Uncategorized

Urwah bin Zubair ? Seorang tabiin masyhur putra sahabat Nabi Zubair bin Awwam : Fuqaha As Salafi Mencaci Sahabat Nabi SAW

Urwah bin Zubair Fuqaha As Sab’ah Mencaci Sahabat Nabi SAW

Siapa yang tidak mengenal Urwah bin Zubair ? Seorang tabiin masyhur putra sahabat Nabi Zubair bin Awwam RA. Beliau termasuk salah seorang Fuqaha As Sab’ah yang terkenal dalam sejarah kaum muslimin. Ibunya adalah Asma binti Abu Bakar RA, Bibinya adalah Aisyah RA dan ia adik kandung Abdullah bin Zubair RA. Urwah bin Zubair dikenal tsiqah dan banyak meriwayatkan hadis dari Aisyah RA. Hadis-hadisnya dijadikan hujjah dalam Kutub As Sittah [Bukhari, Muslim, Nasai, Ibnu Majah, Tirmidzi dan Abu Dawud].

Sekarang apa jadinya jika Urwah bin Zubair ternyata mencaci sahabat Nabi. Mungkin ada yang tidak percaya, tetapi telah diriwayatkan dalam kabar shahih kalau Urwah bin Zubair pernah mencaci Hassan bin Tsabit RA seorang sahabat yang pernah membela Nabi SAW.

حدثنا أبو بكر بن أبي شيبة وأبو كريب قالا حدثنا أبو أسامة عن هشام عن أبيه أن حسان بن ثابت كان ممن كثر على عائشة فسببته فقالت يا ابن أختي دعه فإنه كان ينافح عن رسول الله صلى الله عليه و سلم

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah dan Abu Kuraib yang keduanya berkata telah menceritakan kepada kami Abu Usamah dari Hisyam dari Ayahnya [Urwah] bahwa Hassan bin Tsabit termasuk orang yang berlebihan membicarakan Aisyah maka aku mencacinya. Aisyah berkata “wahai keponakanku, biarkan saja dia karena sesungguhnya dia pernah membela Rasulullah SAW”. [Shahih Muslim 4/1933 no 2487]


Mengapa Urwah mencaci Hassan bin Tsabit? Karena menurutnya Hassan bin Tsabit berlebih-lebihan dalam membicarakan atau mencela Aisyah. Peristiwa dimana Hassan membicarakan Aisyah adalah peristiwa yang berlangsung lama sebelumnya yaitu ketika Rasulullah SAW masih hidup [Urwah belum lahir]. Hassan bin Tsabit termasuk sahabat Nabi yang ikut menyebarkan berita bohong terhadap Aisyah [hadis Al Ifki].

Tetapi bukankah mencaci sahabat Nabi itu bid’ah. Bukankah mereka yang mencaci sahabat Nabi dinyatakan sesat dan rafidhah. Aneh bin ajaib tidak ada satupun ulama yang menuduh Urwah bin Zubair rafidhah, padahal ia terbukti mencaci sahabat Nabi. Silakan lihat kitab-kitab biografi perawi hadis, tidak ada ulama yang mengkritik atau mencacat Urwah karena telah mencaci sahabat Nabi, tidak ada ulama yang menuduhnya rafidhah walaupun terdapat riwayat shahih kalau ia mencaci sahabat. Padahal diantara para ulama itu ada yang tidak segan-segan mencacat perawi hanya karena perawi tersebut meriwayatkan hadis keutamaan Ahlul Bait. Terkadang mereka dengan mudahnya menuduh perawi tersebut sebagai rafidhah tanpa membawakan bukti riwayat shahih kalau perawi tersebut mencaci sahabat Nabi. Apakah jarh wat ta’dil itu terkesan subjektif? Entahlah, yang pasti jarh wat ta’dil memang susah untuk diverifikasi kebenarannya. Silakan lihat pendapat para ulama mengenai Urwah bin Zubair. Al Ajli berkata tentang Urwah bin Zubair

عروة بن الزبير بن العوام مدني تابعي ثقة كان رجلا صالحا لم يدخل في شيء من الفتن

 

Urwah bin Zubair bin Awwam tabiin madinah yang tsiqat, ia seorang yang shalih dan tidak pernah sedikitpun terkena fitnah [ Ma’rifat Ats Tsiqah no 1229 dan At Tahdzib juz 7 no 352]

ذكره بن سعد في الطبقة الثانية من أهل المدينة وقال كان ثقة كثير الحديث فقيها عالما ثبتا مأمونا

 

Disebutkan Ibnu Sa’ad dalam thabaqat kedua dari penduduk Madinah, dan ia berkata “seorang yang tsiqah banyak meriwayatkan hadis, faqih, alim, tsabit dan ma’mun”. [At Tahdzib juz 7 no 352]

عروة بن الزبير بن العوام بن خويلد الأسدي أبو عبد الله المدني ثقة فقيه مشهور

Urwah bin Zubair bin Awwam bin Khuwailid Al Asadi Abu Abdullah Al Madani dikenal tsiqat dan faqih. [At Taqrib Ibnu Hajar 1/671]

Urwah bin Zubair telah disepakati ketsiqahannya. Bahkan para ulama menilai dia seorang yang faqih dan luas ilmunya sehingga dikabarkan kalau sahabat Rasulullah pun sering bertanya kepadanya.

ابن أبي الزناد حدثني عبد الرحمن بن حميد بن عبد الرحمن قال دخلت مع أبي المسجد فرأيت الناس قد اجتمعوا على رجل فقال أبي انظر من هذا فنظرت فإذا هو عروة فأخبرته وتعجبت فقال يا بني لا تعجب لقد رأيت أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم يسألونه

Ibnu Abi Zanad berkata telah menceritakan kepadaku Abdurrahman bin Humaid bin Abdurrahman yang berkata “aku masuk bersama ayahku ke masjid maka aku melihat manusia sedang berkumpul kepada seseorang. Ayahku berkata “lihatlah siapa dia” maka aku mendekatinya dan ia adalah Urwah. Kemudian aku ceritakan dengan heran kepada ayahku. Ayahku terus berkata “jangan heran wahai anakku sungguh aku melihat sahabat-sahabat Rasulullah SAW bertanya kepadanya. [Siyar ‘Alam An Nubala  Adz Dzahabi 4/425]

Mari kita tanyakan kepada para pengikut salafiyun. Apakah kalian akan mengecam dan melaknat Urwah bin Zubair?. Bukankah kalian beranggapan siapa yang mencaci sahabat maka akan mendapat laknat Allah dan Rasulnya. Bersikaplah konsisten kalau kalian mampu. Jika tidak bisa maka diamlah dan jangan terlalu angkuh.

Kalau kalian berdalih Urwah dibolehkan mencaci Hassan bin Tsabit karena kesalahan Hassan yang menyebarkan berita bohong terhadap Aisyah, maka coba bandingkan dengan berbagai kesalahan sahabat yang pernah dimuat di blog ini.

Adakah penulis blog ini mengatakan caci-maki terhadap sahabat tersebut? Tidak ada kata-kata cacian, penulis blog ini hanya membawakan riwayat shahih tentang kesalahan sebagian sahabat Nabi. Anehnya ternyata kalian pengikut salafy bersemangat sekali menuduh blog ini [mencaci] bahkan menyebutnya Rafidhah tetapi terhadap Urwah bin Zubair yang nyata-nyata mencaci sahabat Nabi, kalian diam seribu bahasa. Mungkin sudah saatnya untuk memaklumi keterbatasan akal pikiran kalian.

Imam Ali Pintu Kota iLMU dan Pintu Hikmah, bukan Abu Hurairah atau cs Nashibi

Shahih : Hadis Imam Ali Pintu Kota Ilmu

Hadis Imam Ali pintu kota ilmu termasuk hadis yang dibenci oleh para salafy wa nashibi. Mereka bersikeras menyatakan hadis tersebut palsu dan dibuat-buat oleh orang syiah. Sebelumnya kami pernah membahas tentang hadis ini dan kami berpendapat bahwa hadis ini kedudukannya hasan tetapi setelah mempelajari kembali maka kami temukan bahwa hadis ini sebenarnya hadis yang shahih. Pada pembahasan kali ini kami akan membawakan hadis ini dengan sanad yang jayyid.

Sebelumnya kami akan menyampaikan fenomena menarik seputar hadis ini. Hadis ini telah dinyatakan palsu oleh sebagian ulama sehingga para ulama itu tidak segan-segan mencacat mereka yang meriwayatkan hadis ini. Dengan kata lain, berani meriwayatkan hadis ini maka si perawi siap-siap mendapat tuduhan seperti “dhaif” atau “pemalsu hadis” atau “rafidah busuk”. Hadis pintu kota ilmu masyhur diriwayatkan oleh Abu Shult Abdus Salam bin Shalih Al Harawi dan kasihan sekali orang ini dituduh sebagai yang memalsukan hadis tersebut sehingga tidak segan-segan banyak ulama yang berduyun-duyun mendhaifkan Abu Shult.

Fakta membuktikan ternyata Abu Shult tidak menyendiri dalam meriwayatkan hadis ini. Bersamanya ada banyak perawi lain baik tsiqat, dhaif atau majhul yang juga meriwayatkan hadis ini. Bukankah ini salah satu indikasi kalau Abu Shult tidak memalsukan hadis ini. Dan ajaibnya seorang imam terkenal Ibnu Ma’in bersaksi kalau Abu Shult tidak memalsukan hadis ini bahkan Ibnu Ma’in menyatakan Abu Shult seorang tsiqat shaduq.

Ternyata para ulama tidak kehabisan akal, mereka membuat tuduhan baru yang akan mengakhiri semuanya. Tuduhannya tetap sama “Abu Shult memalsukan hadis ini” tetapi dengan tambahan “dan siapa saja yang meriwayatkan hadis ini selain Abu Shult maka dia pasti mencuri hadis tersebut dari Abu Shult”. Mengagumkan, perkataan ini jelas menunjukkan bahwa sebanyak apapun orang lain selain Abu Shult meriwayatkan hadis ini maka hadis ini akan tetap palsu keadaannya. Fenomena ini menunjukkan betapa canggihnya sebagian ulama sekaligus menunjukkan betapa konyolnya sebagian ilmu jarh wat ta’dil.

Mengapa konyol?. Karena jelas sekali dipaksakan. Mereka ingin memaksakan kalau hadis ini palsu dan yang memalsukannya adalah Abu Shult Al Harawi. Di bawah ini kami akan membawakan sanad yang menunjukkan kalau hadis ini tidaklah palsu dan Abu Shult bukanlah orang yang tertuduh memalsu hadis ini.

ثنا أبو الحسين محمد بن أحمد بن تميم القنطري ثنا الحسين بن فهم ثنا محمد بن يحيى بن الضريس ثنا محمد بن جعفر الفيدي ثنا أبو معاوية عن الأعمش عن مجاهد عن بن عباس رضى الله تعالى عنهما قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم أنا مدينة العلم وعلي بابها فمن أراد المدينة فليأت الباب

 

Telah menceritakan kepada kami Abu Husain Muhammad bin Ahmad bin Tamim Al Qanthari yang berkata telah menceritakan kepada kami Husain bin Fahm yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahya bin Dharisy yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far Al Faidiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Muawiyah dari Al ‘Amasy dari Mujahid dari Ibnu Abbas RA yang berkata Rasulullah SAW bersabda “Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah pintunya dan siapa yang hendak memasuki kota itu hendaklah melalui pintunya” [Mustadrak As Shahihain Al Hakim no 4638 dishahihkan oleh Al Hakim dan Ibnu Ma’in]

Hadis riwayat Al Hakim di atas telah diriwayatkan oleh para perawi tsiqat dan shaduq hasanul hadis. Mereka yang mau mencacatkan hadis ini tidak memiliki hujjah kecuali dalih-dalih yang dipaksakan. Berikut pembahasan mengenai perawi hadis tersebut dan jawaban terhadap syubhat dari para pengingkar.

Muhammad bin Ahmad bin Tamim Al Qanthari yang dikenal Abu Husain Al Khayyath adalah Syaikh [gurunya] Al Hakim dimana Al Hakim banyak sekali meriwayatkan hadis darinya. Al Hakim telah berhujjah dengan hadis-hadisnya dan menshahihkannya dalam Al Mustadrak. Selain itu Al Hakim menyebutnya dengan sebutan Al Hafizh [ini salah satu predikat ta’dil] dalam Al Mustadrak no 6908. Muhammad bin Abi Fawaris berkata “ada kelemahan padanya” [Tarikh Baghdad 1/299]. Pernyataan Ibnu Abi Fawaris tidaklah benar karena Al Hakim sebagai murid Abu Husain Al Khayyath lebih mengetahui keadaan gurunya dibanding orang lain dan Al Hakim telah menta’dilkan gurunya dan menshahihkan hadis-hadisnya. Adz Dzahabi dalam Talkhis Al Mustadrak juga tidak pernah mengkritik Abu Husain Al Khayyath bahkan ia sepakat dengan Al Hakim, menshahihkan hadis-hadis Abu Husain Al Khayyath.

Husain bin Fahm adalah seorang yang disebut Adz Dzahabi sebagai Al Hafizh Faqih Allamah yang berhati-hati dalam riwayat. [Siyar ‘Alam An Nubala 13/427]. Al Hakim menyatakan ia tsiqat ma’mun hafizh [Mustadrak no 4638]. Al Khatib juga menyatakan ia tsiqat dan berhati-hati dalam riwayat [Tarikh Baghdad 8/92 no 4190]. Disebutkan kalau Daruquthni menyatakan “ia tidak kuat”. Pernyataan Daruquthni tidak bisa dijadikan hujjah karena ia tidak menjelaskan sebab pencacatannya padahal Al Hakim dan Al Khatib bersepakat menyatakan Husain bin Fahm tsiqah ditambah lagi pernyataan “laisa biqawy” [tidak kuat] bukan pencacatan yang keras dan juga bisa berarti seseorang yang hadisnya hasan.

Muhammad bin Yahya bin Dharisy adalah seorang yang tsiqah. Ibnu Hibban memasukkan namanya dalam Ats Tsiqat juz 9 no 15450 dan Abu Hatim menyatakan ia shaduq [Al Jarh wat Ta’dil 8/124 no 556] dan sebagaimana disebutkan Al Mu’allimi kalau Abu Hatim seorang yang dikenal ketat soal perawi dan jika ia menyebut perawi dengan sebutan shaduq itu berarti perawi tersebut tsiqah [At Tankil 1/350]

Muhammad bin Ja’far Al Faidy adalah Syaikh [guru] Bukhari yang tsiqat. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat juz 9 no 15466. Telah meriwayatkan darinya sekumpulan perawi tsiqat diantaranya Al Bukhari [dalam kitab Shahih-nya] oleh karena itu disebutkan dalam Tahrir Taqrib At Tahdzib no 5786 kalau ia seorang yang shaduq hasanul hadis. Sebenarnya dia seorang yang tsiqat karena selain Ibnu Hibban, Abu Bakar Al Bazzar menyatakan ia shalih [Kasyf Al Astar 3/218 no 2606] dan Ibnu Ma’in menyatakan ia tsiqat makmun [Al Mustadrak Al Hakim no 4637].

Ibnu Hajar menyebutkan biografi Muhammad bin Ja’far Al Faidy dalam At Tahdzib juz 9 no 128 dan disini Ibnu Hajar mengalami kerancuan. Ibnu Hajar membuat keraguan kalau sebenarnya dia bukanlah syaikh [guru] Al Bukhari. Dalam Shahih Bukhari disebutkan dengan kata-kata “haddatsana Muhammad bin Ja’far Abu Ja’far haddatsana Ibnu Fudhail” [Shahih Bukhari no 2471]. Menurut Ibnu Hajar, Muhammad bin Ja’far yang dimaksud bukan Al Faidy tetapi Muhammad bin Ja’far Al Simnani Al Qumasi yang biografinya disebutkan dalam At Tahdzib juz 9 no 131. Muhammad bin Ja’far Al Simnani disebutkan Ibnu Hajar kalau dia dikenal Syaikh Al Bukhari seorang hafiz yang tsiqat dan dia masyhur dikenal dengan kuniyah Abu Ja’far sedangkan Al Faidy lebih masyhur dengan kuniyah Abu Abdullah. Disini Ibnu Hajar melakukan dua kerancuan

  • Pertama, Muhammad bin Ja’far yang dimaksud Al Bukhari adalah Muhammad bin Ja’far Al Faidy karena Al Hakim dengan jelas menyebutkan Muhammad bin Ja’far Al Faidy dengan kuniyah Abu Ja’far Al Kufi dan dialah yang meriwayatkan hadis dari Muhammad bin Fudhail bin Ghazwan Al Kufy [Al Asami wal Kuna juz 3 no 1044]. Bukhari sendiri menyebutkan kalau Muhammad bin Ja’far Abu Ja’far yang meriwayatkan dari Ibnu Fudhail tinggal di Faid dengan kata lain dia adalah Al Faidy [Tarikh Al Kabir juz 1 no 118]. Jadi memang benar kalau Muhammad bin Ja’far Al Faidy adalah Syaikh atau gurunya Al Bukhari.
  • Kedua, Ibnu Hajar dengan jelas menyatakan Muhammad bin Ja’far Al Simnani [Syaikh Al Bukhari] seorang hafiz yang tsiqat [At Taqrib 2/63] sedangkan untuk Muhammad bin Ja’far Al Faidy [Syaikh Al Bukhari] Ibnu Hajar memberikan predikat “maqbul” [At Taqrib 2/63]. Hal ini benar-benar sangat rancu, Muhammad bin Ja’far Al Simnani walaupun ia gurunya Al Bukhari tidak ada satupun ulama mutaqaddimin yang memberikan predikat ta’dil kepadanya bahkan Ibnu Hibban tidak memasukkannya dalam Ats Tsiqat sedangkan Muhammad bin Ja’far Al Faidy telah dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Ma’in dan Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Jadi yang seharusnya dinyatakan tsiqat itu adalah Muhammad bin Ja’far Al Faidy.

Abu Muawiyah Ad Dharir yaitu Muhammad bin Khazim At Tamimi seorang perawi kutubus sittah yang dikenal tsiqat [At Taqrib 2/70]. Sulaiman bin Mihran Al ‘Amasy juga perawi kutubus sittah yang dikenal tsiqat [At Taqrib 1/392] dan Mujahid adalah seorang tabiin imam ahli tafsir perawi kutubus sittah yang juga dikenal tsiqat [At Taqrib 2/159]. Salah satu cacat yang dijadikan dalih oleh salafy adalah tadlis Al ‘Amasy. Al’Amasy memang dikenal mudallis tetapi ia disebutkan Ibnu Hajar dalam Thabaqat Al Mudallisin no 55 mudallis martabat kedua yaitu mudallis yang an’ anah-nya dijadikan hujjah dalam kitab shahih.

  • Imam Bukhari telah menshahihkan hadis dengan an’an-ah Al ‘Amasy dari Mujahid dalam Shahih Bukhari no 1361, 1378, 1393
  • Imam Muslim menshahihkan hadis dengan an’an-ah Al ‘Amasy dari Mujahid dalam Shahih Muslim no 2801
  • Imam Tirmidzi menyatakan hadis dengan an’an-ah Al ‘Amasy dari Mujahid hasan shahih dalam Sunan Tirmidzi 4/706 no 2585
  • Adz Dzahabi menshahihkan hadis dengan an’an-ah Al ‘Amasy dari Mujahid dalam Talkhis Al Mustadrak 2/421 no 2613
  • Syaikh Ahmad Syakir menshahihkan hadis dengan an’an-ah Al ‘Amasy dari Mujahid [Musnad Ahmad tahqiq Syaikh Ahmad Syakir no 2993]
  • Syaikh Syu’aib Al Arnauth menyatakan hadis dengan an’an-ah Al ‘Amasy dari Mujahid shahih sesuai dengan syarat Bukhari Muslim [Musnad Ahmad tahqiq Syaikh Al Arnauth no 2993]
  • Syaikh Al Albani menshahihkan hadis dengan an’an-ah Al ‘Amasy dari Mujahid dalam Irwa’ Al Ghalil 1/253

Tentu saja mencacatkan hadis ini dengan dalih tadlis ‘Amasy adalah pencacatan yang lemah dan terkesan dicari-cari karena cukup dikenal di kalangan ulama dan muhaqqiq kalau an an-ah ‘Amasy bisa dijadikan hujjah.

.

Kesimpulan

Sanad riwayat Al Hakim di atas adalah sanad yang jayyid dan tidak diragukan lagi kalau para perawinya tsiqah sehingga kedudukan hadis tersebut seperti yang dikatakan Al Hakim dan Ibnu Ma’in yaitu shahih. Riwayat Al Hakim ini sekaligus bukti bahwa Abu Shult Al Harawi tidak memalsukan hadis ini. Hadis ini memang hadis Abu Muawiyah dan tidak hanya Abu Shult yang meriwayatkan darinya tetapi juga Muhammad bin Ja’far Al Faidy seorang yang tsiqat dan makmun.

————————————————————————

Shahih : Hadis Imam Ali Pintu Kota Hikmah

Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan sebelumnya. Kami akan menambahkan satu lagi sanad yang jayyid dengan matan hadis “pintu kota hikmah”. Hadis ini juga merupakan bukti kalau hadis madinatul ilmi adalah hadis yang shahih dan Abu Shult Al Harawi tidak memalsukan hadis ini. Hadis yang dimaksud adalah riwayat Khaitsamah bin Sulaiman

حدثنا ابن عوف حدثنا محفوظ بن بحر الأنطاكي حدثنا موسى بن محمد الأنصاري الكوفي عن أبي معاوية عن الأعمش عن مجاهد عن ابن عباس رضي الله عنهما مرفوعا أنا مدينة الحكمة وعلي بابها

 

Telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Auf yang berkata telah menceritakan kepada kami Mahfuzh bin Bahr Al Anthakiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Musa bin Muhammad Al Anshari Al Kufi dari Abi Muawiyah dari Al ‘Amasy dari Mujahid dari Ibnu Abbas RA secara marfu’[dari Rasulullah SAW] “Aku adalah kota hikmah dan Ali adalah pintunya”. [Min Hadits Khaitsamah bin Sulaiman 1/184 no 174]

Hadis ini shahih diriwayatkan oleh para perawi tsiqah. Khaitsamah bin Sulaiman adalah seorang Imam tsiqat Al Muhaddis dari Syam seperti yang dikatakan oleh Adz Dzahabi [As Siyar 15/412 no 230]

  • Ibnu Auf adalah Muhammad bin Auf bin Sufyan Ath Tha’iy Abu Ja’far Al Himshi seorang Hafiz. Abu Hatim menyatakan ia shaduq dan ia dinyatakan tsiqat oleh Nasa’i dan Ibnu Hibban. Al Khallal menyebutnya Imam Hafizh [At Tahdzib juz 9 no 634]. Ibnu Hajar menyatakan ia seorang hafizh yang tsiqat [At Taqrib 2/121]
  • Mahfuzh bin Bahr Al Anthaky adalah seorang yang tsiqat dan hadisnya lurus. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat seraya berkata “seorang yang hadisnya lurus” [Ats Tsiqat juz 9 no 16026]. Telah meriwayatkan darinya sekumpulan perawi tsiqat dan hafizh yaitu Muhammad bin Auf Ath Tha’iy, Muhammad bin Abdullah Al Hadhramy, Ahmad Abu Bakar Al Hafizh Baghdad, Abu Muhammad Ja’far bin Ahmad Asy Syamati dan Al Hafizh Utsman bin Khurrazadz Al Anthaky.
  • Musa bin Muhammad Al Anshari Al Kufy adalah seorang yang tsiqat. Abu Ja’far menyatakan ia tsiqat. Ibnu Ma’in juga menyatakan ia tsiqat dan Abu Hatim berkata “la ba’sa bihi” (tidak ada masalah dengannya) [Al Jarh Wat Ta’dil 8/160 no 711]

Sama seperti pembahasan sebelumnya Abu Muawiyah Ad Dharir yaitu Muhammad bin Khazim At Tamimi seorang perawi kutubus sittah yang dikenal tsiqat [At Taqrib 2/70]. Sulaiman bin Mihran Al ‘Amasy juga perawi kutubus sittah yang dikenal tsiqat [At Taqrib 1/392] dan Mujahid adalah seorang tabiin perawi kutubus sittah yang juga dikenal tsiqat [At Taqrib 2/159].

.

.

Syubhat Para Pengingkar

Salafy nashibi ternyata pantang menyerah dalam mendhaifkan hadis ini. Mereka bersusaha melemahkan hadis ini dengan mencacatkan salah seorang perawinya yaitu Mahfuzh bin Bahr Al Anthaky. Mereka menukil Adz Dzahabi dan Ibnu Ady yang melemahkan Mahfuzh.

  • Ibnu Ady mengatakan kalau ia mendengar dari Abu Arubah bahwa Mahfuzh berdusta. [Al Kamil 6/441]
  • Adz Dzahabi mengutip Abu ‘Arubah yang mendustakan Mahfuzh bin Bahr Al Anthaky kemudian Adz Dzahabi mengutip hadis ini serta menyatakan kalau cacat hadis ini ada pada Mahfuzh [Mizan Al ‘Itidal juz 3 no 7092]

Pada dasarnya cacat yang ditujukan kepada Mahfuzh bin Bahr bersandar pada perkataan Abu Arubah. Sumber perkataan Abu Arubah ini adalah dari muridnya Ibnu Ady dalam kitab Al Kamil sedangkan para ulama muta’akhirin seperti Adz Dzahabi, Ibnu Hajar dan Sibthu Ibnu Ajami hanya mengutip dari Ibnu Ady. Perlu diketahui manhaj penulisan Ibnu Ady dalam kitabnya Al Kamil adalah ketika ia menuliskan biografi perawi hadis ia juga menyebutkan hadis yang diriwayatkan oleh perawi tersebut. Jadi jika seorang perawi dinyatakan sebagai “mungkar hadis” Ibnu Ady akan menyebutkan hadis-hadis mungkar yang diriwayatkan oleh perawi tersebut. Begitu pula jika seorang perawi dikatakan dusta maka Ibnu Ady akan menyebutkan hadis-hadis yang menunjukkan bukti kedustaan perawi tersebut.
.

.

Pencacatan Abu Arubah

Dalam Al Kamil 6/441 Ibnu Ady menuliskan biografi Mahfuzh dan mengutip hadis maudhu’

ثنا علي بن أحمد الجرجاني ثنا محفوظ بن بحر ثنا الوليد بن عبد الواحد عن عمر بن موسى عن خالد بن معدان عن أبي أمامة قال رسول الله صلى الله عليه وسلم رب عابد جاهل ورب عالم فاجر فاحذروا الجهال من العباد والفجار من العلماء

 

Telah menceritakan kepada kami Ali bin Ahmad Al Jurjani yang berkata telah menceritakan kepada kami Mahfuzh bin Bahr yang berkata telah menceritakan kepada kami Walid bin Abdul Wahid dari Umar bin Musa dari Khalid bin Ma’dan dari Abi Umamah bahwa Rasulullah SAW bersabda “betapa banyak ahli ibadah yang bodoh dan orang alim yang rusak [buruk] akhlaknya maka berhati-hatilah dari kebodohan ahli ibadah dan keburukan para ulama”. [Al Kamil 6/441]

Ibnu Ady menuliskan hadis ini dalam biografi Mahfuzh bin Bahr Al Antakhy tetapi ia sendiri mengatakan kalau hadis ini mungkar dan yang memalsukan hadis ini adalah Umar bin Musa bin Wajih bukan Mahfuzh bin Bahr Al Antakhy. Memang benar yang memalsukan hadis ini bukan Mahfuzh bin Bahr tetapi Umar bin Musa karena Umar bin Musa bin Wajih telah didustakan para ulama. Bukhari berkata “mungkar al hadis”. Ibnu Ma’in berkata “tidak tsiqat” di saat lain ia berkata “pendusta dan tidak ada nilainya”. Abu Hatim dan Ibnu Ady berkata “ ia pemalsu hadis”. An Nasa’i dan Daruquthni berkata “matruk”. [Lisan Al Mizan juz 4 no 944].

Timbul pertanyaan, kalau memang Ibnu Ady mengakui hadis ini dipalsukan oleh Umar bin Musa bin Wajih maka mengapa ia memasukkan hadis ini dalam biografi Mahfudzh bin Bahr? . Jawabannya tidak lain karena hadis ini dipermasalahkan oleh gurunya Abu Arubah yang mendustakan hadis Mahfuzh. Karena Mahfudz meriwayatkan hadis ini maka Abu Arubah mendustakannya.

Hadis yang disebutkan oleh Ibnu Ady dalam biografi Mahfuzh tersebut adalah hadis yang dikenal palsu diriwayatkan oleh Bisyr bin Ibrahim. Ibnu Hajar menuliskan hadis ini dalam biografi Bisyr bin Ibrahim dan menyatakan Bisyr yang memalsukan hadis ini [Lisan Al Mizan juz 2 no 66]. Bahkan Ibnu Asakir menyebutkan kalau Bisyr bin Ibrahim menyendiri dalam meriwayatkan hadis ini. Jadi hadis ini cukup dikenal sebagai hadis palsu di kalangan ulama. Sehingga ketika Mahfuzh meriwayatkan hadis ini dengan sanad yang tidak berasal dari Bisyr bin Ibrahim maka tuduhan dusta disematkan padanya, menurut kami inilah alasan mengapa Abu Arubah mendustakan hadis Mahfuzh bin Bahr Al Antakhy. Padahal dalam sanad riwayat Mahfuzh yang bertanggung jawab memalsukan hadis ini adalah Umar bin Musa bin Wajih bukan Mahfuzh bin Bahr. Jadi bisa dikatakan kalau tuduhan Abu Arubah itu tidak benar.

Ibnu Ady yang mengutip Abu Arubah sepertinya tidak sependapat dengan gurunya itu [Abu Arubah] buktinya Ibnu Ady tidak berhasil menunjukkan satu hadispun sebagai bukti kedustaan Mahfuzh. Ibnu Ady hanya membawakan satu hadis maudhu’ mungkar dan ia sendiri memastikan kalau yang memalsukan hadis itu bukan Mahfuzh tetapi Umar bin Musa. Hanya saja dalam Al Kamil 6/441 Ibnu Ady mengatakan kalau Mahfuzh memiliki hadis-hadis maushul [bersambung] dimana yang lain mengirsalkan hadis tersebut dan ia memarfu’kan hadis-hadis dimana yang lain memauqufkannya. Kami akan buktikan nanti kalau perkataan Ibnu Ady tidaklah benar apalagi Ibnu Ady tidak  menunjukkan satupun hadis-hadis Mahfuzh yang ia katakan maushul tetapi yang lain mengirsalkannya. Yang ingin kami garisbawahi disini adalah Ibnu Ady tidak berhasil menunjukkan satu hadispun sebagai bukti cacatnya Mahfuzh bin Bahr Al Anthaky.

.

.

Hadis-hadis Mahfuzh bin Bahr Al Anthaky

Mahfuzh bin Bahr Al Anthaky bukanlah perawi yang memiliki banyak hadis. Kami menemukan lima hadis yang diriwayatkan oleh Mahfuzh bin Bahr [selain hadis Madinatul hikmah]

  1. Hadis Mahfuzh bin Bahr dalam Mu’jam Al Awsath At Thabrani 2/75 no 1294. Hadis ini adalah hadis shahih dari Qasim dari Aisyah RA, hadis ini diriwayatkan pula dalam Sunan Abu Dawud 1/118 no 261 [shahih menurut Syaikh Al Albani]
  2. Hadis Mahfuzh bin Bahr dalam Mu’jam Al Awsath At Thabrani 6/47 no 5754. Hadis ini adalah hadis hasan dari Ibnu Umar sebagaimana yang disebutkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Jami’ As Shaghir no 3045 dan Silsilah Ahadits As Shahihah no 1802 [hasan menurut syaikh Al Albani]
  3. Hadis Mahfuzh bin Bahr dalam Mu’jam Al Kabir Ath Thabrani 4/18 no 3521. Hadis ini adalah hadis shahih dari Habib bin Maslamah diriwayatkan pula dalam Musnad Ahmad 4/159 no 17497 &17498 [shahih oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth] dan diriwayatkan dalam Sunan Abu Dawud 2/88 no 2748 [shahih oleh Syaikh Al Albani]
  4. Hadis Mahfuzh bin Bahr dalam Mu’jam Al Awsath 6/68 no 5814. Hadis ini adalah hadis Ubaidah dari Ibnu Mas’ud yang diperselisihkan sanad-sanadnya. Daruquthni dalam Al Ilal no 809 menyebutkan kalau hadis ini juga diriwayatkan dari Al ‘Amasy dan Abul Jahhaf dari Amru bin Murrah dari Abdullah bin Salamah dari Ubaidah dari Ibnu Mas’ud. Sedangkan sanad Thabrani adalah dari Mahfuzh dari Abu Maryam Abdul Ghaffar bin Qasim dari Amru bin Murrah dari Ibrahim bin Yazid dari Ubaidah dari Ibnu Mas’ud. Daruquthni mengatakan sanad Amasy dan Abu Jahhaf lebih shahih. Jika kita menjamak kedua sanad tersebut maka mungkin saja Amru bin Murrah meriwayatkan hadis tersebut dari Abdullah bin Salamah dan Ibrahim An Nakha’i yang keduanya meriwayatkan dari Ubaidah. Jika memang mau mentarjih maka jalan Abdullah bin Salamah lebih shahih karena jalan Ibrahim An Nakha’i [riwayat Mahfuzh] dalam sanadnya terdapat Abu Maryam Abdul Ghaffar bin Qasim yang didhaifkan sebagian ulama.
  5. Hadis Mahfuzh bin Bahr dalam Mu’jam Al Awsath Ath Thabrani 6/67 no 5813. Hadis ini adalah hadis Ibnu Abbas dengan sanad yang dhaif. Mahfuzh meriwayatkan hadis ini dari Walid bin Abdul Wahid dari Umar bin Musa bin Wajih dan sebagaimana disebutkan sebelumnya Umar bin Musa bin Wajih adalah seorang pemalsu hadis.

Kami telah meneliti hadis-hadis Mahfuzh bin Bahr tersebut dan kami menemukan hadis-hadisnya terbagi menjadi

  • Hadis-hadis Mahfuzh dimana hadis tersebut memiliki syahid atau penguat dari yang lain [hadis pertama, kedua, ketiga, dan keempat]
  • Hadis-hadis Mahfuzh yang dhaif tetapi penyebab kedhaifannya berasal dari perawi lain, dengan kata lain Mahfuzh tidak tertuduh dalam hadis tersebut [hadis keempat dan kelima].

Dari hadis-hadis yang dimiliki Mahfuzh bin Bahr tidak ada petunjuk yang menguatkan perkataan Ibnu Ady kalau Mahfuzh sering menyambungkan hadis yang diirsalkan oleh perawi lain. Oleh karena itu perkataan Ibnu Ady tidak bisa diterima apalagi Ibnu Hibban dengan jelas menyebutkan kalau Mahfuzh bin Bahr Al Anthaky seorang yang hadisnya lurus dan dengan melihat hadis-hadisnya maka memang demikianlah keadaannya.

Pembahasan panjang lebar ini membuktikan kalau jarh terhadap Mahfuzh tidaklah tsabit. Tuduhan dusta Abu Arubah itu tidak bisa dijadikan pegangan dan pada kenyataannya memang cukup banyak perawi tsiqah yang dituduh dusta seperti

  • Ibnu Ishaq yang dituduh dusta oleh Malik, Hisyam dan Yahya atau
  • Ibnu Qutaibah yang dikatakan dusta oleh Al Hakim atau
  • Ibnu Abi Dawud yang dinyatakan dusta oleh Ibrahim Al Ashbahan dan Abu Dawud atau
  • Abu Bakar Al Baghandi Muhammad bin Muhammad bin Sulaiman yang dinyatakan dusta oleh Ibrahim Al Ashbahan.

Tuduhan-tuduhan tersebut tidak dijadikan pegangan oleh para ulama sehingga baik Ibnu Ishaq dan Ibnu Qutaibah tetap dinyatakan tsiqah begitu pula Ibnu Abi Dawud dan Abu Bakar Al Baghandi.

Mengenai Mahfuzh bin Bahr Al Antakhy dia seorang tsiqah yang hadisnya lurus [seperti yang dikatakan oleh Ibnu Hibban] apalagi telah meriwayatkan hadis darinya para hafizh yang tsiqah.

  • Al Hafizh Muhammad bin Auf Al Himshi meriwayatkan hadis dari Mahfuzh bin Bahr [Min Hadits Khaitsamah bin Sulaiman 1/184 no 174]
  • Al Hafizh Muhammad bin Abdullah Al Hadhramy seorang hafiz yang tsiqat [Tarajum Syuyukh Thabrani no 943] telah meriwayatkan hadis dari Mahfuzh bin Bahr [Mu’jam Al Kabir Ath Thabrani 4/18 no 3521]
  • Al Hafizh Ahmad Abu Bakar Baghdad seorang hafiz yang tsiqat tsiqat [Tarajum Syuyukh Thabrani no 195] meriwayatkan hadis dari Mahfuzh bin Bahr [Mu’jam Al Awsath At Thabrani 2/75 no 1294]
  • Al Hafizh Utsman bin Abdullah bin Muhammad Al Anthaky seorang hafiz yang tsiqat [Siyar ‘Alam An Nubala 13/379] meriwayatkan hadis dari Mahfuzh bin Bahr [Al Laly Al Mashnu’ah As Suyuthi Manaqib Khulafa Al Arba’ah pembahasan hadis Rad Al Syam]

.

.

Kesimpulan

Hadis Madinatul Hikmah di atas adalah hadis yang shahih karena telah diriwayatkan oleh para perawi tsiqat. Beberapa ulama seenaknya mencacatkan Mahfuzh dikarenakan ia meriwayatkan hadis ini seperti yang dilakukan Adz Dzahabi [Al Mizan juz 3 no 7092] dan Ibrahim Sibth Ibnu Ajami [Kasyf Al Hatsits no 601]. Mereka berdua menyatakan kalau Mahfuzh yang memalsukan hadis ini. Mereka berdua sudah dari awal menganggap hadis ini palsu sehingga ketika mereka menemukan sanad Khaitsamah bin Sulaiman ini maka mereka berusaha mencari-cari kelemahan sanad tersebut. Berbeda halnya dengan Ibnu Hajar ia berpendapat kalau Mahfuzh tidak memalsukan hadis ini karena hadis ini telah diriwayatkan oleh perawi yang lainnya dari Abu Muawiyah [Lisan Al Mizan juz 5 no 70]. Seperti yang sudah kami jelaskan mereka berdua [Adz Dzahabi dan Sibth Ibnu Ajami] hanya mengutip perkataan Abu Arubah yang mendustakan Mahfuzh. Perkataan ini mereka jadikan dasar untuk mencela Mahfuzh karena diantara perawi lain hanya Mahfuzh yang bisa dijadikan sasaran untuk menyatakan hadis ini palsu yaitu dengan berpegang pada Abu Arubah yang mendustakan Mahfuzh. Padahal perkataan Abu Arubah ini tidak bisa dijadikan pegangan seperti yang telah dibahas sebelumnya. Wallahu’alam.

Syi’ah Melaknat SAHABAT ??? Nggak tuch, FAKTA : Doa Qunut Imam Ali Terhadap Muawiyah dan Amru bin Ash Beserta Pengikut Mereka

KONSEP LAKNAT DI DALAM AL-QUR’AN

Pengenalan

Perkataan la‘nat (laknat) dan pecahannya disebut sekurang-kurangnya 32 kali di dalam al-Qur’an dalam pelbagai perkara yang melanggari perintah Allah dan Rasul-Nya. Mengikut  Muhammad Abu Bakr ‘Abd al-Qadir al-Razi perkataan la‘nat (laknat) memberi erti “pengusiran dan berjauhan dari kebaikan” (al-Tard wa al-Ib’ad mina l-khair) (Mukhtar al-Sihhah, hlm. 108, Cairo, 1950). J. Milton Cowan menyatakan la‘nat adalah “curse”. La‘natullahi ‘Alaihi bererti “God’s curse upon him” (A Dictionary of Written Arabic, London 1971, hlm. 870). Manakala menurut Kamus Dewan pula menyatakan laknat adalah “kemurkaan Allah dan jauh dari petunjuk-Nya; setiap perbuatan jahat akan menerima kutukan (laknat) daripada Allah (Kamus Dewan, hlm. 694, Kuala Lumpur, 1971).

Mereka yang dilaknati di dalam al-Qur’an

Di sini dikemukakan sebahagian daripada mereka yang dilaknati di dalam al- Qur’an seperti berikut:

1Laknat Allah kepada mereka yang mengingkari perintah-Nya

Firman-Nya Sesungguhnya Allah melaknat (mengutuk) orang-orang yang kafir (ingkar) dan menyediakan untuk mereka api yang menyala-nyala” (Al- Ahzab (33):64) “Sesungguhnya di atas engkau laknat sampai hari pembalasan” (Al-Hijr (15):35) “Sesungguhnya  di atasmu laknatku sampai hari pembalasan” (Sad (38):78)

Ini menunjukkan barangsiapa yang mengingkari walaupun satu hukum daripada hukum-hukum-Nya adalah termasuk orang yang ingkar terhadap hukum-Nya. Apatah lagi jika seorang itu menukarkan hukum Allah dengan hukumnya sendiri. Kerana setiap individu Muslim sama ada Nabi (Saw.) atau bukan Nabi tidak boleh menyalahi al-Qur’an. Firman-Nya “Katakanlah: Sesungguhnya aku takut jika aku mendurhakai Tuhan-ku, akan azab hari yang besar” (Al-An’am (96):15). Jika Nabi (Saw.) merasa takut kepada Allah jika dia mendurhakai-Nya, maka orang lain sama ada yang bergelar khalifah atau sahabat atau mana-mana individu sepatutnya lebih takut lagi untuk mendurhakai perintah-Nya.

2Laknat Allah kepada mereka yang menyakiti-Nya dan Rasul-Nya.

Firman-Nya; “Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, nescaya mereka dilaknati Allah di Dunia dan di Akhirat dan Dia menyediakan untuk mereka  seksa yang menghinakan (mereka) (Al-Ahzab (33):57).

Ini bererti barang siapa yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya walau dengan apa cara sekalipun dilaknati Allah, Rasul-Nya,para Malaikat-Nya dan  Mukminun. Sama ada dengan menentang hukum Allah dan Sunnah Nabi-Nya atau menghina Allah dan Rasul-Nya dengan membatalkan hukum-Nya dan Sunnah Nabi-Nya di atas alasanmaslahah umum atau sebagainya.

Justeru itu, orang yang menghina Nabi (Saw.) dan  mempersendakan Nabi (Saw.) dengan mengatakan bahawa Nabi (Saw.) “Sedang meracau” di hadapan Nabi (Saw.) “Kitab Allah adalah cukup dan kami tidak perlu kepada Sunnah Nabi (Saw.)” (al-Bukhari, Sahih, I, hlm. 36; Muslim, Sahih, III, hlm. 69). “Sunnah Nabi (Saw.) mendatangkan perselisihan dan pertengkaran kepada Umat [Al-Dhahabi, Tadhkirah al-Huffaz, I, hlm.3]”. “Orang yang telah mengepung dan membakar rumah anak perempuan Nabi (Saw.), Fatimah (a.s) dan berkata: “Aku akan membakar kalian sehingga kalian keluar untuk memberi bai’ah kepada Abu Bakar” [Al-Tabari, Tarikh, III, hlm. 198; Abu-l-Fida,Tarikh, I, hlm. 156],  merampas Fadak daripada Fatimah (a.s) yang telah diberikan kepadanya oleh Nabi (Saw.) semasa hidupnya (Lihat Ahmad bin Tahir al-Baghdadi, Balaghah al-Nisa’, II ,hlm.14; Umar Ridha Kahhalah,A’lam al-Nisa’, III, hlm. 208; Ibn Abi al-Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah, IV, hlm.79, 92), menyakiti hati Fatimah, Ali, al-Hasan dan al-Husain, kerana Rasulullah (Saw.) bersabda “Siapa menyakiti Fatimah, dia menyakitiku, dan siapa menyakitiku, dia menyakiti Allah” Siapa menyakiti Ali, sesungguhnya dia menyakitiku,dan siapa yang menyakitiku, dia menyakiti Allah” “al-Hasan dan al-Husain kedua-dua mereka adalah pemuda Syurga”  (al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi’ al-Mawaddah, hlm.129-131 dan lain-lain).

Mereka yang membakar Sunnah Nabi (Saw.) (Ibn Sa’d, Tabaqat, V, hlm. 140), “Menghalang orang ramai dari meriwayatkan Sunnah Nabi (Saw.)” [al-Dhahabi,Tadhkirah al-Huffaz, I, hlm. 7], mengesyaki Nabi (Saw.) sama ada berada di atas kebenaran atau kebatilan [Muslim, Sahih, IV, hlm.12,14; al-Bukhari, Sahih, II, hlm. 111] , mengubah sebahagian hukum Allah dan sunnah Nabi (Saw.) (al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa’’ hlm.136) adalah termasuk orang yang dilaknati Allah, Rasul-Nya, para Malaikat-Nya dan Mukminun. Dan jika seorang itu tidak melakukan laknat kepada mereka di atas perbuatan mereka yang dilaknati Allah dan Rasul-Nya, maka dia bukanlah Mukmin yang sebenar. Apatah lagi jika dia mempertahankan perbuatan mereka tersebut sebagai sunnah atau agama bagi bertaqarrub kepada Allah (swt).

3. Laknat Allah kepada mereka yang menyembunyikan hukum-Nya di dalam kitab-Nya

Firman-Nya “Sesungguhnya mereka yang menyembunyikan apa yang Kami turunkan dari keterangan dan petunjuk setelah Kami menerangkannya kepada orang ramai, nescaya mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati oleh orang-orang yang mengutuknya” (Al-Baqarah (2):159).

Ini bererti barang siapa yang menyembunyikan hukum Allah dan Sunnah Nabi-Nya yang sepatutnya didedahkan kepada masyarakat, tetapi dia tidak menerangkannya kepada mereka kerana kepentingan tertentu maka dia dilaknati Allah dan orang-orang yang melaknatinya. Apatah lagi jika dia seorang yang mempunyai autoritatif di dalam agama. Kerana konsep hukum Allah tidak boleh disembunyikannya, kerana ia harus dilaksanakannya. Di samping itu, dia tidak boleh cenderung kepada orang-orang yang zalim, kerana Firman-Nya “Janganlah kamu cenderung kepada orang yang melakukan kezaliman, lantas kamu akan disambar oleh api neraka. Dan tidak ada bagimu wali selain daripada Allah, kemudian kamu tiada mendapat pertolongan” (Hud(11):113).

4Laknat Allah kepada mereka yang membohongi-Nya dan Rasul-Nya.

Firman-Nya “Barang siapa yang membantah engkau tentang kebenaran itu, setelah datang kepada engkau ilmu pengetahuan, maka katakanlah: Marilah kami panggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, perempuan kami dan perempuan kamu dan diri kami dan diri kamu, kemudian kita bermubahalah (bersungguh-sungguh berdoa), lalu kita jadikan laknat Allah atas orang yang berbohong” (Ali ‘Imran (3):61).

Ini bererti mereka  yang membohongi Allah dan Rasul-Nya selepas dikemukakan hukum al-Qur’an dan Sunnah Nabi-Nya, tetapi mereka masih membantahnya, maka mereka itu dilaknati Allah dan Rasul-Nya. Ayat ini dikenali dengan ayat al-Mubahalah. Ia berlaku di antara Nabi (Saw.) dan Ahlu l-Baitnya (a.s) di satu pihak dan Nasrani Najran di pihak yang lain.

Nabi (Saw.) telah mempertaruhkan kepada Nasrani Najran (abna’a-na) anak-anak kami (al-Hasan dan al-Husain a.s), (nisa’-ana) perempuan kami (Fatimah a.s) dan (anfusa-na) diri kami (Ali a.s). Imam Ali al-Ridha berkata: “Sesungguhnya ia dimaksudkan dengan Ali bin Abi Talib (a.s). Buktinya sebuah hadis telah menerangkan  maksud yang sama, seperti berikut: ” ... aku akan mengutuskan kepada mereka seorang lelaki seperti diriku [ka-nafsi]” Iaitu Ali bin Abi Talib. Ini adalah suatu keistimewaan yang tidak dimiliki oleh orang lain, kelebihan yang tidak boleh dikaitkan dengan orang lain dan kemuliaan yang tidak dapat didahului oleh sesiapa pun kerana diri Ali seperti dirinya sendiri” (Muhammad Babawaih al-Qummi, Amali al-Saduq Najaf, 1970, hlm.468).

Akhirnya mereka enggan bermubahalah dengan Nabi (Saw.) dan Ahlu l-Baitnya, lalu mereka membayar jizyah kepada Nabi (Saw.). Jika Nasrani Najran tidak berani menyahuti mubahalah Nabi (Saw.) dengan pertaruhan Ahlu l-Baitnya, kerana kebenarannya, apakah gerangan mereka yang mengakui al-Qur’an dan Sunnah Nabi-Nya sebagai asas agama mereka berani menentang Ahlu l-Bait (a.s), kemudian menyembunyikan kebenaran al-Qur’an dan Sunnah Nabi-Nya, khususnys mengenai mereka? Jika mereka melakukan sedemikian, nescaya mereka dilaknati oleh Allah  dan Rasul-Nya, para Malaikat-Nya dan Mukminun.

5. Laknat Allah kepada mereka yang mendurhakai-Nya dan Rasul-Nya

Firman-Nya “Telah dilaknati orang-orang yang kafir di kalangan Bani Isra’il di atas lidah Daud dan Isa anak lelaki Maryam. Demikian itu disebabkan mereka telah mendurhaka dan melampaui batas. Mereka tidak melarang sesuatu yang mungkar yang mereka perbuat. Sungguh amat jahat apa yang mereka perbuat” (Al-Ma’idah (5):78-79).

Firman-Nya “Tidak ada bagi lelaki mukmin dan perempuan mukminah (hak) memilih di dalam urusan mereka apabila Allah dan Rasul-Nya memutuskan urusan itu. Barang siapa yang  mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka ia telah sesat dengan kesesatan yang nyata” (Al-Ahzab(33):35).

Ini bererti barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya; sama ada melakukan perkara-perkara yang menyalahi hukum Allah dan Sunnah Rasul-Nya serta tidak melakukan konsep “Amru Ma’ruf wa Nahyu Munkar”, maka mereka dilaknati Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang dilaknati Allah dan Rasul-Nya, maka para Malaikat dan Mukminun akan melaknati mereka.

6. Laknat Allah kepada mereka yang zalim

Firman-Nya “Ahli syurga menyeru ahli neraka: Kami telah memperolehi apa yang telah dijanjikan oleh Tuhan kami  dengan sebenarnya. Adakah kamu memperolehi apa yang telah dijanjikan oleh Tuhan kami dengan sebenarnya? Mereka itu menjawab: Ya. Lalu menyeru orang yang menyeru (Malaikat) di kalanggan mereka: Sesungguhnyalaknat Allah ke atas orang yang zalim (iaitu) orang-orang yang menghalangi jalan Allah dan mereka mencari jalan bengkok, sedang mereka itu kafir terhadap Akhirat” (Al-A’raf (7): 44-45) dan, “Barang siapa yang tidak menghukum dengan hukum Allah, maka merekalah orang yang zalim”) Al-Ma’dah (5):45)

Ini bererti sebarang kecenderungan terhadap orang-orang yang zalim akan di sambar oleh api neraka. Apatah lagi jika seorang itu meredai atau menyokong mereka atau bekerja sama dengan mereka. Saidina Ali (a.s) berkata: “Mereka yang bersekutu di dalam kezaliman adalah tiga: Pelaku kezaliman, pembantunya dan orang yang meridhai kezaliman itu” (Tuhafu al ‘Uqul ‘an Ali r-Rasul, hlm. 23 dan lain-lain. Justeru itu mereka dilaknati Allah dan Rasul-Nya serta Mukminun.

7. Laknat Allah kepada mereka yang mengingkari perjanjian Allah, melakukan kerosakan di bumi dan memutuskan silaturahim

Firman-Nya “Mereka yang mengingkari janji Allah sesudah eratnya dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah supaya diperhubungkan dan mereka yang membuat kerosakan di muka bumi, untuk mereka laknat dan untuk mereka tempat yang buruk” (Al-Ra’d (13):25) dan “Apakah kiranya jika kamu menjadi wali (berkuasa) kamu melakukan kerosakan di muka bumi dan memutuskan silatu r-Rahim? Mereka itulah yang dilaknati Allah, lalu Dia memekakkan mereka dan membutakan pemandangan mereka ” (Muhammad (47): 22-23).

Ini bererti mereka yang mengingkari janji Allah dengan mendurhakai-Nya, kemudian melakukan kerosakkan di muka bumi dengan mengubah hukum-Nya dan Sunnah Nabi-Nya serta memutuskan silaturahim, maka bagi mereka laknat Allah dan Rasul-Nya.

Justeru itu tidak hairanlah jika Saidina Ali (a.s) telah melaknati mereka yang telah mengubah agama Allah dan Sunnah Nabi-Nya. Beliau berdoa: Wahai Tuhanku! Laknatilah mereka yang telah mengubah agama-Mu, menukar ni‘kmat-Mu (khilafah), menuduh perkara-perkara yang bukan-bukan terhadap Rasul-Mu (Saw.), menentang jalan-Mu, menyalahi agama-Mu, mengingkari nikmat-Mu, menentang kalam-Mu, mempersenda-sendakan Rasul-Mu…(al-Majlisi, Bihar al-Anwar, Beirut 1991, xxx,  hlm. 393). Sementara Imam Ja‘far al-Sadiq pula berdoa: Wahai Tuhanku! Pertingkatkanlah laknat-Mu dan azab-Mu ke atas mereka yang telah mengingkari ni‘mat-Mu, mengkhianati Rasul-Mu, menuduh Nabi-Mu perkara yang bukan-bukan dan menentangnya…(Ibid, hlm. 395).

Kesimpulan

Berdasarkan kepada ayat-ayat tersebut, maka Laknat boleh atau harus dilakukan kepada mereka yang mempersendakan Allah dan Rasulullah (Saw.), menghina, mengingkari, membatal, mengubah, menangguh dan menggantikan sebahagian daripada hukum Allah (SWT) dan Sunnah Rasul-Nya dengan pendapat atau sunnah mereka sendiri sama ada orang itu bergelar khalifah atau sahabat atau tabi‘in dan sebagainya.

Justeru itu, ungkapan “melaknat khalifah atau sahabat tertentu atau polan dan polan” tidak menjadi perkara sensitif lagi jika kita meletakkan mereka sama ada khalifah, sahabat, individu atau kita sendiri di bawah martabat Rasulullah (Saw.), dan Rasulullah (Saw.) pula di bawah martabat Allah (SWT). Tetapi jika mereka  meletakkan seorang khalifah, sahabat  atau mana-mana individu lebih tinggi daripada martabat Allah dan Rasul-Nya dari segi pengamalan hukum dan sebagainya, maka mereka tidak akan meredai Allah dan Rasul-Nya dengan sepenuhnya di dalam perkara tersebut. Kerana  penilaian kebenaran bagi mereka bukanlah al-Qur’an dan Sunnah Nabi (Saw.) secara keseluruhannya, malah seorang khalifah atau sahabat menjadi penilaian kebenaran mereka. Lalu mereka menjadikan pendapat atau sunnah “mereka” yang menyalahi Nas sebagai agama bagi mendekatkan diri mereka kepada-Nya.

.

Doa Qunut Imam Ali Terhadap Muawiyah dan Amru bin Ash Beserta Pengikut Mereka

Tulisan ini kami persembahkan kepada para pendengki Ahlul Bait yang senang sekali memuliakan orang-orang yang menyimpang dari Ahlul Bait. Tentu saja mereka tidak akan mau menunjukkan wajah asli kedengkian mereka terhadap Ahlul Bait. Mereka tidak mau menunjukkan terang-terangan kebencian mereka kepada Ahlul Bait oleh karena itu mereka melampiaskan kebencian itu dengan memuliakan musuh-musuh Ahlul Bait.

Mereka memuliakan orang-orang yang menyakiti Ahlul bait. Membela kesalahan mereka seraya berkata “itu cuma ijtihad” yang walaupun salah tetap mendapat pahala. Berbeda dengan mereka, Imam Ali justru mengakui kalau orang-orang yang menyimpang[pembangkang] seperti Muawiyah dan Amru bin Ash layak dihukum untuk kesalahan mereka.

حدثنا هشيم قال أخبرنا حصين قال حدثنا عبد الرحمن بن معقل قال صليت مع علي صلاة الغداة قال فقنت فقال في قنوته اللهم عليك بمعاوية وأشياعه وعمرو بن العاص وأشياعه وأبا السلمي وأشياعه وعبد الله بن قيس وأشياعه

Telah menceritakan kepada kami Husyaim yang berkata telah mengabarkan kepada kami Hushain yang berkata telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Ma’qil yang berkata Aku shalat bersama Ali dalam shalat fajar dan kemudian ketika Qunut Beliau berkata “Ya Allah hukumlah Muawiyah dan pengikutnya, Amru bin Ash dan pengikutnya, Abu As Sulami dan pengikutnya, Abdullah bin Qais dan pengikutnya”.[Al Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 2/108 no 7050]

Atsar ini diriwayatkan dengan sanad yang shahih sampai ke Ali bin Abi Thalib Alaihis Salam.

  • Husyaim adalah Husyaim bin Basyiir seorang perawi kutubus sittah. Ibnu Hajar menyebutkan biografinya dalam At Tahdzib juz 11 no 100 dan menyebutkan kalau ia dinyatakan tsiqat oleh Al Ajli, Ibnu Saad dan Abu Hatim. Ibnu Mahdi, Abu Zar’ah dan Abu Hatim memuji hafalannya. Dalam At Taqrib 2/269 Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat tsabit. Adz Dzahabi dalam Al Kasyf no 5979 menyebutkan kalau Husyaim seorang Hafiz Baghdad Imam yang tsiqat.
  • Hushain adalah Hushain bin Abdurrahman As Sulami Al Kufi seorang perawi kutubus sittah. Ibnu Hajar menyebutkan biografinya dalam At Tahdzib juz 2 no 659 dan menyebutkan kalau ia dinyatakan tsiqat oleh Ahmad, Al Ajli, Abu Hatim, Abu Zur’ah, Ibnu Ma’in dan Ibnu Hibban. Ibnu Hajar dalam At Taqrib 1/222 menyatakan ia tsiqat dan Adz Dzahabi dalam Al Kasyf no 1124 menyatakan ia tsiqat hujjah.
  • Abdurrahman bin Ma’qil Al Muzanni adalah perawi Abu Dawud seorang tabiin [walaupun ada yang mengatakan ia sahabat]. Ibnu Hajar menuliskan biografinya dalam At Tahdzib juz 6 no 543 dan ia dinyatakan tsiqah oleh Ibnu Hibban dan Abu Zur’ah. Dalam At Taqrib 1/591 ia dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Hajar.

Atsar ini adalah sebaik-baik dalil yang menunjukkan bagaimana pandangan Imam Ali terhadap Muawiyah, Amru bin Ash dan para pengikutnya. Tentu saja para nashibi yang adalah Syiah-nya Muawiyah tidak akan senang melihat Atsar ini. Dan untuk mereka kita katakan “Matilah dengan kemarahanmu”.

Hadis Yang Menjelaskan Siapa Ahlul Bait Yang Disucikan Dalam Al Ahzab 33 … Istri Istri NAbi Tidak Disucikan

Hadis Yang Menjelaskan Siapa Ahlul Bait Yang Disucikan Dalam Al Ahzab 33

Dalam Al Qur’anul Karim terdapat ayat yang cukup fenomenal dan menjadi kontroversi diantara pengikut salafy dan pengikut syiah. Syiah meyakini kalau Ahlul Bait dalam Al Ahzab 33 [ayat tathir] bukanlah istri-istri Nabi sedangkan salafy dan para nashibi justru mengkhususkan bahwa ayat tersebut turun untuk istri-istri Nabi. Selain itu terdapat penafsiran baru dari kalangan “mereka yang terinfeksi virus nashibi” yaitu mereka mengatakan kalau Al Ahzab 33 turun memang untuk istri-istri Nabi hanya saja Nabi SAW memperluas makna Ahlul Bait itu kepada Sayyidah Fathimah, Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husain.

Dalam pembahasan ini kami akan membuktikan bahwa penafsiran ini keliru, yang benar adalah Al Ahzab 33 turun untuk Ahlul Kisa’ yaitu Nabi SAW, Sayyidah Fathimah, Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husain. Tentu saja kami akan membawakan riwayat-riwayat shahih yang menjadi bukti kejahilan mereka.

عن عمر بن أبي سلمة ربيب النبي صلى الله عليه و سلم قال لما نزلت هذه الآية على النبي صلى الله عليه و سلم { إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا } في بيت أم سلمة فدعا فاطمة و حسنا و حسينا فجللهم بكساء و علي خلف ظهره فجللهم بكساء ثم قال اللهم هؤلاء أهل بيتي فأذهب عنهم الرجس وطهرهم تطهيرا قالت أم سلمة وأنا معهم يا نبي الله ؟ قال أنت على مكانك وأنت على خير

Dari Umar bin Abi Salamah, anak tiri Nabi SAW yang berkata “Ayat ini turun kepada Nabi SAW [Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya] di rumah Ummu Salamah, kemudian Nabi SAW memanggil Fatimah, Hasan dan Husain dan menutup Mereka dengan kain dan Ali berada di belakang Nabi SAW, Beliau juga menutupinya dengan kain. Kemudian Beliau SAW berkata “ Ya Allah Merekalah Ahlul BaitKu maka hilangkanlah dosa dari mereka dan sucikanlah Mereka sesuci-sucinya. Ummu Salamah berkata “Apakah Aku bersama Mereka, Ya Nabi Allah?”. Beliau berkata “Kamu tetap pada kedudukanmu sendiri dan kamu dalam kebaikan”. [Shahih Sunan Tirmidzi no 3205].

Salafy nashibi berusaha berdalih dengan mengatakan bahwa hadis di atas bukan berarti mengkhususkan Ahlul Bait untuk Ahlul Kisa’ justru hadis di atas merupakan perluasan dari makna Ahlul Bait oleh Nabi SAW. Ayat tersebut memang turun untuk istri-istri Nabi tetapi Nabi SAW karena kecintaannya juga menginginkan ayat tersebut untuk Sayyidah Fathimah, Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husain. Hujjah mereka ini batal dengan alasan berikut

  • Hadis Sunan Tirmidzi di atas menyebutkan bahwa ketika ayat tersebut turun Rasulullah SAW langsung memanggil Sayyidah Fathimah, Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husain bukannya memanggil istri-istri Beliau. Ini bukti kalau ayat tersebut ditujukan untuk Sayyidah Fathimah, Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husain dan bukan untuk istri-istri Nabi SAW.
  • Ummu Salamah tidak merasa kalau dirinya adalah Ahlul Bait yang dimaksud, padahal jika memang seperti yang diklaim para nashibi kalau Ahlul Bait dalam Al Ahzab 33 turun untuk istri-istri Nabi SAW maka Ummu Salamah pasti tahu kalau dirinyalah Ahlul Bait yang dimaksud dan Beliau tidak perlu mengajukan pertanyaan kepada Nabi [“Apakah Aku bersama Mereka, Ya Nabi Allah?”] bahkan dalam riwayat lain Ummu Salamah bertanya [“Apakah Aku termasuk Ahlul Bait?”].

Nashibi berusaha membela diri dengan mengatakan kalau Ummu Salamah awalnya tidak tahu kalau ayat tersebut ditujukan untuknya sehingga pada saat itu ia bertanya dalam kondisi tidak tahu, barulah setelah itu ia mengetahui kalau ayat tersebut turun untuknya. Jawaban ini batal dengan alasan berikut

  • Pada awalnya nashibi mengatakan kalau ayat tersebut turun untuk istri-istri Nabi SAW dan Nabi SAW berkehendak agar Sayyidah Fathimah, Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husain juga masuk dalam Ahlul Bait.  Kalau memang benar kejadiannya seperti itu maka ketika ayat tersebut turun Rasulullah SAW pertama-tama akan memberitahu Ummu Salamah karena sudah jelas beliau adalah istri Nabi SAW [apalagi ayat tersebut turun di rumahnya sehingga Nabi SAW bisa langsung memberitahu] kemudian Rasulullah SAW juga akan memanggil istri-istri Beliau yang lain untuk menyampaikan ayat tersebut. Setelah ayat tersebut disampaikan kepada orang-orang yang dituju maka barulah Rasulullah SAW melakukan keinginan atau kehendaknya agar Sayyidah Fathimah, Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husain ikut masuk sebagai Ahlul Bait. Tetapi fakta yang ada dalam hadis shahih justru menyebutkan kalau Rasulullah SAW malah langsung memanggil Sayyidah Fathimah, Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husain bukan istri-istrinya bahkan Rasulullah SAW tidak menyampaikan ayat tersebut kepada Ummu Salamah yang dari awal berada disana. Sungguh mustahil mengatakan kalau Nabi SAW lebih mendahulukan kehendak atau keinginannya dan menunda untuk menyampaikan firman Allah kepada orang yang dituju.
  • Kalau memang seperti yang dikatakan nashibi Ummu Salamah bertanya dalam kondisi tidak tahu atau Nabi SAW belum memberitahu kalau ayat tersebut turun untuknya selaku istri Nabi maka setelah itu sudah pasti Ummu Salamah akan diberitahu oleh Nabi SAW. Tentunya ketika Ummu Salamah meriwayatkan hadis ini kepada para tabiin maka saat itu Ummu Salamah pasti sudah mengetahui kalau pertanyaan yang ia ajukan sebelumnya kepada Nabi adalah kesalahpahamannya [karena pada dasarnya ia tidak perlu bertanya, toh ayat itu untuknya]. Jadi Ummu Salamah pasti akan menjelaskan kesalahpahamannya itu kepada para tabiin tetapi faktanya dalam riwayat-riwayat Ummu Salamah pertanyaan itu tetap ada dan tidak ada penjelasan Ummu Salamah kalau sebenarnya ia sudah salah paham. Ini justru membuktikan kalau arguman nashibi itu tidak bernilai dan hanya basa basi semata.

Al Ahzab 33 memang turun untuk Sayyidah Fathimah, Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husain. Merekalah yang dituju dalam ayat tersebut bukannya seperti yang dikatakan nashibi kalau ayat tersebut turun untuk istri-istri Nabi dan ahlul kisa’ hanyalah perluasan ahlul bait berdasarkan kehendak Nabi. Perhatikan riwayat Ummu Salamah berikut

عن حكيم بن سعد قال ذكرنا علي بن أبي طالب رضي الله عنه عند أم سلمة قالت فيه نزلت (إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا) قالت أم سلمة جاء النبي صلى الله عليه وسلم إلى بيتي, فقال: “لا تأذني لأحد”, فجاءت فاطمة, فلم أستطع أن أحجبها عن أبيها, ثم جاء الحسن, فلم أستطع أن أمنعه أن يدخل على جده وأمه, وجاء الحسين, فلم أستطع أن أحجبه, فاجتمعوا حول النبي صلى الله عليه وسلم على بساط, فجللهم نبي الله بكساء كان عليه, ثم قال: “وهؤلاء أهل بيتي, فأذهب عنهم الرجس وطهرهم تطهيرا, فنزلت هذه الآية حين اجتمعوا على البساط; قالت: فقلت: يا رسول الله: وأنا, قالت: فوالله ما أنعم وقال: “إنك إلى خير”

 

Dari Hakim bin Sa’ad yang berkata “kami menyebut-nyebut Ali bin Abi Thalib RA di hadapan Ummu Salamah. Kemudian ia [Ummu Salamah] berkata “Untuknyalah ayat [Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya] turun . Ummu Salamah berkata “Nabi SAW datang ke rumahku dan berkata “jangan izinkan seorangpun masuk”. Lalu datanglah Fathimah maka aku tidak dapat menghalanginya menemui Ayahnya, kemudian datanglah Hasan dan aku tidak dapat melarangnya menemui kakeknya dan Ibunya”. Kemudian datanglah Husain dan aku tidak dapat mencegahnya. Maka berkumpullah mereka di sekeliling Nabi SAW di atas hamparan kain. Lalu Nabi SAW menyelimuti mereka dengan kain tersebut kemuian bersabda “Merekalah Ahlul BaitKu maka hilangkanlah dosa dari mereka dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya”. Lalu turunlah ayat tersebut ketika mereka berkumpul di atas kain. Ummu Salamah berkata “Wahai Rasulullah SAW dan aku?”. Demi Allah, beliau tidak mengiyakan. Beliau hanya berkata “sesungguhnya engkau dalam kebaikan”. [Tafsir At Thabari 22/12 no 21739]

Riwayat Hakim bin Sa’ad di atas dikuatkan oleh riwayat dengan matan yang lebih singkat dari Ummu Salamah yaitu

حدثنا فهد ثنا عثمان بن أبي شيبة ثنا حرير بن عبد الحميد عن الأعمش عن جعفر بن عبد الرحمن البجلي عن حكيم بن سعيد عن أم سلمة قالت نزلت هذه الآية في رسول الله وعلي وفاطمة وحسن وحسين  إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا

 

Telah menceritakan kepada kami Fahd yang berkata telah menceritakan kepada kami Usman bin Abi Syaibah yang berkata telah menceritakan kepada kami Jarir bin Abdul Hamid dari ’Amasy dari Ja’far bin Abdurrahman Al Bajali dari Hakim bin Saad dari Ummu Salamah yang berkata Ayat [Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya] turun ditujukan untuk Rasulullah, Ali, Fatimah, Hasan dan Husain [Musykil Al Atsar Ath Thahawi 1/227]

Riwayat Hakim bin Sa’ad ini sanadnya shahih diriwayatkan oleh para perawi yang tsiqat

  • Fahd, Beliau adalah Fahd bin Sulaiman bin Yahya dengan kuniyah Abu Muhammad Al Kufi. Beliau adalah seorang yang terpercaya (tsiqah) dan kuat (tsabit) sebagaimana dinyatakan oleh Adz Dzahabi  dan Ibnu Asakir [Tarikh Al Islam 20/416 dan Tarikh Ibnu Asakir 48/459 no 5635]
  • Usman bin Abi Syaibah adalah perawi Bukhari, Muslim, Abu Daud, Nasa’i dan Ibnu Majah. Ibnu Main berkata ”ia tsiqat”, Abu Hatim berkata ”ia shaduq(jujur)” dan Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [Tahdzib At Tahdzib juz 7  no 299]
  • Jarir bin Abdul Hamid, beliau telah dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Main, Al Ajli, Imam Nasa’i, Al Khalili dan Abu Ahmad Al Hakim. Ibnu Kharrasy menyatakannya Shaduq dan Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. [At Tahdzib juz 2 no 116]
  • Al ’Amasy adalah Sulaiman bin Mihran Al Kufi. Beliau telah dinyatakan tsiqat oleh Al Ajli, Ibnu Main, An Nasa’i dan Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. [At Tahdzib juz 4 no 386]
  • Ja’far bin Abdurrahman disebutkan oleh Ibnu Hajar bahwa Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [At Ta’jil Al Manfaah 1/ 387].  Imam Bukhari menyebutkan biografinya seraya mengutip kalau dia seorang Syaikh Wasith tanpa menyebutkan cacatnya [Tarikh Al Kabir juz 2 no 2174]. Disebutkan Ibnu Hibban dalam Ats Tsiqat bahwa ia meriwayatkan hadis dari Hakim bin Saad dan diantara yang meriwayatkan darinya adalah Al ’Amasy. [Ats Tsiqat juz 6 no 7050]
  • Hakim bin Sa’ad, sebagaimana disebutkan bahwa beliau adalah perawi Bukhari dalam Adab Al Mufrad, dan perawi Imam Nasa’i. Ibnu Main dan Abu Hatim berkata bahwa ia tempat kejujuran dan ditulis hadisnya. Dalam kesempatan lain Ibnu Main berkata laisa bihi ba’sun(yang berarti tsiqah). Al Ajli menyatakan ia tsiqat dan Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. [At Tahdzib Ibnu Hajar juz 2 no 787]

Riwayat Ummu Salamah dikuatkan oleh riwayat Abu Sa’id Al Khudri sebagai berikut

حدثنا الحسن بن أحمد بن حبيب الكرماني بطرسوس حدثنا أبو الربيع الزهراني حدثنا عمار بن محمد عن سفيان الثوري عن أبي الجحاف داود بن أبي عوف عن عطية العوفي عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه في قوله عز و جل إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا قال نزلت في خمسة في رسول الله صلى الله عليه و سلم وعلي وفاطمة والحسن والحسين رضي الله عنهم

 

Telah menceritakan kepada kami Hasan bin Ahmad bin Habib Al Kirmani yang berkata telah menceirtakan kepada kami Abu Rabi’ Az Zahrani yang berkata telah menceritakan kepada kami Umar bin Muhammad dari Sufyan Ats Tsawri dari Abi Jahhaf Daud bin Abi ‘Auf dari Athiyyah Al ‘Aufiy dari Abu Said Al Khudri RA bahwa firman Allah SWT [Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya] turun untuk lima orang yaitu Rasulullah SAW Ali Fathimah Hasan dan Husain radiallahuanhum [Mu’jam As Shaghir Thabrani 1/231 no 375]

Riwayat Abu Sa’id ini sanadnya hasan karena Athiyyah Al Aufy seorang yang hadisnya hasan dan Hasan Al Kirmani seorang yang shaduq la ba’sa bihi.

  • Hasan bin Ahmad bin Habib Al Kirmani dia seorang yang shaduq seperti yang disebutkan Adz Dzahabi [Al Kasyf no 1008]. Ibnu Hajar menyatakan ia la ba’sa bihi [tidak ada masalah] kecuali hadisnya dari Musaddad [At Taqrib 1/199]
  • Abu Rabi’ Az Zahrani yaitu Sulaiman bin Daud seorang Al Hafizh [Al Kasyf no 2088] dan Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat [At Taqrib 1/385]
  • Umar bin Muhammad Ats Tsawri seorang yang tsiqah, ia telah dinyatakan tsiqah oleh Ibnu Ma’in, Ali bin Hujr, Abu Ma’mar Al Qathi’I, Ibnu Saad dan Ibnu Syahin. Disebutkan dalam Tahrir At Taqrib kalau ia seorang yang tsiqat [Tahrir Taqrib At Tahdzib no 4832].
  • Sufyan Ats Tsawri seorang Imam Al Hafizh yang dikenal tsiqah. Adz Dzahabi menyebutnya sebagai Al Imam [Al Kasyf no 1996] dan Ibnu Hajar menyatakan ia Al hafizh tsiqah faqih ahli ibadah dan hujjah [At Taqrib 1/371]
  • Daud bin Abi Auf Abu Jahhaf, ia telah dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Ma’in dan Ahmad bin Hanbal. Abu Hatim berkata “hadisnya baik” dan An Nasa’i berkata “tidak ada masalah dengannya”. [At Tahdzib juz 3 no 375] dan Ibnu Syahin telah memasukkan Abul Jahhaf sebagai perawi tsiqah [Tarikh Asma’ Ats Tsiqat no 347].

Athiyyah Al Aufy adalah seorang yang hadisnya hasan, kami telah membuat pembahasan yang khusus mengenai Beliau. Beliau adalah seorang tabiin dan pencacatan terhadapnya tidaklah tsabit seperti yang telah kami bahas.

Ummu Salamah sendiri tidak memahami seperti pemahaman nashibi. Ummu Salamah mengakui kalau ia bukan ahlul bait yang dimaksud dan jawaban Nabi “kamu dalam kebaikan” dipahami oleh Ummu Salamah bahwa ia tidak termasuk dalam Ahlul Bait Al Ahzab 33 yang disucikan

عن أم سلمة رضي الله عنها أنها قالت : في بيتي نزلت هذه الآية { إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت } قالت : فأرسل رسول الله صلى الله عليه و سلم إلى علي و فاطمة و الحسن و الحسين رضوان الله عليهم أجمعين فقال : اللهم هؤلاء أهل بيتي قالت أم سلمة : يا رسول الله ما أنا من أهل البيت ؟ قال : إنك أهلي خير و هؤلاء أهل بيتي اللهم أهلي أحق

Dari Ummu Salamah RA yang berkata “Turun dirumahku ayat [Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait] kemudian Rasulullah SAW memanggil Ali Fathimah Hasan dan Husain radiallahuanhu ajma’in dan berkata “Ya Allah merekalah Ahlul BaitKu”. Ummu Salamah berkata “wahai Rasulullah apakah aku termasuk Ahlul Bait?”. Rasul SAW menjawab “kamu keluargaku yang baik dan Merekalah Ahlul BaitKu Ya Allah keluargaku yang haq”. [Al Mustadrak 2/451 no 3558 dishahihkan oleh Al Hakim dan Adz Dzahabi].

حدثنا الحسين بن الحكم الحبري الكوفي ، حدثنا مخول بن مخول بن راشد الحناط ، حدثنا عبد الجبار بن عباس الشبامي ، عن عمار الدهني ، عن عمرة بنت أفعى ، عن أم سلمة قالت : نزلت هذه الآية في بيتي : إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا ، يعني في سبعة جبريل ، وميكائيل ، ورسول الله صلى الله عليه وسلم ، وعلي ، وفاطمة ، والحسن ، والحسين عليهم السلام وأنا على باب البيت فقلت : يا رسول الله ألست من أهل البيت ؟ قال إنك من أزواج النبي عليه السلام  وما قال : إنك من أهل البيت

Telah menceritakan kepada kami Husain bin Hakam Al Hibari Al Kufi yang berkata telah menceritakan kepada kami Mukhawwal bin Mukhawwal bin Rasyd Al Hanath yang berkata telah menceritakan kepada kami Abdul Jabar bin ‘Abbas Asy Syabami dari Ammar Ad Duhni dari Umarah binti Af’a dari Ummu Salamah yang berkata “Ayat ini turun di rumahku [Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya] dan ketika itu ada tujuh penghuni rumah yaitu Jibril Mikail, Rasulullah Ali Fathimah Hasan dan Husain. Aku berada di dekat pintu lalu aku berkata “Ya Rasulullah Apakah aku tidak termasuk Ahlul Bait?”. Rasulullah SAW berkata “kamu termasuk istri Nabi Alaihis Salam”. Beliau tidak mengatakan “sesungguhnya kamu termasuk Ahlul Bait”. [Musykil Al Atsar Ath Thahawi 1/228]

Riwayat Ummu Salamah ini memiliki sanad yang shahih diriwayatkan oleh para perawi yang tsiqat

  • Husain bin Hakam Al Hibari Al Kufi adalah seorang yang tsiqat [Su’alat Al Hakim no 90] telah meriwayatkan darinya para perawi tsiqat dan hafiz seperti Ali bin Abdurrahman bin Isa, Abu Ja’far Ath Thahawi dan Khaitsamah bin Sulaiman.
  • Mukhawwal adalah Mukhawwal bin Ibrahim bin Mukhawwal bin Rasyd disebutkan Ibnu Hibban dalam kitabnya Ats Tsiqat [Ats Tsiqat juz 9 no 19021]. Abu Hatim termasuk yang meriwayatkan darinya dan Abu Hatim menyatakan ia shaduq [Al Jarh Wat Ta’dil 8/399 no 1831].
  • Abdul Jabbar bin Abbas disebutkan oleh Ahmad, Ibnu Ma’in, Abu Dawud dan Al Ajli bahwa tidak ada masalah padanya. Abu Hatim menyatakan ia tsiqat [At Tahdzib juz 6 no 209]. Ibnu Hajar menyatakan ia shaduq tasyayyu’ [At Taqrib 1/552]. Adz Dzahabi menyatakan ia seorang syiah yang shaduq [Al Kasyf no 3085]
  • Ammar Ad Duhni yaitu Ammar bin Muawiyah Ad Duhni dinyatakan tsiqat oleh Ahmad, Ibnu Ma’in, An Nasa’i, Abu Hatim dan Ibnu Hibban [At Tahdzib juz 7 no 662]. Ibnu Hajar menyatakan ia shaduq [At Taqrib 1/708] tetapi justru pernyataan ini keliru dan telah dikoreksi dalam Tahrir At Taqrib kalau Ammar Ad Duhni seorang yang tsiqat [ Tahrir At Taqrib no 4833]
  • Umarah binti Af’a termasuk dalam thabaqat tabiin wanita penduduk kufah. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [Ats Tsiqat juz 5 no 4880]. Hanya saja Ibnu Hibban salah menuliskan nasabnya. Umarah juga dikenal dengan sebutan Umarah Al Hamdaniyah [seperti yang diriwayatkan oleh Ath Thahawi dalam Musykil Al Atsar]. Al Ajli menyatakan ia tsiqat [Ma’rifat Ats Tsiqah no 2345].

عن أم سلمه رضي الله عنها قالت نزلت هذه الاية في بيتي إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا قلت يارسول الله ألست من أهل البيت قال إنك إلى خير إنك من أزواج رسول الله صلى الله عليه وسلم قالت وأهل البيت رسول الله صلى الله عليه وسلم وعلي وفاطمة والحسن والحسين رضي الله عنهم أجمعين

Dari Ummu Salamah RA yang berkata “Ayat ini turun di rumahku [Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya]. Aku berkata “wahai Rasulullah apakah aku tidak termasuk Ahlul Bait?. Beliau SAW menjawab “kamu dalam kebaikan kamu termasuk istri Rasulullah SAW”. Aku berkata “Ahlul Bait adalah Rasulullah SAW, Ali, Fathimah, Hasan dan Husain radiallahuanhum ajma’in”.[Al Arba’in Fi Manaqib Ummahatul Mukminin Ibnu Asakir hal 106]

Ibnu Asakir setelah meriwayatkan hadis ini, ia menyatakan kalau hadis ini shahih. Hadis ini juga menjadi bukti kalau Ummu Salamah sendiri mengakui bahwa Ahlul Bait yang dimaksud dalam Al Ahzab 33 firman Allah SWT [Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya] adalah Rasulullah SAW, Sayyidah Fathimah, Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husain.

Nashibi mengatakan kalau Sayyidah Fathimah, Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husain pada awalnya tidak termasuk Ahlul Bait dalam Al Ahzab 33, mereka bukanlah yang dituju oleh ayat tersebut tetapi karena kecintaan Rasulullah SAW kepada mereka maka Beliau menyelimuti mereka agar mereka bisa ikut masuk sebagai Ahlul Bait. Perkataan nashibi ini merupakan perkataan yang bathil karena Ahlul Kisa’ sendiri mengakui kalau merekalah yang dimaksud dalam Firman Allah SWT Al Ahzab 33. Diriwayatkan dari Abu Jamilah bahwa Imam Hasan pernah berkhutbah di hadapan orang-orang dan beliau berkata

ياأهل العراق اتقوا الله فينا, فإِنا أمراؤكم وضيفانكم, ونحن أهل البيت الذي قال الله تعالى: {إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيراً} قال فما زال يقولها حتى ما بقي أحد في المسجد إِلا وهو يحن بكاءً

Wahai penduduk Iraq bertakwalah kepada Allah tentang kami, karena kami adalah pemimpin kalian dan tamu kalian dan kami adalah Ahlul Bait yang difirmankan oleh Allah SWT [Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya]. Beliau terus mengingatkan mereka sehingga tidak ada satu orangpun di dalam masjid yang tidak menangis [Tafsir Ibnu Katsir 3/495]

Riwayat Imam Hasan ini memiliki sanad yang shahih. Ibnu Katsir membawakan sanad berikut

قال ابن أبي حاتم: حدثنا أبي, حدثنا أبو الوليد, حدثنا أبو عوانة عن حصين بن عبد الرحمن عن أبي جميلة قال: إِن الحسن بن علي

Ibnu Abi Hatim berkata telah menceritakan kepada kami Ayahku yang berkata telah menceritakan  kepada kami Abu Walid yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Awanah dari Hushain bin Abdurrahman dari Abi Jamilah bahwa Hasan bin Ali berkata [Tafsir Ibnu Katsir 3/495]

Ibnu Abi Hatim dan Abu Hatim telah dikenal sebagai ulama yang terpercaya dan hujjah sedangkan perawi lainnya adalah perawi tsiqah

  • Abu Walid adalah Hisyam bin Abdul Malik seorang Hafizh Imam Hujjah. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat [2/267]. Adz Dzahabi menyatakan ia tsiqat [Al Kasyf no 5970]
  • Abu Awanah adalah Wadhdhah bin Abdullah Al Yaskuri. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat tsabit [At Taqrib 2/283]. Adz Dzahabi menyatakan ia tsiqah [Al Kasyf no 6049].
  • Hushain bin Abdurrahman adalah seorang yang tsiqah. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqah [At Taqrib 1/222] dan Adz Dzahabi menyatakan ia tsiqat hujjah [Al Kasyf no 1124]
  • Abu Jamilah adalah Maisarah bin Yaqub seorang tabiin yang melihat Ali dan meriwayatkan dari Ali dan Hasan bin Ali. Ibnu Hibban menyebutkannya dalam Ats Tsiqat [At Tahdzib juz 10 no 693]. Ibnu Hajar menyatakan ia maqbul [At Taqrib 2/233]. Pernyataan Ibnu Hajar keliru karena Abu Jamilah adalah seorang tabiin dan telah meriwayatkan darinya sekumpulan perawi tsiqah bahkan Ibnu Hibban menyebutnya dalam Ats Tsiqat maka dia adalah seorang yang shaduq hasanul hadis seperti yang dikoreksi dalam Tahrir At Taqrib [Tahrir At Taqrib no 7039].

Tulisan ini kami cukupkan sampai disini dan tentu kami tertarik untuk melihat berbagai dalih nashibi yang mau membela keyakinan or dogma yang sudah lama jadi penyakit mereka. Entah mengapa mereka seperti keberatan kalau Sayyidah Fathimah, Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husain mendapatkan keistimewaan dan keutamaan yang khusus. Apapun cara mereka, kebathilan akan selalu terungkap dan dikalahkan oleh kebenaran.

Sunni Aswaja Bukanlah Islam Yang Asli ; Mereka Menyembunyikan Hadis… Ratusan Tahun Kitab Hadis Edisi Lengkap Disembunyikan, Yang Dimunculkan Cuma Kitab Hadis Edisi Ringkasan Yang Sudah Di Edit

Seandainya sejak zaman dulu kitab kitab hadis sunni BEREDAR  SESUAi  VERSi  ASLi nya seperti beredar  nya  ALQURAN  di pasar pasar dan rumah penduduk maka MAZHAB  SUNNi  tidak akan tegak

Banyak hadis yang telah disensor dari kita!! Ulama sunni meringkas hadis, mengedit hadis dan menyembunyikan hadis YANG  MERUGiKAN MAZHAB MEREKA
Sunni dianggap menyembunyikan hadis-hadis yang menjelaskan, bahwa Ali merupakan khalifah setelah Nabi.Dalam  tafsir  al Qur’an ayat-ayat yang memihak syi’ah disembunyikan oleh orang Sunni atau disebarkan hadis hadis dha’if  syi’ah yang mendeskriditkan Syi’ah.

Menurut syi’ah  bahwa  al Qur’an dan hadis  shahih  yang diriwayatkan oleh orang Syi’ah kedudukannya adalah atas segala ilmu.

Sewaktu  anda  belajar  agama  di waktu  kecil,  anda  Cuma  mampu  menemukan  kitab  shahih  Bukhari  Muslim  edisi  ringkasan… Lha, yang  asli  nya  sudah  disembunyikan ….Ketika  anda  dewasa, di era  digital  internet  ini  anda  AKAN  TERPERANJAT  ketika  menemukan  bahwa  kebenaran  syi’ah  ternyata  terselip  dalam  kitab  hadis  sunni….

Ada  ulama   sunni  berkata : “Ada  hadis  Imam Ali  yang  memuji  abubakar- Umar  – Usman  dll  dalam  kitab hadis  sunni”

Kitab  hadis  aswaja  sunni  memang  punya  beberapa  versi  cerita  yang  saling  kontradiktif   dalam  persoalan  imamah  dll

Dalam hadis  Bukhari : Imam  Ali  mengklaim  bahwa  kekhalifahan  adalah  haknya, dan  Imam  Ali  menyatakan  Abubakar  berbohong  dan  bertindak  sewenang  wenang… Mungkinkah  sesuatu yang bertentangan  terjadi  ??? Di satu  sisi  mencela, disisi  lain  memuji  ???? tidak  mungkin…. Karena  mustahil  Imam  Ali  plin plan  apalagi  berdusta… JAdi  hadis  yang dinisbatkan  pada  Ali yang  menyatakan  Abubakar  lebih  baik  daripada  dia  sangat  meragukan  karena  bertentangan  dengan  ucapan  Imam  Ali  dalam hadis hadis  lain….

Berikut  ini saya berikan  contoh  kontradiksi  nya  hadis  Bukhari  Muslim :

1. Surat  Al  Lail  ayat  1-3   dalam kitab  Bukhari  Muslim  berbeda  dengan         yang  ada  dalam  Al  Quran

2. Riwayat   Aisyah  tentang  shalat  dhuha  saling bertentangan, riwayat       pertama  menyatakan  “boleh”  tapi  riwayat  kedua  menyatakan  “tidak    boleh”

3. Said  bin  Musaiyab  menyatakan  ia  saksi  wafat nya  Abu  Thalib, tapi    realita  fakta  sejarah  menyatakan  Said  dan  Abu Thalib  tidak  pernah bertemu

4. Hadis  pelecehan  terhadap  para  Nabi  yang  di bawakan  Abu  Hurairah

Kenapa  bisa  kontradiktif ??? Karena  jalur  perawi  ada  yang berdusta  dan ada yang jujur…semua  dishahihkan  Bukhari  Muslim…

Di zaman  Dinasti  Umayyah, Abbasiyah dan  Usmaniyah  syari’at  Islam yang sebenarnya  tidak ditegakkan.. Penguasa  bebas  membunuh  orang  orang yang  tidak bersalah  tanpa pengadilan.. Kejahatan  mereka  terhadap  umat  benar benar  diluar   perikemanusiaan.. Pemerintahan  para  penjahat

Namun  mazhab  aswaja sunni menutup nutupi  masalah ini  dengan cara menampilkan   yang   baik   baik  saja  dan  menguburkan yang  buruk buruk karena  ulama  sunni  sangat  berkepentingan  agar  mazhab  mereka  tetap tegak…

Namun  seiring   perjalanan  waktu, kebenaran  mulai  terungkap…. Aswaja mulai   kelabakan  maka  mereka  tidak   mampu   lagi  melarang  umat  mempelajari   syi’ah…….Aswaja  tidak  mampu  lagi  membuang   hadis hadis  dalam kitab  shahih nya  karena  umat  sudah  tahu….

Hadis  seperti  penunjukan  Imam  Ali  sebagai  khalifah  tidak  mampu  lagi  disembunyikan  sunni.. Mengingkari  bukti  wasiat  Imamah  Ali  sama  saja dengan  mengingkari  wasiat  Nabi  SAW, adalah  zindiq  jika  mengingkari  Sunnah  Nabi  yang  mutawatir

Analisis Hadis Kitabullah Dan Sunnah

Rasul bersabda tentang ummu’l mu’minin ‘A’isyah:

“Diriwayatkan oleh Musa bin Isma’il, dari Juwairiyah, dari Nafi’, dari ‘Abdullah yang berkata: “Nabi saw sedang berkhotbah dan beliau menunjuk ke arah kediaman ‘A’isyah sambil berkata: ‘Disinilah akan muncul tiga fitnah sekaligus, dan dari situlah akan muncul tanduk setan’. (Bukhari, Shahih dalam bab “Ma ja’a fi buyuti’l AzwajinNabi )

‘Abdullah meriwayatkan dari Ubay dari ‘Ikramah bin ‘Ammar dari Ibnu ‘Umar yang berkata: “Rasululah saw keluar dari rumah ‘Aisyah dan bersabda: ‘Kepala kekufuran akan muncul dari sini, dan dari sini akan muncul tanduk setan’. (Imam Ahmad bin Hambal, Musnad, jilid 2, hlm. 23 )

Rasul Allah saw keluar dari rumah ‘A’isyah sambil berkata: “Sesungguhnya kekafiran akan muncul dari sini akan muncul tanduk setan.” (Imam Ahmad bin Hambal, Musnad, jilid 2, hlm. 26. )

Perang Jamal, Aisyah Memerangi Imam Ali, Dua Puluh Ribu Muslim Mati !!

Aisyah berangkat ke Makkah. Ia berhenti di depan pintu masjid menuju ke alHajar

Kemudian mengumpul orang dan berkata: ‘Hai manusia. Utsman telah dibunuh secara zalim! Demi Allah kita harus menuntut darahnya’. Dia dilaporkan juga telah berkata: ‘Hai kaum Quraisy! Utsman telah dibunuh. Dibunuh oleh Ali bin Abi Thalib. Demi Allah seujung kuku atau satu malam kehidupan Utsman, lebih baik dari seluruh hidup Ali.’ (Lihat Baladzuri, Ansab alAsyraf, jilid 5, hlm. 71.)

Ummu Salamah Menasihati Ummu’lmu’minin

Ummu Salamah menasihati Aisyah agar ia tidak meninggalkan rumahnya: “Ya Aisyah, engkau telah menjadi penghalang antara Rasul Allah saw  dan umatnya. Hijabmu menentukan kehormatan Rasul Allah saw, AlQur’an telah menetapkan hijab untukmu.

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan RasulNya”. (AlAhzab:33)

Dan jangan engkau membukanya. Tempatmu telah pula ditentukan Allah SWT dan janganlah engkau keluar. Allahlah yang akan melindungi umatnya. Rasul Allah saw mengetahui tempatmu. Kalau Rasul Allah saw ingin memberimu tugas tentu telah beliau sabdakan”

( Aisyah Ibnu Thaifur, Baldghat anNisa’, hlm. 8; Mengenai nasihat Ummu Salamah kepada ‘A’isyah, lihat juga Zamakhsyari, alFa’iq, jilid 1, hlm. 290; Ibnu ‘Abd Rabbih, Iqd alFarid, jilid 3, hlm. 69; Syarh NahjulBalaghah, jilid 2, hlm. 79 ).

Aisyah tidak peduli dan orang orang merasa heran. Ayat AlQur’anyang memerintahkan para istri Rasul agar tinggal di rumah tidak dapat lagi menahannya.

Aisyah tidak menghiraukannya. Thalhah, Zubair dan Abdullah bin Zubair pergi bergabung dengan Aisyah di Makkah. Demikian pula Banu ‘Umayyah serta penguasa penguasa Utsman yang diberhentikan Ali dengan membawa harta baitul mal.

Diriwayatkan bahwa sekali seorang wanita bertanya kepada Aisyah tentang hukumnya seorang ibu yang membunuh anak bayinya. Aisyah menjawab: ‘Neraka tempatnya bagi ibu yang durhaka itu!’. ‘Kalau demikian’, tanyanya: ‘bagaimana hukum seorang ibu yang membunuh dua puluh ribu anaknya yang telah dewasa?’. Aisyah berteriak dan menyuruh orang melempar keluar wanita tersebut.

Thalhah misan Aisyah, yang diharapkan Aisyah akan menjadi khalifah, meninggal dalam Perang Jamal. Ia dibunuh oleh Marwan bin Hakam anggota pasukannya sendiri, karena keterlibatannya dalam pembunuhan Utsman. Setelah memanah Thalhah, Marwan berkata: “Aku puas! Sekarang aku tidak akan menuntut lagi darah Utsman!” Zubair bin ‘Awwam, iparnya, suami kakaknya Asma binti Abu Bakar meninggalkan pasukan setelah mendengar nasihat Ali. Ia dibunuh dari belakang oleh seorang yang bernama ‘Amr bin Jurmuz.

Aisyah punya kelebihan. Setelah menentang  dua khalifah ia bisa berubah menjadi orang yang tidak berdosa.. Dan peran Aisyah dalam menentukan aqidah umat berlanjut sampai sekarang dengan hadis hadisnya yang banyak.

Ummu Salamah, misalnya, yang juga ummu’lmu’minin tidaklah mendapat tempat yang terhormat seperti Aisyah. Hal ini disebabkan karena Ummu Salamah berpihak kepada ahlu’lbait’ dengan sering meriwayatkan hadis hadis yang mengutamakan Ali, seperti hadis Kisa’.

Abu Bakar, ayah Aisyah, maupun Umar bin Khaththab menyadari kemampuan Aisyah, dan sejak awal mereka menjadikan Aisyah sebagai tempat bertanya. Ibnu Sa’d, misalnya, meriwayatkan dari alQasim: “Aisyah sering diminta memberikan fatwa di zaman Abu Bakar. Umar dan Utsman dan Aisyah terus memberi fatwa sampai mereka meninggal”. (Ibnu Sa’d, Thabaqat, jilid 3 hlm.3370.)

Dari Mahmud bin Labid: Aisyah memberi fatwa di zaman Umar dan Utsman sampai keduanya meninggal’. Dan sahabat sahabat  Rasul Allah saw yang besar, yaitu Umar dan Utsman sering mengirim orang menemui Aisyah untuk menanyakan Sunnah’. Malah Umar memberikan uang tahunan untuk Aisyah lebih besar 20% dari istri Rasul yang lain. Tiap istri Rasul mendapat sepuluh ribu dinar sedang Aisyah dua

belas ribu. Pernah Umar menerima satu kereta dari Irak yang di dalamnya terdapat mutiara (jauhar) dan Umar memberikan seluruhnya pada Aisyah.

Di samping pengutamaan Umar kepada Aisyah dalam fatwa maupun hadiah, Umar juga menahannya di Madinah dan hanya membolehkan Aisyah melakukan sekali naik haji pada akhir kekhalifahan Umar dengan pengawalan yang ketat. Umar menyadari betul peran Aisyah yang tahu memanfaatkan kedudukannya yang mulia di mata umat sebagai ibu kaum mu’minin dan memiliki kemampuan yang tinggi untuk mempengaruhi orang. Dengan demikian mereka saling membagi keutamaan.Sedangkan Utsman, terutama pada akhir kekhalifahannya, melalaikan hal ini.

Dan di pihak lain, Ali seperti juga Fathimah sejak awal menjadi bulan bulanan ummu’lmu’minin Aisyah. Kalau Mu’awiyah bersujud dan diikuti orang orang  yang menemaninya, dan shalat dhuha enam raka’at saat mendengar Ali meninggal dunia di kemudian hari, sedangkan Aisyah melakukan sujud syukur ketika mendengar berita gembira ini seperti dilaporkan oleh Abu’lFaraj atIshfahani. (AbuFaraj alIshfahani, Maqatil athThalibiyin,hlm. 43.)

Thabari, Abu’lFaraj alIshfahani, Ibnu Sa’d dan Ibnu alAtsir melaporkan bahwa tatkala seorang menyampaikan berita kematian Ali, ummu’lmu’minin Aisyah bersyair: ‘Tongkat dilepas, tujuan tercapai sudah’ ‘Seperti musafir gembira pulang ke rumah!’

.
Melihat tajuk di atas, sudah pasti meromangkan bulu roma para pencinta Nabi. tetapi bertenang, saya hanya membincangkan perkara ini, secara ilmiah, berdasarkan hadis-hadis dari sumber Ahlulsunnah wal Jamaah. Kesimpulan yang dapat diambil adalah terpulang kepada masing-masing.
Kecemburuan Aisyah kepada Fatimah(sa) dan suaminya adalah sangat berkaitan dengan cemburunya kepada Khadijah al Kubra, yang telah lama meninggal dunia. Ini dapat difahami dari kata-kata beliau sendiri yang diriwayatkan di dalam Qutub Sunni, seperti berikut:

Aisyah berkata:Cemburuku terhadap istri-istri Rasul tidak seperti cemburuku kepada Khadijah karena Rasul sering menyebut dan memujinya, dan Allah SWT telah mewahyukan kepada Rasul saww agar menyampaikan kabar gembira kepada Khadijah bahwa Allah SWTakan memberinya rumah dari Permata di surga”. Al-Bukhari, jilid 2, hlm. 277 dalam Bab Kecemburuan Wanita, Kitab Nikah

Dan di bahagian lain:Aku tidak cemburu terhadap seorang dari istri-istrinya seperti aku cemburu kepada Khadijah, meski aku tidak mengenalnya. Tetapi Nabi sering mengingatinya dan kadang-kadang ia menyembelih kambing, memotong-motongnya dan membagi-bagikannya kepada teman-teman Khadijah”. Al-Bukhari, jilid 2, hlm. 210, pada Bab Manaqib Khadijah.

Di bahagian yang lain: “Suatu ketika Halah binti Khuwailid, saudari Khadijah, minta izin menemui Rasul dan Rasul mendengar suaranya seperti suara Khadijah”.  Rasulullah terkejut dan berkata : Allahumma Halah!’. Dan aku cemburu. Aku berkata: ‘Apa yang kau ingat dari perempuan tua di antara perempuan-perempuan tua Qurais dan Allah telah menggantinya  dengan yang lebih baik’.

Apakah reaksi Rasulullah(sawa)?: ‘Dan wajah Rasul Allah saww berubah, belum pernah aku melihat ia demikian, kecuali pada saat turun wahyu’. Musnad Ahmad, jilid 6, hlm. 150, 154

Rasulullah lalu bersabda:Allah tidak akan mengganti seorang pun yang lebih baik dari beliau. Dia beriman kepada ku tatkala orang lain mengingkariku. Dia membenarkan ku ketika orang lain mendustakanku. Dan dia membantuku dengan hartanya tatkala orang lain enggan membantuku. Allah SWT memberi anak-anak kepadaku melaluinya dan tidak melalui yang lain’. Musnad Ahmad, jilid 6, hlm. 117; Sunan Tirmidzi, jilid 1, hlm. 247;.Shahih Bukhari, jilid 2, hlm. 177, jilid 4, hlm. 36, 195; Musnad Ahmad jilid 6, hlm. 58, 102, 202, 279; Ibnu Katsir,Tarik h, jilid 3, hlm. 128;al-Kanzu’l-’Ummal, jilid 6, hlm. 224.

Dari sisi riwayat Ahlul Sunnah turut menukilkan bahawa Aisyah mempunyai rasa tidak senang akan sifat cintanya Rasulullah(sawa) kepada Imam Ali(as) melebihi cinta kepada dirinya sendiri dan bapanya.
Imam Ahmad menukilkan di dalam kitabnya Musnad Ahmad, jilid 4, hlm. 275, yang berasal dari Nu’man bin Basyir: ‘Abu Bakar memohon izin menemui Rasul Allah(sawa) dan ia mendengar suara keras Aisyah yang berkata: ‘Demi Allah, aku telah tahu bahwa engkau lebih mencintai Ali dari ayahku dan diriku!, dan ia mengulanginya dua atau tiga kali’.
Ijtihad beliau bertentangan dengan firman Allah swt:

‘Dan ia tiada berkata menurut keinginannya sendiri. Perkataannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya’. Al-Qur’an, an-Najm (53:3)

Ibn Abil-Hadid menceritakan: ‘Aku membacakan pidato Ali mengenai Aisyah dari Nahju’l-Balighah [7], kepada Syaikh Abu’ Ayyub Yusuf bin Isma’il tatkala aku berguru ilmu kalam kepadanya. Aku bertanya bagaimana pendapatnya tentang pidato Ali tersebut.

Ia memberi jawaban yang panjang. Aku akan menyampaikannya secara singkat, sebahagian dengan lafaznya sebahagian lagi dengan lafazku sendiri.(Abu ‘Ayyub melihat dari kacamata yang umum terjadi. Penulis menerjemahkannya agak bebas).

“Abu ‘Ayyub berkata: ‘Kebencian Aisyah kepada Fathimah timbul karena Rasul Allah(sawa) mengawini Aisyah setelah meninggalnya Khadijah. Sedang Fathimah adalah putri Khadijah.Secara umum antara anak dan ibu tiri akal timbul ketegangan dan kebencian. Isteri akan mendekati ayahnya dan bukan suaminya, dan anak perempuan tidak akan senang melihat ayahnya akrab dengai ibu tirinya. Dia akan menganggap ibu tirinya merebut tempat ibunya.Sebaliknya anak perempuan pula menjadi tumpuan kecemburuan dari pihak ibu tiri. Beban cemburu Aisyah kepada almarhumah Khadijah, berpindah kepada Fathimah.”

Nota: Maksud Ibn Abin Hadid adalah Khotbah 155 dalam Nahjul Balaghah tatkala ‘Ali berkata tentang Aisyah: ‘Kebencian mendidih dalam dadanya, sepanas tungku pandai besi. Bila ia diajak melakukan kepada orang lain seperti yang ia lakukan kepadaku, ia akan menolak. Tetapi hormatku kepadanya, setelah kejadian ini pun, tetap seperti semula.

Besarnya kebencian kepada anak tirinya berbanding dengan kebencian pada madu beliau yang telah meninggal. Ini ditambah lagi apabila suaminya sering mengingati isterinya yang telah meninggal itu.

Kemudian semua bersepakat bahawa Fathimah mendapat kedudukan mulia di sisi Allah SWT melalui hadis Rasul, yang juga ayahnya, sebagai Penghulu Wanita Kaum Mu’minin yang kedudukannya sejajar dengan Asyiah, Mariam binti ‘Imran dan Khadijah al-Kubra seperti yang tertera dalam hadis shahih Bukhari dan Muslim.

Sebagai tambahan, telah menjadi satu pengetahuan yang umum bahawa Rasulullah memuliakan anak perempuannya dengan kemuliaan yang lebih dari apa yang disangka oleh orang ramai, malah melewati kasih sayang yang biasanya diberikan oleh seorang bapa kepada seorang anak.

Dan Rasulullah(sawa) telah menyampaikannya terang-terangan kepada para sahabat baginda secara berulang di tempat dan kalangan yang berbeza, bahawa Fathimah adalah penghulu kaum wanita sekalian alam’. Melalui hadis yang berasal dari Ali, Umar bin Khaththab, Hudzaifah Ibnu Yaman,Abu Said al-Khudri, Abu Hurairah dan lain-lain Rasul bersabda:Sesungguhnya, Fathimah adalah penghulu para wanita di syurga, dan Hasan serta Husain adalah Penghulu  Pemuda di surga. Namun ayah mereka berdua (Ali) lebih mulia dari mereka berdua’

Rujukan Hadis: Tirmidzi,al-Jami’ash-Shahih, jilid 5, hlm. 656, 661; Ahmad bin Hanbal,al-Musnad, jilid 3, hlm. 62, 64, 82, jilid 5, hlm. 391, 392; Ibnu Majah,as- Sunan, jilid 1, hlm. 56; Al Hakim An-Nisaburi, A-Mustadrak ash-Shahihain, jilid 3, hlm. 167; Majma’ az-Zawa’id, jilid 9, hlm. 183; al-Muttaqi, Kanz al-Ummal, jilid 13, hlm. 127,128;al- I sti’ ab, jilid4, hlm. 1495;Usdu’l-Ghabah, jilid 5, hlm. 574; Tarikh Baghdad, jilid 1, hlm. 140, jilid 6, hlm. 372 jilid 10, hlm. 230; Ibnu ‘Asakir,at-Tarikh, jilid 7, hlm. 362.

Atau hadis yang diriwayatkan Aisyah sendiri bahwa Rasul telah bersabda:Wahai Fathimah, apakah engkau tidak puas menjadi penghulu para wanita sejagat atau penghulu wanita umat ini atau penghulu kaum mu’minat?’. Rujukan: Shahih Bukhari, jilid 8, hlm. 79; Shahih Muslim, jilid 7, hlm. 142-144; Ibnu Majah, as-Sunan, jilid 1, hlm. 518; Ahmad bin Hanbal,al-Musnad, jilid 6, hlm. 282; al-Hakim an-Nisaburi, al-Mustadrak ‘ala ash-Shahihain, jilid 3, hlm. 136.

Rasul bersabda bahwa kedudukan Fathimah sama dengan kedudukan Mariam binti ‘Imran dan bila Fathimah melewati di tempat wuquf, para penyeru berteriak dari arah ‘arsy, ‘Hai penghuni tempat wuquf, turunkan pandanganmu karena Fathimah binti Muhammad akan lewat . Hadis ini merupakan hadis shahih dan bukan hadis lemah.(al-Mustadrak, jilid 3, hlm. 153, 156; Kanzu’l-’Ummal, jilid 6, hlm. 218.)

Ali menikahi Fatimah setelah dinikahkan Allah SWT di langit dan disaksikan para malaikat. [al-Mustadrak, jilid 3, hlm. 153, 156;Kanzu’l-’Ummal, jilid 6, hlm. 218.]

Betapa kerapnya Rasulullah(sawa) bersabda: ‘Barangsiapa menyakiti Fathimah, maka ia telah menyakitiku’, ‘Membencinya berarti membenciku’ , Beliau adalah sebagian dari diriku’, Meraguinya bererti meraguiku’ [Kanzu’l-’Ummal, jilid 6, hlm. 220]

Dan semua kemuliaan dan penghormatan ini tentu menambah kecemburuan Aisyah yang tidak berusaha sungguh-sungguh untuk melihat konteks ini dengan kenabian Rasul saww.

Sifat beliau jauh sekali berbeza dengan Ummu Salamah(rh), yang juga merupakan seorang isteri Rasulullah(sawa), Ummul Mukminin, yang mencintai Ahlul Kisa bukan sahaja sebagai ahli keluarga tetapi juga sebagai orang yang disucikan di dalam Ayatul Tathir. (Al-Qur’an 33:33)

Biasanya bila seorang isteri merasa diperlakukan kurang baik oleh sesama wanita maka berita ini akan sampai kepada suami. Dan lumrah apabila isteri menceritakan perkara ini pada suaminya dimalam hari. Tetapi Aisyah tidak dapat melakukan perkara ini, keranana Fathimah adalah anak suaminya. Ia hanya dapat mengadu pada wanita-wanita Madinah dan tetangga yang bertamu ke rumahnya.

Kemudian wanita-wanita ini akan menyampaikan berita kepada Fathimah, barangkali begitu pula sebaliknya. Dan yang jelas ia akan menyampaikannya kepada ayahnya, Abu Bakar.

Kemampuan Aisyah untuk mempengaruhi orang sangatlah terkenal dan hal ini akan membekas pada diri Abu Bakar. Kemudian Rasulullah(sawa) melalui hadis yang demikian banyak, telah memuliakan dan mengkhususkan Ali dari sahabat-sahabat lain.

Berita ini tentu menambah kepedihan Abu Bakar, kerana Abu Bakar adalah ayahnya Aisyah. Pada kesempatan lain sering terlihat Aisyah duduk bersama Abu Bakar dan Thalhah sepupunya dan mendengar kata-kata mereka berdua. Yang jelas pembicaraan mereka mempengaruhi Aisyah sebagaimana mereka juga terpengaruh oleh Aisyah’.

Kemudian ia (Abu Ayyub) melanjutkan: ‘Saya tidak mengatakan bahwa Ali bebas dari ulah Aisyah. Telah sering timbul ketegangan antara Aisyah dan Ali di zaman Rasulullah(sawa)’.

Misalnya telah diriwayatkan bahawa suatu ketika Rasul dan Ali sedang berbicara. Aisyah datang menyela antara keduanya dan berkata :Kamu berdua berbicara terlalu lama!’. Rasul marah sekali.Dan, di ketika lain tatkala terjadi peristiwa Ifk, menurut Aisyah, Ali mengusulkan Rasulullah(sawa) agar menceraikan Aisyah dan mengatakan bahawa Aisyah tidak lebih dari tali sebuah sandal. (Tapi ramai orang meragukan peristiwa Ifk yang diriwayatkan Aisyah ini. Dari mana misalnya orang ini mengetahui usul Ali kepada Rasul? Siapa yang membocorkannya?),.

Di pihak lain Fathimah melahirkan ramai anak lelaki dan perempuan, sedang Aisyah tidak melahirkan seorang anak pun. Malah Rasulullah(sawa) menyebut kedua anak lelaki Fathimah, Hasan dan Husain sebagai anak-anaknya sendiri. Hal ini terbukti tatkala turun ayat mubahal ah [ Ali Imran : 61].

Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu),Maka Katakanlah (kepadanya): “Marilah kita memanggil anak-anak Kami dan anak-anakkamu, isteri-isteri Kami dan isteri-isteri kamu, diri Kami dan diri kamu; kemudian Marilahkita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya la’nat Allah ditimpakan kepadaorang-orang yang dusta”.

Bagaimana perasaan seorang isteri, yang tidak dapat melihat bahawa suaminya adalah seorang Rasul Allah, bila suaminya memperlakukan cucu tirinya sebagai anaknya sedangkan ia sendiri tidak punya anak?.

Kemudian Rasul menutup pintu yang biasa digunakan ayahnya ke masjid dan membuka pintu untuk Ali. Begitu pula tatkala Surat Bara’ah turun, Rasul Allah(sawa) menyuruh Ali,yang disebutnya sebagai dari dirinya sendiri, untuk menyusul Abu Bakar dalam perjalanan haji pertama. Dan agar Ali sendiri membacakan surat Bara’ah atau Surat Taubah kepada jemaah dan kaum musyrikin di Mina.

Kemudian Mariah, isteri Rasul, melahirkan Ibrahim dan Ali menunjukkan kegembiraannya, hal ini tentu menyakitkan hati Aisyah.

Yang jelas Ali sama sekali tidak ragu lagi, sebagaimana kebanyakan kaum Muhajirin dan Anshar, bahawa Ali akan menjadi khalifah sesudah Rasul meninggal dan yakin tidak akan ada orang yang menentangnya.

Tatkala pamannya Abbas berkata, kepadanya:Ulurkan tanganmu, aku akan membaiatmu dan orang akan berkata Paman Rasul membaiat sepupu Rasul, dan tidak akan ada yang berselisih denganmu!”, Ali menjawab: Wahai paman,apakah ada orang lain yang menginginkannya?’. Abbas menjawab: Kau akan tahu nanti! , Ali menjawab:Sedang saya tidak menginginkan jabatan ini melalui pintu belakang. Saya ingin semua dilakukan secara terbuka’. Abbas lalu diam.

Tatkala penyakit Rasulullah(sawa) semakin berat Rasul berseru agar mempercepat pasukan Usamah. Abu Bakar beserta tokoh-tokoh Muhajirin dan Anshar lainnya diarahkan oleh Rasul untuk turut serta di dalam pasukan itu. Maka Ali -yang tidak diikutkan Rasul dalam pasukan Usamah- dengan sendirinya akan menduduki jabatan khalifah itu -bila saat Rasulullah(sawa) tiba, – karena Madinah akan bebas dari orang-orang yang akan menentang Ali. Dan ia akan menerimaj abatan itu secara mulus dan bersih. Maka akan lengkaplah pembaiatan, dan tidak akan ada lawan yang menentangnya.

Itulah sebabnya Aisyah memanggil Abu Bakar dari pasukan Usamah yang sedang berkemah di Jurf -pada pagi hari Isnin, hari wafatnya Rasul dan bukan pada siang hari- dan memberitahu bahawa Rasulullah(sawa) sedang nazak.

Dan tentang mengimami shalat, Ali menyampaikan bahwa Aisyahlah yang memerintahkan Bilal, maula ayahnya, untuk memanggil ayahnya mengimami shalat, kerana Rasul(sawa) sebagaimana diriwayatkan telah bersabda: ‘Agar orang-orang shalat sendiri-sendiri’, dan Rasul tidak menunjuk seseorang untuk mengimami shalat. Shalat itu adalah shalat subuh. Karena ulah Aisyah itu maka Rasul memerlukan keluar, pada akhir hayatnya, dituntun oleh Ali dan Fadhl bin Abbas sampai ia berdiri di mihrab seperti diriwayatkan…’.

Setelah Abu Bakar dibaiat, Fathimah datang menuntut Fadak milik pribadi ayahnya tetapi Abu Bakar menolaknya dan mengatakan bahwa Nabi tidak mewariskan. Aisyah membantu ayahnya dengan membenarkan hadis tunggal yang disampaikan ayahnya bahwa ‘Nabi tidak mewariskan dan apa yang ia tinggalkan adalah sedekah’.

Kemudian Fathimah meninggal dunia dan semua wanita melawat ke rumah Banu Hasyim kecuali Aisyah. Ia tidak datang dan menyatakan bahwa ia sakit. Dan sampai berita kepada Ali bahwa Aisyah menunjukkan kegembiraan.

Kemudian Ali membaiat Abu Bakar dan Aisyah gembira. Sampai tiba berita Utsman dibunuh dan Aisyah orang yang paling kental menyuruh bunuh Utsman dengan mengatakan Utsman telah kafir. Mendengar demikian ia berseru: ‘Mampuslah ia!’ Dan ia mengharap Thalhah akan jadi khalifah. Setelah mengetahui Ali telah dibaiat dan bukan Thalhah, ia berteriak:Utsman telah dibunuh secara kejam dan menuduh Ali sebagai pembunuh dan meletuslah perang Jamal’. [ Ibn Abil Hadid , Nahjul Balaghah Jil. 2 hal. 192 -197] Demikian penjelasan Ibn Abil-Hadid.

Analisis Hadis Kitabullah Dan Sunnah

Salam wa rahmatollah. Bismillah.

Tajuk ini merupakan perbicaraan lama, yang pada mulanya, saya tidak mahu disentuh di dalam web ini. Ini kerana saya telah begitu menekankan hadis sebenar yang sahih lagi mutawattir adalah hadis Tsaqalain, yakni, Kitabullah dan itrati Ahlulbait. Bagaimanapun, kebelakangan ini, timbul kembali isu ini, tambahan pula ia ditimbukan oleh orang-orang yang suka-suka mendhaifkan sesuatu hadis, tanpa dalil yang mutlak, atau yang meyakinkan, demi mendhaifkan hadis Tsaqalain. Sia-sia. Ini adalah analisis hadis Kitabullah dan Sunnah, oleh saudara Secondprince. Selamat membaca.

Al Quranul Karim dan Sunnah Rasulullah SAW adalah landasan dan sumber syariat Islam. Hal ini merupakan kebenaran yang sifatnya pasti dan diyakini oleh umat Islam. Banyak ayat Al Quran yang memerintahkan umat Islam untuk berpegang teguh dengan Sunnah Rasulullah SAW, diantaranya

Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah dan bertakwalah kepada Allah .Sesungguhnya Allah sangat keras hukumanNya. (QS ; Al Hasyr 7).

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang berharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS ; Al Ahzab 21).

Barang siapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah .Dan barang siapa yang berpaling (dari ketaatan itu) maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka. (QS ; An Nisa 80).

Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan RasulNya agar Rasul menghukum (mengadili) diantara mereka ialah ucapan “kami mendengar dan kami patuh”. Dan mereka Itulah orang-orang yang beruntung. Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan RasulNya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepadaNya maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan. (QS ; An Nur 51-52).

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu Ketetapan , akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (QS ; Al Ahzab 36).

Jadi Sunnah Rasulullah SAW merupakan salah satu pedoman bagi umat islam di seluruh dunia. Berdasarkan ayat-ayat Al Quran di atas sudah cukup rasanya untuk membuktikan kebenaran hal ini. Tulisan ini akan membahas hadis “Kitabullah wa Sunnaty” yang sering dijadikan dasar bahwa kita harus berpedoman kepada Al Quran dan Sunnah Rasulullah SAW yaitu

Bahwa Rasulullah bersabda “Sesungguhnya Aku telah meninggalkan pada kamu sekalian dua perkara yang jika kamu pegang teguh pasti kamu sekalian tidak akan sesat selamanya yaitu Kitabullah dan SunahKu. Keduanya tidak akan berpisah hingga menemuiKu di Al Haudh.”.

Hadis “Kitabullah Wa Sunnaty” ini adalah hadis masyhur yang sering sekali didengar oleh umat Islam sehingga tidak jarang banyak yang beranggapan bahwa hadis ini adalah benar dan tidak perlu dipertanyakan lagi. Pada dasarnya kita umat Islam harus berpegang teguh kepada Al Quran dan As Sunnah yang merupakan dua landasan utama dalam agama Islam. Banyak dalil dalil shahih yang menganjurkan kita agar berpegang kepada As Sunnah baik dari Al Quran (seperti yang sudah disebutkan) ataupun dari hadis-hadis yang shahih. Sayangnya hadis”Kitabullah Wa Sunnaty” yang seringkali dijadikan dasar dalam masalah ini adalah hadis yang tidak shahih atau dhaif. Berikut adalah analisis terhadap sanad hadis ini.

Analisis Sumber Hadis “Kitab Allah dan SunahKu”

Hadis “Kitab Allah dan SunahKu” ini tidak terdapat dalam kitab hadis Kutub As Sittah(Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Ibnu Majah, Sunan An Nasa’i, Sunan Abu Dawud, dan Sunan Tirmidzi). Sumber dari Hadis ini adalah Al Muwatta Imam Malik,Mustadrak Ash Shahihain Al Hakim, At Tamhid Syarh Al Muwatta Ibnu Abdil Barr,Sunan Baihaqi, Sunan Daruquthni, dan Jami’ As Saghir As Suyuthi. Selain itu hadis ini juga ditemukan dalam kitab-kitab karya Ulama seperti , Al Khatib dalam Al Faqih Al MutafaqqihShawaiq Al Muhriqah Ibnu HajarSirah Ibnu Hisyam, Al Ilma ‘ila Ma’rifah Usul Ar Riwayah wa Taqyid As Sima’ karya Qadhi Iyadh, Al Ihkam Ibnu Hazm danTarikh At Thabari. Dari semua sumber itu ternyata hadis ini diriwayatkan dengan 4 jalur sanad yaitu dari Ibnu Abbas ra, Abu Hurairah ra, Amr bin Awf ra, dan Abu Said Al Khudri ra. Terdapat juga beberapa hadis yang diriwayatkan secara mursal (terputus sanadnya), mengenai hadis mursal ini sudah jelas kedhaifannya.

Hadis ini terbagi menjadi dua yaitu

  1. Hadis yang diriwayatkan dengan sanad yang mursal
  2. Hadis yang diriwayatkan dengan sanad yang muttasil atau bersambung

Hadis “Kitab Allah dan SunahKu” Yang Diriwayatkan Secara Mursal

Hadis “Kitab Allah dan SunahKu” yang diriwayatkan secara mursal ini terdapat dalam kitab Al Muwatta, Sirah Ibnu Hisyam, Sunan Baihaqi, Shawaiq Al Muhriqah, danTarikh At Thabari. Berikut adalah contoh hadisnya

Dalam Al Muwatta jilid I hal 899 no 3

Bahwa Rasulullah SAW bersabda” Wahai Sekalian manusia sesungguhnya Aku telah meninggalkan pada kamu apa yang jika kamu berpegang teguh pasti kamu sekalian tidak akan sesat selamanya yaitu Kitab Allah dan Sunah RasulNya”.

Dalam Al Muwatta hadis ini diriwayatkan Imam Malik tanpa sanad. Malik bin Anas adalah generasi tabiit tabiin yang lahir antara tahun 91H-97H. Jadi paling tidak ada dua perawi yang tidak disebutkan di antara Malik bin Anas dan Rasulullah SAW. Berdasarkan hal ini maka dapat dinyatakan bahwa hadis ini dhaif karena terputus sanadnya.

Dalam Sunan Baihaqi terdapat beberapa hadis mursal mengenai hal ini, diantaranya

Al Baihaqi dengan sanad dari Urwah bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda pada haji wada “ Sesungguhnya Aku telah meninggalkan sesuatu bagimu yang apabila berpegang teguh kepadanya maka kamu tidak akan sesat selamanya yaitu dua perkara Kitab Allah dan Sunnah NabiMu, Wahai umat manusia dengarkanlah olehmu apa yang aku sampaikan kepadamu, maka hiduplah kamu dengan berpegang kepadanya”.

Selain pada Sunan Baihaqi, hadis Urwah ini juga terdapat dalam Miftah Al Jannah hal 29 karya As Suyuthi. Urwah bin Zubair adalah dari generasi tabiin yang lahir tahun 22H, jadi Urwah belum lahir saat Nabi SAW melakukan haji wada oleh karena itu hadis di atas terputus, dan ada satu orang perawi yang tidak disebutkan, bisa dari golongan sahabat dan bisa juga dari golongan tabiin. Singkatnya hadis ini dhaif karena terputus sanadnya.

Al Baihaqi dengan sanad dari Ibnu Wahb yang berkata “Aku telah mendengar Malik bin Anas mengatakan berpegang teguhlah pada sabda Rasulullah SAW pada waktu haji wada yang berbunyi ‘Dua hal Aku tinggalkan bagimu dimana kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya yaitu Kitab Allah dan Sunnah NabiNya”.

Hadis ini tidak berbeza dengan hadis Al Muwatta, karena Malik bin Anas tidak bertemu Rasulullah SAW jadi hadis ini juga dhaif.

Dalam Sirah Ibnu Hisyam jilid 4 hal 185 hadis ini diriwayatkan dari Ibnu Ishaq yang berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda pada haji wada…..,Disini Ibnu Ishaq tidak menyebutkan sanad yang bersambung kepada Rasulullah SAW oleh karena itu hadis ini tidak dapat dijadikan hujjah. Dalam Tarikh At Thabari jilid 2 hal 205 hadis ini juga diriwayatkan secara mursal melalui Ibnu Ishaq dari Abdullah bin Abi Najih. Jadi kedua hadis ini dhaif. Mungkin ada yang beranggapan karena Sirah Ibnu Hisyam dari Ibnu Ishaq sudah menjadi kitab Sirah yang jadi pegangan oleh jumhur ulama maka adanya hadis itu dalam Sirah Ibnu Hisyam sudah cukup menjadi bukti kebenarannya. Jawaban kami adalah benar bahwa Sirah Ibnu Hisyam menjadi pegangan oleh jumhur ulama, tetapi dalam kitab ini hadis tersebut terputus sanadnya jadi tentu saja dalam hal ini hadis tersebut tidak dapat dijadikan hujjah.

Sebuah Pembelaan dan Kritik

Hafiz Firdaus dalam bukunya Kaidah Memahami Hadis-hadis yang Bercanggah telah membahas hadis dalam Al Muwatta dan menanggapi pernyataan Syaikh Hasan As Saqqaf dalam karyanya Shahih Sifat shalat An Nabiy (dalam kitab ini As Saqqaf telah menyatakan hadis Kitab Allah dan SunahKu ini sebagai hadis yang dhaif ). Sebelumnya berikut akan dituliskan pendapat Hafiz Firdaus tersebut.

Bahwa Rasulullah bersabda “wahai sekalian manusia sesungguhnya Aku telah meninggalkan pada kamu apa yang jika kamu pegang teguh pasti kamu sekalian tidak akan sesat selamanya yaitu Kitabullah dan Sunah Rasul-Nya”

Hadis ini sahih: Dikeluarkan oleh Malik bin Anas dalam al-Muwattha’ – no: 1619 (Kitab al-Jami’, Bab Larangan memastikan Takdir). Berkata Malik apabila mengemukakan riwayat ini: Balghni………bererti “disampaikan kepada aku” (atau dari sudut catatan anak murid beliau sendiri: Dari Malik, disampaikan kepadanya………). Perkataan seperti ini memang khas di zaman awal Islam (sebelum 200H) menandakan bahawa seseorang itu telah menerima sesebuah hadis daripada sejumlah tabi’in, dari sejumlah sahabat dari jalan-jalan yang banyak sehingga tidak perlu disertakan sanadnya. Lebih lanjut lihat Qadi ‘Iyadh Tartib al-Madarik, jld 1, ms 136; Ibn ‘Abd al-Barr al Tamhid, jld 1, ms 34; al-Zarqani Syarh al Muwattha’, jld 4, ms 307 dan Hassath binti ‘Abd al-’Aziz Sagheir Hadis Mursal baina Maqbul wa Mardud, jld 2, ms 456-470.

Hasan ‘Ali al-Saqqaf dalam bukunya Shalat Bersama Nabi SAW (edisi terj. dari Sahih Sifat Solat Nabi), ms 269-275 berkata bahwa hadis ini sebenarnya adalah maudhu’. Isnadnya memiliki perawi yang dituduh pendusta manakala maksudnya tidak disokongi oleh mana-mana dalil lain. Beliau menulis: Sebenarnya hadis yang tsabit dan sahih adalah hadis yang berakhir dengan “wa ahli baiti” (sepertimana Khutbah C – penulis). Sedangkan yang berakhir dengan kata-kata “wa sunnati” (sepertimana Khutbah B) adalah batil dari sisi matan dan sanadnya.

Nampaknya al-Saqqaf telah terburu-buru dalam penilaian ini kerana beliau hanya menyimak beberapa jalan periwayatan dan meninggalkan yang selainnya, terutamanya apa yang terkandung dalam kitab-kitab Musannaf, Mu’jam dan Tarikh (Sejarah). Yang lebih berat adalah beliau telah menepikan begitu sahaja riwayat yang dibawa oleh Malik di dalam kitab al-Muwattha’nya atas alasan ianya adalah tanpa sanad padahal yang benar al-Saqqaf tidak mengenali kaedah-kaedah periwayatan hadis yang khas di sisi Malik bin Anas dan tokoh-tokoh hadis di zamannya.

Kritik kami adalah sebagai berikut, tentang kata-kata hadis riwayat Al Muwatta adalah shahih karena pernyataan Balghni atau “disampaikan kepada aku” dalam hadis riwayat Imam Malik ini adalah khas di zaman awal Islam (sebelum 200H) menandakan bahwa seseorang itu telah menerima sesebuah hadis daripada sejumlah tabi’in, dari sejumlah sahabat dari jalan-jalan yang banyak sehingga tidak perlu disertakan sanadnya. Maka Kami katakan, Kaidah periwayatan hadis dengan pernyataan Balghni atau “disampaikan kepadaku” memang terdapat di zaman Imam Malik. Hal ini juga dapat dilihat dalam Kutub As Sunnah Dirasah Watsiqiyyah oleh Rif’at Fauzi Abdul Muthallib hal 20, terdapat kata kata Hasan Al Bashri

“Jika empat shahabat berkumpul untuk periwayatan sebuah hadis maka saya tidak menyebut lagi nama shahabat”.Ia juga pernah berkata”Jika aku berkata hadatsana maka hadis itu saya terima dari fulan seorang tetapi bila aku berkata qala Rasulullah SAW maka hadis itu saya dengar dari 70 orang shahabat atau lebih”.

Tetapi adalah tidak benar mendakwa suatu hadis sebagai shahih hanya dengan pernyataan “balghni”. Hal ini jelas bertentangan dengan kaidah jumhur ulama tentang persyaratan hadis shahih seperti yang tercantum dalam Muqaddimah Ibnu Shalah fi Ulumul Hadis yaitu

Hadis shahih adalah Hadis yang muttashil (bersambung sanadnya) disampaikan oleh setiap perawi yang adil(terpercaya) lagi dhabit sampai akhir sanadnya dan hadis itu harus bebas dari syadz dan Illat.

Dengan kaidah Inilah as Saqqaf telah menepikan hadis al Muwatta tersebut karena memang hadis tersebut tidak ada sanadnya. Yang aneh justru pernyataan Hafiz yang menyalahkan As Saqqaf dengan kata-kata padahal yang benar al-Saqqaf tidak mengenali kaedah-kaedah periwayatan hadis yang khas di sisi Malik bin Anas dan tokoh-tokoh hadis di zamannya.

Pernyataan Hafiz di atas menunjukan bahwa Malik bin Anas dan tokoh hadis zamannya (sekitar 93H-179H) jika meriwayatkan hadis dengan pernyataan telah disampaikan kepadaku bahwa Rasulullah SAW atau Qala Rasulullah SAW tanpa menyebutkan sanadnya maka hadis tersebut adalah shahih. Pernyataan ini jelas aneh dan bertentangan dengan kaidah jumhur ulama hadis. Sekali lagi hadis itu mursal atau terputus dan hadis mursal tidak bisa dijadikan hujjah karena kemungkinan dhaifnya. Karena bisa jadi perawi yang terputus itu adalah seorang tabiin yang bisa jadi dhaif atau tsiqat, jika tabiin itu tsiqatpun dia kemungkinan mendengar dari tabiin lain yang bisa jadi dhaif atau tsiqat dan seterusnya kemungkinan seperti itu tidak akan habis-habis. Sungguh sangat tidak mungkin mendakwa hadis mursal sebagai shahih “Hanya karena terdapat dalam Al Muwatta Imam Malik”.

Hal yang kami jelaskan itu juga terdapat dalam Ilmu Mushthalah Hadis oleh A Qadir Hassan hal 109 yang mengutip pernyataan Ibnu Hajar yang menunjukkan tidak boleh menjadikan hadis mursal sebagai hujjah, Ibnu Hajar berkata

”Boleh jadi yang gugur itu shahabat tetapi boleh jadi juga seorang tabiin .Kalau kita berpegang bahwa yang gugur itu seorang tabiin boleh jadi tabiin itu seorang yang lemah tetapi boleh jadi seorang kepercayaan. Kalau kita andaikan dia seorang kepercayaan maka boleh jadi pula ia menerima riwayat itu dari seorang shahabat, tetapi boleh juga dari seorang tabiin lain”.

Lihat baik-baik walaupun yang meriwayatkan hadis mursal itu adalah tabiin tetap saja dinyatakan dhaif apalagi Malik bin Anas yang seorang tabiit tabiin maka akan jauh lebih banyak kemungkinan dhaifnya. Pernyataan yang benar tentang hadis mursal Al Muwatta adalah hadis tersebut shahih jika terdapat hadis lain yang bersambung dan shahih sanadnya yang menguatkan hadis mursal tersebut di kitab-kitab lain. Jadi adalah kekeliruan menjadikan hadis mursal shahih hanya karena terdapat dalam Al Muwatta.

Hadis “Kitab Allah dan SunahKu” Yang Diriwayatkan Dengan Sanad Yang Bersambung.

Telah dinyatakan sebelumnya bahwa dari sumber-sumber yang ada ternyata ada 4 jalan sanad hadis “Kitab Allah dan SunahKu”. 4 jalan sanad itu adalah
1. Jalur Ibnu Abbas ra
2. Jalur Abu Hurairah ra
3. Jalur Amr bin Awf ra
4. Jalur Abu Said Al Khudri ra

Jalan Sanad Ibnu Abbas

Hadis “Kitab Allah dan SunahKu” dengan jalan sanad dari Ibnu Abbas dapat ditemukan dalam Kitab Al Mustadrak Al Hakim jilid I hal 93 dan Sunan Baihaqi juz 10 hal 4 yang pada dasarnya juga mengutip dari Al Mustadrak. Dalam kitab-kitab ini sanad hadis itu dari jalan Ibnu Abi Uwais dari Ayahnya dari Tsaur bin Zaid Al Daily dari Ikrimah dari Ibnu Abbas

bahwa Rasulullah SAW bersabda “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Aku telah meninggalkan pada kamu apa yang jika kamu pegang teguh pasti kamu sekalian tidak akan sesat selamanya yaitu Kitab Allah dan Sunnah RasulNya”.

Hadis ini adalah hadis yang dhaif karena terdapat kelemahan pada dua orang perawinya yaitu Ibnu Abi Uwais dan Ayahnya.

1. Ibnu Abi Uwais

  • Dalam kitab Tahdzib Al Kamal karya Al Hafiz Ibnu Zakki Al Mizzy jilid III hal 127 mengenai biografi Ibnu Abi Uwais terdapat perkataan orang yang mencelanya, diantaranya Berkata Muawiyah bin Salih dari Yahya bin Mu’in “Abu Uwais dan putranya itu keduanya dhaif(lemah)”. Dari Yahya bin Mu’in bahwa Ibnu Abi Uwais dan ayahnya suka mencuri hadis, suka mengacaukan(hafalan) hadis atau mukhallith dan suka berbohong. Menurut Abu Hatim Ibnu Abi Uwais itu mahalluhu ash shidq atau tempat kejujuran tetapi dia terbukti lengah. An Nasa’i menilai Ibnu Abi Uwais dhaif dan tidak tsiqah. Menurut Abu Al Qasim Al Alkaiy “An Nasa’i sangat jelek menilainya (Ibnu Abi Uwais) sampai ke derajat matruk(ditinggalkan hadisnya)”. Ahmad bin Ady berkata “Ibnu Abi Uwais itu meriwayatkan dari pamannya Malik beberapa hadis gharib yang tidak diikuti oleh seorangpun.”
  • Dalam Muqaddimah Al Fath Al Bary halaman 391 terbitan Dar Al Ma’rifah, Al Hafiz Ibnu Hajar mengenai Ibnu Abi Uwais berkata ”Atas dasar itu hadis dia (Ibnu Abi Uwais) tidak dapat dijadikan hujjah selain yang terdapat dalam As Shahih karena celaan yang dilakukan Imam Nasa’i dan lain-lain”.
  • Dalam Fath Al Mulk Al Aly halaman 15, Al Hafiz Sayyid Ahmad bin Shiddiq mengatakan “berkata Salamah bin Syabib Aku pernah mendengar Ismail bin Abi Uwais mengatakan “mungkin aku membuat hadis untuk penduduk madinah jika mereka berselisih pendapat mengenai sesuatu di antara mereka”.

Jadi Ibnu Abi Uwais adalah perawi yang tertuduh dhaif, tidak tsiqat, pembohong, matruk dan dituduh suka membuat hadis. Ada sebagian orang yang membela Ibnu Abi Uwais dengan mengatakan bahwa dia adalah salah satu Rijal atau perawi Shahih Bukhari oleh karena itu hadisnya bisa dijadikan hujjah. Pernyataan ini jelas tertolak karena Bukhari memang berhujjah dengan hadis Ismail bin Abi Uwais tetapi telah dipastikan bahwa Ibnu Abi Uwais adalah perawi Bukhari yang diperselisihkan oleh para ulama hadis. Seperti penjelasan di atas terdapat jarh atau celaan yang jelas oleh ulama hadis seperti Yahya bin Mu’in, An Nasa’i dan lain-lain. Dalam prinsip Ilmu Jarh wat Ta’dil celaan yang jelas didahulukan dari pujian(ta’dil). Oleh karenanya hadis Ibnu Abi Uwais tidak bisa dijadikan hujjah. Mengenai hadis Bukhari dari Ibnu Abi Uwais, hadis-hadis tersebut memiliki mutaba’ah atau pendukung dari riwayat-riwayat lain sehingga hadis tersebut tetap dinyatakan shahih. Lihat penjelasan Al Hafiz Ibnu Hajar dalam Al Fath Al Bary Syarh Shahih Bukhari, Beliau mengatakan bahwa hadis Ibnu Abi Uwais selain dalam As Shahih(Bukhari dan Muslim) tidak bisa dijadikan hujjah. Dan hadis yang dibicarakan ini tidak terdapat dalam kedua kitab Shahih tersebut, hadis ini terdapat dalam Mustadrak dan Sunan Baihaqi.

2. Abu Uwais

  • Dalam kitab Al Jarh Wa At Ta’dil karya Ibnu Abi Hatim jilid V hal 92, Ibnu Abi Hatim menukil dari ayahnya Abu Hatim Ar Razy yang berkata mengenai Abu Uwais “Ditulis hadisnya tetapi tidak dapat dijadikan hujjah dan dia tidak kuat”.Ibnu Abi Hatim menukil dari Yahya bin Mu’in yang berkata “Abu Uwais tidak tsiqah”.
  • Dalam kitab Tahdzib Al Kamal karya Al Hafiz Ibnu Zakki Al Mizzy jilid III hal 127 Berkata Muawiyah bin Salih dari Yahya bin Mu’in “Abu Uwais dan putranya itu keduanya dhaif(lemah)”. Dari Yahya bin Mu’in bahwa Ibnu Abi Uwais dan ayahnya(Abu Uwais) suka mencuri hadis, suka mengacaukan(hafalan) hadis atau mukhallith dan suka berbohong.

Dalam Al Mustadrak jilid I hal 93, Al Hakim tidak menshahihkan hadis ini. Beliau mendiamkannya dan mencari syahid atau penguat bagi hadis tersebut, Beliau berkata”Saya telah menemukan syahid atau saksi penguat bagi hadis tersebut dari hadis Abu Hurairah ra”. Mengenai hadis Abu Hurairah ra ini akan dibahas nanti, yang penting dari pernyataan itu secara tidak langsung Al Hakim mengakui kedhaifan hadis Ibnu Abbas tersebut oleh karena itu beliau mencari syahid penguat untuk hadis tersebut .Setelah melihat kedudukan kedua perawi hadis Ibnu Abbas tersebut maka dapat disimpulkan bahwa hadis ”Kitab Allah dan SunahKu” dengan jalan sanad dari Ibnu Abbas adalah dhaif.

Jalan Sanad Abu Hurairah ra

Hadis “Kitab Allah dan SunahKu” dengan jalan sanad Abu Hurairah ra terdapat dalam Al Mustadrak Al Hakim jilid I hal 93, Sunan Al Kubra Baihaqi juz 10, Sunan DaruquthniIV hal 245, Jami’ As Saghir As Suyuthi(no 3923), Al Khatib dalam Al Faqih Al Mutafaqqih jilid I hal 94, At Tamhid XXIV hal 331 Ibnu Abdil Barr, dan Al Ihkam VI hal 243 Ibnu Hazm.
Jalan sanad hadis Abu Hurairah ra adalah sebagi berikut, diriwayatkan melalui Al Dhaby yang berkata telah menghadiskan kepada kami Shalih bin Musa At Thalhy dari Abdul Aziz bin Rafi’dari Abu Shalih dari Abu Hurairah ra

bahwa Rasulullah SAW bersabda “Bahwa Rasulullah bersabda “Sesungguhnya Aku telah meninggalkan pada kamu sekalian dua perkara yang jika kamu pegang teguh pasti kamu sekalian tidak akan sesat selamanya yaitu Kitabullah dan SunahKu.Keduanya tidak akan berpisah hingga menemuiKu di Al Haudh”.

Hadis di atas adalah hadis yang dhaif karena dalam sanadnya terdapat perawi yang tidak bisa dijadikan hujjah yaitu Shalih bin Musa At Thalhy.

  • Dalam Kitab Tahdzib Al Kamal ( XIII hal 96) berkata Yahya bin Muin bahwa riwayat hadis Shalih bin Musa bukan apa-apa. Abu Hatim Ar Razy berkatahadis Shalih bin Musa dhaif. Imam Nasa’i berkata hadis Shalih bin Musa tidak perlu ditulis dan dia itu matruk al hadis(ditinggalkan hadisnya).
  • Al Hafiz Ibnu Hajar Al Asqalany dalam kitabnya Tahdzib At Tahdzib IV hal 355 menyebutkan Ibnu Hibban berkata bahwa Shalih bin Musa meriwayatkan dari tsiqat apa yang tidak menyerupai hadis itsbat(yang kuat) sehingga yang mendengarkannya bersaksi bahwa riwayat tersebut ma’mulah (diamalkan) atau maqbulah (diterima) tetapi tidak dapat dipakai untuk berhujjah. Abu Nu’aim berkata Shalih bin Musa itu matruk Al Hadis sering meriwayatkan hadis mungkar.
  • Dalam At Taqrib (Tarjamah :2891) Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqallany menyatakan bahwa Shalih bin Musa adalah perawi yang matruk(harus ditinggalkan).
  • Al Dzahaby dalam Al Kasyif (2412) menyebutkan bahwa Shalih bin Musa itu wahin (lemah).
  • Dalam Al Qaulul Fashl jilid 2 hal 306 Sayyid Alwi bin Thahir ketika mengomentari Shalih bin Musa, beliau menyatakan bahwa Imam Bukhari berkata”Shalih bin Musa adalah perawi yang membawa hadis-hadis mungkar”.

Kalau melihat jarh atau celaan para ulama terhadap Shalih bin Musa tersebut maka dapat dinyatakan bahwa hadis “Kitab Allah dan SunahKu” dengan sanad dari Abu Hurairah ra di atas adalah hadis yang dhaif. Adalah hal yang aneh ternyata As Suyuthi dalam Jami’ As Saghir menyatakan hadis tersebut hasan, Al Hafiz Al Manawi menshahihkannya dalam Faidhul Qhadir Syarah Al Jami’Ash Shaghir dan Al Albani juga telah memasukkan hadis ini dalam Shahih Jami’ As Saghir. Begitu pula yang dinyatakan oleh Al Khatib dan Ibnu Hazm. Menurut kami penshahihan hadis tersebut tidak benar karena dalam sanad hadis tersebut terdapat cacat yang jelas pada perawinya, Bagaimana mungkin hadis tersebut shahih jika dalam sanadnya terdapat perawi yang matruk, mungkar al hadis dan tidak bisa dijadikan hujjah. Nyata sekali bahwa ulama-ulama yang menshahihkan hadis ini telah bertindak longgar(tasahul) dalam masalah ini.

Mengapa para ulama itu bersikap tasahul dalam penetapan kedudukan hadis ini?. Hal ini mungkin karena matan hadis tersebut adalah hal yang tidak perlu dipermasalahkan lagi. Tetapi menurut kami matan hadis tersebut yang benar dan shahih adalah dengan matan hadis yang sama redaksinya hanya perbedaan pada“Kitab Allah dan SunahKu” menjadi “Kitab Allah dan Itrah Ahlul BaitKu”. Hadis dengan matan seperti ini salah satunya terdapat dalam Shahih Sunan Tirmidzi no 3786 & 3788 yang dinyatakan shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Tirmidzi.Kalau dibandingkan antara hadis ini dengan hadis Abu Hurairah ra di atas dapat dipastikan bahwa hadis Shahih Sunan Tirmidzi ini jauh lebih shahih kedudukannya karena semua perawinya tsiqat. Sedangkan hadis Abu Hurairah ra di atas terdapat cacat pada salah satu perawinya yaitu Shalih bin Musa At Thalhy.

Adz Dzahabi dalam Al Mizan Al I’tidal jilid II hal 302 berkata bahwa hadis Shalih bin Musa tersebut termasuk dari kemunkaran yang dilakukannya. Selain itu hadis riwayat Abu Hurairah ini dinyatakan dhaif oleh Hasan As Saqqaf dalam Shahih Sifat Shalat An Nabiy setelah beliau mengkritik Shalih bin Musa salah satu perawi hadis tersebut. Jadi pendapat yang benar dalam masalah ini adalah hadis riwayat Abu Hurairah tersebut adalah dhaif sedangkan pernyataan As Suyuthi, Al Manawi, Al Albani dan yang lain bahwa hadis tersebut shahih adalah keliru karena dalam rangkaian sanadnya terdapat perawi yang sangat jelas cacatnya sehingga tidak mungkin bisa dikatakan shahih.

Jalan Sanad Amr bin Awf ra

Hadis “Kitab Allah dan SunahKu” dengan jalan sanad dari Amr bin Awf terdapat dalam kitab At Tamhid XXIV hal 331 Ibnu Abdil Barr. Telah menghadiskan kepada kami Abdurrahman bin Yahya, dia berkata telah menghadiskan kepada kami Ahmad bin Sa’id, dia berkata telah menghadiskan kepada kami Muhammad bin Ibrahim Al Daibaly, dia berkata telah menghadiskan kepada kami Ali bin Zaid Al Faridhy, dia berkata telah menghadiskan kepada kami Al Haniny dari Katsir bin Abdullah bin Amr bin Awf dari ayahnya dari kakeknya

Bahwa Rasulullah bersabda “wahai sekalian manusia sesungguhnya Aku telah meninggalkan pada kamu apa yang jika kamu pegang teguh pasti kamu sekalian tidak akan sesat selamanya yaitu Kitabullah dan Sunah Rasul-Nya.


Hadis ini adalah hadis yang dhaif karena dalam sanadnya terdapat cacat pada perawinya yaitu Katsir bin Abdullah .

  • Dalam Mizan Al Itidal (biografi Katsir bin Abdullah no 6943) karya Adz Dzahabi terdapat celaan pada Katsir bin Abdullah. Menurut Daruquthni Katsir bin Abdullah adalah matruk al hadis(ditinggalkan hadisnya). Abu Hatim menilai Katsir bin Abdullah tidak kuat. An Nasa’i menilai Katsir bin Abdullah tidak tsiqah.
  • Dalam At Taqrib at Tahdzib, Ibnu Hajar menyatakan Katsir bin Abdullah dhaif.
  • Dalam Al Kasyf Adz Dzahaby menilai Katsir bin Abdullah wahin(lemah).
  • Dalam Al Majruhin Ibnu Hibban juz 2 hal 221, Ibnu Hibban berkata tentang Katsir bin Abdullah “Hadisnya sangat mungkar” dan “Dia meriwayatkan hadis-hadis palsu dari ayahnya dari kakeknya yang tidak pantas disebutkan dalam kitab-kitab maupun periwayatan”
  • Dalam Al Majruhin Ibnu Hibban juz 2 hal 221, Yahya bin Main berkata “Katsir lemah hadisnya”
  • Dalam Kitab Al Jarh Wat Ta’dil biografi no 858, Abu Zur’ah berkata “Hadisnya tidak ada apa-apanya, dia tidak kuat hafalannya”.
  • Dalam Adh Dhu’afa Al Kabir Al Uqaili (no 1555), Mutharrif bin Abdillah berkata tentang Katsir “Dia orang yang banyak permusuhannya dan tidak seorangpun sahabat kami yang mengambil hadis darinya”.
  • Dalam Al Kamil Fi Dhu’afa Ar Rijal karya Ibnu Adi juz 6 hal 63, Ibnu Adi berkata perihal Katsir “Dan kebanyakan hadis yang diriwayatkannya tidak bisa dijadikan pegangan”.
  • Dalam Al Kamil Fi Dhu’afa Ar Rijal karya Ibnu Adi juz 6 hal 63, Abu Khaitsamah berkata “Ahmad bin Hanbal berkata kepadaku : jangan sedikitpun engkau meriwayatkan hadis dari Katsir bin Abdullah”.
  • Dalam Ad Dhu’afa Wal Matrukin Ibnu Jauzi juz III hal 24 terdapat perkataan Imam Syafii perihal Katsir bin Abdullah “Katsir bin Abdullah Al Muzanni adalah satu pilar dari berbagai pilar kedustaan”

Jadi hadis Amr bin Awf ini sangat jelas kedhaifannya karena dalam sanadnya terdapat perawi yang matruk, dhaif atau tidak tsiqah dan pendusta.

Jalur Abu Said Al Khudri ra

Hadis “Kitab Allah dan SunahKu” dengan jalan sanad dari Abu Said Al Khudri ra terdapat dalam Al Faqih Al Mutafaqqih jilid I hal 94 karya Al Khatib Baghdadi dan Al Ilma ‘ila Ma’rifah Usul Ar Riwayah wa Taqyid As Sima’ karya Qadhi Iyadh dengan sanad dari Saif bin Umar dari Ibnu Ishaq Al Asadi dari Shabbat bin Muhammad dari Abu Hazm dari Abu Said Al Khudri ra.

Dalam rangkaian perawi ini terdapat perawi yang benar-benar dhaif yaitu Saif bin Umar At Tamimi.

  • Dalam Mizan Al I’tidal no 3637 Yahya bin Mu’in berkata “Saif daif dan riwayatnya tidak kuat”.
  • Dalam Ad Dhu’afa Al Matrukin no 256, An Nasa’i mengatakan kalau Saif bin Umar adalah dhaif.
  • Dalam Al Majruhin no 443 Ibnu Hibban mengatakan Saif merujukkan hadis-hadis palsu pada perawi yang tsabit, ia seorang yang tertuduh zindiq dan seorang pemalsu hadis.
  • Dalam Ad Dhu’afa Abu Nu’aim no 95, Abu Nu’aim mengatakan kalau Saif bin Umar adalah orang yang tertuduh zindiq, riwayatnya jatuh dan bukan apa-apanya.
  • Dalam Tahzib At Tahzib juz 4 no 517 Abu Dawud berkata kalau Saif bukan apa-apa, Abu Hatim berkata “ia matruk”, Ad Daruquthni menyatakannya dhaif dan matruk. Al Hakim mengatakan kalau Saif tertuduh zindiq dan riwayatnya jatuh. Ibnu Adi mengatakan kalau hadisnya dikenal munkar dan tidak diikuti seorangpun.


Jadi jelas sekali kalau hadis Abu Said Al Khudri ra ini adalah hadis yang dhaif karena kedudukan Saif bin Umar yang dhaif di mata para ulama.

Hadis Tersebut Dhaif

Dari semua pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa hadis “Kitab Allah dan SunahKu” ini adalah hadis yang dhaif. Sebelum mengakhiri tulisan ini akan dibahas terlebih dahulu pernyataan Ali As Salus dalam Al Imamah wal Khilafah yang menyatakan shahihnya hadis “Kitab Allah Dan SunahKu”.
Ali As Salus menyatakan bahwa hadis riwayat Imam Malik adalah shahih walaupun dalam Al Muwatta hadis ini mursal. Beliau menyatakan bahwa hadis ini dikuatkan oleh hadis Abu Hurairah yang telah dishahihkan oleh As Suyuthi,Al Manawi dan Al Albani. Selain itu hadis mursal dalam Al Muwatta adalah shahih menurutnya dengan mengutip pernyataan Ibnu Abdil Barr yang menyatakan bahwa semua hadis mursal Imam Malik adalah shahih dan pernyataan As Suyuthi bahwa semua hadis mursal dalam Al Muwatta memiliki sanad yang bersambung yang menguatkannya dalam kitab-kitab lain.

Tanggapan Terhadap Ali As Salus

Pernyataan pertama bahwa hadis Malik bin Anas dalam Al Muwatta adalah shahih walaupun mursal adalah tidak benar. Hal ini telah dijelaskan dalam tanggapan kami terhadap Hafiz Firdaus bahwa hadis mursal tidak bisa langsung dinyatakan shahih kecuali terdapat hadis shahih(bersambung sanadnya) lain yang menguatkannya. Dan kenyataannya hadis yang jadi penguat hadis mursal Al Muwatta ini adalah tidak shahih. Pernyataan  Ali As Salus selanjutnya bahwa hadis ini dikuatkan oleh hadis Abu Hurairah ra adalah tidak tepat karena seperti yang sudah dijelaskan, dalam sanad hadis Abu Hurairah ra ada Shalih bin Musa yang tidak dapat dijadikan hujjah.

Ali As Salus menyatakan bahwa hadis mursal Al Muwatta shahih berdasarkan

  • Pernyataan Ibnu Abdil Barr yang menyatakan bahwa semua hadis mursal Imam Malik adalah shahih dan
  • Pernyataan As Suyuthi bahwa semua hadis mursal dalam Al Muwatta memiliki sanad yang bersambung yang menguatkannya dalam kitab-kitab lain.

Mengenai pernyataan Ibnu Abdil Barr tersebut, jelas itu adalah pendapatnya sendiri dan mengenai hadis “Kitab Allah dan SunahKu” yang mursal dalam Al Muwatta Ibnu Abdil Barr telah mencari sanad hadis ini dan memuatnya dalam kitabnya At Tamhid dan beliau menshahihkannya. Setelah dilihat ternyata hadis dalam At Tamhid tersebut tidaklah shahih karena cacat yang jelas pada perawinya.

Begitu pula pernyataan As Suyuthi yang dikutip Ali As Salus di atas itu adalah pendapat beliau sendiri dan As Suyuthi telah menjadikan hadis Abu Hurairah ra sebagai syahid atau pendukung hadis mursal Al Muwatta seperti yang beliau nyatakan dalam Jami’ As Saghir dan beliau menyatakan hadis tersebut hasan. Setelah ditelaah ternyata hadis Abu Hurairah ra itu adalah dhaif. Jadi Kesimpulannya tetap saja hadis “Kitab Allah dan SunahKu” adalah hadis yang dhaif.

Salah satu bukti bahwa tidak semua hadis mursal Al Muwatta shahih adalah apa yang dikemukakan oleh Syaikh Al Albani dalam Silisilatul Al Hadits Adh Dhaifah Wal Maudhuah hadis no 908

Nabi Isa pernah bersabda”Janganlah kalian banyak bicara tanpa menyebut Allah karena hati kalian akan mengeras.Hati yang keras jauh dari Allah namun kalian tidak mengetahuinya.Dan janganlah kalian mengamati dosa-dosa orang lain seolah-olah kalian Tuhan,akan tetapi amatilah dosa-dosa kalian seolah kalian itu hamba. Sesungguhnya setiap manusia itu diuji dan selamat maka kasihanilah orang-orang yang tengah tertimpa malapetaka dan bertahmidlah kepada Allah atas keselamatan kalian”.

Riwayat ini dikemukakan Imam Malik dalam Al Muwatta jilid II hal 986 tanpa sanad yang pasti tetapi Imam Malik menempatkannya dalam deretan riwayat–riwayat yang muttashil(bersambung) atau marfu’ sanadnya sampai ke Rasulullah SAW.

Syaikh Al Albani berkata tentang hadis ini

”Sekali lagi saya tegaskan memarfu’kan riwayat ini sampai kepada Nabi adalah kesalahan yang menyesatkan dan tidak syak lagi merupakan kedustaan yang nyata-nyata dinisbatkan kepada beliau padahal beliau terbebas darinya”.

Pernyataan ini menunjukkan bahwa Syaikh Al Albani tidaklah langsung menyatakan bahwa hadis ini shahih hanya karena Imam Malik menempatkannya dalam deretan riwayat–riwayat yang muttashil atau marfu’ sanadnya sampai ke Rasulullah SAW. Justru Syaikh Al Albani menyatakan bahwa memarfu’kan hadis ini adalah kedustaan atau kesalahan yang menyesatkan karena berdasarkan penelitian beliau tidak ada sanad yang bersambung kepada Rasulullah SAW mengenai hadis ini.

Yang Aneh adalah pernyataan Ali As Salus dalam Imamah Wal Khilafah yang menyatakan bahwa hadis dengan matan “Kitab Allah dan Itrah Ahlul BaitKu” adalah dhaif dan yang shahih adalah hadis dengan matan “Kitab Allah dan SunahKu”. Hal ini jelas sangat tidak benar karena hadis dengan matan “Kitab Allah dan SunahKu”sanad-sanadnya tidak shahih seperti yang sudah dijelaskan dalam pembahasan di atas. Sedangkan hadis dengan matan “Kitab Allah dan Itrah Ahlul BaitKu” adalah hadis yang diriwayatkan banyak shahabat dan sanadnya jauh lebih kuat dari hadis dengan matan “Kitab Allah dan SunahKu”.

Jadi kalau hadis dengan matan “Kitab Allah dan SunahKu” dinyatakan shahih maka hadis dengan matan “Kitab Allah dan Itrah Ahlul BaitKu” akan jadi jauh lebih shahih. Ali As Salus dalam Imamah wal Khilafah telah membandingkan kedua hadis tersebut dengan metod yang tidak berimbang. Untuk hadis dengan matan “Kitab Allah dan Itrah Ahlul BaitKu” beliau mengkritik habis-habisan bahkan dengan kritik yang tidak benar sedangkan untuk hadis dengan matan “Kitab Allah dan SunahKu” beliau bertindak longgar(tasahul) dan berhujjah dengan pernyataan ulama lain yang juga telah memudahkan dalam penshahihan hadis tersebut. 

Wallahu’alam.

HADITS sunni :

Al Muwatho’

Shohih Bukhori

Shohih Muslim

Al Mustadrok

Sunan Abu Daud

Sunan Nasa’i

Sunan Tirmidzy

Sunan Daruquthny

Sunan Ahmad

Sunan Syafi’i

Sunan Abdur Rozaq

Sunan Ibnu Majah

.
TAFSIR

Versi  syi’ah, didalam  ALQURAN tidak ada satupun ayat  yang menyatakan  “sahabat Nabi  SAW yang  menentang imamah Ali  dijamin surga !!”

Tafsir Ibnu Katsir
Tafsir Qurtuby  
Tafsir Thobary
Tafsir Jalalain
Tafsir Baidhowi

Tidakkah anda heran kenapa kitab kitab hadis sunni edisi lengkap sengaja disembunyikan ???

Datanglah ke pesantren , adakah barang tersebut ???

Tidakkah anda heran kenapa kitab kitab hadis banyak diedit dan diringkas ???

Tidakkkah anda heran kenapa banyak hadis disembunyikan ulama ??

Sehingga anda terkejut kejut, kok hadis ini ada padahal dulu tidak dinamppakkan para ustad..

Motifnya : motif politik agar mazhab sunni tetap tegak…

Jika kitab hadis beredar sesuai asli, maka akan nampak kontradiksi dan pertentangan antar hadis

Jika kitab hadis beredar sesuai asli, maka akan nampak  kebenaran syi’ah..

Ini bukan fitnah apalagi provokasi

Kedudukan Hadis “Imam Ali Pemimpin Bagi Setiap Mukmin Sepeninggal Nabi SAW”

Diriwayatkan dengan berbagai jalan yang shahih dan hasan bahwa Rasulullah SAW bersabda kalau Imam Ali adalah Pemimpin bagi setiap mukmin sepeninggal Beliau SAW. Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imran bin Hushain RA, Buraidah RA, Ibnu Abbas RA dan Wahab bin Hamzah RA. Rasulullah SAW bersabda

إن عليا مني وأنا منه وهو ولي كل مؤمن بعدي

Ali dari Ku dan Aku darinya dan Ia adalah Pemimpin bagi setiap mukmin sepeninggalKu.

.

Takhrij Hadis

Hadis di atas adalah lafaz riwayat Imran bin Hushain RA. Disebutkan dalam Musnad Abu Dawud Ath Thayalisi 1/111 no 829, Sunan Tirmidzi 5/296, Sunan An Nasa’i 5/132 no 8474, Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 7/504, Musnad Abu Ya’la 1/293 no 355, Shahih Ibnu Hibban 15/373 no 6929, Mu’jam Al Kabir Ath Thabrani 18/128, dan As Sunnah Ibnu Abi Ashim no 1187. Semuanya dengan jalan sanad yang berujung pada Ja’far bin Sulaiman dari Yazid Ar Risyk dari Mutharrif bin Abdullah bin Syikhkhir Al Harasy dari Imran bin Hushain RA. Berikut sanad Abu Dawud

حدثنا جعفر بن سليمان الضبعي ، حدثنا يزيد الرشك ، عن مطرف بن عبد الله بن الشخير ، عن عمران بن حصين

Telah menceritakan kepada kami Ja’far bin Sulaiman Ad Dhuba’iy  yang berkata telah menceritakan kepada kami Yazid Ar Risyk dari Mutharrif bin Abdullah bin Syikhkhir dari Imran bin Hushain-alhadis- [Musnad Abu Dawud Ath Thayalisi no 829]

Hadis Imran bin Hushain ini sanadnya shahih karena para perawinya tsiqat

  • Ja’far bin Sulaiman Adh Dhuba’iy adalah seorang yang tsiqat. Ja’far adalah perawi Bukhari dalam Adabul Mufrad, Muslim dan Ashabus Sunan. Ibnu Ma’in, Ibnu Sa’ad, Ibnu Madini dan Ibnu Hibban menyatakan ia tsiqat. Ahmad bin Hanbal berkata “tidak ada masalah padanya”. Abu Ahmad mengatakan kalau Ja’far hadisnya baik, ia memiliki banyak riwayat dan hadisnya hasan [At Tahdzib juz 2 no 145]. Al Ajli menyatakan Ja’far bin Sulaiman tsiqat [Ma’rifat Ats Tsiqat no 221]. Ibnu Syahin juga memasukkannya sebagai perawi tsiqat [Tarikh Asma Ats Tsiqat no 166]. Kelemahan yang dinisbatkan kepada Ja’far adalah ia bertasayyyu’ tetapi telah ma’ruf diketahui bahwa tasyayyu’ Ja’far dikarenakan ia banyak meriwayatkan hadis-hadis keutamaan Ahlul Bait. Ibnu Hajar menyatakan ia shaduq tasyayyu’ [At Taqrib 1/162]. Adz Dzahabi menyatakan Ja’far bin Sulaiman tsiqat [Al Kasyf no 729]
  • Yazid Ar Risyk adalah Yazid bin Abi Yazid Adh Dhuba’iy seorang yang tsiqat perawi kutubus sittah. Tirmidzi, Abu Hatim, Abu Zar’ah, Ibnu Hibban dan Ibnu Sa’ad menyatakan ia tsiqah. Ahmad bin Hanbal menyatakan ia “shalih al hadis”.[At Tahdzib juz 11 no 616]. Disebutkan kalau Ibnu Ma’in mendhaifkannya tetapi hal ini keliru karena telah diriwayatkan dengan sanad yang shahih kalau Ibnu Ma’in justru menta’dilkannya. Ibnu Abi Hatim menukil Ad Dawri dari Ibnu Ma’in yang menyatakan Yazid “shalih” dan menukil Abu Bakar bin Abi Khaitsamah dari Ibnu Main yang menyatakan Yazid “laisa bihi ba’sun”. perkataan ini berarti perawi tersebut tsiqah menurut Ibnu Ma’in. [Al Jarh Wat Ta’dil 9/298 no 1268].
  • Mutharrif bin Abdullah adalah tabiin tsiqah perawi kutubus sittah. Ibnu Sa’ad menyatakan ia tsiqah. Al Ajli mengatakan ia tsiqah. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqah. [At Tahdzib juz 10 no 326]. Ibnu Hajar menyatakan Mutharrif bin Abdullah tsiqah [At Taqrib 2/188].

Hadis Imran bin Hushain di atas jelas sekali diriwayatkan oleh perawi tsiqah dan shahih sesuai dengan syarat Imam Muslim. Ja’far bin Sulaiman adalah perawi Muslim dan yang lainnya adalah perawi Bukhari dan Muslim. Ibnu Hajar menyatakan sanad hadis ini kuat dalam kitabnya Al Ishabah 4/569. Syaikh Al Albani menyatakan hadis ini shahih [Zhilal Al Jannah Takhrij As Sunnah no 1187]. Syaikh Syu’aib Al Arnauth menyatakan hadis ini sanadnya kuat [Shahih Ibnu Hibban no 6929]. Syaikh Husain Salim Asad menyatakan hadis ini para perawinya perawi shahih [Musnad Abu Ya’la no 355]

Selain riwayat Imran bin Hushain, hadis tersebut juga diriwayatkan oleh Buraidah RA. Hadis Buraidah disebutkan dalam Musnad Ahmad 5/356 no 22908[tahqiq Ahmad Syakir dan Hamzah Zain], Sunan Nasa’i 5/132 no 8475, Tarikh Ibnu Asakir 42/189 dengan jalan sanad yang berujung pada Ajlah Al Kindi dari Abdullah bin Buraidah dari ayahnya. Berikut sanad riwayat Ahmad

ثنا بن نمير حدثني أجلح الكندي عن عبد الله بن بريدة عن أبيه بريدة قال

Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair yang berkata telah menceritakan kepadaku Ajlah Al Kindi dari Abdullah bin Buraidah dari Ayahnya Buraidah yang berkata-hadis marfu’-[Musnad Ahmad 5/356 no 22908]

Hadis Buraidah ini sanadnya hasan karena diriwayatkan oleh perawi yang tsiqah yaitu Ibnu Numair dan Abdullah bin Buraidah dan perawi yang hasan yaitu Ajlah Al Kindi.

  • Ibnu Numair adalah Abdullah bin Numair Al Hamdani adalah perawi kutubus sittah yang dikenal tsiqah. Ibnu Ma’in, Ibnu Hibban, Al Ajli dan Ibnu Sa’ad menyatakan ia tsiqah. [At Tahdzib juz 6 no 110]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat [At Taqrib 1/542]. Adz Dzahabi menyatakan ia hujjah [Al Kasyf no 3024]
  • Ajlah Al Kindi adalah seorang yang shaduq. Ibnu Main dan Al Ajli menyatakan ia tsiqat. Amru bin Ali menyatakan ia seorang yang shaduq dan hadisnya lurus. Ibnu Ady berkata “ia memiliki hadis-hadis yang shalih, telah meriwayatkan darinya penduduk  kufah dan yang lainnya, tidak memiliki riwayat mungkar baik dari segi sanad maupun matan tetapi dia seorang syiah kufah, disisiku ia seorang yang shaduq dan hadisnya lurus”. Yaqub bin Sufyan menyatakan ia tsiqat tetapi ada kelemahan dalam hadisnya. Diantara yang melemahkannya adalah Ibnu Sa’ad, Abu Hatim, Abu Dawud dan An Nasa’i. [At Tahdzib juz 1 no 353]. Abu Hatim dan An Nasa’i menyatakan ia “tidak kuat” dimana perkataan ini bisa berarti seorang yang hadisnya hasan apalagi dikenal kalau Abu Hatim dan Nasa’i termasuk ulama yang ketat dalam menjarh. Ibnu Sa’ad dan Abu Dawud menyatakan ia dhaif tanpa menyebutkan alasannya sehingga jarhnya adalah jarh mubham. Tentu saja jarh mubham tidak berpengaruh pada mereka yang telah mendapat predikat tsiqat dari ulama yang mu’tabar. Ibnu Hajar menyatakan ia seorang syiah yang shaduq [At Taqrib 1/72]. Adz Dzahabi juga menyatakan Ajlah seorang yang shaduq [Man Tukullima Fiihi Wa Huwa Muwatstsaq no 13]. Bagi kami ia seorang yang tsiqah atau shaduq, Bukhari telah menyebutkan biografinya tanpa menyebutkan cacatnya [Tarikh Al Kabir juz 2 no 1711]. Hal ini menunjukkan kalau jarh terhadap Ajlah tidaklah benar dan hanya dikarenakan sikap tasyayyu’ yang ada padanya.
  • Abdullah bin Buraidah adalah seorang tabiin yang tsiqah. Ibnu Ma’in, Al Ajli dan Abu Hatim menyatakan ia tsiqat. Ibnu Kharasy menyatakan ia shaduq [At Tahdzib juz 5 no 270]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat [At Taqrib 1/480] dan Adz Dzahabi juga menyatakan ia tsiqat [Al Kasyf no 2644].

Sudah jelas hadis Buraidah ini adalah hadis hasan yang naik derajatnya menjadi shahih dengan penguat hadis-hadis yang lain. Syaikh Al Albani menyatakan bahwa hadis Buraidah ini sanadnya jayyid [Zhilal Al Jannah Takhrij As Sunnah no 1187].

Selain Imran bin Hushain dan Buraidah, hadis ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Abbas dengan sanad yang shahih. Riwayat Ibnu Abbas disebutkan dalam Musnad Abu Dawud Ath Thayalisi 1/360 no 2752, Tarikh Ibnu Asakir 42/199, dan Tarikh Ibnu Asakir 42/201, Musnad Ahmad 1/330 no 3062, Al Mustadrak 3/143 no 4652, As Sunnah Ibnu Abi Ashim no 1188, dan Mu’jam Al Kabir 12/77. Berikut sanad riwayat Abu Dawud

حدثنا أبو عوانة عن أبي بلج عن عمرو بن ميمون عن بن عباس ان رسول الله صلى الله عليه و سلم

Telah menceritakan kepada kami Abu Awanah dari Abi Balj dari Amru bin Maimun dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah SAW bersabda [Musnad Abu Dawud Ath Thayalisi no 2752]

Hadis Ibnu Abbas ini sanadnya shahih dan diriwayatkan oleh para perawi yang tsiqat.

  • Abu Awanah adalah Wadhdhah bin Abdullah Al Yasykuri seorang perawi kutubus sittah yang tsiqat. Abu Hatim, Abu Zar’ah, Ahmad, Ibnu Sa’ad, Ibnu Abdil Barr menyatakan ia tsiqat. [At Tahdzib juz 11 no 204]. Al Ajli menyatakan ia tsiqah [Ma’rifat Ats Tsiqat no 1937].Ibnu Hajar menyatakan Abu Awanah tsiqat tsabit [At Taqrib 2/283] dan Adz Dzahabi juga menyatakan ia tsiqat [Al Kasyf no 6049].
  • Abu Balj adalah Yahya bin Sulaim seorang perawi Ashabus Sunan yang tsiqat. Ibnu Ma’in, Ibnu Sa’ad, Nasa’i dan Daruquthni menyatakan ia tsiqat. Abu Fath Al Azdi menyatakan ia tsiqat. Abu Hatim berkata “shalih laba’sa bihi”. Yaqub bin Sufyan berkata “tidak ada masalah padanya”. Al Bukhari berkata “fihi nazhar” atau perlu diteliti lagi hadisnya. [At Tahdzib juz 12 no 184]. Perkataan Bukhari ini tidaklah tsabit karena ia sendiri telah menuliskan biografi Abu Balj tanpa menyebutkan cacatnya bahkan dia menegaskan kalau Syu’bah meriwayatkan dari Abu Balj [Tarikh Al Kabir juz 8 no 2996]. Hal ini berarti Syu’bah menyatakan Abu Balj tsiqat karena ia tidak meriwayatkan kecuali dari perawi yang tsiqat. Ibnu Abdil Barr dan Ibnu Jauzi menyatakan bahwa Ibnu Main mendhaifkan Abu Balj [At Tahdzib juz 12 no 184]. Tentu saja perkataan ini tidak benar karena telah diriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Ishaq bin Mansur kalau Ibnu Ma’in justru menyatakan Abu Balj tsiqat [Al Jarh Wat Ta’dil 9/153 no 634]. Kesimpulannya pendapat yang rajih adalah ia seorang yang tsiqat.
  • Amru bin Maimun adalah perawi kutubus sittah yang tsiqah. Al Ajli, Ibnu Ma’in, An Nasa’i dan Ibnu Hibban menyatakan ia tsiqat [At Tahdzib juz 8 no 181]. Ibnu Hajar menyatakan Amru bin Maimun tsiqat [At Taqrib 1/747].

Hadis Ibnu Abbas ini adalah hadis yang shahih dan merupakan sanad yang paling baik dalam perkara ini. Hadis ini juga menjadi bukti bahwa tasyayyu’ atau tidaknya seorang perawi tidak membuat suatu hadis lantas menjadi cacat karena sanad Ibnu Abbas ini termasuk sanad yang bebas dari perawi tasyayyu’. Hadis Ibnu Abbas ini telah dishahihkan oleh Al Hakim, Adz Dzahabi [Talkhis Al Mustadrak no 4652] dan Syaikh Ahmad Syakir [Musnad Ahmad no 3062].

Hadis dengan jalan yang terakhir adalah riwayat Wahab bin Hamzah. Diriwayatkan dalam Mu’jam Al Kabir Ath Thabrani 22/135, Tarikh Ibnu Asakir 42/199 dan Al Bidayah Wan Nihayah 7/381. Berikut jalan sanad yang disebutkan Ath Thabrani

حدثنا أحمد بن عمرو البزار وأحمد بن زهير التستري قالا ثنا محمد بن عثمان بن كرامة ثنا عبيد الله بن موسى ثنا يوسف بن صهيب عن دكين عن وهب بن حمزة قال

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Amru Al Bazzar dan Ahmad bin Zuhair Al Tusturi yang keduanya berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Utsman bin Karamah yang berkata telah menceritakan kepada kami Ubaidillah bin Musa yang berkata telah menceritakan kepada kami Yusuf bin Shuhaib dari Dukain dari Wahab bin Hamzah yang berkata [Mu’jam Al Kabir 22/135]

Hadis ini diriwayatkan oleh para perawi tsiqat kecuali Dukain, ia seorang tabiin yang tidak mendapat predikat ta’dil dan tidak pula dicacatkan oleh para ulama.

  • Ahmad bin Amru Al Bazzar adalah penulis Musnad yang dikenal tsiqah, ia telah dinyatakan tsiqah oleh Al Khatib dan Daruquthni, Ibnu Qattan berkata “ia seorang yang hafizh dalam hadis [Lisan Al Mizan juz 1 no 750]
  • Ahmad bin Zuhair Al Tusturi adalah Ahmad bin Yahya bin Zuhair, Abu Ja’far Al Tusturi. Adz Dzahabi menyebutnya Al Imam Al Hujjah Al Muhaddis, Syaikh Islam. [As Siyar 14/362]. Dalam Kitab Tarajum Syuyukh Thabrani no 246 ia disebut sebagai seorang Hafizh yang tsiqat.
  • Muhammad bin Ustman bin Karamah seorang perawi yang tsiqat. Abu Hatim berkata “shaduq”. Maslamah dan Ibnu Hibban menyatakan ia tsiqat. Muhammad bin Abdullah bin Sulaiman dan Daud bin Yahya berkata “ia shaduq”. [At Tahdzib juz 9 no 563]. Ibnu Hajar menyatakan Muhammad bin Utsman bin Karamah tsiqat [At Taqrib 2/112]
  • Ubaidillah bin Musa adalah perawi kutubus sittah yang dikenal tsiqah. Ibnu Ma’in, Abu Hatim, Ibnu Hibban, Al Ajli, Ibnu Syahin, Utsman bin Abi Syaibah dan Ibnu Ady menyatakan ia tsiqah.[At Tahdzib juz 7 no 97]. Ibnu Hajar menyatakan Ubaidillah tsiqat tasyayyu’ [At Taqrib 1/640]. Adz Dzahabi juga menyatakan ia tsiqah [Al Kasyf no 3593].
  • Yusuf bin Shuhaib adalah seorang perawi tsiqat. Ibnu Ma’in, Abu Dawud, Ibnu Hibban, Utsman bin Abi Syaibah, Abu Nu’aim menyatakan ia tsiqat. Abu Hatim dan An Nasa’i berkata ‘tidak ada masalah padanya”. [At Tahdzib juz 11 no 710]. Ibnu Hajar menyatakan Yusuf bin Shubaih tsiqat [At Taqrib 2/344] dan Adz Dzahabi juga menyatakan Yusuf tsiqat [Al Kasyf no 6437]
  • Dukain adalah seorang tabiin. Hanya Ibnu Abi Hatim yang menyebutkan biografinya dalam Al Jarh Wat Ta’dil dan mengatakan kalau ia meriwayatkan hadis dari Wahab bin Hamzah dan telah meriwayatkan darinya Yusuf bin Shuhaib tanpa menyebutkan jarh maupun ta’dil terhadapnya. [Al Jarh Wat Ta’dil 3/439 no 1955]. Dukain seorang tabiin yang meriwayatkan hadis dari Wahab bin Hamzah dan sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Sakan kalau Wahab bin Hamzah adalah seorang sahabat Nabi [Al Ishabah 6/623 no 9123]

Hadis Wahab bin Hamzah ini dapat dijadikan syawahid dan kedudukannya hasan dengan penguat dari hadis-hadis lain. Al Haitsami berkata mengenai hadis Wahab ini “Hadis riwayat Thabrani dan di dalamnya terdapat Dukain yang disebutkan oleh Ibnu Abi Hatim, tidak ada ulama yang mendhaifkannya dan sisanya adalah perawi yang dipercaya “ [Majma’ Az Zawaid 9/109].

.

.

Ibnu Taimiyyah Mendustakan Hadis Shahih

Jika kita mengumpulkan semua hadis tersebut maka didapatkan

  • Hadis Imran bin Hushain adalah hadis shahih [riwayat Ja’far bin Sulaiman]
  • Hadis Buraidah adalah hadis hasan [riwayatAjlah Al Kindi]
  • Hadis Ibnu Abbas adalah hadis shahih [riwayat Abu Balj]
  • Hadis Wahab bin Hamzah adalah hadis hasan [riwayat Dukain]

Tentu saja dengan mengumpulkan sanad-sanad hadis ini maka tidak diragukan lagi kalau hadis ini adalah hadis yang shahih. Dan dengan fakta ini ada baiknya kita melihat apa yang dikatakan Ibnu Taimiyyah tentang hadis ini, ia berkata

” أنت ولي كل مؤمن بعدي ” فهذا موضوع باتفاق أهل المعرفة بالحديث

“kamu adalah pemimpin bagi setiap mukmin sepeninggalKu” ini adalah maudhu’ (palsu) menurut kesepakatan ahli hadis [Minhaj As Sunnah 5/35]

قوله : هو ولي كل مؤمن بعدي كذب على رسول الله صلى الله عليه وسلم

Perkataannya ; “Ia pemimpin setiap mukmin sepeninggalku” adalah dusta atas Rasulullah SAW [Minhaj As Sunnah 7/278]

Cukuplah kiranya pembaca melihat dengan jelas siapa yang sebenarnya sedang berdusta atau sedang mendustakan hadis shahih hanya karena hadis tersebut dijadikan hujjah oleh orang syiah. Penyakit seperti ini yang dari dulu kami sebut sebagai “Syiahpobhia”.

.

.

Singkat Tentang Matan Hadis

Setelah membicarakan hadis ini ada baiknya kami membicarakan secara singkat mengenai matan hadis tersebut. Salafy nashibi biasanya akan berkelit dan berdalih kalau hadis tersebut tidak menggunakan lafaz khalifah tetapi lafaz waliy dan ini bermakna bukan sebagai pemimpin atau khalifah. Kami tidak perlu berkomentar banyak mengenai dalih ini, cukuplah kiranya kami bawakan dalil shahih kalau kata Waliy sering digunakan untuk menunjukkan kepemimpinan atau khalifah

Diriwayatkan oleh Ibnu Katsir [dan beliau menshahihkannya] dalam Al Bidayah wan Nihayah bahwa ketika Abu Bakar dipilih sebagai khalifah, ia berkhutbah

قال أما بعد أيها الناس فأني قد وليت عليكم ولست بخيركم

Ia berkata “Amma ba’du, wahai manusia sekalian sesungguhnya aku telah dipilih menjadi pimpinan atas kalian dan bukanlah aku yang terbaik diantara kalian. [Al Bidayah wan Nihayah 5/269]

Diriwayatkan pula oleh Ahmad bin Hanbal dalam Musnad Ahmad bin Hanbal bahwa Jabir bin Abdullah RA menyebutkan kepemimpinan Umar dengan kata Waliy

ثنا بهز قال وثنا عفان قالا ثنا همام ثنا قتادة عن عن أبي نضرة قال قلت لجابر بن عبد الله ان بن الزبير رضي الله عنه ينهى عن المتعة وان بن عباس يأمر بها قال فقال لي على يدي جرى الحديث تمتعنا مع رسول الله صلى الله عليه و سلم قال عفان ومع أبي بكر فلما ولي عمر رضي الله عنه خطب الناس فقال ان القرآن هو القرآن وان رسول الله صلى الله عليه و سلم هو الرسول وأنهما كانتا متعتان على عهد رسول الله صلى الله عليه و سلم إحداهما متعة الحج والأخرى متعة النساء

Telah menceritakan kepada kami Bahz dan telah menceritakan kepada kami Affan , keduanya [Bahz dan Affan] berkata telah menceritakan kepada kami Hamam yang berkata telah menceritakan kepada kami Qatadah dari Abi Nadhrah  yang berkata “aku berkata kepada Jabir bin Abdullah RA ‘sesungguhnya Ibnu Zubair telah melarang mut’ah dan Ibnu Abbas memerintahkannya’. Abu Nadhrah berkata ‘Jabir kemudian berkata kepadaku ‘kami pernah bermut’ah bersama Rasulullah’. [Affan berkata] “ dan bersama Abu Bakar. Ketika Umar menjadi pemimpin orang-orang, dia berkata ‘sesungguhnya Al Qur’an adalah Al Qur’an dan Rasulullah SAW adalah Rasul dan sesungguhnya ada dua mut’ah pada masa Rasulullah SAW, salah satunya adalah mut’ah haji dan yang satunya adalah mut’ah wanita’. [Musnad Ahmad 1/52 no 369 dishahihkan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth dan Syaikh Ahmad Syakir]

Kedua riwayat di atas dengan jelas menunjukkan bahwa kata Waliy digunakan untuk menyatakan kepemimpinan para Khalifah seperti Abu Bakar dan Umar. Oleh karena itu tidak diragukan lagi bahwa hadis di atas bermakna Imam Ali adalah Pemimpin bagi setiap mukmin sepeninggal Nabi SAW

.

Ayat Al Wilayah
“Sesungguhnya pemimpin kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan sholat dan menunaikan zakat, seraya mereka ruku’ (kepada Allah)” (Q.S.Al-Ma’idah ayat 55)
Ayat ini dikatakan oleh Ulama Syiah sebagai ayat yang turun kepada Imam Ali, mereka berkata “Orang-orang yang beriman yang mendirikan sholat dan menunaikan zakat, seraya ruku” berkenaan kepada Ali yang ketika itu memberikan cincinnya kepada peminta-minta ketika beliau dalam posisi ruku’ dalam sholat.

Dan sepertinya sang penulis(saudara Ja’far) menunjukkan keraguannya tentang hal ini. Beliau berkata

Hadis-hadis tentang asbabun nuzul ayat ini adalah hadis-hadis yang periwayatnya diperselihkan atau bahkan mungkin hadis dhaif/maudhu’.

Pernyataan ini adalah tidak benar, hadis yang menerangkan asbabun nuzul ayat ini memiliki banyak sanad yang diriwayatkan dalam berbagai kitab Ahlus Sunnah, sebagian hadisnya memang diperselisihkan perawinya dan dhaif tetapi sebagian lagi ada yang shahih. Oleh karena itu hadis-hadis tersebut satu sama lainnya saling menguatkan.

Dalam kitab Lubab Al Nuqul fi Asbabun Nuzul Jalaludin As Suyuthi hal. 93 beliau menjabarkan jalur-jalur dari hadis asbabun nuzul ayat ini, kemudian ia berkata ” Dan ini adalah bukti-bukti yang saling mendukung”. Atau dapat dilihat dalam Edisi terjemahannya dari Kitab As Suyuthi oleh A Mudjab Mahali dalam Asbabun Nuzul Studi Pendalaman Al Quran hal 326 menguatkan asbabun nuzul ayat ini untuk Imam Ali. Beliau membawakan hadis At Thabrani dalam Al Awsath dan mengkritiknya karena terdapat perawi yang majhul dalam sanadnya tetapi kemudian beliau melanjutkan keterangannya ”Sekalipun hadis ini ada rawi yang majhul(tidak dikenal) tetapi mempunyai beberapa hadis penguat di antaranya hadis yang diriwayatkan oleh Abdurrazaq dari Abdil Wahab bin Mujahid dari Ayahnya dari Ibnu Abbas. Hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Mardawih dari Ibnu Abbas dan hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Mujahid dan Ibnu Abi Hatim dari Salamah bin Kuhail. Hadis ini satu sama lainnya saling kuat menguatkan”.

Pernyataan Ulama Syiah bahwa mayoritas ahli hadis dan ahli tafsir menyatakan bahwa ayat ini turun untuk Imam Ali, sebenarnya juga dinyatakan oleh Ulama Sunni At Taftazani Asy Syafii dalam Syarh Al Maqashid, Al Jurjani dalam Syarh Al Mawaqif dan Al Qausyaji dalam Syarh Tajrid. Bahkan Al Alusi dalam Ruh Al Ma’ani jilid 6 hal 167 mengatakan bahwa turunnya ayat tersebut untuk Imam Ali ra adalah pendapat kebanyakan Ahli hadis.

Saya ingin sekali meminta kepada penulis tersebut siapa yang menyatakan hadis asbabun nuzul ayat ini untuk Imam Ali adalah dhaif atau maudhu’ setelah menganalisis semua jalur sanadnya. Sekedar pernyataan dari Ali As Salus dalam Imamah dan Khilafah atau Ibnu Taimiyyah dalam Minhaj As Sunnah jelas tidak kuat. Alasannya karena mereka yang saya sebutkan itu tidak menganalisis semua jalur sanad hadis asbabun nuzul ayat Al Wilayah. Mereka hanya mencacat sebagian hadisnya, seperti Ali As Salus yang hanya membahas hadis ini dalam Tafsir Ath Thabari kemudian langsung memutuskan bahwa riwayat tersebut dhaif tanpa melihat banyak sanad lainnya dari kitab lain. Apalagi Ibnu Taimiyyah yang melakukan banyak kekeliruan dalam Minhaj As Sunnah antara lain beliau mengatakan bahwa hadis asbabun nuzul ayat ini tidak ditemukan dalam Tafsir Ath Thabari dan Tafsir Al Baghawi padahal kenyataannya kedua kitab tafsir itu memuat hadis yang kita bicarakan ini.

Kemudian sang penulis(Ja’far) juga menyatakan keraguan bahwa Ayat Al Wilayah ini turun untuk Imam Ali, beliau berkata

Dalam ayat tsb sangat jelas bahwa “orang-orang yang beriman…” adalah jamak, maka bagaimana mungkin ayat itu menunjuk kepada satu orang yaitu Ali bin Abi Thalib r.a.

Disini letak kekeliruan sang penulis dimana beliau telah menempatkan subjektivitasnya dalam menilai suatu nash. Ulama Syiah Syaikh Al Musawi dalam Al Muraja’at telah menyatakan bahwa memang ada ayat Al Quran yang kata-katanya jamak tetapi ditujukan untuk orang tertentu. Saya tidak akan menukil pernyataan Syaikh Al Musawi cukuplah kiranya saya menukil pernyataan penulis sendiri dalam pembahasan Ayat Al Mubahalah

“Siapa yang membantahmu tentang kisah ‘Isa sesudah datang ilmu , maka katakanlah : “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya la’nat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.” (Q.S.Ali Imran : 61).

Tentang ayat ini penulis(saudara Ja’far) berkata

Kebanyakan ahli Tafsir menyatakan Asbabun nuzul ayat ini berkenaan dengan Rasulullah SAW yang bermuhabalah dengan ahlul kitab nasrani. Kemudian Rasulullah mengajak Hasan, Husen, Fatimah dan Ali dalam bermuhabalah dengan orang Nasrani tsb. ‘Anak-anak kami’ mengacu kepada Hasan dan Husein, ‘Isteri-isteri kami’ mengacu kepada Fatimah Az-Zahra, dan ‘diri kami’ mengacu kepada Ali bin Abi Thalib.

Pernyataan An Nisaana yang diterjemahkan istri-istri kami atau perempuan perempuan kami adalah bersifat jamak, lalu mengapa hanya mengacu pada Sayyidah Fatimah Az Zahra saja.(perlu diingatkan bahwa dalam Shahih Muslim jelas bahwa hanya Sayyidah Fatimah Az Zahra as satu-satunya wanita yang diseru Nabi SAW untuk menyertai Beliau SAW bermubahalah). Jadi kalau pernyataan tentang ayat mubahalah ini diterima lantas mengapa mempermasalahkan Ayat Al Wilayah.
Selanjutnya saudara Ja’far menuliskan Syi’ah mengatakan bahwa penggunaan kata

“orang-orang yang beriman..dst” padahal ayat tersebut berkenaan dengan Ali dimaksudkan agar perbuatan Ali yang sangat peduli dan tidak menunda-nunda membantu orang miskin padahal ia (Ali) lagi sholat dicontoh oleh umat islam.
Jawabanku; Bagaimana mungkin Allah menjadikan perbuatan memberikan zakat/sedekah ketika sholat sebagai teladan yang ‘terukir’ dalam Qur’an padahal Sholat membutuhkan konsentrasi yang penuh?
.

Pernyataan seperti dimaksudkan agar perbuatan Ali yang sangat peduli dan tidak menunda-nunda membantu orang miskin padahal ia (Ali) lagi sholat dicontoh oleh umat islam, sebenarnya juga dikemukakan oleh Ulama Sunni Az Zamakhsyari dalam Tafsir Al Kasyaf ketika membahas ayat Al Wilayah. Yang ingin penulis(saudara Ja’far) sampaikan adalah bagaimana mungkin bisa dibolehkan dalam shalat padahal shalat membutuhkan konsentrasi penuh. Sebelum menjawab penulis maka marilah kita perhatikan hadis-hadis ini.
“Bunuhlah kedua binatang yang hitam itu sekalipun dalam (keadaan) shalat, yaitu ular dan kalajengking.” (HR. Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi dan lainnya, shahih)

“Apabila salah seorang di antara kamu shalat meng-hadap ke arah sesuatu yang menjadi pembatas baginya dari manusia, kemudian ada yang mau melintas di hadapannya, maka hendaklah dia mendorongnya dan jika dia memaksa maka perangilah (cegahlah dengan keras). Sesungguhnya (perbuatannya) itu adalah (atas dorongan) syaitan.” (Muttafaq ‘alaih)

“Dari Jabir bin Abdullah , ia berkata, ‘Telah mengutus-ku Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam sedang beliau pergi ke Bani Musthaliq. Kemudian beliau saya temui sedang shalat di atas onta-nya, maka saya pun berbicara kepadanya. Kemudian beliau memberi isyarat dengan tangannya. Saya ber-bicara lagi kepada beliau, kemudian beliau kembali memberi isyarat sedang saya mendengar beliau membaca sambil memberi isyarat dengan kepalanya. Ketika beliau selesai dari shalatnya beliau bersabda, ‘Apa yang kamu kerjakan dengan perintahku tadi? Sebenarnya tidak ada yang menghalangiku untuk bicara kecuali karena aku dalam keadaan shalat’.” (HR. Muslim)

Dari Ibnu Umar, dari Shuhaib , ia berkata: “Aku telah melewati Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam ketika beliau sedang shalat, maka aku beri salam kepadanya, beliau pun membalasnya dengan isyarat.” Berkata Ibnu Umar: “Aku tidak tahu terkecuali ia (Shuhaib) berkata dengan isyarat jari-jarinya.” (HR. Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasai, dan selain mereka, hadits shahih)

“Dari Abu Qatadah Al-Anshari berkata, ‘Aku melihat Nabi Shallallaahu alaihi wasallam mengimami shalat sedangkan Umamah binti Abi Al-’Ash, yaitu anak Zainab putri Nabi Shallallaahu alaihi wasallam berada di pundak beliau. Apabila beliau ruku’, beliau meletak-kannya dan apabila beliau bangkit dari sujudnya beliau kembalikan lagi Umamah itu ke pundak beliau.” (HR. Muslim)

“Dari Aisyah radhialaahu anha, ia berkata, ‘Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam sedang shalat di dalam rumah, sedangkan pintu tertutup, kemudian aku datang dan minta dibukakan pintu, beliau pun berjalan menuju pintu dan membukakannya untukku, kemudian beliau kembali ke tempat shalatnya. Dan terbayang bagiku bahwa pintu itu menghadap kiblat.” (HR. Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi dan lainnya, hadits hasan)

“Dari Ibnu Abbas , ia berkata, ‘Aku pernah menginap di (rumah) bibiku, Maimunah, tiba-tiba Nabi Shallallaahu alaihi wasallam bangun di waktu malam mendirikan shalat, maka aku pun ikut bangun, lalu aku ikut shalat bersama Nabi Shallallaahu alaihi wasallam, aku berdiri di samping kiri beliau, lalu beliau menarik kepalaku dan menempatkanku di sebelah kanannya.” (Muttafaq ‘alaih)

Seandainya kita memakai logika yang dipakai oleh saudara penulis itu maka kita akan mengatakan maka Bagaimana mungkin membunuh ular atau kalajengking, menghadang orang yang lewat, memberi isyarat kepada orang yang berbicara atau memberi salam, menggendong anak, membukakan pintu dan menarik tubuh orang ketika shalat menjadi teladan karena bukankah shalat membutuhkan konsentrasi penuh. Lantas apakah hadis-hadis itu mesti ditolak?.

Mari kita lanjutkan tulisan Beliau

Memang sangat bagus untuk tidak menunda-nunda membantu orang miskin yang butuh kepada kita tetapi sholat tidaklah memakan waktu yang lama, bukankah lebih baik jika orang miskin tsb meminta setelah sholat usai? atau jika dilihat dari sudut pandang orang miskin tsb, maka Al-Qur’an membolehkan/tidak menegur orang miskin meminta sedekah kepada orang yang lagi sholat padahal menurut saya (dan semua orang) perbuatan orang miskin tsb kurang beradab.

Apakah benar perbuatan orang miskin tersebut kurang beradab? Saya heran apakah penulis membaca sendiri hadis tentang ayat Al Wilayah ini. Bukankah pada hadis itu dijelaskan bahwa awalnya pengemis itu meminta-minta di masjid kepada beberapa orang di masjid(yang sedang tidak shalat) tetapi tidak ada satupun yang memberi. Ketika itu Imam Ali sedang shalat kemudian Beliau memberi isyarat kepada pengemis dengan jarinya yang bercincin dan pengemis itu mendekat kemudian pengemis itu mengambil cincin tersebut.

Tentu saja tidak ada yang mengatakan kalau pengemis itu langsung meminta kepada orang yang shalat. Pengemis itu mendekat ketika Imam Ali sendiri berisyarat. Bukankah memberi isyarat dalam shalat adalah hal yang dibolehkan. Seandainya juga pengemis itu langsung meminta kepada Imam Ali yang ketika itu sedang shalat apakah lantas dikatakan tidak beradab lalu bagaimana dengan Jabir bin Abdullah yang berbicara dua kali kepada Nabi SAW yang ketika itu sedang shalat atau Ibnu Umar yang memberi salam kepada Nabi SAW ketika Beliau SAW sedang shalat. Apakah Nabi SAW selanjutnya melarang mereka Jabir bin Abdullah dan Ibnu Umar? Tidak kok(lihat saja hadis yang saya kutip di atas). Yang perlu ditambahkan adalah Ayat Al Wilayah ini juga dimasukkan oleh ahli tafsir Sunni Abu Bakar Al Jashshash dalam kitabnya Tafsir Ahkam Al Quran sebagai dasar bahwa sedikit gerakan dalam shalat tidak membatalkan shalat dan sedekah sunah dapat dinamai zakat.

Kata-kata beliau

Syi’ah juga menyebutkan bahwa bersedekah ketika ruku’ dalam sholat itu tidak mengurangi posisi Amirul Mukminin (Ali), bahkan tindakan itu diikuti para imam sesudahnya.

Sebenarnya tidak ada masalah dengan kata-kata ini tetapi penulis menanggapi dengan

Di sini timbul pertanyaan, “Jika tindakan ini merupakan cermin keutamaan penghulu para Imam (Ali r.a) yang diikuti oleh para imam, lalu mengapa tindakan ini tidak dilakukan oleh manusia terbaik, Nabi Muhammad SAW? Juga tidak dilakukan oleh para sahabat yang lain?

Jawab saya: apakah setiap keutamaan seseorang itu harus diikuti oleh orang lain, bukankah setiap orang memiliki keutamaan masing-masing. Apakah seandainya suatu keutamaan tidak diikuti oleh beberapa orang maka gugurlah keutamaan itu?. Bukankah banyak keutamaan Imam Ali yang tidak dimiliki oleh sahabat yang lain.

Mengenai tafsir Al Maidah ayat 55 yang beliau jelaskan adalah penafsiran yang menyesuaikan dengan urutan ayat. Tafsir yang beliau kemukakan itu sama dengan tafsir ayat tersebut dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir. Pendapat saya tentang tafsir ini boleh-boleh saja. Tidak ada masalah, justru yang jadi masalah jika kita mengabaikan banyak hadis yang menjelaskan asbabun nuzul ayat ini

.

Hadis Al Ghadir
Sebelumnya saya telah mengatakan bahwa hadis al Ghadir adalah mutawatir, pernyataan ini adalah benar dan diakui oleh ulama Sunni yang telah membuat kitab khusus tentang riwayat-riwayat hadis Al Ghadir diantaranya

• Ibnu Jarir Ath Thabari dalam kitabnya Al Wilayah Fi Thuruq Al Ghadir
• Ibnu Uqdah dalam kitabnya Al Wilayah Fi Thuruq Hadits Al Ghadir
• Abu Bakar Al Ja’abi dalam kitabnya Man Rawa Hadits Ghadir Kum
• Abu Sa’id As Sijistani dalam kitabnya Ad Dirayah Fi Hadits Al Wilayah

Walaupun begitu perlu diperhatikan mutawatir disini adalah mutawatir ma’nawi Artinya hadis-hadis tersebut memiliki matan yang bermacam-macam dan dapat dikelompokkan menjadi

• Matan yang Mutawatir, Artinya matan ini ada dalam setiap hadis Al Ghadir apapun sanadnya, matan itu adalah perkataan Rasulullah SAW di Ghadir Kum “barang siapa menganggap Aku Maulanya maka Ali adalah Maulanya”. Oleh karenanya perkataan ini bisa dikatakan bersifat pasti kebenarannya karena sanadnya mutawatir.
• Matan yang shahih, artinya matan ini diriwayatkan dalam hadis-hadis Al Ghadir tetapi tidak semua hadis Al Ghadir meriwayatkan matan ini. Adapun hadis yang mengandung matan ini sanadnya shahih. Yaitu antara lain matan yang mengandung perkataan Rasulullah SAW bahwa Sebentar lagi Rasulullah SAW akan dipanggil ke hadirat Allah SWT. Atau matan yang mengandung perkataan Rasulullah SAW kepada umatnya untuk berpegang kepada dua hal Kitab Allah dan Ahlul BaitKu, matan yang mengandung peristiwa kesaksian di Rahbah oleh beberapa sahabat terhadap Imam Ali, matan yang mengandung perkataan Rasulullah SAW ”bukankah Kalian telah mengetahui bahwa sesungguhnya Aku lebih berhak atas orang-orang mukmin dari pada diri mereka sendiri?” dan Matan yang mengandung ucapan selamat Umar kepada Ali(matan selamat ini diriwayatkan dalam Musnad Ahmad 4 hal 281 dalam sanadnya terdapat Zaid bin Hasan Al Anmathi, tentang beliau Abu Hatim berkata hadisnya mungkar tapi Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat, Syaikh Al Albani telah menshahihkan hadis dalam Sunan Tirmidzi no3 786 dan dalam sanadnya ada Zaid bin Hasan, oleh karena itu saya menyimpulkan bahwa hadis dalam Musnad Ahmad itu shahih.)
• Matan yang diperselisihkan sanadnya atau dhaif(menurut Ulama Sunni), artinya matan ini diriwayatkan dalam hadis Al Ghadir dimana sanad hadisnya adalah dhaif di sisi Ulama Sunni. Yaitu matan hadis Al Ghadir yang mengandung Ayat Tabligh Al Maidah 67 dan Al Maidah ayat 3.

Mari kita lihat kembali pernyataan penulis(Ja’far) seputar hadis Al Ghadir, beliau mengutip pernyataan Al Alusi

Adapun pada saat khutbah Rasulullah sepulang dari haji wada’ tersebut tidak didapati hadis yang shahih mengenai pengangkatan Ali sebagai khalifah / pemimpin / menjadikannya maula. Al-Alusi berkata, “Riwayat-riwayat tentang Ghadir Khum – yang di dalamnya terdapat perintah kepada Nabi SAW untuk mengangkat Ali sebagai khalifah – tidak shahih dan sama sekali tidak diterima oleh AhluSunnah” (Tafsir Al-Alusi).

Jika yang dimaksudkan adalah hadis dengan perkataan maula itu, maka dalam hal ini Al Alusi keliru karena pengangkatan Ali sebagai maula di Ghadir Kum telah dishahihkan banyak ulama Ahlus Sunnah seperti At Tirmidzi dalam Sunan Tirmidzi, Syaikh Al Albani dalam Shahih Ibnu Majah, Al Hakim dalam Al Mustadrak dan Adz Dzahabi dalam Talkhis Al Mustadrak. Tentu Ulama syiah menafsirkan maula sebagai pemimpin, sedangkan ulama sunni menafsirkan maula sebagai sahabat atau yang dicintai.

Tetapi jika yang dimaksudkan adalah hadis dengan turunnya Al Maidah ayat 67 dan Al Maidah ayat 3 maka saya sependapat. Karena hadis tentang itu terdapat keraguan pada sanadnya dan saya setuju dengan pernyataan penulis bahwa Al Maidah ayat 3 berdasarkan dalil shahih disisi Sunni turun di arafah.

Penulis(Ja’far) mengkritik hadis Al Ghadir yang mengandung matan maula dengan berkata

Masih ada beberapa hadis lain yang serupa dua hadis diatas dalam Musnad Imam Ahmad. Kata-kata ‘Man kuntu MAULAH fa’aliyyun maulah’ (Siapa yang aku sebagai PEMIMPINNYA maka Ali sebagai PEMIMPINNYA) tidak dapat dijadikan dalil bahwa Ali adalah khalifah setelah rasulullah SAW wafat.

Mari kita telaah masing-masing alasannya

Alasan pertama Imam Ahmad bin Hanbal yang meriwayatkan hadis tsb adalah AhluSunnah. Jika Imam Ahmad menafsirkan hadis tsb sebagai dalil yang menjadikan Ali sebagai khalifah/imam setelah rasulullah wafat maka dia seharusnya menjadi ulama syi’ah. Akan tetapi, Imam Ahmad adalah seorang ahlusunnah, dengan begitu Imam Ahmad tidak menafsirkan hadis tsb sebagai dalil penunjukkan Ali sebagai pengganti Rasullah SAW.

Alasan ini rancu sekali dan bagi saya orang yang memakai alasan seperti ini tidak perlu jauh-jauh menggunakan dalil dan pembahasan dalam mengkritik Syiah, dia cukup berkata seandainya Syiah itu benar maka Ulama-ulama sunni akan menjadi Syiah tetapi kenyataannya tidak maka Syiah tidak benar. Nah selesai urusannya. Kalau ingin melakukan pembahasan maka harus melihat dalil itu sendiri dan menilai penafsiran mana yang benar antara Ulama Sunni dan Syiah. Dalam hal ini Penulis telah melakukan Fallacy Argumentum Ad Verecundiam.

Alasan kedua Pengartian kata ‘maulah’ dalam konteks hadis tsb sebagai ‘pemimpin’ tidak tepat. Maulah dalam hadis tsb berarti loyalitas atau kecintaan, sesuai dengan akar katanya yaitu ‘Wali’.

Mari kita telaah, si penulis berargumen bahwa berdasarkan konteksnya maula itu bukan berarti pemimpin. Anehnya beliau malah mengartikan maula berdasar akar kata. Ulama Syiah berkata Maula adalah lafal Musytakarah(punya banyak arti) dan untuk mengetahui arti yang tepat adalah dengan melihat konteksnya pada hadis Al Ghadir.

Mari kita lihat apa kata Ulama Syiah tentang makna maula. Dalam Hadis Al Ghadir terdapat kata-kata Rasulullah SAW bahwa beliau sebentar lagi akan dipanggil ke hadirat Allah ” Kurasa seakan-akan aku segera akan dipanggil (Allah), dan segera pula memenuhi panggilan itu, Maka sesungguhnya aku meninggalkan kepadamu Ats Tsaqalain(dua peninggalan yang berat). Yang satu lebih besar (lebih agung) dari yang kedua : Yaitu kitab Allah dan Ittrahku. Jagalah Baik-baik dan berhati-hatilah dalam perlakuanmu tehadap kedua peninggalanKu itu, sebab Keduanya takkan berpisah sehingga berkumpul kembali denganKu di Al Haudh.
Bukankah kata-kata ini berarti Rasulullah SAW telah mewasiatkan sebelum beliau meninggal untuk mengikuti Al Quran dan Ahlul Bait, adalah wajar kalau hal ini diartikan Ulama Syiah sebagai Rasulullah SAW menyerahkan kepemimpinan Agama kepada Ahlul Bait.

Kemudian kata-kata “Bukankah Aku ini lebih berhak terhadap kaum muslimin dibanding diri mereka sendiri.. Orang-orang menjawab “Ya”. Hingga akhirnya Rasulullah SAW berkata” Barangsiapa yang menganggap aku sebagai maulanya, maka Ali adalah juga maulanya. Ulama Syiah menafsirkan kata lebih berhak menunjukkan bahwa maula yang dimaksud berkaitan dengan kekuasaan dan tidak tepat jika diartikan sahabat atau dicintai. Selain itu kata-kata terakhir Ya Allah, cintailah siapa yang mencintainya, dan musuhilah siapa yang memusuhinya. Menunjukkan bahwa pada saat itu Imam Ali dianugerahkan tanggung jawab yang memungkinkan beliau dicintai atau dimusuhi orang, tanggung jawab ini lebih tepat diartikan kekuasaan ketimbang yang dicintai.

Oleh karena itu Ulama Syiah menafsirkan maula sebagai pemimpin ditambah lagi ucapan selamat Umar kepada Ali yang menurut Syiah janggal diberikan hanya karena Ali dinobatkan sebagai yang dicintai, Ulama syiah berkata apakah sebelumnya Imam Ali adalah musuh sehingga ketika dinobatkan sebagai yang dicintai maka beliau diberi selamat.

Sedangkan kata-kata penulis

Seandainya maulah diartikan sebagai imam / khalifah maka seharusnya para sahabat tidak menjadikan Abu Bakar r.a sebagai khalifah setelah Rasulullah SAW. Mana mungkin mayoritas sahabat mengkhianati Rasulullah SAW. Para sahabat tidak pernah menafsirkan hadis tsb sebagai dalil penunjukkan Ali. Kalau kita menganggap hadis tsb sbg dalil penunjukkan Ali maka otomatis para sahabat adalah orang yang tidak melaksanakan amanat Rasulullah SAW

maka saya katakan itulah tepatnya kenapa Ulama Sunni berkeras bahwa kata maula itu bukan pemimpin. Disini penulis sudah memahami dengan prakonsepsinya terlebih dahulu tentang shahabat baru menilai nash hadis Al Ghadir bedanya dengan Syiah mereka memahami nash hadis Al Ghadir terlebih dahulu baru menilai shahabat.

Mengenai hadis tentang murtadnya shahabat Nabi kecuali beberapa orang di sisi Syiah, maka saya memilih untuk berdiam diri karena saya tidak mengetahui shahih tidaknya hadis tersebut di sisi Syiah dan apa arti murtad yang dimaksud. Karena yang saya tahu ada cukup banyak Sahabat Nabi yang diakui oleh Syiah bukan hanya beberapa orang, Silakan dirujuk pada Ikhtilaf Sunnah Syiah karya Syaikh Al Musawi hal 205-214. Saya juga ingin mengingatkan penulis bahwa di dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim terdapat hadis yang jika diartikan secara literal mengindikasikan cukup banyak shahabat Nabi yang masuk neraka karena berpaling setelah Nabi SAW wafat.

Contohnya hadis Shahih Bukhari juz 8 hal 150 diriwayatkan dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda ”Akan datang di hadapanKu kelak sekelompok shahabatKu tapi kemudian mereka dihalau. Aku bertanya ”wahai TuhanKu mereka adalah shahabat-shahabatKu”. Lalu dikatakan ”Engkau Tidak mengetahui apa yang mereka perbuat sepeninggalmu. Sesungguhnya mereka murtad dan berpaling.”. Tentu Ulama Sunni memiliki pemahaman sendiri terhadap hadis ini dengan berkata bahwa memang ada yang murtad dan yang murtad itu tidak lagi disebut sebagai shahabat. Yang ingin saya tekankan kalau Ulama Sunni bisa melakukan penafsiran terhadap teks mereka. Kenapa kita tidak bisa mendengar apa kata Ulama Syiah tentang hadis mereka.

Alasan yang ketiga Hadis-hadis tsb lebih tepatnya menceritakan keutamaan Imam Ali bin Abi Thalib bukan dalil tentang penunjukkannya.

Saya setuju kalau hadis itu menunjukkan keutamaan tapi keutamaan sebagai apa, nah disinilah terjadi beda penafsiran. Syiah justru berkata itulah keutamaan Imam Ali yang ditunjuk sebagai pengganti Rasulullah SAW

.

Hadis Al Ghadir
Sebelumnya saya telah mengatakan bahwa hadis al Ghadir adalah mutawatir, pernyataan ini adalah benar dan diakui oleh ulama Sunni yang telah membuat kitab khusus tentang riwayat-riwayat hadis Al Ghadir diantaranya

• Ibnu Jarir Ath Thabari dalam kitabnya Al Wilayah Fi Thuruq Al Ghadir
• Ibnu Uqdah dalam kitabnya Al Wilayah Fi Thuruq Hadits Al Ghadir
• Abu Bakar Al Ja’abi dalam kitabnya Man Rawa Hadits Ghadir Kum
• Abu Sa’id As Sijistani dalam kitabnya Ad Dirayah Fi Hadits Al Wilayah

Walaupun begitu perlu diperhatikan mutawatir disini adalah mutawatir ma’nawi Artinya hadis-hadis tersebut memiliki matan yang bermacam-macam dan dapat dikelompokkan menjadi

• Matan yang Mutawatir, Artinya matan ini ada dalam setiap hadis Al Ghadir apapun sanadnya, matan itu adalah perkataan Rasulullah SAW di Ghadir Kum “barang siapa menganggap Aku Maulanya maka Ali adalah Maulanya”. Oleh karenanya perkataan ini bisa dikatakan bersifat pasti kebenarannya karena sanadnya mutawatir.
• Matan yang shahih, artinya matan ini diriwayatkan dalam hadis-hadis Al Ghadir tetapi tidak semua hadis Al Ghadir meriwayatkan matan ini. Adapun hadis yang mengandung matan ini sanadnya shahih. Yaitu antara lain matan yang mengandung perkataan Rasulullah SAW bahwa Sebentar lagi Rasulullah SAW akan dipanggil ke hadirat Allah SWT. Atau matan yang mengandung perkataan Rasulullah SAW kepada umatnya untuk berpegang kepada dua hal Kitab Allah dan Ahlul BaitKu, matan yang mengandung peristiwa kesaksian di Rahbah oleh beberapa sahabat terhadap Imam Ali, matan yang mengandung perkataan Rasulullah SAW ”bukankah Kalian telah mengetahui bahwa sesungguhnya Aku lebih berhak atas orang-orang mukmin dari pada diri mereka sendiri?” dan Matan yang mengandung ucapan selamat Umar kepada Ali(matan selamat ini diriwayatkan dalam Musnad Ahmad 4 hal 281 dalam sanadnya terdapat Zaid bin Hasan Al Anmathi, tentang beliau Abu Hatim berkata hadisnya mungkar tapi Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat, Syaikh Al Albani telah menshahihkan hadis dalam Sunan Tirmidzi no3 786 dan dalam sanadnya ada Zaid bin Hasan, oleh karena itu saya menyimpulkan bahwa hadis dalam Musnad Ahmad itu shahih.)
• Matan yang diperselisihkan sanadnya atau dhaif(menurut Ulama Sunni), artinya matan ini diriwayatkan dalam hadis Al Ghadir dimana sanad hadisnya adalah dhaif di sisi Ulama Sunni. Yaitu matan hadis Al Ghadir yang mengandung Ayat Tabligh Al Maidah 67 dan Al Maidah ayat 3.

Mari kita lihat kembali pernyataan penulis(Ja’far) seputar hadis Al Ghadir, beliau mengutip pernyataan Al Alusi

Adapun pada saat khutbah Rasulullah sepulang dari haji wada’ tersebut tidak didapati hadis yang shahih mengenai pengangkatan Ali sebagai khalifah / pemimpin / menjadikannya maula. Al-Alusi berkata, “Riwayat-riwayat tentang Ghadir Khum – yang di dalamnya terdapat perintah kepada Nabi SAW untuk mengangkat Ali sebagai khalifah – tidak shahih dan sama sekali tidak diterima oleh AhluSunnah” (Tafsir Al-Alusi).

Jika yang dimaksudkan adalah hadis dengan perkataan maula itu, maka dalam hal ini Al Alusi keliru karena pengangkatan Ali sebagai maula di Ghadir Kum telah dishahihkan banyak ulama Ahlus Sunnah seperti At Tirmidzi dalam Sunan Tirmidzi, Syaikh Al Albani dalam Shahih Ibnu Majah, Al Hakim dalam Al Mustadrak dan Adz Dzahabi dalam Talkhis Al Mustadrak. Tentu Ulama syiah menafsirkan maula sebagai pemimpin, sedangkan ulama sunni menafsirkan maula sebagai sahabat atau yang dicintai.

Tetapi jika yang dimaksudkan adalah hadis dengan turunnya Al Maidah ayat 67 dan Al Maidah ayat 3 maka saya sependapat. Karena hadis tentang itu terdapat keraguan pada sanadnya dan saya setuju dengan pernyataan penulis bahwa Al Maidah ayat 3 berdasarkan dalil shahih disisi Sunni turun di arafah.

Penulis(Ja’far) mengkritik hadis Al Ghadir yang mengandung matan maula dengan berkata

Masih ada beberapa hadis lain yang serupa dua hadis diatas dalam Musnad Imam Ahmad. Kata-kata ‘Man kuntu MAULAH fa’aliyyun maulah’ (Siapa yang aku sebagai PEMIMPINNYA maka Ali sebagai PEMIMPINNYA) tidak dapat dijadikan dalil bahwa Ali adalah khalifah setelah rasulullah SAW wafat.

Mari kita telaah masing-masing alasannya

Alasan pertama Imam Ahmad bin Hanbal yang meriwayatkan hadis tsb adalah AhluSunnah. Jika Imam Ahmad menafsirkan hadis tsb sebagai dalil yang menjadikan Ali sebagai khalifah/imam setelah rasulullah wafat maka dia seharusnya menjadi ulama syi’ah. Akan tetapi, Imam Ahmad adalah seorang ahlusunnah, dengan begitu Imam Ahmad tidak menafsirkan hadis tsb sebagai dalil penunjukkan Ali sebagai pengganti Rasullah SAW.

Alasan ini rancu sekali dan bagi saya orang yang memakai alasan seperti ini tidak perlu jauh-jauh menggunakan dalil dan pembahasan dalam mengkritik Syiah, dia cukup berkata seandainya Syiah itu benar maka Ulama-ulama sunni akan menjadi Syiah tetapi kenyataannya tidak maka Syiah tidak benar. Nah selesai urusannya. Kalau ingin melakukan pembahasan maka harus melihat dalil itu sendiri dan menilai penafsiran mana yang benar antara Ulama Sunni dan Syiah. Dalam hal ini Penulis telah melakukan Fallacy Argumentum Ad Verecundiam.

Alasan kedua Pengartian kata ‘maulah’ dalam konteks hadis tsb sebagai ‘pemimpin’ tidak tepat. Maulah dalam hadis tsb berarti loyalitas atau kecintaan, sesuai dengan akar katanya yaitu ‘Wali’.

Mari kita telaah, si penulis berargumen bahwa berdasarkan konteksnya maula itu bukan berarti pemimpin. Anehnya beliau malah mengartikan maula berdasar akar kata. Ulama Syiah berkata Maula adalah lafal Musytakarah(punya banyak arti) dan untuk mengetahui arti yang tepat adalah dengan melihat konteksnya pada hadis Al Ghadir.

Mari kita lihat apa kata Ulama Syiah tentang makna maula. Dalam Hadis Al Ghadir terdapat kata-kata Rasulullah SAW bahwa beliau sebentar lagi akan dipanggil ke hadirat Allah ” Kurasa seakan-akan aku segera akan dipanggil (Allah), dan segera pula memenuhi panggilan itu, Maka sesungguhnya aku meninggalkan kepadamu Ats Tsaqalain(dua peninggalan yang berat). Yang satu lebih besar (lebih agung) dari yang kedua : Yaitu kitab Allah dan Ittrahku. Jagalah Baik-baik dan berhati-hatilah dalam perlakuanmu tehadap kedua peninggalanKu itu, sebab Keduanya takkan berpisah sehingga berkumpul kembali denganKu di Al Haudh.
Bukankah kata-kata ini berarti Rasulullah SAW telah mewasiatkan sebelum beliau meninggal untuk mengikuti Al Quran dan Ahlul Bait, adalah wajar kalau hal ini diartikan Ulama Syiah sebagai Rasulullah SAW menyerahkan kepemimpinan Agama kepada Ahlul Bait.

Kemudian kata-kata “Bukankah Aku ini lebih berhak terhadap kaum muslimin dibanding diri mereka sendiri.. Orang-orang menjawab “Ya”. Hingga akhirnya Rasulullah SAW berkata” Barangsiapa yang menganggap aku sebagai maulanya, maka Ali adalah juga maulanya. Ulama Syiah menafsirkan kata lebih berhak menunjukkan bahwa maula yang dimaksud berkaitan dengan kekuasaan dan tidak tepat jika diartikan sahabat atau dicintai. Selain itu kata-kata terakhir Ya Allah, cintailah siapa yang mencintainya, dan musuhilah siapa yang memusuhinya. Menunjukkan bahwa pada saat itu Imam Ali dianugerahkan tanggung jawab yang memungkinkan beliau dicintai atau dimusuhi orang, tanggung jawab ini lebih tepat diartikan kekuasaan ketimbang yang dicintai.

Oleh karena itu Ulama Syiah menafsirkan maula sebagai pemimpin ditambah lagi ucapan selamat Umar kepada Ali yang menurut Syiah janggal diberikan hanya karena Ali dinobatkan sebagai yang dicintai, Ulama syiah berkata apakah sebelumnya Imam Ali adalah musuh sehingga ketika dinobatkan sebagai yang dicintai maka beliau diberi selamat.

Sedangkan kata-kata penulis

Seandainya maulah diartikan sebagai imam / khalifah maka seharusnya para sahabat tidak menjadikan Abu Bakar r.a sebagai khalifah setelah Rasulullah SAW. Mana mungkin mayoritas sahabat mengkhianati Rasulullah SAW. Para sahabat tidak pernah menafsirkan hadis tsb sebagai dalil penunjukkan Ali. Kalau kita menganggap hadis tsb sbg dalil penunjukkan Ali maka otomatis para sahabat adalah orang yang tidak melaksanakan amanat Rasulullah SAW

maka saya katakan itulah tepatnya kenapa Ulama Sunni berkeras bahwa kata maula itu bukan pemimpin. Disini penulis sudah memahami dengan prakonsepsinya terlebih dahulu tentang shahabat baru menilai nash hadis Al Ghadir bedanya dengan Syiah mereka memahami nash hadis Al Ghadir terlebih dahulu baru menilai shahabat.

Mengenai hadis tentang murtadnya shahabat Nabi kecuali beberapa orang di sisi Syiah, maka saya memilih untuk berdiam diri karena saya tidak mengetahui shahih tidaknya hadis tersebut di sisi Syiah dan apa arti murtad yang dimaksud. Karena yang saya tahu ada cukup banyak Sahabat Nabi yang diakui oleh Syiah bukan hanya beberapa orang, Silakan dirujuk pada Ikhtilaf Sunnah Syiah karya Syaikh Al Musawi hal 205-214. Saya juga ingin mengingatkan penulis bahwa di dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim terdapat hadis yang jika diartikan secara literal mengindikasikan cukup banyak shahabat Nabi yang masuk neraka karena berpaling setelah Nabi SAW wafat.

Contohnya hadis Shahih Bukhari juz 8 hal 150 diriwayatkan dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda ”Akan datang di hadapanKu kelak sekelompok shahabatKu tapi kemudian mereka dihalau. Aku bertanya ”wahai TuhanKu mereka adalah shahabat-shahabatKu”. Lalu dikatakan ”Engkau Tidak mengetahui apa yang mereka perbuat sepeninggalmu. Sesungguhnya mereka murtad dan berpaling.”. Tentu Ulama Sunni memiliki pemahaman sendiri terhadap hadis ini dengan berkata bahwa memang ada yang murtad dan yang murtad itu tidak lagi disebut sebagai shahabat. Yang ingin saya tekankan kalau Ulama Sunni bisa melakukan penafsiran terhadap teks mereka. Kenapa kita tidak bisa mendengar apa kata Ulama Syiah tentang hadis mereka.

Alasan yang ketiga Hadis-hadis tsb lebih tepatnya menceritakan keutamaan Imam Ali bin Abi Thalib bukan dalil tentang penunjukkannya.

Saya setuju kalau hadis itu menunjukkan keutamaan tapi keutamaan sebagai apa, nah disinilah terjadi beda penafsiran. Syiah justru berkata itulah keutamaan Imam Ali yang ditunjuk sebagai pengganti Rasulullah SAW.

Sunni Perlu Doktrin Ulang…Keutamaan Imam Ali Sayyid Pemimpin Di Dunia dan Akhirat : Bukti Keutamaan Yang Lebih Tinggi Dari Abu Bakar dan Umar

Keutamaan Imam Ali Sayyid Pemimpin Di Dunia dan Akhirat : Bukti Keutamaan Yang Lebih Tinggi Dari Abu Bakar dan Umar

Telah diriwayatkan dengan sanad yang shahih bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa Ali adalah Sayyid yaitu pemimpin atau penghulu di dunia dan juga di akhirat.

حدثنا أحمد بن عبد الجبار الصوفي قثنا أحمد بن الأزهر نا عبد الرزاق قال انا معمر عن الزهري عن عبيد الله بن عبد الله عن بن عباس قال بعثني النبي صلى الله عليه وسلم الى علي بن أبي طالب فقال أنت سيد في الدنيا وسيد في الآخرة من احبك فقد احبني وحبيبك حبيب الله وعدوك عدوي وعدوي عدو الله الويل لمن ابغضك من بعدي

 

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Abdul Jabbar Ash Shufi yang berkata telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Al Azhar yang berkata telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq yang berkata telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri dari Ubaidillah bin Abdullah dari Ibnu Abbas yang berkata “Nabi SAW mengutusku kepada Ali bin Abi Thalib lalu Beliau bersabda “Wahai Ali kamu adalah Sayyid [pemimpin] di dunia dan Sayyid [pemimpin] di akhirat. Siapa yang mencintaimu maka sungguh ia mencintaiku, kekasihmu adalah kekasih Allah dan musuhmu adalah musuhku dan musuhku adalah musuh Allah. Celakalah mereka yang membencimu sepeninggalKu [Fadhail Shahabah no 1092]

Hadis di atas juga diriwayatkan oleh Al Hakim dalam Al Mustadrak Ash Shahihain no 4640, Al Khatib dalam Tarikh Baghdad 4/261, dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq 42/292. Hadis di atas diriwayatkan oleh para perawi yang terpercaya dan sanadnya shahih tanpa keraguan

  • Ahmad bin Abdul Jabbar Ash Shufi adalah Syaikh Muhaddis yang tsiqat. Al Khatib dan yang lainnya menyatakan ia tsiqat [As Siyar 14/152 no 88]
  • Ahmad bin Al Azhar adalah seorang hafizh yang tsiqat seorang imam yang tsabit. [As Siyar 12/364 no 157]. Abu Hatim dan Shalih Al Jazarah menyatakan ia shaduq. Nasa’i dan Daruquthni menyatakan “tidak ada masalah padanya”. Ibnu Syahin dan Ibnu Hibban menyatakan ia tsiqat [At Tahdzib juz 1 no 6]. Al Hakim menyatakan kalau Ahmad bin Al Azhar disepakati tsiqat [Al Mustadrak no 4640]
  • Abdurrazaq bin Hammam adalah Al Imam Al Hafizh perawi kutubus sittah dimana Bukhari dan Muslim telah berhujjah dengan hadisnya. Ia seorang hafiz yang dikenal tsiqat sebagaimana disebutkan Ibnu Hajar [At Taqrib 1/599]
  • Ma’mar adalah Ma’mar bin Rasyd  perawi kutubus sittah. Ibnu Ma’in, Al Ajli, Yaqub bin Syaibah, Ibnu Hibban dan An Nasa’i menyatakan ia tsiqat [At Tahdzib juz 10 no 441] . Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat tsabit. [At Taqrib 2/202]
  • Az Zuhri adalah Muhammad bin Muslim bin Ubaidillah bin Abdullah bin Syihab. Al Hafiz Al Faqih yang disepakati [ketsiqahannya], dijadikan hujjah oleh Bukhari Muslim [At Taqrib 2/133]
  • Ubaidillah bin Abdullah bin Utbah bin Mas’ud adalah tabiin yang tsiqah dijadikan hujjah oleh Bukhari Muslim. Al Ajli, Abu Zar’ah dan Ibnu Hibban menyatakan ia tsiqat [At Tahdzib juz 7 no 50]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat faqih tsabit [At Taqrib 1/634].

Hadis ini sangat jelas shahih karena diriwayatkan para perawi yang terpercaya tetapi lagi-lagi ada saja kelucuan yang ditampilkan oleh beberapa ulama yang mengingkari hadis ini.

Al Hakim dalam Al Mustadrak As Shahihain no 4640 setelah meriwayatkan hadis ini, ia berkata

صحيح على شرط الشيخين وأبو الأزهر بإجماعهم ثقة وإذا تفرد الثقة بحديث فهو على أصلهم صحيح

 

Shahih dengan syarat Bukhari Muslim dan Abul Azhar disepakati para ulama sebagai perawi yang tsiqah dan jika perawi yang tsiqah menyendiri dalam meriwayatkan hadis maka menurut para ulama hadis tersebut shahih. [Al Mustadrak no 4640]

Lucunya Adz Dzahabi setelah membaca pernyataan Al Hakim, ia malah berkata

هذا وإن كان رواته ثقات فهو منكر ليس ببعيد من الوضع

 

Hadis ini walaupun para perawinya tsiqat adalah hadis mungkar tidak jauh dari derajat palsu [Talkhis Al Mustadrak 3/128]

Begitulah pernyataan putus asa yang dikeluarkan oleh Adz Dzahabi untuk memvonis palsu hadis tersebut. Bukankah ini bukti kalau beberapa ulama mengalami kekacauan jika mereka berhadapan dengan hadis keutamaan Ahlul Bait yang tidak mereka sukai. padahal dimanakah letak kemungkarannya?. Justru yang mungkar itu adalah perkataan Adz Dzahabi dan penolakan dengan gaya semacam Adz Dzahabi ini.

Diantara dalih yang digunakan untuk melemahkan hadis ini adalah Ahmad bin Al Azhar menyendiri dalam meriwayatkan hadis ini dari Abdurrazaq. Tidak jarang diantara mereka malah mengutip pengingkaran Ibnu Ma’in terhadap hadis ini. Lucunya pengingkaran Ibnu Ma’in ini jelas-jelas tidak bisa dijadikan hujjah. Al Khatib berkata

أخبرني محمد بن أحمد بن يعقوب أخبرنا محمد بن نعيم الضبي قال سمعت أبا على الحسين بن علي الحافظ يقول سمعت أحمد بن يحيى بن زهير التستري يقول لما حدث أبو الأزهر النيسابوري بحديثه عن عبد الرزاق في الفضائل ، أخبر يحيى بن معين بذلك ، فبينا هو عنده في جماعة أهل الحديث ،إذ قال يحيى بن معين من هذا الكذاب النيسابوري الذي حدث عن عبد الرزاق بهذا الحديث ؟ فقام أبو الأزهر فقال : هو ذا أنا . فتبسم يحيى بن معين وقال : أما إنك لست بكذاب ، وتعجب من سلامته ! وقال : الذنب لغيرك في هذا الحديث

 

Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Ahmad bin Yaqub yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Nu’aim Adh Dhuba’i yang berkata aku mendengar Abu Ali Husain bin Ali Al Hafizh berkata aku mendengar dari Ahmad bin Yahya bin Zuhair At Tusturi yang berkata “ketika Abul Azhar meriwayatkan hadis Abdurrazaq tentang Fadha’il [Imam Ali] kemudian dikabarkan kepada Ibnu Main. Maka pada suatu ketika Ibnu Main duduk bersama para ulama ahli hadis, Ibnu Ma’in berkata “Siapa pendusta dari Naisabur yang meriwayatkan hadis dari Abdurrazaq ini?. Maka Abul Azhar berdiri dan berkata “sayalah orangnya”. Yahya bin Ma’in tersenyum dan berkata “kamu bukan seorang pendusta” [dan ia heran mengapa ia masih selamat]. Kemudian Ibnu Ma’in berkata “ hadis ini dosa orang lain” [Tarikh Baghdad 4/261]

Silakan lihat baik-baik, pengingkaran Ibnu Ma’in itu tidak ada artinya dan tidak bernilai hujjah sedikitpun. Sudah jelas bahwa yang meriwayatkan hadis ini adalah Abul Azhar dan dialah perawi yang berasal dari Naisabur. Ibnu Ma’in pada awalnya dengan sembarangan berkata “siapa pendusta dari Naisabur” tetapi setelah ia melihat dengan jelas kalau yang meriwayatkan hadis tersebut adalah Abul Azhar yang dikenal tsiqah maka tidak ada jalan lain baginya selain berkelit dan mengatakan hadis itu bukan dosa Abul Azhar tetapi dosa orang lain. Lucu bukan, sekarang siapa orang Naisabur yang mau dituduh oleh Ibnu Ma’in itu, sudah jelas tidak ada. Perkataan itu cuma basa-basi untuk menyelamatkan wibawanya dihadapan para ulama lain.

Mengapa Abul Azhar menyendiri meriwayatkan hadis ini?. Ternyata terdapat kisah yang menjelaskan tentang hal ini. Al Khatib berkata

قال أبو الفضل فسمعت أبا حاتم يقول سمعت أبا الازهر يقول خرجت مع عبد الرزاق إلى قريته فكنت معه في الطريق فقال لي يا أبا الازهر أفيدك حديثا ما حدثت به غيرك قال فحدثني بهذا الحديث

 

Abu Fadhl berkata aku mendengar dari Abu Hatim yang berkata aku mendengar dari Abul Azhar yang mengatakan “aku keluar bersama Abdurrazaq ke desanya dan aku bersamanya dalam perjalanan, kemudian ia berkata kepadaku “wahai Abul Azhar aku akan menceritakan hadis yang belum pernah aku ceritakan kepada siapapun selainmu, maka ia menceritakan hadis tersebut” [Tarikh Baghdad 4/261]

Kisah ini juga diriwayatkan oleh Al Hakim dengan lebih lengkap. Al Hakim berkata

سمعت أبا عبد الله القرشي يقول سمعت أحمد بن يحيى الحلواني يقول لما ورد أبو الأزهر من صنعاء وذاكر أهل بغداد بهذا الحديث أنكره يحيى بن معين فلما كان يوم مجلسه قال في آخر المجلس أين هذا الكذاب النيسابوري الذي يذكر عن عبد الرزاق هذا الحديث فقام أبو الأزهر فقال هو ذا أنا فضحك يحيى بن معين من قوله وقيامه في المجلس فقربه وأدناه ثم قال له كيف حدثك عبد الرزاق بهذا ولم يحدث به غيرك فقال أعلم يا أبا زكريا أني قدمت صنعاء وعبد الرزاق غائب في قرية له بعيدة فخرجت إليه وأنا عليل فلما وصلت إليه سألني عن أمر خراسان فحدثته بها وكتبت عنه وانصرفت معه إلى صنعاء فلما ودعته قال لي قد وجب علي حقك فأنا أحدثك بحديث لم يسمعه مني غيرك فحدثني والله بهذا الحديث لفظا فصدقه يحيى بن معين واعتذر إليه

 

Aku mendengar Abu Abdullah Al Qurasy berkata aku mendengar Ahmad bin Yahya Al Halwani berkata ketika Abul Azhar kembali dari Shan’a dan meriwayatkan hadis ini kepada penduduk Baghdad maka Ibnu Ma’in mengingkari [hadis tersebut]. Sehingga suatu hari di dalam majelis ia berkata di akhir majelis “siapa pendusta dari Naisabur yang meriwayatkan hadis dari Abdurrazaq ini?”. Maka Abul Azhar berdiri dan berkata “saya orangnya”. Yahya bin Ma’in tersenyum dengan perkataannya, ia berdiri dan membawa Abul Azhar duduk kemudian ia berkata “bagaimana engkau bisa menceritakan hadis dari Abdurrazaq dimana tidak ada selainmu yang menceritakan hadis tersebut. Abul Azhar berkata “wahai Abu Zakaria, suatu ketika aku datang ke Shan’a dan Abdurrazaq sedang tidak ada di desanya, ia berada di tempat yang jauh. Maka aku mendatanginya padahal ketika itu aku sedang sakit. Ketika aku bertemu dengannya, ia menanyakan kepadaku sesuatu tentang Khurasan maka aku menceritakan kepadanya dan menuliskannya. Dan aku menemaninya dalam perjalanan kembali ke Shan’a. Kemudian ia berkata kepadaku “sungguh wajib bagiku untuk membalasmu, aku akan menceritakan sebuah hadis dimana belum ada seorangpun selainmu yang mendengarnya dariku”. Demi Allah inilah hadis yang dikatakannya. Maka Yahya bin Ma’in percaya dan meminta maaf kepadanya. [Al Mustadrak Ash Shahihain no 4640]

Begitulah ketika itu Abul Azhar adalah orang pertama yang mendengar hadis tersebut dari Abdurrazaq dan belum ada seorangpun saat itu yang mendengar hadis tersebut. Tentu saja kesaksian Abul Azhar bisa diterima dan walaupun ia menyendiri meriwayatkan hadis ini dari Abdurrazaq maka itu tidaklah merusak kedudukan hadisnya. Apalagi ternyata diketahui bahwa setelah peristiwa dengan Abul Azhar ini, Abdurrazaq menceritakan hadis tersebut kepada perawi lain yaitu Muhammad bin Ali bin Sufyan Ash Shan’ani. Hal ini sebagaimana yang disebutkan oleh Al Khatib

وقد رواه محمد بن حمدون النيسابوري عن محمد بن على بن سفيان النجار عن عبد الرزاق

Sungguh telah diriwayatkan Muhammad bin Hamdun An Naisabur dari Muhammad bin Ali bin Sufyan An Najar dari Abdurrazaq [Tarikh Baghdad 4/262]

Kesaksian ini semakin menguatkan kalau hadis Abul Azhar tersebut memang benar tsabit dari Abdurrazaq dan tidak ada lagi yang pantas diragukan kecuali oleh orang-orang yang memiliki sesuatu di hatinya. Orang-orang yang entah mengapa merasa risih jika ada keutamaan yang sangat besar dimiliki oleh Ahlul Bait.

.

.

Singkat Tentang Matan Hadis

Banyak faedah yang bisa dipetik dari matan hadis tersebut. Diantaranya hadis tersebut menunjukkan keutamaan Imam Ali di atas para sahabat lainnya [termasuk Abu Bakar, Umar dan Utsman]. Karena Imam Ali adalah Sayyid [Pemimpin] bagi mereka baik di dunia maupun di akhirat kelak. Hadis tersebut juga menunjukkan kecaman yang begitu besar kepada mereka yang memusuhi dan membenci Imam Ali karena disebutkan bahwa Musuh Imam Ali adalah Musuh Rasulullah SAW dan musuh Rasulullah SAW adalah musuh Allah SWT. Sungguh celaka sekali mereka yang memusuhi dan membenci Imam Ali.

Hadis di atas bukan hak milik kaum syiah. Hadis ini tidak ada urusan dengan mahzab yang dianut. Hadis ini adalah milik orang islam, betapa menjijikkannya mereka yang menolak hadis ini hanya karena hadis ini dijadikan hujjah oleh Syiah. Dan betapa lucunya mereka para pengingkar yang bekerja keras untuk mencacatkan hadis ini karena mereka tidak akan menemukan cacat selain cacat yang ada pada diri mereka sendiri. Mereka berkata “kami mencintai sahabat Ali” tetapi mengapa mereka keberatan dengan hadis keutamaan Imam Ali di atas. Ataukah mereka mencintai Imam Ali jika dan hanya jika keutamaan Imam Ali di bawah keutamaan Abu Bakar dan Umar. Apakah mereka beranggapan hadis yang menunjukkan keutamaan Imam Ali di atas Abu Bakar dan Umar harus ditolak walau seshahih apapun sanadnya?. Mengapa mereka begitu dengki kepada “para pecinta ahlul bait”?. Tidak jarang mereka merendahkan orang yang mencintai Ahlul Bait dengan sebutan “Rafidhah” kemudian mereka menebarkan syubhat kalau Rafidhah itu sesat dan menyesatkan bahkan bukan islam. Ada apa di hati mereka? Hanya Allah SWt yang tahu. Semoga Allah SWT selalu menjaga para pecinta Ahlul Bait dari kecaman dan kedengkian orang-orang seperti mereka.

Hadis Kemuliaan Imam Ali Manusia Pilihan Allah SWT

Terdapat salah satu hadis yang seringkali dinyatakan palsu oleh para ulama tetapi anehnya mereka tidak memiliki dalil yang jelas untuk menyatakan hadis tersebut palsu. Mereka malah menjadikan hadis ini sebagai alat untuk menuduh perawi yang meriwayatkannya sebagai perawi cacat atau pemalsu hadis. Diriwayatkan oleh Al Hakim dalam Al Mustadrak Ash Shahihain

حدثنا أبو بكر بن أبي دارم الحافظ ثنا أبو بكر محمد بن أحمد بن سفيان الترمذي ثنا سريج بن يونس ثنا أبو حفص الأبار ثنا الأعمش عن أبي صالح عن أبي هريرة رضى الله تعالى عنه قال قالت فاطمة رضى الله تعالى عنها يا رسول الله زوجتني من علي بن أبي طالب وهو فقير لا مال له فقال يا فاطمة أما ترضين أن الله عز وجل اطلع إلى أهل الأرض فاختار رجلين أحدهما أبوك والآخر بعلك

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Darim Al Hafizh yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Muhammad bin Ahmad bin Sufyan Al Tirmidzi yang berkata telah menceritakan kepada kami Suraij bin Yunus yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Hafsh Al Abbar yang berkata telah menceritakan kepada kami Al ‘Amasy dari Abu Shalih dari Abu Hurairah RA yang berkata “Fathimah berkata “Wahai Rasulullah Engkau menikahkanku dengan Ali bin Abi Thalib dan dia seorang yang fakir dan tidak memiliki sesuatu”. Rasulullah SAW berkata “Wahai Fathimah tidakkah kamu ridha bahwa Allah SWT telah melihat kepada penduduk Bumi dan memilih dua orang, salah satunya adalah Ayahmu dan yang lainnya adalah suamimu” [Al Mustadrak Al Hakim no 4645]

Hadis ini memiliki sanad yang shahih diriwayatkan oleh para perawi yang terpercaya. Mereka yang berusaha melemahkan hadis ini tidak memiliki satupun dalil kecuali mereka menjadikan salah satu perawinya sebagai yang tertuduh karena ia telah meriwayatkan hadis ini.

  • Al Hafizh Abu Bakar bin Abi Darim adalah syaikh atau gurunya Al Hakim. Dalam Al Mustadrak, Al Hakim banyak sekali meriwayatkan hadis darinya dan ia menyebutnya dengan sebutan “Al Hafizh” [yang merupakan predikat ta’dil]. Al Hakim telah menshahihkan hadis-hadis Ibnu Abi Darim. Oleh karena itu kami simpulkan bahwa menurut Al Hakim, Ibnu Abi Darim adalah Al Hafizh yang shahih hadisnya.
  • Muhammad bin Ahmad bin Sufyan At Tirmidzi adalah penduduk Baghdad, Al Hakim menyebutnya dengan kuniyah Abu Bakar dan Al Khatib menyebutnya dengan kuniyah Abu Abdullah. Al Khatib menyatakan bahwa Muhammad bin Ahmad bin Sufyan At Tirmidzi seorang yang tsiqah [Tarikh Baghdad 1/322 no 176]
  • Suraij bin Yunus adalah seorang yang tsiqah perawi Bukhari Muslim. Ahmad dan Nasa’i menyatakan “tidak ada masalah padanya”. Abu Hatim dan Ishaq bin Ibrahim menyatakan ia shaduq. Abu Dawud, Ibnu Ma’in, Ibnu Qani’, Ibnu Sa’ad dan Ibnu Hibban menyatakan ia tsiqat. [At Tahdzib juz 3 no 857]. Ibnu Hajar berkata “ahli ibadah yang tsiqat” [At Taqrib 1/341].
  • Abu Hafsh Al Abbar adalah Umar bin Abdurrahman bin Qais seorang hafizh yang tsiqah. Ibnu Ma’in, Ibnu Sa’ad, Utsman bin Abi Syaibah, Daruquthni dan Ibnu Hibban menyatakan ia tsiqat. Ahmad dan Nasa’i menyatakan “tidak ada masalah padanya”. Abu Hatim dan Abu Zar’ah menyatakan ia shaduq. Ibnu Hajar menyatakan ia shaduq [At Taqrib 1/722] dan dikoreksi dalam Tahrir At Taqrib bahwa Abu Hafsh seorang yang tsiqat [Tahrir At Taqrib no 4937].
  • Al ‘Amasy adalah Sulaiman bin Mihran seorang perawi kutubus sittah yang tsiqat. Ibnu Ma’in, Al Ajli, An Nasa’i dan Ibnu Hibban menyatakan ia tsiqat. Muhammad bin Abdullah bin Ammar berkata “tidak ada muhadis yang lebih tsabit dari ‘Amasy”. [At Tahdzib juz 4 no 386]. Ibnu Hajar menyatakan ia seorang hafizh yang tsiqat [At Taqrib 1/392]
  • Abu Shalih As Saman adalah Dzakwan seorang tabiin yang tsiqah perawi kutubus sittah. Ahmad, Ibnu Ma’in, Abu Hatim , Abu Zar’ah , Ibnu Sa’ad, As Saji, Al Ajli dan Ibnu Hibban menyatakan ia tsiqah [At Tahdzib juz 3 no 417]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat [At Taqrib 1/287]

Hadis ini sangat jelas diriwayatkan oleh para perawi yang terpercaya tetapi ada sebagian orang yang merasa “ada sesuatu di hatinya” sehingga berusaha mencacatkan hadis ini bahkan menyatakan hadis ini palsu.

.

.

Syubhat Para Pengingkar

Syubhat pertama yang disebarkan oleh para pengingkar untuk menolak hadis ini adalah mereka mencacatkan Al Hafizh Ibnu Abi Darim. Mereka menukil Adz Dzahabi yang menyatakan kalau Ibnu Abi Darim seorang Rafidhah pendusta [Mizan Al ‘Itidal no 552].

Perkataan ini tidak benar bahkan Adz Dzahabi telah menentang dirinya sendiri dimana ia telah memuji atau menta’dilkan Ibnu Abi Darim. Adz Dzahabi dalam As Siyar mengatakan kalau Ibnu Abi Darim adalah Al Imam Al Hafizh Al Fadhl seorang Muhaddis Syiah Kufah [As Siyar 15/576 no 349]. Perkataan ini telah dikenal sebagai perkataan ta’dil tingkat pertama dan disini Adz Dzahabi tidak menyebut Ibnu Abi Darim Rafidhah melainkan hanya Syiah. Dan dalam implementasinya ternyata Adz Dzahabi malah menshahihkan banyak hadis Ibnu Abi Darim dalam kitabnya Talkhis Al Mustadrak yaitu

  • Talkhis Al Mustadrak 1/393 no 964 [Adz Dzahabi dan Al Hakim bersepakat menshahihkannya]
  • Talkhis Al Mustadrak 1/397 no 977 [Adz Dzahabi dan Al Hakim bersepakat menshahihkannya]
  • Talkhis Al Mustadrak 1/437 no 1102 [Adz Dzahabi dan Al Hakim bersepakat menshahihkannya]
  • Talkhis Al Mustadrak 2/268 no 2965 [Adz Dzahabi dan Al Hakim bersepakat menshahihkannya]
  • Talkhis Al Mustadrak 2/326 no 3167 [Adz Dzahabi dan Al Hakim bersepakat menshahihkannya]
  • Talkhis Al Mustadrak 2/268 no 2965 [Adz Dzahabi dan Al Hakim bersepakat menshahihkannya]
  • Talkhis Al Mustadrak 2/268 no 2965 [Adz Dzahabi dan Al Hakim bersepakat menshahihkannya]
  • Talkhis Al Mustadrak 2/469 no 3617 [Adz Dzahabi dan Al Hakim bersepakat menshahihkannya]
  • Talkhis Al Mustadrak 3/241 no 4963 [Adz Dzahabi dan Al Hakim bersepakat menshahihkannya]
  • Talkhis Al Mustadrak 3/364 no 5405 [Adz Dzahabi dan Al Hakim bersepakat menshahihkannya]
  • Talkhis Al Mustadrak 3/397 no 5503 [Adz Dzahabi dan Al Hakim bersepakat menshahihkannya]
  • Talkhis Al Mustadrak 3/414 no 5580 [Adz Dzahabi dan Al Hakim bersepakat menshahihkannya]
  • Talkhis Al Mustadrak 3/618 no 6292 [Adz Dzahabi dan Al Hakim bersepakat menshahihkannya]

Jumlah ini belum ditambah dengan hadis-hadis Ibnu Abi Darim yang dishahihkan oleh Al Hakim dan didiamkan oleh Adz Dzahabi. Dengan fakta ini dapat diketahui bahwa Al Hakim sendiri dalam kitabnya Al Mustadrak selalu menyebutkan Ibnu Abi Darim gurunya dengan sebutan Al Hafizh serta menshahihkan hadis-hadisnya. Maka dapat disimpulkan bahwa Al Hakim telah menta’dilkan Ibnu Abi Darim dan berhujjah dengan hadis-hadisnya. Hal ini jelas sekali bertolak belakang dengan penukilan Adz Dzahabi. Adz Dzahabi menukil dari Al Hakim yang berkata tentang Ibnu Abi Darim “Rafidhah yang tidak tsiqah” [As Siyar 15/576 no 349]. Tentu saja yang benar adalah apa yang ditulis oleh Al Hakim sendiri dalam kitabnya Al Mustadrak sedangkan penukilan Adz Dzahabi itu bisa saja keliru.

Sudah jelas yang mengalami kekacauan disini adalah Adz Dzahabi, ia terkadang menta’dilkan Ibnu Abi Darim tetapi terkadang mencelanya dan diketahui bahwa celaan yang ditujukan kepada Ibnu Abi Darim disebabkan ia pernah mencaci sahabat Nabi. Alasan ini sungguh musykil jika kita membandingkan dengan betapa banyaknya perawi yang dinyatakan tsiqah oleh para ulama padahal perawi tersebut membenci dan mencaci sahabat Ali bin Abi Thalib. Selain itu kalau kita melihat sendiri bagaimana sikap Adz Dzahabi terhadap hadis-hadis Ibnu Abi Darim [dalam Al Mustadrak] maka tidak ada satupun hadis yang dinyatakan dhaif atau palsu oleh Adz Dzahabi karena kelemahan Ibnu Abi Darim justru sebaliknya malah banyak sekali hadis Ibnu Abi Darim yang dishahihkan oleh Adz Dzahabi. Memang Adz Dzahabi sendiri menyatakan hadis di atas sebagai hadis maudhu’ tetapi yang ia tuduh sebagai pemalsu hadis adalah Muhammad bin Ahmad bin Sufyan At Tirmidzi bukan Ibnu Abi Darim.

Syubhat kedua yang dijadikan hujjah para pengingkar untuk menolak hadis ini adalah mereka menuduh Muhammad bin Ahmad bin Sufyan At Tirmidzi sebagai pemalsu hadis. Mereka menukil dari Adz Dzahabi yang berkata

محمد بن أحمد بن سفيان ، أبو بكر الترمذي ، ولعله الباهلى . روى عن سريج بن يونس حديثا موضوعا هو المتهم به

 

Muhammad bin Ahmad bin Sufyan Abu Bakar Tirmidzi, mungkin ia Al Bahili meriwayatkan dari Suraij bin Yunus hadis maudhu’ [palsu] dan dia menjadi yang tertuduh karenanya [Mizan Al ‘Itidal no 7140].

Dan seperti biasa Abul Wafa’ atau Ibrahim bin Muhammad bin Sibth Ibnu Ajami dalam Kasyf Al Hatsits no 628 juga ikut-ikutan Adz Dzahabi menuduh Muhammad bin Ahmad bin Sufyan At Tirmidzi yang memalsukan hadis ini.

Silakan perhatikan baik-baik perkataan Adz Dzahabi tersebut. Sudah jelas bahwa dari awal ia sudah menyatakan hadis tersebut palsu dan yang bisa dijadikan tertuduh dalam hal ini adalah Muhammad bin Ahmad bin Sufyan At Tirmidzi. Artinya justru Muhammad bin Ahmad bin Sufyan At Tirmidzi menjadi perawi yang tertuduh memalsu hadis hanya gara-gara ia meriwayatkan hadis ini. Tentu saja Adz Dzahabi harus mencari dalih untuk melemahkan Muhammad bin Ahmad bin Sufyan At Tirmidzi yaitu ia menyatakan kemungkinan orang ini adalah Al Bahili. Tahukah anda siapakah Al Bahili yang dimaksud? Ia sebenarnya adalah Muhammad bin Ahmad bin Suhail Al Bahili, silakan dilihat perkataan Adz Dzahabi sendiri

محمد بن أحمد بن سهيل الباهلي عن وهب بن بقية قال ابن عدي ممن يضع الحديث

Muhammad bin Ahmad bin Suhail Al Bahili dari Wahab bin Baqiyah. Ibnu Ady berkata ia termasuk pemalsu hadis [Al Mughni Adh Dhu'afa no 5233]

Sekarang silakan lihat baik-baik kekacauan Adz Dzahabi. Kekacauan pertama: tidak ada satupun yang menisbatkan kepada Muhammad bin Ahmad bin Sufyan At Tirmidzi dengan sebutan Al Bahili. Jadi dari mana datangnya perkataan Adz Dzahabi tersebut, kecuali dari keinginannya untuk menyatakan hadis tersebut palsu. Kekacauan kedua, apakah Adz Dzahabi itu tidak melihat bahwa Al Bahili yang dimaksud adalah Muhammad bin Ahmad bin Suhail. Sedangkan perawi sebelumnya itu adalah Muhammad bin Ahmad bin Sufyan. Siapapun akan tahu kalau kedua orang ini jelas berbeda.

Padahal kalau diteliti lebih jauh ternyata memang ada seorang perawi yang bernama Muhammad bin Ahmad bin Sufyan At Tirmidzi. Ia adalah salah satu dari syaikh Ath Thabrani. Biografinya disebutkan oleh Al Khatib

محمد بن أحمد بن سفيان أبو عبد الله البزاز الترمذي سكن بغداد وحدث بها عن عبيد الله بن عمر القواريري ومحمد بن جعفر الفيدي وغيرهما روى عنه أحمد بن كامل القاضي وسليمان بن أحمد الطبراني وكان ثقة

Muhammad bin Ahmad bin Sufyan Abu Abdullah Al Bazzaz At Tirmidzi tinggal di Baghdad meriwayatkan hadis dari Ubaidillah bin Umar Al Qawariri dan Muhammad bin Ja’far Al Faidhi dan yang lainnya. Telah meriwayatkan darinya Ahmad bin Kamil Al Qadhi dan Sulaiman bin Ahmad Ath Thabrani dan dia seorang yang tsiqah [Tarikh Baghdad 1/322 no 176]

Kami dengan jelas menyatakan kalau Muhammad bin Ahmad bin Sufyan At Tirmidzi yang dimaksud adalah Syaikh Ath Thabrani di atas karena ia pada dasarnya menetap di Baghdad dan sangat mungkin sekali meriwayatkan hadis dari Suraij bin Yunus yang dikenal dengan Suraij bin Yunus bin Ibrahim Al Baghdadi [artinya ia penduduk Baghdad].

Perhatikan baik-baik Syaikh Ath Thabrani di atas meriwayatkan hadis dari Ubaidillah bin Umar dan Muhammad bin Ja’far Al Faidhi

  • Ubaidillah bin Umar adalah perawi thabaqat ke-10 termasuk penduduk Baghdad yang lahir tahun 150 H dan wafat tahun 235 H. [At Tahdzib juz 7 no 72]
  • Muhammad bin Ja’far Al Faidhi adalah perawi thabaqat ke-11 yang dikenal dengan kuniyah Abu Abdullah dan ada yang mengatakan Abu Ja’far juga termasuk penduduk Baghdad wafat tahun 230 H [At Tahdzib juz 9 no 128].

Dimana Muhammad bin Ahmad bin Sufyan At Tirmidzi pada riwayat Al Hakim di atas telah meriwayatkan hadis dari Suraij bin Yunus bin Ibrahim Al Baghdadi yang termasuk perawi thabaqat ke-10 penduduk Baghdad yang wafat tahun 235 H. [At Tahdzib juz 3 no 857].

Jadi bisa dikatakan kalau Muhammad bin Ahmad bin Sufyan At Tirmidzi yang dimaksud adalah Syaikh Ath Thabrani yang dikenal tsiqah dimana Al Khatib menyebutnya dengan kuniyah Abu Abdullah dan Al Hakim menyebutnya dengan kuniyah Abu Bakar. Dan sungguh telah ma’ruf bahwa seorang perawi bisa memiliki kuniyah yang bermacam-macam seperti yang telah kami tunjukkan yaitu Muhammad bin Ja’far Al Faidhi yang memiliki kuniyah Abu Abdullah dan Abu Ja’far. Muhammad bin Ahmad bin Sufyan At Tirmidzi adalah seorang yang tsiqah sedangkan mereka yang menuduhnya tidak memiliki dalil apapun kecuali keinginan mereka yang begitu besar untuk menyatakan hadis tersebut palsu sehingga dengan terpaksa mereka harus menuduh perawi yang meriwayatkannya sebagai pemalsu hadis. Sungguh logika sirkuler yang menyesatkan

Mematahkan Doktrin Sunni… Ternyata Imam Ali Manusia Yang Paling Dicintai Allah SWT : Bukti Keutamaan Di Atas Abu Bakar dan Umar

Imam Ali Manusia Yang Paling Dicintai Allah SWT : Bukti Keutamaan Di Atas Abu Bakar dan Umar

Telah diriwayatkan dengan berbagai jalan dari sahabat Anas bin Malik RA bahwa Rasulullah SAW bersabda kalau Imam Ali adalah manusia yang paling dicintai Allah SWT. Hadis tersebut dikenal dengan sebutan hadis Thayr dan hadis ini termasuk salah satu hadis yang menjadi korban sinisme sepanjang masa oleh para ahli hadis. Sebagian ulama menyatakan hadis tersebut maudhu’ mungkar dan tentu saja perkataan ini bathil karena hadis ini diriwayatkan dengan berbagai jalan dan diantaranya terdapat sanad yang jayyid sehingga dengan mengumpulkan sanad-sanadnya maka hadis tersebut sudah jelas shahih. Pada pembahasan ini kami akan membahas sanad yang jayyid mengenai hadis ini. Diriwayatkan dari Anas RA kalau Rasulullah SAW pernah mendapatkan daging burung kemudian Rasulullah SAW bersabda

فقال اللهم ائتني بأحب خلقك إليك يأكل معي من هذا الطير فجاء علي بن أبي طالب فدخل يأكل معه من ذلك الطير

Rasulullah SAW bersabda “Ya Allah datangkanlah hambamu yang paling Engkau cintai agar dapat memakan daging burung ini bersamaKu. Maka datanglah Ali dan ia memakan daging burung itu bersama Nabi SAW”. [Tarikh Ibnu Asakir 42/254]

.

.

Takhrij Hadis

Hadis ini diriwayatkan dengan sanad yang jayyid dari As Suddi dari Anas Ra. Yang meriwayatkan dari As Suddi adalah Isa bin Umar Al Qari dan yang meriwayatkan dari Isa bin Umar Al Qari adalah Ubadiillah bin Musa dan Mushir bin Abdul Malik. Yang meriwayatkan dari Ubaidillah bin Musa  adalah Sufyan bin Waki’ dan Hatim bin Laits sedangkan yang meriwayatkan dari Mushir adalah Hasan bin Hamad. Sanad As Suddi diriwayatkan dalam Sunan Tirmidzi 5/636 no 3721, Musnad Abu Ya’la 7/105 no 4052, Sunan Nasa’i 5/107 no 8398, dan  Tarikh Ibnu Asakir 42/254. Berikut sanad yang jayyid dalam Tarikh Ibnu Asakir

أخبرنا أبو غالب بن البنا أنا أبو الحسين بن الابنوسي أنا أبو الحسن الدار قطني نا محمد بن مخلد بن حفص نا حاتم بن الليث نا عبيد الله بن موسى عن عيسى بن عمر القارئ عن السدي نا أنس بن مالك

 

Telah menceritakan kepada kami Abu Ghalib bin Al Bana yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Husain bin Al Banusi yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Hasan Daruquthni yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Makhlad bin Hafsh yang berkata telah menceritakan kepada kami Hatim bin Laits yang berkata telah menceritakan kepada kami Ubaidillah bin Musa dari Isa bin Umar Al Qari dari As Suddi dari Anas bin Malik [Tarikh Ibnu Asakir 42/254]

Hadis ini sanadnya shahih diriwayatkan oleh para perawi yang terpercaya. As Suddi adalah tabiin yang meriwayatkan dan mendengar dari Anas bin Malik. Hadis As Suddi dari Anas telah dijadikan hujjah oleh Imam Muslim

  • Abu Ghalib bin Al Bana adalah seorang Syaikh shalih tsiqat musnad Baghdad sebagaimana yang disebutkan oleh Adz Dzahabi [As Siyar 19/603 no 352]
  • Abu Husain bin Al Banusi adalah Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Ali Ibnu Banusi seorang Syaikh yang tsiqat [As Siyar 18/85 no 38]
  • Abu Hasan Daruquthni adalah penulis kitab Sunan yang mayshur. Al Imam Syaikh Islam Al Hafizh.  Ia dikatakan Amirul mukminin dalam hadis [Tadzkirah Al Huffazh 3/123 no 925]
  • Muhammad bin Makhlad bin Hafsh adalah Al Imam Mufid tsiqat musnad Baghdad. Daruquthni berkata “tsiqat ma’mun” [Tadzkirah Al Huffazh 3/33 no 811]
  • Hatim bin Laits adalah Hatim bin Laits bin Al Harits bin Abdurrahman Abu Fadhl seorang yang tsiqat tsabit mutqin hafizh [Tarikh Baghdad 8/240 no 4346]
  • Ubaidillah bin Musa adalah perawi kutubus sittah. Ibnu Ma’in, Abu Hatim, Al Ajli, Ibnu Ady, Ibnu Sa’ad, Ibnu Hibban, Ibnu Syahin menyatakan ia tsiqat. [At Tahdzib juz 7 no 97]. Ibnu Hajar menyatakan tsiqat tasyayyu’ [At Taqrib 1/640]. Adz Dzahabi menyatakan ia tsiqat [Al Kasyf no 3593].
  • Isa bin Umar Al Qari adalah perawi Tirmidzi dan Nasa’i. Ahmad , Al Bazzar dan Abu Hatim berkata “tidak ada masalah padanya”. Ibnu Ma’in, Ibnu Hibban, Waki’, Al Khatib, Nasa’i, Al Ajli, Ibnu Numair menyatakan ia tsiqat. [At Tahdzib juz 8 no 415]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat [At Taqrib 1/773]
  • As Suddi adalah Ismail bin Abdurrahman As Suddi perawi Muslim dan Ashabus Sunan seorang Imam dalam tafsir. Yahya bin Sa’id Al Qattan berkata “tidak ada masalah padanya”. Ahmad bin Hanbal menyatakan ia tsiqat, Nasa’i berkata “tidak ada masalah padanya”. Ibnu Ady berkata “hadisnya lurus, jujur dan tidak ada masalah padanya”. Al Ajli dan Ibnu Hibban menyatakan ia tsiqat. Telah meriwayatkan darinya Syu’bah yang berarti Syu’bah menyatakan tsiqat padanya. Ia dilemahkan oleh sebagian ulama seperti Ibnu Ma’in, Abu Zar’ah dan Abu Hatim tanpa menyebutkan alasannya sehingga jarh mereka adalah jarh mubham padahal ia telah mendapatkan ta’dil dari ulama yang mu’tabar. [At Tahdzib juz 1 no 572]. Ibnu Hajar menyatakan ia shaduq yahim [At Taqrib 1/97] dan dikoreksi dalam Tahrir At Taqrib bahwa As Suddi seorang yang shaduq hasanul hadis [Tahrir At Taqrib no 463]. Adz Dzahabi menyatakan ia hasanul hadits [Al Kasyf no 391]. Pendapat yang rajih adalah As Suddi seorang yang tsiqat apalagi ia telah dijadikan hujjah oleh Imam Muslim dalam kitab Shahihnya.

Hadis ini sudah jelas shahih dan diriwayatkan oleh para perawi tsiqat. At Tirmidzi berkata setelah meriwayatkan hadis ini

هذا حديث غريب لا نعرفه من حديث السدي إلا من هذا الوجه وقد روى من غير وجه عن أنس و عيسى بن عمر هو كوفي و السدي إسمعيل بن عبد الرحمن وسمع من أنس بن مالك ورأى الحسين بن علي و ثقة شعبة و سفيان الثوري و زائدة ووثقه يحيى بن سعيد القطان

 

Hadis ini gharib, tidak dikenal dari hadis As Suddi kecuali dengan jalan ini. Dan sungguh telah diriwayatkan oleh jalan yang lain dari Anas. Isa bin Umar ia Al Kufi dan Al Asdi . Ismail bin Abdurrahman mendengar dari Anas bin Malik dan melihat Husain bin Ali, ia dinyatakan tsiqat oleh Syu’bah, Sufyan Ats Tsawri dan Za’idah dan ia dinyatakan tsiqat oleh Yahya bin Sa’id Al Qattan [Sunan Tirmidzi 5/636 no 3721]

Isa bin Umar memang menyendiri meriwayatkan hadis ini dari As Suddi tetapi itu tidaklah merusak kedudukan hadisnya sebagaimana hal yang ma’ruf dalam ilmu hadis bahwa jika perawi tsiqat menyendiri dalam meriwayatkan hadis shahih maka hadisnya tetaplah diterima. Isa bin Umar adalah seorang yang tsiqat dan riwayatnya dari As Suddi adalah shahih.

Selain riwayat As Suddi dari Anas terdapat sanad lain yang jayyid yaitu riwayat Utsman Ath Thawil dari Anas. Riwayat Utsman Ath Thawil dari Anas bin Malik RA disebutkan dalam kitab Tarikh Ibnu Asakir 42/250 dan Al Bukhari dalam Tarikh Al Kabir juz 2 no 1488. Berikut sanad riwayat Al Bukhari

قال لي محمد بن يوسف حدثنا أحمد قال ثنا زهير قال ثنا عثمان الطويل عن أنس بن مالك

 

Telah berkata kepadaku Muhammad bin Yusuf yang berkata telah menceritakan kepada kami Ahmad yang berkata telah menceritakan kepada kami Zuhair yang berkata telah menceritakan kepada kami Utsman Ath Thawil dari Anas bin Malik [Tarikh Al Kabir juz 2 no 1488]

Utsman dari Anas ini memiliki sanad yang hasan shahih. Utsman Ath Thawil adalah seorang tabiin yang telah meriwayatkan darinya para perawi tsiqah diantaranya Syu’bah [Syu’bah hanya meriwayatkan dari perawi tsiqah]

  • Muhammad bin Yusuf Al Bukhari adalah Syaikh [gurunya] Al Bukhari . Al Khalili menyatakan ia tsiqat muttafaq alaih [Al Irsyad 3/184]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat [At Taqrib 2/150].
  • Ahmad adalah Ahmad bin Yazid bin Ibrahim Abu Hasan Al Harrani. Ia dinyatakan tsiqat oleh Maslamah bin Qasim dan Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Abu Hatim mendhaifkannya [At Tahdzib juz 1 no 158]. Disebutkan kalau Nasa’i menyatakan ia tsiqat [Tahrir At Taqrib no 127]. Pendapat yang rajih adalah ia seorang yang tsiqat apalagi Abu Hatim dikenal berlebihan dalam menjarh dan banyak mencacatkan para perawi shahih oleh karena itu jika ia menyendiri dalam mencacatkan perawi yang telah dita’dilkan ulama lain maka jarhnya tidaklah diterima.
  • Zuhair adalah Zuhair bin Muawiyah perawi kutubus sittah yang dikenal tsiqat. Ibnu Ma’in, Abu Zar’ah, Nasa’i, Al Ajli, Ibnu Sa’ad, Ibnu Hibban, Al Bazzar menyatakan ia tsiqat [At Tahdzib juz 3 no 648]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat tsabit [At Taqrib 1/317]. Adz Dzahabi menyatakan ia Al Hafizh tsiqat hujjah [Al Kasyf no 1668]
  • Utsman Ath Thawil adalah tabiin yang meriwayatkan dari Anas bin Malik. Telah meriwayatkan darinya para perawi tsiqat diantaranya Laits bin Abi Sulaim, Syu’bah, ‘Anbasah bin Sa’id dan Zuhair bin Muawiyah. Abu Hatim berkata “Syaikh” [Al Jarh Wat Ta’dil 6/173 no 950]. Perkataan “Syaikh” adalah salah satu bentuk ta’dil ditambah lagi telah meriwayatkan darinya sekumpulan perawi tsiqat bahkan Syu’bah telah meriwayatkan darinya yang berarti Syu’bah menganggapnya tsiqah. Jadi Utsman Ath Thawil adalah tabiin yang tsiqah.

Al Bukhari setelah membawakan riwayat ini ia berkata “tidak dikenal Utsman mendengar langsung dari Anas” [Tarikh Al Kabir juz 2 no 1488]. Pernyataan ini tidak bisa dijadikan hujjah untuk mencacatkan hadis tersebut atau menyatakannya inqitha’. Hal ini disebabkan bahwa Bukhari tidak menyatakan kalau Utsman tidak mendengar dari Anas. Bukhari berkata bahwa tidak dikenal penyimakan Utsman dari Anas karena ia tidak mengetahui atau tidak bisa memastikan apakah Utsman bertemu dengan Anas RA. Bukhari memiliki persyaratan tersendiri mengenai hal ini, ia menyatakan suatu sanad muttashil atau bersambung jika kedua perawi dipastikan bertemu. Persyaratan ini tidaklah menjadi hujjah bagi jumhur ulama hadis, mereka lebih menyukai persyaratan Imam Muslim bahwa kedua perawi tidak mesti dipastikan bertemu tetapi cukup dengan memastikan bahwa kedua perawinya tsiqah berada dalam satu masa maka an an ahnya dapat dianggap muttashil. Oleh karena itu cukup banyak para perawi tsiqat yang meriwayatkan dengan ‘an an ah dan tidak dikenal penyimakannya tetapi hadis mereka tetap dianggap muttashil

Jadi pernyataan Bukhari di atas tidaklah mencacatkan hadis tersebut karena Utsman adalah tabiin yang tsiqat dan ia bukan mudallis jadi riwayat an an ahnya dari Anas dapat dianggap muttashil. Apalagi Bukhari sendiri dalam biografi Utsman Ath Thawil tetap menegaskan kalau ia meriwayatkan dari Anas bin Malik, tidak sedikitpun ia menyatakan riwayat Utsman dari Anas mursal[Tarikh Al Kabir juz 6 no 2338]. Hadis Utsman Ath Thawil ini dapat dijadikan penguat bagi riwayat As Suddi dan keduanya bersama-sama menunjukkan bahwa hadis tersebut shahih tanpa keraguan.

.

.

Singkat Tentang Matan Hadis

Hadis di atas menunjukkan bahwa manusia yang paling dicintai Allah SWT adalah Ali bin Abi Thalib. Perhatikanlah bahwa kejadian ini terjadi ketika Rasulullah SAW masih hidup dan tentu saja pada saat itu sudah ada para sahabat Nabi SAW diantaranya Abu Bakar dan Umar. Allah SWT mengabulkan doa Nabi SAW dengan mendatangkan Ali bin Abi Thalib RA. Bukankah ini bukti kalau Imam Ali lebih utama dari para sahabat lainnya termasuk Abu Bakar dan Umar.

Beberapa ulama menganggap matan hadis ini mungkar, maka kami katakan perkataan seperti ini tidak perlu dihiraukan karena mereka akan selalu menganggap setiap keutamaan Imam Ali yang melebihi Abu Bakar dan Umar adalah mungkar. Itulah keyakinan bathil mereka yang tanpa disadari membuat mereka menentang hadis-hadis shahih. Mengutamakan Imam Ali di atas Abu Bakar dan Umar adalah keyakinan yang berlandaskan hadis-hadis shahih jadi sungguh keliru sekali menyatakan bahwa keyakinan seperti itu hanyalah milik Syiah atau menyatakan keyakinan tersebut mungkar. Sekedar informasi, masih banyak hadis-hadis shahih lain yang menunjukkan keutamaan Imam Ali di atas Abu Bakar dan Umar, diketahui oleh mereka yang mengetahuinya dan ditolak oleh mereka yang sakit hatinya. Wallahu’alam

Salam Damai

membantah klaim naïf salafy nashibi yang menyatakan bahwa hadis manzilah hanya terkait dengan kedudukan Ali saat perang Tabuk saja

Ternyata Hadis Manzilah Diucapkan Nabi SAW Selain Pada Perang Tabuk [2]

Tulisan ini hanya sedikit tambahan .. Kali ini kami akan menambahkan jawaban terhadap syubhat salafiy [dan siapapun yang mengikutinya] soal hadis Asma’ binti Umais.

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا عبد الله بن نمير قال ثنا موسى الجهني قال حدثتني فاطمة بنت علي قالت حدثتني أسماء بنت عميس قالت سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول يا علي أنت مني بمنزلة هارون من موسى الا انه ليس بعدي نبي

Telah menceritakan kepada kami Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Numair yang berkata telah menceritakan kepada kami Musa Al Juhani yang berkata telah menceritakan kepadaku Fathimah binti Ali yang berkata telah menceritakan kepadaku Asma’ binti Umais yang berkata aku mendengar Rasulullah SAW berkata “wahai Ali engkau di sisiKu seperti kedudukan Harun di sisi Musa kecuali tidak ada Nabi setelahku” [Musnad Ahmad 6/438 no 27507 dinyatakan shahih oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth]

Asma’ binti Umais termasuk wanita yang tinggal di Madinah saat perang Tabuk dan terbukti dalam riwayat shahih kalau hadis manzilah diucapkan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] setelah Beliau berangkat keluar dari Madinah yaitu di Jarf. Jarf termasuk wilayah yang jaraknya lebih kurang lima km dari Madinah. Jika Asma’ binti Umais yang tidak ikut perang Tabuk mengaku mendengar langsung Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengucapkan hadis manzilah maka pendengaran itu pasti terjadi selain dari saat perang Tabuk.

.

.

.

Diantara syubhat untuk menolak hujjah ini adalah mereka mengatakan tidak ada riwayat shahih kalau hadis Manzilah diucapkan di Jarf. Syubhat ini sangat terang kebathilannya karena hanya berlandaskan ketidaktahuan akan riwayat. Sebelumnya kami telah membawakan berbagai hadis yang menguatkan kalau Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengucapkan hadis manzilah setelah Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] berangkat dari Madinah. Dalam tulisan sebelumnya kami mengutip riwayat dalam Tarikh Al Islam Adz Dzahabi bahwa tempat yang dimaksud adalah Jarf. Berikut hadis dengan sanad yang lengkap

حدثنا أبو سلمة يحيى بن خلف ثنا وهب بن جرير حدثنا أبي حدثني محمد بن اسحاق حدثني محمد بن طلحة بن يزيد بن ركانة عن إبراهيم ابن سعد عن أبيه سعد قال لما نزل رسول الله صلى الله عليه وسلم بالجرف لحقه علي بن أبي طالب يحمل سلاحه فقال يا رسول الله خلفتني ولم أتخلف عنك في غزوة قبلها وقد أرجف بي المنافقون وزعموا أنك إنما خلفتني أنك استثقلتني قال سعد فسمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول ألا ترض يا على أن تكون مني بمنزلة هارون من موسى إلا أنه لا نبي بعدي فارجع فاخلفني في أهلي وأهلك

Telah menceritakan kepada kami Abu Salamah Yahya bin Khalaf yang berkata telah menceritakan kepada kami Wahab bin Jarir yang berkata telah menceritakan kepada kami ayahku yang berkata telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Ishaq yang berkata telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Thalhah bin Yazid bin Rukaanah dari Ibrahim bin Sa’ad dari ayahnya Sa’ad yang berkata ketika Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] sampai di Jarf, Ali datang dengan membawa senjatanya dan ia berkata “wahai Rasulullah engkau telah meninggalkanku dan engkau tidak pernah meninggalkanku dalam perang sebelumnya dan sungguh orang-orang munafik menganggap engkau meninggalkanku karena engkau mengira aku merasa berat untuk berjihad”. Sa’ad berkata maka aku mendengar Rasulullah[shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda] “tidakkah engkau ridha wahai Ali bahwa kedudukanmu di sisiku seperti Harun di sisi Musa kecuali sesungguhnya tidak ada Nabi setelahku maka kembalilah untuk mengurus keluargaku dan keluargamu”. [As Sunnah Ibnu Abi Ashim no 1332]

Hadis ini sanadnya shahih diriwayatkan oleh para perawi yang tsiqat termasuk Muhammad bin Ishaq, ia dinyatakan melakukan tadlis tetapi dalam hadis ini ia telah menjelaskan sima’ nya maka tidak ada masalah dengan riwayatnya. Hadis ini juga dimasukkan Ibnu Ishaq dalam sirah-nya [Sirah Ibnu Hisyam 2/520]

  • Yahya bin Khalaf Abu Salamah termasuk perawi Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah. Termasuk guru Imam Muslim dan Ibnu Hibban telah memasukkannya dalam Ats Tsiqat [At Tahdzib juz 11 no 342]. Ibnu Hajar menyatakan “shaduq” [At Taqrib 2/301]
  • Wahab bin Jarir bin Hazm adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat. Nasa’i berkata “tidak ada masalah padanya”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Al Ijli menyatakan tsiqat. Ibnu Sa’ad menyatakan ia tsiqat [At Tahdzib juz 11 no 273]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat [At Taqrib 2/292]
  • Jarir bin Hazm ayahnya Wahab termasuk perawi kutubus sittah yang tsiqat. Ibnu Ma’in menyatakan tsiqat. Al Ijli menyatakan tsiqat. Nasa’i berkata “tidak ada masalah padanya”. Abu Hatim berkata shaduq shalih. Ibnu Ady menyatakan kalau ia hadisnya lurus shalih kecuali riwayatnya dari Qatadah. Syu’bah berkata “aku belum pernah menemui orang yang lebih hafiz dari dua orang yaitu Jarir bin Hazm dan Hisyam Ad Dustuwa’i. Ahmad bin Shalih, Al Bazzar dan Ibnu Sa’ad menyatakan ia tsiqat [At Tahdzib juz 2 no 111]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat tetapi riwayatnya dari Qatadah dhaif [At Taqrib 1/158]
  • Muhammad bin Ishaq bin Yasar adalah penulis kitab sirah yang terkenal. Ibnu Hajar mengatakan ia seorang yang imam dalam sejarah, shaduq melakukan tadlis dan bertasyayyu’ [At Taqrib 2/54]. Tetapi dalam hadis ini Muhammad bin Ishaq menyebutkan lafal “haddatsani” maka hadisnya shahih.
  • Muhammad bin Thalhah bin Yazid bin Rukaanah adalah perawi Abu Dawud, Nasa’i dalam Khasa’is dan Ibnu Majah. Ibnu Ma’in dan Abu Dawud menyatakan tsiqat. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Ibnu Sa’ad berkata “hadisnya sedikit” [At Tahdzib juz 9 no 383]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat” [At Taqrib 2/90]
  • Ibrahim bin Sa’ad bin Abi Waqash termasuk perawi Bukhari Muslim, Nasa’i dan Ibnu Majah. Ibnu Sa’ad menyatakan tsiqat. Al Ijli menyatakan tsiqat dan Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [At Tahdzib juz 1 no 217].

Jadi hadis manzilah memang diucapkan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] ketika Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersama para sahabatnya tiba di Jarf dimana Imam Ali keluar dari madinah dan menyusul Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam].

.

.

.

Syubhat lain yang dilontarkan para pengingkar adalah Asma’ binti Umais bukan termasuk wanita yang tinggal di Madinah saat perang Tabuk karena dalam sejarah sering kali terdapat wanita yang ikut dalam perang untuk mengobati sahabat yang luka atau membawakan minuman untuk para sahabat. Inti syubhat mereka adalah bisa saja Asma’ binti Umais juga ikut dalam perang Tabuk.

Syubhat ini tidak memiliki dalil. Justru terdapat dalil yang jelas kalau pada saat perang Tabuk para wanita dan anak-anak tinggal di Madinah. Mengecualikan Asma’ binti Umais sebagai wanita yang tidak tinggal di Madinah jelas membutuhkan dalil.

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ شُعْبَةَ عَنْ الْحَكَمِ عَنْ مُصْعَبِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ إِلَى تَبُوكَ وَاسْتَخْلَفَ عَلِيًّا فَقَالَ أَتُخَلِّفُنِي فِي الصِّبْيَانِ وَالنِّسَاءِ قَالَ أَلَا تَرْضَى أَنْ تَكُونَ مِنِّي بِمَنْزِلَةِ هَارُونَ مِنْ مُوسَى إِلَّا أَنَّهُ لَيْسَ نَبِيٌّ بَعْدِي

Telah menceritakan kepada kami Musaddad yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya dari Syu’bah dari Al Hakam dari Mush’ab bin Sa’d dari ayahnya bahwa Rasulullah SAW berangkat keluar menuju Tabuk dan menugaskan Ali. Kemudian Ali berkata “Engkau menugaskanku untuk menjaga anak-anak dan wanita”. Nabi SAW berkata “Tidakkah engkau rela bahwa engkau di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa kecuali tidak ada Nabi setelahku” [Shahih Bukhari 3/6 no 4416]

Tidak ada pengecualian dalam hadis di atas, para wanita dan anak-anak saat itu tetap tinggal di Madinah. Barang siapa mengatakan ada wanita yang ikut dalam perang Tabuk maka hendaknya ia menunjukkan dalilnya. Kemudian perhatikan hadis berikut

أخبرنا عبد الله بن محمد بن أبي شيبة حدثنا حميد بن عبد الرحمن الرؤاسي عن حسن بن صالح عن الأسود بن قيس عن سعيد بن عمرو عن أم كبشة امرأة من قضاعة أنها استأذنت النبي صلى الله عليه وسلم أن تغزو معه فقال لا فقالت يا رسول الله إني أداوي الجريح وأقوم على المريض قالت فقال رسول الله اجلسي لا يتحدث الناس أن محمدا يغزو بامرأة

Telah mengabarkan kepada kami ‘Abdullah bin Muhammad bin Abi Syaibah yang berkata telah menceritakan kepada kami Humaid bin ‘Abdurrahman Ar Ruaasiy dari Hasan bin Shalih dari Aswad bin Qais dari Sa’id bin ‘Amru dari Ummu Kabsyah wanita dari Al Qudha’ah sesungguhnya ia meminta izin kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] untuk ikut dalam perang. Maka Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “tidak”. Ia berkata “wahai Rasulullah, aku mengobati orang yang luka-luka dan merawat orang yang sakit”. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “tinggallah, jangan sampai orang-orang mengatakan kalau Muhammad membawa wanita dalam perang” [Thabaqat Ibnu Sa’ad 8/308]

Hadis ini sanadnya shahih, diriwayatkan oleh para perawi tsiqat. Hadis ini juga disebutkan Ibnu Hajar dalam Al Ishabah biografi Ummu Kabsyah dimana ia mengatakan kalau peristiwa di hadis ini terjadi setelah masa Fathul Makkah [Al Ishabah 8/283 no 12215].

  • ‘Abdullah bin Muhammad bin Abi Syaibah adalah Abu Bakar bin Abi Syaibah seorang hafizh yang tsiqat sebagaimana disebutkan Ibnu Hajar [At Taqrib 1/528]
  • Humaid bin ‘Abdurrahman Ar Ruaasiy perawi kutubus sittah yang tsiqat. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat [At Taqrib 1/245]
  • Hasan bin Shalih bin Hay Al Hamdaniy termasuk perawi Muslim. Ibnu Hajar menyatakan ia seorang ahli ibadah yang tsiqat dan tasyayyu’ [At Taqrib 1/205]
  • Al Aswad bin Qais termasuk perawi kutubus sittah yang tsiqat. Ibnu Hajar menyatakan ia seorang yang tsiqat [At Taqrib 1/102]
  • Sa’id bin ‘Amru bin Sa’id bin Ash termasuk perawi Bukhari Muslim. Ibnu Hajar menyatakan ia seorang yang tsiqat [At Taqrib 1/361]

Hadis ini sanadnya shahih sesuai dengan syarat Muslim. Memang dalam perang sering terdapat beberapa wanita juga ikut untuk mengobati orang-orang yang luka atau memberikan minuman kepada para sahabat yang berperang seperti Ummul Mukminin Aisyah radiallahu ‘anha, Ummu Sulaith, Ummu Sulaim dan Ummu Athiyah. Tetapi terdapat pula perang dimana para wanita tidak ikut seperti halnya perang Tabuk. Hadis Ummu Kabsyah ini kuat indikasinya menceritakan perang Tabuk dimana Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak mengizinkan wanita untuk  ikut karena sebagaimana yang disebutkan Ibnu Hajar peristiwa ini terjadi setelah Fathul Makkah, sedangkan setelah Fathul Makkah perang yang diikuti Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] adalah perang Hunain, perang Authas, perang Thaif [ketiga perang ini pada dasarnya adalah satu deretan perperangan, hanya saja tempatnya yang berbeda] dan perang Tabuk. Perang Hunain masih ada wanita yang ikut yaitu Ummu Sulaim sebagaimana hadis berikut

عن أنس أن أم سليم اتخذت يوم حنين خنجرا فكان معها فرآها أبو طلحة فقال يا رسول الله هذه أم سليم معها خنجر فقال لها رسول الله  صلى الله عليه وسلم  ما هذا الخنجر قالت اتخذت إن دنا مني أحد من المشركين بقرت به بطنه فجعل رسول الله  صلى الله عليه وسلم  يضحك قالت يا رسول الله اقتل من بعدنا من الطلقاء انهزموا بك فقال رسول الله  صلى الله عليه وسلم يا أم سليم إن الله قد كفى وأحسن

Dari Anas bahwa pada perang Hunain Ummu Sulaim membawa khanjar [pisau], maka Abu Thalhah melihatnya lalu ia berkata kepada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] “Wahai Rasulullah, Ummu Sulaim membawa pisau.” Maka Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata kepada Ummu Sulaim ”Untuk apa pisau itu?” Ummu Sulaim berkata “Jika ada orang musyrik yang mendekatiku, akan aku gunakan pisau ini untuk merobek perutnya.” Maka Rasulullah [shallallahu ’alaihi wasallam] tertawa. Ummu Sulaim berkata “Wahai Rasulullah [shallallahu ’alaihi wasallam]  setelah ini bunuhlah orang-orang thulaqa’ [mereka yang masuk islam saat fathul makkah], mereka lari dari perang.” Maka Rasulullah [shallallahu ’alaihi wasallam] berkata “Wahai Ummu Sulaim, sesungguhnya Allah telah mencukupi dan berbuat baik” [Shahih Muslim 3/1442 no 1809]

Jadi pada perang Hunain, Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] masih mengizinkan Ummu Sulaim untuk ikut, maka sudah jelas peristiwa yang disebutkan Ummu Kabsyah dimana Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak mengizinkan wanita untuk ikut adalah pada perang Tabuk. Maka ini menjadi dalil atau bukti bahwa pada saat perang Tabuk, para wanita tidak ikut dalam perang, mereka para wanita termasuk Asma’ binti Umais berada di madinah.

Ternyata Hadis Manzilah Diucapkan Nabi SAW Selain Pada Perang Tabuk

Pembahasan kali ini bertujuan membantah klaim naïf salafy nashibi yang menyatakan bahwa hadis manzilah hanya terkait dengan kedudukan Ali saat perang Tabuk  saja. Mereka menyebarkan syubhat kalau kata-kata “kamu di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa kecuali Nubuwah” hanya menjelaskan bahwa Imam Ali adalah pemimpin bagi wanita dan anak-anak di Madinah ketika Nabi SAW bersama kaum muslimin keluar pada perang Tabuk.

Kami tidak menolak bahwa hadis ini diucapkan ketika perang Tabuk tetapi kami menolak pernyataan ngawur salafy nashibi kalau hadis ini terkhusus saat perang tabuk saja. Seolah-olah salafy itu ingin mengatakan kalau “kedudukan Ali di sisi Nabi seperti kedudukan Harun di sisi Musa” hanyalah analogi semata “Ali menjadi pemimpin bagi wanita dan anak-anak di Madinah”. Justru yang sebenarnya adalah perkataan “kedudukan Ali di sisi Nabi seperti kedudukan Harun di sisi Musa” bersifat umum menunjukkan bagaimana kedudukan sebenarnya Ali bin Abi Thalib di sisi Nabi SAW sehingga semua kedudukan Harun di sisi Musa dimiliki oleh Ali bin Abi Thalib di sisi Nabi [kecuali Nubuwwah]. Jadi Nabi SAW telah menjelaskan kalau Nubuwwah atau kenabian dikecualikan dari kedudukan umum yang dimaksud.

Perkataan ini diucapkan pada saat Perang Tabuk karena memang ada kondisi yang sesuai yaitu Nabi SAW menugaskan Imam Ali sebagai pengganti Beliau di Madinah dan celaan kaum munafik. Kedudukan Ali di sisi Nabi SAW yang seperti kedudukan Harun di sisi Musa adalah kedudukan yang tidak terikat dengan waktu khusus saat perang tabuk. Bahkan setelah perang tabuk pun para sahabat mengenal perkataan itu sebagai keutamaan yang tinggi bagi Ali di sisi Nabi SAW. Jadi ini sangat tepat dengan istilah “kekhususan sebab tidak menafikan keumuman lafal”. Lafal hadis tersebut bersifat umum dan sebab yang dimaksud adalah bagian dari keumuman lafal hadisnya.

Jika perkataan itu hanya sebagai hiburan atau hanya sebagai analogi kepemimpinan Imam Ali di Madinah maka beberapa sahabat Nabi yang lain pun juga pernah memimpin Madinah ketika Nabi dan kaum muslimin keluar untuk perang. Tetapi para sahabat Nabi tidak menganggap kepemimpinan mereka ini sebagai keutamaan yang tinggi. Jadi keutamaan itu bukan terletak pada tugas Imam Ali memimpin wanita dan anak-anak tetapi terletak pada perkataan bahwa kedudukan Beliau Imam Ali di sisi Nabi SAW sama seperti kedudukan Harun di sisi Musa kecuali Kenabian [Nubuwwah]

Kapan tepatnya perkataan ini diucapkan. Telah disebutkan dalam kitab Tarikh kalau perkataan ini diucapkan Nabi SAW ketika Beliau SAW bersama kaum muslimin telah berangkat keluar dari Madinah.

خلف رسول الله صلى الله عليه وسلم علي بن أبي طالب على أهله، وأمره بالإقامة فيهم، فارجف به المنافقون وقالوا ما خلفه إلا استثقالاً له وتخففاً منه. فلما قال ذلك المنافقون، أخذ علي سلاحه ثم خرج حتى أتى رسول الله صلى الله عليه وسلم، وهو نازل بالجرف، فقال يا رسول الله، زعم المنافقون أنك إنما خلفتني تستثقلني وتخفف مني. قالكذبوا، ولكن خلفتك لما تركت ورائي، فارجع فاخلفني في أهلي وأهلك، ألا ترضى أن تكون مني بمنزلة هارون من موسى، إلا أنه لا نبي بعدي. فرجع إلى المدينة.

Rasulullah SAW menugaskan kepada Ali untuk menjaga keluarganya dan mengurus keperluan mereka. Kemudian kaum munafik menyebarkan berita buruk, mereka berkata “Tidaklah Beliau [Nabi SAW] menugaskannya [Ali] untuk tinggal kecuali karena ia merasa berat untuk berjihad sehingga diberi keringanan”. Ketika orang-orang munafik berkata begitu maka Ali mengambil senjatanya dan keluar menyusul Rasulullah SAW ketika Beliau berada di Jarf. Kemudian Ali berkata “wahai Rasulullah kaum munafik menganggap Engkau menugaskanku karena Engkau memandangku berat untuk berjihad sehingga memberikan keringanan kepadaku”. Beliau SAW bersabda “mereka berdusta, kembalilah Aku menugaskanmu dan meninggalkanmu agar Engkau mengurus keluargaku dan keluargamu, Tidakkah engkau rela bahwa kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa kecuali tidak ada Nabi setelahKu”. Maka Alipun akhirnya kembali ke Madinah [Tarikh Al Islam Adz Dzahabi 2/631]

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ شُعْبَةَ عَنْ الْحَكَمِ عَنْ مُصْعَبِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ إِلَى تَبُوكَ وَاسْتَخْلَفَ عَلِيًّا فَقَالَ أَتُخَلِّفُنِي فِي الصِّبْيَانِ وَالنِّسَاءِ قَالَ أَلَا تَرْضَى أَنْ تَكُونَ مِنِّي بِمَنْزِلَةِ هَارُونَ مِنْ مُوسَى إِلَّا أَنَّهُ لَيْسَ نَبِيٌّ بَعْدِي

Telah menceritakan kepada kami Musaddad yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya dari Syu’bah dari Al Hakam dari Mush’ab bin Sa’d dari ayahnya bahwa Rasulullah SAW berangkat keluar menuju Tabuk dan menugaskan Ali. Kemudian Ali berkata “Engkau menugaskanku untuk menjaga anak-anak dan wanita”. Nabi SAW berkata “Tidakkah engkau rela bahwa engkau di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa kecuali tidak ada Nabi setelahku” [Shahih Bukhari 3/6 no 4416]

Hadis Bukhari di atas mengisyaratkan bahwa Rasulullah SAW telah berangkat terlebih dahulu menuju perang tabuk baru kemudian Ali menghadap Nabi SAW kembali. Hal ini disebutkan pula dalam Musnad Ahmad dimana Syaikh Syu’aib berkata “shahih dengan syarat Bukhari”

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا أبو سعيد مولى بنى هاشم ثنا سليمان بن بلال ثنا الجعيد بن عبد الرحمن عن عائشة بنت سعد عن أبيها ان عليا رضي الله عنه خرج مع النبي صلى الله عليه و سلم حتى جاء ثنية الوداع وعلى رضي الله عنه يبكى يقول تخلفني مع الخوالف فقال أو ما ترضى أن تكون منى بمنزلة هارون من موسى الا النبوة

Telah menceritakan kepada kami Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id mawla bani hasyim yang berkata menceritakan kepada kami Sulaiman bin Bilal yang menceritakan kepada kami Al Ju’aid bin Abdurrahman dari Aisyah binti Sa’ad dari ayahnya bahwa Ali pergi bersama Nabi SAW hingga tiba di balik bukit. Saat itu Ali menangis dan berkata “Tidakkah engkau rela bahwa kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa kecuali Kenabian” [Musnad Ahmad 1/170 no 1463]

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا عفان ثنا حماد يعنى بن سلمة أنبأنا على بن زيد عن سعيد بن المسيب قال قلت لسعد بن مالك انى أريد ان أسألك عن حديث وأنا أهابك ان أسألك عنه فقال لا تفعل يا بن أخي إذا علمت أن عندي علما فسلني عنه ولا تهبني قال فقلت قول رسول الله صلى الله عليه و سلم لعلي رضي الله عنه حين خلفه بالمدينة في غزوة تبوك فقال سعد رضي الله عنه خلف النبي صلى الله عليه و سلم عليا رضي الله عنه بالمدينة في غزوة تبوك فقال يا رسول الله أتخلفني في الخالفة في النساء والصبيان فقال أما ترضى ان تكون منى بمنزلة هارون من موسى قال بلى يا رسول الله قال فأدبر علي مسرعا كأني أنظر إلى غبار قدميه يسطع وقد قال حماد فرجع على مسرعا

Telah menceritakan kepada kami Abdullah yang berkata menceritakan kepadaku Ayahku menceritakan kepada kami Affan menceritakan kepada kami Hammad yakini bin Salamah memberitakan kepada kami Ali bin Zaid dari Sa’id bin Musayyab yang berkata “aku berkata kepada Sa’ad bin Malik “sesungguhnya aku ingin bertanya kepada kamu sebuah hadis namun aku segan untuk menanyakannya”. Sa’ad berkata “jangan begitu wahai putra saudaraku. Jika kamu mengetahui bahwa pada diriku ada suatu ilmu maka tanyakanlah dan jangan merasa segan”. Aku berkata “tentang sabda Rasulullah SAW kepada Ali saat Beliau meninggalkannya di Madinah dalam perang tabuk. Sa’ad berkata “Nabi SAW meninggalkan Ali di Madinah dalam perang tabuk, kemudian Ali berkata “wahai Rasulullah apakah engkau meninggalkan aku bersama wanita dan anak-anak?”. Beliau menjawab “Tidakkah engkau rela bahwa kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa. Ali menjawab “baiklah wahai Rasulullah”. Ali pun segera kembali seolah aku melihat debu yang berterbangan dari kedua kakinya. Hammad berkata “Ali pun segera kembali” [Musnad Ahmad 1/173 no 1490 dishahihkan oleh Syaikh Syu’aib]

Jika kita menarik kesimpulan dari riwayat-riwayat di atas maka Nabi SAW keluar pergi menuju Tabuk dan menugaskan Imam Ali memimpin Madinah. Lantas kaum munafik membuat fitnah sehingga Imam Ali kembali menghadap Nabi SAW yang ketika itu ada di Jarf, ketika itu baik Imam Ali dan Nabi SAW sedang berjalan hingga sampai di balik bukit dan menyebutkan hadis ini yang disaksikan oleh para sahabat yang ikut dalam perang Tabuk. Dan setelah mendengar hadis tersebut Imam Ali kembali ke Madinah.

Jadi perkataan ini diucapkan setelah Nabi SAW keluar dari Madinah dalam arti kata setelah Nabi SAW menugaskan Ali sebagai pemimpin di Madinah. Nabi SAW mengucapkan ini untuk menenangkan hati Imam Ali sekaligus memberikan penjelasan bagi mereka [para sahabat yang bersama Nabi SAW] bahwa kedudukan Ali di sisi Nabi SAW itu begitu tinggi seperti kedudukan Harun di sisi Musa kecuali Kenabian. Para sahabat yang berada di Jarf mendengar langsung bahwa Nabi SAW berkata begitu diantaranya Jabir RA, Abu Said Al Khudri RA dan Saad bin Abi Waqash RA yang meriwayatkan hadis ini. Kemudian mari perhatikan hadis berikut

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا عبد الله بن نمير قال ثنا موسى الجهني قال حدثتني فاطمة بنت علي قالت حدثتني أسماء بنت عميس قالت سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول يا علي أنت مني بمنزلة هارون من موسى الا انه ليس بعدي نبي

Telah menceritakan kepada kami Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Numair yang berkata telah menceritakan kepada kami Musa Al Juhani yang berkata telah menceritakan kepadaku Fathimah binti Ali yang berkata telah menceritakan kepadaku Asma’ binti Umais yang berkata aku mendengar Rasulullah SAW berkata “wahai Ali engkau di sisiKu seperti kedudukan Harun di sisi Musa kecuali tidak ada Nabi setelahku” [Musnad Ahmad 6/438 no 27507]

Syaikh Syu’aib Al Arnauth menyatakan kalau hadis ini shahih dan memang demikianlah keadaannya. Perhatikan baik-baik Asma’ binti Umais mengaku mendengar langsung Rasulullah SAW berkata kepada Ali RA dan pendengaran ini bukan saat perang tabuk. Asma’ binti Umais jelas termasuk wanita yang tinggal di Madinah atau tidak ikut berperang saat perang tabuk. Padahal telah disebutkan bahwa Nabi SAW mengucapkan hadis ini setelah Beliau SAW keluar menuju perang tabuk [Adz Dzahabi menyebutkan ketika Nabi SAW berada di Jarf] dan ketika itu Asma’ binti Umais berada di Madinah. Sehingga lafaz pendengaran langsung Asma’ binti Umais menunjukkan bahwa Nabi SAW mengucapkan hadis ini bukan pada saat perang Tabuk tetapi situasi lain dimana Asma’ binti Umais menyaksikan Nabi SAW mengucapkannya. Hadis Asma’ binti Umais menjadi bukti kalau Rasulullah SAW mengucapkan hadis Manzilah juga pada saat lain selain perang tabuk. Tentu saja hadis Asma’ binti Umais ini meruntuhkan klaim ngawur salafy nashibi sekaligus menunjukkan bahwa berbagai tafsiran basa-basi ala salafy itu hanya dibuat-buat untuk mengurangi keutamaan Imam Ali. Begitulah mereka salafy nashibi jika tidak bisa menolak hadisnya maka setidaknya tebarkan syubhat atau kurangi keutamaannya.

Mari kita perhatikan kembali matan hadis “engkau disisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa kecuali Nubuwwah”. Bukankah kedudukan Harun di sisi Musa salah satunya adalah Harun sebagai orang yang terbaik atau paling utama setelah Musa di antara umat Musa AS. Siapa diantara salafy nashibi yang mau mengingkari atau mencari-cari umat Musa yang lebih utama dari Nabi Harun?. Nah maka begitupula jadinya kedudukan Imam Ali di sisi Nabi yaitu Beliau AS adalah orang yang terbaik dan paling utama setelah Nabi SAW. Kedudukan Imam Ali AS dalam hadis ini menunjukkan keutamaan yang tinggi melebihi semua sahabat lain termasuk Abu Bakar dan Umar. Hal ini menunjukkan bahwa keutamaan Imam Ali di atas Abu Bakar dan Umar memang telah diriwayatkan dalam berbagai hadis shahih. Hadis-hadis yang sering diingkari oleh salafy nashibi baik sanad maupun matannya.

Syubhat paling populer di sisi salafy nashibi adalah syubhat mereka untuk membantah syiah bahwa hadis ini tidak menunjukkan Imam Ali sebagai khalifah setelah Nabi SAW wafat karena Nabi Harun AS tidak menjadi khalifah setelah Nabi Musa AS wafat. Nabi Harun AS hanya menjadi pengganti Nabi Musa AS ketika Nabi Musa AS mengahadap Allah SWT ke bukit ThurSina.

Hadis di atas memang tidak jelas menunjukkan bahwa Imam Ali adalah khalifah pengganti Nabi SAW setelah wafat [walaupun ada hadis manzilah yang shahih yang menyebutkan lafaz ini] tetapi hadis ini menunjukkan bahwa semulia-mulia manusia setelah Nabi SAW dan yang paling berhak memegang urusan kekhalifahan jika Nabi SAW pergi atau tidak ada adalah Imam Ali. Karena begitulah kedudukan Harun di sisi Musa, Harun akan menjadi pengganti Musa apabila Musa pergi atau tidak ada. Mengapa Harun AS tidak menjadi pengganti Musa ketika Musa AS wafat? Lha jelas sekali karena Harun AS wafat terlebih dahulu daripada Musa, seandainya Harun masih hidup ketika Musa AS wafat maka tidak diragukan kalau Beliaulah yang akan menggantikan Musa AS. Berbeda halnya dengan Imam Ali, beliau jelas masih hidup ketika Rasulullah SAW wafat sehingga dalam hal ini yang berhak menjadi pengganti Beliau SAW adalah Imam Ali.

Salafy nashibi mengatakan bahwa Imam Ali menjadi pemimpin di Madinah sama seperti Harun menjadi pemimpin bagi umat Musa ketika Nabi Musa AS pergi dan hanya inilah makna hadis manzilah menurut salafy nashibi yaitu khalifah semasa hidup bukannya setelah wafat. Sebenarnya salafy nashibi itu tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk memahami sebuah analogi.

Yang mereka sebutkan hanyalah salah satu contoh saja dari keumuman lafal. Tugas Imam Ali menggantikan Nabi SAW di Madinah tentu saja adalah bagian dari keumuman lafal hadis manzilah dan penyerupaan itu sebenarnya adalah dari segi kedudukan Beliau Imam Ali yang dipercaya oleh Nabi SAW sama seperti kedudukan Harun yang dipercaya oleh Musa AS. Atau dari segi kedudukan khusus Imam Ali yang jika Nabi SAW tidak ada maka Ali penggantinya sama seperti kedudukan Harun yang jika Musa AS tidak ada maka Harun penggantinya.

Silakan perhatikan hadis Shahih Bukhari di atas. Imam Ali bertanya kepada Nabi “Engkau menugaskanku untuk menjaga anak-anak dan wanita” maka Nabi SAW berkata “Tidakkah engkau rela bahwa engkau di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa kecuali tidak ada Nabi setelahku”. Apakah itu maksudnya Imam Ali memimpin anak-anak dan wanita sama seperti Harun?. Jelas tidak karena Harun memimpin semua umat Musa tidak hanya wanita dan anak-anak, jadi Nabi SAW tidak sedang menyamakan kepemimpinan Imam Ali dengan kepemimpinan Harun tetapi sedang menunjukkan bahwa kedudukan Imam Ali itu di sisi Nabi sehingga ia mendapatkan tugas memimpin Madinah sama dengan kedudukan Harun di sisi Musa sehingga Harun mendapatkan tugas menggantikan Musa . Jadi sekali lagi penyerupaan itu terletak pada kedudukan orang yang satu di sisi orang yang lain dan kedudukan ini tidak mencakup kepemimpinan semata tetapi juga mencakup sebagai saudara satu sama lain, wazir, orang paling mulia setelah yang satunya dan lain-lain kecuali Kenabian [karena Nabi SAW telah mengecualikannya]

Nah kami perjelas kembali, kepemimpinan Imam Ali di Madinah merupakan bagian dari kedudukan dalam hadis Manzilah tersebut. Apalagi kepemimpinan Imam Ali di Madinah itu tidak persis sama dengan kepemimpinan Harun. Imam Ali di Madinah adalah pemimpin bagi wanita dan anak-anak sedangkan Harun ketika itu memimpin semua umat Musa baik laki-laki wanita maupun anak-anak. Jadi penyerupaan itu adalah dari segi sifat kedudukannya bahwa orang yang satu menjadi pengganti jika orang yang satunya tidak ada. Sifat kedudukan inilah yang tidak terikat dengan waktu atau tidak hanya terbatas saat perang tabuk saja. Tidak ada dalam lafal hadis tersebut Nabi SAW mengatakan bahwa kedudukan Harun di sisi Musa yang dimaksud hanyalah kedudukan Harun saat Musa AS pergi ke Thursina saja. Justru pernyataan Nabi SAW itu bersifat umum tidak terikat waktu sehingga Beliau SAW membuat pengecualian yaitu “kecuali Nubuwwah [kenabian]” dan dapat dimengerti kalau Nabi SAW juga mengucapkan hadis ini pada peristiwa lain selain perang tabuk karena memang keutamaan hadis manzilah tidak terbatas pada saat perang tabuk saja. Silakan perhatikan jika kita analisis dengan baik maka hujjah salafy nashibi itu benar-benar ngawur dari segala sisinya dan kita harus bersyukur tidak menjadi bagian dari kelompok yang ngawur seperti mereka.

YANG DiLUPAKAN SUNNi adalah Hadis Tsaqalain : Ahlul Bait Jaminan Keselamatan Dunia Dan Akhirat

Hadis Tsaqalain : Ahlul Bait Jaminan Keselamatan Dunia Dan Akhirat

Telah diriwayatkan dengan berbagai sanad yang shahih bahwa Rasulullah SAW meninggalkan dua peninggalan yang berharga [Ats Tsaqalain] yaitu Kitab Allah dan Itrah Ahlul Bait Rasul SAW. Umat islam hendaknya berpegang teguh pada keduanya agar mereka terhindar dari kesesatan sepeninggal Rasul SAW. Ternyata sebagian orang menyimpan kedengkian terhadap Ahlul Bait, sebagian orang tersebut tidak rela kalau Ahlul Bait memiliki keutamaan yang tinggi. Sebagian orang tersebut tidak rela kalau Ahlul Bait dijadikan pegangan dan pedoman, bagi mereka Ahlul Bait cukup dihormati dan dicintai tetapi bukan menjadi pedoman umat agar tidak sesat. Sebagian orang yang mengaku salafy ini menyebarkan syubhat demi mengurangi keutamaan Ahlul Bait. Syubhat mereka hanya mengulang syubhat Syaikh mereka Ibnu Taimiyyah bahwa hadis Tsaqalain bukan memerintahkan agar umat berpegang teguh kepada Ahlul Bait tetapi maksud hadis tersebut adalah berpegang teguh kepada Kitab Allah sedangkan Ahlul Bait cukup dihormati dan dicintai tetapi bukan untuk dipegang teguh.

Sebaik-baik bantahan bagi mereka adalah Hadis Tsaqalain yang dengan jelas menyebutkan lafaz “berpegang teguh pada Kitab Allah dan Ahlul Bait”. Lafaz ini adalah lafaz yang shahih dan penolakan salafy hanya menunjukkan kalau mereka tidak suka dengan apa yang Rasulullah SAW tetapkan. Mereka mengaku berpegang kepada sunnah tetapi mereka tidak segan-segan menentang apa yang telah Rasulullah SAW tetapkan. Di bawah ini kami akan membahas berbagai hadis Tsaqalain dengan lafaz “berpegang teguh” dan membongkar syubhat salafy nashibi terhadap hadis tesebut.

Hadis Tsaqalain dengan lafaz “berpegang teguh” telah diriwayatkan oleh beberapa sahabat Nabi diantaranya Zaid bin Arqam RA, Abu Sa’id Al Khudri RA, Jabir bin Abdullah RA dan Imam Ali AS. Dengan mengumpulkan sanad-sanadnya maka perintah berpegang teguh kepada Kitab Allah dan Ahlul Bait adalah tsabit dan shahih.
.

.

.

Hadis Zaid bin Arqam RA
Hadis Tsaqalain riwayat Zaid bin Arqam RA dengan lafaz berpegang teguh diriwayatkan oleh Abu Dhuha Muslim bin Shubaih, Abu Thufail dan Habib bin Abi Tsabit. Riwayat Abu Dhuha disebutkan oleh Yaqub bin Sufyan Al Fasawi dalam Ma’rifat Wal Tarikh

حَدَّثَنَا يحيى قَال حَدَّثَنَا جرير عن الحسن بن عبيد الله عن أبي الضحى عن زيد بن أرقم قَال النبي صلى الله عليه وسلم إني تارك فيكم ما إن تمسكتم به لن تضلوا كتاب الله عز وجل وعترتي أهل بيتي وإنهما لن يتفرقا حتى يردا علي الحوض

Telah menceritakan kepada kami Yahya yang berkata telah menceritakan kepada kami Jarir dari Hasan bin Ubaidillah  dari Abi Dhuha dari Zaid bin Arqam yang berkata Nabi SAW bersabda “Aku tinggalkan untuk kalian yang apabila kalian berpegang-teguh kepadanya maka kalian tidak akan sesat yaitu Kitab Allah azza wa jalla dan ItrahKu Ahlul Baitku dan keduanya tidak akan berpisah hingga kembali kepadaKu di Al Haudh [Ma’rifat Wal Tarikh Al Fasawi 1/536]

Riwayat Abu Dhuha telah kami bahas secara khusus dalam pembahasan tersendiri dan sanad ini shahih tanpa keraguan. Yahya syaikh [guru] Ya’qub bin Sufyan adalah Yahya bin Yahya bin Bakir bukan Yahya bin Mughirah As Sa’di karena Yahya bin Mughirah tidak dikenal sebagai gurunya Yaqub Al Fasawi. Jadi Jarir bin Abdul Hamid meriwayatkan hadis ini kepada Yahya bin Yahya bin Bakir dan juga kepada Yahya bin Mughirah As Sa’di. Riwayat Yahya bin Yahya bin Bakir disebutkan oleh Al Fasawi sedangkan riwayat Yahya bin Mughirah As Sa’di disebutkan oleh Al Hakim [Al Mustadrak no 4711].

Hadis Zaid bin Arqam riwayat Abu Thufail disebutkan dalam Al Mustadrak Al Hakim dan Juz Abu Thahir. Yang meriwayatkan dari Abu Thufail [seorang sahabat Nabi] adalah Salamah bin Kuhail dan yang meriwayatkan dari Salamah bin Kuhail adalah kedua putranya Yahya dan Muhammad serta Syu’aib bin Khalid.

حدثناه أبو بكر بن إسحاق ودعلج بن أحمد السجزي قالا أنبأ محمد بن أيوب ثنا الأزرق بن علي ثنا حسان بن إبراهيم الكرماني ثنا محمد بن سلمة بن كهيل عن أبيه عن أبي الطفيل عن بن واثلة أنه سمع زيد بن أرقم رضى الله تعالى عنه يقول نزل رسول الله صلى الله عليه وسلم بين مكة والمدينة عند شجرات خمس دوحات عظام فكنس الناس ما تحت الشجرات ثم راح رسول الله صلى الله عليه وسلم عشية فصلى ثم قام خطيبا فحمد الله وأثنى عليه وذكر ووعظ فقال ما شاء الله أن يقول ثم قال أيها الناس إني تارك فيكم أمرين لن تضلوا إن اتبعتموهما وهما كتاب الله وأهل بيتي عترتي ثم قال أتعلمون إني أولى بالمؤمنين من أنفسهم ثلاث مرات قالوا نعم فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم من كنت مولاه فعلي مولاه

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Ishaq dan Da’laj bin Ahmad Al Sijziiy yang keduanya bekata telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Ayub yang menceritakan kepada kami Al ‘Azraq bin Ali yang menceritakan kepada kami Hasan bin Ibrahim Al Kirmani yang berkata menceritakan kepada kami Muhammad bin Salamah bin Kuhail dari Ayahnya dari Abu Thufail bin Watsilah yang mendengar Zaid bin Arqam RA berkata “Rasulullah SAW berhenti di suatu tempat di antara Mekkah dan Madinah di dekat pohon-pohon yang teduh dan orang-orang membersihkan tanah di bawah pohon-pohon tersebut. Kemudian Rasulullah SAW mendirikan shalat, setelah itu Beliau SAW berbicara kepada orang-orang. Beliau memuji dan mengagungkan Allah SWT, memberikan nasehat dan mengingatkan kami. Kemudian Beliau SAW berkata ”Wahai manusia, Aku tinggalkan kepadamu dua hal atau perkara, yang apabila kamu mengikuti keduanya maka kamu tidak akan tersesat yaitu Kitab Allah dan Ahlul BaitKu, ItrahKu. Kemudian Beliau SAW berkata tiga kali “Bukankah Aku ini lebih berhak terhadap kaum muslimin dibanding diri mereka sendiri. Orang-orang menjawab “Ya”. Kemudian Rasulullah SAW berkata” Barangsiapa yang menganggap aku sebagai maulanya, maka Ali adalah juga maulanya. [Mustadrak Ash Shahihain no 4577]

Al Hakim berkata setelah meriwayatkan hadis ini ”shahih sesuai syarat Bukhari Muslim”. Setelah kami teliti kembali pernyataan Al Hakim tidaklah benar. Hadis ini diriwayatkan oleh para perawi tsiqah kecuali Al Azraq bin Ali dan Muhammad bin Salamah bin Kuhail [keduanya bukan perawi Bukhari Muslim]. Al Azraq bin Ali adalah perawi yang shaduq hasanul hadis sedangkan Muhammad bin Salamah bin Kuhail adalah perawi dhaif yang dapat dijadikan i’tibar.

  • Syaikh Abu Bakr bin Ishaq Al Faqih disebutkan oleh Adz Dzahabi kalau ia seorang Imam Allamah Al Muhaddis Syaikh Al Islam [As Siyar 15/483 no 274]
  • Da’laj bin Ahmad disebutkan oleh Al Khatib kalau ia seorang yang tsiqat tsabit [Tarikh Baghdad 8/383 no 4495]
  • Muhammad bin Ayub adalah Muhammad bin Ayub bin Yahya bin Dhurais Al Bajali. Adz Dzahabi menyebutnya “muhaddis tsiqat” [As Siyar 13/449 no 222]. Al Khalili berkata “tsiqat muttafaq alaihi” [Al Irsyad 2/144]
  • Al ‘Azraq bin Ali seorang perawi yang shaduq hasanul hadis. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat dan telah meriwayatkan darinya para hafizh yang tsiqat [At Tahdzib juz 1 no 376]
  • Hasan bin Ibrahim Al Kirmani seorang perawi Bukhari Muslim. Ibnu Main dan Ibnu Madini menyatakan tsiqat. Abu Zur’ah berkata “tidak ada masalah”. Ahmad menggolongkannya sebagai seorang yang shaduq. Nasa’i berkata “tidak kuat”[At Tahdzib juz 2 no 447]. Adz Dzahabi berkata “tsiqat” [Al Kasyf no 995]
  • Muhammad bin Salamah bin Kuhail termasuk perawi yang dhaif tetapi dapat dijadikan i’tibar. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [Ats Tsiqat juz 7 no 10505]. Abu Hatim mengatakan kalau Muhammad bin Salamah lebih disukai dibanding saudaranya Yahya dan Muhammad bin Salamah lebih didahulukan dibanding Yahya [Al Jarh Wat Ta’dil 7/276 no 1493]. Daruquthni berkata “dijadikan i’tibar” [Su’alat Al Barqani no 539]
  • Salamah bin Kuhail adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat. Ahmad berkata “mutqin dalam hadis”. Ibnu Ma’in, Ibnu Sa’ad, Al Ijli, Abu Zur’ah, Abu Hatim, Nasa’i, Ibnu Hibban, Yaqub bin Syaibah menyatakan tsiqat [At Tahdzib juz 4 no 269].

Muhammad bin Salamah bin Kuhail diikuti oleh Yahya bin Salamah bin Kuhail sebagaimana disebutkan dalam Juz Abu Thahir dengan sanad dari Qasim bin Zakaria bin Yahya dari Yusuf bin Musa dari Ubaidillah bin Musa dari Yahya bin Salamah bin Kuhail dari ayahnya dari Abu Thufail dari Zaid bin Arqam [Juz Abu Thahir no 143]. Para perawinya tsiqah kecuali Yahya bin Salamah bin Kuhail seorang yang matruk sebagaimana disebutkan Ibnu Hajar [At Taqrib 2/304].

Selain Yahya, Muhammad bin Salamah juga memiliki mutaba’ah dari Syu’aib bin Khalid yang juga disebutkan dalam Juz Abu Thahir dengan jalan sanad dari Abu Bakar Qasim bin Zakaria bin Yahya dari Muhammad bin Humaid dari Harun bin Mughirah dari Amr bin Abi Qais dari Syu’aib bin Khalid dari Salamah bin Kuhail dari Abu Thufail dari Zaid bin Arqam [Juz Abu Thahir no 142]. Hadis ini para perawinya tsiqat kecuali Muhammad bin Humaid, ia seorang yang dhaif. Ibnu Ma’in, Muhammad bin Yahya Adz Dzahiliy, Ahmad, dan Ja’far bin Abi Utsman Ath Thayalisi telah menta’dilkannya. Nasa’i berkata “tidak tsiqat”. Ia didustakan oleh Shalih bin Muhammad, Abu Zur’ah dan Ibnu Khirasy. Yaqub bin Syaibah berkata “banyak meriwayatkan hadis munkar” [At Tahdzib juz 9 no 181]. Ibnu Hajar berkata “seorang hafizh yang dhaif” [At Taqrib 2/69].

Secara keseluruhan riwayat Salamah bin Kuhail dari Abu Thufail dari Zaid bin Arqam kedudukannya hasan lighairihi karena riwayat Muhammad bin Salamah bin Kuhail dikuatkan oleh riwayat Abu Dhuha dari Zaid bin Arqam serta riwayat Habib bin Abi Tsabit dari Zaid bin Arqam. Riwayat Habib bin Abi Tsabit disebutkan dalam Sunan Tirmidzi

حدثنا علي بن المنذر كوفي حدثنا محمد بن فضيل قال حدثنا الأعمش عن عطية عن أبي سعيد و الأعمش عن حبيب بن أبي ثابت عن زيد بن أرقم رضي الله عنهما قالا قال رسول الله صلى الله عليه و سلم إني تارك فيكم ما إن تمسكتم به لن تضلوا بعدي أحدهما أعظم من الآخر كتاب الله حبل ممدود من السماء إلى الأرض وعترتي أهل بيتي ولن يتفرقا حتى يردا علي الحوض فانظروا كيف تخلفوني فيهما

Telah menceritakan kepada kami Ali bin Mundzir Al Kufi yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudhail yang berkata telah menceritakan kepada kami Al A’masyi dari Athiyah dari Abu Sa’id dan Al A’masy dari Habib bin Abi Tsabit dari Zaid bin Arqam RA yang keduanya [Abu Sa’id dan Zaid] berkata Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya Aku tinggalkan kepada kalian sesuatu yang jika kalian berpegang teguh kepadanya niscaya kamu tidak akan tersesat sepeninggalku, yang mana yang satunya lebih besar dari yang lainnya, yaitu Kitab Allah, yang merupakan tali penghubung antara langit dan bumi, dan ItrahKu Ahlul BaitKu. Keduanya  tidak akan pernah berpisah sehingga datang menemuiku di telaga Haudh. Maka perhatikanlah bagaimana kamu memperlakukan keduanya” [Sunan Tirmidzi 5/663 no 3788]

Hadis Habib bin Abi Tsabit ini sanadnya shahih diriwayatkan oleh para perawi yang tsiqat. Al A’masy dikenal sebagai mudalis martabat kedua [Thabaqat Al Mudallisin no 55] yaitu mudalis yang ’an anahnya dijadikan hujjah dalam kitab shahih ditambah lagi Al A’masy telah meriwayatkan hadis Tsaqalain dengan lafal ”telah menceritakan kepada kami Habib bin Abi Tsabit” seperti yang tercantum dalam Al Mustadrak no 4576. Habib bin Abi Tsabit juga disebutkan Ibnu Hajar sebagai mudallis tetapi martabat ketiga [Thabaqat Al Mudallisin no 69]. Dalam At Taqrib Ibnu Hajar berkata ”tsiqat banyak mengirsalkan hadis dan melakukan tadlis” tetapi Syaikh Syu’aib Al Arnauth dan Bashar Awad Ma’ruf berkata ”perkataan banyak mengirsalkan hadis dan melakukan tadlis perlu diteliti kembali dan tidak shahih” [Tahrir At Taqrib no 1084]

  • Ali bin Mundzir adalah perawi Tirmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah yang dikenal tsiqat. Ibnu Abi Hatim, Nasa’i, Ibnu Hibban dan Ibnu Numair menyatakan tsiqat. Daruquthni dan Maslamah bin Qasim berkata ”tidak ada masalah padanya” [At Tahdzib juz 7 no 627]. Ibnu Hajar berkata shaduq tasyayyu’ [At Taqrib 1/703] dan dikoreksi dalam Tahrir At taqrib kalau Ali bin Mundzir seorang yang tsiqat [Tahrir At Taqrib no 4803]
  • Muhammad bin Fudhail adalah perawi kutubus sittah yang dikenal tsiqat. Ibnu Ma’in, Ibnu Sa’ad, Al Ijli, Ali bin Madini, Ibnu Hibban, Ibnu Syahin, Yaqub bin Sufyan menyatakan tsiqat. Abu Zur’ah berkata ”shaduq” dan Nasa’i berkata ”tidak ada masalah padanya”. Daruquthni berkata ”tsabit dalam hadis” [At Tahdzib juz 9 no 660]. Ibnu Hajar berkata ”shaduq” [At Taqrib 2/125] dan dikoreksi dalam Tahrir At Taqrib kalau Muhammad bin Fudhail seorang yang tsiqat [Tahrir At Taqrib no 6227]
  • Sulaiman bin Mihran Al A’masy adalah perawi kutubus sittah yang dikenal tsiqat. Al Ijli dan Nasa’i berkata “tsiqat tsabit”. Ibnu Ma’in berkata “tsiqat”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. [At Tahdzib juz 4 no 386]. Ibnu Hajar menyebutkannya sebagai mudallis martabat kedua yang ‘an anahnya dijadikan hujjah dalam kitab shahih [Thabaqat Al Mudallisin no 55]
  • Habib bin Abi Tsabit adalah tabiin perawi kutubus sittah yang tsiqat. Ibnu Ma’in, Nasa’i, Al Ijli, Abu Hatim, Al Azdi, Ibnu Ady menyatakan tsiqat [At Tahdzib juz 2 no 323]. Adz Dzahabi berkata “tsiqat mujtahid faqih” [Al Kasyf no 902] dan Ibnu Hajar berkata “tsiqat faqih banyak melakukan irsal dan tadlis” [At Taqrib 1/183] dan dikoreksi dalam Tahrir At Taqrib bahwa perkataan Ibnu Hajar “banyak melakukan irsal dan tadlis” perlu diteliti kembali dan tidak shahih [Tahrir At Taqrib no 1084]. Tuduhan tadlis kepada Habib bin Abi Tsabit dinyatakan oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban, tidak ada diantara para ulama sebelumnya yang menyatakan demikian dan perkataan mereka hanya berdasarkan pada hadis-hadis Habib yang dikatakan irsal seperti riwayatnya dari Urwah padahal Habib bin Abi Tsabit memang bertemu dengan Urwah dan riwayatnya dari Urwah tsabit atau shahih [seperti yang dikatakan Abu Dawud]. Ibnu Ady setelah memeriksa hadis-hadis Habib bin Abi Tsabit, ia menyatakan Habib tsiqat tanpa menyebutkan soal tadlis.

Habib bin Abi Tsabit lahir pada tahun 46 H sedangkan Zaid bin Arqam wafat pada tahun 68 H. jadi ketika Zaid wafat Habib berumur 22 tahun dan keduanya tinggal di kufah sehingga sangat memungkinkan bagi Habib bin Abi Tsabit bertemu dengan Zaid bin Arqam dan mendengar hadis darinya. Tidak ada satupun ulama yang menyatakan kalau Habib tidak mendengar dari Zaid atau riwayatnya dari Zaid mursal. Disebutkan bahwa Ali bin Madini berkata “Habib bin Abi Tsabit bertemu dengan Ibnu Abbas, mendengar dari Aisyah dan tidak mendengar dari sahabat lainnya [Jami’ Al Tahsil Fi Ahkam Al Marasil no 117]. Perkataan Ibnu Madini keliru karena telah tsabit bahwa Habib bin Abi Tsabit juga mendengar dari Ibnu Umar sehingga perkataan Ibnu Madini “tidak mendengar dari sahabat lainnya” jelas sekali keliru.

Disebutkan dalam Al Mustadrak no 4576 kalau Habib bin Abi Tsabit meriwayatkan hadis Tsaqalain dari Abu Thufail dari Zaid bin Arqam. Kami katakan keduanya shahih, Habib meriwayatkan dari Zaid bin Arqam dan Habib meriwayatkan dari Abu Thufail dari Zaid. Zaid bin Arqam dan Abu Thufail keduanya adalah sahabat Nabi. Bisa saja dikatakan bahwa riwayat Habib dari Abu Thufail dari Zaid menunjukkan bahwa Habib melakukan tadlis sehingga ia menghilangkan nama Abu Thufail dan meriwayatkan langsung dari Zaid. Kami katakan perkataan ini hanya bersifat dugaan semata dan jika benar maka tadlis yang dilakukannya tidak bersifat cacat karena nama yang Habib hilangkan adalah nama sahabat Nabi yaitu Abu Thufail sehingga kalau mau dikatakan tadlis maka kedudukan Habib adalah mudallis martabat pertama yaitu yang sedikit melakukan tadlis atau ia melakukan tadlis dari perawi yang tsiqat atau adil. Tadlis yang seperti ini jelas bisa dijadikan hujjah.

Abu Dhuha, Abu Thufail dan Habib bin Abi Tsabit ketiganya telah meriwayatkan dari Zaid bin Arqam RA hadis Tsaqalain dengan lafaz “berpegang teguh” atau “mengikuti” Itrah Rasul Ahlul Bait Rasul SAW. Dengan mengumpulkan sanad-sanadnya dapat dilihat bahwa hadis dengan lafaz tersebut memang tsabit dari Zaid bin Arqam RA.
.

.

.

Hadis Abu Sa’id Al Khudri RA
Telah disebutkan dalam Sunan Tirmidzi di atas dengan jalan sanad dari Ali bin Mundzir dari Muhammad bin Fudhail dari Al A’masy dari Athiyah Al Aufy dari Abu Sa’id Al Khudri RA. Sanad ini hasan para perawinya tsiqat kecuali Athiyah Al Aufy seorang yang hadisnya hasan. Pembahasan tentang kredibilitas beliau terdapat dalam thread khusus. Sebagian ulama menta’dilkan Athiyah dan sebagian yang lain mendhaifkannya. Mereka yang mendhaifkan Athiyyah tidak memiliki alasan yang kuat kecuali kalau Athiyyah dinyatakan melakukan tadlis syuyukh. Dan telah dibuktikan kalau tuduhan tadlis syuyukh terhadap Athiyyah tidak tsabit sehingga pendapat yang rajih adalah pendapat ulama yang menta’dilkan Athiyyah Al Aufy. Selain Al A’masy, yang meriwayatkan dari Athiyyah adalah Abdul Malik bin Abi Sulaiman

حدثنا عبد الله قال حدثني أبي قثنا بن نمير قثنا عبد الملك بن أبي سليمان عن عطية العوفي عن أبي سعيد الخدري قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم اني قد تركت فيكم ما ان أخذتم به لن تضلوا بعدي الثقلين واحد منهما أكبر من الآخر كتاب الله حبل ممدود من السماء الى الأرض وعترتي أهل بيتي الا وانهما لن يتفرقا حتى يردا علي الحوض

Telah menceritakan kepada kami Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair yang berkata telah menceritakan kepada kami Abdul Malik bin Abi Sulaiman dari Athiyyah Al Aufiy dari Abu Sa’id Al Khudri RA yang berkata Rasulullah SAW bersabda “Aku tinggalkan untuk kalian yang apabila kalian berpegang teguh kepadanya maka kalian tidak akan sesat sepeninggalKu Ats Tsaqalain, dimana salah satunya lebih besar dari yang lainnya yaitu Kitab Allah tali Allah yang terbentang antara langit dan bumi dan Itrahku Ahlul Baitku. Dan keduanya tidak akan berpisah sampai menemuiku di telaga Al Haudh [Fadhail As Shahabah no 990]

Hadis Abu Sa’id Al Khudri ini sanadnya hasan. Diriwayatkan oleh para perawi tsiqat kecuali Athiyyah Al Aufy seorang yang hadisnya hasan

  • Abdullah bin Ahmad bin Hanbal adalah seorang Imam yang tsiqat [At Taqrib 1/477]. Al Khatib berkata ”tsiqat tsabit”. Nasa’i dan Daruquthni menyatakan tsiqat. Al Khalal menyatakan ia shalih shaduq [At Tahdzib juz 5 no 246]
  • Ahmad bin Muhammad bin Hanbal adalah Al Hafizh Tsiqat Faqih Hujjah [At Taqrib 1/44 no 96]. Abu Hatim berkata ”imam hujjah”. Al Ijli berkata ”tsiqat tsabit”. Nasa’i berkata ”tsiqat ma’mun”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Ibnu Sa’ad berkata ”tsiqat tsabit shaduq meriwayatkan banyak hadis” [At Tahdzib juz 1 no 126]
  • Abdullah bin Numair Al Hamdani adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat. Ibnu Ma’in, Ibnu Hibban, Al Ijli dan Ibnu Sa’ad berkata ”tsiqat” [At Tahdzib juz 6 no 110]. Ibnu Hajar berkata ”tsiqat” [At Taqrib 1/542]
  • Abdul Malik bin Abi Sulaiman adalah perawi Bukhari dalam Ta’liq Shahih Bukhari, Muslim dan Ashabus Sunan. Ahmad, Ibnu Ma’in, Ibnu Ammar, Yaqub bin Sufyan, Nasa’i, Ibnu Sa’ad, Tirmidzi menyatakan ia tsiqat. Al Ijli berkata ”tsabit dalam hadis”. Abu Zur’ah berkata ”tidak ada masalah padanya” [At Tahdzib juz 6 no 751]. Ibnu Hajar berkata ”shaduq lahu awham” [At Taqrib 1/616] dan dikoreksi dalam Tahrir At Taqrib kalau Abdul Malik bin Abi Sulaiman seorang yang tsiqat [Tahrir At Taqrib no 4184]
  • Athiyyah bin Sa’ad bin Junadah Al Aufiy adalah tabiin yang hadisnya hasan. Ibnu Sa’ad berkata ”seorang yang tsiqat, insya Allah memiliki hadis-hadis yang baik dan sebagian orang tidak menjadikannya sebagai hujjah” [Thabaqat Ibnu Sa’ad 6/304]. Al Ijli berkata ”tsiqat dan tidak kuat” [Ma’rifat Ats Tsiqat no 1255]. Ibnu Syahin memasukkannya sebagai perawi tsiqat dan mengutip Yahya bin Ma’in yang berkata ”tidak ada masalah padanya” [Tarikh Asma Ats Tsiqat no 1023]. At Tirmidzi telah menghasankan banyak hadis Athiyyah Al Aufiy dalam kitab Sunan-nya. Sebagian ulama mendhaifkannya seperti Sufyan, Ahmad dan Ibnu Hibban serta yang lainnya dengan alasan tadlis syuyukh. Telah kami buktikan kalau tuduhan ini tidaklah tsabit sehingga yang rajih adalah penta’dilan terhadap Athiyyah.

Imam Bukhari berkata “Ahmad berkata tentang hadis Abdul Malik bin Abi Sulaiman dari Athiyyah dari Abu Sa’id bahwa Nabi SAW bersabda “aku tinggalkan untuk kalian Ats Tsaqalain” hadis orang-orang kufah yang mungkar [Tarikh As Saghir juz 1 no 1300]. Perkataan Ahmad bin Hanbal ini sangat jelas kebathilannya. Hadis Tsaqalain tidak hanya diriwayatkan oleh Abdul Malik dari Athiyyah dari Abu Sa’id tetapi telah diriwayatkan dengan banyak jalan dan diantaranya terdapat jalan yang shahih seperti halnya riwayat Zaid bin Arqam sebelumnya. Jika dikatakan “munkar” itu terletak pada matan-nya maka kami katakan jelas itu mengada-ada, justru tindakan menentang kabar shahih lebih patut untuk dikatakan “munkar”. Perkataan Ahmad ini bisa jadi didasari oleh pendapatnya terhadap Athiyyah dimana ia memandangnya dhaif karena tadlis syuyukh Athiyyah dari Al Kalbi sehingga Ahmad bin Hanbal mengira hadis ini adalah bagian dari kedustaan Al Kalbi. Tentu saja perkiraan ini hanya berlandaskan pada tuduhan yang keliru sebagaimana telah kami buktikan kalau tuduhan tadlis syuyukh terhadap Athiyyah tidaklah tsabit. Ahmad bin Hanbal dan yang lainnya telah salah dalam menilai Athiyyah.
.

.

.

Hadis Jabir bin Abdullah RA
Hadis Jabir bin Abdullah dengan lafaz “berpegang teguh” diriwayatkan dengan jalan sanad dari Zaid bin Hasan Al Anmathi dari Ja’far bin Muhammad dari Ayahnya dari Jabir RA. Sanad tersebut hasan, Zaid bin Hasan Al Anmathi seorang yang shaduq hasanul hadis dan ia memiliki mutaba’ah dari Hatim bin Ismail dan Ibrahim bin Al Muhajir Al Azdi

حدثنا نصر بن عبد الرحمن الكوفي حدثنا زيد بن الحسن هو الأنماطي عن جعفر بن محمد عن أبيه عن جابر بن عبد الله قال رأيت رسول الله صلى الله عليه و سلم في حجته يوم عرفة وهو على ناقته القصواء يخطب فسمعته يقول يا أيها الناس إني قد تركت فيكم ما إن أخذتم به لن تضلوا كتاب الله وعترتي أهل بيتي

Telah menceritakan kepada kami Nashr bin Abdurrahman Al Kufi yang berkata telah menceritakan kepada kami Zaid bin Hasan, ia Al Anmathi dari Ja’far bin Muhammad dari Ayahnya dari Jabir bin Abdullah yang berkata Aku melihat Rasululah SAW saat melaksanakan haji di arafah, ketika itu Beliau sedang berkhutbah di atas untanya Al Qashwa’. Aku mendengar Beliau SAW bersabda ”Wahai manusia sesungguhnya aku meninggalkan untuk kalian yang jika kalian berpegang teguh kepadanya maka kalian tidak akan tersesat yaitu Kitab Allah dan Itrahku Ahlul Baitku” [Sunan Tirmidzi 5/662 no 3786]

Hadis ini sanadnya hasan. Para perawinya tsiqat kecuali Zaid bin Hasan Al Anmathi seorang yang shaduq hasanul hadis. Ibnu Hibban dan Tirmidzi menta’dilkannya, telah meriwayatkan darinya banyak perawi tsiqat. Abu Hatim berkata ”munkar al hadis”. Abu Hatim menyendiri dalam menjarh Zaid bin Hasan dan ia terkenal ulama yang mutasyadud [berlebihan] dalam mencacatkan perawi. Cukup dikenal kalau Abu Hatim banyak mencacatkan perawi shahih. Oleh karena itu jarh Abu Hatim yang menyendiri tidak bisa dijadikan hujjah jika terdapat penta’dilan oleh ulama lain.

  • Nashr bin Abdurrahman Al Kufi adalah perawi Tirmidzi dan Ibnu majah yang tsiqat. Nasa’i dan Maslamah menyatakan ”tsiqat”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [At Tahdzib juz 10 no 776]. Ibnu Hajar berkata ”tsiqat” [At Taqrib 2/243]
  • Zaid bin Hasan Al Anmathi adalah perawi Tirmidzi seorang yang shaduq hasanul hadis. Telah meriwayatkan darinya para perawi tsiqat seperti Ishaq bin Rahawaih, Sa’id bin Sulaiman Al Wasithi, Ali bin Madini, Nashr bin Abdurrahman Al Kufi dan yang lainnya. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Abu Hatim berkata ”munkar al hadits” [At Tahdzib juz 3 no 741]. Bukhari telah menyebutkan Zaid bin Hasan tanpa menyebutkan jarh maupun ta’dil [Tarikh Al Kabir juz 3 no 1306]. At Tirmidzi berkata ”hadis ini hasan gharib dari jalur ini” dan ”Zaid bin Hasan telah meriwayatkan darinya Sa’id bin Sulaiman dan lebih dari seorang ahlul ilmu” [Sunan Tirmidzi no 3786]. Penta’dilan Ibnu Hibban dan Tirmidzi serta penyebutan Al Bukhari tanpa jarh maupun ta’dil ditambah lagi telah meriwayatkan darinya para perawi tsiqat dan hafizh maka kedudukan Zaid bin Hasan Al Anmathi adalah shaduq hasanul hadis. Pencacatan Abu Hatim tidak bisa dijadikan hujjah karena dua alasan yaitu pertama Abu Hatim terkenal mutasyadud atau berlebihan dalam mencacat perawi sehingga dikenal ia banyak mencacatkan perawi shahih. Kedua perkataan ”munkar al hadits” bisa jadi merujuk pada perkataan Ahmad ketika disebutkan hadis Tsaqalain riwayat Athiyyah bahwa hadis tersebut munkar sehingga ketika Zaid bin Hasan meriwayatkan hadis ini, Abu Hatim menyatakan hadisnya mungkar.
  • Ja’far bin Muhammad adalah seorang Imam yang tsiqat. Syafi’i, Ibnu Ma’in, Abu Hatim, Ibnu Adiy, Ibnu Hibban, dan Nasa’i berkata ”tsiqat”. As Saji berkata ”shaduq ma’mun” [At Tahdzib juz 2 no 156]. Ibnu Hajar berkata ”shaduq faqih imam” [At Taqrib 1/163]. Pendapat yang benar adalah Beliau seorang yang tsiqat dan imam yang faqih.
  • Muhammad bin Ali bin Husain adalah seorang Imam yang tsiqat. Ibnu Sa’ad dan Al Ijli berkata ”tsiqat”. Ibnul Barqi berkata ”faqih yang utama”. Nasa’i berkata fuqaha penduduk Madinah dari golongan tabiin”. [At Tahdzib juz 9 no 582]. Ibnu Hajar berkata ”tsiqat fadhl” [At Taqrib 2/114]

Sudah jelas kedudukan hadis Jabir ini hasan. Salafy nashibi berusaha melemahkan hadis Jabir dengan mencacatkan Zaid bin Hasan Al Anmathi. Mereka dengan senangnya bertaklid pada perkataan Abu Hatim. Telah disebutkan sebelumnya kalau jarh Abu Hatim yang menyendiri tidak bisa dijadikan hujjah jika terdapat penta’dilan ulama lain. Perhatikan perkataan Adz Dzahabi berikut

إذا وثق أبو حاتم رجلاً فتمسك بقوله فإنه لا يوثق إلا رجلاً صحيح الحديث وإذا لين رجلاً أو قال لا يحتج به فتوقف حتى ترى ما قال غيره فيه فإن وثقه أحد فلا تبن على تجريح أبي حاتم فإنه متعنت في الرجال قد قال في طائفة من رجال الصحاح ليس بحجة  ليس بقوي أو نحو ذلك

Jika Abu Hatim menyatakan tsiqah kepada seorang perawi maka ambillah karena ia tidaklah menyatakan tsiqat kecuali pada perawi yang shahih hadisnya dan jika ia menyatakan layyin (melemahkan) seorang perawi atau mengatakan “tidak bisa dijadikan hujjah” maka bertawaqquflah sampai diketahui perkataan ulama lain tentang perawi tersebut dan jika ada ulama lain menyatakan tsiqat maka tak perlu dianggap pencacatan Abu Hatim karena ia suka mencari-cari kesalahan perawi, ia sering mengatakan pada perawi-perawi shahih “bukan hujjah” dan “tidak kuat” atau perkataan yang lainnya [As Siyar 13/260]

Zaid bin Hasan telah dita’dilkan oleh Ibnu Hibban dan Tirmidzi. Bukhari menyebutkan tentangnya tanpa menyebutkan adanya cacat seperti yang dikatakan Abu Hatim. Dan telah meriwayatkan dari Zaid sekumpulan perawi tsiqat. Keterangan ini semua cukup untuk menyatakan kalau Zaid bin Hasan seorang yang shaduq hasanul hadis. Riwayat Zaid bin Hasan dari Ja’far bin Muhammad ternyata memiliki mutaba’ah dari Ibrahim bin Muhajir Al Azdi Al Kufi yang disebutkan oleh Al Khatib [Al Muttafaq Wal Muftariq 2/31 no 78] dan Hatim bin Ismail yang disebutkan oleh Abdul Karim bin Muhammad Ar Rafi’i [Tadwin Fi Akhbar Qazwin 2/266]. Ibrahim bin Muhajir disebutkan biografinya oleh Ibnu Hajar tanpa menyebutkan jarh maupun ta’dil [At Tahdzib juz 1 no 302] sedangkan Hatim bin Isma’il adalah perawi yang tsiqat. Yahya bin Ma’in, Daruquthni, Ibnu Hibban, Al Ijli dan Adz Dzahabi menyatakan tsiqat [Tahrir At Taqrib no 994]
.

.

.

Hadis Ali bin Abi Thalib RA
Hadis Ali bin Abi Thalib RA ini diriwayatkan dengan jalan sanad dari Katsir bin Zaid Al Aslamiy dari Muhammad bin Umar bin Ali dari Ayahnya dari Ali RA.

حَدَّثَنَا إبْرَاهِيمُ بْنُ مَرْزُوقٍ قَالَ ثنا أَبُو عَامِرٍ الْعَقَدِيُّ قَالَ ثنا كَثِيرُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عُمَرَ بْنِ عَلِيٍّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَلِيٍّ  أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَضَرَ الشَّجَرَةَ بِخُمٍّ فَخَرَجَ آخِذًا بِيَدِ عَلِيٍّ فَقَالَ  يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَلَسْتُمْ تَشْهَدُونَ أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ رَبُّكُمْ ؟ قَالُوا  بَلَى قَالَ أَلَسْتُمْ تَشْهَدُونَ أَنَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أَوْلَى بِكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ وَأَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَرَسُولَهُ مَوْلَيَاكُمْ ؟ قَالُوا بَلَى قَالَ فَمَنْ كُنْت مَوْلَاهُ فَإِنَّ هَذَا مَوْلَاهُ أَوْ قَالَ فَإِنَّ عَلِيًّا مَوْلَاهُ شَكَّ ابْنُ مَرْزُوقٍ إنِّي قَدْ تَرَكْت فِيكُمْ مَا إنْ أَخَذْتُمْ بِهِ لَنْ تَضِلُّوا كِتَابَ اللَّهِ بِأَيْدِيكُمْ وَأَهْلَ بَيْتِي

Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Marzuq yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu ‘Amir Al Aqadiy yang berkata telah menceritakan kepadaku Katsir bin Zaid dari Muhammad bin Umar bin Ali dari Ayahnya dari Ali bahwa Nabi SAW berteduh di Khum kemudian Beliau keluar sambil memegang tangan Ali. Beliau berkata “wahai manusia bukankah kalian bersaksi bahwa Allah azza wajalla adalah Rabb kalian?. Orang-orang berkata “benar”. Bukankah kalian bersaksi bahwa Allah dan Rasul-Nya lebih berhak atas kalian lebih dari diri kalian sendiri dan Allah azza wajalla dan Rasul-Nya adalah mawla bagi kalian?. Orang-orang berkata “benar”. Beliau SAW berkata “maka barangsiapa yang menjadikan Aku sebagai mawlanya maka dia ini juga sebagai mawlanya” atau [Rasul SAW berkata] “maka Ali sebagai mawlanya” [keraguan ini dari Ibnu Marzuq]. Sungguh telah Aku tinggalkan bagi kalian yang jika kalian berpegang teguh kepadanya maka kalian tidak akan tersesat yaitu Kitab Allah yang berada di tangan kalian dan Ahlul Bait-Ku” [Musykil Al Atsar Ath Thahawi 3/56]

Ibrahim bin Marzuq yang meriwayatkan hadis ini dari Abu ‘Amir memiliki mutaba’ah dari Sulaiman bin Ubaidillah Al Ghailaniy sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Abi Ashim [As Sunnah no 1558]. Sulaiman bin Ubaidillah Al Gahilany adalah seorang yang tsiqat. Abu Hatim berkata “shaduq”. Nasa’i berkata “tsiqat”. Maslamah berkata “tidak ada masalah” dan Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [At Tahdzib juz 4 no 356]

  • Ibrahim bin Marzuq adalah seorang yang tsiqat. Abu Hatim berkata “tsiqat shaduq” [Al Jarh Wat Ta’dil 2/137 no 439]. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [Ats Tsiqat juz 8 no 12359]. Nasa’i berkata “tidak ada masalah”. Ibnu Yunus berkata “tsiqat tsabit”. Sa’id bin Utsman menyatakan tsiqat [At Tahdzib juz 1 no 290]
  • Abu ‘Amir Al Aqadiy adalah Abdul Malik bin Amr Al Qaisiy perawi kutubus sittah yang tsiqat. Ibnu Ma’in dan Abu Hatim berkata “shaduq”. Nasa’i berkata “tsiqat ma’mun”. Ibnu Sa’ad, Ibnu Hibban, Ibnu Syahin dan Utsman Ad Darimi berkata “tsiqat” [At Tahdzib juz 6 no 764]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat” [At Taqrib 1/617]
  • Katsir bin Zaid Al Aslamy adalah seorang yang tsiqat. Ahmad berkata “tidak ada masalah padanya”. Ibnu Ma’in terkadang berkata “tidak ada masalah” terkadang berkata “shalih” terkadang berkata “laisa bi dzaka”. Ibnu Ammar Al Maushulliy berkata “tsiqat”. Malik bin Anas meriwayatkan darinya dan itu berarti Malik menganggap Katsir tsiqat karena Malik hanya meriwayatkan dari perawi tsiqat. Abu Zur’ah berkata “jujur tetapi ada kelemahan”. Abu Hatim berkata “shalih, tidak kuat tetapi ditulis hadisnya”. Nasa’i berkata “dhaif”. Ibnu Ady berkata “menurutku tidak ada masalah padanya”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [At Tahdzib juz 8 no 745]. Ibnu Hajar berkata “shaduq yukhti’u” [At Taqrib 2/38] dan dikoreksi dalam Tahrir At Taqrib kalau Katsir bin Zaid Al Aslamy seorang yang shaduq hasanul hadis [Tahrir At Taqrib no 5611]
  • Muhammad bin Umar bin Ali adalah seorang yang tsiqat. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [Ats Tsiqat juz 5 no 5171]. Daruquthni menyatakan tsiqat [Su’alat Al Barqani no 85]. Ibnu Hajar berkata “shaduq” [At Taqrib 2/117]. Adz Dzahabi berkata “tsiqat” [Al Kasyf no 5073]
  • Umar bin Ali bin Abi Thalib adalah seorang yang tsiqat. Al Ijli dan Ibnu Hibban menyatakan tsiqat [At Tahdzib juz 7 no 807]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat” [At Taqrib 1/724]. Daruquthni menyatakan tsiqat [Su’alat Al Barqani no 85]

Pendapat yang benar adalah hadis ini shahih seperti yang disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Al Mathalib Al Aliyah no 3943. Selain Ibrahim bin Marzuq dan Sulaiman bin Ubaidillah, Ishaq juga meriwayatkan hadis ini dari Abu ‘Amir Al Aqadiiy sebagaimana yang disebutkan Ibnu Hajar [Al Mathalib Al Aliyah no 3943]. Sebagian pengikut salafy mencacatkan hadis ini dengan melemahkan Katsir bin Zaid Al Aslamy. Kami katakan pendapat mereka itu keliru, yang rajih dalam hal ini adalah Katsir bin Zaid seorang yang tsiqah. Telah kami sebutkan sebelumnya bahwa diantara yang menta’dilkan Katsir bin Zaid adalah Ahmad, Ibnu Ma’in, Malik bin Anas, Ibnu Hibban, Ibnu Ammar, dan Ibnu Ady. Ibnu Syahin memasukkannya dalam Ats Tsiqat [Tarikh Asma Ats Tsiqat no 1179]. Bukhari telah menshahihkan hadis Katsir bin Zaid, Imam Tirmidzi bertanya kepada Bukhari tentang hadis Katsir bin Zaid dari Walid bin Rabah dari Abu Hurairah. Bukhari berkata “itu hadis shahih, Katsir mendengar dari Walid dan Walid mendengar dari Abu Hurairah, Walid “muqarib al hadits” [Ilal Tirmidzi 1/260 no 475]. Yahya Al Qaththan menyatakan Katsir shaduq dan menghasankan hadisnya [Bayan Al Waham 5/211]. Al Bazzar berkata “Katsir hadisnya baik” [Syarh Sunan Ibnu Majah Al Mughlathay 1/250]

Disebutkan kalau Ibnu Ma’in mengatakan hal yang berselisih tentangnya. Diriwayatkan dari Abu Bakar bin Abi Khaitsamah dari Ibnu Ma’in yang berkata “tidak kuat” [Al Jarh Wat Ta’dil 7/150 no 841]. Diriwayatkan dari Muawiyah bin Shalih dan Mufadhdhal bin Ghasan dari Ibnu Ma’in yang berkata “shalih”. Diriwayatkan dari Abdullah bin Ahmad Ad Dawraqi dari Ibnu Ma’in yang berkata “tidak ada masalah padanya” [Tahdzib Al Kamal no 4941]. Ibnu Ady meriwayatkan dengan sanad yang shahih

حدثنا علان ثنا بن أبي مريم سمعت يحيى بن معين قال كثير بن زيد ثقة

Telah menceritakan kepada kami ‘Alan yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Maryam yang berkata aku mendengar Yahya bin Ma’in berkata “Katsir bin Zaid tsiqat” [Al Kamil Ibnu Ady 6/67]

Riwayat ini shahih dari Ibnu Ma’in karena ‘Alan dan Ibnu Abi Maryam keduanya tsiqat

  • ‘Alan adalah Ali bin Ahmad bin Sulaiman seorang Imam Muhaddis yang tsiqat dan banyak meriwayatkan hadis [As Siyar 14/496 no 279]
  • Ibnu Abi Maryam adalah Ahmad bin Sa’id bin Abi Maryam seorang yang tsiqat. Ia syaikh [guru] Abu Dawud dan Nasa’i. Nasa’i berkata “tidak ada masalah padanya”. Maslamah bin Qasim dan Baqi bin Makhlad menyatakan “tsiqat” [Tahrir At Taqrib no 36]

Jadi penukilan Ibnu Ma’in menta’dilkan Katsir bin Zaid lebih banyak dan sanadnya shahih maka yang rajih dalam perkara ini adalah Ibnu Ma’in menyatakan Katsir tsiqat sedangkan penukilan Ibnu Abi Khaitsamah bisa saja diartikan bahwa pada awalnya Ibnu Ma’in menganggap Katsir tidak kuat tetapi setelah itu Ibnu Ma’in rujuk dari pandangannya dan menganggap Katsir bin Zaid tsiqat.

Mereka yang mencacatkan Katsir bin Zaid tidak menyebutkan satupun alasan pencacatan mereka ditambah lagi pada dasarnya mereka juga menta’dil Katsir bin Zaid. Abu Zur’ah menyatakan ia shaduq tetapi ada kelemahan padanya dan Abu Hatim berkata shalih tidak kuat dan ditulis hadisnya. Jarh seperti ini bisa berarti seorang yang hadisnya hasan apalagi jika si perawi dita’dilkan oleh ulama lain. Nasa’i menyendiri menyatakan Katsir bin Zaid dhaif tanpa menyebutkan alasannya apalagi dikenal kalau Nasa’i termasuk ulama mustayadud yang ketat dalam menjarh perawi hadis. Oleh karena itu pencacatan terhadap Katsir bin Zaid tidaklah kuat.

Sebagian pengikut salafy juga menukil bahwa Ibnu Jarir Ath Thabari berkata tentang Katsir bin Zaid “tidak bisa dijadikan hujjah” [At Tahdzib juz 8 no 745]. Kutipan Ibnu Jarir ini tidaklah tsabit karena Ibnu Jarir sendiri dalam kitabnya Tahdzib Al Atsar telah berhujjah dengan Katsir bin Zaid Al Aslamy [Tahdzib Al Atsar no 897] dan Ali Al Hindi penulis kitab Al Kanz justru menulis hadis Tsaqalain riwayat Katsir bin Zaid ini dan mengutip bahwa Ibnu Jarir menshahihkannya [Al Kanz 1/576 no 1650]. Kesimpulannya Katsir bin Zaid Al Aslamy adalah perawi yang tsiqat dan hadis Ali bin Abi Thalib RA ini shahih. Wallahu ‘alam

.

.

.

Syubhat Salafy Yang Mendistorsi Hadis Tsaqalain
Salafy yang ngakunya pengikut sunnah mengalami kebingungan dalam menghadapi hadis Tsaqalain. Mereka susah menerima kenyataan bahwa Ahlul Bait telah ditetapkan oleh Rasul SAW sebagai pedoman bagi umat islam. Oleh karena itu mereka mencari berbagai dalih untuk mendistorsi hadis tsaqalain sehingga tidak memberatkan mahzab mereka. Syubhat salafy yang populer mengenai hadis Tsaqalain hanyalah bertaklid kepada talbis Ibnu Taimiyyah yaitu Hadis Tsaqalain tidak menyatakan harus berpegang teguh kepada Ahlul Bait tetapi berpegang teguh kepada Kitab Allah  saja sedangkan pesan tentang Ahlul Bait adalah kita harus memuliakan, mencintai dan menghormati Ahlul Bait. Perkataan ini tidak diragukan adalah perkataan baik yang ditujukan untuk kebathilan. Mereka mengaku mencintai. Memuliakan dan menghormati Ahlul Bait tetapi menolak menjadikan Ahlul Bait sebagai pedoman. Diantara hadis yang mereka jadikan hujjah adalah kedua hadis berikut

عن يزيد بن حيان. قال  انطلقت أنا وحصين بن سبرة وعمر بن مسلم إلى زيد بن أرقم. فلما جلسنا إليه قال له حصين: لقد لقيت، يا زيد! خيرا كثيرا. رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم. وسمعت حديثه. وغزوت معه. وصليت خلفه. لقد لقيت، يا زيد خيرا كثيرا. حدثنا، يا زيد! ما سمعت من رسول الله صلى الله عليه وسلم. قال: يا ابن أخي! والله! لقد كبرت سني. وقدم عهدي. ونسيت بعض الذي كنت أعي من رسول الله صلى الله عليه وسلم. فما حدثتكم فاقبلوا. وما لا، فلا تكلفونيه. ثم قال: قام رسول الله صلى الله عليه وسلم يوما فينا خطيبا. بماء يدعى خما. بين مكة والمدينة. فحمد الله وأثنى عليه. ووعظ وذكر. ثم قال “أما بعد. ألا أيها الناس! فإنما أنا بشر يوشك أن يأتي رسول ربي فأجيب. وأنا تارك فيكم ثقلين: أولهما كتاب الله فيه الهدى والنور فخذوا بكتاب الله. واستمسكوا به” فحث على كتاب الله ورغب فيه. ثم قال “وأهل بيتي. أذكركم الله في أهل بيتي. أذكركم الله في أهل بيتي. أذكركم الله في أهل بيتي”. فقال له حصين: ومن أهل بيته؟ يا زيد! أليس نساؤه من أهل بيته؟ قال: نساؤه من أهل بيته. ولكن أهل بيته من حرم الصدقة بعده. قال: وهم؟ قال: هم آل علي، وآل عقيل، وآل جعفر، وآل عباس. قال: كل هؤلاء حرم الصدقة؟ قال: نعم.

Dari Yaziid bin Hayyaan, ia berkata  “Aku pergi ke Zaid bin Arqam bersama Hushain bin Sabrah dan ‘Umar bin Muslim. Setelah kami duduk. Hushain berkata kepada Zaid bin Arqam ‘Wahai Zaid, engkau telah memperoleh kebaikan yang banyak. Engkau telah melihat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, engkau mendengar sabda beliau, engkau berperang menyertai beliau, dan engkau telah shalat di belakang beliau. Sungguh, engkau telah memperoleh kebaikan yang banyak wahai Zaid. Oleh karena itu, sampaikanlah kepada kami – wahai Zaid – apa yang engkau dengar dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam’. Zaid bin Arqam berkata : ‘Wahai keponakanku, demi Allah, aku ini sudah tua dan ajalku sudah semakin dekat. Aku sudah lupa sebagian dari apa yang aku dengar dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Apa yang bisa aku sampaikan kepadamu, maka terimalah dan apa yang tidak bisa aku sampaikan kepadamu janganlah engkau memaksaku untuk menyampaikannya’. Kemudian Zaid bin Arqam mengatakan  ‘Pada suatu hari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berdiri berkhutbah di suatu tempat perairan yang bernama Khum yang terletak antara Makkah dan Madinah. Beliau memuji Allah, kemudian menyampaikan nasihat dan peringatan, lalu Beliau bersabda ‘Amma ba’d. Ketahuilah wahai saudara-saudara sekalian bahwa aku adalah manusia seperti kalian. Sebentar lagi utusan Rabb-ku (yaitu malaikat pencabut nyawa) akan datang lalu dia diperkenankan. Aku akan meninggalkan kepada kalian Ats-Tsaqalain yaitu Pertama, Kitabullah yang padanya berisi petunjuk dan cahaya, karena itu ambillah ia dan berpegang teguhlah kalian kepadanya’. Beliau menghimbau pengamalan Kitabullah. Kemudian beliau melanjutkan “dan ahlul-baitku. Aku ingatkan kalian akan Allah terhadap ahlu-baitku’ – beliau mengucapkannya sebanyak tiga kali – . Hushain bertanya kepada Zaid bin Arqam ‘Wahai Zaid, siapakah ahlul-bait Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam ? Bukankah istri-istri beliau adalah ahlul-baitnya ?’. Zaid bin Arqam menjawab ‘Istri-istri beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam memang ahlul-baitnya. Namun ahlul-bait beliau adalah orang-orang yang diharamkan menerima zakat sepeninggal beliau’. Hushain berkata ‘Siapakah mereka itu ?’. Zaid menjawab ‘Mereka adalah keluarga ‘Ali, keluarga ‘Aqil, keluarga Ja’far, dan keluarga ‘Abbas’. Hushain berkata ‘Apakah mereka semua itu diharamkan menerima zakat ?’. Zaid menjawab ‘Ya’ [Shahih Muslim no. 2408].

عن يزيد بن حيان عن زيد بن أرقم قال دخلنا عليه فقلنا له لقد رأيت خيرا صحبت رسول الله صلى الله عليه و سلم وصليت خلفه ؟ فقال نعم وإنه صلى الله عليه و سلم خطبنا فقال إني تارك فيكم كتاب الله هو حبل الله من اتبعه كان على الهدى ومن تركه كان على الضلالة

Dari Yazid bin Hayyan dari Zaid bin Arqam, ia [Yazid] berkata “kami masuk menemuinya dan kami berkata “sungguh engkau memiliki kebaikan sebagai sahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan shalat di belakang Beliau”. Zaid berkata “benar dan sesungguhnya Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah berkhutbah kepada kami “Sesungguhnya aku akan meninggalkan kepada kalian Kitabullah. Ia adalah tali Allah. Barangsiapa yang mengikutinya, maka ia berada di atas petunjuk. Dan barangsiapa yang meninggalkannya, maka ia berada dalam kesesatan [Shahih Ibnu Hibban no 123 Syaikh Syu’aib berkata “shahih dengan syarat Muslim”]

Menurut salafy kedua hadis Zaid bin Arqam ini menunjukkan perintah berpegang teguh kepada Kitab Allah dan tidak ada penyebutan soal berpegang teguh kepada Ahlul Bait. Yang ada hanyalah perkataan bahwa Rasulullah SAW mengingatkan tentang Ahlul Bait.

Tentu saja cara pendalilan salafy ini sangat bathil dan hanyalah penolakan mereka terhadap hadis yang shahih. Telah ditunjukkan bahwa lafaz “berpegang teguh kepada Ahlul Bait” shahih dari Rasulullah SAW. Diantaranya kami menunjukkan bahwa riwayat Abu Dhuha dari Zaid bin Arqam menyebutkan lafaz “berpegang teguh pada Kitab Allah dan Ahlul Bait”. Walaupun terdapat hadis lain yaitu riwayat Yazid bin Hayyan dari Zaid bin Arqam yang hanya menyebutkan lafaz “berpegang teguh kepada Kitab Allah” saja, tidaklah berarti riwayat Abu Dhuha dari Zaid bin Arqam menjadi tertolak. Justru kalau kita menggabungkan keduanya maka hadis Abu Dhuha dari Zaid bin Arqam melengkapi hadis Yazid bin Hayyan dari Zaid bin Arqam. Menjamak keduanya jelas lebih tepat dan hasil penggabungan keduanya adalah Rasulullah SAW menetapkan “berpegang teguh pada Kitab Allah dan Ahlul Bait”. Hal yang sangat ma’ruf bahwa penetapan yang satu bukan berarti menafikan yang satunya. Apalagi jika terdapat dalil shahih penetapan keduanya maka dalil penetapan yang satu harus dikembalikan kepada penetapan keduanya.

Seandainyapun kita diharuskan mentarjih salah satu riwayat maka riwayat Abu Dhuha dari Zaid bin Arqam lebih didahulukan dibanding riwayat Yazid bin Hayyan dari Zaid dengan alasan

  • Abu Dhuha lebih tsiqat dan tsabit dibanding Yazid bin Hayyan. Abu Dhuha atau Muslim bin Shubaih telah dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Ma’in, Abu Zur’ah, Ibnu Hibban, Nasa’i, Ibnu Sa’ad dan Al Ijli [At Tahdzib juz 10 no 237]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat fadhl” [At Taqrib 2/179]. Sedangkan Yazid bin Hayyan dinyatakan tsiqat oleh Nasa’i dan Ibnu Hibban saja [At Tahdzib juz 11 no 520]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat” [At Taqrib 2/323]
  • Riwayat Abu Dhuha dari Zaid telah dikuatkan oleh riwayat Jabir, Abu Sa’id dan Imam Ali seperti yang telah kami bahas di atas.

Apalagi dalam riwayat Yazid bin Hayyan dari Zaid terdapat lafal dimana Zaid berkata “aku ini sudah tua dan ajalku sudah semakin dekat. Aku sudah lupa sebagian dari apa yang aku dengar dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam”. Bukankah ini menunjukkan kalau hadis yang mengandung lafal seperti ini membutuhkan penjelasan dari hadis lain. Kami akan menunjukkan hadis Yazid bin Hayyan dari Zaid yang bertentangan soal apakah istri Nabi SAW termasuk Ahlul Bait atau bukan? Dimana Zaid berkata dari Rasulullah SAW yang bersabda

وإني تارك فيكم ثقلين أحدهما كتاب الله عز و جل هو حبل الله من اتبعه كان على الهدى ومن تركه كان على ضلالة وفيه فقلنا من أهل بيته ؟ نساؤه ؟ قال لا وايم الله إن المرأة تكون مع الرجل العصر من الدهر ثم يطلقها فترجع إلى أبيها وقومها أهل بيته أصله وعصبته الذين حرموا الصدقة بعده

“Sesungguhnya aku akan meninggalkan kepada kalian Ats Tsaqalain, salah satunya adalah Kitabullah Azza wajalla . Ia adalah tali Allah. Barangsiapa yang mengikutinya, maka ia berada di atas petunjuk. Dan barangsiapa yang meninggalkannya, maka ia berada dalam kesesatan. Kami bertanya “siapakah Ahlul Bait?” istri-istri Beliau?”. Zaid menjawab “tidak, demi Allah seorang wanita [istri] hidup dengan suaminya dalam masa tertentu jika suaminya menceraikannya dia akan kembali ke orang tua dan kaumnya. Ahlul Bait Nabi adalah keturunannya yang diharamkan untuk menerima sedekah” [Shahih Muslim no 2408]

Dalam hadis ini Zaid bin Arqam justru bersumpah “demi Allah” bahwa istri Nabi bukan ahlul bait. Nah apakah yang akan dikatakan oleh salafy nashibi terhadap hadis ini?. Kami lihat jarang sekali mereka mengutip hadis Zaid bin Arqam dengan lafal ini. Anehnya dengan angkuh pengikut salafy berkata

Ketika mereka menggunakan hadits Zaid bin Arqam (yang diriwayatkan oleh Al-Fasawiy rahimahullah di atas) untuk berpegang teguh pada ahlul-bait yang jika kita berpegang-teguh dengannya, maka kita tidak akan tersesat; ternyata pada waktu yang bersamaan orang Syi’ah menolak hadits Zaid bin Arqam yang mengatakan bahwa istri Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam termasuk Ahlul-Bait Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam !! Pilih-pilih hadits ?!!?!….

Nyatanya ia sendiri pilih-pilih hadis, atau ia tidak tahu hadis Zaid bin Arqam yang dengan jelas mengatakan istri Nabi bukan ahlul bait. Yah kebenciannya terhadap syiah membuatnya berbicara sembarangan dan terkesan sembrono. Kami tidak ada urusan menanggapi kebenciannya terhadap syiah, kami hanya ingin meluruskan talbis yang ia buat dalam tulisannya yang berusaha menolak hadis Tsaqalain dengan lafaz “berpegang teguh kepada Ahlul Bait”. Kalau dengan seenaknya ia menolak hadis karena musykil menurutnya maka alangkah banyaknya hadis-hadis yang bisa ditolak hanya dengan alasan “menurut saya musykil”. Lagipula yang ia maksud musykil itu hanyalah musykil yang dicari-cari agar ia dapat menolak hadis shahih yang memberatkan mahzabnya atau untuk menolak hadis shahih yang dijadikan hujjah bagi syiah, kasihan sekali betapa kebencian terhadap syiah membuatnya mencari-cari dalih untuk menolak hadis shahih.

Terakhir kami ingin menunjukkan implikasi dari hadis Tsaqalaian. Telah disebutkan di atas bahwa hadis Tsaqalain diantaranya diucapkan Nabi SAW di ghadir khum dan ketika itu Rasulullah SAW memegang tangan Ali dan berwasiat kalau Imam Ali adalah mawla bagi kaum muslimin. Hal ini menunjukkan bahwa Imam Ali termasuk Ahlul Bait yang dikatakan Rasulullah SAW sebagai pedoman yang harus dipegang teguh. Tentu saja kedudukan Imam Ali ini menunjukkan bahwa Beliau lebih utama dibanding sahabat yang lain termasuk Abu Bakar dan Umar. Bukankah Abu Bakar dan Umar termasuk sahabat yang diperintahkan Rasul SAW untuk berpegang teguh kepada Kitab Allah dan Ahlul Bait. Lantas bagaimana bisa mereka menjadi yang lebih utama dari Ahlul Bait?. Hadis Tsaqalain menjadi bukti nyata dari Rasulullah SAW bahwa kedudukan Imam Ali lebih utama dibanding semua sahabat lain termasuk Abu Bakar dan Umar.

Salam Damai

 

107 Tanggapan

  1. yadi, on Mei 11, 2010 at 5:27 pm said:

    Yg tidak meyakini kebenaran hadits Tsaqalain adalah orang yg tersesat, maka dari itu apabila para Nashibi berbuat yg aneh2 harus maklum dan bersabar.

    @syiahindonesia1,

    Trims atas informasinya, insya Allah saya akan berkunjung ke Blog anda.

    Wassalam

  2. bob, on Mei 11, 2010 at 10:35 pm said:

    sebenarnya para nashibi itu, berusaha mati2an menggeserkan kedudukan atau mensamarkan ahlul bait agar
    otoritas intrepretasi Alquran menjadi hak para mbah kakung dan tokoh pujaan mereka. dan disaat ini menjadi hak otoritatif mereka. oleh karenanya tdk lah heran kalau banyak org diluar islam menemukan banyak kontradiksi didalam islam. krn Islam di intepretasi oleh manusia yg tdk memiliki qualifikasi.
    apalagi sertifikasi Allah dan Rasul saw.

  3. chany, on Mei 12, 2010 at 8:47 am said:

    @SP
    Didunia ini bercampur yang HAK dan BATHIL. Diakhirat langsung Allah pisahkan. Disurga mereka2 yang melaksanakan yang HAK (alhaq min Rabbi) dan di NERAKA mereka yang mengikuti HAWA NAFSU (Iblis)
    Allah berfirman yang arti dan maksudnya lebih kurang: “Cahaya kebenaran telah datang” Dan ada yang hendak menghilangkan CAHAYA ini. Tapi mereka tidak sanggup.”
    Mereka mencoba menghilangkan dengan merekayasa Sunah Rasul dan menafsirkan Firman Allah sesuai kehendak mereka. Masih belum puas. Mereka racuni dan membunuh pembawa CAHAYA KEBENARAN. Tapi tetap tidak bisa. Karena Allah Yang Maha Penjaga menjaga CahayaNya.
    Mereka2 yang mau menerima cahaya tsb.adalah nereka yang mendapat petunjuk. Selama Allah belum memberikan petunjuk mereka tetap dalam kesesatan. Allah berfirman: ” Hai Rasul engkau bertugas mengabarkan dan menjelaskan apa yang Ku sampaikan padamu. PETUNJUK adalah dari padaKu” Aku akan memberikan petunjuk bagi siapa yang Ku kehendaki.”
    Rasulullah sudah menyampaikan Tsaqalain sebagai pegangan hidup mereka menuju KESELAMATAN. Wasalam

  4. Pemburu ilmu, on Mei 13, 2010 at 8:07 am said:

    @SP
    “Walaupun begitu kami tidak punya kepentingan untuk mencela atau mencaci Abu Bakar RA dan Umar RA. Bagi kami cukuplah tauladan yang diberikan Ahlul Bait jika salah katakan salah jika benar katakan benar dan jika tidak senang maka diam dan bersabar itu lebih baik.”

    Setuju banget..! Bagi pengikut Ahlul Bait, siapa lagi yg menjadi teladan mereka kalau tidak Nabi SAW dan Ahlul Bait as?

    “Semoga jawaban kami ini bermanfaat bagi umat islam khususnya para pecinta Ahlul Bait dan insya Allah kami akan terus berusaha menjadi hamba Allah yang membela keutamaan Ahlul Bait semampu kami.”

    Ini merupakan amar ma’ruf nahi munkar.
    Imam Ali as pernah berkata ” Temanmu yg sesungguhnya adalah orang yg mau melarangmu (dari berbuat dosa), dan musuhmu yg sebenarnya adalah orang yg membujukmu (utk berbuat maksiat).”

    “Tidak ada yang kami harapkan dari ini kecuali Allah SWT mengampuni kami dan memberikan petunjuk kepada kami agar kami berada di atas jalan yang lurus.”

    Amin…Ini doa dan harapan dari kita semua. Semoga dengan mencintai dan mengikuti petunjuk Ahlul Bait as, Allah memasukkan kita ke dalam golongan hamba2-Nya yg mematuhi amanat dan wasiat Nabi SAW…

  5. Trimakasih…kami jadi tambah pengetahuan

  6. Ketika kaum nashibi menafsirkan hadis Zaid bin Arqam versi : “…..dan ahlul-baitku. Aku ingatkan kalian akan Allah terhadap ahlu-baitku’, dg pengertian :
    “untuk mencintai, menghormati, memuliakan, dan menunaikan hak-hak Ahlul-Bait”, maka kalimat ini masih bersifat multi tafsir. Paling tidak ada 2 tafsir lanjutannya :

    1. Pengertian Ahlul Bait menjadi sangat luas termasuk dzuriah Nabi saw sampai sekarang ini, shg menjadi kabur. Kesannya Ahlul Bait menjadi “beban” umat Islam.

    2. Pengertan Ahlul Bait terbatas hanya org2 yg disebut dlm hadis Al-Kisa dan QS 33 : 33 shg mereka wajib dijadikan pedoman/pemimpin oleh kaum muslimin dlm melaksanakan syariat Islam.

    Saya pribadi berdasarkan hadis Zaid bin Arqam versi pertama, ayat2 Quran dan akal sehat lebih memilih pengertian no. 2, karena sangat masuk akal dan lebih jelas.

    1. assalamualaikum wr.wb

      kunjungi http://syiahali.wordpress.com

      kunjungi http://syiahali.wordpress.com

      sebuah website syi’ah imamiyah itsna asyariah terlengkap di indonesia

      memuat ratusan artikel dan foto

    2. assalamualaikum wr.wb

      kunjungi http://syiahali.wordpress.com

      kunjungi http://syiahali.wordpress.com

      sebuah website syi’ah imamiyah itsna asyariah terlengkap di indonesia

      memuat ratusan artikel dan foto
      ..

    3. truthseeker08, on Mei 14, 2010 at 1:35 pm said:

      @syiahali
      Ini iklan apa maksa. Sudah mulai mengganggu. Lama2 dianggap spam.
      terserah SP dehh.. ;)

      Salam damai

    4. ytse-jam, on Mei 14, 2010 at 7:05 pm said:

      Perlu anda semua ketahui, org yang bernama Syiahali itu PENGIKUT SYIAH, dia adalah seorang mantan Sunni bukan pengurus Arimatea yg lama melek ttg Syiah. Saya kenal orgnya.

      1. tes, on Mei 16, 2010 at 2:50 pm said:

        bgmn dg hadits yg menyebutkan bahwa salah satu dari keduanya lebih besar dari yang lain :
        إِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ مَا إِنْ أَخَذْتُمْ بِهِ لَنْ تَضِلُّوا بَعْدِي الثَّقَلَيْنِ أَحَدُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ الْآخَرِ
        “Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara yang sangat berat, salah satunya lebih besar dari yang lain”.[Sunan At-Tirmidziy no. 3788]

      2. hanya orang bodoh, on Mei 16, 2010 at 4:23 pm said:

        ma’af islam begitu bnyk alirannya..
        seperti ,nu, muhamadiyah, syiah , suni, wahabi..
        manakah yg bgs dan benar2 islam sejati??, mohon bimbinganya wasaalam..

      3. aldj, on Mei 16, 2010 at 6:54 pm said:

        @hanya orang bodoh
        kita sama2 bodoh,
        maaf sebelumnya klu sedikit berlebihan,krn dr td ga ada yg jwb,jd sy coba jwb(fardu kifayah).
        sebenarnya ga ada menurut sy islam sejati,mungkin lebih baik kita pake bhs yg sama,yaitu “ihdinassirothol mustaqim”
        ada 2 versi,n silahkan anda cari tau(dalil yg kuat) mana jln yg lurus
        1.alquran n sunnati(rosul)
        2.alquran n ittrati ahlulbaiti(rosul)
        salam…

      4. chany, on Mei 16, 2010 at 7:55 pm said:

        @hanya orang bodoh
        Nama yang membuat kita harus ber-hati2.
        Anda bertanya Islam sejati. Pertama tama saya katakan Islam Sejati adalah KEBENARAN. Alqur’an adalah CAHAYA KEBENARAN dan Nabi Muhammad Rasulullah serta Ahlulbaitnya PEMBAWA KEBENARAN.
        Untuk mengetahui mana yang lebih mendekati KEBENARAN dari aliran2 yang anda sebut diatas, saya anjurkan anda ikuti diskusi diblog ini secara teliti tanpa berpihak. Kemudian anda analisa mana yang lebih benar. Wasalam

      5. truthseeker08, on Mei 17, 2010 at 12:29 pm said:

        Ada di mazhab manapun kita bisa menemukan islam sejati. Ada di mazhab manapun juga bisa tersesat/tergelincir.
        Mazhab adalah penafsiran si pendiri mazhab thd nazh2.
        Mazhab adalah jalan. Di semua jalan, pada saat kita berjalan kita harus selalu meminta pertolongan Allah untuk selalu menunjuki kita jalan yang lurus. karena di mazhab yang manapun iblis selalu siap menyelewengkan dan menyesatkan dan menipu kita.
        Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana agar kita selalu terjaga?

        Salam damai

      6. aldj, on Mei 17, 2010 at 7:15 pm said:

        @truthseekers 08
        klu sy membaca tulisan anda n argument anda yg lalu2 sangatlah bagus,tp skrg2 ini ko agak sedikit menurun….
        apalg terjd masa peralihan…??

      7. hiroali, on Mei 17, 2010 at 9:51 pm said:

        @hanya orangbodoh
        Utk mencari ajaran islam yg sejati, banyak buku mengenai islam tersebar. Anda bisa dg mulai membaca buku islam dari berbagai sumber. singkirkan kelambu mazhab yg menutupi anda utk menemukannya. Berprasangka baik saja, kemudian anda tinggal memanfaatkan karunia akal yg Tuhan tlah berikan utk anda menganalisa dan menyimpulkan semua buku yg anda baca. Atau anda bisa dg melihat ulama2nya (suni, syiah, muhamadiyah, nu, wahabi). Mana di antara mereka yg sdh mengikuti dan menjalankan segala sunnah nabi saww secara benar. Lihat diantara mereka yg paling ikhlas dan tawadhu. Utk tawadhu tentunya baru teruji jika seseorang telah duduk dlm lingkup kekuasaan dan kekayaan. Apakah ulama itu berubah atau justru smakin istiqomah…dunia ini luas dan mrupakan buku yg terbaik utk kita belajar dan mencari.

      8. truthseeker08, on Mei 18, 2010 at 9:57 am said:

        @aldj
        Maksudnya tidak mencocoki selera aldj? . :mrgreen:
        Pisss…

        Salam damai.

      9. aldj, on Mei 18, 2010 at 6:00 pm said:

        @truthseekers
        he..he..he..mungkin jg..
        masalahnya ko loncat ke mahzab

      10. paiman, on Mei 20, 2010 at 11:22 am said:

        Perlu diketahui bahwa baik hadis Tsaqalain maupun hadis Kitabullah wa sunnatii memuat kedua lafaz bihi dan bihima. Bihi yang berarti “dengannya” dan bihimaa yang berarti “dengan keduanya”.

        dan sayangnya lafadz bihima semuanya adalah dhaif, tinggal yg bihi saja, maka jelas itu hanya satu yang harus dipegang teguh yaitu Kitabullah, sedangkan berpegang kepada sunnah Nabi kan sudah ada dalam kitabulllah. walaupun dikatain anak kecil, tapi saya setuju, bahwa bihi itu memang cuma satu sedangkan bihima itu dua :)

        Tanggapan kami cukup sederhana, kekeliruan-kekeliruan yang ia nisbatkan kepada Imam Ali sebelum diucapkan hadis Tsaqalain jelas tidak menjadi hujjah baginya karena jelas pada masa Nabi SAW, Nabi SAW memberikan pengajaran dan ilmu kepada Ahlul Bait sehingga pada akhirnya Rasul SAW menetapkan Ahlul Bait sebagai pedoman umat.

        katanya kesalahan, kotoran atau dosa belum pernah memasuki ahlul bait?? seperti penafsiran thd Al-Ahzab : 33, kalau gitu sama aja dong dg sahabat spt Abu Bakar, Umar maupun Utsman, ketika mereka menjadi khulafa’urrasyidin, Nabi SAW sebelumnya telah memerintahkan untuk memegang sunnah mereka juga.

      11. @paiman:
        “dan sayangnya lafadz bihima semuanya adalah dhaif, tinggal yg bihi saja, maka jelas itu hanya satu yang harus dipegang teguh yaitu Kitabullah, sedangkan berpegang kepada sunnah Nabi kan sudah ada dalam kitabulllah. walaupun dikatain anak kecil, tapi saya setuju, bahwa bihi itu memang cuma satu sedangkan bihima itu dua”

        Benar mas sunnah Nabi sdh ada dlm Kitabullah. Tapi jangan lupa hal itu masih dlm bentuk prinsip-prinsip yg bersifat global. Contohnya salat. Apakah anda menemukan teknik salat di Quran ? Teknik salat hanya ada dlm sunnah Rasul. Jadi memang selain Kitabullah kita membutuhkan Sunnah Rasul sbg penjelasan sekaligus operasionalisasi dari Al-Quran. Sunnah Rasul bukanlah hadis yg berupa catatan/tulisan, tetapi adalah Al-Quran yg berjalan atau Al-Quran in operation. Berarti harus ada figur dong. Figurnya adalah Rasulullah saw. Nah bagaimana setelah Nabi wafat ? Apa engga perlu figur2 yg menjelaskan dan mengoperasionalkan Kitabullah ?

        @paiman:
        “katanya kesalahan, kotoran atau dosa belum pernah memasuki ahlul bait?? seperti penafsiran thd Al-Ahzab : 33,”

        Benar mas. Coba dong perhatikan susunan kata-kata dlm kalimat Al-Ahzab 33 terutama kalimat “liyudzhiba ‘ankumur ridzsa…..”. Kenapa digunakan kata “‘an” bukan “min”? Karena menurut bhs Arab “min” digunakan untuk sesuatu yg sdh merupakan bagian atau sdh masuk kedlmnya. Sedangkan ‘an digunakan untuk sesuatu yg belum masuk kedalamnya. Jadi kalimat “liyudzhiba ‘ankumur ridzsa” menunjukkan bahwa Ahlul Bait selalu diproteksi oleh Allah dari berbuat dosa dan kesalahan tentunya dlm lingkup syariat. Hal ini diperkuat dg hadis Ashabul Kisa yg menyebutkan figur2 Ahlul Bait yg dimaksud Al-Ahzab 33 (Nabi saw, Ali, Fatimah, Hasan dan Husein).

        @paiman:
        “kalau gitu sama aja dong dg sahabat spt Abu Bakar, Umar maupun Utsman, ketika mereka menjadi khulafa’urrasyidin, Nabi SAW sebelumnya telah memerintahkan untuk memegang sunnah mereka juga.”

        Sayangnya Abu Bakar, Umar dan Usman tdk disebut-sebut dlm hadis tsb. Jadi ketiga org ini tidak maksum. Toh dlm hadis “khulafa’urrasyidin” pun tdk menyebut-nyebut nama2 itu.

      12. @paiman

        dan sayangnya lafadz bihima semuanya adalah dhaif, tinggal yg bihi saja, maka jelas itu hanya satu yang harus dipegang teguh yaitu Kitabullah, sedangkan berpegang kepada sunnah Nabi kan sudah ada dalam kitabulllah. walaupun dikatain anak kecil, tapi saya setuju, bahwa bihi itu memang cuma satu sedangkan bihima itu dua

        baik hadis lafaz bihi dan bihima tidak ada perbedaan dalam maknanya. Penggunaan kata tersebut tergantung dengan kalimat. saya sudah jelaskan dengan baik di atas dan bagi mereka yang mengerti bahasa arab dengan baik mereka tidak akan mempermasalahkan kedua lafaz tersebut. Para ulama telah benyak berhujjah dengan hadis lafaz bihi tidak ada dari mereka menegaskan bahwa itu artinya cuma satu saja. Penggunaan lafaz bihi justru menunjukkan bahwa masing-masing harus dipegang teguh yaitu Kitab Allah dan Itrah Ahlul Bait. Silakan anda pilih apa yang anda yakini, tidak ada yang memaksa disini.

        katanya kesalahan, kotoran atau dosa belum pernah memasuki ahlul bait?? seperti penafsiran thd Al-Ahzab : 33, kalau gitu sama aja dong dg sahabat spt Abu Bakar, Umar maupun Utsman, ketika mereka menjadi khulafa’urrasyidin, Nabi SAW sebelumnya telah memerintahkan untuk memegang sunnah mereka juga.

        maaf tidak ada dalil yang mengatakan kalau Abu Bakar Umar dan Utsman adalah khulafaur rasyidin yang sunnahnya harus dipegang teguh. Bahkan terdapat dalil kalau mereka menetapkan sesuatu yang bertentangan dengan sunnah Nabi seperti pelarangan haji tamattu. Sunnah Nabi dan Sunnah Khulafaur Rasyidin jelas tidak akan bertentangan :)

      13. Assalamualaikum
        Kang SP, Salam kenal ! saya minta izin untuk mengutip dan meng-copas artikel2 yang ada di situs ini… boleh kaaaannnn ??? pliiiizzz !!!!
        dan saya akan buat link situs ini di Blog saya ..
        Thanks atas izinnya

        Wasssalam

        1. Ytse-Jam, on Juni 13, 2010 at 11:46 pm said:

          @ ainunmarziah / syiahindinesia1

          SAYA TIDAK MEMFITNAH ANDA……!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

          Anda sedang mencoba mengelabui kami (terutama saya), tapi sayang cara anda itu SANGAT BODOH. Dengan menyertakan link anda,  “syiahindonesia1.wordpress”, dalam satu komentar anda di blog ini anda mengaku sebagai ULAMA SYIAH, apa anda lupa?????? atau memang anda DUSTA????

          Apa yang saya tulis tentang jatidiri anda 100% AKURAT…!!!!

          Anda adalah seorang pengurus Arimatea yang bernama SALAFAN RIKI, SKM, kan? ITU MENURUT PENGAKUAN ANDA SENDIRI DALAM SMS ANDA KE SAYA, yaitu ke No.HP: 0813 6061 6061 warga Lhokseumawe Alumni Unsyiah

          Anda mendapat No. HP saya dari Ustadz Ibnu Ali, Lc (seorang mantan Sunni tamatan Mesir yang pindah ke Syiah).
          KALAU ANDA JUJUR ANDA PASTI AKAN MENGAKUI FAKTA INI.

          Saya kenal identitas anda dari guru saya Ustadz Ibnu Ali, Lc karena anda sering kirim sms pada beliau dan anda berdialog dengan beliau di No. HP: 0852XXXX6010.

          Perlu anda ketahui, SAYA SUDAH BACA SELURUH SMS ANDA DENGAN USTADZ IBNU ALI, Lc yang jumlahnya hampir 400 buah SMS.

          Dalam sms anda ketika awal-awal berdialog dengan beliau ANDA MENGAKU PENGIKUT SALAFY, (anda mengaku sering ikut pengajian Manhaj Salaf pada Ali Nur, Lc dan Syamaun Risyad, perlu anda ketahui, saya juga dulunya sering mengaji pada kedua Ustadz penipu itu) namun ketika anda terpojok dengan fakta2 yang diberikan oleh Ustadz Ibnu Ali, Lc lalu anda BERKILAH dengan mengaku diri Sunni, namun ketika beliau memaparkan banyak fakta kekeliruan Sunni maka ANDA MENGAKU INGIN MASUK SYIAH, tetapi Ustadz Ibnu Ali, Lc menolak karena menurut beliau anda tidak jujur

          Dan, Suatu hari anda meng-sms saya KE No. HP: 0813XXXX6010 dan anda MENGAKU DIRI ANDA SYIAH. Sya langsung menelpon Ustadz Ibnu Ali, Lc untuk konfirmasi dan Ustadz Ibnu Ali, Lc mengatakan: “SAUDARA SALAFAN RIKI  ITU ADALAH ORANG YANG SERING BERDIALOG DENGAN SAYA VIA SMS DIA MENGAKU SEBAGAI KETUA DPD FORUM ARIMATEA ACEH, AWALNYA DIA MENGAKU MENGIKUTI MANHAJ SALAF.”

          Nah, saya tidak memfitnah kan?

          KALAU ANDA TIDAK MENGAKUI FAKTA INI BERARTI ANDA MEMBOHONGI DIRI ANDA SENDIRI.

          Salam

        2. chany, on Juni 14, 2010 at 7:46 am said:

          @ytse-Jam
          Dengan penjelasan anda terbongkar siapa mereka sebenarnya. Kedua-duanya sebelumnya mengaku menteror SP. Ternyata mereka adalah Wahaby/Salafy. Jadi untuk mencapai tujuan mereka yakni menghancurkan pencinta Ahlulbait mereka menghalalkan segala cara. Mereka tidak mampu dengan cara dialog, mereka berusaha masuk ber-sama2 dan menghacurkan dari dalam. INI ADALAH CARA2 YAHUDI. Salam damai Wasalam

          1. Ytse-Jam, on Juni 17, 2010 at 8:57 pm said:

            Lho……itu koq ada yang make nama saya “Ytse-Jam”…0813 6061 6061 warga Lhokseumawe Alumni Unsyiah

            ?????????

            Ini orang pada gak tau malu banget, siapa sih koq kayanya usil nih orang??

            Saya menduga orang yang mencatut nama saya adalah saudara  syiahindonesia1, ainunmarziah, aminfaraza itu karena TULISAN YANG DITAMPILKAN OLEH ORANG2 TERSEBUT MEMBUKTIKAN DUGAAN SAYA..!!!

            Mohon perhatian mas SP, siapa tuh yang mencatut nama saya apakah orang2 yang saya sebutkan di atas ataukah ada Salafy2 lain yang usil.

          2. Ytse-Jam, on Juni 17, 2010 at 9:05 pm said:

            @ Ytse-Jam PALSU

            Anda gak perlu membawa nama saya untuk membuat pengakuan IDIOT anda itu, anda mencoba mengelabui kami dengan menulis:

            Ytse-Jam, di/pada Juni 17, 2010 pada 2:45 pm Dikatakan: r

            koreksi :

            Perlu anda semua ketahui, org yang bernama  PENGIKUT SYIAH, dia adalah seorang mantan Sunni.. Saya kenal orgnya

            setelah saya telusuri ternyata website s.y.i.a.h.a.l.i tersebut dibuat oleh seseorang yang bernama Amin Farazala, Saya kenal orgnya

            Saya TIDAK PERNAH MENGOREKSI TULISAN SAYA TENTANG ANDA, JADI ANDA TIDAK BISA BERBOHONG DENGAN MENULIS STATAMENT SEPERTI DI ATAS.

            Mohon mas SP berkenan membongkar orang yang mrncatut nama saya di atas..apakah ‘Ytse-Jam” palsu di atas adalah benar orang yang ber-nick name syiahindonesia1, aminfaraza????????????

          3. Ytse-Jam, on Juni 18, 2010 at 2:01 pm said:

            Muncul lagi nih sampah masayarakat yang tidak tau malu dengan memdawa bukti kedunguan lalu ok mau bela diri.

          4. website http://syiahindonesia1 sudah di blokir
            karena sering mencatut nama website lain dalam hal “tautan”

            laporan ini kami peroleh pada tanggal 16 juni 2010 malam……

            Jika anda menemukan website yang menyimpang
            laporkan ke e mail : pengawaswebsite@yahoo.co.id

          5. Saya memang PERNAH MENGOREKSI TULISAN SAYA TENTANG ANDA, JADI ANDA jujur DENGAN MENULIS STATAMENT SEPERTI DI bawah ini :

            koreksi :

            Perlu anda semua ketahui, org yang bernama itu PENGIKUT SYIAH, dia adalah seorang mantan Sunni.. Saya kenal orgnya

            setelah saya telusuri ternyata website s.y.i.a.h.a.l.i tersebut dibuat oleh seseorang yang bernama Amin Farazala, Saya kenal orgnya

            saat ini banyak website yang berbau syi’ah…

            Mereka mengambil tulisan ( copy ) dari tulisan ULAMA SYi’AH…

            Jadi mungkin mereka menganggap web tersebut berisi “”tulisan ulama syi’ah””,

            maksudnya : bukan berarti KERANGKA blog tersebut dibuat dan diketik oleh ulama syiah yang asli…..

            Orang yang mengaku web nya dibuat ulama syi’ah , mungkin maksudnya Mereka mengambil tulisan
            ( copy ) dari tulisan ULAMA SYi’AH… jadi bukan berarti KERANGKA blog tersebut dibuat oleh ulama syiah yang asli….

            ————————————————————————–
            adapun ucapan saya ( Ytse-Jam ) :
            Muncul lagi nih sampah masayarakat yang tidak tau malu dengan memdawa bukti kedunguan lalu ok mau bela diri..Muncul lagi nih sampah masyarakat dengan nama baru lagi…Wahh ini orang ngomong apa, ya? Nyampah disini

            jawab : saya mohon maaf atas kekasaran saya, saya orang berpendidikan, khilaf menulis hal tersebut, ucapan seperti itu tidak layak diucapkan orang BERADAB seperti saya, saya telah mengelabui pembaca… saya minta maaf telah mengadu domba dan memuat kata kata yang cuma membuat ricuh

            Kepada SP mohon tulisan diarahkan kepada isi artikel SP… SP blokir aja tulisan tulisan ngawur ya

            viva SP

          6. anda benar,

            Ali bin Abi Thalib satu-satunya sahabat Nabi saw yang memiliki kepribadian kuat dengan keunikan yang khas mampu menarik dan menolak…Menarik para penyandang keimanan yang tulus dan menolak kaum munafik…Sehingga Nabi menjadikan kecintaan kepadanya sebagai tanda keimanan dan kebencian terhadapnya bukti kemunafikan…

            Sejak masa hidup Nabi saw kaum munafik telah tercirikan dengan kebencian mereka terhadap Ali as., dan sejak itu pulalah kaum Mukmin yang tulus telah menggabungkan diri dalam kafilah para pecinta Ali!

            Ayat demi ayat turun, sebagaimana sabda terlontar dari lisan suci yang selalu terhiasi dengan wahyu ilahi untuk menyebutkan keistimewaan kafilah para pecinta sejati ini…

            Syi’ah adalah sebaik-baik hamba pilihan Allah, singa-singa padang pasir, dan rahib di mihrab-mihrab…teladan dalam kebajikan dan penghambaan…konsisten dalam menegakkan Syari’at…teguh dalam keimanan dan keyakinan…tenggelam dalam kecintaan kepada Nabi dan Ahlulbait…Besar perhatian terhadap sesama hamba Allah…

            Mereka itulah hamba-hamba pilihan Allah yang sangat merindukan surga.

          7. aldj, on Juni 19, 2010 at 12:16 pm said:

            @SP
            jgn khawatir,yg tdk menyukai situs anda ternyata memiliki hati yg kotor,sabar n berjuang terus.
            sejak mulai muncul @deskov,sy sdh melihat ada gelagat yg tdk baik
            sy fikir anda bisa memulai dgn menghapus tulisan2 sampah tsb
            @all
            mari kita berikan dukungan kpd SP

          8. Ytse-Jam, on Juli 23, 2010 at 7:15 pm said:

            Heee,,,,hee,,,,he,,,,,, Iswadi…..duhai Iswadi (HP :0813 6061 6061)! Begitukah akhlak orang2 Salafy???? Mencatut nama orang untuk merusak reputasi orang tapi rusak reputasi sendiri. Iswadi (Ytse Jam) HP :0813 6061 6061 warga Lhokseumawe Alumni Unsyiah

          9. 1syahadat, on Agustus 4, 2010 at 3:51 pm said:

            Mohon maaf, ingin ikut berkomentar. Saya baru ikut thread ini.

            1. Bagi penulis, atau siapapun yang menyatakan penggunaan kata “bihi” bisa diartikan sebagai kata ganti jamak, mohon penjelasan yang lebih detail. Kalau memang merujuk kepada kata ulama-ulama tertentu, mohon dijelaskan bagaimana detailnya ucapan ulama tsb, agar kita tidak salah menginterpretasikannya? Saya bukan Ulama, bahkan jauh dari predikat tsb, namun Saya yang cuma paham bahasa Arab secuil ini masih belum mendapati penjelasan dalam tata bahasa Arab bahwa kata “bihi” bisa dipakai untuk kata ganti jamak, dan tidak dianggap sebagai kesalahan grammar.

            2. Seandainya kata “bihi” memang bisa digunakan untuk kata ganti jamak, mohon saya diberitahu, selain di dalam hadith-hadith tsaqalain, bisa dijumpai dimana lagi? Atau mungkin memang hanya bersifat “unique” untuk hadith-hadith tsaqalain saja?

            3. Yang Saya tahu dari 11 hadith tsaqalain yang bisa Saya dapati (mungkin bisa dilihat di 1syahadat.wordpress.com) – mohon Saya diberitahu jika ada yang mendapati lebih dari 11, yang menggunakan kata “huma” (bukan “bihima”) ada 1 hadith (Mustadrak ala sahihain). Sementara yang menggunakan kata “bihi” ada 4 hadith Imam Muslim, 1 hadith Imam Ahmad bin Hambal, 2 hadith dari Sunan Tirmidzi, 1 hadith dari Al Ma’rifat wat Tarikh, dan 1 hadith dari Musykil al Athar.
            Saya belum mendapati hadith yang menggunakan kata “bihima”. Mohon infonya, bisa Saya dapati di kitab apa?

            Terima kasih.

          10. @1syahadat
            tolong dibaca dulu dengan benar tulisannya kemudian barulah anda berkomentar. itu bukan kesalahan grammar kok, penggunaan bihi [dengannya] dan bihima [dengan keduanya] disesuaikan dengan struktur kalimat. :)

          11. 1syahadat, on Agustus 5, 2010 at 4:12 pm said:

            @SP

            Terima kasih. Sebetulnya sudah Saya baca beberapa kali. Dan baru saja Saya baca lagi. Saya tidak mendapati adanya jawaban pasti.

            Yang Saya dapati adalah sbb:

            1. Logika “bihi diucapkan lebih dulu” sebelum kedua benda yang dimaksud, dan “bihima diucapkan belakangan” setelah penyebutan kedua benda yang dimaksud.
            Saya tidak sepakat dengan ini, karena:

            - Secara grammar, tidak peduli apakah kata ganti tsb diucapkan sebelum atau sesudah penyebutan bendanya, yang penting jika bendanya tunggal, kata gantinya harus tunggal – dan jika bendanya lebih dari satu, maka kata gantinya harus jamak. Karena itulah muncul pertanyaan Saya, jika ada dijumpai di Al Quran ataupun hadith selain hadith tsaqalain, ataupu teks ilmiah berbahasa Arab sajalah, yang menyebutkan kata ganti tunggal untuk menyebutkan benda jamak, apakah itu diposisikan di depan ataupun di belakang, tolong Saya diberi tahu. Kecuali kalau kemudian muncul pengecualian, dimana ketentuan “grammar error” ini hanya berlaku untuk hadith-hadith tsaqalain.

            - Dari 8 hadith yang menggunakan kata “bihi”, 5 hadith menyebutkan kata “Bihi” SETELAH perawi menyebut Kitabullah dan SEBELUM perawi menyebut ahlul bayt (4 hadith Imam Muslim dan 1 hadith Imam Ahmad bin Hambal). Dari poin ini sesungguhnya mudah bagi Kita untuk memahami bahwa yang dimaksud dengan “bihi” oleh para perawi adalah Kitabullah saja.

            - Ada 3 hadith yang menyebutkan kata “bihi” SEBELUM Kitabullah dan ahlul bayt (1 hadith Sunan Timidzi, 1 hadith dari Al Ma’rifat wat Tarikh dan 1 hadith dari Muskil al Athar). Namun kalau kita perhatikan lagi, pada hadith-hadith yang menggunakan kata “bihi” yang Anda katakan untuk menyebut Kitabullah dan ahlul bayt, SEMUA hadith yang menyebutkan “keduanya tidak akan berpisah – dst” kembali memakai kata ganti jamak! Kalau Kita menggunakan logika “Kitabullah dan ahlul bayt sudah dianggap menyatu”, kenapa di bagian ini digunakan lagi kata ganti jamak? Itulah grammar bahasa Arab yang benar menurut Saya, di bagian “keduanya tidak akan berpisah – dst” benar-benar nyata bahwa keduanya adalah 2 entitas yang berbeda.

            - Pada kitab Mustadrak ala sahihain, penyebutan kata ganti jamak yang digunakan sebelum menyebut Kitabullah dan ahlul bayt secara grammar dapat diterima, terlepas dari pembahasan derajat hadith tsb.

            Adapun mengenai hadith yang bathil (Kitabullah dan sunnahku), menurut Saya penggunaan kata “bihi” secara grammar tetap merujuk kepada “Kitabullah” saja. Bukan “sunnahku”. Anyway, hadithnya memang bathil, wallahua’lam apa tujuannya, sehingga memang menjadi sangat kontroversi, termasuk dari sisi grammarnya. Sebaiknya tidak usah dijadikan hujjah untuk apapun, kecuali hanya menjelaskan bahwa ia hadith yang bathil.

            2. Mengenai pendapat ulama (Al Mundziri dan As Suyuthi), Saya mohon dikutipkan pendapat (kalimat) mereka yang menyebutkan “bihi” berlaku untuk 2 benda. Saya ingin tahu saja kalimat persisnya. Siapa tahu yang dimaksud ulama itu seperti layaknya “Ta’at kepada Allah tidaklah terpisahkan dengan ta’at kepada RasulNya”. Sebagai penafsiran atas konsekuensi saja. Wallahua’lam, Saya belum bisa berkomentar apapun sebelum mengetahui bagaimana kalimat yang digunakan para ulama tsb.

            Demikian argumen Saya.

            Selanjutnya, mohon ada yang bersedia untuk menjawab pertanyaan Saya saja pada komentar sebelumnya.

            Sebetulnya sederhana saja. Secara pribadi, bila ada yang bisa menunjukkan bahwa ada penggunaan kata ganti tunggal untuk benda jamak yang menyalahi grammar/tata bahasa Arab, misalnya “bihi”, dalam Al Quran ataupun hadith ataupun teks ilmiah apapun, niscaya pemahaman Saya akan tata bahasa Arab yang cuma secuil ini akan runtuh seruntuh-runtuhnya.

            Terima kasih.

          12. @1syahadat

            1. Logika “bihi diucapkan lebih dulu” sebelum kedua benda yang dimaksud, dan “bihima diucapkan belakangan” setelah penyebutan kedua benda yang dimaksud.
            Saya tidak sepakat dengan ini, karena:

            Maaf, anda keliru ini bukan soal logika tetapi soal tata bahasa yang digunakan. Penggunaan bihi dan bihiima disesuaikan dengan struktur kalimat.

            - Secara grammar, tidak peduli apakah kata ganti tsb diucapkan sebelum atau sesudah penyebutan bendanya, yang penting jika bendanya tunggal, kata gantinya harus tunggal – dan jika bendanya lebih dari satu, maka kata gantinya harus jamak.

            Kalau begitu anda tidak memahami struktur kalimatnya dengan baik. Nih saya kasih contoh pas buat anda, dalam tata bahasa inggris, penggunaan “is” bersifat tunggal sedangkan “jamak” digunakan “are”. Tetapi ketika ingin mengatakan setiap orang atau masing-masing orang tetap digunakan “is” yang bersifat tunggal walaupun orangnya ada banyak. Inilah yang namanya tatabahasa. Yang harus anda mengerti sekarang dalih bihi dan bihiima yang anda angkat-angkat ini hanyalah syubhat semata yang tidak ada dasarnya pada tatabahasa arab. Oleh karena itu tidak ada satupun ulama yang fasih berbahasa arab mempermasalahkan penggunaan bihi dan bihiima baik dalam hadis Tsaqalain ataupun hadis Kitab Allah dan Sunahku. bihi itu berarti “dengannya” dan hadis dengan lafaz bihi menunjukkan bahwa ada sesuatu yang ditinggalkan Rasul SAW dimana kita harus beroegang teguh dengannya, nya disini kembali kepada “sesuatu” yang belum disebutkan ada berapa jumlahnya, nah ketika disebutkan sesuatu itu adalah Kitab Allah dan Ahlul Bait maka itu berarti
            Kitab Allah adalah sesuatu yang jika berpegang teguh dengannya maka tidak akan tersesat
            Ahlul Bait adalah sesuatu yang jika berpegang teguh dengannya maka tidak akan tersesat.
            Bihi atau “dengannya” merujuk pada masing-masing item, persis dengan contoh bahasa inggris yang saya tunjukkan di atas.
            Pada hadis dengan lafaz bihiima, Disana dikatakan aku tinggalkan dua hal atau dua perkara yang jika kalian berpegang teguh dengan keduanya [bihiima]. Dari awal dikatakan bahwa ada dua hal yang ditinggalkan sehingga ketika digunakan kata “keduanya” yaitu bihiima. Jadi baik hadis dengan lafaz bihii dan bihiima tidak memiliki perbedaan makna. Keduanya memiliki konsekeunsi yang sama yaitu berpegang teguh pada Kitab Allah dan Ahlul Bait.

            Karena itulah muncul pertanyaan Saya, jika ada dijumpai di Al Quran ataupun hadith selain hadith tsaqalain, ataupu teks ilmiah berbahasa Arab sajalah, yang menyebutkan kata ganti tunggal untuk menyebutkan benda jamak, apakah itu diposisikan di depan ataupun di belakang, tolong Saya diberi tahu. Kecuali kalau kemudian muncul pengecualian, dimana ketentuan “grammar error” ini hanya berlaku untuk hadith-hadith tsaqalain.

            Tidak ada yang error disini, saya sarankan agar anda mempelajari bahasa arab dengan baik sebelum menyatakan hadis shahih sebagai “grammar error” :)

            Dari 8 hadith yang menggunakan kata “bihi”, 5 hadith menyebutkan kata “Bihi” SETELAH perawi menyebut Kitabullah dan SEBELUM perawi menyebut ahlul bayt (4 hadith Imam Muslim dan 1 hadith Imam Ahmad bin Hambal). Dari poin ini sesungguhnya mudah bagi Kita untuk memahami bahwa yang dimaksud dengan “bihi” oleh para perawi adalah Kitabullah saja.

            Pada hadis Muslim yang lainnya, bihi [dengannya] diucapkan setelah Kitabullah maka bihi disini kembali kepada Kitabullah itu benar. tetapi tidak ada petunjuk dalam hadis Shahih Muslim bahwa itu tidak berlaku buat ahlul bait. Hadis shahih Muslim dan yang lainnya tidak menyebutkan pesan atau peringatan apa yang dimaksud Rasul SAW tentang Ahlul Bait. Jadi disini perawi tidak menjelaskan kalau kita umat ini disuruh ngapain perihal “Ahlul Bait”. Nah penjelasan itu terdapat dalam hadis-hadis lain :)

            - Ada 3 hadith yang menyebutkan kata “bihi” SEBELUM Kitabullah dan ahlul bayt (1 hadith Sunan Timidzi, 1 hadith dari Al Ma’rifat wat Tarikh dan 1 hadith dari Muskil al Athar). Namun kalau kita perhatikan lagi, pada hadith-hadith yang menggunakan kata “bihi” yang Anda katakan untuk menyebut Kitabullah dan ahlul bayt, SEMUA hadith yang menyebutkan “keduanya tidak akan berpisah – dst” kembali memakai kata ganti jamak!

            Ya iyalah, kata ganti jamak digunakan karena telah disebutkan bahwa sesuatu itu ada dua yaitu Kitab Allah dan Ahlul Bait terus keduanya tidak akan berpisah. Nya itu kan nempel pada kata kedua ya jelas digunakan jamak.

            Kalau Kita menggunakan logika “Kitabullah dan ahlul bayt sudah dianggap menyatu”, kenapa di bagian ini digunakan lagi kata ganti jamak? Itulah grammar bahasa Arab yang benar menurut Saya, di bagian “keduanya tidak akan berpisah – dst” benar-benar nyata bahwa keduanya adalah 2 entitas yang berbeda.

            Kalau begitu saya tanya kepada anda jika ada dua hal dikatakan menyatu terus anda mau mengatakan dalam bahasa arab “keduanya menyatu” maka lafal apa yang anda ucapkan? silakan dijawab :)

            Itulah grammar bahasa Arab yang benar menurut Saya, di bagian “keduanya tidak akan berpisah – dst” benar-benar nyata bahwa keduanya adalah 2 entitas yang berbeda.

            Maaf Mas itu kan memang translate-nya. Coba tuh anda sebutkan kata “keduanya” dalam bahasa Arab. :)

            - Pada kitab Mustadrak ala sahihain, penyebutan kata ganti jamak yang digunakan sebelum menyebut Kitabullah dan ahlul bayt secara grammar dapat diterima, terlepas dari pembahasan derajat hadith tsb.

            Pada hadis Al Mustadrak dari awal telah disebutkan aku tinggalkan kepada kalian dua perkara yang jika kalian mengikuti keduanya. Dari awal telah disebutkan ada dua perkara maka ketika menyebutkan kata “keduanya” nya digunakan dalam bentuk jamak. So tidak ada masalah kok pada grammar hadis Tsaqalain.

            Adapun mengenai hadith yang bathil (Kitabullah dan sunnahku), menurut Saya penggunaan kata “bihi” secara grammar tetap merujuk kepada “Kitabullah” saja. Bukan “sunnahku”. Anyway, hadithnya memang bathil, wallahua’lam apa tujuannya, sehingga memang menjadi sangat kontroversi, termasuk dari sisi grammarnya. Sebaiknya tidak usah dijadikan hujjah untuk apapun, kecuali hanya menjelaskan bahwa ia hadith yang bathil.

            Baru anda nih yang mengatakan bahwa hadis ini mengandung kesalahan grammar. Saya meminta anda agar menunjukkan satu saja ulama yang ketika membahas hadis “kitabullah dan sunnahku” dengan lafal bihi mengatakan bahwa hadis tersebut mengandung kesalahan grammar atau bahwa itu merujuk hanya pada kitabullah saja. Kalau memang kesalahan grammar yang anda maksudkan ini bisa dipahami oleh orang yang paham secuil bahasa arab maka tidak mungkinlah hal seperti ini luput dari pandangan ulama-ulama yang fasih berbahasa arab. Silakan ditunjukkan dan saya tunggu dengan senang hati :)

            2. Mengenai pendapat ulama (Al Mundziri dan As Suyuthi), Saya mohon dikutipkan pendapat (kalimat) mereka yang menyebutkan “bihi” berlaku untuk 2 benda. Saya ingin tahu saja kalimat persisnya.

            Maaf menurut saya, anda tidak memiliki kehalusan dalam berhujjah terutama dalam penggunaan bahasa. Al Munziri dan As Suyuthi memahami hadis dengan lafal bihi [hadis kitab Allah dan Sunahku] sebagai dalil berpegang teguh pada Kitab Allah dan berpegang teguh pada Sunnah Rasul. Mereka berdua tidak pernah menganggap ada kesalahan grammar pada hadis dengan lafal bihi seperti syubhat yang anda bawakan.

            Sebetulnya sederhana saja. Secara pribadi, bila ada yang bisa menunjukkan bahwa ada penggunaan kata ganti tunggal untuk benda jamak yang menyalahi grammar/tata bahasa Arab, misalnya “bihi”, dalam Al Quran ataupun hadith ataupun teks ilmiah apapun, niscaya pemahaman Saya akan tata bahasa Arab yang cuma secuil ini akan runtuh seruntuh-runtuhnya.

            Insya Allah tidak akan ada yang dirugikan jika pemahaman tata bahasa arab anda [yang anda katakan secuil] runtuh seruntuh-runtuhnya. Saya hanya menganjurkan kepada anda untuk memahami struktur kalimat dalam suatu hadis dengan baik atau dengan kaedah tata bahasa yang benar sebelum anda mengatakan adanya “grammar error” dan sebagainya “)

          13. @SP

            Saudaraku,

            Pertama, Saya hendak mengklarifikasi mengenai grammar error. Dari sudut pandang Saya, hadith-hadith tsaqalain adalah benar grammarnya, dimana “bihi” menunjukkan kepada 1 entitas saja, yaitu Kitabullah. Namun bila dilihat dari sudut pandang Anda yang menerima “bihi” untuk entitas jamak, maka memang Anda jadi melihat Saya menempatkan hadith-hadith tsb sebagai grammar error. Tidak mengapa. Itu masalah perspektif/sudut pandang. Saya tidak merisaukannya sedikitpun karena Saya yakin dngan yang Saya pahami. Saya hanya ingin ada contoh lain, “pengecualian grammar” (jika istilah “grammar error” akan diperdebatkan) yang serupa dalam teks formal apapun (Al Quran, hadith, dsb). Jika pengecualian ini adalah hal yang lazim, Saya yakin banyak yang bisa menunjukkan kekeliruan pemahaman Saya. Dan runtuhlah pemahaman Saya seruntuh-runtuhnya, meski tidak ada yang dirugikan, ataupun diuntungkan dengan itu. Tidak mengapa pula, karena tegak pun pemahaman Saya sepertinya juga tidak akan menguntungkan ataupun merugikan siapapun, insya Allah. Jadi, mohon tunjukkan saja kalau memang ada, karena tokh tidak akan ada yang dirugikan..

            Kedua, penggunaan “each” dalam bahasa Inggris bukanlah jamak. “Each” itu pengertiannya adalah tunggal, Saudaraku, silahkan cari di literatur manapun, ataupun guru bahasa Inggris manapun. Memang dimaksudkan untuk menunjuk kepada 1 entitas saja, yang merepresentasikan entitas-entitas lainnya. Karena “each” itu sebetulnya betuk singkat dari “each of ..” (“each of them”, misalnya), yang secara harfiah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai “salah satu dari …”. Kebetulan Saya belajar bahasa Inggris secuil juga. :-) Jadi makin menarik buat Saya karena bahasa Inggris sudah mulai dibahas. Saya contohkan lagi penggunaan “both” yang berarti “keduanya”. Both, dianggap semenyatu apapun orang memandang kedua entitas yang dimaksud, secara tata bahasa (grammar) pengertian “both” adalah jamak. Saat ini Saya sedang mencari literatur terjemahan hadith-hadith tsaqalain dalam bahasa Inggris, karena Saya yang pemahaman bahasanya memang serba tanggung (secuil-secuil) ini belum berani menerjemahkan hadith, apa lagi ke dalam bahasa yang bukan bahasa ibu Saya, tanpa literatur baku. Yang baru Saya dapati adalah hadith-hadith dari Imam Muslim, yang lainnya belum. Bisa Saya sampaikan bahwa kata yang digunakan dalam bahasa Inggris adalah “so hold fast to the Book of Allah and adhere to it”. Tapi mungkin informasi tsb barangkali belum lah cukup untuk digunakan sebagai hujjah bagi sebagian dari kita, meski mungkin cukup untuk sebagian yang lain. Mudah-mudahan literatur yang lain bisa Saya segera dapatkan.

            Sekali lagi, Saudaraku, Saya mohon diberi tahu seperti apa persisnya kata-kata Al Mundziri dan As Suyuthi, sehingga Saya yang berilmu secuil dan tidak halus dalam berhujjah kebahasaan ini bisa belajar dari mereka, juga dari Anda, dan juga Saudara-saudaraku yang lainnya. Semoga segala kekurangan yang ada pada Saya tsb tidak menjadikan terlarangnya Saya dari mendapatkan pelajaran yang bersumber dari siapapun.

            Wallahua’lam dan terima kasih.

          14. @1syahadat

            Pertama, Saya hendak mengklarifikasi mengenai grammar error. Dari sudut pandang Saya, hadith-hadith tsaqalain adalah benar grammarnya, dimana “bihi” menunjukkan kepada 1 entitas saja, yaitu Kitabullah.

            Dari sudut pandang saya, hadis-hadis Tsaqalain benar grammarnya dimana hadis dengan lafaz bihi [dengannya] berlaku untuk masing-masing item yaitu Kitabullah dan Ahlul Bait. Konsekuensi dari hadis Tsaqalain adalah berpegang tguh pada Kitabullah dan Ahlul Bait :)

            Namun bila dilihat dari sudut pandang Anda yang menerima “bihi” untuk entitas jamak, maka memang Anda jadi melihat Saya menempatkan hadith-hadith tsb sebagai grammar error. Tidak mengapa. Itu masalah perspektif/sudut pandang. Saya tidak merisaukannya sedikitpun karena Saya yakin dngan yang Saya pahami.

            Silakan anda yakin dengan yang anda pahami, tetapi dalam kasus ini anda tidak mengerti dengan baik apa yang saya sampaikan. Penggunaan bihi diatas berlaku untuk masing-masing item sebagaimana yang telah saya bahas dengan tuntas di atas.

            Saya hanya ingin ada contoh lain, “pengecualian grammar” (jika istilah “grammar error” akan diperdebatkan) yang serupa dalam teks formal apapun (Al Quran, hadith, dsb). Jika pengecualian ini adalah hal yang lazim, Saya yakin banyak yang bisa menunjukkan kekeliruan pemahaman Saya.

            Ini bukan masalah contoh tetapi ini masalah anda salah menempatkan apa yang anda pahami. Saya tanya kepada anda arti dari kata “bihi” itu apa? dan arti dari kata bihiima itu apa?.Kemudian silakan lihat hi pada bihi merujuk ke kata apa dan hiima pada kata bihiima merujuk ke kata apa. Saya sarankan agar anda tidak terjebak dengan asumsi sendiri.

            Dan runtuhlah pemahaman Saya seruntuh-runtuhnya, meski tidak ada yang dirugikan, ataupun diuntungkan dengan itu. Tidak mengapa pula, karena tegak pun pemahaman Saya sepertinya juga tidak akan menguntungkan ataupun merugikan siapapun, insya Allah. Jadi, mohon tunjukkan saja kalau memang ada, karena tokh tidak akan ada yang dirugikan..

            Apa yang perlu ditunjukkan?. Pada kasus ini tidak ada yang salah baik pada grammar hadis dan arti hadis Tsaqalain dengan lafaz bihi jelas artinya berpegang teguh pada masing-masing item yang disebutkan. Syubhat yang anda katakan itu tidak memiliki dasar dalam tata bahasa arab, buktinya saya belum pernah menemukan ulama yang fasih berbahasa arab ketika menjelaskan hadis Tsaqalain atau hadis Kitabullah dan Sunahku dengan lafaz bihi menyatakan kalau bihi disana artinya merujuk pada satu saja yaitu Kitabullah. Kalau memang masalah ini adalah masalah secuil bahasa arab sangat tidak mungkin tidak ada ulama yang mengetahuinya. Jadi mengapa saya harus mengikuti syubhat anda justru andalah yang harus membuktikan syubhat anda dengan membawakan contoh ulama yang fasih berbahasa arab yang mengatakan seperti yang anda katakan soal hadis Tsaqalaian atau hadis Kitabullah dan Sunnahku dengan lafaz bihi.

            Kedua, penggunaan “each” dalam bahasa Inggris bukanlah jamak. “Each” itu pengertiannya adalah tunggal, Saudaraku, silahkan cari di literatur manapun, ataupun guru bahasa Inggris manapun.

            Nih saya kasih contoh untuk melihat apa yang saya maksud, jika di suatu ruangan terdapat sepuluh orang dimana mereka semua sangat tinggi terus saya berkata “setiap orang di ruangan tersebut sangat tinggi”. Nah ada sepuluh orang yang sangat tinggi bukan satu orang tetapi kalimat yang digunakan akan menggunakan kata is yang bersifat tunggal. Mengapa karena “sangat tinggi” itu menjelaskan sifat masing-masing mereka di ruangan tersebut.

            Memang dimaksudkan untuk menunjuk kepada 1 entitas saja, yang merepresentasikan entitas-entitas lainnya. Karena “each” itu sebetulnya betuk singkat dari “each of ..” (“each of them”, misalnya), yang secara harfiah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai “salah satu dari …”.

            Wah maaf saya baru tahu kalau kata each of them diartikan “salah satu dari”. Mungkin anda punya kaidah khusus sendiri dalam bahasa inggris, kalau salah satu dari biasanya pakai “one of” bukan each, itu setahu saya sih maklumlah saya tidak begitu paham bahasa inggris, semoga bisa dimaklumi :)

            Kebetulan Saya belajar bahasa Inggris secuil juga. :-) Jadi makin menarik buat Saya karena bahasa Inggris sudah mulai dibahas.

            Mungkin ada baiknya anda menambahkan lagi pada diri anda apa yang anda sebut secuil itu, insya Allah akan berguna sekali :)

            Saya contohkan lagi penggunaan “both” yang berarti “keduanya”. Both, dianggap semenyatu apapun orang memandang kedua entitas yang dimaksud, secara tata bahasa (grammar) pengertian “both” adalah jamak.

            No problemo, semua orang yang paham bahasa inggris akan menerimanya :)

            Saat ini Saya sedang mencari literatur terjemahan hadith-hadith tsaqalain dalam bahasa Inggris, karena Saya yang pemahaman bahasanya memang serba tanggung (secuil-secuil) ini belum berani menerjemahkan hadith, apa lagi ke dalam bahasa yang bukan bahasa ibu Saya, tanpa literatur baku.

            Oh silakan saja, walaupun begitu saya akan berikan saran yang lebih baik. Daripada anda sibuk mencari bagaimana terjemahan orang lain bukankah lebih baik kalau anda belajar sendiri cara menerjemahkan. Saya rasa itu lebih berguna bagi anda, saya ataupun siapa saja :)

            Yang baru Saya dapati adalah hadith-hadith dari Imam Muslim, yang lainnya belum. Bisa Saya sampaikan bahwa kata yang digunakan dalam bahasa Inggris adalah “so hold fast to the Book of Allah and adhere to it”. Tapi mungkin informasi tsb barangkali belum lah cukup untuk digunakan sebagai hujjah bagi sebagian dari kita, meski mungkin cukup untuk sebagian yang lain. Mudah-mudahan literatur yang lain bisa Saya segera dapatkan.

            Silakan silakan itu adalah hak anda pribadi dimana saya tidak punya otoritas apapun terhadapnya :)

          15. Sesungguhnya aku meninggalkan 2 pusaka di tengah-tengah kalian. Yang pertama adalah Kitabullah ‘azza wajalla. Di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya. Karena itu, berpegang teguhlah kalian padanya dan taatilah. Beliau menasehati (kami untuk berpegang teguh) kepada Kitabullah. Kemudian beliau bersabda lagi: Dan (yang kedua adalah) ahlul baytku. Aku ingatkan kalian kepada Allah akan ahlul baytku, aku ingatkan kalian kepada Allah akan ahlul baytku, aku ingatkan kalian kepada Allah akan ahlul-baitku.

            Sama dengan

            Sesungguhnya aku meninggalkan 2 buah. Yang pertama adalah Jeruk. Di dalamnya terkandung berbagai macam vitamin dan gizi yg baik. Karena itu, makanlah daripadanya. Beliau menasehati (kami untuk memakan) jeruk. Kemudian beliau bersabda lagi: Dan (yang kedua adalah) apel. Aku ingatkan kalian kepada apel.

            Kata-kata itu saya maksudkan bahwa jeruk dan apel itu sama-sama mengandung berbagai macam vitamin dan gizi. oleh sebab itu makanlah kedua buah itu. begitu…

          16. Truthseeker08, on Agustus 9, 2010 at 4:05 pm said:

            @SP
            Jika tidak ada ulama (yang fasih bahasa arab) yang menyatakan bahwa hadits tsaqalain itu “grammer error” maka:
            1. Memang tidak ada “grammer error” disitu. atau
            2. Mereka (ulama2 tsb) tidak lebih cerdas/teliti daripada 1 syahadat.
            Bukankah ini konsekuensi logis dari masalah yang dibawa oleh 1syahadat?

            @1syahadat
            each of them (Kitabullah & Itthrati ahlul bayt) = setiap dari mereka (keduanya/Kitabullah & Itthrati Ahlul Bayt).

            Dipersilakan untuk mencari2 lagi alasan untuk menolak hadits tsb. Agar semua bisa melihat kebobrokan argumen (kelompok) anda.. :)

            Salam damai.

          17. hehehehe….Ampun bos…

          18. sok tau banget, on Agustus 10, 2010 at 4:33 pm said:

            saya kira sudah jelas dan kuat hujjah yg disampaikan 1syahadat, jadi ga perlu dibantah lagi. Yang harus dipegang teguh adalah Kitabullah saja sbgmana disebutkan dlm hadits2 yg shahih mengenai wasiat Nabi SAW, “Bihi” dalam hadits2 di atas jelas merujuk pada Kitabullah, sedangkan ahlul bait adalah salah satu dari dua perkara yg berat yg ditinggalkan Nabi SAW.

          19. ytse-jam, on Agustus 10, 2010 at 6:06 pm said:

            @ sok tau banget

            Seluruh Ulama Islam baik Sunni maupun Syiah menyatakan kata “bihi” itu ditujukan pada “Ats-Tsaqalain” yaitu Al-Quran dan Ahlulbait. Hanya pendengki saja seperti Ibnu Taimiyah yang mencoba mengaburkan maksud dari hadis itu. Maklumlah Ibnu Taimiyah memang sangat benci dan dengki pada Ahlulbait. Dan sekarang muncul lagi pengekor Ibnu Taimiyah yang mempersoalkan kata “bihi” itu karena mereka masih tidak bisa menerima kedudukan tinggi Ahlulbait dalam Islam.

          20. Badari, on Agustus 10, 2010 at 6:59 pm said:

            @ sok tau banget
            “ahlul bait adalah salah satu dari dua perkara yg berat yg ditinggalkan Nabi SAW.
            Benar, sedemikian beratnya perkara Ahlul-Bayt sbg peninggalan Nabi saw. sehingga sebagian orang keberatan menjadikan mereka (Ahlul-Bayt) sebagai panutan utk diikuti, ditaati, sedemikian berat utk dijadikan sebagai rujukan utk dipegang-teguhi.
            Sedemikian berat sehingga ada orang yg mau cari enaknya saja [enak versi dirinya] dgn berkata, “Cukup Kitabullah.”

          21. @sok tahu banget

            saya kira sudah jelas dan kuat hujjah yg disampaikan 1syahadat, jadi ga perlu dibantah lagi.

            Saya maklum kok kalau apa yang anda sebut kuat hanyalah setiap hujjah yang sejalan dengan keyakinan anda saja.

            Yang harus dipegang teguh adalah Kitabullah saja sbgmana disebutkan dlm hadits2 yg shahih mengenai wasiat Nabi SAW, “Bihi” dalam hadits2 di atas jelas merujuk pada Kitabullah, sedangkan ahlul bait adalah salah satu dari dua perkara yg berat yg ditinggalkan Nabi SAW

            Hadis-hadis shahih telah menjelaskan bahwa agar tidak sesat maka yang harus dipegang teguh adalah Kitab Allah dan Ahlul Bait, penjelasan soal bihi sudah dibuktikan diatas, memang tidak aneh kalau anda dan yang lainnya [yang sama seperti anda] tidak bisa memahami dengan benar :)

          22. aldj, on Agustus 11, 2010 at 8:52 am said:

            @sok tau banget cs
            ini ada ayat utk anda
            surah alkahfi 103 sd 106
            103. Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?”
            104. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.
            105. Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan- amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.

            klu anda telah merasa berbuat sebaik2nya (beribadah n beramal sholeh)
            tapi ternyata semuanya sia2,krn anda telah mendustakan ayat2 allah (kedudukan ahlulbait)
            saran sy utk anda hilangkan kedengkian anda terhadap ahlul bait.
            allah telah meberikan kutamaan kpd sebagian orang tp sebagian manusia dengki
            albaqarah 90.
            Alangkah buruknya (hasil perbuatan) mereka yang menjual dirinya sendiri dengan kekafiran kepada apa yang telah diturunkan Allah, karena dengki bahwa Allah menurunkan karunia-Nya] kepada siapa yang dikehendaki-Nya diantara hamba-hamba-Nya. Karena itu mereka mendapat murka sesudah (mendapat) kemurkaan. Dan untuk orang-orang kafir siksaan yang menghinakan.

            annisa 54.
            ataukah mereka dengki kepada manusia lantaran karunia] yang Allah telah berikan kepadanya? Sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab dan Hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar.
            annisa 55.
            Maka di antara mereka (orang-orang yang dengki itu), ada orang-orang yang beriman kepadanya, dan di antara mereka ada orang-orang yang menghalangi (manusia) dari beriman kepadanya. Dan cukuplah (bagi mereka) Jahannam yang menyala-nyala apinya.

            @all
            selamat menunaikan ibadah di bln ramadhan,mohon maaf lahir n bathin

          23. Truthseeker08, on Agustus 11, 2010 at 9:36 am said:

            @aldj
            Welcome back..!!!
            Selamat puasa ..
            Maaf Lahir & batin.

            Semoga puasa kali ini dapat menghilangkan kedengkian.

            Salam damai.

          24. Truthseeker08, on Agustus 11, 2010 at 9:42 am said:

            @sok tau banget

            Pengikut “Umar” = Cukup Kitabullah..!!
            Pengikut Rasulullah SAW = Kitabullah & Wasiat (ahlul bayt).

            Saya mengikuti Rasulullah SAW secara totalitas:
            Baik ketika Beliau sehat ataupun sakit.
            Baik ketika Beliau Hidup maupun Wafat.
            Baik ketika Umar r.a. sependapat dengan Beliau ataupun ketika Umar r.a. menentangnya.

            *Hidup adalah pilihan*
            *Manusia akan ditanyakan atas pilihan2nya*

            Salam damai.

          25. armand, on Agustus 11, 2010 at 10:46 am said:

            @1syahadat/sok tau banget

            Bagaimana pun, menekankan bahwa hanya kitabullah yg menjadi pegangan hidup adalah sebuah bantahan asal-asalan, omong kosong & pembelaan membabi-buta yg sangat tdk sesuai dgn kenyataan.

            Di bagian-bagian lain anda-anda selalu mengumandangkan slogan: “Ikutilah para sahabat karena mrk generasi terbaik setelah Rasulullah saw”.

            Lupakah anda dengan yang ini: “Wajib atas kalian utk berpegang dgn sunnahku dan sunnah Al Khulafa’ Ar Rasyidin yg mendapatkan petunjuk. Pegang erat-erat sunnah itu dgn gigi geraham kalian”

            Sy ingatkan anda-anda dgn slogan ini: “Berpeganglah kalian dengan Kitabullah dan Sunnah-ku”

            Nah, jika hanya kitabullah yg menjadi pegangan anda, bagaimana kemudian nasib yang di atas itu?

            Salam

          26. @all
            Saya tidak kaget atas sifat2 mereka yang membenci Ahlulbait Rasul.
            Mereka akan selalu mencari/membuat yang nyata menjadi kabur dan yang benar menjadi Ragu.
            Sifat mereka itu seperti Yahudi.
            Yahudi pernah mendebatkan ZAT Allah. Mereka mengatakan bahwa Allah BERJENIS LAKI2
            Dasar mereka mengatakan demikian atas dasar Firman2 Allah.
            Yakni kata HUA. Hua dalam bahasa Arab adalah kata ganti nama orang ketiga LAKI2
            Atau DIA laki2
            Dan sekarang mereka pembenci Ahlulbait mempersoalkan sabda Rasul mengenai BIHI dan BIHIMA
            untuk menghilangkan kedudukan Ahlulbait yang disejajarkan Allah dengan Alqur’an
            Kalau tidak ada RASA DENGKI dan HASUT dihati mereka,
            mereka akan melihat perbedaan makna dalam kalimat.
            BIHI dipakai pada kalimat yang bagaimana dan BIHIMA dipakai pada kalimat yang bagaimana. Salam damai . Selamat menuanaikan Ibadah Puasa. Wasalam

          27. Truthseeker08, on Agustus 11, 2010 at 11:32 am said:

            @armand
            Sekarang ini hujjah tsb tidak menguntungkan posisi kami, jadi kami tinggalkan dahulu.
            Lain kali kalau kami butuhkan baru kami pakai, jadi mas armand tidak usah kuatir, ada saatnya kami gunakan lagi.

            Perlu mas armand ketahui, jika yang mengatakan bahwa cukup Kitabullah adalah musuh2 kami maka kami akan cerca mereka sebagai “ingkarussunnah” dan mereka akan kami cerca sebagai orang2 yang berpikiran cupat dan sesat.
            Namun jika kami yang menyatakannya maka pasti kami yang benar.

            *itu kira2 dialog yang tak terucapkan yang saya sedang bayangkan*

            Salam damai.

          28. aldj, on Agustus 11, 2010 at 1:18 pm said:

            @truthseekers
            trims n salam

            fanatisme n kedengkian di hati mereka(sok tau banget cs)
            mnyebabkan mereka menjadikan hawa nafsu diatas akal mereka,tanpa sadar mereka memposisikan diri nya inkar terhadap sunnah

            o..ya anda menulis bhw umar menentang rosul,bisa anda berikan dalil yg kuat,seperti apa penentangan itu?

          29. sok tau banget, on Agustus 11, 2010 at 2:09 pm said:

            @all

            memang kenyataan seperti itu mau diapain? mau dipaksa-paksakan jg ga ada gunanya. Jelas dalam hadits2 shahih dijelaskan bahwa wasiat terbesar Nabi yang kita tidak akan tersesat bila berpegang teguh padanya adalah Kitabullah … ahlul bait dipegang teguh jika mengikuti Kitabullah, jika ga ya ga dipegang teguh. silahkan jika kalian menolaknya, lha kebenaran itu sudah begitu jelas kok.

          30. Truthseeker08, on Agustus 11, 2010 at 2:21 pm said:

            @sok tau banget
            Jadi menurut anda hadits tsb kurang/cacat krn tidak menyatakan/menambahkan: “Wasiat ini berlaku selama ahlul bayt berpegang teguh kpd Kitabullah?”
            Bagaimana menurut anda, apakah Ahlul Bayt berpegang teguh kepada Kitabullah atau tidak?

            Salam damai.

          31. Badari, on Agustus 11, 2010 at 5:18 pm said:

            @1syahadat
            Saya melihat ada ayat Al-Qur’an yg mudah2an bisa mempermudah Anda memahami aturan (bhs. Arab) utk penggunaan kata ganti “hi” dlm kalimat yg pada bagian awalnya belum menyebutkan jumlah atau perincian objek yg dituju, sekalipun objek yg dimaksud ternyata lebih dari satu dalam lanjutan kalimat2 selanjutnya.

            Silakan lihat surat Al-Kahfi[18] ayat 78, lalu perhatikan perincian objek yg dimaksud pada ayat 79-82.
            Ayat 78 surat Al-Kahfi: سَأُنَبِّئُكَ بِتَأْوِيلِ مَا لَمْ تَسْتَطِعْ عَلَيْهِ صَبْرًا
            Terjemahan: Akan aku beritakan kepadamu takwil/penjelasan APA yang kamu tidak mampu bersabar atasNYA.

            Dalam ayat itu, digunakan kata ganti “hi” pada kata عَلَيْهِ. Kata ganti “hi” di situ merujuk ke kata “مَا” (= APA) dalam kalimat tsb.
            Dengan memperhatikan ayat 79-82, kita bisa melihat bhw kata “APA [مَا]” dan kata gantinya, yaitu “nya [hi]“, ternyata objek yg disebutkan ada 3 hal, yaitu: (1) perusakan perahu, (2) pembunuhan anak, dan (3) pendirian dinding.
            Jadi, 3 hal tsb adalah yg dituju/dimaksud oleh kalimat: “مَا لَمْ تَسْتَطِعْ عَلَيْهِ صَبْرًا” = APA yang kamu tidak mampu bersabar atasNYA.

            Kembali ke hadis tsaqalayn versi Tirmidzi berikut:
            إِنِّي تَارِكٌ فِيكُمْ مَا إِنْ تَمَسَّكْتُمْ بِهِ لَنْ تَضِلُّوا بَعْدِي أَحَدُهُمَا أَعْظَمُ مِنْ اْلآخَرِ
            كِتَابُ اللهِ حَبْلٌ مَمْدُودٌ مِنْ السَّمَاءِ إِلىَ اْلأَرْضِ وَعِتْرَتيِ أَهْلُ بَيْتيِ

            Pada frase “مَا إِنْ تَمَسَّكْتُمْ بِهِ لَنْ تَضِلُّوا بَعْدِي”, kata ganti “hi” pada kata بِهِ mengacu ke kata “مَا” dlm frase tsb.

            Lalu, apa objek yg dimaksud pada frase: “مَا إِنْ تَمَسَّكْتُمْ بِهِ لَنْ تَضِلُّوا بَعْدِي” ? Jawabannya disebutkan pada lanjutan kalimatnya, yaitu:
            (1) Kitabullah
            (2) ‘Itrahku, Ahlul-Baytku.

            Keterangan di atas cukup menjelaskan bhw apa yg mesti dipegang-teguhi agar sekali-kali tidak sesat sepeninggal Nabi saw. adalah 2 tsaqal: Kitabullah dan Ahlul-Bayt Nabi saw.

          32. aldj, on Agustus 11, 2010 at 5:37 pm said:

            @truthseekers
            akan tdk nyambung klu berdiskusi yg satu fihak menggunakan dalil naqli n aqli sedang fihak lain dgn fanatisme n hawa nafsu
            ini sy berikan dalil quran bgmn hub antara alquran n ahlulbait

            QSalwaqiah 77-79
            77. Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia,
            78. pada kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh),
            79. tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan.
            siapakah mereka yg disucikan?
            mereka yg dimuat dlm alahzab33,yaitu ahlulbait

          33. @Badari
            bukankah dari dulu saya katakan kalau anda ini bagusnya buat blog saja, Alhamdulillah senang bisa mendapat ilmu dari anda. So ayo buat blog :)

          34. wahabi_kampret, on Agustus 12, 2010 at 12:10 pm said:

            @1syahadat,

            tuh udah dijawab dengan bagus oleh @Sp dan @badari … mau ngeles gimana lagi coba?

            @sok tahu banget,

            jangan jenggot aja lu panjangin, otak lu tuh benerin … hehehe

          35. wahabi_kampret, on Agustus 12, 2010 at 12:38 pm said:

            hehehe .. pengetahuan bahasa arab 1syahadat yang cuma secuil, akhirnya runtuh seruntuh-runtuhnya … apalagi dong yang tersisa … :D

          36. sok tahu banget, on Agustus 12, 2010 at 2:28 pm said:

            Ya bedalah, Al-Kahfi di atas menceritakan 3 hal yang sepadan dan yg dimaksud adalah merinci satu demi satu yg membuat Musa AS tidak sabar pada masing-masing tsb.

            sedangkan Kitabullah dan ahlul bait adalah dua hal yang tidak sepadan, yang satu lebih besar drpada yg lain, sehingga “bihi” di situ merujuk pada Kitabullah saja tidak kepada Ahlul bait.

            Wallahu A’lam

          37. @sok tahu banget

            Ya bedalah, Al-Kahfi di atas menceritakan 3 hal yang sepadan dan yg dimaksud adalah merinci satu demi satu yg membuat Musa AS tidak sabar pada masing-masing tsb.

            sepadan? apakah maksudnya? apakah di bagian membunuh anak sepadan dengan mendirikan bangunan, itu kah maksudnya?. gak ngerti deh :P

            sedangkan Kitabullah dan ahlul bait adalah dua hal yang tidak sepadan, yang satu lebih besar drpada yg lain, sehingga “bihi” di situ merujuk pada Kitabullah saja tidak kepada Ahlul bait.

            hadis Tsaqalain dengan lafaz bihi menunjukkan ada dua hal yang dimaksud dengan merinci apa yang harus dipegang teguh agar tidak sesat yaitu Kitabullah dan Ahlul Bait. Jangan terlalu nafsu buat menolak. Kalau sudah salah ya akui saja buat apa menolak. Jelas-jelas dihadisnya disebutkan keduanya tidak akan berpisah :mrgreen:

          38. wahabi_kampret, on Agustus 12, 2010 at 3:19 pm said:

            @sok tahu banget
            > Ya bedalah, Al-Kahfi di atas menceritakan 3 hal yang sepadan dan yg dimaksud adalah merinci satu demi satu yg membuat Musa AS tidak sabar pada masing-masing tsb.

            sepadan? konsep apalagi ini? setelah terdesak, baru keluar konsep sepadang …. hehehe dasar salafy gendeng …

            Yang gw tahu sih, otak lu sepadan sama anak TK … :)

          39. armand, on Agustus 12, 2010 at 3:23 pm said:

            @sok tau banget

            memang kenyataan seperti itu mau diapain? mau dipaksa-paksakan jg ga ada gunanya. Jelas dalam hadits2 shahih dijelaskan bahwa wasiat terbesar Nabi yang kita tidak akan tersesat bila berpegang teguh padanya adalah Kitabullah

            Jadi yg benar yg mana donk? Apa dan siapa yg wajib anda ikuti? Kitabullah saja, sahabat saja, atau Kitabullah dan Sunnah Nabi? Kan menurut anda semuanya shahih tuh?
            Apakah anda ingin mengatakan bahwa Nabi anda memang plin-plan dan tidak konsisten dalam menyampaikan pesannya?

            Salam

          40. wahabi_kampret, on Agustus 12, 2010 at 3:36 pm said:

            @sok tahu banget
            > sedangkan Kitabullah dan ahlul bait adalah dua hal yang tidak sepadan, yang satu lebih besar drpada yg lain, sehingga “bihi” di situ merujuk pada Kitabullah saja tidak kepada Ahlul bait.

            baca secara benar diskusi antara SP dan 1syahadat yang kemudian disambung sama badari. Jangan salahkan orang lain, jika anda tidak mengerti arah diskusi. salahkan diri anda sendiri yang otaknya ceper gara-gara tinggal dibumi ceper … heheheh *becanda*

            1syahadat meminta bukti ada tidak penggunaan kata bihi (tunggal) tetapi merujuk kepada pengertian jamak. SP sebenarnya telah menjelaskan secara gamblang dan jelas, bahwa secara kaidah bahasa hal itu memungkinkan. Badari kemudian memperkuat dengan bukti ayat Alquran yang menunjukkan bahwa kata ganta “hi” (tunggal) dapat merujuk kepada arti jamak.

            @1syahadat pernah berkata : “Sebetulnya sederhana saja. Secara pribadi, bila ada yang bisa menunjukkan bahwa ada penggunaan kata ganti tunggal untuk benda jamak yang menyalahi grammar/tata bahasa Arab, misalnya “bihi”, dalam Al Quran ataupun hadith ataupun teks ilmiah apapun, niscaya pemahaman Saya akan tata bahasa Arab yang cuma secuil ini akan runtuh seruntuh-runtuhnya.”

            nah, dengan bukti yang dibawa @badari, maka dengan senang hati saya katakan tata bahasa arab 1syahadat telah runtuh seruntuh-runtuhnya … hahahah

            Nah, kok tiba-tiba muncul satu orang salafy gendeng yang bernama “@sok tahu banget” mengeluarkan argumen jurus dewa mabuk dengan kata-kata “kan tidak sepadan?”

            dasar salafy gendeng … jenggotnya aja sih dipanjangin, harusnya otaknya tuh dibenerin … hehehehe …

          41. Truthseeker08, on Agustus 12, 2010 at 3:47 pm said:

            @armand
            Selamat menempati rumah baru.. :)

            Salam.

          42. wahabi_kampret, on Agustus 12, 2010 at 3:51 pm said:

            @armand
            > Jadi yg benar yg mana donk? Apa dan siapa yg wajib anda ikuti? Kitabullah saja, sahabat saja, atau Kitabullah dan Sunnah Nabi? Kan menurut anda semuanya shahih tuh?
            Apakah anda ingin mengatakan bahwa Nabi anda memang plin-plan dan tidak konsisten dalam menyampaikan pesannya?

            Salafy itu tinggal dibumi ceper. Karena ceper, maka kemiringan buminya sering berubah-ubah atau inkonsisten. Kadang miring kekanan, kadang miring kekiri. Ternyata ini berpengaruh kepada pola pikir pada penduduk yang mendiaminya yaitu Salafy/wahhabi …:)

            makanya jawaban dari pertanyaan anda juga tidak ada yang konsisten.

            Apakah hanya Kitabullah saja yang diikuti? Jawabannya iya, jika diberikan argumen hadits Tsaqolain.

            Apakah Kitabullah dan Sahabat yang diikuti? Jawabannya iya, jika merujuk hadits Khulafaur Rasyidin.

            Kok bisa berbeda-beda? Apakah artinya Nabi Muhammad Plin-plan? Ehm, nggak juga sih. lebih tepatnya otak gw yang lagi miring kekanan. Siapa tahu otak gw miring kekiri. Mungkin jawabannya beda lagi.

            Kira-kira itu yang ada dipikirannya Salafy/Wahhabi … hehehehe …

          43. armand, on Agustus 12, 2010 at 4:02 pm said:

            @truthseeker

            Trims :)

            @wahabi kampret

            Teori bumi ceper keliatannya masuk di semua lini ya… :mrgreen:

          44. chany, on Agustus 12, 2010 at 5:00 pm said:

            @sok tau benar
            Anda pernah melihat iklan di TV?
            Ada iklan mengenai KOPI SUSU torabika.
            Mula kopi tersendiri dan susu tersendiri.
            Pada waktu kita sebut TORABIKA itu berart KOPISUSU. Tidak bisa kita katakan kopi saja atau susu
            Maka TORABIKA disinii adalah BIHI
            Rasul mengatakan:Aku tinggalkan untuk kalian apa yang jika kalian berpegang-teguh dengannya maka kalian tidak akan sesat yaitu Kitab Allah azza wa jalla dan ItrahKu Ahlul Baitku dan keduanya tidak akan berpisah hingga kembali kepadaKu di Al Haud.
            Ini berarti dua yang jadi satu. Dan kedua tidak bisa dipisahkan. Kalau dipisahkan maka bukan lagi TSAQALAIN atau wasiat Nabi. Kalau hanya Alqur’an buat apa Rasul memberi WASIAT. Alqur’an sudah dari mula (sejak dakwa) sudah DITAATI. wASALAM
            تارك فيكم أمر

          45. wahabi_kampret, on Agustus 12, 2010 at 5:08 pm said:

            @armand,

            fatwa bumi ceper dan matahari mengelilingi bumi menurut saya adalah tonggak fatwa paling memalukan bagi salafy/wahhabi. Fatwa ini tidak dapat dihapus oleh hujan ataupun dihancurkan gelombang lautan. Betapun fatwa ini sudah direvisi oleh Bin Baz, tetap saja salafy/wahhabi pernah mengeluarkan fatwa paling memalukan. Karena itu, saya senang mengulang-ngulang fatwa tersebut .. :)

            pernah di beberapa situs yang saya kunjungi, banyak non muslim yang meledek fatwa ini. Pinginnya sih membela saudara sendiri [walaupun salafy/wahabi sering tidak menganggap saudara kepada orang2 seperti kita], tapi bagaimana mau membela? Tidak ada argumen yang bisa membela fatwa paling memalukan ini.

            Ada memang pendapat2 atau pikiran2 yang memalukan yang dikeluarkan salafy/wahhabi. ya contohnya pendapat salafy/wahhabi disini. Bagi saya, membaca pendapat salafy seperti membaca humor. Cukup mampu sebagai penghilang stress. Tapi tetap saja, masih belum ada pendapat/pikiran sememalukan fatwa bumi ceper ..:)

            salam bumi ceper!

          46. sok tahu banget, on Agustus 13, 2010 at 11:50 am said:

            arti sepadan yg saya maksud adalah tiga hal tersebut masing-masing telah membuat Musa AS tidak sabar, sehingga ketiga hal tersebut diangap satu.

            sedangkan Kitabullah dan Ahlul Bait adalah dua hal yang tidak sepadan, ada perbedaan dalam memperlakukan mereka, sangat jelas dalam teks hadit yg disampaikan Badari Kitabullah lebih besar drpd ahlul bait, disamping itu jelas dalam hadits Muslim yg dipegang teguh agar tidak sesat ya cuma Kitabullah.

          47. aldj, on Agustus 13, 2010 at 12:30 pm said:

            @sok tau banget
            alquran n ahlulbait rosul pun sepadan buat ummat ini spy tdk tersesat,krn keduanya tdk terpisahkan

          48. Truthseeker08, on Agustus 13, 2010 at 12:50 pm said:

            @sok tau banget

            sedangkan Kitabullah dan Ahlul Bait adalah dua hal yang tidak sepadan, ada perbedaan dalam memperlakukan mereka

            Maksud ente apa sih dengan tidak sepadan?
            Apakah karena ente anggap tidak sepadan maka hanya berpegang teguh kepada Kitabullah dan tidak perlu berpegang kepada Ahlul Bayt hanya krn “tidak sepadan”??
            Mari kita ikuti alur LOGIKA (?) anda:
            1. Rasulullah tidak sepadan dengan Allah maka berpegang teguh kepada Allah dan tinggalkan (tidak perlu berpegang teguh kepada) Rasulullah??? Audzubillahimindzalik…!!
            2. Hadits/sunnah tidak sepadan dengan Qur’an, maka berpegang teguh kepada Qur’an dan tinggalkan Sunnah?? Audzubillahimindzalik..!!
            3. Shalat sunnah tidak sepadan dengan shalat wajib, maka laksanakan saja shalat wajib dan tinggalkan shalat sunnah. Audzubillahimindzalik..!!

            Ahhhh…ngerti gak kira2 ente dengan konsekuensi logika ini??

            Salam damai.

          49. @sok tahu banget

            arti sepadan yg saya maksud adalah tiga hal tersebut masing-masing telah membuat Musa AS tidak sabar, sehingga ketiga hal tersebut diangap satu.

            Kitabullah dan Ahlul Bait masing-masing harus dipegang teguh agar tidak tersesat sehingga keduanya dikatakan tidak akan berpisah sampai kembali ke Al Haudh.

            sedangkan Kitabullah dan Ahlul Bait adalah dua hal yang tidak sepadan,

            Teks hadisnya menyebutkan yang satu lebih besar dari yang lain dan teks hadisnya menjelaskan kalau keduanya harus dipegang teguh agar tidak tersesat.

            ada perbedaan dalam memperlakukan mereka, sangat jelas dalam teks hadit yg disampaikan Badari Kitabullah lebih besar drpd ahlul bait,

            Sangat jelas dalam teksnya bahwa keduanya [walaupun yang satu lebih besar dari yang lain] harus dipegang teguh agar tidak tersesat :)

            disamping itu jelas dalam hadits Muslim yg dipegang teguh agar tidak sesat ya cuma Kitabullah.

            Dalam hadis Muslim gak ada kata-kata “cuma Kitabullah”. pertanyaan sederhana dalam hadis Muslim apa pesan Rasulullah SAW tentang ahlul bait?. Kalau mau jawab menjaga hak, menghormati dan memuliakan ahlul bait maka saya tanya kok dalam teks hadisnya gak ada yang menyebutkan soal itu :)

          50. ali akbar, on Agustus 13, 2010 at 2:55 pm said:

            sudah…para syiah mari memperbanyak pahala dibulan ramadan ini dengan MUTAH, satu hari 3, 4, 5 org wanita juga boleh kalo saling tukar anak gadis tuk dimutah juga boleh. inikan ajaran agama syiah dan jgn lupa minum obat kuat biar dahsyat seperti ulama ulama iran …..asyik asyik asyik

          51. wahabi_kampret, on Agustus 13, 2010 at 3:12 pm said:

            @Truthseeker08

            sabar bro…:) ente yang biasanya kalem akhirnya tidak bisa menahan diri juga melihat “kengeyelan” @soktahubanget …

            cukuplah kita tahu bahwa @soktahubanget otaknya lagi miring kekanan dan kadang miring kekiri mengikuti pergerakan bumi ceper … jadinya jawabannya kadang-kadang miring juga hehehehe ..

            dan penjelasan @soktahubanget cuma ngeles kayak bajaj. Maklum-lah dulu @soktahubanget ini kan mantan sopir bajaj … jadi kebiasaan ngelesnya masih ketinggalan … :)

            @SP

            bro, barusan baca di haulasyiah tentang cerita Uhud. Sudah bisa ditebak jika isinya mengekerdilkan peran Imam Ali. Tapi yang mengagetkan, dalam cerita tersebut secara tersirat juga menceritakan bahwa Imam Ali juga termasuk sahabat yang kabur dari sisi Rasulullah. Yang tertinggal disamping Rasulullah cuma Talhah dan Saad bin Abi Waqosh.

            Boleh dong bro, jika ada waktu dan kebetulan menemukan, dishare ke-kita hadits2 yang menyebutkan siapa-siapa aja yang tinggal disisi Rasulullah dan siapa-siapa aja yang kabur dari sisi Rasulullah pada saat perang Uhud. Pingin tahu nih bro … thanks ya.

          52. wahabi_kampret, on Agustus 13, 2010 at 3:13 pm said:

            @Truthseeker08

            sabar bro…:) ente yang biasanya kalem akhirnya tidak bisa menahan diri juga melihat “kengeyelan” @soktahubanget …

            cukuplah kita tahu bahwa @soktahubanget otaknya lagi miring kekanan dan kadang miring kekiri mengikuti pergerakan bumi ceper … jadinya jawabannya kadang-kadang miring juga hehehehe ..

            dan penjelasan @soktahubanget cuma ngeles kayak bajaj. Maklum-lah dulu @soktahubanget ini kan mantan sopir bajaj … jadi kebiasaan ngelesnya masih ketinggalan … :)

            @SP

            bro, barusan baca di haulasyiah tentang cerita Uhud. Sudah bisa ditebak jika isinya mengekerdilkan peran Imam Ali. Tapi yang mengagetkan, dalam cerita tersebut secara tersirat juga menceritakan bahwa Imam Ali juga termasuk sahabat yang kabur dari sisi Rasulullah. Yang tertinggal disamping Rasulullah cuma Talhah dan Saad bin Abi Waqosh. Cerita ini sangat tidak sesuai dengan sifat dan pribadi Imam Ali. Tapi saya cuma bisa bersabar.

            Boleh dong bro, jika ada waktu dan kebetulan menemukan, dishare ke-kita hadits2 yang menyebutkan siapa-siapa aja yang tinggal disisi Rasulullah dan siapa-siapa aja yang kabur dari sisi Rasulullah pada saat perang Uhud. Pingin tahu nih bro … thanks ya.

          53. armand, on Agustus 13, 2010 at 3:34 pm said:

            Ah sayang, nama yg begitu mulia tidak tergambar dengan akhlaknya

          54. aldj, on Agustus 14, 2010 at 6:50 am said:

            @ali akbar
            nama yg bagus,tp ahlak yg buruk inilah akibat dr kejahilan

          55. toreba, on Agustus 14, 2010 at 9:01 am said:

            @ali akbar
            Masih lumayan syiah nikah mut’ah. Karena dinikahi yang menurut agama bisa dinikahi. Tapi anda dan kelompok anda. Anak sendiri diperkosa. Adik sendiri dinikahi, Mantunya diperkosa. Agama apa yang anda2 anut. Setahu saya perebuatan demikian adalah kehidupan dilingkungan BINATANG. Mau tau baca koran dan dengar TV

          56. pencari, on September 4, 2010 at 6:57 pm said:

            Bagi yang suka mempermasalahkan nikah Mut’ah silahkan cari nikah Misyar atau Nikah dengan niat talak. ntar pasti dah ngak omong nikah mut’ah lagi :D . Silahkan diteruskan diskusinya dengan santun dan damai :D gus 1syahadat, gus secodprice … makasih ilmunya sangat memberikan pencerahan .

          57. [...] Ahlul Bait Jaminan Keselamatan Dunia Akhirat : Membantah Syubhat Salafy Nashibi This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink. ← Hello world! LikeBe the first to like this post. [...]

          58. Yantz, on April 18, 2011 at 7:40 am said:

            maaf..saya rasa pertanyaan saya ini diluar tajuk..
            saya mahu tahu..benarkah menurut syiah..Saidina Hasan ra memiliki isteri yang banyak..

            saya ada terbaca satu link..ia mengatakan fitnah tersebut direka2 oleh syiah..fitnah tersebut juga diakui oleh syiah..ini linknya..maaf,,tajuknya agak lancang..

            http://www.scribd.com/doc/26646276/Sayyidina-Hassan-Jaguh-Seks

          59. chany, on April 18, 2011 at 9:52 am said:

            @Yantz
            Menurut yang saya dengar dan baca BENAR,
            Tapi ada tapinya. Tapinya demikian.
            1,Beliau lebih mengetahui Hukum Allah.
            2.Saya yakin bahwa beliau tdk akan melanggar Hukum Allah.
            3. Dan sejarah tdk memberitahukan siapa2 yang beliau nikahi. Apakah janda2 atau yang masih perawan.
            4. Menurut saya bekiau menikahi begitu banyak adalah janda yang suaminya mati dlm peperangan.
            5.Dalam Alqur’an tdk pernah Allah menyebut istri tapi istri2.
            6. Apakah istri2nya sudah sampai ditiduri atau belum?
            7. Dlsbnya
            Saya yakin bahwa beliau mempunyai alasan tertentu.
            Wallahu A’lam. Hanya Allah yang mengetahui.
            Hanya demikian saya bisa jelasakan.
            Hanya sayang ada yang menafsirkan lain. Wasalam

          60. hidup adalah pilihan, on November 10, 2011 at 8:10 pm said:

            oke deh sepakat ngikut ahlul bait…tp solusinya mana?? byk sekarang yang ngaku ahlul bait…kita ikut yg mana??? klo g mw publish jawabanya pm ane sajamacho_men_2k@yahoo.co.id

Share this:

Like this:

Be the first to like this post.

Hadis Abu Bakar dan Umar Sayyid Kuhul Ahli Surga :: hadis ini memiliki sanad yang dhaif dengan matan yang bathil atau mungkar maka kedudukannya sudah jelas dhaif dan tidak bisa dijadikan hujjah.

Takhrij Hadis Abu Bakar dan Umar Sayyid Kuhul Ahli Surga

Hadis ini sering dijadikan hujjah untuk menunjukkan keutamaan Abu Bakar dan Umar di atas semua sahabat yang lain. Bahkan ada pengikut salafy yang menyatakan bahwa hadis ini menunjukkan keutamaan Abu Bakar dan Umar di atas Imam Ali Alaihis Salam. Untuk menilai sejauh mana validitas hadis ini maka kami melakukan penelitian secara khusus dengan menelusuri berbagai literatur. Setelah perjalanan panjang akhirnya kami berkesimpulan bahwa hadis ini tidaklah tsabit sanadnya. Mereka pengikut salafy yang menshahihkan hadis ini jelas keliru dan itu disebabkan mereka hanya taklid semata kepada ulama mereka yang cukup dikenal, salah satunya “Syaikh Al Albani”. Kami telah mengumpulkan sanad-sanad hadis ini di semua kitab yang dapat kami temukan dan hasilnya tidak ada satupun sanad hadis ini yang tsabit.

Hadis ini diriwayatkan oleh sejumlah sahabat diantaranya. Hadis Ali bin Abi Thalib RA, Hadis Anas bin Malik RA, Hadis Wahb bin Abdullah Abi Juhaifah RA, Hadis Abu Hurairah RA, Hadis Jabir bin Abdullah RA, Hadis Abdullah bin Abbas RA, Hadis Abdullah bin Umar RA, Hadis Abu Sa’id Al Khudri RA, Hadis Malik bin Rabi’ah RA, Hadis Hasan bin Ali RA, dan Hadis Husain bin Ali RA.

Secara sepintas kelihatannya hadis ini diriwayatkan oleh banyak sahabat tetapi ternyata semua sanad hadisnya bermasalah. Kedudukan sanad paling kuat justru bertaraf dhaif dan selebihnya dhaif jiddan bahkan maudhu’. Semua sanad-sanad tersebut kami telusuri dari berbagai kitab yaitu Musnad Ahmad bin Hanbal, Fadha’il Shahabah Ahmad bin Hanbal, Sunan Ibnu Majah, Sunan Tirmidzi, Shahih Ibnu Hibban, Musnad Abu Ya’la, Musnad Al Bazzar, Mu’jam Al Awsath Ath Thabrani, Mu’jam Al Kabir Ath Thabrani, Mu’jam As Shaghir Ath Thabrani, Tarikh Baghdad Abu Bakar Al Khatib, Tarikh Dimasyq Ibnu Asakir, Musykil Al Atsar Ath Thahawi, As Sunnah Ibnu Abi Ashim, Tahdzib Al Kamal Al Hafizh Al Mizzi, Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, Thabaqat Ibnu Sa’ad, Ansab Al Asyraf Al Baladzuri, Asma Wal Kuna Ad Duulabiy, Asy Syari’ah Al Ajurri, Mu’jam Ibnu Arabi, Amali Ibnu Busyran, Fawaid Abu Bakar Asy Syafi’i, Fawaid Abu Ali Ash Shawwaf, Fadha’il Khulafaur Rasyidin Abu Nu’aim, Al Kamil Ibnu Ady, Ad Dhu’afa Al Uqaili, Mu’jam Ash Shahabah Ibnu Qani’ dan Al Mukhtarah Dhiya’ Al Maqdisi.

.

.

.

Hadis Ali bin Abi Thalib RA

Hadis Ali RA Yang Diriwayatkan Asy Sya’bi

Hadis Ali RA ini masyhur diriwayatkan oleh Asy Sya’bi dan dengan mengumpulkan sanad-sanadnya maka didapatkan kalau riwayat Asy Sya’bi ini mengalami kekacauan. Terkadang ia meriwayatkan langsung dari Rasulullah SAW terkadang ia meriwayatkan dari Ali dari Rasulullah SAW dan terkadang ia meriwayatkan dari Al Harits dari Ali dari Rasulullah SAW.

حدثنا يعقوب بن إبراهيم الدروقي حدثنا سفيان بن عيينة قال ذكر داود عن الشعبي عن الحرث عن علي عن النبي صلى الله عليه و سلم قال أبو بكر و عمر سيدا كهول أهل الجنة من الأولين والآخرين ما خلا النبيين والمرسلين لا تخبرهما يا علي

Telah menceritakan kepada kami Ya’qub bin Ibrahim Ad Dawraqi yang berkata telah menceritakan kepada kami Sufyan bin Uyainah yang berkata Dawud menyebutkan dari Sya’bi dari Al Harits dari Ali dari Nabi SAW yang berkata “Abu Bakar dan Umar Sayyid Kuhul Ahli surga dari kalangan terdahulu dan kemudian kecuali para Nabi dan para Rasul. Jangan kau kabarkan hal ini pada mereka wahai Ali [Sunan Tirmidzi 5/611 no 3666]

Yang meriwayatkan dari Asy Sya’bi adalah Dawud bin Abi Hind [disebutkan pula dalam Tarikh Ibnu Asakir 30/168] dan ia memiliki mutaba’ah dari Ismail bin Abi Khalid, Abu Ishaq, Laits dan Firaas.

  • Hadis Asy Sya’bi dari Al Harits dengan jalan sanad Ismail bin Abi Khalid diriwayatkan dalam Fadhail As Shahabah no 196, Mu’jam Ibnu Arabi no 2187, Fawaid Abu Bakar Asy Syafi’i no 9, Amali Ibnu Bushran no 196 & 928 dan Tarikh Ibnu Asakir 30/166 semuanya dengan jalan dari Ibnu Abi Maryam dari Sufyan bin Uyainah dari Ismail bin Abi Khalid dari Asy Sya’bi dari Al Harits dari Ali.
  • Hadis Asy Sya’bi dari Al Harits dengan jalan sanad Abu Ishaq Al Kufi diriwayatkan dalam Fadhail Ash Shahabah no 290, Musnad Al Bazzar 3/14 no 747,dan Asy Syariah Ajjuri no 1284 semuanya dengan jalan sanad Husyaim dari Abu Ishaq dari Asy Sya’bi dari Al Harits dari Ali. Abu Ishaq Al Kufi adalah Abdullah bin Maisarah seorang yang dhaif. Ibnu Ma’in, Ahmad, Nasa’i, Daruquthni, Ibnu Hibban, dan Abu Dawud menyatakan ia dhaif [At Tahdzib juz 6 no 91]. Ibnu Hajar menyatakan ia dhaif [At Taqrib 1/540]
  • Hadis Asy Sya’bi dari Al Harits dengan jalan sanad Laits diriwayatkan oleh Al Bazzar dalam Musnad Al Bazzar 3/16 no 749 dengan jalan dari Manshur bin Abul Aswad dari Laits dari Asy Sya’bi dari Al Harits dari Ali.
  • Hadis Asy Sya’bi dari Al Harits dengan jalan sanad Firaas diriwayatkan oleh Hasan bin Umarah, Fudhail bin Marzuq, Sufyan bin Uyainah dan Syarik dari Firaas. Semua jalan ini tidak tsabit sampai ke Firaas. Diriwayatkan dalam Sunan Ibnu Majah no 95, Asy Syariah Ajjuri no 1283 dan no 1749, Fawaid Abu Bakar Asy Syafi’i no 8 dengan jalan sanad dari Hasan bin Umarah dari Firaas, sanad ini dhaif jiddan karena Hasan bin Umarah adalah perawi yang matruk. Abu Hatim, Ahmad, Nasa’i, Muslim, Daruquthni dan As Saji menyatakan ia matruk [At Tahdzib juz 2 no 532]. Diriwayatkan dalam Asy Syari’ah no 1750 dari Musayyab bin Wadhah As Sulami dari Sufyan bin Uyainah dari Firaas, sanad ini dhaif karena Musayyab bin Wadhah, Ad Daruquthni berkata “dhaif”. Abu Dawud berkata “ia pemalsu hadis”. An Nabati, Daruquthni dan Uqaili berkata “matruk” [Lisan Al Mizan juz 6 no 157]. Diriwayatkan dalam Fadhail As Shahabah no 632, Fadhail Khulafaur Rasyidin Abu Nu’aim no 90 dan Tarikh Baghdad 7/121 no 3560 dengan jalan sanad dari Basyar bin Musa dari Syarik dari Firaas, sanad ini dhaif jiddan karena Basyar bin Musa. Ibnu Ma’in, Amru bin Ali, Abu Zar’ah, Abu Dawud dan Ali bin Madini menyatakan ia dhaif. Bukhari menyatakan ia mungkar al hadis. Nasa’i berkata “tidak tsiqat”. [At Tahdzib juz 1 no 812]. Diriwayatkan dalam Fadhail As Shahabah no 633 dan Al Awsath Thabrani 2/91 no 1348 dengan jalan dari Ubaid bin Shabah dari Fudhail bin Marzuq dari Firaas. Ubaid bin Shabah ini juga diikuti oleh Sahl bin Amir yang meriwayatkan dari Fudhail dari Firaas [Fawaid Abu Bakar Asy Syafi’i no 8]. Jalan Fudhail dari Firaas ini juga dhaif karena Ubaid bin Shabah dinyatakan dhaif oleh Abu Hatim [Al Jarh Wat Ta’dil 5/408 no 1893] sedangkan Sahl bin Amir dinyatakan dhaif oleh Abu Hatim [Al Jarh Wat Ta’dil 4/202 no 873] dan Bukhari berkata “mungkar al hadis” [Lisan Al Mizan juz 3 no 413]
  • Riwayat Asy Sya’bi dari Al Harits dengan jalan sanad Abdul A’la Ats Tsa’labi disebutkan dalam Tarikh Ibnu Asakir 30/169. Sanadnya adalah dari Muhammad bin Thalhah dari Abdul A’la Ats Tsa’labi dari Asy Sya’bi dari Al Harits dari Ali. Sanad ini dhaif karena Abdul A’la Ats Tsa’labi disebutkan dalam Tahrir At Taqrib kalau ia seorang yang dhaif [Tahrir At Taqrib no 3731]

Riwayat Asy Sya’bi dari Al Harits dari Ali merupakan riwayat yang dhaif karena kelemahan Al Harits bin Abdullah Al A’war. Asy Sya’bi dan Ali bin Madini menyatakan ia pendusta. Abu Zar’ah berkata “tidak dijadikan hujjah hadisnya”. Abu Hatim berkata “tidak kuat dan tidak dijadikan hujjah hadisnya”. Daruquthni menyatakan ia dhaif. Ibnu Hibban berkata “Al Harits berlebihan dalam tasyayyu’ dan lemah dalam hadis”. [At Tahdzib juz 2 no 248]. Ibnu Hajar berkata “seorang yang hadisnya dhaif” [At Taqrib 1/175]

Diriwayatkan pula bahwa Asy Sya’bi meriwayatkan hadis ini dari Ali tanpa menyebutkan Al Harits. Yunus bin Abi Ishaq, Thu’mah bin Ghailan, Siyar Abul Hakam, Zubaid, Abi Walid, Abu Ishaq Al Kufi dan Abdul A’la bin Amir Ats Tsa’labi meriwayatkan dari Sya’bi dari Ali.

حدثنا زهير حدثنا وكيع عن يونس بن أبي إسحاق عن الشعبي عن علي قال : كنت عند النبي صلى الله عليه و سلم فأقبل أبو بكر و عمر فقال : هذان سيدا كهول أهل الجنة من الأولين والآخرين إلا النبيين والمرسلين

 

Telah menceritakan kepada kami Zuhair yang berkata telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Yunus bin Abi Ishaq dari Sya’bi dari Ali yang berkata “aku berada disisi Nabi SAW kemudian Abu Bakar dan Umar datang maka Rasulullah SAW berkata “mereka berdua adalah Sayyid kuhul ahli surga dari kalangan terdahulu maupun kemudian kecuali para Nabi dan Rasul [Musnad Abu Ya’la no 624]

  • Riwayat Yunus bin Abi Ishaq dari Asy Sya’bi. Disebutkan dalam Mu’jam Ibnu Arabi no 2024 dan Tarikh Ibnu Asakir 30/173 dengan jalan Ubaidillah bin Musa dari Yunus dan disebutkan dalam Musnad Abu Ya’la no 533 dan no 624, Fawaid Abu Bakar Asy Syafi’i no 13, Tarikh Ibnu Asakir 30/174 dengan jalan Waki’ bin Jarrah dari Yunus.
  • Riwayat Thu’mah bin Ghailan dari Sya’bi dari Ali disebutkan dalam Fawaid Abu Bakar Asy Syafi’i no 13 dan Tarikh Ibnu Asakir 30/172 dengan jalan sanad dari Sufyan dari Thu’mah bin Ghailan. Thu’mah bin Ghailan adalah seorang yang shaduq hasanul hadis. Telah meriwayatkan darinya sekumpulan perawi tsiqat dan Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [Tahrir At Taqrib no 3016]
  • Riwayat Siyar Abul Hakam dari Sya’bi dari Ali disebutkan dalam Fawaid Abu Bakar Asy Syafi’i no 14 dan Tarikh Ibnu Asakir 30/172 dimana di dalam sanadnya terdapat Mu’alla bin Abdurrahman yang tertuduh memalsu hadis [At Taqrib 2/202]
  • Riwayat Zubaid As Siyaas dari Asy Sya’bi dari Ali disebutkan dalam Fawaid Abu Bakar Asy Syafi’i no 14. Riwayat ini lemah karena di dalam sanadnya terdapat Al Muharibi yang meriwayatkan dengan ‘an ‘an ah dan dia seorang mudallis martabat ketiga [Thabaqat Al Mudallisin no 80] ditambah lagi riwayat ini idhthirab karena disebutkan dalam Fadhail As Shahabah no 93 dan Tarikh Ibnu Asakir 30/166 Al Muharibi meriwayatkan dengan jalan Zubaid dari Asy Sya’bi dari seseorang yang telah menceritakan kepadanya dari Ali. Dan dalam Fadhail As Shahabah no 499 Al Muharibi menyebutkan dengan jalan dari Zubaid dari seseorang yang telah menceritakan kepadanya dari Ali.
  • Riwayat Abu Walid dari Sya’bi disebutkan dalam Tarikh Baghdad 5/218 dan tarikh Ibnu Asakir 44/171 dengan jalan sanad Ahmad bin Muhammad bin Yahya Ath Thalhi dari Muhammad bin Hasan dari Syarik dari Abul Walid dari Sya’bi dari Ali. Riwayat ini lemah karena Ahmad bin Muhammad bin Yahya seorang yang majhul hal dan Muhammad bin Hasan diperbincangkan. Disebutkan dalam Tahrir At Taqrib kalau Muhammad bin Hasan bin Zubair Al Asdi seorang yang dhaif tetapi dapat dijadikan i’tibar. Ibnu Ma’in, Yaqub bin Sufyan, Al Uqaili, Ibnu Hibban, Abu Ahmad Al Hakim dan As Saji mendhaifkannya. Al Bazzar dan Ibnu Numair menyatakan ia tsiqat. Al Ijli, Ibnu Ady dan Daruquthni menyatakan “tidak ada masalah padanya” [Tahrir At Taqrib no 5816]
  • Riwayat Abu Ishaq Al Kufi dari Sya’bi dari Ali disebutkan dalam Fadhail Shahabah no 709 dengan jalan sanad dari Husyaim dari Abu Ishaq Al Kufi dari Sya’bi dari Ali. Riwayat ini dhaif karena kelemahan Abu Ishaq Al Kufi yaitu Abdullah bin Maisarah seperti yang telah dijelaskan sebelumnya
  • Riwayat Abdul A’la bin Amir Ats Tsa’labi dari Sya’bi dari Ali disebutkan dalam Fadhail Shahabah no 708 dengan jalan sanad dari Muhammad bin Thalhah dari Abdul A’la bin Amir Ats Tsa’labi. Riwayat ini dhaif karena kelemahan Abdul A’la Ats Tsa’labi. Ahmad, Abu Zar’ah, Ibnu Sa’ad menyatakan ia dhaif. Ibnu Ma’in, Daruquthni, Nasa’i, Abu Hatim menyatakan ia tidak kuat. [At Tahdzib juz 6 no 198]. Dalam Tahrir At Taqrib disebutkan kalau ia seorang yang dhaif [Tahrir At Taqrib no 3731]

Semua riwayat Asy Sya’bi dari Ali ini tidaklah tsabit karena inqitha’ atau terputus sanadnya. Asy Sya’bi hanya mendengar satu hadis dari Ali yaitu hadis rajam dan selain itu maka tidak shahih penyimakannya dari Ali sebagaimana yang disebutkan oleh Daruquthni [Al Ilal Daruquthni no 449]

Asy Sya’bi juga meriwayatkan hadis ini tanpa menyebutkan Al Harits dan Ali. Ia langsung menyebutkan kalau Rasulullah SAW bersabda.

حدثنا إبراهيم بن عبد الله البصري ثنا أبو عاصم عن سفيان عن طعمة عن الشعبي أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال  أبو بكر ، وعمر سيدا كهول أهل الجنة من الأولين والآخرين ما خلا النبيين والمرسلين

 

Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Abdullah Al Bashri yang menceritakan kepada kami Abu Ashim dari Sufyan dari Thu’mah dari Sya’bi bahwa Rasulullah SAW bersabda “Abu Bakar dan Umar Sayyid Kuhul ahli surga dari kalangan terdahulu dan kemudian kecuali para Nabi dan Rasul” [Fawaid Abu Bakar Asy Syafi’i no 12]

Thu’mah bin Ghailan memiliki mutaba’ah yaitu Firaas dan Malik bin Mighwal yang meriwayatkan dari Sya’bi tanpa menyebutkan Al Harits dan Ali. Yang meriwayatkan dari Firaas adalah Syarik dan yang meriwayatkan dari Malik bin Mighwal adalah Ahmad bin Yunus, Husyaim dan Syu’aib bin Harb

  • Riwayat Firaas dari Sya’bi disebutkan dalam Fadhail Ash Shahabah no 180 dengan jalan sanad dari Aswad bin Amir dari Syarik dari Firaas dari Amir Asy Sya’bi dari Rasulullah SAW.
  • Riwayat Malik bin Mighwal dari Sya’bi disebutkan dalam Fadhail As Shahabah no 609 dan 710, Thabaqat Ibnu Sa’ad 3/93, Tarikh Ibnu Asakir 30/176 dan Fawaid Abu Bakar Asy Syafi’i no 15 dengan jalan sanad dari Ahmad bin Yunus dari Malik bin Mighwal dari Sya’bi dari Rasul SAW. Kemudian disebutkan dalam Fadhail Ash Shahabah no 709 dengan jalan sanad dari Husyaim dari Malik bin Mighwal dari Sya’bi dan dalam Ansab Al Asyraf Al Baladzuri 3/309 dari Ahmad bin Hisyam bin Bahram [tsiqat dalam Tarikh Baghdad 5/406 no 2981] dari Syu’aib bin Harb dari Malik bin Mighwal dari Sya’bi dari Rasul SAW.

Riwayat Asy Sya’bi dari Rasulullah SAW ini sudah jelas dhaif karena inqitha’ [terputus]. Asy Sya’bi tidak bertemu dengan Rasulullah SAW, ia bahkan belum lahir ketika Rasulullah SAW wafat. Jika kita mengumpulkan semua riwayat Asy Sya’bi maka dapat dilihat adanya idhthirab yaitu

  • Asy Sya’bi terkadang meriwayatkan dari Al Harits dari Ali dari Rasulullah SAW
  • Asy Sya’bi terkadang meriwayatkan dari Ali dari Rasulullah SAW
  • Asy Sya’bi terkadang meriwayatkan langsung dari Rasulullah SAW

Jika dilihat satu-persatu maka sanad tersebut masing-masing kedudukannya dhaif dan jika digabungkan ketiganya akan terlihat adanya idhthirab [kekacauan] yang memperberat kedhaifan hadis Sya’bi tersebut.

Diriwayatkan pula kalau Asy Sya’bi mengambil hadis ini dari Zaid bin Yutsai dan Nufai’ bin Raafi’ Ash Shaaigh. Pernyataan ini tidaklah benar karena sanad-sanadnya tidaklah tsabit sampai ke Asy Sya’bi

  • Riwayat Asy Sya’bi dari Zaid bin Yutsai’ dari Ali disebutkan dalam Asy Syari’ah no 1578, Fawaid Abu Bakar Asy Syafi’i no 11, Syarh Musykil Al Atsar no 1964, Tarikh Ibnu Asakir 30/170-171 dengan jalan sanad dari Muhammad bin Aban dari Abu Janab Al Kalbi dari Sya’bi dari Zaid bin Yutsai’ dari Ali. Sanad hadis ini dhaif sampai ke Asy Sya’bi karena kelemahan Muhammad bin Aban dan tadlis Abu Janab Al Kalbi. Muhammad bin Aban kemungkinan ia adalah Muhammad bin Aban bin Shalih Al Ju’fi Al Kufi seorang yang dhaif [Al Majruhin no 941] sedangkan Abu Janab yaitu Yahya bin Abi Hayah seorang yang diperbincangkan sebagian menyatakan ia shaduq dan sebagian menyatakan ia dhaif. Ia seorang yang dikatakan dhaif hadisnya karena melakukan tadlis dan disebutkan kalau ia seorang mudallis martabat kelima [Thabaqat Mudallisin no 152] dan riwayatnya disini dengan ‘an an ah sehingga kedudukannya dhaif.
  • Riwayat Asy Sya’bi dari Nufai’ bin Raafi’ dari Ali disebutkan dalam Fadhail Ash Shahabah no 94 dengan jalan sanad dari Abdullah bin Umar bin Aban dari Al Muharibi dari Abu Janab dari Zubaid dari Sya’bi dari Nufai’ atau Ibnu Nufai’. Sanad hadis ini juga tidak tsabit sampai ke Asy Sya’bi karena tadlis Al Muharibi yang merupakan mudallis martabat ketiga [Thabaqat Al Mudallisin no 80] dan tadlis Abu Janab Al Kalbi yang merupakan mudallis martabat kelima [Thabaqat Mudallisin no 152]

Kesimpulan dari pembahasan riwayat Asy Sya’bi ini adalah semua jalannya dhaif tidak bisa dijadikan hujjah dan dengan mengumpulkan semua sanadnya tampak adanya idhthirab [kekacauan] yang memperberat kedhaifan hadisnya.

.

.

Hadis Ali RA Yang Diriwayatkan Hasan Bin Ali RA

Hadis Ali RA bahwa Abu Bakar dan Umar Sayyid Kuhul Ahli surga juga diriwayatkan oleh Hasan bin Ali. Hadis Hasan bin Ali ini diriwayatkan dalam Fadhail Shahabah no 141, Asy Syariah no 1286, Musnad Ahmad [Zawaid Musnad] 1/80 no 602 dan Tarikh Ibnu Asakir 30/165-166  dengan jalan sanad dari Umar bin Yunus Al Yamami dari Abdullah bin Umar Al Yamami dari Hasan bin Zaid bin Hasan dari Ayahnya dari kakeknya dari Ali RA secara marfu’

حدثنا عبد الله حدثني وهب بن بقية الواسطي ثنا عمرو بن يونس يعنى اليمامي عن عبد الله بن عمر اليمامي عن الحسن بن زيد بن حسن حدثني أبي عن أبيه عن على رضي الله عنه قال كنت عند النبي صلى الله عليه و سلم فأقبل أبو بكر وعمر رضي الله عنهما فقال يا على هذان سيدا كهول أهل الجنة وشبابها بعد النبيين والمرسلين

Telah menceritakan kepada kami Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Wahab bin Baqiyah Al Wasithi telah menceritakan kepada kami Umar bin Yunus yakni Al Yamami dari Abdullah bin Umar Al Yamami dari Hasan bin Zaid bin Hasan yang berkata telah menceritakan kepada kami Ayahku dari Ayahnya dari Ali RA yang berkata “aku berada di sisi Nabi SAW kemudian datanglah Abu Bakar RA dan Umar RA maka Nabi SAW bersabda “wahai Ali mereka berdua adalah Sayyid kuhul dan para pemuda ahli surga setelah para Nabi dan Rasul [Musnad Ahmad 1/80 no 602]

Hadis ini dhaif mungkar dikarenakan Hasan bin Zaid bin Hasan. Disebutkan kalau Ibnu Hibban, Ibnu Sa’ad dan Al Ijli menyatakan ia tsiqat. Ibnu Ma’in menyatakan ia dhaif. Ibnu Ady menyatakan ia meriwayatkan dari ayahnya hadis-hadis yang diingkari. [At Tahdzib juz 2 no 506]. Ibnu Hajar menyatakan ia seorang yang jujur terkadang salah dan memiliki keutamaan [At Taqrib 1/204 no 1246] sedangkan dalam Tahrir At Taqrib ia dinyatakan dhaif tetapi dapat dijadikan i’tibar [Tahrir At Taqrib no 1242]. Hadis di atas adalah hadis Hasan bin Zaid dari ayahnya dan mengandung lafaz yang sangat mungkar yaitu “Sayyid kuhul [orang tua] dan para pemuda ahli surga”. Telah diriwayatkan dengan berbagai jalan yang shahih kalau Sayyid pemuda ahli surga adalah Imam Hasan dan Imam Husain dan hal ini sangat bertentangan dengan hadis Hasan bin Zaid bin Hasan di atas. Jadi hadis Hasan bin Zaid di atas termasuk hadis mungkar dan tidak dapat dijadikan hujjah.

.

.

Hadis Ali RA Yang Diriwayatkan Ali bin Husain

Diriwayatkan dalam Sunan Tirmidzi 5/611 no 3665, Tarikh Ibnu Asakir 44/168 dan Fawaid Ash Shawwaf no 14 dengan jalan sanad dari Walid bin Muhammad Al Muwaqqariy dari Zuhri dari Ali bin Husain dari Ali secara marfu’. Kemudian diriwayatkan dalam Asy Syari’ah no 1752 dan Fadhail Shahabah no 245 dengan jalan sanad dari Muhammad bin Abdurrahman bin Abi Mulaikah dari Ja’far bin Muhammad dari ayahnya dari Ali bin Husain dari Ali secara marfu’. Kedua jalan ini sanadnya dhaif jiddan.

  • Jalan pertama didalamnya terdapat Walid bin Muhammad Al Muwaqqariy dia seorang yang matruk. Ibnu Ma’in menyatakan ia dhaif dan terkadang menyatakan ia pendusta. Ali bin Madini berkata “ dhaif dan tidak ditulis hadisnya”. Abu Zar’ah Ar Razi berkata “hadisnya lemah”. Abu Hatim, Tirmidzi, Abu Dawud menyatakan dhaif. Ibnu Khuzaimah berkata “tidak boleh berhujjah dengannya”. Nasa’i menyatakan ia tidak tsiqat mungkar al hadis dan matruk. [At Tahdzib juz 11 no 251]. Ibnu Hajar menyatakan Walid bin Muhammad Al Muwaqqariy matruk [At Taqrib 2/289]
  • Jalan kedua dhaif karena Muhammad bin Abdurrahman bin Abi Mulaikah. Bukhari berkata “mungkar al hadis”. Nasa’i berkata “tidak tsiqah” terkadang ia berkata “matruk”. Abu Hatim dan Daruquthni menyatakan ia dhaif. Al Azdi menyatakan ia matruk. [At Tahdzib juz 9 no 487]

Diriwayatkan pula dalam Tarikh Ibnu Asakir 44/169 bahwa Ali bin Husain meriwayatkan hadis ini dari ayahnya dari kakeknya Ali bin Abi Thalib. Ibnu Asakir menyebutkan dengan jalan sanad dari Ishmah bin Muhammad Al Anshari dari Yahya bin Sa’id Al Anshari dari Sa’id bin Al Musayyab dari Ali bin Husain dari ayahnya dari kakeknya secara marfu’. Sanad ini maudhu’ karena Ishmah bin Muhammad Al Anshari. Abu Hatim berkata “tidak kuat”, Ibnu Ma’in berkata “pendusta dan pemalsu hadis”, Al Uqaili berkata “ia meriwayatkan hadis-hadis batil dari para perawi tsiqat”. Daruquthni dan yang lainnya berkata “matruk” [Lisan Al Mizan juz 4 no 418]

.

.

Hadis Ali RA Yang Diriwayatkan Zirr bin Hubaisy

Hadis riwayat Zirr bin Hubaisy sering dijadikan hujjah untuk menguatkan hadis ini. Syaikh Al Albani dalam kitabnya Silsilah Ahadits Ash Shahihah no 824 menyatakan bahwa hadis Zirr ini hasan. Sungguh syaikh telah melakukan kekeliruan dalam hal ini. Kesalahan syaikh dalam melakukan takhrij yaitu ia menyatakan bahwa telah diriwayatkan dengan berbagai jalan dari Ashim dari Zirr dari Ali. Syaikh tidak memperhatikan bahwa berbagai jalan yang dimaksud tidaklah tsabit sampai ke Ashim karena semuanya berderajat dhaif.

  • Diantaranya diriwayatkan dalam Al Kuna Ad Daulabiy 2/99 dengan jalan sanad dari Abu Hasyim Ziyad bin Ayub dari Ali bin Muhammad Ath Thanafisi dari Abdullah Abu Muhammad mawla bani hasyim dari Zuhair bin Muawiyah dari Ashim dari Zirr dari Ali. Sanad ini tidak tsabit sampai ke Ashim karena kelemahan Abdullah Abu Muhammad mawla bani hasyim. Dalam Al Kuna Ad Daulabiy tidak menyebutkan siapa nama sebenarnya Abdullah Abu Muhammad mawla bani hasyim tetapi menyebutkan kalau ia seorang yang tsiqat. Abdullah yang dimaksud disini adalah Abdullah bin Muslim bin Rasyd. Ibnu Makula menyebutkan Abdullah bin Muslim bin Rasyd dengan kuniyah Abu Muhammad Mawla bani hasyim dan ia meriwayatkan dari Malik bin Anas [Al Ikmal Ibnu Makula 7/189]. Malik bin Anas satu thabaqah dengan Zuhair bin Muawiyah jadi kuat penunjukkannya kalau Abdullah Abu Muhammad mawla bani hasyim yang meriwayatkan dari Zuhair adalah Abdullah bin Muslim bin Rasyid dan dia bukanlah seorang yang tsiqah. Ibnu Hibban menyebutkan kalau ia seorang pemalsu hadis dan tidak halal menulis hadis darinya [Al Majruhin no 575]
  • Diriwayatkan dalam Tahdzib Al Kamal no 4153 biografi Ali bin Yazid Ash Shudaiy, Fawaid Abu Bakar Asy Syafi’i no 3 dan no 6, Tarikh Ibnu Asakir 30/177, Tarikh Ibnu Asakir 44/171 dan Al Kamil Ibnu Ady 2/381 semuanya dengan jalan sanad Ali bin Yazid Ash Shuda’iy dari Hafsh bin Sulaiman dari Ashim dari Zirr dari Ali. Sanad ini tidaklah tsabit sampai ke Ashim dan sanadnya dhaif jiddan. Ali bin Yazid Ash Shuda’iy adalah seorang yang lemah. Abu Hatim menyatakan ia tidak kuat dan munkar al hadis [Al Jarh Wat Ta’dil 6/209 no 1143]. Ibnu Hajar menyatakan ada kelemahan padanya [At Taqrib 1/705]. Disebutkan dalam Tahrir At Taqrib kalau Ali bin Yazid seorang yang dhaif [Tahrir At Taqrib no 4816]. Kemudian Hafsh bin Sulaiman adalah seorang yang matruk [At Taqrib 1/226 no 1411]. Abu Hatim, Nasa’i dan Muslim menyatakan ia matruk, Ibnu Main dan Nasa’i menyatakan “tidak tsiqah”. Ali bin Madini, Daruquthni dan Abu Zar’ah menyatakan dhaif. Bukhari berkata “ditinggalkan”. Shalih bin Muhammad mengatakan tidak ditulis hadisnya. Ibnu Khirasy menyatakan ia pendusta matruk dan pemalsu hadis [At Tahdzib juz 2 no 700].
  • Diriwayatkan dalam Fawaid Abu Bakar Asy Syafi’i no 4 dengan jalan sanad dari Mufadhdhal bin Fadhalah Al Qurasy dari ayahnya dari Ashim dari Zirr dari Ali. Sanad ini tidak tsabit sampai ke Ashim karena Mufadhdhal adalah seorang yang dhaif sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Hajar [At Taqrib 2/209].
  • Diriwayatkan dalam Fawaid Abu Bakar Asy Syafi’i no 5 dan Tarikh Ibnu Asakir 30/177 dengan jalan sanad dari Rawh bin Musafir dari Ashim dari Zirr dari Ali. Sanad inipun tidak tsabit sampai ke Ashim karena Rawh seorang yang sangat dhaif. Ibnu Main mengatakan tidak ditulis hadisnya tidak tsiqah dan dhaif. Bukhari berkata “ia ditinggalkan Ibnu Mubarak”. Abu Hatim, Abu Zar’ah dan As Saji menyatakan ia dhaif. Nasa’i berkata “tidak tsiqat”. Ahmad berkata “matruk”. Al Hakim berkata “ia meriwayatkan dari Al ‘Amasy hadis-hadis palsu”. Ibnu Thahir menyatakan ia pemalsu hadis [Lisan Al Mizan juz 2 no 1885]

Kesimpulannya riwayat Zirr bin Hubaisy dari Ali ini adalah riwayat yang sangat dhaif karena diriwayatkan oleh para perawi dhaif, matruk dan pemalsu hadis. Syaikh Al Albani keliru karena ia menilai perawinya hanya dari Ashim padahal sanad yang meriwayatkan sampai ke Ashim semuanya dhaif.

.

.

Hadis Ali RA Dengan Sanad Yang Sangat Dhaif

Hadis Ali RA ini ternyata juga diriwayatkan dengan beberapa jalan lain yang sangat dhaif yaitu riwayat Al Khatththab atau Abul Khaththab, riwayat Ashim bin Damrah, riwayat Hurmuz, riwayat Abu Mathar Al Juhani, riwayat Anas RA dan riwayat Jabir RA.

Riwayat Al Khaththab disebutkan dalam As Sunnah Ibnu Abi Ashim no 1419, Tarikh Ibnu Asakir 44/172 dan Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 12/11 dengan jalan sanad dari Zaid bin Hubab dari Musa bin Ubaidah dari Abu Mu’adz dari Al Khaththab atau Abul Khaththab dari Ali RA. Sanad ini sangat dhaif karena Abu Mu’adz dan Al Khaththab keduanya majhul [tidak dikenal] dan Musa bin Ubaidah Ar Rabdziy seorang yang dhaif. Ahmad menyatakan “tidak ditulis hadisnya dan ia munkar al hadis”. Ibnu Ma’in Tirmidzi, Nasa’i, Ali bin Madini, Al barqi, Ibnu Qani’ dan Ibnu Hibban menyatakan ia dhaif. Abu Zar’ah menyatakan “tidak kuat”. Abu Hatim berkata “munkar al hadis” [At Tahdzib juz 10 no 636]. Ibnu Hajar menyatakan ia dhaif [At Taqrib 2/226].

Riwayat Ashim bin Damrah disebutkan dalam Fawaid Abu Bakar Asy Syafi’i no 2 dan Tarikh Ibnu Asakir 30/177 dengan jalan sanad dari Hasan bin Umarah dari Abi Ishaq dari Ashim bin Damrah dari Ali RA. Sanad ini dhaif jiddan karena Hasan bin Umarah seorang perawi yang matruk. [At Taqrib 1/207 no 1268]

Riwayat Hurmuz disebutkan dalam Fawaid Abu Bakar Asy Syafi’i no 1 dan Tarikh Ibnu Asakir 30/178 dengan jalan sanad dari Ibrahim bin Fadhl Al Makhzumi dari Sulaiman bin Yazid dari Hurmuz dari Ali RA. Sanad ini dhaif jiddan karena Ibrahim bin Fadhl Al Makhzumi seorang yang matruk [At Taqrib 1/63 no 228]. Ahmad, Abu Hatim, Tirmidzi, Abu Zar’ah, Ibnu Ady dan As Saji menyatakan ia dhaif. Bukhari dan Nasa’i berkata “munkar al hadis”. Daruquthni berkata “matruk” [At Tahdzib juz 1 no 270]

Riwayat Abu Mathar Al Juhani disebutkan dalam Tarikh Ibnu Asakir 44/168 dengan jalan sanad dari Yunus bin Bakir dari Abu Ishaq Mukhtar At Taimiy dari Abu Mathar dari Ali. Sanad ini dhaif jiddan karena kelemahan Mukhtar bin Nafi’ Abu Ishaq dimana Abu Hatim berkata “munkar hadis” [Al Jarh Wat Ta’dil 8/311 no 1440] dan Abu Mathar Al Juhani seorang yang majhul seperti yang disebutkan Ibnu Hajar [Lisan Al Mizan juz 7 no 1150]

Riwayat Anas RA dari Ali disebutkan oleh Al Khatib dalam Tarikh Baghdad 10/355 no 5511 dengan jalan sanad dari Umar bin Washil dari Sahl bin Abdullah dari Muhammad bin Sawar dari Malik bin Dinar dari Hasan Bashri dari Anas RA dari Ali RA. Hadis ini maudhu’ dan sebagaimana yang dikatakan Al Khatib bahwa yang memalsukan hadis ini adalah Umar bin Washil [Mizan Al ‘Itidal juz 3 no 6242]

Riwayat Jabir RA dari Ali disebutkan dalam Tarikh Ibnu Asakir 30/178dan  Musnad Al Bazzar 2/152 no 460 dengan jalan sanad dari Ishaq bin Ziyad dari Abdullah bin Abdurrahman bin Ibrahim dari ayahnya dari Muhammad bin Al Munkadir dari Jabir RA dari Ali RA. Sanad hadis ini dhaif jiddan karena kelemahan Abdullah bin Abdurrahman bin Ibrahim dan ayahnya. Abdullah bin Abdurrahman bin Ibrahim tidak diikuti hadisnya. Al Uqaili menyatakan majhul. Ia meriwayatkan dari ayahnya dari Muhammad bin Al Munkadir hadis-hadis mungkar [Lisan Al Mizan juz 3 no 1279]. Ayahnya Abdurrahman bin Ibrahim dinyatakan dhaif oleh Daruquthni. Nasa’i dan Abu Hatim berkata “tidak kuat”. Abu Dawud berkata “munkar al hadis”. Al Uqaili, As Saji dan Ibnu Jarud menyatakan ia dhaif [Lisan Al Mizan juz 3 no 1587]

.

.

.

Hadis Anas RA

Hadis Anas RA masyhur diriwayatkan oleh Muhammad bin Katsir dari Al Auza’i dari Qatadah dari Anas. Diriwayatkan dalam Sunan Tirmidzi 5/610 no 3664, As Sunnah Ibnu Abi Ashim no 1420, Fadhail Shahabah no 1429, Syarh Musykil Al Atsar Ath Thahawiy 5/217 no 1963, Asy Syariah Al Ajurry no 1287, Mu’jam Al Awsath 7/68 no 6873, Mu’jam As Shaghir 2/173 no 1976, Al Mukhtarah Adh Dhiya Al Maqdisi no 2508, 2509 dan 2510, Tarikh Ibnu Asakir 7/118 dan Tarikh Ibnu Asakir 30/179-181 semuanya dengan jalan sanad Muhammad bin Katsir dari Al Auza’i dari Qatadah dari Anas.

Sanad riwayat ini dhaif karena Muhammad bin Katsir Ash Shan’ani. Ia dinyatakan dhaif oleh Ahmad bin Hanbal. Terkadang Ahmad menyatakan dhaif jiddan, terkadang menyatakan “munkar al hadis”. Nasa’i berkata “tidak kuat dan banyak melakukan kesalahan”. Bukhari berkata “sangat lemah”. Ibnu Ma’in dan Ibnu Sa’ad menyatakan ia tsiqat. Shalih bin Muhammad dan As Saji berkata “jujur tetapi banyak melakukan kesalahan”. Abu Hatim menyatakan ia seorang yang shalih tetapi dalam hadisnya terdapat hal-hal yang diingkari. Ibnu Ady berkata “ia memiliki hadis-hadis yang tidak diikuti oleh seorangpun” [At Tahdzib juz 9 no 685]. Ibnu Hajar berkata “ia seorang yang jujur tetapi banyak melakukan kesalahan [At Taqrib 2/127] dan dikoreksi dalam Tahrir At Taqrib kalau Muhammad bin Katsir seorang yang dhaif tetapi dapat dijadikan I’tibar [Tahrir At Taqrib no 6251]

Hadis Muhammad bin Katsir ini telah ditolak oleh para ulama diantaranya Ali bin Madini yang mencela Muhammad bin Katsir yang meriwayatkan hadis “Abu Bakar dan Umar Sayyid kuhul ahli surga” dengan jalan Qatadah dari Anas [At Tahdzib juz 9 no 685]. Bukhari berkata “hadis ini mungkar” [Al Mukhtarah Adh Dhiya Al Maqdisi no 2510].

Muhammad bin Katsir telah melakukan banyak kesalahan dalam sanad diantaranya sanad dari Al Auza’i dari Qatadah dari Anas. Muhammad bin Katsir pernah meriwayatkan hadis lain dengan sanad dari Al Auza’i dari Qatadah dari Anas dimana Bukhari berkata “hadis mungkar dan khata’ [salah] dan hadis ini adalah hadis Qatadah dari Muthrif dari Imran bin Hushain RA” [Al Ilal Tirmidzi no 382]. Jadi sanad Muhammad bin Katsir dari Al Auza’i dari Qatadah dari Anas jelas tidak bisa dijadikan hujjah karena termasuk dalam kesalahan yang ia lakukan apalagi ia menyendiri dalam meriwayatkan hadis ini dengan jalan Al Auza’i dari Qatadah dari Anas.

Adh Dhiya Al Maqdisi dalam Al Mukhtarah no 2260 menyebutkan hadis “Abu Bakar dan Umar Sayyid kuhul ahli surga” riwayat Anas RA dengan jalan sanad dari Abu Ya’la dari Sahl bin Zanjalah Ar Razi dari Abdurrahman bin Umar dari Abdullah bin Yazid Al Abdi dari Anas RA. Sanad riwayat ini dhaif jiddan karena Abdurrahman bin Umar dan Abdullah bin Yazid Al Abdi keduanya majhul tidak ditemukan biografinya.
.

.

.

Hadis Abu Juhaifah RA

Hadis riwayat Abu Juhaifah RA ini bersumber dari Malik bin Mighwal dan riwayat ini tidaklah tsabit dari Malik bin Mighwal karena diriwayatkan oleh Khunais bin Bakr bin Khunais dan Abdul Quddus bin Bakr bin Khunais, keduanya telah diperbincangkan kedudukannya ditambah lagi riwayat keduanya menyelisihi riwayat para perawi tsiqah dari Malik bin Mighwal.

Disebutkan dalam Al Kuna Ad Daulabiy 1/120 dan Shahih Ibnu Hibban 15/330 no 6904 dengan jalan sanad dari Muhammad bin Aqil bin Khuwaylid dari Khunais bin Bakr bin Khunais dari Malik bin Mighwal dari Aun bin Abi Juhaifah dari Ayahnya secara marfu’. Diriwayatkan pula dalam Mu’jam Al Awsath 4/272 no 4174 dengan jalan dari Zakaria bin Yahya dari Khunais bin Bakr bin Khunais dari Malik bin Mighwal.

Riwayat Khunais bin Bakr dari Malik ini memiliki kelemahan yaitu Muhammad bin Aqil bin Khuwaylid seorang yang tsiqat tetapi melakukan kesalahan dalam meriwayatkan hadis para perawi Iraq dan Khunais termasuk perawi Iraq [Ats Tsiqat juz 9 no 15633] sedangkan Zakaria bin Yahya adalah perawi yang majhul. Kemudian Khunais bin Bakr sendiri dinyatakan dhaif oleh Shalih bin Jazarah dan Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [Lisan Al Mizan juz 2 no 1693]. Adz Dzahabi memasukkannya sebagai perawi dhaif dalam Al Mughni Adh Dhu’afa seraya mengutip pendhaifan Shalih bin Jazarah [Al Mughni 1/215 no 1969]

Khunais bin Bakr memiliki mutaba’ah dari saudaranya Abdul Quddus bin Bakr bin Khunais. Disebutkan dalam Sunan Ibnu Majah no 100 dengan jalan sanad dari Abu Syu’aib Shalih bin Al Haitsam Al Wasithi dari Abdul Quddus bin Bakr bin Khunais dari Malik bin Mighwal dari Aun bin Abi Juhaifah dari Abu Juhaifah RA. Riwayat ini dhaif karena Abdul Quddus bin Bakr bin Khunais. Abu Hatim menyatakan “tidak ada masalah padanya” dan Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Ahmad, Ibnu Ma’in dan Abi Khaitsamah menolak hadisnya [At Tahdzib juz 6 no 707]. Adz Dzahabi menyebutkan bahwa Abdul Quddus bin Bakr bin Khunais telah disebutkan oleh Bukhari dalam kitabnya Adh Dhu’afa. [Mizan Al ‘Itidal juz 2 no 5155]. Disebutkan dalam Tahrir At Taqrib kalau ia seorang yang dhaif tetapi dapat dijadikan i’tibar [Tahrir At Taqrib no 4144]

Keduanya Khunais dan Abdul Quddus telah menyelisihi para perawi tsiqat yang meriwayatkan hadis ini dari Malik bin Mighwal. Ahmad bin Abdullah bin Yunus, Husyaim bin Basyir dan Syu’aib bin Harb ketiganya meriwayatkan hadis ini dari Malik bin Mighwal dari Sya’bi bukan dari Aun bin Abi Juhaifah

  • Ahmad bin Abdullah bin Yunus seorang hafiz yang tsiqat [At Taqrib 1/39] meriwayatkan hadis ini dari Malik bin Mighwal dari Asy Sya’bi [Fadhail As Shahabah no 609 dan 710]
  • Husyaim bin Basyir seorang yang tsiqat tsabit [At Taqrib 2/269] meriwayatkan hadis ini dari Malik bin Mighwal dari Asy Sya’bi [Fadhail Shahabah no 709]
  • Syu’aib bin Harb seorang yang tsiqat [At Taqrib 1/419] meriwayatkan hadis ini dari Malik bin Mighwal dari Asy Sya’bi [Ansab Al Asyraf 3/309]

Riwayat Malik bin Mighwal yang tsabit adalah riwayatnya dari Asy Sya’bi sedangkan riwayat Malik bin Mighwal dari Aun bin Abi Juhaifah sanadnya mungkar karena diriwayatkan oleh perawi yang dhaif dan bertentangan dengan riwayat para perawi yang tsiqat.

.

.

.

Hadis Abu Hurairah RA

Hadis Abu Hurairah ini disebutkan dalam Fadhail Shahabah no 200 dan no 705, Tarikh Ibnu Asakir 30/176 dengan jalan sanad dari Abu Qutaibah atau Salam bin Qutaibah bin Amru Al Bahiliy dari Yunus bin Abi Ishaq dari Sya’bi dari Abu Hurairah RA secara marfu’

حدثنا عبد الله قال حدثني محمد بن بشار بندار قثنا سالم بن قتيبة قثنا يونس بن أبي إسحاق عن الشعبي عن أبي هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لأبي بكر وعمر هذان سيدا كهول أهل الجنة

 

Telah menceritakan kepada kami Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Basysyar Bindar yang berkata telah menceritakan kepada kami Salam bin Qutaibah yang berkata telah menceritakan kepada kami Yunus bin Abi Ishaq dari Sya’bi dari Abu Hurairah yang berkata Rasulullah SAW bersabda “Abu Bakar dan Umar Sayyid Kuhul Ahli surga” [Fadhail Shahabah no 200]

Sebagian pengikut salafy berhujjah dengan hadis Abu Hurairah dan menyatakan hadis ini hasan. Sebenarnya hadis ini tidaklah tsabit karena sanadnya khata’ [salah]. Yunus bin Abi Ishaq meriwayatkan hadis ini dari Sya’bi dari Ali bukan dari Abu Hurairah. Yang melakukan kesalahan dalam sanad ini adalah Salam bin Qutaibah dan memang ia menyendiri meriwayatkan hadis ini dari Abu Hurairah padahal para perawi tsiqah yang lebih hafizh darinya seperti Waki’ bin Jarrah dan Ubaidillah bin Musa telah meriwayatkan hadis ini dari Yunus bin Abi Ishaq dari Sya’bi dari Ali.

  • Disebutkan dalam Mu’jam Ibnu Arabi no 2024 dengan sanad dari Abdurrazaq bin Manshur bin Aban dari Ubaidillah bin Musa dari Yunus bin Abi Ishaq dari Sya’bi dari Ali secara marfu’. Ubaidillah bin Musa seorang yang tsiqat [At Taqrib 1/640]
  • Disebutkan dalam Musnad Abu Ya’la no 624 dengan sanad dari Zuhair dari Waki’ bin Jarrah dari Yunus bin Abi Ishaq dari Sya’bi dari Ali secara marfu’. Waki’ bin jarrah seorang tsiqat hafizh [At Taqrib 2/284]

Salam bin Qutaibah telah menyelisihi para perawi tsiqat yaitu Ubaidillah bin Musa dan Waki’ bin Jarrah dimana mereka lebih tsiqat dan lebih hafizh darinya. Apalagi Salam bin Qutaibah sering melakukan kesalahan. Abu Hatim menyatakan kalau Salam bin Qutaibah tidak ada masalah padanya [laisa bihi ba’sun] melakukan banyak kesalahan [katsirul waham] dan ditulis hadisnya [Al Jarh Wat Ta’dil 4/266 no 1148]. Diantara kesalahan yang pernah dilakukan Salam bin Qutaibah adalah ia salah dalam menyampaikan sanad hadis. Ia pernah meriwayatkan kepada Amru bin Ali hadis Syu’bah dari Abi Imran dari Anas kemudian Abu Hafs Amru bin Ali menceritakan kepada Yahya bin Said Al Qaththan dan Yahya mencela Salim bin Qutaibah bahwa ia tidak dapat dijadikan pegangan karena sanad yang benar adalah dari Syu’bah dari Abi Maslamah dari Anas [Adh Dhu’afa Al Uqaili 2/166 no 680]. Jadi Salam bin Qutaibah tidak bisa dijadikan pegangan jika ia menyendiri dalam menyelisihi para perawi yang lebih tsiqat dan hafizh dari dirinya.

.

.

.

Hadis Jabir RA

Hadis Jabir RA diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq 44/173 dan Ath Thabrani dalam Al Awsath 8/340 no 8808 dengan sanad yang dhaif karena Syaikh Ath Thabrani yaitu Miqdam bin Dawud seorang yang dhaif.

حدثنا مقدام ثنا عمي سعيد بن عيسى نا سفيان بن عيينة عن جعفر بن محمد عن أبيه عن جابر بن عبد الله قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم أبو بكر وعمر سيدا كهول أهل الجنة من الأولين والآخرين لاتخبرهما ياعلي

 

Telah menceritakan kepada kami Miqdam yang berkata telah menceritakan kepada kami pamanku Sa’id bin Isa yang berkata telah menceritakan kepada kami Sufyan bin Uyainah dari Ja’far bin Muhammad dari ayahnya dari Jabir bin Abdullah yang berkata Rasulullah SAW bersabda “Abu Bakar dan Umar Sayyid kuhul ahli surga dari kalangan terdahulu dan kemudian. Jangan beritahukan hal ini pada mereka wahai Ali “ [Mu’jam Al Awsath 8/340 no 8808]

Miqdam bin Dawud adalah Syaikh Thabrani yang dhaif. Nasa’i berkata “tidak tsiqah”. Ibnu Yunus dan yang lainnya berkata “ia dibicarakan”. Daruquthni menyatakan ia dhaif [Lisan Al Mizan juz 6 no 304]. Al Haitsami menyatakan ia dhaif [Majma’ Az Zawaid 4/534 no 7543]. Abul Wafa’ menyatakan Miqdam tertuduh memalsukan hadis [Kasyf Al Hatsits no 782]

.

.

Hadis Abu Sa’id Al Khudri RA

Diriwayatkan oleh Ath Thabrani dalam Al Awsath 4/359 no 4431, Al Bazzar dalam Kasyf Al Astaar 3/168 no 2492, Ath Thahawi dalam Syarh Musykil Al Atsar no 1966 dengan jalan sanad dari Ali bin Aabis dari Abdul Malik bin Abi Sulaiman, Abu Jahhaf dan Katsir An Nawaa yang ketiganya meriwayatkan dari Athiyah Al Aufy dari Abu Sa’id Al Khudri RA. Hadis ini dhaif karena Ali bin Aabis Al Azraq. Ibnu Ma’in, Nasa’i, Ibnu Ady dan Al Azdi menyatakan ia dhaif. [At Tahdzib juz 7 no 571]. Ibnu Hajar menyatakan ia dhaif [At Taqrib 1/697]
.

.

Hadis Abdullah bin Abbas RA

Diriwayatkan dalam Mu’jam Ibnu Arabi no 2027, Min Hadis Khaitsamah bin Sulaiman no 171, Asy Syari’ah  Al Ajurri no 1288, Mu’jam Masyaikh Muhammad bin Abdul Wahid no 28, dan Tarikh Baghdad 11/443 dan 16/318, Tarikh Ibnu Asakir 30/181-182 semuanya dengan jalan sanad dari Ubaidillah bin Musa dari Thalhah bin Amru dari  Atha’ dari Ibnu Abbas. Sanad ini dhaif jiddan karena Thalhah bin Amru bin Utsman Al Hadhrami seorang yang matruk. Ibnu Ma’in, Abu Dawud, Ibnu Saad, Ali bin Madini, Abu Zar’ah, Al Ijli dan Daruquthni menyatakan Thalhah bin Amru dhaif. Nasa’i dan Ali bin Junaid berkata “matruk”.Bukhari berkata “tidak ada apa-apanya”. Abu Hatim dan Al Bazzar berkata “tidak kuat”. Ibnu Hibban menyatakan tidak halal menulis hadis darinya [At Tahdzib juz 5 no 38]. Ibnu Hajar menyatakan ia matruk [At Taqrib 1/451]

.

.

Hadis Abdullah bin Umar RA

Diriwayatkan dalam Tarikh Ibnu Asakir 44/172, Amali Ibnu Bushran no 961, Adh Dhu’afa Al Uqaili 2/345 no 946, Kasyf Al Astaar Zawaid Musnad Al Bazzar 3/168 no 2492 dan Tarikh Jurjaan Hamzah bin Yusuf As Sahmiy no 99 dengan jalan sanad dari Abdurrahman bin Malik bin Mighwal dari Ubaidillah bin Umar dari Nafi’ dari Ibnu Umar RA secara marfu’. Sanad ini maudhu’ karena Abdurrahman bin Malik bin Mighwal. Abu Dawud berkata “ia pendusta pemalsu hadis”. Nasa’i dan Ibnu Ma’in berkata “tidak tsiqat”. Ahmad, Daruquthni dan Abu Hatim berkata “matruk”. Al Jurjani, Ibnu Ady, As Saji, Ibnu Jarud dan Ibnu Syahin menyatakan ia dhaif. Al Hakim dan Abu Said An Naqasy berkata “ia meriwayatkan dari Ubaidillah bin Umar dan Al ‘Amasy hadis-hadis palsu” [Lisan Al Mizan juz 3 no 1676]
.

.

Hadis Malik bin Rabi’ah RA

Diriwayatkan dalam Fadhail Shahabah no 563 dan Mu’jam As Shahabah Ibnu Qani’ 6/53 no 1551 oleh Malik bin Rabi’ah Abu Maryam seorang sahabat Nabi [Tarikh Al Kabir juz 7 no 1280]

حدثنا محمد بن يونس قثنا عبد الرحمن بن جبلة قثنا العباس بن محمد الهلالي قال نا بريد بن أبي مريم عن أبيه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول أبو بكر وعمر سيدا كهول أهل الجنة من الأولين والآخرين ما خلا النبيين والمرسلين

 

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yunus yang berkata telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Jabalah yang berkata telah menceritakan kepada kami Abbas bin Muhammad Al Hilaliy yang berkata telah menceritakan kepada kami Buraid bin Abi Maryam dari ayahnya [Abi Maryam] yang mendengar Rasulullah SAW bersabda “Abu Bakar dan Umar Sayyid kuhul ahli surga dari kalangan terdahulu dan kemudian kecuali para Nabi dan Rasul” [Fadhail Shahabah no 563]

Hadis Abu Maryam Malik bin Rabi’ah ini maudhu’ karena Muhammad bin Yunus Al Kadimi yang dikatakan pemalsu hadis dan Abbas bin Muhammad Al Hilali yang majhul [tidak ditemukan biografinya]. Muhammad bin Yunus Al Kadimi seorang yang dhaif matruk dan tertuduh pemalsu hadis. Ibnu Ady, Ibnu Hibban dan Daruquthni menyatakan ia memalsu hadis. Abu Dawud menyatakan ia pendusta. Adz Dzahabi menyatakan ia matruk [Mizan Al ‘Itidal juz 4 no 8353]. Daruquthni juga menyatakan ia matruk [Su’alat Al Hakim no 173].
.

.

Hadis Hasan RA dan Husain RA

Hadis Hasan dan Husain ini diriwayatkan dalam Tarikh Ibnu Asakir. Dalam Tarikh Ibnu Asakir 14/131-132 disebutkan dengan jalan sanad dari Muhammad bin Yunus Al Kadimi

نا أبو العباس محمد بن يونس القرشي نا محمد بن عاصم السلمي نا هارون بن مسلم الحنائي عن القاسم بن عبد الرحمن عن محمد بن علي عن أبي محمد الأنصاري عن الحسين بن علي قال سمعت جدي رسول الله (صلى الله عليه وسلم) يقول لا تسبوا أبا بكر وعمر فإنهما سيدا كهول أهل الجنة من الأولين والآخرين إلا النبيين والمرسلين ولا تسبوا الحسن والحسين فإنهما سيدا شباب أهل الجنة من الأولين والآخرين ولا تسبوا عليا فإن من سب عليا فقد سبني ومن سبني فقد سب الله ومن سب الله عذبه الله

Telah menceritakan kepada kami Abu Abbas Muhammad bin Yunus Al Qurasy yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ashim As Sulami yang menceritakan kepada kami Harun bin Muslim Al Huna’iy dari Qasim bin Abdurrahman dari Muhammad bin Ali dari Abi Muhammad Al Anshari dari Husain bin Ali yang berkata aku mendengar kakekku Rasulullah SAW bersabda “Janganlah kalian mencaci Abu Bakar dan Umar karena mereka berdua adalah Sayyid kuhul ahli surga dari kalangan terdahulu dan kemudian kecuali para Nabi dan Rasul. Janganlah kalian mencaci Hasan dan Husain karena mereka berdua adalah Sayyid pemuda ahli surga dari kalangan terdahulu dan kemudian janganlah mencaci Ali, barang siapa yang mencaci Ali maka ia telah mencaciku dan siapa yang mencaciku ia telah mencaci Allah dan siapa yang mencaci Allah akan diazab oleh Allah SWT” [Tarikh Ibnu Asakir 14/131-132]

Hadis Husain bin Ali di atas adalah hadis maudhu’ karena Muhammad bin Yunus Al Qurasy Al Kadimi adalah seorang pemalsu hadis. Hadis dengan matan di atas juga diriwayatkan oleh Hasan bin Ali RA sebagaimana yang disebutkan dalam Tarikh Ibnu Asakir 30/178-179  juga dengan jalan sanad dari Harun bin Muslim Al Huna’iy dari Qasim bin Abdurrahman dari Muhammad bin Ali dari Abu Muhammad Al Anshari dari Hasan bin Ali RA secara marfu’. Sanad ini dhaif karena Qasim bin Abdurrahman Al Anshari. Abu Hatim menyatakan ia dhaif dan hadisnya mudhtharib. Abu Zar’ah menyatakan “munkar al hadis” [Al Jarh Wat Ta’dil 7/112 no 648]

.

.

.

Kesimpulan

Setelah pembahasan yang cukup panjang mengenai sanad hadis “Abu Bakar dan Umar Sayyid Kuhul ahli surga” maka dapat disimpulkan kalau hadis ini adalah hadis yang dhaif. Mari lihat kembali ringkasannya

  • Hadis Ali RA diriwayatkan oleh Al Harits [dhaif], Sya’bi [dhaif mudhtharib], Zirr [dhaif], Hasan bin Ali [dhaif munkar], Ali bin Husain [dhaif jiddan], Anas [maudhu’], Jabir [dhaif jiddan], Khaththab [dhaif jiddan], Hurmuz [dhaif jiddan], Ashim bin Damrah [dhaif jiddan]. Abu Mathar Al Juhani [dhaif jiddan]
  • Hadis Anas RA riwayat Muhammad bin Katsir [dhaif munkar]
  • Hadis Abu Juhaifah RA riwayat Malik bin Mighwal [dhaif munkar]
  • Hadis Abu Hurairah RA riwayat Yunus dari Sya’bi [sanadnya khata’ atau salah]
  • Hadis Jabir RA riwayat Miqdam bin Dawud [dhaif jiddan]
  • Hadis Abu Sa’id Al Khudri riwayat Ali bin Abis [dhaif]
  • Hadis Abdullah bin Abbas RA riwayat Thalhah bin Amru [dhaif jiddan]
  • Hadis Abdullah bin Umar RA riwayat Abdurrahman bin Malik bin Mighwal [maudhu’]
  • Hadis Malik bin Rabi’ah RA riwayat Muhammad bin Yunus Al Kadimi [maudhu’]
  • Hadis Husain bin Ali RA riwayat Muhammad bin Yunus Al Kadimi [maudhu’]
  • Hadis Hasan bin Ali RA riwayat Qasim bin Abdurrahman Al Anshari [dhaif]

Sanad terkuat hadis ini adalah riwayat Asy Sya’bi dari Ali yang terputus sanadnya [inqitha’] dan terbukti mengalamai idhthirab [kekacauan] dimana Sya’bi terkadang meriwayatkan dari Al Harits dari Ali dari Rasulullah SAW, terkadang meriwayatkan dari Ali dari Rasulullah SAW [tanpa menyebutkan Al Harits] dan terkadang Sya’bi langsung meriwayatkan dari Rasulullah SAW [tanpa menyebutkan Al Harits dan Ali]. Sanad yang terkuat ini pun sudah jelas dhaif dan tidak diragukan lagi dengan mengumpulkan jalan-jalannya maka disimpulkan bahwa tidak ada satupun hadis ini yang selamat dari cacat, semuanya berderajat dhaif, dhaif jiddan bahkan maudhu’. Apalagi diketahui kalau Ahli surga itu adalah syabab bukannya kuhul sebagaimana yang diriwayatkan dalam hadis yang shahih dan jayyid. Jadi hadis ini memiliki sanad yang dhaif dengan matan yang bathil atau mungkar maka kedudukannya sudah jelas dhaif dan tidak bisa dijadikan hujjah.