2, hal. 374.

Ulama Ahlusunnah Menteror Ulama Yang Berani Meriwayatkan Hadis Keutamaan Imam Ali as. Dan Ahlulbait as.!!

Kebohongan dan tangan besi pun terungkap !

Sunnah Nabi saw. adalah sumber utama Islaam setelah Al Qur’an al Karim! Kita semua termasuk Anda wajib untuk  mengimaninya … menjaganya… mengamalkannya dan memperjuangkannya… baik ia sesuai dengan hawa nafsu Anda… cocok dengan keyakinan kemazhaban Anda (yang bisa jadi sering kali dibangun di atas ketidak jelasan hujjah/dalil)!

Tetapi apakah demikian dengan sikap mereka yang mengaku-ngaku sebagai Pemilik Hak Paten Merk Ahlusunnah Wa al Jam’ah? Atau justru tidak demikian… keimanan dan ketundukan serta kesetiaan kepada Sunnah Nabi itu sebatas, apabila Sunnah itu (betapa pun ia benar-benar disabdakan mulut suci Sang Nabi mulia) sesuai dengan hawa nafsu dan doktrin kemazhaban betatapun doktrin itu menyimpang!

Mari kita saksikan langsung sikap mereka seperti yang mereka laporkan sendiri!

Dalam kitab Dhu’afâ’ karya al ‘Uqaili,3/416:

حدثنا محمد بن إسماعيل قال حدثنا الحسن بن على الحلواني حدثنا محمد بن داود الحداني قال سمعت عيسى بن يونس يقول ما رأيت الأعمش خضع إلا مرة واحدة فإنه حدثنا بهذا الحديث قال علي : ( أنا قسيم النار ) فبلغ ذلك أهل السنة فجاءوا إليه فقالوا : أتحدث بأحاديث تقوي بها الروافضة والزيدية والشيعة ؟!! فقال : سمعته فحدثت به فقالوا : فكل شيء سمعته تحدث به ؟!!! قال : فرأيته خضع ذلك اليوم “.

“Muhammad bin Ismail menyampaikan berita kepada kami, ia berkata, Hasan bin Ali al Hulwani menyampaikan berita kepada kami, ia berkata, Muhammad bin Daud al hadâni berkata, “Aku mendengar Isa bin Yunus berkata, “Aku tidak pernah menyaksikan A’masy tunduk kecuali hanya sekali saja. Ia pernah menyampaikan hadis dari Ali ,”Aku adalah Pembagi nereka…”Maka sampailah berita itu (penyampaian hadis itu oleh A’masy) kepada (ulama) Ahlusunnah, maka mereka beramai-ramai mendatanginya lalu berkata, “Apakah kamu menyampaikan hadis-hadis yang dapat menguatkan kaum Rafidhah, kaum Syi’ah Ziadiyah dan kaum Syi’ah?!” Maka ia berkata, ‘Aku mendengarnya lalu aku menyampaikannya.!

Maka mereka berkata, “Apakah setiap hadis yang engkau dengar harus engkau sampaikan?!

Perawi berkata, “Maka aku menyaksikannya tunduk hari itu.”

ustad husain ardilla:

Dari kutipan data di atas pasti Anda dapat melihat bagaimana usaha ngotot ulama Ahlusunnah saat itu untuk membungkam mulut siapapun yang berani mentablighkan Sunnah Nabi saw. terkait dengan Imam Ali as. mereka beramai-ramai mengeroyok A’masy -seorang ulama dan muhaddis agung di masanya dan semua pun mengakui kehebatannya- untuk menghardiknya dan membuatnya jerah dan ketakutan untuk menyampaikan Sunnah Nabi saw.

Semua sikap ganas para ulama pendhulu Ahlusunnah itu dilakukan dengan alasan membentengi akidah ASWAJA (maaf kalau istilah itu benar, sebab semestinya ASWAJA yang sejati pasti cinta hadis dan juga Cinta keluarga Nabi saw.!) dari ajaran Syi’ah!

Aneh bukan… untuk membentengini ajaran Rasulullah saw, harus dengan memerangi Sunnah Rasulullah dan dilakukan atas nama Rasulullah…. mirip atau bahkan jangan-jangan persis dengan apa yang dilakukan Yazid demi menjaga kewaibaan kelkhalifahan Rasulullah saw. Yazid membantai Cucu Rasulullah dan keturunan beliau di padang Karbala … begitu juga dengan Mu’awiyah dengan alasan membela kesucian agama Rasulullah saw. ia sunnahkan melaknati menentau ntercinta Rasulullah yang dengan jasa-jasa besarnya Islam menjadi berjaya! Dan untuk semua “kebaikan dan amal shaleh” Mu’awiyah dan Yazid, kaum Ahlusunnah, khususnya yang beraliran Salafi-Wahhabi membanggakan Yazid dan Mu’awiyah dan menggelari keduanya dengan AMIRUL MUKMINI!

Hal lain yang tentu lucu adalah: Kata kaum Wahhabi-Salafi (khususnya yang bekerja langsung sebagai agen Zionis) yang selalu menvonis Syi’ah sebagai KAFIR!  Eeh ternyata kaum KAFIR itu ajarannya ditegakkan di atas Sunnah Nabi saw…. sebentara yang mengaku Ahlusunnah (maaf bukan Sunni Anda tapi Sunni yang si dia) malah bisanya hanya menegakkkan akidah dan mazhabnya di atas pondasi memerangi Sunnah Nabi saw.

Apakah memeng Ahlusunnah hanya dapat dijaga dengan menyembunyikan dan melenyapkan Sunnah Nabi saw.?

Anda pasti lebih tau jawabnya!

Benarkan Para Ulama Ahlusunnah Mencemooh Seorang Yang Belajar Hadis Dari Imam Ja’far ash Shadiq as.?!

 

Persembahan Untuk Mereka yang Suka Mengaku-ngaku!

Seperti yang selama ini kita kenal bahwa kemunitas Muslim Sunni (ASWAJA) adalah mencintai dan menghormati Ahlulbait, keluarga dan keturunan Nabi saw. bahkan lebih dari itu mereka mengklaim sebagai pewaris sejati ajaran Ahlulbait as. (dan bukan Syi’ah)… Ketika kaum Syi’ah menegaskan bahwa mereka adalah pengikut Ahlulbait as. dan mazhab mereka dinamakan mazhab Ja’fari karena Imam Ja’far-lah yang terbuka kesempatan di masa beliau untuk mewariskan ajaran leluhur beliau para imam suci Ahlulbait as. yang mereka warisi dsari Nabi mulia Muhammad saw…. ketika kaum Syi’ah menyatakan itu… segera teman-teman Ahlusunnah berteriak mengatakan: Bohooong! Syi’ah bukan pengikut Imam Ja’far… bukanpengikut Ahlulbait! Kamilah Ahlusunnah pengikut sejati Imam Ja’far!

Mungkin klain itu benar! Tetapi setiap klaim harus dibuktikan! Dan apabila ternyata tidak mampu dibuktikan, berarti paling tidak perlu diragukan atau bahkan ditolak!

Di bawah ini… dalam kesempatan singkat ini, saya akan menyajikan beberapa bukti bagaimana sebenarnya sikap dan perlakuan ulama Ahlusunnah terhadap Imam Ja’far as.; seorang imam agung dari keturunan Rasulullah saw.

Benarkan mereka berantosias dan bersemangat serta berbangga diri ketika menerima riwayat dari Imam Ja’far as. atau justru mereka menyepelekan, mencemooah dan menghinakan Imam Ja’far dan meragukan keilmuan dan kehandalannya dalam duni periwayatan hadis-hadis kakek beliau Rasulullah saw.?!

Saya tidak ingin mendahului kesimpullan Anda yang cerdas lagi teliti.. saya hanya akan menyajikan data yang dapat menjadi bahan renungan bagi para pencari fakta dan kebanaran!

Silahkan ikuti laporan para ulama Syi’ah sendiri!

Adz Dzahabi dalam kitab Siyar A’lâm an Nubalâ’,6/91:

النسائي حدثنا احمد بن يحيى بن وزير حدثنا الشافعي حدثنا سفيان كنا اذا رأينا طالبا للحديث يغشى ثلاثة ضحكنا منه ربيعة ومحمد بن ابي بكر بن حزم وجعفر بن محمد ، لانهم كانوا لا يتقنون الحديث.

“An Nasa’i menyampaikan  berita dari Ahmad bin Yahya bin Wazîr, ia berkata, Syafi’i, ia berkata, Sufyan: Kami, apabila menyaksikan seorang penuntut hadis mengerumuni tiga orang maka kami menertawakannya, mereka yaitu Rabi’ah, Muhammad bin Abi Bakar bin Hazm dan ja’far bin Muhammad, sebab meerka itu tidak mumpuni dalam ilmu hadis.”

Dan data ini diriwayatkan dengan jalur yang shahih!

Sufyan bin ‘Uyainah Membongkar Sikap Ulama Ahlusunnah!

Seperti telah baca langsung, bagaimana Sufyan membongkar kenyataan sikap para ulama Ahlusunnah terhadap Imam Ja’far ash Shadiq as…. mereka mencemooh dan mengolok-olok seorang ulama hadis yang belajar hadis Nabi saw dari cucu Nabi saw. dan tentunya sikap mengejek-ejek dan menertawakan siapapun yang berrani belajar menimba hadis Nabi saw. dari penghulu dzurriyah/Ahlulbait Nabi saw. di masanya akan membuat para pelajar dan ulama penuntut hadis menjadi ketahukan… mereka akan miki dua kali jika mau belajar dari Imam Ja’far as. sebab akan menjadi bahan tertawaan para ulama Ahlusunnah lainnya!

Dan ini tentunya adalah cara keji para pembenci Ahlulbait Nabi saw. atau yang dikenal dengan sebutkan kaum Nawâshib yang banyak tersebar dan menyelinap mengaku sebagai Ahlusunnah dan karena kelihaian dalam menyembunyikan kenashibian, mereka melebir bersama Ahlusunnah lainhya dan akhirnya sulit dikenali jati diri mereka… kaum Sunni pun menganggapnya sebagai bagian dari jajaran ulama Ahlusunnah…

Apa yang bisa kita banyangkan dari dampak buruk sikap dan politik kotor para ulama Ahlusunnah itu sudah dapat kita bayangkan… Ahlulbait as akan segera terkucilkan dari dunia Ahlusunnah dan Ahlusunnah pun menjadi buta dan tidak kenal Sunnah Nabi dari Ahlulbait Nabi… akhirnya Sunnah Nabi saw. yang mereka terima justru dari musuh-musuh keluarga Nabi saw…. atau paling tidak itu yang dikahawatirkan banyak pihak!

Kenyataan itu semakin menjadi gamblang di mata pencari kebenaran setelah mengetahui bahwa Bukhari (imam Ahli Hadis nomer wahid Ahlusunnah) tidak sudi meriwayatkan barang satu hadis pun dari Imam Ja’far ash Shadiq as.

Adapun tuduhan si Sufyan binn ‘Uyainah bahwa Imam Ja’far ash Shadiq as tidak mumpuni dalam ilmun dan periwayatan hadis Nabi saw. maka saya tidak akan tanggapi apapun tentangnya.. saya hanya sarankan Pak Sufyan untuk belajar beristinjak sebab kenyataannya dalam sejarahnya ia tidak pandai bercebok!

Ustad Husain Ardilla :

Di sini, dari forum terhormat ini saya umumkan, apabila ada teman-teman Sunni apalagi Sunni yang plus Salafi mampu menemukan satu hadis dalam Shahih Bukhari dari riwayat Imam Ja’far ash Shadiq maka saya segera pensiaun jadi Ibnu Jakfari… dan bloq ini saya tutup… saya akan siap menjadi sopir angkot jurusan Bagor-Puncak untuk mengantar para wisatawan Arab Saudi yang bermazhab Wahhabi mau berzina di Puncak!

Benar sekali! Tidak ada yang sanggup menimba ilmu dari Imam Ja’far as. dan menanggung semua hinaan dan ejekan itu melainkan kaum Syi’ah yang telah menjual diri dan harta mereka hanya untuk Allah dan rasulu-Nya dan demi kecintaan mereka kepada keluarga suci Nabi saw, … bukan kepada kaumm munafik!

 

Ahlusunnah Kehilangan Puluhan Ribu Hadis Shahih!

Ahlusunnah Kehilangan Puluhan Ribu Hadis Shahih!

ِAda anggapan sebagian pemula bahwa Sunnah Nabi saw. telah terangkum dalam kitab-kitab hadis standar Ahlusunnah yang ditulis para ulama dan ahli hadis! Sehingga mereka merasa tentram bahwa Slogan yang selalu mereka dengar agar umat Islam kembali kepada Al Qur’an dan Sunnah Nabi saw. dapat diwujudkan dengan mudah! Sebab Al Qur’an tertulis dan terangkum lengkap dalam mushaf sedangkan Sunnah Nabi saw. juga terekam dengan utuh!

Tetapi, sepertinya angggapan para pemula perlu dikasiani! Sebab ternyata hadis-hadis Nabi saw. yang hendak mereka andalkan itu ternyata banyak yang telam musnah ditelan keganasan zaman! Tidak sampai kepada umat Islam melainkan hanya sedikit saja!

.

.

.

.

Al Iraqi -seperti Anda saksikan dalam scan di atas, menolak mentah-mentah angggapan lugu dan awam seperti itu! Ketika ada anggapan bahwa kitab-kitab hadis standar seperti lima kitab Ushul (induk) yaitu Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Daud, Sunan at Turmudzi dan Sunan an Nasa’i telah memuat hampir seluruh hadis/Sunnah Nabi saw…. dan tidak luput dari rekamannya melainkan hanya sedikit! al Iraqi berkata: Anggapan itu tidak tepat! Sebab:

Berdasarkan ucapan Imam Bukhari: Aku menghafal seratus ribu (100.000) hadis dan dua ratus ribu (200.000) hadis tidak shahih.!

Anggapan Kurang Berdasar!

Ada sebagian orang beranggapan bahwa yang dimaksud dengan jumlah  di atas adalah dengan menghitung berbagai jalur untuk satu hadis misalnya. bukan jumlah hadis itu sendiri! Tetapi anggapan ini telah tidak berdasar!

Kenyataan Pahit!

Seperti diakui oleh Imam as Suyuthi bahwa kenyataan yang terjadi bahwa jumlah hadis yang sekarang beredar dan terangkum dalam berbagai kitab hadis tidak sampai seratus ribu jumlahnya… Bahkan lebih pahit lagi -seperti diakui Imam as Suythi sendiri- bahwa jumlah hadis yang masih tersisa tidak juga sampai lima puluh ribu hadis!

Itu Artinya!

Itu artinya bahwa umat Islam Sunni kehilangan hadis dalam jumlah yang sangat banyak!

Kemanakah raibnya hadis-hadis Nabi saw. itu?

Mungkinkah Anda sanggup mengamalkan Sunnah Nabi saw. jika kenyataannya bahwa lebih dari separuh atau lebih dari Sunnah Nabi saw. itu telah musnah ditelan zaman?!

hanya Allah yang Maha Mengatahui derita yang dialami umat Islam ini!

Inna Lillahi wa Inna Ilaihi raji’un!

Festival FILM Republik Islam IRAN 9 – 12 Maret 2012

“…Leaflet Festival Film Republik Islam Iran…”

“…Duta Besar Iran untuk Indonesia Dr. Mahmoud Farazandeh saat Memberikan Keterangan Persnya…”

“…Jakarta, Masih dalam rangka Pekan Budaya Iran, pihak Kedutaan Besar Iran di Jakarta menyelenggarakan Festival Film Republik Islam Iran. Yang akan diselenggarakan di Gedung Pusat Perfilman H. Usmar Ismail (PPHUI) pada tanggal 9 – 12 Maret 2012 pukul 16.00 s/d 20.00 Wib. Kita akan dibawa untuk mengenal lebih dekat lagi untuk mengenal negeri Iran ini melalui karya-karya film terbaiknya. Melalui film-film yang akan diputar kita akan dapat melihat dan mengenal Iran dari berbagai sudut seperti alamnya, manusianya, sejarahnya, kehidupannya, dll.

Dalam Festival Film Iran ini akan diselenggarakan beberapa agenda acara seperti Pemutaran Film-Film Iran, Pertunjukan Musik Iran, Workshop Film, dan Diskusi dan Kritik Film bersama sutradara film Iran dan Indonesia. Hasan Najafi sutradara Iran akan mengisi acara Diskusi tersebut. Menurut Duta Besar Iran untuk Indonesia Dr. Mahmoud Farazandeh, perfilman Iran memiliki kwalitas yang baik dan mengandung unsur pendidikan di dalamnya.

Bahkan pada tahun ini dalam Festival Film ajang Academy Awards, film Iran ‘A Separation’ meraih penghargaan Oscar. Maka dalam festival film Iran nanti pengunjung dapat melihat dan mengetahui film-film terbaik Iran yang lainnya dan dapat menilai bagaimana film Iran. Ada beberapa judul film yang akan diputar antara lain Kerajaan Nabi Sulaiman, The Third Day (sutradara Mohammad Hosein Latifi), Hayat (Kehidupan), Ruhullah, Oftob Bar Hameh Yekson Mitobad (Matahari menyinari semua orang dengan rata) karya sutradara Abbas Rafeiy, Sejengkal Surga (sutradara Ali Vaziriyan), Charkh (Gerobak), Qoflsoz (Tukang Kunci) sutradara Golam Reza Ramazani, Nabi Yusuf, dan film dokumenter mengenai Iran Today.

A SEPARATION, Film lokal Iran berhasil meraih Oscar tahun 2012 ini untuk kategori Film berbahasa asing terbaik dalam ajang Academy Awards 2012 di Kodak Theatre Los Angeles, Minggu 26 Februari 2012 atau Senin 27 Februari waktu Indonesia. Film garapan sutradara Asghar Farhadi ini menyisihkan unggulan lainnya yaitu Bulhead (Michael R. Roskam, Belgia), Footnote (Joseph Cedar, Israel), In Darkness (Agnieszka Holland, Poland), dan Monsieur Lazhar (Philippe Falardeau, Canada). Selain itu film ini juga memberi peluang bagi Farhadi untuk meraih Oscar keduanya setelah dinominasikan dalam kategori Skenario terbaik.

gelar ‘Ahl al-Sunnah wal Jamaah’ dicipta sebagai mazhab baru agar setanding dengan Ali dan pengikutnya

Jika kita berhasrat untuk membicangkan mengenai Syiah tanpa kefanatikan [taksub] atau kepura-puraan, kita akan berkata bahawa merekalah yang mengikuti Pendidikan Pengetahuan Islam yang menghormati dan mengikuti Dua Belas Imam dari keluarga Rasul Allah [Ahl al-Bayt]. Mereka adalah Ali dan sebelas dari keturunan beliau. Syiah merujuk kepada Rasul dan Dua Belas Imam mengenai semua perundangan fiqh dan urusan kemasyarakatan. Mereka tidak mengutamakan sesiapa selain dari Dua Belas Imam dengan pengecualian kepada datuk mereka, Pembawa Pengkhabaran, Muhammad, Pesuruh Allah. Ini adalah secara ringkas definisi [keterangan] sebenar mengenai Syiah.

Untuk menolak tuduhan yang disebarkan oleh pembuat fitnah dan para fanatik yang mengatakan bahawa Syiah adalah musuh Islam, bahawa mereka mempercayai ‘kerasulan’ Ali, dan bahawa beliaulah yang membawa Pengkhabaran Kerasulan, atau bahawa mereka bersekutu dengan Abdullah ibn Saba, seorang Yahudi, dan bahawa mereka adalah yang itu dan mereka adalah yang ini…..

Saya telah banyak membaca buku dan karangan-karangan yang ditulis oleh mereka yang bersungguh-sungguh untuk ‘membuktikan’ bahawa Syiah adalah kafir, dan mencuba untuk menyisihkan mereka dari kepercayaan Islam sama sekali.

Tetapi kenyataan mereka tidak lebih dari fitnah dan penipuan yang nyata, yang tidak dapat mereka buktikan dan dokumenkan melainkan dengan memetik dari golongan mereka yang terdahulu diantara musuh-musuh Ahl al-Bayt telah katakan, sebagai tambahan kepada kenyataan Nasibis yang telah memaksakan penguasaan mereka keatas dunia Islam dan memerintah dengan kekerasan dan kezaliman, menjejaki keturunan Rasul begitu juga mereka-mereka yang mengikutinya, membunuh dan menghalau mereka, dan memanggil mereka dengan segala nama yang buruk.

Diantara nama-nama yang buruk, yang kerap diulang-ulangi didalam buku yang ditulis oleh musuh-musuh Syiah, adalah istilah ‘Rafidis,’ penolak.

Pembaca yang kurang arif terus akan menganggap bahawa merekalah, yang besar kemungkinannya, telah menolak prinsip-prinsip Islam dan yang tidak melakukan dengan mengikutinya, atau bahawa mereka menolak Pengkhabaran Rasul Muhammad. Tetapi perkara sebenarnya adalah yang berlainan. Mereka dipanggil ‘Rafidis’ hanya kerana pemerintah Ummayad dan Abbasid yang terdahulu, dan begitu juga para ulama’ jahat yang sentiasa hendak menyenangkan para pemerintah, telah memberikan gambaran yang salah terhadap Syiah dengan melekatkan [lebel] istilah yang sebegitu kepada mereka. Syiah memilih untuk kekal taat kepada Ali, menolak khalifanya Abu Bakr, Umar dan Uthman, dan mereka menolak semua para khalifa dari pemerintah Umayyad dan Abbasid.

Mereka yang sedemikian [pemerintah] telah menyesatkan Ummah Islam melalui pertolongan beberapa pemalsu dari kalangan para sahabat rasul, mengatakan bahawa kedudukan khalifa mereka adalah sah kerana ianya adalah mandat dari Allah [awj]. Maka merekalah mengatakan bahawa ayat yang berbunyi, ‘O orang-orang yang beriman, ikutlah Allah dan ikutlah rasul dan orang-orang yang diberi kuasa diantara kamu’ [4:59] telah disampaikan [wahyukan] mengenai mereka, terutamanya kerana mereka telah diberi tanggong jawab dengan penguasaan kerajaan dan ketaatan kepada mereka, makanya, adalah wajib bagi semua Muslim. Mereka telah mengupah pemalsu yang mengaitkan kepada rasul Allah hadith yang berikut:

Tiada siapa meninggalkan penguasa pemerintah walaupun sedikit satu inci lalu mati melainkan bahawa dia mati seorang jahiliah’.

Maka kami menyedari bahawa Syiah ditindas oleh pemerintah kerana mereka enggan untuk memberikan kesetiaan kepadanya dan menolak penguasaan mereka, menganggapnya sebagai telah merampas hak kepunyaan Ahl al-Bayt. Maka pemerintah sepanjang beberapa abad telah menipu orang-orang awam, supaya mempercayai bahawa Syiah menolak Islam dan mereka [pemerintah] menginginkan tidak kurang dari penghapusan dan kematian mereka [syiah], sebagaimana yang telah dinyatakan oleh penulis terdahulu dan sekarang dan juga ahli sejarah yang telah mengaku bahawa mereka adalah dari golongan orang-orang yang berpengetahuan.

Jika kita kembali kepada permainan yang membuat salah kelihatan betul, kita akan sedar bahawa terdapat perbezaan diantara mereka yang ingin menghapuskan Islam dan mereka yang cuba untuk menamatkan kezaliman dan kurapsi [kefasikan] kerajaan yang norma tabiinya adalah anti-Islam. Syiah tidak pernah meninggalkan Islam; melainkan, mereka menentang pemerintahan yang tidak adil, dan objektif mereka adalah selalunya untuk memulangkan semula amanat kepada yang berhak dan akan tegaklah fondisi [asas] bagi Islam yang memerintah dengan adil dan saksama. Bagaimanapun, matlamat yang telah kami capai dari hasil penyelidikkan kami terdahulu, sebagaimana yang dinyatakan didalam ‘Maka Saya Mendapat Petunjuk’, ‘Bersama Mereka yang Benar’, dan ‘Tanya Mereka yang Mengerti’, bahawa Syiahlah yang akan mendapat keselamatan, kerana merekalah yang berpegang teguh kepada Dua Perkara Berat: Kitab Allah, dan keturunan rasulNya.

Untuk berlaku adil, beberapa ulama’ dari mereka yang bergelar sebagai ‘Ahl al-Sunnah wal Jamaah’ mengakui fakta yang sama ini. Sebagai contoh, Ibn Manzur berkata yang berikut ini di dalam buku kamusnya Lisan al-Arab di mana dia menerangkan erti Syiah:

Syiah adalah mereka-mereka yang mencintai apa yang dicintai oleh keturunan rasul, dan mereka taat kepada keturunan itu[1].

Komen terhadap kenyataan tersebut, Dr. Sa’id Abd al-Fattah ‘Ashoor berkata, ‘Jika Syiah mencintai apa yang dicintai oleh keturunan rasul dan taat kepada keturunan itu, siapakah diantara Muslim yang akan menolak untuk menjadi Syiah?’

Zaman fanatik dan permusuhan turun-temurun telah berlalu, dan kini zaman pengajaran dan kebebasan intelektual sedang terbit, maka, para remaja terpelajar hendaklah membuka mata mereka dan membaca karangan yang dicetak oleh Syiah. Mereka [pelajar] hendaklah menghubungi para Syiah, dan berbincang dengan ulama’ mereka, supaya mengetahui yang benar terus dari sumber asalnya, kerana kerap-kali kita dipedaya dengan kata-kata manis madu dan juga fitnah yang tidak dapat menahan sebarang bukti atau hujah?

Dunia hari ini mudah untuk didampingi oleh setiap orang, dan Syiah boleh ditemui disetiap tempat didunia. Adalah tidak adil bagi seorang penyelidik yang mempelajari Syiah bertanya kepada musuh dan lawan mereka, yang mempunyai pandangan agama yang berlainan dari mereka, mengenai mereka [Syiah]. Dan apakah yang dapat diharapkan oleh yang bertanya selain dari diberitahu oleh musuh-musuh yang sedemikian itu apa yang selalu diperkatakan semenjak dari bermulanya sejarah Islam? Syiah bukanlah sistem agama yang rahsia, yang tidak menyatakan kepercayaan mereka melainkan kepada ahli sahaja, bahkan, buku-buku dan kepercayaan mereka dicetak diseluruh dunia, sekolah-sekolah agama mereka dibuka kepada semua yang ingin mencari ilmu, ulama’ mereka mengadakan perbincangan umum, syarahan, debat dan konferen dan mereka memanggil semua kepada asas yang sama, dan cuba untuk menyatukan Ummah Islam. Saya yakin bahawa individu yang berfikiran saksama didalam Ummah Islam, yang sirius menyelidiki perkara ini akan menemui kebenaran, yang selebihnya tidak ada apa-apa melainkan kepalsuan. Tidak ada yang menahan mereka dari mencapai kebenaran tersebut melainkan propaganda media yang berat sebelah, pengkhabaran palsu yang disebarkan oleh musuh Syiah atau amalan salah yang tertentu yang diamalkan oleh segelintir orang awam Syiah[2] . Kadang kala ini sudah mencukupi bagi musuh Syiah untuk mengeluarkan satu tuduhan palsu, atau menghapuskan kepercayaan pada yang salah untuk bersama didalam barisan mereka.[3]

Saya teringat mengenainya insiden seorang Syria yang telah dikelirukan oleh media propaganda dikala itu. Setelah memasuki Madinah untuk menziarah makam rasul Allah yang agung, dia ternampak seorang penunggang kuda yang begitu mulia dan hebat serta menarik perhatian, dan beliau telah diikuti oleh pengikutnya yang mengelilingi beliau dari segala arah, bersedia menunggu arahan dari beliau. Orang Syria itu agak hairan kerana terdapat seorang yang lain dari Muawiyah yang dikelilingi dan dimuliakan. Dia telah diberitahu bahawa penunggang tersebut adalah al-Hasan ibn Ali ibn Abu Talib. ‘Adakah dia anak Abu Turab, Kharijite?!’ dia bertanya. Kemudian dia dengan keterlaluan menyumpah dan menghina al-Hasan, ayahandanya, dan Ahl al-Baytnya. Sahabat al-Hasan menghunus pedang mereka dan meluru untuk membunuh orang Syria itu, tetapi mereka telah ditahan oleh Imam al-Hasan yang turun dari kudanya, menyambut dengan mesra orang Syria itu, dan dengan cara teramat sopan bertanya kepadanya, ‘Kelihatan kepada saya awak adalah orang asing didaerah ini, O saudara kepada Arab, adakah kamu begitu?’ ‘Ya’ orang Syria itu menjawab, ‘Saya dari Syria, dan saya adalah pengikut amirul mukminin ketua kepada muslim Muawiyah ibn Abu Sufyan. Sekali lagi al-Hasan menyambutnya dan berkata kepadanya, ‘Kamu adalah tetamu saya,’ tetapi orang Syria itu menolak pelawaannya, bahkan al-Hasan terus mendesak untuk menjadi tuan rumah sehinggalah dia bersetuju. Imam, didalam tempoh layanan tersebut [kebiasaannya tiga hari], terus menerus melayaninya secara individu dan dengan layanan yang teramat baik. Pada hari keempat, orang Syria itu mula menunjukkan tanda-tanda kekesalan dan bertaubat diatas kelakuannya yang telah lalu terhadap al-Hasan ibn Ali ibn Abu Talib; dia teringat bagaimana dia telah menyumpah dan menghina beliau, sedangkan beliau disini terlalu baik dan pemurah. Dia meminta al-Hasan dan bermohon kepada beliau untuk memaafkan segala kelakuannya yang lalu, dan keputusannya adalah dailog yang berikutnya dihadapan sebahagian dari sahabat al-Hasan:

Al-Hasan: Adakah kamu membaca al-Quran, O saudara kepada Arab?

Syrian : Saya telah menghafal keseluruh tek al-Quran

Al-Hasan : Tahukah awak siapa Ahl al-Bayt yang mana Allah telah menghapuskan segala kekotoran dan yang telah disucikan dengan kesucian yang sempurna?

Syrian : Mereka adalah Muawiyah dan keluarga Abu Sufyan

Mereka yang hadir disitu amat terkejut mendengar jawapan yang sedemikian itu

Al-Hasan tersenyum dan berkata kepada orang itu, ‘Saya adalah al-Hasan ibn Ali; ayah saya adalah sepupu dan adik kepada rasul Allah; ibu saya Fatima, ketua bagi semua wanita di dunia ini; datuk saya adalah rasul Allah dan ketua bagi semua nabi-nabi dan rasul. Bapa saudara saya al-Hamza, ketua bagi syuhada, dan begitu juga Jafar al-Tayyar. Kami adalah Ahl al-Bayt yang Allah [awj], telah sucikan dan kebaikan kepada kami [ahl al-bayt] yang Dia [Allah] perlukkan dari Muslim. Pada kami lah Allah dan malaikatNya sejahterakan, dan memerintahkan Muslim supaya mensejahterakan kami. Saya dan adik saya al-Husayn adalah ketua bagi remaja disyurga’

Kemudian Imam al-Hasan menyatakan satu persatu, beberapa kemulian Ahl al-Bayt, mengenalkannya dengan kebenaran, dimana kemudiannya orang Syria itu dapat melihat cahaya, maka dia menangis dan terus mencium tangan al-Hasan dan mukanya berkali-kali meminta maaf diatas kesalahannya, berkata, ‘Demi Allah, Tuhan yang Maha Esa! Saya memasuki Madinah dan tiada siapa dimuka bumi ini yang saya benci malainkan kamu, tetapi sekarang saya mencari kedekatan kepada Allah [awj] dengan mencintai kamu, patuh kepada kamu, dan menjauhkan diri dari mereka yang memusuhi kamu’

Maka barulah Imam al-Hasan menghadap kepada sahabatnya dan berkata, ‘Dan kamu mahu membunuhnya walaupun dia tidak bersalah! Jika dia telah mengetahui yang sebenar, tentu dia tidak menjadi musuh kita. Kebanyakkan Muslim di Syria adalah seperti dia. Jika mereka mengetahui yang sebenar, mereka akan mengikutinya.’ Kemudian beliau membacakan ayat yang berbunyi: ‘Tidak sama perbuatan yang baik dengan perbuatan yang jahat, tolaklah [kejahatan] dengan apa yang baik, maka orang yang ada permusuhan dengan engkau akan menjadi sahabat yang karib’ [41:34

Ya, ini adalah suatu kenyataan yang benar bagi kebanyakkan manusia, malangnya, mereka tidak sedar. Berapa banyakkah mereka-mereka yang menentang kebenaran dan menolaknya disepanjang usia hidupnya sehingga suatu hari mereka dapati bahawa mereka telah tersalah, maka mereka cepat-cepat bertaubat dan meminta ampun? Setiap manusia bertanggong jawab untuk mencari kebenaran: telah dikatakan bahawa bertukar kepada kebenaran adalah kemuliaan.

Masalahnya adalah terhadap mereka yang melihat kebenaran dengan mata mereka sendiri dan memegangnya dengan tangan mereka sendiri, namun begitu mereka tetap berdiri menghadapi dan menentangnya hanya untuk mendapatkan kesudahan yang rendah, sekadar kesenangan untuk hidup yang sementara ini, dan juga kerana dendam yang tersembunyi. Mengenai manusia seperti ini Tuhan MahaTinggi dan Maha Suci telah berkata: ‘Sama saja bagi mereka, engkau beri peringatan atau tiada engkau beri peringatan, niscaya mereka tidak akan percaya’ [36:10]. Maka tidak ada gunanya membuang masa dengan mereka, melainkan menjadi tanggung jawab kita untuk berkorban apa saja untuk mereka yang berfikiran wajar dan yang benar-benar mencari kebenaran dan melaksanakan dengan daya usaha yang ikhlas untuk mencapainya. Inilah manusia yang mana Tuhan yang Maha Suci telah berkata: ‘Engkau hanya boleh memberi peringatan, mereka yang mengikut peringatan dan takut kepada yang Maha Pengasih yang ghaib. Maka berilah dia khabar gembira dengan ampunan dan ganjaran yang mulia’ [36:11]

Mereka yang dirahmati dengan kesedaran dari Syiah dimana sahaja, bertanggung jawab untuk membelanjakan harta dan masa mereka untuk memperkenalkan kebenaran kepada semua ahli didalam Ummah Islam. Imam dari Ahl al-Bayt bukanlah keutamaan khas bagi Syiah sahaja; bahkan, mereka adalah Imam petunjuk kepada semua. Mereka adalah sinaran cahaya untuk semua Muslim dikegelapan kejahilan. Jika Imam dari Ahl al-Bayt tinggal tidak diketahui oleh ramai Muslim, terutama dari kalangan yang terpelajar diantara pengikut ‘Ahl al-Sunnah dan Jamaa,’ Syialah yang memikul beban tanggung jawab yang sedemikian dihadapan Allah.

Jika masih terdapat lagi diantara manusia yang kafir dan atheis [tidak beragama] yang tidak tahu langsung dengan agama Allah yang lurus sebagaimana yang telah dibawa oleh Muhammad, ketua bagi segala rasul, tanggung jawab ini jatuh pada bahu setiap para Muslim.


[1]rujuk ms 189 jilid 8 Lisan al-Arab oleh Abdul-Fadl Jamal ad-Din Muhammad Ibn Manzur [630-711 AH/1233-13311 AD]

[2] kami akan sudahi, apabila kami sampai kepenghujung buku ini, bahawa kelakuan sebilangan orang awam Syiah menghalang [mengurangkan keyakinan] remaja Sunni yang terpelajar dari meneruskan penyelidikan untuk mencari kebenaran.

[3] Sebagaimana, yang telah berlaku kepada penulis buku ini dan kepada mereka yang lainnya

Gambar lucu kucing lucu tidur di gelas | Gambar Lucu | Kartun lucu ...

Para pembaca..

Lainya adalah kumpulan yang terbesar didalam masyarakat Islam; mereka mewakili tiga perempat jumlah penduduk Muslim didunia, dan merekalah yang menjadi rujukan kepada fatwa-fatwa agama dan pengikut bagi Imam yang empat iaitu Abu Hanifah, Malik, al-Shafii, dan Ahmad ibn Hanbal. Dan didalam waktu yang kemudian ini, yang bergelar ‘Salafi’ berkembang dari mereka; ciri-ciri kepercayaan mereka ini telah diperbarui oleh Ibn Taymiyyah yang diberi gelaran sebagai ‘Yang Memulihkan Sunnah’, dan kemudiannya oleh Wahabi yang mana ideologinya telah dicipta oleh Muhammad ibn Abd al-Wahhab, dan ini adalah mazhab pemerintah Arab Saudi sekarang.

Semua mereka ini menggelarkan diri mereka ‘Ahl al-Sunnah’ kadang-kadang ditambah perkataan ‘Jamaah’ supaya mereka boleh dikenali sebagai ‘Ahl al-Sunnah wal Jamaah’.

Jika sesaorang ingin menyelidik sejarah, ini akan menjadi bukti kepadanya bahawa sesiapa yang tergolong kepada apa yang mereka katakan sebagai ‘al-khalifa al-rasida’ khalifa yang adil, atau ‘al-kulafah al-rashidoon’ khalifah-khalifah yang adil, iaitu Abu Bakr, Umar, Uthman dan Ali[2], dan menerima Imamnya mereka ini semasa hidupnya atau dizaman kita sekarang, orang-orang seperti ini tergolong sebagai ‘Ahl al-Sunnah wal Jamaah’. Sesiapa yang menolak kedudukan khalifa tersebut atau menganggapnya sebagai tidak sah, mempertahankan teks yang membuktikan bahawa hanya Ali ibn Abu Talib saja yang layak untuknya [khalifah], adalah Syiah.

Ia juga akan menjadi nyata kepada kita bahawa pemerintahan yang bermula dari Abu Bakr dan berakhir dengan pemerintahan Abbasid yang terakhir, mereka merasa senang dengan ‘pengikut al-Sunnah’ dan berfahaman sama seperti mereka, dan bahawa mereka marah dengan, dan mencari pembelaan terhadap, semua mereka yang memihak dan mengikut pimpinan Ali ibn Abu Talib begitu juga mereka yang memberi sumpah setia kepada beliau dan kepada keturunannya kemudian.

Berasaskan kepada kedudukan ini, Ali ibn Abu Talib dan pengikutnya, menurut mereka, tidak terjumlah diantara ‘Ahl al-Sunnah wal Jamaah’ seakan gelaran ini ‘Ahl al-Sunnah wal Jamaah’ telah dicipta untuk menentang dan setanding dengan Ali dan pengikutnya. Inilah sebab utama pada perpecahan yang menjadi bencana pada Ummah Islam setelah wafatnya rasul Allah kepada Sunni dan Syiah.

Jika kita berpatah balik dan menganalisa semula fakta-fakta yang ada dan menghapuskan tabir yang melindunginya, bergantong kepada rujukkan sejarah yang sahih, kita akan mula mengetahui bahawa perbezaan yang begitu ketara mendadak timbul selepas wafatnya rasul Allah. Abu Bakr terus mengambil kuasa, menaiki tahta kerajaan dengan pertolongan sebilangan besar dari para sahabat. Ali ibn Abu Talib dan Banu Hashim dengan sebilang kecil dari para sahabat yang dianggap lemah disegi politik tidak menerima perlantikannya.

Tidak perlu diperkatakan bahawa semua penguasa yang memerintah akan menyingkir dan menghapuskan lawan mereka yang lemah, menganggap mereka sebagai menyimpang dari aliran Islam yang Utama. Mereka bersungguh-sungguh untuk melumpuhkan lawan mereka dengan semua cara, ekonomi, sosial, dan juga politik.

Ini adalah fakta yang telah diketahui umum bahawa dizaman sekarang pengikut ‘Ahl al-Sunnah wal Jamaah’ tidak menyedari gambaran sebenar peranan politik yang telah dimainkan diketika itu dan sejauh manakah permusuhan dan kebencian dizaman kedengkian itu telah dilakukan oleh mereka untuk memencilkan dan menjauhkan keperibadian yang agung didalam sejarah manusia selepas rasul Allah, Muhammad. Dimasa ini, ‘Ahl al-Sunnah wa Jamaah’ mempercayai bahawa semuanya berjalan lancar dengan sebaik yang mungkin, dan bahawa semuanya berputar dengan penuh persetujuan dengan kitab Allah [al-Quran] dan juga Sunnah semenjak dari masa ‘khalifah rashidin’ dan bahawa mereka adalah seperti malaikat; makanya, mereka saling menghormati satu dengan yang lain, dan tidak terdapat rasa sakit hati diantara mereka, tidak ada keinginan dan niat yang jahat. Atas sebab ini, kamu dapati mereka menolak semua yang dikatakan oleh Syiah mengenai sahabat secara am dan ‘khalifah yang adil’ secara khusus.

Ianya seakan-akan ‘Ahl al-Sunnah wal Jamaah’ tidak pernah membaca buku sejarah yang ditulis oleh ulama’ mereka sendiri, hanya berpuas hati dengan segala pujian, penghormatan dan keagungan yang berlebihan yang telah diberikan oleh keturunan mereka kepada para sahabat secara am dan kepada ‘khalifah rashidin’ secara khusus. Jika mereka telah membuka minda dan pandangan mereka dan membuka halaman sejarah, begitu juga buku-buku hadith rasul Allah yang terdapat pada mereka, carilah kebenaran dan cubalah mengetahui siapa yang benar dan siapa yang salah, mereka tentunya telah menukar fikiran tidak sahaja mengenai para sahabat, tetapi juga mengenai banyak perundangan yang mereka anggap sebagai benar sedangkan ianya tidak.

Melalui usaha yang tidak seberapa ini, saya cuba untuk menerangkan kepada saudara-saudara saya ‘Ahl al-Sunnah wal Jamaah’ beberapa fakta yang telah memenuhi buku sejarah, dan menunjukkan kepada mereka secara ringkas teks yang nyata yang telah menyangkal kedustaan dan menunjukkan kepada kebenaran, dan berharap dengan melakukan ini semua ianya akan dapat mengubati perbalahan dan perpecahan Muslim dan membawanya kepada penyatuan.

‘Ahl al-Sunnah wal Jamaah’ dizaman sekarang, sebagaimana yang saya mengenali mereka bukanlah fanatik, ataupun mereka menentang Imam Ali atau Ahl al-Bayt, bahkan, mereka cinta dan menghormati mereka, tetapi mereka, pada masa yang sama, mencintai dan menghormati musuh-musuh Ahl al-Bayt dan mengikuti jejak langkah mereka, pada fikiran ahl al-sunnah bahawa ‘mereka semua mencari kedekatan [kerida’an] kepada rasul Allah’

‘Ahl al-Sunnah wal Jamaah’ tidak bertindak pada prinsip arahan, berbaik-baik dengan rakan Allah dan menjauhkan diri dari musuh Allah; bahkan, mereka mencintai setiap orang dan mencari kedekatan kepada Muawiyah ibn Abu Sufyan sebagaimana mereka mencari kedekatan kepada Ali ibn Abu Talib.

Kilauan gelaran ‘Ahl al-Sunnah wal Jamaah’ telah menyilaukan mereka, dan mereka tidak tahu akan implikasi [maksud] dan sindiran yang telah ditanamkan oleh kebijaksanaan orang-orang Arab padanya. Jika mereka suatu hari nanti dapat menyedari bahawa Ali ibn Abu Talib lah yang menghidupkan Sunnah rasul Allah, dan bahawa beliaulah pintunya yang membawa kepada Sunnah-sunnah tersebut, dan bahawa mereka telah menentang beliau dan beliau telah menentang mereka….

mereka tentunya akan menolak pendirian itu dan menyelidik isu ini dengan sirius, dan tidak akan terdapat sebarang ‘Ahl al-Sunnah’ melainkan mereka-mereka yang mengikuti Sunnah Muhammad dan Ali. Untuk sampai kematlamat itu, kami terpaksa membongkarkan untuk mereka plot [rancangan] teragung yang telah memainkan peranan yang amat sirius bagi mengenepikan Sunnah Muhammad, dan sebagai gantiannya menokok tambah dengan bid’ah jahiliah yang telah menyebabkan kemunduran kepada Muslim dan menyimpangnya mereka dari al-Sirat al-Mustaqeem [jalan Allah yang lurus] dan perpecahan dan permusuhan mereka. Ianya juga menyebabkan mereka kemudiannya mengelar satu sama lain kafir, dan saling berperang diantara satu dengan yang lain. Inilah penyebabnya kemuduran mereka didalam teknologi dan sains yang membawa mereka kepada, dijajah, dihina dan ditawan.

Setelah mengakhiri pandangan yang ringkas ini, mengenali Syiah dan Sunni, kita hendaklah mengambil catatan kepada beberapa fakta bahawa Syiah tidaklah bererti bahawa penyokongnya menentang Sunnah, sebagaimana kebanyakkan mereka telah dikelirukan pada memikirkan apabila mereka menyebut dan mengatakan: ‘Kami adalah pengikut Sunnah’ bererti bahawa yang lainnya menentang Sunnah. Ini adalah sesuatu yang Syiah tidak dapat menerimanya sama sekali, bahkan, Syiah begitu yakin bahawa mereka, dan hanya mereka lah yang memegang teguh Sunnah rasul yang sahih terutamanya, kerana mereka mengambil Sunnah tersebut melalui pintunya, iaitu Ali ibn Abu Talib; tidak terdapat pintu yang lain dari beliau, dan pada pendapat mereka, tiada siapa yang dapat sampai kepada rasul melainkan melalui beliau.

Kami sebagaimana biasa cuba untuk tidak memihak kepada mana-mana pihak agar sampai kepada kebenaran, sementara membawa para pembaca dari satu peringkat kesuatu peringkat yang lain supaya kita bersama dapat melihat semula peristiwa sejarah. Kami akan memberikan kepadanya bukti dan keterangan yang menunjukkan Syiah adalah pengikut Sunnah yang sebenar dan begitulah pandangan pada tajuk buku ini, dan meninggalkannya kepada pembaca selepas itu kebebasan untuk membuat keputusan dan komen sebagaimana yang dia kehendakki.


[2] Ia akan menjadi kenyataan dari penyelidikkan bahawa ‘Ahl al-Sunnah wal Jamaah’ tidak meletak nama Ali ibn Abu Talib kepada mereka yang bertiga ‘khalifah yang adil’ melainkan di era [zaman] yang kemudiannya didalam sejarah.

‘Syiah Imamiah, Ahlussunnah Yang Sejati’

Itu adalah keengganan mereka untuk turut serta didalam tentera Usamah yang telah ditubuhkan sendiri oleh rasul Allah dengan memerintahkan mereka, dua hari sebelum baginda wafat, untuk berada dibawah pemerintahan Usama. Mereka sehinggakan sanggup menyebarkan keraguan diatas kebijaksanaan rasul Allah dan mengkritik baginda kerana telah melantik seorang muda berusia 17 tahun, yang belum pun tumbuh janggut, sebagai pemerintah tentera. Abu Bakr dan Umar dan ramai lagi para sahabat yang lain, enggan turut serta didalam pasukan tersebut, dengan alasan bahawa mereka mengambil berat tentang isu khalifah walaupun kutukkan rasul Allah terhadap mereka yang enggan bersama Usamah [baca ms 29 jilid 1 buku al-Shahristani Kitab al-milal wal nihal kenyataan rasul:‘Kutukan Allah kepada sesiapa yang meninggalkan pasukan Usamah.’)

Gambar lucu kucing lucu tidur di gelas | Gambar Lucu | Kartun lucu ...

Ali dan pengikutnya, mereka tidak diarahkan oleh rasul Allah untuk turut serta didalam pasukan Usama adalah bertujuan untuk menghapuskan pertikaian, dan juga bertujuan untuk mengeluarkan kehadiran penghalang-penghalang yang degil yang menentang perundangan Allah, supaya mereka tidak akan kembali dari Mu’ta [melaksanakan tugas didalam pasukan tentera] sebelum Ali dapat memegang tampuk kerajaan dengan sepenuhnya, sebagaimana yang dikehendaki Allah dan rasulNya supaya beliau menjadi pengganti rasul.

Tetapi dikalangan Arab yang pintar belit dari Quraysh, mereka dapat meramalkan rancangan rasul dan enggan keluar dari Madinah. Mereka menunggu sahingga rasul kembali kepada Tuhannya. Maka barulah mereka melaksanakan skim rancangan mereka, menentang dan tidak melaksanakan apa yang Allah dan rasulNya inginkan; dalam perkatan lain, mereka menolak Sunnah Rasul.

Maka menjadi nyatalah kepada kami, dan kepada semua para penyelidik, bahawa Abu Bakr, Umar, Uthman, Abd al-Rahman ibn Awf, dan Abu Ubaydah Amir al-Jarrah selalu enggan [menolak] untuk terikat dengan Sunnah Rasul, mereka lebih suka pada pendapat sendiri. Mereka selalu mengejar kepentingan dunia dan menginginkan untuk memiliki penguasaan politik walaupun jika harga untuk melakukannya adalah menderhaka kepada Allah dan RasulNya.

Dan bagi Ali dan sahabat yang mengikut beliau, mereka selalu menegakkan Sunnah Rasul dan bertindak menguatkuasakan sepenuhnya seberapa yang terdaya. Kita telah lihat bagaimana Ali semasa krisis itu telah melaksakan wasiat rasul untuk memandikan jasadnya, menyediakan kafannya, melakukan solat jenazah untuknya, dan mengkebumikan baginda kedalam kubur. Ali melaksanakan semua arahan-arahan itu tanpa mengalihkan tumpuan kepada yang lain walaupun beliau tahu bahawa yang lain-lainnya berlumba-lumba ke saqeefa Bani Sa’idah bertujuan untuk melantik seorang dari mereka sebagai khalifah. Beliau juga boleh melakukan yang serupa dan sabotaj [menggagalkan] rancangan mereka, tetapi penghormatannya kepada Sunnah Rasul dan pada perlaksanaannya mengatakan bahawa beliau mesti tinggal disisi baginda rasul.

Para pembaca..


Ini adalah suatu pendirian yang serius yang telah diambil oleh kebanyakkan para sahabat ditempat Banu Sai’dah yang dengan terang telah menentang kenyataan rasul Allah yang melantik Ali sebagai khalifah dan mereka semua telah saksikan dihari Ghadeer ketika Haji Terakhir Rasul Allah. Walaupun mereka mempunyai pendapat yang berlainan diantara Muhajir dan Ansar mengenai isu kedudukan khalifah, mereka tetap berlumba-lumba secara kurang bersopan diantara satu dengan lain untuk mengenepikan kenyataan rasul Allah dengan mendahulukan Abu Bakr sebagai khalifah walaupun jika ianya akan mengakibatkan kebinasaan mereka, makanya, ini menunjukkan kesediaan mereka untuk membunuh sesiapa sahaja walaupun dari punca yang teramat kecil yang dianggap akan menentang mereka, dan walaupun jika manusia itu yang paling rapat kepada rasul Allah. [15]

Insiden ini juga mengariskan fakta bahawa kebanyakkan majoriti para sahabat membantu Abu Bakr dan Umar di dalam penolakkan Sunnah rasul Allah dan menggantikannya dengan ijtihad mereka sendiri, pandangan peribadi, kerana mereka tentunya menyebelahi kepada ijtihad. Ini juga dapat memperlihatkan dari keseluruhan komuniti bahawa hanya sejumlah kecil dari kaum minoriti Muslim yang memegang teguh kenyataan rasul Allah dan memulaukan [boikot] perlantikkan Abu Bakr, terutamanya Ali dan Shianya, pengikut dan penyokong beliau.

Ya, pengenalan [identiti] yang jelas bagi dua kumpulan atau parti ini telah kelihatan didalam dunia Islam sejurus selepas insiden yang diatas. Satu parti cuba untuk menghormati dan melaksanakan Sunnah rasul Allah, sedangkan yang satu lagi cuba untuk mengalahkannya, menghapuskan dan menggantikan dengan ijtihad, konsep yang menarik ramai majoriti, dengan hasutan dan memberi harapan untuk mencapai kerusi kerajaan atau sekurang-kurangnya mengambil bahagian didalamnya. Parti Sunni [mengikuti sunnah rasul] yang pertama telah diketuai oleh Ali ibn Abu Talib dan Shiah beliau, sedangkan parti yang satu lagi yang menggunakan ijtihad telah diketuai oleh Abu Bakr dan Umar dan kebanyakkan dari para sahabat. Parti yang kedua, yang diketuai oleh Abu Bakr dan Umar menggunakan kuasa yang ada pada mereka untuk menghapuskan parti yang pertama, dan beberapa langkah telah dirancangkan untuk menghapuskan parti pembangkang adalah seperti berikut:

  1. Memencilkan Pembangkang dan Melumpuhkan Ekonominya

Langkah pertama yang diambil oleh parti pemerintah adalah untuk menafikan lawannya [musuhnya] daripada mendapat kemudahan percuma kepada punca-punca kehidupan atau pun kewangan. Abu Bakr dan Umar memberhentikan pekebun-pekebun yang telah diupah oleh Fatimah untuk mengusahakan tanah Fadak [16], menganggapnya sebagai harta Muslim bukan milik Fatimah secara peribadi, sebagaimana yang ayahnya telah katakan. Mereka juga menafikan beliau dari segala pusaka peninggalan ayahnya, menyatakan bahawa para rasul tidak meninggalkan pusaka. Mereka menamatkan bahagian beliau dari khums yang mana rasul Allah telah memperuntukkan untuk diri dan keluarganya kerana mereka telah dilarang untuk menerima sedekah.

Maka Ali menjadi lumpuh dari segi ekonomi: Hasil keluaran tanah Fadak yang biasanya menghasilkan keuntungan yang lumayan bagi diri beliau, telah dirampas darinya; beliau telah dihalang dari pusaka sepupunya, pada waktu yang sama juga, adalah milik yang sah bagi isterinya; lebih-lebih lagi, bahagiannya dari khums telah dipotong. Ali dan isterinya dan anak-anaknya kini mendapati diri mereka memerlukan kepada orang-orang yang boleh memberinya pakaian dan makanan, dan inilah sebenarnya yang dimaksudkan oleh Abu Bakr apabila dia berkata kepada Fatimah al-Zahra: ‘Ya, kamu berhak untuk menerima khums, tetapi saya akan membahagikannya sebagaimana rasul Allah telah membahagikannya, supaya saya tidak akan meninggalkan kamu tanpa makanan atau pakaian’

Sebagaimana yang telah saya katakan bahawa para sahabat yang menyebelahi Ali adalah kebanyakkannya hamba yang tidak mempunyai harta; maka kerajaan yang memerintah tidak khuatir terhadap mereka dan juga pengaruh mereka, kerana manusia lumrahnya berpihak kepada yang kaya dan benci pada yang miskin

2. Memencilkan Pembangkang dan Melumpuhkannya didalam Kemasyarakatan

Dalam cara untuk menghapuskan parti pembangkang yang diketuai oleh Ali ibn Abu Talib, parti pemerintah telah memisahkannya dari masyarakat. Perkara pertama yang dilakukan oleh Abu Bakr dan Umar adalah menghapuskan rintangan fisikologi dan emosi yang menghendaki semua Muslim menghormati dan memuliakan kerabat rasul Allah yang agung.

Oleh kerana Ali adalah sepupu kepada rasul Allah dan ketua bagi keturunan yang suci, terdapat diantara beberapa sahabat yang membenci beliau dan dengki diatas anugerah Allah keatas beliau, tidak perlulah disebut bagi sihipokrit yang menunggu untuk menyerang beliau. Fatima hanyalah satu-satunya keturunan rasul yang masih hidup selepas baginda. Beliau adalah, sebagaimana yang dikatakan oleh rasul Allah, ketua bagi semua para wanita didunia ini; makanya semua Muslim menghormatinya dan memuliakannya disebabkan oleh kedudukannya yang telah diperolehi dari ayahnya dan juga oleh hadith yang baginda telah nyatakan mengenai kemuliaan, kehormatan dan juga kesuciannya. Tetapi Abu Bakr dan Umar bersungguh-sungguh mencuba untuk menghapuskan kehormatan dan ingatan yang sedemikian dari hati Muslim awam. Umar ibn al-Khattab suatu ketika mendatangi rumah Fatima dengan andang api dan mengancam untuk membakar rumah berserta dengan semua penghuninya jika penghuninya enggan keluar dan memberi sumpah setia mereka kepada Abu Bakr. Didalam bukunya Al-‘Iqd al-Fareed, Ibn Abd Rabbih telah berkata:

Dan mengenai Ali, al-Abbas, dan al-Zubayr, mereka tinggal didalam rumah Fatima, sehingga Abu Bakr menghantar kepada mereka Umar ibn al-Khattab untuk memaksa mereka keluar dari rumah Fatima. Dia berkata kepada Umar: ‘Jika mereka enggan, perangi mereka.’ Maka dia datang membawa andang api untuk membakar rumah Fatima. Fatima bertemu Umar dan bertanya kepadanya: ‘O anak al-Khattab! Adakah kedatangan kamu untuk membakar rumah kami?’ ‘Ya’ kata Umar, ‘kecuali kamu menerima apa yang umma telah setuju.’[17]

Jika Fatima al-Zahra adalah ketua para wanita diseluruh dunia, sebagaimana yang dinyatakan di dalam buku-buku sahih ‘ahl al-sunna wal-jamaa’ dan jika anaknya al-Hasan dan al-Husayn adalah ketua bagi remaja disyurga dan kembang wangian rasul Allah didalam umma ini, dicela dan diperhina sehingga ketahap bahawa Umar bersumpah dihadapan semua orang untuk membakar mereka dan rumah mereka jika mereka enggan untuk memberi sumpah setia mereka kepada Abu Bakr, bolehkah sesaorang mengharapkan orang lain dapat mengekalkan sebarang penghormatan terhadap Ali ibn Abu Talib sedangkan kebanyakkan mereka benci dan dengki kepadanya? Setelah pemergian rasul Allah, Ali menjadi ketua pembangkang, kini dia tidak mempunyai harta untuk menarik manusia kepadanya.

Al-Bukhari menunjukkan di dalam Sahihnya bagaimana Fatima meminta supaya Abu Bakr memulangkan apa yang dia warisi dari rasul Allah, apa-apa yang Allah telah peruntukkan kepada baginda di Madina sebagai tambahan dari Fadak dan rampasan perang Khaybar, tetapi Abu Bakr enggan memberikan apa-apa kepadanya. Makanya Fatima menjadi amat marah dengan Abu Bakr dan telah mengabaikan dan tidak berkata-kata dengannya setelah dia merampas miliknya dengan kejam sehinggalah dia meninggal dunia hanya enam bulan selepas wafat ayahnya, rasul Allah. Apabila beliau meninggal dunia, suaminya Ali mengkebumikannya diwaktu malam. Abu Bakr tidak melakukan solat jenazah untuknya.

Dan Ali biasanya akan dipandang tinggi oleh orang awam selagi Fatima al-Zahra masih hidup, maka apabila beliau meninggal dunia, Ali melihat bagaimana manusia berpaling darinya; maka dia berbaik dengan Abu Bakr dan memberi perjanjian kepadanya; sedangkan dia tidak pernah melakukannya dibulan-bulan yang pertama. [18]

Maka parti pemerintah telah mendapat kejayaan yang besar dengan menjauhkan Ali secara ekonomi dan juga kemasyarakatan, dan menghapuskan penghormatan manusia terhadapnya, kerana mereka tidak mengekalkan sebarang penghormatan atau ingatan kepadanya terutama setelah meninggalnya Fatima al-Zahra, sehingga dia amat terperanjat terhadap tingkah laku manusia terhadap dirinya yang telah berubah. Makanya dia terpaksa berbaik semula dengan Abu Bakr dan memberikan perjanjiannya kepada Abu Bakr mengikut dari cerita al-Bukhari dan Muslim. Didalam perkataan lain, didalam perenggan [paragraf] ‘Ali amat terkejut melihat bagaimana tingkah laku manusia telah berubah terhadap dirinya’, diambil dari perkataan al-Bukhari sendiri, telah memberi kami petunjuk yang jelas betapa besarnya kedengkian dan dendam yang ayah al-Hasan terpaksa hadapi selepas wafat sepupunya dan kemudian isterinya. Sebahagian sahabat mungkin telah mula menghina dan mempersendakan dia apabila mereka bertemu dengannya ditempat awam; inilah makanya dia amat terperanjat dan marah dengan teguran yang sedemikian.

Bab ini bukan bermaksud untuk menceritakan sejarah atau mengkhususkan ketidak adilan yang telah dilakukan terhadap Ali sebanyak mana yang ingin kami dedahkan kepada fakta yang pahit lagi menyakitkan ini: Penegak kepada Sunnah Rasul, dan pintu bagi pengetahuan rasul, menjadi paria. Sebaliknya, mereka yang menyokong pada konsep menghuraikan agama dari sudut pandangan mereka, dari mereka yang menolak Sunnah Rasul, menjadi pemimpin yang mana disokong oleh kebanyakkan dari para sahabat.

3.Memencilkan Pembangkang di Arena Politik

Selain dari penguatkuasaan larangan yang keras, rampasan terhadap hak-hak hartanya, dan pengasingannya Ali ibn Abu Talib, dari masyarakat, dan ini telah mengalihkan pandangan manusia darinya sebagaimana yang telah kami terangkan dahulu, parti pemerintah masih tidak berpuas hati dengan segala tindakkan ini, maka mereka mula berpaling pula kepada menjauhkan Ali dari arena politik, mengenepikannya dari segala yang berkenaan negara, tidak membenarkan dia untuk mengambil bahagian atau dari segala kedudukan rasmi atau apa juga tanggong jawab.

Bahkan mereka melantik Umayyad yang zalim, yang telah memerangi Islam dikala hidupnya rasul Allah, pemimpin inilah yang telah menjauhkan Ali dari arena politik untuk selama suku abad semasa pemerintahan Abu Bakr, Umar dan Uthman. Sedangkan sebahagian sahabat yang dilantik menjadi gabenor sedang mengumpulkan harta, emas dan perak diatas pengorbanan orang Islam, Ali ibn Abu Talib berkerja mengairi [siram] pokok palma kepunyaan orang Yahudi untuk mencari nafkah kehidupannya dengan titik peluh didahinya.

Maka pintu pada pengetahuan, ulama’ bagi umma, dan penegak Sunnah Rasul tinggal berkurung didalam rumah tidak dihargai melainkan teramat sedikit dari golongan yang rendah yang tinggal setia kepadanya, menerima petunjuk dan memegang erat kepada talinya.

Semasa dia menjadi khalifa, Imam Ali telah mencuba tetapi sia-sia untuk membawa manusia kembali kepada Quran dan Sunnah Rasul kerana mereka telah menjadi fanatik didalam sokongan mereka terhadap ijtihad yang direka oleh Umar ibn al-Khattab, dan sebahagian dari mereka menjerit dengan cara terbuka: Waa Sunnata Umarah! [O betapa besarnya sunnah yang Umar telah bawakan untuk kami!]

Ini bukan satu tuduhan, tetapi fakta yang telah dipersetujui oleh seluruh ummah Muslim dan yang telah dirakamkan didalam sahih mereka dan yang mana para penyelidik dan mereka yang adil telah mengetahuinya. Imam Ali telah memahami keseluruh Teks Quran secara hafalan dan mengetahui segala penghuraiannya. Dia adalah orang yang pertama untuk mengumpulkannya sebagaimana yang telah dinyatakan oleh al-Bukhari, sedangkan Abu Bakr, Umar mahupun Uthman tidak menghafalnya, ataupun mengetahui penghuraiannya. [19] Para sejarah telah mengira sebanyak lebih dari tujuh puluh kali dimana Umar telah mengatakan:

Lawla Ali la halaka Umar [jika tidak kerana Ali, Umar tentu telah binasa] dan didalam perkataannya sendiri Abu Bakr berkata:

‘Semoga aku tidak hidup dimana-mana masa tanpa bapa al-Hasan’.


[15] Kenyataan yang sangat jelas, ancaman Umar ibn al-Khattab untuk membakar rumah Fatima dan setiap penghuni didalamnya. Insiden ini sangat terkenal didalam catitan sejarah
[16] Cerita mengenai Fadak sangat terkenal didalam buku sejarah dan juga perbalahan al-Zahra dengan Abu Bakr. Beliau meninggal dunia dengan merasa marah terhadap Abu Bakr. Insiden yang terkenal ini dirakamkan oleh Bukhari dan Muslim.
[17] Ini dinyatakan didalam jilid empat buku Al-‘Iqd al-Fareed dimana penulisnya membincangkan mengenai mereka yang enggan memberikan sumpah kepada Abu Bakr
[Gambar lucu kucing lucu tidur di gelas | Gambar Lucu | Kartun lucu ...

Para pembaca..
.
Ini adalah Bencana dihari Khamis, sebenarnya, yang paling trajik sekali. Ianya disebutkan oleh semua pengarang sahih dan sunan dan telah didokumenkan oleh semua para hadith dan ahli sejarah. Didalam bahagian yang bersangkutan dengan kenyataan rasul Allah yang sedang sakit: ‘Pergi jauh dari saya,’ al-Bukhari telah merakamkan didalam sahihnya [12]
bersandarkan kepada keterangan oleh Ubaydullah ibn Abdullah ibn ‘Utbah ibn Mas’ud.Abdullah menyatakan dari Ibn Abbas yang berkata bahawa apabila kematian menghampiri rasul Allah, rumah baginda dipenuhi oleh kaum lelaki termasuk Umar ibn al-Khattab. Rasul Allah berkata: ‘Biar saya tuliskan untuk kamu sesuatu yang akan senantiasa memelihara kamu daripada menyimpang selepas aku.’ Umar berkata: ‘Rasul Allah didalam keadaan gangguan mental [berkata yang bukan-bukan], dan kamu mempunyai bersama kamu al-Quran, jadi, Kitab Allah mencukupi bagi kami’ Mereka yang hadir disitu bertengkar diantara mereka, dan pertengkaran mereka telah bertukar menjadi perkelahian. Sebahagian mereka berkata:

‘Mari rapat kepada rasul supaya baginda dapat menuliskan sesuatu yang dapat menyelamatkan kita dari menyimpang selepas baginda,’ sedangkan yang lain mengulangi apa yang Umar telah katakan. Apabila pertengkaran dan perbalahan menjadi lebih hangat dihadapan rasul Allah, Rasul Allah berkata kepada mereka: ‘Pergi jauh dari saya.’ Ibn Abbas selalu mengatakan:

‘Bencana, bencana yang sebenar, adalah menghalang rasul Allah daripada menulis apa yang ingin dituliskan nya dengan pertengkaran dan perkelahian.’

Kesahihan hadith ini tidak dapat dipersoalkan, ataupun peristiwa yang mana telah pun berlaku. Al-Bukhari menyatakannya didalam bab Pengetahuan dengan panjang lebar di muka surat 22 jilid 1 didalam buku sahihnya dan juga telah dirakamkan didalam banyak buku-buku yang lainnya. Dia menulisnya dibeberapa tempat didalam sahihnya. Muslim, juga menyatakan dibahagian kesimpulan pada wasiat rasul Allah didalam sahihnya pada muka surat 14 jilid 2. Ahmad mengatakan dari hadith Ibn Abbas pada muka surat 325 jilid 1 di Musnadnya. Ianya telah dinyatakan oleh semua pengarang hadith dan buku sejarah, setiap pengarang menyuntingnya tetapi mengekalkan intipatinya, mengulangi fakta bahawa rasul Allah telah dikatakan sebagai ‘berkhayal’ atau ‘terganggu mental’ [nyanyok]. Tetapi mereka juga menyebut bahawa Umar telah berkata: ‘Rasul telah terganggu mental’ hanya untuk membuatkan kenyataan itu lebih munasabah dan melemahkan sentimen [perasaan] mereka-mereka yang mendapatinya sebagai penghinaan. Untuk menyokong fakta ini adalah dari apa Abu Bakr ibn Abdul-Aziz al-Jawhari telah katakan didalam bukunya Al-Saqifah dimana dia bergantung pada kata-kata Ibn Abbas.

Ibn Abbas telah berkata:

Apabila kematian menghampiri rasul Allah, terdapat ramai kaum lelaki dirumah baginda. Salah seorang dari mereka adalah Umar ibn Al-Khattab. Rasul Allah berkata:

‘Bawakan dakwat dan tempat tulis supaya dapat saya tuliskan sesuatu yang akan memelihara kamu dari menyimpang selepas saya.’ Mereka yang hadir berbalah diantara mereka. Sebilangan mereka mengatakan: ‘Mari hampir dan lihat rasul menuliskan untuk kamu sesuatu’ sedangkan yang lain mengulangi apa yang Umar telah katakan. Apabila perbalahan dan pertengkaran menjadi lebih hangat, rasul Allah menjadi marah dan berkata: ‘Pergi jauh dari saya’ [13]

Ini membuktikan bahawa para penulis hadith yang tidak mahu menyatakan nama orang yang membantah kehendak rasul Allah, telah menyatakan kenyataan orang itu secara lisan. Didalam bab memberi hadiah kepada perwakilan, didalam bukunya Al-Jihad wal Siyar, muka surat 118 jilid 2, al-Bukhari menyatakan:

Qabsah telah menyatakan sebuah hadith kepada kami dari Ibn Ayeenah, Salman al-Ahwal, dan Saeed ibn Jubayr. Mereka secara turutan menyatakan Ibn Abbas berkata: ‘Pada hari Khamis__apalah hari yang Khamis ini….’ Dia menangis dan kemudian terus berkata, ‘…kesakitan pada diri rasul Allah bertambah; maka, baginda mengarah kami untuk membawakan barangan untuk menulis supaya baginda dapat menuliskan sesuatu yang mana kita akan terpelihara dari menyimpang selepas baginda, tetapi manusia berbalah, setelah mengetahui bahawa sesiapa pun tidak boleh berbalah dihadapan rasul Allah. Mereka berkata: ‘Rasul Allah telah terganggu mentalnya’ Makanya baginda berkata: ‘Tinggalkan saya sendirian, sakit yang saya deritai lebih tertanggong dari apa yang kamu katakan terhadap saya.’ Baginda tinggalkan didalam wasiat baginda tiga arahan: Untuk mengeluarkan orang kafir dari tanah Arab, untuk menghadiahkan perwakilan dengan cara yang sama sebagaimana yang dilakukan oleh baginda,’ dan saya terlupa yang ketiganya.

Hadith yang sama telah dinyatakan oleh Muslim pada bahagian akhir bab mengenai wasiat didalam sahihnya, dan oleh Ahmad didalam hadith Ibn Abbas pada muka surat 222 jilid 1 dari hasil kerjanya, dan oleh para hadith yang lainnya. Adalah jelas dari insiden ini bahawa Umar ibn al-Khattab pada pandangannya bahawa dia tidak terikat oleh Sunnah rasul. Ini menunjukkankan perundangan yang dia laksanakan apabila dia menjadi khalifah, dan dimana dia menggunakan pandangan nya walaupun jika ianya bertentangan dengan kenyataan rasul Allah. Yang sebenarnya dia mengikuti pandangan dia sendiri apabila dia menentang teks [ayat-ayat] Allah yang nyata. Dia mengharamkan apa yang Allah halalkan dan begitu juga sebaliknya.

Adalah lumrah untuk melihat para penyokongnya dikalangan sahabat mempunyai atitiud [perangai] yang sama berkaitan dengan sunnah rasul. Bab yang seterusnya akan membuktikan pada para pembaca bahawa para sahabat tersebut, yang sebenarnya, dan kepada malapetaka yang besar pada Ummah Islam, setelah mereka meninggalkan Sunnah rasul Allah dan menerima pakai Sunnah Umar ibn al-Khattab sebaliknya.


[11] Bencana Khamis yang dirakamkan keduanya al-Bukhari dan Muslim didalam sahih mereka
[12] al-Bukhari sahih jilid 4 ms 4
[13] Ibn Abdul-Hadid, Sharth Nahjul Balagha jilid 2 ms 20.