NU – Syi’ah dan Muhammadiyah trisula tiga serangkai pembela Islam di Indonesia

Buah Ukhuwah, adalah salah satu nikmat yang besar di Surga nanti. Allah melenyapkan dari hati-hati penghuni surga segala bentuk hal yang menghalangi nikmat persaudaraan seperti hasad, dendam, su’udzon dll.

Allah berfirman,

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam surga (taman-taman) dan (di dekat) mata air-mata air (yang mengalir). (Dikatakan kepada mereka): “Masuklah ke dalamnya dengan sejahtera lagi aman”. Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.(QS Al Hijr: 45-47)

Gusdur berkata: NU itu Syiah Minus Imamah

Sebagian sikap dan pemikiran Gus Dur mendapat apresiasi dari beberapa ulama Syiah Indonesia.
“Gus Dur selalu menganjurkan kebaikan kepada kelompok minoritas, termasuk kita yang berpegang pada madzhab Ahlul Bait, Syiah. Kita merasa dibela Gus Dur dari beberapa kelompok yang akan membubarkan Syiah. Gus Dur juga selalu mengatakan bahwa Syiah itu adalah NU plus imamah dan NU itu adalah Syiah minus imamah. Bahkan beliau orang yang pertama di Indonesia yang bukan Syiah yang menggelar peringatan Asyura di Ciganjur,”
Dialog GusDurian: Sunni-Syiah Wajib Bersatu

Dialog GusDurian: Sunni-Syiah Wajib Bersatu

IMG_0720Suasana cair dan akrab ditingkah obrolan gayeng tapi santai mewarnai acara dialog bertajuk Titik Temu Sunni-Syiah yang digagas Jaringan GusDurian Jumat malam (7/2) kemarin bertempat di kantor Wahid Institute Jakarta. Suasana hangat itu tak lepas dari peran Zuhairi Misrawi selaku Ketua Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama (Lakpesdam NU) sebagai moderator yang memandu jalannya dialog malam itu. Acara yang dimulai pukul 19.00 hingga 20.00 WIB itu dihadiri sekitar 200-an peserta dan dibuka penampilan grup musik “Zarb Ava” asal Iran.

Dalam kesempatan itu KH. Masdar F. Mas’udi dengan agak berseloroh menyatakan, “Harusnya malam ini pihak panitia juga menghadirkan kelompok ekstrim kiri ya? Sebab Kang Jalal ini kan mewakili kelompok ekstrim kanan. Lha kita sebagai NU sebenarnya berada di posisi tengah. Nah, dengan begitu maka kita yang bisa jadi wasitnya.”
Jalaluddin Rahmat yang biasa disapa Kang Jalal itu memang hadir mewakili pembicara dari pihak Syiah. Sementara KH. Masdar F. Mas’udi, selaku Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), dalam hal ini hadir mewakili pihak Sunni.

Pernyataan KH. Masdar diamini Kang Jalal seraya mengingatkan kembali kepada seluruh hadirin tentang statemen tegas almarhum Gus Dur yang menekankan lebih banyaknya persamaan antara Sunni dengan Syiah dibandingkan perbedaan yang ada di antara keduanya. Bagi Kang Jalal, sama saja mau disebut NU itu sebenarnya Syiah Minus Imamah ataukah dengan istilah lain Syiah itu NU Plus Imamah.

Hal ini diperkuat juga oleh Alissa Wahid selaku tuan rumah yang dalam sambutannya mengungkapkan salah satu alasan penyelenggaraan dialog itu. “Akhir-akhir ini Indonesia kerap mengalami konflik horizontal di akar rumput atas nama perbedaan yang seringkali cenderung dibesar-besarkan. Itulah sebabnya dialog seperti ini kami rasa penting untuk terus dilakukan,” tuturnya menegaskan ulang bahwa dialog dan silaturrahmi adalah dua di antara warisan kongkrit yang ditinggalkan almarhum Gus Dur sebagai tokoh yang lebih konsen terhadap terciptanya kedamaian dan persatuan di tubuh umat Islam.

KH. Masdar pun menekankan betapa pentingnya tercipta jalinan persatuan yang kuat antara Sunni dengan Syiah. “Mari titik-temu itu kita sederhanakan saja, lah. Rasanya cukup dengan sama-sama mempercayai La ila ha illallah saja, artinya itu sudah bisa dianggap sebagai sesama Muslim dan karenanya juga kita ini bersaudara.”

Tamu lain yang juga tak kalah penting adalah Mr. Ebrahimiyan, Atase Kebudayaan Iran di Indonesia yang dalam sambutannya mengingatkan bahwa jumlah Muslim di dunia saat ini mencapai 1,6 miliar. Jumlah yang menurutnya begitu besar sehingga tak mengherankan bila selama ini mampu menggetarkan musuh. Maka  timbullah upaya mengadu domba dan memecah belah persatuan umat Islam sebagai agenda musuh yang utama agar kita menjadi lemah. Karena itu, senada dengan pembicara lain, Ebrahimiyan pun menekankan betapa pentingnya upaya mempererat persatuan antara sesama Muslim.

Di akhir acara, panitia sengaja membagikan seratus buku gratis berjudul “Titik Temu Sunni-Syiah” dan sejumlah Al-Quran terbitan Iran bagi peserta, untuk lebih meyakinkan bahwa Al-Quran Syiah sesungguhnya benar-benar sama dengan Al-Quran Sunni.

Bagian 2
Karikatur Ukhuwah
I LOVE UKHUWAH ISLAMIYAH
Alhamdulillah, semoga kita menyadari tentang apa yang sesungguhnya berlaku di antara Umat Islam. Perselisihan mazhab hanya dicipta demi kepentingan musuh-musuh Islam demi memperlemah barisan manusia yang berideologi bahwa Tiada Tuhan Selain Allah swt dan Nabi Muhammad saw Utusan Allah swt. Insya’Allah dengan gambar-gambar ini bisa menceritakan keadaan sesungguh UKHUWAH antara Muslim Sunni dan Muslim Syiah. Sungguh Indah Ukhuwah, Kebersamaan dan Harmoni Sesama Muslimin itu Sangat Indah.. wassalam-

penyebaran Wahabi di Indonesia ; serobot masjid NU dan tahapan ajaran radikal

Analis: Agenda Arab Saudi, Basmi Kaum Non-Wahhabi

Siasat Wahabi Serobot Masjid NU

Gerakan Takfiri Internasional
Siasat Wahabi Serobot Masjid NU

Inilah siasat kelompok Wahabi merebut kuasa di sebuah masjid. Mula-mula mereka mengontrak dekat masjid menjadi sasaran.

Dengan halus mereka sukarela menjadi marbot atau pembersih masjid. Lalu pelan-pelan menyebarkan ajaran dengan mengajar mengaji anak-anak. Lantas mereka bisa naik pangkat menjadi imam kalau tidak ada imam rutin. Bahkan, ada yang mengawini anak atau kerabat imam masjid.

Kemudian lambat laun dia merambat masuk dalam kepengurusan masjid dan berusaha menguasai program. Orang-orang alirannya pelan-pelan dimasukkan menjadi pengurus. “Lalu pengurus lama disingkirkan,” kata Ketua Lembaga Takmir Masjid Pengurus Besar nahdhatul Ulama Kiai Abdul Manan al-Ghani saat dihubungi merdeka dot com melalui telepon selulernya Kamis pekan lalu.

Kiai Abdul Manan benar-benar prihatin dengan fenomena perebutan masjid oleh kelompok Wahabi dan salafi. “Jumlah masjid NU di Jawa telah mereka rebut sekitar 300,” ujarnya.

Dia menambahkan ada juga yang masuk dengan cara memberikan bantuan. Lalu dia berusaha mempengaruhi semua kegiatan di masjid penerima bantuan. Penyumbang ini juga akhirnya menjadi pengurus lantaran pengurus lain merasa tidak enak sebab dia sudah banyak membantu keuangan masjid.

Akhirnya bisa ditebak. Masjid yang tadinya biasa membaca doa qunut saban salat subuh, menggelar acara maulid, dan tahlil, semua kegiatan semacam ini hilang. Alasannya bidah.

Menurut Kiai Abdul Manan, kedutaan Besar Arab Saudi di Jakarta menyokong penuh penyebaran ajaran Wahabi di Indonesia. Sokongan itu melalui bantuan keuangan disalurkan lewat lembaga Al-Mulhaq ad-Dini. “Semua biaya pembangunan masjid mereka tanggung. Buku-buku dan ustadnya juga mereka sediakan,” tuturnya.

 

Syeikh al-Jabri Ulama Ahlussunnah: Musuh Islam Sedang Menghancurkan Persatuan Umat Islam.

Wakil Ketua Front Amal Islam Lebanon, Syeikh Abdul Naser al-Jabri, menyatakan bahwa Republik Islam Iran berjalan mengikuti jalur Islam yang sejati.
Rasa News (9/2) melaporkan, Syeikh al-Jabri yang merupakan salah satu ulama Sunni dan menjabat sebagai Wakil Ketua Front Amal Islam Lebanon, dalam Konferensi Persatuan Islam ke-25 di Tehran mengatakan bahwa musuh-musuh Islam sedang menghancurkan persatuan umat Islam. Dikatakannya, “Amerika Serikat, rezim Zionis Israel, negara-negara Barat, dan sejumlah penguasa Arab, tidak mempedulikan persatuan umat Islam dan mereka menilai perbedaan fiqih antara Sunni dan Syiah itu tidak ada nilainya.”
Menurutnya, kekhawatiran utama negara-negara tersebut adalah politik Republik Islam Iran yang mengikuti jejak Islam hakiki untuk persatuan dan stabilitas umat Islam. Barat sangat mengkhawatirkan bangsa-bangsa Islam.
Syeikh al-Jabri mengkritik keras serangan media terhadap pemerintah Suriah dan menjelaskan bahwa Amerika, Israel, dan sekutu-sekutu mereka, menyerang habis-habisan kawasan ini dan berbeda dengan sebelumnya, serangan mereka kali ini dilakukan secara frontal dan terbuka. Mereka ingin Suriah berubah menjadi medan tempur dan bahkan mereka melangkah lebih jauh dengan merencanakan serangan ke Iran.
Ulama Sunni ini juga mengkritik kebijakan sejumlah negara Arab terhadap Republik Islam Iran. Dijelaskannya, “Negara-negara yang dulunya berpihak kepada rezim Saddam dalam menyerang Iran. Mereka melepaskan dukungan terhadap Saddam karena instruksi Amerika Serikat agar Washington dapat menyerang Baghdad. Kini negara-negara itu pula yang mendukung Amerika dan Barat melancarkan serangan militer ke Iran.
Pada abad ke-21, seperti di akhir abad ketujuh, kemurtadan di semenanjung Arab sama dengan kematian. Sementara itu, di negara-negara seperti Arab Saudi dan Somalia, jika laki-laki non-Muslim ingin menikahi seorang wanita Muslim berdasarkan ” cinta sejati”, maka itu dapat berujung penjara atau kematian. – See more at: http://www.inilah-salafi-takfiri.com/general/analis-agenda-arab-saudi-basmi-kaum-non-wahhabi#sthash.z1tExU2O.dpuf
Pada abad ke-21, seperti di akhir abad ketujuh, kemurtadan di semenanjung Arab sama dengan kematian. Sementara itu, di negara-negara seperti Arab Saudi dan Somalia, jika laki-laki non-Muslim ingin menikahi seorang wanita Muslim berdasarkan ” cinta sejati”, maka itu dapat berujung penjara atau kematian. – See more at: http://www.inilah-salafi-takfiri.com/general/analis-agenda-arab-saudi-basmi-kaum-non-wahhabi#sthash.z1tExU2O.dpuf
The real leader Wahhabi (http://www.syrianews.cc)

Jika Anda ingin mengunjungi sebuah negara pendukung hukum apartheid yang absolut, maka, selamat datang di Arab Saudi!

“Ya, di Arab Saudi, tak satupun dari kuil Buddha, gereja Kristen, candi Hindu, dan rumah ibadah non-Muslim lainnya ditoleransi,” ungkap jurnalis Modern Tokyo Times, Ramazan Khalidov dan Lee Jay Walker. Namun, lanjut keduanya, kendati mendukung nilai-nilai multi-budaya, AS Perancis, Inggris, dan negara Barat lainnya tidak keberatan berbisnis dengan negara yang melarang agama non-Muslim serta mendukung apartheid ala “Islam versi Wahhabi” dan pernikahan anak di bawah umur.

Tentu saja, Arab Saudi tidak sendirian dalam mendukung apartheid ala Wahhabi, namun yang membuatnya lebih buruk adalah, bangsa ini mengekspor terorisme, menjejalkan paham berbahaya Salafi-Wahhabi, dan mendanai lembaga pendidikan yang menghasut kebencian. Meski demikian, saat Barat berada dalam mode penghancuran-diri, [monarki] Teluk petrodolar ini dibolehkan untuk menyebarkan indoktrinasi dan kolom kelima di banyak masyarakat.

Karena itu, Arab Saudi mengucurkan dana besar-besaran untuk menyebarkan “Islam versi Wahhabi” dan membeli institusi Barat yang kuat dengan uang untuk membuat sejarah palsu. Kemunafikan terang-terangan ini terus dibiarkan karena… politisi internasional terlalu bungkam.

Pada abad ke-21, seperti di akhir abad ketujuh, kemurtadan di semenanjung Arab sama dengan kematian. Sementara itu, di negara-negara seperti Arab Saudi dan Somalia, jika laki-laki non-Muslim ingin menikahi seorang wanita Muslim berdasarkan ” cinta sejati”, maka itu dapat berujung penjara atau kematian.

Namun, [monarki] Teluk petrodolar memicu konservatisme radikal… revolusi kontra-Islam ini mengancam kekuatan progresif di Bangladesh, Mesir, Indonesia, Irak, Pakistan, Suriah, Turki, dan negara-negara lain–dan yang mengejutkan, kekuatan besar Barat acapkali berpihak pada agenda Arab Saudi dan [monarki] Teluk dalam, salah satunya, melawan pasukan sekuler di negara-negara seperti Suriah.

Arab Saudi dan [monarki] Teluk melalui kekuatan dana nyaris tak terbatas saat ini, berusaha membasmi entitas non-Muslim, bahkan internal Muslim sendiri, seperti Syiah, dalam jangka panjang… Secara eksternal, Arab Saudi dan negara-negara lain seperti Qatar dan Pakistan terang-teranga mengekspor teroris dan pasukan takfiri ke pelbagai negara yang berbeda. Dengan kata lain, Arab Saudi, Pakistan, dan Qatar, serta beberapa pihak lainnya, sangat berbahaya karena merusak banyak negara seraya menghancurkan adat-istiadat Islam di Libya, Indonesia, Suriah, dan Bangladesh.

Presiden Obama dan presiden AS lain sebelumnya telah menjual jiwa kolektifnya dengan menutup mata terhadap realitas brutal Arab Saudi… jelas bahwa Arab Saudi dan [monarki] Teluk petrodolar menyebarkan ideologi berbahaya secara jauh dan luas… yang mencemari demokrasi dan nilai-nilai multi-budaya di tanah air masing-masing.

Inilah saatnya memberi tekanan nyata pada Arab Saudi yang [secara arogan] mendukung apartheid dan mengekspor ekstrimis Salafi [Wahhabi]. Seiring dengan itu, sudah saatnya pula membedakan antara Islam pribumi Suriah dengan “Islam” versi takfiri–yang mulai subur di Indonesia–dan sebagainya.

Memang, pasukan takfiri Wahhabi yang berkembang biak di sejumlah monarki Teluk petrodolar berusaha menghancurkan seluruh kekuatan moderat di “dunia Muslim yang beragam”. Karena itu, takfiri radikal menghancurkan padepokan Sufi, masjid Syiah, kuil Ahmadiyah, membunuh ulama Muslim Sunni pribumi di Suriah, dan memendam kebencian terhadap kalangan Alawi–serta realitas brutal lainnya.

Jika Islam [yang berusaha dihancurkan kaum takfiri] ini sampai hilang, niscaya semua harapan ko-eksistensi akan hilang dan jurang lebih luas akan muncul di kancah internasional. Kenyataan ini harus dipahami dan kemudian segera ditangani.

Namun saat ini AS dan negara-negara Barat utama lainnya justru berpihak pada kekuatan [moarki] Teluk petrodolar. Sampai ini berakhir, tak akan ada yang berubah, yang karenanya suatu tatanan baru perlu dimunculkan untuk memutus matarantai [kebrutalan Arab Saudi]. Jika tidak, negara-negara demokratis akan menabur lebih banyak benih kebencian, destabilisasi, dan sektarianisme, sesuai keinginan Arab Saudi dan kekuatan [monarkis] Teluk lainnya.

- See more at: http://www.inilah-salafi-takfiri.com/general/analis-agenda-arab-saudi-basmi-kaum-non-wahhabi#sthash.z1tExU2O.dpuf

The real leader Wahhabi (http://www.syrianews.cc)

Jika Anda ingin mengunjungi sebuah negara pendukung hukum apartheid yang absolut, maka, selamat datang di Arab Saudi!

“Ya, di Arab Saudi, tak satupun dari kuil Buddha, gereja Kristen, candi Hindu, dan rumah ibadah non-Muslim lainnya ditoleransi,” ungkap jurnalis Modern Tokyo Times, Ramazan Khalidov dan Lee Jay Walker. Namun, lanjut keduanya, kendati mendukung nilai-nilai multi-budaya, AS Perancis, Inggris, dan negara Barat lainnya tidak keberatan berbisnis dengan negara yang melarang agama non-Muslim serta mendukung apartheid ala “Islam versi Wahhabi” dan pernikahan anak di bawah umur.

Tentu saja, Arab Saudi tidak sendirian dalam mendukung apartheid ala Wahhabi, namun yang membuatnya lebih buruk adalah, bangsa ini mengekspor terorisme, menjejalkan paham berbahaya Salafi-Wahhabi, dan mendanai lembaga pendidikan yang menghasut kebencian. Meski demikian, saat Barat berada dalam mode penghancuran-diri, [monarki] Teluk petrodolar ini dibolehkan untuk menyebarkan indoktrinasi dan kolom kelima di banyak masyarakat.

Karena itu, Arab Saudi mengucurkan dana besar-besaran untuk menyebarkan “Islam versi Wahhabi” dan membeli institusi Barat yang kuat dengan uang untuk membuat sejarah palsu. Kemunafikan terang-terangan ini terus dibiarkan karena… politisi internasional terlalu bungkam.

Pada abad ke-21, seperti di akhir abad ketujuh, kemurtadan di semenanjung Arab sama dengan kematian. Sementara itu, di negara-negara seperti Arab Saudi dan Somalia, jika laki-laki non-Muslim ingin menikahi seorang wanita Muslim berdasarkan ” cinta sejati”, maka itu dapat berujung penjara atau kematian.

Namun, [monarki] Teluk petrodolar memicu konservatisme radikal… revolusi kontra-Islam ini mengancam kekuatan progresif di Bangladesh, Mesir, Indonesia, Irak, Pakistan, Suriah, Turki, dan negara-negara lain–dan yang mengejutkan, kekuatan besar Barat acapkali berpihak pada agenda Arab Saudi dan [monarki] Teluk dalam, salah satunya, melawan pasukan sekuler di negara-negara seperti Suriah.

Arab Saudi dan [monarki] Teluk melalui kekuatan dana nyaris tak terbatas saat ini, berusaha membasmi entitas non-Muslim, bahkan internal Muslim sendiri, seperti Syiah, dalam jangka panjang… Secara eksternal, Arab Saudi dan negara-negara lain seperti Qatar dan Pakistan terang-teranga mengekspor teroris dan pasukan takfiri ke pelbagai negara yang berbeda. Dengan kata lain, Arab Saudi, Pakistan, dan Qatar, serta beberapa pihak lainnya, sangat berbahaya karena merusak banyak negara seraya menghancurkan adat-istiadat Islam di Libya, Indonesia, Suriah, dan Bangladesh.

Presiden Obama dan presiden AS lain sebelumnya telah menjual jiwa kolektifnya dengan menutup mata terhadap realitas brutal Arab Saudi… jelas bahwa Arab Saudi dan [monarki] Teluk petrodolar menyebarkan ideologi berbahaya secara jauh dan luas… yang mencemari demokrasi dan nilai-nilai multi-budaya di tanah air masing-masing.

Inilah saatnya memberi tekanan nyata pada Arab Saudi yang [secara arogan] mendukung apartheid dan mengekspor ekstrimis Salafi [Wahhabi]. Seiring dengan itu, sudah saatnya pula membedakan antara Islam pribumi Suriah dengan “Islam” versi takfiri–yang mulai subur di Indonesia–dan sebagainya.

Memang, pasukan takfiri Wahhabi yang berkembang biak di sejumlah monarki Teluk petrodolar berusaha menghancurkan seluruh kekuatan moderat di “dunia Muslim yang beragam”. Karena itu, takfiri radikal menghancurkan padepokan Sufi, masjid Syiah, kuil Ahmadiyah, membunuh ulama Muslim Sunni pribumi di Suriah, dan memendam kebencian terhadap kalangan Alawi–serta realitas brutal lainnya.

Jika Islam [yang berusaha dihancurkan kaum takfiri] ini sampai hilang, niscaya semua harapan ko-eksistensi akan hilang dan jurang lebih luas akan muncul di kancah internasional. Kenyataan ini harus dipahami dan kemudian segera ditangani.

Namun saat ini AS dan negara-negara Barat utama lainnya justru berpihak pada kekuatan [moarki] Teluk petrodolar. Sampai ini berakhir, tak akan ada yang berubah, yang karenanya suatu tatanan baru perlu dimunculkan untuk memutus matarantai [kebrutalan Arab Saudi]. Jika tidak, negara-negara demokratis akan menabur lebih banyak benih kebencian, destabilisasi, dan sektarianisme, sesuai keinginan Arab Saudi dan kekuatan [monarkis] Teluk lainnya.

- See more at: http://www.inilah-salafi-takfiri.com/general/analis-agenda-arab-saudi-basmi-kaum-non-wahhabi#sthash.z1tExU2O.dpuf

The real leader Wahhabi (http://www.syrianews.cc)

Jika Anda ingin mengunjungi sebuah negara pendukung hukum apartheid yang absolut, maka, selamat datang di Arab Saudi!

“Ya, di Arab Saudi, tak satupun dari kuil Buddha, gereja Kristen, candi Hindu, dan rumah ibadah non-Muslim lainnya ditoleransi,” ungkap jurnalis Modern Tokyo Times, Ramazan Khalidov dan Lee Jay Walker. Namun, lanjut keduanya, kendati mendukung nilai-nilai multi-budaya, AS Perancis, Inggris, dan negara Barat lainnya tidak keberatan berbisnis dengan negara yang melarang agama non-Muslim serta mendukung apartheid ala “Islam versi Wahhabi” dan pernikahan anak di bawah umur.

Tentu saja, Arab Saudi tidak sendirian dalam mendukung apartheid ala Wahhabi, namun yang membuatnya lebih buruk adalah, bangsa ini mengekspor terorisme, menjejalkan paham berbahaya Salafi-Wahhabi, dan mendanai lembaga pendidikan yang menghasut kebencian. Meski demikian, saat Barat berada dalam mode penghancuran-diri, [monarki] Teluk petrodolar ini dibolehkan untuk menyebarkan indoktrinasi dan kolom kelima di banyak masyarakat.

Karena itu, Arab Saudi mengucurkan dana besar-besaran untuk menyebarkan “Islam versi Wahhabi” dan membeli institusi Barat yang kuat dengan uang untuk membuat sejarah palsu. Kemunafikan terang-terangan ini terus dibiarkan karena… politisi internasional terlalu bungkam.

Pada abad ke-21, seperti di akhir abad ketujuh, kemurtadan di semenanjung Arab sama dengan kematian. Sementara itu, di negara-negara seperti Arab Saudi dan Somalia, jika laki-laki non-Muslim ingin menikahi seorang wanita Muslim berdasarkan ” cinta sejati”, maka itu dapat berujung penjara atau kematian.

Namun, [monarki] Teluk petrodolar memicu konservatisme radikal… revolusi kontra-Islam ini mengancam kekuatan progresif di Bangladesh, Mesir, Indonesia, Irak, Pakistan, Suriah, Turki, dan negara-negara lain–dan yang mengejutkan, kekuatan besar Barat acapkali berpihak pada agenda Arab Saudi dan [monarki] Teluk dalam, salah satunya, melawan pasukan sekuler di negara-negara seperti Suriah.

Arab Saudi dan [monarki] Teluk melalui kekuatan dana nyaris tak terbatas saat ini, berusaha membasmi entitas non-Muslim, bahkan internal Muslim sendiri, seperti Syiah, dalam jangka panjang… Secara eksternal, Arab Saudi dan negara-negara lain seperti Qatar dan Pakistan terang-teranga mengekspor teroris dan pasukan takfiri ke pelbagai negara yang berbeda. Dengan kata lain, Arab Saudi, Pakistan, dan Qatar, serta beberapa pihak lainnya, sangat berbahaya karena merusak banyak negara seraya menghancurkan adat-istiadat Islam di Libya, Indonesia, Suriah, dan Bangladesh.

Presiden Obama dan presiden AS lain sebelumnya telah menjual jiwa kolektifnya dengan menutup mata terhadap realitas brutal Arab Saudi… jelas bahwa Arab Saudi dan [monarki] Teluk petrodolar menyebarkan ideologi berbahaya secara jauh dan luas… yang mencemari demokrasi dan nilai-nilai multi-budaya di tanah air masing-masing.

Inilah saatnya memberi tekanan nyata pada Arab Saudi yang [secara arogan] mendukung apartheid dan mengekspor ekstrimis Salafi [Wahhabi]. Seiring dengan itu, sudah saatnya pula membedakan antara Islam pribumi Suriah dengan “Islam” versi takfiri–yang mulai subur di Indonesia–dan sebagainya.

Memang, pasukan takfiri Wahhabi yang berkembang biak di sejumlah monarki Teluk petrodolar berusaha menghancurkan seluruh kekuatan moderat di “dunia Muslim yang beragam”. Karena itu, takfiri radikal menghancurkan padepokan Sufi, masjid Syiah, kuil Ahmadiyah, membunuh ulama Muslim Sunni pribumi di Suriah, dan memendam kebencian terhadap kalangan Alawi–serta realitas brutal lainnya.

Jika Islam [yang berusaha dihancurkan kaum takfiri] ini sampai hilang, niscaya semua harapan ko-eksistensi akan hilang dan jurang lebih luas akan muncul di kancah internasional. Kenyataan ini harus dipahami dan kemudian segera ditangani.

Namun saat ini AS dan negara-negara Barat utama lainnya justru berpihak pada kekuatan [moarki] Teluk petrodolar. Sampai ini berakhir, tak akan ada yang berubah, yang karenanya suatu tatanan baru perlu dimunculkan untuk memutus matarantai [kebrutalan Arab Saudi]. Jika tidak, negara-negara demokratis akan menabur lebih banyak benih kebencian, destabilisasi, dan sektarianisme, sesuai keinginan Arab Saudi dan kekuatan [monarkis] Teluk lainnya.

- See more at: http://www.inilah-salafi-takfiri.com/general/analis-agenda-arab-saudi-basmi-kaum-non-wahhabi#sthash.z1tExU2O.dpuf

wahabi didukung Amerika agendakan basmi kaum non wahabi seperti NU dan syi’ah

TV Rodja,TV INSAN, SUNNAH TV, AHSAN TV, TV WESAL upaya kaum Wahhabi dalam menyesatkan aqidah NU

Akhir-akhir ini semakin marak dan tersebar dakwah wahabi  di basis basis NU. Memang wahabi penuh gelontoran uang, namun NU kini yang dalam bahaya !

 http://syiahali.files.wordpress.com/2014/05/ddb55-bedaulamanawam.jpg?w=638&h=452

Skandal Illuminati Radio Rodja

Konspirasi :

Dalam situs mereka mengatakan radio Rodja sebagai akronim : Radio Dakwah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Salah satu misi Rodja adalah pemurnian syariat Islam dari segala bentuk syirik, bid’ah dan pemikiran menyimpang.
Dengan semboyan menebar cahaya sunnah, seolah memberikan pencerahan kepada kaum muslim untuk kembali kepada Quran dan Hadits. Namun dalam materi yang disampaikan justru dipelintirkan dari ajaran Islam sesungguhnya. Radio Rodja merupakan corong informasi untuk menyebarluaskan­ paham Wahabi di Indonesia
.
Ajaran ini selalu berslogan pemurnian syariat Islam. Namun apa yang terjadi, justru banyak fitnah terhadap ajaran Islam yang sebenarnya, yang terpelihara sejak zaman Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam, melalui “ulama” pewaris Nabi. Berikut adalah beberapa fakta penyamaran Radio Rodja yang belum pernah terungkap :
1. Kata RODJA : berasal dari suku gothic [Bavaria], yang memiliki arti “SEE” atau MELIHAT.
2. Logo radio RODJA : setelah diputar 115° derajat ke kiri, lalu menutup huruf “ r “ warna putih dengan warna merah dan memutihkan warna merah dibagian tengah, maka mucul gambar kelopak mata. Simbol mata dihilangkan, tapi tersisa tetes air mata [air mata Horus] di ujung kelopak mata. Kesimpulannya logo Rodja berbentuk mata satu disamarkan, dengan tetes air mata Horus.
3. Tag-line radio RODJA : ‘menebar cahaya sunnah’. Mengapa memilih kata “cahaya”, karena ini bagian dari ILLUMINATI, yaitu kelompok cahaya. ILLUMINATI berasal dari bahasa latin illuminatus yang berarti tercerahkan.
4. Frekuensi radio RODJA 756 am: memiliki makna yang mengejutkan antara lain: “ IDEOLOGI RASA BENCI “ [an ideology of hate] “ KHOTBAH KEBENCIAN MURNI ” [preaching pure hatred] Bagaimana mungkin suatu angka dapat memiliki arti. Hal ini bisa terjadi, karena sebenarnya dalam setiap huruf terdapat persamaan angkanya, dalam hal ini yang dipakai persamaan huruf-huruf Jewish [Yahudi]. Ilmu tentang masalah ini adalah teknik kalkulasi persamaan angka-huruf yang diterjemahkan ke angka, ataupun huruf. Sehingga susunan angka tersebut memiliki makna dalam bentuk kata atau kalimat. Berdasarkan fakta yang terungkap, radio RODJA [Rodja network] yang menyebarluaskan­ paham Wahabi adalah bagian dari ILLUMINATI [kelompok cahaya] dengan kedok agama Islam.
.
Radio RODJA memakai kata cahaya, di tag-line nya namun sesungguhnya sumber cahaya tersebut berasal dari bara api menyala-nyala yang sangat panas. Melalui fakta ini, segala hal terkait paham Wahabi berupa para ustadz, link website, pelatihan Wahabi, kelompok paham turunan Wahabi dan seluruh aparatnya adalah alat, tunggangan atau disokong oleh Yahudi, yang digunakan untuk memecah belah umat manusia di muka bumi melalui trinitas tauhid dan masalah “bid’ah” versi Wahabi
.
Sehingga “umat Islam digiring bersikap anti” terhadap dzikir, tahlil, maulid, ziarah kubur, tawassul, tasawuf, ber-mahzab dan banyak hal yang Wahabi lakukan untuk menjauhkan umat Islam beribadah kepada ALLAH.
Sejarah kelahiran perkumpulan rahasia [secret societies] yang melambangkan dirinya dengan “Mata satu” bermula sejak awal zaman pemerintahan raja-raja Mesir purba [Firaun] yang berkuasa sejak ribuan tahun lalu. Ini bermula dengan sejarah pemerintahan Firaun Horus atau yang lebih dikenal dalam catatan hieroglif Mesir purba sebagai Tuhan Matahari atau Sun God. Adam Weishaupt membentuk sebuah ”Secret Society” yang disebut Ordo Illuminati pada tanggal 1 Mei 1776. Seorang keturunan Yahudi dan berlatar belakang pendidikan sebagai Jesuit. Weishaupt adalah Guru Besar Hukum Canon di Universitas Ingolstadt di Bavaria, bagian dari Jerman. Illuminati berusaha untuk membentuk New World Order [Tatanan Dunia Baru]
.
Adam Weishaupt hanyalah kelanjutan tangan ordo Kabala putih, yaitu salah satu ordo Kabala [ordo rahasia Yahudi tertua yang telah berusia lebih kurang 4.000 tahun] yang lebih menekankan misi politik, di samping mengembangkan ajaran Kabala dalam menyembah Lucifer
.
Mereka merumuskan, misi Kabala adalah menentukan arah peradaban manusia guna membentuk “Tatanan Dunia Baru” [Novus Ordo Seclorum] dan “Pemerintahan Satu Dunia” [E Pluribus Unum] di bawah kepemimpinan kaum Yahudi. Adam Weishaupt inilah perumus The Protocols of the Elders of Zion [protokol tokoh-tokoh zionisme] yang berisi agenda besar dengan tujuan utama untuk penguasaan dunia oleh kaum Zionis. Mengapa mereka selalu menampakkan simbol mata satu, meskipun disamarkan
.
Karena simbol ini secara gaib [magis] mereka percayai sebagai suatu “kekuatan supranatural” yang memberikan proteksi [perlindungan].­ Melalui simbol ini juga merupakan identitas dan pesan akan cita-cita NEW WORLD ORDER.
.
Tidak ada sesuatu tercipta dengan sendirinya, melainkan ada yang menciptakan. Tidak juga sebuah simbol mata satu diciptakan sekedar coretan belaka, melainkan bermakna dan bertujuan. Lalu mengapa tujuan mereka disembunyikan terselubung simbol. Karena api laksana air dan air laksana api.
.
Jika manusia mau berpikir, merenung, dan merasa dengan segenap hati, tentu dapat memahami pesan tersembunyi yang mereka sampaikan.

SENYUMAN UNTUK RODJA TV YANG ANTi SYiAH

Bid’ahnya Rodja TV

Kepedulian akan bahaya kesesatan wahabi terus bergulir. Tuntutlah ilmunya, cari tahu bagaimana sesungguhnya wahabi dan Zionis melakukan persekongkolan jahat untuk memerangi Islam dan kaum Muslimin. Ketika itu terjadi alangkah sadisnya mereka itu !
.
TV RODJA, BID`AH-NYA KAUM WAHHABI

buku “Zionis & Syiah bersatu hantam Islam”, fitnah murahan wahabi yang merupakan loyalis zionis dan antek antek USA

Hadirilah bedah buku "Zionis & Syiah bersatu hantam Islam", Selamatkan diri dan keluarga dari Syiah dan Zionis
Melihat TV adalah tergolong amalan bid`ah,dalam pengertian karena tidak pernah dicontohkan oleh Nabi SAW dan para salaf.Namun, kali ini kaum Wahhabi yang selalu mempromosikan diri sebagai kelompok anti bid`ah, justru terjebak oleh perbuatan bid`ah menurut definisi mereka sendiri, karena banyaknya keterlibatan tokoh-tokoh Wahhabi Indonesia dalam memunculkan amalan bid`ah dengan mengudaranya TV Rodja
.
Acara-acara yang ditayangkan oleh TV Rodja, memang tampaknya menyerupai pengajian dan majelis ta`lim mencari ilmu agama, namun hakikatnya jika diteliti, adalah upaya kaum Wahhabi dalam menyesatkan aqidah umat Islam Indonesia
.
Bagaimana tidak, warga mayoritas umat Islam Indonesia adalah penganut Ahlussunnah wal Jamaah bermadzhab Syafi`i, sedangkan isi acara yang ditayangkan TV Rodja adalah murni ajaran Wahhabi penganut Muhammad bin Abdul Wahhab Annajdi
.
Padahal, kauml Wahhabi itu termasuk sektesesat Mujassimah. Coba tengok salah satu keyakinan tokoh Wahhabi, yaitu Addarimi Alwahhabi (ini bukan nama Imam Addarimi ulama Sunni Ahli hadits)
.
Addarimi Alwahhabi menulis buku tentang sifat Allah dengan menyebutkan:
ALLAH TURUN DARI ARSY MENUJU KE KURSI-NYA.
(kitab Annaqdl, halaman 73, terbitan Darul Kutub Al-ilmiyah yang dita`liq oleh Muhammad Hamid Alfaqiy). Pernyataan Addarimi Alwahhabi ini jelas-jelas menisbatkan kepemilikan jasmani yang dilakukan oleh pentolan Wahhabi terhadap Dzat Allah.
.
Addarimi Alwahhabi menggambarkan, bahwa Arys-nya Allah itu berada di satu tempat, sedangkan kursi-nya Allah itu berada di tempat yang letaknya lebih rendah daripada Arsy. Lantas Allah yang di dalam firman-Nya menyatakan Arrahmaanu `alal `arsyis tawaa, diterjemahkan oleh kaum Wahhabi sbb: Allah itu duduk di atas Asry
.
Kemudian digambarkan oleh Addarimi Alwahhabi, bahwa terkadang Allah itu turun dari Arsy-Nya menuju Kursi-Nya yang berada dilangit lebih rendah. Karena sudah dimaklumi bahwa Allah menciptakan langit itu berlapis hingga tujuh tingkat.Inti dari ajaran Aqidah Wahhabi adalah, mereka meyakini bahwa Allah versi Wahhabi itu memiliki bentuk tubuh, dan saatini Allah sedang berada di langit. TerkadangAllah duduk-duduk di-Arsy-Nya, namun tak jarang Allah ingin jalan-jalan turun menuju ke langit yang tingkatnya lebih rendah, karena Allah akan menikmati suasana istirahat duduk-duduk di kursi-Nya
.
Lantas apa bedanya aqidah Wahhabiyah ini dengan keyakinan para penyembah berhala-berhala. Tuhan-tuhan berhala itu sengaja dibuat oleh tangan mereka dalam bentuk patung yang memiliki bentuk jasmani. Mereka berasumsi bahwa dengan tampaknya bentuk tuhan di depan mata, maka lebih memudahkan mereka untuk menyembah dan mengingtnya, lantaran sudah ketemu bentuk tubuh tuhannya itu
.
Demikianlah gambaran aqidah asli pengelola TV Rodja yang diperkenalkan kaum Wahhabi untuk diikuti oleh kaum awam, dengan tujuan agar kaum awam dapat mengenal tuhan-nya kaum Wahhabi yang mempunyai bentuk tubuh seperti berhala
.
Hal yang tak kalah penting untuk diwaspadai oleh umat Islam juga, adalah TV INSAN, SUNNAH TV, AHSAN TV, TV WESAL, serta tayangan Trans 7 yang ikut-ikutan menyiarkan dakwah sesat ala Wahhabiyah ini lewat tayangan KHAZANAH, maka hendaklah umat Islam membaikot TV Trans 7 dengan tidak menontonnya
.

Saat Barat dan wahabi setan nejed berjualan “Syiah”

- wahabi terus menghantam Syiah dengan target dana Arab Saudi terus mengalir kekantong mereka, karena serakah maka pengikut wahabi cuma disuruh jualan madu dan buku ! Ustad wahabi kaya tapi pengikut tertipu.

- Wahabi jualan kecap dengan menuduh Syiah dan NU sesat. Batilnya wahabi disatu sisi bermuka manis didepan kaum NU seolah olah mereka pembela Islam, padahal dibelakang mereka mewahabinisasi NU

- Barat yang anti Iran terus mempropagandakan bahwa syiah sesat. Padahal Barat sangat senang mendukung ide wahabinisasi dikalangan NU.

rodja tv

RADIO RODJA

Radio RODJA Menebar Cahaya Fulus?

Ada sesuatu yang menarik dan mengagetkan ketika saya membuka sebuah situs Salafy bernama www.isnad.net. Bagi anda yang merupakan pengikut aliran Salafy tentu sudah mengenalnya dan sering membaca situs ini, bukan?

.
Sekarang coba anda buka halaman di situs tersebut http://isnad.net/fatwa-syaikh-fauzan-tentang-tv-televisi lalu geser turun sampai ke bawah, maka anda akan melihat sebuah gambar seperti ini:
Radio Rodja Menebar Cahaya Fulus. Logo telah berubah menjadi (maaf) celana dalam
.
Bagaimana tanggapan anda? menarik bukan? :)
rodja tv
Menguak Kesamaan Aqidah Salafi Wahabi dengan Yahudi

.
Anda jangan terperanjat jika kami katakan akidah Salafi Wahabi itu sangat mirip dengan akidah Yahudi dan Nasrani. Benarkah demikian? Mari kita buktikan bersama!
.
Akidah tajsim dan tasybih telah menggelincirkan Salafi Wahabi hingga pada suatu keyakinan bahwa Allah seperti sosok seorang pemuda , berambut ikal , bergelombang dan mengenakan baju berwarna merah. Klaim ini dikatakan oleh Ibnu Abu Ya’la dalam kitab Thabaqat al-Hanabilah. Abu Ya’la mendasarkan pernyataan itu kepada hadits berikut :
عن عكرمة اَن الرسول صلى الله عليه وسلّم قال: راَيت ربي عزّ وجلّ شَابا امرد جعد قطط عليه حلة حمراء
.
“Dari Ikrimah: bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Aku telah melihat Tuhanku SWT berupa seorang pemuda berambut ikal bergelombang mengenakan pakaian merah.” (Ibnu Abu Ya’la: Thabaqat al-Hanabilah, jilid 2, halaman 39)
.
Sungguh keji pengaruh riwayat palsu di atas. Riwayat-riwayat palsu produk pikiran Yahudi itu kini berhasil membodohi akal pikiran para pengikut Salafi Wahabi, sehingga mereka menerima keyakinan seperti itu. Tidak diragukan lagi, hadits semacam ini adalah kisah-kisah Israiliyat yang bersumber dari orang-orang Bani Israil.
.
Salafi Wahabi memperjelas hadits di atas dengan hadits lain yang bercerita tentang Allah duduk di atas kursi emas, beralaskan permadani yang juga terbuat dari emas, dalam sebuah taman hijau. Singgasana (Arsy) Allah dipikul oleh empat malaikat dalam rupa yang berbeda-beda, yaitu seorang lelaki, singa, banteng dan burung elang. Keyakinan aneh semacam ini dipaparkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Kitab at-Tauhid wa Itsbat Shifat ar-Rab.

Siapakah Ibnu Khuzaimah? Dia adalah salah seorang ulama ahli hadits yang banyak dipakai oleh Salafi Wahabi untuk dijadikan referensi. Namun setelah semakin matang dalam pengembaraan intelektualnya, Ibnu Khuzaimah menyesali diri telah menulis kitab tersebut, seperti dikisahkan oleh al-Hafidz al-Baihaqi dalam kitab al-Asma wa ash-Shifat hal. 267
.
Walaupun begitu, soko guru Salafi Wahabi, yaitu Ibnu Taimiyah tetap mengatakan bahwa Ibnu Khuzaimah adalah ”Imamnya Para Imam” karena menurutnya telah banyak meriwayatkan hadits-hadits ’shahih’ tetang hakikah Dzat Tuhan (padahal yang sebenarnya hadits-hadits itu kenal dengan nuansa tasybih dan hikayat Israiliyat). Oleh karena itu, ketika mengomentari sebuah hadits yang diriwayatkan Ibnu Khuzaimah, Ibnu Taimiyah berkata :
”Hadits ini telah diriwayatkah oleh ’Imamnya Para Imam’ yaitu Ibnu Khuzaimah dalam Kitab at-Tauhid yang telah ia syaratkan untuk tidak berhujjah di dalamnya melainkan dengan hadits-hadits yang dinukil oleh perawi adil dari perawi adil lainnya, sehingga bersambung kepada Nabi SAW”  (Ibnu Taimiyah: Majmu Fatawa Ibnu Taimiyah, Jilid 3, hal. 192)
.
Maka tak heran jika Ibnu Taimiyah pun berkeyakinan sama buruknya, seperti dalam Majmu’ Fatawa j. 4, h. 374,  Ibn Taimiyah berkata “Para ulama yang diridlai oleh Allah dan para wali-Nya telah menyatakan bahwa Rasulullah Muhammad didudukan oleh Allah di atas ‘arsy bersama-Nya”.
.
Awalnya Ibnu Khuzaimah sangat meyakini bahwa seluruh hadits yang ia muat di dalam kitabnya adalah shahih dan dapat dipertanggungjawabkan. Sebab menurut pengakuannya ia telah meriwayatkanya dengan sanad bersambung melalui para periwayat yang adil dan terpercaya. Demikian sebagaimana ia tegaskan di awal kitab tersebut dan juga tertulis di cover depan kitab at-Tauhid tersebut.
.
Gambar dibawah ini adalah scan teks tentang keyakinan tasybih dari Kitab at-Tauhid karya Ibnu Khuzaimah, tahkik Muhammad Khalil Harras, Dar al-Kutub al-Ilmiah, Beirut, Lebanon 1403 H./1983, halaman 198.

Untuk lebih jelasnya kami tuliskan ulang hadits Israiliyat yang sudah menjadi bagian dari keyakinan kaum Salafi Wahabi itu sebagai berikut :
عن عبد الله عمر بن الخطاب بعث الى عبد الله بن العبّاس يساله: هل راى محمّد صلى الله عليه وسلم ربّه؟ فارسل اِليه عبد الله بن العبّاس: ان نعم. فردّ عليه عبدالله بن عمر رسوله: ان كيف راه؟ قال: فارسل انّه راه في روضة خضراء دونه فِراش من ذهب على كرسي من ذهب يحمله اربعة من الملاىكة، ملك في صورة رجل، و ملك في صورة ثور وملك في صورة نسر، وملك في صورة اسد
….. Abdullah ibnu Umar ibnu al-Khaththab mengutus seseorang untuk menemui Ibnu Abbas menanyainya, ”Apakah Muhammad SAW melihat Tuhannya?” Maka Abdullah ibnu Abbas mengutus seseorang kepadanya untuk menjawab, ”Ya, benar. Ia melihatnya.” Abdullah ibnu Umar meminta pesuruhnya kembali kepada Ibnu Abbas untuk menanyakannya, ”Bagaimana ia melihat-Nya?”.  Ibnu Abbas menjawab melalui utusannya itu, ’Da melihat-Nya berada di sebuah taman hijau, dibawah-Nya terdapat hamparan permadani emas yang dipikul oleh empat malaikat; malaikat berupa seorang laki-laki, malaikat berupa banteng, malaikat berupa burung elang, dan malaikat berupa singa.”
(Ibnu Khuzaimah: Kitab at-Tauhid, tahkik Muhammad Khalil Harras, Dar al-Kutub al-Ilmiah, Beirut, Lebanon 1403 H./1983 M, hal. 198)
.
Pembaca yang budiman, Ketika kami menggabungkan hadits Abu Ya’la yang telah lalu dan hadits Ibnu Khuzaimah ini (dimana keduanya telah menjadi dogma Salafi Wahabi), kami sungguh sangat terperanjat!. Kami menjumpai adanya kesamaan antara dogma Salafi Wahabi itu dengan dogma Nashrani, dalam hal ini gambar Tuhan milik mereka. Sebuah gambar yang mengilustrasikan tentang hakikat Tuhan mereka, Yesus Kristus.
.
Lukisan itu sama persis dengan apa yang digambarkan oleh Salafi Wahabi, yaitu: seorang pemuda , berambut ikal bergelombang mengenakan pakaian merah, sedang duduk di atas kursi emas di taman hijau dibawah-Nya hamparan permadani emas yang dipikul oleh empat malaikat berupa seorang laki-laki, banteng (sapi hutan), burung elang, dan singa.
.
Dibawah ini gambaran milik umat Kristiani tentang Yesus Kristus, silahkan Anda bandingkan dengan hadits Ya’la dan Ibnu Khuzaimah yang direkomendasikan oleh Salafi Wahabi untuk diyakini oleh setiap pengikutnya:

Perhatikanlah gambar milik kaum Nashrani di atas, tidak ada bedanya sama sekali dengan apa yang diajarkan oleh Salafi Wahabi tentang jati diri Tuhan. Apakah ajaran Salafi Wahabi tadi (yang mereka klaim berasal dari hadits shahih) adalah hasil copy paste dari ajaran orang-orang Yahudi dan Nashrani ini? Kenapa ini bisa terjadi? Karena akidah Salafi Wahabi berasal dari hadits-hadits palsu Israiliyat, yakni karangan orang-orang Bani Israil yang telah Allah sesatkan

.

Oleh karenanya, sudah selayaknya kita meragukan dogma tajsim dan tasybih kaum Salafi Wahabi, sebag tajsim dan tasybih itu sangat diwanti-wanti dan dilarang dalam Islam. Terkadang, kaum Salafi Wahabi masih saja mengelak dan memutar kata dari tuduhan tajsim ini. Namun, jika yang demikian bukan tajsim, lalu yang bagaimana lagi yang dinamakan tajsim? Berhati-hatilah wahai umat Islam dari mengikuti faham mereka ini agar kita tidak terperosok dalam kemusyrikan dan kekafiran

.

Namun sayangnya, semakin mereka dikritik, maka akan semakin keras menentang (mungkin karena memang seperti itulah watak asli mereka). Mereka merasa paling benar. Nyata-nyata mereka yang keliru, tetapi malah mereka yang bersikap lebih keras kepada umat Islam yang coba meluruskan, lalu menudingkan tuduhan kafir. Dalam buku mereka, Halaqat Mamnu’ah karangan Hisyam al-Aqqad dinyatakan:
من فسّر اِستوى باستولى فهو كافر
”Barang siapa yang menafsirkan kata istawa dengan istawla (menguasai), maka dia kafir.”

.

Dari pemaparan ringkas di atas, Anda dapat mengerti bagaimana kualitas akal pikiran sebagian ulama Mujassimah yang menjadi rujukan Salafi Wahabi. Oleh karena itu, tidak berlebihan jika Ibnu al-Jauzi mensifati mereka sebagai para ahli hadits dungu. Adakah kedunguan yang melebihi kedunguan kaum yang sesekali meyakini bahwa Allah SWT duduk di sebuah kursi yang dipikul oleh empat malaikat dalam rupa berbeda-beda, sesekali meyakini bahwa Allah SWT bersemayam di atas Arasy-Nya yang ditegakkan di atas punggung delapan ekor banteng yang mengapung di atas air di sebuah rumah di atas langit ketujuh, dan sesekali meyakini bahwa Allah SWT duduk berselonjor sambil meletakkan salah satu kaki-Nyadi atas kaki-Nya yang lain? Itu semua adalah hadits-hadits palsu buatan Bani Israil yang dikenal riwayat-riwayat Israiliyat. Masihkah Salafi Wahabi tidak menyadarinya, melainkan malah menganggap dirinya yang paling benar?.

.
La haula wa la quwwata ill billah. Semoga Allah mengilhamkan kepada kita kemurnian akidah dan kesucian keyakinan tentang sifat-sifat-Nya yang Maha Suci serta kematangan logika
.

Stop, mulai sekarang dan seterusnya, hendaklah umat Islam tidak menonton TV Rodja, TV Insan, TV Wesal, SUNNAH TV, AHSAN TV, dan Trans 7 … !!

Jika itu anda lakukan maka wahabi akan mati angin !

Gerakan Anti Syi’ah Didalangi SALAFi WAHABI Yang Ditunggangi Amerika, Padahal NU menginginkan gerakan Kebangkitan Islam

Syiahphobia dan Kepentingan Barat..

Gerakan Anti Syi’ah Didalangi SALAFi WAHABI Yang Ditunggangi Amerika, Padahal NU menginginkan gerakan Kebangkitan Islam

Analis: Agenda Arab Saudi, Basmi Kaum Non-Wahhabi

Arab Saudi Bos Besar dan penyandang dana salafy wahabi takfiri dan teroris Al Qaeda Internasional, diberitakan bekerjasama dengan Israel untuk menyerang proyek nuklir Iran untuk tenaga listrik

Gerakan Anti Syi’ah Didalangi SALAFi WAHABI Yang Ditunggangi Amerika, Padahal NU menginginkan gerakan Kebangkitan Islam..

Dewasa ini, permusuhan terhadap mazhab Syiah terutama di kawasan Asia Timur meningkat menyusul perubahan penting di negara-negara Islam. Dampak dari transformasi tersebut, berbagai kelompok dan partai Islam menemukan basis-basis sosial besar. Gerakan Kebangkitan Islam di negara-negara Afrika Utara dan Asia Barat telah mengguncang basis dan pilar kekuasaan di negara-negara tersebut.

 

Meski demikian, gerakan Kebangkitan Islam hingga kini belum mampu mencapai hasil dan tujuan-tujuan yang diinginkan. Bangsa Muslim di negara-negara Afrika Utara dan Asia Barat serta bagian lainnya belum mampu mencapai kebebasan dan independensi yang sebenarnya setelah beberapa dekade berada di bawah rezim-rezim despotik.

 

Hal itu terjadi karena adanya konspirasi dan hambatan besar yang dibuat oleh gerakan-gerakan Liberal, Sekuler dan kelompok-kelompok Takfiri. Mereka memiliki peran besar dalam pemerintahan-pemerintahan pro-Barat untuk menghambat gerakan Kebangkitan Islam. Dalam hal ini, peran Wahabi dalam pemerintahan Arab Saudi yang sejalan dengan kebijakan-kebijakan Barat untuk menghadang gerakan Kebangkitan Islam tidak bisa dianggap remeh.

 

Sebenarnya, bantuan negara-negara Barat kepada Arab Saudi bertujuan untuk memerangi Islam sejati, yaitu Islam yang menuntut keadilan dan kebebasan, Islam anti-kekerasan dan ekstrimisme, dan Islam yang memiliki pemikiran terang dan meniti kesempurnaan. Islam seperti itu merupakan ancaman besar bagi posisi dan basis kelompok-kelompok Takfiri di bawah pengaruh pemikiran Wahabi di Arab Saudi. Sebab, kelompok-kelompok tersebut telah menyimpang dari ajaran-ajaran murni Nabi Muhammad Saw dan menjadi alat kepentingan Barat.

 

Saat ini, kecenderungan kepada Islam murni dan mazhab Ahlul Bait Rasulullah Saw di negara-negara Islam semakin meningkat. Gerakan Kebangkitan Islam di negara-negara Afrika Utara dan Asia Barat di bawah kecenderungan tersebut juga semakin luas. Rezim Al Saud yang didukung dari semua sisi oleh kelompok-kelompok Takfiri dan pro-kekerasan, telah menarget para pengikut mazhab Syiah dan pecinta Ahlul Bait as.

 

Dengan dolar minyak Arab Saudi, Wahabi memiliki investasi besar di negara-negara Islam untuk menyebarkan Syiahphobia. Salah satu fokus aktivitas Wahabi di negara-negara Muslim Asia Tenggara adalah di Malaysia dan Indonesia. Selama beberapa bulan terakhir, para pengikut mazhab Syiah di kedua negara tersebut menghadapi bermacam-macam gangguan dan penindasan oleh kelompok-kelompok Takfiri dan ekstrim.

 

Gerakan kelompok-kelompok Takfiri di Malaysia dan Indonesia dimulai dengan penyebaran Syiahphobia. Setelah itu, mereka melancarkan tekanan dan bahkan penindasan fisik terhadap para pengikut Ahlul Bait as untuk mencegah meluasnya mazhab tersebut. Sayangnya, sejumlah ulama dan politisi Indonesia terpengaruh dengan propaganda Wahabi dan kelompok-kelompok Takfiri, bahkan mereka mendukung gerakan yang mengancam NKRI itu.

 

Beberapa waktu lalu, sejumlah ulama di Indonesia mengeluarkan pernyataan yang menyebut Syiah sebagai ancaman berbahaya bagi masyarakat Islam. Akhirnya pada tanggal 20 April 2014, sejumlah ulama mendeklarasikan Aliansi Nasional Anti-Syiah di Bandung, Jawa Barat. Deklarasi tersebut digelar di markas Forum Ulama Ummat Indonesia (FUUI) di Jalan Cijagradan dihadiri oleh KH Abdul Hamid Baidlowi pengasuh Ponpes al-Wahdah Lasem Rembang, KH Muslim Ibrahim Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama Aceh, KH Muhammad Said Abdus Shamad tokoh Muhamadiyah Makasar, KH Maman Abdurrahman Ketua Umum Persatuan Islam (Persis), KH Abdul Muis Abdullah Ketua MUI Balikpapan.

 

Selain itu hadir pula KH Ahmad Cholil Ridwan tokoh Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII), Habib Zain Al-Kaff pengurus MUI Jawa Timur, KH Nuruddin A Rahman pengasuh Ponpes Al-Hikam Bangkalan, KH Muhammad Alkhaththath Sekjen Forum Ummat Islam, Farid Ahmad Okbah Ketua Islamic Center Al-Islam Bekasi, Muhammad Baharun Ketua MUI Pusat dan KH Athian Ali Ketua Forum Ulama Ummat Indonesia. Para peserta deklarasi menuntut jihad anti-Syiah di Indonesia.

 

Propaganda anti-Syiah di Indonesia berkembang ketika umat Islam di negara itu mayoritasnya adalah pengikut Imam Shafi`i, sebuah mazhab yang sangat dekat dengan mazhab Syiah dibandingakan dengan mazhab-mazhab Ahlussunnah lainnya. Selain itu, jumlah umat Islam di Indonesia juga terbesar di dunia. Ajaran-ajaran dalam mazhab Shafi`i dalam sebagian masalah sama seperti di mazhab Ahlul Bait as. Para pengikut Imam Shafi`i juga sangat mencintai Ahlul Bait Nabi Muhammad Saw.

 

Revolusi Islam Iran sebagai basis terbesar mazhab Syiah di dunia berpengaruh luas terhadap transformasi umat Islam Indonesia. Pengaruh tersebut terjadi karena adanya kedekatan antara mazhab Shafi`i dan mazhab Syiah. Kemenangan Revolusi Islam Iran telah mendorong umat Islam di dunia terutama di Indonesia untuk memberikan perubahan baru dalam kehidupan dan pemikiran mereka.

 

Kalangan akademisi Indonesia menerima dampak paling besar dari Revolusi Islam Iran di bandingkan dengan lapisan masyarakat lainnya. Generasi muda baik di universitas maupun di hauzah ilmiah telah mampu mengenali Islam sejati. Mereka juga telah mampu membedakan antara Islam murni dan Islam menyimpang yang terpengaruh oleh kepentingan negara-negara hegemonikdunia.

 

Salah satu pengaruh Revolusi Islam Iran di Indonesia terutama di kalangan para pengikut Ahlul Bait as adalah penerbitan buku-buku yang ditulis oleh para ulama terkemuka Syiah di Iran dan terjemahannya. Saat ini, ratusan buku terjemahan dari buku-buku yang ditulis oleh para ulama besar Syiah telah diterbitkan di Indonesia. Puluhan buku Allamah Tabatabai, Syahid Murtadha Muthahhari, dan Syahid Ayatullah Sadr serta para cendekiawan dan ulama besar Syiah lainnya juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Bahkan, pernah ada ulama Ahlussunnah datang ke lembaga-lembaga Syiah untuk meminta buku-buku mazhab Ahlul Bait as.

 

Perkembangan mazhab Syiah di Indonesia telah menarik perhatian banyak kalangan di negara tersebut terutama para akademisi dan cendekiawan besar terhadap mazhab Syiah. Para pengikut mazhab Syiah di Indonesia terdiri dari berbagai lapisan masyarakat, termasuk para cendekiawan terkemuka, penyair terkenal, penulis, dokter, politisi dan tokoh-tokoh lainnya.

 

Kecenderungan terhadap ajaran Tasyayu pada dasarnya adalah keinginan untuk mengenal lebih mendalam tentang ajaran-ajaran murni Islam melalui Ahlul Bait as dan menyebarkan semangat persatuan dan persahabatan di antara para pengikut semua mazhab Islam. Namun propaganda anti-Syiah di Indonesia dan di sebagian negara Muslim lainnya telah menjadi batu penghalang utama bagi terwujudnya persatuan umat Islam.

 

Propaganda tersebut tidak lain adalah bagian dari strategi Amerika Serikat dan kekuatan-kekuatan hegemonik dunia yang bekerjasama dengan kelompok-kelompok Wahabi dan Takfiri untuk menciptakan perpecahan di antara umat Islam. Jika tujuan tersebut terwujud maka kekuatan-kekuatan arogan dunia akan dengan mudah mencapai ambisi mereka.

 

Syiahphobia adalah reaksi terhadap kemenangan Revolusi Islam Iran dan perannya di tingkat dunia Islam, dan bahkan dunia internasional. Revolusi anti-penjajahan dan anti-rezim otoriter tersebut telah menjadi ancaman besar bagi kepentingan-kepentingan AS, rezim Zionis Israel dan rezim-rezim otoriter dan kesukuan lainnya, serta pemerintahan non demokrasi di kawasan Timur Tengah.

 

Syiahphobia di negara-negara Islam adalah bagian dari proyek Islamphobia di dunia. Tujuan dari Islamphobiaadalah menciptakan ancamanpalsuterhadap negara-negara Barat dalam rangka memajukan tujuan ilegal mereka. Pasca runtuhnya Uni Soviet, AS membutuhkan musuh untuk menjustifikasi kebijakan-kebijakan hegemoniknya di dunia. Oleh sebab itu, Washington memilih Islam mengingat agama itu semakin menyebar di berbagai wilayah strategis dunia seperti di Timur Tengah, Asia Selatan dan Asia Timur.

 

AS dan sejumlah sekutunya di Eropa berusaha merusak citra Islam yang cinta kedamaian dan keadilan untuk memperluas Islamphobia dan menjustifikasi kebijakan-kebijakan anti-Islam mereka. Mereka selalu mendukung setiap perkembangan dan tindakan yang menggambarkan Islam sebagai agama ekstrim dan mengedepankan kekerasan. Setelah itu, mereka menggunakan hal itu untuk kepentingan politik dan propaganda. Dengan demikian, tindakan kelompok-kelompok Wahabi dan Takfiri yang mencoreng wajah Islam sejati pada dasarnya telah mendukung kepentingan-kepentingan Barat dan AS.

 

Negara-negara Barat melaksanakan proyek Islamphobia di negara-negara Islam dalam bentuk lain, yaitu dengan menyebarkan Syiahphobia. Revolusi Islam Iran telah berhasil menghidupkan kembali Islam murni yaitu Islam Muhammadi (Saw) dan ajaran Ahlul Bait as. Perkembangan mazhab Syiah telah menjadi ancaman besar bagi pemikiran dan keyakinan keliru rezim-rezim kesukuan dan otoriter tentang Islam. Oleh sebab itu, Syiah dianggap sebagai ancaman bagi rezim-rezim tersebut terutama pemerintah Wahabi di Arab Saudi dan pendukungnya di Barat.

 

Syiahphobia di negara-negara Islam telah menjadi agenda yang setara dengan proyek Islamphobia. Langkah-langkah pemerintah Arab Saudi dari dua sisi telah membantu proyek Barat dalam mencoreng citra Islam sejati. Pertama, langkah ekstrim dan kekerasan serta pemikiran jumud mereka telah membantu Barat dalam merusak wajah Islam. Kedua, gerakan Wahabi dan Takfiri yang memerangi Islam murni di negara-negara Islam dan mempropagandakan mazhab Syiah sebagai ancaman bagi mazhab-mazhab Islam lainnya telah menciptakan perpecahan umat, di mana hal ini sangat menguntungkan bagi kekuatan-kekuatan arogan dunia untuk mencapai ambisi mereka.

 

Amat disayangkan bahwa sejumlah ulama dan politisi di negara-negara Asia Tenggara telah terperangkap dalam tipu daya Wahabi dan melakukan pembatasan dan tekanan terhadap para pengikut Ahlul Bait as. Padahal, selama bertahun-tahaun umat Islam Syiah telah hidup berdampingan dengan saudara-saudara mereka yang berbeda mazhab dengan penuh kedamaian. Dialog di antara para ulama dari semua mazhab adalah satu-satunya jalan untuk menghadapi propaganda Wahabi yang memecah belah persatuan umat Islam. Perlu diingat bahwa segala bentuk perpecahan dan ketegangan di antara umat Islam hanya akan menguntungkan musuh, terutama rezim Zionis Israel.

mungkin mengejutkan sebagian pihak, masak sih negara yang membanggakan diri dengan menyebut Khadimul Haramain/pelayan Dua Kota Suci bekerjasama dan membantu zionis Israel, negara musuh utama umat Islam yang menduduki kota suci ketiga umat Islam  yaitu Al Quds dan Palestina!

ketika Israel pada tahun 1981 menyerang reaktor nuklir Irak pesawat zionis tersebut juga melewati wilayah udara Dinasti Al Saud, yang dibiarkan melenggang dengan santai. Sepak terjang Dinasti Al Saud  dan hubungan cinta mesranya dengan negara zionis ini sudah bukan  rahasia lagi (bagi semua yang rajin membaca media baik barat, arab dan lokal pasti mengetahui hal itu)…. bahkan  media salafy-wahabi lokal patron dan pendukung dinast al Saud sendiri telah banyak yang memuatnya entah karena tidak dapat menutupinya lagi atau rasa frustasi dengan bossnya yang makin menampakkan diri hubungan gelapnya dengan “wanita simpanan”nya yakni negara yahudi zionis tersebut. Untuk mempersingkat dibawah saya sebutkan sekelumit data-data tentang hubungan Saudi dan Zionis Israel.

  • Pada Senin, 14 Sya’ban 1431 H / 26 Juli 2010 media salafy-wahabi “Era Muslim” pernah menurunkan berita dengan judul “Kunjungan Rahasia Pimpinan Mossad ke Arab Saudi”

http://www.eramuslim.com/berita/dunia-islam/pimpinan-mossad-lakukan-pertemuan-rahasia-di-arab-saudi.htm

Media adalah salah satu alat propaganda, lalu apa tujuan pangeran wahabi tersebut bekerjasama dengan seorang zionis untuk membuat TV Satelit berbahasa arab? apakah untuk mempengaruhi warga yahudi Israel atau mempengaruhi warga arab demi kepentingan zionis? siapa yang diuntungkan Zionis atau bangsa Arab?

tidak cukup itu Al Waleed bin Talal juga memiliki 7% saham News Corp perusahaan milik zionis Rupert Murdoch tersebut.

http://www.aljazeera.com/indepth/features/2011/07/201171993551683626.html

alwaleed_Rupert_MurdochPangeran Negeri Wahabi-Salafy Walid bin Talal dan Raja Media Zionis Rupert Murdoch

  •  Kerjasama Arab Saudi, Israel dan Amerika untuk membunuh pimpinan Hizbullah Hasan Nasrullah sekutu Iran

http://palestinianpundit.blogspot.com.au/2007/07/us-israel-plotting-to-kill-nasrallah.html

  • Kerjasama Arab Saudi dengan Zionis melawan Iran

http://www.crescent-online.net/2010/10/arabian-rulers-align-themselves-with-zionism-and-imperialism-against-islamic-iran-2771-articles.html

  • Terakhir…..  sampai-sampai urusan haji Arab Saudi menyewa perusahaan sekuriti zionis  G4S, silahkan baca surat terbuka “Friends Of Al Quds kepada Duta Besar Saudi Arabia di London.

FOA Open Letter to Royal Embassy of Saudi Arabia on G4S

http://foa.org.uk/news/foa-open-letter-to-royal-embassy-of-saudi-arabia-on-g4s

Dari semua latar belakang tersebut jelas sekali bahwa Arab Saudi diakui ataupun tidak sangat ngebet bersama zionis untuk menghancurkan “Republik Islam Iran”, jadi nggak heran jika mereka bekerjasama dalam hal ini, apalagi mereka sudah mengkafirkan syiah, dan sudah di amini oleh misionaris-misionaris salafy-wahabi lokal disini yang mengatakan bahwa syiah lebih berbahaya dari zionis, darah mereka halal ( http://www.albaladnews.net/more.php?newsid=75458&catid=2 ), lalu apa yang harus ditutupi tentang hubungan haram zionis dan Dinasti Al saud yang wahabi-salafy ini? Bukankah ini demi menghancurkan musuh bersama mereka Iran yang syiah itu?

Bukankah Arab Saudi dan negara-negara Arab antek Amerika dan Zionis itu telah pernah mengeroyok Iran begitu Republik Islam Iran diproklamirkan dalam perang Iran-Irak (September 1980 – Agustus 1988) guna memuluskan hagemoni Amerika, Zionis dan Barat di Timur Tengah? Bukankah mereka masih mendendam untuk menjatuhkan rezim Islam di Iran?

Lalu apa tujuan negara-negara Arab boneka Amerika/Zionis itu khususnya Dinasti Al Saud menyediakan negaranya sebagai tempat pangkalan-pangkalan militer Amerika? apakah untuk menyerang Israel guna membebaskan Al Quds dan Palestina? atau menggulingkan Republik Islam Iran? hanya salafy-wahabi yang tidak faham akan hal ini!

us-air-force-bases-in-saudi-arabiaPangkalan Militer Amerika Di Arab Saudi

Kasihan para salafy-wahabi (khususnya jihadis) tidak sadar-sadar (dan sepertinya tidak akan sadar, karena hati mereka telah tertutup oleh kebencian dan kefanatikan) bahwa mereka telah dipakai oleh negeri 1001 muthowek bayaran para amir (Arab Saudi antek amerika/zionis) untuk ber’jihad” di negara-negara Islam (bukan di Palestina) demi memuluskan proyek dan agenda zionis, Amerika dan Barat di Timur Tengah, mengamankan Israel  dan selanjutnya mereka terus menguasai kekayaan sumber-sumber alam negara-negara Islam mulai Afghanistan hingga Timur Tengah. Setelah Afghanistan Irak, Libya mereka hancurkan dengan menggunakan tangan para jihadis salafy-wahabi ini, sekarang Suriah dan Yaman mereka garap dan segala fitnah mereka tebar.

Mantan Konsul Jenderal Israel di New York menunjukkan kegembiraannya arab/Islam baku bunuh di Suriah:

“Dalam permainan playoff anda perlu kedua tim kalah, dan anda tidak ingin salah satunya menang, kami puas dengan ini” kata Alon Pinkas mantan Konsul Jenderal Israel di New York. “Biarkan mereka berdarah-darah (saling bunuh) sampai mati, itu pemikiran strategis disini, selama ini berlangsung (saling bunuh di Suriah) maka tidak ada ancaman nyata (bagi Israel) dari Suriah.

baca selengkapnya di:

http://www.nytimes.com/2013/09/06/world/middleeast/israel-backs-limited-strike-against-syria.html?pagewanted=all&_r=2&

Makanya Israel terlibat di Suriah dan melakukan beberapa kali pemboman guna mendukung para jihadis wahabi-salafy yang direkrut dari seluruh dunia termasuk dari Indonesia. Kenapa mereka tidak sadar-sadar bahwa mereka dipakai? mulai Perang Afghanistan, Iran-Irak, sekarang Suriah dan Yaman.  Bukankah korban peperangan tersebut yang jutaan jumlahnya adalah Umat Islam baik suni maupun syiah, bahkan mayoritasnya adalah suni, juga non muslim dan warga sipil lainnya yang tak berdosa?

Hanya orang idiot dan fanatik saja yang tidak percaya hubungan mesra Arab Saudi dan Zionis ini !! apalagi berita terakhir terkait hubungan Saudi-Zionis ini disebutkan bahwa agen rahasia Israel berkunjung ke Arab Saudi untuk inspeksi pangkalan militer negara itu guna persipan serangan ke Iran baca:

Officals: Israelis in secret trip to inspect Saudi bases. Could be used as staging ground for strikes against Iran

http://kleinonline.wnd.com/2013/11/24/officals-israelis-in-secret-trip-to-inspect-saudi-bases-could-be-used-as-staging-ground-for-strikes-against-iran/

Karenanya kita di Indonesia harus berhati-hati jangan terpancing isu-isu dan fitnah yang disebarkan oleh da’i dan misionaris salafy-wahabi bayaran Dinasti Al Saud untuk memecah belah umat Islam dengan fitnah-fitnah sektarian dan permusuhan antar mazhab di  NKRI ini, jangan jadikan Indonesia porak poranda seperti Timur Tengah, jangan biarkan mereka mengimpor konflik Timur Tengah ke negara kita, ujung-ujungnya nanti yang rugi kita sendiri baik itu muslim atau non muslim, baik itu sunni maupun syiah dan mazhab-mazhab lainnya.

lebih lengkapnya tentang hal ini ada baiknya anda mengikuti tulisan-tulisan blogger KabarIslam  yang banyak mengamati tentang hal ini

Selanjutnya kunjungi saja blog tersebut

____________________________________________________________________________

Serang Iran, Arab Saudi Ajak Kerjasama Zionis Israel

SUMBER: (Media Salafy) http://www.islamulyaum.com/berita-islam-luar-negeri/60/2013/serang-iran-arab-saudi-ajak-kerjasama-zionis-israel

Islamulyaum.com

Para pejabat Saudi mengaku melakukan langkah darurat dengan mengajak kerjasama Intelijen Israel, Mossad Israel, untuk menyerang Iran jika Iran tidak menghentikan program nuklirnya.

Seperti yang dilansir oleh The Sunday Time, Saudi Arabia setuju memberikan fasilitas udaranya digunakan oleh  Israel untuk menyerang negara syiah Iran. Saudi juga siap membantu Israel untuk menyerang Iran dengan menggunakan drone (pesawat tanpa awak), helikopter  dan lain lain.

“Saudi bersedia secara tulus untuk membantu Israel dalam melawan Iran” ungkap laporan dari The Sunday Time.

Apakah aneh jika Arab Saudi melakukan kerjasama dengan Israel yang notabene merupakan musuh bersama umat Islam? Tidak, karena beberapa tahun terakhir, Arab Saudi bahkan mengekor kepada Amerika. Jika kepada Amerika saja menurut, apalagi kepada Israel yang merupakan saudara kembar Amerika.

BERITA TERKAIT

  1. Arab Saudi Izinkan Israel Memasuki Wilayah Udaranya untuk Serang Iran http://hizbut-tahrir.or.id/2010/06/13/arab-saudi-izinkan-israel-memasuki-wilayah-udaranya-untuk-serang-iran/
  2. Israel dan Arab Saudi akan Bekerjasama Menyerang Iran http://www.tribunnews.com/internasional/2013/11/17/israel-dan-arab-saudi-akan-bekerjasama-menyerang-iran
  3. Saudi siap dukung Israel serang Iran http://www.merdeka.com/dunia/saudi-siap-dukung-israel-serang-iran.html

Mantan Muballigh Wahabi Masuk Syi’ah setelah mengetahui Keterzaliman Fathimah Az-Zahra dari fakta sejarah yang mustahil ditolak

Mantan Muballigh Wahabi: Keterzaliman Fathimah Az-Zahra, Kenyataan Sejarah yang Tidak Bisa Ditolak

 

“Dalam penelitian saya, saya menemukan kalimat yang menarik dari Imam Fakhruddin al Razi, yang saat membacanya, membuat saya yakin bahwa kebenaran bersama Sayyidah Fatimah as. Kalimatnya adalah, ‘Aku heran, dengan adanya fakta ayat dan sabda Nabi mengenai warisan, dan penegasan dari Nabi sendiri bahwa perlunya seseorang untuk berusaha meninggalkan warisan harta dan tanah namun bagaimana mungkin Rasulullah Saw sendiri tidak mewariskan apapun untuk anak perempuannya?” 

 

 

salah seorang muballigh Yaman
yang sebelumnya berpemahaman Wahabi namun setelah mengenal mazhab Syiah dan
mempelajarinya dengan lebih detail iapun menyatakan diri beralih mazhab. Dalam
wawancara dengannya beliau berkata, “Kemenangan revolusi rakyat Iran yang
dipimpin oleh Imam Khomeini rahimahullah telah menyebabkan lebih dari satu juta
orang di Yaman beralih menganut mazhab Syiah, dan hal tersebut menunjukkan
bukti betapa besarnya pengaruh revolusi Islam Iran di kawasan ini.”

 

  1. Isham Imad, pernah menimba ilmu di beberapa universitas di Arab Saudi, yang
    kemudian kembali ke tanah airnya dan menjadi muballigh Wahabi. Sama halnya pada
    umumnya muballigh Wahabi diapun turut menganggap Syiah sebagai ajaran sesat dan
    keluar dari Islam. Namun interaksi dan ketekunannya dalam mempelajari
    perbandingan antar mazhab justru mengantarkannya pada hidayah, tidak hanya
    berubah mengakui Syiah sebagai mazhab yang sah dalam Islam bahkan juga beralih
    ke mazhab Syiah sebagai pilihannya dalam menjalankan Islam. Tidak
    tanggung-tanggung cendekiawan muslim Yaman tersebut bahkan sampai memperdalam
    keyakinan Syiahnya dengan menimba ilmu di Hauzah Ilmiah Qom Iran sampai
    mencapai doktoralnya dan dikenal sebagai ahli dalam bidang rijal, hadits dan
    tarikh.
  2. Isham Imad dalam penjelasannya mengatakan, dalam kebangkitan rakyat Yaman, umat
    Syiah Zaidiyah dan umat Syiah Itsna Asy’ari satu sama lain bersatu dan saling
    mengokohkan dan bekerjasama dengan umat Sunni sehingga pemamahan takfiri tidak
    memiliki pengaruh di Yaman. “Saya menjadi saksi, akan betapa meluasnya dakwah
    Syiah di Yaman ini. Semakin hari, jumlah pengikut Syiah semakin bertambah, dan
    dakwah Syiah hari ini semakin baik dan diterima masyarakat dari waktu-waktu
    sebelumnya.” Ungkapnya.

“Penduduk
Yaman lebih dari 30 juta orang, dan diantara penduduknya memeluk keyakinan
Syiah Zaidiyah dan Itsna Asy’ari, dan menariknya setelah kebangkitan Islam di
Iran yang dipelopori Imam Khomeini lebih dari satu juta penduduk Yaman beralih
kemazhab Syiah, dan jelas hal tersebut menunjukkan betapa besarnya pengaruh
revolusi tersebut di Negara-negara kawasan.” Tambahnya lagi.

 

Cendekiawan
Yaman tersebut kembali melanjutkan, “Tidak bisa dipungkiri pengaruh Arab Saudi
terhadap Yaman juga tidak sedikit. Bahkan dalam tahun-tahun terakhir ini, Yaman
termasuk dalam target Arab Saudi untuk diwahabisasikan. Orang-orang terpelajar
Yaman di biayai dan dididik di Arab Saudi dan sekembalinya akan menjadi
muballigh dan da’i-da’i Wahabi. Saya lahir dan besar dalam lingkungan keluarga
yang berpemahaman Wahabi. Ayah saya Syaikh Abdur Rahman al ‘Imad dikenal
sebagai ulama Wahabi. Rumah ayah saya di Yaman adalah pusat penyebaran
pemahaman Wahabi dan banyak dari warga Yaman mengenal dan mempelajari pemahaman
Wahabi di rumah ayah saya.”

 

“Sejak
berumur 6 tahun saya sudah mempelajari aqidah Wahabi di bawah bimbingan ayah
saya dan sampai umur 30 tahun saya menjadi muballigh Wahabi yang banyak
berceramah tentang keyakinan Wahabi di banyak tempat di Yaman. Saya
menyelesaikan pendidikan universitas saya di Arab Saudi namun setelah
mempelajari mazhab Syiah dengan telaten dan jujur saya kemudian beralih menjadi
muballigh Syiah. Hari ini saya dikenal sebagai guru, penulis dan muballigh
mazhab Ja’fari dan saya merasa bahagia menjadi bagian dari dakwah hak ini.” Jelasnya.

 

Dalam
lanjutan penjelasannya, doktor ahli dibidang hadits dan sejarah tersebut
mengatakan, “Kelompok Wahabi berusaha menisbahkan Syiah dengan sesuatu
yang tidak sepatutnya melalui media-media elektronik, kitab, majalah-majalah dan
media cetak. Mereka menampilkan wajah Syiah secara negatif, dalam gerakan ini
mereka telah menggelontorkan banyak dana untuk mencari titik kelemahan,
permasalahan dan melemparkan pandangan tidak berdasar menurut selera mereka.”

 

“Dengan
menyebarkan propaganda, berbagai tekanan, mereka berusaha menghambat mazhab
Syiah supaya asas akidah dan idealisme ajaran ini tidak tersebar dalam
komunitas masyarakat berilmu, kalangan terdidik yang berpikiran bebas dan
terbuka.” Tambahnya.

 

“Dimasa
pendidikan saya, dan ketika sibuk melakukan tahkik [penelitian] atas kitab
Jahiz yang dikarang salah seorang ulama besar Ahlus Sunnah, saya menemukan
frase dari tulisan beliau yang mempertanyakan mengapa umat Islam tidak membela
hak Sayyidah Fatimah putri Nabi pasca wafatnya Rasulullah Saw. Dan fakta
tersebut tidak bisa ditolak bahwa dalam literatur ahlus sunnah sendiri terdapat
riwayat yang menukil permintaan Sayyidah Fatimah yang tidak mengizinkan Abu
Bakar dan Umar untuk menyertai proses pemakaman jenazahnya. Awalnya saya
berpikir, perbuatan Fatimah Az Zahra tersebut kekanak-kanakan dan tidak
menunjukkan kebesaran jiwanya sebagai putri Nabi, namun setelah menyelidikinya
secara mendalam bahwa ada pesan yang tersirat dari permintaan Sayyidah Fatimah
tersebut, barulah saya paham hakikat yang sebenarnya.”

 

“Dalam
penelitian saya, saya menemukan kalimat yang menarik dari Imam Fakhruddin al
Razi, yang saat membacanya, membuat saya yakin bahwa kebenaran bersama Sayyidah
Fatimah as. Kalimatnya adalah, ‘Aku heran, dengan adanya fakta ayat dan sabda
Nabi mengenai warisan, dan penegasan dari Nabi sendiri bahwa perlunya seseorang
untuk berusaha meninggalkan warisan harta dan tanah namun bagaimana mungkin
Rasulullah Saw sendiri tidak mewariskan apapun untuk anak perempuannya?”

 

Keterzaliman
Fathimah Az-Zahra, Kenyataan Sejarah yang Tidak Bisa Ditolak

 

  1. Isham Imad berkata, “Dalam riwayat kita temukan, pada suatu hari, seorang
    sahabat datang kepada Rasulullah dan berkata: Aku mewakafkan seluruh hartaku.
    Rasulullah Saw tidak senang dengan pernyataan tersebut dan berkata: Engkau
    mempunyai hak mewakafkan satu per tiga dari hartamu. Nabi Saw melarang
    sahabatnya untuk mewakafkan seluruh hartanya, karena menginginkan sahabat
    menyisakan warisan untuk keluarganya. Sekarang bagaimana mungkin Rasulullah Saw
    bersabda bahwa yang ditinggalkan beliau hanya sedekah, dan tidak sedikitpun
    warisan untuk keluarganya?”

 

“Menurut
pandangan seluruh manusia yang berakal, sekiranya seseorang itu ingin
mewakafkan hartanya, pertama sekali dia akan menyadari akan keberadaan dan hak
anak-anaknya, bukannya memikirkan sahabat-sahabatnya yang tidak ada
sangkutpautnya sama sekali dengan harta warisan, kecuali dalam keadaan
anak-anaknya belum mampu menjaga harta dan tanah warisan.”

 

“Dengan
keberadaan Rasulullah Saw selaku penghulu manusia-manusia yang berakal dan
berpikir rasional, bagaimana mungkin baginda berkata kepada khalifah pertama
bahwa harta yang diwariskannya adalah sedekah dan baginda tidak menyampaikan
demikian kepada anak perempuannya sendiri? Awalnya saya berkata, mungkin
Fathimah belum mampu menjaga harta, namun ketika saya teliti dan saya temukan
Rasulullah Saw memperkenalkan Fathimah Az-Zahra sebagai wanita yang paling
sempurna pengetahuannya. Oleh karena itu mustahil baginda tidak menceritakannya
kepada keluarganya sendiri.”

 

“Saya
membaca kata-kata Fakhrudin Al-Razi dengan penuh keheranan, keterzaliman Fathimah
Az-Zahra merupakan faktor paling penting yang mendorong saya kepada Syiah, dan
saya menceritakan perkara ini dalam artikel yang saya tulis ‘Peranan Fathimah Az-Zahra dalam
pengertian yang mendalam’.

 

“Sebuah
kitab yang ditulis oleh ulama Ahli Sunnah yang sudah masuk Syiah berjudul
‘akhirnya aku temui hidayah dengan cahaya Fathimah as’, beliau berkata, aku
masuk Syiah setelah membaca khutbah Fathimah Az-Zahra as. Dan
kenyataan-kenyataan yang serupa tidak sedikit. Bagi pihak Wahabi hakikat
Fathimah Az-Zahra terlalu sulit untuk diungkapkan, karena hal tersebut dapat
menggoyahkan keyakinan mereka.” Jelas DR. Isham Imad.

 

  1. Isham Imad dalam lanjutan penjelasannya menyebutkan, setelah beralih ke mazhab
    Syiah, beliau menjawab dan membantah buku-bukunya sendiri yang sebelumnya telah
    ditulisnya di masa beliau masih Wahabi dan melancarkan kebencian dan permusuhan
    terhadap Syiah. Beliau mengungkapkan bahwa dikalangan keluarganya bukan beliau
    sendiri yang beralih ke Syiah, saudara laki-lakinya Hasan al ‘Imad juga telah
    memantapkan hati bermazhab Syiah dan sementara menimba ilmu di kota Qom. Demikian
    pula dengan tiga saudara perempuannya yang lain.

Shahih Ayat Tentang Nikah Mut’ah Dalam Mazhab Syi’ah

sumber tulisan ini dari web http://www.secondprince.wordpress.com

Shahih Ayat Tentang Nikah Mut’ah Dalam Mazhab Syi’ah

Tulisan ini dibuat dengan tujuan memaparkan kepada para pembaca yang ingin mengenal mazhab Syi’ah secara objektif. Mengapa Syi’ah menghalalkan nikah mut’ah?. Jawaban mereka adalah Al Qur’an dan hadis Ahlul Bait telah menghalalkannya. Kalau kita tanya ayat Al Qur’an mana yang menyatakan tentang nikah mut’ah maka mereka akan menjawab ayat berikut

وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ كِتَابَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَأُحِلَّ لَكُمْ مَا وَرَاءَ ذَلِكُمْ أَنْ تَبْتَغُوا بِأَمْوَالِكُمْ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ فَمَا اسْتَمْتَعْتُمْ بِهِ مِنْهُنَّ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ فَرِيضَةً وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا تَرَاضَيْتُمْ بِهِ مِنْ بَعْدِ الْفَرِيضَةِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا

Dan [diharamkan juga bagi kamu menikahi] wanita-wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki [Allah telah menetapkan hukum itu] sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian [yaitu] mencari istri-istri dengan hartamu untuk dinikahi bukan untuk berzina. Maka istri-istri yang telah kamu nikmati di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya sebagai suatu kewajiban dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana [QS An Nisaa’ : 24]

Sebelumnya dalam salah satu tulisan disini, kami sudah menunjukkan kepada pembaca bahwa terdapat dalil shahih dalam kitab Ahlus Sunnah bahwa An Nisa ayat 24 di atas yaitu lafaz “maka istri-istri yang telah kamu nikmati diantara mereka” merujuk pada nikah mut’ah. Silakan lihat selengkapnya disini.

Menurut kami, agak rancu jika pengikut Syi’ah ketika berdalil dengan ayat Nikah mut’ah di atas mengambil hujjah dengan riwayat shahih Ibnu ‘Abbaas yang ada dalam kitab Ahlus Sunnah. Mengapa kami katakan rancu karena hadis ahlus sunnah tidaklah menjadi pegangan bagi kaum Syi’ah begitupun sebaliknya. Untuk perkara diskusi dengan pengikut Ahlus Sunnah memang sangat baik jika Syi’ah berhujjah dengan hadis Ahlus Sunnah tetapi ketika diminta dalil di sisi mereka soal Ayat Nikah Mut’ah maka hadis Ibnu ‘Abbas di atas tidak bisa dijadikan hujjah

Seharusnya yang mereka lakukan adalah membawakan riwayat ahlul bait dalam mazhab Syi’ah sendiri yang menjelaskan kalau ayat tersebut memang tentang Nikah Mut’ah. Begitu banyaknya dari pengikut Syi’ah yang menukil riwayat Ibnu ‘Abbas sehingga berkesan seolah-olah dalam mazhab Syi’ah tidak ada keterangan tentang itu. Oleh karena itu kami berusaha meneliti secara objektif adakah dalil tentang ayat nikah mut’ah di atas dalam kitab hadis Syi’ah.

.

.

عدة من أصحابنا، عن سهل بن زياد، وعلي بن إبراهيم، عن أبيه جميعا، عن ابن أبي نجران، عن عاصم بن حميد، عن أبي بصير قال سألت أبا جعفر (عليه السلام) عن المتعة، فقال نزلت في القرآن فما استمتعتم به منهن فآتوهن أجورهن فريضة فلا جناح عليكم فيما تراضيتم به من بعد الفريضة

Dari sekelompok sahabat kami dari Sahl bin Ziyaad. Dan dari ‘Aliy bin Ibrahim dari Ayahnya, keduanya [Sahl bin Ziyaad dan Ayahnya Aliy bin Ibrahim] dari ‘Ibnu Abi Najraan dari ‘Aashim bin Humaid dari Abi Bashiir yang berkata aku bertanya kepada Abu Ja’far [‘alaihis salaam] tentang Mut’ah?. Beliau berkata telah turun dalam Al Qur’an “Maka istri-istri yang telah kamu nikmati di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya sebagai suatu kewajiban dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu” [Al Kafiy Al Kulainiy 5/448]

Riwayat di atas sanadnya shahih berdasarkan standar Ilmu Rijal Syi’ah. Berikut keterangan mengenai para perawinya

  1. Aliy bin Ibrahim bin Haasyim, tsiqat dalam hadis, tsabit, mu’tamad, shahih mazhabnya [Rijal An Najasyiy hal 260 no 680]
  2. Ibrahim bin Haasyim Al Qummiy seorang yang tsiqat jaliil. Ibnu Thawus pernah menyatakan hadis yang dalam sanadnya ada Ibrahim bin Haasyim bahwa para perawinya disepakati tsiqat [Al Mustadrakat Ilm Rijal Al Hadis, Asy Syahruudiy 1/222]
  3. ‘Abdurrahman bin ‘Abi Najraan Abu Fadhl seorang yang tsiqat tsiqat mu’tamad apa yang ia riwayatkan [Rijal An Najasyiy hal 235 no 622]
  4. ‘Aashim bin Humaid Al Hanaath seorang yang tsiqat shaduq [Rijal An Najasyiy hal 301 no 821]
  5. Abu Bashiir adalah Laits bin Bakhtariy Al Muradiy seorang yang tsiqat meriwayatkan dari Abu Ja’far dan Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadits hal 476]

علي بن إبراهيم، عن أبيه، عن ابن أبي عمير، عن علي بن الحسن بن رباط، عن حريز، عن عبد الرحمن بن أبي عبد الله قال سمعت أبا حنيفة يسأل أبا عبد الله (عليه السلام) عن المتعة فقال أي المتعتين تسأل قال سألتك عن متعة الحج فأنبئني عن متعة النساء أحق هي فقال سبحان الله أما قرأت كتاب الله عز وجل؟ فما استمتعتم به منهن فآتوهن أجورهن فريضة فقال أبو حنيفة والله فكأنها آية لم أقرأها قط

Aliy bin Ibrahim dari Ayahnya dari Ibnu ‘Abi Umair dari Aliy bin Hasan bin Rabaath dari Hariiz dari ‘Abdurrahman bin Abi ‘Abdullah yang berkata aku mendengar Abu Hanifah bertanya kepada Abi ‘Abdullah [‘alaihis salaam] tentang Mut’ah. Maka Beliau berkata “apakah engkau bertanya tentang dua Mut’ah?”. [Abu Haniifah] berkata “aku telah bertanya kepadamu tentang Mut’ah haji maka kabarkanlah kepadaku tentang Nikah Mut’ah apakah itu benar?. Beliau berkata “Maha suci Allah, tidakkah engkau membaca Kitab Allah ‘azza wajalla “Maka istri-istri yang telah kamu nikmati di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya sebagai suatu kewajiban”. Abu Haniifah berkata “demi Allah seolah-olah aku belum pernah membaca ayat tersebut” [Al Kafiy Al Kulainiy 5/449-450]

Riwayat di atas sanadnya shahih berdasarkan standar Ilmu Rijal Syi’ah. Berikut keterangan mengenai para perawinya

  1. Aliy bin Ibrahim bin Haasyim, tsiqat dalam hadis, tsabit, mu’tamad, shahih mazhabnya [Rijal An Najasyiy hal 260 no 680]
  2. Ibrahim bin Haasyim Al Qummiy seorang yang tsiqat jaliil. Ibnu Thawus pernah menyatakan hadis yang dalam sanadnya ada Ibrahim bin Haasyim bahwa para perawinya disepakati tsiqat [Al Mustadrakat Ilm Rijal Al Hadis, Asy Syahruudiy 1/222]
  3. Muhammad bin Abi Umair, ia termasuk orang yang paling terpercaya baik di kalangan khusus [Syi’ah] maupun kalangan umum [Al Fahrasat Ath Thuusiy hal 218]
  4. Aliy bin Hasan bin Rabaath Abu Hasan Al Kuufiy seorang yang tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 251 no 659]
  5. Hariiz bin ‘Abdullah As Sijistaniy orang kufah yang tsiqat [Al Fahrasat Syaikh Ath Thuusiy hal 118]
  6. ‘Abdurrahman bin Abi ‘Abdullah adalah seorang yang tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 30 no 62 biografi Ismail bin Hamaam cucu ‘Abdurrahman bin Abi ‘Abdullah]

Kedua riwayat shahih dalam kitab Syi’ah di atas membuktikan bahwa dalam mazhab Syi’ah telah shahih dalil kalau ayat An Nisa 24 tersebut adalah berkenaan dengan Nikah Mut’ah.

.

.

.

Syubhat Atas Dalil

Ada syubhat yang disebarkan oleh para pembenci Syi’ah dimana mereka mengatakan bahwa dalam mazhab Syi’ah orang yang menikah mut’ah tidak disifatkan dengan ihshan atau ia bukan termasuk muhshan padahal ayat di atas jelas menggunakan lafal muhshiniin. Berikut dalil dalam kitab Syi’ah yang dimaksud

علي بن إبراهيم، عن أبيه، عن ابن أبي عمير، عن هشام، وحفص بن البختري عمن ذكره، عن أبي عبد الله عليه السلام في الرجل يتزوج المتعة أتحصنه؟ قال: لا إنما ذاك على الشئ الدائم عنده

‘Aliy bin Ibrahim dari Ayahnya dari Ibnu Abi ‘Umair dari Hisyaam dan Hafsh bin Bakhtariy dari orang yang menyebutkannya dari Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] tentang seorang laki-laki yang nikah mut’ah apakah itu membuatnya ihshan?. Beliau berkata “tidak, sesungguhnya hal itu hanyalah atas sesuatu yang da’im di sisinya” [Al Kafiy Al Kulainiy 7/178]

Riwayat di atas dhaif sesuai standar Ilmu Rijal Syi’ah karena di dalam sanadnya terdapat perawi majhul yang tidak disebutkan siapa dia.

أبو علي الأشعري، عن محمد بن عبد الجبار، عن صفوان، عن إسحاق بن عمار قال: سألت أبا إبراهيم عليه السلام عن رجل إذا هو زنى وعنده السرية والأمة يطأها تحصنها الأمة وتكون عنده؟ فقال: نعم إنما ذلك لان عنده ما يغنيه عن الزنى، قلت: فان كانت عنده أمة زعم أنه لا يطأها فقال: لا يصدق، قلت: فإن كانت عنده امرأة متعة أتحصنه؟ قال لا إنما هو على الشئ الدائم عنده

Abu ‘Aliy Al Asy’ariy dari Muhammad bin ‘Abdul Jabbaar dari Shafwaan dari Ishaaq bin ‘Ammaar yang berkata aku bertanya kepada Abu Ibrahim [‘alaihis salaam] tentang seorang laki-laki yang berzina sedangkan di sisinya terdapat budak wanita yang sudah digaulinya, apakah membuat ihshan, budak wanita yang ada di sisinya?. Beliau berkata “benar, sesungguhnya hal itu karena di sisinya terdapat hal yang mencukupkannya dari zina”. Aku berkata “maka jika di sisinya terdapat budak yang ia mengaku bahwa ia tidak menggaulinya”. Beliau berkata “itu tidak dibenarkan”. Aku berkata “maka jika di sisinya ada istri mut’ah apakah itu membuatnya ihshan”. Beliau berkata “tidak, sesungguhnya itu hanyalah atas sesuatu yang da’im di sisinya” [Al Kafiy Al Kulainiy 7/178]

Riwayat ini sanadny muwatstsaq berdasarkan standar Ilmu Rijal Syi’ah. Para perawinya tsiqat termasuk Ishaq bin ‘Ammaar hanya saja ia bermazhab menyimpang Fathahiy. Berikut keterangan mengenai para perawinya

  1. Abu ‘Aliy Al Asy’ariy adalah Ahmad bin Idris seorang yang tsiqat faqih banyak meriwayatkan hadis dan shahih riwayatnya [Rijal An Najasyiy hal 92 no 228
  2. Muhammad bin ‘Abdul Jabbaar seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 391
  3. Shafwaan bin Yahya Abu Muhammad Al Bajalliy seorang yang tsiqat tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 197 no 524]
  4. Ishaaq bin ‘Ammaar adalah seorang yang tsiqat tetapi bermazhab Fathahiy [Al Fahrasat Syaikh Ath Thuusiy hal 54]

Ihshan yang dimaksud dalam riwayat di atas adalah sesuatu yang disifatkan pada seseorang untuk menentukan hukuman yang akan ia peroleh jika ia berzina, kalau disifatkan dengan ihshan maka hukumannya rajam kalau tidak disifatkan dengan ihshan maka hukumannya cambuk. Maka ihshan disini adalah istilah khusus yang memiliki kategori-kategori tertentu yang bisa dilihat dalam berbagai riwayat shahih mazhab Syi’ah.

Terdapat dua pendapat dalam mazhab Syi’ah mengenai apakah status nikah mut’ah itu membuat seseorang disifatkan ihshan atau tidak.

  1. Pertama dan ini yang masyhur dari para ulama Syi’ah adalah menyatakan secara mutlak bahwa nikah mut’ah tidak disifatkan ihshan. Dalilnya berdasarkan riwayat di atas dimana mereka memahami lafaz “da’im di sisinya” dengan makna nikah da’im.
  2. Kedua yaitu ada yang mengatakan bahwa nikah mut’ah juga disifatkan dengan ihshan jika istrinya tersebut menetap bersamanya masih bersamanya sebagai istri dan tidak ada halangan untuk menggaulinya. Dalilnya adalah hadis yang menetapkan kriteria muhshan sebagai orang yang di sisinya terdapat wanita yang mencukupkannya dari zina dan tidak ada halangan untuk menggaulinya. Termasuk hadis di atas menjadi dalil, dimana lafaz “da’im di sisinya” ditafsirkan dengan makna menetap bersamanya.

Dalam tulisan ini kami tidak akan membahas secara lebih rinci pendapat mana yang lebih rajih berdasarkan kaidah ilmu dalam mazhab Syi’ah. Kami akan kembali memfokuskan pada syubhat yang dilontarkan oleh para pembenci Syi’ah.

.

.

Syubhat mereka adalah dengan adanya riwayat di atas bahwa nikah mut’ah tidak disifatkan dengan ihshan maka hal ini bertentangan dengan An Nisaa’ ayat 24 yang menyebutkan pernikahan tersebut dengan lafaz muhshiniin. Oleh karena itu An Nisaa’ ayat 24 bukan berbicara tentang Nikah Mut’ah.

Syubhat ini jika dianalisis dengan objektif akan tampak tidak nyambung. Sebenarnya mereka mempertentangkan pikiran mereka sendiri. Mereka hanya melihat kesamaan lafaz tanpa memahami bahwa maksud sebenarnya yang diinginkan oleh setiap lafaz itu berbeda. Lafaz Muhshiniin dalam An Nisaa’ ayat 24 itu bermakna orang yang menjaga diri dengan pernikahan. Artinya setiap muslim yang menikah baik itu dengan nikah da’im atau nikah mut’ah maka ia masuk dalam kategori muhshiniin. Apalagi dalam mazhab Syi’ah telah shahih dalilnya bahwa nikah mut’ah masuk kedalam kategori muhshiniin An Nisaa’ ayat 24 sebagaimana telah ditunjukkan sebelumnya.

Adapun lafaz ihshan dalam riwayat di atas terkait istilah yang berkaitan dengan hukum rajam. Lafaz ini memiliki kriteria atau persyaratan sendiri. Dalam mazhab Syi’ah berdasarkan riwayat-riwayat  shahih maka tidak semua yang masuk kategori muhshiniin jika berzina disebut ihshan

Bahkan orang yang tidak menikah tetapi memiliki budak wanita yang bisa digaulinya maka ia masuk dalam kategori ihshan berdasarkan riwayat shahih mazhab Syi’ah di atas, walaupun berdasarkan An Nisaa’ ayat 24 dia belum masuk kategori muhshiniin karena belum menikah. Dan orang yang menikah walaupun dengan nikah da’im [masuk dalam kategori muhshiniin] bisa saja dikatakan bukan ihshan berdasarkan riwayat berikut

عدة من أصحابنا، عن أحمد بن محمد، عن الحسين بن سعيد، عن فضالة بن أيوب، عن رفاعة، قال: سألت أبا عبد الله عليه السلام عن رجل يزني قبل أن يدخل بأهله أيرجم؟ قال: لا

Dari sekelompok sahabat kami dari Ahmad bin Muhammad dari Husain bin Sa’id dari Fadhalah bin Ayuub dari Rifa’ah yang berkata aku bertanya kepada Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] tentang seseorang yang berzina sebelum ia menyetubuhi istrinya, apakah dirajam?. Beliau berkata “tidak” [Al Kafiy Al Kulainiy 7/179]

Di sisi Al Kulainiy lafaz “sekelompok sahabat kami” dari Ahmad bin Muhammad bin Iisa tidak bermakna majhul sebagaimana yang dinukil An Najasyiy

وقال أبو جعفر الكليني: كل ما كان في كتابي عدة من أصحابنا عن أحمد بن محمد بن عيسى، فهم محمد بن يحيى وعلي بن موسى الكميذاني وداود بن كورة وأحمد بن إدريس وعلي بن إبراهيم بن هاشم

Abu Ja’far Al Kulainiy berkata “setiap apa yang ada dalam kitabku, sekelompok sahabat kami dari Ahmad bin Muhamad bin ‘Iisa maka mereka adalah Muhammad bin Yahya, Aliy bin Muusa Al Kumaydzaaniy, Dawud bin Kawrah, Ahmad bin Idris dan Aliy bin Ibrahim bin Haasyim [Rijal An Najasyiy hal 377-378 no 1026]

Maka dari itu sanad riwayat Al Kafiy di atas kedudukannya shahih berdasarkan standar ilmu Rijal Syi’ah. Berikut keterangan mengenai para perawinya

  1. Muhammad bin Yahya Al Aththaar seorang yang tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 353 no 946]. Ahmad bin Idris Al Qummiy seorang yang tsiqat faqiih shahih riwayatnya [Rijal An Najasyiy hal 92 no 228]. Aliy bin Ibrahim bin Haasyim seorang yang tsiqat dalam hadis dan tsabit [Rijal An Najasyiy hal 260 no 680]
  2. Ahmad bin Muhammad bin Iisa Al Qummiy adalah seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 351]
  3. Husain bin Sa’id bin Hammaad seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 355]
  4. Fadhalah bin Ayuub Al Azdiy disebutkan oleh An Najasyiy bahwa ia tsiqat dalam hadis dan lurus dalam agamanya [Rijal An Najasyiy hal 310-311 no 850]
  5. Rifa’ah bin Muusa Al Asdiy meriwayatkan dari Abu ‘Abdullah, seorang yang tsiqat dalam hadisnya [Rijal An Najasyiy hal 166 no 438]

.

Kesimpulannya adalah lafaz Muhshiniin dalam An Nisaa’ ayat 24 tersebut bukan berarti bermakna ihshaan yang mengharuskan hukuman rajam. Kalau kita melihat ke dalam fiqih ahlus sunnah maka hal serupa ini juga ada yaitu orang yang masuk dalam kategori muhshiniin dengan dasar pernikahan tetapi tidak ditetapkan ihshan. Imam Syafi’i pernah berkata

وإن أصابها في الدبر لم يحصنها

Dan sesungguhnya menggaulinya [istri] di dubur tidak disifatkan ihshan [Al Umm Asy Syafi’i 8/276]

Yang dimaksudkan oleh Imam Syafi’i adalah seorang laki-laki yang baru menikah dan menggauli istrinya bukan pada kemaluan tetapi pada duburnya kemudian ia berzina maka laki-laki tersebut tidak disifatkan ihshan. Bukankah kondisi ini serupa dengan Nikah Mut’ah yaitu masuk dalam kategori muhshiniin tetapi tidak disifatkan dengan ihshan [berdasarkan pendapat yang masyhur dalam mazhab Syi’ah].

Contoh lain sebenarnya dapat dilihat dalam An Nisaa’ ayat 24 tersebut. Dalam ayat tersebut digunakan lafaz Istimta’ dan lafaz ini dalam banyak hadis shahih bermakna Nikah Mut’ah. Kemudian bagaimana tanggapan dari sebagian ulama ahlus sunnah. Mereka membantah bahwa lafaz istimta’ disana bermakna nikah mut’ah. Menurut mereka lafaz istimta’ bermakna bersenang-senang atau mencari kenikmatan dan ini juga berlaku pada nikah da’im.

Jadi dengan kata lain mereka mengatakan bahwa Istimta’ di ayat tersebut adalah nikah da’im bukan nikah mut’ah dan menurut mereka, hal ini tidak bertentangan dengan hadis-hadis yang menggunakan lafaz istimta’ sebagai nikah mut’ah. Bukankah disini mereka sendiri beranggapan bahwa lafaz yang sama antara Al Qur’an dan Hadis tidak selalu menunjukkan arti yang sama. Jadi sebenarnya para pembenci Syi’ah tersebut ketika menyebarkan syubhat di atas mereka secara tidak sadar malah menentang diri mereka sendiri.

.

.

Penutup

Dalam tulisan ini kami tidak sedang menyatakan nikah mut’ah sebagai perkara yang halal secara mutlak sebagaimana yang ada dalam mazhab Syi’ah. Kami hanya menunjukkan kepada para pembaca bahwa dalam mazhab Syi’ah dalil nikah mut’ah tersebut ada dan shahih sesuai dengan standar keilmuan mazhab mereka. Kedudukan pengikut Syi’ah dalam hal ini hanya mengikuti pedoman shahih mereka sama seperti kedudukan pengikut Ahlus sunnah yang mengharamkan nikah mut’ah berdasarkan dalil dalam kitab Ahlus Sunnah.

sumber tulisan ini dari web http://www.secondprince.wordpress.com

Adakah Ayat Al Qur’an Tentang Nikah Mut’ah?

Syiah menyatakan kalau nikah mut’ah dihalalkan dan terdapat ayat Al Qur’an yang menyebutkannya yaitu An Nisaa’ ayat 24. Salafy yang suka sekali mengatakan nikah mut’ah sebagai zina berusaha menolak klaim Syiah. Mereka mengatakan ayat tersebut bukan tentang nikah mut’ah.

وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ كِتَابَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَأُحِلَّ لَكُمْ مَا وَرَاءَ ذَلِكُمْ أَنْ تَبْتَغُوا بِأَمْوَالِكُمْ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ فَمَا اسْتَمْتَعْتُمْ بِهِ مِنْهُنَّ فَآَتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ فَرِيضَةً وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا تَرَاضَيْتُمْ بِهِ مِنْ بَعْدِ الْفَرِيضَةِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا

Dan [diharamkan juga kamu mengawini] wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki [Allah telah menetapkan hukum itu] sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian [yaitu] mencari istri-istri dengan hartamu untuk dinikahi bukan untuk berzina. Maka wanita [istri] yang telah kamu nikmati [istamta’tum] di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya sebagai suatu kewajiban dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana [An Nisaa’ ayat 24]

Telah diriwayatkan dengan sanad yang shahih bahwa “penggalan” An Nisaa’ ayat 24 ini berbicara tentang nikah mut’ah. Hal ini telah diriwayatkan dari sahabat dan tabiin yang dikenal sebagai salafus salih [menurut salafy sendiri]. Alangkah lucunya kalau sekarang salafy membuang jauh-jauh versi salafus salih hanya karena bertentangan dengan keyakinan mereka [kalau nikah mut’ah adalah zina].

.

.

Riwayat Para Shahabat Nabi

حدثنا ابن المثنى قال حدثنا محمد بن جعفر قال حدثنا شعبة عن أبي مسلمة عن أبي نضرة قال قرأت هذه الآية على ابن عباس “ فما استمتعتم به منهن ” قال ابن عباس “ إلى أجل مسمى ” قال قلت ما أقرؤها كذلك! قال والله لأنزلها الله كذلك! ثلاث مرات

Telah menceritakan kepada kami Ibnu Mutsanna yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Abi Maslamah dari Abi Nadhrah yang berkata : aku membacakan ayat ini kepada Ibnu Abbas “maka wanita yang kamu nikmati [istamta’tum]”, Ibnu Abbas berkata “sampai batas waktu tertentu”. Aku berkata “aku tidak membacanya seperti itu”. Ibnu Abbas berkata “demi Allah, Allah telah mewahyukannya seperti itu” [ia mengulangnya tiga kali] [Tafsir Ath Thabari 6/587 tahqiq Abdullah bin Abdul Muhsin At Turqiy]

Riwayat ini sanadnya shahih. Para perawinya tsiqat atau terpercaya. Riwayat ini juga disebutkan Al Hakim dalam Al Mustadrak juz 2 no 3192 dan Ibnu Abi Dawud dalam Al Masahif no 185 semuanya dengan jalan dari Syu’bah dari Abu Maslamah dari Abu Nadhrah dari Ibnu Abbas.

  • Muhammad bin Mutsanna adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat. Ibnu Ma’in menyatakan tsiqat. Adz Dzahiliy berkata “hujjah”. Abu Hatim berkata shalih al hadits shaduq”. Abu Arubah berkata “aku belum pernah melihat di Bashrah orang yang lebih tsabit dari Abu Musa [Ibnu Mutsanna] dan Yahya bin Hakim”. An Nasa’i berkata “tidak ada masalah padanya”. Ibnu Khirasy berkata “Muhammad bin Mutsanna termasuk orang yang tsabit”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Al Khatib berkata “tsiqat tsabit”. Daruquthni berkata “termasuk orang yang tsiqat”. Amru bin ‘Ali menyatakan tsiqat. Maslamah berkata “tsiqat masyhur termasuk hafizh” [At Tahdzib juz 9 no 698]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat tsabit” [At Taqrib 2/129]. Adz Dzahabi berkata tsiqat wara’ [Al Kasyf no 5134]
  • Muhammad bin Ja’far Al Hudzaliy Abu Abdullah Al Bashriy yang dikenal dengan sebutan Ghundar adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat. Ali bin Madini berkata “ia lebih aku sukai daripada Abdurrahman [Ibnu Mahdi] dalam periwayatan dari Syu’bah”. Abu Hatim berkata dari Muhammad bin Aban Al Balkhiy bahwa Ibnu Mahdi berkata “Ghundar lebih tsabit dariku dalam periwayatan dari Syu’bah”. Abu Hatim, Ibnu Hibban dan Ibnu Sa’ad menyatakan tsiqat. Al Ijli menyatakan ia orang bashrah yang tsiqat dan ia adalah orang yang paling tsabit dalam riwayat dari Syu’bah [At Tahdzib juz 9 no 129]
  • Syu’bah bin Hajjaj adalah perawi kutubus sittah yang telah disepakati tsiqat. Syu’bah seorang yang tsiqat hafizh mutqin dan Ats Tsawri menyebutnya “amirul mukminin dalam hadis” [At Taqrib 1/418]
  • Abu Maslamah adalah Sa’id bin Yazid bin Maslamah Al Azdi perawi kutubus sittah yang tsiqat. Ibnu Ma’in, Nasa’i, Ibnu Sa’ad, Al Ijli, Al Bazzar menyatakan tsiqat. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [At Tahdzib juz 4 no 168]. Ibnu Hajar menyatakan tsiqat [At Taqrib 1/367]
  • Abu Nadhrah adalah Mundzir bin Malik perawi Bukhari dalam At Ta’liq, Muslim dan Ashabus Sunan. Ibnu Ma’in, Abu Zur’ah, Nasa’i, Ibnu Sa’ad, Ahmad bin Hanbal menyatakan tsiqat [At Tahdzib juz 10 no 528]. Ibnu Hajar menyatakan tsiqat [At Taqrib 2/213]

حدثنا حميد بن مسعدة قال حدثنا بشر بن المفضل قال حدثنا داود عن أبي نضرة قال سألت ابن عباس عن متعة النساء قال أما تقرأ ” سورة النساء ” ؟ قال قلت بلى! قال فما تقرأ فيها ( فما استمتعتم به منهن إلى أجل مسمى ) ؟ قلت لا! لو قرأتُها هكذا ما سألتك! قال : فإنها كذا

Telah menceritakan kepada kami Humaid bin Mas’adah yang berkata telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Mufadhdhal yang berkata telah menceritakan kepada kami Dawud dari Abi Nadhrah yang berkata : aku bertanya kepada Ibnu Abbas tentang nikah mut’ah. Ibnu Abbas berkata : tidakkah engkau membaca surah An Nisaa’?.  Aku berkata “tentu”. Tidakkah kamu membaca “maka wanita yang kamu nikmati [istamta’tum] sampai batas waktu tertentu”?. Aku berkata “tidak, kalau aku membacanya seperti itu maka aku tidak akan bertanya kepadamu!. Ibnu Abbas berkata “sesungguhnya seperti itulah” [Tafsir Ath Thabari 6/587 tahqiq Abdullah bin Abdul Muhsin At Turqiy].

Riwayat ini juga shahih sanadnya. Humaid bin Mas’adah termasuk perawi Ashabus Sunan dan Muslim. Abu Hatim berkata “shaduq”. Ibnu Hibban memasukkanya dalam Ats Tsiqat. Nasa’i menyatakan tsiqat [At Tahdzib juz 3 no 83]. Ibnu Hajar berkata “shaduq” [At Taqrib 1/246]. Adz Dzahabi berkata “shaduq” [Al Kasyf no 1257]. Bisyr bin Mufadhdhal adalah perawi kutubus sittah yang dikenal tsiqat. Abu Hatim, Abu Zur’ah, Nasa’i, Ibnu Hibban, Al Ijli, Ibnu Sa’ad dan Al Bazzar menyatakan ia tsiqat [At Tahdzib juz 1 no 844]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat tsabit ahli ibadah” [At Taqrib 1/130]. Dawud bin Abi Hind adalah perawi Bukhari dalam At Ta’liq, Muslim dan Ashabus Sunan. Ahmad bin Hanbal berkata “tsiqat tsiqat”. Ibnu Ma’in, Al Ijli, Ibnu Khirasy, Ibnu Sa’ad, Abu Hatim dan Nasa’i menyatakan tsiqat. [At Tahdzib juz 3 no 388]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat mutqin [At Taqrib 1/283].

حدثنا عبد الله حدثنا نصر بن علي قال أخبرني أبو أحمد عن عيسى بن عمر عن عمرو بن مرة  عن سعيد بن جبير ” فما استمتعتم به منهن إلى أجل مسمى ” وقال هذه قراءة أبي بن كعب

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepada kami Nashr bin ‘Ali yang berkata telah mengabarkan kepadaku Abu Ahmad dari Isa bin ‘Umar dari ‘Amru bin Murrah dari Sa’id bin Jubair “maka wanita yang kamu nikmati [istamta’tum] sampai batas waktu tertentu” ia berkata “ini adalah bacaan Ubay bin Ka’ab” [Al Masahif Ibnu Abi Dawud no 130]

Riwayat ini shahih para perawinya tsiqat. Abdullah adalah Abdullah bin Sulaiman bin Al Asy’at As Sijistani atau yang dikenal dengan Abu Bakar bin Abi Dawud, ia adalah seorang hafizh yang tsiqat dan mutqin [Irsyad Al Qadhi no 576]. Nashr bin Ali Al Jahdhamiy adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat tsabit [At Taqrib 2/243]. Abu Ahmad Az Zubairi adalah Muhammad bin ‘Abdullah bin Zubair perawi kutubus sittah yang tsiqat tsabit hanya saja sering salah dalam hadis dari Ats Tsawriy [At Taqrib 2/95]. Isa bin Umar Al Asdiy adalah perawi Tirmidzi dan Nasa’i yang tsiqat [At Taqrib 1/773]. ‘Amru bin Murrah Abu Abdullah Al Kufiy perawi kutubus sittah yang tsiqat dan ahli ibadah [At Taqrib 1/745]. Sa’id bin Jubair Al Asdiy adalah tabiin perawi kutubus sittah yang tsiqat tsabit faqih [At Taqrib 1/349]

Ibnu Jarir juga meriwayatkan bacaan Ubay bin Ka’ab ini dengan jalan sanad dari Abu Kuraib dari Yahya bin Isa dari Nushair bin Abi Al Asy’at dari Ibnu Habib bin Abi Tsabit dari ayahnya dari Ibnu Abbas. [Tafsir Ath Thabari 6/586 tahqiq Abdullah bin Abdul Muhsin At Turqiy]. Para perawinya tsiqat kecuali Yahya bin Isa Ar Ramliy

Yahya bin Isa Ar Ramliy adalah perawi Bukhari dalam Adabul Mufrad, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah. Ahmad bin Hanbal telah menta’dilnya. Al Ijli menyatakan ia tsiqat tasyayyu’. Abu Muawiyah telah menulis darinya. Nasa’i berkata “tidak kuat”. Ibnu Ma’in berkata dhaif atau tidak ada apa-apanya atau tidak ditulis hadisnya. Maslamah berkata “tidak ada masalah padanya tetapi di dalamnya ada kelemahan”. Ibnu Ady berkata “kebanyakan riwayatnya tidak memiliki mutaba’ah” [At Tahdzib juz 11 no 428]. Ibnu Hajar berkata “jujur sering salah dan tasyayyu’” [At Taqrib 2/311-312]. Adz Dzahabi berkata “shuwailih” [Man Tukullima Fihi Wa Huwa Muwatstsaq no 376]. Ibnu Hibban menyatakan kalau ia jelek hafalannya banyak salah sehingga meriwayatkan dari para perawi tsiqat riwayat bathil tidak berhujjah dengannya [Al Majruhin no 1221]. Kesimpulannya Yahya bin Isa Ar Ramliy adalah perawi yang hadisnya bisa dijadikan syawahid dan mutaba’ah.

Ibnu Jarir juga meriwayatkan bacaan Ubay bin Ka’ab ini dengan jalan sanad dari Ibnu Basyaar dari Abdul A’la dari Sa’id dari Qatadah [Tafsir Ath Thabari 6/588 tahqiq Abdullah bin Abdul Muhsin At Turqiy]. Ibnu Basyaar adalah Muhammad bin Basyaar seorang perawi kutubus sittah yang tsiqat [At Taqrib 2/58]. Abdul A’la bin Abdul A’la adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat [At Taqrib 1/551]. Sa’id bin Abi Arubah adalah perawi kutubus sittah seorang hafizh yang tsiqat mengalami ikhtilat dan orang yang paling tsabit riwayatnya dari Qatadah [At Taqrib 1/360]. Qatadah As Sadusiy adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat tsabit [At Taqrib 2/26].

Secara keseluruhan riwayat-riwayat ini saling menguatkan dan menunjukkan kalau bacaan tersebut shahih dari Ubay bin Ka’ab. Ubay bin Ka’ab dan Ibnu Abbas membaca bacaan tersebut dengan “Famastamta’tum bihi minhunna ila ajali musamma”. Adapun perkataan Ibnu Jarir yang menafikan bacaan kedua sahabat ini merupakan kecerobohan yang nyata

وأما ما روي عن أبيّ بن كعب وابن عباس من قراءتهما ( فما استمتعتم به منهن إلى أجل مسمى ) ، فقراءة بخلاف ما جاءت به مصاحف المسلمين وغير جائز لأحد أن يلحق في كتاب الله تعالى شيئًا لم يأت به الخبرُ القاطعُ العذرَ عمن لا يجوز خلافه

Adapun apa yang diriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab dan Ibnu Abbas dari bacaan mereka berdua [Famastamta’ tum bihi min hunna ila ajalin musamma], bacaan ini menyelisihi mushhaf kaum muslimin. Tidak diperbolehkan bagi siapapun untuk menambahkan dalam kitab Allah sesuatu yg tidak datang dari khabar yang qath’i dan tidak diperbolehkan menyelisihinya [Tafsir Ath Thabari 6/589 tahqiq Abdullah bin Abdul Muhsin At Turqiy]

Komentar Ibnu Jarir ini jika diperhatikan dengan baik jelas mengandung keanehan. Beliau mengesankan kalau Ibnu Abbas dan Ubay bin Ka’ab memiliki bacaan Al Qur’an yang menyelisihi bacaan kaum muslimin dan mengesankan kalau mereka berdua menambahkan sesuatu dalam Kitab Allah. Jika telah shahih dari Ibnu Abbas dan Ubay bin Ka’ab soal bacaan itu maka tidak ada gunanya menafikan tanpa dalil. Yang harus dilakukan bukannya menolak riwayat tersebut tetapi bagaimana menafsirkannya agar tidak berkesan “menambahkan sesuatu dalam kitab Allah” atau mengesankan “terjadinya tahrif Al Qur’an” versi Ibnu Abbas dan Ubay.

Masalah seperti ini bukan barang baru bagi para ulama, bacaan tentang nikah mut’ah ini bukan satu-satunya bacaan yang diriwayatkan secara shahih oleh sahabat tetapi tidak nampak dalam mushaf kaum muslimin. Sebut saja yang paling populer adalah ayat rajam. Telah diriwayatkan oleh sahabat mengenai ayat rajam atau bacaan yang mengandung hukum rajam tetapi tidak nampak dalam mushaf kaum muslimin. Apakah ada ulama yang mengatakan bahwa bacaan itu menyelisihi mushaf kaum muslimin dan mesti ditolak?. Tidak, para ulama menafsirkan kalau bacaan tersebut sudah dinasakh tilawah-nya tetapi matan hukumnya tidak.

Lantas apa susahnya mengatakan hal yang sama untuk bacaan Ibnu Abbas dan Ubay bin Ka’ab di atas. Kita dapat mengatakan kalau bacaan “ila ajalin musamma” telah dinasakh tilawah-nya tetapi matan hukumnya tidak. Buktinya Ibnu Abbas mengakui bahwa ayat ini memang diturunkan oleh Allah SWT dan ia berdalil dengannya ketika ada yang bertanya tentang “nikah mut’ah”.

.

.

Syubhat Para Pengingkar

Kemudian ada yang berusaha mementahkan ayat nikah mut’ah ini dengan berbagai hadis yang katanya “mutawatir” tentang haramnya mut’ah. Usaha ini pun termasuk sesuatu yang aneh. Karena pada akhirnya apa yang mereka maksud mutawatir itu saling kontradiktif satu sama lain. Mereka sendiri dengan usaha yang “melelahkan” akhirnya menggeser satu demi satu hadis-hadis tersebut hingga tersisa satu hadis pengharaman mut’ah pada saat Fathul Makkah yang hanya diriwayatkan oleh satu orang sahabat. Jadi apanya yang mutawatir? Dan mereka menutup mata dengan berbagai hadis yang diriwayatkan sahabat dimana mereka membolehkan nikah mut’ah.

Syubhat yang paling lucu adalah pernyataan bahwa An Nisaa’ ayat 24 di atas menggunakan kata istimtaa’ bukannya kata mut’ah dan istimtaa’ menurutnya bukan diartikan mut’ah. Sungguh orang seperti ini patut dikasihani, seharusnya ia membuka dulu berbagai riwayat atau hadis untuk melihat bagaimana Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan para sahabat telah menggunakan kata istimtaa’ untuk menyebutkan nikah mut’ah. Berikut diantaranya

حدثنا عمرو بن علي قال نا يحيى بن سعيد عن إسماعيل عن قيس عن عبد الله قال كنا نغزو مع رسول الله صلى الله عليه وسلم وليس معنا نساء فاستأذنه بعضنا أن يستخصي أو قال لو أذنت لنا لاختصينا فلم يرخص لنا ورخص لنا في الاستمتاع بالثوب

Telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin ‘Ali yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id dari Ismail dari Qais dari ‘Abdullah yang berkata “kami berperang bersama Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan kami tidak membawa wanita maka sebagian kami meminta zini untuk mengebiri atau berkata sekiranya diizinkan kepada kami untuk mengebiri maka Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak mengizinkan kami dan Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengizinkan kami untuk Istimtaa’ dengan pakaian [Musnad Al Bazzar 5/294 no 1671 dengan sanad yang shahih]

Apakah maksud dari kata Istimtaa’ dengan pakaian di atas. Apakah maksudnya menikahi wanita secara permanen? Atau maksudnya menikahi wanita secara mut’ah?. Penjelasannya ada dalam hadis berikut.

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا وكيع عن بن أبي خالد عن قيس عن عبد الله قال كنا مع النبي صلى الله عليه و سلم ونحن شباب فقلنا يا رسول الله ألا نستخصي فنهانا ثم رخص لنا في ان ننكح المرأة بالثوب إلى الأجل ثم قرأ عبد الله { لا تحرموا طيبات ما أحل الله لكم }

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Ibnu Abi Khalid dari Qais dari Abdullah yang berkata “kami bersama Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan kami masih muda, kami berkata “wahai Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidakkah kami dikebiri?. Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] melarang kami melakukannya kemudian Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] memberi keringanan kepada kami untuk menikahi wanita dengan pakaian sampai waktu yang ditentukan. Kemudian ‘Abdullah membaca [Al Maidah ayat 87] “janganlah kalian mengharamkan apa yang baik yang telah Allah halalkan kepada kalian” [Musnad Ahmad 1/432 no 4113, Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata “sanadnya shahih dengan syarat Bukhari Muslim]

Maka arti kata Istimtaa’ yang digunakan oleh para sahabat adalah “menikahi seorang wanita sampai batas waktu yang ditentukan”. Tidak hanya di hadis ini, bahkan di hadis-hadis yang dijadikan hujjah pengharaman mut’ah, kata yang digunakan untuk menyebutkan “nikah mut’ah” juga dengan lafal istimtaa’.
.

.

Riwayat Para Tabi’in

Tafsir An Nisaa’ ayat 24 sebagai dalil bagi nikah mut’ah bukanlah mutlak milik syi’ah tetapi termasuk pemahaman sahabat [Ibnu ‘Abbas dan Ubay] dan tabiin seperti halnya Mujahid [seorang imam dalam tafsir], As Suddiy dan Al Hakam bin Utaibah.

حدثني محمد بن عمرو قال حدثنا أبو عاصم عن عيسى عن ابن أبي نجيح عن مجاهد فما استمتعتم به منهن قال : يعني نكاح المتعة

Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin ‘Amru yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu ‘Aashim dari ‘Isa dari Ibnu Abi Najih dari Mujahid “maka wanita [istri] yang kamu nikmati [istimta’] diantara mereka”, ia berkata yaitu Nikah Mut’ah [Tafsir Ath Thabari 6/586 tahqiq Abdullah bin Abdul Muhsin At Turqiy].

Riwayat ini sanadnya shahih sampai Mujahid. Muhammad bin ‘Amru bin ‘Abbas Al Bahiliy adalah syaikh [guru] Ibnu Jarir Ath Thabari, dan dia seorang yang tsiqat [Tarikh Baghdad 4/213 no 1411]. Abu ‘Aashim adalah Dhahhak bin Makhlad Asy Syaibani seorang perawi kutubus sittah yang tsiqat tsabit [At Taqrib 1/444]. Isa bin Maimun Al Jurasiy Abu Musa adalah seorang yang tsiqat [At Taqrib 1/776]. Abdullah bin Abi Najih Yasaar Al Makkiy adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat dan dikakatan melakukan tadlis [At Taqrib 1/541] tetapi periwayatannya dari Mujahid juga diriwayatkan oleh Bukhari Muslim. Mujahid bin Jabr Al Makkiy adalah perawi kutubus sittah seorang yang tsiqat dan Imam dalam tafsir dan ilmu [At Taqrib 2/159]

حدثنا محمد بن المثنى قال حدثنا محمد بن جعفر قال حدثنا شعبة عن الحكم قال سألته عن هذه الآية والمحصنات من النساء إلا ما ملكت أيمانكم إلى هذا الموضع فما استمتعتم به منهن أمنسوخة هي ؟ قال لا قال الحكم وقال علي رضي الله عنه لولا أن عمر رضي الله عنه نهى عن المتعة ما زنى إلا شقي

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Al Hakam [Syu’bah] berkata aku bertanya kepadanya tentang ayat “dan [diharamakan juga menikahi] wanita yang bersuami kecuali budak-budak yang kamu miliki” sampai pada ayat “maka wanita [sitri] yang telah kamu nikmati [istimta’] diantara mereka” apakah telah dihapus [mansukh]?. [Al Hakam] berkata “tidak” kemudian Al Hakam berkata dan Ali radiallahu ‘anhu telah berkata seandainya Umar radiallahu ‘anhu tidak melarang mut’ah maka tidak ada yang berzina kecuali orang yang celaka [Tafsir Ath Thabari 6/588 tahqiq Abdullah bin Abdul Muhsin At Turqiy].

Riwayat ini sanadnya shahih sampai Al Hakam. Muhammad bin Al Mutsanna adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat tsabit [At Taqrib 2/129]. Muhammad bin Ja’far Ghundar adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat shahih kitabnya kecuali pernah keliru [At Taqrib 2/63]. Syu’bah bin Hajjaj adalah perawi kutubus sittah yang telah disepakati tsiqat. Syu’bah seorang yang tsiqat hafizh mutqin dan Ats Tsawri menyebutnya “amirul mukminin dalam hadis” [At Taqrib 1/418]. Al Hakam bin Utaibah seorang perawi kutubus sittah yang tsiqat tsabit faqih dikatakan melakukan tadlis [At Taqrib 1/232]. Riwayat Al Hakam menunjukkan kalau ia sendiri menafsirkan bahwa An Nisaa’ ayat 24 itu berkaitan dengan nikah mut’ah sehingga ketika ditanya apakah ayat tersebut telah dihapus ia menjawab “tidak” dan mengutip perkataan Imam Ali tentang mut’ah.

.

.

Kesimpulan

Yang dapat disimpulkan pada pembahasan kali ini adalah memang terdapat ayat Al Qur’an yang menghalalkan nikah mut’ah yaitu An Nisaa’ ayat 24 dan telah diriwayatkan dari sahabat dan tabiin [sebagai salafus salih] bahwa ayat tersebut memang berkenaan dengan nikah mut’ah. Kalau begitu bagaimana dengan hadis-hadis pengharaman mut’ah?  Ada yang mengatakan kalau hadis-hadis ini telah menasakh ayat tentang nikah mut’ah tetapi tentu pernyataan ini masih perlu diteliti kembali, insya Allah akan dibahas hadis-hadis tersebut didalam thread khusus. Kami ingatkan kepada pembaca jika ada yang menganggap penulis menghalalkan nikah mut’ah berdasarkan postingan ini maka orang tersebut jelas terburu-buru. Pembahasan tentang dalil nikah mut’ah ini masih akan berlanjut dan sampai saat itu selesai kami harap jangan ada yang mengatasnamakan penulis soal hukum nikah mut’ah.

Catatan : Terkait dengan musibah yang menimpa saudara kita di Jepang mari kita sama-sama berdoa agar mereka diberikan kesabaran dan bisa melewati masa sulit ini dengan baik.

sumber tulisan ini dari web http://www.secondprince.wordpress.com

Nikah Mut’ah Bukanlah Zina? Menggugat Salafy

Tulisan ini bukan mempermasalahkan hukum nikah mut’ah. Baik yang mengharamkan dan yang menghalalkan nikah mut’ah sama-sama memiliki hujjah. Masalah yang kami bahas pada tulisan kali ini adalah ulah mulut gatal sebagian pengikut salafy yang berkata “nikah mut’ah adalah zina”. Tidak diragukan kalau Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] pernah menghalalkan nikah mut’ah dan para sahabatpun pernah melakukan nikah mut’ah. Berdasarkan fakta ini maka perkataan “nikah mut’ah adalah zina” memiliki konsekuensi kalau Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] pernah menghalalkan zina dan para sahabat pernah melakukan zina. Na’udzubillah, bukankah ini adalah tuduhan yang keji.

Terdapat dalil yang menyebutkan kalau Nikah mut’ah bukanlah sesuatu yang keji melainkan sesuatu yang “baik”. Hal ini pernah disebutkan dalam hadis Ibnu Mas’ud dengan sanad yang shahih.

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ إِسْمَاعِيلَ عَنْ قَيْسٍ قَالَ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ كُنَّا نَغْزُو مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَيْسَ لَنَا شَيْءٌ فَقُلْنَا أَلَا نَسْتَخْصِي فَنَهَانَا عَنْ ذَلِكَ ثُمَّ رَخَّصَ لَنَا أَنْ نَنْكِحَ الْمَرْأَةَ بِالثَّوْبِ ثُمَّ قَرَأَ عَلَيْنَا  يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُحَرِّمُوا طَيِّبَاتِ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id yang berkata telah menceritakan kepada kami Jarir dari Isma’il dari Qais yang berkata Abdullah berkata “kami berperang bersama Rasulullah [shallallahu 'alaihi wasallam] dan kami tidak membawa wanita [istri], kami berkata “apakah sebaiknya kita mengebiri” maka Beliau [shallallahu 'alaihi wasallam] melarang kami melakukannya kemudian mengizinkan kami untuk menikahi wanita dengan selembar pakaian kemudian Beliau [shallallahu 'alaihi wasallam] membacakan kepada kami “janganlah kalian mengharamkan apa yang baik yang telah Allah halalkan kepada kalian dan janganlah kalian melampaui batas, sesungguhnya Allah SWT tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas [Al Maidah ayat 87] [Shahih Bukhari 7/4 no 5075]

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا وكيع عن بن أبي خالد عن قيس عن عبد الله قال كنا مع النبي صلى الله عليه و سلم ونحن شباب فقلنا يا رسول الله ألا نستخصي فنهانا ثم رخص لنا في ان ننكح المرأة بالثوب إلى الأجل ثم قرأ عبد الله { لا تحرموا طيبات ما أحل الله لكم }

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Ibnu Abi Khalid dari Qais dari Abdullah yang berkata “kami bersama Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan kami masih muda, kami berkata “wahai Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidakkah kami dikebiri?. Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] melarang kami melakukannya kemudian Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] memberi keringanan kepada kami untuk menikahi wanita dengan mahar berupa pakaian sampai waktu yang ditentukan. Kemudian ‘Abdullah membaca [Al Maidah ayat 87] “janganlah kalian mengharamkan apa yang baik yang telah Allah halalkan kepada kalian[Musnad Ahmad 1/432 no 4113, Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata “sanadnya shahih dengan syarat Bukhari Muslim]

Perhatikan baik-baik, Ibnu Mas’ud ketika menyebutkan nikah mut’ah ia membaca ayat sebagaimana Rasulullah [shallallahu 'alaihi wasallam] membacakan ayat “janganlah kalian mengharamkan apa yang baik yang telah Allah halalkan kepada kalian”. Ini berarti nikah mut’ah itu termasuk dalam “thayyibaat” [hal yang baik]. Jadi keliru sekali kalau mengatakan Nikah mut’ah adalah zina. Bagaimana mungkin zina disebut sesuatu yang baik?. Perkara pada akhirnya nikah mut’ah diharamkan [menurut sebagian orang] tetap saja tidak mengubah kalau nikah mut’ah itu sesuatu yang baik.

Seandainya nikah mut’ah itu hukumnya haram tetap saja sangat tidak benar menyatakan nikah mut’ah adalah zina. Apa yang akan mereka katakan terhadap para sahabat yang melakukan nikah mut’ah. Apakah mereka akan menuduh para sahabat telah berzina?.

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا بهز قال وثنا عفان قالا ثنا همام ثنا قتادة عن أبي نضرة قال قلت لجابر بن عبد الله ان بن الزبير رضي الله عنه ينهى عن المتعة وان بن عباس يأمر بها قال فقال لي على يدي جرى الحديث تمتعنا مع رسول الله صلى الله عليه و سلم قال عفان ومع أبي بكر فلما ولي عمر رضي الله عنه خطب الناس فقال ان القرآن هو القرآن وان رسول الله صلى الله عليه و سلم هو الرسول وأنهما كانتا متعتان على عهد رسول الله صلى الله عليه و سلم إحداهما متعة الحج والأخرى متعة النساء

Telah menceritakan kepada kami Bahz dan telah menceritakan kepada kami Affan , keduanya [Bahz dan Affan] berkata telah menceritakan kepada kami Hamam yang berkata telah menceritakan kepada kami Qatadah dari Abi Nadhrah  yang berkata “aku berkata kepada Jabir bin Abdullah RA ‘sesungguhnya Ibnu Zubair telah melarang mut’ah dan Ibnu Abbas memerintahkannya’. Abu Nadhrah berkata ‘Jabir kemudian berkata kepadaku ‘kami pernah bermut’ah bersama Rasulullah’. [Affan berkata] “ dan bersama Abu Bakar. Ketika Umar menjadi pemimpin orang-orang, dia berkata ‘sesungguhnya Al Qur’an adalah Al Qur’an dan Rasulullah SAW adalah Rasul dan sesungguhnya ada dua mut’ah pada masa Rasulullah SAW hidup, salah satunya adalah mut’ah haji dan yang satunya adalah mut’ah wanita’ [Musnad Ahmad 1/52 no 369, Syaikh Syu’aib Al Arnauth menyatakan sanadnya shahih sesuai dengan syarat Muslim]

Hadis di atas menyebutkan kalau para sahabat [termasuk Jabir] pernah bermut’ah bersama Abu Bakar. Apakah Jabir, Abu Bakar dan sahabat lainnya akan dikatakan telah melakukan zina?. Na’udzubillah, tetapi itulah konsekuensi dari perkataan “Nikah mut’ah adalah zina”. Sangat jelas bahwa sebagian sahabat tetap menghalalkan nikah mut’ah selepas Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] wafat. Hadis di atas menjadi bukti dimana Jabir mengatakan kalau para sahabat [termasuk dirinya] tetap melaksanakan mut’ah dimasa Abu Bakar.

قال عطاء قدم جابر بن عبدالله معتمرا فجئناه في منزله فسأله القوم عن أشياء ثم ذكروا المتعة فقال نعم استمتعنا على عهد رسول الله صلى الله عليه و سلم وأبي بكر وعمر

Atha’ berkata “Jabir bin Abdullah datang untuk menunaikan ibadah umrah. Maka kami mendatangi tempatnya menginap. Beberapa orang dari kami bertanya berbagai hal sampai akhirnya mereka bertanya tentang mut’ah. Jabir menjawab “benar, kami melakukan mut’ah pada masa hidup Rasulullah SAW, masa hidup Abu Bakar dan masa hidup Umar”. [Shahih Muslim 2/1022 no 15 (1405) tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi]

Sekali lagi jika nikah mut’ah adalah zina, maka konsekuensinya adalah Jabir dan para sahabat lainnya bersepakat melakukan zina dan menghalalkan zina. Kami yakin hal ini tidak akan diterima oleh siapapun yang mengaku muslim. Semoga pengikut salafy yang bermulut usil itu dapat menahan diri untuk tidak mengatakan kalau nikah mut’ah adalah zina. Karena perkataan itu sama saja telah mencaci para sahabat Nabi? Dan bukankah menurut mereka pengikut salafy, mencaci sahabat Nabi adalah kafir. Memang barang siapa yang mulutnya terlalu mudah mengumbar kata kafir maka kata kafir itu akan berbalik pada dirinya sendiri. Salam Damai

sumber tulisan ini dari web http://www.secondprince.wordpress.com

Nikah Mut’ah Bukanlah Zina? Menggugat Salafy

Tulisan ini bukan mempermasalahkan hukum nikah mut’ah. Baik yang mengharamkan dan yang menghalalkan nikah mut’ah sama-sama memiliki hujjah. Masalah yang kami bahas pada tulisan kali ini adalah ulah mulut gatal sebagian pengikut salafy yang berkata “nikah mut’ah adalah zina”. Tidak diragukan kalau Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] pernah menghalalkan nikah mut’ah dan para sahabatpun pernah melakukan nikah mut’ah. Berdasarkan fakta ini maka perkataan “nikah mut’ah adalah zina” memiliki konsekuensi kalau Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] pernah menghalalkan zina dan para sahabat pernah melakukan zina. Na’udzubillah, bukankah ini adalah tuduhan yang keji.

Terdapat dalil yang menyebutkan kalau Nikah mut’ah bukanlah sesuatu yang keji melainkan sesuatu yang “baik”. Hal ini pernah disebutkan dalam hadis Ibnu Mas’ud dengan sanad yang shahih.

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ إِسْمَاعِيلَ عَنْ قَيْسٍ قَالَ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ كُنَّا نَغْزُو مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَيْسَ لَنَا شَيْءٌ فَقُلْنَا أَلَا نَسْتَخْصِي فَنَهَانَا عَنْ ذَلِكَ ثُمَّ رَخَّصَ لَنَا أَنْ نَنْكِحَ الْمَرْأَةَ بِالثَّوْبِ ثُمَّ قَرَأَ عَلَيْنَا  يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُحَرِّمُوا طَيِّبَاتِ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id yang berkata telah menceritakan kepada kami Jarir dari Isma’il dari Qais yang berkata Abdullah berkata “kami berperang bersama Rasulullah [shallallahu 'alaihi wasallam] dan kami tidak membawa wanita [istri], kami berkata “apakah sebaiknya kita mengebiri” maka Beliau [shallallahu 'alaihi wasallam] melarang kami melakukannya kemudian mengizinkan kami untuk menikahi wanita dengan selembar pakaian kemudian Beliau [shallallahu 'alaihi wasallam] membacakan kepada kami “janganlah kalian mengharamkan apa yang baik yang telah Allah halalkan kepada kalian dan janganlah kalian melampaui batas, sesungguhnya Allah SWT tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas [Al Maidah ayat 87] [Shahih Bukhari 7/4 no 5075]

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا وكيع عن بن أبي خالد عن قيس عن عبد الله قال كنا مع النبي صلى الله عليه و سلم ونحن شباب فقلنا يا رسول الله ألا نستخصي فنهانا ثم رخص لنا في ان ننكح المرأة بالثوب إلى الأجل ثم قرأ عبد الله { لا تحرموا طيبات ما أحل الله لكم }

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Ibnu Abi Khalid dari Qais dari Abdullah yang berkata “kami bersama Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan kami masih muda, kami berkata “wahai Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidakkah kami dikebiri?. Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] melarang kami melakukannya kemudian Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] memberi keringanan kepada kami untuk menikahi wanita dengan mahar berupa pakaian sampai waktu yang ditentukan. Kemudian ‘Abdullah membaca [Al Maidah ayat 87] “janganlah kalian mengharamkan apa yang baik yang telah Allah halalkan kepada kalian[Musnad Ahmad 1/432 no 4113, Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata “sanadnya shahih dengan syarat Bukhari Muslim]

Perhatikan baik-baik, Ibnu Mas’ud ketika menyebutkan nikah mut’ah ia membaca ayat sebagaimana Rasulullah [shallallahu 'alaihi wasallam] membacakan ayat “janganlah kalian mengharamkan apa yang baik yang telah Allah halalkan kepada kalian”. Ini berarti nikah mut’ah itu termasuk dalam “thayyibaat” [hal yang baik]. Jadi keliru sekali kalau mengatakan Nikah mut’ah adalah zina. Bagaimana mungkin zina disebut sesuatu yang baik?. Perkara pada akhirnya nikah mut’ah diharamkan [menurut sebagian orang] tetap saja tidak mengubah kalau nikah mut’ah itu sesuatu yang baik.

Seandainya nikah mut’ah itu hukumnya haram tetap saja sangat tidak benar menyatakan nikah mut’ah adalah zina. Apa yang akan mereka katakan terhadap para sahabat yang melakukan nikah mut’ah. Apakah mereka akan menuduh para sahabat telah berzina?.

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا بهز قال وثنا عفان قالا ثنا همام ثنا قتادة عن أبي نضرة قال قلت لجابر بن عبد الله ان بن الزبير رضي الله عنه ينهى عن المتعة وان بن عباس يأمر بها قال فقال لي على يدي جرى الحديث تمتعنا مع رسول الله صلى الله عليه و سلم قال عفان ومع أبي بكر فلما ولي عمر رضي الله عنه خطب الناس فقال ان القرآن هو القرآن وان رسول الله صلى الله عليه و سلم هو الرسول وأنهما كانتا متعتان على عهد رسول الله صلى الله عليه و سلم إحداهما متعة الحج والأخرى متعة النساء

Telah menceritakan kepada kami Bahz dan telah menceritakan kepada kami Affan , keduanya [Bahz dan Affan] berkata telah menceritakan kepada kami Hamam yang berkata telah menceritakan kepada kami Qatadah dari Abi Nadhrah  yang berkata “aku berkata kepada Jabir bin Abdullah RA ‘sesungguhnya Ibnu Zubair telah melarang mut’ah dan Ibnu Abbas memerintahkannya’. Abu Nadhrah berkata ‘Jabir kemudian berkata kepadaku ‘kami pernah bermut’ah bersama Rasulullah’. [Affan berkata] “ dan bersama Abu Bakar. Ketika Umar menjadi pemimpin orang-orang, dia berkata ‘sesungguhnya Al Qur’an adalah Al Qur’an dan Rasulullah SAW adalah Rasul dan sesungguhnya ada dua mut’ah pada masa Rasulullah SAW hidup, salah satunya adalah mut’ah haji dan yang satunya adalah mut’ah wanita’ [Musnad Ahmad 1/52 no 369, Syaikh Syu’aib Al Arnauth menyatakan sanadnya shahih sesuai dengan syarat Muslim]

Hadis di atas menyebutkan kalau para sahabat [termasuk Jabir] pernah bermut’ah bersama Abu Bakar. Apakah Jabir, Abu Bakar dan sahabat lainnya akan dikatakan telah melakukan zina?. Na’udzubillah, tetapi itulah konsekuensi dari perkataan “Nikah mut’ah adalah zina”. Sangat jelas bahwa sebagian sahabat tetap menghalalkan nikah mut’ah selepas Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] wafat. Hadis di atas menjadi bukti dimana Jabir mengatakan kalau para sahabat [termasuk dirinya] tetap melaksanakan mut’ah dimasa Abu Bakar.

قال عطاء قدم جابر بن عبدالله معتمرا فجئناه في منزله فسأله القوم عن أشياء ثم ذكروا المتعة فقال نعم استمتعنا على عهد رسول الله صلى الله عليه و سلم وأبي بكر وعمر

Atha’ berkata “Jabir bin Abdullah datang untuk menunaikan ibadah umrah. Maka kami mendatangi tempatnya menginap. Beberapa orang dari kami bertanya berbagai hal sampai akhirnya mereka bertanya tentang mut’ah. Jabir menjawab “benar, kami melakukan mut’ah pada masa hidup Rasulullah SAW, masa hidup Abu Bakar dan masa hidup Umar”. [Shahih Muslim 2/1022 no 15 (1405) tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi]

Sekali lagi jika nikah mut’ah adalah zina, maka konsekuensinya adalah Jabir dan para sahabat lainnya bersepakat melakukan zina dan menghalalkan zina. Kami yakin hal ini tidak akan diterima oleh siapapun yang mengaku muslim. Semoga pengikut salafy yang bermulut usil itu dapat menahan diri untuk tidak mengatakan kalau nikah mut’ah adalah zina. Karena perkataan itu sama saja telah mencaci para sahabat Nabi? Dan bukankah menurut mereka pengikut salafy, mencaci sahabat Nabi adalah kafir. Memang barang siapa yang mulutnya terlalu mudah mengumbar kata kafir maka kata kafir itu akan berbalik pada dirinya sendiri. Salam Damai

Benarkah Asma’ Binti Abu Bakar Melakukan Nikah Mut’ah?

sumber tulisan ini dari web http://www.secondprince.wordpress.com

Benarkah Asma’ Binti Abu Bakar Melakukan Nikah Mut’ah?

Diantara sahabat wanita yang meyakini kehalalan Nikah Mut’ah adalah Asma’ binti Abu Bakar [radiallahu ‘anha] dan dia adalah Ibu dari Abdullah bin Zubair. Sebagian tabiin pernah datang kepadanya menanyakan tentang Nikah Mut’ah maka ia menjawab “kami melakukannya di masa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]”. Berikut pembahasannya

حدثنا عبد الله بن أحمد بن حنبل و محمد بن صالح بن الوليد النرسي قالا : ثنا أبو حفص عمرو بن علي قال : ثنا أبو داود ثنا شعبة عن مسلم القري قال دخلنا على أسماء بنت أبي بكر فسألناها عن المتعة فقالت : فعلناها على عهد رسول الله صلى الله عليه و سلم

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal dan Muhammad bin Shaalih bin Waliid An Nursiy keduanya berkata telah menceritakan kepada kami Ab Hafsh ‘Amru bin Aliy yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abu Dawud yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Muslim Al Qurriy yang berkata “kami menemui Asma’ binti Abu Bakar maka kami tanyakan kepadanya tentang Mut’ah maka ia berkata “kami telah melakukannya di masa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]” [Mu’jam Al Kabir Ath Thabraniy 24/103 no 277]

Riwayat di atas sanadnya shahih, para perawinya tsiqat. Berikut keterangan mengenai para perawinya

  1. Abdullah bin Ahmad bin Hanbal anak seorang imam [Ahmad bin Hanbal] tsiqat [Taqrib At Tahdzib 1/295 no 3205]. Muhammad bin Shaalih bin Waliid tidak ditemukan biografinya
  2. ‘Amru bin ‘Aliy Al Fallaas Abu Hafsh seorang yang tsiqat hafizh [Taqrib At Tahdzib 1/424 no 5081]
  3. Abu Dawud adalah Sulaiman bin Dawud Ath Thayaalisiy seorang yang tsiqat hafizh, keliru dalam hadis-hadis [Taqrib At Tahdzib 1/250 no 2550]
  4. Syu’bah bin Hajjaaj seorang yang tsiqat hafizh mutqin, Ats Tsauriy mengatakan bahwa ia amirul mukminin dalam hadis [Taqrib At Tahdzib 1/266 no 2790]
  5. Muslim bin Mikhraaq Al Qurriy seorang yang shaduq [Taqrib At Tahdzib 1/530 no 6643]

‘Amru bin Aliy Al Fallaas dalam riwayatnya dari Abu Dawud Ath Thayalisiy memiliki mutaba’ah yaitu

  1. ‘Abdah bin ‘Abdullah Al Khuza’iy sebagaimana disebutkan dalam Mustakhraj Abu Nu’aim 3/341, dengan lafaz mut’ah. ‘Abdah bin ‘Abdullah seorang yang tsiqat [Taqrib At Tahdzib 1/369 no 4272]
  2. Yunus bin Habiib Al Ashbahaaniy sebagaimana disebutkan dalam Mustakhraj Abu Nu’aim 3/341 dan Musnad Abu Dawud Ath Thayalisiy no 1731, dengan lafaz mut’ah an nisaa’. Yunus bin Habiib seorang yang tsiqat [Al Jarh Wat Ta’dil Ibnu Abi Hatim 9/237 no 1000]
  3. Mahmuud bin Ghailan Al Marwaziy sebagaimana disebutkan dalam Sunan Nasa’i 3/326 no 5540 dengan lafaz mut’ah an nisaa’. Mahmuud bin Ghailan seorang yang tsiqat [Taqrib At Tahdzib 1/522 no 6516]

Berikut riwayat Abu Dawud Ath Thayaalisiy yang menyebutkan lafaz bahwa Mut’ah yang dimaksud adalah Nikah Mut’ah

حدثنا يونس قال حدثنا أبو داود قال حدثنا شعبة عن مسلم القري قال دخلنا على أسماء بنت أبي بكر فسألناها عن متعة النساء فقالت فعلناها على عهد النبي صلى الله عليه وسلم

Telah menceritakan kepada kami Yuunus yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Dawuud yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Muslim Al Qurriy yang berkata kami menemui Asmaa’ binti Abi Bakar, maka kami menanyakan kepadanya tentang Nikah Mut’ah maka ia berkata “kami melakukannya di masa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] [Musnad Abu Dawud Ath Thayaalisiy no 1731]

Kedudukan hadis tersebut shahih. Mengenai Muslim bin Mikhraaq Al Qurriy, Ahmad bin Hanbal menyatakan tidak ada masalah dengannya. Abu Hatim berkata “syaikh”. Nasa’iy berkata “tsiqat”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Al Ijliy berkata “tsiqat” [Tahdzib At Tahdzib 10/123 no 251]

Abu Dawud Ath Thayaalisiy memang dinyatakan bahwa ia pernah keliru dalam sebagian hadisnya tetapi ia pada dasarnya seorang yang tsiqat hafizh dan disini termasuk riwayatnya dari Syu’bah dimana Yahya bin Ma’in berkata bahwa Abu Dawud lebih alim dari Ibnu Mahdiy dalam riwayat dari Syu’bah [Tarikh Ibnu Ma’in, riwayat Ad Darimiy 1/64 no 107]. Hanya saja jika ternukil penyelisihan dalam arti ia tafarrud dalam periwayatan dimana menyelisihi para perawi yang lebih tsiqat atau tsabit dari dirinya maka hal ini bisa menjadi illat [cacat] bagi lafaz yang tafarrud tersebut.

.

.

حدثنا محمد بن حاتم حدثنا روح بن عبادة حدثنا شعبة عن مسلم القري قال سألت ابن عباس رضي الله عنهما عن متعة الحج فرخص فيها وكان ابن الزبير ينهى عنها فقال هذه أم الزبير تحدث أن رسول الله صلى الله عليه و سلم رخض فيها فادخلوا عليها فاسألوها قال فدخلنا عليها فإذا امرأة ضخمة عمياء فقالت قد رخص رسول الله صلى الله عليه و سلم فيها

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Haatim yang berkata telah menceritakan kepada kami Rauh bin ‘Ubadaah yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Muslim Al Qurriy yang berkata aku bertanya kepada Ibnu ‘Abbaas [radiallahu ‘anhuma] tentang Mut’ah Haji, maka ia memberikan keringanan untuk melakukannya sedangkan Ibnu Zubair melarangnya. Maka [Ibnu ‘Abbas] berkata “ini Ibu Ibnu Zubair menceritakan bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] telah memberi keringanan tentangnya, masuklah kalian kepadanya dan tanyakan kepadanya”. Maka kamipun masuk menemuinya dan ternyata ia wanita yang gemuk dan buta. Ia berkata “sungguh Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] telah memberikan keringanan tentangnya” [Shahih Muslim 2/909 no 1238]

Hadis Muslim di atas juga disebutkan dalam Musnad Ahmad 6/348 no 26991, Mu’jam Al Kabir Ath Thabraniy 24/77 no 202, Sunan Baihaqiy no 9153, Mustakhraj Abu Nu’aim 3/341, dan Tarikh Ibnu Asakir 5/69 semuanya dengan jalan sanad Rauh bin ‘Ubadah dari Syu’bah dari Muslim Al Qurriy.

Rauh bin ‘Ubadah seorang yang tsiqat fadhl [Taqrib At Tahdzib 1/211 no 1962]. Ternukil juga sebagian ulama yang sedikit membicarakannya seperti Ibnu Mahdiy yang membicarakannya karena kekeliruan dalam sanad hadis. Al Qawaririy yang tidak mau menceritakan hadis dari Rauh. Diriwayatkan dari Abu Hatim yang berkata “tidak dapat berhujjah dengannya”. Nasa’i berkata “tidak kuat” [As Siyaar Adz Dzahabiy 9/409]. Tetapi hal ini tidaklah menjatuhkan kedudukannya. Dalam hal ini kami menukil ulama yang membicarakannya hanya untuk menunjukkan bahwa kedudukan Rauh bin ‘Ubadah tidaklah berbeda dengan kedudukan Abu Dawud Ath Thayaalisiy. Keduanya perawi yang sama-sama tsiqat dan ternukil sedikit kelemahan padanya.

Abu Dawud dalam hadis ini telah berselisih dengan Rauh bin ‘Ubadah. Abu Dawud menegaskan dalam riwayatnya bahwa Mut’ah yang dimaksud adalah Nikah Mut’ah sedangkan Rauh bin ‘Ubadah menegaskan dalam riwayatnya bahwa Mut’ah yang dimaksud adalah Mut’ah Haji. Kemudian Muslim dalam Shahih-nya setelah mengutip hadis Rauh di atas ia menyebutkan hadis berikut

وحدثناه ابن المثنى حدثنا عبدالرحمن ح وحدثناه ابن بشار حدثنا محمد ( يعني ابن جعفر ) جميعا عن شعبة بهذا الإسناد فأما عبدالرحمن ففي حديثه المتعة ولم يقل متعة الحج وأما ابن جعفر فقال قال شعبة قال مسلم لا أدري متعة الحج أو متعة النساء

Telah menceritakan kepada kami Ibnu Mutsanna yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman. Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad yakni Ibnu Ja’far keduanya dari Syu’bah dengan sanad ini. Adapun ‘Abdurrahman dalam hadisnya disebutkan Mut’ah tanpa mengatakan Mut’ah Haji dan adapun Ibnu Ja’far mengatakan Syu’bah berkata Muslim berkata “aku tidak tahu apakah Mut’ah Haji atau Nikah Mut’ah” [Shahih Muslim 2/909 no 1238]

Muhammad bin Ja’far [Ghundaar] adalah perawi yang tsiqat. Ia termasuk perawi yang paling tsabit riwayatnya dari Syu’bah. Ibnu Madini berkata “ia lebih aku sukai dari Abdurrahman bin Mahdiy dalam riwayat Syu’bah”. Ibnu Mahdiy sendiri berkata “Ghundaar lebih tsabit dariku dalam riwayat Syu’bah”. Al Ijliy berkata orang Bashrah yang tsiqat, ia termasuk orang yang paling tsabit dalam hadis Syu’bah” [At Tahdzib juz 9 no 129].

Kedudukan riwayat Muhammad bin Ja’far dari Syu’bah pada dasarnya lebih didahulukan dibanding riwayat Abu Dawud Ath Thayaalisiy dan Rauh bin ‘Ubadah. Dan ternyata riwayat Muhammad bin Ja’far menyebutkan bahwa Muslim Al Qurriy ragu apakah itu Mut’ah Haji atau Nikah Mut’ah. Hal ini sebenarnya termasuk perkara musykil karena bagaimana bisa Muslim Al Qurriy yang menemui Asma’ dan bertanya kepadanya tentang Mut’ah menjadi ragu atau tidak tahu apakah Mut’ah tersebut adalah Mut’ah Haji atau Nikah Mut’ah.

Sebagian para pengingkar demi menolak anggapan Asma’ binti Abu Bakar melakukan nikah mut’ah, maka mereka melemahkan riwayat Abu Dawud dari Syu’bah di atas dengan alasan telah menyelisihi para perawi tsiqat seperti Ibnu Mahdiy, Ghundaar dan Rauh bin ‘Ubadah yang tidak menyebutkan lafaz mut’ah an nisaa’ [nikah mut’ah].

Hujjah ini bathil dan mengandung penyesatan halus karena dengan alasan yang sama riwayat Rauh bin ‘Ubadah [yang menyebutkan Mut’ah Haji] bisa juga dilemahkan karena menyelisihi para perawi tsiqat seperti Ibnu Mahdi, Ghundaar dan Abu Dawud Ath Thayaalisiy yang tidak menyebutkan lafaz mut’ah haji.

Cara berhujjah seperti ini keliru. Riwayat Syu’bah hanya berselisih dengan riwayat Rauh bin ‘Ubadah. Adapun riwayat Ibnu Mahdiy dan Ghundaar yang menyebutkan lafaz Mut’ah saja, tidaklah berselisih secara makna dengan riwayat Syu’bah atau pun Rauh bin ‘Ubadah. Yang manapun yang benar diantara keduanya akan tetap sesuai dengan riwayat Ibnu Mahdiy dan Ghundaar.

.

.

.

Penyelesaian masalah ini tidak bisa hanya mengandalkan riwayat Muslim Al Qurriy saja. Harus ada qarinah lain yang menunjukkan bahwa Mut’ah yang dimaksud Asma’ binti Abu Bakar tersebut apakah nikah Mut’ah atau Mut’ah haji. Terdapat riwayat shahih selain riwayat Muslim Al Qurriy bahwa Mut’ah yang dimaksud adalah Nikah Mut’ah.

حَدَّثَنَا صَالِحُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ قَال حدثنا هُشَيمٌ قَال أَخْبَرَنَا أَبُو بِشْر عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ قَال سَمِعْتُ عَبْدَ اللهِ بْنَ الزُّبَيْرِ، يَخْطُبُ وَهُوَ يُعَرِّضُ بِابْنِ عَبَّاسٍ، يَعِيبُ عَلَيْهِ قَوْلَهُ فِي الْمُتْعَةِ. فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ يَسْأَلُ أُمَّهُ إِنْ كَانَ صَادِقًا، فَسَأَلَهَا، فَقَالَتْ صَدَقَ ابْنُ عَبَّاسٍ، قَدْ كَانَ ذَلِكَ فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُمَا لَوْ شِئْتُ لَسَمَّيْتُ رِجَالًا مِنْ قُرَيْشٍ وُلِدُوا فِيهَا

Telah menceritakan kepada kami Shaalih bin ‘Abdurrahman yang berkata telah menceritakan kepada kami Sa’iid bin Manshuur yang berkata telah menceritakan kepada kami Husyaim yang berkata telah mengabarkan kepada kami Abu Bisyr dari Sa’id bin Jubair yang berkata aku mendengar ‘Abdullah bin Zubair berkhutbah dan ia mencela Ibnu ‘Abbas atas perkataannya tentang Mut’ah. Maka Ibnu ‘Abbas berkata “tanyakanlah kepada Ibunya jika memang ia benar” maka ia bertanya kepadanya [Ibunya]. [Ibunya] berkata “Ibnu ‘Abbas benar, sungguh hal itu memang demikian”. Ibnu ‘Abbaas [radiallahu ta’ala ‘anhuma] berkata “seandainya aku mau maka aku akan menyebutkan orang-orang dari Quraisy yang lahir darinya [nikah mut’ah]” [Syarh Ma’aaniy Al Atsaar Ath Thahawiy 3/24 no 4306]

Riwayat Ath Thahawiy di atas sanadnya jayyid. Para perawinya tsiqat dan shaduq berikut keterangan tentang mereka

  1. Shaalih bin ‘Abdurrahman bin ‘Amru bin Al Haarits Al Mishriy termasuk salah satu guru Ibnu Abi Hatim. Ibnu Abi Hatim berkata “aku mendengar darinya di Mesir dan dia tempat kejujuran” [Al Jarh Wat Ta’dil Ibnu Abi Hatim 4/408 no 1790]. Dia termasuk guru Ibnu Khuzaimah yang diambil hadisnya dalam kitab Shahih-nya [Shahih Ibnu Khuzaimah 1/77 no 149]. Dia juga termasuk guru Abu Awanah yang diambil hadisnya dalam kitab Shahih-nya [Mustakhraj Abu Awanah 2/431 no 1737]. Pendapat yang rajih, ia seorang yang shaduq
  2. Sa’id bin Manshuur adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat. Ahmad berkata “termasuk orang yang memiliki keutamaan dan shaduq”. Ibnu Khirasy dan Ibnu Numair menyatakan tsiqat. Abu Hatim menyatakan tsiqat dan termasuk orang yang mutqin dan tsabit. Ibnu Hibban memasukkan dalam Ats Tsiqat. Ibnu Qani’ berkata “tsiqat tsabit”. Al Khalili berkata “tsiqat muttafaq ‘alaih” [At Tahdzib juz 4 no 148]
  3. Husyaim bin Basyiir seorang perawi kutubus sittah. Ia dinyatakan tsiqat oleh Al Ijli, Ibnu Saad dan Abu Hatim. Ibnu Mahdi, Abu Zar’ah dan Abu Hatim telah memuji hafalannya [At Tahdzib juz 11 no 100]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat tsabit [At Taqrib 2/269]. Adz Dzahabi menyebutkan kalau Husyaim seorang Hafiz Baghdad Imam yang tsiqat [Al Kasyf no 5979]
  4. Abu Bisyr adalah Ja’far bin Iyaas perawi kutubus sittah yang tsiqat. Ibnu Ma’in, Abu Hatim, Abu Zur’ah, An Nasa’i dan Al Ijliy menyatakan tsiqat. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [At Tahdzib Ibnu Hajar juz 2 no 129]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat dan termasuk orang yang paling tsabit dalam riwayat Sa’id bin Jubair, Syu’bah melemahkannya dalam riwayat Habib bin Salim dan Mujahid” [At Taqrib 1/160 no 932].
  5. Sa’id bin Jubair adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat. Abu Qasim Ath Thabari berkata tsiqat imam hujjah kaum muslimin. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat dan menyatakan faqih ahli ibadah memilik keutamaan dan wara’. [At Tahdzib juz 4 no 14]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat tsabit faqih” [At Taqrib 1/349]. Al Ijli berkata “tabiin kufah yang tsiqat” [Ma’rifat Ats Tsiqat no 578]

Lafaz perkataan Ibnu Abbas “seandainya aku mau maka aku akan menyebutkan orang-orang dari Quraisy yang lahir darinya” menunjukkan bahwa Mut’ah yang dimaksud dalam riwayat tersebut adalah Nikah Mut’ah. Tetapi terdapat juga riwayat lain yang menguatkan bahwa Mut’ah yang dimaksud adalah Mut’ah Haji

حدثنا عبد الله حدثني أبى ثنا محمد بن فضيل قال ثنا يزيد يعنى بن أبى زياد عن مجاهد قال قال عبد الله بن الزبير أفردوا بالحج ودعوا قول هذا يعنى بن عباس فقال بن عباس ألا تسأل أمك عن هذا فأرسل إليها فقالت صدق بن عباس : خرجنا مع رسول الله صلى الله عليه و سلم حجاجا فأمرنا فجعلناها عمرة فحل لنا الحلال حتى سطعت المجامر بين النساء والرجال

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudhail yang berkata telah menceritakan kepada kami Yaziid yaitu bin Abi Ziyaad dari Mujahid yang berkata ‘Abdullah bin Zubair berkata “lakukanlah haji kalian dengan ifrad dan tinggalkanlah perkataan orang ini yaitu Ibnu ‘Abbaas”. Maka berkata Ibnu ‘Abbaas “tidakkah kami menanyakan kepada Ibumu mengenai hal ini”. Maka ia [Ibnu Zubair] mengutus seseorang kepada Ibunya, [Ibunya] berkata “benarlah Ibnu ‘Abbaas, kami keluar bersama Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] untuk melakukan haji, maka Beliau memerintahkan untuk menjadikannya Umrah maka menjadi halal bagi kami apa-apa yang halal hingga bertebaran bara api antara wanita dan pria [Musnad Ahmad 6/344 no 26962]

Hanya saja riwayat di atas sanadnya dhaif karena Yazid bin Abi Ziyaad. Yazid bin Abi Ziyaad Al Qurasyiy termasuk perawi Bukhariy dalam At Ta’liq, Muslim, Tirmidzi, Abu Dawud, Nasa’i, dan Ibnu Majah. Ahmad bin Hanbal berkata “tidak hafizh”. Yahya bin Ma’in berkata “tidak kuat”. Al Ijliy berkata “ja’iz al hadits”. Abu Zur’ah berkata “layyin ditulis hadisnya tetapi tidak dijadikan hujjah”. Abu Hatim berkata “tidak kuat”. Abu Dawud berkata “tidak diketahui satu orangpun yang meninggalkan hadisnya tetapi selainnya lebih disukai daripadanya”. Ibnu Adiy berkata “orang syi’ah kufah yang dhaif ditulis hadisnya”. Ibnu Hibban berkata “shaduq kecuali ketika tua jelek dan berubah hafalannya”. Abu Ahmad Al Hakim berkata “tidak kuat di sisi para ulama”. Ibnu Syahin memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Ahmad bin Shalih Al Mishriy berkata “tsiqat dan tidak membuatku heran perkataan yang membicarakannya”. An Nasa’iy berkata “tidak kuat” [Tahdzib At Tahdzib juz 11 no 531]. Pendapat yang rajih Yazid bin Abi Ziyaad seorang yang dhaif tetapi hadisnya bisa dijadikan i’tibar.

.

.

.

Kalau kita ingin menerapkan metode tarjih maka qarinah bahwa Mut’ah yang dimaksudkan Asma’ binti Abu Bakar adalah Nikah Mut’ah lebih kuat kedudukannya dibanding qarinah yang menunjukkan Mut’ah Haji. Tetapi kalau kita ingin menerapkan metode jamak maka dapat disimpulkan bahwa kedua jenis Mut’ah baik Nikah Mut’ah maupun Mut’ah Haji telah dilakukan dan diyakini kebolehannya oleh Asma’ binti Abu Bakar [radiallahu ‘anha]. Terdapat riwayat yang menjadi petunjuk bahwa perselisihan Ibnu Abbas dan Ibnu Zubair mencakup kedua jenis Mut’ah [Nikah Mut’ah dan Mut’ah Haji], berikut riwayatnya

حدثنا حامد بن عمرو البكراوي حدثنا عبدالواحد ( يعني ابن زياد ) عن عاصم عن أبي نضرة قال كنت عند جابر بن عبدالله فأتاه آت فقال ابن عباس وابن الزبير اختلفا في المتعتين فقال جابر فعلناهما مع رسول الله صلى الله عليه و سلم ثم نهانا عنهما عمر فلم نعد لهما

Telah menceritakan kepada kami Haamid bin ‘Umar Al Bakraawiy yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Waahid yaitu Ibnu Ziyaad dari ‘Aashim dari Abi Nadhrah yang berkata aku berada di sisi Jabir bin ‘Abdullah maka datanglah seseorang dan berkata Ibnu Abbas dan Ibnu Zubair telah berselisih tentang dua Mut’ah. Maka Jabir berkata “kami telah melakukannya keduanya bersama Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] kemudian Umar melarang kami melakukan keduanya maka kami tidak melakukan keduanya” [Shahih Muslim 2/1022 no 1405]

Masih memungkinkan untuk dikatakan bahwa Ibnu Abbas dan Ibnu Zubair berselisih tentang hukum kedua Mut’ah [Nikah Mut’ah dan Mut’ah Haji] maka Ibnu Abbas menyuruh Ibnu Zubair bertanya kepada Ibunya [Asma’ binti Abu Bakar] dan Ia menyatakan bahwa kedua Mut’ah tersebut telah dilakukannya di masa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Pendapat ini lebih baik karena menggabungkan semua riwayat yang ada di atas.

Kesimpulannya memang shahih Asma’ binti Abu Bakar [radiallahu ‘anha] mengakui bolehnya nikah Mut’ah dimana ia bersaksi bahwa ia telah melakukan nikah Mut’ah di masa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam].

Studi Kritis Tentang Paham Al Badaa’ Dalam Mazhab Syi’ah

sumber tulisan ini dari web http://www.secondprince.wordpress.com

Studi Kritis Tentang Paham Al Badaa’ Dalam Mazhab Syi’ah

Tulisan ini kami sajikan kepada para pembaca sebagai timbangan yang adil bagi mereka yang ingin mengetahui dengan benar pandangan mazhab Syi’ah tentang Al Badaa’. Hal ini kami rasa perlu karena melihat begitu banyak para pendusta dan pembenci mazhab Syi’ah menyajikan tulisan fitnah dan dusta mengenai Al Badaa’ dalam mazhab Syi’ah. Salah satunya dapat para pembaca lihat disini.

Orang ini sebelumnya menunjukkan kejahilannya dalam tulisannya yang berjudul “Satu Cabang Aqidah Syi’ah Tentang AllahTa’ala”. Pembahasannya dapat para pembaca lihat dari tulisan kami disini. Aneh bin ajaib bukannya belajar dari kesalahannya, orang ini malah bersikeras atas kedustaannya sebagaimana dapat pembaca lihat dalam tulisannya tentang Al Badaa’ tersebut. Silakan para pembaca membaca tulisan kami ini dengan objektif untuk melihat kedustaannya

.

.

Badaa’ secara bahasa memang bermakna zahir [jelasnya] sesuatu setelah sebelumnya tersembunyi. Makna ini dapat dilihat dalam ayat Al Qur’an berikut

بَدَا لَهُمْ مِنَ اللَّهِ مَا لَمْ يَكُونُوا يَحْتَسِبُونَ وَبَدَا لَهُمْ سَيِّئَاتُ مَا كَسَبُوا وَحَاقَ بِهِمْ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ

Dan jelaslah bagi mereka azab dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan. Dan jelaslah bagi mereka akibat buruk dari apa yang telah mereka perbuat dan mereka diliputi oleh pembalasan yang mereka dahulu selalu memperolok-olokkannya [Qs Az Zumar : 47-48].

Para pembenci Syi’ah baik dari kalangan ulama mereka atau pengikut mereka mencela mazhab Syi’ah karena menisbatkan badaa’ kepada Allah SWT. Karena menurut mereka makna badaa’ memiliki konsekuensi ketidaktahuan [jahil] sebelumnya kemudian setelah itu muncul pengetahuan yang baru. Hal ini sudah jelas mustahil bagi Allah SWT.

Andaikata tuduhan mereka terhadap Syi’ah tersebut benar maka kami tidak ragu untuk menyatakan kebathilan mazhab Syi’ah. Tetapi fakta yang ada justru menunjukkan para penuduh tersebut adalah orang yang berkhayal kemudian menisbatkan khayalan mereka kepada mazhab Syi’ah.

.

Bukti riwayat dalam mazhab Syi’ah telah mendustakan tuduhan para pembenci Syi’ah tersebut. Badaa’ yang diyakini dalam mazhab Syi’ah tidak memiliki konsekuensi kejahilan sebelumnya.

عدة من أصحابنا، عن أحمد بن محمد بن عيسى، عن ابن أبي عمير، عن جعفر ابن عثمان، عن سماعة، عن أبي بصير، ووهيب بن حفص، عن أبي بصير، عن أبي عبد الله عليه السلام قال: إن لله علمين: علم مكنون مخزون، لا يعلمه إلا هو، من ذلك يكون البداء وعلم علمه ملائكته ورسله وأنبياءه فنحن نعلمه

Sekelompok sahabat kami dari Ahmad bin Muhammad bin Iisa dari Ibnu Abi ‘Umair dari Ja’far bin ‘Utsman dari Sama’ah dari Abu Bashiir dan Wuhaib bin Hafsh dari Abi Bashiir dari Abi ‘Abdullah [‘alaihis salaam] yang berkata “Sesungguhnya Allah memiliki dua macam ilmu, [pertama] ilmu yang tersimpan dan tersembunyi, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia, dari ini lah yang terjadi badaa’ dan [kedua] ilmu yang diajarkan kepada Malaikat-Nya, Rasul-Nya dan Nabi-Nya maka kami mengetahuinya [Al Kafiy Al Kulainiy 1/147]

Riwayat Al Kafiy di atas sanadnya muwatstsaq berdasarkan standar Ilmu Rijal Syi’ah, semua perawinya tsiqat hanya saja Sama’ah bin Mihraan dikatakan bermazhab waqifiy.

Sekelompok sahabat kami yang dimaksud diantaranya adalah Muhammad bin Yahya Al Aththaar Ahmad bin Idris dan Aliy bin Ibrahiim. Telah ma’ruf bahwa jika Al Kulainiy menyebutkan sekelompok sahabat kami dari Ahmad bin Muhammad bin Iisa maka mereka adalah Muhammad bin Yahya, Aliy bin Muusa Al Kumaydzaaniy, Dawud bin Kawrah, Ahmad bin Idris dan Aliy bin Ibrahim bin Haasyim [Rijal An Najasyiy hal 377-378 no 1026]

  1. Muhammad bin Yahya Al Aththaar seorang yang tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 353 no 946]. Ahmad bin Idris Al Qummiy seorang yang tsiqat faqiih shahih riwayatnya [Rijal An Najasyiy hal 92 no 228]. Aliy bin Ibrahim bin Haasyim, tsiqat dalam hadis, tsabit, mu’tamad, shahih mazhabnya [Rijal An Najasyiy hal 260 no 680].
  2. Ahmad bin Muhammad bin Iisa Al Qummiy adalah seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 351]
  3. Muhammad bin Abi Umair, ia termasuk orang yang paling terpercaya baik di kalangan khusus [Syi’ah] maupun kalangan umum [Al Fahrasat Ath Thuusiy hal 218]
  4. Ja’far bin Utsman Ar Rawasiy seorang yang tsiqat [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadits hal 108]
  5. Sama’ah bin Mihraan Al Hadhramiy seorang yang tsiqat tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 193 no 517]
  6. Wuhaib bin Hafsh seorang yang tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 431 no 1159]
  7. Abu Bashiir adalah Abu Bashiir Al Asdiy Yahya bin Qasim seorang yang tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 441 no 1187]

محمد بن يحيى، عن أحمد بن محمد، عن الحسين بن سعيد، عن الحسن بن محبوب، عن عبد الله بن سنان، عن أبي عبد الله عليه السلام قال: ما بدا لله في شئ إلا كان في علمه قبل أن يبدو له

Muhammad bin Yahya dari Ahmad bin Muhammad dari Husain bin Sa’id dari Hasan bin Mahbuub dari ‘Abdullah bin Sinaan dari Abu ‘Abdullah [‘alaihis salam] yang berkata “Tidaklah Allah menetapkan badaa’ terhadap sesuatu kecuali hal itu berada dalam Ilmu-Nya sebelum ditetapkan atasnya”. [Al Kaafiy 1/148]

Riwayat Al Kaafiy di atas sanadnya shahih di sisi Syi’ah, diriwayatkan oleh para perawi tsiqat

  1. Muhammad bin Yahya Al Aththaar seorang yang tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 353 no 946].
  2. Ahmad bin Muhammad bin Iisa Al Qummiy adalah seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 351]
  3. Husain bin Sa’id bin Hammaad seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 355]
  4. Hasan bin Mahbuub seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 354]
  5. Abdullah bin Sinaan seorang yang tsiqat, meriwayatkan dari Abu ‘Abdullah [Rijal An Najasyiy hal 214 no 558]

Riwayat di atas membuktikan bahwa Badaa’ yang diyakini dalam mazhab Syi’ah dan dinisbatkan oleh mazhab Syi’ah kepada Allah SWT bukan badaa’ yang secara bahasa dinisbatkan pada makhluk dan memiliki konsekuensi kejahilan sebelumnya.

.

Sampai disini silakan para pembaca pahami bahwa Badaa’ dalam keyakinan mazhab Syi’ah bukanlah badaa’ secara bahasa yang dinisbatkan kepada makhluk. Badaa’ tersebut memiliki makna khusus dalam mazhab Syi’ah dan apa yang mereka yakini tersebut berdasarkan dalil-dalil shahih di sisi mazhab mereka.

Fenomena perbedaan istilah secara bahasa dan khusus ini tidak hanya terjadi dalam mazhab Syi’ah. Bagi mereka yang sudah melalang buana membaca kitab-kitab hadis ahlus sunnah maka mereka akan menemukan fenomena seperti ini. Banyak istilah yang secara zhahir dinisbatkan kepada makhluk ternyata digunakan dan dinisbatkan kepada Allah SWT. Akan tetapi ketika istilah tersebut dinisbatkan kepada Allah SWT, mereka para ulama ahlus sunnah menetapkan makna tersebut secara khusus bagi Allah SWT tidak sama dengan makna istilah tersebut pada makhluk. Contohnya adalah terdapat riwayat dalam kitab Ahlus Sunnah yang menyebutkan Allah SWT tertawa, istiwa’ [yang sering diterjemahkan bersemayam], turun dan lain sebagainya yang sudah pasti berbeda maknanya ketika istilah-istilah tersebut dinsibatkan pada makhluk.

Apa yang dilakukan ulama Ahlus sunnah dan ulama Syi’ah memiliki satu kesamaan? Yaitu mereka memaknai istilah tersebut dengan makna yang sesuai dengan kesucian dan kebesaran Allah SWT. Seandainya tidak ada riwayat shahih yang menisbatkan istilah tersebut kepada Allah SWT maka baik ulama Syi’ah dan ulama ahlus sunnah tidak akan menisbatkan istilah tersebut kepada Allah SWT.

Jadi apa yang terjadi pada ulama Syi’ah mengenai keyakinan badaa’ yang dinisbatkan kepada Allah SWT, hal itu hanya karena dalam riwayat shahih di sisi mazhab mereka telah menisbatkan istilah badaa’ kepada Allah SWT. Jika tidak ada riwayat shahih maka mereka tidak akan menisbatkan istilah tersebut kepada Allah SWT.

.

.

Lantas apakah makna badaa’ di sisi mazhab Syi’ah. Badaa’ yang dinisbatkan kepada Allah SWT adalah perubahan ketetapan Allah SWT [sebagaimana halnya nasikh dan mansukh]. Perkara tersebut sifatnya tersembunyi bagi manusia kemudian menjadi nampak dan perkara ini semuanya berada dalam ilmu Allah. Adapun mengapa hal ini terjadi maka pastinya hanya Allah SWT yang mengetahui, sedangkan manusia hanya bisa mengira-ngira apakah maslahat dibalik perkara tersebut. Apakah ketetapan Allah SWT dapat berubah?. Jawabannya terdapat dalam Al Qur’anul Kariim

يَمحُوا اللهُ ما يَشَاء وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ ام الكتب

Allah menghapus apa yang dikehendaki-Nya dan menetapkan apa yang dikehendaki-Nya, dan di sisi-Nya terdapat Ummul Kitaab [QS Ar Raad : 39]

Ayat inilah yang dalam mazhab Syi’ah dijadikan dasar sebagai terjadinya badaa’. Dalam kitab mazhab Syi’ah Al Kafiy bab Al Badaa’ terdapat riwayat

علي بن إبراهيم، عن أبيه، عن ابن أبي عمير، عن هشام بن سالم وحفص بن البختري وغيرهما، عن أبي عبد الله عليه السلام قال في هذه الآية: ” يمحو الله ما يشاء ويثبت قال: فقال: وهل يمحى إلا ما كان ثابتا وهل يثبت إلا ما لم يكن

Aliy bin Ibrahiim dari Ayahnya dari Ibnu Abi ‘Umair dari Hisyaam bin Saalim dan Hafsh bin Al Bakhtariy dan selain mereka berdua dari Abi ‘Abdullah [‘alaihis salaam] yang berkata tentang ayat ini “Allah menghapus apa yang dikehendaki-Nya dan menetapkan apa yang dikehendaki-Nya”. Maka berkata Abu ‘Abdullah “adakah menghapuskan kecuali apa yang sudah tetap [sebelumnya] dan adakah menetapkan kecuali apa yang belum ada [sebelumnya]” [Al Kafiy Al Kulainiy 1/146-147]

Riwayat di atas sanadnya shahih sesuai standar Ilmu Rijal Syi’ah. Berikut keterangan mengenai para perawinya

  1. Aliy bin Ibrahim bin Haasyim, tsiqat dalam hadis, tsabit, mu’tamad, shahih mazhabnya [Rijal An Najasyiy hal 260 no 680]
  2. Ibrahim bin Haasyim Al Qummiy seorang yang tsiqat jaliil. Ibnu Thawus pernah menyatakan hadis yang dalam sanadnya ada Ibrahim bin Haasyim bahwa para perawinya disepakati tsiqat [Al Mustadrakat Ilm Rijal Al Hadis, Asy Syahruudiy 1/222]
  3. Muhammad bin Abi Umair, ia termasuk orang yang paling terpercaya baik di kalangan khusus [Syi’ah] maupun kalangan umum [Al Fahrasat Ath Thuusiy hal 218]
  4. Hisyaam bin Saalim meriwayatkan dari Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] ia tsiqat tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 434 no 1165]. Hafsh bin Al Bakhtariy seorang yang tsiqat meriwayatkan dari Abi ‘Abdullah [‘alaihis salaam] [Rijal An Najasyiy hal 134 no 344]

.

Di sisi ahlus sunnah terdapat salafus shalih yang memahami ayat tersebut dalam arti takdir Allah SWT terhadap seseorang bisa berubah sesuai dengan kehendak Allah SWT

حدثنا أبو كريب قال : حدثنا عثام ، عن الأعمش ، عن شقيق أنه كان يقول : ” اللهم إن كنت كتبتنا أشقياء ، فامحنَا واكتبنا سعداء ، وإن كنت كتبتنا سعداء فأثبتنا ، فإنك تمحو ما تشاءُ وتثبت وعندَك أمّ الكتاب

Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Atsaam dari Al A’masyiy dari Syaqiiq bahwasanya ia berkata “ya Allah jika Engkau menuliskan kami sebagai orang yang sengsara maka hapuslah nama kami dan tuliskanlah atas kami sebagai orang yang berbahagia. Dan jika Engkau menuliskan kami sebagi orang yang berbahagia maka tetapkanlah atas kami. Sesungguhnya Engkau menghapus apa yang Engkau kehendaki dan menetapkan apa yang Engkau kehendaki dan di sisimu terdapat Ummul Kitaab [Tafsir Ath Thabariy 16/481 no 20476]

Riwayat di atas sanadnya jayyid sampai ke Syaqiiq Abu Wa’il dan ia termasuk orang yang menemui masa jahiliyah

  1. Abu Kuraib adalah Muhammad bin A’laa bin Kuraib Al Hamdaaniy seorang yang hafizh tsiqat [Taqrib At Tahdzib 2/121]
  2. ‘Atsaam bin Aliy Al Kuufiy seorang yang shaduq [Taqrib At Tahdzib 1/655]
  3. Sulaiman bin Mihraan Al A’masyiy seorang yang tsiqat hafizh tetapi melakukan tadlis [Taqrib At Tahdzib 1/392]. Adapun tadlisnya disini tidak menjadi illat [cacat] hadis karena ‘an anah A’masyiy dari Syaikhnya seperti Ibrahim, Abu Shalih dan Syaqiiq dianggap muttashil
  4. Syaqiiq bin Salamah Abu Wa’il Al Kuufiy seorang mukhadhramun yang tsiqat [Taqrib At Tahdzib 1/421]

Lafaz doa Syaqiiq tersebut menyatakan keyakinannya bahwa ketetapan Allah SWT terhadap seseorang bisa berubah jika Allah SWT menghendaki.

حدثنا محمد بن حميد الرازي و سعيد بن يعقوب قالا حدثنا يحيى بن الضريس عن ابي مودود عن سليمان التيمي عن ابي عثمان النهدي عن سلمان قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم لا يرد القضاء إلا الدعاء ولا يزيد العمر إلا البر

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Humaid Ar Raaziy dan Sa’iid bin Ya’quub keduanya berkata telah menceritakan kepada kami Yahya bin Dhurais dari Abi Maudud dari Sulaiman At Taimiy dari Abi ‘Utsman An Nahdiy dari Salmaan yang berkata Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “tidak ada yang dapat menolak takdir kecuali doa dan tidak ada yang dapat menambah umur kecuali perbuatan baik” [Sunan Tirmidzi 4/448 no 2139]

At Tirmidziy menyatakan hadis di atas hasan gharib. Syaikh Al Albani menyatakan hadis tersebut hasan. Terdapat pembicaraan seputar hadis ini, sanad di atas lemah tetapi memiliki penguat dari riwayat lain maka pendapat yang rajih adalah kedudukannya hasan lighairihi sebagaimana yang dinyatakan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth [Syarh Musykil Al Atsar no 3068]

Sejauh ini kami telah menunjukkan keyakinan bahwa takdir Allah SWT bisa berubah jika Allah SWT menghendaki juga ada dalam riwayat ahlus sunnah. Mungkin diantara mereka pembenci Syi’ah akan tetap meributkan istilah badaa’ bahwa hal itu tidak boleh dinisbatkan kepada Allah SWT. Silakan saja tetapi alasan ini tidak ada nilainya di sisi mazhab Syi’ah. Toh mereka orang Syi’ah meyakini badaa’ berdasarkan riwayat shahih pegangan mereka dan perkara ini sama seperti ulama ahlus sunnah yang berpegang pada riwayat shahih mengenai Allah tertawa, istiwa’ dan yang lainnya.

.

.

Anehnya dalam kitab ahlus sunnah terdapat juga riwayat shahih yang menggunakan istilah badaa’ kepada Allah SWT.

حَدَّثَنِي أَحْمَدُ بْنُ إِسْحَاقَ حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ عَاصِمٍ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ أَبِي عَمْرَةَ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ حَدَّثَهُ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ح و حَدَّثَنِي مُحَمَّدٌ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ رَجَاءٍ أَخْبَرَنَا هَمَّامٌ عَنْ إِسْحَاقَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ أَخْبَرَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ أَبِي عَمْرَةَ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ حَدَّثَهُ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ ثَلَاثَةً فِي بَنِي إِسْرَائِيلَ أَبْرَصَ وَأَقْرَعَ وَأَعْمَى بَدَا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يَبْتَلِيَهُمْ

Telah menceritakan kepadaku Ahmad bin Ishaaq yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin ‘Aashim yang berkata telah menceritakan kepada kami Hammaam yang berkata telah menceritakan kepada kami Ishaq bin ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku ‘Abdurrahman bin Abi ‘Amrah bahwa Abu Hurairah menceritakan kepadanya bahwa ia mendengar Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Dan telah menceritakan kepadaku Muhammad yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Rajaa’ yang berkata telah mengabarkan kepada kami Hammaam dari Ishaq bin ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku ‘Abdurrahman bin Abi ‘Amrah bahwa Abu Hurairah [radiallahu ‘anhu] menceritakan kepadanya bahwa ia mendengar Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengatakan ada tiga orang bani Israil, penderita kusta, botak dan buta, maka Allah ‘azza wajalla menetapkan badaa’ untuk menguji mereka…[Shahih Bukhariy 4/171 no 3464]

Riwayat Bukhariy di atas menceritakan kisah yang panjang dan cukuplah kami nukilkan lafaz dimana istilah badaa’ dinisbatkan kepada Allah SWT. Intinya kisah di atas adalah dimana Allah SWT menetapkan keadaan yang baru bagi mereka  yaitu kesembuhan penyakit mereka dan harta yang berlimpah dengan tujuan untuk menguji mereka. Ibnu Hajar memberikan komentar mengenai lafaz tersebut dalam Fath Al Bariy

أي سبق في علم الله فأراد إظهاره ، وليس المراد أنه ظهر له بعد أن كان خافيا لأن ذلك محال في حق الله تعالى

Maksudnya adalah Allah telah mengetahui dari awal maka Allah berkehendak untuk menampakkannya, dan bukanlah maksudnya bahwa nampak atau jelas bagi Allah setelah sebelumnya tersembunyi karena hal yang demikian itu mustahil bagi Allah ta’ala [Fath Al Bariy Syarh Shahih Bukhariy 6/364]

Kemudian Ibnu Hajar juga menyebutkan riwayat Muslim yang tidak menggunakan lafaz badaa’ melainkan lafaz “Allah berkehendak untuk menguji mereka” sehingga terdapat kemungkinan perubahan lafaz tersebut berasal dari perawi hadis. Menurut kami kemungkinan perubahan lafaz tersebut tidaklah benar karena hadis Bukhariy tersebut shahih. Perbedaan lafaz dalam hadis-hadis shahih adalah perkara yang lumrah oleh karena itu jika ingin menetapkan suatu lafaz dalam hadis shahih sebagai lafaz yang salah atau keliru maka harus ditunjukkan bukti yang kuat.

Dalam hadis ‘Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash riwayat Ahmad bin Hanbal mengenai tanda-tanda kiamat yaitu matahari terbit dari barat dan munculnya daabah di waktu dhuha, terdapat lafaz

قال عبد الله وكان يقرأ الكتب وأظن اولاها خروجا طلوع الشمس من مغربها وذلك أنها كلما غربت أتت تحت العرش فسجدت واستأذنت في الرجوع فأذن لها في الرجوع حتى إذا بدا لله ان تطلع من مغربها

Abdullah [bin ‘Amru] berkata dan ia sedang membaca kitab “aku mengira yang muncul pertama kali adalah terbitnya matahari dari barat, hal itu karena setiap kali matahari terbenam ia datang ke bawah Arsy kemudian sujud dan meminta izin untuk kembali maka diizinkan baginya untuk kembali, sampai ketika Allah menetapkan badaa’ bahwa matahari terbit dari barat…[Musnad Ahmad 2/201 no 6881, Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata sanadnya shahih dengan syarat Bukhari Muslim]

Silakan bandingkan istilah badaa’ di atas dengan riwayat Syi’ah yang menggunakan istilah yang sama berikut

فقد رواه سعد بن عبد الله الأشعري قال: حدثني أبو هاشم داود بن القاسم الجعفري قال: كنت عند أبي الحسن عليه السلام وقت وفاة ابنه أبي جعفر – وقد كان أشار إليه ودل عليه – فإني لافكر في نفسي وأقول: هذه قضية أبي إبراهيم وقضية إسماعيل، فأقبل علي أبو الحسن عليه السلام فقال: نعم يا أبا هاشم بدا لله تعالى في أبي جعفر وصير مكانه أبا محمد، كما بدا لله في إسماعيل بعدما دل عليه أبو عبد الله عليه السلام ونصبه، وهو كما حدثت به نفسك وإن كره المبطلون

Dan sungguh telah diriwayatkan Sa’d bin ‘Abdullah Al Asy’ariy yang berkata telah menceritakan kepadaku Abu Haasyim Dawud bin Qaasim Al Ja’fariy yang berkata aku berada di sisi Abu Hasan [‘alaihis salam] ketika wafat anaknya Abu Ja’far [‘alaihis salam], dan sungguh ia telah menunjuknya. Maka aku berpikir pada diriku sendiri untuk mengatakan “ini seperti kasus Abu Ibrahim dan kasus Ismail”. Kemudian Abu Hasan [‘alaihis salam] datang kepadaku dan berkata “benar wahai Abu Haasyim Allah menetapkan badaa’ tentang Abu Ja’far dan mengganti kedudukannya dengan Abu Muhammad sebagaimana Allah menetapkan badaa’ tentang Ismail dan mengangkat Abu ‘Abdullah [‘alaihis salam]. Hal itu sebagamana yang engkau katakan pada dirimu sendiri tadi, walaupun orang-orang sesat membencinya… [Al Ghaybah Ath Thuusiy hal 200].

Pada dasarnya istilah tersebut baik pada hadis Bukhariy dan Ahmad memiliki makna yang sama dengan hadis Ath Thuusiy yaitu perubahan atas ketetapan Allah SWT

Maka hakikatnya dalam mazhab Syi’ah badaa’ sama seperti nasakh, adapun nasakh itu berlaku pada hukum syari’at sedangkan badaa’ itu berlaku pada takdir. Baik hukum atau takdir keduanya adalah ketetapan Allah SWT semuanya ada dalam ilmu Allah dan bisa berubah sesuai dengan kehendak Allah SWT.

Shahih Hadis Kisa’ Dalam Kitab Syi’ah ! membantah kedustaan para pembenci Syi’ah

sumber tulisan ini dari web http://www.secondprince.wordpress.com

Shahih Hadis Kisa’ Dalam Kitab Syi’ah

Tulisan ini kami buat untuk menunjukkan kedustaan para pembenci Syi’ah yang menyebarkan syubhat bahwa dalam mazhab Syi’ah tidak ada hadis shahih tentang ahlul kisa’ oleh karena itu Syi’ah mengambil dalilnya dari hadis ahlus sunnah. Dalam beberapa tulisan di situs ini kami sudah menunjukkan shahihnya hadis kisa’ dalam kitab ahlus sunnah [dan kami telah berhujjah dengannya] maka disini kami akan menunjukkan bahwa dalam kitab hadis Syi’ah juga terdapat riwayat shahih tentang ahlul kisa’.


علي بن إبراهيم، عن محمد بن عيسى، عن يونس وعلي بن محمد، عن سهل ابن زياد أبي سعيد، عن محمد بن عيسى، عن يونس، عن ابن مسكان، عن أبي بصير قال سألت أبا عبد الله عليه السلام عن قول الله عز وجل: ” أطيعوا الله وأطيعوا الرسول وأولي الأمر منكم ” فقال: نزلت في علي بن أبي طالب والحسن والحسين عليهم السلام: فقلت له: إن الناس يقولون: فما له لم يسم عليا وأهل بيته عليهم السلام في كتاب الله عز و جل؟ قال: فقال: قولوا لهم: إن رسول الله صلى الله عليه وآله نزلت عليه الصلاة ولم يسم الله لهم ثلاثا ولا أربعا، حتى كان رسول الله صلى الله عليه وآله هو الذي فسر ذلك لهم، ونزلت عليه الزكاة ولم يسم لهم من كل أربعين درهما درهم، حتى كان رسول الله صلى الله عليه وآله هو الذي فسر ذلك لهم، ونزل الحج فلم يقل لهم: طوفوا أسبوعا حتى كان رسول الله صلى الله عليه وآله هو الذي فسر ذلك لهم، ونزلت ” أطيعوا الله وأطيعوا الرسول وأولي الأمر منكم ” – ونزلت في علي والحسن والحسين – فقال رسول الله صلى الله عليه وآله: في علي: من كنت مولاه، فعلي مولاه، وقال صلى الله عليه وآله أوصيكم بكتاب الله وأهل بيتي، فإني سألت الله عز وجل أن لا يفرق بينهما حتى يوردهما علي الحوض، فأعطاني ذلك وقال لا تعلموهم فهم أعلم منكم، وقال: إنهم لن يخرجوكم من باب هدى، ولن يدخلوكم في باب ضلالة، فلو سكت رسول الله صلى الله عليه وآله فلم يبين من أهل بيته، لادعاها آل فلان وآل فلان، لكن الله عز وجل أنزله في كتابة تصديقا لنبيه صلى الله عليه وآله ” إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا ” فكان علي والحسن والحسين وفاطمة عليهم السلام، فأدخلهم رسول الله صلى الله عليه وآله تحت الكساء في بيت أم سلمة، ثم قال اللهم إن لكل نبي أهلا وثقلا وهؤلاء أهل بيتي وثقلي، فقالت أم سلمة: ألست من أهلك؟ فقال: إنك إلى خير ولكن هؤلاء أهلي وثقلي،

Aliy bin Ibrahim dari Muhammad bin Iisa dari Yuunus. Dan ‘Aliy bin Muhammad dari Sahl bin Ziyaad Abu Sa’iid dari Muhammad bin Iisa dari Yuunus dari Ibnu Muskaan dari Abi Bashiir yang berkata aku bertanya kepada Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] tentang firman Allah ‘azza wajalla “Taatlah kepada Allah, dan Taatlah kepada Rasul dan Ulil ‘Amri diantara kamu [QS An Nisa’ : 59]”. Maka Beliau berkata “ayat itu turun tentang Aliy bin Abi Thalib, Hasan dan Husain [‘alaihimus salaam]”. Maka aku berkata kepadanya “orang-orang mengatakan mengapa Allah tidak menyebutkan nama Aliy dan ahlul bait-nya dalam kitab Allah ‘azza wajalla?”. Beliau berkata “katakanlah kepada mereka sesungguhnya telah turun kepada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wa ‘alihi] perintah shalat tetapi Allah tidak menyebutkan kepada mereka jumlahnya [raka’at] tiga atau empat hingga Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wa ‘alihi] yang menjelaskannya kepada mereka. Dan telah turun kepada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tentang zakat tetapi Allah tidak menyebutkan kepada mereka bahwa untuk 40 dirham dikeluarkan [zakatnya] satu dirham, sampai akhirnya Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wa ‘alihi] yang menjelaskannya kepada mereka. Dan telah turun kepada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wa ‘alihi] tentang Haji tetapi Allah tidak menyebutkan kepada mereka untuk tawaf tujuh kali sampai akhirnya Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wa ‘alihi] yang menjelaskannya kepada mereka. Dan turun firman Allah ‘azza wajalla “Taatlah kepada Allah, dan Taatlah kepada Rasul dan Ulil ‘Amri diantara kamu [QS An Nisa’ : 59]”, ayat itu turun tentang Aliy bin Abi Thalib, Hasan dan Husain [‘alaihimus salaam]. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wa ‘alihi] telah berkata tentang Aliy “barang siapa yang Aku maulanya maka Aliy adalah maulanya” dan Beliau [shallallahu ‘alaihi wa ‘alihi] bersabda “aku wasiatkan kepada kalian dengan Kitab Allah dan Ahlul Baitku, aku telah meminta kepada Allah ‘azza wajalla bahwa tidak akan memisahkan keduanya hingga keduanya kembali ke Al Haudh maka Allah mengabulkannya. Beliau berkata “jangan mengajari mereka karena mereka lebih alim [tahu] dari kalian”. Beliau berkata “sesungguhnya mereka tidak akan mengeluarkan kalian dari pintu petunjuk dan tidak akan memasukkan kalian ke dalam pintu kesesatan”. Seandainya Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wa ‘alihi] diam dan tidak menjelaskan tentang ahlul bait-nya maka keluarga fulan dan keluarga fulan akan menyerukannya [tentang imamah] tetapi Allah ‘azza wajalla telah menurunkan dalam kitab-Nya dan membenarkan Nabi-Nya [shallallahu ‘alaihi wa ‘alihi] “sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai ahlul bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya [QS Al Ahzab : 33]”. Mereka adalah Aliy Hasan Husain dan Fathimah [‘alaihimus salaam] maka Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wa’alihi] memasukkan mereka ke dalam kain di rumah Ummu Salamah kemudian berkata “Ya Allah sesungguhnya setiap Nabi memiliki ahli dan tsaqal [peninggalan yang berat] maka mereka adalah ahlul baitku dan tsaqal-ku. Ummu Salamah berkata “wahai Rasulullah bukankah aku termasuk ahli-mu?” Beliau berkata “sesungguhnya engkau dalam kebaikan tetapi mereka adalah ahli-ku dan tsaqal-ku”…[Al Kafiy Al Kulainiy 1/286-287]

Kemudian di akhir riwayat panjang tersebut [dimana kami hanya mengutip sampai riwayat tentang ahlul kisa’ saja]. Al Kulainiy menambahkan sanad lain yaitu

محمد بن يحيى، عن أحمد بن محمد بن عيسى، عن محمد بن خالد والحسين بن سعيد عن النضر بن سويد، عن يحيى بن عمران الحلبي، عن أيوب بن الحر وعمران بن علي الحلبي، عن أبي بصير عن أبي عبد الله عليه السلام مثل ذلك

Muhammad bin Yahya dari Ahmad bin Muhammad bin Iisa dari Muhammad bin Khalid dan Husain bin Sa’iid dari Nadhr bin Suwaid dari Yahya bin ‘Imraan Al Halabiy dari Ayuub bin Al Hurr dan ‘Imran bin Aliy Al Halabiy dari Abi Bashiir dari Abu ‘Abdullah [‘alaihissalam] seperti di atas [Al Kafiy Al Kulainiy 1/288]

Hadis kisa’ di atas diriwayatkan oleh Al Kulainiy dengan dua jalan sanad yang semuanya berasal dari Abi Bashiir dari Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam]

  1. Aliy bin Ibrahim dari Muhammad bin Iisa dan Aliy bin Muhammad dari Sahl bin Ziyaad dari Muhammad bin Iisa. Muhammad bin Iisa meriwayatkan dari Yuunus dari Ibnu Muskaan dari Abu Bashiir dari Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam]
  2. Muhammad bin Yahya dari Ahmad bin Muhammad bin Iisa dari Muhammad bin Khalid dan Husain bin Sa’id dari Nadhr bin Suwaid dari Yahya bin ‘Imraan Al Halabiy dari Ayuub bin Al Hurr dan ‘Imran bin Aliy Al Halabiy dari Abi Bashiir dari Abu ‘Abdullah [‘alaihissalam]

Sanad pertama [dari jalan Aliy bin Ibrahim] semua para perawinya tsiqat hanya saja mengandung illat [cacat] yaitu Muhammad bin Iisa dalam riwayatnya dari Yunus tidak bisa dijadikan hujjah jika tafarrud. Tetapi sanad pertama ini telah dikuatkan oleh sanad kedua yang kedudukannya shahih berdasarkan standar ilmu Rijal Syi’ah. Berikut keterangan mengenai para perawinya

  1. Muhammad bin Yahya Al Aththaar seorang yang tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 353 no 946]
  2. Ahmad bin Muhammad bin Iisa Al Qummiy adalah seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 351]
  3. Muhammad bin Khalid dikatakan Najasyiy bahwa ia dhaif dalam hadis [Rijal An Najasyiy hal 335 no 898] tetapi ia dinyatakan tsiqat oleh Syaikh Ath Thuusiy [Rijal Ath Thuusiy hal 363]. Dan dalam sanad ini ia telah dikuatkan oleh Husain bin Sa’id bin Hammaad seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 355]
  4. Nadhr bin Suwaid seorang yang tsiqat dan shahih al hadis [Rijal An Najasyiy hal 427 no 1147]
  5. Yahya bin ‘Imran bin ‘Aliy Al Halabiy seorang yang tsiqat tsiqat shahih al hadis [Rijal An Najasyiy hal 444 no 1199]
  6. Ayub bin Al Hurr seorang yang tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 103 no 256] dan dalam sanad ini ia dikuatkan oleh ‘Imran bin ‘Aliy Al Halabiy seorang yang tsiqat sebagaimana disebutkan Najasyiy dalam biografi Ahmad bin ‘Umar bin Abi Syu’bah Al Halabiy [Rijal An Najasyiy hal 98 no 245]
  7. Abu Bashiir adalah Abu Bashiir Al Asdiy Yahya bin Qasim seorang yang tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 441 no 1187]

Berdasarkan pembahasan di atas maka terbukti bahwa hadis Kisa’ dengan sanad yang shahih memang terdapat dalam kitab Syi’ah yaitu Al Kafiy Al Kulainiy oleh karena itu sungguh dustalah tuduhan para pembenci Syi’ah yang mengatakan bahwa Syi’ah tidak memiliki hadis Kisa’ yang shahih dalam kitab mereka. Dan hadis diatas tidak hanya menunjukkan keshahihan hadis kisa’ di sisi mazhab Syi’ah tetapi juga menunjukkan shahihnya hadis Ahlul Bait sebagai Ulil Amri, Hadis Ghadir Khum dan Hadis Tsaqalain.

Syiah di Masa Para Imam

Artikel ini kami kutip dari : http://ejajufri.wordpress.com/2013/07/02/syiah-masa-para-imam-ahlulbait/#more-8888

====================================

Berlepas diri dari agresor seperti Israel (khamenei.ir)

Dalam sahih Bukhari, Rasulullah saw. bersabda bahwa setelah kepergiannya akan ada dua belas pemimpin yang bertugas untuk menjaga agama Islam. Beberapa ulama ahlusunah kesulitan untuk menjelaskan maksud sabda tersebut,[1] sementara ada pula yang memaksakan beberapa tokoh tidak layak, seperti Yazid, sebagai salah satu dari dua belas pemimpin yang dimaksud. Syiah Imamiah[2] sejak awal yakin bahwa dua belas orang yang dimaksud adalah para imam ahlulbait nabi saw.

Selama ribuan tahun hingga kini, keyakinan tersebut membuat para pengikut mereka yang disebut Syiah harus melewati permusuhan bahkan pembunuhan. Sejak dari Madinah hingga Karbala, mulai dari Manama hingga Sampang. Namun tentu saja, apa yang dialami oleh para pengikut Syiah tidak akan pernah sebanding dengan apa yang dialami oleh para imam Syiah. Para imam ahlulbait tersebut tidak hanya mengalami perlawanan secara fisik—dalam catatan sejarah, sebelas imam ahlulbait dibunuh—tapi yang lebih penting adalah perlawanan terhadap risalah Islam Muhammadi yang mereka sampaikan.

Tulisan Syekh Ali Agha-Nuri[3] berikut ini menjelaskan perjalanan kondisi Syiah di masa para imam ahlulbait, yang sejarahnya tidak hanya penting bagi para pengikut Syiah sendiri, tapi juga bagi para kelompok yang anti terhadap Syiah. Hal tersebut dikarenakan dalam tulisan ini juga akan dijelaskan tentang bagaimana Syiah terpecah menjadi beberapa golongan—yang di antaranya keluar dari garis keislaman—serta munculnya riwayat-riwayat ganjil yang sering kali digunakan oleh kelompok anti-Syiah untuk menertawakan Syiah.

Berbagai bentuk tekanan politik

Kehidupan para imam Syiah merupakan batu sandungan bagi banyak khalifah Umayyah dan Abbasiah yang berusaha untuk menjaga kekuatan politik mereka. Beragam cara dilakukan mulai dari ancaman, pembunuhan, hingga menciptakan kelompok-kelompok yang nantinya menyebabkan perbedaan ideologi di masyarakat Islam. Beberapa metode yang mereka lakukan, antara lain:

  1. Melenyapkan dan mengusik para ulama dan orang-orang yang menentang khalifah baik secara politik maupun pemikiran.
  2. Mempromosikan berbagai pendapat teologi tentang takdir; menentang kelompok Qadriyyah; dan memperkuat ideologi Murjiah.
  3. Menyatakan bahwa adu pendapat sama saja dengan kekafiran dan merupakan sebuah perbuatan buruk; lebih dari itu, mereka menghancurkan ruang adu pendapat.
  4. Menciptakan kebiasaan (sunah) baru dan mengkultuskan sunah para sahabat.
  5. Menempa riwayat tentang kebaikan para khalifah, memperkuat pondasi kekhalifahan, dan menciptakan sunah palsu.
  6. Melawan ahlulbait dan pengikutnya dengan gigih serta menciptakan kelompok-kelompok di antara mayoritas Syiah.

Dinasti Umayyah dan Abbasiah menganggap Syiah sebagai musuh ideologi-politik terbesar. Syiah pun terpecah ke dalam beberapa kelompok seperti Fatimi, Kisani, Zaidi, Ismaili, Waqifi, Qa’ti, dan lainnya yang terpisah dari jalan Syiah Dua Belas Imam. Akibat dari kebijakan dinasti yang dialami oleh ahlulbait dan pengikutnya pada masa itu dapat disimpulkan dari ucapan Imam Baqir dan pidato Zaid bin Ali. Imam mengatakan, para pengikut ahlulbait berada dalam tekanan yang sedemikian rupa, sehingga pada masa itu, seorang zindik atau kafir akan lebih aman dibandingkan seorang pengikut Syiah.

Tekanan yang dialami oleh para Imam Syiah dan pengikutnya—khususnya pada masa Abbasiah—memaksa mereka untuk melakukan taqiyah. Para imam juga sedemikian ditekan sehingga mereka tidak mampu secara efektif untuk menguasai para pengikutnya yang tersebar di berbagai daerah. Hal tersebut juga menyebabkan beberapa hal, seperti:

  1. Terbentuknya berbagai kelompok di antara Syiah sejati.
  2. Terbentuknya dua cabang dari para sayid Alawi: Hasani dan Husaini.
  3. Kebingungan di kalangan para sahabat imam terkait karakteristik dan identitas imam yang sebenarnya.
  4. Rencana-rencana klaim sebagai Mahdi dan keabadian para imam.

Perpecahan tersebut juga menciptakan persaingan hebat di kalangan internal Syiah. Menurut Nawbakhti, peneliti kelompok Syiah paling masyhur, setiap kelompok Syiah, atau kelompok-kelompok yang dinisbatkan dengan Syiah, akan menganggap kelompok Syiah lainnya sebagai kafir, musyrik, dan halal untuk dibunuh.

Kemunculan kelompok ekstrimisme dan ghulat

Gerakan ekstrimisme dan ghulat merupakan salah satu gerakan paling sulit dan berbahaya yang dihadapi oleh para imam Syiah. Citra negatif yang muncul dari kelompok ini terlihat dari perlawanan para imam terhadap ideologi ini. Kelompok ini sangat berbahaya karena mereka menganggap diri mereka sendiri sebagai pendukung ahlulbait. Mereka bahkan melekatkan sifat-sifat yang tidak layak kepada para imam.

Perbuatan dan ucapan kelompok ghulat ini telah merusak citra para imam dan Syiah di kalangan awam. Tapi gerakan ini tidak dapat dijelaskan secara tepat karena perbedaan pendapat di kalangan ulama Syiah tentang esensi dan bentuk ghulat dan pernyataan berlebihan dari para ulama anti-Syiah tentang jumlah kelompok Syiah dan Syiah ghulat. Misalnya, perbedaan ulama Qom—seperti Syekh Shaduq—dan ulama Baghdad—seperti Syekh Mufid—terkait dengan karakteristik agung para nabi dan imam. Kedua kelompok ini juga memiliki kriteria tersendiri untuk menentukan apa sebuah kelompok dianggap ghulat atau tidak.

Namun para imam Syiah sangat sensitif terhadap para kelompok ghulat. Misalkan, Imam Sajjad a.s. pernah berkata, “Jika sekelompok dari Syiah kami begitu mencintai kami sehingga mereka berkata tentang kami sebagaimana kaum Yahudi berkata tentang Uzair dan kaum Kristiani berkata tentang Yesus putra Mariam, maka mereka bukanlah dari kami dan kami bukanlah dari mereka.”

Pemalsuan, infiltrasi, dan distorsi riwayat

Kontradiksi dan ambiguitas dalam riwayat; tidak adanya penjelasan kondisi yang disebutkan dalam riwayat; dan yang lebih penting, kejahatan pemalsuan riwayat telah menciptakan kebingungan beberapa pengikut tentang realitas tugas dan kewajiban agama. Wajar jika para imam tidak dapat menjadi sangat aktif dan bebas terhadap (penjagaan) riwayat, yang merupakan penjelas Quran dan pengurai agama. Hal ini dikarenakan lingkungan politik dan teologis dari taqiyah yang ada masa itu.

Paling penting adalah bahwa pemalsuan, infiltrasi, dan distorsi riwayat ini dibenarkan oleh para imam. Masalah-masalah penisbatan riwayat kepada para imam, sekalipun di masa kehidupan mereka, tidak dapat diabaikan. Imam Jafar berkata, “Janganlah kalian menerima sebuah riwayat atas nama kami kecuali ia sesuai dengan Quran dan sunah atau jika kalian mendapati riwayat kami sebelumnya yang membenarkan hal tersebut…” Imam Ridha juga berkata, “Janganlah kalian menerima sebuah riwayat atas nama kami yang bertentangan dengan Quran, karena kapanpun kami mengatakan sesuatu maka ia akan sesuai dengan Quran dan sunah…”

Tapi pada periode-periode berikutnya, melalui usaha tak kenal lelah para imam dan sahabatnya begitu juga dengan para muhadis dan teolog Syiah, riwayat yang benar dapat dibedakan dari riwayat-riwayat yang batil. Meski demikian, banyak para ulama senior Syiah yang percaya bahwa seseorang tidak dapat membaca kitab-kitab riwayat Syiah dan tafsir Qurannya jika tidak memiliki ketenangan pikiran yang sempurna.

Referensi:

[1] ^ Ibnu Al-’Arabi dalam Syarh Shahîh Attirmidzî mengatakan, “Saya tidak memahami makna hadis ini.” Sementara Ibnu Hajar dalam Fath Albâri menyatakan, “Tidak seorang pun mengerti tentang hadis ini. Tidak benar jika dikatakan bahwa kehadiran mereka pada waktu yang bersamaan.”

[2] ^ Syiah yang dimaksud dalam tulisan dan blog ini secara umum, merujuk pada Syiah Dua Belas Imam atau Jafari. Bukan kelompok lain yang kemudian dinisbatkan kepada Syiah.

[3] ^ Ali Agha-Nuri. “The Shia Imams and Muslim Unity.” Al-Taqrîb: A Journal of Islamic Unity. Number 7. Nov 2010. The World Forum for Proximity of Islamic Schools of Thought.