Sayyid Ali Khamenei, pimpinan umat Syiah telah memfatwakan haramnya untuk mencela, menghina dan memaki sahabat-sahabat dan istri Nabi

DR. Alwi Shihab:

Syiah adalah Bagian dari Keluarga Besar Umat Islam

Kita hanya akan menjadi bahan tertawaan musuh-musuh Islam, kalau kesibukan kita saling mencela dan menjatuhkan satu sama lain. Kita ingin agar umat Islam saling hormat menghormati. Tidak saling memaki dan saling mencemohkan. Kita adalah satu keluarga besar Islam yang menempatkan akhlak mulia sebagai pondasi dasar dalam beragama“

Menurut Kantor Berita ABNA, Mantan Menkokesra dalam Kabinet Indonesia Bersatu di masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, DR. Alwi Shihab dalam kunjungannya ke Iran sempat mengadakan pertemuan dan dialog dengan mahasiswa Indonesia yang berada di kota Qom Iran, selasa [29/4]. Dalam acara yang berlangsung di sekretariat Himpunan Pelajar Indonesia [HPI]- Iran hadir sekitar 30an mahasiswa dan mahasiswi Indonesia yang sementara menimba ilmu di kota Qom Iran. Dalam penyampaiannya mantan ketua umum Partai Kebangkitan Bangsa [PKB] tersebut menasehatkan dihadapan sejumlah mahasiswa yang hadir untuk tidak terlalu lama berada di Iran dan lebih asyik dengan menuntut ilmu.

Beliau berkata, “Saya merasa kagum dengan teman-teman yang sekian lama menuntut ilmu. Namun juga pesan saya, jangan terlalu lama di Iran. Karena kalian ini dibutuhkan di Indonesia. Baru-baru ini saya di Kairo, hal yang sama juga saya sampaikan kepada teman-teman yang belajar di Al Azhar. Jangan terlalu lama. Karena di Indonesia ini sekarang, ulama-ulama ini diperlukan. Khususnya ulama-ulama yang bisa mendekatkan pandangan keislaman yang berbeda.”

“Jangan dibiarkan mereka yang eksklusif yang hanya mau menang sendiri, yang mendapatkan panggung. Justru teman-teman yang berada di Kairo yang dikenal sebagai institusi moderat, yang jauh daripada orientasi takfiri, itu perlu untuk segera di Indonesia. Ikut bersama-sama dengan teman-teman yang lain, memberi kiprah, memberikan pandangan dan edukasi pada masyarakat yang tidak tahu. Bukan saja di Timur Tengah ini, diluar Timur Tengahpun banyak yang ingin mengetahui khazanah Islam yang begitu kaya. Perbedaan-perbedaan orientasi, beragamnya pemahaman adalah khazanah untuk saling melengkapi, bukan saling memusuhi.” Tambahnya.

Mantan Pejabat Negara kelahiran Rappang Sulawesi Barat tersebut lebih lanjut menambahkan, “Bangsa kita sangat membutuhkan ulama-ulama yang mampu melakukan pendekatan antar mazhab, pendekatan antar pemikiran dan orientasi. Bangsa kita haus dengan tokoh Islam yang mampu mempersatukan umat. Selama ini yang banyak mengambil tempat adalah mereka yang gemar menyesatkan kelompok lain diluar mereka. Dan kondisi ini tidak bisa dibiarkan begitu saja.”

“Apa yang terjadi di Sampang, demikianpun deklarasi intoleransi yang terjadi kemarin di Bandung, tentu sangat kita sayangkan. Pemerintah dan ulama-ulamapun menyayangkan kejadian tersebut.  Ada orang-orang yang menghalalkan darah dan mengkafirkan sesama muslim. Islam tidak begitu. Rasulullah Saw, seumur hidupnya tidak pernah mencaci orang. Kalau kita jadikan Rasul sebagai uswah hasanah. Hari ini kita mendengar, tokoh Islam menghalalkan darah dari kelompok Islam lainnya. Ini sesungguhnya bukan ajaran Islam. Karena itu perlunya kita memberi edukasi, pengarahan, penjelasan, dengan demikian kita mampu menangkal kritikan-kritikan. Perlu teman-teman mencari tahu apa yang telah menjadi sumber permasalahan, apa yang menjadi kritikan dan sumber permusuhan dari mereka yang anti itu. Dan menyampaikan apa yang sebenarnya.” Tambah Doktor dari Universitas Temple AS tersebut.

“Pernah disuatu acara seminar Sunni-Syiah, sewaktu Cak Nur [Nurcholis Majid, red] masih hidup. Cak Nur dalam diskusi itu merasa terganggu, karena ada peserta yang mengatakan Al-Qur’an Sunni dan Syiah itu berbeda. Beliau meninggalkan seminar itu, dan pulang kerumahnya sekedar untuk mengambil Al-Qur’an dan menunjukkan bahwa Al-Qur’an yang dibawanya itu adalah cetakan Iran yang didapatnya sewaktu berkunjung ke Iran, dan tidak ada bedanya sama sekali. Hal-hal seperti ini harus dilakukan untuk menangkal dan meluruskan fitnah-fitnah yang ada.” Cerita paman dari presenter terkenal Najwa Shihab.

Cendekiawan muslim yang meraih gelar masternya di Universitas Al Azhar Kairo Mesir tersebut menambahkan, “Sejak periode Syaikh Shaltut, demikian pula sewaktu saya masih kuliah di Al Azhar, sudah digalakkan upaya pendekatan Sunni dan Syiah. Saya tegaskan Syiah itu dalam pandangan Al Azhar masih bagian dari Islam. Kami mahasiswa Al Azhar mempelajari Syiah sebagi bagian dari mata kuliah Mazhab-mazhab dalam Islam. Republik Islam Iran masuk dalam Organisasi Konferensi Islam [OKI], organisasi internasional yang anggotanya hanyalah Negara-negara Islam. Kalau bukan Negara Islam, Iran pasti sudah ditolak bergabung di OKI. Orang-orang Syiah juga naik haji. Pernah ada pertemuan dengan Duta Besar Arab Saudi, dan ditanyakan kepada beliau pandangannya mengenai orang-orang Syiah. Dia berkata, Syiah masih muslim juga. Karenanya Arab Saudi memberi izin kepada muslim Syiah untuk menunaikan ibadah haji dan masuk Haramain yang diharamkan bagi orang-orang non muslim.”

Pada bagian lain penyampainya, mantan menteri Luar Negeri era Gus Dur tersebut mengatakan, “Inti permasalahan sesungguhnya, mengapa terjadi gerakan permusuhan dan anti Syiah adalah sinyalemen bahwa Syiah itu mencaci maki sahabat dan istri-istri Nabi Saw. Hal lainnya bisa kita kompromikan. Sebagai Sunni sayapun tidak bisa menerima adanya pencaci makian kepada sahabat dan istri Nabi Saw. Kalau itu masih tetap ada, maka pihak Ahlus Sunnah, tidak akan menerima dan sulit untuk melakukan pendekatan.”

“Saya berbahagia, mendengar bahwa Sayyid Ali Khamanei, pimpinan umat Syiah telah memfatwakan haramnya untuk mencela, menghina dan memaki sahabat-sahabat dan istri Nabi. Ini yang harus kalian gencar untuk informasikan kepada masyarakat. Bahwa Syiahpun menghormati tokoh-tokoh yang diagungkan Ahlus Sunnah itu dan tidak melecehkannya. Jika masih ada yang tetap melakukannya, maka itu bukan bagian dari Islam. Tindakan caci maki, saat ini bukan lagi sekedar untuk diminimalisir, tapi benar-benar dihentikan. Sebab Nabi Saw saya yakin, dan Aimmah sebagaimana keyakinan Syiah,  saya yakin tidak pernah memaki ketika memberikan argumentasi. Bahkan cacian dalam Al-Qur’an juga hal terlarang, karena makian dapat mengundang makian.” Ungkapnya.

“Kalau kita mampu bekerjasama dengan pengikut agama lain, mengapa antar sesama muslim kita tidak bisa bekerjasama?. Telah keluar fatwa menghalalkan darah orang Syiah. Ini kan sebenarnya bukan Isam. Islam mengajarkan untuk saling berlomba-lomba dalam kebaikan, senantiasa bersatu dan tidak berpecah belah. Kita hanya akan menjadi bahan tertawaan musuh-musuh Islam, kalau kesibukan kita saling mencela dan menjatuhkan satu sama lain. Kita ingin agar umat Islam saling hormat menghormati. Tidak saling memaki dan saling mencemohhkan. Kita adalah satu keluarga besar Islam yang menempatkan akhlak mulia sebagai pondasi dasar dalam beragama“ tutupnya.

Turut hadir dalam pertemuan yang berlangsung dari pukul 14:30 sampai 16:30 waktu setempat,  bapak Rahendra Witomi staff KBRI-Tehran, ketua umum HPI dan sejumlah pengurusnya. Diakhir acara, Sayyid Ali Shahab selaku ketua umum HPI-Iran 2014-2015 memberikan cindera mata kepada DR. Alwi Shihab sebagai ucapan terimakasih atas nasehat dan kunjungannya.

Ucapan JK Terbukti Benar ! Sesat dan bahayanya Syi’ah hanya fitnah dan tuduhan dari Wahabi

Syiah akan tetap kuat, meski profokator merong-rong ! Fitnah wahabi mampu kami bongkar

Mantan Wapres Jusuf Kalla tidak ingin melanggar konstitusi. Ketika dikatakan  sesatnya Syi’ah, JK anggap itu sebagai fitnah dari Wahabi

.
“Semua ini tidak benar (sesat dan bahayanya Syi’ah), ini hanya fitnah dan tuduhan dari Wahabi,” kata JK di kantor Dewan Masjid Indonesia, Minggu lalu (18/5/2014).

Fitnah Arrahmah

Satu Fitnah lagi dari Arrahmah.
3.334 orang tertipu dan menyukainya.
955 orang lagi menyebarkan fitnah tersebut.
Canggih juga Photoshopnya Wahabi. Sehingga seolah2 asli.
Tak heran Nabi menyebut Najd tempat kelahiran pendiri Wahabi, Muhammad bin Abdul Wahhab sebagai sumber fitnah dan munculnya Tanduk Setan.

Ibnu Umar berkata, “Nabi berdoa, ‘Ya Allah, berkahilah kami pada negeri Syam dan Yaman kami.’ Mereka berkata, Terhadap Najd kami.’ Beliau berdoa, ‘Ya Allah, berkahilah Syam dan Yaman kami.’ Mereka berkata, ‘Dan Najd kami.’ Beliau berdoa, ‘Ya Allah, berkahilah kami pada negeri Syam. Ya Allah, berkahilah kami pada negeri Yaman.’ Maka, saya mengira beliau bersabda pada kali yang ketiga, ‘Di sana terdapat kegoncangan-kegoncangan (gempa bumi), fitnah-fitnah, dan di sana pula munculnya tanduk setan.’” [HR Bukhari]

http://kabarislamia.blogspot.com/2012/01/najd-tempat-khawarijfitnah-di-najd-atau.html

Share Photo dari DR.Sayyid Muhsin Labib Assegaf,MA
Segala cara dan modus dihalalkan demi tercecernya darah ummat Muhammad saw, demi tercorengnya agama yang santun ini di hadapan dunia.

Surban Hitam dalam tradisi mazhab Syiah hanya boleh dikenakan oleh Ulama dari keturunan / dzuriyah Nabi Muhammad saw (Habaib). Ulama Syiah yang bukan dari dzuriyah Nabi saw dikenal dengan Surban Putihnya.

Sedemikian hasudnya (iri dan dengki) kaum Wahabi Takfiri kepada Ahlul Bait Nabi saw dan para keturunannya (Habaib), sehingga tak tersisa lagi apapun dari mereka selain kebencian serta dendam kesumat kepada para Habaib dengan kedok anti Syiah.

Padahal foto aslinya ada di sini:

Foto di atas adalah foto Sayid Ammar Al Hakim yang merupakan Ulama keturunan Nabi saw dengan tanda sorban hitam di kepalanya. Jika bukan turunan Nabi, di kalangan Syi’ah paling pakai sorban putih.

Ada pun yang mencium anjing itu sebetulnya seorang pastor binatang:thumb_640_foto-animal-pastor

M.Mag. Tomasz Jaeschke
Pastor of humans and animals

http://www.torolobby.org/en/foto-animal-pastor.jpg.html

Inilah hasil fitnah Arrahmah dengan resolusi lebih rendah:fitnah arrahmah2
arrahmah.com:

Coba kita perhatikan foto ini, lebih mulia mana antara Ulama’ syiah ini atau si anjing?

Anjing tak akan pernah anaknya ia tiduri, tapi kalau kaum syiah, dengan mutaah, ibu, anak istri orang saja dia tiduri, itulah hakekat nikah mut’ah yg jijik.. Nauzhubillah..Kaum syiah lebih bejat dari binatang!

Dengan fitnah seperti itu, yang bejat itu Syi’ah apa Arrahmah?
Apalagi menyamakan Nikah Mut’ah dengan boleh meniduri ibu atau anak istri orang dan menganggap Nikah Mut’ah sebagai hal yang menjijikan, sama saja Arrahmah menghina Nabi Muhammad SAW. Sebab Nabi meski mengharamkan nikah Mut’ah 2x, Nabi juga membolehkannya 2x.Masuk akalkah Nabi Muhammad yang maksum / bebas dari dosa itu justru mengajak ummatnya berbuat dosa?

”Telah di izinkan bagi kalian untuk menikah mut’ah maka sekarang mut’alah.” (HR.Bukhori no. 5117)

Al-Imam Al-Muzani rahimahullah berkata: “Telah sah bahwa nikah mut’ah dulu pernah diperbolehkan pada awal-awal Islam. Kemudian datang hadits-hadits yang shahih bahwa nikah tersebut tidak diperbolehkan lagi. Kesepakatan ulama telah menyatakan keharaman nikah tersebut.” (Syarh Shahih Muslim hadits no. 1404 karya An-Nawawi)

Meski paham Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengharamkan Nikah Mut’ah selama2nya, namun jangan sekali-kali kita menganggap Nikah Mut’ah itu sama dgn pelacuran. Itu sama dgn mengatakan Nabi pernah menghalalkan pelacuran 2x. Sama dgn mengatakan para sahabat berzina dgn pelacur 2x. Bukankah itu sama dgn menghina Nabi dan Sahabat?

Semua rukun dan persyaratan Nikah Mut’ah sama dgn Nikah biasa kecuali nikah Mut’ah dibatasi dgn waktu. Meski usai, bisa dilanjutkan atau cerai. Jadi beda dgn pelacuran di mana 1 wanita bisa melayani 10 pria dan juga tidak ada masa iddahnya. Karena itu Nabi sempat membolehkannya 2x.

Kehalalan nikah mut’ah semua Ulama sepakat tetapi para Ulama berbeda pendapat tentang pengharamannya. Walaupun Ahlussunnah mengharamkan nikah mut’ah kendati begitu mereka tidak menyamakan secara sempurna dengan perzinahan karena nikah jenis ini juga terdapat dalam kitab-kitab dan riwayat-riwayat Ahlussunnah.

Dikalangan Syi’ah pun walau mereka sepakat kehalalannya terutama pendapat Ulama muta’akhirin mereka tidak menganjurkan bahkan melarang pelaksanaan pernikahan jenis ini karena rentan penyalah-gunaannya ini bisa dilihat di sentra-sentra Komunitas Syi’ah di Iran, Iraq, dan Libanon bahkan mereka menjadikan nikah mut’ah sebagai sesuatu yang tabu dan tidak terpuji dan Mahkamah Syari’ah di negera-negara tersebut tidak pernah meloloskan satu pun kasus nikah mut’ah.

Jadi kalau Arrahmah and the gang suka berdusta, itu niscaya bukan Muslim yang baik. Sebab Muslim yang baik tidak suka berbohong. Apalagi sampai berulang-kali: Allah mengutuk orang yang banyak berbohong:
“Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta” [QS Adz Dzaariyaat:10]
1477851_10202532609214144_466148604_n

Siksa yang pedih di neraka disediakan bagi para pendusta:
“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.” [Al Baqarah:10]
“Kecelakaan besarlah bagi tiap-tiap orang yang banyak berdusta lagi banyak berdosa” [Al Jaatsiyah:7]

Jika sering berdusta, maka itu akan menyeretnya ke neraka:
“Hendaklah kamu selalu benar. Sesungguhnya kebenaran membawa kepada kebajikan dan kebajikan membawa ke surga. Selama seorang benar dan selalu memilih kebenaran dia tercatat di sisi Allah seorang yang benar (jujur). Hati-hatilah terhadap dusta. Sesungguhnya dusta membawa kepada kejahatan dan kejahatan membawa kepada neraka. Selama seorang dusta dan selalu memilih dusta dia tercatat di sisi Allah sebagai seorang pendusta (pembohong). (HR. Bukhari)

Dusta adalah satu ciri orang Munafik:
Nabi Muhammad SAW: “Tanda-tanda orang munafik ada tiga, yaitu bila berbicara dusta, bila berjanji tidak ditepati, dan bila diamanati dia berkhianat. “(HR. Muslim)

“Seorang mukmin mempunyai tabiat atas segala sifat aib kecuali khianat dan dusta. (HR. Al Bazzaar)

Jadi kasihan sekali dgn Arrahmah serta orang-orang yang me-like dan menyebar fitnah tsb. Mudah-mudahan tobat sehingga tidak diseret di neraka.

Bohong sih bohong.
Tapi mbok jangan keseringan:http://kabarislamia.blogspot.com/2013/04/buat-para-penggemar-berita-arrahmahcom.html

http://kabarislamia.blogspot.com/2013/12/1-fitnah-lagi-dari-arrahmah.html

 

jargon Syiah yang selama ini mengusung anti-amerika wajar disukai NU. Zionis dan Salibis Internasional sedang melakukan program adu domba Sunni dan Syiah di seluruh dunia secara besar-besaran. Bahkan, adu domba diarahkan pada konflik Sunni dengan Sunni, dan Syiah dengan Syiah.

Sunni harus bisa menahan diri dan Syiah harus tahu diri. Jika Sunni menahan diri dan Syiah tahu diri, maka dialog dengan ilmu dan adab dalam berbagai perbedaan Sunni dan Syiah bisa dibangun, sehingga konflik berdarah pun bisa dihindarkan.

Sunni tidak boleh tunjuk hidung dengan mengkafirkan Syiah, apalagi menggeneralisir bahwa semua Syiah kafir

Pada siaran Indonesia Lawyers Club (ILC) TV One, Selasa 25 Juni 2013, salah satu narasumber, Haidar Bagir, CEO Mizan, menyebut kelompok Takfiri sebagai biang dari permasalahan Sunni-Syiah. Berlanjut kemudian, terjadi perang opini di dunia maya lewat jejaring sosial Twitter. Pihak Sunni yang malam itu melakukan aksi twitstorm dengan hastag #SyiahBukanIslam, mendapat perlawanan dari pihak Syiah dengan hastag #IndonesiaTanpaTakfiri

Sedikit melakukan perbandingan, labelisasi Takfiri juga digunakan oleh kalangan warga NU dalam perang opini melawan kelompok Fundamentalis, jauh sebelum konflik Sunni-Syiah ter-blow up dan menjadi headline media massa di Indonesia. Sudah mafhum bahwa labelisasi Wahabi, Takfiri, Fundamentalis dan lain sebagainya adalah sematan serupa yang dialamatkan kepada wahabi.

“Bangun Dialog dengan Ilmu dan Adab sesama Madzhab Islam! Jangan saling mengkafirkan, apalagi saling menyerang dan membunuh! Stop segala bentuk penistaan terhadap Rasulullah SAW dan Ahlul Baitnya ! Rapatkan barisan dan satukan potensi untuk melawan Zionis dan Salibis Internasional!

Voa-Islam (www.voa-islam.com) yang berslogan Voice of Al Islam dan Voice of The Truth merupakan salah satu situs Islam garis keras bernuansa Wahhabi, seperti halnya Arrahmah.com. Website radikal tersebut didirikan di Bekasi Pada Bulan April 2009 dan resmi beroperasi pada tanggal 1 Juni 2009. Voa-Islam sering menebarkan berita-berita provokatif penuh kebencian kepada semua pihak yang tidak sejalan dengan visi misi mereka.

Jum’at 21 Maret 2014 atau 23 Jumadil Awwal 1435 H, Voa-Islam melansir berita dengan judul “Ketua MUI Muhyidin Junaidi : Menyerukan Umat Islam Memilih Calon Non-Muslim.” Dalam tulisan disitus tersebut, Voa-Islam menuduh KH. Muhyidin Junaidi Ketua Dewan Pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat Bidang Hubungan Luar Negeri mengeluarkan himbauan kepada umat Islam agar tidak takut dalam memilih caleg nonmuslim-kafir.

“…bagaimana bisanya, lidah Ketua Dewan Pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat Bidang Hubungan Luar Negeri, Muhyiddin Junaidi mengeluarkan himbauan kepada umat Islam agar tidak takut dalam memilih caleg nonmuslim-kafir…”, tulis situs tersebut.

Muhyidin Junaidi sendiri merupakan salah satu anggota Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah sekaligus Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Bogor.

Pihak Muhammadiyah kemudian melakukan klarifikasi melalui situs “Sang Pencerah” (www.sangpencerah.com) dan fanpage “Website Sang Pencerah”. Voa-Islam dianggap telah melakukan kebohongan.

Dalam fanpage “Website Sang Pencerah”, Voa-Islam diminta untuk Menghapus pemberitaan tersebut, memuat klarifikasi dan permintaan maaf dan ke depannya dihimbau agar lebih teliti dalam memuat berita mengenai umat Islam. Himbaun itu merupakan bagian dari pernyataan sikap PC. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Bogor terkait berita Voa-Islam mengenai KH. Muhyiddin Junaidi.

Dalam klarifikasi tersebut, disebutkan bahwa KH Muhyidin telah mengirim SMS kepada Ust. Yunahar Ilyas, salah seorang Ketua PP Muhammadiyah bahwa telah terjadi salah kutip. Sebaliknya, Kyai Muhyidin menyatakan agar memilih pemimpin yang seaqidah. Meskipun demikian, memilih pemimpin non-muslim tidak melanggar UU.

“Itu salah kutip dari koran lokal, pernyataan saya adalah refrensinya Ali Imran 118-120 agar memilih pemimpin yang seaqidah dan seiman,sementara memilih yg berbeda iman dlm kontek keindonesiaan tak melanggar UU karena negara indonesia bkn Daulah islamiyah ,bkn juga negara agama tapi negara sekuler.Saya sdh klarifikasi pernyataan tsb. Mui Sumut telah memberikan penjelasan seusai rpt hari jumat”, demikian SMS yang diterima Prof. Yunahar Ilyas dari  dari KH. Muhyiddin Junaedi, sebagaimana dilansir fanpage “Website Sang Pencerah” dan situs Sang Pencerah http://www.sangpencerah.com .

Selain Voa-Islam, berita yang sama juga dilansir situs Wahhabi “Nahi Munkar” http://www.nahimukar.com . Dalam situs yang kabarnya milik Hartono Ahmad Jaiz itu dilansir dalam sebuat tulisan berjudul “Waspadai, Komplotan Syiah di MUI Serukan Umat Islam Pilih Caleg Non Muslim”.

Tidak ada bedanya dengan voa-Islam, Arrahmah.com dan media wahhabi lainnya, situs Nahimunkar.com juga merupakan situs hitam penebar kebencian terhadap kaum Muslimin. Dalam situsnya, KH. Muhyidin disebut sebagai anggota komplotan Syi’ah yang berada di MUI yang perlu diwaspadai. Nahimunkar.com memang terkenal sebagai situs yang serampangan menuduh pihak-pihak tertentu, khususnya yang berkaitan dengan isu Syi’ah sehingga situs ini sangat tidak dipercaya oleh kaum Muslimin. (Redaktur : Ibnu Manshur)

Klarifikasi atas kebohongan media VOA-ISLAM

Pernyataan Sikap PC. IMM Bogor terkait Berita Voa-Islam mengenai KH. Muhyiddin Junaidi.

Sehubungan dengan pemberitaan web voa-Islam pada hari Jumat 21 Maret 2014 dengan judul “Ketua MUI Muhyidin Junaidi : Menyerukan Umat Islam Memilih Calon Non-Muslim” maka dengan hormat kami Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Bogor mendesak voa Islam untuk:

1. Menghapus pemberitaan tersebut..
2. Memuat klarifikasi dan permintaan maaf
3. Ke depannya agar lebih teliti dalam memuat berita mengenai umat Islam.

Alasan:
1. KH. Muhyidin Junaedi selain sebagai ketua Bid. hubungan luar negeri MUI adalah ulama Muhammadiyah di lingkungan Kota Bogor. Beliau pernah menjadi ketua PDM Kota Bogor dan masih rutin sebulan sekali mengisi pengajian di Mesjid Al Furqon PDM Kota Bogor. Ketika Musycab IMM pun beliau hadir sebagai pemateri seminar, kami mengenal beliau cukup dekat dan tahu faham keagamaan beliau. Tidak mungkin beliau menyeru umat Islam untuk memilih caleg non-muslim.

2. Beliau telah memberikan klarifikasi dengan memberi sms kepada Ustadz Yunahar Ilyas salah seorang ketua PP. Muhammadiyah sebagai berikut: “Itu salah kutip dari koran lokal,pernyataan saya adalah refrensinya Ali Imran 118-120 agar mmemilih pemimpin yang seaqidah dan seiman,sementara memilih yg berbeda iman dlm kontek keindonesiaan tak melanggar UU karena negara indonesia bkn Daulah islamiyah ,bkn juga negara agama tapi negara sekuler.Saya sdh klarifikasi pernyataan tsb.Mui Sumut telah memberikan penjelasan seusai rpt hari jumat”

Saran
Voa-Islam dan kawan-kawan mempunyai tujuan mulia, yakni menjadi media alternatif dari media sekuler yang terkadang tidak adil terhadap umat Islam. Media sekuler dirasa kurang melakukan tabayyun, suka seenaknya membuat berita, dll. Oleh karena itu maka muncullah media alternatif seperti voa-islam dll. Namun tolong dalam melakukan pemberitaan, jangan sama saja dengan media sekuler. Kurang tabayyun, pemelintiran judul, dll. Janganlah cara-cara media sekuler untuk memojokan umat Islam malah ditiru oleh media Islam sendiri, media Islam harus memberi uswah hasanah kepada media-media non-Islami.

Penutup
Sebagai manusia tentu kita tidak bisa lepas dari khilaf, apalagi sebagai sesama muslim kita harus tetap menjaga silaturahim, Jika voa-Islam telah memenuhi tuntutan kami di atas, maka kami nyatakan perkara selesai dan mari saling memaafkan.

Bogor, 25 Maret 2014

Ttd.

Kabid. Kader PC. IMM Bogor

Sumber : https://www.facebook.com/photo.php?fbid=241969362654052&set=a.158806407637015.1073741828.157672297750426&type=1

*****
Voa –Islam, sebuah situs yang menurut aktivis muda NU dari berbagai kalangan adalah situs penebar kebencian yang mengatasnamakan Islam, propaganda dan fitnah dari Voa-Islam sudah sangat sering kami kupas secara mendalam, dan bisa di baca kembali di link-link berikut ini:
1. Fitnah Voa Islam atas Grand Mufti Suriah 2. Fitnah Voa Islam atas Ayatullah Khamenei3. Fitnah Voa Islam atas kematian putra Mufti Suriah 

4. Meluruskan makna mulkulturalisme yang ‘dicompang-campingkan’ oleh Voa Islam

5. Voa Islam vs Kabar Islam

Juga di link berikut:

http://liputanislam.com/tabayun/menjawab-teguran-voa-islam-bagian-pertama/

http://liputanislam.com/tabayun/menjawab-teguran-voa-islam-bagian-kedua/

http://liputanislam.com/tabayun/menjawab-teguran-voa-islam-bagian-ketiga/

http://liputanislam.com/tabayun/menjawab-teguran-voa-islam-bagian-keempat-tamat/

Fatwa KH.Hasyim Asy’ari Terkait Syi’ah bisa berubah karena perubahan kondisi.Itu pada zaman Belanda. Sekarang eranya sudah lain.

Gusdur

Tanggal 16 september 2012 Rais Syuriyah PBNU KH Hasyim Muzadi menyatakan paham Sunni maupun Syiah yang dianut oleh masyarakat di Madura itu masih menjadi bagian dari Islam.

Kiai Hasyim menyatakan hal itu di Malang, Sabtu, 1 September. Untuk meredam sekaligus mengupayakan penyelesaian konflik antara Sunni dengan Syiah di Sampang, katanya, akhir pekan depan (8/9/2012) dirinya bersama PWNU Jatim akan ke Sampang.

“Sebaiknya para ulama ini melakukan dakwah yang isinya bimbingan dan penyuluhan serta argumen-argumen yang benar, jangan pakai kekerasan. Kelompok minoritas itu kalau dikerasi justru akan tambah militan,” tandasnya.

Dan, tegasnya, yang lebih penting lagi, ulama yang tidak cocok dengan ulama lain jangan menggaet umat lainnya agar perbedaan paham ini tetap bisa hidup dan berkembang secara berdampingan tanpa harus melakukan kekerasan.

“Kita berharap masalah ini secara perlahan bisa dituntaskan dengan baik,” tegasnya.

Kiai Hasyim juga mengakui, masyarakat di Madura cenderung lebih taat kepada ulama ketimbang ajaran yang termaktub dalam kitab suci (syariat). Oleh karena itu, peran ulama untuk mendamaikan dua paham yang berselisih ini sangat penting dan sentral.

“Oleh karena itu, para ulama di Sampang ini harus didukung dengan berbagai informasi yang lebih luas agar penyelesaian konflik tersebut lebih obyektif dan proporsional, apalagi ulama di Madura memiliki peran penting sebagai panutan umat,” tegasnya.

Said Aqil Siradj Menabrak Fatwa Pendiri NU tentang Syiah

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hasyim Asyari Menolak Syiah ? Ya, beliau berijtihad menurut masanya. Sekarang eranya sudah lain. Fatwa itu bisa berubah karena perubahan kondisi.

fatwa Hasyim Asyari , Itu pada zaman Belanda. Sekarang eranya sudah lain. Fatwa itu bisa berubah karena perubahan kondisi. Di Sunni sendiri juga ditetapkan seperti itu, bahwa fatwa bisa berubah karena perbedaan kondisi. Karena perbedaan tempat, Imam Syafii sendiri pernah mengubah fatwanya ketika beliau pindah ke Mesir dari Irak.

Begitu juga dengan beberapa fatwa lain di MUI. Saya bisa kasih contoh fatwa tentang aborsi. Semua aborsi itu dilarang. Islam tidak pernah membenarkan aborsi. Tapi, kemudian terjadi perubahan kondisi dimana terjadi kehamilan akibat perkosaan, sehingga aborsi pada kondisi tersebut dikecualikan.

SYIAH dan NU memiliki titik temu di bidang fikih dan tasawuf seperti tahlilan, qunut, maulidan, ziarah kubur, hormati ahlulbait  dll jadi bisa bersatu..

Titik Temu Islam Ahlus Sunnah (NU) dan Islam Syi’ah ada dibidang fikih dan tasawuf serta sama sama anti Wahabi Nejed,”

Hasyim Asyari Menolak Syiah ? Ya, beliau berijtihad menurut masanya. Sekarang eranya sudah lain. Fatwa itu bisa berubah karena perubahan kondisi.

Said Aqil Siradj Menabrak Fatwa Pendiri NU tentang Syiah

 

 

 

 

 

 

Hasyim Asyari Menolak Syiah ? Ya, beliau berijtihad menurut masanya. Sekarang eranya sudah lain. Fatwa itu bisa berubah karena perubahan kondisi.

fatwa Hasyim Asyari , itu pada zaman Belanda. Sekarang eranya sudah lain. Fatwa itu bisa berubah karena perubahan kondisi. Di Sunni sendiri juga ditetapkan seperti itu, bahwa fatwa bisa berubah karena perbedaan kondisi. Karena perbedaan tempat, Imam Syafii sendiri pernah mengubah fatwanya ketika beliau pindah ke Mesir dari Irak.

Begitu juga dengan beberapa fatwa lain di MUI. Saya bisa kasih contoh fatwa tentang aborsi. Semua aborsi itu dilarang. Islam tidak pernah membenarkan aborsi. Tapi, kemudian terjadi perubahan kondisi dimana terjadi kehamilan akibat perkosaan, sehingga aborsi pada kondisi tersebut dikecualikan.

SYIAH dan NU memiliki titik temu di bidang fikih dan tasawuf seperti tahlilan, qunut, maulidan, ziarah kubur, hormati ahlulbait  dll jadi bisa bersatu..

Titik Temu Islam Ahlus Sunnah (NU) dan Islam Syi’ah ada dibidang fikih dan tasawuf serta sama sama anti Wahabi Nejed,”

Antara Tradisi-Kultur Sunni dan Adu Domba Syiah

Tuduhan bahwa Syiah membenci para sahabat adalah salah kaprah. Para pengikut Syiah tidak pernah dirugikan para sahabat kenapa mesti benci ? Yang benar adalah bahwa ketika harus menentukan atau menilai siapa diantara sahabat yang paling utama dan yang setia kepada Nabi saw ? Nah di sini mau tidak mau harus meneliti “track record” para sahabat itu sendiri. Dari riwayat yg sampai kepada kita ternyata tidak semua para sahabat itu saleh. Contohnya tidak mungkin kita samakan Muawiyah dengan Imam Ali. Pasti sangat sangat jauh berbeda.

Syiah sering kali dituduh sebagai pihak yang mencaci sahabat Nabi bahkan dituduh sampai mengkafirkan sahabat Nabi. Sudah berpuluh-puluh website yang membahas persoalan ini. Sudah berderet situs yang melemparkan tuduhan tersebut kepada Syiah. Tuduhan yang sering kali dilemparkan oleh orang-orang yang mengaku dirinya Ahlulsunnah. Tetapi apakah itu benar?

Ahmad Sarwat mengatakan bahwa syiah yang masih menghormati pada shahabat khulafaurrasyidin itu jelas masih muslim. Kita tidak mungkin mengatakan mereka kafir begitu saja. Tetapi syiah yang mengkafirkan para khulafaurrasyidin itu, atau bahkan mencaci maki mereka sambil menambahi kata-kata laknatullahi ‘alaihim setiap menyebut nama Abu Bakar, Umar, Utsman dan Aisyah, jelas-jelas syiah yang 100% kafir, bukan Islam dan musuh umat Islam sedunia.

Dari sana disimpulkan bahwa siapa saja yang mencaci maki Abu Bakar, Umar, Utsman, Aisyah adalah orang yang 100% kafir. Muncullah pertanyaan dalam benak saya, apa yang menjadi dasar pernyataan beliau itu?

Ternyata pada jawabannya tersebut beliau menyampaikan argumen yang melandasi jawaban tersebut. Bahwa hal ini sejak awal masa Islam telah disepakati oleh para ulama, meski mereka tidak secara ekplisit menyebut syiah sebagai pelakunya. Misalnya, Imam Malik berkata: “Orang yang mencela shahabat-shahabat Nabi, maka ia tidak termasuk dalam golongan Islam.”

Penulis tafsir Al-Jami’ li Ahkamil Quran, Al-Imam Al-Qurthubi berkata: “Sungguh ucapan Imam Malik itu benar dan penafsirannya pun benar. Siapa pun yang menghina seseorang Shahabat atau mencela periwayatannya, maka ia telah menentang Allah, Tuhan seru sekalian alam dan membatalkan syariat kaum Muslimin.”

Jadi, orang yang mencaci sahabat Nabi itu adalah orang kafir memiliki dasar argumen dari pernyataan beberapa ulama. Muncul pertanyaan lagi. Lalu apa yang menjadi dasar bagi para ulama itu untuk mengeluarkan pernyataan bahwa orang yang mencaci sahabat Nabi itu kafir? Tetapi nampaknya Ahmad Sarwat tidak mencantumkan dalam jawabannya tersebut. Mungkin bisa ada yang membantu Ahmad Sarwat untuk melengkapi jawabannya?

Ambillah kita menyepakati pendapat para ulama itu bahwa orang yang mencaci sahabat Nabi adalah orang yang kafir, telah keluar dari agama Islam.

Lalu bagaimana dengan beberapa riwayat yang sampai ke tangan kita bahwa diantara sahabat Nabi sendiri terjadi, bukan hanya caci maki, tetapi sampai pada pertikaian dan peperangan yang tentunya menelan korban jiwa?

Sebut saja pertikaian yang terjadi di Saqifah saat perebutan kekuasaan kekhalifahan, padahal saat itu jenazah Nabi belum sempat dikuburkan; perang jamal antara Imam Ali dengan pasukan Aisyah, padahal Nabi sudah melarang istri-istrinya untuk keluar rumah; perang siffin antara Imam Ali dengan Muawiyah.

Jika kita konsisten dengan pendapat ulama itu, bahwa “orang yang mencaci dan mengkafirkan sahabat Nabi adalah orang kafir”, maka mau tidak mau kita harus mengatakan sahabat yang saling lempar caci maki dan menumpahkan darah diantara mereka itu sebagai orang kafir. Dan kita yang menyatakan mereka sebagai orang kafir, padahal mereka itu sahabat Nabi, maka kita sendiri juga kafir. Jadi ndak ada yang bener donk? bingung khan?

Kembali ke pertanyaan awal, apakah benar syi’ah telah mencaci dan mengkafirkan sahabat Nabi?

Dalam menjawab pertanyaan yang sering kali dilontarkan oleh orang-orang yang mengaku diri mereka ahlulsunnah itu, saya ingin mengajak Anda semua untuk sedikit melihat kepada kitab-kitab Ahlulsunnah.

Imam Al-Bukhari di dalam Shahihnya, Kitab al-Riqaq, bab al-Haudh halaman 379-386 menyatakan bahwa mayoritas para sahabat Rasulullah saw telah murtad sepeninggal wafatnya Rasulullah. Hanya segelintir dari mereka yang selamat.

Rasulullah bersabda, “Aku mendahului kalian di Haudh dan sebagian dari kalian akan dibawah kehadapanku, kemudian mereka dipisahkan jauh dariku. Aku (akan) bersabda: Wahai Tuhanku! Mereka itu adalah sahabatku (ashabi). lalu dijawab: sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka setelah engkau meninggalkan mereka (inna-ka la tadri ma ahdathuu ba’da-ka).

Pada riwayat yang lain Rasulullah juga bersabda: “Wahai Tuhanku! Mereka itu adalah para sahabatku, lalu dia berfirman: Sesungguhnya Engkau tidak mengetahuai apa yang telah mereka lakukan sepeninggalmu. Sesungguhnya mereka telah menjadi murtad ke belakang (inna-hum irtadduu ‘ala a’qabi-him al-Qahqariy)”.

Riwayat-riwayat diatas, dikutip dari The Translation of the Meanings of sahih Al-Bukhari Arabic-English Vol. VIII oleh Dr. Muhammad Muhsin Khan, Islami University, Medina Al-Munawwara.

Jadi sebenarnya di dalam kitab Ahlulsunnah sendiri ada riwayat yang menunjukkan kepada kita semua bahwa ada sahabat Nabi yang murtad sepeninggal Nabi. Di antara mereka murtad karena merubah sunnah Nabi, mengacak-acak ketentuan-ketentuan yang telah diturunkan oleh Allah melalui Rasul-Nya. Celakanya, riwayat itu ada dalam kitab hadits yang dianggap oleh Ahlulsunnah sebagai kitab hadits yang paling shahih.

Apakah lantas kita berani mengatakan bahwa Bukhari yang telah meriwayatkan riwayat tersebut sebagai orang kafir? Apakah kita mau mengatakan bahwa Ahlulsunnah itu kafir karena meyakini hadits itu sebagai hadits shahih?

Lalu jika sudah seperti ini, manakah yang benar?

Menurut saya, sebelum kita menentukan mana yang benar, apakah sunni atau syi’ah, maka kita harus mau menelaah kembali pernyataan para ulama yang dijadikan rujukan oleh Ahmad Sarwat bahwa “orang yang mencaci atau mengkafirkan sahabat Nabi adalah orang kafir”. Pernyataan itu yang kemudian harus kita kritisi. Karena jika tidak, sama saja kita menganggap semua sahabat Nabi yang saling berperang adalah orang kafir karena mencaci maki saja bisa jadi kafir apalagi jika sampai saling memerangi Dan kita juga kafir, karena mengatakan mereka kafir padahal mereka adalah sahabat Nabi.. Jadi semuanya kafir.

Alih-alih mau mengkritisi, argumen yang menjadi dasar pernyataan ulama tersebut pun belum kita ketahui. Atau ada diantara Anda yang mengetahuinya? silakan…

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menilai aliran Islam Syiah secara umum bukan merupakan aliran sesat. “Tidak sesat, hanya berbeda dengan kita,” kata Ketua Umum PBNU, Said Aqil Siradj, di kantor kepresidenan, Jakarta, Selasa 28 Agustus 2012.

Menurut dia, Syiah merupakan salah satu sekte Islam yang sudah ada sejak 14 abad lalu. Sekte ini pun ada di berbagai belahan bumi, termasuk Indonesia. “Pusatnya memang di Iran,” ujar Said.

***

K.H. Hasyim Asy’ari Tentang Syiah

(Fatwa dan Himbauan)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

K.H. Hasyim Asy’ari

KH Hasyim Asy’ari (pendiri N.U.) ketika membuat Qanun Asasi Li Jam’iyah Nahdlatul Ulama, beliau sudah mewanti-wanti agar kaum …Nahdliyyin berpegang teguh dengan aqidah Ahlussunnah Wal Jamaah (Syafe’i, Maliki, Hanafi dan Hambali) serta waspada dan tidak mengikuti Madzhab Syi’ah Imamiyyah dan Syi’ah Zaidiyyah. Hal mana karena keduanya adalah Ahli Bid’ah.

Dalam halaman 7 (tujuh) Qanun Asasi tersebut beliau menyampaikan Hadits Rosulillah SAW, yang berbunyi:

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : (إِذَا ظَهَرَتِ الْفِتَنُ أو الْبِدَعُ , وَسُبَّ أَصْحَابِي , فَعَلَى الْعَالِمِ أَنْ يُظْهِرَ عِلْمَهُ , فَإِنْ لَمْ يَفْعَلْ فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ , وَالْمَلاَئِكَةِ , وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ لاَ يَقْبَلُ اللَّهُ مِنْهُ صَرْفًا ، وَلاَ عَدْلاً.)  (أخرجه الخطيب فى الجامع بين أداب الراوى والسّامع )

“Apabila timbul fitnah atau Bid’ah, dimana Sahabat Sahabatku dicaci maki, maka setiap orang yang berilmu diperintahkan untuk menyampaikan ilmunya (menyampaikan apa yang ia ketahui mengenai kesesatan Syi’ah). Dan barang siapa tidak melaksanakan perintah tersebut, maka dia akan mendapat laknat dari Alloh dan dari Malaikat serta dari seluruh manusia. Semua amal kebajikannya, baik yang berupa amalan wajib maupun amalan sunnah tidak akan diterima oleh Alloh”.

Kemudian di halaman 9 (sembilan) Qanun Asasai tersebut beliau juga berfatwa, bahwa Madzhab yang paling benar dan cocok untuk di ikuti di akhir zaman ini adalah empat Madzhab, yakni Syafe’i, Maliki, Hanafi dan Hambali (keempatnya Ahlussunnah Wal Jamaah).

Selanjutnya beliau berkata; “Selain empat Madzhab tersebut juga ada lagi Madzhab Syi’ah Imamiyyah dan Syi’ah Zaidiyyah, tapi keduanya adalah Ahli Bid’ah, tidak boleh mengikuti atau berpegangan dengan kata kata mereka”.

Adapun mengenai Assawadul A’dhom (golongan terbanyak) sebagai tanda golongan yang selamat dan akan masuk Surga, maka di halaman 9 (sembilan) Qanun Asasitersebut, KH Hasyim Asy’ari telah mengutib sabda Rosululloh SAW. sbb:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اتَّبِعُوا السَّوَادَ الْأَعْظَم.

“Ikutlah kalian kepada Assawadul A’dhom (Golongan terbanyak)”

Menanggapi Hadits Assawadul A’dhom tersebut, KH Hasyim Asy’ari berfatwa; “ Karena fakta membuktikan bahwa empat Madzhab, yakni Syafe’i, Maliki, Hanafi dan Hambali (kesemuanya Ahlussunnah Wal Jamaah) tersebut merupakan Madzhab yang paling banyak pengikutnya, maka barang siapa mengikuti Madzhab empat tersebut berarti mengikuti Assawadul A’dhom dan siapa saja keluar dari empat Madzhab tersebut, berarti telah keluar dari Assawadul A’dhom ”.

jawaban kami :

Menurut  Syi’ah yang benar adalah golongan yang sedikit/minoritas, maka  KH Hasyim Asy’ari pendiri NU salah menafsirkan agama. Kalaupun KH Hasyim Asy’ari salah tafsir maka bukan bermakna KH.Said Aqil Siraj berlawanan atau menentang pendiri N.U… Beda penafsiran itu biasa

Golongan yg selamat jumlahnya sangat sedikit di tengah banyaknya umat manusia. Tentang keadaan mereka Rasulullah bersabda “Keuntungan besar bagi orang-orang yg asing. Yaitu orang-orang shalih di lingkungan orang banyak yg berperangai buruk orang yg mendurhakainya lbh banyak daripada orang yg menta’atinya.” Dalam Al-Qur’anul Karim Allah memuji mereka dgn firman-Nya“Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yg bersyukur.”

Ibnu Mas’ud meriwayatkan: “Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam membuat garis dengan tangannya lalu bersabda, ‘Ini jalan Allah yang lurus’. Lalu beliau membuat garis-garis di kanan-kirinya, kemudian bersabda, ‘Ini adalah jalan-jalan yang sesat tak satu pun dari jalan-jalan ini kecuali di dalamnya terdapat setan yang menyeru kepadanya’. Selanjutnya beliau membaca (Al-An’am 153), ‘Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus maka ikutilah dia janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena jalan-jalan itu menceraiberaikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan oleh Allah kepadamu agar kamu bertakwa.’” (HR Ahmad dan Nasa’i)

  • “… Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku (Iblis) sesatkan keturunannya (Adam as), kecuali sebahagian kecil.” [Q17.62]
  • Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Quran), kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. [Q43.36]
  • “Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kalian dijadikan-Nya satu umat (saja). Tetapi Allah akan menguji kalian terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlombalah berbuat kebajikan.” [Q5.48]

.
Video ini di perankan oleh Yasir Al Habib, dia bukan ulama syi’ah yang mu’tabar !

Syiah Melaknat Para Sahabat dalam Sholat mereka ?? Satu, dua, tiga orang Syiah yang melakukan caci maki terhadap sahabat tidak bisa kita generalisasi bahwa mencaci maki sahabat adalah ajaran apalagi akidah Syiah.

Berfikirlah kritis, jangan taklid buta pada KH. Hasyim Asy’ari

Taklid dan itibba’. Taklid menurut pengertian adalah mengikuti pendapat yang tidak memiliki dalil. Adapun itibba’ adalah mengikuti pendapat yang berdalil. Ketika ada informasi yang disampaikan oleh seseorang, jangan langsung menurutinya. Namun informasi yang disampaikannya apakah ada dasar dan sumbernya. Sebab setiap orang akan bertanggung jawab akan segala perbuatannya masing-masing. Kalau hanya sekedar pendapat pribadi, anggap saja level evidencenya rendah..

.

KH Hasyim Asy’ari Kecam Syi’ah Karena Mencaci-Maki Sahabat Nabi SAW ??

Kitab yang dinukil dan diterjemahkan dalam Irsyadussari fi jam’I Mushonnafaat Asyekh Hasyim Asy’ari karya KH. Hasyim Asy’ari, terdapat beberapa untaian perkataan tokoh pendiri Nahdlatul Ulama (NU) ini

Berikut perkataan KH. Hasyim Asy’ari terkait Syi’ah: “Dan diantara mereka ada kaum rofidhoh (syi’ah) yang mencaci-maki Sayyidina Abu Bakar dan Umar ra, dan mereka membenci sahaba-sahabat (nabi) ra dan secara berlebih-lebihan (ghuluw) terhadap Sayyidina Ali dan ahlul bait ra. Sayyid Muhammad berkata dalam syarah al-Qomus (tentang Syi’ah): Dan sebagian mereka (Syi’ah) telah sampai pada kekafiran dan zindiq, semoga Allah melindungi kita dan kaum muslimin darinya”.

JAWABAN KAMi :

Adapun laknat, maka tidak bisa kita katakana tidak boleh atau haram, sebab Allah SWT di dalam Al Quran menyebutkan kurang lebih 38 kali, bahwa diri-Nya melaknat orang-orang yang dzalim, orang-orang kafir, orang-orang yang tidak melakukan amar makruf dan nahi mungkar dari kaum Bani Israil melalui Nabi Isa dan Daud. Begitu juga dalam banyak hadits disebutkan, bahwa Allah melaknat orang yang menyuap dan penerima suap, yang membangun kuburan sebagai sesembahan, yang meminum minuman khamer, penjualnya, yang memproduksinya, yang membawanya dan banyak lagi yang lainnya.

Hal itu menunjukkan, bahwa melaknat itu boleh asal tepat sasaran. Yakni orang yang kita doakan agar jauh dari rahmat Allah adalah orang yang memang tidak akan menerima rahmat Allah SWT sebagaimana disebutkan dalam Al Quran.

Laknat adalah bentuk ekspresi ketidaksetujuan atas prilaku seseorang yang bertentangan dengan agama, ia merupakan lawan dari shalawat, permohonan kerelaan dari Allah bagi orang-orang baik. Hal ini tentu adalah sebuah keniscayaan, sebab di dalam agama memang kita dituntut untuk berlepas diri dari musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya, artinya kita tidak menyetujui apa yang mereka lakukan, kalau tidak begitu maka berarti kita tidak beriman dan tidak lah mencintai Allah dan Rasul-Nya.

Karena itulah kita dapatkan laknat dalam berbagai doa ziarah yang diajarkan oleh para Imam Ahlul Bait as kepada kita. Karena kita memang dituntut untuk melepaskan diri dari para musuh Ahlul Bait sebagai bukti kecintaan kita kepada mereka.

Namun apakah ekspresi boleh dilakukan dalam semua keadaan? Tentu tidak, di saat ada orang-orang yang tidak memahami dan tidak ada kesempatan untuk menjelaskan kepada mereka, sehingga mereka memiliki kesalah pahaman atas kita, maka kita tidak boleh melakukan hal itu.

Coba renungkan ayat 104 dari surah Al Baqarah dimana Allah SWT melarang kaum mukminin untuk mengatakan ra’inaa kepada Nabi saw dan diperintahkan untuk mengatakan undzurnaa sebagai gantinya, padahal dua kata itu memiliki makna yang sama. Sebabnya adalah karena kata yang pertama memiliki makna jelek dalam bahasa Ibrani sehingga orang-orang Yahudi mengejek kaum muslimin atas hal itu.

Mungkin ini yang dimaksudkan oleh sebuah hadits dari Imam Ali bin Abi Thalib as dimana beliau kurang menyukai banyak melaknat musuh-musuhnya, seperti dalam sabdanya yang disebutkan dalam kitab Bihar Al Anwar Juz 32 Hal 399, yang artinya aku tidak menyukai kalian banyak melaknat dan mencaci-maki kemudian berlepas diri. Aku lebih suka dan lebih benar menurutku jika kalian mengatakan, bahwa mereka itu adalah begini dan begini lalu kalian berdoa: Ya Allah selamatkanlah darah mereka dan darah kami dan perbaikilah hubungan kami dengan mereka, berilah mereka petunjuk dari kesesatan mereka sehingga mereka mengetahui hal-hal yang belum mereka ketahui dan mereka luruskan hal-hal yang bengkok dan permusuhan mereka.

  1. Al-Walid bin Uqbah bin Abi Mu’it yang telah dinamakan oleh Allah sebagai fasiq ketika diutuskan oleh Nabi SAW untuk memungut zakat daripada Bani Mustalaq. Dia pulang dan memberi tahu Nabi SAW  bahawa Bani Mustalaq telah keluar untuk memeranginya. Lalu Nabi SAW` bersiap sedia dengan tentera untuk memerangi mereka.

Maka Allah berfirman: Terjemahan:”Hai orang-orang yang beriman, jika     datang kepadamu orang fasiq membawa suatu berita maka periksalah       dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal          atau perbuatanmu itu.”[ Qs. Al-Hujurat (49):6]

Al-Walid bin Uqbah bin Abi Mu’it  merupakan famili Khalifah Uthman dari         sebelah ibunya. Semasa pemerintahannya, Khalifah Uthman melantik beliau        sebagai gabenor di Kufah, al-Baladhuri, al-Ansab al-Asyraf, V, hlm.22; Ibn        Abd al-Barr, al-Isti’ab, III, hlm.594 menceritakan bahawa al-Walid bin        Uqbah adalah seorang peminum arak. Beliau pernah sembahyang Subuh     dalam keadaan mabuk. Ibn Qutaibah di dalam al-Imamah wa al-Siyasah,      Cairo, 1957, I, hlm.32,menyatakan al-Walid bin Uqbah sembahyang Subuh       empat rakaat kerana mabuk.

Al-Walid termasuk  kalangan sahabat, lalu di manakah keadilan seorang     yang fasiq?

2.   Al-Jadd  bin  Qais dari  Bani Salmah telah diturunkan ayat mengenai           dirinya.      FirmanNya: “Di antara mereka ada orang yang berkata: “Berilah       saya keizinan (tidak pergi berperang) dan janganlah kamu menjadikan saya         terjerumus kedalam fitnah”. Ketahuilah bahawa mereka telah terjerumus ke    dalam fitnah. Dan sesungguhnya Jahannam itu benar-benar meliputi orang-        orang kafir.” [Al-Taubah (9):49]

3.   Tha’labah bin Hatib bin Umar bin Umayyah di antara orang yang turut

berperang di dalam peperangan Badar dan Uhud. Dia tidak mahu      mengeluarkan      zakat hartanya. Lalu Allah berfirman: Dia tidak mahu      mengeluarkan zakat hartanya.

Lalu Allah berfirman: Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar   kepada Allah:”Sesungguhnya jika Allah memberi sebahagian kurniaNya    kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk      orang yang saleh.”[Qs. Al-Taubah (9):75-76]

4. Hujr bin Adi dan tujuh sahabat Rasulullah SAWA telah dibunuh oleh   Muawiyah kerana mereka tidak melaknati Ali AS.  (sumber : Ibn al-Athir, Tarikh,I,hlm.18-55;al-Muttaqi al-Hind, Kunz al-Ummal,VII,hlm.88)

‘Aisyah menentang Muawiyah kerana membunuh Hujr bin Adi dan sahabat sahabatnya. ‘Aisyah berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Sekumpulan manusia akan membunuh di ‘Azra’ di mana Allah dan seluruh penghuni langit akan memarahi mereka” [ Ibn Kathir, Tarikh,VIII,hlm.55]

Sahabat Nabi Bernama Kirkirah Masuk Neraka !

Perhatikan Hadits ini :Telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdullah yang berkata telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Amr dari Salim bin Abil Ja’d dari Abdullah bin Amr yang berkata “Pernah ada seseorang yang biasa menjaga perbekalan Nabi SAW, orang tersebut bernama Kirkirah. Kemudian dia pun meninggal dunia, ketika itu Rasulullah SAW bersabda : “Dia berada di Neraka”. Maka para sahabat pergi melihatnya dan mereka mendapatkan sebuah mantel yang diambilnya dari harta rampasan perang sebelum dibagikan [Shahih Bukhari 4/74 no. 3074]

Imam Muslim Juga Meriwayatkan Aksi Pelaknatan Nabi saw. Atas Sahabatnya!

Peristiwa lain yang dapat disebutkan di sini ialah apa yang diriwayatkan Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya, bahwa dalam sebuah perjalanan Nabi saw. bersama para sahabat beliau, dalam perjalanan itu beliau berpesan agar tidak seorangpun yang mendahului beliau menuju tempat air yang kebetulan sangat sedikit itu, beliau bersabda “ Jangan seorang mendahului saya ke tempat iar itu.” Tetapi anehnya malah ada sekelompok yang dengan sengaja mendahului beliau mengambli air dari tempat. Kata Hudzaifah ra., “Maka Nabi melaknat mereka.”[Shahih Muslim. 17,125-126.]

Sahabat Yang Malas Berperang Diancam Al Quran !

Al-Jadd bin Qais daripada Bani Salmah telah diturunkan ayat: “Di antara mereka ada orang yang berkata:”Berilah saya keizinan (tidak pergi berperang) dan janganlah kamu menjadikan saya terjerumus ke dalam fitnah.” Ketahuilah bahawa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah. Dan sesungguhnya Jahannam itu benar-benar meliputi orang-orang kafir.”  [ Al-Taubah (9):49]

Sahabat Nabi Yang Ingkar Zakat Diabadikan Al Quran !

Tha’labah bin Hatib bin Umar bin Umayyah di antara orang yang turut berperang di dalam peperangan Badar dan Uhud. Dia tidak mahu mengeluarkan zakat hartanya. Lalu Allah berfirman: Dia tidak mahu mengeluarkan zakat hartanya. Lalu Allah berfirman:”Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah:”Sesungguhnya jika Allah memberi sebahagian kurniaNya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang yang saleh.”[ Al-Taubah (9):75-76]

ilust_1

sahabat Nabi dalam Al Quran :

(1) ADA YANG MENINGGALKAN NABI KETIKA SEDANG KHOTBAH JUM’AT, HANYA UNTUK MELIHAT PERNIAGAAN DAN PERMAINAN

bahkan sebagian mereka lebih memilih perdagangan dan permainan daripada mendengarkan Nabiullah Muhammad saww berkhutbah, “Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah: “Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan”, dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezeki” (Qs. Al Jumuah : 11)

(2) ADA YANG MENYAKITI NABIT DENGAN MEMBUAT GOSIP MURAHAN

Di antara mereka  ada yang menyakiti Nabi dan mengatakan: “Nabi mempercayai semua apa yang didengarnya”. Katakanlah: “Ia mempercayai semua yang baik bagi kamu, ia beriman kepada Allah, mempercayai orang-orang mukmin, dan menjadi rahmat bagi orang-orang yang beriman di antara kamu”. Dan orang-orang yang menyakiti Rasulullah itu, bagi mereka azab yang pedih. (At Taubah : 61)

(3) ADA YANG BERSUMPAH PALSU

Mereka bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, dan telah menjadi kafir sesudah Islam dan mengingini apa yang mereka tidak dapat mencapainya, dan mereka tidak mencela (Allah dan Rasul-Nya), kecuali karena Allah dan Rasul-Nya telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka. Maka jika mereka bertaubat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih di dunia dan akhirat; dan mereka sekali-kali tidaklah mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di muka bumi. (At Taubah : 74)

(4) ADA YANG KIKIR DAN ENGGANG BERSEDEKAH

Dan diantara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah: “Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh. Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran).(At Taubah : 75-76)

(5) ADA YANG MENINGGIKAN SUARA DIHADAPAN NABI DAN BERKATA DENGAN SUARA KASAR (KERAS)

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari. (Al Hujuraat : 2)

(6) ADA YANG MENCAMPUR ADUKKAN KEBAIKAN DAN KEBURUKAN

“Dan ada pula yang lain, yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka mencampuradukkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima tobat mereka. Sesungguhnya Allah Maha pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. At-Taubah: 102).    

(7) ADA YANG BERPRASANGKA SEPERTI PRASANGKA JAHILIYA KEPADA ALLAH – KETIKA RASULULLAH MENYERUKAN UNTUK BERPERANG

Kemudian setelah kamu berdukacita, Allah menurunkan kepada kamu keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan dari pada kamu, sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri, mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah. Mereka berkata: “Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?”. Katakanlah: “Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah”. Mereka menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu; mereka berkata: “Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini”. Katakanlah: “Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh”. Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati.(Ali Imran : 154)

(8) ADA YANG MENGANGGAP JANJI ALLAH DAN RASULULLAH SEBAGAI TIPU DAYA

“Dan (ingatlah) ketika orang- orang munafik DAN orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata:” Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya.” (QS. Al Ahzâb ;12)

(9) ADA YANG ENGGAN UNTUK IKUT DALAM BERPERANG

“Wahai orang-orang yang beriman! Bersiap siagalah kamu dan majulah (ke medan pertempuran) secara berkelompok atau majulah bersama-sama (serentak). Dan sesungguhnya di antara kamu pasti ada orang yang sangat enggan (ke medan pertempuran). Lalu jika kamu ditimpa musibah dia berkata, “Sungguh, Allah telah memberikan nikmat kepadaku, karena aku tidak ikut berperang bersama mereka.”(Qs. An-Nisa’: 71-72).

(10) JIKA MEREKA IKUT PERANG, MALAH MEMBUAT KEKACAUAN DAN MELEMAHKAN”

Jika (mereka berangkat bersamamu), niscaya mereka tidak akan menambah (kekuatan)mu, malah hanya akan membuat kekacauan, dan mereka tentu bergegas maju kedepan di celah-celah barisanmu untuk mengadakan kekacauan (dibarisanmu); sedang diantara kamu ada orang-orang yang sangat suka mendengarkan (perkataan) mereka. Allah mengetahui orang-orang yang dzalim.”(Qs. At-Taubah: 47).    

(11) LARI DARI MEDAN PERANG

Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah(mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai.(At Taubah : 25)

(12) TIDAK MEMATUHI PERINTAH NABI, HANYA DEMI BEREBUT RAMPASAN PERANG

(Ingatlah) ketika kamu lari dan tidak menoleh kepada seseorangpun, sedang Rasul yang berada di antara kawan-kawanmu yang lain memanggil kamu, karena itu Allah menimpakan atas kamu kesedihan atas kesedihan, supaya kamu jangan bersedih hati terhadap apa yang luput dari pada kamu dan terhadap apa yang menimpa kamu. Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Ali Imran : 153)

Konsep Laknat dalam al-Quran

KONSEP LAKNAT DI DALAM AL-QUR’AN

Pengenalan

Perkataan la‘nat (laknat) dan pecahannya disebut sekurang-kurangnya 32 kali di dalam al-Qur’an dalam pelbagai perkara yang melanggari perintah Allah dan Rasul-Nya. Mengikut  Muhammad Abu Bakr ‘Abd al-Qadir al-Razi perkataan la‘nat (laknat) memberi erti “pengusiran dan berjauhan dari kebaikan” (al-Tard wa al-Ib’ad mina l-khair) (Mukhtar al-Sihhah, hlm. 108, Cairo, 1950). J. Milton Cowan menyatakan la‘nat adalah “curse”. La‘natullahi ‘Alaihi bererti “God’s curse upon him” (A Dictionary of Written Arabic, London 1971, hlm. 870). Manakala menurut Kamus Dewan pula menyatakan laknat adalah “kemurkaan Allah dan jauh dari petunjuk-Nya; setiap perbuatan jahat akan menerima kutukan (laknat) daripada Allah (Kamus Dewan, hlm. 694, Kuala Lumpur, 1971).

Mereka yang dilaknati di dalam al-Qur’an

Di sini dikemukakan sebahagian daripada mereka yang dilaknati di dalam al- Qur’an seperti berikut:

1Laknat Allah kepada mereka yang mengingkari perintah-Nya

Firman-Nya Sesungguhnya Allah melaknat (mengutuk) orang-orang yang kafir (ingkar) dan menyediakan untuk mereka api yang menyala-nyala” (Al- Ahzab (33):64) “Sesungguhnya di atas engkau laknat sampai hari pembalasan” (Al-Hijr (15):35) “Sesungguhnya  di atasmu laknatkusampai hari pembalasan” (Sad (38):78)

Ini menunjukkan barangsiapa yang mengingkari walaupun satu hukum daripada hukum-hukum-Nya adalah termasuk orang yang ingkar terhadap hukum-Nya. Apatah lagi jika seorang itu menukarkan hukum Allah dengan hukumnya sendiri. Kerana setiap individu Muslim sama ada Nabi (Saw.) atau bukan Nabi tidak boleh menyalahi al-Qur’an. Firman-Nya “Katakanlah: Sesungguhnya aku takut jika aku mendurhakai Tuhan-ku, akan azab hari yang besar” (Al-An’am (96):15). Jika Nabi (Saw.) merasa takut kepada Allah jika dia mendurhakai-Nya, maka orang lain sama ada yang bergelar khalifah atau sahabat atau mana-mana individu sepatutnya lebih takut lagi untuk mendurhakai perintah-Nya.

2Laknat Allah kepada mereka yang menyakiti-Nya dan Rasul-Nya.

Firman-Nya; “Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, nescaya mereka dilaknati Allah di Dunia dan di Akhirat dan Dia menyediakan untuk mereka  seksa yang menghinakan (mereka) (Al-Ahzab (33):57).

Ini bererti barang siapa yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya walau dengan apa cara sekalipun dilaknati Allah, Rasul-Nya,para Malaikat-Nya dan  Mukminun. Sama ada dengan menentang hukum Allah dan Sunnah Nabi-Nya atau menghina Allah dan Rasul-Nya dengan membatalkan hukum-Nya dan Sunnah Nabi-Nya di atas alasanmaslahah umum atau sebagainya.

Justeru itu, orang yang menghina Nabi (Saw.) dan  mempersendakan Nabi (Saw.) dengan mengatakan bahawa Nabi (Saw.) “Sedang meracau” di hadapan Nabi (Saw.) “Kitab Allah adalah cukup dan kami tidak perlu kepada Sunnah Nabi (Saw.)” (al-Bukhari, Sahih, I, hlm. 36; Muslim, Sahih, III, hlm. 69). “Sunnah Nabi (Saw.) mendatangkan perselisihan dan pertengkaran kepada Umat [Al-Dhahabi, Tadhkirah al-Huffaz, I, hlm.3]”. “Orang yang telah mengepung dan membakar rumah anak perempuan Nabi (Saw.), Fatimah (a.s) dan berkata: “Aku akan membakar kalian sehingga kalian keluar untuk memberi bai’ah kepada Abu Bakar” [Al-Tabari, Tarikh, III, hlm. 198; Abu-l-Fida,Tarikh, I, hlm. 156],  merampas Fadak daripada Fatimah (a.s) yang telah diberikan kepadanya oleh Nabi (Saw.) semasa hidupnya (Lihat Ahmad bin Tahir al-Baghdadi, Balaghah al-Nisa’, II ,hlm.14; Umar Ridha Kahhalah,A’lam al-Nisa’, III, hlm. 208; Ibn Abi al-Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah, IV, hlm.79, 92), menyakiti hati Fatimah, Ali, al-Hasan dan al-Husain, kerana Rasulullah (Saw.) bersabda “Siapa menyakiti Fatimah, dia menyakitiku, dan siapa menyakitiku, dia menyakiti Allah” Siapa menyakiti Ali, sesungguhnya dia menyakitiku,dan siapa yang menyakitiku, dia menyakiti Allah” “al-Hasan dan al-Husain kedua-dua mereka adalah pemuda Syurga”  (al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi’ al-Mawaddah, hlm.129-131 dan lain-lain).

Mereka yang membakar Sunnah Nabi (Saw.) (Ibn Sa’d, Tabaqat, V, hlm. 140), “Menghalang orang ramai dari meriwayatkan Sunnah Nabi (Saw.)” [al-Dhahabi,Tadhkirah al-Huffaz, I, hlm. 7], mengesyaki Nabi (Saw.) sama ada berada di atas kebenaran atau kebatilan [Muslim, Sahih, IV, hlm.12,14; al-Bukhari, Sahih, II, hlm. 111] , mengubah sebahagian hukum Allah dan sunnah Nabi (Saw.) (al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa’’ hlm.136) adalah termasuk orang yang dilaknati Allah, Rasul-Nya, para Malaikat-Nya dan Mukminun. Dan jika seorang itu tidak melakukan laknat kepada mereka di atas perbuatan mereka yang dilaknati Allah dan Rasul-Nya, maka dia bukanlah Mukmin yang sebenar. Apatah lagi jika dia mempertahankan perbuatan mereka tersebut sebagai sunnah atau agama bagi bertaqarrub kepada Allah (swt).

3. Laknat Allah kepada mereka yang menyembunyikan hukum-Nya di dalam kitab-Nya

Firman-Nya “Sesungguhnya mereka yang menyembunyikan apa yang Kami turunkan dari keterangan dan petunjuk setelah Kami menerangkannya kepada orang ramai, nescaya mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati oleh orang-orang yang mengutuknya” (Al-Baqarah (2):159).

Ini bererti barang siapa yang menyembunyikan hukum Allah dan Sunnah Nabi-Nya yang sepatutnya didedahkan kepada masyarakat, tetapi dia tidak menerangkannya kepada mereka kerana kepentingan tertentu maka dia dilaknati Allah dan orang-orang yang melaknatinya. Apatah lagi jika dia seorang yang mempunyai autoritatif di dalam agama. Kerana konsep hukum Allah tidak boleh disembunyikannya, kerana ia harus dilaksanakannya. Di samping itu, dia tidak boleh cenderung kepada orang-orang yang zalim, kerana Firman-Nya “Janganlah kamu cenderung kepada orang yang melakukan kezaliman, lantas kamu akan disambar oleh api neraka. Dan tidak ada bagimu wali selain daripada Allah, kemudian kamu tiada mendapat pertolongan” (Hud(11):113).

4Laknat Allah kepada mereka yang membohongi-Nya dan Rasul-Nya.

Firman-Nya “Barang siapa yang membantah engkau tentang kebenaran itu, setelah datang kepada engkau ilmu pengetahuan, maka katakanlah: Marilah kami panggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, perempuan kami dan perempuan kamu dan diri kami dan diri kamu, kemudian kita bermubahalah (bersungguh-sungguh berdoa), lalu kita jadikan laknat Allah atas orang yang berbohong” (Ali ‘Imran (3):61).

Ini bererti mereka  yang membohongi Allah dan Rasul-Nya selepas dikemukakan hukum al-Qur’an dan Sunnah Nabi-Nya, tetapi mereka masih membantahnya, maka mereka itu dilaknati Allah dan Rasul-Nya. Ayat ini dikenali dengan ayat al-Mubahalah. Ia berlaku di antara Nabi (Saw.) dan Ahlu l-Baitnya (a.s) di satu pihak dan Nasrani Najran di pihak yang lain.

Nabi (Saw.) telah mempertaruhkan kepada Nasrani Najran (abna’a-na) anak-anak kami (al-Hasan dan al-Husain a.s), (nisa’-ana) perempuan kami (Fatimah a.s) dan (anfusa-na) diri kami (Ali a.s). Imam Ali al-Ridha berkata: “Sesungguhnya ia dimaksudkan dengan Ali bin Abi Talib (a.s). Buktinya sebuah hadis telah menerangkan  maksud yang sama, seperti berikut: ” ... aku akan mengutuskan kepada mereka seorang lelaki seperti diriku [ka-nafsi]” Iaitu Ali bin Abi Talib. Ini adalah suatu keistimewaan yang tidak dimiliki oleh orang lain, kelebihan yang tidak boleh dikaitkan dengan orang lain dan kemuliaan yang tidak dapat didahului oleh sesiapa pun kerana diri Ali seperti dirinya sendiri” (Muhammad Babawaih al-Qummi, Amali al-Saduq Najaf, 1970, hlm.468).

Akhirnya mereka enggan bermubahalah dengan Nabi (Saw.) dan Ahlu l-Baitnya, lalu mereka membayar jizyah kepada Nabi (Saw.). Jika Nasrani Najran tidak berani menyahuti mubahalah Nabi (Saw.) dengan pertaruhan Ahlu l-Baitnya, kerana kebenarannya, apakah gerangan mereka yang mengakui al-Qur’an dan Sunnah Nabi-Nya sebagai asas agama mereka berani menentang Ahlu l-Bait (a.s), kemudian menyembunyikan kebenaran al-Qur’an dan Sunnah Nabi-Nya, khususnys mengenai mereka? Jika mereka melakukan sedemikian, nescaya mereka dilaknati oleh Allah  dan Rasul-Nya, para Malaikat-Nya dan Mukminun.

5. Laknat Allah kepada mereka yang mendurhakai-Nya dan Rasul-Nya

Firman-Nya “Telah dilaknati orang-orang yang kafir di kalangan Bani Isra’il di atas lidah Daud dan Isa anak lelaki Maryam. Demikian itu disebabkan mereka telah mendurhaka dan melampaui batas. Mereka tidak melarang sesuatu yang mungkar yang mereka perbuat. Sungguh amat jahat apa yang mereka perbuat” (Al-Ma’idah (5):78-79).

Firman-Nya “Tidak ada bagi lelaki mukmin dan perempuan mukminah (hak) memilih di dalam urusan mereka apabila Allah dan Rasul-Nya memutuskan urusan itu. Barang siapa yang  mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka ia telah sesat dengan kesesatan yang nyata” (Al-Ahzab(33):35).

Ini bererti barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya; sama ada melakukan perkara-perkara yang menyalahi hukum Allah dan Sunnah Rasul-Nya serta tidak melakukan konsep “AmruMa’ruf wa Nahyu Munkar”, maka mereka dilaknati Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang dilaknati Allah dan Rasul-Nya, maka para Malaikat dan Mukminun akan melaknati mereka.

6Laknat Allah kepada mereka yang zalim

Firman-Nya “Ahli syurga menyeru ahli neraka: Kami telah memperolehi apa yang telah dijanjikan oleh Tuhan kami  dengan sebenarnya. Adakah kamu memperolehi apa yang telah dijanjikan oleh Tuhan kami dengan sebenarnya? Mereka itu menjawab: Ya. Lalu menyeru orang yang menyeru (Malaikat) di kalanggan mereka: Sesungguhnyalaknat Allah ke atas orang yang zalim (iaitu) orang-orang yang menghalangi jalan Allah dan mereka mencari jalan bengkok, sedang mereka itu kafir terhadap Akhirat” (Al-A’raf (7): 44-45) dan, “Barang siapa yang tidak menghukum dengan hukum Allah, maka merekalah orang yang zalim”) Al-Ma’dah (5):45)

Ini bererti sebarang kecenderungan terhadap orang-orang yang zalim akan di sambar oleh api neraka. Apatah lagi jika seorang itu meredai atau menyokong mereka atau bekerja sama dengan mereka. Saidina Ali (a.s) berkata: “Mereka yang bersekutu di dalam kezaliman adalah tiga: Pelaku kezaliman, pembantunya dan orang yang meridhai kezaliman itu” (Tuhafu al ‘Uqul ‘an Ali r-Rasul, hlm. 23 dan lain-lain. Justeru itu mereka dilaknati Allah dan Rasul-Nya serta Mukminun.

7. Laknat Allah kepada mereka yang mengingkari perjanjian Allah, melakukan kerosakan di bumi dan memutuskan silaturahim

Firman-Nya “Mereka yang mengingkari janji Allah sesudah eratnya dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah supaya diperhubungkan dan mereka yang membuat kerosakan di muka bumi, untuk mereka laknat dan untuk mereka tempat yang buruk” (Al-Ra’d (13):25) dan “Apakah kiranya jika kamu menjadi wali (berkuasa) kamu melakukan kerosakan di muka bumi dan memutuskan silatu r-Rahim? Mereka itulah yang dilaknati Allah, lalu Dia memekakkan mereka dan membutakan pemandangan mereka ” (Muhammad (47): 22-23).

Ini bererti mereka yang mengingkari janji Allah dengan mendurhakai-Nya, kemudian melakukan kerosakkan di muka bumi dengan mengubah hukum-Nya dan Sunnah Nabi-Nya serta memutuskan silaturahim, maka bagi mereka laknat Allah dan Rasul-Nya.

Justeru itu tidak hairanlah jika Saidina Ali (a.s) telah melaknati mereka yang telah mengubah agama Allah dan Sunnah Nabi-Nya. Beliau berdoa: Wahai Tuhanku! Laknatilah mereka yang telah mengubah agama-Mu, menukar ni‘kmat-Mu (khilafah), menuduh perkara-perkara yang bukan-bukan terhadap Rasul-Mu (Saw.), menentang jalan-Mu, menyalahi agama-Mu, mengingkari nikmat-Mu, menentang kalam-Mu, mempersenda-sendakan Rasul-Mu…(al-Majlisi, Bihar al-Anwar, Beirut 1991, xxx,  hlm. 393). Sementara Imam Ja‘far al-Sadiq pula berdoa: Wahai Tuhanku! Pertingkatkanlah laknat-Mu dan azab-Mu ke atas mereka yang telah mengingkari ni‘mat-Mu, mengkhianati Rasul-Mu, menuduh Nabi-Mu perkara yang bukan-bukan dan menentangnya…(Ibid, hlm. 395).

Kesimpulan

Berdasarkan kepada ayat-ayat tersebut, maka Laknat boleh atau harus dilakukan kepada mereka yang mempersendakan Allah dan Rasulullah (Saw.), menghina, mengingkari, membatal, mengubah, menangguh dan menggantikan sebahagian daripada hukum Allah (SWT) dan Sunnah Rasul-Nya dengan pendapat atau sunnah mereka sendiri sama ada orang itu bergelar khalifah atau sahabat atau tabi‘in dan sebagainya.

Justeru itu, ungkapan “melaknat khalifah atau sahabat tertentu atau polan dan polan” tidak menjadi perkara sensitif lagi jika kita meletakkan mereka sama ada khalifah, sahabat, individu atau kita sendiri di bawah martabat Rasulullah (Saw.), dan Rasulullah (Saw.) pula di bawah martabat Allah (SWT). Tetapi jika mereka  meletakkan seorang khalifah, sahabat  atau mana-mana individu lebih tinggi daripada martabat Allah dan Rasul-Nya dari segi pengamalan hukum dan sebagainya, maka mereka tidak akan meredai Allah dan Rasul-Nya dengan sepenuhnya di dalam perkara tersebut. Kerana  penilaian kebenaran bagi mereka bukanlah al-Qur’an dan Sunnah Nabi (Saw.) secara keseluruhannya, malah seorang khalifah atau sahabat menjadi penilaian kebenaran mereka. Lalu mereka menjadikan pendapat atau sunnah “mereka” yang menyalahi Nas sebagai agama bagi mendekatkan diri mereka kepada-Nya.

.

Doa Qunut Imam Ali Terhadap Muawiyah dan Amru bin Ash Beserta Pengikut Mereka

Tulisan ini kami persembahkan kepada para pendengki Ahlul Bait yang senang sekali memuliakanorang-orang yang menyimpang dari Ahlul Bait. Tentu saja mereka tidak akan mau menunjukkanwajah asli kedengkian mereka terhadap Ahlul Bait. Mereka tidak mau menunjukkan terang-terangan kebencian mereka kepada Ahlul Bait oleh karena itu mereka melampiaskan kebencian itu dengan memuliakan musuh-musuh Ahlul Bait.

Mereka memuliakan orang-orang yang menyakiti Ahlul bait. Membela kesalahan mereka seraya berkata “itu cuma ijtihad” yang walaupun salah tetap mendapat pahala. Berbeda dengan mereka, Imam Ali justru mengakui kalau orang-orang yang menyimpang[pembangkang] seperti Muawiyah dan Amru bin Ash layak dihukum untuk kesalahan mereka.

حدثنا هشيم قال أخبرنا حصين قال حدثنا عبد الرحمن بن معقل قال صليت مع علي صلاة الغداة قال فقنت فقال في قنوته اللهم عليك بمعاوية وأشياعه وعمرو بن العاص وأشياعه وأبا السلمي وأشياعه وعبد الله بن قيس وأشياعه

Telah menceritakan kepada kami Husyaim yang berkata telah mengabarkan kepada kami Hushain yang berkata telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Ma’qil yang berkata Aku shalat bersama Ali dalam shalat fajar dan kemudian ketika Qunut Beliau berkata “Ya Allah hukumlah Muawiyah dan pengikutnya, Amru bin Ash dan pengikutnya, Abu As Sulami dan pengikutnya, Abdullah bin Qais dan pengikutnya”.[Al Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 2/108 no 7050]

Atsar ini diriwayatkan dengan sanad yang shahih sampai ke Ali bin Abi Thalib Alaihis Salam.

  • Husyaim adalah Husyaim bin Basyiir seorang perawi kutubus sittah. Ibnu Hajar menyebutkan biografinya dalam At Tahdzib juz 11 no 100 dan menyebutkan kalau ia dinyatakan tsiqat oleh Al Ajli, Ibnu Saad dan Abu Hatim. Ibnu Mahdi, Abu Zar’ah dan Abu Hatim memuji hafalannya. Dalam At Taqrib 2/269 Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat tsabit. Adz Dzahabi dalam Al Kasyf no 5979 menyebutkan kalau Husyaim seorang Hafiz Baghdad Imam yang tsiqat.
  • Hushain adalah Hushain bin Abdurrahman As Sulami Al Kufi seorang perawi kutubus sittah. Ibnu Hajar menyebutkan biografinya dalam At Tahdzib juz 2 no 659 dan menyebutkan kalau ia dinyatakan tsiqat oleh Ahmad, Al Ajli, Abu Hatim, Abu Zur’ah, Ibnu Ma’in dan Ibnu Hibban. Ibnu Hajar dalam At Taqrib 1/222 menyatakan ia tsiqat dan Adz Dzahabi dalam Al Kasyf no 1124 menyatakan ia tsiqat hujjah.
  • Abdurrahman bin Ma’qil Al Muzanni adalah perawi Abu Dawud seorang tabiin [walaupun ada yang mengatakan ia sahabat]. Ibnu Hajar menuliskan biografinya dalam At Tahdzib juz 6 no 543 dan ia dinyatakan tsiqah oleh Ibnu Hibban dan Abu Zur’ah. Dalam At Taqrib 1/591 ia dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Hajar.

Atsar ini adalah sebaik-baik dalil yang menunjukkan bagaimana pandangan Imam Ali terhadap Muawiyah, Amru bin Ash dan para pengikutnya. Tentu saja para nashibi yang adalah Syiah-nya Muawiyah tidak akan senang melihat Atsar ini. Dan untuk mereka kita katakan “Matilah dengan kemarahanmu”.

..
Judul : 100 Golongan Yang Dilaknat ALLAH dan RASULNYA
Penulis : Salman Nashif Al-Dahduh
No ISBN : 979-552-334-1
Kategori : Referensi Ibadah
Cover : Soft Cover
Isi : 181 hal
Ukuran : 12.5×17
Berat : 500 gr
Harga : Rp 24.000,00
Diskon : 10 %
Harga Netto : Rp 21.600,00

100 Golongan Yang Dilaknat ALLAH dan RASULNYA

Ada seratus golongan manusia yang dilaknat Allah dan Rasul-Nya, dijauhkan dari rahmat dan kekasihnya, dan dihalangi pandangan dari petunjuknya, sehingga pandangandari petunjuknya, sehingga pandangan merekamenjadi buta dan hati mereka menjadi keras.Itu baru merupakan siksaan duniawi, sedang di akherat mereka akan diperhinakanakibat perbuatan dan kemaksiatannya. Golongan Apa sajakah mereka itu yang membuat Allah dan Rasul-Nya murka sehingga dijatuhkan laknat padanya? Dosa apakah yang derajatnya begitu berat? dengan mengenali Seratus Golongan ini, maka kita dapat menghindari diri dari kemaksiatan dan dosa yang akan memutus rahmat dan kasih-Nya

 

 

salafi wahabi penuh teror dan permusuhan pada sesama muslim, karena gagal hadang perkembangan Syiah

 Picture
ANAS bukan nama orang, ia adalah akronim dari Aliansi Nasional Anti Syiah. Itulah nama baru kelompok takfiri yang bergerombol di salah satu mesjid kecil di sebuah lorong di kota Bandung 20 April lalu. Mereka meneriakkan kebencian, bahkan ajakan membunuh sesama muslim. Ismail Amin, salah seorang alumni Wahdah Islamiyah Makassar yang sekarang belajar di Iran, memberikan catatan kritis atas aksi sekelompok orang yang mencatut nama Islam

Saya yakin Muhammad Ngaenan masih memendam rasa sakit. Bukan karena pinggangnya masih sakit karena ditendang-tendang. Bukan juga karena dianiaya, dia sudah sadar akan tugas yang diembannya mengharuskan ia suatu waktu merelakan tubuhnya dikeroyok, dihujani bogem mentah, bahkan sampai dibunuh sekalipun.  Ia sakit hati karena yang melakukannya adalah orang-orang yang justru seharusnya menjadi penjaga dan penghias agama ini. Ia sakit hati, karena dikeroyok dan diperlakukan layaknya kriminil didepan mata mereka yang memperkenalkan diri kepada ummat sebagai ulama dan intelektual islam. Hatinya remuk redam karena bukan pembelaan yang didapatnya, tapi dipersalahkan karena cara yang berbeda yang dipilihnya dalam menjalankan Islam.

Betapa menggelikan, ketika ia menulis dalam ceritanya, ketika diseret dan hendak dipukuli, sang pengeroyok berkata, ““Jangan ganggu rapat para ulama, kita bawa saja ke samping.”  Rapat ulama? Apa yang dibicarakan para ulama yang tidak boleh diganggu itu?. Ulama yang membenarkan pemukulan dan penganiayaan hanya karena pilihan yang berbeda, itu yang disebut mewakili ummat dan pembicaraannya adalah demi masa depan ummat dan dakwah Islam yang mereka usung?.

Masa depan apa yang hendak mereka ciptakan? Masa depan yang penuh teror dan permusuhan pada sesama muslim, dan kegirangan kalau semua ummat satu pemikiran dengan apapun yang menjadi pendapatnya?. Hari itu, para ulama yang sedang rapat itu, baru saja mendeklarasikan Aliansi Nasional Anti Syiah. Aliansi yang telah memakan korban sejak hari pertama pendeklarasiannya.

Ngaenan hanyalah seorang pemburu berita, seorang wartawan, yang sayangnya bekerja untuk situs berita Ahlul Bait Indonesia [ABI] salah satu ormas Syiah di samping IJABI. Jadilah pengeroyokan tersebut menjadi luar biasa. Seorang pemburu berita dikerumuni, ditendang dan dipukuli laskar pemburu aliran sesat. Para pemburu tersebut tanpa perlu berburu, mangsanya yang datang sendiri di sarang mereka. Bukankah ini pertolongan Tuhan yang harus disyukuri habis-habisan?.

Salahkah berburu berita?. Bukankah mereka seharusnya berterimakasih pada siapapun yang meliput dan memberitakan kegiatan mereka?. Undangan yang disebar konon sampai 9 ribu pucuk, termasuk para delegator yang berasal dari beragam daerah [meskipun yang hadir pada akhirnya tidak sampai seribu]. Dan tentu memakan ongkos yang tidak sedikit. Tentu sayang, kalau kegiatan yang diklaim berskala nasional [meskipun cuma dilakukan di masjid tingkat RW] tersebut tidak mendapat liputan besar-besaran. Dan ABIpun mengutus wartawannya, untuk membantu pempublikasiannya. Tapi apa yang didapat?. Ngaenan sendiri yang langsung menulis kisah pilunya di hari Minggu.

Coba bandingkan, dengan kegiatan-kegiatan ormas-ormas dan yayasan Syiah. Wartawan dari kalangan manapun diberi keleluasan sebesar-besarnya untuk meliput kegiatan mereka. Wartawan Trans 7, yang membuat acara Khazanah yang menyudutkan Syiah, dengan santai dan tanpa gangguan apapun menghadang peserta yang menghadiri acara Seminar Internasional Idul Ghadir yang diselenggarakan IJABI di Jakarta oktober 2013 lalu untuk mereka wawancarai. Meskipun pada akhirnya berita yang mereka buat justru menyudutkan Syiah. Jangankan sekedar meliput berita, kelompok anti Syiah juga malah dibiarkan berdemonstrasi dan berunjuk rasa menolak terselenggaranya acara-acara Syiah, dan panitia dibantu keamanan merasa tidak perlu mengusir atau membuat demo tandingan. Tidak jarang, para demonstran tersebut malah disuguhi air kemasan oleh panitia. Teman yang aktif di IJABI Makassar malah menceritakan, ketika tahu diantara yang hadir dalam acara Asyura mereka adalah wartawan LPPI Makassar, dia malah mendatangi, memberi 1 kotak makanan plus bulletin al Tanwir.

Mengapa mereka begitu ketakutan ketika giliran acara mereka yang diliput?. Mengapa sampai harus menganiaya dan mengeroyok segala?. Dari situs berita Liputan Islam. Di Bogor malah pernah berlangsung bedah buku MUI yang berlangsung secara rahasia dan esklusif. Oleh panitia, para peserta dilarang meliput, merekam atau mengambil gambar sepanjang acara berlangsung. Bukan hanya itu, dibanyak acara mereka yang bertujuan memprovokasi masyarakat untuk membenci dan memusuhi Syiah, tidak dihadirkan seorangpun tokoh dari kalangan Syiah sebagai pembicara, kalaupun ada, dihadirkan tapi dilarang untuk berbicara dengan beragam alasan yang dibuat-buat sebagaimana kasus yang menimpa Habib DR. Umar Shahab, dewan pakar ABI yang diundang disebuah acara seminar sebagai pembicara, namun tidak diberi kesempatan untuk berbicara. Ketika akhirnya beliau memilih pulang, besoknya naik berita dari pihak penyelenggara yang menyebutkan, beliau pengecut dan melarikan diri dari seminar.

Satu hal yang ingin saya sampaikan. Sunni sejati tidak akan pernah mengkhawatirkan perkembangan Syiah, tidak pernah takut dengan menyebarnya aliran-aliran sesat, sedasyhat apapun. Pernahkah pembesar-pembesar NU dan Muhammadiyah (dua ormas yang paling representatif mewakili Sunni Indonesia) menyatakan kekhawatiran akan perkembangan Syiah di Indonesia? Jawabannya: TIDAK. Tentu kewaspadaan tetap ada, tapi tidak mesti diekspresikan berlebihan. Sampai sedemikian takutnya kalau pendiri IJABI yang jadi menteri agama.

Bandingkan dengan mereka yang phobia Syiah. Masih minoritas saja Syiah sudah begitu sangat menakutkan bagi mereka. Main hasud, main sembur fitnah, main rekayasa berita. Main tuding, siapapun yang membela dan simpatik pada Syiah, sudah diklaim agen Syiah.

Ini rumusnya dari Al-Qur’an.

Wahai-wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; (karena) orang yang sesat itu tidak akan membahayakanmu apabila kamu telah mendapat petunjuk.” (Qs. Al-Maidah : 105).

Sebut saja Syiah sesat. Nah kesesatan Syiah tidak akan membahayakan bagi orang-orang yang beriman. Ini janji Allah SWT. Syaratnya, jika orang-orang beriman tersebut telah mendapat petunjuk.

Nah, jika Abu Jibril, Said Shamad, Zein al Kaff, Farid Okbah, Khalil Ridwan, Ma’ruf Baharun dan seterusnya masih menganggap Syiah berbahaya, maka satu jawabannya: ITU KARENA MEREKA BELUM MENDAPAT PETUNJUK SAJA.

Wallahu ‘alam Bishshawwab

Catatan:
Muhammad Ngaenan adalah wartawan ABI yang dikeroyok laskar pemburu aliran sesat sehabis meliput berita di acara deklarasi anti syiah di Bandung, 20 April 2014. Dia menulis kisahnya disitushttp://ahlulbaitindonesia.org/, dengan judul: Saya Mewarta, Saya Dianiaya.

buku “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia” tidak mewakili MUI Pusat, diterbitkan tanpa sepengetahuan MUI Pusat, bahkan bertolak belakang dengan pandangan-pandangan mereka

13915247911201142186_300x431.14754098361

 

 

 

 

 

 

 

 

 

buku “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia” tidak mewakili MUI Pusat, diterbitkan tanpa sepengetahuan MUI Pusat, bahkan bertolak belakang dengan pandangan-pandangan mereka  

saya merasa ingin menanggapi bahwa sebenarnya apa tujuan dan motivasi dari penulis tersebut.

Kita sebagai umat manusia yang memiliki beragam budaya, dan perbedaan pandangan yang mendiami Republik tercinta ini tidak selayaknya mengklaim kebenaran sepihak dan mengecam pihak lain yang berbeda dengan kita. Syiah adalah bagian dari umat Islam, kaum Syiah adalah saudara bagi kaum Sunni. Baik Syiah maupun Sunni merupakan kekuatan umat Islam karena memiliki satu Tuhan, mengakui kenabian Muhammad saw, dan satu kiblat.

Kita hidup dalam alam Indonesia yang terlalu rukun bila dibandingkan dengan Negara-negara lain. Berbagai perbedaan ada di antara kita, adalah rahmat dari Sang Kuasa, oleh sebab itu marilah kita terima perbedaan ini sebagai sebuah kultur dan keyakinan yang tetap satu dalam bingkai ukhuwah Islamiyah di bawah bingkai Negara Indonesia.

Dengan demikian, setelah membaca buku itu kemudian membandingkan dengan realitas baik data referensi maupun fakta, maka ada tiga alasan kenapa saya menolak buku, “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia”. Tiga alasan itu adalah sebagai berikut:

1.Buku tersebut tidak bisa dijadikan panduan bagi umat Muslim Indonesia khususnya dan dunia umumnya dalam merajut ukhuwah Islamiyah. Karena buku tersebut tidak memberikan penguatan pesan ukhuwah di tubuh umat Islam yang belakangan ini sedang didera berbagai fitnah sectarian. Buku ini lebih pantas dikatakan lahir dari adanya kelompok intoleran yang tidak menginginkan persatuan dan tidak mengakui Ahlulbayt sebagai saudara dalam Islam.

2. Buku tersebut sebenarnya tidak mewakili MUI Pusat (bukan hasil kajian Tim yang dibentuk secara resmi oleh MUI Pusat). Buku tersebut diterbitkan tanpa sepengetahuan MUI Pusat, bahkan bertolak belakang dengan pandangan-pandangan mereka, seperti: Ketua Umum MUI Pusat (KH Sahal Mahfudz), Wakil Ketua MUI Pusat (Prof Din Syamsuddin), Ketua MUI Pusat (Prof Dr Umar Shihab) dan juga Sekjend MUI Pusat (Drs. H. Ichwan Sam) yang selama ini menjunjung tinggi persatuan umat Islam dan mendukung pendekatan antara mazhab Sunni-Syiah.

3. Buku tersebut sangat bertolak belakang dengan 9 hasil konferensi Internasional Islam yang dilaksanakan di Hotel Barobudur, Jakarta pada tanggal 23-24 April 2013. Dimana dalam Konferensi tersebut dihadiri oleh sekitar 500 peserta dari Indonesia, Yordania, Jepang, Taiwan, Myanmar, Thailand, Kamboja, Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, Mesir, Oman, Arab Saudi, Sudan, dan Timor Timur. Konferensi ini dimotivasi oleh keinginan bersama untuk mempromosikan pesan suci Islam, yaitu persaudaraan, toleransi, peradaban, dan perdamaian. Konferensi juga bertujuan untuk merespon persepsi negatif tentang Islam di dunia.

 

IMG-20140313-WA0000

Beginilah Wajah Iran Menurut Para Penulis Indonesia

Islam itu cinta damai … bukan egois ingin masuk surga sendiri. Islam itu rahmatan lil ‘alamin ….

Sebuah negara dan bangsa apabila digambarkan oleh penulis yang berbeda tentu akan didapati keanekaragaman yang membentuk spektrum. Betapa tidak, masing-masing penulis memiliki sudut pandang yang beragam dalam menggambarkannya.

Terlebih jika suatu negara tersebut bangsanya memiliki peradaban tua, kekayaan tradisi ilmu, seni dan budaya yang mampu mentransformasi ke bangsa lain, terlebih keberagamaan yang secara mainstream berbeda dengan di Indonesia.

Sebagamaina penggambaran tentang negara Iran yang terungkap dalam seminar “Wajah Iran dalam Bingkai Penulis Indonesia” yang digelar di Universitas Paramadina Jakarta Rabu, 12 Maret 2014.

Setidaknya hal itu terungkap oleh pernyataan Syafiq Basri Assegaf seorang wartawan yang pernah bertugas di Iran pasca Revolusi Islam Iran.

“Kalau seorang budayawan seperti Prof. Abdul Hadi mengeksplorasi tentang Iran, hanya kita dapati dari satu aspek tapi bisa mengungkap secara mendalam, fokus dan detail, tapi kalau wartawan seperti saya pengetahuannya banyak tapi sepenggal-sepenggal dan hanya mengungkap apa yang tampak saja,” ungkap Syafiq Assegaf.

Syafiq mencontohkan penggambarannya tentang Iran dari wajah wartawan dengan menceritakannya fenomena yang terjadi pada masyarakat Iran. Penggalan-penggalan kehidupan pada masyarakat Iran pasca Revolusi digambarkannya pada sebuah buku yang ditulisnya dengan judul “Iran Pasca Revolusi Reportase Perjalanan.”

Syafiq mencontohkan yang diambil dari bukunya, sisi lain dari pasca Revolusi Islam Iran (RII) yaitu munculnya kelompok masyarakat yang sakit karena tak lagi memiliki keistimewaan dan kebebasan sebagaimana yang dialami pada masa pemerintahan Syah Iran.

“Mereka adalah orang-orang kaya pada pemerintahan Syah.” Ujarnya.

Tentu saja Iran tidak semata-mata identik dengan mazhab Syiahnya saja, Iran bisa diidentikkan dengan Revolusi Islam yang diusung Imam Khomeini tahun 1979.

Wajah Iran yang digali dari aspek Revolusi Islamnya, disampaikan oleh penulis Subhi Ibrahim. Menurut Subhi, Revolusi Islam Iran merupakan revolusi terbesar ke 4 setelah Revolusi Perancis, Rusia dan Cina.

Subhi Ibrahim yang mengungkap keberhasilan Revolusi Islam Iran itu ditulisnya pada sebuah buku yang diberi judul “Ali Syariati Sang Ideolog Revolusi Islam”. Menurutnya keberhasilan Revolusi Islam Iran tak bisa dilepaskan dari peran tiga ulama besar Imam Khomeini, Ali Syariati dan Murtadho Muthohari.

Dalam penilaian Subhi  ketiga ulama tersebut mampu menjadikan Islam sebagai ideologi yang menjadi basis dalam mengelola negara, pemerintahan dan peradaban.

“Agar Islam berhasil menjadi basis pengelolaan negara dan bangsa, diperlukan tafsir atas simbol-simbol agama,” ungkapnya.

Senada dengan Subhi Ibrahim yang menggali Iran dari aspek revolusinya, A. Rifai Hasan sebagai penanggap di seminar yang dihadiri atase Kebudayaan Iran Hujjatul Islam Ibrahimian menilai Revolusi islam Iran merupakan revolusi moderat.

Menurut Rifai pasca revolusi di Iran tidak lantas membasmi aktor maupun pendukung rezim lama tanpa melalui proses pengadilan, sebagaimana lazimnya revolusi di negara lain yang selalu membasmi pelaku dan pendukung rezim lama.

“Dalam revolusi moderat sebagaimana yang terjadi di Iran, sedikit masyarakat yang dirugikan,” ungkapnya.

Bagiamana Iran jika digali aspek perempuannya? Penulis Dina Y. Sulaiman yang menuliskan buku tentang Iran dengan judul “Journey to Iran”, menggambarkan bagaimana konstitusi Iran memberikan perhatian yang serius kepada perempuan.

Ia kemudian memberikan sebagian contoh UU Iran yang mengatur tentang perempuan. Dalam tubuh UUD RII terdapat dua pasal khusus berkaitan dengan perempuan, yaitu pasal 20 dan 21, sebagai berikut :

Pasal 20 [Kesetaraan di Hadapan Hukum]

Semua warga negara, baik laik-laki maupun perempuan, secara setara menerima perlindungan hukum dan memiliki semua hak kemanusiaan, politik, ekonomi, sosial, dan budaya, yang sesuai dengan kriteria Islam

Pasal 21 [Hak-Hak Perempuan]

Pemerintah harus menjamin hak perempuan, yang sesuai dengan kriteria Islam, dan mewujudkan tujuan-tujuan di bawah ini:

1) menciptakan lingkungan yang kondusif untuk perkembangan kepribadian perempuan dan pengembalian hak-hak mereka, baik material maupun intelektual;

2) perlindungan terhadap para ibu, terutama pada masa kehamilan dan pengasuhan anak, dan perlindungan terhadap anak-anak yatim;

3) membentuk pengadilan yang berkompeten untuk melindungi keluarga;

4) menyediakan asuransi khusus untuk janda, perempuan tua, dan perempuan tanpa pelindung;

5) memberikan hak pengasuhan kepada ibu angkat untuk melindungi kepentingan anak ketika tidak ada pelindung legal.

Kata perempuan disebut lima kali dalam UUD tersebut (bandingkan dengan UUD 45 atau UUD Amerika Serikat yang sama sekali tidak menyebut kata ‘perempuan’). Dalam Pembukaan UUD RII terdapat dua paragraf yang khusus berbicara tentang perempuan sebagai berikut :

Perempuan dalam Konstitusi

Melalui pembentukan infrastruktur sosial yang Islami, semua elemen kemanusiaan yang (selama ini) berkhidmat kepada eksploitasi asing, harus meraih kembali identitas asli dan hak asasi mereka. Sebagai bagian dari proses ini, sudah selayaknya perempuan harus menerima penambahan (proporsi) yang besar atas (penunaian) hak-hak mereka karena pada rezim lama, mereka juga menderita opresi yang lebih besar.

Keluarga adalah unit dasar dalam masyarakat serta menjadi pusat pertumbuhan dan pembangunan manusia. Penggabungan antara kepercayaan dan idealisme, yang merupakan dasar dari pertumbuhan dan perkembangan manusia, adalah hal yang paling utama dalam pembentukan keluarga. Adalah kewajiban pemerintah Islam untuk menyediakan fasilitas yang diperlukan untuk mencapai tujuan ini. Konsep keluarga ini, akan menghindarkan perempuan dari anggapan sebagai objek atau instrumen dalam mempromosikan suatu produk, atau objek eksploitasi. (Konsep keluarga) akan mengembalikan fungsi mulia perempuan sebagai ibu. Hal ini merupakan penegakan ideologi kemanusiaan, serta menempatkan perempuan sebagai pemegang peran utama dalam masyarakat sekaligus menjadi mitra perjuangan bagi laki-laki dalam berbagai area penting kehidupan. Pemberian tanggung jawab yang berat kepada perempuan ini merupakan pengejawantahan nilai Islam yang agung dan mulia.

Penulis Husein Heriyanto menggambarkan Iran dari aspek tradisi ilmiah dan capaiannya dibidang sains. Sumbangan ilmuwan Iran terhadap dunia dan Islam terungkap dari tokoh-tokoh seperti penemu ilmu aljabar yakni ulama Al-Khawarismi. Sejumlah ulama lain dalam berbagai bidang ilmu seperti Al-Ghazali, Al-Biruni mendiami rak-rak keilmuan, bahkan sejumlah muhadits seperti Bukhori dari Iran.

Menurut Husein, Iran telah mencapai kemajuan di bidang sains dengan menduduki urutan ke 16 dunia karena Iran mampu mengintegrasikan antara sains dan agama.

“Menurut paradigma sekularisme, mereka mengatakan agama dan sain tidak bisa terintegrasi, karenanya sebuah bangsa jika ingin maju harus memisahkan antara agama dan sains, namun justru Iran mampu membalik paradigma tersebut,” ungkap Husein.

Dari penulis Miftah Fauzi Rakhmat yang menuliskan buku “Kidung Angklung di Tanah Persia”, menceritakan masyarakat Iran memiliki kecintaan kepada tradisi kesyahidan dan penghormatan kepada ulama. Miftah mengungkapkan masyarakat Iran dan Indonesia memiliki akar yang sama terhadap dua hal tersebut.

“Masyarakat jka menemukan potongan kalung syuhada meski sudah berusia 20 tahun mereka tumpah ruah mengambil berkahnya.” Ujarnya.

Sementara itu pembicara pertama dari budayawan Prof. Abdul Hadi dengan tinjauan budayanya mengungkapkan bagiamana pemerintah Iran memberikan perhatian yang serius terhadap cagar budaya. Ia memberikan contoh bagiamana perhatian pemerintah Iran dengan mengabadikan budayawan Persia Umar Khayam melalui pendirian Museum Umar Khayam.

“Kota-kota di Iran seperti Teheran dengan mudah kita dapati perpustakaan, museum seni rupa, galeri seni rupa dan taman-taman yang luas. Tidak sebagaimana di Indonesia yang kota-kotanya dipenuhi Mall,” paparnya.

Abdul Hadi menggambarkan bagaimana harmonisasi antara pemerintah dengan penduduknya terkait dengan perhatiannya terhadap seni dan budaya serta tradisi ilmu.

“Masyarakat Iran sejak tahun 1990 menjadi pengunjung tetap perpustakaan filsafat, perpustakaan agama dan lainnya,” Ujarnya.

Laskar Kutai Bantu Amankan Acara Syiah

IMG_20131222_163556Terpanggil oleh tuntutan menjaga keamanan dan ketertiban lingkungan di wilayah kota Tenggarong, Laskar Kebangkitan Kutai (LKK) menurunkan 50 personelnya untuk mengamankan acara umat Islam Syiah yang dilaksanakan di Hotel Singgasana LT Tenggarong Kabupaten Kutai Kartanegara Kalimantan Timur (Kaltim) Minggu, 22 Desember 2013.

Hal tersebut disampaikan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Laskar Kebangkitan Kutai, Husni Fachrudin usai mengamankan acara mengenang 40 hari Syahidnya Imam Husein  yang dalam tradisi Syiah disebut peringatan arba’in.

Menurut Husni Fachrudin ancaman kepada kaum minoritas, terutama umat Islam Syiah yang ada di Jawa belakangan ini membuatnya terpanggil untuk mengamankan acara tersebut demi menjaga kemungkinan tindakan anarki dari kaum intoleran.

“Bagi kami siapapun yang mempersoalkan keyakinan pihak lain berarti musuh bangsa ini, dan LKK akan berusaha berada di front terdepan menghadapi kaum intoleran dan kaum ekstrimis”. Tegasnya

Lebih jauh menurut pengakuan lelaki yang berdarah Kutai ini, tujuan LKK mengamankan acara umat islam Syiah karena konstitusi menjamin kebebasan menjalankan keyakinan bagi setiap warga,  karenanya organisasi yang dipimpinnya harus menjadi pionir toleransi bagi warga Kaltim.

“Acara asyura, arbain dan ritual-ritual yang dilakukan oleh umat Islam mazhab syiah, kita tidak menilai pada posisi benar dan salah, kita menilai pada posisi kita bebas menjalankan keyakinannya, kita menjaga keutuhan NKRI yang berlatar belakang etnis dan keyakinan serta mengedepankan semangat toleransi”. Ujarnya

Bukan hanya membantu kemanan umat Islam saja, tahun lalu juga mengamankan acara umat Nasrani pada acara Natal. Menurutnya tahun ini LKK akan menurunkan pasukannya untuk mengamankan acara Natal.

“Nanti kita dari LKK kecamatan Samarinda Seberang dan Loa Janan akan menurunkan pasukannya menjaga gereja pada saat perayaan Natal di dua kecamatan tersebut”. Ujar Husni.

LKK mula-mula didirikan untuk mengadvokasi dan membantu masyarakat yang terpinggirkan akibat eksploitasi sumber daya alam Kaltim oleh perusahaan-perusahaan dan pemerintah yang mengakibatkan keresahan warga, juga keprihatinan atas hilangnya hak sebagian warga Kaltim serta tidak meratanya pembanguanan.

Perkembangan dinamika yang terjadi di Kaltim dan di belahan lain wilayah Republik Indonesia, menuntut organisasi yang dipimpin Husni untuk melebarkan orientasi gerakannya ke penguatan ekonomi masyarakat, pendidikan politik, dan sosial kemasyarakatan.

Menurut Husni oganisasinya dari berbagai latar belakang keyakinan dan etnik dengan jumlah personel 3.500 yang tersebar di seluruh kabupaten dan kota di wilayah Provinsi Kalimantan Timur.

“Di sini ada Dayak yang kebanyakan Nasrani,  ada dari Kutai yang kebanyakan Islam, kemudian ada teman-teman yang beragama Hindu pendatang dari Bali, semuanya melebur untuk menjaga keamanan Kalimantan Timur”. Pungkasnya

salafi wahabi ternyata setan nejed dalam hadis sunni

sumber tulisan ini dari web http://www.secondprince.wordpress.com

Hadis Fitnah Dari Timur Adalah Tentang Najd Bukan Tentang Iraq

Sebenarnya tema tentang Fitnah Najd sudah pernah dibahas dalam berbagai tulisan di blog ini hanya saja kali ini kami akan menambahkan satu tulisan lagi yang menguatkan hujjah kami dan membantah syubhat-syubhat dari para pengingkar. Tulisan ini berusaha membuktikan bahwa Najd dalam hadis fitnah bukanlah Iraq. Berikut pembahasannya.

.

.

.

Hadis Fitnah dari Timur

حدثنا أبو بكر بن أبي شيبة حدثنا وكيع عن عكرمة بن عمار عن سالم عن ابن عمر قال خرج رسول الله صلى الله عليه و سلم من بيت عائشة فقال رأس الكفر من ههنا من حيث يطلع قرن الشيطان يعني المشرق

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah yang berkata telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Ikrimah bin ‘Ammar dari Salim dari Ibnu Umar yang berkata “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar dari pintu rumah Aisyah dan berkata “sumber kekafiran datang dari sini dari arah munculnya tanduk setan yaitu timur [Shahih Muslim 4/2228 no 2905]

Ikrimah bin ‘Ammar dalam periwayatannya dari Salim memiliki mutaba’ah yaitu dari Ibnu Syihab Az Zuhri, Fudhail bin Ghazwan, Hanzhalah bin Abi Sufyan, Uqbah bin Abi Shahba’, Yahya bin Sa’id dan Umar bin Muhammad bin Zaid Al Madini sebagaimana tampak dalam riwayat berikut

وحدثني حرملة بن يحيى أخبرنا ابن وهب أخبرني يونس عن ابن شهاب عن سالم بن عبدالله عن أبيه أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال وهو مستقبل المشرق ها إن الفتنة ههنا ها إن الفتنة ههنا ها إن الفتنة ههنا من حيث يطلع قرن الشيطان

Telah menceritakan kepadaku Harmalah bin Yahya yang berkata telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb yang berkata telah mengabarkan kepadaku Yunus dari Ibnu Syihab dari Salim bin ‘Abdullah dari ayahnya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata dan Beliau menghadap kearah timur “fitnah datang dari sini, fitnah datang dari sini, fitnah datang dari sini, dari arah munculnya tanduk setan” [Shahih Muslim 4/2228 no 2905]

حدثنا واصل بن عبد الأعلى الكوفي حدثنا ابن فصيل عن ابيه عن سالم عن ابن عمر قال سمعت رسول الله  صلى الله عليه و سلم يقول إن الفتنة تجيء من ها هنا وأومأ بيده نحو المشرق حيث يطلع قرن الشيطان وأنتم يضرب بعضكم بعض رقاب بعض وإنما قتل موسى الذي قتل من آل فرعون خطأ قال الله له وقتلت نفسا فنجيناك من الغم وفتناك فتونا

Telah menceritakan kepada kami Washil bin Abdul A’la Al Kufiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Fudhail dari ayahnya dari Salim dari Ibnu Umar yang berkata aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “‘Sesungguhnya fitnah itu datang dari sini ia menunjukkan tangannya ke arah timur dari arah munculya dua tanduk setan’. Kalian saling menebas leher satu sama lain. Musaa hanya membunuh orang yang ia bunuh yang berasal dari keluarga Fir’aun itu karena tidak sengaja. Lalu Allah ‘azza wa jalla berfirman padanya ‘Dan kamu pernah membunuh seorang manusia, lalu kami selamatkan kamu dari kesusahan dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan.” [Musnad Abu Ya’la 9/383 no 5511 dishahihkan oleh Husain Salim Asad]

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا إسحاق بن سليمان سمعت حنظلة سمعت سالما يقول سمعت عبد الله بن عمر يقول رأيت رسول الله صلى الله عليه و سلم يشير إلى المشرق أو قال إن رسول الله صلى الله عليه و سلم يشير إلى المشرق يقول ها إن الفتنة ههنا ها إن الفتنة ههنا ها إن الفتنة ههنا من حيث يطلع الشيطان قرنيه

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Sulaiman yang berkata aku mendengar Hanzalah berkata aku mendengar Salim berkata aku mendengar Abdullah bin Umar berkata “aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengisyaratkan tangannya ke arah timur atau [Ibnu Umar] berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengisyaratkan tangannya ke arah timur dan bersabda “fitnah datang dari sini, fitnah datang dari sini, fitnah datang dari sini dari arah munculnya tanduk setan” [Musnad Ahmad 2/40 no 4980]

حدثنا موسى بن هارون ثنا عبد الله بن محمد بوران نا الأسود بن عامر نا حماد بن سلمة عن يحيى بن سعيد عن سالم عن بن عمر أن النبي صلى الله عليه و سلم استقبل مطلع الشمس فقال من ها هنا يطلع قرن الشيطان وها هنا الفتن والزلازل والفدادون وغلظ القلوب

Telah menceritakan kepada kami Musa bin Harun yang berkata telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad Fuuraan yang berkata telah menceritakan kepada kami Aswad bin ‘Aamir yang berkata telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Yahya bin Sa’id dari Salim dari Ibnu Umar bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menghadap kearah matahari terbit seraya berkata “dari sini muncul tanduk setan, dari sini muncul fitnah dan kegoncangan dan orang-orang yang bersuara keras dan berhati kasar [Mu’jam Al Awsath Thabrani 8/74 no 8003 dengan sanad shahih]

ثنا أبو عاصم عن عمر بن محمد عن سالم عن بن عمر أن النبي صلى الله عليه و سلم قال ألا إن الفتنة تطلع من ههنا من المشرق من حيث يطلع قرنا الشيطان

Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Aashim dari ‘Umar bin Muhammad dari Salim dari Ibnu Umar bahwa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “sesungguhnya fitnah datang dari arah sini dari Timur dari arah munculnya tanduk setan” [Musnad Abdu bin Humaid 1/241 no 739 dengan sanad shahih]

.

.

Salim bin ‘Abdullah bin Umar dalam periwayatannya dari Abdullah bin Umar memiliki mutaba’ah dari Nafi’ dan Abdullah bin Diinar sebagaimana tampak dalam riwayat-riwayat berikut

حدثنا قتيبة بن سعيد حدثنا ليث ح وحدثني محمد بن رمح أخبرنا الليث عن نافع عن ابن عمر أنه سمع رسول الله صلى الله عليه و سلم وهو مستقبل المشرق يقول ألا إن الفتنة ههنا ألا إن الفتنة ههنا من حيث يطلع قرن الشيطان

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id yang berkata menceritakan kepada kami Laits. Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Rumh yang berkata telah mengabarkan kepada kami Laits dari Nafi’ dari Ibnu Umar yang mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan Beliau menghadap ke Timur seraya bersabda “dari sini fitnah, dari sini fitnah dari arah munculnya tanduk setan” [Shahih Muslim 4/2228 no 2905]

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ عَنْ مَالِكٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُشِيرُ إِلَى الْمَشْرِقِ فَقَالَ هَا إِنَّ الْفِتْنَةَ هَا هُنَا إِنَّ الْفِتْنَةَ هَا هُنَا مِنْ حَيْثُ يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Maslamah dari Malik dari ‘Abdullah bin Dinar dari ‘Abdullah bin Umar radiallahu ‘anhuma yang berkata aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengisyaratkan tangannya ke timur dan berkata “fitnah akan datang dari sini, fitnah akan datang dari sini dari arah munculnya tanduk setan” [Shahih Bukhari 4/123 no 3279]

.

.

Abdullah bin Umar dalam periwayatan hadis Fitnah Mayrsiq memiliki syahiid yaitu dari Abu Hurairah sebagaimana tampak dalam riwayat berikut

حدثنا يحيى بن يحيى قال قرأت على مالك عن أبي الزناد عن الأعرج عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال رأس الكفر نحو الشرق والفخر والخيلاء في أهل الخيل والإبل الفدادين أهل الوبر والسكينة في أهل الغنم

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya yang berkata qara’tu ala [aku membacakan kepada] Malik dari Abi Zanad dari Al A’raj dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “sumber kekafiran datang dari timur, kesombongan dan keangkuhan adalah milik orang-orang pengembala kuda dan unta Al Faddaadin Ahlul Wabar [arab badui] dan kelembutan ada pada pengembala kambing [Shahih Muslim 1/71 no 52]

حدثنا عبدالله بن عبدالرحمن أخبرنا أبو اليمان عن شعيب عن الزهري حدثني سعيد بن المسيب أن أبا هريرة قال سمعت النبي صلى الله عليه و سلم يقول جاء أهل اليمن هم أرق أفئدة وأضعف قلوبا الإيمان يمان والحكمة يمانية السكينة في أهل الغنم والفخر والخيلاء في الفدادين أهل الوبر قبل مطلع الشمس

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman yang berkata telah mengabarkan kepada kami Abul Yaman dari Syu’aib dari Az Zuhri yang berkata telah mengabarkan kepadaku Sa’id bin Al Musayyab bahwa Abu Hurairah berkata aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “Penduduk Yaman datang, mereka bertingkah laku halus dan berhati lembut iman di Yaman, hikmah di Yaman, kelembutan ada pada penggembala kambing sedangkan kesombongan dan keangkuhan ada pada orang-orang Faddadin Ahlul Wabar [arab badui] di arah terbitnya matahari [Shahih Muslim 1/71 no 52]

.

.

.

Hadis Fitnah Dari Najd

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى قَالَ حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ الْحَسَنِ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ عَوْنٍ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا وَفِي يَمَنِنَا قَالَ قَالُوا وَفِي نَجْدِنَا قَالَ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا وَفِي يَمَنِنَا قَالَ قَالُوا وَفِي نَجْدِنَا قَالَ قَالَ هُنَاكَ الزَّلَازِلُ وَالْفِتَنُ وَبِهَا يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna yang berkata telah menceritakan kepada kami Husain bin Hasan yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Aun dari Nafi’ dari Ibnu Umar yang berkata [Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “Ya Allah berilah keberkatan kepada kami, pada Syam kami dan pada Yaman kami”. Para sahabat berkata “dan juga Najd kami?”. Beliau bersabda “disana muncul kegoncangan dan fitnah, dan disanalah akan muncul tanduk setan” [Shahih Bukhari 2/33 no 1037]

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا أَزْهَرُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ ابْنِ عَوْنٍ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ ذَكَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَأْمِنَا اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي يَمَنِنَا قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَفِي نَجْدِنَا قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَأْمِنَا اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي يَمَنِنَا قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَفِي نَجْدِنَا فَأَظُنُّهُ قَالَ فِي الثَّالِثَةِ هُنَاكَ الزَّلَازِلُ وَالْفِتَنُ وَبِهَا يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ

Telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepada kami Azhar bin Sa’d dari Ibnu ‘Aun dari Nafi dari Ibnu Umar yang berkata Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam berkata “Ya Allah berilah keberkatan kepada kami pada Syam Kami dan pada Yaman kami”. Sebagian sahabat berkata “wahai Rasulullah dan pada Najd kami?. Beliau berkata “Ya Allah berilah keberkatan kepada kami pada Syam Kami dan pada Yaman kami”. Sebagian sahabat berkata “wahai Rasulullah dan pada Najd kami?. Pada kali ketiga Beliau berkata “disana muncul kegoncangan dan fitnah, disana muncul tanduk syetan” [Shahih Bukhari 9/54 no 7094]

.

.

Najd yang dimaksud dalam hadis di atas adalah nama suatu tempat yang memang dikenal pada zaman Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] seperti halnya Syam dan Yaman. Pada zaman Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] memang dikenal tempat yang bernama Najd dan terletak di timur Madinah arah matahari terbit

أخبرنا قتيبة حدثنا الليث عن سعيد بن أبي سعيد أنه سمع أبا هريرة يقول بعث رسول الله صلى الله عليه وسلم خيلا قبل نجد فجاءت برجل من بني حنيفة يقال له ثمامة بن آثال سيد أهل اليمامة فربط بسارية من سواري المسجد مختصر

Telah mengabarkan kepada kami Qutaibah yang berkata telah menceritakan kepada kami Laits dari Sa’id bin Abi Sa’id yang mendengar Abu Hurairah berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus pasukan berkuda ke Najd kemudian pasukan ini datang dengan membawa seorang laki-laki dari Bani Hanifah yang bernama Tsumamah bin Utsal pemimpin penduduk Yamamah kemudian diikat di salang satu tiang masjid, demikian secara ringkas. [Shahih Sunan Nasa’i Syaikh Al Albani no 712]

Jika diperhatikan di peta Jazirah Arab, Yamamah terletak pada arah Timur matahari terbit dari Madinah. Yamamah adalah bagian dari Najd dan Najd sendiri mencakup daerah yang luas di timur Madinah. Ibnu Manzhuur berkata

وما ارتفع عن تهامة إلى أرض العراق ، فهو نجد

Dataran tinggi dari Tihamah sampai ke tanah Iraq maka itu adalah Najd [Lisan Al Arab 3/413]

Ibnu Manzhuur menjelaskan bahwa cakupan daerah yang disebut Najd adalah dataran tinggi yang membentang diantara Tihamah dan Iraq. Hal senada juga diungkapkan Ibnu Atsir dimana ia berkata

والنَّجْد ما ارْتَفع من الأرض وهو اسمٌ خاصٌّ لما دون الحجاز ممَّا يَلي العِراق

Najd adalah dataran tinggi dan ia adalah nama khusus daerah setelah Hijaz ke arah Iraq [An Nihaayah Fii Gharib Al Hadits 5/19]

Sebagian orang keliru memahami pernyataan Ibnu Manzhuur dan Ibnu Atsiir di atas, keduanya tidak sedang menyatakan bahwa Iraq adalah Najd. Keduanya sedang menjelaskan cakupan daerah Najd yaitu dataran tinggi yang membentang antara Tihamah, Hijaz dan Iraq. Hal ini seperti yang dinyatakan Al Mada’iniy dimana ia berkata

وأما نجد فهي الناحية التي بين الحجاز والعراق

Adapun Najd maka itu adalah daerah yang terletak diantara Hijaz dan Iraq [Taqwiim Al Buldan Abul Fidaa’ hal 78].

Hal yang sama juga dinyatakan oleh Jalaludin As Suyuthiy dalam kitabnya Lub Al Lubab Fii Tahrir Al Ansab, ia berkata

نجد أرض بين العراق والحجاز

Najd yaitu tanah antara Iraq dan Hijaz [Lub Al Lubaab Fii Tahrir Al Ansab 1/82]

Selain Al Mada’iniy dan As Suyuthi, Ibnu Arabiy seorang ahli lughah yang terkenal juga menyatakan bahwa Iraq bukan bagian dari Najd.

وقال ابن الأعرابي وما كان بين العراق وبين وجرة وغمرة الطائف فهو نجد

Dan Ibnu Arabiy berkata “dan apa yang terletak diantara Iraq, diantara Wajrah, Ghamrah, dan Thaif maka itulah Najd” [Taqwiim Al Buldan Abul Fidaa’ hal 79]

Sedangkan Iraq sendiri tidak termasuk Najd bahkan ia adalah dataran rendah atau dataran yang lebih rendah dari Najd.

قال ابن الأعرابي: إنما سمي العراق عراقاً لأنه سفل عن نجد ودنا من البحر

Ibnu Arabiy berkata “Sesungguhnya dinamakan Iraq karena ia lebih rendah dari Najd dan dekat dengan laut” [Tarikh Baghdad 1/9]

Al Hafizh Az Zarqaniy dalam Syarh Al Muwatta ketika menjelaskan hadis dimana orang Iraq bertanya kepada Ibnu Umar, ia menyatakan tentang Iraq

وقيل سمي عراقا لأنه سفل عن نجد ودنا من البحر

Dan dinamakan Iraq karena ia lebih rendah dari Najd dan dekat dengan lautan [Syarh Al Muwatta Az Zarqaniy 4/214]

Ismail bin Hammad Al Jauhariy dalam kitabnya Ash Shihaah [Taj Al Lughaah Wa Shihaah Al Arabiyah] menyatakan bahwa Najd termasuk negri Arab

ونجد من بلاد العرب، وهو خلاف الغور. والغور: تهامة. وكل ما ارتفع من تهامة إلى أرض العراق فهو نجد

Dan Najd termasuk Negri Arab, ia adalah lawan dari Ghaur dan Ghaur adalah Tihaamah, semua dataran tinggi dari Tihamah sampai ke tanah Iraq maka itu adalah Najd. [Ash Shihaah 3/104]

Sedangkan Ibnu Manzhuur berkata dalam kitabnya Lisan Al Araab bahwa Iraq termasuk dalam negri Persia

والعِراقُ من بلاد فارس مذكر سمي بذلك لأَنه على شاطئ دِجْلَةَ وقيل سُمِّيَ عِراقاً لقربه من البحر وأَهل الحجاز يسمون ما كان قريباً من البحر عِراقاً

Dan Iraq termasuk negri Persia, disebutkan bahwa ia dinamakan demikian karena ia adalah dataran pesisir [pantai] sungai Dajlah [Tigris], dikatakan bahwa dinamakan Iraq karena dekat dengan laut dan penduduk Hijaz menamakan tanah yang dekat dengan laut sebagai Iraq [Lisan Al Arab Ibnu Manzhuur 10/237]

Disini terdapat isyarat bahwa Iraq tidak termasuk dataran tinggi yang disebut Najd karena ia tidak termasuk negri Arab. Iraq adalah bagian dari negri Persia dan seperti yang kami jelaskan sebelumnya ia adalah dataran rendah bukan dataran tinggi.

.

Qarinah lain yang menguatkan bahwa Najd adalah tempat yang dimaksud munculnya fitnah adalah keterangan dalam riwayat Ibnu Umar [Yahya bin Sa’id dari Salim] dan Abu Hurairah bahwa tempat tersebut adalah tempat tinggal orang-orang bersuara keras dan berhati kasar Al Faddadin ahlul wabar atau Arab Badui. Dan Najd dikenal sebagai tempat tinggal orang arab badui yang bekerja sebagai pengembala kuda dan unta, bersuara keras dan berhati kasar. Dalam riwayat Uqbah bin Mas’ud bahkan disebutkan bahwa mereka dari Rabi’ah dan Mudhar

حدثنا مسدد حدثنا يحيى عن إسماعيل قال حدثني قيس عن عقبة بن عمرو أبي مسعود قال أشار رسول الله صلى الله عليه وسلم بيده نحو اليمن، فقال الإيمان يمان هنا هنا، ألا إن القسوة وغلظ القلوب في الفدادين، عند أصول أذناب الإبل، حيث يطلع قرنا الشيطان، في ربيعة ومضر

Telah menceritakan kepada kami Musaddad yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya dari Isma’il yang berkata telah menceritakan kepadaku Qais bin Uqbah bin Amru Abi Mas’ud yang berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengisyaratkan tangannya kearah Yaman dan berkata “Iman di Yaman disini dan kekerasan hati adalah milik orang-orang Faddadin [arab badui atau pedalaman] yang sibuk dengan unta-unta mereka dari arah munculnya tanduk setan Rabi’ah dan Mudhar [Shahih Bukhari no 3126]

Tentu yang dimaksud Rabiah Mudhar dalam hadis tersebut adalah perkampungan Rabiah dan Mudhar yang memang dikenal sebagai penduduk Najd.

.

Dalam fakta sejarah Najd memang dikenal sebagai tempat awalnya fitnah yaitu murtadnya sebagian sahabat Nabi yang dipengaruhi oleh orang-orang yang mengaku sebagai Nabi seperti Musailamah dan yang lainnya.

أخبرنا عمر بن سعيد بن سنان قال أخبرنا أحمد بن أبي بكر عن مالك عن عبد الله بن دينار عن ابن عمر أنه قال رأيت رسول الله صلى الله عليه و سلم يشير نحو المشرق ويقول ( ها إن الفتنة ها هنا إن الفتنة ها هنا من حيث يطلع قرن الشيطان ) قال أبو حاتم رضي الله عنه مشرق المدينة هو البحرين و مسيلمة منها وخروجه كان أول حادث حدث في الإسلام

Telah mengabarkan kepada kami Umar bin Sa’id bin Sinaan yang berkata telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin Abu Bakar dari Malik dari Abdullah bin Dinar dari Ibnu Umar yang berkata sesungguhnya aku melihat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengarahkan tangannya ke arah timur dan berkata “dari sini fitnah dari sini fitnah dari sini dari arah munculnya tanduk setan”. Abu Hatim berkata “timur madinah adalah Bahrain, Musailamah berasal darinya dan keluar darinya dialah yang pertama membuat bid’ah dalam islam” [Shahih Ibnu Hibban 15/24 no 6648 Syaikh Al Arnauth berkata “shahih dengan syarat Bukhari Muslim]

Dalam lafaz hadis Ibnu Umar dan Abu Hurairah nampak bahwa fitnah yang dimaksud terkait dengan kekafiran sehingga dikatakan sumber kekafiran muncul dari timur.  Hal ini dikuatkan pula dengan isyarat dari hadis Ibnu Umar yaitu riwayat Fudhail bin Ghazwan dari Salim dari Ibnu Umar secara marfu’ yang mengandung lafaz

إن الفتنة تجيء من ها هنا وأومأ بيده نحو المشرق حيث يطلع قرن الشيطان وأنتم يضرب بعضكم بعض رقاب بعض

Sesungguhnya fitnah itu datang dari sini ia menunjukkan tangannya ke arah timur dari arah munculya dua tanduk setan’, sebagian kalian menebas leher sebagian yang lain

Lafaz “sebagian kalian menebas leher sebagian yang lain” menunjukkan bahwa fitnah tersebut merujuk pada sebagian sahabat yang murtad atau kafir setelah Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] wafat. Hal ini dikuatkan pula oleh hadis berikut

حَدَّثَنَا أَبُو الْوَلِيدِ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ وَاقِدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ أَخْبَرَنِي عَنْ أَبِيهِ سَمِعَ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَرْجِعُوا بَعْدِي كُفَّارًا يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ

Telah menceritakan kepada kami Abul Waliid yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah yang berkata Waaqid bin ‘Abdullah telah mengabarkan kepadaku dari Ayahnya yang mendengar Abdullah bin Umar dari Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang berkata “Janganlah kalian menjadi kafir sepeninggalku, sebagian kalian menebas leher sebagian yang lain” [Shahih Bukhari 3/9 no 6868]

Selepas wafatnya Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] maka bermunculanlah sebagian sahabat Nabi yang murtad yaitu ahlul wabar yang tinggal di Najd kemudian fitnah ini menyebar sampai ke ahlul madar. Hal ini seperti yang dinyatakan Ibnu Jarir, ia berkata

فلما قبض الله نبيه ارتد أقوام من أهل الوبر وبعض أهل المدر

Ketika Allah mewafatkan Nabi-nya maka menjadi murtad orang-orang dari ahlul wabar dan sebagian ahlul madar [Tafsir Ibnu Jarir Ath Thabari 6/381]

.

.

.

Hadis Fitnah Dari Iraq

حدثنا الحسن بن علي المعمري ثنا إسماعيل بن مسعود ثنا عبيد الله بن عبد الله بن عون عن أبيه عن نافع عن ابن عمر أن النبي صلى الله عليه وسلم قال اللهم بارك لنا في شامنا، اللهم بارك في يمننا، فقالها مراراً، فلما كان في الثالثة أو الرابعة، قالوا يا رسول الله! وفي عراقنا؟ قال إنّ بها الزلازل والفتن، وبها يطلع قرن الشيطان

Telah menceritakan kepada kami Hasan bin Ali Al Ma’mariy yang berkata telah menceritakan kepada kami Ismaail bin Mas’ud yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidillah bin ‘Abdillah bin ‘Aun dari ayahnya, dari Naafi’ dari Ibnu ‘Umar bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Ya Allah, berikanlah keberkatan kepada kami pada Syaam kami dan pada Yamaan kami”. Beliau [shallallaahu ‘alaihi wasallam] mengatakannya beberapa kali. Ketika beliau mengatakan yang ketiga kali atau yang keempat, para shahabat berkata “Wahai Rasulullah, dan juga Iraq kami?”. Beliau bersabda “Sesungguhnya di sana terdapat kegoncangan dan fitnah, dan disanalah akan muncul tanduk setan” [Mu’jam Al Kabiir Ath Thabrani 12/384 no 13422].

Hadis ini mengandung illat [cacat]. Ubaidillah bin Abdullah bin ‘Aun bukan seorang perawi yang dhabit dalam hadis, kedudukannya hanyalah shalih al hadits

عبيد الله بن عبد الله بن عون روى عن ابيه عبد الله بن عون روى عنه نصر بن على الجهضمى سألت ابي عنه فقال صالح الحديث

Ubaidillah bin ‘Abdullah bin ‘Aun meriwayatkan dari Ayahnya ‘Abdullah bin ‘Aun, telah meriwayatkan darinya Nashr bin Aliy Al Jahdhamiy, aku bertanya kepada ayahku tentangnya, Beliau berkata “shalih al hadits” [Al Jarh Wat Ta’dil Ibnu Abi Hatiim 5/322 no 1531]

عبيد الله بن عبد الله بن عون بن أرطبان مولى مزينة البصري سمع أباه سمع منه محمد بن عقبة معروف الحديث

Ubaidillah bin ‘Abdullah bin ‘Aun bin Arthabaan maula Muzainah Al Bashriy mendengar dari Ayahnya dan telah mendengar darinya Muhammad bin Uqbah, Ma’ruuf al hadiits [Tarikh Al Kabiir Al Bukhariy juz 5 no 1247]

Kedudukan perawi dengan shalih al hadiits berarti perawi tidaklah kuat dhabit-nya dan hadisnya tidak diterima jika bertentangan dengan perawi tsiqat. Dalam hadis Fitnah di atas Ubaidillah bin Abdullah bin ‘Aun menyelisihi kedua perawi tsiqat yaitu Azhar bin Sa’ad dan Husain bin Hasan. Ibnu Hajar menyatakan Husain bin Hasan tsiqat [At Taqrib 1/214] dan menyatakan tentang Azhar bin Sa’ad tsiqat [At Taqrib 1/74].

Hadis Ubaidillah bin ‘Abdullah bin ‘Aun dengan lafaz “Iraq kami” memiliki penguat dari hadis-hadis lain dan telah kami tunjukkan dalam tulisan khusus mengenai illat [cacat] hadis-hadis tersebut.

Sebagian orang menyatakan bahwa hadis-hadis tersebut saling menafsirkan, Najd yang dimaksud sebenarnya adalah Iraq. Menurut mereka dalam lisan orang-orang arab Iraq juga disebut sebagai Najd. Hujjah mereka adalah perkataan Al Khaththabiy berikut

نجد: ناحية المشرق، ومن كان بالمدينة كان نجده بادية العراق ونواحيها، وهي مشرق أهلها، وأصل النجد: ما ارتفع من الأرض، والغور: ما انخفض منها، وتهامة كلها من الغور، ومنها مكة، والفتنة تبدو من المشرق، ومن ناحيتها يخرج يأجوج ومأجوج والدجال، في أكثر ما يروى من الأخبار

Najd adalah arah timur. Dan bagi Madinah, najd-nya adalah gurun ‘Iraaq dan sekelilingnya. Itulah arah timur bagi penduduk Madinah. Asal makna dari najd adalah : setiap tanah yang tinggi; sedangkan ghaur adalah setiap tanah yang rendah. Seluruh wilayah Tihaamah adalah ghaur, termasuk juga Makkah. Fitnah muncul dari arah timur; dan dari arah itu pula akan keluar Ya’juuj, Ma’juuj, dan Dajjaal sebagaimana terdapat dalam kebanyakan riwayat” [I’laamus-Sunan, 2/1274].

Pernyataan bahwa Najd diartikan arah timur adalah keliru. Dari segi bahasa Najd adalah daratan tinggi bukannya diartikan sebagai arah. Jika dikatakan bahwa Najd terletak di timur Madinah maka itu benar tetapi jika Najd diartikan sebagai arah timur maka hal itu tidak ada dasarnya.

Bahkan jika kita memperhatikan lafaz hadis Ibnu Umar dimana sebagian sahabat berkata “dan bagaimana Najd kami?” setelah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mendoakan Syam dan Yaman maka lafaz Najd disana menunjukkan nama tempat atau Negri seperti halnya Syam dan Yaman bukan menyatakan arah. Dan seperti yang kami katakan sebelumnya negri Najd ini terletak di arah timur matahari terbit dari Madinah. Yang nampak disini adalah sebagian orang memaksakan diri mendistorsi bahasa agar sesuai dengan keyakinannya.

Pada zaman Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan para sahabat tidaklah dikenal negri Iraq disebut sebagai Najd. Pendapat ini muncul belakangan setelah munculnya hadis-hadis Fitnah yang sebagian menyebutkan Najd dan sebagian menyebutkan Iraq sehingga bermunculan sebagian ulama yang menyatakan Iraq disebut juga Najd berdasarkan hadis-hadis tersebut. Padahal dari segi bahasa sangat tidak tepat Iraq disebut Najd sebagaimana telah berlalu penjelasannya. Berikut adalah bukti bahwa di zaman Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] Najd dan Iraq adalah kedua negri yang berbeda

حدثنا محمد بن عبد الله بن عمار الموصلي قال حدثنا أبو هاشم محمد بن علي عن المعافى عن أفلح بن حميد عن القاسم عن عائشة قالت وقَّت رسول الله صلى الله عليه وسلم لأهل المدينة ذا الحُليفة ولأهل الشام ومصر الجحفة ولأهل العراق ذات عرق ولأهل نجد قرناً ولأهل اليمن يلملم

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Ammar Al Maushulli yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Haasyim Muhammad bin ‘Ali dari Al Mu’afiy dari Aflah bin Humaid dari Qasim dari Aisyah yang berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menetapkan miqat bagi penduduk Madinah di Dzul Hulaifah, bagi penduduk Syam dan Mesir di Juhfah, bagi penduduk Iraq di Dzatu ‘Irq, bagi penduduk Najd di Qarn dan bagi penduduk Yaman di Yalamlam [Shahih Sunan Nasa’i no 2656]

Maka pendapat yang menyatakan Najd adalah Iraq tidaklah benar, karena dari segi bahasa tidak ada dasarnya, justru Iraq dinamakan demikian karena dekat dengan laut dan lebih rendah dari Najd. Dan terbukti dalam fakta riwayat di atas bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan para sahabat memahami Najd dan Iraq sebagai kedua negri yang berbeda.

Selain itu hadis Fitnah dengan lafaz dimana sebagian sahabat berkata “dan bagaimana Iraq kami?” adalah hadis mungkar, karena pada zaman Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] belum ada penduduk Iraq yang memeluk islam. Sebagaimana masyhur dalam Tarikh bahwa islam masuk ke Iraq pada masa pemerintahan Abu Bakar dan Umar. Maka bagaimana bisa ada sebagian sahabat yang mengatakan Iraq kami, berbeda hal-nya dengan Najd karena pada zaman Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] sudah ada penduduk Najd yang memeluk islam sehingga dengan sendirinya mereka adalah sahabat Nabi dan besar kemungkinan mereka inilah yang bertanya kepada Nabi “dan bagaimana Najd kami?”. Fakta ini diakui oleh Ibnu Umar sendiri selaku sahabat yang meriwayatkan hadis Fitnah

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا محمد بن عبد الله ثنا سفيان عن عبد الله بن دينار عن بن عمر قال وقت رسول الله صلى الله عليه و سلم لأهل المدينة ذا الحليفة ولأهل نجد قرنا ولأهل الشام الجحفة وقال هؤلاء الثلاث حفظتهن من رسول الله صلى الله عليه و سلم وحدثت أن رسول الله قال ولأهل اليمن يلملم فقيل له العراق قال لم يكن يومئذ عراق

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abdullah bin Diinar dari Ibnu Umar yang berkata Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] menentukan miqat untuk penduduk Madinah Dzul Hulaifah, untuk penduduk Najd Qarn, untuk penduduk Syam Juhfah. Ibnu Umar berkata “tiga hal itu aku hafal dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan diceritakan kepadaku bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “dan untuk penduduk Yaman Yalamlam. Maka dikatakan kepadanya “lalu Iraq?”. Ibnu Umar berkata “pada saat itu belum ada Iraq” [Musnad Ahmad 2/50 no 5111, Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata sanadnya shahih sesuai syarat Bukhari Muslim]

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا سفيان سمع صدقة بن عمر يقول يعني عن النبي صلى الله عليه و سلم يهل أهل نجد من قرن وأهل الشام من الجحفة وأهل اليمن من يلملم ولم يسمعه بن عمر وسمع النبي صلى الله عليه و سلم مهل أهل المدينة من ذي الحليفة قالوا له فأين أهل العراق قال بن عمر لم يكن يومئذ

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Sufyan yang mendengar Shadaqah, [yang berkata] Ibnu Umar mengatakan yakni dari Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] “Penduduk Najd berihram dari Qarn, penduduk Syam dari Juhfah, dan penduduk Yaman dari Yalamlam dan Ibnu Umar tidak mendengar hal ini [miqat Yaman] darinya [Nabi], dan ia mendengar dari Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] bahwa penduduk Madinah berihram dari Dzul Hulaifah. Orang-orang bertanya kepada Ibnu Umar “maka bagaimana dengan penduduk Iraq?”. Ibnu Umar berkata “waktu itu belum ada [penduduk Iraq yang muslim]?” [Musnad Ahmad 2/11 no 4854, syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata “sanadnya shahih dengan syarat Muslim”]

Yang dimaksud dengan pernyataan Ibnu Umar bahwa saat itu belum ada Iraq maksudnya adalah belum ada penduduk Iraq yang memeluk islam. Dari hadis di atas terdapat faedah bahwa pada masa para tabiin mereka tidak memahami Iraq dengan sebutan Najd atau bagian dari Najd. Buktinya adalah pada saat Ibnu Umar menyampaikan hadis penduduk Najd berihram dari Qarn kepada para tabiin maka mereka tetap menanyakan bagaimana dengan penduduk Iraq. Kalau memang mereka memahami bahwa Iraq adalah Najd maka tidak akan mungkin mereka menanyakannya. Jadi masyhur pula bahwa di zaman para tabiin Najd berbeda dengan Iraq.

Faedah kedua adalah kesaksian Ibnu Umar yang menyatakan bahwa pada masa Rasulullah belum ada penduduk Iraq yang memeluk islam dan dari sini juga bisa ditarik kesimpulan bahwa pada masa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] sudah ada penduduk Najd, Syam dan Yaman yang memeluk islam. Maka jika dalam hadis Ibnu Umar tentang fitnah terdapat perkataan sahabat Nabi “bagaimana dengan Irak kami?” dapat dipastikan bahwa lafaz tersebut mungkar

Kalau dikatakan hadis Ibnu Umar saling menafsirkan maka pendapat yang lebih rajih disini adalah fitnah timur yang dimaksud Ibnu Umar adalah Najd bukan Iraq karena berdasarkan kesaksian Ibnu Umar tidak ada penduduk Iraq yang memeluk islam pada saat itu sehingga mustahil ada sahabat Nabi yang berkata “Iraq kami”. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa hadis-hadis dengan lafaz “Iraq kami” memiliki illat [cacat] yang menjatuhkan dan matannya mungkar.

sumber tulisan ini dari web http://www.secondprince.wordpress.com

Najd Bukan Iraq? : Bantahan Bagi Salafy

Ini merupakan kelanjutan dari tulisan kami sebelumnya yang berjudul Analisis Hadis Tanduk Setan : Najd Bukan Iraq?. Tulisan kami tersebut ternyata ditanggapi oleh salah satu situs salafy dan kali ini kami berusaha meluruskan bantahannya yang berkesan “tidak paham dengan tulisan orang lain”. Sudah sewajarnya sebelum membantah tulisan orang lain kita hendaknya memahami betul-betul tulisan yang ingin dibantah supaya tidak terjadi pengulangan-pengulangan yang tidak perlu. kita akan lihat bersama tanggapan orang tersebut tetapi sebelumnya kami akan memperjelas lagi hujjah atau dalil kalau tempat yang dimaksud sebagai fitnah itu adalah Najd. Silakan perhatikan hadis-hadis berikut

وحدثني حرملة بن يحيى أخبرنا ابن وهب أخبرني يونس عن ابن شهاب عن سالم بن عبدالله عن أبيه
أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال وهو مستقبل المشرق ها إن الفتنة ههنا ها إن الفتنة ههنا ها إن الفتنة ههنا من حيث يطلع قرن الشيطان

Telah menceritakan kepadaku Harmalah bin Yahya yang berkata telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb yang berkata telah mengabarkan kepadaku Yunus dari Ibnu Syihab dari Salim bin ‘Abdullah dari ayahnya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata dan Beliau menghadap kearah timur “fitnah datang dari sini, fitnah datang dari sini, fitnah datang dari sini, dari arah munculnya tanduk setan[Shahih Muslim 4/2228 no 2905]

حدثنا عبد الله ثنا أبي ثنا أبو سعيد مولى بنى هاشم ثنا عقبة بن أبي الصهباء ثنا سالم عن عبد الله بن عمر قال صلى رسول الله صلى الله عليه و سلم الفجر ثم سلم فاستقبل مطلع الشمس فقال ألا ان الفتنة ههنا ألا ان الفتنة ههنا حيث يطلع قرن الشيطان

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang menceritakan kepada kami ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id mawla bani hasyim yang berkata telah menceritakan kepada kami Uqbah bin Abi Shahba’ yang berkata telah menceritakan kepada kami Salim dari ‘Abdullah bin Umar yang berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengerjakan shalat fajar kemudian mengucapkan salam dan menghadap kearah matahari terbit seraya bersabda “fitnah datang dari sini, fitnah datang dari sini dari arah munculnya tanduk setan[Musnad Ahmad 2/72 no 5410]

حدثنا أبو بكر بن أبي شيبة حدثنا وكيع عن عكرمة بن عمار عن سالم عن ابن عمر قال خرج رسول الله صلى الله عليه و سلم من بيت عائشة فقال رأس الكفر من ههنا من حيث يطلع قرن الشيطان يعني المشرق

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah yang berkata telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Ikrimah bin ‘Ammar dari Salim dari Ibnu Umar yang berkata “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar dari pintu rumah Aisyah dan berkata “sumber kekafiran datang dari sini dari arah munculnya tanduk setan yaitu timur [Shahih Muslim 4/2228 no 2905]

حدثنا مسدد حدثنا يحيى عن إسماعيل قال حدثني قيس عن عقبة بن عمرو أبي مسعود قال أشار رسول الله صلى الله عليه وسلم بيده نحو اليمن، فقال الإيمان يمان هنا هنا، ألا إن القسوة وغلظ القلوب في الفدادين، عند أصول أذناب الإبل، حيث يطلع قرنا الشيطان، في ربيعة ومضر

Telah menceritakan kepada kami Musaddad yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya dari Isma’il yang berkata telah menceritakan kepadaku Qais bin Uqbah bin Amru Abi Mas’ud yang berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengisyaratkan tangannya kearah Yaman dan berkata “Iman di Yaman disini dan kekerasan hati adalah milik orang-orang Faddadin [arab badui yang bersuara keras] di belakang unta-unta mereka dari arah munculnya tanduk setan [dari] Rabi’ah dan Mudhar [Shahih Bukhari no 3126]

حدثنا يحيى بن يحيى قال قرأت على مالك عن أبي الزناد عن الأعرج عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال رأس الكفر نحو الشرق والفخر والخيلاء في أهل الخيل والإبل الفدادين أهل الوبر والسكينة في أهل الغنم

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya yang berkata qara’tu ala Malik dari Abi Zanad dari Al A’raj dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “sumber kekafiran datang dari timur, kesombongan dan keangkuhan adalah milik orang-orang pengembala kuda dan unta Al Faddaadin Ahlul Wabar [arab badui] dan kelembutan ada pada pengembala kambing [Shahih Muslim 1/71 no 52]

حدثنا عبدالله بن عبدالرحمن أخبرنا أبو اليمان عن شعيب عن الزهري حدثني سعيد بن المسيب أن أبا هريرة قال سمعت النبي صلى الله عليه و سلم يقول جاء أهل اليمن هم أرق أفئدة وأضعف قلوبا الإيمان يمان والحكمة يمانية السكينة في أهل الغنم والفخر والخيلاء في الفدادين أهل الوبر قبل مطلع الشمس

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman yang berkata telah mengabarkan kepada kami Abul Yaman dari Syu’aib dari Az Zuhri yang berkata telah mengabarkan kepadaku Sa’id bin Al Musayyab bahwa Abu Hurairah berkata aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “Penduduk Yaman datang, mereka bertingkah laku halus dan berhati lembut iman di Yaman, hikmah di Yaman, kelembutan ada pada penggembala kambing sedangkan kesombongan dan keangkuhan ada pada orang-orang Faddadin Ahlul Wabar [arab badui] di arah terbitnya matahari [Shahih Muslim 1/71 no 52]

حدثنا موسى بن هارون ثنا عبد الله بن محمد بوران نا الأسود بن عامر نا حماد بن سلمة عن يحيى بن سعيد عن سالم عن بن عمر أن النبي صلى الله عليه و سلم استقبل مطلع الشمس فقال من ها هنا يطلع قرن الشيطان وها هنا الفتن والزلازل والفدادون وغلظ القلوب

Telah menceritakan kepada kami Musa bin Harun yang berkata telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad Fuuraan yang berkata telah menceritakan kepada kami Aswad bin ‘Aamir yang berkata telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Yahya bin Sa’id dari Salim dari Ibnu Umar bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menghadap ke arah matahari terbit seraya berkata “dari sini muncul tanduk setan, dari sini muncul fitnah dan kegoncangan dan orang-orang yang bersuara keras dan berhati kasar [Mu’jam Al Awsath Thabrani 8/74 no 8003]

Hadis riwayat Thabrani di atas sanadnya shahih. Musa bin Harun Abu ‘Imran seorang imam yang tsiqat [Su’alat Al Hakim no 229]. Abdullah bin Muhammad bin Muhaajir Fuuraan adalah sahabat Ahmad bin Hanbal seorang yang tsiqat ma’mun [Takmilat Al Ikmal Muhammad bin Abdul Ghaniy no 4757]. Aswad bin ‘Aamir seorang yang tsiqat [At Taqrib 1/102]. Hammad bin Salamah seorang yang tsiqat [At Taqrib 1/238]. Yahya bin Sa’id Al Anshari seorang yang tsiqat tsabit [At Taqrib 2/303]

Hadis-hadis di atas menyebutkan kalau tempat munculnya fitnah tersebut adalah timur Madinah dan arah timur yang dimaksud adalah arah matahari terbit dari Madinah. Dengan fakta ini saja maka diketahui bahwa Najd merupakan tempat yang lebih sesuai daripada Iraq karena Najd terletak di arah timur matahari terbit dari Madinah sedangkan Iraq tidak terletak di arah matahari terbit dari Madinah. Dari hadis-hadis di atas juga diketahui kalau tempat yang dimaksud tertuju pada kediaman orang-orang arab badui Rabi’ah dan Mudhar. Telah ma’ruf bahwa pada masa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam Najd merupakan kediaman orang-orang arab badui [ahlul wabar] Rabi’ah dan Mudhar bukannya Iraq, Jadi semua hadis-hadis di atas menyiratkan kalau tempat fitnah yang dimaksud adalah Najd. Oleh karena itu jika menerapkan metode tarjih maka hadis Najd lebih didahulukan daripada hadis Iraq.

.

.

.

Hadis Ubadillah bin ‘Abdullah bin ‘Aun

حدثنا الحسن بن علي المعمري ثنا إسماعيل بن مسعود ثنا عبيد الله بن عبد الله بن عون عن أبيه عن نافع عن ابن عمر أن النبي صلى الله عليه وسلم قال اللهم بارك لنا في شامنا، اللهم بارك في يمننا، فقالها مراراً، فلما كان في الثالثة أو الرابعة، قالوا يا رسول الله! وفي عراقنا؟ قال إنّ بها الزلازل والفتن، وبها يطلع قرن الشيطان

Telah menceritakan kepada kami Hasan bin Ali Al-Ma’mariy yang berkata telah menceritakan kepada kami Ismaail bin Mas’ud yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidullah bin ‘Abdillah bin ‘Aun dari ayahnya, dari Naafi’ dari Ibnu ‘Umar bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Ya Allah, berikanlah keberkatan kepada kami pada Syaam kami dan pada Yamaan kami”. Beliau [shallallaahu ‘alaihi wasallam] mengatakannya beberapa kali. Ketika beliau mengatakan yang ketiga kali atau yang keempat, para shahabat berkata “Wahai Rasulullah, dan juga Iraq kami?”. Beliau bersabda  “Sesungguhnya di sana terdapat kegoncangan dan fitnah, dan disanalah akan muncul tanduk setan” [Mu’jam Al Kabiir Ath Thabrani 12/384 no 13422].

Kami sebelumnya mengatakan hadis ini tidak shahih karena Ubaidillah telah menyelisihi dua orang perawi tsiqat yaitu Azhar bin Sa’d dan Husain bin Hasan dimana keduanya menyebutkan lafaz Najd bukan lafaz Iraq. Orang tersebut membantah dengan berkata

Saya katakan : Nampaknya orang ini sedang berandai-andai dengan pemikirannya. Yang dikatakan ta’arudl (dalam matan) dalam ilmu hadits adalah jika bertentangan dalam makna dan tidak bisa untuk dijamak. Pengandai-andaiannya bahwa lafadh Najd dan ‘Iraq adalah bertentangan (ta’arudl) adlah sesuai dengan definisi dan keinginannya. Bukan sesuai dengan ilmu ushul hadits dan ushul-fiqh yang ma’ruf. Telah saya tulis sebelumnya bahwa lafadh Najd dan ‘Iraq tidak bertentangan dan bisa dijamak. Sesuai dengan lisan dan pemahaman orang ‘Arab. Telah saya sebutkan perkataan Al-Khaththaabiy dan Al-Kirmaaniy bagaimana makna kata ‘Najd’ bagi orang ‘Arab (bukan menurut orang tersebut).

Sungguh orang ini patut dikasihani, bagaimana mungkin ia bisa tidak mengerti panjang lebar hujjah kami dalam masalah ini. Lafaz Najd dan Iraq bertentangan karena keduanya adalah nama negeri yang berbeda. Seandainya pun kedua lafaz itu mau dijamak maka itu berarti kedua tempat tersebut adalah tempat munculnya fitnah. Bukan seperti logika aneh salafy yang mengatakan kalau Najd adalah Iraq. Perhatikan baik-baik hadis berikut

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى قَالَ حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ الْحَسَنِ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ عَوْنٍ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا وَفِي يَمَنِنَا قَالَ قَالُوا وَفِي نَجْدِنَا قَالَ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا وَفِي يَمَنِنَا قَالَ قَالُوا وَفِي نَجْدِنَا قَالَ قَالَ هُنَاكَ الزَّلَازِلُ وَالْفِتَنُ وَبِهَا يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna yang berkata telah menceritakan kepada kami Husain bin Hasan yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Aun dari Nafi’ dari Ibnu Umar yang berkata [Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “Ya Allah berilah keberkatan kepada kami, pada Syam kami dan pada Yaman kami”. Para sahabat berkata “dan juga Najd kami?”. Beliau bersabda “disana muncul kegoncangan dan fitnah, dan disanalah muncul tanduk setan” [Shahih Bukhari 2/33 no 1037]

Zahir hadis di atas Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendoakan Syam dan Yaman, keduanya adalah nama Negri yang sudah ada di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian para sahabat bertanya bagaimana dengan “Najd kami”. Tentu saja secara zahir maksud Najd disini adalah nama suatu Negeri seperti halnya Syam dan Yaman. Dan telah kami sebutkan bahwa di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah masyhur Negeri yang bernama Najd dan negri itu berbeda dengan Iraq seperti dalam hadis berikut

حدثنا محمد بن عبد الله بن عمار الموصلي قال حدثنا أبو هاشم محمد بن علي عن المعافى عن أفلح بن حميد عن القاسم عن عائشة قالت وقَّت رسول الله صلى الله عليه وسلم لأهل المدينة ذا الحُليفة ولأهل الشام ومصر الجحفة ولأهل العراق ذات عرق ولأهل نجد قرناً ولأهل اليمن يلملم

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Ammar Al Maushulli yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Haasyim Muhammad bin ‘Ali dari Al Mu’afiy dari Aflah bin Humaid dari Qasim dari Aisyah yang berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menetapkan miqat bagi penduduk Madinah di Dzul Hulaifah, bagi penduduk Syam dan Mesir di Juhfah, bagi penduduk Iraq di Dzatu ‘Irq, bagi penduduk Najd di Qarn dan bagi penduduk Yaman di Yalamlam [Shahih Sunan Nasa’i no 2656]

أخبرنا قتيبة حدثنا الليث عن سعيد بن أبي سعيد أنه سمع أبا هريرة يقول بعث رسول الله صلى الله عليه وسلم خيلا قبل نجد فجاءت برجل من بني حنيفة يقال له ثمامة بن آثال سيد أهل اليمامة فربط بسارية من سواري المسجد مختصر

Telah mengabarkan kepada kami Qutaibah yang berkata telah menceritakan kepada kami Laits dari Sa’id bin Abi Sa’id yang mendengar Abu Hurairah berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus pasukan berkuda ke Najd kemudian pasukan ini datang dengan membawa seorang laki-laki dari Bani Hanifah yang bernama Tsumamah bin Utsal pemimpin penduduk Yamamah kemudian diikat di salang satu tiang masjid, demikian secara ringkas. [Shahih Sunan Nasa’i Syaikh Al Albani no 712]

Hadis di atas bahkan menyebutkan kalau Najd yang dimaksud termasuk Yamamah yang pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam terletak tepat disebelah timur Madinah dan yang sekarang telah menjadi daerah Riyadh dan sekitarnya. Justru membedakan Najd dan Iraq telah sesuai dengan lisan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallamdan pemahaman para sahabat bahwa Najd dan Iraq memang kedua tempat yang berbeda pada masa itu. Jadi tidak ada gunanya perkataan ulama yang dicatut oleh orang salafy itu.

Kembali ke hadis riwayat Thabrani di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendoakan Syam dan Yaman, kemudian para sahabat bertanya bagaimana dengan “Iraq kami”. Anehnya salafy langsung bisa paham kalau Iraq yang dimaksud disini adalah nama suatu negeri tapi kalau di hadis Najd salafy jadi pura-pura tidak paham. Salafy itu mengutip perkataan Ibnu Mandzur

وما ارتفع عن تِهامة إِلى أَرض العراق، فهو نجد

“Semua tanah yang tinggi dari Tihaamah sampai tanah ‘Iraaq, maka itu Najd” [lihat dalam Lisaanul-‘Arab].

Bagi kami tidak ada masalah dengan istilah itu. Najd yang ada pada hadis tanduk setan adalah nama suatu negeri yang memang sudah masyhur dikenal sahabat sebagaimana halnya negeri Syam dan Yaman. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat telah membedakan Najd dan Iraq jadi tidak ada gunanya perkataan Ibnu Mandzur disini. Apalagi kalau diperhatikan ternyata ulama lain justru mengatakan hal yang lebih aneh yaitu Al Khaththabi [sebagaimana yang ditulis sendiri oleh salafy itu]. Ia berkata

نجد: ناحية المشرق، ومن كان بالمدينة كان نجده بادية العراق ونواحيها، وهي مشرق أهلها، وأصل النجد: ما ارتفع من الأرض، والغور: ما انخفض منها، وتهامة كلها من الغور، ومنها مكة، والفتنة تبدو من المشرق، ومن ناحيتها يخرج يأجوج ومأجوج والدجال، في أكثر ما يروى من الأخبار

Najd adalah arah timur. Dan bagi Madinah, najd-nya gurun ‘Iraaq dan sekelilingnya. Itulah arah timur bagi penduduk Madinah. Asal makna dari najd adalah : setiap tanah yang tinggi; sedangkan ghaur adalah setiap tanah yang rendah. Seluruh wilayah Tihaamah adalah ghaur, termasuk juga Makkah. Fitnah muncul dari arah timur; dan dari arah itu pula akan keluar Ya’juuj, Ma’juuj, dan Dajjaal sebagaimana terdapat dalam kebanyakan riwayat” [I’laamus-Sunan, 2/1274].

Anehnya Al Khattabi mengatakan kalau Najd adalah arah timur dan menurut Al Khaththabi timurnya madinah adalah Iraq maka Najd-nya madinah adalah Iraq. Pertanyaannya sejak kapan Najd yang secara etimologi [asal kata] bermakna tanah yang tinggi berubah maknanya menjadi “arah timur”?. Kemudian apa gunanya perkataan Ibnu Mandzur “semua tanah yang tinggi dari Tihamah sampai Iraq maka itu Najd” padahal Al Khaththabi mengatakan seluruh wilayah Tihamah adalah ghaur. Salafy itu hanya bisa bertaklid tetapi tidak bisa memahami perkataan ulama yang ia kutip.

Pada dasarnya setiap kata memiliki makna secara etimologi tetapi selain itu ternyata ada beberapa kata yang dalam perkembangannya berubah secara historis. Seperti halnya kata Najd secara etimologi memang bermakna tanah yang tinggi, tetapi secara historis maksud Najd yang ada dalam hadis Tanduk setan adalah nama suatu negri yang masyhur saat itu yaitu Najd di sebelah timur Madinah oleh karena itu para sahabat menisbatkannya dengan kata “Najd kami”. Negri ini dinamakan Najd karena memang tempat tersebut adalah dataran tinggi. Tidak hanya Najd, kata Iraq pun secara etimologi bermakna “daerah tepian” atau “daerah yang terletak diantara sungai sungai” dan secara historis Iraq dikenal sebagai nama suatu negri karena memang negri tersebut terletak diantara sungai sungai sehingga dinamakan Iraq. Pada hadis tanduk setan, kata Najd dan Iraq yang dinisbatkan dengan kata “kami” adalah nama suatu Negri bukan makna kata secara etimologi.

Adapun ‘Ubaidullah sendiri, maka Al-Bukhaariy berkata : “Ma’ruuful-hadiits” [At-Taariikh Al-Kabiir, 5/388 no. 1247]. Abu Haatim berkata :  “Shaalihul-hadiits” [Al-Jarh wat-Ta’diil, 5/322 no. 1531].

Kita telah buktikan kalau Najd dan Iraq yang ada di hadis Ibnu Umar adalah dua negri yang berbeda sehingga penjamakan yang dilakukan oleh salafy itu terlalu memaksa. Kesannya justru malah mendistorsi makna hadis tersebut. Yang meriwayatkan dari  Ibnu ‘Aun dari Nafi’ ada tiga orang yaitu Husain bin Hasan, Azhar bin Sa’d dan Ubaidillah. Husain dan Azhar menyebutkan kalau tempat yang dimaksud adalah Najd sedangkan Ubaidillah menyebutkan Iraq. Ubaidillah telah menyelisihi dua orang perawi tsiqat yang meriwayatkan dari Nafi’ sedangkan kedudukannya sendiri paling tinggi hanya dikatakan “shalihul hadits”. Perawi seperti ini jika bertentangan dengan perawi yang lebih tsiqat maka hadisnya tidak bisa diterima. Kaidah ini sesuai dengan yang berlaku dalam ilmu hadis.

.

.

.

Hadis Ziyaad bin Bayaan

حدثنا علي بن سعيد قال نا حماد بن إسماعيل بن علية قال نا ابي قال نا زياد بن بيان قال نا سالم بن عبد الله بن عمر عن ابيه قال صلى النبي صلى الله عليه و سلم صلاة الفجر ثم انفتل فأقبل على  القوم فقال اللهم بارك لنا في مدينتنا وبارك لنا في مدنا وصاعنا اللهم بارك لنا في شامنا ويمننا فقال رجل والعراق يا رسول الله فسكت ثم قال اللهم بارك لنا في مدينتنا وبارك لنا في مدنا وصاعنا اللهم بارك لنا في حرمنا وبارك لنا في شامنا ويمننا فقال رجل والعراق يا رسول الله قال من ثم يطلع قرن الشيطان وتهيج الفتن

Telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin Sa’id yang berkata telah menceritkankepada kami Hammaad bin Ismaa’iil bin ‘Ulayyah yang berkata telah menceritakan kepada kami ayahku yang berkata telah mencertakan kepada kami Ziyaad bin Bayaan yangberkata telah menceritakan kepada kami Saalim bin ‘Abdillah bin ‘Umar dari ayahnya yang berkata Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat shubuh, kemudian berdoa, lalu menghadap kepada orang-orang. Beliau bersabda “Ya Allah berikanlah keberkatan kepada kami pada Madinah kami berikanlah keberkatan kepada kami pada mudd dan shaa’ kami. Ya Allah, berikanlah keberkatan kepada kami pada Syaam kami dan Yaman kami”. Seorang laki-laki berkata “dan ‘Iraq, wahai Rasulullah ?”. Beliau diam, lalu bersabda “Ya Allah berikanlah keberkatan kepada kami pada Madinah kami berikanlah keberkatan kepada kami pada mudd dan shaa’ kami. Ya Allah, berikanlah keberkatan kepada kami pada tanah Haram kami, dan berikanlah keberkatan kepada kami pada Syaam kami dan Yaman kami”. Seorang laki-laki berkata “dan ‘Iraq, wahai Rasulullah ?”. Beliau bersabda “dari sana akan muncul tanduk setan dan bermunculan fitnah” [Mu'jam Al Awsath Ath Thabraani 4/245 no 4098].

Pada tulisan sebelumnya kami menyatakan bahwa hadis ini tidak shahih karena mengandung illat [cacat] pada Ziyaad bin Bayaan. Ziyaad bin Bayaan dikatakan oleh Adz Dzahabi “tidak shahih hadisnya”. Bukhari berkata “dalam sanad hadisnya perlu diteliti kembali” [Al Mizan juz 2 no 2927] ia telah dimasukkan Adz Dzahabi dalam kitabnya Mughni Ad Dhu’afa no 2222 Al Uqaili juga memasukkannya ke dalam Adh Dhu’afa Al Kabir 2/75-76 no 522. Salafy itu menanggapi dengan berkata

Saya katakan : Ia hanya menyebutkan jarh-nya saja. Padahal kedudukan yang benar atas diri Ziyaad bin Bayaan adalah shaduuq lagi ‘aabid [Taqriibut-Tahdziib, hal. 343 no. 2068]. An-Nasaa’iy berkata : “Tidak mengapa dengannya (laisa bihi ba’s)”. Ibnu Hibbaan memasukkanya dalam Ats-Tsiqaat, dan berkata : “Ia seorang syaikh yang shaalih”. Tautsiq Ibnu Hibbaan jika dijelaskan seperti ini adalah diterima, sebagaimana penjelasan Al-Mu’allimiy Al-Yamaaniy dalam At-Tankiil.

Mengenai perkataan Nasa’i maka begitulah yang dinukil Ibnu Hajar dalam At Tahdzib tetapi mengenai perkataan Ibnu Hibban maka ini patut diberikan catatan. Ibnu Hibban tidak hanya menta’dil Ziyaad bin Bayaan, Ibnu Hibban juga memasukkan nama Ziyaad bin Bayaan dalam kitabnya Adh Dhu’afa yang memuat nama perawi dhaif menurutnya. Ibnu Hibban berkata “Ziyaad bin Bayaan mendengar dari Ali bin Nufail, dalam sanad hadisnya perlu diteliti kembali (fii isnad nazhar)” [Al Majruhin no 365].

Ibnu ‘Adiy memasukkan dalam Al-Kaamil karena mengambl pertimbangan perkataan Al-Bukhaariy. Dan sebab pendla’ifan Al-Bukhaariy pun dijelaskan, yaitu dengan sebab hadits Al-Mahdiy. Al-Bukhaariy berkata : “Fii isnadihi nadhar”. Jarh ini kurang shariih.

Perkataan salafy kalau jarh ini kurang sharih hanyalah andai-andai dirinya yang memang tidak bisa memahami dengan baik. Justru jarh Bukhari telah dijelaskan bahwa dalam sanad hadis Ziyaad bin Bayaan perlu diteliti kembali [fii isnadihi nazhar]. Ziyaad bin Bayaan terbukti meriwayatkan hadis mungkar dan kemungkarannya terletak pada sanad hadis tersebut. Hadis yang dimaksud adalah hadis Al Mahdi dimana Ziyad bin Bayaan membawakan dengan sanad dari Ali bin Nufail dari Ibnu Musayyab dari Ummu Salamah secara marfu’. Hadis ini yang diingkari oleh Bukhari dan pengingkaran tersebut terletak pada sanadnya. Ibnu Ady dalam Al Kamil dengan jelas mengatakan kalau Bukhari mengingkari hadis Ziyad bin Bayaan ini.

Al Uqaili sependapat dengan pengingkaran Bukhari dan menunjukkan kalau yang tsabit hadis dengan lafaz seperti itu adalah perkataan Sa’id bin Al Musayyab bukan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam [Adh Dhu’afa Al Uqaili 2/75 no 522]. Ibnu Jauzi dalam Al Ilal Al Mutanahiyah juga menegaskan bahwa hadis dengan lafaz seperti itu adalah perkataan Ibnu Musayyab bukan hadis Nabi dan disini Ziyaad bin Bayaan yang merafa’kan atau menyambungkan hadis tersebut kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Jadi kesimpulannya Ziyaad bin Bayaan tertuduh meriwayatkan hadis mungkar dan pengingkaran Bukhari terhadap hadisnya justru menunjukkan kalau disisi Bukhari Ziyaad bin Bayaan adalah seorang yang dhaif. Perkataan Bukhari ini adalah perkataan yang tsabit bersumber darinya dan kedudukan dirinya lebih dijadikan pegangan daripada penta’dilan Nasa’i. Apalagi telah ma’ruf dalam ilmu hadis bahwa jarh yang mufassar lebih didahulukan dari ta’dil.

Ibnu ‘Adiy pun menyebutkan pentautsiqan Abul-Maliih (Al-Hasan bin ‘Umar – seorang yang tsiqah) pada Ziyaad bin Bayaan saat menyebutkan sanad hadits Al-Mahdiy; Abul-Maliih berkata : “Telah menceritakan kepada kami seorang yang tsiqah”. Ibnu ‘Adiy menjelaskan : “Telah menceritakan kepada kami sorang yang tsiqah, maksudnya adalah Ziyaad bin Bayaan”. Kemudian Ibnu ‘Adiy menyebutkan sanad yang lain yang menjelaskan hal tersebut [Al-Kaamil, 4/144-145 no. 697].

Perkataan salafy ini sangat patut diberikan catatan, entah ia pura-pura tidak tahu atau memang tidak tahu bahwa tautsiq Abul Maliih ini tidaklah tsabit. Ibnu Ady membawakan dengan sanad telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Abdurrahman bin Yazid bin ‘Aqaal Al Harrani yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Ja’far An Nufaili yang berkata telah menceritakan kepada kami Abul Maliih yang berkata telah menceritakan kepada kami seorang yang tsiqah [Al Kamil 3/196. Hadis ini tidak tsabit karena Ahmad bin Abdurrahman Al Harrani adalah seorang yang dhaif. Adz Dzahabi memasukkannya kedalam perawi dhaif seraya mengutip jarh Abu Arubah [Al Mughni 1/46 no 346]. Ibnu Jauzi memasukkannya dalam Adh Dhu’afa [Adh Dhu’afa Ibnu Jauzi no 200]. Al Haitsami berkata “riwayat Thabrani dalam Al Ausath dari syaikh-nya Ahmad bin ‘Abdurrahman bin ‘Aqaal dan dia dhaif” [Majma’ Az Zawaid 5/65 no 8057]. Jadi tautsiq Abul Maliih disini tidaklah benar. Apalagi penetapan kalau orang yang dimaksud Ziyaad bin Bayaan tidak nampak dalam sanad tersebut melainkan dugaan Ibnu Adiy.

Hal yang sama pada Al-‘Uqailiy, dimana ia memasukkan dalam Adl-Dlu’afaa dengan pijakan perkataan Al-Bukhaariy di atas [2/430-431 no. 523]. Adz-Dzahabiy pun demikian, yaitu menyandarkan ketidakshahihan haditsnya pada hadits Al-Mahdiy. Akan tetapi ia memberikan penghukuman akhir terhadap Ziyaad : “Shaduuq” [Al-Kaasyif, 2/408 no. 1671].

Al Uqaili dalam hal ini sepakat dengan Al Bukhari dan disini ia telah menjelaskan kalau hadis Ziyaad bin Bayaan adalah mungkar dan yang benar hadis tersebut adalah perkataan Ibnu Musayyab. Mengenai perkataan Adz Dzahabi walaupun ia menyatakan Ziyaad bin Bayaan shaduq ia sendiri telah menyebutkan dalam Al Mizan dan Al Mughni kalau Ziyaad bin Bayaan tidak shahih hadisnya dan penulisannya dalam dua kitab tersebut menunjukkan kalau Adz Dzahabi lebih cenderung dengan pendapat yang menjarh Ziyaad bin Bayaan.

Oleh karenanya, pentautsiqan An-Nasaa’iy, Ibnu Hibbaan, dan Abul-Maliih lebih kuat dari perkataan yang mendla’ifkannya. Kaidah mengatakan : Ta’diil lebih didahulukan daripada jarh yang mubham.

Pentautsiqan Nasa’i adalah penukilan sedangkan jarh Bukhari terhadap Ziyaad bin Bayaan berasal dari kitab Bukhari sendiri. Pentautsiqan Ibnu Hibban juga bertentangan dimana ia sendiri memasukkan Ziyaad bin Bayaan dalam kitabnya Adh Dhu’afa sedangkan pentautsiqan Abul Maliih tidak tsabit. Tidak benar kalau jarh terhadap Ziyaad dikatakan mubham justru jarh terhadapnya mufassar yaitu dimana ia telah meriwayatkan hadis dengan sanad yang mungkar dan ini telah terbukti dari riwayat-riwayat yang disebutkan oleh para ulama seperti Al Bukhari, Al Uqaili dan Ibnu Jauzi. Mengenai pernyataan Ibnu Hajar dalam At Taqrib kalau Ziyaad bin Bayaan seorang yang shaduq, itu telah dikritik dalam Tahrir Taqrib At Tahdzib bahwa kedudukan sebenarnya Ziyaad bin Bayaan adalah “dhaif ya’tabaru bihi” [Tahrir At Taqrib no 2057].

Kedudukan hadis yang diriwayatkan perawi seperti Ziyaad bin Bayaan jika bertentangan dengan hadis shahih maka hadisnya mesti ditolak. Hadis tanduk setan yang sanadnya shahih adalah hadis dengan lafaz Najd sedangkan hadis dengan lafaz Iraq matannya mungkar. Sebagaimana telah kami tunjukkan bahwa di hadis shahih Najd merupakan tempat timbulnya fitnah.

.

.

.

Hadis ‘Abdullah bin Syawdzab

حدثنا محمد بن عبد العزيز الرملي حدثنا ضمرة بن ربيعة عن ابن شوذب عن توبة العنبري عن سالم عن ابن عمر قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم اللهم بارك لنا في مدينتنا وفي صاعنا، وفي مدِّنا وفي يمننا وفي شامنا. فقال الرجل يا رسول الله وفي عراقنا ؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم بها الزلازل والفتن، ومنها يطلع قرن الشيطان

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdul Aziiz Ar Ramliy yang berkata telah menceritakan kepada kami Dhamrah bin Rabi’ah dari Ibnu Syaudzab dari Taubah Al Anbariy dari Salim dari Ibnu ‘Umar yang berkata Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Ya Allah berikanlah keberkatan kepada kami pada Madinah kami, pada shaa’ kami, pada mudd kami, pada Yaman kami, dan pada Syaam kami”. Seorang laki-laki berkata “Wahai Rasulullah, dan pada ‘Iraaq kami ?”. Beliau menjawab “di sana terdapat kegoncangan dan fitnah dan di sana pula akan muncul tanduk setan” [ Ma’rifah Wal Tarikh Yaqub Al Fasawiy 2/746-747]

Mengenai hadis ini kami katakan Ibnu Syawdzab melakukan tadlis, ia tidak mendengar hadis ini dari Taubah Al ‘Anbari. Terdapat hadis yang menyebutkan kalau ia mendengar hadis tersebut melalui perantara.

حدثنا عبد الله بن العباس بن الوليد بن مزيد البيروتي حدثني أبي أخبرني أبي حدثني عبد الله بن شوذب حدثني عبد الله بن القاسم ومطر الوراق وكثير أبو سهل عن توبة العنبري عن سالم بن عبد الله بن عمر عن أبيه أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال اللهم بارك في مكتنا وبارك لنا في مدينتنا وبارك لنا في شامنا وبارك لنا في يمننا اللهم بارك لنا في صاعنا وبارك لنا في مدنا فقال رجل يا رسول الله وعراقنا فأعرض عنه فرددها ثلاثا وكان ذلك الرجل يقول وعراقنا فيعرض عنه ثم قال بها الزلازل والفتن وفيها يطلع قرن الشيطان

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin ‘Abbas bin Walid bin Mazyad Al Bayruutiy yang berkata telah menceritakan kepadaku ayahku yang berkata telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Syawdzab yang berkata telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Qasim, Mathr Al Waraaq dan Katsir Abu Sahl dari Taubah Al Anbariy dari Salim bin Abdullah bin Umar dari ayahnya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “Ya Allah berikanlah keberkatan kepada Mekkah kami, dan berikanlah keberkatan kepada kami pada Madinah kami, pada shaa’ kami, pada mudd kami, pada Yaman kami, dan pada Syaam kami”. Seorang laki-laki berkata “Wahai Rasulullah, dan pada ‘Iraaq kami ?”. Beliau menjawab “di sana terdapat kegoncangan dan fitnah dan di sana pula akan muncul tanduk setan” [Musnad Asy Syamiyyin Thabrani 2/246 no 1276]

Pada riwayat pertama Ibnu Syawdzab membawakan hadis dengan lafaz ‘an ‘anah dari Taubah Al ‘Anbari kemudian pada riwayat kedua Ibnu Syawdzab membawakan hadis dengan lafaz telah menceritakan padanya Abdullah bin Qasim, Mathr Al Waraaq dan Katsir Abu Sahl dari Taubah. Sanad ini menjadi bukti bahwa pada riwayat pertama Ibnu Syawdzab melakukan tadlis. Riwayat ‘an ‘an ah-nya dari Taubah ia dengar dari para syaikh-nya.

Illat [cacat] riwayat Ibnu Syawdzab disini adalah ia menggabungkan hadis dari ketiga syaikh-nya yaitu Abdullah bin Qasim, Mathr Al Waraaq dan Katsir Abu Sahl dalam satu lafaz matan hadis. Tetapi tidak disebutkan lafaz matan hadis yang ia sebutkan itu adalah milik siapa. Apakah ketiga syaikh-nya menyebutkan dengan matan yang sama yang mengandung lafaz Iraq atau hanya salah satu saja dari syaikh-nya yang menyebutkan lafaz Iraq. Jika kemungkinan yang kedua maka itu berarti Ibnu Syawdzab menggabungkan sanad hadis ketiga syaikh-nya dengan menyebutkan matan yang mengandung lafaz Iraq. Kemungkinan ini cukup beralasan mengingat Ibnu Syawdzab sendiri terbukti melakukan tadlis dari hadis ini. Jika semua syaikh-nya itu tsiqat tsabit maka tidak ada masalah dengan kemungkinan ini tetapi ternyata diantara syaikh-nya terdapat perawi yang banyak melakukan kesalahan dalam hadis yaitu Mathr Al Waraaq jadi terdapat kemungkinan kalau lafaz Iraq itu berasal dari kesalahan Mathr Al Waraaq. Mengapa dikatakan kesalahan karena telah disebutkan di awal pembahasan di atas kalau tempat yang dimaksud adalah Najd bukannya Iraq. Jadi kemungkinan kalau perawi disini melakukan kesalahan dengan menyebutkan lafaz Najd menjadi illat [cacat] hadis tersebut. Salafy itu mengatakan

Pertama, menyandarkan keterputusan Ibnu Syaudzab dengan Taubah hanya karena Ibnu Syaudzab juga meriwayatkan melalui perantaraan ‘Abdullah bin Al-Qaasim, Mathr, dan Katsiir bin Sahl; dari Taubah, bukan sebab yang kuat. Alasannya, telah ma’ruf bahwa salah satu guru/syaikh dari Ibnu Syaudzab adalah Taubah Al-‘Anbariy [lihat : Tahdziibul-Kamaal, 15/94]. Jadi bukan satu hal yang mustahil ia meriwayatkan dari Taubah, dan bersamaan dengan itu ia juga meriwayatkan melalui perantaraan orang lain. Semuanya dihukumi bersambung.

Alasan yang dikemukan salafy kalau Taubah ma’ruf dikenal sebagai syaikh-nya Ibnu Syawdzab patut diberikan catatan. Dalam Tahdzib Al Kamal juga disebutkan kalau salah satu Syaikh Ibnu Syawdzab adalah Hasan Al Bashri [Tahdzib Al Kamal 15/94] dan Abu Hatim mengatakan kalau Ibnu Syawdzab tidak melihat Hasan dan tidak mendengar dari-nya [Al Marasil Ibnu Abi Hatim 1/116 no 94]. Bagaimana mau dikatakan syaikh-nya kalau tidak pernah melihat dan tidak pernah mendengar darinya?. Jadi mengatakan Taubah ma’ruf sebagai syaikh Ibnu Syawdzab berdasarkan penyebutan dalam Tahdzib Al Kamal bukan hujjah yang kuat. Sejauh yang kami tahu, tidak ada hadis Ibnu Syawdzab dari Taubah Al ‘Anbari kecuali dari hadis ini dan di hadis ini ia terbukti melakukan tadlis.

Misalnya, Hafsh bin Ghiyaats meriwayatkan hadits puasa Syawal melalui jalan Sa’d bin Sa’iid bin Qais [Diriwayatkan oleh Ath-Thahawiy dalam Syarh Musykilil-Aatsaar 6/123 no. 2345 dan Ath-Thabaraaniy 4/136 no. 3912]. Namun, di lain kesempatan ia juga meiwayatkan melalui perantaraan Yahyaa bin Sa’iid bin Qais. Keduanya adalah riwayat bersambung. Hafsh bin Ghiyaats sendiri berkata : “Kemudian aku bertemu dengan Sa’d bin Sa’iid, lalu ia menceritakan kepadaku (hadits ini)” [Diriwayatkan oleh Ath-Thabaraaniy 4/136 no. 3912].

Dalam contoh yang disebutkan salafy itu jelas-jelas Hafsh bin Ghiyaats mengatakan “kemudian aku bertemu Sa’d bin Sa’id lalu ia menceritakan kepadaku”. Kalau sudah seperti ini ya mana mungkin mau dikatakan tadlis berbeda dengan contoh yang ia sebutkan tidak ada pengakuan dari Ibnu Syawdzab kalau ia bertemu dengan Taubah atau tidak ada Ibnu Syawdzab menyebutkan dengan lafaz sima’ langsung dari Taubah. Riwayat Ibnu Syawdzab dari Taubah adalah riwayat ‘an anah dan riwayat Ibnu Syawdzab dari ketiga syaikhnya dari Taubah itu dengan lafaz sima’ langsung. Jadi dalam hadis tanduk setan dengan lafaz Iraq, Ibnu Syawdzab terbukti melakukan tadlis. Kasus seperti ini termasuk salah satu cara ulama untuk menetapkan seseorang itu melakukan tadlis atau tidak.

Kedua, taruhlah kita terima bahwa riwayat Al-Fasawiy di atas munqathi’; maka sejak kapan meriwayatkan hadits secara munqathi’ seperti ini langsung di-ta’yin melakukan tadlis ? Jelas beda antara irsal dan tadlis. Pensifatan tadlis itu hanya diterima jika ada perkataan para ulama yang menjelaskan bahwa ia orang yang melakukan tadlis.

Pernyataan salafy ini menunjukkan kalau ia memang susah sekali untuk memahami tulisan orang dengan baik. Sebelumnya kami mengatakan kalau Ibnu Syawdzab tidak mendengar hadis ini dari Taubah. Apa buktinya? Buktinya adalah terdapat riwayat kalau Ibnu Syawdzab mengambil hadis ini dengan perantaraan ketiga syaikh-nya dari Taubah. Kami pribadi tidak pernah memastikan bahwa Ibnu Syawdzab tidak mendengar satupun hadis dari Taubah atau Ibnu Syawdzab tidak pernah bertemu dengan Taubah. Illat [cacat] yang kami sebutkan adalah Ibnu Syawdzab tidak mendengar hadis ini dari Taubah. Bisa saja dikatakan kalau Ibnu Syawdzab pernah bertemu dengan Taubah Al Anbari, tetapi ini adalah kemungkinan yang perlu dibuktikan walaupun kami sendiri tidak menafikan kemungkinan ini. Berbeda halnya dengan salafy yang dengan angkuhnya mengatakan kalau Taubah ma’ruf dikenal sebagai syaikh-nya Ibnu Syawdzab padahal kemungkinan irsal tetap ada. Oleh karena kemungkinan bertemu antara Ibnu Syawdzab dan Taubah itu masih ada maka kami menggunakan kata-kata tadlis bukan irsal. Sangat maklum kalau pengertian tadlis adalah seorang perawi semasa dan pernah bertemu dengan perawi lain tetapi ia meriwayatkan suatu hadis dari perawi lain tersebut [yang sebenarnya ia dengar melalui perantara] tetapi ia mengatakan seolah-olah ia mengambil hadis itu langsung dari perawi lain tersebut.

Yang lebih lucu bin ajaib adalah perkataan salafy kalau pensifatan tadlis hanya diterima jika ada ulama yang menjelaskan bahwa ia melakukan tadlis. Lha memangnya seorang ulama bisa tahu si perawi melakukan tadlis dengan cara apa, wangsit dari langit, asal tebak sesuai selera, atau sok berasa-rasa. Dalam ilmu hadis justru disebutkan kalau salah satu cara ulama mensifatkan tadlis kepada seorang perawi adalah dengan melihat hadis yang ia riwayatkan. Jika terdapat riwayat bahwa ia membawakan suatu hadis dengan ‘an anah dari seorang perawi [semasa dan pernah bertemu] dan disaat lain ia menyebutkan riwayat dengan sima’ langsung melalui perantara dari perawi tersebut maka orang ini dikatakan melakukan tadlis.

Kalau hanya sekedar meriwayatkan secara maushul di satu jalan dan mursal/munqathi’ di jalan yang lain, itu bukan tadlis namanya. Saya pingin tahu rujukannya di kitab ilmu hadits yang menjelaskan kaedah aneh ini. Jika ini diterapkan, maka jumlah perawi mudallis yang ditulis Ibnu Hajar dalam Ath-Thabaqaat akan bertambah tebal dua kali lipat atau lebih.

Lha iya, saya juga pingin tahu rujukan mana yang mengatakan seperti yang salafy katakan itu. Seharusnya salafy itu memahami dulu tulisan orang lain dengan baik baru membantah. Jika kasus seperti Ibnu Syawdzab ini tidak dikatakan tadlis dengan alasan mungkin saja Ibnu Syawdzab juga mendengar hadis ini dari Taubah secara langsung maka kami katakan dengan cara seperti ini mungkin jumlah perawi mudallis yang ditulis Ibnu Hajar dalam Ath Thabaqaat akan berkurang dua kali lipat atau lebih.  Kenapa? karena setiap perawi tidak bisa dituduh melakukan tadlis [kecuali ia sendiri yang mengaku] bisa saja dikatakan mungkin saja ia mendengar secara langsung. Kami perjelas kembali jika ada suatu hadis diriwayatkan oleh seorang perawi [kita sebut A] dengan dua kondisi

  • A meriwayatkan dengan ‘an anah dari B
  • A meriwayatkan dengan sima’ langsung dari C dari B

Maka si A dikatakan melakukan tadlis dalam riwayat ini. Jika mau dikatakan A juga mendengar langsung hadis ini dari si B maka harus dicari riwayat  yang memang menyebutkan riwayat A dari si B dengan lafal sima’ langsung sehingga dari sini baru kita dapat menyebutkan kalau A mengambil hadis ini secara langsung dari B dan C sehingga terangkatlah ia dari tuduhan melakukan tadlis dalam hadis tersebut.

Ketiga, taruhlah kita terima bahwa riwayat Al-Fasaawiy di atas munqathi’, justru riwayat Ibnu Syaudzaab yang secara shaarih berkata : “Telah mengkhabarkan kepada kami ‘Abdullah bin Al-Qaasim, Mathr, dan Katsiir bin Sahl, dari Taubah Al-‘Anbariy” menunjukkan penyambungan riwayat munqathi’ tadi.

Lha iya, justru riwayat inilah yang langsung kita fokuskan untuk dibahas dan dikritik dengan menunjukkan illat [cacat] yang berupa kemungkinan kesalahan perawinya yaitu Mathar Al Warraq. Riwayat Al Fasawy langsung kita palingkan pada riwayat Ibnu Syawdzab dari ketiga syaikh-nya.

Keempat, ‘Abdullah bin Al-Qaasim adalah seorang yang shaduuq. Mathr Al-Warraaq ini adalah shaduuq, namun banyak salahnya. Katsiir (bin Ziyaad) Abu Sahl ini adalah seorang yang tsiqah. Ketiganya meriwayatkan dari Taubah, dari Saalim, dari Ibnu ‘Umar secara marfuu’. Riwayat ketiganya saling menjadi saksi dengan yang lain, sehingga tidak ragu untuk mengatakan bahwa riwayat ini shahih.

Pernyataan ini kembali membuktikan ia tidak memahami atau tidak berniat mau memahami illat [cacat] yang kami sebutkan. Satu hal yang harus kami tekankan kembali disini, Ibnu Syawdzab menggabungkan ketiga sanad dari gurunya itu dalam satu sanad hadis bukannya membawakan sanad beserta matan hadis dari guru-gurunya secara terpisah. Pada pembahasan sebelumnya kami menunjukkan bahwa dalam penggabungan sanad seperti ini terdapat dua kemungkinan

  • Ibnu Syawdzab mendengar langsung dari ketiga Syaikhnya yaitu Abdullah bin Qasim, Mathr dan Katsir Abu Sahl dimana ketiganya memang menyebutkan lafaz “Iraq”.
  • Ibnu Syawdzab mendengar langsung dari ketiga syaikhnya dimana lafaz Iraq tersebut hanya berasal dari salah satu Syaikhnya sehingga disini Ibnu Syawdzab menggabungkan sanad hadis tersebut dan matan hadis yang berlafaz Iraq berasal dari salah satu syaikhnya.

Untuk kemungkinan pertama maka benarlah apa yang dikatakan oleh salafy itu bahwa ketiga syaikh-nya itu saling menjadi saksi dengan yang lain. Tetapi mengenai kemungkinan kedua maka itu tidak bisa, jika lafaz Iraq itu berasal dari Mathar Al Warraq maka sudah jelas dhaif.

Oleh karena itu, perkataan : Illat atau cacat yang ada pada riwayat Ibnu Syawdzab adalah tidak diketahui dari syaikhnya yang mana lafaz Iraq tersebut berasal; tidak perlu dihiraukan.

Silakan saja, sejak kapan salafy itu menghiraukan argumen orang lain. Pada pembahasan sebelumnya kami telah menunjukkan kepada pembaca contoh penggabungan sanad seperti ini, kami tidak keberatan untuk menyebutkannya kembali.

أخبرنا أبو عبد الله الحافظ ثنا أبو علي الحسين بن علي الحافظ أنا أبو يعلى الموصلي ثنا واصل بن عبد الأعلى و عبد الله بن عمر ثنا محمد بن فضيل عن أبيه قال سمعت سالم بن عبد الله بن عمر يقول : يا أهل العراق و ما أسألكم للصغيرة و أركبكم للكبيرة سمعت أبي عبد الله بن عمر يقول : رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول : إن الفتنة تجيء من ها هنا و أومأ بيده نحو المشرق من حيث يطلع قرنا الشيطان و انتم يضرب بعضكم رقاب بعض و إنما قتل موسى الذي قتل من آل فرعون خطا فقال الله عز و جل قتلت نفسا فنجيناك من الغم و فتناك فتونا

Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Abdullah Al Hafizh yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu ‘Ali Husain bin Ali Al Hafizh yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Ya’la Al Maushulli yang berkata telah menceritakan kepada kami Waashil bin ‘Abdul A’laa dan ‘Abdullah bin ‘Umar berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudlail, dari ayahnya yang berkata Aku mendengar Saalim bin ‘Abdillah bin ‘Umar berkata “Wahai penduduk ‘Iraaq, aku tidak bertanya tentang masalah kecil dan aku tidak mendorong kalian untuk masalah besar. Aku pernah mendengar ayahku, Abdullah bin ‘Umar berkata Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa salam bersabda ‘Sesungguhnya fitnah itu datang dari sini ia menunjukkan tangannya ke arah timur dari arah munculya dua tanduk setan’. Kalian saling menebas leher satu sama lain. Musaa hanya membunuh orang yang ia bunuh yang berasal dari keluarga Fir’aun itu karena tidak sengaja. Lalu Allah ‘azza wa jalla berfirman padanya ‘Dan kamu pernah membunuh seorang manusia, lalu kami selamatkan kamu dari kesusahan dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan.” (Thaahaa: 40)”. [Syu’aib Al Iman Baihaqi 4/346 no 5348].

Pada hadis riwayat Baihaqi ini disebutkan bahwa Abu Ya’la menggabungkan sanad kedua syaikh-nya yaitu Abdullah bin Umar bin Aban dan Washil bin ‘Abdul A’la dengan satu matan hadis. Padahal sebenarnya matan hadis Abdullah bin Umar bin Aban berbeda dengan matan hadis Washil bin Abdul A’la. Hadis riwayat Baihaqi di atas yang mengandung lafaz “wahai penduduk irak” adalah matan hadis Abdullah bin Umar bin Aban sedangkan matan hadis Washil bin Abdul A’la tidak ada lafaz “wahai penduduk irak”. Buktinya adalah apa yang tertera dalam Musnad Abu Ya’la

حدثنا واصل بن عبد الأعلى الكوفي حدثنا ابن فصيل عن ابيه عن سالم عن ابن عمر قال سمعت رسول الله  صلى الله عليه و سلم – يقول : إن الفتنة تجيء من ها هنا وأومأ بيده نحو المشرق حيث يطلع قرن الشيطان وأنتم يضرب بعضكم بعض رقاب بعض وإنما قتل موسى الذي قتل من آل فرعون خطأ قال الله له : { وقتلت نفسا فنجيناك من الغم وفتناك فتونا }

Telah menceritakan kepada kami Washil bin Abdul A’la Al Kufiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Fudhail dari ayahnya dari Salim dari Ibnu Umar yang berkata aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “‘Sesungguhnya fitnah itu datang dari sini ia menunjukkan tangannya ke arah timur dari arah munculya dua tanduk setan’. Kalian saling menebas leher satu sama lain. Musaa hanya membunuh orang yang ia bunuh yang berasal dari keluarga Fir’aun itu karena tidak sengaja. Lalu Allah ‘azza wa jalla berfirman padanya ‘Dan kamu pernah membunuh seorang manusia, lalu kami selamatkan kamu dari kesusahan dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan.” [Musnad Abu Ya’la 9/383 no 5511 dishahihkan oleh Husain Salim Asad]

حدثنا عبد الله بن عمر بن أبان حدثنا محمد فضيل عن أبيه قال : سمعت سالم بن عبد الله بن عمر يقول يا أهل العراق ما أسألكم عن الصغير وأترككم للكبير ! ! سمعت أبي عبد الله بن عمر يقول : سمعت رسول الله ـ صلى الله عليه و سلم ـ يقول : الفتنة تجيء من ها هنا ـ وأومأ بيده نحو المشرق ـ وأنتم يضرب بعضكم رقاب بعض وإنما قتل موسى ـ صلى الله عليه و سلم ـ الذي قتل من آل فرعون خطأ قال الله { وقتلت نفسا فنجيناك من الغم وفتناك فتونا }

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Umar bin Aban yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudhail dari ayahnya yang berkata aku mendengar Salim bin Abdullah bin Umar berkata “Wahai penduduk ‘Iraaq, aku tidak bertanya tentang masalah kecil dan aku tidak mendorong kalian untuk masalah besar. Aku pernah mendengar ayahku, Abdullah bin ‘Umar berkata Aku pernah mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa salam bersabda ‘Sesungguhnya fitnah itu datang dari sini ia menunjukkan tangannya ke arah timur dari arah munculya dua tanduk setan’. Kalian saling menebas leher satu sama lain. Musaa hanya membunuh orang yang ia bunuh yang berasal dari keluarga Fir’aun itu karena tidak sengaja. Lalu Allah ‘azza wa jalla berfirman padanya ‘Dan kamu pernah membunuh seorang manusia, lalu kami selamatkan kamu dari kesusahan dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan.” [Musnad Abu Ya’la 9/420 no 5570 dishahihkan oleh Husain Salim Asad]

Perhatikanlah riwayat Baihaqi sebelumnya, Abu Ya’la menggabungkan sanad hadis dimana ia mengambil hadis tersebut dari kedua syaikhnya yaitu Abdullah bin Umar bin Aban dan Washil bin Abdul A’la kemudian meriwayatkan dengan satu matan yang ada lafaz “wahai penduduk Iraq”. Lafaz ini berasal dari Abdullah bin Umar bin Aban sedangkan pada riwayat Washil bin Abdul A’la tidak ada lafaz tersebut. Ini contoh nyata kalau seorang perawi bisa saja menggabungkan sanad para syaikhnya dan membawakan matan salah satu syaikhnya saja. Seandainya ini seandainya lho, Abdullah bin Umar bin Aban ini dhaif maka lafaz tersebut “wahai penduduk Irak…” adalah dhaif. Tidak bisa dikatakan kalau Washil bin ‘Abdul A’la menjadi saksi atas lafaz tersebut karena matan hadis Washil tidak memuat lafaz yang dimaksud.

Kembali ke riwayat Ibnu Syawdzab dari ketiga syaikh-nya maka kami katakan tidak ada penjelasan dari Ibnu Syawdzab kalau lafaz tersebut milik syaikh-nya yang mana. Bisa saja memang dari ketiga syaikh-nya tetapi bisa saja dari salah satu syaikhnya. Poin kami disini kemungkinan dhaif itu ada apalagi Ibnu Syawdzab terbukti melakukan tadlis maka bisa saja disini lafaz matan itu milik Mathar Al Waraaq tetapi Ibnu Syawdzab menggabungkan sanadnya dengan syaikh-nya yang lain.

Anehnya, ada metode pilih-pilih perawi saat orang itu berkata : Terdapat kemungkinan kalau riwayat Ibnu Syawdzab dengan lafaz Iraq ini berasal dari Mathar bin Thahman Al Warraq dan disebutkan Ibnu Hajar kalau ia seorang yang shaduq tetapi banyak melakukan kesalahan [At Taqrib 2/187]. Mengapa harus Mathar bin Thahmaan ? Ya, karena ia adalah perawi yang paling mungkin untuk dijadikan alasan pendla’ifan. Padahal, sanad hadits itu satu, dimana Mathar ini diikuti (punya mutaba’ah) dari ‘Abdullah bin Al-Qaasim dan Katsiir bin Ziyaad Abu Sahl.

Lucu sekali salafy ini, kami telah panjang lebar menjelaskan dan jelas-jelas kami katakan disitu terdapat kemungkinan kalau lafaz tersebut berasal dari Mathar Al Warraq. Kami tidak berani memastikan tetapi kami menunjukkan kemungkinan ini apalagi telah kami kutip perkataan Abu Nu’aim

كذا رواه ضمرة عن ابن شوذب عن توبة  ورواه الوليد بن مزيد عن ابن شوذب عن مطر عن توبة

Begitulah riwayat Dhamrah dari Ibnu Syawdzab dari Taubah dan telah meriwayatkan Walid bin Mazyad dari Ibnu Syawdzab dari Mathar dari Tawbah [Hilyatul Auliya 6/133]

Perhatikan baik-baik disini Abu Nu’aim hanya menyebutkan Mathar padahal setelah itu ia menyebutkan hadis Ibnu Syawdzab dari ketiga syaikh-nya. Mengapa Abu Nu’aim hanya menyebutkan Mathar dalam komentarnya di atas?. Mengapa Abu Nu’aim tidak menyebutkan Abdullah bin Qasim dan Katsir Abu Sahl?. Abu Nu’aim pilih-pilih perawi?. Bagi kami disini terdapat isyarat kalau matan tersebut adalah milik Mathar Al Warraq. Kemungkinan dhaif yang kami paparkan disini menjadi illat [cacat] karena hadis ini bertentangan dengan hadis shahih kalau tempat keluarnya fitnah tersebut adalah Najd. Jadi pada awalnya kami menganggap hadis Iraq matannya mungkar sehingga kemungkinan dhaif atau illat yang seperti itu sudah cukup menjadi alasan kalau hadis tersebut tidak bisa dijadikan hujjah

.

.

.

Hadis Salim bin ‘Abdullah bin Umar

حدثنا عبدالله بن عمر بن أبان وواصل بن عبدالأعلى وأحمد بن عمر الوكيعي ( واللفظ لابن أبان ) قالوا حدثنا ابن فضيل عن أبيه قال سمعت سالم بن عبدالله بن عمر يقول يا أهل العراق ما أسألكم عن الصغيرة وأركبكم للكبيرة سمعت أبي عبدالله بن عمر يقول سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول إن الفتنة تجئ من ههنا وأومأ بيده نحو المشرق من حيث يطلع قرنا الشيطان وأنتم يضرب بعضكم رقاب بعض وإنما قتل موسى الذي قتل من آل فرعون خطأ فقال الله عز و جل له { وقتلت نفسا فنجيناك من الغم وفتناك فتونا } [ 20 / طه / 40 ] قال أحمد بن عمر في روايته عن سالم لم يقل سمعت

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin ‘Umar bin Abaan, Waashil bin ‘Abdul A’laa, dan Ahmad bin ‘Umar Al Wakii’iy [dan lafaznya adalah lafaz Ibnu Abaan] ketiganya berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Fudlail, dari ayahnya yang berkata Aku mendengar Saalim bin ‘Abdillah bin ‘Umar berkata “Wahai penduduk ‘Iraaq, aku tidak bertanya tentang masalah kecil dan aku tidak mendorong kalian untuk masalah besar. Aku pernah mendengar ayahku, Abdullah bin ‘Umar berkata Aku pernah mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa salam bersabda ‘Sesungguhnya fitnah itu datang dari sini ia menunjukkan tangannya ke arah timur dari arah munculya dua tanduk setan’. Kalian saling menebas leher satu sama lain. Musaa hanya membunuh orang yang ia bunuh yang berasal dari keluarga Fir’aun itu karena tidak sengaja. Lalu Allah ‘azza wa jalla berfirman padanya ‘Dan kamu pernah membunuh seorang manusia, lalu kami selamatkan kamu dari kesusahan dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan.” [Thaahaa: 40]”. Berkata Ahmad bin Umar dalam riwayatnya dari Salim tanpa mengatakan “aku mendengar” [Shahih Muslim 4/2228 no 2905].

Hadis ini shahih dan menunjukkan kalau Salim bin ‘Abdullah bin Umar sedang mengingatkan penduduk Iraq atas sikap mereka. Perhatikan baik-baik perkataan Salim terhadap penduduk Iraq hanya berupa kata-kata “Wahai penduduk ‘Iraaq, aku tidak bertanya tentang masalah kecil dan aku tidak mendorong kalian untuk masalah besar” selebihnya ia menyebutkan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang fitnah sampai akhir hadis. Jadi sangat wajar kalau kami katakan Salim sedang mengingatkan atas sikap penduduk Irak karena sikap mereka tersebut dapat menimbulkan fitnah.

Adapun perkataannya bahwa perkataan tabi’in tidak menjadi hujjah, maka ini bukan konteksnya. Konteks yang berlaku di sini adalah perkataan Saalim diterima dalam penafsiran hadits. Asal perkataan perawi terhadap hadits yang dibawakannya lebih didahulukan daripada selainnya. Ini yang ma’ruf.

Silakan saja, sebagai suatu penafsiran maka itu mengandung kemungkinan benar atau salah. Apalagi jika hadis yang dimaksud terkait dengan ramalan maka penafsiran Salim tidak bersifat mutlak. Kaidah perkataan perawi terhadap hadis yang dibawakannya lebih didahulukan jelas tidak relevan disini karena perkara yang ada dalam hadis Salim adalah Nubuwat atau ramalan, bisa jadi si perawi kurang memahami hadis tersebut karena dimasa ia hidup belum nampak nubuwatnya. Diketahui dari hadis shahih yang diriwayatkan oleh Salim sendiri bahwa arah timur yang dimaksud dalam hadis tanduk setan adalah arah matahari terbit sedangkan Irak tidak terletak pada arah matahari terbit dari Madinah. Berdasarkan fakta yang ada sekarang Irak terletak di arah timur laut yang lebih dekat ke utara dari Madinah. Sejak kapan matahari terbit dari arah ini di madinah. Silakan bagi siapa yang berminat untuk pergi ke Madinah dan lihat dimana arah matahari terbit disana, kemudian teruslah berjalan menelusuri arah itu. Apakah akan sampai di Irak? silakan pembaca menjawabnya sendiri.

Lagipula terdapat hadis lain riwayat Nafi dari Ibnu Umar kalau tempat yang dimaksud adalah Najd dan ini sesuai dengan hadis Salim bahwa tempat tersebut terletak pada arah matahari terbit dari Madinah. Jadi bisa saja Salim tidak mengetahui dengan tepat arah yang dimaksud [karena keterbatasan ilmu alam saat itu] dan bisa saja Salim tidak mengetahui hadis Najd yang diriwayatkan oleh Nafi’. Yang ia tahu adalah hadis dengan lafaz timur sehingga ia menafsirkan timur disini bisa termasuk Irak. Oleh karena itu kami katakan perkataan tabiin tidak menjadi hujjah disini karena yang menjadi hujjah adalah hadis shahih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Terakhir ada hadis pamungkas yang dijadikan hujjah oleh salafiyun bahwa timur yang dimaksud Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Iraq.

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا بن نمير ثنا حنظلة عن سالم بن عبد الله بن عمر عن بن عمر قال رأيت رسول الله صلى الله عليه و سلم يشير بيده يؤم العراق ها ان الفتنة ههنا ها ان الفتنة ههنا ثلاث مرات من حيث يطلع قرن الشيطان

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah telah menceritakan kepadaku ayahku [Ahmad bin Hanbal] yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair yang berkata telah menceritakan kepada kami Hanzalah dari Salim bin ‘Abdullah bin Umar dari Ibnu Umar yang berkata “aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengisyaratkan tangannya ke Iraq [dan bersabda] “fitnah datang dari sini, fitnah datang dari sini, tiga kali dari arah munculnya tanduk setan” [Musnad Ahmad 2/143 no 6302]

Hadis ini khata’ [salah] dan kesalahan ini kemungkinan berasal dari Ibnu Numair [atau bisa saja terjadi tashif]. Telah diriwayatkan dari Salim, Nafi dan Abdullah bin Dinar dari Ibnu Umar semuanya dengan lafaz timur dan telah diriwayatkan dari jama’ah tsiqat dari Salim hadis tersebut semuanya dengan lafaz “timur” bukan Iraq bahkan Hanzalah bin Abi Sufyan sendiri juga meriwayatkan dari Salim hadis dengan lafaz timur. Disebutkan dalam Shahih Muslim 4/2228 no 2905 dan Musnad Ahmad 2/40 no 4980 riwayat Ishaq bin Sulaiman dari Hanzalah bin Abi Sufyan dari Salim dari ayahnya secara marfu’ dengan lafaz timur

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا إسحاق بن سليمان سمعت حنظلة سمعت سالما يقول سمعت عبد الله بن عمر يقول رأيت رسول الله صلى الله عليه و سلم يشير إلى المشرق أو قال إن رسول الله صلى الله عليه و سلم يشير إلى المشرق يقول ها إن الفتنة ههنا ها إن الفتنة ههنا ها إن الفتنة ههنا من حيث يطلع الشيطان قرنيه

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Sulaiman yang berkata aku mendengar Hanzalah berkata aku mendengar Salim berkata aku mendengar Abdullah bin Umar berkata “aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengisyaratkan tangannya ke arah timur atau [Ibnu Umar] berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengisyaratkan tangannya ke arah timur dan bersabda “ fitnah datang dari sini, fitnah datang dari sini, fitnah datang dari sini dari arah munculnya tanduk setan” [Musnad Ahmad 2/40 no 4980]

Riwayat Ishaq bin Sulaiman Ar Razi dari Hanzalah ini sesuai dengan riwayat shahih yang lain dimana disebutkan dengan lafaz timur. Ishaq bin Sulaiman adalah seorang yang tsiqat dan memiliki keutamaan [At Taqrib 1/81] sedangkan Abdullah bin Numair adalah seorang yang tsiqat [At Taqrib 1/542]. Jadi riwayat Ishaq bin Sulaiman dari Hanzalah lebih didahulukan daripada riwayat Ibnu Numair.

Selain itu bukti kalau hadis ini khata’ adalah pada hadis Muslim dimana Salim mengingatkan penduduk Iraq, Salim sendiri tidak mengutip hadis ini padahal hadis ini mengandung lafaz Iraq. Salim malah membawakan hadis dengan lafaz timur yang menunjukkan bahwa lafaz timur itulah yang tsabit sedangkan lafaz Iraq adalah kesalahan dari perawinya. Bukankah kalau mau mengingatkan penduduk Irak maka digunakan hadis yang memang menunjukkan kata Irak. Ada baiknya salafy itu melihat hadis berikut

حدثنا موسى بن إسماعيل حدثنا جويرية، عن نافع، عن عبد الله رضي الله عنه قال قام النبي صلى الله عليه وسلم خطيبا، فأشار نحو مسكن عائشة، فقال هنا الفتنة – ثلاثا – من حيث يطلع قرن الشيطان

Telah menceritakan kepada kami Musa bin Ismail yang berkata telah menceritakan kepada kami Juwairiah dari Nafi’ dari ‘Abdullah radiallahu’anhu yang berkata Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri menyampaikan khutbah kemudian Beliau berisyarat menunjuk tempat tinggal Aisyah dan berkata “disini fitnah” tiga kali dari arah munculnya tanduk setan [Shahih Bukhari no 2937]

Hadis dengan lafaz seperti ini anehnya ditolak oleh para salafiyun dengan alasan telah diriwayatkan oleh jama’ah dengan lafaz timur dan itulah yang tsabit. Pada hadis ini dikatakan kalau yang sebenarnya ditunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah arah timur. Kalau tempat tinggal Aisyah yang sangat dekat itu saja bisa terjadi salah persepsi maka apalagi hadis dengan lafaz Iraq. Karena telah ma’ruf bahwa Iraq itu terletak sangat jauh dari Madinah. Jadi jika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengarahkan tangannya ke suatu arah maka yang dipersepsi oleh mereka yang melihat adalah arah seperti arah timur atau barat. Jika memang tempatnya dekat seperti rumah Aisyah ra, rumah Hafsah ra atau rumah salah satu sahabat ra maka mereka yang melihat dapat mengetahui bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memang menunjuk ke tempat tersebut. Tetapi jika tempat yang dimaksud adalah Iraq yang jauh sekali dari Madinah, bagaimana mungkin orang tahu kalau yang ditunjuk oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Iraq padahal dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak ada disebutkan Iraq, disinilah keanehan lafaz tersebut. Sudah jelas bahwa hadis-hadis shahih dari Ibnu Umar [termasuk riwayat Salim] menyebutkan kalau Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengisyaratkan tangannya ke arah timur dan timur yang dimaksud disini adalah arah matahari terbit arah munculnya tanduk setan dan sekali lagi Irak tidak terletak pada arah matahari terbit dari Madinah.

Soal pernyataan salafy bahwa para ulama terdahulu menjelaskan kalau tempat yang dimaksud adalah Irak maka kami katakan terdapat juga ulama yang mengatakan kalau tempat yang ada pada hadis fitnah itu adalah tepat di timur Madinah termasuk Najd. Kami sebelumnya sudah mengutip pernyataan Ibnu Hibban dimana ia setelah mengutip hadis tanduk setan menyebutkan kalau timur yang dimaksud adalah timur madinah yaitu bahrain tempat keluarnya Musailamah yang pertama kali membuat bid’ah di dalam islam dengan mengaku sebagai Nabi [Shahih Ibnu Hibban 15/24 no 6648]

.

.

.

Kesimpulan

Kesimpulannya hadis tanduk setan dengan lafaz Iraq tidaklah shahih baik dari segi matan maupun sanad, sebagiannya dhaif dan sebagian mengandung illat. Seandainya kita menutup mata terhadap illat [cacat] tersebut, itu tetap saja tidak mendukung hujjah salafy. Karena itu berarti ada dua hadis yang menunjukkan tempat munculnya fitnah yaitu Najd dan Irak. Jika kedua hadis tersebut diterima maka ada dua tempat dimana munculnya fitnah yang dimaksud oleh hadis tersebut yaitu Najd dan Irak. Sedangkan logika salafy kalau Najd adalah Irak sudah jelas fallacy. Adakah salafy memahami hal ini? Tidak tidak dan tidak, sejak kapan salafy bisa memahami logika berpikir yang baik. Kebanyakan mereka hanya sibuk membaca kitab dan sibuk membantah disana-sini tapi cara berpikir benar tidak dipelajari dengan baik. Akibatnya sangat susah berdialog dengan mereka yang ngaku-ngaku salafy, sudah ditunjukkan kalau mereka fallacy ya tetap tidak paham dan berulang-ulang mereka membantah kembali hal yang sama. Salam Damai

sumber tulisan ini dari web http://www.secondprince.wordpress.com

Analisis Hadis Tanduk Setan : Najd Bukan Iraq

Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan sebelumnya, yang akan membahas lebih rinci bahwa tempat yang dimaksud dalam hadis tersebut adalah Najd bukan Iraq. Tulisan ini juga akan membahas lebih rinci mengenai hadis Iraq yang sering dijadikan hujjah oleh salafiyun.

وحدثني حرملة بن يحيى أخبرنا ابن وهب أخبرني يونس عن ابن شهاب عن سالم بن عبدالله عن أبيه أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال وهو مستقبل المشرق ها إن الفتنة ههنا ها إن الفتنة ههنا ها إن الفتنة ههنا من حيث يطلع قرن الشيطان

Telah menceritakan kepadaku Harmalah bin Yahya yang berkata telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb yang berkata telah mengabarkan kepadaku Yunus dari Ibnu Syihab dari Salim bin ‘Abdullah dari ayahnya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata dan Beliau menghadap kearah timur “fitnah datang dari sini, fitnah datang dari sini, fitnah datang dari sini, dari arah munculnya tanduk setan” [Shahih Muslim 4/2228 no 2905]

Hadis ini juga diriwayatkan dalam Shahih Bukhari 4/181 no 3511 dan Sunan Tirmidzi 4/530 no 2268 dengan jalan dari Ibnu Syihab Az Zuhri dari Salim dari ayahnya secara marfu’. Az Zuhri memiliki mutaba’ah yaitu Hanzalah bin ‘Abi Sufyan sebagaimana yang disebutkan dalam Shahih Muslim 4/2228 no 2905 dan Musnad Ahmad 2/40 no 2980 dengan jalan dari Ishaq bin Sulaiman dari Hanzalah dari Salim dari ayahnya secara marfu’.

Kemudian Az Zuhri juga memiliki mutaba’ah dari Fudhail bin Ghazwan dari Salim dari ayahnya secara marfu’ sebagaimana yang disebutkan dalam Musnad Abu Ya’la 9/383 no 5511 dengan sanad yang shahih. Dan dari Ikrimah bin ‘Ammar dari Salim dari ayahnya Ibnu Umar secara marfu’ sebagaimana yang disebutkan dalam Shahih Muslim 4/2228 no 2905. Dan dari Umar bin Muhammad bin Zaid Al Madini dari Salim dari ayahnya secara marfu’ sebagaimana yang disebutkan dalam Musnad Abdu bin Humaid 1/241 no 739 dengan sanad yang shahih. Az Zuhri, Ikrimah bin ‘Ammar, Hanzalah, Fudhail dan Umar bin Muhammad semuanya meriwayatkan dari Salim dari Ibnu Umar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan lafaz bahwa fitnah tersebut datang dari Timur.

Salim bin ‘Abdullah bin Umar memiliki mutaba’aah dari Nafi’ dan ‘Abdullah bin Dinar. Diriwayatkan dari Nafi’ dari Ibnu Umar secara marfu’ sebagaimana yang disebutkan dalam Shahih Muslim 4/2228 no 2905, Musnad Ahmad 2/18 no 4679 dan Musnad Ahmad 2/91 no 5659.

حدثنا قتيبة بن سعيد حدثنا ليث ح وحدثني محمد بن رمح أخبرنا الليث عن نافع عن ابن عمر أنه سمع رسول الله صلى الله عليه و سلم وهو مستقبل المشرق يقول ألا إن الفتنة ههنا ألا إن الفتنة ههنا من حيث يطلع قرن الشيطان

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id yang berkata menceritakan kepada kami Laits. Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Rumh yang berkata telah mengabarkan kepada kami Laits dari Nafi’ dari Ibnu Umar yang mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan Beliau menghadap ke Timur seraya bersabda “dari sini fitnah, dari sini fitnah dari arah munculnya tanduk setan” [Shahih Muslim 4/2228 no 2905]

Diriwayatkan dari Malik dari ‘Abdullah bin Dinar dari Ibnu Umar secara marfu’ sebagaimana yang disebutkan dalam Al Muwatta 2/975 no 1757, Musnad Ahmad 2/73 no 5428, Shahih Ibnu Hibban 15/24 no 6648 dan Shahih Bukhari 4/123 no 3279

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ عَنْ مَالِكٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُشِيرُ إِلَى الْمَشْرِقِ فَقَالَ هَا إِنَّ الْفِتْنَةَ هَا هُنَا إِنَّ الْفِتْنَةَ هَا هُنَا مِنْ حَيْثُ يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Maslamah dari Malik dari ‘Abdullah bin Dinar dari ‘Abdullah bin Umar radiallahu ‘anhuma yang berkata aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengisyaratkan tangannya ke timur dan berkata “fitnah akan datang dari sini, fitnah akan datang dari sini dari arah munculnya tanduk setan” [Shahih Bukhari 4/123 no 3279]

Sebagaimana yang terlihat Salim bin ‘Abdullah, Nafi’ dan Abdullah bin Dinar semuanya meriwayatkan dari Ibnu Umar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan lafaz bahwa fitnah tersebut datang dari timur dari arah munculnya tanduk setan. Secara zahir jelas arah yang dimaksud adalah tepat arah timur Madinah yaitu arah matahari terbit karena dari arah itulah munculnya tanduk setan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda

قال صل صلاة الصبح ثم أقصر عن الصلاة حتى تطلع الشمس حتى ترتفع فإنها تطلع حين تطلع بين قرني شيطان

[Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “kerjakanlah shalat shubuh kemudian tahanlah dari mengerjakan shalat hingga matahari terbit sampai tinggi karena matahari terbit diantara dua tanduk setan. [Shahih Muslim 1/569 no 832]

Hal ini juga selaras dengan hadis shahih yang menyebutkan kalau Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menghadap kearah matahari terbit seraya mengucapkan “fitnah datang dari sini”. Hadis tersebut telah diriwayatkan dengan jalan yang shahih dari Uqbah bin Abi Shahba’ dari Salim dari ayahnya secara marfu’ sebagaimana yang disebutkan dalam Musnad Ahmad 2/72 no 5410

حدثنا عبد الله ثنا أبي ثنا أبو سعيد مولى بنى هاشم ثنا عقبة بن أبي الصهباء ثنا سالم عن عبد الله بن عمر قال صلى رسول الله صلى الله عليه و سلم الفجر ثم سلم فاستقبل مطلع الشمس فقال ألا ان الفتنة ههنا ألا ان الفتنة ههنا حيث يطلع قرن الشيطان

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang menceritakan kepada kami ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id mawla bani hasyim yang berkata telah menceritakan kepada kami Uqbah bin Abi Shahba’ yang berkata telah menceritakan kepada kami Salim dari ‘Abdullah bin Umar yang berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengerjakan shalat fajar kemudian mengucapkan salam dan menghadap kearah matahari terbit seraya bersabda “fitnah datang dari sini, fitnah datang dari sini dari arah munculnya tanduk setan” [Musnad Ahmad 2/72 no 5410]

Hadis ini sanadnya shahih. Telah diriwayatkan oleh para perawi yang tsiqat [terpercaya]. Abu Sa’id mawla bani hasyim adalah Abdurrahman bin ‘Abdullah bin Ubaid Al Bashri. Ahmad bin Hanbal, Ibnu Ma’in, Ath Thabrani, Al Baghawi, Daruquthni dan Ibnu Syahin menyatakan tsiqat [At Tahdzib juz 6 no 429]. Adz Dzahabi menyatakan ia seorang yang hafizh dan tsiqat [Al Kasyf no 3238]. Uqbah bin Abi Shahba’ telah dinyatakan Ahmad bin Hanbal sebagai seorang syaikh yang shalih. Ibnu Ma’in menyatakan ia tsiqat dan Abu Hatim berkata “tempat kejujuran” [Al Jarh Wat Ta’dil 6/312 no 1738]. Hadis ini dengan jelas menyebutkan kalau arah yang dimaksud adalah arah timur yaitu arah matahari terbit.

.

.

.

Hadis Dengan Lafaz Najd

Kemudian telah disebutkan dengan sanad yang shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kalau tempat yang dimaksud adalah Najd. Diriwayatkan dari Husain bin Hasan dari Ibnu ‘Aun dari Nafi dari Ibnu Umar secara marfu’ [Shahih Bukhari 2/33 no 1037] dan dari Azhar bin Sa’d dari Ibnu ‘Aun dari Nafi’ dari Ibnu Umar secara marfu’ [Shahih Bukhari 9/54 no 7094]

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى قَالَ حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ الْحَسَنِ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ عَوْنٍ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا وَفِي يَمَنِنَا قَالَ قَالُوا وَفِي نَجْدِنَا قَالَ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا وَفِي يَمَنِنَا قَالَ قَالُوا وَفِي نَجْدِنَا قَالَ قَالَ هُنَاكَ الزَّلَازِلُ وَالْفِتَنُ وَبِهَا يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna yang berkata telah menceritakan kepada kami Husain bin Hasan yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Aun dari Nafi’ dari Ibnu Umar yang berkata [Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “Ya Allah berilah keberkatan kepada kami, pada Syam kami dan pada Yaman kami”. Para sahabat berkata “dan juga Najd kami?”. Beliau bersabda “disana muncul kegoncangan dan fitnah, dan disanalah muncul tanduk setan” [Shahih Bukhari 2/33 no 1037]

Hadis ini menjelaskan kalau tempat munculnya fitnah yang dimaksud adalah Najd dan Najd memang terletak tepat di timur Madinah pada arah matahari terbit dari Madinah. Najd yang dimaksud dalam hadis ini adalah Najd yang memang sudah ada pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Disebutkan dalam salah satu hadis shahih bahwa Yamamah termasuk Najd dan penduduknya dari bani hanifah termasuk penduduk Najd.

أخبرنا قتيبة حدثنا الليث عن سعيد بن أبي سعيد أنه سمع أبا هريرة يقول بعث رسول الله صلى الله عليه وسلم خيلا قبل نجد فجاءت برجل من بني حنيفة يقال له ثمامة بن آثال سيد أهل اليمامة فربط بسارية من سواري المسجد مختصر

Telah mengabarkan kepada kami Qutaibah yang berkata telah menceritakan kepada kami Laits dari Sa’id bin Abi Sa’id yang mendengar Abu Hurairah berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus pasukan berkuda ke Najd kemudian pasukan ini datang dengan membawa seorang laki-laki dari Bani Hanifah yang bernama Tsumamah bin Utsal pemimpin penduduk Yamamah kemudian diikat di salang satu tiang masjid, demikian secara ringkas. [Shahih Sunan Nasa’i Syaikh Al Albani no 712]

Salafy merasa sangat keberatan kalau Najd yang dimaksud dalam hadis tanduk setan tersebut adalah Najd yang terletak tepat di timur Madinah. Salafy melakukan pembelaan dengan mencatut hadis-hadis yang menunjukkan bahwa tempat yang dimaksud adalah Iraq. Secara zahir, Iraq tidak terletak di arah timur Madinah. Iraq tidak terletak di arah matahari terbit dari Madinah. Dari Madinah, Iraq terletak di arah timur laut yang lebih dekat ke utara. Jadi dari segi matan sudah jelas hadis Iraq bermatan mungkar karena bertentangan dengan dalil shahih dan fakta yang ada.

Salafy berapologi kalau Iraq juga termasuk timur Madinah karena pada zaman dulu orang arab tidak mengenal arah timur laut yang ada pada zaman dulu hanya arah timur dan barat. Pernyataan ini jelas tidak bisa dijadikan hujjah karena telah disebutkan dalam dalil yang shahih bahwa arah timur yang dimaksud adalah arah matahari terbit dan telah disebutkan dalam dalil shahih bahwa arah munculnya tanduk setan adalah pada arah matahari terbit. Arah matahari terbit adalah tepat di arah timur dan Iraq tidak terletak di arah ini dari Madinah.

Selain itu tidak jarang salafy mencatut para ulama seperti Al Khattabi, Al Kirmany dan Syaikh Mahmud Syukri Al Alusy. Kami katakan pendapat ulama tidak menjadi hujjah jika bertentangan dengan dalil yang shahih. Ditambah lagi terdapat ulama yang justru menyatakan bahwa arah timur yang dimaksud terletak tepat di timur Madinah, Ibnu Hibban setelah mengutip hadis tanduk setan tersebut menyebutkan kalau timur yang dimaksud adalah timur madinah yaitu bahrain tempat keluarnya Musailamah yang pertama kali membuat bid’ah di dalam islam dengan mengaku sebagai Nabi [Shahih Ibnu Hibban 15/24 no 6648]. Tidak diragukan lagi tempat keluarnya Musailamah ini adalah Najd dan ia sendiri termasuk penduduk Najd.

.

.

.

Hadis Dengan Lafaz Iraq

Selain memiliki matan yang mungkar, hadis-hadis yang dijadikan hujjah oleh salafy tersebut tidaklah shahih dan mengandung illat [cacat] pada sanadnya. Berikut adalah hadis-hadis yang dijadikan hujjah oleh salafy.

حدثنا الحسن بن علي المعمري ثنا إسماعيل بن مسعود ثنا عبيد الله بن عبد الله بن عون عن أبيه عن نافع عن ابن عمر أن النبي صلى الله عليه وسلم قال اللهم بارك لنا في شامنا، اللهم بارك في يمننا، فقالها مراراً، فلما كان في الثالثة أو الرابعة، قالوا يا رسول الله! وفي عراقنا؟ قال إنّ بها الزلازل والفتن، وبها يطلع قرن الشيطان

Telah menceritakan kepada kami Hasan bin Ali Al-Ma’mariy yang berkata telah menceritakan kepada kami Ismaail bin Mas’ud yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidullah bin ‘Abdillah bin ‘Aun dari ayahnya, dari Naafi’ dari Ibnu ‘Umar bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Ya Allah, berikanlah keberkatan kepada kami pada Syaam kami dan pada Yamaan kami”. Beliau [shallallaahu ‘alaihi wa sallam ] mengatakannya beberapa kali. Ketika beliau mengatakan yang ketiga kali atau yang keempat, para shahabat berkata “Wahai Rasulullah, dan juga Iraq kami?”. Beliau bersabda  “Sesungguhnya di sana terdapat kegoncangan dan fitnah, dan disanalah akan muncul tanduk setan” [Mu’jam Al Kabiir Ath Thabrani 12/384 no 13422].

Hadis ini tidak shahih. Hadis ini mengandung illat [cacat] Ubaidillah bin Abdullah bin ‘Aun dalam periwayatan dari Ibnu ‘Aun telah menyelisihi para perawi tsiqat yaitu Husain bin Hasan [At Taqrib 1/214] dan ‘Azhar bin Sa’d [At Taqrib 1/74]. Kedua perawi tsiqat ini menyebutkan lafaz Najd sedangkan Ubaidillah bin Abdullah bin ‘Aun menyebutkan lafaz Iraq. Ubaidillah bukan seorang yang tsiqat, Bukhari berkata “dikenal hadisnya” [Tarikh Al Kabir juz 5 no 1247], Abu Hatim berkata “shalih al hadits” [Al Jarh Wat Ta’dil 5/322 no 1531] dimana perkataan shalih al hadits dari Abu Hatim berarti hadisnya dapat dijadikan i’tibar tetapi tidak bisa dijadikan hujjah. Jika perawi seperti Ubadilillah ini menyelisihi perawi yang tsiqat maka hadisnya tidak dapat dijadikan hujjah dan mesti ditolak.

Pernyataan bahwa hadis Ubadilillah tidak bertentangan melainkan menafsirkan hadis Najd sehingga Najd yang dimaksud adalah Iraq merupakan pernyataan yang bathil. Najd adalah Najd sedangkan Iraq adalah Iraq. Najd yang dimaksud dalam hadis tanduk setan adalah nama suatu negeri yang memang sudah ada di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, oleh karena itu para sahabat menyebutnya “Najd kami”. Lihat saja matan hadisnya yang dengan jelas menyebutkan Negeri Syam dan Yaman kemudian sahabat bertanya bagaimana dengan Najd kami, jadi Najd disini adalah nama suatu negeri. Pada zaman itu tidak ada yang menyebut Iraq sebagai Najd bahkan telah terbukti dengan dalil shahih bahwa Najd dan Iraq adalah dua tempat yang berbeda. Jadi menyatakan Najd adalah Iraq jelas tidak berdasar sama sekali.

حدثنا علي بن سعيد قال نا حماد بن إسماعيل بن علية قال نا ابي قال نا زياد بن بيان قال نا سالم بن عبد الله بن عمر عن ابيه قال صلى النبي صلى الله عليه و سلم صلاة الفجر ثم انفتل فأقبل على  القوم فقال اللهم بارك لنا في مدينتنا وبارك لنا في مدنا وصاعنا اللهم بارك لنا في شامنا ويمننا فقال رجل والعراق يا رسول الله فسكت ثم قال اللهم بارك لنا في مدينتنا وبارك لنا في مدنا وصاعنا اللهم بارك لنا في حرمنا وبارك لنا في شامنا ويمننا فقال رجل والعراق يا رسول الله قال من ثم يطلع قرن الشيطان وتهيج الفتن

Telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin Sa’id yang berkata telah menceritkankepada kami Hammaad bin Ismaa’iil bin ‘Ulayyah yang berkata telah menceritakan kepada kami ayahku yang berkata telah mencertakan kepada kami Ziyaad bin Bayaan yangberkata telah menceritakan kepada kami Saalim bin ‘Abdillah bin ‘Umar dari ayahnya yang berkata Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat shubuh, kemudian berdoa, lalu menghadap kepada orang-orang. Beliau bersabda “Ya Allah berikanlah keberkatan kepada kami pada Madinah kami berikanlah keberkatan kepada kami pada mudd dan shaa’ kami. Ya Allah, berikanlah keberkatan kepada kami pada Syaam kami dan Yaman kami”. Seorang laki-laki berkata “dan ‘Iraq, wahai Rasulullah ?”. Beliau diam, lalu bersabda “Ya Allah berikanlah keberkatan kepada kami pada Madinah kami berikanlah keberkatan kepada kami pada mudd dan shaa’ kami. Ya Allah, berikanlah keberkatan kepada kami pada tanah Haram kami, dan berikanlah keberkatan kepada kami pada Syaam kami dan Yaman kami”. Seorang laki-laki berkata “dan ‘Iraq, wahai Rasulullah ?”. Beliau bersabda “dari sana akan muncul tanduk setan dan bermunculan fitnah” [Mu'jam Al Awsath Ath Thabraani 4/245 no 4098].

Hadis ini tidak shahih. Hadis ini juga mengandung illat [cacat]. Ziyaad bin Bayaan dikatakan oleh Adz Dzahabi “tidak shahih hadisnya”. Bukhari berkata “dalam sanad hadisnya perlu diteliti kembali” [Al Mizan juz 2 no 2927] ia telah dimasukkan Adz Dzahabi dalam kitabnya Mughni Ad Dhu’afa no 2222 Al Uqaili juga memasukkannya ke dalam Adh Dhu’afa Al Kabir 2/75-76 no 522. Perawi dengan kedudukan seperti ini tidak bisa dijadikan hujjah apalagi jika ia meriwayatkan kabar yang menyelisihi kabar shahih kalau daerah yang dimaksud adalah Najd bukan Iraq sebagaimana yang diriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Nafi’.

حدثنا محمد بن عبد العزيز الرملي حدثنا ضمرة بن ربيعة عن ابن شوذب عن توبة العنبري عن سالم عن ابن عمر قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم اللهم بارك لنا في مدينتنا وفي صاعنا، وفي مدِّنا وفي يمننا وفي شامنا. فقال الرجل يا رسول الله وفي عراقنا ؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم بها الزلازل والفتن، ومنها يطلع قرن الشيطان

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdul Aziiz Ar Ramliy yang berkata telah menceritakan kepada kami Dhamrah bin Rabi’ah dari Ibnu Syaudzab dari Taubah Al Anbariy dari Salim dari Ibnu ‘Umar yang berkata Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Ya Allah berikanlah keberkatan kepada kami pada Madinah kami, pada shaa’ kami, pada mudd kami, pada Yaman kami, dan pada Syaam kami”. Seorang laki-laki berkata “Wahai Rasulullah, dan pada ‘Iraaq kami ?”. Beliau menjawab “di sana terdapat kegoncangan dan fitnah dan di sana pula akan muncul tanduk setan” [ Ma’rifah Wal Tarikh Yaqub Al Fasawiy 2/746-747]

Pada tulisan sebelumnya kami menganggap tidak ada masalah pada sanad hadis ini kecuali Taubah Al Anbary yang dikenal tsiqat tetapi dinyatakan mungkar al hadits oleh Al Azdy. Setelah kami teliti kembali ternyata hadis ini juga mengandung illat [cacat] yaitu Ibnu Syaudzab tidak mendengar hadis ini dari Taubah Al Anbary, ia melakukan tadlis yaitu menghilangkan nama gurunya yang meriwayatkan dari Taubah Al Anbary.

Hadis dengan matan seperti di atas diriwayatkan juga dari Walid bin Mazyad Al Udzriy Al Bayruuti dari Abdullah bin Syaudzaab dari Abdullah bin Qasim, Mathr, Katsir Abu Sahl dari Taubah Al Anbary dari Salim dari ayahnya secara marfu’ sebagaimana yang disebutkan oleh Al Fasawi dalam Ma’rifat Wal Tarikh 2/747, Ath Thabrani dalam Musnad Asy Syamiyyin 2/246 no 1276, Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq 1/130-131 dan Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya 6/133.

حدثنا عبد الله بن العباس بن الوليد بن مزيد البيروتي حدثني أبي أخبرني أبي حدثني عبد الله بن شوذب حدثني عبد الله بن القاسم ومطر الوراق وكثير أبو سهل عن توبة العنبري عن سالم بن عبد الله بن عمر عن أبيه أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال اللهم بارك في مكتنا وبارك لنا في مدينتنا وبارك لنا في شامنا وبارك لنا في يمننا اللهم بارك لنا في صاعنا وبارك لنا في مدنا فقال رجل يا رسول الله وعراقنا فأعرض عنه فرددها ثلاثا وكان ذلك الرجل يقول وعراقنا فيعرض عنه ثم قال بها الزلازل والفتن وفيها يطلع قرن الشيطان

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin ‘Abbas bin Walid bin Mazyad Al Bayruutiy yang berkata telah menceritakan kepadaku ayahku yang berkata telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Syawdzab yang berkata telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Qasim, Mathr Al Waraaq dan Katsir Abu Sahl dari Taubah Al Anbariy dari Salim bin Abdullah bin Umar dari ayahnya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “Ya Allah berikanlah keberkatan kepada Mekkah kami, dan berikanlah keberkatan kepada kami pada Madinah kami, pada shaa’ kami, pada mudd kami, pada Yaman kami, dan pada Syaam kami”. Seorang laki-laki berkata “Wahai Rasulullah, dan pada ‘Iraaq kami ?”. Beliau menjawab “di sana terdapat kegoncangan dan fitnah dan di sana pula akan muncul tanduk setan” [Musnad Asy Syamiyyin Thabrani 2/246 no 1276]

Dengan mengumpulkan semua hadis riwayat Ibnu Syaudzab maka diketahui kalau Ibnu Syaudzab terbukti melakukan tadlis. Riwayatnya dari Taubah Al Anbary dengan ‘an ‘anah ternyata ia dengar dari Syaikhnya Abdullah bin Qasim, Mathr dan Katsir Abu Sahl. Ada sedikit perbedaan lafaz antara riwayat Ibnu Syawdzab dari Taubah Al Anbary dan riwayat Ibnu Syawdzab dari ketiga syaikhnya dari Taubah Al Anbary yaitu pada riwayat dimana Ibnu Syawdzab menyebutkan mendengar langsung dari Syaikhnya terdapat lafaz “ya Allah berilah keberkatan pada Mekkah kami” sedangkan pada riwayat an ‘an ah Ibnu Syaudzab dari Taubah Al Anbary tidak terdapat lafaz tersebut.

Illat atau cacat yang ada pada riwayat Ibnu Syawdzab adalah tidak diketahui dari syaikhnya yang mana lafaz Iraq tersebut berasal. Disini terdapat kemungkinan

  • Ibnu Syawdzab mendengar langsung dari ketiga Syaikhnya yaitu Abdullah bin Qasim, Mathr dan Katsir Abu Sahl dimana ketiganya memang menyebutkan lafaz “Iraq”.
  • Ibnu Syawdzab mendengar langsung dari ketiga syaikhnya dimana lafaz Iraq tersebut hanya berasal dari salah satu Syaikhnya sehingga disini Ibnu Syawdzab menggabungkan sanad hadis tersebut dan matan hadis yang berlafaz Iraq berasal dari salah satu syaikhnya.

Terdapat kemungkinan kalau riwayat Ibnu Syawdzab dengan lafaz Iraq ini berasal dari Mathar bin Thahman Al Warraq dan disebutkan Ibnu Hajar kalau ia seorang yang shaduq tetapi banyak melakukan kesalahan [At Taqrib 2/187]. Abu Nu’aim ketika membawakan riwayat Ibnu Syawdzab dari Taubah Al Anbary, ia berkata

كذا رواه ضمرة عن ابن شوذب عن توبة  ورواه الوليد بن مزيد عن ابن شوذب عن مطر عن توبة

Begitulah riwayat Dhamrah dari Ibnu Syawdzab dari Taubah dan telah meriwayatkan Walid bin Mazyad dari Ibnu Syawdzab dari Mathr dari Tawbah [Hilyatul Auliya 6/133]

Setelah itu Abu Nu’aim mengutip riwayat Ibnu Syawdzab dari ketiga syaikhnya di atas. Jadi kemungkinan besar lafaz Iraq pada hadis ini berasal dari Mathr bin Thahman. Dan telah ditunjukkan bahwa riwayat yang tsabit sanadnya adalah riwayat shahih dari Nafi’ dengan lafaz Najd. Oleh karena itu matan hadis ini mungkar lafaz yang benar hadis ini adalah Najd dan lafaz Iraq kemungkinan berasal dari kesalahan perawinya yaitu Mathr bin Thahman syaikhnya Ibnu Syawdzab.

.

.

.

Peringatan Salim Terhadap Penduduk Iraq

Ada hadis lain yang dijadikan hujjah salafy untuk menyatakan kalau tempat tanduk setan yang dimaksud adalah Iraq yaitu hadis Salim bin Abdullah bin Umar berikut

حدثنا عبدالله بن عمر بن أبان وواصل بن عبدالأعلى وأحمد بن عمر الوكيعي ( واللفظ لابن أبان ) قالوا حدثنا ابن فضيل عن أبيه قال سمعت سالم بن عبدالله بن عمر يقول يا أهل العراق ما أسألكم عن الصغيرة وأركبكم للكبيرة سمعت أبي عبدالله بن عمر يقول سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول إن الفتنة تجئ من ههنا وأومأ بيده نحو المشرق من حيث يطلع قرنا الشيطان وأنتم يضرب بعضكم رقاب بعض وإنما قتل موسى الذي قتل من آل فرعون خطأ فقال الله عز و جل له { وقتلت نفسا فنجيناك من الغم وفتناك فتونا } [ 20 / طه / 40 ] قال أحمد بن عمر في روايته عن سالم لم يقل سمعت

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin ‘Umar bin Abaan, Waashil bin ‘Abdul A’laa, dan Ahmad bin ‘Umar Al Wakii’iy [dan lafaznya adalah lafaz Ibnu Abaan] ketiganya berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Fudlail, dari ayahnya yang berkata Aku mendengar Saalim bin ‘Abdillah bin ‘Umar berkata “Wahai penduduk ‘Iraaq, aku tidak bertanya tentang masalah kecil dan aku tidak mendorong kalian untuk masalah besar. Aku pernah mendengar ayahku, Abdullah bin ‘Umar berkata Aku pernah mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa salam bersabda ‘Sesungguhnya fitnah itu datang dari sini ia menunjukkan tangannya ke arah timur dari arah munculya dua tanduk setan’. Kalian saling menebas leher satu sama lain. Musaa hanya membunuh orang yang ia bunuh yang berasal dari keluarga Fir’aun itu karena tidak sengaja. Lalu Allah ‘azza wa jalla berfirman padanya ‘Dan kamu pernah membunuh seorang manusia, lalu kami selamatkan kamu dari kesusahan dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan.” [Thaahaa: 40]”. Berkata Ahmad bin Umar dalam riwayatnya dari Salim tanpa mengatakan “aku mendengar”[Shahih Muslim 4/2228 no 2905].

Jika dilihat baik-baik tidak ada penunjukkan bahwa timur yang dimaksud oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Iraq. Disini Salim bin Abdullah bin Umar mengingatkan penduduk Iraq bahwa terdapat hadis Nabi akan ada fitnah yang datang dari arah timur.  Oleh karena itu Salim memberi peringatan kepada penduduk Iraq agar mereka tidak menjadi fitnah yang dimaksud dalam hadis tersebut. Telah lazim kalau mengingatkan seseorang bukan berarti menuduh orang tersebut. Lagipula perkataan seorang tabiin tidaklah menjadi hujjah jika telah jelas dalil shahih dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Bisa jadi Salim tidak mengetahui hadis shahih dari Ibnu Umar kalau tempat yang dimaksud adalah Najd sebagaimana yang telah diriwayatkan dari Nafi’.

Hadis ini juga menjadi bukti kelemahan hadis Ibnu Syawdzab dari Taubah Al Anbary. Perhatikanlah hadis riwayat Muslim tersebut ia menggabungkan sanad hadis dimana ia mengambil hadis tersebut dari ketiga syaikhnya yaitu Abdullah bin Umar bin Aban, Washil bin Abdul A’la dan Ahmad bin Umar. kemudian meriwayatkan dengan satu matan yang ada lafaz “wahai penduduk Iraq”.Lafaz ini berasal dari Abdullah bin Umar bin Aban sedangkan pada riwayat Washil bin Abdul A’la tidak ada lafaz tersebut.

حدثنا واصل بن عبد الأعلى الكوفي حدثنا ابن فصيل عن ابيه عن سالم عن ابن عمر قال سمعت رسول الله  صلى الله عليه و سلم – يقول : إن الفتنة تجيء من ها هنا وأومأ بيده نحو المشرق حيث يطلع قرن الشيطان وأنتم يضرب بعضكم بعض رقاب بعض وإنما قتل موسى الذي قتل من آل فرعون خطأ قال الله له : { وقتلت نفسا فنجيناك من الغم وفتناك فتونا }

Telah menceritakan kepada kami Washil bin Abdul A’la Al Kufiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Fudhail dari ayahnya dari Salim dari Ibnu Umar yang berkata aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “‘Sesungguhnya fitnah itu datang dari sini ia menunjukkan tangannya ke arah timur dari arah munculya dua tanduk setan’. Kalian saling menebas leher satu sama lain. Musaa hanya membunuh orang yang ia bunuh yang berasal dari keluarga Fir’aun itu karena tidak sengaja. Lalu Allah ‘azza wa jalla berfirman padanya ‘Dan kamu pernah membunuh seorang manusia, lalu kami selamatkan kamu dari kesusahan dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan.” [Musnad Abu Ya’la 9/383 no 5511 dishahihkan oleh Husain Salim Asad]

Jadi perkara perawi menggabungkan sanad para syaikh-nya dengan mengambil satu matan saja dari salah satu syaikh-nya adalah perkara yang ma’ruf dalam ilmu hadis. Jika semua syaikh-nya itu perawi yang tsiqat tsabit maka tidak ada masalah tetapi jika salah satu syaikh-nya dhaif atau banyak melakukan kesalahan maka lafaz matan tersebut mengandung kemungkinan dhaif. Inilah illat [cacat] yang ada pada riwayat Ibnu Syawdzab.

Selain itu bukti kalau hadis dengan lafaz Iraq [riwayat Ibnu Syawdzab] tidak tsabit sampai ke Salim bin ‘Abdullah dapat dilihat dalam hadis Muslim di atas dimana ketika Salim mengingatkan penduduk Iraq, ia malah membawakan hadis tanduk setan dengan lafaz timur. Kalau memang terdapat hadis tanduk setan dengan lafaz Iraq maka mengapa pada saat itu Salim bin Abdullah bin Umar tidak menyebutkan hadis itu, ia malah menyebutkan hadis tanduk setan dengan lafaz timur. Bukankah sangat cocok kalau mau mengingatkan penduduk Iraq dengan hadis yang memang mengandung lafaz Iraq?. Jadi Salim sendiri tidak mengetahui adanya hadis tanduk setan dengan lafaz Iraq sehingga ketika ia mengingatkan penduduk Iraq, ia malah mengutip hadis tanduk setan dengan lafaz timur.

.

.

.

Kesimpulan

Berdasarkan penjelasan di atas maka tempat yang dimaksud oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai tempat munculnya atau datangnya fitnah adalah Najd di sebelah timur Madinah. Hadis Najd telah diriwayatkan dengan sanad yang shahih lagi tsabit sedangkan hadis Iraq diriwayatkan dengan sanad yang tidak shahih dan mengandung illat [cacat]. Dengan menerapkan metode tarjih maka Hadis Najd lebih layak dijadikan pegangan sedangkan hadis Iraq tertolak dan matannya dinilai mungkar. Salam Damai

sumber tulisan ini dari web http://www.secondprince.wordpress.com

Hadis Tanduk Setan : Kontroversi Najd dan Iraq?

Hadis tanduk setan menjadi polemik yang berkepanjangan diantara pengikut salafy dengan orang-orang yang kontrasalafy. Hadis ini seringkali dijadikan dasar bahwa salah satu yang dimaksud fitnah Najd adalah dakwah wahabi yang ngaku-ngaku salafy.  Kami sendiri tidak berminat untuk membahas apakah benar wahabi adalah fitnah Najd yang dimaksud atau bukan?, bagi kami pembahasan seperti itu hanya spekulasi belaka, mungkin benar mungkin juga tidak. Fokus pembahasan kami disini adalah cara pembelaan salafy yang absurd. Pengikut salafy yang merasa tersinggung alias tidak terima menyatakan pembelaan bahwa Najd yang dimaksud bukan Najd tempat lahirnya wahabi melainkan Iraq. Betapa anehnya sejak kapan Najd menjadi Iraq? Sejak munculnya orang-orang yang mengaku salafy. Berikut pembahasan yang menunjukkan kekeliruan salafy.

عن عبيدالله بن عمر حدثني نافع عن ابن عمرأن رسول الله صلى الله عليه و سلم قام عند باب حفصة فقال بيده نحو المشرق الفتنة ههنا من حيث يطلع قرن الشيطان قالها مرتين أو ثلاثا

Dari Ubaidillah bin Umar yang berkata telah menceritakan kepadaku Nafi’ dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri di pintu rumah Hafshah dan berkata dengan mengisyaratkan tangannya kearah timur “fitnah akan datang dari sini dari arah munculnya tanduk setan” beliau mengatakannya dua atau tiga kali. [Shahih Muslim 4/2228 no 2905]

Nafi’ memiliki mutaba’ah yaitu dari Salim bin ‘Abdullah bin Umar sebagaimana yang disebutkan dalam Shahih Muslim melalui periwayatan Az Zuhri, Ikrimah bin Ammar dan Hanzalah dengan lafaz “timur”. Arah timur yang dimaksud adalah Najd sebagaimana yang disebutkan dalam hadis shahih.

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى قَالَ حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ الْحَسَنِ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ عَوْنٍ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا وَفِي يَمَنِنَا قَالَ قَالُوا وَفِي نَجْدِنَا قَالَ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا وَفِي يَمَنِنَا قَالَ قَالُوا وَفِي نَجْدِنَا قَالَ قَالَ هُنَاكَ الزَّلَازِلُ وَالْفِتَنُ وَبِهَا يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna yang berkata telah menceritakan kepada kami Husain bin Hasan yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Aun dari Nafi’ dari Ibnu Umar yang berkata [Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “Ya Allah berilah keberkatan kepada kami, pada Syam kami dan pada Yaman kami”. Para sahabat berkata “dan juga Najd kami?”. Beliau bersabda “disana muncul kegoncangan dan fitnah, dan disanalah akan muncul tanduk setan” [Shahih Bukhari 2/33 no 1037]

Husain bin Hasan memiliki mutaba’ah yaitu Azhar bin Sa’d yang meriwayatkan dari Ibnu ‘Aun dari Nafi dari Ibnu Umar secara marfu’ juga dengan lafaz Najd [Shahih Bukhari 9/54 no 7094].

حدثنا الحسن بن علي المعمري ثنا إسماعيل بن مسعود ثنا عبيد الله بن عبد الله بن عون عن أبيه عن نافع عن ابن عمر أن النبي صلى الله عليه وسلم قال اللهم بارك لنا في شامنا، اللهم بارك في يمننا، فقالها مراراً، فلما كان في الثالثة أو الرابعة، قالوا يا رسول الله! وفي عراقنا؟ قال إنّ بها الزلازل والفتن، وبها يطلع قرن الشيطان

Telah menceritakan kepada kami Hasan bin Ali Al-Ma’mariy yang berkata telah menceritakan kepada kami Ismaail bin Mas’ud yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidullah bin ‘Abdillah bin ‘Aun dari ayahnya, dari Naafi’ dari Ibnu ‘Umar bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Ya Allah, berikanlah keberkatan kepada kami pada Syaam kami dan pada Yamaan kami”. Beliau [shallallaahu ‘alaihi wa sallam ] mengatakannya beberapa kali. Ketika beliau mengatakan yang ketiga kali atau yang keempat, para shahabat berkata “Wahai Rasulullah, dan juga Iraq kami?”. Beliau bersabda  “Sesungguhnya di sana terdapat kegoncangan dan fitnah, dan disanalah akan muncul tanduk setan” [Mu’jam Al Kabiir Ath Thabrani 12/384 no 13422].

Hadis ini mengandung illat [cacat] Ubaidillah bin Abdullah bin ‘Aun dalam periwayatan dari Ibnu ‘Aun telah menyelisihi para perawi tsiqat yaitu Husain bin Hasan [At Taqrib 1/214] dan ‘Azhar bin Sa’d [At Taqrib 1/74]. Kedua perawi tsiqat ini menyebutkan lafaz Najd sedangkan Ubaidillah bin Abdullah bin ‘Aun menyebutkan lafaz Iraq. Ubaidillah bukan seorang yang tsiqat, Bukhari berkata “dikenal hadisnya” [Tarikh Al Kabir juz 5 no 1247], Abu Hatim berkata “shalih al hadits” [Al Jarh Wat Ta’dil 5/322 no 1531] dimana perkataan shalih al hadits dari Abu Hatim berarti hadisnya dapat dijadikan i’tibar tetapi tidak bisa dijadikan hujjah.  Terdapat hadis lain yang dijadikan hujjah salafy untuk menetapkan bahwa yang dimaksud sebenarnya adalah Iraq

حدثنا علي بن سعيد قال نا حماد بن إسماعيل بن علية قال نا ابي قال نا زياد بن بيان قال نا سالم بن عبد الله بن عمر عن ابيه قال صلى النبي صلى الله عليه و سلم صلاة الفجر ثم انفتل فأقبل على  القوم فقال اللهم بارك لنا في مدينتنا وبارك لنا في مدنا وصاعنا اللهم بارك لنا في شامنا ويمننا فقال رجل والعراق يا رسول الله فسكت ثم قال اللهم بارك لنا في مدينتنا وبارك لنا في مدنا وصاعنا اللهم بارك لنا في حرمنا وبارك لنا في شامنا ويمننا فقال رجل والعراق يا رسول الله قال من ثم يطلع قرن الشيطان وتهيج الفتن

Telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin Sa’id yang berkata telah menceritkankepada kami Hammaad bin Ismaa’iil bin ‘Ulayyah yang berkata telah menceritakan kepada kami ayahku yang berkata telah mencertakan kepada kami Ziyaad bin Bayaan yangberkata telah menceritakan kepada kami Saalim bin ‘Abdillah bin ‘Umar dari ayahnya yang berkata Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat shubuh, kemudian berdoa, lalu menghadap kepada orang-orang. Beliau bersabda “Ya Allah berikanlah keberkatan kepada kami pada Madinah kami berikanlah keberkatan kepada kami pada mudd dan shaa’ kami. Ya Allah, berikanlah keberkatan kepada kami pada Syaam kami dan Yaman kami”. Seorang laki-laki berkata “dan ‘Iraq, wahai Rasulullah ?”. Beliau diam, lalu bersabda “Ya Allah berikanlah keberkatan kepada kami pada Madinah kami berikanlah keberkatan kepada kami pada mudd dan shaa’ kami. Ya Allah, berikanlah keberkatan kepada kami pada tanah Haram kami, dan berikanlah keberkatan kepada kami pada Syaam kami dan Yaman kami”. Seorang laki-laki berkata “dan ‘Iraq, wahai Rasulullah ?”. Beliau bersabda “dari sana akan muncul tanduk setan dan bermunculan fitnah” [Mu'jam Al Awsath Ath Thabraani 4/245 no 4098].

Hadis ini juga mengandung illat [cacat]. Ziyaad bin Bayaan dikatakan oleh Adz Dzahabi “tidak shahih hadisnya”. Bukhari berkata “dalam sanad hadisnya perlu diteliti kembali” [Al Mizan juz 2 no 2927] ia telah dimasukkan Adz Dzahabi dalam kitabnya Mughni Ad Dhu’afa no 2222 Al Uqaili juga memasukkannya ke dalam Adh Dhu’afa Al Kabir 2/75-76 no 522. Ziyad bin Bayaan Ar Raqiy memiliki mutaba’ah yaitu dari Taubah ‘Al Anbari dari Salim dari Ibnu Umar secara marfu’.

حدثنا محمد بن عبد العزيز الرملي حدثنا ضمرة بن ربيعة عن ابن شوذب عن توبة العنبري عن سالم عن ابن عمر قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم اللهم بارك لنا في مدينتنا وفي صاعنا، وفي مدِّنا وفي يمننا وفي شامنا. فقال الرجل يا رسول الله وفي عراقنا ؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم بها الزلازل والفتن، ومنها يطلع قرن الشيطان

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdul Aziiz Ar Ramliy yang berkata telah menceritakan kepada kami Dhamrah bin Rabi’ah dari Ibnu Syaudzab dari Taubah Al Anbariy dari Salim dari Ibnu ‘Umar yang berkata Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Ya Allah berikanlah keberkatan kepada kami pada Madinah kami, pada shaa’ kami, pada mudd kami, pada Yaman kami, dan pada Syaam kami”. Seorang laki-laki berkata “Wahai Rasulullah, dan pada ‘Iraaq kami ?”. Beliau menjawab “di sana terdapat kegoncangan dan fitnah dan di sana pula akan muncul tanduk setan” [ Ma’rifah Wal Tarikh Yaqub Al Fasawiy 2/746-747]

Secara zahir tidak ada masalah pada sanad ini hanya saja Taubah Al Anbary walaupun seorang perawi yang tsiqat, ia dikatakan oleh Al Azdi sebagai munkar al hadits [At Tahdzib juz 1 no 960]. Kesalahan besar salafy adalah menyatakan berdasarkan hadis ini bahwa Najd adalah Iraq. Telah disebutkan dari jama’ah tsiqat dari Salim dari Ibnu Umar secara marfu’ dengan lafaz timur dan telah diriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Nafi’ bahwa yang dimaksud adalah Najd. Tentu saja jika dilihat dari fakta geografis Najd memang terletak sebelah timur dari Madinah sedangkan Irak terletak lebih ke utara. Jadi jika menerapkan metode tarjih maka sangat jelas hadis Najd merupakan penjelasan bagi arah Timur yang dimaksud apalagi hadis Najd memiliki sanad yang lebih kuat daripada hadis Iraq. Tidak ada alasan bagi salafy untuk menetapkan Najd adalah Iraq, gak ada logikanya sama sekali. Bagaimana mungkin Najd sebagai tempat yang berbeda dengan Iraq mau dikatakan sebagai Iraq.

حدثنا محمد بن عبد الله بن عمار الموصلي قال حدثنا أبو هاشم محمد بن علي عن المعافى عن أفلح بن حميد عن القاسم عن عائشة قالت وقَّت رسول الله صلى الله عليه وسلم لأهل المدينة ذا الحُليفة ولأهل الشام ومصر الجحفة ولأهل العراق ذات عرق ولأهل نجد قرناً ولأهل اليمن يلملم

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Ammar Al Maushulli yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Haasyim Muhammad bin ‘Ali dari Al Mu’afiy dari Aflah bin Humaid dari Qasim dari Aisyah yang berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menetapkan miqat bagi penduduk Madinah di Dzul Hulaifah, bagi penduduk Syam dan Mesir di Juhfah, bagi penduduk Iraq di Dzatu ‘Irq, bagi penduduk Najd di Qarn dan bagi penduduk Yaman di Yalamlam [Shahih Sunan Nasa’i no 2656]

Hadis ini sanadnya shahih telah diriwayatkan oleh para perawi terpercaya dan menjadi bukti atau hujjah bahwa Najd dan Iraq di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah dua tempat yang berbeda. Berikut keterangan mengenai para perawinya

  • Muhammad bin ‘Abdullah bin Ammar Al Maushulli seorang hafizh yang tsiqat. Ahmad, Yaqub bin Sufyan, Shalih bin Muhammad, Nasa’i, Daruquthni, Ibnu Hibban, Masalamah bin Qasim menyatakan tsiqat. Abu Hatim berkata “tidak ada masalah padanya” [At Tahdzib juz 9 no 444]. Ibnu Hajar menyatakan “tsiqat hafizh” [At Taqrib 2/98]
  • Muhammad bin ‘Ali Al Asdy adalah perawi Nasa’i dan Ibnu Majah yang tsiqat. Al Ijli menyatakan tsiqat. Abu Zakaria menyatakan ia seorang yang shalih dan memiliki keutamaan [At Tahdzib juz 9 no 592]. Ibnu Hajar menyatakan ia seorang ahli ibadah yang tsiqat [At Taqrib 2/116]. Adz Dzahabi menyatakan ia shaduq [Al Kasyf no 5067]
  • Al Mu’afy bin Imran adalah perawi Bukhari yang dikenal tsiqat. Abu Bakar bin Abi Khaitsamah berkata “ia orang yang jujur perkataannya”. Ibnu Ma’in, Al Ijli, Abu Hatim, Ibnu Khirasy dan Waki’ menyatakan tsiqat. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. [At Tahdzib juz 10 no 374]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat ahli ibadah seorang yang fakih [At Taqrib 2/194]
  • Aflah bin Humaid adalah perawi Bukhari dan Muslim yang tsiqat. Ahmad berkata “shalih”. Ibnu Ma’in berkata “tsiqat”. Abu Hatim berkata “tsiqat tidak ada masalah padanya”. Nasa’i berkata “tidak ada masalah padanya”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Ibnu Sa’ad berkata “tsiqat banyak meriwayatkan hadis” [At Tahdzib juz 1 no 669]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat [At Taqrib 1/108]
  • Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar adalah seorang tabiin yang dikenal tsiqat, ia adalah salah seorang dari fuqaha Madinah sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Hajar [At Taqrib 2/23]

Hadis Aisyah RA di atas juga dikuatkan oleh hadis Jabir yang membedakan miqat bagi penduduk Najd dan miqat bagi penduduk Iraq.

أبو الزبير أنه سمع جابر بن عبدالله رضي الله عنهما يسأل عن المهل ؟ فقال سمعت ( أحسبه رفع إلى النبي صلى الله عليه و سلم ) فقال مهل أهل المدينة من ذي الحليفة والطريق الآخر الجحفة ومهل أهل العراق من ذات عرق ومهل أهل نجد من قرن ومهل أهل اليمن من يلملم

Abu Zubair mendengar dari Jabir bin ‘Abdullah radiallahu ‘anhum ketika ditanya tentang tempat mulai ihram. Jabir berkata ‘aku mendengar [menurutku ia memarfu’kannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “tempat mulai ihram bagi penduduk Madinah dari Dzul Hulaifah dan bagi penduduk yang melewati jalan yang satunya di Juhfah, dan tempat mulai ihram bagi penduduk Iraq dari Dzatul ‘Irq dan tempat mulai ihram penduduk Najd dari Qarn dan tempat mulai ihram penduduk Yaman dari Yalamlam [Shahih Muslim 2/840 no 1183]

Walaupun para ulama berselisih apakah perkataan Jabir RA ini marfu’ atau tidak kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam [pendapat yang rajih adalah marfu’] tetap saja membuktikan kalau Najd dan Iraq adalah dua tempat yang berbeda sehingga para sahabat seperti Jabir RA membedakan antara penduduk Najd dan penduduk Iraq. Para ulama juga telah membedakan antara Najd dan Iraq, An Nasa’i ketika membahas hadis tentang miqat ia memberi judul Miqat Ahlul Najd kemudian di bawahnya ada judul Miqat Ahlul Iraq. Bagaimana mungkin Najd dikatakan Iraq?.

Fakta lain yang tidak terpikirkan oleh salafy adalah orang-orang yang berada di Riyadh [Najd] jika melaksanakan ibadah haji miqatnya adalah di Qarn Manazil dan orang-orang Iraq jika beribadah haji miqatnya di Dzatul ‘Irq. Kenapa? Karena para ulama termasuk ulama salafy sendiri berdalil dengan hadis shahih di atas kalau miqat bagi penduduk Najd adalah Qarn Manazil dan bagi penduduk Iraq adalah Dzatul ‘Irq. Kalau memang Najd adalah Iraq ngapain orang-orang di Riyadh miqat di Qarn Manazil lha itu seharusnya jadi miqat bagi orang Iraq. Fakta kalau orang-orang di Riyadh miqat di Qarn Manazil itu menjadi bukti nyata kalau Najd itu ya tepat di sebelah timur Madinah yaitu Riyadh dan sekitarnya. Nah penduduk Riyadh sendiri merasa kalau yang dimaksud Najd yang dikatakan Nabi adalah tempat mereka tinggal bukannya Iraq.

Jadi jika telah terbukti dari dalil shahih bahwa Najd dan Iraq adalah nama dua tempat yang berbeda maka logika salafy yang mengatakan Najd adalah Iraq jelas salah besar. Walaupun kita menerima hadis Iraq maka itu tidak menafikan keshahihan hadis Najd. Dengan kata lain jika kita mau menerapkan metode jama’ maka ada dua tempat yang dikatakan sebagai tempat munculnya fitnah yaitu Najd dan Iraq [dan kami lebih cenderung pada pendapat ini]. Kalau salafy masih tidak mengerti maka kita beri contoh yang mudah. Misalnya ada orang berkata “di Jawa ada gempa bumi” kemudian di saat lain ia berkata “di Jakarta ada gempa bumi”, terus di saat yang lain orang itu berkata “di Surabaya ada gempa bumi”. Orang yang ngakunya salafy mikir begini nah itu berarti Jakarta adalah Surabaya. Bagaimana? Bahkan anak SD pun tahu kalau kesimpulan seperti ini tidak ada logikanya sama sekali. Justru cara berpikir yang benar [dengan dasar kesaksian orang tersebut benar] adalah di Jakarta dan Surabaya terjadi gempa bumi dan ini tidak bertentangan dengan perkataan di Jawa terjadi gempa bumi, toh kedua kota itu memang terletak di Jawa.

Lucunya para pengikut salafy menganggap dalil salafy terang benderang seterang matahari padahal jelas-jelas fallacy [kapan salafy mau belajar tentang fallacy]. Justru dalil Najd jauh lebih terang benderang karena memang sebelah timur dari Madinah itu ya Najd sedangkan Iraq lebih kearah utara [timur laut]. Pengikut salafy mengatakan kalau Iraq juga adalah timur madinah karena pada zaman orang arab dahulu tidak ada istilah utara selatan, timur laut dan sebagainya yang ada hanya timur dan barat atau kanan kiri. Pernyataan salafy ini bisa saja benar tetapi logikanya terbalik, zaman dahulu orang menentukan timur dan barat tergantung dengan arah matahari terbit atau terbenam. Jadi jika seseorang mau menunjuk kearah timur ia tahu dengan jelas kearah mana ia akan menunjuk apalagi jika orang tersebut adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang jelas adalah utusan Allah SWT yang dijaga dan diberi petunjuk langsung oleh Allah SWT.

Apakah jika ada orang arab disuruh menunjuk kearah timur, mereka akan menunjuk ke berbagai macam arah termasuk miring ke ke utara atau miring ke selatan?. Apakah ketika mereka menunjuk ke arah timur mereka mengarahkan tangannya ke utara yang miring 10 derajat ke arah timur ?. kayaknya tidak, mereka akan sama-sama menunjuk tepat kearah matahari terbit yaitu arah timur. Jadi Hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang menunjuk ke arah timur harus dipahami secara zahir tepat timur Madinah dan ini sesuai dengan hadis Najd karena Najd memang terletak tepat di timur madinah. Para sahabat bisa langsung mempersepsi arah timur karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan tepat menunjuk kearah timur atau arah matahari terbit [alias gak pakai miring ke utara atau selatan]. Salam Damai

sumber tulisan ini dari web http://www.secondprince.wordpress.com

Hadis Khawarij Kaitannya Dengan Najd Dan Arah Timur

Sebagian dari pengikut salafy menjadikan hadis khawarij sebagai hujjah untuk menetapkan kalau hadis fitnah tanduk setan merujuk ke Irak bukan ke Najd. Mereka menunjukkan kalau khawarij itu muncul di Irak dan terdapat hadis yang mengkaitkannya dengan arah timur. Sayang sekali mereka tidak memperhatikan kalau sebenarnya Najd juga punya kaitan yang erat dengan khawarij. Bisa dibilang munculnya khawarij itu bermula dari Najd.

.

.

Hadis Asal Mula Khawarij

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَقْسِمُ قِسْمًا أَتَاهُ ذُو الْخُوَيْصِرَةِ وَهُوَ رَجُلٌ مِنْ بَنِي تَمِيمٍ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ اعْدِلْ فَقَالَ وَيْلَكَ وَمَنْ يَعْدِلُ إِذَا لَمْ أَعْدِلْ قَدْ خِبْتَ وَخَسِرْتَ إِنْ لَمْ أَكُنْ أَعْدِلُ فَقَالَ عُمَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ ائْذَنْ لِي فِيهِ فَأَضْرِبَ عُنُقَهُ فَقَالَ دَعْهُ فَإِنَّ لَهُ أَصْحَابًا يَحْقِرُ أَحَدُكُمْ صَلَاتَهُ مَعَ صَلَاتِهِمْ وَصِيَامَهُ مَعَ صِيَامِهِمْ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ يُنْظَرُ إِلَى نَصْلِهِ فَلَا يُوجَدُ فِيهِ شَيْءٌ ثُمَّ يُنْظَرُ إِلَى رِصَافِهِ فَمَا يُوجَدُ فِيهِ شَيْءٌ ثُمَّ يُنْظَرُ إِلَى نَضِيِّهِ وَهُوَ قِدْحُهُ فَلَا يُوجَدُ فِيهِ شَيْءٌ ثُمَّ يُنْظَرُ إِلَى قُذَذِهِ فَلَا يُوجَدُ فِيهِ شَيْءٌ قَدْ سَبَقَ الْفَرْثَ وَالدَّمَ آيَتُهُمْ رَجُلٌ أَسْوَدُ إِحْدَى عَضُدَيْهِ مِثْلُ ثَدْيِ الْمَرْأَةِ أَوْ مِثْلُ الْبَضْعَةِ تَدَرْدَرُ وَيَخْرُجُونَ عَلَى حِينِ فُرْقَةٍ مِنْ النَّاسِ قَالَ أَبُو سَعِيدٍ فَأَشْهَدُ أَنِّي سَمِعْتُ هَذَا الْحَدِيثَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَشْهَدُ أَنَّ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ قَاتَلَهُمْ وَأَنَا مَعَهُ فَأَمَرَ بِذَلِكَ الرَّجُلِ فَالْتُمِسَ فَأُتِيَ بِهِ حَتَّى نَظَرْتُ إِلَيْهِ عَلَى نَعْتِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّذِي نَعَتَهُ

Telah menceritakan kepada kami Abul Yaman yang berkata telah mengabarkan kepada kami Syu’aib dari Az Zuhri yang berkata telah mengabarkan kepadaku Abu Salamah bin ‘Abdurrahman bahwa Abu Sa’id Al Khudri radiallahu ‘anhu berkata kami bersama Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan Beliau sedang membagi harta rampasan perang, tiba-tiba datanglah Dzul Khuwaisirah dan dia seorang laki-laki dari bani Tamim, ia berkata “wahai Rasulullah berbuat adillah?”. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “celaka engkau, siapa yang bisa berlaku adil jika aku dikatakan tidak berlaku adil, sungguh celaka dan rugi jika aku tidak berlaku adil”. Umar berkata “wahai Rasulullah izinkanlah aku memenggal lehernya”. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “biarkanlah ia, sesungguhnya ia memiliki para sahabat dimana salah seorang dari kalian menganggap kecil shalat kalian dibanding shalat mereka dan puasa kalian dibanding puasa mereka, mereka membaca Al Qur’an tetapi tidak melewati tenggorokan mereka, mereka keluar dari agama seperti keluarnya anak panah dari busurnya. Dilihat mata panahnya maka tidak nampak apapun, dilihat pegangan panahnya maka tidak nampak apapun, dilihat batang panahnya maka tidak nampak apapun, dilihat bulu panahnya maka tidak nampak apapun sungguh ia mendahului kotoran dan darah. Ciri-ciri mereka adalah seorang laki-laki hitam yang salah satu lengannya seperti payudara perempuan atau seperti daging yang bergerak-gerak dan mereka keluar saat terjadi perselisihan di antara orang-orang. Abu Sa’id berkata “aku bersaksi bahwa aku mendengar hadis ini dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan aku bersaksi bahwa Ali bin Abi Thalib telah memerangi mereka dan ketika itu aku bersamanya, maka ia [Ali] memerintahkan untuk mencari laki-laki itu, akhirnya orang itu ditangkap dan dibawa kehadapannya maka aku bisa melihat ciri-ciri yang disebutkan oleh Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] [Shahih Bukhari 4/200 no 3610]

حدثنا محمد بن رمح بن المهاجر أخبرنا الليث عن يحيى بن سعيد عن أبي الزبير عن جابر بن عبدالله قال أتي رجل رسول الله صلى الله عليه و سلم بالجعرانة منصرفه من حنين وفي ثوب بلال فضة ورسول الله صلى الله عليه و سلم يقبض منها يعطى الناس فقال يا محمد اعدل قال ويلك ومن يعدل إذا لم أكن أعدل ؟ لقد خبت وخسرت إن لم أكن أعدل فقال عمر بن الخطاب رضي الله عنه دعني يا رسول الله فأقتل هذا المنافق فقال معاذ الله أن يتحدث الناس أني أقتل أصحابي إن هذا وأصحابه يقرأون القرآن لا يجاوز حناجرهم يمرقون منه كما يمرق السهم من الرمية

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Rumh bin Muhajir yang berkata telah mengabarkan kepada kami Laits dari Yahya bin Sa’id dari Abu Zubair dari Jabir bin ‘Abdullah yang berkata “seseorang datang kepada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] di Ji’ranah setelah pulang dari perang Hunain. Ketika itu dalam pakaian Bilal terdapat perak maka Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] membagikannya kepada manusia. Orang tersebut berkata “wahai Muhammad berlaku adillah?”. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “celaka engkau, siapa yang bisa berlaku adil jika aku dikatakan tidak berlaku adil? Sungguh celaka dan rugi jika aku tidak berbuat adil. Umar berkata “wahai Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] izinkanlah aku membunuh munafik ini”. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “aku berlindung kepada Allah dari pembicaraan orang-orang bahwa aku membunuh sahabatku sendiri, sesungguhnya orang ini dan para sahabatnya suka membaca Al Qur’an tetapi tidak melewati tenggorokan mereka, mereka keluar darinya seperti anak panah yang lepas dari busurnya” [Shahih Muslim 2/740 no 1063]

Jadi sebenarnya cikal bakal khawarij sudah muncul dizaman Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] yaitu dari salah seorang sahabat Nabi yang dipanggil Dzul Khuwaisirah berserta para sahabatnya. Ibnu Hajar memasukkannya dalam kitabnya Al Isabah dimana ia mengatakan kalau Ibnu Atsir memasukkan Dzul Khuwaisirah sebagai sahabat Nabi dan ia seorang laki-laki dari bani tamim, selain itu diriwayatkan kalau namanya adalah Hurqus bin Zuhair [Al Isabah  2/411 no 2452]. Disebutkan pula kalau ada yang mengatakan ia adalah Dzu Tsudayyah orang yang terbunuh bersama khawarij lainnya di Nahrawan [Al Isabah 2/409 no 2448]

Dzul Khuwaisirah termasuk penduduk Bani Tamim dan di masa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] penduduk Bani Tamim tinggal di wilayah timur jazirah arab yaitu Najd. Bani Tamim adalah suku arab keturunan Tamim bin Murr bin Ad yang nasabnya sampai kepada Ilyas bin Mudhar, jadi mereka termasuk bani Mudhar.

.

.

.

Bani Tamim Tinggal Di Najd

حدثنا محمد بن المثنى حدثنا مؤمل بن إسماعيل حدثنا نافع بن عمر بن جميل الجمحي حدثني بن أبي مليكة حدثني عبد الله بن الزبير أن الأقرع بن حابس قدم على النبي صلى الله عليه و سلم فقال أبو بكر يا رسول الله استعمله على قومه فقال عمر لا تستعمله يا رسول الله فتكلما عند النبي صلى الله عليه و سلم حتى ارتفعت أصواتهما فقال أبو بكر لعمر ما أردت إلا خلافي قال ما أردت خلافك قال فنزلت هذه الآية { يا أيها الذين آمنوا لا ترفعوا أصواتكم فوق صوت النبي } فكان عمر بن الخطاب بعد ذلك إذا تكلم عند النبي صلى الله عليه و سلم لم يسمع كلامه حتى يستفهمه قال وما ذكر بن الزبير جده يعني أبا بكر

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna yang berkata telah menceritakan kepada kami Mu’ammal bin Ismail yang berkata telah menceritakan kepada kami Nafi’ bin Umar bin Jamil Al Jimahiy yang berkata telah menceritakan kepadaku Ibnu Abi Mulaikah yang berkata telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Zubair bahwa Aqra’ bin Habis mendatangi Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] maka Abu Bakar berkata “jadikanlah ia sebagai wakilmu atas kaumnya”. Umar berkata “jangan jadikan ia sebagai wakilmu, wahai Rasulullah”. Mereka terus membicarakannya disamping Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] sehingga suara mereka semakin keras. Abu Bakar berkata kepada Umar “tidak ada yang kau inginkan kecuali menyelisihiku”. Umar berkata “aku tidak bermaksud menyelisihimu”. Maka turunlah ayat “wahai orang-orang yang beriman janganlah meninggikan suara kalian melebihi suara Nabi” [al hujurat ayat 2] maka Umar bin Khattab sejak saat itu jika berbicara kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] hampir tidak terdengar perkataannya hingga Beliau sering menanyakannya. Ibnu Zubair tidak menyebutkan tentang kakeknya Abu Bakar. [Shahih Sunan Tirmidzi 5/387 no 3266]

حَدَّثَنَا يَسَرَةُ بْنُ صَفْوَانَ بْنِ جَمِيلٍ اللَّخْمِيُّ حَدَّثَنَا نَافِعُ بْنُ عُمَرَ عَنْ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ قَالَ كَادَ الْخَيِّرَانِ أَنْ يَهْلِكَا أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا رَفَعَا أَصْوَاتَهُمَا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ قَدِمَ عَلَيْهِ رَكْبُ بَنِي تَمِيمٍ فَأَشَارَ أَحَدُهُمَا بِالْأَقْرَعِ بْنِ حَابِسٍ أَخِي بَنِي مُجَاشِعٍ وَأَشَارَ الْآخَرُ بِرَجُلٍ آخَرَ قَالَ نَافِعٌ لَا أَحْفَظُ اسْمَهُ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ لِعُمَرَ مَا أَرَدْتَ إِلَّا خِلَافِي قَالَ مَا أَرَدْتُ خِلَافَكَ فَارْتَفَعَتْ أَصْوَاتُهُمَا فِي ذَلِكَ فَأَنْزَلَ اللَّهُ { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ } الْآيَةَ قَالَ ابْنُ الزُّبَيْرِ فَمَا كَانَ عُمَرُ يُسْمِعُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ هَذِهِ الْآيَةِ حَتَّى يَسْتَفْهِمَهُ وَلَمْ يَذْكُرْ ذَلِكَ عَنْ أَبِيهِ يَعْنِي أَبَا بَكْرٍ

Telah menceritakan kepada kami Yasarah bin Shafwan bin Jamil Al Lakhmiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Nafi’ bin Umar bahwa Ibnu Abi Mulaikah berkata “hampir saja dua orang terbaik celaka yaitu Abu Bakar dan Umar. Keduanya telah meninggikan suaranya di sisi Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] ketika datang kafilah dari bani Tamim. Salah satu dari mereka menunjuk Aqra’ bin Habis saudara bani Mujasyi’ menjadi pemimpin. Dan yang lainnya menunjuk seorang lainnya. Nafi’ berkata ‘aku tidak hafal namanya’. Kemudian Abu Bakar berkata kepada Umar “tidak ada yang kau inginkan kecuali menyelisihiku”. Umar menjawab “aku tidak bermaksud menyelisihimu”. Suara keduanyapun meninggi membicarakan itu, maka turunlah ayat “wahai orang-orang yang beriman janganlah kamu meninggikan suara melebihi suara Nabi” [Al Hujurat ayat 2]. Ibnu Zubair berkata “setelah itu, Umar tidak pernah memperdengarkan kepada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] sampai Beliau meminta kejelasannya dan Ibnu Zubair tidak menyebutkan itu dari ayahnya yaitu Abu Bakar [Shahih Bukhari 6/137 no 4845]

حدثنا هناد بن السري حدثنا أبو الأحوص عن سعيد بن مسروق عن عبدالرحمن بن أبي نعم عن أبي سعيد الخدري قال بعث علي رضي الله عنه وهو باليمن بذهبة في تربتها إلى رسول الله صلى الله عليه و سلم فقسمها رسول الله صلى الله عليه و سلم بين أربعة نفر الأقرع بن حابس الحنظلي وعيينة بن بدر الفزاري وعلقمة بن علاثة العاشمري ثم أحد بني كلاب وزيد الخير الطائي ثم أحد بني نبهان قال فغضبت قريش فقالوا أتعطي صناديد نجد وتدعنا ؟ فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم إني إنما فعلت ذلك لأتألفهم

Telah menceritakan kepada kami Hanaad bin As Sariy yang berkata telah menceritakan kepada kami Abul Ahwash dari Sa’id bin Masruq dari ‘Abdurrahman bin Abi Na’m dari Abu Sa’id Al Khudri yang berkata Ali radiallahu ‘anhu yang sedang berada di Yaman, mengirimkan emas yang masih dalam bijinya kepada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] kemudian Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]  membagikannya kepada empat orang yaitu Aqra’ bin Habis Al Hanzhali, Uyainah bin Badr Al Fazari, Alqamah bin Ulatsah Al ‘Asymiri yaitu salah seorang dari Bani Kilab, dan Zaid Al Khair At Tha’iy yaitu salah seorang dari Bani Nabhan. Orang-orang Quraisy marah dan berkata Apakah Beliau  [shallallahu ‘alaihi wasallam] memberi para pemimpin Najd, dan tidak memberikan kepada kita? Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “Aku melakukan itu adalah untuk menarik hati mereka”. [Shahih Muslim 2/741 no 1064]

Hadis-hadis di atas menyebutkan kalau Aqra’ bin Habis Al Hanzhaliy adalah orang terkemuka dari bani Tamim sehingga ia dicalonkan sebagai pemimpin atas kaumnya dan dalam hadis itu disebutkan kalau ia salah seorang pemuka atau pemimpin Najd. Maka disini terdapat dalil yang menunjukkan kalau bani Tamim di masa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] tinggal atau menetap di Najd.

Maka disini kita melihat apa kaitannya Khawarij dengan Najd. Mereka yang nantinya menjadi khawarij dan diperangi oleh Imam Ali ternyata sudah ada di zaman Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan pencetusnya adalah Dzul Khuwaisirah seorang laki-laki dari bani Tamim. Pada masa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam], Dzul Khuwaisirah dan para sahabatnya beserta keturunannya termasuk dalam bani Tamim dan tinggal di Najd.

Sejak zaman Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] sebagian penduduk Tamim dikenal dengan sikapnya yang tidak baik kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Mereka dikenal dengan sikapnya yang kasar walaupun harus diakui tidak semua bani Tamim seperti itu.

حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ حَفْصِ بْنِ غِيَاثٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ حَدَّثَنَا جَامِعُ بْنُ شَدَّادٍ عَنْ صَفْوَانَ بْنِ مُحْرِزٍ أَنَّهُ حَدَّثَهُ عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ دَخَلْتُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَقَلْتُ نَاقَتِي بِالْبَابِ فَأَتَاهُ نَاسٌ مِنْ بَنِي تَمِيمٍ فَقَالَ اقْبَلُوا الْبُشْرَى يَا بَنِي تَمِيمٍ قَالُوا قَدْ بَشَّرْتَنَا فَأَعْطِنَا مَرَّتَيْنِ ثُمَّ دَخَلَ عَلَيْهِ نَاسٌ مِنْ أَهْلِ الْيَمَنِ فَقَالَ اقْبَلُوا الْبُشْرَى يَا أَهْلَ الْيَمَنِ إِذْ لَمْ يَقْبَلْهَا بَنُو تَمِيمٍ قَالُوا قَدْ قَبِلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالُوا جِئْنَاكَ نَسْأَلُك عَنْ هَذَا الْأَمْرِ قَالَ كَانَ اللَّهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ غَيْرُهُ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ وَكَتَبَ فِي الذِّكْرِ كُلَّ شَيْءٍ وَخَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ فَنَادَى مُنَادٍ ذَهَبَتْ نَاقَتُكَ يَا ابْنَ الْحُصَيْنِ فَانْطَلَقْتُ فَإِذَا هِيَ يَقْطَعُ دُونَهَا السَّرَابُ فَوَاللَّهِ لَوَدِدْتُ أَنِّي كُنْتُ تَرَكْتُهَا

Telah menceritakan kepada kami Umar bin Hafsh bin Ghiyats yang berkata telah menceritakan kepadaku ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Al’Amasy yang berkata telah menceritakan kepada kami Jami’ bin Syadad dari Shafwan bin Muhriz sesungguhnya telah mengabarkan kepadanya dari ‘Imran bin Hushain radiallahu ‘anhum yang berkata “aku masuk menemui Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan aku mengikat untaku di pintu. Kemudian datanglah orang-orang dari bani Tamim. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “terimalah kabar gembira wahai bani Tamim”. Mereka berkata “sungguh engkau telah memberi kami kabar gembira maka berikanlah kami sesuatu yang lain” mereka mengucapkannya dua kali  kemudian masuklah orang-orang Yaman, maka Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “terimalah kabar gembira wahai orang-orang Yaman karena bani Tamim telah menolaknya”. Mereka berkata “kami menerima wahai Rasulullah”mereka berkata “kami datang kepadamu untuk bertanya urusan ini”. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “Allah telah ada dan tidak ada apa-apa selain-Nya, kemudian Arsy- Nya di atas air dan dituliskan segala sesuatu dalam Az Zikru kemudian Allah menciptakan langit dan bumi. Tiba-tiba seseorang memanggilku “untamu terlepas wahai Ibnu Hushain”. Aku keluar dan untaku hilang di tengah padang pasir. Demi Allah alangkah baiknya kubiarkan saja unta itu [Shahih Bukhari 4/105-106 no 3191]

Hadis ini menunjukkan tabiat orang-orang bani Tamim yang tidak memiliki kepedulian terhadap ilmu agama. Dalam riwayat lain disebutkan bahkan wajah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] menjadi berubah ketika mendengar jawaban dari orang-orang bani Tamim. Jadi bisa dimaklumi kalau orang-orang dengan tabiat seperti ini menjadi cikal bakal kaum khawarij. Tentu saja sekali lagi kami tidak menyatakan bahwa begitulah semua orang dari bani Tamim, sudah cukup dikenal sebagian sahabat Nabi dari bani Tamim yang setia dan taat kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam].

Pernah suatu ketika delegasi bani tamim datang menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diantara mereka terdapat Aqra’ bin Habis At Tamimi, Uyainah bin Hishn, Qais bin Harits, Qais bin Ashim, dan Utharid bin Hajib. Mereka datang ke rumah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berteriak memanggil Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dari luar sehingga turunlah ayat “sesungguhnya orang-orang yang memanggilmu ke luar kamarmu kebanyakan mereka tidak mengerti” [Al Hujurat ayat 4] dan diantara mereka terdapat Utharid bin Hajib yang berkata

فقام عطارد بن حاجب فقال الحمد لله الذي له علينا الفضل والمن وهو أهله الذي جعلنا ملوكا ووهب لنا أموالا عظاما نفعل فيها المعروف وجعلنا أعز أهل المشرق وأكثره عددا وأيسره عدة ، فمن مثلنا في الناس ؟ ألسنا برءوس الناس وأولي فضلهم ؟ فمن فاخرنا فليعدد مثل ما عددنا وإنا لو نشاء لأكثرنا الكلام ولكنا نحيا من الإكثار فيما أعطانا وإنا نعرف بذلك أقول هذا لأن تأتوا بمثل قولنا وأمر أفضل من أمرنا ثم جلس

Maka Uthaarib bin Haajib berdiri dan berkata “segala puji bagi Allah yang telah memberikan kepada kami keutamaan dan karunia dan Dialah yang berhak untuk dipuji. Dia yang telah menjadikan kami sebagai raja dan memberikan kepada kami harta yang banyak kemudian kami berbuat baik dengan harta itu. Dia menjadikan kami sebagai orang-orang timur [ahlul masyriq] yang paling kuat, paling banyak jumlahnya dan lengkap persenjataannya. Siapakah diantara manusia yang seperti kami?. Bukankah kami adalah pemimpin mereka dan paling utama diantara mereka?. Siapa yang dapat menyaingi kami maka hendaknya ia menyebutkan seperti apa yang telah kami sebutkan. Dan jika kami mau kami bisa mengatakan yang lebih banyak lagi tetapi kami malu menyebutkan semua yang telah diberikan kepada kami, hal itu telah kami ketahui. Inilah perkataan kami dan hendaknya kalian mengatakan seperti yang telah kami katakan atau bahkan lebih utama dari apa yang kami sebutkan, kemudian ia duduk [Sirah Ibnu Hisyam 2/562]

Kisah ini menyebutkan bagaimana tabiat kasar dari bani tamim. Mereka berteriak memanggil Nabi dari luar bilik Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dan tentu sebagai sebuah delegasi tidak sewajarnya bersikap seperti itu. Dari kisah di atas kita dapat melihat bahwa bani Tamim memang dikenal sebagai orang-orang timur [masyriq] di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sehingga mereka dengan bangga mengatakannya di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Disini kita dapat melihat apa kaitannya Khawarij dengan arah timur?. Khawarij dicetuskan oleh Dzul Khuwaisirah dari bani tamim dan para sahabatnya yang dikenal sebagai orang-orang timur [masyriq] di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

.

.

.

Hadis Sahl bin Hunaif  Tentang Khawarij

أخبرنا محمد بن آدم بن سليمان عن محمد بن فضيل عن بن إسحاق عن يسير بن عمرو قال دخلت على سهل بن حنيف قلت له أخبرني ما سمعت من رسول الله صلى الله عليه و سلم في الحرورية قال أخبرك ما سمعت من رسول الله صلى الله عليه و سلم لا أزيد عليه سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم وضرب بيده نحو المغرب قال يخرج من هاهنا قوم يقرؤون القرآن لا يجاوز تراقيهم يمرقون من الدين كما يمرق السهم من الرمية

Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Adam bin Sulaiman dari Muhammad bin Fudhail dari Abu Ishaq dari Yusair bin ‘Amru yang berkata “aku masuk menemui Sahl bin Hunaif kemudian aku berkata ‘kabarkanlah padaku apa yang engkau dengar dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tentang Haruriyah, [Sahl] berkata aku akan mengabarkan kepadamu apa yang aku dengar dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak lebih, aku mendengar Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan Beliau memukulkan tangannya ke arah barat dan berkata “akan keluar dari sini kaum yang membaca Al Qur’an tetapi tidak melewati tenggorokan mereka, mereka keluar dari agama seperti anak panah yang lepas dari busurnya” [Sunan Nasa’i 5/32 no 8090]

Hadis ini sanadnya shahih, Muhammad bin Adam bin Sulaiman adalah gurunya Nasa’i dan Abu Hatim. Abu Hatim menyatakan shaduq, Nasa’i menyatakan tsiqat [At Tahdzib juz 9 no 41] dan selebihnya adalah perawi Bukhari Muslim.

حدثنا أبو بكر بن أبي شيبة حدثنا علي بن مسهر عن الشيباني عن يسير بن عمرو قال سألت سهل بن حنيف هل سمعت النبي صلى الله عليه و سلم يذكر الخوارج ؟ فقال سمعته ( وأشار بيده نحو المشرق ) قوم يقرأون القرآن بألسنتهم لا يعدوا تراقيهم يمرقون من الدين كما يمرق السهم من الرمية

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin Mushir dari Asy Syaibani dari Yusair bin ‘Amru yang berkata “aku bertanya kepada Sahl bin Hunaif “apakah engkau mendengar Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] menyebutkan tentang Khawarij?. Sahl berkata aku mendengarnya, dan ia menyisyaratkan tangannya ke arah timur [dan berkata] muncul kaum yang membaca Al Qur’an dengan lisan mereka tetapi tidak melewati tenggorokan mereka, mereka keluar dari agama seperti anak panah yang lepas dari busurnya [Shahih Muslim 2/750 no 1068]

حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ حَدَّثَنَا الشَّيْبَانِيُّ حَدَّثَنَا يُسَيْرُ بْنُ عَمْرٍو قَالَ قُلْتُ لِسَهْلِ بْنِ حُنَيْفٍ هَلْ سَمِعْتَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ فِي الْخَوَارِجِ شَيْئًا قَالَ سَمِعْتُهُ يَقُولُ وَأَهْوَى بِيَدِهِ قِبَلَ الْعِرَاقِ يَخْرُجُ مِنْهُ قَوْمٌ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الْإِسْلَامِ مُرُوقَ السَّهْمِ مِنْ الرَّمِيَّةِ

Telah menceritakan kepada kami Musa bin Ismail yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Wahid yang berkata telah menceritakan kepada kami Asy Syaibani yang berkata telah menceritakan kepada kami Yusair bin ‘Amru yang berkata ‘aku bertanya kepada Sahl bin Hunaif apakah engkau pernah mendengar Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengatakan sesuatu tentang khawarij?. [Sahl] berkata “aku mendengarnya mengatakan dan ia mengarahkan tangannya ke Irak “akan keluar darinya kaum yang membaca Al Qur’an tetapi tidak melewati tenggorokan mereka, mereka keluar dari islam seperti anak panah lepas dari busurnya” [Shahih Bukhari 9/17 no 6934]

Kalau kita perhatikan ketiga hadis Sahl bin Hunaif di atas, semuanya berujung pada sanad yang sama yaitu dari Abu Ishaq Asy Syaibani dari Yusair bin ‘Amru dari Sahl bin Hunaif tetapi terdapat keanehan dalam penunjukkan isyarat. Terkadang disebutkan isyarat ke arah barat, terkadang disebutkan isyarat ke arah timur dan terkadang disebutkan isyarat ke arah Iraq. Ketidak akuratan ini kemungkinan berasal dari Yusair bin ‘Amru, ia dinyatakan tsiqat oleh Al Ijli, Ibnu Hibban dan Ibnu Sa’ad tetapi walaupun begitu Ibnu Hazm menyatakan “tidak kuat” [At Tahdzib juz 11 no 639].

Riwayat yang mahfuzh adalah yang menyatakan penunjukkan isyarat ke arah timur karena terdapat hadis dengan lafaz yang jelas kalau Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] menyatakan “timur” yaitu hadis dimana Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda

قال قوم يخرجون من المشرق يقرأون القرآن لا يجاوز تراقيهم يمرقون من الدين مروق السهم من الرمية

[Rasulullah] bersabda “akan keluar suatu kaum dari arah timur, mereka membaca Al Qur’an tetapi tidak melewati tenggorokan mereka, mereka keluar dari agama seperti anak panah yang lepas dari busurnya”

Hadis dengan lafaz ini diriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Ali radiallahu ‘anhu dan Abu Sa’id Al Khudri radiallahu ‘anhu. Riwayat Ali disebutkan Ahmad dalam Fadhail Ash Shahabah no 1223, Ibnu Abi Ashim dalam As Sunnah no 913, Abu Ya’la dalam Musnad-nya 1/375 no 482 dan Nasa’i dalam Sunan Nasa’i 5/162 no 8568. Riwayat Abu Sa’id Al Khudri disebutkan dalam Musnad Abu Ya’la 2/408 no 1193 dengan sanad yang shahih.

.

.

.

Keutamaan Yang Memerangi Khawarij

Tidak diragukan kalau khawarij ini telah diperangi oleh Imam Ali di Nahrawan sebagaimana yang telah disebutkan dalam riwayat yang shahih. Jika kita melihat hadis-hadis tersebut secara keseluruhan maka diketahui bahwa asal muasal khawarij ini berasal dari Najd dan kebanyakan mereka adalah dari bani tamim pengikut Dzul Khuwaisirah. Mereka bersama-sama keluar dengan Imam Ali untuk memerangi Muawiyah tetapi akhirnya dalam peristiwa tahkim mereka membelot dari Imam Ali sehingga terjadilah perperangan di Nahrawan Irak. Terdapat keutamaan yang besar bagi mereka yang memerangi kaum khawarij. Hal ini telah disebutkan oleh Imam Ali dalam riwayat yang shahih

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا إسماعيل ثنا أيوب عن محمد عن عبيدة عن على رضي الله عنه قال ذكر الخوارج فقال فيهم مخرج اليد أو مودن اليد أو مثدن اليد لولا ان تبطروا لحدثتكم بما وعد الله الذين يقتلونهم على لسان محمد قلت أنت سمعته من محمد قال إي ورب الكعبة إي ورب الكعبة إي ورب الكعبة

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Ismail  yang berkata telah menceritakan kepada kami Ayub dari Muhammad dari ‘Abidah dari Ali radiallahu ‘anhu, ia berkata Ali menyebutkan tentang khawarij, lalu berkata “di antara mereka ada seorang laki-laki hitam yang pendek tangannya atau salah satu dari kedua tangannya pendek seperti payudara wanita . Sekiranya aku tidak takut kalian menjadi sombong , niscaya akan aku katakana apa yang dijanjikan Allah sesuai dengan lisan Muhammad ganjaran kepada orang-orang yang membunuh mereka. Aku berkata “apakah kamu mendengarnya dari Muhammad?”. Ali berkata “Ya demi Tuhan pemilik Ka’bah , Ya demi Tuhan pemilik Ka’bah, Ya demi Tuhan pemilik Ka’bah” [Musnad Ahmad 1/83 no 6262 Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata “sanadnya shahih dengan syarat Bukhari Muslim”]

Siapakah yang memerangi mereka, tidak diragukan lagi kalau yang memerangi mereka adalah pengikut Imam Ali yaitu para penduduk Iraq, merekalah yang mendapatkan keutamaan yang disebutkan Imam Ali di atas. Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh Abu Sa’id Al Khudri yang berkata

قال أنتم قتلتموهم يا أهل العراق

Abu Sa’id berkata “kalian telah memerangi mereka wahai penduduk Irak”

Riwayat Abu Sa’id ini disebutkan dengan sanad yang shahih oleh Nasa’i dalam Sunan Nasa’i 5/158 no 8558 dan Abdullah bin Ahmad dalam As Sunnah no 1346, kemudian juga disebutkan oleh Abdullah bin Ahmad dalam As Sunnah no 1412 dengan lafaz “segala puji bagi Allah yang menjadikan penduduk Irak memerangi mereka”

.

.

.

Kesimpulan

Hadis Khawarij tidaklah menjadi hujjah untuk menafikan hadis Najd bahkan bisa dikatakan kalau khawarij sendiri bersumber dari Najd. Perang terhadap kaum khawarij yang dilakukan imam Ali memang terjadi di Nahrawan Iraq tetapi sumber munculnya atau asal usul khawarij itu bermula dari penduduk Najd yaitu Dzul Khuwaisirah dan para sahabatnya. Jadi disini hadis fitnah Najd masih klop atau sesuai dengan hadis fitnah khawarij. Salam Damai

 

Novel “Ayat Ayat Asmara” karya ferizal ( NOVEL ROMEO AND JULiET VERSi MUSLiM ) ternyata mampu menyaingi Novel ‘Ayat Ayat Cinta’ Kang Abik

COMING SOON!!!

Novel “Ayat Ayat Asmara” karya ferizal ( NOVEL ROMEO AND JULiET VERSi MUSLiM ) ternyata mampu menyaingi Novel ‘Ayat Ayat Cinta’ Kang Abik

Novel “Ayat Ayat Asmara”, novel karya ferizal ketua NAFC Aceh ( sang pelopor sastra novel dokter gigi Indonesia)… Novel ini diterbitkan oleh Penerbit Meta Kata, April 2014
.
Novel “Ayat Ayat Asmara” dapat dianggap mampu menyaingi Novel “Ayat Ayat Cinta” karena inilah NOVEL ROMEO AND JULiET VERSi MUSLiM
.
Judul Novel ke 5 ferizal : Ayat-ayat Asmara
Penulis: Ferizal
Pemerhati Aksara: Risty Arvel
Pewajah Sampul: de A media kreatif…
Penata Letak Isi: de A media kreatif

COMING SOON!!!

ISBN: 978-602-1203-35-4

COMING SOON!!!

Harga: Rp 35.000,- (belum termasuk ongkir)

COMING SOON!!!

Order:
SMS ke 081907820606
dengan format “Judul Buku-Nama-Alamat-Jumlah Order”

COMING SOON!!!

Sinopsis:

“Ayat-Ayat Asmara”, sebuah novel bergenre action thriller
yang sarat dengan aksi pembalasan dendam hancur-
hancuran. Inilah kisah Romeo dan Juliet versi Muslim.
Seorang Dokter bernama Ustad Ferizal Romeo, jiwanya
telah melebur jadi satu dalam kesucian cinta, dengan
almarhumah isterinya yang bernama
Ustazah Drg. Diana Juliet yang tewas dibunuh teroris
radikal ketika berada di New York, Amerika Serikat.

Jenny Spears dan Ferizal Romeo, bersumpah menyuguhkan
aksi balas dendam dengan membantai teroris. Inilah kisah dua
insan yang tidak punya pilihan lain. Lalu, terpaksa mengambil
keputusan untuk menyelesaikan masalah dengan caranya
sendiri, gagah berani, dan pantang menyerah—dengan segala keterbatasan    

ketika mencari keadilan. Jenny Spears dan
Ferizal Romeo melakukan aksi berani mati di New York.

“Di dalam hidupku, hanya Drg. Diana yang kuundang singgah
di hatiku.

Hanya Drg. Diana yang aku inginkan.

Ya Tuhan,
Engkau tahu bahwa aku sangat mencintai Drg. Diana.

Satukanlah kami, karena aku hanya meminta Drg. Diana untuk
menjadi pendamping hidupku yang hanya sekali di alam fana,
juga untuk kehidupan abadiku nantinya.

Hanya Drg. Diana.
Betapa besar cintaku padanya… Aku tidak ingin yang lain.”

 

Novel ini merupakan serial ke-5 dari “Legenda Cinta Kasih
Abadi Dokter Feriza—Drg. Diana”.

Novel sebelumnya, yakni
1. Pertarungan Maut di Malaysia

2. Ninja Malaysia Bidadari
Indonesia

3.Superhero Malaysia Indonesia

4.Garuda Cinta
Harimau Malaya,

web : http://www.noveldoktergigi.wordpress.com

facebook : http://www.facebook.com/ferizal.dokternovel

 

……………………………………………………………………………….

http://nenyok.files.wordpress.com/2008/03/aac2.gif?w=344&h=254

NOVEL AYAT AYAT CiNTA KANG ABiK

Membaca novel Habiburrahman juga memberi pencerdasan dan bisa meningkatkan kualitas masyarakat. Yang lebih penting, setelah membaca novel ini, pembaca mampu menegakkan amar makruf nahi mungkar serta mampu melakukan syiar Islam melalui sebuah tulisan
.
Dalam novel ini terdapat keganjilan yaitu pada karakter tokoh utama, Fahri, terlalu diidealisasikan secara berlebihan. Ia begitu suci tanpa cacat, seperti malaikat. Jika itu dimaksudkan sebagai teladan, saya tidak yakin ada manusia zaman sekarang yang mampu menirunya. Dalam beberapa hal, kesucian Fahri itu terasa naif, bahkan kejam. Misalnya saat Maria sakit dan pingsan, Fahri tetap bersikukuh tidak mau menyentuhnya, padahal itulah satu-satunya cara agar Maria bisa siuman. Saya ragu apakah keteguhan Fahri yang dilandasi syariat itu patut mendapat pujian
.
Novel ini kuat dalam menggambarkan latar (setting), tetapi lemah dalam menampilkan latar belakang (background). Latar belakang di sini adalah kondisi sosial-politik-budaya Mesir waktu cerita terjadi. Pintu masuk ke sana sudah terbuka sebetulnya, yakni saat Fahri dijebloskan ke penjara. Sayang, ia hanya dituduh berzina, bukan dituduh teroris, misalnya
.
Dengan melibatkan sang tokoh ke dalam konteks politik semacam itu, entah sebagai aktivis atau sekadar korban, novel ini akan lebih meraksasa. Kekurangan latar belakang ini menjadikan Ayat-ayat Cinta urung menjadi novel besar, dan tak lebih dari kisah cinta biasa
.
Ayat-ayat cinta adalah sebuah novel yang ditulis oleh Habiburrahman El Shirazy. Ia adalah seorang sarjana lulusan mesir novel ini merupakan novel islami yang mencoba menebarkan dakwah melalui sebuah karya seni, namun setelah ditelaah lebih lanjut ternyata novel ini merupakan gabungan dari novel islami, budaya dan juga novel cinta yang banyak disukai anak muda. Dengan kata lain, novel ini merupakan sarana yang tepat sebagai media penyaluran dakwah kepada siapa saja yang ingin mengetahui lebih tentang islam
.
Novel ini bercerita tentang perjalanan cinta dua anak manusia yang berbeda latar belakang dan budaya. Fahri, mahasiswa Indonesia yang sedang studi di Universitas Al-Azar Mesir. Aisha, adalah mahasiswi asal jerman yang kebetulan juga sedang studi di mesir. Kisah cinta ini berawal ketika mereka secara tak sengaja betemu dalam sebuah perdebatan sengit dalam sebuah metro
.
Novel ini juga menceritakan tentang bagaimana tokoh utama menghadapi turun-naiknya persoalan hidup dengan cara Islam. Fahri bin Abdillah adalah pelajar Indonesia yang berusaha menggapai gelar masternya di Al Ahzar. Berjibaku dengan panas-debu Mesir. Berkutat dengan berbagai macam target dan kesederhanaan hidup. Bertahan dengan menjadi penerjemah buku-buku agama. Semua target dijalani Fahri dengan penuh antusias
.
Berdasarkan uraian tersebut maka dapat diketahui tema yang diangkat dalam novel ini masih berkaitan dengan masalah cinta. Tema tentang cinta selalu menarik sehingga banyak digemari masyarakat
.
Novel Ayat-Ayat cinta dapat dikatakan
sebagai sarana penyampaian dakwah kapada masyarakat dan sebagai sarana penyampaian dakwah tentunya untuk membaca novel ini tidak memerlukan intepretasi yang terlalu dalam jadi novel ini bersifat menghibur sehingga novel ini dapat dikategorikan sebagai novel popular
.
Selain berkisah tentang cinta di dalam novel ini juga terdapat perdebatan antar dua negara hal ini seperti nampak pada saat kejadian di dalam metro, pada waktu itu Fahri sedang dalam perjalanan menuju masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq yang terletak di Shubra El-kaima. Di dalam metro kemudian ia berkenalan dengan seorang pemuda mesir bernama Ashraf yang juga seorang muslim, mereka bercerita tentang banyak hal, termasuk tentang kebencian Ashraf kepada Amerika, ia geram sekali pada Amerika
.
Bahkan saat tiga orang bule yang berkewarganegaraan Amerika naik kedalam metro, satu diantara orang bule itu adalah seorang nenek yang kelihatanya sangat lelah. Biasanya orang Mesir akan memberikan tempat duduknya apabila ada wanita yang tidak mendapat tempat duduk, namun kali ini tidak. Mungkin karena kebencian mereka yang teramat sangat kepada Amerika
.
Ashraf kembali mengajakku berbincang. Kali ini tentang Amerika. Ia geram sekali pada Amerika. Seribu alasan ia beberkan. Kata-katanya menggebu seperti Presiden Gamal Abdul Naser berorasi memberi semangat dunia Arab dalam perang 1967 (El Shirazy, 2004 : 36)
.
“ayatollah Khomeini benar, Amerika itu setan! Setan harus dienyahkan!” katanya berapi-api (El Shirazy, 2004 : 36).
.
Peristiwa tersebut menunjukan adanya konflik dan perbedaan latar belakang budaya atara Mesir dan Amerika. Orang mesir menganggap Amerika sebagai biang kerusuhan di Timur Tengah. Orang mesir sangat marah pada Amerika yang mencoba menggadu domba umat islam dengan umat Kristen Koptik.

.

Amerika pernah menuduh pemerintah Mesir dan kaum muslimin berlaku semena-mena pada umat koptik. Namun ternyata tuduhan itu hanya dusta belaka, tuduhan itu bertujuan hendak menghancurkan sendi-sendi persaudaraan umat Islam dan umat Koptik yang telah kuat. Hal ini dapat dikatakan sebagai kritik sosial yang terdapat dalam novel ini karena peristiwa tersebut memaparkan kebencian Mesir terhadap Amerika
.
Begitu pintu metro terbuka, beberapa penumpang turun. Lalu beberapa orang naik masuk. Mataku menangkap ada tiga orang bule masuk. Yang seorang nenek-nenek. Ia memakai kaos dan celana pendek sampai lutut. Pemandangan yang belum pernah ada di desaku. Aku membayangkan jika di desaku ada nenek-nenek memakai pakaian seperti itu mungkin sudah dianggap orang gila (El Shirazy, 2004 : 38)
.
Kutipan di atas menunjukan peristiwa di dalam metro yaitu saat Fahri dalam perjalanan ke Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq untuk talaqqi pada Syaikh Utsman Abdul Fattah. Di dalam metro itu Fahri melihat bule yang memakai kaos dan celana pendek sampai lutut. Ia tetkejut melihat bule itu. Hal ini menunjukan adanya perbedaan budaya antara budaya Timur dan budaya Barat. Budaya barat orang berpakaian ketat sampai terlihat auratnya merupakan hal yang biasa sedangkan budaya timur menganggap bila orang berpakaian ketat sampai terlihat auratnya sudah dianggap seperti orang gila. Melalui novel ini nampaknya penulis ingin menyampaikan kepada masyarakat sekaligus menegaskan bahwa ada perbedaan latar belakang budaya Barat dan Timur
.
Selain itu juga masih terdapat kritik sosial yang lain, dalam novel ini diceritakan bahwa fahri bersama temannya tinggal di apartemen mereka bertetangga dengan sebuah keluarga Kristen koptik walaupun aqidah dan keyakinan mereka berbeda, namun antara keluarga fahri dan keluarga Boutros terjalin hubungan yang sangat baik. Di Mesir, bukanlah suatu keanehan apabila keluarga Kristen koptik dan kelurga muslim dapat hidup berdampingan dengan damai dalam masyarakat
.
Namun, mungkin ceritanya akan menjadi lain bila itu terjadi di Indonesia karena kesadaran sebagian masyarakat Indonesia akan pluralitas beragama agaknya sedikit kurang. Apa yang diceritakan dalam novel ini mungkin agar masyarakat kita sadar tentang indahnya hidup damai meskipun berbeda aqidah, karena pada hakikatnya perbedaan itu hal yang biasa bergantung bagaimana kita menyikapinya
.
Pada bagian lain novel ini menceritakan tokoh yang bernama Maria. Maria adalah gadis mesir yang manis dan baik budi pekertinya. Walaupun Maria itu seorang non-muslim ia mampu menghafal dua surah yang ada dalam Al-Quran dengan baik yang belum tentu seorang muslim mampu melakukannya. Ia hafal surat Al-Maidah dan surat Maryam
.
Melalui tokoh Maria agaknya penulis ingin menyadarkan kita terutama umat muslim dan tentunya kita malu melihat tokoh Maria. Karena ia yang seorang non-muslim bisa hafal Al-Quran sedangkan kita yang mengaku muslim mungkin membuka Al-Quran saja belum tentu kita lakukan setiap hari. Dengan kritikan ini diharapkan kita dapat bercermin kemudian memperbaiki diri kita
.
Kritik sosial juga nampak pada peristiwa saat Fahri ditangkap oleh polisi Mesir dengan tuduhan memperkosa Noura. Sikap arogansi seorang polisi yang kurang mengedepankan asas praduga tak bersalah, termasuk fakta brutal yang terdapat dalam novel tersebut. Fakta brutal lainnya dalam novel ini adalah perilaku suap yang saat ini kian marak
.
Kritik sosial terhadap fakta brutal yang hidup di tengah-tengah masyarakat merupakan salah satu muatan yang bisa dipetik dari novel Ayat-Ayat Cinta (AAC) karya Habiburrahman El Shirazy

menyebut Imam Ali bin Abi Thalib dianggap berlebihan ?

 

kok menyebut Imam Ali bin Abi Thalib dianggap berlebihan ? sementara menyebut Imam Bukhori, Imam Ghozali, Imam Syafi’i bagaimana ? mana diantara mereka yang lebih ‘alim ?

Ikatan Jama’ah Ahlul Bait Indonesia) MULAI MENYEBAR Di TOKO-TOKO BUKU SELURUH INDONESIA…

Beberapa tahun ini, memang kebangkitan keilmuan Islam di Negeri Indonesia ini, alhamdulillah sangat terasa sekali, dengan menyebarnya kajian – kajian ilmiah, dan dibuka nya ma’had – ma’had islam, dan diterbitkan nya majalah – majalah yang bermanfaat.

ajaran Syi’ah tak terbendung. Dimana buku – buku kami sekarang  beredar di toko – toko buku umum. Bahkan tiap bulan nya, ada 3 atau 5 buku yang masuk dan beredar di toko buku umum, seperti di toko buku Gramedia,Gunung Agung dan yang lain nya.

Penerbit : Lentera
1. Akhlak Keluarga Nabi, Musa Jawad Subhani
2. Ar-Risalah, Syaikh Ja’far Subhani
3. As-Sair Wa As-suluk, Sayid Muhammad Mahdi Thabathaba’i Bahrul Ulum
4. Bagaimana Membangun Kepribadian Anda, Khalil Al Musawi
5. Bagaimana Menjadi Orang Bijaksana, Khalil al-Musawi
6. Bagaimana Menyukseskan Pergaulan, Khalil al-Musawi
7. Belajar Mudah Tasawuf, Fadlullah Haeri
8. Belajar Mudah Ushuluddin, Syaikh Nazir Makarim Syirasi
9. Berhubungan dengan Roh, Nasir Makarim Syirazi
10. Ceramah-Ceramah (1), Murtadha Muthahhari
11. Ceramah-Ceramah (2), Murtadha Muthahhari
12. Dunia Wanita Dalam Islam, Syaikh Husain Fadlullah
13. Etika Seksual dalam Islam, Murtadha Muthahhari
14. Fathimah Az-Zahra, Ibrahim Amini
15. Fiqih Imam Ja’far Shadiq [1], Muhammad Jawad Mughniyah
16. Fiqih Imam Ja’far Shadiq Buku [2], Muh Jawad Mughniyah
17. Fiqih Lima Mazhab, Muh Jawad Mughniyah
18. Fitrah, Murthadha Muthahhari
19. Gejolak Kaum Muda, Nasir Makarim Syirazi
20. Hak-hak Wanita dalam Islam, Murtadha Muthahhari
21. Imam Mahdi Figur Keadilan, Jaffar Al-Jufri (editor)
22. Kebangkitan di Akhirat, Nasir Makarim Syirazi
23. Keutamaan & Amalan Bulan Rajab, Sya’ban dan Ramadhan,Sayid Mahdi
al-Handawi
24. Keluarga yang Disucikan Allah, Alwi Husein, Lc
25. Ketika Bumi Diganti Dengan Bumi Yang Lain, Jawadi Amuli
26. Kiat Memilih Jodoh, Ibrahim Amini
27. Manusia Sempurna, Murtadha Muthahhari
28. Mengungkap Rahasia Mimpi, Imam Ja’far Shadiq
29. Mengendalikan Naluri, Husain Mazhahiri
30. Menumpas Penyakit Hati, Mujtaba Musawi Lari
31. Metodologi Dakwah dalam Al-Qur’an, Husain Fadhlullah
32. Monoteisme, Muhammad Taqi Misbah
33. Meruntuhkan Hawa Nafsu Membangun Rohani, Husain Mazhahiri
34. Memahami Esensi AL-Qur’an, S.M.H. Thabatabai
35. Menelusuri Makna Jihad, Husain Mazhahiri
36. Melawan Hegemoni Barat, M. Deden Ridwan (editor)
37. Mengenal Diri, Ali Shomali
38. Mengapa Kita Mesti Mencintai Keluarga Nabi Saw, Muhammad Kadzim Muhammad Jawad
39. Nahjul Balaghah, Syarif Radhi (penyunting)
40. Penulisan dan Penghimpunan Hadis, Rasul Ja’farian
41. Perkawinan Mut’ah Dalam Perspektif Hadis dan Tinjauan Masa Kini, Ibnu Mustofa (editor)
42. Perkawinan dan Seks dalam Islam, Sayyid Muhammad Ridhwi
43. Pelajaran-Pelajaran Penting Dalam Al-Qur’an (1), Murtadha Muthahhari
44. Pelajaran-Pelajaran Penting Dalam Al-Qur’an (2), Murtadha Muthahhari
45. Pintar Mendidik Anak, Husain Mazhahiri
46. Rahasia Alam Arwah, Sayyid Hasan Abthahiy
47. Suara Keadilan, George Jordac
48. Yang Hangat dan Kontroversial dalam Fiqih, Ja’far Subhani
49. Wanita dan Hijab, Murtadha Muthahhari

Penerbit : Pustaka Hidayah
1. 14 Manusia Suci, WOFIS IRAN
2. 70 Salawat Pilihan, Al-Ustads Mahmud Samiy
3. Agama Versus Agama, Ali Syari’ati
4. Akhirat dan Akal, M Jawad Mughniyah
5. Akibat Dosa, Ar-Rasuli Al-Mahalati
6. Al-Quran dan Rahasia angka-angka, Abu Zahrah Al Najdiy
7. Asuransi dan Riba, Murtadha Muthahhari
8. Awal dan Sejarah Perkembangan Islam Syiah, S Husain M Jafri
9. Belajar Mudah Ushuluddin, Dar al-Haqq
10. Bimbingan Keluarga dan Wanita Islam, Husain Ali Turkamani
11. Catatan dari Alam Ghaib, S Abd Husain Dastaghib
12. Dari Saqifah Sampai Imamah, Sayyid Husain M. Jafri
13. Dinamika Revolusi Islam Iran, M Riza Sihbudi
14. Falsafah Akhlak, Murthadha Muthahhari
15. Falsafah Kenabian, Murthada Muthahhari
16. Gerakan Islam, A. Ezzati
17. Humanisme Antara Islam dan Barat, Ali Syari’ati
18. Imam Ali Bin Abi Thalib & Imam Hasan bin Ali Ali Muhammad Ali
19. Imam Husain bin Ali & Imam Ali Zainal Abidin Ali Muhammad Ali
20. Imam Muhammad Al Baqir & Imam Ja’far Ash-Shadiq Ali Muhammad Ali
21. Imam Musa Al Kadzim & Imam Ali Ar-Ridha Ali Muhammad Ali
22. Inilah Islam, SMH Thabataba’i
23. Islam Agama Keadilan, Murtadha Muthahhari
24. Islam Agama Protes, Ali Syari’ati
25. Islam dan Tantangan Zaman, Murthadha Muthahhari
26. Jejak-jejak Ruhani, Murtadha Muthahhari
27. Kepemilikan dalam Islam, S.M.H. Behesti
28. Keutamaan Fatimah dan Ketegaran Zainab, Sayyid Syarifuddin Al Musawi
29. Keagungan Ayat Kursi, Muhammad Taqi Falsafi
30. Kisah Sejuta Hikmah, Murtadha Muthahhari
31. Kisah Sejuta Hikmah [1], Murthadha Muthahhari
32. Kisah Sejuta Hikmah [2],Murthadha Muthahhari
33. Memilih Takdir Allah, Syaikh Ja’far Subhani
34. Menapak Jalan Spiritual, Muthahhari & Thabathaba’i
35. Menguak Masa Depan Umat Manusia, Murtadha Muthahhari
36. Menolak Isu Perubahan Al-Quran, Rasul Ja’farian
37. Mengurai Tanda Kebesaran Tuhan, Imam Ja’far Shadiq
38. Misteri Hari Pembalasan, Muhsin Qara’ati
39. Muatan Cinta Ilahi, Syekh M Mahdi Al-syifiy
40. Nubuwah Antara Doktrin dan Akal, M Jawad Mughniyah
41. Pancaran Cahaya Shalat, Muhsin Qara’ati
42. Pengantar Ushul Fiqh, Muthahhari & Baqir Shadr
43. Perayaan Maulid, Khaul dan Hari Besar Islam, Sayyid Ja’far Murtadha al-Amili
44. Perjalanan-Perjalanan Akhirat, Muhammad Jawad Mughniyah
45. Psikologi Islam, Mujtaba Musavi Lari
46. Prinsip-Prinsip Ijtihad Dalam Islam, Murtadha Muthahhari& M. Baqir Shadr
47. Rasulullah SAW dan Fatimah Ali Muhammad Ali
48. Rasulullah: Sejak Hijrah Hingga Wafat, Ali Syari’ati
49. Reformasi Sufistik, Jalaluddin Rakhmat
50. Salman Al Farisi dan tuduhan Terhadapnya, Abdullah Al Sabitiy
51. Sejarah dalam Perspektif Al-Quran, M Baqir As-Shadr
52. Tafsir Surat-surat Pilihan [1], Murthadha Muthahhari
53. Tafsir Surat-surat Pilihan [2], Murthadha Muthahhari
54. Tawasul, Tabaruk, Ziarah Kubur, Karamah Wali, Syaikh Ja’far Subhani
55. Tentang Dibenarkannya Syafa’at dalam Islam, Syaikh Ja’far Subhani
56. Tujuan Hidup, M.T. Ja’fari
57. Ummah dan Imamah, Ali Syari’ati
58. Wanita Islam & Gaya Hidup Modern, Abdul Rasul Abdul Hasan al-Gaffar

Penerbit : MIZAN
1. 40 Hadis [1], Imam Khomeini
2. 40 Hadis [2], Imam Khomeini
3. 40 Hadis [3], Imam Khomeini
4. 40 Hadis [4], Imam Khomeini
5. Akhlak Suci Nabi yang Ummi, Murtadha Muthahhari
6. Allah dalam Kehidupan Manusia, Murtadha Muthahhari
7. Bimbingan Islam Untuk Kehidupan Suami-Istri, Ibrahim Amini
8. Berhaji Mengikuti Jalur Para Nabi, O.Hasem
9. Dialog Sunnah Syi’ah, A Syafruddin al-Musawi
10. Eksistensi Palestina di Mata Teheran dan Washington, M Riza Sihbudi
11. Falsafah Pergerakan Islam, Murtadha Muthahhari
12. Falsafatuna, Muhammad Baqir Ash-Shadr
13. Filsafat Sains Menurut Al-Quran, Mahdi Gulsyani
14. Gerakan Islam, A Ezzati
15. Hijab Gaya Hidup Wanita Muslim, Murtadha Muthahhari
16. Hikmah Islam, Sayyid M.H. Thabathaba’i
17. Ideologi Kaum Intelektual, Ali Syari’ati
18. Ilmu Hudhuri, Mehdi Ha’iri Yazdi
19. Islam Aktual, Jalaluddin Rakhmat
20. Islam Alternatif, Jalaluddin Rakhmat
21. Islam dan Logika Kekuatan, Husain Fadhlullah
22. Islam Mazhab Pemikiran dan Aksi, Ali Syari’ati
23. Islam Dan Tantangan Zaman, Murtadha Muthahhari
24. Islam, Dunia Arab, Iran, Barat Dan Timur tengah, M Riza Sihbudi
25. Isu-isu Penting Ikhtilaf Sunnah-Syi’ah, A Syafruddin Al Musawi
26. Jilbab Menurut Al Qur’an & As Sunnah, Husain Shahab
27. Kasyful Mahjub, Al-Hujwiri
28. Keadilan Ilahi, Murtadha Muthahhari
29. Kepemimpinan dalam Islam, AA Sachedina
30. Kritik Islam Atas Marxisme dan Sesat Pikir Lainnya, Ali Syari’ati
31. Lentera Ilahi Imam Ja’far Ash Shadiq
32. Manusia dan Agama, Murtadha Muthahhari
33. Masyarakat dan sejarah, Murtadha Muthahhari
34. Mata Air Kecemerlangan, Hamid Algar
35. Membangun Dialog Antar Peradaban, Muhammad Khatami
36. Membangun Masa Depan Ummat, Ali Syari’ati
37. Mengungkap Rahasia Al-Qur’an, SMH Thabathaba’i
38. Menjangkau Masa Depan Islam, Murtadha Muthahhari
39. Menjawab Soal-soal Islam Kontemporer, Jalaluddin Rakhmat
40. Menyegarkan Islam, Chibli Mallat (*0
41. Menjelajah Dunia Modern, Seyyed Hossein Nasr
42. Misteri Kehidupan Fatimah Az-Zahra, Hasyimi Rafsanjani
43. Muhammad Kekasih Allah, Seyyed Hossein Nasr
44. Muthahhari: Sang Mujahid Sang Mujtahid, Haidar Bagir
45. Mutiara Nahjul Balaghah, Muhammad Al Baqir
46. Pandangan Dunia Tauhid,. Murtadha Muthahhari
47. Para Perintis Zaman Baru Islam,Ali Rahmena
48. Penghimpun Kebahagian, M Mahdi Bin Ad al-Naraqi
49. PersinggahanPara Malaikat, Ahmad Hadi
50. Rahasia Basmalah Hamdalah, Imam Khomeini
51. Renungan-renungan Sufistik, Jalaluddin Rakhmat
52. Rubaiyat Ummar Khayyam, Peter Avery
53. Ruh, Materi dan Kehidupan, Murtadha Muthahhari
54. Spritualitas dan Seni Islam, Seyyed Hossein Nasr
55. Syi’ah dan Politik di Indonesia, A. Rahman Zainuddin (editor)
56. Sirah Muhammad, M. Hashem
57. Tauhid Dan Syirik, Ja’far Subhani
58. Tema-Tema Penting Filsafat, Murtadha Muthahhari
59. Ulama Sufi & Pemimpin Ummat, Muhammad al-Baqir

Penerbit : YAPI JAKARTA
1. Abdullah Bin Saba’ dalam Polemik, Non Mentioned
2. Abdullah Bin Saba’ Benih Fitnah, M Hashem
3. Al Mursil Ar Rasul Ar Risalah, Muhammad Baqir Shadr
4. Cara Memahami Al Qur’an, S.M.H. Bahesti
5. Hukum Perjudian dalam Islam, Sayyid Muhammad Shuhufi
6. Harapan Wanita Masa Kini, Ali Shari’ati
7. Hubungan Sosial Dalam Islam, Sayyid Muh Suhufi
8. Imam Khomeini dan Jalan Menuju Integrasi dan Solidaritas Islam, Zubaidi Mastal
9. Islam Dan Mazhab Ekonomi, Muhammad Baqir Shadr
10. Kedudukan Ilmu dalam Islam, Sayyid Muh Suhufi
11. Keluarga Muslim, Al Balaghah Foundation
12. Kebangkitan Di Akhirat, Nasir Makarim Syirazi
13. Keadilan Ilahi, Nasir Makarim Syirazi
14. Kenabian, Nasir Makarim Syirazi
15. Kota Berbenteng Tujuh, Fakhruddin Hijazi
16. Makna Ibadah, Muhammad Baqir Shadr
17. Menuju Persahabatan, Sayyid Muh Suhufi
18. Mi’raj Nabi, Nasir Makarim Syrazi
19. Nasehat-Nasehat Imam Ali, Non Mentioned
20. Prinsip-Prinsip Ajaran Islam, SMH Bahesti
21. Perjuangan Melawan Dusta, Bi’that Foundation
22. Persaudaraan dan Persahabatan, Sayyid Muh Suhufi
23. Perjanjian Ilahi Dalam Al-Qur’an, Abdul Karim Biazar
24. Rasionalitas Islam, World Shi’a Muslim Org.
25. Syahadah, Ali Shari’ati
26. Saqifah Awal Perselisihan Umat, O Hashem
27. Sebuah Kajian Tentang Sejarah Hadis, Allamah Murthadha Al Askari
28. Tauhid, Nasir Makarim Syirazi
29. Wasiat Atau Musyawarah, Ali Shari’ati
30. Wajah Muhammad, Ali Shari’ati

Penerbit : YAPI Bangil
1. Akal dalam Al-Kafi, Husein al-Habsyi
2. Ajaran- ajaran Al-Quran, Sayid T Burqi & Bahonar
3. Bimbingan Sikap dan Perilaku Muslim, Al Majlisi Al-Qummi
4. Hawa Nafsu, M Mahdi Al Shifiy
5. Konsep Ulul Amri dalam Mazhab-mazhab Islam, Musthafa Al Yahfufi
6. Kumpulan Khutbah Idul Adha, Husein al-Habsyi
7. Kumpulan Khutbah Idul Fitri, Husein al-Habsyi
8. Metode Alternatif Memahami Al-Quran, Bi Azar Syirazi
9. Manusia Seutuhnya, Murtadha Muthahhari
10. Polemik Sunnah-Syiah Sebuah Rekayasa, Izzudddin Ibrahim
11. Pesan Terakhir Rasul, Non Mentioned
12. Pengantar Menuju Logika, Murtadha Muthahhari
13. Shalat Dalam Madzhab AhlulBait, Hidayatullah Husein Al-Habsyi

Penerbit : Rosdakarya
1. Catatan Kang Jalal, Jalaluddin Rakhmat
2. Derita Putri-Putri Nabi, M. Hasyim Assegaf
3. Fatimah Az Zahra, Jalaluddin Rakhmat
4. Khalifah Ali Bin Abi Thalib, Jalaluddin Rakhmat
5. Meraih Cinta Ilahi, Jalaluddin Rakhmat
6. Rintihan Suci Ahlul Bait Nabi, Jalaluddin Rakhmat
7. Tafsir Al fatihah: Mukaddimah, Jalaluddin Rakhmat
8. Tafsir Bil Ma’tsur, Jalaluddin Rakhmat
9. Zainab Al-Qubra, Jalaluddin Rakhmat

Penerbit : Al-Hadi
1. Al-Milal wan-Nihal, Ja’far Subhani
2. Buku Panduan Menuju Alam Barzakh, Imam Khomeini
3. Fiqh Praktis, Hasan Musawa

Penerbit : CV Firdaus
1. Al-Quran Menjawab Dilema keadilan, Muhsin Qira’ati
2. Imamah Dan Khalifah, Murtadha Muthahhari
3. Keadilan Allah Qadha dan Qadhar, Mujtaba Musawi Lari
4. Kemerdekaan Wanita dalam Keadilan Sosial Islam, Hashemi Rafsanjani
5. Pendidikan Anak: Sejak Dini Hingga Masa Depan, Mahjubah Magazine
6. Tafsir Al Mizan: Ayat-ayat Kepemimpinan, S.M.H. Thabathaba’i
7. Tafsir Al-Mizan: Surat Al-Fatihah, S.M.H. Thabathaba’i
8. Tafsir Al-Mizan: Ruh dan Alam Barzakh, S.M.H. Thabathaba’i
9. Tauhid: Pandangan Dunia Alam Semesta, Muhsin Qara’ati
10. Al-Qur’an Menjawab Dilema Keadilan, Muhsin Qara’ati

Penerbit : Pustaka Firdaus
1. Saat Untuk Bicara, Sa’di Syirazi
2. Tasawuf: Dulu dan Sekarang, Seyyed Hossein Nasr

Penerbit : Risalah Masa
1. Akar Keimanan, Sayyid Ali Khamene’i
2. Dasar-Dasar Filsafat Islam[2], Bahesty & Bahonar
3. Hikmah Sejarah-Wahyu dan Kenabian [3], Bahesty & Bahonar
4. Kebebasan berpikir dan Berpendapat dalam Islam, Murtadha Muthahhari
5. Menghapus Jurang Pemisah Menjawab Buku al Khatib, Al Allamah As Shafi
6. Pedoman Tafsir Modern, Ayatullah Baqir Shadr
7. Kritik Terhadap Materialisme, Murtadha Muthahhari
8. Prinsip-Prinsip Islam [1], Bahesty & Bahonar
9. Syi’ah Asal-Usul dan Prinsip Dasarnya, Sayyid Muh. Kasyful Ghita
10. Tauhid Pembebas Mustadh’afin, Sayyid Ali Khamene’i
11. Tuntunan Puasa, Al-Balagha
12. Wanita di Mata dan Hati Rasulullah, Ali Syari’ati
13. Wali Faqih: Ulama Pewaris Kenabian,

Penerbit : Qonaah
1. Pendekatan Sunnah Syi’ah, Salim Al-Bahansawiy

Penerbit : Bina Tauhid
1. Memahami Al Qur’an, Murthadha Muthahhari

Penerbit : Mahdi
1. Tafsir Al-Mizan: Mut’ah, S.M.H. Thabathabai

Penerbit : Ihsan
1. Pandangan Islam Tentang Damai-Paksaan, Muhammad Ali Taskhiri

Penerbit : Al-Kautsar
1. Agar Tidak Terjadi Fitnah, Husein Al Habsyi
2. Dasar-Dassar Hukum Islam, Muhsin Labib
3. Nabi Bermuka Manis Tidak Bermuka Masam, Husein Al Habsyi
4. Sunnah Syi’ah Dalam Ukhuwah Islamiyah, Husain Al Habsyi
5. 60 Hadis Keutamaan Ahlul Bait, Jalaluddin Suyuti

Penerbit : Al-Baqir
1. 560 Hadis Dari Manusia Suci, Fathi Guven
2. Asyura Dalam Perspektif Islam, Abdul Wahab Al-Kasyi
3. Al Husein Merajut Shara Karbala, Muhsin Labib
4. Badai Pembalasan, Muhsin Labib
5. Darah Yang Mengalahkan Pedang, Muhsin Labib
6. Dewi-Dewi Sahara, Muhsin Labib
7. Membela Para Nabi, Ja’far Subhani
8. Suksesi, M Baqir Shadr
9. Tafsir Nur Tsaqalain, Ali Umar Al-Habsyi

Penerbit : Al-Bayan
1. Bimbingan Islam Untuk Kehidupan Suami Istri, Ibrahim Amini
2. Mengarungi Samudra Kebahagiaan, Said Ahtar Radhawi
3. Teladan Suci Kelurga Nabi, Muhammad Ali Shabban

Penerbit : As-Sajjad
1. Bersama Orang-orang yang Benar, Muh At Tijani
2. Imamah, Ayatullah Nasir Makarim Syirazi
3. Ishmah Keterpeliharaan Nabi Dari Dosa, Syaikh Ja’far Subhani
4. Jihad Akbar, Imam Khomeini
5. Kemelut Kepemimpinan, Ayatullah Muhammad Baqir Shadr
6. Kasyful Asrar Khomeini, Dr. Ibrahim Ad-Dasuki Syata
7. Menjawab Berbagai Tuduhan Terhadap Islam, Husin Alhabsyi
8. Nabi Tersihir, Ali Umar
9. Nikah Mut’ah Ja’far, Murtadha Al Amili
10. Nikah Mut;ah Antara Halal dan Haram, Amir Muhammad Al-Quzwainy
11. Surat-Surat Revolusi, AB Shirazi

Penerbit : Basrie Press
1. Ali Bin Abi Thalib di Hadapan Kawan dan Lawan, Murtadha Muthahhari
2. Manusia Dan Takdirnya, Murtadha Muthahhari
3. Fiqh Lima Mazhab, Muhammad Jawad Mughniyah

Penerbit : Pintu Ilmu
1. Siapa, Mengapa Ahlul Bayt, Jamia’ah Al-Ta’limat Al-Islamiyah Pakistan

Penerbit : Ulsa Press
1. Mengenal Allah, Sayyid MR Musawi Lari
2. Islam Dan Nasionalisme, Muhammad Naqawi
3. Latar Belakang Persatuan Islam, Masih Muhajeri
4. Tragedi Mekkah Dan Masa Depan Al-Haramain, Zafar Bangash
5. Abu Dzar, Ali Syari’ati
6. Aqidah Syi’ah Imamiyah, Syekh Muhammad Ridha Al Muzhaffar
7. Syahadat Bangkit Bersaksi, Ali Syari’ati

Penerbit : Gua Hira
1. Kepemimpinan Islam, Murtadha Muthahhari

Penerbit : Grafiti
1. Islam Syi’ah: Allamah M.H. Thabathaba’i
2. Pengalaman Terakhir Syah, William Shawcross
3. Tugas Cendikiawan Muslim, Ali Syaria’ti

Penerbit : Effar Offset
1. Dialog Pembahasan Kembali Antara Sunnah & Syi’ah Sulaim Al-Basyari & Syaraduddien Al ‘Amili

Penerbit : Shalahuddin Press
1. Fatimah Citra Muslimah Sejati, Ali Syari’ati
2. Gerbang Kebangkitan, Kalim Siddiqui
3. Islam Konsep Akhlak Pergerakan, Murtadha Muthahhari
4. Panji Syahadah, Ali Syari’ati.
5. Peranan Cendekiawan Muslim, Ali Syari’ati

Penerbit : Ats-Tsaqalain
1. Sunnah Syi’ah dalam Dialog, Husein Al Habsyi

Penerbit : Pustaka
1. Kehidupan Yang Kekal, Morteza Muthahari

Penerbit : Darut Taqrib
1. Rujuk Sunnah Syi’ah, M Hashem

Penerbit : Al-Muntazhar
1. Fiqh Praktis Syi’ah Imam Khomeini, Araki, Gulfaigani, Khui
2. Ringkasan Logika Muslim, Hasan Abu Ammar
3. Saqifah Awal Perselisihan Umat, O Hashem
4. Tauhid: Rasionalisme Dan Pemikiran dalam Islam, Hasan Abu Ammar

Penerbit : Gramedia
1. Biografi Politik Imam Khomeini, Riza Sihbudi

Penerbit : Toha Putra
1. Keutamaan Keluarga Rasulullah, Abdullah Bin Nuh

Penerbit : Gerbang Ilmu
1. Tafsir Al-Amtsal (Jilid 1), Nasir Makarim Syirazi

Penerbit : Al-Jawad
1. Amalan Bulan Ramadhan Husein Al-Kaff
2. Mi’raj Ruhani [1], Imam Khomeini
3. Mi’raj Ruhani [2] Imam Khomeni
4. Mereka Bertanya Ali Menjawab, M Ridha Al-Hakimi
5. Pesan Sang Imam, Sandy Allison (penyusun)
6. Puasa dan Zakat Fitrah Imam Khomeini & Imam Ali Khamene’i
Penerbit : Jami’ah al-Ta’limat al-Islamiyah
1. Tuntutan Hukum Syari’at, Imam Abdul Qasim

Penerbit : Sinar Harapan
1. Iran Pasca Revolusi, Syafiq Basri
2. Perang Iran Perang Irak, Nasir Tamara
3. Revolusi Iran, Nasir Tamara

Penerbit : Mulla Shadra
1. Taman Para Malaikat, Husain Madhahiri
2. Imam Mahdi Menurut Ahlul Sunnah Wal Jama’ah, Hasan Abu Ammar

Penerbit : Duta Ilmu
1. Wasiat Imam Ali, Non Mentioned
2. Menuju Pemerintah Ideal, Non Mentioned

Penerbit : Majlis Ta’lim Amben
1. 114 Hadis Tanaman, Al Syeikh Radhiyuddien

Penerbit : Grafikatama Jaya
1. Tipologi Ali Syari’ati

Penerbit : Nirmala
1. Menyingkap Rahasia Haji, Syeikh Jawadi Amuli

Penerbit : Hisab
1. Abu Thalib dalam Polemik, Abu Bakar Hasan Ahmad

Penerbit : Ananda
1. Tentang Sosiologi Islam, Ali Syari’ati

Penerbit : Iqra
1. Islam dalam Perspektif Sosiologi Agama, Ali Shari’ati

Penerbit : Fitrah
1. Tuhan dalam Pandangan Muslim, S Akhtar Rizvi

Penerbit : Lentera Antarnusa
1. Sa’di Bustan, Sa’di

Penerbit : Pesona
1. Membaca Ali Bersama Ali Bin Abi Thalib, Gh R Layeqi

Penerbit : Rajawali Press
1. Tugas Cendekiawan Muslim, Ali Shari’ati

Penerbit : Bina Ilmu
1. Demonstran Iran dan Jum’at Berdarah di Makkah, HM Baharun

Penerbit : Pustaka Pelita
1. Akhirnya Kutemukan Kebenaran, Muh Al Tijani Al Samawi
2. Cara Memperoleh Haji Mabrur, Husein Shahab
3. Fathimah Az-Zahra: Ummu Abiha, Taufik Abu ‘Alama
4. Pesan Terakhir Nabi, Non Mentioned

Penerbit : Pustaka
1. Etika Seksual dalam Islam, Morteza Muthahhari
2. Filsafat Shadra, Fazlur Rahman
3. Haji, Ali Syari’ati
4. Islam dan Nestapa Manusia Modern, Seyyed Hosein Nasr
5. Islam Tradisi Seyyed, Hosein Nasr
6. Manusia Masa Kini Dan Problem Sosial, Muhammad Baqir Shadr
7. Reaksi Sunni-Syi’ah, Hamid Enayat
8. Surat-Surat Politik Imam Ali, Syarif Ar Radhi
9. Sains dan Peradaban dalam Islam, Sayyed Hossein Nasr

Penerbit : Pustaka Jaya
1. Membina Kerukunan Muslimin, Sayyid Murthadha al-Ridlawi

Penerbit : Islamic Center Al-Huda
1. Jurnal Al Huda (1)
2. Jurnal Al Huda (2)
3. Syiah Ditolak, Syiah Dicari, O. Hashem
4. Mutiara Akhlak Nabi, Syaikh Ja’far Hadi

Penerbit : Hudan Press
1. Tafsir Surah Yasin, Husain Mazhahiri
2. Do’a-Do;a Imam Ali Zainal Abidin

Penerbit : Yayasan Safinatun Najah
1. Manakah Jalan Yang Lurus (1), Al-Ustads Moh. Sulaiman Marzuqi Ridwan
2. Manakah Jalan Yang Lurus (2), Al-Ustads Moh. Sulaiman Marzuqi Ridwan
3. Manakah Jalan Yang Lurus (3), Al-Ustads Moh. Sulaiman Marzuqi Ridwan
4. Manakah Shalat Yang Benar (1), Al-Ustads Moh. Sulaiman Marzuqi Ridwan

Penerbit : Amanah Press
1. Falsafah Pergerakan Islam, Murtadha Muthahhari

Penerbit : Yayasan Al-Salafiyyah
1. Khadijah Al-Kubra Dalam Studi Kritis Komparatif, Drs. Ali S. Karaeng Putra

Penerbit : Kelompok Studi Topika
1. Hud-Hud Rahmaniyyah, Dimitri Mahayana

Penerbit : Muthahhari Press/Muthahhari Papaerbacks
1. Jurnal Al Hikmah (1)
2. Jurnal Al Hikmah (2)
3. Jurnal Al Hikmah (3)
4. Jurnal Al Hikmah (4)
5. Jurnal Al Hikmah (5)
6. Jurnal Al Hikmah (6)
7. Jurnal Al Hikmah (7)
8. Jurnal Al Hikmah (8)
9. Jurnal Al Hikmah (9)
10. Jurnal Al Hikmah (10)
11. Jurnal Al Hikmah (11)
12. Jurnal Al Hikmah (12)
13. Jurnal Al Hikmah (13)
14. Jurnal Al Hikmah (14)
15. Jurnal Al Hikmah (15)
16. Jurnal Al Hikmah (16)
17. Jurnal Al Hikmah (17)
18. Shahifah Sajjadiyyah, Jalaluddin Rakhmat (penyunting)
19. Manusia dan Takdirnya, Murtadha Muthahhari
20. Abu Dzar, Ali Syariati
21. Pemimpin Mustadha’afin, Ali Syariati

Penerbit : Serambi
1. Jantung Al-Qur’an, Syeikh Fadlullah Haeri
2. Pelita Al-Qur’an, Syeikh Fadlullah Haeri

Penerbit : Cahaya
1. Membangun Surga Dalam Rumah Tangga, Huzain Mazhahiri

(Non Mentioned)
1. Sekilas Pandang Tentang Pembantain di Masjid Haram, Non Mentioned
2. Jumat Berdarah Pembantaian Kimia Rakyat Halajba 1988, Non Mentioned
3. Al-Quran dalam Islam, MH Thabathabai
4. Ajaran-Ajaran Asas Islam, Behesti
5. Wacana Spiritual, Tabligh Islam Program
6. Keutamaan Membaca Juz Amma, Taufik Yahya
7. Keutamaan Membaca Surah Yasin, Waqiah, Al Mulk, Taufik Yahya
8. Keutamaan Membaca Surah Al-Isra & Al-Kahfi, Taufik Yahya
9. Bunga Rampai Keimanan, Taufik Yahya
10. Bunga Rampai Kehidupan Sosial, Taufik Yahya
11. Bunga Rampai Pendidikan, Husein Al-Habsyi
12. Hikmah-Hikmah Sholawat ,Taufik Yahya
13. Bunga Rampai Pernikahan, Taufik Yahya
14. Hikmah-Hikmah Puasa, Taufik Yahya
15. Hikmah-Hikmah Kematian, Taufik Yahya
16. Wirid Harian, Non Mentioned
17. Do’a Kumay,l Non Mentioned
18. Do’a Harian, Non Mentioned
19. Do’a Shobah, Non Mentioned
20. Do’a Jausyan Kabir, Non Mentioned
21. Keutamaan Shalat Malam Dan Do’anya, Non Mentioned
22. Do’a Nutbah, Non Mentioned
23. Do’a Abu Hamzah Atsimali, Non Mentioned
24. Do’a Hari Arafah (Imam Husain), Non Mentioned
25. Do’a Hari Arafah (Imam Sajjad), Non Mentioned
26. Do’a Tawassul, Non Mentioned
27. Do’a Untuk Ayah dan Ibu, Non Mentioned
28. Do’a Untuk Anak, Non Mentioned
29. Do’a Khatam Qur’an, Non Mentioned
30. Doa Sebelum dan Sesudah Baca Qur’an, Non Mentioned
31. Amalan Bulan Sya’ban dan Munajat Sya’baniyah, Non Mentioned

kata wahabi NU adalah ahlul bid’ah..apa itu sopan?

Krisis Indonesia akibat terorisme dan Bangkitnya wahabi Militan di Indonesia yang menyerang NU membuat web ini hadir untuk anda !

Black parade: Members of the Indonesian Ahlul Bait Asssociation (IJABI) attend the commemoration of Asyura Day in Bandung on Saturday. Shia Muslims across the globe observe Asyura on the 10th day of the first month of the Islamic lunar calendar. (JP/Arya Dipa)

Black parade: Members of the Indonesian Ahlul Bait Asssociation (IJABI) attend the commemoration of Asyura Day in Bandung.

Picture

.

.

.

.

Kelahiran IJABI Dengan dukungan GUDUR yang mengklaim “NU itu Syiah Minus Imamah”. Terbukti tokoh NU dibalik kebangkitan Syi’ah

Picture

………………………………….
Silaturrahmi Ketua Dewan Syura IJABI, Dr. Jalaluddin Rakhmat kepada Presiden Gus Dur setelah Deklarasi
pendirian IJABI
Kenapa wahabi tidak berani berkomentar ? walaupun sekedar menghujat caci maki seperti biasanya ? Atau kah mereka merasa sesak napas membaca isi dari berita kebenaran ini?
SULiT  BERSOPAN DENGAN WAHABi

sudah tepat bahasa yang diterapkan Ustad Syiahali…bersopan2,berbahasa lemah lembut denganwahabi  sudah tak mungkin….coba anda lihat betapa kasarnya dan merendahkannya ucapan mereka…

kata wahabi NU adalah ahlul bid’ah..apa itu sopan?

kata wahabi, tahlilan dan maulidan itu bid’ah..apa itu sopan?
kata wahabi, semua pelaku bid’ah tadi masuk neraka artinya bermilyar milyar manusia masuk neraka gara gara maulidan dan tahlilan, sementara syi’ah cuma menuduh mayoritas sahabat pasca wafat Nabi berbuat bid’ah…apa itu sopan?

kata wahabi, asy’ariyyah sesat..apa itu sopan?
kata wahabi, pengikut ahlulbait adalah antek yahudi…apa itu sopan??

kupas seluruh kitab wahabi bung..didalamnya banyak sekali cacian makian hujatan yang tidak pantas ada dalam kitab sucinya…..terus dukung Ustad Syiahali dan gaya bahasanya tak perlu dirubah..

Keunggulan dari Islam yg sejak dulu di akui (baca: di adopsi) oleh dunia barat adalah di bidang sains, ilmu pengetahuan dan teknologi. Saat ini seperti ada yang membuat kaum muslim utk sibuk mencari pembenaran tentang aqidah. Ada yg tidak suka Islam berkembang dan maju. Saran saya, bagaimana kalau turut juga di kupas atau di buat semacam bedah kitab yang berisikan tentang sains dan teknologi. Menurut saya akan turut membuka wacana dan membentuk pola pikir kritis di kalangan kaum muslim pada umumnya.