Membayar Upah Rasulullah

Artikel ini kami kutip dari : http://ejajufri.wordpress.com/page/2/

==================================================

Malam ke-21 Ramadan di Mahdieh Imam Hasan

Untuk mengenang wafatnya lima orang saleh, sekelompok masyarakat membangun patung-patung mereka untuk dijadikan sebagai peringatan dan penghormatan. Sampai akhirnya beberapa generasi telah, muncullah dongeng dan khurafat yang menjadikan patung-patung itu sebagai berhala. Nuh a.s. hadir dan membuat revolusi pemikiran untuk membersihkan akal manusia dari penyembahan selain kepada Tuhan yang Mahaesa.

Rentang waktu selama 950 tahun membuktikan bahwa tauhid tidak bisa dipaksakan dan Ibnu Abbas mengatakan bahwa hanya delapan puluh orang yang beriman pada masa itu. Padahal Nuh sudah mengatakan: Sekali-kali aku tidak minta upah kepada kalian atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam.

Generasi masyarakat berikutnya kembali membuat patung orang-orang yang selamat dari hempasan topan dan badai, kali ini untuk memberi peringatan atas kesalahan nenek moyang mereka. Namun generasi bernama Ad kembali gagal menyadari kemanusiaan mereka dan sombong akan kekuatan yang diberikan Tuhan. Mereka membanggakan kekuatan tapi melupakan bahwa Allah Swt. yang menciptakan mereka lebih kuat lagi.

Kaum Ad menolak hari akhirat dan penjelasan Nabi Hud tentang hikmah penciptaan manusia. Janji Allah datang ketika masa kekeringan dan angin kencang menghancurkan mereka. Padahal Hud sudah mengatakan: Sekali-kali aku tidak minta upah kepada kalian atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam.

Datanglah kaum Tsamud yang hanya bertaklid atas apa-apa yang disembah oleh moyang mereka. Nabi Saleh yang oleh orang-orang kafir dikenal karena keluasan ilmu, kematangan akal, kejujuran, dan kebaikan berbalik dimusuhi ketika tahu bahwa dia mengajak seruan kepada Tuhan yang esa. Setelah diminta mendatangkan bukti, Saleh mendatangkan mukjizat dalam bentuk unta betina. Kebenaran yang dibawa oleh Nabi Saleh memang tidak berhubungan dengan unta itu, namun berhubungan dengan dakwah dan ajaran karena ia adalah wujud dari mukjizat.

Ketika unta tersebut dibunuh, orang-orang kafir justru menantang untuk didatangkan siksaan. Lalu binasalah seluruh yang ada di muka bumi tempat kaum Tsamud tinggal. Padahal Saleh sudah mengatakan: Sekali-kali aku tidak minta upah kepada kalian atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam.

Generasi berlalu hingga muncul kaum yang melakukan kejahatan yang tidak biasa dilakukan oleh penjahat manapun. Mereka berhubungan seks dengan sesama jenis. Orang-orang yang sakit tersebut menolak obat yang ditawarkan oleh manusia yang paling tulus pada masa itu, Luth. Luth yang hanya mengajak mereka untuk berpikir sehat dan menggunakan fitrahnya, mengajukan pertanyaan kepada mereka, “Tidak adakah di antara kalian seseorang yang berakal?”

Terus-menerus menghadapi gangguan, bumi tempat mereka hidup dihancurkan padahal Luth pernah mengatakan: Sekali-kali aku tidak minta upah kepada kalian atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam.

Kaum Nabi Luth sudah menjadi contoh bahwa agama tidak sekedar tauhid tapi juga perilaku dalam kehidupan dan pergaulan. Namun kaum Nabi Syuaib tidak belajar dari kesalahan tersebut dan mereka memisahkan antara agama dari kehidupan sehari-hari. Hal yang terkenal dari penduduk Madian adalah mengurangi timbangan dan merebut hak-hak manusia yang semua itu mereka anggap sebagai bentuk kepandaian dalam berdagang. Syuaib hanya menginginkan perbaikan pada saudara-saudaranya, namun mereka menyambutnya dengan ejekan.

Ancaman yang diterima Syuaib dibalas dengan satu suara guntur yang mengguncangkan sehingga mereka semua tewas. Padahal Syuaib sudah mengatakan: Sekali-kali aku tidak minta upah kepada kalian atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam.

Sama seperti para nabi sebelumnya, Rasulullah saw. juga tidak menginginkan upah untuk dirinya sendiri tetapi, sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah ayat: Upah apa pun yang aku minta kepada kalian, maka itu untuk kalian sendiri. Allah Swt. memerintahkan rasul untuk mengingatkan kepada umatnya sebuah upah dalam bentuk kecintaan kepada al-qurba. Meski ayat dalam surah Asy-Syura ayat 23 tersebut biasa diterjemahkan sebagai kekeluargaan, namun al-qurba bermakna kerabat dan dekat pada nasab seseorang yang meminta dalam ayat tersebut.

Upah yang sudah sepantasnya dibayarkan kepada Rasulullah saw. ini bukanlah permintaan dari pribadi sang nabi, karena nabi bertugas sebagai pemberi peringatan dan seorang utusan Tuhan tidaklah mungkin memiliki egois untuk membungkus keinginan pribadi dalam balutan ajaran agama. Karenanya, upah mencintai keluarga nabi saw. adalah perintah Allah Swt. sendiri.

Lalu umat Nabi Muhammad saw. juga diharuskan bertanya, apakah mawaddah (cinta berlebih) adalah cukup tanpa harus mengikuti dan meneladani segala aspek kehidupannya? Apakah mungkin mereka diperintah untuk mencintai manusia-manusia biasa yang melakukan dosa tetapi dapat memberikan manfaat di dunia dan akhirat? Dalam At-Tafsîr Al-Kabîr, Imam Thabarani menukil sebuah riwaat terkait dengan ayat 23 dalam surah Asy-Syura tersebut:

وعن ابنِ عبَّاس قالَ: لَمَّا نَزَلَتْ { قُل لاَّ أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْراً إِلاَّ ٱلْمَوَدَّةَ فِي ٱلْقُرْبَىٰ } قَالُواْ: يَا رَسُولَ اللهِ مَنْ هَؤُلاَءِ الَّذِينَ يَأْمُرُنَا اللهُ بمَودَّتِهِمْ؟ قَالَ: عَلِيٌّ وَفَاطِمَةُ وَوَلَدَهُمَا

Ibnu Abbas berkata, ketika ayat tersebut turun, para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah mereka yang diperintahkan kepada kami untuk mencintainya?” Beliau menjawab: “Ali, Fatimah, dan kedua putranya.”

Malam 12 Rabiulawal 1435

Referensi:

  1. Bahjat, Ahmad (Juni 2006) [Terbitan Pertama 1995]. Anbiyâ Allâh [Sejarah Nabi-Nabi Allah]. Jakarta: Penerbit Lentera. ISBN 979-24-3316-3
  2. “Mengapa Redaksi Al-Qurba Disimpulkan sebagai Ahlulbait?” IslamQuest.net.
  3. “Tafsîr At-Tafsîr Al-Kabîr”. Altafsir.com.

Bukan Salawat Versi Syiah

Artikel ini kami kutip dari : http://ejajufri.wordpress.com/page/2/

==============================================

Salawat

Dalam sebuah seminar di Sumatera Utara, salah seorang profesor dari sebuah majelis ulama di negeri ini berkata bahwa para pengikut Syiah suka bermain-main dalam salawatnya. Dia mengkritik bahwa Syiah selalu bersalawat kepada keluarga nabi tapi tidak pernah menyebut-nyebut sahabat nabi. Pria bergelar profesor itu mengatakan bahwa di dalam kitab suci umat Islam perintah salawat hanya ditujukan untuk nabi tok.

Sekilas memang benar. Tapi bukankah kita tidak akan pernah bisa mengerti bagaimana caranya salat—yang darinya juga muncul kata salawat—sekalipun misalkan terdapat ratusan ayat yang memerintahkan umat Islam untuk menegakkan salat? Bukankah sudah disepakati bahwa riwayat hadis menjadi penjelas bagi ayat-ayat suci Alquran?

إن النبي صلى الله عليه وسلم خرج علينا، فقلنا: يا رسول الله، قد علمنا كيف نسلم عليك، فكيف نصلي عليك؟ قال: قولوا: اللهم صل على محمد، وعلى آل محمد، كما صليت على آل إبراهيم، إنك حميد مجيد. اللهم بارك على محمد، وعلى آل محمد، كما باركت على آل إبراهيم، إنك حميد مجيد

Dalam Shahîh Al-Bukhârî bab salawat kepada nabi saw. disebutkan bahwa sekelompok sahabat bertanya kepada nabi, “Wahai Rasulullah, engkau telah mengajari kami cara mengucapkan salam, lalu bagaimana cara kami bersalawat kepadamu?” Beliau berkata, “Hendaklah kalian mengucapkan: ‘Ya Allah, sampaikan salawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau sampaikan salawat kepada keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia. Ya Allah, berkahi Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau berkahi Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia.’”

Cara bersalawat yang tidak jauh berbeda juga disebutkan dalam tafsir Al-Qurthubi dan Fakhurruzi terhadap ayat salawat dan tetap mencantumkan keharusan menyebut keluarga Muhammad saw. Bahkan dalam kitabnya, Ibnu Hajar Al-Haitami menyebutkan riwayat bahwa nabi melarang kita untuk bersalawat jika tidak disertai dengan keluarga Muhammad.

لا تصلوا علي الصلاة البتراء تقولون اللهم صل على محمد وتمسكون بل قولوا اللهم صل على محمد وعلى آل محمد

Nabi bersabda, “Janganlah kalian bersalawat kepadaku dengan salawat yang batra. Kalian mengatakan: ‘Ya Allah sampaikanlah salawat kepada Muhammad’ lalu kalian diam. Tapi katakanlah: ‘Ya Allah sampaikanlah salawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad’.”

Salawat

Sehingga perlu sekali lagi ditegaskan bahwa salawat kepada keluarga Nabi Muhammad saw. bukanlah keinginan pribadi Rasulullah saw. apalagi main-mainan Syiah. Ketika sang profesor mengatakan bahwa salawat kepada keluarga Nabi Muhammad saw. hanyalah anjuran, maka dia harus menelan kenyataan bahwa sesungguhnya salawat kepada sahabatlah yang tidak wajib, meskipun Allah dan malaikat juga bersalawat (mendoakan) orang-orang beriman.

Jika dikatakan bahwa salawat kepada keluarga nabi hanyalah anjuran, maka dia harus mengingat sabda nabi yang ditegaskan oleh Imam Syafii r.a. bahwa barang siapa yang menegakkan salat tapi tidak membaca salawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad maka salatnya tidaklah sah.

Beberapa orang yang merasa mamakai busana ahli tauhid mengatakan bahwa salawat kepada Muhammad adalah pengagungan yang bisa menjurus kepada syirik, maka sebagaimana salat menjadi media penghubung antara manusia dengan Tuhannya, salawat juga menjadi tali penghubung kita kepada Nabi Muhammad saw. Dengan membaca salawat kita tidak meninggikan Nabi Muhammad saw. di atas keharusannya, justru memposisikan beliau pada tempatnya sebagaimana diperintahkan.

Saya tidak pernah bisa melupakan majalah Sabili yang terbit pada bulan September 2005 yang menulis bahwa Syiah membaca salawat allâhumma shalli alla Muhammad wa Ali, yakni kepada keluarga Ali. Semoga kejahilan dari tidak bisa membedakan antara âli (keluarga) dan ‘Alî atau kepicikan jenis lainnya tidak terus berlanjut.

Putri Rasulullah Bukan Hanya Sayyidah Fathimah, Membantah http://secondprince.wordpress.com

sebagian sumber tulisan ini dari web http://www.secondprince.wordpress.com

Putri Rasulullah Bukan Hanya Sayyidah Fathimah, Membantah http://secondprince.wordpress.com

Saya bersikap objektif saja disini, riwayat shahih ya shahih, lafaz yang jelas ya sudah jelas. Pendapat menyimpang dan nyeleneh ya katakan menyimpang terlepas siapapun yang mengatakannya.

Adanya pro kontra diantara ulama tidak bisa digunakan sebagai dalil. Hampir semua isu setelah melalui waktu yang sangat lama akan terjadi pro kontra. Sehingga kita tidak perlu terjebak dalam pro kontra itu. Kemanapun kita lari kita apakah masuk dalam yang kontra atau masuk dalam yang pro. Makanya cocok blog ini bernama “analisa pencari kebenaran”, yang konsekuensinya membutuhkan anda2 untuk mempertajam analisa dengan argumen kita yang tajam dan valid.

Kasusnya disini sama seperti secondprince yang mengatakan dirinya bukan syi’ah, lalu dia mazhab apa ? jika secondprince langsung mengatakan bahwa dia pengikut syiah, tentu akan mengurangi animo masyarakat terhadap tulisan-tulisannya sehingga mengurangi atau tidak tersampaikan tujuan yang diinginkannya.

Intinya setiap perkataan ulama mesti ditimbang dengan kaidah ilmu yang ada dalam mazhab tersebut

telah ma’ruf dan masyhur bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] memiliki empat orang putri yaitu Fathimah, Ruqayyah, Ummu Kultsum dan Zainab.

Silakan saudara pembaca pikirkan apa jadinya jika seseorang muslim menyatakan bahwa putri-putri Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] sebenarnya bukanlah putri Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Apa yang akan terjadi jika Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mendengar tuduhan yang demikian?.

Dalam keyakinan kami dengan berlandaskan Al Qur’an dan hadis shahih [dalam kitab-kitab Ahlus Sunnah] tidak diragukan bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak hanya memiliki satu orang putri.

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin “hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang [QS Al Ahzab : 59]

Ayat Al Qur’an di atas dengan jelas menyatakan bahwa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] memiliki anak-anak perempuan. Lafaz “banaatika” menunjukkan jumlahnya lebih dari satu. Kalau ada yang ingin berhujjah bahwa lafaz tersebut bisa saja bermakna tunggal maka jawabannya buktikan riwayat shahih yang mengkhususkan lafaz tersebut bermakna tunggal yaitu khusus Sayyidah Fathimah [‘alaihas salaam]. Kalau tidak ada bukti maka lafaz jamak ya tetap diartikan jamak. Apalagi didukung oleh hadis-hadis shahih berikut

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ عَامِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ عَمْرِو بْنِ سُلَيْمٍ الزُّرَقِيِّ عَنْ أَبِي قَتَادَةَ الْأَنْصَارِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي وَهُوَ حَامِلٌ أُمَامَةَ بِنْتَ زَيْنَبَ بِنْتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلِأَبِي الْعَاصِ بْنِ رَبِيعَةَ بْنِ عَبْدِ شَمْسٍ فَإِذَا سَجَدَ وَضَعَهَا وَإِذَا قَامَ حَمَلَهَا

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Yusuuf yang berkata telah mengabarkan kepada kami Maalik dari ‘Aamir bin ‘Abdullah bin Zubair dari ‘Amru bin Sulaim Az Zuraqiy dari Abi Qatadah Al Anshariy bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] pernah shalat dan Beliau menggendong Umamah binti Zainab binti Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam], putri Abi ‘Aash bin Rabi’ah bin ‘Abdus Syams, apabila Beliau sujud Beliau meletakkannya dan apabila berdiri Beliau menggendongnya [Shahih Bukhariy 1/109 no 516]

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ أَنَّهُ رَأَى عَلَى أُمِّ كُلْثُومٍ عَلَيْهَا السَّلَام بِنْتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بُرْدَ حَرِيرٍ سِيَرَاءَ

Telah menceritakan kepada kami Abul Yamaan yang berkata telah mengabarkan kepada kami Syu’aib dari Az Zuhriy yang berkata telah mengabarkan kepadaku Anas bin Malik bahwasanya ia pernah melihat Ummu Kultsum [‘alaihas salaam] binti Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] memakai kain yang bersulam sutra [Shahih Bukhariy 7/151 no 5842]

حدثنا عبد الله حدثني أبي وأبو خيثمة قالا ثنا معاوية بن عمرو ثنا زائدة عن عاصم عن شقيق قال لقي عبد الرحمن بن عوف الوليد بن عقبة فقال له الوليد مالي أراك قد جفوت أمير المؤمنين عثمان رضي الله عنه قال عبد الرحمن أبلغه فذكر الحديث وأما قوله اني تخلفت يوم بدر فإني كنت أمرض رقية بنت رسول الله صلى الله عليه و سلم حتى ماتت

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku dan Abu Khaitsamah keduanya berkata telah menceritakan kepada kami Mu’awiyah bin ‘Amru yang berkata telah menceritakan kepada kami Za’idah dari ‘Aashim dari Syaqiiq yang berkata Abdurrahman bin ‘Auf bertemu Walid bin Uqbah. Maka Walid berkata kepadanya ada apa denganmu aku melihatmu bersikap kasar kepada Amirul Mukminin Utsman [radiallahu ‘anhu]. Maka ‘Abdurrahman berkata kepadanya “sampaikan kepadanya”. [perawi] menyebutkan hadis, [sampai pada perkataan Utsman] “adapun perkataannya [‘Abdurrahman] bahwa aku tidak ikut dalam perang Badar maka aku telah menemani Ruqayyah binti Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang sedang sakit sampai akhirnya ia wafat …[Musnad Ahmad 1/75 no 556, Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata “sanadnya hasan”]

Hadis-hadis di atas adalah bukti kuat yang menunjukkan bahwa Ruqayyah [‘alaihas salaam], Ummu Kultsum [‘alaihas salaam] dan Zainab [‘alaihas salaam] adalah putri-putri Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] selain Sayyidah Fathimah [‘alaihas salaam].

.

maka kami akan bawakan dalil shahih dalam kitab mazhab Syi’ah bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] memang memiliki empat orang putri yaitu Fathimah, Zainab, Ruqayyah dan Ummu Kultsum.

Terdapat riwayat shahih yang disebutkan oleh Syaikh Ath Thuusiy dalam kitabnya Tahdzib Al Ahkam. Riwayat ini menyebutkan tentang doa-doa bulan Ramadhan yang diajarkan oleh Imam Musa bin Ja’far atau yang dikenal dengan sebutan ‘Abdus Shalih. Riwayat ini sangat panjang sehingga disini hanya akan kami kutip matan yang akan dijadikan hujjah. Imam Musa bin Ja’far mengajarkan doa yang didalamnya Beliau menyebutkan lafaz berikut

اللهم صل على رقية بنت نبيك والعن من آذى نبيك فيها، اللهم صل على أم كلثوم بنت نبيك والعن من آذى نبيك فيه

Ya Allah berikanlah shalawat atas Ruqayyah binti Nabi-Mu dan laknatlah orang yang menyakiti Nabi-Mu tentangnya [Ruqayyah] dan Ya Allah berikanlah shalawat atas Ummu Kultsum binti Nabi-Mu dan laknatlah orang yang menyakiti Nabi-Mu tentangnya [Ummu Kultsum]…[Tahdzib Al Ahkam Syaikh Ath Thuusiy hal 120 no 38]

Syaikh Ath Thuusiy menyebutkan sanadnya dalam kitab Tahdzib Al Ahkam yaitu sanad berikut

محمد بن يعقوب عن علي بن إبراهيم عن أبيه عن ابن محبوب عن علي بن رئاب عن عبد صالح عليه السلام قال

Muhammad bin Ya’quub dari ‘Aliy bin Ibrahiim dari Ayahnya dari Ibnu Mahbuub dari ‘Aliy bin Ri’aab dari ‘Abdus Shalih [‘alaihis salaam] yang berkata…[Tahdzib Al Ahkam Syaikh Ath Thuusiy 3/106 no 38]

Adapun jalan sanad Syaikh Ath Thuusiy sampai Muhammad bin Ya’qub Al Kulainiy juga disebutkan Syaikh Ath Thuusiy dalam kitabnya

فما ذكرناه في هذا الكتاب، عن محمد بن يعقوب الكليني رحمه الله: فقد أخبرنا به الشيخ: أبو عبد الله محمد بن محمد بن النعمان رحمه الله، عن أبي القاسم جعفر بن محمد بن قولويه رحمه الله، عن محمد بن يعقوب رحمه الله

Maka apa yang kami sebutkan dalam kitab ini dari Muhammad bin Ya’qub Al Kulainiy rahimahullah maka sungguh telah mengabarkan kepada kami dengannya Syaikh Abu ‘Abdullah Muhammad bin Muhammad bin Nu’man rahimahullah dari Abu Qaasim Ja’far bin Muhammad bin Quuluwaih rahimahullah dari Muhammad bin Ya’qub rahimahullah [Syarh Masyaikh Tahdzib Al Ahkam hal 5]

Jadi sanad lengkap riwayat tersebut dari Syaikh Ath Thuusiy adalah dari Syaikh Muhammad bin Muhammad bin Nu’man [Al Mufiid] dari Ibnu Quuluwaih dari Al Kulainiy dari Aliy bin Ibrahim dari Ayahnya dari Ibnu Mahbuub dari ‘Aliy bin Ri’aab dari ‘Abdus Shalih [Imam Musa bin Ja’far]. Sanad ini berdasarkan standar ilmu Rijal Syi’ah kedudukannya shahih, berikut keterangan mengenai para perawinya

  1. Muhammad bin Muhammad adalah Muhammad bin Muhammad bin Nu’man Syaikh Mufid, ia termasuk diantara guru-guru Syi’ah yang mulia dan pemimpin mereka, dan orang yang paling terpercaya di zamannya, dan paling alim diantara mereka [Khulashah Al Aqwaal Allamah Al Hilliy hal 248 no 46]
  2. Abul Qaasim Ja’far bin Muhammad bin Quluwaih Al Qummiy termasuk orang yang tsiqat dan mulia dalam hadis dan faqih [Rijal An Najasyiy hal 123 no 318]
  3. Muhammad bin Ya’qub Al Kulainiy dia adalah orang yang paling tsiqat dalam hadis dan paling tsabit diantara mereka [Rijal An Najasyiy hal 377 no 1026]
  4. Aliy bin Ibrahim bin Haasyim, tsiqat dalam hadis, tsabit, mu’tamad, shahih mazhabnya [Rijal An Najasyiy hal 260 no 680]
  5. Ibrahim bin Haasyim Al Qummiy seorang yang tsiqat jaliil. Ibnu Thawus pernah menyatakan hadis yang dalam sanadnya ada Ibrahim bin Haasyim bahwa para perawinya disepakati tsiqat [Al Mustadrakat Ilm Rijal Al Hadis, Asy Syahruudiy 1/222]
  6. Hasan bin Mahbuub seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 354]
  7. Aliy bin Ri’aab Al Kuufiy seorang yang tsiqat [Al Fahrasat Syaikh Ath Thuusiy hal 151]

Riwayat di atas membuktikan dengan jelas bahwa Imam Musa bin Ja’far [‘alaihis salaam] menyatakan bahwa Ruqayyah [‘alaihas salaam] dan Ummu Kultsum [‘alaihas salaam] keduanya adalah putri Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam].

Kemudian Ath Thuusiy juga membawakan riwayat lain dalam kitabnya yang menyebutkan bahwa Zainab juga termasuk putri Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam].

أحمد بن محمد عن ابن أبي عمير عن حماد عن الحلبي عن أبي عبد الله عليه السلام ان أباه حدثه ان امامة بنت أبي العاص بن الربيع وأمها زينب بنت رسول الله صلى الله عليه وآله

Ahmad bin Muhammad dari Ibnu Abi ‘Umair dari Hammaad dari Al Halabiy dari Abi ‘Abdullah [‘alaihis salaam] bahwa Ayahnya menceritakan kepadanya sesungguhnya Umamah putri Abil ‘Aash bin Rabii’ dan ibunya adalah Zainab binti Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wa ‘alihi]...[Tahdzib Al Ahkam Syaikh Ath Thuusiy 8/258 no 169]

Ahmad bin Muhammad yang dimaksud adalah Ahmad bin Muhammad bin Iisa. Dan Jalan Ath Thuusiy hingga Ahmad bin Muhammad bin Iisa sanadnya shahih. Sebagaimana disebutkan Syaikh Ath Thuusiy dalam kitabnya

ومن جملة ذكرته عن أحمد بن محمد بن عيسى ما رويته بهذه الأسانيد عن محمد بن يعقوب عن عدة من أصحابنا عن أحمد بن محمد بن عيسى

Dan yang kami sebutkan dari Ahmad bin Muhammad bin Iisa apa-apa yang diriwayatkan disini sanad-sanadnya dari Muhammad bin Ya’qub dari sekelompok sahabat kami dari Ahmad bin Muhammad bin Iisa [Syarh Masyaikh Tahdzib Al Ahkam hal 42-43]

Telah disebutkan sebelumnya jalan Syaikh Ath Thuusiy sampai Muhammad bin Ya’qub Al Kulainiy shahih maka sisa perawi sanad di atas adalah Al Kulainiy dari sekelompok sahabat kami dari Ahmad bin Muhammad bin Iisa dari Ibnu Abi Umair dari Hammaad dari Al Halabiy dari Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam]. Berikut keterangan para perawinya

  1. Muhammad bin Ya’qub Al Kulainiy dia adalah orang yang paling tsiqat dalam hadis dan paling tsabit diantara mereka [Rijal An Najasyiy hal 377 no 1026]
  2. Muhammad bin Yahya Al Aththaar seorang yang tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 353 no 946]. Ahmad bin Idris Al Qummiy seorang yang tsiqat faqiih shahih riwayatnya [Rijal An Najasyiy hal 92 no 228]. Aliy bin Ibrahim bin Haasyim, tsiqat dalam hadis, tsabit, mu’tamad, shahih mazhabnya [Rijal An Najasyiy hal 260 no 680]. Telah ma’ruf bahwa jika Al Kulainiy menyebutkan sekelompok sahabat kami dari Ahmad bin Muhammad bin Iisa maka mereka adalah Muhammad bin Yahya, Aliy bin Muusa Al Kumaydzaaniy, Dawud bin Kawrah, Ahmad bin Idris dan Aliy bin Ibrahim bin Haasyim [Rijal An Najasyiy hal 377-378 no 1026]
  3. Ahmad bin Muhammad bin Iisa Al Qummiy adalah seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 351]
  4. Muhammad bin Abi Umair, ia termasuk orang yang paling terpercaya baik di kalangan khusus [Syi’ah] maupun kalangan umum [Al Fahrasat Ath Thuusiy hal 218]
  5. Hammaad bin Utsman seorang yang tsiqat jaliil qadr [Al Fahrasat Ath Thuusiy hal 115]
  6. Ubaidillah bin Aliy Al Halabiy adalah seorang yang tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 230-231 no 612]

Riwayat shahih di atas membuktikan dengan jelas bahwa Imam Abu Ja’far [‘alaihis salaam] menyatakan bahwa Zainab [‘alaihas salaam] adalah salah satu putri Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. .

Riwayat shahih mazhab Syi’ah di atas bersesuaian dengan Al Qur’anul Kariim.

Saya bisa juga mengutip banyak ulama Syi’ah yang sependapat dengan saya diantaranya Al Kulainiy, Al Mufiid, Al Majlisiy dan yang lainnya. Intinya setiap perkataan ulama mesti ditimbang dengan kaidah ilmu yang ada dalam mazhab tersebut

===================

BANTAHAN :

Web secondprince ngelantur, dia menuduh web syiahali mengcopy paste tulisan dia tanpa menyebut sumber, ada kok kami sebut, memang sebagian “lupa kami sebut” sumber copy paste nya…

Link yang dia tuduh kan berasal dari web syiahali ternyata udah kosong tuh

Mohon maaf sebelumnya, komentar saya ini sekedar ingin memverifikasi apakah maksud pernyataan anda itu adalah bahwa setiap pengikut syi’ah yang berpendapat demikian (putri kandung Rasulullah hanya Fathimah) berarti dia termasuk pengikut syi’ah yang nyeleneh dan menunjukkan ketidaktahuan yang menyedihkan? karena saya membaca pada salah satu website syi’ah yang cukup populer dan representatif yaitu (Maktab Al Ab-hadts Al Aqa’idiyyah / Center of Belief Researches), disitu ada sebuah pertanyaan mengenai doa yang anda nukil pada artikel ini,

اللهم صل على رقية بنت نبيك والعن من آذى نبيك فيها، اللهم صل على أم كلثوم بنت نبيك والعن من آذى نبيك فيه

pertanyaan itu dijawab dengan menukil perkataan At Tustariy dalam Qamus Ar Rijal yang mana disitu At Tustariy berargumen bahwa yang dimaksud “anak/binti” pada doa tersebut adalah anak angkat;

فإن المقصود بالبنوة هي الربيبة فإن الربيبة يصح اطلاق البنوة عليها مجازاً

“Sesungguhnya yang dimaksud anak (pada doa tsb) adalah anak angkat, dan sesungguhnya anak angkat dibenarkan secara mutlak sebagai anak secara majaz”
Selengkapnya dapat dibaca disini http://www.aqaed.com/faq/5600/

apakah menurut anda At Tustari yang perkataannya dinukil oleh pengasuh website tersebut termasuk syi’ah yang nyeleneh dan menunjukkan ketidaktahuan yang menyedihkan? atau bahkan pengasuh website itu sendiri justru representasi dari syi’ah yang nyeleneh dan menunjukkan ketidaktahuan yang menyedihkan? karena selain pilihan jawabannya terhadap pertanyaan diatas, pada bagian lain di website itu pengasuhnya juga mempertahankan pendapat yang menyatakan bahwa putri Rasulullah shalallahu`alayhi wasallam selain Fathimah `alayhassalam bukanlah putri kandung beliau, sebagaimana dapat dilihat disini http://www.aqaed.com/faq/1547/

umumnya pengikut syi’ah yang berpendapat bahwa Fathimah `alayhassalam adalah satu2nya putri kandung Rasulullah shalallahu`alayhi wasallam adalah merujuk pada buku karya Sayyid Ja’far Murtadha Al Amiliy ini بنات النبي أم ربائبه , apakah beliau juga termasuk syi’ah yang nyeleneh dan menunjukkan ketidaktahuan yang menyedihkan?

Kedudukan Tautsiq Al Ijliy : Bantahan Atas Tuduhan Tasahul

sumber tulisan ini dari web http://www.secondprince.wordpress.com

Kedudukan Tautsiq Al Ijliy : Bantahan Atas Tuduhan Tasahul

Sudah lama sekali kami ingin menuliskan pembahasan masalah ini secara khusus. Alhamdulillah, akhirnya niat itu terwujudkan dalam tulisan sederhana ini. Bagi para pembaca yang terbiasa berdiskusi atau memperhatikan tulisan para salafy akan menemukan bahwa sebagian da’i mereka dan pengikutnya menyatakan Ibnu Hibban dan Al Ijliy adalah ulama yang tasahul dalam tautsiq perawi sehingga tidak bisa dijadikan pegangan.

Adapun mengenai Ibnu Hibban maka memang benar Beliau bertasahul dalam kitabnya Ats Tsiqat. Hanya saja hakikat tasahul Ibnu Hibban tidaklah seperti yang dipahami oleh para salafiy tersebut. Mereka menerapkannya secara mutlak sehingga berkesan kitab Ats Tsiqat menjadi tidak ada gunanya kecuali hanya sebagian perawi dimana Ibnu Hibban menyatakan dengan jelas lafaz pujiannya. Padahal pendapat yang benar, tasahul tersebut memerlukan perincian yang Insya Allah akan dibahas dalam tulisan khusus.

Disini kami akan membahas secara khusus mengenai Al Ijliy. Berbeda dengan Ibnu Hibban, Al Ijliy tidak pernah mengakui atau menyebutkan sesuatu dalam kitabnya yang mengindikasikan bahwa ia bertasahul dalam tautsiq. Dan tidak pula ternukil dari kalangan ulama mutaqaddimin ahli naqd yang menyatakan bahwa Al Ijliy bertasahul. Hanya sebagian ulama muta’akhirin yang membuat tuduhan bahwa Al Ijliy tasahul dalam tautsiq diantaranya Syaikh Abdurrahman bin Yahya Al Mu’allimiy, Syaikh Al Albaniy, Syaikh Muqbil bin Haadiy Al Wadi’iy dan selainnya yang mengikuti mereka

.

.

.

Kedudukan Al Ijliy Dalam Ilmu Rijal dan Hadis

Berikut keterangan mengenai Al Ijliy dan kedudukannya yang kami ambil dari kitab Tarikh Baghdaad Al Khatiib

أحمد بن عبد الله بن صالح بن مسلم، أبو الحسن العجلي كوفي الأصل، نشأ ببغداد وسمع بها وبالكوفة، وبالبصرة، وحدث بها عن شبابة ابن سوار، ومحمد بن جعفر غندر، والحسين بن علي الجعفي، وأبى داود الحفري، وأبى عامر العقدي، ومحمد، ويعلى ابني عبيد الطنافسي، وجماعة نحوهم. وكان دينا صالحا، انتقل إلى بلد المغرب، وسكن طرابلس – وليست بأطرابلس الشام – وانتشر حديثه هناك. روى عنه ابنه أبو صالح، وذكر أنه سمع منه في سنة سبع وخمسين ومائتين

Ahmad bin ‘Abdullah bin Shaalih bin Muslim, Abu Hasan Al Ijliy, ia berasal dari Kufah, tumbuh di Baghdaad dan mendengar [hadis] disana dan di Kufah, dan Bashrah ia menceritakan hadis dari Syababah bin Sawaar, Muhammad bin Ja’far Ghundaar, Husain bin Aliy Al Ja’fiy, Abu Dawud Al Hafariy, Abu ‘Aamir Al ‘Aqadiy, Muhammad dan Ya’la keduanya anak Ubaid Ath Thanafisiy, dan jama’ah seperti mereka. Ia seorang yang baik agamanya, kemudian pindah ke negri Maghrib dan menetap di Tharablus [bukan Tharaablus di Syaam] dan menyebarkan hadisnya di sana. Telah meriwayatkan darinya anaknya Abu Shalih dan disebutkan bahwa ia mendengar darinya pada tahun 257 H. [Tarikh Baghdaad Al Khatiib 4/436 no 2222]

أخبرنا حمزة بن محمد بن طاهر الدقاق حدثنا الوليد بن بكر الأندلسي. قال كان أبو الحسن أحمد بن عبد الله بن صالح الكوفي من أئمة أصحاب الحديث الحفاظ المتقنين، من ذوي الورع والزهد،

Telah mengabarkan kepada kami Hamzah bin Muhammad bin Thaahir Ad Daqaaq yang berkata telah menceritakan kepada kami Waliid bin Bakr Al Andalusiy yang berkata Abu Hasan Ahmad bin ‘Abdullah bin Shalih Al Kuufiy termasuk dari kalangan Imam ahli hadis yang hafizh dan mutqin, dan termasuk orang yang wara’ zuhud. [Tarikh Baghdaad Al Khatiib 4/436 no 2222]

Riwayat Al Khatib di atas sanadnya shahih sampai Walid bin Bakr Al Andalusiy

  1. Hamzah bin Muhammad bin Thaahir seorang yang shaduq [Tarikh Baghdaad 8/180 no 4310].
  2. Walid bin Bakr Al Andalusiy seorang yang tsiqat lagi amiin [Tarikh Baghdaad 13/455 no 7322].

Kemudian Walid melanjutkan dengan membawakan atsar dari ‘Abbas Ad Duuriy yang memuji Al Ijliy

قال الوليد: وحدثنا على بن أحمد حدثنا أبو العرب حدثنا مالك بن عيسى حدثنا عباس بن محمد الدوري عن عبد الله بن صالح العجلي قال مالك بن عيسى فقلت لعباس الدوري: أن له ابنا عندنا بالمغرب، فقال: أحمد؟ قلت نعم. قال عباس: إنا كنا نعده مثل أحمد بن حنبل، ويحيى بن معين

Walid berkata dan telah menceritakan kepada kami Aliy bin Ahmad yang berkata telah menceritakan kepada kami Abul ‘Arab yang berkata telah menceritakan kepada kami Malik bin Iisa yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abbaas bin Muhammad Ad Duuriy dari ‘Abullah bin Shalih Al Ijliy. Malik bin Iisa berkata maka aku berkata kepada Abbas Ad Duuriy “bahwasanya ia memiliki anak di sisi kami di Maghrib”. [Abbaas] berkata “Ahmad?”. Aku berkata “benar”. ‘Abbaas berkata “sesungguhnya kami menganggapnya seperti Ahmad bin Hanbal dan Yahya bin Ma’in” [Tarikh Baghdaad Al Khatiib 4/436 no 2222]

Atsar di atas sanadnya jayyid hingga ‘Abbas Ad Duuriy. Sanad ini merupakan lanjutan dari sanad sebelumnya yaitu dari Hamzaah bin Muhammad dari Walid bin Bakr. Adapun keterangan perawi lainnya sebagai berikut

  1. Aliy bin Ahmad adalah Aliy bin Ahmad bin Zakariya Ath Tharablusiy, seorang yang shalih dimana penduduk Tharablus mengambil fiqh dan hadis darinya [Ad Diibaaj Al Mazhab Ibnu Farhuun 2/103].
  2. Abul ‘Arab adalah Muhammad bin Ahmad bin Tamiim, ia telah dinyatakan shalih tsiqat oleh Abu ‘Abdullah Al Kharaath [Tartiib Al Madarik Qadhiy Iyaadh 5/324]
  3. Malik bin Iisa Al Qafshiy seorang Imam Kabiir banyak ulama Andalus yang datang kepadanya [Tarikh Al Islam Adz Dzahabiy 23/174]. Abul ‘Arab menyatakan bahwa ia seorang yang alim dalam ilmu hadis, Ilal dan Rijal [Tartiib Al Madarik Qadhiy Iyaadh 5/124]
  4. Abbas bin Muhammad Ad Duuriy seorang imam hafizh tsiqat sebagaimana dikatakan Adz Dzahabiy [As Siyaar Adz Dzahabiy 12/523]

أخبرنا حمزة حدثنا الوليد حدثنا على بن احمد حدثنا محمد بن احمد بن تميم الحافظ قال سمعت احمد بن مغيث مغربى ثقة يقول سئل يحيى بن معين عن أبى الحسن احمد بن عبد الله بن صالح بن مسلم فقال هو ثقة بن ثقة بن ثقة قال الوليد وانما قال فيه يحيى بن معين بهذه التزكية لأنه عرفه بالعراق قبل خروج احمد بن عبد الله إلى المغرب وكان نظيره في الحفظ إلا أنه دونه في السن وكان خروجه إلى المغرب أيام محنة احمد بن حنبل وأحمد بن عبد الله هذا اقدم في طلب الحديث واعلى إسنادا واجل عند أهل المغرب في القديم والحديث ورعا وزهدا من محمد بن إسماعيل البخاري وهو كثير الحديث خرج من الكوفة والعراق بعد ان تفقه في الحديث ثم نزل أطرابلس الغرب

Telah mengabarkan kepada kami Hamzah yang berkata telah menceritakan kepada kami Waliid yang berkata telah menceritakan kepada kami Aliy bin Ahmad yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ahmad bin Tamiim Al Hafizh yang berkata aku mendengar Ahmad bin Mughiits penduduk Maghrib yang tsiqat mengatakan Yahya bin Ma’in ditanya tentang Abul Hasan Ahmad bin ‘Abdullah bin Shaalih bin Muslim. Maka ia berkata “seorang yang tsiqat bin tsiqat bin tsiqat. Walid berkata Sesungguhnya perkataan Yahya bin Ma’in dengan tazkiyah [penilaian yang bersih] ini karena ia telah mengenalnya di Iraaq sebelum Ahmad bin ‘Abdullah pergi ke Maghrib. Dan ia [Al Ijliy] sepadan dengannya [Ibnu Ma’in] dalam masalah hafalan hanya saja ia lebih muda. Ia [Al Ijliy] pergi ke Maghrib pada masa fitnah terhadap Ahmad bin Hanbal. Dan Ahmad bin ‘Abdullah ini lebih terdahulu dalam menuntut ilmu hadis, lebih tinggi sanadnya, lebih agung di sisi penduduk Maghrib dalam masalah hadis wara’ dan zuhud dibanding Muhammad bin Ismail Al Bukhariy, dan ia banyak meriwayatkan hadis, keluar dari Kufah dan Iraq setelah mendalami hadis kemudian menetap di Tharablus Barat [Tarikh Baghdaad Al Khatiib 4/437 no 2222]

Riwayat Al Khatib di atas sanadnya jayyid sampai Yahya bin Ma’in. Berikut keterangan para perawinya

  1. Hamzah bin Muhammad bin Thaahir seorang yang shaduq [Tarikh Baghdaad 8/180 no 4310].
  2. Walid bin Bakr Al Andalusiy seorang yang tsiqat lagi amiin [Tarikh Baghdaad 13/455 no 7322].
  3. Aliy bin Ahmad adalah Aliy bin Ahmad bin Zakariya Ath Tharablusiy, seorang yang shalih dimana penduduk Tharablus mengambil fiqh dan hadis darinya [Ad Diibaaj Al Mazhab Ibnu Farhuun 2/103].
  4. Muhammad bin Ahmad bin Tamiim, ia telah dinyatakan shalih tsiqat oleh Abu ‘Abdullah Al Kharaath [Tartiib Al Madarik Qadhiy Iyaadh 5/324]
  5. Ahmad bin Mughiits disebutkan dalam sanad Al Khatib di atas bahwa ia seorang penduduk Maghrib yang tsiqat.

Berdasarkan keterangan dari Al Khatib di atas maka dapat dikatakan bahwa Al Ijli adalah seorang Imam hafizh mutqin tsiqat dan ia dianggap seperti Ahmad bin Hanbal dan Yahya bin Ma’in. Hal ini seperti yang dinyatakan Ibnu Nashiruddin Ad Dimasyiq

قال ابن ناصر الدين كان إماما حافظا قدوة من المتقنين وكان يعد كأحمد بن حنبل ويحي بن معين وكتابه في الجرح والتعديل يدل على سعة حفظه وقوة باعه الطويل

Ibnu Naashiruddiin berkata “Ia [Al Ijliy] seorang Imam hafizh teladan, termasuk orang yang mutqin dan ia dianggap seperti Ahmad bin Hanbal dan Yahya bin Ma’in, dan kitabnya dalam Jarh wat Ta’dil menunjukkan keluasan hafalannya dan kekuatan penelitiannya” [Syadzraatu Adz Dzahab Ibnu ‘Imaad Al Hanbaliy 2/140]

Adz Dzhabiy dalam biografi Al Ijliy menyatakan bahwa ia seorang Imam Hafizh zuhud dan memuji kitabnya dalam Jarh wat Ta’dil

وله مصنف مفيد في ” الجرح والتعديل ” ، طالعته ، وعلقت منه فوائد تدل على تبحره بالصنعة ، وسعة حفظه

Ia [Al Ijliy] memiliki kitab yang sangat bermanfaat dalam Jarh wat Ta’dil, aku telah menelitinya dan mengambil darinya banyak faidah yang menunjukkan keahlian pembuatannya dan keluasan hafalannya [As Siyar Adz Dzahabiy 12/507]

Ash Shafadiy dalam kitabnya Al Waafiy bil Wafiyaat juga memberikan pujian yang tinggi kepada Al Ijliy dan kitabnya

أحمد بن عبد الله بن صالح أبو الحسن الكوفي العجلي الحافظ الزاهد نزيل طرابلس الغرب روى عنه ابنه صالح بن أحمد كتابه في الجرح والتعديل وهو كتاب مفيد يدل على إمامته وسعة حفظه

Ahmad bin ‘Abdullah bin Shalih Abu Hasan Al Kuufiy Al Ijlii seorang hafizh yang zuhud, tinggal di Tharablus barat, telah meriwayatkan darinya anaknya Shalih bin Ahmad kitabnya dalam Jarh Wat Ta’dil dan itu adalah kitab yang sangat bermanfaat yang menunjukkan keimamannya dan keluasan hafalannya [Al Waafiy bil Wafiyaat Ash Shafadiy 7/51]

Kesimpulannya adalah baik di kalangan ulama mutaqaddimin dan muta’akhirin, Al Ijliy memiliki kedudukan yang tinggi lagi terpuji seperti Ahmad bin Hanbal dan Yahya bin Ma’in kemudian kitabnya dalam Jarh wat Ta’dil telah diakui sebagai kitab yang banyak memiliki manfaat dan menunjukkan keluasan hafalan dan kekuatan penelitiannya. Tidak ada satupun diantara mereka yang menunjukkan bahkan mengisyaratkan adanya tasahul Al Ijliy dalam kitabnya tersebut.

.

.

.

Ulama Yang Menyatakan Al Ijliy Tasahul

Salah satu ulama yang menyatakan Al Ijliy tasahul dalam tautsiq adalah Syaikh Mu’allimiy dalam kitabnya At Tankiil dan Anwar Al Kasyifah, ia berkata

و العجلي قريب منه في توثيق المجاهيل من القدماء

Dan Al Ijliy serupa dengannya [Ibnu Hibban] dalam mentautsiq orang-orang majhul dari kalangan terdahulu [At Tankiil 1/66]

وتوثيق العجلي وجدته بالاستقراء كتوثيق ابن حبان أو أوسع

Dan tautsiq Al Ijliy aku dapatkan dengan penelitian, seperti tautsiq Ibnu Hibban atau lebih luas darinya [Anwar Al Kasyifah hal 72]

Kemudian hal ini juga dinyatakan oleh Syaikh Al Albaniy dalam kitabnya Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah, ia berkata

العجلي معروف بالتساهل في التوثيق كابن حبان تماماً فتوثيقه مردود إذا خالف أقوال الأئمة الموثوق بنقدهم وجرحهم

Al Ijliy dikenal tasahul dalam tautsiq seperti Ibnu Hibban secara sempurna maka tautsiqnya ditolak jika bertentangan dengan perkataan para imam yang terpercaya dengan kritikan dan jarh mereka [Silsilah Al Ahadits Ash Shahiihah 2/218-219 no 633]

Pernyataan mereka berdua ini diikuti oleh para ulama ahli hadis dari kalangan salafy seperti Syaikh Muqbil bin Hadiy, Syaikh Abdullah Al Sa’ad, dan yang lainnya.

.

.

.

Pembahasan dan Bantahan Tuduhan Tasahul Terhadap Al Ijliy

Apa sebenarnya alasan sebagian ulama yang menyatakan Al Ijliy tasahul dalam tautsiq?. Penelitian apakah yang dimaksud mereka?. Sebelumnya sudah pernah kami katakan bahwa dalam kitabnya Al Ijliy tidak seperti Ibnu Hibban yang menyebutkan syarat keadilan perawi dimana Ibnu Hibban beranggapan jika seorang perawi tidak diketahui jarh-nya maka ia adil. Syarat inilah yang membuat Ibnu Hibban dikenal tasahul dalam tautsiq. Jadi tidak ada bukti yang ternukil dari Al Ijliy bahwa ia tasahul dalam tautsiq.

Oleh karena itu penelitian yang dimaksud ulama seperti Al Mu’allimiy di atas tidak lepas dari kemungkinan yaitu adanya sebagian perawi yang mendapat tautsiq dari Al Ijliy kemudian ternyata sebagian perawi tersebut dinyatakan majhul atau dhaif oleh ulama-ulama hadis yang lain.

Apakah hal ini menjadi bukti cukup untuk menyatakan Al Ijliy sebagai tasahul?. Jawabannya tidak, hakikat permasalahan ini adalah sama seperti kasus yang terjadi pada ulama-ulama lain seperti Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Ma’in, Abu Hatim, Nasa’i dan yang lainnya [hanya berbeda kuantitasnya]. Terkadang mereka menyatakan perawi tertentu dengan tautsiq padahal perawi tersebut dinyatakan majhul atau dicacatkan oleh ulama lain. Perselisihan jarh dan ta’dil di kalangan para ulama adalah perkara yang ma’ruf.

Seandainya para pengikut salafiy membaca dengan baik apa yang dikatakan Al Muallimiy dalam At Tankiil maka mereka tidak akan sembarangan taklid kepadanya. Karena faktanya Al Mu’allimiy tidak mengkhususkan perkataan itu kepada Al Ijliy tetapi juga kepada Yahya bin Ma’in dan Nasa’iy.

والعجلي قريب منه في توثيق المجاهيل من القدماء وكذلك ابن سعد وابن معين والنسائي وآخرون غيرهما يوثقون من كان من التابعين أو أتباعهم إذا وجدوا رواية أحدهم مستقيمة بأن يكون له فيما يروي متابع أو مشاهد ، وإن لم يروا عنه إلا واحد ولم يبلغهم عنه إلا حديث واحد

Dan Al Ijliy serupa dengannya [Ibnu Hibban] dalam mentautsiq orang-orang majhul dari kalangan terdahulu, dan demikian pula Ibnu Sa’ad, Ibnu Ma’in dan Nasa’iy dan selain mereka yang menyatakan tsiqat orang yang termasuk tabiin atau pengikut tabiin jika mereka menemukan riwayat salah seorang dari mereka [tabiin atau pengikut tabiin] lurus, memiliki mutaba’ah atau syahid, dan sesungguhnya tidak meriwayatkan darinya kecuali satu orang dan tidak disampaikan darinya kecuali satu hadis [At Tankiil 1/66]

Dan faktanya memang benar terdapat sekelompok perawi yang dinyatakan tsiqat oleh Yahya bin Ma’in ternyata tidak dikenal atau dikatakan majhul oleh ulama lain. Begitu pula terdapat sekelompok perawi yang dinyatakan tsiqat oleh Nasa’iy tetapi tidak dikenal atau dinyatakan majhul oleh ulama lain. Apakah fakta ini menjadi bukti kuat bahwa Yahya bin Ma’in dan Nasa’iy tasahul dalam tautsiq?. Tidak ada ulama mutaqaddimin dan ahli naqd yang menyatakan demikian kepada Ibnu Ma’in dan Nasa’iy. Tidak masalah bagi seorang ulama sekaliber Al Mu’allimiy berpendapat karena tugas seorang peneliti dan penuntut ilmu adalah menganalisis setiap dasar dari pendapat ulama sesuai dengan kaidah ilmiah. Perkataan Al Mu’allimiy tersebut benar tetapi hal itu tidak menjadi bukti kalau Al Ijliy tasahul dalam tautsiq karena perkara yang sama juga terjadi pada ulama lain seperti Yahya bin Ma’in dan Nasa’iy dan mereka tidak dinyatakan tasahul karena hal ini.

Di atas telah disebutkan bahwa Al Ijliy dikenal sebagai hafizh tsiqat mutqin yang dianggap seperti Ahmad bin Hanbal dan Yahya bin Ma’in bahkan kitabnya dalam Jarh wat Ta’dil membuktikan ketelitian dan keluasan hafalannya. Oleh karena itu kedudukan tautsiq Al Ijliy tidaklah berbeda dengan kedudukan tautsiq Ahmad bin Hanbal dan Yahya bin Ma’in.

Tuduhan tasahul terhadap Al Ijliy justru akan berkesan menjadikan kitab Al Ijliy dalam Jarh wat Ta’dil menjadi tidak berguna. Mengapa kami katakan demikian?. Ambil contoh Al Mu’allimiy walaupun ia sendiri menyatakan Ibnu Hibban tasahul dalam tautsiq tetapi ia juga menerima tautsiq Ibnu Hibban dalam kitabnya Ats Tsiqat dengan lafaz yang sharih seperti “mustaqim al hadits” atau “tsabit” atau “mutqin”. Kalau Al Mu’allimiy menuduh Al Ijliy tasahul sama seperti Ibnu Hibban maka bagaimana cara ia menerapkan tuduhannya pada Al Ijliy mengingat Al Ijliy menyatakan dengan sharih [jelas] lafaz tautsiq dalam kitabnya

Persyaratan seperti apa yang akan dikemukakan bahkan lebih mungkin Al Mu’allimiy akan menganggap tautsiq Al Ijliy dengan lafaz sharih tersebut tidak ada nilainya sebagaimana ia mengisyaratkan bahwa tasahul Al Ijliy lebih luas atau lebih berat dari Ibnu Hibban. Bukankah konsekuensinya kitab Al Ijliy dimana ia menyatakan tautsiq kepada para perawinya menjadi tidak bisa dipakai. Tentu saja konsekuensi seperti ini tertolak dengan dasar kedudukan Al Ijliy yang tinggi dalam ilmu hadis dan kitabnya dalam Jarh wat Ta’dil yang telah dipuji menunjukkan keluasan hafalan dan penelitiannya.

.

.

Bukti lain yang membantah tuduhan tasahul terhadap Al Ijliy adalah para ulama telah berhujjah dengan tautsiqnya yang menyendiri terhadap perawi hadis. Diantara ulama tersebut adalah Adz Dzahabiy, Ibnu Hajar dan Ibnu Taimiyyah.

Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya Iqtidhaa’ Sirathal Mustaqiim telah berhujjah dengan hadis yang didalam sanadnya terdapat perawi dimana Ibnu Taimiyyah hanya menukil tautsiq dari Al Ijliy

وأما أبو منيب الجرشي فقال فيه أحمد بن عبد الله العجلي هو ثقة وما علمت أحدا ذكره بسوء وقد سمع منه حسان بن عطية

Adapun Abu Muniib Al Jurasyiy maka berkata tentangnya Ahmad bin ‘Abdullah Al Ijliy bahwa ia tsiqat dan aku tidak mengetahui seorang pun yang menyebutnya dengan keburukan, sungguh telah mendengar darinya Hasan bin ‘Athiyah [Iqtidhaa’ Sirathal Mustaqiim, Ibnu Taimiyyah 1/237]

Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya mengatakan bahwa hadis tersebut sanadnya jayyid. Maka hal ini membuktikan bahwa di sisi Ibnu Taimiyyah, tautsiq Al Ijliy diterima. Seandainya di sisi Ibnu Taimiyyah tautsiq Al Ijliy tasahul maka ia tidak akan menjadikannya sebagai hujjah seperti yang ia tunjukkan dalam kitabnya.

Adz Dzahabiy dalam kitabnya Mizan Al I’tidal juga menjadikan perkataan Al Ijliy sebagai hujjah dan tidak menganggapnya tasahul, ia pernah berkata dalam biografi Hujjayyah bin Adiy Al Kindiy

قال أبو حاتم شبه مجهول، لا يحتج به قلت: روى عنه الحكم، وسلمة بن كهيل، وأبو إسحاق، وهو صدوق إن شاء الله قد قال فيه العجلى ثقة

Abu Hatim berkata “ia seperti majhul, tidak bisa berhujjah dengannya”. [Adz Dzahabiy] aku berkata “telah meriwayatkan darinya Al Hakam, Salamah bin Kuhail dan Abu Ishaaq dan ia shaduq insya Allah sungguh telah berkata tentangnya Al Ijliy “tsiqat” [Al Mizan Adz Dzahabiy juz 1 no 1759]

Pernyataan di atas menunjukkan bahwa Adz Dzahabiy membantah perkataan majhul dari Abu Hatim dengan berpegang pada tautsiq Al Ijliy. Hal ini adalah bukti jelas dari Adz Dzahabiy bahwa ia tidak menganggap Al Ijliy tasahul dalam tautsiq. Contoh lain adalah sebagai berikut

  1. Adz Dzahabi dalam Al Mizan biografi Abdullah bin Farukh At Taimiy mengutip Abu Hatim yang berkata majhul. Adz Dzahabi membantahnya dengan berkata “ia shaduq masyhur telah meriwayatkan darinya jama’ah dan Al Ijli menyatakan ia tsiqat” [Mizan Al Itidal juz 2 no 4505]. Adz Dzahabiy hanya mengutip tautsiq dari Al Ijli dan dalam Al Kasyf ia berkata “tsiqat” [Al Kasyf no 2906]
  2. Adz Dzahabi dalam Al Mizan biografi ‘Abdurrahman bin Maisarah Al Himshiy mengutip pernyataan Al Ijli “tsiqat” dan Ibnu Madini berkata “majhul” [Mizan Al Itidal juz 2 no 4986]. Adz Dzahabiy hanya mengutip tautsiq dari Al Ijli kemudian ia menyimpulkan dalam Al Kasyf tentang ‘Abdurrahman bin Maisarah bahwa ia tsiqat [Al Kasyf no 3327]

Ibnu Hajar juga tidak memandang Al Ijliy tasahul dalam tautsiq. Buktinya adalah ia telah menyatakan perawi sebagai tsiqat dalam At Taqrib padahal tidak ternukil tautsiq terhadapnya selain tautsiq Al Ijliy sebagaimana yang ia nukil dalam At Tahdzib.

ت (الترمذي) حفص بن عمر بن عبيد الطنافسي الكوفي. روى عن زهير بن معاوية وعنه علي بن المديني ومحمود بن غيلان. قلت: قال العجلي كوفي ثقة وقال الدارقطني أيضا روى عن مالك روى عنه أيضا شعيب بن أيوب الصريفيني

[perawi Sunan Tirmidzi] Hafsh bin ‘Umar bin Ubaid Ath Thanafisiy Al Kuufiy, meriwayatkan dari Zuhair bin Mu’awiyah, telah meriwayatkan darinya Aliy bin Madiiniy dan Mahmuud bin Ghailan. [Ibnu Hajar] aku berkata Al Ijliy berkata “orang kufah yang tsiqat”. Daruquthniy berkata “ia meriwayatkan dari Malik dan telah meriwayatkan darinya Syu’aib bin Ayuub Ash Shariifiiniy” [Tahdzib At Tahdzib juz 2 no 715]

Perhatikan dalam biografi Hafsh bin Umar bin Ubaid Ath Thanafisiy, Ibnu Hajar hanya mengutip tautsiq Al Ijliy. Kemudian apa yang Ibnu Hajar simpulkan dalam At Taqrib

حفص بن عمر بن عبيد الطنافسي الكوفي ثقة من العاشرة ت

Hafsih bin ‘Umar bin Ubaid Ath Thanafisiy orang kufah yang tsiqat, termasuk thabaqat kesepuluh, perawi Sunan Tirmidzi [Taqrib At Tahdzib 1/227]

Contoh lain adalah Ibnu Hajar menyebutkan dalam At Tahdzib biografi Ummul Aswad Al Khuza’iyah salah seorang perawi Ibnu Majah, Ibnu Hajar hanya mengutip Al Ijli yang menyatakan ia tsiqat [At Tahdzib juz 12 no 2912]. Kemudian Ibnu Hajar berkata dalam At Taqrib “tsiqat” [At Taqrib 2/664]

.

.

.

Syubhat Para Pengingkar

Bukti-bukti di atas adalah bukti yang kuat dan tidak mengandung kemungkinan berbeda halnya dengan para pengikut salafiy yang ketika ingin menuduh Al Ijliy tasahul mereka membawakan bukti dimana Adz Dzahabiy menyatakan perawi sebagai majhul dalam kitabnya dan perawi tersebut telah ditsiqatkan Al Ijliy dalam kitabnya Ma’rifat Ats Tsiqat. Contohnya perawi yang bernama Umarah bin Hadiid disebutkan Adz Dzahabiy bahwa ia majhul [Al Mizan juz 3 no 6020] dan Al Ijliy menyebutkan bahwa ia tsiqat [Ma’rifat Ats Tsiqat no 1324]

Hal ini tidak membuktikan apa-apa, hanya membuktikan perbedaan pandangan antara Al Ijliy dan Adz Dzahabiy, bisa pula dijelaskan bahwa Adz Dzahabiy tidak mengetahui kalau Umarah bin Hadiid tersebut dinyatakan tsiqat oleh Al Ijliy dan kenyataannya dalam Al Mizan Adz Dzahabiy tidak menukil tautsiq Al Ijliy terhadap Umarah bin Hadiid. Mungkin kalau ia mengetahui tautsiq Al Ijliy maka ia akan berpandangan lain seperti yang kami tunjukkan bahwa Adz Dzahabiy termasuk ulama yang berpegang pada tautsiq Al Ijliy.

Atau dalam kasus Ibnu Hajar dimana terdapat perawi yang bernama Manshuur bin Sa’iid Al Kalbiy dimana Ibnu Hajar menukil Ali bin Madiniy yang berkata “majhul aku tidak mengenalnya”. Al Ijliy berkata “tsiqat” dan Ibnu Khuzaimah berkata “aku tidak mengenalnya” [At Tahdzib Ibnu Hajar juz 10 no 538] dan dalam At Taqrib Ibnu Hajar menyatakan bahwa dia mastuur [At Taqrib Ibnu Hajar 2/214].

Apakah ini menunjukkan bahwa Ibnu Hajar menganggap Al Ijliy tasahul sehingga tautsiqnya tidak dijadikan hujjah?. Jawabannya tidak, duduk perkaranya disini adalah di sisi Ibnu Hajar ternukil pendapat yang berselisih antara yang menyatakan majhul dan yang menyatakan tsiqat dan disini Ibnu Hajar merajihkan yang mengatakan majhul. Kasus seperti ini tidak terkhusus pada tautsiq Al Ijliy. Silakan lihat biografi Abdullah bin Khalid bin Sa’iid bin Abi Maryam dimana Ibnu Hajar berkata

قلت ذكره بن شاهين في الثقات وقال قال أحمد بن صالح ثقة من أهل المدينة وقال الأزدي لا يكتب حديثه وقال بن القطان مجهول الحال

[Ibnu Hajar] aku berkata Ibnu Syahin menyebutkannya dalam Ats Tsiqat dan berkata Ahmad bin Shalih [Al Mishriy] berkata “tsiqat dari penduduk Madinah”. Al Azdiy berkata “tidak ditulis hadisnya”. Ibnu Qaththaan berkata “majhul hal” [At Tahdzib Ibnu Hajar juz 5 no 336]

Ibnu Hajar menukil tautsiq dari Ahmad bin Shalih Al Mishriy dan Ibnu Syahiin yang menyebutkannya dalam Ats Tsiqat. Tetapi Ibnu Hajar tetap menyatakan ia mastuur

عبد الله بن خالد بن سعيد بن أبي مريم المدني أبو شاكر التيمي مولاهم مستور تكلم فيه الأزدي من التاسعة د

‘Abdullah bin Khaalid bin Sa’iid bin Abi Maryam Al Madiniy Abu Syaakir At Taimiy maula mereka, mastuur, Al Azdiy membicarakannya, termasuk thabaqat kesembilan, perawi Abu Dawud [At Taqrib Ibnu Hajar 1/488]

Apakah pernyataan mastuur terhadap Abdullah bin Khalid menunjukkan bahwa di sisi Ibnu Hajar tautsiq Ahmad bin Shalih Al Mishriy tasahul sehingga tidak dianggap?. Jawabannya tidak, hal ini hanya menunjukkan bahwa Ibnu Hajar lebih merajihkan pendapat yang mengatakan majhul. Kemudian contoh lain adalah perawi Qudamah bin Wabrah dimana dalam At Tahdzib Ibnu Hajar berkata

قال أبو حاتم عن أحمد لا يعرف وقال مسلم قيل لاحمد يصح حديث سمرة من ترك الجمعة فقال قدامة يرويه لا نعرفه وقال عثمان الدارمي عن ابن معين ثقة وقال البخاري لم يصح سماعه من سمرة وذكره ابن حبان في الثقات قلت وقال ابن خزيمة في صحيحه لا أقف على سماع قتادة من قدامة ولست أعرف قدامة بن وبرة بعدالة ولا جرح وقال الذهبي لا يعرف

Abu Hatim berkata dari Ahmad “tidak dikenal”. Muslim berkata “dikatakan kepada Ahmad “shahih hadis Samurah barang siapa meninggalkan Jum’at”, maka Ahmad berkata “Qudamah yang meriwayatkannya aku tidak mengenalnya”. Utsman Ad Darimiy berkata dari Ibnu Ma’in “tsiqat”. Bukhariy berkata “tidak shahih pendengarannya dari Samurah”. Dan Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. [Ibnu Hajar] aku berkata “Ibnu Khuzaimah berkata dalam Shahih-nya “aku tidak menemukan sima’ Qatadah dari Qudamah dan aku tidak mengenal Qudamah bin Wabrah tentang ‘adalahnya dan tidak juga jarh. Adz Dzahabiy berkata “tidak dikenal” [At Tahdzib Ibnu Hajar juz 8 no 653]

Perhatikan apa yang ditulis Ibnu Hajar dalam At Tahdzib, ia menukil tautsiq dari Ibnu Ma’in dan menukil ulama lain yang menyatakan majhul. Kemudian Ibnu Hajar merajihkan pendapat yang menyatakan majhul. Ibnu Hajar dalam At Taqrib berkata mengenai Qudamah bin Wabrah majhul [At Taqrib Ibnu Hajar 1/454]. Apakah pernyataan majhul Ibnu Hajar menunjukkan bahwa di sisinya tautsiq Ibnu Ma’in itu tidak dianggap karena Ibnu Ma’in tasahul?. Jawabannya tidak, hal ini hanya menunjukkan bahwa Ibnu Hajar lebih merajihkan pendapat yang mengatakan majhul.

Seharusnya para pengikut salafiy itu lebih cerdas dalam memilih bukti. Jika ingin menunjukkan bahwa Ibnu Hajar menganggap tautsiq Al Ijliy tasahul maka yang harus ditunjukkan adalah perawi yang hanya dinukil Ibnu Hajar tautsiq Al Ijliy dalam At Tahdzib kemudian dalam At Taqrib ia menyatakan majhul atau mastuur.

Adapun contoh di atas jika digabungkan dengan contoh yang kami bawakan sebagai bukti maka mungkin hanya menunjukkan bahwa di sisi Ibnu Hajar tautsiq Al Ijliy bisa dijadikan hujjah jika tidak ada pendapat yang menyelisihinya. Hakikatnya jauh sekali perbedaannya dengan orang-orang yang menganggap Al Ijliy tasahul.

.

.

Kesimpulan

Mereka yang menyatakan Al Ijliy tasahul dalam tautsiq tidak memiliki bukti kuat selain taklid pada ulama mereka tanpa memperhatikan bahwa hujjah ulama mereka disini tidaklah kuat. Al Ijliy adalah imam hafizh tsiqat yang kedudukannya seperti Ahmad bin Hanbal dan Yahya bin Ma’in. Tidak ada bukti dari Al Ijliy bahwa ia tasahul dan tidak ada bukti dari ulama mutaqaddimin bahwa Al Ijliy tasahul dalam tautsiq. Bahkan para ulama muta’akahirin seperti Ibnu Hajar, Adz Dzahabiy dan Ibnu Taimiyyah telah berhujjah dengan tautsiq Al Ijliy yang menyendiri. Semua ini adalah hujjah yang membatalkan tuduhan tasahul terhadap Al Ijliy.

Syi’ah Membolehkan Melihat Film Atau Gambar Wanita Telanjang: Kedustaan Terhadap Syi’ah

sumber tulisan ini dari web http://www.secondprince.wordpress.com

Syi’ah Membolehkan Melihat Film Atau Gambar Wanita Telanjang: Kedustaan Terhadap Syi’ah

Ada orang menyedihkan yang membuat tuduhan terhadap Syi’ah, ia berkata agama Syi’ah dengan terang-terangan membolehkan menonton film porno. Tulisan ini akan meluruskan syubhat tersebut. Adapun soal penulis menyedihkan tersebut kami serahkan kepada para pembaca untuk menilai kualitas dirinya. Penulis tersebut membawakan salah satu fatwa ulama Syi’ah yaitu Sayyid Aliy Khamene’iy. Berikut kami nukil dari tulisannya

1- Dalam sebuah fatwa ulama besar mereka yang bernama “Ali Husain Al Khamenei “, yang mana ulama (baca: jahil) ini bergelar ayatullah (baca: ayatus syaithon) ditanya:

هل يجوز مشاهدة صور النساء العاريات أو شبه العاريات المجهولات اللواتي لا نعرفهن في الافلام السينمائية وغيرها؟

“Apakah boleh menonton wanita-wanita telanjang (porno) atau yang sejenisnya yang mana kita tidak mengenal mereka di film sinema ataupun di film yang lainnya?”

Ali Al Khamenei menjawab:

النظر إلى الافلام والصور ليس حكمه حكم النظر إلى الاجنبي، ولا مانع منه شرعا

“Menonton film atau gambar hukumnya bukanlah seperti hukum melihat kepada wanita yang bukan mahram secara langsung, maka tidak ada larangan untuk menontonnya secara syariat” Ajwibah Al Istifta’at 2/32

Lihat betapa bodohnya ulama syiah dan errornya otak mereka. Ulama syiah menggunakan alasan rendahan demi menghalalkan nonton video porno.

Yang lucu, Al Khamenei juga mengatakan jika film wanita telanjang tadi atau film porno menimbulkan syahwat dan fitnah maka tidak boleh ditonton akan tetapi kalau film pornonya tidak menimbulkan syahwat dan fitnah maka boleh ditonton. Lihat, kebodohan dan ketololan ulama syiah yang satu ini.

Sekarang silakan para pembaca melihat secara utuh fatwa Sayyid Aliy Khamene’iy mengenai pertanyaan tersebut

هل يجوز مشاهدة صور النساء العاريات أو شبه العاريات المجهولات اللواتي لا نعرفهن في الأفلام السينمائية وغيرها؟ ج: النظر إلى الأفلام والصور ليس حكمه حكم النظر إلى الأجنبي، ولا مانع منه شرعا إذا لم يكن بشهوة وريبة ولم تترتب على ذلك مفسدة، ولكن نظرا إلى أن مشاهدة الصورة الخلاعية المثيرة للشهوة لا تنفك غالبا عن النظر بشهوة، ولذلك تكون مقدمة لارتكاب الذنب، فهي حرام

[Soal] Apakah boleh menonton gambar wanita-wanita telanjang atau seperti telanjang yaitu wanita-wanita majhul yang tidak dikenal, dalam film sinema dan selainnya?. [Jawaban]. Melihat film dan gambar tidaklah hukumnya seperti hukum melihat langsung kepada wanita ajnabiy [yang bukan mahram], tidak ada halangan dari syari’at jika tanpa dengan syahwat serta tidak menimbulkan keburukan olehnya, tetapi melihat kepada tontonan dan gambar mesum yang membangkitkan syahwat pada umumnya tidak bisa lepas dari melihat dengan syahwat dan dengan demikian hal itu dapat menjadi awal dari berbuat dosa, maka hukumnya adalah haram [Ajwibah Al Istifta’at Sayyid Aliy Khamene’iy 2/40 no 107]

Penulis tersebut sebenarnya sudah membaca fatwa lengkap ini tetapi kemudian ia menukil hanya bagian awal kemudian memberi komentar bahwa Sayyid Aliy Khamene’iy membolehkan menonton wanita telanjang jika tidak menimbulkan syahwat sedangkan jika menimbulkan syahwat maka tidak boleh ditonton.

Hakikat fatwa tersebut tidak demikian [seperti yang dikatakan penulis tersebut]. Pada bagian awal Sayyid Aliy Khamene’iy menyebutkan bahwa melihat film atau gambar itu berbeda dengan melihat langsung wanita ajnabiy [yang bukan mahram]. Pada kalimat ini Sayyid Aliy belum menyebutkan soal film atau gambar wanita telanjang. Ia sedang menjelaskan secara umum bahwa antara melihat film dan gambar itu berbeda dengan melihat langsung wanita ajnabiy.

Kemudian Sayyid berkata “tidak ada halangan dari syari’at jika tanpa dengan syahwat dan tidak menimbulkan kerusakan darinya”. Maksud kalimat itu adalah melihat film atau gambar yang ada wanita ajnabiy tidak ada halangan dari syari’at jika melihat tanpa dengan syahwat serta tidak menimbulkan mudharat atau kerusakan. Bagian ini belum menyebutkan soal film atau gambar wanita telanjang atau semi telanjang, ia hanya menyebutkan film atau gambar wanita ajnabiy secara umum. Dalam kitabnya yang lain Sayyid Aliy menyebutkan dengan lafaz yang lebih jelas, ia menyebutkan

لا مانع من النظر إلى ما عدا الوجه والكفين من صورة المرأة الأجنبية إذا لم يكن بشهوة

Tidak ada halangan dari melihat pada apa yang nampak dari wajah dan kedua telapak tangan dari gambar wanita ajnabiy [yang bukan mahram] jika tanpa dengan syahwat [Muntakhab Al Ahkam Sayyid Aliy Khamene’iy hal 171]

Barulah kemudian di kalimat akhir, Sayyid Aliy mengatakan bahwa melihat film atau gambar mesum yang membangkitkan syahwat tidak bisa dilepaskan dari melihat dengan syahwat. Artinya dalam pandangan Sayyid Aliy film atau gambar mesum tersebut pasti menimbulkan syahwat maka dari itu Beliau menyatakan haram.

Kesimpulan fatwa tersebut adalah film atau gambar wanita ajnabiy boleh dilihat asal tidak dengan syahwat. Kalau dilihat dengan syahwat maka hukumnya tidak boleh walaupun hanya nampak wajah dan kedua telapak tangan. Adapun jika film atau gambar tersebut mengumbar aurat dan mesum maka hukumnya haram.

Letak keharaman film atau gambar wanita menurut Sayyid Aliy Khameneiy adalah karena menimbulkan syahwat. Walaupun film atau gambar wanita tersebut berhijab dan hanya nampak wajah dan kedua telapak tangan jika melihat dengan syahwat maka hukumnya haram. Adapun gambar yang mengumbar aurat dan mesum pasti menimbulkan syahwat maka hukumnya sudah pasti haram.

Silahkan para pembaca bandingkan apa yang dipahami penulis tersebut dan apa yang kami sampaikan. Tidak masalah jika seseorang hanya menukil sepotong atau sepenggal dari hadis atau qaul ulama asalkan tidak mengubah makna aslinya hanya dengan potongan nukilan tersebut.

Adapun tuduhan terhadap Al Khumainiy yang ia sebutkan menikah mut’ah dengan anak kecil itu berasal dari tulisan Husain Al Musawiy seseorang yang sudah terbukti berdusta dalam bukunya Lillahi Tsumma Lil Tariikh. Jika pembaca ingin melihat bukti kedustaan Husain Al Musawiy maka silakan melihat tulisan disini. Kalau soal fatwa Al Khumainiy yang membolehkan menikah dengan anak kecil maka itu benar dan kedudukannya tidak jauh berbeda dengan sebagian ulama ahlus sunnah yang membolehkan menikah dengan anak kecil.

.

.

Penulis tersebut membawakan dua riwayat yang menyebutkan tentang kebolehan melihat aurat orang kafir. Kedua riwayat tersebut berdasarkan pendapat yang rajih atau kuat di sisi Syi’ah kedudukannya dhaif. Penulis tersebut menukil kedua riwayat tersebut dari kitab Wasa’il Syi’ah. Sebenarnya sumber asal kedua riwayat tersebut adalah riwayat dalam Al Kafiy dan riwayat Syaikh Shaduuq dalam Al Faqiih

علي بن إبراهيم، عن أبيه، عن ابن أبي عمير، عن غير واحد، عن أبي عبد الله عليه السلام قال: النظر إلى عورة من ليس بمسلم مثل نظرك إلى عورة الحمار

‘Aliy bin Ibrahim dari Ayahnya dari Ibnu Abi ‘Umair dari lebih dari satu orang dari Abi ‘Abdullah [‘alaihis salaam] yang berkata “melihat aurat orang yang bukan muslim sama seperti melihat aurat keledai” [Al Kafiy Al Kulainiy 6/501]

Riwayat ini kedudukannya dhaif karena terdapat perawi majhul dalam sanadnya. Ada yang menguatkan riwayat ini dengan alasan mursal Ibnu Abi ‘Umair shahih karena ia hanya meriwayatkan dari perawi tsiqat.

Syaikh Ath Thuusiy menyatakan bahwa Ibnu Abi Umair termasuk perawi yang tidak meriwayatkan dan mengirsalkan kecuali dari perawi tsiqat [‘Uddat Al Ushul Syaikh Ath Thuusiy 1/154]. Pernyataan Ath Thuusiy ini tidak bisa dijadikan hujjah secara mutlak karena faktanya Ibnu Abi Umair meriwayatkan juga dari para perawi dhaif. Al Khu’iy dalam muqaddimah kitab Mu’jam Rijal Al Hadits telah membahas perkataan Syaikh Ath Thuusiy ini dan menunjukkan bahwa ternyata Ibnu Abi Umair juga meriwayatkan dari perawi dhaif seperti Muhammad bin Sinan, Aliy bin Abi Hamzah Al Batha’iniy dan yang lainnya.

Bagaimana bisa dipastikan perawi yang tidak disebutkan namanya oleh Ibnu Abi Umair adalah gurunya yang tsiqat atau gurunya yang dhaif maka dari itu pendapat yang rajih sesuai dengan kaidah ilmu kedudukan riwayat Al Kafiy tersebut dhaif.

وروي عن الصادق عليه السلام أنه قال: ” إنما أ كره النظر إلى عورة المسلم فأما النظر إلى عورة من ليس بمسلم مثل النظر إلى عورة الحمار

Diriwayatkan dari Ash Shaadiq [‘alaihis salaam] bahwasanya Beliau berkata “sesungguhnya dibenci melihat aurat seorang muslim, adapun melihat aurat bukan muslim sama seperti melihat aurat keledai” [Man La Yahdhuruhu Al Faqiih 1/114 no 236]

Syaikh Shaduuq tidak menyebutkan sanad lengkap riwayat ini dalam kitabnya sehingga kedudukannya dhaif. Ada yang menguatkan riwayat di atas dengan dasar bahwa Syaikh Shaduuq memasukkannya dalam Al Faqiih dimana dalam muqaddimah Al Faqiih disebutkan bahwa Syaikh Shaduuq memasukkan dalam kitabnya riwayat yang shahih saja. Pernyataan ini memang dikatakan Syaikh Shaduuq tetapi setiap perkataan ulama harus ditimbang dengan kaidah ilmu, termasuk juga dalam periwayatan dan tashih riwayat. Bagaimana bisa dikatakan shahih jika sanadnya saja tidak ada?.

Apalagi riwayat Syaikh Shaduuq ini bertentangan dengan riwayat shahih yaitu pada lafaz “dibenci melihat aurat seorang muslim” karena pada riwayat shahih disebutkan bahwa haram melihat aurat sesama muslim

حدثنا محمد بن موسى بن المتوكل، قال: حدثنا عبد الله بن جعفر الحميري، عن أحمد بن محمد، عن الحسن بن محبوب عن عبد الله بن سنان عن أبي عبد الله عليه السلام قال: قال له: عورة المؤمن على المؤمن حرام؟ قال: نعم

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Muusa bin Mutawakil yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Ja’far Al Himyariy dari Ahmad bin Muhammad dari Hasan bin Mahbuub dari ‘Abdullah bin Sinaan dari Abi ‘Abdullah [‘alaihis salaam], [Ibnu Sinaan] berkata kepadanya “aurat seorang mukmin atas mukmin yang lain haram?”. Beliau berkata “benar”…[Ma’aaniy Al Akhbar Syaikh Shaduuq hal 255]

Riwayat ini sanadnya shahih berdasarkan standar ilmu Rijal Syi’ah. Berikut keterangan mengenai para perawinya

  1. Muhammad bin Musa bin Mutawakil adalah salah satu dari guru Ash Shaduq, ia seorang yang tsiqat [Khulashah Al Aqwaal Allamah Al Hilliy hal 251 no 59]
  2. ‘Abdullah bin Ja’far Al Himyariy adalah seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 400]
  3. Ahmad bin Muhammad bin Iisa Al Qummiy adalah seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 351]
  4. Hasan bin Mahbuub As Saraad seorang penduduk kufah yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 354]
  5. ‘Abdullah bin Sinaan seorang yang tsiqat jaliil tidak ada celaan sedikitpun terhadapnya, ia meriwayatkan dari Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] [Rijal An Najasyiy hal 214 no 558]

Jadi berdasarkan pendapat yang rajih maka kedua riwayat yang dibawakan penulis tersebut adalah dhaif, oleh karena itu Sayyid Al Khu’iy yang mengakui kedhaifan kedua riwayat tersebut menyatakan bahwa tidak ada perbedaan keharaman melihat aurat muslim ataupun nonmuslim

لا فرق في الحرمة بين عورة المسلم والكافر على الأقوى

Tidak ada perbedaan dalam keharamannya antara aurat muslim dan kafir berdasarkan pendapat yang terkuat [Kitab Thaharah Sayyid Al Khu’iy 3/357]

.

.

Kesimpulan

Dalam mazhab Syi’ah tidak ada kebolehan melihat film atau gambar wanita telanjang. Jika ada yang menyatakan demikian maka ia telah berdusta. Semoga Allah SWT menunjukkan dan meneguhkan kepada kita semua jalan yang lurus.

Syi’ah Agama Para Binatang Penganut Seks : Kedustaan Terhadap Syi’ah

sumber tulisan ini dari web http://www.secondprince.wordpress.com

Syi’ah Agama Para Binatang Penganut Seks : Kedustaan Terhadap Syi’ah

Tulisan ini akan menunjukkan kepada para pembaca betapa kebencian dan kebodohan bisa menjadi racun yang mematikan akal seorang muslim sehingga melahirkan berbagai kedustaan dan kemungkaran. Itulah yang terjadi pada penulis situs yang menyedihkan dimana ia menulis kedustaannya terhadap Syi’ah. Ia mengatakan bahwa Syi’ah adalah agama para binatang penganut seks. Berikut bukti yang ia tampilkan dan pembahasannya secara objektif

.

.

Bukti Pertama

Penulis itu berkata Syi’ah menjadikan Ibu sendiri sebagai objek pelampiasan syahwat. Ia membawakan nukilan berikut yang katanya dari ulama Syi’ah Hadiy Al Mudarrisiy dalam kitab Manar Al Ilm 4/386

يجوز للإبن أن يعاشر والدته إن كانت ارملة كي لاتهجر هم و تتركهم للبحث عن من يسد شهوتها

Dibolehkan bagi anak menggauli Ibunya jika dia seorang janda agar Ibunya tidak berpisah dengan mereka dan tidak meninggalkan mereka untuk mencari orang lain yang memenuhi syahwatnya

Seorang yang objektif akan menganalisis informasi secara ilmiah. Ia akan bertanya apakah nukilan tersebut benar atau autentik. Pertanyaan pertama yang patut diajukan adalah darimana penulis tersebut menukil pernyataan ulama tersebut, apakah dari kitab aslinya atau dari orang lain yang tidak jelas juntrungannya.

Kami menelusuri situs-situs Syi’ah yang memuat berbagai kitab para ulama dan kami tidak menemukan adanya kitab Manar Al Ilm karya Hadiy Al Mudarrisiy. Tentu saja kami juga tidak bisa memastikan bahwa kitab tersebut memang benar-benar tidak ada. Apakah sesuatu yang belum anda temukan bisa anda katakan secara pasti bahwa itu tidak ada?.

Silakan penulis dusta tersebut menyebutkan darimana ia mengambil nukilan tersebut. Kalau memang ia membaca kitab aslinya maka silakan ia bawakan scan kitab aslinya, kalau ia membaca dari situs Syi’ah maka silakan ia menyebutkan situsnya, kalau ia menukil dari ulama ahlus sunnah maka silakan ia menyebutkan nama ulama tersebut beserta kitabnya, dan kalau ia menukil dari situs ahlus sunnah maka silakan ia menyebutkan situsnya.

Mengapa saya berkata demikian?. Karena terdapat qarinah kuat bahwa nukilan tersebut hanyalah dusta. Nukilan tersebut kami temukan dalam akun twitter seseorang yang menyebut dirinya Muhsin Alu ‘Ushfur, dan banyak sekali situs yang menampilkan nukilan tersebut merujuk pada akun twitter yang dimaksud. Inilah yang tertulis di akun twitter yang mengaku sebagai Muhsin Alu ‘Ushfur [kami nukil dari akun facebook seseorang yang menampilkan twitter yg dimaksud]

كما ذكر المرجع هادي المدرسي في كتابه منار العلم ( ٣٨٦/٤) يجوز للأبن أن يعاشر والدته ان كانت ارملة كي لاتهجرهم وتتركهم للبحث عن من يسد شهوتها

Sebagaimana yang disebutkan oleh Marja’ Hadiy Al Mudarrisiy dalam kitabnya Manaar Al Ilm 4/386 Dibolehkan bagi anak menggauli Ibunya jika dia seorang janda agar Ibunya tidak berpisah dengan mereka dan tidak meninggalkan mereka untuk mencari orang lain yang memenuhi syahwatnya

Syaikh Muhsin Alu ‘Ushfur memang adalah salah seorang ulama Syi’ah tetapi masalahnya disini adalah apakah benar akun twitter tersebut milik ulama Syi’ah tersebut atau milik orang yang tidak jelas juntrungannya kemudian mengatasnamakan Syaikh Muhsin Alu ‘Usfur. Apakah sulit berpikir kritis seperti itu?. Apakah kedustaan yang terkait jejaring media sosial adalah perkara yang mustahil atau malah perkara yang ma’ruf?. Bukankah begitu mudah mengaku diri sebagai siapa saja dalam jejaring sosial seperti facebook dan twitter?.

Kedustaan dan kemungkaran dari akun twitter yang mengaku Muhsin Alu ‘Ushfur itu sudah cukup banyak dan secara akal waras rasanya sangat tidak pantas hal-hal seperti itu muncul dari seorang Ulama. Sebagai perbandingan berikut ternukil klarifikasi dari Syaikh Muhsin Alu ‘Ushfur yang dimuat dalam situs alwatannews.net yang berjudul

آل عصفور: ظلاميون انتحلوا شخصيتي على «تويتر» لشق صف المسلمين

Alu ‘Ushfur : orang-orang zalim mencuri karakter saya di twitter untuk memecah belah barisan kaum muslimin

Dalam situs itu sudah disebutkan bahwa akun twitter yang mengaku sebagai ulama Syi’ah Muhsin Alu ‘Ushfur adalah dusta. Silakan bagi pembaca yang berminat untuk merujuk ke situs alwatannews.net

Mungkin akan ada yang berkata apa buktinya ucapan di situs alwatannews.net tersebut benar?. Jawabannya ya sama apa buktinya akun twitter tersebut benar. Kalau anda bisa bertanya seperti itu maka mengapa sebelumnya anda tidak menanyakan hal yang sama terhadap akun twitter tersebut. Bukankah ini menunjukkan bahwa pada dasarnya tidak setiap informasi dari jejaring sosial dan dunia maya bisa dijadikan hujjah. Setiap informasi yang akan dijadikan hujjah harus bisa diverifikasi untuk membuktikan kebenarannya.

Kalau memang tidak bisa dipastikan kebenarannya maka mengapa penulis tersebut dan orang-orang awam berhujjah dengannya. Bukankah hal itu hanya menunjukkan kebodohan, dan ketika kebodohan ini bercampur dengan kebencian maka hilanglah akal waras mereka. Kualitas penulis tersebut dan orang-orang yang mencela Syi’ah berdasarkan akun twitter yang tidak jelas adalah sama seperti tukang gosip dan tukang fitnah yang menelan dan menyebarkan apapun setiap ocehan buruk yang mereka dengar.

Seorang yang objektif dan ilmiah akan bersikap tawaqquf dan tidak akan menjadikan akun twitter seperti itu sebagai hujjah, tidak peduli apakah ia Ahlus sunnah ataupun Syi’ah. Kami menilai bukti yang diajukan penulis tersebut tidak ada nilai hujjahnya. Silakan ia buktikan secara valid apa yang ia tulis. Kalau memang ia tidak mengambil dari akun twitter tersebut maka tunjukkan dari mana sumber penukilannya.

.

.

Bukti Kedua

Penulis tersebut membawakan bukti kedua yang katanya menunjukkan bahwa Syi’ah menjadikan anak sendiri sebagai objek pelampiasan syahwat. Ia membawakan riwayat berikut

محمد بن الحسن باسناده عن محمد بن علي بن محبوب، عن محمد بن عيسى عن ابن محبوب، عن أبي ولاد الحناط قال: قلت لأبي عبد الله عليه السلام، إني اقبل بنتا لي صغيرة وأنا صائم فيدخل في جوفي من ريقها شئ؟ قال: فقال لي: لا بأس ليس عليك شئ

Muhammad bin Hasan dengan sanadnya dari Muhammad bin Aliy bin Mahbuub dari Muhammad bin ‘Iisa dari Ibnu Mahbuub dari Abi Walaad Al Hanaath yang berkata aku berkata kepada Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] “aku mencium anak perempuanku yang masih kecil dan aku sedang puasa maka masuklah dalam kerongkonganku sesuatu dari ludahnya. [Abu Walaad] berkata maka Beliau kepadaku “tidak apa-apa, tidak diwajibkan atasmu sesuatupun” [Wasa’il Syi’ah Syaikh Al Hurr Al Amiliy 10/102]

Syaikh Al Hurr Al Amiliy memaknai riwayat di atas sebagai tidak sengaja menelan sesuatu dari ludah keduanya [istri atau anak] ketika mencium mereka. Ia menyebutkan riwayat tersebut dalam bab

باب جواز مص الصائم لسان امرأته أو ابنته وبالعكس على كراهية، وعدم بطلان الصوم بدخول ريقهما مع عدم التعمد

Bab dibolehkan seorang yang puasa menghisap lidah istrinya atau anaknya begitu pula sebaliknya dengan hukum makruh, dan tidak batal puasa dengan masuknya sesuatu dari ludah mereka berdua jika tidak sengaja [Wasa’il Syi’ah Syaikh Al Hurr Al Amiliy 10/102 bab 34]

Penulis tersebut menjadikan riwayat di atas sebagai bukti bahwa Syi’ah menjadikan anak kecil sebagai objek pelampiasan syahwat. Pertanyaannya adalah pada lafaz mana dalam riwayat yang menyebutkan demikian?. Apakah pada lafaz Abu Walaad menyebutkan ia mencium anak perempuan kecilnya?. Apakah mencium anak sendiri berarti menjadikan anak sebagai objek pelampiasan syahwat?. Dalam pandangan saya pribadi saya tidak melihat lafaz mana yang menunjukkan “objek pelampiasan syahwat”. Silakan para pembaca menilainya

Dalam kitab hadis ahlus sunnah juga ditemukan riwayat dimana menyebutkan bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mencium Hasan bin Aliy [diantaranya riwayat Abu Hurairah dan riwayat Mu’awiyah].

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا هاشم بن القاسم ثنا جرير عن عبد الرحمن بن عوف الجرشي عن معاوية قال : رأيت رسول الله صلى الله عليه و سلم يمص لسانه أو قال شفته يعني الحسن بن علي صلوات الله عليه وانه لن يعذب لسان أو شفتان مصهما رسول الله صلى الله عليه و سلم

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Haasyim bin Qaasim yang berkata telah menceritakan kepada kami Jariir dari ‘Abdurrahman bin ‘Auf Al Jurasyiy dari Mu’awiyah yang berkata aku melihat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] menghisap lidah atau [perawi] berkata mulutnya yakni Hasan bin Aliy shalawat Allah atasnya, dan sesungguhnya tidak akan disiksa lidah atau mulut yang dihisap Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] [Musnad Ahmad 4/93 no 16894]

Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata mengenai hadis ini

إسناده صحيح رجاله ثقات رجال الصحيح غير عبد الرحمن بن أبي عوف الجرشي فقد روى له أبو داود والنسائي وهو ثقة

Sanadnya shahih para perawinya tsiqat perawi shahih selain ‘Abdurrahman bin ‘Auf Al Jurasyiy, sungguh Abu Dawud dan Nasa’i memiliki riwayatnya, dan dia tsiqat [Musnad Ahmad 4/93 no 16894]

Orang yang akalnya dipenuhi kebencian dan pikiran kotor tentu ketika menemukan riwayat dimana seorang Ayah mencium anaknya yang masih kecil maka yang ada dalam pikirannya hanyalah syahwat. Mungkin itulah yang terjadi pada penulis tersebut. Bukti yang ia bawakan hanya menunjukkan kerendahan akal pikirannya.

.

.

Bukti Ketiga

Penulis tersebut berkata bahwa tidak hanya mencium bahkan Syi’ah membolehkan menggesekkan kemaluan diantara kedua paha anak kecil. Penulis tersebut mengutip Sayyid Khumainiy yang berkata

وأما سائر الاستمتاعات كاللمس بشهوة والضم والتفخيذ فلا بأس بها حتى في الرضيعة

Adapun cara-cara mencari kenikmatan seperti menyentuh dengan syahwat, memeluk, dan menggesekkan kemaluan diantara kedua paha maka itu tidak mengapa bahkan dengan bayi yang masih menyusui [Tahriir Al Wasiilah Sayyid Al Khumainiy 2/241]

Perkataan tersebut memang ada dalam kitab Sayyid Al Khumainiy yaitu Tahriir Al Wasillah. Jika penulis tersebut memaksudkan bahwa perkataan Khumainiy di atas membolehkan menggesekkan kemaluan diantara kedua paha anak kecil secara mutlak maka ia telah berdusta.

Sebenarnya yang dikatakan Al Khumainiy itu berkaitan dengan status anak kecil tersebut sebagai istri seorang suami. Inilah perkataan lengkapnya, Sayyid Al Khumainiy berkata

لا يجوز وطء الزوجة قبل إكمال تسع سنين، دواما كان النكاح أو منقطعا، وأما سائر الاستمتاعات كاللمس بشهوة والضم والتفخيذ فلا بأس بها حتى في الرضيعة،

Tidak diperbolehkan bersetubuh dengan istrinya sebelum ia mencapai usia Sembilan tahun baik itu nikah daim atau nikah mut’ah, Adapun cara-cara mencari kenikmatan seperti menyentuh dengan syahwat, memeluk, dan menggesekkan kemaluan diantara kedua paha maka itu tidak mengapa bahkan dengan bayi yang masih menyusui [Tahriir Al Wasiilah Sayyid Al Khumainiy 2/241]

Jadi fatwa Sayyid Al Khumainiy menyebutkan bolehnya menikahi anak wanita yang masih kecil tetapi dengan perincian bahwa hubungan badan hanya boleh dilakukan jika usia anak sudah mencapai 9 tahun sedangkan cara mencari kenikmatan lain selain hubungan badan maka itu dibolehkan.

Siapapun boleh mempertanyakan apa dalil dari fatwa seorang ulama kemudian menerima ataupun menolak fatwa tersebut. Syi’ah memiliki dalil soal larangan melakukan hubungan badan dengan istri sampai usia 9 tahun. Adapun soal mencari kesenangan selain hubungan badan maka tidak ada dalil keterangan tentangnya sehingga Sayyid Khumainiy memutlakkan kebolehannya sebagaimana seorang suami boleh mencari kesenangan dengan istrinya. Seandainya pun ada yang tidak setuju dengan fatwa tersebut maka layaknya seorang yang berijtihad, Sayyid Al Khumainiy bisa saja keliru dalam hal ini dan mungkin ulama lain ada yang lebih benar darinya.

Yang kami herankan adalah mengapa penulis tersebut menjadikan fatwa ini sebagai hujjah untuk merendahkan Syi’ah. Apakah penulis tersebut tidak pernah membaca masalah seperti ini dalam kitab ahlus sunnah?. Faktanya masalah ini dibahas juga oleh para ulama Ahlus Sunnah. An Nawawiy pernah berkata

Syarh Shahih Muslim juz 9

An Nawawi Syarh Shahih Muslim jilid 9 hal 206

وأما وقت زفاف الصغيرة المزوجة والدخول بها فإن اتفق الزوج والولي على شيء لا ضرر فيه على الصغيرة عمل به وإن اختلفا فقال أحمد وأبو عبيد تجبر على ذلك بنت تسع سنين دون غيرها وقال مالك والشافعي وأبو حنيفة حد ذلك أن تطيق الجماع ويختلف ذلك باختلافهن ولا يضبط بسن وهذا هو الصحيح

Adapun waktu mengadakan pesta pernikahan anak kecil dan bercampur dengannya maka jika suami dan wali anak tersebut bersepakat atas tidak membahayakan anak tersebut maka hal itu bisa dilakukan dan jika mereka [suami dan wali] berselisih maka Ahmad dan Abu Ubaid berkata boleh dipaksa bercampur jika usia anak sudah mencapai 9 tahun tetapi tidak jika usianya kurang dari itu dan Malik, Syafi’i Abu Hanifah berkata batasannya adalah ia mampu melakukan jima’ dan hal ini berbeda sesuai perbedaan diantara mereka [anak-anak tersebut] dan tidak ada batasan usia, inilah yang shahih. [Syarh Shahih Muslim An Nawawiy 9/206]

Dalam nukilan di atas An Nawawiy membolehkan bercampur dengan anak kecil yang sudah menjadi istri jika suami dan wali bersepakat atas tidak membahayakan bagi anak tersebut dan jika suami dan wali tidak bersepakat maka hal itu tergantung apakah anak tersebut sudah mampu melakukan jima’ dan hal ini tidak ada batasan usianya. Dalam kitabnya yang lain An Nawawiy mengakui akan bolehnya menikah dengan anak kecil yang masih menyusui [Raudathul Thaalibin An Nawawiy 4/379], An Nawawiy berkata

Raudhatul Thalibin

Raudhatul Thalibin Nawawi hal 379

يجوز وقف ما يراد لعين تستفاد منه ، كالأشجار للثمار ، والحيوان للبن والصوف والوبر والبيض ، وما يراد لمنفعة تستوفى منه ، كالدار ، والأرض ، ولا يشترط حصول المنفعة والفائدة في الحال ، بل يجوز وقف العبد والجحش الصغيرين ، والزمن الذي يرجى زوال زمانته ، كما يجوز نكاح الرضيعة

Dibolehkan mewakafkan sesuatu yang dapat diambil hasilnya seperti pohon untuk diambil buahnya, hewan untuk diambil susu, rambut, bulu dan telurnya. [dan dibolehkan mewakafkan] sesuatu yang dapat digunakan manfaatnya seperti rumah dan tanah. Tidak disyaratkan bahwa hasil manfaat dan faidahnya bisa diperoleh pada saat itu. Bahkan dibolehkan mewakafkan budak dan keledai yang masih kecil dan waktu yang diharapkan akan habis, sebagaimana dibolehkan menikahi bayi yang masih menyusui [Raudhathul Thaalibin An Nawawiy 4/379]

Silakan para pembaca memperhatikan apa bedanya fatwa Sayyid Al Khumainiy dengan apa yang dikatakan An Nawawiy. Bahkan An Nawawiy membolehkan suami bercampur dengan istrinya yang masih kecil jika suami dan waliy bersepakat atas tidak membahayakan anak tersebut. Sedangkan Al Khumainiy memutlakkan bahwa bercampur hanya boleh dilakukan ketika usia 9 tahun tetapi mencari kesenangan selain bercampur itu dibolehkan. Kalau dengan fatwa Sayyid Al Khumainiy membuat mazhab Syi’ah jadi tercela maka dengan fatwa An Nawawiy juga bisa dikatakan mazhab ahlus sunnah tercela.

Contoh lain datang dari Ibnu Qudamah dalam kitabnya Al Mughniy dimana ia membolehkan mencumbui budak walaupun ia adalah anak yang masih kecil

Mughniy Ibnu Qudamah juz 11

Mughniy Ibnu Qudamah

فأما الصغيرة التي لا يوطأ مثلها ، فظاهر كلام الخرقي تحريم قبلتها ومباشرتها لشهوة قبل استبرائها وهو ظاهر كلام أحمد ، وفي أكثر الروايات عنه ، قال تستبرأ ، وإن كانت في المهد . وروي عنه أنه قال إن كانت صغيرة بأي شيء تستبرأ إذا كانت رضيعة . وقال في رواية أخرى : تستبرأ بحيضة إذا كانت ممن تحيض ، وإلا بثلاثة أشهر إن كانت ممن توطأ وتحبل . فظاهر هذا أنه لا يجب استبراؤها ، ولا تحرم مباشرتها . وهذا اختيار ابن أبي موسى ، وقول مالك ، وهو الصحيح  لأن سبب الإباحة متحقق . وليس على تحريمها دليل ، فإنه لا نص فيه ، ولا معنى نص ; لأن تحريم مباشرة الكبيرة إنما كان لكونه داعيا إلى الوطء المحرم ، أو خشية أن تكون أم ولد لغيره ، ولا يتوهم هذا في هذه ، فوجب العمل بمقتضى الإباحة

Adapun anak yang masih kecil yang belum bisa disetubuhi, maka Al Kharqiy mengatakan haram untuk menciumnya dan mencumbuinya dengan syahwat sebelum ia istibra’. Dan ini juga perkataan Ahmad dan dalam banyak riwayat darinya, ia berkata “harus istibra’ meskipun dia masih dalam buaian”. Dan diriwayatkan darinya bahwa ia berkata “sesungguhnya anak yang masih kecil dengan apa ia istibra’  jika ia masih menyusui. Dan dalam riwayat lain “istibra’ itu dengan haid jika ia masih mengalami haidh jika tidak maka dengan tiga bulan untuk perempuan yang bisa disetubuhi dan bisa hamil”. Maka yang nampak disini adalah tidak wajib istibra’-nya dan tidak haram mencumbuinya, inilah pendapat yang dipilih Ibnu Abi Muusa dan perkataan Malik. Dan inilah yang shahih karena sudah ada sebab pembolehannya dan tidak ada dalil pengharamannya, tidak ada nash tentangnya dan juga tidak ada makna nash. Karena pengharaman mencumbui perempuan dewasa hanya disebabkan karena dapat mendorong terjadinya persetubuhan yang diharamkan atau kekhawatiran kemungkinan ia Ibu dari anak laki-laki lain dan itu tidak mungkin terjadi pada kasus ini. Maka wajib untuk menetapkan kebolehannya. [Al Mughniy Ibnu Qudamah 11/276]

Orang yang objektif akan menilai informasi apa adanya dan tidak menjadikan kebenciannya menutupi akal warasnya. Tidak suka terhadap mazhab Syi’ah ya boleh-boleh saja tetapi silakan katakan yang benar tentang mereka dan kritiklah mereka secara ilmiah.

.

.

Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa bukti-bukti yang dibawakan penulis tersebut atas tuduhannya Syi’ah agama binatang penganut seks semuanya tidak bernilai. Orang yang menjadikan hal-hal seperti itu sebagai bukti hanya menunjukkan bahwa ia ingin menipu orang awam atau ia seorang yang pura-pura bodoh sehingga ketika hal itu bercampur dengan kebencian maka lahirlah kedustaan dan kemungkaran. Kami berlindung kepada Allah SWT dari orang-orang yang seperti ini.

Benarkah Syiah Melecehkan Nabi? : Kedustaan Terhadap Syi’ah

sumber tulisan ini dari web http://www.secondprince.wordpress.com

Syiah Melecehkan Nabi? : Kedustaan Terhadap Syi’ah

Ada dua macam tipe pendusta, pertama pendusta yang memang dari awal berniat dusta dan kedua pendusta yang berdusta karena kebodohannya, mungkin saja ia tidak berniat dusta hanya saja ia tidak tahu bagaimana cara berbicara atau berhujjah dengan benar sehingga dari kebodohannya tersebut lahirlah kedustaan. Tipe seperti ini mungkin dapat dilihat dari obrolan gosip ibu-ibu arisan atau anak-anak muda mudi yang kurang kerjaan [seperti yang ada di sinetron-sinetron].

Ada salah seorang penulis yang tulisannya tentang Syi’ah benar-benar menunjukkan kedustaan. Soal tipe yang mana hakikat penulis tersebut hanya Allah SWT yang tahu. Kami disini akan menunjukkan kedustaan dalam tulisannya yang menyatakan bahwa Syi’ah telah melecehkan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam].

Ada dua riwayat dan satu qaul ulama Syi’ah yang ia jadikan bukti bahwa Syi’ah melecehkan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Ketiga bukti tersebut kedudukannya dhaif dan dusta di sisi mazhab Syi’ah [atau berdasarkan kaidah keilmuan dalam mazhab Syi’ah].

.

.

Bukti Pertama

الباقر والصادق (عليهما السلام) أنه كان النبي (صلى الله عليه وآله) لا ينام حتى يقبل عرض وجه فاطمة، يضع وجهه بين ثديي فاطمة ويدعو لها، وفي رواية حتى يقبل عرض وجنة فاطمة أو بين ثدييها

Al Baaqir dan Ash Shaadiq [‘alaihimas salaam] bahwasanya Nabi [shallallahu ‘alaihi wa ‘alihi] tidaklah tidur sampai mencium wajah Fathimah dan meletakkan wajahnya diantara kedua dadanya Fathimah seraya mendoakannya, dan dalam riwayat [lain] hingga Beliau mencium pipi Fathimah atau diantara dadanya [Bihar Al Anwar Al Majlisiy 43/42]

Dalam kitab Bihar Al Anwar, Al Majlisiy menukil riwayat tersebut tanpa sanad. Riwayat yang dinukil Al Majlisiy di atas kedudukannya dhaif dalam standar Ilmu hadis Syi’ah karena tidak memiliki sanad. Salah seorang ulama Syi’ah yaitu Syaikh Aliy Alu Muhsin telah melemahkan riwayat ini

الروايات المشار إليها روايات ضعيفة مرسلة ، ذكرها المجلسي في البحار من غير أسانيد

Riwayat yang menyebutkan hal itu adalah riwayat dhaif mursal, Al Majlisiy menyebutkannya dalam Al Bihaar tanpa sanad-sanad [Lillaah Walilhaqiiqah, Syaikh Aliy Alu Muhsin 1/172]

Jadi aneh sekali kalau ahlus sunnah menuduh Syi’ah melecehkan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] berdasarkan riwayat dhaif di sisi Syi’ah sendiri. Ada salah satu situs Syi’ah yang membantah masalah ini kemudian ia menukil riwayat dari kitab Ahlus Sunnah berikut

رواه أبو بكر بن أبي شيبة ثنا عفان، ثنا عبد الوارث، ثنا حنظلة، عن أنس رضي اللّه عنه “أن امرأة أتت النبي صلى الله عليه وسلم فقالت يا رسول اللّه، امسح وجهي وادع اللّه لي قالت فمسح وجهها ودعا اللّه لها، قالت يا رسول اللّه، سفل يدك. فسفل يده على صدرها، فقالت يا رسول اللّه، سفل يدك. فأبى وباعدها هذا إسناد صحيح

Abu Bakar bin Abi Syaibah meriwayatkan telah menceritakan kepada kami ‘Affaan yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Waarits yang berkata telah menceritakan kepada kami Hanzhalah dari Anas [radiallahu ‘anhu] bahwa seorang wanita datang kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] maka ia berkata “wahai Rasulullah, usaplah wajahku dan doakanlah aku. Maka Beliau mengusap wajahnya dan mendoakannya. [Wanita itu] berkata “wahai Rasulullah, turunkanlah tanganmu”. Maka Beliau menurunkan tangannya hingga di dada wanita itu. [Wanita itu] berkata “wahai Rasulullah, turunkanlah tanganmu”. Maka Beliau menolak dan pergi darinya. Sanad hadis ini shahih [Ittihaful Khairah Al Bushiriy 6/157 no 6219]

Pernyataan shahih Al Buushiriy diatas perlu dinilai kembali karena Hanzhalah As Saduusiy dikatakan Yahya bin Ma’in hadisnya tidak ada apa-apanya, Ahmad bin Hanbal berkata “ia meriwayatkan dari Anas hadis-hadis mungkar”. Nasa’i berkata “dhaif” [Al Kamil Ibnu Adiy 2/422]. Berdasarkan standar ilmu hadis ahlus sunnah hadis tersebut dhaif tidak bisa dijadikan hujjah. Penshahihan ulama ahlus sunnah juga harus ditimbang dengan kaidah ilmu oleh karena itu pernyataan Al Buushiriy di atas tidak bisa dijadikan hujjah.

Sekarang coba siapapun pikirkan dengan objektif apa bisa hanya dengan riwayat seperti ini lantas dikatakan Ahlus Sunnah melecehkan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Memang dalam riwayat yang dinukil Al Buushiriy disebutkan bahwa Nabi [shallallahu 'alaihi wasallam] memegang dada seorang wanita tetapi riwayat tersebut kedudukannya dhaif. Apakah hanya riwayat ahlus sunnah saja yang harus ditimbang dengan kaidah ilmu Ahlus sunnah sedangkan riwayat Syi’ah tidak perlu dan bisa dinukil seenaknya tanpa perlu meneliti shahih tidaknya berdasarkan kaidah ilmu Syi’ah?. Betapa menyedihkan orang yang seolah ingin menunjukkan kebesaran Ahlus sunnah dengan cara merendahkan Syi’ah secara tidak ilmiah. Hakikatnya orang tersebut hanya menunjukkan kedustaan yang lahir dari kebodohan.

Ada juga orang Syi’ah yang menafsirkan bahwa riwayat dalam Bihar Al Anwar itu terjadi pada saat Fathimah ['alaihis salaam] masih kecil. Sebagaimana terdapat riwayat serupa dalam kitab Ahlus sunnah. As Suyuthiy menukil dalam salah satu kitabnya riwayat bahwa Nabi [shallallahu 'alaihi wasallam] menghisap lidah anaknya Fathimah ['alaihis salaam], As Suyuthiy berkata

فقد جاء في حديث أنه كان يمص لسان فاطمة ولم يرو مثله في غيرها من بناته

Maka sungguh telah datang dalam hadis bahwasanya Beliau [shallallahu 'alaihi wasallam] menghisap lidah Fathimah, dan tidak diriwayatkan seperti ini dari anak-anak Beliau [shallallahu 'alaihi wasallam] yang lain. [Asy Syama'il Asy Syariifah Jalaludin As Suyuthiy 1/374]

Riwayat ini juga tidak memiliki sanad yang lengkap dalam kitab As Suyuthiy tersebut dan kami juga belum menemukan riwayat tersebut dengan sanad yang lengkap dalam kitab-kitab hadis. Dalam pandangan kami penafsiran apapun yang bertujuan membersihkan tuduhan-tuduhan yang buruk atas diri Nabi [shallallahu 'alaihi wasallam] dan Ahlul Bait adalah perkara yang baik dan sah-sah saja. Walaupun hal pertama yang harus dibuktikan sebelum menafsirkan suatu riwayat adalah keshahihan riwayat tersebut. Riwayat yang sudah jelas kedhaifannya maka tidak perlu repot-repot untuk ditafsirkan begini begitu karena pada dasarnya riwayat tersebut tidak bisa dijadikan hujjah.

.

.

Bukti Kedua

Penulis tersebut menyatakan bahwa Syi’ah meyakini kemaluan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] masuk neraka. Ia berhujjah dengan apa yang ditulis Husain Al Musawiy dalam kitabnya Lillahi Tsumma Lil Taariikh, Husain Musawi berkata

قال السيد علي غروي أحد أكبر العلماء في الحوزة: إن النبي صلى الله عليه وآله لا بد أن يدخل فرجه النار، لأنه وطئ بعض المشركات

Sayyid Aliy Gharawiy salah seorang ulama besar di Hauzah berkata “sesungguhnya Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] seharusnya kemaluannya masuk kedalam neraka karena telah menyetubuhi sebagian wanita musyrikin” [Lillahi Tsumma Lil Taariikh hal 24]

Husain Al Musawiy tidak menyebutkan dalam kitab apa ia menukil perkataan ulama Syi’ah tersebut. Jika Husain Al Musawiy mendengar langsung perkataan ulama Syi’ah Syaikh Aliy Gharawiy tersebut maka itu hanya membuktikan bahwa ia berdusta. Husain Al Musawiy berkata dalam kitab yang sama

في زيارتي للهند التقيت السيد دلدار علي فأهداني نسخة من كتابه (أساس الأصول) جاء في (ص51) (إن الأحاديث المأثورة عن الأئمة مختلفة جداً لا يكاد يوجد حديث إلا وفي مقابله ما ينافيه، ولا يتفق خبر إلا وبإزائه ما يضاده) وهذا الذي دفع الجم الغفير إلى ترك مذهب الشيعة

Dalam kunjungan saya ke india, saya bertemu dengan Sayyid Daldaar Ali, dia memperlihatkan kepada saya naskah dari kitabnya yaitu Asaas Al Ushul. Disebutkan dalam halaman 51 “bahwa hadis-hadis yang diriwayatkan dari para Imam sangat bertentangan. Tidak ada satu hadispun kecuali ada hadis lain yang menafikannya, tidak ada suatu khabar yang sesuai kecuali terdapat kabar yang menantangnya”. Inilah yang menyebabkan sebagian besar manusia meninggalkan mahzab syiah [Lillahi Tsumma Lil-Tarikh hal 134]

Sayyid Daldaar Aliy wafat tahun 1235 H [Adz Dzari’ah 2/4, Syaikh Agha Bazrak Ath Thahraniy] dan Syaikh Mirza Aliy Al Gharawiy lahir tahun 1334 H [Mu’jam Al Matbu’at An Najafiyah hal 130, Syaikh Muhammad Hadiy Al Aminiy]. Setelah Sayyid Daldaar Aliy wafat baru 99 tahun kemudian lahir Syaikh Aliy Al Gharawiy. Apa mungkin orang yang mengaku bertemu Sayyid Daldaar Aliy bisa mendengar langsung dari Syaikh Aliy Al Gharawiy?. Silakan dipikirkan dengan objektif.

Dan kalau dikatakan bahwa Husain Al Musawiy tidak mendengar langsung maka darimana ia menukil perkataan Syaikh Aliy Al Gharawiy. Apalagi jika ternyata Husain Al Musawiy wafat sebelum lahirnya Syaikh Aliy Al Gharawiy maka alangkah dustanya buku tersebut. Jika disebut kesalahan naskah kitab maka itupun membuktikan bahwa nukilan tersebut tidak bisa dijadikan hujjah. Jadi dari sisi manapun nukilan tersebut hanyalah fitnah semata.

Mirzaa Aliy Al Gharawiy adalah seorang yang dikenal dengan sebutan Syaikh bukan seorang Sayyid. Berdasarkan hal ini Syaikh Aliy Alu Muhsin juga mengisyaratkan kedustaan nukilan Husain Al Musawiy tersebut, Ia berkata

وإذا كان الكاتب لا يدري أن الميرزا علي الغروي شيخ أو سيّد فكيف يوثق في نقله ويؤخذ بشهادته؟

Dan jika penulis tersebut [Husain Al Musawiy] tidak mengetahui bahwa Miirza Aliy Al Gharawiy seorang Syaikh atau seorang Sayyid maka bagaimana bisa dipercaya dalam nukilannya dan diambil kesaksiannya? [Lillaah Walilhaqiiqah, Syaikh Aliy Alu Muhsin 1/112]

.

.

Bukti Ketiga

Penulis tersebut membawakan bukti riwayat Syaikh Ash Shaduuq dalam kitab U’yun Akhbar Ar Ridha yaitu riwayat berikut

قال الرضا عليه السلام: ان رسول الله (ص) قصد دار زيد بن حارثه بن شراحيل الكلبي فيأمر اراده فرأى امرأته تغتسل فقال لها: سبحان الذي خلقك

Ar Ridha [‘alaihis salaam] berkata bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihiwasallam] pergi ke rumah Zaid bin Haaritsah bin Syarahiil Al Kalbiy dalam urusan yang Beliau kehendaki, kemudian Beliau melihat istrinya [Zaid] sedang mandi maka Beliau berkata “Maha suci Allah yang telah menciptakanmu”…[U’yun Akhbar Ar Ridha, Syaikh Ash Shaduq 2/180-181]

Riwayat ini secara detail kami sudah pernah membahasnya untuk membuktikan kedustaan salah satu pembenci Syi’ah yang sok ilmiah. Tulisan detail yang kami maksud dapat para pembaca lihat disini.

Adapun kali ini kami cukuplah membawakan perkataan Syaikh Ash Shaduuq sendiri mengenai riwayat tersebut, Syaikh Shaduuq berkata

هذا الحديث غريب من طريق علي بن محمد بن الجهم مع نصبه وبغضه وعداوته لأهل البيت عليه السلام

Hadis ini gharib dari jalan Aliy bin Muhammad bin Jahm bersamaan dengan kenashibiannya, kebenciannya dan permusuhannya kepada ahlul bait [‘alaihis salaam] [U’yun Akhbar Ar Ridha, Syaikh Ash Shaduq 2/182]

Intinya riwayat tersebut dhaif berdasarkan standar keilmuan mazhab Syi’ah bahkan riwayat dengan matan yang hampir sama juga ditemukan dalam kitab mazhab ahlus sunnah dan kedudukannya juga dhaif dengan standar keilmuan Ahlus sunnah.

.

.

Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan di atas maka tuduhan Syi’ah melecehkan Nabi [shallallahu 'alaihi wasallam] adalah dusta. Bukti-bukti yang diajukan penulis menyedihkan itu tidak bernilai hujjah. Dengan bukti-bukti dusta seperti inilah penulis menyedihkan tersebut merendahkan mazhab Syi’ah dan menyatakan Syi’ah bukan bagian dari Islam. Semoga Allah SWT menjaga kita semua dari kedustaan yang seperti ini.

Benarkah Syi’ah Mencela Malaikat? Kedustaan Terhadap Syi’ah

sumber tulisan ini dari web http://www.secondprince.wordpress.com

Benarkah Syi’ah Mencela Malaikat? Kedustaan Terhadap Syi’ah

Penulis yang satu ini memang terlalu bersemangat dalam mencela Syi’ah sampai-sampai ia tidak menghiraukan kaidah ilmiah dalam tulisannya. Sebagaimana para pembaca dapat melihat tulisannya disini, ia menuduh mazhab Syi’ah telah mencela Malaikat dengan menyandarkan pada riwayat yang ia nukil dari Kitab Bihar Al Anwar. Langsung saja dibahas riwayat dalam kitab Bihar Al Anwar yang dijadikan hujjah penulis tersebut.

بصائر الدرجات: أحمد بن موسى عن محمد بن أحمد مولى حرب عن أبي جعفر الحمامي الكوفي عن الأزهر البطيخي عن أبي عبد الله (عليه السلام) قال: إن الله عرض ولاية أمير المؤمنين (عليه السلام) فقبلها الملائكة وأباها ملك يقال له: فطرس، فكسر الله جناحه

[Kitab] Bashaa’ir Ad Darajaat : Ahmad bin Muusa dari Muhammad bin Ahmad maula Harb dari Abu Ja’far Al Hamaamiy Al Kuufiy dari Al ‘Azhar Al Bathiikhiy dari Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] yang berkata “sesungguhnya Allah menyampaikan wilayah Amirul Mukminin [‘alaihis salaam] maka para malaikat menerimanya dan seorang Malaikat menolaknya, dia adalah Fithris, maka Allah mematahkan sayapnya…[Bihar Al Anwar 26/340-341]

.

Riwayat di atas disebutkan Muhammad bin Hasan Ash Shaffaar dalam kitabnya Bashaa’ir Ad Darajaat bab 6 hal 88 hadis no 7. Riwayat ini kedudukannya dhaif dalam standar ilmu Rijal Syi’ah karena tidak ada satupun dari perawinya yang dikenal kredibilitasnya kecuali Ahmad bin Muusa.

  1. Muhammad bin Ahmad maula Harb tidak ditemukan biografinya dalam kitab Rijal Syi’ah
  2. Abu Ja’far Al Hamaamiy Al Kuufiy tidak ditemukan biografinya dalam kitab Rijal Syi’ah
  3. Al ‘Azhar Al Batiikhiy disebutkan Al Mamaqaniy dalam kitabnya Tanqih Al Maqaal Fii Ilm Rijal tanpa keterangan tautsiq [Tanqiih Al Maqaal Fii Ilm Rijal 8/396]

Ahmad bin Muusa dalam sanad tersebut adalah salah satu guru Muhammad bin Hasan Ash Shaffaar, dia sebenarnya adalah Ahmad bin Abi Zaahir Al Asy’ariy Al Qummiy. Buktinya ada pada riwayat dengan sanad berikut

أحمد بن موسى عن جعفر بن محمد بن مالك الكوفي عن يوسف الابزاري عن المفضل قال قال لي أبو عبد الله عليه السلام

Ahmad bin Muusa dari Ja’far bin Muhammad bin Malik Al Kuufiy dari Yuusuf Al Abzaariy dari Al Mufadhdhal yang berkata Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] berkata kepadaku…[Bashaa’ir Ad Darajaat hal 150 bab 8 hadis no 1]

Muhammad bin Hasan Ash Shaffaar meriwayatkan hadis tersebut dalam kitabnya dengan sanad di atas dan hadis yang sama diriwayatkan Al Kulainiy dengan sanad berikut

محمد بن يحيى، عن أحمد بن أبي زاهر، عن جعفر بن محمد الكوفي، عن يوسف الابزاري، عن المفضل قال: قال لي أبو عبد الله عليه السلام

Muhammad bin Yahya dari Ahmad bin Abi Zaahir dari Ja’far bin Muhammad Al Kuufiy dari Yuusuf Al Abzaariy dari Al Mufadhdhaal yang berkata Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] berkata kepadaku…[Al Kafiy Al Kulainiy 1/254]

Ahmad bin Abi Zaahir telah disebutkan biografinya oleh An Najasyiy dan Ath Thuusiy dalam kitab mereka.

أحمد بن أبي زاهر واسم أبي زاهر موسى أبو جعفر الأشعري القمي، مولى، كان وجها بقم، و حديثه ليس بذلك النقي

Ahmad bin Abi Zaahir dan nama Abi Zaahir adalah Muusa, Abu Ja’far Al ‘Asy’ariy Al Qummiy seorang maula, ia terkemuka di quum dan hadis-hadisnya tidak bersih [Rijal An Najasyiy hal 88 no 215]

Hal yang sama juga disebutkan Ath Thuusiy bahwa ia terkemuka di quum tetapi hadis-hadisnya tidak bersih [Al Fahrasat Syaikh Ath Thuusiy hal 69]. Allamah Al Hilliy memasukkan namanya dalam bagian kedua kitabnya yang memuat daftar perawi yang dhaif dalam pandangannya atau ia bertawaqquf dengannya [Khulashah Al Aqwaal Allamah Al Hilliy hal 321]. Kedudukan perawi seperti ini hadisnya tidak bisa dijadikan hujjah jika tafarrud dan ditolak jika hadisnya bertentangan dengan hadis shahih.

.

.

Bagaimana kedudukan Malaikat dalam hadis shahih di sisi mazhab Syi’ah. Berikut keterangannya

أبى رحمه الله قال: حدثنا سعد بن عبد الله عن أحمد بن محمد بن عيسى عن علي ابن الحكم عن عبد الله بن سنان قال: سألت أبا عبد الله جعفر بن محمد الصادق عليهما السلام فقلت الملائكة أفضل أم بنو آدم؟ فقال: قال أمير المؤمنين علي ابن أبي طالب ” ع “: ان الله عز وجل ركب في الملائكة عقلا بلا شهوة، وركب في البهائم شهوة بلا عقل. وركب في بني آدم كليهما، فمن غلب عقله شهوته فهو خير من الملائكة، ومن غلبت شهوته عقله فهو شر من البهائم

Ayahku [rahimahullah] berkata telah menceritakan kepada kami Sa’d bin ‘Abdullah dari Ahmad bin Muhammad bin Iisa dari Aliy bin Al Hakam dari ‘Abdullah bin Sinaan yang berkata aku bertanya kepada Abu ‘Abdullah Ja’far bin Muhammad Ash Shaadiq [‘alaihimas salaam], mak aku berkata “apakah Malaikat lebih utama atau anak adam?”. Beliau berkata Amirul Mukminin ‘Aliy bin Abi Thalib [‘alaihis salaam] berkata “Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla menjadikan dalam Malaikat akal tanpa syahwat dan menjadikan dalam binatang syahwat tanpa akal dan menjadikan dalam anak adam dengan keduanya maka barang siapa yang akalnya menguasai syahwatnya maka ia lebih baik dari Malaikat dan barang siapa syahwatnya menguasai akalnya maka ia lebih buruk dari binatang” [Ilal Asy Syaraa’i’ Syaikh Shaduuq 1/4-5]

Riwayat Syaikh Ash Shaduuq di atas sanadnya shahih berdasarkan standar Ilmu Rijal Syi’ah. Berikut keterangan para perawinya

  1. Ayah Syaikh Shaduq adalah ‘Aliy bin Husain bin Musa bin Babawaih Al Qummiy disebutkan oleh An Najasyiy Syaikh yang faqih dan tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 261 no 684]
  2. Sa’d bin ‘Abdullah Al Qummiy adalah seorang yang tsiqat [Al Fahrasat Syaikh Ath Thuusiy hal 135]
  3. Ahmad bin Muhammad bin Iisa Al Qummiy adalah seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 351]
  4. Aliy bin Al Hakam Al Kuufiy seorang yang tsiqat jaliil qadr [Al Fahrasat Syaikh Ath Thuusiy hal 151]
  5. ‘Abdullah bin Sinaan seorang yang tsiqat jaliil tidak ada celaan sedikitpun terhadapnya, ia meriwayatkan dari Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] [Rijal An Najasyiy hal 214 no 558]

Dan kualitas akal diketahui sebagai makhluk yang taat kepada Allah SWT sebagaimana dijelaskan dalam riwayat berikut

عنه، عن علي بن الحكم، عن هشام قال قال أبو عبد الله عليه السلام لما خلق الله العقل قال له أقبل  فأقبل، ثم قال له، أدبر فأدبر، ثم قال له وعزتي وجلالي ما خلقت خلقا هو أحب إلي منك، بك آخذ وبك أعطى وعليك أثيب

Darinya [Al Barqiy] dari ‘Aliy bin Al Hakam dari Hisyaam yang berkata Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] berkata “ketika Allah menciptakan akal, Allah berkata kepadanya datanglah maka ia datang, kemudian Allah berkata kepadanya mundurlah maka ia mundur, kemudian Allah berkata kepadanya “demi kebesaranKu dan kemuliaanKu, tidak pernah Aku menciptakan makhluk yang lebih Aku cintai daripada engkau, denganmu Aku mengambil, denganmu Aku memberi dan atasmu Aku memberi pahala [Al Mahasin Ahmad bin Muhammad Al Barqiy 1/192 no 7]

Riwayat Ahmad bin Muhammad Al Barqiy di atas sanadnya shahih berdasarkan standar Ilmu Rijal Syi’ah. Berikut keterangan para perawinya

  1. Ahmad bin Muhammad bin Khalid Al Barqiy seorang yang pada dasarnya tsiqat, meriwayatkan dari para perawi dhaif dan berpegang dengan riwayat mursal [Rijal An Najasyiy hal 76 no 182]
  2. Aliy bin Al Hakam Al Kuufiy seorang yang tsiqat jaliil qadr [Al Fahrasat Syaikh Ath Thuusiy hal 151]
  3. Hisyaam bin Saalim meriwayatkan dari Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] ia tsiqat tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 434 no 1165]

Maka bagaimana bisa Malaikat sebagai makhluk yang Allah jadikan akal tanpa syahwat di dalam diri mereka, akan menolak perintah Allah SWT. Itu mustahil, apalagi Allah SWT telah berfirman

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka, yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Diatasnya terdapat para malaikat yang kasar dan keras, mereka tidak pernah bermaksiat kepada Allah akan apa yang diperintahkan kepada mereka dan mereka senantiasa melakukan apa yang diperintahkan [QS At Tahrim : 6] 

Para ulama Syi’ah telah berdalil dengan ayat Al Qur’an di atas dalam menetapkan kema’shuman malaikat dalam arti mereka selalu melaksanakan perintah Allah SWT.

الملائكة معصومون، لقوله تعالى: لا يعصون الله ما أمرهم ويفعلون ما يؤمرون

Para Malaikat adalah ma’shum dengan firman Allah “mereka tidak pernah bermaksiat kepada Allah akan apa yang diperintahkan kepada mereka dan mereka senantiasa melakukan apa yang diperintahkan” [Al Masalik Fii Ushul Ad Diin Muhaqqiq Al Hilliy hal 285]

والملائكة روحانيون، معصومون، لا يعصون الله ما أمرهم، ويفعلون مايؤمرون

Dan Malaikat adalah makhluk ruh [tidak berjasad], mereka ma’shum mereka tidak pernah bermaksiat kepada Allah akan apa yang diperintahkan kepada mereka dan mereka senantiasa melakukan apa yang diperintahkan [Al I’tiqaadaat Fii Diin Al Imamiyah Syaikh Ash Shaduuq hal 90]

Al Majlisiy berkata dalam Bihar Al Anwar bahwa keyakinan ishmah Malaikat ini sudah menjadi ijma’ di sisi mazhab Syi’ah

علم أنه أجمعت الفرقة المحقة وأكثر المخالفين على عصمة الملائكة صلوات الله عليهم أجمعين من صغائر الذنوب وكبائرها

Diketahui bahwa telah menjadi ijma’ dalam firqah yang benar [Syi’ah] dan banyak dari kalangan penyelisih [ahlus sunnah] atas ishmah [keterjagaan] para malaikat shalawat Allah atas mereka seluruhnya dari dosa-dosa kecil dan besar [Al Bihar Al Anwar Al Majlisiy 11/124]

Kesimpulannya riwayat Bihar Al Anwar yang dibahas di atas kedudukannya dhaif dan bertentangan dengan Al Qur’an dan hadis shahih dalam mazhab Syi’ah. Dan yang menjadi keyakinan dalam mazhab Syi’ah adalah para malaikat selalu mentaati perintah Allah SWT.

.

.

Kembali pada penulis rendah tersebut. Ia berdalil dengan Al Qur’an At Tahrim ayat 6 untuk memojokkan Syi’ah padahal para ulama Syi’ah justru berdalil dengan ayat tersebut untuk menegakkan keyakinan mereka tentang ishmah Malaikat. Kemudian apakah ada dalam tulisannya ia bicara soal keshahihan riwayat Bihar Al Anwar yang ia kutip tersebut di sisi mazhab Syi’ah?. Tidak ada

Saya sedang mengkhayalkan ada penulis yang berwatak sama dalam mazhab Syi’ah kemudian ia menukil hadis kisah Al Gharaniq dalam kitab Ahlus Sunnah maka orang itu akan berkata bahwa Ahlus Sunnah telah mencela Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Atau orang itu menukil hadis [bathil] Allah SWT datang dalam bentuk pemuda amrad yang ada dalam kitab Ahlus Sunnah kemudian berkata bahwa Ahlus Sunnah telah mencela Allah SWT. Menyedihkan

Begitulah jika seseorang mempelajari sesuatu secara serampangan, menukil sana menukil sini meloncat dan menuduh sana sini tanpa berpegang pada metode yang benar. Biasanya mereka yang sok ilmiah paling pintar menukil kitab ini kitab itu, ulama ini ulama itu kemudian mencampuradukkan asumsinya beserta nukilan-nukilan tersebut maka lahirlah kedustaan yang bermula dari kebodohan.

Siapa yang mengatakan setiap hadis pasti benar maka ia dusta dan siapa yang mengatakan setiap ulama pasti benar maka ia juga dusta. Setiap hadis dan perkataan ulama harus ditimbang dengan kaidah ilmu dalam mazhab dimana hadis dan ulama itu berdiri. Itulah kaidah ilmiah, dan maaf kaidah ini bukan milik santri, da’i, ustadz dan orang terhormat lainnya tetapi milik siapapun yang mau menggunakan akalnya dengan baik dan benar. Akhir kata kami mengingatkan diri sendiri, penulis tersebut dan para pembaca akan firman Allah SWT

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan [kebenaran] karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan [QS Al Ma’idah : 8]

 

novel dokter gigi, ferizal pelopor sastra novel dokter gigi indonesia

Saya ( ustad husain ardilla ) penulis web syi’ahali nyata nyata mengklaim mengidolakan karya karya ferizal pelopor sastra novel dokter gigi indonesia.
.
 
ustad husain ardilla seorang syi’ah juga pecinta novel dokter gigi lho..
.
 Cara Beli Novel ferizal
SMS ke: “081907820606″ atau “081945990097″ dengan format: “Judul Buku-Nama-Alamat-Jumlah Pemesanan”

Novel Laskar PDGI Bali Pelangi Mentawai (novel ke 7 ferizal)

Foto: PAKET Ke 2,1 YANG TELAH Di KiRiM ViA KANTOR POS DALAM RANGKA PROGRAM PEMBAGiAN NOVEL GRATiS UNTUK ANGGOTA FB FERiZAL : ( https://www.facebook.com/noveldoktergiginafc )</p><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />
<p>1. Nama penerima : Fitriana, SPd, MSi<br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />
<a href=” width=”466″ height=”327″ /></div><br /><br />
<div class=” /></div><br />
<div class=” />
<div class=
.
http://mentawaisurftrip.files.wordpress.com/2010/08/mentawai-surfcamp-81.jpg?w=620
.
Judul Novel ke 7 : “Laskar PDGI Bali Pelangi Mentawai”
Harga : Rp 35.000,-
Penulis : Ferizal
ISBN : 978-602-1203-49-1

.

Cara beli : SMS ke 081907820606
dengan format “Judul Buku-Nama-Alamat-Jumlah Order”

.

Sinopsis:

Beberapa orang Dokter Gigi—Drg. Ferizal, Drg. Dairiana, Drg. Hantayudha, Drg. Made, dan Drg. Sukraeni—secara tidak sengaja harus menghadapi berbagai pertempuran berdarah di Bali, melawan teroris pimpinan Dokter Masta. Kisah laga ini, dengan latar belakang keindahan Pulau Dewata Bali dan Kepulauan Mentawai.

Drg. Ferizal bersumpah terus berjuang selamanya. Tidak akan pernah menyerah memperjuangkan program Kesgilut (Kesehatan Gigi dan Mulut), sampai waktu berakhir ketika tutup usia. Drg. Ferizal, seorang kesatria yang mengibarkan panji-panji kejayaan kesehatan gigi dan mulut, dan tidak sudi profesi Dokter Gigi dianaktirikan.

Ketika tengah berjuang demi eksistensi profesi dan kesehatan gigi di masyarakat, Drg. Ferizal dan Drg. Dairiana harus menghadapi dua kelompok teroris internasional. Diwarnai aksi yang penuh dengan bumbu cipratan darah, maka bermacam-macam rintangan harus dihadapi dengan gagah berani untuk melenyapkan musuh, dan harus tetap hidup dalam situasi yang sungguh sulit.

Selain di Pulau Seribu Pura, Drg. Ferizal dan Drg. Dairiana juga mampu menghancurkan penjahat (pengebom ikan dan terumbu karang) yang merusak alam di Kepulauan Mentawai. Menumpas penjahat dengan petualangan yang penuh aksi baku hantam, Laskar PDGI mampu hancurkan dua teroris—Dokter Masta (teroris berhati singa) dan Kolonel Dedfriadi (teroris penganut ilmu hitam).

Novel ini merupakan novel ke-7, karya Ferizal (penulis novel laga/action hero yang makin berkibar). Enam novel karya Ferizal yang telah terbit berjudul: Pertarungan Maut di Malaysia, Ninja Malaysia Bidadari Indonesia, Superhero Malaysia Indonesia, Garuda Cinta Harimau Malaya, Ayat Ayat Asmara, dan Dari PDGI Menuju Ka’bah.

                    Novel  ke 6 ferizal

Judul Novel  : Dari PDGI Menuju Ka’bah

Penulis:

Ferizal

ISBN:

978-602-1203-36-1

Sinopsis:

“Dari PDGI Menuju Ka’bah”, sebuah novel tentang Ustad Ferizal yang merupakan ilmuwan kelas dunia, karena dalam usia muda mampu merancang virus penyakit hasil rekayasa genetik baru yang bernama “Masta” beserta obat penawarnya “Dedfriophon”

.

Isteri Ustad Ferizal bernama Drg.Dr.Silvi, Sp.OG yang baru saja ditinggal wafat suami pertamanya, mendapat beasiswa kuliah di Program Spesialis Gigi di Jerman dengan membawa ketiga anaknya

.

Drg.Dr.Silvi, Sp.OG menikah dengan Ustad Ferizal yang mendapat tugas kuliah di Program S2 Laboratorium di kampus yang sama. Namun sayangnya, kebahagiaan mereka diusik oleh seorang teroris radikal fundamentalis muslim garis keras bernama Victor Cross (pimpinan regu pembunuh elit yang dikenal dengan nama “Black Shadow”) yang ingin menculik Ustad Ferizal

.

Victor Cross gemar membunuh agen CIA, karena seorang agen CIA dulu pernah membunuh ayahnya. Ustad Ferizal berdiri tangguh melawan teroris kelas dunia dengan aksi-aksinya yang menegangkan. Ustad Ferizal yang jatuh cinta mendalam melakukan pembuktian kekuatan cinta pada isterinya, Drg.Dr.Silvi, Sp.OG, dengan melawan kelompok teroris ‘Black Shadow’. Inilah novel action tentang THE POWER OF LOVE, dua insan yang kelak wafat bersama di hadapan Ka’bah

.

Novel ini merupakan novel ke-6 karya Ferizal (penulis novel laga/action hero yang makin berkibar). Novel sebelumnya, yakni Pertarungan Maut di Malaysia, Ninja Malaysia Bidadari Indonesia, Superhero Malaysia Indonesia, Garuda Cinta Harimau Malaya, dan Ayat Ayat Asmara.

             Novel  ke 5 ferizal
             Judul Novel  :Ayat Ayat Asmara

Penulis:

Ferizal

ISBN:

978-602-1203-35-4

Sinopsis:

“Ayat-Ayat Asmara”, sebuah novel bergenre action thriller yang sarat dengan aksi pembalasan dendam hancur-hancuran. Inilah kisah Romeo dan Juliet versi Muslim. Seorang Dokter bernama Ustad Ferizal Romeo, jiwanya telah melebur jadi satu dalam kesucian cinta, dengan almarhumah isterinya yang bernama Ustazah Drg. Diana Juliet yang tewas dibunuh teroris radikal ketika berada di New York, Amerika Serikat

.

Jenny Spears dan Ferizal Romeo, bersumpah menyuguhkan aksi balas dendam dengan membantai teroris. Inilah kisah dua insan yang tidak punya pilihan lain. Lalu, terpaksa mengambil keputusan untuk menyelesaikan masalah dengan caranyasendiri, gagah berani, dan pantang menyerah—dengan segala keterbatasan ketika mencari keadilan. Jenny Spears dan Ferizal Romeo melakukan aksi berani mati di New York

.

“Di dalam hidupku, hanya Drg. Diana yang kuundang singgah di hatiku. Hanya Drg. Diana yang aku inginkan. Ya Tuhan, Engkau tahu bahwa aku sangat mencintai Drg. Diana. Satukanlah kami, karena aku hanya meminta Drg. Diana untuk menjadi pendamping hidupku yang hanya sekali di alam fana, juga untuk kehidupan abadiku nantinya. Hanya Drg. Diana. Betapa besar cintaku padanya… Aku tidak ingin yang lain.”

.

Novel ini merupakan serial ke-5 dari “Legenda Cinta Kasih Abadi Dokter Feriza—Drg. Diana”. Novel sebelumnya, yakni Pertarungan Maut di Malaysia, Ninja Malaysia Bidadari Indonesia, Superhero Malaysia Indonesia dan Garuda Cinta Harimau Malaya, karya Ferizal (Penulis Novel Laga/Action Hero yang Makin Berkibar)

            Novel  ke 2 ferizal
            Judul Novel  :Ninja Malaysia Bidadari Indonesia

Penulis:

Ferizal

ISBN:

978-602-1203-12-5

Sinopsis: 

Novel ini tentang heroisme seorang dokter warganegara Malaysia berstatus ninja, yakni Prince Ferizal (murid dari Masaza Isheda) yang berupaya menumpas Kashogi (pimpinan ‘Gank Ninja Merah’, Amerika Serikat, pengedar narkotika internasional). Begitu banyak aksi pertarungan—lengkap dengan tumpahan darah di medan laga—khas ninja dalam novel ini

.

Karena dendam membara atas terbunuhnya sang kekasih, Drg. Diana—Prince Ferizal melakukan ‘mission impossible’ seorang diri, yakni aksi penyelamatan (rescue mission) terhadap puteri bangsawan Brunei bernama Dokter Risa yang disandera oleh ninja teroris ‘Gank Ninja Merah’ di Sabah (yang berpakaian serba hitam, ninja dilengkapi juga dengan pedang dan senapan AK 47)

.

Drg. Diana yang paling berharga bagiku, jiwaku menyentuh jiwanya. We have a great chemistry

.

Rasa cintaku pada Drg. Diana abadi selamanya
Kurindu dirinya dan kuperlukan cintanya Kupertaruhkan airmata, darah, dan nyawa
Kuhembuskan sampai penghujung usia

.

Novel “Ninja Malaysia Bidadari Indonesia” adalah jawaban atas pertanyaan, “Kapan novelis Indonesia bisa membuat novel laga ala ninja yang seru?” Novel ini merupakan novel kedua dari 4 serial novel tetralogi Indonesia—Malaysia, karya Ferizal.

Novel  ke 1 ferizal

Judul Novel  : Pertarungan Maut Di Malaysia

Penulis:

Ferizal

ISBN:

978-602-1203-08-8

Sinopsis: 

Rose DeWitt Bukater, salah seorang saksi mata tenggelamnya kapal Titanic. Menjelang wafat, melempar kalung Heart of the Ocean ke dalam lautan

.

Prince Ferizal Amirul, seorang bangsawan sekaligus Perwira Tentara Diraja dari Tanah Malaka, Malaysia, ditugaskan oleh Raja Muda Malaka untuk mengawal Celine, seorang gadis Amerika Serikat (puteri dari penemu kalung Titanic Heart of the Ocean). Ayah Celine, yang bernama Matt Kruger juga merupakan pewaris “kotak kayu berisi dokumen pemecah kode ramalan Nostradamus beserta manuskrip berharga dari Baitul Maqdis, Baghdad, Mesir, dan negara-negara Arab lain”

.

Misi utama Prince Ferizal Amirul adalah menyelamatkan gadis Amerika tersebut dari tangan teroris internasional, pimpinan Kolonel Assad, yang berupaya merampas kotak kayu berisi dokumen pemecah kode ramalan Nostradamus beserta kalung Titanic Heart of the Ocean. Prince Ferizal Amirul jatuh cinta pada Drg. Diana, wanita dari Bandung yang berupaya membantu menyelesaikan misi sang Pangeran

.

Novel ini, ditulis dalam gaya bahasa yang berkelas dunia (internasional). Novel ini merupakan novel pertama dari 4 serial novel tetralogi Indonesia-Malaysia karya Ferizal. Gambar Wayang berpasangan, laki laki dan perempuan pada cover novel ini, mendeskripsikan “kisah cinta abadi yang penuh aksi laga”, bagai legenda kisah kolosal klasik Rama dan Shinta (Ramayana)

.

Romeo dan Juliet mati bersama lalu menjadi cerita dunia.
Ada kisah cinta Qais yang merana karena Laila.
Namun, adakah mereka mengorbankan nyawa demi negara?
Sebagaimana legenda cinta kasih abadi Prince Dokter Ferizal Amirul-Drg. Diana? (Ferizal)