Uncategorized

Rasulullah SAW menegaskan bahwa khalifah umat Islam yang sah sepeninggal beliau adalah dari kalangan Ahlul Bait dan keturunannya… Jadi Ajaran Aswaja Sunni Bahwa “Nabi SAW Tidak Menunjuk Pengganti adalah ajaran buatan para Raja zalim”


بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

ya_ali

ada hadis Dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Rasulullah bersabda:
وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً
“Barangsiapa yang mati dan dilehernya tidak ada bai’at maka dia mati dalam keadaan jahiliyah.” (HR. Muslim No. 1851, Ath Thabarani dalam Al Kabir No. 769, dari Muawiyah, Alauddin Al Muttaqi Al Hindi dalam Kanzul ‘Ummal No. 14810, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 16389)
.
Maka, kematian orang yang tidak berbai’at kepada khalifah –jika dia ada- bermakna:
-    Matinya seperti orang yang mati pada zaman jahiliyah
–    Bukan dia-nya yang jahiliyah dan kafir
–    Dihitung sebagai orang yang bermaksiat
.
Para sahabat dan tabi’in ada yang tidak berbai’at
Ada pun tidak berbai’at kepada khalifah al ‘uzhma, telah terjadi pada masa-masa awal Islam. Imam Ath Thabari menceritakan, bahwa Ali Radhiallah ‘Anhu berkata pada Sa’ad bin Abi Waqqash Radhiallahu ‘Anhu: “Berbai’atlah Engkau!” Sa’ad menjawab: “Aku tidak akan berbai’at sebelum orang-orang semua berbai’at. Tapi demi Allah tidak ada persoalan apa-apa bagiku.” Mendengar itu Ali berkata: “Biarkanlah dia.”
.
Lalu Ali menemui Ibnu Umar  dan berkata yang sama, maka jawab Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma: “Aku tidak akan berbai’at sebelum orang-orang semua berbai’at.” Jawab Ali: “Berilah aku jaminan.” Jawab Ibnu Umar : “Aku tidak punya orang yang mampu memberi jaminan.” Lalu Al Asytar berkata: “Biar kupenggal lehernya!” Jawab Ali : “Akulah jaminannya, biarkan dia.” (Imam Ibnu Hazm, Al Fashl fil Milal wal Ahwa’ An Nihal, 4/103)
.
Imam Al Waqidi mencatat ada 7 orang kibarus shahabah   yang tidak memberikan bai’at pada Khalifah Ali Radhiallahu ‘Anhu  yaitu: Sa’ad bin Abi Waqqash, AbdullaH bin Umar, Shuhaib bin Sinan, Zaid bin Tsabbit, Muhammad bin Maslamah, Salamah bin Aqwa’ dan Usamah bin Zaid  Radhiallahu ‘Anhum. (Tarikh Ar Rusul, 4/429)

Satu persoalan utama yang sering terlepas pandang oleh umat Islam adalah sejak dari masa dini Islam lagi adalah kasus penting, perlunya keberadaan ‘Penunjuk Jalan’ atau Imam yang mana telah disabdakan oleh Rasul Junjungan saaw:

Ibn Abu Asim di dalam kitab al-Sunnah, halaman 489 meriwayatkan hadis ini:

من مات وليس عليه إمام مات ميتة جاهلية

Barangsiapa yang mati tanpa memiliki Imam, maka matinya adalah mati Jahiliyyah.

al-Albani di dalam komentarnya tentang hadis ini, menulis:

إسناده حسن ورجاله ثقات

Isnadnya hasan dan semua perawinya Tsiqah.

Ibn Hibban juga meriwayatkan di dalam Sahihnya, jilid 7 hlm 49:

من مات بغير إمام مات ميتة جاهلية

Barangsiapa mati tanpa Imam, matinya adalah mati Jahiliyyah.

Imam Muslim meriwayatkan di dalam sahihnya, kitab al Imarah:

“Barangsiapa mati sedangkan di lehernya tak ada bai’ah (kepada Khalifah) maka dia mati dalam keadaan mati jahiliyah.”

Maka, hadis ini adalah hadis yang sahih dan dipersetujui oleh semua kelompok Islam.

Walaupun terdapat perbedaan pandangan tentang maksudnya, kesahihan dan terkenalnya hadis ini diperakui sedemikian rupa hingga para pemimpin yang zalim pun gagal dalam menafikannya, makanya mereka mencari ulah dalam memutarbelitkan maknanya.

Allamah Amini berkata setelah mengutip hadis ini dari sumber-sumber Sunni yang sahih: Adalah sebuah kenyataan abadi bahawa sumber-sumber Sunni yang sahih telah membuktikannya dan umat tidak memiliki pilihan kecuali tunduk patuh kepadanya, dan keislaman seseorang itu tidak menjadi sempurna kecuali dia menerima konsep dan kandungan hadis ini

.

Konsepnya menjelaskan tentang kesudahan yang dahsyat bagi mereka yang matinya tanpa Imam, dan orang seperti itu adalah jauh dari keselamatan dan rahmat. Kematian zaman Jahiliyyah adalah sebuah kematian yang mengerikan, iaitu kematian atheisme dan tanpa iman.

Bagi menjelaskan hadis ini, maksud kata Jahiliyyah haruslah terlebih dahulu difahami.

Dari sudut pandang Al Quran dan hadis, zaman kenabian Rasul saaw adalah zaman ilmu, manakala zaman sebelum misi kenabian adalah zaman Jahiliyyah, iaitu, sebelum misi kerasulan Baginda saaw, umat tidak mengetahui cara dan jalan untuk mengenali realiti-realiti kewujudan disebabkan oleh penyimpangan pada agama-agama yang diwahyukan dan apa yang jelas pada masyarakat saat itu atas nama agama adalah tidak lebih dari tahyul dan ilusi

.

Bahkan agama-agama yang sudah diselewengkan dan penuh dengan kepercayaan-kepercayaan ilusi ini, telah dijadikan alat oleh segelintir pihak yang kaya dan berkuasa saat itu untuk menguasai dan menekan masyarakat awam, sebuah realiti yang dirakam kemas dalam sejarah.

Misi suci Rasul saaw adalah permulaan bagi era ilmu pengetahuan. Misi dasar dan utama Rasul saaw adalah memerangi kepercayaan tahyul dan penyimpangan dan menjelaskan pada masyarakat tentang kebenaran.

MENGENALI IMAM YANG MANA?

Dengan sedikit pertimbangan terhadap kandungan hadis yang kita bicarakan ini dan atas apa yang kita bicarakan di atas, langsung tidak membuka ruang keraguan buat kita untuk mencari jawaban pada persoalan yang dikemukakan: Imamah Imam yang manakah yang menjamin keberlangsungan Islam yang murni, yang jika diabaikan oleh umat, bisa menjerumuskan mereka pada status Jahiliyyah?

Mungkinkah yang dimaksudkan oleh hadis suci ini adalah mentaati siapapun yang berkuasa untuk mengurus umat yang kita diwajibkan taat dan patuh, jika mana kita ingkar, akan mengakibatkan kita mati Jahiliyyah, tanpa peduli samada pemimpin itu bejat dan menyeleweng, atau sebagaimana yang disebut oleh Al Quran:

“Imam-imam yang mengajak orang ke neraka”. (QS. al-Qashash: 41)

Menjadi bukti bahawa semua pemimpin yang menyeleweng sepanjang sejarah Islam telah menggunakan hadis ini guna melegalisasikan kepemimpinan dan mengukuhkan penguasaan mereka ke atas umat. Bahkan ulama-ulama yang biasa mendatangi istana para Raja dan para pendakwah di istana-istana menterjemahkan hadis Nabi saaw ini lalu mengalungkannya ke leher para pemerintah yang menyeleweng ini. Adalah jelas, perbuatan mereka itu bukanlah disebabkan oleh salahfaham mereka tentang maksud sebenar akan hadis ini, sebaliknya ia adalah mainan kata semata-mata.

Adalah sukar untuk kita percaya, sebagaimana yang dijelaskan di dalam Syarah Nahjul Balaghah oleh Ibn Abi al Hadid, bahawa Abdullah ibn Umar enggan membaiah Amirul Mukminin Ali bin Abi Talib as disebabkan oleh kesalahfahaman dan tidak memiliki pengetahuan mendalam, namun berpegang teguh pada hadis “Barangsiapa mati tanpa Imam…” yang dia riwayatkan sendiri lalu, tanpa membuang waktu telah pergi bertemu dengan Hajjaj bin Yusuf pada malam hari untuk memberikan bai’ahnya kepada Abdul Malik bin Marwan, sang Khalifah…kerana dia tidak mahu melalui malamnya tanpa adanya Imam!

Namun, apakah orang yang zalim dan kejam seperti para pemimpin dari Bani Umayyah dan Bani Abbassiyah layak untuk digelar Imam?

Allah SWT berfirman:

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: ” (Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim”.
QS. al-Baqarah (2) : 124

Dalam ayat yang kami bawakan ini, jelas, Imam tidak bisa disandang oleh mereka yang zalim, itu janji Allah.

Imamah adalah satu janji Allah, dikurniakanNya hanya kepada orang yang adil, zuhud dan suci maksum. Andai para Imam tidak memiliki ciri ciri kemaksuman ini, pastilah mereka terdedah pada kesalahan dan akan menjerumuskan umat pada kesalahan juga. Ini bertentangan dengan firman Allah yang berikut:

a) Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolongpun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.
QS. Hud (11) : 113

b) Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antara mereka.
QS. al-Insan (76) : 24

Dalam kedua dua ayat di atas, Allah telah memerintahkan kita agar jangan cenderung pada orang yang zalim dan jangan mengikuti orang yang berdosa. Maka, tanggapan kelompok jumhur bahawa para Khalifah wajib ditaati tanpa bantahan adalah bertentangan dengan perintah Allah dalam ayat ayat di atas.

Andaikata Imam bisa melakukan kesalahan, umat sendiri akan turut melakukan kesalahan kerana mengikuti Imam yang salah. Hal seperti ini tidak bisa diterima memandangkan kepatuhan dalam dosa adalah suatu dosa, dilarang dan bertentangan dengan syariah. Tambahan pula, Imam akan dipatuhi dan diingkari pada masa yang sama dan ini adalah mustahil.

Kepercayaan kelompok Jumhur bahawa umatlah yang memilih pemimpin atau Imam juga adalah bertentangan dengan firman Allah berikut:

a) Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilih-Nya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia).
QS. al-Qashash (28) : 68

b) Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah.
QS. al-Anbiya (21) : 73

c) Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.
QS. as-Sajdah (32) : 24

Ayat ayat di atas dengan jelas membuktikan bahawa para pemimpin atau Imam adalah dipilih oleh Allah sendiri, dan ini berlawanan dengan kepercayaan jumhur.

Lalu siapakah para Imam yang Allah pilih ini yang jika kita tidak mengenalnya, maka mati kita adalah matinya jahiliyah?

Mari kita telusuri hadis suci Nabi saaw untuk mendapatkan gambaran jelas tentang hal ini.

الْأَئِمَّةُ مِنْ قُرَيْشٍ .
“ Para imam itu dari suku Quraisy.”

Hadits di atas (Al-a`immatu min Quraisy) diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dalam Al-Musnad (11859) dari Anas bin Malik dan Abu Barzah Al-Aslami (18941); An-Nasa`i dalam As-Sunan Al-Kubra (5942); Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf dari Anas (54/8) dan Ali bin Abi Thalib (54/17); Abdurrazaq dalam Al-Mushannaf dari Ali (19903); Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (7061) dari Ali; Ath-Thabarani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir dari Anas (724) dan dalam Ash-Shaghir dari Ali (426); Al-Baihaqi dalam Ma’rifatu As-Sunan wa Al-Atsar dari Anas (1595); Ath-Thayalisi dalam Al-Musnad (957) dari Abu Barzah dan Anas (2325); Al-Khallal dalam As-Sunnah (34) dari Salman Al-Farisi dan Ali (64); Ibnu Abi Ashim dalam As-Sunnah (929) dari Anas dan Abu Barzah (934); Ar-Ruyani dalam Al-Musnad (746, 750) dari Abu Barzah; Abu Ya’la Al-Maushili dalam Al-Mu’jam (155); Ibnul A’rabi dalam Al-Mu’jam (2259) dari Ali; Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq (4635) dari Anas; dan Ibnu Adi dalam Al-Kamil (biografi Ibrahim bin Athiyah Al-Wasithi) dari Anas.

Tentang sanadnya, Imam Al-Haitsami berkata, “Diriwayatkan Ahmad, Abu Ya’la, Ath-Thabarani dalam Al-Awsath, dan Al-Bazzar ( Dalam riwayat Al-Bazzar dengan lafal, “Al-Mulku fi Quraisy.”)

Para perawi Ahmad adalah orang-orang tsiqah (terpercaya)” (Majma’ Az- Zawa`id (8978).

Al-Hafizh Al-Iraqi berkata, “Diriwayatkan An-Nasa`i dan Al-Hakim dari hadits Anas dengan sanad shahih” (Takhrij Ahadits Al-Ihya` (3711).

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata, “Diriwayatkan An-Nasa`i dari Anas, Ath-Thabarani dalam Ad-Du’a`, dan Al-Bazzar serta Al-Baihaqi dengan beberapa jalur periwayatan dari Anas. Saya katakan, sungguh saya telah mengumpulkan jalur-jalur riwayat hadits ini dalam satu juz tersendiri dimana ia diriwayatkan oleh hampir empat puluh orang sahabat. … Dan sanadnya hasan” (At-Talkhish Al-Habir (1987).

Syaikh Syu’aib Al-Arna`uth berkata, “Hadits shahih dengan berbagai jalur periwayatan dan hadits-hadits lain yang menguatkannya” (Musnad Ash-Shahabah fi Al-Kutub At-Tis’ah (527).

Syaikh Al-Albani berkata, “Shahih, diriwayatkan dari sejumlah sahabat, di antaranya yaitu: Anas bin Malik, Ali bin Abi Thalib, dan Abu Barzah Al-Aslami” (Irwa` Al-Ghalil (520). Al-Albani juga menshahihkan hadits ini dalam Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir (4523 dan 4524) dan dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib (2188 dan 2259).

Secara ringkas, demikian para ulama lain yang menshahihkan hadits ini; Imam Al-Munawi ( Faidh Al-Qadir (3108).

Syaikh Muhammad Ja’far Al-Kattani ( Nuzhum Al-Mutanatsir min Al-Hadits Al-Mutawatir (175).

Al-Ajluni (Kasyfu Al-Khafa` (850), Al-Burhanfuri (Kanzu Al-‘Ummal (1649, 14792, 23800) dan lain lain

Maka dari hadis ini kita tahu bahawa para Imam itu adalah dari Quraisy. Namun, berapa ramaikah mereka ini? Hadis berikut menjelaskannya

Jabir bin Samurah berkata: “Aku mendengar Rasulullah saaw bersabda: “Islam akan senantiasa kuat di bawah 12 Khalifah”. Baginda kemudian mengucapkan kata kata yang tidak aku fahami, lalu aku bertanya bapaku apakah yang dikatakan oleh Rasulullah saaw. Beliau menjawab: “Semuanya dari Quraisy” (Muslim. Sahih, jilid VI, hlm 3, Bukhari, Sahih, jilid VIII, hlm 105, 128)

Apakah semua yang berstatus Quraisy layak menyandang gelaran Imam atau Khalifaf ini? Hadis berikut pula merincikan siapakah para Imam atau Khalifah yang berjumlah 12 orang itu

Nabi saaw bersabda: “Setelahku akan ada 12 Khalifah, semuanya dari Bani Hasyim” (Qunduzi Hanafi, Yanabi’ al Mawaddah, jilid III, hlm 104)

Mungkin ada di kalangan yang berpenyakit dalam hati akan menyanggah hadis ini dan mengatakan ianya tidak sahih. Jika demikian, kami persilakan anda teruskan membaca hadis berikutnya pula

Dari Zaid bin Tsabit RA yang berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya Aku telah meninggalkan di tengah-tengah kalian dua Khalifah yaitu Kitab Allah yang merupakan Tali yang terbentang antara bumi dan langit, serta KeturunanKu Ahlul BaitKu. Keduanya tidak akan berpisah sampai menemuiKu di Telaga Surga Al Haudh. (Hadis Ini diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal dalam Musnad Ahmad jilid 5 hal 182, Syaikh Syuaib Al Arnauth dalam Takhrij Musnad Ahmad menyatakan bahwa hadis ini shahih. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Kabir jilid 5 hal 154, Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid jilid 1 hal 170 berkata “para perawi hadis ini tsiqah”. Hadis ini juga disebutkan oleh As Suyuthi dalam Jami’ Ash Shaghir hadis no 2631 dan beliau menyatakan hadis tersebut Shahih.)

Maka, jika kita menyusun kembali semua premis premis yang dibawakan di atas, kita bisa menyimpulkan seperti berikut:

1. Sepeninggalan Rasul saaw, ada pengganti beliau yang dipanggil Imam/ khalifah

2. Imam/Khalifah ini berjumlah 12 orang

3. Kesemua mereka adalah dari Quraisy

4. Kesemua mereka adalah dari Bani Hasyim

5. Kesemua mereka adalah Ahlul Bayt Nabi as

Maka dengan ini, siapapun selain dari Ahlul Bayt as yang mendakwa diri mereka sebagai Khalifah atau Imam umat, dakwaan mereka tertolak. Hujjah yang kami bawakan di atas tidak membuka ruang walau sekecil apapun untuk memberikan jabatan Khalifah/ Imamah pada selain Ahlul Bayt as

Masalah Kekhalifahan adalah masalah yang sangat penting dalam Islam. Masalah ini adalah dasar penting dalam penerapan kehidupan keislaman, setidaknya begitu yang saya tahu :mrgreen: . Kata Khalifah sendiri menyiratkan makna yang beragam, bisa sesuatu dimana yang lain tunduk kepadanya, sesuatu yang menjadi panutan, sesuatu yang layak diikuti, sesuatu yang menjadi pemimpin, sesuatu yang memiliki kekuasaan dan mungkin masih ada banyak lagi ;)

Saat Sang Rasulullah SAW yang mulia masih hidup maka tidak ada alasan untuk Pribadi Selain Beliau SAW untuk menjadi khalifah bagi umat Islam. Hal ini cukup jelas kiranya karena sebagai sang Utusan Tuhan maka Sang Rasul SAW lebih layak menjadi seorang Khalifah. Sang Rasul SAW adalah Pribadi yang Mulia, Pribadi yang selalu dalam kebenaran, dan Pribadi yang selalu dalam keadilan. Semua ini sudah jelas merupakan konsekuensi dasar yang logis bahwa Sang Rasulullah SAW adalah Khalifah bagi umat Islam.

Lantas bagaimana kiranya jika Sang Rasul SAW wafat? siapakah Sang Khalifah pengganti Beliau SAW? Atau justru kekhalifahan itu sendiri menjadi tidak penting. Pembicaraan ini bisa sangat panjang dan bagi sebagian orang akan sangat menjemukan. Dengan asumsi bahwa kekhalifahan akan terus ada maka Sang khalifah setelah Rasulullah SAW bisa berupa

* Khalifah yang ditunjuk oleh Rasulullah SAW
* Khalifah yang diangkat oleh Umat Islam

Kedua Premis di atas masih mungkin terjadi dan tulisan ini belum akan membahas secara rasional premis mana yang benar atau lebih benar. Tulisan kali ini hanya akan menunjukkan adanya suatu riwayat dimana Sang Rasulullah SAW pernah menyatakan bahwa Ahlul Bait adalah Khalifah bagi Umat Islam. Bagaimana sikap orang terhadap riwayat ini maka itu jelas bukan urusan penulis :mrgreen:

.

Dari Zaid bin Tsabit RA yang berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya Aku telah meninggalkan di tengah-tengah kalian dua Khalifah yaitu Kitab Allah yang merupakan Tali yang terbentang antara bumi dan langit, serta KeturunanKu Ahlul BaitKu. Keduanya tidak akan berpisah sampai menemuiKu di Telaga Surga Al Haudh. (Hadis Ini diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal dalam Musnad Ahmad jilid 5 hal 182, Syaikh Syuaib Al Arnauth dalam Takhrij Musnad Ahmad menyatakan bahwa hadis ini shahih. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Kabir jilid 5 hal 154, Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid jilid 1 hal 170 berkata “para perawi hadis ini tsiqah”. Hadis ini juga disebutkan oleh As Suyuthi dalam Jami’ Ash Shaghir hadis no 2631 dan beliau menyatakan hadis tersebut Shahih.)

Hadis di atas adalah Hadis Tsaqalain dengan matan yang khusus menggunakan kata Khalifah. Hadis ini adalah hadis yang Shahih sanadnya dan dengan jelas menyatakan bahwa Al Ithrah Ahlul Bait Nabi SAW adalah Khalifah bagi Umat islam. Oleh karena itu Premis bahwa Sang Khalifah setelah Rasulullah SAW itu ditunjuk dan diangkat oleh Rasulullah SAW adalah sangat beralasan :mrgreen:

KHALIFAH UMAT ISLAM ADALAH AHLUL BAIT

Rasulullah SAW  menegaskan bahwa khalifah umat Islam yang sah sepeninggal beliau adalah dari kalangan Ahlul Bait dan keturunannya. Simak hadis berikut di bawah ini.

  

 

Dari Zaid bin Tsabit RA yang berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda :  “ Sesungguhnya Aku telah meninggalkan di tengah-tengah kalian dua Khalifah yaitu Kitab Allah yang merupakan Tali yang terbentang antara bumi dan langit, serta Keturunanku Ahlul BaitKu. Keduanya tidak akan berpisah sampai menemuiku di Telaga Surga Al Haudh ”.

Hadis Ini diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal dalam Musnad Ahmad jilid 5 hal 182, Syaikh Syuaib Al Arnauth dalam Takhrij Musnad Ahmad menyatakan bahwa hadis ini shahih. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Kabir jilid 5 hal 154, Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid jilid 1 hal 170 berkata “para perawi hadis ini tsiqah”. Hadis ini juga disebutkan oleh As Suyuthi dalam Jami’ Ash Shaghir hadis no 2631 dan beliau menyatakan hadis tersebut Shahih.

Hadis ini adalah hadis yang sahih sanadnya dan dengan jelas menyatakan bahwa Al Ithrah , Ahlul Bait Nabi SAW adalah Khalifah bagi Umat Islam sepeninggal Rasulullah Muhammad SAW. Hal ini juga menegaskan bahwa Khalifah setelah Rasulullah SAW itu ditunjuk dan diangkat oleh Rasulullah SAW  sendiri.

KEHARUSAN BER – IMAMAH

Mazhab Syi’ah Imamiyah Itsna ‘Asyariyah, meyakini dengan seyakin – yakinnya bahwa Kepemimpinan Umat        ( IMAMAH ) dalam urusan agama dan dunia sepeninggal Nabiyullah Muhammad SAW telah ditetapkan oleh Rasulullah Muhammad SAW dan wasiat para Imam sesudah beliau. Kami meyakini dengan seyakin – yakinnya bahwa Pemimpinan Umat , dengan berbagai istilah seperti Imam, Khalifah, Ulil Amri, Wali dan lain – lain – hanya berhak disandang oleh para pemimpin dari kalangan Ahlul Bait Nabi SAW dan keturunannya yang berjumlah 12 orang.

Kenapa kami harus memiliki keyakinan seperti ini ?. Apakah karena kami tertipu oleh ulah si Yahudi Abdullah bin Saba’ , seperti yang sering diembus – embuskan oleh musuh – musuh dan pembenci Syi’ah ?. Absolutely, not !.

Sebabnya ialah – meminjam ungkapan Sayyid Syarafuddin Al Musawi – bahwa dalil – dalil ( petunjuk, nash )  syari’ah telah memaksa kami untuk berpegang teguh hanya kepada para Imam Ahlul Bait Nabi SAW dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam kepemimpinan umat dan rujukan agama. Dalil – dalil yang pasti dan meyakinkan itulah yang telah menghilangkan pilihan lain bagi setiap mukmin dan menghalanginya dari apa yang diinginkannya ( andaikata ia ingin memilih sesuatu yang lain ) !.

Dalil – dalil syari’ah yang kami maksud tidak saja terdapat di dalam kitab – kitab hadis yang berasal dari kalangan ulama kami, tetapi juga termaktub di banyak kitab –hadis dari para ulama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah ( Sunni ). Diantaranya ,misalnya, keharusan berimam atau memiliki Imam dan mengenal Imam zamannya.

Banyak sekali hadis dari kalangan Ahlus Sunnah yang meriwayatkan sabda Nabi SAW tentang keharusan ber- Imam atau memiliki Imam dan mengenal Imam zamannya, diantaranya :

  • “Barangsiapa mati tanpa Imam, maka ia mati dalam keadaan jahiliyah”
  • “Barangsiapa meninggal dan tidak mengetahui Imam zamannya, maka ia meninggal dalam keadaan jahiliyah “

Orang yang tidak berImam dan tidak mengenal Imam zamannya akan mati dalam keadaan jahiliyah. Mati dalam keadaan jahiliyah diartikan sebagai mati tidak dalam keadaan Islam. Jadi,  keharusan ber-Imam dan mengenal Imam zamannya merupakan kewajiban setiap mukmin. Sehingga tidak bisa dipungkiri lagi bahwa  Imamah merupakan salah satu pokok ajaran agama.

 

12 IMAM / KHALIFAH

Mazhab Syi’ah Imamiyah ‘Itsna Asyariyah meyakini bahwa  Kepemimpin Umat  ( Imamah ) sepeninggal Rasulullah Muhammad SAW, dengan berbagai jabatan seperti Imam, Khalifah, Wali dan sebagainya berjumlah 12 orang yang semuanya berada dalam garis keturunan Ahlul Bait Nabi SAW.

Riwayat – riwayat tentang 12 Pemimpin ini dapat kita temukan di dalam kitab – kitab hadis di kalangan ulama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Rasulullah SAW bersabda : “ Agama ( Islam ) akan selalu tegak dan kukuh sampai tiba saatnya atau sampai berlalu dua belas khalifah( pemimpin ), semuanya dari Quraisy “

( Sahih Muslim, jilid 6 halaman 3 – 4 , Bab  “ Manusia Mengikuti Orang Quraisy, Kitab Pemerintahan. Hadis ini juga terdapat di dalam kitab Shahih Tirmidzi, Bab  “ Apa yang terjadi pada para khalifah melalui pintu fitnah “, Sunan Abi Dawud, jilid 3 halaman 106, dll ).

2. Diriwayatkan oleh Bukhari dari Jabir yang berkata : “ Aku mendengar Nabi SAW bersabda : “ Akan ada dua belas amir ( pemimpin ) dan kemudian belia bersabda dengan kalimat yang tidak aku pahami. Dan, ayahku berkata : “ Semuanya dari orang Quraisy “.

Dan, dalam riwayat lain lagi ; “ Kemudian Nabi bersabda dengan kalimat yang sulit aku pahami dan aku bertanya kepada ayahku apa yang disabdakan Rasulullah SAW, maka ( ayahku ) berkata : “ Semuanya orang Quraisy “.

( Fat’l Al Bari, jilid 16, hal. 338, Mustadrak Shahihain, jilid 3, hal. 617 )

3. Rasulullah bersabda : “ Urusan manusia ( amr an nas ) tidak akan berlalu sebelum berlalu dua belas orang yang menjadi wali ( penguasa )”

 

( Shahih Muslim bi Syarh Nawawi, jilid 12 hal. 202, Jalaluddin As Suyuthi, Tarikh Al Khulafa, hal. 10 dll ).

 

4. Rasulullah SAW bersabda : “ Urusan umat ini ( amr hadzihil ummah ) senantiasa akan jaya sampai berlalu dua belas imam ( pemimpin ), semuanya orang Quraisy “ ( Kanzul – ‘Ummal, jilid 13, hal. 27 ).

5. Dan diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Al Hakim dengan lafal  seperti yang pertama, dari Masruq yang berkata : “ Kami sedang duduk suatu malam di rumah ‘Abdillah ( Ibnu Mas’ud ) yang membacakan kepada kami Al Qur’an. Seorang lelaki mengajukan pertanyaan : “ Ya ayah dari ‘Abdurrahman, apakah kamu pernah bertanya kepada Rasul Allah SAW berapa khalifah dari umat    ini ? “. Maka, ‘Abdillah menjawab : “ Tiada seorangpun bertanya tentang masalah ini sampai saya datang dari Iraq sebelum anda !”. Menanyakannya dan beliau SAW bersabda : “ Dua belas seperti jumlah dua belas nuqaba ( pemimpin ) Banu Israil “

 

( Musnad Ahmad, jilid 1, hal. 398, 406 ; Al Hakim, Mustadrak, jilid 4, hal. 501, Fat’h – Al Bari, jilid 16, hal. 339 dll ).

Lantas, siapa 12 Imam / Khalifah yang wajib dikenal dan ditaati itu yang dengannya kita tidak akan mati dalam keadaan jahiliyah ?. Kami, kaum muslimin dari mazhab Syi’ah Imamiyah ‘Itsna ‘Asyariyah ( Syi’ah 12 Imam ) berkeyakinan mereka adalah para Imam / Khalifah dari Ahlul Bait Nabi SAW dan Keturunannya , dimulai dari Imam Ali bin Abi Abi Thalib dan berakhir pada Imam Mahdi afs.

Nah, pertanyaan buat Ustad   Aswaja  Sunni  dan para pengikutnya . Tolong sebutkan siapa saja nama – nama 12 Imam yang wajib kalian kenal dan kalian ta’ati itu ?.

firman Allah SWT di dalam KitabNya yang menjadikan  kontinuitas kepemimpinan di dalam keturunan Nabiyullah Ibrahim AS. Simak Surah Al Baqarah   ( 2 ) ayat 124.

“ Dan ( ingatlah )  ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat            ( perintah dan larangan ), lalu Ibrahim melaksanakannya dengan baik. Allah berfirman : “ Sesungguhnya Aku akan menjadikan engkau pemimpin ( imam ) bagi manusia “. Ibrahim berkata : “ Dan dari keturunanku ( juga ) ! “. Allah berfirman : “ Janjiku ( ini ) tidak akan diperoleh orang – orang yang zalim “.

Ayat di atas menegaskan bahwa Allah SWT akan menjadikan para Imam di dalam garisi keturunan Nabi Ibrahim AS . Di bagian lain Ibrahim AS berdo’a kepada Allah SWT  seperti termaktub di dalam Surah Ibrahim ( 14 )  ayat 37, sbb :

“ Tuhan kami, sesungguhnyab aku telah menempatkan  sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam – tanaman di dekat rumahMu ( baitullah ) yang dihormati. Ya Tuhan kami, ( yang demikian itu ) agar mereka mendirikan sholat, maka jadikanlah hati manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah – buahan, mudah – mudahan mereka bersyukur “

Semua ahli tafsir sependapat bahwa Nabi Muhammad SAW dan Ahlul Bait beliau merupakan keturunan  ( dzurriyah ) dari Nabi Ibrahim AS.

Pendapat Ulama Sunni Tentang 12 Pemimpin

BAGIAN I
Hadis 12 Pemimpin

 

روى‌ جابر بن‌ سَمُرة‌ فقال‌: سمعت‌ُ النبيّ صلّي‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌ يقول‌: يكون‌ اثنا عشر أميراً. فقال‌ كلمة‌ً لم ‌أسمعها، فقال‌ أبي‌: أنّه‌ قال‌: كلّهم‌ من‌ قريش‌.

Jabir bin Samurah meriwayatkan,  “Aku mendengar Nabi (saww) berkata” :”Kelak akan ada Dua Belas Pemimpin.” Ia lalu melanjutkan kalimatnya yang saya tidak mendengarnya secara jelas. Ayah saya mengatakan, bahwa Nabi menambahkan, ”Semuanya berasal dari suku Quraisy.”[Sahih Bukhari (inggris),  Hadits: 9.329, Kitabul Ahkam;  Sahih al-Bukhari (arab) , 4:165, Kitabul Ahkam]

BAGIAN II

Pendapat Para Ulama Sunni

  Ibn Arabi 

…فعددنا بعد رسول‌ الله صلّي‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌ اثني‌ عشر أميرًا، فوجدنا أبابكر، عمر، عثمان‌، عليًّا، الحسن‌، معاوية‌، يزيد، معاوية‌ بن‌ يزيد، مروان‌، عبد الملك‌ بن‌ مروان‌، الوليد، سليمان‌، عمر بن‌ عبد العزيز، يزيد بن‌ عبدالملك ، ‌مروان‌ بن محمد بن مروان، السفّاح‌،… وبعده‌ سبعة‌ وعشرون‌ خليفة‌ بن‌ بني‌ العبّاس‌. وإذا عددنا منهم‌ اثني‌ عشر انتهي‌ العدد بالصّورة‌ إلي‌ سليمان‌ بن‌ عبد الملك‌. وإذا عددناهم‌ بالمعني‌ كان‌ معنا منهم‌ خمسة‌، الخلفاء الاربعة‌، وعمر بن‌ عبد العزيز.

ولم‌ أعلم‌ للحديث‌ معني‌. ابن‌ العربي‌ّ، «شرح‌ سنن‌ التّرمذي‌ّ» 9: 68 ـ 69

Kami telah menghitung pemimpin (Amir-Amir) sesudah Nabi (sawa) ada dua belas. Kami temukan nama-nama mereka itu sebagai berikut: Abubakar, Umar, Usman, Ali, Hasan, Muawiyah, Yazid, Muawiyah bin Yazid, Marwan, Abdul Malik bin Marwan, Yazid bin Abdul Malik, Marwan bin Muhammad bin Marwan, As-Saffah… Sesudah ini ada lagi 27 khalifah Bani Abbas.

Jika kita perhitungkan 12 dari mereka, kita hanya sampai pada Sulaiman. Jika kita ambil apa yang tersurat saja, kita cuma mendapatkan 5 orang di antara mereka dan kepadanya kita tambahkan 4 ‘Khalifah Rasyidin’, dan Umar bin Abdul Aziz….

Saya tidak paham arti hadis ini. [Ibn Arabi, Syarh Sunan Tirmidzi, 9:68-69]

Qadi Iyad Al-Yahsubi  

قال‌: إنّه‌ قد ولي‌ أكثر من‌ هذا العدد. وقال‌: وهذا اعتراض‌ باطل‌ لانّه‌ صلّى‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌ لم‌ يقل‌: لايلي‌ الاّ اثنا عشرخليفة‌؛ وإنّما قال‌: يلي‌. وقد ولي‌ هذا العدد، ولايضرّ كونه‌ وُجد بعدهم‌ غيرهم‌. النووي‌ّ: «شرح‌ صحيح‌ مسلم‌» 12: 201 ـ 202. ابن‌ حجر العسقلاني‌ّ: «فتح‌ الباري‌» 16: 339

Jumlah khalifah yang ada lebih dari itu. Adalah keliru untuk membatasinya hanya sampai angka dua belas. Nabi (saw) tidak mengatakan bahwa jumlahnya hanya dua belas dan bahwa tidak ada tambahan lagi. Maka mungkin saja jumlahnya lebih banyak lagi. [Al-Nawawi, Syarh Shahih Muslim, 12:201-202;  Ibn Hajar al-'Asqalani, Fath al-Bari, 16:339]

Jalaludin as-Suyuti

إن‌ّ المراد وجود اثني‌ عشر خليفة‌ في‌ جميع‌ مدّة‌ الاسلام‌ إلي‌ يوم‌ القيامه‌ يعملون‌ بالحق‌ّ وإن‌ لم‌ تتوال‌ أيّامهم‌…وعلى‌ هذا فقد وُجد من‌ الاثني‌ عشر خليفة‌ الخلفاء الاربعة‌، والحسن‌، ومعاوية‌، وابن‌ الزّبير، وعمر بن‌ عبد العزيز، هؤلاء ثمانية‌. ويحتمل‌ أن‌ يُضم‌ّ إليهم‌ المهتدي‌ من‌ العبّاسيّين‌، لانّه‌ فيهم‌ كعمر بن‌ عبد العزيز في‌ بني‌ أُميّة‌. وكذلك الطاهر لما اوتي‌ من‌ العدل‌، وبقي‌ الاثنان‌ المنتظران‌ أحدهما المهدي‌ لانّه‌ من‌ آل‌ بيت‌ محمّد صلّي‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌. السّيوطي‌: «تاريخ‌ الخلفاء»: 12. ابن‌ حجر الهيثمي‌ّ: الصّواعق‌ المحرقة‌: 19

Hanya ada dua belas Khalifah sampai hari kiamat. Dan mereka akan terus melangkah dalam kebenaran, meski mungkin kedatangan mereka tidak secara berurutan. Kita lihat bahwa dari yang dua belas itu, 4 adalah Khalifah Rasyidin, lalu Hasan, lalu Muawiyah, lalu Ibnu Zubair, dan akhirnya Umar bin Abdul Aziz. Semua ada 8. Masih sisa 4 lagi. Mungkin Mahdi, Bani Abbasiyah bisa dimasukkan ke dalamnya sebab dia seorang Bani Abbasiyah seperti Umar bin Abdul Aziz yang (berasal dari) Bani Umayyah. Dan Tahir Abbasi juga bisa dimasukkan sebab dia pemimpin yang adil. Jadi, masih dua lagi. Salah satu di antaranya adalah Mahdi, sebab ia berasal dari Ahlul Bait Nabi (as).” [Al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa, Halaman 12; Ibn Hajar al-Haytami, Al-Sawa'iq al-Muhriqa Halaman 19]

Ibn Hajar al-’Asqalani 

لم‌ ألق‌ أحدًا يقطع‌ في‌ هذا الحديث‌، يعني‌ بشي‌ء معيّن‌؛ فان‌ّ في‌ وجودهم‌ في‌ عصر واحد يوجد عين‌ الافتراق‌، فلايصح‌ّ أن‌ يكون‌ المراد. ابن‌ حجر العسقلاني‌ّ، «فتح‌ الباري‌» 16: 338 ـ 341

Tidak seorang pun mengerti tentang hadis dari Sahih Bukhari ini.

Adalah tidak benar untuk mengatakan bahwa Imam-imam itu akan hadir sekaligus pada satu saat bersamaan. [Ibn Hajar al-'Asqalani, Fath al-Bari 16:338-341]

 Ibn al-Jawzi  

وأوّل‌ بني‌ أُميّة‌ يزيد بن‌ معاوية‌، وآخرهم‌ مروان‌ الحمار. وعدّتهم‌ ثلاثة‌ عشر. ولايعدّ عثمان‌، و معاوية‌، ولا ابن‌ الزّبير لكونهم‌ صحابة‌. فإذا أسقطناهم‌ منهم‌ مروان‌ بن‌ الحكم‌ للاختلاف‌ في‌ صحبته‌، أو لانّه‌ كان‌ متغلّبًا بعد أن‌ اجتمع‌ النّاس‌على‌ عبد الله بن‌ الزّبير صحّت‌ العدّة‌…وعند خروج‌ الخلافة‌ من‌ بني‌ أُميّة‌ وقعت‌ الفتن‌ العظيمة‌ والملاحم‌ الكثيرة‌ حتّى ‌استقرّت‌ دولة‌ بني‌ العبّاس‌، فتغيّرت‌ الاحوال‌ عمّا كانت‌ عليه‌ تغيّرًا بيّنًا. ابن‌ الجوزي‌ّ ، «كشف‌ المشكل‌» ، نقلاً عن‌ ابن‌ حجر العسقلاني‌ّ في‌ «فتح‌ الباري‌» 16: 340، عن‌ سبط‌ ابن‌ الجوزي‌ّ.

Khalifah pertama Bani Umayyah adalah Yazid bin Muawiyah dan yang terakhir adalah Marwan Al-Himar. Total jumlahnya tiga belas. Usman, Muawiyah dan Ibnu Zubair tidak termasuk karena mereka tergolong Sahabat Nabi (s).  Jika kita kecualikan (keluarkan) Marwan bin Hakam karena adanya kontroversi tentang statusnya sebagai Sahabat atau karena ia berkuasa padahal Abdullah bin Zubair memperoleh dukungan masyarakat, maka kita mendapatkan angka Dua Belas.… Ketika kekhalifahan muncul dari Bani Umayyah, terjadilah kekacauan yang besar sampai kukuhnya (kekuasaan) Bani Abbasiyah. Bagaimana pun, kondisi awal telah berubah total. [Ibn al-Jawzi, Kashf al-Mushkil, sebagaimana dikutip dalam Ibn Hajar al-'Asqalani, Fath al-Bari 16:340 dari Sibt Ibn al-Jawzi]

Al-Nawawi

ويُحتمل‌ أن‌ المراد [بالائمّة‌ الاثني‌ عشر] مَن‌ْ يُعَزُّ الإسلام‌ في‌ زمنه‌ ويجتمع‌ المسلمون‌ عليه‌.

النووي‌ّ، «شرح‌ صحيح‌ مسلم‌» 12: 202 ـ 203

Ia bisa saja berarti bahwa kedua belas Imam berada dalam masa (periode) kejayaan Islam. Yakni ketika Islam (akan) menjadi dominan sebagai agama. Para Khalifah ini, dalam masa kekuasaan mereka, akan menyebabkan agama menjadi mulia.[Al-Nawawi, Sharh Sahih Muslim ,12:202-203]

 Al-Bayhaqi   

وقد وُجد هذا العدد (اثنا عشر) بالصفة‌ المذكورة‌ إلي‌ وقت‌ الوليد بن‌ يزيد بن‌ عبد الملك. ثم‌ّ وقع‌ الهرج‌ والفتنة ‌العظيمة‌…ثم‌ّ ظهر ملك العبّاسيّة‌…وإنّما يزيدون‌ على‌ العدد المذكور في‌ الخبر إذا تركت‌ الصفة‌ المذكورة‌ فيه‌، أو عُدَّ منهم ‌من‌ كان‌ بعد الهرج‌ المذكور فيه‌.

ابن‌ كثير: «البداية‌ والنّهاية‌» 6: 249؛ السّيوطي‌ّ، «تاريخ‌ الخلفاء»:11

Angka (dua belas) ini dihitung hingga periode Walid bin Abdul Malik. Sesudah ini, muncul kerusakan dan kekacauan. Lalu datang masa dinasti Abbasiyah. Laporan ini telah meningkatkan jumlah Imam-imam. Jika kita abaikan karakteristik mereka yang datang sesudah masa kacau-balau itu, maka angka tadi menjadi jauh lebih banyak.” [Ibn Katsir, Ta'rikh, 6:249; Al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa Halaman 11]

 Ibn Katsir

فهذا الّذي‌ سلكه‌ البيهقي‌ّ، وقد وافقه‌ عليه‌ جماعة‌ من‌ أن‌ّ المراد بالخلفاء الاثني‌ عشر المذكورين‌ في‌ هذا الحديث‌ هم ‌المتتابعون‌ إلي‌ زمن‌ الوليد بن‌ يزيد بن عبد الملك‌ الفاسق‌ الّذي‌ قدّمنا الحديث‌ فيه‌ بالذّم‌ّ والوعيد، فانّه‌ مسلك‌ فيه‌ نظر…فان‌ اعتبرنا ولاية‌ ابن‌ الزبير قبل‌ عبد الملك‌ صاروا ستّة‌ عشر، وعلى كلّ تقدير فهم‌ اثنا عشر قبل‌ عمر بن‌ عبد العزيز. فهذا الّذي‌ سلكه‌ على‌ هذا التّقدير يدخل‌ في‌ الاثني‌ عشر يزيد بن‌ معاوية‌، و يخرج‌ منهم‌ عمر بن‌ عبد العزيز الّذي‌ أطبق‌ الائمّة‌ على شكره‌ وعلى مدحه‌، وعدوّه‌ من‌ الخلفاء الرّاشدين‌، وأجمع‌ الناس‌ قاطبة‌ على‌ عدله‌. ابن‌ كثير، «البداية‌ والنّهاية‌» 6: 249 ـ 250

Barang siapa mengikuti Bayhaqi dan setuju dengan pernyataannya bahwa kata ‘Jama’ah’ berarti Khalifah-khalifah yang datang secara tidak berurutan hingga masa Walid bin Yazid bin Abdul Malik yang jahat dan sesat itu, maka berarti ia (orang itu) setuju dengan hadis yang kami kritik dan mengecualikan tokoh-tokoh tadi.

Dan jika kita menerima Kekhalifahan Ibnu Zubair sebelum Abdul Malik, jumlahnya menjadi enam belas. Padahal jumlah seluruhnya seharusnya dua belas sebelum Umar bin Abdul Aziz. Dalam perhitungan ini, Yazid bin Muawiyah termasuk di dalamnya sementara Umar bin Abdul Aziz tidak dimasukkan.  Meski demikian, sudah menjadi pendapat umum bahwa para ulama menerima Umar bin Abdul Aziz sebagai seorang Khalifah yang jujur dan adil. [Ibn Katsir, Ta'rikh, 6:249-250]

MEREKA BINGUNG ?

Kita perlu pendapat seorang ulama Sunni lain yang dapat mengklarifikasi siapa Dua Belas Penerus, Khalifah, para Amir atau Imam-imam sebenarnya.

Al-Dzahabi mengatakan dalam Tadzkirat al-Huffaz , jilid 4, halaman 298, dan Ibn Hajar al-’Asqalani menyatakan dalam al-Durar al Kaminah, jilid 1, hal. 67, bahwa Shadrudin Ibrahim bin Muhammad bin al-Hamawayh al-Juwaini al-Syafi’i  adalah seorang ahli Hadis yang mumpuni.

Lebih lengkap tentang Al-Juwaini, silahkan rujuk catatan Al-Muhadits Al-Juwaini Asy-Syafi’i (ra) dan Hadis Tentang Sayyidah Fathimah sa

BAGIAN III

Al-Juwayni Asy-Syafi’i : 

عن‌ عبد الله بن‌عبّاس‌ رضي‌ الله عنه‌، عن‌ النّبي‌ّ  صلّي‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌ أنّه‌ قال‌: أنا سيّد المُرسَلين‌، وعلي‌ّ بن‌ أبي‌ طالب‌ سيّدالوصيّين‌، وأن‌ّ أوصيائي‌ بعدي‌ اثنا عشر، أوّلهم‌ علي‌ّ بن‌ أبي‌ طالب‌، وآخرهم‌ القائم‌.

 dari Abdullah bin Abbas (ra) bahwa Nabi (sawa) mengatakan,”Saya adalah penghulu para Nabi dan Ali bin Abi Thalib adalah pemimpin para penerus, dan sesudah saya akan ada dua belas penerus. Yang pertama  adalah Ali bin Abi Thalib dan yang terakhir adalah al-Qaim.

عن‌ ابن‌ عبّاس‌ رضي‌ الله عنه‌، عن‌ النبي‌ّ صلّي‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌ أنّه‌ قال‌: أن‌ّ خلفائي‌ وأوصيائي‌وححج‌ الله على‌ الخلق‌ بعدي‌ لاثنا عشر، أوّلهم‌ أخي‌، وآخرهم‌ وَلَدي‌. قيل‌: يا رسول‌ الله، ومن‌ أخوك‌؟ قال‌: علي‌ّ بن‌ أبي‌طالب‌. قيل‌: فمن‌ وَلَدُك‌َ؟ قال‌: المهدي‌ّ الّذي‌ يملاها قسطًا وعدلاً كما مُلئت‌ جورًا وظلمًا. والّذي‌ بعثني‌ بالحق‌ّ بشيرًا لو لم‌ يبق‌ من‌ الدّنيا الاّ يوم‌ واحد لطَوَّل‌ الله ذلك‌ اليوم‌ حتّي‌ يخرج‌ فيه‌ ولدي‌ المهدي‌، فينزل‌روح‌ الله عيسى بن‌ مريم‌ فيُصلّي‌ خلفَه‌ُ، وتُشرق‌ الارض‌ بنور ربّها، ويبلغ‌ سلطانه‌ المشرق‌ والمغرب‌.

Dari Ibnu Abbas (r) bahwa Rasulullah (sawa) berkata: ”Sudah pasti bahwa washi-washiku dan Bukti (hujjah) Allah bagi makhluk sesudahku ada dua belas. Yang pertama di antara mereka adalah saudaraku dan yang terakhir adalah anak (cucu) ku.”  Orang bertanya: “Wahai Rasulullah, siapakah saudaramu itu?”. Beliau menjawab: “Ali bin Abi Thalib.” Lalu beliau ditanyai lagi: “ Dan siapakan anak (cucu) mu itu?” Nabi yang suci (sawa) menjawab: ”Al-Mahdi. Dia akan mengisi bumi dengan keadilan dan persamaan ketika ia (bumi) dipenuhi ketidakadilan dan tirani. Dan demi Yang Mengangatku sebagai pemberi peringatan dan memberiku  kabar gembira, meski seandainya masa berputarnya dunia ini tinggal sehari saja, Allah SWT akan memperpanjang hari itu sampai diutusnya (anakku) Mahdi, kemudian ia akan disusul Ruhullah Isa bin Maryam (as) yang turun ke bumi dan berdoa di belakangnya (Mahdi). Dunia akan diterangi oleh sinarnya, dan kekuatannya akan mencapai hingga ke timur dan ke barat.”

رسول‌ الله صلّي‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌ أنّه‌ قال‌: أنا، وعلي‌ّ، والحسن‌، والحسين‌، وتسعة‌ من‌ ولد الحسين‌ مطهّرون‌ معصومون‌. الجويني‌ّ، «فرائد السمطين‌» مؤسّسة‌ المحمودي‌ّ للطّباعة‌ والنشر، بيروت‌، 1978، ص‌

 Rasulullah (sawa) mengatakan: ”Aku dan Ali dan Hasan dan Husain dan sembilan anak cucu Husain adalah yang disucikan (dari dosa) dan dalam kebenaran.”  [Al-Juwaini, Fara'id al-Simthain, Mu'assassat al-Mahmudi li-Taba'ah, Beirut 1978, h. 160.]

Di antara semua mazhab Islam, hanya Syiah Imamiyah Itsna ‘Asyariyah yang percaya pada individu-individu sebagai Dua Belas orang dari Ahlul Bait Raulullah saww yang berhak sebagai Penerus Rasulullah saww.

Ulama Sunni Syaikh Sulayman Al-Qunduzi Al-Balkhi Al-Hanafi dan Nama 12 Imam Yang Disebutkan Oleh Rasulullah (saww)

BAGIAN I

Selama ini banyak kalangan yang tidak mengetahui siapa sebenarnya Syaikh Sulaiman Al-Qunduzi Al-Balkhi Al-Hanafi, yang merupakan salah satu Ulama Sunni yang banyak mencatat riwayat-riwayat mengenai keutamaan Rasulullah (saww) dan Ahlul Bait (as). Dan anehnya, oleh kaum Nawashib, Syaikh Sulaiman Al-Hanafi dituduh sebagai Syiah, apa motif dibalik semua itu..? apakah kebiasaan kaum Naswahib yang suka menuduh seseorang yang banyak menulis keagungan Rasulullah (saww) dan Ahlul Bait (as) pada khususnya langsung mereka vonis sebagai Syiah!? hal ini tak jauh beda dengan Ibn Abil Hadid seorang bermazhab Mu’tazilah yang mereka katakan Syiah!

Nawashib harusnya sadar bahwa kedekilan otak mereka sampai detik ini bukanlah suatu yang asing, apakah mereka tidak malu dengan cara mereka yang suka menyembunyikan keterangan yang jelas bahkan terkadang memelintir sebuah riwayat atau membuangnya jika tidak sesuai dengan nafsu mereka..!?

Sayikh Sulaiman Al Hanafi adalah salah satu Mufti Agung Konstantinopel dan Ketua Kekhalifahan Utsmani, pusat islam Sunni pada masanya. Sangat tidak masuk akal jika dikatakan beliau sebagai Syiah dan apakah logis orang syiah menjadi mufti agung dalam kekahlifahan Ustmani tersebut? Sedangkan Ottoman sangat tidak suka dengan Syiah atau siapapun yang cenderung kepada Syiah!

Bahkan sejarah tidak mencatat adanya pengusiran atau tuduhan kepada Syaikh Sulaiman al Hanafi pada saat penulisan kitab beliau yang agung yaitu Yanabiul Mawaddah, jika memang beliau syiah maka pemerintahan Ottoman pasti akan menyingkirkannya.

Pandangan Sunni tentang Syaikh Sulaiman Al Qunduzi Al Balkhi Al Hanafi

Dalam Kitab الأعلام :

“(Al Qunduzi) (1220-1270H) (1805-1863 M) Sualyman putra dari Khuwajah Ibrahim Qubalan Al Husaini Al Hanafi Al Naqshbandi al Qunduzi : Seorang yang shaleh, berasal dari Balakh, wafat di kota Qustantinya, ia memiliki kitab “Yanabiul Mawaddah” yang berisi tentang keutamaan Rasulullah dan Ahlul Baitnya” (الأعلام, j.3, h.125)

.

Umar Ridha Kahalah mencatat dalam معجم المؤلفين :

Sulaiman Al Qunduzi (1220-1294 H) (1805-1877)

Sulaiman bin Ibrahim al Qunduzi al Balkhi al Husaini al Hasymi, seorang Sufi, kitabnya (karyanya) : Ajma al Fawaid, Musyriq al Akwan, Yanabiul Mawaddah….” (Muajam al Mualfiin, oleh Umar Ridha Kahalah, j. 4)

Ulama Sunni Ismail Basya Al Baghdadi (اسماعيل باشا البغدادي) dalam هدية العارفين

Mencatat :

“Al Qunduzi – Sulayman ibn Khuwajah Qalan Ibrahim ibn Baba Khawajah al Qunduzi al Balkhi al Sufi Al Husaini, tinggal di Qustantinya, lahir pada tahun 1220 H dan wafat 1294″ (Hidyat al Arifin, j.1, h. 408)

.

Dalam ايضاح المكنون في الذيل على كشف الظنون Ismail Basya Al Baghdadi juga mencatat :

“Al Qunduzi – Sulayman bin Khawaja Qalan Ibrahim bin baba Khuwaja Al Qunduzi al Balkhi al Sufi al Husaini. Dia tinggal di Qustantiya, lahir pada 1220 H dan wafat tahun 1294 H. Karyanya : Jama’ Al Fawa’id, Masyriq al Akwan, Yanabiul Mawadah mengenai karakteristik Rasulullah (saww) dan hadis dari Ahlul Bait”

.

Yusuf Alyan Sarkys mencatat dalam معجم المطبوعات العربية, j.1 h.586 :

“Sulayman bin Khujah Qublan al Qunduzi al Balkhi. (kitabnya) Yanabiul Mawadah berisi Keutamaan Amirul Mu’minin Ali”

.

Sangat aneh jika dikatakan bahwa Syaikh Sulayman yang bermazhab Hanafi ini di tuduh sebagai Syiah..! Kenyataannya beberapa ulama Sunni (Mazhab Hanafi) seperti :

1. Saim Khisthi al Hanafi dalam Musykil Kushah mengutip banyak Hadis dari Yanabiul Mawaddah yang disusun oleh Syaikh Sulaiman al Hanafi.

2. Dr. Muhamad Tahir ul Qadri (“Hub Ali” hal.28) mengacu pada Yanabiul Mawaddah ketika mengutip Hadis mengenai keutamaan Ahlul Bait (as).

3. Mufti Ghulam Rasul (Hasab aur Nasab, j.1 h.191, London) juga mengacu pada Yanabiul Mawadah ketika mengutip hadis keutamaan Ahlul Bait (as).

Jika memang Syaikh Sulayman Al Hanafi dikatakan Syiah oleh kaum Nawashib lalu apakah beberapa ulama terkemuka Mazhab Hanafi yang disebutkan diatas begitu bodoh atau buta huruf hingga mereka mengutip catatan ulama Syi’ah (yg kata mereka jgn percaya sama syiah) bagi para pembaca Sunni ?

Alasan paling dasar dibalik “pengecapan” dengan menyatakan figur yang sebenarnya Sunni sebagai Syiah oleh kaum Nawashib adalah karena ulama sejati seperti Syaikh Sulayman Al Hanafi dianggap berpihak kepada Syiah hanya karena banyak mencatat hadis Rasulullah (saww) yang mana riwayatnya banyak dianggap sesuai dengan keyakinan Syiah..!

BAGIAN II

Syaikh Sulayman Al Qunduzi Al Hanafi Mencatat Nama-Nama Para Imam Yang Harus Di ikuti Setelah Rasulullah Saww Dalam Kitabnya Yanabiul Mawaddah

Yanabiul Mawaddah (j.3, h.100-101) dan Yanabiul Mawaddah (j.3 h.284, Tahqiq oleh Sayyid Ali Jamali Asyraf Al Husayni), riwayat dari Jabir al-Anshari (ra) berkata :

Jundal bin Janadah berjumpa Rasulullah (saww) dan bertanya kepada beliau beberapa masalah. Kemudian dia berkata :

Riwayat seperti diatas tidak hanya satu dalam kitab Yanabiul Mawaddah, namun ini sudah cukup sebagai bukti bahwa nama para Imam Ahlul Bait telah dijelaskan oleh Rasulullah (saww) dan tercatat dalam Kitab Sunni sendiri.

Beritahukan kepadaku wahai Rasulullah tentang para washi anda setelah anda supaya aku berpegang kepada mereka.

Beliau (saww) menjawab : “Washiku dua belas orang.”

Lalu Jundal berkata : “Begitulah kami dapati di dalam Taurat.”

Kemudian dia berkata : “Namakan mereka kepadaku wahai Rasulullah.”

Maka Beliau (saww) menjawab :

Pertama adalah penghulu dan ayah para washi adalah Ali. Kemudian dua anak lelakinya Hasan dan Husain. Berpeganglah kepada mereka dan janganlah kejahilan orang-orang yang jahil itu memperdayakanmu. Kemudian Ali bin Husain Zainal Abidin, Allah akan mewafatkan (Ali bin Husain) dan menjadikan air susu sebagai minuman terakhir di dunia ini.”

Jundal berkata :

“Kami telah mendapatinya di dalam Taurat dan di dalam kitab-kitab para Nabi (as) seperti Iliya, Syibra dan Syabir. Maka ini adalah nama Ali, Hasan dan Husain, lalu siapa setelah Husain..? siapa nama mereka..?”

Berkata (Rasulullah) saww :

Setelah wafatnya Husain, imam setelahnya adalah putranya Ali dipanggil Zainal Abidin setelahnya adalah anak lelakinya Muhammad, dipanggil al-Baqir. Setelahnya anak lelakinya Ja’far dipanggil al-Shadiq. Setelahnya anak lelakinya Musa dipanggil al-Kadzim. Setelahnya anak lelakinya Ali dipanggil al-Ridha. Setelahnya anak lelakinya Muhammad dipanggil al Taqy Az Zaky. Setelahnya anak lelakinya Ali dipanggil al-Naqiy al-Hadi. Setelahnya anak lelakinya Hasan dipanggil al-Askari. Setelahnya anak lelakinya Muhammad dipanggil al-Mahdi al-Qa’im dan al-Hujjah. Beliau ghaib dan akan keluar memenuhi bumi dengan kejujuran dan keadilan sebagaimana itu dipenuhi dengan kefasadan dan kezaliman. Alangkah beruntungnya bagi orang-orang yang bersabar semasa ghaibnya. Dan alangkah beruntungnya bagi orang-orang yang bertaqwa terhadap Hujjah mereka. Dan mereka itulah orang yang disifatkan oleh Allah di dalam firmanNya “Petunjuk bagi mereka yang bertaqwa yaitu mereka yang beriman kepada yang ghaib.”(1) Kemudian beliau membaca “Maka sesungguhnya partai Allah itulah yang pasti menang.”(2) Beliau bersabda : Mereka adalah dari partai Allah (hizbullah).”

[1]. Surah al-Baqarah (2) : 2-3

[2]. Surah al-Mai’dah (5) :56

Khalifah Rasulullah Yang WAJIB di ikuti sesuai Hadist Rasulullah saww.


Berdasarkan hadith Nabi saaw dalam kitab Ahlul Sunnah antaranya ialah :

Daripada Said bin Jubair daripada Ibn Abbas berkata: Bersabda Rasulullah SAWAW: “Sesungguhnya khalifah-khalifahku dan wasi-wasiku, hujah-hujah Allah di atas makhlukNya selepasku ialah 12 orang; yang pertama Ali dan yang akhirnya cicitku al-Mahdi; maka itulah Isa b. Maryam bersembahyang di belakang al-Mahdi (Yanabi al-Mawaddah, hlm. 447)

Hadith yang dikeluarkan oleh Abu al-Mu’ayyid Ibn Ahmad al-Khawarizmi dengan sanadnya dari Abu Sulaiman yang berkata : “Aku mendengar Rasulullah SAWAW dan Ahli Baitnya berkata: Di malam aku dinaikkan ke langit (Mi’raj) Allah SWT berkata kepadaku…lihatlah di kanan Arasy, lalu aku memaling ke arahnya, maka aku dapati Ali, Fatimah, Hasan, Husayn, Ali b. Husayn, Muhammad b. Ali, Ja’far b. Muhammad, Musa b. Ja’far, Ali b. Musa, Muhammad b. Ali, Ali b. Muhammad, Hasan b. Ali, dan Muhammad al-Mahdi b. Hasan; ia seperti cakerawala yang berputar di kalangan mereka. Dan dia berfirman: “Wahai Muhammad, mereka itulah hujah-hujahKu ke atas hamba-hambaKu, merekalah wasi-wasiKu (khalifah-khalifahku).”(Ya

nabi al-Mawaddah, hlm. 487)

Sila teliti dengan sebaik-baiknya hadis-hadis di bawah yang telah diriwayatkan oleh ulama-ulama sunni:

Hadith-hadith yang menghadkan pengganti Nabi SAW kepada dua belas orang.

Hadith-hadith yang menghadkan pengganti-pengganti Nabi SAWW kepada dua belas orang, telah diriwayatkan oleh jumhur ulama Muslimin Sunnah dan Syi’ah di dalam Sahih-sahih dan Musnad-musnad mereka.

Ahmad bin Hanbal di dalam Musnadnya (al-Musnad, I, hlm 398) meriwayatkan hadith ini daripada Sya’bi daripada Masruq berkata:”Kami berada di sisi ‘Abdullah bin Mas’ud yang sedang memperdengarkan bacaan al-Qur’an kepada kami. Tiba-tiba seorang lelaki bertanya kepadanya: Wahai Abu ‘Abdu r-Rahman! Adakah anda telah bertanya Rasulullah SAWAW berapakah ummat ini memiliki khalifah?” Abdullah bin Mas’ud menjawab:”Tiada seorangpun bertanya kepadaku mengenainya semenjak aku datang ke Iraq sebelum anda.” Kemudian dia berkata:”Ya! Sesungguhnya kami telah bertanya kepada Rasulullah SAWAW mengenainya. Maka beliau menjawab:”Dua belas (khalifah) seperti bilangan naqib Bani Israil.”

Di dalam riwayat yang lain Ahmad bin Hanbal meriwayatkan daripada Jabir bin Samurah, sesungguhnya dia berkata:”Aku mendengar Rasulullah SAWAW bersabda semasa Haji Wida’:”Urusan agama ini masih pada zahirnya di tangan penentangannya dan tidak akan dihancurkan oleh orang-orang yang menyalahinya sehingga berlalunya dua belas Amir, semuanya daripada Quraisy.” (al-Musnad, I, hlm 406, dan V, hlm 89)

Muslim di dalam Sahihnya ( Sahih, II, hlm 79 )meriwayatkan daripada Jabir bin Samurah sesungguhnya dia berkata:”Aku bersama bapaku berjumpa Nabi SAWAW, Maka aku mendengar Nabi SAWAW bersabda:”Urusan ‘ini’ tidak akan selesai sehingga berlaku pada mereka dua belas khalifah.” Dia berkata: Kemudian beliau bercakap dengan perlahan kepadaku. Akupun bertanya bapaku apakah yang diucapkan oleh beliau? Dia menjawab:”Semuanya daripada Quraisy.”
Muslim juga meriwayatkan di dalam Sahihnya daripada Nabi SAWAW beliau bersabda:”Agama sentiasa teguh sehingga hari kiamat dan dua belas khalifah memimpin mereka, semuanya daripada Quraisy. Di dalam riwayat yang lain “Urusan manusia berlalu dengan perlantikan dua belas lelaki dari Quraisy, ” “Sentiasa Islam itu kuat sehingga kepada dua belas khalifah daripada Quraisy” dan “Sentiasa ugama ini kuat dan kukuh sehingga dua belas khalifah daripada Quraisy”
Al-Turmudzi di dalam al-Sunannya (al-sunan, II, hlm 110 ) mencatat hadith tersebut dengan lafaz amir bukan khalifah.

Sementara al-Bukhari di dalam Sahihnya ( Sahih, IV, hlm 120 (Kitab al-Ahkam ) meriwayatkannya daripada Jabir bin Samurah bahawa Nabi SAWAW bersabda:”Selepasku ialah dua belas amir.” Maka beliau berucap dengan perkataan yang aku tidak mendengarnya. Bapaku memberitahuku bahawa beliau bersabda:”Semuanya daripada Quraisy.”

Al-Muttaqi al-Hindi di dalam Kanz al-Ummal ( Kanz al-Ummal, VI, hlm 160 ), meriwayatkan bahawa Nabi SAWAW bersabda:”Selepasku akan (diikuti) oleh dua belas khalifah.”

Ibn Hajr di dalam al-Sawa’iq al-Muhriqah ( al-Sawa’iq al-Muhriqah, bab XI ) meriwayatkan daripada Jabir bin Samurah bahawa Nabi SAWAW bersabda:”Selepasku akan (dikuti) dua belas amair semuanya daripada Quraisy.”

Al-Qunduzi al-Hanafi di dalam Yanabi’ al-Mawaddah (Yanabi’ al-Mawaddah, hlm 444 (bab 7) mencatat riwayat daripada Jabir bin Samurah sesungguhnya dia berkata:”Aku bersama bapaku di sisi Nabi SAWAW beliau bersabda:”Selepasku dua belas khalifah.” Kemudian beliau merendahkan suaranya. Maka akupun bertanya bapaku mengenainya. Dia menjawab: Beliau bersabda: “Semuanya daripada Bani Hasyim.”

Samak bin Harb juga meriwayatkannya dengan lafaz yang sama. Diriwayatkan daripada al-Sya’bi daripada Masruq daripada Ibn Mas’ud bahawa sesungguhnya Nabi SAWAW telah menjanjikan kita bahawa selepasnya dua belas khalifah sama dengan bilangan naqib Bani Isra’il. Dan dia berkata di dalam bab yang sama bahawa Yahya bin al-Hasan telah menyebutkannya di dalam Kitab al-Umdah dengan dua puluh riwayat bahawa khalifah-khalifah selepas Nabi SAWAW adalah dua belas orang. Semuanya daripada Quraisy. Al-Bukhari telah menyebutkannya dengan tiga riwayat, Muslim sembilan riwayat. Abu Daud tiga riwayat, al-Turmudhi satu riwayat dan al-Humaidi tiga riwayat.

Pengkaji-pengkaji menegaskan bahawa hadith-hadith tersebut menunjukkan bahawa khalifah-khalifah selepas Nabi SAWAW ialah dua belas orang. Dan maksud hadith Nabi SAWAW ialah dua belas orang daripada Ahlu l-Baitnya. Kerana tidak mungkin dikaitkan hadith ini kepada khalifah-khalifah yang terdiri daripada bilangan mereka kurang daripada dua belas orang. Dan tidak mungkin dikaitkan dengan khalifah-khalifah Bani Umaiyyah kerana bilangan mereka melebihi dua belas orang dan kezaliman mereka yang ketara selain daripada ‘Umar bin Abdu l-Aziz. Tambahan pula mereka bukan daripada Bani Hasyim. Di dalam riwayat yang lain beliau memilih Bani Hasyim di kalangan Quraisy dan memilih Ahlu l-Baitnya di kalangan Bani Hasyim (Muslim, Sahih, II, hlm 81 (Fadhl Ahlu l-Bait)
.

Di dalam riwayat ‘Abdu l-Malik daripada Jabir bahawa Nabi SAWAW telah merendahkan suaranya ketika menyebutkan Bani Hasyim kerana ‘mereka’ tidak menyukai Bani Hasyim. Hadith ini juga tidak boleh dikaitkan dengan khalifah-khalifah Bani ‘Abbas kerana bilangan mereka melebihi bilangan tersebut. Dan mereka tidak mengambil berat tentang firmanNya “Katakan!” Aku tidak meminta upah daripada kamu kecuali mencintai keluargaku, ” sebagaimana juga mereka tidak menghormati hadith al-Kisa’. Justeru itu, hadith tersebut mestilah dikaitkan dengan dua belas Ahlu l-Baitnya kerana merekalah orang yang paling alim, warak, takwa, paling tinggi keturunan dan ilmu-ilmu mereka adalah daripada datuk-datuk mereka yang berhubungan dengan datuk mereka Rasulullah SAWAW dari segi “warisan” dan hikmah. Mereka pula dikenali oleh para ilmuan. Oleh itu apa yang dimaksudkan oleh hadith tersebut ialah dua belas Ahlu l-Bait Rasulullah Saww (Yanabi’ al-Mawaddah, hlm 445).
Ini juga diperkuatkan oleh hadith thaqalain, hadith al-Safinah, hadith al-Manzilah dan lain-lain.

Al-Qunduzi al-Hanafi (Yanabi’ al-Mawaddah, hlm 445) juga telah meriwayatkan hadith daripada Jabir dia berkata: Rasulullah SAWAW bersabda:”Akulah penghulu para Nabi dan ‘Ali adalah penghulu para wasi. Dan sesungguhnya para wasi selepasku ialah dua belas orang, pertama ‘Ali dan yang akhirnya Qaim al-Mahdi.”

Hadith-hadith yang menerangkan bahawa merekalah para wasi Rasulullah SAWAW di dalam buku-buku Ahlu l-Sunnah adalah banyak, dan ianya melebihi had mutawatir. Ini tidak termasuk hadith-hadith riwayat Syi’ah. Umpamanya hadith daripada Salman RD berkata: Aku berjumpa Nabi SAWAW dan Husain berada di atas dua pahanya. Nabi SAWAW sedang mengucup dahinya sambil berkata:’Anda adalah Sayyid bin Sayyid dan adik Sayyid. Anda adalah imam bin imam dan adik imam. Anda adalah Hujjah bin Hujjah dan adik Hujjah dan bapa hujjah-hujjah yang sembilan. Dan yang kesembilan mereka ialah Mahdi al-Muntazar.”

Al-Hamawaini al-Syafi’i di dalam Fara’id al-Simtin (Fara’id al-Simtin, II, hlm 26), meriwayatkan daripada ‘Ibn Abbas berkata: Aku mendengar Rasulullah SAWAW bersabda:”Aku , Ali, Hasan, Husain dan sembilan daripada anak-anak Husain adalah disuci dan dimaksumkan.”

Ibn ‘Abbas juga meriwayatkan bahawa Nabi SAWAW bersabda:”Wasi-wasiku, hujjah-hujjah Allah ke atas makhlukNya dua belas orang, pertamanya saudaraku dan akhirnya ialah anak lelakiku (waladi).” Lalu ditanya Rasulullah siapakah saudara anda wahai Rasulullah? Beliau menjawab:’Ali. Dan ditanya lagi siapakah anak lelaki anda? Beliau menjawab: al-Mahdi yang akan memenuhi bumi ini dengan kejujuran dan keadilan sebagaimana ianya dipenuhi dengan kerosakan dan kezaliman. Demi Tuhan yang mengutusku dengan kebenaran sebagai kegembiraan dan peringatan, sekiranya dunia ini tinggal hanya satu hari lagi nescaya Allah akan memanjangkannya sehingga keluar anak lelakiku al-Mahdi. Kemudian diikuti oleh ‘Isa bin Maryam. Beliau akan mengerjakan solat di belakang anak lelakiku. Dunia pada ketika itu berseri dengan cahaya Tuhannya dan pemerintahannya meliputi Timur dan Barat.

Al-Qunduzi al-Hanafi di dalam Yanabi’ al-Mawaddah bab 95) meriwayatkan bahawa Jabir bin ‘Abdullah berkata: Rasulullah saww bersabda : Wahai Jabir! Sesungguhnya para wasiku dan para imam selepasku pertamanya Ali kemudian Hasan kemudian Husain kemudian Ali bin Husain kemudian Muhammad bin Ali al-Baqir. Anda akan menemuinya wahai Jabir sekiranya anda mendapatinya, maka sampaikanlah salamku kepadanya. Kemudian Ja’far bin Muhammad, kemudian Musa bin Ja’far, kemudian Ali bin Musa, kemudian Muhammad bin Ali, kemudian Ali bin Muhammad, kemudian Hasan bin Ali. Kemudian al-Qa’im namanya sama dengan namaku dan kunyahnya sama dengan kunyahku, anak Hasan bin Ali. Dengan beliaulah Allah akan membuka seluruh pelosok bumi di Timur dan di Barat, dialah yang ghaib dari penglihatan. Tidak akan percaya kepada imamahnya melainkan orang yang telah diuji hatinya oleh Allah SWT. Jabir berkata: Wahai Rasulullah! Apakah orang2 dapat mengambil manfaat darinya ketika ghaibnya ? Beliau menjawab :”Ya..! Demi yang mengutusku dengan kenabian sesungguhnya mereka mengambil cahaya dari wilayahnya ketika ghaibnya, seperti orang mengambil manfaat dari matahari sekalipun ia ditutupi awan.” Ini adalah di antara rahsia-rahsia ilmu Allah yang tersembunyi. Maka rahsiakanlah mengenainya melain kepada orang yang ahli. (Yanabi’ al Mawaddah, hlm 494)

daripada Jabir al-Ansari berkata: Junda; bin Janadah berjumpa Rasulullah SAWAW dan bertanya kepada beliau beberapa masalah. Kemudian dia berkata: Beritahukan kepadaku wahai Rasulullah tentang wasi-wasi anda selepas anda supaya aku berpegang kepada mereka. Beliau menjawab: Wasi-wasiku dua belas orang. Lalu Jundal berkata: Begitulah kami dapati di dalam Taurat. Kemudian dia berkata: Namakan mereka kepadaku wahai Rasulullah. Maka beliau menjawab: “Pertama penghulu dan ayah para wasi adalah Ali. Kemudian dua anak laki2nya Hasan dan Husain. Berpegang teguhlah kepada mereka dan janganlah kejahilan orang-orang yang jahil memperdayaimu. Kemudian Ali bin Husain Zainal Abidin Allah akan mematikan anda (‘Ali bin Husain) dan menjadikan air susu sebagai bekalan terakhir di dunia ini.” (Yanabi’ al-Mawaddah Bb 76 hlm 441 – 444 )

Jundal berkata: Kami telah mendapatinya di dalam Taurat dan di dalam buku-buku para Nabi AS seperti Iliya, Syibra dan Syabir. Maka ini adalah nama ‘Ali, Hasan dan Husain, maka imam selepasnya dipanggil Zaina l-Abidin selepasnya anak lelakinya Muhammad, dipanggil al-Baqir. Selepasnya anak lelakinya Ja’far dipanggil al-Sadiq. Selepasnya anak lelakinya Musa dipanggil al-Kazim. Selepasnya anak lelakinya ‘Ali dipanggil al-Ridha. Selepasnya anak lelakinya ‘Ali dipanggil al-Naqiyy al-Hadi. Selepasnya anak lelakinya Hasan dipanggil al-Askari. Selepasnya anak lelakinya Muhammad dipanggil al-Mahdi al-Qa’im dan al-Hujjah. Beliau ghaib dan akan keluar memenuhi bumi dengan kejujuran dan keadilan sebagaimana ianya dipenuhi dengan kefasadan dan kezaliman. Alangkah beruntungnya bagi orang-orang yang bersabar semasa ghaibnya. Dan alangkah beruntungnya bagi orang-orang yang bertaqwa terhadap Hujjah mereka. Dan mereka itulah orang yang disifatkan oleh Allah di dalam firmanNya (Surah al-Baqarah(2): 2-3″Petunjuk bagi mereka yang bertaqwa iaitu mereka yang beriman kepada yang ghaib.” Kemudian beliau membaca (Surah al-Mai’dah(5):56)”Sesungguhnya parti Allahlah yang pasti menang.”Beliau bersabda: Mereka itu adalah daripada parti Allah (hizbullah).

Al-Hamawaini di dalam Fara’id al-Simtin (Yanabi’ al-Mawaddah, hlm 446 – 447) telah meriwayatkan hadith ini dan dinukilkan oleh al-Qunduzi al-Hanafi di dalam Yanabi’ al-Mawaddah bab 76 dengan sanad daripada Ibn ‘Abbas dia berkata: Seorang Yahudi bernama Na’thal datang kepada Rasulullah SAWAW dan berkata: Wahai Muhammad! Aku akan bertanya anda beberapa perkara yang tidak menyenangkan hatiku seketika. Sekiranya anda dapat memberi jawapan kepadaku nescaya aku akan memeluk Islam di tangan anda. Beliau SAWAW bersabda:”Tanyalah wahai Abu ‘Ammarah.’ Dia bertanya beberapa perkara sehingga dia berkata: Beritahukan kepadaku tentang wasi anda siapa dia? Tidak ada seorang Nabi melainkan ada baginya seorang wasi. Dan sesungguhnya Nabi kami Musa bin ‘Imran telah berwasiatkan kepada Yusyu’ bin Nun. Maka Nabi SAWAW menjawab”Sesungguhnya wasiku ialah ‘Ali bin Abi Talib, selepasnya dua anak lelakinya Hasan dan Husain kemudian diikuti oleh sembilan imam daripada keturunan Husain.’ Dia berkata: Namakan mereka kepadaku. Beliau menjawab:’Apabila wafatnya Husain, maka anaknya ‘Ali apabila wafatnya ‘Ali, anaknya Muhammad, Dan apabila wafatnya Muhammad, anaknya Ja’far. Apabila wafatnya Ja’far anaknya Musa. Apabila wafatnya Musa, anaknya Ali. Apabila wafatnya Ali, anaknya Muhammad. Apabila wafatnya Muhammad, anaknya ‘Ali. Apabila wafatnya ‘Ali anaknya Hasan. Apabila wafatnya Hasan, anaknya Muhammad al-Mahdi. Mereka semua dua belas orang…..”Akhirnya lelaki Yahudi tadi memeluk Islam dan menceritakan bahawa nama-nama para imam dua belas telah tertulis di dalam buku-buku para Nabi yang terdahulu, dan ia termasuk di antara apa yang telah dijanjikan oleh Musa AS.
Al-Hamawaini di dalam Fara’id al-Simtin meriwayatkan sanadnya kepada Abu Sulaiman penjaga unta Rasulullah SAWAW, dia berkata:”Aku mendengar Rasulullah SAWAW bersabda:”Di malam aku diperjalankan atau dibawa ke langit, Allah SWT berfirman:”Rasul mempercayai apa yang telah diturunkan kepadanya oleh TuhanNya.”Aku bersabda: Mukminun. Dia menjawab: Benar. Allah SWT berfirman lagi: Wahai Muhammad! Kali pertama Aku memerhatikan ahli bumi, Aku memilih anda. Aku menamakan anda dengan salah satu daripada nama-namaku. Oleh itu dimana sahaja Aku diingati, anda diingati bersama. Akulah al-Mahmud dan andalah Muhammad. Kemudian Aku memerhatikannya kali kedua, maka Aku memilih ‘Ali. Maka Aku menamakannya dengan namaku. Wahai Muhammad! Aku telah menjadikan anda dari Aku dan menjadikan ‘Ali, Fatimah, Hasan, Husain dan imam-imam daripada keturunan Husain daripada cahayaKu. Akupun membentangkan wilayah mereka kepada seluruh ahli langit dan bumi. Sesiapa yang menerimanya akan berada di sisiKu sebagai Mukminin. Dan sesiapa yang mengingkarinya akan berada di sisiKu sebagai kafirin. Wahai Muhammad! Sekiranya seorang daripada hamba-hambaKu beribadat kepadaKu tanpa terhenti-henti kemudian mendatangiKu dalam keadaan mengingkari wilayah kalian, nescaya Aku tidak mengampuninya. Allah SWT berfirman lagi kepada Nabi SAWAW: Adakah anda ingin melihat mereka? Beliau menjawab: Ya! Wahai Tuhanku. Dia berfirman: Lihatlah di kanan ‘Arasy, maka aku dapati ‘Ali, Fatimah, Hasan, Husain, ‘Ali bin Husain, Muhammad bin ‘Ali, Ja’far bin Muhammad, Musa bin Ja’far, ‘Ali bin Musa, Muhammad bin ‘Ali, ‘Ali bin Muhammad, Hasan bin ‘Ali dan Muhammad al-Mahdi bin Hasan. Mereka diibaratkan bintang-bintang yang bersinar di kalangan mereka. Kemudian Dia berfirman lagi: Mereka itulah hujjah-hujjah ke atas hamba-hambaKu, mereka itulah wasi-wasi anda. Dan al-Mahdi adalah daripada ‘itrah anda. Demi kemuliaanKu dan kebesaranKu, dia akan membalas dendam terhadap musuh-musuhKu.”

Muwaffaq bin Ahmad al-Hanafi di dalam Manaqibnya meriwayatkan daripada Salman daripada Nabi SAWAW, sesungguhnya beliau bersabda kepada Husain:”Andalah imam anak lelaki seorang imam, saudara kepada imam, bapa kepada sembilan imam. Dan yang kesembilan daripada mereka ialah Qaim mereka (al-Mahdi AS).
Begitulah juga Syahabuddin al-Hindi di dalam Manaqibnya telah menerangkan sanadnya daripada Nabi SAWAW bahawa beliau bersabda:”Sembilan imam adalah daripada anak cucu (keturunan) Husain bin ‘Ali dan yang kesembilan mereka adalah Qaim mereka (imam al-Mahdi al-Muntazar AS).

Al-Hamawaini al-Syafi’e meriwayatkan di dalam Fara’id al-Simtin bahawa Nabi SAWAW bersabda:” Siapa yang suka berpegang kepada ugamaku dan menaiki bahtera kejayaan selepasku, maka hendaklah dia mengikuti ‘Ali bin Abi Talib, memusuhi seterunya dan mewalikan walinya kerana beliau adalah wasiku, dan khalifahku ke atas ummatku semasa hidupku dan selepas kewafatanku. Beliau adalah imam setiap muslim dan amir setiap mukmin, perkataannya adalah perkataanku, perintahnya adalah perintahku. Larangannya adalah laranganku. Pengikutnya adalah pengikutku. Penolongnya adalah penolongku. Orang yang menjauhinya adalah menjauhiku.”
Kemudian Nabi SAWAW bersabda lagi: Sesiapa yang menjauhi ‘Ali selepasku, dia tidak akan ‘melihatku.’ Dan aku tidak melihatnya di hari kiamat. Dan siapa yang menentang ‘Ali, Allah haramkan ke atasnya syurga dan menjadikan tempat tinggalnya di neraka. Siapa yang menjauhi ‘Ali, Allah akan menjauhinya di hari kiamat. Di hari itu akan didedahkan segala-galanya dan sesiapa yang menolong ‘Ali, nescaya Allah akan menolongnya.
Kemudian beliau bersabda lagi: Hasan dan Husain kedua-duanya adalah imam ummatku selepas bapa mereka berdua adalah penghulu-penghulu pemuda syurga. Ibu kedua-duanya adalah penghulu para wasi. Dan sembilan imam adalah daripada anak cucu Husain. Dan yang kesembilan mereka adalah Qaim mereka (imam al-Mahdi). Mentaati mereka adalah ketaatan kepadaku. Mendurhakakan mereka adalah mendurhakaiku. Kepada Allah aku mengadu bagi orang yang menentang kelebihan mereka, dan menghilangkan kehormatan mereka selepasku. Cukuplah bagi Allah sebagai wali dan penghulu kepada ‘itrahku, para imam ummatku. Pasti Allah akan menyiksa orang yang menentang hak mereka.”Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.”(Al-Syuara’(26): 227)

Ayatullah al-’Uzma al-Hulli di dalam bukunya Kasyf al-Haq (Kasyf al-Haq, I, hlm 108) telah menerangkan sebahagian daripada hadith dua belas khalifah dengan riwayat yang bermacam-macam. Seorang musuh ketatnya bernama Fadhl bin Ruzbahan al-Nasibi adalah orang yang paling kuat menentang Ahlu l-Bait AS, di dalam jawapan kepadanya mengakui bahawa apa yang disebutkan oleh Allamah al-Hulli mengenai dua belas khalifah adalah Sahih dan telah dicatat di dalam buku-buku Sahih Ahlu s-Sunnah.

Aku berkata: Riwayat hadith dua belas imam daripada Nabi SAWAW adalah terlalu banyak. Kami hanya menyebutkan sebahagian kecil daripada buku-buku Ahlu s-Sunnah wa l-Jama’ah yang mencatatkan hadith tersebut. Seperti al-Bayan karangan al-Hafiz al-Khanji, Fasl al-Khittab karangan Khawajah Faris al-Hanafi, Arba’in karangan Syeikh As’ad bin Ibrahim al-Hanbali, Arba’in karangan Ibn Abi l-Fawarith dan lain-lain buku Ahlu s-Sunnah. Adapun riwayat Syi’ah mengenainya adalah tidak terhitung banyaknya.

Sayyid Hasyim al-Bahrani di dalam bukunya Ghayah al-Maram (Ghayah al-Maram, I, hlm 309) telah menjelaskan hadith dua belas imam sebanyak enam puluh riwayat dengan sanad-sanadnya menurut metod Ahlu s-Sunnah wa l-Jama’ah. Tujuh riwayat daripada buku Manaqib Amiru l-Mukminin AS karangan Maghazali al-Syafi’i, dua puluh tiga riwayat daripada Fara’id al-Simtin karangan al-Hamawaini, satu riwayat daripada Fusul al-Muhimmah karangan Ibn al-Sibagh al-Maliki dan satu riwayat daripada Syarh Nahj al-Balaghah karangan Ibn Abi l-Hadid.

Aku berkata: Sesungguhnya aku telah mengkaji risalah karangan Syaikh Kazim ‘Ali Nuh RH berjudul Turuq Hadith al-A’immah min Quraisy, hlm. 14. Dia berkata bahawa ‘Allamah Sayyid Hasan Sadr al-Din di dalam bukunya al-Durar al-Musawiyyah Fi Syarh al-’Aqa’id al-Ja’fariyyah telah mengeluarkan hadith dua belas khalifah daripada Ahmad bin Hanbal sebanyak tiga puluh empat riwayat. Hadith ini telah dikeluarkan juga oleh al-Bukhari, Muslim, al-Humaidi, beberapa riwayat Razin di dalam Sahih Sittah, riwayat al-Tha’labi, Abu Sa’id al-Khudri, Abu Bardah, Ibn Umar, Abdu r-Rahman Ibn Samurah, Jabir, Anas, Abu Hurairah, Ibn ‘Abbas, ‘Umar bin al-Khattab, ‘Aisyah, Wa’ilah dan Abi Salma al-Ra’i.

Adapun riwayat Umar bin al-Khattab yang telah dikaitkan kepadanya oleh ‘Ali bin al-Musayyab mengenai sabda Nabi SAWAW ialah: Para imam selepasku di antaranya Mahdi ummat ini. Siapa yang berpegang kepada mereka selepasku, maka sesungguhnya dia telah berpegang kepada tali Allah. Hadith ini juga telah dikaitkan dengan al-Durasti dengan Ibn al-Muthanna yang bertanya kepada ‘Aisyah:”Berapakah khalifah Rasulullah SAWAW. ‘Aisyah menjawab:’Beliau (Rasulullah SAW) memberitahuku bahawa selepasnya dua belas khalifah.’ Aku bertanya: Siapakah mereka? Maka ‘Aisyah menjawab:’Nama-nama mereka tertulis di sisiku dengan imla Rasulullah SAWAW.’ Maka aku bertanya kepadanya: Apakah nama-nama mereka? Maka dia enggan memperkenalkannya kepadaku.’

Sayyid al-Bahrani juga mencatat sebahagian daripada buku-buku Ahlu s-Sunnah yang menyebutkan dua belas khalifah. Di antaranya Manaqib Ahmad bin Hanbal, Tanzil al-Qur’an fi Manaqib Ahlu l-Bait karangan Ibn Nu’aim al-Isfahani, Faraid al-Simtin karangan al-Hamawaini, Matalib al-Su’ul karangan Muhammad bin Talhah al-Syafi’i, Kitab al-Bayan karangan al-Kanji al-Syafi’i, Musnad al-Fatimah karangan al-Dar al-Qutni, Fadhail Ahlu l-Bait karangan al-Khawarizmi al-Hanafi, al-Manaqib karangan Ibn al-Maghazali al-Syafi’i, al-Fusul al-Muhimmah karangan Ibn al-Sibagh al-Maliki, Jawahir al-’Aqdain karangan al-Samhudi, Dhakha’ir al-’Uqba karangan Muhibbuddin al-Tabari, Mawaddah al-Qurba karangan Syihab al-Hamdani al-Syafi’i, al-Sawa’iq al-Muhriqah karangan Ibn Hajr al-Haithami, al-Isabah karangan Ibn Hajr al-’Asqalani, Musnad Ahmad bin Hanbal, Musnad Abi Ya’la al-Mausuli, Musnad Abi Bakr al-Bazzar, Mu’jam al-Tabrani, Jam’ al-Saghir karangan al-Suyuti, Kunuz al-Daqa’iq karangan al-Munawi dan lain-lain.

Aku berkata: Sesungguhnya riwayat-riwayat yang berbilang-bilang yang datang kepada kita menurut metod Ahlu s-Sunnah adalah sekuat dalil, dan hujjah yang paling terang bahawa sesungguhnya khalifah selepas Rasulullah SAWAW secara langsung ialah Imam Amiru l-Mukminin ‘Ali bin Abi Talib AS. Dan selepasnya ialah anak-anaknya sebelas imam yang maksum, pengganti Rasul dan para imam Muslimin satu selepas satu sehingga manusia ‘berhadapan’ dengan Tuhan mereka. Tiada seorangpun yang dapat mengingkari hadith-hadith yang sabit yang diriwayatkan menurut riwayat para ulama besar Ahlu s-Sunnah dan pakar-pakar hadith mereka, lebih-lebih lagi menurut riwayat Syi’ah. Kecuali cahaya pemikirannya telah dipadamkan dan dijadikan di hatinya penutup. Justeru itu ia adalah termasuk di dalam firmanNya di dalam (Surah al-Baqarah (2): 171)”Mereka itu bisu dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti.”Dan firmanNya (Surah al-Zukhruf(43): 36) “Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah, Kami akan adakan baginya syaitan (yang menyesatkan), maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.”Dan firmanNya (Surah al-Kahf(18):57)”Kami jadikan di hati mereka tutupan (sehingga mereka tidak) memahaminya dan (Kami letakkan) sumbatan di telinga mereka, sekalipun kamu menyeru mereka kepada petunjuk, nescaya tidak akan mendapat petunjuk selama-lamanya.”

Ini adalah disebabkan penentangan mereka kepada dalil yang terang dan nas yang zahir kerana fanatik, kufur, dan kedegilan mereka.

Muhammad bin Idris al-Syafi’i memperakui kesahihan apa yang kami telah menyebutkannya dengan syairnya yang masyhur:

Manakala aku melihat manusia telah berpegang
kepada mazhab yang bermacam-macam
di lautan kebodohan dan kejahilan
Aku menaiki dengan nama Allah bahtera kejayaan
mereka itulah Ahlu l-Bait al-Mustaffa
penamat segala Rasul.

Pengiktirafan Syafi’i bahawa ‘Ali adalah imam dan selepasnya sebelas imam merupakan pengiktirafan yang besar daripada seorang imam mazhab empat. Dan ianya menjadi hujjah keimamahan dua belas imam maksum dari keluarga Rasulullah SAWW.

Sekarang, persoalannya adalah, sudahkah anda mengenal Imam Zaman anda?

Mazhab Syi’ah Imamiyah Itsna ‘Asyariyah, meyakini dengan seyakin – yakinnya bahwa Kepemimpinan Umat ( IMAMAH ) dalam urusan agama dan dunia sepeninggal Nabiyullah Muhammad SAW telah ditetapkan oleh Rasulullah Muhammad SAW…

KEHARUSAN BER – IMAMAH

Mazhab Syi’ah Imamiyah Itsna ‘Asyariyah, meyakini dengan seyakin – yakinnya bahwa Kepemimpinan Umat        ( IMAMAH ) dalam urusan agama dan dunia sepeninggal Nabiyullah Muhammad SAW telah ditetapkan oleh Rasulullah Muhammad SAW dan wasiat para Imam sesudah beliau. Kami meyakini dengan seyakin – yakinnya bahwa Pemimpinan Umat , dengan berbagai istilah seperti Imam, Khalifah, Ulil Amri, Wali dan lain – lain – hanya berhak disandang oleh para pemimpin dari kalangan Ahlul Bait Nabi SAW dan keturunannya yang berjumlah 12 orang.

Kenapa kami harus memiliki keyakinan seperti ini ?. Apakah karena kami tertipu oleh ulah si Yahudi Abdullah bin Saba’ , seperti yang sering diembus – embuskan oleh musuh – musuh dan pembenci Syi’ah ?. Absolutely, not !.

Sebabnya ialah – meminjam ungkapan Sayyid Syarafuddin Al Musawi – bahwa dalil – dalil ( petunjuk, nash )  syari’ah telah memaksa kami untuk berpegang teguh hanya kepada para Imam Ahlul Bait Nabi SAW dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam kepemimpinan umat dan rujukan agama. Dalil – dalil yang pasti dan meyakinkan itulah yang telah menghilangkan pilihan lain bagi setiap mukmin dan menghalanginya dari apa yang diinginkannya ( andaikata ia ingin memilih sesuatu yang lain ) !.

Dalil – dalil syari’ah yang kami maksud tidak saja terdapat di dalam kitab – kitab hadis yang berasal dari kalangan ulama kami, tetapi juga termaktub di banyak kitab –hadis dari para ulama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah ( Sunni ). Diantaranya ,misalnya, keharusan berimam atau memiliki Imam dan mengenal Imam zamannya.

Banyak sekali hadis dari kalangan Ahlus Sunnah yang meriwayatkan sabda Nabi SAW tentang keharusan ber- Imam atau memiliki Imam dan mengenal Imam zamannya, diantaranya :

  • “Barangsiapa mati tanpa Imam, maka ia mati dalam keadaan jahiliyah”
  • “Barangsiapa meninggal dan tidak mengetahui Imam zamannya, maka ia meninggal dalam keadaan jahiliyah “

Orang yang tidak berImam dan tidak mengenal Imam zamannya akan mati dalam keadaan jahiliyah. Mati dalam keadaan jahiliyah diartikan sebagai mati tidak dalam keadaan Islam. Jadi,  keharusan ber-Imam dan mengenal Imam zamannya merupakan kewajiban setiap mukmin. Sehingga tidak bisa dipungkiri lagi bahwa  Imamah merupakan salah satu pokok ajaran agama.

 

12 IMAM / KHALIFAH

Mazhab Syi’ah Imamiyah ‘Itsna Asyariyah meyakini bahwa  Kepemimpin Umat  ( Imamah ) sepeninggal Rasulullah Muhammad SAW, dengan berbagai jabatan seperti Imam, Khalifah, Wali dan sebagainya berjumlah 12 orang yang semuanya berada dalam garis keturunan Ahlul Bait Nabi SAW.

Riwayat – riwayat tentang 12 Pemimpin ini dapat kita temukan di dalam kitab – kitab hadis di kalangan ulama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Rasulullah SAW bersabda : “ Agama ( Islam ) akan selalu tegak dan kukuh sampai tiba saatnya atau sampai berlalu dua belas khalifah( pemimpin ), semuanya dari Quraisy “

( Sahih Muslim, jilid 6 halaman 3 – 4 , Bab  “ Manusia Mengikuti Orang Quraisy, Kitab Pemerintahan. Hadis ini juga terdapat di dalam kitab Shahih Tirmidzi, Bab  “ Apa yang terjadi pada para khalifah melalui pintu fitnah “, Sunan Abi Dawud, jilid 3 halaman 106, dll ).

2. Diriwayatkan oleh Bukhari dari Jabir yang berkata : “ Aku mendengar Nabi SAW bersabda : “ Akan ada dua belas amir ( pemimpin ) dan kemudian belia bersabda dengan kalimat yang tidak aku pahami. Dan, ayahku berkata : “ Semuanya dari orang Quraisy “.

Dan, dalam riwayat lain lagi ; “ Kemudian Nabi bersabda dengan kalimat yang sulit aku pahami dan aku bertanya kepada ayahku apa yang disabdakan Rasulullah SAW, maka ( ayahku ) berkata : “ Semuanya orang Quraisy “.

( Fat’l Al Bari, jilid 16, hal. 338, Mustadrak Shahihain, jilid 3, hal. 617 )

3. Rasulullah bersabda : “ Urusan manusia ( amr an nas ) tidak akan berlalu sebelum berlalu dua belas orang yang menjadi wali ( penguasa )”

 

( Shahih Muslim bi Syarh Nawawi, jilid 12 hal. 202, Jalaluddin As Suyuthi, Tarikh Al Khulafa, hal. 10 dll ).

 

4. Rasulullah SAW bersabda : “ Urusan umat ini ( amr hadzihil ummah ) senantiasa akan jaya sampai berlalu dua belas imam ( pemimpin ), semuanya orang Quraisy “ ( Kanzul – ‘Ummal, jilid 13, hal. 27 ).

5. Dan diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Al Hakim dengan lafal  seperti yang pertama, dari Masruq yang berkata : “ Kami sedang duduk suatu malam di rumah ‘Abdillah ( Ibnu Mas’ud ) yang membacakan kepada kami Al Qur’an. Seorang lelaki mengajukan pertanyaan : “ Ya ayah dari ‘Abdurrahman, apakah kamu pernah bertanya kepada Rasul Allah SAW berapa khalifah dari umat    ini ? “. Maka, ‘Abdillah menjawab : “ Tiada seorangpun bertanya tentang masalah ini sampai saya datang dari Iraq sebelum anda !”. Menanyakannya dan beliau SAW bersabda : “ Dua belas seperti jumlah dua belas nuqaba ( pemimpin ) Banu Israil “

 

( Musnad Ahmad, jilid 1, hal. 398, 406 ; Al Hakim, Mustadrak, jilid 4, hal. 501, Fat’h – Al Bari, jilid 16, hal. 339 dll ).

Lantas, siapa 12 Imam / Khalifah yang wajib dikenal dan ditaati itu yang dengannya kita tidak akan mati dalam keadaan jahiliyah ?. Kami, kaum muslimin dari mazhab Syi’ah Imamiyah ‘Itsna ‘Asyariyah ( Syi’ah 12 Imam ) berkeyakinan mereka adalah para Imam / Khalifah dari Ahlul Bait Nabi SAW dan Keturunannya , dimulai dari Imam Ali bin Abi Abi Thalib dan berakhir pada Imam Mahdi afs.

Nah, pertanyaan buat Ustad   Aswaja  Sunni  dan para pengikutnya . Tolong sebutkan siapa saja nama – nama 12 Imam yang wajib kalian kenal dan kalian ta’ati itu ?.

firman Allah SWT di dalam KitabNya yang menjadikan  kontinuitas kepemimpinan di dalam keturunan Nabiyullah Ibrahim AS. Simak Surah Al Baqarah   ( 2 ) ayat 124.

“ Dan ( ingatlah )  ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat            ( perintah dan larangan ), lalu Ibrahim melaksanakannya dengan baik. Allah berfirman : “ Sesungguhnya Aku akan menjadikan engkau pemimpin ( imam ) bagi manusia “. Ibrahim berkata : “ Dan dari keturunanku ( juga ) ! “. Allah berfirman : “ Janjiku ( ini ) tidak akan diperoleh orang – orang yang zalim “.

Ayat di atas menegaskan bahwa Allah SWT akan menjadikan para Imam di dalam garisi keturunan Nabi Ibrahim AS . Di bagian lain Ibrahim AS berdo’a kepada Allah SWT  seperti termaktub di dalam Surah Ibrahim ( 14 )  ayat 37, sbb :

“ Tuhan kami, sesungguhnyab aku telah menempatkan  sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam – tanaman di dekat rumahMu ( baitullah ) yang dihormati. Ya Tuhan kami, ( yang demikian itu ) agar mereka mendirikan sholat, maka jadikanlah hati manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah – buahan, mudah – mudahan mereka bersyukur “

Semua ahli tafsir sependapat bahwa Nabi Muhammad SAW dan Ahlul Bait beliau merupakan keturunan  ( dzurriyah ) dari Nabi Ibrahim AS.

para tokoh dan ulama Syi’ah sejak dulu sampai sekarang secara tegas sudah menyatakan bahwa orang yang bernama Al Nuri itu bukanlah orang yang layak untuk diikuti dan kitabnya Fashul Kitab telah ditolak dan ditentang secara keras.

Satu hal yang sering dilakukan oleh Ustad Farid  Ahmad  Oqbah, MA  ( ulama  Aswaja Sunni )  untuk meyakinkan para pendengarnya tatkala beliau menyampaikan ceramah – ceramah anti Syi’ahnya ialah menyebut – nyebut dan sesekali  mempertontonkan kepada para hadirin buku – buku atau kitab – kitab yang menghujat Syi’ah,  yang – katanya- ditulis oleh ulama atau mantan ulama Syi’ah . Padahal , kitab – kitab atau ulama – ulama yang dijadikanya rujukan itu ditolak dan ditentang secara keras oleh mayoritas ulama Syi’ah. Dan memang cara – cara seperti itulah yang lazim digunakan oleh para pembenci Syi’ah untuk menghujat Syi’ah  yakni mengutip perkataan orang – orang Syi’ah yang ‘mbalelo dan nyeleneh’ dan kemudian menjadikannya sebagai amunisi untuk menembaki Syi’ah.

Cara –cara curang seperti ini , sama saja – misalnya –  dengan mengutip perkataan ‘menyimpang / sesat’ dari Ulil Abshar Abdallah yang bertentangan dengan keyakinan dan pemahaman ‘mainstream’ Nadhlatul Ulama ( NU ) atau Ahlus Sunnah Wal Jama’ah  ( Aswaja ) . Lalu, kemudian secara sewenang – wenang mengatakan bahwa keyakinan NU  dan Aswaja adalah persis seperti yang dipahami atau yang diyakini oleh Ulil Abshar Abdallah tersebut.  Kita akan melihat bagaimana cara – cara irrasional seperti ini digunakan oleh Ustad FAO untuk menghantam Syi’ah.

Salah satu kitab favorit Ustad FAO yang sering beliau sebut sebut sekaligus selalu beliau pertontonkan di hadapan jama’ahnya  ialah kitab Fashlul Khitab fi Tharif Kitab Rabbil Arbab , tulisan  An Nuri . Mari kita simak apa yang beliau katakan tentang kitab ini.

Di dalam VCD bertajuk ‘ Syi’ah dan Perbedaannya dengan Ahlus Sunnah ‘ ( 09:42 ) Ustad FAO berkata :

…….. kalau ini refrensi  utamanya orang Syi’ah….. kalau ini adalah rujukannya seluruh ulama Syi’ah di dalam menetapkan adanya pengurangan dan penambahan di dalam Al Qur’an…. Ini kitab asli….namanya Fashlul Khitab fi Tahrif Kitab Rabbil Arbab…. yang kemudian membawakan 1045 riwayat yang menyatakan adanya penambahan dan pengurangan terhadap Al Qur’an …….Nah, ini sangat berbahaya betul ini…. dan ini diakui oleh mereka…..sampai sekarang tidak ditolak oleh mereka……


Di dalam acara Dauroh Sehari di Masjid Al Manar Bekasi Utara, pada tanggal 11 April 2010, beliau mengatakan :

…. Bukan cuma ini…oleh ulama mereka yang disebut dengan An Nuri Ath Tibrisi mengumpulkan seribu empat puluh lima riwayat… ini buku asli..buku asli mereka..namanya Fashlul Kitab fi Tahrif Kitab Robbil Arbab, jadi…… ungkapan yang memutuskan tentang adanya penyimpangan terhadap kitab yang Maha Besar , ..Tuhannya ..Allah SWT…Al Qur’an………………… disini disebutkan ada  1 surah yang hilang dari Al Qur’an yaitu Surah Al Wilayah….. dan disini disebutkan banyak sekali sejumlah ayat yang tidak ada di dalam Al Qur’an sekarang  ….1045 riwayat……

Mari kita kupas kebohongan dan dusta yang ‘disenandungkan’ oleh Ustad FAO berkaitan dengan Fashlul Kitab

ULAMA SYI’AH MENOLAK FASHLUL KITAB !.

Kitab yang dimaksudkan oleh Ustad FAO  tersebut berjudul Fashlul Khitab fi Tharif Kitab Rabbil Arbab. Kitab ini dicetak pada tahun 1291 H  (  +/-  1870 M ) atau kira – kira 140 tahun yang silam.  Penulis kitab ini disebut – sebut  sebagai seseorang yang bernama Nuri Thabarsi

Siapakah Nuri Thabarsi ini ?. Marilah kita ikuti penjelasan dari kalangan ulama Syi’ah sebagaimana termaktub di dalam buku “ Encyclopedia of Shiah “ ( Digital Islamic Library  Project ) ,pada Bab 14. Keyakinan Syi’ah Terhadap Keutuhan Al Qur’an, di bawah subjudul ‘ Thabarsi dan Ketidaklengkapan Al Qur’an ‘, halaman 715 s/d 718, sebagai berikut :

“ Di kalangan Syi’ah ada 3 orang yang menyandang nama Thabarsi. Salah satu diantaranya ialah seseorang yang menulis sebuah buku yang menyebut – nyebut ketidaklengkapan Al Qur’an yang bernama Nuri Thabarsi (( Husain bin Muhammad Taqi Al Nuri Al Thabarsi ) atau Mirza Husain Nuri yang hidup di abad ke 19 dan awal – awal abad kedua puluh yaitu di sekitar tahun 1254 H ( 1838 M )  sampai tahun 1320 H    ( 1902 M ).

“ Orang – orang yang getol memvonis kafir terhadap Syi’ah dengan merujuk kepada kitab Al Nuri ini pastilah akan terkaget – kaget jika mengetahui kenyataan bahwa banyak hadis – hadis yang dikutip Al Nuri Al Thabarsi di dalam kitab ini, justru berasal dari  kitab – kitab yang terpercaya di kalangan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah ( Sunni ) ”.

“ Sebenarnya kitab ini terdiri atas 2 bahagian. Pada bagian pertama, penulis menyajikan riwayat – riwayat Sunni, sedangkan pada bagian kedua memuat riwayat – riwayat Syi’ah. Namun, sekte Wahabi, yang menyebarkan salinan kitab ini untuk menyerang Syi’ah, sengaja menghilangkan bagian buku yang memuat riwayat – riwayat / hadis – hadis Sunni “.

Dalam konteks ini, kita bisa mencium aroma kecurangan Ustad FAO yang mengesankan seolah – olah  Fashlul Kitab hanya memuat riwayat – riwayat Syi’ah saja. . Padahal di dalamnya juga termuat riwayat – riwayat / hadis – hadis dari Sunni yang menunjukkan adanya penambahan dan pengurangan di dalam ayat – ayat Al Qur’an. Saya akan menampilkannya dalam tulisan mendatang.

Kembali ke penjelasan Syi’ah.

“ Orang yang bernama Al Nuri maupun bukunya Fashlul Kitab tidak dijadikan otoritas bagi Syi’ah untuk hal apapun. Sebenarnya, ulama-ulama Syi’ah secara sepakat mengutuk pendapat orang ini ketika ia menyatakan pendapat seperti itu. Hal ini menunjukkan bahwa ulama-ulama Syi’ah meyakini bahwa tidak ada satu ayat pun yang hilang dari Quran”.

Mari kita dengarkan pula apa kata tokoh Syi’ah lainnya tentang Al Nuri dan Fashlul Kitab.

“ Nah, salah satu bentuk khianat mereka dalam memperkenalkan Islam dan al-Quran adalah penulisan dan penyebaran buku-buku yang memorak – porandakan barisan persatuan umat Islam; Syiah dan Ahli sunah. Salah satu buku yang kami maksud itu adalah buku Fashlul Khitab fi Tharif Kitab rabbil Arbab, dicetak pada tahun 1291 H, yang dinisbatkan kepada seseorang bernama Mirza Husain Nuri.

“ Para pemuka hauzah ilmiah Najaf saat itu, spontan mengingkari dan mengeluarkan perintah untuk menariknya dari peredaran serta menulis buku yang begitu banyak untuk menentang buku tersebut, di antara para ulama yang mengkritik dan menentang kitab tersebut adalah:

1.      Seorang faqih yang bernama Syekh Mahmud bin Abi Qasim yang terkenal dengan Muarrab Tehrani ( wafat pada tahun 1313 H – 1892 M ). Beliau menulis kitab Kasyful Irtiyab fi Adami Tahrifil Kitab.

2.      Allamah Sayyid Muhammad Husain Syahristani  ( wafat pada tahun 1315 H – 1894 M ) beliau menulis kitab lain dalam rangka menolak kitab Faslul Khitab dengan judul Hifdzul Kitabisy Syarif ‘an Syubhatil Qaul bit Tahrif.

3. Allamah Balaghi ( wafat pada Tahun 1352 H  – 1921 M  ) salah seorang muhaqqiq hauzah ilmiyah Najaf yang terkenal dengan karyanya, Tafsir Alau Rahman, yang ditulis beliau untuk menjawab isi buku Faslul Khitab.

Semua ulama itu menegaskan bahwa riwayat yang ada di dalamnya dhaif atau lemah baik dari sisi sanad maupun dilalahnya. Hanya sayang seribu sayang, Sebagian ulama Ahlus Sunah Wal Jama’ah tetap bersikeras menuduh, menuding dan memojokkan Syi’ah sebagai aliran yang meyakini tahrif Al Quran, dengan dalih buku ini, buku yang sejak awal ditentang oleh mayoritas ulama Syi’ah.

Dari penjelasan singkat di atas , kita bisa mengidentifikasi sejumlah kedustaan dan kebohongan yang dilontarkan oleh Ustad FAO. Perhatikan baik – baik !.

Kedustaan pertama. Ustad FAO mengatakan bahwa Fashlul Kitab merupakan rujukannya seluruh ulama Syi’ah di dalam menetapkan adanya pengurangan dan penambahan di dalam Al Qur’an. Wahai Ustad FAO, janganlah anda berbohong dan berdusta !. Dimana dan siapakah gerangan orang Syi’ah yang meyakini bahwa Fashlul Kitab itu merupakan rujukannya seluruh ulama Syi’ah ?. Tolong sebutkan siapa saja nama – nama ulama – yang anda katakan ‘seluruh’ itu – yang merujuk kepada kitab itu !. Jujurlah Ustad !,  dan itu akan lebih mendekatkan anda kepada kebenaran dan keadilan !. Faktanya, ulama – ulama Syi’ah secara sepakat telah mengutuk pendapat orang ini ketika ia menyatakan pendapat seperti itu !. Lantas, kenapa anda memaksakan kami untuk meyakini apa yang kami tolak dan kami kutuk ?.  Kenapa, Ustad ?.

Kedustaan kedua. Ustad FAO mengatakan ….. ini diakui oleh mereka…..sampai sekarang tidak ditolak oleh mereka……. Pertanyaan yang sama Ustad. Siapa saja ‘mereka’                 ( mayoritas ulama Syi’ah Imamiyah Itsna ‘Asyariyah – pen ) yang anda sebut – sebut mengakui Fashlul Kitab sebagai rujukan adanya penambahan dan pengurangan terhadap Al Qur’an ?. Siapa, Ustad ?. Faktanya, tidak  ada ijma’ mayoritas ulama kami yang mengakui nya. Jadi, itu, ‘ cumi ‘ Ustad FAO saja ! !! ( Ma’af , ‘cumi’  adalah akronim dari  cuma mimpi ).

Kedustaan ketiga. Lagi – lagi Ustad FAO mengumbar kata dengan mengatakan ….. sampai sekarang ( kitab Fashlul Kitab – pen ) tidak ditolak oleh mereka !. Duh, Ustad, anda berani benar mengatakan sesuatu yang tidak anda ketahui untuk kemudian menyebarkan kedustaan dan kebohongan. Dalam kenyataannya, para ulama kami telah menolak dan menulis buku untuk membantah An Nuri dan Fashlul Kitab-nya seperti yang telah saya paparkan di atas.

Nah, sekarang coba anda dengarkan pula apa kata ulama Syi’ah kotemporer  Prof. DR. Muhammad Hadi Ma’rifat yang melakukan penelitian tentang Al Nuri dan Fashlul Kitab di dalam kitabnya Tarikh Al Qur’an, halaman 256 s/d 266 sebagai berikut.

“ Kemudian, setelah lebih dari 200 tahun, Haji Nuri ( w.1320  H ) menulis kitab Fashl Al – Khitab yang menyodorkan sekumpulan tentang masalah ini. Namun keberadaan riwayat tersebut tidak bisa diakui dan tidakmendukung tujuan beliau “

“ Haji Nuri ( Al Nuri ) menukil riwayat – riwayat yang secara umum dinukil dari kitab – kitab yang tidak diakui. Dari 1122 riwayat yang dia sebutkan di dalam kitab Fashl Al Khitab terdapat 815 riwayat yang dinukil dari kitab – kitab yang tak diakui. Kitab – kitab itu adalah sebagai berikut :

  1. Risalah_i dar Muhkam wa Mutasyabih_e Qur’an. Sampai sekarang kitab ini tidak jelas siapa penulisnya.
  2. Kitab As Saqifah. Kitab yang mengalami perubahan ini dinisbahkan kepada Sulaim bin Qais dan sudah tidak bisa dianggap karyanya lagi.
  3. Kitab Al Qira’at, karya Ahmad bin Muhammad Sayyari dikenal sebagai orang yang berstatus lemah dan tidak bisa dipercaya.
  4. Tafsir Abil Jarud, dari kalangan Syi’ah Ghulat yang dilaknat oleh Imam Ja’far Shadiq as.
  5. Tafsir yang dinisbahkan kepada Ali bin Ibrahim Qomi, namun kitab ini bukan karyanya melainkan karya orang lain dan sudah mengalami perubahan.
  6. Kitab Al Istighatsah, karya Ali bin Ahmad Kufi yang dikenal dengan orang yang bermazhab rusak.
  7. Sebagian kitab kitab tafsir yang tidak memiliki sanad diakui dan gugur dari hujjah dan kemungkinan bersanad seperti Tafsir Al Ayyasyi, Tafsir Furat bin Ibrahim dan Tafsir Abbul Abbas Mahyar

“ Kitab yang tersebut di atas itulah yang dijadikan sumber rujukan oleh Al Nuri. Dia sendiri mengetahui bahwa kitab kitab tersebut tidak bisa dijadikan sandaran. Sebagaimana yang dikatakan pepatah, ‘ orang yang nyaris tenggelam akan mencari pegangan, meskipun kepada rumput ‘.”

“ Dari 307 sisa riwayat yang dinukil dari kitab – kitab yang diakui, 107 riwayatnya berhubungan dengan bab Qira’at. Perlu diketahui bahwa sebagian dari Imam Imam suci – dalam hal bacaan – mereka mengujarkan secara berbeda – beda. Jelas bahwa perbedaan bacaan tidak ada kaitannya dengan masalah tahrif. Sebab perbedaan Qira’at Sab’ah atau empat belas Qira’at selalu berlaku di tengah – tengah kaum muslimin dan tak seorangpun menganggapnya sebagi bukti adanya tahrif . Kami tidak mengerti mengapa Al Nuri berbuat kesalahan besar ini “

“ Dua ratus riwayat yang tersisa dan dijadikan sebagai sandaran oleh ahli tahrif, kebanyakan tidak menunjukkan adanya masalah tahrif, melainkan menunjukkan masalah – masalah yang lain”.

Walhasil, para tokoh dan ulama Syi’ah sejak dulu sampai sekarang secara tegas sudah menyatakan bahwa  orang yang bernama Al Nuri itu bukanlah orang yang layak untuk diikuti dan kitabnya Fashul Kitab telah ditolak dan ditentang secara keras. Pertanyaan kita ialah , kenapa Ustad FAO yang bukan Syi’ah tetap ngotot mati matian membela si Al Nuri dan Fashul Kitab dan secara semena – mena menisbahkannya kepada Syi’ah ?. Apa maksud dan tujuanmu, wahai Ustad ?.

Wallahu ‘alam bis sawab.

Kualitas Hadis ““ Sesungguhnya Al Qur’an yang dibawa Jibril AS kepada ( Nabi ) Muhammad SAW adalah 17 ribu ayat ””

Di dalam buku berjudul “ Sunnah Syi’ah Dalam Ukhuwah Islamiyah “, karya Husein Al Habsyi, pada halaman 98 di bawah subjudul Beberapa Pendapat Ulama Syi’ah Imamiyah Tentang Al Qur’an, tertulis sebagai berikut :

“Perlu diketahui, tuduhan yang mengatakan bahwa Syi’ah Imamiyah beranggapan bahwa Al Qur’an telah diubah atau dikurangi adalah tuduhan yang tidak berdasar dan salah. Disini kami ingin menyampaikan keterangan – keterangan ulama Syi’ah Imamiyah yang berkaitan dengan masalah ini, antara lain :

1. Syaikh Muhammad bin Ali bin Husain bin Babawaih Al Qummi

Di dalam risalahnya yang berjudul I’tiqaduna Fi Al Qur’an menyebutkan : “ Keyakinan kami tentang Al Qur’an ialah bahwa Al Qur’an yang sebenarnya adalah yang sekarang ada pada masyarakat dunia dan tidak lebih dari itu. Dan, orang yang menuduh bahwa Syi’ah Imamiyah mengatakan dan beranggapan lebih dari itu, ketahuilah bahwa ia adalah seorang pembohong”.

Al Qummi juga dengan tegas mengatakan bahwa “ Keyakinan dan anggapan seperti itu adalah anggapan seluruh Imamiyah dan mereka mengatakan bohong kepada orang yang menuduh adanya pengubahan ( tahrif ) pada Syi’ah ”

2. Syaikh Muhammad bin Hasan Al Thusi

 

Al Tibyan fi Tafsir Al Qur’an : “Anggapan bahwa Al Qur’an telah dikurangi dan ditambah sama sekali tidak layak diketengahkan oleh siapapun yang membahas persoalan ini, sebab adanya tambahan sudah di-ijma’- kan kebatilannya”

3. Abu Ali Al Fadhl Al Thabrasi

Penulis kitab Tafsir Majma’ Al Bayan mengatakan dalam salah satu mukadimah kitabnya : “ Anggapan tentang adanya penambahan Al Qur’an merupakan satu hal yang sudah jelas salah dan menyalahi ijma’ yang ada….”.

4. Syaikh Al Nabhani

Al Syaikh Bahauddin Muhammad bin Al Husain Al Amili berkata : “ Pendapat yang benar ialah bahwa Al Qur’an terjaga dari pengubahan baik berupa pengurangan maupun penambahan, berdasarkan firman Allah SWT : “ Dan sesungguhnya Kami benar – benar memeliharanya “ ( QS 15 : 9 ).

5. Al Muhaqqiq Al Tsani

Syaikh Ali bin Abdil Al Kharkhi yang dikenal dengan gelar Al Muhaqiq Al Tsani telah menulis sebuah buku tentang penolakan adanya pengurangan dan penambahan Al Qur’an berdasarkan ijma’.

6. Syaikh Ja’far Al Najafi

Syaikh Ja’far Al Najafi adalah seorang yang terkemuka pada zamannya dan ia adalah salah seorang ahli fiqih. Dalam mukadimah bukunya yang berjudul Kasyif Al Ghita’ , beliau menulis : “Tidak ragu lagi, Al Qur’an senantiasa terjaga dari kekurangan dengan penjagaan yang ketat dari Allah yang disebutkan dalam Al Qur’an dan kesepakatan para ulama di setiap zaman. Pendapat beberapa orang yang menolak keterangan itu tidak perlu dirisaukan”

7. Al Sayyid Muhsin Al Muhaqqiq Al Baghdadi

Ia adalah salah satu tokoh terkemuka pada zamannya. Dalam bukunya yang berjudul Syarh Al Waqifiyah , sebuah uraian mengenai ushul fiqih, ia menulis : “ Adanya ijma’ para ulama tentang tidak adanya tambahan di dalam Al Qur’an didukung oleh kebanyakan ulama. Begitu pula ulama kami, Syi’ah Imamiyah, mereka juga sepakat tentang tidak adanya kekurangan di dalam Al Qur’an”

Yang kami sebutkan di atas adalah nama ulama akhir – akhir ini atau yang sering kali disebut dengan ulama’ mutaakhkhirin . ( Sunnah Syi’ah Dalam Ukhuwah Islamiyah, karya tokoh Syi’ah termuka, Husain Al Habsyi, halaman 98 – 102 ).

Nah, anda lihat seluruh para ulama Syi’ah sudah sepakat ( ‘ijma ) bahwa Al Qur’an tidak mengalami perubahan ( tahrif ) , baik penambahan ataupun pengurangan. Lalu, muncullah Ustad salafi  yang bukan Syi’ah dan secara semena – mena memvonis bahwa Syi’ah meyakini tahrif Al Qur’an . Ini sangat menggelikan dan kita harus mempertanyakan, darimana anda mendapatkan ‘wangsit’ semacam itu , Pak Ustad ???.

Sengaja saya mengutip pendapat para ulama Syi’ah tersebut langsung dari bukunya Ustad Husain Al Habsyi yang berjudul ‘ Sunnah Syi’ah Dalam Ukhuwah Islamiyah ‘ itu.

Hadis yang disampaikan  salafi  itu secara lengkap berbunyi :

“ Sesungguhnya Al Qur’an yang dibawa Jibril AS kepada ( Nabi ) Muhammad SAW adalah 17 ribu ayat ”
Memang benar, hadis di atas diriwayatkan Syeikh al Kulaini (RH) dalam Kitab Al Kâfi pada Kitabu Fadhli Al Qur’an, Bab An Nawâdir. Namun, yang luput dari perhatian salafi  ialah kenyataan bahwa hadis di atas adalah hadis Âhâd (bukan mutawâtir) yang tidak akan pernah ditemukan di bagian lain di dalam kitab Al Kâfi maupun kitab-kitab hadis Syi’ah lainnya dengan sanad di atas.

.
For your information. Bahwa al Kulaini (RH) memasukkan hadis di atas dalam Bab An Nawâdir. Dan, tahukah anda apa yang kami maksudkan dengan An Nawadir  ?. Seperti disebutkan Syeikh Mufîd bahwa para ulama Syi’ah telah menetapkan bahwa hadis-hadis nawâdir adalah tidak dapat dijadikan pijakan dalam amalan, sebagaimana istilah nadir ( bentuk tunggal kata Nawâdir) sama dengan istilah Syâdz. Dan para Imam Syi’ah AS. telah memberikan sebuah kaidah dalam menimbang sebuah riwayat yaitu hadis syâdz harus ditinggalkan dan kita harus kembali kepada yang disepakati al Mujma’ ‘Alaih.

.

Imam Ja’far as. bersabda:

يَنْظُرُ إلَى ما كان مِن رِوَايَتِهِم عَناّ فِي ذلك الذي حَكَمَا بِه الْمُجْمَع عليه مِن أصحابِك فَيُؤْخَذُ بِه من حُكْمِنَا وَ يُتْرَكُ الشَّاذُّ الذي ليْسَ بِمَشْهُوْرٍ عند أصحابِكَ، فإنَّ الْمُجْمَعَ عليه لاَ رَيْبَ فيه.

َ“Perhatikan apa yang di riwayatkan oleh mereka dari kami yang jadi dasar keputusan mereka. Diantara riwayat riwayat itu, apa yang disepakati oleh sahabat-sahabatmu, ambillah ! . Adapun riwayat yang syâdz dan tidak masyhur di antara sahabat-sahabatmu tinggalkanlah !. Karena riwayat yang sudah disepakati itu tidak mengandung keraguan ” ( HR. Al Kâfi, Kitab Fadhli Al ‘Ilmi, Bab Ikhtilâf Al Hadîts, hadis no. 10 )

Sementara hadis di atas tidak meraih kemasyhuran dari sisi dijadikannya dasar amalan dan fatwa, tidak juga dari sisi berbilangnya jalur periwayatannya. Ia sebuah riwayat Syâdz Nâdirah dan bertentangan dengan ijmâ’ mazhab seperti yang dinukil dari para tokoh terkemukan Syi’ah di antaranya Syeikh Shadûq, Syeikh Mufîd, Sayyid al Murtadha ‘Almul Hudâ, Syeikh ath Thûsi, Allamah al Hilli, Syeikh ath Thabarsi dll.

.
Hadis di atas tidak memenuhi syarat-syarat diterimanya sebuah riwayat dan kaidah-kaidah pemilahan antara hadis shahih dan selainnya yang telah ditetapkan Syeikh Al Kulaini sendiri dalam Al Kâfi.

.
Pendek kata, hadis tersebut – menurut ulama Syi’ah – berstatus syadz ( meragukan ) dan ditolak untuk diamalkan atau dijadikan pegangan , karena itu tidak pernah dijadikan dasar amalan dan keyakinan Syi’ah

Yang benar adalah Imam Ali Ash Shiddiq, bukan Abubakar Ash Shiddiq

Terdapat hadis-hadis yang menyatakan Abu Bakar sebagai Ash Shiddiq secara jelas tetapi sayang sekali hadis tersebut dibicarakan sanad-sanadnya. Begitu pula terdapat hadis yang secara jelas menyatakan Imam Ali sebagai Ash Shiddiq dan hadis ini pun juga dibicarakan sanad-sanadnya. Aneh bin ajaib ada sekelompok orang yang menyebut diri mereka salafiyun merasa keberatan kalau Imam Ali disebut Ash Shiddiq. Menurut mereka gelar Ash Shiddiq mutlak untuk Abu Bakar saja. Diantara hadis yang paling sering mereka jadikan hujjah adalah

حدثنا محمد بن بشار حدثنا يحيى بن سعيد عن سعيد بن أبي عروبة عن قتادة عن أنس حدثهم أن رسول الله صلى الله عليه و سلم صعد أحدا و أبو بكر و عمر و عثمان فرجف بهم فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم اثبت أحد فإنما عليك نبي وصديق وشهيدان

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyar yang menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id dari Sa’id bin Abi Arubah dari Qatadah dari Anas yang menceritakan kepada mereka bahwa Rasulullah SAW mendaki gunung uhud bersama Abu Bakar, Umar dan Utsman kemudian gunung Uhud mengguncangkan mereka. Rasulullah SAW bersabda “diamlah wahai Uhud sesungguhnya diatasmu terdapat Nabi, shiddiq dan dua orang syahid” [Sunan Tirmidzi 5/624 no 3697] 

Pada hadis ini tidak terdapat penyebutan secara jelas kalau Ash Shiddiq yang dimaksud adalah Abu Bakar dan perlu diketahui terdapat hadis-hadis lain yang menyebutkan kalau tidak hanya Abu Bakar, Umar dan Utsman yang berada disana tetapi juga terdapat Imam Ali dan sahabat yang lainnya. 

حدثنا قتيبة بن سعيد حدثنا عبد العزيز بن محمد عن سهيل بن أبي صالح عن ابيه عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه و سلم كان على حراء هو و أبو بكر و عمر و علي و عثمان و طلحة و الزبير رضي الله عنهم فتحركت الصخرة فقال النبي صلى الله عليه و سلم اهدأ إنما عليك نبي أو صديق أوشهيد

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id yang menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Muhammad dari Suhail bin Abi Shalih dari ayahnya dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW pernah berada di atas Hira’ bersama Abu Bakar, Umar, Ali, Utsman, Thalhah dan Zubair. Kemudian tanahnya bergerak-gerak, maka Nabi SAW bersabda “diamlah, sesungguhnya diatasmu terdapat Nabi atau shiddiq atau syahid” [Sunan Tirmidzi 5/624 no 3696 dengan sanad shahih] 

ثنا محمد بن جعفر ثنا شعبة عن حصين عن هلال بن يساف عن عبد الله بن ظالم قال خطب المغيرة بن شعبة فنال من علي فخرج سعيد بن زيد فقال ألا تعجب من هذا يسب عليا رضي الله عنه أشهد على رسول الله صلى الله عليه و سلم انا كنا على حراء أو أحد فقال النبي صلى الله عليه و سلم أثبت حراء أو أحد فإنما عليك صديق أو شهيد فسمى النبي صلى الله عليه و سلم العشرة فسمى أبا بكر وعمر وعثمان وعليا وطلحة والزبير وسعدا وعبد الرحمن بن عوف وسمى نفسه سعيدا

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far yang menceritakan kepada kami Syu’bah dari Hushain dari Hilal bin Yisaaf dari Abdullah bin Zhaalim yang berkata “Mughirah bin Syu’bah berkhutbah lalu ia mencela Ali. Maka Sa’id bin Zaid keluar dan berkata “tidakkah kamu heran dengan orang ini yang telah mencaci Ali, Aku bersaksi bahwa kami pernah berada di atas gunung Hira atau Uhud lalu Beliau bersabda “diamlah hai Hira atau Uhud, karena di atasmu terdapat Nabi atau shiddiq atau syahid. Kemudian Nabi SAW menyebutkan sepuluh orang. Maka [Sa’id] menyebutkan Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, Zubair , Sa’ad, Abdurrahman bin ‘Auf dan dirinya sendiri Sa’id” [Musnad Ahmad no 1638 dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir] 

Terdapat perbedaan mengenai tempat yang dimaksud, apakah di Uhud ataukah di Hira’?. Salafy berdalih mengatakan kalau pada hadis Anas hanya terdapat Abu Bakar, Umar dan Utsman dan itu terjadi di Uhud sedangkan di Hira’ adalah kejadian lain dimana ada banyak sahabat di sana selain Abu Bakar, Umar dan Utsman. Disini salafy ingin menyatakan bahwa peristiwa di Uhud dengan jelas menyatakan Abu Bakar sebagai shiddiq dan dua orang syahid adalah Umar dan Utsman kemudian kejadian di Hira’ ditafsirkan dengan hadis Anas bahwa shiddiq disana adalah Abu Bakar. Tentu saja semua itu adalah penafsiran salafy dan terserah mereka kalau menafsirkan begitu. Menurut pendapat kami, yang lebih benar adalah baik itu terjadi di Hira’ atau Uhud Imam Ali juga ada disana jadi hadis Anas yang hanya menyebutkan Abu Bakar, Umar dan Utsman adalah ringkasan [kemungkinan] dari para perawinya. 

حدثنا محمد قثنا محمد بن إسحاق قثنا روح قثنا شعبة عن قتادة عن أنس قال صعد النبي صلى الله عليه وسلم حراء أو أحدا ومعه أبو بكر وعمر وعثمان فرجف الجبل فقال اثبت نبي وصديق وشهيدان

Telah menceritakan kepada kami Muhammad yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ishaq yang berkata menceritakan kepada kami Rawh yang berkata menceritakan kepada kami Syu’bah dari Qatadah dari Anas yang berkata Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendaki Hira’ atau Uhud dan bersamanya ada Abu Bakar, Umar dan Utsman kemudian gunung berguncang. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata “ diamlah, ada Nabi, Shiddiq dan dua orang syahid” [Fadha’il Ash Shahabah no 869 dishahihkan oleh Washiullah ‘Abbas]  

Hadis di atas menjelaskan bahwa kejadian hadis Anas itu bisa jadi di Hira’ atau Uhud atau terjadi di keduanya. Baik di Hira’ ataupun Uhud Imam Ali juga berada di sana. Hal ini disebutkan dalam hadis Anas yang lain 

ثنا يحيى بن خلف حدثنا أبو داود ثنا عمران عن قتادة عن أنس ابن مالك أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان على حراء فرجف بهم فقال أثبت فإنما عليك نبي أو صديق أو شهيد وكان رسول الله صلى الله عليه وسلم وعمر وعثمان وعلي

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Khalaf yang menceritakan kepada kami ‘Abu Dawud yang menceritakan kepada kami ‘Imran dari Qatadah dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berada di atas Hira’ kemudian gunung mengguncangkan mereka. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata “diamlah, sesungguhnya diatasmu terdapat Nabi atau shiddiq atau syahid” yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Umar, Utsman dan Ali [As Sunnah Ibnu Abi Ashim no 1439] 

Hadis di atas para perawinya tsiqat kecuali ‘Imran Al Qaththan. Dia adalah perawi Bukhari dan Ashabus Sunan. Abdurrahman bin Mahdi meriwayatkan darinya yang berarti ia menganggapnya tsiqat. Ahmad berkata “ aku berharap hadisnya baik”. Ibnu Ma’in berkata “tidak kuat”. Abu Dawud terkadang berkata “termasuk sahabat Hasan dan tidaklah aku dengar tentangnya kecuali yang baik” terkadang Abu Dawud berkata “dhaif”. As Saji berkata “shaduq”. ‘Affan menyatakan tsiqat. Bukhari berkata “shaduq terkadang salah”. Ibnu Syahin memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Al Ijli menyatakan tsiqat. Daruquthni berkata “banyak melakukan kesalahan”. Al Hakim berkata “shaduq” [At Tahdzib juz 8 no 226]. Pendapat yang rajih tentangnya adalah ia seorang yang shaduq tetapi terdapat kelemahan pada hafalannya dan hadisnya hasan. Terdapat hadis lain yang menguatkan tentang penunjukkan tempat di Hira’ 

حدثنا عاصم الأحول ثنا معتمر عن أبيه عن قتادة عن أبي غلاب عن رجل من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم أن النبي صلى الله عليه وسلم وأبا بكر وعمر وعثمان كانوا على حراء فرجف بهم أو تحرك بهم فقال النبي صلى الله عليه وسلم اثبت فإنما عليك نبي وصديق وشهيدان

Telah menceritakan kepada kami ‘Ashim Al ‘Ahwal yang menceritakan kepada kami Mu’tamar dari ayahnya dari Qatadah dari Abu Ghallab dari seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar, Umar dan Utsman berada di atas Hira’ kemudian tanah mengguncangkan mereka atau menggerakkan mereka. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata “diamlah, sesungguhnya diatasmu terdapat Nabi, Shiddiq dan dua orang syahid” [As Sunnah Ibnu Abi Ashim no 1440] 

Hadis Anas di atas bahkan tidak menyebutkan nama Abu Bakar melainkan nama Umar, Utsman dan Ali. Walaupun begitu kalau kita melihat berbagai hadis lain maka Abu Bakar juga ada bersama mereka. 

ثنا عبيد الله بن معاذ ثنا أبي عن سعيد عن قتادة عن أنس بن مالك قال صعد رسول الله صلى الله عليه وسلم أحدا واتبعه أبو بكر وعمر وعثمان وعلي فقال له رسول الله صلى الله عليه وسلم اثبت أحد فإنما عليك نبي وصديق وشهيدان

Telah menceritakan kepada kami Ubaidillah bin Mu’adz yang berkata telah menceritakan kepada kami ayahku dari Sa’id dari Qatadah dari Anas bin Malik yang berkata “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menaiki Uhud dan mengikutinya Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata “diamlah Uhud, sesungguhnya diatasmu terdapat Nabi, shiddiq dan dua orang syahid” [As Sunnah Ibnu Abi Ashim no 1438] 

Hadis ini para perawinya tsiqat. Ubaidillah bin Mu’adz adalah seorang hafizh yang tsiqat [At Taqrib 1/639] dan ayahnya Mu’adz bin Mu’adz adalah seorang yang tsiqat mutqin [At Taqrib 2/193]. Hadis Anas ini dengan jelas menyebutkan bahwa di Uhud itu juga terdapat Imam Ali. Tentu saja kalau kita menuruti gaya salafy dalam menafsirkan hadis ini bahwa yang syahid adalah dua orang yaitu Umar dan Utsman maka yang tersisa adalah Ash Shiddiq, apakah Abu Bakar ataukah Ali?. Salahkah kita kalau lebih memilih Ash Shiddiq merujuk pada keduanya. 

Jadi ketika kami mengatakan kalau riwayat Anas itu adalah ringkasan dari para perawinya, kami tidaklah mengada-ada. Terdapat petunjuk yang menguatkan bahwa tidak hanya Abu Bakar, Umar dan Utsman yang ada disana melainkan juga Imam Ali atau mungkin ada sahabat lainnya. Kami akan memberikan contoh lain dimana para perawi meringkas atau tidak menyebutkan sebagian nama sahabat 

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا علي بن الحسن أنا الحسين ثنا عبد الله بن بريدة عن أبيه أن رسول الله صلى الله عليه و سلم كان جالسا على حراء ومعه أبو بكر وعمر وعثمان رضي الله عنهم فتحرك الجبل فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم أثبت حراء فإنه ليس عليك إلا نبي أو صديق أو شهيد

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin Hasan yang berkata menceritakan kepada kami Husain yang berkata menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Buraidah dari ayahnya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam duduk di atas Hira’ dan bersamanya ada Abu Bakar, Umar dan Utsman radiallahu ‘anhum kemudian gunung tersebut bergerak [bergetar] maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata “diamlah Hira’ sesungguhnya tidak ada diatasmu kecuali Nabi atau shiddiq atau syahid” [Musnad Ahmad 5/346 no 22986, Syaikh Syu’aib berkata “sanadnya kuat”] 

حَدَّثَنَا  مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى الأَزْدِيُّ قَالَ نا عَلِيُّ بْنُ الْحَسَنِ بْنِ شَقِيقٍ قَالَ أنا الْحُسَيْنُ بْنُ وَاقِدٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ عَلَى حِرَاءٍ فَتَحَرَّكَ ، فَقَالَ مَا عَلَيْكَ إِلا نَبِيٌّ أَوْ صِدِّيقٌ أَوْ شَهِيدٌ وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ وَعُثْمَانُ وَعَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ أَجْمَعِينَ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahya Al Azdiy yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin Hasan bin Syaqiq yang berkata telah menceritakan kepada kami Husain bin Waqid dari Abdullah bin Buraidah dari ayahnya radiallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berada di atas Hira’ kemudian tanahnya bergerak-gerak. Beliau berkata “tidaklah diatasmu kecuali Nabi atau shiddiq atau syahid” yaitu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar, Umar, Utsman dan ‘Ali radiallahu ‘anhum ajma’iin [Musnad Al Bazzar no 4419] 

Hadis riwayat Al Bazzar di atas sanadnya kuat. Muhammad bin Yahya Al Azdiy adalah perawi Bukhari, Muslim dan Nasa’i seorang yang tsiqat [At Taqrib 2/145] dan perawi lainnya sama seperti riwayat Ahmad. Dalam riwayat Ahmad tidak disebutkan nama Imam Ali tetapi dalam riwayat Al Bazzar disebutkan nama Imam Ali. Artinya para perawi hadis tersebut meringkas nama-nama yang dimaksud, terkadang menyebutkannya dan terkadang tidak. Oleh karena itu sangat penting untuk melihat hadis-hadis lain 

Pada dasarnya membedakan dua peristiwa yaitu yang satu di Uhud dan yang satu di Hira’ tidaklah menguatkan hujjah salafy. Karena baik di Uhud maupun Hira’ Imam Ali dan sahabat yang lain ada di sana. Silakan perhatikan hadis ini 

حَدَّثَنَا أَبُو خَالِدٍ يَزِيدُ بْنُ سِنَانٍ وَعَلِيُّ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْمُغِيرَةِ قَالا ثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي مَرْيَمَ قَالَ أَنْبَأَ مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ قَالَ حَدَّثَنِي زَيْدُ بْنُ أَسْلَمَ قَالَ أَخْبَرَنِي رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْعِرَاقِ أَنَّهُ ذَهَبَ إِلَى الْمَسْجِدِ يَعْنِي مَسْجِدَ الْكُوفَةِ فِي زَمَانِ زِيَادِ بْنِ أَبِي سُفْيَانَ وَهُوَ يَوْمَئِذٍ يَسُبُّ أَصْحَابَنَا وَاللَّهِ لا نَفْعَلُ أَشْهَدُ لَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ وَعُثْمَانُ وَعَلِيٌّ وَطَلْحَةُ وَالزُّبَيْرُ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ وَسَعْدُ بْنُ أَبِي وَقَّاصٍ وَأَنَا وَفُلانٌ فَحَفِظَهُمْ زَيْدٌ حَتَّى اثْنَيْ عَشَرَ رَجُلا عَلَى أُحُدٍ فَرَجَفَ بِنَا الْجَبَلُ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ” اسْكُنْ أُحُدُ فَإِنَّهُ لَيْسَ عَلَيْكَ إِلا نَبِيٌّ أَوْ صِدِّيقٌ أَوْ شَهِيدٌ ” فَسَكَنَ

Telah menceritakan kepada kami Abu Khalid Yazid bin Sinan dan ‘Ali bin ‘Abdurrahman bin Mughirah yang keduanya berkata telah menceritakan kepada kami Sa’id bin ‘Abi Maryam yang berkata telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Ja’far yang berkata telah menceritakan kepadaku Zaid bin ‘Aslam yang berkata mengabarkan kepadaku seorang laki-laki dari penduduk Iraq bahwasanya ia pergi ke masjid yaitu masjid kufah di zaman Ziyad bin Abi Sufyan dan dia [Ziyad] pada hari itu mencaci sahabat kami. [laki-laki itu berkata] “demi Allah jangan melakukannya, aku menyaksikan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, Zubair, Abdurrahman bin ‘Auf, Sa’ad bin Abi Waqash, aku, dan fulan sampai dua belas orang diatas Uhud. Kemudian gunung tersebut berguncang maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata “tenanglah Uhud sesungguhnya tidaklah berada diatasmu kecuali Nabi atau shiddiq atau syahid” maka tenanglah gunung Uhud [Al Kuna Ad Duulabiy 1/89] 

Hadis di atas diriwayatkan oleh para perawi yang tsiqat hanya saja tidak disebutkan nama laki-laki yang merupakan sahabat Nabi [disebut sahabat karena ia menyaksikan sendiri peristiwa yang dimaksud]. Kemungkinan ia adalah Sa’id bin Zaid sebagaimana yang disebutkan oleh Ad Duulabiy . 

  • Abu Khalid Yazid bin Sinan adalah perawi Nasa’i yang tsiqat. Abu Hatim berkata “shaduq tsiqat”. Nasa’i berkata “tsiqat”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Ibnu Yunus juga menyatakan tsiqat [At Tahdzib juz 11 no 540]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat” [At Taqrib 2/325]
  • ‘Ali bin ‘Abdurrahman bin Mughirah adalah perawi yang tsiqat. Ibnu Abi Hatim berkata “shaduq”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Ibnu Yunus menyatakan tsiqat [At Tahdzib juz 7 no 581]. Ibnu Hajar berkata “shaduq” [At Taqrib 1/698]
  • Sa’id bin Abi Maryam adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat. Abu Hatim berkata “tsiqat”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Ibnu Ma’in berkata “tsiqat dari yang tsiqat”. Daruquthni berkata “tidak ada masalah” [At Tahdzib juz 4 no 23]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat tsabit faqih” [At Taqrib 1/350]
  • Muhammad bin Ja’far bin Abi Katsir adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat. Ibnu Ma’in berkata “tsiqat”. Nasa’i berkata “shalih” terkadang berkata “hadisnya lurus”. Ibnu Hibban memasukkanya dalam Ats Tsiqat. Al Ijli menyatakan tsiqat [At Tahdzib juz 9 no 126]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat” [At Taqrib 2/262]
  • Zaid bin ‘Aslam adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat. Ahmad, Abu Zur’ah, Abu Hatim, Ibnu Sa’ad, Nasa’i, Ibnu Khirasy dan Yaqub bin Syaibah menyatakan tsiqat [At Tahdzib juz 3 no 728].

Pada hadis di atas laki-laki yang merupakan sahabat Nabi itu mengabarkan langsung kepada Zaid bin Aslam, jadi riwayat ini muttasil [bersambung] dan para perawinya tsiqat. Tidak diragukan lagi hadis di atas shahih. 

Berikutnya kami akan membahas hadis lain yang dijadikan hujjah oleh pengikut salafy. Pengikut salafy itu mungkin merasa dirinya sebagai orang yang lebih ahli dalam ilmu hadis dibanding mereka yang bukan pengikut salafy. Silakan perhatikan hadis berikut 

حدثنا ابن أبي عمر حدثنا سفيان حدثنا مالك بن مغول عن عبد الرحمن بن سعيد بن وهب الهمداني أن عائشة زوج النبي صلى الله عليه و سلم قالت سألت رسول الله صلى الله عليه و سلم عن هذه الآية { والذين يؤتون ما آتوا وقلوبهم وجلة } قالت عائشة هم الذين يشربون الخمر ويسرقون قال لا يا بنت الصديق ولكنهم الذين يصومون ويصلون ويتصدقون وهم يخافون أن لا يقبل منهم أولئك الذين يسارعون في الخيرات

Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi ‘Umar telah menceritakan kepada kami Sufyaan telah menceritakan kepada kami Maalik bin Mighwal, dari ‘Abdurrahmaan bin Sa’iid bin Wahb Al-Hamdaaniy Bahwa ‘Aaisyah istri Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam berkata “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tentang ayat : ‘Dan orang-orang yang memberikan apa yang Rabb mereka berikan, dengan hati yang takut’ (Al Mu’minuun: 60)”. ‘Aaisyah bertanya : ”Apa mereka orang-orang yang meminum khamar dan mencuri ?”. Beliau menjawab : “Bukan, wahai putri Ash-Shiddiiq. Akan tetapi mereka adalah orang-orang yang puasa, shalat, dan bersedekah. Mereka takut kalau amalan mereka tidak diterima. Mereka itulah orang yang bersegera dalam kebaikan [Sunan Tirmidzi 5/327 no 3175] 

Pengikut salafy itu berhujjah dengan hadis ini seraya menyatakan shahih. Ia berkata “jika Aisyah adalah putri Ash Shiddiq, maka siapakah ayahnya?”. Lha tidak diragukan kalau ayahnya Aisyah radiallahu ‘anhu adalah Abu Bakar. Yang membuat semua tulisannya jadi aneh bin gak nyambung adalah kami pribadi tidak pernah menolak penyebutan Abu Bakar sebagai Ash Shiddiq. Kalau ia bisa membaca dengan benar maka dalam tulisan kami, kami hanya menegaskan kalau Ash Shiddiq tidak hanya merujuk kepada Abu Bakar tetapi juga Imam Ali. Yah mungkin saja ia membaca tetapi tidak memahami [hal yang sudah biasa dilakukannya]. Seandainya hadis yang ia jadikan hujjah di atas adalah shahih tetap saja itu tidak mengurangi atau menafikan bahwa Imam Ali juga layak disebut Ash Shiddiq. 

Kembali kepada hadis yang ia jadikan hujjah, kami katakan hujjahnya itu hanya bisa mengecoh kaum awam salafy yang gemar bertaklid kepada ulama-ulama salafy beserta para da’inya. Hadis yang dikutip salafy tersebut sanadnya tidak shahih karena ‘Abdurrahman bin Sa’id bin Wahb Al Hamdani tidak pernah bertemu Aisyah radiallahu ‘anhu. Abu Hatim berkata “Abdurrahman bin Sa’id bin Wahb Al Hamdani tidak pernah bertemu Aisyah radiallahu ‘anhu” [Jami’ Al Tahsil Fi Ahkam Al Marasil no 429]. Jadi hadis tersebut sanadnya terputus, aneh sekali bagi salafi yang suka mengatakan orang lain lemah ilmu hadis tetapi dirinya sendiri malah menshahihkan hadis yang sanadnya inqitha’. Sungguh menggelikan 

Hadis ini juga diriwayatkan dengan sanad yang bersambung kepada Aisyah tetapi masih terdapat pembicaraan dalam sanadnya. Kami tidak perlu membicarakan sanad hadis tersebut karena matan hadis tersebut tidak bisa dijadikan hujjah dalam perkara ini. Hadis tersebut diriwayatkan dengan jalan dari ‘Abdurrahman bin Sa’id bin Wahb Al Hamdani dari Abu Hazim dari Abu Hurairah dari Aisyah sebagaimana yang disebutkan dalam Tafsir Ath Thabari 19/46 dengan lafaz jawaban Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam “bukan” tanpa tambahan “putri Ash Shiddiq” dan disebutkan oleh Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Awsath 4/198 no 3965 dengan lafaz “bukan wahai Aisyah” tanpa menyebutkan putri Ash Shiddiq. Disini masih terdapat kemungkinan kalau lafaz Ash Shiddiq itu adalah tambahan dari para perawinya. 

Mengenai Alasan penamaan Ash Shiddiq bagi Abu Bakar yang dikatakan ia telah membenarkan peristiwa isra’ mi’raj maka kami katakan Imam Ali pun membenarkannya bahkan beliau adalah orang yang paling dahulu membenarkan risalah kenabian karena beliaulah yang pertama kali memeluk islam. Jadi jika dengan alasan tersebut Abu Bakar dikatakan Ash Shiddiq maka dengan alasan yang sama Imam Ali lebih layak untuk dikatakan shiddiq. Melihat berbagai dalil yang ada maka pandangan yang kami pilih adalah Imam Ali dan Abu Bakar keduanya adalah Ash Shiddiq. Salam damai

Seandainya seorang perawi diperselisihkan status persahabatannya maka yang harus dilakukan adalah menilai dasar-dasar yang digunakan oleh ulama tersebut. Apa dasarnya ulama yang menetapkannya sebagai sahabat dan apa dasarnya ulama yang menolak status persahabatannya…Dasar dan hujjah yang kuat itulah yang kita jadikan pegangan bukannya taklid semata terhadap perkataan ulama dan seenaknya menafikan ulama lain yang menyelisihinya.

Apakah Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami Seorang Sahabat Nabi SAW?

Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami adalah seorang yang diperselisihkan status persahabatannya dan diperselisihkan sanad-sanad hadisnya. Sebagian ulama mengatakan ia sahabat Nabi dan sebagian yang lain menolak status persahabatannya. Satu-satunya hadis yang diriwayatkan olehnya adalah hadis Ru’yatullah dimana Nabi SAW melihat Allah SAW dengan sebaik-baik bentuk di dalam mimpi. Dalam pembahasan sebelumnya kami telah membuktikan bahwa hadis Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami tersebut mudhtarib. Oleh karena itu pendapat yang rajih dalam hal ini adalah Ia bukan seorang sahabat Nabi dan hadisnya mudhtharib.

Sebagian orang yang bersikeras mempertahankan keshahihan hadis “Melihat Allah SWT dalam sebaik-baik bentuk di dalam mimpi” menolak bahwa hadis tersebut mudhtharib dan menyatakan bahwa Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami seorang sahabat. Orang tersebut berhujjah dengan hadis-hadis yang menurutnya menjadi bukti persahabatan Ibnu ‘Aaisy karena dalam hadis-hadis tersebut terdapat lafaz “mendengar langsung dari Rasulullah SAW” atau lafaz yang menyiratkan pertemuan Ibnu ‘Aaisy dengan Nabi SAW.

Hujjah orang tersebut adalah hujjah yang batil bahkan tidak bernilai hujjah karena hadis-hadis yang dimaksud tidaklah tsabit sebagai bukti persahabatan Ibnu ‘Aaisy Al Hadhrami. Kami akan membahas hadis-hadis tersebut dan membuktikan bahwa satu-satunya hadis yang dimiliki Ibnu ‘Aaisy Al Hadhrami adalah hadis ru’yah yang mudhtharib. Sebelum memasuki pembahasan hadis-hadis tersebut, kami akan mengulas sedikit mengenai bagaimana seorang perawi itu dinyatakan oleh ulama sebagai Sahabat Nabi. Seorang ulama tidaklah bertemu langsung dengan sahabat Nabi sehingga pernyataan mereka bukanlah hujjah yang mutlak akan persahabatan seorang perawi dengan Nabi SAW. Sehingga hujjah ulama juga perlu dinilai dengan kritis. Ada beberapa cara yang digunakan ulama diantaranya

  • Melalui kabar yang mutawatir baik dari kitab hadis maupun kitab sirah seperti para sahabat besar yaitu Ali, Abu Bakar, Umar, Utsman, Thalhah dan yang lainnya.
  • Melalui kabar shahih baik dalam hadis maupun sirah, disini bisa sahabat itu sendiri yang meriwayatkan hadis langsung dari Nabi SAW atau kesaksian sahabat lain bahwa orang tersebut adalah sahabat Nabi SAW.
  • Melalui kesaksian seorang tabiin tsiqat yang meriwayatkan langsung dari sahabat tersebut.

Seandainya seorang perawi diperselisihkan status persahabatannya maka yang harus dilakukan adalah menilai dasar-dasar yang digunakan oleh ulama tersebut. Apa dasarnya ulama yang menetapkannya sebagai sahabat dan apa dasarnya ulama yang menolak status persahabatannya. Dasar dan hujjah yang kuat itulah yang kita jadikan pegangan bukannya taklid semata terhadap perkataan ulama dan seenaknya menafikan ulama lain yang menyelisihinya.

Jika kita memperhatikan dengan cermat, Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami tidak disebutkan baik dalam kitab hadis maupun kitab sirah kecuali dari hadis yang ia riwayatkan. Tidak ada keterangan sejarah mengenai kehidupannya baik tahun lahir maupun tahun wafat . Satu-satunya bukti keberadaan dirinya adalah hadis yang ia riwayatkan sendiri yaitu hadis Nabi SAW melihat Allah SWT dalam sebaik-baik bentuk di dalam mimpi. Oleh karena itu satu-satunya cara mengetahui persahabatannya dengan Nabi SAW adalah dengan menilai hadis yang diriwayatkannya Apakah tsabit atau tidak.

Kami telah katakan bawa satu-satunya hadis yang dimiliki Ibnu ‘Aaisy Al Hadrami adalah hadis Ru’yah yang mudhtharib tetapi sebagian orang menolaknya dan mengatakan kalau Ibnu ‘Aaisy memiliki hadis-hadis lain sebagai bukti persahabatannya. Sayang sekali hadis yang mereka maksud tidak tsabit(kuat) milik Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami

.

.

Hadis-hadis Yang Dinisbatkan pada Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhramy

Hadis Pertama Ibnu ‘Aaisy
Hadis pertama yang dijadikan hujjah persahabatan Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami adalah hadis yang dikutip Ibnu Hajar dalam Al Ishabah 4/324 no 5152 biografi Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami. Hadis tersebut diriwayatkan oleh Abu Nu’aim Al Ashbahani dalam Ma’rifat As Shahabah no 1886

حدثنا محمد بن أحمد بن الحسن ثنا محمد بن عثمان بن أبي شيبة ثنا أبي ثنا أبو معاوية عن سهيل عن أبيه عن عبد الرحمن بن عائش قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من نزل منزلا فقال أعوذ بكلمات الله التامات من شر ما خلق ، لم ير في منزله ذلك شيئا يكرهه حتى يرتحل عنه قال سهيل قال أبي فلقيت عبد الرحمن بن عائش في المنام فقلت له حدثك النبي صلى الله عليه وسلم هذا الحديث ؟ قال نعم

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ahmad bin Hasan yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Utsman bin Abi Syaibah yang berkata telah menceritakan kepada kami Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Muawiyah dari Suhail dari Ayahnya dari Abdurrahman bin ‘Aaisy yang berkata Rasulullah SAW bersabda “Barang siapa yang singgah di suatu tempat kemudian mengucapkan ‘Aku berlindung dengan Kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan apa-apa yang diciptakanNya’ maka tidak ada sesuatu yang ia benci di tempat itu sampai ia meninggalkannya”. Suhail berkata “Ayahku berkata ; Aku bertemu Abdurrahman bin ‘Aaisy di dalam mimpi kemudian aku bertanya ‘Apakah Nabi SAW menceritakan hadis ini kepadamu?’. Ia menjawab “benar”.

Hadis ini baik dari segi sanad maupun matannya tidak dapat dijadikan hujjah persahabatan Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami. Dari segi matannya hadis ini tidak menunjukkan adanya pendengaran langsung dari Rasulullah SAW, di hadis ini lafaz hadis tersebut “Abdurrahman bin ‘Aaisy berkata Rasulullah SAW bersabda”. Lafaz qala qala ini adalah lafaz yang tidak menunjukkan pendengaran langsung [dimana seorang tabiin bisa memursalkan hadis dengan lafaz ini]. Sedangkan pernyataan Abdurrahman bin ‘Aaisy di akhir hadis kalau Nabi SAW menceritakan hadis tersebut kepadanya berasal dari mimpi Abu Shalih dan mimpi tentu tidak bisa menjadi hujjah.

Dari segi sanadnya [terlepas dari kontroversi kedudukan salah satu perawinya] hadis ini bukanlah milik Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami. Abu Shalih As Saman tidak meriwayatkan hadis dari Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami. Dalam Tahdzib Al Kamal 17/202 no 3864 Al Mizi berkata tentang Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami

روى عنه خالد بن اللجلاج وربيعة بن يزيد وأبو سلام الأسود

Telah meriwayatkan darinya Khalid bin Al Lajlaaj, Rabi’ah bin Yazid dan Abu Sallam Al Aswad.

Sebenarnya yang meriwayatkan dari Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami hanyalah Khalid Al Lajlaaj dan Abu Sallam Al Aswad sedangkan Rabi’ah bin Yazid tidak tsabit meriwayatkan dari Abdurrahman bin ‘Aaisy [sebagaimana yang akan dijelaskan nanti]. Kedua perawi tersebut [Khalid dan Abu Sallam] meriwayatkan hadis Abdurrahman bin ‘Aaisy yaitu hadis ru’yah dimana jika dikumpulkan periwayatan mereka akan tampak adanya idhthirab (kekacauan). Tidak ada keterangan yang menyatakan bahwa Dzakwan Abu Shalih As Saman [Ayahnya Suhail] meriwayatkan hadis dari Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami baik dalam biografi Ibnu ‘Aaisy atau biografi Dzakwan dalam Tahdzib Al Kamal 8/513-514 no 1814.

Hadis ini sebenarnya bukan milik Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami tetapi milik Ibnu ‘Aaisy Al Juhani. Ibnu Makula dalam Al Ikmal 6/19 telah membedakan Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami dengan Ibnu ‘Aaisy Al Juhani. Ia menyebutkan

ابن عائش الجهنى له صحبة روى عن النبي صلى الله عليه وسلم روى حديثه سهيل بن أبى صالح عن أبيه عن ابن عائش

Ibnu ‘Aaisy Al Juhani seorang sahabat, meriwayatkan dari Nabi SAW, hadisnya diriwayatkan oleh Suhail bin Abi Shalih dari Ayahnya dari Ibnu ‘Aaisy.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Daruquthni dalam Al Mu’talif Wal Mukhtalif 2/156, ia menulis keterangan tentang Ibnu ‘Aaisy Al Juhani tepat setelah menyebutkan keterangan tentang Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami. Daruqutni berkata

ابن عائش الجهني له صحبة روى حديثه سهيل بن أبي صالح عن أبيه عن ابن عائش واختلف فيه

Ibnu ‘Aaisy Al Juhani seorang sahabat hadisnya diriwayatkan oleh Suhail bin Abi Shalih dari Ayahnya dari Ibnu ‘Aaisy, padanya ada perselisihan.

Abu Nu’aim melakukan kekeliruan dalam kitabnya Ma’rifat As Shahabah. Abu Nu’aim mencampuraduk perawi yang bernama Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami dan Ibnu ‘Aaisy Al Juhani. Abu Nu’aim menganggap keduanya adalah satu orang yang sama. Dalam Ma’rifat As Shahabah no 1886 ia menyatakan

عبد الرحمن بن عائش الحضرمي وقيل الجهني يعد في الشاميين مختلف في صحبته وفي سند حديثه

Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadrami dikatakan juga Al Juhani termasuk penduduk Syam, diperselisihkan status persahabatannya dan dalam sanad hadisnya.

Padahal Ibnu ‘Aaisy Al Hadhrami dan Ibnu ‘Aaisy Al Juhani adalah dua orang yang berbeda. Sehingga para ulama ketika menuliskan keterangan tentang mereka menempatkannya dalam tempat yang berbeda.

  • Adz Dzahabi menuliskan nama Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami dalam Tajrid Asma As Shahabah 1/350 no 3712[dimana ia berkata “diperselisihkan persahabatannya”] dan menuliskan nama Ibnu ‘Aaisy Al Juhani dalam Tajrid Asma Shahabah 2/214 no 2473.
  • Ibnu Atsir dalam Usudul Ghabah 3/479 menyebutkan biografi Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami [dimana ia berkata “tidak shahih kalau ia sahabat”] kemudian dalam Usudul Ghabah 6/360 menyebutkan keterangan tentang Ibnu ‘Aaisy Al Juhani.
  • Ibnu Nashiruddin Ad Dimasyq dalam Taudhih Al Musytabih 6/37 juga membedakan kedua orang ini Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadrami dan Ibnu ‘Aaisy Al Juhani.

.

.

Hadis Kedua Ibnu ‘Aaisy
Hadis kedua yang dijadikan hujjah untuk membuktikan persahabatan Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami adalah hadis yang disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam kitabnya Al Ishabah 4/324 no 5152. Ibnu Hajar berkata

وروينا في الذكر للفريابي من طريق إسماعيل بن جعفر أخبرني سهيل بن أبي صالح عن أبيه عن بن عائش أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال من قال حين يصبح لا إله إلا الله وحده لا شريك له الحديث وفيه فكان ناس ينكرون ذلك ويقولون لابن عائش لأنت سمعت هذا من رسول الله صلى الله عليه وسلم قال نعم فأرى رجل ممن كان ينكر ذلك رسول الله صلى الله عليه وسلم في المنام فقال يا رسول الله أنت قلت كذا وكذا فقص عليه حديثه فقال صلى الله عليه وسلم صدق بن عائش

Diriwayatkan dalam Adz Dzikr Al Faryabi dengan jalan Ismail bin Ja’far yang berkata telah mengabarkan kepadaku Suhail dari Ayahnya dari Ibnu ‘Aaisy bahwa Rasulullah SAW bersabda “Barang siapa yang membaca di waktu pagi ‘Tidak ada Tuhan selain Allah dan tiada sekutu bagi-Nya –al hadis-. Dan orang-orang mengingkari hal itu, mereka berkata kepada Ibnu ‘Aaisy “Apakah kamu mendengar hadis ini dari Rasulullah?”. Ia menjawab “benar”. Kemudian seorang laki-laki dari kalangan mereka melihat Rasulullah SAW di dalam mimpi, ia berkata “Wahai Rasulullah apakah anda berkata begini begitu dan ia menyebutkan hadisnya. Rasulullah SAW menjawab “Ibnu ‘Aaisy benar”.

Hadis ini juga sebenarnya bukan milik Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami. Ibnu ‘Aaisy yang dimaksud dalam hadis ini adalah Abu ‘Ayyasy Az Zuraqi. Ia seorang sahabat dan hadis yang dikutip oleh Ibnu Hajar itu sebenarnya telah disebutkan dalam Sunan Abu Dawud 2/741 no 5077 dan Sunan Ibnu Majah 2/1272 no 3867, berikut lafaz Abu Dawud

حدثنا موسى بن إسماعيل ثنا حماد ووهيب نحوه عن سهيل عن أبيه عن ابن أبي عائش وقال حماد عن أبي عياش أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال ” من قال إذا أصبح لا إله إلا الله وحده لا شريك له له الملك وله الحمد وهو على كل شيء قدير كان له عدل رقبة من ولد إسماعيل وكتب له عشر حسنات وحط عنه عشر سيئات ورفع له عشر درجات وكان في حرز من الشيطان حتى يمسي وإن قالها إذا أمسى كان له مثل ذلك حتى يصبح ” قال في حديث حماد فرأى رجل رسول الله صلى الله عليه و سلم فيما يرى النائم فقال يارسول الله إن أبا عياش يحدث عنك بكذا وكذا قال ” صدق أبو عياش ” قال أبو داود رواه إسماعيل بن جعفر وموسى الزمعي وعبد الله بن جعفر عن سهيل عن أبيه عن ابن عائش

Telah menceritakan kepada kami Musa bin Ismail yang berkata telah menceritakan kepada kami Hammad dan Wuhaib seperti itu dari Suhail dari Ayahnya dari Ibnu Abi ‘Aaisy dan Hammad berkata dari Abi Ayyasy bahwa Rasulullah SAW bersabda barang siapa membaca di waktu pagi “Tidak ada Tuhan selain Allah dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan pujian. Dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu”. Maka orang tersebut akan mendapatkan pahala seperti memerdekakan budak dari keturunan Isma’il, akan dituliskan sepuluh kebaikan untuknya, akan dihapus darinya sepuluh dosa, dan dinaikkan kedudukannya sepuluh derajat. Dia juga akan dijaga dari setan hingga datang waktu sore. Jika pada waktu sore ia membaca doa itu maka ia akan mendapatkan yang seperti itu pula hingga datang waktu pagi.” Dalam hadits Hammad disebutkan, “Seorang laki-laki melihat Rasulullah SAW di dalam mimpi, kemudian ia berkata, “Wahai Rasulullah, Abu Ayyasy menceritakan tentangmu begini dan begitu!” Beliau bersabda: “Abu Ayyasy benar.” Abu Dawud berkata, ” Isma’il bin Ja’far, Musa Az Zam’i dan Abdullah bin Ja’far meriwayatkannya dari Suhail, dari Ayahnya, dari Ibnu ‘Aaisy.

Jika kita memperhatikan dengan baik maka sudah jelas Ibnu ‘Aaisy yang dimaksud disini adalah Abu Ayyasy Az Zuraqi bukannya Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami. Para ulama memasukkan hadis ini dalam biografi Abu Ayyasy Az Zuraqi seperti yang disebutkan Bukhari dalam Tarikh Al Kabir juz 3 no 1280. Dalam biografi Zaid bin Shamit Abu Ayyasy Az Zuraqi tersebut Bukhari juga menyebutkan hadis dengan sanad dengan nama Ibnu ‘Aaisy, artinya Bukhari mengakui kalau orang yang dimaksud Ibnu ‘Aaisy dalam hadis ini adalah Zaid bin Shamit Abu Ayyasy Az Zuraqi.

Anehnya Ibnu Hajar sendiri dalam Al Ishabah 7/295 no 10310 menyebutkan kalau Ibnu ‘Aaisy yang dimaksud dalam hadis ini adalah Abu Ayyasy. Ibnu Hajar berkata

أبو عياش وقيل بن عائش وقيل بن أبي عياش روى عن النبي صلى الله عليه وسلم من قال إذا أصبح لا إله إلا الله الحديث من رواية سهيل بن أبي صالح عن أبيه عنه أخرج حديثه أبو داود والنسائي وابن ماجة

Abu Ayyasy dikatakan juga Ibnu ‘Aaisy, dikatakan juga Ibnu Abi Ayasy meriwayatkan dari Nabi SAW “barangsiapa yang di waktu pagi membaca “Tiada Tuhan Selain Allah-al hadis- . Ini riwayat Suhail bin Abi Shalih dari Ayahnya yang meriwayatkan darinya[Abu Ayyasy]. Hadis ini dikeluarkan oleh Abu Dawud, Nasa’i dan Ibnu Majah.

Hal yang sama [bahwa Abu Ayyasy disebut juga Ibnu 'Aaisy] juga diungkapkan oleh Ibnu Hajar dalam At Tahdzib juz 12 no 895 biografi Abu Ayyasy Az Zuraqi dan dalam At Taqrib 2/446 dan disepakati oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth bersama Bashar Awad Ma’ruf dalam Tahrir At Taqrib no 8291. Jadi bisa dikatakan bahwa menjadikan hadis ini sebagai hujjah persahabatan Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadrami merupakan kecerobohan yang sangat dan tidak bernilai sama sekali.

.

.

Hadis Ketiga Ibnu ‘Aaisy
Hadis terakhir yang dijadikan hujjah bahwa Abdurrahman bin ‘Aaisy sahabat adalah hadis dalam Sunan Daruquthni no 2183 [tahqiq Syaikh Syu’aib Al Arnauth]. Hadis tersebut adalah hadis mauquf yang mengandung pernyataan bahwa Abdurrahman bin ‘Aaisy sahabat Nabi.

حدثنا أبو القاسم ابن منيع ثنا داود بن رشيد أبو الفضل الخوارزمي ثنا الوليد بن مسلم عن الوليد بن سليمان قال سمعت ربيعة بن يزيد قال سمعت عبد الرحمن بن عائش صاحب رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول

Telah menceritakan kepada kami Abu Qasim bin Mani’ yang berkata telah menceritakan kepada kami Daud bin Rasyd Abu Fadhl Al Khawarizmi yang berkata telah menceritakan kepada kami Walid bin Muslim dari Walid bin Sulaiman yang berkata aku telah mendengar Rabi’ah bin Yazid berkata aku telah mendengar Abdurrahman bin ‘Aaisy sahabat Rasulullah SAW mengatakan-al hadis-

Hadis ini juga tidak tsabit sanadnya ke Abdurrahman bin ‘Aaisy karena salah seorang perawinya yaitu Walid bin Muslim adalah seorang mudallis yang terkenal dengan tadlis taswiyah. Ibnu Hajar memasukkannya dalam Thabaqat Al Mudallisin no 127 pada martabat keempat. Sedangkan hadis di atas adalah riwayat ‘an ‘an ah Walid bin Muslim sehingga hadis tersebut sanadnya dhaif. Maka dari itu kami katakan hadis tersebut bukan milik Abdurrahman bin ‘Aaisy karena sanad tersebut tidak tsabit sampai kepadanya.

Lagipula hujjah persahabatan Ibnu ‘Aaisy dalam hadis ini hanya berdasarkan lafaz yang menyebutkan bahwa Abdurrahman bin ‘Aaisy adalah sahabat. Lafaz tersebut kemungkinan besar adalah tambahan dari Walid bin Muslim. Dalam pembahasan hadis ru’yah Ibnu ‘Aaisy, Walid bin Muslim adalah perawi yang masyhur dikenal meriwayatkan hadis ru’yah dengan lafal Ibnu ‘Aaisy mendengar langsung dari Rasulullah SAW. Tentu saja setelah mengetahui hadis ru’yah maka Walid bin Muslim beranggapan kalau Abdurrahman bin ‘Aaisy adalah sahabat Nabi sehingga ketika ia meriwayatkan hadis Daruquthni ia menambahkan lafaz “sahabat Rasulullah SAW”. Padahal hadis ru’yah yang dimaksud adalah hadis yang mudhtharib dan sumber mudhtharibnya adalah Abdurrahman bin ‘Aaisy maka tidak ada alasan menjadikan hadis yang mudhtarib sebagai hujjah persahabatan.

.

.

Hadis Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhramy Adalah Hadis Ru’yah Yang Mudhtarib

Satu-satunya hadis yang tersisa dan dikatakan sebagai milik Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami adalah hadis ru’yah yang terbukti mudhtarib. Hadis Abdurrahman bin ‘Aaisy ini memiliki tiga jalan sanad yang menunjukkan kekacauan periwayatannya yaitu

Abdurrahman bin ‘Aaisy mengaku mengambil hadis tersebut langsung dari Rasulullah SAW. Hadis tersebut diriwayatkan Al Ajuri dalam Asy Syari’ah no 1027, Sunan Ad Darimi 2/170 no 2149, Al Ilal Tirmidzi no 434, Mukhtasar Qiyamul Lail Muhammad bin Nashr Al Marwadzi 1/33 no 26, dan Mu’jam As Shahabah Al Baghawi hadis no 1924. Berikut sanad hadis tersebut dalam Al Ilal Tirmidzi no 434

حدثنا يحيى بن موسى حدثنا الوليد بن مسلم حدثني عبد الرحمن بن يزيد بن جابرحدثنا خالد بن اللجلاج قال حدثني عبد الرحمن بن عائش الحضرمي قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Musa yang berkata telah menceritakan kepada kami Walid bin Muslim yang berkata telah menceritakan kepadaku Abdurrahman bin Yazid bin Jabir yang berkata telah menceritakan kepada kami Khalid bin Al Lajlaaj yang berkata telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Aaisy Al Hadhramy yang berkata aku mendengar Rasulullah SAW

Walid bin Muslim diikuti oleh Hammad bin Malik, Walid bin Yazid, Isa bin Yunus dan yang lainnya dalam menegaskan penyimakan Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami. Mereka semua meriwayatkan dengan jalan sanad dari Khalid bin Al Lajlaaj dari Abdurraman bin ‘Aaisy Al Hadrami. Walaupun begitu di hadis lain Khalid bin Al Lajlaaj meriwayatkan tanpa menegaskan sima’ nya Ibnu ‘Aaisy.

Abdurrahman bin ‘Aaisy mengaku mengambil hadis tersebut dari seorang sahabat Nabi SAW. Hadis tersebut diriwayatkan Ibnu Khuzaimah dalam At Tauhid no 55 dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq 34/464 no 7069 dan Tarikh Dimasyq 34/465 no 7070. Berikut sanad hadis Ibnu Kuzaimah

ثنا أبو موسى محمد بن المثنى قال حدثني أبو عامر عبد الملك بن عمرو قال ثنا زهير وهو ابن محمد عن يزيد قال أبو موسى وهو يزيد بن جابر عن خالد بن اللجلاج عن عبدالرحمن بن عائش عن رجل من أصحاب النبي

Telah menceritakan kepada kami Abu Musa Muhammad bin Al Mutsanna yang berkata telah menceritakan kepadaku Abu Amir Abdul Malik bin Amru yang berkata telah menceritakan kepada kami Zuhair dan dia Ibnu Muhammad dari Yazid, berkata Abu Musa dia Yazid bin Jabir dari Khalid bin Al Lajlaaj dari Abdurrahman bin ‘Aaisy dari seorang sahabat Nabi -secara marfu’-

Dalam hadis lain disebutkan pula kalau Abdurrahman bin ‘Aaisy mengambil hadis tersebut dari beberapa orang sahabat Nabi. Hadis tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Mandah dalam Radd Al Jahmiyah no 74 dan Ahmad bin Hanbal dalam Musnad Ahmad 4/66 no 16672 dan Musnad Ahmad 5/378 no 23258. Berikut sanad Ahmad bin Hanbal

ثنا أبو عامر ثنا زهير يعنى بن محمد عن يزيد بن يزيد يعنى بن جابر عن خالد بن اللجلاج عن عبد الرحمن بن عائش عن بعض أصحاب النبي صلى الله عليه و سلم

Telah menceritakan kepada kami Abu Amir yang berkata telah menceritakan kepada kami Zuhair yakni bin Muhammad dari Yazid bin Yazid yakni bin Jabir dari Khalid bin Al Lajlaaj dari Abdurrahman bin ‘Aaisy dari beberapa orang sahabat Nabi SAW –secara marfu’-

Abdurrahman bin ‘Aaisy mengambil hadis tersebut dari seorang tabiin yaitu Malik bin Yakhaamir dari Muadz bin Jabal secara marfu’. Hadis tersebut diriwayatkan oleh Tirmidzi dalam Sunan Tirmidzi 5/368 no 3235, Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq 34/465-468 no 7071-7075, Al Ilal Tirmidzi no 435 dan Musnad Ahmad 5/243 no 22162. Berikut sanad Ahmad

ثنا أبو سعيد مولى بنى هاشم ثنا جهضم يعنى اليمامي ثنا يحيى يعنى بن أبي كثير ثنا زيد يعنى بن أبي سلام عن أبي سلام وهو زيد بن سلام بن أبي سلام نسبه إلى جده أنه حدثه عبد الرحمن بن عائش الحضرمي عن مالك بن يخامر أن معاذ بن جبل قال

Telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id mawla Bani Hasyim yang berkata telah menceritakan kepada kami Jahdham yakni Al Yamami yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya bin Abi Katsir yang berkata telah menceritakan kepada kami Zaid yakni bin Abi Salam dari Abi Salam [dan dia Zaid bin Salam bin Abi Salam nasabnya bersambung kepada kakeknya] yang berkata telah menceritakan kepadanya Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami dari Malik bin Yakhaamir bahwa Muadz bin Jabal berkata –secara marfu’-.

Jika kita meringkas semua sanad hadis tersebut maka kita dapati tiga jalan sanad yaitu

  • Jalan Khalid bin Al Lajlaaj dari Abdurraman bin ‘Aaisy dari Rasulullah SAW
  • Jalan Khalid bin Al Lajlaaj dari Abdurrahman bin ‘Aaisy dari seorang atau beberapa sahabat dari Rasulullah SAW
  • Jalan Abi Salam dari Abdurrahman bin ‘Aaisy dari Malik bin Yakhaamir dari Muadz bin Jabal dari Rasulullah SAW

Siapapun yang mengenal ilmu hadis pasti mengetahui bahwa keadaan sanad yang seperti ini disebut mudhtarib yaitu kekacauan periwayatan yang tidak bisa dikompromikan. Aneh bin ajaib ada yang mau mengatakan bahwa ketiga sanad tersebut memang benar artinya Abdurrahman bin ‘Aaisy memang mendengar langsung dari Rasulullah juga dari sahabat dan juga dari tabiin. Tentu saja pernyataan ini muncul dari mereka yang tidak paham artinya idhthirab karena dengan logika mereka ini maka tidak akan ada yang namanya idhthirab. Contoh

  • Jika A meriwayatkan suatu hadis dari B kemudian ternyata
  • A meriwayatkan hadis yang sama dari C dari B dan ternyata
  • A meriwayatkan hadis yang sama dari D dari C dari B

Dengan logika aneh mereka maka Itu tidak akan dihukum idhthirab karena bisa saja A memang meriwayatkan dari B, C dan D padahal sangat ma’ruf inilah yang dikenal sebagai mudhtharib dalam ilmu hadis. Mereka berhujjah dengan perkataan “tidak semua idhthirab dhaif” karena ada kasus dimana seorang perawi mungkin meriwayatkan dengan banyak sanad. Ini termasuk kesesatan berpikir yang tidak bisa membedakan umum dan khusus. Ada orang yang ditangkap polisi karena mencuri terus temannya berkomentar “ah tidak setiap yang ditangkap pencuri itu benar-benar mencuri”. Apakah hanya dengan perkataan temannya itu maka orang tersebut bukan pencuri?. Perkataan teman tersebut jelas tidak memiliki makna apapun kecuali omongan basa basi yang bisa keluar dari mulut siapapun.

Nah begitu pula dengan logika mereka itu, kalau memang mereka ingin menyatakan bahwa idhthirabnya Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadrami itu tidak dhaif ya silakan dibawakan buktinya bukannya malah berbasa basi. Tunjukkan buktinya dan tidak perlu mengklaim atau menuduh orang lain mengklaim.

Mereka mau menganalogikan kasus tersebut dengan kasus riwayat Az Zuhri. Kalau mau menganalogikan dengan sesuatu maka carilah analogi yang tepat dan memang persis dengan kasus Ibnu ‘Aaisy bukannya kasus Az Zuhri dalam Shahih Muslim no 1691

وحدثني أبو الطاهر وحرملة بن يحيى. قالا: أخبرنا ابن وهب. أخبرني يونس. ح وحدثنا إسحاق بن إبراهيم. أخبرنا عبدالرزاق. أخبرنا معمر وابن جريج. كلهم عن الزهري، عن أبي سلمة، عن جابر ابن عبدالله، عن النبي صلى الله عليه وسلم، نحو رواية عقيل عن الزهري، عن سعيد وأبي سلمة، عن أبي هريرة

Telah menceritakan kepadaku Abu Thaahir dan Harmalah bin Yahyaa, mereka berdua berkata telah mengkhabarkan kepada kami Ibnu Wahb telah mengkhabarkan kepadaku Yuunus. Dan telah menceritakan kepada kami Ishaaq bin Ibraahiim telah mengkhabarkan kepada kami ‘Abdurrazzaaq telah mengkhabarkan kepada kami Ma’mar dan Ibnu Juraij. Mereka semua (Yuunus, Ma’mar, dan Ibnu Juraij) dari Az-Zuhriy, dari Abu Salamah, dari Jaabir bin ‘Abdillah, dari Nabi SAW -semisal riwayat ‘Uqail, dari Az-Zuhriy, dari Sa’iid dan Abu Salamah, dari Abu Hurairah.

Jika kita ringkas maka sanad ini adalah sebagai berikut

  • Az Zuhri dari tabiin [Abu Salamah] dari sahabat [Abu Hurairah]
  • Az Zuhri dari tabiin [Sa’id Al Musayyab] dari sahabat [Abu Hurairah]
  • Az Zuhri dari tabiin [Abu Salamah] dari sahabat [Jabir RA]

Muhammad bin Syihab Az Zuhri adalah seorang hafiz yang dikenal tsiqat dan ia meriwayatkan hadis ini dari dua orang tabiin yaitu Sa’id bin Al Musayyab dan Abu Salamah. Periwayatan Az Zuhri dari keduanya jelas diterima karena dua alasan

  • Az Zuhri seorang tsiqat dan tsabit [dikenal memiliki banyak guru] sehingga kesaksian ia meriwayatkan dari dua orang bisa diterima
  • Az Zuhri memang bertemu dengan Sa’id bin Al Musayyab dan Abu Salamah. Az Zuhri lahir antara tahun 50-75 H sedangakan Sa’id wafat setelah tahun 90 H dan Abu Salamah wafat tahun 94 H. Berdasarkan tahun lahir tahun wafat Az Zuhri mungkin untuk bertemu keduanya.

Begitu pula dengan Abu Salamah, ia adalah seorang tabiin yang memang dikenal meriwayatkan dari Abu Hurairah dan Jabir. Jadi sanad tersebut memang tsabit dan tidak mudhtharib.

Kasus Ibnu ‘Aaisy sangat berbeda dengan Az Zuhri. Tidak ada alasan kuat yang membuat periwayatan Ibnu ‘Aaisy harus diterima semuanya.

  • Ibnu ‘Aaisy tidak dikenal tsiqat dan ia tidak terbukti sahabat sehingga tidak ada alasan kalau semua periwayatannya harus diterima.
  • Apalagi tidak ada bukti dalam tarikh soal tahun lahir dan wafatnya sehingga kita tidak tahu apakah Ibnu ‘Aaisy memang bertemu baik dengan Rasulullah SAW, sahabat ataupun tabiin. Bisa saja disini ia berdusta, keliru atau ikhtilat soal periwayatannya.

Ada hal lain yang patut diperhatikan. Jika seorang sahabat telah mendengar suatu hadis langsung dari Rasulullah SAW maka sungguh aneh sekali ia perlu repot-repot untuk meriwayatkan hadis tersebut [hadis yang sama] dari sahabat apalagi dari tabiin. Bukan berarti kami menolak ada sahabat yang meriwayatkan dari tabiin tetapi masalahnya jika ia sudah mendengar hadis tersebut langsung dari Rasulullah maka tidak ada perlunya ia meriwayatkan hadis tersebut dari sahabat atau tabiin. Adanya periwayatan melalui tabiin atau sahabat justru menimbulkan keraguan soal ia mendengar langsung hadis tersebut dari Rasul SAW, dengan kata lain mungkin saja terjadi waham atau kekeliruan pada lafal “sami’tu”.

Analogi yang lebih tepat dengan kasus Ibnu ‘Aaisy adalah jika kasusnya seperti ini

  • Az Zuhri yang dimaksud terkadang meriwayatkan dari Abu Salamah atau Said bin Musayyab dari Abu Hurairah dari Rasulullah SAW
  • Az Zuhri terkadang meriwayatkan dari Abu Hurairah dari Rasulullah SAW
  • Az Zuhri terkadang meriwayatkan dari Rasulullah SAW

Nah silakan saja kalau ada kasus seperti ini dan mau dihukumi tidak idhthirab. Mudhtharib atau tidak dilihat dari sanad hadisnya. Kalau suatu sanad memang terbukti mudhtarib maka tidak ada jalan untuk mengingkarinya, kecuali kalau memang bisa dibuktikan sanad tersebut bisa ditarjih atau dijama’.

.

Kekeliruan Ulama Yang Menetapkan Ibnu ‘Aaisy ShahabatHal aneh lain ada orang yang berhujjah bahwa Ibnu ‘Aaisy sahabat berdasarkan perkataan ulama yang berdalil dengan hadis Walid [lafaz sima’ langsung Ibnu ‘Aaisy]. Ini jelas cara berpikir yang keliru. Justru yang sedang kita permasalahkan adalah apakah riwayat Walid tersebut memang tsabit dan bisa diterima karena terbukti kalau Ibnu ‘Aaisy mengalami idhthirab?.

Sama halnya dengan kasus begini si A sedang berada di suatu rumah. Kemudian si B dan si C berdebat mengenai siapa pemilik rumah tersebut. Kata si B “siapa yang tinggal di sana?”. Si C menjawab “ya si A lah”. Si B bertanya “kamu tahu dari mana”. Si C menjawab “lha dia yang punya rumah itu”. Si B bertanya lagi “lho memangnya dia yang punya rumah itu?”. Si C menjawab “lha iya toh, kan dia yang tinggal di sana”. Wah wah muter-muter aja terus.

Mengapa hadis Ru’yah Ibnu ‘Aaisy tidak dikatakan mudhtharib?. Ya karena Ibnu ‘Aaisy sahabat. Kok bisa Ibnu ‘Aaisy dikatakan sahabat?. Ya kan dari hadis Ru’yah yang ia dengar dari Rasul SAW. Lho bukannya hadis itu mudhtarib?. nggak dong kan Ibnu ‘Aaisy itu sahabat. Kok bisa Ibnu ‘Aaisy dikatakan sahabat?. Ya dari hadis Ru’yah yang ia dengar dari Rasul SAW. Mana bisa, hadis itu kan mudhtharib. Nggak dong kan Ibnu ‘Aaisy itu sahabat jadi hadis itu gak mudhtharib. Apa buktinya Ibnu ‘Aaisy sahabat?. Buktinya Hadis ru’yah itu yang ia dengar dari Rasul SAW. Hadis itu jelas mudhtharib. Gak lah Ibnu ‘Aaisy itu sahabat jadi gak mungkin mudhtharib. Kok bisa Ibnu ‘Aaisy dikatakan sahabat?. Terus berputar tanpa henti….

Tentu saja cara berpikir seperti ini tidak usah kita hiraukan, biarkanlah ia tenggelam dalam dunianya sendiri. Jika ia tidak mau menerima hujjah orang lain maka tidak perlulah kita memperhatikan apa yang dikatakannya. Ilmu itu tidak hanya banyak membaca tetapi juga berpikir dengan jernih dan logika berpikir yang baik. Banyak membaca tetapi logikanya gak beres ya tidak berguna juga kan. Kalau memang mau membuktikan suatu hadis tidak mudhtharib dengan alasan perawinya sahabat. Maka buktikan dulu kalau ia sahabat, dan kalau mau membuktikan ia sahabat jangan menggunakan hadis pertama yang justru ingin dibuktikan bahwa ia tidak mudhtharib. Hadis itu membutuhkan bukti agar ia tidak mudhtharib bukannya menjadi bukti. Inikan logika sirkuler yang menyesatkan.

Selain itu kami akan menanggapi pernyataan bahwa Ibnu ‘Aaisy itu adalah orang yang ma’ruf bukannya tidak dikenal. Pernyataan ini jelas keliru. Ibnu ‘Aaisy keberadaannya hanya dikenal dari hadis ini saja. Hal yang ma’ruf adalah statusnya yang diperselisihkan apakah sahabat atau tidak?. Mereka yang menetapkan ia sahabat hanya bersandar pada hadis ru’yah ini. Nah jika telah dibuktikan hadis tersebut mudhtharib maka tidak shahih statusnya sebagai sahabat dan jadilah ia sebagai orang yang tidak dikenal.

Mereka yang mengumpulkan sanad hadis Ibnu ‘Aaisy mengakui kalau hadis tersebut mudhtharib oleh karena itu mereka menolak status persahabatan Ibnu ‘Aaisy. Dalam hal ini ulama yang berpendapat bahwa Ibnu ‘Aaisy sahabat seperti Al Baghawi, Ibnu Qani’, Ibnu Sakan, Abu Nu’aim [Abu Nu’aim dalam Ma’rifat As Shahabah menyebutkan kalau ia diperselisihkan status persahabatannya] dan yang lainnya keliru karena mereka tidak mengumpulkan sanad-sanad hadisnya sehingga mereka tidak tahu kalau hadis tersebut mudhtharib.

.

.

Kritik Hujjah Ibnu Hajar Dalam Al Ishabah Yang Menetapkan Ibnu ‘Aaisy Shahabat

Tetapi ada juga ulama yang mengumpulkan sanad-sanadnya seperti Ibnu Hajar dalam Al Ishabah no 5152 dan disini Ibnu Hajar melakukan tarjih dengan menguatkan hadis sima’ langsung Ibnu ‘Aaisy dari Rasulullah yaitu hadis Walid. Kami katakan tarjih yang dilakukan Ibnu Hajar itu tidak benar dan terkesan dipaksakan.

Mengenai hadis Walid yang menegaskan Ibnu ‘Aaisy mendengar langsung dari Rasulullah SAW. Ibnu Hajar menolak pernyataan Ibnu Khuzaimah, Bukhari dan Tirmidzi bahwa lafal itu kesalahan Walid. Ibnu Hajar mengatakan bahwa Walid diikuti oleh yang lain seperti Walid bin Yazid, Hammad, Isa bin Yunus dan yang lainnya.

Kami katakan : Ibnu Hajar benar tetapi mereka semua tetap meriwayatkan dengan jalan dari Khalid bin Al Lajlaaj dari Ibnu ‘Aaisy. Khalid bin Al Lajlaaj hanya ditsiqahkan oleh Ibnu Hibban. Khalid bin Al Lajlaaj dimasukkan Ibnu Hibban dalam Ats Tsiqat juz 4 no 2513 dan berkata “dia tergolong orang yang utama di zamannya”. Kami tidak menolak predikat ta’dil terhadap Khalid bin Al Lajlaaj tetapi jika Walid bin Muslim yang tsiqah saja bisa dikatakan salah oleh para ulama maka apalagi Khalid bin Al Lajlaaj yang hanya mendapat predikat shaduq dari Ibnu Hajar dalam At Taqrib 1/262. Tidak menutup kemungkinan Khalid bin Al Lajlaaj melakukan kesalahan dan jika bukan dia maka yang melakukan kesalahan adalah Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami sendiri.

Mengenai hadis dimana Ibnu ‘Aaisy mendengar dari seorang atau beberapa sahabat Nabi. Ibnu Hajar membuat keraguan dengan melemahkan salah seorang perawinya yaitu Zuhair bin Muhammad. Ibnu Hajar mengutip bahwa Zuhair bin Muhammad riwayatnya lemah jika yang meriwayatkan darinya penduduk Syam. Kami katakan : Tentu saja keraguan ini tidak bermakna karena dalam hadis ini yang meriwayatkan dari Zuhair bin Muhammad adalah Abdul Malik bin Amru dan dia bukan penduduk Syam melainkan penduduk Bashrah yang tsiqat [At Tahdzib juz 6 no 764]. Pada dasarnya Ibnu Hajar hanya mengutip Bukhari dan Ahmad yang berkata mengenai Zuhair bin Muhammad dalam At Tahdzib juz 3 no 645. Lengkapnya Bukhari berkata

قال البخاري ما روى عنه أهل الشام فإنه مناكير وما روى عنه أهل البصرة فإنه صحيح

Bukhari berkata “jika yang meriwayatkan darinya penduduk Syam maka terdapat banyak riwayat mungkar dan jika yang meriwayatkan darinya penduduk Bashrah maka riwayat itu shahih”.

Mengenai hadis dimana Ibnu ‘Aaisy meriwayatkan dari Malik bin Yakhaamir dari Muadz. Ibnu Hajar menyatakan bahwa hadis ini diperselisihkan, ia mengutip hadis lain riwayat Musa bin Khalaf bahwa yang meriwayatkan dari Malik bin Yakhaamir adalah Abu Abdurrahman As Saksaki selanjutnya Ibnu Hajar mengutip pernyataan Ahmad bahwa hadis ini lebih shahih dan pernyataan Ibnu Sakan kalau Abu Abdurrahman As Saksaki bukanlah Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami. Intinya Ibnu Hajar mencoba untuk membuktikan bahwa riwayat Ibnu ‘Aaisy dalam hadis Muadz itu tidak tsabit dan yang benar adalah riwayat Abu Abdurrahman As Saksaki.

Kami katakan : perkataan Ibnu Hajar itu terlalu dipaksakan. Kami akan mencermati dua hal, yang pertama yaitu pernyataan bahwa hadis dengan lafaz Abu Abdurrahman As Saksaki itu shahih. Hadis tersebut sebenarnya diriwayatkan oleh Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Kabir 20/109 no 216 dengan sanad berikut

حدثنا حفص بن عمر بن الصباح الرقي ثنا محمد بن سنان العوقي ثنا جهضم بن عبد الله اليمامي وحدثنا محمد بن محمد التمار البصري ثنا محمد بن عبد الله الخزاعي ثنا موسى بن خلف العمي [ قالا ] ثنا يحيى بن أبي كثير عن زيد بن سلام عن جده ممطور عن أبي عبد الرحمن السكسكي عن مالك بن يخامر عن معاذ بن جبل قال

Telah menceritakan kepada kami Hafsh bin Umar bin Ash Shabaah Ar Raqy yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sinan Al Uuqy yang berkata telah menceritakan kepada kami Jahdham bin Abdullah Al Yamami. Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Muhammad At Tammar Al Bashri yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah Al Khuza’i telah menceritakan kepada kami Musa bin Khalaf Al ‘Ammy. Keduanya berkata telah menceritakan kepada kami Yahya bin Abi Katsir dari Zaid bin Sallam dari kakeknya Mamthur dari Abi Abdurrahman As Saksaki dari Malik bin Yakhaamir dari Muadz bin Jabal yang berkata –secara marfu’-.

Jika kita memang harus mentarjih atau memilih salah satu antara hadis dengan nama Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami dan hadis dengan nama Abu Abdurrahman As Saksaki maka yang pertama jelas lebih shahih.

  • Mengenai jalan pertama Thabrani dari Jahdham bin Abdullah maka dalam sanadnya ada Hafsh bin Umar bin Ash Shaabah dia adalah seorang Syaikh shaduq yang dikatakan Ibnu Hibban “melakukan kesalahan” dan Abu Ahmad Al Hakim berkata “hadisnya tidak diikuti”[Lisan Al Mizan juz 2 no 1342]. Dalam hadis ini ia bertentangan dengan Muadz bin Hanii [tsiqah At Taqrib 2/193] dan Abu Sa’id maula bani Hasym [tsiqah Tahrir At Taqrib no 3918] yang keduanya lebih tsiqah dari dirinya.
  • Mengenai jalan kedua Thabrani dari Musa bin Khalaf, Musa bin Khalaf adalah seorang yang shaduq hasanul hadis tetapi ia dikatakan juga tidak kuat oleh Abu Daud dan Daruquthni, didhaifkan oleh Ibnu Ma’in. Sedangkan Musa bertentangan dengan riwayat yang tsabit dari Jahdhaam bin Abdullah [Musnad Ahmad dan Sunan Timidzi] dimana ia seorang yang tsiqah [Tahrir At Taqrib no 982]
  • Kedua jalan Thabrani riwayat Jahdham dan Musa mereka meriwayatkan dari Yahya bin Abi Katsir dan Yahya meriwayatkan dari Zaid bin Sallam dengan an ‘an ah. Yahya disebutkan juga bahwa ia seorang mudallis martabat kedua dalam Thabaqat Al Mudallisin no 63. Sedangkan riwayat Ahmad yang menyebutkan nama Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami, Yahya meriwayatkan dengan lafal “tsana” sehingga riwayat Ahmad ini kedudukannya jelas lebih shahih dari riwayat Ath Thabrani.

Pada dasarnya kami tidak menolak riwayat Thabrani, bagi kami Abu Abdurrahman As Saksaki yang dimaksud dalam hadis ini adalah Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadrami seperti yang dikatakan Daruquthni dalam Al Ilal no 973. Walaupun Ibnu Hajar berhujjah bahwa kedua orang ini berbeda maka ia tidak bisa menafikan bahwa riwayat Muadz dengan nama Abdurrahman bin ‘Aaisy itu memang ada dan sanadnya sampai ke Ibnu ‘Aaisy itu memang shahih [ini hal kedua yang harus dicermati]. Jadi kita anggap ada dua orang yang meriwayatkan dari Malik bin Yakhaamir yaitu

  • Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami [riwayat Ahmad dan Tirmidzi]
  • Abu Abdurrahman As Saksaki [riwayat Thabrani]

Seandainya kedua orang ini berbeda maka apakah itu berarti hadis yang ada nama Ibnu ‘Aaisy menjadi bukan milik Ibnu ‘Aaisy tetapi milik As Saksaki?. Lha kan katanya dua orang itu berbeda maka hadis Ibnu ‘Aaisy ya tetap milik Ibnu ‘Aaisy dan tetap menunjukkan bahwa hadis Ibnu ‘Aaisy idhthirab. Apa yang dilakukan Ibnu Hajar itu terkesan dipaksakan, ia ingin melemahkan riwayat Muadz sehingga baginya yang tsabit hanya riwayat Walid bahwa Ibnu ‘Aaisy mendengar langsung dari Rasulullah. Dengan begitu maka Ibnu Hajar dapat menyingkirkan illat mudhtharib hadis tersebut. Padahal telah kami tunjukkan bahwa tarjih yang dilakukan Ibnu Hajar itu tidaklah benar. Riwayat tersebut tidak bisa dikompromikan atau dipilih salah satu, sehingga tetaplah ia sebagai mudhtharib.

Hadis Ru’yah Ibnu ‘Aaisy sudah jelas mudhtharib dan hadis ini tidak bisa dijadikan hujjah akan persahabatan Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami sehingga pendapat yang benar dalam hal ini Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhrami bukan sahabat Nabi SAW. Sebelum kami menutup pembahasan ini kami akan menampilkan para Ulama yang menyatakan bahwa Abdurrahman bin ‘Aaisy bukan sahabat Nabi [sebagai tambahan]

  • Al Bukhari menyatakan “Abdurrahman bin ‘Aaisy tidak bertemu dengan Nabi SAW” [ Al Ilal Tirmidzi no 435].
  • Abu Hatim berkata “keliru yang mengatakan ia sahabat” [At Tahdzib juz 6 no 417 dan Al Jarh Wat Ta’dil 5/262 no 1240]
  • At Tirmidzi berkata “ia tidak mendengar dari Nabi SAW” [At Tahdzib juz 6 no 417]
  • Ibnu Khuzaimah berkata “ia tidak mendengar dari nabi SAW” [At Tauhid no 54]
  • Abu Zur’ah berkata “ia tidak dikenal” [At Tahdzib juz 6 no 417 dan Al Jarh Wat Ta’dil 5/262 no 1240]
  • Ibnu Atsir berkata “tidak shahih kalau ia sahabat karena hadisnya mudtharib” [Usudul Ghabah 3/465]
  • Ibnu Abdil Barr berkata “tidak shahih kalau ia sahabat karena hadisnya mudhtharib” [Al Isti’ab 2/838]
  • Abu Sa’id Al Alaiy memasukkan nama Abdurrahman bin ‘Aaisy Al Hadhramy dalam Jami’ Al Tahsil Fi Ahkam Al Marasil no 435 dan mengakui kalau hadisnya mudhtharib.
  • Al Hafiz Ala Ad-Din Ibnu Qalij menyatakan “tidak shahih kalau ia sahabat karena hadisnya mudhtharib” [Al Inabah Ila Ma’rifat Al Mukhtalaf Fiim Min As Shahabah no 666]
  • Syaikh Syu’aib Al Arnaut dan Bashar Awad Ma’ruf menyatakan “tidak shahih kalau ia sahabat” dan mereka juga menyebutkan kalau ia mastur [Tahrir Taqrib At Tahdzib no 3911]

Dan diantara para ulama yang mengakui kalau hadis Ibnu ‘Aaisy dhaif karena mudhtharib adalah

  • Ad Daruqutni menyatakan “tidak shahih karena semuanya mudhtharib” [Al Ilal Daruquthni no 973]
  • Ibnu Jauzi menyatakan hadis Ibnu ‘Aaisy tersebut mudhtharib [Al Ilal Al Mutanahiyah kitab Tauhid hadis ke-13]
  • Muhammad bin Nashr Al Marwadzi menyatakan hadis tersebut mudhtharib dan tidak tsabit sanadnya di sisi orang-orang yang mengenal ilmu hadis [Mukhtasar Qiyamul Lail 1/33 no 26]
  • Syaikh Syu’aib Al Arnauth dalam tahqiqnya terhadap Musnad Ahmad telah menyatakan hadis Ibnu ‘Aaisy dhaif karena mudhtharib [Musnad Ahmad tahqiq Syaikh Al Arnauth no 16672, no 22162, dan no 23258]

Tentu saja mereka yang mengakui hadis tersebut mudhtharib akan mengakui bahwa hadis ini dhaif karena mudhtharib tersebut. Sebagai catatan terakhir kami katakan riwayat Ibnu ‘Aaisy ini tidak akan naik derajatnya dengan hadis-hadis lain semisal hadis Simmak bin Harb karena terdapat perbedaan yang mendasar pada kedua lafaz hadis tersebut [selain itu hadis penguat yang dimaksud sanadnya bermasalah]. Hadis Ibnu ‘Aaisy menyebutkan secara rinci soal kejadian melihat Allah SWT tersebut yang terjadi di dalam mimpi sedangkan hadis Simmak bin Harb dan yang lainnya tidak menyebutkan soal mimpi padahal justru yang menjadi hujjah adalah mimpinya. Bukankah yang menjadi keyakinan Salafy itu penglihatan (ru’yah) tersebut terjadi di dalam mimpi. Hal ini yang ternyata tidak bisa dilihat oleh para pengikut salafiyun sehingga dengan mudahnya mereka berkata bahwa hadis tersebut saling menguatkan.

Kesimpulan : tetap seperti yang berulang kali kami katakan Abdurrahman bin “Aaisy Al Hadhrami bukan sahabat Nabi karena hadis bukti persahabatannya mudhtharib dan tidak bisa dijadikan hujjah

.



Dalil Ahlul Bait Yang Disucikan Bukanlah Istri-istri Nabi

Dalil Ahlul Bait Yang  Disucikan  Bukanlah Istri-istri Nabi

Salah satu situs yang mengaku salafy pernah membawakan pembahasan istri-istri Nabi sebagai Ahlul Bait. Situs tersebut berhujjah dengan hadis shalawat yang ditujukan kepada Nabi, Istri-istrinya dan keturunannya. Ternyata banyak pula orang yang ikut-ikutan alias taklid kepada situs tersebut padahal hujjah seperti itu tidak ada nilainya di sisi orang yang memang mengenal ilmu hadis. Silakan perhatikan hujjah yang dimaksud. Situs itu membawakan riwayat Al Bukhari tentang shalawat

اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد

 

“Ya Allah, berikanlah kebahagiaan kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberikan kebahagiaan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Dan berikanlah barakah kepada Muhammad, dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberikan barakah kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia” [Shahih Bukhari no. 3370].

اللهم صل على محمد وعلى أزواجه وذريته. كما صليت على آل إبراهيم. وبارك على محمد وعلى أزواجه وذريته. كما باركت على آل إبراهيم. إنك حميد مجيد

 

“Ya Allah, berikanlah kebahagiaan kepada Muhammad dan kepada istri-istrinya serta keturunannya, sebagaimana Engkau telah memberikan kebahagiaan kepada keluarga Ibrahim. Dan berikanlah barakah kepada Muhammad, dan kepada istri-istrinya serta keturunannya, sebagaimana Engkau telah memberikan barakah kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia” [Shahih Bukhari no. 3369 dan Shahih Muslim no. 407].

Dengan kedua hadis ini mereka berpendapat bahwa Lafaz “wa ‘alaa azwaajihi wa dzurriyyaatihi” (dan kepada istri-istrinya serta keturunannya) merupakan penafsir dari lafaz “wa ‘alaa aali Muhammad” (dan kepada keluarga Muhammad). Kemudian mereka menyimpulkan bahwa Ahlul Bait adalah istri-istri dan keturunan Nabi SAW.

Hujjah mereka ini keliru, entah mengapa mereka tidak menyadari lompatan kesimpulan mereka yang seenaknya. Silahkan perhatikan hadis shalawat dalam Musnad Ahmad berikut

اللهم صل على محمد وعلى أهل بيته وعلى أزواجه وذريته كما صليت على آل إبراهيم إنك حميد مجيد وبارك على محمد وعلى أهل بيته وعلى أزواجه وذريته كما باركت على آل إبراهيم إنك حميد مجيد

 

Ya Allah, berilah kebahagiaan kepada Muhammad dan kepada Ahlul baitnya dan kepada istri-istrinya serta keturunannya sebagaimana Engkau telah memberikan kebahagiaan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Dan berikanlah barakah kepada Muhammad dan kepada Ahli Baitnya, istri-istrinya, serta keturunannya, sebagaimana Engkau telah memberikan barakah kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.” [Hadis Musnad Ahmad 5/374 no 23221 dishahihkan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth].

Dengan memperhatikan ketiga hadis tersebut maka yang dimaksud Aali Muhammad [keluarga Muhammad] adalah

  • Ahlul Bait Muhammad SAW
  • Istri-istri Muhammad SAW
  • Keturunan Muhammad SAW

Bukankah ini justru menunjukkan kalau Ahlu Bait dan Istri-istri Nabi adalah dua entitas yang berbeda walaupun keduanya termasuk “keluarga Muhammad”. Ditambah lagi terdapat hadis shahih lain yang menunjukkan dengan jelas kalau Istri-istri Nabi SAW bukan Ahlul Bait yaitu riwayat Zaid bin Arqam. Tetapi anehnya salafiyun ketika berhujjah mereka hanya membawakan hadis Zaid bin Arqam yang berikut

عن يزيد بن حيان قال قال زيد بن أرقم قام رسول الله صلى الله عليه وسلم يوما فينا خطيبا بماء يدعى خما بين مكة والمدينة. فحمد الله وأثنى عليه ووعظ وذكر ثم قال “أما بعد ألا أيها الناس فإنما أنا بشر يوشك أن يأتي رسول ربي فأجيب وأنا تارك فيكم ثقلين أولهما كتاب الله فيه الهدى والنور فخذوا بكتاب الله واستمسكوا به” فحث على كتاب الله ورغب فيه ثم قال “وأهل بيتي أذكركم الله في أهل بيتي أذكركم الله في أهل بيتي أذكركم الله في أهل بيتي” فقال له حصين ومن أهل بيته؟ يا زيد أليس نساؤه من أهل بيته؟ قال نساؤه من أهل بيته ولكن أهل بيته من حرم الصدقة بعده قال وهم؟ قال هم آل علي، وآل عقيل وآل جعفروآل عباس قال كل هؤلاء حرم الصدقة؟ قال نعم

 

Dari Yaziid bin Hayyaan ia berkata Telah berkata Zaid bin Arqam “Pada satu hari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah berdiri dan berkhutbah di sebuah mata air yang disebut Khumm. Beliau memuji Allah, kemudian menyampaikan nasihat dan peringatan kepada kami “Amma ba’du, ketahuilah wahai sekalian manusia, bahwasannya aku hanyalah seorang manusia sama seperti kalian. Sebentar lagi utusan Rabb-ku (yaitu malaikat maut) akan datang dan dia diperkenankan. Aku akan meninggalkan kepada kalian dua hal yang berat, yaitu Al-Qur’an yang berisi petunjuk dan cahaya, karena itu laksanakanlah isi Al-Qur’an itu dan berpegangteguhlah kepadanya – beliau mendorong dan menghimbau pengamalan Al-Qur’an – dan Ahlul-Baitku (keluargaku). Aku ingatkan kalian kepada Allah tentang Ahlul-Bait-ku (beliau mengucapkan tiga kali)”. Hushain berkata kepada Zaid “Wahai Zaid, siapakah ahlul-bait Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam ? Bukankah istri-istri beliau adalah ahlul-baitnya ?”. Zaid bin Arqam menjawab “Istri-istri beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam memang ahlul-baitnya. Namun ahlul-bait beliau adalah orang-orang yang diharamkan menerima zakat sepeninggal beliau”. Hushain berkata “Siapakah mereka itu ?”. Zaid menjawab “Mereka adalah keluarga ‘Ali, keluarga ‘Aqil, keluarga Ja’far, dan keluarga ‘Abbas”. Hushain berkata “Apakah mereka semua itu diharamkan menerima zakat ?”. Zaid menjawab “Ya” [Shahih Muslim no. 2408 dan Shahih Ibnu Khuzaimah no. 2357].

Mereka salafiyun patut disayangkan seolah-olah tidak pernah membaca hadis riwayat Muslim lain [yang berada tepat di bawah hadis di atas dalam Shahih Muslim] yang bertentangan dengan hujjah mereka [dimana dalam hadis ini Zaid bin Arqam bersumpah “Demi Allah”]

فقلنا من أهل بيته ؟ نساؤه ؟ قال لا وايم الله إن المرأة تكون مع الرجل العصر من الدهر ثم يطلقها فترجع إلى أبيها وقومها أهل بيته أصله وعصبته الذين حرموا الصدقة بعده

 

“Kami berkata “Siapa Ahlul Bait? Apakah istri-istri Nabi? . Kemudian Zaid menjawab ” Tidak, Demi Allah seorang wanita(istri) hidup dengan suaminya dalam masa tertentu jika suaminya menceraikannya dia akan kembali ke orang tua dan kaumnya. Ahlul Bait Nabi adalah keturunannya yang diharamkan untuk menerima sedekah”. [Shahih Muslim no 2408]

Tulisan ini hanya ingin menunjukkan betapa cara pendalilan mereka yang ngakunya salafiyun itu terkesan seenaknya. Terdapat dalil shahih yang menunjukkan bahwa Ahlul Bait Nabi SAW bukanlah istri-istri Nabi sebagaimana terdapat pula dalil shahih dimana Nabi SAW terkadang memanggil istrinya dengan sebutan Ahlul Bait. Kami telah membahas tentang ini dalam pembahasan tersendiri. Sebutan Ahlul Bait bisa memiliki makna umum maupun khusus. Secara umum baik istri Nabi ataupun kerabat Nabi lainnya [keluarga Aqil, keluarga Ja’far dan keluarga Abbas] bisa saja disebut sebagai Ahlul Bait tetapi secara khusus Nabi SAW pernah mengkhususkan siapa yang dimaksud Ahlul Bait terkait dengan keutamaan dan kemuliaan khusus yang mereka sandang seperti Ahlul Bait dalam Ayat Tathir yang dikhususkan oleh Nabi SAW untuk Sayyidah Fathimah AS, Imam Ali AS, Imam Hasan AS dan Imam Husain AS.

Urwah bin Zubair ? Seorang tabiin masyhur putra sahabat Nabi Zubair bin Awwam : Fuqaha As Salafi Mencaci Sahabat Nabi SAW

Urwah bin Zubair Fuqaha As Sab’ah Mencaci Sahabat Nabi SAW

Siapa yang tidak mengenal Urwah bin Zubair ? Seorang tabiin masyhur putra sahabat Nabi Zubair bin Awwam RA. Beliau termasuk salah seorang Fuqaha As Sab’ah yang terkenal dalam sejarah kaum muslimin. Ibunya adalah Asma binti Abu Bakar RA, Bibinya adalah Aisyah RA dan ia adik kandung Abdullah bin Zubair RA. Urwah bin Zubair dikenal tsiqah dan banyak meriwayatkan hadis dari Aisyah RA. Hadis-hadisnya dijadikan hujjah dalam Kutub As Sittah [Bukhari, Muslim, Nasai, Ibnu Majah, Tirmidzi dan Abu Dawud].

Sekarang apa jadinya jika Urwah bin Zubair ternyata mencaci sahabat Nabi. Mungkin ada yang tidak percaya, tetapi telah diriwayatkan dalam kabar shahih kalau Urwah bin Zubair pernah mencaci Hassan bin Tsabit RA seorang sahabat yang pernah membela Nabi SAW.

حدثنا أبو بكر بن أبي شيبة وأبو كريب قالا حدثنا أبو أسامة عن هشام عن أبيه أن حسان بن ثابت كان ممن كثر على عائشة فسببته فقالت يا ابن أختي دعه فإنه كان ينافح عن رسول الله صلى الله عليه و سلم

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah dan Abu Kuraib yang keduanya berkata telah menceritakan kepada kami Abu Usamah dari Hisyam dari Ayahnya [Urwah] bahwa Hassan bin Tsabit termasuk orang yang berlebihan membicarakan Aisyah maka aku mencacinya. Aisyah berkata “wahai keponakanku, biarkan saja dia karena sesungguhnya dia pernah membela Rasulullah SAW”. [Shahih Muslim 4/1933 no 2487]


Mengapa Urwah mencaci Hassan bin Tsabit? Karena menurutnya Hassan bin Tsabit berlebih-lebihan dalam membicarakan atau mencela Aisyah. Peristiwa dimana Hassan membicarakan Aisyah adalah peristiwa yang berlangsung lama sebelumnya yaitu ketika Rasulullah SAW masih hidup [Urwah belum lahir]. Hassan bin Tsabit termasuk sahabat Nabi yang ikut menyebarkan berita bohong terhadap Aisyah [hadis Al Ifki].

Tetapi bukankah mencaci sahabat Nabi itu bid’ah. Bukankah mereka yang mencaci sahabat Nabi dinyatakan sesat dan rafidhah. Aneh bin ajaib tidak ada satupun ulama yang menuduh Urwah bin Zubair rafidhah, padahal ia terbukti mencaci sahabat Nabi. Silakan lihat kitab-kitab biografi perawi hadis, tidak ada ulama yang mengkritik atau mencacat Urwah karena telah mencaci sahabat Nabi, tidak ada ulama yang menuduhnya rafidhah walaupun terdapat riwayat shahih kalau ia mencaci sahabat. Padahal diantara para ulama itu ada yang tidak segan-segan mencacat perawi hanya karena perawi tersebut meriwayatkan hadis keutamaan Ahlul Bait. Terkadang mereka dengan mudahnya menuduh perawi tersebut sebagai rafidhah tanpa membawakan bukti riwayat shahih kalau perawi tersebut mencaci sahabat Nabi. Apakah jarh wat ta’dil itu terkesan subjektif? Entahlah, yang pasti jarh wat ta’dil memang susah untuk diverifikasi kebenarannya. Silakan lihat pendapat para ulama mengenai Urwah bin Zubair. Al Ajli berkata tentang Urwah bin Zubair

عروة بن الزبير بن العوام مدني تابعي ثقة كان رجلا صالحا لم يدخل في شيء من الفتن

 

Urwah bin Zubair bin Awwam tabiin madinah yang tsiqat, ia seorang yang shalih dan tidak pernah sedikitpun terkena fitnah [ Ma’rifat Ats Tsiqah no 1229 dan At Tahdzib juz 7 no 352]

ذكره بن سعد في الطبقة الثانية من أهل المدينة وقال كان ثقة كثير الحديث فقيها عالما ثبتا مأمونا

 

Disebutkan Ibnu Sa’ad dalam thabaqat kedua dari penduduk Madinah, dan ia berkata “seorang yang tsiqah banyak meriwayatkan hadis, faqih, alim, tsabit dan ma’mun”. [At Tahdzib juz 7 no 352]

عروة بن الزبير بن العوام بن خويلد الأسدي أبو عبد الله المدني ثقة فقيه مشهور

Urwah bin Zubair bin Awwam bin Khuwailid Al Asadi Abu Abdullah Al Madani dikenal tsiqat dan faqih. [At Taqrib Ibnu Hajar 1/671]

Urwah bin Zubair telah disepakati ketsiqahannya. Bahkan para ulama menilai dia seorang yang faqih dan luas ilmunya sehingga dikabarkan kalau sahabat Rasulullah pun sering bertanya kepadanya.

ابن أبي الزناد حدثني عبد الرحمن بن حميد بن عبد الرحمن قال دخلت مع أبي المسجد فرأيت الناس قد اجتمعوا على رجل فقال أبي انظر من هذا فنظرت فإذا هو عروة فأخبرته وتعجبت فقال يا بني لا تعجب لقد رأيت أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم يسألونه

Ibnu Abi Zanad berkata telah menceritakan kepadaku Abdurrahman bin Humaid bin Abdurrahman yang berkata “aku masuk bersama ayahku ke masjid maka aku melihat manusia sedang berkumpul kepada seseorang. Ayahku berkata “lihatlah siapa dia” maka aku mendekatinya dan ia adalah Urwah. Kemudian aku ceritakan dengan heran kepada ayahku. Ayahku terus berkata “jangan heran wahai anakku sungguh aku melihat sahabat-sahabat Rasulullah SAW bertanya kepadanya. [Siyar ‘Alam An Nubala  Adz Dzahabi 4/425]

Mari kita tanyakan kepada para pengikut salafiyun. Apakah kalian akan mengecam dan melaknat Urwah bin Zubair?. Bukankah kalian beranggapan siapa yang mencaci sahabat maka akan mendapat laknat Allah dan Rasulnya. Bersikaplah konsisten kalau kalian mampu. Jika tidak bisa maka diamlah dan jangan terlalu angkuh.

Kalau kalian berdalih Urwah dibolehkan mencaci Hassan bin Tsabit karena kesalahan Hassan yang menyebarkan berita bohong terhadap Aisyah, maka coba bandingkan dengan berbagai kesalahan sahabat yang pernah dimuat di blog ini.

Adakah penulis blog ini mengatakan caci-maki terhadap sahabat tersebut? Tidak ada kata-kata cacian, penulis blog ini hanya membawakan riwayat shahih tentang kesalahan sebagian sahabat Nabi. Anehnya ternyata kalian pengikut salafy bersemangat sekali menuduh blog ini [mencaci] bahkan menyebutnya Rafidhah tetapi terhadap Urwah bin Zubair yang nyata-nyata mencaci sahabat Nabi, kalian diam seribu bahasa. Mungkin sudah saatnya untuk memaklumi keterbatasan akal pikiran kalian.

Imam Ali Pintu Kota iLMU dan Pintu Hikmah, bukan Abu Hurairah atau cs Nashibi

Shahih : Hadis Imam Ali Pintu Kota Ilmu

Hadis Imam Ali pintu kota ilmu termasuk hadis yang dibenci oleh para salafy wa nashibi. Mereka bersikeras menyatakan hadis tersebut palsu dan dibuat-buat oleh orang syiah. Sebelumnya kami pernah membahas tentang hadis ini dan kami berpendapat bahwa hadis ini kedudukannya hasan tetapi setelah mempelajari kembali maka kami temukan bahwa hadis ini sebenarnya hadis yang shahih. Pada pembahasan kali ini kami akan membawakan hadis ini dengan sanad yang jayyid.

Sebelumnya kami akan menyampaikan fenomena menarik seputar hadis ini. Hadis ini telah dinyatakan palsu oleh sebagian ulama sehingga para ulama itu tidak segan-segan mencacat mereka yang meriwayatkan hadis ini. Dengan kata lain, berani meriwayatkan hadis ini maka si perawi siap-siap mendapat tuduhan seperti “dhaif” atau “pemalsu hadis” atau “rafidah busuk”. Hadis pintu kota ilmu masyhur diriwayatkan oleh Abu Shult Abdus Salam bin Shalih Al Harawi dan kasihan sekali orang ini dituduh sebagai yang memalsukan hadis tersebut sehingga tidak segan-segan banyak ulama yang berduyun-duyun mendhaifkan Abu Shult.

Fakta membuktikan ternyata Abu Shult tidak menyendiri dalam meriwayatkan hadis ini. Bersamanya ada banyak perawi lain baik tsiqat, dhaif atau majhul yang juga meriwayatkan hadis ini. Bukankah ini salah satu indikasi kalau Abu Shult tidak memalsukan hadis ini. Dan ajaibnya seorang imam terkenal Ibnu Ma’in bersaksi kalau Abu Shult tidak memalsukan hadis ini bahkan Ibnu Ma’in menyatakan Abu Shult seorang tsiqat shaduq.

Ternyata para ulama tidak kehabisan akal, mereka membuat tuduhan baru yang akan mengakhiri semuanya. Tuduhannya tetap sama “Abu Shult memalsukan hadis ini” tetapi dengan tambahan “dan siapa saja yang meriwayatkan hadis ini selain Abu Shult maka dia pasti mencuri hadis tersebut dari Abu Shult”. Mengagumkan, perkataan ini jelas menunjukkan bahwa sebanyak apapun orang lain selain Abu Shult meriwayatkan hadis ini maka hadis ini akan tetap palsu keadaannya. Fenomena ini menunjukkan betapa canggihnya sebagian ulama sekaligus menunjukkan betapa konyolnya sebagian ilmu jarh wat ta’dil.

Mengapa konyol?. Karena jelas sekali dipaksakan. Mereka ingin memaksakan kalau hadis ini palsu dan yang memalsukannya adalah Abu Shult Al Harawi. Di bawah ini kami akan membawakan sanad yang menunjukkan kalau hadis ini tidaklah palsu dan Abu Shult bukanlah orang yang tertuduh memalsu hadis ini.

ثنا أبو الحسين محمد بن أحمد بن تميم القنطري ثنا الحسين بن فهم ثنا محمد بن يحيى بن الضريس ثنا محمد بن جعفر الفيدي ثنا أبو معاوية عن الأعمش عن مجاهد عن بن عباس رضى الله تعالى عنهما قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم أنا مدينة العلم وعلي بابها فمن أراد المدينة فليأت الباب

 

Telah menceritakan kepada kami Abu Husain Muhammad bin Ahmad bin Tamim Al Qanthari yang berkata telah menceritakan kepada kami Husain bin Fahm yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahya bin Dharisy yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far Al Faidiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Muawiyah dari Al ‘Amasy dari Mujahid dari Ibnu Abbas RA yang berkata Rasulullah SAW bersabda “Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah pintunya dan siapa yang hendak memasuki kota itu hendaklah melalui pintunya” [Mustadrak As Shahihain Al Hakim no 4638 dishahihkan oleh Al Hakim dan Ibnu Ma’in]

Hadis riwayat Al Hakim di atas telah diriwayatkan oleh para perawi tsiqat dan shaduq hasanul hadis. Mereka yang mau mencacatkan hadis ini tidak memiliki hujjah kecuali dalih-dalih yang dipaksakan. Berikut pembahasan mengenai perawi hadis tersebut dan jawaban terhadap syubhat dari para pengingkar.

Muhammad bin Ahmad bin Tamim Al Qanthari yang dikenal Abu Husain Al Khayyath adalah Syaikh [gurunya] Al Hakim dimana Al Hakim banyak sekali meriwayatkan hadis darinya. Al Hakim telah berhujjah dengan hadis-hadisnya dan menshahihkannya dalam Al Mustadrak. Selain itu Al Hakim menyebutnya dengan sebutan Al Hafizh [ini salah satu predikat ta’dil] dalam Al Mustadrak no 6908. Muhammad bin Abi Fawaris berkata “ada kelemahan padanya” [Tarikh Baghdad 1/299]. Pernyataan Ibnu Abi Fawaris tidaklah benar karena Al Hakim sebagai murid Abu Husain Al Khayyath lebih mengetahui keadaan gurunya dibanding orang lain dan Al Hakim telah menta’dilkan gurunya dan menshahihkan hadis-hadisnya. Adz Dzahabi dalam Talkhis Al Mustadrak juga tidak pernah mengkritik Abu Husain Al Khayyath bahkan ia sepakat dengan Al Hakim, menshahihkan hadis-hadis Abu Husain Al Khayyath.

Husain bin Fahm adalah seorang yang disebut Adz Dzahabi sebagai Al Hafizh Faqih Allamah yang berhati-hati dalam riwayat. [Siyar ‘Alam An Nubala 13/427]. Al Hakim menyatakan ia tsiqat ma’mun hafizh [Mustadrak no 4638]. Al Khatib juga menyatakan ia tsiqat dan berhati-hati dalam riwayat [Tarikh Baghdad 8/92 no 4190]. Disebutkan kalau Daruquthni menyatakan “ia tidak kuat”. Pernyataan Daruquthni tidak bisa dijadikan hujjah karena ia tidak menjelaskan sebab pencacatannya padahal Al Hakim dan Al Khatib bersepakat menyatakan Husain bin Fahm tsiqah ditambah lagi pernyataan “laisa biqawy” [tidak kuat] bukan pencacatan yang keras dan juga bisa berarti seseorang yang hadisnya hasan.

Muhammad bin Yahya bin Dharisy adalah seorang yang tsiqah. Ibnu Hibban memasukkan namanya dalam Ats Tsiqat juz 9 no 15450 dan Abu Hatim menyatakan ia shaduq [Al Jarh wat Ta’dil 8/124 no 556] dan sebagaimana disebutkan Al Mu’allimi kalau Abu Hatim seorang yang dikenal ketat soal perawi dan jika ia menyebut perawi dengan sebutan shaduq itu berarti perawi tersebut tsiqah [At Tankil 1/350]

Muhammad bin Ja’far Al Faidy adalah Syaikh [guru] Bukhari yang tsiqat. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat juz 9 no 15466. Telah meriwayatkan darinya sekumpulan perawi tsiqat diantaranya Al Bukhari [dalam kitab Shahih-nya] oleh karena itu disebutkan dalam Tahrir Taqrib At Tahdzib no 5786 kalau ia seorang yang shaduq hasanul hadis. Sebenarnya dia seorang yang tsiqat karena selain Ibnu Hibban, Abu Bakar Al Bazzar menyatakan ia shalih [Kasyf Al Astar 3/218 no 2606] dan Ibnu Ma’in menyatakan ia tsiqat makmun [Al Mustadrak Al Hakim no 4637].

Ibnu Hajar menyebutkan biografi Muhammad bin Ja’far Al Faidy dalam At Tahdzib juz 9 no 128 dan disini Ibnu Hajar mengalami kerancuan. Ibnu Hajar membuat keraguan kalau sebenarnya dia bukanlah syaikh [guru] Al Bukhari. Dalam Shahih Bukhari disebutkan dengan kata-kata “haddatsana Muhammad bin Ja’far Abu Ja’far haddatsana Ibnu Fudhail” [Shahih Bukhari no 2471]. Menurut Ibnu Hajar, Muhammad bin Ja’far yang dimaksud bukan Al Faidy tetapi Muhammad bin Ja’far Al Simnani Al Qumasi yang biografinya disebutkan dalam At Tahdzib juz 9 no 131. Muhammad bin Ja’far Al Simnani disebutkan Ibnu Hajar kalau dia dikenal Syaikh Al Bukhari seorang hafiz yang tsiqat dan dia masyhur dikenal dengan kuniyah Abu Ja’far sedangkan Al Faidy lebih masyhur dengan kuniyah Abu Abdullah. Disini Ibnu Hajar melakukan dua kerancuan

  • Pertama, Muhammad bin Ja’far yang dimaksud Al Bukhari adalah Muhammad bin Ja’far Al Faidy karena Al Hakim dengan jelas menyebutkan Muhammad bin Ja’far Al Faidy dengan kuniyah Abu Ja’far Al Kufi dan dialah yang meriwayatkan hadis dari Muhammad bin Fudhail bin Ghazwan Al Kufy [Al Asami wal Kuna juz 3 no 1044]. Bukhari sendiri menyebutkan kalau Muhammad bin Ja’far Abu Ja’far yang meriwayatkan dari Ibnu Fudhail tinggal di Faid dengan kata lain dia adalah Al Faidy [Tarikh Al Kabir juz 1 no 118]. Jadi memang benar kalau Muhammad bin Ja’far Al Faidy adalah Syaikh atau gurunya Al Bukhari.
  • Kedua, Ibnu Hajar dengan jelas menyatakan Muhammad bin Ja’far Al Simnani [Syaikh Al Bukhari] seorang hafiz yang tsiqat [At Taqrib 2/63] sedangkan untuk Muhammad bin Ja’far Al Faidy [Syaikh Al Bukhari] Ibnu Hajar memberikan predikat “maqbul” [At Taqrib 2/63]. Hal ini benar-benar sangat rancu, Muhammad bin Ja’far Al Simnani walaupun ia gurunya Al Bukhari tidak ada satupun ulama mutaqaddimin yang memberikan predikat ta’dil kepadanya bahkan Ibnu Hibban tidak memasukkannya dalam Ats Tsiqat sedangkan Muhammad bin Ja’far Al Faidy telah dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Ma’in dan Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Jadi yang seharusnya dinyatakan tsiqat itu adalah Muhammad bin Ja’far Al Faidy.

Abu Muawiyah Ad Dharir yaitu Muhammad bin Khazim At Tamimi seorang perawi kutubus sittah yang dikenal tsiqat [At Taqrib 2/70]. Sulaiman bin Mihran Al ‘Amasy juga perawi kutubus sittah yang dikenal tsiqat [At Taqrib 1/392] dan Mujahid adalah seorang tabiin imam ahli tafsir perawi kutubus sittah yang juga dikenal tsiqat [At Taqrib 2/159]. Salah satu cacat yang dijadikan dalih oleh salafy adalah tadlis Al ‘Amasy. Al’Amasy memang dikenal mudallis tetapi ia disebutkan Ibnu Hajar dalam Thabaqat Al Mudallisin no 55 mudallis martabat kedua yaitu mudallis yang an’ anah-nya dijadikan hujjah dalam kitab shahih.

  • Imam Bukhari telah menshahihkan hadis dengan an’an-ah Al ‘Amasy dari Mujahid dalam Shahih Bukhari no 1361, 1378, 1393
  • Imam Muslim menshahihkan hadis dengan an’an-ah Al ‘Amasy dari Mujahid dalam Shahih Muslim no 2801
  • Imam Tirmidzi menyatakan hadis dengan an’an-ah Al ‘Amasy dari Mujahid hasan shahih dalam Sunan Tirmidzi 4/706 no 2585
  • Adz Dzahabi menshahihkan hadis dengan an’an-ah Al ‘Amasy dari Mujahid dalam Talkhis Al Mustadrak 2/421 no 2613
  • Syaikh Ahmad Syakir menshahihkan hadis dengan an’an-ah Al ‘Amasy dari Mujahid [Musnad Ahmad tahqiq Syaikh Ahmad Syakir no 2993]
  • Syaikh Syu’aib Al Arnauth menyatakan hadis dengan an’an-ah Al ‘Amasy dari Mujahid shahih sesuai dengan syarat Bukhari Muslim [Musnad Ahmad tahqiq Syaikh Al Arnauth no 2993]
  • Syaikh Al Albani menshahihkan hadis dengan an’an-ah Al ‘Amasy dari Mujahid dalam Irwa’ Al Ghalil 1/253

Tentu saja mencacatkan hadis ini dengan dalih tadlis ‘Amasy adalah pencacatan yang lemah dan terkesan dicari-cari karena cukup dikenal di kalangan ulama dan muhaqqiq kalau an an-ah ‘Amasy bisa dijadikan hujjah.

.

Kesimpulan

Sanad riwayat Al Hakim di atas adalah sanad yang jayyid dan tidak diragukan lagi kalau para perawinya tsiqah sehingga kedudukan hadis tersebut seperti yang dikatakan Al Hakim dan Ibnu Ma’in yaitu shahih. Riwayat Al Hakim ini sekaligus bukti bahwa Abu Shult Al Harawi tidak memalsukan hadis ini. Hadis ini memang hadis Abu Muawiyah dan tidak hanya Abu Shult yang meriwayatkan darinya tetapi juga Muhammad bin Ja’far Al Faidy seorang yang tsiqat dan makmun.

————————————————————————

Shahih : Hadis Imam Ali Pintu Kota Hikmah

Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan sebelumnya. Kami akan menambahkan satu lagi sanad yang jayyid dengan matan hadis “pintu kota hikmah”. Hadis ini juga merupakan bukti kalau hadis madinatul ilmi adalah hadis yang shahih dan Abu Shult Al Harawi tidak memalsukan hadis ini. Hadis yang dimaksud adalah riwayat Khaitsamah bin Sulaiman

حدثنا ابن عوف حدثنا محفوظ بن بحر الأنطاكي حدثنا موسى بن محمد الأنصاري الكوفي عن أبي معاوية عن الأعمش عن مجاهد عن ابن عباس رضي الله عنهما مرفوعا أنا مدينة الحكمة وعلي بابها

 

Telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Auf yang berkata telah menceritakan kepada kami Mahfuzh bin Bahr Al Anthakiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Musa bin Muhammad Al Anshari Al Kufi dari Abi Muawiyah dari Al ‘Amasy dari Mujahid dari Ibnu Abbas RA secara marfu’[dari Rasulullah SAW] “Aku adalah kota hikmah dan Ali adalah pintunya”. [Min Hadits Khaitsamah bin Sulaiman 1/184 no 174]

Hadis ini shahih diriwayatkan oleh para perawi tsiqah. Khaitsamah bin Sulaiman adalah seorang Imam tsiqat Al Muhaddis dari Syam seperti yang dikatakan oleh Adz Dzahabi [As Siyar 15/412 no 230]

  • Ibnu Auf adalah Muhammad bin Auf bin Sufyan Ath Tha’iy Abu Ja’far Al Himshi seorang Hafiz. Abu Hatim menyatakan ia shaduq dan ia dinyatakan tsiqat oleh Nasa’i dan Ibnu Hibban. Al Khallal menyebutnya Imam Hafizh [At Tahdzib juz 9 no 634]. Ibnu Hajar menyatakan ia seorang hafizh yang tsiqat [At Taqrib 2/121]
  • Mahfuzh bin Bahr Al Anthaky adalah seorang yang tsiqat dan hadisnya lurus. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat seraya berkata “seorang yang hadisnya lurus” [Ats Tsiqat juz 9 no 16026]. Telah meriwayatkan darinya sekumpulan perawi tsiqat dan hafizh yaitu Muhammad bin Auf Ath Tha’iy, Muhammad bin Abdullah Al Hadhramy, Ahmad Abu Bakar Al Hafizh Baghdad, Abu Muhammad Ja’far bin Ahmad Asy Syamati dan Al Hafizh Utsman bin Khurrazadz Al Anthaky.
  • Musa bin Muhammad Al Anshari Al Kufy adalah seorang yang tsiqat. Abu Ja’far menyatakan ia tsiqat. Ibnu Ma’in juga menyatakan ia tsiqat dan Abu Hatim berkata “la ba’sa bihi” (tidak ada masalah dengannya) [Al Jarh Wat Ta’dil 8/160 no 711]

Sama seperti pembahasan sebelumnya Abu Muawiyah Ad Dharir yaitu Muhammad bin Khazim At Tamimi seorang perawi kutubus sittah yang dikenal tsiqat [At Taqrib 2/70]. Sulaiman bin Mihran Al ‘Amasy juga perawi kutubus sittah yang dikenal tsiqat [At Taqrib 1/392] dan Mujahid adalah seorang tabiin perawi kutubus sittah yang juga dikenal tsiqat [At Taqrib 2/159].

.

.

Syubhat Para Pengingkar

Salafy nashibi ternyata pantang menyerah dalam mendhaifkan hadis ini. Mereka bersusaha melemahkan hadis ini dengan mencacatkan salah seorang perawinya yaitu Mahfuzh bin Bahr Al Anthaky. Mereka menukil Adz Dzahabi dan Ibnu Ady yang melemahkan Mahfuzh.

  • Ibnu Ady mengatakan kalau ia mendengar dari Abu Arubah bahwa Mahfuzh berdusta. [Al Kamil 6/441]
  • Adz Dzahabi mengutip Abu ‘Arubah yang mendustakan Mahfuzh bin Bahr Al Anthaky kemudian Adz Dzahabi mengutip hadis ini serta menyatakan kalau cacat hadis ini ada pada Mahfuzh [Mizan Al ‘Itidal juz 3 no 7092]

Pada dasarnya cacat yang ditujukan kepada Mahfuzh bin Bahr bersandar pada perkataan Abu Arubah. Sumber perkataan Abu Arubah ini adalah dari muridnya Ibnu Ady dalam kitab Al Kamil sedangkan para ulama muta’akhirin seperti Adz Dzahabi, Ibnu Hajar dan Sibthu Ibnu Ajami hanya mengutip dari Ibnu Ady. Perlu diketahui manhaj penulisan Ibnu Ady dalam kitabnya Al Kamil adalah ketika ia menuliskan biografi perawi hadis ia juga menyebutkan hadis yang diriwayatkan oleh perawi tersebut. Jadi jika seorang perawi dinyatakan sebagai “mungkar hadis” Ibnu Ady akan menyebutkan hadis-hadis mungkar yang diriwayatkan oleh perawi tersebut. Begitu pula jika seorang perawi dikatakan dusta maka Ibnu Ady akan menyebutkan hadis-hadis yang menunjukkan bukti kedustaan perawi tersebut.
.

.

Pencacatan Abu Arubah

Dalam Al Kamil 6/441 Ibnu Ady menuliskan biografi Mahfuzh dan mengutip hadis maudhu’

ثنا علي بن أحمد الجرجاني ثنا محفوظ بن بحر ثنا الوليد بن عبد الواحد عن عمر بن موسى عن خالد بن معدان عن أبي أمامة قال رسول الله صلى الله عليه وسلم رب عابد جاهل ورب عالم فاجر فاحذروا الجهال من العباد والفجار من العلماء

 

Telah menceritakan kepada kami Ali bin Ahmad Al Jurjani yang berkata telah menceritakan kepada kami Mahfuzh bin Bahr yang berkata telah menceritakan kepada kami Walid bin Abdul Wahid dari Umar bin Musa dari Khalid bin Ma’dan dari Abi Umamah bahwa Rasulullah SAW bersabda “betapa banyak ahli ibadah yang bodoh dan orang alim yang rusak [buruk] akhlaknya maka berhati-hatilah dari kebodohan ahli ibadah dan keburukan para ulama”. [Al Kamil 6/441]

Ibnu Ady menuliskan hadis ini dalam biografi Mahfuzh bin Bahr Al Antakhy tetapi ia sendiri mengatakan kalau hadis ini mungkar dan yang memalsukan hadis ini adalah Umar bin Musa bin Wajih bukan Mahfuzh bin Bahr Al Antakhy. Memang benar yang memalsukan hadis ini bukan Mahfuzh bin Bahr tetapi Umar bin Musa karena Umar bin Musa bin Wajih telah didustakan para ulama. Bukhari berkata “mungkar al hadis”. Ibnu Ma’in berkata “tidak tsiqat” di saat lain ia berkata “pendusta dan tidak ada nilainya”. Abu Hatim dan Ibnu Ady berkata “ ia pemalsu hadis”. An Nasa’i dan Daruquthni berkata “matruk”. [Lisan Al Mizan juz 4 no 944].

Timbul pertanyaan, kalau memang Ibnu Ady mengakui hadis ini dipalsukan oleh Umar bin Musa bin Wajih maka mengapa ia memasukkan hadis ini dalam biografi Mahfudzh bin Bahr? . Jawabannya tidak lain karena hadis ini dipermasalahkan oleh gurunya Abu Arubah yang mendustakan hadis Mahfuzh. Karena Mahfudz meriwayatkan hadis ini maka Abu Arubah mendustakannya.

Hadis yang disebutkan oleh Ibnu Ady dalam biografi Mahfuzh tersebut adalah hadis yang dikenal palsu diriwayatkan oleh Bisyr bin Ibrahim. Ibnu Hajar menuliskan hadis ini dalam biografi Bisyr bin Ibrahim dan menyatakan Bisyr yang memalsukan hadis ini [Lisan Al Mizan juz 2 no 66]. Bahkan Ibnu Asakir menyebutkan kalau Bisyr bin Ibrahim menyendiri dalam meriwayatkan hadis ini. Jadi hadis ini cukup dikenal sebagai hadis palsu di kalangan ulama. Sehingga ketika Mahfuzh meriwayatkan hadis ini dengan sanad yang tidak berasal dari Bisyr bin Ibrahim maka tuduhan dusta disematkan padanya, menurut kami inilah alasan mengapa Abu Arubah mendustakan hadis Mahfuzh bin Bahr Al Antakhy. Padahal dalam sanad riwayat Mahfuzh yang bertanggung jawab memalsukan hadis ini adalah Umar bin Musa bin Wajih bukan Mahfuzh bin Bahr. Jadi bisa dikatakan kalau tuduhan Abu Arubah itu tidak benar.

Ibnu Ady yang mengutip Abu Arubah sepertinya tidak sependapat dengan gurunya itu [Abu Arubah] buktinya Ibnu Ady tidak berhasil menunjukkan satu hadispun sebagai bukti kedustaan Mahfuzh. Ibnu Ady hanya membawakan satu hadis maudhu’ mungkar dan ia sendiri memastikan kalau yang memalsukan hadis itu bukan Mahfuzh tetapi Umar bin Musa. Hanya saja dalam Al Kamil 6/441 Ibnu Ady mengatakan kalau Mahfuzh memiliki hadis-hadis maushul [bersambung] dimana yang lain mengirsalkan hadis tersebut dan ia memarfu’kan hadis-hadis dimana yang lain memauqufkannya. Kami akan buktikan nanti kalau perkataan Ibnu Ady tidaklah benar apalagi Ibnu Ady tidak  menunjukkan satupun hadis-hadis Mahfuzh yang ia katakan maushul tetapi yang lain mengirsalkannya. Yang ingin kami garisbawahi disini adalah Ibnu Ady tidak berhasil menunjukkan satu hadispun sebagai bukti cacatnya Mahfuzh bin Bahr Al Anthaky.

.

.

Hadis-hadis Mahfuzh bin Bahr Al Anthaky

Mahfuzh bin Bahr Al Anthaky bukanlah perawi yang memiliki banyak hadis. Kami menemukan lima hadis yang diriwayatkan oleh Mahfuzh bin Bahr [selain hadis Madinatul hikmah]

  1. Hadis Mahfuzh bin Bahr dalam Mu’jam Al Awsath At Thabrani 2/75 no 1294. Hadis ini adalah hadis shahih dari Qasim dari Aisyah RA, hadis ini diriwayatkan pula dalam Sunan Abu Dawud 1/118 no 261 [shahih menurut Syaikh Al Albani]
  2. Hadis Mahfuzh bin Bahr dalam Mu’jam Al Awsath At Thabrani 6/47 no 5754. Hadis ini adalah hadis hasan dari Ibnu Umar sebagaimana yang disebutkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Jami’ As Shaghir no 3045 dan Silsilah Ahadits As Shahihah no 1802 [hasan menurut syaikh Al Albani]
  3. Hadis Mahfuzh bin Bahr dalam Mu’jam Al Kabir Ath Thabrani 4/18 no 3521. Hadis ini adalah hadis shahih dari Habib bin Maslamah diriwayatkan pula dalam Musnad Ahmad 4/159 no 17497 &17498 [shahih oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth] dan diriwayatkan dalam Sunan Abu Dawud 2/88 no 2748 [shahih oleh Syaikh Al Albani]
  4. Hadis Mahfuzh bin Bahr dalam Mu’jam Al Awsath 6/68 no 5814. Hadis ini adalah hadis Ubaidah dari Ibnu Mas’ud yang diperselisihkan sanad-sanadnya. Daruquthni dalam Al Ilal no 809 menyebutkan kalau hadis ini juga diriwayatkan dari Al ‘Amasy dan Abul Jahhaf dari Amru bin Murrah dari Abdullah bin Salamah dari Ubaidah dari Ibnu Mas’ud. Sedangkan sanad Thabrani adalah dari Mahfuzh dari Abu Maryam Abdul Ghaffar bin Qasim dari Amru bin Murrah dari Ibrahim bin Yazid dari Ubaidah dari Ibnu Mas’ud. Daruquthni mengatakan sanad Amasy dan Abu Jahhaf lebih shahih. Jika kita menjamak kedua sanad tersebut maka mungkin saja Amru bin Murrah meriwayatkan hadis tersebut dari Abdullah bin Salamah dan Ibrahim An Nakha’i yang keduanya meriwayatkan dari Ubaidah. Jika memang mau mentarjih maka jalan Abdullah bin Salamah lebih shahih karena jalan Ibrahim An Nakha’i [riwayat Mahfuzh] dalam sanadnya terdapat Abu Maryam Abdul Ghaffar bin Qasim yang didhaifkan sebagian ulama.
  5. Hadis Mahfuzh bin Bahr dalam Mu’jam Al Awsath Ath Thabrani 6/67 no 5813. Hadis ini adalah hadis Ibnu Abbas dengan sanad yang dhaif. Mahfuzh meriwayatkan hadis ini dari Walid bin Abdul Wahid dari Umar bin Musa bin Wajih dan sebagaimana disebutkan sebelumnya Umar bin Musa bin Wajih adalah seorang pemalsu hadis.

Kami telah meneliti hadis-hadis Mahfuzh bin Bahr tersebut dan kami menemukan hadis-hadisnya terbagi menjadi

  • Hadis-hadis Mahfuzh dimana hadis tersebut memiliki syahid atau penguat dari yang lain [hadis pertama, kedua, ketiga, dan keempat]
  • Hadis-hadis Mahfuzh yang dhaif tetapi penyebab kedhaifannya berasal dari perawi lain, dengan kata lain Mahfuzh tidak tertuduh dalam hadis tersebut [hadis keempat dan kelima].

Dari hadis-hadis yang dimiliki Mahfuzh bin Bahr tidak ada petunjuk yang menguatkan perkataan Ibnu Ady kalau Mahfuzh sering menyambungkan hadis yang diirsalkan oleh perawi lain. Oleh karena itu perkataan Ibnu Ady tidak bisa diterima apalagi Ibnu Hibban dengan jelas menyebutkan kalau Mahfuzh bin Bahr Al Anthaky seorang yang hadisnya lurus dan dengan melihat hadis-hadisnya maka memang demikianlah keadaannya.

Pembahasan panjang lebar ini membuktikan kalau jarh terhadap Mahfuzh tidaklah tsabit. Tuduhan dusta Abu Arubah itu tidak bisa dijadikan pegangan dan pada kenyataannya memang cukup banyak perawi tsiqah yang dituduh dusta seperti

  • Ibnu Ishaq yang dituduh dusta oleh Malik, Hisyam dan Yahya atau
  • Ibnu Qutaibah yang dikatakan dusta oleh Al Hakim atau
  • Ibnu Abi Dawud yang dinyatakan dusta oleh Ibrahim Al Ashbahan dan Abu Dawud atau
  • Abu Bakar Al Baghandi Muhammad bin Muhammad bin Sulaiman yang dinyatakan dusta oleh Ibrahim Al Ashbahan.

Tuduhan-tuduhan tersebut tidak dijadikan pegangan oleh para ulama sehingga baik Ibnu Ishaq dan Ibnu Qutaibah tetap dinyatakan tsiqah begitu pula Ibnu Abi Dawud dan Abu Bakar Al Baghandi.

Mengenai Mahfuzh bin Bahr Al Antakhy dia seorang tsiqah yang hadisnya lurus [seperti yang dikatakan oleh Ibnu Hibban] apalagi telah meriwayatkan hadis darinya para hafizh yang tsiqah.

  • Al Hafizh Muhammad bin Auf Al Himshi meriwayatkan hadis dari Mahfuzh bin Bahr [Min Hadits Khaitsamah bin Sulaiman 1/184 no 174]
  • Al Hafizh Muhammad bin Abdullah Al Hadhramy seorang hafiz yang tsiqat [Tarajum Syuyukh Thabrani no 943] telah meriwayatkan hadis dari Mahfuzh bin Bahr [Mu’jam Al Kabir Ath Thabrani 4/18 no 3521]
  • Al Hafizh Ahmad Abu Bakar Baghdad seorang hafiz yang tsiqat tsiqat [Tarajum Syuyukh Thabrani no 195] meriwayatkan hadis dari Mahfuzh bin Bahr [Mu’jam Al Awsath At Thabrani 2/75 no 1294]
  • Al Hafizh Utsman bin Abdullah bin Muhammad Al Anthaky seorang hafiz yang tsiqat [Siyar ‘Alam An Nubala 13/379] meriwayatkan hadis dari Mahfuzh bin Bahr [Al Laly Al Mashnu’ah As Suyuthi Manaqib Khulafa Al Arba’ah pembahasan hadis Rad Al Syam]

.

.

Kesimpulan

Hadis Madinatul Hikmah di atas adalah hadis yang shahih karena telah diriwayatkan oleh para perawi tsiqat. Beberapa ulama seenaknya mencacatkan Mahfuzh dikarenakan ia meriwayatkan hadis ini seperti yang dilakukan Adz Dzahabi [Al Mizan juz 3 no 7092] dan Ibrahim Sibth Ibnu Ajami [Kasyf Al Hatsits no 601]. Mereka berdua menyatakan kalau Mahfuzh yang memalsukan hadis ini. Mereka berdua sudah dari awal menganggap hadis ini palsu sehingga ketika mereka menemukan sanad Khaitsamah bin Sulaiman ini maka mereka berusaha mencari-cari kelemahan sanad tersebut. Berbeda halnya dengan Ibnu Hajar ia berpendapat kalau Mahfuzh tidak memalsukan hadis ini karena hadis ini telah diriwayatkan oleh perawi yang lainnya dari Abu Muawiyah [Lisan Al Mizan juz 5 no 70]. Seperti yang sudah kami jelaskan mereka berdua [Adz Dzahabi dan Sibth Ibnu Ajami] hanya mengutip perkataan Abu Arubah yang mendustakan Mahfuzh. Perkataan ini mereka jadikan dasar untuk mencela Mahfuzh karena diantara perawi lain hanya Mahfuzh yang bisa dijadikan sasaran untuk menyatakan hadis ini palsu yaitu dengan berpegang pada Abu Arubah yang mendustakan Mahfuzh. Padahal perkataan Abu Arubah ini tidak bisa dijadikan pegangan seperti yang telah dibahas sebelumnya. Wallahu’alam.

Syi’ah Melaknat SAHABAT ??? Nggak tuch, FAKTA : Doa Qunut Imam Ali Terhadap Muawiyah dan Amru bin Ash Beserta Pengikut Mereka

KONSEP LAKNAT DI DALAM AL-QUR’AN

Pengenalan

Perkataan la‘nat (laknat) dan pecahannya disebut sekurang-kurangnya 32 kali di dalam al-Qur’an dalam pelbagai perkara yang melanggari perintah Allah dan Rasul-Nya. Mengikut  Muhammad Abu Bakr ‘Abd al-Qadir al-Razi perkataan la‘nat (laknat) memberi erti “pengusiran dan berjauhan dari kebaikan” (al-Tard wa al-Ib’ad mina l-khair) (Mukhtar al-Sihhah, hlm. 108, Cairo, 1950). J. Milton Cowan menyatakan la‘nat adalah “curse”. La‘natullahi ‘Alaihi bererti “God’s curse upon him” (A Dictionary of Written Arabic, London 1971, hlm. 870). Manakala menurut Kamus Dewan pula menyatakan laknat adalah “kemurkaan Allah dan jauh dari petunjuk-Nya; setiap perbuatan jahat akan menerima kutukan (laknat) daripada Allah (Kamus Dewan, hlm. 694, Kuala Lumpur, 1971).

Mereka yang dilaknati di dalam al-Qur’an

Di sini dikemukakan sebahagian daripada mereka yang dilaknati di dalam al- Qur’an seperti berikut:

1Laknat Allah kepada mereka yang mengingkari perintah-Nya

Firman-Nya Sesungguhnya Allah melaknat (mengutuk) orang-orang yang kafir (ingkar) dan menyediakan untuk mereka api yang menyala-nyala” (Al- Ahzab (33):64) “Sesungguhnya di atas engkau laknat sampai hari pembalasan” (Al-Hijr (15):35) “Sesungguhnya  di atasmu laknatku sampai hari pembalasan” (Sad (38):78)

Ini menunjukkan barangsiapa yang mengingkari walaupun satu hukum daripada hukum-hukum-Nya adalah termasuk orang yang ingkar terhadap hukum-Nya. Apatah lagi jika seorang itu menukarkan hukum Allah dengan hukumnya sendiri. Kerana setiap individu Muslim sama ada Nabi (Saw.) atau bukan Nabi tidak boleh menyalahi al-Qur’an. Firman-Nya “Katakanlah: Sesungguhnya aku takut jika aku mendurhakai Tuhan-ku, akan azab hari yang besar” (Al-An’am (96):15). Jika Nabi (Saw.) merasa takut kepada Allah jika dia mendurhakai-Nya, maka orang lain sama ada yang bergelar khalifah atau sahabat atau mana-mana individu sepatutnya lebih takut lagi untuk mendurhakai perintah-Nya.

2Laknat Allah kepada mereka yang menyakiti-Nya dan Rasul-Nya.

Firman-Nya; “Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, nescaya mereka dilaknati Allah di Dunia dan di Akhirat dan Dia menyediakan untuk mereka  seksa yang menghinakan (mereka) (Al-Ahzab (33):57).

Ini bererti barang siapa yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya walau dengan apa cara sekalipun dilaknati Allah, Rasul-Nya,para Malaikat-Nya dan  Mukminun. Sama ada dengan menentang hukum Allah dan Sunnah Nabi-Nya atau menghina Allah dan Rasul-Nya dengan membatalkan hukum-Nya dan Sunnah Nabi-Nya di atas alasanmaslahah umum atau sebagainya.

Justeru itu, orang yang menghina Nabi (Saw.) dan  mempersendakan Nabi (Saw.) dengan mengatakan bahawa Nabi (Saw.) “Sedang meracau” di hadapan Nabi (Saw.) “Kitab Allah adalah cukup dan kami tidak perlu kepada Sunnah Nabi (Saw.)” (al-Bukhari, Sahih, I, hlm. 36; Muslim, Sahih, III, hlm. 69). “Sunnah Nabi (Saw.) mendatangkan perselisihan dan pertengkaran kepada Umat [Al-Dhahabi, Tadhkirah al-Huffaz, I, hlm.3]”. “Orang yang telah mengepung dan membakar rumah anak perempuan Nabi (Saw.), Fatimah (a.s) dan berkata: “Aku akan membakar kalian sehingga kalian keluar untuk memberi bai’ah kepada Abu Bakar” [Al-Tabari, Tarikh, III, hlm. 198; Abu-l-Fida,Tarikh, I, hlm. 156],  merampas Fadak daripada Fatimah (a.s) yang telah diberikan kepadanya oleh Nabi (Saw.) semasa hidupnya (Lihat Ahmad bin Tahir al-Baghdadi, Balaghah al-Nisa’, II ,hlm.14; Umar Ridha Kahhalah,A’lam al-Nisa’, III, hlm. 208; Ibn Abi al-Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah, IV, hlm.79, 92), menyakiti hati Fatimah, Ali, al-Hasan dan al-Husain, kerana Rasulullah (Saw.) bersabda “Siapa menyakiti Fatimah, dia menyakitiku, dan siapa menyakitiku, dia menyakiti Allah” Siapa menyakiti Ali, sesungguhnya dia menyakitiku,dan siapa yang menyakitiku, dia menyakiti Allah” “al-Hasan dan al-Husain kedua-dua mereka adalah pemuda Syurga”  (al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi’ al-Mawaddah, hlm.129-131 dan lain-lain).

Mereka yang membakar Sunnah Nabi (Saw.) (Ibn Sa’d, Tabaqat, V, hlm. 140), “Menghalang orang ramai dari meriwayatkan Sunnah Nabi (Saw.)” [al-Dhahabi,Tadhkirah al-Huffaz, I, hlm. 7], mengesyaki Nabi (Saw.) sama ada berada di atas kebenaran atau kebatilan [Muslim, Sahih, IV, hlm.12,14; al-Bukhari, Sahih, II, hlm. 111] , mengubah sebahagian hukum Allah dan sunnah Nabi (Saw.) (al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa’’ hlm.136) adalah termasuk orang yang dilaknati Allah, Rasul-Nya, para Malaikat-Nya dan Mukminun. Dan jika seorang itu tidak melakukan laknat kepada mereka di atas perbuatan mereka yang dilaknati Allah dan Rasul-Nya, maka dia bukanlah Mukmin yang sebenar. Apatah lagi jika dia mempertahankan perbuatan mereka tersebut sebagai sunnah atau agama bagi bertaqarrub kepada Allah (swt).

3. Laknat Allah kepada mereka yang menyembunyikan hukum-Nya di dalam kitab-Nya

Firman-Nya “Sesungguhnya mereka yang menyembunyikan apa yang Kami turunkan dari keterangan dan petunjuk setelah Kami menerangkannya kepada orang ramai, nescaya mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati oleh orang-orang yang mengutuknya” (Al-Baqarah (2):159).

Ini bererti barang siapa yang menyembunyikan hukum Allah dan Sunnah Nabi-Nya yang sepatutnya didedahkan kepada masyarakat, tetapi dia tidak menerangkannya kepada mereka kerana kepentingan tertentu maka dia dilaknati Allah dan orang-orang yang melaknatinya. Apatah lagi jika dia seorang yang mempunyai autoritatif di dalam agama. Kerana konsep hukum Allah tidak boleh disembunyikannya, kerana ia harus dilaksanakannya. Di samping itu, dia tidak boleh cenderung kepada orang-orang yang zalim, kerana Firman-Nya “Janganlah kamu cenderung kepada orang yang melakukan kezaliman, lantas kamu akan disambar oleh api neraka. Dan tidak ada bagimu wali selain daripada Allah, kemudian kamu tiada mendapat pertolongan” (Hud(11):113).

4Laknat Allah kepada mereka yang membohongi-Nya dan Rasul-Nya.

Firman-Nya “Barang siapa yang membantah engkau tentang kebenaran itu, setelah datang kepada engkau ilmu pengetahuan, maka katakanlah: Marilah kami panggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, perempuan kami dan perempuan kamu dan diri kami dan diri kamu, kemudian kita bermubahalah (bersungguh-sungguh berdoa), lalu kita jadikan laknat Allah atas orang yang berbohong” (Ali ‘Imran (3):61).

Ini bererti mereka  yang membohongi Allah dan Rasul-Nya selepas dikemukakan hukum al-Qur’an dan Sunnah Nabi-Nya, tetapi mereka masih membantahnya, maka mereka itu dilaknati Allah dan Rasul-Nya. Ayat ini dikenali dengan ayat al-Mubahalah. Ia berlaku di antara Nabi (Saw.) dan Ahlu l-Baitnya (a.s) di satu pihak dan Nasrani Najran di pihak yang lain.

Nabi (Saw.) telah mempertaruhkan kepada Nasrani Najran (abna’a-na) anak-anak kami (al-Hasan dan al-Husain a.s), (nisa’-ana) perempuan kami (Fatimah a.s) dan (anfusa-na) diri kami (Ali a.s). Imam Ali al-Ridha berkata: “Sesungguhnya ia dimaksudkan dengan Ali bin Abi Talib (a.s). Buktinya sebuah hadis telah menerangkan  maksud yang sama, seperti berikut: ” ... aku akan mengutuskan kepada mereka seorang lelaki seperti diriku [ka-nafsi]” Iaitu Ali bin Abi Talib. Ini adalah suatu keistimewaan yang tidak dimiliki oleh orang lain, kelebihan yang tidak boleh dikaitkan dengan orang lain dan kemuliaan yang tidak dapat didahului oleh sesiapa pun kerana diri Ali seperti dirinya sendiri” (Muhammad Babawaih al-Qummi, Amali al-Saduq Najaf, 1970, hlm.468).

Akhirnya mereka enggan bermubahalah dengan Nabi (Saw.) dan Ahlu l-Baitnya, lalu mereka membayar jizyah kepada Nabi (Saw.). Jika Nasrani Najran tidak berani menyahuti mubahalah Nabi (Saw.) dengan pertaruhan Ahlu l-Baitnya, kerana kebenarannya, apakah gerangan mereka yang mengakui al-Qur’an dan Sunnah Nabi-Nya sebagai asas agama mereka berani menentang Ahlu l-Bait (a.s), kemudian menyembunyikan kebenaran al-Qur’an dan Sunnah Nabi-Nya, khususnys mengenai mereka? Jika mereka melakukan sedemikian, nescaya mereka dilaknati oleh Allah  dan Rasul-Nya, para Malaikat-Nya dan Mukminun.

5. Laknat Allah kepada mereka yang mendurhakai-Nya dan Rasul-Nya

Firman-Nya “Telah dilaknati orang-orang yang kafir di kalangan Bani Isra’il di atas lidah Daud dan Isa anak lelaki Maryam. Demikian itu disebabkan mereka telah mendurhaka dan melampaui batas. Mereka tidak melarang sesuatu yang mungkar yang mereka perbuat. Sungguh amat jahat apa yang mereka perbuat” (Al-Ma’idah (5):78-79).

Firman-Nya “Tidak ada bagi lelaki mukmin dan perempuan mukminah (hak) memilih di dalam urusan mereka apabila Allah dan Rasul-Nya memutuskan urusan itu. Barang siapa yang  mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka ia telah sesat dengan kesesatan yang nyata” (Al-Ahzab(33):35).

Ini bererti barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya; sama ada melakukan perkara-perkara yang menyalahi hukum Allah dan Sunnah Rasul-Nya serta tidak melakukan konsep “Amru Ma’ruf wa Nahyu Munkar”, maka mereka dilaknati Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang dilaknati Allah dan Rasul-Nya, maka para Malaikat dan Mukminun akan melaknati mereka.

6. Laknat Allah kepada mereka yang zalim

Firman-Nya “Ahli syurga menyeru ahli neraka: Kami telah memperolehi apa yang telah dijanjikan oleh Tuhan kami  dengan sebenarnya. Adakah kamu memperolehi apa yang telah dijanjikan oleh Tuhan kami dengan sebenarnya? Mereka itu menjawab: Ya. Lalu menyeru orang yang menyeru (Malaikat) di kalanggan mereka: Sesungguhnyalaknat Allah ke atas orang yang zalim (iaitu) orang-orang yang menghalangi jalan Allah dan mereka mencari jalan bengkok, sedang mereka itu kafir terhadap Akhirat” (Al-A’raf (7): 44-45) dan, “Barang siapa yang tidak menghukum dengan hukum Allah, maka merekalah orang yang zalim”) Al-Ma’dah (5):45)

Ini bererti sebarang kecenderungan terhadap orang-orang yang zalim akan di sambar oleh api neraka. Apatah lagi jika seorang itu meredai atau menyokong mereka atau bekerja sama dengan mereka. Saidina Ali (a.s) berkata: “Mereka yang bersekutu di dalam kezaliman adalah tiga: Pelaku kezaliman, pembantunya dan orang yang meridhai kezaliman itu” (Tuhafu al ‘Uqul ‘an Ali r-Rasul, hlm. 23 dan lain-lain. Justeru itu mereka dilaknati Allah dan Rasul-Nya serta Mukminun.

7. Laknat Allah kepada mereka yang mengingkari perjanjian Allah, melakukan kerosakan di bumi dan memutuskan silaturahim

Firman-Nya “Mereka yang mengingkari janji Allah sesudah eratnya dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah supaya diperhubungkan dan mereka yang membuat kerosakan di muka bumi, untuk mereka laknat dan untuk mereka tempat yang buruk” (Al-Ra’d (13):25) dan “Apakah kiranya jika kamu menjadi wali (berkuasa) kamu melakukan kerosakan di muka bumi dan memutuskan silatu r-Rahim? Mereka itulah yang dilaknati Allah, lalu Dia memekakkan mereka dan membutakan pemandangan mereka ” (Muhammad (47): 22-23).

Ini bererti mereka yang mengingkari janji Allah dengan mendurhakai-Nya, kemudian melakukan kerosakkan di muka bumi dengan mengubah hukum-Nya dan Sunnah Nabi-Nya serta memutuskan silaturahim, maka bagi mereka laknat Allah dan Rasul-Nya.

Justeru itu tidak hairanlah jika Saidina Ali (a.s) telah melaknati mereka yang telah mengubah agama Allah dan Sunnah Nabi-Nya. Beliau berdoa: Wahai Tuhanku! Laknatilah mereka yang telah mengubah agama-Mu, menukar ni‘kmat-Mu (khilafah), menuduh perkara-perkara yang bukan-bukan terhadap Rasul-Mu (Saw.), menentang jalan-Mu, menyalahi agama-Mu, mengingkari nikmat-Mu, menentang kalam-Mu, mempersenda-sendakan Rasul-Mu…(al-Majlisi, Bihar al-Anwar, Beirut 1991, xxx,  hlm. 393). Sementara Imam Ja‘far al-Sadiq pula berdoa: Wahai Tuhanku! Pertingkatkanlah laknat-Mu dan azab-Mu ke atas mereka yang telah mengingkari ni‘mat-Mu, mengkhianati Rasul-Mu, menuduh Nabi-Mu perkara yang bukan-bukan dan menentangnya…(Ibid, hlm. 395).

Kesimpulan

Berdasarkan kepada ayat-ayat tersebut, maka Laknat boleh atau harus dilakukan kepada mereka yang mempersendakan Allah dan Rasulullah (Saw.), menghina, mengingkari, membatal, mengubah, menangguh dan menggantikan sebahagian daripada hukum Allah (SWT) dan Sunnah Rasul-Nya dengan pendapat atau sunnah mereka sendiri sama ada orang itu bergelar khalifah atau sahabat atau tabi‘in dan sebagainya.

Justeru itu, ungkapan “melaknat khalifah atau sahabat tertentu atau polan dan polan” tidak menjadi perkara sensitif lagi jika kita meletakkan mereka sama ada khalifah, sahabat, individu atau kita sendiri di bawah martabat Rasulullah (Saw.), dan Rasulullah (Saw.) pula di bawah martabat Allah (SWT). Tetapi jika mereka  meletakkan seorang khalifah, sahabat  atau mana-mana individu lebih tinggi daripada martabat Allah dan Rasul-Nya dari segi pengamalan hukum dan sebagainya, maka mereka tidak akan meredai Allah dan Rasul-Nya dengan sepenuhnya di dalam perkara tersebut. Kerana  penilaian kebenaran bagi mereka bukanlah al-Qur’an dan Sunnah Nabi (Saw.) secara keseluruhannya, malah seorang khalifah atau sahabat menjadi penilaian kebenaran mereka. Lalu mereka menjadikan pendapat atau sunnah “mereka” yang menyalahi Nas sebagai agama bagi mendekatkan diri mereka kepada-Nya.

.

Doa Qunut Imam Ali Terhadap Muawiyah dan Amru bin Ash Beserta Pengikut Mereka

Tulisan ini kami persembahkan kepada para pendengki Ahlul Bait yang senang sekali memuliakan orang-orang yang menyimpang dari Ahlul Bait. Tentu saja mereka tidak akan mau menunjukkan wajah asli kedengkian mereka terhadap Ahlul Bait. Mereka tidak mau menunjukkan terang-terangan kebencian mereka kepada Ahlul Bait oleh karena itu mereka melampiaskan kebencian itu dengan memuliakan musuh-musuh Ahlul Bait.

Mereka memuliakan orang-orang yang menyakiti Ahlul bait. Membela kesalahan mereka seraya berkata “itu cuma ijtihad” yang walaupun salah tetap mendapat pahala. Berbeda dengan mereka, Imam Ali justru mengakui kalau orang-orang yang menyimpang[pembangkang] seperti Muawiyah dan Amru bin Ash layak dihukum untuk kesalahan mereka.

حدثنا هشيم قال أخبرنا حصين قال حدثنا عبد الرحمن بن معقل قال صليت مع علي صلاة الغداة قال فقنت فقال في قنوته اللهم عليك بمعاوية وأشياعه وعمرو بن العاص وأشياعه وأبا السلمي وأشياعه وعبد الله بن قيس وأشياعه

Telah menceritakan kepada kami Husyaim yang berkata telah mengabarkan kepada kami Hushain yang berkata telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Ma’qil yang berkata Aku shalat bersama Ali dalam shalat fajar dan kemudian ketika Qunut Beliau berkata “Ya Allah hukumlah Muawiyah dan pengikutnya, Amru bin Ash dan pengikutnya, Abu As Sulami dan pengikutnya, Abdullah bin Qais dan pengikutnya”.[Al Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 2/108 no 7050]

Atsar ini diriwayatkan dengan sanad yang shahih sampai ke Ali bin Abi Thalib Alaihis Salam.

  • Husyaim adalah Husyaim bin Basyiir seorang perawi kutubus sittah. Ibnu Hajar menyebutkan biografinya dalam At Tahdzib juz 11 no 100 dan menyebutkan kalau ia dinyatakan tsiqat oleh Al Ajli, Ibnu Saad dan Abu Hatim. Ibnu Mahdi, Abu Zar’ah dan Abu Hatim memuji hafalannya. Dalam At Taqrib 2/269 Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat tsabit. Adz Dzahabi dalam Al Kasyf no 5979 menyebutkan kalau Husyaim seorang Hafiz Baghdad Imam yang tsiqat.
  • Hushain adalah Hushain bin Abdurrahman As Sulami Al Kufi seorang perawi kutubus sittah. Ibnu Hajar menyebutkan biografinya dalam At Tahdzib juz 2 no 659 dan menyebutkan kalau ia dinyatakan tsiqat oleh Ahmad, Al Ajli, Abu Hatim, Abu Zur’ah, Ibnu Ma’in dan Ibnu Hibban. Ibnu Hajar dalam At Taqrib 1/222 menyatakan ia tsiqat dan Adz Dzahabi dalam Al Kasyf no 1124 menyatakan ia tsiqat hujjah.
  • Abdurrahman bin Ma’qil Al Muzanni adalah perawi Abu Dawud seorang tabiin [walaupun ada yang mengatakan ia sahabat]. Ibnu Hajar menuliskan biografinya dalam At Tahdzib juz 6 no 543 dan ia dinyatakan tsiqah oleh Ibnu Hibban dan Abu Zur’ah. Dalam At Taqrib 1/591 ia dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Hajar.

Atsar ini adalah sebaik-baik dalil yang menunjukkan bagaimana pandangan Imam Ali terhadap Muawiyah, Amru bin Ash dan para pengikutnya. Tentu saja para nashibi yang adalah Syiah-nya Muawiyah tidak akan senang melihat Atsar ini. Dan untuk mereka kita katakan “Matilah dengan kemarahanmu”.