Uncategorized

Ketika Wasiat dan Syura Berganti Posisi

Ketika Wasiat dan Syura Berganti Posisi (*)

Beberapa Catatan untuk Ali Syariati

- Nadirsyah (*)(*) -

 

Sebagaimana pemikir Yunani, bagi para pemikir politik Islam, politik terkait dengan etika. Bedanya, jika pemikir Yunani membicarakan keterkaitan itu dalam wilayah filsafat moral, pemikir politik Islam mendiskusikannya dalam naungan teologi.1 Ini indikasi, bahwa bagi Islam persoalan politik tidak terpisah dengan persoalan agama.2 

Sejarah politik Islam sarat dengan tarik-menarik antara persoalan politik murni dengan keyakinan teologi. Beberapa aliran teologi besar diduga kuat lahir dari persoalan politik; dan pergantian pemimpin politik biasanya diwarnai isu aliran teologi. Inilah yang kemudian melahirkan “teo-politik”.3 Persoalan tidak berhenti di situ. Persoalan berikutnya, dan ini sangat elementer, adalah apakah Islam sesungguhnya mengenal sistem politik.4 Jawaban terhadap pertanyaan ini akan memicu sejumlah persoalan baru. Semua persoalan itu, kalau dipadatkan dan ditarik intinya, maka akan tampak bahwa semua kembali kepada pertanyaan besar: apakah Rasul – sebagai pemimpin politik – telah menunjuk penggantinya atau tidak ?

Jika menengok ke belakang, pada masa antara wafatnya Rasul dan menjelang terpilihnya Abu Bakar sebagai khalifah, tepatnya kalau perhatian dipusatkan kepada sebuah “balairung” Saqifah Bani Sa’idah, akan tampak sebuah kenyataan sejarah yang, mungkin tanpa pernah disadari sepenuhnya oleh mereka yang hadir di Saqifah, berakibat panjang dan masih (sangat) terasa dalam kehidupan keberagamaan. Sejarah Saqifah adalah bagian penting dari sejarah politik Islam.5 

Pada konteks inilah bisa dijelaskan antusiasme beberapa pakar untuk menulis dan mendiskusikan akar politik Islam itu, yakni peristiwa Saqifah, atau tepatnya proses suksesi sepeninggal Nabi. Ali Syari’ati termasuk di antara pakar yang mengetahui arti sebuah sejarah.6 Lewat karyanya Al-Ummah wa al-Imamah,7 Syari’ati membaca ulang proses peralihan kepemimpinan dari Nabi Muhammad Saw ke Abu Bakar. Syari’ati mencoba menembus batas-batas aliran politik dan justifikasi syari’ah – serta menukik ke dalam semangat tasamuh (toleransi) yang luar biasa, tanpa musti menodai keyakinannya. Ia tidak terjebak pada klaim yang dilancarkan kaum Sunni dan Syi’ah dalam masalah yang sangat sensitif ini.

Hasil bacaan ulang Syari’ati terhadap peristiwa Saqifah amatlah menarik. Hal ini karena pisau sosiologis yang dikedepankannya membuat ia berbeda dengan pakar lain yang “terpaku” pada nash-nash dan doktrin mapan lainnya. Urgensi melihat bacaan ulang Syari’ati terletak pada usahanya untuk menurunkan “derajat” pembahasan dari sesuatu yang bersifat transenden – dan karenanya menimbulkan efek yang masih dirasakan sampai kini – kepada kajian yang bersifat profan dan realis.

Tulisan ini ingin menengok ke belakang, ke masa silam dan mengurai pokok-pokok pikiran Syari’ati tentang Imamah, yang berujung pada hasil bacaan ulang Syari’ati terhadap peristiwa Saqifah. Selanjutnya akan dikemukakan analisis kritis berupa pengujian sosio-historis terhadap argumen Syari’ati dan pada bagian akhir, lewat fiqih siyasah,8 penulis mencoba membaca ulang peristiwa Saqifah tersebut.

Proses Terpilihnya Abu Bakar

 

Nabi Muhammad adalah pemimpin agama dan politik sekaligus. Ia adalah Nabi yang terakhir. Tidak mungkin ada Nabi lagi sepeninggalnya.9 Artinya, posisi sebagai pemimpin agama (setingkat Nabi) tidak mungkin ada yang meneruskan, tetapi sebagai pemimpin politik (setingkat kepala negara) dapat saja digantikan dan diteruskan oleh sahabatnya. Pertanyaannya: siapa yang menggantikan beliau sebagai pemimpin politik, apa syaratnya, dan bagaimana caranya ?

Wafatnya Rasul membuat Madinah bising oleh tangisan. Umat pun bertanya-tanya siapa yang akan memimpin mereka. Sebagian sahabat terkemuka rupanya telah memikirkan hal itu dan berkumpul di “balairung” Saqifah di perkampungan Bani Sa’idah.10 Yang mula-mula berkumpul di sana adalah golongan Anshar: Khazraj dan ‘Aus.11 Umar rupanya Mendengar pertemuan tersebut. Ia mencari Abu Bakar dan menerangkan gawatnya persoalan. Umar berkata, “saya telah mengetahui kaum Anshar sedang berkumpul di Saqifah, mereka merencanakan untuk mengangkat Sa’ad bin Ubaidah (dari suku Khazraj) untuk menjadi pemimpin. Bahkan, di antara mereka ada yang mengatakan dari kita seorang pemimpin dan dari Quraish seorang pemimpin (minna amir wa minkum amir).” Ini dapat membawa pada dualisme kepemimpinan yang tak pelak akan menggoyang “bayi” umat Islam.

Setelah mengerti betapa gawatnya persoalan, Abu Bakar mengikuti Umar ke Saqifah. Di tengah perjalanan keduanya bertemu Abu Ubaidah bin al-Jarrah dan ia diajak ikut serta. Ketika mereka tiba telah hadir terlebih dahulu beberapa kaum Muhajirin yang tengah terlibat perdebatan sengit dengan kaum Anshar. Umar, yang menyaksikan di depan matanya bahwa Muhajirin dan Anshar akan mencabik-cabik ukhuwah Islamiyah, hampir-hampir tidak kuasa menahan amarahnya. Setelah mendengar perdebatan yang terjadi, Abu Bakar mulai berbicara dengan tenang dan ia mengingatkan bahwa bukankah Nabi pernah bersabda, “Al-Aimmah min Quraish (kepemimpinan itu berada di tangan suku Quraish).”12 “Kami pemimpin (umara) dan kalian “menteri”/pembantu (wizara). Telah bersabda Rasul bahwa dahulukan Quraish dan jangan kalian mendahuluinya.”

Abu Bakar tidak lupa mengingatkan kepada kaum Anshar tentang sejarah pertentangan Khazraj dan Aus yang kalau meletup kembali (dengan masing-masing mengangkat pemimpin) akan membawa mereka semua ke alam jahiliyah lagi. Kemudian Abu Bakar menawarkan dua tokoh Quraish, Umar dan Abu Ubaidah. Kearifan Abu Bakar dalam berbicara – di tengah suasana penuh emosional – rupanya mengesankan mereka yang hadir. Umar menyadari hal ini dan ia mengatakan kepada mereka yang hadir bahwa bukankah Abu Bakar diminta oleh Nabi untuk menggantikan beliau sebagai imam shalat kalau Nabi sakit. Umar dan Abu Ubaidah segera akan membai’at Abu Bakar tetapi mereka didahului oleh Basyir bin Sa’ad, seorang tokoh Khazraj Kemudian yang hadir di Saqifah semuanya membai’at Abu Bakar.13 Keesokan harinya Abu Bakar naik mimbar dan semua penduduk Madinah membai’atnya.

Abu Bakar resmi menjadi Khalifah ar-Rasul.14 Kemudian ia pun berpidato, sebuah pidato yang menurut ahli sejarah dianggap sebagai suatu statemen politik yang amat maju, dan yang pertama sejenisnya dengan semangat “modern” (partisipatif-egaliter).15 

Benarkah semua sahabat membai’at Abu Bakar ? Ternyata tidak.16 Dari yang hadir di Saqifah, Sa’ad bin Ubaidah tidak membai’at Abu Bakar dan tidak pula ikut shalat jama’ah bersamanya. Di antara penduduk Madinah yang tidak hadir di Saqifah dan tidak membai’at Abu Bakar adalah Fatimah az-Zahra. Ali bin Abi Thalib dan Bani Hasyim serta pengikutnya tidak berbai’at sampai enam bulan kemudian, setelah wafatnya Fatimah az-Zahra.

Ketika diberitahukan kepada Imam Ali r.a. tentang peristiwa yang telah terjadi di Saqifah bani Sa’idah setelah Rasulullah wafat, ia bertanya:

“Apa yang dikatakan kaum Anshar ?”

“Kami angkat seorang dari kami sebagai pemimpin, dan kalian (kaum muhajirin) mengangkat seorang dari kalian sebagai pemimpin !”

“Mengapa kamu tidak berhujjah atas mereka bahwa Rasulullah Saw telah berpesan agar berbuat baik kepada orang-orang Anshar yang berbuat baik dan memaafkan siapa di antara mereka yang berbuat salah,” tanya Imam Ali lagi.

“Hujjah apa yang terkandung dalam ucapan seperti itu ?”

“Sekiranya mereka berhak atas kepemimpinan umat ini, niscaya Rasululullah Saw tidak perlu berpesan seperti itu tentang mereka.”

Kemudian Imam Ali bertanya:

“Lalu apa yang dikatakan orang Quraish ?”

“Mereka berhujjah bahwa Quraish adalah ‘pohon’ Rasulullah Saw.”

“Kalau begitu, mereka telah berhujjah dengan ‘pohonnya’ dan menelantarkan ‘buahnya’.”17 

Imamah Dalam Pandangan Ali Syari’ati

 

Syari’ati memulai konsep imamah dengan terlebih dahulu menerangkan makna ummah. Ia membandingkan istilah nation, qaum, qabilah dan sya’b dengan ummah. Baginya, keempat istilah itu – dengan pengecualian pada istilah qabilah – sama sekali tidak mengandung arti kemanusiaan yang dinamis. Hanya saja, kelebihan istilah qabilah ditemukan pula pada istilah ummah. Istilah yang terakhir ini masih memiliki kelebihan lain dibandingkan istilah qabilah, yakni ia mempunyai gerakan yang mengarah pada tujuan yang sama. Dalam istilah ummah, gerak yang mengarah ke tujuan bersama itu justru merupakan landasan ideologis.

Istilah ummah secara terperinci mengandung tiga konsep: kebersamaan dalam arah dan tujuan; gerakan menuju arah dan tujuah tersebut; dan keharusan adanya pimpinan dan petunjuk kolektif. Dari kajian filologi ini, Syari’ati memandang bahwa sesungguhnya tidak mungkin ada ummah tanpa imamah.18 Apa karakteristik imamah itu ? Sebagaimana istilah ummah, istilah imamah menampakkan diri dalam bentuk sikap sempurna, di mana seseorang dipilih sebagai kekuatan penstabilan dan pendinamisan massa. Yang pertama berarti menguasai massa sehingga berada dalam stabilitas dan ketenangan, dan kemudian melindungi mereka dari ancaman, penyakit, dan bahaya. Yang terakhir berkenaan dengan asas kemajuan dan perubahan ideologis, sosial dan keyakinan, serta menggiring massa dan pemikiran mereka menuju bentuk ideal.19 

Syari’ati memandang umat dan imam dalam kondisi yang dinamis, yang selalu bergerak ke arah perubahan demi tujuan bersama. Ia memandang bahwa tanggung jawab paling utama dan penting dari Imamah adalah perwujuan dari penegakan asas pemerintahan pada kaidah kemajuan, perubahan dan transformasi dalam bentuknya yang paling cepat, lalu melakukan akselerasi, dan menggiring umat menuju kesempurnaan sampai pada lenyapnya ambisi sebagian individu terhadap ketenangan dan kenyamanan.20 Dalam kalimat lain namun senada ia menulis, “Imamah dalam mazhab pemikiran Syi’ah adalah kepemimpinan progresif dan revolusioner yang bertentangan dengan rezim-rezim politik lainnya guna membimbing manusia serta membangun masyarakat di atas fondasi yang benar dan kuat, yang bakal mengarahkan menuju kesadaran, pertumbuhan, dan kemandirian dalam mengambil keputusan.”21 

Tugas imam, di mata Syari’ati, tidak hanya terbatas memimpin manusia dalam salah satu aspek politik, kemasyarakatan, dan perekonomian, juga tidak terbatas pada masa-masa tertentu dalam kedudukannya sebagai panglima, amir atau khalifah, tetapi tugasnya adalah menyampaikan kepada umat manusia dalam semua aspek kemanusiaan yang bermacam-macam. Seorang Imam dalam arti seperti ini, tidak terbatas hanya pada masa hidupnya, tetapi selalu hadir di setiap saat dan hidup selamanya.22 Walaupun demikian, Syari’ati mengingatkan bahwa imam bukanlah supra-manusia tetapi manusia biasa yang memiliki banyak kelebihan di atas manusia lain atau manusia super.23 

Jika demikian agung dan tinggi hakikat imam, kemudian bagaimana cara pemilihan imam itu ? Syari’ati bertanya, “apakah imam dipilih melalui pengangkatan atau pemilihan, ataukah berdasarkan penunjukkan dari Nabi Saw atau imam sebelumnya ?” Syari’ati mengajukan sebuah jawaban, “jawabnya – secara teoretis – adalah negatif untuk ketiga-tiganya …” Dalam alinea lain, ia menjelaskan bahwa imam adalah suatu hak yang bersifat esensial yang muncul dari diri seseorang. Sumbernya adalah dari diri imam itu sendiri, dan bukan dari faktor eksternal, semisal pengangkatan atau pemilihan. “Dia adalah seorang imam” lanjut Syari’ati, “tak peduli apakah ia muncul dari penjara al-Mutawakkil maupun dari mimbar Rasul, baik didukung oleh seluruh umat atau hanya diketahui keagungannya oleh tujuh atau delapan kelompok orang saja.”24 Syari’ati menyimpulkan, “… imamah tidak diperoleh melalui pemilihan, melainkan melalui pembuktian kemampuan seseorang. Artinya, masyarakat – yang merupakan sumber kedaulatan dalam sistem demokrasi – tidak terikat dengan imam melalui ikatan pemerintahan, tetapi berdasarkan ikatan orang banyak dengan kenyataan yang ada (pada imam tadi). Mereka bukan menunjuknya sebagai imam, tetapi mengakui kelayakannya (sebagai seorang imam).”25 

Jika logika Syari’ati di atas diteruskan, maka persoalannya apakah ada pemisahan lapangan kerja antara imam (yang diakui) dengan khalifah (yang dipilih) ? Syari’ati menolak pandangan ini karena akan bermuara kepada pemisahan antara agama dan negara. Kendati demikian, itu selalu identik dengan imamah. Baginya, Imamah terbatas hanya kepada pribadi-pribadi tertentu sebagaimana halnya dengann nubuwah, sedangkan pemerintahan tidak terbatas pada masa, sistem dan orang-orang tertentu. Satu-satunya garis pemisah yang ditegaskan Syari’ati adalah, “pemerintahan (khilafah) itu merupakan tanggung jawab yang tidak terbatas dalam sejarah, sedangkan imamah terbatas, baik dalam masa maupun orangnya. Dengan mengabaian perbedaan tadi, imamah dan khilafah sebenarnya merupakan tanggung jawab yang satu, untuk mencapai satu tujua dengan satu keterbatasan, seperti telah dikemukakan di atas, di mana seorang penguasa tidak selamanya seorang imam.”26 

Dalam hubungannya dengan peristiwa Saqifah, ada dua persoalan besar dari alur logika Syari’ati di atas. Pertama, bagaimana hubungan imam dengan khalifah yang ada pada masa yang sama ? Kedua, apakah imam tersebut harus dipilih oleh Allah atau Nabi sebagai pilihan yang harus pula diterima oleh umat manusia, kemudian diangkat sebagai imam untuk memimpin mereka dalam bidang politik, ataukah ia dipilih oleh manusia sendiri melalui musyawarah dan pemilihan umum ?

Dalam pandangan Syari’ati hubungan khalifah dengan imam yang ada pada satu masa merupakan bentuk hubungan seorang pemimpin spiritual, politik dan sosial dengan penguasa, sebagaimana halnya yang ada pada hubungan antara Gandhi dengan Nehru. Bentuk seperti ini, di mata Syari’ati, adalah bentuk yang wajar, dan pemisahan antara kedua tugas tersebut dapat memberi jaminan bagi tetap terpeliharanya keagungan dan kehormatan imam.

Sepintas memang jawaban Syari’ati bertentangan dengan tidak setujunya ia pada pemisahan kerja khilafah dan imamah, yang menurutnya akan bermuara pada pemisahan antara politik dan agama. Dapat dijelaskan bahwa bagi Syari’ati, pemisahan antara urusan politik atau negara dan agama bukan produk Islam, tetapi produk sejarah Islam yang terpengaruh nilai-nilai nasrani. Pada mulanya, seorang pemimpin mengurusi masalah politik dan agama sekaligus. Ia bagaikn Nabi Muhammad yang memimpin perang tetapi juga menjadi imam sholat. Sejarah Islam kemudian mencatat terjadinya pergeseran yang memisahkan antara khilafah dan imamah dalam bentuk aplikatif. Dan ini tidak disetujui oleh Syari’ati.27 Ini dipersulit dengan terjadinya pemisahan keduanya dalam ruang dan waktu yang berbeda. Terjadi pula pereduksian peranan imamah dan khilafah dalam sejarah Islam, lalu masing-masing ditempatkan dalam medan yang sempit.

Adapun yang dimaksud Syari’ati dengan pemisahan khilafah dan Imamah (atribut/sifat) di atas adalah pada tataran realitas. Ada imam yang diakui oleh sekelompok orang, lalu kelompok yang lain memilih orang lain untuk menjadi khilafah. Di sini perlu diingatkan bahwa, bagi Syari’ati, imamah bukanlah jabatan tetapi atribut (sifat). Penunjukan atas orang lain sebagai khilafah di saat adanya imam, dapat disejajarkan dengan penerimaan terhadap seorang Nabi sebagai seorang Rasul – seperti yang diberlakukan pada Yesus – dan menunjuk orang lain pada jabatan pemerintahan bagi bangsa Arab atau kaum muslim Emperor Islam, sebagaimana halnya dengan Kaisar.28 

Bagi Syari’ati, dalam ajaran Islam tidak dikenal pemisahan urusan negara atau politik dengan agama. Jika terjadi pada satu masa adanya imam dan adanya Khalifah maka hubungan yang terjadi adalah bagaikan hubungan Nehru dan Gandhi. Imam meski diam di rumah tidak berarti ke-imam-annya hilang, karena imam adalah atribut (sifat); tanpa melewati pemilihan. Dengan demikian, tanggung jawab dan tugas seorang imam – meski tidak dipilih sebagai khalifah – tetaplah ada.

Berbeda dengan konsep sekular yang betul-betul menghendaki pemisahan antara negara dan agama; dalam konsep Syari’ati, kalau pun harus terjadi – adanya imam dan khalifah dalam satu masa – maka yang ada adalah adanya pemimpin politik dan pemimpin spiritual. Apabila kemudian imam terpilih sebagai khalifah (melalui pemilihan), seperti yang terjadi pada Imam Ali dan Imam Hasan,29 maka bukanlah hal yang tabu bersatunya pemimpin politik dan pemimpin spiritual dalam diri satu pemimpin. Ini yang tidak mungkin terjadi dalam konsep sekular karena pemimpin spiritual bukanlah sebuah sifat tetapi sebuah jabatan tersendiri.

Berangkat dari tesis bahwa imam adalah sifat (atribut), ketika yang bukan imam menjadi khalifah maka bukannya hak imam yang terampas; tetapi yang terampas adalah hak umat manusia.30 Seorang imam tetap menjadi imam meskipun ia tidak menjalankan kekuasaan duniawi. Yang terampas haknya (dari memperoleh manfaat atas kehadiran imam) adalah makmum. Adalah hak umat untuk mendapat bimbingan dari imam dan bila ada “rekayasa” maka yang paling merugi adalah umat; karena umatlah yang terampas haknya.

Persoalan kedua sesungguhnya bermuara pada dua prinsip; pengangkatan dari Tuhan dan ijma’ umat Islam. Sejarah telah menjelaskan bahwa Syi’ah cenderung pada prinsip pertama dan Sunni cenderung pada prinsip kedua. Syari’ati menyerang prinsip kedua yang oleh Sunni dianggap telah menjadi unsur penting pada peristiwa Saqifah. Syari’ati sempat “terbang” ke Konferensi Asia Afrika di Bandung, menyebut Jenderal De Gaul dari Maroko, mengutip Profesor Chandle yang mengatakan, “musuh demokrasi dan kebebasan yang paling besar adalah demokrasi, liberalisme, dan kebebasan individu itu sendiri”, menyerang dunia Barat atas kecurangan mereka dalam memperkenalkan demokrasi, menyerang Robert Kennedy, revolusi kebudayaan di Cina dan revolusi Perancis. Syari’ati menyebut semua itu untuk menyerang demokrasi dan pemilihan pemimpin dengan suara terbanyak.31 

Setelah “berbusa-busa” berbicara tentang banyak hal, Syari’ati mulai menyinggung peristiwa Saqifah. Menurutnya, dengan mengabaikan polemik nash-wasiat, di satu sisi, dan syura-bai’at, di sisi lain, dalam peristiwa Saqifah hanya ada lima suara: dua suara dari kabilah Aus dan Khazraj, tiga suara dari Muhajirin, yakni Abu Bakar, Umar dan Abu Ubaidah bin al-Jarrah. Itu pun dengan catatan apabila pemimpin kabilah Aus, Sa’id bin Mu’adz, sudah tidak ada lagi, maka otomatis Sa’ad bin Ubaidah, pemimpin Khazraj, menjadi pemimpin tunggal orang Madinah menghadapi kelompok Mekah – yang terakhir ini disebut Syaria’ti telah memiliki kesadaran politik tinggi, sebagaimana terbukti pada akhirnya, di mana mereka (kelompok Mekah) tahu betul apa yang sedang mereka hadapi, dan bagaimana pula seharusnya bertindak.32 Syari’ati bermaksud mengatakan bahwa aspirasi dan kebutuhan penduduk Madinah hanya ditemukan oleh lima suara, yang berarti mengabaikan ratusan suara lainnya, dalam peristiwa Saqifah.

Bagi Syari’ati, sesungghunya prinsip bai’at-syura dan nash-wasiat tidaklah bertentangan sama sekali dan tidak pula ada di antara keduanya yang merupakan bid’ah dan tidak islami. Baik bai’at, musyawarah, maupun ijma’ (demokrasi) adalah salah satu kaidah islamiyah yang diajarkan oleh Al-Quran. Tetapi, Syari’ati tidak lupa menegaskan, “… tidak ada seorang pun yang dapat mengingkari adanya wasiat Rasulullah kepada Ali … Umat harus melaksanakan wasiat ini dan menyerahkan persoalan mereka kepada washi (orang yang diberi wasiat), dan kalau itu tidak mereka lakukan, mereka akan tersesat.”33 

Dalam pandangan Syari’ati, wasiat itu berfungsi sepanjang beberapa generasi, hingga kelak tiba pada masanya masyarakat dapat berdiri sendiri di atas kaki mereka, lalu memulai- setelah berakhirnya imamah atau tahap wasiat – tahapan pembinaan revolusioner tertentu, suatu tahap bai’at, musyawarah, dan ijma’ atau apa yang disebut Syi’ah atau para washi Rasulullah berjumlah dua belas imam, tidak lebih. Sementara jumlah pemimpin masyarakat (politik) sesudah wafat Nabi hingga akhir sejarah, jumlahnya tidak terbatas.

Pada masa-masa awal wasiat digunakan dalam proses suksesi. Selanjutnya, menurut Syari’ati, setelah pada tahun 250 H (tahun gaibnya Imam ke-dua belas) baru berlaku prinsip syura. Kalau ini berjalan mulus maka pada 250 H kita telah mempunyai masyarakat yang sempurna bentuknya, dan memiliki kelayakan yang membuatnya patut memilih pemimpin mereka yang paling baik melalui asas musyawarah, yang kemudian menduduki kursi kepemimpinan, dan menggerakkan sejarah sesuai dengan jalur yang telah digariskan oleh risalah Muhammad Saw.

Masa sepeninggal Nabi sampai 250 H adalah masa revolusi yang tidak membutuhkan demokrasi. Sayangnya, menurut Syari’ati, sesuatu yang tidak terduga telah muncul di Saqifah bani Sa’idah dan menyeret perjalanan sejarah Islam ke arah lain. Syari’ati pun berandai-andai, kalau seandainya peristiwa Saqifah itu terjadi pada 250 H dan tidak pada tahun 11 H, niscaya sejarah akan lain bentuknya. Sebab, meminjam istilah Chandle, demokrasi – bagi masyarakat belum maju – merupakan musuh demokrasi itu sendiri.34 

Catatan Kritis

 

Syari’ati memulai bahasannya dengan menjelaskan kaitan organik antara makna ummah dengan imamah. Pada bagian ini kajian Syari’ati lebih menitikberatkan pada pendekatan filologis, ketimbang sosiologis. Menurut hemat penulis, dalam menguraikan benang merah antara konsep ummah dengan imamah, sama sekali tidak berarti bahwa konsep khilafah tidak mendapat tempat dalam ummah. Hal ini perlu digarisbawahi mengingat terma imamah dianggap khas Syi’ah dan terma khilafah khas Sunni.

Hamid Enayat membedakan khilafah dan imamah sebagai kata kunci memahami paradigma politik Sunni dana Syi’ah, di samping kata kunci lain seperti wilayah dan ‘ishmah (Syi’ah), ijma’ dan bai’at (Sunni). Tetapi, perbedaan istilah imamah dan khilafah sesungguhnya hanya berlaku dalam makna aplikatif dan sistemik, keduanya tidak berbeda pada tataran teoretis. Bagi Ibn Khaldun, khilafah adalah tanggung jawab umum yang dikehendaki oleh peraturan syari’at untuk mewujudkan kemashlahatan dunia dan akhirat bagi umat dengan merujuk kemashlahatan dunia dan akhirat bagi umat dengan merujuk padanya. Hakekat khilafah ialah sebagai pengganti fungsi pembuat syari’at dalam memelihara urusan agama dan politik duniawi.36 Ini senada dengan pendapat al-Mawardi akan imamah, yakni, “imamah dibentuk untuk menggantikan fungsi kenabian guna memelihara agama dan mengatur dunia.”37 Artinya, khilafah dan imamah dalam makna yang belum memperoleh sentuhan politis adalah satu makna. Ini berarti mengatakan tidak mungkin ada ummah tanpa imamah – seperti yang disimpulkan Syari’ati – sama maknanya dengan pernyataan: tiada ummah tanpa khilafah.

Sejarah membuktikan bahwa masyarakat, apa pun nama komunitas itu, baik umat, qabilah atau society, memang membutuhkan pemimpin, atau istilah yang setara dengannya seperti khilafah, imam, presiden atau raja. Dalam masyarakat primitif sekalipun seorang pemimpin pasti lahir. Ia merupakan sesuatu yang lahir dari proses kebutuhan sosial masyarakat dalam memenuhi hajatnya baik secara bersama-sama maupun demi kepentingan individu semata.38 Persoalannya , adakah manusia yang sejak lahir (bahkan sejak belum lahir) telah ditakdirkan menjadi pemimpin ?

Bagi Syari’ati, imam merupakan sifat atau atribut yang melekat pada diri seseorang. Seorang imam tidak perlu dipilih karena imam bukanlah sebuah jabatan. Dipilih atau tidak ia tetap sebagai imam. Syari’ati dengan tegas ingin mengatakan bahwa ada seseorang yang ditakdirkan dan dilahirkan untuk menjadi imam, yakni melekatnya sifat atau atribut imam itu. Nabi Muhammad memberitahu umat melalui wasiatnya. Lalu kita pun mengetahui bahwa seseorang itu memiliki sifat seorang imam.

Pandangan Syari’ati tersebut perlu segera diberikan catatan. Jika imam itu lebih merupakan sifat atau atribut ketimbang jabatan, mengapa imam masih membutuhkan wasiat untuk memimpin umat? Bukankah dengan atau tanpa wasiat imam tetaplah seorang imam ? Persoalannya, kalau ada sekelompok masyarakat menolak seorang imam (dalam arti sifat / atribut) sebagai pemimpin (khalifah, amir atau raja) meskipun telah ada wasiat (yang memberitahu siapa pemimpin sepeninggal Nabi) maka yang tidak diakui, sebenarnya, seseorang yang memiliki sifat imam atau sekelompok orang itu tidak mengakui kebenaran adanya wasiat tentang itu. Pembedaan ini penting, karena jika dipilih alasan yang pertama maka boleh jadi imam itu rupanya kurang menampakkan sifat-sifat keimamannya. Sebagai orang yang memiliki atribut atau sifat imam ia ditolak. Dan ini semata-mata persoalan psiko-sosial masyarakat. Jika alasan kedua yang dipilih maka kita berjalan menyisiri “pantai” teologi.

Tampaknya, para pakar cenderung memilih yang kedua, sehingga persoalan menjadi bersifat teologis. Bagaimana mungkin wasiat Nabi dikesampingkan, kata kelompok yang satu. Kelompok lain menjawab bahwa mereka bukan mengesampingkan wasiat Nabi, tetapi apa betul Nabi berwasiat seperti itu ? Pembuktian masalah ini akan dipenuhi dalil dan justifikasi Al-Qur’an dan Hadis. Dan ini yang telah terjadi dalam sejarah Islam. Jika ingin mengikuti alur pemikiran Syari’ati maka sebaiknya dipilih alasan pertama.

Sayangnya, Syari’ati tidak konsisten dengan alur logikanya. Maka imam yang ia ketengahakan tetap bergantung pada wasiat. Imam memiliki kekuasaan atas dasar wewenang39 yang diperoleh dari wasiat. Padahal dari awal Syari’ati telah menegaskan, “salah satu ciri penting yang ingin saya tegaskan dalam kajian saya ini adalah pendekatan sosiologis terhadap masalah ummah dan imamah.”40 Mengaitkan imam dengan wasiat, hemat penulis, telah meruntuhkan bangunan logikanya yang dibangun dengan pendekatan sosiologis. Tetapi itu tidak berarti seluruh argumen Syari’ati inkonsisten. Syari’ati cukup konsisten dengan alur logikanya ketika ia berpendapat jika imam tidak dipilih untuk memimpin umat, maka yang terampas adalah hak umat (dari memperoleh manfaat atas kehadiran imam) bukan hak imam. Ia meletakkan imam secara sistemik dengan masyarakat dan dalam hubungan sosial yang demikian erat. Karenanya, alur logika Syari’ati bisa diteruskan dengan perumpamaan: jika umat tidak memperoleh pelayanan yang maksimal dari aparatur negara maka sesungguhnya yang terampas adalah hak imam (untuk melayani umatnya).

Syari’ati memandang bahwa sesungguhnya wasiat dan musyawarah sama-sama memperoleh justifikasi islami. Yang membedakan keduanya adalah waktu dan kondisi umat. Sepeninggal Nabi “bayi” umat belumlah kokoh dan kuat hingga tidak mungkin dapat menentukan nasibnya sendiri. Umat membutuhkan wasiat untuk menentukan siapa pemimpin mereka. Kelak, saat kondisi umat telah matang, wasiat tidak dibutuhkan lagi dan musyawarah-lah jalan yang tepat. Dalam rentang waktu 11 H sampai dengan 250 H yang dibutuhkan adalah mekanisme wasiat; pertama dari Nabi kemudian dari Imam yang terdahulu. Angka 250 H dipilih Syari’ati karena pada tahun itulah Imam Mahdi (imam kedua belas dalam kepercayaan Syi’ah Imamiyah Itsna Asy’ariyah) gaib dan akan kembali nanti di akhir zaman.41 Setelah 250 H mekanisme yang digunakan adalah musyawarah.

Benarkah umat pada masa awal itu belum matang ? Robert N. Bellah, sebagaimana sering dikutip Nurcholish Madjid,42 menganggap masyarakat pada masa itu telah menghasilkan sesuatu yang untuk masa dan tempatnya luar biasa modern. Tetapi, karena prasarana sosialnya pada bangsa Arab dan dunia saat itu belum siap, maka sistem kekhilafahan Islam itu tidak bertahan lama dan diganti dengan sistem “kerajaan” Bani Umayyah. Apabila komentar Bellah ini benar, maka umat pada masa itu bukan belum matang, seperti yang dinyatakan Syari’ati, tetapi, lebih tepat, terlalu matang (modern). Hal ini bisa ditafsirkan bahwa Syari’ati benar ketika mengutip Chandle, “demokrasi – bagi masyarakat belum maju – merupakan musuh demokrasi itu sendiri.” Faktor yang bisa dikemukakan untuk membuktikan belum siapnya umat Islam dengan pemilihan yang terbukan dan “modern” adalah sosialisasi politik yang masih primitif43 dengan ciri seperti, misalnya, tingkat fanatisme kesukuan yang cukup tinggi. Faktor lainnya adalah terdapat kecenderungan “membeo” seperti bila telah ada beberapa orang yang berbai’at maka semuanya akan berbai’at, juga tidak konsisten dalam mekanisme pemilihan khalifah pertama, kedua, ketiga dan keempat.

Pertanyaannya, apakah dengan demikian ide wasiat memperoleh justifikasi ? Menurut hemat penulis, terlalu terburu-buru menyimpulkan demikian. Ada faktor yang luput dari perhatian selama ini, yakni mekanisme wasiat tidak menjamin hilangnya perpecahan. Apabila dianggap kelompok Syi’ah merupakan kelompok yang representatif dalam mekanisme wasiat ini, maka yang terlihat adalah ketidakjelasan subjek penerima wasiat setelah Imam Husain. Syi’ah pun terpecah ke dalam beberapa kelompok, seperti Imamiyah, Kaisaniyah, Zaidiyah, dan Ismailiyah, karena saling mengklaim telah menerima wasiat.

Syari’ati berandai-andai, bila mekanisme wasiat ini berjalan maka pada 250 H masyarakat telah sempurna bentuknya. Penulis ingin melihat fakta sejarah sekitar 250 H baik di dunia Sunni secara umum maupun pada kelompok Syi’ah. Kegaiban Imam kedua belas sekitar tahun 250 H (862 M) atau 260 H (873 M) saat Dinasti Abbasiyah masih berkuasa. Pada masa diperintah oleh al-Mu’tamid (260 H) Imam kesebelas Syi’ah wafat dan tidak lama Imam kedua belas pun gaib. Ini bila berpegang pada angka 260 H (angka dari Thabathaba’i) tetapi jika berpegang pada angka 250 H (angka Syari’ati) maka yang berkuasa adalah al-Musta’in.

Jika dilihat masa kekuasaan Abbasiyah yang berkuasa dalam rentang waktu ratusan tahun, maka sekitar tahun 250-260 H adalah periode kedua Abbasiyah, yakni masa-masa kemunduran Khilafah Abbasiyah.44 Pada pemerintahan al-Musta’in berdiri Daulat Zaidiyah di Timur (Iran) yang didirikan oleh Hasan ibn Zaid (keturunan Ali bin Abi Thalib). Pemerintahannya berdasarkan “kerajaan” jika dilihat dari sistem pemilihannya (berdasarkan keluarga dan maula). Daulat ini bertahan selama 100 tahun dan kemudian punah.45 Pendek kata, pada mas itu kekuasaan telah terpecah menjadi beberapa dinasti kecil (seperti dinasti Fatimiyah di Mesir pada 296 H dan berkuasa selama 280 tahun). Terlihat bahwa masyarakat yang “matang” tidak tercapai: bahkan dunia Syi’ah pun dipenuhi perselisihan (misalnya, setelah tahun 140 H lahir sekte Ismailiyah). Sistem pemerintahan juga tidak berdasarkan musyawarah, yang dapat memungkinkan seorang muslim non-bangsawan menjadi khalifah.

Masyarakat sempurna memang tidak terjadi pada 250 H (atau 260 H) dan itu, Syari’ati memberi alasan, karena mekanisme wasiat terpotong oleh peristiwa Saqifah. Di samping alasan Syari’ati terkesan terburu-buru dan merupakan simplifikasi, dunia menyaksikan bahwa pada kondisi umat terpecah-pecah itulah Imam Mahdi gaib. Jadi, Imam Mahdi gaib pada situasi umat yang “tidak sempurna”. Tetapi bukan berarti keadaan kacau-balau. Sejarah mencatat pada sekitar masa Imam Mahdi berada dalam kegaiban beberapa disiplin ilmu dalam Islam mencapai puncak keemasannya. Sekitar dua puluh tahun setelah gaibnya Imam Mahdi, Muhammad Ibn Jarir ath-Thabari (893 M) lahir. Ia kemudian dikenal sebagai mufassir dan juga ahli fiqih terkemuka. Sekitar dua puluh tahun setelah gaib Imam Mahdi juga wafat at-Tirmidzi (892), Ibn Majah (886), Abu Dawud (888). Ketiganya merupakan ahli hadis terkemuka di samping Bukhari (wafat 870 M) – semasa dengan Imam ke-sebelas – dan Muslim (wafat 875).

Apa komentar Syaria’ti terhadap kemajuan ilmu agama pada masa itu ?46 Syari’ati menyerang kondisi “keemasan” itu dan menganggap dinasti Abbasiyah telah mendepolitisasi rakyat dan mengalihkan perhatian mereka dari masalah-masalah politik yang aktual dan soal-soal tentang “benar-salah” dengan jalan mendukung pertumbuhan ilmu pengetahuan, kesenian, kesusasteraan, penemuan ilmiah, argumen filosofis, dan penerjemahan, serta peniruan warisan dan budaya bangsa-bangsa lain. Pertumbuhan “ilmu-ilmu agama” memaksa soal-soal penting menyangkut agama terdesak ke belakang.47 Walhasil, Syari’ati tidak puas pada situasi masa Abbasiyah. Pada situasi yang tidak memuaskan itulah Imam Mahdi gaib, dan Syari’ati mengusulkan mulai diberlakukannya sistem musyawarah, sebagai ganti wasiat.

Tetapi, apakah memang pernah terjadi praktek musyawarah dalam pemilihan pemimpin ? Tentu tergantung dalam memberi makna pada terma musyawarah.48 Syari’ati memandang peristiwa Saqifah hanya “mengatasnamakan” musyawarah. Bagaimana mungkin terdapat musyawarah jika di sana hanya ada empat atau lima suara sementara hasil musyawarah menyangkut kepentingan seluruh penduduk Madinah dan sekitarnya ? Apabila diterima pendapat Syari’ati bahwa musyawarah di sana “diragukan” keabsahannya (karena hanya diwakili lima suara), maka dapatkah disimpulkan bahwa sebenarnya dalam rentetan sejarah Islam, khususnya pemilihan pemimpin, musyawarah telah ditendang jauh-jauh. Tentu saja hal ini berlebihan. Bagi penulis, jumlah lima suara dalam Saqifah itu absah. Hanya saja, perlu diperhitungkan apakah benar mereka yang tidak hadir di Saqifah terakomodasi dalam kelima suara itu ? Jadi, jika Syari’ati mempersoalkan jumlah suara (yang hanya lima), penulis tidak peduli lima suara atau dua suara sekalipun, tetapi apakah jumlah suara (dua, lima atau seratus) memang dapat mengakomodir aspirasi umat. Dan ini bukan saja problem umat dan mereka yang hadir di Saqifah, tetapi juga problem demokrasi masa kini. Perdebatan sistem pemilu distrik atau proporsional yang tengah marak di Indonesia, sebagai contoh, sebenarnya juga berujung pada persoalan mengakomodasi aspirasi rakyat.

Peristiwa Saqifah: Tinjauan Fiqih Siyasah

 

Peserta Saqifah, pendukung Ali, pendukung Abu Bakar dan para ulama tentu mempunyai alasan masing-masing dalam menilai terpilihnya Abu Bakar. Alasan itu seringkali dipenuhi dalil demi dalil; hingga dalil dibantah dalil. Lewat formula “tarjih” dan pendekatan Fiqih Siyasah, di bawah ini penulis akan berandai-andai.

Jika diterima riwayat yang mengatakan bahwa Nabi telah menyuruh Abu Bakar untuk menggantikannya menjadi imam sholat, sehingga pendukungnya berkata, “Nabi telah mempercayainya dalam urusan akhirat, lalu mengapa kita tidak mempercayainya dalam urusan dunia ?”, kemudian diterima pula riwayat tentang wasiat Nabi yang menyatakan bahwa sepeninggal beliau Ali bin Abi Thalib-lah yang akan memimpin umat. Sekali lagi, jika kedua riwayat ini diterima, maka apa yang terjadi ?

Pendukung Abu Bakar telah melakukan analogi, atau qiyas dalam bahasa usul fiqih. Sementara pendukung Ali menggunakan hadis (nash) sebagai dasar dukungannya. Jika kedua riwayat di atas diterima, maka berarti telah terjadi pertentangan antara qiyas dengan nash. Dalam konsepsi hukum Islam, bila nash dan qiyas dipertentangkan maka qiyas dikesampingkan. Lalu, apakah pendukung Ali menjadi “benar”, dan pendukung Abu Bakar telah “keliru” ?

Boleh jadi pendukung Ali memang “benar”, namun pendukung Abu Bakar belum tentu “keliru”. Bukankah dalam pengambilan konklusi diperlukan tidak saja “dalil intern” tetapi juga “dalil ekstern”. “Dalil intern” adalah nash, ijma’ dan qiyas; sedangkan “dalil ekstern” adalah keadilan, kemashlahatan, kesejahteraan, skala prioritas atau kebutuhan, dan sebagainya. Dengan alasan gentingnya persoalan bisa saja sebuah “dalil ekstern” mengalahkan “dalil intern”. Dalam konteks Saqifah, dapat dibayangkan seandainya perpecahan semakin memuncak dan budaya jahiliyah menyeruak ketengah-tengah pertemuan itu. Maka kemashlahatan umat dapat dipertimbangkan sehingga pengabaian nash itu terjadi.

Keputusan yang diambil “wakil umat”49 untuk mengabaikan nash demi kemashlahatan bisa dimaklumi, dan ini dibenarkan dalam Fiqih Siyasah. Tetapi, sayangnya, pengabaian nash ini berlangsung tidak hanya dua tahun (masa Abu Bakar) tetapi juga berlanjut dengan penunjukan Abu Bakar terhadap Umar untuk menggantikannya. Pada peristiwa terakhir ini sulit mentolelir keengganan Abu Bakar untuk menunjuk Ali sebagai khalifah. Agaknya, tidak ada alasan yang kuat, baik “dalil intern” maupun “dalil ekstern”, untuk lebih memilih Umar dibanding Ali. Kalaupun ada yang mencoba menjelaskan (atau membela) keputusan Abu Bakar itu, kelihatannya tidak lebih sebagai “rasionalisasi”. Jadi, yang justru menjadi persoalan adalah pengabaian nash oleh Abu Bakar saat Umar ditunjuk (atau wasiat ?) menjadi khalifah dan diteruskan saat terpilihnya Usman. Pengabaian nash tanpa alasan dan kondisi yang memungkinkan tentu menjadi persoalan besar. Fiqih Siyasah tidak dapat membenarkan hal yang terakhir ini.

Tentu saja, analisa di atas baru berlaku bila memang benar Ali mendapat wasiat Nabi untuk menggantikannya, dan jika juga benar Nabi menyuruh Abu Bakar menggantikannya menjadi imam shalat. Apabila diandaikan kedua riwayat itu tidak benar, lalu bagaimana Fiqih Siyasah merespon peristiwa Saqifah ? Tentu saja, keputusan itu sah, selama memenuhi keadilan, sesuai dengan asas musyawarah, menjamin kemashlahatan umat dan sebagainya, meskipun tidak ada dalil khusus tentang keputusan itu.50 

Penutup

 

Beberapa komentar di atas tentang pemikiran Syari’ati agaknya tidak akan sedikitpun menciderai kenyataan – seperti diakui beberapa penulis – akan besarnya sumbangan pemikiran Syari’ati terhadap Revolusi Islam Iran.51 

Mengenai pendekatan Fiqih Siyasah dalam peristiwa Saqifah segera terlihat bahwa Fiqih Siyasah hanya meletakkan dasar-dasar dan terkesan tidak memuaskan. Fiqih Siyasah bermain dengan terma yang abstrak (musyawarah, keadilan, kemashlahatan) dan dapat diartikan oleh semua pihak menurut “seleranya”. Pengujian terhadap nilai-nilai musyawarah, keadilan dan kemashlahatan, yang telah diletakkan kerangkanya oleh Fiqih Siyasah, dalam suatu masyarakat sebaiknya dilakukan lebih jauh dengan pengujian sosio-historis – yang terakhir ini telah lebih dahulu dilakukan Syari’ati.

Akhirnya, sejarah Saqifah meski disikapi dengan secara arif. Namun ini tidak berarti membiarkan lempengan sejarah sebagai barang rongsokan dan harus dimusiumkan. Pembahasan masa lalu amat penting dan bermanfaat, asalkan tidak “membudak” pada salah satu golongan dan tidak semata-mata melihat dari pendekatan teologi. Pada titik ini kita semua sepakat bahwa Syari’ati, betapa pun belum sempurna, telah mencoba untuk tidak “membudak” pada golongan tertentu dan mencoba keluar dari perdebatan teologi, yang seringkali tidak lagi jelas ujung pangkal persoalannya.

Catatan Kaki :

(*) Artikel dari Buku “Melawan Hegemoni Barat – Ali Syari’ati dalam Sorotan Cendekiawan Indonesia“, Editor: M. Deden Ridwan, Penerbit PT Lentera Basritama, Jl.Mesjid Abidin No.15/25 Jakarta, Juli 1999 M, h.131-172 

 

(*)(*) Nadirsyah

Lahir di Jakarta, 08 Desember 1973. Lulusan Fakultas Syariah IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Jurusan Perbandingan Mazhab dan Hukum ini kini mengabdi di almamaternya selaku staf pengajar. Di samping masih kuliah di Fakultas Hukum, Universitas Muhammadiyah, Jakarta (tingkat akhir), juga peneliti pada Lembaga Penelitian dan Pengkajian Ilmiah (LPPI) Institut Ilmu Al-Quran (IIQ) Jakarta. Aktif di pelbagai kelompok studi, antara lain, Forum Studi Hukum Islam (FSHI) dan Flamboyant Shelter, Ciputat. Salah satu tulisannya, “Pembaruan Hukum dalam Kerangka Postmodernisme” dapat disimak pada Suyoto (editor, et.all), Postmodernisme dan Masa Depan Peradaban (Yogyakarta: Aditya Media, 1994). Sejak Juni 1997 lalu, ia melanjutkan program pascasarjana di University of New England, Australia

 

     

  1. Ann K..S. Lambton, State and Government in Medieval Islam, an Introduction to The Study of Islamic Political Theory: The Jurist (Oxford: Oxford University Press, 1991), h.xiv 
  2. Lihat Nurcholish Madjid, “Agama dan Negara dalam Islam: Telaah atas Fiqh Siyasy Sunni,” dalam Budy Munawar-Rachman (editor), Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah (Jakarta: Paramadina, 1994), h.588. Bandingkan dengan Ahmad Syalabi, [1], al-Hukumah wa ad-Daulah fi al-Islam (Mesir: an-Nahdhah al-Misriyah, 1958),h.8-9 
  3. Istilah “teo-politik” digunakan untuk menjelaskan kecenderungan sebagian pihak yang mencari justifikasi politik dengan menjadikan teologi sebagai basis, atau sebaliknya, memilih aliran teologi atas dasar kepentingan politik. Perlu ditambahkan bahwa istilah ini tidak mesti bermakna peyoratif, karena ada kalanya keyakinan teologi melahirkan perilaku politik yang bukan saja diwarnai konsep teologi, tetapi juga mencerminkan etika qurani. Misalnya, sikap politik Umar bin Abdul Aziz ketika tidak mengikuti mainstream politik yang berkembang saat itu. 
  4. Penjelasan lebih lanjut, lihat Munawir Sjadzali, Islam dan Tata Negara: Ajaran, Sejarah dan Pemikiran (Jakarta: UI Press, 1990). Bandingkan dengan Nazih N. Ayubi, Political Islam: Religion and Politics in the Arab World (London: Routledge, 1991), h.1-10 
  5. Begitu pentingnya peristiwa itu, sehingga Jalaluddin Rakhmat setuju digunakannya istilah skisma (istilah yang sesungguhnya khas kristiani) untuk menunjuk pada pertentangan besar dua kubu dalam proses kepemimpinan setelah wafatnya Nabi. Lihat Jalaluddin Rakhmat, [1], “Skismadalam Islam: Sebuah Telaah Ulang,” dalam Budhy Munawar-Rachman (editor), op.cit., h. 692-694 
  6.  

Dalam tulisannya yang lain, Jalal beranggapan bahwa peristiwa Saqifah adalah fitnah al-kubra pertama dalam Islam. Lihat Jalaluddin Rakhmat, [2], “Ukhuwwah Islamiyah Perspektif Al-Qur’an dan Sejarah”, dalam Haidar Bagir (editor), Satu Islam Sebuah Dilema (Bandung: Mizan, 1986), h. 83

     

  1. Dalam salah satu artikelnya, “Why Read Islamic History ?” [telah diterjemahkan dan dikumpulkan dalam Islam Mazhab Pemikiran dan Aksi (Bandung: Mizan, 1992),h.34-42] Syari’ati mengulas pentingnya membaca dan mempelajari sejarah Islam guna memahami hal-hal kekinian. 
  2. Buku ini telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Afif Muhammad dengan judul Ummah dan Imamah: Suatu Tinjauan Sosiologis (Jakarta: Pustaka Hidayah, 1989) 
  3. Fiqih Siyasah dan Siyasah Syar’iyah (dengan huruf “s” besar) mengandung makna yang sama. Siyasah Syar’iyah bagi para fuqaha adalah: 
  4.  

“Wewenang waliy al-amri dalam mengerjakan sesuatu atas dasar maslahah yang tidak bertentangan dengan dasar-dasar agama meskipun tidak terdapat dalil khusus.” Lihat Abdul Wahab Khalaf, as-Siyasah asy-Syar’iyah (Cairo: Salafiyah, 1350 H), h.3. Sebagian ulama mendefinisikannya dengan:

Ilmu yang di dalamnya dibahas pengaturan urusan Daulah Islamiyah berupa undang-undang dan sistem yang sesuai dengan dasar-dasar Islam meskipun dalam mengaturnya tidak terdapat dalil khusus (Ibid., h.4)

Siyasah Syar’iyah (“s” besar) terbagi dua: siyasah syar’iyah (“s” kecil) dan siyasah wad’iyah. Abdurrahman Taj membedakan keduanya. Siyasah syar’iyah adalah segala hukum, peraturan atau perundang-undangan untuk mengatur persoalan umat yang bersumber atau bertumpu pada dasar-dasar agama Islam guna melindungi mashlahat dan menghindari madharat. Sedangkan, siyasah wad’iyah adalah segala peraturan yang dibuat oleh manusia untuk mengatur persoalan umat dan bersumber dari atau bertumpu pada ‘urf (adat kebiasaan), pengalaman, pandangan para pakar dan sebagainya, tanpa ada pertalian dengan wahyu atau sumber hukum Islam. Lihat Abdurrahman Taj, as-Siyasah asy-Syar’iyah wa al-Fiqh al-Islami (Mesir: Dar at-Ta’rif, 1953), h.10-11. Cetak miring dari penulis.

Pertanyaan yang seringkali dibahas dalam fiqih siyasah adalah apakah suatu keputusan atau peraturan dipandang islami meski tidak berkenaan dengan masalah agama, bahkan walaupun keputusan atau peraturan itu secara lahiriyah bertentangan dengan ajaran agama ? Umumnya dalam fiqih siyasah suatu keputusan atau peraturan itu dipandang islami jika memenuhi beberapa syarat. Misalnya, keputusan atau peraturan itu diambil melalui jalan musyawarah dan bertujuan untuk memenuhi kemashlahatan semua golongan (mashlahat al-‘ammah). Pada titik ini, fiqih siyasah dipandang absah dipakai sebagai suatu pendekatan untuk menilai keputusan atau peraturan yang dibuat oleh eksekutif dan atau legislatif: apakah islami atau tidak.

     

  1. Dalam konteks Islam, pemisahan atau tepatnya pembedaan posisi pemimpin agama dengan pemimpin politik tidak berarti bahwa pemimpin politik tidak concern dengan persoalan agama; atau tidak berarti bahwa pemimpin agama tidak peduli dengan masalah politik. Sebaliknya, bahkan mereka harus menjiwai dan menjalankan ajaran agama. Pembedaan ini hanya untuk menunjukkan lapangan kerja yang berbeda. Hal ini tentu berbeda dengan kalangan nasrani: “Berikan kaisar haknya, dan berikan hak Tuhan pada-Nya”. Maka, alinea di atas harus dipahami bahwa Muhammad adalah Nabi dan kepala negara sekaligus. Suksesi sepeninggalnya hanya pada lapangan kepala negara, tetapi tidak berarti pemimpin setelahnya sama sekali tidak memiliki otoritas keagamaan, meski tidak sebesar otoritas yang dimiliki Nabi. 
  2.  

Meski demikian, ada pula ulama yang berpendapat bahwa tidak ada keharusan mempunyai khalifah, dan Nabi semata-mata seorang Rasul yang tidak memiliki kekuasaan duniawi, negara atau pemerintahan. Yang berpendapat semacam itu adalah Ali Abdul Raziq dari Mesir. Untuk mengetahui lebih jauh pemikirannya, lihat, antara lain, Ali Abdul Razik, al-Islam wa Ushul al-Hukm, Kairo, 1925. Bantahan terhadap pendapat terakhir ini cukup banyak, salah satunya Dhiya’ ad-Din ar-Rais, al-Islam wa al-Khalifah fi al-‘Ashr al-Hadis, (Naqd kitab al-Islam wa Ushul al-Hukm) (Kairo: Dar at-Turas, 1972). Bandingkan dengan Ahmad Syalabi, [2] as-Siyasah fi al-Fikr al-Islami (al-Qahirah: Nahdhah al-Misriyah, 1983), h. 35-38.

     

  1. Peristiwa Saqifah yang diceritakan ini didasarkan kepada ath-Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Mulk, jilid IV, h.38-41; Munawir Sjadzali, op.cit, h. 21-23 ; Jalaluddin Rakhmat, [2], op.cit. h. 84-89 
  2. Aus dan Khazraz adalah dua suku di Madinah yang selalu bermusuhan sebelum kedatangan Nabi Muhammad. Akar permusuhan yang telah “mendarah daging” itu seringkali menimbulkan letupan kecil pada masa Nabi, sungguhpun demikian figur Nabi Muhammad berhasil meredam. Hanya saja, siapa yang dapat menjamin mereka tidak akan membuka luka lama sepeninggal Nabi. 
  3. Lihat al-Mawardi, al-Ahkam as-Sulthaniyah (Mesir: Musthafa Babi al-Halabi wa Auladuh, 1996), h.6; Ibn Khaldun, Muqaddimah (Beirut: Dar al-Fikr, tt), h.94. Berbeda dengan al-Mawardi dari pemikir Muslim Klasik dan pertengahan, Ibn Khaldun tidak memahami teks al-Aimmah min Quraish secara harfiah. Sesuai teori ashabiyahnya, ia memahami bahwa yang ditekankan adalah sifat dan kemampuan suku Quraish yang saat itu di atas suku lain. Quraish merupakan suku Arab paling terkemuka dengan solidaritas kuat, dominan, dan berwibawa. Jadi, teks itu harus dibaca: kepemimpinan itu harus berada pada mereka yang memiliki ciri-ciri suku Quraish, dan tidak harus selalu orang Quraish. Persoalannya,, apakah penjelasan Ibn Khaldun itu sama dengan yang dipikirkan mereka yang hadir di Saqifah, lebih khusus lagi dengan Abu Bakar yang menyetir teks itu. 
  4. Bai’at sesungguhnya telah dipergunakan sejak masa Nabi. Nabi sendiri sering melakukannya, misalnya, bai’at ar-ridwan dan bai’at al-aqabah. Imam an-Nasa’i mengelompokkan bai’at ke dalam sepuluh macam. [Lihat An-Nasa’i, Sunan an-Nasa’i bi Syarhi as-Suyuthi (Beirut: Dar al-jil, 1989), juz VI, h.683-684]. Inti baiat adalah janji untuk setia dan patuh kepada Nabi serta akan mengamalkan dan membela ajaran Islam. Istilah baiat ini rupanya diteruskan sepeninggal Nabi, namun mengalami pergeseran makna. Pada masa khalifah, baiat menjadi ikrar politik, yang tanpanya seorang khalifah tidak akan diakui. Lebih lanjut, lihat al-Mahami Ahmad Husein Ya’qub, an-Nizam as-Siyasi fi al-Islam (Qoum: Anshariyah, 1312 H), h. 69-75; Fathi Osman , “Bay’ah al-Imam: Kesepakatan Pengangkatan Kepala Negara Islam,” dalam Mumtaz Ahmad (editor), Masalah-Masalah Teori Politik Islam (Bandung: Mizan, 1993), h. 75-116 
  5. Analisis terhadap istilah khalifah berikut pergeseran maknanya secara menarik diberikan oleh W.Montgomeri Watt, [1], Pergolakan Politik Islam (Jakarta: P3M, 1988), h. 50-54. Bandingkan dengan Bernard Lewis, Bahasa Politik Islam (Jakarta: Gramedia, 1994), h. 61-71 
  6. Lihat Nurcholish Madjid, “Agama dan Negara dalam Islam: Telaah atas Fiqh Siyasy Sunni,” dalam Budhy Munawar-Rachman, op.cit.,h.592 
  7. Umar berpidato,” … berdirilah kalian dan berbai’atlah kalian (kepada Abu Bakar). Sungguh saya telah berbai’at kepadanya dan Anshar pun demikian.” Kemudian Usman berdiri, diikuti bani Umayyah, lalu semua berbai’at. Sa’ad bin Abi Waqash dan Abdurrahman bin Auf beserta sukunya berdiri dan berbai’at pula. Sedangkan bani Hasyim berbai’at dengan tekanan (paksaan). Demikian diceritakan al-Mahamy Ahmad Husin Ya’qub, op.cit., h.155-156 
  8. Seperti diriwayatkan dalam Nahj al-Balaghah Syarh Muhammad Abduh (Bandung: Mizan, 1990), terj. Muhammad al-Baqir, h.63-64. Maksud Imam Ali, bila Quraish pohon Rasul, maka Ali adalah buahnya. Ini bisa dimengerti mengingat dalam suku Quraish, bani Hasyim dan bani Umayyah adalah dua klan terhormat. Dan, Ali jelas merupakan pemuda bani Hasyim yang terhormat, mengingat Hamzah telah wafat dan Abbas pun baru masuk Islam, selain itu Abu Sufyan dari bani Umayyah baru masuk Islam pula. Jadi dari silsilah itu, seharusnya, jika al-Aimmah min Quraish dipahami secara lahiriyah maka hanya Imam Ali yang berhak menduduki jabatan khalifah. Tetapi ada juga yang menolak argumen ini. M.A. Shabhan melihat Ali yang masih sekitar tiga puluh tahun tidak mungkin diterima umat. Maka, jika logika di atas diteruskan sebenarnya Abu Sufyan yang harus menjadi khalifah. Untuk menghindari ini, maka diambillah Abu Bakar sebagai jalan tengah, orang Quraish tetapi bukan bani Hasyim dan bani Umayyah. Lihat M.A. Shabhan, Sejarah Islam Penafsiran Baru (Jakarta: Rajawali Press, 1993), h.24-25 

    Persoalannya, apakah “rasionalisasi” yang dikemukakan Shabhan memang hinggap di kepala mereka yang hadir di Saqifah ? Penulis cenderung meragukannya, karena dalam situasi mendadak, emosional, dan genting sukar sekali membayangkan peserta Saqifah berpikir seperti Shabhan

  9. Ali Syari’ati [1], Ummah dan Imamah: Suatu Tinjauan Sosiologis (Jakarta: Pustaka Hidayah, 1989), terj. Afif Muhammad, h.53 

     

     

  10. Ibid
  11. Ibid,
  12. Ali Syari’ati, [2] Islam Mazhab Pemikiran dan Aksi (Bandung: Mizan, 1992), h. 65 
  13. Ali Syari’ati [1], op.cit., h. 114 

     

  14. Ibid
  15. Ibid
  16. Ibid,
  17. Ibid,
  18. Ada dua makna imamah: imamah dalam arti jabatan dan imamah dalam arti sifat / atribut. Pemisahan imamah dan khilafah (dalam arti jabatan) akan bermuara pada pemisahan negara dengan agama. Pemisahan khilafah dan imamah (sifat / atribut) tidak bermuara ke sana. Dan yang terakhir ini yang disetujui Syari’ati. 
  19. Ali Syari’ati, [1], op.cit., h.161 
  20. Kebanyakan orang lupa bahwa Imam Hasan pernah menjadi Khalifah sepeninggal Imam Ali. Memang, penyebutan khalifah setelah Imam Ali acapkali langsung loncat pada Mu’awiyah. Lihat Abu al-A’la al-Maududi, Khilafah dan Kerajaan (Bandung: Mizan, 1990), h. 189 ; W.Montgomery Watt, [2], Kejayaan Islam (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1990), terj. Hartono Hadikusumo, h. 12 
  21. Kesimpulan Syari’ati ini ditentang oleh banyak ulama Iran, termasuk ayahnya sendiri, Muhammad Taqi Syari’ati. Lihat Ali Syari’ati, [1], op.cit., h.165. Haidar Bagir ketika memberi pengantar pada buku tersebut menulis, “Ia (Syari’ati, pen.) berupaya untuk menghilangkan kesan bahwa ketiga sahabat utama Nabi itu telah “merampas” hak Ali.” Bagir juga memberi catatan bahwa pendapat ini boleh jadi merupakan perkembangan belakangan sikap Syari’ati, jika dilihat pandangannya yang cukup keras sebelumnya, mengenai masalah yang sama. Ibid., h.15-16 

     

  22. Ibid
  23. Ibid
  24. Ibid
  25. Ibid
  26. Hamid Enayat, Modern Islamic Political Thought: The Response of The Shi’i and Sunni Muslims to The Twentieth Century (London: The Mac Millan Press, 1982), h.6 
  27. Ibn Khaldun, op.cit.,h.191 
  28. Al-Mawardi, op.cit.,h.5 
  29. Tentang makna kepemimpinan dalam disiplin sosiologi, lihat Soerjono Soekanto, Sosiologi: Suatu Pengantar (Jakarta: Rajawali Pers, 1993), h. 312-324 
  30. Masalah kekuasaan dan wewenang dalam Islam, lihat Mohammed Arkoun, Nalar Islami dan Nalar Modern: Berbagai Tantangan dan Jalan Baru (Jakarta: INIS, 1994), h. 209-238 
  31. Ali Syari’ati, [1], op.cit.,h.19 
  32. Ulama Syi’ah yang lain, Allamah Mulla Husain Thabathaba’i berpendapat bahwa Imam Mahdi gaib pada 260 H (bukan 250 H), dan diyakini oleh kaum Syi’ah bahwa pada tahun itu imam berada dalam kegaiban kecil, karena ia masih memiliki wakil khusus sampai empat orang. Setelah orang keempat wafat (70 tahun setelah kegaiban kecil) maka dimulailah masa gaib besar sampai akhir zaman nanti. Pada waktu yang telah ditentukan itulah nanti, menurut kepercayaan Syi’ah, Imam Mahdi akan muncul dari kegaibannya selama ini. Lebih jelasnya, lihat M.H.Thabatha’i, Shi’ite Islam (Jakarta: Grafiti Pers, 1989), terj. Djohan Effendi, h.241-246 
  33. Lihat Nurcholish Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban (Jakarta: Paramadina, 1992) h. 114 
  34. Tentang sosialisasi politik pada masyarakat primitif, lihat Michael Rush dan Philip Alfhoff, Pengantar Sosiologi Politik (Jakarta: Rajawali Pers, 1993), h. 102-103 
  35. Mengenai sebab-sebab kemunduran dan kejatuhan dinasti Abbasiyah, lihat Ira M. Lapidus, A History of Islamic Societies (Cambridge: Cambridge University Press, 1988), h. 126-136; W.Montgomery Watt, [2], h.165-166 
  36. Lihat Hamka, Sejarah Umat Islam (Kuala Lumpur: Pustaka Antara, 1980), h.254 
  37. Tentang kemajuan pada masa itu, lihat Philip K. Hitti, History of The Arabs, edisi kesepuluh, h. 297-316 
  38. Ali Syari’ati, [3], Membangun Masa Depan Islam (Bandung: Mizan, 1989), h.31 
  39. Dalam hal ini, kita harus berhati-hati dalam menterjemahkan kata syura. Boleh jadi syura itu bukan musyawarah seperti yang dikenal dalam budaya Indonesia; juga bukan bermakna demokrasi seperti yang dikenal dalam dunia Barat. Bisa saja syura itu bermakna konsultasi. Tentu saja studi lebih lanjut diperlukan, tetapi untuk sekedar pengantar bisa dilihat arti, penggunaan, dan pergeseran makna syura dalam Bernard Lewis, op.cit. h.194-202 
  40. Fiqih siyasah tidak mengatur secara tegas mengenai jumlah “wakil umat” atau yang dikenal dengan ahl al-hall wa al-aqd. Ini disesuaikan dengan kondisi dan preseden yang ada. 
  41. Lihat asas-asas tersebut dalam Abdul Wahab Khallaf, op.cit., h.19 dan Abdur Rahman Taj, op.cit., h.31 
  42. Lihat Ervand Abraham, Iran: Between two revolutions (New Jersey: Princeton University Press, 1983), h.464-467; Shaghrough Akhavi, Religion and Politics in Contemporery Iran: Clergy-State Relation in The Pahlevi Period (Albany: State University of New York Press, 1980), h.143-178: Riaz Hasan, Islam dan Konservatisme sampai Fundamentalisme (Jakarta: CV Rajawali, 1985), h. 91-95 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Allah SWT via AlQuran menyatakan : “Sesungguhnya Wali kalian hanyalah Allah, RasulNya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dalam keadan ruku’”… Jadi Jangan Pelintir maksud Allah SWT

Al-Quran dalam topik Imamah tidak membawa sebuah nama satupun yang disebut sebagai seorang Imam. Mungkin hal ini sebagai salah satu metode Allah SWT untuk menjaga Al-Quran dari tahrif, atau ada hikmah-hikmah lain yang masih terselubung. Walaupun demikian Al-Quran telah menjelaskan secara global Imamah Ali as  dan putra-putra beliau dalam beberapa ayat, dan hal ini telah dijelaskan oleh rasul sendiri secara gamblang, sehingga tidak ada kesamaran lagi bagi setiap pribadi pencari hakikat dan kebenaran.

Di dalam Al-Quran banyak terdapat Ayat-ayat yang menjelaskan kelayakan Imam Ali as sebagai seorang Imam.

Allamah Hilly dalam kitab Nahj Al Haq wa Kasyf Al Sidq mengatakan ada sekitar 88 ayat yang menetapkan keimamahan Ali as. Ayat-ayat tersebut, berlandaskan hadis-hadis yang termuat dalam kitab-kitab standar Ahli Sunnah yang menggambarkan dimensi-dimensi keagungan pribadi Ali dan keImamahan beliau. [1]

Begitu juga Qody Said Mar’asyi dalam Ihqaq Al haq menyebutkan sekitar 94 ayat lain yang menetapkan Wilayah Imam Ali a.s dengan berdasarkan 37 kitab standar Ahli Sunnah.

Di sini kita hanya ingin membawakan dan membahas satu ayat Al-Quran yang merupakan penjelas keimamahan Ali as.

Ayat Wilayah

“Sesungguhnya Wali kalian hanyalah Allah, RasulNya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dalam keadan ruku’”. (Al Maidah 55).

Berdasarkan hadis-hadis yang dinukil baik dari kalangan ulama’ Syiah maupun Ahli Sunnah, ayat ini turun berkenaan dengan Imam Ali a.s, dan sesuai kajian dan penuturan para ahli tafsir dan ahli hadis  Syiah serta pengakuan sekelompok ulama’ yang tidak sedikit dari kalangan Ahli Sunnah, bahwa pribadi yang menyedekahkan cincinnya pada si faqir dalam keadaan shalat (waktu ruku’) itu adalah pribadi agung Ali as. [2]

Allamah Mar’asyi dalam kitabnya Ihqaqul Haq menuturkan bahwa ada sekitar 85 kitab hadis dan tafsir Ahli Sunnah yang menukil bahwa ayat tersebut turun berkenaan dengan Imam Ali as

Dengan riwayat-riwayat ini jelas bahwa yang dinginkan dari kata jamak pada ayat di atas adalah kata tunggal dan itu Imam Ali as. Akan tetapi yang perlu dicermati di sini adalah apa arti sebenarnya dari kata wali yang terdapat dalam ayat ini.

Arti wali: Kata-kata Wali, Wilayat, Wala, Maula, dan  Awla, berasal dari akar kata yang sama yaitu Wala. Kata ini sangat banyak digunakan oleh Al-Quran; 124 dengan kata benda, dan sekitar 112 tempat dipakai dalam bentuk kata kerja.

Sebagaimana yang termuat dalam kitab Mufradatul Quran, karya Ragib Isfahani, dan kitab Maqayisul Lugah karya Ibn Fars, arti asli dari kata ini adalah kedekatan dua benda, yang seakan-akan tak berjarak sama sekali. Maksudnya jika dua sesuatu sudah sangat berdekatan, sangatlah mustahil jika dibayangkan ada sesuatu ketiga, ketika kita katakan walia zaid Amr artinya zaid di sisi Amr.

Kata ini juga bermakna teman, penolong dan penanggung jawab. Dengan kata lain pada semua arti tadi terdapat semacam kedekatan dan hubungan serta interaksi, dan untuk menentukan arti yang dinginkan dibutuhkan tanda-tanda dan kecermatan untuk memahami kontek kalimatnya.

Dengan memperhatikan poin-poin yang kita sebutkan tadi, kita dapat memahami bahwa maksud dari ayat di atas adalah hanya tuhan, rasul, dan Ali a.s sajalah yang memiliki kedekatan spesial dengan kaum muslim.

Telah jelas arti dekat di sini berkonotasi spiritual / metafisik bukan material. Konsekuensi kedekatan ini adalah wali (pemimpin) dapat mengganti semua hal yang dapat digantikan dari maula alaih (yang dipimpin). Atas dasar ini segala tindakan yang dilakukan oleh seorang muslim yang dapat diganti, wali mampu melakukannya dan mengiterpensi. Dengan pengertian semacam ini Wilayah diartikan penanggung jawab dan pemilik Ikhtiar. [3]

Dari satu sisi telah jelas tuhan wali seluruh hamba dalam urusan duniawi dan akhirat mereka. Dan Ia wali kaum mu’min dalam urusan agama dan penyeruan mereka terhadap kebahagiaan dan kesempurnaan mereka. Rasul dengan izin tuhan merupakan wali bagi kaum mu’minin. wilayah Imam Ali a.s yang dijelaskan dalam ayat ini juga bermaksud sama seperti arti di atas, yang konsekuensinya beliau mampu menginterfensi masalah dan urusan kaum muslim, dan beliau mendapatkan prioritas dalam jiwa, harta, kehormatan dan agama manusia. [4]

Ta’wilan Ahlisunnah

Mayoritas ulama’ Ahli sunnah mengakui bahwa sebab turunya ayat ini adalah Ali as bahkan Zamakhsari mengatakan dalam al Kassyaf, ketika menjawab persoalan kenapa berbentuk jamak bukankah ini ayat tersebut turun berkenaan dengan satu person saja (Imam Ali as):“hal ini supaya manusia mengamalkannya (bersedekah dalam keadaaan ruku’), dan mengindikasikan pribadi mu’min harus berbuat seperti yang demikian.” [5]

Fakhrur Razi dalam tafsirnya juga mengatakan: “ayat ini turun berkaitan dengan Ali a.s, dan sudah menjadi kesepakatan para ulama bahwa bersedekah dalam keadaan shalat (waktu ruku’) tidak pernah dilakukan kecuali oleh seorang pribadi agung Ali as.” [6]

Suyuthi dalam Durur Mansturnya membawakan pelbagai riwayat yang menunjukkan bahwa sebab turunya ayat ini adalah Ali a.s:”

Poin terpenting dan mendasar yang digunakan Ahli Sunnah untuk menjustifkasi ayat ini adalah, maksud dari wali dalam ayat ini adalah teman, bukan penanggung jawab dan pemilik ikhtiar.

Akan tetapi sebagaimana telah dijelaskan di awal-awal tadi –arti semacam ini (teman) tidak akan muncul dengan adanya alat hasr yang berupa Innama. Karena dengan demikian akan muncul konsekuensi pelarangan persahabatan dan berteman dengan selain Allah, Rasul, dan Ali as

 Kepemimpinan Ali as dalam Tinjauan Hadis Dan Sunnah

Dalam kitab-kitab hadis, baik di kalangan Ahlisunnah maupun di kalangan Syiah, terdapat bayak riwayat dari rasul yang menuturkan dan mencatat bahwa Ali as merupakan Imam dan Khalifah setelah beliau.

Riwayat-riwayat ini menunjukkan bahwa semenjak diutus, nabi telah diperintahkan untuk menyampaikan hal penting ini –kepemimpinan Ali as setelah beliau- kepada kaum muslimin, dan beliau juga telah menyampaikannya di berbagai kesempatan.

Mengingat kapasitas kitab ini tidak bisa  membahas riwayat itu secra keseluruhan kita hanya akan membawakan riwayat-riwayat yang berkaitan dengan peristiwa Al Gadir secara terperinci, dan selanjutnya kita akan membawakan riwayat-riwayat lain secara global.

Hadis Gadir

Hadis Gadir berkaitan dengan sebuah momen yang terjadi di penghujung kehidupan nabi SAWW, peristiwa ini terjadi pada waktu beliau kembali dari penunaian haji terkahir yang beliau laksanakan. Peristiwa akbar ini terjadi  di sebuah tempat yang diberi nama Gadir Khum. Tempat ini adalah tempat terpisahnya para jamaah haji dari Mesir, Irak, dan para jamaah haji yang berangkat dari kota Madinah.

Pada tahun kesepuluh hijriyah, Nabi SAWW bersama sekelompok besar dari sahabat pergi ke kota Mekah untuk menunaikan ibdah hajji. Setelah selesai menunaikan ibadah tersebut, beliau memberi titah kepada para sahabat untuk kembali ke kota Madinah. Ketika para rombongan sampai di kawasan Rabig sekitar tiga mil dari Juhfah, Jibril datang dan turun menjumpai rasul di Gadir Khum dengan menyampaikan misi dan wahyu dari tuhan: “Wahai Rasul sampaikan apa yang telah diturunkan kepadamu dari tuhanmu, dan andai kamu tidak melakukannya niscaya kamu tidak menyampaikan risalahNya, dan (ketahuilah) Allah akan menjagamu dari manusia.”(Maidah 67)

Dengan turunnya ayat ini rasul memerintahkan rombongan untuk berhenti, dan menyuruh mereka yang didepan untuk berhenti dan kembali, serta beliau memerintahkan untuk menunggu para rombongan yang masih tertinggal di belakang. Saat itu adalah waktu Dhuhur, cuaca sangat panas sekali, sebuah mimbar pun didirikan. Shalat Duhur didirikan secara berjamaah, kemudian setelah para sahabat berkumpul, beliau berdiri di atas mimbar setinggi 4 onta, dan dengan suara lantang beliau pun berpidato:” segala puji bagi Allah, dariNya kita minta pertolongan, dan kepadaNya kita beriman dan berserah diri, dan kita berlindung kepadaNya dari kejelekan amal perbuatan kita, tuhan yang tiada pembimbig dan pemberi hidayat selainNya. Siapa yang diberi petunjuk olehNya, tidak akan ada seorangpun yang sanggup menyesatkannya, aku bersaksi bahwa tiada yang layak disembah selainNya, dan Muhammad adalah utusan dan HambaNya.

Wahai Manusia sudah dekat rasanya aku akan memenuhi panggilanNya, dan akan meninggalkan kalian. Aku akan dimintai pertanggung jawaban, kalian pun juga demikian.

v Apakah yang kalian pikirkan tentang diriku?.

Ø  Kami bersaksi bahwa anda telah menjalankan dan telah berupaya untuk menyampaikan misi  yang telah anda emban, semoga Allah SWT memberikan pahala kepadamu.

v Apakah kalian bersaksi bahwa tuhan hanya satu dan Muhammad hamba sekaligus nabiNya, Surga, Neraka, dan kehidupan abadi di dunia lain adalah benar dan pasti?

Ø Iya, kami bersaksi.

v wahai manusia aku akan menitipkan dua hal berharga pada kalian supaya kalian beramal sesuai dengan dua hal tersebut.

Ø Pada saat itu berdirilah seorang dari mereka seraya berkata:”apa kedua hal tersebut?”

v Pertama kitab suci tuhan di mana pada satu sisinya berada di tangan tuhan, sedang yang lain berada di tangan kalian, sedang hal lainnya yang akan aku titipkan pada kalian adalah itrah dan ahlul baytku. Tuhan telah mengabariku bahwa kedua hal tadi tidak akan  berpisah sampai kapanpun.

v Wahai manusia janganlah kalian mendahului Al-Quran dan itrahku dan sekali-kali jangan tinggalkan keduanya karena kalian akan binasa dan celaka.

Tak lama kemudian nabi mengangkat tangan Ali as setinggi-tingginya sehingga tampaklah kulit ketiak kedua pribadi agung itu, dan beliau memperkenalkan imam Ali kepada khalayak seraya berkata:”Wahai manusia siapa gerangan yang lebih layak dan lebih berhak terhadap kaum mu’minin dari pada mereka sendiri?

Ø Tuhan dan rasulnya lebih tahu.

v Sesungguhnya Allah maulaku dn aku maula kaum mu’minin, dan aku lebih berhak atas diri mereka ketimbang mereka. Maka barang siapa yang maulanya adalah diriku maka ketahuilah bahwa Ali maulanya.

Sesuai penuturan Ahmad bin Hanbal, nabi mengulang ungkapan ini sebanyak empat kali, kemudian melanjutkan dengan do’a:”ya Allah cintailah mereka yang mencintai Ali, dan musuhilah mereka yang memusuhinya, kasihilah mereka yang mengasihinya, murkailah mereka yang membuat murka dia, tolonglah mereka yang menolongnya, hinakanlah mereka yang menghinanya dan merendahkannya, dan jadikanlah ia sebagai sendi dan poros (mihwar)  kebenaran.

Koreksi Sanad Hadis

Hadis Gadir salah satu hadis yang sangat populer baik dalam Syiah maupun Ahli Sunnah, sebagian mengklaim bahwa hadis ini mutawatir. Selain para ulama’ Syiah, sekelompok dari ulama’ Ahli Sunnah pun secara independen membahas dan menganalisanya, seperti: Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Thabari (W -310 H), dan Abu Abbas Ahmad bin Ahmad bin Said Hamadani (W-333 H), juga Abu Bakar Muhammad bin Umar bin Muhammad bin Salim Tamimi Baghdadi (W- 355 H) Dan masih banyak lagi. [7]

Untuk lebih memperjelas sejauh mana perhatian Tabiin dan Tabiinnya Tabiin dan para ilmuwan dan Fuqaha terhadap penukilan hadis ini dan kesahihan Sanadnya, kita akan bawakan secara singkat sejumlah Perawi hadis ini dari Ahli Sunnah di setiap abad, sedang untuk detailnya bisa dirujuk sendiri pada kitab-kitab yang secara panjang lebar memuat permasalahan ini. Para penukil hadis ini adalah: 

1. 110 sahabat.

2. 84 Tabiin.

3. 56 Ulama’ abad kedua.

4. 92 Ulama’ abad ketiga.

5. 43 Ulama’ abad keempat

6. 24 Ulama’ abad kelima.

7. 20 Ulama’ abad keenam.

8. 20 Ulama’ abad ketujuh.

9. 19 Ulama’ abad kedelapan.

10.    16 Ulama’ abad kesembilan.

11.    14 Ulama’ abad kesepuluh.

12.    12 Ulama’ abad kese belas.

13.    13 Ulama’ abad kedua belas.

14.   12 Ulama’ abad keiga belas.

15.   19 Ulama’ abad keempat belas.

Para Muhaddis (ahli hadis) Ahli Sunnah, Yang menukil hadis ini di antaranya; Ahmad bin Hanbal Syibani dengan 40 sanad, Ibn hajar Asqalani dengan 25 sanad, Jazri Syafii 80 sanad, Abu Said Sajistani 120 sanad, Amir Muhammad Yamani 40 sanad, Nisai 250 sanad, Abu Ya’la Hamadani 100 sanad, Abul I’rfan Haban dengan 30 sanad. [8]

Dengan demikian peristiwa Gadir Khum dan pelantikan yang dilakukan oleh nabi SAWW, merupakan salah satu musallamat sejarah, sehingga siapapun yang mengingkarinya, dia tidak akan bisa menerima kejadian dan peristiwa-peristiwa historis lainnya.

Arti Hadis

Poin utama dari hadis ini adalah penggalan riwayat yang mengatakan:

من كنت مولاه فهذا علي مولاه “ Barang siapa Aku pemimpinnya, maka Ali juga pemimpinnya.”

Dengan memperhatikan berbagai kontek yang ada, maksud dari kata maula dalam hadis ini berarti aula atau lebih utama. Pada akhirnya hadis ini mengindikasikan bahwa Ali a.s adalah wali setelah nabi dan pengnggung jawab kaum muslimin, dan dia lebih utama dari diri mereka. Qarinah atau kontek-kontek tersebut adalah:

 1. Pada permulaan hadis nabi bersabda” tidak kah aku terhadap diri kalian lebih utama dari kalian? ungkapan setelahnya yang mengatakan man kuntu maulahu… berdasarkan pada ungkapan ini, dengan demikian keserasian keduanya memberikan pengertian bahwa maula di situ berarti  awla dalam tashruf.

2. Pada akhir hadis rasul bersabda: ” اللهم وال من والاه وعادمن عاده doa ini merupakan penjelas akan maqam imam Ali a.s, dan hal ini dapat bermakna sebagaimana mestinya jika wali itu berarti maqam kepemimpinan dan wilayah.

1. Rasul dari khalayak meminta penyaksian, dan ungkapan man kuntu.., dalam  kontek penyaksian terhadap keesaan tuhan, dan kenabian rasul. Sehingga nilai hal tersebut (kewalian Ali as) dapat dipahami dari konteks tadi (penyaksian dengan keesaan Allah dan kenabian rasul).

2. Setelah nabi selesai dari ucapan beliau, dan sebelum khalayak berpencar dan terpisah-pisah satu sama lain, Jibril datang dengan membawa wahyu:”Hari ini telah Aku sempurnakan bagimu agamamu…” dan waktu itu rasul bersabda:” Maha Besar Allah atas penyempurnaan agama, dan perampungan nikmat, tuhan telah ridha dengan misiku dan kepemimpinan Ali as setelahku.” Atas dasar ini apakah ada satu tafsiran lagi selain Imamah dan kepemimpinan Ali as dari tema penyempurnaan agama dan perampungan nikmat, dan ditambah posisinya disejajarkan dengan sariat?.

Selain kontek dan berbagai qarinah yang telah kita sebutkan tadi, di sana terdapat kontek-kontek lain yang mengindikasikan keagungan misi yang harus disampaikan oleh rasul pada saat itu. Untuk lebih lengkapnya dapat dirujuk dalam kitab Al-Gadir jild pertama, halaman 370-383.

Sekilas Tentang Hadis-Hadis Yang Lain

1. ketika ayat indar [9]  turun, nabi meminta Abu Thalib untuk menyiapkan makanan, dan mengundang semua anak keturunan Abdul Muthalib. Pada waktu itu beliau bersabda:”siapakah dari kalian yang sudi menjadi patner bagiku, dan membantuku, niscaya dia akan menjadi saudara, khalifah, dan wasi setelah aku?.

Pada waktu itu tidak ada satu orang pun yang menjawab panggilan dan seruan nabi selain Ali as, beliau bersabda: “aku siap membaiat dan menolongmu” kemudian Nabi bersabda:” dia adalah saudaraku, wasi, khalifah dan pewaris sepeninggalku maka dengarkanlah dan patuhilah ucapannya!. [10]

2. ketika rasul hijrah ke Madinah, beliau mengikat tali persaudaraan diantara para sahabat kecuali Ali as, Ali as bersabda:”Wahai rasul kamu telah mengikat persaudaraan antara para sahabat, bagaimana dengan diriku?” baginda nabi bersabda:”apakah kamu tidak rela untuk menjadi saudaraku dan khalifah sepeninggalku?. [11]

3. Dalam riwayat yang tak sedikit jumlahnya rasul meminta dari para sahabat untuk memanggil Ali a.s dengan gelar Amirul Mu’minin, kemudian beliau bersabda:” kamu penghulu kaum muslim dan Imam kaum Muttaqin dan pemimpin para pribadi berwajah ceria di surga”.

Beliau juga bersabda:” ia wali setiap mu’min dan mu’minah”. Hadis ini diriwayatkan oleh kedua kelompok baik Syiah maupun Ahli Sunnah, dan kompilasi dari keduanya mencapai pada batas mutawatir. [12]

4. Secara mutawatir berdasarkan penukilan ulama’ Syiah dan Ahli Sunnah rasul bersabda kepada Imam Ali:” posisi dan kedudukanmu di sisiku seperti posisi dan kedudukan Harun disisi Musa as”. [13]  Artinya setiap hal yang dimiliki oleh Harun terhadap Musa as, juga dimiliki oleh Ali as dari rasul. Dan hal terpenting dari semua itu adalah khilafah dan kewasiaan Harun dari Musa as

Imamah / Kepemimpinan Para Imam Yang Lain

Keimamaham Imam yang lain dengan berbagai ungkapan dan penjelasan telah disampaikan pula oleh rasul SAWW. Riwayat-riwayat yang bertalian dengan hal ini dapat kita kategorikan dalam 6 kategori;

1. Kategori pertama riwayat-riwayat yang menyinggung Ahlul bayt, I’trah, durriyah, dan Dul Qurba. Begitu juga telah dijelaskan ciri-ciri umum dan universal para Imam yang berhak, dan keberlangsungannya dari keturunan Az Zahra as, riwayat-riwayat yang memuat permasalahan tersebut sangat banyak kita dapati dalam kitab-kitab sahih dan jami’ Ahli Sunnah. Riwayat tersebut secara luas dan panjang lebar telah termuat dan terkumpul dalam kitab Aqabatul Anwar, Al Gadir, Al Muraja’at, dan Ihqaqul Haq.

2. Kelompok riwayat yang menjelaskan perpindahan / peralihan kepemimpinan (Imamah) atau suksesi dari imam Ali a.s kepada imam Hasan as dan dari beliau kepada Imam Husain. Sebagian dari riayat-riwayat tersebut telah dimuat dalam kitab Ihqaqul Haq jild ke 19.

3. Kelompok riwayat yang yang menyebutkan jumlah Imam sebanyak 12 orang, dengan tanpa penyebutan nama. Riwayat ini mencapai 130 riwayat. Dan sekitar 40 riwayat yang menyebutkan bahwa khalifah dan pengganti setelah nabi SAWW sejumlah Nuqaba nabi Musa As. [14]

4. kurang lebih 91 riwayat menyebutkan jumlah Imam dengan membawakan nama Imam pertama dan terakhir. Dan sejumlah 94 riwayat yang hanya menyebutkan nama Imam yang terakhir. [15]

5. Sekitar 139 hadis yang menyebutkan bahwa Imam berjumlah 12 orang, dan secara gamblang riwayat-riwayat ini mengatakan bahwa 9 orang dari mereka adalah anak keturunan Al-Husain as dan sekitar 107 dari riwayat tadi menyebutkan  nama Imam yang terakkhir. [16]

6. Sekitar 50 hadis menyebutkan nama-nama Imam secara lengkap dari awal sampai akhir. Sebagai contoh berikut ini contoh dari riwayat-riwayat tersebut.                                                                                                                                                                                                   

Jabir bin Abdillah berkata:”ketika ayat 55 dari surat Nisa turun yang menegaskan ”taatilah Allah, dan taatilah rasul, dan para pemimin dari kalian”  aku bertanya pada rasul SAWW, “kami telah mengetahui tuhan dan rasulnya, namaun Ulil Amr yang wajib kita taati tersebut belum kami ketahui, siapakah gerangan mereka itu? Beliau bersabda:”mereka penggantiku, para Imam dan pemimpin sepeninggalku, yang pertama Ali, kemudian secara berurutan Hasan pura Ali, Husain putra Ali, Ali putra Al Husain, Muhammad putra Ali yang dalam Taurat dikenal dengan Baqirul Ulum, dan kamu pada suatu saat akan berjumpa dengannya, dan kapanpun kau menjumpainya sampaikanlah salamku padanya. Kemudian setelahnya secara urut Ja’far putra Muhammad, Musa putra Ja’far, Ali putra Musa, Muhammad putra Ali, Ali putra Muhammad, Hasan putra Ali, dan kemudian putranya yang nama dan kunyahnya (panggilan) sama dengan ku. Tuhan akan menjadikannya pemimin bagi dunia, dan ia akan tersembunyi dari pandangan dan penglihatan, dan ia akan gaib lama sekali. Sampai suatu saat di mana hanya ada orang-orang yang memiliki keiman yang  kokoh, yang teruji dan mendalam akan keyakinan terhadap kepemimpinannya. [17]

Riwayat-Riwayat Dari Ahli Sunnah Berkenaan Dengan Ke-Imamahan 12 Orang Imam

Tepat sekali kalau pada kajian ini kita bawakan riwayat- riwayat tentang ke-Imamahan para Imam 12 yang termuat dalam kitab-kitab standar Ahli Sunnah, riwayat- riwayat tersebut diantaranya:

1. Bukhari menukil dari Jabir bin Samarah:”Aku mendengar rasul bersabda:”setelahku 12 orang pemimpin akan datang.” Saat itu beliau melanjutkan ucapannya yang tak terdengar olehku kemudian ayahku berkata bahwa keseluruhan imam tersebut semuanya dari bangsa Quraisy.” [18]

2. Muslin juga menukil dari Jabir bin samarah:”aku mendengar rasul SAWW bersabda:”Islam akan memiliki pemimpin sampai 12 orang. Kemudian beliau bersabda yang tak bisa kupahami. Aku bertanya pada ayahku tentang apa yang tidak aku pahami itu, ia berkata:”beliau bersabda semuanya dari kaum Quraisy. [19]

3. Muslim dari Jabir juga menukil, ia (Jabir) berkata:”aku dan ayahku berjalan bersama rasul SAWW saat itu beliau bersabda:”agama ini akan memiliki 12 pemimpin, yang kesemuanya dari bangsa Quraisy. [20]

4. Muslim juga menukil dari Jabir:”aku mendengar rasul bersabda:”agama Islam akan langgeng sampai hari kiamat nanti, sampai dua belas orang khalifah memerintah yang kesemuanya dari Quraisy. [21]

Imam Ke 12

Sebagaimana kita jelaskan di atas, berdasarkan riwayat yang amat banyak yang diriwayatkan dari rasul SAWW, bahwa jumlah para imam ma’sum yang akan datang silih berganti dan menjadi pelanjut dan penerus jalan dan pembawa lentera hidayah bagi manusia adalah 12 orang, di mana imam kesebelas dari mereka telah melaksanakan tugas dan misi ilahi dalam menjaga agama dalam kondisi tersulit yang ditabur oleh para penguasa penyembah kekuasaan, yang  pada akhirnya mereka korbankan nyawa mereka di jalan agama tuhan.

Keimamahan imam Ke 12 Imam Mahdi as dimulai semenjak sahidnya Imam ke 11 (260 h), dan tetap berlangsung sampai saat ini, dan seterusnya. Hal ini menuntut kita untuk sedikit membahas sebagaian hakikat yang terkait dengan keimamahan  beliau.

Imam dan Hujjah tuhan Ke 12 lahir pada pertengahan bulan Sya’ban tahun 255 hijriyah, di kota Samira. Nama dan kunyah beliau sama dengan rasul M-H-M dan Abul Qasim, kendati ada larangan untuk menyebut nama beliau. [22] Beliau memiliki beberapa gelar di antaranya: Hujjat, Qaim, Wali Ashr, Khalafus Shaleh, Sahibuz Zaman, Baqiytullah dan al-Mahdi yang merupakan gelar termasyhur bagi beliau.

Imam Mahdi memiliki dua gaibah, pertama gaib sugra (kecil) yang berlangsung sangat singkat, dan yang kedua gaibah kubra (besar) gaibah ini berlangsung sangat lama. Gaibah sugra berlangsung dari kelahiran beliau sampai tahun 329 hijriah, sedang gaibah kubra dari tahun 329 tadi sampai masa kemunculan dan bangkitnya beliau nanti.

 Kabar Gembira Akan Munculnya Imam Mahdi as dalam Hadis

Syiah Maupun Ahli Sunnah secara mutawatir menukil riwayat-riwayat yang mengatakan:”pada akhir zaman nanti akan muncul seorang manusia yang bernama Mahdi yang akan melenyapkan kebodohan dan kezaliman, dan akan meyebar luaskan ilmu dan keadilan, dan ia akan menerapkan agama tuhan di atas dunia, kendati para musyrik tidak menyetujui dan membencinya”.

Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa:”jika umur dunia hanya tinggal sehari, tuhan akan memanjangkan hari itu sampai seorang anak manusia muncul yang akan memenuhi alam dengan keadilan, sebagaimana dunia telah dipenuhi oleh kezaliman dan penganiyaan. [23]

Mengingat pentingnya statistik riwayat-riwatyat yang dinukil baik oleh kalangan Syiah maupun Ahli Sunnah, berikut ini kami bawakan riwayat-riwayat tersebut yang kami bagi dalam 11 kategori:

1. sekitar 657 riwayat tentang kabar gembira munculnya Imam Mahdi as

2. 389 riwayat yang menjelaskan tentang Mahdi dari Ahli Bayt rasul.

3. 214 riwayat yang menjelaskan bahwa Mahdi dari keturunan Ali as

4. 192 riwayat yang menjelaskan bahwa Mahdi dari keturunan Fatimah.

5. 148 riwayat yang menjelaskan bahwa Mahdi adalah anak ke-9 dari keturunan Al Husain.

6. 185 riwayat yang menjelaskan bahwa Mahdi dari keturunan Imam Ali Zainal Abidin.

7. 146 riwayat yang menjelaskan bahwa Mahdi putra Imam Hasan Askari.

8. 132 riwayat yang menjelaskan bahwa Mahdi akan memenuhi alam dengan keadilan.

9. 91 riwayat yang menjelaskan bahwa Mahdi akan gaib lama sekali.

10.    318 riwayat yang menjelaskan bahwa Mahdi memiliki umur yang sangat panjang sekali.

11.    136 riwayat yang menjelaskan mahdi adalah Imam ke-12 dari para Imam Ahlul Bayt. [24]

Ahli Sunnah dan Imam Mahdi

Begitu jelasnya kemutawatiran riwayat-riwayat yang menyebutkan kabar gembira akan munculnya Mahdi as, sampai-sampai banyak dari para ulama’ Ahli Sunnah yang mengakui dan menegaskan secara gamblang kemutawatiran riwayat-riwayat tersebut. Berikut ini sebagaian dari mereka:

Allamah Syaukani dalam kitab Attaudhih fi Tawatutri ma jaa fil Muntadhar wad Dajjal wal Masih; Hafid [25] Abu Abdillah Ganji Syafi’i (W 658 H) dalam kitab Al Bayan fi Akhbar Shahibuz Zaman; Hafid ibn Hajar Al Asqalani Syafi’I (W 852 H) dalam Fathul Bari. [26]

Atas dasar ini keyakinan terhadap munculnya Imam Mahdi as bukanlah khusus bagi Syiah saja, akan tetapi Ahli Sunnah juga menyakininya, walaupun menurut keyakinan mereka beliau as sampai sekarang belum terlahirkan ke dunia.

Bahkan Wahabiyah sendiri yang menjadi penentang nomor wahid Syiah, tak mampu mengingkarinya. Dalam stateman / penjelasan yang dikeluarkan Rabithatul Alamil Islami pada tahun 1976 Masehi secara tegas disebutkan [27]:

”…ketika kerusakan, kezaliman dan kekafiran telah menyebar luas di dunia, Allah SWT akan memenuhinya dengan keadilan melalui dia (Mahdi) as, sebagaimana dunia telah dipenuhi oleh kezaliman. Ia merupakan khalifah terakhir dari Khualafaur Rasyidin yang berjumlah 12 sebagaimana dikabarkan oleh rasul SAW yang terdapat dalam kitab-kitab hadis yang sahih. Hadis-hadis yang berkaitan dengan hal ini banyak diriwayatkan dari para sahabat besar seperti Ustman bin Affan; Ali bin Abu Thalib; Thalhah bin Ubaidillah; dan Abdurrahman bin Auf …” [28]

Selain keterangan dan penjelasan yang kita bawakan tadi, para ulama’ non-Syiah juga menulis kitab-kitab yang berkaitan dengan Imam Mahdi as seperti: Abu Nu’aim pengarang kitab Akhbarul Mahdi; Ibn Hajar Haitsami yang menulis sebuah kitab berjudul Al Qaulul Mukhtasar fi Alamatil Mahdi Al Muntadhar; dan Idris yang berkebangsaan Irak dan Maroko yang mengarang kitab dengan judul Al Mahdi.


[1] Nahjul Haq wa Kasyfus Sidq, percetkan darul hijrah, Qom, halaman 172-211.

[2] Ihqaqul haq, jld 2, halaman 399 dan seterusnya.

[3] Ragib dalam Mufradatul Quran halaman 570 mengatakan:”Wilayah berarti kemenangan, penanggung jawab dan pemilik ikhtiar sebuah perbuatan, sebagian berpendapat wilayat dan walayat memiliki satu arti yaitu penanggung jawab dan pemilik ikhtiar. Wali dan maula juga berarti demikian, hanya terkadang berkonotasi subyek (ism fa’il) dan terkadang obyek (ism maf’uli). Thabarsi dalam majmaul bayan setelah ayat 157 Baqarah mengatakan:’wali dari kata wala yang berarti berdekatan tanpa ada penghalang, wali adalah orang yang lebih berhak dan layak untuk melakukan perbuatan orang lain. Pemimpin sebuah kaum dapat dipanggil dengan wali, karena kedekatan dan secara langsung mengurusi dan menyuruh dan melarang semua urusan. Dan kepada majikan dikatakan maula karena secara langsung mengurusi masalah hamba. Ibnu faris juga mengatakan:”barang siapa bertanggung jawab atas urusan seseorang maka ia akan menjadi wali baginya. (Maqayisul Lugah jild 6, halaman 141).

[4] Allamah Sayyid Husain Tehrani, Imam Syenasi (mengenal Imam), jild 5, halaman 199-265; Allamah Sayyid Abdul Husain Syarafuddin, Al Murajaat, muraje-e-ye 38, Ustad Muthahari, Majmue-ye Atsar, jild 3, halaman 268-289.

[5] Ak-KasysYaf, percetakan mesir, tahun 1373 syamsi, jild  1, halaman 505.

[6] Tafsirul Kabir, percetakan mesir, tahun 1357 Syamsi, jild 12,halaman 30.

[7] Allamah Amini dalam jild  pertama kitab Al-Gadir halaman 152-157 telah membawakan nama-nama ulama’ yang telah menulis kitab untuk mengomentari dan menganalisa hadis ini, beliau juga menjelaskan metode yang diperaktekkan para penulis dalam memaparkan keterangannya.

[8] Jumlah ini diambil dari Al-Gadir jild pertama. Sedang pembahsan sanad hadis ini terdapat kitab-kitab tersendiri di antarana; Gayatul maram, karya Allamh sayyid Hasyim Bahrani (w 1390), dan Al-‘Aqabat, karya Sayyid Mir Hamid Husain Hindi. (w 1306)

[9] Syua’ra 214.

[10] Al-‘umdah, Ibnu Bithriq, halaman 121, 122 dan halaman 133, 134; Gayatul Maram, halaman 320; Syawahidul Tanzil, jild 1, halaman 420; Al-Gadir, jild 2, halaman 278-279.

[11] Al-“umdah, halaman 215-223;Al-Gadir, jild 3 halaman 112-125.

[12] Manaqib ibnu Magazali, halaman 65-66.

[13]

Al-‘Umdah, halaman 173-185, Musnad Ahmad, jild 3, halaman 32, Al-Gadir jild 1, halaman 51 dan jild 3, halaman 197-201.

[14] Muntakhabul Atsar, Ayatullah Shafi, halaman 10-58.

[15] Muntakhabul Atsar, Ayatullah Shafi, halaman 58-64.

[16] Muntakhabul Atsar, Ayatullah Shafi, halaman 65-96.

[17] Muntakhabul Atsar, halaman 101.

[18] Sahih Bukhari, jild 9, bab Istikhlaf, halaman 81.

[19] Sahih Muslim, jild 6, kitab Al-Amarah, bab annas taba’un li quraisy, halaman 3.

[20] Sahih Muslim, jild 6, kitab Al-Amarah, bab annas taba’un li quraisy, halaman 3.

[21] Sahih Muslim, jild 6, kitab Al-Amarah, bab annas taba’un li quraisy, halaman 3, sebagai bahan tahqiq pembaca budiman dapat merujuk ada kitab, musnad bin hanbal, jild 5, halaman 86, 89, 97, 107; muntakhabul Atsar, halaman 16  ;Yanabiul Mawaddah, halaman 446.

[22] Terdapat polemic diantara ulama syiah apakah pelarangan menyebut nama Imam zaman bersifat temporal dan hanya khusus pada zaman gaib sugra beliau ataukah pelaranga tersebut permanent sifatnya dan berklaku pada setiap zaman. An-Najmus Tsaqib, Mirza Husain Thabarsi Nuri, tehran, percetakan ilmiye-ye islamiyeh, bab 2, halaman 48-49.

[23] Musnad Ahmad bin Hanbal, jild 1, halaman 99, jild 3, halaman 17 dan 70.

[24] Sesuai penuturan Ayatullah Ja’far Subhani, Muhadharah Ilahiyah,halaman 566.

[25] Hafid adalah orang yang mengetahui sunnah-sunnah nabi yang dia juga mampu membedakan sunnah-sunnah yang telah menjadi kesepakatan dan sunnah yang masih dipertentangkan. Ia pun mengetahui dengan sempurna kondisi para perawi dan tingkatan para guru-guru hadis. (Mudir Syaneh chi, Ilmul Hadis, jild 2, halaman 22).

[26] Untuk mengetahui lebih lanjut lihatlah Nuvid amn va aman, karya Ayatullah Shafi, Tehran, Darul kutubul Islamiyah, menurut tahqiq yang beliau lakukan sekitar 17 orang dari ulama’ Ahli sunnah yang menegaskan kemutawatiran riwayat-riwayat yang berkenaan dengan kemunculan Al-Mahdi as.

[27] Rabitahtul Alamil Islami, merupakan markas terbesar Wahabiyah yang berdomisili di Makah, penjelasan dan jawaban dari soal kemunculan Imam Mahdi as dikeluarkan oleh markas ini dengan tanda tangan KETUMnya.

[28] Dalam penjelasan tersebut ada sekitar 20 nama orang yang sahabat rasul SAWW yang mereka katakan telah menukil dan meriwayatkan hadis-hadis tadi, kita hanya menyebutkan saja sebagian dari mereka. (menurut penuturan Sire-ye Fisywayan, Mahdi Fisywai, Qom, Muasese-ye va ta’limati Imam Shadiq, halaman 701-703).

Nabi SAW bilang : “Memisahkan Diri Dari Ali Berarti Memisahkan Diri Dari Nabi SAW”… Jadi jelaslah kedudukan Sahabat Yang Tidak Mau Membai’at Imam Ali Pasca Wafat Nabi SAW, Apalagi Aisyah dan Muawiyah Yang Memerangi Imam Ali

Kedudukan Hadis “Memisahkan Diri Dari Ali Berarti Memisahkan Diri Dari Nabi SAW”.

Dalam tulisan kali ini akan dibahas contoh lain kesinisan salafy dalam menyikapi hadis-hadis keutamaan Ahlul Bait. Hadis ini termasuk salah satu hadis yang menjadi korban syiahphobia yang menjangkiti para ulama.

حدثنا عبد الله قال حدثني أبي قثنا بن نمير قثنا عامر بن السبط قال حدثني أبو الجحاف عن معاوية بن ثعلبة عن أبي ذر قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم يا علي انه من فارقني فقد فارق الله ومن فارقك فقد فارقني

Telah menceritakan kepada kami Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair yang berkata telah menceritakan kepada kami Amir bin As Sibth yang berkata telah menceritakan kepadaku Abul Jahhaf dari Muawiyah bin Tsa’labah dari Abu Dzar yang berkata Rasulullah SAW bersabda “Wahai Ali, siapa yang memisahkan diri dariKu maka dia telah memisahkan diri dari Allah dan siapa yang memisahkan diri dariMu maka dia telah memisahkan diri dariKu”.

Hadis dengan sanad diatas diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal dalam Fadhail As Shahabah no 962. Hadis tersebut juga diriwayatkan oleh Al Hakim dalam Al Mustadrak no 4624 dan no 4703, Al Bukhari dalam Tarikh Al Kabir juz 7 no 1431 biografi Muawiyah bin Tsa’labah, Ibnu Ady dalam Al Kamil 3/82 dan Al Bazzar dalam Musnad Al Bazzar no 4066. Berikut sanad riwayat Al Bazzar

حدثنا علي بن المنذر وإبراهيم بن زياد قالا نا عبد الله بن نمير عن عامر بن السبط عن أبي الجحاف داود عن أبي عوف عن معاوية بن ثعلبة عن أبي ذر رضي الله عنه قال قال رسول الله لعلي  يا علي من فارقني فارقه الله ومن فارقك يا علي فارقني

 

Telah menceritakan kepada kami Ali bin Mundzir dan Ibrahim bin Ziyad yang berkata telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Numair dari Amir bin As Sibth dari Abul Jahhaf Dawud bin Abi Auf dari Muawiyah bin Tsa’labah dari Abu Dzar RA yang berkata Rasulullah SAW bersabda kepada Ali “Wahai Ali siapa yang memisahkan diri dariKu maka dia telah memisahkan diri dari Allah dan siapa yang mmisahkan diri dariMu Ali maka dia telah memisahkan diri dariKu”.

.

.

Kedudukan Hadis

Hadis ini sanadnya shahih, telah diriwayatkan oleh para perawi terpercaya sebagaimana yang dikatakan Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid 9/184 no 14771 setelah membawakan hadis Abu Dzar RA di atas

رواه البزار ورجاله ثقات

Hadis riwayat Al Bazzar dan para perawinya tsiqat.

Al Hakim telah mnshahihkan hadis ini dalam kitabnya Al Mustadrak no 4624 dan memang begitulah keadaannya. Berikut keterangan mengenai para perawi hadis tersebut

  • Ali bin Mundzir disebutkan Ibnu Hajar dalam At Tahdzib juz 7 no 627 bahwa ia dinyatakan tsiqat oleh Abu Hatim, An Nasa’i, Ibnu Hibban dan Ibnu Numair. Ibnu Hajar dalam At Taqrib 1/703 memberikan predikat shaduq padahal ia sebenarnya orang yang tsiqah. Oleh karena itu Syaikh Syu’aib Al Arnauth dan Bashar Awad Ma’ruf dalam Tahrir Taqrib At Tahdzib no 4803 menyatakan Ali bin Mundzir tsiqat.
  • Abdullah bin Numair, disebutkan Ibnu Hajar dalam At Tahdzib juz 6 no 110 bahwa ia telah dinyatakan tsiqat oleh para ulama seperti Ibnu Ma’in, Ibnu Sa’ad, Ibnu Hibban dan Al Ajli. Ibnu Hajar dalam At Taqrib 1/542 menyatakan ia tsiqah.
  • Amir bin As Sibth atau Amir bin As Simth, Ibnu Hajar menuliskan biografinya dalam At Tahdzib juz 5 no 108 dan ia telah dinyatakan tsiqat oleh Yahya bin Sa’id, Ibnu Hibban, An Nasa’i dan Ibnu Ma’in berkata “shalih”. Ibnu Hajar dalam At Taqrib 1/461 menyatakan ia tsiqah.
  • Abul Jahhaf namanya Dawud bin Abi Auf. Ibnu Hajar menuliskan biografinya dalam At Tahdzib juz 3 no 375 dan ia telah dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Ma’in dan Ahmad bin Hanbal. Abu Hatim berkata “hadisnya baik” dan An Nasa’i berkata “tidak ada masalah dengannya”. Ibnu Syahin telah memasukkan Abul Jahhaf sebagai perawi tsiqah dalam kitabnya Tarikh Asma’ Ats Tsiqat no 347. Ibnu Ady telah mengkritik Abul Jahhaf karena ia banyak meriwayatkan hadis-hadis keutamaan Ahlul Bait dan tentu saja kritikan seperti ini tidak beralasan sehingga pendapat yang benar Abul Jahhaf seorang yang tsiqah.
  • Muawiyah bin Tsa’labah, ia seorang tabiin yang tsiqat. Ibnu Hibban memasukkan namanya dalam Ats Tsiqat juz 5 no 5480 seraya menegaskan bahwa ia meriwayatkan hadis dari Abu Dzar dan telah meriwayatkan darinya Abul Jahhaf. Al Bukhari menyebutkan biografinya dalam Tarikh Al Kabir juz 7 no 1431 seraya membawakan sanad hadis di atas dan tidak sedikitpun Bukhari memberikan cacat atau jarh pada Muawiyah bin Tsa’labah dan hadis yang diriwayatkannya. Abu Hatim dalam Al Jarh Wat Ta’dil 8/378 no 1733 menyebutkan bahwa Muawiyah bin Tsa’labah meriwayatkan hadis dari Abu Dzar dan telah meriwayatkan darinya Abul Jahhaf Dawud bin Abi Auf. Abu Hatim sedikitpun tidak memberikan cacat atau jarh padanya. Adz Dzahabi memasukkan nama Muawiyah bin Tsa’labah dalam kitabnya Tajrid Asma’ As Shahabah no 920 dimana ia mengutip Al Ismaili bahwa Muawiyah bin Tsa’labah seorang sahabat Nabi, tetapi Ibnu Hajar dalam Al Ishabah 6/362 no 8589 menyatakan bahwa Muawiyah bin Tsa’labah seorang tabiin. Tidak menutup kemungkinan kalau Muawiyah bin Tsa’labah seorang sahabat atau jika bukan sahabat maka ia seorang tabiin. Statusnya sebagai tabiin dimana tidak ada satupun yang memberikan jarh terhadapnya dan Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat sudah cukup sebagai bukti bahwa ia seorang tabiin yang tsiqat.

Keterangan di atas menunjukkan bahwa hadis tersebut telah diriwayatkan oleh para perawi tsiqat sehingga tidak diragukan lagi kalau hadis tersebut shahih. Sayangnya para pendengki tidak pernah puas untuk membuat syubhat-syubhat untuk meragukan hadis tersebut seolah hati mereka tidak rela dengan keutamaan Imam Ali yang ada pada hadis tersebut. Mari kita lihat syubhat salafiyun seputar hadis ini.

.

.

Syubhat Salafy Yang Cacat

Syaikh Al Albani memasukkan hadis ini dalam kitabnya Silsilah Ahadits Ad Dhaifah no 4893 dan berkata bahwa hadis ini mungkar. Pernyataan beliau hanyalah mengikut Adz Dzahabi dalam Talkhis Al Mustadrak hadis no 4624 dan Mizan Al I’tidal no 2638 yang berkata “hadis mungkar”. Seperti biasa perkataan ini muncul dari penyakit syiahphobia yang menjangkiti mereka, seolah mereka tidak rela dengan keutamaan Imam Ali, tidak rela kalau hadis ini dijadikan hujjah oleh kaum Syiah, tidak rela kalau keutamaan Imam Ali melebihi semua sahabat yang lain. Apa dasarnya hadis di atas disebut mungkar?. Silakan lihat, adakah kemungkaran dalam hadis di atas. Adakah isi hadis di atas mengandung suatu kemungkaran?. Apakah keutamaan Imam Ali merupakan suatu kemungkaran?. Sungguh sangat tidak bernilai orang yang hanya berbicara mungkar tanpa menyebutkan alasan dan dimana letak kemungkarannya. Begitulah yang terjadi pada Adz Dzahabi dan diikuti oleh Syaikh Al Albani, mereka hanya seenaknya saja menyebut hadis tersebut mungkar. Tentu saja jika suatu hadis disebut mungkar maka akan dicari-cari kelemahan pada sanad hadis tersebut.

Syaikh Al Albani melemahkan sanad hadis ini karena Muawiyah bin Tsa’labah bahwa ia hanya dinyatakan tsiqah oleh Ibnu Hibban sedangkan Abu Hatim dan Bukhari tidak memberikan komentar yang menta’dil ataupun yang mencacatnya. Memang bagi salafyun tautsiq Ibnu Hibban yang menyendiri tidaklah berharga dengan alasan Ibnu Hibban sering menyatakan tsiqah para perawi majhul. Sayang sekali alasan ini tidak bisa dipukul rata seenaknya. Muawiyah bin Tsa’labah tidak diragukan seorang tabiin dimana Al Hakim berkata tentang tabiin dalam Ma’rifat Ulumul Hadis hal 41

فخير الناس قرناً بعـد الصحـابة من شـافه أصحـاب رسول الله صلى الله عليه وسلّم، وحفظ عنهم الدين والسنن

Sebaik-baik manusia setelah sahabat adalah mereka yang bertemu langsung dengan sahabat Rasulullah SAW, memelihara dari mereka agama dan sunnah.

Jadi kalau seorang tabiin tidak dinyatakan cacat oleh satu orang ulamapun bahkan para ulama semisal Al Bukhari dan Abu Hatim menyebutkan biografinya tanpa menyebutkan cacatnya maka tautsiq Ibnu Hibban dapat dijadikan hujjah, artinya tabiin tersebut seorang yang tsiqah.

Mari kita lihat seorang perawi yang akan menggugurkan kaidah salafy yang seenaknya merendahkan tautsiq Ibnu Hibban, dia bernama Ishaq bin Ibrahim bin Nashr. Ibnu Hajar menyebutkan keterangan tentangnya dalam At Tahdzib juz 1 no 409. Disebutkan oleh Ibnu Hajar bahwa Ishaq bin Ibrahim adalah perawi Bukhari dan hanya Bukhari yang meriwayatkan hadis darinya. Tidak ada satupun ulama yang menta’dil beliau kecuali Ibnu Hibban yang memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Bahkan Al Bukhari yang menuliskan biografi Ibrahim bin Ishaq dalam Tarikh Al Kabir juz 1 no 1212 hanya berkata

إسحاق بن إبراهيم بن نصر أبو إبراهيم سمع أبا أسامة

Ishaq bin Ibrahim bin Nashr Abu Ibrahim mendengar hadis dari Abu Usamah

Adakah dalam keterangan Bukhari di atas ta’dil kepada Ishaq bin Ibrahim?. Tidak ada dan tentu berdasarkan kaidah salafy yang menganggap tautsiq Ibnu Hibban tidak bernilai maka Ishaq bin Ibrahim itu majhul dan hadisnya cacat. Tetapi bertolak belakang dengan logika salafy itu justru Ishaq bin Ibrahim dijadikan hujjah oleh Bukhari dalam kitabnya Shahih Bukhari.

Seperti biasa ternyata syaikh kita satu ini telah menentang dirinya sendiri. Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ahadits As Shahihah no 680 telah memasukkan hadis yang di dalam sanadnya ada perawi yang bernama Abu Sa’id Al Ghifari yang hanya dita’dilkan oleh Ibnu Hibban bahkan Syaikh mengakui kalau Abu Hatim dalam Jarh Wat Ta’dil hanya menyebutkan biografinya tanpa memberikan komentar jarh ataupun ta’dil. Dan yang paling lucunya Syaikh Al Albani mengakui kalau ia menguatkan hadis tersebut karena Abu Sa’id Al Ghifari adalah seorang tabiin. Sungguh kontradiksi syaikh kita satu ini. Mengapa sekarang di hadis Abu Dzar yang berisi keutamaan Imam Ali Syaikh mencampakkan metodenya sendiri dan bersemangat untuk mendhaifkan hadis tersebut. Apa masalahnya wahai syaikh?.

Selain itu Syaikh Al Albani juga menyebutkan syubhat yang lain yaitu ia melemahkan hadis ini karena Abul Jahhaf Dawud bin Abi Auf walaupun banyak yang menta’dilkan Abul Jahhaf, syaikh Al Albani mengutip perkataan Ibnu Ady seperti yang tertera dalam Al Mizan no 2638

ابن عدى فقال  ليس هو عندي ممن يحتج به  شيعي  عامة ما يرويه في فضائل أهل البيت

Ibnu Ady berkata “Menurutku ia bukan seorang yang dapat dijadikan hujjah, seorang syiah dan kebanyakan hadis yang diriwayatkannya adalah tentang keutamaan Ahlul Bait.

Bagaimana mungkin Syaikh mengambil perkataan Ibnu Ady dan meninggalkan Ibnu Ma’in, Ahmad bin Hanbal, Abu Hatim dan An Nasa’i. Seperti yang kami katakan sebelumnya jarh Ibnu Ady diatas tidak bernilai sedikitpun karena alasan seperti itu tidak dibenarkan. Bagaimana mungkin seorang perawi hanya karena ia syiah atau hanya karena ia meriwayatkan hadis keutamaan Ahlul bait maka hadisnya tidak dapat dijadikan hujjah. Apa namanya itu kalau bukan syiahphobia!. Abul Jahhaf adalah perawi yang tsiqah dan untuk mencacatnya diperlukan alasan yang kuat bukan alasan ngawur seperti yang dikatakan Ibnu Ady karena kalau ucapan Ibnu Ady itu dibenarkan maka alangkah banyaknya perawi yang hadisnya tidak bisa dijadikan hujjah(termasuk hadis Bukhari dan Muslim) hanya karena ia syiah atau hanya karena ia meriwayatkan hadis keutamaan Ahlul bait.

Kesimpulan

Hadis Abu Dzar di atas adalah hadis yang shahih dan para perawinya tsiqat sedangkan syubhat-syubhat salafiyun untuk mencacatkan hadis tersebut hanyalah ulah yang dicari-cari dan tidak bernilai sedikitpun. Sungguh kedengkian itu menutupi jalan kebenaran.

Hadis “Pedomanilah Sahabat” adalah dha’if…Jadi berpegang Teguhlah Pada Ahlul Bait Nabi SAW

Berpegang Teguh Pada Ahlul Bait Nabi SAW Dan Berpegang Teguh Pada Sahabat Nabi SAW

Merupakan hal yang tidak dapat dipungkiri bahwa Islam sekarang terbagi dalam berbagai mahzab. Setiap mahzab menawarkan pemahaman khas tersendiri tentang bagaimana Islam sebenarnya. Dan tidak jarang antara mahzab yang satu dan mahzab yang lain terjadi perselisihan pemahaman. Hal ini membuat kesulitan bagi sebagian orang yang ingin memahami ajaran Islam dengan baik. Walaupun begitu ada suatu pemecahan awal yang dapat digunakan dalam memilah yang mana yang benar dan yang mana yang salah dari semua mahzab yang ada. Ajaran Islam sepenuhnya berlandaskan pada Al Quranul Karim dan Sunah Rasulullah SAW. Oleh karena itu setiap pandangan yang ditawarkan oleh mahzab apapun hendaknya ditimbang dengan Al Quran dan Sunah Rasulullah SAW.

Secara garis besar Islam terbagi dalam dua mahzab besar yaitu Sunni dan Syiah. Masing-masing mahzab memiliki formulasi Islam tersendiri. Adalah tidak benar jika seseorang menuduh bahwa Syiah adalah ajaran yang tidak memiliki landasan dalam Islam atau sebaliknya menuduh Mahzab Sunni tidak memiliki landasan. Landasan selalu ada dan itulah yang membuat kedua mahzab tersebut bertahan ratusan tahun lamanya. Seseorang boleh saja mempersepsi yang mana yang benar dan yang mana yang salah menurutnya dan dengan dasar itu dia berhak untuk memilih mahzab yang akan dianutnya. Hal yang patut dihindari adalah fanatisme mahzab yang membuat seseorang begitu terpolarisasi seakan-akan setiap apapun yang bukan dari mahzabnya adalah sesat.

Mahzab Sunni dan Mahzab Syiah memiliki landasan awal yang sama yaitu Berpegang pada Al Quranul Karim dan Sunah Rasulullah SAW. Perbedaannya terletak pada landasan yang lebih lanjut. Mahzab Sunni mengambil Sunah Rasulullah SAW dominan dari sahabat-sahabat Nabi SAW sedangkan Mahzab Syiah mengambil Sunnah Rasulullah SAW dari Ahlul Bait. Tulisan ini akan meninjau kedua landasan lanjut Mahzab Sunni dan Mahzab Syiah.

.

.

Mahzab Syiah adalah Mahzab Ahlul Bait
Seperti yang dijelaskan sebelumnya Syiah mengambil Sunah Rasulullah SAW dari Ahlul Bait. Dalam pandangan Syiah Ahlul Bait adalah pedoman bagi umat Islam setelah Al Quran. Hal ini ternyata sesuai dengan apa yang dinyatakan Rasulullah SAW sendiri

Bahwa Rasulullah SAW bersabda “Wahai manusia sesungguhnya Aku meninggalkan untuk kalian apa yang jika kalian berpegang kepadanya niscaya kalian tidak akan sesat ,Kitab Allah dan Itrati Ahlul BaitKu”.(Hadis riwayat Tirmidzi,Ahmad,Thabrani,Thahawi dan dishahihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albany dalam kitabnya Silsilah Al Hadits Al Shahihah no 1761).

Perlu dijelaskan bahwa ada banyak sekali hadis keutamaan Ahlul Bait yang menunjukkan bahwa Mereka memiliki kemuliaan yang besar sehingga setiap umat islam diwajibkan untuk mencintai Mereka. Tetapi dalam pembahasan ini hanya difokuskan terhadap hadis yang menjelaskan dengan kalimat yang lugas dan jelas bahwa Ahlul Bait adalah pedoman bagi umat Islam. Dalam mahzab Syiah kedudukan Ahlul Bait Nabi SAW sebagai pedoman menyebabkan timbulnya pandangan kema’suman Ahlul Bait. Hal ini merupakan konsekuensi logis dari kedudukan Ahlul Bait sebagai Pedoman Umat islam. Sang pedoman jelas sekali harus selalu benar.

.

.

Mahzab Sunni adalah Mahzab Sahabat
Mahzab Sunni mengambil hadis Rasulullah SAW dari para Sahabat. Hal ini berdasarkan banyaknya keutamaan yang dimiliki oleh mereka para Sahabat. Dalam mahzab Sunni Sahabat Nabi memiliki keutamaan-keutamaan yang besar. Ada banyak hadis yang menjelaskan tentang ini. Sahabat Nabi jelas sekali belajar hadis dari Rasulullah SAW oleh karena itu mengambil hadis dari Sahabat Nabi SAW adalah suatu hal yang rasional dengan sudut pandang ini. Sayangnya tidak ada hadis yang lugas dan jelas yang menyatakan bahwa Sahabat Nabi adalah pedoman bagi umat Islam agar tidak tersesat. Semua hadis yang dijadikan dasar dalam hal ini adalah hadis-hadis keutamaan mereka yang menjelaskan betapa mulianya mereka. Oleh karena itu Sunni tidak pernah menyatakan bahwa Sahabat Nabi itu ma’sum. Hal ini memiliki konsekuensi logis bahwa Sahabat Nabi tidak selalu benar.

Ada sebagian hadis yang sering dijadikan dasar bahwa Sahabat Nabi adalah pedoman bagi umat Islam.

Rasulullah SAW bersabda “Umat ini akan terpecah belah menjadi 73 golongan . Mereka semua ada di neraka kecuali satu golongan”. Para sahabat bertanya “Siapakah golongan itu?”. Beliau menjawab “Apa yang Aku dan para sahabatku ada diatasnya pada hari ini”.(Hadis Riwayat Thabrani dalam Mu’jam As Saghir jilid I hal 256)

Kemudian juga hadis ini

Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya bani Israil telah berpecah belah menjadi 72 golongan, dan umatku akan berpecah belah menjadi 73 golongan . Mereka semua di neraka kecuali satu golongan “. Para Sahabat bertanya “Dan siapakah golongan (yang selamat) itu wahai Rasulullah SAW?”. Beliau menjawab “Apa yang Aku dan para sahabatku ada diatasnya”. (Hadis Riwayat Tirmidzi dalam Sunan Tirmidzi Kitab Al Iman ‘An Rasulillah Bab Ma Ja’a Fi Iftiraqi Hadzihi Al Ummah no 2565)

Kedua hadis tersebut adalah hadis yang dhaif . Hadis pertama riwayat Thabrani dalam sanadnya terdapat Abdullah bin Sufyan dimana Al Uqaili berkata Hadisnya tidak bisa diikuti. Oleh karena itu Al Uqaili memasukkan hadis ini dalam kitabnya Adh Dhu’afa Al Kabir no 938. Hadis kedua riwayat Tirmidzi dalam sanadnya terdapat Abdurrahman bin Ziyad Al Ifriqi dan sebagaimana dijelaskan dalam At Taqrib bahwa dia adalah dhaif. Oleh karena itu Al Mubarakfuri menyatakan dhaifnya hadis tersebut dalam Tuhfatul Ahwadzi Syarh Sunan Tirmidzi hadis no 2565.

.

.

Kesimpulan
Apa yang dapat disimpulkan dari ini adalah Rasulullah SAW sendiri telah menjelaskan bahwa pegangan dan pedoman bagi umat Islam agar tidak sesat adalah Hendaknya berpegang teguh pada Al Quran dan Ahlul Bait Nabi. Tidak ada suatu penjelasan lugas dan jelas yang shahih bahwa Rasulullah SAW menganjurkan untuk berpegang pada sahabat agar umat Islam tidak sesat.

Hadis Ghadir Khum yang menunjukkan kepemimpinan Imam Ali adalah salah satu hadis shahih yang sering dijadikan hujjah oleh kaum Syiah dan ditolak oleh kaum Sunni. Kebanyakan mereka yang mengingkari hadis ini membuat takwilan-takwilan agar bisa disesuaikan dengan keyakinan mahzabnya. Padahal Imam Ali sendiri mengakui kalau hadis ini adalah hujjah bagi kepemimpinan Beliau. Hal ini terbukti dalam riwayat-riwayat yang shahih dimana Imam Ali ketika menjadi khalifah mengumpulkan orang-orang di tanah lapang dan berbicara meminta kesaksian soal hadis Ghadir Khum.

Imam Ali Mengakui Kepemimpinannya : Hujjah Hadis Ghadir Khum

Hadis Ghadir Khum yang menunjukkan kepemimpinan Imam Ali adalah salah satu hadis shahih yang sering dijadikan hujjah oleh kaum Syiah dan ditolak oleh kaum Sunni. Kebanyakan mereka yang mengingkari hadis ini membuat takwilan-takwilan agar bisa disesuaikan dengan keyakinan mahzabnya. Padahal Imam Ali sendiri mengakui kalau hadis ini adalah hujjah bagi kepemimpinan Beliau. Hal ini terbukti dalam riwayat-riwayat yang shahih dimana Imam Ali ketika menjadi khalifah mengumpulkan orang-orang di tanah lapang dan berbicara meminta kesaksian soal hadis Ghadir Khum.

عن سعيد بن وهب وعن زيد بن يثيع قالا نشد على الناس في الرحبة من سمع رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول يوم غدير خم الا قام قال فقام من قبل سعيد ستة ومن قبل زيد ستة فشهدوا انهم سمعوا رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول لعلي رضي الله عنه يوم غدير خم أليس الله أولى بالمؤمنين قالوا بلى قال اللهم من كنت مولاه فعلي مولاه اللهم وال من والاه وعاد من عاداه

Dari Sa’id bin Wahb dan Zaid bin Yutsai’ keduanya berkata “Ali pernah meminta kesaksian orang-orang di tanah lapang “Siapa yang telah mendengar Rasulullah SAW bersabda pada hari Ghadir Khum maka berdirilah?. Enam orang dari arah Sa’id pun berdiri dan enam orang lainnya dari arah Za’id juga berdiri. Mereka bersaksi bahwa sesungguhnya mereka pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda kepada Ali di Ghadir Khum “Bukankah Allah lebih berhak terhadap kaum mukminin”. Mereka menjawab “benar”. Beliau bersabda “Ya Allah barangsiapa yang aku menjadi pemimpinnya maka Ali pun menjadi pemimpinnya, dukunglah orang yang mendukung Ali dan musuhilah orang yang memusuhinya”. [Musnad Ahmad 1/118 no 950 dinyatakan shahih oleh Syaikh Ahmad Syakir]

Sebagian orang membuat takwilan batil bahwa kata mawla dalam hadis Ghadir Khum bukan menunjukkan kepemimpinan tetapi menunjukkan persahabatan atau yang dicintai, takwilan ini hanyalah dibuat-buat. Jika memang menunjukkan persahabatan atau yang dicintai maka mengapa ada sahabat Nabi yang merasa ada sesuatu yang mengganjal di hatinya ketika mendengar kata-kata Imam Ali di atas. Adanya keraguan di hati seorang sahabat Nabi menyiratkan bahwa Imam Ali mengakui hadis ini sebagai hujjah kepemimpinan. Maka dari itu sahabat tersebut merasakan sesuatu yang mengganjal di hatinya karena hujjah hadis tersebut memberatkan kepemimpinan ketiga khalifah sebelumnya. Sungguh tidak mungkin ada keraguan di hati sahabat Nabi kalau hadis tersebut menunjukkan persahabatan atau yang dicintai.

عن أبي الطفيل قال جمع علي رضي الله تعالى عنه الناس في الرحبة ثم قال لهم أنشد الله كل امرئ مسلم سمع رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول يوم غدير خم ما سمع لما قام فقام ثلاثون من الناس وقال أبو نعيم فقام ناس كثير فشهدوا حين أخذه بيده فقال للناس أتعلمون انى أولى بالمؤمنين من أنفسهم قالوا نعم يا رسول الله قال من كنت مولاه فهذا مولاه اللهم وال من والاه وعاد من عاداه قال فخرجت وكأن في نفسي شيئا فلقيت زيد بن أرقم فقلت له انى سمعت عليا رضي الله تعالى عنه يقول كذا وكذا قال فما تنكر قد سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول ذلك له

Dari Abu Thufail yang berkata “Ali mengumpulkan orang-orang di tanah lapang dan berkata “Aku meminta dengan nama Allah agar setiap muslim yang mendengar Rasulullah SAW bersabda di Ghadir khum terhadap apa yang telah didengarnya. Ketika ia berdiri maka berdirilah tigapuluh orang dari mereka. Abu Nu’aim berkata “kemudian berdirilah banyak orang dan memberi kesaksian yaitu ketika Rasulullah SAW memegang tangannya (Ali) dan bersabda kepada manusia “Bukankah kalian mengetahui bahwa saya lebih berhak atas kaum mu’min lebih dari diri mereka sendiri”. Para sahabat menjawab “benar ya Rasulullah”. Beliau bersabda “barang siapa yang menjadikan Aku sebagai pemimpinnya maka Ali pun adalah pemimpinnya dukunglah orang yang mendukungnya dan musuhilah orang yang memusuhinya. Abu Thufail berkata “ketika itu muncul sesuatu yang mengganjal dalam hatiku maka aku pun menemui Zaid bin Arqam dan berkata kepadanya “sesungguhnya aku mendengar Ali RA berkata begini begitu, Zaid berkata “Apa yang patut diingkari, aku mendengar Rasulullah SAW berkata seperti itu tentangnya”.[Musnad Ahmad 4/370 no 19321 dengan sanad yang shahih seperti yang dikatakan Syaikh Syu’aib Al Arnauth dan Tahdzib Khasa’is An Nasa’i no 88 dishahihkan oleh Syaikh Abu Ishaq Al Huwaini]

Kata mawla dalam hadis ini sama halnya dengan kata waliy yang berarti pemimpin, kata waly biasa dipakai oleh sahabat untuk menunjukkan kepemimpinan seperti yang dikatakan Abu Bakar dalam khutbahnya. Inilah salah satu hadis Ghadir Khum dengan lafaz Waly.

عن سعيد بن وهب قال قال علي في الرحبة أنشد بالله من سمع رسول الله يوم غدير خم يقول إن الله ورسوله ولي المؤمنين ومن كنت وليه فهذا وليه اللهم وال من والاه وعاد من عاداه وأنصر من نصره

Dari Sa’id bin Wahb yang berkata “Ali berkata di tanah lapang aku meminta dengan nama Allah siapa yang mendengar Rasulullah SAW pada hari Ghadir Khum berkata “Allah dan RasulNya adalah pemimpin bagi kaum mukminin dan siapa yang menganggap aku sebagai pemimpinnya maka ini (Ali) menjadi pemimpinnya dukunglah orang yang mendukungnya dan musuhilah orang yang memusuhinya dan jayakanlah orang yang menjayakannya. [Tahdzib Khasa’is An Nasa’i no 93 dishahihkan oleh Syaikh Abu Ishaq Al Huwaini].

Dan perhatikan khutbah Abu Bakar ketika ia selesai dibaiat, ia menggunakan kata Waly untuk menunjukkan kepemimpinannya. Inilah khutbah Abu Bakar

قال أما بعد أيها الناس فأني قد وليت عليكم ولست بخيركم فان أحسنت فأعينوني وإن أسأت فقوموني الصدق أمانة والكذب خيانة والضعيف فيكم قوي عندي حتى أرجع عليه حقه إن شاء الله والقوي فيكم ضعيف حتى آخذ الحق منه إن شاء الله لا يدع قوم الجهاد في سبيل الله إلا خذلهم الله بالذل ولا تشيع الفاحشة في قوم إلا عمهم الله بالبلاء أطيعوني ما أطعت الله ورسوله فاذا عصيت الله ورسوله فلا طاعة لي عليكم قوموا الى صلاتكم يرحمكم الله

Ia berkata “Amma ba’du, wahai manusia sekalian sesungguhnya aku telah dipilih sebagai pimpinan atas kalian dan bukanlah aku yang terbaik diantara kalian maka jika berbuat kebaikan bantulah aku. Jika aku bertindak keliru maka luruskanlah aku, kejujuran adalah amanah dan kedustaan adalah khianat. Orang yang lemah diantara kalian ia kuanggap kuat hingga aku mengembalikan haknya kepadanya jika Allah menghendaki. Sebaliknya yang kuat diantara kalian aku anggap lemah hingga aku mengambil darinya hak milik orang lain yang diambilnya jika Allah mengehendaki. Tidaklah suatu kaum meninggalkan jihad di jalan Allah kecuali Allah timpakan kehinaan dan tidaklah kekejian tersebar di suatu kaum kecuali adzab Allah ditimpakan kepada kaum tersebut. Taatilah aku selama aku taat kepada Allah dan RasulNya. Tetapi jika aku tidak mentaati Allah dan RasulNya maka tiada kewajiban untuk taat kepadaku. Sekarang berdirilah untuk melaksanakan shalat semoga Allah merahmati kalian. [Sirah Ibnu Hisyam 4/413-414 tahqiq Hammam Sa’id dan Muhammad Abu Suailik, dinukil Ibnu Katsir dalam Al Bidayah 5/269 dan 6/333 dimana beliau menshahihkannya].

Terakhir kami akan menanggapi syubhat paling lemah soal hadis Ghadir Khum yaitu takwilan kalau hadis ini diucapkan untuk meredakan orang-orang yang merendahkan atau tidak suka kepada Imam Ali perihal pembagian rampasan di Yaman. Silakan perhatikan hadis Ghadir Khum yang disampaikan oleh Rasulullah SAW kepada banyak orang, tidak ada di sana disebutkan perihal orang-orang yang merendahkan atau mencaci Imam Ali. Kalau memang hadis ghadir khum diucapkan Rasulullah SAW untuk menepis cacian orang-orang terhadap Imam Ali maka Rasulullah SAW pasti akan menjelaskan duduk perkara rampasan di Yaman itu, atau menunjukkan kecaman Beliau kepada mereka yang mencaci Ali. Tetapi kenyataannya dalam lafaz hadis Ghadir Khum tidak ada yang seperti itu, yang ada malah Rasulullah meninggalkan wasiat bahwa seolah Beliau SAW akan dipanggil ke rahmatullah, wasiat tersebut berkaitan dengan kepemimpinan Imam Ali dan berpegang teguh pada Al Qur’an dan ithrati Ahlul Bait. Sungguh betapa jauhnya lafaz hadis tersebut dari syubhat para pengingkar.

Hadis yang dijadikan hujjah oleh penyebar syubhat ini adalah hadis Buraidah ketika ia menceritakan soal para sahabat yang merendahkan Imam Ali. Hadis tersebut bukan diucapkan di Ghadir Khum dan tentu saja Rasulullah SAW akan marah kepada sahabat yang menjelekkan Imam Ali karena Imam Ali adalah pemimpin setiap mukmin (semua sahabat Nabi) sepeninggal Nabi SAW . Disini Rasulullah SAW mengingatkan Buraidah dan sahabat lain yang ikut di Yaman agar berhenti dari sikap mereka karena Imam Ali adalah pemimpin bagi setiap mukmin sepeninggal Nabi SAW.

عن عبد الله بن بريدة عن أبيه بريدة قال بعث رسول الله صلى الله عليه و سلم بعثين إلى اليمن على أحدهما علي بن أبي طالب وعلى الآخر خالد بن الوليد فقال إذا التقيتم فعلي على الناس وان افترقتما فكل واحد منكما على جنده قال فلقينا بنى زيد من أهل اليمن فاقتتلنا فظهر المسلمون على المشركين فقتلنا المقاتلة وسبينا الذرية فاصطفى علي امرأة من السبي لنفسه قال بريدة فكتب معي خالد بن الوليد إلى رسول الله صلى الله عليه و سلم يخبره بذلك فلما أتيت النبي صلى الله عليه و سلم دفعت الكتاب فقرئ عليه فرأيت الغضب في وجه رسول الله صلى الله عليه و سلم فقلت يا رسول الله هذا مكان العائذ بعثتني مع رجل وأمرتني ان أطيعه ففعلت ما أرسلت به فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم لا تقع في علي فإنه منى وأنا منه وهو وليكم بعدي وانه منى وأنا منه وهو وليكم بعدي

Dari Abdullah bin Buraidah dari ayahnya Buraidah yang berkata “Rasulullah SAW mengirim dua utusan ke Yaman, salah satunya dipimpin Ali bin Abi Thalib dan yang lainnya dipimpin Khalid bin Walid. Beliau SAW bersabda “bila kalian bertemu maka yang jadi pemimpin adalah Ali dan bila kalian berpisah maka masing-masing dari kalian memimpin pasukannya. Buraidah berkata “kami bertemu dengan bani Zaid dari penduduk Yaman kami berperang dan kaum muslimin menang dari kaum musyrikin. Kami membunuh banyak orang dan menawan banyak orang kemudian Ali memilih seorang wanita diantara para tawanan untuk dirinya. Buraidah berkata “Khalid bin Walid mengirim surat kepada Rasulullah SAW memberitahukan hal itu. Ketika aku datang kepada Rasulullah SAW, aku serahkan surat itu, surat itu dibacakan lalu aku melihat wajah Rasulullah SAW yang marah kemudian aku berkata “Wahai Rasulullah SAW, aku meminta perlindungan kepadamu sebab Engkau sendiri yang mengutusku bersama seorang laki-laki dan memerintahkan untuk mentaatinya dan aku hanya melaksanakan tugasku karena diutus. Rasulullah SAW bersabda “Jangan membenci Ali, karena ia bagian dariKu dan Aku bagian darinya dan Ia adalah pemimpin kalian sepeninggalKu, ia bagian dariKu dan Aku bagian darinya dan Ia adalah pemimpin kalian sepeninggalKu. [Musnad Ahmad tahqiq Syaikh Ahmad Syakir dan Hamzah Zain hadis no 22908 dan dinyatakan shahih].

Syaikh Al Albani berkata dalam Zhilal Al Jannah Fi Takhrij As Sunnah no 1187 menyatakan bahwa sanad hadis ini jayyid, ia berkata

أخرجه أحمد من طريق أجلح الكندي عن عبد الله بن بريدة عن أبيه بريدة وإسناده جيد رجاله ثقات رجال الشيخين غير أجلح وهو ابن عبد الله بن جحيفة الكندي وهو شيعي صدوق

Dikeluarkan Ahmad dengan jalan Ajlah Al Kindi dari Abdullah bin Buraidah dari ayahnya Buraidah dengan sanad yang jayyid (baik) para perawinya terpercaya, perawi Bukhari dan Muslim kecuali Ajlah dan dia adalah Ibnu Abdullah bin Hujayyah Al Kindi dan dia seorang syiah yang (shaduq) jujur.

Justru hadis Buraidah di atas menjadi penguat bahwa Imam Ali adalah pemimpin bagi setiap mukmin (semua sahabat Nabi)  sepeninggal Nabi SAW dan sungguh tidak berguna syubhat dari para pengingkar

——————————————————————————————-

Kedudukan Hadis “Ali Khalifah Setelah Nabi SAW”

Imam Ali AS memiliki kemuliaan yang tinggi dalam Islam. Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa kedudukan Imam Ali AS di sisi Rasulullah SAW sama seperti kedudukan Nabi Harun AS di sisi Nabi Musa AS. Seharusnya kita sebagai umat Islam menerima dengan baik keutamaan Imam Ali AS dan mengecam sikap-sikap yang menurunkan atau meragukan keutamaan Beliau. Berikut akan kami sajikan hadis keutamaan Imam Ali AS yang mungkin memicu keraguan dari sebagian orang.

Al Hafiz Ibnu Abi Ashim Asy Syaibani dalam Kitabnya As Sunnah hal 519 hadis no 1188 telah meriwayatkan sebagai berikut

ثنا محمد بن المثنى حدثنا يحيى بن حماد عن أبي عوانة عن يحيى ابن سليم أبي بلج عن عمرو بن ميمون عن ابن عباس قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لعلي أنت مني بمنزلة هارون من موسى إلا أنك لست نبيا إنه لا ينبغي أن أذهب إلا وأنت خليفتي في كل مؤمن من بعدي

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya bin Hamad dari Abi ‘Awanah dari Yahya bin Sulaim Abi Balj dari ‘Amr bin Maimun dari Ibnu Abbas yang berkata Rasulullah SAW bersabda kepada Ali “KedudukanMu di sisiKu sama seperti kedudukan Harun di sisi Musa hanya saja Engkau bukan seorang Nabi. Sesungguhnya tidak sepatutnya Aku pergi kecuali Engkau sebagai KhalifahKu untuk setiap mukmin setelahKu.

.

.

Kedudukan Hadis

Syaikh Al Albani dalam kitabnya Zhilal Al Jannah Fi Takhrij As Sunnah hal 520 hadis no 1188 memberikan penilaian bahwa hadis ini sanadnya hasan, dimana Beliau menyatakan bahwa semua perawinya tsiqat. Hadis ini telah diriwayatkan oleh para perawi Bukhari Muslim kecuali Abi Balj yang dinilai shaduq sehingga Syaikh Al Albani menyatakan hadis tersebut hasan. Setelah kami melakukan penelitian lebih lanjut maka kami temukan bahwa hadis ini adalah hadis Shahih dan Yahya bin Sulaim Abi Balj adalah perawi tsiqat. Berikut analisis terhadap para perawinya.

.

.

Analisis Perawi Hadis

Muhammad bin Al Mutsanna
Muhammad bin Al Mutsanna Abu Musa Al Bashri adalah seorang Hafiz yang tsiqat. Hadisnya telah dijadikan hujjah oleh Bukhari dan Muslim serta Ashabus Sunan. Beliau telah dinyatakan tsiqat oleh banyak ulama diantaranya Ibnu Ma’in, Ibnu Hibban, Daruquthni, Al Khatib dan Ibnu Hajar. Dalam At Tahdzib juz 9 no 698 disebutkan

قال عبد الله بن أحمد عن بن معين ثقة وقال أبو سعد الهروي سألت الذهلي عنه فقال حجة وقال صالح بن محمد صدوق اللهجة

Abdullah bin Ahmad berkata dari Ibnu Ma’in “tsiqah” dan Abu Sa’ad Al Harawi bertanya kepada Adz Dzahili yang berkata “hujjah” dan Shalih bin Muhammad berkata “shaduq hujjah”.

وقال أبو حاتم صالح الحديث صدوق

Abu Hatim berkata “ hadisnya baik, shaduq (jujur)”

Ibnu Syahin memasukkan Muhammad bin Al Mutsanna dalam kitabnya Tarikh Asma Ats Tsiqat no 1278. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat tsabit dalam Taqrib At Tahdzib 2/129. Adz Dzahabi dalam Al Kasyf no 5134 juga menyatakan Muhammad bin Al Mutsanna tsiqat.
.

.

Yahya bin Hamad
Yahya bin Hamad Al Bashri adalah seorang perawi tsiqat yang dijadikan hujjah oleh Bukhari, Muslim, Abu Daud dalam Nasikh Wa Mansukh, Trimidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah. Disebutkan dalam At Tahdzib juz 11 no 338

قال بن سعد كان ثقة كثير الحديث وقال أبو حاتم ثقة وذكره بن حبان في الثقات

Ibnu Sa’ad berkata “tsiqat dan memiliki banyak hadis”. Abu Hatim berkata “tsiqat” dan disebutkan oleh Ibnu Hibban dalam Ats Tsiqat.

Al Ajli dalam Ma’rifat Ats Tsiqat no 1971 menyatakan Yahya bin Hamad tsiqat. Ibnu Hajar dalam At Taqrib 2/300 menyatakan ia tsiqat. Adz Dzahabi dalam Al Kasyf no 6158 juga menyatakannya tsiqat.
.

.

Abu Awanah

Abu Awanah atau Wadhdhah bin Abdullah Al Yasykuri adalah perawi yang dijadikan hujjah oleh Bukhari Muslim dan Ashabus Sunan, Ia telah meriwayatkan hadis dari Yahya bin Sulaim Abi Balj dan telah meriwayatkan darinya Yahya bin Hamad. Abu Awanah telah dinyatakan tsiqah oleh Al Ajli, Ibnu Sa’ad, Abu Hatim, Ibnu Ma’in dan yang lainnya. Al Ajli dalam Ma’rifat Ats Tsiqah no 1937 berkata

وضاح أبو عوانة بصرى ثقة مولى يزيد بن عطاء الواسطي

Wadhdhah Abu Awanah orang Bashrah yang tsiqat mawla Yazid bin Atha’ Al Wasithi

Ibnu Syahin memasukkan namanya dalam Tarikh Asma Ats Tsiqat no 1508 dan berkata

قال يحيى بن معين أبو عوانة ثقة واسمه الوضاح

Yahya bin Ma’in berkata “Abu Awanah tsiqat namanya adalah Wadhdhah”

Dalam At Tahdzib juz 11 no 204 disebutkan bahwa Abu Hatim, Abu Zar’ah Ahmad, Ibnu Hibban, Ibnu Sa’ad, Ibnu Abdil Barr menyatakan Abu Awanah tsiqat, Ibnu Kharrasy menyatakan ia shaduq dan Yaqub bin Abi Syaibah menyatakan Abu Awanah seorang Hafiz yang tsabit dan shalih. Ibnu Hajar dalam At Taqrib 2/283 menyatakan Abu Awanah tsiqat tsabit dan Adz Dzahabi dalam Al Kasyf no 6049 juga menyatakan ia tsiqah.
.

.

Yahya bin Sulaim Abi Balj
Yahya bin Sulaim adalah perawi Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah. Beliau dikenal dengan kunniyah Abu Balj dan ada pula yang menyebutnya Yahya bin Abi Sulaim. Beliau telah dinyatakan tsiqah oleh Ibnu Ma’in, Nasa’i, Ibnu Sa’ad dan Daruquthni. Dalam At Tahdzib juz 12 no 184 Ibnu Hajar menyebutkan

وقال بن معين وابن سعد والنسائي والدارقطني ثقة وقال البخاري فيه نظر وقال أبو حاتم صالح الحديث لا بأس به

Ibnu Ma’in, Ibnu Sa’ad, Nasa’i dan Daruquthni menyatakan ia tsiqat. Bukhari berkata “perlu diteliti lagi” dan Abu Hatim berkata “hadisnya baik dan tidak ada masalah dengannya”.

Yaqub bin Sufyan Al Fasawi dalam Ma’rifat Wa Tarikh 3/106 menyebutkan tentang Abu Balj

قال يعقوب بن سفيان أبي بلج كوفي لا بأس به

Yaqub bin Sufyan berkata “Abi Balj Al Kufi tidak ada masalah dengannya”

Pernyataan Bukhari “fihi nazhar (perlu diteliti lagi)” terhadap Yahya bin Sulaim Abi Balj tidaklah benar. Kami telah menelusuri karya-karya Bukhari seperti Tarikh As Shaghir dan Tarikh Al Kabir ternyata tidak ada keterangan bahwa Bukhari menyatakan Abu Balj dengan sebutan “fihi nazhar”. Selain itu, Bukhari sendiri tidak memasukkan Abu Balj dalam kitabnya Adh Dhua’fa As Shaghir yang berarti Bukhari tidak menganggapnya cacat. Bukhari menyebutkan biografi Yahya bin Abi Sulaim Abu Balj dalam Tarikh Al Kabir juz 8 no 2996 dan beliau menyebutkan

يحيى بن أبي سليم قال إسحاق نا سويد بن عبد العزيز وهو كوفي ويقال واسطي أبو بلج الفزاري روى عنه الثوري وهشيم ويقال يحيى بن أبي الأسود وقال سهل بن حماد نا شعبة قال نا أبو بلج يحيى بن أبي سليم

Yahya bin Abi Sulaim, Ishaq berkata telah menceritakan kepada kami Suwaid bin Abdul Aziz “dia orang Kufah dan dikatakan juga orang Wasith Abu Balj Al Fazari, telah meriwayatkan darinya Tsawri dan Hasym, ada yang mengatakan Yahya bin Abil Aswad”. Sahl bin Hamad berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Balj Yahya bin Abi Sulaim.

Dalam biografi Abu Balj yang disebutkan Bukhari tidak ada pernyataan Bukhari yang menyebutnya cacat apalagi dengan sebutan fihi nazhar bahkan dari keterangan Bukhari dapat diketahui bahwa Syu’bah telah meriwayatkan dari Yahya bin Abu Sulaim Abu Balj. Hal ini berarti Syu’bah menganggap Abu Balj sebagai tsiqah karena telah sangat dikenal bahwa Syu’bah tidak meriwayatkan kecuali dari para perawi tsiqah. Oleh karena itu tidak diragukan lagi kalau Abu Balj seorang yang tsiqat.
.

.

Amr bin Maimun
Amr bin Maimun Al Audi adalah seorang tabiin yang tsiqah termasuk Al Mukhadramun menemui masa jahiliyah tetapi tidak bertemu dengan Nabi SAW. Ia meriwayatkan dari Ibnu Abbas RA. Al Ajli dalam Ma’rifat Ats Tsiqah no 1412 berkata

عمرو بن ميمون الأودي كوفي تابعي ثقة

Amr bin Maimun Al Audi Tabiin kufah yang tsiqat.

Ibnu Hajar menyebutkan dalam At Tahdzib juz 8 no 181 bahwa selain Al Ajli, Amr bin Maimun juga dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Ma’in, Nasa’i dan Ibnu Hibban. Ibnu Hajar dalam At Taqrib 1/747 mengatakan kalau Amr bin Maimun adalah mukhadramun yang dikenal tsiqat.
.

.

Kesimpulan
Hadis di atas telah diriwayatkan oleh para perawi tsiqat. Dimana semua perawinya adalah perawi Bukhari dan Muslim kecuali Yahya bin Sulaim Abi Balj dan dia adalah perawi yang tidak diragukan ketsiqahannya. Oleh karena itu hadis tersebut sanadnya Shahih.

.

.

Catatan :

  • Semoga Hadis  ini bisa didiskusikan dengan sebijak mungkin tanpa hujatan dan tuduhan
  • ————————————————————

Hadis Imam Ali Mengakui Khalifah Peninggalan Rasulullah SAW : Studi Kritis Hujjah Salafy 

Oknum salafiyun itu ternyata tidak mau berhenti untuk menunjukkan kekeliruannya dalam berhujjah. Ia membawakan dua buah hadis yang dikatakannya sebagai penguat hadis Syu’aib bin Maimun. Mari kita analisis dengan seksama kedua hadis tersebut. 

Hadis Pertama diriwayatkan dalam Musnad Ahmad 1/130 no 1078 

حدثنا عبد الله حدثني أبى ثنا وكيع ثنا الأعمش عن سالم بن أبي الجعد عن عبد الله بن سبع قال سمعت عليا رضي الله عنه يقول لتخضبن هذه من هذا فما ينتظر بي الأشقى قالوا يا أمير المؤمنين فأخبرنا به نبير عترته قال إذا تالله تقتلون بي غير قاتلي قالوا فاستخلف علينا قال لا ولكن أترككم إلى ما ترككم إليه رسول الله صلى الله عليه و سلم قالوا فما تقول لربك إذا أتيته وقال وكيع مرة إذا لقيته قال أقول اللهم تركتني فيهم ما بدا لك ثم قبضتني إليك وأنت فيهم فإن شئت أصلحتهم وإن شئت أفسدتهم

Telah menceritakan kepada kami Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Waki’ yang berkata telah menceritakan kepada kami Al ‘Amasy dari Salim bin Abi Al Ja’d dari Abdullah bin Sabu’ yang berkata “Aku mendengar Ali berkata “sesungguhnya ini akan dilumuri (darah) dari sini, sehingga tidak ada yang menungguku selain kesengsaraan. Mereka berkata “wahai Amirul Mukminin beritahukanlah kepada kami siapa dia, kami akan membunuh keluarganya. Ali berkata “kalau demikian demi Allah kalian akan membunuh orang yang tidak membunuhku”. Mereka berkata “Maka angkatlah seseorang sebagai penggantimu. Ali berkata “tidak, akan tetapi aku akan meninggalkan kalian pada apa yang Rasulullah SAW meninggalkan kalian. Mereka berkata “Apa yang akan Engkau katakan kepada TuhanMu jika Engkau mendatanginya -Waki terkadang berkata– Jika Engkau bertemu denganNya”. Ali berkata “Ya Allah Engkau membiarkanku di antara mereka dengan kehendakMu lalu Engkau mengambilku ke sisiMu sedang Engkau berada di antara mereka. Jika Engkau menghendaki Engkau dapat memberikan kebaikan pada mereka dan jika Engkau menghendaki Engkau dapat memberikan kehancuran pada mereka”. 

Hadis Kedua diriwayatkan dalam Musnad Ahmad 1/156 no 1339 

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا أسود بن عامر أنبأنا أبو بكر عن الأعمش عن سلمة بن كهيل عن عبد الله بن سبع قال خطبنا على رضي الله عنه فقال والذي فلق الحبة وبرأ النسمة لتخضبن هذه من هذه قال قال الناس فأعلمنا من هو والله لنبيرن عترته قال أنشدكم بالله ان يقتل غير قاتلي قالوا أن كنت قد علمت ذلك استخلف إذا قال لا ولكن أكلكم إلى ما وكلكم إليه رسول الله صلى الله عليه و سلم

Telah menceritakan kepada kami Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Aswad bin Amir yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Bakar yang berkata telah menceritakan kepada kami Al ‘Amasy dari Salamah bin Kuhail dari Abdullah bin Sabu’ yang berkata “Ali berkhutbah kepada kami, dia berkata “Demi Yang memecahkan biji dan menciptakan Ruh sungguh ini akan dilumuri dari sini. Orang-orangpun berkata “beritahukanlah kepada kami siapa dia? Demi Allah kami akan membunuh keluarganya. Ali berkata “Demi Allah itu berarti orang yang tidak membunuhku akan dibunuh. Mereka berkata “Jika Engkau mengetahui hal itu maka angkatlah seseorang sebagai pengganti. Ali berkata “Tidak, akan tetapi aku meninggalkan kalian pada apa yang Rasulullah SAW meninggalkan kalian”. 

. 

. 

Manhaj Syaikh Syu’aib Al Arnauth 

Kedua hadis ini sanadnya dhaif dimana hadis kedua lebih dhaif dari hadis pertama. Kedua hadis tersebut bersumber dari Abdullah bin Sabu’ dia adalah perawi yang tidak ada satu ulama pun yang menyatakan ta’dil padanya kecuali Ibnu Hibban sebagaimana yang disebutkan dalam At Tahdzib juz 5 no 397. Disebutkan pula hanya Salim bin Abil Ja’d yang meriwayatkan hadis darinya. Oleh karena itu dalam Tahrir At Taqrib no 3340 Abdullah bin Sabu’ dinyatakan majhul. Sedangkan hadis kedua selain kemajhulan Abdullah bin Sabu’ hadis ini memiliki illat idhthirab. Yang meriwayatkan dari Abdullah bin Sabu’ bukanlah Salamah bin Kuhail tetapi Salim bin Abil Ja’d. Al Bukhari dalam Tarikh Al Kabir juz 5 no 283 telah membawakan sanad hadis ini dimana Al A’masy meriwayatkan dari Salamah bin Kuhail dari Salim bin Abil Ja’d dari Abdullah bin Sabu’. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Salamah bin Kuhail tidak mendengar dari Abdullah bin Sabu’. 

Jadi kedua hadis tersebut kedudukannya dhaif dan jika kita gabungkan dengan hadis Syu’aib bin Maimun maka didapati 

  • Hadis pertama dhaif karena Abdullah bin Sabu’ majhul
  • Hadis kedua dhaif karena Abdullah bin Sabu’ majhul dan sanadnya mudhtharib
  • Hadis Syu’aib bin Maimun dhaif karena Syu’aib bin Maimun perawi dhaif majhul dan hadisnya mungkar

Ketiga hadis ini sudah jelas cacatnya sama-sama parah dan tidak mungkin bisa saling menguatkan sehingga sungguh tidak benar jika Syaikh Syu’aib menyatakan bahwa hadisnya terangkat menjadi hasan lighairihi. 

Apalagi jika dilihat bahwa matan hadis Syu’aib bin Maimun tidaklah sama dengan matan hadis Abdullah bin Sabu’ 

  • Hadis Syu’aib bin Maimun memuat lafaz Imam Ali mengakui Rasulullah SAW tidak memilih penggantinya dan lafaz bahwa Allah SWT yang mengumpulkan mereka di bawah orang yang terbaik dari kaum muslimin
  • Hadis Abdullah bin Sabu’ tidak mengandung lafaz seperti hadis Syu’aib, matannya hanya berupa Imam Ali meninggalkan mereka pada apa yang Rasulullah SAW meninggalkan mereka.

Kedua lafaz ini memiliki perbedaan yang nyata. Tertera dalam hadis shahih bahwa Rasulullah SAW meninggalkan Ahlul Bait sebagai khalifah untuk kaum muslimin dan jika dikembalikan pada kedua hadis di atas maka hadis Abdullah bin Sabu’ justru mengandung makna bahwa Imam Ali mengakui khalifah itu ada pada Ahlul Bait sebagaimana yang dikatakan oleh Rasulullah SAW oleh karena itu Beliau tidak perlu menunjuk pengganti karena Rasulullah SAW telah menetapkan. Sedangkan hadis Syu’aib lafaznya mungkar karena bertentangan dengan hadis shahih. 

Manhaj Syaikh Ahmad Syakir 

Salafy cukup dikenal dengan sikap mereka yang merendahkan tautsiq Ibnu Hibban. Mereka tidak menganggap penta’dilan Ibnu Hibban karena Ibnu Hibban suka menyatakan tsiqah kepada perawi-perawi majhul. Kalau begitu sudah seharusnya salafy tidak menggunakan hadis Abdullah bin Sabu’ sebagai hujjah. Tapi ternyata sekarang kita melihat inkonsistensi salafy. Ketika hadis tersebut mau mereka menjadikan hujjah maka tidak ada masalah bagi mereka untuk berhujjah dengan perawi majhul. 

Berbeda halnya dengan manhaj Syaikh Ahmad Syakir dalam menilai tautsiq Ibnu Hibban. Menurut syaikh Ahmad Syakir jika seorang perawi disebutkan biografinya oleh Bukhari atau Abu Hatim tanpa menyebutkan jarh dan ta’dil kemudian Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat maka perawi tersebut layak untuk dinyatakan tsiqah walaupun tidak ada ta’dil dari ulama lain. 

Abdullah bin Sabu’ disebutkan Ibnu Hibban dalam kitabnya Ats Tsiqat juz 5 no 3646. Al Bukhari menyebutkan biografinya dalam Tarikh Al Kabir juz 5 no 283 dan Ibnu Abi Hatim dalam Al Jarh Wat Ta’dil 5/68 no 322, keduanya tidak menyebutkan jarh dan ta’dil pada Abdullah bin Sabu’. Maka menurut Syaikh Ahmad Syakir Abdullah bin Sabu’ seorang yang tsiqah sehingga dalam tahqiqnya terhadap hadis tersebut Syaikh menyatakan kedua hadis tersebut shahih. 

Tanggapan Kami 

Tentu saja kami tidak mau seperti salafy yang berhujjah dengan cara-cara seenaknya bahkan terkesan inkonsisten atau kontradiktif. Tidak ada celah sedikitpun bagi salafy untuk berhujjah dengan hadis Abdullah bin Sabu’ perawi yang majhul menurut metode salafy. 

Pendapat yang benar dalam pandangan kami adalah seperti yang dikatakan Syaikh Ahmad Syakir tetapi kami tidak akan membabi-buta mengikuti Syaikh Ahmad Syakir. Hadis pertama tersebut bersanad hasan dan hadis kedua tersebut dhaif karena idhthirab. Dan sebagai penjelas hadis Abdullah bin Sabu’ adalah hadis Rasulullah SAW berikut 

عن زيد بن ثابت قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إن تارك فيكم الخليفتين من بعدي كتاب الله وعترتي أهل بيتي وإنهما لن يتفرقا حتى يردا علي الحوض

Dari Zaid bin Tsabit yang berkata “Rasulullah SAW bersabda “Aku tinggalkan untuk kalian dua khalifah (penggantiku) setelahKu yaitu Kitab Allah dan ItrahKu Ahlul BaitKu dan sesungguhnya keduanya tidak akan berpisah sampai kembali kepadaku di Al Haudh. [hadis shahih riwayat Ibnu Abi Ashim dalam As Sunnah no 754]. 

Jadi mengapa dalam hadis Abdullah bin Sabu’ dikatakan Imam Ali tidak mau menunjuk penggantinya. Hal itu disebabkan Imam Ali menginginkan agar mereka kaum muslimin kembali pada apa yang Rasulullah SAW meninggalkan untuk mereka yaitu Kitab Allah dan Itrah Ahlul Bait Rasulullah SAW

 ————————————————————————————–

Hadis Imam Ali Adalah Saudara Nabi Pewaris Nabi dan Wazir Nabi

Telah diriwayatkan dalam hadis shahih kalau imam Ali telah mewarisi Nabi SAW. Hal ini diakui oleh Qutsam bin Abbas RA. Beliau adalah putra dari paman Nabi SAW. Al Ijli menyebutkan kalau Qutsam bin Abbas RA termasuk sahabat Nabi SAW [Ma’rifat Ats Tsiqah no 1514]

أخبرنا أبو النضر محمد بن يوسف الفقيه ثنا عثمان بن سعيد الدارمي ثنا النفيلي ثنا زهير ثنا أبو إسحاق قال عثمان وحدثنا علي بن حكيم الأودي وعمر بن عون الواسطي قالا ثنا شريك بن عبد الله عن أبي إسحاق قال سألت قثم بن العباس كيف ورث علي رسول الله صلى الله عليه وسلم دونكم قال لأنه كان أولنا به لحوقا وأشدنا به لزوقا

 

Telah mengabarkan kepada kami Abu Nadhr Muhammad bin Yusuf Al Faqih yang berkata telah menceritakan kepada kami Utsman bin Sa’id Ad Darimi yang berkata telah menceritakan kepada kami An Nufaili yang berkata telah menceritakan kepada kami Zuhair yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq. Utsman [Ad Darimi] berkata dan telah menceritakan kepada kami Ali bin Hakim Al Awdiy dan ‘Amru bin ‘Awn Al Wasithi yang keduanya berkata telah menceritakan kepada kami Syarik bin Abdullah dari Abu Ishaq yang berkata aku bertanya kepada Qutsam bin Abbas “bagaimana Ali bisa mewarisi Nabi SAW tanpa kalian?” Ia berkata “karena diantara kami Ali adalah orang yang pertama mengikuti Nabi dan orang yang paling dekat kedudukannya di sisi Beliau” [Mustadrak Shahihain 3/136 no 4633]

Hadis ini adalah hadis shahih. Al Hakim dan Adz Dzahabi telah bersepakat menshahihkannya. Para perawi hadis ini terpercaya hanya saja Zuhair dikatakan meriwayatkan dari Abu Ishaq setelah ikhtilat tetapi riwayat Zuhair telah dikuatkan oleh riwayat Syarik dari Abu Ishaq dimana Syarik adalah orang yang tsabit riwayatnya dari Abu Ishaq bahkan lebih tsabit dari Israil, Zuhair dan Zakaria. Oleh karena itu hadis ini shahih. Hadis ini memiliki dua jalan sanad yaitu

  • Abu Nadhr Muhammad bin Yusuf dari Utsman Ad Darimi dari Nufaili dari Zuhair dari Abu Ishaq dari Qutsam bin Abbas
  • Abu Nadhr Muhammad bin Yusuf dari Utsman Ad Darimi dari Ali Al Awdiy dan ‘Amru bin ‘Awn dari Syarik dari Abu Ishaq dari Qutsam bin Abbas

Kedua jalan ini saling menguatkan dan para perawinya terpercaya hanya saja Syarik diperbincangkan tetapi tsabit riwayatnya dari Abu Ishaq dan Zuhair disepakati tsiqah tetapi dikatakan kalau ia meriwayatkan setelah Abu Ishaq ikhtilath.

  • Abu Nadhr Muhammad bin Yusuf Al Faqih adalah Abu Nadhr Ath Thusi Al Imam Al Hafizh Al Faqih Al Allamah Al Qudwah Syaikh Al Islam sebagaimana yang disebutkan oleh Adz Dzahabi [As Siyar 15/490 no 276]
  • Utsman bin Sa’id Ad Darimi disebutkan oleh Adz Dzahabi sebagai Muhaddis Al Hafizh Al Imam Al Hujjah [Tadzkirah Al Huffadz 2/146 no 648]
  • An Nufaili adalah Abdullah bin Muhammad bin Ali bin Nufail seorang hafizh yang tsiqat [At Taqrib 1/531]. Abu Hatim, Nasa’i, Daruquthni, Ibnu Hibban dan Ibnu Qani’ menyatakan tsiqat [At Tahdzib juz 6 no 21]. Ali bin Hakim Al Awdiy adalah seorang perawi yang tsiqat [At Taqrib 1/693]. Ibnu Ma’in, Nasa’i dan Muhammad bin Abdullah Al Hadhrami menyatakan tsiqat. Abu Hatim dan Abu Dawud menyatakan “shaduq” [At Tahdzib juz 7 no 529]. ‘Amru bin ‘Awn Al Wasithi adalah seorang yang tsiqat tsabit [At Taqrib 1/742]. Al Ijli, Abu Hatim, Ibnu Hibban dan Maslamah menyatakan tsiqat. Abu Zar’ah berkata “aku tak pernah melihat orang yang lebih tsabit darinya” [At Tahdzib juz 8 no 129]
  • Zuhair bin Muawiyah adalah adalah seorang yang tsiqat tsabit kecuali ia mendengar Abu Ishaq di akhir umurnya [At Taqrib 1/317]. Ibnu Ma’in, Abu Zur’ah, Al Ijli, Ibnu Sa’ad, Nasa’i, Al Bazzar dan Ibnu Hibban menyatakan tsiqat [At Tahdzib juz 3 no 648]. Syarik bin Abdullah An Nakha’i perawi Bukhari dalam Ta’liq Shahih Bukhari, Muslim dan Ashabus Sunan. Ibnu Ma’in, Al Ijli, Ibrahim Al Harbi menyatakan ia tsiqat. Nasa’i menyatakan “tidak ada masalah padanya”. Ahmad berkata “Syarik lebih tsabit dari Zuhair, Israil dan Zakaria dalam riwayat dari Abu Ishaq”. Ibnu Ma’in lebih menyukai riwayat Syarik dari Abu Ishaq daripada Israil. [At Tahdzib juz 4 no 587]. Dan riwayat Syarik di atas dari Abu Ishaq maka riwayat tersebut tsabit dan shahih. Riwayat Zuhair dan Syarik dari Abu Ishaq saling menguatkan sehingga riwayat ini memang tsabit dari Abu Ishaq.
  • Abu Ishaq adalah Amru bin Abdullah As Sabi’i perawi kutubus sittah yang tsiqat. Ahmad, Ibnu Ma’in, Nasa’i, Abu Hatim, Al Ijli menyatakan ia tsiqat [At Tahdzib juz 8 no 100].

Hadis shahih di atas adalah pernyataan Qutsam bin Abbas RA yang mewakili keluarga Abbas. Imam Ali sendiri juga mengakui kalau dirinya adalah pewaris Nabi SAW sebagaimana yang disebutkan dalam hadis shahih riwayat Nasa’i berikut

أخبرنا الفضل بن سهل قال حدثنا عفان بن مسلم قال حدثنا أبو عوانة عن عثمان بن المغيرة عن أبي صادق عن ربيعة بن ناجد أن رجلا قال لعلي يا أمير المؤمنين لم ورثت ابن عمك دون عمك قال جمع رسول الله أو قال دعا رسول الله بني عبد المطلب فصنع لهم مدا من طعام قال فأكلوا حتى شبعوا وبقي الطعام كماهو كأنه لم يمس ثم دعا بغمر فشربوا حتى رووا وبقي الشراب كأنه لم يمس أو لم يشرب فقال يا بني عبد المطلب إني بعثت إليكم بخاصة والى الناس بعامة وقد رأيتم من هذه الآية ما قد رأيتم فأيكم يبايعني على أن يكون أخي وصاحبي ووارثي ووزيري فلم يقم إليه أحد فقمت إليه وكنت أصغر القوم سنا فقال اجلس ثم قال ثلاث مرات كل ذلك أقوم إليه فيقول اجلس حتى كان في الثالثة ضرب بيده على يدي ثم قال أنت أخي وصاحبي ووريثي ووزيري فبذلك ورثت ابن عمي دون عمي

Telah mengabarkan kepada kami Fadhl bin Sahl yang berkata menceritakan kepada kami ‘Afan bin Muslim yang berkata menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah dari Utsman bin Mughirah dari Abi Shadiq dari Rabi’ah bin Najd bahwa seorang laki-laki berkata kepada Ali “Bagaimana kamu bisa mewarisi saudara sepupumu [Rasulullah SAW] dan bukan pamanmu?. Ali berkata “Rasulullah SAW pernah mengumpulkan atau memanggil keluarga bani Abdul Muthallib dan Beliau menyediakan satu mud makanan untuk mereka. Merekapun makan sampai kenyang dan makanan itu tetap seperti semula seolah-olah tidak ada yang menyentuhnya. Kemudian Rasulullah SAW meminta satu bejana kecil air, merekapun meminumnya  hingga rasa haus mereka hilang tetapi air itu tetap seperti semula seolah-olah tidak ada yang menyentuh atau meminumnya. Rasulullah SAW berkata “Wahai bani Abdul Muthallib aku diutus kepada kalian secara khusus dan kepada semua manusia secara umum, sungguh kalian telah melihat tanda ini seperti yang kalian lihat. Maka barangsiapa diantara kalian yang membaiat [mengikuti] aku, ia akan menjadi SaudaraKu, SahabatKu, PewarisKu dan WazirKu?. Tidak ada satu orangpun yang berdiri maka aku pun berdiri menghampiri Beliau sedangkan aku adalah yang termuda diantara mereka. Rasulullah SAW berkata kepadaku “duduklah”. Rasulullah SAW mengulangi ucapannya sebanyak tiga kali dan setiap kali aku berdiri, Beliau berkata “duduklah” sampai pada kali ketiga Beliau meletakkan tangannya di tanganku dan berkata “Engkau adalah SaudaraKu, SahabatKu, PewarisKu, dan WazirKu”. [Ali berkata] oleh karena itu akulah yang mewarisi sepupuku dan bukan pamanku. [Khasa’is An Nasa’i no 66]

Hadis ini sanadnya shahih. Diriwayatkan oleh para perawi tsiqat dan Rabi’ah bin Najd adalah tabiin yang meriwayatkan dari Ali dan dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Hibban dan Al Ijli.

  • Fadhl bin Sahl bin Ibrahim Al ‘Araaj adalah perawi Bukhari Muslim, Abu Dawud Nasai dan Tirmidzi yang tsiqat. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Abu Hatim berkata “shaduq”. An Nasa’i berkata “tsiqat” [At Tahdzib juz 8 no 508]. Ibnu Hajar berkata “shaduq” [At Taqrib 2/11].
  • ‘Afan bin Muslim adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat. Al Ijli berkata “tsiqat tsabit”. Ibnu Ma’in menyatakan tsiqat. Ibnu Sa’ad berkata “tsiqat banyak meriwayatkan hadis, tsabit dan hujjah”. Ibnu Khirasy berkata “tsiqat orang yang paling baik dari kaum muslimin”. Ibnu Qani’ berkata “tsiqat ma’mun”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [At Tahdzib juz 7 no 424]
  • Abu Awanah adalah Wadhdhah bin Abdullah Al Yasykuri seorang perawi kutubus sittah yang tsiqat. Abu Hatim, Abu Zar’ah, Ahmad, Ibnu Sa’ad, Ibnu Abdil Barr menyatakan ia tsiqat. [At Tahdzib juz 11 no 204]. Al Ajli menyatakan ia tsiqah [Ma’rifat Ats Tsiqat no 1937].Ibnu Hajar menyatakan Abu Awanah tsiqat tsabit [At Taqrib 2/283] dan Adz Dzahabi juga menyatakan ia tsiqat [Al Kasyf no 6049].
  • Utsman bin Mughirah Ats Tsaqafi adalah perawi Bukhari dan Ashabus Sunan. Ahmad, Ibnu Ma’in, Abu Hatim, Nasa’i, Abdul Ghani bin Sa’id, Ibnu Hibban, Al Ijli dan Ibnu Numair menyatakan ia tsiqah [At Tahdzib juz 7 no 306]. Ibnu Hajar menyatakan “tsiqat” [At Taqrib 1/665]
  • Abu Shadiq Al Azdi Al Kufy adalah perawi Nasa’i dan Ibnu Majah yang tsiqat. Abu Hatim berkata “hadis-hadisnya lurus”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Yaqub bin Syaibah menyatakan tsiqat. [At Tahdzib juz 12 no 605]. Ibnu Hajar berkata “shaduq” [At Taqrib 2/417]
  • Rabi’ah bin Najd Al Azdi Al Kufy adalah seorang tabiin yang tsiqat. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat dan Al Ijli berkata “tsiqat” [At Tahdzib juz 3 no 498]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat” [At Taqrib 1/298]. Adz Dzahabi menyatakan ia tidak dikenal [Mizan Al ‘Itidal juz 2 no 2758]. Pernyataan Dzahabi ini tertolak karena tidak dikenal di kalangan mutaqaddimin yang menyatakan kalau Rabi’ah seorang yang tidak dikenal bahkan mereka mengenalnya sebagai saudara Abi Shadiq dan dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Hibban dan Al Ijli. Al Bukhari menyebutkan biografi tentangnya tanpa menyebutkan jarh maupun ta’dil [Tarikh Al Kabir juz 3 no 966]. Apalagi Rabi’ah dikenal sebagai golongan tabiin yang meriwayatkan dari Ali sehingga tuduhan terhadapnya harus memiliki bukti yang kuat. Pendapat yang benar Rabi’ah adalah seorang tabiin yang tsiqat dan pendapat Adz Dzahabi tidak berdasar hanya dikarenakan ketidaksukaannya terhadap hadis keutamaan Imam Ali yang diriwayatkan oleh Rabi’ah bin Najd.

Hadis ini menjadi bukti nyata kalau Imam Ali sendiri mengakui kalau dirinya adalah pewaris Nabi SAW saudara dan sahabat Nabi serta Wazir Nabi SAW. Dan pengakuan Imam Ali ini berdasarkan pernyataan Rasulullah SAW sendiri yang menyebutkan dengan jelas kalau Imam Ali adalah saudara sahabat pewaris dan wazir bagi Beliau SAW. Tentu saja kedudukan Imam Ali ini di sisi Beliau SAW adalah kedudukan yang tinggi melebihi semua sahabat yang lain termasuk Abu Bakar dan Umar. Salam Damai

jika golongan Kristian mendakwa Isa adalah Ruhullah, mereka percaya bahawa Allah SWT itu bersifat dengan roh zahir yang menjelma di dalam tubuh Maryam.. Wahabi mendakwa : “Allah bersemayam dengan DzatNya di Arsy, Allah punya Tangan Wajah Mata”.. Jelas Wahabi Salafi dan Nasrani Ada Kesamaan

AKIDAH TAJSIM ialah satu fahaman akidah yang mempercayai bahawa Allah SWT memiliki anggota badan dan bersifat sebagaimana keterangan ayat mutasyabihaat yang zahir. Tetapi dlm masa yang sama mereka menafikan Allah dari menyerupai makhluk. Mereka tidak mengaku mentajsimkan Allah (mengkhayalkan Allah). Bahkan mereka mendakwa inilah akidah Salafusoleh @ Ahli Sunnah Wal Jamaah. Padahal ia adalah manifestasi Akidah Tajsim yang setara dengan akidah yahudi, Hindu dan Kristian. Tetapi cuba dimplementasikan ke dalam Islam. Prinsip ini kemudiannya dipopularkan oleh sebahagian dari pendakwah Wahhabiy ghuluw. Apapun, sila ikuti penjelasan Ibn al-Jauzi al-Hambali (bukan Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah) dalam hal ini :

Mushanif : Imam Ibn al-jauzi al-Hambali (w597H)

Takhrij : Syeikh Hassan bin Ali al-Saqqaf,

Kitab : Daf’u Syubah al-Tasybih, , hlm 97-102.

Penerbit : Dar Imam al-Nawawi,  Jordan, 1991, Cet Pertama,

Imam Ibn al-Jauzi al-Hanbali (w597H) mengatakan : “Aku melihat golongan dari mazhabku membicarakan tentang usuluddin secara tidak benar. Mereka diwakili oleh 3 orang tokoh : Abu Abdullah al-Hassan bin Hamid bin Ali al-Baghdadi, rakannya Qadhi Abu Ya’la Muhammad Bin Hussain al-Farra al-Hanbali dan Abu Hassan Ali bin Ubaidillah bin Nasr al-Zaghuni (w527). (Biografi ketiga tokoh ini ditahkik oleh Imam al-Muhaddith al-Kautsari dlm ualasan beliau terhadap kitab Imam Ibn al-Jauzi ini)

Imam Ibn al-Jauzi berkata lagi : “Mereka menulis kita yang membicarakan (pendapat) mazhab. Dan aku telah melihat mereka turun ke martabat awam. Lalu memperlakukan Sifat Allah mengikut apa yang mampu dirasa oleh panca indera (iaitu mengkhayalkan Allah dengan sifat-sifat makhluk). Lalu kedengaranlah mereka melaungkan : “Allah SWT mencipta Adam atas gambaranNya. Mereka menetapkan bagi Allah ada muka sbg sesuatu yang menumpang di Dzat). Bagi Allah ada dua mata, dua bibir, dua gigi geraham, wajah yang bercahaya, dua tangan, dua telapak tangan, jari jemari, ibu jari, dada, dua paha, dua betis dan dua kaki.”
Sesetengah mereka mengatakan : “Kami tak mendengar Allah mempunyai kepala.” Sesetengah mereka pula berkata : “Harus bagi Allah menyentuh dan disentuh dan mendekatkan DzatNya kepada hambaNya. Sesetengah mereka pula mendakwa : “Allah itu bernafas. Kemudian mereka (Ahli Tajsim al-Hambali) mendekati masyarakat awam dengan mengatakan : “Ia (sifat-sifat Allah itu) bukan sebagaimana yang kamu bayangkan.”

Padahal zahir ucapan diatas adalah sesuatu yang diketahui. Zahir ucapan ini adalah dari anggotan anak adam. Dan sesuatu itu boleh ditanggung atas hakikatnya jika memungkinkan. (Ini adalah sesuatu yang tidak memungkinkan) Kemudian mereka menyempitkan diri dengan pemikiran Tasybih (menyerupai Allah dengan makhluk) Dan menafikan dari menyandarkan Allah dengan sifat2 yang sedemikian. Lalu mereka berkata : “Kami adalah Ahli Sunnah. Sedangkan ucapan mereka secara jelas adalah Tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk). Dan segelintir masyarakat ada yang terpengaruh dengan mereka.”

Aku telah menasihati pendakwah dan pengikut mereka : “Wahai ashab al-Hanbaliyyah, kamu adalah golongan penukil Hadis Nabi SAW. Imam kamu adalah Imam Ahmad Bin Hanbal yang mengatakan : “bagaimana kamu memperkatakan sesuatu yang aku tidak memperkatakannya.”
Imam Ibn al-Jauzi berkata lagi : “Jagalah diri kamu dari melakukan bid’ah yang bukan dari asas mazhab ini (Hambali). Kamu bicarakan hadis (al-Sifat) dan ditanggungkan hadis berkenaan secara zahirnya. Sedangkan zahir lafaz kaki itu adalah anggota. Ini kerana jika golongan Kristian mendakwa Isa adalah Ruhullah, mereka percaya bahawa Allah SWT itu bersifat dengan roh yang menjelma di dalam tubuh Maryam. Jika sesiapa yang mendakwa : “Allah bersemayam dengan DzatNya maka sesungguhnya dia telah menjadikan Allah sesuatu yang terkesan dengan pancaindera. Dan sewajarnya sesuatu yang zahir itu tidak ditetapkan (sebagaimana) menurut penjelasan akal yang sihat.”
– Imam Ibn al-jauzi al-Hambali, Daf’u Syubah al-Tasybih, takhrij : Syeikh Hassan bin Ali al-Saqqaf, 1991, Cet Pertama, Dar Imam al-Nawawi : Jordan, hlm 97-102.

Aswaja Sunni Mengatakan Nabi Terkena Sihir…

sumber  kutipan :  http://ejajufri.wordpress.com/2009/08/22/mereka-mengatakan-nabi-terkena-sihir/

Mereka Mengatakan Nabi Terkena Sihir…

 di Indramayu seorang tokoh masyarakat yang banyak bercerita tentang hal mistik, santet, sihir dan semacamnya. Sampai dia berkata suatu hari titisan Nyi Roro Kidul, di hari lain dia titisan Sunan Gunung Jati, di hari lain dia “kemasukkan” Jaka Tarub yang menjaganya. Dia juga mengatakan sebagai titisan ratu alam yang dunia tunduk padanya.

Di sana dia bisa dibilang sebagai “penangkal” orang-orang yang kena tumbal santet. Tiap malam Jumat dia mengatakan harus melakukan sesajen di ruang khusus di rumahnya. Saya hanya khawatir beliau terjerumus jauh hingga menjadi seperti Lia Eden. Ada beberapa teman yang mungkin saja percaya dengan semua ceritanya. Tapi saya tidak!

 Hingga suatu hari beliau mengatakan bahwa Nabi saja bisa terkena sihir. Waktu pertama mendengar, saya tidak terlalu kaget. Saya sudah pernah mendengar cerita/riwayat tentang Nabi terkena sihir. Hingga saya tanya kepada seorang teman lulusan pesantren untuk memastikan keyakinan tersebut. Dia pun mengamininya. Ya, itulah kepercayaan sebagian besar umat Islam tentang Nabinya. Tapi saya tidak!

Mengapa mereka percaya? Karena cerita itu tercantum dalam kitab hadis yang “terlanjur” dianggap shahih setelah Al-Quran, dan tidak ada keberanian untuk menolak riwayat tersebut. Nabi disihir atas perintah orang Yahudi kepada Lubaid dan Lubaid berhasil mendapatkan rambut Nabi. Nabi melakukan hal sesuatu yang tidak disadari. Kemudian Nabi sembuh setelah membaca surah Mu’awwidzatain.

Secara bahasa, Al-Laits mengatakan bahwa sihir adalah suatu perbuatan yang dapat mendekatkan diri kepada setan dengan bantuannya. Orang Arab menyebut sihir itu dengan kata as-sihr karena ia menghilangkan kesehatan lalu menjadi sakit (Lisânul ‘Arab). Sihir ini dapat dipelajari oleh manusia, sehingga sangat berbeda dengan mukjizat yang merupakan pemberian Allah swt.

Saya pun tidak sepakat dengan teman saya. Teman saya mengatakan bahwa riwayat itu hendak menjelaskan bahwa sihir itu ada. Saya sendiri bukan tidak percaya pada sihir, tapi saya tidak percaya (riwayat/hadis) bahwa Nabi terkena sihir. Manusia yang kedudukannya di atas malaikat muqarabîn bisa terkena sihir?? Sedangkan orang Indramayu itu “penangkal” sihir??

Teman saya juga mengatakan bahwa riwayat itu hendak menunjukkan bahwa Nabi hanyalah manusia biasa. Klop! Ini yang menjadi akar masalahnya. Ini yang menjadi pembeda antara keyakinan teman-teman Ahlus Sunnah dengan Ahlul Bait, yakni bagaimana cara memandang Nabi. Mereka mengatakan Nabi manusia biasa, dan hanya terjaga ketika menjelaskan agama.

Itu sebabnya mereka juga meyakini bahwa Nabi bermuka masam, Nabi lupa rakaat dalam shalat, dan seterusnya. Karena itu juga saya tidak meyakini ucapan Nabi saw, “Kamu lebih tahu urusan duniamu,” karena Nabi sesungguhnya bukan hanya pemimpin agama tapi juga pemimpin masalah dunia termasuk negara pada masanya. Pemimpin (apalagi Kekasih Allah) tidak mungkin tidak mengetahui dan lemah.

Ya, Nabi memang manusia “biasa” (basyar). Beliau makan, minum, menikah, berkeluarga, hingga terluka dalam perang. Tapi terkena sihir atau santet?? Manusia (insân) sempurna mustahil demikian. Wallâhua’lam.

Selama KKN di Indramayu, kami “diasuh” oleh seorang tokoh masyarakat yang banyak bercerita tentang hal mistik, santet, sihir dan semacamnya. Sampai dia berkata suatu hari titisan Nyi Roro Kidul, di hari lain dia titisan Sunan Gunung Jati, di hari lain dia “kemasukkan” Jaka Tarub yang menjaganya. Dia juga mengatakan sebagai titisan ratu alam yang dunia tunduk padanya.

Di sana dia bisa dibilang sebagai “penangkal” orang-orang yang kena tumbal santet. Tiap malam Jumat dia mengatakan harus melakukan sesajen di ruang khusus di rumahnya. Saya hanya khawatir beliau terjerumus jauh hingga menjadi seperti Lia Eden. Ada beberapa teman yang mungkin saja percaya dengan semua ceritanya. Tapi saya tidak!

 

Hingga suatu hari beliau mengatakan bahwa Nabi saja bisa terkena sihir. Waktu pertama mendengar, saya tidak terlalu kaget. Saya sudah pernah mendengar cerita/riwayat tentang Nabi terkena sihir. Hingga saya tanya kepada seorang teman lulusan pesantren untuk memastikan keyakinan tersebut. Dia pun mengamininya. Ya, itulah kepercayaan sebagian besar umat Islam tentang Nabinya. Tapi saya tidak!

Mengapa mereka percaya? Karena cerita itu tercantum dalam kitab hadis yang “terlanjur” dianggap shahih setelah Al-Quran, dan tidak ada keberanian untuk menolak riwayat tersebut. Nabi disihir atas perintah orang Yahudi kepada Lubaid dan Lubaid berhasil mendapatkan rambut Nabi. Nabi melakukan hal sesuatu yang tidak disadari. Kemudian Nabi sembuh setelah membaca surah Mu’awwidzatain.

Secara bahasa, Al-Laits mengatakan bahwa sihir adalah suatu perbuatan yang dapat mendekatkan diri kepada setan dengan bantuannya. Orang Arab menyebut sihir itu dengan kata as-sihr karena ia menghilangkan kesehatan lalu menjadi sakit (Lisânul ‘Arab). Sihir ini dapat dipelajari oleh manusia, sehingga sangat berbeda dengan mukjizat yang merupakan pemberian Allah swt.

Saya pun tidak sepakat dengan teman saya. Teman saya mengatakan bahwa riwayat itu hendak menjelaskan bahwa sihir itu ada. Saya sendiri bukan tidak percaya pada sihir, tapi saya tidak percaya (riwayat/hadis) bahwa Nabi terkena sihir. Manusia yang kedudukannya di atas malaikat muqarabîn bisa terkena sihir?? Sedangkan orang Indramayu itu “penangkal” sihir??

Teman saya juga mengatakan bahwa riwayat itu hendak menunjukkan bahwa Nabi hanyalah manusia biasa. Klop! Ini yang menjadi akar masalahnya. Ini yang menjadi pembeda antara keyakinan teman-teman Ahlus Sunnah dengan Ahlul Bait, yakni bagaimana cara memandang Nabi. Mereka mengatakan Nabi manusia biasa, dan hanya terjaga ketika menjelaskan agama.

Itu sebabnya mereka juga meyakini bahwa Nabi bermuka masam, Nabi lupa rakaat dalam shalat, dan seterusnya. Karena itu juga saya tidak meyakini ucapan Nabi saw, “Kamu lebih tahu urusan duniamu,” karena Nabi sesungguhnya bukan hanya pemimpin agama tapi juga pemimpin masalah dunia termasuk negara pada masanya. Pemimpin (apalagi Kekasih Allah) tidak mungkin tidak mengetahui dan lemah.

Ya, Nabi memang manusia “biasa” (basyar). Beliau makan, minum, menikah, berkeluarga, hingga terluka dalam perang. Tapi terkena sihir atau santet?? Manusia (insân) sempurna mustahil demikian. Wallâhua’lam.

Rektor Al-Azhar Mesir menolak mentah-mentah proposal anti-syiah yang dilayangkan seorang mufti salafi Wahabi Saudi yang meminta supaya Al-Azhar tidak menerima dan mengakui syiah sebagai mazhab resmi.

sumber kutipan : http://ejajufri.wordpress.com/2010/06/22/rektor-al-azhar-tolak-proposal-wahabi/#more-3949

22 Juni 2010 / Ali Reza

Rektor Al-Azhar Tolak Proposal Wahabi

Rektor Al-Azhar Mesir menolak mentah-mentah proposal anti-syiah yang dilayangkan seorang mufti salafi Wahabi Saudi yang meminta supaya Al-Azhar tidak menerima dan mengakui syiah sebagai mazhab resmi. Beliau menegaskan bahwa selama sepanjang sejarah Al-Azhar selalu menjadi lokomotif yang mendukung gerakan yang mengarah pada pendekatan dan persatuan antar pelbagai mazhab Islam

Menurut Kantor Berita ABNA, Dr. Syekh Ahmad At-Thoyyib, rektor Universitas Al-Azhar menolak tegas permintaan sebagian ulama salafi Saudi dan beliau menyatakan: “Mazhab Syiah Itsna Atsyariyah merupakan salah satu mazhab besar Islam sejak dahulu kala dan para pengikut mazhab ini mendapat penghormatan di sisi Al-Azhar sebagaimana para pengikut mazhab Islam lainnya di dunia.”

Beliau juga menegaskan: “Selama 14 abad dari usia Islam, syiah dan ahlusunah telah menjadi dua sayap Islam dan tidak pernah terjadi peperangan di antara mereka, namun konflik yang terjadi karena semata-mata adanya usaha untuk memperlemah kaum muslim melalui senjata perang mazhab.”

Beliau mengisyaratkan bahwa syiah dan ahlusunah dalam masalah usuluddin (prinsip-prinsip agama) memiliki banyak persamaan dan ditambahkannya bahwa masalah pendekatan antara mazhab-mazhab Islam merupakan skala prioritas bagi Al-Azhar.

Syeikh Al Azhar ini juga menekankan bahwa sepanjang sejarah Al-Azhar selalu menjadi lokomotif yang bergerak ke arah pendekatan antara pelbagai mazhab Islam dan beliau menegaskan: “Syekh Mahmud Syaltut, mantan Mufti Al-Azhar dan Taqiyuddin Qummi, salah satu marjak syiah telah menegaskan pentingnya persatuan di antara kaum muslim sejak mereka membidani berdirinya Darut Taqrib dan Al-Azhar pun memiliki pandangan yang sama.”

Perlu disebutkan bahwa Ahmad bin Saad bin Hamdan Al-Hamdan Al-Ghamidi, salah satu Guru Universitas Ummul Qura di Mekkah Al-Mukarramah mengkritik keras diresmikannya syiah dan diperbolehkannya berpegangan dengannya sebagaimana mazhab Islam lainnya di Yayasan Al-Azhar dan dia meminta supaya syiah tidak diterima sebagai mazhab Islam yang resmi.

Ahmad bin Saad Al-Ghamidi, dalam sebuah pesan yang berjudul “Seruan terhadap ulama Al-Azhar” yang pada hari yang lalu disebarkan di majalah elektronik Sabaq menegaskan: “Orang-orang syiah dua belas imam (itsna asyariyah) di samping Alquran dan sunah Nabi saw., mereka juga memanfaatkan 12 sumber untuk akidah mereka dimana tentu saja hal ini bertentangan dengan agama Allah!”

Sumber: AhlulBayt News Agency

Rektor Al-Azhar Mesir menolak mentah-mentah proposal anti-syiah yang dilayangkan seorang mufti salafi Wahabi Saudi yang meminta supaya Al-Azhar tidak menerima dan mengakui syiah sebagai mazhab resmi. Beliau menegaskan bahwa selama sepanjang sejarah Al-Azhar selalu menjadi lokomotif yang mendukung gerakan yang mengarah pada pendekatan dan persatuan antar pelbagai mazhab Islam

Menurut Kantor Berita ABNA, Dr. Syekh Ahmad At-Thoyyib, rektor Universitas Al-Azhar menolak tegas permintaan sebagian ulama salafi Saudi dan beliau menyatakan: “Mazhab Syiah Itsna Atsyariyah merupakan salah satu mazhab besar Islam sejak dahulu kala dan para pengikut mazhab ini mendapat penghormatan di sisi Al-Azhar sebagaimana para pengikut mazhab Islam lainnya di dunia.”

 

Beliau juga menegaskan: “Selama 14 abad dari usia Islam, syiah dan ahlusunah telah menjadi dua sayap Islam dan tidak pernah terjadi peperangan di antara mereka, namun konflik yang terjadi karena semata-mata adanya usaha untuk memperlemah kaum muslim melalui senjata perang mazhab.”

Beliau mengisyaratkan bahwa syiah dan ahlusunah dalam masalah usuluddin (prinsip-prinsip agama) memiliki banyak persamaan dan ditambahkannya bahwa masalah pendekatan antara mazhab-mazhab Islam merupakan skala prioritas bagi Al-Azhar.

Syeikh Al Azhar ini juga menekankan bahwa sepanjang sejarah Al-Azhar selalu menjadi lokomotif yang bergerak ke arah pendekatan antara pelbagai mazhab Islam dan beliau menegaskan: “Syekh Mahmud Syaltut, mantan Mufti Al-Azhar dan Taqiyuddin Qummi, salah satu marjak syiah telah menegaskan pentingnya persatuan di antara kaum muslim sejak mereka membidani berdirinya Darut Taqrib dan Al-Azhar pun memiliki pandangan yang sama.”

Perlu disebutkan bahwa Ahmad bin Saad bin Hamdan Al-Hamdan Al-Ghamidi, salah satu Guru Universitas Ummul Qura di Mekkah Al-Mukarramah mengkritik keras diresmikannya syiah dan diperbolehkannya berpegangan dengannya sebagaimana mazhab Islam lainnya di Yayasan Al-Azhar dan dia meminta supaya syiah tidak diterima sebagai mazhab Islam yang resmi.

Ahmad bin Saad Al-Ghamidi, dalam sebuah pesan yang berjudul “Seruan terhadap ulama Al-Azhar” yang pada hari yang lalu disebarkan di majalah elektronik Sabaq menegaskan: “Orang-orang syiah dua belas imam (itsna asyariyah) di samping Alquran dan sunah Nabi saw., mereka juga memanfaatkan 12 sumber untuk akidah mereka dimana tentu saja hal ini bertentangan dengan agama Allah!”

Sumber: AhlulBayt News Agency

Beberapa Kesalahpahaman tentang Muslim Syiah

sumber kutipan : http://ejajufri.wordpress.com

Beberapa Kesalahpahaman tentang Muslim Syiah

Oleh: Dr. Shahid Athar, MD (Amerika Serikat)

Perbedaan antara Syiah dan Sunni selama berabad-abad merupakan hambatan dalam persatuan Islam. Perbedaan ini selalu diperbesar dan disenangi oleh musuh-musuh Islam untuk keuntungan mereka. Sayangnya, beberapa orang yang disebut sebagai ulama Muslim juga menjadi pemain kunci untuk menjaga perbedaan ini tetap hidup.

Meskipun saya dilahirkan dalam sebuah keluarga sayid Sunni, saya kurang mengetahui banyak perbedaan ketika semasa kecil. Keluarga kami selalu menghormati Imam Husain (salam baginya) dan orang tuanya dan berpartisipasi dalam peringatan kesyahidannya (10 Muharram yang disebut Asyura) dengan membaca bagian pertama Alquran (Al-Fatihah) dan beberapa bagian ayat Quran dan berpuasa pada hari kesembilan dan sepuluh pada bulan itu.

Sekarang, ketika saya memberikan ceramah kepada non-Muslim, satu pertanyaan yang mereka selalu tanyakan kepada saya adalah apakah saya Syiah atau Sunni. Saya tanya kepada mereka jika mereka tahu perbedaannya. Mereka tidak mengetahui selain dari apa yang media berikan. Jadi mereka berkata bahwa orang Syiah adalah orang-orang jahat, versi militannya Islam, dan penyebab segala masalah di Timur Tengah.

Non-Muslim Amerika ini dalam pikirannya terkejut untuk mengetahui bahwa tiran seperti Saddam Hussain dan pembuat masalah seperti PLO dan Hamas semua adalah Sunni, mereka juga terkejut ketika tahu bahwa Tariq Aziz (Mantan Perdana Menteri Irak) adalah seorang Kristiani dan bukan Muslim.

Ini yang aku katakan kepada mereka tentang Syiah: “Jika Ali bin Abi Thalib (sepupu Nabi Muhammad) adalah seorang Syiah, maka saya adalah Syiah. Jika dia adalah seorang Sunni, maka saya adalah Sunni (yakni pengikut Nabi Muhammad).” Syiah berawal sebagai gerakan politik (syî’ah berarti “pengikut” atau “pendukung”) untuk membantu Ali menjadi pelanjut Muhammad saw.

Di Islam terdapat lima pemikiran hukum fikih yang dikenal:

  1. Hanafi
  2. Syafi’i
  3. Maliki
  4. Hanbali, dan
  5. Ja’fari

Empat yang pertama disebut Sunni, dan yang kelima, yang mengikuti ucapan dan perbuatan Nabi Muhammad saw, juga mengikuti Ali dan menganggapnya sebagai pelanjut sah Nabi, disebut Syiah. Empat yang pertama memiliki banyak perbedaan teologi di antara mereka sendiri dan menurut pemikiran teman saya yang Kristen, “Sunni menjadi bersatu ketika mereka memerangi Syiah.”

Di antara setiap figur penting, terdapat “penggemar” yang memiliki keinginan masa depan tentang kebangkitan pemimpin mereka. Di Indiana, kami memiliki “Friends of Lugar Club”, yang berharap bahwa suatu saat Senator Richard Lugar akan menjadi Presiden Amerika. Secara nasional, kami memiliki “Hillary Rodham Clinton Fan Club” dengan 4,000 anggota! Kemudian, terdapat Followers of Ali Club yang nantinya menjadi gerakan politik. Di masa perang dengan kaum musyrik, Ali, the Sword of Islam, berada di barisan terdepan, mengalahkan dan membunuh banyak pemimpin (kaum musyrik) yang memiliki anak dan cucu, meskipun mereka menjadi Muslim, mereka selalu ingat siapa yang membunuh ayah mereka (dendam).

Ali dirawat oleh Nabi Muhammad sejak kecil sehingga ia mengenal Islam dengan baik. Ketika ia menjadi hakim, ia mengadili berdasarkan prinsip Islam yang ketat, membuat kecewa orang-orang yang berharap Ali menjadi lunak kepada harta dan kekuasaan. Ali sangat dihormati dan dipercaya oleh kedua khalifah, Abu Bakar dan Umar, yang dalam kondisi sulit keduanya meminta pendapat Ali.

Meskipun demikian, Saya katakan kepada non-Muslim tersebut bahwa keduanya, Syiah dan Sunni, memiliki banyak kesamaan hal. Keduanya percaya kepada satu Tuhan (Allah), mengikuti nabi yang sama, Muhammad saw., melakukan shalat lima waktu, puasa di bulan Ramadhan, pergi ke Mekkah untuk haji, membaca Quran yang sama, dan berzakat.

Tetapi, jawaban saya hanya memuaskan bagi non-Muslim yang kurang mengetahui. Bagi saudara-saudara Sunni, kesalahpahaman itu dikarenakan propaganda Barat. Mereka yang siap merangkul non-Muslim (khususnya kulit putih) sebagai ajakan kepada Islam, tidak mereka lakukan juga kepada Syiah. Mereka adalah Sunni yang kurang memahami. Tugas kita sebagai pendakwah adalah mengajak kedua kelompok kepada Islam yang sesungguhnya dan tidak mengusirnya. Ada gerakan di dunia Sunni untuk menamakan Syiah sebagai kelompok kafir. Saya telah mengatakan bahwa Syekh Bin Baz dari Arab Saudi telah mengeluarkan fatwa bahwa daging dari ahlulkitab (Yahudi dan Kristen) adalah halal bagi Muslim Sunni untuk dimakan tapi tidak bagi daging sembelihan Syiah!

Ada beberapa ulama dari kedua kelompok, seperti Imam Khomeini dan Syaikh Syaltut dari Al-Azhar yang telah melakukan hal terbaik untuk meminimalisir perbedaan dan membawa persatuan, tapi hal ini tidak akan bekerja selama informasi yang salah tentang Syiah terjadi di kebanyakan kaum Sunni. Karena itu saya menyusun kesalahpahaman mereka mengenai keyakinan dan amalan Syiah. Untuk jawabannya, saya telah berkonsultasi dengan dua ulama Syiah di Amerika, Dr. A. S. Hashim dari Washington dan Imam Muhammad Ali Elahi dari Detroit.

Professor Sayyid Hossein Nasr menulis kepada saya, “Abaikan dan jangan buang-buang waktu dalam menanggapi pernyataan yang salah.” Dia juga mengingatkan bahwa, “Sejumlah besar uang dan usaha telah dikeluarkan beberapa tahun terakhir ini untuk menghembuskan api kebencian antara Syiah dan Sunni di wilayah Teluk Persia melalui gerakan politik dan ekonomi yang sarat akan nuansa kekuasaan.” Bagaimana pun, demi persatuan Islam, saya harus siap dengan segala pertanyaan dari pada menjauhi mereka. Ingatlah bahwa Imam Ja’far, pendiri madrasah fikih Syiah, merupakan guru dari Imam Abu Hanifah.

Kesalahpahaman #1:
Syiah memiliki Quran yang berbeda. Mereka menambah 10 bab ke dalam Quran yang asli.

Tanggapan: Tidak benar. Saya telah beberapa kali memeriksa setiap Quran yang ada di rumah dan masjid kaum Syiah. Saya masih tetap menemukan Quran yang sama. Beberapa kali, saya merawat pasien wanita Iran yang dirawat di sini. Saya melihat Quran di sisinya. Saya pinjam darinya dan memeriksa dari depan hingga belakang. Dalam bahasa Arab, sama seperti Quran kita. Tentu, karena saya tidak tahu bahasa Persia, saya tidak bisa mengatakan banyak tentang terjemahannya. Adalah sebuah dosa jika kita mengatakan bahwa Quran bisa diubah atau ditambahkan oleh Syiah padahal ia dijaga oleh Allah.

Kesalahpahaman #2:
Beberapa Syiah menganggap Ali sebagai Tuhan.

Tanggapan: Tidak benar. Hal ini tidak bisa dipercaya, bahkan untuk berpikir hal seperti itu. Pada masa pemerintahan Ali, beberapa kelompok penyembah berhala yang disebut “ghulat” mengakui Ali sebagai Tuhan. Ketika beliau menemukan mereka, mereka dibakar hingga mati. Kelompok Alawi di Suriah mungkin memiliki keyakinan yang serupa, tapi mereka non-Muslim, bukan Syiah atau Sunni.

Kesalahpahaman #3:
Syiah memiliki perbedaan deklarasi iman dan mereka menambah-nambah azan.

Tanggapan: Deklarasi untuk menjadi Muslim, sebagaimana deklarasi kepada non-Muslim, merupakan hal yang sama. Sebagian Syiah menambahkan untuk diri mereka sendiri “’Alî waliyullâh” atau “’Alî hujjatullâh” tapi bukan sebagai bagian dari azan.

Kesalahpahaman #4:
Syiah tidak melaksanakan shalat sunnah. Shalat sunnah adalah shalat tidak wajib yang dilakukan Nabi Muhammad SAW.

Tanggapan: Syiah tentu melakukan shalat tidak wajib (sunnah), jumlahnya 36 kali per hari, yang biasanya disebut nawafil (jamak dari nafilah).

Kesalahpahaman #5:
Sebagian Syiah percaya bahwa Malaikat Jibril melakukan kesalahan dan kenabian dimaksudkan untuk Ali dan bukan untuk Muhammad SAW.

Tanggapan: Tidak benar. Tidak ada Syiah yang berpikir dengan klaim palsu seperti itu. “Hanya orang gila yang berpikir untuk pertanyaan seperti itu.”

Kesalahpahaman #6:
Syiah menghujat dan mencaci tiga khalifah yang pertama (Abu Bakar, Umar dan Utsman) serta istri Nabi Muhammad, Aisyah.

Tanggapan: Syiah mengakui tiga khalifah pertama sebagai sahabat besar dan pemimpin negara Islam yang baik, tapi bukan pemimpin keagamaan (imam). Imam Ja’far Ash-Shadiq, merupakan keturunan Abu Bakar dari jalur ibunya, mengatakan tentang Abu Bakar, “Ia melahirkanku dua kali.” Aisyah dihormati oleh Syiah sebagai Ummul Mukminin (ibu bagi orang-orang beriman), sebagaimana Ali menghormatinya ketika ia mengirim Aisyah kembali dari Basrah ke Madinah setelah Perang Unta (Harb Al-Jamal). Jika sebagian Syiah melakukan hujatan kepada tiga khalifah dan Aisyah, mereka melakukan itu karena kebodohan dan harus meminta ampunan Allah.

Kesalahpahaman #7:
Syiah menggabungkan shalat lima waktu menjadi satu di waktu malam.

Tanggapan: Tidak benar. Di masjid Syiah, baik di Iran maupun di Amerika Serikat, seluruh shalat lima waktu dilakukan. Beberapa pekerja Syiah menggabungkan waktu Zhuhur dengan Ashar dan Maghrib dengan Isya, tapi para ulama Syiah menganjurkan untuk dikerjakan secara terpisah. Menggabungkan (jama’) seperti itu mungkin kurang baik, tapi lebih baik dari pada tidak shalat sama sekali. Bagaimana bisa seorang Sunni yang tidak pernah shalat menjadi lebih baik dengan seorang Syiah yang menjamak shalatnya?

Kesalahpahaman #8:
Syiah tidak mengerjakan zakat.

Tanggapan: Tidak benar. Syiah tidak hanya membayar 2,5% sisa dari tabungan sebagai zakat, tapi juga tambahan 20% sebagai khumus. Bagaimana pun, mereka lebih memilih untuk membayarkannya langsung kepada yang membutuhkan dari pada melalui pemerintahan Sunni yang korupsi.

Kesalahpahaman #9:
Syiah melakukan nikah sementara (mut’ah).

Tanggapan: Mut’ah (nikah sementara) dibolehkan pada masa Nabi Muhammad SAW. Ibnu Zubair dilahirkan dari pernikahan sementara. Kemudian Khalifah Umar melarangnya dengan alasan sosial sebagaimana pemerintahan Islam telah meluas.

Kesalahpahaman #10:
Syiah menganggap para Imam suci dan di atas para nabi.

Tanggapan: Tidak benar. Seluruh nabi dilahirkan sebagai Nabi, tapi sebagaimana disebut Al-Quran tentang Ibrahim yang setelah melewati beberapa ujian, ia menjadi pemimpin (imam). Imam adalah pembawa risalah Islam. Syiah meyakini Ali hanya sebagai imam, tapi Muhammad SAW adalah Nabi, Rasul dan Imam.

Dengan sedikit ilmu yang saya miliki, saya telah mencoba sebaik mungkin sebagai Sunni dalam membela saudara Syiah dalam Islam dengan harapan dan doa kepada Allah Yang Maha Kuasa bahwa Dia akan “menanamkan cinta di hati orang-orang beriman” dan membawa kita lebih dekat satu sama lain, agar kita dapat bergabung melawan musuh bersama, setan dan pengikutnya.

Sumber: Imam Reza (A.S.) Network
Penerjemah: © ejajufri

Dongengan Tentang Abdullah Bin Saba’ Adalah Bahan Jualan Aswaja Sunni Sepanjang Zaman Untuk Menghancurkan Mazhab Keluarga Nabi SAW

ABDULLAH BIN SABA : GOSIP ATAU FAKTA ?.

Mari kita ikuti penuturan “ Encyclopedia of Shia “ ( sudah diterjemahkan dengan judul “ Antologi Islam, Sebuah Risalah Tematis Dari Keluarga Nabi penerbit Al Huda ) tentang hakekat wujud Abdullah Bin Saba’ ini pada Bab 12, Kontoversi Abdullah Bin Saba’.

“ Musuh-musuh Islam yang memiliki tujuan memecah belah umat Islam, berusaha menggambarkan Syi’ah sebagai sebuah aliran yang berasal dari Abdullah bin Saba, seorang Yahudi yang memeluk Islam selama pemerintahan Utsman bin Affan, khalifah ketiga. Mereka menyatakan lebih jauh bahwa Abdullah bin Saba melakukan perjalanan ke kota-kota dan desa-desa umat Islam, dari Damaskus hingga ke Kufah lalu ke Mesir, menyebarkan berita di kalangan umat Islam bahwa Ali bin Abi Thalib adalah penerus Nabi Muhammad SAW. la menghasut umat Islam untuk membunuh Utsman karena ia meyakini bahwa Utsman telah menduduki jabatan Ali. la juga menciptakan keonaran di pasukan Ali dan musuhnya pada perang Unta. la juga bertanggung jawab atas semua gagasan-gagasan Syi’ah selanjutnya. Penulis sewaan ini meyakini bahwa  Abdullah Bin Saba’ adalah pendiri mazhab Syi’ah, dan karena ia sendiri adalah orang munafik dan menulis berita bohong, maka semua ilmu dan keyakinan Syi’ah juga tidak benar ( halaman 545 – 546 ).

“Cerita-cerita bohong seputar tokoh Abdullah bin Saba merupakan hasil karya keji seseorang bernama Saif bin Umar Tamimi. la adalah pengarang yang hidup di abad kedua setelah Hijrah. la mengarang cerita ini berdasarkan beberapa fakta utama yang ia temukan dalam sejarah Islam yang ada saat itu. Saif menulis sebuah novel yang tidak berbeda dengan novel Satanic Verses karangan Salman Rushdi dengan motif yang serupa, tetapi dengan perbedaan bahwa peranan setan dalam bukunya diberikan kepada Abdullah bin Saba’ “           ( halaman 546 ).

Asal Muasal Cerita Abdullah bin Saba’. Cerita Abdullah bin Saba berusia lebih dari dua belas abad lamanya. Parasejarahwan dan penulis mencatatnya, dan memberi tambahan kepada cerita tersebut. Sekilas melihat rangkaian perawi dari cerita ini, anda akan temukan nama Saif berada di situ. Beberapa sejarahwan berikut ini mencatat cerita tersebut dari Saif secara langsung.

Pendapat Kaum Sunni Mengenai Saif. Beberapa ulama terkemuka Sunni berikut ini membenarkan bahwa Saif bin Umar terkenal sebagai seorang pendusta dan orang yang tidak dapat dipercaya:

Hakim (405 H) menulis, “Saif adalah seorang ahli bid’ah. Riwayatnya harus diabaikan.”

Nasa’i (303 H) menulis, “Riwayat yang disampaikan Saif lemah dan riwayat tersebut harus diabaikan karena tidak dapat dipercaya dan tidak berdasar.”

Yahya bin Muin (233 H) menulis, “Riwayat Saif lemah dan tidak berdasar.” Abu Hatam (277 H) menulis, “Hadis yang diriwayatkan Saif harus ditolak.”

Ibnu Abu Hatam (327) menulis, “Para ulama telah mengabaikan riwayat yang disampaikan Saif .”

Abu Daud (316 H) menulis, “ Saif bukan seorang yang dapat dipercaya. la adalah seorang pembohong. Beberapa hadis yang ia sampaikan sebagian besarnya tertolak.”

Ibnu Habban (354 H) menulis, “Saif merujukkan hadis-hadis palsu pada perawi perawi yang sahih. la dianggap sebagai seorang pebid’ah dan pembohong.”

Ibnu Abdul Barr (462 H) menyebutkan dalam tulisannya tentang Qa’fa ; “ Saif meriwayatkan bahwa Qa`qa berkata, ‘Aku menghadiri kematian Nabi Muhammad.”‘ Ibnu Abdul Barr melanjutkan “ Ibnu Abu Hatam berkata, ‘Riwayat Saif lemah. Oleh karenanya, apa yang disampaikan tentang keberadaan Qa’qa pada wafatnya Nabi Muhammad ditolak. Kami menyebutkan hadis-hadis Saif hanya untuk diketahui saja.”‘

Al Darulqutni (385 H) menulis, “Riwayat yang disampaikan Saif lemah.” Firuzabadi (817 H) menulis dalam buku Tawalif tentang Saif dan beberapa orang lainnya bahwa riwayat yang mereka sampaikan lemah. Ibnu Sakan (353 H) menulis, “Riwayat Saif lemah.”

Safuddin (923 H) menulis, “Riwayat yang disampaikan Saif dianggap lemah.”

Ibnu Udai (365 H) menulis tentang Saif, “Riwayat yang ia sampaikan lemah. Beberapa riwayatnya terkenal tetapi sebagian besar dari riwayat itu lemah dan tidak digunakan.”

Suyuthi (900 H) menulis, “Hadis yang disampaikan Saif lemah.”

Ibnu Hajar Asqalani (852 H) menulis setelah ia menyebut sebuah hadis, “Banyak perawi hadis ini lemah dan yang paling lemah di antara mereka adalah Saif.”

Menarik untuk kita perhatikan bahwa meskipun Dzahabi (748 H) telah mengutip dari Saif dalam buku sejarahnya, ia menyebutkan di bukunya yang lain bahwa Saif adalahperawi yang lemah. Dalam buku al-Mughni fi al-Dhu’afa, Dzahabi menulis, “Saif memiliki dua buku yang berdasarkan kesepakatan telah diabaikan oleh para ulama.”‘

Hasil dari penyelidikan tentang kehidupan Saif menunjukkan bahwa Saif adalah seorang yang tidak beragama dan pengarang yang tidak dapat dipercaya. Cerita yang dikisahkan olehnya diragukan dan secara keseluruhan atau sebagiannya palsu. Dalam cerita-ceritanya, in menggunakan nama-nama kota yang tidak pernah ada di dunia ini. Abdullah bin Saba adalah kebohongan utama dari cerita-ceritanya. Ia juga mengenalkan 150 sahabat nabi imajiner untuk meluaskan tokoh-tokoh ciptaannya, dengan member nama-nama yang aneh pada mereka yang tidak ditemukan di dokumen manapun. Selain itu, waktu kejadian yang diberikan pada riwayat Saif bertolak belakang dengan dokumen hadis Sunni yang sahih. Saif juga menggunakan rangkaian perawi palsu dan meriwayatkan banyak peristiwa-peristiwa ajaib “  ( halaman 549 – 551 ).

Ustad  Farid  Ahmad  Oqbah, MA   staf ahli LPPI, dalam makalahnya “ Syi’ah, Sejarah dan Perkembangannya “ halaman 3 menulis : “ Tetapi, LPPI berhasil menemukan 7 riwayat dari sumber Syi’ah dan 6 riwayat dari sumber Ahlus Sunnah yang karenanya sulit dibantah kalau Abdullah Bin Saba’ bukan pendiri Syi’ah “. Pada catatan kaki, ia mengutipnya dari buku “ Abdullah bin Saba’ “, karya Dr. Sulaiman Al Audah.

Saya yakin Ustad FAO tidak membaca 6 riwayat  Ahlus Sunnah dan 7 riwayat Syi’ah tersebut. Kenapa ?. Karena, dalam kenyataannya, dari ke- 13 riwayat itu tidak satupun riwayat yang secara signifikan mendukung ‘ocehan’ beliau bahwa Abdullah bin Saba’ adalah pendiri Syi’ah. Mari kita buktikan dengan ilmu dan akal.

Enam riwayat Sunni yang beliau sebutkan di atas termaktub di dalam Lisanul Mizan, karya Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqolani, jilid III, halaman 289 – 290, cetakan tahun 1330 H. Perhatikan. Ibnu Hajar Al Asqolani setelah mengemukakan riwayat – riwayat tentang Abdullah bin Saba’, beliau menutupnya dengan penjelasan : “ BERITA – BERITA TENTANG ABDULLAH BIN  SABA’ DALAM SEJARAH SANGAT TERKENAL, TETAPI TIDAK       ( SATUPUN ) BERNILAI RIWAYAT ( WA LAYSAT LAHU RIWAYATUN ). DAN SEGALA PUJI BAGI ALLAH ….” .

Demikianlah penuturan Ulama Besar Sunni, Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqolani. Apakah anda masih ngotot untuk mengatakan bahwa Abdullah bin Saba’ adalah pendiri Syi’ah ?.

Lalu, bagaimana dengan 7 riwayat Syi’ah ?. Pertama, kabar buruk buat Ustad FAO, supaya anda tahu bahwa seluruh riwayat tersebut – dalam pandangan ulama Syi’ah – adalah riwayat yang dha’if alias lemah alias tidak bisa dijadikan pegangan .

Kedua, just for your information, Ustad FAO bahwa seluruh riwayat di dalam kitab Syi’ah yang menyebutkan Abdullah bin Saba’  semua isinya mengutuk Abdullah bin Saba’ si Yahudi, ajaran dan perbuatannya (   Antologi Islam, Sebuah Risalah Tematis Dari Keluarga Nabi, Bab 12, Kontroversi Abdullah Bin Saba’ dan “ Abdullah bin Saba’ Dalam Polemik, M.Hashem, halaman 58 – 63 ).

Apakah anda masih ngotot untuk mengatakan bahwa Abdullah bin Saba’ adalah pendiri Syi’ah ?.

MENGGELIKAN DAN TAK MASUK AKAL !

Marilah kita kembali kepada statement – statement Ustad FAO terdahulu. Ia mengatakan : “ …pendiri Syi’ah ini ialah orang Yahudi …… Abdullah bin Saba’ inilah orang yang pertama kali menciptakan keyakinan Syi’ah itu….. dan LPPI berhasil menemukan 7 riwayat dari sumber Syi’ah ………sulit dibantah kalau Abdullah Bin Saba’ bukan pendiri Syi’ah.

Tujuh sumber Syi’ah , seperti telah kami sampaikan, semuanya memuat kata – kata para Imam Syi’ah yang melaknat Abdullah bin Saba’ dan ajarannya.

Nah, inilah anomali dan kontradiksi itu !. Di satu sisi – kata Ustad FAO –  Syi’ah diciptakan oleh Abdullah bin Saba’, orang Yahudi. Namun di sisi lain,  para Imam Syi’ah ( dan tentunya para pengikutnya ) justru melaknat dan mengutuk si pencipta Syi’ah itu sendiri. Ajib !!!! ( kata orang Arab !)

Pak Ustad FAO ( dan para pengikutnya ), tolong fikirkanlah dengan akal sehat dan hati nurani kalian !. Adakah barang satu contoh sajapun di dunia ini manusia penganut paham seseorang tetapi pada saat yang sama mengutuk dan melaknatsi pencipta paham tersebut ?.

Apakah para penganut Buddha mengutuk Buddha ?. Apakah penganut Yesus mengutuk Yesus ?. Apakah penganut Musa mengutuk Musa ?. Apakah penganut Kong Hu Cu mengutuk Kong Hu Cu ?. Apakah penganut ajaran Muhammad ( SAW ) mengutuk… ?. Apakah penganut Marxisme mengutuk Marx ?. Apakah – ma’af – “penganut paham” Ustad Farid Ahmad Okbah mengutuk Ustad Farid Ahmad  Okbah ?.

Sejarah manusia tak pernah menemukan hal – hal seperti itu. Tetapi, mengapa penganut  Abdullah bin Saba’ justru mengutuk Abdullah bin Saba’ ?. Logika yang  sehat juga tak dapat menelannya !.

Yang mengutuk Buddha pastilah bukan penganut Buddha !. Yang mengutuk Yesus pastilah bukan penganut Yesus !.  Yang mengutuk Ustad Farid Ahmad Okbah, pastilah bukan ‘penganut paham’ Ustad Farid Ahmad Okbah !. Maka, yang mengutuk Abdullah bin Saba’ ( yakni para Imam Syi’ah dan pengikutnya ) pastilah bukan penganut ajaran dan paham Abdullah bin Saba’.

Kesimpulan yang tak terbantahkan memutuskan : “ Tuduhan terhadap muslimin Syi’ah sebagai penganut ajaran dan paham yang diciptakan oleh Abdullah bin Saba’ sama sekali tidak ditopang oleh sejarah pengalaman umat manusia dan mustahil diterima akal sehat “. Kecuali,,,, …….. anda sengaja ingin  mencederai akal sehat anda !!.

PARA SEJARAHWAN

Peranan Sejarah Di Dalam Membangkitkan Umat

Sesungguhnya umat yang maju adalah umat yang mengambil pelajaran dari sejarah, dan menghadirkan pengalaman-pengalaman sejarah di hadapannya, setelah sebelumnya menyadari hukum-hukum sejarah yang akan menuntun umat menuju peradaban. Di samping juga mengetahui sebab-sebab kehancuran dan kemunduran umat-umat terdahulu. Allah SWT tidak mengkhususkan satu hukum untuk sebuah kaum dan tidak bagi kaum yang lain, melainkan Allah menjadikannya sebagai satu sunah yang tidak berubah. Allah SWT berfirman, “Maka sekali-kali kamu tidakakan mendapatpenggantian bagi sunah Allah, dan sekali-kali tidak pula akan menemui penyimpangan bagi sunah Allah itu.

Kehidupan berdiri di atas satu hakikat, yaitu pertarungan yang terus-menerus di antara yang hak dengan yang batil. Seluruh peristiwa yang terjadi di dalam sejarah manusia tidak keluar dari konteks pertarungan ini. Dengan hati nurani kita dapat menyelami sejarah dan menjadikannya hidup serta berinteraksi dengan kehidupan kita sekarang. Kita dapat menyelami lebih dalam tentang terjadinya berbagai perpecahan mazhab di dalam sejarah umat Islam. Untuk mengkaji ini mau tidak mau kita harus mengesampingkan berbagai emosi dan kecenderungan pribadi, dan mendasarkan diri kepada kaidah-kaidah Al-Qur’an. Sehingga kita mampu melakukan analisa yang objektif, dan mampu melihat berbagai peristiwa bukan hanya sebatas permukaannya saja melainkan sampai ke substansinya. Dengan begitu kita akan bisa sampai kepada penglihatan yang jelas dan objektif, dan bukan penglihatan yang salah dan rancu.

Untuk itu, marilah kita mulai sebagaimana seolah-olah Al-Qur’an al-Karim baru diturunkan kepada kita. Kita membaca di dalam Al-Qur’an, “Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat (yang diderita) oleh orang-orang yang sebelum mereka? Orang-orang itu adalah lebih kuat dari mereka (sendiri) dan telah mengolah bumi (tanah) serta memakmurkannya lebih banyak dari apa yang telah mereka makmurkan. Dan telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Maka Allah sekali-kali tidak berlaku zalim kepada mereka, akan tetapi merekalah yang berlaku zalim kepada diri sendiri.” (QS. ar-Rum: 9)

Sebaliknya, umat yang beku tidak mampu memahami sejarah beserta hukum-hukum dan pengalaman-pengalamannya. Oleh karena itu, mereka kehilangan kemampuan penglihatan yang menjadikan mereka mampu menguasai peristiwa-peristiwa sekarang dan berjalan menyongsong masa depan.

Kekuasaan Dan Penyelewengan Sejarah

Jika demikian, maka setiap penolakan untuk melakukan pengkajian sejarah, dengan alasan akan membangkitkan fitnah-fitnah yang telah lalu, atau alasan-alasan lainnya, tidaklah pada tempatnya. Penolakan itu tidak lain hanya menunjukkan kebodohan orang yang ber-sangkutan. Pada hakikatnya, seandainya pun di sana terdapat fitnah, maka fitnah itu disebabkan pemalsuan dan penyelewengan yang dilakukan terhadap sejarah. Karena sejarah sebagai sebuah sejarah, dia tidak lebih hanya merupakan sebuah cermin yang memantulkan peristiwa-peristiwa yang telah lalu bagi orang-orang yang sekarang, dengan tanpa adanya rekayasa dan pemalsuan. Namun, manakala sejarah jatuh ke tangan para politikus kotor maka dia akan berubah bentuknya dan akan rusak wajahnya. Dari sinilah kemudian timbulnya berbagai pandangan dan mazhab. Karena, jika sejarah lurus-lurus saja dan tidak ada rekayasa maka tentu akan tersingkap kepalsuan berbagai mazahab yang ada dan akan diketahui kebatilannya.

Apa yang diderita oleh kaum Muslimin sekarang, berupa terkotak-kotaknya mereka ke dalam beberapa mazhab dan kelompok, itu tidak lain merupakan buah dari berbagai penyelewengan yang terjadi di dalam sejarah Islam, yaitu berupa pemalsuan dan penyembunyian kebenaran yang dilakukan oleh para sejarahwan. Mereka adalah bagian yang tidak terpisahkan dari para perencana yang hendak mendiskredirkan mazhab Ahlul Bait untuk kepentingan politik. Para perencana ini telah bermain di semua tingkatan, untuk membentuk arus lain yang mempunyai tampilan Islam, sebagai lawan dari Islam yang sesungguhnya. Oleh karena sejarah menceritakan seluruh apa yang dilihatnya, maka para perencana ini mau tidak mau harus membungkam dan membutakannya, sehingga tidak dapat menyingkap tipu daya yang dilakukannya. Oleh karena itu, mereka menempatkan sejarah di dalam gengaman tangan penguasa, supaya sejarah itu ber-gerak ke arah mana saja penguasa bergerak.

Maka para sejarahwan pun berada di bawah ancaman dan bujukan para penguasa. Bulu-bulu tangan mereka bergetar karena harus memalsukan kebenaran. Kebijakan politik yang diikuti para penguasa Bani Umayyah, dan kemudian dilanjutkan oleh para penguasa Bani Abbas, sejak awal adalah bertujuan untuk mencemarkan wajah Ahlul Bait as. Semata-mata menyatakan kecintaan kepada Ali bin Abi Thalib dan Ahlul Baitnya, cukup menjadi alasan seseorang untuk dihancurkan rumahnya dan diputus bagiannnya dari baitul mal. Bahkan Mu’awiyah senantiasa mengintai Syi’ah Ali dengan mengatakan, “Bunuh mereka, meski mereka hanya baru disangka syi’ahnya Ali.” Sehingga menyebutkan keutaman-keutamaan m Ahlul Bait as merupakan sebuah kejahatan yang tidak dapat diampuni. Untuk mengetahui tragedi-tragedi yang menimpa para Imam Ahlul Bait dan para syi’ah mereka, silahkan Anda merujuk kepada kitab Magatil ath-Thalibiyin, karya Abul Faraj al-Isfahani.

Apalagi dengan para sejarahwan. Tidak mudah bagi mereka pada kondisi yang keras ini menuliskan keutamaan-keutamaan Ahlul Bait dan menyebutkan sejarah kehidupan mereka yang cemerlang.

Demikianlah, generasi demi generasi mewariskan kebenaran yang telah diselewengkan. Bahkan, keadaan berkembang lebih jauh dari itu manakala para ulama terkemudian (muta’akhkhir) membenarkan para pendahulunya, dan menukil segala sesuatu dari mereka dengan tanpa melakukan pengkajian dan perenungan. Maka rasa permusuhan kepada Ahlul Bait dan Syi’ah mereka pun menjadi berakar, dan demikian juga kebodohan terhadap pihak lain. Tidaklah aneh mana-kala Ibnu Katsir menceritakan Ja’far bin Muhammad ash-Shadiq as di dalam peristiwa-peristiwa yang terjadi pada tahun seratus empat puluh delapan Hijrah, dia tidak lebih hanya mengatakan, “Pada tahun itu Ja’far bin Muhammad ash-Shadiq wafat.” Dia hanya menyebutkan tahun wafatnya, namun tidak sedikit pun menyebutkan sesuatu dari kehidupannya. Banyak sekali bukti-bukti penyeleweangan yang dilakukan oleh para sejarahwan. Kita cukupkan dengan hanya menyebut beberapa contoh darinya.

Bagaimana Para Sejarahwan Mencatat Sejarah Syi’ah?

Thabari —sejarahwan pertama di dalam Islam— dan para sejarahwan terkemudian yang menukil darinya mengatakan bahwa pendiri Syi’ah ialah seorang Yahudi yang bernama Abdullah bin Saba, yang berasal dari kota Shan’a. Saya ingat, orang yang pertama saya dengar menyebut nama ini adalah salah seorang saudara saya yang berfaham Wahabi. Dia mengatakan, Syi’ah itu Yahudi. Syi’ah berasal dari Abdullah bin Saba, seorang Yahudi. Setelah saya kaji masalah ini, saya temukan dia menukil dari Ihsan Ilahi Zahir. Saya menulis perkataan ini dalam keadaan tangan saya memegang buku Ihsan Ilahi Zahir, asy-Syi’ah wa as-Sunnah. Ihsan Ilahi Zahir menukil cerita-cerita dusta ini dari Thabari dan sejarahwan-sejarahwan lainnya. Di sini, saya akan menukilkan apa yang telah dinukil oleh Ihsan Ilahi Zahir dari Thabari,

“Sejarahwan paling terdahulu, Thabari menyebutkan, ‘Abdullah bin Saba adalah seorang Yahudi yang berasal dari Shan’a. Ibunya bernama Sauda, dan dia masuk Islam pada zaman Usman. Kemudian dia berpindah-pindah dari satu negeri kaum Muslimin ke negeri kaum Muslimin lainnya, di dalam rangka usaha menyesatkan mereka. Pertama-tama dia pergi ke Hijaz, kemudian ke Basrah, Ke Kufah dan ke Syam, namun dia tidak mampu melaksanakan apa yang diinginkannya terhadap satu orang penduduk Syam pun. Kemudian orang-orang mengusirnya dari Syam, hingga akhirnya dia datang ke Mesir. Dia mengunjungi mereka dan berkata, ‘Sungguh mengherankan orang yang meyakini bahwa Isa akan kembali namun mendustakan bahwa Muhammad akan kembali. Padahal Allah SWT telah berfirman, ‘Sesungguhnya yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) Al-Qur’an akan mengembalikan kamu ke tempat kembali.’ Oleh karena itu, Muhammad lebih berhak kembali dibandingkan Isa.’ Thabari melanjutkan perkataannya, ‘Maka diterimalah yang demikian itu darinya, dan ditetapkanlah keyakinan raj’ah bagi mereka, dan mereka pun membicarakan tentangnya. Kemudian Abdullah bin Saba berkata kepada mereka, ‘Sesungguhnya terdapat seribu nabi, dan tiap-tiap nabi mempunyai seorang washi, dan Ali adalah washinya Muhammad.’ Lalu Abdullah bin Saba mengatakan bahwa Muhammad adalah penutup para nabi dan Ali penutup para washi. Selanjutnya Abdullah bin Saba mengatakan bahwa sezalim-zalimnya manusia adalah orang yang tidak memenuhi wasiat Rasulullah saw, menyerang washi Rasulullah, dan menguasai urusan umat. Kemudian Abdullah bin Saba berkata kepada mereka, ‘Sesungguhnya Usman telah merebut urusan ini dengan tanpa kebenaran, padahal ini adalah washinya Rasulullah saw, maka oleh karena itu bangkitlah kamu di dalam urus-an ini, dan mulailah dengan mencaci-maki para pemimpin kamu, serta tampakkanlah amar ma’ruf dan nahi munkar supaya kamu dapat menarik simpati orang, dan serulah mereka kepada urasan ini.'”

Dengan cerita ini, mereka menisbahkan keyakinan-keyakinan Syi’ah dan sejarah mereka kepada Abdullah bin Saba, dan meletakan penghalang psikologis di antara para pengkaji dan kebenaran. Sehingga mereka berjalan berdasarkan model yang telah diletakan oleh para sejarahwan, yaitu dengan tanpa melakukan pengkajian dan penelitian. Sebagai contoh, kita mendapati penulis Ahmad Amin di dalam bukunya Fajr al-Islam, setelah dia menukil kisah Abdullah bin Saba dan menganggapnya sebagai sebuah kebenaran yang tidak diragukan lagi, dia menemukan di hadapannya jalan yang terbuka untuk melontarkan berbagai tuduhan dan kebohongan atas Syi’ah. Dia mengatakan pada halaman 269 dari bukunya, “Keekstriman Syi’ah mengenai Ali tidak hanya cukup sampai sebatas ini. Mereka tidak merasa cukup dengan mengatakan Ali sebagai seutama-utamanya makhluk sepeninggal nabi, dan bahwa dia maksum, melainkan mereka juga menuhankannya. Sebagian dari mereka ada yang mengatakan, ‘Telah merasuk satu bagian ketuhanan pada diri Ali, dan telah bersatu dengan jasadnya, sehingga oleh karena itu dia mengetahui yang ghaib.'” Kemudian, Ahmad Amin menukil khurafat tentang Ibnu Saba dan memberikan komentar tentangnya. Selanjutnya, dia mengambil kesimpulan sebagai berikut, “Yang benar ialah bahwa Syi’ah merapakan tempat berlindung setiap orang yang hendak menghancurkan Islam, dikarenakan permusuhan atau kedengkian mereka terhadap Islam, dan juga merupakan tempat berlindung bagi orang yang hendak memasukkan ajaran-ajaran bapaknya, yang berasal dari ajaran-ajaran Yahudi, Kristen, Zaroster dan Hindu…” Dia mengatakan semua ini secara spontan, dengan tanpa melakukan pengkajian dan penelitian. Bahkan, dia tidak ubahnya seperti orang yang mengigau yang tidak mengetahui apa yang dikatakannya. Namun, kecaman tidak patut ditujukan kepadanya, karena yang dia kemukakan tidak lain merupakan hasil penyelewengan sejarah yang dilakukan oleh para sejarahwan.

Begitulah sejarah. Kisah sabaiyyah (Abdullah bin Saba) telah menjadi faktor penting di dalam pemalsuan kebenaran dan penyesatan umat. Para ulama Syi’ah telah menentang pemikiran sabaiyyah, dan telah melakukan pengkajian mengenainya secara mendalam, dan mereka menemukan kenyataan bahwa kisah Abdullah bin Saba adalah kisah fiktif. Allamah Murtadha al-Askari, secara khusus telah membahas masalah ini di dalam kitab tersendiri yang terdiri dari dua jilid, yang diberinya judul Abdullah bin Saba wa Asathir Ukhra. Di dalam kitab ini dia meneliti riwayat tentang Ibnu Saba dari seluruh kitab-kitab referensi sejarah. Pada kesempatan ini saya tidak bisa mengemukakan semua dalil yang mendukung fakta ini, namun saya hanya mencukupkan dengan mengemukakan beberapa petunjuk berikut:

Cerita bohong ini kembali kepada seorang perawi yang bernama Saif bin Umar. Dia penulis kitab al-Futuh al-Kabirah wa ar-Raddah dan kitab al-Jamal wa Masirah Aisyah wa Ali. Thabari menukil cerita bohong ini di dalam kitab tarikhnya dari kedua kitab tersebut, dan demikian juga Ibnu Asakir serta adz-Dzahabi di dalam kitab tarikhnya al-Kabir.

Pendapat Para Ulama Tentang Saif Bin Umar

1. Yahya bin Mu’in (wafat tahun 233 Hijrah) berkata, “Lemah hadisnya, dan tidak ada kebaikan darinya.”

2. Abu Dawud (wafat tahun 275 Hijrah) berkata, “Dia bukan apa-apa. Dia pendusta.”

3. Nasa’i (wafat tahun 303 Hijrah) berkata, “Dia orang yang lemah, ditinggalkan hadisnya, dan tidak dipercaya.”

4. Ibnu Hatim (wafat tahun 327 Hijrah) berkata, “Ditinggalkan hadisnya.”

5. Ibnu ‘Uday (wafat tahun 365 Hijrah) berkata, “Suka meriwayatkan hadis-hadis mawdhu’, dan dituduh zindiq.” Ibnu ‘Uday berkata, “Orang-orang mengatakan dia suka membuat hadis palsu.”

6. Al-Hakim (wafat tahun 405 Hijrah) berkata, “Ditinggalkan hadisnya, dan dia dituduh zindiq.”

7. Khatib al-Bagdadi (wafat tahun 406 Hijrah) melemahkannya.

8. Ibnu Abdul Barr (wafat tahun 463 Hijrah) menukil dari Ibnu Hibban yang berkata tentang Saif bin Umar, “Saif ditinggalkan hadisnya. Kita menyebutkan hadisnya hanya sekedar untuk mengetahui.” Ibnu Abdul Barr tidak memberikan komentar apa pun terhadap hadisnya.

9. Fairuz Abadi, penulis berbagai kitab, menyebutkannya bersama yang lainnya, “Mereka itu orang-orang yang dha’if (lemah).”

10. Ibnu Hajar (wafat tahun 852 Hijrah) berkata, setelah mengkritik sebuah hadis yang di dalam sanadnya terdapat nama Saif bin Umar, “Di dalam sanadnya terdapat orang-orang yang dhaif, dan terdha’if di antara mereka adalah Saif bin Umar.”

11. Shafiyyuddin (wafat tahun 923 Hijrah) berkata, “Mereka mendha’ifkannya.

Inilah pandangan para ulama selama berabad-abad tentang Saif bin Umar.

Bagaimana bisa para sejarahwan berbicara secara panjang lebar tentang riwayatnya?! Bagaimana bisa para peneliti membangun pandangan-pandangan mereka berdasarkan riwayat ini. Di samping perbedaan yang masih diperselisihkan tentang namanya. Apakah namanya Ibnu Sauda, atau Abdullah bin Saba?! Demikian juga perbe-daan tentang kemunculannya. Apakah dia muncul pada masa Usman, sebagaimana yang dikatakan oleh Thabari, atau sebagaimana yang dikatakan oleh Sa’ad bin Abdullah al-Asy’ari di dalam kitabnya al-Maqalat wa al-Firaq, “Dia muncul pada masa Ali atau sesudah kematiannya.”

Dan kenapa Usman bersikap diam terhadapnya, padahal dia tidak bersikap diam sekali pun kepada sahabat-sahabat besar, seperti Abu Dzar, ‘Ammar dan Ibnu Mas’ud?

Bahkan, sesungguhnya dia merupakan sebuah rangkaian kebohongan yang diciptakan atas Syi’ah. Sebagaimana yang dikatakan oleh Thaha Husain, “Ibnu Saba adalah seorang tokoh yang diciptakan oleh para musuh Syi’ah untuk menghantam Syi’ah, yang sebenarnya tidak ada wujudnya di luar.” Rekayasa ini diciptakan dengan tujuan untuk mencemarkan keyakinan-keyakinan Syi’ah yang bersumber dari Al-Qur’an dan sunah. Seperti keyakinan tentang wasiat dan ‘ishmah. Musuh-musuh mereka tidak menemukan jalan selain dengan jalan menghubung-hubungkan keyakinan-keyakinan ini dengan ajaran Yahudi, yang tokohnya adalah seorang tokoh fiktif yang bernama Abdullah bin Saba. Sehingga dengan begitu kecaman ditujukan kepada tokoh ini dan kepada orang yang mengambil ajaran darinya. Di samping di sisi lain mereka menampilkan kelurusan wajah para sahabat dan membersihkan mereka dari berbagai kecaman dan celaan, dikarenakan berbagai perpecahan dan perselisihan yang terjadi di antara mereka, sehingga berakhir dengan terbunuhnya Usman, dan begitu juga peristiwa perang Jamal yang memakan ribuan korban dari kalangan para sahabat. Kisah fiktif tentang Abdullah bin Saba ini tidak lain merupakan upaya untuk menutupi lembaran sejarah yang hitam ini, untuk kemudian melemparkan tanggung jawab atas peristiwa-peristiwa yang terjadi kepada tokoh fiktif ini, padahal para sahabat sendiri bertanggung jawab atas peristiwa-peristiwa yang terjadi. Yaitu terpecah belahnya umat kepada berbagai mazhab dan keyakinan.

Wallahu’alam bis sawab.