novel dokter gigi, ferizal pelopor sastra novel dokter gigi indonesia

Saya ( ustad husain ardilla ) penulis web syi’ahali nyata nyata mengklaim mengidolakan karya karya ferizal pelopor sastra novel dokter gigi indonesia.
.
ustad husain ardilla seorang syi’ah juga pecinta novel dokter gigi lho..
.
Cara Beli Novel ferizal
SMS ke: “081907820606″ atau “081945990097″ dengan format: “Judul Buku-Nama-Alamat-Jumlah Pemesanan”

Judul Novel  : Dari PDGI Menuju Ka’bah

Penulis:

Ferizal

ISBN:

978-602-1203-36-1

Sinopsis:

“Dari PDGI Menuju Ka’bah”, sebuah novel tentang Ustad Ferizal yang merupakan ilmuwan kelas dunia, karena dalam usia muda mampu merancang virus penyakit hasil rekayasa genetik baru yang bernama “Masta” beserta obat penawarnya “Dedfriophon”

.

Isteri Ustad Ferizal bernama Drg.Dr.Silvi, Sp.OG yang baru saja ditinggal wafat suami pertamanya, mendapat beasiswa kuliah di Program Spesialis Gigi di Jerman dengan membawa ketiga anaknya

.

Drg.Dr.Silvi, Sp.OG menikah dengan Ustad Ferizal yang mendapat tugas kuliah di Program S2 Laboratorium di kampus yang sama. Namun sayangnya, kebahagiaan mereka diusik oleh seorang teroris radikal fundamentalis muslim garis keras bernama Victor Cross (pimpinan regu pembunuh elit yang dikenal dengan nama “Black Shadow”) yang ingin menculik Ustad Ferizal

.

Victor Cross gemar membunuh agen CIA, karena seorang agen CIA dulu pernah membunuh ayahnya. Ustad Ferizal berdiri tangguh melawan teroris kelas dunia dengan aksi-aksinya yang menegangkan. Ustad Ferizal yang jatuh cinta mendalam melakukan pembuktian kekuatan cinta pada isterinya, Drg.Dr.Silvi, Sp.OG, dengan melawan kelompok teroris ‘Black Shadow’. Inilah novel action tentang THE POWER OF LOVE, dua insan yang kelak wafat bersama di hadapan Ka’bah

.

Novel ini merupakan novel ke-6 karya Ferizal (penulis novel laga/action hero yang makin berkibar). Novel sebelumnya, yakni Pertarungan Maut di Malaysia, Ninja Malaysia Bidadari Indonesia, Superhero Malaysia Indonesia, Garuda Cinta Harimau Malaya, dan Ayat Ayat Asmara.

             Judul Novel  :Ayat Ayat Asmara

Penulis:

Ferizal

ISBN:

978-602-1203-35-4

Sinopsis:

“Ayat-Ayat Asmara”, sebuah novel bergenre action thriller yang sarat dengan aksi pembalasan dendam hancur-hancuran. Inilah kisah Romeo dan Juliet versi Muslim. Seorang Dokter bernama Ustad Ferizal Romeo, jiwanya telah melebur jadi satu dalam kesucian cinta, dengan almarhumah isterinya yang bernama Ustazah Drg. Diana Juliet yang tewas dibunuh teroris radikal ketika berada di New York, Amerika Serikat

.

Jenny Spears dan Ferizal Romeo, bersumpah menyuguhkan aksi balas dendam dengan membantai teroris. Inilah kisah dua insan yang tidak punya pilihan lain. Lalu, terpaksa mengambil keputusan untuk menyelesaikan masalah dengan caranyasendiri, gagah berani, dan pantang menyerah—dengan segala keterbatasan ketika mencari keadilan. Jenny Spears dan Ferizal Romeo melakukan aksi berani mati di New York

.

“Di dalam hidupku, hanya Drg. Diana yang kuundang singgah di hatiku. Hanya Drg. Diana yang aku inginkan. Ya Tuhan, Engkau tahu bahwa aku sangat mencintai Drg. Diana. Satukanlah kami, karena aku hanya meminta Drg. Diana untuk menjadi pendamping hidupku yang hanya sekali di alam fana, juga untuk kehidupan abadiku nantinya. Hanya Drg. Diana. Betapa besar cintaku padanya… Aku tidak ingin yang lain.”

.

Novel ini merupakan serial ke-5 dari “Legenda Cinta Kasih Abadi Dokter Feriza—Drg. Diana”. Novel sebelumnya, yakni Pertarungan Maut di Malaysia, Ninja Malaysia Bidadari Indonesia, Superhero Malaysia Indonesia dan Garuda Cinta Harimau Malaya, karya Ferizal (Penulis Novel Laga/Action Hero yang Makin Berkibar)

            Judul Novel  :Ninja Malaysia Bidadari Indonesia

Penulis:

Ferizal

ISBN:

978-602-1203-12-5

Sinopsis: 

Novel ini tentang heroisme seorang dokter warganegara Malaysia berstatus ninja, yakni Prince Ferizal (murid dari Masaza Isheda) yang berupaya menumpas Kashogi (pimpinan ‘Gank Ninja Merah’, Amerika Serikat, pengedar narkotika internasional). Begitu banyak aksi pertarungan—lengkap dengan tumpahan darah di medan laga—khas ninja dalam novel ini

.

Karena dendam membara atas terbunuhnya sang kekasih, Drg. Diana—Prince Ferizal melakukan ‘mission impossible’ seorang diri, yakni aksi penyelamatan (rescue mission) terhadap puteri bangsawan Brunei bernama Dokter Risa yang disandera oleh ninja teroris ‘Gank Ninja Merah’ di Sabah (yang berpakaian serba hitam, ninja dilengkapi juga dengan pedang dan senapan AK 47)

.

Drg. Diana yang paling berharga bagiku, jiwaku menyentuh jiwanya. We have a great chemistry

.

Rasa cintaku pada Drg. Diana abadi selamanya
Kurindu dirinya dan kuperlukan cintanya Kupertaruhkan airmata, darah, dan nyawa
Kuhembuskan sampai penghujung usia

.

Novel “Ninja Malaysia Bidadari Indonesia” adalah jawaban atas pertanyaan, “Kapan novelis Indonesia bisa membuat novel laga ala ninja yang seru?” Novel ini merupakan novel kedua dari 4 serial novel tetralogi Indonesia—Malaysia, karya Ferizal.

Judul Novel  : Pertarungan Maut Di Malaysia

Penulis:

Ferizal

ISBN:

978-602-1203-08-8

Sinopsis: 

Rose DeWitt Bukater, salah seorang saksi mata tenggelamnya kapal Titanic. Menjelang wafat, melempar kalung Heart of the Ocean ke dalam lautan

.

Prince Ferizal Amirul, seorang bangsawan sekaligus Perwira Tentara Diraja dari Tanah Malaka, Malaysia, ditugaskan oleh Raja Muda Malaka untuk mengawal Celine, seorang gadis Amerika Serikat (puteri dari penemu kalung Titanic Heart of the Ocean). Ayah Celine, yang bernama Matt Kruger juga merupakan pewaris “kotak kayu berisi dokumen pemecah kode ramalan Nostradamus beserta manuskrip berharga dari Baitul Maqdis, Baghdad, Mesir, dan negara-negara Arab lain”

.

Misi utama Prince Ferizal Amirul adalah menyelamatkan gadis Amerika tersebut dari tangan teroris internasional, pimpinan Kolonel Assad, yang berupaya merampas kotak kayu berisi dokumen pemecah kode ramalan Nostradamus beserta kalung Titanic Heart of the Ocean. Prince Ferizal Amirul jatuh cinta pada Drg. Diana, wanita dari Bandung yang berupaya membantu menyelesaikan misi sang Pangeran

.

Novel ini, ditulis dalam gaya bahasa yang berkelas dunia (internasional). Novel ini merupakan novel pertama dari 4 serial novel tetralogi Indonesia-Malaysia karya Ferizal. Gambar Wayang berpasangan, laki laki dan perempuan pada cover novel ini, mendeskripsikan “kisah cinta abadi yang penuh aksi laga”, bagai legenda kisah kolosal klasik Rama dan Shinta (Ramayana)

.

Romeo dan Juliet mati bersama lalu menjadi cerita dunia.
Ada kisah cinta Qais yang merana karena Laila.
Namun, adakah mereka mengorbankan nyawa demi negara?
Sebagaimana legenda cinta kasih abadi Prince Dokter Ferizal Amirul-Drg. Diana? (Ferizal)

segelintir orang menulis buku lalu mengatsnamakan MUI menyesatkan Syiah

Bedah Buku Mengkritisi MUI, Narasumber MUI dan DEPAG Enggan Hadir

 

 

 

 

 

 

Bedah Buku Mengkritisi MUI, Narasumber MUI dan DEPAG Enggan Hadir

.

“Buku ini hakikatnya tidak mengkritik MUI sebagai lembaga, tapi mengkritik kesalahan yang memang harus dikoreksi,” 
.

Bertempat di Husainiyah Yayasan Kharisma Usada Mustika (KUM), Jakarta Barat Jum’at, 21 Maret 2014, buku karya Emilia Renita Az tersebut dibedah dan didiskusikan. Hadir sekitar empat ratus peserta dalam acara yang dimulai pukul 20.00 WIB tersebut.

.

Hadir dalam acara bedah buku yang bertajuk “Inilah Jalanku yang Lurus” tersebut, Zuhairi Misrawi dan Kiai Alawi al-Bantani dari Nahdhlatul Ulama (NU), Dr. Zuhdi dari Muhammadiyah, dan Dr. Jalaluddin Rahmat dari Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia (IJABI). Dua narasumber kunci dari Depag, Dr. Muhammad Zain dan Dr. Amirsyah dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang juga diundang oleh panitia sampai acara berakhir tidak menghadirkan diri.

.

Acara bedah buku dimulai dengan pembacaan ayat suci al-Qur’an yang dilanjutkan dengan pembacaan Press Release Tanggapan penulis buku, Emilia Renita Az dalam kritiknya, “Apakah MUI Sesat Berdasarkan 10 Kriteria Aliran Sesat yang ditetapkan MUI sendiri?”

.

Ketika diwawancarai oleh kru Berita Protes, Emilia Renita Az, yang lebih dikenal dengan panggilan Bu Nike tersebut, menyebutkan bahwa buku yang ditulisnya diterbitkan atas nama pribadinya sebagai seorang penganut Syiah yang merasa terusik dengan banyaknya fitnah dan tekanan yang diterima penganut Ahlulbait Indonesia karena fatwa MUI. Dr. Jalaludin Rakhmat, atau yang lebih dikenal dengan panggilan Kang Jalal sendiri, selaku Ketua Dewan Syura IJABI mengiyakan hal tersebut.

.

Buku karya istrinya itu adalah buku pribadi, bukan atas nama IJABI. Meski demikian, Kang Jalal mengaku ia sedikit banyak bersumbangsih menulis di beberapa bagian, juga menghilangkan beberapa tulisan yang dianggapnya terlalu keras di buku ini.

.

Bu Nike dalam lanjutan wawancaranya mengatakan, memang Kang Jalal sangat besar andilnya dalam melembutkan, dan bahkan meniadakan banyak tulisannya yang bernada keras dan emosional. Dan menggantinya dengan tulisan yang lebih kalem. “Iya. Memang banyak yang diubah sama kang Jalal,” akunya.

.

Zuhairi Misrawi, cendikiawan muda dari NU memberikan apresiasi positif atas terselenggaranya acara bedah buku tersebut. Menurutnya perbedaan pendapat dan perdebatan akademis itu adalah sesuatu yang niscaya. “Terbitnya buku sanggahan terhadap buku MUI itu menurut saya adalah tradisi yang sehat dalam perkembangan Islam”, ujar Zuhairi. “Munculnya dialog akademis buku dijawab buku ini menurut saya akan mencari titik temu. Memang ada perbedaan dalam doktrin keagamaan, tetapi persamaan jauh lebih besar, kan?”

.

Dr. Zuhdi, salah seorang pembicara dari Muhammadiyah dalam kesempatan tersebut juga menyebutkan bahwa buku kritik terhadap buku yang mengatasnamakan MUI ini jangan dianggap sebagai sikap memusuhi MUI. Karena pada dasarnya, yang dikritik bukanlah MUI sebagai lembaga, tetapi keburukan dan fitnah yang diatasnamakan MUI. “Buku ini hakikatnya tidak mengkritik MUI sebagai lembaga, tapi mengkritik kesalahan yang memang harus dikoreksi,” ujarnya.

.

Kang Jalal, selaku pihak yang juga ikut andil dalam pembuatan buku tersebut juga mengiyakan pernyataan Dr. Zuhdi. Dr. Zuhdi dalam kesempatan itu sekaligus menyampaikan sikap resmi DPP Muhammadiyah yang tidak mensesatkan Syiah. Bahwa Dewan Tabligh Muhammadiyah tak pernah menyesatkan Syiah dan bahwa Syiah adalah bagian tak terpisahkan dari Islam. “Saya tegaskan, bahwa secara resmi DPP Muhammadiyah tak pernah menyesatkan Syiah,” terang Dr. Zuhdi.

.

Meski beredar buku panduan MUI yang menuduh Syiah sesat, Ketua Umum DPP Muhammadiyah, Din Syamsudin yang sekaligus mejabat sebagai Ketua Umum MUI yang baru dalam sebuah wawancara di JakTV menyebutkan bahwa tuduhan Syiah sesat dengan mengatasnamakan buku panduan MUI merupakan fitnah besar. Saat dikonfirmasi, inilah jawaban Dr. Zuhdi, “Begini, Pak Din kan baru jadi Ketua. Kedua, saya melihat, itu bukan hasil kesepakatan (resmi) MUI. Tapi segelintir orang menulis buku lalu mengatsnamakan MUI menyesatkan Syiah. MUI secara kelembagaan tidak pernah menyesatkan Syiah. Dia (Syiah) bagian umat Islam.”

.

Dr. Zuhdi juga menyayangkan kenapa perwakilan Depag dan MUI yang semestinya bertanggungjawab menjelaskan hal ini tidak datang di acara ini meski sudah diundang. “Mestinya pihak MUI datang. Kan bisa diwakilkan kalau mereka bertanggungjawab,” ujar Dr. Zuhdi. Dari Departemen Agama, yang diundang adalah Dr. Muhammad Zain. Sedang dari pihak MUI adalah Dr. Amirsyah. Tetapi sampai acara berakhir keduanya tak menunjukkan batang hidungnya. Para pengunjung sendiri merasa sangat kecewa dengan ketidakhadiran mereka.

.

Menurut Zuhairi Misrawi, MUI mestinya juga bertanggungjawab. Karena jika mereka lepas tangan, fitnah ini akan menjadi bola liar yang menyebar di masyarakat. “Masyarakat awam hanya tahu ini MUI sebagai lembaga yang punya otoritas. Lalu pandangan (yang mengatasnamakan) MUI dipandang sebagai pandangan absolut. Ini sangat disayangkan,” keluh Zuhairi. “Kalau kita tahu sejarah, kita tak bisa mengabaikan sumbangsih besar Syiah dalam peradaban Islam.

.

Terutama Syiah Itsna Atsariyah. Yang jadi masalah adalah orang tidak membaca khazanah Syiah. Yang mereka baca hanya literatur yang berpandangan negatif kepada Syiah. Jadi akhirnya kesimpulan yang diambil sangat subjektif. Dengan adanya kritik balik ini akan memberi pendewasaan pada masyarakat, aparat dan akademisi bahwa apa yang disampaikan MUI ini berkaitan tentang Syiah tidak sepenuhnya benar.”

.

Diluncurkannya buku Inilah Jalanku Yang Lurus, Menanggapi Buku Panduan Majelis Ulama Indonesia “Apakah MUI Sesat? Berdasarkan 10 Kriteria Aliran Sesat?” ini menurut Zuhairi Misrawi merupakan hal yang positif. Karena akan membangun dialog dan tradisi debat akademis yang pada gilirannya akan mencerdaskan dan memajukan umat Islam.

.

Tentu, dialog akademis ini akan lebih bernas dan bermanfaat bagi umat Islam jika pihak (yang mengklaim dari) MUI berani hadir mempertanggunjawabkan tulisannya.

.

buku “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia” (MMPSI), yang sejak November 2013 tahun lalu disebarkan dengan gencar secara gratis di berbagai masjid diseluruh Indonesia seraya ditopang publikasi lewat jejaring sosial adalah buku kontroversial yang diklaim diterbitkan oleh MUI Pusat.

Sebagian dari tokoh MUI Pusat sendiri mengaku tidak tahu menahu mengenai proses penerbitan buku tersebut dan menyebut MUI tidak punya dana untuk mendanai buku dalam jumlah yang besar dan dibagian secara gratis. Buku tersebut menimbulkan polemik dan melahirkan tanggapan khususnya dari komunitas Syiah Indonesia yang dimaksud dalam buku panduan tersebut

.

Diantaranya, Emilia Renita Az, aktivis IJABI yang menulis buku, “Apakah MUI Sesat? Berdasarkan 10 Kriteria Aliran Sesat (yang dibuat MUI sendiri)?” yang disebutnya sebagai tanggapan dari buku yang diklaim diterbitkan oleh MUI Pusat

.

Makasih banyak pak Zuhdi atas kehadiran dan penjelasannya.
Surga memang sangat mahal dan tidak mungkin bisa dibayangkan keindahannya. Tetapi duri2 fitnah yang merintanginya sangat banyak dan beragam. Karena itu, tidak mudah meraihnya. Jalan menuju surga hanya bisa ditempuh dengan kendaraan (mazhab) yang kuat (argumennya), bisa menjawab berbagai tantangan dan problema hidup dan bersifat universal

.

Dan hal ini hanya bisa di dapati di dalam mazhab Syiah Imamiyah. Kalo tidak percaya, silahkan saja kaji dengan serius dan ikhlas, bandingkan dengan mazhab dan aliran lainnya dan pahami dengan baik dari sumbernya yang asli. Pasti nantinya Anda akan sependdapat dengan kami. Percayalah !
.

“Rakyat Iran adalah rakyat yang secara sepenuhnya sadar dengan keyakinan dan agama mereka. Saya benar-benar kagum, betapa rakyat Iran sangat dekat dan akrab dengan Al-Qur’an. Tiap tahun penyelenggaran pameran Al-Qur’an selalu semarak dan diminati. Saya tidak pernah
melihat penyelenggaraan pameran Al-Qur’an semarak sebagaimana di Iran

.

Hanya  saja, kita memang tidak bisa memungkiri dan menutup mata, tetap saja ada warga Iran yang tidak mengamalkan ajaran agamanya dengan baik.

.

Nasihat Imam Husein as: Tidak Mencari Aib Orang Lain

Tidak Mencari Aib Orang Lain

.

Imam Husein as berkata:

.

Seseorang yang tidak mencari aib orang lain berarti ia tidak perlu meminta maaf.” (Nuzhah an-Nazhir wa Tanbih al-Khathir, hal 80)

.

Tidak ada manusia yang tidak memiliki aib dan kekurangan baik dalam akhlak maupun perilakunya, bahkan mungkin saja kesalahan itu terjadi pada diri kita sendiri. Karena kita tidak maksum dan tidak terjaga dari kesalahan. Dari sini, manusia berakal dan beriman tidak boleh mencari tahu aib orang lain. Terlebih lagi bila ia telah mengetahuinya lalu menceritakannya kepada orang lain. Hal itu akan membuatnya terhina di tengah masyarakat dan menyedihkannya. Seseorang yang melakukan perbuatan ini pada akhirnya meminta maaf kepada orang tersebut.

.

Seorang mukmin setiap kali menyaksikan aib atau kekurangan pada perilaku orang lain, hendaknya ia tidak menyampaikannya kepada orang lain, tapi yang perlu dilakukannya adalah secara baik mengucapkannya langsung kepada orang tersebut. Bila perlu ia harus membimbingnya agar dapat mengurangi atau bahkan menghilangkan kekurangannya.

menisbatkan sesuatu kepada suatu mazhab tidak cukup hanya dengan bukti nukilan dari kitab mazhab tersebut.

sumber tulisan ini dari web http://www.secondprince.wordpress.com

Nama Allah Digunakan Untuk Beristinja’ : Kedustaan Terhadap Syi’ah

Sungguh mengherankan betapa banyak orang-orang yang membuat kedustaan atas nama Syi’ah. Kami heran hilang kemana kejujuran dan objektivitas dalam mencari kebenaran. Tidak setuju terhadap Syi’ah bukan berarti bisa leluasa berbuat dusta. Masih suatu kewajaran jika dengan alasan tertentu anda para pembaca tidak menyukai orang atau mazhab tertentu tetapi jika anda membuat kedustaan terhadapnya atau memfitnahnya dengan tuduhan dusta maka itu sangat tidak wajar.

Silakan para pembaca melihat tulisan disini. Pembaca akan melihat betapa rendah kualitas tulisannya yang hanya berupa kata-kata hinaan dan dusta [diantaranya bahwa Syi’ah membenci dan membakar Al Qur’an]. Kemudian ia menampilkan riwayat yang ia jadikan bukti atas judul tulisannya. Adapun kata hinaan dan dusta yang ia lontarkan hanya menunjukkan kerendahan akhlak dirinya maka kami akan berfokus pada bukti riwayat yang ia bawakan bahwa Syi’ah membolehkan beristinja’ dengan sesuatu yang terdapat nama Allah

Penulis tersebut membawakan riwayat dalam kitab Wasa’il Syi’ah. Sebelum membahas riwayat tersebut, perlu pembaca ketahui bahwa menisbatkan sesuatu kepada suatu mazhab tidak cukup hanya dengan bukti nukilan dari kitab mazhab tersebut. Contoh sederhana,

  1. Apakah dengan adanya hadis kisah Gharaniq dalam kitab hadis mazhab Ahlus Sunnah maka bisa dikatakan bahwa itulah keyakinan Ahlus Sunnah?
  2. Apakah dengan adanya riwayat sebagian sahabat meminum kotoran dan darah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dalam kitab hadis Ahlus Sunnah maka bisa dikatakan bahwa itulah keyakinan Ahlus Sunnah?.

Jawabannya tidak. Mengapa demikian? Karena bisa jadi riwayat-riwayat yang ada dalam kitab mazhab tersebut ternyata kedudukannya dhaif berdasarkan kaidah keilmuan di sisi mazhab tersebut. Oleh karena itu perlu diteliti apakah nukilan tersebut shahih atau tidak berdasarkan kaidah ilmu. Hal ini berlaku baik dalam mazhab Ahlus Sunnah maupun dalam mazhab Syi’ah. Orang yang serampangan menukil tanpa mengerti kaidah ilmu hanya menunjukkan kebodohan yang akan berakhir pada kedustaan. Itulah yang terjadi pada penulis rendah tersebut.

Riwayat yang ia jadikan bukti kami kutip dari kitab Al Istibshaar Syaikh Ath Thuusiy yaitu riwayat berikut

فأما ما رواه أحمد بن محمد عن البرقي عن وهب بن وهب عن أبي عبد الله عليه السلام قال: كان نقش خاتم أبي (العزة لله جميعا) وكان في يساره يستنجي بها، وكان نقش خاتم أمير المؤمنين عليه السلام (الملك لله) وكان في يده اليسرى ويستنجي بها

Maka adapun riwayat Ahmad bin Muhammad dari Al Barqiy dari Wahb bin Wahb dari Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] yang berkata “Ukiran cincin ayahku adalah [Al ‘Izzah Lillaah Jamii’an] dan cincin itu ada di tangan kirinya, ia beristinja’ dengannya. Ukiran cinci Amirul Mukminin [‘alaihis salaam] adalah [Al Mulk Lillaah] dan itu ada di tangan kirinya, ia beristinja’ dengannya [Al Istibshaar Syaikh Ath Thuusiy 1/48]

Riwayat ini berdasarkan kaidah ilmu Rijal dalam mazhab Syi’ah kedudukannya dhaif jiddaan karena di dalam sanadnya terdapat Wahb bin Wahb. Berikut keterangan ulama Rijal Syi’ah tentangnya

وهب بن وهب بن عبد الله بن زمعة بن الأسود بن المطلب بن أسد بن عبد العزى أبو البختري روى عن أبي عبد الله عليه السلام، وكان كذابا

Wahb bin Wahb bin ‘Abdullah bin Zam’ah bin Al Aswad bin Muthallib bin Asad bin ‘Abdul ‘Uzza, Abu Bakhtariy meriwayatkan dari Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] dan dia seorang pendusta [Rijal An Najasyiy hal 430 no 1155]

وهب بن وهب، أبو البختري، عامي المذهب، ضعيف

Wahb bin Wahb, Abu Bakhtariy, bermazhab ahlus sunnah, seorang yang dhaif [Al Fahrasat Syaikh Ath Thuusiy hal 256]

وهب بن وهب وهو ضعيف جدا عند أصحاب الحديث

Wahb bin Wahb dan ia dhaif jiddan di sisi ahli hadis [Tahdzib Al Ahkam Syaikh Ath Thuusiy 9/77]

Sudah jelas riwayat ini tidak bisa dijadikan hujjah di sisi mazhab Syi’ah karena perawinya dhaif dan pendusta di sisi mazhab Syi’ah. Tulisan saudara penulis itu memang rendah dan tidak berguna karena ia berhujjah dengan riwayat yang dhaif di sisi Syi’ah untuk mendustakan mazhab Syi’ah. Ia bahkan mengatakan Syi’ah sebagai agama yang hina dengan bersandar pada riwayat ini. Dan telah terbukti dalam pembahasan di atas bahwa penulis tersebut yang lebih pantas untuk dikatakan hina karena tuduhannya.

Ada baiknya kami mengulangi hakikat diri kami untuk mencegah orang-orang awam [dan termasuk penulis rendah tersebut] menuduh yang bukan-bukan terhadap kami. Kami bukan seorang pengikut mazhab Syi’ah tetapi kami tidak suka jika seseorang berbuat nista dan dusta terhadap mazhab Syi’ah. Silakan siapapun mengkritik Syi’ah tetapi berhujjahlah dengan kaidah ilmu yang ilmiah.

Novel “Dari PDGI Menuju Ka’bah” karya ferizal mampu menandingi Roman “Dibawah Lindungan Ka’bah” Buya Hamka

NFO BUKU TERBARU<br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />
Penerbit Meta Kata, April 2014</p><br /><br /><br /><br /><br /><br />
<p>Judul: Dari PDGI Menuju Ka’bah<br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />
Penulis: Ferizal<br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />
Pemerhati Aksara: Risty Arvel<br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />
Pewajah Sampul: de A media kreatif<br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />
Penata Letak Isi: de A media kreatif<br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />
=================================================<br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />
ISBN: 978-602-1203-36-1<br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />
=================================================<br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />
Harga: Rp 35.000,- (belum termasuk ongkir)<br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />
=================================================<br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />
Order:<br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />
SMS ke 081907820606<br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />
dengan format "Judul Buku-Nama-Alamat-Jumlah Order"<br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />
=================================================<br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />
Sinopsis:</p><br /><br /><br /><br /><br /><br />
<p>“Dari PDGI Menuju Ka’bah”, sebuah novel tentang<br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />
Ustad Ferizal yang  merupakan ilmuwan kelas dunia,<br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />
karena dalam usia muda mampu merancang virus penyakit<br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />
hasil rekayasa genetik baru yang bernama "Masta" beserta<br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />
obat penawarnya “Dedfriophon”.  </p><br /><br /><br /><br /><br /><br />
<p>Isteri Ustad Ferizal bernama Drg.Dr.Silvi, Sp.OG yang baru<br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />
saja ditinggal wafat suami pertamanya, mendapat beasiswa<br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />
kuliah di Program Spesialis Gigi di Jerman dengan<br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />
membawa ketiga anaknya..  </p><br /><br /><br /><br /><br /><br />
<p>Drg.Dr.Silvi, Sp.OG menikah dengan Ustad Ferizal yang<br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />
mendapat tugas kuliah di Program S2 Laboratorium di kampus<br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />
yang sama. Namun sayangnya, kebahagiaan mereka diusik<br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />
oleh seorang teroris radikal fundamentalis muslim garis keras<br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />
bernama Victor Cross (pimpinan regu pembunuh elit yang<br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />
dikenal dengan nama “Black Shadow”) yang ingin menculik<br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />
Ustad Ferizal. </p><br /><br /><br /><br /><br /><br />
<p>Victor Cross gemar membunuh agen CIA, karena<br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />
seorang agen CIA dulu pernah membunuh ayahnya.<br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />
Ustad Ferizal berdiri tangguh melawan teroris kelas dunia<br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />
dengan aksi-aksinya yang menegangkan. Ustad Ferizal<br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />
yang jatuh cinta mendalam melakukan pembuktian kekuatan<br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />
cinta pada isterinya, Drg.Dr.Silvi, Sp.OG, dengan melawan<br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />
kelompok teroris ‘Black Shadow’. Inilah novel action tentang<br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />
THE POWER OF LOVE, dua insan yang kelak wafat bersama<br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />
di hadapan Ka’bah. </p><br /><br /><br /><br /><br /><br />
<p>Novel ini merupakan novel ke-6 karya Ferizal (penulis novel<br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />
laga/action hero yang makin berkibar). Novel sebelumnya,<br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />
yakni Pertarungan Maut di Malaysia, Ninja Malaysia Bidadari<br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />
Indonesia, Superhero Malaysia Indonesia, Garuda Cinta<br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />
Harimau Malaya, dan Ayat Ayat Asmara.<br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />
===================================================” width=”268″ height=”395″ /></div><br /><br /><br />
</div><br /><br /><br />
</div><br /><br /><br />
</div><br /><br /><br />
<p><img id=” /></p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p>Novel “Dari PDGI Menuju Ka’bah” karya ferizal mampu menandingi Roman “Dibawah Lindungan Ka’bah” Buya Hamka</p>
<p>… Demi bila buku itu telah selesai, kirimkanlah kiranya kepadaku barang senaskah, guna menghidangkan kenang-kenanganku kepada masa yang telah lampau, semasa kita masih bernaung DI BAWAH LINDUNGAN KA’BAH</p>
<p>Novel “Dari PDGI Menuju Ka’bah”, novel karya ferizal ( sang pelopor sastra novel dokter gigi Indonesia)…</p>
<p>Novel ini diterbitkan oleh Penerbit Meta Kata, April 2014<br />
.<br />
Novel “Dari PDGI Menuju Ka’bah” dapat dianggap mampu menyaingi Roman “Dibawah Lindungan Ka’bah”<br />
.<br />
Web ferizal sang penulis ada di <a href=http://www.noveldoktergigi.wordpress.com/

Novel “Dari PDGI Menuju Ka’bah” karya ferizal mampu menandingi Roman “Dibawah Lindungan Ka’bah” Buya Hamka

… Demi bila buku itu telah selesai, kirimkanlah kiranya kepadaku barang senaskah, guna menghidangkan kenang-kenanganku kepada masa yang telah lampau, semasa kita masih bernaung DI BAWAH LINDUNGAN KA’BAH

Novel “Dari PDGI Menuju Ka’bah”, novel karya ferizal ( sang pelopor sastra novel dokter gigi Indonesia)…

Novel ini diterbitkan oleh Penerbit Meta Kata, April 2014
.
Novel “Dari PDGI Menuju Ka’bah” dapat dianggap mampu menyaingi Roman “Dibawah Lindungan Ka’bah”
.
Web ferizal sang penulis ada di http://www.noveldoktergigi.wordpress.com/

PEMBAHASAN  KEDUA :

Di bawah Lindungan Ka’bah : Kisah cinta versi Buya HAMKA

.
Kekurangan dari Novel Di Bawah Lindungan Ka’bah : Terletak pada bahasa yang digunakan. Karena bahasa yang digunakan yaitu antara bahasa minang-indonesia dan bahasa melayu jadi sulit dimengerti. Kelemahan yang terdapat dalam novel Di Bawah Lindungan Ka’bah yaitu dalam penulisannya.

.

Bahasa yang digunakan penulis dalam menulis novel tersebut masih berbelit-belit, masih mencampuradukkan antara bahasa Minang-Indonesia dengan bahasa Melayu sehingga tidak semua pembaca akan mengerti akan maksud yang ingin disampaikan oleh pengarang.

.
Buya Hamka pengarang dalam menceritakan tokohnya kurang menampakkan bentuk pisiknya. Penampilan bentuk pisik hanya terbatas pada tokoh utama “Hamid”
.
Pengarang menceritakan tokoh Hamid sebagai seorang pendiam, yang suka bermenung seorang diri, badannya kurus lampai, rambutnya hitam berminyak. Hal tersebut sesuai dengan kondisi tokoh utama dalam cerita, sebagai seorang yang hidupnya kurang beruntung, dan mengalami gagal dalam memenuhi cintanya
.
Tokoh-tokoh lainnya, seperti Zainab tidak digambarkan secara jelas, sehingga pembaca tidak bisa membayangkan seperti apa kecantikannya. Selain itu, bahasa pada novel ini masih menggunakan bahasa Melayu yang sulit untuk dipahami.

Sultan: Yang Sebut Syiah Sesat Merasa Benar Sendiri

 April 20, 2014

Jokowi Presiden, Jalaluddin Rahmad Menteri Agama

Jokowi itu Syi’ah?

sebuah informasi beredar, jika Jokowi terpilih menjadi presiden dalam pemilihan presiden nanti, maka Jokowi akan mengangkat tokoh Syi’ah Indonesia, yaitu Jalaluddin Rahmat menjadi menteri agama.

Sekarang, Jalaluddin Rahmat menjadi salah satu calon legislatif dari PDIP, di daerah pemilihan  Jawa Barat. Betapa tokoh Syi’ah ini masuk di PDIP, dan sekarang diakomodasi oleh partai yang dipimpin Mega. Jika Jalaluddin Rahmat menjadi menteri agama, maka ini akan berarti timbulnya bencana di Indonesia. Jalal terkenal ahli komunikasi dan akan sangat berpengaruh dilingkungan PDI.

Dengan masuknya Jalaluddin Rahmat di dalam kabinetnya Jokowi itu, membuat umat Islam Indonesia akan menjadi ‘letih’, energinya habis disibukkan oleh ‘PR’ (pekerjaaan rumah), berhadapan dengan masalah isu Syi’ah. Sehingga, masalah-masalah pokok yang strategisnya tidak lagi mendapatkan perhatian.

- See more at: http://www.voa-islam.com/read/indonesiana/2014/03/17/29529/jokowi-presiden-jalaluddin-rahmad-menteri-agama/#sthash.fxj00w7c.dpuf

sebuah informasi beredar, jika Jokowi terpilih menjadi presiden dalam pemilihan presiden nanti, maka Jokowi akan mengangkat tokoh Syi’ah Indonesia, yaitu Jalaluddin Rahmat menjadi menteri agama.

Sekarang, Jalaluddin Rahmat menjadi salah satu calon legislatif dari PDIP, di daerah pemilihan  Jawa Barat. Betapa tokoh Syi’ah ini masuk di PDIP, dan sekarang diakomodasi oleh partai yang dipimpin Mega. Jika Jalaluddin Rahmat menjadi menteri agama, maka ini akan berarti timbulnya bencana di Indonesia. Jalal terkenal ahli komunikasi dan akan sangat berpengaruh dilingkungan PDI.

Dengan masuknya Jalaluddin Rahmat di dalam kabinetnya Jokowi itu, membuat umat Islam Indonesia akan menjadi ‘letih’, energinya habis disibukkan oleh ‘PR’ (pekerjaaan rumah), berhadapan dengan masalah isu Syi’ah. Sehingga, masalah-masalah pokok yang strategisnya tidak lagi mendapatkan perhatian.

- See more at: http://www.voa-islam.com/read/indonesiana/2014/03/17/29529/jokowi-presiden-jalaluddin-rahmad-menteri-agama/#sthash.fxj00w7c.dpuf

berhadapan dengan masalah isu Syi’ah. Sehingga, masalah-masalah pokok yang strategisnya tidak lagi mendapatkan perhatian. – See more at: http://www.voa-islam.com/read/indonesiana/2014/03/17/29529/jokowi-presiden-jalaluddin-rahmad-menteri-agama/#sthash.fxj00w7c.dpuf

Mungkin Anda akan terkaget-kaget dengan informasi ini.. Emilia Renita AZ adalah Istri dari Jalalludin Rahmat atau yang akrab dipanggil dengan Kang Jalal. Kang Jalal positif menjadi kader PDI-P dan menjadi Caleg PDI-P dengan nomor jadi sebagai perwakilan Syi’ah di DPR RI.Statemen Emilia yang bikin heboh itu adalah :

Itu lho pak Jokowi, yang saya bilang orang Syiah yang akhlaknya baik banget difitnah macam-macam. Untung dia Syiah, jadi orang intoleransinya pada gonggong, Pak Jalal-nya jalan terus. Kalo baca fitnah-fitnahnya, lucu-lucu.. tenan, pak.. hehehee..,” ungkap Emilia dalam akun Facebook-nya pada Ahad (16/03) yang diungkap media online Antiliberalnews dan Dunia Islam.

Emilia secara terang-terangan menantang  dengan menerbitkan sebuah buku berjudul “Apakah MUI Sesat (Berdasarkan 10 Kreteria Aliran Sesat) sebagai buku seranngan balik terhadap MUI yang sebelumnya menerbitkan “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia ” dan dibagikan secara gratis kepada Aktivis Islam di seluruh Indonesia.

Dalam sebuah blog Syiah dan di google Anda bisa menemukan sebuah Artikel yang berjudul “Jokowi Presiden, Syi’ah Untung Besar”, dalam Artikel tersebut ditemukan kalimat :

” Keberpihakkan PDI-P pada minoritas sudah tidak diragukan lagi. Misalnya, jika kelompok Islam radikal menghajar syiah, eh…PDIP malah pasang tokoh syiah terkemuka–Kang Jalal—sebagai calegnya. Aksi bar-bar primitif ala Sampang tidak mungkin terulang jika Jokowi jadi Presiden”

Setahu saya, Islam Syiah itu merupakan Aliran Islam yang berani secara terbuka menentang Zionisme Amerika dan Israel.
Contohnya Iran dan sekarang Irak. Sedangkan Islam wahabi sangat menjilat kepada Zionis Amerika dan Israel seperti yang dilakukan oleh Arab Saudi. Itulah sebabnya negara – negara yang masyarakatnya menganut Islam wahabi banyak yang korup, sehingga sulit untuk berkembang.

Bagi saya memang menjadi sangat tidak jelas mengapa umat Islam wahabi  begitu membenci Umat Islam Syiah: Dikejar – kejar, di usir dan dibantai hanya karena Islam Syiah sangat militan dalam menentang Zionis Amerika dan Israel.
Islam wahabi justru sangat terkesan begitu menjilat pada kekuasaan Amerika dan Israel.

anda bilang tidak ada sejarahnya terjadi perang antara Iran dan Amerika ?

Lha Operasi Badai Gurun itu artinya apa ?

Penyanderaan warga Amerika di Teheran itu artinya apa?

Saat perang Iran – Irak, Irak dibantu oleh Amerika dan Israel, sedangkan Iran dibantu oleh Rusia.

Saat itu Iran sedang kesulitan untuk mengoperasikan peralatan perang peninggalan Syah Iran, karena semua persenjataan diimport dari Amerika dan Israel.

Bahwa kemudian ada skandal menyelundupan suku cadang perelatan tempur ke Iran dari Israel dan Amerika, itu kan merupakan hal yang biasa.Setelah itu Iran lebih banyak mendatangkan persenjataan dari Soviet dan China untuk memerangi Amerika dan Israel.

Saat ini yang menjadi simbol perlawanan negara Islam dengan Amerika dan Israel ya Iran.
Iran ngotot untuk mengembangkan Nuklir sendiri.

Alasannya: Untuk kemanusiaan.Tetapi Amerika dan Israel khawatir kalau pengembangan Nuklir yang dilakukan oleh Iran digunakan untuk mengembangkan senjata Nuklir.Negara Islam yang menentang mandirinya Iran andalah negara – negara Islam beraliran wahabi.

Arab Saudi merupakan contoh buruk bagi negara Islam yanbg begitu menjilat pada kekuasaan Amerika dan Israel yang zionist.
Bisa saja suatu saat pengelolaan haji dan pengawasan Kaabah dibawah pengawasan Israel, akibat begitu menjilatnya Pemerintah Arab Saudi terhadap para zionist.

Jadi apa yang bisa dibanggakan dari Islam wahabi, sehingga bisa begitu sombong dan congkak terhadap Islam Syiah ?

……. seperti angin….. tak terlihat bukan berarti tak ada…. Kebangkitan Syi’ah di ambang pintu… “

 

Sultan: Yang Sebut Syiah Sesat Merasa Benar Sendiri

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono X menyatakan tidak mengambil posisi untuk menyatakan Syiah itu sesat atau tidak. Sultan mengatakan tudingan yang menyatakan Syiah sesat hanya dilakukan sepihak oleh kelompok organisasi massa tertentu.

“Yang mengatakan sesat kan yang merasa benar sendiri. Kalau Syiah-nya kan enggak merasa sesat,” kata Sultan saat ditemui di Kepatihan Yogyakarta, Kamis sore, 19 Desember 2013.

Pada Kamis kemarin, . Front Jihad Islam meminta MUI mengeluarkan fatwa sesat bagi kelompok Syiah.

Dalam soal kemungkinan menjadi mediator untuk menyelesaikan persoalan tersebut, Sultan mengatakan sudah ada pihak yang melakukan mediasi. Pihak itu adalah MUI DIY. Namun, saat dikemukakan perannya sebagai kepala daerah mengingat konflik horizontal tersebut terjadi di DIY, Sultan menyatakan bukan gubernur tidak punya wewenang.

“Ya, betul (di DIY). Tapi, itu kan masalah agama. Kewenangan pusat,” kata Sultan sambil buru-buru menutup pintu mobilnya.

Di sisi Sunni hadis dua belas khalifah dari Quraisy kedudukannya shahih hanya saja tidak ada hadis Sunni yang shahih menyebutkan siapa nama-nama mereka

sumber tulisan ini dari web http://www.secondprince.wordpress.com

Kedudukan Riwayat Wasiat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] Kepada Aliy bin Abi Thalib Dalam Kitab Al Ghaibah Ath Thuusiy

Beberapa waktu yang lalu ada diantara para pembaca yang meminta kami membahas mengenai hadis dua belas Imam atau dua belas khalifah. Di sisi Sunni hadis dua belas khalifah dari Quraisy kedudukannya shahih hanya saja tidak ada hadis Sunni yang shahih menyebutkan siapa nama-nama mereka. Sedangkan di sisi Syi’ah hadis dua belas imam kedudukannya shahih dan terdapat hadis yang menyebutkan nama-nama siapa kedua belas imam yang dimaksud.

 

Sebenarnya sebelumnya kami pernah membahas sedikit mengenai hadis dua belas imam di sisi Syi’ah walaupun sebenarnya pokok bahasan yang kami bahas adalah kedustaan nashibiy yang menuduh Al Kulainiy mengubah sanad hadisnya.

Hadis dua belas imam yang dimaksud sudah sedikit dibahas dalam tulisan tersebut dan kedudukannya shahih berdasarkan ilmu Rijal Syi’ah. Jadi di sisi mazhab Syi’ah telah shahih dalil Imamah dua belas imam mereka.

Seperti yang kami katakan bahwa kami bukan penganut Syi’ah oleh karena itu hadis-hadis shahih di sisi mazhab Syi’ah tidak menjadi hujjah bagi kami maka dari itu sampai sekarang kami tetap meyakini keshahihan hadis dua belas khalifah tetapi tidak memiliki bukti shahih siapa nama-nama mereka.

.

.

Dalam tulisan kali ini kami akan membawakan salah satu hadis Syi’ah yang lain dan juga menyebutkan nama kedua belas Imam yaitu riwayat Ath Thuusiy dalam kitabnya Al Ghaibah. Hadis ini kami bahas karena kami melihat terdapat salah seorang pembenci Syi’ah yang juga membahasnya dalam tulisan khusus. Disini kami akan berusaha membahas secara objektif bagaimana sebenarnya kedudukan hadis tersebut berdasarkan standar ilmu hadis Syi’ah. Berikut hadis yang dimaksud

أخبرنا جماعة عن أبي عبد الله الحسين بن علي بن سفيان البزوفري عن علي بن سنان الموصلي العدل عن علي بن الحسين عن أحمد بن محمد بن الخليل عن جعفر بن أحمد المصري عن عمه الحسن بن علي عن أبيه عن أبي عبد الله جعفر بن محمد عن أبيه الباقر عن أبيه ذي الثفنات سيد العابدين عن أبيه الحسين الزكي الشهيد عن أبيه أمير المؤمنين عليه السلام قال قال رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم في الليلة التي كانت فيها وفاته لعلي عليه السلام يا أبا الحسن أحضر صحيفة ودواة. فأملا رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم وصيته حتى انتهى إلى هذا الموضع فقال يا علي إنه سيكون بعدي اثنا عشر إماما ومن بعدهم إثنا عشر مهديا، فأنت يا علي أول الاثني عشر إماما سماك الله تعالى في سمائه عليا المرتضى، وأمير المؤمنين، والصديق الأكبر، والفاروق الأعظم، والمأمون، والمهدي، فلا تصح هذه الأسماء لاحد غيرك يا علي أنت وصيي على أهل بيتي حيهم وميتهم، وعلى نسائي: فمن ثبتها لقيتني غدا، ومن طلقتها فأنا برئ منها، لم ترني ولم أرها في عرصة القيامة، وأنت خليفتي على أمتي من بعدي فإذا حضرتك الوفاة فسلمها إلى ابني الحسن البر الوصول فإذا حضرته الوفاة فليسلمها إلى ابني الحسين الشهيد الزكي المقتول فإذا حضرته الوفاة فليسلمها إلى ابنه سيد العابدين ذي الثفنات علي، فإذا حضرته الوفاة فليسلمها إلى ابنه محمد الباقر فإذا حضرته الوفاة فليسلمها إلى ابنه جعفر الصادق، فإذا حضرته الوفاة فليسلمها إلى ابنه موسى الكاظم، فإذا حضرته الوفاة فليسلمها إلى ابنه علي الرضا، فإذا حضرته الوفاة فليسلمها إلى ابنه محمد الثقة التقي، فإذا حضرته الوفاة فليسلمها إلى ابنه علي الناصح، فإذا حضرته الوفاة فليسلمها إلى ابنه الحسن الفاضل، فإذا حضرته الوفاة فليسلمها إلى ابنه محمد المستحفظ من آل محمد عليهم السلام فذلك اثنا عشر إماما، ثم يكون من بعده اثنا عشر مهديا، (فإذا حضرته الوفاة) فليسلمها إلى ابنه أول المقربين له ثلاثة أسامي: اسم كإسمي واسم أبي وهو عبد الله وأحمد، والاسم الثالث: المهدي، هو أول المؤمنين

Telah mengabarkan kepada kami jama’ah dari Abi ‘Abdullah Husain bin Aliy bin Sufyaan Al Bazuufariy dari Aliy bin Sinaan Al Maushulliy Al ‘Adl dari Aliy bin Husain dari Ahmad bin Muhammad bin Khaliil dari Ja’far bin Ahmad Al Mishriy dari pamannya Hasan bin Aliy dari Ayahnya dari Abi ‘Abdullah Ja’far bin Muhammad dari Ayahnya Al Baqir dari Ayahnya [Aliy bin Husain] dziy tsafanaat sayyidul ‘aabidiin dari Ayahnya Husain Az Zakiy Asy Syahiid dari Ayahnya amirul mukminin [‘alaihis salaam] yang berkata Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam] berkata kepada Aliy [‘alaihis salaam] pada malam menjelang kewafatannya “wahai Abul Hasan ambilkan kertas dan tinta” maka Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam] membacakan wasiatnya sampai akhirnya Beliau berkata “wahai Aliy, akan ada setelahku dua belas Imam dan setelah mereka ada dua belas Mahdi, Allah menyebutmu dalam langit-Nya Aliy Al Murtadha, Amirul Mukminin, Shiddiq Al Akbar, Faaruuq Al A’zham, Al Ma’mun dan Al Mahdiy, dan sebutan ini tidak diberikan kepada orang lain selain engkau. Wahai Aliy engkau adalah washiy-ku atas ahlul baitku hidup dan mati mereka dan juga atas istri-istriku, barang siapa diantara mereka yang aku pertahankan maka ia akan berjumpa denganku kelak, dan barang siapa yang aku ceraikan maka aku berlepas diri darinya, ia tidak akan melihatku dan aku tidak akan melihatnya di padang mahsyar. Wahai Aliy engkau adalah khalifahku untuk umatku sepeninggalku, maka jika telah dekat kewafatanmu maka serahkanlah kepada anakku Al Hasan Al Birr Al Wushuul dan jika telah dekat kewafatannya maka ia serahkan kepada anakku Al Husain Asy Syahiid Az Zakiy yang akan terbunuh, dan jika telah dekat kewafatannya maka ia serahkan kepada anaknya Muhammad Al Baqir dan jika telah dekat kewafatannya maka ia serahkan kepada anaknya Ja’far Ash Shadiq dan jika telah dekat kewafatannya maka ia serahkan kepada anaknya Muusa Al Kaazhim dan jika telah dekat kewafatannya maka ia serahkan kepada anaknya Aliy Ar Ridha dan jika telah dekat kewafatannya maka ia serahkan kepada anaknya Muhammad Ats Tsiqat At Taqiy dan jika telah dekat kewafatannya maka ia serahkan kepada anaknya Aliy An Naashih dan jika telah dekat kewafatannya maka ia serahkan kepada anaknya Al Hasan Al Fadhl dan jika telah dekat kewafatannya maka ia serahkan kepada anaknya Muhammad, orang yang terpelihara dari keluarga Muhammad [‘alaihis salaam]. Mereka itulah kedua belas Imam dan setelahnya akan ada dua belas Mahdiy, maka jika dekat kewafatannya maka ia serahkan kepada anaknya yang pertama dan paling dekat, ia memiliki tiga nama yaitu nama sepertiku dan nama ayahku Abdullah dan Ahmad dan nama yang ketiga adalah Al Mahdiy dan ia adalah orang pertama yang beriman [Al Ghaibah Syaikh Ath Thuusiy 150-151 no 111]

Riwayat di atas juga disebutkan Al Majlisiy dalam Bihar Al Anwar 36/260. Hadis ini berdasarkan ilmu Rijal Syi’ah kedudukannya dhaif jiddan bahkan maudhu’ karena di dalam sanadnya terdapat

  1. Aliy bin Sinaan Al Maushulliy seorang yang majhul
  2. Aliy bin Husain yang meriwayatkan dari Ahmad bin Muhammad bin Khalil tidak didapatkan keterangannya dari kitab Rijal Syi’ah
  3. Ahmad bin Muhammad bin Khalil seorang yang dhaif jiddan, pendusta, pemalsu hadis
  4. Ja’far bin Ahmad Al Mishriy tidak dikenal kredibilitasnya dalam kitab Rijal Syi’ah maka kedudukannya majhul
  5. Hasan bin Aliy dan Ayahnya tidak didapatkan keterangannya dari kitab Rijal Syi’ah

Jadi hanya Aliy bin Sinaan, Ahmad bin Muhammad bin Khalil, dan Ja’far bin Ahmad Al Mishriy yang disebutkan biografinya dalam kitab Rijal Syi’ah tanpa ada keterangan mengenai kredibilitas mereka

.

.

Aliy bin Sinaan Al Maushulliy disebutkan dalam kitab Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadits bahwa ia seorang yang majhul [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadits Muhammad Al Jawahiriy hal 398]

Ja’far bin Ahmad Al Mishriy disebutkan oleh Asy Syahruudiy dalam Mustadrakat Ilm Rijal dengan lafaz “mereka [para ulama] tidak menyebutkan tentangnya, ia meriwayatkan dari pamannya Hasan bin Aliy dari Ayahnya dari maula kami Ash Shadiq dan telah meriwayatkan darinya Ahmad bin Muhammad bin Khalil” [Mustadrakat Ilm Rijal Al Hadits 2/143 no 2533, Syaikh Aliy Asy Syahruudiy]

أحمد بن محمد بن الخليل أبو عبد الله لم يذكروه، وقع في طريق الشيخ عن علي بن الموصلي، عن علي بن الحسين، عنه، عن جعفر بن محمد المصري، عن عمه الحسين بن علي، عن أبيه، عن الصادق

Ahmad bin Muhammad bin Khalil Abu ‘Abdullah, mereka [para ulama] tidak menyebutkan tentangnya, terdapat dalam jalan Syaikh [Ath Thuusiy] dari Aliy bin Al Maushulliy dari Aliy bin Husain darinya dari Ja’far bin Muhammad Al Mishriy dari pamannya Husain bin Aliy dari Ayahnya dari Ash Shaadiq [Mustadrakat Ilm Rijal Al Hadits 1/434 no 1532, Syaikh Aliy Asy Syahruudiy]

.

.

Begitulah yang disebutkan oleh Asy Syahruudiy tetapi sebenarnya kalau diteliti lebih lanjut maka Ahmad bin Muhammad bin Khalil adalah Ahmad bin Muhammad Al Khaliliy Al ‘Amiliy. Syaikh Ath Thuusiy menyebutkan dalam kitab Al Ghaibah salah satu hadis dengan sanad berikut

وأخبرنا جماعة، عن التلعكبري، عن أبي علي أحمد بن علي الرازي الأيادي قال أخبرني الحسين بن علي، عن علي بن سنان الموصلي العدل، عن أحمد بن محمد الخليلي، عن محمد بن صالح الهمداني

Dan telah mengabarkan kepada kami Jama’ah dari At Tal’akbariy dari Abi Aliy Ahmad bin Aliy Ar Raaziy Al Iyaadiy yang berkata telah mengabarkan kepadaku Husain bin Aliy dari Aliy bin Sinaan Al Maushulliy Al ‘Adl dari Ahmad bin Muhammad Al Khaliliy dari Muhammad bin Shalih Al Hamdaaniy…[Al Ghaibah Ath Thuusiy hal 147 no 109]

Riwayat Ath Thuusiy di atas menunjukkan bahwa Aliy bin Sinaan juga meriwayatkan dari Ahmad bin Muhammad Al Khaliliy tanpa perantara,  kemudian disebutkan dalam riwayat berikut

حدثنا أبو الحسن علي بن سنان الموصلي المعدل، قال أخبرني أحمد بن محمد الخليلي الآملي، قال حدثنا محمد بن صالح الهمداني، قال

Telah menceritakan kepada kami Abu Hasan Aliy bin Sinan Al Maushulliy Al Mu’adl yang berkata telah mengabarkan kepadaku Ahmad bin Muhammad Al Khaliliy Al Aamiliy yang berkata telah menceirtakan kepada kami Muhammad bin Shalih Al Hamdaaniy yang berkata…[Muqtadhab Al ‘Atsar Ahmad bin ‘Ayaasy Al Jauhariy hal 10]

Kedua riwayat di atas membuktikan bahwa Ahmad bin Muhammad bin Khalil yang dimaksud adalah Ahmad bin Muhammad Al Khaliliy Al ‘Amiliy. Para ulama Rijal Syi’ah telah menyebutkan tentangnya

أحمد بن محمد أبو عبد الله الآملي الطبري ضعيف جدا، لا يلتفت إليه

Ahmad bin Muhammad Abu ‘Abdullah Al ‘Amiliy Ath Thabariy dhaif jiddan, tidak perlu dihiraukan dengannya [Rijal An Najasyiy hal 96 no 238]

أحمد بن محمد، الطبري، أبو عبد الله، الخليلي الذي يقال له غلام خليل، الآملي كذاب، وضاع للحديث، فاسد [المذهب] لا يلتفت إليه

Ahmad bin Muhammad Ath Thabariy Abu ‘Abdullah Al Khaliliy yang dikatakan padanya ghulaam Khalil Al ‘Amiliy seorang pendusta, pemalsu hadis, jelek mazhabnya tidak perlu dihiraukan dengannya [Rijal Ibnu Ghada’iriy hal 42]

أحمد بن محمد، أبو عبد الله الخليلي، الذي يقال له غلام خليل، الآملي الطبري ضعيف جدا، لا يلتفت إليه، كذاب وضاع للحديث، فاسد المذهب

Ahmad bin Muhammad Abu ‘Abdullah Al Khaliliy, dikatakan padanya ghulam Khalil, Al ‘Amiliy Ath Thabariy dhaif jiddaan tidak perlu dihiraukan dengannya, pendusta, pemalsu hadis, jelek mazhabnya [Khulashah Al ‘Aqwaal Allamah Al Hilliy hal 323-324 no 20]

Oleh karena itu pendapat yang rajih Ahmad bin Muhammad bin Khalil adalah Ahmad bin Muhammad Al Khaliliy Al ‘Amiliy seorang yang dhaif jiddaan pendusta dan pemalsu hadis.

.

.

.

Berdasarkan pembahasan di atas maka tidak diragukan kalau kedudukan hadis wasiat yang disebutkan Syaikh Ath Thuusiy dalam Al Ghaibah di atas adalah dhaif jiddaan bahkan maudhu’.

Memang jika diperhatikan dengan baik matan riwayat tersebut termasuk aneh atau gharib dalam sudut pandang mazhab Syi’ah karena riwayat di atas menyebutkan bahwa ada dua belas Imam kemudian akan ada dua belas Mahdiy. Dalam aqidah ushul mazhab Syi’ah yang pernah kami baca dalam kitab-kitab mereka terdapat keterangan mengenai Imamah kedua belas imam ahlul bait tetapi tidak ada disebutkan mengenai dua belas Mahdiy yang akan datang setelah kedua belas Imam. Bahkan yang shahih dalam mazhab Syi’ah bahwa Mahdiy yang dimaksud adalah Imam kedua belas.

Adapun Salah seorang pembenci Syi’ah yang kami sebutkan sebelumnya, ia membawakan riwayat Ath Thuusiy dalam tulisannya dan berdalil dengan riwayat tersebut untuk menunjukkan bahwa Aisyah [radiallahu ‘anha] salah seorang istri Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] adalah ahli surga.

Pada awalnya kami cukup gembira melihat hadis ini karena hadis ini menunjukkan bahwa dalam kitab Syi’ah terdapat dalil yang membuktikan bahwa Aisyah [radiallahu ‘anha] adalah ahli surga. Maka kami berusaha meneliti untuk membuktikan keshahihan hadis tersebut tetapi ternyata sayang sekali riwayat tersebut sangat lemah sekali di sisi mazhab Syi’ah. Hal ini membuktikan bahwa anda para pembaca harus selalu berhati-hati dengan tulisan-tulisan para pembenci Syi’ah, silakan teliti lebih lanjut dengan objektif untuk mengetahui kebenarannya karena mereka para pembenci Syi’ah pada dasarnya bukan sedang bertujuan mencari kebenaran tetapi hanya ingin menyebarkan syubhat untuk merendahkan mazhab Syi’ah.

Memang kami dapati ada ulama Syi’ah mencela Aisyah [radiallahu ‘anha] tetapi kami dapati pula sebagian ulama Syi’ah lain menahan diri bahkan mengharamkan untuk mencelanya karena Beliau adalah istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Oleh karena itu tidak mungkin merendahkan keseluruhan mazhab Syi’ah hanya berdasarkan tindakan ulama Syi’ah tertentu padahal terdapat juga para ulama Syi’ah lain yang menentangnya.

Adapun dalam pandangan dan keyakinan kami, Aisyah [radiallahu ‘anha] adalah istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang Mulia, istri Beliau baik di dunia dan akhirat kelak. Hanya saja kami tetap mengakui bahwa bersamaan dengan kemuliaannya ia telah melakukan kesalahan ketika memerangi Imam Aliy [‘alaihis salaam] pada saat perang Jamal.

.

.

Note : Saya akan senang sekali jika ada para pengikut Syi’ah yang dapat menunjukkan hadis shahih dalam mazhab Syi’ah yang memuat pujian atau keutamaan Aisyah [radiallahu ‘anha].

di sisi mazhab Syi’ah, ada sahabat tersesat dalam perkara Imamah Aliy bin Abi Thalib [‘alaihis salaam] tetapi itu tidak mengeluarkan mereka dari Islam dan terlepas dari perkara Imamah cukup banyak para sahabat Nabi yang dipuji oleh Imam Ahlul Bait [‘alaihis salaam]

Benarkah Mazhab Syi’ah Mengkafirkan Mayoritas Sahabat Nabi?

Salah satu diantara Syubhat para pembenci Syi’ah [baik dari kalangan nashibiy atau selainnya] adalah Syi’ah mengkafirkan mayoritas sahabat Nabi kecuali tiga orang. Mereka mengutip beberapa hadis dalam kitab Syi’ah untuk menunjukkan syubhat tersebut.

 

Dalam tulisan ini akan kami tunjukkan bahwa syubhat tersebut dusta, yang benar di sisi mazhab Syi’ah adalah para sahabat Nabi telah tersesat dalam perkara Imamah Aliy bin Abi Thalib [‘alaihis salaam] tetapi itu tidak mengeluarkan mereka dari Islam dan terlepas dari perkara Imamah cukup banyak para sahabat Nabi yang dipuji oleh Imam Ahlul Bait [‘alaihis salaam]

Dalam pembahasan ini akan dibahas hadis-hadis mazhab Syi’ah yang sering dijadikan hujjah untuk menunjukkan kekafiran mayoritas sahabat Nabi. Hadis-hadis tersebut terbagi menjadi dua yaitu

  1. Hadis yang dengan jelas menggunakan lafaz “murtad”
  2. Hadis yang tidak menggunakan lafaz “murtad”

.

Hadis Dengan Lafaz MurtadHadis yang menggunakan lafaz murtad dalam masalah ini ada lima hadis, empat hadis kedudukannya dhaif dan satu hadis mengandung illat [cacat] sehingga tidak bisa dijadikan hujjah. Berikut hadis-hadis yang dimaksud

Riwayat Pertama

علي بن الحكم عن سيف بن عميرة عن أبي بكر الحضرمي قال قال أبو جعفر (عليه السلام) ارتد الناس إلا ثلاثة نفر سلمان و أبو ذر و المقداد. قال قلت فعمار ؟ قال قد كان جاض جيضة ثم رجع، ثم قال إن أردت الذي لم يشك و لم يدخله شي‏ء فالمقداد، فأما سلمان فإنه عرض في قلبه عارض أن عند أمير المؤمنين (عليه السلام) اسم الله الأعظم لو تكلم به لأخذتهم الأرض و هو هكذا فلبب و وجئت عنقه حتى تركت كالسلقة فمر به أمير المؤمنين (عليه السلام) فقال له يا أبا عبد الله هذا من ذاك بايع فبايع و أما أبو ذر فأمره أمير المؤمنين (عليه السلام) بالسكوت و لم يكن يأخذه في الله لومة لائم فأبى إلا أن يتكلم فمر به عثمان فأمر به، ثم أناب الناس بعد فكان أول من أناب أبو ساسان الأنصاري و أبو عمرة و شتيرة و كانوا سبعة، فلم يكن يعرف حق أمير المؤمنين (عليه السلام) إلا هؤلاء السبعة

Aliy bin Al Hakam dari Saif bin Umairah dari Abi Bakar Al Hadhramiy yang berkata Abu Ja’far [‘alaihis salaam] berkata orang-orang murtad kecuali tiga yaitu Salman, Abu Dzar dan Miqdaad. Aku berkata ‘Ammar?. Beliau berkata “sungguh ia telah berpaling kemudian kembali” kemudian Beliau berkata “sesungguhnya orang yang tidak ada keraguan didalamnya sedikitpun adalah Miqdaad, adapun Salman bahwasanya ia nampak dalam hatinya nampak bahwa di sisi Amirul Mukminin [‘alaihis salaam] terdapat nama Allah yang paling agung yang seandainya ia meminta dengannya maka bumi akan menelan mereka. Dia ditangkap dan diikat lehernya sampai meninggalkan bekas, ketika Amirul mukminin melintasinya, Ia berkata kepadanya [Salman] “wahai Abu ‘Abdullah, inilah akibat perkara ini, berbaiatlah” maka ia berbaiat. Adapun Abu Dzar maka Amirul Mukminin [‘alaihis salaam] memerintahkannya untuk diam dan tidak terpengaruh dengan celaan para pencela di jalan Allah, ia menolak dan berbicara maka ketika Utsman melintasinya ia memerintahkan dengannya, kemudian orang-orang kembali setelah itudan mereka yang pertama kembali adalah Abu Saasaan Al Anshariy, Abu ‘Amrah dan Syutairah maka mereka jadi bertujuh, tidak ada yang mengenal hak Amirul Mukminin [‘alaihis salaam] kecuali mereka bertujuh [Rijal Al Kasyiy 1/47 no 24]

Riwayat Al Kasyiy di atas sanadnya dhaif karena terputus Antara Al Kasyiy dan Aliy bin Al Hakaam. Syaikh Ja’far Syubhaaniy berkata

وكفى في ضعفها أن الكشي من أعلام القرن الرابع الهجري القمري ، فلا يصح أن يروي عن علي بن الحكم ، سواء أكان المراد منه الأنباري الراوي عن ابن عميرة المتوفى عام ( 217 ه) أو كان المراد الزبيري الذي عده الشيخ من أصحاب الرضا ( عليه السلام ) المتوفى عام 203

Dan cukup untuk melemahkannya bahwa Al Kasyiy termasuk ulama abad keempat Hijrah maka tidak shahih ia meriwayatkan dari Aliy bin Al Hakam, jika yang dimaksud adalah Al Anbariy yang meriwayatkan dari Ibnu Umairah maka ia wafat tahun 217 atau jika yang dimaksud adalah Az Zubairiy yang disebutkan Syaikh dalam sahabat Imam Ar Ridha [‘alaihis salaam] maka ia wafat tahun 203 H [Adhwaa ‘Ala ‘Aqa’id Syi’ah Al Imamiyah, Syaikh Ja’far Syubhaaniy hal 523]

Disebutkan riwayat di atas oleh Al Mufiid dalam Al Ikhtishaash dengan sanad yang bersambung hingga Aliy bin Al Hakam, berikut sanadnya

علي بن الحسين بن يوسف، عن محمد بن الحسن، عن محمد بن الحسن الصفار، عن محمد بن إسماعيل، عن علي بن الحكم، عن سيف بن عميرة، عن أبي بكر الحضرمي قال: قال أبوجعفر عليه السلام: ارتد الناس إلا ثلاثة نفر: سلمان وأبوذر، والمقداد

Aliy bin Husain bin Yuusuf dari Muhammad bin Hasan dari Muhammad bin Hasan Ash Shaffaar dari Muhammad bin Isma’iil dari ‘Aliy bin Al Hakam dari Saif bin ‘Umairah dari Abu Bakar Al Hadhramiy yang berkata Abu Ja’far [‘alaihis salaam] berkata “orang-orang telah murtad kecuali tiga yaitu Salmaan, Abu Dzar dan Miqdaad…[Al Ikhtishaash Syaikh Mufiid hal 10]

Terlepas dari kontroversi mengenai kitab Al Ikhtishaash Syaikh Mufiid. Riwayat Al Mufiid di atas sanadnya dhaif sampai Aliy bin Al Hakam karena Aliy bin Husain bin Yuusuf dan Muhammad bin Isma’iil majhul

  1. Aliy bin Husain bin Yusuf, Syaikh Asy Syahruudiy dalam biografinya menyatakan “mereka tidak menyebutkannya” [Mustadrakat Ilm Rijal Al Hadits, Syaikh Aliy Asy Syahruudiy 5/359 no 9957]
  2. Muhammad bin Isma’iil Al Qummiy meriwayatkan dari Aliy bin Al Hakam dan telah meriwayatkan darinya Muhammad bin Yahya [Mu’jam Rijal Al Hadits 16/118 no 10293]. Disebutkan bahwa ia majhul [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadits hal 502]

Kesimpulannya riwayat di atas dhaif tidak tsabit sanadnya sampai ke Aliy bin Al Hakam maka tidak bisa dijadikan hujjah

.

.

Riwayat Kedua 

محمد بن إسماعيل، قال حدثني الفصل بن شاذان، عن ابن أبي عمير عن إبراهيم بن عبد الحميد، عن أبي بصير، قال: قلت لأبي عبد الله ارتد الناس الا ثلاثة أبو ذر وسلمان والمقداد قال: فقال أبو عبد الله عليه السلام: فأين أبو ساسان وأبو عمرة الأنصاري؟

Muhammad bin Isma’iil berkata telah menceritakan kepadaku Al Fadhl bin Syadzaan dari Ibnu Abi ‘Umair dari Ibrahiim bin ‘Abdul Hamiid dari Abi Bashiir yang berkata aku berkata kepada Abu ‘Abdullah “orang-orang telah murtad kecuali tiga yaitu Abu Dzar, Salmaan dan Miqdaad”. Maka Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] berkata “maka dimana Abu Saasaan dan Abu ‘Amrah Al Anshaariy?” [Rijal Al Kasyiy 1/38 no 17]

Riwayat ini sanadnya dhaif karena Muhammad bin Isma’iil An Naisaburiy yang meriwayatkan dari Fadhl bin Syadzaan adalah seorang yang majhul [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadits hal 500]

.

.

Riwayat Ketiga    

عدة من أصحابنا، عن محمد بن الحسن عن محمد بن الحسن الصفار، عن أيوب بن نوح، عن صفوان بن يحيى، عن مثنى بن الوليد الحناط، عن بريد بن معاوية، عن أبي جعفر عليه السلام قال: ارتد الناس بعد النبي صلى الله عليه وآله إلا ثلاثة نفر: المقداد بن الأسود، وأبو ذر الغفاري وسلمان الفارسي، ثم إن الناس عرفوا ولحقوا بعد

Sekelompok dari sahabat kami dari Muhammad bin Hasan dari Muhammad bin Hasan Ash Shaffaar dari Ayuub bin Nuuh dari Shafwaan bin Yahya dari Mutsanna bin Waliid Al Hanaath dari Buraid bin Mu’awiyah dari Abi Ja’far [‘alaihis salaam] yang berkata “orang-orang telah murtad sepeninggal Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] keucali tiga yaitu Miqdaad bin Aswad, Abu Dzar Al Ghifaariy, dan Salman Al Faarisiy kemudian orang-orang mengenal dan mengikuti setelahnya [Al Ikhtishaas Syaikh Mufiid hal 6]

Riwayat Al Mufiid di atas kedudukannya dhaif karena tidak dikenal siapakah “sekelompok sahabat” yang dimaksudkan dalam sanad tersebut.

.

.

Riwayat Keempat

وعنه عن محمد بن الحسن، عن محمد بن الحسن الصفار، عن محمد بن الحسين، عن موسى بن سعدان، عن عبد الله بن القاسم الحضرمي، عن عمرو بن ثابت قال سمعت أبا عبد الله عليه السلام يقول إن النبي صلى الله عليه وآله لما قبض ارتد الناس على أعقابهم كفارا ” إلا ثلاثا ” سلمان والمقداد، وأبو ذر الغفاري، إنه لما قبض رسول الله صلى الله عليه وآله جاء أربعون رجلا ” إلى علي بن أبي طالب عليه السلام فقالوا لا والله لا نعطي أحدا ” طاعة بعدك أبدا “، قال ولم؟ قالوا إنا سمعنا من رسول الله صلى الله عليه وآله فيك يوم غدير [خم]، قال وتفعلون؟ قالوا نعم قال فأتوني غدا ” محلقين، قال فما أتاه إلا هؤلاء الثلاثة، قال وجاءه عمار بن ياسر بعد الظهر فضرب يده على صدره، ثم قال له مالك أن تستيقظ من نومة الغفلة، ارجعوا فلا حاجة لي فيكم أنتم لم تطيعوني في حلق الرأس فكيف تطيعوني في قتال جبال الحديد، ارجعوا فلا حاجة لي فيكم

Dan darinya dari Muhammad bin Hasan dari Muhammad bin Hasan Ash Shaffaar dari Muhammad bin Husain dari Muusa bin Sa’dan dari ‘Abdullah bin Qaasim Al Hadhramiy dari ‘Amru bin Tsabit yang berkata aku mendengar ‘Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] mengatakan “Sesungguhnya setelah Nabi [shallallahu 'alaihi wasallam] wafat, maka orang-orang murtad kecuali tiga orang yaitu Salman, Miqdad dan Abu Dzar Al Ghiffariy. Sesungguhnya setelah Rasulullah [shallallahu 'alaihi wasallam] wafat, datanglah empat puluh orang lelaki kepada Aliy bin Abi Talib. Mereka berkata “Tidak, demi Allah! Selamanya kami tidak akan mentaati sesiapapun kecuali kepadamu. Beliau berkata Mengapa?. Mereka berkata “Sesungguhnya kami telah mendengar Rasulullah [shallallahu 'alaihi wasallam] menyampaikan tentangmu pada hari Ghadir [Khum]. Beliau berkata “apakah kamu semua akan melakukannya?” Mereka berkata “ya”. Beliau berkata “datanglah kamu besok dengan mencukur kepala”. [Abu ‘Abdillah] berkata “Tidak datang kepada Ali kecuali mereka bertiga. [Abu ‘Abdillah] berkata: ‘Ammar bin Yasir datang setelah Zuhur. Beliau memukul tangan ke atas dadanya dan berkata kepada Ammar Mengapa kamu tidak bangkit daripada tidur kelalaian? Kembalilah kamu, kerana aku tidak memerlukan kamu. Jika kamu tidak mentaati aku untuk mencukur kepala, lantas bagaimana kamu akan mentaati aku untuk memerangi gunung besi, kembalilah kamu, aku tidak memerlukan kamu” [Al Ikhtishaash Syaikh Mufiid hal 6]

Riwayat Syaikh Al Mufiid di atas berdasarkan Ilmu Rijal Syi’ah sanadnya dhaif jiddan karena Musa bin Sa’dan dan ‘Abdullah bin Qaasim Al Hadhramiy

  1. Muusa bin Sa’dan Al Hanath ia adalah seorang yang dhaif dalam hadis [Rijal An Najasyiy hal 404 no 1072]
  2. ‘Abdullah bin Qaasim Al Hadhramiy seorang pendusta dan ghuluw [Rijal An Najasyiy hal 226 no 594]

.

.

Riwayat Kelima

حنان، عن أبيه، عن أبي جعفر (ع) قال: كان الناس أهل ردة بعد النبي (صلى الله عليه وآله) إلا ثلاثة فقلت: ومن الثلاثة؟ فقال: المقداد بن الاسود وأبوذر الغفاري و سلمان الفارسي رحمة الله وبركاته عليهم ثم عرف اناس بعد يسير وقال: هؤلاء الذين دارت عليهم الرحا وأبوا أن يبايعوا حتى جاؤوا بأمير المؤمنين (ع) مكرها فبايع وذلك قول الله تعالى: ” وما محمد إلا رسول قد خلت من قبله الرسل أفإن مات أو قتل انقلبتم على أعقابكم ومن ينقلب على عقبيه فلن يضر الله شيئا وسيجزي الله الشاكرين

Hannan dari ayahnya [Sudair], dari Abu Ja‘far ['alaihis salaam] yang berkata “Sesungguhnya orang-orang adalah Ahli riddah [murtad] setelah Nabi [shallallahu 'alaihi wa alihi] wafat kecuali tiga orang. [Sudair] berkata ‘Siapa ketiga orang itu?’ Maka Beliau berkata ‘Miqdaad bin Aswad, Abu Dzar Al Ghifariy dan Salman Al Farisiy [semoga Allah memberikan rahmat dan barakah kepada mereka]. Kemudian orang-orang mengetahui sesudah itu. Beliau berkata mereka itulah yang menghadapi segala kesulitan dan tidak memberikan ba’iat sampai mereka mendatangi Amirul Mukminin ['alaihissalaam] yang dipaksa mereka memberi ba’iat. Demikianlah yang difirmankan Allah SWT “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang, barang siapa yang berbalik ke belakang maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun dan Allah akan memberi balasan kepada orang yang bersyukur [Al Kafiy Al Kulainiy 8/246 no 341]

Sebagian orang mendhaifkan sanad ini dengan mengatakan bahwa riwayat Al Kulainiy terputus Antara Al Kulainiy dan Hanaan bin Sudair. Nampaknya hal ini tidak benar berdasarkan penjelasan berikut

Riwayat di atas juga disebutkan Al Kasyiy dalam kitab Rijal-nya dengan sanad Dari Hamdawaih dan Ibrahim bin Nashiir dari Muhammad bin ‘Utsman dari Hannan dari Ayahnya dari Abu Ja’far [Rijal Al Kasyiy 1/26 no 12]. Al Majlisiy dalam kitabnya Bihar Al Anwar mengutip hadis Al Kasyiy tersebut kemudian mengutip sanad Al Kafiy dengan perkataan berikut

الكافي: علي عن أبيه عن حنان مثله

Al Kafiy : Aliy [bin Ibrahim] dari Ayahnya dari Hanaan seperti di atas [Bihar Al Anwar 28/237]

Al Kulainiy menyebutkan dalam Al Kafiy pada riwayat sebelumnya sanad yang sama yaitu nampak dalam riwayat berikut

علي بن ابراهيم، عن أبيه، عن حنان بن سدير، ومحمد بن يحيى، عن أحمد بن محمد عن محمد بن إسماعيل، عن حنان بن سدير، عن أبيه قال: سألت أبا جعفر

Aliy bin Ibrahim dari Ayahnya dari Hanaan bin Sudair dan Muhammad bin Yahya dari Ahmad bin Muhammad dari Muhammad bin Isma’iil dari Hanaan bin Sudair dari Ayahnya yang berkata aku bertanya kepada Abu Ja’far [‘alaihis salaam]… [Al Kafiy Al Kulainiy 8/246 no 340]

Maka disini dapat dipahami bahwa dalam pandangan Al Majlisiy sanad utuh riwayat tersebut adalah Aliy bin Ibrahim dari Ayahnya dari Hanaan dari Ayahnya dari Abu Ja’far [‘alaihis salaam]

Sanad ini para perawinya tsiqat selain Sudair bin Hakiim Ash Shairaafiy, ia tidak dikenal tautsiq-nya dari kalangan ulama mutaqaddimin Syi’ah tetapi Allamah Al Hilliy telah menyebutkannya dalam bagian pertama kitabnya yang memuat perawi yang terpuji dan diterima di sisi-nya. Dalam kitabnya tersebut Al Hilliy juga menukil Sayyid Aliy bin Ahmad Al Aqiiqiy yang berkata tentang Sudair bahwa ia seorang yang mukhalith [kacau atau tercampur] [Khulashah Al Aqwaal hal 165 no 3]. Pentahqiq kitab Khulashah Al Aqwal berkata bahwa lafaz mukhalith tersebut bermakna riwayatnya ma’ruf dan mungkar

Dapat disimpulkan bahwa dalam pandangan Allamah Al Hilliy, Sudair bin Hakiim termasuk perawi yang diterima hanya saja dalam sebagian riwayatnya kacau sehingga diingkari. Kedudukan perawi seperti ini tidak bisa dijadikan hujjah jika tafarrud dan tidak diterima hadisnya jika bertentangan dengan riwayat perawi tsiqat. Berikut riwayat shahih dari Abu Ja’far [‘alaihis salaam] yang membuktikan keislaman para sahabat pada saat itu

أبى رحمه الله قال: حدثنا سعد بن عبد الله قال: حدثنا أحمد بن محمد ابن عيسى، عن العباس بن معروف، عن حماد بن عيسى، عن حريز، عن بريد بن معاوية، عن أبي جعفر ” ع ” قال: إن عليا ” ع ” لم يمنعه من أن يدعو الناس إلى نفسه إلا انهم ان يكونوا ضلالا لا يرجعون عن الاسلام أحب إليه من أن يدعوهم فيأبوا عليه فيصيرون كفارا كلهم

Ayahku [rahimahullah] berkata telah menceritakan kepada kami Sa’d bin ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Muhammad bin Iisa dari ‘Abbaas bin Ma’ruuf dari Hammad bin Iisa dari Hariiz dari Buraid bin Mu’awiyah dari Abi Ja’far [‘alaihis salaam] yang berkata sesungguhnya Aliy [‘alaihis salaam], tidak ada yang mencegahnya mengajak manusia kepadanya kecuali bahwa mereka dalam keadaan tersesat tetapi tidak keluar dari Islam lebih ia sukai daripada ia mengajak mereka dan mereka menolaknya maka mereka menjadi kafir seluruhnya [Ilal Asy Syara’i Syaikh Ash Shaduq 1/150 no 10]

Riwayat Syaikh Ash Shaduq di atas sanadnya shahih berdasarkan standar Ilmu Rijal Syi’ah berikut keterangan para perawinya

  1. Ayah Syaikh Shaduq adalah ‘Aliy bin Husain bin Musa bn Babawaih Al Qummiy disebutkan oleh An Najasyiy Syaikh yang faqih dan tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 261 no 684]
  2. Sa’d bin ‘Abdullah Al Qummiy adalah seorang yang tsiqat [Al Fahrasat Syaikh Ath Thuusiy hal 135]
  3. Ahmad bin Muhammad bin Iisa Al Qummiy adalah seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 351]
  4. ‘Abbaas bin Ma’ruf Abu Fadhl Al Qummiy seorang yang tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 281 no 743]
  5. Hammaad bin Iisa Abu Muhammad Al Juhaniy seorang yang tsiqat dalam hadisnya shaduq [Rijal An Najasyiy hal 142 no 370]
  6. Hariiz bin ‘Abdullah As Sijistaniy orang kufah yang tsiqat [Al Fahrasat Syaikh Ath Thuusiy hal 118]
  7. Buraid bin Mu’awiyah meriwayatkan dari Abu Ja’far [‘alaihis salaam] dan Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam], seorang yang tsiqat faqiih [Khulashah Al Aqwaal Allamah Al Hilliy hal 81-82]

Riwayat Syaikh Ash Shaduq dengan jelas menyatakan bahwa para sahabat yang tidak membaiat Imam Aliy [‘alaihis salaam] pada saat itu memang dalam keadaan tersesat tetapi tidak keluar dari Islam.

.

.

.
Hadis Yang Tidak Ada Lafaz Murtad

Ada dua hadis yang tidak mengandung lafaz “murtad” hanya menunjukkan bahwa mereka para sahabat meninggalkan baiat atau telah tersesat dan celaka kecuali tiga orang. Dan berdasarkan hadis shahih sebelumnya [riwayat Syaikh Ash Shaduq] mereka para sahabat yang tidak membaiat Imam Aliy adalah orang-orang yang tersesat tetapi tidak keluar dari Islam

.

Riwayat Pertama

محمد بن مسعود، قال حدثني علي بن الحسن بن فضال، قال حدثني العباس ابن عامر، وجعفر بن محمد بن حكيم، عن أبان بن عثمان، عن الحارث النصري بن المغيرة، قال سمعت عبد الملك بن أعين، يسأل أبا عبد الله عليه السلام قال فلم يزل يسأله حتى قال له: فهلك الناس إذا؟ قال: أي والله يا ابن أعين هلك الناس أجمعون قلت من في الشرق ومن في الغرب؟ قال، فقال: انها فتحت على الضلال أي والله هلكوا الا ثلاثة ثم لحق أبو ساسان وعمار وشتيرة وأبو عمرة فصاروا سبعة

Muhammad bin Mas’ud berkata telah menceritakan kepadaku Aliy bin Hasan bin Fadhl yang berkata telah menceritakan kepadaku ‘Abbas Ibnu ‘Aamir dan Ja’far bin Muhammad bin Hukaim dari Aban bin ‘Utsman dari Al Harits An Nashriy bin Mughiirah yang berkata aku mendengar ‘Abdul Malik bin ‘A’yun bertanya kepada Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam], ia tidak henti-hentinya bertanya kepadanya sampai ia berkata kepadanya “maka orang-orang telah celaka?”. Beliau berkata “demi Allah, wahai Ibnu A’yun orang-orang telah celaka seluruhnya”. Aku berkata “orang-orang yang di Timur dan orang-orang yang di Barat?”. Beliau berkata “sesungguhnya mereka berada dalam kesesatan, demi Allah mereka celaka kecuali tiga kemudian diikuti Abu Saasaan, ‘Ammar, Syutairah dan Abu ‘Amrah hingga mereka jadi bertujuh [Rijal Al Kasyiy 1/34-35 no 14]

Riwayat Al Kasyiy di atas sanadnya muwatstsaq para perawinya tsiqat hanya saja Aliy bin Hasan bin Fadhl disebutkan bahwa ia bermazhab Fathahiy dan Aban bin ‘Utsman bermazhab menyimpang

  1. Muhammad bin Mas’ud termasuk guru Al Kasyiy dan ia seorang yang tsiqat shaduq [Rijal An Najasyiy hal 350 no 944]
  2. Aliy bin Hasan bin Fadhl orang Kufah yang faqih, terkemuka, tsiqat dan arif dalam ilmu hadis [Rijal An Najasyiy hal 257 no 676]
  3. ‘Abbaas bin ‘Aamir bin Rabah, Abu Fadhl Ats Tsaqafiy seorang syaikh shaduq tsiqat banyak meriwayatkan hadis [Rijal An Najasyiy hal 281 no 744]
  4. Abaan bin ‘Utsman Al Ahmar, Al Hilliy menukil dari Al Kasyiy bahwa terdapat ijma’ menshahihkan apa yang shahih dari Aban bin ‘Utsman, dan Al Hilliy berkata “di sisiku riwayatnya diterima dan ia jelek mazhabnya” [Khulashah Al ‘Aqwaal Allamah Al Hilliy hal 74 no 3]
  5. Al Harits bin Mughiirah meriwayatkan dari Abu Ja’far, Ja’far, Musa bin Ja’far dan Zaid bin Aliy, tsiqat tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 139 no 361]
  6. Abdul Malik bin A’yun termasuk sahabat Imam Baqir [‘alaihis salaam] dan Imam Shadiq [‘alaihis salaam], disebutkan dalam riwayat shahih oleh Al Kasyiy mengenai kebaikannya dan istiqamah-nya [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadits hal 356]. Allamah Al Hilliy memasukkannya ke dalam daftar perawi yang terpuji atau diterima di sisinya [Khulashah Al Aqwaal hal 206 no 5]

Riwayat Al Kasyiy di atas tidak bisa dijadikan hujjah untuk mengkafirkan mayoritas sahabat Nabi karena dalam lafaz riwayat-nya memang tidak terdapat kata-kata kafir atau murtad. Riwayat diatas menjelaskan bahwa para sahabat telah celaka dan mengalami kesesatan [karena perkara wilayah] tetapi hal ini tidaklah mengeluarkan mereka dari Islam sebagaimana telah ditunjukkan riwayat shahih sebelumnya.
.

.

Riwayat Kedua

حمدويه، قال حدثنا أيوب عن محمد بن الفضل وصفوان، عن أبي خالد القماط، عن حمران، قال: قلت لأبي جعفر عليه السلام ما أقلنا لو اجتمعنا على شاة ما أفنيناها! قال، فقال: الا أخبرك بأعجب من ذلك؟ قال، فقلت: بلي. قال: المهاجرون والأنصار ذهبوا (وأشار بيده) الا ثلاثة

Hamdawaih berkata telah menceritakan kepada kami Ayuub dari Muhammad bin Fadhl dan Shafwaan dari Abi Khalid Al Qamaath dari Hamran yang berkata aku berkata kepada Abu Ja’far [‘alaihis salaam] “betapa sedikitnya jumlah kita, seandainya kita berkumpul pada hidangan kambing maka kita tidak akan menghabiskannya”. Maka Beliau berkata “maukah aku kabarkan kepadamu hal yang lebih mengherankan daripada itu?”. Aku berkata “ya”. Beliau berkata “Muhajirin dan Anshar meninggalkan [dan ia berisyarat dengan tangannya] kecuali tiga [Rijal Al Kasyiy 1/37 no 15]

Riwayat Al Kasyiy di atas sanadnya shahih berdasarkan standar ilmu Rijal Syi’ah berikut keterangan mengenai para perawinya

  1. Hamdawaih bin Nashiir dia seorang yang memiliki banyak ilmu dan riwayat, tsiqat baik mazhabnya [Rijal Ath Thuusiy hal 421]
  2. Ayuub bin Nuuh bin Daraaj, agung kedudukannya di sisi Abu Hasan dan Abu Muhammad [‘alaihimus salaam], ma’mun, sangat wara’, banyak beribadah dan tsiqat dalam riwayatnya [Rijal An Najasyiy hal 102 no 254]
  3. Shafwaan bin Yahya Abu Muhammad Al Bajalliy seorang yang tsiqat tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 197 no 524]
  4. Yaziid Abu Khalid Al Qammaath seorang yang tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 452 no 1223]
  5. Hamran bin A’yun termasuk diantara Syaikh-syaikh Syi’ah yang agung dan memiliki keutamaan yang tidak diragukan tentang mereka [Risalah Fii Alu A’yun Syaikh Abu Ghalib hal 2]

Riwayat Al Kasyiy di atas juga tidak bisa dijadikan hujjah untuk mengkafirkan mayoritas sahabat Nabi karena tidak ada dalam riwayat tersebut lafaz kafir atau murtad. Riwayat ini menunjukkan bahwa para sahabat meninggalkan Imam Aliy dan membaiat khalifah Abu Bakar [radiallahu 'anhu] sepeninggal Nabi [shallallahu 'alaihi wasallam]. Dan sebagaimana disebutkan dalam riwayat shahih sebelumnya bahwa mereka telah tersesat tetapi hal itu tidak mengeluarkan mereka dari Islam.

.

.

Dalam mazhab Syi’ah, Para sahabat Nabi yang tidak membaiat Imam Aliy ['alaihis salaam] telah tersesat , Imamah Aliy bin Abi Thalib telah ditetapkan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya. Tetapi walaupun begitu disebutkan juga dalam hadis shahih mazhab Syi’ah bahwa kesesatan para sahabat tersebut tidaklah mengeluarkan mereka dari islam

Beberapa buku Syiah yang saya punya, masih ada yang lain


Para Sahabat Nabi Yang Dipuji oleh Imam Ahlul Bait [‘alaihis salaam]

Terdapat sebagian riwayat dalam mazhab Syi’ah yang ternyata memuji dan memuliakan para sahabat Nabi. Hal ini meruntuhkan anggapan dari para pembenci Syi’ah [baik itu dari kalangan nashibiy atau selainnya] bahwa Syi’ah mengkafirkan para sahabat Nabi.

 

.

.

Riwayat Pertama

حدثنا أحمد بن زياد بن جعفر الهمداني رضي الله عنه قال: حدثنا علي ابن إبراهيم بن هاشم، عن أبيه، عن محمد بن أبي عمير، عن هشام بن سالم، عن أبي عبد الله عليه السلام قال: كان أصحاب رسول الله صلى الله عليه وآله اثني عشر ألفا ثمانية آلاف من المدينة، و ألفان من مكة، وألفان من الطلقاء، ولم ير فيهم قدري ولا مرجي ولا حروري ولا معتزلي، ولا صحاب رأي، كانوا يبكون الليل والنهار ويقولون: اقبض أرواحنا من قبل أن نأكل خبز الخمير

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Ziyaad bin Ja’far Al Hamdaaniy [radliyallaahu‘anhu] yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin Ibraahiim bin Haasyim dari Ayahnya, dari Muhammad bin Abi ‘Umair dari Hisyaam bin Saalim, dari Abu ‘Abdillah [‘alaihis-salaam] “Para Sahabat Rasulullah [shallallaahu‘alaihi wa aalihi] berjumlah dua belas ribu orang, yaitu delapan ribu orang berasal dari Madiinah, dua ribu orang dari Makkah dan dua ribu orang dari kalangan Thulaqaa’. Tidak ada di diantara mereka yang mempunyai pemikiran Qadariy, Murji’, Haruriy, Mu’taziliy, dan Ashabur Ra’yu. Mereka senantiasa menangis pada malam dan siang hari, seraya berdoa “cabutlah nyawa kami sebelum kami sempat memakan roti adonan” [Al Khishaal Syaikh Ash Shaaduq hal 639-640 no 15]

Riwayat Syaikh Ash Shaaduq di atas sanadnya shahih berdasarkan standar ilmu Rijal Syi’ah. Berikut keterangan mengenai para perawinya

  1. Ahmad bin Ziyaad bin Ja’far Al Hamdaaniy, ia seorang yang tsiqat fadhl sebagaimana yang dinyatakan Syaikh Shaduq [Kamal Ad Diin Syaikh Shaduq hal 369]
  2. Aliy bin Ibrahim bin Haasyim, tsiqat dalam hadis, tsabit, mu’tamad, shahih mazhabnya [Rijal An Najasyiy hal 260 no 680]
  3. Ibrahim bin Haasyim Al Qummiy seorang yang tsiqat jaliil. Ibnu Thawus pernah menyatakan hadis yang dalam sanadnya ada Ibrahim bin Haasyim bahwa para perawinya disepakati tsiqat [Al Mustadrakat Ilm Rijal Al Hadis, Asy Syahruudiy 1/222]
  4. Muhammad bin Abi Umair, ia termasuk orang yang paling terpercaya baik di kalangan khusus [Syi’ah] maupun kalangan umum [Al Fahrasat Ath Thuusiy hal 218]
  5. Hisyaam bin Saalim meriwayatkan dari Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] ia tsiqat tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 434 no 1165]

.

.

Riwayat Kedua

أخبرنا محمد بن محمد قال أخبرنا أبو القاسم جعفر بن محمد بن قولويه القمي رحمهالله قال حدثني أبي قال حدثنا سعد بن عبد الله عن أحمد بن محمد بن عيسى عن الحسن بن محبوب عن عبد الله بن سنان عن معروف بن خربوذ  عن أبي جعفر محمد بن علي الباقر عليهالسلام قال صلى أمير المؤمنين عليهالسلام بالناس الصبح بالعراق ، فلما انصرف وعظهم ، فبكى وأبكاهم من خوف الله ( تعالى ) ، ثم قال أما والله لقد عهدت أقواما على عهد خليلي رسول الله صلىاللهعليهوآله ، وإنهم ليصبحون ويمشون شعثاء غبراء خمصاء بين أعينهم كركب المعزى ، يبيتون لربهم سجدا وقياما ، يراوحون بين أقدامهم وجباههم ، يناجون ربهم ويسألونه فكاك رقابهم من النار ، والله لقد رأيتهم مع ذلك وهم جميع مشفقون منه خائفون

Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Muhammad yang berkata telah mengabarkan kepada kami Abul Qaasim Ja’far bin Muhammad bin Quluwaih Al Qummiy [rahimahullah] yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Sa’d bin ‘Abdullah dari Ahmad bin Muhammad bin Iisa dari Hasan bin Mahbuub dari ‘Abdullah bin Sinaan dari Ma’ruf bin Kharrabudz dari Abu Ja’far Muhammad bin Aliy Al Baaqir [‘alaihis salaam] yang berkata Amirul Mukminin [‘alaihis salaam] shalat bersama orang-orang di waktu shubuh di Iraq, ketika Beliau memberi nasehat kepada mereka maka Beliau menangis dan mereka juga menangis karena takut kepada Allah SWT. Kemudian Beliau berkata “Demi Allah sungguh aku telah hidup bersama kaum di masa kekasihku Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wa ‘alihi] dan sesungguhnya mereka di waktu pagi mereka berjalan dengan kusut dan berdebu, nampak diantara kedua mata mereka bekas seperti lutut kambing [karena sujud], dan di malam hari mereka sujud dan berdiri [menghadap Allah] bergantian antara kaki dan dahi mereka, mereka bermunajat kepada Tuhan mereka, meminta Kepada-Nya agar dijauhkan dari api neraka, Demi Allah sungguh aku melihat mereka dalam keadaan demikian dan mereka selalu berhati-hati dan takut kepada-Nya [Al Amaliy Ath Thuusiy hal 102]

Riwayat di atas sanadnya shahih berdasarkan standar Ilmu Rijal Syi’ah, berikut keterangan mengenai para perawinya

  1. Muhammad bin Muhammad adalah Muhammad bin Muhammad bin Nu’man Syaikh Mufid, ia termasuk diantara guru-guru Syi’ah yang mulia dan pemimpin mereka, dan orang yang paling terpercaya di zamannya, dan paling alim diantara mereka [Khulashah Al Aqwaal Allamah Al Hilliy hal 248 no 46]
  2. Abul Qaasim Ja’far bin Muhammad bin Quluwaih Al Qummiy termasuk orang yang tsiqat dan mulia dalam hadis dan faqih [Rijal An Najasyiy hal 123 no 318]
  3. Muhammad bin Quluwaih ayahnya Abul Qaasim Ja’far bin Muhammad bin Quluwaih seorang yang tsiqat [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadits hal 570]
  4. Sa’d bin ‘Abdullah Al Qummiy adalah seorang yang tsiqat [Al Fahrasat Syaikh Ath Thuusiy hal 135]
  5. Ahmad bin Muhammad bin Iisa Al Qummiy adalah seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 351]
  6. Hasan bin Mahbuub As Saraad seorang penduduk kufah yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 354]
  7. ‘Abdullah bin Sinaan seorang yang tsiqat jaliil tidak ada celaan sedikitpun terhadapnya, ia meriwayatkan dari Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] [Rijal An Najasyiy hal 214 no 558]
  8. Ma’ruf bin Kharrabudz, Al Kasyiy menyebutkan bahwa ia termasuk ashabul ijma’ [enam orang yang paling faqih] diantara para fuqaha dari kalangan sahabat Abu Ja’far [‘alaihis salaam] dan Abu Abdullah [‘alaihis salaam] [Rijal Al Kasyiy 2/507]. Al Majlisiy menyatakan Ma’ruf bin Kharrabudz tsiqat [Al Wajiizah no 1897]

Riwayat Ath Thuusiy di atas menunjukkan bahwa Imam Ali [‘alaihis salaam] memuji para sahabat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bahwa mereka orang-orang beriman yang rajin beribadah.

.

.

Riwayat Ketiga

علي بن إبراهيم، عن أبيه، عن ابن أبي نجران، عن عاصم بن حميد، عن منصور بن حازم قال: قلت لابي عبدالله عليه السلام: ما بالي أسألك عن المسألة فتجيبني فيها بالجواب، ثم يجيئك غيري فتجيبه فيها بجواب آخر؟ فقال: إنا نجيب الناس على الزيادة والنقصان، قال: قلت: فأخبرني عن أصحاب رسول الله صلى الله عليه وآله صدقوا على محمد صلى الله عليه وآله أم كذبوا؟ قال: بل صدقوا، قال: قلت: فما بالهم اختلفوا؟ فقال: أما تعلم أن الرجل كان يأتي رسول الله صلى الله عليه وآله فيسأله عن المسألة فيجيبه فيها بالجواب ثم يجيبه بعد ذلك ما ينسخ ذلك الجواب، فنسخت الاحاديث بعضها بعضا

‘Aliy bin Ibrahim dari Ayahnya dari Ibnu Abi Najraan dari ‘Aashim bin Humaid dari Manshuur bin Haazim yang berkata aku bertanya kepada Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] “Bagaimana bisa ketika aku bertanya suatu permasalahan maka engkau menjawabku dengan suatu jawaban kemudian orang lain datang kepadamu dan engkau menjawab dengan jawaban yang lain?. Maka Beliau berkata “Sesungguhnya kami menjawab manusia dengan kalimat yang lebih dan kalimat yang kurang”. Aku berkata “maka kabarkanlah kepadaku tentang para sahabat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wa ‘alihi], apakah mereka seorang yang jujur atas Muhammad [shallallahu ‘alaihi wa ‘alihi] ataukah mereka berdusta?”. Beliau berkata “bahkan mereka jujur”. Aku berkata “maka mengapa mereka berselisih”. Beliau berkata “tahukah engkau bahwa seorang laki-laki datang kepada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wa ‘alihi] dan bertanya kepada Beliau suatu permasalahan maka Beliau menjawabnya dengan suatu jawaban kemudian setelah itu Beliau menjawab dengan jawaban yang menasakh jawaban yang pertama maka itulah sebagian hadis menasakh sebagian hadis lain [Al Kafiy Al Kulainiy 1/65 no 3]

Riwayat Al Kafiy di atas sanadnya shahih berdasarkan standar Ilmu Rijal Syi’ah, berikut keterangan mengenai para perawinya

  1. Aliy bin Ibrahim bin Haasyim, tsiqat dalam hadis, tsabit, mu’tamad, shahih mazhabnya [Rijal An Najasyiy hal 260 no 680]
  2. Ibrahim bin Haasyim Al Qummiy seorang yang tsiqat jaliil. Ibnu Thawus pernah menyatakan hadis yang dalam sanadnya ada Ibrahim bin Haasyim bahwa para perawinya disepakati tsiqat [Al Mustadrakat Ilm Rijal Al Hadis, Asy Syahruudiy 1/222]
  3. ‘Abdurrahman bin ‘Abi Najraan Abu Fadhl seorang yang tsiqat tsiqat mu’tamad apa yang ia riwayatkan [Rijal An Najasyiy hal 235 no 622]
  4. ‘Aashim bin Humaid Al Hanaath seorang yang tsiqat shaduq [Rijal An Najasyiy hal 301 no 821]
  5. Manshuur bin Haazim Abu Ayub Al Bajalliy seorang tsiqat shaduq meriwayatkan dari Abu ‘Abdullah dan Abu Hasan Musa [‘alaihimus salaam] [Rijal An Najasyiy hal 413 no 1101]

Riwayat ini dengan jelas menunjukkan bahwa Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] telah memuji para sahabat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bahwa mereka jujur atas Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] hanya saja perbedaan yang terjadi di antara mereka para sahabat akibat sebagian mereka meriwayatkan hadis yang dinasakh oleh hadis sahabat lain.

.

.

Riwayat Keempat

حدثنا أبي رضي الله عنه قال: حدثنا سعد بن عبد الله، عن أحمد بن محمد ابن عيسى، عن أحمد بن محمد بن أبي نصر البزنطي، عن عاصم بن حميد، عن أبي بصير، عن أبي جعفر عليه السلام قال: سمعته يقول: رحم الله الأخوات من أهل الجنة فسماهنأسماء بنت عميس الخثعمية وكانت تحت جعفر بن أبي طالب عليه السلام، وسلمى بنت عميس الخثعمية وكانت تحت حمزة، وخمس من بني هلال: ميمونة بنت الحارث كانت تحت النبي صلى الله عليه وآله، وأم الفضل عند العباس اسمها هند، والغميصاء أم خالد بن الوليد، وعزة كانت في ثقيف الحجاج بن غلاظ، وحميدة ولم يكن لها عقب

Telah menceritakan kepada kami Ayahku [radiallahu ‘anhu] yang berkata telah menceritakan kepada kami Sa’d bin ‘Abdullah dari Ahmad bin Muhammad bin Iisa dari Ahmad bin Muhammad bin Abi Nashr Al Bazanthiy dari ‘Ashim bin Humaid dari Abi Bashiir dari Abi Ja’far [‘alaihis salaam], [Abu Bashiir] berkata aku mendengar Beliau mengatakan semoga Allah memberikan rahmat pada saudari-saudari ahli surga. Nama-nama mereka adalah Asma’ binti Umais Al Khats’amiyyah istri Ja’far bin Abi Thalib [‘alaihis salaam] dan Salma binti Umais Al Khats’amiyyah istri Hamzah, dan lima orang dari bani Hilaal, Maimunah binti Al Haarits istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wa ‘alihi], Ummu Fadhl istri ‘Abbas dan namanya adalah Hind, Al Ghamiishaa’ ibu Khaalid bin Waalid, ‘Izzah dari Tsaqiif istri Hajjaaj bin Ghalaazh, dan Hamiidah ia tidak memiliki anak [Al Khishaal Syaikh Ash Shaduuq hal 363 no 55]

Riwayat Syaikh Ash Shaduuq di atas sanadnya shahih berdasarkan standar ilmu Rijal Syi’ah, berikut keterangan mengenai para perawinya

  1. Ayah Syaikh Shaduq adalah ‘Aliy bin Husain bin Musa bn Babawaih Al Qummiy disebutkan oleh An Najasyiy Syaikh yang faqih dan tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 261 no 684]
  2. Sa’d bin ‘Abdullah Al Qummiy adalah seorang yang tsiqat [Al Fahrasat Syaikh Ath Thuusiy hal 135]
  3. Ahmad bin Muhammad bin Iisa Al Qummiy adalah seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 351]
  4. Ahmad bin Muhammad bin Abi Nashr Al Bazanthiy seorang yang tsiqat jaliil qadr [Rijal Ath Thuusiy hal 332]
  5. ‘Aashim bin Humaid Al Hanaath seorang yang tsiqat shaduq [Rijal An Najasyiy hal 301 no 821]
  6. Abu Bashiir adalah Laits bin Bakhtariy Al Muradiy seorang yang tsiqat meriwayatkan dari Abu Ja’far dan Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadits hal 476]

Riwayat Syaikh Ash Shaduuq di atas menunjukkan bahwa terdapat para sahabat wanita yang dikatakan sebagai ahli surga diantaranya adalah Asma binti Umais [radiallahu ‘anha] dan Maimunah binti Al Harits Ummul Mukminin [radiallahu ‘anha]

.

.

Riwayat Kelima

علي بن إبراهيم عن أبيه عن ابن أبي عمير عن الحسين بن عثمان عن ذريح قال سمعت أبا عبد الله (عليه السلام) يقول قال علي بن الحسين عليهما السلام إن أبا سعيد الخدري كان من أصحاب رسول الله (صلى الله عليه وآله) وكان مستقيما فنزع ثلاثة أيام فغسله أهله ثم حمل إلى مصلاه فمات فيه

‘Aliy bin Ibrahiim dari Ayahnya dari Ibnu Abi ‘Umair dari Husain bin ‘Utsman dari Dzuraih yang berkata aku mendengar Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] mengatakan Aliy bin Husain [‘alaihimas salaam] berkata bahwa Abu Sa’id Al Khudri termasuk sahabat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wa ‘alihi] dan ia seorang yang lurus, ia menderita sakit selama tiga hari maka keluarganya memandikannya kemudian membawanya ke tempat shalat maka ia mati dalam keadaan seperti itu [Al Kafiy Al Kulainiy 3/125 no 1]

Riwayat di atas sanadnya shahih berdasarkan standar Ilmu Rijal Syi’ah, berikut keterangan mengenai para perawinya

  1. Aliy bin Ibrahim bin Haasyim, tsiqat dalam hadis, tsabit, mu’tamad, shahih mazhabnya [Rijal An Najasyiy hal 260 no 680]
  2. Ibrahim bin Haasyim Al Qummiy seorang yang tsiqat jaliil. Ibnu Thawus pernah menyatakan hadis yang dalam sanadnya ada Ibrahim bin Haasyim bahwa para perawinya disepakati tsiqat [Al Mustadrakat Ilm Rijal Al Hadis, Asy Syahruudiy 1/222]
  3. Muhammad bin Abi Umair, ia termasuk orang yang paling terpercaya baik di kalangan khusus [Syi’ah] maupun kalangan umum [Al Fahrasat Ath Thuusiy hal 218]
  4. Husain bin ‘Utsman bin Syarik seorang yang tsiqat, meriwayatkan dari Abu Abdullah [‘alaihis salaam] dan Abu Hasan [‘alaihis salaam], dan telah meriwayatkan darinya Muhammad bin Abi ‘Umair [Rijal An Najasyiy hal 53 no 119]
  5. Dzuraih Al Muhaaribiy seorang yang tsiqat [Al Fahrasat Syaikh Ath Thuusiy hal 127]

Riwayat di atas menunjukkan bahwa Abu Sa’id Al Khudriy [radiallahu ‘anhu] termasuk sahabat yang terpuji kedudukannya dalam pandangan Imam Ahlul Bait.

.

.

Riwayat Keenam

قال معروف بن خربوذ فعرضت هذا الكلام على أبي جعفر عليه السلام فقال صدق أبو الطفيل رحمه الله هذا الكلام وجدناه في كتاب علي عليه السلام وعرفناه

Ma’ruf bin Kharrabudz berkata aku memberitahukan perkataan ini kepada Abu Ja’far [‘alaihis salaam] maka Beliau berkata “benar Abu Thufail, rahmat Allah atasnya, perkataan ini kami temukan dalam kitab Aliy [‘alaihis salaam] dan kami mengenalnya” [Al Khishaal Syaikh Ash Shaduuq hal 67 no 98]

Riwayat Syaikh Ash Shaduuq di atas adalah penggalan riwayat panjang dimana Ma’ruf bin Kharrabudz meriwayatkan hadis dari Abu Thufa’il dari Huzaifah [radiallahu ‘anhu] mengenai sabda Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tentang Aliy bin Abi Thalib [‘alaihis salaam]. Kemudian di akhir hadis Ma’ruf bin Kharrabudz menanyakan hadis yang ia dengar dari Abu Thufail [radiallahu ‘anhu] tersebut kepada Abu Ja’far [‘alaihis salaam]. Sanad lengkap riwayat tersebut hingga Ma’ruf bin Kharrabudz adalah

حدثنا محمد بن الحسن بن أحمد بن الوليد رضي الله عنه قال حدثنا محمد بن الحسن الصفار، عن محمد بن الحسين بن أبي الخطاب، ويعقوب بن يزيد جميعا، عن محمد بن أبي عمير، عن عبد الله بن سنان، عن معروف بن خربوذ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Hasan bin Ahmad bin Waliid [radiallahu ‘anhu] yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Hasan Ash Shaffaar dari Muhammad bin Husain Abil Khaththaab dan Ya’qub bin Yaziid keduanya dari Muhammad bin Abi ‘Umair dari ‘Abdullah bin Sinaan dari Ma’ruf bin Kharrabudz

Riwayat ini sanadnya shahih berdasarkan standar ilmu Rijal Syi’ah, berikut keterangan mengenai para perawinya

  1. Muhammad bin Hasan bin Ahmad bin Walid adalah Syaikh Qum, faqih mereka, yang terdahulu dan terkemuka, seorang yang tsiqat tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 383 no 1042]
  2. Muhammad bin Hasan Ash Shaffaar ia terkemuka di Qum, tsiqat, agung kedudukannya [Rijal An Najasyiy hal 354 no 948]
  3. Muhammad bin Husain bin Abil Khaththaab seorang yang mulia, agung kedudukannya, banyak memiliki riwayat, tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 334 no 897]
  4. Ya’qub bin Yazid bin Hammaad Al Anbariy seorang yang tsiqat shaduq [Rijal An Najasyiy hal 450 no 1215]
  5. Muhammad bin Abi Umair, ia termasuk orang yang paling terpercaya baik di kalangan khusus [Syi’ah] maupun kalangan umum [Al Fahrasat Ath Thuusiy hal 218]
  6. ‘Abdullah bin Sinaan seorang yang tsiqat jaliil tidak ada celaan sedikitpun terhadapnya, ia meriwayatkan dari Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] [Rijal An Najasyiy hal 214 no 558]
  7. Ma’ruf bin Kharrabudz, Al Kasyiy menyebutkan bahwa ia termasuk ashabul ijma’ [enam orang yang paling faqih] diantara para fuqaha dari kalangan sahabat Abu Ja’far [‘alaihis salaam] dan Abu Abdullah [‘alaihis salaam] [Rijal Al Kasyiy 2/507]. Al Majlisiy menyatakan Ma’ruf bin Kharrabudz tsiqat [Al Wajiizah no 1897]

Riwayat Syaikh Ash Shaduuq di atas menunjukkan pujian Abu Ja’far [‘alaihis salaam] kepada Abu Thufail, dan ia termasuk sahabat Nabi, Syaikh Ath Thuusiy menyebutkan nama Abu Thufail dalam kitab Rijal-nya [Rijal Ath Thuusiy hal 44] dan Syaikh Ath Thuusiy menyebutkan namanya tersebut dalam bab

باب من روي عن النبي صلى الله عليه وآله من الصحابة

Bab, orang-orang yang meriwayatkan dari Nabi [shallallahu ‘alaihi wa’alihi] termasuk kalangan sahabat-Nya

Riwayat ini dan riwayat-riwayat sebelumnya menjadi bukti yang menyatakan bahwa hadis semua sahabat murtad kecuali tiga adalah hadis mungkar karena bertentangan dengan hadis shahih di sisi mazhab Syi’ah

.

Tuduhan bahwa mazhab Syi’ah mengkafirkan mayoritas sahabat Nabi adalah tuduhan yang tidak benar. Dalam kitab mazhab Syi’ah juga terdapat pujian terhadap para sahabat baik secara umum ataupun terkhusus sahabat tertentu. Walaupun memang terdapat juga riwayat yang memuat celaan terhadap sahabat tertentu. Perkara seperti ini juga dapat ditemukan dalam riwayat Ahlus Sunnah yaitu terdapat berbagai hadis shahih yang juga mencela sebagian sahabat.

.

.

 

 

hadis semua sahabat murtad kecuali tiga adalah hadis mungkar karena bertentangan dengan hadis shahih di sisi mazhab Syi’ah.. Dalam riwayat Ahlus Sunnah terdapat berbagai hadis shahih yang juga mencela sebagian sahabat.

Para Sahabat Nabi Yang Dipuji oleh Imam Ahlul Bait [‘alaihis salaam]

Terdapat sebagian riwayat dalam mazhab Syi’ah yang ternyata memuji dan memuliakan para sahabat Nabi. Hal ini meruntuhkan anggapan dari para pembenci Syi’ah [baik itu dari kalangan nashibiy atau selainnya] bahwa Syi’ah mengkafirkan para sahabat Nabi.

 

.

.

Riwayat Pertama

حدثنا أحمد بن زياد بن جعفر الهمداني رضي الله عنه قال: حدثنا علي ابن إبراهيم بن هاشم، عن أبيه، عن محمد بن أبي عمير، عن هشام بن سالم، عن أبي عبد الله عليه السلام قال: كان أصحاب رسول الله صلى الله عليه وآله اثني عشر ألفا ثمانية آلاف من المدينة، و ألفان من مكة، وألفان من الطلقاء، ولم ير فيهم قدري ولا مرجي ولا حروري ولا معتزلي، ولا صحاب رأي، كانوا يبكون الليل والنهار ويقولون: اقبض أرواحنا من قبل أن نأكل خبز الخمير

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Ziyaad bin Ja’far Al Hamdaaniy [radliyallaahu‘anhu] yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin Ibraahiim bin Haasyim dari Ayahnya, dari Muhammad bin Abi ‘Umair dari Hisyaam bin Saalim, dari Abu ‘Abdillah [‘alaihis-salaam] “Para Sahabat Rasulullah [shallallaahu‘alaihi wa aalihi] berjumlah dua belas ribu orang, yaitu delapan ribu orang berasal dari Madiinah, dua ribu orang dari Makkah dan dua ribu orang dari kalangan Thulaqaa’. Tidak ada di diantara mereka yang mempunyai pemikiran Qadariy, Murji’, Haruriy, Mu’taziliy, dan Ashabur Ra’yu. Mereka senantiasa menangis pada malam dan siang hari, seraya berdoa “cabutlah nyawa kami sebelum kami sempat memakan roti adonan” [Al Khishaal Syaikh Ash Shaaduq hal 639-640 no 15]

Riwayat Syaikh Ash Shaaduq di atas sanadnya shahih berdasarkan standar ilmu Rijal Syi’ah. Berikut keterangan mengenai para perawinya

  1. Ahmad bin Ziyaad bin Ja’far Al Hamdaaniy, ia seorang yang tsiqat fadhl sebagaimana yang dinyatakan Syaikh Shaduq [Kamal Ad Diin Syaikh Shaduq hal 369]
  2. Aliy bin Ibrahim bin Haasyim, tsiqat dalam hadis, tsabit, mu’tamad, shahih mazhabnya [Rijal An Najasyiy hal 260 no 680]
  3. Ibrahim bin Haasyim Al Qummiy seorang yang tsiqat jaliil. Ibnu Thawus pernah menyatakan hadis yang dalam sanadnya ada Ibrahim bin Haasyim bahwa para perawinya disepakati tsiqat [Al Mustadrakat Ilm Rijal Al Hadis, Asy Syahruudiy 1/222]
  4. Muhammad bin Abi Umair, ia termasuk orang yang paling terpercaya baik di kalangan khusus [Syi’ah] maupun kalangan umum [Al Fahrasat Ath Thuusiy hal 218]
  5. Hisyaam bin Saalim meriwayatkan dari Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] ia tsiqat tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 434 no 1165]

.

.

Riwayat Kedua

أخبرنا محمد بن محمد قال أخبرنا أبو القاسم جعفر بن محمد بن قولويه القمي رحمهالله قال حدثني أبي قال حدثنا سعد بن عبد الله عن أحمد بن محمد بن عيسى عن الحسن بن محبوب عن عبد الله بن سنان عن معروف بن خربوذ  عن أبي جعفر محمد بن علي الباقر عليهالسلام قال صلى أمير المؤمنين عليهالسلام بالناس الصبح بالعراق ، فلما انصرف وعظهم ، فبكى وأبكاهم من خوف الله ( تعالى ) ، ثم قال أما والله لقد عهدت أقواما على عهد خليلي رسول الله صلىاللهعليهوآله ، وإنهم ليصبحون ويمشون شعثاء غبراء خمصاء بين أعينهم كركب المعزى ، يبيتون لربهم سجدا وقياما ، يراوحون بين أقدامهم وجباههم ، يناجون ربهم ويسألونه فكاك رقابهم من النار ، والله لقد رأيتهم مع ذلك وهم جميع مشفقون منه خائفون

Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Muhammad yang berkata telah mengabarkan kepada kami Abul Qaasim Ja’far bin Muhammad bin Quluwaih Al Qummiy [rahimahullah] yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Sa’d bin ‘Abdullah dari Ahmad bin Muhammad bin Iisa dari Hasan bin Mahbuub dari ‘Abdullah bin Sinaan dari Ma’ruf bin Kharrabudz dari Abu Ja’far Muhammad bin Aliy Al Baaqir [‘alaihis salaam] yang berkata Amirul Mukminin [‘alaihis salaam] shalat bersama orang-orang di waktu shubuh di Iraq, ketika Beliau memberi nasehat kepada mereka maka Beliau menangis dan mereka juga menangis karena takut kepada Allah SWT. Kemudian Beliau berkata “Demi Allah sungguh aku telah hidup bersama kaum di masa kekasihku Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wa ‘alihi] dan sesungguhnya mereka di waktu pagi mereka berjalan dengan kusut dan berdebu, nampak diantara kedua mata mereka bekas seperti lutut kambing [karena sujud], dan di malam hari mereka sujud dan berdiri [menghadap Allah] bergantian antara kaki dan dahi mereka, mereka bermunajat kepada Tuhan mereka, meminta Kepada-Nya agar dijauhkan dari api neraka, Demi Allah sungguh aku melihat mereka dalam keadaan demikian dan mereka selalu berhati-hati dan takut kepada-Nya [Al Amaliy Ath Thuusiy hal 102]

Riwayat di atas sanadnya shahih berdasarkan standar Ilmu Rijal Syi’ah, berikut keterangan mengenai para perawinya

  1. Muhammad bin Muhammad adalah Muhammad bin Muhammad bin Nu’man Syaikh Mufid, ia termasuk diantara guru-guru Syi’ah yang mulia dan pemimpin mereka, dan orang yang paling terpercaya di zamannya, dan paling alim diantara mereka [Khulashah Al Aqwaal Allamah Al Hilliy hal 248 no 46]
  2. Abul Qaasim Ja’far bin Muhammad bin Quluwaih Al Qummiy termasuk orang yang tsiqat dan mulia dalam hadis dan faqih [Rijal An Najasyiy hal 123 no 318]
  3. Muhammad bin Quluwaih ayahnya Abul Qaasim Ja’far bin Muhammad bin Quluwaih seorang yang tsiqat [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadits hal 570]
  4. Sa’d bin ‘Abdullah Al Qummiy adalah seorang yang tsiqat [Al Fahrasat Syaikh Ath Thuusiy hal 135]
  5. Ahmad bin Muhammad bin Iisa Al Qummiy adalah seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 351]
  6. Hasan bin Mahbuub As Saraad seorang penduduk kufah yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 354]
  7. ‘Abdullah bin Sinaan seorang yang tsiqat jaliil tidak ada celaan sedikitpun terhadapnya, ia meriwayatkan dari Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] [Rijal An Najasyiy hal 214 no 558]
  8. Ma’ruf bin Kharrabudz, Al Kasyiy menyebutkan bahwa ia termasuk ashabul ijma’ [enam orang yang paling faqih] diantara para fuqaha dari kalangan sahabat Abu Ja’far [‘alaihis salaam] dan Abu Abdullah [‘alaihis salaam] [Rijal Al Kasyiy 2/507]. Al Majlisiy menyatakan Ma’ruf bin Kharrabudz tsiqat [Al Wajiizah no 1897]

Riwayat Ath Thuusiy di atas menunjukkan bahwa Imam Ali [‘alaihis salaam] memuji para sahabat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bahwa mereka orang-orang beriman yang rajin beribadah.

.

.

Riwayat Ketiga

علي بن إبراهيم، عن أبيه، عن ابن أبي نجران، عن عاصم بن حميد، عن منصور بن حازم قال: قلت لابي عبدالله عليه السلام: ما بالي أسألك عن المسألة فتجيبني فيها بالجواب، ثم يجيئك غيري فتجيبه فيها بجواب آخر؟ فقال: إنا نجيب الناس على الزيادة والنقصان، قال: قلت: فأخبرني عن أصحاب رسول الله صلى الله عليه وآله صدقوا على محمد صلى الله عليه وآله أم كذبوا؟ قال: بل صدقوا، قال: قلت: فما بالهم اختلفوا؟ فقال: أما تعلم أن الرجل كان يأتي رسول الله صلى الله عليه وآله فيسأله عن المسألة فيجيبه فيها بالجواب ثم يجيبه بعد ذلك ما ينسخ ذلك الجواب، فنسخت الاحاديث بعضها بعضا

‘Aliy bin Ibrahim dari Ayahnya dari Ibnu Abi Najraan dari ‘Aashim bin Humaid dari Manshuur bin Haazim yang berkata aku bertanya kepada Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] “Bagaimana bisa ketika aku bertanya suatu permasalahan maka engkau menjawabku dengan suatu jawaban kemudian orang lain datang kepadamu dan engkau menjawab dengan jawaban yang lain?. Maka Beliau berkata “Sesungguhnya kami menjawab manusia dengan kalimat yang lebih dan kalimat yang kurang”. Aku berkata “maka kabarkanlah kepadaku tentang para sahabat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wa ‘alihi], apakah mereka seorang yang jujur atas Muhammad [shallallahu ‘alaihi wa ‘alihi] ataukah mereka berdusta?”. Beliau berkata “bahkan mereka jujur”. Aku berkata “maka mengapa mereka berselisih”. Beliau berkata “tahukah engkau bahwa seorang laki-laki datang kepada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wa ‘alihi] dan bertanya kepada Beliau suatu permasalahan maka Beliau menjawabnya dengan suatu jawaban kemudian setelah itu Beliau menjawab dengan jawaban yang menasakh jawaban yang pertama maka itulah sebagian hadis menasakh sebagian hadis lain [Al Kafiy Al Kulainiy 1/65 no 3]

Riwayat Al Kafiy di atas sanadnya shahih berdasarkan standar Ilmu Rijal Syi’ah, berikut keterangan mengenai para perawinya

  1. Aliy bin Ibrahim bin Haasyim, tsiqat dalam hadis, tsabit, mu’tamad, shahih mazhabnya [Rijal An Najasyiy hal 260 no 680]
  2. Ibrahim bin Haasyim Al Qummiy seorang yang tsiqat jaliil. Ibnu Thawus pernah menyatakan hadis yang dalam sanadnya ada Ibrahim bin Haasyim bahwa para perawinya disepakati tsiqat [Al Mustadrakat Ilm Rijal Al Hadis, Asy Syahruudiy 1/222]
  3. ‘Abdurrahman bin ‘Abi Najraan Abu Fadhl seorang yang tsiqat tsiqat mu’tamad apa yang ia riwayatkan [Rijal An Najasyiy hal 235 no 622]
  4. ‘Aashim bin Humaid Al Hanaath seorang yang tsiqat shaduq [Rijal An Najasyiy hal 301 no 821]
  5. Manshuur bin Haazim Abu Ayub Al Bajalliy seorang tsiqat shaduq meriwayatkan dari Abu ‘Abdullah dan Abu Hasan Musa [‘alaihimus salaam] [Rijal An Najasyiy hal 413 no 1101]

Riwayat ini dengan jelas menunjukkan bahwa Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] telah memuji para sahabat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bahwa mereka jujur atas Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] hanya saja perbedaan yang terjadi di antara mereka para sahabat akibat sebagian mereka meriwayatkan hadis yang dinasakh oleh hadis sahabat lain.

.

.

Riwayat Keempat

حدثنا أبي رضي الله عنه قال: حدثنا سعد بن عبد الله، عن أحمد بن محمد ابن عيسى، عن أحمد بن محمد بن أبي نصر البزنطي، عن عاصم بن حميد، عن أبي بصير، عن أبي جعفر عليه السلام قال: سمعته يقول: رحم الله الأخوات من أهل الجنة فسماهنأسماء بنت عميس الخثعمية وكانت تحت جعفر بن أبي طالب عليه السلام، وسلمى بنت عميس الخثعمية وكانت تحت حمزة، وخمس من بني هلال: ميمونة بنت الحارث كانت تحت النبي صلى الله عليه وآله، وأم الفضل عند العباس اسمها هند، والغميصاء أم خالد بن الوليد، وعزة كانت في ثقيف الحجاج بن غلاظ، وحميدة ولم يكن لها عقب

Telah menceritakan kepada kami Ayahku [radiallahu ‘anhu] yang berkata telah menceritakan kepada kami Sa’d bin ‘Abdullah dari Ahmad bin Muhammad bin Iisa dari Ahmad bin Muhammad bin Abi Nashr Al Bazanthiy dari ‘Ashim bin Humaid dari Abi Bashiir dari Abi Ja’far [‘alaihis salaam], [Abu Bashiir] berkata aku mendengar Beliau mengatakan semoga Allah memberikan rahmat pada saudari-saudari ahli surga. Nama-nama mereka adalah Asma’ binti Umais Al Khats’amiyyah istri Ja’far bin Abi Thalib [‘alaihis salaam] dan Salma binti Umais Al Khats’amiyyah istri Hamzah, dan lima orang dari bani Hilaal, Maimunah binti Al Haarits istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wa ‘alihi], Ummu Fadhl istri ‘Abbas dan namanya adalah Hind, Al Ghamiishaa’ ibu Khaalid bin Waalid, ‘Izzah dari Tsaqiif istri Hajjaaj bin Ghalaazh, dan Hamiidah ia tidak memiliki anak [Al Khishaal Syaikh Ash Shaduuq hal 363 no 55]

Riwayat Syaikh Ash Shaduuq di atas sanadnya shahih berdasarkan standar ilmu Rijal Syi’ah, berikut keterangan mengenai para perawinya

  1. Ayah Syaikh Shaduq adalah ‘Aliy bin Husain bin Musa bn Babawaih Al Qummiy disebutkan oleh An Najasyiy Syaikh yang faqih dan tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 261 no 684]
  2. Sa’d bin ‘Abdullah Al Qummiy adalah seorang yang tsiqat [Al Fahrasat Syaikh Ath Thuusiy hal 135]
  3. Ahmad bin Muhammad bin Iisa Al Qummiy adalah seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 351]
  4. Ahmad bin Muhammad bin Abi Nashr Al Bazanthiy seorang yang tsiqat jaliil qadr [Rijal Ath Thuusiy hal 332]
  5. ‘Aashim bin Humaid Al Hanaath seorang yang tsiqat shaduq [Rijal An Najasyiy hal 301 no 821]
  6. Abu Bashiir adalah Laits bin Bakhtariy Al Muradiy seorang yang tsiqat meriwayatkan dari Abu Ja’far dan Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadits hal 476]

Riwayat Syaikh Ash Shaduuq di atas menunjukkan bahwa terdapat para sahabat wanita yang dikatakan sebagai ahli surga diantaranya adalah Asma binti Umais [radiallahu ‘anha] dan Maimunah binti Al Harits Ummul Mukminin [radiallahu ‘anha]

.

.

Riwayat Kelima

علي بن إبراهيم عن أبيه عن ابن أبي عمير عن الحسين بن عثمان عن ذريح قال سمعت أبا عبد الله (عليه السلام) يقول قال علي بن الحسين عليهما السلام إن أبا سعيد الخدري كان من أصحاب رسول الله (صلى الله عليه وآله) وكان مستقيما فنزع ثلاثة أيام فغسله أهله ثم حمل إلى مصلاه فمات فيه

‘Aliy bin Ibrahiim dari Ayahnya dari Ibnu Abi ‘Umair dari Husain bin ‘Utsman dari Dzuraih yang berkata aku mendengar Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] mengatakan Aliy bin Husain [‘alaihimas salaam] berkata bahwa Abu Sa’id Al Khudri termasuk sahabat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wa ‘alihi] dan ia seorang yang lurus, ia menderita sakit selama tiga hari maka keluarganya memandikannya kemudian membawanya ke tempat shalat maka ia mati dalam keadaan seperti itu [Al Kafiy Al Kulainiy 3/125 no 1]

Riwayat di atas sanadnya shahih berdasarkan standar Ilmu Rijal Syi’ah, berikut keterangan mengenai para perawinya

  1. Aliy bin Ibrahim bin Haasyim, tsiqat dalam hadis, tsabit, mu’tamad, shahih mazhabnya [Rijal An Najasyiy hal 260 no 680]
  2. Ibrahim bin Haasyim Al Qummiy seorang yang tsiqat jaliil. Ibnu Thawus pernah menyatakan hadis yang dalam sanadnya ada Ibrahim bin Haasyim bahwa para perawinya disepakati tsiqat [Al Mustadrakat Ilm Rijal Al Hadis, Asy Syahruudiy 1/222]
  3. Muhammad bin Abi Umair, ia termasuk orang yang paling terpercaya baik di kalangan khusus [Syi’ah] maupun kalangan umum [Al Fahrasat Ath Thuusiy hal 218]
  4. Husain bin ‘Utsman bin Syarik seorang yang tsiqat, meriwayatkan dari Abu Abdullah [‘alaihis salaam] dan Abu Hasan [‘alaihis salaam], dan telah meriwayatkan darinya Muhammad bin Abi ‘Umair [Rijal An Najasyiy hal 53 no 119]
  5. Dzuraih Al Muhaaribiy seorang yang tsiqat [Al Fahrasat Syaikh Ath Thuusiy hal 127]

Riwayat di atas menunjukkan bahwa Abu Sa’id Al Khudriy [radiallahu ‘anhu] termasuk sahabat yang terpuji kedudukannya dalam pandangan Imam Ahlul Bait.

.

.

Riwayat Keenam

قال معروف بن خربوذ فعرضت هذا الكلام على أبي جعفر عليه السلام فقال صدق أبو الطفيل رحمه الله هذا الكلام وجدناه في كتاب علي عليه السلام وعرفناه

Ma’ruf bin Kharrabudz berkata aku memberitahukan perkataan ini kepada Abu Ja’far [‘alaihis salaam] maka Beliau berkata “benar Abu Thufail, rahmat Allah atasnya, perkataan ini kami temukan dalam kitab Aliy [‘alaihis salaam] dan kami mengenalnya” [Al Khishaal Syaikh Ash Shaduuq hal 67 no 98]

Riwayat Syaikh Ash Shaduuq di atas adalah penggalan riwayat panjang dimana Ma’ruf bin Kharrabudz meriwayatkan hadis dari Abu Thufa’il dari Huzaifah [radiallahu ‘anhu] mengenai sabda Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tentang Aliy bin Abi Thalib [‘alaihis salaam]. Kemudian di akhir hadis Ma’ruf bin Kharrabudz menanyakan hadis yang ia dengar dari Abu Thufail [radiallahu ‘anhu] tersebut kepada Abu Ja’far [‘alaihis salaam]. Sanad lengkap riwayat tersebut hingga Ma’ruf bin Kharrabudz adalah

حدثنا محمد بن الحسن بن أحمد بن الوليد رضي الله عنه قال حدثنا محمد بن الحسن الصفار، عن محمد بن الحسين بن أبي الخطاب، ويعقوب بن يزيد جميعا، عن محمد بن أبي عمير، عن عبد الله بن سنان، عن معروف بن خربوذ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Hasan bin Ahmad bin Waliid [radiallahu ‘anhu] yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Hasan Ash Shaffaar dari Muhammad bin Husain Abil Khaththaab dan Ya’qub bin Yaziid keduanya dari Muhammad bin Abi ‘Umair dari ‘Abdullah bin Sinaan dari Ma’ruf bin Kharrabudz

Riwayat ini sanadnya shahih berdasarkan standar ilmu Rijal Syi’ah, berikut keterangan mengenai para perawinya

  1. Muhammad bin Hasan bin Ahmad bin Walid adalah Syaikh Qum, faqih mereka, yang terdahulu dan terkemuka, seorang yang tsiqat tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 383 no 1042]
  2. Muhammad bin Hasan Ash Shaffaar ia terkemuka di Qum, tsiqat, agung kedudukannya [Rijal An Najasyiy hal 354 no 948]
  3. Muhammad bin Husain bin Abil Khaththaab seorang yang mulia, agung kedudukannya, banyak memiliki riwayat, tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 334 no 897]
  4. Ya’qub bin Yazid bin Hammaad Al Anbariy seorang yang tsiqat shaduq [Rijal An Najasyiy hal 450 no 1215]
  5. Muhammad bin Abi Umair, ia termasuk orang yang paling terpercaya baik di kalangan khusus [Syi’ah] maupun kalangan umum [Al Fahrasat Ath Thuusiy hal 218]
  6. ‘Abdullah bin Sinaan seorang yang tsiqat jaliil tidak ada celaan sedikitpun terhadapnya, ia meriwayatkan dari Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] [Rijal An Najasyiy hal 214 no 558]
  7. Ma’ruf bin Kharrabudz, Al Kasyiy menyebutkan bahwa ia termasuk ashabul ijma’ [enam orang yang paling faqih] diantara para fuqaha dari kalangan sahabat Abu Ja’far [‘alaihis salaam] dan Abu Abdullah [‘alaihis salaam] [Rijal Al Kasyiy 2/507]. Al Majlisiy menyatakan Ma’ruf bin Kharrabudz tsiqat [Al Wajiizah no 1897]

Riwayat Syaikh Ash Shaduuq di atas menunjukkan pujian Abu Ja’far [‘alaihis salaam] kepada Abu Thufail, dan ia termasuk sahabat Nabi, Syaikh Ath Thuusiy menyebutkan nama Abu Thufail dalam kitab Rijal-nya [Rijal Ath Thuusiy hal 44] dan Syaikh Ath Thuusiy menyebutkan namanya tersebut dalam bab

باب من روي عن النبي صلى الله عليه وآله من الصحابة

Bab, orang-orang yang meriwayatkan dari Nabi [shallallahu ‘alaihi wa’alihi] termasuk kalangan sahabat-Nya

Riwayat ini dan riwayat-riwayat sebelumnya menjadi bukti yang menyatakan bahwa hadis semua sahabat murtad kecuali tiga adalah hadis mungkar karena bertentangan dengan hadis shahih di sisi mazhab Syi’ah

.

Tuduhan bahwa mazhab Syi’ah mengkafirkan mayoritas sahabat Nabi adalah tuduhan yang tidak benar. Dalam kitab mazhab Syi’ah juga terdapat pujian terhadap para sahabat baik secara umum ataupun terkhusus sahabat tertentu. Walaupun memang terdapat juga riwayat yang memuat celaan terhadap sahabat tertentu. Perkara seperti ini juga dapat ditemukan dalam riwayat Ahlus Sunnah yaitu terdapat berbagai hadis shahih yang juga mencela sebagian sahabat.

.

.

Benarkah Mazhab Syi’ah Mengkafirkan Mayoritas Sahabat Nabi?

Salah satu diantara Syubhat para pembenci Syi’ah [baik dari kalangan nashibiy atau selainnya] adalah Syi’ah mengkafirkan mayoritas sahabat Nabi kecuali tiga orang. Mereka mengutip beberapa hadis dalam kitab Syi’ah untuk menunjukkan syubhat tersebut.

 

Dalam tulisan ini akan kami tunjukkan bahwa syubhat tersebut dusta, yang benar di sisi mazhab Syi’ah adalah para sahabat Nabi telah tersesat dalam perkara Imamah Aliy bin Abi Thalib [‘alaihis salaam] tetapi itu tidak mengeluarkan mereka dari Islam dan terlepas dari perkara Imamah cukup banyak para sahabat Nabi yang dipuji oleh Imam Ahlul Bait [‘alaihis salaam]

Dalam pembahasan ini akan dibahas hadis-hadis mazhab Syi’ah yang sering dijadikan hujjah untuk menunjukkan kekafiran mayoritas sahabat Nabi. Hadis-hadis tersebut terbagi menjadi dua yaitu

  1. Hadis yang dengan jelas menggunakan lafaz “murtad”
  2. Hadis yang tidak menggunakan lafaz “murtad”

.

.

.

Hadis Dengan Lafaz Murtad

Hadis yang menggunakan lafaz murtad dalam masalah ini ada lima hadis, empat hadis kedudukannya dhaif dan satu hadis mengandung illat [cacat] sehingga tidak bisa dijadikan hujjah. Berikut hadis-hadis yang dimaksud

Riwayat Pertama

علي بن الحكم عن سيف بن عميرة عن أبي بكر الحضرمي قال قال أبو جعفر (عليه السلام) ارتد الناس إلا ثلاثة نفر سلمان و أبو ذر و المقداد. قال قلت فعمار ؟ قال قد كان جاض جيضة ثم رجع، ثم قال إن أردت الذي لم يشك و لم يدخله شي‏ء فالمقداد، فأما سلمان فإنه عرض في قلبه عارض أن عند أمير المؤمنين (عليه السلام) اسم الله الأعظم لو تكلم به لأخذتهم الأرض و هو هكذا فلبب و وجئت عنقه حتى تركت كالسلقة فمر به أمير المؤمنين (عليه السلام) فقال له يا أبا عبد الله هذا من ذاك بايع فبايع و أما أبو ذر فأمره أمير المؤمنين (عليه السلام) بالسكوت و لم يكن يأخذه في الله لومة لائم فأبى إلا أن يتكلم فمر به عثمان فأمر به، ثم أناب الناس بعد فكان أول من أناب أبو ساسان الأنصاري و أبو عمرة و شتيرة و كانوا سبعة، فلم يكن يعرف حق أمير المؤمنين (عليه السلام) إلا هؤلاء السبعة

Aliy bin Al Hakam dari Saif bin Umairah dari Abi Bakar Al Hadhramiy yang berkata Abu Ja’far [‘alaihis salaam] berkata orang-orang murtad kecuali tiga yaitu Salman, Abu Dzar dan Miqdaad. Aku berkata ‘Ammar?. Beliau berkata “sungguh ia telah berpaling kemudian kembali” kemudian Beliau berkata “sesungguhnya orang yang tidak ada keraguan didalamnya sedikitpun adalah Miqdaad, adapun Salman bahwasanya ia nampak dalam hatinya nampak bahwa di sisi Amirul Mukminin [‘alaihis salaam] terdapat nama Allah yang paling agung yang seandainya ia meminta dengannya maka bumi akan menelan mereka. Dia ditangkap dan diikat lehernya sampai meninggalkan bekas, ketika Amirul mukminin melintasinya, Ia berkata kepadanya [Salman] “wahai Abu ‘Abdullah, inilah akibat perkara ini, berbaiatlah” maka ia berbaiat. Adapun Abu Dzar maka Amirul Mukminin [‘alaihis salaam] memerintahkannya untuk diam dan tidak terpengaruh dengan celaan para pencela di jalan Allah, ia menolak dan berbicara maka ketika Utsman melintasinya ia memerintahkan dengannya, kemudian orang-orang kembali setelah itudan mereka yang pertama kembali adalah Abu Saasaan Al Anshariy, Abu ‘Amrah dan Syutairah maka mereka jadi bertujuh, tidak ada yang mengenal hak Amirul Mukminin [‘alaihis salaam] kecuali mereka bertujuh [Rijal Al Kasyiy 1/47 no 24]

Riwayat Al Kasyiy di atas sanadnya dhaif karena terputus Antara Al Kasyiy dan Aliy bin Al Hakaam. Syaikh Ja’far Syubhaaniy berkata

وكفى في ضعفها أن الكشي من أعلام القرن الرابع الهجري القمري ، فلا يصح أن يروي عن علي بن الحكم ، سواء أكان المراد منه الأنباري الراوي عن ابن عميرة المتوفى عام ( 217 ه) أو كان المراد الزبيري الذي عده الشيخ من أصحاب الرضا ( عليه السلام ) المتوفى عام 203

Dan cukup untuk melemahkannya bahwa Al Kasyiy termasuk ulama abad keempat Hijrah maka tidak shahih ia meriwayatkan dari Aliy bin Al Hakam, jika yang dimaksud adalah Al Anbariy yang meriwayatkan dari Ibnu Umairah maka ia wafat tahun 217 atau jika yang dimaksud adalah Az Zubairiy yang disebutkan Syaikh dalam sahabat Imam Ar Ridha [‘alaihis salaam] maka ia wafat tahun 203 H [Adhwaa ‘Ala ‘Aqa’id Syi’ah Al Imamiyah, Syaikh Ja’far Syubhaaniy hal 523]

Disebutkan riwayat di atas oleh Al Mufiid dalam Al Ikhtishaash dengan sanad yang bersambung hingga Aliy bin Al Hakam, berikut sanadnya

علي بن الحسين بن يوسف، عن محمد بن الحسن، عن محمد بن الحسن الصفار، عن محمد بن إسماعيل، عن علي بن الحكم، عن سيف بن عميرة، عن أبي بكر الحضرمي قال: قال أبوجعفر عليه السلام: ارتد الناس إلا ثلاثة نفر: سلمان وأبوذر، والمقداد

Aliy bin Husain bin Yuusuf dari Muhammad bin Hasan dari Muhammad bin Hasan Ash Shaffaar dari Muhammad bin Isma’iil dari ‘Aliy bin Al Hakam dari Saif bin ‘Umairah dari Abu Bakar Al Hadhramiy yang berkata Abu Ja’far [‘alaihis salaam] berkata “orang-orang telah murtad kecuali tiga yaitu Salmaan, Abu Dzar dan Miqdaad…[Al Ikhtishaash Syaikh Mufiid hal 10]

Terlepas dari kontroversi mengenai kitab Al Ikhtishaash Syaikh Mufiid. Riwayat Al Mufiid di atas sanadnya dhaif sampai Aliy bin Al Hakam karena Aliy bin Husain bin Yuusuf dan Muhammad bin Isma’iil majhul

  1. Aliy bin Husain bin Yusuf, Syaikh Asy Syahruudiy dalam biografinya menyatakan “mereka tidak menyebutkannya” [Mustadrakat Ilm Rijal Al Hadits, Syaikh Aliy Asy Syahruudiy 5/359 no 9957]
  2. Muhammad bin Isma’iil Al Qummiy meriwayatkan dari Aliy bin Al Hakam dan telah meriwayatkan darinya Muhammad bin Yahya [Mu’jam Rijal Al Hadits 16/118 no 10293]. Disebutkan bahwa ia majhul [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadits hal 502]

Kesimpulannya riwayat di atas dhaif tidak tsabit sanadnya sampai ke Aliy bin Al Hakam maka tidak bisa dijadikan hujjah

.

.

Riwayat Kedua 

محمد بن إسماعيل، قال حدثني الفصل بن شاذان، عن ابن أبي عمير عن إبراهيم بن عبد الحميد، عن أبي بصير، قال: قلت لأبي عبد الله ارتد الناس الا ثلاثة أبو ذر وسلمان والمقداد قال: فقال أبو عبد الله عليه السلام: فأين أبو ساسان وأبو عمرة الأنصاري؟

Muhammad bin Isma’iil berkata telah menceritakan kepadaku Al Fadhl bin Syadzaan dari Ibnu Abi ‘Umair dari Ibrahiim bin ‘Abdul Hamiid dari Abi Bashiir yang berkata aku berkata kepada Abu ‘Abdullah “orang-orang telah murtad kecuali tiga yaitu Abu Dzar, Salmaan dan Miqdaad”. Maka Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] berkata “maka dimana Abu Saasaan dan Abu ‘Amrah Al Anshaariy?” [Rijal Al Kasyiy 1/38 no 17]

Riwayat ini sanadnya dhaif karena Muhammad bin Isma’iil An Naisaburiy yang meriwayatkan dari Fadhl bin Syadzaan adalah seorang yang majhul [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadits hal 500]

.

.

Riwayat Ketiga    

عدة من أصحابنا، عن محمد بن الحسن عن محمد بن الحسن الصفار، عن أيوب بن نوح، عن صفوان بن يحيى، عن مثنى بن الوليد الحناط، عن بريد بن معاوية، عن أبي جعفر عليه السلام قال: ارتد الناس بعد النبي صلى الله عليه وآله إلا ثلاثة نفر: المقداد بن الأسود، وأبو ذر الغفاري وسلمان الفارسي، ثم إن الناس عرفوا ولحقوا بعد

Sekelompok dari sahabat kami dari Muhammad bin Hasan dari Muhammad bin Hasan Ash Shaffaar dari Ayuub bin Nuuh dari Shafwaan bin Yahya dari Mutsanna bin Waliid Al Hanaath dari Buraid bin Mu’awiyah dari Abi Ja’far [‘alaihis salaam] yang berkata “orang-orang telah murtad sepeninggal Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] keucali tiga yaitu Miqdaad bin Aswad, Abu Dzar Al Ghifaariy, dan Salman Al Faarisiy kemudian orang-orang mengenal dan mengikuti setelahnya [Al Ikhtishaas Syaikh Mufiid hal 6]

Riwayat Al Mufiid di atas kedudukannya dhaif karena tidak dikenal siapakah “sekelompok sahabat” yang dimaksudkan dalam sanad tersebut.

.

.

Riwayat Keempat

وعنه عن محمد بن الحسن، عن محمد بن الحسن الصفار، عن محمد بن الحسين، عن موسى بن سعدان، عن عبد الله بن القاسم الحضرمي، عن عمرو بن ثابت قال سمعت أبا عبد الله عليه السلام يقول إن النبي صلى الله عليه وآله لما قبض ارتد الناس على أعقابهم كفارا ” إلا ثلاثا ” سلمان والمقداد، وأبو ذر الغفاري، إنه لما قبض رسول الله صلى الله عليه وآله جاء أربعون رجلا ” إلى علي بن أبي طالب عليه السلام فقالوا لا والله لا نعطي أحدا ” طاعة بعدك أبدا “، قال ولم؟ قالوا إنا سمعنا من رسول الله صلى الله عليه وآله فيك يوم غدير [خم]، قال وتفعلون؟ قالوا نعم قال فأتوني غدا ” محلقين، قال فما أتاه إلا هؤلاء الثلاثة، قال وجاءه عمار بن ياسر بعد الظهر فضرب يده على صدره، ثم قال له مالك أن تستيقظ من نومة الغفلة، ارجعوا فلا حاجة لي فيكم أنتم لم تطيعوني في حلق الرأس فكيف تطيعوني في قتال جبال الحديد، ارجعوا فلا حاجة لي فيكم

Dan darinya dari Muhammad bin Hasan dari Muhammad bin Hasan Ash Shaffaar dari Muhammad bin Husain dari Muusa bin Sa’dan dari ‘Abdullah bin Qaasim Al Hadhramiy dari ‘Amru bin Tsabit yang berkata aku mendengar ‘Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] mengatakan “Sesungguhnya setelah Nabi [shallallahu 'alaihi wasallam] wafat, maka orang-orang murtad kecuali tiga orang yaitu Salman, Miqdad dan Abu Dzar Al Ghiffariy. Sesungguhnya setelah Rasulullah [shallallahu 'alaihi wasallam] wafat, datanglah empat puluh orang lelaki kepada Aliy bin Abi Talib. Mereka berkata “Tidak, demi Allah! Selamanya kami tidak akan mentaati sesiapapun kecuali kepadamu. Beliau berkata Mengapa?. Mereka berkata “Sesungguhnya kami telah mendengar Rasulullah [shallallahu 'alaihi wasallam] menyampaikan tentangmu pada hari Ghadir [Khum]. Beliau berkata “apakah kamu semua akan melakukannya?” Mereka berkata “ya”. Beliau berkata “datanglah kamu besok dengan mencukur kepala”. [Abu ‘Abdillah] berkata “Tidak datang kepada Ali kecuali mereka bertiga. [Abu ‘Abdillah] berkata: ‘Ammar bin Yasir datang setelah Zuhur. Beliau memukul tangan ke atas dadanya dan berkata kepada Ammar Mengapa kamu tidak bangkit daripada tidur kelalaian? Kembalilah kamu, kerana aku tidak memerlukan kamu. Jika kamu tidak mentaati aku untuk mencukur kepala, lantas bagaimana kamu akan mentaati aku untuk memerangi gunung besi, kembalilah kamu, aku tidak memerlukan kamu” [Al Ikhtishaash Syaikh Mufiid hal 6]

Riwayat Syaikh Al Mufiid di atas berdasarkan Ilmu Rijal Syi’ah sanadnya dhaif jiddan karena Musa bin Sa’dan dan ‘Abdullah bin Qaasim Al Hadhramiy

  1. Muusa bin Sa’dan Al Hanath ia adalah seorang yang dhaif dalam hadis [Rijal An Najasyiy hal 404 no 1072]
  2. ‘Abdullah bin Qaasim Al Hadhramiy seorang pendusta dan ghuluw [Rijal An Najasyiy hal 226 no 594]

.

.

Riwayat Kelima

حنان، عن أبيه، عن أبي جعفر (ع) قال: كان الناس أهل ردة بعد النبي (صلى الله عليه وآله) إلا ثلاثة فقلت: ومن الثلاثة؟ فقال: المقداد بن الاسود وأبوذر الغفاري و سلمان الفارسي رحمة الله وبركاته عليهم ثم عرف اناس بعد يسير وقال: هؤلاء الذين دارت عليهم الرحا وأبوا أن يبايعوا حتى جاؤوا بأمير المؤمنين (ع) مكرها فبايع وذلك قول الله تعالى: ” وما محمد إلا رسول قد خلت من قبله الرسل أفإن مات أو قتل انقلبتم على أعقابكم ومن ينقلب على عقبيه فلن يضر الله شيئا وسيجزي الله الشاكرين

Hannan dari ayahnya [Sudair], dari Abu Ja‘far ['alaihis salaam] yang berkata “Sesungguhnya orang-orang adalah Ahli riddah [murtad] setelah Nabi [shallallahu 'alaihi wa alihi] wafat kecuali tiga orang. [Sudair] berkata ‘Siapa ketiga orang itu?’ Maka Beliau berkata ‘Miqdaad bin Aswad, Abu Dzar Al Ghifariy dan Salman Al Farisiy [semoga Allah memberikan rahmat dan barakah kepada mereka]. Kemudian orang-orang mengetahui sesudah itu. Beliau berkata mereka itulah yang menghadapi segala kesulitan dan tidak memberikan ba’iat sampai mereka mendatangi Amirul Mukminin ['alaihissalaam] yang dipaksa mereka memberi ba’iat. Demikianlah yang difirmankan Allah SWT “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang, barang siapa yang berbalik ke belakang maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun dan Allah akan memberi balasan kepada orang yang bersyukur [Al Kafiy Al Kulainiy 8/246 no 341]

Sebagian orang mendhaifkan sanad ini dengan mengatakan bahwa riwayat Al Kulainiy terputus Antara Al Kulainiy dan Hanaan bin Sudair. Nampaknya hal ini tidak benar berdasarkan penjelasan berikut

Riwayat di atas juga disebutkan Al Kasyiy dalam kitab Rijal-nya dengan sanad Dari Hamdawaih dan Ibrahim bin Nashiir dari Muhammad bin ‘Utsman dari Hannan dari Ayahnya dari Abu Ja’far [Rijal Al Kasyiy 1/26 no 12]. Al Majlisiy dalam kitabnya Bihar Al Anwar mengutip hadis Al Kasyiy tersebut kemudian mengutip sanad Al Kafiy dengan perkataan berikut

الكافي: علي عن أبيه عن حنان مثله

Al Kafiy : Aliy [bin Ibrahim] dari Ayahnya dari Hanaan seperti di atas [Bihar Al Anwar 28/237]

Al Kulainiy menyebutkan dalam Al Kafiy pada riwayat sebelumnya sanad yang sama yaitu nampak dalam riwayat berikut

علي بن ابراهيم، عن أبيه، عن حنان بن سدير، ومحمد بن يحيى، عن أحمد بن محمد عن محمد بن إسماعيل، عن حنان بن سدير، عن أبيه قال: سألت أبا جعفر

Aliy bin Ibrahim dari Ayahnya dari Hanaan bin Sudair dan Muhammad bin Yahya dari Ahmad bin Muhammad dari Muhammad bin Isma’iil dari Hanaan bin Sudair dari Ayahnya yang berkata aku bertanya kepada Abu Ja’far [‘alaihis salaam]… [Al Kafiy Al Kulainiy 8/246 no 340]

Maka disini dapat dipahami bahwa dalam pandangan Al Majlisiy sanad utuh riwayat tersebut adalah Aliy bin Ibrahim dari Ayahnya dari Hanaan dari Ayahnya dari Abu Ja’far [‘alaihis salaam]

Sanad ini para perawinya tsiqat selain Sudair bin Hakiim Ash Shairaafiy, ia tidak dikenal tautsiq-nya dari kalangan ulama mutaqaddimin Syi’ah tetapi Allamah Al Hilliy telah menyebutkannya dalam bagian pertama kitabnya yang memuat perawi yang terpuji dan diterima di sisi-nya. Dalam kitabnya tersebut Al Hilliy juga menukil Sayyid Aliy bin Ahmad Al Aqiiqiy yang berkata tentang Sudair bahwa ia seorang yang mukhalith [kacau atau tercampur] [Khulashah Al Aqwaal hal 165 no 3]. Pentahqiq kitab Khulashah Al Aqwal berkata bahwa lafaz mukhalith tersebut bermakna riwayatnya ma’ruf dan mungkar

Dapat disimpulkan bahwa dalam pandangan Allamah Al Hilliy, Sudair bin Hakiim termasuk perawi yang diterima hanya saja dalam sebagian riwayatnya kacau sehingga diingkari. Kedudukan perawi seperti ini tidak bisa dijadikan hujjah jika tafarrud dan tidak diterima hadisnya jika bertentangan dengan riwayat perawi tsiqat. Berikut riwayat shahih dari Abu Ja’far [‘alaihis salaam] yang membuktikan keislaman para sahabat pada saat itu

أبى رحمه الله قال: حدثنا سعد بن عبد الله قال: حدثنا أحمد بن محمد ابن عيسى، عن العباس بن معروف، عن حماد بن عيسى، عن حريز، عن بريد بن معاوية، عن أبي جعفر ” ع ” قال: إن عليا ” ع ” لم يمنعه من أن يدعو الناس إلى نفسه إلا انهم ان يكونوا ضلالا لا يرجعون عن الاسلام أحب إليه من أن يدعوهم فيأبوا عليه فيصيرون كفارا كلهم

Ayahku [rahimahullah] berkata telah menceritakan kepada kami Sa’d bin ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Muhammad bin Iisa dari ‘Abbaas bin Ma’ruuf dari Hammad bin Iisa dari Hariiz dari Buraid bin Mu’awiyah dari Abi Ja’far [‘alaihis salaam] yang berkata sesungguhnya Aliy [‘alaihis salaam], tidak ada yang mencegahnya mengajak manusia kepadanya kecuali bahwa mereka dalam keadaan tersesat tetapi tidak keluar dari Islam lebih ia sukai daripada ia mengajak mereka dan mereka menolaknya maka mereka menjadi kafir seluruhnya [Ilal Asy Syara’i Syaikh Ash Shaduq 1/150 no 10]

Riwayat Syaikh Ash Shaduq di atas sanadnya shahih berdasarkan standar Ilmu Rijal Syi’ah berikut keterangan para perawinya

  1. Ayah Syaikh Shaduq adalah ‘Aliy bin Husain bin Musa bn Babawaih Al Qummiy disebutkan oleh An Najasyiy Syaikh yang faqih dan tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 261 no 684]
  2. Sa’d bin ‘Abdullah Al Qummiy adalah seorang yang tsiqat [Al Fahrasat Syaikh Ath Thuusiy hal 135]
  3. Ahmad bin Muhammad bin Iisa Al Qummiy adalah seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 351]
  4. ‘Abbaas bin Ma’ruf Abu Fadhl Al Qummiy seorang yang tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 281 no 743]
  5. Hammaad bin Iisa Abu Muhammad Al Juhaniy seorang yang tsiqat dalam hadisnya shaduq [Rijal An Najasyiy hal 142 no 370]
  6. Hariiz bin ‘Abdullah As Sijistaniy orang kufah yang tsiqat [Al Fahrasat Syaikh Ath Thuusiy hal 118]
  7. Buraid bin Mu’awiyah meriwayatkan dari Abu Ja’far [‘alaihis salaam] dan Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam], seorang yang tsiqat faqiih [Khulashah Al Aqwaal Allamah Al Hilliy hal 81-82]

Riwayat Syaikh Ash Shaduq dengan jelas menyatakan bahwa para sahabat yang tidak membaiat Imam Aliy [‘alaihis salaam] pada saat itu memang dalam keadaan tersesat tetapi tidak keluar dari Islam.

.

.

.
Hadis Yang Tidak Ada Lafaz Murtad

Ada dua hadis yang tidak mengandung lafaz “murtad” hanya menunjukkan bahwa mereka para sahabat meninggalkan baiat atau telah tersesat dan celaka kecuali tiga orang. Dan berdasarkan hadis shahih sebelumnya [riwayat Syaikh Ash Shaduq] mereka para sahabat yang tidak membaiat Imam Aliy adalah orang-orang yang tersesat tetapi tidak keluar dari Islam

.

Riwayat Pertama

محمد بن مسعود، قال حدثني علي بن الحسن بن فضال، قال حدثني العباس ابن عامر، وجعفر بن محمد بن حكيم، عن أبان بن عثمان، عن الحارث النصري بن المغيرة، قال سمعت عبد الملك بن أعين، يسأل أبا عبد الله عليه السلام قال فلم يزل يسأله حتى قال له: فهلك الناس إذا؟ قال: أي والله يا ابن أعين هلك الناس أجمعون قلت من في الشرق ومن في الغرب؟ قال، فقال: انها فتحت على الضلال أي والله هلكوا الا ثلاثة ثم لحق أبو ساسان وعمار وشتيرة وأبو عمرة فصاروا سبعة

Muhammad bin Mas’ud berkata telah menceritakan kepadaku Aliy bin Hasan bin Fadhl yang berkata telah menceritakan kepadaku ‘Abbas Ibnu ‘Aamir dan Ja’far bin Muhammad bin Hukaim dari Aban bin ‘Utsman dari Al Harits An Nashriy bin Mughiirah yang berkata aku mendengar ‘Abdul Malik bin ‘A’yun bertanya kepada Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam], ia tidak henti-hentinya bertanya kepadanya sampai ia berkata kepadanya “maka orang-orang telah celaka?”. Beliau berkata “demi Allah, wahai Ibnu A’yun orang-orang telah celaka seluruhnya”. Aku berkata “orang-orang yang di Timur dan orang-orang yang di Barat?”. Beliau berkata “sesungguhnya mereka berada dalam kesesatan, demi Allah mereka celaka kecuali tiga kemudian diikuti Abu Saasaan, ‘Ammar, Syutairah dan Abu ‘Amrah hingga mereka jadi bertujuh [Rijal Al Kasyiy 1/34-35 no 14]

Riwayat Al Kasyiy di atas sanadnya muwatstsaq para perawinya tsiqat hanya saja Aliy bin Hasan bin Fadhl disebutkan bahwa ia bermazhab Fathahiy dan Aban bin ‘Utsman bermazhab menyimpang

  1. Muhammad bin Mas’ud termasuk guru Al Kasyiy dan ia seorang yang tsiqat shaduq [Rijal An Najasyiy hal 350 no 944]
  2. Aliy bin Hasan bin Fadhl orang Kufah yang faqih, terkemuka, tsiqat dan arif dalam ilmu hadis [Rijal An Najasyiy hal 257 no 676]
  3. ‘Abbaas bin ‘Aamir bin Rabah, Abu Fadhl Ats Tsaqafiy seorang syaikh shaduq tsiqat banyak meriwayatkan hadis [Rijal An Najasyiy hal 281 no 744]
  4. Abaan bin ‘Utsman Al Ahmar, Al Hilliy menukil dari Al Kasyiy bahwa terdapat ijma’ menshahihkan apa yang shahih dari Aban bin ‘Utsman, dan Al Hilliy berkata “di sisiku riwayatnya diterima dan ia jelek mazhabnya” [Khulashah Al ‘Aqwaal Allamah Al Hilliy hal 74 no 3]
  5. Al Harits bin Mughiirah meriwayatkan dari Abu Ja’far, Ja’far, Musa bin Ja’far dan Zaid bin Aliy, tsiqat tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 139 no 361]
  6. Abdul Malik bin A’yun termasuk sahabat Imam Baqir [‘alaihis salaam] dan Imam Shadiq [‘alaihis salaam], disebutkan dalam riwayat shahih oleh Al Kasyiy mengenai kebaikannya dan istiqamah-nya [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadits hal 356]. Allamah Al Hilliy memasukkannya ke dalam daftar perawi yang terpuji atau diterima di sisinya [Khulashah Al Aqwaal hal 206 no 5]

Riwayat Al Kasyiy di atas tidak bisa dijadikan hujjah untuk mengkafirkan mayoritas sahabat Nabi karena dalam lafaz riwayat-nya memang tidak terdapat kata-kata kafir atau murtad. Riwayat diatas menjelaskan bahwa para sahabat telah celaka dan mengalami kesesatan [karena perkara wilayah] tetapi hal ini tidaklah mengeluarkan mereka dari Islam sebagaimana telah ditunjukkan riwayat shahih sebelumnya.
.

.

Riwayat Kedua

حمدويه، قال حدثنا أيوب عن محمد بن الفضل وصفوان، عن أبي خالد القماط، عن حمران، قال: قلت لأبي جعفر عليه السلام ما أقلنا لو اجتمعنا على شاة ما أفنيناها! قال، فقال: الا أخبرك بأعجب من ذلك؟ قال، فقلت: بلي. قال: المهاجرون والأنصار ذهبوا (وأشار بيده) الا ثلاثة

Hamdawaih berkata telah menceritakan kepada kami Ayuub dari Muhammad bin Fadhl dan Shafwaan dari Abi Khalid Al Qamaath dari Hamran yang berkata aku berkata kepada Abu Ja’far [‘alaihis salaam] “betapa sedikitnya jumlah kita, seandainya kita berkumpul pada hidangan kambing maka kita tidak akan menghabiskannya”. Maka Beliau berkata “maukah aku kabarkan kepadamu hal yang lebih mengherankan daripada itu?”. Aku berkata “ya”. Beliau berkata “Muhajirin dan Anshar meninggalkan [dan ia berisyarat dengan tangannya] kecuali tiga [Rijal Al Kasyiy 1/37 no 15]

Riwayat Al Kasyiy di atas sanadnya shahih berdasarkan standar ilmu Rijal Syi’ah berikut keterangan mengenai para perawinya

  1. Hamdawaih bin Nashiir dia seorang yang memiliki banyak ilmu dan riwayat, tsiqat baik mazhabnya [Rijal Ath Thuusiy hal 421]
  2. Ayuub bin Nuuh bin Daraaj, agung kedudukannya di sisi Abu Hasan dan Abu Muhammad [‘alaihimus salaam], ma’mun, sangat wara’, banyak beribadah dan tsiqat dalam riwayatnya [Rijal An Najasyiy hal 102 no 254]
  3. Shafwaan bin Yahya Abu Muhammad Al Bajalliy seorang yang tsiqat tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 197 no 524]
  4. Yaziid Abu Khalid Al Qammaath seorang yang tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 452 no 1223]
  5. Hamran bin A’yun termasuk diantara Syaikh-syaikh Syi’ah yang agung dan memiliki keutamaan yang tidak diragukan tentang mereka [Risalah Fii Alu A’yun Syaikh Abu Ghalib hal 2]

Riwayat Al Kasyiy di atas juga tidak bisa dijadikan hujjah untuk mengkafirkan mayoritas sahabat Nabi karena tidak ada dalam riwayat tersebut lafaz kafir atau murtad. Riwayat ini menunjukkan bahwa para sahabat meninggalkan Imam Aliy dan membaiat khalifah Abu Bakar [radiallahu 'anhu] sepeninggal Nabi [shallallahu 'alaihi wasallam]. Dan sebagaimana disebutkan dalam riwayat shahih sebelumnya bahwa mereka telah tersesat tetapi hal itu tidak mengeluarkan mereka dari Islam.

.

.

Kesimpulan

Dalam mazhab Syi’ah, Para sahabat Nabi yang tidak membaiat Imam Aliy ['alaihis salaam] telah tersesat [kecuali tiga orang] karena menurut mazhab Syi’ah, Imamah Aliy bin Abi Thalib telah ditetapkan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya. Tetapi walaupun begitu disebutkan juga dalam hadis shahih mazhab Syi’ah bahwa kesesatan para sahabat tersebut tidaklah mengeluarkan mereka dari islam.

 

hadis Imam Aliy mengharamkan nikah mut’ah di sisi Syi’ah kedudukannya dhaif

sumber tulisan ini dari web http://www.secondprince.wordpress.com

Shahihkah Hadis Syi’ah : Imam Aliy Mengharamkan Mut’ah Di Khaibar?

Halalnya Nikah Mut’ah adalah perkara yang diyakini kebenarannya dalam Mazhab Syi’ah dan hal ini berdasarkan hadis-hadis shahih dari Imam Ahlul Bait di sisi mereka. Tidak menjadi masalah jika kaum sunni tidak menerima hal ini [karena terdapat hadis-hadis Sunni yang mengharamkannya].

 

Diantara kaum sunni tersebut ternyata terdapat para nashibi yang gemar memfitnah Syi’ah. Nashibi tersebut berkata bahwa dalam kitab Syi’ah Imam Aliy telah mengharamkan mut’ah, benarkah demikian. Tulisan ini berusaha menganalisis benarkah tuduhan para nashibi tersebut bahwa dalam mazhab Syi’ah Imam Aliy telah mengharamkan mut’ah. Inilah hadis yang dimaksud

محمد بن يحيى عن أبي جعفر عن أبي الجوزاء عن الحسين بن علوان عن عمرو بن خالد عن زيد بن علي عن آبائه عن علي عليهم السلام قال حرم رسول الله صلى الله عليه وآله يوم خيبر لحوم الحمر الأهلية ونكاح المتعة

Muhammad bin Yahya dari Abi Ja’far dari Abul Jauzaa’ dari Husain bin ‘Ulwan dari ‘Amru bin Khalid dari Zaid bin Aliy dari Ayah-ayahnya dari Aliy [‘alaihis salaam] yang berkata Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengharamkan pada hari khaibar daging keledai jinak dan Nikah Mut’ah [Tahdzib Al Ahkam, Syaikh Ath Thuusiy 7/251].

Nashibi tersebut menyatakan bahwa para perawi hadis ini semuanya tsiqat berdasarkan standar ilmu hadis Syi’ah. Pernyataan inilah yang akan diteliti kembali berdasarkan ilmu Rijal Syi’ah. Perawi yang akan dipermasalahkan disini adalah Husain bin ‘Ulwan

Husain bin ‘Ulwan telah ditsiqatkan oleh Sayyid Al Khu’iy dalam Mu’jam Rijal Al Hadits no 3508  dan diikuti oleh Muhammad Al Jawahiriy dalam Al Mufiid

الحسين بن علوان: وثقه النجاشي على ما ذكرناه في ترجمة الحسن بن علوان وإن التوثيق راجع إلى الحسين لا إلى الحسن. على أن في كلام ابن عقدة دلالة على وثاقة الحسين بن علوان

Husain bin ‘Ulwan ditsiqatkan oleh An Najasyiy sebagaimana yang kami sebutkan dalam biografi Hasan bin ‘Ulwan bahwa sesungguhnya tautsiq tersebut kembali kepada Al Husain bukan kepada Al Hasan dan sesungguhnya dalam perkataan Ibnu Uqdah terdapat dalil atas tsiqatnya Husain bin ‘Ulwan [Al Mufid Min Mu’jam Rijal Al Hadiits hal 768]

.

.

Memang terjadi perselisihan diantara ulama Syi’ah mengenai tautsiq terhadap Husain bin ‘Ulwan. Perselisihan ini disebabkan oleh perbedaan pemahaman mereka terhadap apa yang dikatakan An Najasyiy dalam biografi Husain bin ‘Ulwan. An Najasyiy berkata

الحسين بن علوان الكلبي مولاهم كوفي عامي، وأخوه الحسن يكنى أبا محمد ثقة، رويا عن أبي عبد الله عليه السلام

Al Husain bin ‘Ulwan Al Kalbiy maula mereka, seorang penduduk Kufah dari kalangan ahlus sunnah dan saudaranya Al Hasan dengan kuniyah Abu Muhammad tsiqat, keduanya meriwayatkan dari Abu Abdullah [‘alaihis salaam] [Rijal An Najasyiy hal 52 no 116]

Sebagian ulama Syi’ah memahami bahwa perkataan tsiqat An Najasyiy itu tertuju pada saudaranya Al Husain bin ‘Ulwan yaitu Al Hasan bin ‘Ulwan seperti yang dinyatakan Syaih Aliy Asy Syahruudiy dalam Mustadrakat Ilm Rijal Al Hadiits 2/432 no 3681 biografi Hasan bin ‘Ulwan Al Kalbiy. Syaikh Ja’far Syubhaniy dalam Kulliyat Fii Ilm Rijal menegaskan bahwa tautsiq yang disebutkan An Najasyiy itu tertuju pada Hasan bin ‘Ulwan Al Kalbiy [Kulliyat Fii Ilm Rijal hal 65].

Ibnu Dawud Al Hilliy dalam kitab Rijal-nya ia memasukkan Hasan bin ‘Ulwan dalam Juz pertama yang memuat daftar perawi tsiqat dan terpuji menurutnya [Rijal Ibnu Dawud hal Al Hilliy 76 no 443]. Sedangkan untuk Husain bin ‘Ulwan, Ibnu Dawud memasukkan namanya dalam juz kedua yang memuat daftar perawi yang majruh dan majhul, ia berkata

الحسين بن علوان الكلبي، مولاهم ق (جش) كوفي عامي

Al Husain bin ‘Ulwan Al Kalbiy, maula mereka, [kitab Najasyiy] penduduk Kufah dari kalangan ahlus sunnah [Rijal Ibnu Dawud hal 240 no 144]

Dari pernyataan Ibnu Dawud Al Hilliy tersebut didapatkan bahwa Ibnu Dawud memahami perkataan An Najasyiy kalau tautsiq tersebut tertuju pada Hasan bin ‘Ulwan sehingga ia memasukkannya dalam juz pertama kitabnya. Sedangkan Husain bin ‘Ulwaan tidak ada tautsiq terhadapnya dari Najasyiy dan yang lainnya maka Ibnu Dawud memasukkannya dalam juz kedua yang memuat daftar perawi majhul dan dhaif.

Hal yang sama juga disebutkan oleh Allamah Al Hilliy dalam Khulasah Al Aqwaal Fii Ma’rifat Ar Rijal, ia memasukkan Hasan bin ‘Ulwan dalam bagian pertama kitabnya yang memuat perawi tsiqat [Khulasah Al Aqwaal, hal 106] dan memasukkan Husain bin ‘Ulwan dalam kitab Khulasah-nya bagian kedua yang memuat daftar perawi dhaif atau yang ia bertawaqquf terhadapnya [Khulasah Al Aqwaal, hal 338]

Sayyid Al Khu’iy yang diikuti Muhammad Al Jawahiriy memahami lafaz tautsiq Najasyiy tertuju pada Husain bin ‘Ulwan karena disitu adalah biografi Husain bin ‘Ulwan. Pernyataan ini tidak menjadi hujjah, karena kalau diperhatikan secara terperinci metode penulisan An Najasyiy dalam kitab-nya maka didapatkan bahwa An Najasyiy sering mentautsiq seorang perawi dalam biografi perawi lain [misalnya saudara atau ayahnya]. Hal ini juga ditegaskan oleh Syaikh Ja’far Syubhaniy dalam Kulliyat Fii Ilm Rijal hal 64

ثم إن الشيخ النجاشي قد ترجم عدة من الرواة ووثقهم في غير تراجمهم، كما أنه لم يترجم عدة من الرواة مستقلا، ولكن وثقهم في تراجم غيرهم

Kemudian Syaikh An Najasyiy telah menulis biografi sejumlah perawi dan mentsiqatkan mereka dalam biografi selain mereka, sama seperti halnya ia tidak menulis biografi sejumlah perawi secara khusus tetapi ia mentsiqatkan mereka dalam biografi selain mereka [Kulliyat Fii Ilm Rijaal, Syaikh Ja’far Syubhaniy hal 64]

Berikut adalah contoh dimana Najasyiy mentautsiq seorang perawi dalam biografi perawi lain

مندل بن علي العنزي واسمه عمرو، وأخوه حيان، ثقتان، رويا عن أبي عبد الله عليه السلام

Mandal bin Aliy Al ‘Anziy namanya ‘Amru, dan saudaranya adalah Hayyaan, keduanya tsiqat, keduanya meriwayatkan dari Abu Abdullah [‘alaihis salaam] [Rijal An Najasyiy hal 422 no 1131]

.

.

Jika dilihat secara zahir lafaz perkataan An Najasyiy dalam biografi Husain bin ‘Ulwan maka diketahui bahwa ia sedang menceritakan tentang keduanya tidak hanya Husain bin ‘Ulwan tetapi juga Hasan bin ‘Ulwan, maka kalau kita penggal secara benar adalah sebagai berikut

الحسين بن علوان الكلبي مولاهم كوفي عامي،
وأخوه الحسن يكنى أبا محمد ثقة،
رويا عن أبي عبد الله عليه السلام

Al Husain bin ‘Ulwan Al Kalbiy maula mereka, penduduk Kufah dari kalangan umum [ahlus sunnah]
Dan saudaranya, Al Hasan dengan kuniyah Abu Muhammad seorang yang tsiqat
Keduanya meriwayatkan dari Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam]

Lafaz rawaya ‘an yang berarti “keduanya meriwayatkan” menunjukkan bahwa Najasyiy sedang menceritakan keduanya. Sehingga susunan kalimat itu akan lebih teratur kalau dipahami bahwa lafaz “tsiqat” itu terikat pada Hasan bukan pada Husain bin ‘Ulwan. Berbeda hal-nya jika dalam biografi tersebut Najasyiy hanya bercerita tentang Husain bin ‘Ulwan saja maka tidak diragukan lafaz tsiqat itu tertuju pada Husain bin ‘Ulwan. Maka dari itu menurut kami yang rajih adalah lafaz tsiqat Najasyiy itu tertuju pada Hasan bin ‘Ulwan sebagaimana diisyaratkan oleh Allamah Al Hiliy, Ibnu Dawud dan ditegaskan oleh Syaikh Ja’far Syubhaniy dan Syaikh Ali Asy Syahruudiy.

.

.

Adapun hujjah Sayyid Al Khu’iy dan Muhammad Al Jawahiriy dengan perkataan Ibnu Uqdah seolah menunjukkan tautsiq pada Husain bin ‘Ulwan maka hujjah ini tertolak. Perkataan Ibnu Uqdah tersebut dinukil oleh Allamah Al Hilliy kemudian Sayyid Al Khu’iy sendiri dalam biografi Hasan bin ‘Ulwan berkomentar sebagai berikut

ووثقه ابن عقدة أيضا، ذكره العلامة في ترجمة الحسين بن علوان في القسم الثاني، ولكن طريقه إلى ابن عقدة مجهول، فلا يمكن الاعتماد عليه

Dan ia telah ditsiqatkan Ibnu Uqdah sebagaimana yang telah disebutkan Allamah dalam biografi Husain bin ‘Ulwan dalam bagian kedua, tetapi jalannya sampai ke Ibnu Uqdah adalah majhul maka tidak mungkin berpegang dengannya [Mu’jam Rijal Al Hadits, Sayyid Al Khu’iy no 2929]

Jadi nampak bahwa Sayyid Al Khu’iy mengalami tanaqudh disini, dalam biografi Hasan bin ‘Ulwan ia melemahkan perkataan Ibnu Uqdah tersebut tetapi dalam biografi Husain bin ‘Ulwan ia malah berhujjah dengannya.

.

.

Seandainya pun jika perkataan Ibnu Uqdah tersebut shahih maka pernyataan Sayyid Al Khu’iy bahwa dalam perkataan Ibnu Uqdah terdapat tautsiq terhadap Husain bin ‘Ulwaan adalah keliru.

قال ابن عقدة: ان الحسن كان أوثق من أخيه

Ibnu Uqdah berkata bahwa Hasan ia lebih terpercaya dibanding saudaranya [Khulasah Al Aqwaal Allamah Al Hilliy hal 338]

Zhahir lafaz Ibnu Uqdah adalah tautsiq terhadap Hasan bin ‘Ulwaan dan menurut Sayyid Al Khu’iy di dalamnya terkandung tautsiq juga terhadap Husain saudaranya. Seolah-olah dari lafaz Ibnu Uqdah tersebut dipahami bahwa Husain dan Hasan keduanya tsiqat tetapi Hasan lebih tsiqat dari Husain. Tentu saja ini hanya sekedar dugaan, kami akan beri contoh dari kalangan mutaqaddimin yaitu An Najasyiy lafaz yang mirip dengan lafaz Ibnu Uqdah di atas

الحسن بن محمد بن جمهور العمي أبو محمد بصري ثقة في نفسه، ينسب إلى بني العم من تميم، يروي عن الضعفاء ويعتمد على المراسيل. ذكره أصحابنا بذلك وقالوا: كان أوثق من أبيه

Hasan bin Muhammad bin Jumhuur Al ‘Ammiy Abu Muhammad penduduk Basrah yang pada dasarnya tsiqat, dinasabkan kepada bani ‘Amm dari Tamim, meriwayatkan dari perawi dhaif dan berpegang dengan riwayat-riwayat mursal, demikianlah disebutkan oleh sahabat kami dan mereka berkata “ia lebih terpercaya dibanding ayahnya” [Rijal An Najasyiy hal 62 no 144].

Kemudian apakah dalam lafaz “ia lebih terpercaya dibanding ayahnya” terdapat isyarat tautsiq terhadap ayahnya. Maka perhatikan perkataan An Najasyiy terhadap Muhammad bin Jumhuur

محمد بن جمهورأبو عبد الله العمي ضعيف في الحديث، فاسد المذهب

Muhammad bin Jumhuur Abu ‘Abdullah Al ‘Ammiy dhaif dalam hadis rusak mazhabnya [Rijal An Najasyiy hal 337 no 901]

Dari sini dapat diambil faedah bahwa lafaz “ia lebih terpercaya dari saudaranya” tidak mesti menunjukkan saudaranya juga tsiqat. Jadi pendalilan tautsiq Husain bin ‘Ulwan dengan berlandaskan hujjah perkataan Ibnu Uqdah bukanlah hujjah yang kuat.

.

.

Sejauh ini apa yang dapat kita ambil?. Tautsiq Najasyiy sebenarnya ditujukan untuk Hasan bin ‘Ulwan Al Kalbiy bukan Husain kemudian perkataan Ibnu Uqdah bukan hujjah kuat yang membuktikan tautsiq Husain bin ‘Ulwan. Selain Najasyiy dan Ibnu Uqdah, tidak ada ulama lain yang dapat dijadikan sandaran tautsiq bagi Husain bin ‘Ulwan maka pendapat yang rajih tentang Husain bin ‘Ulwan adalah tidak ada lafaz tautsiq yang jelas padanya. Hal ini telah dinyatakan oleh sebagian ulama Syi’ah muta’akhirin

  1. Sayyid Mustafa Khumaini dalam Al Khalal Fii Shalah hal 108
  2. Abdullah Al Mamaqaniy dalam Nata’ij At Tanqiih 1/41 no 2979
  3. Muhaqqiq Al Ardabiliy dalam Majma’ Al Faidah 11/121
  4. Syahid Ats Tsaniy dalam Al Istiqshaa’ Al I’tibaar  3/274
  5. Sayyid Al Khu’iy dalam Kitab Ath Thaharah 8/161

Nampak bahwa Sayyid Al Khu’iy mengalami tanaqudh mengenai pendapatnya terhadap Husain bin ‘Ulwaan Al Kalbiy, dalam salah satu kitabnya ia menyatakan Husain tsiqat tetapi dalam kitabnya yang lain ia menyatakan Husain tidak ada yang mentautsiq-nya.

.

.

Sedikit tambahan mengenai Husain bin ‘Ulwan yaitu telah ditekankan oleh An Najasyiy dan diikuti oleh banyak ulama lainnya bahwa Husain bin ‘Ulwan adalah dari kalangan umum atau ahlus sunnah. Maka bagaimanakah hakikat dirinya dalam pandangan ahlus sunnah?.

Abu Hatim berkata tentang Husain bin ‘Ulwan bahwa ia lemah dhaif matruk al hadits. Ibnu Ma’in berkata “pendusta” [Al Jarh Wat Ta’dil Ibnu Abi Hatim 3/61 no 277]. Ibnu Ghulabiy berkata “tidak tsiqat”. Ali bin Madini mendhaifkannya. Abu Yahya Muhammad bin ‘Abdurrahiim berkata “Husain bin ‘Ulwan meriwayatkan dari Hisyam bin ‘Urwah dan Ibnu ‘Ajlan hadis-hadis maudhu’. Shalih bin Muhammad Al Baghdadiy berkata “pemalsu hadis”. Nasa’i dan Daruquthni berkata “matruk al hadits” [Tarikh Baghdad 8/62 no 4138]. Tentu saja kitab ahlus sunnah tidaklah menjadi pegangan di sisi Syi’ah. Kami disini hanya ingin menunjukkan bahwa Husain bin ‘Ulwan dalam pandangan ulama ahlus sunnah dikenal sebagai pendusta dan pemalsu hadis.

.

.

Kesimpulan : hadis Imam Aliy mengharamkan nikah mut’ah di sisi Syi’ah kedudukannya dhaif karena Husain bin ‘Ulwan berdasarkan pendapat yang rajih adalah perawi dari kalangan ahlus sunnah dan di sisi Syi’ah tidak ada lafaz tautsiq yang jelas untuknya.

baiat Imam Hasan terhadap Mu’awiyah semata-mata untuk mencegah tertumpahnya darah kaum muslimin lebih banyak lagi

sumber tulisan ini dari web http://www.secondprince.wordpress.com

Hakikat Baiat Hasan bin Aliy Kepada Mu’awiyah bin Abu Sufyaan

Peristiwa baiatnya Imam Hasan bin Aliy [‘alaihis salaam] kepada Mu’awiyah bin Abu Sufyaan sering dijadikan hujjah para nashibiy untuk membenarkan dan memuliakan Mu’awiyah. Padahal hakikatnya tidak demikian, di sisi Imam Hasan baiat tersebut adalah untuk meredakan perpecahan dan menyelamatkan darah kaum muslimin.Tidak sedikitpun baiat tersebut memandang kemuliaan Mu’awiyah karena hakikat Mu’awiyah dalam perkara ini adalah pemimpin kelompok baaghiyah yang menyeru kepada neraka. Sebagaimana yang dinyatakan dalam riwayat shahih

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مُخْتَارٍ قَالَ حَدَّثَنَا خَالِدٌ الْحَذَّاءُ عَنْ عِكْرِمَةَ قَالَ لِي ابْنُ عَبَّاسٍ وَلِابْنِهِ عَلِيٍّ انْطَلِقَا إِلَى أَبِي سَعِيدٍ فَاسْمَعَا مِنْ حَدِيثِهِ فَانْطَلَقْنَا فَإِذَا هُوَ فِي حَائِطٍ يُصْلِحُهُ فَأَخَذَ رِدَاءَهُ فَاحْتَبَى ثُمَّ أَنْشَأَ يُحَدِّثُنَا حَتَّى أَتَى ذِكْرُ بِنَاءِ الْمَسْجِدِ فَقَالَ كُنَّا نَحْمِلُ لَبِنَةً لَبِنَةً وَعَمَّارٌ لَبِنَتَيْنِ لَبِنَتَيْنِ فَرَآهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَنْفُضُ التُّرَابَ عَنْهُ وَيَقُولُ وَيْحَ عَمَّارٍ تَقْتُلُهُ الْفِئَةُ الْبَاغِيَةُ يَدْعُوهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ وَيَدْعُونَهُ إِلَى النَّارِ قَالَ يَقُولُ عَمَّارٌ أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ الْفِتَنِ

Telah menceritakan kepada kami Musaddad yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdul ‘Aziz bin Mukhtar yang berkata telah menceritakan kepada kami Khalid Al Hidzaa’ dari Ikrimah yang berkata Ibnu Abbas berkata kepadaku dan kepada anaknya Ali, pergilah kalian kepada Abu Sa’id dan dengarkanlah hadis darinya maka kami menemuinya. Ketika itu ia sedang memperbaiki dinding miliknya, ia mengambil kain dan duduk kemudian ia mulai menceritakan kepada kami sampai ia menyebutkan tentang pembangunan masjid. Ia berkata “kami membawa batu satu persatu sedangkan Ammar membawa dua batu sekaligus, Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] melihatnya, kemudian Beliau berkata sambil membersihkan tanah yang ada padanya “kasihan ‘Ammar, dia akan dibunuh oleh kelompok baaghiyah [pembangkang], ia [Ammar] mengajak mereka ke surga dan mereka mengajaknya ke neraka. ‘Ammar berkata “aku berlindung kepada Allah dari fitnah” [Shahih Bukhari 1/97 no 447]

Jadi betapa kelirunya orang-orang bodoh yang mengira bahwa baiat Imam Hasan tersebut berarti membenarkan Mu’awiyah atau memuliakannya. Bahkan pada saat baiat tersebut terjadi, Imam Hasan sudah mengisyaratkan celaannya kepada Mu’awiyah dan para sahabatnya, seperti nampak dalam riwayat berikut

أخبرنا يزيد بن هارون قال أخبرنا حريز بن عثمان قال حدثنا عبد الرحمن بن أبي عوف الجرشي قاللما بايع الحسن بن علي معاوية قال له عمرو بن العاص وأبو الأعور السلمي عمرو بن سفيان لو أمرت الحسن فصعد المنبر فتكلم عيي عن المنطق فيزهد فيه الناس فقال معاوية لا تفعلوا فوالله لقد رأيت رسول الله ( صلى الله عليه وسلم ) يمص لسانه وشفته ولن يعيا لسان مصه النبي ( صلى الله عليه وسلم ) أو شفتان فأبوا على معاوية فصعد معاوية المنبر ثم أمر الحسن فصعد وأمره أن يخبر الناس إني قد بايعت معاوية فصعد الحسن المنبر فحمد الله وأثنى عليه ثم قال أيها الناس إن الله هداكم بأولنا وحقن دماءكم بآخرنا وإني قد أخذت لكم على معاوية أن يعدل فيكم وأن يوفر عليكم غنائمكم وأن يقسم فيكم فيئكم ثم أقبل على معاوية فقال كذاك قال نعم ثم هبط من المنبر وهو يقول ويشير بإصبعه إلى معاوية ” وإن أدري لعله فتنة لكم ومتاع إلى حين ” فاشتد ذلك على معاوية فقالا لو دعوته فاستنطقته فقال مهلا فأبوا فدعوه فأجابهم فأقبل عليه عمرو بن العاص فقال له الحسن أما أنت فقد اختلف فيك رجلان رجل من قريش وجزار أهل المدينة فادعياك فلا أدري أيهما أبوك وأقبل عليه أبو الأعور السلمي فقال له الحسن ألم يلعن رسول الله ( صلى الله عليه وسلم ) رعلا وذكوان وعمرو بن سفيان ثم أقبل معاوية يعين القوم فقال له الحسن أما علمت أن رسول الله ( صلى الله عليه وسلم ) لعن قائد الأحزاب وسائقهم وكان أحدهما أبو سفيان والآخر أبو الأعور السلمي

Telah mengabarkan kepada kami Yaziid bin Haruun yang berkata telah mengabarkan kepada kami Hariiz bin ‘Utsman yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman bin Abi ‘Auf Al Jurasyiy yang berkata ketika Hasan bin Aliy membaiat Mu’awiyah, ‘Amru bin Ash dan Abul A’war As Sulaamiy ‘Amru bin Sufyaan telah berkata kepadanya [Mu’awiyah] “sekiranya engkau memerintahkan Hasan naik mimbar dan ia akan mengatakan ucapan yang lemah sehingga orang-orang akan berpaling darinya”. Mu’awiyah berkata “aku tidak akan melakukannya, demi Allah sungguh aku telah melihat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] telah menghisap lidah dan bibirnya maka tidak akan lemah lisan atau mulut yang telah dihisap Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]”. Mereka mengingkari Mu’awiyah maka akhirnya Mu’awiyah naik mimbar kemudian memerintahkan Hasan untuk naik mimbar dan memerintahkannya untuk mengabarkan kepada orang-orang “sungguh aku telah membaiat Mu’awiyah”. Maka Hasan naik mimbar mengucapkan syukur kepada Allah SWT dan memuji-Nya kemudian berkata “wahai manusia sesungguhnya Allah SWT telah memberikan petunjuk kepada kalian dengan orang yang pertama dari kami dan mencegah tertumpahnya darah kalian dengan orang yang terakhir dari kami dan aku telah menjadikan kalian ke atas Mu’awiyah bahwa ia akan berlaku adil kepada kalian, memberikan ghanimah kalian dan membagi fa’iy kalian”. Kemudian ia menghadap Mu’awiyah dan berkata “beginikah?”. Mu’awiyah berkata “benar” kemudian Hasan turun dari mimbar dan ia mengatakan seraya menunjuk kearah Mu’awiyah “dan aku tidak tahu bisa jadi hal itu menjadi fitnah bagi kamu dan kesenangan sampai kepada suatu waktu” [QS Al Anbiya ; 111] Ia meninggikan suaranya tentang hal itu kepada Mu’awiyah. Maka keduanya [‘Amru dan Abul A’war] berkata “sekiranya kita panggil dia dan menjelaskan apa yang ia maksudkan dengannya”. Mu’awiyah berkata “berhati-hatilah”. Mereka menolak, maka mereka memanggilnya untuk menjawab mereka. ‘Amru bin ‘Ash menghadap kepada Hasan maka Hasan berkata kepadanya “adapun engkau, sungguh telah berselisih tentangmu dua orang yaitu lelaki dari quraisy dan tukang sembelih dari penduduk Madinah, keduanya mengaku berhak terhadapmu dan tidak diketahui siapa diantara keduanya adalah ayahmu”. Dan Abul A’war As Sulaamiy menghadap kepada Hasan maka Hasan berkata kepadanya “bukankah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] telah melaknat Ri’l, Dzakwan dan ‘Amru bin Sufyaan” kemudian Mu’awiyah menghadap kepada mereka, maka Hasan berkata kepadanya “tahukah engkau bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] telah melaknat pemimpin pasukan ahzab dan penuntun mereka yaitu Abu Sufyaan dan Abul A’war As Sulaamiy”. [Thabaqat Ibnu Sa’ad 6/383]

Kisah baiat Imam Hasan dan celaannya terhadap Mu’awiyah dan para sahabatnya di atas diriwayatkan dengan sanad yang shahih, berikut keterangan mengenai para perawinya

  1. Yazid bin Harun Abu Khalid Al Wasithiy termasuk perawi Bukhari dan Muslim yang dikenal tsiqat. Ibnu Madini berkata “ia termasuk orang yang tsiqat” dan terkadang berkata “aku tidak pernah melihat orang lebih hafizh darinya”. Ibnu Ma’in berkata “tsiqat”. Al Ijli berkata “tsiqat tsabit dalam hadis”. Abu Bakar bin Abi Syaibah berkata “aku belum pernah bertemu orang yang lebih hafizh dan mutqin dari Yazid”. Abu Hatim menyatakan ia tsiqat imam shaduq. Ibnu Sa’ad berkata “tsiqat banyak meriwayatkan hadis”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Yaqub bin Syaibah menyatakan tsiqat. Ibnu Qani’ berkata “tsiqat ma’mun” [Tahdzib At Tahdzib juz 11 no 612].
  2. Hariiz bin Utsman adalah perawi Bukhari dan Ashabus Sunan. Mu’adz bin Mu’adz berkata “tidak aku ketahui di Syam ada orang yang lebih utama daripadanya”. Abu Dawud berkata “guru-guru Haariz semuanya tsiqat”. Ahmad bin Hanbal berkata “tsiqat tsiqat”. Ibnu Ma’in menyatakan tsiqat. Duhaim mengatakan ia orang Himsh yang baik sanadnya dan shahih hadisnya. Abu Hatim berkata “tsiqat mutqin” [Tahdzib At Tahdzib juz 2 no 436]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat tsabit dan dikatakan nashibi” [Taqrib At Tahdzib 1/156 no 1184]
  3. Abdurrahman bin Abi ‘Auf Al Jurasyiy adalah perawi Abu Dawud dan Nasa’i. Abu Dawud berkata “guru-guru Hariz tsiqat”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Ibnu Mandah menyatakan ia sahabat. Abu Nu’aim berkata “dia termasuk tabiin penduduk syam”. Al Ijli berkata “tabiin Syam yang tsiqat”. Ibnu Qaththan berkata “majhul hal” [Tahdzib At Tahdzib juz 6 no 494]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat dan menemui masa Nabi [SAW]” [TaqribAt Tahdzib 1/348 no 3974].Daruquthniy berkata “tsiqat” [Su’alat As Sulaamiy no 398]. Adz Dzahabiy berkata “tsiqat” [Al Kasyf no 3284]

‘Abdurrahman bin Abi ‘Auf Al Jurasyiy memiliki mutaba’ah yaitu Muhammad bin Sirin sebagaimana yang nampak dalam riwayat berikut

أخبرنا هوذة بن خليفة قال حدثنا عوف عن محمد قال لما كان زمن ورد معاوية الكوفة واجتمع الناس عليه وبايعه الحسن بن علي، قالقال أصحاب معاوية لمعاوية عمرو بن العاص والوليد بن عقبة وأمثالهما من أصحابه إن الحسن بن علي مرتفع في أنفس الناس لقرابته من رسول الله صلى الله عليه وسلم وإنه حديث السن عيي! فمره فليخطب، فإنه سيعيا في الخطبة فيسقط من أنفس الناس! فأبى عليهم فلم يزالوا به حتى أمره، فقام الحسن بن علي على المنبر دون معاوية فحمد الله وأثنى عليه ثم قال والله لو ابتغيتم بين جابلق وجابلص رجلا جده نبي غير ي وغير أخي لم تجدوه، وإنا قد أعطينا بيعتنا معاوية ورأينا أن ما حقن دماء المسلمين خير مما أهراقها، والله ما أدري لعله فتنة لكم ومتاع إلى حين وأشار بيده إلى معاويةقال فغضب معاوية فخطب بعده خطبة عيية فاحشة ثم نزل، وقال لهما أردت بقولك فتنة لكم ومتاع إلى حين؟! قال أردت بها ما أراد الله

Telah mengabarkan kepada kami Hawdzah bin Khaliifah yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Auf dari Muhammad yang berkata ketika masanya Mu’awiyah di Kufah, orang-orang berkumpul atasnya dan Hasan bin Aliy membaiat-nya. Maka berkata para sahabat Mu’awiyah kepada Mu’awiyah yaitu ‘Amru bin Ash, Walid bin ‘Uqbah dan semisal keduanya dari sahabat-sahabatnya bahwa Hasan bin Aliy masih tinggi kedudukannya di mata orang-orang karena kekerabatannya dengan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam], dan bahwasanya ia seorang yang masih muda dan lemah dalam berbicara maka perintahkanlah ia untuk berkhutbah maka ia akan mengucapkan ucapan yang lemah dalam khutbahnya sehingga kedudukannya akan jatuh di mata orang-orang. Mu’awiyah menolak permintaan mereka dan mereka berulang-ulang meminta sehingga akhirnya Mu’awiyah memerintahkannya. Maka Hasan bin Aliy berdiri di atas mimbar di dekat Mu’awiyah maka ia memuji Allah SWT kemudian berkata demi Allah seandainya kalian mencari diantara timur dan barat laki-laki yang kakeknya adalah Nabi maka kalian tidak akan menemukannya selain aku dan saudaraku, dan kami telah memberikan baiat kami kepada Mu’awiyah dan kami berpandangan bahwa mencegah tertumpahnya darah kaum muslimin adalah lebih baik daripada menumpahkannya, demi Allah dan aku tidak tahu bisa jadi hal itu menjadi fitnah bagi kamu dan kesenangan sampai kepada suatu waktu dan ia mengisyaratkan tangannya kepada Mu’awiyah. Maka Mu’awiyah menjadi marah dan ia berkhutbah setelah Hasan dengan khutbah yang penuh kelemahan dan kekejian kemudian ia turun dan berkata “apa yang engkau maksud dengan perkataanmu “fitnah bagi kamu dan kesenangan sampai kepada suatu waktu”. Hasan berkata “aku memaksudkan dengannya apa yang dimaksudkan oleh Allah SWT” [Thabaqat Ibnu Sa’ad 6/383-384]

Riwayat Ibnu Sa’ad di atas sanadnya jayyid diriwayatkan oleh para perawi tsiqat dan shaduq maka, berikut rincian perawinya

  1. Hawdzah bin Khaliifah termasuk perawi Abu Dawud, telah meriwayatkan darinya Ahmad bin Hanbal dan Abu Hatim. Ahmad bin Hanbal berkata “aku berharap dia shaduq, insya Allah”. Abu Hatim berkata “shaduq”. Yahya bin Ma’in berkata “dhaif”. Nasa’i berkata “tidak ada masalah padanya”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [Tahdzib At Tahdzib juz 11 no 116]. Ibnu Hajar berkata “shaduq” [Taqrib At Tahdzib 1/575 no 7327]. Adz Dzahabiy berkata “shaduq” [Al Kasyf no 5991]
  2. ‘Auf bin Abi Jamilah adalah perawi kutubus sittah yang dikenal tsiqat. Ahmad, Ibnu Ma’in, Ibnu Sa’ad dan Ibnu Hibban menyatakan tsiqat. Nasa’i berkata “tsiqat tsabit”. Abu Hatim, Marwan bin Mu’awiyah dan Muhammad bin Abdullah Al Anshari berkata “shaduq” [Tahdzib At Tahdzib juz 8 no 302]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat” [Taqrib At Tahdzib 1/433 no 5215]
  3. Muhammad bin Sirin Al Anshari adalah tabiin perawi kutubus sittah yang tsiqat. Ahmad, Ibnu Ma’in dan Al Ijli berkata “tsiqat”. Ibnu Sa’ad berkata “seorang yang tsiqat ma’mun, tinggi kedudukannya, seorang faqih, Imam yang wara’ dan memiliki banyak ilmu” [Tahdzib At Tahdzib juz 9 no 338]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat tsabit” [Taqrib At Tahdzib 1/483 no 5947]

Sebenarnya perkara kepemimpinan Mu’awiyah telah dikabarkan oleh Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] kepada Imam Hasan, walaupun Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak menyukainya tetapi ketetapan Allah SWT itu akan tetap terjadi. Sebagaimana yang nampak dalam riwayat berikut

حدثنا محمود بن غيلان حدثنا أبو داود الطيالسي حدثنا القاسم بن الفضل الحداني عن يوسف بن سعد قال قام رجل إلى الحسن بن علي بعد ما بايع معاوية فقال سودت وجوه المؤمنين أو يا مسود وجوه المؤمنين فقال لا تؤنبني رحمك الله فإن النبي صلى الله عليه و سلم أري بني أمية على منبره فساءه ذلك فنزلت { إنا أعطيناك الكوثر } يا محمد يعني نهرا في الجنة ونزلت { إنا أنزلناه في ليلة القدر وما أدراك ما ليلة القدر ليلة القدر خير من ألف شهر } يملكها بنو أمية يا محمد قال القاسم فعددناها فإذا هي ألف يوم لا يزيد يوم ولا ينقص

Telah menceritakan kepada kami Mahmud bin Ghailan yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Daud Ath Thayalisi yang berkata telah menceritakan kepada kami Al Qasim bin Fadhl Al Huddaniy dari Yusuf bin Sa’ad yang berkata Seorang laki-laki datang kepada Hasan bin Aliy setelah Muawiyah dibaiat. Ia berkata “Engkau telah mencoreng wajah kaum mukminin” atau ia berkata “Hai orang yang telah mencoreng wajah kaum mukminin”. Maka Hasan berkata kepadanya “Janganlah mencelaku, semoga Allah SWT merahmatimu, karena Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] di dalam mimpi telah diperlihatkan kepada Beliau bahwa Bani Umayyah di atas Mimbarnya. Beliau tidak suka melihatnya dan turunlah ayat “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadaMu nikmat yang banyak”. Wahai Muhammad yaitu sungai di dalam surga. Kemudian turunlah ayat “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya [Al Qur’an] pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?. Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan”. Bani Umayyah akan menguasainya wahai Muhammad. Al Qasim berkata “Kami menghitungnya ternyata jumlahnya genap seribu bulan tidak kurang dan tidak lebih” [Sunan Tirmidzi 5/444 no 3350].

Riwayat Tirmidzi di atas sanadnya shahih, para perawinya tsiqat berikut keterangan rinci mengenai para perawinya

  1. Mahmud bin Ghailan termasuk perawi Bukhari Muslim, Tirmidzi, An Nasa’i dan Ibnu Majah. Disebutkan pula bahwa ia meriwayatkan hadis dari Abu Daud Ath Thayalisi dan dinyatakan tsiqat oleh Maslamah, Ibnu Hibban dan An Nasa’i [Tahdzib At Tahdzib juz 10 no 109]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat [Taqrib At Tahdzib 1/522 no 6516]
  2. Abu Daud At Thayalisiy. Namanya adalah Sulaiman bin Daud, termasuk perawi Bukhari dalam Ta’liq Shahih Bukhari, Muslim dan Ashabus Sunan. Sulaiman bin Daud telah dinyatakan tsiqat oleh banyak ulama diantaranya Amru bin Ali, An Nasa’i, Al Ajli, Ibnu Hibban, Ibnu Sa’ad Al Khatib dan Al Fallas [Tahdzib At Tahdzib juz 4 no 316]. Ibnu Hajar menyatakan bahwa ia seorang hafiz yang tsiqat memiliki beberapa kekelriuan [Taqrib At Tahdzib 1/250 no 2550]
  3. Al Qasim bin Fadhl termasuk perawi Bukhari Muslim dan Ashabus Sunan. Al Qasim bin Fadhl meriwayatkan hadis dari Yusuf bin Sa’ad dan telah meriwayatkan darinya Abu Daud Ath Thayalisi. Beliau telah dinyatakan tsiqat oleh banyak ulama diantaranya Yahya bin Sa’id, Abdurrahman bin Mahdi, Ibnu Ma’in, Ahmad, An Nasa’i, Ibnu Sa’ad, At Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Ibnu Syahin [Tahdzib At Tahdzib juz 8 no 596]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat [Taqrib At Tahdzib 1/451 no 5482]
  4. Yusuf bin Sa’ad atau Yusuf bin Mazin Ar Rasibiy termasuk perawi Tirmidzi dan Nasa’i telah meriwayatkan hadis dari Hasan bin Aliy dan telah meriwayatkan darinya Qasim bin Fadhl. Yahya bin Main telah menyatakan ia tsiqat [Tahdzib At Tahdzib juz 11 no 707]. Ibnu Hajar menyatakan bahwa Yusuf bin Sa’ad Al Jumahi atau Yusuf bin Mazin tsiqat [Taqrib At Tahdzib 1/611 no 7865]. Adz Dzahabi berkata “tsiqat” [Al Kasyf no 6434].

Kesimpulan dari berbagai riwayat shahih di atas adalah baiat Imam Hasan terhadap Mu’awiyah semata-mata untuk mencegah tertumpahnya darah kaum muslimin lebih banyak lagi, tidak sedikitpun karena keutamaan atau kemuliaan kedudukan Mu’awiyah bahkan nampak dalam riwayat shahih bahwa Imam Hasan mencela Mu’awiyah dan para sahabatnya.

.

Sebagian orang menjadikan baiat Imam Hasan ini sebagai bukti bahwa Mu’awiyah tidak kafir. Tentu dalam perperangan Mu’awiyah terhadap Imam Aliy dan Imam Hasan, ia tidak dikatakan kafir melainkan dikatakan sebagai kelompok baaghiyah yang mengajak ke neraka. Adapun jika setelah pembaiatan ini Mu’awiyah menjadi kafir maka itu tidak bertentangan dengan baiat Imam Hasan tersebut. Pada saat itu Imam Hasan tidak membaiat seorang kafir melainkan membaiat seorang muslim yang tercela atau secara zahir ia mengaku muslim, seandainya Mu’awiyah bin Abu Sufyaan menyatakan kekafirannya niscaya tidak ada satupun orang islam yang akan mengikutinya.

Hikmah baiat Imam Hasan terhadap Mu’awiyah tidak akan pernah dimengerti oleh para nashibiy, dan akan mudah dipahami oleh mereka yang berpegang teguh pada ahlul bait. Mereka yang menganggap ahlul bait sebagai pedoman tidak akan bingung dalam menempatkan diri, ketika Imam Aliy memerangi Mu’awiyah maka mereka mengikutinya dan ketika Imam Hasan membaiat Mu’awiyah maka merekapun mengikutinya. Kebenaran akan selalu bersama mereka ahlul bait dan kebenaran tersebut tidak akan pudar oleh kebathilan para pembangkang yang menyeru kepada neraka