Inilah Kesesatan (Agama) Syi’ah ? Inilah Bukti Kesesatan Syi’ah ? Biarkan Syi’ah Bercerita Tentang Kesesatan Agamanya ?Inilah Bukti Kesesatan Syi’ah: Di Antara Kesesatan Ajaran Sekte Syi’ah ?

Di Antara Kesesatan Ajaran Sekte wahabi yakni mereka tidak paham tentang syi’ah

Silahkan Bergabung dengan Kami !

Kunjungi Kami di sini

Meluruskan Sejarah Menguak Tabir Fitnah Wahabi

Sunni dan wahabi tidak memahami bahwa ada perawi syi’ah yang menukil riwayat & khabar melalui Ijazah bukan dengan musyafahah dan munawalah, bukan dengan sima’ langsung.

Subhanallah. Sungguh keddngkian hati busuk itu rasanya sulit dicarikan obatnya.Labaika Ya Husain

Ibnu Thawus Meriwayatkan Langsung Dari Ibnu Khayyath? : Ulah Pencela Yang Menggelikan

Salah satu situs pencela Syi’ah yang gemar memfitnah Syiah membuat tulisan yang berjudul : Menggelikan, Ibnu Thawus meriwayatkan langsung dari Ibnu Khayath?. Tulisan tersebut cukup menarik hanya saja terlalu tendensius dan ujung-ujungnya ia cuma mau bilang “inilah agama syiah dengan segala kontradiksi, keanehan dan kebathilan menjadikannya nampak sebagai agama buatan manusia-manusia hina”.

Kami hanya bisa geleng-geleng melihat perkataan hina seperti ini. Nampaknya manusia satu ini terlalu besar kepala dan tidak akrab dengan kitab-kitab hadis dan rijal Ahlus Sunnah. Kami akan membuat sedikit catatan atas tulisannya dan menunjukkan bahwa dalam kitab hadis kami ahlus sunnah juga terdapat keanehan seperti itu. Jika manusia itu merasa dirinya ahlus sunnah mungkin ada baiknya ia menjaga lisannya yang kotor karena dapat meracuni dirinya sendiri.

Sayyid Ibnu Thawus salah seorang Ulama Syiah meriwayatkan dalam kitabnya Muhaj Ad Da’waat, doa untuk amirul mukminin Aliy bin Abi Thalib yang dikenal dengan doa Al Yamaniy.

و من ذلك دعاء لمولانا أمير المؤمنين علي ع المعروف بدعاء اليماني
أخبرنا أبو عبد الله الحسين بن إبراهيم بن علي القمي المعروف بابن الخياط

Dan dari Doa untuk maula kami Amirul Mukminin Aliy yang dikenal dengan doa Al Yamaniy
Telah mengabarkan kepada kami Abu ‘Abdullah Husain bin Ibrahiim bin Aliy Al Qummiy yang dikenal dengan Ibnu Khayyaath…[Muhaj Ad Da’waat hal 137-138]

Sayyid Ibnu Thawus lahir tahun 589 H dan Ibnu Khayyath termasuk guru Syaikh Ath Thuusiy sedangkan Syaikh Ath Thuusiy sendiri wafat tahun 460 H. Jadi Ibnu Thawus jelas tidak mungkin bertemu langsung dengan Ibnu Khayyath karena ketika Ibnu Thawus lahir, Ibnu Khayyath sudah lama wafat.

Oleh karena itulah pencela yang dimaksud menjadikan hal ini sebagai celaan terhadap mazhab Syiah. Dan ia tidak menyadari kalau celaannya jauh lebih berat dari perkara yang dipermasalahkan. Perkara ini tidaklah luput dari pandangan Ulama Syiah. Sudah ada ulama Syiah yang berkomentar mengenai perkara ini, Sayyid Aliy Asy Syahruudiy berkomentar dalam biografi Husain bin Ibrahiim Al Qummiy

ما قاله السيد بن طاووس في المهج ص 105 في نقله دعاء الحرز اليماني: أخبرنا أبو عبد الله الحسين بن إبراهيم بن علي القمي المعروف بابن الخياط قال أخبرنا أبو محمد هارون بن موسى التلعكبري – الخ فان السيد بن طاووس هذا توفي سنة 673 والشيخ توفي سنة 460 وبينهما 213 سنة والتلعكبري توفي سنة 385. إلا أن يحمل كلام السيد على الاخبار بالإجازة لا بالمشافهة والمناولة

Apa yang dikatakan Sayyid Ibnu Thawus dalam Muhaj hal 105 dalam nukilannya tentang doa Al Yamaniy “Telah mengabarkan kepada kami Abu ‘Abdullah Husain bin Ibrahiim bin Aliy Al Qummiy yang dikenal Ibnu Khayyath yang berkata telah mengabarkan kepada kami Abu Muhammad Haruun bin Muusa At Tal’akbariy, Sayyid Ibnu Thawus wafat tahun 673 H dan Syaikh [Ath Thuusiy] wafat tahun 460 H  antara keduanya ada 213 tahun, At Tal’akbariy wafat pada tahun 385 H. Maka kemungkinan perkataan Sayyid disini adalah khabar melalui Ijazah bukan dengan musyafahah dan munawalah [Mustadrak Ilm Rijal 3/73 no 4103 Syaikh Ali Asy Syahruudiy]

Ini adalah pembelaan yang dilakukan oleh Ulama Syiah, tidak masalah jika pencela tersebut tidak menerimanya karena tujuan tulisan ini memang bukan untuk membuat pencela itu percaya. Tulisan ini hanya menunjukkan bagaimana pandangan mazhab Syiah terhadap masalah ini.

Apa yang dinukil oleh Syaikh Ali Asy Syahruudiy itu memiliki qarinah yang menguatkan yaitu perkataan Sayyid Muhsin Amin dalam A’yan Asy Syiiah ketika menyebutkan Husain bin Ibrahim Al Qummiy

ويروي عن أبي محمد هارون بن موسى التلعكبري ويروي الشيخ الطوسي عنه. وكثيرا ما يعتمد على كتبه ورواياته السيد ابن طاووس وينقلها في كتاب مهج الدعوات وغيره

Ia meriwayatkan dari Abu Muhammad Haruun bin Muusa At Tal’akbariy dan telah meriwayatkan darinya Syaikh Ath Thuusiy. Sayyid Ibnu Thawus banyak berpegang dengan tulisannya dan riwayatnya dan ia menukilnya dalam kitab Muhaj Ad Da’waat dan yang lainnya. [A’yan Asy Syiah 5/414 Sayyid Muhsin Al ‘Amin]

Maka disini terdapat isyarat yang menyatakan bahwa Sayyid Ibnu Thawus menukil riwayat dari Ibnu Khayyath dalam Kitab Muhaj Ad Da’waat bukan dengan sima’ langsung.

Qarinah lain adalah jika kita melihat metode penulisan Sayyid Ibnu Thawus dalam kitabnya Muhaj Ad Da’waat maka nampak bahwa terkadang Sayyid Ibnu Thawus menukil sanad-sanad doa tersebut dari Kitab bukan dengan sima’ langsung. Contohnya adalah sebagai berikut

و منها دعاء العهد
قال حدثنا محمد بن علي بن رقاق القمي أبو جعفر قال حدثنا أبو الحسن محمد بن علي بن الحسن بن شاذان القمي قال حدثنا أبو جعفر محمد بن علي بن بابويه القمي

Dan dari Doa Al ‘Ahd
Berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Aliy bin Riqaaq Al Qummiy Abu Ja’far yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Hasan Muhammad bin ‘Aliy bin Hasan bin Syadzaan Al Qummiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Ja’far Muhammad bin ‘Ali bin Babawaih Al Qummiy…[Muhaj Ad Da’waat hal 398]

Lafaz di atas seolah-olah Sayyid Ibnu Thawus mendengar secara langsung dari Muhammad bin ‘Aliy bin Riqaaq Al Qummiy padahal kenyataannya tidak demikian. Sebenarnya Sayyid Ibnu Thawus menukil riwayat tersebut dari Kitab. Dalam doa sebelumnya disebutkan

وجدت في كتاب مجموع بخط قديم ذكر ناسخه و هو مصنفه أن اسمه محمد بن محمد بن عبد الله بن فاطر من رواه عن شيوخه فقال ما هذا لفظه حدثنا محمد بن علي بن رقاق القمي قال حدثنا أبو الحسن محمد بن أحمد بن علي بن الحسن بن شاذان القمي عن أبي جعفر محمد بن علي بن الحسين بن بابويه القمي

Terdapat dalam kitab Majmuu’ dengan tulisan tangan, disebutkan dalam naskah penulisnya bernama Muhammad bin Muhammad bin ‘Abdullah bin Faathir dari riwayatnya dari para Syaikh-nya, dan ini lafaznya, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Aliy bin Riqaaq Al Qummiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Hasan Muhammad bin Ahmad bin ‘Aliy bin Hasan bin Syadzaan Al Qummiy dari Abu Ja’far Muhammad bin ‘Aliy bin Husain bin Babawaih Al Qummiy…[Muhaj Ad Da’waat hal 397]

Maka disini dapat dipahami bahwa sebenarnya Sayyid Ibnu Thawus menukil riwayat dari Ibnu Khayyaath dari Kitab atau Ijazah walaupun nama kitab tersebut tidak disebutkan dalam kitab Mu’haj Ad Da’waat. Bisa jadi Ibnu Thawus memang tidak menyebutkannya atau terjadi kesalahan [tashif] sehingga bagian yang menyebutkan nama Kitabnya hilang. Wallahu A’lam.

.

Perkara seperti ini bukanlah barang baru dalam kitab Rijal dan kitab Hadis. Mereka yang akrab dengan hadis dan ilmu Rijal [ahlus sunnah] akan menemukan fenomena seperti ini. Yaitu dimana lafaz sima’ langsung antara dua perawi ternyata keliru karena berdasarkan tahun lahir dan wafat keduanya tidak memungkinkan untuk bertemu. Adanya fenomena seperti ini tidaklah membuat Ahlus sunnah dikatakan agama yang mengandung kontradiksi, kebathilan, keanehan yang merupakan buatan manusia-manusia hina. Orang yang berpandangan demikian hanyalah menunjukkan kejahilan atau kebencian yang menutupi akal pikirannya. Berikut contoh perkara yang sama dalam kitab Ahlus Sunnah

Al Kamil Juz 8

Abdullah bin Adiy Abu Ahmad Al Jurjaniy salah seorang ulama ahlus sunnah menyebutkan dalam kitabnya Al Kamil Fii Adh Dhu’afa

أخبرنا علي بن المثنى ثنا الوليد بن القاسم عن مجالد عن أبي الوداك عن أبي سعيد ان رسول الله صلى الله عليه وسلم قال

Telah mengabarkan kepada kami ‘Aliy bin Al Mutsanna yang berkata telah menceritakan kepada kami Al Waliid bin Qaasim dari Mujalid dari Abul Wadaak dari Abu Sa’id bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda…[Al Kamil Ibnu Adiy 8/367 biografi Walid bin Qaasim]

Al Kamil juz 8 hal 368

Ibnu Adiy seorang imam hafizh, Adz Dzahabiy menyebutkan biografinya dalam As Siyaar dan berkata

مولده في سنة سبع وسبعين ومائتين ، وأول سماعه كان في سنة تسعين ، وارتحاله في سنة سبع وتسعين

Ia lahir pada tahun 277 H, pertama mendengar hadis pada tahun 290 H dan memulai perjalanan pada tahun 297 H [As Siyaar Adz Dzahabiy 16/154]

Mengenai Aliy bin Al Mutsanna, Ibnu Hajar menyebutkan biografinya dalam Tahdzib At Tahdzib dan menyebutkan

وقال الحضرمي مات سنة ست وخمسين ومائتين

Al Hadhramiy berkata “ia wafat tahun 256 H” [At Tahdzib Ibnu Hajar juz 7 no 611]

Berdasarkan tahun lahir dan tahun wafat didapatkan bahwa Ibnu Adiy baru lahir 21 tahun setelah wafatnya Aliy bin Al Mutsanna Ath Thahawiy, lantas bagaimana bisa dikatakan bahwa ia berkata “telah mengabarkan kepada kami ‘Aliy bin Mutsanna”

.

.

Ada contoh lain yang menunjukkan bahwa tashrih penyimakan hadis ternyata tidak benar dan hadis tersebut munqathi’. Perhatikan riwayat Ahmad bin Hanbal berikut

حدثنا عبد الله قال حدثني أبى ثنا بهز ثنا همام ثنا قتادة حدثني عزرة عن الشعبي ان الفضل حدثه

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Bahz yang berkata telah menceritakan kepada kami Hamaam yang berkata telah menceritakan kepada kami Qatadah yang berkata telah menceritakan kepadaku ‘Azrah dari Asy Sya’biy bahwa Fadhl menceritakan kepadanya…[Musnad Ahmad 1/213 no 1829]

Ahmad bin Hanbal memasukkan hadis ini dalam Musnad Fadhl bin ‘Abbas. Para perawinya tsiqat sampai ke Asy Sya’biy dan Asy Sya’biy sendiri dikenal tsiqat tetapi ia mustahil mendengar hadis dari Fadhl bin ‘Abbas.

الفضل بن العباس بن عبد المطلب الهاشمي صحب النبي صلى الله عليه وسلم مات في عهد أبي بكر

Al Fadhl bin ‘Abbas bin ‘Abdul Muthallib Al Haasyimiy sahabat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] wafat di masa Abu Bakar [Tarikh Al Kabir Bukhari juz 7 no 502]

Ibnu Sa’ad menyebutkan dalam biografi Fadhl bin ‘Abbas bahwa ia wafat pada tahun 18 H di masa Umar bin Khaththab. Yang mana pun yang rajih, Asy Sya’bi jelas tidak menemui masa hidup Fadhl bin ‘Abbas. Menurut pendapat yang rajih Asy Sya’bi lahir pada masa Utsman bin ‘Affan

قَالَ الْحَجَّاجُ بْنُ مُحَمَّدٍ , سَمِعْتُ شُعْبَةَ ، يَقُولُ : سَأَلْتُ أَبَا إِسْحَاقَ ، قُلْتُ : ” أَنْتَ أَكْبَرُ أَمِ الشَّعْبِيُّ ؟ قَالَ : الشَّعْبِيُّ أَكْبَرُ مِنِّي بِسَنَةٍ أَوْ سَنَتَيْنِ “

Hajjaj bin Muhammad berkata aku mendengar Syu’bah berkata “aku bertanya pada Abu Ishaq” aku berkata “engkau yang lebih tua atau Asy Sya’biy”. Ia berkata “Asy Sya’biy lebih tua dariku setahun atau dua tahun [Thabaqat Ibnu Sa’ad 6/266]

Abu Ishaq As Sabi’iy lahir dua tahun akhir masa Utsman bin ‘Affan [As Siyar Adz Dzahabiy 5/393] makaAsy Sya’bi lahir kemungkinan lahir tahun 31 atau 32 H. Jadi ketika Asy Sya’biy lahir Fadhl bin ‘Abbas sudah wafat 14 tahun sebelumnya. Bagaimana mungkin Asy Sya’biy mengatakan “telah menceritakan kepadanya Fadhl”.

Kedua contoh di atas cukup sebagai bukti bahwa perkara yang dipermasalahkan pencela tersebut juga ada pada mazhab Ahlus Sunnah. Jika ia bersikeras menjadikan perkara ini sebagai celaan terhadap mazhab Syiah maka pada hakikatnya ia juga mencela mazhab Ahlus Sunnah. Kami memang bukan Syiah tetapi kami sangat tidak suka dengan ulah orang-orang jahil yang gemar memfitnah. Akhir kata silakan para pembaca pikirkan apakah pantas suatu mazhab dikatakan agama hina karena perkara ini?.

See full size image

Sunni dan wahabi tidak memahami bahwa ada nukilan ulama Syi’ah senior yang tidak tsabit karena bersumber dari naskah yang mengandung banyak kesalahan

Kitab Sampah Syiah : Irsyadul Qulub Atau Kitab Sampah Sunni : Tarikh Ibnu Asakir?

Judul ini sifatnya satir, disesuaikan dengan tulisan para pencela. Karena mereka sudah terbiasa menggunakan bahasa racun maka ada baiknya mereka diobati dengan racun pula. Tulisan ini berusaha menindaklanjuti tulisan salah seorang pencela yang menuduh Syiah sebagai agama yang busuk, dungu dan sarat penipuan. Kami heran dengan orang satu ini, ia berhujjah dengan hujjah yang lemah tetapi bahasanya malah terlalu hina. Alangkah baiknya ia segera sadar diri dan menjaga lisannya.

Banyak para pengkritik Syiah, rata-rata mereka cuma tukang fitnah dan kaum jahil, biasanya bahasa mereka memang hina tetapi ada juga kami temukan pengkritik Syiah dengan hujjah yang layak dengan bahasa yang tidak menyakitkan, yang model begini masuk dalam referensi kami sebagai para pencari kebenaran [secara kami masih meneliti kebenaran dari ahlus sunnah dan juga syiah]. Kami tidak butuh bahasa busuk, kami butuh kebenaran dengan hujjah yang kuat.

.

.

Pencela [dengan lisan hina] yang kami maksud membuat tulisan yang menghina salah satu kitab ulama Syiah yaitu kitab Irsyadul Qulub oleh Hasan bin Abi Hasan Ad Dailamiy, dimana dalam kitabnya disebutkan lafaz

وذكره المجلسي رحمه الله في المجلّد التاسع من كتاب بحار الأنوار، والسيد البحراني في كتاب مدينة المعاجز

Dan disebutkan oleh Al Majlisi [rahimahullah] dalam jilid kesembilan kitab Bihar Al Anwar dan Sayyid Al Bahraniy dalam kitab Madiinatul Ma’ajiz…[Irsyadul Qulub 2/265 Ad Dailamiy, terbitan Mu’assasah Al A’lami Li Al Mathbu’ah Beirut Libanon]

irsyadulqulub-1irsyadulqulub-2

Pencela itu mengatakan Ad Dailamiy wafat pada tahun 841 H sedangkan Al Majlisi lahir tahun 1037 H dan wafat 1111 H kemudian Sayyid Al Bahraniy wafat tahun 1107 H. Bagaimana bisa Ad Dailamiy menukil dari mereka berdua padahal ketika ia wafat mereka berdua saja belum lahir?. Selanjutnya pencela itu menyatakan itulah agama Syiah penuh kebathilan dan kepalsuan, tidaklah recehannya kecuali kotoran di dalam kotoran.

.

.

.

Kami meneliti perkara ini dan ternyata hasilnya menunjukkan kalau pencela itu memang jahil dan kejahilan ini muncul karena terburu-buru dalam mencela. Perkara ini ternyata telah diteliti oleh salah seorang ulama Syiah yaitu Sayyid Haasyim Al Miilaaniy, ia adalah pentahqiq kitab Irsyadul Qulub Ad Dailamiy

Sayyid Haasyim Al Miilaniy dalam muqaddimah tahqiq-nya menyebutkan bahwa nukilan yang menyebutkan Al Majlisi dan Sayyid Al Bahraniy hanya ada dalam naskah kitab yang dicetak oleh Mansyurat Syarif Radhiy

وأيضاً فقد ذُكر في الجزء الثاني في النسخة المطبوعة في منشورات الرضي بعد ذكر حديث يرفعه إلى الشيخ المفيد وذكره المجلسي رحمه الله في المجلّد التاسع من كتاب بحار الأنوار ، والسيد البحراني في كتاب مدينة المعاجز

Dan telah disebutkan dalam juz kedua dalam naskah yang dicetak oleh Mansyuurat Ar Radhiy, setelah menyebutkan hadis yang dirafa’kan oleh Syaikh Mufiid “dan disebutkannya oleh Al Majlisi [rahimahullah] dalam jilid kesembilan kitab Bihar Al Anwar dan Sayyid Al Bahraniy dalam kitab Madiinatul Ma’aajiz [Irsyadul Qulub Ad Dailamiy 1/16 tahqiq Sayyid Haasyim Al Milaaniy]

Kemudian Sayyid Haasyim Al Miilaaniy menyatakan bahwa nukilan ini tidak terdapat dalam naskah yang dijadikan pegangannya dalam tahqiq kitab sehingga ia menyatakan dengan jelas bahwa nukilan ini adalah tambahan dari ushul kitab Irsyadul Qulub [intinya bukanlah perkataan Ad Dailamiy].

وكذلك الحال بالنسبة إلى قوله : ( وذكره المجلسي رحمه الله في المجلّد التاسع من كتاب بحار الأنوار ، والسيد البحراني في كتاب مدينة المعاجز . . . ) فنحن نجزم بعدم كون هذه الجملة من أصل الكتاب ؛ لعدم ورودها في النسخ التي اعتمدنا عليها في تحقيق الكتاب

Dan begitu pula keadannya dengan perkataan (dan disebutkannya oleh Al Majlisi [rahimahullah] dalam jilid kesembilan kitab Bihar Al Anwar dan Sayyid Al Bahraniy dalam kitab Madiinatul Ma’aajiz…). Maka kami menegaskan bahwa ini adalah penambahan dari ushul kitab karena tidak ada dalam naskah yang kami jadikan pegangan dalam tahqiq kitab [Irsyadul Qulub Ad Dailamiy 1/16 tahqiq Sayyid Haasyim Al Milaaniy]

Ada beberapa naskah Irsyadul Qulub Ad Dailamiy berdasarkan tahqiq dari Sayyid Haasyim Al Milaaniy yaitu

  1. Naskah yang disimpan dalam perpustakaan Imam Ridha di Masyhad no 14372
  2. Naskah yang disimpan di Madrasah Syahiid Muthahhariy di Teheran no 5286
  3. Naskah yang disimpan dalam perpustakaan Ayatulah Uzhma Sayyid Mar’asyiy An Najafiy no 577
  4. Naskah yang dicetak oleh Mansyuurat Syarif Radhiy

Hanya Naskah yang keempat inilah yang memuat nukilan Majlisi dan Sayyid Al Bahraniy dan naskah ini dikatakan oleh Sayyid Haasyim Al Milaaniy

وهي نسخة كثيرة الأخطاء والأغلاط

Dan naskah ini memiliki banyak kesalahan dan kekeliruan [Irsyadul Qulub Ad Dailamiy 1/19 tahqiq Sayyid Haasyim Al Milaaniy]

Irsyadul Qulub

Irsyadul Qulub juz 2 hal 147

Maka kesimpulannya nukilan Al Majlisi dan Sayyid Al Bahraniy tersebut tidak tsabit oleh karena itu dalam kitab Irsyadul Qulub Ad Dailamiy tahqiq Sayyid Haasyim Al Milaaniy [perhatikan di atas] tidak ada nukilan tersebut karena bersumber dari naskah yang mengandung banyak kesalahan dan tidak ada dalam naskah yang dijadikan pegangan serta bertentangan dengan fakta sejarah.

.

.

.

Fenomena seperti ini ternyata juga ditemukan dalam kitab ulama ahlus sunnah, diantaranya kitab Tarikh Ibnu Asakir. Ibnu Asakir memasukkan dalam kitabnya Tarikh Dimasyiq 58/13 no 7381 biografi Mas’ud bin Muhammad bin Mas’ud Abu Ma’aaliy An Naisabury seorang faqih mazhab syafi’iy yang dikenal sebagai Al Quthb, dimana tertulis

وسمع الحديث بنيسابور من شيخنا أبي محمد هبة الله بن سهل السيدي وغيره

Ia mendengar hadis di Naisabur dari Syaikh [guru] kami Abu Muhammad Hibbatullah bin Sahl As Sayyidiy dan selainnya

Abu Muhammad Hibbatullah bin Sahl memang dikenal sebagai guru Ibnu Asakir sebagaimana disebutkan Adz Dzahabiy [As Siyaar 20/14]. Maka tidak diragukan bahwa lafaz tersebut adalah perkataan Ibnu Asakir dan pada akhir biografi Mas’ud bin Muhammad disebutkan

مات رحمه الله آخر يوم من شهر رمضان سنة ثمان وسبعين وخمسمائة

Ia wafat [rahimahullah] pada akhir bulan Ramadhan tahun 578 H

Tarikh Ibnu Asakir juz 58

Tarikh Ibnu Asakir juz 58 hal 13

Tarikh Ibnu Asakir juz 58 hal 14

Apa masalahnya?. Ibnu Asakir disebutkan oleh Ibnu ‘Imaad Al Hanbaliy bahwa ia wafat pada tahun 571 H [Syadzrat Adz Dzahab 7/395]. Adz Dzahabiy juga menyebutkan demikian dalam biografi Ibnu Asakir

توفي في رجب سنة إحدى وسبعين وخمسمائة ليلة الاثنين حادي عشر الشهر ، وصلى عليه القطب النيسابوري

[Ibnu Asakir] wafat pada bulan Rajab tahun 571 H pada malam senin tanggal 11, dan ia dishalatkan oleh Al Quthb An Naisaburiy [As Siyaar Adz Dzahabiy 20/571]

Bagaimana mungkin orang yang wafat tahun 571 H bisa menulis biografi seseorang dimana ia menyebutkan bahwa orang tersebut wafat tahun 578 H?. Bisa saja dikatakan bahwa hal ini termasuk kesalahan naskah atau tambahan dari ushul kitab, kami tidak ada masalah dengan itu. Sebenarnya yang justru bermasalah adalah pencela jahil yang seenaknya menyatakan kitab ulama mazhab lain sampah padahal kitab ulama mazhab-nya ternyata sama saja dengan kitab yang ia katakan sampah. Manakah yang sampah dalam perkara ini, kitab Irsyadul Qulub Ad Dailamiy atau kitab Tarikh Ibnu Asakir?. Jawabannya yang sampah itu ya perkataan pencela tersebut.

.

Note : Kitab Irsyadul Qulub di atas ada dua macam, yang pertama diambil dari situs pencela tersebut dan yang kedua dari salah satu situs syiah yaitu alhassanain.org

File:No understand.jpg
Adanya riwayat-riwayat aneh yang ternukil dalam kitab syi’ah karena kedudukannya dhaif di sisi Syiah ! Itu bukan pegangan kami

Penghinaan Syiah Terhadap Allah : Aah Termasuk Nama Allah?

Adanya riwayat-riwayat aneh yang ternukil dalam kitab suatu mazhab adalah hal biasa. Yang tidak biasa adalah menisbatkan riwayat tersebut seolah-olah itu menjadi keyakinan yang diakui kebenarannya dalam mazhab yang dimaksud. Mereka yang tidak mengerti dan menisbatkan kedustaan dengan berbagai riwayat dhaif dan dusta terhadap suatu mazhab adalah orang-orang jahil. Begitulah yang dilakukan salah seorang pencela berikut terhadap Syiah. Ia menukil riwayat

حدثنا أبو عبد الله الحسين بن أحمد العلوي، قال: حدثنا محمد بن همام، عن علي ابن الحسين، قال: حدثني جعفر بن يحيى الخزاعي، عن أبي إسحاق الخزاعي، عن أبيه، قال: دخلت مع أبي عبد الله عليه السلام على بعض مواليه يعوده فرأيت الرجل يكثر من قول ” آه ” فقلت له: يا أخي أذكر ربك واستغث به فقال أبو عبد الله: إن ” آه ” اسم من أسماء الله عز وجل فمن قال: ” آه ” فقد استغاث بالله تبارك وتعالى

Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Abdullah Husain bin Ahmad Al ‘Alawiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Hamaam dari Aliy bin Husain yang berkata telah menceritakan kepada kami Ja’far bin Yahya Al Khuza’iy dari Abu Ishaq Al Khuza’iy dari Ayahnya yang berkata “aku masuk bersama Abu Abdullah [‘alaihis salam] kepada sebagian mawali-nya dan aku melihat seorang laki-laki seringkali mengatakan aah. Maka aku berkata kepadanya “wahai saudaraku, sebutlah nama Tuhanmu dan mintalah pertolongan-Nya. Maka Abu Abdullah berkata sesungguhnya “aah” adalah nama dari nama-nama Allah maka barang siapa yang mengatakan “aah” maka sungguh ia telah meminta pertolongan Allah tabaraka wata’ala [Ma’aniy Al Akhbar Syaikh Shaduuq hal 354]

Ma'ani Akhbar

Ma'ani Akhbar hal 354

Pencela tersebut mengatakan bahwa riwayat ini adalah salah satu bentuk kekurangajaran Syiah terhadap Allah SWT. Tentu saja ini ucapan yang jahil, riwayat yang dinukil nashibi tersebut kedudukannya dhaif di sisi Syiah karena Abu Ishaq Al Khuza’iy dan Ayahnya tidak ditemukan biografinya dalam kitab Rijal Syiah.

.

.

.

Riwayat yang serupa dengan riwayat Syiah di atas juga ditemukan dalam kitab hadis salah seorang ulama Ahlus Sunah yaitu Abdul Kariim bin Muhammad Ar Rafi’iy dalam kitabnya Tadwiin Fii Akhbar Qazwiin 4/72 biografi Mahmuud Abu Yamiin Al Qazwiiniy

Akhbar Qazwiin

Akhbar Qazwiin juz 4 hal 72

وَسَمِعَ الْقَاضِي أبا عَبْد اللَّه الحسين بْن إبراهيم بْنِ الْحُسَيْنِ بْنِ إبراهيم بْنِ الْحُسَيْنِ الْبُرُوجِرْدِيَّ سَنَةَ خَمْسٍ وخمسين وخمسمائة فِي جُزْءٍ سَمِعَ مِنْهُ بِإِجَازَةِ أبي الفتح عبدوس ابْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدُوسٍ لَهُ أَنْبَأَ أَبُو القاسم سعد بْن علي الزنجاني بِمَكَّةَ أَنْبَأَ هِبَةُ اللَّهِ بْنُ عَلِيٍّ الْمَعَافِرِيُّ أَنْبَأَ أَبُو إِسْحَاقَ عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ حِبَّانَ ثنا مُحَمَّدُ بْنُ إبراهيم الْمِصْرِيُّ ثنا أَحْمَد بْنُ عَلِيٍّ الْقَاضِي بِحِمْصَ ثنا يحي بْنُ مَعِينٍ ثنا إِسْمَاعِيل بْنُ عَيَّاشٍ عَنْ لَيْثِ بْنِ أَبِي سُلَيْمٍ عَنْ بَهِيَّةَ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ دَخَلَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وآله وسلم وعندنا عليل يان فَقُلْنَا لَهُ اسْكُتْ فَقَدْ جَاءَ النبي فقال النبي: “دعوه يان فَإِنَّ الأَنِينَ اسْمٌ مِنْ أَسْمَاءِ اللَّهِ تَعَالَى يَسْتَرِيحُ إِلَيْهِ الْعَلِيلُ.

Telah mendengar dari Al Qaadhiy Abu ‘Abdullah Husain bin Ibrahiim bin Husain bin Ibrahiim bin Husain Al Burujirdiy pada tahun 555 H dalam juz yang ia dengar darinya dengan ijazah Abu Fath ‘Abduus bin ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Abduus yang telah memberitakan kepadanya Abu Qasim Sa’d bin Aliy Al Zanjaaniy di Makkah yang berkata telah memberitakan kepada kami Hibbatullah bin ‘Aliy Al Ma’aafiriy yang berkata telah memberitakan kepada kami Abu Ishaaq ‘Abdul Malik bin Hibbaan yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ibrahim Al Mishriy yang berkata telah menceritakan kepada kami Ahmad bin ‘Aliy Al Qaadhiy di Himsh yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ma’in yang berkata telah menceritakan kepada kami Isma’iil bin ‘Ayyaasy dari Laits bin Abi Sulaim dari Bahiyyah dari Aisyah [radiallahu ‘anha] yang berkata Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] masuk menemui kami dan di sisi kami terdapat orang yang sedang sakit dan merintih. Maka kami katakan padanya “diamlah sungguh Nabi telah datang”.Maka Nabi berkata “biarkanlah dia merintih karena suara rintihan termasuk nama dari nama-nama Allah yang dengannya dapat meredakan sakit” [Tadwiin Fii Akhbar Qazwiin, Ar Rafi'iy 4/72]

Abdul Kariim bin Muhammad Ar Rafi’iy Al Qazwiiniy Abul Qasim termasuk ulama mazhab Syafi’i, seorang imam dalam agama. Abu Abdullah Muhammad bin Muhammad Ash Shafaar berkata “ia syaikh [guru] kami imam dalam agama, penolong sunnah, seorang yang shaduq” [As Siyaar Adz Dzahabiy 22/253-254]

Riwayat ini juga dhaif kedudukannya di sisi Ahlus Sunnah karena sebagian perawi tidak dikenal kredibilitasnya dan sebagian lainnya dhaif seperti Laits bin Abi Sulaim. Walaupun memang ternukil ada ulama yang menguatkan hadis ini yaitu Al Aliy bin Ahmad Al ‘Aziziy menukil dari Syaikhnya [Muhammad Al Hijaziy Asy Sya’raniy] dalam Siraj Al Munir Syarh Jami’ As Shaghiir 2/287, Al ‘Aziziy berkata “Syaikh berkata hadis hasan lighairihi”

.

Menurut pikiran sang pencela adanya riwayat tersebut dalam kitab ulama mazhab Syiah menunjukkan kekurangajaran Syiah terhadap Allah, lantas bagaimana nasibnya dengan adanya riwayat serupa dalam kitab ulama mazhab Sunni, apakah itu berarti kekurangajaran Sunni terhadap Allah?. Sepertinya yang kurang diajar dengan benar adalah lisan dan cara berpikir pencela tersebut.

Adanya riwayat-riwayat aneh yang ternukil dalam kitab syi’ah karena kedudukannya dhaif di sisi Syiah ! Itu bukan pegangan kami

File:No understand.jpg

Penghinaan Syiah Terhadap Allah : Aah Termasuk Nama Allah?

Adanya riwayat-riwayat aneh yang ternukil dalam kitab suatu mazhab adalah hal biasa. Yang tidak biasa adalah menisbatkan riwayat tersebut seolah-olah itu menjadi keyakinan yang diakui kebenarannya dalam mazhab yang dimaksud. Mereka yang tidak mengerti dan menisbatkan kedustaan dengan berbagai riwayat dhaif dan dusta terhadap suatu mazhab adalah orang-orang jahil. Begitulah yang dilakukan salah seorang pencela berikut terhadap Syiah. Ia menukil riwayat

حدثنا أبو عبد الله الحسين بن أحمد العلوي، قال: حدثنا محمد بن همام، عن علي ابن الحسين، قال: حدثني جعفر بن يحيى الخزاعي، عن أبي إسحاق الخزاعي، عن أبيه، قال: دخلت مع أبي عبد الله عليه السلام على بعض مواليه يعوده فرأيت الرجل يكثر من قول ” آه ” فقلت له: يا أخي أذكر ربك واستغث به فقال أبو عبد الله: إن ” آه ” اسم من أسماء الله عز وجل فمن قال: ” آه ” فقد استغاث بالله تبارك وتعالى

Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Abdullah Husain bin Ahmad Al ‘Alawiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Hamaam dari Aliy bin Husain yang berkata telah menceritakan kepada kami Ja’far bin Yahya Al Khuza’iy dari Abu Ishaq Al Khuza’iy dari Ayahnya yang berkata “aku masuk bersama Abu Abdullah [‘alaihis salam] kepada sebagian mawali-nya dan aku melihat seorang laki-laki seringkali mengatakan aah. Maka aku berkata kepadanya “wahai saudaraku, sebutlah nama Tuhanmu dan mintalah pertolongan-Nya. Maka Abu Abdullah berkata sesungguhnya “aah” adalah nama dari nama-nama Allah maka barang siapa yang mengatakan “aah” maka sungguh ia telah meminta pertolongan Allah tabaraka wata’ala [Ma’aniy Al Akhbar Syaikh Shaduuq hal 354]

Ma'ani Akhbar

Ma'ani Akhbar hal 354

Pencela tersebut mengatakan bahwa riwayat ini adalah salah satu bentuk kekurangajaran Syiah terhadap Allah SWT. Tentu saja ini ucapan yang jahil, riwayat yang dinukil nashibi tersebut kedudukannya dhaif di sisi Syiah karena Abu Ishaq Al Khuza’iy dan Ayahnya tidak ditemukan biografinya dalam kitab Rijal Syiah.

.

.

.

Riwayat yang serupa dengan riwayat Syiah di atas juga ditemukan dalam kitab hadis salah seorang ulama Ahlus Sunah yaitu Abdul Kariim bin Muhammad Ar Rafi’iy dalam kitabnya Tadwiin Fii Akhbar Qazwiin 4/72 biografi Mahmuud Abu Yamiin Al Qazwiiniy

Akhbar Qazwiin

Akhbar Qazwiin juz 4 hal 72

وَسَمِعَ الْقَاضِي أبا عَبْد اللَّه الحسين بْن إبراهيم بْنِ الْحُسَيْنِ بْنِ إبراهيم بْنِ الْحُسَيْنِ الْبُرُوجِرْدِيَّ سَنَةَ خَمْسٍ وخمسين وخمسمائة فِي جُزْءٍ سَمِعَ مِنْهُ بِإِجَازَةِ أبي الفتح عبدوس ابْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدُوسٍ لَهُ أَنْبَأَ أَبُو القاسم سعد بْن علي الزنجاني بِمَكَّةَ أَنْبَأَ هِبَةُ اللَّهِ بْنُ عَلِيٍّ الْمَعَافِرِيُّ أَنْبَأَ أَبُو إِسْحَاقَ عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ حِبَّانَ ثنا مُحَمَّدُ بْنُ إبراهيم الْمِصْرِيُّ ثنا أَحْمَد بْنُ عَلِيٍّ الْقَاضِي بِحِمْصَ ثنا يحي بْنُ مَعِينٍ ثنا إِسْمَاعِيل بْنُ عَيَّاشٍ عَنْ لَيْثِ بْنِ أَبِي سُلَيْمٍ عَنْ بَهِيَّةَ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ دَخَلَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وآله وسلم وعندنا عليل يان فَقُلْنَا لَهُ اسْكُتْ فَقَدْ جَاءَ النبي فقال النبي: “دعوه يان فَإِنَّ الأَنِينَ اسْمٌ مِنْ أَسْمَاءِ اللَّهِ تَعَالَى يَسْتَرِيحُ إِلَيْهِ الْعَلِيلُ.

Telah mendengar dari Al Qaadhiy Abu ‘Abdullah Husain bin Ibrahiim bin Husain bin Ibrahiim bin Husain Al Burujirdiy pada tahun 555 H dalam juz yang ia dengar darinya dengan ijazah Abu Fath ‘Abduus bin ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Abduus yang telah memberitakan kepadanya Abu Qasim Sa’d bin Aliy Al Zanjaaniy di Makkah yang berkata telah memberitakan kepada kami Hibbatullah bin ‘Aliy Al Ma’aafiriy yang berkata telah memberitakan kepada kami Abu Ishaaq ‘Abdul Malik bin Hibbaan yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ibrahim Al Mishriy yang berkata telah menceritakan kepada kami Ahmad bin ‘Aliy Al Qaadhiy di Himsh yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ma’in yang berkata telah menceritakan kepada kami Isma’iil bin ‘Ayyaasy dari Laits bin Abi Sulaim dari Bahiyyah dari Aisyah [radiallahu ‘anha] yang berkata Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] masuk menemui kami dan di sisi kami terdapat orang yang sedang sakit dan merintih. Maka kami katakan padanya “diamlah sungguh Nabi telah datang”.Maka Nabi berkata “biarkanlah dia merintih karena suara rintihan termasuk nama dari nama-nama Allah yang dengannya dapat meredakan sakit” [Tadwiin Fii Akhbar Qazwiin, Ar Rafi'iy 4/72]

Abdul Kariim bin Muhammad Ar Rafi’iy Al Qazwiiniy Abul Qasim termasuk ulama mazhab Syafi’i, seorang imam dalam agama. Abu Abdullah Muhammad bin Muhammad Ash Shafaar berkata “ia syaikh [guru] kami imam dalam agama, penolong sunnah, seorang yang shaduq” [As Siyaar Adz Dzahabiy 22/253-254]

Riwayat ini juga dhaif kedudukannya di sisi Ahlus Sunnah karena sebagian perawi tidak dikenal kredibilitasnya dan sebagian lainnya dhaif seperti Laits bin Abi Sulaim. Walaupun memang ternukil ada ulama yang menguatkan hadis ini yaitu Al Aliy bin Ahmad Al ‘Aziziy menukil dari Syaikhnya [Muhammad Al Hijaziy Asy Sya’raniy] dalam Siraj Al Munir Syarh Jami’ As Shaghiir 2/287, Al ‘Aziziy berkata “Syaikh berkata hadis hasan lighairihi”

.

Menurut pikiran sang pencela adanya riwayat tersebut dalam kitab ulama mazhab Syiah menunjukkan kekurangajaran Syiah terhadap Allah, lantas bagaimana nasibnya dengan adanya riwayat serupa dalam kitab ulama mazhab Sunni, apakah itu berarti kekurangajaran Sunni terhadap Allah?. Sepertinya yang kurang diajar dengan benar adalah lisan dan cara berpikir pencela tersebut.

Sunni dan wahabi tidak memahami bahwa ada nukilan ulama Syi’ah senior yang tidak tsabit karena bersumber dari naskah yang mengandung banyak kesalahan

See full size image

Kitab Sampah Syiah : Irsyadul Qulub Atau Kitab Sampah Sunni : Tarikh Ibnu Asakir?

Judul ini sifatnya satir, disesuaikan dengan tulisan para pencela. Karena mereka sudah terbiasa menggunakan bahasa racun maka ada baiknya mereka diobati dengan racun pula. Tulisan ini berusaha menindaklanjuti tulisan salah seorang pencela yang menuduh Syiah sebagai agama yang busuk, dungu dan sarat penipuan. Kami heran dengan orang satu ini, ia berhujjah dengan hujjah yang lemah tetapi bahasanya malah terlalu hina. Alangkah baiknya ia segera sadar diri dan menjaga lisannya.

Banyak para pengkritik Syiah, rata-rata mereka cuma tukang fitnah dan kaum jahil, biasanya bahasa mereka memang hina tetapi ada juga kami temukan pengkritik Syiah dengan hujjah yang layak dengan bahasa yang tidak menyakitkan, yang model begini masuk dalam referensi kami sebagai para pencari kebenaran [secara kami masih meneliti kebenaran dari ahlus sunnah dan juga syiah]. Kami tidak butuh bahasa busuk, kami butuh kebenaran dengan hujjah yang kuat.

.

.

Pencela [dengan lisan hina] yang kami maksud membuat tulisan yang menghina salah satu kitab ulama Syiah yaitu kitab Irsyadul Qulub oleh Hasan bin Abi Hasan Ad Dailamiy, dimana dalam kitabnya disebutkan lafaz

وذكره المجلسي رحمه الله في المجلّد التاسع من كتاب بحار الأنوار، والسيد البحراني في كتاب مدينة المعاجز

Dan disebutkan oleh Al Majlisi [rahimahullah] dalam jilid kesembilan kitab Bihar Al Anwar dan Sayyid Al Bahraniy dalam kitab Madiinatul Ma’ajiz…[Irsyadul Qulub 2/265 Ad Dailamiy, terbitan Mu’assasah Al A’lami Li Al Mathbu’ah Beirut Libanon]

irsyadulqulub-1irsyadulqulub-2

Pencela itu mengatakan Ad Dailamiy wafat pada tahun 841 H sedangkan Al Majlisi lahir tahun 1037 H dan wafat 1111 H kemudian Sayyid Al Bahraniy wafat tahun 1107 H. Bagaimana bisa Ad Dailamiy menukil dari mereka berdua padahal ketika ia wafat mereka berdua saja belum lahir?. Selanjutnya pencela itu menyatakan itulah agama Syiah penuh kebathilan dan kepalsuan, tidaklah recehannya kecuali kotoran di dalam kotoran.

.

.

.

Kami meneliti perkara ini dan ternyata hasilnya menunjukkan kalau pencela itu memang jahil dan kejahilan ini muncul karena terburu-buru dalam mencela. Perkara ini ternyata telah diteliti oleh salah seorang ulama Syiah yaitu Sayyid Haasyim Al Miilaaniy, ia adalah pentahqiq kitab Irsyadul Qulub Ad Dailamiy

Sayyid Haasyim Al Miilaniy dalam muqaddimah tahqiq-nya menyebutkan bahwa nukilan yang menyebutkan Al Majlisi dan Sayyid Al Bahraniy hanya ada dalam naskah kitab yang dicetak oleh Mansyurat Syarif Radhiy

وأيضاً فقد ذُكر في الجزء الثاني في النسخة المطبوعة في منشورات الرضي بعد ذكر حديث يرفعه إلى الشيخ المفيد وذكره المجلسي رحمه الله في المجلّد التاسع من كتاب بحار الأنوار ، والسيد البحراني في كتاب مدينة المعاجز

Dan telah disebutkan dalam juz kedua dalam naskah yang dicetak oleh Mansyuurat Ar Radhiy, setelah menyebutkan hadis yang dirafa’kan oleh Syaikh Mufiid “dan disebutkannya oleh Al Majlisi [rahimahullah] dalam jilid kesembilan kitab Bihar Al Anwar dan Sayyid Al Bahraniy dalam kitab Madiinatul Ma’aajiz [Irsyadul Qulub Ad Dailamiy 1/16 tahqiq Sayyid Haasyim Al Milaaniy]

Kemudian Sayyid Haasyim Al Miilaaniy menyatakan bahwa nukilan ini tidak terdapat dalam naskah yang dijadikan pegangannya dalam tahqiq kitab sehingga ia menyatakan dengan jelas bahwa nukilan ini adalah tambahan dari ushul kitab Irsyadul Qulub [intinya bukanlah perkataan Ad Dailamiy].

وكذلك الحال بالنسبة إلى قوله : ( وذكره المجلسي رحمه الله في المجلّد التاسع من كتاب بحار الأنوار ، والسيد البحراني في كتاب مدينة المعاجز . . . ) فنحن نجزم بعدم كون هذه الجملة من أصل الكتاب ؛ لعدم ورودها في النسخ التي اعتمدنا عليها في تحقيق الكتاب

Dan begitu pula keadannya dengan perkataan (dan disebutkannya oleh Al Majlisi [rahimahullah] dalam jilid kesembilan kitab Bihar Al Anwar dan Sayyid Al Bahraniy dalam kitab Madiinatul Ma’aajiz…). Maka kami menegaskan bahwa ini adalah penambahan dari ushul kitab karena tidak ada dalam naskah yang kami jadikan pegangan dalam tahqiq kitab [Irsyadul Qulub Ad Dailamiy 1/16 tahqiq Sayyid Haasyim Al Milaaniy]

Ada beberapa naskah Irsyadul Qulub Ad Dailamiy berdasarkan tahqiq dari Sayyid Haasyim Al Milaaniy yaitu

  1. Naskah yang disimpan dalam perpustakaan Imam Ridha di Masyhad no 14372
  2. Naskah yang disimpan di Madrasah Syahiid Muthahhariy di Teheran no 5286
  3. Naskah yang disimpan dalam perpustakaan Ayatulah Uzhma Sayyid Mar’asyiy An Najafiy no 577
  4. Naskah yang dicetak oleh Mansyuurat Syarif Radhiy

Hanya Naskah yang keempat inilah yang memuat nukilan Majlisi dan Sayyid Al Bahraniy dan naskah ini dikatakan oleh Sayyid Haasyim Al Milaaniy

وهي نسخة كثيرة الأخطاء والأغلاط

Dan naskah ini memiliki banyak kesalahan dan kekeliruan [Irsyadul Qulub Ad Dailamiy 1/19 tahqiq Sayyid Haasyim Al Milaaniy]

Irsyadul Qulub

Irsyadul Qulub juz 2 hal 147

Maka kesimpulannya nukilan Al Majlisi dan Sayyid Al Bahraniy tersebut tidak tsabit oleh karena itu dalam kitab Irsyadul Qulub Ad Dailamiy tahqiq Sayyid Haasyim Al Milaaniy [perhatikan di atas] tidak ada nukilan tersebut karena bersumber dari naskah yang mengandung banyak kesalahan dan tidak ada dalam naskah yang dijadikan pegangan serta bertentangan dengan fakta sejarah.

.

.

.

Fenomena seperti ini ternyata juga ditemukan dalam kitab ulama ahlus sunnah, diantaranya kitab Tarikh Ibnu Asakir. Ibnu Asakir memasukkan dalam kitabnya Tarikh Dimasyiq 58/13 no 7381 biografi Mas’ud bin Muhammad bin Mas’ud Abu Ma’aaliy An Naisabury seorang faqih mazhab syafi’iy yang dikenal sebagai Al Quthb, dimana tertulis

وسمع الحديث بنيسابور من شيخنا أبي محمد هبة الله بن سهل السيدي وغيره

Ia mendengar hadis di Naisabur dari Syaikh [guru] kami Abu Muhammad Hibbatullah bin Sahl As Sayyidiy dan selainnya

Abu Muhammad Hibbatullah bin Sahl memang dikenal sebagai guru Ibnu Asakir sebagaimana disebutkan Adz Dzahabiy [As Siyaar 20/14]. Maka tidak diragukan bahwa lafaz tersebut adalah perkataan Ibnu Asakir dan pada akhir biografi Mas’ud bin Muhammad disebutkan

مات رحمه الله آخر يوم من شهر رمضان سنة ثمان وسبعين وخمسمائة

Ia wafat [rahimahullah] pada akhir bulan Ramadhan tahun 578 H

Tarikh Ibnu Asakir juz 58

Tarikh Ibnu Asakir juz 58 hal 13

Tarikh Ibnu Asakir juz 58 hal 14

Apa masalahnya?. Ibnu Asakir disebutkan oleh Ibnu ‘Imaad Al Hanbaliy bahwa ia wafat pada tahun 571 H [Syadzrat Adz Dzahab 7/395]. Adz Dzahabiy juga menyebutkan demikian dalam biografi Ibnu Asakir

توفي في رجب سنة إحدى وسبعين وخمسمائة ليلة الاثنين حادي عشر الشهر ، وصلى عليه القطب النيسابوري

[Ibnu Asakir] wafat pada bulan Rajab tahun 571 H pada malam senin tanggal 11, dan ia dishalatkan oleh Al Quthb An Naisaburiy [As Siyaar Adz Dzahabiy 20/571]

Bagaimana mungkin orang yang wafat tahun 571 H bisa menulis biografi seseorang dimana ia menyebutkan bahwa orang tersebut wafat tahun 578 H?. Bisa saja dikatakan bahwa hal ini termasuk kesalahan naskah atau tambahan dari ushul kitab, kami tidak ada masalah dengan itu. Sebenarnya yang justru bermasalah adalah pencela jahil yang seenaknya menyatakan kitab ulama mazhab lain sampah padahal kitab ulama mazhab-nya ternyata sama saja dengan kitab yang ia katakan sampah. Manakah yang sampah dalam perkara ini, kitab Irsyadul Qulub Ad Dailamiy atau kitab Tarikh Ibnu Asakir?. Jawabannya yang sampah itu ya perkataan pencela tersebut.

.

Note : Kitab Irsyadul Qulub di atas ada dua macam, yang pertama diambil dari situs pencela tersebut dan yang kedua dari salah satu situs syiah yaitu alhassanain.org

 

Sunni dan wahabi tidak memahami bahwa ada perawi syi’ah yang menukil riwayat & khabar melalui Ijazah bukan dengan musyafahah dan munawalah, bukan dengan sima’ langsung.

Subhanallah. Sungguh keddngkian hati busuk itu rasanya sulit dicarikan obatnya.Labaika Ya Husain

Ibnu Thawus Meriwayatkan Langsung Dari Ibnu Khayyath? : Ulah Pencela Yang Menggelikan

Salah satu situs pencela Syi’ah yang gemar memfitnah Syiah membuat tulisan yang berjudul : Menggelikan, Ibnu Thawus meriwayatkan langsung dari Ibnu Khayath?. Tulisan tersebut cukup menarik hanya saja terlalu tendensius dan ujung-ujungnya ia cuma mau bilang “inilah agama syiah dengan segala kontradiksi, keanehan dan kebathilan menjadikannya nampak sebagai agama buatan manusia-manusia hina”.

Kami hanya bisa geleng-geleng melihat perkataan hina seperti ini. Nampaknya manusia satu ini terlalu besar kepala dan tidak akrab dengan kitab-kitab hadis dan rijal Ahlus Sunnah. Kami akan membuat sedikit catatan atas tulisannya dan menunjukkan bahwa dalam kitab hadis kami ahlus sunnah juga terdapat keanehan seperti itu. Jika manusia itu merasa dirinya ahlus sunnah mungkin ada baiknya ia menjaga lisannya yang kotor karena dapat meracuni dirinya sendiri.

Sayyid Ibnu Thawus salah seorang Ulama Syiah meriwayatkan dalam kitabnya Muhaj Ad Da’waat, doa untuk amirul mukminin Aliy bin Abi Thalib yang dikenal dengan doa Al Yamaniy.

و من ذلك دعاء لمولانا أمير المؤمنين علي ع المعروف بدعاء اليماني
أخبرنا أبو عبد الله الحسين بن إبراهيم بن علي القمي المعروف بابن الخياط

Dan dari Doa untuk maula kami Amirul Mukminin Aliy yang dikenal dengan doa Al Yamaniy
Telah mengabarkan kepada kami Abu ‘Abdullah Husain bin Ibrahiim bin Aliy Al Qummiy yang dikenal dengan Ibnu Khayyaath…[Muhaj Ad Da’waat hal 137-138]

Sayyid Ibnu Thawus lahir tahun 589 H dan Ibnu Khayyath termasuk guru Syaikh Ath Thuusiy sedangkan Syaikh Ath Thuusiy sendiri wafat tahun 460 H. Jadi Ibnu Thawus jelas tidak mungkin bertemu langsung dengan Ibnu Khayyath karena ketika Ibnu Thawus lahir, Ibnu Khayyath sudah lama wafat.

Oleh karena itulah pencela yang dimaksud menjadikan hal ini sebagai celaan terhadap mazhab Syiah. Dan ia tidak menyadari kalau celaannya jauh lebih berat dari perkara yang dipermasalahkan. Perkara ini tidaklah luput dari pandangan Ulama Syiah. Sudah ada ulama Syiah yang berkomentar mengenai perkara ini, Sayyid Aliy Asy Syahruudiy berkomentar dalam biografi Husain bin Ibrahiim Al Qummiy

ما قاله السيد بن طاووس في المهج ص 105 في نقله دعاء الحرز اليماني: أخبرنا أبو عبد الله الحسين بن إبراهيم بن علي القمي المعروف بابن الخياط قال أخبرنا أبو محمد هارون بن موسى التلعكبري – الخ فان السيد بن طاووس هذا توفي سنة 673 والشيخ توفي سنة 460 وبينهما 213 سنة والتلعكبري توفي سنة 385. إلا أن يحمل كلام السيد على الاخبار بالإجازة لا بالمشافهة والمناولة

Apa yang dikatakan Sayyid Ibnu Thawus dalam Muhaj hal 105 dalam nukilannya tentang doa Al Yamaniy “Telah mengabarkan kepada kami Abu ‘Abdullah Husain bin Ibrahiim bin Aliy Al Qummiy yang dikenal Ibnu Khayyath yang berkata telah mengabarkan kepada kami Abu Muhammad Haruun bin Muusa At Tal’akbariy, Sayyid Ibnu Thawus wafat tahun 673 H dan Syaikh [Ath Thuusiy] wafat tahun 460 H  antara keduanya ada 213 tahun, At Tal’akbariy wafat pada tahun 385 H. Maka kemungkinan perkataan Sayyid disini adalah khabar melalui Ijazah bukan dengan musyafahah dan munawalah [Mustadrak Ilm Rijal 3/73 no 4103 Syaikh Ali Asy Syahruudiy]

Ini adalah pembelaan yang dilakukan oleh Ulama Syiah, tidak masalah jika pencela tersebut tidak menerimanya karena tujuan tulisan ini memang bukan untuk membuat pencela itu percaya. Tulisan ini hanya menunjukkan bagaimana pandangan mazhab Syiah terhadap masalah ini.

Apa yang dinukil oleh Syaikh Ali Asy Syahruudiy itu memiliki qarinah yang menguatkan yaitu perkataan Sayyid Muhsin Amin dalam A’yan Asy Syiiah ketika menyebutkan Husain bin Ibrahim Al Qummiy

ويروي عن أبي محمد هارون بن موسى التلعكبري ويروي الشيخ الطوسي عنه. وكثيرا ما يعتمد على كتبه ورواياته السيد ابن طاووس وينقلها في كتاب مهج الدعوات وغيره

Ia meriwayatkan dari Abu Muhammad Haruun bin Muusa At Tal’akbariy dan telah meriwayatkan darinya Syaikh Ath Thuusiy. Sayyid Ibnu Thawus banyak berpegang dengan tulisannya dan riwayatnya dan ia menukilnya dalam kitab Muhaj Ad Da’waat dan yang lainnya. [A’yan Asy Syiah 5/414 Sayyid Muhsin Al ‘Amin]

Maka disini terdapat isyarat yang menyatakan bahwa Sayyid Ibnu Thawus menukil riwayat dari Ibnu Khayyath dalam Kitab Muhaj Ad Da’waat bukan dengan sima’ langsung.

Qarinah lain adalah jika kita melihat metode penulisan Sayyid Ibnu Thawus dalam kitabnya Muhaj Ad Da’waat maka nampak bahwa terkadang Sayyid Ibnu Thawus menukil sanad-sanad doa tersebut dari Kitab bukan dengan sima’ langsung. Contohnya adalah sebagai berikut

و منها دعاء العهد
قال حدثنا محمد بن علي بن رقاق القمي أبو جعفر قال حدثنا أبو الحسن محمد بن علي بن الحسن بن شاذان القمي قال حدثنا أبو جعفر محمد بن علي بن بابويه القمي

Dan dari Doa Al ‘Ahd
Berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Aliy bin Riqaaq Al Qummiy Abu Ja’far yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Hasan Muhammad bin ‘Aliy bin Hasan bin Syadzaan Al Qummiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Ja’far Muhammad bin ‘Ali bin Babawaih Al Qummiy…[Muhaj Ad Da’waat hal 398]

Lafaz di atas seolah-olah Sayyid Ibnu Thawus mendengar secara langsung dari Muhammad bin ‘Aliy bin Riqaaq Al Qummiy padahal kenyataannya tidak demikian. Sebenarnya Sayyid Ibnu Thawus menukil riwayat tersebut dari Kitab. Dalam doa sebelumnya disebutkan

وجدت في كتاب مجموع بخط قديم ذكر ناسخه و هو مصنفه أن اسمه محمد بن محمد بن عبد الله بن فاطر من رواه عن شيوخه فقال ما هذا لفظه حدثنا محمد بن علي بن رقاق القمي قال حدثنا أبو الحسن محمد بن أحمد بن علي بن الحسن بن شاذان القمي عن أبي جعفر محمد بن علي بن الحسين بن بابويه القمي

Terdapat dalam kitab Majmuu’ dengan tulisan tangan, disebutkan dalam naskah penulisnya bernama Muhammad bin Muhammad bin ‘Abdullah bin Faathir dari riwayatnya dari para Syaikh-nya, dan ini lafaznya, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Aliy bin Riqaaq Al Qummiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Hasan Muhammad bin Ahmad bin ‘Aliy bin Hasan bin Syadzaan Al Qummiy dari Abu Ja’far Muhammad bin ‘Aliy bin Husain bin Babawaih Al Qummiy…[Muhaj Ad Da’waat hal 397]

Maka disini dapat dipahami bahwa sebenarnya Sayyid Ibnu Thawus menukil riwayat dari Ibnu Khayyaath dari Kitab atau Ijazah walaupun nama kitab tersebut tidak disebutkan dalam kitab Mu’haj Ad Da’waat. Bisa jadi Ibnu Thawus memang tidak menyebutkannya atau terjadi kesalahan [tashif] sehingga bagian yang menyebutkan nama Kitabnya hilang. Wallahu A’lam.

.

Perkara seperti ini bukanlah barang baru dalam kitab Rijal dan kitab Hadis. Mereka yang akrab dengan hadis dan ilmu Rijal [ahlus sunnah] akan menemukan fenomena seperti ini. Yaitu dimana lafaz sima’ langsung antara dua perawi ternyata keliru karena berdasarkan tahun lahir dan wafat keduanya tidak memungkinkan untuk bertemu. Adanya fenomena seperti ini tidaklah membuat Ahlus sunnah dikatakan agama yang mengandung kontradiksi, kebathilan, keanehan yang merupakan buatan manusia-manusia hina. Orang yang berpandangan demikian hanyalah menunjukkan kejahilan atau kebencian yang menutupi akal pikirannya. Berikut contoh perkara yang sama dalam kitab Ahlus Sunnah

Al Kamil Juz 8

Abdullah bin Adiy Abu Ahmad Al Jurjaniy salah seorang ulama ahlus sunnah menyebutkan dalam kitabnya Al Kamil Fii Adh Dhu’afa

أخبرنا علي بن المثنى ثنا الوليد بن القاسم عن مجالد عن أبي الوداك عن أبي سعيد ان رسول الله صلى الله عليه وسلم قال

Telah mengabarkan kepada kami ‘Aliy bin Al Mutsanna yang berkata telah menceritakan kepada kami Al Waliid bin Qaasim dari Mujalid dari Abul Wadaak dari Abu Sa’id bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda…[Al Kamil Ibnu Adiy 8/367 biografi Walid bin Qaasim]

Al Kamil juz 8 hal 368

Ibnu Adiy seorang imam hafizh, Adz Dzahabiy menyebutkan biografinya dalam As Siyaar dan berkata

مولده في سنة سبع وسبعين ومائتين ، وأول سماعه كان في سنة تسعين ، وارتحاله في سنة سبع وتسعين

Ia lahir pada tahun 277 H, pertama mendengar hadis pada tahun 290 H dan memulai perjalanan pada tahun 297 H [As Siyaar Adz Dzahabiy 16/154]

Mengenai Aliy bin Al Mutsanna, Ibnu Hajar menyebutkan biografinya dalam Tahdzib At Tahdzib dan menyebutkan

وقال الحضرمي مات سنة ست وخمسين ومائتين

Al Hadhramiy berkata “ia wafat tahun 256 H” [At Tahdzib Ibnu Hajar juz 7 no 611]

Berdasarkan tahun lahir dan tahun wafat didapatkan bahwa Ibnu Adiy baru lahir 21 tahun setelah wafatnya Aliy bin Al Mutsanna Ath Thahawiy, lantas bagaimana bisa dikatakan bahwa ia berkata “telah mengabarkan kepada kami ‘Aliy bin Mutsanna”

.

.

Ada contoh lain yang menunjukkan bahwa tashrih penyimakan hadis ternyata tidak benar dan hadis tersebut munqathi’. Perhatikan riwayat Ahmad bin Hanbal berikut

حدثنا عبد الله قال حدثني أبى ثنا بهز ثنا همام ثنا قتادة حدثني عزرة عن الشعبي ان الفضل حدثه

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Bahz yang berkata telah menceritakan kepada kami Hamaam yang berkata telah menceritakan kepada kami Qatadah yang berkata telah menceritakan kepadaku ‘Azrah dari Asy Sya’biy bahwa Fadhl menceritakan kepadanya…[Musnad Ahmad 1/213 no 1829]

Ahmad bin Hanbal memasukkan hadis ini dalam Musnad Fadhl bin ‘Abbas. Para perawinya tsiqat sampai ke Asy Sya’biy dan Asy Sya’biy sendiri dikenal tsiqat tetapi ia mustahil mendengar hadis dari Fadhl bin ‘Abbas.

الفضل بن العباس بن عبد المطلب الهاشمي صحب النبي صلى الله عليه وسلم مات في عهد أبي بكر

Al Fadhl bin ‘Abbas bin ‘Abdul Muthallib Al Haasyimiy sahabat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] wafat di masa Abu Bakar [Tarikh Al Kabir Bukhari juz 7 no 502]

Ibnu Sa’ad menyebutkan dalam biografi Fadhl bin ‘Abbas bahwa ia wafat pada tahun 18 H di masa Umar bin Khaththab. Yang mana pun yang rajih, Asy Sya’bi jelas tidak menemui masa hidup Fadhl bin ‘Abbas. Menurut pendapat yang rajih Asy Sya’bi lahir pada masa Utsman bin ‘Affan

قَالَ الْحَجَّاجُ بْنُ مُحَمَّدٍ , سَمِعْتُ شُعْبَةَ ، يَقُولُ : سَأَلْتُ أَبَا إِسْحَاقَ ، قُلْتُ : ” أَنْتَ أَكْبَرُ أَمِ الشَّعْبِيُّ ؟ قَالَ : الشَّعْبِيُّ أَكْبَرُ مِنِّي بِسَنَةٍ أَوْ سَنَتَيْنِ “

Hajjaj bin Muhammad berkata aku mendengar Syu’bah berkata “aku bertanya pada Abu Ishaq” aku berkata “engkau yang lebih tua atau Asy Sya’biy”. Ia berkata “Asy Sya’biy lebih tua dariku setahun atau dua tahun [Thabaqat Ibnu Sa’ad 6/266]

Abu Ishaq As Sabi’iy lahir dua tahun akhir masa Utsman bin ‘Affan [As Siyar Adz Dzahabiy 5/393] makaAsy Sya’bi lahir kemungkinan lahir tahun 31 atau 32 H. Jadi ketika Asy Sya’biy lahir Fadhl bin ‘Abbas sudah wafat 14 tahun sebelumnya. Bagaimana mungkin Asy Sya’biy mengatakan “telah menceritakan kepadanya Fadhl”.

Kedua contoh di atas cukup sebagai bukti bahwa perkara yang dipermasalahkan pencela tersebut juga ada pada mazhab Ahlus Sunnah. Jika ia bersikeras menjadikan perkara ini sebagai celaan terhadap mazhab Syiah maka pada hakikatnya ia juga mencela mazhab Ahlus Sunnah. Kami memang bukan Syiah tetapi kami sangat tidak suka dengan ulah orang-orang jahil yang gemar memfitnah. Akhir kata silakan para pembaca pikirkan apakah pantas suatu mazhab dikatakan agama hina karena perkara ini?.

Ahlu Sunnah Wal Jamaah adalah Syi’ah Imamiyah , Jamaah adalah bergabung bersama orang-orang yang berada DALAM KEBENARAN kendati jumlah mereka itu SEDIKIT

Ahlus Sunnah wal Jamaah (Ahlu Sunnah Wal Jamaah adalah Syi’ah Imamiyah , Jamaah adalah bergabung bersama orang-orang yang berada DALAM KEBENARAN kendati jumlah mereka itu SEDIKIT)

wasiat nabi hanya al quran dan itrah ahl bayt. Ada 34 jalur ttg hal ini di hadis sahih aswaja

Penetapan atas Abubakar bukan KetetapanNya dan Ketetapan Rosul, tapi itu pilihan manusia atas egonya, kalau saja mereka Gentle tentunya menyelesaikan dulu Proses Pemakaman, baru melakukan Pemilihan, nah disini kelihatan sekali MUSTAHiL ORANG YANG DiJAMiN SURGA akan mencampakkan jenazah Nabi SAW !!!

Apa buktinya kalau Syi’ah sudah jelas menyelisihi Al Qur’an dan Sunnah?.Pada  Shahih  Buchori dan Muslim, “Islam akan jaya sampai hari Kiamat dan kalian akan dipimpin oleh 12 Amir atau Khalifah”, nah karena Kitabu Sittah itu milik Sunni, tolong tanyakan ke Prof, DOKTOR atau S2 Lulusan Kairo tapi jangan tanyakan Lulusan Mekkah atau Madinah (Pasti dikibulin oleh Para Sarafi Wahabi), siapakah mereka itu dan Pasti ga kan bisa Jawab.

Mengafirkan seorang Muslim saja sudah berat hukum dan konsekuensinya di hadapan Allah, lalu bagaimana dengan mengafirkan satu kelompok umat Islam yang jumlahnya ratusan juta, pasti lebih berat tanggung jawabnya di sisi Allah.Kita jangan main-main dengan pengafiran kaum Muslimin yzng berbeda mazhab dengan kita.Hanya ekstrimis Wahhabi sajalah yang gemar mengafirkan dan menghalalkan darah-darah kaum Muslimin sdlain kelompok mereka!!

kalaupun mereka ga percaya kepada Ucapan Imam Ali, memang ini keberhasilannya Bani Umayyah, yang bagi saya Muawiyah itu equivalent dengan Saul/Paulus di Umat Nashoro yang berhasil merontokan Yudas Iskariot, jadi penghianat dan dirinya mengangkat diri sebagai Nabinya Jesus (Isa as)—dan Nabinya Jadi Tuhan—-Bani Umayyah berhasil membunuh Karakter dan Phisik Keluarga Rosul dan dia satu-satunya Pelindung, Pengayom Risalah Rosul sambil Kakinya menginjak-injak Hak Rosul tanpa Umat memahaminya, makanya Kewilayahan/ Kepemimpinan tidak menjadi RUKUN untuk Kemaslahatan, justru ini yang menimbulkan PERPECAHAN samapai menjelang Kiamat dan lihat ucapan Imam Ali 1300 thn Y.L, isinya masih relevant dan fakta lapangan membuktikannya, namun tetap BUTA dan TULI akan semua ini. Yaitu :

Tatkala ditanya tentang makna “ Sunnah, Bid’ah, Jamaah dan Furqoh (Perpecahan), Imam Ali as, berkata ‘ Demi Allah, Sunnah adalah Sunnah Muhammad SAW, Bid’ah adalah yang memisahkan diri dari Sunnah Muhammad (Sunnahnya, atau setara dengan Sunnah Ahad yang dibuat oleh Abubakar,.—“Nabi tidak mewarisi hartanya” peny)”. Demi Allah, Jamaah adalah bergabung bersama orang-orang yang berada DALAM KEBENARAN kendati jumlah mereka itu SEDIKIT dan FURQOH (PERPECAHAN) adalah bergabung bersama-sama orang-orang yang berada DALAM KEBATILAN. mesti JUMLAH mereka BANYAK. (Dan ini diucapkan 1300 tahun y.l—tapi masih relevant dan mudah untuk melihatnya.). Bagaimana?? adakah jawaban yang lebih argumentatif, saya kira ga ada tuh, karena ucapan Rosul bukan ASBUN—Pasti ada buktinya, ga mau juga ngerti ituma urusan otak masing-masing.

Bagi saya mudah untuk di simpangan mana Syiah dan Sunni berpisah jalan, yiatu : Ketika Imam Husein terbantai dengan dipenggalnya Leher beliau as, Pedoman Kompasnya adalah An-Nisa 59, yaitu : “Taati Allah, taati Rosul wa ulil amri minkum……”, disinia Allah Maha Kudus, Rosul Maksum (kalau ga maksum, ya ga mungkin sesuatu yang suci masuk kedalam badan kotor, ini logika pertama), pelanjutnya Ulil Amri Minkum pastilah Maksum, ga mungkin jiwa-jiwa fasiq, menjadi pembunuh keluarga Rosul, Penzinah, pencinta monyet dari pada ngurus umat (Semisal Yajid)……Nah! kalau sudah jelas, mari kita pakai akal waras, bila sebagian besar Umat Islam berbaris dibawah naungan Kelompok Ini (14 Khalifah dhalimin yang dimulai dari Bani Umayyah, dilanjut oleh Bani Abassiyah melalui peperangan dan pembunuhan sesama muslim?

An-Nisa 93 terabaikan, buta mata, buta hati dan kuping jadi budeg, ego dan hawa nafsu berperan kuat sekali) dan sebagian besar Umat Islam mengamini, malah seolah-olah agamanya dari Rosul, padahal ketika Bani Umayah berkuasa banyak hadist diobok-obok , jadi seolah-olah Rosul gagal mendidik Keluarganya (Padahal sih ada Grand Planner – untuk melenyapkan Keutamaan Keluarga Rosul sebagai Pewaris dan Penerus Risalahnya sampai akhir Dunia), bila demikian cara pikirnya, maka tak salah tamsilku bisa dikatakan, bahwa “Ketika Penciptaan Awal Manusia, Allah SWT perintahkan Syeitan sujud kepada Adam AS, namun pada saat yang sama ketika Yajid tampil sebagai pemenang, maka Allah SWT perintahkan Bani Adam tunduk kepada Bani Syeitan yang berwujud manusia silaknatullah Yajid dan penerusnya sampai ke yang 14″ dan mereka berhasil melenyapkan Imam Hasan, Imam Zainal Abidin dan Imam Baqir – dilanjut melalui pembantaian Bani Umayyah oleh Bani Abasiyah, maka Genocide via racun itupun dilanjutkan lagi, sehingga berguguranlah Keluarga Rosul yaitu : Imam Ja’far Shodik,(Imam ke 6) MUSA AL KAZIM (Imam ke 7), ALI RIDHO (Imam ke 8), MUHAMMAD AL-JAWAD (Imam ke 9), ALI AL-HADI (Imam ke 10), HASAN AL ASKAR I(Imam ke 11).

Dimana letak Kasih Sayang Kalian terhadap keluarga Rosul, kalau hanya kalian sayang just the names, itu namanya SUPER DUSTA, minimal x an punya, informasi ahlak, ilmunya, doa-doa mereka lantunkan, nasehat-nasehat dari mereka ada dalam catatan x an, maka itu bukti sayang x an kepada mereka.

Jangan dogmatis buta – hanya akan menambah kebodohan dan jumud mazhab), yang menyisipkannya,.Belum puaskah x an untuk tetap menghujat kami. Kalau saja x an punya Nahjul Balaghah yang ditulis Imam Ali, maka kami tak perlu nyebrang ke Syiah, tapi sayang yang katanya x an juga sayang kepada Keluarga Rosul, sementara dokumen dari mereka x an tidak punya, kasihan deh kamu – quo vadis – mau jalan kemana – Thaliban Hancur karena memang kekurangan bahan dalam management pengelolaan Pemerintahan – demikian juga DR Hasan Turabi – Ulama Sunni dari Sudan, bercita-cita ingin menjalankan Syariat Islam, malah terjungkirkan masuk kedalam Penjara, kenapa? bahan kurang, Umat ga peduli kepada Ulamanya, ini sudah umum di Sunni dan lihatlah kedepan, akan kemana kalian tuju arah hidup ini.

Yang antum istigfarkan itu siapa, keluarga Rosul yang dibantai oleh Bajingan-Bajingan Umayi dan Abasi atau siapa yang jelas dong agar antum tuh disisi yang mana, jadi orang Islam jangan ke geeran dulu deh. Allah SWT melalui firman-Nya denga al Balad 10, sudah jelas memberika jalan hanya dua jalan saja :

“Aku berikan dua Petunjuk, yaitu Petunjuk Kebenaran dan Petunjuk Kejahatan ”

A. Petunjuk Kebenaran dinaungi oleh 14 Maksumim dari Bani Hasyim.

B. Petunjuk Kejahatan dinaungi oleh 14 Dhalimin dari Bani Umayyah,

Nah, karena antum alergi memilih A, maka secara Take A Granted harus memilih B, mungkinkah Muhammad digabungkan ke B, malah jadi ga seimbang, tapi kalau mau juga itu hak antum yang menentukannya. Info ini sesuai dan pas seperti yang al Qur’an indikasikan, masih adakah hujah yang kuat dari kalian.

Ahlusunnah Kehilangan Puluhan Ribu Hadis Shahih!

ِAda anggapan sebagian pemula bahwa Sunnah Nabi saw. telah terangkum dalam kitab-kitab hadis standar Ahlusunnah yang ditulis para ulama dan ahli hadis! Sehingga mereka merasa tentram bahwa Slogan yang selalu mereka dengar agar umat Islam kembali kepada Al Qur’an dan Sunnah Nabi saw. dapat diwujudkan dengan mudah! Sebab Al Qur’an tertulis dan terangkum lengkap dalam mushaf sedangkan Sunnah Nabi saw. juga terekam dengan utuh!

Tetapi, sepertinya angggapan para pemula perlu dikasiani! Sebab ternyata hadis-hadis Nabi saw. yang hendak mereka andalkan itu ternyata banyak yang telam musnah ditelan keganasan zaman! Tidak sampai kepada umat Islam melainkan hanya sedikit saja!

.

.

.

.

Al Iraqi -seperti Anda saksikan dalam scan di atas, menolak mentah-mentah angggapan lugu dan awam seperti itu! Ketika ada anggapan bahwa kitab-kitab hadis standar seperti lima kitab Ushul (induk) yaitu Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Daud, Sunan at Turmudzi dan Sunan an Nasa’i telah memuat hampir seluruh hadis/Sunnah Nabi saw…. dan tidak luput dari rekamannya melainkan hanya sedikit! al Iraqi berkata: Anggapan itu tidak tepat! Sebab:

Berdasarkan ucapan Imam Bukhari: Aku menghafal seratus ribu (100.000) hadis dan dua ratus ribu (200.000) hadis tidak shahih.!

Anggapan Kurang Berdasar!

Ada sebagian orang beranggapan bahwa yang dimaksud dengan jumlah  di atas adalah dengan menghitung berbagai jalur untuk satu hadis misalnya. bukan jumlah hadis itu sendiri! Tetapi anggapan ini telah tidak berdasar!

Kenyataan Pahit!

Seperti diakui oleh Imam as Suyuthi bahwa kenyataan yang terjadi bahwa jumlah hadis yang sekarang beredar dan terangkum dalam berbagai kitab hadis tidak sampai seratus ribu jumlahnya… Bahkan lebih pahit lagi -seperti diakui Imam as Suythi sendiri- bahwa jumlah hadis yang masih tersisa tidak juga sampai lima puluh ribu hadis!

Itu Artinya!

Itu artinya bahwa umat Islam Sunni kehilangan hadis dalam jumlah yang sangat banyak!

Kemanakah raibnya hadis-hadis Nabi saw. itu?

Mungkinkah Anda sanggup mengamalkan Sunnah Nabi saw. jika kenyataannya bahwa lebih dari separuh atau lebih dari Sunnah Nabi saw. itu telah musnah ditelan zaman?!

hanya Allah yang Maha Mengatahui derita yang dialami umat Islam ini!

Inna Lillahi wa Inna Ilaihi raji’un!

Sunnah Nabi saw. adalah sumber utama Islaam setelah Al Qur’an al Karim! Kita semua termasuk Anda wajib untuk  mengimaninya … menjaganya… mengamalkannya dan memperjuangkannya… baik ia sesuai dengan hawa nafsu Anda… cocok dengan keyakinan kemazhaban Anda (yang bisa jadi sering kali dibangun di atas ketidak jelasan hujjah/dalil)!

Tetapi apakah demikian dengan sikap mereka yang mengaku-ngaku sebagai Pemilik Hak Paten Merk Ahlusunnah Wa al Jam’ah? Atau justru tidak demikian… keimanan dan ketundukan serta kesetiaan kepada Sunnah Nabi itu sebatas, apabila Sunnah itu (betapa pun ia benar-benar disabdakan mulut suci Sang Nabi mulia) sesuai dengan hawa nafsu dan doktrin kemazhaban betatapun doktrin itu menyimpang!

Mari kita saksikan langsung sikap mereka seperti yang mereka laporkan sendiri!

Dalam kitab Dhu’afâ’ karya al ‘Uqaili,3/416:

حدثنا محمد بن إسماعيل قال حدثنا الحسن بن على الحلواني حدثنا محمد بن داود الحداني قال سمعت عيسى بن يونس يقول ما رأيت الأعمش خضع إلا مرة واحدة فإنه حدثنا بهذا الحديث قال علي : ( أنا قسيم النار ) فبلغ ذلك أهل السنة فجاءوا إليه فقالوا : أتحدث بأحاديث تقوي بها الروافضة والزيدية والشيعة ؟!! فقال : سمعته فحدثت به فقالوا : فكل شيء سمعته تحدث به ؟!!! قال : فرأيته خضع ذلك اليوم “.

“Muhammad bin Ismail menyampaikan berita kepada kami, ia berkata, Hasan bin Ali al Hulwani menyampaikan berita kepada kami, ia berkata, Muhammad bin Daud al hadâni berkata, “Aku mendengar Isa bin Yunus berkata, “Aku tidak pernah menyaksikan A’masy tunduk kecuali hanya sekali saja. Ia pernah menyampaikan hadis dari Ali ,”Aku adalah Pembagi nereka…”Maka sampailah berita itu (penyampaian hadis itu oleh A’masy) kepada (ulama) Ahlusunnah, maka mereka beramai-ramai mendatanginya lalu berkata, “Apakah kamu menyampaikan hadis-hadis yang dapat menguatkan kaum Rafidhah, kaum Syi’ah Ziadiyah dan kaum Syi’ah?!” Maka ia berkata, ‘Aku mendengarnya lalu aku menyampaikannya.!

Maka mereka berkata, “Apakah setiap hadis yang engkau dengar harus engkau sampaikan?!

Perawi berkata, “Maka aku menyaksikannya tunduk hari itu.”

Ustad Syiah Ali :

Dari kutipan data di atas pasti Anda dapat melihat bagaimana usaha ngotot ulama Ahlusunnah saat itu untuk membungkam mulut siapapun yang berani mentablighkan Sunnah Nabi saw. terkait dengan Imam Ali as. mereka beramai-ramai mengeroyok A’masy -seorang ulama dan muhaddis agung di masanya dan semua pun mengakui kehebatannya- untuk menghardiknya dan membuatnya jerah dan ketakutan untuk menyampaikan Sunnah Nabi saw.

Semua sikap ganas para ulama pendhulu Ahlusunnah itu dilakukan dengan alasan membentengi akidah ASWAJA (maaf kalau istilah itu benar, sebab semestinya ASWAJA yang sejati pasti cinta hadis dan juga Cinta keluarga Nabi saw.!) dari ajaran Syi’ah!

Aneh bukan… untuk membentengini ajaran Rasulullah saw, harus dengan memerangi Sunnah Rasulullah dan dilakukan atas nama Rasulullah…. mirip atau bahkan jangan-jangan persis dengan apa yang dilakukan Yazid demi menjaga kewaibaan kelkhalifahan Rasulullah saw. Yazid membantai Cucu Rasulullah dan keturunan beliau di padang Karbala … begitu juga dengan Mu’awiyah dengan alasan membela kesucian agama Rasulullah saw. ia sunnahkan melaknati menentau ntercinta Rasulullah yang dengan jasa-jasa besarnya Islam menjadi berjaya! Dan untuk semua “kebaikan dan amal shaleh” Mu’awiyah dan Yazid, kaum Ahlusunnah, khususnya yang beraliran Salafi-Wahhabi membanggakan Yazid dan Mu’awiyah dan menggelari keduanya dengan AMIRUL MUKMINI!

Hal lain yang tentu lucu adalah: Kata kaum Wahhabi-Salafi (khususnya yang bekerja langsung sebagai agen Zionis) yang selalu menvonis Syi’ah sebagai KAFIR!  Eeh ternyata kaum KAFIR itu ajarannya ditegakkan di atas Sunnah Nabi saw…. sebentara yang mengaku Ahlusunnah (maaf bukan Sunni Anda tapi Sunni yang si dia) malah bisanya hanya menegakkkan akidah dan mazhabnya di atas pondasi memerangi Sunnah Nabi saw.

Apakah memeng Ahlusunnah hanya dapat dijaga dengan menyembunyikan dan melenyapkan Sunnah Nabi saw.?

Anda pasti lebih tau jawabnya!

Sunnah-sunnah Nabi pun banyak yang diubah-ubah melalui hadits-hadits yang rekayasa dan buatan

Sekjen Majma Jahani Ahlul Bait as:
 Kedengkian terhadap Ahlul Bait Masih Berlangsung Sampai Kini
“Beberapa khalifah, selepas wafatnya Nabi Saw telah melakukan pelarangan penulisan dan penukilan hadits. Tidak bisa dipungkiri, pelarangan tersebut adalah upaya pencegahan tersebarnya hadits-hadits yang menceritakan mengenai keutamaan Ahlul Bait, sehingga yang terjadi, hadits-hadits mengenai keutamaan Ahlul Bait sangat sedikit yang kita dapatkan, tergantikan oleh banyaknya hadits-hadits palsu dan rekayasa.”
 
 Kedengkian terhadap Ahlul Bait Masih Berlangsung Sampai Kini

 memperingati hari kesyahidan Imam Ja’far Shadiq as, Majma Jahani Ahlul Bait mengadakan majelis duka di kantor secretariat  Majma di Teheran Republik Islam Iran, ahad (1/9). Sekretaris Jenderal Majma Jahani Ahlul Bait as Hujjatul Islam Dr. Akhtari dalam ceramahnya pada acara tersebut menyatakan bahwa kesyahidan Imam Ja’far Shadiq as adalah salah satu kesedihan terbesar bagi pengikut Ahlul Bait,

“Dengan memperhatikan posisi dan kedudukan Imam Ja’far Shadiq as yang istimewa dalam mazhab Syiah, maka sudah seharusnya sebagai Syiah Ahlul Bait, kita memberikan perhatian yang khusus pula akan hari peringatan syahadah beliau, sebagaimana ketika memperingati kesyahidan penghulu para syuhada, Imam Husain as.”

Hujjatul Islam wa Muslimin Muhammad Hasan Akhtari berkenaan dengan kondisi sosial dan politik yang dihadapi Imam ke enam Syiah tersebut, mengatakan, “Bani Abbas hendak menjauhkan masyarakat dari Ahlul Bait, padahal naiknya mereka kepuncak kekuasaan dengan mengatasnamakan Ahlul Bait yang mereka katakan hendak dikembalikan haknya yang telah terampas dari Bani Umayyah. Namun setelah mereka mendapat kekuasaan itu, tidak ubahnya perlakuan Bani Ummayyah, pengikut Ahlul Bait pun tetap mereka siksa dan mendapat perlakuan yang zalim.”

Dalam lanjutan ceramahnya, Dr. Hasan Akhtari mengatakan, “Beberapa khalifah, selepas wafatnya Nabi Saw telah melakukan pelarangan penulisan dan penukilan hadits. Tidak bisa dipungkiri, pelarangan tersebut adalah upaya pencegahan tersebarnya hadits-hadits yang menceritakan mengenai keutamaan Ahlul Bait, sehingga yang terjadi, hadits-hadits mengenai keutamaan Ahlul Bait sangat sedikit yang kita dapatkan, tergantikan oleh banyaknya hadits-hadits palsu dan rekayasa.”

“Yang terjadi kemudianpun adalah jauhnya umat Islam dari pemikiran ma’arif Islam dari keluarga Nabi Saw. Yang lebih banyak tersebar pada masyarakat muslim adalah hadits-hadits yang rekayasa dan buatan, hatta pada masalah aqidah sekalipun. Hadits-hadits palsu itulah yang membuat umat Islam terpecah-pecah dalam banyak firqah, sampai ada yang mengatakan bahwa Allah memiliki bentuk dan bagian-bagian tubuh sebagaimana materi pada umumnya.” Tambahnya.

“Sunnah-sunnah Nabi pun banyak yang terabaikan bahkan diubah-ubah. Sampai diriwayatkan, Ummu Humaidah, istri Imam Ja’far Shadiq as yang sementara dalam keadaan tawaf di sisi Ka’bah tampak kelihatan asing bagi masyarakat muslim yang melihatnya. Siapapun yang melihat caranya tawafnya menegurnya, bahwa cara tawafnya keliru. Ummu Humaidah menjawab, “Kami tidak membutuhkan ilmu kalian. Tunjukkan pada saya, siapa dari kalian yang memiliki keutamaan, keilmuan dan pengenalannya terhadap Islam, Al Qur’an dan Sunnah melebihi suami saya.” Dan memang benar, imam-imam mazhab dalam Ahlus Sunnah baik langsung ataupun tidak langsung menimba ilmu dari Imam Ja’far, keturunan Nabi Saw.”

“Bahkan musuh Imam Ja’far as sekalipun yang menjadi penyebab kesyahidannya mengakui keilmuan dan keutamaan imam Ja’far. Hal itulah yang semakin menambah kedengkian para musuhnya, sehingga tidak ada cara lain lagi selain membunuhnya. Dan kebencian terhadap Ahlul Bait masih berlangsung sampai saat ini.” Lanjutnya lagi.

Mengangkiri ceramahnya, sekjen Majma Jahani Ahlul Bait as tersebut menukil salah satu riwayat dari imam Ja’far Shadiq as bahwa diantara syarat untuk menjadi pribadi yang dicintai adalah, baik dalam berinteraksi, baik dalam mendengar dan baik dalam menjawab

Default Imam Madzhab Sunni Saja Dianiaya Oleh Khalifah Abbasiyyah, apalagi imam Syi’ah

Bismillah

Ketika Imam Syafie di Yaman, beliau diangkat menjadi Penasihat dan penulis istimewa Gubernur di Yaman, sekaligus menjadi guru besar di sana. Karena beliau termasuk orang pendatang, secara tiba-tiba memangku jabatan yang tinggi, maka banyak orang yang memfitnah beliau.

Ahli sejarah telah menceritakan bahawa waktu sultan Harun Ar-Rasyid sedang marah terhadap kaum Syiah, sebab golongan tersebut berusaha untuk meruntuhkan kekuasaan Abbasiyah, mereka berhasrat mendirikan sebuah kerajaan Alawiyah iaitu keturunan Saidina Ali bin Abi Talib. Karena itu di mana kaum Syiah berada mereka diburu dan dibunuh.

Suatu kali datang surat baginda Sultan dari Baghdad. Dalam surat yang ditujukan kepada Wali negeri itu diberitahukan supaya semua kaum Syiah ditangkap. Untuk pertama kali yang paling penting adalah para pemimpinnya, jika pekerjaan penangkapan telah selesai semua mereka akan dikirimkan ke Baghdad. Semuanya harus dibelenggu dan dirantai. Imam Syafie juga ditangkap, sebab di dalam surat tersebut bahwa Imam Syafie termasuk dalam urutan para pemimpin Syiah.

Ketika peristiwa itu terjadi pada bulan Ramadhan, Imam Syafie dibawa ke Baghdad dengan dirantai kedua belah tangannya. Dalam keadaan dibelenggu itu para tahanan disuruh berjalan kaki mulai dari Arab Selatan (Yaman) sampai ke Arab Utara (Baghdad), yang menempuh perjalanan selama dua bulan. Sampai di Baghdad belenggu belum dibuka, yang menyebabkan darah-darah hitam melekat pada rantai-rantai yang mengikat tangan mereka.

Pada suatu malam pengadilan pun dimulai. Para tahanan satu persatu masuk ke dalam ruangan pemeriksaan. Setelah mereka ditanya dengan beberapa kalimat, mereka dibunuh dengan memenggal leher tahanan tersebut. Supaya darah yang keluar dari leher yang dipotong itu tidak berserak ia dialas dengan kulit binatang yang diberi nama dengan natha’.

Imam Syafie dalam keadaan tenang menunggu giliran, dengan memohon keadilan kepada Allah SWT. Kemudian beliau dipanggil ke hadapan baginda Sultan. Imam Syafie menyerahkan segalanya hanya kepada Allah SWT. Dengan keadaan merangkak karena kedua belah kaki beliau diikat dengan rantai, Imam Syafie mengadap Sultan. Semua para pembesar memperhatikan beliau.

“Assalamualaika, ya Amirul Mukminin wabarakatuh.”
Demikian ucapan salam beliau kepada baginda dengan tidak disempurnakan iaitu “Warahmatullah.”

“Wa alaikassalam warahmatullah wabarakatuh.” Jawab baginda. Kemudian baginda bertanya: “Mengapa engkau mengucap salam dengan ucapan yang tidak diperintahkan oleh sunnah, dan mengapa engkau berani berkata-kata dalam majlis ini sebelum mendapat izin dari saya?”

Imam Syafie menjawab: “Tidak saya ucapkan kata “Warahmatullah” karena rahmat Allah itu terletak dalam hati baginda sendiri.” Mendengar kata-kata itu hati baginda jadi lembut. Kemudian Imam Syafie membaca surah An-Nur ayat 55 yang bermaksud:

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang soleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sesungguhnya Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diredhaiNya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa.”

Setelah membaca ayat di atas kemudian Imam Syafie berkata: “Demikianlah Allah telah menepati janjiNya, kerana sekarang baginda telah menjadi khalifah, jawapan salam baginda tadi membuat hati saya menjadi aman.” Hati baginda menjadi bertambah lembut. Baginda Harun ar Rashid bertanya kembali: “Kenapa engkau menyebarkan faham Syiah, dan apa alasanmu untuk menolak tuduhan atas dirimu.”

“Saya tidak dapat menjawab pertanyaan baginda dengan baik bila saya masih dirantai begini, jika belenggu ini dibuka Insya-Allah saya akan menjawab dengan sempurna. Lalu baginda memerintahkan kepada pengawal untuk membukakan belenggu yang mengikat lmam Syafie itu.

Setelah rantai yang membelenggu kedua kaki dan tangannya itu dibuka, maka Imam Syafie duduk dengan baik kemudian membaca surah Hujarat ayat 6:

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasiq yang membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”

“Ya Amirul Mukminin, sesungguhnya berita yang sampai kepada baginda itu adalah dusta belaka. Sesungguhnya saya ini menjaga kehormatan Islam. Dan bagindalah yang berhak memegang adab kitab Allah karena baginda adalah putera bapa saudara Rasulullah SAW yaitu Abbas. Kita sama-sama menghormati keluarga Rasulullah. Maka kalau saya dituduh Syiah karena saya sayang dan cinta kepada Rasulullah dan keluarganya, maka demi Allah, biarlah umat Islam sedunia ini menyaksikan bahawa saya adalah Syiah. Dan tuan-tuan sendiri tentunya sayang dan cinta kepada keluarga Rasulullah.” Demikian jawab Imam Syafie.

Baginda Harun ar Rasyid pun menekurkan kepalanya kemudian ia berkata kepada Imam Syafie: “Mulai hari ini bergembiralah engkau agar lenyaplah perselisihan antara kami dengan kamu, kerana kami harus memelihara dan menghormati pengetahuanmu wahai Imam Syafie.”

Demikianlah kehidupan Imam Syafie sebagai ulama besar, yang tidak lepas dari berbagai cubaan serta seksaan dari pihak yang tak mengerti akan hakikat kebenaran yang sesungguhnya.

Hanya ketabahan dan keimanan serta pengetahuanlah yang dapat menghadapi setiap cubaan itu sebagai suatu ujian dari Allah SWT yang harus kita hadapi.

Apa sebabnya Imam Abu Hanifah dipenjara?
Apa sebabnya Imam Malik dipukuli sampai cacat tangannya?
Apa sebabnya Imam Syafii diseret ke hadapan majelis khalifah?
Apa sebabnya Imam Ahmad dipenjara? Apa sebabnya Imam Sufyan Ats Tsawri harus lari bersembunyi dari penguasa sampai akhir hayatnya?

Dapatkan jawabannya di buku “EVOLUSI FIQIH”.
Bagaimana madzhab fiqih yang semula hanya satu, berkembang menjadi banyak, dan akhirnya tinggal “empat besar” madzhab?
Dr. Abu Ameenah Bilal Philips menjelaskan topik besar perkembangan madzhab-madzhab fiqih ini dengan cukup ringkas, padat, dan insya Alloh relatif mudah dipahami. Edisi asli berbahasa Inggris buku ini cukup laris beredar di pasar internasional. Para pembacanya berinisiatif menerjemahkannya ke dalam bahasa Urdu, Tamil, Turki, Ukraina, dan Indonesia.

Keterangan lebih lanjut hubungi: maryoto0@lycos.com (JAPRI).

Judul buku: Evolusi Fiqih
Judul asli: The Evolution of Fiqh (Islamic Law The Madh-habs)
Pengarang: Dr. Abu Ameenah Bilal Philips
Pengantar: Dr. Miftah Faridl Daud Rasyid, MA, PhD
Tebal buku: 168 halaman
Tahun terbit: Cetakan 1, 2007
Penerbit: PT Anjana Pustaka

Dr. ABU AMEENAH BILAL PHILIPS dilahirkan di Jamaika, West Indies, dan besar di Kanada, di mana ia masuk Islam pada tahun 1972. Ia menyelesaikan BA dari Fakultas Ilmu-ilmu Keislaman (Ushuul ad-Diin) di Universitas Islam Madinah pada tahun 1979, dan MA dalam Teologi Islam di Fakultas Pendidikan, Universitas Riyadh pada tahun 1985. Pada tahun 1994 ia menyelesaikan studi PhD dalam Teologi Islam di Departemen Studi Islam, University of Wales.

Sejak tahun 1994 hingga tahun 2001, Dr. Bilal mendirikan dan memimpin Islamic Information Center (yang sekarang dikenal sebagai lembaga Discover Islam) di Dubai, Uni Emirat Arab (UEA) dan Departemen Sastra Asing pada Dar al-Fatah Islamic Press di Sharjah, UEA. Pada tahun 2001, Dr. Bilal mendirikan Islamic Online University, yang merupakan universitas Islam di internet pertama yang terakreditasi (www.islamiconlineuniversity.com).

Ia pernah pula menjadi Profesor Studi Islam dan Arab di American University di Dubai, dan Universitas Ajman; serta menjadi pendiri dan Dekan pada Departemen Studi Islam pada Preston University Ajman (www.islamicstudiespu.com).

Imam Al-Syafi’i Difitnah


Setelah Imam Malik meninggal dunia pada tahun 179 H, maka Imam al-Syafi’i pulang ke Makkah . Nama Imam al-Syafi’i demikian harumnya sehingga menarik perhatian seorang penguasa Yaman yang bersetuju melantik Imam al-Syafi’i sebagai wali ataupun pegawai yang bertanggung jawab di daerah Najran. Disitu Imam al-Syafi’i telah menjalankan tugasnya dengan penuh keadilan sehingga menjadi tumpuan orang ramai mengharapkan keadilan.


Sudah tentu sikap benar dan adil itu bukan semua manusia menyukainya, terutama sekali manusia yang suka menindas dan zalim. Maka mereka mecari jalan untuk menyinkirkan Imam al-Syafi’i dari daerah tersebut dengan demikian, segala rencana jahat mereka tidak ada yang menghalanginya.


Oleh itu mereka mencari-cari jalan untuk menjatuhkan Imam al-Syafi’i, lalu Imam al-Syafi’I difitnah dengan aduan palsu kepada khalifah al-Rasyid, dengan menuduh Imam al-Syafi menjadi ketua kepada sembilan Alawi yang hendak menggulingkan kerajaan Abbasiyah.


Imam al-Syafi’i adalah diantara para Imam yang sangat mencintai Ahlul Bait (keluarga terdekat Rasulallah s.a.w.). Banyak sya’ir beliau yang menunjukkkan kecintaan beliau kepada Ahlul Bait, antaranya Imam al-Syafi’i bersyair.


Wahai Ahlul-Bait Rasulallah, mencintai kalian
adalah Kewajiban dari Allah diturunkan dalam al-Quran
cukuplah bukti betapa tinggi martabat kalian
tiada sholat tanpa shalawat bagi kalian.”


Dalam sya’ir lainnya al-Imam Syafi’i menyampaikan kandungan isi hatinya, antara lain al-imam mengatakan:


“Jika sekiranya disebabkan kecintaan kepada keluarga Rasulallah s.a.w. maka aku dituduh Rafidhi (Syi’ah). Maka saksikanlah jin dan manusia, bahwa sesungguhnya aku adalah Rafidhi.”


Kecintaaan Imam al-Syafi’i kepada Ahlul Bait menjadi bahan fitnah bagi manusia dengki, kaki ampu, untuk menjatuhkan imam al-Syafi’i dari kedudukannya. Lalu surat fitnah dikirmkan kepada Harun al-Rasyid yang bunyinya demikian :


” ………Diantara mereka terdapat seorang lelaki bernama Muhammad bin Idris, ia bekerja dengan lidahnya ………Jika tuanku ingin Hijaz kekal di bawah takluk pemerintahan tuanku, mereka itu hendaklah dibawa kepada tuanku.” (Usul al-Fiqh,h.65)


Al-Rayid merasa ketakutan Kerajaannya tumbang, sebab kerajaannya dibina dengan banyak mengorbankan jiwa mereka yang tak bersalah, lalu dia memerintahkan kumpulan sembilan dan al-Syafi’i supaya dibawa menghadapnya di Iraq. Kesemua mereka digari dibawa dengan baghal. Di Iraq, semuanya dibunuh kecuali al-Syafi’i yang mendapat pembelaaan dari Imam Muhammad Syaibani (murid imam Abu Hanifah) pada tahun 184 Hijrah.

  

Abu Abdillah Muhammad bin Idris asy-Syafi’i yang kemudian terkenal dengan nama Imam asy-Syafi’i adalah pendiri dan pemimpin Mazhab Syafi’i dan Imam ketiga dalam mazhab Ahlusunnah. Nasab beliau sampai kepada Hasyim bin Abdul Muthalib kemenakan dari Hasyim bin ‘Abdu Manaf yang dinisbatkan kepada kakeknya yang bernama Syafi’ bin Saib yang hidup sezaman dengan Rasulullah saw.

Kebanyakan ahli sejarah mencatat bahwa Imam Syafi’i dilahirkan di kota Gaza, Palestina, namun ada juga yang berpendapat bahwa beliau lahir di Asqalan. Ada juga yang mengatakan Imam Syafi’i lahir pada tahun 150 H di Yaman dimana pada tahun ini wafat pula seorang ulama besar Ahlusunnah yang bernama Imam Abu Hanifah.

Sejak kecil Syafi’i telah kehilangan ayahnya. Kala itu beliau diasuh dan dibesarkan oleh ibunya dalam kondisi yang sangat memprihatinkan dan serba kekurangan. Imam Syafi’i mempelajari fikih dan hadis ketika di Mekkah dan untuk beberapa waktu beliau juga belajar syair, sastra bahasa (lughat) dan nahwu di Yaman. Sampai pada suatu waktu atas saran Mus’ab bin Abdullah bin Zubair, beliau pergi ke Madinah untuk menekuni ilmu hadis dan fikih. Diusianya yang relatif muda (sekitar 20 tahunan), beliau telah belajar kepada Imam Malik bin Anas, pendiri Mazhab Maliki.

Imam Syafi’i menuturkan masa lalunya seperti ini: Sewaktu saya belajar, guru saya mengajarkan kepada saya tentang Al-Qur’an dan saya pun menghafalnya. Saya ingat waktu itu guru saya pernah berkata: ‘Tidak halal bagi saya sekiranya mengambil imbalan dari kamu.” Dengan alasan tersebut, akhirnya saya meninggalkan guru tersebut. Sejak itu saya mengumpulkan potongan tembikar, kulit dan pelepah kurma yang agak besar sebagai sarana yang saya pakai untuk menuliskan hadis. Akhirnya, saya pergi ke Mekkah. Aku tinggal bersama kabilah Hudail yang terkenal dengan kefasihannya selama 17 tahun. Setiap kali mereka berpindah dari satu tempat ke tempat lain, aku pun mengikuti jejak mereka. Saat aku pulang ke Mekkah, aku telah menguasai banyak sekali disiplin ilmu. Waktu itu aku bertemu dengan salah seorang pengikut Zubair lalu salah seorang dari mereka berkata kepadaku: “Sangat berat bagiku melihat Anda yang begitu jenius dan fasih namun Anda tidak mempelajari fikih.” Tak lama setelah itu, mereka membawaku ke tempat Imam Malik.

Saya telah memiliki buku “Al-Muwatho’” Imam Malik dan cuma dalam waktu sembilan hari aku telah mempelajarinya. Kemudian saya pergi ke Madinah untuk belajar dan menghadiri majlis taklim Imam Malik.”

Imam Syafi’i tetap tinggal di kota Madinah sampai saat wafatnya Malik bin Anas. Kemudian beliau pergi ke Yaman dan beliau menghabiskan aktivitasnya di sana. Penguasa Yaman pada waktu itu seorang yang zalim dan bekerja sama dengan pemerintahan Harun ar-Rasyid, Khalifah Abassiyah. Dalam kondisi seperti itu, penguasa menangkap Imam Syafi’i dengan alasan dikhawatirkan beliau akan memberontak bersama Alawiyyin (keturunan Ali bin Abi Thalib) lalu beliau dibawa kepada Harun ar-Rasyid, tetapi Harun ar-Rasyid membebaskannya.

Muhammad bin Idris untuk beberapa waktu pergi ke Mesir dan kemudian pada tahun 195 H beliau mendatangi Bagdad dan mengajar disana. Setelah dua tahun tinggal di Bagdad, beliau kembali ke Mekkah. Tak lama setelah itu, beliau pergi lagi ke kota Bagdad dan dalam waktu yang cukup singkat tinggal di Bagdad. Pada tahun 200 H di penghujung bulan Rajab di usia 54 tahun beliau meninggal dunia di Mesir. Tempat pemakamannya di Bani Abdul Hakam berdekatan dengan makamnya para syuhada dan menjadi tempat ziarah kaum Muslimin, khususnya kalangan Ahlusunnah.

Salah satu murid Imam Syafi’i yang terkenal adalah Ahmad bin Hanbal, pendiri Mazhab Hanbali.

Karya-karya Imam Syafi’i

Imam Syafi’i memiliki banyak sekali karya berharga, di antaranya adalah:

1. Al-Umm

2. Musnad as-Syafi’i

3. As-Sunnan

4. Kitab Thaharah

5. Kitab Istiqbal Qiblah

6. Kitab Ijab al-jum’ah

7. Sholatul ‘Idain

8. Sholatul Khusuf

9. Manasik al Kabir

10. Kitab Risalah Jadid

11. Kitab Ikhtilaf Hadist

12. Kitab Syahadat

13. Kitab Dhahaya

14. Kitab Kasril Ard

Berhubung pusat pengajaran beliau berada di kota Bagdad dan Kairo, maka melalui dua kota tersebut secara perlahan Mazhab Syafi’i disebarkan oleh murid-muridnya ke negeri-negeri Islam lainnya, seperti Syam, Khurasan dan Mawara’u Nahr. Tetapi pada abad ke-5 dan ke-6 terjadi konflik keras antara para pengikut Syafi’i dan pengikut Hanafi di Bagdad dan juga pengikut Syafi’i dan Hanafi di Isfahan. Begitu juga para pengikut Syafi’i sempat bentrok dengan dengan para pengikut Syiah dan Hanafi pada zaman Yaqut dimana setelah itu mereka menguasai kota Rei.

Mazhab Syafi’i lebih dikenal dengan perpanduan antara ahli qiyas dan ahli hadis. Mazhab Syafi’i sekarang tersebar di Mesir, Afrika Timur, Afrika Selatan, Arab Saudi bagian Barat dan Selatan, Indonesia, sebagian dari Palestina dan sebagian dari Asia Tengah, khususnya kawasan Kurdistan.

Di antara ulama-ulama pengikut Mazhab Syafi’i yang terkenal adalah: Nasai’, Abu Hasan Asy’ari, Abu Ishaq Shirazi, Imamul Haramain, Abu Hamid Ghazali, dan Imam Rafi’i.

kesamaan antara para Nabi Bani Israel dengan Nabi Muhammad SAW dengan imam-imam Syiah ! Syi’ah pedomani Al Quran ayat 59 surat Al-Nisa

Pelita Pemikiran Imam Ja’far As-Shadiq as Tentang Al-Quran
Imam Shadiq as berkata: “Aku mengetahui kitab Allah Swt. Di dalamnya telah disebutkan apa saja mulai dari awal penciptaan hingga kiamat kelak. Di dalamnya ada kabar tentang langit, bumi, sorga, neraka dan kabar tentang masa lalu dan sekarang dan aku mengetahuinya sedemikian rupa seperti melihatnya di telapak tanganku.” (Ushul Al-Kaafi jilid 1, halaman 61, bab 20) 
 Pelita Pemikiran Imam Ja’far As-Shadiq as Tentang Al-Quran

Imam As-Shadiq as dilahirkan pada tanggal 17 Rabiul Awwal tahun 83 Hijriah di kota Madinah. Ayah beliau adalah Imam Muhammad Baqir as. Era Imam As-Shadiq as, merupakan penggalan sejarah Islam yang paling banyak mencatat peristiwa, menyusul transisi kekuasaan dari Bani Umayah menuju Bani Abbas dan dampak-dampaknya. Di sisi lain, era tersebut merupakan era interaksi berbagai pemikiran dan ideologi serta era pertukaran pendapat pemikiran filsafat dan teologi.

Dibandingkan era sebelumnya, umat Muslim di era ini lebih menunjukkan antusias sangat besar terhadap ilmu pengetahuan. Dengan bekal ilmu yang mendalam dan besarnya tekad untuk menghidupkan dan menyebarkan agama Islam,  Imam Ja’far As-Shadiq as membentuk sebuah markas ilmiah besar dan mencetak murid-murid ternama di berbagai bidang.

Selain aktivitas ilmiah, Imam Shadiq as jua memperhatikan masalah pemerintahan dan mengecam para penguasa zalim. Terkait kerjasama dengan orang-orang zalim beliau berkata, “Orang yang memuji penguasa zalim dan merendahkan diri di hadapannya, dengan harapan mendapatkan harta dari penguasa, maka orang seperti ini akan bersama dengan penguasa zalim itu di neraka jahannam.” (Ushul Al-Kaafi jilid 12, hal 133).

Terkait kepemimpin umat (al-wilayah), beliau mengatakan, “Wilayah lebih utama dari shalat, puasa, zakat dan haji, karena wilayah (kepemimpinan) adalah kunci itu semua, penguasa dan pemimpin adalah pembimbing masyarakat menuju itu semua, (Ushul Al-Kaafi jilid 2, hal 242)

Revivalisasi kembali mutiara ajaran Islam oleh Imam As-Shadiq as membuka ufuk-ufuk baru di hadapan umat Islam dan menciptakan gelombang semangat ke arah ilmu pengetahuan dalam dunia Islam.

Salah satu pertanyaan ghalib tentang Al-Quran adalah, apakah Al-Quran mencakup seluruh ilmu pengetahuan umat manusia? Lahiriyah ayat-ayat Al-Quran menunjukkan bahwa kitab langit ini menjelaskan “segala sesuatu.” Allamah Thabathabai, seorang ahli tafsir Al-Quran dalam hal ini menyatakan, “Maksud dari segala sesuatu itu adalah urusan-urusan yang berkaitan dengan hidayah (petunjuk) bagi umat manusia, yakni maarif hakiki yang berkaitan dengan dunia, penciptaan dan kiamat, akhlak mulia, syariat Allah, kisah dan nasehat-nasehat.”

Imam As-Shadiq as berkata, “Allah Swt telah menjelaskan segala sesuatu. Demi Allah, tidak ada yang kurang dalam sesuatu yang diperlukan oleh masyarakat, sehingga tidak ada orang yang akan berkata hal ini benar dan seharusnya disebutkan dalam Al-Quran. Sesungguhnya dalam Al-Quran telah disebutkan.”

Dinukil dari Imam As-Shadiq as, “Tidak ada satu masalah pun yang diperselisihkan oleh dua orang, kecuali telah ditetapkan sebuah pokok untuk menyelesaikannya dalam Al-Quran, akan tetapi akal manusia tidak menalarnya.” (Ushul Al-Kaafi jilid 1, halaman 60, hadis 6)

Dari riwayat ini dapat dipahami bahwa segala sesuatu telah dijelaskan dalam Al-Quran, hanya saja semua masalah itu tidak dapat dinalar manusia yang tidak maksum.

Imam Shadiq as berkata: “Aku mengetahui kitab Allah Swt. Di dalamnya telah disebutkan apa saja mulai dari awal penciptaan hingga kiamat kelak. Di dalamnya ada kabar tentang langit, bumi, sorga, neraka dan kabar tentang masa lalu dan sekarang dan aku mengetahuinya sedemikian rupa seperti melihatnya di telapak tanganku.” (Ushul Al-Kaafi jilid 1, halaman 61, bab 20)

Imam Shadiq as ditanya bagaimana mungkin setelah sekian lama tersebar dan dengan berlalunya masa, Al-Quran selalu baru akan tetapi tidak ada yang ditambahkan di dalamnya? Beliau menjawab, “Karena Allah Swt tidak menetapkannya (Al-Quran) untuk masa dan masyarakat tertentu. Sebab itu, Al-Quran hingga hari kiamat selalu baru di setiap masa dan selalu baru bagi sebuah kaum baru.”

Yang dimaksud Imam As-Shadiq as adalah bahwa Allah Swt menurunkan Al-Quran sedemikian rupa sehingga cocok untuk setiap masa dan menjawab seluruh tuntutan umat manusia. Karena Al-Quran dengan penjelasan hukum dan ketentuan universalnya serta kehadiran imam dan berlanjutnya ijtihad, memiliki potensi untuk menjadi sumber proses esktrasi jawaban bagi berbagai permasalahan baru di setiap masa.

Mengenal Al-Quran sebagai kitab Allah Swt yang terlengkap sangat penting dan menjadi keharusan. Dalam hal ini Imam Ja’far As-Shadiq as berkata, “Sebaiknya jangan sampai seorang mukmin meninggal dunia sebelum dia mempelajari Al-Quran atau ketika sedang belajar Al-Quran.”

Yang dimaksud dalam hadis Imam As-Shadiq as tentu bukan membaca atau qiraah saja, melainkan pemahaman kandungan, arti dan perintah dalam Al-Quran serta pada akhirnya mengamalkannya. Karena Imam Shadiq as dalam hadis lain menyinggung orang-orang yang telah benar-benar melaksanakan tugasnya dalam membaca Al-Quran dan berkata, “Mereka membaca ayat-ayat Al-Quran, memahami maknanya, mengamalkan hukum dalam Al-Quran, berharap akan janji-janjinya serta takut akan azab, mencontohkan kisah-kisahnya, mengambil pelajaran dari kisah-kisahnya, melaksanakan perintahnya dan menjauhi larangannya. Demi Allah bahwa tilawah Al-Quran bukan hanya menghapal ayat-ayatnya, menjelaskan huruf dan membaca surat-suratnya saja… masyarakat telah menghapal huruf Al-Quran dan membacanya dengan indah akan tetapi melanggar batasan-batasannya, melainkan perenungan ayat-ayat Al-Quran yang di dalamnya Allah Swt berfirman: telah Kami turunkan kitab penuh berkah ini kepadamu agar kau merenunginya.” (Muntakahab Mizan Al-Hikmah halaman 418, hadis 5192)

Seseorang bertanya kepada Imam Shadiq as, “Apa maksud dari ayat 59 surat Al-Nisa bahwa Allah berfirman patuhilah Allah Swt, Rasulullah Saw, dan Ulil Amr? Siapa sebenarnya itu Ulil Amr?” Imam Shadiq as menjawab, “Yang dimaksud Allah Swt adalah hanya kami Ahlul Bait dan Allah mewajibkan kaum mukmin untuk mematuhi kami hingga hari kiamat.’

Beliau juga ditanya, “Mengapa nama Ali as dan Ahlul Bait tidak disebutkan dalam Al-Quran?” Imam Ja’far As-Shadiq as menjawab, “Allah Swt telah memerintahkan shalat dalam Al-Quran, akan tetapi tidak menyebutkan tiga atau empat rakaatnya. Sampai akhirnya Rasulullah Saw  menafsirkannya (dan menjelaskan jumlah rakaat shalat), diturunkan pula ayat tentang zakat, sampai akhirnya Rasulullah menafsirkannya, dan diturunkan pula ayat tentang haji dan tidak disebutkan tujuh kali kalian bertawaf mengelilingi Ka’bah, sampai akhirnya Rasulullah Saw menafsirkannya, dan juga diturunkan ayat:

اطیعوا الله و اطیعوا الرسول و اولی الامر منکم

Tentang Ali, Hasan dan Husein as (akan tetapi nama mereka tidak disebutkan), kemudian Rasulullah Saw bersabda kepada Ali: Barang siapa yang menjadikan aku sebagai pemimpinnya, maka Ali juga pemimpinnya. Kemudian beliau bersabda: Aku menasehati kalian untuk berpegang teguh pada Al-Quran dan Ahlul Baitku, karena aku telah memohon kepada Allah Swt agar keduanya tidak terpisahkan sampai bertemu denganku di telaga Kautsar (di sorga). Allah pun memberikannya kepadaku. Dan Rasulullah Saw bersabda: jangan kalian mengajari sesuatu kepada Ahlul Baitku, karena mereka lebih tahu dari kalian dan mereka tidak akan menyimpangkan kalian dari jalur hidayah dan tidak akan menjerumuskan kalian.”

Jika Rasulullah Saw diam dan tidak menjelaskan siapa Ahlul Baitnya, niscaya semua orang akan mengaku sebagai Ahlul Bait Rasulullah. Akan tetapi Rasulullah Saw telah menjelaskannya dan Al-Quran membenarkannya, “Sesungguhnya Allah Swt berkehendak membersihkan kalian Ahlul Bait dari keburukan dan menyucikan kalian. (Surat Al-Ahzab ayat 33)

Sebelum pembahasan berakhir, berikut ini satu kisah hikmah yang dinukil oleh seorang lelaki yang bertanya kepada Imam Ja’far As-Shadiq as. Lelaki itu bertanya, “Wahai putra Rasulullah! Kenalkan aku dengan Allah. Apa itu Allah? Orang-orang yang berdiskusi memandangku sinis dan membuatku kebingungan. Imam Shadiq as menyatakan, “Wahai hamba Allah! Pernahkah kau naik kapal? Lelaki itu menjawab: iya. Imam berkata, Bayangkan kapal itu pecah dan tidak ada kapal lain yang akan menolongmu dan kamu tidak bisa menyelamatkan dirimu dengan berenang? Lelaki itu berkata: maka ketika itu aku akan berada di kondisi yang sangat mengerikan. Imam berkata, “Apakah dalam kondisi seperti ini kau merasa ada sesuatu yang kau harapkan dapat menyelematkanmu? Lelaki itu menjawab, tidak diragukan lagi dalam batinku aku ingin terselamatkan. Aku merasa ada kekuatan yang dapat membantuku. Imam Shadiq as berkata, apa yang kau harapkan itu adalah Allah Swt yang mampu menyelamatkan ketika tidak ada penyelamat lain…”

Peran dan Kedudukan Imam Ja

Peran dan Kedudukan Imam Ja’far Shadiq dalam Sejarah Islam
Dalam majelis-majelisnya Imam Ja’far memberikan pencerahan keilmuan kepada masyarakat, sehingga yang hak kembali tampak kebenarannya, dan yang batil jadi tampak kebatilannya. Posisi dan kedudukan Imam Ja’far dalam agama Islam tidak ubahnya posisi Nabi Isa as dalam agama Yahudi. 
 

 apa keutamaan dan keistimewaan Imam Ja’far Shadiq as serta bagaimana peran dan kedudukannya dalam penyebaran dakwah Islam?. Kami akan memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut dengan mengkaitkannya dengan kisah-kisah dalam agama-agama Ibrahimi.

Nabi Muhammad Saw adalah utusan Allah SWT yang menjadi perantara sampainya firman-firman Allah SWT yang termaktub dalam Al-Qur’an kepada umat manusia. Beliau jugalah yang menjelaskan dan mensyarah ayat-ayat Al-Qur’an agar dapat dipahami dengan mudah oleh umat manusia. Tugas tersebut sebagaimana yang dijelaskan dalam Al-Qur’an surah An-Nahl ayat 44, و أنْزَلنا إلَيكَ الذِّكرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ ما نُزِّلَ إلَيهم و لَعَلَّهُم يَتَفَكَّرون (نحل/ 44) yang artinya: Dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.

Tidak sedikit dari ayat Al-Qur’an yang mengundang berbagai pertanyaan dan butuh pengkajian dan perenungan yang lebih mendalam untuk bisa memahaminya. Hal tersebut merupakan bentuk dari hikmah Ilahi, agar para penguasa dzalim sepeninggal Nabi tidak melakukan perubahan dan tahrif terhadap Al-Qur’an. Misalnya, nama Imam Ali dan hak kekhalifaan dan wilayah beliau dalam Al-Qur’an tidak dijelaskan secara khusus dan detail. Melainkan melalui berbagai ayat yang tidak langsung namun pada hakikatnya merupakan penjelasan dan penetapan Imam Ali sebagai wali kaum muslimin sepeninggal Nabi Saw. Sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an surah al Maidah ayat 55, إنَّما وَلِيُّكُمُ اللهُ و رَسولُهُ و الَّذين آمنوا الَّذين يُقيمونَ الصَّلاةَ و يُؤْتونَ الزَّكاةَ و هُم راكِعون (مائده/ 55) yang artinya,Sesungguhnya wali kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat dalam keadaan rukuk.

Allah SWT dalam ayat tersebut menyebutkan wali umat Islam ada tiga, yaitu, Allah SWT, Rasulullah Saw dan yang disaat rukuknya sedang bersedekah. Ketika Nabi Saw menyampaikan ayat tersebut dihadapan kaum muslimin, sebagian dari mereka bertanya siapa yang dimaksud Allah, yang bersedekah dalam keadaan rukuk itu? Nabi bersabda, “Masuklah ke dalam masjid, dan tanyakan pada orang-orang didalamnya. Mereka semua menyaksikan seorang fakir yang diminta Ali untuk mendekat dan mengambil cincin dari jarinya sementara Ali masih dalam keadaan rukuk dalam shalatnya.” Karenanya umat Islam saat itu mengetahui bahwa misdaq dari ayat tersebut adalah Imam Ali as.

Pada ayat tersebut Allah tidak menyebut nama Ali as secara langsung, melainkan menggunakan salah satu dari ciri dan keutamaannya, yaitu barangsiapa yang dalam rukuknya pada saat shalat juga sembari bersedekah adalah wali umat Islam. Pada hakikatnya hal tersebut tidak terbatas pada satu orang atau satu zaman tertentu. Namun karena kejadiannya sepanjang sejarah hanya sekali terjadi dan yang melakukannya hanya Imam Ali as, maka hal tersebut menunjukkan bahwa wali kaum muslimin selepas Rasul adalah Imam Ali as.

Sewaktu sebagian kaum muslimin menuliskan mengenai ayat tersebut, mereka juga menuliskan asbabun nuzul ayat tersebut disertai dengan hadits Nabi yang berkaitan dengannya. Disaat-saat terakhir Nabi menjelang wafatnya, beliau meminta kertas dan pena untuk menuliskan wasiat kepada kaum muslimin agar dengan wasiat tersebut kaum muslimin tidak bercerai berai dan berpecah belah sepeninggalnya. Sayangnya, permintaan Nabi tersebut tidak dikabulkan, dengan dalih, “Cukuplah Kitab Allah bagi kami!.” Peristiwa tersebut diceritakan dalam kitab Sahih  Bukhari dan Muslim. Upaya lainnya adalah melakukan pelarangan penulisan dan penukilan hadits Nabi dengan alasan khawatir bercampur dengan ayat-ayat Al-Qur’an. Sehingga sahabat-sahabat yang terlanjur menulis dalam mushaf-mushaf mereka hadits-hadits nabi yang berkaitan dengan turunnya suatu ayat terpaksa menghapusnya dan tidak tersisa kecuali sedikit.

Muawiyah yang  baru masuk Islam setelah Fathul Makahpun mendapat keistimewaan dengan diangkat menjadi hakim di Syam oleh Khalifah kedua. Kedengkian Muawiyah kepada keluarga Nabi tidak berakhir dengan masuknya dia dalam Islam. Meskipun tahu sejarah awal Islam, tentu Muawiyah tidak akan mau menceritakan sebagaimana mestinya mengingat Muawiyah bersama ayah dan ibunya sebelumnya adalah orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap Nabi. Oleh karena itu wajar jika Muawiyah sebagai yang paling berkuasa di negeri Syam memberikan penjelasan yang berbeda mengenai Islam kepada warga Syam yang baru memeluk Islam, khususnya mengenai imam Ali dan keluarganya. Oleh karena itu ketika orang-orang Syam bertemu dengan Imam Syiah baik di Madinah maupun Makah, maka mereka memandang Imam dengan pandangan yang menghina dan merendahkan. 

Memanfaatkan pengaruh dan kekuasaannya di negeri Syam, Muawiyah mengubah-ubah ajaran Islam. Sedikit demi sedikit ajaran-ajaran Nabi tersingkirkan dan tergantikan ajaran yang dibuat-buat yang berdasar pada hadits-hadits palsu, sampai pada tingkat, pemabuk seperti Yazidpun diakui sebagai pewaris hukumah Islam. Sementara Imam Husain as yang lebih berhak, selain karena lebih alim juga adalah cucu Nabi terzalimi dan terbunuh dengan cara yang keji tanpa pembelaan.

Kedudukan Imam Ja’far Shadiq as

Namun Allah SWT tidak meninggalkan dan melupakan hamba-hambaNya begitu saja. Untuk kesekian kalinya, kaum muslimin diperbaharui keimanan dan komitmen keislamannya melalui Imam Baqir as dan Imam Ja’far Shadiq as yang melanjutkan tugas Nabi dan Amirul Mukminin dalam menjaga dan menyampaikan risalah Nabi. Imam-imam Ahlul Bait melalui pendidikan dan pengajaran kepada masyarakat muslim berupaya menghidupkan kembali Islam dan menyampaikan Islam yang hak. Dalam majelis-majelisnya Imam Ja’far memberikan pencerahan keilmuan kepada masyarakat, sehingga yang hak kembali tampak kebenarannya, dan yang batil jadi tampak kebatilannya. Posisi dan kedudukan Imam Ja’far dalam agama Islam tidak ubahnya posisi Nabi Isa as dalam agama Yahudi. 1400 tahun sebelum nabi Isa, nabi Musa as telah menyampaikan kitab Taurat sebagai kitab fiqh dan kitab syariat Ilahi yang diwariskannya kepada ulama-ulama Yahudi untuk dijaga dan diajarkan.

Namun sangat disayangkan, ulama-ulama Yahudi sendiri mengubah-ubah ajaran Taurat sehingga sulit dikenali mana yang hak dan mana yang batil. Karena itu, Nabi Isa as diutus oleh Allah SWT untuk membersihkan kembali ajaran Nabi Musa as dari penyimpangan dan penyelewengan dan mengajak umat untuk kembali pada ajaran tauhid yang murni dan bersih sebagaimana dulu yang diajarkan oleh Nabi Musa as. Nabi Isa as bukan datang untuk membatalkan kitab Taurat yang dulu dibawa oleh Nabi Musa as melainkan untuk melengkapi dan membersihkannya dari ajaran-ajaran yang penuh rekayasa dan campur tangan manusia.

Hal yang sama juga terjadi pada agama Islam. Oleh karena itu bukan sesuatu yang kebetulan Allah menceritakan kisah mengenai Bani Israil dalam Al-Qur’an sampai lebih dari 500 ayat. Itu dimaksudkan agar umat Islam mengambil banyak pelajaran dari kisah-kisah terdahulu terutama dari kaum Bani Israel mengingat sejarah senantiasa berulang. Hal tersebut juga dinubuatkan nabi bahwa apa-apa yang pernah terjadi pada Bani Israel akan dilakukan juga oleh umat Islam, selangkah demi selangkah bahkan meskipun itu langkah menuju ke sarang biawak. Karenanya, bukan sesuatu yang dipaksakan, jika kemudian kita menemukan banyak kesamaan antara peran Nabi Isa as dengan imam Ja’far Shadiq as misalnya dalam upayanya memurnikan kembali ajaran tauhid dan mengembalikan umat pada ajaran Nabi yang hakiki.

Perhatikan setidaknya adanya kesamaan berikut ini antara para Nabi Bani Israel dengan Nabi Muhammad SAW  dengan keluarganya khususnya imam-imam Syiah:

-       Nabi Muhammad Saw sama dengan Nabi Musa as dalam menghadapi penguasa zalim dimasanya.

-       Imam Ali as sama posisinya dengan Nabi Harun as yang menjadi pendamping nabi Musa dalam dakwah dan perjuangannya. Hal inipun pernah diisyaratkan Nabi dalam hadits Manzilah.

-       Imam Ali as pun sama posisinya dengan Yus’a bin Nun yang telah menjadi washi dari Nabi Musa, sebagaimana Imam Ali adalah washi Nabi Muhammad Saw.

-       Sayyidah Fatimah as sama dengan Sayyidah Maryam baik dari sisi keutamaan dan perannya.

-       Imam Husain dan Imam Hasan dan keturunan mereka sama halnya dengan dua putra Harun dan keturunan mereka.

-       Imam Sajjad as, dari sisi munajat, zikir, do’a dan kesalihannya sama dengan nabi Daud as.

-       Imam Baqir dan Imam Ja’far dari sisi keilmuan dan perannya dalam mendakwahkan Islam sama posisinya dengan nabi Isa as yang berhasil mencetak banyak murid yang kemudian menyebarkan ajarannya keseluruh dunia.

-       Imam Kadzim yang hidup lama dalam penjara sama halnya dengan kisah Nabi Yusuf as.

-       Imam Ridha as yang hidup dalam istana dan diangkat sebagai putra mahkota sama halnya pula dengan nabi Yusuf as yang mendapat posisi penting dalam kerajaan.

-       Dan Imam Mahdi afs memiliki kemiripan kisah dengan nabi Yusuf dalam masa kegaiban, dan dengan nabi Daud as dimasa perang, dan dengan nabi Sulaeman ketika memiliki kekuasaan dan kerajaan. Dan Imam Mahdi dari sisi nama dan laqabnya, maka beliau sama dengan nabi Muhammad Saw.

Beberapa Ucapan Imam Ja’far Shadiq as

Pada kesempatan ini kami haturkan kepada para pembaca budiman hadis-hadis suci pilihan yang pernah diucapkan oleh Imam Shadiq a.s. selama ia hidup.

1. Mengecek diri setiap hari

“Seyogianya setiap muslim yang mengenal kami (Ahlul Bayt) untuk mengecek setiap amalannya setiap hari dan malam. Dengan demikian ia telah mengontrol dirinya. Jika ia merasa berbuat kebaikan, maka berusahalah untuk menambahnya, dan jika ia merasa mengerjakan  keburukan, maka beristigfarlah supaya ia tidak hina di hari kiamat”.

2.Istiqamah

“Jika Syi’ah kami mau beristiqamah, niscaya malaikat akan bersalaman dengan mereka, awan akan menjadi pelindung mereka (dari terik panas matahari), bercahaya di siang hari, rezekinya akan dijamin dan mereka tidak akan meminta apa pun kepada Allah kecuali Ia akan mengabulkannya”.

3.Akibat menipu dan dengki

“Barang siapa yang menipu, menghina dan memusuhi  saudaranya (seiman), maka Allah akan menjadikan neraka sebagai tempat kembalinya. Dan barang siapa merasa dengki terhadap saudaranya, maka imannya akan meleleh sebagaimana garam meleleh (di dalam air)”.

4.Wara’, usaha dan menolong mukminin

“Janganlah kalian terbawa arus mazhab dan aliran! Demi Allah, berwilayah kepada kami tidak akan dapat digapai kecuali dengan wara`, usaha yang keras di dunia, dan menolong saudara-saudara seiman. Dan tidak termasuk Syi’ah kami orang yang menzalimi orang lain”.

5.Hasil percaya kepada Allah

“Barang siapa yang percaya kepada Allah, maka Ia akan menjamin segala yang diinginkannya, baik yang berkenaan dengan urusan dunia maupun akhiratnya, dan akan menjaga baginya apa yang sekarang tidak ada di tangannya. Sungguh lemah orang yang enggan membekali diri dengan kesabaran untuk menghadapi sebuah bala`, tidak mensyukuri nikmat dan tidak mengharapkan kelapangan di balik sebuah kesulitan”.

6.Praktek akhlak

“Bersilaturahmilah kepada orang yang memutus tali hubungan denganmu, berikanlah orang yang enggan memberimu, berbuat baiklah kepada orang yang berbuat jahat kepadamu, ucapkanlah salam kepada orang yang mencelamu, berbuat adillah kepada orang yang memusuhimu, maafkanlah orang yang menzalimimu sebagaimana engkau juga ingin diperbuat demikian. Ambillah pelajaran dari pengampunan Allah yang telah mengampunimu. Apakah engkau tidak melihat matahari-Nya menyinari orang yang baik dan orang yang jahat dan air hujan-Nya turun kepada orang-orang yang saleh dan bersalah?”.

7.Pelan-pelan!

“Pelankanlah suaramu, karena Allah yang mengetahui segala yang kau simpan dan tampakkan. Ia telah mengetahui segala yang engkau inginkan sebelum kalian meminta kepada-Nya”.

8.Surga dan neraka adalah kebaikan dan keburukan sejati

“Segala kebaikan ada di depan matamu dan segala keburukan juga ada di depan matamu. Engkau tidak akan melihat kebaikan dan keburukan (sejati) kecuali di akhirat. Karena Allah azza wa jalla telah menempatkan semua kebaikan di surga dan semua keburukan di neraka. Hal itu dikarenakan surga dan nerakalah yang akan kekal”.

9.Wajah Islam

Islam itu telanjang. Bajunya adalah rasa malu, hiasannya adalah kewibawaan, harga dirinya adalah amal saleh dan tonggaknya adalah wara`. Segala sesuatu memiliki asas, dan asas Islam adalah kecintaan kepada kami Ahlul Bayt”.

10.Beramal untuk akhirat

“Beramallah sekarang di dunia demi kebahagiaan yang kau  harapkan di akhirat”.

11.Pahala membantu para pengikut Ahlul Bayt a.s.

“Tidak ada seorang pun yang membantu salah seorang pengikut kami walaupun dengan satu kalimat kecuali Allah akan memasukkannya ke dalam surga tanpa hisab”.

12.Jauhilah riya`, berdebat dan permusuhan

“Jauhilah riya`, karena sifat riya` akan memusnahkan amalanmu, jauhilah berdebat, karena berdebat itu akan menjerumuskanmu ke dalam jurang kehancuran dan jauhilah permusuhan, karena permusuhan itu akan menjauhkanmu dari Allah”.

13.Kebersihan jiwa adalah tolak ukur penentu seorang mukmin

“Jika Allah menghendaki kebaikan atas seorang hamba, maka Ia akan membersihkan jiwanya. Dengan itu, ia tidak akan mendengar kebaikan kecuali ia akan mengenalnya dan tidak melihat kemungkaran kecuali ia akan mengingkarinya. Kemudian Ia akan mengilhamkan di hatinya sebuah kalimat yang akan mempermudah segala urusannya”.

14.Meminta afiat kepada Allah

“Mintalah afiat kepada Tuhan kalian. Bersikaplah wibawa, tenang dan milikilah rasa malu”.

15.Jiwa doa adalah amal

“Perbanyaklah doa, karena Allah menyukai hamba-hamba-Nya yang berdoa kepada-Nya. Ia telah menjanjikan kepada mereka untuk mengabulkan (doa-doa mereka). Pada hari kiamat Ia akan menghitung doa-doa mereka sebagai sebuah amalan yang pahalanya adalah surga”.

16.Cinta orang-orang miskin

“Cintailah orang-orang miskin yang muslim, karena orang yang menghina dan bertindak sombong terhadap mereka, ia telah menyimpang dari agama Allah dan Ia akan menghinakannya dan murka atasnya. Kakek kami SAWW pernah bersabda: “Tuhanku telah memerintahkanku untuk mencintai orang-orang miskin yang muslim”.

17.Akar kekufuran

“Jangan menghasut orang lain, karena akar kekufuran adalah hasud dan iri dengki”.

18.Amalan penumbuh benih kecintaan

“Tiga amalan dapat menumbuhkan benih kecintaan: memberi hutang, rendah diri dan berinfak”.

19.Amalan penumbuh benih permusuhan

“Tiga amalan penimbul benih permusuhan: kemunafikan, kezaliman dan kesombongan”.

20.Tiga tanda untuk tiga orang

“Tiga hal tidak dapat diketahui kecuali dalam tiga kondisi: penyabar tidak akan dikenal kecuali dalam kondisi marah, pemberani tidak akan diketahui kecuali ketika perang dan saudara tidak akan diketahui kecuali ketika (kita) membutuhkan”

Sunni dan Wahabi menuduh Syi’ah sesat berdasarkan Riwayat yang kedudukannya dhaif di sisi Syiah, yang mana semua para perawinya tidak dikenal kredibilitasnya di sisi Syiah.

Sunni dan Wahabi menuduh Syi’ah sesat berdasarkan Riwayat yang kedudukannya dhaif di sisi Syiah, yang mana semua para perawinya tidak dikenal kredibilitasnya di sisi Syiah.

Khurafat : Imam Baqir Membuat Gajah Terbang Dari Tanah Kemudian Terbang Ke Makkah

Berikut salah satu riwayat yang dijadikan bahan tertawaan para nashibi di jagat maya untuk mencela Syiah

أبو جعفر محمد بن جرير الطبري قال حدثنا أحمد ابن منصور الزيادي قال حدثنا شاذان بن عمر قال حدثنا مرة بن قبيصة بن عبد الحميد قال قال لي جابر بن يزيد الجعفي رأيت مولاي الباقر ع (و) قد صنع فيلا من طين فركبه وطار في الهواء حتى ذهب إلى مكة ورجع عليه فلم أصدق ذلك منه حتى رأيت الباقر ع فقلت له: أخبرني جابر عنك بكذا وكذا؟ (فصنع مثله) فركب وحملني معه إلى مكة وردني

Abu Ja’far Muhammad bin Jariir Ath Thabariy yang berkata telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Manshuur Az Zayaadiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Syadzaan bin ‘Umar yang berkata telah menceritakan kepada kami Murrah bin Qabiishah bin ‘Abdul Hamiid yang berkata Jabir bin Yazid Al Ju’fiy berkata kepadaku aku melihat Maulaku Al Baqir membuat gajah dari tanah lalu menungganginya kemudian terbang di udara sampai menuju Makkah dan kembali, aku tidak mempercayainya sampai aku menemui Al Baqir, maka aku berkata kepadanya Jabir mengabarkan kepadaku darimu begini begitu. Maka ia membuat yang seperti itu menungganginya membawaku ikut bersamanya ke Makkah dan mengembalikanku [Madiinah Al Ma’aajiz Al Bahraaniy 5/10]

Asal riwayat ini disebutkan oleh Muhammad bin Jarir bin Rustam Ath Thabariy dalam kitabnya Dala’il Imamah hal 96.

Dalail ImamahDalail Imamah hal 96

 

Riwayat ini kedudukannya dhaif di sisi Syiah, selain Ibnu Jarir semua para perawinya tidak dikenal kredibilitasnya di sisi Syiah. Ahmad bin Manshuur Az Zayaadiy tidak ditemukan biografinya dalam kitab Rijal Syiah, pentahqiq kitab Madinatul Ma’ajiz menyebutkan dalam naskah yang lain tertulis Ar Ramaaniy, kemudian ia melanjutkan nampak bahwa terjadi tashif, yang benar adalah Ar Ramaadiy. Ahmad bin Manshuur Ar Ramaadiy adalah perawi sunni ahli hadis yang dikenal tsiqat, ia wafat pada tahun 265 H [As Siyaar Adz Dzahabiy 12/391]. Biografi Ar Ramaadiy juga tidak ada dalam kitab Rijal syiah

Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath Thabariy yang dimaksud adalah Muhammad bin Jarir bin Rustam Ath Thabariy seorang ulama Syiah yang dikatakan An Najasiy “mulia termasuk sahabat kami, memiliki ilmu yang banyak, baik perkataannya dan tsiqat dalam hadis” [Rijal An Najasyiy hal 376 no 1024]

Syadzan bin Umar tidak ditemukan biografinya dalam kitab Rijal Syiah, sedangkan Murrah bin Qabiishah bin ‘Abdul Hamid disebutkan dalam Mustadrakat Ilm Rijal Syaikh Ali Asy Syaruudiy tanpa keterangan ta’dil atau pun tarjih, dan nampak ia hanya dikenal dalam riwayat ini [Mustadrakat Ilm Rijal 7/399].

Matan riwayat memang sangat aneh tetapi sayang sekali sanadnya tidak shahih maka tidak ada alasan menjadikan riwayat ini sebagai celaan bagi mazhab Syiah. Jika dikatakan khurafat lebay maka memang benar khurafat karena tidak tsabit di sisi Syiah. Silakan bandingkan dengan riwayat shahih di mazhab Ahlus Sunnah

حدثنا إسحق بن نصر قال حدثنا عبد الرزاق عن معمر عن همام بن منبه عن أبي هريرة عن النبي صلى الله عليه و سلم قال كانت بنو إسرائيل يغتسلون عراة ينظر بعضهم إلى بعض وكان موسى يغتسل وحده فقالوا والله ما يمنع موسى أن يغتسل معنا إلا أنه آدر فذهب مرة يغتسل فوضع ثوبه على حجر ففر الحجر بثوبه فخرج موسى في إثره يقول ثوبي يا حجر حتى نظرت بنو إسرائيل إلى موسى فقالوا والله ما بموسى من بأس وأخذ ثوبه فطفق بالحجر ضربا . فقال أبو هريرة والله إنه لندب بالحجر ستة أو سبعة ضربا بالحجر

Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Nashr yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrazaaq dari Ma’mar dari Hammam bin Munabih dari Abu Hurairah dari Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang berkata Orang-orang bani Israil jika mandi maka mereka mandi dengan telanjang, hingga sebagian melihat sebagian yang lainnya. Sedangkan Nabi Musa ‘Alaihis Salam lebih suka mandi sendirian. Maka mereka pun berkata, Demi Allah, tidak ada menghalangi Musa untuk mandi bersama kita kecuali karena ia memiliki kelainan pada kemaluannya. Lalu pada suatu saat Musa pergi mandi dan meletakkan pakaiannya pada sebuah batu, lalu batu tersebut lari dengan membawa pakaiannya. Maka Musa lari mengejar batu tersebut sambil berkata ‘Wahai batu, kembalikan pakaianku! sehingga orang-orang bani Israil melihat Musa. Mereka lalu berkata, ‘Demi Allah, pada diri Musa tidak ada yang ganjil. Musa kemudian mengambil pakaiannya dan memukul batu tersebut dengan pukulan. Abu Hurairah berkata, Demi Allah, sungguh pada batu tersebut terdapat bekas pukulan enam atau tujuh akibat pukulannya. [Shahih Bukhari no 274]

Apakah kisah batu berlari membawa pakaian sebagaimana disebutkan dalam kitab Shahih bisa dikatakan khurafat lebay?.

Ahlus sunnah akan menjawab tidak, mengapa? Karena kisah tersebut shahih dan atas izin Allah SWT hal itu bisa saja terjadi, tidak ada yang musykil. Benar sekali atas izin Allah, kalau begitu [dengan asumsi sanadnya shahih] apakah menjadikan Gajah dari tanah yang dibuat Imam Baqir terbang ke Makkah adalah perkara musykil bagi Allah SWT?.

PBNU Serahkan Data 12 Yayasan Wahabi Berpaham Radikal ke Pemerintah

PBNU serahkan data 12 yayasan berpaham radikal

Jumat, 2013 Agustus 23 05:10

Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj

Kami telah merekomendasikan ke-12 yayasan itu agar dipantau gerakannya, bahkan sebaiknya dibubarkan saja,”

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) telah menyerahkan data terkait dengan keberadaan 12 yayasan berpaham radikal kepada pemerintah untuk ditindaklanjuti.

“Kami telah merekomendasikan ke-12 yayasan itu agar dipantau gerakannya, bahkan sebaiknya dibubarkan saja,” kata Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj setelah melantik kepengurusan PWNU Jatim 2013–2018 di Surabaya, Kamis.

Dalam pelantikan pengurus baru yang dirangkai dengan halalbihalal bersama pengurus NU se-Jatim itu, dia menjelaskan bahwa ke-12 yayasan itu tersebar di beberapa daerah di Indonesia.

“Ada di Surabaya, Cirebon, Bondowoso, Bogor, Makassar, Bandar Lampung, Mataram, Jakarta, dan Sukabumi,” katanya.

Menurut dia, ke-12 yayasan tersebut mengajarkan aliran Wahabi yang sebenarnya bukan radikal. Akan tetapi, bila diartikan secara salah, justru bisa mengarah kepada teroris.

“Wahabinya bukan teroris, tetapi ajarannya yang radikal itu jika dipoles sedikit bisa mengarah ke teroris. Buktinya, pentolan teroris di Indonesia bersumber dari situ semua,” katanya.

Selain menyerahkan data-data itu kepada Pemerintah, PBNU juga telah menginstruksikan kepada semua pengurus NU dari ranting, cabang, hingga wilayah untuk mewaspadai aliran itu.

“Kita hanya bisa menjaga agar warga NU, terutama anak-anak muda agar tidak tertarik kepada mereka. Itu yang akan kita jaga dengan memberi pemahaman yang benar,” katanya.

Ditanya validitas data ajaran ke-12 yayasan yang bisa mengarah kepada teroris, dia menjamin data yang dimiliki PBNU adalah valid. “Masak, saya asal ngomong, ya, tentu ada datanya,” katanya.

Dalam acara yang tidak dihadiri satu pun dari Cagub Jatim itu, dia mengatakan bahwa PBNU akan selalu mendukung langkah Pemerintah untuk memerangi aksi teroris di Indonesia.

“Teroris itu harus kita lawan, teroris itu musuh kita bersama, bahkan kita sudah berpesan kepada Presiden agar tidak takut membubarkan ormas radikal. Kita (PBNU) selalu di belakang Pemerintah untuk urusan ini,” katanya.

“Kami telah merekomendasikan ke-12 yayasan itu agar dipantau gerakannya, bahkan sebaiknya dibubarkan saja,” kata Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj setelah melantik kepengurusan PWNU Jatim 2013-2018 di Surabaya, Kamis (22/8/2013).

Namun, Said tidak mebeberkan ke-12 yayasan yang dicurigai menyebarkan paham radikal tersebut. Yang jelas, ke-12 yayasan itu tersebar di beberapa daerah di Indonesia. “Ada di Surabaya, Cirebon, Bondowoso, Bogor, Makassar, Bandar Lampung, Mataram, Jakarta, dan Sukabumi,” katanya.

Sebenarnya, kata Said, ke-12 yayasan tersebut mengajarkan aliran Wahabi. Bila diartikan secara salah, justru bisa mengarah kepada teroris. “Wahabinya bukan teroris, tetapi ajarannya yang radikal itu jika dipoles sedikit bisa mengarah ke teroris. Buktinya, pentolan teroris di Indonesia bersumber dari situ semua,” tutur Said.

Selain menyerahkan data-data itu kepada pemerintah, PBNU juga telah menginstruksikan kepada semua pengurus NU dari ranting, cabang, hingga wilayah untuk mewaspadai aliran tersebut.

“Kita hanya bisa menjaga agar warga NU, terutama anak-anak muda agar tidak tertarik kepada mereka. Itu yang akan kita jaga dengan memberi pemahaman yang benar,” ujarnya.

Ditanya validitas data ajaran ke-12 yayasan yang bisa mengarah kepada teroris, Said menjamin data yang dimiliki PBNU adalah valid. “Masak, saya asal ngomong, ya tentu ada datanya,” katanya.

Said mengatakan, PBNU akan selalu mendukung langkah Pemerintah untuk memerangi aksi teroris di Indonesia. “Teroris itu harus kita lawan, teroris itu musuh kita bersama, bahkan kita sudah berpesan kepada Presiden agar tidak takut membubarkan ormas radikal. Kita (PBNU) selalu di belakang Pemerintah untuk urusan ini,” ujar Said.

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) telah menyerahkan data terkait dengan keberadaan 12 yayasan berpaham radikal kepada pemerintah untuk ditindaklanjuti.

“Kami telah merekomendasikan ke-12 yayasan itu agar dipantau gerakannya, bahkan sebaiknya dibubarkan saja,” kata Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj setelah melantik kepengurusan PWNU Jatim 2013–2018 di Surabaya, Kamis.

Dalam pelantikan pengurus baru yang dirangkai dengan halalbihalal bersama pengurus NU se-Jatim itu, dia menjelaskan bahwa ke-12 yayasan itu tersebar di beberapa daerah di Indonesia.

“Ada di Surabaya, Cirebon, Bondowoso, Bogor, Makassar, Bandar Lampung, Mataram, Jakarta, dan Sukabumi,” katanya.

Menurut dia, ke-12 yayasan tersebut mengajarkan aliran Wahabi yang sebenarnya bukan radikal. Akan tetapi, bila diartikan secara salah, justru bisa mengarah kepada teroris.

“Wahabinya bukan teroris, tetapi ajarannya yang radikal itu jika dipoles sedikit bisa mengarah ke teroris. Buktinya, pentolan teroris di Indonesia bersumber dari situ semua,” katanya.

Selain menyerahkan data-data itu kepada Pemerintah, PBNU juga telah menginstruksikan kepada semua pengurus NU dari ranting, cabang, hingga wilayah untuk mewaspadai aliran itu.

“Kita hanya bisa menjaga agar warga NU, terutama anak-anak muda agar tidak tertarik kepada mereka. Itu yang akan kita jaga dengan memberi pemahaman yang benar,” katanya.

Ditanya validitas data ajaran ke-12 yayasan yang bisa mengarah kepada teroris, dia menjamin data yang dimiliki PBNU adalah valid. “Masak, saya asal ngomong, ya, tentu ada datanya,” katanya.

Dalam acara yang tidak dihadiri satu pun dari Cagub Jatim itu, dia mengatakan bahwa PBNU akan selalu mendukung langkah Pemerintah untuk memerangi aksi teroris di Indonesia.

“Teroris itu harus kita lawan, teroris itu musuh kita bersama, bahkan kita sudah berpesan kepada Presiden agar tidak takut membubarkan ormas radikal. Kita (PBNU) selalu di belakang Pemerintah untuk urusan ini,” katanya.

Ical ke PBNU

Rabu, 7 Agustus 2013 17:03 WIB |

Presiden Partai Islam se Malaysia, Datuk Seri Abdul Hadi puji Iran yang Kian Mengukuhkan Diri Sebagai Negara dengan Kemajuan Ilmu Yang Pesat

Sayyid Ali Khamanei:
 Iran Kian Mengukuhkan Diri Sebagai Negara dengan Kemajuan Ilmu Yang Pesat
“Yang hendak diwujudkan oleh pemerintahan Islam adalah kemajuan berdasarkan model yang Islami dan Irani, yakni model kemajuan yang didasari oleh bimbingan Islam dan sesuai dengan kebutuhan dan tradisi bangsa Iran.”
 

 

   Ahmadinejad diangkat Jadi Anggota Dewan Penentu Kebijakan Negara

 Rahbar atau Pemimpin besar Revolusi Islam Ayatollah al-Udzma Sayyid Ali Khamenei Selasa (6/8) sore dalam pertemuan dengan para dosen dan peneliti dari berbagai lembaga perguruan tinggi menekankan keharusan untuk mempercepat laju perkembangan keilmuan di Iran seraya menegaskan, “Kemajuan ilmu pengetahuan akan menghasilkan kekuatan ekonomi dan politik bagi Iran serta akan membuat rakyat Iran semakin dihormati di kancah internasional. Untuk mencapai tujuan itu perlu menjaga dan memperkuat wacana keilmuan, kemajuan ilmu, dan kemajuan umum dalam skala nasional.”


Dalam pertemuan yang diwarnai dengan tukar pendapat dan diskusi seputar berbagai permasalahan negara khususnya yang berhubungan dengan perguruan tinggi itu, Rahbar menyebut keberagaman pandangan di antara para aktivis perguruan tinggi dan kalangan intelektual sebagai hal yang mendidik dan fenomena yang menarik. Seraya menyinggung kemajuan ilmu di Iran saat ini, beliau mengatakan, “Sejak 12 tahun lalu sudah ada gerakan terkait kemajuan keilmuan dan persepsi yang memandang usaha keras di bidang keilmuan sebagai jihad. Gerakan ini bukan hanya tak berhenti bahkan terus meningkat dengan pesat.”


Menyebut gerakan dan jihad ini sebagai hal yang sangat penting dan sangat diperlukan oleh negara dan Republik Islam, Ayatollah al-Udzma Khamenei mengatakan, “Meski punya pandangan negatif terhadap Republik Islam Iran, pusat-pusat keilmuan dunia tetap mengakui kemajuan keilmuan di negara ini.”


Beliau menambahkan, “Sebagian pusat sains dunia menyebut tingkat kemajuan sains di Iran 16 kali lipat dibanding kondisi 12 tahun silam dan kemajuan sains Iran 13 kali lipat dibanding rata-rata kemajuan yang dicapai di dunia.”


Dikatakan oleh beliau, “Menurut pusat-pusat sains dunia, jika volume kemajuan sains Iran terus bertahan seperti ini, maka lima tahun mendatang Iran akan mencapai peringkat keempat dunia.”

Seraya menyebut peningkatan jumlah makalah ilmiah yang dihasilkan oleh para ilmuan Iran, Pemimpin Besar Revolusi Islam menegaskan, “Jangan biarkan roda kemajuan sains ini terhenti dan jangan sampai ada yang menghalangi kemajuan keilmuan dan perguruan tinggi di negara ini.”


Beliau menyinggung pandangan Islam yang mengagungkan kedudukan ilmu dan mengatakan, “Penekanan berulang kali tentang kemajuan ilmu bukan hanya karena Islam mengagungkan ilmu, tapi karena ilmu adalah modal untuk menjadi kuat.”


Ayatollah al-Udzma Khamenei menambahkan, “Kemajuan ilmu akan mendatangkan kekuatan ekonomi dan politik serta wibawa bagi negeri dan bangsa ini di pentas dunia. Karena itu, jangan sampai laju gerakan ini terhambat dan menjadi lambat.”


Menanggapi pernyataan salah seorang dosen yang hadir dalam pertemuan itu, beliau menandaskan, “Kubu arogansi yang terdiri dari segelintir negara ambisius Barat kini berhadap-hadapan dengan Republik Islam dan bangsa Iran. Mereka tak segan melakukan tindakan apa saja untuk mengganjal gerak laju keilmuan Iran.”


Mengenai sanksi dan embargo yang dijatuhkan oleh musuh terhadap Republik Islam Iran, Rahbar menyebutnya sebagai tindakan yang sengaja dilakukan untuk menghambat laju kemajuan ilmu dan mencegah kuatnya Iran dari dalam. Karena itu, kemajuan ilmu harus terus dipacu.

Beliau menekankan kembali soal inovasi yang harus terus dikembangkan dalam kegiatan keilmuan di Iran seraya menambahkan, “Tentunya ada keterbatasan kapasitas dan fasilitas. Karena itu, dalam menyusun program dan langkah-langkah atau kinerja keilmuan kebutuhan utama negara harus diperhatikan dan menjadi parameter.”


Pemimpin Besar Revolusi Islam lebih lanjut mengimbau supaya masalah-masalah yang tidak krusial jangan sampai memalingkan kalangan kampus dan perguruan tinggi dari hal-hal yang utama dan penting.


“Ada sementara kalangan dari kubu musuh yang bekerja keras untuk menyeret para aktivis kampus ke masalah-masalah politik yang panas. Karena itu, semua pihak harus berusaha untuk tidak terjebak dalam isu-isu politik,” kata beliau.


Ayatollah al-Udzma Khamenei mengungkapkan bahwa Islam dan revolusi Islam adalah faktor utama yang telah mengkikis hambatan kemajuan ilmu di negara ini. “Jika tidak ada kemenangan revolusi ini, pastilah musuh tak pernah mengizinkan negara seperti Iran yang sangat mengundang selera mereka ini maju di bidang keilmuan dan punya kepercayaan diri yang tinggi untuk meraih ilmu,” imbuh beliau.


Untuk itu, kata beliau lagi, semua pihak harus berusaha mempertahankan dan menjaga nilai dan cita-cita luhur revolusi Islam.


Dalam kesempatan itu, Rahbar menekankan untuk memperkuat bahasa Farsi. Kepada para dosen dan kalangan kampus beliau mengimbau supaya memanfaatkan kemajuan ilmu di Iran untuk memperluas dan menguatkan bahasa Farsi.


Menciptakan istilah-istilah keilmuan dalam bahasa Farsi menurut beliau adalah langkah yang sangat berkesan dalam hal ini. Beliau menambahkan, “Kalian harus berusaha supaya kelak, setiap orang yang hendak memanfaatkan kemajuan keilmuan Iran harus belajar bahasa Farsi.”


Seraya mengkritik penggunakan istilah-istilah asing di tengah masyarakat, Pemimpin Besar Revolusi Islam mengatakan, “Banyak tradisi keliru yang ada sebelum kemenangan revolusi Islam sudah berhasil dikikis. Tapi sayangnya, tradisi menggunakan istilah-istilah asing masih tetap ada.”


Di bagian akhir pembicaraannya, Ayatollah al-Udzma Khamenei menjelaskan makna yang dimaksud dari kemajuan ilmu. Kemajuan ilmu ini, kata beliau adalah kemajuan yang didasari oleh pemikiran Islam. Sebab, kemajuan ilmu yang dikembangkan oleh Barat dilandasi oleh pemikiran eksploitasi dan imperialisme yang tentunya tidak mendatangkan keadilan bagi umat manusia. Kemajuan seperti ini tidak mampu menjauhkan masyarakat dari kemiskinan, diskriminasi dan kebejatan moral.


Rahbar menambahkan, “Yang hendak diwujudkan oleh pemerintahan Islam adalah kemajuan berdasarkan model yang Islami dan Irani, yakni model kemajuan yang didasari oleh bimbingan Islam dan sesuai dengan kebutuhan dan tradisi bangsa Iran.”


Di awal pertemuan, sembilan dosen dan intelektual menyampaikan pandangan mereka terkait berbagai persoalan negara khususnya yang berhubungan dengan perguruan tinggi dan kegiatan keilmuan

 

 

 Tanggal2013/08/22 – 10:47  

 

Presiden Partai Islam se Malaysia:
 Pemikiran Syiah Besar Pengaruhnya bagi Kemajuan Islam di Malaysia
Menurut ulama Malaysia dan juga Presiden Partai Islam se Malaysia, Datuk Seri Abdul Hadi tersebut sumbangsih pemikiran Syiah bagi kemajuan dan perkembangan Islam di Malaysia tidak bisa dinafikan. Menurutnya itu adalah fakta sejarah dari kurun-kurun sebelumnya yang tidak bisa dibantah. 

 

 

Datuk Seri Abdul Hadi Presiden Partai Islam se Malaysia dalam sebuah pertemuan di Terangganu Malaysia rabu  menyatakan,  “Musuh-musuh Islam bertekad untuk menjebak muslim Sunni dan Syiah untuk terus berpecah belah dan saling berselisih untuk mencegah terwujudnya persatuan dikalangan dua mazhab besar Islam ini.”

“Hal ini harus menjadi perhatian besar para cendekiawan dan ulama Islam untuk bisa menyelesaikannya.” Tambahnya.

Menurut ulama Malaysia dan juga Ahli Parlemen Marang tersebut sumbangsih pemikiran Syiah bagi kemajuan dan perkembangan Islam di Malaysia tidak bisa dinafikan. Menurutnya itu adalah fakta sejarah dari kurun-kurun sebelumnya yang tidak bisa dibantah.

Menurutnya lagi, adanya isu ikhtilaf dan perpecahan antara Sunni dan Syiah adalah isu yang sengaja dihembuskan untuk membuat sibuk umat Islam sehingga lupa dengan rezim Israel yang masih terus menebar kejahatan di bumi Palestina. “Blok Barat dan rezim Israel yang sedang melakukan konspirasi untuk menghalangi kebangkitan Islam di negara-negara kawasan, itulah musuh bersama kita. Bukan saudara sendiri yang berbeda mazhab.”

“Kami mencita-citakan kebangkitan Islam dan sedang berada di jalan itu. Umat Islam diseluruh dunia akan mencapai kemenangan.” Tambahnya optimis.

“Untuk melalaikan kaum muslimin dari poros kebangkitan Islamlah, dihembuskanlah perbedaan dan perselisihan antar mazhab.” Lanjutnya lagi.

Presiden Partai Islam Semalaysia tersebut lebih jauh mengingatkan umat Islam agar tidak terperangkap dalam agenda yang melemahkan umat Islam dengan memanfaatkan isu Sunni – Syiah. Menurut beliau isu perbedaan mazhab tersebut hanya menjauhkan umat dari kebangkitan Islam di seluruh dunia hari ini di samping melupakan musuh yang sebenarnya yaitu rezim Zionis dan negara adi kuasa

.

Menurutnya isu-isu ikhtilaf antar mazhab hanyalah wewenang para ahli agama dan sarjana Islam untuk membahas dan mendiskusikannya bukan oleh orang-orang jahil dan bodoh, sebab hanya akan semakin memperkeruh suasana

.

“Dalam hal ini kita kena sadar dalam masalah mazhab ini sepatutnya hanya dibincangkan oleh ahli-ahli ilmu, jangan yang bodoh. Dalam Sunni ada yang bodoh, dalam Syiah pun ada yang bodoh dan ini ‘penyakit’ yang kita sedang hadapi hari ini,” tambahnya lagi

.

Selain itu beliau menjelaskan mazhab Syiah dalam masyarakat Melayu bukan sesuatu yang baru, melainkan sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu

.

Mazhab Syiah Semakin Diminati, Pemerintah Dituntut MencegahPemerintah Malaysia dikabarkan tengah melakukan upaya menghambat perkembangan mazhab Syiah di negara itu seiring dengan perkembangan jumlah pengikut Syiah di negeri tersebut yang semakin pesat.

keterlaluan, pemerintah malaysia sudah melanggar HAM, hak meyakini suatu keyakinan,mudah2an warga syiah di malaysia semakin bertambah banyak

Mungkinkah orang benar gagal syari’at ? Ulama Malaysia mengklaim diri paling benar, namun faktanya gadis gadis China berpakaian mini berjalan jalan bebas di Penang ! Jika ulama Malaysia merasa benar mengapa Malaysia gagal jadi negara Islam ?

Abdul Rahim Mohamad Radzi, Deputi Sekretaris Kementerian Dalam Negeri Malaysia mengatakan, pendukung mazhab Syiah 10 tahun lalu merupakan minoritas kecil di negara itu, namun sekarang jumlah mereka mencapai 250 ribu orang yang tersebar di seluruh penjuru Malaysia. Sebagaimana dilaporkan Press TV (6/8).

Ia menganggap perkembangan teknologi informasi sebagai salah satu faktor penyebab bertambahnya jumlah pengikut mazhab Syiah di Malaysia dan meminta agar mazhab ini diberantas sampai ke akarnya.

Menurutnya Kemendagri, kepolisian, penerapan aturan untuk mengontrol penerbitan, pengawasan produksi film serta CD dan pusat pengawasan departemen imigrasi, berperan besar dalam mencegah perkembangan mazhab Syiah di Malaysia.

Mohamad Radzi menegaskan, diharapkan kebijakan pemerintah dalam berperang dengan penyebaran mazhab Syiah di empat negara bagian Malaysia seperti Pahang, Kelantan, Sabah dan Sarawak dapat diterapkan dengan akurat.

Beberapa pekan terakhir, peraturan pemerintah Malaysia terkait perang melawan penyebaran mazhab Syiah diterapkan secara serius dengan maksud untuk memberantas para pengikut Syiah di negara itu.