<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>web syi&#039;ah  imamiyah terlengkap di Indonesia-Malaysia dan Brunei..Inilah  Web dialog intelektual  sunni-syiah demi persatuan islam, demi  toleransi dan saling sayang !!  Syi&#039;ah  cinta Sunni terutama NU dan MUHAMMADiYAH</title>
	<atom:link href="http://syiahali.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://syiahali.wordpress.com</link>
	<description>web syi&#039;ah  imamiyah terlengkap di Indonesia-Malaysia dan Brunei..Inilah  Web dialog intelektual  sunni-syiah demi persatuan islam, demi  toleransi dan saling sayang!!  Syi&#039;ah  cinta Sunni terutama NU dan MUHAMMADiYAH</description>
	<lastBuildDate>Sat, 28 Jan 2012 03:04:02 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='syiahali.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>web syi&#039;ah  imamiyah terlengkap di Indonesia-Malaysia dan Brunei..Inilah  Web dialog intelektual  sunni-syiah demi persatuan islam, demi  toleransi dan saling sayang !!  Syi&#039;ah  cinta Sunni terutama NU dan MUHAMMADiYAH</title>
		<link>http://syiahali.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://syiahali.wordpress.com/osd.xml" title="web syi&#039;ah  imamiyah terlengkap di Indonesia-Malaysia dan Brunei..Inilah  Web dialog intelektual  sunni-syiah demi persatuan islam, demi  toleransi dan saling sayang !!  Syi&#039;ah  cinta Sunni terutama NU dan MUHAMMADiYAH" />
	<atom:link rel='hub' href='http://syiahali.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Salah satu anggota rombongan keluarga kerajaan Arab Saudi bermanhaj wahabi salafi MEMPERKOSA !! Dasar wahabi mata jalang tukang perkosa</title>
		<link>http://syiahali.wordpress.com/2012/01/28/salah-satu-anggota-rombongan-keluarga-kerajaan-arab-saudi-bermanhaj-wahabi-salafi-memperkosa-dasar-wahabi-mata-jalang-tukang-perkosa/</link>
		<comments>http://syiahali.wordpress.com/2012/01/28/salah-satu-anggota-rombongan-keluarga-kerajaan-arab-saudi-bermanhaj-wahabi-salafi-memperkosa-dasar-wahabi-mata-jalang-tukang-perkosa/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Jan 2012 02:50:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>syiahali</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syiahali.wordpress.com/?p=38860</guid>
		<description><![CDATA[wahabi duhai wahabi si mata jalang&#8230; Nikah mut&#8217;ah kau haramkan, namun wanita wanita tanpa dosa kau perkosa !!! Perbuatan binatang &#8230; klik  link ini : &#8220;Salafi Wahabi MANHAJ Pemerkosa TKW&#8221; Salah satu anggota rombongan keluarga kerajaan Arab Saudi bermanhaj wahabi salafi dituding memancing dua wanita ke kamarnya di Plaza Hotel dan memperkosa salah satunya. Terdakwa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syiahali.wordpress.com&amp;blog=13635218&amp;post=38860&amp;subd=syiahali&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>wahabi duhai wahabi si mata jalang&#8230;</div>
<div>Nikah mut&#8217;ah kau haramkan, namun wanita wanita tanpa dosa kau perkosa !!!</div>
<div>Perbuatan binatang &#8230;</div>
<div>
<h2><a title="Salafi Wahabi MANHAJ Pemerkosa TKW !! ! 7 Pria Arab Perkosa TKW Asal Indonesia" href="../2012/01/06/salafi-wahabi-manhaj-pemerkosa-tkw-7-pria-arab-perkosa-tkw-asal-indonesia/" rel="bookmark">klik  link ini : &#8220;Salafi Wahabi MANHAJ Pemerkosa TKW&#8221;</a></h2>
</div>
<div><img src="http://static.inilah.com/data/berita/foto/1822728.jpg" alt="Headline" /></div>
<div id="post-13019">
<p><strong>Salah satu anggota rombongan keluarga kerajaan Arab Saudi bermanhaj wahabi salafi dituding memancing dua wanita ke kamarnya di Plaza Hotel dan memperkosa salah satunya.</strong></p>
<div>
<p>Terdakwa yang pebisnis asal Kanada, Mustapha Ouanes Al Wahabi (60), muncul di pengadilan atas tudingan pemerkosaan. Ia bekerja untuk sebuah perusahaan konstruksi dan seorang pangeran Saudi.</p>
<p>Tak hanya pemerkosaan, ia juga dituding melakukan dua tindakan kriminal seksual, satu tindakan pelecehan seksual dan tudingan lainnya terkait insiden Januari 2010 itu.</p>
<p>Sidang dengar pendapat menyatakan, Ouanes Al Wahabi bertemu dua bartender muda di sebuah bar di Manhattan. Ia menraktir minuman dan mengundang mereka ke bar lain untuk minum sampanye.</p>
<p>Menurut <em>New York Times</em>, kedua wanita itu tidak takut karena usia Ouanes dan pakaian yang ia kenakan. “Dengan topi bulat dan syal, ia tak tampak berbahaya,” kata jaksa.</p>
<p>Setelah di bar kedua, ia mengajak wanita-wanita itu ke kamar hotelnya untuk sarapan bersama. Setibanya di hotel, keduanya langsung pingsan di tempat tidur Ouanes.</p>
<p>Saat terbangun, Ouanes sedang berhubungan badan dengan salah satu dari mereka. Korban terbangun ketika terdakwa menciumi bibirnya. Tak kuat melawan, ia pingsan lagi.</p>
<p>“Saat terbangun lagi, Ouanes sedang berhubungan seksual dengannya,” kata Asisten Jaksa Wilayah Samuel David.</p>
<p>Ouanes menyatakan tindakan mereka dilakukan suka sama suka. Ia menyatakan tak pernah ditahan dan dijebak oleh kedua wanita itu</p>
<h2></h2>
<h2><a href="http://syiahali.files.wordpress.com/2012/01/kisahtkwdiperkosamajikandiarabsaudi.jpg"><img src="http://img256.imageshack.us/img256/3108/jp002x.jpg" alt="Image" /></a></h2>
<h2><a href="http://syiahali.files.wordpress.com/2012/01/kisahtkwdiperkosamajikandiarabsaudi.jpg"><img src="http://syiahali.files.wordpress.com/2012/01/kisahtkwdiperkosamajikandiarabsaudi.jpg?w=320&#038;h=164&#038;h=164" alt="" width="320" height="164" border="0" /></a></h2>
<div id="post-13019">
<h1>159 Bayi Hasil Pemerkosaan TKW Dilahirkan di Arab 2009</h1>
<p><a href="http://www.kampungtki.com/wp-content/uploads/pregnant-woman3.jpg"><img title="pregnant-woman" src="http://www.kampungtki.com/wp-content/uploads/pregnant-woman3.jpg" alt="" width="300" height="220" /></a>Para diplomat di Arab Saudi resah karena semakin banyaknya kasus penganiayaan yang menimpa Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal Indonesia, terutama dalam kasus penganiayaan seksual. Tercatat sebanyak 56 bayi anak haram dilahirkan para TKW.</p>
<p>“Mereka diperkosa oleh majikan di Arab atau sesama pekerja migran dari negara asia lainnya,” kata Hendrar Pramudya, perwakilan KBRI Riyadh.</p>
<p>Tercatat sepanjang tahun 2009 ada 159 bayi dilahirkan oleh TKW di Arab saudi ..</p>
<p>Kebanyakan para pemerkosa ini tidak mendapat hukuman dengan alasan kurang kuatnya barang bukti.</p>
<p>“Baik RI maupun Arab harus bekerja sama dalam melindungi hak-hak para pekerja domestik, khususnya pembantu rumah tangga (PRT),” katanya seperti yang dilansir dari Arab News pekan lalu.</p>
<p>Di Arab Saudi, banyak TKW yang tidak memiliki pilihan untuk menggugurkan kandungan. Dalam banyak kasus, TKW yang hamil bahkan ditangkap polisi dan dipenjara. Tak jarang mereka dideportasi sebelum si bayi dilahirkan, meskipun identitas pelaku perkosaan atau bapak si bayi diketahui.</p>
<p>.</p>
<div>
<h1>Perkosaan Ancaman TKW di Arab!</h1>
<div>
<p>Ketatnya aturan terhadap pria dan wanita di Arab Saudi khususnya, dari kesimpulan penulis penyebabnya adalah sebagai berikut :</p>
<ol>
<ol>
<li>Adanya aturan yang melarang kontak antara dua lawan jenis yang berbeda yaitu pria dan wanita yang tidak mempunyai ikatan sebagai suami isteri.</li>
<li>Biaya menikah yang sangat tinggi di negara Arab.</li>
<li>Tidak adanya kebebasan bergaul antara pria dan wanita.</li>
</ol>
</ol>
<p>Penjelasan nomor 1.</p>
<ul>
<li>Anda orang Indonesia akan merasa kaget ketika melihat kehidupan pria dan wanita usia remaja dalam masa pubertas ini, anda tak bakal menemui seorang pria dan wanita berboncengan mesra di jalanan, atau di mall-mall, dan sebagainya. Dinegara ini sudah ada tempat tempat khusus bagi pria dan wanita dan tidak berbaur antara pria dan wanita, apabila ada yang berani melanggar maka akan berurusan dengan aparat setempat. Ada pengalaman unik yang dialami penulis ketika menjadi TKI di Arab Saudi, waktu itu penulis sebagai sopir pribadi sebuah keluarga Arab. Kejadianya ketika perjalanan pulang dari sebuah mall, kebetulan waktu itu penulis sedang mengantarkan anak-anak majikan yang masih remaja, dalam perjalanan pulang mirip sebuah balapan GP 1, mobil dibuntuti beberapa mobil yang berisi sekelompok pemuda, disebelah kiri satu mobil disebelah kanan satu mobil dan masih ada satu mobil membuntuti di belakang. Karena merasa risih,  mungkin, penulis disuruh mempercepat laju kendaraan dan menghindar dari mereka.</li>
<li>Mobil yang dikendarai , penunjuk kecepatan sudah melebihi batas aman maksimal 90 km/jam tetapi mobil penguntit berusaha menyamainya, jadi ketika itu kalau di indonesia mereka itu mejeng maksudnya. Kedua mobil di kiri kanan penulis penumpangnya menuliskan nomor telponya pada selembar kertas yang ditunjukan melalui jendela mobil, dan ditujukan kepada penumpan cantik-cantik di mobil penulis. Lama-lama penulis jengkel dengan sikap mereka, karena bising dengan klakson mobilnya yang teriak-teriak memanggil dan mencari perhatian.  Ketika mobil pelan mereka pelan, ketika kenceng mereka ikut kenceng. Setelah berjuang keras akhirnya selamat sampai rumah.</li>
</ul>
<p>Penjelasan nomor 2 :</p>
<ul>
<li>Lelaki Arab untuk dapat menikah perlu biaya besar, karena untuk dapat menikahi seorang wanita Arab harus dapat menyediakan rumah seisinya komplit selain syarat pernikahan yang lainya yang harus disiapkan.</li>
</ul>
<p>Penjelasan nomor 3 :</p>
<ul>
<li>Dibatasinya waktu dan tempat bagi pria dan wanita, sehingga untuk saling mengenal sangat kecil. Kebanyakan sekolah sekolah sudah dipisahkan antara pria dan wanita, bahkan dimanapun tempatnya tidak akan dijumpai pria berbaur dengan wanita, pria Arab akan membuang mata apabila berpapasan wanita yang terbuka/terlihat wajahnya.</li>
</ul>
<p>Hal-hal tersebut membuat pria arab akan berusaha mengganggu para tenaga kerja wanita dirumahnya, dan akan melakukan berbagai macam cara untuk melampiaskan keinginan bejatnya. Dan seandainya itu terjadi maka pihak keluarga akan mengurung pembantu itu jangan sampai keluar rumah atau melaporkan kepada pihak kepolisian (askar) karena takut hukuman yang akan diterima yaitu perzinahan hukumanya adalah cambuk didepan umum. Dan pembunuhan adalah hukum penggal.</p>
<div>
<div id="logo"></div>
<p>.</p>
</div>
<div>
<h1>Tendang Kemaluan Majikan, TKW Lolos dari Pemerkosaan</h1>
</div>
<div>
<div>
<h6>Jum&#8217;at, 4 Maret 2011 03:07 wib</h6>
</div>
</div>
<div id="pt"><img src="http://i.okezone.com/content/2011/03/04/340/431227/UJZLhYTJHI.jpg" alt="Ilustrasi (Foto: Dok Okezone)" /></p>
<h6></h6>
</div>
<p><strong></strong><strong>JAKARTA</strong> -</p>
<p>Cicih, seorang TKW asal Tasikmalaya, Jawa Barat, terpaksa pulang tanpa membawa uang banyak karena melarikan diri dari rumah majikanya di Arab Saudi.</p>
<p>Aksi nekat warga Banjarsari, Kecamatan Sukaresik, Tasikmalaya ini dilakukan karena cicih akan diperkosa oleh masjikanya. Beruntung Cicih bisa melawan dan kemudian melarikan diri, hingga akhirnya bisa bertemu polisi dan ditolong untuk dipulangkan ke Tanah Air.</p>
<p>Dalam penuturannya, Cicih sudah empat kali TKW di Arab Saudi sejak 2000 lalu. Saat kejadian di rumah majikannya, dia tengah menyetrika pakaian. Tiba-tiba majikannya menyergap dia dari belakang sambil mengatakan menginginkan tubuh Cicih.</p>
<p>Cicih pun berontak sehingga sempat dibanting ke kasur. Kepala pun membentur besi di tempat tidur hingga luka dan berdarah. Beruntung saat majikannya berusaha merengkuh tubuhnya, Cicih berhasil menendang kemaluan majikannya. Sang majikan pun roboh sambil mengerang kesakitan.</p>
<p>“Setelah itu saya lari dari rumah dan meminta pertolongan polisi,” ujarnya di Tasikmalaya, Kamis (3/3/2011).</p>
<p>Sebelum pulang ke Tanah Air, Cicih sempat dirawat di rumah sakit selama tujuh hari. Dia pun kemudian tinggal di rumah polisi yang menolongnya selama empat bulan untuk menunggu waktu pulang.</p>
<p>Cicih bisa pulang setelah polisi setempat meminta gajinya yang belum dibayarkan oleh majikannya. Dari tujuh bulan bekerja, sang majikan hanya mau membayar selama sebulan. Dengan uang inilah Cicih bisa pulang ke kampung halaman.</p>
<p>Cicih adalah TKW yang berangkat oleh PT Rahana Karindo Utama. Dia ditempatkan di daerah Arar, Kota Riyadh, Arab Saudi.</p>
<div>
<p><a href="http://2.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/Sj3bUCtS44I/AAAAAAAAAuI/eM-nF2ej1nc/s1600-h/riyadh%281%29.jpg"><br />
<img src="http://syiahali.files.wordpress.com/2011/04/riyadh28129.jpg?w=300" alt="" border="0" /></a></p>
<div>Pengadilan Saudi Arabia menjatuhkan putusan kepada salah seorang warga negaranya yang membunuh seorang pembantunya dari Indonesia. Pengadilan Saudi hanya menuntutnya untuk membayar denda (diyat) saja, dan tidak menegakkan hukum qishos</div>
<div>.</div>
<div>Menurut laporan BBC (16/6), sumber Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Riyadh menjelaskan, pengadilan Saudi mengharuskan sang majikan yang melakukan pembunuhan itu untuk membayar denda sebesar 54 ribu dollar yang dibayarkan kepada keluarga korban</div>
<div>.</div>
<div>Korban pembunuhan tersebut adalah TKW asal Indonesia berumur dua puluhan. Visum dokter membuktikan, hampir seluruh tubuh korban mengalami luka-luka serius akibat penyiksaan. Jasad mayat korban sendiri telah dipulangkan ke tanah airnya di Indonesia untuk dikuburkan</div>
<div>.<br />
Beberapa organisasi hak asasi manusia telah berkali-kali memperingatkan Saudi Arabia atas terjadinya berbagai kasus kekerasan dan pelecehan yang menimpa para pekerja di negara itu, khususnya para pembantu rumah tangga</div>
<div>.</div>
<div>Sumber KBRI mengatakan, pada tahun ini telah terjadi sebanyak 81 kasus TKW/TKI yang mati di Saudi Arabia. Sementara itu, tahun 2008 lalu, jumlah TKW/TKI yang mati di Saudi Arabia mencapai 156 orang</div>
<div>.</div>
<div>Sayangnya, pemerintahan Indonesia seakan tidak memiliki daya upaya di hadapan semua kasus memilukan di atas. Secara tidak langsung, pemerintahan Indonesia seakan pasrah melihat nasib anak negerinya yang menjadi bangsa pembantu dan dilecehkan di negeri orang.</div>
<div><a href="http://4.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/S9fe47wTsuI/AAAAAAAAA2o/OlThrCJ9JdU/s1600/dc9576740626909e.jpg"><br />
<img src="http://syiahali.files.wordpress.com/2011/04/dc9576740626909e1.jpg?w=130" alt="" border="0" /></a></p>
<div>
<div>Jumat, 13 Maret 2009 17:35 WIB</div>
</div>
<div>
<p><a title="Vote for your favorite stories on Yahoo! Buzz" href="http://buzz.yahoo.com/buzz?targetUrl=http%3A%2F%2Fwww.mediaindonesia.com%2Fread%2F2009%2F03%2F13%2F64761%2F37%2F5%2FSeorang-TKW-di-Arab-Diduga-Diperkosa-46-Orang"><br />
</a></p>
</div>
<div><strong>JAKARTA–:</strong></div>
<div>Seorang Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal Indonesia yang bekerja di Arab Saudi diduga telah diperkosa oleh 46 orang pria. Hal tersebut mencuat setelah diberitakan oleh sebuah situs di negara Arab <em>www.saudigazette.com</em>pada tanggal 29 Januari lalu.</div>
<div>
<p>“Identitas korban masih belum diketahui. Kita juga masih mencari tahu kebenaran berita tersebut, ” ujar Ketua Pengurus Besar Gabungan Serikat Buruh Islam Indonesia (PB GASBIINDO), Soetito kepada wartawan, Jum’at (13/3).</p>
<p>Soetito menjelaskan dugaan kasus pemerkosaan itu terjadi sekitar bulan November 2008. Dalam situs tersebut dikatakan bahwa TKW yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga itu telah kabur dari tempat penampungan sponsornya di Al-Nuzha, Mekah.</p>
<p>Ketika dalam pelarian, wanita itu mengaku dibawa oleh oleh petugas keamanan setempat ke sebuah penginapan di distrik Al-Assaila. Di tempat itulah ia mengaku diperkosa secara bergantian selama beberapa hari.</p>
<p>Kasus ini juga telah ditangani oleh petugas kepolisian Mekah. 46 pria yang diduga melakukan pemerkosaan telah ditangkap. Namun, mereka kemudian dibebaskan kembali dengan jaminan.</p>
<p>Atas pemberitaan tersebut, PB GABSIINDO yang selama ini melakukan advokasi terhadap kaum buruh berusaha untuk mengetahui identitas dan keberadaan korban, “Kami sudah mengirim surat ke pihak Kementrian luar negeri agar bisa memberikan bantuan hukum,” katanya.</p>
<p>Selain itu, PB GABSIINDO juga telah mengirimkan surat kepada Duta Besar Arab Saudi untuk di Jakarta pada 30 Januari lalu. Namun, ia mengaku hingga kini belum mendapatkan respon</p>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/syiahali.wordpress.com/38860/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/syiahali.wordpress.com/38860/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/syiahali.wordpress.com/38860/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/syiahali.wordpress.com/38860/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/syiahali.wordpress.com/38860/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/syiahali.wordpress.com/38860/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/syiahali.wordpress.com/38860/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/syiahali.wordpress.com/38860/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/syiahali.wordpress.com/38860/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/syiahali.wordpress.com/38860/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/syiahali.wordpress.com/38860/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/syiahali.wordpress.com/38860/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/syiahali.wordpress.com/38860/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/syiahali.wordpress.com/38860/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syiahali.wordpress.com&amp;blog=13635218&amp;post=38860&amp;subd=syiahali&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syiahali.wordpress.com/2012/01/28/salah-satu-anggota-rombongan-keluarga-kerajaan-arab-saudi-bermanhaj-wahabi-salafi-memperkosa-dasar-wahabi-mata-jalang-tukang-perkosa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0190a0488b1caa6078bb63692e7f1c0c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">syiahali</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://static.inilah.com/data/berita/foto/1822728.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Headline</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://img256.imageshack.us/img256/3108/jp002x.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Image</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://syiahali.files.wordpress.com/2012/01/kisahtkwdiperkosamajikandiarabsaudi.jpg?w=320&#38;h=164" medium="image" />

		<media:content url="http://www.kampungtki.com/wp-content/uploads/pregnant-woman3.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">pregnant-woman</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://i.okezone.com/content/2011/03/04/340/431227/UJZLhYTJHI.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Ilustrasi (Foto: Dok Okezone)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://syiahali.files.wordpress.com/2011/04/riyadh28129.jpg?w=300" medium="image" />

		<media:content url="http://syiahali.files.wordpress.com/2011/04/dc9576740626909e1.jpg?w=130" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Ridha Allah tentu tidak meliputi sahabat-sahabat yang melanggar janji seperti disebutkan dalam Al-Fath 10</title>
		<link>http://syiahali.wordpress.com/2012/01/27/ridha-allah-tentu-tidak-meliputi-sahabat-sahabat-yang-melanggar-janji-seperti-disebutkan-dalam-al-fath-10/</link>
		<comments>http://syiahali.wordpress.com/2012/01/27/ridha-allah-tentu-tidak-meliputi-sahabat-sahabat-yang-melanggar-janji-seperti-disebutkan-dalam-al-fath-10/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jan 2012 04:13:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>syiahali</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syiahali.wordpress.com/?p=38846</guid>
		<description><![CDATA[Ridha Allah tentu tidak meliputi sahabat-sahabat yang melanggar janji . Al-Fath 18 لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا Ayat ini tidak menunjukkan ridha Allah kepada semua sahabat pada semua waktu. “Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syiahali.wordpress.com&amp;blog=13635218&amp;post=38846&amp;subd=syiahali&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRhHvTt6xEpHWtahZZ3fN3WM72yIhyDyWDAe5UleWyDSciUkyAq7A" alt="" />Ridha Allah tentu tidak meliputi sahabat-sahabat yang melanggar janji</p>
<p>.</p>
<p>Al-Fath 18<br />
لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا</p>
<p>Ayat ini tidak menunjukkan ridha Allah kepada semua sahabat pada semua waktu. “Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon” Menurut kamus-kamus bahasa Arab (Lth, T, S, M, L, Mughni, K), kata إِذْ menunjukkan satu waktu di masa lalu, seperti dalam firman Allah “wadzkurû idz kuntum qalîlan” (Al-Quran 7:84); atau “wa idz qâla Rabbuka lil malâikat” (Al-Quran 2:); atau “wadzkurû ni’matallahi ‘alaykum idz kuntum a’dâ-an” (Al-Quran 3:98)</p>
<p>.</p>
<p>Karena idz itu selalu menunjukkan waktu tertentu, kalau sesudah kata idz ini ada kata waktu, orang Arab menyambungkan kedua kata itu seperti dalam kata yawmaidzin, hinaidzin, laylataidzin, ghadâtaidzin, waqtaidzin, sa’ataidzin,dan sebagainya. Dalam struktur kalimat kata idz ini bisa bersambung dengan kata benda atau kata ganti, fi’l madhi dan fi’l mudhari’, walaupun tetap menunjukkan satu waktu di masa lalu</p>
<p>.</p>
<p>Al-Quran dengan indah menggambarkan ketiga struktur idz ini dalam firmanNya Al-Quran 9:40:</p>
<p>إِلا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَى وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ</p>
<p>Walhasil, ayat ini tidak bisa dijadikan dalil tentang keadilan semua sahabat; tapi hanya kepada sebagian sahabat dan hanya pada waktu mereka berjanji setia. Ridha Allah tentu tidak meliputi sahabat-sahabat yang melanggar janji seperti disebutkan dalam Al-Fath 10: “Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka. Maka barangsiapa melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar”</p>
<p>.<br />
Semua ahli tafsir sepakat bahwa al-Fath 10 dan al-Fath 18 berkaitan dengan perjanjian Hudaybiyah. Ibnu Katsir malah membuat catatan panjang tentang Perjanjian Hudaybiyah pada rangkaian ayat-ayat ini (Ibn Katsir, 4:185-200). Ada beberapa peristiwa yang penting kita catat tentang perjanjian Hudaybiyah dalam hubungannya dengan adalat al-shahabah</p>
<p>.<br />
Sebab terjadinya bay’at.<br />
Diriwayatkan oleh ‘Urwah. Ia berkata: Ketika Nabi saw sampai di Hudaybiyah, orang Quraisy terkejut dengan kedatangan Nabi. Rasulullh saw ingin mengutus salah seorang di antara sahabatnya. Ia memanggil Umar bin Khathab untuk diutus menemui mereka. Tapi Umar berkata: Ya Rasulallah, saya tidak aman (Dalam riwayat Ibn Katsir, “saya takut akan perlakuan orang Quraisy terhadap diriku”)</p>
<p>.</p>
<p>Di Makkah tidak seorang pun di antara Bani Ka’ab yang akan membelaku jika aku disakiti. Utuslah Utsman, karena ia punya banyak keluarga di kalangan mereka. Ia akan bisa menyampaikan apa yang engkau kehendaki. Kemudian Rasulullah saw memanggil Utsman dan mengutusnyamenemui orang Quraisy</p>
<p>.</p>
<p>Beliau bersabda: Beritahukan kepada mereka bahwa kami tidak datang untuk berperang. Kami datang untuk umrah dan ajaklah mereka kepada Islam. Beliau juga memerintahkan Utsman untuk menemui laki-laki dan perempuan di Makkah yang mukmin, memasuki rumah mereka dan meberikan kabar gembira tentang Kemenangan. Ia juga harus memberitakan bahwa sebentar lagi Allah akan memunculkan agamanya di Makkah. Mereka tidak perlu lagi menyembunyikan imannya</p>
<p>.<br />
Berangkatlah Utsman menemui orang Quraisy dan mengabari mereka. Orang musyrik menahan Utsman. Rasulullah saw memanggil mereka untuk bai’at. Penyeru Rasulullah saw berseru: Ketahuilah, Ruh Qudus telah turun kepada Nabi saw dan memerintahkannya untuk mengambil bai’at. Keluarlah kalian semua, atas nama Allah, berbaiatlah. Kaum muslimin beramai-ramai berbaiat kepada Rasulullah saw di bawah pohon. Orang Quraysy ketakutan. Mereka melepaskan tahanan kaum muslimin dan meminta untuk berdamai.” (Al-Durr al-Mantsur 7:522-523). Perjanjian damai ini dikenal sebagai Shulh al-Hudaybiyyah, terjadi pada tahun keenam Hijriah. Pembaiatannya dikenal sebagai Bay’at al-Ridhwan.<br />
‘Umar meragukan kenabiyan Rasulullah saw</p>
<p>.<br />
Perjanjian damai itu –seperti kita ketahui- terasa oleh para sahabat sebagai perjanjian yang tidak adil dan merugikan kaum muslim. Al-Durr al-Mantsur 7:527-532 meriwayatkan hadis yang panjang tentang protes para sahabat terhadap perjanjian ini. Di antara yang protes dengan penuh kemarahan adalah Umar bin Khathab. Kita dengarkan ia bertutur: “Demi Allah, belum pernah aku meragukan (kenabiyan Rasulullah saw) sejak aku Islam kecuali hari itu. Aku mendatangi Nabi saw. Aku berkata: Bukankah engkau Nabi Allah? (Dalam Al-Bukhari 2:81, Kitab al-Syuruth, Umar bertanya: Bukankah engkau Nabi yang sebenarnya?)</p>
<p>.</p>
<p>Ia berkata: Benar! Aku berkata: Aku berkata: Bukankah kita dalam kebenaran dan musuh kita dalam kebatilan? Ia berkata: Benar! Aku berkata: Kenapa kita harus menghinakan diri dalam agama kita? Ia berkata: Sungguh, aku Rasulullah saw. Aku tidak akan membantahNya. Allah akan menolongku. Aku berkata: Bukankah engkau pernah mengatakan kepada kami bahwa kita akan mendatangi Baitullah dan bertawaf di sana? Ia berkata: Benar. Tapi apakah aku memberitahukan kepada kamu bahwa kamu akan datang ke Baitullah tahun ini? Aku menjawab: Tidak Ia berkata: Sungguh kamu akan datang ke Baitullah dan kamu akan bertawaf di situ. (Dalam Shahih Muslim, 2, Bab “Shulh al-Hudaybiyah” disebutkan “Umar meninggalkan Nabi saw dalam keadaan yang tidak bisa mengendalikan amarahnya –fa lam yashbir mutaghayyidhan- dan berkata: ) Ya Aba Bakr, Betulkah Nabi ini Nabi yang sebenarnya?</p>
<p>.</p>
<p>Ia berkata: Benar. Betulkah kita dalam kebenaran dan musuh kita dalam kebatilan? Ia berkata: Benar. Kalau begitu, mengapa kita harus menghinakan diri dalam agama kita? Abu Bakar berkata: Ayyuhar Rajul, ia sungguh Rasulullah saw. Ia tidak akan menentang Tuhannya dan Dia akan menolongnya. Berpegang teguhlah kepada keputusannya, engkau akan menang sampai engkau mati.”</p>
<p>.<br />
Dalam riwayat lain disebutkan: Tidak henti-hentinya Umar membantah ucapan Nabi saw; sehingga Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarrah berkata: Apakah tidak kaudengar, wahai putra Al-Kahthab, Rasulullah saw mengatakan apa yang ia katakan. Kami berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk (Sirah al-Halabiyah 2:706). Rasulullh saw berkata kepada Umar: Radhitu wa ta’ba. Aku ridha dan engkau membangkang (Ibn Katsir, Al-Sirah al-Nabawiyah 3:320)</p>
<p>.</p>
<p>Para sahabat membantah perintah Rasulullah saw.</p>
<p>Kita lanjutkan laporan Umar bin Khathab: “Setelah Rasulullah saw menyelesaikan penulisan surat perjanjian itu, beliau berkata kepada para sahabatnya:”bangunlah, sembelihlah qurban dan bercukurlah. Demi Allah tidak seorang pun di antara para sahabat yang bangun sampai ia mengatakannya tiga kali. Ketika tidak seorang pun berdiri, beliau masuk ke tempat Ummu Salamah. Ia mengadu kepadanya tentang apa yang ia hadapi dari orang banyak. Ummu Salamah berkata:’Ya Nabiyallah, apakah engkau ingin mereka melakukannya? Beliau berkata;”benar.” Ummu Salamah berkata:”Keluarlah dan jangan berbicara dengan seorang pun di antara mereka sampai engkau menyembelih hewanmu dan memanggil tukang cukurmu untuk memotong rambutmu.”</p>
<p>.</p>
<p>Lalu Nabi saw berdiri keluar dan tidak berbicara pada seorang pun sepatah kata pun sampai ia melakukan penyembelihan dan memotong rambut. Ketika mereka melihat Nabi berbuat seperti itu, mulailah mereka bangun dan menyembelih serta satu sama lain saling mencukur rambut sehingga hampir-hampir mereka saling membunuh” (Al-Durr al-Mantsur &amp;;53; Ibn Katsir 4:199)</p>
<p>.</p>
<p>Allah ridha kepada mereka ??</p>
<p>Dalil berikutnya yang dijadikan dalil tentang ‘Adalat al-Shahabah adalah potongan ayat<br />
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ . Potongan ayat ini disebut empat kali dalam al-Quran. Tiga kali disebut untuk menunjukkan karakteristik umum orang-orang yang diridhai Allah swt; tidak khusus berkaitan dengan sahabat: Al-Maidah 5:119; Al-Mujadilah 58:22; Al-Bayyinah 98:7-8.</p>
<p>.<br />
Al-Bayyinah 7-8<br />
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ<br />
جَزَاؤُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ذَلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ</p>
<p>Para mufasir tidak pernah menisbahkan “Allah ridha kepada mereka dan mereka ridha kepadaNya khusus untuk sahabat. “Mereka” dinisbahkan kepada semua orang yang beriman dan beramal saleh; kepada khayrul bariyyah</p>
<p>Ibn Katsir menulis, “Telah berdalil dengan ayat ini Abu Hurairah dan sebagian ulama tentang keutamaan kaum mukmin di atas para malaikat, berdasarkan firman Allah –ulaika hum khayrul bariyyah” (Ibn Katsir 4:538). Ibn Katsir kemudian menurunkan hadis-hadis yang menjelaskan sifat-sifat mukmin yang termasuk khayrul bariyyah. Misalnya, “Khayrul bariyyah adalah orang yang memegang kendali kudanya di jalan Allah. Tetap tegak di atasnya apa pun yang terjadi”</p>
<p>.</p>
<p>Jalaluddin al-Suyuthi, setelah mengutip hadis Abu Hurairah tentang mukmin yang beramal saleh –yang diridhai Allah- lebih mulia dari malaikat, ia meriwayatkan hadis dari Aisyah ketika Rasulullah menjawab pertanyaan tentang manusia yang paling mulia: “Ya Aisyah, tidakkah kamu membaca ayat:</p>
<p>إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ</p>
<p>Setelah itu, Al-Suyuthi menurunkan hadis-hadis berikut: Ibn Asakir mengeluarkan dari Jabir bin Abdillah. Ia berkata: Kami sedang bersama Nabi saw, lalu datanglah Ali. Nabi saw berkata: Demi yang diriku ada di tangannya. Sesungguhnya ini dan Syi’ahnya sungguh orang-orang yang berbahagia pada hari kiamat. Dan turunlah ayat<br />
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ</p>
<p>.</p>
<p>Setelah itu, para sahabat Nabi saw, bila Ali datang, mereka berkata: Telah datang khayrul bariyyah.<br />
Ibn Adi dan Ibn Asakir mengeluarkan dari Ibn Abbas. Ia berkata: Ketika turun ayat<br />
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ<br />
Rasulullah saw bersabda kepada Ali, “Dia itu adalah kamu dan Syi’ahmu, pada hari kiamat, ridha kepada Allah dan diridhai Allah”</p>
<p>.</p>
<p>Ibn Mardawayh mengeluarkan dari Ali. Ia berkata: Rasulullh saw berkata kepadaku: Tidakkah kamu dengar firman Allah<br />
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّة<br />
Itulah engkau dan Syi’ahmu. Tempat perjanjianku dan perjanjian kalian adalah al-Hawdh, ketika umat-umat datang untuk dihisab, kalian dipanggil ghurran muhjalin (Al-Durr al-Mantsur 8:589).</p>
<p>.</p>
<h3>Keadilan semua sahabat dalam Qs.Al Fath ayat 10 dan Qs. Al Fath ayat 18 ?? Peserta bai’at dibawah pohon yang berjumlah 1500 orang akan diridhai jika menepati janjinya ! Jika kelak mereka melanggar janji maka tidak diridhai !</h3>
<p>.</p>
<p><strong>Peserta bai’at dibawah pohon yang berjumlah 1500 orang akan diridhai   dan tidak  masuk  neraka  jika menepati janjinya ! Jika kelak mereka melanggar janji maka tidak diridhai ! Faktanya ada diantara mereka yang  melanggar janji !</strong></p>
<div>Allah berfirman</div>
<div><strong>لَا يَسْتَوِي مِنْكُمْ مَنْ أَنْفَقَ مِنْ قَبْلِ الْفَتْحِ وَقَاتَلَ أُولَئِكَ أَعْظَمُ دَرَجَةً مِنَ الَّذِينَ أَنْفَقُوا مِنْ بَعْدُ وَقَاتَلُوا وَكُلًّا وَعَدَ اللَّهُ</strong></div>
<div><em>Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan. Mereka lebih tingi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik</em> (Qs Al Hadid:10)</div>
<div>.</div>
<div>Yang dimaksud dengan Penaklukan adalah penaklukan Hudaibiyah, yaitu ketika Rasulullah membai’at shahabat-shahbatnya dibawah sebuah pohon, ketika yang berbaiat dengan Beliau sejumlah 1500 orang, merekalah yang telah menaklukkan khaibar</div>
<div>.</div>
<p><img src="http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRhHvTt6xEpHWtahZZ3fN3WM72yIhyDyWDAe5UleWyDSciUkyAq7A" alt="" /></p>
<div id="post-body-6979374255212908667"> SHAHIH BUKHARI NO. 3852<br />
حَدَّثَنِي أَحْمَدُ بْنُ إِشْكَابٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ عَنْ الْعَلَاءِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ لَقِيتُ الْبَرَاءَ بْنَ عَازِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا فَقُلْتُ<br />
طُوبَى لَكَ صَحِبْتَ النَّبِي…َّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبَايَعْتَهُ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَقَالَ يَا ابْنَ أَخِي إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثْنَا بَعْدَهُ<br />
Telah menceritakan kepadaku [Ahmad bin Isykab] telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Fudlail] dari [Al 'Ala` bin Al Musayyab] dari [Bapaknya] ia berkata; Aku bertemu [Al Bara' bin 'Azib radliallahu 'anhuma] seraya berkata; “Beruntunglah kamu karena mendampingi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berbai’at kepadanya di bawah pohon pada bai’atur ridlwan.” Al Bara’ berkata; “Wahai anak saudaraku, kamu tidak tahu apa yang kami perbuat setelah itu.”</div>
<div>.</div>
<div>
<p><a title="Ammar Bin Yasser: Syiah kebangaan Syiah" href="http://www.shia-explained.com/wp-content/uploads/2011/08/556965781_2c8ce63757.jpg" rel="lightbox"><img src="http://www.shia-explained.com/wp-content/themes/FT-english/thumb.php?src=wp-content/uploads/2011/08/556965781_2c8ce63757.jpg&amp;w=100&amp;h=100&amp;zc=1&amp;q=90" alt="" width="100" height="100" /></a></p>
<div>Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bahwa beliau SAWW pernah</div>
<div>bersabda kepada kaum Anshar: “Suatu hari kalian akan menyaksikan sifat tamak</div>
<div>yang dahsyat sepeninggalku. Karena itu bersabarlah sehingga kalian menemui</div>
<div>Allah dan Rasul-Nya di telaga haudh.” Anas berkata, “Kami tidak sabar.”(1)</div>
<div>.</div>
<div>Ala’ bin Musayyab dari ayahnya pernah berkata: “Aku berjumpa dengan</div>
<div>Barra’ bin A’zib ra. Kukatakan padanya, “berbahagialah Anda karena</div>
<div>dapat bersahabat dengan Nabi SAWW dan membai’atnya di bawah pohon</div>
<div>(bai’ah tahta syajarah). Barra’ menjawab, “wahai putera saudaraku,</div>
<div>engkau tidak tahu apa yang telah kami lakukan sepeninggalnya.”(2)</div>
<div>
<p>Jika sahabat utama yang tergolong di antara as-Sabiqin al-Awwalin dan pernah</p>
<p>membai’at Nabi di bawah pohon, serta Allah rela kepada mereka dan Maha Tahu</p>
<p>apa yang ada dalam hati mereka sehingga diberinya ganjaran yang besar; apakah</p>
<p>mereka yang menghianati Bai’ah itu tetap diridhoi Allah ? apalagi sahabat-sahabat</p>
<p>ini kemudian bersaksi bahwa dirinya dan para sahabat yang lain telah melakukan</p>
<p>“sesuatu yang berbeda (baca bid’ah)” sepeninggal Nabi, pengakuan mereka ini</p>
<p>adalah bukti kebenaran yang disabdakan oleh Nabi SAW bahwa sebagian dari</p>
<p>sahabatnya akan berpaling darinya sepeninggalnya.</p>
<p>Rasululah SAW juga telah bersabda: “Siapa yang mencaci Ali maka dia telah</p>
<p>mencaciku; dan siapa yang mencaciku maka dia telah mencaci Allah; dan</p>
<p>siapa yang mencaci Allah maka Allah akan menjatuhkannya ke dalam api</p>
<p>neraka.”(3)</p>
<p>.</p>
<p>Sangat jelas hukuman bagi orang yang mencaci Imam Ali AS. Lalu apa hukuman</p>
<p>bagi mereka yang melaknatnya dan memeranginya., sementara sejarah</p>
<p>mengabarkan bahwa Muawiyah melaknati Imam Ali AS selama 70</p>
<p>tahun lebih , dan juga beliau AS telah diperangi oleh 3 kelompok</p>
<p>dalam 3 Perang Besar.</p>
<p>1. Shahih Bukhari jil. 2 hal. 135</p>
<p>2. Shahih Bukhari jil.3 hal. 32.</p>
<p>3. Mustadrak al-Hakim jil. 3 hal. 121; Khasais an-Nasai hal. 24;</p>
<p>Musnad Ahmad Bin Hanbal jil. 6 hal. 33; Manaqib al-Khawarizmi</p>
<p>.</p>
</div>
</div>
<p><img src="http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcS2DAOWJ9qFSwcVH5T4DYYRgQoD7nYIyaYm5izOOcSThQV4H_MU" alt="" /></p>
<p><strong>Al-Bukhari</strong> meriwayatkan bahawa al-Musayyab berkata: Aku berjumpa al-Barra’ bin ‘Azib (r.a), lalu aku berkata: Alangkah beruntungnya anda kerana anda telah bersahabat (Sahabta) dengan Nabi (saw.) dan membaiahnya di bawah pokok. Lantas dia menjawab: Wahai anak saudaraku! Sebenarnya anda tidak mengetahui apa yang kami lakukan (Ahdathna-hu) selepasnya <strong>(al-Bukhari, Sahih, v, hlm. 343 (Hadis no.488 )</strong></p>
<p>.</p>
<p>Kesemua hadis-hadis tersebut adalah menepati ayat al-Inqilab firman-Nya di dalam <strong>Surah Ali Imran (3): 144</strong>: “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang (murtad), maka ia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikitpun dan Allah akan memberi balasan kepada mereka yang bersyukur.”</p>
<p>.</p>
<p>Dan bilangan yang sedikit sahaja yang “terselamat” adalah menepati firman-Nya di dalam <strong>Surah Saba’ (34): 13</strong>: “Dan sedikit sekali dari hamba-hambaku yang berterima kasih.”</p>
<p>.<img src="http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRhHvTt6xEpHWtahZZ3fN3WM72yIhyDyWDAe5UleWyDSciUkyAq7A" alt="" /></p>
<h1>Pengakuan Sahabat Nabi SAW bernama Al-Barra’ bin ‘Azib (r.a) membuktikan bahwa Ayat bai’at ridwan  tidaklah meliputi seluruh sahabat,  hanya untuk sahabat istiqamah  yang hadir dan setia pada perjanjian hingga ke akhir usianya.</h1>
<p>Salam dan Solawat. Baru-bari ini ada seorang saudara dari Sunni membangkitkan satu persoalan menarik. Di zaman perjanjian Hudaibiyah, sekumpulan orang Islam telah membai’at Nabi di bawah pohon. Pembai’atan ini masyhur dengan Bai’atul Ridwan yang membawa kepada turunnya ayat berikut:</p>
<blockquote><p>“<em>Mereka yang membai’at dikau hakikatnya mereka membai’at Allah, sesungguhnya Allah ridha dengan Mukminin jikalau mereka membai’at engkau di bawah pohon</em>.”</p></blockquote>
<p>Ahlusunnah tidak dapat menerima bahawa apabila seseorang itu yang telah diredhai tuhannya boleh atau mampu untuk menyimpang dari jalan kebenaran. Antara yang terlibat dalam pembai’atan ini ialah para sahabat besar seperti Umar, Abu Bakar, Uthman, Khalid dan beberapa orang lagi telah hadir.</p>
<p>Jawapan kami ialah pertamanya ayat itu sendiri menggunakan kalimah ‘<em>iz zarfiah muqayyad</em>‘. Iaitu ayat itu menyatakan pada ketika itu Allah meridhai engkau yang memberi Bai’at. Dengan ini tuhan meridhai mereka sebelum dan selepas pembai’atan tertakluk dengan syarat selagi individu itu mampu tetap menjaga kemakmuran ini.</p>
<p>“<em>Kami membacakannya mereka kisah orang yang telah kami berikannya ayat maka dia menuruti Syaitan dan termasuk di kalangan mereka yang sesat”</em>”<br />
<em>al-A’raf 175</em></p>
<p>Kesimpulannya dengan pengajaran peristiwa ini, jikalau Tuhan meridhai seseorang, maka Dia akan menyatakan keridhaanNya dengan bentuk yang sangat berharga selama seseorang itu menjaga keistiqamahan prinsip itu. Jika tidak, begitu banyak orang yang memiliki makam yang sangat tinggi namun setelah itu mereka tersesat.</p>
<p>Sebagai contoh Abdullah bin Abi Sara sahabat Rasulullah (s) penulis wahyu pertama, akan tetapi selepas beberapa ketika ia murtad dan menghina Rasulullah (s). Hingga sampai ke satu tahap, Rasulullah berkata pada waktu Fath Makkah, beberapa orang daripada mereka, walaupun mereka bergantung pada kain Kaabah, penggallah kepala mereka, salah seorang daripada mereka ialah Abdullah bin Abi Sara’.</p>
<p>Allah (swt) berfirman kepada Rasulullah (s):<br />
“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) sebelummu ‘jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalanmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” <em>Surah az-Zummar ayat 65.</em></p>
<p>Kita menerima bahwasanya ayat-ayat ini diturunkan tentang sahabat. Akan tetapi berapa ramai antara sahabat-sahabat yang mampu menjaga makam tersebut, Perlulah adanya pembahasan dan penelitian.</p>
<p>Begitu juga dalam Sahih Muslim terdapat hadis yang bernama Hadis Haudh, yang mana tidak ada jalan lagi untuk Ahlussunnah mengelak dari hal tersebut. Di hari kiamat sebilangan para sahabat akan dibawa ke api neraka. Rasulullah bertanya ke mana dibawa sahabat-sahabat baginda. Lantas dijawab ke neraka. Ditanya kenapa, lantas dijawab lagi, kerana mereka murtad dan kembali ke masa jahiliyah sepeninggalan baginda. Yang lebih menarik, Bukhari mengatakan hanya sedikit daripada mereka yang selamat.<br />
<em>Sahih Bukhari: 7/208; Shawahid Tanzil: 284/1</em></p>
<p>Ummul Mukminin Aisyah telah berkata:<br />
“<em>Sekalian orang Arab telah murtad setelah wafatnya Rasulullah</em>”<br />
<em>Al-Bidayah wa al-Nihayah: 6/336; Tarikh Madinah Dimasyq: 30/316, Wahabi ingin mempermasalahkan Syiah iaitu engkau mengatakan sesudah Nabi semua orang selain empat orang telah murtad, iaitu selama masa 23 tahun usaha keras Rasulullah mendidik hanya empat orang yang tidak murtad? Jawaban kami ialah, kalau kami mengatakan hanya empat orang yang tidak murtad,tetapi Ummul Mukminin Aisyah mengatakan semua orang Islam itu murtad, tentunya dalam pandangan Syiah yang dimaksud dengan murtad bukanlah murtad daripada keimanan, akan tetapi menentang perintah-perintah yang telah ditetapkan oleh Rasulullah.</em></p>
<p>Pada zaman khalifah ke dua, ketika salah seorang sahabat meninggal, saat Huzaifah tidak menerima bahawa sahabat ini bukan daripada kalangan munafik, hinggalah khalifah tidak hadir untuk menyolatinya kerana ia takut orang tersebut daripada golongan munafik. Ini kerana Syiah dan Sunni menerima bahawasanya Huzaifah sahabat penyimpan rahsia dan Rasulullah pernah mengatakan nama-nama orang munafik kepadanya</p>
<p>.<img src="http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcS2DAOWJ9qFSwcVH5T4DYYRgQoD7nYIyaYm5izOOcSThQV4H_MU" alt="" /></p>
<h3>Menjawab : Ayat Bai’ah Ridwan</h3>
<p>Salah satu ayat yang sering digunakan golongan Ahlusunnah untuk membuktikan keadilan para sahabat ialah ayat surah Al-Fath ayat 18. Mereka mendakwa seluruh sahabat yang hadir di dalam peristiwa tersebut mendapat keredhaan Ilahi. Allah (s.w.t) berfirman:</p>
<p>لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا . الفتح / 18 .</p>
<p>Demi sesungguhnya! Allah redha akan orang-orang yang beriman, ketika mereka memberikan pengakuan taat setia kepadamu (wahai Muhammad) di bawah naungan pohon (yang termaklum di Hudaibiyah); maka (dengan itu) ternyata apa yang sedia diketahuiNya tentang (kebenaran iman dan taat setia) yang ada dalam hati mereka, lalu Ia menurunkan semangat tenang tenteram kepada mereka, dan membalas mereka dengan kemenangan yang dekat masa datangnya- Surah Al-Fatḥ ayat 18.</p>
<p>Jawapan pertama: Ayat ini tidak meliputi seluruh sahabat, namun paling kurang hanyalah terkena pada mereka yang hadir dalam peristiwa Baiʽatul Riḍwān dan bilangan mereka yang dinukilkan oleh ulama Ahlusunnah adalah sekitar 1300 hingga 1400 orang. Muḥammad bin Ismāʽīl Al-Bukhārī menulis:</p>
<p>4463 ، عَنْ جَابِرٍ قَالَ كُنَّا يَوْمَ الْحُدَيْبِيَةِ أَلْفًا وَأَرْبَعَ مِائَةٍ .<br />
صحيح البخاري ، ج6 ، ص45 .</p>
<p>Daripada Jābir yang berkata: Kami seramai seribu empat ratus orang telah berada di hari Al-Ḥudaybiyah – Saḥīḥ Al-Bukhārī, jilid 6 halaman 45.</p>
<p>Jumlah ini tidaklah meliputi lebih seratus dua puluh ribu orang sahabat Rasul di zaman kewafatan baginda. Oleh itu ayat ini tidaklah menunjukkan keadilan seluruh sahabat mahu pun keredhaan Allah kerana terdapat pengkhususan dalam ayat tersebut.</p>
<p>Jawapan ke-dua: Keredhaan Allah juga tidak meliputi semua orang yang memberi Baiʽat pada hari tersebut, bahkan keredhaan itu hanyalah untuk mereka yang memberikan Baiʽat dengan iman di dalam hati. Ini disebabkan Allah meletakkan syarat keimanan di dalam hati untuk keredhaan-Nya « رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ » . Dengan tidak memenuhi syarat tersebut, maka seseorang itu akan dinafikan dari keredhaan tersebut.</p>
<p>Ini bermaksud sekurang-kurangnya Allah (s.w.t) meredhai seluruh orang yang beriman. Walau bagaimana pun tidak ada bukti bahawa seluruh orang yang memberi Baiʽat dalam peristiwa tersebut mukmin hakiki. Oleh sebab itu Allah (s.w.t) mengikat dengan kata-kata: « عَنِ الْمُؤْمِنِينَ ». Oleh itu kaum munafiqin seperti Abdullah bin Ubai dan orang yang mempunyai syak dalam iman tidak boleh dikatakan memberi Baiʽat yang hakiki. Di samping tidak dikategotikan sebagai Baiʽat hakiki, mereka ini juga tidak mendapat keredhaan tersebut sebagaimana orang beriman yang tidak hadir di dalam peristiwa itu.</p>
<p>Dengan ini, ayat ini tidak termasuk orang yang mengesyaki kenabian Muhammad (s.a.w) seperti Umar bin Al-Khattab pada kejadian itu dan setelah peristiwa itu, bahkan juga ia tidak memberikan Baiʽat dengan keimanan. Detik-detik keraguan Umar terhadap kenabian Rasulullah banyak tercatat secara terperinci di dalam kitab-kitab Ahlusunnah di mana ringkasannya adalah seperti berikut:</p>
<p>Pada suatu ketika Rasulullah (s.a.w) melihat di dalam mimpinya bahawa baginda memasuki Makkah bersama para sabahat mengerjakan Ṭawaf di BaituLlah. Pagi keesokan harinya baginda memaklumkannya kepada para sahabat. Mereka bertanya kepada Rasul tentang mimpi tersebut. Lantas baginda menjawab “Insyallah kita akan memasuki kota Makkah dan mengerjakan Umrah”, namun baginda tidak menentukan bilakah perkara ini akan terjadi.</p>
<p>Semua orang sudah bersiap sedia untuk bergerak dan ketika mereka sampai di Hidaibiyah, musyrikin Quraysh sudah mengetahui kedatangan Rasulullah (s.a.w) dan para sahabat baginda. Maka Musyrikin Quraysh pun bersiap-siap menghalang kedatangan rombongan ini ke Kota Makkah dengan senjata. Oleh kerana matlamat Rasulullah (s.a.w) ke Makkah hanyalah dengan niat menziarahi BaituLlah dan bukan untuk berperang, baginda membuat perjanjian dengan Musyrikin Quraysh bahawa rombongannya tidak akan memasuki Kota Makkah pada tahun ini. Namun pada tahun hadapan mereka tidak dihalang mengerjakan ‘Umrah. Perkara ini menyebabkan Umar bin Al-Khattab dan orang yang sama pemikiran dengannya merasa bimbang dan mengesyaki kenabian Rasulullah (s.a.w) dan (Na’uzubillah) beliau turut menyangka Rasulullah (s.a.w) seorang penipu. Oleh sebab itu beliau memprotes dengan nada yang agak keras. Dhahabī di dalam Tārikh Al-Islām menukilkan kisah ini sebagai:</p>
<p>… فقال عمر : والله ما شككت منذ أسلمت إلا يومئذ ، فأتيت النبي صلى الله عليه وسلم فقلت : يا رسول الله ، ألست نبي الله قال : بلى قلت : ألسنا على الحق وعدونا على الباطل قال : بلى قلت : فلم نعطي الدنية في ديننا إذا قال : إني رسول الله ولست أعصيه وهو ناصري . قلت : أولست كنت تحدثنا أنا سنأتي البيت فنطوف حقا قال : بلى ، أفأخبرتك أنك تأتيه العام قلت : لا . قال : فإنك آتيه ومطوف به … .<br />
تاريخ الإسلام ، الذهبي ، ج 2 ، ص 371 – 372 و صحيح ابن حبان ، ابن حبان ، ج 11 ، ص 224 و المصنف ، عبد الرزاق الصنعاني ، ج 5 ، ص 339 – 340 و المعجم الكبير ، الطبراني ، ج 20 ، ص 14 و تفسير الثعلبي ، الثعلبي ، ج 9 ، ص 60 و الدر المنثور ، جلال الدين السيوطي ، ج 6 ، ص 77 و تاريخ مدينة دمشق ، ابن عساكر ، ج 57 ، ص 229 و … .</p>
<p>Maka ‘Umar berkata: Demi Allah, aku tidak syak sejak keIslamanku kecuali pada hari ini, maka aku datang kepada Rasulullah (s.a.w) dan bertanya: Wahai Rasulullah, tidakkah engkau Nabi Allah? Jawab baginda: Bahkan iya. Aku bertanya: Tidakkah kita di atas kebenaran dan musuh kita di atas kebatilan? Baginda menjawab: Bahkan iya. Umar berkata: Mengapakah kita menunjukkan kelemahan terhadap agama kita? Baginda menjawab: Sesungguhnya aku utusan Allah dan tidak menderhakai-Nya dan Dialah pembantuku. Umar bertanya: Tidakkah engkau berkata kita akan memasuki Makkah dan berṭawaf? Nabi bersabda: Apakah aku memberitahumu kita akan mengerjakannya pada tahun ini? Umar berkata: Tidak. Rasulullah bersabda: Engkau akan memasuki Makkah dan berṭawaf.<br />
-Tārikh Al-Islām Ad-Dhahabī, jilid 2 halaman 372-371<br />
- Sahīh Ibnu Ḥabbān, jilid 11 halaman 224<br />
- Al-Muṣannaf, ʽAbdul Razzāq Al-Ṣunʽānī, jilid 5 halaman 339-340<br />
- Mu’jam Al-Kabīr, Al-Ṭabrānī, jilid 20 halaman 14<br />
- Tafsīr Al-Thaʽlabī, Al-Thaʽlabī, jilid 9 halaman 60<br />
- Al-Durrul Manthur, Jalāluddīn Al-Suyūṭī, jilid 6 halaman 77<br />
- At-Tārikh Madīnah Dimashqi, Ibnu ʽAsākir, jilid 57 halaman 229 dan banyak lagi…</p>
<p>Menarik perhatian di sini ʽUmar tidak yakin dengan kat-kata Rasulullah dan untuk ketenangan, beliau pergi kepada temannya Abu Bakar dan bertanya hal yang sama. Lebih menarik di sini Abu Bakar mengulangi jawapan Rasulullah (s.a.w).</p>
<p>Riwayat ini telah dinukilkan oleh Bukhārī dan Muslim, namun demi melindungi maruah ʽUmar, kata-kata « والله ما شككت منذ أسلمت إلا يومئذ » tidak dimasukkan dalam kisah perilaku khalifah ke-dua tersebut. Silakan anda merujuk Ṣaḥīḥ Al-Bukārī jilid 4 halaman 70, jilid 6 halaman 45 dan Ṣaḥīḥ Muslim jilid 5 halaman 175.</p>
<p>Sejarawan terkenal Ahlusunnah, Muhammad bun Umar al-Wāqidī menulis:</p>
<p>. . . فكان ابن عباس رضي اللّه عنه يقول : قال لي في خلافته ]يعني عمر[ وذكر القضية : إرتبت ارتياباً لم أرتبه منذ أسلمت إلا يومئذ ، ولو وجدت ذاك اليوم شيعة تخرج عنهم رغبة عن القضية لخرجت .</p>
<p>Ibnu ‘Abbas berkata: ʽUmar bin Al-Khattab di zaman kekhalifahannya terkenang peristiwa perjanjian Hudaibiyah dan berkata: Pada hari itu aku telah syak (kenabian Rasulullah), belum pernah aku syak demikian semenjak memasuki Islam. Andainya pada hari itu ada ditemui orang yang membuat keputusan untuk keluar dari perjanjian tersebut, maka aku pun turut akan keluar.</p>
<p>Wāqidī menambah dengan menukilkan riwayat daripada Abū Saʽid Al-Khudrī yang berkata kepada ʽUmar:</p>
<p>&#8230; والله لقد دخلني يومئذٍ من الشك حتى قلت في نفسي : لو كنا مائة رجلٍ على مثل رأيي ما دخلنا فيه أبداً ! .<br />
كتاب المغازي ، الواقدي ، ج 1 ، ص 144 ، باب غزوة الحديبية ، المكتبة الشاملة ، الإصدار الثاني</p>
<p>Demi Allah, sesungguhnya betapa syak pada hari itu sehingga aku berkata kepada diriku: Andainya kita mempunyai seratus lelaki yang berpandangan sepertiku, kita tidak akan sekali-kali menyertai perjanjian tersebut. &#8211; Kitab Al-Maghāzī, Al-Wāqidī, jilid 1 halaman 144, software maktabah Al-Shamilah. Kitab ini dapat dirujuk dalam laman web: www.alwarraq.com</p>
<p>Apakah boleh dikatakan keredhaan Allah selama-lamanya untuk orang seperti ini? Bolehkah sesorang yang tidak beriman terhadap kenabian Rasulullah (s.a.w) dan mengesyaki kerasulan baginda dapat berada di dalam keredhaan Allah?.</p>
<p>Jawapan ke-tiga: Keredhaan ini tidak boleh dikatakan selama-lamanya atau abadi. Begitu juga tidak dijamin kebaikan seluruh orang yang hadir di dalam peristiwa ini kerana ayat tersebut hanya menyabitkan keredhaan Ilahi untuk orang yang memberi Baiʽat hanya pada ketika itu semata-mata, termasuk sebab dan keikhlasan mereka yang menyertai perjanjian dalam peristiwa itu.</p>
<p>Dengan kata yang lain, keredhaan ini akan kekal sehingga waktu tertentu sahaja sebagaimana pembaiʽatan dan perjanjian juga akan kekal sehingga ada terjadi perubahan di dalamnya. Ini disebabkan kewujudan Maʽlul tanpa ʽlal adalah mustahil.</p>
<p>Keredhaan Allah (s.w.t) kepada manusia hanyalah kerana amalan yang dilaksanakan semata-mata. Individu yang tidak beramal tidak akan diredhai oleh Tuhan iaitu selama ia mengerjakan amalan, ia akan diredhai. Tetapi ketika seseorang individu melakukan dosa, maka keredhaan ke atasnya juga akan turut luput.</p>
<p>Dalil paling baik untuk perkara ini ialah ayat tentang perjanjian tersebut:</p>
<p>إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللَّهَ يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ فَمَن نَّكَثَ فَإِنَّمَا يَنكُثُ عَلىَ‏ نَفْسِهِ وَ مَنْ أَوْفىَ‏ بِمَا عَاهَدَ عَلَيْهُ اللَّهَ فَسَيُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا . الفتح / 10 .</p>
<p>Sesungguhnya orang-orang yang memberi pengakuan taat setia kepadamu (wahai Muhammad), mereka hanyasanya memberikan pengakuan taat setia kepada Allah; Allah mengawasi keadaan mereka memberikan taat setia itu (untuk membalasnya). Oleh itu, sesiapa yang tidak menyempurnakan janji setianya maka bahaya tidak menyempurnakan itu hanya menimpa dirinya; dan sesiapa yang menyempurnakan apa yang telah dijanjikannya kepada Allah, maka Allah akan memberi kepadanya pahala yang besar. – Surah Al-Fatḥ ayat 10.</p>
<p>Dalam ayat tersebut, Allah (s.w.t) secara jelas berfirman jikalau sesiapa yang mengingkari perjanjian dengan Allah (s.w.t), maka bahayanya adalah untuk diri sendiri. Allah akan memberikan ganjaran untuk orang yang tetap setia dengan perjanjian tersebut selama ia tidak berubah.</p>
<p>Oleh itu jelaslah ayat itu meliputi orang yang memberikan Baiʽat di hari tersebut sehingga ke akhir hayat selagi ia tetap berteguh dengan janji setianya. Katakanlah keredhaan ini adalah buat selama-lamanya, maka untuk apa Allah berfirman &#8221; فَمَن نَّكَثَ فَإِنَّمَا يَنكُثُ &#8220;? Apakah firman ini sia-sia belaka?</p>
<p>Perkara ini juga banyak terdapat di dalam riyawat-riyawa seperti yang dinukilkan oleh Malik bin Anas di dalam Al-Muwaṭṭa’:</p>
<p>عَنْ أَبِي النَّضْرِ مَوْلَى عُمَرَ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ أَنَّهُ بَلَغَهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِشُهَدَاءِ أُحُدٍ هَؤُلَاءِ أَشْهَدُ عَلَيْهِمْ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ أَلَسْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ بِإِخْوَانِهِمْ أَسْلَمْنَا كَمَا أَسْلَمُوا وَجَاهَدْنَا كَمَا جَاهَدُوا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَلَى وَلَكِنْ لَا أَدْرِي مَا تُحْدِثُونَ بَعْدِي فَبَكَى أَبُو بَكْرٍ ثُمَّ بَكَى &#8230; .</p>
<p>Daripada Abi Nadr mawla Umar bin Ubaidillah bahawa Rasulullah (s.a.w) bersabda mengenai para Syuhada Uhud “Aku bersaksi untuk mereka”. Abu Bakar As-Ṣiddiq berkata “Wahai Rasulullah, Apakah kami bukan saudara-saudara mereka? Kami masuk Islam sebagaimana mereka masuk islam dan kami berjihad sebagaimana mereka berjihad”. Rasulullah (s.a.w) berkata “Ya, tapi Aku tidak tahu Apa yang akan kamu lakukan sepeninggalKu”. Abu Bakar menangis bersungguh-sungguh&#8230; &#8211; Hadis Dalam Al Muwatta Imam Malik Kitab Jihad Bab Para Syuhada di Jalan Allah hadis no 987</p>
<p>Hadis tersebut secara jelas menunjukkan akibat terhadap individu seperti Abu Bakar jikalau tidak taat dan beramal dengan syarat-syarat di dalam Bai’atnya di waktu akan datang, maka kemurkaan Allah akan menggantikan keredhaan-Nya.</p>
<p>Jawapan ke-empat: Sebahagian daripada sahabat yang menghadiri bai’at telah mengakui melanggar pembaiʽatan mereka seperti Barā’ bin ʽĀzib, Abū Saʽid Al-Khudrī dan ʽAisyah:</p>
<p>1) Barā’ bin ʽĀzib: Bukhārī di dalam Ṣaḥīḥnya menulis:</p>
<p>عَنْ الْعَلَاءِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ لَقِيتُ الْبَرَاءَ بْنَ عَازِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا فَقُلْتُ طُوبَى لَكَ صَحِبْتَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبَايَعْتَهُ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَقَالَ يَا ابْنَ أَخِي إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثْنَا بَعْدَهُ .<br />
صحيح البخارى ، ج 5 ، ج65 ، ح 4170 كتاب المغازي باب غزوة الحديبية .</p>
<p>Daripada Al-ʽAlā’ bin Al-Musayyab, daripada ayahnya yang berkata: Aku bertemu dengan Al-Barā’ bin ʽĀzib RaḍiyaLlah ʽAnhumā dan berkata kepadanya:Bergembiralah engkau kerana bersama-sama Nabi dan memberi Baiʽat kepada baginda di bawah pohon. Maka beliau menjawab: Wahai anak saudaraku, sesungguhnya engkau tidak tahu bid’ah apa yang telah kami lakukan setelah kewafatan baginda.- Ṣaḥīḥ Al-Bukharī, jilid 5 halaman 65, hadis 4170</p>
<p>Barā’ bin ʽĀzib adalah salah seorang sahabat besar dan orang yang turut memberi Baiʽat di bawah pohon telah memberikan pengakuan bahawa beliau dan yang lainnya telah melakukan banyak bid’ah setelah kewafatan Rasulullah (s.a.w). Ini juga merupakan bukti yang jelas bahawa keredhaan Allah terhadap orang yang memberi Baiʽat di Hudaibiyah tidaklah kekal abadi selama-lamanya.</p>
<p>2) Pengakuan Abī Saʽid Al-Khudrī: Ibnu Ḥajar Al-ʽAsqalānī di dalam Al-Iṣābah menulis:</p>
<p>عن العلاء بن المسيب عن أبيه عن أبي سعيد قلنا له هنيئا لك برؤية رسول الله صلى الله عليه وسلم وصحبته قال إنك لا تدري ما أحدثنا بعده .<br />
الإصابة ، ابن حجر ، ج 3 ، ص 67 و الكامل ، عبد الله بن عدي ، ج 3 ، ص 63 و &#8230; .</p>
<p>Daripada Al-ʽAlā’ bin Al-Muasayyab, daripada ayahnya, daripada Abī Saʽīd menukilkan bahawa: Kami berkata kepada Abū Saʽīd: Alangkah baiknya engkau, kerana melihat Rasulullah dan berbicara bersama baginda. Abū Saʽīd berkata: Sesungguhnya engkau tidak tahu Bid’ah apa yang telah kami lakukan setelah kewafatan baginda.</p>
<p>3) ʽAisyah:</p>
<p>Dhahabī di dalam Siyar Aʽlam Al-Nubalā’ menulis:</p>
<p>عن قيس ، قال : قالت عائشة&#8230; إني أحدثت بعد رسول الله صلى الله عليه وسلم حدثا ، ادفنوني مع أزواجه . فدفنت بالبقيع رضي الله عنها<br />
سير أعلام النبلاء ، الذهبي ، ج 2 ، ص 193 و الطبقات الكبري ، محمد بن سعد ، ج 8 ، ص74 ، ترجمة عائشة ، والمصنّف ، ابن أبي شيبة الكوفي ، ج 8 ، ص708 و &#8230;</p>
<p>Daripada Qays yang berkata: ʽAisyah berkata… Sesungguhnya aku telah lakukan bid’ah setelah kewafatan Rasulullah (s.a.w) sebenar-benar bidʽah, pusarakan aku bersama isteri-isteri baginda. Maka beliau dimakamkan di Baqī’ RaḍiyaLlahu ʽAnha – Siyar Aʽlam Al-Nubalā’, Al-Dhahabī, jilid 2 halaman 193.</p>
<p>Ḥakim Nisyaburī juga menukilkan riwayat seperti ini dan berkata:</p>
<p>هذا حديث صحيح على شرط الشيخين ولم يخرجاه .<br />
المستدرك على الصحيحين ، الحاكم ، ج 4 ، ص6 .</p>
<p>Hadis ini sahih atas syarat dua Shaykh (Bukhārī dan Muslim), mereka berdua tidak pernah mengeluarkannya. – Al-Mustadrak ʽAlā Al-Ṣaḥiḥayn jilid 4 halaman 6.</p>
<p>Dhahabī juga di dalam Talkhis Al-Mustadrak menegaskan pandangannya. Apakah dengan pengiktirafan para sahabat besar yang melakukan bid’ah setelah kewafatan baginda dapat dikatakan mendapat keredhaan Allah selama-lamanya?</p>
<p>Jawapan ke-lima: Sifat Allah teridir daripada Dhātī dan Fiʽlī. Sifat Dhātī adalah sifat Azālī dan Abadī, namun sifat Fiʽlī tidak seperti ini, bahkan tertakluk pada suatu zaman seperti yang dikatakan oleh Fakhrul Rāzī:</p>
<p>والفرق بين هذين النوعين من الصفات وجوه . أحدها : أن صفات الذات أزلية ، وصفات الفعل ليست كذلك . وثانيها : أن صفات الذات لا يمكن أن تصدق نقائضها في شيء من الأوقات ، وصفات الفعل ليست كذلك . وثالثها : أن صفات الفعل أمور نسبية يعتبر في تحققها صدور الآثار عن الفاعل ، وصفات الذات ليست كذلك .<br />
تفسير الرازي ، الرازي ، ج 4 ، ص 75 .</p>
<p>Dan beza di antara kedua sifat Allah (Dhāt dan Fiʽl) ialah beberapa perkara: 1. Sifat Dhāt Azalī dan abadi, dan sifat Al-Fiʽl tidak seperti itu. 2. Sesungguhnya sifat Al-Dhāt tidak mungkin menepati pertentangannya terhadap sesuatu dalam waktu-waktu (contohnya jahil bertentnagan dengan ‘ālim); dan sifat Fiʽl tidak seperti itu. 3. Sesungguhnya sifat Fiʽl adalah perkara yang berhubung dengan kadangkala terjadi dengan kemunculan dalam suatu kesan daripada Fiʽl, namun sifat Dhāt tidak seperti ini (iaitu kekal abadi).</p>
<p>Oleh itu ketika Allah menyatakan keredhaan atau kemurkaan-Nya, ini bermakna pengurniaan pahala dan balasan. Oleh itu keredhaan dan kemurkaan Allah adalah sifat Fiʽl, bukan sifat Dhatī. Jikalau ianya dari sifat Fiʽl maka ia tidak akan berkekalan. Mengenai perkara ini Ibnu Ḥajar Al-‘Asqalānī berkata:</p>
<p>ومعنى قوله ولا يرضى أي لا يشكره لهم ولا يثيبهم عليه فعلى هذا فهي صفة فعل .<br />
فتح الباري ، ابن حجر ، ج 11 ، ص 350 .</p>
<p>Makna kata-kata « ولا يرضي » ialah tidak menghargai perbuatan yang dilakukan sekarang dan tidak diberi ganjaran. Inilah dia sifat Fiʽl – Fathul Bārī, ibnu Ḥajar, jilid 11 halaman 350</p>
<p>.<img src="http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRhHvTt6xEpHWtahZZ3fN3WM72yIhyDyWDAe5UleWyDSciUkyAq7A" alt="" /></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/syiahali.wordpress.com/38846/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/syiahali.wordpress.com/38846/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/syiahali.wordpress.com/38846/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/syiahali.wordpress.com/38846/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/syiahali.wordpress.com/38846/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/syiahali.wordpress.com/38846/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/syiahali.wordpress.com/38846/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/syiahali.wordpress.com/38846/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/syiahali.wordpress.com/38846/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/syiahali.wordpress.com/38846/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/syiahali.wordpress.com/38846/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/syiahali.wordpress.com/38846/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/syiahali.wordpress.com/38846/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/syiahali.wordpress.com/38846/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syiahali.wordpress.com&amp;blog=13635218&amp;post=38846&amp;subd=syiahali&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syiahali.wordpress.com/2012/01/27/ridha-allah-tentu-tidak-meliputi-sahabat-sahabat-yang-melanggar-janji-seperti-disebutkan-dalam-al-fath-10/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0190a0488b1caa6078bb63692e7f1c0c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">syiahali</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRhHvTt6xEpHWtahZZ3fN3WM72yIhyDyWDAe5UleWyDSciUkyAq7A" medium="image" />

		<media:content url="http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRhHvTt6xEpHWtahZZ3fN3WM72yIhyDyWDAe5UleWyDSciUkyAq7A" medium="image" />

		<media:content url="http://www.shia-explained.com/wp-content/themes/FT-english/thumb.php?src=wp-content/uploads/2011/08/556965781_2c8ce63757.jpg&#38;w=100&#38;h=100&#38;zc=1&#38;q=90" medium="image" />

		<media:content url="http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcS2DAOWJ9qFSwcVH5T4DYYRgQoD7nYIyaYm5izOOcSThQV4H_MU" medium="image" />

		<media:content url="http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRhHvTt6xEpHWtahZZ3fN3WM72yIhyDyWDAe5UleWyDSciUkyAq7A" medium="image" />

		<media:content url="http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcS2DAOWJ9qFSwcVH5T4DYYRgQoD7nYIyaYm5izOOcSThQV4H_MU" medium="image" />

		<media:content url="http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRhHvTt6xEpHWtahZZ3fN3WM72yIhyDyWDAe5UleWyDSciUkyAq7A" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Imam Khomeini diakui dunia namun di hujat wahabi dungu !!</title>
		<link>http://syiahali.wordpress.com/2012/01/27/imam-khomeini-diakui-dunia-namun-di-hujat-wahabi-dungu/</link>
		<comments>http://syiahali.wordpress.com/2012/01/27/imam-khomeini-diakui-dunia-namun-di-hujat-wahabi-dungu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jan 2012 04:01:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>syiahali</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syiahali.wordpress.com/?p=38837</guid>
		<description><![CDATA[Tergoncangnya sendi-sendi kekuasaan pemikiran ateisme dan materialisme di dunia modern dan mengalirnya pengaruhnya revolusi Islam yang digulirkan Imam Khomeini mendorong para tokoh dan pemikir dunia untuk berkomentar tentang fenomena besar ini, baik figur sang pemimpin maupun revolusi yang dipimpinnya. Tak diragukan bahwa Imam Khomeini memiliki peran yang sangat besar dalam melahirkan revolusi agung di Iran, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syiahali.wordpress.com&amp;blog=13635218&amp;post=38837&amp;subd=syiahali&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p>Tergoncangnya sendi-sendi kekuasaan pemikiran ateisme dan materialisme di dunia modern dan mengalirnya pengaruhnya revolusi Islam yang digulirkan Imam Khomeini mendorong para tokoh dan pemikir dunia untuk berkomentar tentang fenomena besar ini, baik figur sang pemimpin maupun revolusi yang dipimpinnya. Tak diragukan bahwa Imam Khomeini memiliki peran yang sangat besar dalam melahirkan revolusi agung di Iran, negara yang selama puluhan tahun tenggelam dalam penindasan rezim despotik</p>
<p>.</p>
<p>Sementara revolusi itu sendiri memiliki makna yang khas karena dipimpin oleh seorang figur ulama kharismatik yang pemberani. Hal itu menyadarkan umat manusia bahwa insan modern tidak dapat menerima kezaliman dan ketidakadilan. Kemampuan melawan kezaliman dapat diperoleh berkat bantuan ilahi.</p>
<div><img src="http://www.iran-press-service.com/ips/bm%7Epix/khomeini-rouhollah-3%7Es600x600.jpg" alt="http://www.iran-press-service.com/ips/bm~pix/khomeini-rouhollah-3~s600x600.jpg" border="0" /></div>
<p>Tak sedikit tokoh dan pemikir yang meyakini bahwa revolusi Islam Iran yang dipimpin Imam Khomeini membuka lembaran baru bagi sejarah dunia Islam bahkan dunia spiritual secara umum. Mereka percaya bahwa seruan suci yang disampaikan Imam Khomeini berhasil mengguncang dunia. Pemikiran dan perilakunya, Imam mengenalkan Islam kepada dunia. Pengaruh gerakan revolusi Imam Khomeini dirasakan juga di daratan Eropa.</p>
<p>Revolusi Islam Iran diyakini telah menumbuhkan semangat spiritual dan keagamaan di dunia. Gereja menemukan spirit baru, dan kehidupan keagamaan kembali bergairah di Eropa. Jutaan pengikut Kristen menantikan kedatangan kembali Yesus. Pengaruh revolusi ini tidak terbatasi pada wilayah Iran. Umat Islam bahkan di wilayah Asia selatan dan Afrika hingga Balkan dan Kaukasus diterpa oleh pengaruhnya pula.</p>
<p>Berikut ini adalah pernyataan dan komentar para tokoh dan pemimpin dunia tentang Imam Khomeini dan revolusi Islam Iran;</p>
<p><strong>Presiden Kuba Fidel Castro:</strong><br />
“Revolusi Islam di Iran adalah peristiwa yang luar biasa. Pengorbanan dan keberanian Anda sangat menakjubkan. Kalian telah memberikan pelajaran baik kepada kami tentang pengorbanan, keberanian, … Pandangan kalian tentang Islam telah terekspor ke kawasan kami. Kalian telah mengekspor revolusi ke seluruh dunia. Iran dengan tenaga agamawan dan rakyatnya memiliki kemampuan yang besar dalam menghadapi semua tipu daya.”</p>
<p><strong>Mohammad Hasnein Heykal, Penulis Terkenal Arab:</strong><br />
“Seakan satu figur besar penuh pengalaman di era awal Islam terlahir lagi ke dunia dengan mukjizat. Figur yang memimpin pasukan Ali setelah kelompok Umawi membantai Ahlul Bait.”</p>
<p><strong>Abdollah Widat, Pemimpin Pemuda Muslim Afrika Selatan:</strong><br />
“Imam Khomeini bukan hanya milik kalian. Semua bangsa tertindas di selatan Afrika akan tergetar hatinya ketika mendengar nama beliau. Dunia hendaknya tahu bahwa Imam Khomeini adalah tumpuan harapan bagi seluruh bangsa tertindas di dunia.”</p>
<p><strong>Roger Garoudy, cendekiawan besar Prancis:</strong><br />
“Revolusi Islam Iran mengenalkan model baru bagi kesempurnaan manusia dan masyarakat. Model ini sejalan dengan kejiwaan bangsa-bangsa dunia, dan inilah alasan permusuhan Barat dengan revolusi ini.”</p>
<p>“Ayatolah Khomeini memberikan makna kepada kehidupan bangsa Iran.”</p>
<p><strong>Mufti Al-Azhar:</strong><br />
“Imam Khomeini adalah sosok muslim sejati. Beliau adalah saudara muslim kami. Muslim meski berbeda madzhab adalah saudara bagi muslim yang lain. Mereka akan bergerak bersama Imam Khomeini di bawah panji Islam yang satu.”</p>
<p><strong>Uskup Kapuchi, Uskup Beitul Maqdis:</strong><br />
“Hati bangsa-bangsa yang mendamba kebebasan dan mereka yang tertindas bergetar karena Imam Khomeini. Beliau bukan hanya milik bangsa Iran tetapi milik semua bangsa tertindas, muslim atau bukan muslim. Beliau adalah pemimpin penyelamat.”</p>
<p><strong>Dr. Mohammad Ali, dosen Universitas Jibvala Meksiko:</strong><br />
“Imam Khomeini menunjukkan bahwa negara-negara adi daya bukan pemilik dunia. Alternatif yang lebih baik dari mereka adalah Islam.”</p>
<p><strong>Promakov, cendekiawan kenamaan Rusia:</strong><br />
“Ayatollah Khomeini telah mengubah makna kepemimpinan dalam tatanan kehidupan sosial. Dia meruntuhkan dinding rasa takut dan menggiring rakyat ke arah fitrah ketuhanan.”</p>
<p>“Revolusi Islam di seluruh dunia selalu lekat dengan nama Khomeini. Sebab dialah yang memimpin rakyat Iran melahirkan revolusi besar dunia. Seperti layaknya para nabi, dia dengan kehadirannya, agama, politik, revolusi, Tuhan dan rakyat diikat dalam satu ikatan yang terpisahkan lalu mengenalkannya kepada insan pemikir. Kebangkitannya mengingatkan semua orang akan kebangkitan para nabi utusan Tuhan.”</p>
<p>“Slogannya yang terkenal, ‘tidak timur, tidak barat’ telah menjadi pondasi utama berdirinya pemerintahan Islam dan itu terjadi tanpa dapat dicegah oleh adi daya dunia.”</p>
<p><strong>Kalim Siddiqi, Ketua Parlemen Muslim Inggris saat itu:</strong><br />
“Imam Khomeini adalah contoh satu-satunya figur pejuang Islam dalam menghadapi hegemoni politik, ekonomi dan budaya Barat.”</p>
<p><strong>Robin Wood:</strong><br />
“Dia (Imam Khomeini) adalah messiah masa kini. Dia benar-benar pancaran keteguhan Isa.”</p>
<p><strong>Oriana Fallaci, Penulis dan Jurnalis Kenamaan Italia:</strong><br />
“Pengaruh besar dari kewibawaan, kebesaran, kesabaran dan keagungan Ayatollah Khomeini sangat terasa dalam pertemuan pertama dengannya.”</p>
<p><strong>Abdur Razzaq Ahmad, Deputi Menteru Tenaga Kerja Ethiopia:</strong><br />
“Revolusi Iran pimpinan Imam Khomeini adalah titik awal bagi lahirnya identitas Islam dalam bentuk negara-negara Islam. Sebab, Islam tanpa pemerintahan yang tidak mampu menerapkan hukum syariat, tidak lebih baik dari agama Kristen. Ini adalah titik awal dan poin yang menonjol dari revolusi Imam Khomeini.”</p>
<p>“Di pentas internasional, peran Imam Khomeini tidak kecil. Beliau telah menyadarkan umat Islam pada umumnya, khususnya warga Afrika, juga memberi spirit kepada bangsa Palestina untuk berjuang demi kebebasan melawan kaum zionis. Ini adalah contoh dari pengaruh itu.”</p>
<p><strong>Profesor Hamid Mavlana, dosen dan direktur pusat penelitian di Amerika Serikat:</strong><br />
“Imam Khomeini adalah sosok figur yang dapat menyihir rakyat dengan kata-katanya. Beliau berbicara dengan bahasa awam, dan memberikan semangat dan rasa percaya diri kepada kaum lemah dan fakir. Imam Khomeini meyakinkan mereka untuk menyingkirkan siapa saja yang menghalangi gerak maju mereka. Bahkan tidak perlu gentar menghadapi negara adi daya seperti AS. Menurut saya, di abad 20 Masehi tidak ada suara yang lebih jelas daru suara Imam Khomeini yang mampu mengguncangkan dunia. Setelah perang dunia kedua, Imam adalah sosok pemimpin pertama yang memecah kebungkaman dalam menghadapi taghut dan tirani. Jika kebungkaman ini tidak dipecah, saat ini Uni Soviet masih eksis.”</p>
<p><strong>Michael Gorbachev, Presiden Terakhir Uni Soviet:</strong><br />
“Dia (Imam Khomeini) berpikir lebih maju dari zamannya, dan tidak terbatas pada tempat tertentu. Dia berhasil meninggalkan warisan yang besar untuk sejarah dunia.”</p>
<p><strong>Ahmad Huber, Penulis dan Pemikir Swiss:</strong><br />
“Beliau datang dari masa lalu dan hidup di masa kini, namun dia menampakkan masa depan. Hari ini di Eropa terasa bahwa runtuhnya tembok Berlin terjadi berkat revolusi Islam Iran. Pengaruh dari kebangkitan Islam ini dapat dirasakan di Eropa.”</p>
<p><strong>Henry Kessinger, mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat dan penasehat strategis AS 1970-an yang beragama Yahudi:</strong><br />
“Ayatollah Khomeini telah menghadapkan dunia Barat pada tantangan besar. Keputusan-keputusannya bagaikan petir menyambar yang tak memberikan kesempatan kepada para teoretis dan politikus untuk berpikir.”</p>
<p>“Tak ada yang dapat menduga keputusan apa yang bakal dia buat. Dia berbicara dan bertindak tidak dengan model-model yang dikenal dunia secara umum. Seakan ia menerima ilham dari tempat lain. Permusuhan Ayatollah Khomeini dengan Barat bermuara pada ajaran ilahi. Dalam bermusuhan dia sangat tulus.”</p>
<p><strong>Talal Atrisi, dosen di salah satu perguruan tinggi Lebanon:</strong><br />
” Kepemimpinan Imam Khomeini dan kemenangan revolusi Islam menjadi penggerak agi peradaban dunia saat ini.”</p>
<p><strong>Massimo Finni, jurnalis Italia:</strong><br />
“Hakikat dari revolusi Islam dan pemikiran Ayatollah Khomeini sangat dalam. Barat tak mampu memahaminya.”</p>
<p><strong>Mohammad Al-Ashi, mantan Imam Masjid Washington:</strong><br />
“Imam Khomeini mengguncangkan sendi-sendi Barat dan Timur. Dia meninggalkan pusaka yang hingga kini masih hidup dan aktif.”</p>
<p>.</p>
<h2 id="post-485">Salute! buat Iran!</h2>
<p>Teknologi Iran Makin Maju, Barat Panik</p>
<p>Negara-negara Barat mengkhawatirkan berhasilnya peluncuran satelit buatan Iran, Selasa (3/2). Amerika Serikat, Perancis, dan Inggris menyatakan, roket yang membawa satelit tersebut juga bisa digunakan untuk menembakkan senjata nuklir.</p>
<p>Dalam bahasa Persia, satelit tersebut bernama Omid, yang artinya harapan. Menurut Pemerintah Iran, satelit tersebut dirancang untuk kebutuhan penelitian dan telekomunikasi. Sudah lama negara-negara Barat mencurigai Iran sedang berusaha membuat senjata nuklir. Dengan alasan tersebut, negara-negara Barat dan PBB menerapkan berbagai sanksi pada Iran.</p>
<p>Hari ini, Rabu (4/2), Amerika Serikat, Rusia, Inggris, Perancis, Jerman, dan China akan berkumpul membicarakan masalah program nuklir Iran.</p>
<p>Juru Bicara Gedung Putih Robert Gibbs mengatakan : “Aksi ini tidak meyakinkan kami bahwa Iran bertindak bertanggungjawab untuk mewujudkan stabilitas atau keamanan di wilayah ini.”</p>
<p>Pejabat Departemen Luar Negeri AS Robert Wood mengatakan aktivitas Iran kemungkinan bisa mengarah pada pengembangan misil balistik dan ini, menurutnya, mencemaskan.</p>
<p>Juru Bicara Deplu Perancis Eric Chevallier juga menegaskan Perancis sangat prihatin dengan peluncuran satelit itu. “Kami tidak bisa membantu tetapi kaitan ini sangat memprihatinkan tentang pengembangan kemampuan nuklir militer,” katanya.</p>
<p>Menlu Inggris Bill Rammel juga mengungkapkan keprihatinan senada. “Ada dua aplikasi untuk teknologi peluncuran satelit dalam program rudal balistik Iran,” katanya</p>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/syiahali.wordpress.com/38837/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/syiahali.wordpress.com/38837/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/syiahali.wordpress.com/38837/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/syiahali.wordpress.com/38837/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/syiahali.wordpress.com/38837/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/syiahali.wordpress.com/38837/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/syiahali.wordpress.com/38837/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/syiahali.wordpress.com/38837/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/syiahali.wordpress.com/38837/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/syiahali.wordpress.com/38837/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/syiahali.wordpress.com/38837/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/syiahali.wordpress.com/38837/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/syiahali.wordpress.com/38837/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/syiahali.wordpress.com/38837/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syiahali.wordpress.com&amp;blog=13635218&amp;post=38837&amp;subd=syiahali&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syiahali.wordpress.com/2012/01/27/imam-khomeini-diakui-dunia-namun-di-hujat-wahabi-dungu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0190a0488b1caa6078bb63692e7f1c0c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">syiahali</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.iran-press-service.com/ips/bm%7Epix/khomeini-rouhollah-3%7Es600x600.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">http://www.iran-press-service.com/ips/bm~pix/khomeini-rouhollah-3~s600x600.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kaki Tuhan memenuhi Neraka dan Allah SWT dapat dilihat diakhirat versi Abu Hurairah dan Bukhari</title>
		<link>http://syiahali.wordpress.com/2012/01/27/kaki-tuhan-memenuhi-neraka-dan-allah-swt-dapat-dilihat-diakhirat-versi-abu-hurairah-dan-bukhari/</link>
		<comments>http://syiahali.wordpress.com/2012/01/27/kaki-tuhan-memenuhi-neraka-dan-allah-swt-dapat-dilihat-diakhirat-versi-abu-hurairah-dan-bukhari/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jan 2012 03:52:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>syiahali</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syiahali.wordpress.com/?p=38824</guid>
		<description><![CDATA[Kaki Tuhan memenuhi Neraka dan Allah SWT dapat dilihat diakhirat versi Abu Hurairah dan Bukhari Segala puji bagi Allah yang nilai-Nya tak dapat diuraikan oleh para pembicara, yang nikmat-nikmat-Nya tak terhitung oleh para penghitung, yang hak-hak-Nya (atas ketaatan) tak dapat dipenuhi oleh orang-orang yang berusaha menaati-Nya; orang yang tinggi kemampuan akalnya tak dapat menilai, dan penyelam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syiahali.wordpress.com&amp;blog=13635218&amp;post=38824&amp;subd=syiahali&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2 id="post-119">Kaki Tuhan memenuhi Neraka dan Allah SWT dapat dilihat diakhirat versi Abu Hurairah dan Bukhari</h2>
<p><strong><img title="Pimpinan Ilahi" src="http://pakoz.files.wordpress.com/2009/01/160px-panjetan.jpg?w=450" alt="Pimpinan Ilahi" /></strong></p>
<ul>
<li>
<h5>Segala puji bagi Allah yang nilai-Nya tak dapat diuraikan oleh para pembicara, yang nikmat-nikmat-Nya tak terhitung oleh para penghitung, yang hak-hak-Nya (atas ketaatan) tak dapat dipenuhi oleh orang-orang yang berusaha menaati-Nya; orang yang tinggi kemampuan akalnya tak dapat menilai, dan penyelam pengertian tak dapat mencapai-Nya; la yang untuk menggambarkan-Nya tak ada batas telah diletakkan, tak ada pujian yang maujud, tak ada waktu ditetapkan, dan tak ada jangka waktu ditentukan. la mengadakan ciptaan dengan kodrat-Nya, menebarkan angin dengan rahmat-Nya, dan mengukuhkan bumi yang goyah dengan batu.</h5>
</li>
<li>
<h5>Pangkal agama ialah makrifat tentang Dia, kesempurnaan makrifat (pengetahuan) tentang Dia ialah membenarkan-Nya, kesempurnaan pembenaran-Nya ialah mempercayai Keesaan-Nya, kesempurnaan iman akan Keesaan-Nya ialah memandang Dia Suci, dan kesempurnaan Kesucian-Nya ialah menolak sifat-sifat-Nya, karena setiap sifat merupakan bukti bahwa (sifat) itu berbeda dengan apa yang kepadanya hal itu disifatkan, dan setiap sesuatu yang kepadanya sesuatu disifatkan berbeda dengan sifat itu. Maka barangsiapa melekatkan suatu sifat kepada Allah (berarti) ia mengakui keserupaan-Nya, dan barangsiapa mengakui keserupaan-Nya maka ia memandang-Nya dua, dan barangsiapa memandang-Nya dua, mengakui bagian-bagian bagi-Nya, dan barangsiapa mengakui bagian-bagian bagi-Nya (berarti) tidak mengenal-Nya, dan barangsiapa tidak mengenal-Nya maka ia menunjuk-Nya, dan barangsiapa menunjuk-Nya (berarti) ia mengakui batas-batas bagi-Nya, dan barangsiapa mengakui batas-batas bagi-Nya (berarti) ia mengatakan jumlah-Nya.</h5>
</li>
<li>
<h5>Barangsiapa mengatakan “dalam apa la berada”, (berarti) ia berpendapat bahwa la bertempat, dan barangsiapa mengatakan “di atas apa la berada” maka ia beranggapan bahwa la tidak berada di atas sesuatu lainnya.</h5>
</li>
<li>
<h5>la Maujud tetapi tidak melalui fenomena muncul menjadi ada. la ada tetapi bukan dari sesuatu yang tak ada. la bersama segala sesuatu tetapi tidak dalam kedekatan fisik. la berbeda dari segala sesuatu tetapi bukan dalam keterpisahan fisik. la berbuat tetapi tanpa konotasi gerakan dan alat. la melihat sekalipun tak ada dari ciptaan-Nya yang dilihat. la hanya Satu, sedemikian rupa sehingga tak ada sesuatu yang dengannya la mungkin bersekutu atau yang mungkin la akan kehilangan karena ketiadaannya.</h5>
</li>
</ul>
<p>&nbsp;</p>
<p>Telah ditetapkan melalui dalil akal bahwa Tuhan tidaklah memiliki jasad dan berbentuk, tidaklah menempati sebuah ruangan dan waktu. Hal ini menjadi dalil bahwa Tuhan Yang Agung adalah zat yang tidak dapat dilihat. Namun, sebahagian kalangan penafsir menyatakan bahwa Tuhan akan menampakkan dirinya di hari kiamat, mereka berdalil bahwa hamba-hamba yang soleh akan melihat wujud Tuhan di hari kiamat, melalui ayat yang berbunyi: “Kepada Tuhannyalah mereka Melihat”.<a name="b1" href="https://pakoz.wordpress.com/wp-admin/#a1"></a>[1] Apakah maksud ayat tersebut?</p>
<p>Adapun penglihatan adalah terbiasnya cahaya sesuatu pada lensa mata. Ketika proses pembiasan ini bekerja, maka akan terjadi ada ikatan antara yang sesuatu yang dilihat dan mata. Oleh karenanya, menjadikan sesuatu tersebut menempati pada tempat tertentu. Dan segala yang berbentuk membutuhkan sebuah tempat, dan yang membutuhkan yang lain adalah fakir. Dan ini tidak akan memiliki sifat Ketuhanan (Uluhiyah). Dari penjelasan ini maka sekiranya Tuhan bertempat, tidaklah akan melewati kemungkinan berikut ini:</p>
<p>1. Keberadaan tempat tersebut pada awalnya bersamaan dengan wujud Tuhan. Kalau sekiranya tempat tersebut qadim (dahulu), maka keberadaannya sama dengan keberadaan Tuhan Yang Qadim. Jadi, ada dua wujud yang qadim.</p>
<p>2. Sekiranya Allah Swt menciptakan tempat untuk diri-Nya sendiri. Dan kita umpakan Dia (Allah) tidak membutuhkan tempat. Dengan dalil bahwa sebelum dicitakan tempat tersebut, dia telah ada. Dengan gambaran ini, bagaimana Allah Swt tidak membutuhkan tempat , kemudian setelah itu Dia membutuhkan tempat.</p>
<p>Dilihat dari makna ayat, maka dapatlah kita jelaskan sebagai berikut:</p>
<p>Kata Nadhiro dari ayat tersebut bukanlah mempunyai makna melihat akan tetapi bermakna menunggu atau menanti. Dan maksud dari keseluruhan ayat adalah penantian rahmat dan kasih sayang Allah Swt. Ketika utusan raja Saba’ mengirimkan hadiah kepada nabi Sulaiman as, disebutkan dalam al-qu’an, Allah Swt berfirman: “Dan Sesungguhnya Aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan (membawa) hadiah, dan (aku akan)menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh utusan-utusan itu”.<a name="b2" href="https://pakoz.wordpress.com/wp-admin/#a2"></a>[2]</p>
<p>Dan pengertian Nadhiro sebenarnya, bukanlah diartikan penglihatan. Maka kita mencoba penelusuri ayat diatas, dengan mengaitkan dengan ayat sebelumnya dan sesudahnya. Allah Swt berfirman:</p>
<p>1. “Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri”.</p>
<p>2. “Kepada Tuhannyalah mereka Melihat“.</p>
<p>3. “Dan Wajah-wajah (orang kafir) pada hari itu muram”.</p>
<p>4. “Mereka yakin bahwa akan ditimpakan kepadanya malapetaka yang amat dahsyat”.<a name="b3" href="https://pakoz.wordpress.com/wp-admin/#a3"></a>[3]</p>
<p>Pada keempat ayat diatas, ayat ketiga nampak berlawanan dengan ayat pertama. Dan ayat keempat juga berlawanan dengan ayat kedua. Dan pelu diperhatikan bahwa ayat keempat menghilangkan bentuk kekaburan seperti pada ayat yang kedua. Yang jelas, ayat yang pertama dan ketiga adalah pembagian atas manusia di hari kiamat. Dan ayat kedua dan keempat juga adanya penjelasan nasib perjalanan manusia dalam dua bentuk. Dari sisi lain, maka ayat keempat memaparkan tentang penantian terhadap sebuah azab, dan ayat kedua memaparkan tentang penantian terhadap rahmat Swt. Bukanlah penglihatan dan penyaksian dalam bentuk luar (dhahir).</p>
<h3>Kesimpulan:</h3>
<p>Dalil ayat untuk menetapkan kemungkinan Allah Swt dapat dilihat di hari kiamat, akan menyimpang dari pemahaman secara filosofis dan terhadap tujuan yang ada di dalam keempat ayat tersebut. Dari ayat, sebenarnya mengambarkan tentang pelaku ketaatan dan maksiat dan penantian keduanya terhadap nasib mereka dari turunnya rahmat Allah atau azab-Nya. Adapun penafsiran tentang penyaksian zat Al-Haq tidaklah berkaitan dengan ayat ini. [Sumber: Cahaya Islam]</p>
<h5><a name="a1" href="https://pakoz.wordpress.com/wp-admin/#b1"></a>[1] Al-Qiyaamah ayat 23.<br />
<a name="a2" href="https://pakoz.wordpress.com/wp-admin/#b2"></a>[2] An-Naml ayat 35.<br />
<a name="a3" href="https://pakoz.wordpress.com/wp-admin/#b3"></a>[3] Al-Qiyaamah ayat 22 s/d 25.</h5>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/syiahali.wordpress.com/38824/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/syiahali.wordpress.com/38824/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/syiahali.wordpress.com/38824/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/syiahali.wordpress.com/38824/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/syiahali.wordpress.com/38824/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/syiahali.wordpress.com/38824/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/syiahali.wordpress.com/38824/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/syiahali.wordpress.com/38824/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/syiahali.wordpress.com/38824/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/syiahali.wordpress.com/38824/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/syiahali.wordpress.com/38824/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/syiahali.wordpress.com/38824/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/syiahali.wordpress.com/38824/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/syiahali.wordpress.com/38824/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syiahali.wordpress.com&amp;blog=13635218&amp;post=38824&amp;subd=syiahali&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syiahali.wordpress.com/2012/01/27/kaki-tuhan-memenuhi-neraka-dan-allah-swt-dapat-dilihat-diakhirat-versi-abu-hurairah-dan-bukhari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0190a0488b1caa6078bb63692e7f1c0c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">syiahali</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pakoz.files.wordpress.com/2009/01/160px-panjetan.jpg?w=450" medium="image">
			<media:title type="html">Pimpinan Ilahi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>keharusan adanya kekuasaan yang mengatur umat adalah sesuatu yang tidak dapat diingkari. Tapi siapa yang paling berhak menduduki posisi tertinggi itu? Melihat persyaratan yang dituntut untuk jabatan kekuasaan tertinggi dalam Islam, maka yang paling pasti di antara yang ada adalah kaum fuqaha, dalam arti, orang yang ahli dalam urusan-urusan yang menyangkut Islam, mampu mengatur negara, dan tahu akan perkembangan zaman.</title>
		<link>http://syiahali.wordpress.com/2012/01/27/keharusan-adanya-kekuasaan-yang-mengatur-umat-adalah-sesuatu-yang-tidak-dapat-diingkari-tapi-siapa-yang-paling-berhak-menduduki-posisi-tertinggi-itu-melihat-persyaratan-yang-dituntut-untuk-jabatan-k/</link>
		<comments>http://syiahali.wordpress.com/2012/01/27/keharusan-adanya-kekuasaan-yang-mengatur-umat-adalah-sesuatu-yang-tidak-dapat-diingkari-tapi-siapa-yang-paling-berhak-menduduki-posisi-tertinggi-itu-melihat-persyaratan-yang-dituntut-untuk-jabatan-k/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jan 2012 03:42:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>syiahali</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syiahali.wordpress.com/?p=38822</guid>
		<description><![CDATA[Sunni TAAT AL-QURAN TAK TAAT AHLUL BAYT ? Hadis Tsaqalain Hadis tsaqalain adalah salah satu hadis yang tergolong mutawatir dan makruf di kalangan fariqain, Sunni-Syiah. Bahwa wajib mengikut kepada Ahlulbait Rasulullah tercantum jelas dan tegas dalam hadis ini. Kami persembahkan hadis ini kepada para mereka yang berpikir kritis dan dahaga terhadap realitas sebenarnya. Selamat mengkaji! Hadis [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syiahali.wordpress.com&amp;blog=13635218&amp;post=38822&amp;subd=syiahali&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<h2 id="post-730">Sunni TAAT AL-QURAN TAK TAAT AHLUL BAYT ?</h2>
<p>Hadis Tsaqalain</p>
<p>Hadis tsaqalain adalah salah satu hadis yang tergolong mutawatir dan makruf di kalangan fariqain, Sunni-Syiah. Bahwa wajib mengikut kepada Ahlulbait Rasulullah tercantum jelas dan tegas dalam hadis ini. Kami persembahkan hadis ini kepada para mereka yang berpikir kritis dan dahaga terhadap realitas sebenarnya. Selamat mengkaji!<br />
Hadis Tsaqalain</p>
<p>.</p>
<p><strong>Akhlak Pecinta Ahlulbait</strong></p>
<p><strong>Oleh: Syaikh Shaduq</strong></p>
<p>1. Dari Ayahandaku, semoga Allah swt memberi rahmat kepadanya, ia mengatakan telah meriwayatkan kepadaku Ali Bin Husain Asyad Abadi dari Jabir bin Ju’fi, ia mengatakan telah berkata Abu Ja’far: “Apakah cukup yang menjadi syiah dengan hanya mengatakan cinta kepada Ahlulbait? Imam menjawab, “Demi Allah , tiada lain Syiah kami adalah mereka yang bertakwa kepada Allah dan mentaati-Nya, Mereka hanya dikenal dengan ketawadhuan, kekhusyu’an, menunaikan amanat, dan banyak berdzikir kepada Allah, shaum, shalat, berbuat baik kepada orang tua, baik kepada tetangga yang miskin, yang fakir, yang punya hutang, anak-anak yatim, jujur, membaca Quran, menjaga lisan kecuali dengan perkataan yang baik, Orang-orang syiah adalah amanah bagi para keluarga mereka”.Jabir kemudian mengatakan: “Wahai putra Rasulullah saw, kami mengenal mereka tetapi tidak memiliki sifat-sifat seperti ini”.</p>
<p>Beliau mengatakan,” Wahai Jabir janganlah engkau bermazhab kepada orang-orang yang hanya mengatakan aku cinta Ali as dan berwali kepadanya, dan jika ada yang mengatakan aku cinta kepada rasul dan dan Rasulullah lebih baik dari Ali as, tapi kemudian tidak mengikuti jalannya tidak mengamalkan sunnahnya maka kecintaannya itu tidak bermanfaat sedikitpun. Maka bertakwalah kepada Allah dan beramalah karena Allah, karena tidak ada kekerabatan antara Allah dan siapapun. Hamba yang paling dicintai dan dihormati di sisi Allah adalah yang paling bertakwa dan yang paling mentaati-NYA.Wahai Jabir seseorang hamba tidak bisa mendekati Tuhannya kecuali dengan mentaati-NYA. Arti dibebaskan dari Neraka tidak ada artinya dan tidak ada satupun diantara kalian yang menjadi hujjah bagi Allah. Siapa yang ta’at itulah bagian dari kami dan barangsiapa yang bermaksiat kepada Allah maka itu musuh kami, wilayah (kesetian) kepada kami tidak bisa dicapai kecuali dengan ketakwaan dan kewara’an.</p>
<p>2. Imam Shadiq as mengatakan: “Syiah kami adalah ahli wara’, ahli ijtihad, penunai janji, amanah, ahli zuhud, ahli ibadah, suka sholat 51 raka’at sehari semalam, tahajud di malam hari, shaum di siang hari, membersihkan harta-harta mereka dan haji ke tanah suci.”</p>
<p>3. Dari Muhammad bin Musa Al-Mutawakil dari Ahmad bin Abdullah dari Abi Abdillah ia mengatakan:“Tiada lain syiah Ali kecuali yang bersih perut dan kemaluannya, beramal untuk tuhannya, mengharapkan pahala dan takut kepada siksa-NYA.”</p>
<p>4. Muhammad bin Azlan mengatakan aku bersama Aba Abdillah, kemudian seseorang masuk dan mengucapkan salam. Ia ditanya bagaimana orang-orang yang engkau tinggalkan. Si lelaki yang datang tadi memuji-mujinya. Kemudian Aba Abdillah bertanya seberapa sering orang-orang kaya mereka mendatangi orang-orang miskin. Lelaki tadi menjawab sangat jarang. Kemudian ia ditanya lagi sejauhmana orang-orang kayanya menjenguk orang-orang miskin? . Lelaki tadi menjawab, :“Tuan menyebutkan sifat-sifat yang tidak dimiliki mereka. Abu Abdillah kemudian balik mengatakan,” Kenapa pula engkau menyebut mereka sebagai syiah?”</p>
<p>5. Semoga Allah swt memberi rahmat kepadanya, Seorang rawi mengatakan telah meriwayatkan kepadaku Ali Bin Husain Asyad Aabadi dari Jabir bin Ju’fi, ia mengatakan telah berkata Abu Ja’far: “Apakah cukup yang menjadi syiah dengan hanya mengatakan cinta kepada Ahlulbait, demi Allah , tiada lain Syiah kami adalah mereka yang bertakwa kepada Allah dan mentaati-NYA, Mereka hanya dikenal dengan ketawadhuan, kekhusyu’an, menunaikan amanat, dan banyak berdzikir kepada Allah, shaum, shalat, berbuat baik kepada orang tua, baik kepada tetangga yang miskin, yang fakir, yang punya hutang, anak-anak yatim, jujur, membaca Quran, menjaga lisan kecuali dengan perkataan yang baik, Orang-orang syiah adalah amanah bagi para keluarga mereka”. Jabir kemudian mengatakan, “Wahai putra Rasulullah saw, kami mengenal mereka tetapi tidak memiliki sifat-sifat seperti ini”. Lalu aku bertanya,”Dimana bisa kutemukan orang-orang seperti itu?” Imam menjawab, “Mereka ada di pinggiran diantara pasar-pasar Itulah mereka yang dimaksud dengan firman Allah “merendahkan hati terhadap orang-orang mukmin dan berwibawa di depan orang-orang kafir.”</p>
<p>6. Meriwayatkan sebuah hadis kepadaku Muhammad bin Husan bin Alwalid semoga Allah meridhai mereka dari Mufadhol bin Qais dan Abi Abdillah alaihi as. Beliau mengatakan: “Berapa syiah kami di Kufah?” Aku menjawab:” lima puluh ribu. Beliau lantas mengatakan: “Saya mengharapkan jumlahnya hanya 20. Kemudian beliau mengatakan: “Demi Allah aku harap di Kufah syiah kami hanya ada 25 orang yang mengetahui urusan kami dan dan tidak berkata tentang kami kecuali dengan benar.”</p>
<p>7. Meriwayatkan sebuah hadis kepada kami Muhammad bin Majilwaih dari Abu Abdillah Berkata kepadanya Abu ja’far Ad-Dawaniqi di Hirah dimasa pemerintahan Abi Al-Abbas: “Ya Aba Abdillah, bagaimana dengan Syiahmu yang mengeluarkan apa yang ada di dalam hatinya dalam satu majlis sehingga diketahui madzhabnya”. Beliau mengatakan: “Itu karena memiliki kemanisan iman di dadanya dan karena manisnya menjadi tampak sejelas-jelasnya.”</p>
<p>8. Meriwayatkan sebuah hadis kepadaku Ahmad bin Muhammmad bin Yahya al-‘Athor dari Muhammad bin Sadir ia mengatakan Bahwa Abu abdillah mengatakan: “Jika tiba hari kiyamat makhluk-makhluk akan dipanggil dengan ibu-ibu mereka kecuali kami dan syiah kami karena tidak ada hubungan darah diantara kami.”</p>
<p>9. Meriwayatkan sebuah hadis dari Muhammad bin Majilwaeh meriwayatkan sebuah hadis kepada kami Umar bin Muhammad bin Abi Qosim dari Harun bin Muslim dari Musidah bin Shodaqo. Ia mengatakan Abu Abdilah ditanya tentang syiah kami beliau menjawab: “Syiah kami yang mempelopori kebajikan dan menahan dari keburukan, menunjukkan hal-hal yang indah dan bersegera dalam melakukan perintah Tuhan, karena mengharapkan rahmatnya. Merekalah dari kami kembali kepada kami dan bersama kami dimana saja berada.”</p>
<p>10. Ayahandaku meriwayatkan sebuah hadis kepadaku ia mengatakan telah meriwayatkan kepadanya Sa’ad bin Abdilllah dari Ali bin Abdul Aziz ia mengatakan Abu Abdillah mengatakan: “Ya Ali bin Abdil Aziz janganlah kau tertipu dengan tangisan mereka, karena ketakwaan itu adanya di hati.”</p>
<p>11. Ayahandaku meriwayatkan sebuah hadis kepadaku ia mengatakan meriwayatkan sebuah hadis kepadaku Abdullah bin ja’far Alhumairi dari Mus’idah bin Shodaqoh dari Ashodiq, Rasulullah saw mengatakan: “Barang siapa yang nestapa karena perbuatan buruk dan memiliki perjalanan hidup yang baik ialah orang mukmin.”</p>
<p>12. Dengan sanad yang sama Abu Abdilah mengatakan: “Alangkah jeleknya orang mukmin kalau dihinakan oleh keinginannnya.”[]<br />
[1] Disadur dari kitab Shifât as-Syi‘ah, karya Syaikh Shaduq (305-381).</p>
<p>.</p>
<p><strong>Memahami Konsep Wilayatul Faqih</strong></p>
<p>Perbincangan mengenai konsep wilayatul faqih cukup marak akhir-akhir ini. Akan tetapi sebagian barangkali tidak memahaminya dengan baik. Pada saat yang sama, musuh-musuh Islam sengaja melakukan penafsiran yang menyimpang dan bertentangan dengan konsep aslinya. Karena itu adalah sangat perlu bagi kita memahami konsep ini dengan benar, baik dari segi ilmiah maupun dari segi fiqhiyyah-nya, supaya kita dapat melihat betapa bermaknanya konsep ini.</p>
<p>Dalam memahami konsep wilayatul faqih ini kita juga perlu memahami landasan utama konsep ini, yaitu prinsip al-wilayah al-ilahiyyah al-ammah atau otoritas umum Tuhan, wilayatun-Nabi SAWWW, otoritas Nabi, dan wilayah al-aimmah, otoritas para imam a.s. Selain itu kita perlu memahami dengan benar peran konstruktif wilayatul faqih dalam sebuah Negara Islam. Di sini kita melihat adanya empat tipelogi pemerintahan. Pertama, Pemerintahan Individual yang bertumpu pada kekuatan, seperti pemerintahan para raja dan penguasa-penguasa tempo dulu, dimana kekuatan, kekerasan dan kemampuan militer merupakan landasan utama. Dengan kata lain, siapa yang paling kuat secara militer dialah yang akan mengendalikan kekuasaan.</p>
<p>Jika kita melihat sejarah kawasan di sekitar kita, baik pada masa sebelum atau sesudah Islam, dengan mudah kita dapat melihat bahwa pemerintahan-pemerintahannya termasuk dalam kategori tipe pertama ini. Penguasa-penguasanya memerintah dengan semena-mena. Untuk menjadi penguasa tidak ada persyaratan khusus. Tidak penting apakah sang penguasa, yang biasanya kepala suku atau komandan militer, seorang yang cakap memerintah atau tidak. Tapi karena ia kuat, mampu menaklukkan daerah-daerah yang luas, maka dialah yang berkuasa. Tapi jika kemudian kekuasaannya melemah, maka giliran kepala suku lain atau penguasa lokal dari keluarga lain yang berhasil melakukan kudeta terhadap penguasa sebelumnya yang akan berkuasa dan melahirkan dinasti baru.</p>
<p>Demikianlah. Silih berganti kekuasaan berpindah dari tangan satu keluarga ke keluarga lain. Dari satu orang ke orang lain. Tanpa sedikit pun harus membawa perbaikan nasib rakyatnya, kecuali menambah penderitaan-penderitaan mereka. Tidak hanya pada masa lalu. Bentuk pemerintahan yang serupa juga dapat kita lihat pada banyak pemerintahan-pemerintahan dewasa ini. Bukankah pemerintahan-pemerintahan yang lahir melalui kudeta-kudeta militer yang kerap dilakukan oleh sekelompok perwira militer tertentu pada banyak negara, yang biasanya didukung oleh negara asing tertentu, dan memerintah dengan tangan besi dan dukungan tank dan bedil sama saja dengan pemerintahan-pemerintahan otoriter tempo dulu ? Sama sekali tidak ada bedanya.</p>
<p>Afghanistan (pada masa komunis) misalnya, sekelompok perwira tertentu, yang didukung penuh oleh negara asing tertentu (Soviet) memaksakan kekuasaan mereka pada rakyat. Tapi ketika rakyat marah dan para penguasa tidak mampu mempertahankan kekuasaan mereka, mereka meminta negara asing itu (Soviet) melakukan intervensi ke negeri mereka guna mengamankan posisi mereka. Negara yang bersangkutan, dengan dalih mempertahankan pemerintahan yang sah, menduduki Afganistan, membombardir rakyat, dan melakukan kejahatan-kejahatan. Tapi sayangnya dunia diam saja. Kalau toh ada protes paling-paling protes lisan. Bukankah semua ini adalah penggunaan kekuatan dan kekerasan ?</p>
<p>Tipe kedua, Pemerintahan Individual oleh seorang shalih. Yang mengatur urusan negara hanya seorang, tapi seorang yang shalih. Mayoritas rakyat atau paling tidak sebagian besar mendukungnya dan mempercayainya mengatur urusan mereka. Dialah yang menentukan segalanya, tapi tidak didasarkan pada kekuatan atau kekerasan seperti tipe pertama, melainkan dengan cara bijak dan adil. Pemerintahan para Nabi contohnya. Para Nabi adalah segalanya. Mereka yang mengatur, menetapkan, dan berkuasa penuh. Tapi karena mereka adalah orang-orang yang shalih, roda pemerintahan dijalankan dengan cara yang terbaik. Sesekali mungkin mereka juga melakukan musyawarah dengan banyak pihak, tetapi tetap saja keputusan terakhir di tangan mereka. Tipe pemerintahan ini hanya terbatas pada pemerintahan para Nabi dan Imam-Imam yang suci. Sebab tidak ada jaminan bahwa selain Nabi dan para Imam, mereka tidak akan jatuh pada kekeliruan.</p>
<p>Tipe ketiga, Pemerintahan Demokrasi Liberal. Kedaulatan berada penuh di tangan rakyat ; dalam arti siapapun yang dipercaya dan dipilih rakyat untuk menjadi penguasa, tidak menjadi masalah apakah yang bersangkutan seorang filosof, aktor, beragama atau malah seorang atheis, tapi selama rakyat telah memilihnya, maka dialah yang berkuasa. Model kekuasaan semacam ini dianut oleh banyak negara dewasa ini. Biasanya berlaku formula 50+1. Maksudnya jika seorang dipilih oleh separuh ditambah satu dari jumlah pemilih, maka sahlah kekuasaannya. Hal ini juga berlaku dalam penetapan undang-undang. Jika anggota legislasi menetapkan peraturan, meskipun peraturan itu bertentangan dengan norma-norma agama dan kemanusiaan, seperti yang terjadi di Inggris yang mengesahkan perilaku seks menyimpang, tapi karena berdasarkan keputusan dewan legislatif, maka apapun bentuknya harus tetap dihormati dan dihargai sebagai hukum yang sah. Inilah demokrasi gaya Barat.</p>
<p>Keempat, Pemerintahan Demokrasi Primer. Kedaulatan berada di tangan rakyat, tapi tidak penuh sebagaimana yang dianut tipe ketiga. Melainkan terikat oleh norma-norma tertentu. Rakyat bebas menentukan pilihannya, tapi tidak boleh memilih sembarang orang. Harus orang-orang yang sesuai dengan aturan dan norma-norma yang berlaku. Demikian pula pada masalah perundang-undangan. Tidak semua ketetapan yang telah disahkan oleh Parlemen dapat dibenarkan, yaitu jika undang-undang itu tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku. Dengan demikian, baik pada pemilihan seorang penguasa maupun pada tingkat penetapan undang-undang harus sesuai dengan norma-norma yang ada. Orang-orang Komunis mengklaim bahwa mereka bagian dari tipe ini karena mereka menjalankan demokrasi yang terikat dengan norma-norma Marxisme. Tapi, terlepas dari kritik-kritik terhadap konsep dasar komunisme itu sendiri, mereke sebenarnya tidak dapat dikatagorikan pada tipe ini. Sebab dalam prakteknya, mereka tidak beda dengan pemerintahan-pemerintahan tipe pertama.</p>
<p>Lalu di mana letak Pemerintahan Islam? Dengan mudah kita katakan bahwa Islam menganut tipe keempat. Inti Pemerintahan Islam atau Republik Islam bersandarkan kepada kehendak rakyat, baik pada sisi legislasi, penetapan undang-undang, maupun pada sisi eksekusi, menjalankan roda pemerintahan. Akan tetapi tidak dalam arti penuh seperti yang dipahami demokrasi Barat, melainkan terikat oleh aturan-aturan Islam di semua tingkat kekuasaan legislasi, eksekusi, dan yudikasi.</p>
<p>Konsep wilayatul faqih sama sekali tidak bertentangan dengan penghargaan Islam yang besar atas kehendak rakyat. Bahkan justru dibangun atas dasar itu. Akan tetapi tentu saja tidak sama dengan apa yang dianut oleh Barat. Sebab Barat menganut demokrasi tak terbatas, sementara wilayatul faqihtunduk pada aturan-aturan yang telah ditetapkan Islam. Lebih jauh, mari kita ikuti pembahasan berikut ini.</p>
<p>Pada dasarnya setiap negara memiliki tiga jenis kekuasaan, yaitu legislatif, eksekutif, dan yudikatif. Pada negara yang menganut sistem demokrasi terikat seperti negara Republik Islam, maka dalam menetapkan undang-undang pemilihan anggota atau badan eksekutif dan yudikatif sudah barang tertentu terikat oleh aturan-aturan yang ditetapkan oleh Islam. Sama sekali tidak boleh keluar dari Islam. Undang-undang yang disahkan oleh parlemen sama sekali tidak boleh bertentangan dengan Islam. Kepala Pemerintahan yang dipilih rakyat harus memiliki kualifikasi yang sesuai dengan kehendak Islam. Demikian pula anggota eksekutif lainnya serta anggota badan yudikatif. Seorang hakim tidak boleh sembarang orang. Ia harus memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan Islam dalam kehakiman dan sebagainya. Karena itu tidak ada jalan bagi badan legislatif misalnya, mengesahkan praktek riba, sebab bertentangan dengan aturan Islam yang mengharamkan riba.</p>
<p>Untuk menjamin berlakunya kedua prinsip ini sekaligus dengan baik, di satu pihak menjunjung tinggi kehendak rakyat dan pada waktu yang bersamaan tidak menyalahi aturan agama Islam, maka perlu dibentuk badan yang mengawasi ketiga insitusi tersebut. Dalam Majelis, parlemen, telah dibentuk apa yang disebut dengan Badan Pengawas Undang-Undang. Tugas utamanya adalah mengawasi jangan sampai lahir undang-undang yang bertentangan dengan Islam. Jika ada undang-undang yang bertentangan dengan Islam, mereka berhak menolak dan membatalkannya. Tapi sebetulnya, jika semua angota parlemen atau paling tidak mayoritas angatanya adalah orang-orang yang ahli tentang Islam, maka Badan Pengawas semacam ini tidak begitu diperlukan karena para anggota parlemen dengan sendirinya sudah dapat melakukan pengawasan. Tapi karena pada prakteknya sulit diwujudkan maka badan Pengawas Undang-Undang ini mutlak diperlukan, hal ini supaya tidak terjadi penyimpangan dari norma-norma Islam.</p>
<p>Demikian pula terhadap pemilihan kepala negara atau presiden. Supaya tidak jatuh ke tangan orang-orang yang tidak bertanggung jawab maka keabsahan pemilihannya sebagai presiden tergantung pada persetujuan wali faqih atau ahli agama tertinggi yang dipercaya sebagai penguasa tertinggi. Hal yang sama juga berlaku pada pengangkatan anggota Badan Yudikatif. Meskipun pengangkatan Menteri Kehakiman dilakukan oleh parlemen dan pengangkatan anggota Dewan Kehakiman Tertinggi oleh para hakim atau qadi itu sendiri, tetapi tetap saja keputusan terakhir ada di tangan wali faqih. Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa dalam negara Republik Islam atau negara Demokrasi Agama, kedaulatan rakyat dan kedaulatan agama bergandengan dan menjadi satu. Inilah yang kita sebut dengan wilayatul faqih.</p>
<p>Di sini mungkin timbul beberapa pertanyaan. Pertama, jika demikian yang dikehendaki oleh Islam, mengapa pemerintahan Nabi dan para Imam tidak demikian? Nabi dan Imam Ali a.s. misalnya, mereka menunjuk langsung para penguasa di daerah-daerah tanpa melibatkan orang banyak. Bahkan ketiga kekuasaan : legislasi, eksekusi, dan yudikasi berada di tangan mereka sekaligus. Selain itu tidak ada sama sekali kotak suara dan sebagainya. Menjawab pertanyaan ini perlu ditegaskan, terdapat perbedaan antara Nabi dan Imam dengan yang lainnya. Nabi SAWWW dan para imam a.s. adalah orang-orang yang ma’shum, disucikan Tuhan dan dijamin kebenarannya, sementara yang lain tidak. Cara pandang kita terhadap seorang wali faqih tidak sama dengan Nabi atau Imam. Nabi atau Imam punya perhitungannya sendiri yang berbeda dengan wali faqih. Nabi dan para Imam melakukan musyawarah misalnya, tapi musyawarah yang mereka lakukan tidak berarti untuk melepas sikapnya jika berbeda dengan pendapat orang lain. Tetap saja kata terakhir ada pada Nabi SAWWW atau imam a.s. Selain itu, situasi dan kondisi pada masa Nabi SAWWW dan imam a.s. berbeda sekali dengan apa yang kita hadapi dewasa ini. Ketika kita mengatakan ini tidak berarti bahwa terdapat perselisihan antara aturan-aturan agama. Tapi yang dimaksud adalah perbedaan cara penerapannya.</p>
<p>Pertanyaan lain yang mungkin diajukan ialah : Jika memperhatikan kaidah-kaidah fiqhiyyah, maka apa salahnya ketiga kekuasaan : legislasi, eksekusi, dan yudikasi dipegang sekaligus oleh seorang faqih yang memenuhi syarat? Dengan demikian maka bentuk pemerintahan yang dijalankan adalah bentuk kedua, yaitu pemerintahan seorang shalih?</p>
<p>Menjawab pertanyaan kedua ini perlu ditegaskan bahwa adalah kewajiban seorang faqih yang memenuhi syarat memilih cara terbaik pelaksanaan suatu hukum sesuai masanya, atau yang dalam istilah fiqihnya dikenal dengan ungkapan “murâ’âtu ghibtah al-muslimin”, memilih yang terbaik bagi kepentingan kaum Muslimin. Maka jika ia memilih yang lain, yang tidak sesuai dengan kepentingan kaum Muslimin, berarti ia melakukan kekeliruan, dan dengan sendirinya telah kehilangan hak memimpin.</p>
<p>Barangkali dari prinsip ini muncul pertanyaan, mana yang lebih baik bagi wali faqih, mengangkat seseorang sebagai kepala pemerintahan tanpa meminta persetujuan rakyat banyak atau melalui persetujuan rakyat, yaitu melalui pemilihan umum, kemudian mengukuhkannya jika yang bersangkutan memenuhi syarat untuk itu? Mana di antara dua cara ini yang lebih selamat dari kemungkinan keliru? Mana yang lebih mendekati kebenaran? Bukankah seseorang harus mengikuti mana yang lebih baik? Rakyat merupakan unsur yang paling penting dalam negara. Maka jika faqih berjalan seiringan dengan rakyat, bukankah itu lebih baik dan juga lebih diterima rakyat?</p>
<p>Dengan demikian, dapat kita tarik kesimpulan bahwa antara konsep wilayatul faqih dengan konsep kedaulatan rakyat tidak harus berseberangan. Malah bersatu dan berjalan seiringan. yang dengan sendirinya akan menepis segala bentuk kediktatoran dan kesemena-menaan. Wilayatul faqih bukan kehendak faqih. Pemahaman ini keliru besar dan melahirkan kesan seakan-akan Islam bertentangan dengan demokrasi. Sama sekali tidak demikian. Faqih memang memiliki otoritas besar, tetapi bukan otoritas absolut. Otoritas faqih terikat pada norma-norma Islam dan dibangun atas dasar kepentingan umat. Dari mana faqih mendapatkan otorifas ini? Sudah barang tentu setiap kekuasaan atau pemerintahan harus mendapat mandat atau wewenang dari Allah SWT.</p>
<p>Bahkan pemerintahan Rasul sekalipun, jika tidak berdasarkan pada wewenang dari Allah, maka pemerintahannya ilegal. Karena itu Allah telah memerintahkan Nabi Muhammad SAWW untuk membentuk pemerintahan. Namun Nabi SAWW baru dapat melakukannya setelah hijrah ke Madinah, yaitu sesudah semua syarat untuk itu terpenuhi. Setelah Nabi SAWW wafat, maka mandat pembentukan pemerintahan ini jatuh pada Imam-Imam pengganti beliau. Oleh karena itu Syi’ah meyakini bahwa wewenang membentuk pemerintahan dewasa ini berada di tangan Imam Mahdi a.s. Akan tetapi karena Imam Mahdi as. ghaib, sementara tidak mungkin umat Islam tanpa pemerintahan yang mengatur urusan mereka sendiri, maka wewenang itu kemudian dilimpahkan kepada para fuqaha (kata jamak : faqih), yang telah memenuhi syarat. Imam Mahdi a.s. sendiri yang melimpahkan mandat itu kepada para fuqaha.</p>
<p>Seseorang yang bernama Ya’kub Ibn lshaq bertanya kepada Imam Mahdi a.s. tentang kepada siapa mereka merujuk pada masa ghaibah, masa sesudah Imam Mahdi a.s. ghaib. Imam Mahdi a.s. menjawab: “Adapun peristiwa-peristiwa yang terjadi, maka kembalikanlah kepada perawi hadis kami (fuqaha) karena mereka adalah hujjah bagiku dan aku adalah hujjah bagi Allah SWT.” Dalam salah satu kesempatan Imam Ja’far Shadiq a.s. berkata: “Maka mereka berdua (orang yang sedang bertikai — pen.) hendaknya mencari siapa di antara kamu yang telah meriwayatkan hadits kami, meneliti yang halal dan haram serta memahami hukum-hukum kami, kemudian hendaknya mereka menjadikannya sebagai hakim, pemutus perkara, karena aku telah mengangkat mereka sebagai hakim.”</p>
<p>Selain kedua riwayat di atas, terdapat beberapa riwayat lain yang secara langsung atau tidak langsung telah menunjuk faqih sebagai pemegang mandat pembentukan pemerintahan pada masa ghaibah.</p>
<p>Terlepas dari semua itu, keharusan adanya kekuasaan yang mengatur umat adalah sesuatu yang tidak dapat diingkari. Tapi siapa yang paling berhak menduduki posisi tertinggi itu? Melihat persyaratan yang dituntut untuk jabatan kekuasaan tertinggi dalam Islam, maka yang paling pasti di antara yang ada adalah kaum fuqaha, dalam arti, orang yang ahli dalam urusan-urusan yang menyangkut Islam, mampu mengatur negara, dan tahu akan perkembangan zaman.</p>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/syiahali.wordpress.com/38822/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/syiahali.wordpress.com/38822/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/syiahali.wordpress.com/38822/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/syiahali.wordpress.com/38822/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/syiahali.wordpress.com/38822/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/syiahali.wordpress.com/38822/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/syiahali.wordpress.com/38822/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/syiahali.wordpress.com/38822/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/syiahali.wordpress.com/38822/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/syiahali.wordpress.com/38822/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/syiahali.wordpress.com/38822/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/syiahali.wordpress.com/38822/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/syiahali.wordpress.com/38822/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/syiahali.wordpress.com/38822/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syiahali.wordpress.com&amp;blog=13635218&amp;post=38822&amp;subd=syiahali&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syiahali.wordpress.com/2012/01/27/keharusan-adanya-kekuasaan-yang-mengatur-umat-adalah-sesuatu-yang-tidak-dapat-diingkari-tapi-siapa-yang-paling-berhak-menduduki-posisi-tertinggi-itu-melihat-persyaratan-yang-dituntut-untuk-jabatan-k/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0190a0488b1caa6078bb63692e7f1c0c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">syiahali</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sahabat Adil ada syaratnya !! Nabi SAW  memerintahkan SAHABAT supaya melakukan bai`ah kepada Imam Ali AS.  FirmanNya “Barang siapa yang melanggar janjinya, nescaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa diri sendiri” (Surah al-Fath 48: 10)</title>
		<link>http://syiahali.wordpress.com/2012/01/27/sahabat-adil-ada-syaratnya-nabi-saw-memerintahkan-sahabat-supaya-melakukan-baiah-kepada-imam-ali-as-firmannya-barang-siapa-yang-melanggar-janjinya-nescaya-akibat-ia-melanggar-janji-it/</link>
		<comments>http://syiahali.wordpress.com/2012/01/27/sahabat-adil-ada-syaratnya-nabi-saw-memerintahkan-sahabat-supaya-melakukan-baiah-kepada-imam-ali-as-firmannya-barang-siapa-yang-melanggar-janjinya-nescaya-akibat-ia-melanggar-janji-it/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jan 2012 03:15:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>syiahali</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syiahali.wordpress.com/?p=38803</guid>
		<description><![CDATA[. Sahabat Adil ada syaratnya !! Nabi SAW  memerintahkan SAHABAT supaya melakukan bai`ah kepada Imam Ali AS.  FirmanNya “Barang siapa yang melanggar janjinya, nescaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa diri sendiri” (Surah al-Fath 48: 10) ‘Hussain minni wa ana min Hussain’ Dalam Ikmal al-Din terdapat sebuah hadits melalui Jabir al-Jufri yang diriwayatkan dari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syiahali.wordpress.com&amp;blog=13635218&amp;post=38803&amp;subd=syiahali&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>.</strong></p>
<div>
<p><strong><img title="445992743912l" src="http://pakoz.files.wordpress.com/2009/02/445992743912l.jpg?w=450&#038;h=337&#038;h=337" alt="445992743912l" width="450" height="337" /></strong></p>
<p><strong>Sahabat Adil ada syaratnya !! Nabi SAW  memerintahkan SAHABAT supaya melakukan bai`ah kepada Imam Ali AS.  FirmanNya “Barang siapa yang melanggar janjinya, nescaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa diri sendiri” (Surah al-Fath 48: 10)</strong></p>
</div>
<div>
<div>
<dl>
<dt><img title="imamhussainashrinearbaeen1424" src="http://pakoz.files.wordpress.com/2009/02/imamhussainashrinearbaeen1424.jpg?w=450" alt="'Hussain minni wa ana min Hussain'" /></dt>
<dd>‘Hussain minni wa ana min Hussain’</dd>
</dl>
</div>
<div>Dalam Ikmal al-Din terdapat sebuah hadits melalui Jabir al-Jufri yang diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah yang berkata: “Ya Rasulullah kami telah mengetahui Allah dan Rasul-Nya, lalu siapakah ulil amri yang Allah jadikan ketaatan kepada mereka sama dengan ketaatan kepadamu?” Lalu Nabi SAW bersabda: “Wahai Jabir, mereka adalah penerusku dan para pemimpin muslimin. Yang pertama dari mereka adalah ‘Ali bin Abi Thalib, kemudian (Imam) Hasan dan (Imam) Husain, kemudian ‘Ali bin Husain, kemudian Muhammad bin ‘Ali, yang dikenal dalam taurat dengan nama al-Baqir, yang engkau akan jumpai kelak. Wahai jabir! Apabila engkau menjumpainya, sampaikanlah salamku padanya. Setelahnya adalah ash-Shadiq, Ja’far bin Muhammad; kemudian Musa bin Ja’far, kemudian ‘Ali bin Musa, kemudian Muhammad bin ‘Ali, kemudian ‘Ali bin Muhammad, kemudian Hasan bin ‘Ali, setelahnya adalah al-Qa’im yang nama asli dan gelarnya sama denganku. Dia adalah hujjah Allah di bumi dan pengingat hamba-hamba-Nya. Dia anak (Imam) Hasan bin ‘Ali (al-’Askari). Pribadi inilah yang menyebabkan tangan Allah akan membukakan arah Timur dan Barat dunia dan pribadi ini jugalah yang akan digaibkan dari para pengikut dan pencintanya. karena inilah (kegaiban -penerj) keimamahannya tidak dapat dibuktikan oleh pernyataan siapapun kecuali oleh orang yang keimanannya telah Allah uji.”</div>
<div>.<br />
Jabir berkata: “Aku bertanya padanya: ‘Wahai Rasulullah! Apakah para pengikut (syi’ah)-nya akan mendapatkan manfaat dari kegaibannya?’ Dia menjawab: ‘Ya. Demi Zat yang mengutusku dengan kenabian, mereka akan mencari cahaya dan taat kepadanya pada masa gaibnya sebagaimana manusia mendapat manfaat dari (cahaya) matahari ketika awan menutupnya’ …”<br />
(<strong>Ikmal al-Din, jilid 1, hal. 253, dengan makna yang hampir sama dalam Yanabi’ al-Mawaddah, hal.117</strong>)</div>
<div>
<div>.</div>
</div>
</div>
<p><img title="moscheelinks" src="http://pakoz.files.wordpress.com/2009/05/moscheelinks.jpg?w=450" alt="moscheelinks" /><br />
<strong>Keniscayaan Imamah</strong><br />
Sebagaimana al-hikmah al-Ilahiyah, kebijaksanaan Tuhan, menuntut perlunya pengutusan para rasul untuk membimbing umat manusia, demikian pula tentang perlunya seorang imam, yakni bahwa al-hikmah al-ilahiyyah juga menuntut perlunya kehadiran seorang imam sesudah meninggalnya seorang rasul guna terus dapat membimbing umat manusia dan memelihara kemurnian ajaran para nabi dan agama Ilahi dari penyimpangan dan perubahan. Selain itu, untuk menerangkan kebutuhan-kebutuhan zaman dan menyeru umat manusia ke jalan serta pelaksanaan ajaran para nabi. Tanpa itu, tujuan penciptaan, yaitu kesempurnaan dan kebahagiaan, al-takamul wa al-saadah, sulit dicapai, karena tidak ada yang membimbing, sehingga umat manusia tidak tentu arah dan ajaran para nabi menjadi sia-sia.</p>
<p>Oleh karena itu sesudah Nabi Muhammad saw pasti ada seorang imam untuk setiap masa.</p>
<p>“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan bergabunglah bersama orang-orang yang benar, al-shadiqin.” (Q. S. al-Taubah: 119)</p>
<p>Ayat ini tidak berlaku untuk satu masa saja, tapi untuk seluruh zaman. Seruan agar orang-orang beriman bergabung dalam barisan aorang-orang benar, al-shadiqin, pertanda adanya imam maksum yang harus diikuti pada setiap zaman, sebagaimana disebutkan oleh banyak mufassir Sunni dan Syi’ah terhadap makna ayat ini.</p>
<p><strong>Hakikat Imamah</strong><br />
Imamah bukan sekedar jabatan politik atau kekuasaan formal, tetapi sekaligus sebagai jabatan spritual yang sangat tinggi. Selain menyelenggarakan pemerintahan Islam, Imam bertanggung jawab membimbing umat manusia dalam urusan agama dan dunia mereka. Imam juga membimbing pikiran dan rohani masyarakat. Memelihara syariat Nabi Muhammad saw agar tidak menyimpang atau berubah serta memperjuangkan tercapainya tujuan pengutusan Nabi Muhammad saw.</p>
<p>Jabatan tinggi ini diberikan Allah kepada Nabi Ibrahim as setelah Ibrahim melewati fase kenabian dan risalah, dan setelah lulus dari sejumlah ujian berat. Ibrahim as. meminta kepada Allah agar jabatan ini diberikan juga kepada sebagian keturunannya, tetapi Allah menegaskan kepada Ibrahim bahwa orang-orang zalim dan para pendosa tidak akan mencapai posisi ini.</p>
<p>“Dan ingatlah ketika Ibrahim diuji oleh Tuhannya dengan beberapa kalimat lalu ia menyempurnakannya. Tuhan berkata kepadanya: “Aku angkat engkau sebagai imam bagi umat manusia.” Ibrahim berkata: “Berikan pula kepada keturunanku.”. Tuhan berkata: “Jabatan-Ku ini tidak akan mengenai orang-orang zalim.” (Q. S. al-Baqarah: 124)</p>
<p>Jelas sekali bahwa kedudukan nan tinggi ini tidak dapat diterjemahkan sebagai jabatan pemerintahan formal. Dengan demikian, jika imamah tidak diterjemahkan sebagaimana yang telah digambarkan di atas, maka ayat di atas tidak mempunyai pengertian yang jelas.</p>
<p>Para nabi utama, ulul-azmi, terutama Nabi Muhammad saw, adalah sekaligus sebagai imam-imam yang memiliki otoritas kepemimpinan spritual ruhaniah dan kepemimpinan formal material. Dengan demikian, Nabi Muhammad saw tidak sekedar menyampaikan ajaran Tuhan, tapi sekaligus memimpin umat manusia, dan jabatan imamah ini diberikan kepada Nabi saw sejak awal kenabiannya.</p>
<p>Dalam hal ini garis imamah sesudah Rasulullah saw dilanjutkan oleh orang-orang suci dari zuriyatnya, keturunannya.</p>
<p>Dari batasan di atas mengenai imamah tampak bahwa untuk mencapai kedudukan ini dituntut syarat-syarat yang sangat berat, baik dari sisi taqwa, yaitu telah mencapai tingkat ishmah, terpelihara dari perbuatan-perbuatan dosa, maupun dari sisi ilmu dan pengetahuan yang mencakup seluruh bidang pengetahuan dan aturan agama serta pengetahuan tentang manusia dan kebutuhannya untuk setiap zaman.</p>
<p><strong>Keterpeliharaan Imam dari Dosa dan Kesalahan</strong><br />
Seorang imam wajib bersifat ma’shum, terpelihara dari perbuatan dosa dan kesalahan, karena, disamping makna ayat di atas, seorang yang tidak maksum tidak dapat dipercaya sepenuhnya untuk diambil darinya prinsip-prinsip agama maupun cabang-cabangnya. Oleh karena itu meyakini bahwa ucapan seorang imam maksum, perbuatan, dan persetujuannya, adalah hujjah syar’iyyah, kebenaran agama, yang mesti dipatuhi.</p>
<p>Yang dimaksud dengan persetujuan imam maksum atau taqrir al-Ma’shum ialah sang imam tidak menegur suatu perbuatan yang berlangsung di hadapannya, bahkan membiarkannya saja.</p>
<p><strong>Imam Pemelihara Agama</strong><br />
Dalam hal ini seorang imam tidak membawa syariat baru. Kewajibannya hanyalah menjaga agama Islam, memperkenalkannya, mengajarkannya, menyampaikannya, dan membimbing manusia kepada ajarannya yang luhur. Imam Orang Paling Tahu tentang Agama Seorang imam harus menguasai dan memiliki pengetahuan yang utuh terhadap semua pokok agama Islam, cabang-cabangnya, hukum, peraturan, dan tafsir Alquran. Pengetahuan ini bersifat rabbani, suci dan didapat dari Nabi saw, supaya sang imam mendapat kepercayaan penuh dari umat dan dapat diandalkan dalam memahami hakikat Islam.</p>
<p><strong>Nash atas Imam</strong><br />
Seorang imam, penerus Rasulullah saw, harus ditetapkan melalui nash atau pengangkatan yang jelas oleh Rasulullah saw atau oleh imam sebelumnya. Dengan kata lain, seorang imam, seperti halnya Nabi saw, ditetapkan oleh Allah swt, tetapi melalui Nabi saw, sebagaimana tertera di Alquran dalam pengangkatan Ibrahim sebagai imam:</p>
<p>“Sesungguhnya Aku mengangkatmu sebagai imam bagi umat manusia.” (QS. al-Baqarah: 124)</p>
<p>Dalam pada itu, penentuan tingkat taqwa, bahwa seseorang telah mencapai tingkat ishmah dan telah mencapai tingkat pengetahuan seluruh hukum dan ajaran Allah swt tanpa ada kesalahan sedikitpun tidak dapat dilakukan kecuali oleh Allah dan rasul-Nya. Oleh karena itu, penentuan bahwa seseorang telah memenuhi sifat ishmah datangnya dari Rasulullah saw.</p>
<p>Dengan demikian, keimamam para imam maksum tidak diperoleh melalui pemilihan rakyat.</p>
<p><strong>Penetapan para Imam oleh Nabi saw</strong><br />
Dalam hal ini Nabi Muhammmad saw lah yang telah menetapkan para imam sesudahnya, sebagaimana yang telah dilakukannya dalam hadits populer al-tsaqalain. Diriwayatkan dalam Shahih Muslim bahwa suatu hari Nabi berpidato di sebuah oase yang bernama Khum, terletak antara Mekkah dan Madinah.</p>
<div>
<p>Shahibu Yanabi’ al-Mawaddah telah meriwayatkan dalam kitabnya, dia berkata, “Seorang Yahudi disebut al-A’tal datang kepada Nabi Muhammad saww, dan ia berkata, “Hai Muhammad, saya menayakan kepadamu perkara-perkara yang telah terdetak dalam dadaku semenjak beberapa waktu, jika engkau dapat menjawabnya niscaya saya akan menyatakan masuk Islam di tanganmu.’Beliau menjawab, ‘Tanyalah! hai Aba Ammarah, maka ia menanyakan beberapa perkara yang sijawab oleh Nabi saww dan ia membenarkan, kemudian ia menanyakan, ‘Beritahukanlah padaku tentang penerimaan wasiatmu, siapakah ia itu? karena tidak seorang Nabi pun kecuali ia mempunyai seorang penerima wasiat, dan sesungguhnya Nabi kami Musa bin Imran telah berwasiat kepada Yusa’ bin Nun.’ Maka beliau bersabda, ‘Sesungguhnya penerima wasiatku adalah ‘Ali bin Abi Thalib dan setelahnya adalah kedua cucuku al-Hasan dan al-Husein kemudian beliau menyebutkan sembilan Imam dari tulang sulbi al-Husein. ‘Lalu ia berkata, ‘Ya Muhammad, sebutkanlah nama-nama mereka kepadaku!’ Beliau bersabda, “Bila al-Husein telah berlalu maka diganti oleh anaknya “Ali, bila ‘Ali telah berlalu maka diganti anaknya Muhammad, bila Muhammad berlalu maka diganti anaknya Ja’far, Musa, ‘Ali, Muhammad, ‘Ali, Hasan, al Hujjah Muhammad al-Mahdi as, maka itu semuanya adalah dua belas orang Imam.’ Kemudian orang Yahudi itu pun masuk Islam dan ia memuji Allah SWT karena petunjuk-Nya.”</p>
<p>“Kemudian kami mewariskan kitab pada orang-orang yang telah kami pilih dari antara hamba-hamba Kami.” (QS.Fathir:32)</p>
<p>Imam Ja’far ash-Shadiq pernah menyatakan tentang hakikat tersebut sekali waktu dengan ungkapannya, “Sungguh mengherankan orang-orang itu, mereka mengatakan bahwa mereka mengambil ilmu seluruhnya dari Rasulullah saww dan mengamalkannya serta mendapat petunjuk ! Kemudian mereka mengatakan bahwa kami Ahlulbait tidak mengambil ilmu beliau dan tidak mendapat petunjuk, padahal kami adalah keluarga dan keturunan beliau, di rumah kamilah wahyu itu diturunkan dan dari sisi kami ilmu itu keluar kepada manusia, apakah Anda menganggap mereka berilmu dan mendapat petunjuk sedangkan kami bodoh dan tersesat…?”</p>
</div>
<p>Nabi saw bersabda:</p>
<p>…Aku hanyalah seorang manusia, yang jika utusan tuhanku datang kepadaku akan kupenuhi. Aku tinggalkan pada kalian dua pusaka yang berat. Pertama, kitab Allah. Di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya. (Kedua) Ahlubaitku. Aku ingatkan kamu pada Allah tentang Ahlubaitku. Aku ingatkan kamu pada Allah tentang Ahlubaitku. Aku ingatkan kamu pada Allah tentang Ahlubaitku. (Shahih Muslim, 4: 1873)</p>
<p>Hadits yang sama juga diriwayatkan dalam Shahih Turmuzi. Bahkan pada Shahih Turmuzi terdapat pernyataan tegas Nabi saw yang mengangkat imam sesudahnya dari lingkungan keluarganya. Demikian pula hadits-hadits yang diriwayatkan dalam Sunan al-Darimi, Khasaish al-Nasai, Musnad Ahmad, dan sumber-sumber utama Islam terkenal lainnya.</p>
<p>Hadits Tsaqalain atau hadits Dua Pusaka ini sedikitpun tidak dapat diragukan kebenarannya, oleh siapa saja, karena ia termasuk hadits mutawatir yang tidak dapat diingkari atau dipersoalkan kebenarannya oleh seorang Muslim. Dalam pada itu, dari sekian riwayat dapat dilihat betapa Nabi saw telah mengulangi hadits ini berkali-kali dan diberbagai tempat yang berbeda.</p>
<p>Tentu saja tidak semua kerabat Nabi memangku jabatan tinggi ini, sebagai pendamping Alquran. Dengan demikian, maka yang dimaksud hanyalah para imam maksum dari zuriyat Rasul saw.</p>
<p>Dalam pada itu, perlu disebutkan di sini bahwa dalam beberapa riwayat terdapat redaksi “Sunnati” atau Sunnahku sebagai ganti dari redaksi “Ahlubaiti”, Ahlubaitku. Akan tetapi riwayat ini dhaif, diragukan kebenarannya, dan tidak dapat diandalkan.</p>
<p>Pada sisi lain, terdapat hadits lain yang populer dan sahih, yang diriwayatkan oleh banyak kitab hadits utama seperti Sahih Bukhari, Muslim, Turmuzi, Abu Daud, Musnad Ibn Hanbal, bahwa Nabi saw bersabda:</p>
<p>“Agama ini akan terus tegak hingga datangnya hari kiamat atau datang kepada kamu dua belas orang khalifah, (imam) semuanya berasal dari suku Quraisy.”</p>
<p>Dengan demikian tidak ada tafsiran yang paling tepat berkaitan dengan dua belas Imam yang dimaksud nabi pada hadits di atas kecuali apa yang diyakini kaum Syi’ah Imamiyyah. Ya, apakah ada tafsiran lain yang lebih tepat? Tidak ada.</p>
<p><strong>Pengangkatan Nabi terhadap Ali</strong></p>
<p>Nabi Muhammad saw, atas perintah Allah, telah menunjuk dan mengangkat Ali as sebagai khalifah sesudahnya. Ia lakukan itu berkali-kali dan dalam berbagai kesempatan yang berbeda. Di Ghadir Khum, dekat dengan Juhfah, misalnya, Nabi membacakan khutbahnya yang sangat populer di depan para sahabatnya, sepulangnya dari menunaikan Haji Wada. Nabi berkata:</p>
<p>Wahai orang-orang! Bukankah aku lebih utama atas dirimu daripada kamu sendiri? Mereka berkata: “Betul”. Nabi melanjutkan: “Barangsiapa yang aku adalah pemimpinnya, maulahu, maka Ali adalah pemimpinnya.</p>
<p>Dengan demikian adalah mustahil melewati hadits di atas begitu saja atau menafsirkannya sebatas pada cinta kepada Ali, padahal Nabi saw begitu memperhatikan masalah ini.</p>
<p>Bukankah hadits di atas sesuai dengan apa yang diriwayatkan Ibn al-Atsir dalam kitabnya al-Kamil bahwa di awal kenabiannya, atas perintah Allah:</p>
<p>“Dan berilah peringatan kepada keluarga dekatmu” (QS. al-Syuara: 214…)</p>
<p>Nabi Muhammad saw mengumpulkan segenap keluarganya dan menawarkan kepada mereka agama Islam. Pada kesempatan itu Nabi berkata:</p>
<p>Siapakah di antara kamu yang bersedia membantuku dalam urusan ini sehingga ia menjadi saudaraku, washiku, dan khalifahku pada kamu. Tidak seorang pun yang menyambutnya kecuali Ali yang berkata kepada Nabi saw:</p>
<p>Aku wahai Nabi Allah yang akan membantumu.</p>
<p>Kemudian Nabi berkata: Inilah (Ali) saudaraku, washiku, dan khalifahku pada kamu.</p>
<p>Bukankah ini pula yang diinginkan Rasulullah saw pada saat-saat terakhir kehidupannya, sebagaimana yang diriwayatkan Bukhari bahwa Rasulullah saw berkata: “Bawakan aku kertas supaya aku tuliskan buat kamu wasiat yang dengannya kamu tidak akan sesat sesudahku nanti.” Tapi sayang, sebagian menentang penulisan wasiat ini, mencegah Nabi melakukannya, bahkan mengucapkan kalimat-kalimat yang merendahkan Nabi saw.</p>
<p><strong>Penegasan Tiap Imam atas Imam Sesudahnya</strong></p>
<p>Dalam mazhab ahlul bait meyakini bahwa setiap imam dari dua belas imam telah diangkat dengan tegas, nash, oleh imam sebelumnya. Imam pertama adalah Ali Ibn Abi Thalib, kemudian secara berturut-turut, (2) Hasan Ibn Ali al-Mujtaba, (3) Husain Ibn Ali Sayyidus-syuhada, penghulu para syuhada, (4) Ali Ibn Husain, (5) Muhammad Ibn Ali al-Baqir, (6) Ja’far Ibn Muhammad al-Shadiq, (7) Musa Ibn Ja’far, (8) Ali Ibn Musa al-Ridha, (9) Muhammad Ibn Ali al-Taqi, (10) Ali Ibn Muhammad al-Naqi, (11) Hasan Ibn Ali al-Askari, dan terakhir, (12) Muhammad Ibn Hasan al-Mahdi. Kami meyakini bahwa Imam Muhammad Ibn Hasan al-Mahdi masih hidup.</p>
<p>Keyakinan kepada Imam Mahdi yang akan memenuhi dunia dengan keadilan setelah dipenuhi dengan kezaliman dan kekejaman tidak terbatas pada kaum Syiah saja, tetapi seluruh kaum Muslimin. Untuk itu banyak ulama Ahlu-sunnah yang menulis buku tentang kemutawatiran hadits-hadits tentang Imam Mahdi ini. Bahkan Rabitah Alam Islami pernah mengeluarkan risalah yang menyatakan bahwa kedatangan Imam Mahdi merupakan urusan musallammat dalam agama atau sesuatu yang tidak dapat ditolak kebenarannya. Rabitah mengutip banyak hadits Nabi tentang al-Mahdi dari kitab-kitab utama. Hanya saja, sebagian ulama Ahlu-sunnah percaya bahwa al-Mahdi yang dimaksud baru akan lahir di akhir zaman, sementara Syi’ah meyakini bahwa al-Mahdi yang dimaksud adalah imam kedua belas, masih hidup, dan akan muncul dengan izin Allah untuk menegakkan keadilan dan mengadili para tiran.</p>
<p><strong>Ali Sahabat Utama</strong><br />
Ali adalah sahabat Nabi paling utama. Kedudukannya dalam Islam langsung di bawah Nabi saw. Pada saat yang sama menganggap bahwa sikap ghuluw, berlebih-lebihan kepada Ali haram hukumnya. Dalam pada itu meyakini bahwa menganggap Ali sebagai Tuhan atau dekat dengan anggapan itu kafir hukumnya dan keluar dari barisan Muslimin. Aqidah Islam mazhab ahlul bait berlepas diri dari orang dan aqidah semacam itu. Tapi sayang, sebagian pihak terjebak dalam kekeliruan, sehingga menyamaratakan Syi’ah dengan kelompok-kelompok menyimpang ini, padahal ulama-ulama Syi’ah justeru menganggap kelompok ini keluar dari Islam.</p>
<p><strong>Sahabat di Hadapan Hukum Akal dan Sejarah</strong><br />
Di antara Sahabat Nabi terdapat pribadi-pribadi agung yang telah disebutkan keutamaannya oleh Alquran dan Sunnah. Akan tetapi tidak berarti bahwa semua Sahabat tidak ada yang salah atau perbuatan-perbuatan mereka benar semuanya tanpa kecuali. Pada banyak ayat Alquran, terutama pada surat al-Baraah, al-Nur, dan al-Munafiqin, Alquran bercerita tentang kaum munafik yang nota bene adalah sebagian Sahabat itu sendiri, dan mengecam mereka dengan keras, meskipun mereka adalah Sahabat Nabi saw. Selain itu, terdapat pula di antara Sahabat Nabi yang telah menyulut api sehingga terjadi peperangan sesama kaum Muslimin sesudah wafat Nabi saw, melanggar baiat yang telah diberikan kepada khalifah, dan menumpahkan darah ribuan kaum Muslimin. Apakah pantas orang-orang seperti itu dianggap bersih dan suci?</p>
<p>Dengan kata lain, bagaimana mungkin dapat memutuskan kedua belah pihak yang terlibat percekcokan, misalnya pihak-pihak yang terlibat dalam perang Jamal dan Siffin, bahwa semuanya benar? Sungguh keputusan yang kontradiktif dan tidak dapat diterima. Adapun alasan pihak yang dapat menerima sikap kontradiktif ini, yang merujuk kepada persoalan ijtihad, bahwa memang ada yang benar dan ada yang salah, akan tetapi karena kedua-duanya telah mengamalkan ijtihad, maka yang keliru sekalipun, tetapi mendapat pahala, karena ia telah melakukan ijtihad. Sedangkan kekeliruannya, dimaafkan. Cara berpikir seperti ini tidak dapat diterima.</p>
<p>Bagaimana mungkin kita dapat membenarkan seseorang yang melanggar baiatnya kepada khalifah Rasulullah dengan alasan ijtihad, tapi kemudian sengaja menyulut api peperangan dan menumpahkan darah orang-orang salih? Jika dosa penumpahan darah dapat dimaafkan karena alasan ijtihad, itu berarti semua perbuatan dosa dapat dimaafkan karena alasan ijtihad.</p>
<p>Dengan terus terang bahwa seorang manusia, meskipun sahabat Nabi, tergantung pada amalnya, sesuai prinsip Alquran yang menyatakan:</p>
<p>Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa. (QS. al-Hujurat: 13)</p>
<p>Berdasarkan hal ini, maka untuk menentukan kualitas sahabat, kita juga harus mengukurnya dari amal perbuatan mereka, supaya keputusan yang kita ambil logis dan dapat diterapkan pada semuanya.</p>
<p>Dengan demikian, maka siapa saja di antara sahabat Nabi yang selama bersama Nabi ikhlas dan terus dalam garis ini dalam menjaga Islam dan kesetiaan kepada Alquran sesudah wafatnya, maka sahabat tersebut adalah seorang yang salih. Tetapi Sahabat yang munafiq di zaman Rasul dan selalu mengganggu Rasul atau berubah sesudah Nabi meninggal dunia, dan yang telah merugikan Islam dan kaum Muslimin, tentu tidak akan kami cintai sedikitpun. Allah berfirman:</p>
<p>Engkau takkan mendapatkan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir mencintai orang-orang yang menentang Allah dan rasul-Nya, meskipun mereka adalah orang-orang tua mereka sendiri, anak-anak mereka, saudara-saudara mereka, atau keluarga dekat mereka. Mereka adalah orang-orang yang telah ditetapkan iman oleh Allah dalam hati mereka. (QS. al-Mujadalah: 22)</p>
<p>Ya, orang-orang yang menentang atau mengganggu Rasul, baik pada masa hidupnya atau sesudah wafatnya, sedikitpun tidak pantas mendapat pujian atau penghormatan.</p>
<p>Tetapi tidak boleh lupa bahwa sejumlah sahabat Nabi telah berjuang habis-habisan untuk menyebarkan agama Islam sehingga Allah memuji mereka dan memuji para penerus mereka, tabiin, yang mengikuti jalan para Sahabat yang salih; pujian yang juga diberikan kepada siapa saja berjalan di jalan yang lurus hingga hari akhir.</p>
<p>Para pemeluk Islam awal-awal sekali, al-sabiqun al-awwalun, dari golongan Muhajirin dan Anshar dan para pengikut mereka dengan kebaikan, Allah ridha kepada mereka dan mereka ridha kepada Allah. (QS. al-Taubah: 100)</p>
<p><strong>Ilmu Imam-imam Ahlubait Berasal dari Nabi</strong></p>
<p>Dalam hal ini ucapan para imam, perbuatan, dan taqrir, mereka, yang dapat dilihat dari tidak adanya teguran mereka terhadap suatu perbuatan yang berlangsung di hadapan mereka, adalah hujjah, kebenaran yang harus diikuti, dan merupakan sanad, pegangan bagi kami, karena Nabi saw, sebagaimana hadits mutawatir, telah memerintahkan agar kita berpegang teguh kepada kitab Allah dan keluarganya. Di samping itu, mereka adalah orang-orang suci, ma’shum, yang telah diselamatkan Allah dari perbuatan dosa dan kesalahan. Karena itu, maka salah satu sumber fiqh kami, setelah Alquran dan Sunnah Nabi, ialah ucapan para imam dari Ahlubait, perbuatan, dan taqrir mereka.</p>
<p>Jika diperhatikan bahwa para Imam as itu hanya menukil haditsnya dari nenek moyang mereka hingga ke Rasulullah saw, maka hadits-hadits mereka sesungguhnya adalah hadits-hadits Rasulullah saw juga. Dan kita tahu bahwa periwayatan oleh seorang tsiqah, yang dapat dipercaya, diterima oleh seluruh ulama Islam.</p>
<p>Imam Muhammad Ibn Ali al-Baqir berkata kepada Jabir:</p>
<p>Jabir, jika yang kami ucapkan kepada kalian itu adalah pandangan kami sendiri dan dilandasi hawa nafsu, maka kami akan celaka. Tapi ketahuilah, yang kami ucapkan kepada kalian itu adalah hadits-hadits Rasulullah saw.</p>
<p>Dalam riwayat lain disebutkan bahwa seseorang bertanya kepada Imam Ja’far Shadiq tentang suatu masalah dan Imam meberikan jawabannya, namun orang itu kemudian bertanya lagi:</p>
<p>“Bagaimana jika masalah ini begini dan begitu, apa pendapatmu?” Imam berkata:</p>
<p>“Ketahuilah! Tidak satu jawaban pun yang kuberikan kepadamu kecuali dari Rasulullah saw. Kami sama sekali bukan termasuk dalam kelompok orang yang dapat ditanya “Apa pendapatmu”.</p>
<p>Dalam pada itu, kitab-kitab hadits utama yang terdapat dalam mazhab ahlul bait yang dipercayai validitasnya, seperti al-Kafi, al-Tahzib, al-Istibshar, dan Man La Yahdurhul-faqih. Akan tetapi tidak berarti bahwa menerima begitu saja seluruh riwayat yang disebutkan dalam kitab-kitab tersebut, karena, selain kitab-kitab hadits, juga mempunyai kitab-kitab rijal yang berfungsi mengungkap keadaan para perawi pada semua level sanad. Jika para perawinya, pada semua level sanad, dapat dipercaya, tsiqat, maka hadits tersebut dapat diterima. Tapi jika tidak, akan ditolak. Dengan demikian, hadits baru dapat diterima jika riwayat-riwayat yang terdapat dalam kitab-kitab utama tersebut, jika ia memenuhi kriteria di atas.</p>
<p>Selain itu, boleh jadi ada riwayat yang dari segi sanad dapat dikatagorikan sebagai riwayat mu’tabarah, dapat diterima, tetapi karena ada cacat-cacat lain pada riwayat tersebut, para ulama dan fuqaha mazhab ahlul bait, dari dahulu hingga sekarang, mengabaikannya. Riwayat semacam ini dinamakan riwayat mu’radh anha atau riwayat yang diabaikan, dan sudah barang tentu tidak mendapat tempat.</p>
<p>Dari sini tampak bahwa jika seseorang ingin mendapat keterangan tentang aqidah mazhab ahlul bait, atau kaum Syi’ah, maka sangat keliru sekali jika hanya bersandarkan pada sebuah atau beberapa riwayat yang terdapat pada buku-buku tersebut tanpa melakukan penelitian sanadnya.</p>
<p>Dengan kata lain, pada sebagian mazhab Islam, terdapat kitab-kitab hadits yang disebut al-sihah. Para penyusunnya tidak ragu sedikitpun mengkatagorikan seluruh riwayat yang terdapat pada kitab-kitab tersebut sahih. Demikian pula anggapan lainnya. Namun tidak demikian sikap Syiah terhadap kitab-kitab muktabarahnya. Kitab-kitab itu memang betul disusun oleh orang-orang tsiqat, dapat dipercaya, akan tetapi untuk menentukan kesahihan hadits-haditsnya harus dikembalikan ke Ilm al-Rijal untuk dilakukan penelitian terhadap para perawinya.</p>
<p>Jika poin ini diperhatikan, ia dapat mengkelirkan banyak permasalahan dan keraguan yang diarahkan ke aqidah mazhahb ahlul bait, kaum Syi’ah. Tetapi jika diabaikan, berakibat pada banyak kekeliruan dan kesalahpahaman terhadap aqidah kami.</p>
<p>Singkat kata, hadits-hadits para Imam Dua Belas menempati posisi yang sangat tinggi di mata ajaran kami, yaitu setelah Alquran dan sunnah Nabi, tetapi dengan catatan, bahwa hadits-hadits tersebut pasti datangnya dari para imam dengan jalan yang juga diakui.</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/syiahali.wordpress.com/38803/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/syiahali.wordpress.com/38803/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/syiahali.wordpress.com/38803/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/syiahali.wordpress.com/38803/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/syiahali.wordpress.com/38803/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/syiahali.wordpress.com/38803/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/syiahali.wordpress.com/38803/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/syiahali.wordpress.com/38803/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/syiahali.wordpress.com/38803/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/syiahali.wordpress.com/38803/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/syiahali.wordpress.com/38803/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/syiahali.wordpress.com/38803/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/syiahali.wordpress.com/38803/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/syiahali.wordpress.com/38803/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syiahali.wordpress.com&amp;blog=13635218&amp;post=38803&amp;subd=syiahali&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syiahali.wordpress.com/2012/01/27/sahabat-adil-ada-syaratnya-nabi-saw-memerintahkan-sahabat-supaya-melakukan-baiah-kepada-imam-ali-as-firmannya-barang-siapa-yang-melanggar-janjinya-nescaya-akibat-ia-melanggar-janji-it/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0190a0488b1caa6078bb63692e7f1c0c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">syiahali</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pakoz.files.wordpress.com/2009/02/445992743912l.jpg?w=450&#38;h=337" medium="image">
			<media:title type="html">445992743912l</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pakoz.files.wordpress.com/2009/02/imamhussainashrinearbaeen1424.jpg?w=450" medium="image">
			<media:title type="html">imamhussainashrinearbaeen1424</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pakoz.files.wordpress.com/2009/05/moscheelinks.jpg?w=450" medium="image">
			<media:title type="html">moscheelinks</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perintah Melaknat Dalam Al Qur’an, Sunnah Nabi saw, dan teladan dan para imam yang suci.. BOLEHKAH MELAKNAT</title>
		<link>http://syiahali.wordpress.com/2012/01/27/perintah-melaknat-dalam-al-quran-sunnah-nabi-saw-dan-teladan-dan-para-imam-yang-suci-bolehkah-melaknat/</link>
		<comments>http://syiahali.wordpress.com/2012/01/27/perintah-melaknat-dalam-al-quran-sunnah-nabi-saw-dan-teladan-dan-para-imam-yang-suci-bolehkah-melaknat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jan 2012 03:09:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>syiahali</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syiahali.wordpress.com/?p=38799</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Siapa berani melawan pencerahan? Ramai yang berani Insya-Allah. Terutama kalau pencerahan yang dimaksudkan ialah untuk membebaskan manusia Islam dari institusi agama, memerdekakan manusia dari kuasa mutlak, dan memindahkan manusia dari monotheisme ke pluralisme. Kita akan berani menentangnya beramai-ramai. Memang, hujah-hujah di hadapan tadi wajar dihurai. Tetapi ruang perbahasan di blog ini sangat kecil. Mungkin, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syiahali.wordpress.com&amp;blog=13635218&amp;post=38799&amp;subd=syiahali&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><img title="1_477139836l" src="http://pakoz.files.wordpress.com/2009/01/1_477139836l.jpg?w=450" alt="1_477139836l" />S</strong>iapa berani melawan pencerahan? Ramai yang berani Insya-Allah. Terutama kalau pencerahan yang dimaksudkan ialah untuk membebaskan manusia Islam dari institusi agama, memerdekakan manusia dari kuasa mutlak, dan memindahkan manusia dari monotheisme ke pluralisme. Kita akan berani menentangnya beramai-ramai. Memang, hujah-hujah di hadapan tadi wajar dihurai. Tetapi ruang perbahasan di blog ini sangat kecil. Mungkin, nanti saya akan menulis sebuah buku tentang ini, Insya-Allah.</p>
<p>Jadi, itu bergantung dengan apa maksud pencerahan yang disogokkan.</p>
<p>Kalau pencerahan itu ialah wilayah Allah, wilayah Rasulullah dan wilayah ulul amri, maka saya angkat tangan. Saya tidak berani. Gila apa melawan Tuhan. Itu sudah ateis. Gila apa melawan Rasulullah saw, itu jejak kebodohan Abu Jahal. Gila apa melawan ulul amri, itu jalur bengkok munafikin.</p>
<p>Sepanjang sejarah kewujudan manusia, ramai yang berani melawan pencerahan.</p>
<p>Kita baca al-Quran, ayat 87 surah al-Baqarah: “Apakah setiap datang kepadamu seorang Rasul membawa sesuatu (kebenaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu, lalu kamu angkuh maka beberapa orang di antara mereka para Nabi itu kamu dustakan, dan beberapa orang yang lain kamu bunuh.”</p>
<p>Wah, rasul-rasul datang membawa pencerahan, kok masih ada yang berani melawan?</p>
<p>Jawabnya, ya memang ada. Kerana definisi pencerahan mereka lain. Pada mereka menolak agama, atau melonggarkannya di sana sini itu lebih cerah. Mereka yang terlihat tradisionalis adalah gelap. Definisi ini adalah definis Abu Jahal. Kerana itu dia melihat Rasulullah saw sebagai ancaman. Kerana ketibaan baginda Nabi Muhammad saw menggelapkan habuan dunianya.</p>
<p>Dalam sejarah manusia memang banyak yang melawan pencerahan kalau begitu. Yahudi, nah ada juga suku Yahudi yang ingkar, ada juga yang taat. Bukan sahaja al-Quran menegaskan kejahatan mereka melawan pencerahan. Bible atau al-Kitab juga merakam tindak tanduk mereka ini, tindak-tanduk menyanggah pencerahan yang dibawa Nabi Musa a.s:</p>
<p>Lihat al-Kitab: ‘Hai bangsa yang tegar tengkuk. Hai kaum ular beludak, hai kaum keturunan ular beludak, hai kamu keturunan ular beludak. Bagaimanakah kamu dapat meluputkan diri dari hukuman neraka. Sebab itu, lihatlah aku mengutus kepadamu nabi-nabi, orang-orang bijak, dan ahli-ahli taurat, separuh di antara mereka kamu bunuh, dan kamu salibkan, yang lain kamu sesak (penjara) di rumah-umah ibadatmu, dan yang lainnya kamu aniaya dari kota ke kota.’ (1)</p>
<p>Tidak semua Yahudi perlu diperangi. Hari ini kita melawan zionis. Suku kaum bani Israel ada <strong>12</strong>. Suku Ruben, Simeon, Lewi, Yehuda, Naftali, Gad, Asyer, Isakhar, Zebulon, Dina, Yusuf, dan Benyamin. Dalam Bible, Kitab Keluaran ia disebut dalam bahagian 23 dan 24 pada ayat 3. Dan ini juga tidak bersalahan dengan ayat suci al-Quran, surah al-A’raf ayat 160:</p>
<p>‘Dan mereka Kami bagi menjadi <strong>dua belas</strong> suku yang masing-masingnya berjumlah besar dan Kami wahyukan kepada Musa ketika kaumnya meminta air kepadanya: Pukullah batu itu dengan tongkatmu! Maka memancarlah darinya dua belas mata air. Seungguhnya tiap-tiap suku mengetahui tempat minum masing-masing. Dan Kami naungkan awan di atas mereka dan Kami turunkan kepada mereka manna dan salwa. Kami berfirman: Makanlah yang baik-baik dari apa yang telah Kami rezkikan kepadamu. Mereka tidak menganiayai Kami, tapi merekalah yang selalu menganiayai diri mereka sendiri.’</p>
<p><a href="http://3.bp.blogspot.com/_tG9BXwf0cHs/SXoRwUY9dhI/AAAAAAAAGwc/-svZUSHCAyQ/s1600-h/torah.jpg"><img src="http://3.bp.blogspot.com/_tG9BXwf0cHs/SXoRwUY9dhI/AAAAAAAAGwc/-svZUSHCAyQ/s320/torah.jpg" alt="" border="0" /></a>Dalam banyaknya suku itu, hanya Lewi yang diangkat Tuhan. Kerana apa? Kerana mereka tidak melawan pencerahan.</p>
<p>Bahawa Allah juga melantik <strong>12 orang hawariyun</strong> iaitu pembantu untuk Nabi Isa a.s, bernama Simon Petrus, Andearas, Yakobos, Yohanes, Filipus, Barthilomios, Thomas, Matius, Barnabas, Tadheus, Semon Zelot dan Yudas Iskareot. Antara ramai-ramai itu Yudas Iskareot dipilih menjadi imam bagi Bani Israel.</p>
<p>Seperti itu jugalah, Nabi Ibrahim dilantik menjadi imam untuk seluruh manusia. Ini difirmankan oleh Allah swt sendiri dalam al-Baqarah ayat 124: ‘Dan ingatlah, ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimah (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: ‘Sesungguhnya aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia’. Ibrahim berkata: ‘Dan saya mohon juga dari keturunanku’. Allah berfirman: ‘Janjiku ini tidak mengenai orang yang zalim.’</p>
<p>Seperti itulah, Allah menunaikan permintaan Nabi Ibrahim setelah baginda banyak berkorban untuk agama Tuhan. Dan Allah utuskan nabi terakhir (pencerahan) dalam kalangan zuriatnya. Daripada Nabi Ibrahim, iaitu Nabi Ismail, baginda melahirkan pula <strong>12 orang zuriat</strong>. Dan dari salah seorangnya itu, menjadi moyang Nabi Muhammad saw.</p>
<p>Seperti mana suku Lewi, seperti mana Yudas Iskareot terdapat juga suku pilihan Allah dalam kalangan Arab, iaitu Bani Hasyim.</p>
<p>Dan kawan-kawan, dari keturunan Rasulullah tersebut dipilih <strong>12 kekasih Allah</strong>.</p>
<p>Rasulullah saw dalam sabdanya, ‘Sesungguhnya aku tinggalkan padamu sesuatu, yang apabila kamu berpegang teguh padanya kamu tidak akan tersesat (selamanya) sepeninggalanku, yang satu lebih agung dari yang lain, iaitu kitab Allah, penghubung antara langit dan bumi, dan itrah ahlul baitku, dan keduanya tidak akan terpisah sehingga berjumpa denganku di telaga al khaud. Oleh kerana itu perhatikanlah bagaimana kamu memperlakukannya keduanya.’ (2)</p>
<p><a href="http://1.bp.blogspot.com/_tG9BXwf0cHs/SXm4xWO80eI/AAAAAAAAGwU/J-2e7JQ-WcU/s1600-h/12.jpg"><img src="http://1.bp.blogspot.com/_tG9BXwf0cHs/SXm4xWO80eI/AAAAAAAAGwU/J-2e7JQ-WcU/s320/12.jpg" alt="" border="0" /></a>Apakah mungkin ini adalah definisi pencerahan? Iaitu Allah, Rasulullah dan para imam, yang terjelma dalam <strong>angka 12</strong>. Kerana, ia muncul berkali-kali dalam sejarah manusia. Seolah-olah satu kod yang perlu dirungkaikan!</p>
<p>Siapa berani melawan pencerahan? Atau, soalan yang lebih baik – siapa tidak bersama pencerahan?</p>
<p>Ramai tentunya. Kalau suku Lewi dijadikan himbauan; ada 11 menentang, hanya satu yang menerima pencerahan!</p>
<p>Ya, tapi itu bergantung kepada apa definisi pencerahan pegangan kawan-kawan sekalian. Mungkin, ada yang berakidah pencerahan itu macam nur atau cahaya. Cahaya yang banyak menjadi anwar. Bersangatan dan berbondong-bondonglah manusia mengikut cahaya yang terlalu cerah itu, sehingga larut dalam kesilauan cahaya.</p>
<p>Mungkin juga ada yang lebih nanar, pencerahan itu terlihat pada keupayaan mentakhtakan anarki. Kerana itu tidak hairan, ramai yang merasakan Osama Bin Laden, tersangat mencerahkan. Dia juga percaya dirinya begitu. Sedang lawannya, Amerika (George Bush) pula merasakan dirinyalah cahaya dan Bin Ladenlah kegelapan (evil).</p>
<p>Ada juga yang menemui pencerahan menerusi Shakespeare dan menjadikannya ‘imam’. Ada yang menjadikan Ayah Pin sebagai ‘imam’ malah ‘tuhan’.</p>
<p>Betapa celarunya!</p>
<p>Ya Allah Ya Rasul, apakah saya dalam 11, atau dalam yang satu itu. Alangkah takutnya kita berada dalam yang 11. Menjadi penentang pencerahan, menjadi manusia yang berani melawan pencerahan; menyebabkan kita membaca ayat ‘tunjukkan kami jalan yang lurus’ dalam al-fatihah, dalam setiap solat kita.</p>
<p>Bagaimanakah kita dapat memastikan kita bukan penentang pencerahan? Atau kita memang benar-benar mengikut petunjuk atau jalan yang lurus iaitu pencerahan.</p>
<p>Nah, ayat-ayat suci dari al-Quran, Bible dan hadis sahih tersebut wajar dijadikan pertimbangan. Tidakkah kita diwajibkan membaca sejarah kawan-kawan?</p>
</div>
<p>.</p>
<div>
<p><strong>Perintah Melaknat Dalam Al Qur’an</strong></p>
<p><strong> </strong><strong></strong>Di bawah ini, kita sertakan keterangan dan Al-Quran, Sunnah Nabi saw, dan teladan dan para imam yang suci. Apabila masih juga keberatan, setelah tegak keterangan dan Allah dan rasul-Nya, ia tidak dihitung lagi sebagai orang beriman.</p>
<p>“Maka, demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya” (QS. Al-Nisa: 65).</p>
<p>Al-Quran</p>
<p>Sebagaimana akhlak Nabi saw adalah Al-Quran, maka setiap Muslim harus menginternalisasikan Al-Quran dalam dirinya. Ia harus memuliakan orang yang dimuliakan Al-Quran. Ia harus merendahkan orang yang direndahkan Al-Quran. Ia harus berdoa buat orang yang didoakan Al-Quran. Ia harus melaknat orang yang dilaknat Al-Quran. Di antara orang yang harus dilaknat adalah:</p>
<p>1. Yang menyakiti Rasulullah saw:<br />
“Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya;<br />
Allah akan melaknatnya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan<br />
baginya siksa yang menghinakan” (QS. Al-Ahzab: 57)</p>
<p>2. Yang memfitnah mukminin dan mukminat:<br />
“Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya;<br />
Allah akan melaknatnya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan<br />
baginya siksa yang menghinakan. Dan orang-orang yang menyakiti<br />
orang-orang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka<br />
perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan<br />
dan dosa yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 57-58)</p>
<p>3. Yang memfitnah (menuduh) berzina:<br />
“Sesungguhnya orang-orang yang menuduh (berzina) perempuan-<br />
perempuan yang baik-baik, yang tidak pernah terpikir melakukan<br />
kekejian lagi beriman, mereka dilaknat di dunia dan di akhirat, dan<br />
bagi mereka azab yang besar.” (Al-Nur: 23)</p>
<p>Selain dilaknat, penuduh atau pembuat fitnah itu tidak boleh diterima kesaksianya seumur hidupnya dan dicambuk 80 kali menurut syariat Islam.<br />
“Dan orang-orang yang menuduh (berbuat zina) perempuan-perempuan yang baik—baik dan tidak mendatangkan empat orang saksi maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Nur: 4)</p>
<p>4. Orang-Orang yang memutuskan silaturrahim:<br />
“Bukankah apabila kamu berkuasa kamu berbuat kerusakan di<br />
muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan. Mereka itulah<br />
orang- orang yang dilaknat Allah dan ditulikannya telinga mereka dan<br />
dibutakannya mereka.” (QS. Muhammad: 22-23; lihat juga QS. al-<br />
Ra’d: 25)</p>
<p>5. Para pembohong:<br />
“…Marilah kita memangil anak-anak kami dan anak-anak kamu,<br />
isteri kami dan isteri-isteri kamu, din kami dan din kamu; kemudian<br />
marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya<br />
laknat Allah ditimpakan kepada para pendusta.” (QS. Ali ‘lmran: 61)</p>
<p>6. Orang- orang zalim:<br />
“…Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada orang-orang yang<br />
zalim. Mereka itu balasannya ialah bahwasanya laknat Allah<br />
ditimpakan kepada mereka (demikian pula) laknat para malaikat<br />
dan manusia seluruhnya.” (QS. Ali lmran: 86-87; lihat juga QS. Al-<br />
A’raf: 44)</p>
<p>“…Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zalim. Mereka itu balasannya ialah bahwasanya laknat Allah ditimpakan kepada mereka (demikian pula) laknat para malaikat dan manusia seluruhnya.” (QS. Ali lmran: 86-87; lihat juga QS. Al-A’raf: 44)</p>
<p>Itulah sebagian dan ayat-ayat yang melaknat mereka yang mempunyai sifat yang patut dilaknat, apa pun agama atau mazhabnya. Kata “la’nat” dengan berbagai derivasinya disebut 41 kali dalam Al-Quran. Perhatikanlah ayat itu dan amalkan!</p>
<p>“…Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zalim. Mereka itu balasannya ialah bahwasanya laknat Allah ditimpakan kepada mereka (demikian pula) laknat para malaikat dan manusia seluruhnya.” (QS. Ali lmran: 86-87; lihat juga QS. Al-A’raf: 44)</p>
<p>Al-Sunnah</p>
<p>Di samping hadis-hadis yang menunjukkan sifat-sifat orang yang dilaknat, Rasulullah saw memberikan contoh melaknat orang-orang tertentu. Ia secara tegas menyebut nama-nama mereka dalam laknatnya itu. Yang dilaknat Rasulullah saw:</p>
<p>1. Rasulullah saw bersabda, “Ada tiga orang yang dilaknat Allah swt<br />
orang yang berpaling dari kedua orang tuanya; orang yang mengadu<br />
domba di antara suami isteri sehingga mereka bercerai kemudian ia<br />
menggantikannya, berita fitnah di antara kaum mukmin sehingga<br />
mereka sating membenci dan saling mendengki.” (Kanz al-’Ummal<br />
hadits: 43930).<br />
2. Rasulullah saw bersabda, “Aku melaknat tujuh orang yang dilaknat<br />
Allah. Dan semua Nabi sebelumku diperkenankan (doanya): yang<br />
menambah-nambah kitab Allah, yang mendustakan ketentuan Allah,<br />
yang menentang sunnahku, yang menghalalkan apa yang diharamkan<br />
Allah dan keluargaku, yang berkuasa dengan sewenang-wenang,<br />
sehingga memuliakan orang yang direndahkan Allah dan merendahkan<br />
orang yang dimuliakan Allah, yang menyalahgunakan harta kaum<br />
muslimin, yang mengharamkan apa yang dihalalkan Allah.” (Bihar al-<br />
Anwar 75:340).<br />
3. Rasulullah saw bersabda, “Allah melaknat seorang fakir yang<br />
merendahkan dirinya kepada orang kaya karena hartanya. Barang<br />
siapa di antara mereka itu melakukan hal seperti itu sudah hilang<br />
sepertiga agamanya.” (Kanz al-’Ummal 3 hadits 6288).</p>
<p>Di atas hanyalah sebagian di antara orang-orang yang dilaknat saw karena sifat-sifatnya. Di samping itu, misalnya, Rasulullah saw melaknat orang yang memisahkan anak dan ibunya, orang yang durhaka pada orangtuanya, para pekerja di sekitar minuman keras dan zina dan (Lihat indeks dalam Al-Mursyid hal Kanz al-‘Ummal).</p>
<p>Selain itu, Rasulullah saw juga memberikan contoh (sunnah) dalam melaknat bahkan apa yang kita pandang sekarang sebagai sahabat Nabi. Ketika mereka memperoleh kekuasaan, ada sahabat yang cari muka dengan membuat hadis palsu bahwa laknat Nabi saw tersebut jadi pembersih bagi dosa-dosa mereka. Bersumber dari Abu Hurairah: Sesungguhnya Nabi saw pernah bersabda: “Ya Allah, sesungguhnya aku adalah Muhammad seorang manusia biasa. Aku bisa marah seperti halnya manusia lainnya, dan sesungguhnya aku telah membuat perjanjian di sisi-Mu di mana engkau tidak membiarkan aku menyalahinya. Maka setiap mukmin yang aku sakiti, atau aku caci maki, aku laknat atau aku pukul, maka jadikanlah ia sebagai sembahyang, zakat, pendekatan yang mendekatkan mereka kepadamu pada hari kiamat nanti” (Shahih Muslim, Kitab Kebajikan, No. 90, 91)</p>
<p>Dari Abdullah. Ia berkata: Aku sedang berada di masjid ketika Marwan berkhotbah. Ia berkata: Sesungguhnya Allah swt telah memberib kepada Amirul Mukminin, Muawiyah, pandangan yang baik tentang Yazid. Ia ingin mengangkatnya sebagai khalifah sebagaimana Abu Bakar dan Umar pernah melakukannya (istikhlaf). Berkata Abdurrahman bin Abu Bakar: ‘Tradisi Heraklius?’ “Sungguh, Abu Bakar, demi Allah, tidak menyerahkannya kepada anaknya atau salah seorang di antara keluarganya. Sedangkan Muawiyah melakukannya karena sayang dan ingin memberikan anugrah kepada anaknya.” Marwan berkata: Bukankah kamu yang dimaksud Al-Quran sebagai “orang yang berkata kepada orangtuanya ‘cis bagi kalian’ (QS. Al-Ahqaf: 17)”. Abdurrahman berkata: Bukankah kamu anak orang terkutuk. Rasulullah saw melaknat bapakmu. Aisyah berkata: Hai Marwan. Demi Allah, ayat itu tidak turun kepada Abdurrahman. Tapi ayat ini turun untuk ayahmu: “Janganlah kamu mentaati setiap tukang sumpah (palsu) yang hina, yang banyak mencela, yang kesana kemari menyebar fitnah, yang melarang perbuatan baik, melampaui batas dan banyak berbuat dosa.” (Al-Qalam 10-12).</p>
<p>Rasulullah saw pernah melaknat ayah Marwan ketika Marwan berada dalam sulbinya. Engkau adalah pecahan laknat Allah. (Mustadrak 4:48 1;Tafsir al-Qurthubi 16:197; Taf sir al-Zamakhsyari 3:99; Tafsir Tbn Katsir 4:159; Tafsir Al-Fakhr al-Razi 7:491; Tafsir al-Durr al-Mantsur 6:4 1; dll).</p>
<p>Dalam riwayat lain, Aisyah berkata kepada Marwan: Aku mendengar Rasulullah saw bersabda kepada bapakmu dan kakekmu -Abu al-Ash bin Umayyah— “kalian adalah al-syajarah al-mal’unah” (pohon yang terkutuk) dalam Al-Quran (Al-Durr al-Mantsur 4:191; Tafsir al Syawkani 3:231; Tafsir al-Alusi 15:107; Tafsir al-Qurthubi 10:286).</p>
<p>Siapakah Marwan? Marwan adalah anak Al-Hakam. Siapakah Al-Hakam? Ketika Rasulullah saw masih berada di Makkah, Al-Hakam adalah tetangga Nabi yang paling banyak mengganggu dan menyakiti hati Nabi saw. Bakda kemenangan Makkah, Ia masuk Islam dan hijrah ke Madinah. Dalam majlis, ia sering mencemoohkan Nabi dan belakang dengan menggoyang-goyangkan tubuhnya. Nabi saw memergokinya dan menyumpahinya: “Allahumma ij’al bihi wazaghan”. Ya Allah, jadikan dia terus bergoyang.</p>
<p>Sejak itu, ia bergelar si wazagh, tukang goyang, sampai mati. Ketika Rasulullah saw berada di tengah-tengah keluarganya, si wazagh itu sering melanggar “privacy” keluarga Nabi saw, mengintip dan menyebarkan berita keji tentang diri Nabi. Kata Abu ‘Umar: “Kana yufsyi ahaditsa Rasulillah saw fa la’anahu.” Ia menyebarkan berita keji tentang Rasulullah saw. Lalu Nabi melaknatnya. Beliau mengusir si wazagh dan anaknya ke luar kota Madinah (Al-Isti ‘ab 1:118-119; Usud al-Ghabah 2:34).</p>
<p>Pada suatu hari Imam Ali as memergoki al-Hakam sedang mengintip Nabi saw. Ia menjewer kedua telinganya dan menjatuhkannya di hadapan Nabi saw. Nabi saw melaknatnya tiga kali seraya bersabda: “Orang ini akan mengkhianati Kitab Allah dan sunnah Nabi-Nya. Dan sulbinya akan keluar fitnah yang asap kelabunya akan sampai ke langit.” (Kanz al-Ummal 6:39, 90)</p>
<p>Setelah Rasulullah saw wafat, pada zaman pemerintahan Abu Bakar dan Umar, Utsman mendesak agar Marwan dan bapaknya dikembalikan lagi ke Madinah. Kedua khalifah itu berkata (Berikut ini ucapan Umar): Wayhak, ya Utsman. Celaka kamu, hai Utsman. Kamu bicara untuk orang yang dilaknat Rasulullah saw dan diusirnya, musuh Allah dan musuh Rasulnya.</p>
<p>Pernah al-Hakam meminta izin untuk berjumpa dengan Rasulullah saw. Ia bersabda: “Suruh dia masuk, laknat Allah baginya dan bagi keturunan yang keluar dan sulbinya, kecuali orang mukmininnya. Tetapi betapa sedikitnya mereka. Dia dan ketununannya adalah pelaku tipu daya,pengkhianat, akan diberi dunia tetapi di akhirat ia tidak memperoleh bagian.” (Al-Ansab 5:126; Al-Hakim dalam al-Mustadrak 4:481; Al-Sirah al-Halabiyyah 1:337).</p>
<p>Dan sulbi al-Hakam lahir Marwan dan keturunan Bani Umayyah, yang disebut dalam Al-Quran sebagai “al-syajarah al-mal’unah”. Marwan diangkat menjadi gubernur Madinah pada 42 H. Karena setiap gubernur waktu itu menjadi imam salat, Marwan memulai kebiasaan baru. Sebelum salat, ia memberikan kultum (kuliah tujuh menit) untuk melaknat Imam Ali dan keluarganya.</p>
<p>Karena itu, Imam Hasan hanya masuk ke mesjid setelah iqamah. Tetapi, saking senangnya memaki keluarga Nabi saw, ia memaksa Imam Hasan as untuk datang ke mesjid buat mendengarkan makiannya.</p>
<p>Kelak, menjelang Asyura, Marwan bermaksud untuk menangkap Imam Husain dan memaksanya berbaiat kepada Yazid. Dari cengkeraman Yazidlah, Imam Husain berangkat ke Makkah. Memang, dan perilaku dan sifat-sifatnya —tukang sumpah palsu, penyebar fitnah, pembuat tipu daya, pemaki, yang berjalan ke sana kemari menyebar namimah— Marwan dan al-Hakam layak untuk dilaknat Nabi saw. Kalau kita mengaku mengikuti sunnah Nabi saw, maka sangat aneh kalau kita keberatan melaknat orang-orang yang perilakunya seperti Marwan. Kita takut, tampaknya hanya pelanjut tradisi Marwan yang akan keberatan menjalankan sunnah Nabi saw dalam melaknat. Na’udzu billah mim dzalik.</p>
<p>Teladan Para Imam</p>
<p>1. “Ya Allah, laknatlah ‘Amr dan laknatlah Mu’awiyah karena mereka<br />
telah menyimpang dan jalan-Mu, mendustakan kitab suci-Mu,<br />
merendahkan Nabi-Mu serta mendustakan dia dan aku.”</p>
<p>2. “Ya Allah laknatlah Busyr dan ‘Amr dan Mu’awiyah. Ya Allah<br />
jatuhkan atas mereka murka-Mu. Turunkan pada mereka siksa-Mu<br />
dan timpakan kepada mereka hukuman—Mu dan azab—Mu yang<br />
tidak Engkau tolakkan dari kaum pendurhaka.”</p>
<p>3. “Ya Allah, hukum keduanya karena yang mereka lakukan dalam<br />
hakku: dan karena mereka merendahkan urusanku. Berikan<br />
kepadaku kemenangan menghadapi mereka. Ya Allah, jatuhkan<br />
azab kepada mereka karena pengkhiatannya kepada umat ini, dan<br />
karena pandangannya yang buruk terhadap semuanya. Laknat<br />
Imam yang terakhir ditujukan untuk Zubair bin ‘Awwam dan Thalhah<br />
bin ‘Ubaid illab. Siapakah Zubair? Zubair adalah saudara sepupu<br />
Nabi dan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib. Menurut satu riwayat,<br />
ia adalah orang yang keempat masuk Islam, terkenal pemberani<br />
dan ikut serta dalam semua peperangan bersama Nabi. Menurut<br />
Ahlus Sunnah, ia termasuk salah seorang di antara sepuluh<br />
sahabat yang dijamin masuk surga. Ia tidak mau berbai’at kepada<br />
Abu Bakar dan menjadi sahabat dekat Imam Ali.</p>
<p>Karena itu, ia termasuk di antara sekelompok kecil yang menyaksikan pemakaman Sayyidah Fatimah Azzahra sa. Ketika Umar memasukkannya kepada salah satu di antara enam anggota dewan formatur, ia mengundurkan diri karena pembelaannya kepada Imam Ali.</p>
<p>Imam Ali bersabda, “Zubair selalu menjadi salah seorang di antara kami Ahlulbait, sampai muncul anaknya yang tercela, Abdullah.” Pada zaman Utsman, Zubair memperoleh kekayaan yang berlimpah karena fasilitas yang diberikan khalifah. Setelah Utsman terbunuh, ia termasuk yang berbai’at kepada Imam Ali untuk pertama kalinya. Ketika Imam Ali menghilangkan fasilitas istimewanya, ditambah dengan hasutan Mu’awiyyah yang menawarkan kekhalifahan kepadanya, Zubair kemudian mengkhianati Imam Ali dan bergabung dengan pasukan ‘Aisyah, bersama Thalhah.</p>
<p>Siapakah Thalhah? Ia termasuk sahabat yang masuk Islam pada zaman permulaan. Nabi mempersaudarakannya dengan Zubair sebelum hijrah. Ia seorang pedagang kaya. Ketika terjadi perang Badar, ia sedang berdagang di Syam. Ahlus Sunnah menghitungnya sebagai salah satu di antara sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga. Setelah wafat Nabi, para khalifah memberikan penghormatan kepadanya. Umar memilihnya sebagai salah satu anggota formatur, tetapi ia mengundurkan diri untuk kepentingan Utsman. Walaupun Utsman memberikan kepadanya bantuan keuangan yang menjadikannya salah satu orang terkaya di Madinah, Utsman tidak mengangkatnya menjadi gubernur di kota mana pun. Thalhah sangat menginginkan jabatan khalifah. Ia menulis surat menghasut penduduk Basrah, Kufah, dan kota-kota lainnya untuk melakukan perlawanan terhadap Utsman. Setelah Utsman terbunuh, ia segera berbai’at kepada Imam Ali. Ketika Imam Ali melepaskan hak-hak istimewa yang diperolehnya sebelumnya, ia bergabung dengan Aisyah untuk menuntut darah Utsman.</p>
<p>Di bawah ini kita kutipkan percakapan dan Zubair dengan Imam Ali.</p>
<p>Setelah keduanya masuk, mereka berkata: “Ya Amiral Mukminin, kami datang kepadamu memohon izin untuk melakukan umrah.”</p>
<p>Imam Ali: “Demi Allah, kalian bukan ingin melakukan umrah, tetapi kalian bermaksud melakukan pengkhianatan. Kalian menginginkan Basrah.”</p>
<p>Thalhah dan Zubair berkata: “Astaghfirullah Kami hanya bermaksud Umrah.”</p>
<p>Imam Ali: “Bersumpahlah kepadaku, demi nama Allah yang agung. Kalian tidak merusak urusan kaum Muslimin, tidak mengkhianati ba’iat kepadaku dan tidak menyebarkan fitnah.” (Lalu keduanya menyatakan dengan lidahnya dengan sumpah yang diminta Imam Ali kepada mereka) Sumpah palsu itu kelak diulangi kembali oleh keduanya pada peristiwa gonggongan anjing Hau’ab. Dalam perjalanan ke Basrah, A’isyah sampal di sumber mata air Hau’ab kepunyaan Bani Amir bin Sha’sha’ah. Anjing-anjing di situ menggonggong dengan keras sehingga salah seorang di antara rombongan berkata: “Semoga Allah melaknat Hau’ab; betapa banyak anjingnya.” Mendengar itu A’isyah terkejut dan bertanya: “Apakah ini mata air Hau’ab?” Mereka berkata: “Ya, benar. Ia berkata; Kembalikan lagi aku. Ketika ditanya apa sebabnya, A’isyah menjelaskan bahwa Rasulullah Saw pernah memperingatkan A’isyah agar tidak termasuk orang yang digonggong anjing Hau’ab. Melihat A’isyah sudah mau mengundurkan diri, Zubair dan Thalhah mengumpulkan lima puluh orang Arab dusun untuk bersumpah bersama mereka bahwa tempat itu bukan mata air Hau’ab. “Fa kanat hadi awwalu syahadati zurin fil Islam.” Nilai kesaksian palsu yang pertama di dalam Islam. (untuk mengetahui sumber-sumber bibliografis di atas, lihat Muhammad al-Ray Syahri, Mawsu’at al-Imam Ali bin Abi Thalib alaihi salam, jilid 5.Qom: Dar al-Hadits 1421 H.)</p>
<p>Tidak cukup di sini tempat untuk menuliskan daftar orang-orang yang dilaknat Imam All dan para Imam yang lain. Sekadar contoh, Imam Musa al-Kazhim as melaknat Ali bin Abi Hamzah karena mengkhianati Imam setelah ditawari kekayaan yang banyak, Begitu pula ada sahabat terdekat Imam Hasan al-Askari as yang berkhianat kepadanya. Dan selanjutnya Shahib al-Zaman Imam Mahdi (ruhi fida’uhu) melaknatnya dan menganjurkan para pengikutnya untuk melaknatnya pula.</p>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/syiahali.wordpress.com/38799/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/syiahali.wordpress.com/38799/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/syiahali.wordpress.com/38799/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/syiahali.wordpress.com/38799/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/syiahali.wordpress.com/38799/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/syiahali.wordpress.com/38799/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/syiahali.wordpress.com/38799/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/syiahali.wordpress.com/38799/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/syiahali.wordpress.com/38799/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/syiahali.wordpress.com/38799/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/syiahali.wordpress.com/38799/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/syiahali.wordpress.com/38799/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/syiahali.wordpress.com/38799/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/syiahali.wordpress.com/38799/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syiahali.wordpress.com&amp;blog=13635218&amp;post=38799&amp;subd=syiahali&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syiahali.wordpress.com/2012/01/27/perintah-melaknat-dalam-al-quran-sunnah-nabi-saw-dan-teladan-dan-para-imam-yang-suci-bolehkah-melaknat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0190a0488b1caa6078bb63692e7f1c0c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">syiahali</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pakoz.files.wordpress.com/2009/01/1_477139836l.jpg?w=450" medium="image">
			<media:title type="html">1_477139836l</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://3.bp.blogspot.com/_tG9BXwf0cHs/SXoRwUY9dhI/AAAAAAAAGwc/-svZUSHCAyQ/s320/torah.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://1.bp.blogspot.com/_tG9BXwf0cHs/SXm4xWO80eI/AAAAAAAAGwU/J-2e7JQ-WcU/s320/12.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Padanan Al-Quran  agar UMAT  TiDAK  TERSESAT adalah Ahlulbait yang telah dijamin kesuciannya, mereka yang menjaga tafsir Al-Quran dan sunnah-sunnah Rasul, mereka yang menjaga kesucian ajaran Islam dari penambahan dan pengurangan, dari bid’ah, khurafat dan takhayyul.</title>
		<link>http://syiahali.wordpress.com/2012/01/27/padanan-al-quran-agar-umat-tidak-tersesat-adalah-ahlulbait-yang-telah-dijamin-kesuciannya-mereka-yang-menjaga-tafsir-al-quran-dan-sunnah-sunnah-rasul-mereka-yang-menjaga-kesucian-ajaran-islam-dar/</link>
		<comments>http://syiahali.wordpress.com/2012/01/27/padanan-al-quran-agar-umat-tidak-tersesat-adalah-ahlulbait-yang-telah-dijamin-kesuciannya-mereka-yang-menjaga-tafsir-al-quran-dan-sunnah-sunnah-rasul-mereka-yang-menjaga-kesucian-ajaran-islam-dar/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jan 2012 03:06:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>syiahali</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syiahali.wordpress.com/?p=38796</guid>
		<description><![CDATA[Sunni TAAT AL-QURAN TAK TAAT AHLUL BAYT ? Hadis Tsaqalain Hadis tsaqalain adalah salah satu hadis yang tergolong mutawatir dan makruf di kalangan fariqain, Sunni-Syiah. Bahwa wajib mengikut kepada Ahlulbait Rasulullah tercantum jelas dan tegas dalam hadis ini. Kami persembahkan hadis ini kepada para mereka yang berpikir kritis dan dahaga terhadap realitas sebenarnya. Selamat mengkaji! Hadis [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syiahali.wordpress.com&amp;blog=13635218&amp;post=38796&amp;subd=syiahali&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2 id="post-730">Sunni TAAT AL-QURAN TAK TAAT AHLUL BAYT ?</h2>
<p>Hadis Tsaqalain</p>
<p>Hadis tsaqalain adalah salah satu hadis yang tergolong mutawatir dan makruf di kalangan fariqain, Sunni-Syiah. Bahwa wajib mengikut kepada Ahlulbait Rasulullah tercantum jelas dan tegas dalam hadis ini. Kami persembahkan hadis ini kepada para mereka yang berpikir kritis dan dahaga terhadap realitas sebenarnya. Selamat mengkaji!<br />
Hadis Tsaqalain</p>
<p>.</p>
<p><strong>AHLUL BAYT DALAM AL QURAN</strong></p>
<p>Al-Quran adalah sumber pemikiran, sumber hukum dan sumber segala kebajikan yang esensinya adalah kalam ilahi yang suci. Al-Quran adalah pola bagi hidup dan kehidupan seluruh umat manusia. Maka setiap muslim atau muslimah wajib mengetahui dan memahami bahwa Kitabullah itu adalah syari’ah dan risalah-Nya yang umat manusia harus merealisasikannya dalam hidup dan kehidupannya serta berjalan di atas petunjuk-Nya.<br />
Banyak ayat Al-Quran yang menceritakan Ahlulbait atau keluarga Nabi yang disucikan yang antara lain seperti di bawah ini:</p>
<p>1.Surah Al-Ahzab: 33</p>
<p>Dalam ayat ini Allah menyebut mereka Ahlulbait. Dia berfirman: “Innamâ yuridu l`llâhu liyudzhiba ‘ankumu l`rijsa ahla l`bayt wa yuthahhirakum tathhirâ”. Yang artinya: “Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan al-rijs dari kamu wahai Ahlulbait dan mensucikanmu sesuci-sucinya.” (QS 33/33).</p>
<p>Imam Ja’far Al-Shadiq ditanya mengenai makna al-rijs yang terdapat pada ayat diatas. Beliau menjawab:<br />
“Al-Rijsu itu adalah al-syakk (keraguan)”. (Ma’ani l`Akhbar).</p>
<p>Jika kita tidak taat kepada Allah dalam satu perkara, maka hal itu telah menunjukan kepada keraguan kita terhadap-Nya, semakin banyak ketidaktaatan kita kepadanya, maka semakin besar pula keraguan kita kepada-Nya. Ahlulbait yang disucikan itu sedikit pun tidak pernah ragu kepada-Nya, oleh karena itu tidak ada satu pun keburukan atau kemaksiatan yang mereka lakukan. Dan tidak adanya keraguan dari mereka, dikuatkan dengan pensucian sesuci-sucinya, yang demikian itu menunjukan bahwa mereka memiliki sifat ‘ishmah yang sangat kuat, mereka adalah orang-orang ma’shum (tidak melakukan dosa dan kesalahan).</p>
<p>Sebagian kaum muslim beranggapan bahwa tafsir ahlul`bayt yang terdapat pada ayat di atas adalah istri-istri Rasulullah saw, mereka menafsirkan demikian barangkali dikarenakan awal ayat tersebut ditujukan kepada istri-istri Nabi yaitu : “Dan hendaklah kamu (istri-istri Nabi) tinggal di rumah-rumah kamu, dan janganlah kamu bersolek seperti kaum jahiliah yang pertama, dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat dan taatlah kepada Allah serta Rasul-Nya…”.</p>
<p>Tafsir seperti itu rasanya tidak benar karena kata ganti (personal pronoun, dhamir) bagi istri-istri Nabi dan untuk ahlulbait berbeda; untuk istri-istri Nabi dhamirnya mu`annats (feminine) sedangkan untuk Ahlulbait dhamirnya mudzakkar (masculine). Kedua mereka tidak memakai tafsir atau penjelasan dari Rasulullah dan para sahabatnya, padahal orang yang paling mengetahui tafsirnya adalah Nabi saw, dan Al-Quran telah memerintahkan kita untuk mengikuti beliau sebagaimana dalam firman-Nya berikut ini (yang artinya): “Dan telah Kami turunkan Al-Dzikr (Al-Quran) untuk kamu jelaskan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka agar mereka berpikir”. (Al-Nahl 44).</p>
<p>“Dan tidak Kami turunkan Al-Kitab melainkan agar kamu jelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan dan sebagai petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman”. (Al-Nahl 64).</p>
<p>“Apa yang diperintahkan Rasul kepadamu maka laksanakan dan apa-apa yang dia larang maka tinggalkanlah, dan ber-taqwa-lah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat keras siksa-Nya”. (QS 59/7).</p>
<p>“Wahai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah Rasul serta Uli l`amri (para khalifah Rasulullah yang dua belas) dari kamu…”. (QS 4/59).</p>
<p>Kemudian siapakah Ahlulbait yang disebutkan dalam Al-Ahzab 33 menurut Nabi dan sebagian sahabatnya itu? Marilah kita perhatikan beberapa riwayat berikut ini :</p>
<p>Ummu l`mu`minin Aisyah mengatakan : “Pada suatu pagi Rasulullah saw keluar dari rumah) dengan membawa kain berbulu yang berwarna hitam. Kemudian datang (kepada beliau) Hasan putra Ali, lalu beliau memasukkannya (ke bawah kain); lalu datang Husayn lantas dia masuk bersamanya; kemudian datang Fathimah,lantas beliau memasukannya; kemudian datang Ali, lalu beliau memasukannya. Kemudian beliau membaca ayat : ‘Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan keraguan dari kalian wahai Ahlulbait dan mensucikan kalian sesuci-sucinya’”. (Lihat Shahih Muslim bab fadha`il Ahli bayti l`Nabiyy; Al-Mustadrak ‘ala l`Shahihayn 3/147; Sunan Al-Bayhaqi 2/149 dan Tafsir Ibnu Jarir Al-Thabari 22/5).</p>
<p>Amer putra Abu Salamah – anak tiri Rasulullah – mengatakan : “Ketika ayat ini (innama yuridu l`llahu liyudzhiba ‘ankumu l`rijsa ahla l`bayt wa yuthahhirakum tathhira) diturunkan di rumah Ummu Salamah, beliau memanggil Fathimah, Hasan dan Husayn sedangkan Ali as. berada di belakang beliau. Kemudian beliu mengerudungi mereka dengan kain seraya beliau berdoa : ‘Ya Allah mereka ini ahlulbaitku maka hilangkanlah dari mereka keraguan dan sucikan mereka sesuci-sucinya’. Ummu Salamah berkata: ‘Dan aku bersama mereka wahai Nabi Allah?’ Beliau bersabda :</p>
<p>‘Engkau tetap di tempatmu, engkau dalam kebaikan’”. (Al-Turmudzi 2:209, 308 ; Musykilu l`Atsar 1:335;<br />
Usudu l`Ghabah 2:12; Tafsir Ibni Jarir Al-Thabari 22: 6-7).</p>
<p>Dari Ummu Salamah bahwa Nabi saw. telah mengerudungkan sehelai kain ke atas Hasan, Husayn, Ali, Fatimah lalu beliau berkata, “Ya Allah, mereka ini Ahlulbaitku dan orang-orang terdekatku, hilangkanlah dari mereka keraguan dan sucikan mereka sesuci-sucinya,”. Kemudian Ummu Salamah berkata: “Aku ini bersama mereka wahai Rasulullah ?”. Beliau bersabda, “Sesungguhnya engkau berada di atas kebaikan”. (HR Al-Turmudzi 2:319).</p>
<p>Anas bin Malik telah berkata : “Rasulullah saw pernah melewati pintu rumah Fatimah ‘alayha l`salam selama enam bulan, apabila beliau hendak keluar untuk shalat subuh, beliau berkata, ‘Salat wahai Ahlulbait! Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan keraguan darimu wahai Ahlulbait dan mensucikanmu sesuci-sucinya’”. (HR Al-Turmudzi 2 : 29).</p>
<p>Itulah beberapa kesaksian dari beberapa kitab rujukan bahwa Ahlulbait dalam surah Al-Ahzab itu bukan istri-istri Nabi saw melainkan Ali, Fathimah, Hasan dan Husayn sekalipun ayat tersebut digabungkan penulisannya dengan ayat yang menceriterakan istri-istri Nabi saw sebab di dalam Al-Quran mushhaf ‘utsmani ini terkadang dalam surah makkiyyah terselip di dalamnya beberapa ayat madaniyyah atau sebaliknya atau satu ayat mengandung dua cerita seperti pada ayat diatas dan tentu para ulama telah maklum adanya.</p>
<p>2. Surah Al-Syura:23</p>
<p>Ketika orang-orang musyrik berkumpul di satu tempat pertemuan mereka, tiba-tiba berkatalah sebagian dari mereka kepada yang lainnya : Apakan kalian melihat Muhammad meminta upah atas apa yang dia berikan ? Kemudian turunlah ayat : “Katakanlah aku tidak meminta upah dari kalian selain kecintaan (mawaddah) kepada al-qurba”. (Al-Zamakhsyari dalam tafsirnya Al-Kasysyaf).</p>
<p>Kemudian beliau berkata: Telah diriwayatkan ketika ayat tersebut turun bahawa ada orang yang bertanya:<br />
Wahai Rasulullah, siapakah kerabatmu yang telah diwajibkan atas kami mencintai mereka? Beliau menjawab: “Mereka itu adalah Ali, Fathimah dan kedua putranya (Hasan dan Husayn)”.</p>
<p>Ayat tersebut di atas telah mewajibkan seluruh manusia untuk mencintai (mengikuti) keluarga Nabi atau Ahlulbait dan mencintai mereka merupakan dasar di dalam ajaran Islam. Rasulullah saw bersabda (yang artinya): “Segala sesuatu ada asasnya dan asas Islam adalah mencintai Ahlulbaitku”. (Hadits yang mulia). Dan jika kita membenci mereka maka amal baik kita akan menjadi sia-sia dan kita masuk neraka. Sabdanya :<br />
“Maka seandainya seseorang berdiri (beribadah) lalu dia salat dan saum kemudian dia berjumpa dengan Allah (mati) sedangkan dia benci kepada Ahlulbait Muhammad, niscaya dia masuk neraka.” Al-Hakim memberikan komentar terhadap sabda Nabi ini sebagai berikut: “Ini hadits yang baik lagi sah atas syarat Muslim”. ( Kitab Al-Mustadrak ‘ala l`Shahihayn 3/148).</p>
<p>3. Surah Ali ‘Imran:61</p>
<p>Ayat ini disebut sebagai ayat mubahalah karena di dalamnya ada ajakan untuk ber-mubahalah dengan para pendeta nasrani. Adapun terjemahannya: “Siapa yang menbantahmu tentang dia (Al-Masih) setelah datang kepadamu ilmu, maka katakanlah (kepada mereka): Marilah, kami memanggil anak-anak lelaki kami dan (kamu memanggil) anak-anak lelaki kamu, perempuan-perempuan kami dan perempuan-perempuan kamu<br />
dan diri-diri kami serta diri-diri kamu, kita bermubahalah dan kita tetapkan laknat Allah atas mereka yang berdusta”.</p>
<p>Saksi sejarah yang hidup dan kekal yang diriwayatkan ahli-ahli tarikh dan tafsir telah memberikan kejelasan kepada khalayak akan kesucian keluarga Nabi saw yaitu Ali, Fathimah, Hasan dan Husain. Ayat tersebut menunjukan betapa agungnya kadar dan kedudukan mereka di sisi Allah ‘azza wa jalla.</p>
<p>Diantara kasus yang disampaikan para muarrikh, mufassir dan muhaddits ialah peristiwa mubahalah, yaitu ketika datang utusan dari masyarakat keristen Najran untuk membantah Rasulullah—shalla l`llahu ‘alayhi wa alihi wa sallam—kemudian Allah Ta’ala menurunkan ayat di atas agar beliau memanggil Ali, Fathimah. Hasan dan Husain. Beliau keluar membawa mereka ke lembah yang telah ditentukan dan para pemimpin keristen pun membawa anak-anak dan perempuan-perempuan mereka.</p>
<p>Al-Zamakhsyari dalam tafsirnya Al-Kasysyaf berkata : “Sesungguhnya ketika mereka diseru untuk bermubahalah mereka mengataakan : ‘Nanti akan kami pertimbangkan terlebih dahulu’. Tatkala mereka berpaling (dari mubahalah) berkatalah mereka kepada Al-Aqib—yang menjadi juru bicara mereka : ‘Wahai hamba Al-Masih, bagaimanakah menurutmu?’ Dia berkata: Demi Allah, kalian juga tentu mengetahui wahai umat nasrani bahwa Muhammad adalah seorang Nabi dan Rasul. Dia datang kepadamu membawa penjelasan mengenai Isa (Yesus). Demi Allah tidak ada satu kaum pun yang mengadakan mubahalah dengan seorang Nabi lalu mereka hidup. Dan jika kalian melakukan mubahalah dengannya niscaya kalian semua pasti binasa, dan apabila kalian ingin tetap berpegang kepada ajaran kalian maka tinggalkan orang tersebut dan pulanglah ke kampung halaman kalian”.</p>
<p>Keesokan harinya Nabi saw datang dengan menggendong Husayn dan menuntun Hasan dan Fathimah berjalah di belakang beliau sedang Ali berjalan di belakang Fathimah. Nabi bersabda : “Bila aku menyeru kalian maka berimanlah !”. Melihat Nabi dan Ahlulbaitnya, berkatalah uskup Najran : “Wahai umat keristen, sungguh aku melihat wajah-wajah yang sendainya mereka berdoa kepada Allah agar Dia (Allah) menghilangkan sebuah gunung dari tempatnya pasti doa mereka akan dikabulkan, oleh karena itu tinggalkan mubahalah sebab kalian akan celaka yang nantinya tidak akan tersisa seorang keristen pun sampai hari kiamat”.</p>
<p>Akhirnya mereka berkata : “Wahai Abul Qasim, kami telah mengambil keputusan bahwa kami tidak jadi bermubahalah, namun kami ingin tetap memeluk agama kami.” Rasul bersabda : “Jika kalian enggan mubahalah maka terimalah Islam bagi kalian dan akan berlaku hukum atas kalian sebagai mana berlaku atas mereka (muslimin yang lain).”</p>
<p>Kemudian Al-Zamakhsyari–rahimahu l`llah–menjelaskan kedudukan Ahlulbait ketika menafsirkan ayat mubahalah, setelah dia menjelaskan keutamaan mereka melalui riwayat dari Aisyah dengan mengatakan : “Diantara mereka ada yang diungkapkan dengan anfusana (diri-diri kami); ini adalah untuk mengingatkan akan tingginya kedudukan mereka dan ayat ini adalah dalil yang sangat kuat dari-Nya atas keutamaan ashhabu l`kisa` (Ahlulbait)—‘alayhimu l`salam”. Pertunjukan mubahalah yang tidak terjadi itu telah menampilkan dua kekuatan yaitu iman versus syirik, dan manusia-manusia mukmin yang tampil waktu itu (Rasulullah, Ali, Fathimah, Hasan dan Husayn) adalah para tokoh petunjuk, umat terkemuka dan orang-orang suci. Seruan mereka tidak boleh dibantah dan kalimat mereka tidak boleh didustakan. Dari sini kita dapat memahami bahwa apa-apa yang datang dari mereka baik pemikiran, syari’ah, tafsiran, petunjuk maupun pengarahan adalah berlaku; mereka adalah orang-orang yang benar dalam ucapannya, perjalanan hidupnya dan tingkah lakunya.</p>
<p>Al-Quran telah menganggap setiap yang berlawanan dengan mereka adalah musuh-musuh, dan menjadikan musu-musuh mereka sebagai orang-orang yang berdusta serta berpaling dari kebenaran yang sepantasnya mendapat laknat dan azab. “…maka kami jadikan laknat Allah atas mereka yang berdusta.”</p>
<p>Dan juga dari segi bahasa yang sangat dalam pada ayat tersebut yang harus kita perhatikan, yakni ketika mereka disandarkan kepada Nabi. Hasan dan Husayn disebut sebagai “anak-aknak kami”, Fathimah sebagai perempuan-perempuan kami” dan Ali sebagai “diri-diri kami”. Di sini Imam Ali disandarkan kepada diri Nabi yang suci.</p>
<p>Sesungguhnya Rasulullah -shalla l`llahu ‘alayhi wa alihi wa sallam-hanya mengeluarkan empat orang ke arena mubahalah, ini berarti memberikan penjelasan kepada kita bahwa Fathimah Al-Zahra` -‘alayha l`salam- perempuan pilihan yang harus diteladani umat manusia; Imam Hasan dan Imam Husayn -‘alayhima l`salam- adalah anak-anak umat yang wajib kita taati sedangkan Imam Ali -‘alayhi l`salam- adalah dianggap diri Nabi sendiri.</p>
<p><strong>Ahlulbait dalam Sunnah Nabi saw </strong></p>
<p>Orang yang membaca sunnah-sunnah Nabi saw, perjalanan hidupnya dan memperhatikan hubungannya dengan Ahlulbaitnya yang telah ditegaskan di dalam Al-Quran yakni Ali, Fathimah adan kedua putranya, pasti dia mengetahui bahwa Ahlulbait Nabi mempunyai tanggung jawab risalah dengan umat ini. Rasulullah saw telah menggariskannya untuk umat agar mereka menerimanya sebagai perinyah dari Allah ‘azza wa jalla.</p>
<p>Langkah pertama yang ditempuh Nabi saw ialah melaksanakan perintah Allah, yaitu menikahkan Fathimah kepada Ali bin Abi Thalib. Beliau menanam pohon yang diberkati agar cabang-cabangnya menjangkau segala ufuk umat ini di sepanjang sejaarahnya.</p>
<p>Tentang pernikahan itu Nabi bersabda kepada Imam Ali—salam atasnya : “Sesungguhnya Allah telah memerintahkanku agar aku menikahkanmu kepada Fathimah dengan mahar empat mitsqal perak jika engkau rela dengan yang demikian.” Dia berkata: “Aku rela dengan yang demikian.”</p>
<p>Dari pernikahan yang diberkati itu lahir Imam Hasan dan Imam Husayn. Dan dari sulbi Imam Husayn lahir sembilan Ahlulbait Nabi yang suci. Dzurriyyah (keturunan) Nabi melalui sulbi Imam Ali as sebagaimana yang beliau katakan : “Sesungguhnya Allah telah menjadikan keturunan setiap nabi dari sulbinya, tetapi dzurriyyahku dari sulbi orang ini yakni Ali.”</p>
<p>Cerita Ahlulbait Nabi saw dalam sunnahnya lebih banyak lagi, baik tentang Fathimah sebagai sayyidatu nisa` l`’alamin, pengangkatan Ali sebagai khalifah Nabi yang pertama, Ahllulbait sebagai padanan Al-Quran, kedudukan mereka, dua belas imam maupun yang lainnya. Di sini kita ceritakan dua hal saja, yaitu yang paling mengikat: Ahlulbait sebagai bahtera keselamatan dan Ahlulbait padanan Al-Quran.</p>
<p>Bahtera Keselamatan</p>
<p>Abu Nuaym telah meriwayatkan hadits yang sanadnya dari Sa’id bin Jubayr dari Ibnu Abbas dia berkata bahwa Rasulullah saw telah mengatakan : “Perumpamaan Ahlulbaitku pada kamu adalah semisal bahtera Nuh—‘alayhi l`salam—barangsiapa yang mengikutinya pasti selamat dan yang berpaling darinya pasti dia tenggelam.” Hadits Nabi ini diriwayatkan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak ‘ala l`Shahihayn 2/343. Dia berkata : Hadits ini sah berdasarkan persyaratan Muslim. Pesan dari sunnah Nabi ini ialah bahwa kita hanya akan<br />
selamat jika mengikuti Ahlulbait Nabi yang disucikan.</p>
<p>Padanan Al-Quran</p>
<p>Ahlulbait telah dijamin kesuciannya, mereka yang menjaga tafsir Al-Quran dan sunnah-sunnah Rasul, mereka yang menjaga kesucian ajaran Islam dari penambahan dan pengurangan, dari bid’ah, khurafat dan takhayyul.</p>
<p>Supaya umat tidak tersesat, maka Rasulullah saw berpesan kepada manusia agar tida tersesat jalan, sabdanya : “Wahai umat manusia! Sesungguhnya telah kutinggalkan pada kamu yang apabila kamu berpegang dengannya kamu tidak akan tersesat; kitab Allah dan ‘itrahku Ahlulbaitku.” (HSR Al-Turmudzi 2/308).</p>
<p>Ahlulbait Dikenal Umat Terdahulu</p>
<p>Ahlulbait telah dikenal oleh umat-umat terdahulu, antara lain oleh Nabi Adam, Nabi Nuh, Nabi Musa—salam atas mereka. Nabi Adam –salam atasnya–telah bermohon kepada Allah dengan hak mereka. Ibn Abbas telah berkata : “Saya telah bertanya kepada Rasulullah saw tentang kalimat-kalimat yang telah diterima Adam dari Rabb-nya hingga Dia menerima taubatnya. Nabi saw bersabda : “Dia telah bermohon (kepada Allah) : Dengan hak Muhammad, Ali, Fathimah, Hasan dan Husayn terimalah taubatku, lalu Dia menerima taubatnya”. (Al-Durr al-Mantsur ketika menafsirkan firman Allah ‘azza wa jalla : “fatalaqqa ‘Adamu min Rabbihi kalimat,” (QS. Al-Baqarah 37), baca juga kitab Kanzu l`‘Ummal 1:234.</p>
<p>Sebuah team ahli peneliti Rusia telah menemukan tumpukan kayu bekas kapal Nabi Nuh as. yang di dalamnya terdapat tulisan doa tawassul dengan Nabi Muhammad saw dan Ahlulbaitnya. Mohammad, Ali, Hassan, Hossain, Fatema.</p>
<p>Pada bulan Juli tahun 1951, sebuah team riset Rusia di sekitar gunung Judi di perbatasan Uni Soviet dan Turki secara tidak sengaja, mereka menemukan beberapa kuburan tumpukan kayu-kayu yang telah bobrok yang terssusun secara luar biasa. Di antara tumpukan kayu tersebut ditemukan satu plat kayu yang berukuran sekitar 10 x 14 inci. Pada palat kayu tersebut terukir beberapa kalimat dalam bahasa kuno yang sudah tidak dikenal. Pada tahun 1953 pemerintah Uni Soviet menunjuk sebuah komisi peneliti yang terdiri dari tujuh orang ahli (untuk meneliti penemuan tersebut), mereka menyimpulkan bahwa tumpukan kayu itu adalah bagian bahtera Nabi Nuh—‘alayhi l`salam–yang terkenal itu. Dan kata-kata yang terukir pada plat kayu adalah kata-kata dari bahasa Samani, yaitu suatu bahasa yang sudah sangat tua. Kata-kata tersebut telah diterjemahkan ke dalam bahasa Rusia dan Inggris oleh Prof. N.F. Thomas, seorang ahli bahasa-bahasa kuno dari Manchester, Inggris.</p>
<p>Pada plat kayu itu terdapat ukiran telapak tangan dengan lima jari. Pada kelima jari tersebut terdapat tulisan masing-masing: Muhammad, Ali, Hasan (syabar), Husayn (Syubayr), dan Fathimah. (Di bawahnya terdapat doa tawassul kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan mereka): “Wahai Tuhanku, wahai penolongku, aku berdoa dengan kemurahan-Mu melalui tubuh-tubuh suci yang Engkau ciptakan, mereka terbesar dan termulia, tolonglah aku melalui nama mereka, engkaulah yang mendatangkan cahaya”.</p>
<p>Plat kayu itu sekarang terpelihara dengan aman pada Museum Arkeologi dan Riset, Moscow, Uni Soviet. (Sumber : The Bulletin of The Islamic Center “UNDER SIEGE” P.O. BOX 32343 Wahington D.C. N.W. 20007 Vol. 7 No. 10 Rabi al-Awwal 6, 1408/Oktober 30,1987)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/syiahali.wordpress.com/38796/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/syiahali.wordpress.com/38796/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/syiahali.wordpress.com/38796/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/syiahali.wordpress.com/38796/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/syiahali.wordpress.com/38796/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/syiahali.wordpress.com/38796/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/syiahali.wordpress.com/38796/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/syiahali.wordpress.com/38796/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/syiahali.wordpress.com/38796/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/syiahali.wordpress.com/38796/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/syiahali.wordpress.com/38796/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/syiahali.wordpress.com/38796/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/syiahali.wordpress.com/38796/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/syiahali.wordpress.com/38796/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syiahali.wordpress.com&amp;blog=13635218&amp;post=38796&amp;subd=syiahali&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syiahali.wordpress.com/2012/01/27/padanan-al-quran-agar-umat-tidak-tersesat-adalah-ahlulbait-yang-telah-dijamin-kesuciannya-mereka-yang-menjaga-tafsir-al-quran-dan-sunnah-sunnah-rasul-mereka-yang-menjaga-kesucian-ajaran-islam-dar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0190a0488b1caa6078bb63692e7f1c0c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">syiahali</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Abu Bakar, Umar dan Uthman penentang Ahlul Bayt Nabi saww!</title>
		<link>http://syiahali.wordpress.com/2012/01/27/abu-bakar-umar-dan-uthman-penentang-ahlul-bayt-nabi-saww/</link>
		<comments>http://syiahali.wordpress.com/2012/01/27/abu-bakar-umar-dan-uthman-penentang-ahlul-bayt-nabi-saww/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jan 2012 03:01:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>syiahali</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syiahali.wordpress.com/?p=38792</guid>
		<description><![CDATA[Seorang peneliti tidak akan dapat meragukan pelajaran sejarah Nabi saww dan pengetahuan sejarah Islam, bahwa Nabi saww telah menentukan para Imam yang ke dua belas (12 Imam as. ) dan beliau telah menetapkan mereka sebagai khalifah-khalifah setelahnya dan menjadi penerima wasiat di tengah umatnya. Telah disebutkan jumlah mereka dalam hadis-hadis shahih Ahlussunnah bahwa mereka itu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syiahali.wordpress.com&amp;blog=13635218&amp;post=38792&amp;subd=syiahali&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p>Seorang peneliti tidak akan dapat meragukan pelajaran sejarah Nabi saww dan pengetahuan sejarah Islam, bahwa Nabi saww telah menentukan para Imam yang ke dua belas (12 Imam as. ) dan beliau telah menetapkan mereka sebagai khalifah-khalifah setelahnya dan menjadi penerima wasiat di tengah umatnya. Telah disebutkan jumlah mereka dalam hadis-hadis shahih Ahlussunnah bahwa mereka itu adalah dua belas orang semuanya dari Quraisy, dan hal itu telah diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim serta lainnya. Sebagaimana dalam Sunni telah menyebutkan nama-nama mereka penjelasan Nabi Muhammad saww, bahwa yang pertama adalah ‘Ali bin Abi Thalib dan setelahnya ialah putranya yakni al-Hasan as,kemudian saudaranya al-Husein as, sedang yang terakhir ialah al-Mahdi. Sebagaimana tersebut dalam hadis berikut ini :</p>
<p>Shahibu Yanabi’ al-Mawaddah telah meriwayatkan dalam kitabnya, dia berkata, “Seorang Yahudi disebut al-A’tal datang kepada Nabi Muhammad saww, dan ia berkata, “Hai Muhammad, saya menayakan kepadamu perkara-perkara yang telah terdetak dalam dadaku semenjak beberapa waktu, jika engkau dapat menjawabnya niscaya saya akan menyatakan masuk Islam di tanganmu.’Beliau menjawab, ‘Tanyalah! hai Aba Ammarah, maka ia menanyakan beberapa perkara yang sijawab oleh Nabi saww dan ia membenarkan, kemudian ia menanyakan, ‘Beritahukanlah padaku tentang penerimaan wasiatmu, siapakah ia itu? karena tidak seorang Nabi pun kecuali ia mempunyai seorang penerima wasiat, dan sesungguhnya Nabi kami Musa bin Imran telah berwasiat kepada Yusa’ bin Nun.’ Maka beliau bersabda, ‘Sesungguhnya penerima wasiatku adalah ‘Ali bin Abi Thalib dan setelahnya adalah kedua cucuku al-Hasan dan al-Husein kemudian beliau menyebutkan sembilan Imam dari tulang sulbi al-Husein. ‘Lalu ia berkata, ‘Ya Muhammad, sebutkanlah nama-nama mereka kepadaku!’ Beliau bersabda, “Bila al-Husein telah berlalu maka diganti oleh anaknya “Ali, bila ‘Ali telah berlalu maka diganti anaknya Muhammad, bila Muhammad berlalu maka diganti anaknya Ja’far, Musa, ‘Ali, Muhammad, ‘Ali, Hasan, al Hujjah Muhammad al-Mahdi as, maka itu semuanya adalah dua belas orang Imam.’ Kemudian orang Yahudi itu pun masuk Islam dan ia memuji Aallah SWT karena petunjuk-Nya.”</p>
<p>.</p>
<h2 id="post-542">Ayat Wilayah – al Maidah 55-56</h2>
<p>Surah Al-Mā`idah : 55-56</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em><strong>“Sesungguh pemimpin kalian hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman. Yaitu orang-orang yang memberikan zakat ketika sedang ruku’. Barang siapa yang berwilayah kepada Allah dan Rasul-Nya serta orang yang beriman, sesungguhnya hizbullah adalah orang-orang yang jaya”</strong></em></p>
<p>Ayat ini turun berkenaan dengan Imam Ali bin Abi Thalib a.s. ketika beliau memberi sedekah kepada pengemis saat ruku’. Silahkan rujuk:</p>
<p>1.<em>Syawāhidut Tanzīl</em>, Al-Hakim Al-Haskani Al-Hanafi, juz 1, hal. 161-184, hadis ke 216, 217, 218, 219, 221, 223, 224, 225, 226, 227, 228, 229, 230, 231, 232, 233, 234, 235, 236, 237, 238, 239, 240 dan 241, cetakan Beirut.</p>
<p>2.<em>Asbābun Nuzūl</em>, Al-Wahidi An-Naisaburi, hal. 113, cetakan Al-Halabi, Mesir; hal. 148, cetakan Al-Hindiyah.</p>
<p>3.<em>Manaqib Al-Imam Ali bin Abi Thalib</em>, Ibnul Maghazili Asy-Syafi’i, hal. 311, hadis ke 354, 355, 356, 357 dan 358.</p>
<p>4.<em>Kifāyatut Thālib</em>, Al-Ganji Asy-Syafi’i, hal. 228, 250, 251, cetakan Al-Haidariyah; hal. 106, 122, 123, cetakan Al-Ghira.</p>
<p>5.<em>Dzakhā`irul ‘Uqbā</em>, Muhibuddin Ath-Thabari Asy-Syafi’i, hal. 88 dan 102.</p>
<p>6.<em>Al-Manāqib</em>, A-Kharazmi Al-Hanafi, hal. 187.</p>
<p>7.<em>Tarjamah Al-Imam Ali bin Abi Thalib</em> dalam <em>Tārīkh Dimasyq,</em> karya Ibnu Asakir Asy-Syafi’i, juz 2, hal. 409, hadis ke 908 dan 909.</p>
<p>8.<em>Al-Fushūlul Muhimmah,</em> karya Ibnu Shabbagh Al-Maliki, hal. 123 dan 108.</p>
<p>9.<em>Ad-Durrul Mantsūr,</em> karya As-Suyuthi, juz 2, hal. 293.</p>
<p>10.<em>Fathul Qadīr,</em> karya Asy-Syaukani, juz 2, hal. 53.</p>
<p>11.<em>At-Tashīl li ‘Ulūmit Tanzīl,</em> karya Al-Kalbi, juz 1, hal. 181.</p>
<p>12.<em>Al-Kasysyāf,</em>karya Az-Zamakhsyari, juz 1, hal. 649.</p>
<p>13.<em>Tafsir Ath-Thabari,</em> juz 6, hal. 288-289.</p>
<p>14.<em>Tafsir Al-Munīr li Ma’ālimit Tanzīl,</em> Al-Jawi, juz 1, hal. 210.</p>
<p>15.<em>Zādul Mashīr fī ‘Ilmit Tafsīr</em>, Ibn Jauzi AI-Hanbali, juz 2, hal. 383.</p>
<p>16.<em>Fathul Bayān fī Maqāshidil Qurān,</em> juz 3, hal. 51.</p>
<p>17.<em>Tafsir Al-Jalālain,</em> hal. 213.</p>
<p>18.<em>Yanābī’ul Mawaddah,</em> karya Al-Qundusi, hal. 115, cetakan Istambul; hal. 135, cetakan Al-Haidariyah.</p>
<p>19.<em>Tafsir Fakhur Razi</em> juz 12 hal. 26 dan 20, cetakan Al-Bahiyah, Mesir; juz 3, hal. 431, cetakan Ad-Dar Al-’Amirah, Mesir.</p>
<p>20.<em>Tafsir Ibnu Katsir,</em> juz 2, hal. 71, cetakan Dar Ihya’ Al-Kutub.</p>
<p>21.<em>Ahkāmul Qurān,</em> karya Al-Jashshash, juz 4, hal. 102, cetakan Abdurrahman Muhammad.</p>
<p>22.<em>Majma’uz Zawā`id,</em> juz 7, hal. 17.</p>
<p>23.<em>Syarah Nahjul Balāghah,</em> karya Ibnu Abil Hadid, juz 13, hal. 277, cetakan Mesir, dengan <em>Tahqiq</em> Muhammad Abul Fadhl; juz 3, hal. 275, cetakan pertama, Mesir.</p>
<p>24.<em>Ash-Shawā’iqul Muhriqah,</em> karya Ibnu Hajar, hal. 24, cetakan Maimaniyah; hal. 39, cetakan Al-Muhammadiyah.</p>
<p>25.<em>Ansābul Asyrāf,</em> karya Al-Baladzuri, juz 2, hal. 150, hadis ke 151, cetakan Beirut.</p>
<p>26.<em>Tafsir An-Nasafi,</em> juz 1, hal. 289.</p>
<p>27.<em>Al-Hāwi Lil Fatāwā,</em> karya As-Suyuthi, juz 1, hal. 138 dan 140.</p>
<p>28.<em>Kanzul ‘Ummāl</em>, juz 45, hal. 146, hadis ke 416; hal. 95, hadis 269, cetakan kedua.</p>
<p>29.<em>Muntakhab Kanzul ‘Ummāl</em> (Catatan pinggir) <em>Musnad</em> Ahmad, juz 5, hal. 38.</p>
<p>30.<em>Jāmi’ul Ushūl</em>, juz 9, hal. 478.</p>
<p>31.<em>Ar-Riyādhun Nādhirah</em>, juz 2, hal. 273 dan 302.</p>
<p>32.<em>Ihqāqul Haqq</em>, juz 2, hal. 399.</p>
<p>33.<em>Al-Ghadīr</em>, karya Al-Amini, juz 2, hal. 52; juz 3, hal. 156.</p>
<p>34.<em>Mathālibus Sa`ūl</em>, karya Ibnu Thalhah Asy-Syafi’i, hal. 31, cetakan Tehran; juz 1, hal. 87, cetakan Najaf.</p>
<p>35.<em>Ma’ālimut Tanzīl </em>(Catatan pinggir) <em>Tafsir Al-Khāzin</em>, juz 2, hal. 55.</p>
<p>36.<em>Farā`idus Simthain</em>, juz 1, hal. 11 dan 190, hadis ke: 150, 151,dan 153.</p>
<p>.</p>
<p>Seandainya kita mau membuka lembaran kitab-kitab Syi’ah dan apa yang terkandung di dalamnya, dari hal kebenaran khususunya tentang masalah ini niscaya kita akan mendapatkan lebih banyak dari itu. Tapi cukuplah bagi kita sebagai bukti bahwa Ahlussunnah wal Jama’ah mengakui jumlah para Imam yang ke-12 itu, dan tidak terwujud para Imam itu selain ‘Ali dan anak-anaknya yang telah disucikan. Dan yang dapat menambahkan kayakinan bagi kita ialah, bahwa Imam yang ke-12 dari Ahlulbait itu tidka pernah belajar pada satu orang pun dari para ulama umat ini, tidak ada yang meriwayatkan pada kita baik para ahli tarikh maupun ahli hadis dan sejarawan, bahwa salah seorang Imam dari Ahlulbait itu mendapatkan ilmunya dari sebagian sahabat atau tabi’in sebagaimana halnya para ulama umat dan para imam mereka.</p>
<p>Sebagaimana Abu Hanifah belajar kepada Imam Ja’far ash -Shadiq dan Malik belajar kepada Abu Hanifah sedang Syafi’i mendapat ilmu dari Malik dan ia mengambil darinya, begitu pula Ahmad bin Hanbal. Adapun para imam Ahlulbait maka ilmu mereka adalah merupakan pemberian dari Allah SWT yang mereka mewarisi dari Bapak yang berasal dari datuk mereka, mereka itulah yang diistimewakan oleh Allah SWT dengan firmannya:</p>
<p>“Kemudian kami mewariskan kitab pada orang-orang yang telah kami pilih dari antara hamba-hamba Kami.” (QS.Fathir:32)</p>
<p>Imam Ja’far ash-Shadiq pernah menyatakan tentang hakikat tersebut sekali waktu dengan ungkapannya, “Sungguh mengherankan orang-orang itu, mereka mengatakan bahwa mereka mengambil ilmu seluruhnya dari Rasulullah saww dan mengamalkannya serta mendapat petunjuk ! Kemudian mereka mengatakan bahwa kami Ahlulbait tidak mengambil ilmu beliau dan tidak mendapat petunjuk, padahal kami adalah keluarga dan keturunan beliau, di rumah kamilah wahyu itu diturunkan dan dari sisi kami ilmu itu keluar kepada manusia, apakah Anda menganggap mereka berilmu dan mendapat petunjuk sedangkan kami bodoh dan tersesat…?”</p>
<p>Ya, bagaimana Imam ash-Shadiq tidak mengherankan mereka itu yang mendakwahkan diri telah mengambil ilmu dari Rasulullah saww, padahal mereka memusuhi Ahlulbait beliau dan pintu ilmunya yang melalui dirinya ilmu itu diberikan, bagaimana tidak mengherankan penempatan nama Ahlussunnah, padahal mereka sendiri penentang sunah itu. Dan bila Syi’ah sebagaimana telah disaksikan oleh sejarah, mereka itu mengistimewakan ‘Ali dan membelanya serta mereka berdiri tegak menentang musuhnya, memerangi orang yang memeranginya, dan damai dengan orang yang damai dengannya dan mereka telah mengambil seluruh ilmu darinya. Maka Ahulussunnah wal Jama’ah itu tidaklah mengikuti dan ingin membinasakannya, dan mereka telah meneruskan sikap itu terhadap anak keturunan setelahnya dengan pembunuhan, penjara, dan pengusiran. Mereka telah bertentangan dengannya dalam kebanyakan hukum dengan dasar mengikuti para pendakwah ilmu pengetahuan yang mereka itu saling berselisih sesuai dengan pendapat dan ijtihad mereka dalam perkara hukum Allah, lalu mereka menggantikannya sesuai dengan hawa nafsu dan kepentingan yang mereka tuju.</p>
<p>Dan bagaimana kita sekarang tidak heran terhadap orang-orang yang mendakwahkan mengikuti sunah Nabi saww, dan menyetakan sendiri telah meninggalkan sunah Nabi saww karena ia telah menjadi Syi’ah bagi Syi’ah , bukanlah ini merupakan hal yang mengherankan?</p>
<p>Bagaimana kita tidak heran terhadap orang-orang yang mendakwahkan diri sebagai Ahlussunnah wal Jama’ah, sedang mereka merupakan kelompok yang banyak, seperti pengikut Maliki, Hanafi, Syafi’i dan Hambali yang mereka itu saling berselisih sebagian dengan lainnya dala hukum-hukum fiqih dan menganggap bahwa perselisihan itu adalah merupakan suatu rahmat bagi mereka, sehingga dengan demikian agama Allah SWT menjadi lampiasan hawa nafsu dan pendapat serta sasaran selera diri mereka. Memang benarlah, bahwa mereka adalah kelompok terbanyak yang saling berpecah-belah dalam hukum Allah SWT dan Rasul-Nya, tetapi mereka bersatu dan bersepakat dalam mengesakan kekhalifahan Saqifah yang durhaka dan bersepakat dalam meninggalkan dan menjauhkan keluarga Nabi saww, yang Suci.</p>
<p>Bagaimana kita tidak heran terhadap mereka itu yang membanggakan diri sebagai Ahlussunnah, padahal mereka telah meninggalkan yang berharga yakni Kitabullah dan keluarga Rasul betapapun mereka sendiri telah meriwayatkan hadis tersebut dan menshahihkannya…? Sesungguhnya mereka itu tidak berpegang baik pada Al-Qur’an maupun pada keluarga Rasul, sebab dengan meninggalkan keluarga Rasul yang suci itu berarti mereka telah meninggalkan Al-Qur’an, karena hadis yang mulia menetapkannya bahwa Al-Qur’an dan keluarga Rasul itu tidak pernah berpisah selama-lamanya, sebagaimana Rasulullah telah menyatakan hal itu dengan sabdanya:</p>
<p>“Tuhan Yang Maha Halus lagi Maha Sadar telah memberitahukan padaku bahwa keduanya yakni Aal-Qur’an dan keluarga Rasul tidak akan pernah berpisah sehingga menemui aku di telaga surga.”</p>
<p>Dan bagaimana kita tidak heran kepada kaum yang mendakwahkan diri sebagai Ahlussunnah padahal mereka bersikap menentang terhadap apa yang telah ditetapkan dalam kitab shahih mereka dari hal perbuatan Nabi saww dan perintahnya serta larangannya.</p>
<p>Adapun bila kita meyakini dan membenarkan hadis, “aku tinggalkan pada kalian Kitabullah dan sunahku, selama kalian berpegang pada keduanya niscaya kalian tidak akan sesat selama-lamanya.” Sebagaimana yang telah ditetapkan bagi sebagian Ahlussunnah sekarang ini, maka keheranan itu akan menjadi lebih besar dan kecelakaan itu akan lebih jelas. Karena justru para tokoh mereka dan imam mereka itulah orang-orang yang telah membakar sunah yang telah ditinggalkan Rasulullah saww di kalangan mereka, dan telah mencegah periwayatannya dan penulisannya sebagaimana yang telah kita ketahui dalam pembahasan terdahulu.</p>
<p>Umar bin khatab sendiri dengan terang-terangan telah menyatakan ucapan, “Cukup bagi kami Kitabullah,” itu adalah merupakan penolakan yang nyata terhadap Rasulullah saww, sedangkan orang yang menolak Rasulullah berarti menolak Allah SWT sebagaimana hal itu tak bisa disembunyikan lagi. Ucapan Umar bin Khathab tersebut telah diriwayatkan oleh seluruh hadis-hadis shahih Ahlussunnah termasuk di dalamnya Bukhari dan Muslim. Apabila Nabi saww telah bersabda, “Aku telah tinggalkan pada kalian Kitabullah dan sunahku, dan kami tidak membutuhkan sunahmu, dan bila Umar telah berkata dihadapan Nabi saww, “Cukup bagi kami Kitabullah, maka sesungguhnya Abu Bakar telah menguatkan untuk mewujudkan pandangan temannya itu lalu ia menyatakan setelah menjadi Khalifah:</p>
<p>Janganlah kalian meriwayatkan suatu hadis dari Rasulullah saww, maka jika seseorang bertanya pada kalian, katakanlah di antara mereka kita dan kalian ada Kitabullah, maka halalkanlah apa yang telah dihalalkannya dan haramkanlah apa yang telah diharamkan.</p>
<p>Bagaimana kita tidak heran terhadap kaum yang telah meninggalkan sunah Nabi saww mereka dan membelakanginya lalu mereka menggantikan kedudukannya dengan suatu bid’ah yang mereka perbuat yang mana tidak diizinkan oleh Allah SWT, kemudian mereka menamakan diri dan pengikutnya dengan Ahlussunnah wal Jama’ah…? Tetapi keheranan tersebut akan musnah ketika kita katahui bahwa Abu Bakar, Umar, dan Utsman sebenarnya tidak mengenal pemberian nama tersebut selama-lamanya. Inilah Abu Bakar yang telah menyatakan:</p>
<p>Jika kalian membebani aku dengan sunah Nabi saww, niscaya aku tidak akan mampu.</p>
<p>Bagaimana mungkin Abu Bakar tidak mampu menjalankan sunah Nabi saww? Apakah sunah beliau itu suatu perkara yang mustahil dilaksanakan.</p>
<p>Sehingga Abu bakar tidak mampu? Bagaimana Ahlussunnah bisa mendakwahkan diri berpegang padanya jika tokoh mereka yang pertama dan pembina mazhab mereka itu tidak mampu melaksanakan sunah? Bukankah Allah SWT menyatakan, “Pada diri Rasulullah suatu tauladan yang baik bagi kalian .” (QS. al-Ahzab:21) dan firman-Nya, “Allah tidak membebani seseorang kecuali semampunya.” (QS. at-Thalaq:7) Dan juga firman-Nya, “Dan tidak menjadikan suatu kesulitan bagi kalian dalam agama.” (QS. al-Haj :78)</p>
<p>Apaakah Abu Bakar dan temannya Umar menganggap bahwa Rasulullah telah menciptakan suatu agama yang bukan diturunkan oleh Allah SWT, lalu beliau memerintah kaum Muslim ini dengan sesuatu yang tak terangkat dan membebani mereka dengan kesuliatan? Hal itu tidak mungkin, bahkan yang sering beliau katakan yakni, “Gembirakanlah dan jangan jadikan mereka lari, mudahkanlah dan jangan kalian mempersulit, sesungguhnya Allah SWT telah memberi kalian keringanan maka jangan kalian memberatkan diri kalian sendiri.” Tetapi pengakuan Abu Bakar bahwa ia tidak mampu melaksanakan sunah Nabi saww itu adalah menguatkan apa yang menjadi pendapat kami bahwa ia telah melakukan suatu bid’ah yang mampu ia laksanakan sesuai dengan keinginannya dan sejalan dengan politik yang ia kuasai. Dan mungkin Umar bin Khathab berpandangan yang lain, bahwa hukum-hukum Al-Qur’an dan sunah itu tak mampu dilaksanakan, lalu ia sengaja meninggalkan shalat ketika ia junub sedangkan air tidak didapatinya dan ia berfatwa demikian di saat kekhalifahannya, sedang orang khusus dan yang umum telah mengetahui hal itu dan seluruh ahli hadis telah meriwayatkan itu darinya.</p>
<p>Hal itu dikarenakan Umar adalah orang yang gemar banyak bersetubuh dan dialah yang disinggung oleh firman Allah SWT, “Allah mengetahui bahwa kalian mengkhianati diri kalian lalu Dia mengampuni kalian.” (Qs. al-Baqarah: 187) Ini lantaran ia tidak mampu menahan diri dari bersetubuh di waktu puasa, dan dikarenakan air sangat sedikit maka Umar berpendapat bahwa yang paling mudah ialah meningalkan shalat dan bersantai-santai sampai ia mendapatkan air yang mencukupi untuk mandi, ketika itu baru ia kembali mengerjakan shalat.</p>
<p>Adapun Utsman maka ia benar-benar telah mengabaikan sunah Nabi saww sebagaimana yang telah dikenal, sehingga ‘Aisyah mengeluarkan baju Nabi saww dan berkata, “Sungguh Utsman telah menghancurkan sunah Nabi saww sebelum baju beliau sendiri menjadi rusak.” Sehingga ia dicela oleh para sahabat bahwa ia telah menentang sunah Nabi saww, dan sunah Abu Bakar, Umar dan mereka pun membunuhnya lantaran itu.</p>
<p>Mengenai Muawiyah, terserah apa yang Anda katakan, tidak mengapa, sesungguhnya ia telah meninggalkan Al-Qur’an dan sunah adalah dariku dan aku darinya, siapa yang mencaci ‘Ali sungguh telah mencaciku dan siapa yang mencaciku sungguh ia telah mencaci Allah SWT,” Kita dapati Muawiyah telah mengarahkan cacian dan kutukan padanya ia belum merasa cukup dengan itu sehingga ia memerintahkan seluruh wali-walinya dan para pegawainya untuk mencaci dan mengutuknya, siapa yang menolak di antara mereka maka ia disingkirkan dan dibunuh.</p>
<p>Dan kita telah mengetahui bahwa Muawiyah itu adalah orang yang telah menamakan dirinya dan pengikutnya sebagai Ahlussunnah wal jama’ah dalam rangka menentang penamaan Syi’ah sebagai pengikut kebenaran. Dan sebagian ahli sejarah meriwayatkan bahwa tahun dimana Muawiyah memegang penuh kekuasaan umat Islam, setelah mengadakan perjanjian dengan al-Hasan bin ‘Ali Thalib bin Abi Thalib, maka tahun itu dinamakan tahun jama’ah. Dan keheranan pun akan hilang ketika kita memahami bahwa kata-kata sunah itu tidak dimaksudkan oleh Muawiyah dan pengikutnya kecuali hanyalah pengutukan ‘Ali bin Abi Thalib dari atas mimbar-mimbar Islam pada setiap hari Jumat dan hari Raya.</p>
<p>Apabila Ahlussunnah wal Jama’ah itu merupakan rekayasa Muawiyah bin Abi Sofyan maka kita memohon pada Allah SWT agar mematikan kita di dalam bid’ah rafidhi yang telah dibina oleh ‘Ali bin Abi Thalib dan Ahlulbait (salam atas mereka). Anda tidak usah kaget wahai pembaca yang mulia, bila Ahlul bid’ah dan kesesatan itu menjadi Ahlussunnah wal Jama’ah sedang imam-imam yang suci dari Ahlulbait itu menjadi Ahli bid’ah.</p>
<p>Inilah al-Allamah Ibnu Khaldun yang termasuk ulama termasyhur dari Ahlussunnah wal Jama’ah, ia menyatakannya dengan tegas setelah ia memerinci mazhab-mazhab jumhur ia mengatakan, “Ahlulbait itu menjadi terasing karena aliran faham yang mereka adakan dan fiqih yang berlainan dan mereka telah membina mazhab mereka atas dasar pencacian sebagian sahabat.”</p>
<p>Wahai pembaca, bukankah saya telah katakan dari semula, seandainya Anda berbuat sebaliknya niscaya Anda benar/tepat. Maka jika orang-orang fasik dari kalangan Bani Umayah mereka itu adalah Ahlussunnah dan Ahlulbait itu adalah Ahli bid’ah seperti yang dikatakan Ibnu Khaldun, maka buat Islam ucapan selamat jalan dan buat dunia ucapan selamat datang.</p>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/syiahali.wordpress.com/38792/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/syiahali.wordpress.com/38792/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/syiahali.wordpress.com/38792/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/syiahali.wordpress.com/38792/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/syiahali.wordpress.com/38792/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/syiahali.wordpress.com/38792/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/syiahali.wordpress.com/38792/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/syiahali.wordpress.com/38792/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/syiahali.wordpress.com/38792/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/syiahali.wordpress.com/38792/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/syiahali.wordpress.com/38792/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/syiahali.wordpress.com/38792/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/syiahali.wordpress.com/38792/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/syiahali.wordpress.com/38792/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syiahali.wordpress.com&amp;blog=13635218&amp;post=38792&amp;subd=syiahali&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syiahali.wordpress.com/2012/01/27/abu-bakar-umar-dan-uthman-penentang-ahlul-bayt-nabi-saww/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0190a0488b1caa6078bb63692e7f1c0c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">syiahali</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>suatu bab tragis dalam sejarah bahwa walaupun hadis-hadis melalui kaum Khariji dan musuh-musuh keluarga Nabi diterima, namun bilamana rangkaian perawi meliputi nama seseorang dari kalangan keluarga Nabi, terdapat suatu keraguan untuk menerima hadis itu.</title>
		<link>http://syiahali.wordpress.com/2012/01/27/suatu-bab-tragis-dalam-sejarah-bahwa-walaupun-hadis-hadis-melalui-kaum-khariji-dan-musuh-musuh-keluarga-nabi-diterima-namun-bilamana-rangkaian-perawi-meliputi-nama-seseorang-dari-kalangan-keluarga-na/</link>
		<comments>http://syiahali.wordpress.com/2012/01/27/suatu-bab-tragis-dalam-sejarah-bahwa-walaupun-hadis-hadis-melalui-kaum-khariji-dan-musuh-musuh-keluarga-nabi-diterima-namun-bilamana-rangkaian-perawi-meliputi-nama-seseorang-dari-kalangan-keluarga-na/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jan 2012 02:59:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>syiahali</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syiahali.wordpress.com/?p=38790</guid>
		<description><![CDATA[KHOTBAH 209 Seseorang bertanya kepada Amirul Mukminin tentang hadis-hadis palsu yang diada-adakan orang, yang bertentangan dengan ucapan Nabi, yang terdapat di kalangan rakyat.[1]Atasnya Amirul Mukminin berkata: Sesungguhnya apa yang berada di kalangan rakyat itu adalah benar (haqq) dan batil (bâthil) sekaligus, benar (shidg) dan dusta (kidzb), menasakh dan dinasakhkan, yang umum dan yang khusus, yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syiahali.wordpress.com&amp;blog=13635218&amp;post=38790&amp;subd=syiahali&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><small><br />
</small></p>
<div>
<p>KHOTBAH 209<br />
Seseorang bertanya kepada Amirul<br />
Mukminin tentang hadis-hadis palsu<br />
yang diada-adakan orang, yang<br />
bertentangan dengan ucapan Nabi, yang<br />
terdapat di kalangan rakyat.[1]Atasnya<br />
Amirul Mukminin berkata:<br />
Sesungguhnya apa yang berada di<br />
kalangan rakyat itu adalah benar<br />
(haqq) dan batil (bâthil) sekaligus,<br />
benar (shidg) dan dusta (kidzb),<br />
menasakh dan dinasakhkan, yang umum<br />
dan yang khusus, yang jelas dan samar.<br />
Bahkan di zaman Nabi, ucapan-ucapan<br />
dusta telah diatributkan kepada beliau<br />
sedemikian rupa sehingga Nabi<br />
mengatakan dalam khotbah<br />
beliau, “Barangsiapa berdusta tentang<br />
saya maka sedialah tempatnya di<br />
neraka.” Orang-orang yang meriwayatkan<br />
hadis terbagi dalam empat jenis, tak<br />
lebih.[2]</p>
<p>Pertama: Kaum Munafik Pendusta<br />
Orang munafik adalah orang yang<br />
memamerkan keimanan dan mengambil<br />
wajah seorang Muslim; ia tak ragu-ragu<br />
berbuat dosa dan tidak menjauh dari<br />
kemungkaran; ia dengan sengaja<br />
mengatributkan hal-hal yang dusta<br />
kepada Rasulullah SAWW. Apabila orang<br />
tahu bahwa ia seorang munafik dan<br />
pembohong, mereka tidak akan menerima<br />
apa pun dari dia dan tidak akan<br />
mengukuhkan apa yang dikatakannya.</p>
<p>Sebaliknya, mereka katakan bahwa ia<br />
sahabat Nabi, ia telah bertemu dengan<br />
beliau, mendengar (kata-kata beliau)<br />
dari beliau dan mendapatkan<br />
(pengetahuan) dari beliau. Oleh karena<br />
itu mereka mendengarkan apa yang<br />
dikatakannya. Allah juga telah<br />
mempetingatkan kepada Anda tentang<br />
orang-orang munafik dan menggambarkan<br />
mereka sepenuhnya bagi Anda. Mereka<br />
telah berlanjut setelah Rasulullah.<br />
Mereka beroleh kedudukan dengan para<br />
pemimpin sesat dan pendakwah ke neraka<br />
melalui kepalsuan dan fitaah. Maka<br />
mereka menempatkan mereka (para<br />
munafik) itu pada jabatan-jabatan<br />
tinggi dan menjadikan mereka para<br />
pejabat di atas kepala-kepala rakyat<br />
dan menumpuk harta melalui mereka.<br />
Orang-orang selalu bersama para<br />
penguasa dan mengejar dunia ini,<br />
kecuali orang-orang kepada siapa Allah<br />
memberikan perlindungan. Ini yang<br />
pertama dari keempat golongan itu.</p>
<p>Kedua: Orang yang Keliru<br />
Kemudian ada orang yang mendengar<br />
(suatu ucapan) dari Rasulullah tetapi<br />
tidak menghafalnya sebagaimana adanya,<br />
melainkan menyimpulkannya. la tidak<br />
berdusta dengan sengaja. Lalu ia<br />
membawa ucapan itu dan<br />
meriwayatkannya, mengamalkannya dan<br />
mengaku bahwa, “Saya mendengarnya dari<br />
Rasulullah.” Apabila kaum Muslim itu<br />
mengetahui bahwa ia telah melakukan<br />
suatu kekeliruan dalam hal itu, mereka<br />
tidak akan menerimanya dari dia, dan<br />
apabila ia sendiri mengetahui bahwa ia<br />
keliru maka ia akan melepaskannya.</p>
<p>Ketiga: Orang yang Tak Tahu<br />
Orang yang ketiga adalah orang yang<br />
mendengar Rasulullah SAWW<br />
memerintahkan untuk melakukan sesuatu,<br />
dan kemudian Nabi melarang orang<br />
melakukannya, tetapi orang itu tidak<br />
mengetahuinya. Atau ia mendengar Nabi<br />
melarang orang terhadap sesuatu dan<br />
kemudian beliau mengizinkannya, tetapi<br />
orang itu tidak mengetahuinya. Dengan<br />
demikian ia memelihara dalam<br />
pikirannya apa yang telah dihapuskan<br />
dan tidak menahan hadis yang<br />
menggantikannya. Apabila ia tahu bahwa<br />
hal itu telah dihapus maka ia akan<br />
menolaknya, atau apabila kaum Muslim<br />
tahu, ketika mereka mendengarnya dari<br />
dia, bahwa hal itu telah dihapus, maka<br />
mereka akan menolaknya.</p>
<p>Keempat: Orang yang Menghafal dengan<br />
Benar<br />
Yang terakhir, yakni orang yang<br />
keempat, adalah orang yang tidak<br />
berbicara dusta terhadap Allah maupun<br />
terhadap Rasul-Nya. la benci akan,<br />
kepalsuan karena takut kepada Allah<br />
dan menghormati Rasulullah, dan tidak<br />
membuat kekeliruan, tetapi menahan (di<br />
pikirannya) tepat apa yang<br />
didengaraya, dan ia meriwayatkannya<br />
sebagaimana ia mendengarnya, tanpa<br />
menambah sesuatu atau meninggalkan<br />
sesuatu. la mendengar hadis yang<br />
menasakh, ia menahannya dan beramal<br />
menurutnya, dan ia mendengar tentang<br />
hadis yang sudah dinasakh dan<br />
menolaknya. la juga mengerti (tentang<br />
hal-hal) yang khusus dan yang umum,<br />
dan ia tahu yang umum dan yang khusus,<br />
dan menempatkan segala sesuatu pada<br />
kedudukannya yang semestinya.</p>
<p>Ucapan-ucapan Rasulullah biasanya<br />
terdiri dari dua jenis. yang satu<br />
khusus dan yang lainnya umum. Kadang-<br />
kadang seorang lelaki mendengar beliau<br />
tetapi ia tak tahu apa yang dimaksud<br />
Allah Yang Mahasuci dengannya atau apa<br />
yang dimaksud Nabi dengan itu. Secara<br />
ini si pendengar membawanya dan<br />
menghafalnya tanpa mengetahui maknanya<br />
dan maksudnya yang sesungguhnya, atau<br />
apa sebabnya. Kalangan sahabat<br />
Rasulullah semua tidak biasa<br />
mengajukan pertanyaan dan menanyakan<br />
maknanya kepada beliau; sebenarnya<br />
mereka selalu menginginkan seorang<br />
Badui atau orang asing datang dan<br />
menanyakan kepada beliau SAWW supaya<br />
mereka pun dapat mendengarkan.<br />
Bilamana suatu hal semacam itu terjadi<br />
pada saya, saya bertanya kepada beliau<br />
tentang artinya dan memeliharanya.<br />
Itulah sebab dan dasar perbedaan di<br />
kalangan orang tentang hadis-hadis<br />
mereka.•</p>
<p>—————————————<br />
—– ———————————-<br />
–</p>
<p>[1] Orang itu ialah Sulaim ibn Qais al-<br />
Hilali yang merupakan salah seorang<br />
periwayat hadis melalui Amirul<br />
Mukminin.</p>
<p>[2] Dalam Khotbah ini Amirul Mukminin<br />
membagi-bagi para periwayat hadis<br />
dalam empat kategori.</p>
<p>Kategori pertama, seseorang mengada-<br />
adakan sebuah hadis lalu<br />
mengatributkannya kepada Nabi. Hadis-<br />
hadis palsu ini dan diatributkan<br />
kepada beliau, dan proses ini<br />
berlanjut, dengan hasil munculnya<br />
banyak hadis baru. Ini suatu kenyataan<br />
yang tak tersangkal. Tetapi, bilamana<br />
seseorang menyangkalnya, basisnya<br />
bukan pengetahuan atau kearifan<br />
melainkan kebutuhan oratoris atau<br />
argumentatif. Maka, pada suatu<br />
ketika ‘Allamul Huda Sayid al-Murtadha<br />
berkesempatan bertemu dengan seorang<br />
ulama Sunni dalam konfrontasi dan pada<br />
kesempatan itu Sayid al-Murtadha<br />
membuktikan dengan fakta-fakta sejarah<br />
bahwa hasis-hadis tentang keutamaan<br />
para sahabat besar telah diada-adakan<br />
dan palsu. Atasnya, ulama Sunni itu<br />
membantah bahwa mustahil bahwa ada<br />
seorang berani mengucapkan suatu dusta<br />
terhadap Nabi dan mengada-adakan hadis<br />
sendiri lalu mengatributkannya kepada<br />
beliau. Sayid Murtadha mengatakan<br />
bahwa ada hadis Nabi<br />
menyebutkan, “Banyak hal-hal batil<br />
akan diatributkan kepada saya setelah<br />
saya mati, dan barangsiapa berkata<br />
dusta tentang saya sedialah<br />
kediamannya di neraka. (al-Bukhârî, I,<br />
h. 38, II, h. 102, IV, h. 207, VIII,<br />
h. 54; Muslim, VIII, h. 229; Abû<br />
Dawûd, III, h. 319-320; Tirmidzî, IV,<br />
h. 524, V, h. 35-36, 40, 199, 634; Ibn<br />
Mâjah, I, h. 13-15)</p>
<p>Apabila Anda memandang hadis ini<br />
benar, maka Anda harus menyetujui<br />
bahwa hal-hal batil telah diatributkan<br />
kepada Nabi; tetapi bila Anda<br />
memandangnya batil (palsu) maka ini<br />
akan membenarkan pendapat kami.”<br />
Namun, orang-orang itu berhati munafik<br />
dan yang biasa mengada-adakan “hadis”<br />
mereka sendiri untuk menciptakan<br />
bencana dan perpecahan dalam agama dan<br />
menyesatkan kaum Muslim yang<br />
berkeyakinan lemah. Mereka tetap<br />
bercampur dengan kaum Muslim<br />
sebagaimana mereka lakukan di masa<br />
hidup Nabi; dan sebagaimana mereka<br />
tetap sibuk dalam kegiatan-kegiatan<br />
membawa bencana dan kehancuran di hari-<br />
hari itu, demikian pula setelah Nabi<br />
pun mereka tak ragu-ragu untuk<br />
mengubah ajaran Islam dan mengubah<br />
wajahnya. Malah, di masa Nabi mereka<br />
selalu takut kalau-kalau beliau<br />
mengungkapkan tabir dan mempermalukan<br />
mereka, tetapi setelah wafatnya Nabi<br />
kegiatan munafik mereka meningkat dan<br />
mereka mengatributkan hal-hal batil<br />
kepada Nabi tanpa merisaukan akhir<br />
nasib mereka sendiri. Dan orang-orang<br />
yang mendengarkan mereka mempercayai<br />
mereka karena status mereka sebagai<br />
sahabat Nabi, dengan berpikir bahwa<br />
apa saja yang mereka katakan adalah<br />
tepat dan apa saja yang mereka berikan<br />
adalah benar. Kemudian, kepercayaan<br />
bahwa semua sahabat itu benar menjadi<br />
pembungkam lidah, yang menyebabkan<br />
mereka dianggap di luar kritik,<br />
pertanyaan, pembahasan dan sensor. Di<br />
samping itu, kineija mereka yang<br />
mencolok membuat meieka menonjol di<br />
mata pemerintah dan karena itu pula<br />
diperlukan keberanian untuk berbicara<br />
melawan mereka. Ini dibuktikan oleh<br />
kata-kata Amirul Mukminin,</p>
<p>“Orang-orang ini beroleh kedudukan<br />
pada para pemimpin kesesatan dan<br />
penyeru ke neraka, melalui kebatilan<br />
dan fitnah. Maka, mereka (penguasa)<br />
menempatkannya pada kedudukan tinggi<br />
dan menjadikannya pejabat di atas<br />
kepala rakyat.”</p>
<p>Bersama dengan penghancuran Islam,<br />
kaum munafik juga bertujuan menumpuk<br />
harta. Mereka berbuat demikian secara<br />
bebas sambil mengaku Muslim, yang<br />
karenanya mereka tidak hendak<br />
melepaskan kedok Islam dan keluar<br />
secara terbuka, melainkan meneruskan<br />
kegiatan setani mereka dalam jubah<br />
Islam dan menyibukkan diri dalam<br />
penghancurannya secara mendasar dan<br />
menyebarkan perpecahan dengan mengada-<br />
adakan hadis palsu. Sehubungan dengan<br />
ini Ibn Abil Hadîd menulis,</p>
<p>“Bilamana mereka dibiarkan bebas,<br />
mereka pun meninggalkan banyak hal.<br />
Bilamana rakyat berlaku diam tentang<br />
mereka, mereka pun berlaku diam<br />
tentang Islam, tetapi mereka terus<br />
melanjutkan kegiatan gelap mereka<br />
seperti pemalsuan hadis yang<br />
disinggung Amirul Mukminin, karena<br />
banyak hal yang tak benar telah<br />
dicampuradukkan dengan hadis oleh<br />
sekelompok orang yang berkepercayaan<br />
batil yang bertujuan sesat dan<br />
memutarbalikkan pandangan dan<br />
kepercayaan, sementara sebagian dari<br />
mereka juga bertujuan menonjol-<br />
nonjolkan suatu pihak tertentu dengan<br />
siapa mereka mempunyai tujuan-tujuan<br />
duniawi lain pula.”</p>
<p>Setelah lewatnya masa itu, ketika<br />
Mu’awiyah mengambil alih kepemimpinan<br />
agama dan menduduki tahta kekuasaan<br />
duniawi, ia membuka suatu bagian resmi<br />
untuk memproduksi hadis palsu, dan<br />
memerintahkan para pejabatnya untuk<br />
mengada-adakan hadis dan<br />
mempopulerkannya dalam menistakan<br />
Ahlulbait Nabi, dan dalam menonjol-<br />
nonjolkan ‘Utsman dan Bani Umayyah,<br />
dan menjanjikan hadiah dan pemberian<br />
tanah untuk perbuatan itu. Akibatnya,<br />
banyak hadis tentang keutamaan yang<br />
dibuat-buat beroleh jalan masuk ke<br />
dalam kitab-kitab hadis. Maka, Abul<br />
Hasan al-Madâ’inî menulis dalam<br />
kitabnya Kitab al-Ahdats dan dikutip<br />
oleh Ibn Abil Hadîd, yakni,</p>
<p>“Mu’awiah menulis kepada para<br />
pejabatnya bahwa mereka harus<br />
memperhatikan secara khusus orang-<br />
orang yang terpaut kepada ‘Utsman,<br />
para pembela dan pencintanya, untuk<br />
menghadiahkan kedudukan tinggi,<br />
keutamaan dan kehormatan kepada orang-<br />
orang yang mriwayatkan hadis-hadis<br />
tentang keutamaannya dan<br />
keislimeaannya, dan menyampaikan<br />
kepadanya apa saja yang diriwayatkan<br />
tentang seseorang, bersama namanya,<br />
nama ayahnya dan nama sukunya. Para<br />
pejabatnya berbuat sesuai dengan itu<br />
dan mengumpulkan hadis-hadis tentang<br />
keutamaan dan keistimewaan ‘Utsman,<br />
karena Mu’awiah biasa memberi hadiah,<br />
pakaian dan tanah kepada mereka.”</p>
<p>Bilamana hadis-hadis palsu tentang<br />
keutamaan ‘Utsman itu telah tersiar di<br />
seluruh kerajaan, maka dengan gagasan<br />
bahwa kedudukan para khalifah yang<br />
sebelumnya tak boleh tetap rendah,<br />
Mu’awiyah menulis kepada para<br />
pejabatnya,</p>
<p>“Segera setelah Anda menerima perintah<br />
saya ini, Anda harus memanggil rakyat<br />
untuk mempersiapkan hadis-hadis<br />
tentang keutamaan para sahabat dan<br />
para khalifah lain pula, dan<br />
perhatikanlah bahwa apabila seorang<br />
Muslim meriwayatkan suatu hadis<br />
tentang ‘Abfl Turab (‘Ali), Anda harus<br />
menyediakan suatu hadis yang sama<br />
tentang para sahabat untuk melawannya,<br />
karena hal ini memberikan kepada saya<br />
kegembiraan besar dan kesejukan di<br />
mata saya, dan hal itu melemahkan<br />
kedudukan Abu Turab dan orang-orang<br />
yang beipihak kepadanya, dan lebih<br />
keras terhadap mereka daripada<br />
keutamaan dan keistimewaan ‘Utsman.”</p>
<p>Ketika surat-suratnya dibacakan kepada<br />
rakyat, sejumlah besar hadis semacam<br />
itu diiiwayatkan, yang memuji-muji<br />
para sahabat, yang dibuat-buat tanpa<br />
mengandung kebenaran. (Syarh Nahjul<br />
Balâghah, XI, h. 43-47)</p>
<p>Dalam hubungan ini Abu ‘Abdullah<br />
Ibrahim ibn ‘Arafah yang dikenal<br />
sebagai Nifthawaih (244-323 H./856-935<br />
M.), ulama dan pakar hadis terkemuka,<br />
menulis, dan Ibn Abil Hadîd<br />
mengutipnya,</p>
<p>“Kebanyakan dari hadis palsu tentang<br />
keutamaan para sahabat dibikin di<br />
zaman Mu’awiah untuk beroleh kedudukan<br />
di hadapannya, karena menurut<br />
pandangannya dengan cara itu ia dapat<br />
menghina dan merendahkan Bani Hâsyim.”<br />
(ibid)</p>
<p>Setelah itu pemalsuan hadis menjadi<br />
suatu kebiasaan; para pencari dunia<br />
menjadikannya sarana untuk mendapatkan<br />
kedudukan di sisi para raja dan<br />
bangsawan, dan untuk mengumpul<br />
kekayaan. Misalnya, Ghiyât ibn Ibrahim<br />
an-Nakha’î (abad kedua Hijrah) membuat<br />
suatu hadis tentang terbangnya merpati<br />
untuk menghibur Khalifah ‘Abbasiah al-<br />
Mahdi ibn Manshflr dan beroleh<br />
kedudukan di sisinya. (Tarikh al-<br />
Baghdâdî, XH, h. 323-327; Mîzânu<br />
I’tidâl, m, h. 337-338; Lisân al-<br />
Mîzân, IV, h. 422). Abu Sa’id al-<br />
Madâ’inî dan lain-lain menjadikannya<br />
sarana untuk mencari rezeki. Puncaknya<br />
ercapai ketika al-Karramiyyah dan<br />
sebagian al-Mutashawwifah memberikan<br />
penetapan bahwa mengada-adakan hadis<br />
untuk mencegah dosa atau untuk<br />
meyakinkan ke arah ketaatan adalah<br />
halal. Akibatnya, sehubungan dengan<br />
amar makruf nahi mungkar, hadis-hadis<br />
diada-adakan dengan bebas, dan ini<br />
tidak dipandang bertentangan dengan<br />
hukum agama atau moral. Malah<br />
pekerjaan ini pada umumnya dilakukan<br />
oleh orang-orang yang berpenampilan<br />
pertapa atau takwa, yang melewati<br />
malamnya dalam salat dan doa dan<br />
mengisi siang harinya dengan daftar<br />
pembuatan hadis palsunya. Suatu<br />
gagasan tentang jumlah hadis palsu ini<br />
dapat diperoleh pada kenyataan bahwa<br />
dari 600.000 hadis, al-Bukhari memilih<br />
2.761 hadis (Târîkh al-Baghdâdî, II,<br />
h. 8; Shifatush-Shafwah, IV, h. 143),<br />
Muslim merasa pantas memilih 4.000<br />
dari 300.000 (Târîkh Al-Baghâdî, XIII,<br />
h. 101; al-Muntazham, V, h. 32;<br />
Thabaqât al-Huffâzh, II, h. 151, 157;<br />
Wafayât al-A’yân, V, h. 194). Abu<br />
Dawud mengambil 4.800 dari 500.000<br />
(Târîkh al-Baghdâdî, IX, h. 57;<br />
Thabaqât al-Huffâzh, II, h. 154; al-<br />
Muntazham, V, h. 97; Wafayât al-<br />
A ‘yân, II, h. 404; dan Ahmad ibn<br />
Hanbal mengambil 30.000 dari hampir<br />
1.000.000 hadis (Târîkh al-Baghdâdî,<br />
IV, h. 419-420; Thabaqât al-Huffâzh,<br />
II, h. 17; Wafayât al-A’yân, I, h. 64;<br />
Tahdzîb at-Tahdzîb, I, h. 74). Akan<br />
tetapi, bila pilihan ini dikaji,<br />
beberapa hadis darinya sama sekali<br />
mustahil diatributkan kepada Nabi.<br />
Hasilnya ialah bahwa sekelompok besar<br />
telah muncul di kalangan kaum Muslim<br />
yang, mengingat kitab-kitab yang<br />
disebut koleksi hadis yang otoritatif<br />
dan benar ini, sepenuhnya menolak<br />
nilai pembuktian hadis. (Untuk rujukan<br />
selanjutnya, lihatlah al-Ghadîr, V, h.<br />
208-378)</p>
<p>Kategori kedua, para perawi hadis<br />
adalah orang-orang yang, tanpa menilai<br />
waktu atau konteksnya, meriwayatkan<br />
apa saja yang mereka ingat, benar atau<br />
salah. Maka, dalam al-Bukhari (jilid<br />
II, h. 100-102; jilid V, h. 98),<br />
Muslim (jilid III, h. 41-45); Tirmidzi<br />
(jilid III, h. 327-329); an-Nasa’i<br />
(jilid IV, h. 18); Ibn Majah (jilid I,<br />
h. 508-509); Malik ibn Anas (al-<br />
Muwaththa’, jilid I, h. 234; Syafi’i<br />
(Ikhtilâful Hadîs, pada garis pinggir<br />
tentang “al-Umm”, jilid VII, h. 41,<br />
42) dan al-Baihaqi (jilid IV, h. 72-<br />
74) dalam bab berjudul “Menangisi<br />
Orang Mati” dinyatakan bahwa ketika<br />
Khalifah ‘Umar terluka, Shuhaib datang<br />
kepadanya sambil menangis, lalu ‘Umar<br />
berkata,</p>
<p>“Ya Shuhaib, janganlah menangisi saya,<br />
sedang Nabi telah mengatakan bahwa<br />
orang mati dihukum apabila kaumnya<br />
menangisinya.”</p>
<p>Setelah meninggalnya Khalifah ‘Umar,<br />
ketika hal ini disebutkan<br />
kepada ‘A’isyah, ia berkata, “Semoga<br />
Allah menaruh kasihan kepada ‘Umar.<br />
Rasulullah tidak mengatakan bahwa<br />
menangisi kerabat menyebabkan hukuman<br />
kepada si mati; beliau mengatakan<br />
bahwa hukuman bagi seorang kafir<br />
bertambah apabila kaumnya<br />
menangisinya.” Setelah itu ‘A’isyah<br />
mengatakan bahwa menurut Al-Qur’an tak<br />
seorang pun akan memikul beban (dosa)<br />
orang lain, maka mengapa beban (dosa)<br />
orang yang menangisi akan ditimpakan<br />
kepada si mati. Setelah itu ‘A’isyah<br />
mengutip ayat,</p>
<p>“… Dan tidaklah seorang membuat dosa<br />
melainkan kemudaratannya kembali<br />
kepada dirinya sendiri….” (QS.<br />
6:164; 17:15; 35:18; 39:7; 53:38)</p>
<p>Istri Nabi, ‘A’isyah, meriwayatkan<br />
bahwa pada suatu hari Nabi melewati<br />
seorang wanita Yahudi yang sedang<br />
ditangisi kaumnya. Nabi lalu<br />
berkata, “Kaumnya sedang menangisinya<br />
tetapi ia sedang mengalami hukuman di<br />
kubur.”</p>
<p>Kategori ketiga, periwayat hadis<br />
adalah orang-orang yang mendengar<br />
hadis yang telah dinasakh dari Nabi<br />
tetapi tidak mendapat kesempatan untuk<br />
mendengarkan hadis yang menasakhnya<br />
yang dapat dihubungkannya kepada hadis<br />
yang dinasakh. Suatu contoh hadis yang<br />
menasakh ialah ucapan Nabi yang<br />
mengandung rujukan kepada hadis yang<br />
telah dinasakh, yakni, “Saya<br />
(dahulunya) telah melarang Anda<br />
menziarahi kubur, tetapi sekarang Anda<br />
boleh menziarahinya.” (Muslim, III, h.<br />
65; Tirmidzî, II, h. 370; Abu Dawud,<br />
III, h, 218, 332; an-Nasa’i, IV, h.<br />
89; Ibn Majah, I, h. 500-501; Mâlik<br />
ibn Anas, II, h. 485; Ahmad ibn<br />
Hanbal, I, h. 145, 452; II, h. 38, 63,<br />
66, 237, 350; V, h. 350, 355, 356,<br />
357, 359, 361; al-Hakim, al-Mustadrak,<br />
I, h. 374-376; dan al-Baihaqi, IV, h.<br />
76-77). Di sini izin ziarah kubur<br />
telah menasakh larangan sebelumnya.<br />
Sekarang, orang yang hanya<br />
mendengarkan hadis yang telah dinasakh<br />
itu terus bertindak sesuai dengan itu.</p>
<p>Kategori keempat, periwayat hadis<br />
ialah orang-orang yang sepenuhnya<br />
mengetahui prinsip-prinsip keadilan,<br />
memiliki kecerdasan dan kearifan,<br />
mengetahui saat ketika suatu hadis<br />
mula-mula diucapkan Nabi, dan juga<br />
mengenali hadis-hadis yang menasakh<br />
dan yang dinasakh, yang khusus dan<br />
yang umum, dan yang bersifat sementara<br />
dan yang mutlak. Mereka menjauhi<br />
kebatilan dan pemalsuan. Segala yang<br />
mereka dengar tetap terpelihara dalam<br />
ingatan mereka, dan mereka<br />
menyampaikannya dengan tepat kepada<br />
orang lain. Hadis-hadis dari merekalah<br />
yang merupakan milik Islam yang amat<br />
berharga, bebas dari penipuan dan<br />
pemalsuan, dan patut diandalkan dan<br />
diamalkan. Koleksi hadis-hadis yang<br />
telah disampaikan melalui pribadi<br />
seperti Amirul Mukminin dalam<br />
pengetahuan Islam tetap terbebas dari<br />
pemotongan, pemangkasan, atau<br />
perubahan, secara tegas menyuguhkan<br />
Islam dalam bentuknya yang sebenarnya.<br />
Kedudukan Amirul Mukminin telah<br />
terbukti dengan amat pasti melalui<br />
hadis-hadis berikut dari Nabi,<br />
seperti: Amirul Mukminin, Jabir<br />
ibn ‘Abdullah, Ibn ‘Abbas<br />
dan ‘Abdullah ibn ‘Umar telah<br />
meriwayatkan dari Nabi bahwa beliau<br />
berkata,</p>
<p>“Saya adalah kota ilmu dan ‘Ali adalah<br />
pintunya. Orang yang hendak<br />
mendapatkan ilmu (saya) harus datang<br />
melalui pintunya.” (al-Mustadrak, III,<br />
h. 126-127; al-Istî’âb, III, h. 1102;<br />
Usd al-Ghâbah, IV, h. 22; Tarikh al-<br />
Baghdâdî, II, h. 377; Vn, h. 172; XI,<br />
h. 48-50; Tadzkirah al-HuffâTh, Majma’<br />
az-Zawâ’id, X, h. 114; Tahdzîb at-<br />
Tahdzîb, VI, h. 320; VII, h. 337;<br />
Lisân al-Mîzân, II, h. 122-123; Târîkh<br />
al-Khulafâ’, h. 170; Kanz al-’Ummâl,<br />
VI, h. 152, 156, 401); ‘Umdah al-Qârî,<br />
VII, h. 631; Syarh al-Mawâhib al-<br />
Ladunniyyah, III, h. 143)</p>
<p>Amirul Mukminin dan Ibn ‘Abbas juga<br />
telah meriwayatkan dari Nabi (saw)<br />
bahwa:</p>
<p>“Saya adalah gudang kearifan dan ‘Ali<br />
adalah pintunya. Orang yang hendak<br />
mendapatkan kearifan harus datang<br />
melalui pintunya.” (Hilyah al-Auliyâ’,<br />
I, h. 64; Mashâbih as-Sunah, II, h.<br />
275; Târîkh al-Baghdâdî, XI, h. 204;<br />
Kanz al-’Ummâl, VI, h. 401; ar-Riyâdh<br />
an-Nadhirah, II, h. 193)</p>
<p>Alangkah baiknya apabila manusia dapat<br />
mengambil berkah Nabi melalui sumber-<br />
sumber pengetahuan ini. Tetapi adalah<br />
suatu bab tragis dalam sejarah bahwa<br />
walaupun hadis-hadis melalui kaum<br />
Khariji dan musuh-musuh keluarga Nabi<br />
diterima, namun bilamana rangkaian<br />
perawi meliputi nama seseorang dari<br />
kalangan keluarga Nabi, terdapat suatu<br />
keraguan untuk menerima hadis itu</p>
<p>.</p>
<div>
<p><strong>Kedudukan Imam 12 Mengikut Madzhab Syiah</strong></p>
<p>Syiah Imamiah melandaskan kepercayaan mereka bahawa Imam Dua Belas lebih mulia dari para Nabi yang mursal, kepada al-Qur’an dan hadith-hadith Nabi SAWAW. Adapun al-Qur’an, mereka merujuk kepada Surah al-Baqarah, ayat 124 yang bermaksud:</p>
<p>“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim di uji TuhanNya dengan beberapa kalimat, lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu Imam bagi seluruh manusia.” Ibrahim berkata:“(Dan saya pohon juga) dari keturunanku.” Allah berfirman: “Janjiku(ini) tidak mengenai orang yang zalim.”</p>
<p>Ayat ini diturunkan selepas Nabi Ibrahim diuji dengan beberapa ujian dan selepas itu baru beliau dilantik menjadi Imam.</p>
<p>Imam Ja’far al-Sadiq AS berkata: Sesungguhnya Allah SWT telah mengambil Ibrahim sebagai seorang hamba, sebelum Dia mengambilnya menjadi nabi. Dan sesungguhnya Dia  mengambilnya menjadi nabi sebelum Dia mengambilnya menjadi rasul, dan Dia mengambilnya menjadi rasul sebelum beliau menjadi Khalil, dan beliau menjadi Khalil sebelum beliau menjadi Imam. Manakala Allah SWT menghimpunkan semua perkara itu, iaitu kenabian, kerasulan, kekhalilan, Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikan kamu Imam kepada seluruh manusia. Lalu Ibrahim berkata:Kesemua keturunanku? Allah berfirman: JanjiKu tidak mengenai orang yang zalim.”</p>
<p>Imam Ja’far al-Sadiq AS berkata: “Orang yang bodoh tidak boleh menjadi Imam yang taqwa.”(al-Kafi oleh al-Kulaini, Jilid II, 185).</p>
<p>Al-Alamah Tabatabai dalam Tafsir al-Mizan, Vol. I hlm. 277 menegaskan  bahawa ayat ini memberi beberapa keistimewaan antaranya:</p>
<ol>
<li>Imam itu adalah dilantik oleh Allah.</li>
<li>Imam wajib terpelihara maksum dan peliharaan Allah.</li>
<li>Bumi yang wujud manusia tidak terlepas dari Imam yang hak.</li>
<li>Imam wajib disokong/ditolong oleh Allah.</li>
<li>Wajib beliau seorang yang alim dengan segala yang diperlukan oleh manusia dalam urusan keduniaan dan keakhiratan.</li>
<li>Mustahil wujud di kalangan orang yang melebihinya tentang kelebihan jiwa.</li>
</ol>
<p>Oleh itu mereka menyatakan bahawa jawatan Imamah itu secara umum lebih tinggi dari jawatan kenabian biasa dan lebih rendah dari kedudukan  Nabi Muhammad SAWAW kerana mengikut mereka, Nabi Ibrahim AS telah diangkat dari martabat kenabian yang mursal kepada martabat Imamah (Al-Alamah Tabatabai, Tafsir al-Mizan, Jilid I, hlm. 228).</p>
<p>Seterusnya mereka berhujah adakah adil bagi kita memperkatakan bahawa Nabi yang diutus kepada seribu orang itu sama dengan nabi yang diutus kepada 30 ribu orang?  Tetapi tidak dinafikan bahawa tujuan nabi-nabi adalah sama, cuma berbeza dari segi martabat, kedudukan dan pengetahuan.</p>
<p>Mereka mengemukakan pertanyaan, kenapa nabi kita Muhammad SAWAW semulia-mulia makhluk, semulia-mulia nabi dan rasul?</p>
<p>Ini adalah kerana  Nabi kita dapat mengetahui kebesaran Allah yang tidak boleh dikias. Kerana baginda lebih sempurna, contohnya lebih afdal, lebih awal pada tiap-tiap sesuatu, sama ada dari sudut akalnya, kebijaksanaannya, idraknya yang mendalam, keberaniannya, kemuliaannya, peribadinya, sifat-sifat insannya yang terpuji, dan sebagainya. Oleh itu baginda lebih mulia dari nabi-nabi dan rasul-rasul (Lihat Ja’far al-Murtadha al-Amili, As-Sahih min Sirah an-Nabi al-A’zam, Qom, 1403, hlm. 303-304)</p>
<p>Oleh itu mereka menyatakan Wasi kepada Nabi Muhammad SAWAW itu juga mestilah melebihi para nabi yang mursalin.</p>
<p>Nabi SAWAW bersabda: “Ulama umatku lebih mulia dari nabi Bani Isra’il.”(Lihat Yanabi’ al-Mawaddah, Baghdad, 1385H, hlm. 475)</p>
<p>Mereka menegaskan bahawa maksud ulama dalam hadith itu bukanlah ulama biasa yang melakukan dosa, kerana tidak munasabah ulama yang melakukan dosa itu lebih mulia dari para nabi yang maksum.</p>
<p>Oleh itu apa yang dimaksudkan  dengan ulama itu ialah manusia yang maksum, iaitu Imam Dua Belas (Lihat as-Sahih min Sirah an-Nabi al-A’zam, Ja’far al-Murtadha, Qom, 1981, Jilid III, hlm. 304-305)</p>
<p>Di riwayatkan oleh Imam Rida AS dari datuk neneknya AS berkata: Dan telah bersabda Rasulullah SAWAW: Allah tidak menjadikan makhluk lebih baik daripadaku dan lebih mulia daripadaku, Ali AS berkata: Engkau berkata wahai Rasulullah, kamu lebih baik atau Jibril? Rasulullah bersabda: Sesungguhnya Allah telah melebihkan kedudukan nabi-nabi al-Mursalin dari MalaikatNya al-Muqarabbin, dan melebihi aku di atas sekalian nabi-nabi dan para rasul. Dan kelebihan selepasku untuk kamu wahai Ali dan imam-imam selepas kamu, kerana para malaikat adalah khadam kita,  khadam orang yang mencintai kita sehingga baginda bersabda: Bagaimana kita telah melebihi para malaikat kerana kita mendahului mereka mengenali Tuhan kita, bertasbih, bertahlil kepadaNya sehingga baginda bersabda: Kemudian sesungguhnya Allah telah menjadikan Adam, maka Allah telah meletakkan kita di hujung sulbinya dan Dia memerintahkan sujud kepadaNya, kerana menghormatinya. Dan sujud mereka itu adalah ibadat. Dan sujud mereka kepada Adam adalah untuk kemuliaan dan ketaatan kerana kita berada di sulbinya (Yanabi al-Mawaddah, hlm. 485; Fusul al-Muhimmah oleh al-Hurr al-Amili, Najaf, 1374, hlm. 158).</p>
<p>Daripada Imam Ja’far al-Sadiq AS dari datuk nenek beliau berkata: “Sesungguhnya Allah SWT telah menjadikan Ulul Azmi kepada rasul-rasul dan melebihkan kedudukan mereka dengan ilmu. Dan kami telah mewarisi ilmu mereka dan Dia melebihi kami di atas ilmu mereka. Dan Rasulullah SAWAW mengetahui apa yang mereka tidak mengetahui. Kami mengetahui ilmu Rasulullah SAWAW dan ilmu-ilmu mereka.” (Fusul al-Muhimmah, hlm. 152)</p>
<p>Daripada Said bin Jubair daripada Ibn Abbas berkata: Bersabda Rasulullah SAWAW: “Sesungguhnya khalifah-khalifahku dan wasi-wasiku, hujah-hujah Allah di atas makhlukNya selepasku ialah 12 orang; yang pertama Ali dan yang akhirnya cicitku al-Mahdi; maka itulah Isa b. Maryam bersembahyang di belakang al-Mahdi (Yanabi al-Mawaddah, hlm. 447)</p>
<p>Oleh itu mereka menegaskan bahawa martabat Imam al-Mahdi AS lebih tinggi dari Nabi Isa AS sebagai Nabi mursal kerana beliau akan bersembahyang di belakang Imam al-Mahdi AS (Ibid., hlm. 447)</p>
<p>Rasulullah SAWAW bersabda: Barang siapa yang ingin melihat kepada Adam tentang ilmunya, kepada Nuh tentang azamnya, kepada Ibrahim tentang lembutnya, kepada Musa tentang kehebatannya, kepada Isa tentang kezuhudannya maka hendaklah ia melihat kepada Ali b. Abi Talib (Imam Ahmad bin Hanbal, Musnad, Bab Kelebihan Ali, Fakhuruddin al-Razi, Mafatih al-Ghaib, Surah Mubahilah, Yanabi al-Mawaddah, Bab 40).</p>
<p>“Imam-imam telah wujud sebelum wujudnya alam ini sebagai cahaya-cahaya, dan Allah jadikan mereka berpusing di sekeliling Arasy.”</p>
<p>Pendapat seperti ini adalah sandarannya dalam beberapa hadith Nabi dalam kitab Ahli Sunnah sendiri. Antaranya ialah hadith yang dikeluarkan oleh Abu al-Mu’ayyid Ibn Ahmad al-Khawarizmi dengan sanadnya dari Abu Sulaiman yang berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAWAW dan Ahli Baitnya berkata: Di malam aku dinaikkan ke langit(Mi’raj) Allah SWT berkata kepadaku…lihatlah di kanan Arasy, lalu aku memaling ke arahnya, maka aku dapati Ali, Fatimah, Hasan, Husayn, Ali b. Husayn, Muhammad b. Ali, Ja’far b. Muhammad, Musa b. Ja’far, Ali b. Musa, Muhammad b. Ali,  Ali b. Muhammad, Hasan b. Ali, dan Muhammad al-Mahdi b. Hasan; ia seperti cakerawala yang berpusing di kalangan mereka. Dan dia berfirman: “Wahai Muhammad, mereka itulah hujah-hujahKu ke atas hamba-hambaKu, merekalah wasi-wasiKu (khalifah-khalifahku).”(Yanabi al-Mawaddah, hlm. 487)</p>
<p>Sabda Nabi SAWAW: “Wasi-wasi engkau tertulis di tepi ArasyKu, lalu aku melihat dan mendapati 12 cahaya (Ibid)”. Kejadian Nabi Muhammad dan wasi-wasinya (Ibid.hlm. 485).</p>
<p>Sabda Nabi SAWAW: “Aku telah menjadi nabi ketika Adam bersabda antara tanah dan air.” Sabdanya lagi: Allah menjadikan cahayaku yang terawal sekali. Sabdanya lagi: Aku dan Ali adalah satu cahaya di sebelah kanan Arasy sebelum Allah menjadikan Adam 11 ribu tahun, sebahagian kami berpisah di sulbi Abdul Muttalib, satu bahagian adalah aku dan sebahaian yang lain ialah Ali.” (Musnad oleh Imam Ahmad bin Hanbal, Bab Kelebihan Ali, Yanabi’ al-Mawaddah, hlm. 101).</p>
<p>Demikianlah antara hujah-hujah Syiah Imamiah dalam soal kelebihan Imam 12, serta kejadian mereka dalam hadith-hadith Nabi SAWAW yang ditulis oleh ulama-ulama Ahli Sunnah.</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/syiahali.wordpress.com/38790/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/syiahali.wordpress.com/38790/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/syiahali.wordpress.com/38790/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/syiahali.wordpress.com/38790/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/syiahali.wordpress.com/38790/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/syiahali.wordpress.com/38790/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/syiahali.wordpress.com/38790/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/syiahali.wordpress.com/38790/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/syiahali.wordpress.com/38790/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/syiahali.wordpress.com/38790/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/syiahali.wordpress.com/38790/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/syiahali.wordpress.com/38790/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/syiahali.wordpress.com/38790/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/syiahali.wordpress.com/38790/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syiahali.wordpress.com&amp;blog=13635218&amp;post=38790&amp;subd=syiahali&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syiahali.wordpress.com/2012/01/27/suatu-bab-tragis-dalam-sejarah-bahwa-walaupun-hadis-hadis-melalui-kaum-khariji-dan-musuh-musuh-keluarga-nabi-diterima-namun-bilamana-rangkaian-perawi-meliputi-nama-seseorang-dari-kalangan-keluarga-na/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0190a0488b1caa6078bb63692e7f1c0c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">syiahali</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
