salafi wahabi penuh teror dan permusuhan pada sesama muslim, karena gagal hadang perkembangan Syiah

 Picture
ANAS bukan nama orang, ia adalah akronim dari Aliansi Nasional Anti Syiah. Itulah nama baru kelompok takfiri yang bergerombol di salah satu mesjid kecil di sebuah lorong di kota Bandung 20 April lalu. Mereka meneriakkan kebencian, bahkan ajakan membunuh sesama muslim. Ismail Amin, salah seorang alumni Wahdah Islamiyah Makassar yang sekarang belajar di Iran, memberikan catatan kritis atas aksi sekelompok orang yang mencatut nama Islam

Saya yakin Muhammad Ngaenan masih memendam rasa sakit. Bukan karena pinggangnya masih sakit karena ditendang-tendang. Bukan juga karena dianiaya, dia sudah sadar akan tugas yang diembannya mengharuskan ia suatu waktu merelakan tubuhnya dikeroyok, dihujani bogem mentah, bahkan sampai dibunuh sekalipun.  Ia sakit hati karena yang melakukannya adalah orang-orang yang justru seharusnya menjadi penjaga dan penghias agama ini. Ia sakit hati, karena dikeroyok dan diperlakukan layaknya kriminil didepan mata mereka yang memperkenalkan diri kepada ummat sebagai ulama dan intelektual islam. Hatinya remuk redam karena bukan pembelaan yang didapatnya, tapi dipersalahkan karena cara yang berbeda yang dipilihnya dalam menjalankan Islam.

Betapa menggelikan, ketika ia menulis dalam ceritanya, ketika diseret dan hendak dipukuli, sang pengeroyok berkata, ““Jangan ganggu rapat para ulama, kita bawa saja ke samping.”  Rapat ulama? Apa yang dibicarakan para ulama yang tidak boleh diganggu itu?. Ulama yang membenarkan pemukulan dan penganiayaan hanya karena pilihan yang berbeda, itu yang disebut mewakili ummat dan pembicaraannya adalah demi masa depan ummat dan dakwah Islam yang mereka usung?.

Masa depan apa yang hendak mereka ciptakan? Masa depan yang penuh teror dan permusuhan pada sesama muslim, dan kegirangan kalau semua ummat satu pemikiran dengan apapun yang menjadi pendapatnya?. Hari itu, para ulama yang sedang rapat itu, baru saja mendeklarasikan Aliansi Nasional Anti Syiah. Aliansi yang telah memakan korban sejak hari pertama pendeklarasiannya.

Ngaenan hanyalah seorang pemburu berita, seorang wartawan, yang sayangnya bekerja untuk situs berita Ahlul Bait Indonesia [ABI] salah satu ormas Syiah di samping IJABI. Jadilah pengeroyokan tersebut menjadi luar biasa. Seorang pemburu berita dikerumuni, ditendang dan dipukuli laskar pemburu aliran sesat. Para pemburu tersebut tanpa perlu berburu, mangsanya yang datang sendiri di sarang mereka. Bukankah ini pertolongan Tuhan yang harus disyukuri habis-habisan?.

Salahkah berburu berita?. Bukankah mereka seharusnya berterimakasih pada siapapun yang meliput dan memberitakan kegiatan mereka?. Undangan yang disebar konon sampai 9 ribu pucuk, termasuk para delegator yang berasal dari beragam daerah [meskipun yang hadir pada akhirnya tidak sampai seribu]. Dan tentu memakan ongkos yang tidak sedikit. Tentu sayang, kalau kegiatan yang diklaim berskala nasional [meskipun cuma dilakukan di masjid tingkat RW] tersebut tidak mendapat liputan besar-besaran. Dan ABIpun mengutus wartawannya, untuk membantu pempublikasiannya. Tapi apa yang didapat?. Ngaenan sendiri yang langsung menulis kisah pilunya di hari Minggu.

Coba bandingkan, dengan kegiatan-kegiatan ormas-ormas dan yayasan Syiah. Wartawan dari kalangan manapun diberi keleluasan sebesar-besarnya untuk meliput kegiatan mereka. Wartawan Trans 7, yang membuat acara Khazanah yang menyudutkan Syiah, dengan santai dan tanpa gangguan apapun menghadang peserta yang menghadiri acara Seminar Internasional Idul Ghadir yang diselenggarakan IJABI di Jakarta oktober 2013 lalu untuk mereka wawancarai. Meskipun pada akhirnya berita yang mereka buat justru menyudutkan Syiah. Jangankan sekedar meliput berita, kelompok anti Syiah juga malah dibiarkan berdemonstrasi dan berunjuk rasa menolak terselenggaranya acara-acara Syiah, dan panitia dibantu keamanan merasa tidak perlu mengusir atau membuat demo tandingan. Tidak jarang, para demonstran tersebut malah disuguhi air kemasan oleh panitia. Teman yang aktif di IJABI Makassar malah menceritakan, ketika tahu diantara yang hadir dalam acara Asyura mereka adalah wartawan LPPI Makassar, dia malah mendatangi, memberi 1 kotak makanan plus bulletin al Tanwir.

Mengapa mereka begitu ketakutan ketika giliran acara mereka yang diliput?. Mengapa sampai harus menganiaya dan mengeroyok segala?. Dari situs berita Liputan Islam. Di Bogor malah pernah berlangsung bedah buku MUI yang berlangsung secara rahasia dan esklusif. Oleh panitia, para peserta dilarang meliput, merekam atau mengambil gambar sepanjang acara berlangsung. Bukan hanya itu, dibanyak acara mereka yang bertujuan memprovokasi masyarakat untuk membenci dan memusuhi Syiah, tidak dihadirkan seorangpun tokoh dari kalangan Syiah sebagai pembicara, kalaupun ada, dihadirkan tapi dilarang untuk berbicara dengan beragam alasan yang dibuat-buat sebagaimana kasus yang menimpa Habib DR. Umar Shahab, dewan pakar ABI yang diundang disebuah acara seminar sebagai pembicara, namun tidak diberi kesempatan untuk berbicara. Ketika akhirnya beliau memilih pulang, besoknya naik berita dari pihak penyelenggara yang menyebutkan, beliau pengecut dan melarikan diri dari seminar.

Satu hal yang ingin saya sampaikan. Sunni sejati tidak akan pernah mengkhawatirkan perkembangan Syiah, tidak pernah takut dengan menyebarnya aliran-aliran sesat, sedasyhat apapun. Pernahkah pembesar-pembesar NU dan Muhammadiyah (dua ormas yang paling representatif mewakili Sunni Indonesia) menyatakan kekhawatiran akan perkembangan Syiah di Indonesia? Jawabannya: TIDAK. Tentu kewaspadaan tetap ada, tapi tidak mesti diekspresikan berlebihan. Sampai sedemikian takutnya kalau pendiri IJABI yang jadi menteri agama.

Bandingkan dengan mereka yang phobia Syiah. Masih minoritas saja Syiah sudah begitu sangat menakutkan bagi mereka. Main hasud, main sembur fitnah, main rekayasa berita. Main tuding, siapapun yang membela dan simpatik pada Syiah, sudah diklaim agen Syiah.

Ini rumusnya dari Al-Qur’an.

Wahai-wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; (karena) orang yang sesat itu tidak akan membahayakanmu apabila kamu telah mendapat petunjuk.” (Qs. Al-Maidah : 105).

Sebut saja Syiah sesat. Nah kesesatan Syiah tidak akan membahayakan bagi orang-orang yang beriman. Ini janji Allah SWT. Syaratnya, jika orang-orang beriman tersebut telah mendapat petunjuk.

Nah, jika Abu Jibril, Said Shamad, Zein al Kaff, Farid Okbah, Khalil Ridwan, Ma’ruf Baharun dan seterusnya masih menganggap Syiah berbahaya, maka satu jawabannya: ITU KARENA MEREKA BELUM MENDAPAT PETUNJUK SAJA.

Wallahu ‘alam Bishshawwab

Catatan:
Muhammad Ngaenan adalah wartawan ABI yang dikeroyok laskar pemburu aliran sesat sehabis meliput berita di acara deklarasi anti syiah di Bandung, 20 April 2014. Dia menulis kisahnya disitushttp://ahlulbaitindonesia.org/, dengan judul: Saya Mewarta, Saya Dianiaya.

buku “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia” tidak mewakili MUI Pusat, diterbitkan tanpa sepengetahuan MUI Pusat, bahkan bertolak belakang dengan pandangan-pandangan mereka

13915247911201142186_300x431.14754098361

 

 

 

 

 

 

 

 

 

buku “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia” tidak mewakili MUI Pusat, diterbitkan tanpa sepengetahuan MUI Pusat, bahkan bertolak belakang dengan pandangan-pandangan mereka  

saya merasa ingin menanggapi bahwa sebenarnya apa tujuan dan motivasi dari penulis tersebut.

Kita sebagai umat manusia yang memiliki beragam budaya, dan perbedaan pandangan yang mendiami Republik tercinta ini tidak selayaknya mengklaim kebenaran sepihak dan mengecam pihak lain yang berbeda dengan kita. Syiah adalah bagian dari umat Islam, kaum Syiah adalah saudara bagi kaum Sunni. Baik Syiah maupun Sunni merupakan kekuatan umat Islam karena memiliki satu Tuhan, mengakui kenabian Muhammad saw, dan satu kiblat.

Kita hidup dalam alam Indonesia yang terlalu rukun bila dibandingkan dengan Negara-negara lain. Berbagai perbedaan ada di antara kita, adalah rahmat dari Sang Kuasa, oleh sebab itu marilah kita terima perbedaan ini sebagai sebuah kultur dan keyakinan yang tetap satu dalam bingkai ukhuwah Islamiyah di bawah bingkai Negara Indonesia.

Dengan demikian, setelah membaca buku itu kemudian membandingkan dengan realitas baik data referensi maupun fakta, maka ada tiga alasan kenapa saya menolak buku, “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia”. Tiga alasan itu adalah sebagai berikut:

1.Buku tersebut tidak bisa dijadikan panduan bagi umat Muslim Indonesia khususnya dan dunia umumnya dalam merajut ukhuwah Islamiyah. Karena buku tersebut tidak memberikan penguatan pesan ukhuwah di tubuh umat Islam yang belakangan ini sedang didera berbagai fitnah sectarian. Buku ini lebih pantas dikatakan lahir dari adanya kelompok intoleran yang tidak menginginkan persatuan dan tidak mengakui Ahlulbayt sebagai saudara dalam Islam.

2. Buku tersebut sebenarnya tidak mewakili MUI Pusat (bukan hasil kajian Tim yang dibentuk secara resmi oleh MUI Pusat). Buku tersebut diterbitkan tanpa sepengetahuan MUI Pusat, bahkan bertolak belakang dengan pandangan-pandangan mereka, seperti: Ketua Umum MUI Pusat (KH Sahal Mahfudz), Wakil Ketua MUI Pusat (Prof Din Syamsuddin), Ketua MUI Pusat (Prof Dr Umar Shihab) dan juga Sekjend MUI Pusat (Drs. H. Ichwan Sam) yang selama ini menjunjung tinggi persatuan umat Islam dan mendukung pendekatan antara mazhab Sunni-Syiah.

3. Buku tersebut sangat bertolak belakang dengan 9 hasil konferensi Internasional Islam yang dilaksanakan di Hotel Barobudur, Jakarta pada tanggal 23-24 April 2013. Dimana dalam Konferensi tersebut dihadiri oleh sekitar 500 peserta dari Indonesia, Yordania, Jepang, Taiwan, Myanmar, Thailand, Kamboja, Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, Mesir, Oman, Arab Saudi, Sudan, dan Timor Timur. Konferensi ini dimotivasi oleh keinginan bersama untuk mempromosikan pesan suci Islam, yaitu persaudaraan, toleransi, peradaban, dan perdamaian. Konferensi juga bertujuan untuk merespon persepsi negatif tentang Islam di dunia.

 

IMG-20140313-WA0000

Beginilah Wajah Iran Menurut Para Penulis Indonesia

Islam itu cinta damai … bukan egois ingin masuk surga sendiri. Islam itu rahmatan lil ‘alamin ….

Sebuah negara dan bangsa apabila digambarkan oleh penulis yang berbeda tentu akan didapati keanekaragaman yang membentuk spektrum. Betapa tidak, masing-masing penulis memiliki sudut pandang yang beragam dalam menggambarkannya.

Terlebih jika suatu negara tersebut bangsanya memiliki peradaban tua, kekayaan tradisi ilmu, seni dan budaya yang mampu mentransformasi ke bangsa lain, terlebih keberagamaan yang secara mainstream berbeda dengan di Indonesia.

Sebagamaina penggambaran tentang negara Iran yang terungkap dalam seminar “Wajah Iran dalam Bingkai Penulis Indonesia” yang digelar di Universitas Paramadina Jakarta Rabu, 12 Maret 2014.

Setidaknya hal itu terungkap oleh pernyataan Syafiq Basri Assegaf seorang wartawan yang pernah bertugas di Iran pasca Revolusi Islam Iran.

“Kalau seorang budayawan seperti Prof. Abdul Hadi mengeksplorasi tentang Iran, hanya kita dapati dari satu aspek tapi bisa mengungkap secara mendalam, fokus dan detail, tapi kalau wartawan seperti saya pengetahuannya banyak tapi sepenggal-sepenggal dan hanya mengungkap apa yang tampak saja,” ungkap Syafiq Assegaf.

Syafiq mencontohkan penggambarannya tentang Iran dari wajah wartawan dengan menceritakannya fenomena yang terjadi pada masyarakat Iran. Penggalan-penggalan kehidupan pada masyarakat Iran pasca Revolusi digambarkannya pada sebuah buku yang ditulisnya dengan judul “Iran Pasca Revolusi Reportase Perjalanan.”

Syafiq mencontohkan yang diambil dari bukunya, sisi lain dari pasca Revolusi Islam Iran (RII) yaitu munculnya kelompok masyarakat yang sakit karena tak lagi memiliki keistimewaan dan kebebasan sebagaimana yang dialami pada masa pemerintahan Syah Iran.

“Mereka adalah orang-orang kaya pada pemerintahan Syah.” Ujarnya.

Tentu saja Iran tidak semata-mata identik dengan mazhab Syiahnya saja, Iran bisa diidentikkan dengan Revolusi Islam yang diusung Imam Khomeini tahun 1979.

Wajah Iran yang digali dari aspek Revolusi Islamnya, disampaikan oleh penulis Subhi Ibrahim. Menurut Subhi, Revolusi Islam Iran merupakan revolusi terbesar ke 4 setelah Revolusi Perancis, Rusia dan Cina.

Subhi Ibrahim yang mengungkap keberhasilan Revolusi Islam Iran itu ditulisnya pada sebuah buku yang diberi judul “Ali Syariati Sang Ideolog Revolusi Islam”. Menurutnya keberhasilan Revolusi Islam Iran tak bisa dilepaskan dari peran tiga ulama besar Imam Khomeini, Ali Syariati dan Murtadho Muthohari.

Dalam penilaian Subhi  ketiga ulama tersebut mampu menjadikan Islam sebagai ideologi yang menjadi basis dalam mengelola negara, pemerintahan dan peradaban.

“Agar Islam berhasil menjadi basis pengelolaan negara dan bangsa, diperlukan tafsir atas simbol-simbol agama,” ungkapnya.

Senada dengan Subhi Ibrahim yang menggali Iran dari aspek revolusinya, A. Rifai Hasan sebagai penanggap di seminar yang dihadiri atase Kebudayaan Iran Hujjatul Islam Ibrahimian menilai Revolusi islam Iran merupakan revolusi moderat.

Menurut Rifai pasca revolusi di Iran tidak lantas membasmi aktor maupun pendukung rezim lama tanpa melalui proses pengadilan, sebagaimana lazimnya revolusi di negara lain yang selalu membasmi pelaku dan pendukung rezim lama.

“Dalam revolusi moderat sebagaimana yang terjadi di Iran, sedikit masyarakat yang dirugikan,” ungkapnya.

Bagiamana Iran jika digali aspek perempuannya? Penulis Dina Y. Sulaiman yang menuliskan buku tentang Iran dengan judul “Journey to Iran”, menggambarkan bagaimana konstitusi Iran memberikan perhatian yang serius kepada perempuan.

Ia kemudian memberikan sebagian contoh UU Iran yang mengatur tentang perempuan. Dalam tubuh UUD RII terdapat dua pasal khusus berkaitan dengan perempuan, yaitu pasal 20 dan 21, sebagai berikut :

Pasal 20 [Kesetaraan di Hadapan Hukum]

Semua warga negara, baik laik-laki maupun perempuan, secara setara menerima perlindungan hukum dan memiliki semua hak kemanusiaan, politik, ekonomi, sosial, dan budaya, yang sesuai dengan kriteria Islam

Pasal 21 [Hak-Hak Perempuan]

Pemerintah harus menjamin hak perempuan, yang sesuai dengan kriteria Islam, dan mewujudkan tujuan-tujuan di bawah ini:

1) menciptakan lingkungan yang kondusif untuk perkembangan kepribadian perempuan dan pengembalian hak-hak mereka, baik material maupun intelektual;

2) perlindungan terhadap para ibu, terutama pada masa kehamilan dan pengasuhan anak, dan perlindungan terhadap anak-anak yatim;

3) membentuk pengadilan yang berkompeten untuk melindungi keluarga;

4) menyediakan asuransi khusus untuk janda, perempuan tua, dan perempuan tanpa pelindung;

5) memberikan hak pengasuhan kepada ibu angkat untuk melindungi kepentingan anak ketika tidak ada pelindung legal.

Kata perempuan disebut lima kali dalam UUD tersebut (bandingkan dengan UUD 45 atau UUD Amerika Serikat yang sama sekali tidak menyebut kata ‘perempuan’). Dalam Pembukaan UUD RII terdapat dua paragraf yang khusus berbicara tentang perempuan sebagai berikut :

Perempuan dalam Konstitusi

Melalui pembentukan infrastruktur sosial yang Islami, semua elemen kemanusiaan yang (selama ini) berkhidmat kepada eksploitasi asing, harus meraih kembali identitas asli dan hak asasi mereka. Sebagai bagian dari proses ini, sudah selayaknya perempuan harus menerima penambahan (proporsi) yang besar atas (penunaian) hak-hak mereka karena pada rezim lama, mereka juga menderita opresi yang lebih besar.

Keluarga adalah unit dasar dalam masyarakat serta menjadi pusat pertumbuhan dan pembangunan manusia. Penggabungan antara kepercayaan dan idealisme, yang merupakan dasar dari pertumbuhan dan perkembangan manusia, adalah hal yang paling utama dalam pembentukan keluarga. Adalah kewajiban pemerintah Islam untuk menyediakan fasilitas yang diperlukan untuk mencapai tujuan ini. Konsep keluarga ini, akan menghindarkan perempuan dari anggapan sebagai objek atau instrumen dalam mempromosikan suatu produk, atau objek eksploitasi. (Konsep keluarga) akan mengembalikan fungsi mulia perempuan sebagai ibu. Hal ini merupakan penegakan ideologi kemanusiaan, serta menempatkan perempuan sebagai pemegang peran utama dalam masyarakat sekaligus menjadi mitra perjuangan bagi laki-laki dalam berbagai area penting kehidupan. Pemberian tanggung jawab yang berat kepada perempuan ini merupakan pengejawantahan nilai Islam yang agung dan mulia.

Penulis Husein Heriyanto menggambarkan Iran dari aspek tradisi ilmiah dan capaiannya dibidang sains. Sumbangan ilmuwan Iran terhadap dunia dan Islam terungkap dari tokoh-tokoh seperti penemu ilmu aljabar yakni ulama Al-Khawarismi. Sejumlah ulama lain dalam berbagai bidang ilmu seperti Al-Ghazali, Al-Biruni mendiami rak-rak keilmuan, bahkan sejumlah muhadits seperti Bukhori dari Iran.

Menurut Husein, Iran telah mencapai kemajuan di bidang sains dengan menduduki urutan ke 16 dunia karena Iran mampu mengintegrasikan antara sains dan agama.

“Menurut paradigma sekularisme, mereka mengatakan agama dan sain tidak bisa terintegrasi, karenanya sebuah bangsa jika ingin maju harus memisahkan antara agama dan sains, namun justru Iran mampu membalik paradigma tersebut,” ungkap Husein.

Dari penulis Miftah Fauzi Rakhmat yang menuliskan buku “Kidung Angklung di Tanah Persia”, menceritakan masyarakat Iran memiliki kecintaan kepada tradisi kesyahidan dan penghormatan kepada ulama. Miftah mengungkapkan masyarakat Iran dan Indonesia memiliki akar yang sama terhadap dua hal tersebut.

“Masyarakat jka menemukan potongan kalung syuhada meski sudah berusia 20 tahun mereka tumpah ruah mengambil berkahnya.” Ujarnya.

Sementara itu pembicara pertama dari budayawan Prof. Abdul Hadi dengan tinjauan budayanya mengungkapkan bagiamana pemerintah Iran memberikan perhatian yang serius terhadap cagar budaya. Ia memberikan contoh bagiamana perhatian pemerintah Iran dengan mengabadikan budayawan Persia Umar Khayam melalui pendirian Museum Umar Khayam.

“Kota-kota di Iran seperti Teheran dengan mudah kita dapati perpustakaan, museum seni rupa, galeri seni rupa dan taman-taman yang luas. Tidak sebagaimana di Indonesia yang kota-kotanya dipenuhi Mall,” paparnya.

Abdul Hadi menggambarkan bagaimana harmonisasi antara pemerintah dengan penduduknya terkait dengan perhatiannya terhadap seni dan budaya serta tradisi ilmu.

“Masyarakat Iran sejak tahun 1990 menjadi pengunjung tetap perpustakaan filsafat, perpustakaan agama dan lainnya,” Ujarnya.

Laskar Kutai Bantu Amankan Acara Syiah

IMG_20131222_163556Terpanggil oleh tuntutan menjaga keamanan dan ketertiban lingkungan di wilayah kota Tenggarong, Laskar Kebangkitan Kutai (LKK) menurunkan 50 personelnya untuk mengamankan acara umat Islam Syiah yang dilaksanakan di Hotel Singgasana LT Tenggarong Kabupaten Kutai Kartanegara Kalimantan Timur (Kaltim) Minggu, 22 Desember 2013.

Hal tersebut disampaikan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Laskar Kebangkitan Kutai, Husni Fachrudin usai mengamankan acara mengenang 40 hari Syahidnya Imam Husein  yang dalam tradisi Syiah disebut peringatan arba’in.

Menurut Husni Fachrudin ancaman kepada kaum minoritas, terutama umat Islam Syiah yang ada di Jawa belakangan ini membuatnya terpanggil untuk mengamankan acara tersebut demi menjaga kemungkinan tindakan anarki dari kaum intoleran.

“Bagi kami siapapun yang mempersoalkan keyakinan pihak lain berarti musuh bangsa ini, dan LKK akan berusaha berada di front terdepan menghadapi kaum intoleran dan kaum ekstrimis”. Tegasnya

Lebih jauh menurut pengakuan lelaki yang berdarah Kutai ini, tujuan LKK mengamankan acara umat islam Syiah karena konstitusi menjamin kebebasan menjalankan keyakinan bagi setiap warga,  karenanya organisasi yang dipimpinnya harus menjadi pionir toleransi bagi warga Kaltim.

“Acara asyura, arbain dan ritual-ritual yang dilakukan oleh umat Islam mazhab syiah, kita tidak menilai pada posisi benar dan salah, kita menilai pada posisi kita bebas menjalankan keyakinannya, kita menjaga keutuhan NKRI yang berlatar belakang etnis dan keyakinan serta mengedepankan semangat toleransi”. Ujarnya

Bukan hanya membantu kemanan umat Islam saja, tahun lalu juga mengamankan acara umat Nasrani pada acara Natal. Menurutnya tahun ini LKK akan menurunkan pasukannya untuk mengamankan acara Natal.

“Nanti kita dari LKK kecamatan Samarinda Seberang dan Loa Janan akan menurunkan pasukannya menjaga gereja pada saat perayaan Natal di dua kecamatan tersebut”. Ujar Husni.

LKK mula-mula didirikan untuk mengadvokasi dan membantu masyarakat yang terpinggirkan akibat eksploitasi sumber daya alam Kaltim oleh perusahaan-perusahaan dan pemerintah yang mengakibatkan keresahan warga, juga keprihatinan atas hilangnya hak sebagian warga Kaltim serta tidak meratanya pembanguanan.

Perkembangan dinamika yang terjadi di Kaltim dan di belahan lain wilayah Republik Indonesia, menuntut organisasi yang dipimpin Husni untuk melebarkan orientasi gerakannya ke penguatan ekonomi masyarakat, pendidikan politik, dan sosial kemasyarakatan.

Menurut Husni oganisasinya dari berbagai latar belakang keyakinan dan etnik dengan jumlah personel 3.500 yang tersebar di seluruh kabupaten dan kota di wilayah Provinsi Kalimantan Timur.

“Di sini ada Dayak yang kebanyakan Nasrani,  ada dari Kutai yang kebanyakan Islam, kemudian ada teman-teman yang beragama Hindu pendatang dari Bali, semuanya melebur untuk menjaga keamanan Kalimantan Timur”. Pungkasnya

salafi wahabi ternyata setan nejed dalam hadis sunni

sumber tulisan ini dari web http://www.secondprince.wordpress.com

Hadis Fitnah Dari Timur Adalah Tentang Najd Bukan Tentang Iraq

Sebenarnya tema tentang Fitnah Najd sudah pernah dibahas dalam berbagai tulisan di blog ini hanya saja kali ini kami akan menambahkan satu tulisan lagi yang menguatkan hujjah kami dan membantah syubhat-syubhat dari para pengingkar. Tulisan ini berusaha membuktikan bahwa Najd dalam hadis fitnah bukanlah Iraq. Berikut pembahasannya.

.

.

.

Hadis Fitnah dari Timur

حدثنا أبو بكر بن أبي شيبة حدثنا وكيع عن عكرمة بن عمار عن سالم عن ابن عمر قال خرج رسول الله صلى الله عليه و سلم من بيت عائشة فقال رأس الكفر من ههنا من حيث يطلع قرن الشيطان يعني المشرق

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah yang berkata telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Ikrimah bin ‘Ammar dari Salim dari Ibnu Umar yang berkata “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar dari pintu rumah Aisyah dan berkata “sumber kekafiran datang dari sini dari arah munculnya tanduk setan yaitu timur [Shahih Muslim 4/2228 no 2905]

Ikrimah bin ‘Ammar dalam periwayatannya dari Salim memiliki mutaba’ah yaitu dari Ibnu Syihab Az Zuhri, Fudhail bin Ghazwan, Hanzhalah bin Abi Sufyan, Uqbah bin Abi Shahba’, Yahya bin Sa’id dan Umar bin Muhammad bin Zaid Al Madini sebagaimana tampak dalam riwayat berikut

وحدثني حرملة بن يحيى أخبرنا ابن وهب أخبرني يونس عن ابن شهاب عن سالم بن عبدالله عن أبيه أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال وهو مستقبل المشرق ها إن الفتنة ههنا ها إن الفتنة ههنا ها إن الفتنة ههنا من حيث يطلع قرن الشيطان

Telah menceritakan kepadaku Harmalah bin Yahya yang berkata telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb yang berkata telah mengabarkan kepadaku Yunus dari Ibnu Syihab dari Salim bin ‘Abdullah dari ayahnya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata dan Beliau menghadap kearah timur “fitnah datang dari sini, fitnah datang dari sini, fitnah datang dari sini, dari arah munculnya tanduk setan” [Shahih Muslim 4/2228 no 2905]

حدثنا واصل بن عبد الأعلى الكوفي حدثنا ابن فصيل عن ابيه عن سالم عن ابن عمر قال سمعت رسول الله  صلى الله عليه و سلم يقول إن الفتنة تجيء من ها هنا وأومأ بيده نحو المشرق حيث يطلع قرن الشيطان وأنتم يضرب بعضكم بعض رقاب بعض وإنما قتل موسى الذي قتل من آل فرعون خطأ قال الله له وقتلت نفسا فنجيناك من الغم وفتناك فتونا

Telah menceritakan kepada kami Washil bin Abdul A’la Al Kufiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Fudhail dari ayahnya dari Salim dari Ibnu Umar yang berkata aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “‘Sesungguhnya fitnah itu datang dari sini ia menunjukkan tangannya ke arah timur dari arah munculya dua tanduk setan’. Kalian saling menebas leher satu sama lain. Musaa hanya membunuh orang yang ia bunuh yang berasal dari keluarga Fir’aun itu karena tidak sengaja. Lalu Allah ‘azza wa jalla berfirman padanya ‘Dan kamu pernah membunuh seorang manusia, lalu kami selamatkan kamu dari kesusahan dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan.” [Musnad Abu Ya’la 9/383 no 5511 dishahihkan oleh Husain Salim Asad]

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا إسحاق بن سليمان سمعت حنظلة سمعت سالما يقول سمعت عبد الله بن عمر يقول رأيت رسول الله صلى الله عليه و سلم يشير إلى المشرق أو قال إن رسول الله صلى الله عليه و سلم يشير إلى المشرق يقول ها إن الفتنة ههنا ها إن الفتنة ههنا ها إن الفتنة ههنا من حيث يطلع الشيطان قرنيه

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Sulaiman yang berkata aku mendengar Hanzalah berkata aku mendengar Salim berkata aku mendengar Abdullah bin Umar berkata “aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengisyaratkan tangannya ke arah timur atau [Ibnu Umar] berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengisyaratkan tangannya ke arah timur dan bersabda “fitnah datang dari sini, fitnah datang dari sini, fitnah datang dari sini dari arah munculnya tanduk setan” [Musnad Ahmad 2/40 no 4980]

حدثنا موسى بن هارون ثنا عبد الله بن محمد بوران نا الأسود بن عامر نا حماد بن سلمة عن يحيى بن سعيد عن سالم عن بن عمر أن النبي صلى الله عليه و سلم استقبل مطلع الشمس فقال من ها هنا يطلع قرن الشيطان وها هنا الفتن والزلازل والفدادون وغلظ القلوب

Telah menceritakan kepada kami Musa bin Harun yang berkata telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad Fuuraan yang berkata telah menceritakan kepada kami Aswad bin ‘Aamir yang berkata telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Yahya bin Sa’id dari Salim dari Ibnu Umar bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menghadap kearah matahari terbit seraya berkata “dari sini muncul tanduk setan, dari sini muncul fitnah dan kegoncangan dan orang-orang yang bersuara keras dan berhati kasar [Mu’jam Al Awsath Thabrani 8/74 no 8003 dengan sanad shahih]

ثنا أبو عاصم عن عمر بن محمد عن سالم عن بن عمر أن النبي صلى الله عليه و سلم قال ألا إن الفتنة تطلع من ههنا من المشرق من حيث يطلع قرنا الشيطان

Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Aashim dari ‘Umar bin Muhammad dari Salim dari Ibnu Umar bahwa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “sesungguhnya fitnah datang dari arah sini dari Timur dari arah munculnya tanduk setan” [Musnad Abdu bin Humaid 1/241 no 739 dengan sanad shahih]

.

.

Salim bin ‘Abdullah bin Umar dalam periwayatannya dari Abdullah bin Umar memiliki mutaba’ah dari Nafi’ dan Abdullah bin Diinar sebagaimana tampak dalam riwayat-riwayat berikut

حدثنا قتيبة بن سعيد حدثنا ليث ح وحدثني محمد بن رمح أخبرنا الليث عن نافع عن ابن عمر أنه سمع رسول الله صلى الله عليه و سلم وهو مستقبل المشرق يقول ألا إن الفتنة ههنا ألا إن الفتنة ههنا من حيث يطلع قرن الشيطان

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id yang berkata menceritakan kepada kami Laits. Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Rumh yang berkata telah mengabarkan kepada kami Laits dari Nafi’ dari Ibnu Umar yang mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan Beliau menghadap ke Timur seraya bersabda “dari sini fitnah, dari sini fitnah dari arah munculnya tanduk setan” [Shahih Muslim 4/2228 no 2905]

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ عَنْ مَالِكٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُشِيرُ إِلَى الْمَشْرِقِ فَقَالَ هَا إِنَّ الْفِتْنَةَ هَا هُنَا إِنَّ الْفِتْنَةَ هَا هُنَا مِنْ حَيْثُ يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Maslamah dari Malik dari ‘Abdullah bin Dinar dari ‘Abdullah bin Umar radiallahu ‘anhuma yang berkata aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengisyaratkan tangannya ke timur dan berkata “fitnah akan datang dari sini, fitnah akan datang dari sini dari arah munculnya tanduk setan” [Shahih Bukhari 4/123 no 3279]

.

.

Abdullah bin Umar dalam periwayatan hadis Fitnah Mayrsiq memiliki syahiid yaitu dari Abu Hurairah sebagaimana tampak dalam riwayat berikut

حدثنا يحيى بن يحيى قال قرأت على مالك عن أبي الزناد عن الأعرج عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال رأس الكفر نحو الشرق والفخر والخيلاء في أهل الخيل والإبل الفدادين أهل الوبر والسكينة في أهل الغنم

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya yang berkata qara’tu ala [aku membacakan kepada] Malik dari Abi Zanad dari Al A’raj dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “sumber kekafiran datang dari timur, kesombongan dan keangkuhan adalah milik orang-orang pengembala kuda dan unta Al Faddaadin Ahlul Wabar [arab badui] dan kelembutan ada pada pengembala kambing [Shahih Muslim 1/71 no 52]

حدثنا عبدالله بن عبدالرحمن أخبرنا أبو اليمان عن شعيب عن الزهري حدثني سعيد بن المسيب أن أبا هريرة قال سمعت النبي صلى الله عليه و سلم يقول جاء أهل اليمن هم أرق أفئدة وأضعف قلوبا الإيمان يمان والحكمة يمانية السكينة في أهل الغنم والفخر والخيلاء في الفدادين أهل الوبر قبل مطلع الشمس

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman yang berkata telah mengabarkan kepada kami Abul Yaman dari Syu’aib dari Az Zuhri yang berkata telah mengabarkan kepadaku Sa’id bin Al Musayyab bahwa Abu Hurairah berkata aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “Penduduk Yaman datang, mereka bertingkah laku halus dan berhati lembut iman di Yaman, hikmah di Yaman, kelembutan ada pada penggembala kambing sedangkan kesombongan dan keangkuhan ada pada orang-orang Faddadin Ahlul Wabar [arab badui] di arah terbitnya matahari [Shahih Muslim 1/71 no 52]

.

.

.

Hadis Fitnah Dari Najd

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى قَالَ حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ الْحَسَنِ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ عَوْنٍ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا وَفِي يَمَنِنَا قَالَ قَالُوا وَفِي نَجْدِنَا قَالَ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا وَفِي يَمَنِنَا قَالَ قَالُوا وَفِي نَجْدِنَا قَالَ قَالَ هُنَاكَ الزَّلَازِلُ وَالْفِتَنُ وَبِهَا يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna yang berkata telah menceritakan kepada kami Husain bin Hasan yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Aun dari Nafi’ dari Ibnu Umar yang berkata [Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “Ya Allah berilah keberkatan kepada kami, pada Syam kami dan pada Yaman kami”. Para sahabat berkata “dan juga Najd kami?”. Beliau bersabda “disana muncul kegoncangan dan fitnah, dan disanalah akan muncul tanduk setan” [Shahih Bukhari 2/33 no 1037]

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا أَزْهَرُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ ابْنِ عَوْنٍ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ ذَكَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَأْمِنَا اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي يَمَنِنَا قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَفِي نَجْدِنَا قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَأْمِنَا اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي يَمَنِنَا قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَفِي نَجْدِنَا فَأَظُنُّهُ قَالَ فِي الثَّالِثَةِ هُنَاكَ الزَّلَازِلُ وَالْفِتَنُ وَبِهَا يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ

Telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepada kami Azhar bin Sa’d dari Ibnu ‘Aun dari Nafi dari Ibnu Umar yang berkata Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam berkata “Ya Allah berilah keberkatan kepada kami pada Syam Kami dan pada Yaman kami”. Sebagian sahabat berkata “wahai Rasulullah dan pada Najd kami?. Beliau berkata “Ya Allah berilah keberkatan kepada kami pada Syam Kami dan pada Yaman kami”. Sebagian sahabat berkata “wahai Rasulullah dan pada Najd kami?. Pada kali ketiga Beliau berkata “disana muncul kegoncangan dan fitnah, disana muncul tanduk syetan” [Shahih Bukhari 9/54 no 7094]

.

.

Najd yang dimaksud dalam hadis di atas adalah nama suatu tempat yang memang dikenal pada zaman Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] seperti halnya Syam dan Yaman. Pada zaman Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] memang dikenal tempat yang bernama Najd dan terletak di timur Madinah arah matahari terbit

أخبرنا قتيبة حدثنا الليث عن سعيد بن أبي سعيد أنه سمع أبا هريرة يقول بعث رسول الله صلى الله عليه وسلم خيلا قبل نجد فجاءت برجل من بني حنيفة يقال له ثمامة بن آثال سيد أهل اليمامة فربط بسارية من سواري المسجد مختصر

Telah mengabarkan kepada kami Qutaibah yang berkata telah menceritakan kepada kami Laits dari Sa’id bin Abi Sa’id yang mendengar Abu Hurairah berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus pasukan berkuda ke Najd kemudian pasukan ini datang dengan membawa seorang laki-laki dari Bani Hanifah yang bernama Tsumamah bin Utsal pemimpin penduduk Yamamah kemudian diikat di salang satu tiang masjid, demikian secara ringkas. [Shahih Sunan Nasa’i Syaikh Al Albani no 712]

Jika diperhatikan di peta Jazirah Arab, Yamamah terletak pada arah Timur matahari terbit dari Madinah. Yamamah adalah bagian dari Najd dan Najd sendiri mencakup daerah yang luas di timur Madinah. Ibnu Manzhuur berkata

وما ارتفع عن تهامة إلى أرض العراق ، فهو نجد

Dataran tinggi dari Tihamah sampai ke tanah Iraq maka itu adalah Najd [Lisan Al Arab 3/413]

Ibnu Manzhuur menjelaskan bahwa cakupan daerah yang disebut Najd adalah dataran tinggi yang membentang diantara Tihamah dan Iraq. Hal senada juga diungkapkan Ibnu Atsir dimana ia berkata

والنَّجْد ما ارْتَفع من الأرض وهو اسمٌ خاصٌّ لما دون الحجاز ممَّا يَلي العِراق

Najd adalah dataran tinggi dan ia adalah nama khusus daerah setelah Hijaz ke arah Iraq [An Nihaayah Fii Gharib Al Hadits 5/19]

Sebagian orang keliru memahami pernyataan Ibnu Manzhuur dan Ibnu Atsiir di atas, keduanya tidak sedang menyatakan bahwa Iraq adalah Najd. Keduanya sedang menjelaskan cakupan daerah Najd yaitu dataran tinggi yang membentang antara Tihamah, Hijaz dan Iraq. Hal ini seperti yang dinyatakan Al Mada’iniy dimana ia berkata

وأما نجد فهي الناحية التي بين الحجاز والعراق

Adapun Najd maka itu adalah daerah yang terletak diantara Hijaz dan Iraq [Taqwiim Al Buldan Abul Fidaa’ hal 78].

Hal yang sama juga dinyatakan oleh Jalaludin As Suyuthiy dalam kitabnya Lub Al Lubab Fii Tahrir Al Ansab, ia berkata

نجد أرض بين العراق والحجاز

Najd yaitu tanah antara Iraq dan Hijaz [Lub Al Lubaab Fii Tahrir Al Ansab 1/82]

Selain Al Mada’iniy dan As Suyuthi, Ibnu Arabiy seorang ahli lughah yang terkenal juga menyatakan bahwa Iraq bukan bagian dari Najd.

وقال ابن الأعرابي وما كان بين العراق وبين وجرة وغمرة الطائف فهو نجد

Dan Ibnu Arabiy berkata “dan apa yang terletak diantara Iraq, diantara Wajrah, Ghamrah, dan Thaif maka itulah Najd” [Taqwiim Al Buldan Abul Fidaa’ hal 79]

Sedangkan Iraq sendiri tidak termasuk Najd bahkan ia adalah dataran rendah atau dataran yang lebih rendah dari Najd.

قال ابن الأعرابي: إنما سمي العراق عراقاً لأنه سفل عن نجد ودنا من البحر

Ibnu Arabiy berkata “Sesungguhnya dinamakan Iraq karena ia lebih rendah dari Najd dan dekat dengan laut” [Tarikh Baghdad 1/9]

Al Hafizh Az Zarqaniy dalam Syarh Al Muwatta ketika menjelaskan hadis dimana orang Iraq bertanya kepada Ibnu Umar, ia menyatakan tentang Iraq

وقيل سمي عراقا لأنه سفل عن نجد ودنا من البحر

Dan dinamakan Iraq karena ia lebih rendah dari Najd dan dekat dengan lautan [Syarh Al Muwatta Az Zarqaniy 4/214]

Ismail bin Hammad Al Jauhariy dalam kitabnya Ash Shihaah [Taj Al Lughaah Wa Shihaah Al Arabiyah] menyatakan bahwa Najd termasuk negri Arab

ونجد من بلاد العرب، وهو خلاف الغور. والغور: تهامة. وكل ما ارتفع من تهامة إلى أرض العراق فهو نجد

Dan Najd termasuk Negri Arab, ia adalah lawan dari Ghaur dan Ghaur adalah Tihaamah, semua dataran tinggi dari Tihamah sampai ke tanah Iraq maka itu adalah Najd. [Ash Shihaah 3/104]

Sedangkan Ibnu Manzhuur berkata dalam kitabnya Lisan Al Araab bahwa Iraq termasuk dalam negri Persia

والعِراقُ من بلاد فارس مذكر سمي بذلك لأَنه على شاطئ دِجْلَةَ وقيل سُمِّيَ عِراقاً لقربه من البحر وأَهل الحجاز يسمون ما كان قريباً من البحر عِراقاً

Dan Iraq termasuk negri Persia, disebutkan bahwa ia dinamakan demikian karena ia adalah dataran pesisir [pantai] sungai Dajlah [Tigris], dikatakan bahwa dinamakan Iraq karena dekat dengan laut dan penduduk Hijaz menamakan tanah yang dekat dengan laut sebagai Iraq [Lisan Al Arab Ibnu Manzhuur 10/237]

Disini terdapat isyarat bahwa Iraq tidak termasuk dataran tinggi yang disebut Najd karena ia tidak termasuk negri Arab. Iraq adalah bagian dari negri Persia dan seperti yang kami jelaskan sebelumnya ia adalah dataran rendah bukan dataran tinggi.

.

Qarinah lain yang menguatkan bahwa Najd adalah tempat yang dimaksud munculnya fitnah adalah keterangan dalam riwayat Ibnu Umar [Yahya bin Sa’id dari Salim] dan Abu Hurairah bahwa tempat tersebut adalah tempat tinggal orang-orang bersuara keras dan berhati kasar Al Faddadin ahlul wabar atau Arab Badui. Dan Najd dikenal sebagai tempat tinggal orang arab badui yang bekerja sebagai pengembala kuda dan unta, bersuara keras dan berhati kasar. Dalam riwayat Uqbah bin Mas’ud bahkan disebutkan bahwa mereka dari Rabi’ah dan Mudhar

حدثنا مسدد حدثنا يحيى عن إسماعيل قال حدثني قيس عن عقبة بن عمرو أبي مسعود قال أشار رسول الله صلى الله عليه وسلم بيده نحو اليمن، فقال الإيمان يمان هنا هنا، ألا إن القسوة وغلظ القلوب في الفدادين، عند أصول أذناب الإبل، حيث يطلع قرنا الشيطان، في ربيعة ومضر

Telah menceritakan kepada kami Musaddad yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya dari Isma’il yang berkata telah menceritakan kepadaku Qais bin Uqbah bin Amru Abi Mas’ud yang berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengisyaratkan tangannya kearah Yaman dan berkata “Iman di Yaman disini dan kekerasan hati adalah milik orang-orang Faddadin [arab badui atau pedalaman] yang sibuk dengan unta-unta mereka dari arah munculnya tanduk setan Rabi’ah dan Mudhar [Shahih Bukhari no 3126]

Tentu yang dimaksud Rabiah Mudhar dalam hadis tersebut adalah perkampungan Rabiah dan Mudhar yang memang dikenal sebagai penduduk Najd.

.

Dalam fakta sejarah Najd memang dikenal sebagai tempat awalnya fitnah yaitu murtadnya sebagian sahabat Nabi yang dipengaruhi oleh orang-orang yang mengaku sebagai Nabi seperti Musailamah dan yang lainnya.

أخبرنا عمر بن سعيد بن سنان قال أخبرنا أحمد بن أبي بكر عن مالك عن عبد الله بن دينار عن ابن عمر أنه قال رأيت رسول الله صلى الله عليه و سلم يشير نحو المشرق ويقول ( ها إن الفتنة ها هنا إن الفتنة ها هنا من حيث يطلع قرن الشيطان ) قال أبو حاتم رضي الله عنه مشرق المدينة هو البحرين و مسيلمة منها وخروجه كان أول حادث حدث في الإسلام

Telah mengabarkan kepada kami Umar bin Sa’id bin Sinaan yang berkata telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin Abu Bakar dari Malik dari Abdullah bin Dinar dari Ibnu Umar yang berkata sesungguhnya aku melihat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengarahkan tangannya ke arah timur dan berkata “dari sini fitnah dari sini fitnah dari sini dari arah munculnya tanduk setan”. Abu Hatim berkata “timur madinah adalah Bahrain, Musailamah berasal darinya dan keluar darinya dialah yang pertama membuat bid’ah dalam islam” [Shahih Ibnu Hibban 15/24 no 6648 Syaikh Al Arnauth berkata “shahih dengan syarat Bukhari Muslim]

Dalam lafaz hadis Ibnu Umar dan Abu Hurairah nampak bahwa fitnah yang dimaksud terkait dengan kekafiran sehingga dikatakan sumber kekafiran muncul dari timur.  Hal ini dikuatkan pula dengan isyarat dari hadis Ibnu Umar yaitu riwayat Fudhail bin Ghazwan dari Salim dari Ibnu Umar secara marfu’ yang mengandung lafaz

إن الفتنة تجيء من ها هنا وأومأ بيده نحو المشرق حيث يطلع قرن الشيطان وأنتم يضرب بعضكم بعض رقاب بعض

Sesungguhnya fitnah itu datang dari sini ia menunjukkan tangannya ke arah timur dari arah munculya dua tanduk setan’, sebagian kalian menebas leher sebagian yang lain

Lafaz “sebagian kalian menebas leher sebagian yang lain” menunjukkan bahwa fitnah tersebut merujuk pada sebagian sahabat yang murtad atau kafir setelah Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] wafat. Hal ini dikuatkan pula oleh hadis berikut

حَدَّثَنَا أَبُو الْوَلِيدِ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ وَاقِدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ أَخْبَرَنِي عَنْ أَبِيهِ سَمِعَ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَرْجِعُوا بَعْدِي كُفَّارًا يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ

Telah menceritakan kepada kami Abul Waliid yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah yang berkata Waaqid bin ‘Abdullah telah mengabarkan kepadaku dari Ayahnya yang mendengar Abdullah bin Umar dari Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang berkata “Janganlah kalian menjadi kafir sepeninggalku, sebagian kalian menebas leher sebagian yang lain” [Shahih Bukhari 3/9 no 6868]

Selepas wafatnya Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] maka bermunculanlah sebagian sahabat Nabi yang murtad yaitu ahlul wabar yang tinggal di Najd kemudian fitnah ini menyebar sampai ke ahlul madar. Hal ini seperti yang dinyatakan Ibnu Jarir, ia berkata

فلما قبض الله نبيه ارتد أقوام من أهل الوبر وبعض أهل المدر

Ketika Allah mewafatkan Nabi-nya maka menjadi murtad orang-orang dari ahlul wabar dan sebagian ahlul madar [Tafsir Ibnu Jarir Ath Thabari 6/381]

.

.

.

Hadis Fitnah Dari Iraq

حدثنا الحسن بن علي المعمري ثنا إسماعيل بن مسعود ثنا عبيد الله بن عبد الله بن عون عن أبيه عن نافع عن ابن عمر أن النبي صلى الله عليه وسلم قال اللهم بارك لنا في شامنا، اللهم بارك في يمننا، فقالها مراراً، فلما كان في الثالثة أو الرابعة، قالوا يا رسول الله! وفي عراقنا؟ قال إنّ بها الزلازل والفتن، وبها يطلع قرن الشيطان

Telah menceritakan kepada kami Hasan bin Ali Al Ma’mariy yang berkata telah menceritakan kepada kami Ismaail bin Mas’ud yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidillah bin ‘Abdillah bin ‘Aun dari ayahnya, dari Naafi’ dari Ibnu ‘Umar bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Ya Allah, berikanlah keberkatan kepada kami pada Syaam kami dan pada Yamaan kami”. Beliau [shallallaahu ‘alaihi wasallam] mengatakannya beberapa kali. Ketika beliau mengatakan yang ketiga kali atau yang keempat, para shahabat berkata “Wahai Rasulullah, dan juga Iraq kami?”. Beliau bersabda “Sesungguhnya di sana terdapat kegoncangan dan fitnah, dan disanalah akan muncul tanduk setan” [Mu’jam Al Kabiir Ath Thabrani 12/384 no 13422].

Hadis ini mengandung illat [cacat]. Ubaidillah bin Abdullah bin ‘Aun bukan seorang perawi yang dhabit dalam hadis, kedudukannya hanyalah shalih al hadits

عبيد الله بن عبد الله بن عون روى عن ابيه عبد الله بن عون روى عنه نصر بن على الجهضمى سألت ابي عنه فقال صالح الحديث

Ubaidillah bin ‘Abdullah bin ‘Aun meriwayatkan dari Ayahnya ‘Abdullah bin ‘Aun, telah meriwayatkan darinya Nashr bin Aliy Al Jahdhamiy, aku bertanya kepada ayahku tentangnya, Beliau berkata “shalih al hadits” [Al Jarh Wat Ta’dil Ibnu Abi Hatiim 5/322 no 1531]

عبيد الله بن عبد الله بن عون بن أرطبان مولى مزينة البصري سمع أباه سمع منه محمد بن عقبة معروف الحديث

Ubaidillah bin ‘Abdullah bin ‘Aun bin Arthabaan maula Muzainah Al Bashriy mendengar dari Ayahnya dan telah mendengar darinya Muhammad bin Uqbah, Ma’ruuf al hadiits [Tarikh Al Kabiir Al Bukhariy juz 5 no 1247]

Kedudukan perawi dengan shalih al hadiits berarti perawi tidaklah kuat dhabit-nya dan hadisnya tidak diterima jika bertentangan dengan perawi tsiqat. Dalam hadis Fitnah di atas Ubaidillah bin Abdullah bin ‘Aun menyelisihi kedua perawi tsiqat yaitu Azhar bin Sa’ad dan Husain bin Hasan. Ibnu Hajar menyatakan Husain bin Hasan tsiqat [At Taqrib 1/214] dan menyatakan tentang Azhar bin Sa’ad tsiqat [At Taqrib 1/74].

Hadis Ubaidillah bin ‘Abdullah bin ‘Aun dengan lafaz “Iraq kami” memiliki penguat dari hadis-hadis lain dan telah kami tunjukkan dalam tulisan khusus mengenai illat [cacat] hadis-hadis tersebut.

Sebagian orang menyatakan bahwa hadis-hadis tersebut saling menafsirkan, Najd yang dimaksud sebenarnya adalah Iraq. Menurut mereka dalam lisan orang-orang arab Iraq juga disebut sebagai Najd. Hujjah mereka adalah perkataan Al Khaththabiy berikut

نجد: ناحية المشرق، ومن كان بالمدينة كان نجده بادية العراق ونواحيها، وهي مشرق أهلها، وأصل النجد: ما ارتفع من الأرض، والغور: ما انخفض منها، وتهامة كلها من الغور، ومنها مكة، والفتنة تبدو من المشرق، ومن ناحيتها يخرج يأجوج ومأجوج والدجال، في أكثر ما يروى من الأخبار

Najd adalah arah timur. Dan bagi Madinah, najd-nya adalah gurun ‘Iraaq dan sekelilingnya. Itulah arah timur bagi penduduk Madinah. Asal makna dari najd adalah : setiap tanah yang tinggi; sedangkan ghaur adalah setiap tanah yang rendah. Seluruh wilayah Tihaamah adalah ghaur, termasuk juga Makkah. Fitnah muncul dari arah timur; dan dari arah itu pula akan keluar Ya’juuj, Ma’juuj, dan Dajjaal sebagaimana terdapat dalam kebanyakan riwayat” [I’laamus-Sunan, 2/1274].

Pernyataan bahwa Najd diartikan arah timur adalah keliru. Dari segi bahasa Najd adalah daratan tinggi bukannya diartikan sebagai arah. Jika dikatakan bahwa Najd terletak di timur Madinah maka itu benar tetapi jika Najd diartikan sebagai arah timur maka hal itu tidak ada dasarnya.

Bahkan jika kita memperhatikan lafaz hadis Ibnu Umar dimana sebagian sahabat berkata “dan bagaimana Najd kami?” setelah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mendoakan Syam dan Yaman maka lafaz Najd disana menunjukkan nama tempat atau Negri seperti halnya Syam dan Yaman bukan menyatakan arah. Dan seperti yang kami katakan sebelumnya negri Najd ini terletak di arah timur matahari terbit dari Madinah. Yang nampak disini adalah sebagian orang memaksakan diri mendistorsi bahasa agar sesuai dengan keyakinannya.

Pada zaman Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan para sahabat tidaklah dikenal negri Iraq disebut sebagai Najd. Pendapat ini muncul belakangan setelah munculnya hadis-hadis Fitnah yang sebagian menyebutkan Najd dan sebagian menyebutkan Iraq sehingga bermunculan sebagian ulama yang menyatakan Iraq disebut juga Najd berdasarkan hadis-hadis tersebut. Padahal dari segi bahasa sangat tidak tepat Iraq disebut Najd sebagaimana telah berlalu penjelasannya. Berikut adalah bukti bahwa di zaman Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] Najd dan Iraq adalah kedua negri yang berbeda

حدثنا محمد بن عبد الله بن عمار الموصلي قال حدثنا أبو هاشم محمد بن علي عن المعافى عن أفلح بن حميد عن القاسم عن عائشة قالت وقَّت رسول الله صلى الله عليه وسلم لأهل المدينة ذا الحُليفة ولأهل الشام ومصر الجحفة ولأهل العراق ذات عرق ولأهل نجد قرناً ولأهل اليمن يلملم

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Ammar Al Maushulli yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Haasyim Muhammad bin ‘Ali dari Al Mu’afiy dari Aflah bin Humaid dari Qasim dari Aisyah yang berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menetapkan miqat bagi penduduk Madinah di Dzul Hulaifah, bagi penduduk Syam dan Mesir di Juhfah, bagi penduduk Iraq di Dzatu ‘Irq, bagi penduduk Najd di Qarn dan bagi penduduk Yaman di Yalamlam [Shahih Sunan Nasa’i no 2656]

Maka pendapat yang menyatakan Najd adalah Iraq tidaklah benar, karena dari segi bahasa tidak ada dasarnya, justru Iraq dinamakan demikian karena dekat dengan laut dan lebih rendah dari Najd. Dan terbukti dalam fakta riwayat di atas bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan para sahabat memahami Najd dan Iraq sebagai kedua negri yang berbeda.

Selain itu hadis Fitnah dengan lafaz dimana sebagian sahabat berkata “dan bagaimana Iraq kami?” adalah hadis mungkar, karena pada zaman Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] belum ada penduduk Iraq yang memeluk islam. Sebagaimana masyhur dalam Tarikh bahwa islam masuk ke Iraq pada masa pemerintahan Abu Bakar dan Umar. Maka bagaimana bisa ada sebagian sahabat yang mengatakan Iraq kami, berbeda hal-nya dengan Najd karena pada zaman Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] sudah ada penduduk Najd yang memeluk islam sehingga dengan sendirinya mereka adalah sahabat Nabi dan besar kemungkinan mereka inilah yang bertanya kepada Nabi “dan bagaimana Najd kami?”. Fakta ini diakui oleh Ibnu Umar sendiri selaku sahabat yang meriwayatkan hadis Fitnah

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا محمد بن عبد الله ثنا سفيان عن عبد الله بن دينار عن بن عمر قال وقت رسول الله صلى الله عليه و سلم لأهل المدينة ذا الحليفة ولأهل نجد قرنا ولأهل الشام الجحفة وقال هؤلاء الثلاث حفظتهن من رسول الله صلى الله عليه و سلم وحدثت أن رسول الله قال ولأهل اليمن يلملم فقيل له العراق قال لم يكن يومئذ عراق

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abdullah bin Diinar dari Ibnu Umar yang berkata Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] menentukan miqat untuk penduduk Madinah Dzul Hulaifah, untuk penduduk Najd Qarn, untuk penduduk Syam Juhfah. Ibnu Umar berkata “tiga hal itu aku hafal dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan diceritakan kepadaku bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “dan untuk penduduk Yaman Yalamlam. Maka dikatakan kepadanya “lalu Iraq?”. Ibnu Umar berkata “pada saat itu belum ada Iraq” [Musnad Ahmad 2/50 no 5111, Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata sanadnya shahih sesuai syarat Bukhari Muslim]

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا سفيان سمع صدقة بن عمر يقول يعني عن النبي صلى الله عليه و سلم يهل أهل نجد من قرن وأهل الشام من الجحفة وأهل اليمن من يلملم ولم يسمعه بن عمر وسمع النبي صلى الله عليه و سلم مهل أهل المدينة من ذي الحليفة قالوا له فأين أهل العراق قال بن عمر لم يكن يومئذ

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Sufyan yang mendengar Shadaqah, [yang berkata] Ibnu Umar mengatakan yakni dari Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] “Penduduk Najd berihram dari Qarn, penduduk Syam dari Juhfah, dan penduduk Yaman dari Yalamlam dan Ibnu Umar tidak mendengar hal ini [miqat Yaman] darinya [Nabi], dan ia mendengar dari Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] bahwa penduduk Madinah berihram dari Dzul Hulaifah. Orang-orang bertanya kepada Ibnu Umar “maka bagaimana dengan penduduk Iraq?”. Ibnu Umar berkata “waktu itu belum ada [penduduk Iraq yang muslim]?” [Musnad Ahmad 2/11 no 4854, syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata “sanadnya shahih dengan syarat Muslim”]

Yang dimaksud dengan pernyataan Ibnu Umar bahwa saat itu belum ada Iraq maksudnya adalah belum ada penduduk Iraq yang memeluk islam. Dari hadis di atas terdapat faedah bahwa pada masa para tabiin mereka tidak memahami Iraq dengan sebutan Najd atau bagian dari Najd. Buktinya adalah pada saat Ibnu Umar menyampaikan hadis penduduk Najd berihram dari Qarn kepada para tabiin maka mereka tetap menanyakan bagaimana dengan penduduk Iraq. Kalau memang mereka memahami bahwa Iraq adalah Najd maka tidak akan mungkin mereka menanyakannya. Jadi masyhur pula bahwa di zaman para tabiin Najd berbeda dengan Iraq.

Faedah kedua adalah kesaksian Ibnu Umar yang menyatakan bahwa pada masa Rasulullah belum ada penduduk Iraq yang memeluk islam dan dari sini juga bisa ditarik kesimpulan bahwa pada masa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] sudah ada penduduk Najd, Syam dan Yaman yang memeluk islam. Maka jika dalam hadis Ibnu Umar tentang fitnah terdapat perkataan sahabat Nabi “bagaimana dengan Irak kami?” dapat dipastikan bahwa lafaz tersebut mungkar

Kalau dikatakan hadis Ibnu Umar saling menafsirkan maka pendapat yang lebih rajih disini adalah fitnah timur yang dimaksud Ibnu Umar adalah Najd bukan Iraq karena berdasarkan kesaksian Ibnu Umar tidak ada penduduk Iraq yang memeluk islam pada saat itu sehingga mustahil ada sahabat Nabi yang berkata “Iraq kami”. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa hadis-hadis dengan lafaz “Iraq kami” memiliki illat [cacat] yang menjatuhkan dan matannya mungkar.

sumber tulisan ini dari web http://www.secondprince.wordpress.com

Najd Bukan Iraq? : Bantahan Bagi Salafy

Ini merupakan kelanjutan dari tulisan kami sebelumnya yang berjudul Analisis Hadis Tanduk Setan : Najd Bukan Iraq?. Tulisan kami tersebut ternyata ditanggapi oleh salah satu situs salafy dan kali ini kami berusaha meluruskan bantahannya yang berkesan “tidak paham dengan tulisan orang lain”. Sudah sewajarnya sebelum membantah tulisan orang lain kita hendaknya memahami betul-betul tulisan yang ingin dibantah supaya tidak terjadi pengulangan-pengulangan yang tidak perlu. kita akan lihat bersama tanggapan orang tersebut tetapi sebelumnya kami akan memperjelas lagi hujjah atau dalil kalau tempat yang dimaksud sebagai fitnah itu adalah Najd. Silakan perhatikan hadis-hadis berikut

وحدثني حرملة بن يحيى أخبرنا ابن وهب أخبرني يونس عن ابن شهاب عن سالم بن عبدالله عن أبيه
أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال وهو مستقبل المشرق ها إن الفتنة ههنا ها إن الفتنة ههنا ها إن الفتنة ههنا من حيث يطلع قرن الشيطان

Telah menceritakan kepadaku Harmalah bin Yahya yang berkata telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb yang berkata telah mengabarkan kepadaku Yunus dari Ibnu Syihab dari Salim bin ‘Abdullah dari ayahnya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata dan Beliau menghadap kearah timur “fitnah datang dari sini, fitnah datang dari sini, fitnah datang dari sini, dari arah munculnya tanduk setan[Shahih Muslim 4/2228 no 2905]

حدثنا عبد الله ثنا أبي ثنا أبو سعيد مولى بنى هاشم ثنا عقبة بن أبي الصهباء ثنا سالم عن عبد الله بن عمر قال صلى رسول الله صلى الله عليه و سلم الفجر ثم سلم فاستقبل مطلع الشمس فقال ألا ان الفتنة ههنا ألا ان الفتنة ههنا حيث يطلع قرن الشيطان

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang menceritakan kepada kami ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id mawla bani hasyim yang berkata telah menceritakan kepada kami Uqbah bin Abi Shahba’ yang berkata telah menceritakan kepada kami Salim dari ‘Abdullah bin Umar yang berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengerjakan shalat fajar kemudian mengucapkan salam dan menghadap kearah matahari terbit seraya bersabda “fitnah datang dari sini, fitnah datang dari sini dari arah munculnya tanduk setan[Musnad Ahmad 2/72 no 5410]

حدثنا أبو بكر بن أبي شيبة حدثنا وكيع عن عكرمة بن عمار عن سالم عن ابن عمر قال خرج رسول الله صلى الله عليه و سلم من بيت عائشة فقال رأس الكفر من ههنا من حيث يطلع قرن الشيطان يعني المشرق

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah yang berkata telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Ikrimah bin ‘Ammar dari Salim dari Ibnu Umar yang berkata “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar dari pintu rumah Aisyah dan berkata “sumber kekafiran datang dari sini dari arah munculnya tanduk setan yaitu timur [Shahih Muslim 4/2228 no 2905]

حدثنا مسدد حدثنا يحيى عن إسماعيل قال حدثني قيس عن عقبة بن عمرو أبي مسعود قال أشار رسول الله صلى الله عليه وسلم بيده نحو اليمن، فقال الإيمان يمان هنا هنا، ألا إن القسوة وغلظ القلوب في الفدادين، عند أصول أذناب الإبل، حيث يطلع قرنا الشيطان، في ربيعة ومضر

Telah menceritakan kepada kami Musaddad yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya dari Isma’il yang berkata telah menceritakan kepadaku Qais bin Uqbah bin Amru Abi Mas’ud yang berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengisyaratkan tangannya kearah Yaman dan berkata “Iman di Yaman disini dan kekerasan hati adalah milik orang-orang Faddadin [arab badui yang bersuara keras] di belakang unta-unta mereka dari arah munculnya tanduk setan [dari] Rabi’ah dan Mudhar [Shahih Bukhari no 3126]

حدثنا يحيى بن يحيى قال قرأت على مالك عن أبي الزناد عن الأعرج عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال رأس الكفر نحو الشرق والفخر والخيلاء في أهل الخيل والإبل الفدادين أهل الوبر والسكينة في أهل الغنم

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya yang berkata qara’tu ala Malik dari Abi Zanad dari Al A’raj dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “sumber kekafiran datang dari timur, kesombongan dan keangkuhan adalah milik orang-orang pengembala kuda dan unta Al Faddaadin Ahlul Wabar [arab badui] dan kelembutan ada pada pengembala kambing [Shahih Muslim 1/71 no 52]

حدثنا عبدالله بن عبدالرحمن أخبرنا أبو اليمان عن شعيب عن الزهري حدثني سعيد بن المسيب أن أبا هريرة قال سمعت النبي صلى الله عليه و سلم يقول جاء أهل اليمن هم أرق أفئدة وأضعف قلوبا الإيمان يمان والحكمة يمانية السكينة في أهل الغنم والفخر والخيلاء في الفدادين أهل الوبر قبل مطلع الشمس

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman yang berkata telah mengabarkan kepada kami Abul Yaman dari Syu’aib dari Az Zuhri yang berkata telah mengabarkan kepadaku Sa’id bin Al Musayyab bahwa Abu Hurairah berkata aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “Penduduk Yaman datang, mereka bertingkah laku halus dan berhati lembut iman di Yaman, hikmah di Yaman, kelembutan ada pada penggembala kambing sedangkan kesombongan dan keangkuhan ada pada orang-orang Faddadin Ahlul Wabar [arab badui] di arah terbitnya matahari [Shahih Muslim 1/71 no 52]

حدثنا موسى بن هارون ثنا عبد الله بن محمد بوران نا الأسود بن عامر نا حماد بن سلمة عن يحيى بن سعيد عن سالم عن بن عمر أن النبي صلى الله عليه و سلم استقبل مطلع الشمس فقال من ها هنا يطلع قرن الشيطان وها هنا الفتن والزلازل والفدادون وغلظ القلوب

Telah menceritakan kepada kami Musa bin Harun yang berkata telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad Fuuraan yang berkata telah menceritakan kepada kami Aswad bin ‘Aamir yang berkata telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Yahya bin Sa’id dari Salim dari Ibnu Umar bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menghadap ke arah matahari terbit seraya berkata “dari sini muncul tanduk setan, dari sini muncul fitnah dan kegoncangan dan orang-orang yang bersuara keras dan berhati kasar [Mu’jam Al Awsath Thabrani 8/74 no 8003]

Hadis riwayat Thabrani di atas sanadnya shahih. Musa bin Harun Abu ‘Imran seorang imam yang tsiqat [Su’alat Al Hakim no 229]. Abdullah bin Muhammad bin Muhaajir Fuuraan adalah sahabat Ahmad bin Hanbal seorang yang tsiqat ma’mun [Takmilat Al Ikmal Muhammad bin Abdul Ghaniy no 4757]. Aswad bin ‘Aamir seorang yang tsiqat [At Taqrib 1/102]. Hammad bin Salamah seorang yang tsiqat [At Taqrib 1/238]. Yahya bin Sa’id Al Anshari seorang yang tsiqat tsabit [At Taqrib 2/303]

Hadis-hadis di atas menyebutkan kalau tempat munculnya fitnah tersebut adalah timur Madinah dan arah timur yang dimaksud adalah arah matahari terbit dari Madinah. Dengan fakta ini saja maka diketahui bahwa Najd merupakan tempat yang lebih sesuai daripada Iraq karena Najd terletak di arah timur matahari terbit dari Madinah sedangkan Iraq tidak terletak di arah matahari terbit dari Madinah. Dari hadis-hadis di atas juga diketahui kalau tempat yang dimaksud tertuju pada kediaman orang-orang arab badui Rabi’ah dan Mudhar. Telah ma’ruf bahwa pada masa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam Najd merupakan kediaman orang-orang arab badui [ahlul wabar] Rabi’ah dan Mudhar bukannya Iraq, Jadi semua hadis-hadis di atas menyiratkan kalau tempat fitnah yang dimaksud adalah Najd. Oleh karena itu jika menerapkan metode tarjih maka hadis Najd lebih didahulukan daripada hadis Iraq.

.

.

.

Hadis Ubadillah bin ‘Abdullah bin ‘Aun

حدثنا الحسن بن علي المعمري ثنا إسماعيل بن مسعود ثنا عبيد الله بن عبد الله بن عون عن أبيه عن نافع عن ابن عمر أن النبي صلى الله عليه وسلم قال اللهم بارك لنا في شامنا، اللهم بارك في يمننا، فقالها مراراً، فلما كان في الثالثة أو الرابعة، قالوا يا رسول الله! وفي عراقنا؟ قال إنّ بها الزلازل والفتن، وبها يطلع قرن الشيطان

Telah menceritakan kepada kami Hasan bin Ali Al-Ma’mariy yang berkata telah menceritakan kepada kami Ismaail bin Mas’ud yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidullah bin ‘Abdillah bin ‘Aun dari ayahnya, dari Naafi’ dari Ibnu ‘Umar bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Ya Allah, berikanlah keberkatan kepada kami pada Syaam kami dan pada Yamaan kami”. Beliau [shallallaahu ‘alaihi wasallam] mengatakannya beberapa kali. Ketika beliau mengatakan yang ketiga kali atau yang keempat, para shahabat berkata “Wahai Rasulullah, dan juga Iraq kami?”. Beliau bersabda  “Sesungguhnya di sana terdapat kegoncangan dan fitnah, dan disanalah akan muncul tanduk setan” [Mu’jam Al Kabiir Ath Thabrani 12/384 no 13422].

Kami sebelumnya mengatakan hadis ini tidak shahih karena Ubaidillah telah menyelisihi dua orang perawi tsiqat yaitu Azhar bin Sa’d dan Husain bin Hasan dimana keduanya menyebutkan lafaz Najd bukan lafaz Iraq. Orang tersebut membantah dengan berkata

Saya katakan : Nampaknya orang ini sedang berandai-andai dengan pemikirannya. Yang dikatakan ta’arudl (dalam matan) dalam ilmu hadits adalah jika bertentangan dalam makna dan tidak bisa untuk dijamak. Pengandai-andaiannya bahwa lafadh Najd dan ‘Iraq adalah bertentangan (ta’arudl) adlah sesuai dengan definisi dan keinginannya. Bukan sesuai dengan ilmu ushul hadits dan ushul-fiqh yang ma’ruf. Telah saya tulis sebelumnya bahwa lafadh Najd dan ‘Iraq tidak bertentangan dan bisa dijamak. Sesuai dengan lisan dan pemahaman orang ‘Arab. Telah saya sebutkan perkataan Al-Khaththaabiy dan Al-Kirmaaniy bagaimana makna kata ‘Najd’ bagi orang ‘Arab (bukan menurut orang tersebut).

Sungguh orang ini patut dikasihani, bagaimana mungkin ia bisa tidak mengerti panjang lebar hujjah kami dalam masalah ini. Lafaz Najd dan Iraq bertentangan karena keduanya adalah nama negeri yang berbeda. Seandainya pun kedua lafaz itu mau dijamak maka itu berarti kedua tempat tersebut adalah tempat munculnya fitnah. Bukan seperti logika aneh salafy yang mengatakan kalau Najd adalah Iraq. Perhatikan baik-baik hadis berikut

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى قَالَ حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ الْحَسَنِ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ عَوْنٍ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا وَفِي يَمَنِنَا قَالَ قَالُوا وَفِي نَجْدِنَا قَالَ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا وَفِي يَمَنِنَا قَالَ قَالُوا وَفِي نَجْدِنَا قَالَ قَالَ هُنَاكَ الزَّلَازِلُ وَالْفِتَنُ وَبِهَا يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna yang berkata telah menceritakan kepada kami Husain bin Hasan yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Aun dari Nafi’ dari Ibnu Umar yang berkata [Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “Ya Allah berilah keberkatan kepada kami, pada Syam kami dan pada Yaman kami”. Para sahabat berkata “dan juga Najd kami?”. Beliau bersabda “disana muncul kegoncangan dan fitnah, dan disanalah muncul tanduk setan” [Shahih Bukhari 2/33 no 1037]

Zahir hadis di atas Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendoakan Syam dan Yaman, keduanya adalah nama Negri yang sudah ada di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian para sahabat bertanya bagaimana dengan “Najd kami”. Tentu saja secara zahir maksud Najd disini adalah nama suatu Negeri seperti halnya Syam dan Yaman. Dan telah kami sebutkan bahwa di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah masyhur Negeri yang bernama Najd dan negri itu berbeda dengan Iraq seperti dalam hadis berikut

حدثنا محمد بن عبد الله بن عمار الموصلي قال حدثنا أبو هاشم محمد بن علي عن المعافى عن أفلح بن حميد عن القاسم عن عائشة قالت وقَّت رسول الله صلى الله عليه وسلم لأهل المدينة ذا الحُليفة ولأهل الشام ومصر الجحفة ولأهل العراق ذات عرق ولأهل نجد قرناً ولأهل اليمن يلملم

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Ammar Al Maushulli yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Haasyim Muhammad bin ‘Ali dari Al Mu’afiy dari Aflah bin Humaid dari Qasim dari Aisyah yang berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menetapkan miqat bagi penduduk Madinah di Dzul Hulaifah, bagi penduduk Syam dan Mesir di Juhfah, bagi penduduk Iraq di Dzatu ‘Irq, bagi penduduk Najd di Qarn dan bagi penduduk Yaman di Yalamlam [Shahih Sunan Nasa’i no 2656]

أخبرنا قتيبة حدثنا الليث عن سعيد بن أبي سعيد أنه سمع أبا هريرة يقول بعث رسول الله صلى الله عليه وسلم خيلا قبل نجد فجاءت برجل من بني حنيفة يقال له ثمامة بن آثال سيد أهل اليمامة فربط بسارية من سواري المسجد مختصر

Telah mengabarkan kepada kami Qutaibah yang berkata telah menceritakan kepada kami Laits dari Sa’id bin Abi Sa’id yang mendengar Abu Hurairah berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus pasukan berkuda ke Najd kemudian pasukan ini datang dengan membawa seorang laki-laki dari Bani Hanifah yang bernama Tsumamah bin Utsal pemimpin penduduk Yamamah kemudian diikat di salang satu tiang masjid, demikian secara ringkas. [Shahih Sunan Nasa’i Syaikh Al Albani no 712]

Hadis di atas bahkan menyebutkan kalau Najd yang dimaksud termasuk Yamamah yang pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam terletak tepat disebelah timur Madinah dan yang sekarang telah menjadi daerah Riyadh dan sekitarnya. Justru membedakan Najd dan Iraq telah sesuai dengan lisan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallamdan pemahaman para sahabat bahwa Najd dan Iraq memang kedua tempat yang berbeda pada masa itu. Jadi tidak ada gunanya perkataan ulama yang dicatut oleh orang salafy itu.

Kembali ke hadis riwayat Thabrani di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendoakan Syam dan Yaman, kemudian para sahabat bertanya bagaimana dengan “Iraq kami”. Anehnya salafy langsung bisa paham kalau Iraq yang dimaksud disini adalah nama suatu negeri tapi kalau di hadis Najd salafy jadi pura-pura tidak paham. Salafy itu mengutip perkataan Ibnu Mandzur

وما ارتفع عن تِهامة إِلى أَرض العراق، فهو نجد

“Semua tanah yang tinggi dari Tihaamah sampai tanah ‘Iraaq, maka itu Najd” [lihat dalam Lisaanul-‘Arab].

Bagi kami tidak ada masalah dengan istilah itu. Najd yang ada pada hadis tanduk setan adalah nama suatu negeri yang memang sudah masyhur dikenal sahabat sebagaimana halnya negeri Syam dan Yaman. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat telah membedakan Najd dan Iraq jadi tidak ada gunanya perkataan Ibnu Mandzur disini. Apalagi kalau diperhatikan ternyata ulama lain justru mengatakan hal yang lebih aneh yaitu Al Khaththabi [sebagaimana yang ditulis sendiri oleh salafy itu]. Ia berkata

نجد: ناحية المشرق، ومن كان بالمدينة كان نجده بادية العراق ونواحيها، وهي مشرق أهلها، وأصل النجد: ما ارتفع من الأرض، والغور: ما انخفض منها، وتهامة كلها من الغور، ومنها مكة، والفتنة تبدو من المشرق، ومن ناحيتها يخرج يأجوج ومأجوج والدجال، في أكثر ما يروى من الأخبار

Najd adalah arah timur. Dan bagi Madinah, najd-nya gurun ‘Iraaq dan sekelilingnya. Itulah arah timur bagi penduduk Madinah. Asal makna dari najd adalah : setiap tanah yang tinggi; sedangkan ghaur adalah setiap tanah yang rendah. Seluruh wilayah Tihaamah adalah ghaur, termasuk juga Makkah. Fitnah muncul dari arah timur; dan dari arah itu pula akan keluar Ya’juuj, Ma’juuj, dan Dajjaal sebagaimana terdapat dalam kebanyakan riwayat” [I’laamus-Sunan, 2/1274].

Anehnya Al Khattabi mengatakan kalau Najd adalah arah timur dan menurut Al Khaththabi timurnya madinah adalah Iraq maka Najd-nya madinah adalah Iraq. Pertanyaannya sejak kapan Najd yang secara etimologi [asal kata] bermakna tanah yang tinggi berubah maknanya menjadi “arah timur”?. Kemudian apa gunanya perkataan Ibnu Mandzur “semua tanah yang tinggi dari Tihamah sampai Iraq maka itu Najd” padahal Al Khaththabi mengatakan seluruh wilayah Tihamah adalah ghaur. Salafy itu hanya bisa bertaklid tetapi tidak bisa memahami perkataan ulama yang ia kutip.

Pada dasarnya setiap kata memiliki makna secara etimologi tetapi selain itu ternyata ada beberapa kata yang dalam perkembangannya berubah secara historis. Seperti halnya kata Najd secara etimologi memang bermakna tanah yang tinggi, tetapi secara historis maksud Najd yang ada dalam hadis Tanduk setan adalah nama suatu negri yang masyhur saat itu yaitu Najd di sebelah timur Madinah oleh karena itu para sahabat menisbatkannya dengan kata “Najd kami”. Negri ini dinamakan Najd karena memang tempat tersebut adalah dataran tinggi. Tidak hanya Najd, kata Iraq pun secara etimologi bermakna “daerah tepian” atau “daerah yang terletak diantara sungai sungai” dan secara historis Iraq dikenal sebagai nama suatu negri karena memang negri tersebut terletak diantara sungai sungai sehingga dinamakan Iraq. Pada hadis tanduk setan, kata Najd dan Iraq yang dinisbatkan dengan kata “kami” adalah nama suatu Negri bukan makna kata secara etimologi.

Adapun ‘Ubaidullah sendiri, maka Al-Bukhaariy berkata : “Ma’ruuful-hadiits” [At-Taariikh Al-Kabiir, 5/388 no. 1247]. Abu Haatim berkata :  “Shaalihul-hadiits” [Al-Jarh wat-Ta’diil, 5/322 no. 1531].

Kita telah buktikan kalau Najd dan Iraq yang ada di hadis Ibnu Umar adalah dua negri yang berbeda sehingga penjamakan yang dilakukan oleh salafy itu terlalu memaksa. Kesannya justru malah mendistorsi makna hadis tersebut. Yang meriwayatkan dari  Ibnu ‘Aun dari Nafi’ ada tiga orang yaitu Husain bin Hasan, Azhar bin Sa’d dan Ubaidillah. Husain dan Azhar menyebutkan kalau tempat yang dimaksud adalah Najd sedangkan Ubaidillah menyebutkan Iraq. Ubaidillah telah menyelisihi dua orang perawi tsiqat yang meriwayatkan dari Nafi’ sedangkan kedudukannya sendiri paling tinggi hanya dikatakan “shalihul hadits”. Perawi seperti ini jika bertentangan dengan perawi yang lebih tsiqat maka hadisnya tidak bisa diterima. Kaidah ini sesuai dengan yang berlaku dalam ilmu hadis.

.

.

.

Hadis Ziyaad bin Bayaan

حدثنا علي بن سعيد قال نا حماد بن إسماعيل بن علية قال نا ابي قال نا زياد بن بيان قال نا سالم بن عبد الله بن عمر عن ابيه قال صلى النبي صلى الله عليه و سلم صلاة الفجر ثم انفتل فأقبل على  القوم فقال اللهم بارك لنا في مدينتنا وبارك لنا في مدنا وصاعنا اللهم بارك لنا في شامنا ويمننا فقال رجل والعراق يا رسول الله فسكت ثم قال اللهم بارك لنا في مدينتنا وبارك لنا في مدنا وصاعنا اللهم بارك لنا في حرمنا وبارك لنا في شامنا ويمننا فقال رجل والعراق يا رسول الله قال من ثم يطلع قرن الشيطان وتهيج الفتن

Telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin Sa’id yang berkata telah menceritkankepada kami Hammaad bin Ismaa’iil bin ‘Ulayyah yang berkata telah menceritakan kepada kami ayahku yang berkata telah mencertakan kepada kami Ziyaad bin Bayaan yangberkata telah menceritakan kepada kami Saalim bin ‘Abdillah bin ‘Umar dari ayahnya yang berkata Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat shubuh, kemudian berdoa, lalu menghadap kepada orang-orang. Beliau bersabda “Ya Allah berikanlah keberkatan kepada kami pada Madinah kami berikanlah keberkatan kepada kami pada mudd dan shaa’ kami. Ya Allah, berikanlah keberkatan kepada kami pada Syaam kami dan Yaman kami”. Seorang laki-laki berkata “dan ‘Iraq, wahai Rasulullah ?”. Beliau diam, lalu bersabda “Ya Allah berikanlah keberkatan kepada kami pada Madinah kami berikanlah keberkatan kepada kami pada mudd dan shaa’ kami. Ya Allah, berikanlah keberkatan kepada kami pada tanah Haram kami, dan berikanlah keberkatan kepada kami pada Syaam kami dan Yaman kami”. Seorang laki-laki berkata “dan ‘Iraq, wahai Rasulullah ?”. Beliau bersabda “dari sana akan muncul tanduk setan dan bermunculan fitnah” [Mu'jam Al Awsath Ath Thabraani 4/245 no 4098].

Pada tulisan sebelumnya kami menyatakan bahwa hadis ini tidak shahih karena mengandung illat [cacat] pada Ziyaad bin Bayaan. Ziyaad bin Bayaan dikatakan oleh Adz Dzahabi “tidak shahih hadisnya”. Bukhari berkata “dalam sanad hadisnya perlu diteliti kembali” [Al Mizan juz 2 no 2927] ia telah dimasukkan Adz Dzahabi dalam kitabnya Mughni Ad Dhu’afa no 2222 Al Uqaili juga memasukkannya ke dalam Adh Dhu’afa Al Kabir 2/75-76 no 522. Salafy itu menanggapi dengan berkata

Saya katakan : Ia hanya menyebutkan jarh-nya saja. Padahal kedudukan yang benar atas diri Ziyaad bin Bayaan adalah shaduuq lagi ‘aabid [Taqriibut-Tahdziib, hal. 343 no. 2068]. An-Nasaa’iy berkata : “Tidak mengapa dengannya (laisa bihi ba’s)”. Ibnu Hibbaan memasukkanya dalam Ats-Tsiqaat, dan berkata : “Ia seorang syaikh yang shaalih”. Tautsiq Ibnu Hibbaan jika dijelaskan seperti ini adalah diterima, sebagaimana penjelasan Al-Mu’allimiy Al-Yamaaniy dalam At-Tankiil.

Mengenai perkataan Nasa’i maka begitulah yang dinukil Ibnu Hajar dalam At Tahdzib tetapi mengenai perkataan Ibnu Hibban maka ini patut diberikan catatan. Ibnu Hibban tidak hanya menta’dil Ziyaad bin Bayaan, Ibnu Hibban juga memasukkan nama Ziyaad bin Bayaan dalam kitabnya Adh Dhu’afa yang memuat nama perawi dhaif menurutnya. Ibnu Hibban berkata “Ziyaad bin Bayaan mendengar dari Ali bin Nufail, dalam sanad hadisnya perlu diteliti kembali (fii isnad nazhar)” [Al Majruhin no 365].

Ibnu ‘Adiy memasukkan dalam Al-Kaamil karena mengambl pertimbangan perkataan Al-Bukhaariy. Dan sebab pendla’ifan Al-Bukhaariy pun dijelaskan, yaitu dengan sebab hadits Al-Mahdiy. Al-Bukhaariy berkata : “Fii isnadihi nadhar”. Jarh ini kurang shariih.

Perkataan salafy kalau jarh ini kurang sharih hanyalah andai-andai dirinya yang memang tidak bisa memahami dengan baik. Justru jarh Bukhari telah dijelaskan bahwa dalam sanad hadis Ziyaad bin Bayaan perlu diteliti kembali [fii isnadihi nazhar]. Ziyaad bin Bayaan terbukti meriwayatkan hadis mungkar dan kemungkarannya terletak pada sanad hadis tersebut. Hadis yang dimaksud adalah hadis Al Mahdi dimana Ziyad bin Bayaan membawakan dengan sanad dari Ali bin Nufail dari Ibnu Musayyab dari Ummu Salamah secara marfu’. Hadis ini yang diingkari oleh Bukhari dan pengingkaran tersebut terletak pada sanadnya. Ibnu Ady dalam Al Kamil dengan jelas mengatakan kalau Bukhari mengingkari hadis Ziyad bin Bayaan ini.

Al Uqaili sependapat dengan pengingkaran Bukhari dan menunjukkan kalau yang tsabit hadis dengan lafaz seperti itu adalah perkataan Sa’id bin Al Musayyab bukan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam [Adh Dhu’afa Al Uqaili 2/75 no 522]. Ibnu Jauzi dalam Al Ilal Al Mutanahiyah juga menegaskan bahwa hadis dengan lafaz seperti itu adalah perkataan Ibnu Musayyab bukan hadis Nabi dan disini Ziyaad bin Bayaan yang merafa’kan atau menyambungkan hadis tersebut kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Jadi kesimpulannya Ziyaad bin Bayaan tertuduh meriwayatkan hadis mungkar dan pengingkaran Bukhari terhadap hadisnya justru menunjukkan kalau disisi Bukhari Ziyaad bin Bayaan adalah seorang yang dhaif. Perkataan Bukhari ini adalah perkataan yang tsabit bersumber darinya dan kedudukan dirinya lebih dijadikan pegangan daripada penta’dilan Nasa’i. Apalagi telah ma’ruf dalam ilmu hadis bahwa jarh yang mufassar lebih didahulukan dari ta’dil.

Ibnu ‘Adiy pun menyebutkan pentautsiqan Abul-Maliih (Al-Hasan bin ‘Umar – seorang yang tsiqah) pada Ziyaad bin Bayaan saat menyebutkan sanad hadits Al-Mahdiy; Abul-Maliih berkata : “Telah menceritakan kepada kami seorang yang tsiqah”. Ibnu ‘Adiy menjelaskan : “Telah menceritakan kepada kami sorang yang tsiqah, maksudnya adalah Ziyaad bin Bayaan”. Kemudian Ibnu ‘Adiy menyebutkan sanad yang lain yang menjelaskan hal tersebut [Al-Kaamil, 4/144-145 no. 697].

Perkataan salafy ini sangat patut diberikan catatan, entah ia pura-pura tidak tahu atau memang tidak tahu bahwa tautsiq Abul Maliih ini tidaklah tsabit. Ibnu Ady membawakan dengan sanad telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Abdurrahman bin Yazid bin ‘Aqaal Al Harrani yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Ja’far An Nufaili yang berkata telah menceritakan kepada kami Abul Maliih yang berkata telah menceritakan kepada kami seorang yang tsiqah [Al Kamil 3/196. Hadis ini tidak tsabit karena Ahmad bin Abdurrahman Al Harrani adalah seorang yang dhaif. Adz Dzahabi memasukkannya kedalam perawi dhaif seraya mengutip jarh Abu Arubah [Al Mughni 1/46 no 346]. Ibnu Jauzi memasukkannya dalam Adh Dhu’afa [Adh Dhu’afa Ibnu Jauzi no 200]. Al Haitsami berkata “riwayat Thabrani dalam Al Ausath dari syaikh-nya Ahmad bin ‘Abdurrahman bin ‘Aqaal dan dia dhaif” [Majma’ Az Zawaid 5/65 no 8057]. Jadi tautsiq Abul Maliih disini tidaklah benar. Apalagi penetapan kalau orang yang dimaksud Ziyaad bin Bayaan tidak nampak dalam sanad tersebut melainkan dugaan Ibnu Adiy.

Hal yang sama pada Al-‘Uqailiy, dimana ia memasukkan dalam Adl-Dlu’afaa dengan pijakan perkataan Al-Bukhaariy di atas [2/430-431 no. 523]. Adz-Dzahabiy pun demikian, yaitu menyandarkan ketidakshahihan haditsnya pada hadits Al-Mahdiy. Akan tetapi ia memberikan penghukuman akhir terhadap Ziyaad : “Shaduuq” [Al-Kaasyif, 2/408 no. 1671].

Al Uqaili dalam hal ini sepakat dengan Al Bukhari dan disini ia telah menjelaskan kalau hadis Ziyaad bin Bayaan adalah mungkar dan yang benar hadis tersebut adalah perkataan Ibnu Musayyab. Mengenai perkataan Adz Dzahabi walaupun ia menyatakan Ziyaad bin Bayaan shaduq ia sendiri telah menyebutkan dalam Al Mizan dan Al Mughni kalau Ziyaad bin Bayaan tidak shahih hadisnya dan penulisannya dalam dua kitab tersebut menunjukkan kalau Adz Dzahabi lebih cenderung dengan pendapat yang menjarh Ziyaad bin Bayaan.

Oleh karenanya, pentautsiqan An-Nasaa’iy, Ibnu Hibbaan, dan Abul-Maliih lebih kuat dari perkataan yang mendla’ifkannya. Kaidah mengatakan : Ta’diil lebih didahulukan daripada jarh yang mubham.

Pentautsiqan Nasa’i adalah penukilan sedangkan jarh Bukhari terhadap Ziyaad bin Bayaan berasal dari kitab Bukhari sendiri. Pentautsiqan Ibnu Hibban juga bertentangan dimana ia sendiri memasukkan Ziyaad bin Bayaan dalam kitabnya Adh Dhu’afa sedangkan pentautsiqan Abul Maliih tidak tsabit. Tidak benar kalau jarh terhadap Ziyaad dikatakan mubham justru jarh terhadapnya mufassar yaitu dimana ia telah meriwayatkan hadis dengan sanad yang mungkar dan ini telah terbukti dari riwayat-riwayat yang disebutkan oleh para ulama seperti Al Bukhari, Al Uqaili dan Ibnu Jauzi. Mengenai pernyataan Ibnu Hajar dalam At Taqrib kalau Ziyaad bin Bayaan seorang yang shaduq, itu telah dikritik dalam Tahrir Taqrib At Tahdzib bahwa kedudukan sebenarnya Ziyaad bin Bayaan adalah “dhaif ya’tabaru bihi” [Tahrir At Taqrib no 2057].

Kedudukan hadis yang diriwayatkan perawi seperti Ziyaad bin Bayaan jika bertentangan dengan hadis shahih maka hadisnya mesti ditolak. Hadis tanduk setan yang sanadnya shahih adalah hadis dengan lafaz Najd sedangkan hadis dengan lafaz Iraq matannya mungkar. Sebagaimana telah kami tunjukkan bahwa di hadis shahih Najd merupakan tempat timbulnya fitnah.

.

.

.

Hadis ‘Abdullah bin Syawdzab

حدثنا محمد بن عبد العزيز الرملي حدثنا ضمرة بن ربيعة عن ابن شوذب عن توبة العنبري عن سالم عن ابن عمر قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم اللهم بارك لنا في مدينتنا وفي صاعنا، وفي مدِّنا وفي يمننا وفي شامنا. فقال الرجل يا رسول الله وفي عراقنا ؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم بها الزلازل والفتن، ومنها يطلع قرن الشيطان

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdul Aziiz Ar Ramliy yang berkata telah menceritakan kepada kami Dhamrah bin Rabi’ah dari Ibnu Syaudzab dari Taubah Al Anbariy dari Salim dari Ibnu ‘Umar yang berkata Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Ya Allah berikanlah keberkatan kepada kami pada Madinah kami, pada shaa’ kami, pada mudd kami, pada Yaman kami, dan pada Syaam kami”. Seorang laki-laki berkata “Wahai Rasulullah, dan pada ‘Iraaq kami ?”. Beliau menjawab “di sana terdapat kegoncangan dan fitnah dan di sana pula akan muncul tanduk setan” [ Ma’rifah Wal Tarikh Yaqub Al Fasawiy 2/746-747]

Mengenai hadis ini kami katakan Ibnu Syawdzab melakukan tadlis, ia tidak mendengar hadis ini dari Taubah Al ‘Anbari. Terdapat hadis yang menyebutkan kalau ia mendengar hadis tersebut melalui perantara.

حدثنا عبد الله بن العباس بن الوليد بن مزيد البيروتي حدثني أبي أخبرني أبي حدثني عبد الله بن شوذب حدثني عبد الله بن القاسم ومطر الوراق وكثير أبو سهل عن توبة العنبري عن سالم بن عبد الله بن عمر عن أبيه أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال اللهم بارك في مكتنا وبارك لنا في مدينتنا وبارك لنا في شامنا وبارك لنا في يمننا اللهم بارك لنا في صاعنا وبارك لنا في مدنا فقال رجل يا رسول الله وعراقنا فأعرض عنه فرددها ثلاثا وكان ذلك الرجل يقول وعراقنا فيعرض عنه ثم قال بها الزلازل والفتن وفيها يطلع قرن الشيطان

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin ‘Abbas bin Walid bin Mazyad Al Bayruutiy yang berkata telah menceritakan kepadaku ayahku yang berkata telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Syawdzab yang berkata telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Qasim, Mathr Al Waraaq dan Katsir Abu Sahl dari Taubah Al Anbariy dari Salim bin Abdullah bin Umar dari ayahnya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “Ya Allah berikanlah keberkatan kepada Mekkah kami, dan berikanlah keberkatan kepada kami pada Madinah kami, pada shaa’ kami, pada mudd kami, pada Yaman kami, dan pada Syaam kami”. Seorang laki-laki berkata “Wahai Rasulullah, dan pada ‘Iraaq kami ?”. Beliau menjawab “di sana terdapat kegoncangan dan fitnah dan di sana pula akan muncul tanduk setan” [Musnad Asy Syamiyyin Thabrani 2/246 no 1276]

Pada riwayat pertama Ibnu Syawdzab membawakan hadis dengan lafaz ‘an ‘anah dari Taubah Al ‘Anbari kemudian pada riwayat kedua Ibnu Syawdzab membawakan hadis dengan lafaz telah menceritakan padanya Abdullah bin Qasim, Mathr Al Waraaq dan Katsir Abu Sahl dari Taubah. Sanad ini menjadi bukti bahwa pada riwayat pertama Ibnu Syawdzab melakukan tadlis. Riwayat ‘an ‘an ah-nya dari Taubah ia dengar dari para syaikh-nya.

Illat [cacat] riwayat Ibnu Syawdzab disini adalah ia menggabungkan hadis dari ketiga syaikh-nya yaitu Abdullah bin Qasim, Mathr Al Waraaq dan Katsir Abu Sahl dalam satu lafaz matan hadis. Tetapi tidak disebutkan lafaz matan hadis yang ia sebutkan itu adalah milik siapa. Apakah ketiga syaikh-nya menyebutkan dengan matan yang sama yang mengandung lafaz Iraq atau hanya salah satu saja dari syaikh-nya yang menyebutkan lafaz Iraq. Jika kemungkinan yang kedua maka itu berarti Ibnu Syawdzab menggabungkan sanad hadis ketiga syaikh-nya dengan menyebutkan matan yang mengandung lafaz Iraq. Kemungkinan ini cukup beralasan mengingat Ibnu Syawdzab sendiri terbukti melakukan tadlis dari hadis ini. Jika semua syaikh-nya itu tsiqat tsabit maka tidak ada masalah dengan kemungkinan ini tetapi ternyata diantara syaikh-nya terdapat perawi yang banyak melakukan kesalahan dalam hadis yaitu Mathr Al Waraaq jadi terdapat kemungkinan kalau lafaz Iraq itu berasal dari kesalahan Mathr Al Waraaq. Mengapa dikatakan kesalahan karena telah disebutkan di awal pembahasan di atas kalau tempat yang dimaksud adalah Najd bukannya Iraq. Jadi kemungkinan kalau perawi disini melakukan kesalahan dengan menyebutkan lafaz Najd menjadi illat [cacat] hadis tersebut. Salafy itu mengatakan

Pertama, menyandarkan keterputusan Ibnu Syaudzab dengan Taubah hanya karena Ibnu Syaudzab juga meriwayatkan melalui perantaraan ‘Abdullah bin Al-Qaasim, Mathr, dan Katsiir bin Sahl; dari Taubah, bukan sebab yang kuat. Alasannya, telah ma’ruf bahwa salah satu guru/syaikh dari Ibnu Syaudzab adalah Taubah Al-‘Anbariy [lihat : Tahdziibul-Kamaal, 15/94]. Jadi bukan satu hal yang mustahil ia meriwayatkan dari Taubah, dan bersamaan dengan itu ia juga meriwayatkan melalui perantaraan orang lain. Semuanya dihukumi bersambung.

Alasan yang dikemukan salafy kalau Taubah ma’ruf dikenal sebagai syaikh-nya Ibnu Syawdzab patut diberikan catatan. Dalam Tahdzib Al Kamal juga disebutkan kalau salah satu Syaikh Ibnu Syawdzab adalah Hasan Al Bashri [Tahdzib Al Kamal 15/94] dan Abu Hatim mengatakan kalau Ibnu Syawdzab tidak melihat Hasan dan tidak mendengar dari-nya [Al Marasil Ibnu Abi Hatim 1/116 no 94]. Bagaimana mau dikatakan syaikh-nya kalau tidak pernah melihat dan tidak pernah mendengar darinya?. Jadi mengatakan Taubah ma’ruf sebagai syaikh Ibnu Syawdzab berdasarkan penyebutan dalam Tahdzib Al Kamal bukan hujjah yang kuat. Sejauh yang kami tahu, tidak ada hadis Ibnu Syawdzab dari Taubah Al ‘Anbari kecuali dari hadis ini dan di hadis ini ia terbukti melakukan tadlis.

Misalnya, Hafsh bin Ghiyaats meriwayatkan hadits puasa Syawal melalui jalan Sa’d bin Sa’iid bin Qais [Diriwayatkan oleh Ath-Thahawiy dalam Syarh Musykilil-Aatsaar 6/123 no. 2345 dan Ath-Thabaraaniy 4/136 no. 3912]. Namun, di lain kesempatan ia juga meiwayatkan melalui perantaraan Yahyaa bin Sa’iid bin Qais. Keduanya adalah riwayat bersambung. Hafsh bin Ghiyaats sendiri berkata : “Kemudian aku bertemu dengan Sa’d bin Sa’iid, lalu ia menceritakan kepadaku (hadits ini)” [Diriwayatkan oleh Ath-Thabaraaniy 4/136 no. 3912].

Dalam contoh yang disebutkan salafy itu jelas-jelas Hafsh bin Ghiyaats mengatakan “kemudian aku bertemu Sa’d bin Sa’id lalu ia menceritakan kepadaku”. Kalau sudah seperti ini ya mana mungkin mau dikatakan tadlis berbeda dengan contoh yang ia sebutkan tidak ada pengakuan dari Ibnu Syawdzab kalau ia bertemu dengan Taubah atau tidak ada Ibnu Syawdzab menyebutkan dengan lafaz sima’ langsung dari Taubah. Riwayat Ibnu Syawdzab dari Taubah adalah riwayat ‘an anah dan riwayat Ibnu Syawdzab dari ketiga syaikhnya dari Taubah itu dengan lafaz sima’ langsung. Jadi dalam hadis tanduk setan dengan lafaz Iraq, Ibnu Syawdzab terbukti melakukan tadlis. Kasus seperti ini termasuk salah satu cara ulama untuk menetapkan seseorang itu melakukan tadlis atau tidak.

Kedua, taruhlah kita terima bahwa riwayat Al-Fasawiy di atas munqathi’; maka sejak kapan meriwayatkan hadits secara munqathi’ seperti ini langsung di-ta’yin melakukan tadlis ? Jelas beda antara irsal dan tadlis. Pensifatan tadlis itu hanya diterima jika ada perkataan para ulama yang menjelaskan bahwa ia orang yang melakukan tadlis.

Pernyataan salafy ini menunjukkan kalau ia memang susah sekali untuk memahami tulisan orang dengan baik. Sebelumnya kami mengatakan kalau Ibnu Syawdzab tidak mendengar hadis ini dari Taubah. Apa buktinya? Buktinya adalah terdapat riwayat kalau Ibnu Syawdzab mengambil hadis ini dengan perantaraan ketiga syaikh-nya dari Taubah. Kami pribadi tidak pernah memastikan bahwa Ibnu Syawdzab tidak mendengar satupun hadis dari Taubah atau Ibnu Syawdzab tidak pernah bertemu dengan Taubah. Illat [cacat] yang kami sebutkan adalah Ibnu Syawdzab tidak mendengar hadis ini dari Taubah. Bisa saja dikatakan kalau Ibnu Syawdzab pernah bertemu dengan Taubah Al Anbari, tetapi ini adalah kemungkinan yang perlu dibuktikan walaupun kami sendiri tidak menafikan kemungkinan ini. Berbeda halnya dengan salafy yang dengan angkuhnya mengatakan kalau Taubah ma’ruf dikenal sebagai syaikh-nya Ibnu Syawdzab padahal kemungkinan irsal tetap ada. Oleh karena kemungkinan bertemu antara Ibnu Syawdzab dan Taubah itu masih ada maka kami menggunakan kata-kata tadlis bukan irsal. Sangat maklum kalau pengertian tadlis adalah seorang perawi semasa dan pernah bertemu dengan perawi lain tetapi ia meriwayatkan suatu hadis dari perawi lain tersebut [yang sebenarnya ia dengar melalui perantara] tetapi ia mengatakan seolah-olah ia mengambil hadis itu langsung dari perawi lain tersebut.

Yang lebih lucu bin ajaib adalah perkataan salafy kalau pensifatan tadlis hanya diterima jika ada ulama yang menjelaskan bahwa ia melakukan tadlis. Lha memangnya seorang ulama bisa tahu si perawi melakukan tadlis dengan cara apa, wangsit dari langit, asal tebak sesuai selera, atau sok berasa-rasa. Dalam ilmu hadis justru disebutkan kalau salah satu cara ulama mensifatkan tadlis kepada seorang perawi adalah dengan melihat hadis yang ia riwayatkan. Jika terdapat riwayat bahwa ia membawakan suatu hadis dengan ‘an anah dari seorang perawi [semasa dan pernah bertemu] dan disaat lain ia menyebutkan riwayat dengan sima’ langsung melalui perantara dari perawi tersebut maka orang ini dikatakan melakukan tadlis.

Kalau hanya sekedar meriwayatkan secara maushul di satu jalan dan mursal/munqathi’ di jalan yang lain, itu bukan tadlis namanya. Saya pingin tahu rujukannya di kitab ilmu hadits yang menjelaskan kaedah aneh ini. Jika ini diterapkan, maka jumlah perawi mudallis yang ditulis Ibnu Hajar dalam Ath-Thabaqaat akan bertambah tebal dua kali lipat atau lebih.

Lha iya, saya juga pingin tahu rujukan mana yang mengatakan seperti yang salafy katakan itu. Seharusnya salafy itu memahami dulu tulisan orang lain dengan baik baru membantah. Jika kasus seperti Ibnu Syawdzab ini tidak dikatakan tadlis dengan alasan mungkin saja Ibnu Syawdzab juga mendengar hadis ini dari Taubah secara langsung maka kami katakan dengan cara seperti ini mungkin jumlah perawi mudallis yang ditulis Ibnu Hajar dalam Ath Thabaqaat akan berkurang dua kali lipat atau lebih.  Kenapa? karena setiap perawi tidak bisa dituduh melakukan tadlis [kecuali ia sendiri yang mengaku] bisa saja dikatakan mungkin saja ia mendengar secara langsung. Kami perjelas kembali jika ada suatu hadis diriwayatkan oleh seorang perawi [kita sebut A] dengan dua kondisi

  • A meriwayatkan dengan ‘an anah dari B
  • A meriwayatkan dengan sima’ langsung dari C dari B

Maka si A dikatakan melakukan tadlis dalam riwayat ini. Jika mau dikatakan A juga mendengar langsung hadis ini dari si B maka harus dicari riwayat  yang memang menyebutkan riwayat A dari si B dengan lafal sima’ langsung sehingga dari sini baru kita dapat menyebutkan kalau A mengambil hadis ini secara langsung dari B dan C sehingga terangkatlah ia dari tuduhan melakukan tadlis dalam hadis tersebut.

Ketiga, taruhlah kita terima bahwa riwayat Al-Fasaawiy di atas munqathi’, justru riwayat Ibnu Syaudzaab yang secara shaarih berkata : “Telah mengkhabarkan kepada kami ‘Abdullah bin Al-Qaasim, Mathr, dan Katsiir bin Sahl, dari Taubah Al-‘Anbariy” menunjukkan penyambungan riwayat munqathi’ tadi.

Lha iya, justru riwayat inilah yang langsung kita fokuskan untuk dibahas dan dikritik dengan menunjukkan illat [cacat] yang berupa kemungkinan kesalahan perawinya yaitu Mathar Al Warraq. Riwayat Al Fasawy langsung kita palingkan pada riwayat Ibnu Syawdzab dari ketiga syaikh-nya.

Keempat, ‘Abdullah bin Al-Qaasim adalah seorang yang shaduuq. Mathr Al-Warraaq ini adalah shaduuq, namun banyak salahnya. Katsiir (bin Ziyaad) Abu Sahl ini adalah seorang yang tsiqah. Ketiganya meriwayatkan dari Taubah, dari Saalim, dari Ibnu ‘Umar secara marfuu’. Riwayat ketiganya saling menjadi saksi dengan yang lain, sehingga tidak ragu untuk mengatakan bahwa riwayat ini shahih.

Pernyataan ini kembali membuktikan ia tidak memahami atau tidak berniat mau memahami illat [cacat] yang kami sebutkan. Satu hal yang harus kami tekankan kembali disini, Ibnu Syawdzab menggabungkan ketiga sanad dari gurunya itu dalam satu sanad hadis bukannya membawakan sanad beserta matan hadis dari guru-gurunya secara terpisah. Pada pembahasan sebelumnya kami menunjukkan bahwa dalam penggabungan sanad seperti ini terdapat dua kemungkinan

  • Ibnu Syawdzab mendengar langsung dari ketiga Syaikhnya yaitu Abdullah bin Qasim, Mathr dan Katsir Abu Sahl dimana ketiganya memang menyebutkan lafaz “Iraq”.
  • Ibnu Syawdzab mendengar langsung dari ketiga syaikhnya dimana lafaz Iraq tersebut hanya berasal dari salah satu Syaikhnya sehingga disini Ibnu Syawdzab menggabungkan sanad hadis tersebut dan matan hadis yang berlafaz Iraq berasal dari salah satu syaikhnya.

Untuk kemungkinan pertama maka benarlah apa yang dikatakan oleh salafy itu bahwa ketiga syaikh-nya itu saling menjadi saksi dengan yang lain. Tetapi mengenai kemungkinan kedua maka itu tidak bisa, jika lafaz Iraq itu berasal dari Mathar Al Warraq maka sudah jelas dhaif.

Oleh karena itu, perkataan : Illat atau cacat yang ada pada riwayat Ibnu Syawdzab adalah tidak diketahui dari syaikhnya yang mana lafaz Iraq tersebut berasal; tidak perlu dihiraukan.

Silakan saja, sejak kapan salafy itu menghiraukan argumen orang lain. Pada pembahasan sebelumnya kami telah menunjukkan kepada pembaca contoh penggabungan sanad seperti ini, kami tidak keberatan untuk menyebutkannya kembali.

أخبرنا أبو عبد الله الحافظ ثنا أبو علي الحسين بن علي الحافظ أنا أبو يعلى الموصلي ثنا واصل بن عبد الأعلى و عبد الله بن عمر ثنا محمد بن فضيل عن أبيه قال سمعت سالم بن عبد الله بن عمر يقول : يا أهل العراق و ما أسألكم للصغيرة و أركبكم للكبيرة سمعت أبي عبد الله بن عمر يقول : رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول : إن الفتنة تجيء من ها هنا و أومأ بيده نحو المشرق من حيث يطلع قرنا الشيطان و انتم يضرب بعضكم رقاب بعض و إنما قتل موسى الذي قتل من آل فرعون خطا فقال الله عز و جل قتلت نفسا فنجيناك من الغم و فتناك فتونا

Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Abdullah Al Hafizh yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu ‘Ali Husain bin Ali Al Hafizh yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Ya’la Al Maushulli yang berkata telah menceritakan kepada kami Waashil bin ‘Abdul A’laa dan ‘Abdullah bin ‘Umar berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudlail, dari ayahnya yang berkata Aku mendengar Saalim bin ‘Abdillah bin ‘Umar berkata “Wahai penduduk ‘Iraaq, aku tidak bertanya tentang masalah kecil dan aku tidak mendorong kalian untuk masalah besar. Aku pernah mendengar ayahku, Abdullah bin ‘Umar berkata Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa salam bersabda ‘Sesungguhnya fitnah itu datang dari sini ia menunjukkan tangannya ke arah timur dari arah munculya dua tanduk setan’. Kalian saling menebas leher satu sama lain. Musaa hanya membunuh orang yang ia bunuh yang berasal dari keluarga Fir’aun itu karena tidak sengaja. Lalu Allah ‘azza wa jalla berfirman padanya ‘Dan kamu pernah membunuh seorang manusia, lalu kami selamatkan kamu dari kesusahan dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan.” (Thaahaa: 40)”. [Syu’aib Al Iman Baihaqi 4/346 no 5348].

Pada hadis riwayat Baihaqi ini disebutkan bahwa Abu Ya’la menggabungkan sanad kedua syaikh-nya yaitu Abdullah bin Umar bin Aban dan Washil bin ‘Abdul A’la dengan satu matan hadis. Padahal sebenarnya matan hadis Abdullah bin Umar bin Aban berbeda dengan matan hadis Washil bin Abdul A’la. Hadis riwayat Baihaqi di atas yang mengandung lafaz “wahai penduduk irak” adalah matan hadis Abdullah bin Umar bin Aban sedangkan matan hadis Washil bin Abdul A’la tidak ada lafaz “wahai penduduk irak”. Buktinya adalah apa yang tertera dalam Musnad Abu Ya’la

حدثنا واصل بن عبد الأعلى الكوفي حدثنا ابن فصيل عن ابيه عن سالم عن ابن عمر قال سمعت رسول الله  صلى الله عليه و سلم – يقول : إن الفتنة تجيء من ها هنا وأومأ بيده نحو المشرق حيث يطلع قرن الشيطان وأنتم يضرب بعضكم بعض رقاب بعض وإنما قتل موسى الذي قتل من آل فرعون خطأ قال الله له : { وقتلت نفسا فنجيناك من الغم وفتناك فتونا }

Telah menceritakan kepada kami Washil bin Abdul A’la Al Kufiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Fudhail dari ayahnya dari Salim dari Ibnu Umar yang berkata aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “‘Sesungguhnya fitnah itu datang dari sini ia menunjukkan tangannya ke arah timur dari arah munculya dua tanduk setan’. Kalian saling menebas leher satu sama lain. Musaa hanya membunuh orang yang ia bunuh yang berasal dari keluarga Fir’aun itu karena tidak sengaja. Lalu Allah ‘azza wa jalla berfirman padanya ‘Dan kamu pernah membunuh seorang manusia, lalu kami selamatkan kamu dari kesusahan dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan.” [Musnad Abu Ya’la 9/383 no 5511 dishahihkan oleh Husain Salim Asad]

حدثنا عبد الله بن عمر بن أبان حدثنا محمد فضيل عن أبيه قال : سمعت سالم بن عبد الله بن عمر يقول يا أهل العراق ما أسألكم عن الصغير وأترككم للكبير ! ! سمعت أبي عبد الله بن عمر يقول : سمعت رسول الله ـ صلى الله عليه و سلم ـ يقول : الفتنة تجيء من ها هنا ـ وأومأ بيده نحو المشرق ـ وأنتم يضرب بعضكم رقاب بعض وإنما قتل موسى ـ صلى الله عليه و سلم ـ الذي قتل من آل فرعون خطأ قال الله { وقتلت نفسا فنجيناك من الغم وفتناك فتونا }

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Umar bin Aban yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudhail dari ayahnya yang berkata aku mendengar Salim bin Abdullah bin Umar berkata “Wahai penduduk ‘Iraaq, aku tidak bertanya tentang masalah kecil dan aku tidak mendorong kalian untuk masalah besar. Aku pernah mendengar ayahku, Abdullah bin ‘Umar berkata Aku pernah mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa salam bersabda ‘Sesungguhnya fitnah itu datang dari sini ia menunjukkan tangannya ke arah timur dari arah munculya dua tanduk setan’. Kalian saling menebas leher satu sama lain. Musaa hanya membunuh orang yang ia bunuh yang berasal dari keluarga Fir’aun itu karena tidak sengaja. Lalu Allah ‘azza wa jalla berfirman padanya ‘Dan kamu pernah membunuh seorang manusia, lalu kami selamatkan kamu dari kesusahan dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan.” [Musnad Abu Ya’la 9/420 no 5570 dishahihkan oleh Husain Salim Asad]

Perhatikanlah riwayat Baihaqi sebelumnya, Abu Ya’la menggabungkan sanad hadis dimana ia mengambil hadis tersebut dari kedua syaikhnya yaitu Abdullah bin Umar bin Aban dan Washil bin Abdul A’la kemudian meriwayatkan dengan satu matan yang ada lafaz “wahai penduduk Iraq”. Lafaz ini berasal dari Abdullah bin Umar bin Aban sedangkan pada riwayat Washil bin Abdul A’la tidak ada lafaz tersebut. Ini contoh nyata kalau seorang perawi bisa saja menggabungkan sanad para syaikhnya dan membawakan matan salah satu syaikhnya saja. Seandainya ini seandainya lho, Abdullah bin Umar bin Aban ini dhaif maka lafaz tersebut “wahai penduduk Irak…” adalah dhaif. Tidak bisa dikatakan kalau Washil bin ‘Abdul A’la menjadi saksi atas lafaz tersebut karena matan hadis Washil tidak memuat lafaz yang dimaksud.

Kembali ke riwayat Ibnu Syawdzab dari ketiga syaikh-nya maka kami katakan tidak ada penjelasan dari Ibnu Syawdzab kalau lafaz tersebut milik syaikh-nya yang mana. Bisa saja memang dari ketiga syaikh-nya tetapi bisa saja dari salah satu syaikhnya. Poin kami disini kemungkinan dhaif itu ada apalagi Ibnu Syawdzab terbukti melakukan tadlis maka bisa saja disini lafaz matan itu milik Mathar Al Waraaq tetapi Ibnu Syawdzab menggabungkan sanadnya dengan syaikh-nya yang lain.

Anehnya, ada metode pilih-pilih perawi saat orang itu berkata : Terdapat kemungkinan kalau riwayat Ibnu Syawdzab dengan lafaz Iraq ini berasal dari Mathar bin Thahman Al Warraq dan disebutkan Ibnu Hajar kalau ia seorang yang shaduq tetapi banyak melakukan kesalahan [At Taqrib 2/187]. Mengapa harus Mathar bin Thahmaan ? Ya, karena ia adalah perawi yang paling mungkin untuk dijadikan alasan pendla’ifan. Padahal, sanad hadits itu satu, dimana Mathar ini diikuti (punya mutaba’ah) dari ‘Abdullah bin Al-Qaasim dan Katsiir bin Ziyaad Abu Sahl.

Lucu sekali salafy ini, kami telah panjang lebar menjelaskan dan jelas-jelas kami katakan disitu terdapat kemungkinan kalau lafaz tersebut berasal dari Mathar Al Warraq. Kami tidak berani memastikan tetapi kami menunjukkan kemungkinan ini apalagi telah kami kutip perkataan Abu Nu’aim

كذا رواه ضمرة عن ابن شوذب عن توبة  ورواه الوليد بن مزيد عن ابن شوذب عن مطر عن توبة

Begitulah riwayat Dhamrah dari Ibnu Syawdzab dari Taubah dan telah meriwayatkan Walid bin Mazyad dari Ibnu Syawdzab dari Mathar dari Tawbah [Hilyatul Auliya 6/133]

Perhatikan baik-baik disini Abu Nu’aim hanya menyebutkan Mathar padahal setelah itu ia menyebutkan hadis Ibnu Syawdzab dari ketiga syaikh-nya. Mengapa Abu Nu’aim hanya menyebutkan Mathar dalam komentarnya di atas?. Mengapa Abu Nu’aim tidak menyebutkan Abdullah bin Qasim dan Katsir Abu Sahl?. Abu Nu’aim pilih-pilih perawi?. Bagi kami disini terdapat isyarat kalau matan tersebut adalah milik Mathar Al Warraq. Kemungkinan dhaif yang kami paparkan disini menjadi illat [cacat] karena hadis ini bertentangan dengan hadis shahih kalau tempat keluarnya fitnah tersebut adalah Najd. Jadi pada awalnya kami menganggap hadis Iraq matannya mungkar sehingga kemungkinan dhaif atau illat yang seperti itu sudah cukup menjadi alasan kalau hadis tersebut tidak bisa dijadikan hujjah

.

.

.

Hadis Salim bin ‘Abdullah bin Umar

حدثنا عبدالله بن عمر بن أبان وواصل بن عبدالأعلى وأحمد بن عمر الوكيعي ( واللفظ لابن أبان ) قالوا حدثنا ابن فضيل عن أبيه قال سمعت سالم بن عبدالله بن عمر يقول يا أهل العراق ما أسألكم عن الصغيرة وأركبكم للكبيرة سمعت أبي عبدالله بن عمر يقول سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول إن الفتنة تجئ من ههنا وأومأ بيده نحو المشرق من حيث يطلع قرنا الشيطان وأنتم يضرب بعضكم رقاب بعض وإنما قتل موسى الذي قتل من آل فرعون خطأ فقال الله عز و جل له { وقتلت نفسا فنجيناك من الغم وفتناك فتونا } [ 20 / طه / 40 ] قال أحمد بن عمر في روايته عن سالم لم يقل سمعت

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin ‘Umar bin Abaan, Waashil bin ‘Abdul A’laa, dan Ahmad bin ‘Umar Al Wakii’iy [dan lafaznya adalah lafaz Ibnu Abaan] ketiganya berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Fudlail, dari ayahnya yang berkata Aku mendengar Saalim bin ‘Abdillah bin ‘Umar berkata “Wahai penduduk ‘Iraaq, aku tidak bertanya tentang masalah kecil dan aku tidak mendorong kalian untuk masalah besar. Aku pernah mendengar ayahku, Abdullah bin ‘Umar berkata Aku pernah mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa salam bersabda ‘Sesungguhnya fitnah itu datang dari sini ia menunjukkan tangannya ke arah timur dari arah munculya dua tanduk setan’. Kalian saling menebas leher satu sama lain. Musaa hanya membunuh orang yang ia bunuh yang berasal dari keluarga Fir’aun itu karena tidak sengaja. Lalu Allah ‘azza wa jalla berfirman padanya ‘Dan kamu pernah membunuh seorang manusia, lalu kami selamatkan kamu dari kesusahan dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan.” [Thaahaa: 40]”. Berkata Ahmad bin Umar dalam riwayatnya dari Salim tanpa mengatakan “aku mendengar” [Shahih Muslim 4/2228 no 2905].

Hadis ini shahih dan menunjukkan kalau Salim bin ‘Abdullah bin Umar sedang mengingatkan penduduk Iraq atas sikap mereka. Perhatikan baik-baik perkataan Salim terhadap penduduk Iraq hanya berupa kata-kata “Wahai penduduk ‘Iraaq, aku tidak bertanya tentang masalah kecil dan aku tidak mendorong kalian untuk masalah besar” selebihnya ia menyebutkan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang fitnah sampai akhir hadis. Jadi sangat wajar kalau kami katakan Salim sedang mengingatkan atas sikap penduduk Irak karena sikap mereka tersebut dapat menimbulkan fitnah.

Adapun perkataannya bahwa perkataan tabi’in tidak menjadi hujjah, maka ini bukan konteksnya. Konteks yang berlaku di sini adalah perkataan Saalim diterima dalam penafsiran hadits. Asal perkataan perawi terhadap hadits yang dibawakannya lebih didahulukan daripada selainnya. Ini yang ma’ruf.

Silakan saja, sebagai suatu penafsiran maka itu mengandung kemungkinan benar atau salah. Apalagi jika hadis yang dimaksud terkait dengan ramalan maka penafsiran Salim tidak bersifat mutlak. Kaidah perkataan perawi terhadap hadis yang dibawakannya lebih didahulukan jelas tidak relevan disini karena perkara yang ada dalam hadis Salim adalah Nubuwat atau ramalan, bisa jadi si perawi kurang memahami hadis tersebut karena dimasa ia hidup belum nampak nubuwatnya. Diketahui dari hadis shahih yang diriwayatkan oleh Salim sendiri bahwa arah timur yang dimaksud dalam hadis tanduk setan adalah arah matahari terbit sedangkan Irak tidak terletak pada arah matahari terbit dari Madinah. Berdasarkan fakta yang ada sekarang Irak terletak di arah timur laut yang lebih dekat ke utara dari Madinah. Sejak kapan matahari terbit dari arah ini di madinah. Silakan bagi siapa yang berminat untuk pergi ke Madinah dan lihat dimana arah matahari terbit disana, kemudian teruslah berjalan menelusuri arah itu. Apakah akan sampai di Irak? silakan pembaca menjawabnya sendiri.

Lagipula terdapat hadis lain riwayat Nafi dari Ibnu Umar kalau tempat yang dimaksud adalah Najd dan ini sesuai dengan hadis Salim bahwa tempat tersebut terletak pada arah matahari terbit dari Madinah. Jadi bisa saja Salim tidak mengetahui dengan tepat arah yang dimaksud [karena keterbatasan ilmu alam saat itu] dan bisa saja Salim tidak mengetahui hadis Najd yang diriwayatkan oleh Nafi’. Yang ia tahu adalah hadis dengan lafaz timur sehingga ia menafsirkan timur disini bisa termasuk Irak. Oleh karena itu kami katakan perkataan tabiin tidak menjadi hujjah disini karena yang menjadi hujjah adalah hadis shahih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Terakhir ada hadis pamungkas yang dijadikan hujjah oleh salafiyun bahwa timur yang dimaksud Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Iraq.

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا بن نمير ثنا حنظلة عن سالم بن عبد الله بن عمر عن بن عمر قال رأيت رسول الله صلى الله عليه و سلم يشير بيده يؤم العراق ها ان الفتنة ههنا ها ان الفتنة ههنا ثلاث مرات من حيث يطلع قرن الشيطان

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah telah menceritakan kepadaku ayahku [Ahmad bin Hanbal] yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair yang berkata telah menceritakan kepada kami Hanzalah dari Salim bin ‘Abdullah bin Umar dari Ibnu Umar yang berkata “aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengisyaratkan tangannya ke Iraq [dan bersabda] “fitnah datang dari sini, fitnah datang dari sini, tiga kali dari arah munculnya tanduk setan” [Musnad Ahmad 2/143 no 6302]

Hadis ini khata’ [salah] dan kesalahan ini kemungkinan berasal dari Ibnu Numair [atau bisa saja terjadi tashif]. Telah diriwayatkan dari Salim, Nafi dan Abdullah bin Dinar dari Ibnu Umar semuanya dengan lafaz timur dan telah diriwayatkan dari jama’ah tsiqat dari Salim hadis tersebut semuanya dengan lafaz “timur” bukan Iraq bahkan Hanzalah bin Abi Sufyan sendiri juga meriwayatkan dari Salim hadis dengan lafaz timur. Disebutkan dalam Shahih Muslim 4/2228 no 2905 dan Musnad Ahmad 2/40 no 4980 riwayat Ishaq bin Sulaiman dari Hanzalah bin Abi Sufyan dari Salim dari ayahnya secara marfu’ dengan lafaz timur

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا إسحاق بن سليمان سمعت حنظلة سمعت سالما يقول سمعت عبد الله بن عمر يقول رأيت رسول الله صلى الله عليه و سلم يشير إلى المشرق أو قال إن رسول الله صلى الله عليه و سلم يشير إلى المشرق يقول ها إن الفتنة ههنا ها إن الفتنة ههنا ها إن الفتنة ههنا من حيث يطلع الشيطان قرنيه

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Sulaiman yang berkata aku mendengar Hanzalah berkata aku mendengar Salim berkata aku mendengar Abdullah bin Umar berkata “aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengisyaratkan tangannya ke arah timur atau [Ibnu Umar] berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengisyaratkan tangannya ke arah timur dan bersabda “ fitnah datang dari sini, fitnah datang dari sini, fitnah datang dari sini dari arah munculnya tanduk setan” [Musnad Ahmad 2/40 no 4980]

Riwayat Ishaq bin Sulaiman Ar Razi dari Hanzalah ini sesuai dengan riwayat shahih yang lain dimana disebutkan dengan lafaz timur. Ishaq bin Sulaiman adalah seorang yang tsiqat dan memiliki keutamaan [At Taqrib 1/81] sedangkan Abdullah bin Numair adalah seorang yang tsiqat [At Taqrib 1/542]. Jadi riwayat Ishaq bin Sulaiman dari Hanzalah lebih didahulukan daripada riwayat Ibnu Numair.

Selain itu bukti kalau hadis ini khata’ adalah pada hadis Muslim dimana Salim mengingatkan penduduk Iraq, Salim sendiri tidak mengutip hadis ini padahal hadis ini mengandung lafaz Iraq. Salim malah membawakan hadis dengan lafaz timur yang menunjukkan bahwa lafaz timur itulah yang tsabit sedangkan lafaz Iraq adalah kesalahan dari perawinya. Bukankah kalau mau mengingatkan penduduk Irak maka digunakan hadis yang memang menunjukkan kata Irak. Ada baiknya salafy itu melihat hadis berikut

حدثنا موسى بن إسماعيل حدثنا جويرية، عن نافع، عن عبد الله رضي الله عنه قال قام النبي صلى الله عليه وسلم خطيبا، فأشار نحو مسكن عائشة، فقال هنا الفتنة – ثلاثا – من حيث يطلع قرن الشيطان

Telah menceritakan kepada kami Musa bin Ismail yang berkata telah menceritakan kepada kami Juwairiah dari Nafi’ dari ‘Abdullah radiallahu’anhu yang berkata Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri menyampaikan khutbah kemudian Beliau berisyarat menunjuk tempat tinggal Aisyah dan berkata “disini fitnah” tiga kali dari arah munculnya tanduk setan [Shahih Bukhari no 2937]

Hadis dengan lafaz seperti ini anehnya ditolak oleh para salafiyun dengan alasan telah diriwayatkan oleh jama’ah dengan lafaz timur dan itulah yang tsabit. Pada hadis ini dikatakan kalau yang sebenarnya ditunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah arah timur. Kalau tempat tinggal Aisyah yang sangat dekat itu saja bisa terjadi salah persepsi maka apalagi hadis dengan lafaz Iraq. Karena telah ma’ruf bahwa Iraq itu terletak sangat jauh dari Madinah. Jadi jika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengarahkan tangannya ke suatu arah maka yang dipersepsi oleh mereka yang melihat adalah arah seperti arah timur atau barat. Jika memang tempatnya dekat seperti rumah Aisyah ra, rumah Hafsah ra atau rumah salah satu sahabat ra maka mereka yang melihat dapat mengetahui bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memang menunjuk ke tempat tersebut. Tetapi jika tempat yang dimaksud adalah Iraq yang jauh sekali dari Madinah, bagaimana mungkin orang tahu kalau yang ditunjuk oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Iraq padahal dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak ada disebutkan Iraq, disinilah keanehan lafaz tersebut. Sudah jelas bahwa hadis-hadis shahih dari Ibnu Umar [termasuk riwayat Salim] menyebutkan kalau Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengisyaratkan tangannya ke arah timur dan timur yang dimaksud disini adalah arah matahari terbit arah munculnya tanduk setan dan sekali lagi Irak tidak terletak pada arah matahari terbit dari Madinah.

Soal pernyataan salafy bahwa para ulama terdahulu menjelaskan kalau tempat yang dimaksud adalah Irak maka kami katakan terdapat juga ulama yang mengatakan kalau tempat yang ada pada hadis fitnah itu adalah tepat di timur Madinah termasuk Najd. Kami sebelumnya sudah mengutip pernyataan Ibnu Hibban dimana ia setelah mengutip hadis tanduk setan menyebutkan kalau timur yang dimaksud adalah timur madinah yaitu bahrain tempat keluarnya Musailamah yang pertama kali membuat bid’ah di dalam islam dengan mengaku sebagai Nabi [Shahih Ibnu Hibban 15/24 no 6648]

.

.

.

Kesimpulan

Kesimpulannya hadis tanduk setan dengan lafaz Iraq tidaklah shahih baik dari segi matan maupun sanad, sebagiannya dhaif dan sebagian mengandung illat. Seandainya kita menutup mata terhadap illat [cacat] tersebut, itu tetap saja tidak mendukung hujjah salafy. Karena itu berarti ada dua hadis yang menunjukkan tempat munculnya fitnah yaitu Najd dan Irak. Jika kedua hadis tersebut diterima maka ada dua tempat dimana munculnya fitnah yang dimaksud oleh hadis tersebut yaitu Najd dan Irak. Sedangkan logika salafy kalau Najd adalah Irak sudah jelas fallacy. Adakah salafy memahami hal ini? Tidak tidak dan tidak, sejak kapan salafy bisa memahami logika berpikir yang baik. Kebanyakan mereka hanya sibuk membaca kitab dan sibuk membantah disana-sini tapi cara berpikir benar tidak dipelajari dengan baik. Akibatnya sangat susah berdialog dengan mereka yang ngaku-ngaku salafy, sudah ditunjukkan kalau mereka fallacy ya tetap tidak paham dan berulang-ulang mereka membantah kembali hal yang sama. Salam Damai

sumber tulisan ini dari web http://www.secondprince.wordpress.com

Analisis Hadis Tanduk Setan : Najd Bukan Iraq

Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan sebelumnya, yang akan membahas lebih rinci bahwa tempat yang dimaksud dalam hadis tersebut adalah Najd bukan Iraq. Tulisan ini juga akan membahas lebih rinci mengenai hadis Iraq yang sering dijadikan hujjah oleh salafiyun.

وحدثني حرملة بن يحيى أخبرنا ابن وهب أخبرني يونس عن ابن شهاب عن سالم بن عبدالله عن أبيه أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال وهو مستقبل المشرق ها إن الفتنة ههنا ها إن الفتنة ههنا ها إن الفتنة ههنا من حيث يطلع قرن الشيطان

Telah menceritakan kepadaku Harmalah bin Yahya yang berkata telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb yang berkata telah mengabarkan kepadaku Yunus dari Ibnu Syihab dari Salim bin ‘Abdullah dari ayahnya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata dan Beliau menghadap kearah timur “fitnah datang dari sini, fitnah datang dari sini, fitnah datang dari sini, dari arah munculnya tanduk setan” [Shahih Muslim 4/2228 no 2905]

Hadis ini juga diriwayatkan dalam Shahih Bukhari 4/181 no 3511 dan Sunan Tirmidzi 4/530 no 2268 dengan jalan dari Ibnu Syihab Az Zuhri dari Salim dari ayahnya secara marfu’. Az Zuhri memiliki mutaba’ah yaitu Hanzalah bin ‘Abi Sufyan sebagaimana yang disebutkan dalam Shahih Muslim 4/2228 no 2905 dan Musnad Ahmad 2/40 no 2980 dengan jalan dari Ishaq bin Sulaiman dari Hanzalah dari Salim dari ayahnya secara marfu’.

Kemudian Az Zuhri juga memiliki mutaba’ah dari Fudhail bin Ghazwan dari Salim dari ayahnya secara marfu’ sebagaimana yang disebutkan dalam Musnad Abu Ya’la 9/383 no 5511 dengan sanad yang shahih. Dan dari Ikrimah bin ‘Ammar dari Salim dari ayahnya Ibnu Umar secara marfu’ sebagaimana yang disebutkan dalam Shahih Muslim 4/2228 no 2905. Dan dari Umar bin Muhammad bin Zaid Al Madini dari Salim dari ayahnya secara marfu’ sebagaimana yang disebutkan dalam Musnad Abdu bin Humaid 1/241 no 739 dengan sanad yang shahih. Az Zuhri, Ikrimah bin ‘Ammar, Hanzalah, Fudhail dan Umar bin Muhammad semuanya meriwayatkan dari Salim dari Ibnu Umar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan lafaz bahwa fitnah tersebut datang dari Timur.

Salim bin ‘Abdullah bin Umar memiliki mutaba’aah dari Nafi’ dan ‘Abdullah bin Dinar. Diriwayatkan dari Nafi’ dari Ibnu Umar secara marfu’ sebagaimana yang disebutkan dalam Shahih Muslim 4/2228 no 2905, Musnad Ahmad 2/18 no 4679 dan Musnad Ahmad 2/91 no 5659.

حدثنا قتيبة بن سعيد حدثنا ليث ح وحدثني محمد بن رمح أخبرنا الليث عن نافع عن ابن عمر أنه سمع رسول الله صلى الله عليه و سلم وهو مستقبل المشرق يقول ألا إن الفتنة ههنا ألا إن الفتنة ههنا من حيث يطلع قرن الشيطان

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id yang berkata menceritakan kepada kami Laits. Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Rumh yang berkata telah mengabarkan kepada kami Laits dari Nafi’ dari Ibnu Umar yang mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan Beliau menghadap ke Timur seraya bersabda “dari sini fitnah, dari sini fitnah dari arah munculnya tanduk setan” [Shahih Muslim 4/2228 no 2905]

Diriwayatkan dari Malik dari ‘Abdullah bin Dinar dari Ibnu Umar secara marfu’ sebagaimana yang disebutkan dalam Al Muwatta 2/975 no 1757, Musnad Ahmad 2/73 no 5428, Shahih Ibnu Hibban 15/24 no 6648 dan Shahih Bukhari 4/123 no 3279

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ عَنْ مَالِكٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُشِيرُ إِلَى الْمَشْرِقِ فَقَالَ هَا إِنَّ الْفِتْنَةَ هَا هُنَا إِنَّ الْفِتْنَةَ هَا هُنَا مِنْ حَيْثُ يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Maslamah dari Malik dari ‘Abdullah bin Dinar dari ‘Abdullah bin Umar radiallahu ‘anhuma yang berkata aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengisyaratkan tangannya ke timur dan berkata “fitnah akan datang dari sini, fitnah akan datang dari sini dari arah munculnya tanduk setan” [Shahih Bukhari 4/123 no 3279]

Sebagaimana yang terlihat Salim bin ‘Abdullah, Nafi’ dan Abdullah bin Dinar semuanya meriwayatkan dari Ibnu Umar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan lafaz bahwa fitnah tersebut datang dari timur dari arah munculnya tanduk setan. Secara zahir jelas arah yang dimaksud adalah tepat arah timur Madinah yaitu arah matahari terbit karena dari arah itulah munculnya tanduk setan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda

قال صل صلاة الصبح ثم أقصر عن الصلاة حتى تطلع الشمس حتى ترتفع فإنها تطلع حين تطلع بين قرني شيطان

[Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “kerjakanlah shalat shubuh kemudian tahanlah dari mengerjakan shalat hingga matahari terbit sampai tinggi karena matahari terbit diantara dua tanduk setan. [Shahih Muslim 1/569 no 832]

Hal ini juga selaras dengan hadis shahih yang menyebutkan kalau Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menghadap kearah matahari terbit seraya mengucapkan “fitnah datang dari sini”. Hadis tersebut telah diriwayatkan dengan jalan yang shahih dari Uqbah bin Abi Shahba’ dari Salim dari ayahnya secara marfu’ sebagaimana yang disebutkan dalam Musnad Ahmad 2/72 no 5410

حدثنا عبد الله ثنا أبي ثنا أبو سعيد مولى بنى هاشم ثنا عقبة بن أبي الصهباء ثنا سالم عن عبد الله بن عمر قال صلى رسول الله صلى الله عليه و سلم الفجر ثم سلم فاستقبل مطلع الشمس فقال ألا ان الفتنة ههنا ألا ان الفتنة ههنا حيث يطلع قرن الشيطان

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang menceritakan kepada kami ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id mawla bani hasyim yang berkata telah menceritakan kepada kami Uqbah bin Abi Shahba’ yang berkata telah menceritakan kepada kami Salim dari ‘Abdullah bin Umar yang berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengerjakan shalat fajar kemudian mengucapkan salam dan menghadap kearah matahari terbit seraya bersabda “fitnah datang dari sini, fitnah datang dari sini dari arah munculnya tanduk setan” [Musnad Ahmad 2/72 no 5410]

Hadis ini sanadnya shahih. Telah diriwayatkan oleh para perawi yang tsiqat [terpercaya]. Abu Sa’id mawla bani hasyim adalah Abdurrahman bin ‘Abdullah bin Ubaid Al Bashri. Ahmad bin Hanbal, Ibnu Ma’in, Ath Thabrani, Al Baghawi, Daruquthni dan Ibnu Syahin menyatakan tsiqat [At Tahdzib juz 6 no 429]. Adz Dzahabi menyatakan ia seorang yang hafizh dan tsiqat [Al Kasyf no 3238]. Uqbah bin Abi Shahba’ telah dinyatakan Ahmad bin Hanbal sebagai seorang syaikh yang shalih. Ibnu Ma’in menyatakan ia tsiqat dan Abu Hatim berkata “tempat kejujuran” [Al Jarh Wat Ta’dil 6/312 no 1738]. Hadis ini dengan jelas menyebutkan kalau arah yang dimaksud adalah arah timur yaitu arah matahari terbit.

.

.

.

Hadis Dengan Lafaz Najd

Kemudian telah disebutkan dengan sanad yang shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kalau tempat yang dimaksud adalah Najd. Diriwayatkan dari Husain bin Hasan dari Ibnu ‘Aun dari Nafi dari Ibnu Umar secara marfu’ [Shahih Bukhari 2/33 no 1037] dan dari Azhar bin Sa’d dari Ibnu ‘Aun dari Nafi’ dari Ibnu Umar secara marfu’ [Shahih Bukhari 9/54 no 7094]

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى قَالَ حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ الْحَسَنِ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ عَوْنٍ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا وَفِي يَمَنِنَا قَالَ قَالُوا وَفِي نَجْدِنَا قَالَ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا وَفِي يَمَنِنَا قَالَ قَالُوا وَفِي نَجْدِنَا قَالَ قَالَ هُنَاكَ الزَّلَازِلُ وَالْفِتَنُ وَبِهَا يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna yang berkata telah menceritakan kepada kami Husain bin Hasan yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Aun dari Nafi’ dari Ibnu Umar yang berkata [Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “Ya Allah berilah keberkatan kepada kami, pada Syam kami dan pada Yaman kami”. Para sahabat berkata “dan juga Najd kami?”. Beliau bersabda “disana muncul kegoncangan dan fitnah, dan disanalah muncul tanduk setan” [Shahih Bukhari 2/33 no 1037]

Hadis ini menjelaskan kalau tempat munculnya fitnah yang dimaksud adalah Najd dan Najd memang terletak tepat di timur Madinah pada arah matahari terbit dari Madinah. Najd yang dimaksud dalam hadis ini adalah Najd yang memang sudah ada pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Disebutkan dalam salah satu hadis shahih bahwa Yamamah termasuk Najd dan penduduknya dari bani hanifah termasuk penduduk Najd.

أخبرنا قتيبة حدثنا الليث عن سعيد بن أبي سعيد أنه سمع أبا هريرة يقول بعث رسول الله صلى الله عليه وسلم خيلا قبل نجد فجاءت برجل من بني حنيفة يقال له ثمامة بن آثال سيد أهل اليمامة فربط بسارية من سواري المسجد مختصر

Telah mengabarkan kepada kami Qutaibah yang berkata telah menceritakan kepada kami Laits dari Sa’id bin Abi Sa’id yang mendengar Abu Hurairah berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus pasukan berkuda ke Najd kemudian pasukan ini datang dengan membawa seorang laki-laki dari Bani Hanifah yang bernama Tsumamah bin Utsal pemimpin penduduk Yamamah kemudian diikat di salang satu tiang masjid, demikian secara ringkas. [Shahih Sunan Nasa’i Syaikh Al Albani no 712]

Salafy merasa sangat keberatan kalau Najd yang dimaksud dalam hadis tanduk setan tersebut adalah Najd yang terletak tepat di timur Madinah. Salafy melakukan pembelaan dengan mencatut hadis-hadis yang menunjukkan bahwa tempat yang dimaksud adalah Iraq. Secara zahir, Iraq tidak terletak di arah timur Madinah. Iraq tidak terletak di arah matahari terbit dari Madinah. Dari Madinah, Iraq terletak di arah timur laut yang lebih dekat ke utara. Jadi dari segi matan sudah jelas hadis Iraq bermatan mungkar karena bertentangan dengan dalil shahih dan fakta yang ada.

Salafy berapologi kalau Iraq juga termasuk timur Madinah karena pada zaman dulu orang arab tidak mengenal arah timur laut yang ada pada zaman dulu hanya arah timur dan barat. Pernyataan ini jelas tidak bisa dijadikan hujjah karena telah disebutkan dalam dalil yang shahih bahwa arah timur yang dimaksud adalah arah matahari terbit dan telah disebutkan dalam dalil shahih bahwa arah munculnya tanduk setan adalah pada arah matahari terbit. Arah matahari terbit adalah tepat di arah timur dan Iraq tidak terletak di arah ini dari Madinah.

Selain itu tidak jarang salafy mencatut para ulama seperti Al Khattabi, Al Kirmany dan Syaikh Mahmud Syukri Al Alusy. Kami katakan pendapat ulama tidak menjadi hujjah jika bertentangan dengan dalil yang shahih. Ditambah lagi terdapat ulama yang justru menyatakan bahwa arah timur yang dimaksud terletak tepat di timur Madinah, Ibnu Hibban setelah mengutip hadis tanduk setan tersebut menyebutkan kalau timur yang dimaksud adalah timur madinah yaitu bahrain tempat keluarnya Musailamah yang pertama kali membuat bid’ah di dalam islam dengan mengaku sebagai Nabi [Shahih Ibnu Hibban 15/24 no 6648]. Tidak diragukan lagi tempat keluarnya Musailamah ini adalah Najd dan ia sendiri termasuk penduduk Najd.

.

.

.

Hadis Dengan Lafaz Iraq

Selain memiliki matan yang mungkar, hadis-hadis yang dijadikan hujjah oleh salafy tersebut tidaklah shahih dan mengandung illat [cacat] pada sanadnya. Berikut adalah hadis-hadis yang dijadikan hujjah oleh salafy.

حدثنا الحسن بن علي المعمري ثنا إسماعيل بن مسعود ثنا عبيد الله بن عبد الله بن عون عن أبيه عن نافع عن ابن عمر أن النبي صلى الله عليه وسلم قال اللهم بارك لنا في شامنا، اللهم بارك في يمننا، فقالها مراراً، فلما كان في الثالثة أو الرابعة، قالوا يا رسول الله! وفي عراقنا؟ قال إنّ بها الزلازل والفتن، وبها يطلع قرن الشيطان

Telah menceritakan kepada kami Hasan bin Ali Al-Ma’mariy yang berkata telah menceritakan kepada kami Ismaail bin Mas’ud yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidullah bin ‘Abdillah bin ‘Aun dari ayahnya, dari Naafi’ dari Ibnu ‘Umar bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Ya Allah, berikanlah keberkatan kepada kami pada Syaam kami dan pada Yamaan kami”. Beliau [shallallaahu ‘alaihi wa sallam ] mengatakannya beberapa kali. Ketika beliau mengatakan yang ketiga kali atau yang keempat, para shahabat berkata “Wahai Rasulullah, dan juga Iraq kami?”. Beliau bersabda  “Sesungguhnya di sana terdapat kegoncangan dan fitnah, dan disanalah akan muncul tanduk setan” [Mu’jam Al Kabiir Ath Thabrani 12/384 no 13422].

Hadis ini tidak shahih. Hadis ini mengandung illat [cacat] Ubaidillah bin Abdullah bin ‘Aun dalam periwayatan dari Ibnu ‘Aun telah menyelisihi para perawi tsiqat yaitu Husain bin Hasan [At Taqrib 1/214] dan ‘Azhar bin Sa’d [At Taqrib 1/74]. Kedua perawi tsiqat ini menyebutkan lafaz Najd sedangkan Ubaidillah bin Abdullah bin ‘Aun menyebutkan lafaz Iraq. Ubaidillah bukan seorang yang tsiqat, Bukhari berkata “dikenal hadisnya” [Tarikh Al Kabir juz 5 no 1247], Abu Hatim berkata “shalih al hadits” [Al Jarh Wat Ta’dil 5/322 no 1531] dimana perkataan shalih al hadits dari Abu Hatim berarti hadisnya dapat dijadikan i’tibar tetapi tidak bisa dijadikan hujjah. Jika perawi seperti Ubadilillah ini menyelisihi perawi yang tsiqat maka hadisnya tidak dapat dijadikan hujjah dan mesti ditolak.

Pernyataan bahwa hadis Ubadilillah tidak bertentangan melainkan menafsirkan hadis Najd sehingga Najd yang dimaksud adalah Iraq merupakan pernyataan yang bathil. Najd adalah Najd sedangkan Iraq adalah Iraq. Najd yang dimaksud dalam hadis tanduk setan adalah nama suatu negeri yang memang sudah ada di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, oleh karena itu para sahabat menyebutnya “Najd kami”. Lihat saja matan hadisnya yang dengan jelas menyebutkan Negeri Syam dan Yaman kemudian sahabat bertanya bagaimana dengan Najd kami, jadi Najd disini adalah nama suatu negeri. Pada zaman itu tidak ada yang menyebut Iraq sebagai Najd bahkan telah terbukti dengan dalil shahih bahwa Najd dan Iraq adalah dua tempat yang berbeda. Jadi menyatakan Najd adalah Iraq jelas tidak berdasar sama sekali.

حدثنا علي بن سعيد قال نا حماد بن إسماعيل بن علية قال نا ابي قال نا زياد بن بيان قال نا سالم بن عبد الله بن عمر عن ابيه قال صلى النبي صلى الله عليه و سلم صلاة الفجر ثم انفتل فأقبل على  القوم فقال اللهم بارك لنا في مدينتنا وبارك لنا في مدنا وصاعنا اللهم بارك لنا في شامنا ويمننا فقال رجل والعراق يا رسول الله فسكت ثم قال اللهم بارك لنا في مدينتنا وبارك لنا في مدنا وصاعنا اللهم بارك لنا في حرمنا وبارك لنا في شامنا ويمننا فقال رجل والعراق يا رسول الله قال من ثم يطلع قرن الشيطان وتهيج الفتن

Telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin Sa’id yang berkata telah menceritkankepada kami Hammaad bin Ismaa’iil bin ‘Ulayyah yang berkata telah menceritakan kepada kami ayahku yang berkata telah mencertakan kepada kami Ziyaad bin Bayaan yangberkata telah menceritakan kepada kami Saalim bin ‘Abdillah bin ‘Umar dari ayahnya yang berkata Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat shubuh, kemudian berdoa, lalu menghadap kepada orang-orang. Beliau bersabda “Ya Allah berikanlah keberkatan kepada kami pada Madinah kami berikanlah keberkatan kepada kami pada mudd dan shaa’ kami. Ya Allah, berikanlah keberkatan kepada kami pada Syaam kami dan Yaman kami”. Seorang laki-laki berkata “dan ‘Iraq, wahai Rasulullah ?”. Beliau diam, lalu bersabda “Ya Allah berikanlah keberkatan kepada kami pada Madinah kami berikanlah keberkatan kepada kami pada mudd dan shaa’ kami. Ya Allah, berikanlah keberkatan kepada kami pada tanah Haram kami, dan berikanlah keberkatan kepada kami pada Syaam kami dan Yaman kami”. Seorang laki-laki berkata “dan ‘Iraq, wahai Rasulullah ?”. Beliau bersabda “dari sana akan muncul tanduk setan dan bermunculan fitnah” [Mu'jam Al Awsath Ath Thabraani 4/245 no 4098].

Hadis ini tidak shahih. Hadis ini juga mengandung illat [cacat]. Ziyaad bin Bayaan dikatakan oleh Adz Dzahabi “tidak shahih hadisnya”. Bukhari berkata “dalam sanad hadisnya perlu diteliti kembali” [Al Mizan juz 2 no 2927] ia telah dimasukkan Adz Dzahabi dalam kitabnya Mughni Ad Dhu’afa no 2222 Al Uqaili juga memasukkannya ke dalam Adh Dhu’afa Al Kabir 2/75-76 no 522. Perawi dengan kedudukan seperti ini tidak bisa dijadikan hujjah apalagi jika ia meriwayatkan kabar yang menyelisihi kabar shahih kalau daerah yang dimaksud adalah Najd bukan Iraq sebagaimana yang diriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Nafi’.

حدثنا محمد بن عبد العزيز الرملي حدثنا ضمرة بن ربيعة عن ابن شوذب عن توبة العنبري عن سالم عن ابن عمر قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم اللهم بارك لنا في مدينتنا وفي صاعنا، وفي مدِّنا وفي يمننا وفي شامنا. فقال الرجل يا رسول الله وفي عراقنا ؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم بها الزلازل والفتن، ومنها يطلع قرن الشيطان

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdul Aziiz Ar Ramliy yang berkata telah menceritakan kepada kami Dhamrah bin Rabi’ah dari Ibnu Syaudzab dari Taubah Al Anbariy dari Salim dari Ibnu ‘Umar yang berkata Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Ya Allah berikanlah keberkatan kepada kami pada Madinah kami, pada shaa’ kami, pada mudd kami, pada Yaman kami, dan pada Syaam kami”. Seorang laki-laki berkata “Wahai Rasulullah, dan pada ‘Iraaq kami ?”. Beliau menjawab “di sana terdapat kegoncangan dan fitnah dan di sana pula akan muncul tanduk setan” [ Ma’rifah Wal Tarikh Yaqub Al Fasawiy 2/746-747]

Pada tulisan sebelumnya kami menganggap tidak ada masalah pada sanad hadis ini kecuali Taubah Al Anbary yang dikenal tsiqat tetapi dinyatakan mungkar al hadits oleh Al Azdy. Setelah kami teliti kembali ternyata hadis ini juga mengandung illat [cacat] yaitu Ibnu Syaudzab tidak mendengar hadis ini dari Taubah Al Anbary, ia melakukan tadlis yaitu menghilangkan nama gurunya yang meriwayatkan dari Taubah Al Anbary.

Hadis dengan matan seperti di atas diriwayatkan juga dari Walid bin Mazyad Al Udzriy Al Bayruuti dari Abdullah bin Syaudzaab dari Abdullah bin Qasim, Mathr, Katsir Abu Sahl dari Taubah Al Anbary dari Salim dari ayahnya secara marfu’ sebagaimana yang disebutkan oleh Al Fasawi dalam Ma’rifat Wal Tarikh 2/747, Ath Thabrani dalam Musnad Asy Syamiyyin 2/246 no 1276, Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq 1/130-131 dan Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya 6/133.

حدثنا عبد الله بن العباس بن الوليد بن مزيد البيروتي حدثني أبي أخبرني أبي حدثني عبد الله بن شوذب حدثني عبد الله بن القاسم ومطر الوراق وكثير أبو سهل عن توبة العنبري عن سالم بن عبد الله بن عمر عن أبيه أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال اللهم بارك في مكتنا وبارك لنا في مدينتنا وبارك لنا في شامنا وبارك لنا في يمننا اللهم بارك لنا في صاعنا وبارك لنا في مدنا فقال رجل يا رسول الله وعراقنا فأعرض عنه فرددها ثلاثا وكان ذلك الرجل يقول وعراقنا فيعرض عنه ثم قال بها الزلازل والفتن وفيها يطلع قرن الشيطان

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin ‘Abbas bin Walid bin Mazyad Al Bayruutiy yang berkata telah menceritakan kepadaku ayahku yang berkata telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Syawdzab yang berkata telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Qasim, Mathr Al Waraaq dan Katsir Abu Sahl dari Taubah Al Anbariy dari Salim bin Abdullah bin Umar dari ayahnya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “Ya Allah berikanlah keberkatan kepada Mekkah kami, dan berikanlah keberkatan kepada kami pada Madinah kami, pada shaa’ kami, pada mudd kami, pada Yaman kami, dan pada Syaam kami”. Seorang laki-laki berkata “Wahai Rasulullah, dan pada ‘Iraaq kami ?”. Beliau menjawab “di sana terdapat kegoncangan dan fitnah dan di sana pula akan muncul tanduk setan” [Musnad Asy Syamiyyin Thabrani 2/246 no 1276]

Dengan mengumpulkan semua hadis riwayat Ibnu Syaudzab maka diketahui kalau Ibnu Syaudzab terbukti melakukan tadlis. Riwayatnya dari Taubah Al Anbary dengan ‘an ‘anah ternyata ia dengar dari Syaikhnya Abdullah bin Qasim, Mathr dan Katsir Abu Sahl. Ada sedikit perbedaan lafaz antara riwayat Ibnu Syawdzab dari Taubah Al Anbary dan riwayat Ibnu Syawdzab dari ketiga syaikhnya dari Taubah Al Anbary yaitu pada riwayat dimana Ibnu Syawdzab menyebutkan mendengar langsung dari Syaikhnya terdapat lafaz “ya Allah berilah keberkatan pada Mekkah kami” sedangkan pada riwayat an ‘an ah Ibnu Syaudzab dari Taubah Al Anbary tidak terdapat lafaz tersebut.

Illat atau cacat yang ada pada riwayat Ibnu Syawdzab adalah tidak diketahui dari syaikhnya yang mana lafaz Iraq tersebut berasal. Disini terdapat kemungkinan

  • Ibnu Syawdzab mendengar langsung dari ketiga Syaikhnya yaitu Abdullah bin Qasim, Mathr dan Katsir Abu Sahl dimana ketiganya memang menyebutkan lafaz “Iraq”.
  • Ibnu Syawdzab mendengar langsung dari ketiga syaikhnya dimana lafaz Iraq tersebut hanya berasal dari salah satu Syaikhnya sehingga disini Ibnu Syawdzab menggabungkan sanad hadis tersebut dan matan hadis yang berlafaz Iraq berasal dari salah satu syaikhnya.

Terdapat kemungkinan kalau riwayat Ibnu Syawdzab dengan lafaz Iraq ini berasal dari Mathar bin Thahman Al Warraq dan disebutkan Ibnu Hajar kalau ia seorang yang shaduq tetapi banyak melakukan kesalahan [At Taqrib 2/187]. Abu Nu’aim ketika membawakan riwayat Ibnu Syawdzab dari Taubah Al Anbary, ia berkata

كذا رواه ضمرة عن ابن شوذب عن توبة  ورواه الوليد بن مزيد عن ابن شوذب عن مطر عن توبة

Begitulah riwayat Dhamrah dari Ibnu Syawdzab dari Taubah dan telah meriwayatkan Walid bin Mazyad dari Ibnu Syawdzab dari Mathr dari Tawbah [Hilyatul Auliya 6/133]

Setelah itu Abu Nu’aim mengutip riwayat Ibnu Syawdzab dari ketiga syaikhnya di atas. Jadi kemungkinan besar lafaz Iraq pada hadis ini berasal dari Mathr bin Thahman. Dan telah ditunjukkan bahwa riwayat yang tsabit sanadnya adalah riwayat shahih dari Nafi’ dengan lafaz Najd. Oleh karena itu matan hadis ini mungkar lafaz yang benar hadis ini adalah Najd dan lafaz Iraq kemungkinan berasal dari kesalahan perawinya yaitu Mathr bin Thahman syaikhnya Ibnu Syawdzab.

.

.

.

Peringatan Salim Terhadap Penduduk Iraq

Ada hadis lain yang dijadikan hujjah salafy untuk menyatakan kalau tempat tanduk setan yang dimaksud adalah Iraq yaitu hadis Salim bin Abdullah bin Umar berikut

حدثنا عبدالله بن عمر بن أبان وواصل بن عبدالأعلى وأحمد بن عمر الوكيعي ( واللفظ لابن أبان ) قالوا حدثنا ابن فضيل عن أبيه قال سمعت سالم بن عبدالله بن عمر يقول يا أهل العراق ما أسألكم عن الصغيرة وأركبكم للكبيرة سمعت أبي عبدالله بن عمر يقول سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول إن الفتنة تجئ من ههنا وأومأ بيده نحو المشرق من حيث يطلع قرنا الشيطان وأنتم يضرب بعضكم رقاب بعض وإنما قتل موسى الذي قتل من آل فرعون خطأ فقال الله عز و جل له { وقتلت نفسا فنجيناك من الغم وفتناك فتونا } [ 20 / طه / 40 ] قال أحمد بن عمر في روايته عن سالم لم يقل سمعت

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin ‘Umar bin Abaan, Waashil bin ‘Abdul A’laa, dan Ahmad bin ‘Umar Al Wakii’iy [dan lafaznya adalah lafaz Ibnu Abaan] ketiganya berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Fudlail, dari ayahnya yang berkata Aku mendengar Saalim bin ‘Abdillah bin ‘Umar berkata “Wahai penduduk ‘Iraaq, aku tidak bertanya tentang masalah kecil dan aku tidak mendorong kalian untuk masalah besar. Aku pernah mendengar ayahku, Abdullah bin ‘Umar berkata Aku pernah mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa salam bersabda ‘Sesungguhnya fitnah itu datang dari sini ia menunjukkan tangannya ke arah timur dari arah munculya dua tanduk setan’. Kalian saling menebas leher satu sama lain. Musaa hanya membunuh orang yang ia bunuh yang berasal dari keluarga Fir’aun itu karena tidak sengaja. Lalu Allah ‘azza wa jalla berfirman padanya ‘Dan kamu pernah membunuh seorang manusia, lalu kami selamatkan kamu dari kesusahan dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan.” [Thaahaa: 40]”. Berkata Ahmad bin Umar dalam riwayatnya dari Salim tanpa mengatakan “aku mendengar”[Shahih Muslim 4/2228 no 2905].

Jika dilihat baik-baik tidak ada penunjukkan bahwa timur yang dimaksud oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Iraq. Disini Salim bin Abdullah bin Umar mengingatkan penduduk Iraq bahwa terdapat hadis Nabi akan ada fitnah yang datang dari arah timur.  Oleh karena itu Salim memberi peringatan kepada penduduk Iraq agar mereka tidak menjadi fitnah yang dimaksud dalam hadis tersebut. Telah lazim kalau mengingatkan seseorang bukan berarti menuduh orang tersebut. Lagipula perkataan seorang tabiin tidaklah menjadi hujjah jika telah jelas dalil shahih dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Bisa jadi Salim tidak mengetahui hadis shahih dari Ibnu Umar kalau tempat yang dimaksud adalah Najd sebagaimana yang telah diriwayatkan dari Nafi’.

Hadis ini juga menjadi bukti kelemahan hadis Ibnu Syawdzab dari Taubah Al Anbary. Perhatikanlah hadis riwayat Muslim tersebut ia menggabungkan sanad hadis dimana ia mengambil hadis tersebut dari ketiga syaikhnya yaitu Abdullah bin Umar bin Aban, Washil bin Abdul A’la dan Ahmad bin Umar. kemudian meriwayatkan dengan satu matan yang ada lafaz “wahai penduduk Iraq”.Lafaz ini berasal dari Abdullah bin Umar bin Aban sedangkan pada riwayat Washil bin Abdul A’la tidak ada lafaz tersebut.

حدثنا واصل بن عبد الأعلى الكوفي حدثنا ابن فصيل عن ابيه عن سالم عن ابن عمر قال سمعت رسول الله  صلى الله عليه و سلم – يقول : إن الفتنة تجيء من ها هنا وأومأ بيده نحو المشرق حيث يطلع قرن الشيطان وأنتم يضرب بعضكم بعض رقاب بعض وإنما قتل موسى الذي قتل من آل فرعون خطأ قال الله له : { وقتلت نفسا فنجيناك من الغم وفتناك فتونا }

Telah menceritakan kepada kami Washil bin Abdul A’la Al Kufiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Fudhail dari ayahnya dari Salim dari Ibnu Umar yang berkata aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “‘Sesungguhnya fitnah itu datang dari sini ia menunjukkan tangannya ke arah timur dari arah munculya dua tanduk setan’. Kalian saling menebas leher satu sama lain. Musaa hanya membunuh orang yang ia bunuh yang berasal dari keluarga Fir’aun itu karena tidak sengaja. Lalu Allah ‘azza wa jalla berfirman padanya ‘Dan kamu pernah membunuh seorang manusia, lalu kami selamatkan kamu dari kesusahan dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan.” [Musnad Abu Ya’la 9/383 no 5511 dishahihkan oleh Husain Salim Asad]

Jadi perkara perawi menggabungkan sanad para syaikh-nya dengan mengambil satu matan saja dari salah satu syaikh-nya adalah perkara yang ma’ruf dalam ilmu hadis. Jika semua syaikh-nya itu perawi yang tsiqat tsabit maka tidak ada masalah tetapi jika salah satu syaikh-nya dhaif atau banyak melakukan kesalahan maka lafaz matan tersebut mengandung kemungkinan dhaif. Inilah illat [cacat] yang ada pada riwayat Ibnu Syawdzab.

Selain itu bukti kalau hadis dengan lafaz Iraq [riwayat Ibnu Syawdzab] tidak tsabit sampai ke Salim bin ‘Abdullah dapat dilihat dalam hadis Muslim di atas dimana ketika Salim mengingatkan penduduk Iraq, ia malah membawakan hadis tanduk setan dengan lafaz timur. Kalau memang terdapat hadis tanduk setan dengan lafaz Iraq maka mengapa pada saat itu Salim bin Abdullah bin Umar tidak menyebutkan hadis itu, ia malah menyebutkan hadis tanduk setan dengan lafaz timur. Bukankah sangat cocok kalau mau mengingatkan penduduk Iraq dengan hadis yang memang mengandung lafaz Iraq?. Jadi Salim sendiri tidak mengetahui adanya hadis tanduk setan dengan lafaz Iraq sehingga ketika ia mengingatkan penduduk Iraq, ia malah mengutip hadis tanduk setan dengan lafaz timur.

.

.

.

Kesimpulan

Berdasarkan penjelasan di atas maka tempat yang dimaksud oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai tempat munculnya atau datangnya fitnah adalah Najd di sebelah timur Madinah. Hadis Najd telah diriwayatkan dengan sanad yang shahih lagi tsabit sedangkan hadis Iraq diriwayatkan dengan sanad yang tidak shahih dan mengandung illat [cacat]. Dengan menerapkan metode tarjih maka Hadis Najd lebih layak dijadikan pegangan sedangkan hadis Iraq tertolak dan matannya dinilai mungkar. Salam Damai

sumber tulisan ini dari web http://www.secondprince.wordpress.com

Hadis Tanduk Setan : Kontroversi Najd dan Iraq?

Hadis tanduk setan menjadi polemik yang berkepanjangan diantara pengikut salafy dengan orang-orang yang kontrasalafy. Hadis ini seringkali dijadikan dasar bahwa salah satu yang dimaksud fitnah Najd adalah dakwah wahabi yang ngaku-ngaku salafy.  Kami sendiri tidak berminat untuk membahas apakah benar wahabi adalah fitnah Najd yang dimaksud atau bukan?, bagi kami pembahasan seperti itu hanya spekulasi belaka, mungkin benar mungkin juga tidak. Fokus pembahasan kami disini adalah cara pembelaan salafy yang absurd. Pengikut salafy yang merasa tersinggung alias tidak terima menyatakan pembelaan bahwa Najd yang dimaksud bukan Najd tempat lahirnya wahabi melainkan Iraq. Betapa anehnya sejak kapan Najd menjadi Iraq? Sejak munculnya orang-orang yang mengaku salafy. Berikut pembahasan yang menunjukkan kekeliruan salafy.

عن عبيدالله بن عمر حدثني نافع عن ابن عمرأن رسول الله صلى الله عليه و سلم قام عند باب حفصة فقال بيده نحو المشرق الفتنة ههنا من حيث يطلع قرن الشيطان قالها مرتين أو ثلاثا

Dari Ubaidillah bin Umar yang berkata telah menceritakan kepadaku Nafi’ dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri di pintu rumah Hafshah dan berkata dengan mengisyaratkan tangannya kearah timur “fitnah akan datang dari sini dari arah munculnya tanduk setan” beliau mengatakannya dua atau tiga kali. [Shahih Muslim 4/2228 no 2905]

Nafi’ memiliki mutaba’ah yaitu dari Salim bin ‘Abdullah bin Umar sebagaimana yang disebutkan dalam Shahih Muslim melalui periwayatan Az Zuhri, Ikrimah bin Ammar dan Hanzalah dengan lafaz “timur”. Arah timur yang dimaksud adalah Najd sebagaimana yang disebutkan dalam hadis shahih.

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى قَالَ حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ الْحَسَنِ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ عَوْنٍ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا وَفِي يَمَنِنَا قَالَ قَالُوا وَفِي نَجْدِنَا قَالَ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا وَفِي يَمَنِنَا قَالَ قَالُوا وَفِي نَجْدِنَا قَالَ قَالَ هُنَاكَ الزَّلَازِلُ وَالْفِتَنُ وَبِهَا يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna yang berkata telah menceritakan kepada kami Husain bin Hasan yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Aun dari Nafi’ dari Ibnu Umar yang berkata [Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “Ya Allah berilah keberkatan kepada kami, pada Syam kami dan pada Yaman kami”. Para sahabat berkata “dan juga Najd kami?”. Beliau bersabda “disana muncul kegoncangan dan fitnah, dan disanalah akan muncul tanduk setan” [Shahih Bukhari 2/33 no 1037]

Husain bin Hasan memiliki mutaba’ah yaitu Azhar bin Sa’d yang meriwayatkan dari Ibnu ‘Aun dari Nafi dari Ibnu Umar secara marfu’ juga dengan lafaz Najd [Shahih Bukhari 9/54 no 7094].

حدثنا الحسن بن علي المعمري ثنا إسماعيل بن مسعود ثنا عبيد الله بن عبد الله بن عون عن أبيه عن نافع عن ابن عمر أن النبي صلى الله عليه وسلم قال اللهم بارك لنا في شامنا، اللهم بارك في يمننا، فقالها مراراً، فلما كان في الثالثة أو الرابعة، قالوا يا رسول الله! وفي عراقنا؟ قال إنّ بها الزلازل والفتن، وبها يطلع قرن الشيطان

Telah menceritakan kepada kami Hasan bin Ali Al-Ma’mariy yang berkata telah menceritakan kepada kami Ismaail bin Mas’ud yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidullah bin ‘Abdillah bin ‘Aun dari ayahnya, dari Naafi’ dari Ibnu ‘Umar bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Ya Allah, berikanlah keberkatan kepada kami pada Syaam kami dan pada Yamaan kami”. Beliau [shallallaahu ‘alaihi wa sallam ] mengatakannya beberapa kali. Ketika beliau mengatakan yang ketiga kali atau yang keempat, para shahabat berkata “Wahai Rasulullah, dan juga Iraq kami?”. Beliau bersabda  “Sesungguhnya di sana terdapat kegoncangan dan fitnah, dan disanalah akan muncul tanduk setan” [Mu’jam Al Kabiir Ath Thabrani 12/384 no 13422].

Hadis ini mengandung illat [cacat] Ubaidillah bin Abdullah bin ‘Aun dalam periwayatan dari Ibnu ‘Aun telah menyelisihi para perawi tsiqat yaitu Husain bin Hasan [At Taqrib 1/214] dan ‘Azhar bin Sa’d [At Taqrib 1/74]. Kedua perawi tsiqat ini menyebutkan lafaz Najd sedangkan Ubaidillah bin Abdullah bin ‘Aun menyebutkan lafaz Iraq. Ubaidillah bukan seorang yang tsiqat, Bukhari berkata “dikenal hadisnya” [Tarikh Al Kabir juz 5 no 1247], Abu Hatim berkata “shalih al hadits” [Al Jarh Wat Ta’dil 5/322 no 1531] dimana perkataan shalih al hadits dari Abu Hatim berarti hadisnya dapat dijadikan i’tibar tetapi tidak bisa dijadikan hujjah.  Terdapat hadis lain yang dijadikan hujjah salafy untuk menetapkan bahwa yang dimaksud sebenarnya adalah Iraq

حدثنا علي بن سعيد قال نا حماد بن إسماعيل بن علية قال نا ابي قال نا زياد بن بيان قال نا سالم بن عبد الله بن عمر عن ابيه قال صلى النبي صلى الله عليه و سلم صلاة الفجر ثم انفتل فأقبل على  القوم فقال اللهم بارك لنا في مدينتنا وبارك لنا في مدنا وصاعنا اللهم بارك لنا في شامنا ويمننا فقال رجل والعراق يا رسول الله فسكت ثم قال اللهم بارك لنا في مدينتنا وبارك لنا في مدنا وصاعنا اللهم بارك لنا في حرمنا وبارك لنا في شامنا ويمننا فقال رجل والعراق يا رسول الله قال من ثم يطلع قرن الشيطان وتهيج الفتن

Telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin Sa’id yang berkata telah menceritkankepada kami Hammaad bin Ismaa’iil bin ‘Ulayyah yang berkata telah menceritakan kepada kami ayahku yang berkata telah mencertakan kepada kami Ziyaad bin Bayaan yangberkata telah menceritakan kepada kami Saalim bin ‘Abdillah bin ‘Umar dari ayahnya yang berkata Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat shubuh, kemudian berdoa, lalu menghadap kepada orang-orang. Beliau bersabda “Ya Allah berikanlah keberkatan kepada kami pada Madinah kami berikanlah keberkatan kepada kami pada mudd dan shaa’ kami. Ya Allah, berikanlah keberkatan kepada kami pada Syaam kami dan Yaman kami”. Seorang laki-laki berkata “dan ‘Iraq, wahai Rasulullah ?”. Beliau diam, lalu bersabda “Ya Allah berikanlah keberkatan kepada kami pada Madinah kami berikanlah keberkatan kepada kami pada mudd dan shaa’ kami. Ya Allah, berikanlah keberkatan kepada kami pada tanah Haram kami, dan berikanlah keberkatan kepada kami pada Syaam kami dan Yaman kami”. Seorang laki-laki berkata “dan ‘Iraq, wahai Rasulullah ?”. Beliau bersabda “dari sana akan muncul tanduk setan dan bermunculan fitnah” [Mu'jam Al Awsath Ath Thabraani 4/245 no 4098].

Hadis ini juga mengandung illat [cacat]. Ziyaad bin Bayaan dikatakan oleh Adz Dzahabi “tidak shahih hadisnya”. Bukhari berkata “dalam sanad hadisnya perlu diteliti kembali” [Al Mizan juz 2 no 2927] ia telah dimasukkan Adz Dzahabi dalam kitabnya Mughni Ad Dhu’afa no 2222 Al Uqaili juga memasukkannya ke dalam Adh Dhu’afa Al Kabir 2/75-76 no 522. Ziyad bin Bayaan Ar Raqiy memiliki mutaba’ah yaitu dari Taubah ‘Al Anbari dari Salim dari Ibnu Umar secara marfu’.

حدثنا محمد بن عبد العزيز الرملي حدثنا ضمرة بن ربيعة عن ابن شوذب عن توبة العنبري عن سالم عن ابن عمر قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم اللهم بارك لنا في مدينتنا وفي صاعنا، وفي مدِّنا وفي يمننا وفي شامنا. فقال الرجل يا رسول الله وفي عراقنا ؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم بها الزلازل والفتن، ومنها يطلع قرن الشيطان

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdul Aziiz Ar Ramliy yang berkata telah menceritakan kepada kami Dhamrah bin Rabi’ah dari Ibnu Syaudzab dari Taubah Al Anbariy dari Salim dari Ibnu ‘Umar yang berkata Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Ya Allah berikanlah keberkatan kepada kami pada Madinah kami, pada shaa’ kami, pada mudd kami, pada Yaman kami, dan pada Syaam kami”. Seorang laki-laki berkata “Wahai Rasulullah, dan pada ‘Iraaq kami ?”. Beliau menjawab “di sana terdapat kegoncangan dan fitnah dan di sana pula akan muncul tanduk setan” [ Ma’rifah Wal Tarikh Yaqub Al Fasawiy 2/746-747]

Secara zahir tidak ada masalah pada sanad ini hanya saja Taubah Al Anbary walaupun seorang perawi yang tsiqat, ia dikatakan oleh Al Azdi sebagai munkar al hadits [At Tahdzib juz 1 no 960]. Kesalahan besar salafy adalah menyatakan berdasarkan hadis ini bahwa Najd adalah Iraq. Telah disebutkan dari jama’ah tsiqat dari Salim dari Ibnu Umar secara marfu’ dengan lafaz timur dan telah diriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Nafi’ bahwa yang dimaksud adalah Najd. Tentu saja jika dilihat dari fakta geografis Najd memang terletak sebelah timur dari Madinah sedangkan Irak terletak lebih ke utara. Jadi jika menerapkan metode tarjih maka sangat jelas hadis Najd merupakan penjelasan bagi arah Timur yang dimaksud apalagi hadis Najd memiliki sanad yang lebih kuat daripada hadis Iraq. Tidak ada alasan bagi salafy untuk menetapkan Najd adalah Iraq, gak ada logikanya sama sekali. Bagaimana mungkin Najd sebagai tempat yang berbeda dengan Iraq mau dikatakan sebagai Iraq.

حدثنا محمد بن عبد الله بن عمار الموصلي قال حدثنا أبو هاشم محمد بن علي عن المعافى عن أفلح بن حميد عن القاسم عن عائشة قالت وقَّت رسول الله صلى الله عليه وسلم لأهل المدينة ذا الحُليفة ولأهل الشام ومصر الجحفة ولأهل العراق ذات عرق ولأهل نجد قرناً ولأهل اليمن يلملم

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Ammar Al Maushulli yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Haasyim Muhammad bin ‘Ali dari Al Mu’afiy dari Aflah bin Humaid dari Qasim dari Aisyah yang berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menetapkan miqat bagi penduduk Madinah di Dzul Hulaifah, bagi penduduk Syam dan Mesir di Juhfah, bagi penduduk Iraq di Dzatu ‘Irq, bagi penduduk Najd di Qarn dan bagi penduduk Yaman di Yalamlam [Shahih Sunan Nasa’i no 2656]

Hadis ini sanadnya shahih telah diriwayatkan oleh para perawi terpercaya dan menjadi bukti atau hujjah bahwa Najd dan Iraq di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah dua tempat yang berbeda. Berikut keterangan mengenai para perawinya

  • Muhammad bin ‘Abdullah bin Ammar Al Maushulli seorang hafizh yang tsiqat. Ahmad, Yaqub bin Sufyan, Shalih bin Muhammad, Nasa’i, Daruquthni, Ibnu Hibban, Masalamah bin Qasim menyatakan tsiqat. Abu Hatim berkata “tidak ada masalah padanya” [At Tahdzib juz 9 no 444]. Ibnu Hajar menyatakan “tsiqat hafizh” [At Taqrib 2/98]
  • Muhammad bin ‘Ali Al Asdy adalah perawi Nasa’i dan Ibnu Majah yang tsiqat. Al Ijli menyatakan tsiqat. Abu Zakaria menyatakan ia seorang yang shalih dan memiliki keutamaan [At Tahdzib juz 9 no 592]. Ibnu Hajar menyatakan ia seorang ahli ibadah yang tsiqat [At Taqrib 2/116]. Adz Dzahabi menyatakan ia shaduq [Al Kasyf no 5067]
  • Al Mu’afy bin Imran adalah perawi Bukhari yang dikenal tsiqat. Abu Bakar bin Abi Khaitsamah berkata “ia orang yang jujur perkataannya”. Ibnu Ma’in, Al Ijli, Abu Hatim, Ibnu Khirasy dan Waki’ menyatakan tsiqat. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. [At Tahdzib juz 10 no 374]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat ahli ibadah seorang yang fakih [At Taqrib 2/194]
  • Aflah bin Humaid adalah perawi Bukhari dan Muslim yang tsiqat. Ahmad berkata “shalih”. Ibnu Ma’in berkata “tsiqat”. Abu Hatim berkata “tsiqat tidak ada masalah padanya”. Nasa’i berkata “tidak ada masalah padanya”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Ibnu Sa’ad berkata “tsiqat banyak meriwayatkan hadis” [At Tahdzib juz 1 no 669]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat [At Taqrib 1/108]
  • Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar adalah seorang tabiin yang dikenal tsiqat, ia adalah salah seorang dari fuqaha Madinah sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Hajar [At Taqrib 2/23]

Hadis Aisyah RA di atas juga dikuatkan oleh hadis Jabir yang membedakan miqat bagi penduduk Najd dan miqat bagi penduduk Iraq.

أبو الزبير أنه سمع جابر بن عبدالله رضي الله عنهما يسأل عن المهل ؟ فقال سمعت ( أحسبه رفع إلى النبي صلى الله عليه و سلم ) فقال مهل أهل المدينة من ذي الحليفة والطريق الآخر الجحفة ومهل أهل العراق من ذات عرق ومهل أهل نجد من قرن ومهل أهل اليمن من يلملم

Abu Zubair mendengar dari Jabir bin ‘Abdullah radiallahu ‘anhum ketika ditanya tentang tempat mulai ihram. Jabir berkata ‘aku mendengar [menurutku ia memarfu’kannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “tempat mulai ihram bagi penduduk Madinah dari Dzul Hulaifah dan bagi penduduk yang melewati jalan yang satunya di Juhfah, dan tempat mulai ihram bagi penduduk Iraq dari Dzatul ‘Irq dan tempat mulai ihram penduduk Najd dari Qarn dan tempat mulai ihram penduduk Yaman dari Yalamlam [Shahih Muslim 2/840 no 1183]

Walaupun para ulama berselisih apakah perkataan Jabir RA ini marfu’ atau tidak kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam [pendapat yang rajih adalah marfu’] tetap saja membuktikan kalau Najd dan Iraq adalah dua tempat yang berbeda sehingga para sahabat seperti Jabir RA membedakan antara penduduk Najd dan penduduk Iraq. Para ulama juga telah membedakan antara Najd dan Iraq, An Nasa’i ketika membahas hadis tentang miqat ia memberi judul Miqat Ahlul Najd kemudian di bawahnya ada judul Miqat Ahlul Iraq. Bagaimana mungkin Najd dikatakan Iraq?.

Fakta lain yang tidak terpikirkan oleh salafy adalah orang-orang yang berada di Riyadh [Najd] jika melaksanakan ibadah haji miqatnya adalah di Qarn Manazil dan orang-orang Iraq jika beribadah haji miqatnya di Dzatul ‘Irq. Kenapa? Karena para ulama termasuk ulama salafy sendiri berdalil dengan hadis shahih di atas kalau miqat bagi penduduk Najd adalah Qarn Manazil dan bagi penduduk Iraq adalah Dzatul ‘Irq. Kalau memang Najd adalah Iraq ngapain orang-orang di Riyadh miqat di Qarn Manazil lha itu seharusnya jadi miqat bagi orang Iraq. Fakta kalau orang-orang di Riyadh miqat di Qarn Manazil itu menjadi bukti nyata kalau Najd itu ya tepat di sebelah timur Madinah yaitu Riyadh dan sekitarnya. Nah penduduk Riyadh sendiri merasa kalau yang dimaksud Najd yang dikatakan Nabi adalah tempat mereka tinggal bukannya Iraq.

Jadi jika telah terbukti dari dalil shahih bahwa Najd dan Iraq adalah nama dua tempat yang berbeda maka logika salafy yang mengatakan Najd adalah Iraq jelas salah besar. Walaupun kita menerima hadis Iraq maka itu tidak menafikan keshahihan hadis Najd. Dengan kata lain jika kita mau menerapkan metode jama’ maka ada dua tempat yang dikatakan sebagai tempat munculnya fitnah yaitu Najd dan Iraq [dan kami lebih cenderung pada pendapat ini]. Kalau salafy masih tidak mengerti maka kita beri contoh yang mudah. Misalnya ada orang berkata “di Jawa ada gempa bumi” kemudian di saat lain ia berkata “di Jakarta ada gempa bumi”, terus di saat yang lain orang itu berkata “di Surabaya ada gempa bumi”. Orang yang ngakunya salafy mikir begini nah itu berarti Jakarta adalah Surabaya. Bagaimana? Bahkan anak SD pun tahu kalau kesimpulan seperti ini tidak ada logikanya sama sekali. Justru cara berpikir yang benar [dengan dasar kesaksian orang tersebut benar] adalah di Jakarta dan Surabaya terjadi gempa bumi dan ini tidak bertentangan dengan perkataan di Jawa terjadi gempa bumi, toh kedua kota itu memang terletak di Jawa.

Lucunya para pengikut salafy menganggap dalil salafy terang benderang seterang matahari padahal jelas-jelas fallacy [kapan salafy mau belajar tentang fallacy]. Justru dalil Najd jauh lebih terang benderang karena memang sebelah timur dari Madinah itu ya Najd sedangkan Iraq lebih kearah utara [timur laut]. Pengikut salafy mengatakan kalau Iraq juga adalah timur madinah karena pada zaman orang arab dahulu tidak ada istilah utara selatan, timur laut dan sebagainya yang ada hanya timur dan barat atau kanan kiri. Pernyataan salafy ini bisa saja benar tetapi logikanya terbalik, zaman dahulu orang menentukan timur dan barat tergantung dengan arah matahari terbit atau terbenam. Jadi jika seseorang mau menunjuk kearah timur ia tahu dengan jelas kearah mana ia akan menunjuk apalagi jika orang tersebut adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang jelas adalah utusan Allah SWT yang dijaga dan diberi petunjuk langsung oleh Allah SWT.

Apakah jika ada orang arab disuruh menunjuk kearah timur, mereka akan menunjuk ke berbagai macam arah termasuk miring ke ke utara atau miring ke selatan?. Apakah ketika mereka menunjuk ke arah timur mereka mengarahkan tangannya ke utara yang miring 10 derajat ke arah timur ?. kayaknya tidak, mereka akan sama-sama menunjuk tepat kearah matahari terbit yaitu arah timur. Jadi Hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang menunjuk ke arah timur harus dipahami secara zahir tepat timur Madinah dan ini sesuai dengan hadis Najd karena Najd memang terletak tepat di timur madinah. Para sahabat bisa langsung mempersepsi arah timur karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan tepat menunjuk kearah timur atau arah matahari terbit [alias gak pakai miring ke utara atau selatan]. Salam Damai

sumber tulisan ini dari web http://www.secondprince.wordpress.com

Hadis Khawarij Kaitannya Dengan Najd Dan Arah Timur

Sebagian dari pengikut salafy menjadikan hadis khawarij sebagai hujjah untuk menetapkan kalau hadis fitnah tanduk setan merujuk ke Irak bukan ke Najd. Mereka menunjukkan kalau khawarij itu muncul di Irak dan terdapat hadis yang mengkaitkannya dengan arah timur. Sayang sekali mereka tidak memperhatikan kalau sebenarnya Najd juga punya kaitan yang erat dengan khawarij. Bisa dibilang munculnya khawarij itu bermula dari Najd.

.

.

Hadis Asal Mula Khawarij

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَقْسِمُ قِسْمًا أَتَاهُ ذُو الْخُوَيْصِرَةِ وَهُوَ رَجُلٌ مِنْ بَنِي تَمِيمٍ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ اعْدِلْ فَقَالَ وَيْلَكَ وَمَنْ يَعْدِلُ إِذَا لَمْ أَعْدِلْ قَدْ خِبْتَ وَخَسِرْتَ إِنْ لَمْ أَكُنْ أَعْدِلُ فَقَالَ عُمَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ ائْذَنْ لِي فِيهِ فَأَضْرِبَ عُنُقَهُ فَقَالَ دَعْهُ فَإِنَّ لَهُ أَصْحَابًا يَحْقِرُ أَحَدُكُمْ صَلَاتَهُ مَعَ صَلَاتِهِمْ وَصِيَامَهُ مَعَ صِيَامِهِمْ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ يُنْظَرُ إِلَى نَصْلِهِ فَلَا يُوجَدُ فِيهِ شَيْءٌ ثُمَّ يُنْظَرُ إِلَى رِصَافِهِ فَمَا يُوجَدُ فِيهِ شَيْءٌ ثُمَّ يُنْظَرُ إِلَى نَضِيِّهِ وَهُوَ قِدْحُهُ فَلَا يُوجَدُ فِيهِ شَيْءٌ ثُمَّ يُنْظَرُ إِلَى قُذَذِهِ فَلَا يُوجَدُ فِيهِ شَيْءٌ قَدْ سَبَقَ الْفَرْثَ وَالدَّمَ آيَتُهُمْ رَجُلٌ أَسْوَدُ إِحْدَى عَضُدَيْهِ مِثْلُ ثَدْيِ الْمَرْأَةِ أَوْ مِثْلُ الْبَضْعَةِ تَدَرْدَرُ وَيَخْرُجُونَ عَلَى حِينِ فُرْقَةٍ مِنْ النَّاسِ قَالَ أَبُو سَعِيدٍ فَأَشْهَدُ أَنِّي سَمِعْتُ هَذَا الْحَدِيثَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَشْهَدُ أَنَّ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ قَاتَلَهُمْ وَأَنَا مَعَهُ فَأَمَرَ بِذَلِكَ الرَّجُلِ فَالْتُمِسَ فَأُتِيَ بِهِ حَتَّى نَظَرْتُ إِلَيْهِ عَلَى نَعْتِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّذِي نَعَتَهُ

Telah menceritakan kepada kami Abul Yaman yang berkata telah mengabarkan kepada kami Syu’aib dari Az Zuhri yang berkata telah mengabarkan kepadaku Abu Salamah bin ‘Abdurrahman bahwa Abu Sa’id Al Khudri radiallahu ‘anhu berkata kami bersama Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan Beliau sedang membagi harta rampasan perang, tiba-tiba datanglah Dzul Khuwaisirah dan dia seorang laki-laki dari bani Tamim, ia berkata “wahai Rasulullah berbuat adillah?”. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “celaka engkau, siapa yang bisa berlaku adil jika aku dikatakan tidak berlaku adil, sungguh celaka dan rugi jika aku tidak berlaku adil”. Umar berkata “wahai Rasulullah izinkanlah aku memenggal lehernya”. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “biarkanlah ia, sesungguhnya ia memiliki para sahabat dimana salah seorang dari kalian menganggap kecil shalat kalian dibanding shalat mereka dan puasa kalian dibanding puasa mereka, mereka membaca Al Qur’an tetapi tidak melewati tenggorokan mereka, mereka keluar dari agama seperti keluarnya anak panah dari busurnya. Dilihat mata panahnya maka tidak nampak apapun, dilihat pegangan panahnya maka tidak nampak apapun, dilihat batang panahnya maka tidak nampak apapun, dilihat bulu panahnya maka tidak nampak apapun sungguh ia mendahului kotoran dan darah. Ciri-ciri mereka adalah seorang laki-laki hitam yang salah satu lengannya seperti payudara perempuan atau seperti daging yang bergerak-gerak dan mereka keluar saat terjadi perselisihan di antara orang-orang. Abu Sa’id berkata “aku bersaksi bahwa aku mendengar hadis ini dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan aku bersaksi bahwa Ali bin Abi Thalib telah memerangi mereka dan ketika itu aku bersamanya, maka ia [Ali] memerintahkan untuk mencari laki-laki itu, akhirnya orang itu ditangkap dan dibawa kehadapannya maka aku bisa melihat ciri-ciri yang disebutkan oleh Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] [Shahih Bukhari 4/200 no 3610]

حدثنا محمد بن رمح بن المهاجر أخبرنا الليث عن يحيى بن سعيد عن أبي الزبير عن جابر بن عبدالله قال أتي رجل رسول الله صلى الله عليه و سلم بالجعرانة منصرفه من حنين وفي ثوب بلال فضة ورسول الله صلى الله عليه و سلم يقبض منها يعطى الناس فقال يا محمد اعدل قال ويلك ومن يعدل إذا لم أكن أعدل ؟ لقد خبت وخسرت إن لم أكن أعدل فقال عمر بن الخطاب رضي الله عنه دعني يا رسول الله فأقتل هذا المنافق فقال معاذ الله أن يتحدث الناس أني أقتل أصحابي إن هذا وأصحابه يقرأون القرآن لا يجاوز حناجرهم يمرقون منه كما يمرق السهم من الرمية

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Rumh bin Muhajir yang berkata telah mengabarkan kepada kami Laits dari Yahya bin Sa’id dari Abu Zubair dari Jabir bin ‘Abdullah yang berkata “seseorang datang kepada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] di Ji’ranah setelah pulang dari perang Hunain. Ketika itu dalam pakaian Bilal terdapat perak maka Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] membagikannya kepada manusia. Orang tersebut berkata “wahai Muhammad berlaku adillah?”. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “celaka engkau, siapa yang bisa berlaku adil jika aku dikatakan tidak berlaku adil? Sungguh celaka dan rugi jika aku tidak berbuat adil. Umar berkata “wahai Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] izinkanlah aku membunuh munafik ini”. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “aku berlindung kepada Allah dari pembicaraan orang-orang bahwa aku membunuh sahabatku sendiri, sesungguhnya orang ini dan para sahabatnya suka membaca Al Qur’an tetapi tidak melewati tenggorokan mereka, mereka keluar darinya seperti anak panah yang lepas dari busurnya” [Shahih Muslim 2/740 no 1063]

Jadi sebenarnya cikal bakal khawarij sudah muncul dizaman Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] yaitu dari salah seorang sahabat Nabi yang dipanggil Dzul Khuwaisirah berserta para sahabatnya. Ibnu Hajar memasukkannya dalam kitabnya Al Isabah dimana ia mengatakan kalau Ibnu Atsir memasukkan Dzul Khuwaisirah sebagai sahabat Nabi dan ia seorang laki-laki dari bani tamim, selain itu diriwayatkan kalau namanya adalah Hurqus bin Zuhair [Al Isabah  2/411 no 2452]. Disebutkan pula kalau ada yang mengatakan ia adalah Dzu Tsudayyah orang yang terbunuh bersama khawarij lainnya di Nahrawan [Al Isabah 2/409 no 2448]

Dzul Khuwaisirah termasuk penduduk Bani Tamim dan di masa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] penduduk Bani Tamim tinggal di wilayah timur jazirah arab yaitu Najd. Bani Tamim adalah suku arab keturunan Tamim bin Murr bin Ad yang nasabnya sampai kepada Ilyas bin Mudhar, jadi mereka termasuk bani Mudhar.

.

.

.

Bani Tamim Tinggal Di Najd

حدثنا محمد بن المثنى حدثنا مؤمل بن إسماعيل حدثنا نافع بن عمر بن جميل الجمحي حدثني بن أبي مليكة حدثني عبد الله بن الزبير أن الأقرع بن حابس قدم على النبي صلى الله عليه و سلم فقال أبو بكر يا رسول الله استعمله على قومه فقال عمر لا تستعمله يا رسول الله فتكلما عند النبي صلى الله عليه و سلم حتى ارتفعت أصواتهما فقال أبو بكر لعمر ما أردت إلا خلافي قال ما أردت خلافك قال فنزلت هذه الآية { يا أيها الذين آمنوا لا ترفعوا أصواتكم فوق صوت النبي } فكان عمر بن الخطاب بعد ذلك إذا تكلم عند النبي صلى الله عليه و سلم لم يسمع كلامه حتى يستفهمه قال وما ذكر بن الزبير جده يعني أبا بكر

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna yang berkata telah menceritakan kepada kami Mu’ammal bin Ismail yang berkata telah menceritakan kepada kami Nafi’ bin Umar bin Jamil Al Jimahiy yang berkata telah menceritakan kepadaku Ibnu Abi Mulaikah yang berkata telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Zubair bahwa Aqra’ bin Habis mendatangi Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] maka Abu Bakar berkata “jadikanlah ia sebagai wakilmu atas kaumnya”. Umar berkata “jangan jadikan ia sebagai wakilmu, wahai Rasulullah”. Mereka terus membicarakannya disamping Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] sehingga suara mereka semakin keras. Abu Bakar berkata kepada Umar “tidak ada yang kau inginkan kecuali menyelisihiku”. Umar berkata “aku tidak bermaksud menyelisihimu”. Maka turunlah ayat “wahai orang-orang yang beriman janganlah meninggikan suara kalian melebihi suara Nabi” [al hujurat ayat 2] maka Umar bin Khattab sejak saat itu jika berbicara kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] hampir tidak terdengar perkataannya hingga Beliau sering menanyakannya. Ibnu Zubair tidak menyebutkan tentang kakeknya Abu Bakar. [Shahih Sunan Tirmidzi 5/387 no 3266]

حَدَّثَنَا يَسَرَةُ بْنُ صَفْوَانَ بْنِ جَمِيلٍ اللَّخْمِيُّ حَدَّثَنَا نَافِعُ بْنُ عُمَرَ عَنْ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ قَالَ كَادَ الْخَيِّرَانِ أَنْ يَهْلِكَا أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا رَفَعَا أَصْوَاتَهُمَا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ قَدِمَ عَلَيْهِ رَكْبُ بَنِي تَمِيمٍ فَأَشَارَ أَحَدُهُمَا بِالْأَقْرَعِ بْنِ حَابِسٍ أَخِي بَنِي مُجَاشِعٍ وَأَشَارَ الْآخَرُ بِرَجُلٍ آخَرَ قَالَ نَافِعٌ لَا أَحْفَظُ اسْمَهُ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ لِعُمَرَ مَا أَرَدْتَ إِلَّا خِلَافِي قَالَ مَا أَرَدْتُ خِلَافَكَ فَارْتَفَعَتْ أَصْوَاتُهُمَا فِي ذَلِكَ فَأَنْزَلَ اللَّهُ { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ } الْآيَةَ قَالَ ابْنُ الزُّبَيْرِ فَمَا كَانَ عُمَرُ يُسْمِعُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ هَذِهِ الْآيَةِ حَتَّى يَسْتَفْهِمَهُ وَلَمْ يَذْكُرْ ذَلِكَ عَنْ أَبِيهِ يَعْنِي أَبَا بَكْرٍ

Telah menceritakan kepada kami Yasarah bin Shafwan bin Jamil Al Lakhmiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Nafi’ bin Umar bahwa Ibnu Abi Mulaikah berkata “hampir saja dua orang terbaik celaka yaitu Abu Bakar dan Umar. Keduanya telah meninggikan suaranya di sisi Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] ketika datang kafilah dari bani Tamim. Salah satu dari mereka menunjuk Aqra’ bin Habis saudara bani Mujasyi’ menjadi pemimpin. Dan yang lainnya menunjuk seorang lainnya. Nafi’ berkata ‘aku tidak hafal namanya’. Kemudian Abu Bakar berkata kepada Umar “tidak ada yang kau inginkan kecuali menyelisihiku”. Umar menjawab “aku tidak bermaksud menyelisihimu”. Suara keduanyapun meninggi membicarakan itu, maka turunlah ayat “wahai orang-orang yang beriman janganlah kamu meninggikan suara melebihi suara Nabi” [Al Hujurat ayat 2]. Ibnu Zubair berkata “setelah itu, Umar tidak pernah memperdengarkan kepada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] sampai Beliau meminta kejelasannya dan Ibnu Zubair tidak menyebutkan itu dari ayahnya yaitu Abu Bakar [Shahih Bukhari 6/137 no 4845]

حدثنا هناد بن السري حدثنا أبو الأحوص عن سعيد بن مسروق عن عبدالرحمن بن أبي نعم عن أبي سعيد الخدري قال بعث علي رضي الله عنه وهو باليمن بذهبة في تربتها إلى رسول الله صلى الله عليه و سلم فقسمها رسول الله صلى الله عليه و سلم بين أربعة نفر الأقرع بن حابس الحنظلي وعيينة بن بدر الفزاري وعلقمة بن علاثة العاشمري ثم أحد بني كلاب وزيد الخير الطائي ثم أحد بني نبهان قال فغضبت قريش فقالوا أتعطي صناديد نجد وتدعنا ؟ فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم إني إنما فعلت ذلك لأتألفهم

Telah menceritakan kepada kami Hanaad bin As Sariy yang berkata telah menceritakan kepada kami Abul Ahwash dari Sa’id bin Masruq dari ‘Abdurrahman bin Abi Na’m dari Abu Sa’id Al Khudri yang berkata Ali radiallahu ‘anhu yang sedang berada di Yaman, mengirimkan emas yang masih dalam bijinya kepada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] kemudian Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]  membagikannya kepada empat orang yaitu Aqra’ bin Habis Al Hanzhali, Uyainah bin Badr Al Fazari, Alqamah bin Ulatsah Al ‘Asymiri yaitu salah seorang dari Bani Kilab, dan Zaid Al Khair At Tha’iy yaitu salah seorang dari Bani Nabhan. Orang-orang Quraisy marah dan berkata Apakah Beliau  [shallallahu ‘alaihi wasallam] memberi para pemimpin Najd, dan tidak memberikan kepada kita? Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “Aku melakukan itu adalah untuk menarik hati mereka”. [Shahih Muslim 2/741 no 1064]

Hadis-hadis di atas menyebutkan kalau Aqra’ bin Habis Al Hanzhaliy adalah orang terkemuka dari bani Tamim sehingga ia dicalonkan sebagai pemimpin atas kaumnya dan dalam hadis itu disebutkan kalau ia salah seorang pemuka atau pemimpin Najd. Maka disini terdapat dalil yang menunjukkan kalau bani Tamim di masa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] tinggal atau menetap di Najd.

Maka disini kita melihat apa kaitannya Khawarij dengan Najd. Mereka yang nantinya menjadi khawarij dan diperangi oleh Imam Ali ternyata sudah ada di zaman Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan pencetusnya adalah Dzul Khuwaisirah seorang laki-laki dari bani Tamim. Pada masa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam], Dzul Khuwaisirah dan para sahabatnya beserta keturunannya termasuk dalam bani Tamim dan tinggal di Najd.

Sejak zaman Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] sebagian penduduk Tamim dikenal dengan sikapnya yang tidak baik kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Mereka dikenal dengan sikapnya yang kasar walaupun harus diakui tidak semua bani Tamim seperti itu.

حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ حَفْصِ بْنِ غِيَاثٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ حَدَّثَنَا جَامِعُ بْنُ شَدَّادٍ عَنْ صَفْوَانَ بْنِ مُحْرِزٍ أَنَّهُ حَدَّثَهُ عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ دَخَلْتُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَقَلْتُ نَاقَتِي بِالْبَابِ فَأَتَاهُ نَاسٌ مِنْ بَنِي تَمِيمٍ فَقَالَ اقْبَلُوا الْبُشْرَى يَا بَنِي تَمِيمٍ قَالُوا قَدْ بَشَّرْتَنَا فَأَعْطِنَا مَرَّتَيْنِ ثُمَّ دَخَلَ عَلَيْهِ نَاسٌ مِنْ أَهْلِ الْيَمَنِ فَقَالَ اقْبَلُوا الْبُشْرَى يَا أَهْلَ الْيَمَنِ إِذْ لَمْ يَقْبَلْهَا بَنُو تَمِيمٍ قَالُوا قَدْ قَبِلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالُوا جِئْنَاكَ نَسْأَلُك عَنْ هَذَا الْأَمْرِ قَالَ كَانَ اللَّهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ غَيْرُهُ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ وَكَتَبَ فِي الذِّكْرِ كُلَّ شَيْءٍ وَخَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ فَنَادَى مُنَادٍ ذَهَبَتْ نَاقَتُكَ يَا ابْنَ الْحُصَيْنِ فَانْطَلَقْتُ فَإِذَا هِيَ يَقْطَعُ دُونَهَا السَّرَابُ فَوَاللَّهِ لَوَدِدْتُ أَنِّي كُنْتُ تَرَكْتُهَا

Telah menceritakan kepada kami Umar bin Hafsh bin Ghiyats yang berkata telah menceritakan kepadaku ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Al’Amasy yang berkata telah menceritakan kepada kami Jami’ bin Syadad dari Shafwan bin Muhriz sesungguhnya telah mengabarkan kepadanya dari ‘Imran bin Hushain radiallahu ‘anhum yang berkata “aku masuk menemui Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan aku mengikat untaku di pintu. Kemudian datanglah orang-orang dari bani Tamim. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “terimalah kabar gembira wahai bani Tamim”. Mereka berkata “sungguh engkau telah memberi kami kabar gembira maka berikanlah kami sesuatu yang lain” mereka mengucapkannya dua kali  kemudian masuklah orang-orang Yaman, maka Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “terimalah kabar gembira wahai orang-orang Yaman karena bani Tamim telah menolaknya”. Mereka berkata “kami menerima wahai Rasulullah”mereka berkata “kami datang kepadamu untuk bertanya urusan ini”. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “Allah telah ada dan tidak ada apa-apa selain-Nya, kemudian Arsy- Nya di atas air dan dituliskan segala sesuatu dalam Az Zikru kemudian Allah menciptakan langit dan bumi. Tiba-tiba seseorang memanggilku “untamu terlepas wahai Ibnu Hushain”. Aku keluar dan untaku hilang di tengah padang pasir. Demi Allah alangkah baiknya kubiarkan saja unta itu [Shahih Bukhari 4/105-106 no 3191]

Hadis ini menunjukkan tabiat orang-orang bani Tamim yang tidak memiliki kepedulian terhadap ilmu agama. Dalam riwayat lain disebutkan bahkan wajah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] menjadi berubah ketika mendengar jawaban dari orang-orang bani Tamim. Jadi bisa dimaklumi kalau orang-orang dengan tabiat seperti ini menjadi cikal bakal kaum khawarij. Tentu saja sekali lagi kami tidak menyatakan bahwa begitulah semua orang dari bani Tamim, sudah cukup dikenal sebagian sahabat Nabi dari bani Tamim yang setia dan taat kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam].

Pernah suatu ketika delegasi bani tamim datang menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diantara mereka terdapat Aqra’ bin Habis At Tamimi, Uyainah bin Hishn, Qais bin Harits, Qais bin Ashim, dan Utharid bin Hajib. Mereka datang ke rumah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berteriak memanggil Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dari luar sehingga turunlah ayat “sesungguhnya orang-orang yang memanggilmu ke luar kamarmu kebanyakan mereka tidak mengerti” [Al Hujurat ayat 4] dan diantara mereka terdapat Utharid bin Hajib yang berkata

فقام عطارد بن حاجب فقال الحمد لله الذي له علينا الفضل والمن وهو أهله الذي جعلنا ملوكا ووهب لنا أموالا عظاما نفعل فيها المعروف وجعلنا أعز أهل المشرق وأكثره عددا وأيسره عدة ، فمن مثلنا في الناس ؟ ألسنا برءوس الناس وأولي فضلهم ؟ فمن فاخرنا فليعدد مثل ما عددنا وإنا لو نشاء لأكثرنا الكلام ولكنا نحيا من الإكثار فيما أعطانا وإنا نعرف بذلك أقول هذا لأن تأتوا بمثل قولنا وأمر أفضل من أمرنا ثم جلس

Maka Uthaarib bin Haajib berdiri dan berkata “segala puji bagi Allah yang telah memberikan kepada kami keutamaan dan karunia dan Dialah yang berhak untuk dipuji. Dia yang telah menjadikan kami sebagai raja dan memberikan kepada kami harta yang banyak kemudian kami berbuat baik dengan harta itu. Dia menjadikan kami sebagai orang-orang timur [ahlul masyriq] yang paling kuat, paling banyak jumlahnya dan lengkap persenjataannya. Siapakah diantara manusia yang seperti kami?. Bukankah kami adalah pemimpin mereka dan paling utama diantara mereka?. Siapa yang dapat menyaingi kami maka hendaknya ia menyebutkan seperti apa yang telah kami sebutkan. Dan jika kami mau kami bisa mengatakan yang lebih banyak lagi tetapi kami malu menyebutkan semua yang telah diberikan kepada kami, hal itu telah kami ketahui. Inilah perkataan kami dan hendaknya kalian mengatakan seperti yang telah kami katakan atau bahkan lebih utama dari apa yang kami sebutkan, kemudian ia duduk [Sirah Ibnu Hisyam 2/562]

Kisah ini menyebutkan bagaimana tabiat kasar dari bani tamim. Mereka berteriak memanggil Nabi dari luar bilik Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dan tentu sebagai sebuah delegasi tidak sewajarnya bersikap seperti itu. Dari kisah di atas kita dapat melihat bahwa bani Tamim memang dikenal sebagai orang-orang timur [masyriq] di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sehingga mereka dengan bangga mengatakannya di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Disini kita dapat melihat apa kaitannya Khawarij dengan arah timur?. Khawarij dicetuskan oleh Dzul Khuwaisirah dari bani tamim dan para sahabatnya yang dikenal sebagai orang-orang timur [masyriq] di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

.

.

.

Hadis Sahl bin Hunaif  Tentang Khawarij

أخبرنا محمد بن آدم بن سليمان عن محمد بن فضيل عن بن إسحاق عن يسير بن عمرو قال دخلت على سهل بن حنيف قلت له أخبرني ما سمعت من رسول الله صلى الله عليه و سلم في الحرورية قال أخبرك ما سمعت من رسول الله صلى الله عليه و سلم لا أزيد عليه سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم وضرب بيده نحو المغرب قال يخرج من هاهنا قوم يقرؤون القرآن لا يجاوز تراقيهم يمرقون من الدين كما يمرق السهم من الرمية

Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Adam bin Sulaiman dari Muhammad bin Fudhail dari Abu Ishaq dari Yusair bin ‘Amru yang berkata “aku masuk menemui Sahl bin Hunaif kemudian aku berkata ‘kabarkanlah padaku apa yang engkau dengar dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tentang Haruriyah, [Sahl] berkata aku akan mengabarkan kepadamu apa yang aku dengar dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak lebih, aku mendengar Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan Beliau memukulkan tangannya ke arah barat dan berkata “akan keluar dari sini kaum yang membaca Al Qur’an tetapi tidak melewati tenggorokan mereka, mereka keluar dari agama seperti anak panah yang lepas dari busurnya” [Sunan Nasa’i 5/32 no 8090]

Hadis ini sanadnya shahih, Muhammad bin Adam bin Sulaiman adalah gurunya Nasa’i dan Abu Hatim. Abu Hatim menyatakan shaduq, Nasa’i menyatakan tsiqat [At Tahdzib juz 9 no 41] dan selebihnya adalah perawi Bukhari Muslim.

حدثنا أبو بكر بن أبي شيبة حدثنا علي بن مسهر عن الشيباني عن يسير بن عمرو قال سألت سهل بن حنيف هل سمعت النبي صلى الله عليه و سلم يذكر الخوارج ؟ فقال سمعته ( وأشار بيده نحو المشرق ) قوم يقرأون القرآن بألسنتهم لا يعدوا تراقيهم يمرقون من الدين كما يمرق السهم من الرمية

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin Mushir dari Asy Syaibani dari Yusair bin ‘Amru yang berkata “aku bertanya kepada Sahl bin Hunaif “apakah engkau mendengar Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] menyebutkan tentang Khawarij?. Sahl berkata aku mendengarnya, dan ia menyisyaratkan tangannya ke arah timur [dan berkata] muncul kaum yang membaca Al Qur’an dengan lisan mereka tetapi tidak melewati tenggorokan mereka, mereka keluar dari agama seperti anak panah yang lepas dari busurnya [Shahih Muslim 2/750 no 1068]

حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ حَدَّثَنَا الشَّيْبَانِيُّ حَدَّثَنَا يُسَيْرُ بْنُ عَمْرٍو قَالَ قُلْتُ لِسَهْلِ بْنِ حُنَيْفٍ هَلْ سَمِعْتَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ فِي الْخَوَارِجِ شَيْئًا قَالَ سَمِعْتُهُ يَقُولُ وَأَهْوَى بِيَدِهِ قِبَلَ الْعِرَاقِ يَخْرُجُ مِنْهُ قَوْمٌ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الْإِسْلَامِ مُرُوقَ السَّهْمِ مِنْ الرَّمِيَّةِ

Telah menceritakan kepada kami Musa bin Ismail yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Wahid yang berkata telah menceritakan kepada kami Asy Syaibani yang berkata telah menceritakan kepada kami Yusair bin ‘Amru yang berkata ‘aku bertanya kepada Sahl bin Hunaif apakah engkau pernah mendengar Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengatakan sesuatu tentang khawarij?. [Sahl] berkata “aku mendengarnya mengatakan dan ia mengarahkan tangannya ke Irak “akan keluar darinya kaum yang membaca Al Qur’an tetapi tidak melewati tenggorokan mereka, mereka keluar dari islam seperti anak panah lepas dari busurnya” [Shahih Bukhari 9/17 no 6934]

Kalau kita perhatikan ketiga hadis Sahl bin Hunaif di atas, semuanya berujung pada sanad yang sama yaitu dari Abu Ishaq Asy Syaibani dari Yusair bin ‘Amru dari Sahl bin Hunaif tetapi terdapat keanehan dalam penunjukkan isyarat. Terkadang disebutkan isyarat ke arah barat, terkadang disebutkan isyarat ke arah timur dan terkadang disebutkan isyarat ke arah Iraq. Ketidak akuratan ini kemungkinan berasal dari Yusair bin ‘Amru, ia dinyatakan tsiqat oleh Al Ijli, Ibnu Hibban dan Ibnu Sa’ad tetapi walaupun begitu Ibnu Hazm menyatakan “tidak kuat” [At Tahdzib juz 11 no 639].

Riwayat yang mahfuzh adalah yang menyatakan penunjukkan isyarat ke arah timur karena terdapat hadis dengan lafaz yang jelas kalau Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] menyatakan “timur” yaitu hadis dimana Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda

قال قوم يخرجون من المشرق يقرأون القرآن لا يجاوز تراقيهم يمرقون من الدين مروق السهم من الرمية

[Rasulullah] bersabda “akan keluar suatu kaum dari arah timur, mereka membaca Al Qur’an tetapi tidak melewati tenggorokan mereka, mereka keluar dari agama seperti anak panah yang lepas dari busurnya”

Hadis dengan lafaz ini diriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Ali radiallahu ‘anhu dan Abu Sa’id Al Khudri radiallahu ‘anhu. Riwayat Ali disebutkan Ahmad dalam Fadhail Ash Shahabah no 1223, Ibnu Abi Ashim dalam As Sunnah no 913, Abu Ya’la dalam Musnad-nya 1/375 no 482 dan Nasa’i dalam Sunan Nasa’i 5/162 no 8568. Riwayat Abu Sa’id Al Khudri disebutkan dalam Musnad Abu Ya’la 2/408 no 1193 dengan sanad yang shahih.

.

.

.

Keutamaan Yang Memerangi Khawarij

Tidak diragukan kalau khawarij ini telah diperangi oleh Imam Ali di Nahrawan sebagaimana yang telah disebutkan dalam riwayat yang shahih. Jika kita melihat hadis-hadis tersebut secara keseluruhan maka diketahui bahwa asal muasal khawarij ini berasal dari Najd dan kebanyakan mereka adalah dari bani tamim pengikut Dzul Khuwaisirah. Mereka bersama-sama keluar dengan Imam Ali untuk memerangi Muawiyah tetapi akhirnya dalam peristiwa tahkim mereka membelot dari Imam Ali sehingga terjadilah perperangan di Nahrawan Irak. Terdapat keutamaan yang besar bagi mereka yang memerangi kaum khawarij. Hal ini telah disebutkan oleh Imam Ali dalam riwayat yang shahih

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا إسماعيل ثنا أيوب عن محمد عن عبيدة عن على رضي الله عنه قال ذكر الخوارج فقال فيهم مخرج اليد أو مودن اليد أو مثدن اليد لولا ان تبطروا لحدثتكم بما وعد الله الذين يقتلونهم على لسان محمد قلت أنت سمعته من محمد قال إي ورب الكعبة إي ورب الكعبة إي ورب الكعبة

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Ismail  yang berkata telah menceritakan kepada kami Ayub dari Muhammad dari ‘Abidah dari Ali radiallahu ‘anhu, ia berkata Ali menyebutkan tentang khawarij, lalu berkata “di antara mereka ada seorang laki-laki hitam yang pendek tangannya atau salah satu dari kedua tangannya pendek seperti payudara wanita . Sekiranya aku tidak takut kalian menjadi sombong , niscaya akan aku katakana apa yang dijanjikan Allah sesuai dengan lisan Muhammad ganjaran kepada orang-orang yang membunuh mereka. Aku berkata “apakah kamu mendengarnya dari Muhammad?”. Ali berkata “Ya demi Tuhan pemilik Ka’bah , Ya demi Tuhan pemilik Ka’bah, Ya demi Tuhan pemilik Ka’bah” [Musnad Ahmad 1/83 no 6262 Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata “sanadnya shahih dengan syarat Bukhari Muslim”]

Siapakah yang memerangi mereka, tidak diragukan lagi kalau yang memerangi mereka adalah pengikut Imam Ali yaitu para penduduk Iraq, merekalah yang mendapatkan keutamaan yang disebutkan Imam Ali di atas. Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh Abu Sa’id Al Khudri yang berkata

قال أنتم قتلتموهم يا أهل العراق

Abu Sa’id berkata “kalian telah memerangi mereka wahai penduduk Irak”

Riwayat Abu Sa’id ini disebutkan dengan sanad yang shahih oleh Nasa’i dalam Sunan Nasa’i 5/158 no 8558 dan Abdullah bin Ahmad dalam As Sunnah no 1346, kemudian juga disebutkan oleh Abdullah bin Ahmad dalam As Sunnah no 1412 dengan lafaz “segala puji bagi Allah yang menjadikan penduduk Irak memerangi mereka”

.

.

.

Kesimpulan

Hadis Khawarij tidaklah menjadi hujjah untuk menafikan hadis Najd bahkan bisa dikatakan kalau khawarij sendiri bersumber dari Najd. Perang terhadap kaum khawarij yang dilakukan imam Ali memang terjadi di Nahrawan Iraq tetapi sumber munculnya atau asal usul khawarij itu bermula dari penduduk Najd yaitu Dzul Khuwaisirah dan para sahabatnya. Jadi disini hadis fitnah Najd masih klop atau sesuai dengan hadis fitnah khawarij. Salam Damai

 

Novel “Ayat Ayat Asmara” karya ferizal ( NOVEL ROMEO AND JULiET VERSi MUSLiM ) ternyata mampu menyaingi Novel ‘Ayat Ayat Cinta’ Kang Abik

COMING SOON!!!

Novel “Ayat Ayat Asmara” karya ferizal ( NOVEL ROMEO AND JULiET VERSi MUSLiM ) ternyata mampu menyaingi Novel ‘Ayat Ayat Cinta’ Kang Abik

Novel “Ayat Ayat Asmara”, novel karya ferizal ketua NAFC Aceh ( sang pelopor sastra novel dokter gigi Indonesia)… Novel ini diterbitkan oleh Penerbit Meta Kata, April 2014
.
Novel “Ayat Ayat Asmara” dapat dianggap mampu menyaingi Novel “Ayat Ayat Cinta” karena inilah NOVEL ROMEO AND JULiET VERSi MUSLiM
.
Judul Novel ke 5 ferizal : Ayat-ayat Asmara
Penulis: Ferizal
Pemerhati Aksara: Risty Arvel
Pewajah Sampul: de A media kreatif…
Penata Letak Isi: de A media kreatif

COMING SOON!!!

ISBN: 978-602-1203-35-4

COMING SOON!!!

Harga: Rp 35.000,- (belum termasuk ongkir)

COMING SOON!!!

Order:
SMS ke 081907820606
dengan format “Judul Buku-Nama-Alamat-Jumlah Order”

COMING SOON!!!

Sinopsis:

“Ayat-Ayat Asmara”, sebuah novel bergenre action thriller
yang sarat dengan aksi pembalasan dendam hancur-
hancuran. Inilah kisah Romeo dan Juliet versi Muslim.
Seorang Dokter bernama Ustad Ferizal Romeo, jiwanya
telah melebur jadi satu dalam kesucian cinta, dengan
almarhumah isterinya yang bernama
Ustazah Drg. Diana Juliet yang tewas dibunuh teroris
radikal ketika berada di New York, Amerika Serikat.

Jenny Spears dan Ferizal Romeo, bersumpah menyuguhkan
aksi balas dendam dengan membantai teroris. Inilah kisah dua
insan yang tidak punya pilihan lain. Lalu, terpaksa mengambil
keputusan untuk menyelesaikan masalah dengan caranya
sendiri, gagah berani, dan pantang menyerah—dengan segala keterbatasan    

ketika mencari keadilan. Jenny Spears dan
Ferizal Romeo melakukan aksi berani mati di New York.

“Di dalam hidupku, hanya Drg. Diana yang kuundang singgah
di hatiku.

Hanya Drg. Diana yang aku inginkan.

Ya Tuhan,
Engkau tahu bahwa aku sangat mencintai Drg. Diana.

Satukanlah kami, karena aku hanya meminta Drg. Diana untuk
menjadi pendamping hidupku yang hanya sekali di alam fana,
juga untuk kehidupan abadiku nantinya.

Hanya Drg. Diana.
Betapa besar cintaku padanya… Aku tidak ingin yang lain.”

 

Novel ini merupakan serial ke-5 dari “Legenda Cinta Kasih
Abadi Dokter Feriza—Drg. Diana”.

Novel sebelumnya, yakni
1. Pertarungan Maut di Malaysia

2. Ninja Malaysia Bidadari
Indonesia

3.Superhero Malaysia Indonesia

4.Garuda Cinta
Harimau Malaya,

web : http://www.noveldoktergigi.wordpress.com

facebook : http://www.facebook.com/ferizal.dokternovel

 

……………………………………………………………………………….

http://nenyok.files.wordpress.com/2008/03/aac2.gif?w=344&h=254

NOVEL AYAT AYAT CiNTA KANG ABiK

Membaca novel Habiburrahman juga memberi pencerdasan dan bisa meningkatkan kualitas masyarakat. Yang lebih penting, setelah membaca novel ini, pembaca mampu menegakkan amar makruf nahi mungkar serta mampu melakukan syiar Islam melalui sebuah tulisan
.
Dalam novel ini terdapat keganjilan yaitu pada karakter tokoh utama, Fahri, terlalu diidealisasikan secara berlebihan. Ia begitu suci tanpa cacat, seperti malaikat. Jika itu dimaksudkan sebagai teladan, saya tidak yakin ada manusia zaman sekarang yang mampu menirunya. Dalam beberapa hal, kesucian Fahri itu terasa naif, bahkan kejam. Misalnya saat Maria sakit dan pingsan, Fahri tetap bersikukuh tidak mau menyentuhnya, padahal itulah satu-satunya cara agar Maria bisa siuman. Saya ragu apakah keteguhan Fahri yang dilandasi syariat itu patut mendapat pujian
.
Novel ini kuat dalam menggambarkan latar (setting), tetapi lemah dalam menampilkan latar belakang (background). Latar belakang di sini adalah kondisi sosial-politik-budaya Mesir waktu cerita terjadi. Pintu masuk ke sana sudah terbuka sebetulnya, yakni saat Fahri dijebloskan ke penjara. Sayang, ia hanya dituduh berzina, bukan dituduh teroris, misalnya
.
Dengan melibatkan sang tokoh ke dalam konteks politik semacam itu, entah sebagai aktivis atau sekadar korban, novel ini akan lebih meraksasa. Kekurangan latar belakang ini menjadikan Ayat-ayat Cinta urung menjadi novel besar, dan tak lebih dari kisah cinta biasa
.
Ayat-ayat cinta adalah sebuah novel yang ditulis oleh Habiburrahman El Shirazy. Ia adalah seorang sarjana lulusan mesir novel ini merupakan novel islami yang mencoba menebarkan dakwah melalui sebuah karya seni, namun setelah ditelaah lebih lanjut ternyata novel ini merupakan gabungan dari novel islami, budaya dan juga novel cinta yang banyak disukai anak muda. Dengan kata lain, novel ini merupakan sarana yang tepat sebagai media penyaluran dakwah kepada siapa saja yang ingin mengetahui lebih tentang islam
.
Novel ini bercerita tentang perjalanan cinta dua anak manusia yang berbeda latar belakang dan budaya. Fahri, mahasiswa Indonesia yang sedang studi di Universitas Al-Azar Mesir. Aisha, adalah mahasiswi asal jerman yang kebetulan juga sedang studi di mesir. Kisah cinta ini berawal ketika mereka secara tak sengaja betemu dalam sebuah perdebatan sengit dalam sebuah metro
.
Novel ini juga menceritakan tentang bagaimana tokoh utama menghadapi turun-naiknya persoalan hidup dengan cara Islam. Fahri bin Abdillah adalah pelajar Indonesia yang berusaha menggapai gelar masternya di Al Ahzar. Berjibaku dengan panas-debu Mesir. Berkutat dengan berbagai macam target dan kesederhanaan hidup. Bertahan dengan menjadi penerjemah buku-buku agama. Semua target dijalani Fahri dengan penuh antusias
.
Berdasarkan uraian tersebut maka dapat diketahui tema yang diangkat dalam novel ini masih berkaitan dengan masalah cinta. Tema tentang cinta selalu menarik sehingga banyak digemari masyarakat
.
Novel Ayat-Ayat cinta dapat dikatakan
sebagai sarana penyampaian dakwah kapada masyarakat dan sebagai sarana penyampaian dakwah tentunya untuk membaca novel ini tidak memerlukan intepretasi yang terlalu dalam jadi novel ini bersifat menghibur sehingga novel ini dapat dikategorikan sebagai novel popular
.
Selain berkisah tentang cinta di dalam novel ini juga terdapat perdebatan antar dua negara hal ini seperti nampak pada saat kejadian di dalam metro, pada waktu itu Fahri sedang dalam perjalanan menuju masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq yang terletak di Shubra El-kaima. Di dalam metro kemudian ia berkenalan dengan seorang pemuda mesir bernama Ashraf yang juga seorang muslim, mereka bercerita tentang banyak hal, termasuk tentang kebencian Ashraf kepada Amerika, ia geram sekali pada Amerika
.
Bahkan saat tiga orang bule yang berkewarganegaraan Amerika naik kedalam metro, satu diantara orang bule itu adalah seorang nenek yang kelihatanya sangat lelah. Biasanya orang Mesir akan memberikan tempat duduknya apabila ada wanita yang tidak mendapat tempat duduk, namun kali ini tidak. Mungkin karena kebencian mereka yang teramat sangat kepada Amerika
.
Ashraf kembali mengajakku berbincang. Kali ini tentang Amerika. Ia geram sekali pada Amerika. Seribu alasan ia beberkan. Kata-katanya menggebu seperti Presiden Gamal Abdul Naser berorasi memberi semangat dunia Arab dalam perang 1967 (El Shirazy, 2004 : 36)
.
“ayatollah Khomeini benar, Amerika itu setan! Setan harus dienyahkan!” katanya berapi-api (El Shirazy, 2004 : 36).
.
Peristiwa tersebut menunjukan adanya konflik dan perbedaan latar belakang budaya atara Mesir dan Amerika. Orang mesir menganggap Amerika sebagai biang kerusuhan di Timur Tengah. Orang mesir sangat marah pada Amerika yang mencoba menggadu domba umat islam dengan umat Kristen Koptik.

.

Amerika pernah menuduh pemerintah Mesir dan kaum muslimin berlaku semena-mena pada umat koptik. Namun ternyata tuduhan itu hanya dusta belaka, tuduhan itu bertujuan hendak menghancurkan sendi-sendi persaudaraan umat Islam dan umat Koptik yang telah kuat. Hal ini dapat dikatakan sebagai kritik sosial yang terdapat dalam novel ini karena peristiwa tersebut memaparkan kebencian Mesir terhadap Amerika
.
Begitu pintu metro terbuka, beberapa penumpang turun. Lalu beberapa orang naik masuk. Mataku menangkap ada tiga orang bule masuk. Yang seorang nenek-nenek. Ia memakai kaos dan celana pendek sampai lutut. Pemandangan yang belum pernah ada di desaku. Aku membayangkan jika di desaku ada nenek-nenek memakai pakaian seperti itu mungkin sudah dianggap orang gila (El Shirazy, 2004 : 38)
.
Kutipan di atas menunjukan peristiwa di dalam metro yaitu saat Fahri dalam perjalanan ke Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq untuk talaqqi pada Syaikh Utsman Abdul Fattah. Di dalam metro itu Fahri melihat bule yang memakai kaos dan celana pendek sampai lutut. Ia tetkejut melihat bule itu. Hal ini menunjukan adanya perbedaan budaya antara budaya Timur dan budaya Barat. Budaya barat orang berpakaian ketat sampai terlihat auratnya merupakan hal yang biasa sedangkan budaya timur menganggap bila orang berpakaian ketat sampai terlihat auratnya sudah dianggap seperti orang gila. Melalui novel ini nampaknya penulis ingin menyampaikan kepada masyarakat sekaligus menegaskan bahwa ada perbedaan latar belakang budaya Barat dan Timur
.
Selain itu juga masih terdapat kritik sosial yang lain, dalam novel ini diceritakan bahwa fahri bersama temannya tinggal di apartemen mereka bertetangga dengan sebuah keluarga Kristen koptik walaupun aqidah dan keyakinan mereka berbeda, namun antara keluarga fahri dan keluarga Boutros terjalin hubungan yang sangat baik. Di Mesir, bukanlah suatu keanehan apabila keluarga Kristen koptik dan kelurga muslim dapat hidup berdampingan dengan damai dalam masyarakat
.
Namun, mungkin ceritanya akan menjadi lain bila itu terjadi di Indonesia karena kesadaran sebagian masyarakat Indonesia akan pluralitas beragama agaknya sedikit kurang. Apa yang diceritakan dalam novel ini mungkin agar masyarakat kita sadar tentang indahnya hidup damai meskipun berbeda aqidah, karena pada hakikatnya perbedaan itu hal yang biasa bergantung bagaimana kita menyikapinya
.
Pada bagian lain novel ini menceritakan tokoh yang bernama Maria. Maria adalah gadis mesir yang manis dan baik budi pekertinya. Walaupun Maria itu seorang non-muslim ia mampu menghafal dua surah yang ada dalam Al-Quran dengan baik yang belum tentu seorang muslim mampu melakukannya. Ia hafal surat Al-Maidah dan surat Maryam
.
Melalui tokoh Maria agaknya penulis ingin menyadarkan kita terutama umat muslim dan tentunya kita malu melihat tokoh Maria. Karena ia yang seorang non-muslim bisa hafal Al-Quran sedangkan kita yang mengaku muslim mungkin membuka Al-Quran saja belum tentu kita lakukan setiap hari. Dengan kritikan ini diharapkan kita dapat bercermin kemudian memperbaiki diri kita
.
Kritik sosial juga nampak pada peristiwa saat Fahri ditangkap oleh polisi Mesir dengan tuduhan memperkosa Noura. Sikap arogansi seorang polisi yang kurang mengedepankan asas praduga tak bersalah, termasuk fakta brutal yang terdapat dalam novel tersebut. Fakta brutal lainnya dalam novel ini adalah perilaku suap yang saat ini kian marak
.
Kritik sosial terhadap fakta brutal yang hidup di tengah-tengah masyarakat merupakan salah satu muatan yang bisa dipetik dari novel Ayat-Ayat Cinta (AAC) karya Habiburrahman El Shirazy

menyebut Imam Ali bin Abi Thalib dianggap berlebihan ?

 

kok menyebut Imam Ali bin Abi Thalib dianggap berlebihan ? sementara menyebut Imam Bukhori, Imam Ghozali, Imam Syafi’i bagaimana ? mana diantara mereka yang lebih ‘alim ?

Ikatan Jama’ah Ahlul Bait Indonesia) MULAI MENYEBAR Di TOKO-TOKO BUKU SELURUH INDONESIA…

Beberapa tahun ini, memang kebangkitan keilmuan Islam di Negeri Indonesia ini, alhamdulillah sangat terasa sekali, dengan menyebarnya kajian – kajian ilmiah, dan dibuka nya ma’had – ma’had islam, dan diterbitkan nya majalah – majalah yang bermanfaat.

ajaran Syi’ah tak terbendung. Dimana buku – buku kami sekarang  beredar di toko – toko buku umum. Bahkan tiap bulan nya, ada 3 atau 5 buku yang masuk dan beredar di toko buku umum, seperti di toko buku Gramedia,Gunung Agung dan yang lain nya.

Penerbit : Lentera
1. Akhlak Keluarga Nabi, Musa Jawad Subhani
2. Ar-Risalah, Syaikh Ja’far Subhani
3. As-Sair Wa As-suluk, Sayid Muhammad Mahdi Thabathaba’i Bahrul Ulum
4. Bagaimana Membangun Kepribadian Anda, Khalil Al Musawi
5. Bagaimana Menjadi Orang Bijaksana, Khalil al-Musawi
6. Bagaimana Menyukseskan Pergaulan, Khalil al-Musawi
7. Belajar Mudah Tasawuf, Fadlullah Haeri
8. Belajar Mudah Ushuluddin, Syaikh Nazir Makarim Syirasi
9. Berhubungan dengan Roh, Nasir Makarim Syirazi
10. Ceramah-Ceramah (1), Murtadha Muthahhari
11. Ceramah-Ceramah (2), Murtadha Muthahhari
12. Dunia Wanita Dalam Islam, Syaikh Husain Fadlullah
13. Etika Seksual dalam Islam, Murtadha Muthahhari
14. Fathimah Az-Zahra, Ibrahim Amini
15. Fiqih Imam Ja’far Shadiq [1], Muhammad Jawad Mughniyah
16. Fiqih Imam Ja’far Shadiq Buku [2], Muh Jawad Mughniyah
17. Fiqih Lima Mazhab, Muh Jawad Mughniyah
18. Fitrah, Murthadha Muthahhari
19. Gejolak Kaum Muda, Nasir Makarim Syirazi
20. Hak-hak Wanita dalam Islam, Murtadha Muthahhari
21. Imam Mahdi Figur Keadilan, Jaffar Al-Jufri (editor)
22. Kebangkitan di Akhirat, Nasir Makarim Syirazi
23. Keutamaan & Amalan Bulan Rajab, Sya’ban dan Ramadhan,Sayid Mahdi
al-Handawi
24. Keluarga yang Disucikan Allah, Alwi Husein, Lc
25. Ketika Bumi Diganti Dengan Bumi Yang Lain, Jawadi Amuli
26. Kiat Memilih Jodoh, Ibrahim Amini
27. Manusia Sempurna, Murtadha Muthahhari
28. Mengungkap Rahasia Mimpi, Imam Ja’far Shadiq
29. Mengendalikan Naluri, Husain Mazhahiri
30. Menumpas Penyakit Hati, Mujtaba Musawi Lari
31. Metodologi Dakwah dalam Al-Qur’an, Husain Fadhlullah
32. Monoteisme, Muhammad Taqi Misbah
33. Meruntuhkan Hawa Nafsu Membangun Rohani, Husain Mazhahiri
34. Memahami Esensi AL-Qur’an, S.M.H. Thabatabai
35. Menelusuri Makna Jihad, Husain Mazhahiri
36. Melawan Hegemoni Barat, M. Deden Ridwan (editor)
37. Mengenal Diri, Ali Shomali
38. Mengapa Kita Mesti Mencintai Keluarga Nabi Saw, Muhammad Kadzim Muhammad Jawad
39. Nahjul Balaghah, Syarif Radhi (penyunting)
40. Penulisan dan Penghimpunan Hadis, Rasul Ja’farian
41. Perkawinan Mut’ah Dalam Perspektif Hadis dan Tinjauan Masa Kini, Ibnu Mustofa (editor)
42. Perkawinan dan Seks dalam Islam, Sayyid Muhammad Ridhwi
43. Pelajaran-Pelajaran Penting Dalam Al-Qur’an (1), Murtadha Muthahhari
44. Pelajaran-Pelajaran Penting Dalam Al-Qur’an (2), Murtadha Muthahhari
45. Pintar Mendidik Anak, Husain Mazhahiri
46. Rahasia Alam Arwah, Sayyid Hasan Abthahiy
47. Suara Keadilan, George Jordac
48. Yang Hangat dan Kontroversial dalam Fiqih, Ja’far Subhani
49. Wanita dan Hijab, Murtadha Muthahhari

Penerbit : Pustaka Hidayah
1. 14 Manusia Suci, WOFIS IRAN
2. 70 Salawat Pilihan, Al-Ustads Mahmud Samiy
3. Agama Versus Agama, Ali Syari’ati
4. Akhirat dan Akal, M Jawad Mughniyah
5. Akibat Dosa, Ar-Rasuli Al-Mahalati
6. Al-Quran dan Rahasia angka-angka, Abu Zahrah Al Najdiy
7. Asuransi dan Riba, Murtadha Muthahhari
8. Awal dan Sejarah Perkembangan Islam Syiah, S Husain M Jafri
9. Belajar Mudah Ushuluddin, Dar al-Haqq
10. Bimbingan Keluarga dan Wanita Islam, Husain Ali Turkamani
11. Catatan dari Alam Ghaib, S Abd Husain Dastaghib
12. Dari Saqifah Sampai Imamah, Sayyid Husain M. Jafri
13. Dinamika Revolusi Islam Iran, M Riza Sihbudi
14. Falsafah Akhlak, Murthadha Muthahhari
15. Falsafah Kenabian, Murthada Muthahhari
16. Gerakan Islam, A. Ezzati
17. Humanisme Antara Islam dan Barat, Ali Syari’ati
18. Imam Ali Bin Abi Thalib & Imam Hasan bin Ali Ali Muhammad Ali
19. Imam Husain bin Ali & Imam Ali Zainal Abidin Ali Muhammad Ali
20. Imam Muhammad Al Baqir & Imam Ja’far Ash-Shadiq Ali Muhammad Ali
21. Imam Musa Al Kadzim & Imam Ali Ar-Ridha Ali Muhammad Ali
22. Inilah Islam, SMH Thabataba’i
23. Islam Agama Keadilan, Murtadha Muthahhari
24. Islam Agama Protes, Ali Syari’ati
25. Islam dan Tantangan Zaman, Murthadha Muthahhari
26. Jejak-jejak Ruhani, Murtadha Muthahhari
27. Kepemilikan dalam Islam, S.M.H. Behesti
28. Keutamaan Fatimah dan Ketegaran Zainab, Sayyid Syarifuddin Al Musawi
29. Keagungan Ayat Kursi, Muhammad Taqi Falsafi
30. Kisah Sejuta Hikmah, Murtadha Muthahhari
31. Kisah Sejuta Hikmah [1], Murthadha Muthahhari
32. Kisah Sejuta Hikmah [2],Murthadha Muthahhari
33. Memilih Takdir Allah, Syaikh Ja’far Subhani
34. Menapak Jalan Spiritual, Muthahhari & Thabathaba’i
35. Menguak Masa Depan Umat Manusia, Murtadha Muthahhari
36. Menolak Isu Perubahan Al-Quran, Rasul Ja’farian
37. Mengurai Tanda Kebesaran Tuhan, Imam Ja’far Shadiq
38. Misteri Hari Pembalasan, Muhsin Qara’ati
39. Muatan Cinta Ilahi, Syekh M Mahdi Al-syifiy
40. Nubuwah Antara Doktrin dan Akal, M Jawad Mughniyah
41. Pancaran Cahaya Shalat, Muhsin Qara’ati
42. Pengantar Ushul Fiqh, Muthahhari & Baqir Shadr
43. Perayaan Maulid, Khaul dan Hari Besar Islam, Sayyid Ja’far Murtadha al-Amili
44. Perjalanan-Perjalanan Akhirat, Muhammad Jawad Mughniyah
45. Psikologi Islam, Mujtaba Musavi Lari
46. Prinsip-Prinsip Ijtihad Dalam Islam, Murtadha Muthahhari& M. Baqir Shadr
47. Rasulullah SAW dan Fatimah Ali Muhammad Ali
48. Rasulullah: Sejak Hijrah Hingga Wafat, Ali Syari’ati
49. Reformasi Sufistik, Jalaluddin Rakhmat
50. Salman Al Farisi dan tuduhan Terhadapnya, Abdullah Al Sabitiy
51. Sejarah dalam Perspektif Al-Quran, M Baqir As-Shadr
52. Tafsir Surat-surat Pilihan [1], Murthadha Muthahhari
53. Tafsir Surat-surat Pilihan [2], Murthadha Muthahhari
54. Tawasul, Tabaruk, Ziarah Kubur, Karamah Wali, Syaikh Ja’far Subhani
55. Tentang Dibenarkannya Syafa’at dalam Islam, Syaikh Ja’far Subhani
56. Tujuan Hidup, M.T. Ja’fari
57. Ummah dan Imamah, Ali Syari’ati
58. Wanita Islam & Gaya Hidup Modern, Abdul Rasul Abdul Hasan al-Gaffar

Penerbit : MIZAN
1. 40 Hadis [1], Imam Khomeini
2. 40 Hadis [2], Imam Khomeini
3. 40 Hadis [3], Imam Khomeini
4. 40 Hadis [4], Imam Khomeini
5. Akhlak Suci Nabi yang Ummi, Murtadha Muthahhari
6. Allah dalam Kehidupan Manusia, Murtadha Muthahhari
7. Bimbingan Islam Untuk Kehidupan Suami-Istri, Ibrahim Amini
8. Berhaji Mengikuti Jalur Para Nabi, O.Hasem
9. Dialog Sunnah Syi’ah, A Syafruddin al-Musawi
10. Eksistensi Palestina di Mata Teheran dan Washington, M Riza Sihbudi
11. Falsafah Pergerakan Islam, Murtadha Muthahhari
12. Falsafatuna, Muhammad Baqir Ash-Shadr
13. Filsafat Sains Menurut Al-Quran, Mahdi Gulsyani
14. Gerakan Islam, A Ezzati
15. Hijab Gaya Hidup Wanita Muslim, Murtadha Muthahhari
16. Hikmah Islam, Sayyid M.H. Thabathaba’i
17. Ideologi Kaum Intelektual, Ali Syari’ati
18. Ilmu Hudhuri, Mehdi Ha’iri Yazdi
19. Islam Aktual, Jalaluddin Rakhmat
20. Islam Alternatif, Jalaluddin Rakhmat
21. Islam dan Logika Kekuatan, Husain Fadhlullah
22. Islam Mazhab Pemikiran dan Aksi, Ali Syari’ati
23. Islam Dan Tantangan Zaman, Murtadha Muthahhari
24. Islam, Dunia Arab, Iran, Barat Dan Timur tengah, M Riza Sihbudi
25. Isu-isu Penting Ikhtilaf Sunnah-Syi’ah, A Syafruddin Al Musawi
26. Jilbab Menurut Al Qur’an & As Sunnah, Husain Shahab
27. Kasyful Mahjub, Al-Hujwiri
28. Keadilan Ilahi, Murtadha Muthahhari
29. Kepemimpinan dalam Islam, AA Sachedina
30. Kritik Islam Atas Marxisme dan Sesat Pikir Lainnya, Ali Syari’ati
31. Lentera Ilahi Imam Ja’far Ash Shadiq
32. Manusia dan Agama, Murtadha Muthahhari
33. Masyarakat dan sejarah, Murtadha Muthahhari
34. Mata Air Kecemerlangan, Hamid Algar
35. Membangun Dialog Antar Peradaban, Muhammad Khatami
36. Membangun Masa Depan Ummat, Ali Syari’ati
37. Mengungkap Rahasia Al-Qur’an, SMH Thabathaba’i
38. Menjangkau Masa Depan Islam, Murtadha Muthahhari
39. Menjawab Soal-soal Islam Kontemporer, Jalaluddin Rakhmat
40. Menyegarkan Islam, Chibli Mallat (*0
41. Menjelajah Dunia Modern, Seyyed Hossein Nasr
42. Misteri Kehidupan Fatimah Az-Zahra, Hasyimi Rafsanjani
43. Muhammad Kekasih Allah, Seyyed Hossein Nasr
44. Muthahhari: Sang Mujahid Sang Mujtahid, Haidar Bagir
45. Mutiara Nahjul Balaghah, Muhammad Al Baqir
46. Pandangan Dunia Tauhid,. Murtadha Muthahhari
47. Para Perintis Zaman Baru Islam,Ali Rahmena
48. Penghimpun Kebahagian, M Mahdi Bin Ad al-Naraqi
49. PersinggahanPara Malaikat, Ahmad Hadi
50. Rahasia Basmalah Hamdalah, Imam Khomeini
51. Renungan-renungan Sufistik, Jalaluddin Rakhmat
52. Rubaiyat Ummar Khayyam, Peter Avery
53. Ruh, Materi dan Kehidupan, Murtadha Muthahhari
54. Spritualitas dan Seni Islam, Seyyed Hossein Nasr
55. Syi’ah dan Politik di Indonesia, A. Rahman Zainuddin (editor)
56. Sirah Muhammad, M. Hashem
57. Tauhid Dan Syirik, Ja’far Subhani
58. Tema-Tema Penting Filsafat, Murtadha Muthahhari
59. Ulama Sufi & Pemimpin Ummat, Muhammad al-Baqir

Penerbit : YAPI JAKARTA
1. Abdullah Bin Saba’ dalam Polemik, Non Mentioned
2. Abdullah Bin Saba’ Benih Fitnah, M Hashem
3. Al Mursil Ar Rasul Ar Risalah, Muhammad Baqir Shadr
4. Cara Memahami Al Qur’an, S.M.H. Bahesti
5. Hukum Perjudian dalam Islam, Sayyid Muhammad Shuhufi
6. Harapan Wanita Masa Kini, Ali Shari’ati
7. Hubungan Sosial Dalam Islam, Sayyid Muh Suhufi
8. Imam Khomeini dan Jalan Menuju Integrasi dan Solidaritas Islam, Zubaidi Mastal
9. Islam Dan Mazhab Ekonomi, Muhammad Baqir Shadr
10. Kedudukan Ilmu dalam Islam, Sayyid Muh Suhufi
11. Keluarga Muslim, Al Balaghah Foundation
12. Kebangkitan Di Akhirat, Nasir Makarim Syirazi
13. Keadilan Ilahi, Nasir Makarim Syirazi
14. Kenabian, Nasir Makarim Syirazi
15. Kota Berbenteng Tujuh, Fakhruddin Hijazi
16. Makna Ibadah, Muhammad Baqir Shadr
17. Menuju Persahabatan, Sayyid Muh Suhufi
18. Mi’raj Nabi, Nasir Makarim Syrazi
19. Nasehat-Nasehat Imam Ali, Non Mentioned
20. Prinsip-Prinsip Ajaran Islam, SMH Bahesti
21. Perjuangan Melawan Dusta, Bi’that Foundation
22. Persaudaraan dan Persahabatan, Sayyid Muh Suhufi
23. Perjanjian Ilahi Dalam Al-Qur’an, Abdul Karim Biazar
24. Rasionalitas Islam, World Shi’a Muslim Org.
25. Syahadah, Ali Shari’ati
26. Saqifah Awal Perselisihan Umat, O Hashem
27. Sebuah Kajian Tentang Sejarah Hadis, Allamah Murthadha Al Askari
28. Tauhid, Nasir Makarim Syirazi
29. Wasiat Atau Musyawarah, Ali Shari’ati
30. Wajah Muhammad, Ali Shari’ati

Penerbit : YAPI Bangil
1. Akal dalam Al-Kafi, Husein al-Habsyi
2. Ajaran- ajaran Al-Quran, Sayid T Burqi & Bahonar
3. Bimbingan Sikap dan Perilaku Muslim, Al Majlisi Al-Qummi
4. Hawa Nafsu, M Mahdi Al Shifiy
5. Konsep Ulul Amri dalam Mazhab-mazhab Islam, Musthafa Al Yahfufi
6. Kumpulan Khutbah Idul Adha, Husein al-Habsyi
7. Kumpulan Khutbah Idul Fitri, Husein al-Habsyi
8. Metode Alternatif Memahami Al-Quran, Bi Azar Syirazi
9. Manusia Seutuhnya, Murtadha Muthahhari
10. Polemik Sunnah-Syiah Sebuah Rekayasa, Izzudddin Ibrahim
11. Pesan Terakhir Rasul, Non Mentioned
12. Pengantar Menuju Logika, Murtadha Muthahhari
13. Shalat Dalam Madzhab AhlulBait, Hidayatullah Husein Al-Habsyi

Penerbit : Rosdakarya
1. Catatan Kang Jalal, Jalaluddin Rakhmat
2. Derita Putri-Putri Nabi, M. Hasyim Assegaf
3. Fatimah Az Zahra, Jalaluddin Rakhmat
4. Khalifah Ali Bin Abi Thalib, Jalaluddin Rakhmat
5. Meraih Cinta Ilahi, Jalaluddin Rakhmat
6. Rintihan Suci Ahlul Bait Nabi, Jalaluddin Rakhmat
7. Tafsir Al fatihah: Mukaddimah, Jalaluddin Rakhmat
8. Tafsir Bil Ma’tsur, Jalaluddin Rakhmat
9. Zainab Al-Qubra, Jalaluddin Rakhmat

Penerbit : Al-Hadi
1. Al-Milal wan-Nihal, Ja’far Subhani
2. Buku Panduan Menuju Alam Barzakh, Imam Khomeini
3. Fiqh Praktis, Hasan Musawa

Penerbit : CV Firdaus
1. Al-Quran Menjawab Dilema keadilan, Muhsin Qira’ati
2. Imamah Dan Khalifah, Murtadha Muthahhari
3. Keadilan Allah Qadha dan Qadhar, Mujtaba Musawi Lari
4. Kemerdekaan Wanita dalam Keadilan Sosial Islam, Hashemi Rafsanjani
5. Pendidikan Anak: Sejak Dini Hingga Masa Depan, Mahjubah Magazine
6. Tafsir Al Mizan: Ayat-ayat Kepemimpinan, S.M.H. Thabathaba’i
7. Tafsir Al-Mizan: Surat Al-Fatihah, S.M.H. Thabathaba’i
8. Tafsir Al-Mizan: Ruh dan Alam Barzakh, S.M.H. Thabathaba’i
9. Tauhid: Pandangan Dunia Alam Semesta, Muhsin Qara’ati
10. Al-Qur’an Menjawab Dilema Keadilan, Muhsin Qara’ati

Penerbit : Pustaka Firdaus
1. Saat Untuk Bicara, Sa’di Syirazi
2. Tasawuf: Dulu dan Sekarang, Seyyed Hossein Nasr

Penerbit : Risalah Masa
1. Akar Keimanan, Sayyid Ali Khamene’i
2. Dasar-Dasar Filsafat Islam[2], Bahesty & Bahonar
3. Hikmah Sejarah-Wahyu dan Kenabian [3], Bahesty & Bahonar
4. Kebebasan berpikir dan Berpendapat dalam Islam, Murtadha Muthahhari
5. Menghapus Jurang Pemisah Menjawab Buku al Khatib, Al Allamah As Shafi
6. Pedoman Tafsir Modern, Ayatullah Baqir Shadr
7. Kritik Terhadap Materialisme, Murtadha Muthahhari
8. Prinsip-Prinsip Islam [1], Bahesty & Bahonar
9. Syi’ah Asal-Usul dan Prinsip Dasarnya, Sayyid Muh. Kasyful Ghita
10. Tauhid Pembebas Mustadh’afin, Sayyid Ali Khamene’i
11. Tuntunan Puasa, Al-Balagha
12. Wanita di Mata dan Hati Rasulullah, Ali Syari’ati
13. Wali Faqih: Ulama Pewaris Kenabian,

Penerbit : Qonaah
1. Pendekatan Sunnah Syi’ah, Salim Al-Bahansawiy

Penerbit : Bina Tauhid
1. Memahami Al Qur’an, Murthadha Muthahhari

Penerbit : Mahdi
1. Tafsir Al-Mizan: Mut’ah, S.M.H. Thabathabai

Penerbit : Ihsan
1. Pandangan Islam Tentang Damai-Paksaan, Muhammad Ali Taskhiri

Penerbit : Al-Kautsar
1. Agar Tidak Terjadi Fitnah, Husein Al Habsyi
2. Dasar-Dassar Hukum Islam, Muhsin Labib
3. Nabi Bermuka Manis Tidak Bermuka Masam, Husein Al Habsyi
4. Sunnah Syi’ah Dalam Ukhuwah Islamiyah, Husain Al Habsyi
5. 60 Hadis Keutamaan Ahlul Bait, Jalaluddin Suyuti

Penerbit : Al-Baqir
1. 560 Hadis Dari Manusia Suci, Fathi Guven
2. Asyura Dalam Perspektif Islam, Abdul Wahab Al-Kasyi
3. Al Husein Merajut Shara Karbala, Muhsin Labib
4. Badai Pembalasan, Muhsin Labib
5. Darah Yang Mengalahkan Pedang, Muhsin Labib
6. Dewi-Dewi Sahara, Muhsin Labib
7. Membela Para Nabi, Ja’far Subhani
8. Suksesi, M Baqir Shadr
9. Tafsir Nur Tsaqalain, Ali Umar Al-Habsyi

Penerbit : Al-Bayan
1. Bimbingan Islam Untuk Kehidupan Suami Istri, Ibrahim Amini
2. Mengarungi Samudra Kebahagiaan, Said Ahtar Radhawi
3. Teladan Suci Kelurga Nabi, Muhammad Ali Shabban

Penerbit : As-Sajjad
1. Bersama Orang-orang yang Benar, Muh At Tijani
2. Imamah, Ayatullah Nasir Makarim Syirazi
3. Ishmah Keterpeliharaan Nabi Dari Dosa, Syaikh Ja’far Subhani
4. Jihad Akbar, Imam Khomeini
5. Kemelut Kepemimpinan, Ayatullah Muhammad Baqir Shadr
6. Kasyful Asrar Khomeini, Dr. Ibrahim Ad-Dasuki Syata
7. Menjawab Berbagai Tuduhan Terhadap Islam, Husin Alhabsyi
8. Nabi Tersihir, Ali Umar
9. Nikah Mut’ah Ja’far, Murtadha Al Amili
10. Nikah Mut;ah Antara Halal dan Haram, Amir Muhammad Al-Quzwainy
11. Surat-Surat Revolusi, AB Shirazi

Penerbit : Basrie Press
1. Ali Bin Abi Thalib di Hadapan Kawan dan Lawan, Murtadha Muthahhari
2. Manusia Dan Takdirnya, Murtadha Muthahhari
3. Fiqh Lima Mazhab, Muhammad Jawad Mughniyah

Penerbit : Pintu Ilmu
1. Siapa, Mengapa Ahlul Bayt, Jamia’ah Al-Ta’limat Al-Islamiyah Pakistan

Penerbit : Ulsa Press
1. Mengenal Allah, Sayyid MR Musawi Lari
2. Islam Dan Nasionalisme, Muhammad Naqawi
3. Latar Belakang Persatuan Islam, Masih Muhajeri
4. Tragedi Mekkah Dan Masa Depan Al-Haramain, Zafar Bangash
5. Abu Dzar, Ali Syari’ati
6. Aqidah Syi’ah Imamiyah, Syekh Muhammad Ridha Al Muzhaffar
7. Syahadat Bangkit Bersaksi, Ali Syari’ati

Penerbit : Gua Hira
1. Kepemimpinan Islam, Murtadha Muthahhari

Penerbit : Grafiti
1. Islam Syi’ah: Allamah M.H. Thabathaba’i
2. Pengalaman Terakhir Syah, William Shawcross
3. Tugas Cendikiawan Muslim, Ali Syaria’ti

Penerbit : Effar Offset
1. Dialog Pembahasan Kembali Antara Sunnah & Syi’ah Sulaim Al-Basyari & Syaraduddien Al ‘Amili

Penerbit : Shalahuddin Press
1. Fatimah Citra Muslimah Sejati, Ali Syari’ati
2. Gerbang Kebangkitan, Kalim Siddiqui
3. Islam Konsep Akhlak Pergerakan, Murtadha Muthahhari
4. Panji Syahadah, Ali Syari’ati.
5. Peranan Cendekiawan Muslim, Ali Syari’ati

Penerbit : Ats-Tsaqalain
1. Sunnah Syi’ah dalam Dialog, Husein Al Habsyi

Penerbit : Pustaka
1. Kehidupan Yang Kekal, Morteza Muthahari

Penerbit : Darut Taqrib
1. Rujuk Sunnah Syi’ah, M Hashem

Penerbit : Al-Muntazhar
1. Fiqh Praktis Syi’ah Imam Khomeini, Araki, Gulfaigani, Khui
2. Ringkasan Logika Muslim, Hasan Abu Ammar
3. Saqifah Awal Perselisihan Umat, O Hashem
4. Tauhid: Rasionalisme Dan Pemikiran dalam Islam, Hasan Abu Ammar

Penerbit : Gramedia
1. Biografi Politik Imam Khomeini, Riza Sihbudi

Penerbit : Toha Putra
1. Keutamaan Keluarga Rasulullah, Abdullah Bin Nuh

Penerbit : Gerbang Ilmu
1. Tafsir Al-Amtsal (Jilid 1), Nasir Makarim Syirazi

Penerbit : Al-Jawad
1. Amalan Bulan Ramadhan Husein Al-Kaff
2. Mi’raj Ruhani [1], Imam Khomeini
3. Mi’raj Ruhani [2] Imam Khomeni
4. Mereka Bertanya Ali Menjawab, M Ridha Al-Hakimi
5. Pesan Sang Imam, Sandy Allison (penyusun)
6. Puasa dan Zakat Fitrah Imam Khomeini & Imam Ali Khamene’i
Penerbit : Jami’ah al-Ta’limat al-Islamiyah
1. Tuntutan Hukum Syari’at, Imam Abdul Qasim

Penerbit : Sinar Harapan
1. Iran Pasca Revolusi, Syafiq Basri
2. Perang Iran Perang Irak, Nasir Tamara
3. Revolusi Iran, Nasir Tamara

Penerbit : Mulla Shadra
1. Taman Para Malaikat, Husain Madhahiri
2. Imam Mahdi Menurut Ahlul Sunnah Wal Jama’ah, Hasan Abu Ammar

Penerbit : Duta Ilmu
1. Wasiat Imam Ali, Non Mentioned
2. Menuju Pemerintah Ideal, Non Mentioned

Penerbit : Majlis Ta’lim Amben
1. 114 Hadis Tanaman, Al Syeikh Radhiyuddien

Penerbit : Grafikatama Jaya
1. Tipologi Ali Syari’ati

Penerbit : Nirmala
1. Menyingkap Rahasia Haji, Syeikh Jawadi Amuli

Penerbit : Hisab
1. Abu Thalib dalam Polemik, Abu Bakar Hasan Ahmad

Penerbit : Ananda
1. Tentang Sosiologi Islam, Ali Syari’ati

Penerbit : Iqra
1. Islam dalam Perspektif Sosiologi Agama, Ali Shari’ati

Penerbit : Fitrah
1. Tuhan dalam Pandangan Muslim, S Akhtar Rizvi

Penerbit : Lentera Antarnusa
1. Sa’di Bustan, Sa’di

Penerbit : Pesona
1. Membaca Ali Bersama Ali Bin Abi Thalib, Gh R Layeqi

Penerbit : Rajawali Press
1. Tugas Cendekiawan Muslim, Ali Shari’ati

Penerbit : Bina Ilmu
1. Demonstran Iran dan Jum’at Berdarah di Makkah, HM Baharun

Penerbit : Pustaka Pelita
1. Akhirnya Kutemukan Kebenaran, Muh Al Tijani Al Samawi
2. Cara Memperoleh Haji Mabrur, Husein Shahab
3. Fathimah Az-Zahra: Ummu Abiha, Taufik Abu ‘Alama
4. Pesan Terakhir Nabi, Non Mentioned

Penerbit : Pustaka
1. Etika Seksual dalam Islam, Morteza Muthahhari
2. Filsafat Shadra, Fazlur Rahman
3. Haji, Ali Syari’ati
4. Islam dan Nestapa Manusia Modern, Seyyed Hosein Nasr
5. Islam Tradisi Seyyed, Hosein Nasr
6. Manusia Masa Kini Dan Problem Sosial, Muhammad Baqir Shadr
7. Reaksi Sunni-Syi’ah, Hamid Enayat
8. Surat-Surat Politik Imam Ali, Syarif Ar Radhi
9. Sains dan Peradaban dalam Islam, Sayyed Hossein Nasr

Penerbit : Pustaka Jaya
1. Membina Kerukunan Muslimin, Sayyid Murthadha al-Ridlawi

Penerbit : Islamic Center Al-Huda
1. Jurnal Al Huda (1)
2. Jurnal Al Huda (2)
3. Syiah Ditolak, Syiah Dicari, O. Hashem
4. Mutiara Akhlak Nabi, Syaikh Ja’far Hadi

Penerbit : Hudan Press
1. Tafsir Surah Yasin, Husain Mazhahiri
2. Do’a-Do;a Imam Ali Zainal Abidin

Penerbit : Yayasan Safinatun Najah
1. Manakah Jalan Yang Lurus (1), Al-Ustads Moh. Sulaiman Marzuqi Ridwan
2. Manakah Jalan Yang Lurus (2), Al-Ustads Moh. Sulaiman Marzuqi Ridwan
3. Manakah Jalan Yang Lurus (3), Al-Ustads Moh. Sulaiman Marzuqi Ridwan
4. Manakah Shalat Yang Benar (1), Al-Ustads Moh. Sulaiman Marzuqi Ridwan

Penerbit : Amanah Press
1. Falsafah Pergerakan Islam, Murtadha Muthahhari

Penerbit : Yayasan Al-Salafiyyah
1. Khadijah Al-Kubra Dalam Studi Kritis Komparatif, Drs. Ali S. Karaeng Putra

Penerbit : Kelompok Studi Topika
1. Hud-Hud Rahmaniyyah, Dimitri Mahayana

Penerbit : Muthahhari Press/Muthahhari Papaerbacks
1. Jurnal Al Hikmah (1)
2. Jurnal Al Hikmah (2)
3. Jurnal Al Hikmah (3)
4. Jurnal Al Hikmah (4)
5. Jurnal Al Hikmah (5)
6. Jurnal Al Hikmah (6)
7. Jurnal Al Hikmah (7)
8. Jurnal Al Hikmah (8)
9. Jurnal Al Hikmah (9)
10. Jurnal Al Hikmah (10)
11. Jurnal Al Hikmah (11)
12. Jurnal Al Hikmah (12)
13. Jurnal Al Hikmah (13)
14. Jurnal Al Hikmah (14)
15. Jurnal Al Hikmah (15)
16. Jurnal Al Hikmah (16)
17. Jurnal Al Hikmah (17)
18. Shahifah Sajjadiyyah, Jalaluddin Rakhmat (penyunting)
19. Manusia dan Takdirnya, Murtadha Muthahhari
20. Abu Dzar, Ali Syariati
21. Pemimpin Mustadha’afin, Ali Syariati

Penerbit : Serambi
1. Jantung Al-Qur’an, Syeikh Fadlullah Haeri
2. Pelita Al-Qur’an, Syeikh Fadlullah Haeri

Penerbit : Cahaya
1. Membangun Surga Dalam Rumah Tangga, Huzain Mazhahiri

(Non Mentioned)
1. Sekilas Pandang Tentang Pembantain di Masjid Haram, Non Mentioned
2. Jumat Berdarah Pembantaian Kimia Rakyat Halajba 1988, Non Mentioned
3. Al-Quran dalam Islam, MH Thabathabai
4. Ajaran-Ajaran Asas Islam, Behesti
5. Wacana Spiritual, Tabligh Islam Program
6. Keutamaan Membaca Juz Amma, Taufik Yahya
7. Keutamaan Membaca Surah Yasin, Waqiah, Al Mulk, Taufik Yahya
8. Keutamaan Membaca Surah Al-Isra & Al-Kahfi, Taufik Yahya
9. Bunga Rampai Keimanan, Taufik Yahya
10. Bunga Rampai Kehidupan Sosial, Taufik Yahya
11. Bunga Rampai Pendidikan, Husein Al-Habsyi
12. Hikmah-Hikmah Sholawat ,Taufik Yahya
13. Bunga Rampai Pernikahan, Taufik Yahya
14. Hikmah-Hikmah Puasa, Taufik Yahya
15. Hikmah-Hikmah Kematian, Taufik Yahya
16. Wirid Harian, Non Mentioned
17. Do’a Kumay,l Non Mentioned
18. Do’a Harian, Non Mentioned
19. Do’a Shobah, Non Mentioned
20. Do’a Jausyan Kabir, Non Mentioned
21. Keutamaan Shalat Malam Dan Do’anya, Non Mentioned
22. Do’a Nutbah, Non Mentioned
23. Do’a Abu Hamzah Atsimali, Non Mentioned
24. Do’a Hari Arafah (Imam Husain), Non Mentioned
25. Do’a Hari Arafah (Imam Sajjad), Non Mentioned
26. Do’a Tawassul, Non Mentioned
27. Do’a Untuk Ayah dan Ibu, Non Mentioned
28. Do’a Untuk Anak, Non Mentioned
29. Do’a Khatam Qur’an, Non Mentioned
30. Doa Sebelum dan Sesudah Baca Qur’an, Non Mentioned
31. Amalan Bulan Sya’ban dan Munajat Sya’baniyah, Non Mentioned

kata wahabi NU adalah ahlul bid’ah..apa itu sopan?

Krisis Indonesia akibat terorisme dan Bangkitnya wahabi Militan di Indonesia yang menyerang NU membuat web ini hadir untuk anda !

Black parade: Members of the Indonesian Ahlul Bait Asssociation (IJABI) attend the commemoration of Asyura Day in Bandung on Saturday. Shia Muslims across the globe observe Asyura on the 10th day of the first month of the Islamic lunar calendar. (JP/Arya Dipa)

Black parade: Members of the Indonesian Ahlul Bait Asssociation (IJABI) attend the commemoration of Asyura Day in Bandung.

Picture

.

.

.

.

Kelahiran IJABI Dengan dukungan GUDUR yang mengklaim “NU itu Syiah Minus Imamah”. Terbukti tokoh NU dibalik kebangkitan Syi’ah

Picture

………………………………….
Silaturrahmi Ketua Dewan Syura IJABI, Dr. Jalaluddin Rakhmat kepada Presiden Gus Dur setelah Deklarasi
pendirian IJABI
Kenapa wahabi tidak berani berkomentar ? walaupun sekedar menghujat caci maki seperti biasanya ? Atau kah mereka merasa sesak napas membaca isi dari berita kebenaran ini?
SULiT  BERSOPAN DENGAN WAHABi

sudah tepat bahasa yang diterapkan Ustad Syiahali…bersopan2,berbahasa lemah lembut denganwahabi  sudah tak mungkin….coba anda lihat betapa kasarnya dan merendahkannya ucapan mereka…

kata wahabi NU adalah ahlul bid’ah..apa itu sopan?

kata wahabi, tahlilan dan maulidan itu bid’ah..apa itu sopan?
kata wahabi, semua pelaku bid’ah tadi masuk neraka artinya bermilyar milyar manusia masuk neraka gara gara maulidan dan tahlilan, sementara syi’ah cuma menuduh mayoritas sahabat pasca wafat Nabi berbuat bid’ah…apa itu sopan?

kata wahabi, asy’ariyyah sesat..apa itu sopan?
kata wahabi, pengikut ahlulbait adalah antek yahudi…apa itu sopan??

kupas seluruh kitab wahabi bung..didalamnya banyak sekali cacian makian hujatan yang tidak pantas ada dalam kitab sucinya…..terus dukung Ustad Syiahali dan gaya bahasanya tak perlu dirubah..

Keunggulan dari Islam yg sejak dulu di akui (baca: di adopsi) oleh dunia barat adalah di bidang sains, ilmu pengetahuan dan teknologi. Saat ini seperti ada yang membuat kaum muslim utk sibuk mencari pembenaran tentang aqidah. Ada yg tidak suka Islam berkembang dan maju. Saran saya, bagaimana kalau turut juga di kupas atau di buat semacam bedah kitab yang berisikan tentang sains dan teknologi. Menurut saya akan turut membuka wacana dan membentuk pola pikir kritis di kalangan kaum muslim pada umumnya.

Wahabi memfitnah Ulama Sunni sebagai Syi’ah ! Syaitan Nejed Dalam Hadis Nabi SAW telah datang

Wahabi mengkafirkan Syi’ah kemudian menuduh orang2 Sunni seperti Ketua MUI Quraisy Syihab, Ketua NU KH Said Aqil Siradj, Ketua FPI Habib Rizieq Shihab, Ketua MerC Joserizal Jurnalis, Geisz Chalifah (Al Irsyad), Habib Munzir Al Musawa dsb sbg Syi’ah padahal mereka semua Sunni tanpa tabayyun. Hanya dgn Zhon belaka.

Wong Ketua MUI Quraisy Syihab, Ketua NU KH Said Aqil Siradj, Ketua FPI Habib Rizieq Shihab saja difitnah sbg Syi’ah oleh mereka apalagi kita2 ini. Lucunya lagi Admin FP Kabar Dunia Islam yang Wahabi anti Syi’ah dari Salafi Jihadi (Al Qaida) difitnah sebagai Syi’ah oleh kelompok Salafi Wahabi yang pro Raja Arab Saudi. Aneh kan?


syiah diusir Tebar Propaganda Syiah, Karni Ilyas Dinilai Telah Adu Domba NU 

……………………………..

Syi’ah itu di Indonesia paling kurang dari 500 ribu atau cuma 0,25%. Tapi di mata Wahabi seperti 90% saja.
http://kabarislam.wordpress.com/2012/04/18/salafi-wahabi-memfitnah-ulama-sunni-sebagai-syiah/

Sekali Wahabi memfitnah seorang Muslim Sunni sbg Syi’ah, menurut Wahabi kita tidak boleh mempercayai ucapan orang tsb. Misalnya Ketua Mer-C dr Joserizal Jurnalis mereka fitnah sbg Syi’ah, maka mereka anggap semua tulisan Joserizal itu pasti dusta dan tak boleh dipercaya. Cuma Wahabi saja yang benar.

Satu tulisan berisi kejengkelan terhadap Salafi Wahabi yang melakukan berbagai fitnah dan juga pemalsuan kitab di satu grup Muslim di FB:

https://www.facebook.com/groups/1OMWDI/permalink/315681068503021

Di antaranya Wahabi memfitnah Habib Rizieq Syihab sebagai Syi’ah karena tidak menganggap semua Syi’ah itu sesat/kafir sebagaimana Salafi Wahabi. Kaum Wahabi juga memfitnah ulama Sunni lain seperti Prof Dr Quraisy Shihab sebagai Syi’ah karena menulis buku simpatik tentang Syi’ah dengan judul “Sunni dan Syi’ah Bisakah Bergandengan Tangan?”. KH Said Agil Siradj pun mereka tuduh Syi’ah juga, begitu pula dgn Syekh Al Buthi.

Ada lagi saat saya menulis para ulama Sunni yang tidak menyatakan semua Syi’ah sesat seperti Yusuf Qaradhawi, KH Hasyim Muzadi, Din Syamsuddin, Ahmad Syafi’ie Ma’arif, Mufti Mesir Ali Jum’at, Syekh Al Azhar Tantawi, Quraisy Syihab, Habib Rizieq Syihab, dsb, para ulama Sunni tsb difitnah sebagai Syi’ah semua oleh seorang pembaca Wahabi:

http://kabarislam.wordpress.com/2012/03/06/pandangan-ulama-ahlus-sunnah-wal-jamaah-tentang-syiah/

Padahal mereka adalah pimpinan organisasi NU, Muhammadiyah, Al Azhar, FPI, Mufti Mesir yang semua itu adalah jelas-jelas Sunni. Bukan Syi’ah! Kalau Jalaluddin Rahmat yang dituduh Syi’ah, itu betul. Tapi para ulama tersebut bukan Syi’ah.

‎1. Hei Wahabi ! Habib Rizieq TUJUH HARI di Iran ente tuduh SYI’AH. Tapi Habib Rizieq TUJUH TAHUN di Saudi ente enggak tuduh WAHABI ???!!!

2. Hei Wahabi ! Sikap Habib Rizieq JELAS yaitu perangi SYIAH RAFIDHOH yg suka kafirkan SHAHABAT dan WAHABI TAKFIRI yg suka kafirkan sesama muslim !!! Ada pun Syiah yg tdk kafirkan Shahabat dan Wahabi yg tdk kafirkan sesama muslim WAJIB dihormati dan diajak Dialog.
3. Hei Wahabi ! Ente KAFIRKAN Madzhab Asy’ari, lalu Habib Rizieq bangkit bela Asy’ari sbg Madzhab Ahlus Sunnah. Kenape ente dongkol ???!!!

4. Hei Wahabi ! Kalau Madzhab Asy’ari KAFIR, maka Para Imam : Daraquthni, Juwaini, Mawardi, Syirazi, Baihaqi, Ghazali, Ruyani, Baghowi, Fakhrurrozi, Ibnu ‘Asakir, Ibnu Sholah, Ibnu Abdis Salam, Rofi’i, Nawawi, Qolyubi, Burmuki, Asqolani, Haitami, Subki, Dimyathi, Suyuthi, dan RIBUAN ULAMA BESAR lainnya, semuanya jadi KAFIR krn mereka semua ASY’ARI. Apa Wahabi doang yang Islam ???!!!

5. Hei Wahabi ! Habib Rizieq itu FOKUS utk bela ASY’ARI, tdk keliru ! Ente KAFIRKAN ASY’ARI, ente keliru !!! Sudah salah ngaku bener, eh pake nyalahin Habib Rizieq ???!!! Dasar Antek Yahudi…!!!

6. Hei Wahabi ! Madzhab FIQIH Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali itu Ahlus Sunnah. Begitu juga Madzhab AQIDAH Asy’ari, Ma’turidi dan Hanbali itu semua Ahlus Sunnah. Fuqoha Hanafi ikut Ma’turidi. Fuqoha Maliki dan Syafi’i ikut Asy’ari. Fuqoha Hanbali punya aliran sendiri. Wahabi ikut siapa ???!!!

7. Hei Wahabi ! Indonesia Negeri Asy’ari. Kalau tidak suka, ente ke Nejed saja tempat lahirnya Musailamah Al-Kadzdzab !!! Jangan pecah belah umat Islam di Indonesia !!!

8. Hei Wahabi ! Enaknye lu ngaku SALAFI !!! Lu Pikir Madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali enggak ikut SALAF ???!!! Pale lu bau menyan !!!

9. Hei Wahabi ! Orang kritik Wahabi langsung ente tuduh Syiah / Yahudi / Sesat / Ahli Bid’ah / Jahil / Kafir ! Lu pikir lu doang yg Islam ???!!! Lu mesti tahu bhw HADITS menyatakan bhw orang yg suka mengkafirkan MUSLIM sesungguhnya dia yg KAFIR !!! Dasar Wahabi GO***K !!!

10. Hei Wahabi ! Lu bilang Allah SWT DUDUK di Singgasana spt duduknye PA***TLU di kursi. Dasar MUJASSIM yg menyerupakan Allah SWT dg Makhluq. Ape enggak KAFIR tuh ???!!!

11. Hei Wahabi ! Lu bilang HARAM melawan Pemerintah walau mereka berbuat DOSA BESAR. Dasar PENJILAT ! Wahabi MADZHAB BUDAK Pemerintah Zolim ! Pantes DUIT Lu banyak buat BELI iman orang awam ???!!!

12. Hei Wahabi ! Lu tau enggak bhw Rapat Kafir Quraisy di Darun Nadwah utk BUNUH NABI SAW dihadiri IBLIS yg menyerupai SYEIKH DARI NEJED tempat lahirnya Wahabi. Lu lihat tuh, IBLIS cinta sama WAHABI Nejed ???!!

13. Hei Wahabi ! Soal melafalkan niat sholat Lu kafirin. Soal Qunut Shubuh Lu Kafirin. Soal Maulidan Lu Kafirin. Soal Talqin dan Tahlilan Lu Kafirin. Lalu Lu sendiri bilang Allah SWT punya tangan dan kaki serta wajah kemudian duduk di atas Singgasana. Lu anggap Allah SWT spt manusia. Ape Lu pikir enggak KAFIR menyuarakan Allah SWT spt Makhluq ???!!!

14. Hei Wahabi ! Jidat Lu item bagus, tp sayang hati Lu lebih item lagi. Ngaku cinta Nabi SAW, tp Ahlul Bait Nabi SAW Lu musuhin. Sayyidina Husein RA cucu dan SHAHABAT NABI SAW Lu salahin. Yazid La’natullaah ‘alaih yg bantai Ahlul Bait Lu puji-puji. Dasar NAWASHIB Lu !!

15. Hei Wahabi ! Semua jejak peninggalan Nabi SAW Lu hancurin dg dalih agar tdk dikeramatkan. Enggak sekalian Lu hancurin Mekkah dan Madinah berikut KUBUR NABI nya ???!!!

16. Hei Wahabi ! Lu bilang istilah TASHAWWUF itu bid’ah, krn tdk ada dlm Al-Qur’an dan As-Sunnah. Tp istilah AQIDAH Lu getol pake, padahal Bid’ah juga, krn tdk ada dlm Al-Qur’an dan As-Sunnah. Ooi…malu dong !!!

17. Hei Wahabi ! Guru imam Syafi’i yg bernama Ibrahim b Abi Yahya seorang MU’TAZILAH, tp dipercaya dan dihormati oleh imam Syafi’i. Dan Guru Imam Ahmad yg bernama Abdul Majid b Abdul Aziz b Abi Ruwwad seorang MURJI-AH, tp dipercaya dan riwayatnya diterima oleh Imam Ahmad. Selain itu, Perawi Bukhari dan Muslim banyak yg TASYAYYU’, tp riwayatnya diterima oleh para Ahli Hadits. Lihat dong, SALAF tdk sembarangan KAFIRKAN orang. Eh….ente, sok lebih pinter dari SALAF, seenaknya KAFIRKAN Mu’tazilah, Murji-ah dan Tasyayyu’ ???!!!

18. Hei Wahabi ! Orang cinta Ahlul Bait Nabi SAW ente tuduh SYIAH, langsung ente KAFIRKAN. Lalu kenapa yg benci Ahlul Bait Nabi SAW tdk ente sebut NAWASHIB dan ente KAFIRKAN juga dong ???!!!

19. Hei Wahabi ! Ente bilang merendahkan SHAHABAT Nabi SAW yg mana pun adl KEKAFIRAN. Lalu bgmn dg IBNU TAIMIYYAH yg dlm kitabnya MINHAJUS SUNNAH yg telah merendahkan ALI RA dkk dari Muhajirin dan Anshor dg tuduhan cari dunia. Kok Ente enggak KAFIRKAN Ibnu TAIMIYYAH ???!!! Adil dong Muke Gile !!!

20. Hei Wahabi ! Ente minta diperlakukan dg ADIL, tp Ente sendiri TIDAK ADIL ???!!! Ente KAFIRKAN ASY’ARI, JAMA’AH TABLIGH, IKHWANUL MUSLIMIN, HIZBUT TAHRIR dan muslimin lainnya. Lalu Habib Rizieq ente fitnah SYI’AH, dan Ust.Abu Bakar Ba’asyir ente fitnah KHAWARIJ, serta Ust.Abu Jibril ente fitnah TERORIS. Ente b*j*ngan penjahat Aqidah dan TUKANG FITNAH !!!

21. Hei Wahabi ! Ente ngakunya ANTI BID’AH, nyatanya Ente BIKIN BID’AH juga. TAUHID itu satu, tp Ente bagi TIGA. Allah SWT Maha Suci tdk ada yg SEPERTINYA, tp Ente serupakan Allah SWT dg MAKHLUQ.. Itu artinya Ente nyuci TAI dg AIR KE***ING. Dasar Wahabi NAJIS !!!

22. Hei Wahabi ! Taubatlah kepada Allah SWT dari TIGA KEKAFIRAN : 1. Dari AQIDAH TAJSIM dan TASYBIH yg menyerupakan Allah SWT dg MAKHLUQ . 2. Dari AQIDAH TABDI’ dan TAKFIR yg suka BID’AHKAN dan KAFIRKAN kaum muslimin. 3. Dari AQIDAH NAWASHIB yg membenci AHLUL BAIT NABI SAW. Taubat sebelum sekarat !!!

23. Hei Wahabi ! Musuh Islam banyak, ada Zionisme Yahudi dan Misionaris Salibis. Kenape Ente serang umat Islam ??? Ente kurang kerjaan !!!

24. Hei Wahabi ! Di Yaman, Ente diserang dan dibunuh oleh SYIAH ZAIDIYYAH krn bacot Ente yg suka KAFIRKAN orang lain. Di Indonesia, kalau BACOT ente enggak dijaga, tinggal tunggu waktunye Ente di penggal dan dihabisi !!! Dasar Pemecah Belah Umat !!!

25. Hei Wahabi ! BOS Ente Saudi jadi BUDAK AS dan ISRAEL. Kenape Ente enggak KAFIRKAN ??? Ente takut enggak dapat setoran lagi ye ???!!! Dasar HAMBA FULUS !! !

26. Hei Wahabi ! Lu caci-maki Habib Rizieq yg se Indonesia tahu perjuangannye. Guru Lu si YAZID JAWAS dulu diusir orang kampung dari BOGOR gara-gara BEDUK !!! Malu-maluin Wahabi aje !!! Ooi…Urat Malu Lu udah putus yee ???!!!

27. Hei Wahabi ! Ikhwan SALAFI aje enggak suka sama Ente ! Apalagi Ikhwan SALAFIYAH !!! Kite semua udah ngebelenek sama Ente, tinggal dimuntahin aje. Emang Ente mesti segera dibasmi ! Ente ngotor-ngotorin Islam aje !!!

28. Hei Wahabi ! Kerja Lu ape ??? Ahmadiyah Lu biarin. Ma’siat Lu Tonton. Kezaliman penguasa Lu banggain. Khianat Saudi thd Palestina Lu dukung. Orang ARAB SAUDI pada Zina di Puncak Lu diam. Eh….Habib Rizieq yg sdg berjuang mati-matian lawan itu semua Lu musuhin. Dasar BIANG BID’AH !!

29. Hei Wahabi ! Ente ngaku-ngaku udah bantuin FPI agar tdk dibubarkan. Ente BOHONG BESAR !!! Dimane-mane Ente jelek-jelekin FPI !!! Jangan kate bantuin FPI, Ente tengok aje enggak pernah !!! Dasar tidak punya malu !! !

30. Hei Wahabi ! Lu ngaku ikut IMAM AHMAD, padahal enggak ! Lu ngaku ikut IBNU TAIMIYAH, padahal enggak ! Lu ngaku ikut SYEIKH MUHAMMAD B ABDUL WAHHAB, padahal enggak ! Mereka ULAMA BESAR yg tdk KAFIRKAN umat Islam, tp Lu KAFIRKAN semua umat Islam ! Lu ikut IBLIS !!!

31. Hei Wahabi ! Kitab-Kitab Klasik yg Ente cetak, Ente ubah seenaknye. Pasal-Pasal yg Ente enggak suka, Ente hapus semuanye. Dasar penipu ! Tukang Ngibul !! Pengkhianat !!!

32. Hei Wahabi ! Dalam kitab Ente AD-DURAR AS-SANIYYAH jilid 1 hal 228 diperintahkan utk memusnahkan / menghilangkan sebagian isi Kitab-Kitab karya Ulama jika TIDAK SESUAI dg AQIDAH WAHABI. Madzhab apa ini yg memerintahkan PENIPUAN ???!!!

33. Hei Wahabi ! Kitab Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi rhm memuat judul DOA PASAL ZIARAH KUBUR NABI SAW, Ente ubah jadi PASAL ZIARAH MASJID NABI SAW, krn WAHABI Anti Ziarah Kubur. Ente B*j*ngan Tukang Tipu !!!

34. Hei Wahabi ! Perkataan Imam As-Subki yg dinukilkan Imam Abul ‘Izz dalam Syarh Aqidah Thohawiyah dari kitab Mu’id An-Ni’am hal 62 Ente ubah habis-habisan ! Yg semula disebut ASY’ARI sbg isi Aqidah Thohawiyah dihilangkan sama sekali. Yg semula disebut sebagian HANBALI ikut TAJSIM dihilangkan juga. Dasar B*j*ngan Tengik ! Pengkhianat !!

35. Hei Wahabi ! Kitab Aqidah As-Salaf Ashhabul Hadits karya Syeikh Islam Abu Utsman Ismail Ash-Shobuni hal 6 aslinya tertulis ZIARAH KUBUR NABI SAW tp Ente ubah jadi ZIARAH MASJID NABI SAW. Dimane amanat ilmiahnye ??? Ente enggak amanat !!!

36. Hei Wahabi ! Kitab Hasyiyah Ash-Showi ‘ala Tafsir Al-Jalalain karya Syeikh Ahmad b Muhammad Ash-Showi Al-Maliki hal 78 aslinya tertulis bhw WAHABI adl JELMAAN KHAWARIJ yg telah merusak penafsiran Al-Qur’an dan As-Sunnah dan suka membunuh kaum muslimin, tp Ente hapus semuanye. Kenape ?! Rahasia Ente dibongkar, jadi Ente hapus !! Dasar Syetan Penipu !!

37. Hei Wahabi ! Kitab Tafsir Al-Kasysyaf karya Imam Az-Zamakhsyari dlm tafsir Surat Al-Qiyaamah ayat 22-23, penafsiran si pengarang yg Mu’tazilah diubah habis jadi penafsiran WAHABI. Dasar Maliiiing……Ente nyolong dan obok-obok karya orang lain !!!

38. Hei Wahabi ! Kitab Al-Ibanah karya Imam Abul Hasan Al-Asy’ari rhm yg terang-terangan menolak TAJSIM dan TASYBIH, Ente ubah habis-habisan jadi mendukung TAJSIM dan TASYBIH. Ente manipulasi kitab ! Ente korupsi pernyataan Ulama ! Dasar Koruptor Dalil !!!

39. Hei Wahabi ! Kitab Al-Fawaid Al-Muntakhobat karya Ibnu Jami Aziz-Zubairi di hal 207 menyatakan bhw Syeikh Muhammad b Abdul Wahhab adl THOGHUT BESAR, tp Ente hapus sama sekali. Kenape ? Malu Yee !!!

40. Hei Wahabi ! Semua cetakan kitab Diwan Imam Asy-Syafi’ di hal 47 ada bait berbunyi FAQIIHAN WA SHUUFIYYAN FAKUN LAISA WAAHIDAN artinya Jadilah Ahli Fiqih dan Shufi sekaligus, jgn hanya salah satunya. Tapi dlm cetakan WAHABI, termasuk versi elektronik (e-book) dg alamat http://www.almeshkat.net, bait tsb dibuang krn Wahabi MUSUH SHUFI. He…he…hee, lucu ! Wahabi lucu !! Katanye Wahabi jujur ???!!!

41. Hei Wahabi ! Kitab Shahih Bukhari Ente palsukan juga !! Imam Ibnu Hajar Al-Asqolani dlm Fathul Bari menjelaskan adanya Pasal Al-Ma’rifah dan Bab Al-Mazholim dlm Shahih Bukhari, tapi dlm Shahih Bukhari cetakan Wahabi saat ini Pasal dan Bab itu hilang !!! Ente kemanakan hei Wahabi ???!!!

42. Hei Wahabi ! Kitab Shahih Muslim Ente palsukan juga !! Gilee Lu !!! Hadits Fadhoil Maryam, Asiyah, Khadijah dan Fathimah Ente hapus dari Shahih Muslim yg Ente cetak, padahal Mustadrak Al-Hakim mencatat itu. Lucunya, Shahih Muslim cetakan Masykul jilid 7 hal 133 ada Bab Fadhoil Khadijah tapi isinya ttg Fadhoil Maryam, Asiyah dan Aisyah. Nekat betul Ente PALSUKAN Shahih Muslim, krn BENCI Khadijah dan Fathimah !!! Ente Dajjal Ma’jujeeeee….!!!

43. Hei Wahabi ! Ente ngaku cinta Imam Ahmad, tp Kitab Musnad Imam Ahmad Ente PERKOSA juga ! Dlm Musnad Imam Ahmad aslinya ada Hadits ttg Rasulullah SAW mempersaudarakan Muhajirin dan Anshor serta mempersaudarakan dirinya dg Ali RA. Tapi kini oleh Wahabi, Hadits tsb dibuang ke TONG SAMPAH, tdk ada dlm Musnad cetakan mereka. Wahabi Maliiiing…..Wahabi Rampooook…..Wahabi Begaaaal !!!

44. Hei Wahabi ! Kitab Ash-Showa’iq Al-Muhriqoh karya Ibnu Hajar Al-Haitami tdk luput dari kejahatan Ente ! Sejumlah Hadits ttg Ali RA dan Ahlul Bait Nabi SAW, Ente palsukan dg dihapus sebagian dan diubah. Dasar Pembenci Ahlul Bait Nabi SAW !! Ngaku cinta Nabi SAW, tp keluarga Nabi Lu musuhin !!! Cinta Lu PALSU !!!

45. Hei Wahabi ! Dalam kitab Hasyiah Ibnu ‘Abidin yg bermadzhab Hanafi ada PASAL KHUSUS ttg Wali, Abdal dan orang2 Sholeh serta Karomah. Tp kini oleh Wahabi satu pasal full DIMUSNAHKAN. Wahabi curaaaaang…..Wahabi ja***aaaang !!!

46. Hei Wahabi ! Ucapan Syeikh As-Sakhawi ttg Imam Al-A’la Al-Bukhari yg menyatakan bhw Sang Imam SANGAT TAKUT dekat dg Penguasa, Ente ubah jadi SANGAT DEKAT dg Penguasa. Apa-apaan nih ??? Wahabi FATTAAAN ….TUKANG FITNAH yg berbahaya !!!

47. Hei Wahabi ! Kitab Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah jilid ke-10 ttg ILMU SULUK dan TASHAWWUF pernah cukup lama tidak diterbitkan oleh Wahabi. Baru setelah diprotes banyak pihak, akhirnye Ente
sisipin lagi jilid tsb. Gile Luu….Imam Lu sendiri Lu Kangkangin !! Wahabi kurang ajar !!! Wahabi tidak punya adab !!!

48. Hei Wahabi ! Kitab Nihayatul Qoul Al-Mufid karya Syeikh Muhammad Makki Nashr Al-Juraisi yg menulis bhw dirinya Madzhab Syafi’i dg THORIQOH SYADZALI, tp Ente buang Thoriqohnya. Kenape ?! Benci Thoriqoh nih ?! Benci sih benci, tapi ADIL dong !!!

49. Hei Wahabi ! Dalam kitab Al-Mughni karya Imam Ibnu Qudamah Al-Hanbali ada BAB ISTIGHOTSAH, tapi dlm cetakan ulang Wahabi dibuang sama sekali. Wah…wah….wah…Imam sendiri Lu BERAKIN !!! Dasar KADAL GURUN !!!

50. Hei Wahabi ! Kitab Tarikh Al-Ya’qubi jilid 2 hal 37 aslinya menyebut “Nash” buat Ali RA di “Ghadir Khum”, tp dlm cetakan Wahabi kata “Nash” dan “Ghadir Khum” dilenyapkan. Kenape ? Ente takut dijadikan dalil oleh kalangan Syiah ?? Hei BAHLUL, Sunni Sejati hadapi Syiah dg ILMU, bukan dg KEBOHONGAN !! Dasar SUNNI GADUNGAN !!!

51. Hei Wahabi ! As-Syeikh Al-Muhaddits Ahmad b Muhammad b Shiddiq Al-Ghumari dlm kitabnya “Al-Burhan Al-Jaliy” mencatat PEMALSUAN WAHABI thd Kitab Ahwal Al-Qubur karya Ibnu Rajab Al-Hanbali dan Kitab Tafsir Al-Bahr Al-Muhith karya Abu Hayyan, serta sebuah kitab lainnya yg berjudul “Iqtidho Ash-Shiroth Al-Mustaqim”. Edan Lu ! Berape kitab lagi yg Lu mau obok-obok ?!

52. Hei Wahabi ! Lu Edan ! Lu Gila ! Kitab-Kitab Ulama Besar Lu berani PALSUIN !! Lu pikir enggak bakal ketahuan !!! Sekarang terbukti Lu PALSUIN kitab-kitab : Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Jami’ Tirmidzi, Musnad Imam Ahmad, Tasir Al-Bahr Al-Muhith, Al-Ibanah, Thabaqot Ibnu Sa’ad, Tarikh Thabari, Al-Aghani, dll. Ternyata Wahabi PEMALSU HADITS DAN KITAB !!!

53. Hei Wahabi ! Pendiri Wahabi dlm kitab Muallafaat Muhammad b Abdul Wahhab hal 186-187 menyatakan bhw hanya dia yg paham makna “Laa ilaaha illallaah”, SEMUA ULAMA dari zaman Nabi SAW s/d zamannya adl SESAT krn tdk tahu makna “Laa ilaaha illallaah”. Weis sombongnya !! Takabbur spt IBLIS !!!

54. Hei Wahabi ! Putra Pendiri Wahabi Syeikh Abdullah b Muhammad b Abdul Wahhab dlm kitab Ad-Durar As-Saniyyah fi Al-Ajwibah An-Najdiyyah jilid 1 hal 224 menyatakan bhw orang yg BERTAWASSUL adl MUSYRIK dan HALAL dibunuh dan dijarah. Wah…Gawat, padahal TAWASSUL dan TABARRUK adl masalah FURU’ AQIDAH yg diperselisihkan Ulama Ahlus Sunnah. Kok mudah betul MENGKAFIRKAN dan menghalalkan pembunuhan dan penjarahan ??!! Wahabi Pembunuh….Wahabi Penjarah !!

55. Hei Wahabi ! Syeikh Ibn Baz dlm kitab Fatawa fil Aqidah hal 13 menyatakan bhw ISTIGHOTSAH dan TAWASSUL dg para Nabi dan Auliya adalah MUSYRIK KAFIR. Ha…Haa…Haaa…ternyata Para Syeikh Wahabi SETALI TIGA UANG. Semuanye sama : TUKANG KAFIRIN MUSLIM !!!

56. Hei Wahabi ! Syeikh Abu Bakar AL-Jazairi dlm kitab Aqidatul Mu’min hal 144 menyatakan bhw TAWASSUL adl SYIRIK dan pelakunya KEKAL DI NERAKA. Nah, nih satu lagi Syeikh Wahabi yg pegang KUNCI PINTU NERAKA !! iiiih……sereeeeeemmm !!!

57. Hei Wahabi ! Syeikh Muhammad b Soleh Utsaimin dlm kitab Liqo Al-Bab Al-Maftuh hal 42 menyatakan bhw Imam Nawawi rhm dan Imam Ibnu Hajar Al-Asqolani rhm BUKAN Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Nah Lu, satu lagi Syeikh Wahabi SOK ASWAJA sendirian. Padahal ilmu dan jasa SI WAHABI ini thd Islam dan umatnya tdk seujung kuku Nawawi dan Ibnu Hajar. Dasar sombong ! Sok pinter Lu !! Sok suci Lu !!!

58. Hei Wahabi ! Syeikh Al-Qonuji dlm kitab Ad-Din Al-Kholish jilid 1 hal 140 mengikuti jejak Cucu Pendiri Wahabi Abdurrahman b Hasan b Muhammad b Abdul Wahhab dlm kitab Fathul Majid Syarh Kitab At-Tauhid hal 217, sama-sama menyatakan bhw TAQLID kpd Madzhab adl bagian dari SYIRIK. Wahabi mulutnya BAU, krn selalu keluar kata SYIRIK buat umat Islam sendiri. Bau Kentut Mulut Lu ! Bau Tai Bacot Lu ! ! Bau Bangke Cecongoran Lu !!!

59. Hei Wahabi ! Syeikh Nashiruddin Al-Albani dlm kitab Silsilah Al-Ahadits Ash-Shohihah jus 6 hal 676 menyatakan bhw MUSUH SUNNAH adl orang yg bermadzhab dan Asy’ariyyah serta Para Shufi dan lainnya. Nih catat satu lagi Syeikh Wahabi yg KAFIRKAN Asy’ari dan semua orang bermadzhab termasuk para ULAMA BESAR SEMUA MADZHAB. Jadi, cuma Wahabi yg Islam, sdg yg lain kafir semuanya ???!!! Dasar Kutu Onta !!!

60. Hei Wahabi ! Cucu pendiri Wahabi Syeikh Abdurrahman b Hasan b Muhammad b Abdul Wahhab dlm dua kitabnya : Qurrah ‘uyun Al-Muwahhidiin hal 47 dan Fathul Majid hal 191-192 tegas MENGGENERALISIR PENGKAFIRAN thd Muslimin di Mesir, Yaman, Iraq, Oman, Syam dan Hijaz. Ha…ha…haaaa… Apa yang Muslim cuma orang NEJED doang ??? Dasar WAHABI BAHLUL !!!

61. Hei Wahabi ! Pemerintah SAUDI mendoktrin anak-anak sekolah di Saudi via buku pelajaran sekolah SLTA terbitan Kementerian Pendidikan dlm buku pelajaran AT-TAUHID kelas 1 SLTA hal 67 bhw MUSYRIKUN adl Salafnya Jahmiyyah, Mu’tazilah dan ASY’ARIYYAH. Nih, kenalilah SAUDI sbg BA**OT WAHABI !!!

62. Hei Wahabi ! Ada kabar LUCU : Abdulkarim b Soleh Al-Wahabi dlm kitabnya Hidayatul Hairan fi Mas-alatid Dauran MENOLAK Bumi Berputar, krn Allah SWT menurut Wahabi turun dg DZATNYA ke Bumi setiap sepertiga malam terakhir, shg jika Bumi Berputar maka Allah SWT tdk naik-naik ke ‘Arsy. Makanya belajar dg ASWAJA yg meyakini bhw yg turun adl RAHMAT Allah SWT bukan DZAT Allah SWT. Maha Suci Allah SWT dari tuduhan keji Wahabi ! Emang Wahabi itu B*d*h, B**O, T***l, GO***K, Pa**ir, Id**t, Bahluuuuuul !!!

63. Hei Wahabi ! Ente bilang Allah SWT punya tangan dan kaki serta wajah, lalu duduk di atas Singgasana dan turun naik antara Langit dan Bumi. Itu artinya Wahabi MUJASSIM yg menjasmanikan Allah SWT, dan MUSYABBIH yg menyerupakan Allah SWT dg makhluq. Imam Ahmad rhm berkata : “Barangsiapa yg berkata bhw Allah adl JISIM tdk spt JISIM-JISIM maka ia telah KAFIR.” Ooii…. Ternyata Wahabi itu KAFIR dlm pandangan Imam Ahmad ! Kaciaan deh Luuu…!!

64. Hei Wahabi ! Masih soal BUMI BERPUTAR : Syeikh Ibn Baz dlm kitab Al-Adillah An-Naqliyyah wal Hissiyyah ‘ala Jiryan Asy-Syams wa Sukun Al-Ardh hal 17, 23 dan 72, serta kitab Fatawa Ibn Baz jilid 9 hal 160 yg dimuat dlm Fatwa Kerajaan Saudi No.1 / 2925 tertgl 22/7/1397 H menyatakan bhw pendapat bumi berputar adl pendapat yg sangat keji dan munkar, serta yg berpendapat tsb adl telah KAFIR dan SESAT, shg WAJIB dituntut bertaubat, jika tdk mau Taubat maka harus DIHUKUM MATI sbg KAFIR MURTAD dan hartanya disita buat Kas Negara. Wow….WAHABI SADIS !!! Lu lihat tuh….B**Onya Wahabi !!!

65. Hei Wahabi ! Masih soal BUMI BERPUTAR : Syeikh Ibnu Sholeh Al-’Utsaimin menyarankan via Majmu Fatawa wa Rasail Fadhilah Asy-Syeikh Muhammad Ibnu Sholeh Al-’Utsaimin jilid 3 Fatwa No. 428 hal 153, agar soal BUMI BERPUTAR jgn diajarkan di sekolah-sekolah. Kompakkan KUPERNYA WAHABI ?! Wahabi MADZHAB PRIMITIF !!

66. Hei Wahabi ! Masih soal BUMI BERPUTAR : Ulama sepakat bhw SALAF itu adl RASULULLAH SAW dan SHAHABAT serta TABI’IIN dan TABI’IT TABI’IN. Tp Syeikh Ibnu Baz dlm kitab Al-Adillah An-Naqliyyah wal Hissiyyah menyatakan bhw telah jadi IJMA’ SALAF spt IBNU TAIMIYYAH, IBNU KATSIR dan IBNUL QOYYIM bhw BUMI TIDAK BERPUTAR. Aneh, mereka BUKAN SALAF, kok disebut SALAF ?! Dan SALAF tdk ada yg bicara soal BUMI BERPUTAR atau TIDAK BERPUTAR, kok disebut sdh IJMA’ ?! Wahabi memang Tukang Tipu !! Sangat menjijikkan !!!

67. Hei Wahabi ! Dlm kitab Thabaqat Hanabilah karya Ibnu Abi Ya’la jilid 2 hal 39 ada sebuah Hadits Buatan Wahabi menyatakan bhw Allah SWT berupa seorang pemuda berambut ikal bergelombang mengenakan pakaian merah. Apa ini Bukan TAJSIM Dan TASYBIH ??? !!! Ini AQIDAH SESAT MENYESATKAN !!! Ternyata Wahabi BIANG BID’AH !!!

68. Hei Wahabi ! Dlm kitab At-Tauhid wa Itsbat Shifat Ar-Rabb karya Ibnu Khuzaimah saat belum TAUBAT dan masih MUJASSIM, di hal 198 menyatakan bhw Rasulullah SAW melihat Allah SWT sdh DUDUK di TAMAN HIJAU di atas KURSI EMAS di bawahnya PERMADANI EMAS yg dipikul oleh EMPAT MALAIKAT yg berupa SEORANG LELAKI, dan BANTENG, dan BURUNG ELANG, serta SINGA. Nah, dg karya spt ini Ibnu Khuzaimah dipuji oleh Ibnu TAIMIYYAH dlm Majmu’ Fatawa jilid 3 hal 192, sbg “Imamnya para Imam”. Jadi jelas sudah bhw AQIDAH WAHABI : NGAWUR dan KEBLINGER…..!!!

69. Hei Wahabi ! Dlm kitab Thabaqat Hanabilah karya Ibnu Abi Ya’la jilid 2 hal 39 dan kitab At-Tauhid wa Itsbat Shifat Ar-Rabb karya Ibnu Khuzaimah hal 198, merangkumkan AQIDAH WAHABI bhw Allah SWT berupa SEORANG PEMUDA BERAMBUT IKAL BERGELOMBANG dg PAKAIAN MERAH yg sdg DUDUK di TAMAN HIJAU di atas KURSI EMAS di bawahnya PERMADANI EMAS yg dipikul oleh EMPAT MALAIKAT yg berupa SEORANG LELAKI, dan BANTENG, dan BURUNG ELANG, serta SINGA. Ternyata ada sebuah LUKISAN NASHRANI yg menggambarkan YESUS sbg TUHAN dg ciri sama persis dg AQIDAH WAHABI tsb. Nah Lu, kok bisa SAMA gambaran TUHAN NASHRANI dg TUHAN WAHABI ???!!! Jangan-jangan SATU SUMBER nih ???!!!

70. Hei Wahabi ! Ente HARAMKAN sebut Rasulullah SAW dg SAYYIDINA, krn dianggap berlebihan. Tp Ente sebut IBNU TAIMIYYAH dan IBNU ABDUL WAHHAB dg SEGUDANG GELAR : Syeikhul Islam, Al-’Alim Ar-Rabbani, Auhadul Ulama, Awra’uz Zuhhad, Sayyidul Ulama, Khotimul Mujtahidin, Imamul Aimmah, dsb. Ape tuh gelar semuanye tdk berlebihan ??? Hei Wahabi, Adil Dong !!!

71. Hei Wahabi ! Kitab Ihya ‘Ulumid Din karya Imam Al-Ghazali rhm Ente cerca dan hina dg dalih isinya ada Hadits Palsu dan Lemah. Tp kitab Ar-Radd ‘ala Al-Jahmiyyah karya Ad-Darimi Al-Mujassim Ente puji setinggi langit, padahal isinya banyak Hadits Palsu dan Lemah. Dasar Curang… Culas…!! Wahabi CACING PASIR !!!

72. Hei Wahabi ! Katanye Ente ANTI KHUROFAT ?! Nih lihat halaman berikut dlm kitab MANAQIB AHMAD karya Ibnul Jauzi ttg DERAJAT Imam Ahmad Ibnu Hanbal : (188) Khidir AS dan Musa AS memuji Imam Ahmad. (189) Kubur Imam Ahmad menjaga Baghdad dari segala Bala’. (197) Melihat Ahmad lebih baik drpd ibadah setahun. (370) Pena Ahmad memberkahi pohon kurma yg tdk berbuah jadi berbuah. (513) Jin mengabarkan kematian Imam Ahmad sebelum wafatnya 40 hari. (549) Imam Ahmad menghardik Munkar Nakir krn tdk pantas menanyakannya “Man Robbuka?”, shg Munkar Nakir mina maaf. (550) Allah SWT tiap tahun ziarah ke Kubur Imam Ahmad. Bgmn nih ?? Khurofat bukan ?? !! Ternyata KHUROFAT WAHABI lebih gile !!!

73.Hei Wahabi ! Katanye Ente ANTI KHUROFAT ?! Nih lihat halaman berikut dlm kitab MANAQIB AHMAD karya Ibnul Jauzi ttg DERAJAT Imam Ahmad Ibnu Hanbal : (188) Khidir AS dan Musa AS memuji Imam Ahmad. (189) Kubur Imam Ahmad menjaga Baghdad dari segala Bala’. (197) Melihat Ahmad lebih baik drpd ibadah setahun. (370) Pena Ahmad memberkahi pohon kurma yg tdk berbuah jadi berbuah. (513) Jin mengabarkan kematian Imam Ahmad sebelum wafatnya 40 hari. (549) Imam Ahmad menghardik Munkar Nakir krn tdk pantas menanyakannya “Man Robbuka?”, shg Munkar Nakir mina maaf. (550) Allah SWT tiap tahun ziarah ke Kubur Imam Ahmad. Bgmn nih ?? Khurofat bukan ?? !! Ternyata KHUROFAT WAHABI lebih gile !!!

74. Hei Wahabi ! Masih soal KHUROFAT WAHABI. Dlm kitab MANAQIB AHMAD karya Ibnul Jauzi hal : (555) Imam Ahmad melihat dlm mimpi dirinya membai’at Allah SWT. (557) Lalu Allah SWT membanggakan Imam Ahmad depan para Malaikatnya. (562) Lalu Imam Ahmad menziarahi Allah SWT dan disediakan aneka hidangan. (563) Lalu Allah SWT berfirman bhw siapa yg tdk ikut Imam Ahmad maka diazab. (563) Allah SWT memerintahkan penduduk Langit dan para Syuhada menghadiri pengurusan jenazah Imam Ahmad. (564) Semua penduduk Langit dari pertama s/d ketujuh sibuk menyambut kedatangan Imam Ahmad. (567) Imam Ahmad sdh masuk surga dan sering ziarah kpd Allah SWT. (580) Barangsiapa sempit rizqinya lalu ziarah kubur Imam Ahmad di hari Rabu maka rizqinya diluaskan Allah SWT. (580) Allah SWT melihat ke kubur Imam Ahmad 70 ribu kali, shg siapa yg menziarahinya diampuni. (584) Barangsiapa dikuburkan di pemakaman Imam Ahmad maka diampuni dg berkahnya Imam Ahmad. Nah, nih KHUROFAT atau bukan ??? Kenape aneka KHUROFAT ini tdk Ente umumkan kpd umat Islam agar TIDAK TERSESAT !!!

75. Hei Wahabi ! Putra Imam Ahmad ibnu Hanbal yg bernama ABDULLAH dlm karyanya Kitabus Sunnah jilid 1 hal 184 – 210 menghina habis yg mulia IMAM ABU HANIFAH RHM dg FITNAH KEJI a.l : 1. Abu Hanifah adl KAFIR ZINDIQ. 2. Dlm Islam tdk ada yg lahir lebih jelek dan berbahaya drpd Abu Hanifah. 3.Abu Hanifah adl BIANG DOSA. 4. Abu Hanifah lebih jahat drpd pencuri. 5. Pengikut Abu Hanifah spt orang BUGIL di Masjid. 6. Benci Abu Hanifah dan pengikutnya adl berpahala. 7. Abu Hanifah lebih berbahaya drpd DAJJAL. 8. Abu Hanifah dan Shahabatnya adl kelompok paling jahat. 9. Abu Hanifah membolehkan KHAMR dan BABI. 10. Abu Hanifah disiksa kubur dan masuk NERAKA. Jadi, GAYA WAHABI suka KAFIRKAN umat Islam bukan ikut Imam Ahmad, tapi ikut ABDULLAH b Ahmad b Hanbal. Ayah lurus Ente enggak ikuti, eh..anak ngelantur Ente ikuti !!! Dasar Wahabi BOLOT and BODOL !!!

76. Hei Wahabi ! Imam Al-Hasan Al-Barbahari wafat 329 H adl Imam Besar Madzhab Hanbali yg dipuja Wahabi. Dia berpendapat bhw Allah SWT mendudukkan Nabi SAW di samping-Nya di atas ‘Arsy. Lalu dlm kitabnya Syarhus Sunnah menyatakan bhw siapa saja yg berbeda dg apa yg ada dlm kitabnya tsb adl SESAT dan KAFIR. Di hal 125 Ia menyatakan bhw Ia lebih suka seorang muslim bertemu Allah SWT sbg Penzina, Fasiq, Pencuri, dan Pengkhianat drpd bertemu Allah SWT dg (Taqlid) pendapat Fulan dan Fulan. Luaaarrrr biasaaaa….Ajaran WAHABI bhw TAQLID yg merupakan masalah khilafiyah ternyata lebih BUSUK drpd Zina, Fasiq, Mencuri dan Khianat. Hiii….Wahabi sereeeem…. menakutkan….!!! Wahabi CUCU SYETAN !!!

77. Hei Wahabi ! Dulu IBNU TAIMIYYAH dan muridnya IBNUL QOYYIM berlebihan hingga mengkafirkan ASY’ARI dan SHUFI, lalu Imam As-Subki Asy-Syafi’i rhm mengarang kitab As-Saif Ash-Shoqiil (Pedang yg Berkilat) dan menanggapinya scr ilmiah hingga mengkafirkan mereka berdua dg hujjah kuat. Belakangan Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qoyyim TAUBAT dari mengkafirkan sesama muslim. Eh…kini Wahabi SONGONG sok mengkafirkan ASY’ARI dan SHUFI. Belajar dong dari TAUBAT Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qoyyim !! OTAK taro di tempatnye, jgn di DENGKUL !!!

78. Hei Wahabi ! Ente EKSTRIM, ane enggak takut !! Dulu kalangan Hanabilah KAKEK MOYANGNYE WAHABI mengepung rumah Imam Tafsir dan Tarikh Ibnu Jarir Ath-Thabari Asy-Syafi’i rhm saat wafatnya, dg tuduhan RAFIDHOH, krn cintanya kpd Ahlul Bait, shg terpaksa beliau dikubur dlm rumahnya oleh keluarga dan para muridnya. Nih, EKSTRIMISME KAKEK MOYANG LU ! Dasar Wahabi MUSUH ULAMA !! Dasar Wahabi MUSUH ISLAM !!!

79. Hei Wahabi ! Masih soal WAHABI EKSTRIM : Kitab Tarikh Ibnu Atsir rhm menyebutkan bhw Kaum Hanabilah KAKEK MOYANGNYE WAHABI pd masa Imam Al-Barbahari Al-Hanbali di Th.323 H banyak melakukan KEJAHATAN KEJI. Ibnu Atsir juga menceritakan aneka kejadian pd Th.567 H, a.l : Imam Al-Faqih Al-Buri Asy-Syafi’i diracuni krn beda pendapat dg Hanabilah. Ayo…mau lari kamane Lu ?! Ape lu masih punye nyali PERANG lawan ASY’ARI yg saat ini menjadi AS-SAWAD AL-A’ZHOM ???!!! Ayo…kalau berani !!! Dasar Wahabi JAHAAAAAT …..!!!

80. Hei Wahabi ! Ente PENGKIHANAT !! Dlm kitab Shafahat min Tarikh Al-Jaziirah karya DR. Muhammad Awadh Al-Khathib hal 240-248 disebutkan bhw : 1. Dlm Kongres Dunia Islam Th. 1926 M semua Ulama Dunia Islam sepakat bhw TIMUR TENGAH harus bersih dari pengaruh ASING, kecuali ULAMA WAHABI yg menolak. 2. Dlm Mu’tamar Al-Aqir di kota Ahsa – Saudi Th. 1341 H dibuat perjanjian tertulis PIMPINAN WAHABI dan Wakil Inggris Sir Percy Cox bhw sepakat ada NEGARA ISRAEL di Palestina s/d Qiamat. Pantes, Saudi enggak pernah mau bantu MUJAHIDIN PALESTINA !! Nah Lu ….kebongkar lagi KEDOK WAHABI !! Dasar Wahabi pake TOPENG MUNAFIQ !!!

81. Hei Wahabi ! Madzhab Ente Madzhab berdarah-darah !! Dlm kitab ‘Unwanul Majdi fi Tarikh Najdi karya Utsman b Abdullah b Bisyr An-Najdi Al-Wahhabi hal 257-258 mengakui dg BANGGA bhw di Th. 1802 SAUD dan pasukan WAHABI nya menyerang KARBALA membunuh 2000 orang di rumah dan pasar, merampas harta benda dan menghancurkan Rumah, Masjid dan Qubbah Kubur Husein, serta menjarah semua benda berharga di tempat ziarah Husein, dg DALIH memerangi kemusyrikan. Ente PERAMPOK PEMBUNUH atas nama AQIDAH !!! Wahabi Perampooook….Penjaraah…..Pembantai !!!

82. Hei Wahabi ! Masih soal KEBIADABAN WAHABI : Mufti Syafi’iyyah di Mekkah Sayyid Ahmad Zaini Dahlan (w.1304 H) dlm kitab Umara Al-Balad Al-Haram hal 297-298 bercerita ttg PEMBANTAIAN PENDUDUK THOIF dg biadab oleh Wahabi, dg mengatas-namakan aqidah yg lurus, shg banyak wanita dan anak-anak jadi korban. Dan banyak wanita ditawan, dan DIPAKAI dg dalih budak tawanan yg halal ditiduri. Kisah yg sama diceritakan juga oleh Muhammad Muhsin Al-Amin dlm Kasyful Irtiyab hal 18. Bahkan diakui oleh Sejarawan Wahabi Syeikh Abdurrahman Al-Jibrati dlm kitab tarikh ‘Aja-ib Al-Atsar fi At-Tarajum wal Akhbar yg dinukilkan oleh Muhammad Adib Ghalib dlm kitab Min Akhbar Al-Hijaz wa Najd fi Tarikh Al-Jibrati hal.90. WAHABI BIADAB ! WAHABI PEMBANTAI !! WAHABI PEMERKOSA !!!

83. Hei Wahabi ! Masih soal KEBIADABAN : Dlm kitab ‘Unwanul Majdi fi Tarikh Najdi karya Utsman b Abdullah b Bisyr An-Najdi Al-Wahhabi hal 135-137 menceritakan bhw di bulan Muharram 1220 H / 1805 M ribuan JAMA’AH HAJI yg masih ada di Mekkah DIBANTAI oleh Wahabi. Penduduk Mekkah disiksa, anak-anak diculik dan wanita dianiaya, hingga kelaparan melanda Mekkah. Selanjutnya Wahabi menyerang Madinah dan menjarah semua hadiah dari berbagai negeri yg ditujukan utk pembangunan Masjid Nabawi. Penduduknya mereka aniaya sbgmn pendiduk Mekkah. Alasannya bela AQIDAH WAHABI yg PALING MURNI. Tuh…Lu lihat sendiri KEBIADABAN WAHABI yg diceritakan oleh Sejarawan Wahabi sendiri ! Ini FAKTA SEJARAH ttg SERIGALA WAHABI yg RAKUS dan SERAKAH !! Lu mau pungkiri ?? Mana bisa Cong !!!

84. Hei Wahabi ! Masih soal KEBIADABAN WAHABI : Dlm kitab Tarikh Najd karya Ibnu Ghannam, yg dikeluarkan Kerajaan Saudi dg pengawasan Syeikh Ibnu Baz dan keluarga Aali Syeikh Muhammad b Abdul Wahhab, jilid 2 hal 57 diceritakan ttg Pasukan Syeikh Muhammad ibnu Abdul Wahhab menyerang kampung halamannya sendiri UYAINAH dan membunuh Penguasanya di dalam MASJID saat baru usai SHALAT JUM’AT, serta membunuh penduduknya yg tdk mau ikut Wahabi. Lihat juga kitab ‘Unwanul Majdi fi Tarikh Najdi karya Utsman b Abdullah b Bisyr An-Najdi Al-Wahhabi jilid 1 hal 23. Dahsyat kejamnya ! Kepung halaman sendiri diberangus !! Wahabi SUPER KEJAAAAAAM !!!

85. Hei Wahabi ! Masih soal KEBIADABAN WAHABI thd JAMA’AH HAJI : 1. Dlm kitab Shafahat min Tarikh Al-Jaziirah karya DR. Muhammad Awadh Al-Khathib hal 198-199 disebutkan bhw pd Th.1341 H /1921 M, seribu orang JAMA’AH HAJI YAMAN dibantai Tentara Saudi Wahabi di Lembah Tanumah. 2. Dlm kitab ‘Unwan Al-Majdi fi Tarikh An-Najd karya Utsman b Abdullah b Bisyr jilid 1 hal 139 dan 143, dg BANGGA bercerita bhw Keluarga SAUD dari Dir’iyyah dan Pasukan Wahabinya SUKSES menghadang JAMA’AH HAJI Syam, Mesir, Iraq, Maroko dan Turki shg tdk bisa Haji. 3. Di Th.1408 H /1986 M, sebanyak 329 JAMA’AH HAJI IRAN yg meneriakkan ANTI AMERIKA dan ISRAEL dibantai Tentara Saudi Wahabi di depan MASJIDIL HARAM. Ooi…Islam tdk ajarkan KEBIADABAN ! Gile Lu, JAMA’AH HAJI dibantai juga !! Dasar JANGKRIK BURIK….sesama sudare Lu sikat juga !!!

86. Hei Wahabi ! Muhammad Ibnu Saud dan Muhammad Ibnu Abdul Wahhab membangun KERAJAAN WAHABI dg DARAH MUSLIMIN yg dibantai di Mekkah, Madinah, Jeddah, Thoif, Qosim, Ahsa, Uyainah, Riyadh, bahkan di Iraq, Yaman, Kuwait, Bahrain, dsb, dg DALIH memerangi MUSYRIKIN krn tdk ikut TAUHID WAHABI. Lalu Wahabi menjarah harta mereka dg dalih PAMPASAN PERANG, lalu menjadikan wanita dan anak-anak mereka sbg BUDAK dg dalih TAWANAN PERANG. Mana boleh harta muslimin DIRAMPAS dan mana boleh wanita serta anak-anak muslimin dijadikan BUDAK oleh Wahabi yg ngaku MUSLIM ??!! Akan tiba saatnya : Kerajaan yg dibangun dg DARAH akan hancur pula dg DARAH. Wahabi BUDAK HAWA NAFSU yg menghalalkan segala cara !!!

87. Hei Wahabi ! Para Syeikh Wahabi menyalahkan Al-Husein RA MELAWAN KEZOLIMAN YAZID. Al-Husein RA yg CUCU dan SHAHABAT NABI SAW direndahkan Wahabi dg dalih KHURUJ ‘ANIL IMAM yaitu keluar dari Imam / Khalifah yg sah yakni Yazid. Lalu Yazid yg membantai Al-Husein dan Keluarga Nabi SAW lainnya dipuji-puji Wahabi. Tapi, saat Muhammad Ibnu Abdul Wahhab dan Muhammad Ibnu Saud MEMBANGKANG thd KHILAFAH TURKI UTSMANI via kerja sama dg INGGRIS, hingga meruntuhkan KHILAFAH ISLAMIYYAH, tdk ada Wahabi yg menyebutnya sbg KHURUJ ‘ANIL IMAM, bahkan ikut mendukungnya hingga kini. Apa-apaan nih ?! SHAHABAT enggak boleh berontak kpd PEMIMPIN ZOLIM, tp WAHABI boleh berontak kpd PEMIMPIN ADIL sekali pun. Ente mau jadi TUHAN ? Ente mau bikin AGAMA sendiri ? Ape enggak SESAT tuh ???!!!

88. Hei Wahabi ! Elu bilang MENGHINA SHAHABAT NABI SAW adl KAFIR. Nah, nih Gue kasih tahu bhw Imam Lu IBNU TAIMIYYAH dlm kitab Minhajus Sunnah telah MENGHINA SAYYIDINA ALI RA : 1. Ali orang yg SIAL dan berperang utk KEKUASAAN bukan utk AGAMA, serta LEMAH dan TIDAK ADIL. (2 / 203-204). 2. Ali sama dg FIR’AUN dan tdk pantas masuk SURGA. (2 / 202-205 dan 232-234). 3. Ali tercela dan bersalah krn menumpahkan DARAH MUSLIMIN. (3 / 156). 4. Ali lakukan NEPOTISME. (3 / 236-237). 5. Ali tdk jadi RUJUKAN, krn tdk ada satu pun IMAM MADZHAB yg ikut Fiqihnya, bahkan Ahli Madinah tdk ada yg mengambil ilmunya. (4 / 142-143). Hei Wahabi : Ape ini tdk hina SHAHABAT NABI SAW ?! Kenape Lu enggak KAFIRKAN Ibnu Taimiyyah ?! Dasar NAWASHIB Lu !!! Wahabi MUSUH Keluarga Nabi SAW !!!

89. Hei Wahabi ! Masih soal Imam Lu IBNU TAIMIYYAH yg telah HINA SHAHABAT NABI SAW. Nih, tambahan buat Lu, bhw dlm kitab MINHAJUS SUNNAH, die hina FATHIMAH RA dan AL-HUSEIN RA yaitu PUTRI dan CUCU NABI SAW : 1. Menyifatkan Fathimah RA dg MUNAFIQ krn menuntut warisan Fadak kpd Abu Bakar RA. (2 / 169). 2. Menyesatkan Al-Husein RA krn melawan Yazid yg disebut sbg Imam yg sah. (2 / 241). 3. Meremehkan PEMBUNUHAN Al-Husein RA dg mengatakan bhw Yazid tdk lebih kejam drpd Bani Israil, krn Bani Israil membunuh para Nabi, sdg Yazid membunuh Al-Husein tdk lebih besar drpd itu. (2 / 247). EDAN…Imam Lu berani hina Keluarga kesayangan Nabi SAW !! Imam Lu anggap enteng pembunuhan CUCU KESAYANGAN NABI SAW !! Pantes Lu Wahabi pada benci keluarga Nabi SAW, Imam Lu yg ngajarin ??!! Ape enggak KAAAAAFIR ….???!!
90. Hei Wahabi ! Nih, tambahan lagi ttg Imam Lu IBNU TAIMIYYAH : Dlm Minhajus Sunnah nya disebut bhw Islamnya ALI RA adl MASYKUK (diragukan) krn kecilnya. Dan bhw Islamnya Mu’awiyah dan anaknya Yazid lebih MUTAWATIR drpd Islamnya ALI RA. Pantes, Imam Ibnu Hajar rhm dlm kitab LISANUL MIZAN menyatakan bhw Ibnu Taimiyyah saat menanggapi RAFIDHOH kelewatan sampai merendahkan Ali RA. Nah Lu Wahabi, Gue mau ingetin Lu : bhw Ibnu Taimiyyah sdh hina Ali RA, Fathimah RA dan Al-Husein RA. Dan hina mereka adl hina SHAHABAT. Dan hina SHAHABAT menurut Wahabi adl KAAFIR ! Jadi, Ibnu Taimiyyah menurut Wahabi sdh KAAFIR dong ???!!!

91. Hei Wahabi ! Ada kabar gembira nih buat kite semua : bhw MURID Syeikh Ibnu Baz yg bernama Hasan b Farhan Al-Maliki, warga Riyadh asli Wahabi, menulis dua kitab : 1. Da’iyah wa Laisa Nabiyyan yaitu kitab yg dg jujur mengkritisi madzhabnya sendiri yg terlalu mengagung-agungkan dan mengkultuskan Imam-Imam dan Syeikh-Syeikh WAHABI. 2. Qira-ah di Kutub Al-Aqoid yaitu kitab yg dg jujur mengkritik keras METODE AQIDAH WAHABI yg mengarah kpd TAJSIM, TASYBIH, TABDI’ dan TAKFIR. Lu baca ! Biar Lu Tobat !! Mumpung belum terlambat !!!

92. Hei Wahabi ! Nih pernyataan JUJUR Hasan b Farhan Al-Maliki Al-Wahhabi dlm kitab Qira-ah fi Kutub Al-Aqoid : 1. Bhw HANABILAH adl Madzhab Sunni yg paling keras dlm TAKFIR dan TABDI’ serta FATWA MATI thd lawan pendapat. (Footnote No 6 dlm Muqoddimah). 2. Bhw HANABILAH terkenal dg KEBENCIAN thd Ahlul Bait Nabi SAW dan pembelaannya thd BANI UMAYYAH, khususnya sejak zaman Ibnu Taimiyyah. (hal 64-65). 3. Bhw umat Islam bisa memaklumi lahirnya aneka kerajaan setelah masa Kerajaan Bani Umayyah, tp tdk bisa MENTOLERIR perbuatan Bani Umayyah yg merubah SISTEM KHILAFAH NABAWIYYAH menjadi sistem kerajaan, dan memulai penghinaan serta permusuhan thd Ahlul Bait Nabi SAW, shg ditiru oleh kerajaan sesudahnya. (hal 75). Ini baru WAHABI JUJUR dan harus Ente contoh ! Jangan Ente jadi WAHABI SESAT !!

93. Hei Wahabi ! Nih lagi pernyataan JUJUR Hasan b Farhan Al-Maliki Al-Wahhabi dlm kitab Qira-ah fi Kutub Al-Aqoid : 1. Bhw dlm Madzhab HANABILAH banyak GHULUW dan KHUROFAT serta CERITA BOHONG dan PENGKAFIRAN MUSLIM yg dilakukan Ulama Besar Madzhab Hanabilah. (hal 149-153). 2. Bhw jika Muhajirin dan Anshor DILARANG berbangga-bangga dg HIJRAH dan NUSHROH, padahal ada pujian dlm Al-Qur’an. Lalu bgmn kini dg yg berbangga-bangga dg Sunni, Syi’i, Mu’tazili, Shufi, Salafi, Wahabi, Ibadhi, dsb, apalagi tdk ada pujiannya dlm Al-Qur’an. (hal 184). 3. Bhw istilah SALAF telah dimanipulasi dan dieksploitasi utk kepentingan MADZHAB. Tiap Madzhab punya Salaf sendiri, dan penghormatannya kpd SALAFNYA sering melebihi penghormatannya kpd Nabi SAW. (hal 190). Nah, ini WAHABI ADIL ! Hormati SEMUA MADZHAB !! Enggak spt Ente WAHABI EKSTRIM !!!

94. Hei Wahabi ! Dlm USHULUDDIN baik Aqidah. Syariat mau pun Akhlaq, umat Islam TIDAK BOLEH BEDA !! Tapi dlm FURU’UDDIN baik Aqidah, Syariat mau pun Akhlaq, umat Islam BOLEH BEDA asal punya DALIL SYAR’I !!! Jadi, dlm Aqidah ada Ushul yg tdk boleh beda dan ada juga Furu’ yg boleh beda. Nah, BEDA AQIDAH boleh, asal dlm FURU’ Bukan USHUL. Buktinya, Shahabat sbg SALAF Umat Islam BEDA dlm FURU’ AQIDAH : 1. Soal Isra Mi’raj Nabi SAW, menurut Aisyah RA hanya dg Ruh, sdg menurut Jumhur Shahabat RA dg Ruh dan Jasad. 2. Soal Nabi SAW melihat Allah SWT saat Isra Mi’raj, menurut Aisyah RA tdk melihat, dan menurut Anas RA melihat, sdg menurut Ibnu Abbas RA melihat dg hati. Namun demikian, semua SEPAKAT bhw Peristiwa Isra Mi’raj Nabi SAW adl Fakta, Nyata dan Benar, bukan Dongeng, Khurofat atau Takhayyul, krn ini USHUL AQIDAH yg tdk boleh beda. Lu paham enggak ???!!! Kalau belum paham, belajar dong ! B**O jgn dipiara !! Supaya enggak gampang KAFIRKAN orang Islam !!!

95. Hei Wahabi ! Nih lagi pelajaran buat Ente : Jangan masalah FURU’ Ente jadikan USHUL : Adzan, Iqomat dan Talqin buat Mayyit serta Tawassul dan Tabarruk adl soal FURU’ AQIDAH bukan USHUL AQIDAH, shg itu hanya perbedaan bukan penyimpangan. Ente jgn tiru LIBERAL yg sebaliknya, soal USHUL dianggap FURU’, shg Kafir Ahmadiyah dan aliran sesat lainnya, dianggap perbedaan bukan penyimpangan. Agama jadi kacau gara-gara WAHABI dan LIBERAL yg suka RANCUH putar balik soal USHUL dan FURU’ !! Ayo…, pinter sedikit … jangan keblinger terus !!!
96. Hei Wahabi ! Ketika Imam Bukhari menta’wilkan sebuah ayat, Al-Albani sang Muhaddits tanpa sanad andalan WAHABI berkata: “Pendapat al-Bukhari yang melakukan ta’wil terhadap ayat di atas ini tidak sepatutnya diucapkan oleh seorang Muslim yang beriman”. Dengan beraninya Albani bertindak kurang ajar terhadap Imam Bukhari dengan mengatakan bahwa hal tersebut tidak patut diucapkan oleh seorang Muslim. Secara tidak langsung, seolah-olah al-Albani mengatakan bahwa ta’wilan al-Imam al-Bukhari tersebut pendapat orang kafir (selain Muslim). Al-Bani mencela Imam Bukhari tapi mengambil hadits Imam Bukhari untuk dimasukkan kedalam Kitab-kitabnya. Aneh khan ??!! Tukang jam berani kurang ajar sama Imam besar ? Gebleek !!!
97. Hei Wahabi ! Pada sebuah riwayat yang menjelaskan tentang sebuah dalil tawassul, al-Bani mengingkari tentang keshahihan riwayat tersebut dengan bersikeras menyatakan bahwa salah satu sanad riwayat tersebut, Sa’id ibn Zaid adalah pribadi yang cacat dan lemah. Di dalam bukunya at-Tawassul anwaa’uhu wa ahkaamuhu, demi untuk mengharamkan hukum tawassul, Al-Bani berani menghukumi Sa’id ibn Zaid sebagai cacat dan tidak tsiqah (tidak dapat dipercaya). Berkata Al-Bani : “Aku (al-Albani) berkata: “Sanad ini dinyatakan lemah, tidak selayaknya dijadikan hujjah/dalil dikarenakan oleh tiga hal: Pertama, Sa’id ibn Zaid adalah saudara Hammad ibn Zaid yang lemah. Telah berkata al-Hafizh di dalam [[at-Taqrib]]: ‘Dia adalah perawi jujur yang suka berhalusinasi’. Adz-dzahabi berkata di dalam di dalam [[al-Mizaan]]: Yahya ibn Sa’id: ‘Dia lemah’, Sa’di berkata: ‘Tidak dapat dijadikan hujjah.’ Mereka melemahkan hadits-haditsnya, an-Nasa’i dan yang lain berkata: ‘Dia tidak kuat.’ Dan Ahmad berkata: ‘Tidak ada masalah dengan Sa’id ibn Zaid, sedangkan Yahya ibn Sa’id tidak memakainya.’ “.Namun, anehnya di kitab beliau yang lain yaitu Irwa’ al-Ghalil jilid 5 halaman 338 disebutkan bahwasanya Sa’id ibn Zaid dinyatakan baik sanadnya. Berkata Al-Bani : “Aku (al-Albani) berkata: “Dan ini adalah sanad yang baik. Semua perawinya adalah orang-orang yang terpercaya (tsiqah). Mengenai Sa’id ibn Zaid –saudara Hammad ibn Zaid–, hadits-haditsnya tidak turun dari darajat hasan, insya’ Alloh Ta’aala. Dan telah berkata ibn al-Qayyim di dalam [[al-Farusiyyah]]: ‘Dia sanad haditsnya baik’. “.Nah, saling kontradiksi bukan? Di satu sisi beliau mengatakan Sa’id ibn Zaid lemah sanadnya, namun di satu sisi beliau menetapkan Sa’id ibn Zaid sebagai sanad perawi yang tsiqah yang derajat hadits-haditsnya tidak turun dari derajat hasan. Kesimpulannya adalah, al-Albani pada saat memerlukan dalil-dalil untuk mengharamkan amalan tawassul beliau dengan beraninya mendhaifkan Sa’id ibn Zaid. Namun, di tempat lain ketika al-Albani memerlukan hadits Sa’id ibn Zaid sebagai pendukung dalilnya, maka beliau menyatakan bahwa Sa’id ibn Zaid adalah orang jujur, terpercaya, dan sanadnya tidak turun dari derajat hasan. Nahlo … ketauan akal-akalan Wahabi khan dalam mengambil dalil ?
98. Hei Wahabi ! Biar Lu Tahu bhw Gue ASY’ARI Tulen : 1. Menolak TAJSIM, TASYBIH, TA’THIL, KHUROFAT, TAKFIR dan TABDI’. 2. CINTA Rasulullah SAW dan Ahlul Baitnya serta semua Shahabatnya juga semua Ulama Salaf. 3. Menghormati semua Madzhab Islam kecuali GHULAT dari madzhab mana pun datangnya. Ini peringatan TERAKHIR buat WAHABI INDONESIA ! Ente KAFIRKAN ASY’ARI berarti Ente Nantang PERANG !! Lu Jual Gue Borong !!!

99. Hei Wahabi ! Cukup ye…, Lu jangan kurang ajar kpd Guru-Guru gue dari kalangan SYAFI’I dan ASY’ARI, baik HABAIB mau pun KYAI !! Khususnya HABIB RIZIEQ, Lu pukul die sekali, Gue pukul Lu seratus kali !! ASY’ARI tidak pernah usil thd WAHABI, kenape Lu usil melulu ??!! Lu mau damai boleh, Lu mau perang jadi !!! Ente HORMATI ASY’ARI dan muslimin lainnya, Ane hormati Ente. Ente tdk KAFIRKAN ASY’ARI dan muslimin lainnya, Ane tdk akan KAFIRKAN Ente. OK !!!

100. Hei Wahabi ! Akhirnya Gue tutup nih Tegoran Ilmiah buat Wahabi Ekstrim !! Gue enggak punya maksud ape-ape, kecuali agar supaye Wahabi enggak seenaknye mengkafir-kafirkan kaum muslimin. Guru Besar Gue HABIB RIZIEQ ngajarin bhw Gue wajib hormati Lu punya Madzhab dan Pandangan, tp Lu juga WAJIB hormati Gue punya Madzhab dan pandangan dong!!! Mudah-mudahan Lu ngerti, shg kite bisa hidup damai saling berdampingan. Sorry ye, kritikan gue kasar, darisononye Lu kasar juga sih ngafir-ngafirin Imam-Imam Madzhab Gue. Semoga Lu dan Gue dapat TAUFIQ dan HIDAYAH. Aamiiin !

Catatan:

Tulisan di atas adalah tulisan dari pengurus FPI, Abu Muhammad Yusuf, yang marah saat gurunya Habib Rizieq Syihab difitnah dan dituding sebagai Syi’ah oleh Wahabi. ” Padahal bukan. Tuduhan Syi’ah itu sama dengan memfitnah Habib sebagai kafir yang halal darahnya untuk dibunuh. Karena menurut (minimal sebagian Wahabi Ekstrim), Syi’ah itu 100% kafir dan halal darahnya.

Sebagian tulisan disensor dan diganti hurufnya dengan asterisk (*). Ini menggambarkan kemarahan yang amat sangat saat seorang murid melihat gurunya dihina.

Mudah-mudahan kita semua bisa menahan diri dan bisa menjaga ukhuwah Islamiyyah. Hindari pernyataan atau sikap yang bisa membuat marah kelompok Muslim lainnya.

NU – Syi’ah dan Muhammadiyah trisula tiga serangkai pembela Islam di Indonesia

Buah Ukhuwah, adalah salah satu nikmat yang besar di Surga nanti. Allah melenyapkan dari hati-hati penghuni surga segala bentuk hal yang menghalangi nikmat persaudaraan seperti hasad, dendam, su’udzon dll.

Allah berfirman,

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam surga (taman-taman) dan (di dekat) mata air-mata air (yang mengalir). (Dikatakan kepada mereka): “Masuklah ke dalamnya dengan sejahtera lagi aman”. Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.(QS Al Hijr: 45-47)

Gusdur berkata: NU itu Syiah Minus Imamah

Sebagian sikap dan pemikiran Gus Dur mendapat apresiasi dari beberapa ulama Syiah Indonesia.
“Gus Dur selalu menganjurkan kebaikan kepada kelompok minoritas, termasuk kita yang berpegang pada madzhab Ahlul Bait, Syiah. Kita merasa dibela Gus Dur dari beberapa kelompok yang akan membubarkan Syiah. Gus Dur juga selalu mengatakan bahwa Syiah itu adalah NU plus imamah dan NU itu adalah Syiah minus imamah. Bahkan beliau orang yang pertama di Indonesia yang bukan Syiah yang menggelar peringatan Asyura di Ciganjur,”
Dialog GusDurian: Sunni-Syiah Wajib Bersatu

Dialog GusDurian: Sunni-Syiah Wajib Bersatu

IMG_0720Suasana cair dan akrab ditingkah obrolan gayeng tapi santai mewarnai acara dialog bertajuk Titik Temu Sunni-Syiah yang digagas Jaringan GusDurian Jumat malam (7/2) kemarin bertempat di kantor Wahid Institute Jakarta. Suasana hangat itu tak lepas dari peran Zuhairi Misrawi selaku Ketua Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama (Lakpesdam NU) sebagai moderator yang memandu jalannya dialog malam itu. Acara yang dimulai pukul 19.00 hingga 20.00 WIB itu dihadiri sekitar 200-an peserta dan dibuka penampilan grup musik “Zarb Ava” asal Iran.

Dalam kesempatan itu KH. Masdar F. Mas’udi dengan agak berseloroh menyatakan, “Harusnya malam ini pihak panitia juga menghadirkan kelompok ekstrim kiri ya? Sebab Kang Jalal ini kan mewakili kelompok ekstrim kanan. Lha kita sebagai NU sebenarnya berada di posisi tengah. Nah, dengan begitu maka kita yang bisa jadi wasitnya.”
Jalaluddin Rahmat yang biasa disapa Kang Jalal itu memang hadir mewakili pembicara dari pihak Syiah. Sementara KH. Masdar F. Mas’udi, selaku Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), dalam hal ini hadir mewakili pihak Sunni.

Pernyataan KH. Masdar diamini Kang Jalal seraya mengingatkan kembali kepada seluruh hadirin tentang statemen tegas almarhum Gus Dur yang menekankan lebih banyaknya persamaan antara Sunni dengan Syiah dibandingkan perbedaan yang ada di antara keduanya. Bagi Kang Jalal, sama saja mau disebut NU itu sebenarnya Syiah Minus Imamah ataukah dengan istilah lain Syiah itu NU Plus Imamah.

Hal ini diperkuat juga oleh Alissa Wahid selaku tuan rumah yang dalam sambutannya mengungkapkan salah satu alasan penyelenggaraan dialog itu. “Akhir-akhir ini Indonesia kerap mengalami konflik horizontal di akar rumput atas nama perbedaan yang seringkali cenderung dibesar-besarkan. Itulah sebabnya dialog seperti ini kami rasa penting untuk terus dilakukan,” tuturnya menegaskan ulang bahwa dialog dan silaturrahmi adalah dua di antara warisan kongkrit yang ditinggalkan almarhum Gus Dur sebagai tokoh yang lebih konsen terhadap terciptanya kedamaian dan persatuan di tubuh umat Islam.

KH. Masdar pun menekankan betapa pentingnya tercipta jalinan persatuan yang kuat antara Sunni dengan Syiah. “Mari titik-temu itu kita sederhanakan saja, lah. Rasanya cukup dengan sama-sama mempercayai La ila ha illallah saja, artinya itu sudah bisa dianggap sebagai sesama Muslim dan karenanya juga kita ini bersaudara.”

Tamu lain yang juga tak kalah penting adalah Mr. Ebrahimiyan, Atase Kebudayaan Iran di Indonesia yang dalam sambutannya mengingatkan bahwa jumlah Muslim di dunia saat ini mencapai 1,6 miliar. Jumlah yang menurutnya begitu besar sehingga tak mengherankan bila selama ini mampu menggetarkan musuh. Maka  timbullah upaya mengadu domba dan memecah belah persatuan umat Islam sebagai agenda musuh yang utama agar kita menjadi lemah. Karena itu, senada dengan pembicara lain, Ebrahimiyan pun menekankan betapa pentingnya upaya mempererat persatuan antara sesama Muslim.

Di akhir acara, panitia sengaja membagikan seratus buku gratis berjudul “Titik Temu Sunni-Syiah” dan sejumlah Al-Quran terbitan Iran bagi peserta, untuk lebih meyakinkan bahwa Al-Quran Syiah sesungguhnya benar-benar sama dengan Al-Quran Sunni.

Bagian 2
Karikatur Ukhuwah
I LOVE UKHUWAH ISLAMIYAH
Alhamdulillah, semoga kita menyadari tentang apa yang sesungguhnya berlaku di antara Umat Islam. Perselisihan mazhab hanya dicipta demi kepentingan musuh-musuh Islam demi memperlemah barisan manusia yang berideologi bahwa Tiada Tuhan Selain Allah swt dan Nabi Muhammad saw Utusan Allah swt. Insya’Allah dengan gambar-gambar ini bisa menceritakan keadaan sesungguh UKHUWAH antara Muslim Sunni dan Muslim Syiah. Sungguh Indah Ukhuwah, Kebersamaan dan Harmoni Sesama Muslimin itu Sangat Indah.. wassalam-

penyebaran Wahabi di Indonesia ; serobot masjid NU dan tahapan ajaran radikal

Analis: Agenda Arab Saudi, Basmi Kaum Non-Wahhabi

Siasat Wahabi Serobot Masjid NU

Gerakan Takfiri Internasional
Siasat Wahabi Serobot Masjid NU

Inilah siasat kelompok Wahabi merebut kuasa di sebuah masjid. Mula-mula mereka mengontrak dekat masjid menjadi sasaran.

Dengan halus mereka sukarela menjadi marbot atau pembersih masjid. Lalu pelan-pelan menyebarkan ajaran dengan mengajar mengaji anak-anak. Lantas mereka bisa naik pangkat menjadi imam kalau tidak ada imam rutin. Bahkan, ada yang mengawini anak atau kerabat imam masjid.

Kemudian lambat laun dia merambat masuk dalam kepengurusan masjid dan berusaha menguasai program. Orang-orang alirannya pelan-pelan dimasukkan menjadi pengurus. “Lalu pengurus lama disingkirkan,” kata Ketua Lembaga Takmir Masjid Pengurus Besar nahdhatul Ulama Kiai Abdul Manan al-Ghani saat dihubungi merdeka dot com melalui telepon selulernya Kamis pekan lalu.

Kiai Abdul Manan benar-benar prihatin dengan fenomena perebutan masjid oleh kelompok Wahabi dan salafi. “Jumlah masjid NU di Jawa telah mereka rebut sekitar 300,” ujarnya.

Dia menambahkan ada juga yang masuk dengan cara memberikan bantuan. Lalu dia berusaha mempengaruhi semua kegiatan di masjid penerima bantuan. Penyumbang ini juga akhirnya menjadi pengurus lantaran pengurus lain merasa tidak enak sebab dia sudah banyak membantu keuangan masjid.

Akhirnya bisa ditebak. Masjid yang tadinya biasa membaca doa qunut saban salat subuh, menggelar acara maulid, dan tahlil, semua kegiatan semacam ini hilang. Alasannya bidah.

Menurut Kiai Abdul Manan, kedutaan Besar Arab Saudi di Jakarta menyokong penuh penyebaran ajaran Wahabi di Indonesia. Sokongan itu melalui bantuan keuangan disalurkan lewat lembaga Al-Mulhaq ad-Dini. “Semua biaya pembangunan masjid mereka tanggung. Buku-buku dan ustadnya juga mereka sediakan,” tuturnya.

 

Syeikh al-Jabri Ulama Ahlussunnah: Musuh Islam Sedang Menghancurkan Persatuan Umat Islam.

Wakil Ketua Front Amal Islam Lebanon, Syeikh Abdul Naser al-Jabri, menyatakan bahwa Republik Islam Iran berjalan mengikuti jalur Islam yang sejati.
Rasa News (9/2) melaporkan, Syeikh al-Jabri yang merupakan salah satu ulama Sunni dan menjabat sebagai Wakil Ketua Front Amal Islam Lebanon, dalam Konferensi Persatuan Islam ke-25 di Tehran mengatakan bahwa musuh-musuh Islam sedang menghancurkan persatuan umat Islam. Dikatakannya, “Amerika Serikat, rezim Zionis Israel, negara-negara Barat, dan sejumlah penguasa Arab, tidak mempedulikan persatuan umat Islam dan mereka menilai perbedaan fiqih antara Sunni dan Syiah itu tidak ada nilainya.”
Menurutnya, kekhawatiran utama negara-negara tersebut adalah politik Republik Islam Iran yang mengikuti jejak Islam hakiki untuk persatuan dan stabilitas umat Islam. Barat sangat mengkhawatirkan bangsa-bangsa Islam.
Syeikh al-Jabri mengkritik keras serangan media terhadap pemerintah Suriah dan menjelaskan bahwa Amerika, Israel, dan sekutu-sekutu mereka, menyerang habis-habisan kawasan ini dan berbeda dengan sebelumnya, serangan mereka kali ini dilakukan secara frontal dan terbuka. Mereka ingin Suriah berubah menjadi medan tempur dan bahkan mereka melangkah lebih jauh dengan merencanakan serangan ke Iran.
Ulama Sunni ini juga mengkritik kebijakan sejumlah negara Arab terhadap Republik Islam Iran. Dijelaskannya, “Negara-negara yang dulunya berpihak kepada rezim Saddam dalam menyerang Iran. Mereka melepaskan dukungan terhadap Saddam karena instruksi Amerika Serikat agar Washington dapat menyerang Baghdad. Kini negara-negara itu pula yang mendukung Amerika dan Barat melancarkan serangan militer ke Iran.
Pada abad ke-21, seperti di akhir abad ketujuh, kemurtadan di semenanjung Arab sama dengan kematian. Sementara itu, di negara-negara seperti Arab Saudi dan Somalia, jika laki-laki non-Muslim ingin menikahi seorang wanita Muslim berdasarkan ” cinta sejati”, maka itu dapat berujung penjara atau kematian. – See more at: http://www.inilah-salafi-takfiri.com/general/analis-agenda-arab-saudi-basmi-kaum-non-wahhabi#sthash.z1tExU2O.dpuf
Pada abad ke-21, seperti di akhir abad ketujuh, kemurtadan di semenanjung Arab sama dengan kematian. Sementara itu, di negara-negara seperti Arab Saudi dan Somalia, jika laki-laki non-Muslim ingin menikahi seorang wanita Muslim berdasarkan ” cinta sejati”, maka itu dapat berujung penjara atau kematian. – See more at: http://www.inilah-salafi-takfiri.com/general/analis-agenda-arab-saudi-basmi-kaum-non-wahhabi#sthash.z1tExU2O.dpuf
The real leader Wahhabi (http://www.syrianews.cc)

Jika Anda ingin mengunjungi sebuah negara pendukung hukum apartheid yang absolut, maka, selamat datang di Arab Saudi!

“Ya, di Arab Saudi, tak satupun dari kuil Buddha, gereja Kristen, candi Hindu, dan rumah ibadah non-Muslim lainnya ditoleransi,” ungkap jurnalis Modern Tokyo Times, Ramazan Khalidov dan Lee Jay Walker. Namun, lanjut keduanya, kendati mendukung nilai-nilai multi-budaya, AS Perancis, Inggris, dan negara Barat lainnya tidak keberatan berbisnis dengan negara yang melarang agama non-Muslim serta mendukung apartheid ala “Islam versi Wahhabi” dan pernikahan anak di bawah umur.

Tentu saja, Arab Saudi tidak sendirian dalam mendukung apartheid ala Wahhabi, namun yang membuatnya lebih buruk adalah, bangsa ini mengekspor terorisme, menjejalkan paham berbahaya Salafi-Wahhabi, dan mendanai lembaga pendidikan yang menghasut kebencian. Meski demikian, saat Barat berada dalam mode penghancuran-diri, [monarki] Teluk petrodolar ini dibolehkan untuk menyebarkan indoktrinasi dan kolom kelima di banyak masyarakat.

Karena itu, Arab Saudi mengucurkan dana besar-besaran untuk menyebarkan “Islam versi Wahhabi” dan membeli institusi Barat yang kuat dengan uang untuk membuat sejarah palsu. Kemunafikan terang-terangan ini terus dibiarkan karena… politisi internasional terlalu bungkam.

Pada abad ke-21, seperti di akhir abad ketujuh, kemurtadan di semenanjung Arab sama dengan kematian. Sementara itu, di negara-negara seperti Arab Saudi dan Somalia, jika laki-laki non-Muslim ingin menikahi seorang wanita Muslim berdasarkan ” cinta sejati”, maka itu dapat berujung penjara atau kematian.

Namun, [monarki] Teluk petrodolar memicu konservatisme radikal… revolusi kontra-Islam ini mengancam kekuatan progresif di Bangladesh, Mesir, Indonesia, Irak, Pakistan, Suriah, Turki, dan negara-negara lain–dan yang mengejutkan, kekuatan besar Barat acapkali berpihak pada agenda Arab Saudi dan [monarki] Teluk dalam, salah satunya, melawan pasukan sekuler di negara-negara seperti Suriah.

Arab Saudi dan [monarki] Teluk melalui kekuatan dana nyaris tak terbatas saat ini, berusaha membasmi entitas non-Muslim, bahkan internal Muslim sendiri, seperti Syiah, dalam jangka panjang… Secara eksternal, Arab Saudi dan negara-negara lain seperti Qatar dan Pakistan terang-teranga mengekspor teroris dan pasukan takfiri ke pelbagai negara yang berbeda. Dengan kata lain, Arab Saudi, Pakistan, dan Qatar, serta beberapa pihak lainnya, sangat berbahaya karena merusak banyak negara seraya menghancurkan adat-istiadat Islam di Libya, Indonesia, Suriah, dan Bangladesh.

Presiden Obama dan presiden AS lain sebelumnya telah menjual jiwa kolektifnya dengan menutup mata terhadap realitas brutal Arab Saudi… jelas bahwa Arab Saudi dan [monarki] Teluk petrodolar menyebarkan ideologi berbahaya secara jauh dan luas… yang mencemari demokrasi dan nilai-nilai multi-budaya di tanah air masing-masing.

Inilah saatnya memberi tekanan nyata pada Arab Saudi yang [secara arogan] mendukung apartheid dan mengekspor ekstrimis Salafi [Wahhabi]. Seiring dengan itu, sudah saatnya pula membedakan antara Islam pribumi Suriah dengan “Islam” versi takfiri–yang mulai subur di Indonesia–dan sebagainya.

Memang, pasukan takfiri Wahhabi yang berkembang biak di sejumlah monarki Teluk petrodolar berusaha menghancurkan seluruh kekuatan moderat di “dunia Muslim yang beragam”. Karena itu, takfiri radikal menghancurkan padepokan Sufi, masjid Syiah, kuil Ahmadiyah, membunuh ulama Muslim Sunni pribumi di Suriah, dan memendam kebencian terhadap kalangan Alawi–serta realitas brutal lainnya.

Jika Islam [yang berusaha dihancurkan kaum takfiri] ini sampai hilang, niscaya semua harapan ko-eksistensi akan hilang dan jurang lebih luas akan muncul di kancah internasional. Kenyataan ini harus dipahami dan kemudian segera ditangani.

Namun saat ini AS dan negara-negara Barat utama lainnya justru berpihak pada kekuatan [moarki] Teluk petrodolar. Sampai ini berakhir, tak akan ada yang berubah, yang karenanya suatu tatanan baru perlu dimunculkan untuk memutus matarantai [kebrutalan Arab Saudi]. Jika tidak, negara-negara demokratis akan menabur lebih banyak benih kebencian, destabilisasi, dan sektarianisme, sesuai keinginan Arab Saudi dan kekuatan [monarkis] Teluk lainnya.

- See more at: http://www.inilah-salafi-takfiri.com/general/analis-agenda-arab-saudi-basmi-kaum-non-wahhabi#sthash.z1tExU2O.dpuf

The real leader Wahhabi (http://www.syrianews.cc)

Jika Anda ingin mengunjungi sebuah negara pendukung hukum apartheid yang absolut, maka, selamat datang di Arab Saudi!

“Ya, di Arab Saudi, tak satupun dari kuil Buddha, gereja Kristen, candi Hindu, dan rumah ibadah non-Muslim lainnya ditoleransi,” ungkap jurnalis Modern Tokyo Times, Ramazan Khalidov dan Lee Jay Walker. Namun, lanjut keduanya, kendati mendukung nilai-nilai multi-budaya, AS Perancis, Inggris, dan negara Barat lainnya tidak keberatan berbisnis dengan negara yang melarang agama non-Muslim serta mendukung apartheid ala “Islam versi Wahhabi” dan pernikahan anak di bawah umur.

Tentu saja, Arab Saudi tidak sendirian dalam mendukung apartheid ala Wahhabi, namun yang membuatnya lebih buruk adalah, bangsa ini mengekspor terorisme, menjejalkan paham berbahaya Salafi-Wahhabi, dan mendanai lembaga pendidikan yang menghasut kebencian. Meski demikian, saat Barat berada dalam mode penghancuran-diri, [monarki] Teluk petrodolar ini dibolehkan untuk menyebarkan indoktrinasi dan kolom kelima di banyak masyarakat.

Karena itu, Arab Saudi mengucurkan dana besar-besaran untuk menyebarkan “Islam versi Wahhabi” dan membeli institusi Barat yang kuat dengan uang untuk membuat sejarah palsu. Kemunafikan terang-terangan ini terus dibiarkan karena… politisi internasional terlalu bungkam.

Pada abad ke-21, seperti di akhir abad ketujuh, kemurtadan di semenanjung Arab sama dengan kematian. Sementara itu, di negara-negara seperti Arab Saudi dan Somalia, jika laki-laki non-Muslim ingin menikahi seorang wanita Muslim berdasarkan ” cinta sejati”, maka itu dapat berujung penjara atau kematian.

Namun, [monarki] Teluk petrodolar memicu konservatisme radikal… revolusi kontra-Islam ini mengancam kekuatan progresif di Bangladesh, Mesir, Indonesia, Irak, Pakistan, Suriah, Turki, dan negara-negara lain–dan yang mengejutkan, kekuatan besar Barat acapkali berpihak pada agenda Arab Saudi dan [monarki] Teluk dalam, salah satunya, melawan pasukan sekuler di negara-negara seperti Suriah.

Arab Saudi dan [monarki] Teluk melalui kekuatan dana nyaris tak terbatas saat ini, berusaha membasmi entitas non-Muslim, bahkan internal Muslim sendiri, seperti Syiah, dalam jangka panjang… Secara eksternal, Arab Saudi dan negara-negara lain seperti Qatar dan Pakistan terang-teranga mengekspor teroris dan pasukan takfiri ke pelbagai negara yang berbeda. Dengan kata lain, Arab Saudi, Pakistan, dan Qatar, serta beberapa pihak lainnya, sangat berbahaya karena merusak banyak negara seraya menghancurkan adat-istiadat Islam di Libya, Indonesia, Suriah, dan Bangladesh.

Presiden Obama dan presiden AS lain sebelumnya telah menjual jiwa kolektifnya dengan menutup mata terhadap realitas brutal Arab Saudi… jelas bahwa Arab Saudi dan [monarki] Teluk petrodolar menyebarkan ideologi berbahaya secara jauh dan luas… yang mencemari demokrasi dan nilai-nilai multi-budaya di tanah air masing-masing.

Inilah saatnya memberi tekanan nyata pada Arab Saudi yang [secara arogan] mendukung apartheid dan mengekspor ekstrimis Salafi [Wahhabi]. Seiring dengan itu, sudah saatnya pula membedakan antara Islam pribumi Suriah dengan “Islam” versi takfiri–yang mulai subur di Indonesia–dan sebagainya.

Memang, pasukan takfiri Wahhabi yang berkembang biak di sejumlah monarki Teluk petrodolar berusaha menghancurkan seluruh kekuatan moderat di “dunia Muslim yang beragam”. Karena itu, takfiri radikal menghancurkan padepokan Sufi, masjid Syiah, kuil Ahmadiyah, membunuh ulama Muslim Sunni pribumi di Suriah, dan memendam kebencian terhadap kalangan Alawi–serta realitas brutal lainnya.

Jika Islam [yang berusaha dihancurkan kaum takfiri] ini sampai hilang, niscaya semua harapan ko-eksistensi akan hilang dan jurang lebih luas akan muncul di kancah internasional. Kenyataan ini harus dipahami dan kemudian segera ditangani.

Namun saat ini AS dan negara-negara Barat utama lainnya justru berpihak pada kekuatan [moarki] Teluk petrodolar. Sampai ini berakhir, tak akan ada yang berubah, yang karenanya suatu tatanan baru perlu dimunculkan untuk memutus matarantai [kebrutalan Arab Saudi]. Jika tidak, negara-negara demokratis akan menabur lebih banyak benih kebencian, destabilisasi, dan sektarianisme, sesuai keinginan Arab Saudi dan kekuatan [monarkis] Teluk lainnya.

- See more at: http://www.inilah-salafi-takfiri.com/general/analis-agenda-arab-saudi-basmi-kaum-non-wahhabi#sthash.z1tExU2O.dpuf

The real leader Wahhabi (http://www.syrianews.cc)

Jika Anda ingin mengunjungi sebuah negara pendukung hukum apartheid yang absolut, maka, selamat datang di Arab Saudi!

“Ya, di Arab Saudi, tak satupun dari kuil Buddha, gereja Kristen, candi Hindu, dan rumah ibadah non-Muslim lainnya ditoleransi,” ungkap jurnalis Modern Tokyo Times, Ramazan Khalidov dan Lee Jay Walker. Namun, lanjut keduanya, kendati mendukung nilai-nilai multi-budaya, AS Perancis, Inggris, dan negara Barat lainnya tidak keberatan berbisnis dengan negara yang melarang agama non-Muslim serta mendukung apartheid ala “Islam versi Wahhabi” dan pernikahan anak di bawah umur.

Tentu saja, Arab Saudi tidak sendirian dalam mendukung apartheid ala Wahhabi, namun yang membuatnya lebih buruk adalah, bangsa ini mengekspor terorisme, menjejalkan paham berbahaya Salafi-Wahhabi, dan mendanai lembaga pendidikan yang menghasut kebencian. Meski demikian, saat Barat berada dalam mode penghancuran-diri, [monarki] Teluk petrodolar ini dibolehkan untuk menyebarkan indoktrinasi dan kolom kelima di banyak masyarakat.

Karena itu, Arab Saudi mengucurkan dana besar-besaran untuk menyebarkan “Islam versi Wahhabi” dan membeli institusi Barat yang kuat dengan uang untuk membuat sejarah palsu. Kemunafikan terang-terangan ini terus dibiarkan karena… politisi internasional terlalu bungkam.

Pada abad ke-21, seperti di akhir abad ketujuh, kemurtadan di semenanjung Arab sama dengan kematian. Sementara itu, di negara-negara seperti Arab Saudi dan Somalia, jika laki-laki non-Muslim ingin menikahi seorang wanita Muslim berdasarkan ” cinta sejati”, maka itu dapat berujung penjara atau kematian.

Namun, [monarki] Teluk petrodolar memicu konservatisme radikal… revolusi kontra-Islam ini mengancam kekuatan progresif di Bangladesh, Mesir, Indonesia, Irak, Pakistan, Suriah, Turki, dan negara-negara lain–dan yang mengejutkan, kekuatan besar Barat acapkali berpihak pada agenda Arab Saudi dan [monarki] Teluk dalam, salah satunya, melawan pasukan sekuler di negara-negara seperti Suriah.

Arab Saudi dan [monarki] Teluk melalui kekuatan dana nyaris tak terbatas saat ini, berusaha membasmi entitas non-Muslim, bahkan internal Muslim sendiri, seperti Syiah, dalam jangka panjang… Secara eksternal, Arab Saudi dan negara-negara lain seperti Qatar dan Pakistan terang-teranga mengekspor teroris dan pasukan takfiri ke pelbagai negara yang berbeda. Dengan kata lain, Arab Saudi, Pakistan, dan Qatar, serta beberapa pihak lainnya, sangat berbahaya karena merusak banyak negara seraya menghancurkan adat-istiadat Islam di Libya, Indonesia, Suriah, dan Bangladesh.

Presiden Obama dan presiden AS lain sebelumnya telah menjual jiwa kolektifnya dengan menutup mata terhadap realitas brutal Arab Saudi… jelas bahwa Arab Saudi dan [monarki] Teluk petrodolar menyebarkan ideologi berbahaya secara jauh dan luas… yang mencemari demokrasi dan nilai-nilai multi-budaya di tanah air masing-masing.

Inilah saatnya memberi tekanan nyata pada Arab Saudi yang [secara arogan] mendukung apartheid dan mengekspor ekstrimis Salafi [Wahhabi]. Seiring dengan itu, sudah saatnya pula membedakan antara Islam pribumi Suriah dengan “Islam” versi takfiri–yang mulai subur di Indonesia–dan sebagainya.

Memang, pasukan takfiri Wahhabi yang berkembang biak di sejumlah monarki Teluk petrodolar berusaha menghancurkan seluruh kekuatan moderat di “dunia Muslim yang beragam”. Karena itu, takfiri radikal menghancurkan padepokan Sufi, masjid Syiah, kuil Ahmadiyah, membunuh ulama Muslim Sunni pribumi di Suriah, dan memendam kebencian terhadap kalangan Alawi–serta realitas brutal lainnya.

Jika Islam [yang berusaha dihancurkan kaum takfiri] ini sampai hilang, niscaya semua harapan ko-eksistensi akan hilang dan jurang lebih luas akan muncul di kancah internasional. Kenyataan ini harus dipahami dan kemudian segera ditangani.

Namun saat ini AS dan negara-negara Barat utama lainnya justru berpihak pada kekuatan [moarki] Teluk petrodolar. Sampai ini berakhir, tak akan ada yang berubah, yang karenanya suatu tatanan baru perlu dimunculkan untuk memutus matarantai [kebrutalan Arab Saudi]. Jika tidak, negara-negara demokratis akan menabur lebih banyak benih kebencian, destabilisasi, dan sektarianisme, sesuai keinginan Arab Saudi dan kekuatan [monarkis] Teluk lainnya.

- See more at: http://www.inilah-salafi-takfiri.com/general/analis-agenda-arab-saudi-basmi-kaum-non-wahhabi#sthash.z1tExU2O.dpuf

wahabi didukung Amerika agendakan basmi kaum non wahabi seperti NU dan syi’ah

TV Rodja,TV INSAN, SUNNAH TV, AHSAN TV, TV WESAL upaya kaum Wahhabi dalam menyesatkan aqidah NU

Akhir-akhir ini semakin marak dan tersebar dakwah wahabi  di basis basis NU. Memang wahabi penuh gelontoran uang, namun NU kini yang dalam bahaya !

 http://syiahali.files.wordpress.com/2014/05/ddb55-bedaulamanawam.jpg?w=638&h=452

Skandal Illuminati Radio Rodja

Konspirasi :

Dalam situs mereka mengatakan radio Rodja sebagai akronim : Radio Dakwah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Salah satu misi Rodja adalah pemurnian syariat Islam dari segala bentuk syirik, bid’ah dan pemikiran menyimpang.
Dengan semboyan menebar cahaya sunnah, seolah memberikan pencerahan kepada kaum muslim untuk kembali kepada Quran dan Hadits. Namun dalam materi yang disampaikan justru dipelintirkan dari ajaran Islam sesungguhnya. Radio Rodja merupakan corong informasi untuk menyebarluaskan­ paham Wahabi di Indonesia
.
Ajaran ini selalu berslogan pemurnian syariat Islam. Namun apa yang terjadi, justru banyak fitnah terhadap ajaran Islam yang sebenarnya, yang terpelihara sejak zaman Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam, melalui “ulama” pewaris Nabi. Berikut adalah beberapa fakta penyamaran Radio Rodja yang belum pernah terungkap :
1. Kata RODJA : berasal dari suku gothic [Bavaria], yang memiliki arti “SEE” atau MELIHAT.
2. Logo radio RODJA : setelah diputar 115° derajat ke kiri, lalu menutup huruf “ r “ warna putih dengan warna merah dan memutihkan warna merah dibagian tengah, maka mucul gambar kelopak mata. Simbol mata dihilangkan, tapi tersisa tetes air mata [air mata Horus] di ujung kelopak mata. Kesimpulannya logo Rodja berbentuk mata satu disamarkan, dengan tetes air mata Horus.
3. Tag-line radio RODJA : ‘menebar cahaya sunnah’. Mengapa memilih kata “cahaya”, karena ini bagian dari ILLUMINATI, yaitu kelompok cahaya. ILLUMINATI berasal dari bahasa latin illuminatus yang berarti tercerahkan.
4. Frekuensi radio RODJA 756 am: memiliki makna yang mengejutkan antara lain: “ IDEOLOGI RASA BENCI “ [an ideology of hate] “ KHOTBAH KEBENCIAN MURNI ” [preaching pure hatred] Bagaimana mungkin suatu angka dapat memiliki arti. Hal ini bisa terjadi, karena sebenarnya dalam setiap huruf terdapat persamaan angkanya, dalam hal ini yang dipakai persamaan huruf-huruf Jewish [Yahudi]. Ilmu tentang masalah ini adalah teknik kalkulasi persamaan angka-huruf yang diterjemahkan ke angka, ataupun huruf. Sehingga susunan angka tersebut memiliki makna dalam bentuk kata atau kalimat. Berdasarkan fakta yang terungkap, radio RODJA [Rodja network] yang menyebarluaskan­ paham Wahabi adalah bagian dari ILLUMINATI [kelompok cahaya] dengan kedok agama Islam.
.
Radio RODJA memakai kata cahaya, di tag-line nya namun sesungguhnya sumber cahaya tersebut berasal dari bara api menyala-nyala yang sangat panas. Melalui fakta ini, segala hal terkait paham Wahabi berupa para ustadz, link website, pelatihan Wahabi, kelompok paham turunan Wahabi dan seluruh aparatnya adalah alat, tunggangan atau disokong oleh Yahudi, yang digunakan untuk memecah belah umat manusia di muka bumi melalui trinitas tauhid dan masalah “bid’ah” versi Wahabi
.
Sehingga “umat Islam digiring bersikap anti” terhadap dzikir, tahlil, maulid, ziarah kubur, tawassul, tasawuf, ber-mahzab dan banyak hal yang Wahabi lakukan untuk menjauhkan umat Islam beribadah kepada ALLAH.
Sejarah kelahiran perkumpulan rahasia [secret societies] yang melambangkan dirinya dengan “Mata satu” bermula sejak awal zaman pemerintahan raja-raja Mesir purba [Firaun] yang berkuasa sejak ribuan tahun lalu. Ini bermula dengan sejarah pemerintahan Firaun Horus atau yang lebih dikenal dalam catatan hieroglif Mesir purba sebagai Tuhan Matahari atau Sun God. Adam Weishaupt membentuk sebuah ”Secret Society” yang disebut Ordo Illuminati pada tanggal 1 Mei 1776. Seorang keturunan Yahudi dan berlatar belakang pendidikan sebagai Jesuit. Weishaupt adalah Guru Besar Hukum Canon di Universitas Ingolstadt di Bavaria, bagian dari Jerman. Illuminati berusaha untuk membentuk New World Order [Tatanan Dunia Baru]
.
Adam Weishaupt hanyalah kelanjutan tangan ordo Kabala putih, yaitu salah satu ordo Kabala [ordo rahasia Yahudi tertua yang telah berusia lebih kurang 4.000 tahun] yang lebih menekankan misi politik, di samping mengembangkan ajaran Kabala dalam menyembah Lucifer
.
Mereka merumuskan, misi Kabala adalah menentukan arah peradaban manusia guna membentuk “Tatanan Dunia Baru” [Novus Ordo Seclorum] dan “Pemerintahan Satu Dunia” [E Pluribus Unum] di bawah kepemimpinan kaum Yahudi. Adam Weishaupt inilah perumus The Protocols of the Elders of Zion [protokol tokoh-tokoh zionisme] yang berisi agenda besar dengan tujuan utama untuk penguasaan dunia oleh kaum Zionis. Mengapa mereka selalu menampakkan simbol mata satu, meskipun disamarkan
.
Karena simbol ini secara gaib [magis] mereka percayai sebagai suatu “kekuatan supranatural” yang memberikan proteksi [perlindungan].­ Melalui simbol ini juga merupakan identitas dan pesan akan cita-cita NEW WORLD ORDER.
.
Tidak ada sesuatu tercipta dengan sendirinya, melainkan ada yang menciptakan. Tidak juga sebuah simbol mata satu diciptakan sekedar coretan belaka, melainkan bermakna dan bertujuan. Lalu mengapa tujuan mereka disembunyikan terselubung simbol. Karena api laksana air dan air laksana api.
.
Jika manusia mau berpikir, merenung, dan merasa dengan segenap hati, tentu dapat memahami pesan tersembunyi yang mereka sampaikan.

SENYUMAN UNTUK RODJA TV YANG ANTi SYiAH

Bid’ahnya Rodja TV

Kepedulian akan bahaya kesesatan wahabi terus bergulir. Tuntutlah ilmunya, cari tahu bagaimana sesungguhnya wahabi dan Zionis melakukan persekongkolan jahat untuk memerangi Islam dan kaum Muslimin. Ketika itu terjadi alangkah sadisnya mereka itu !
.
TV RODJA, BID`AH-NYA KAUM WAHHABI

buku “Zionis & Syiah bersatu hantam Islam”, fitnah murahan wahabi yang merupakan loyalis zionis dan antek antek USA

Hadirilah bedah buku "Zionis & Syiah bersatu hantam Islam", Selamatkan diri dan keluarga dari Syiah dan Zionis
Melihat TV adalah tergolong amalan bid`ah,dalam pengertian karena tidak pernah dicontohkan oleh Nabi SAW dan para salaf.Namun, kali ini kaum Wahhabi yang selalu mempromosikan diri sebagai kelompok anti bid`ah, justru terjebak oleh perbuatan bid`ah menurut definisi mereka sendiri, karena banyaknya keterlibatan tokoh-tokoh Wahhabi Indonesia dalam memunculkan amalan bid`ah dengan mengudaranya TV Rodja
.
Acara-acara yang ditayangkan oleh TV Rodja, memang tampaknya menyerupai pengajian dan majelis ta`lim mencari ilmu agama, namun hakikatnya jika diteliti, adalah upaya kaum Wahhabi dalam menyesatkan aqidah umat Islam Indonesia
.
Bagaimana tidak, warga mayoritas umat Islam Indonesia adalah penganut Ahlussunnah wal Jamaah bermadzhab Syafi`i, sedangkan isi acara yang ditayangkan TV Rodja adalah murni ajaran Wahhabi penganut Muhammad bin Abdul Wahhab Annajdi
.
Padahal, kauml Wahhabi itu termasuk sektesesat Mujassimah. Coba tengok salah satu keyakinan tokoh Wahhabi, yaitu Addarimi Alwahhabi (ini bukan nama Imam Addarimi ulama Sunni Ahli hadits)
.
Addarimi Alwahhabi menulis buku tentang sifat Allah dengan menyebutkan:
ALLAH TURUN DARI ARSY MENUJU KE KURSI-NYA.
(kitab Annaqdl, halaman 73, terbitan Darul Kutub Al-ilmiyah yang dita`liq oleh Muhammad Hamid Alfaqiy). Pernyataan Addarimi Alwahhabi ini jelas-jelas menisbatkan kepemilikan jasmani yang dilakukan oleh pentolan Wahhabi terhadap Dzat Allah.
.
Addarimi Alwahhabi menggambarkan, bahwa Arys-nya Allah itu berada di satu tempat, sedangkan kursi-nya Allah itu berada di tempat yang letaknya lebih rendah daripada Arsy. Lantas Allah yang di dalam firman-Nya menyatakan Arrahmaanu `alal `arsyis tawaa, diterjemahkan oleh kaum Wahhabi sbb: Allah itu duduk di atas Asry
.
Kemudian digambarkan oleh Addarimi Alwahhabi, bahwa terkadang Allah itu turun dari Arsy-Nya menuju Kursi-Nya yang berada dilangit lebih rendah. Karena sudah dimaklumi bahwa Allah menciptakan langit itu berlapis hingga tujuh tingkat.Inti dari ajaran Aqidah Wahhabi adalah, mereka meyakini bahwa Allah versi Wahhabi itu memiliki bentuk tubuh, dan saatini Allah sedang berada di langit. TerkadangAllah duduk-duduk di-Arsy-Nya, namun tak jarang Allah ingin jalan-jalan turun menuju ke langit yang tingkatnya lebih rendah, karena Allah akan menikmati suasana istirahat duduk-duduk di kursi-Nya
.
Lantas apa bedanya aqidah Wahhabiyah ini dengan keyakinan para penyembah berhala-berhala. Tuhan-tuhan berhala itu sengaja dibuat oleh tangan mereka dalam bentuk patung yang memiliki bentuk jasmani. Mereka berasumsi bahwa dengan tampaknya bentuk tuhan di depan mata, maka lebih memudahkan mereka untuk menyembah dan mengingtnya, lantaran sudah ketemu bentuk tubuh tuhannya itu
.
Demikianlah gambaran aqidah asli pengelola TV Rodja yang diperkenalkan kaum Wahhabi untuk diikuti oleh kaum awam, dengan tujuan agar kaum awam dapat mengenal tuhan-nya kaum Wahhabi yang mempunyai bentuk tubuh seperti berhala
.
Hal yang tak kalah penting untuk diwaspadai oleh umat Islam juga, adalah TV INSAN, SUNNAH TV, AHSAN TV, TV WESAL, serta tayangan Trans 7 yang ikut-ikutan menyiarkan dakwah sesat ala Wahhabiyah ini lewat tayangan KHAZANAH, maka hendaklah umat Islam membaikot TV Trans 7 dengan tidak menontonnya
.

Saat Barat dan wahabi setan nejed berjualan “Syiah”

- wahabi terus menghantam Syiah dengan target dana Arab Saudi terus mengalir kekantong mereka, karena serakah maka pengikut wahabi cuma disuruh jualan madu dan buku ! Ustad wahabi kaya tapi pengikut tertipu.

- Wahabi jualan kecap dengan menuduh Syiah dan NU sesat. Batilnya wahabi disatu sisi bermuka manis didepan kaum NU seolah olah mereka pembela Islam, padahal dibelakang mereka mewahabinisasi NU

- Barat yang anti Iran terus mempropagandakan bahwa syiah sesat. Padahal Barat sangat senang mendukung ide wahabinisasi dikalangan NU.

rodja tv

RADIO RODJA

Radio RODJA Menebar Cahaya Fulus?

Ada sesuatu yang menarik dan mengagetkan ketika saya membuka sebuah situs Salafy bernama www.isnad.net. Bagi anda yang merupakan pengikut aliran Salafy tentu sudah mengenalnya dan sering membaca situs ini, bukan?

.
Sekarang coba anda buka halaman di situs tersebut http://isnad.net/fatwa-syaikh-fauzan-tentang-tv-televisi lalu geser turun sampai ke bawah, maka anda akan melihat sebuah gambar seperti ini:
Radio Rodja Menebar Cahaya Fulus. Logo telah berubah menjadi (maaf) celana dalam
.
Bagaimana tanggapan anda? menarik bukan? :)
rodja tv
Menguak Kesamaan Aqidah Salafi Wahabi dengan Yahudi

.
Anda jangan terperanjat jika kami katakan akidah Salafi Wahabi itu sangat mirip dengan akidah Yahudi dan Nasrani. Benarkah demikian? Mari kita buktikan bersama!
.
Akidah tajsim dan tasybih telah menggelincirkan Salafi Wahabi hingga pada suatu keyakinan bahwa Allah seperti sosok seorang pemuda , berambut ikal , bergelombang dan mengenakan baju berwarna merah. Klaim ini dikatakan oleh Ibnu Abu Ya’la dalam kitab Thabaqat al-Hanabilah. Abu Ya’la mendasarkan pernyataan itu kepada hadits berikut :
عن عكرمة اَن الرسول صلى الله عليه وسلّم قال: راَيت ربي عزّ وجلّ شَابا امرد جعد قطط عليه حلة حمراء
.
“Dari Ikrimah: bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Aku telah melihat Tuhanku SWT berupa seorang pemuda berambut ikal bergelombang mengenakan pakaian merah.” (Ibnu Abu Ya’la: Thabaqat al-Hanabilah, jilid 2, halaman 39)
.
Sungguh keji pengaruh riwayat palsu di atas. Riwayat-riwayat palsu produk pikiran Yahudi itu kini berhasil membodohi akal pikiran para pengikut Salafi Wahabi, sehingga mereka menerima keyakinan seperti itu. Tidak diragukan lagi, hadits semacam ini adalah kisah-kisah Israiliyat yang bersumber dari orang-orang Bani Israil.
.
Salafi Wahabi memperjelas hadits di atas dengan hadits lain yang bercerita tentang Allah duduk di atas kursi emas, beralaskan permadani yang juga terbuat dari emas, dalam sebuah taman hijau. Singgasana (Arsy) Allah dipikul oleh empat malaikat dalam rupa yang berbeda-beda, yaitu seorang lelaki, singa, banteng dan burung elang. Keyakinan aneh semacam ini dipaparkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Kitab at-Tauhid wa Itsbat Shifat ar-Rab.

Siapakah Ibnu Khuzaimah? Dia adalah salah seorang ulama ahli hadits yang banyak dipakai oleh Salafi Wahabi untuk dijadikan referensi. Namun setelah semakin matang dalam pengembaraan intelektualnya, Ibnu Khuzaimah menyesali diri telah menulis kitab tersebut, seperti dikisahkan oleh al-Hafidz al-Baihaqi dalam kitab al-Asma wa ash-Shifat hal. 267
.
Walaupun begitu, soko guru Salafi Wahabi, yaitu Ibnu Taimiyah tetap mengatakan bahwa Ibnu Khuzaimah adalah ”Imamnya Para Imam” karena menurutnya telah banyak meriwayatkan hadits-hadits ’shahih’ tetang hakikah Dzat Tuhan (padahal yang sebenarnya hadits-hadits itu kenal dengan nuansa tasybih dan hikayat Israiliyat). Oleh karena itu, ketika mengomentari sebuah hadits yang diriwayatkan Ibnu Khuzaimah, Ibnu Taimiyah berkata :
”Hadits ini telah diriwayatkah oleh ’Imamnya Para Imam’ yaitu Ibnu Khuzaimah dalam Kitab at-Tauhid yang telah ia syaratkan untuk tidak berhujjah di dalamnya melainkan dengan hadits-hadits yang dinukil oleh perawi adil dari perawi adil lainnya, sehingga bersambung kepada Nabi SAW”  (Ibnu Taimiyah: Majmu Fatawa Ibnu Taimiyah, Jilid 3, hal. 192)
.
Maka tak heran jika Ibnu Taimiyah pun berkeyakinan sama buruknya, seperti dalam Majmu’ Fatawa j. 4, h. 374,  Ibn Taimiyah berkata “Para ulama yang diridlai oleh Allah dan para wali-Nya telah menyatakan bahwa Rasulullah Muhammad didudukan oleh Allah di atas ‘arsy bersama-Nya”.
.
Awalnya Ibnu Khuzaimah sangat meyakini bahwa seluruh hadits yang ia muat di dalam kitabnya adalah shahih dan dapat dipertanggungjawabkan. Sebab menurut pengakuannya ia telah meriwayatkanya dengan sanad bersambung melalui para periwayat yang adil dan terpercaya. Demikian sebagaimana ia tegaskan di awal kitab tersebut dan juga tertulis di cover depan kitab at-Tauhid tersebut.
.
Gambar dibawah ini adalah scan teks tentang keyakinan tasybih dari Kitab at-Tauhid karya Ibnu Khuzaimah, tahkik Muhammad Khalil Harras, Dar al-Kutub al-Ilmiah, Beirut, Lebanon 1403 H./1983, halaman 198.

Untuk lebih jelasnya kami tuliskan ulang hadits Israiliyat yang sudah menjadi bagian dari keyakinan kaum Salafi Wahabi itu sebagai berikut :
عن عبد الله عمر بن الخطاب بعث الى عبد الله بن العبّاس يساله: هل راى محمّد صلى الله عليه وسلم ربّه؟ فارسل اِليه عبد الله بن العبّاس: ان نعم. فردّ عليه عبدالله بن عمر رسوله: ان كيف راه؟ قال: فارسل انّه راه في روضة خضراء دونه فِراش من ذهب على كرسي من ذهب يحمله اربعة من الملاىكة، ملك في صورة رجل، و ملك في صورة ثور وملك في صورة نسر، وملك في صورة اسد
….. Abdullah ibnu Umar ibnu al-Khaththab mengutus seseorang untuk menemui Ibnu Abbas menanyainya, ”Apakah Muhammad SAW melihat Tuhannya?” Maka Abdullah ibnu Abbas mengutus seseorang kepadanya untuk menjawab, ”Ya, benar. Ia melihatnya.” Abdullah ibnu Umar meminta pesuruhnya kembali kepada Ibnu Abbas untuk menanyakannya, ”Bagaimana ia melihat-Nya?”.  Ibnu Abbas menjawab melalui utusannya itu, ’Da melihat-Nya berada di sebuah taman hijau, dibawah-Nya terdapat hamparan permadani emas yang dipikul oleh empat malaikat; malaikat berupa seorang laki-laki, malaikat berupa banteng, malaikat berupa burung elang, dan malaikat berupa singa.”
(Ibnu Khuzaimah: Kitab at-Tauhid, tahkik Muhammad Khalil Harras, Dar al-Kutub al-Ilmiah, Beirut, Lebanon 1403 H./1983 M, hal. 198)
.
Pembaca yang budiman, Ketika kami menggabungkan hadits Abu Ya’la yang telah lalu dan hadits Ibnu Khuzaimah ini (dimana keduanya telah menjadi dogma Salafi Wahabi), kami sungguh sangat terperanjat!. Kami menjumpai adanya kesamaan antara dogma Salafi Wahabi itu dengan dogma Nashrani, dalam hal ini gambar Tuhan milik mereka. Sebuah gambar yang mengilustrasikan tentang hakikat Tuhan mereka, Yesus Kristus.
.
Lukisan itu sama persis dengan apa yang digambarkan oleh Salafi Wahabi, yaitu: seorang pemuda , berambut ikal bergelombang mengenakan pakaian merah, sedang duduk di atas kursi emas di taman hijau dibawah-Nya hamparan permadani emas yang dipikul oleh empat malaikat berupa seorang laki-laki, banteng (sapi hutan), burung elang, dan singa.
.
Dibawah ini gambaran milik umat Kristiani tentang Yesus Kristus, silahkan Anda bandingkan dengan hadits Ya’la dan Ibnu Khuzaimah yang direkomendasikan oleh Salafi Wahabi untuk diyakini oleh setiap pengikutnya:

Perhatikanlah gambar milik kaum Nashrani di atas, tidak ada bedanya sama sekali dengan apa yang diajarkan oleh Salafi Wahabi tentang jati diri Tuhan. Apakah ajaran Salafi Wahabi tadi (yang mereka klaim berasal dari hadits shahih) adalah hasil copy paste dari ajaran orang-orang Yahudi dan Nashrani ini? Kenapa ini bisa terjadi? Karena akidah Salafi Wahabi berasal dari hadits-hadits palsu Israiliyat, yakni karangan orang-orang Bani Israil yang telah Allah sesatkan

.

Oleh karenanya, sudah selayaknya kita meragukan dogma tajsim dan tasybih kaum Salafi Wahabi, sebag tajsim dan tasybih itu sangat diwanti-wanti dan dilarang dalam Islam. Terkadang, kaum Salafi Wahabi masih saja mengelak dan memutar kata dari tuduhan tajsim ini. Namun, jika yang demikian bukan tajsim, lalu yang bagaimana lagi yang dinamakan tajsim? Berhati-hatilah wahai umat Islam dari mengikuti faham mereka ini agar kita tidak terperosok dalam kemusyrikan dan kekafiran

.

Namun sayangnya, semakin mereka dikritik, maka akan semakin keras menentang (mungkin karena memang seperti itulah watak asli mereka). Mereka merasa paling benar. Nyata-nyata mereka yang keliru, tetapi malah mereka yang bersikap lebih keras kepada umat Islam yang coba meluruskan, lalu menudingkan tuduhan kafir. Dalam buku mereka, Halaqat Mamnu’ah karangan Hisyam al-Aqqad dinyatakan:
من فسّر اِستوى باستولى فهو كافر
”Barang siapa yang menafsirkan kata istawa dengan istawla (menguasai), maka dia kafir.”

.

Dari pemaparan ringkas di atas, Anda dapat mengerti bagaimana kualitas akal pikiran sebagian ulama Mujassimah yang menjadi rujukan Salafi Wahabi. Oleh karena itu, tidak berlebihan jika Ibnu al-Jauzi mensifati mereka sebagai para ahli hadits dungu. Adakah kedunguan yang melebihi kedunguan kaum yang sesekali meyakini bahwa Allah SWT duduk di sebuah kursi yang dipikul oleh empat malaikat dalam rupa berbeda-beda, sesekali meyakini bahwa Allah SWT bersemayam di atas Arasy-Nya yang ditegakkan di atas punggung delapan ekor banteng yang mengapung di atas air di sebuah rumah di atas langit ketujuh, dan sesekali meyakini bahwa Allah SWT duduk berselonjor sambil meletakkan salah satu kaki-Nyadi atas kaki-Nya yang lain? Itu semua adalah hadits-hadits palsu buatan Bani Israil yang dikenal riwayat-riwayat Israiliyat. Masihkah Salafi Wahabi tidak menyadarinya, melainkan malah menganggap dirinya yang paling benar?.

.
La haula wa la quwwata ill billah. Semoga Allah mengilhamkan kepada kita kemurnian akidah dan kesucian keyakinan tentang sifat-sifat-Nya yang Maha Suci serta kematangan logika
.

Stop, mulai sekarang dan seterusnya, hendaklah umat Islam tidak menonton TV Rodja, TV Insan, TV Wesal, SUNNAH TV, AHSAN TV, dan Trans 7 … !!

Jika itu anda lakukan maka wahabi akan mati angin !