Uncategorized

jika Cinta Kepada Ahlul Bait, Maka Mustahil Mengasihi Musuh Mereka seperti Mu’awiyah dll

Mana bukti cintamu kepada Rasulullah saw 

Ketika pertanyaan ini diajukan kepada kita, akan muncul beberapa jawaban. Paling tidak, ada tiga jawaban: Pertama, kita tidak boleh mengkultuskan dalam mencintai Rasulullah saw. Kedua, kita wajib mencintai Rasulullah saw tapi tidak boleh memusuhi sahabatnya. Ketiga, kita wajib mencintai Rasulullah saw melalui cinta kepada Ahlul baitnya (as) apapun resikonya.

Jawaban yang pertama: umumnya berdalih: Kita harus mencintai Rasulullah saw tapi boleh mengkultuskannya. Tidak boleh melakukan macam2 kecuali ada dalilnya di dalam Al-Qur’an dan ada contohnya dalam sunnah Rasulullah saw. Kita mencintai Rasulullah saw cukup dengan melakukan sunnahnya. Karena kita harus berpegang pada Al-Qur’an dan sunnah.

Untuk jawaban yang pertama: jawaban anda perlu diperiksa dan diteliti kembali. Jika yg dimaksud kultus itu mengagungkan dan menghormati yang dikaitkan dengan rasa cinta. Maka itu suatu kewajiban bagi semua umat Rasulullah saw. Jika yang dimaksudkan kultus itu menuhankan, maka tidak seorangpun muslim yang menuhankan Rasulullah saw. Justru sebaliknya, umumnya muslim yang sering melontarkan kata-kata kultus, mereka itu mengkultuskan (menuhankan) dunia. Lihat saja buktinya raja2 arab dan pengikutnya, demi dunia tak perduli sahabat itu kafir dan musuh Islam dan umatnya.

Saya setuju dengan kata “kultus”, tapi jangan diarahkan kepada Rasulullah saw dan Ahlul baitnya (sa). Karena mereka tidak dipisahkan dengan kebenaran dan keadilan Ilahi. Saya setuju jika kata “kultus” itu diarahkan pada dunia, harta dan kedudukan. Dan ini sudah banyak buktinya, lihat saja raja-raja arab dengan jubah2nya telah terjerumus pada kezaliman dan menuhankan dunia dan harta. Mereka berjuang matian2 utk mendapatkan walaupun harus bermitra dg org2 zionis dan musuh Islam, dan walaupun harus mengorbankan umat Islam. Buktinya lihat korban umat Islam di Palestina. Jika seperti ini bukti kejadiannya itu sangat layak menyandang kata “kultus” pada dunia dan harta.

Selain itu, anda sering mengatakan “harus ada contohnya dalam sunnah Nabi saw”. Sunnah Nabi saw yang mana? Sumbernya banyak, bahkan sama2 bersumber dari sahabat saling bertabrakan satu dengan yg lain. Tidak percaya? Baca saja secara teliti shahih bukhari dan Muslim, apalagi dlm kitab2 hadis yang lain.

Untuk jawaban yang kedua: Mana mungkin cinta kepada Rasulullah saw bisa disejajarkan dengan cinta kepada sahabat Rasulullah saw. Cinta kepada Rasulullah saw tanpa syarat, sedangkan cinta kepada sahabat juga pada muslimin yg lain harus pakai syarat, yaitu tidak dalam maksiat kepada Allah swt. Cinta kepada Rasulullah saw dan Ahlul baitnya (as) tanpa syarat seperti itu. Mengapa? Karena Rasulullah saw dan Ahlul baitnya (as) makshum, tidak mungkin berbuat maksiat kepada Allah swt. Bahkan cinta Rasulullah saw dan Ahlul baitnya (as) selalu dikaitkan dengan cinta kepada Allah swt. Rasulullah saw bersabda:

“Al-Hasan dan Al-Husayn puteraku, barangsiapa yang mencintai mereka ia mencintaiku, barangsiapa yang mencintaiku ia dicintai oleh Allah, dan barangsiapa yang dicintai oleh Allah ia akan masuk surga. Barangsiapa yang membenci mereka ia membenciku, barangsiapa yang membenciku ia dibenci oleh Allah, dan barangsiapa yang dibenci oleh Allah ia pasti masuk neraka.” (Mustadrak Al-Hakim 3: 166)

Al-Hakim mengatakan: Hadis ini shahih menurut persyaratan Bukhari dan Muslim. Tapi mereka tidak meriwayatkan dalam kitabnya. Mengapa?
Sumber:
http://tafsirtematis.wordpress.com/2008/12/08/mencintai-al-hasan-dan-al-husein-mencintai-nabi-saw/

Jadi, bisa terjadi bahkan sering terjadi cinta kepada Rasulullah saw dan Ahlul baitnya (as) bertabrakan dengan kepentingan sahabat Nabi saw. Contohnya: saat terjadi perdebatan antara antara Fatimah Az-Zahra’ dengan Abu Bakar dan Umar bin Khaththab; Imam Ali bin Abi Thalib (as) dengan Muawiyah; Imam Husein (as) dengan Yazid bin Muawiyah.

Hati dan pikiran kita harus jujur kepada siapa kita berpihak? Karena dalam keberpihakan pasti ada sangsi hukum di hadapan Allah swt. Mau netral, ada di antara keduanya? Imam Ali bin Abi Thalib (as) berkata: “Saat kebenaran dan kebatilan berhadapan, maka yang netral dorong ke pihak musuh.”

Bahkan Abu Hurairah berkata bahwa saat Rasulullah saw memandang Ali, Fatimah, Al-Hasan dan Al-Husayn (as), beliau bersabda:

“Aku memerangi orang yang memerangi kalian (Ahlul bait), dan berdamai dengan orang yang berdamai dengan kalian.” (Musnad Ahmad 2: 442, hadis ke 9405)
Sumber:
http://tafsirtematis.wordpress.com/2008/11/13/nabi-saw-memerangi-orang-yang-memerangi-ahlul-bait-sa/

Dari hadis tersebut sudah jelas. Jika anda berpihak kepada sahabat Nabi saw saat berhadapan dengan Ahlul baitnya (as), maka jelas anda berhadapan dan menjadi musuh Rasulullah saw.

Adapun jawaban yang ketiga adalah kesimpulan dari bukan jawaban yang pertama dan bukan jawaban yang kedua. Yakni mencintai Rasulullah saw harus dibuktikan dengan kecintaan kepada Ahlul baitnya (as). Kecintaan terhadap Ahlul bait Nabi saw harus dibuktikan dengan kebencian terhadap musuh2nya. Karena musuh Ahlul bait (as) adalah musuh Rasulullah saw, dan musuh Rasulullah saw adalah musuh Allah swt.

Zaid bin Arqam berkata bahwa Rasulullah saw bersabda kepada Ali, Fatimah, Al-Hasan dan Al-Husayn (as):
“Aku memerangi orang yang kalian (Ahlul bait) perangi, dan berdamai dengan orang yang kalian berdamai dengannya.” (Shahih At-Tirmidzi 2: 319, bab 61, hadis ke 3870)
Sumber:
http://tafsirtematis.wordpress.com/2008/11/13/nabi-saw-memerangi-orang-yang-memerangi-ahlul-bait-sa/

Jadi jika anda netral atau tidak perduli terhadap Ahlul bait (as) saat berhadapan dg musuhnya, saat perang di Karbala antara Imam Husein (as) vs Yazid bin Muawiyah. Maka dapatlah disimpulkan secara logis anda adalah musuh Allah swt dan Rasulullah saw. Dan semua ibadah anda tidak adanya gunanya, kecuali anda taubat dulu kepada Allah dengan taubat nashuha. Jika tidak, dijamin pasti anda tidak mendapat syafaat Rasulullah saw.

Dimanakah posisi Anda sekiranya perang di Karbala antara pasukan Al-Husayn bin Ali (as) melawan Yazid bin Muawiyah, terjadi sekarang?

Jawaban kita pasti dimintai pertanggung-jawaban di hadapan Mahkamah Ilahi. Baik yang diucapkan dan dituliskan, mau yang diendapkan dalam pikiran dan hati kita.

Semua organ kita lahir dan batin akan menjadi saksi: mata dan telingan, tangan dan kaki, pikiran dan hati. Perlu kita ketahui bahwa nurani kita tidak pernah berbohong dalam memberi jawaban kepada kita. Yang berbohong itu adalah hawa nafsu kita.

Jawaban di sini jelas akan membuktikan siapa sebenarnya kita? Benarkah kita mencintai Rasulullah saw? Dari jawaban inilah realitas kehidupan kita yang sebenarnya di dunia dan di akhirat nanti, di neraka atau surga. Tidak percaya? Kita buktikan nanti, kita pasti berjumpa di Mahkamah Ilahi.

Wassalam
Haji Nawawi
http://hajinawawi.multiply.com
http://id-id.facebook.com/people/Haji-Nawawi/1634233932

Links Peringatan Asyura:
Video dan Parade Asyura, musik2 duka Asyura + animasi, foto2 dan lukisan2 kreasi indah:
http://islampraktis.multiply.com
Film Kartun Perang di Karbala (13 seri):
http://ifadah2.multiply.com
Video Peringatan Asyura di berbagai negara: Indonesia, Malaysia, Amerika, Inggris, Jerman, Denmark, Canada, Belanda, Australia, Korea, Iran, dan lainnya:
http://hajinawawi.multiply.com

Milis Diskusi Islam:
http://groups.google.co.id/group/diskusi-al-islam
http://groups.yahoo.com/group/Islamdiskusi
Di dalam dua milis ini banyak eBook yg bagus2 ttg Ah

Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah yang Bertentangan dengan Al-Qur’an

Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah yang Bertentangan dengan Al-Qur’an

AI-Asy’ari sebagai pelopor mazhab al-Asya’irah kemudian dikenali dengan mazhab Ahlu Sunnah Wa I-Jama’ah, adalah seorang yang pernah hidup di abad ketiga Hijrah. Beliau dikatakan meninggal dalam tahun 330H?Ini bererti tiga abad seiepas kewafatan Nabi Sawa orang-orang Islam tid­ak berpegang kepada mazhab al-Asya’irah atau mazhab Ahlu s-Sunnah Wa I-Jama’ah.

Menurut al-Syahrastani (w. 548H), bermulanya mazhab Ahlu Sunnah Wa I-Jama’ah apabila ai-Asy’ari berkecimpung dengan golongan al-Sifatiyyah (menetapkan sifat-sifat azaliyyah bagi Allah S.W.T) dan menyokong pendapat-pendapat mereka dengan hujah-hujah Ilmu I-Kalam. Dan semen­jak itulah nama al-Sifatiyyah bertukar kepada al-Asy’a’iyyah. (al-MiIal Wa n-NiIial, Cairo, 1968, I, him. 93)

Al-Asy’ari dalam Maqalat al-Islamiyyin wa Ikhtilafal-Musalliyyin, Cai­ro, 1950, I, hIm. 320, apabila membicarakan tentang pendapat-pendapatnya alto akidah-akidahnya, dia menyebutkan “ini adalah sebahagian daripada pendapat (Qaul) Ashab al-Hadith dan Ahl al-Sunnah.” Sementara di dalam al-lbanah an Usul al-Diyanah, Cairo, 1385 H, him. 8, dia menyebutkan “ini adaIah pendapat (Qau[) Ahl al-Haq dan al-Sunnah.”

Di dalam kedua-dua kenyataan tersebut, dia tidak menyebut perkataan aI-Jama‘ah. Kemungkinan aI-Baghdadi (w.429H) adalah orang pertama di kalangan al-Asya’irah yang mengguna perkataan al-Jama’ah selepas per­kataan Ahlu s-Sunnah (Ai-Baghdadi, Al-Farq bain al-Firaq, Beirut, 1973, hIm. 304), kemudian diikuti oleh Al-Syahrastani (Al-Milal Wa n-Nihal, I, him. Ii). Al-Jama’ah yang hakiki, menurut Imam Ali A.S ialah bersama Ahli kebenaran sekalipun mereka itu sedikit. Al-Furqah (perpecahan) ialah mengikut AhI al-Batil sekaiipun mereka itu ramai (Qadhi Abd al-Jabbar, Fadhl al-I ‘tizal, Cairo, 1955, him. 185). Sementara al-Asy’ari al-Qummi (w.301H) berkata: al-Jama’ah iaiah golongan ramai, menyokong mana-mana pemerintahan tanpa mengira sama ada pemerintahan itu adil atau pun zalim. Mereka bersepakat (berjema’ah) bukan kerana keugamaan. Malah penger­tian al-Jama’ah yang sebenar bagi mereka adalah penpecahan (al-Furqah) kerana dendam mendendam berlaku sesama mereka terutamanya mengenai Tauhid, hukum-hukum, fatwa-fatwa dan lain-lain. Mereka bertengkar dan mengkafir sesama mereka (Kitab al-maqalat wa l-Firaq, Tehran, 1963, hlm.15)

Oleh itu tidak hairanlah jika al-Asy’ari sendiri bertelagah dengan Ahmad bin Hanbal mengenai perbincangan di dalam ‘ilmu l-Kalam, dia menulis buku al-Istihsan bagi menentang musuhnya Ahmad b. Hanbal, walaupun pada muIanya al-Asy’ari mengakuinya sebagai imam.Begitu juga pengikut ai-Hanbali mengkafirkan pengikut aI-Asy’ari kerana menyangka bahawa dia telah membohongi Rasul Sawa .Al-Asy’ari pula mengkafirkan Mu’tazilah dengan alasan mereka membohongi Rasul Sawa di dalam pengithbatan (Sifat) ilmu, qudrat dan lain-lain (ai-Ghazali, Fisal al-Tafriqah baina- I-Islam wa Zandaqah, Cairo, 1970, hIm. 126). A1-Asy’ari pula mengkafirkan Murji’ah (al-Maqalat, I, him. 202). Tindakan al-Asy’ari melahirkan perasaan tidak puas hati di kaiangan pengikut-pengikut Abu Hanifah. Lantaran itu mereka kemudian mengatakan Abu Hanifah seorang Murji’ah tetapi ianya adalah Murji’ah Ahlu s-Sunnah. Justeru itu tidak hairaniah jika al-Zamakhsyari (w.537H) memandang begitu negatif terhadap Ahlu s-Sunnah wa I-Jama’ah, malah dia menanamkan mereka al-Mujbirah (al-Kasysvaf, Cairo, 1 307H. I, him. 421). OIeh itu al-Jama’ah menurut pengertian yang kedua adalah simbol Perpaduan lahiriyah sesama mereka di bawah satu pemerintahan tanpa kaitan dengan keugamaan (Perpaduan Politik). Pada hakikatnya ia adalah perpecahan dan perselisihan dari segi hukum, fatwa dan lain-lain.

Walau bagaimanpun di sini dipenturunkan sebahagian daripada akidah al-Asy’ari dan ai-Asya’irah atau akidah-akidah Ahlu s-Sunnah wa l- Jama’ah yang bertentangan dengan al-Qur’an sepenti berikut:

1. Ja’fari:Allah tidak menghendaki orang-orang kafir menjadi kafir.

Al-Asy’ari: Allah (swt) menghendaki orang-orang kafir menjadi kafir dan mengunci hati mereka(al-Asy’ari, al-Ibanah, hlm. 10; al-Asy’ari, al-Maqalat, hlm. 321).

Lantaran itu pendapat ini adalah bertentangan dengan firman Allah (swt) dalam Surah al-Muddathir (74): 43-46, terjemahannya,”Apakah yang memasukkan kamu ke dalam neraka Saqar?” Mereka menjawab:”Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan sembahyang, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, dan adalah kami membicarakan yang batil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan kami mendustakan hari pembalasan.” Sekiranya Allah telah menghendaki mereka menjadi kafir – memasuki neraka, kenapa Dia pula bertanya,”Apakah yang memasukkan kamu ke neraka Saqar?” Dan orang-orang kafir pula akan menjawab: Kami memasuki neraka Saqar kerana kamu (Tuhan) telah menghendaki kami menjadi kafir? Dan Allah (swt) tidak bertanya di dalam firman-Nya dalam Surah al-Baqarah (2):28, terjemahannya,”Mengapa kamu (jadi) kafir (kepadaku)?.” Justeru itu jikalau apa yang dikatakan oleh al-Asy’ari itu betul, nescaya Tuhan tidak akan bertanya lagi kepada mereka kerana mereka telah dijadikan kafir oleh-Nya. Sedangkan Dia juga berfirman: Surah al-Zumar (39), terjemahannya,”Dan Dia tidak meredhai kekafiran bagi hamba-hamba-Nya.”

2. Ja’fari: Allah (swt) tidak akan menyiksa seseorang hamba kerana perbuatanNya padanya dan tidak akan mencelainya.

Al-Asyar’irah: Allah (swt) akan menyiksa seorang hamba di atas perbuatanNya, malah Dia menjadikan padanya kekafiran, kemudian menyiksanya (al-Milal wa n-Nihal, I, hlm. 96).

Oleh itu pendapat al-Asya’irah adalah bertentangan dengan firman Allah SWT dalam Surah al-An’am (6):164, terjemahannya,”Dan tidaklah seseorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri, dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.” Dan firman-Nya dalam Surah al-Fussilat (41):46, terjemahannya,”Dan sekali-kali tidaklah Tuhanmu menzalimi hamba-hamba-Nya.”Ayat-ayat tersebut menunjukkan bahawa Allah SWT tidak akan menyiksa seseorang kerana perbuatan orang lain.

3. Ja’fari: Taklif adalah mendahului perbuatan.

Al-Asya’irah: Taklif semasa melakukan perbuatan dan bukan sebelumnya (al-Milal Wa n-Nihal, I, hlm. 96).

Ini bererti seorang itu tidak menjadi penderhaka (‘asi) kerana penderhakaan adalah menyalahi perintah. Dan jikalau penderhakaan tidak boleh berlaku melainkan semasa melakukan sesuatu, oleh itu masa penderhakaan ialah masa tidak melakukan sesuatu. Justeru itu ia (seseorang) tidak ditaklifkan (dibebankan) pada masa itu. Jika tidak, taklif mestilah mendahului perbuatan dan ini adalah bertentangan dengan mazhab mereka. Walau bagaimanapun al-‘Isyan (penderhakaan) telah berlaku menurut al-Qur’an, firmanNya dalam Surah Taha (20):93, terjemahannya,”Maka apakah kamu (sengaja) menderhakai perintahku?,” firman-Nya dalam Surah al-Kahf (18):69, terjemahannya,”Dan aku tidak akan menderhaka (menentang)mu dalam sesuatu urusan,” dan firman-Nya dalam Surah Yunus (10):91, terjemahannya,”Apakah sekarang (baru kamu percaya) pada hal sesungguhnya kamu telah derhaka sejak dahulu.” Ayat-ayat tersebut menunjukkan bahawa taklif adalah mendahului perbuatan. Justeru itu pendapat al-Asya’irah adalah bertentangan dengan nas.

4. Ja’fari: Allah memberi pilihan jalan Taqwa dan jalan Kesesatan  kepada manusia, manusia  sendiri yang melakukannya  setelah  memilihnya.. Tentu saja dengan  izin  Allah

Al-Asy’ari: Kejahatan hamba-hamba-Nya (Sayi’at al-‘Ibad) dijadikan oleh Allah SWT, dan mereka tidak ada pilihan (al-Maqalat, I, hlm. 32; al-Ibanah, hlm. 10).

Lantaran itu pendapat al-Asy’ari adalah bertentangan dengan firman Allah dalam Surah al-Fussilat (41):46, terjemahannya,”Barang siapa yang mengerjakan amal soleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barang siapa yang berbuat jahat maka (dosanya) atas dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Tuhanmu menzalimi hamba-hamba(Nya).” Ayat tersebut menerangkan bahawa kejahatan tidak dijadikan oleh Tuhan malah manusia yang melakukannya di atas pilihan mereka sendiri. Justeru itu pendapat al-Asy’ari tersebut menyalahi nas.

5. Ja’fari: Qudrat (kuasa) mendahului perbuatan.

Al-Asy’ari dan al-Asya’irah: Qudrat tidak mendahului perbuatan malah ia bersama perbuatan (al-Ibanah, hlm. 10; al-Milal wa n-Nihal, I, hlm. 96).

Ini bererti taklif di luar kemampuan, kerana orang kafir dibebankan (ditaklifkan) di luar kemampuannya dengan keimanan. Dan sekiranya ia mampu beriman semasa kafirnya, ini adalah bertentangan dengan mazhab mereka iaitu Qudrat bersama perbuatan, dan tidak mendahului perbuatan sebaliknya jika ia tidak mampu beriman, bererti taklif di luar kemampuan. Sedangkan Allah (swt) tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” Justeru itu Qudrat semasa melakukan sesuatu adalah bertentangan dengan akal dan nas.

6. Ja’fari: Allah SWT melakukan sesuatu kerana tujuan tertentu (gharad) menurut hikmah dan kemuslihatan orang-orang yang ditaklifkan.

Al-Asya’irah: Tidak harus bagi Allah (swt) melakukan sesuatu kerana tujuan dan kemuslihatan tertentu, kembali kepada hamba-hamba-Nya (Fakhruddin al-Razi, Mafatih al-Ghaib, Cairo, 1962, XVII, hlm. 11).

Ini memberi implikasi bahawa terdapat perbuatanNya yang sia-sia. Lantaran itu pendapat al-Asya’irah bertentangan dengan firman Allah (swt) dalam Surah al-Anbiya’ (21):16, terjemahannya,”Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya dengan bermain-main.” Dan firmanNya dalam Surah Ali Imran (3):191,terjemahan,”Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia.” Oleh itu pendapat al-Asya’irah tersebut adalah menyalahi nas.

7. Ja’fari: Allah (swt) tidak membebankan (taklif) seseorang apa-apa yang ia tidak mampu, kerana membebankan seorang apa yang ia tidak mampu adalah terkeluar daripada Hikmah (kebijaksanaan) Allah (swt). Oleh itu adalah tidak harus bagiNya membebankan seorang yang lumpuh terbang ke udara, menghimpunkan dua perkara yang berlawanan supaya berhimpun, mengembalikan hari kelmarin, menurunkan bulan dan matahari dan lain-lain.

Al-Asya’irah: Allah (swt) membebankan seseorang apa yang ia tidak mampu (al-Milal wa n-Nihal, I, hlm. 96). Justeru itu pendapat al-Asya’irah adalah bertentangan dengan firman Allah (swt) dalam Surah al-Baqarah (2):286, terjemahannya,”Sesungguhnya Allah tidak membebankan seseorang melainkan apa yang ia mampu,” dan iannya juga bertentangan dengan firman-Nya dalam Surah al-Kahf (18):49, terjemahannya,”Tuhan kamu tidak akan menzalimi seorang pun daripada kamu.”Justeru itu pendapat al-Asya’irah adalah bertentangan dengan nas.

8. Ja’fari: Nabi (Saw.) menghendaki apa yang dikehendaki oleh Allah (swt). Dia membenci apa yang dibencikan oleh Allah (swt) dan ia tidak menyalahi-Nya di dalam masalah Iradah dan Karahah (kebencian).

Al-Asya’irah: Nabi (Saw.) menghendaki apa yang dibencikan oleh Allah (swt). Dan ia membenci apa yang dikehendaki oleh Allah (swt). Kerana Allah (swt) menghendaki kekafiran daripada orang kafir, kemaksiatan daripada orang yang melakukan maksiat, kejahatan daripada penjahat, kefasikan daripada orang yang fasik (al-Ibanah, hlm. 10; al-Milal wa n-Nihal, I, hlm. 96). Sedangkan Nabi (Saw.) menghendaki ketaatan daripada mereka. Justeru itu al-Asya’irah adalah diantara apa yang dikehendaki oleh Allah (swt) dan apa yang dikehendaki oleh Nabi (Saw.). Oleh itu Allah (swt) membenci ketaatan daripada orang fasik, iman daripada orang kafir, tetapi Nabi (Saw.) sebaliknya menghendaki kedua-duanya.

Al-Asya’irah juga menyalahi di antara apa yang dibencikan oleh Allah (swt) dan apa yang dibencikan oleh Nabi SAWA. Lantaran itu mengikut al-Asya’irah, Allah (swt) tidak menghendaki taat daripada orang yang melakukan maksiat, sebagaimana dikehendaki oleh Nabi (Saw.). Oleh itu pendapat al-Asya’irah adalah menyalahi firman Allah (swt) dalam Surah al-Isra'(17):38, terjemahannya,”Semua itu kejahatannya amat dibenci di sisi Tuhanmu,” dan firman-Nya dalam Surah al-Zumar (39):7, terjemahannya,”dan Dia tidak meredhai kekafiran bagi hamba-hamba-Nya.”

9. Ja’fari: Imamah dan Khilafah adalah sebahagian daripada rukun Islam, dan ianya berlaku melalui nas.

Al-Asy’ari: Ianya bukanlah sebahagian daripada agama (al-Din). Dan ianya berlaku melalui al-ittifaq (persetujuan) atau al-ikhtiyar (pemilihan) (al-Milal Wa n-Nihal, I, hlm. 103). Oleh itu persoalannya siapakah yang lebih berhak Khalifah tidaklah penting. Tetapi apa yang lebih penting baginya ialah siapakah yang telah memegang jawatan khalifah dengan cara tersebut. Dan ianya tidak ada kaitan dengan nas. Justeru itu pendapat al-Asy’ari adalah bertentangan dengan beberapa ayat al-Qur’an yang tidak memisahkan (Imamah) politik dengan agama, firman-Nya dalam Surah al-Baqarah(2):124, terjemahannya,”Sesungguhnya Aku akan menjadikan kamu imam bagi seluruh manusia.”Ibrahim berkata,”Saya memohon juga dari keturunanku.”Allah berfirman:”JanjiKu ini tidak meliputi orang yang zalim.” Dan firman-Nya dalam Surah al-Nisa'(4):59, terjemahannya,”Hai orang yang beriman, taatilah Allah, dan taatilah Rasul-Nya dan Uli l-Amr daripada kamu,” kedua-dua ayat tersebut menunjukkan bahawa politik (Imamah) tidak terpisah daripada agama, kerana Dia mewajibkan ketaatan kepada Uli l-Amr sebagaimana Dia mewajibkannya kepada rasul-Nya ke atas umatnya. Justeru itu pendapat al-Asy’ari yang memisahkan politik (Imamah) dan agama adalah bertentangan dengan nas.

10. Ja’fari: Tidak mengakui kepimpinan orang yang tidak ada istiqamah dengan berpandukan al-Qur’an.

Al-Asy’ari: Mengakui kepimpinan mereka sekalipun tidak ada istiqamah (zalim) dan sekali-kali tidak boleh menentang mereka secara kekerasan, malah memadailah dengan berdoa untuk kebaikan mereka (al-Ibanah, hlm. 12; al-Maqalat, I, hlm. 324). Lantaran itu pendapat al-Asy’ari adalah bertentangan dengan firman Tuhan Surah Hud (11): 113, terjemahan,”Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang zalim maka kamu akan disentuh api neraka.” Dan firman-Nya dalam Surah al-Nisa’ (4):59, terjemahannya,”Hai orang yang beriman, taatilah Allah, dan taatilah Rasul-Nya dan Uli l-Amr daripada kamu.” Uli l-Amr yang wajib ditaati selepas rasul-Nya ialah orang yang ada istiqamah, bukannya pelaku kezaliman. Lantaran itu tidak hairanlah jika pendapat al-Asy’ari diterima oleh pemerintah dan dijadikan akidah negara sepanjang abad.

11. Ja’fari: Penentangan kepada segala bentuk kezaliman sekalipun melibatkan peperangan adalah berterusan dengan apa cara sekalipun kerana ianya tuntutan Allah dan Rasul-Nya.

Al-Asy’ari: Peperangan (penentangan) di dalam keadaan fitnah hendaklah dihentikan (Tark al-Qital Fi l-Fitnah), (al-Ibanah, hlm. 12). Lantaran itu pendapat al-Asy’ari adalah bertentangan dengan firman Tuhan Surah al-Baqarah (2): 193, terjemahannya,”Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi….”Dan firmanNya Surah al-Hujurat (49): 9, terjemahannya,”Perangilah golongannya yang melakukan kezaliman itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah.” Justeru itu pendapat beliau itu adalah menyalahi nas.

12. Ja’fari: Tidak sah sembahyang di belakang Fajir (orang yang derhaka kepada Allah).

Al-Asy’ari: Sah sembahyang di belakang fajir. Beliau berpegang kepada perbuatan Abdullah bin Umar yang telah mengerjakan sembahyang di belakang al-Hajjaj(al-Maqalat, I, hlm. 324; al-Ibanah, hlm.12). Bagi al-Asy’ari al-Hajjaj adalah seorang fajir dan Abdullah bin Umar adalah seorang birr (yang baik). Walau bagaimanapun apa yang dilakukan oleh Abdullah bin Umar tidak boleh dijadikan dalil atau bukti sahnya sembahyang di belakang fajir. Kerana ianya bertentangan dengan firman-Nya Surah al-Infitar (82): 14, terjemahannya,”Sesungguhnya Fujjar (orang-orang yang derhaka) benar-benar berada di dalam neraka,” dan firman-Nya dalam Surah Hud (11): 113, terjemahannya,”Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim (fajr), maka kamu akan disentuh api neraka.” Lantaran itu pendapat al-Asy’ari adalah menyalahi nas.

13. Ja’fari: Sahabat ada yang baik, ada yang jahat dan ada yang munafiq berdasarkan nas. Oleh itu mereka mestilah dinilai dengan al-Qur’an dan Sunnah Nabi (Saw.) yang tidak bertentangan dengan al-Qur’an secara keseluruhan. Segala pujian atau celaan Tuhan kepada mereka adalah daripada Sifat fi’l (sementara), bukan daripada Sifat Dhat (kekal). Lantaran itu ianya tergantung di atas kelakuan mereka sama ada menyalahi nas atau pun tidak.

Al-Asy’ari: Kepatuhan kepada semua Sahabat (Sa’ira Ashab al-Nabi) (al-Ibanah, hlm. 12) kenyataan al-Asy’ari memberikan implikasi:

a) Sahabat semuanya menjadi ikutan. Tidak ada perbezaan di antara Sahabat yang mematuhi nas, dan Sahabat yang menyalahi nas.
b) Mentaqdiskan (mensucikan) Sahabat tanpa menggunakan penilaian al-Qur’an, sedangkan banyak terdapat ayat-ayat al-Qur’an yang mencela perbuatan mereka, kerana mereka menyalahi nas (lihat umpamanya dalam Surah al-Juma’at (62): 11).
c) Mengutamakan pendapat sahabat daripada hukum Allah (swt) seperti hukum seorang yang menceraikan isterinya tiga kali dengan satu lafaz, jatuh satu menurut al-Qur’an dalam Surah al-Baqarah (2): 229, terjemahannya,”Talak (yang dapat dirujuk) dua kali.” Tetapi apabila Khalifah Umar mengatakan ianya jatuh tiga (al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa’, hlm. 137), al-Asya’irah menerimanya dan dijadikannya “hukum” yang sah sekalipun ianya menyalahi nas (al-Farq baina l-Firaq, hlm. 301).
d) Mengutamakan Sunnah Sahabat daripada Sunnah Nabi (Saw.) seperti membuang perkataan Haiyy ‘Ala Khairil l-‘Amal di dalam azan dan iqamah oleh khalifah Umar, sedangkan pada masa Nabi ianya sebahagian daripada azan dan iqamah. Begitu juga Khalifah Umar telah menambahkan perkataan al-Salah Khairun mina l-Naum (al-Halabi, al-Sirah, Cairo, 1960, II, hlm. 110).
e) Kehormatan Sahabat tidak boleh disentuhi oleh al-Qur’an, kerana mereka berkata: Semua sahabat adalah adil walaupun menyalahi al-Qur’an dan Sunnah Nabi (Saw.).
f) Menilai kebenaran Islam menurut pendapat atau kelakuan Sahabat, dan bukan al-Qur’an dan Sunnah Nabi (Saw.) yang sebenar. Mereka berkata kebenaran berada di lidah Umar. Lantaran itu mereka berpegang kepada pendapat Khalifah Umar yang mengatakan dua orang saksi lelaki di dalam talak tidak dijadikan syarat jatuhnya talak. Sedangkan Allah (swt) berfirman dalam Surah al-Talaq (65): 3, terjemahannya,” dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil.” Mereka juga berkata,” Iman Abu Bakr jika ditimbang adalah lebih berat daripada iman umat ini.” Sekiranya iman khalifah Abu Bakr itu lebih berat daripada iman keseluruhan umat ini termasuk iman Umar dan Uthman, kenapa tidak dijadikan kebenaran itu pada lidah Abu Bakr? Di tempat yang lain mereka berkata,” Nabi (Saw.) tidak segan silu kepada Abu Bakr dan Umar tetapi beliau malu kepada Uthman.”

Persoalannya, kenapa Nabi (Saw.) tidask malu kepada orang yang paling berat imannya di dalam umat ini? Dan kenapa Nabi (Saw.) tidak malu kepada orang yang mempunyai lidah kebenaran? Pendapat-pendapat tersebut telah disandarkan kepada Nabi (Saw.) dan ianya menyalahi nas dan hakikat sebenar, kerana kebenaran adalah berada di lidah Nabi (Saw.) dan al-Qur’an.
g) Meletakkan Islam ke atas Sahabat bukan Rasulullah (Saw.), mereka berkata: Jika Sahabat itu runtuh, maka runtuhlah Islam keseluruhannya lalu mereka jadikannya “aqidah” sedangkan Sahabat sendiri bergaduh, caci-mencaci dan berperang sesama mereka.
h) Mengamalkan hukum-hukum Sahabat (Ahkamu-hum) dan Sirah-sirah mereka adalah menjadi Sunnah Ahli Sunnah (al-Baghdadi, al-Farq baina l-Firaq, hlm. 309), sekalipun ianya bertentangan dengan nas, kerana “bersetuju” dengan Sahabat adalah menjadi lambang kemegahan mereka. Mereka berkata lagi:”Kami tidak dapati hari ini golongan umat ini yang bersetuju atau menyokong semua Sahabat selain daripada Ahlu s-Sunnah wa l-Jama’ah (Ibid, hlm.304). Lantaran itu Ahlu l-Sunnah adalah mazhab yang mementingkan “persetujuan” dengan Sahabat sekalipun Sahabat menyalahi nas.
i) Mempertahankan Sahabat sekalipun Sahabat menyalahi al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAWA dengan berbagai cara sekalipun. Jika seorang pengkaji ingin mengetahui kedudukan sebenar sahabat itu sebagaimana dicatat di dalam buku-buku muktabar, mereka berkata:” Ini adalah suatu cacian kepada Sahabat sekalipun ianya telah ditulis oleh orang-orang yang terdahulu.”

Mereka berkata lagi:”Kajian tersebut adalah merbahaya dan ianya merupakan barah kepada “aqidah” mereka, jangan dibiarkan ianya menular di dalam masyarakat.” Nampaknya mereka sendiri tidak dapat menilai bahan-bahan ilmiah sekalipun mereka berada di institusi-institusi pengajian tinggi. Sebaliknya apabila bahan-bahan ilmiah yang mencatatkan sahabat tertentu yang melakukan perkara-perkara yang menyalahi al-Qur’an, mereka menganggapnya pula sebagai cerita dongeng atau 1001 malam. Lihatlah bagaimana mereka menjadikan sahabat sebagai aqidah mereka wal hal ianya bukanlah dari rukun Islam dan rukun Iman! Akhir sekali mereka menyuruh “pihak berkuasa” supaya mengambil tindakan, kerana khuatir mereka tidak begitu mampu lagi untuk mempertahankan “aqidah” mereka yang bertentangan dengan al-Qur’an.

Oleh itu pihak berkuasa terus menerima cadangan tersebut, dan diletakkan pengkaji tersebut di kandang orang salah. Sebenarnya mereka tidak mahu tunduk kepada kebenaran al-Qur’an dan keadaan sebenar “umat manusia.” Mereka menganggapnya sebagai barah pada hakikatnya itulah penawar. Tetapi ianya tidak dapat diketahui dan dinilai oleh orang yang tidak mempunyai fikiran yang luas dan mendalam. Wahai Tuhanku! Di manakah keadilan di dunia ini!

14. Ja’fari: Memihak kepada Sahabat yang benar di dalam semua perkara.

Al-Asy’ari: Berkecuali, tidak memihak kepada mana-mana sahabat sekiranya berlaku pertelingkahan atau peperangan di kalangan mereka (al-Ibanah, hlm. 12; al-Maqalat, II, hlm. 324). Lantaran itu pendapat al-Asy’ari adalah bertentangan dengan firman Allah (swt) dalam Surah al-Hujurat (49):9, terjemahannya,”Dan jika ada dua golongan dari orang-orang Mukmin berperang, maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah,” dan ianya juga bertentangan dengan firmanNya dalam Surah Hud (11): 113, terjemahannya,” Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim, maka kamu akan disentuh api neraka.” Lantaran itu pendapat al-Asy’ari adalah menyalahi nas kerana tidak ada pengecualian di dalam menyokong kebenaran.

15. Ja’fari: Allah (swt) tidak dapat dilihat di dunia dan di akhirat kerana Dia bukan jism dan setiap yang bukan jism tidak dapat dilihat.

Al-Asy’ari: Allah SWT dapat dilihat di akhirat firmanNya dalam Surah al-Qiyamah (75): 22-23, terjemahannya,” Wajah-wajah pada hari itu berseri-seri kepada Tuhannyalah ia (Wajah-wajah) melihat.” Al-Asy’ari mengatakan Allah dapat dilihat di akhirat seperti dilihatnya bulan penuh purnama (al-Ibanah, hlm. 10; al-Maqalat, I, hlm. 321).

Sebenarnya apa yang dipegang oleh al-Asy’ari itu adalah ayat Mutasyabihah. Oleh itu ianya hendaklah dirujuk kepada ayat Muhkamah iaitu firman-Nya dalam Surah al-An’am (6): 103, terjemahannya,”Dia tidak dapat dicapai penglihatan, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” Dan juga ianya hendakklah dirujuk kepada firman-Nya dalam Surah al-A’raf (7): 143, terjemahannya,”Dan tatkala Musa datang pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa,”Ya Tuhanku, nampaklah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat Engkau.” Tuhan berfirman,”Kamu sekali-kali tidak dapat melihatku (Lan tara-ni), tetapi lihatlah ke bukit, maka jika ia tetapi di tempatnya nescaya kamu dapat melihatku.” Tatkala Tuhannya nampak bagi bukit itu, maka bukit itu hancur lebur dan Musa pun jatuh pengsan.”

Ayat tersebut menunjukkan:
a) Allah tidak dapat dilihat kerana Tuhan berfirman,”Sekal-kali (Lan tara-ni) kamu tidak akan melihatKu.”
b) Allah mengaitkan “penglihatan” kepada perkara yang mustahil iaitu sekiranya bukit itu tetap. Tetapi terbukti ianya hancur lebur.
c) Permintaan Musa untuk melihat Tuhan adalah di atas desakan kaumnya, sebagaimana firman-Nya dalam Surah al-Nisa’ (4): 153,”Ahli Kitab meminta kepadamu agar menurunkan kepada mereka sebuah kitab dari langit. Maka sesungguhnya mereka telah meminta kepada Musa yang lebih besar dari itu. Mereka berkata: perlihatkanlah Allah kepada kami dengan nyata.” Maka mereka disambar petir kerana kezaliman. Lantaran itu Allah tidak dapat dilihat di dunia dan di akhirat.

16. Ja’fari: Amalan baik (ta’at) seorang mukmin berhak diberi pahala jikalau tidak, ianya menjadi sia-sia dan kezaliman dikaitkan kepada Allah (swt) .

Al-Asy’ari: Amalan baik yang dilakukan oleh seorang mukmin belum tentu mendapat pahala daripada Allah (swt) .

Sebaliknya ia boleh dimasukkan ke neraka tanpa mengira kebaikannya. Dan Tuhan pula tidak boleh dikatakan zalim jika Dia berbuat demikian (al-Maqalat, I, hlm. 322; al-Milal wa n-Nihal, I, hlm. 101). Ini bererti orang yang paling tinggi takwanya seperti Nabi (Saw.) belum pasti ianya ke syurga atau orang yang paling jahat seperti Fir’aun belum tentu dia dimasukkan ke neraka. Lantaran itu pendapat al-Asy’ari adalah bertentangan dengan firmanNya dalam Surah al-Qasas (28): 84, terjemahanya,”Barang siapa yang datang dengan (membawa) kebaikan, maka baginya (pahala) yang lebih baik daripada kebaikannya.” Dan firmanNya dalam Surah al-An’am (6): 160, terjemahannya,”Barang siapa membawa amal yang baik baginya (pahala) sepuluh kali ganda, dan barang siapa yang membawa perbuatan yang jahat maka Dia tidak memberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya.”

Oleh itu pendapat al-Asy’ari tidak memberangsangkan seseorang mukmin supaya melakukan amalan yang lebih baik kerana belum pasti, dia akan mendapat pahala. Sebaliknya ia merangsangkan orang fasiq untuk meningkatkan kefasikannya kerana belum pasti, dia akan dimasukkan ke neraka.

17. Ja’fari: Perbuatan manusia bukan al-Jabr (terpaksa menurut apa yang telah “ditetapkan” oleh Allah (swt) dan bukan al-Tafwid (diberi kebebasan mutlak) tetapi ianya di antara kedua-duanya.

Al-Asy’ari: Perbuatan manusia dijadikan oleh Allah (swt) (makhluqah) (al-Ibanah, hlm. 9; al-Maqalat, I, hlm. 321)

Al-Asy’ari berpegang kepada Surah al-Saffat (37): 96, terjemahannya,”Dan Allah telah menjadikan kamu dan apa yang kamu buat.” Sebenarnya ayat tersebut adalah menunjukkan keingkaran Allah (swt) terhadap perbuatan penyembah-penyembah berhala kerana mereka mengukir berhala-berhala mereka dari batu dan kayu kemudian menyembahnya pula. Sedangkan kayu-kayu dan batu-batu tersebut adalah kejadian Allah (swt) .

Dan jikalaulah ianya sebagaimana yang dikatakan oleh al-Asy’ari ini bererti Tuhan tidak akan menyiksa hamba-hamba-Nya kerana perbuatanNya. Jika tidak, Dia tidak menepati janji-Nya dan Dia dikatakan zalim. Justeru itu ianya bertentangan dengan firman-Nya dalam Surah Taha (20): 15, terjemahannya,”Tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan.”Dan firmanNya dalam Surah al-An’am (6): 160, terjemahannya,”Barang siapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali ganda amalannya dan barang siapa yang membawa amal yang jahat, maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya. Sedangkan mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).” Oleh itu jika seorang itu dipaksa (majbur) di dalam perbuatannya, nescaya ia mempunyai hujah yang kuat di hadapan Allah (swt) apabila Dia mahu menyiksanya di atas perbuatan maksiatnya yang telah dikehendaki oleh Allah SWT, kerana dia tidak diberi pilihan untuk tidak melakukannya.

Kerumitan yang dihadapi oleh al-Asy’ari mengenai “perbuatan manusia adalah perbuatan Allah (swt)” agak ketara dan beliau cuba mencipta teori al-kasb atau al-iktisab (usaha), tetapi ia bukan sahaja tidak dapat menyelesaikan masalah, malah ianya bertentangan dengan formulanya sendiri; kekafiran dan kejahatan dikehendaki Allah. Beliau memberi definisi al-iktisab sebagai perbuatan yang dilakukan oleh seseorang dengan kuasa baru (qudrah muhdathah) selepas Allah SWT menjadikan perbuatan tersebut (al-Maqalat, hlm. 199; al-Asy’ari, al-Luma’, Cairo, 1955, hlm. 97). Atau Allah menjadikan perbuatan dan seseorang itu (al-Abd) berusaha (muktasib) untuknya.” (al-Milal wa n-Nihal, I, hlm. 96).

Persoalannya bagaimana seorang itu dapat melakukan al-kasb atau al-iktisab (usaha) menurut pilihannya sedangkan usahanya (al-kasb) itu sendiri adalah penerusan daripada perbuatan Allah (swt) yang telah menetapkan kekafiran, kefasikan dan kejahatan hamba-hambaNya? Oleh itu, teori al-kasb atau al-iktisab yang diciptakan oleh al-Asy’ari kemudian diikuti pula oleh al-Asya’irah (al-Baghdadi, al-Farq baina al-Firaq, hlm. 328), nampaknya tidak dapat melepaskan mereka daripada fahaman Jabariyyah (al-Allamah, Ja’far Subhani, Ma’alim al-Tauhid, Tehran, 1980, hlm. 308) kerana mereka percaya bahawa tidak ada mu’aththir (pelaku) yang sebenar selain daripada Allah SWT.

Justeru itu perbuatan manusia bukanlah al-Jabr (terpaksa menurut apa yang telah ditetapkan Allah (swt) , dan bukan juga al-Tafwid (diberikan kebebasan mutlak), tetapi ianya di antara kedua-duanya. Lantaran itu Imam Ridha AS berkata:”Sesiapa yang menyangka bahawa Allah membuat perbuatan kita, kemudian Dia menyiksa kita kerana perbuatanNya, maka dia telah berkata (Fahaman) Jabariyyah dan sesiapa yang berkata bahawa Allah telah menyerahkan perbuatan dan rezeki kepada manusia, maka dia berkata dengan (Fahaman) al-Tafwid (Mu’tazilah) (Akhbar ‘Uyun al-Ridha, Tehran, 1980, hlm. 325). Oleh itu manusia mestilah melakukan amalan yang baik untuk mendapat ganjaran sebagaimana dijanjikan oleh-Nya. Sebaliknya manusia mestilah mejauhkan amalan maksiat kerana dengannya ia disiksa. Imam Musa al-Kazim AS berkata:”Maksiat sama ada datang daripada Allah, justeru itu hamba tiada kaitan dengannya, dan Dia tidak akan menyiksa hambaNya. Atau ianya daripada hambaNya. Atau ianya bersyarikat dengan Allah (swt) . Oleh itu sekutu yang lebih kuat (Allah (swt) ) tidak akan menyiksa sekutu yang lebih lemah (manusia) dengan dosa yang mereka berdua lakukan bersama (Yusuf al-Najafi, al-Aqa’id al-Imamiah, Najaf, 1982, hlm. 64).

Di sini diperturunkan sebahagian daripada ayat-ayat al-Qur’an yang bertentangan dengan aqidah-aqidah al-Asy’ari dan al-Asya’irah atau aqidah-aqidah Ahlul Sunnah Wa l-Jama’ah secara langsung seperti berikut:

Pertama: Ayat-ayat yang menunjukkan celaan kepada hamba-hamba-Nya kerana kekafiran dan kemaksiatan

1.Firman-Nya dalam Surah al-Baqarah (2): 20, terjemahannya,”Mengapa kamu (jadi) kafir (kepadaKu?)”Keingkaran dan celaan kepada orang yang lemah atau tidak mampu beriman kepada-Nya adalah mustahil.

2.Firman-Nya dalam Surah al-Kahf (18); 55, terjemahannya,”Dan tidak ada sesuatupun yang menghalangi manusia dari beriman, ketika penunjuk telah datang kepada mereka.” Bagaimana Dia mencela orang kafir jika mereka tidak mampu beriman.

3.Firman-Nya dalam Surah al-Nisa’ (4): 39, terjemahannya,”Apakah kemudharatannya bagi mereka kalau mereka beriman kepada Allah.”

4.Firman-Nya dalam Surah Sad (38): 75, terjemahannya,”Apakah yang menghalang kamu sujud.”

5.Firman-Nya dalam Surah Taha (20): 92, terjemahannya,”Apa yang menghalang kamu ketika kamu melihat mereka telah sesat.”

6.Firman-Nya dalam Surah al-Muddathir (74): 49, terjemahannya,”Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah)?”

7.Firman-Nya dalam Surah al-Insyiqaq (84): 20, terjemahannya,”Mengapa mereka tidak mahu beriman.” Firman-Nya dalam Surah al-Taubah (9): 43, terjemahannya,”Semoga Allah memaafkan kamu. Mengapa kamu memberi izin kepada mereka (untuk tidak pergi berperang).”

8.Firman-Nya dalam Surah al-Tahrim (66); 1, terjemahannya,”Mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkannya bagimu.” Bagaimana harus Dia berkata: Mengapa kamu lakukan? Sedangkan dia tidak melakukannya.

9.Firman-Nya dalam Surah Ali Imran (3): 71, terjemahannya,”Mengapa kamu mencampuradukan yang haq dengan yang batil.”

10. Firman-Nya dalam Surah Ali Imran (3): 99, terjemahannya,”Mengapa kamu menghalang-halangi dari jalan Allah…?”

Lantaran itu tidak hairanlah jika al-Sahib bin ‘Abbad (w. 995M), Perdana Menteri di bawah Muayyid al-Daulah berkata: Bagaimana Dia menyuruh seorang supaya beriman tetapi Dia tidak menghendakinya? Dia melarang kemungkaran dan Dia menghendakinya? Dia menyiksa orang yang melakukan kebatilan sedangkan Dia telah menetapkannya? Bagaimana Dia memalingkannya daripada keimanan? Sedangkan Dia berfirman dalam Surah Yunus (10): 32, terjemahannya,”Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)? Dia menjadikan pada mereka kekafiran kemudian Dia berfirman dalam Surah al-Baqarah (2): 28, terjemahannya,”Mengapa kamu (jadi) kafir (kepadaku?).” Dia mencampuradukkan kebatilan pada mereka, kemudian Dia berfirman dalam Surah Ali Imran (3): 71, terjemahannya,”Mengapa kamu mencampuradukkan yang haq dengan yang batil?”

Dia telah menghalangi mereka dari jalan benar, kemudian Dia berfirman dalam Surah Ali Imran (3): 99, terjemahannya,”Mengapa kamu menghalang-halangi dari jalan Allah?”

Dia telah mendindingkan mereka daripada keimanan kemudian Dia berfirman dalam Surah al-Nisa'(4): 39, terjemahannya,”Apakah kemudharatannya bagi mereka, kalau mereka beriman kepada Allah?”

Dia menghilangkan kewarasan mereka, kemudian berfirman dalam Surah al-Takwir (81): 26, terjemahannya,”Maka kemanakah kamu akan pergi?”

Dia menyesatkan mereka daripada ugama sehingga mereka berpaling kemudian Dia berfirman dalam Surah al-Muddathir (74): 49, terjemahannya,”Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah)?”

Kedua: Ayat-ayat yang menunjukkan pilihan hamba-hamba pada perbuatan-perbuatan mereka dengan kehendak mereka sendiri

1.Firman-Nya dalam Surah al-Kahf (18): 29, terjemahannya,”Maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir.”

2.Firman-Nya dalam Surah al-Fussilat (41): 40, terjemahannya,”Perbuatan apa yang kamu kehendaki.”

3.Firman-Nya dalam al-Taubah (9): 105, terjemahannya,”Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu.”

4.Firman-Nya dalam al-Muddathir (74): 37, terjemahannya,”Bagi siapa yang di antaramu yang berkehendak akan maju atau mundur.”

5. Firman-Nya dalam Abasa (80): 12, terjemahannya,”Maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya.”

6.Firman-Nya dalam al-Muzzammil (73): 19, terjemahannya,”Maka barangsiapa yang menghendaki nescaya ia menempuh jalan (yang menyampaikannya) kepada Tuhannya.”

7.Firman-Nya dalam Surah al-Naba’ (78): 39, terjemahannya,”Maka barangsiapa yang menghendaki, nescaya ia menempuh jalan kembali kepada Tuhannya.”

Dan sesungguhnya Allah SWT mengingkari orang yang menafikan kemahuan (al-masyi’ah) daripada diri mereka dan mengaitkannya kepada Allah Ta’ala:

8.Firman-Nya dalam Surah al-An’am (6): 148, terjemahannya,”Orang-orang yang mempersekutukan Tuhan, akan mengatakan: Jika Allah menghendaki, nescaya kami tidak mempersekutukannya.”

9.Firman-Nya dalam dalam Surah al-Zukhruf (43): 20, terjemahannya,”Dan mereka berkata: Jika Allah Yang Maha Pemurah menghendaki tentulah kami tidak menyalah mereka (mala’ikat).”

Ketiga: Ayat-ayat yang menyuruh hamba-hamba yang melakukan amalan-amalan dan bersegera melakukannya

1.FirmanNya dalam dalam Surah Ali Imran (3): 133, terjemahannya,”Dan bersegeralah kamu kepada keampunan dari Tuhanmu.”

2.Firman-Nya dalam Surah al-Ahqaf (48): 31, terjemahannya,”Sahutilah dan berimanlah kepadaNya.”

3.Firman-Nya dalam Surah al-Anfal (8): 24, terjemahannya,”Sahutilah seruan Allah dan Rasul.”

4.Firman-Nya dalam Surah al-Hajj (22): 77, terjemahannya,”Hai orang-orang yang beriman, rukuklah dan sujudlah kamu.”

5.Firman-Nya dalam Surah al-Baqarah (2): 21, terjemahannya,”Sembahlah Tuhanmu.”

6.Firman-Nya dalam Surah al-Isra’ (17): 107, terjemahannya,”Berimanlah kamu kepada-Nya.”

7.Firman-Nya dalam al-Zumar (39): 55, terjemahannya,”Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu.”

8.Firman-Nya dalam Surah al-Zumar (39): 54, terjemahannya,”Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu.”

Bagaimana Dia menyuruh melakukan ketaatan dan bersegera kepadanya sedangkan orang yang disuruh itu ditegah, tidak mampu untuk melakukannya?

Keempat: Ayat-ayat yang memberangsangkan supaya memohon pertolongan denganNya

1.Firman-Nya dalam Surah al-Fatihah (1): 5, terjemahannya,”Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.”

2.Firman-Nya dalam Surah al-Nahl (16): 98, terjemahannya,”Mintalah kamu perlindungan kepada Allah dari Syaitan yang terkutuk.”

3.Firman-Nya dalam Surah al-A’raf (7): 128, terjemahannya,”Mohonlah pertolongan kepada Allah.”

Sekiranya Dia telah menjadikan kekufuran dan kemaksiatan sebagaimana didakwa oleh al-Asya’irah atau Ahlul Sunnah wa l-Jama’ah, bagaimana pertolongan dan perlindungan diminta daripadaNya?

Kelima: Ayat-ayat yang menunjukkan sandaran perbuatan kepada hamba

1.Firman-Nya dalam Surah Maryam (19): 37, terjemahannya,”Maka kecelakaanlah bagi orang-orang kafir.”

2.Firman-Nya dalam Surah al-Baqarah (2): 79, terjemahannya,”Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis al-Kitab dengan tangan mereka.”

3. Firman-Nya dalam Surah al-An’am (6): 148, terjemahannya,”Kami tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka.”

4. Firman-Nya dalam Surah al-Anfal (8): 53, terjemahannya,”Yang demikian itu adalah kerana sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkannya kepada sesuatu kaum, hingga kaum itu merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.”

5.Firman-Nya dalam Surah Yusuf (12): 18, terjemahannya,”Sebenarnya diri kamulah yang memandang baik perbuatan (buruk) itu, maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku).”

6.Firman-Nya dalam Surah al-Ma’idah (5): 30, terjemahannya,”Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah.”

7.Firman-Nya dalam Surah al-Tur (52): 21, terjemahannya,”Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.”

8.Firman-Nya dalam Surah al-Nisa’ (4): 123, terjemahannya,”Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, nescaya akan diberi pembalasan kejahatan itu.”

9. Firman-Nya dalam Surah Ibrahim (14): 22, terjemahannya,”Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekadar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku.”

10.Firman-Nya dalam Surah al-Kahf (18): 7, terjemahannya,”Agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.”

11.Firman-Nya dalam Surah al-Jathiah (45); 21, terjemahannya,”Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahawa kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh?”

12.Firman-Nya dalam Surah al-Sad (38): 28, terjemahannya,”Patutkah kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh sama dengan orang-orang yang berbuat kerosakan di muka bumi? Patutkah (pula) kami menganggap orang-orang yang bertaqwa sama dengan orang-orang yang berbuat baik?”

13.Firman-Nya dalam Surah al-Najm (53): 31, terjemahannya,”Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang mereka telah kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (syurga).”

14.Firman-Nya dalam Surah Fussilat (41): 46, terjemahannya,”Barangsiapa mengerjakan amal saleh, maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa yang berbuat jahat maka (dosanya) atas dirinya sendiri.”

15.Firman-Nya dalam Surah Taha (20): 82, terjemahannya,”Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat beriman, beramal saleh kemudian tetap dijalan yang benar.”

Bagaimana Dia menyuruh dan melarang tanpa orang melakukannya? Jikalaulah begitu keadaannya, maka ianya sepertilah menyuruh dan melarang al-Jamad (benda yang tidak bergerak)! Nabi SAWAW bersabda:”Niat seorang mukmin adalah lebih baik daripada amalannya (al-Muttaqi al-Hindi, Kunz al-Ummal, III, hlm. 242).

Keenam: Ayat-ayat yang menunjukkan pengakuan para nabi ke atas amalan-amalan mereka:

1. Firman-Nya (Surah al-A’raf 7:23) terjemahannya:’Ya Tuhan kami,kami telah men ganaya dir kami sendiri’
.2. Firman-Nya(Surahal-Anbiya’21:87) terjemahannya:’Maha Suci
Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang- orang zalim’.

3.Firman-Nya (Surah al-Qasas 28:16) terjemahannya:’Ya Tuhan sesungguhnakutelah menganiaya diriku sendiri’.

4. Firman-Nya (Surah Yusuf 12:18) terjemahannya:’Sebenarnya

dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk)

itu”

5.Firman-Nya (Surah Yusuf 12:100) terjemahannya:’Setelah syaitan merosakkan (hubungan) antaraku dan saudara-saudaraku’.

6.Firman-Nya (Surah Hud 11:47) terjemahannya: ‘Nuh berkata: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dan memohon kepada Engkau seperti yang aku tiada mengetahui (hakikat)nya’.

Ayat-ayat di atas menunjukkan pengakuan para nabi A.S.di atas per­buatan-perbuatan mereka dan merekalah yang melakukannya, tidak Se­bagaimana pendapat al-Asya’irah atau AhIu s-Sunnah Wa I-Jama’ah yang menyatakan Allah telah menjadi perbuatan-perbuatan mereka sehingga mereka tidak mempunyai pilihan. Pengakuan kesalahan tersebut adalah dari bab “Hasanat al-A brar Sayyi ‘at al-Mu qarrabin

Ketujuh: Ayat-ayat yang menunjukkan pengakuan orang-orang kafir dan penderhaka di atas perbuatan mereka

1.Firman-Nya dalam Surah Saba’ (34): 31-32, terjemahannya,”kalau kamu lihat ketika orang-orang yang zalim itu dihadapkan kepada Tuhan mereka….”Kamikah yang telah menghalangi kamu dari petunjuk sesudah petunjuk itu datang kepadamu? Sebenarnya kamu sendirilah orang-orang yang berdosa.”

2.Firman-Nya dalam Surah al-Muddathir (74): 43- 46, terjemahannya,”Apakah yang memasukkan kamu ke dalam neraka Saqar?” Mereka menjawab:”Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan sembahyang.”

3.Firman-Nya dalam Surah al-Mulk (67): 8-9, terjemahannya,”Setiap kali dilemparkan ke dalamnya sekumpulan (orang-orang kafir), penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka:”Apakah belum pernah datang kepada kamu (di dunia) seorang pemberi peringatan?” Mereka menjawab:”benar ada”, sesungguhnya telah datang kepada kami seorang pemberi peringatan, maka kamu mendustakannya.”

4.Firman-Nya dalam Surah al-A’raf (7): 37, terjemahannya,”Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah atau mendustakan ayat-ayatNya? Orang-orang itu akan memperolehi bahagian mereka di dalam al-kitab.”

5.Firman-Nya dalam Surah al-A’raf (7): 39, terjemahannya,”Maka rasakanlah siksaan kerana perbuatan yang telah kamu lakukan.”

Kelapan: Penyesalan orang-orang kafir di akhirat di atas kekufuran mereka dan menuntut supaya dikembalikan di dunia

1.Firman-Nya dalam Surah Fatir (35): 37, terjemahannya,”Dan mereka berteriak di dalam neraka itu:”Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami nescaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan apa yang telah kami kerjakan.”

2.Firman-Nya dalam Surah al-Mukminun (23): 99, terjemahannya,”Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang aku tinggalkan.”

3.Firman-Nya dalam Surah al-Sajdah (32): 12, terjemahannya,”Dan jika sekiranya kamu melihat ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata):”Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal saleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin.”

4.Firman-Nya dalam Surah al-Zumar (39): 58, terjemahannya,”Atau supaya jangan ada yang berkata ketika ia melihat azab kalau sekiranya aku dapat kembali (ke dunia) nescaya aku akan termasuk orang-orang yang berbuat baik.”

Kesembilan: Ayat-ayat yang menunjukkan perbuatan Allah SWT tidak menyerupai perbuatan makhluk, tidak seimbang tanpa perselisihan dan kezaliman

1.Firman-Nya dalam Surah al-Mulk (67): 3, terjemahannya,”Kami sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang.”

2.Firman-Nya dalam Surah al-Sajdah (32): 7, terjemahannya,”Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya.” Oleh itu kekufuran dan kezaliman bukanlah suatu yang baik.

3.Firman-Nya dalam Surah al-Hijr (15): 85, terjemahannya,”Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara kedua-duanya, melainkan dengan benar.” Oleh itu kekufuran bukanlah suatu kebenaran.”

4.Firman-Nya dalam Surah al-Nisa’ (4); 40, terjemahannya,”Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah.”

5.Firman-Nya dalam Surah Fussilat (4): 46, terjemahannya,”Dan sekali-kali tidaklah Tuhanmu menganiaya hamba-hamba (Nya).”

6.Firman-Nya dalam Surah Hud (11): 101, terjemahannya,”Dan Kami tidak menganiaya mereka.”

7.Firman-Nya dalam Surah al-Isra’ (17): 7, terjemahannya,”Dan mereka tidak dianiaya sedikitpun.”

Kesepuluh: Ayat-ayat yang memuji Mukmin kerana imannya dan mencela Kafir kerana kekafirannya

1.Firman-Nya dalam Surah al-Tur (52): 16, terjemahannya,”Kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan.”

2.Firman-Nya dalam Surah al-Mu’min (40): 17, terjemahannya,”Pada hari ini tiap-tiap jiwa diberi balasan dengan apa yang diusahakannya.”

3.Firman-Nya dalam Surah al-Najm (53): 37, terjemahannya,”dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji.”

4.Firman-Nya dalam Surah al-Najm (53): 38, terjemahannya,”Bahawa seorang yang berdosa itu tidak akan memikul dosa orang lain.”

5.Firman-Nya dalam Surah Taha (20): 15, terjemahannya,”tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan.”

6.Firman-Nya dalam Surah al-Rahman (27): 60, terjemahannya,”Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).”

7.Firman-Nya dalam Surah al-Naml (27): 90, terjemahannya,”Tiada lah kamu dibalasi, melainkan (setimpal) dengan apa yang dahulu kamu kerjakan.”

8.Firman-Nya dalam Surah al-An’am (6): 160, terjemahannya,”Barangsiapa yang membawa amal baik maka baginya (pahala) sepuluh kali ganda.”

9.Firman-Nya dalam Surah Taha (20): 124, terjemahannya,”Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatanku.”

10.Firman-Nya dalam Surah al-Baqarah (2): 86, terjemahannya,”Itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia.”

11.Firman-Nya dalam Surah Ali Imran (3):86, terjemahannya,”Sesungguhnya orang-orang kafir sesudah beriman.”

Demikianlah dikemukankan ayat-ayat al-Qur’an yang bertentangan dengan aqidah al-Asya’irah atau aqidah Ahlul Sunnah wa l-Jama’ah. Kesemua ayat-ayat di atas “adalah yang tidak datang kepadanya kebatilan baik depan mahupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji [Surah al-Fussilat (41): 42]

Justeru apakah keuzuran untuk tidak berpandukan kepada fahaman yang selaras dengan aqidah al-Qur’an? Kenapa mereka meninggalkan ayat-ayat tersebut wal hal ianya jelas dan nyata? Atau hanya bertaqlid kepada orang-orang yang terdahulu tanpa kajian dan renungan?

Firman Allah SWT dalam Surah al-A’raf (7): 28, terjemahannya,”Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata:”Kami mendapati nenek moyang kami mengerjakan yang demikian itu, dan Allah menyuruh kami mengerjakannya, katakanlah: Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji.” Mengapa kamu mengada-adakan terhadap Allah apa yang kamu tidak ketahui.”

Firman Allah SWT dalam Surah al-An’am (6): 70, terjemahannya,”Dan tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia.”

Firman-Nya dalam Surah al-Zumar (39): 56, terjemahannya,”Supaya jangan ada orang yang mengatakan:”Amat besar penyesalanku atau kesalahanku terhadap Allah sedang aku sesungguhnya termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan (agama Allah).”

Dan firman-Nya dalam Surah al-An’am (6): 91, terjemahannya,”Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya.”

Banyak lagi penyelewengan ajaran Ahlu s-Sunnah wa l-Jama‘ah dari segi akidah, Syari‘at Allah yang belum dikemukan.Justeru itu, jika mereka yang mengikut 100 peratus hukum al-Qur’an dan Sunnah Rasulullh saw itu dikira sesat atau menyeleweng dan perlu dipuluh/dimurnikan akidah mereka, maka mereka yang mengikut sunnah Abu Bakr, Umar, Uthman dan Mu‘awiyah yang bertentangan dengan al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya adalah lebih sesat atau menyeleweng lagi dan lebih perlu dipulih/dimurnikan akidah mereka oleh Imam Mahdi (a.s).

Berdasarkan hadits-hadits mutawatir yang kesahihhannya diakui oleh semua Sunni, Rasulullah SAW telah mengabarkan kepada pengikut-pengikut beliau pada berbagai kesempatan bahwa beliau akan meninggalkan dua barang berharga dan bahwa beliau akan meninggalkan dua barang berharga dan bahwa jika kaum Muslim berpegang erat pada keduanya, mereka tidak akan tersesat setelah beliau tiada. Kedua barang berharga tersebut adalah Kitabullah dan Ahlulbait Nabi as.

Berdasarkan hadits-hadits mutawatir yang kesahihhannya diakui oleh semua Sunni, Rasulullah SAW telah mengabarkan kepada pengikut-pengikut beliau pada berbagai kesempatan bahwa beliau akan meninggalkan dua barang berharga dan bahwa beliau akan meninggalkan dua barang berharga dan bahwa jika kaum Muslim berpegang erat pada keduanya, mereka tidak akan tersesat setelah beliau tiada. Kedua barang berharga tersebut adalah Kitabullah dan Ahlulbait Nabi as.

Diriwayatkan dalam Shahih Muslim, dan juga dalam sumber-sumber lainnya, bahwa sepulang dari haji Wada, Rasulullah SAW berdiri di samping sebuah telaga yang dikenal sebaiak Khum (Ghadir Khum) yang terletak antara Mekkah dan Madinah. Kemudian beliau memuji Allah dan berzikir kepada-Nya, dan lalu bersabda,

“Wahai manusia, camkanlah! Rasanya sudah dekat waktunya aku hendak dipanggil (oleh Allah SWT), dan aku akan memenuhi panggilan itu. Camkanlah! Aku meninggalkan bagi kalian dua barang berharga. Yang pertama adalah Kitabullah, yang didalamnya terdapat cahaya dan petunjuk. Yang lainya adalah Ahlulbaitku. Aku ingatkan kalian, atas nama Allah, tentang Ahlulbaitku! Aku ingatkan kalian, atas nama Allah, tentang Ahlulbaitku! Aku ingatkan kalian, atas nama Allah, tentang Ahlulbaitku (tiga kali)!1

Sebagaimana terlihat dalam hadis sahih Muslim di atas, Ahlulbait tidak hanya ditempatkan berdampingan dengan Quran, tetapi juga disebutkan tiga kali oleh Nabi Muhammad SAW.

Meskipun ada fakta bahwa penyusun Shahih Muslim dan ahli-ahli hadis Sunni lainnya telah mencatat hadis di atas dalam kitab-kitab Shahih mereka, disayangkan bahwa mayoritas Sunni tidak menyadari keberadaan Ahlulbait tersebut, bahkan ada yang menolaknya sama sekali. Kontra argumen mereka adalah sebuah hadis yang lebih mereka pegangi yang dicatat oleh Hakim dalam al-Mustadrak-nya berdasarkan riwayat Abu Hurairah yang menyatakan bahwa Rasulullah berkata, “Aku tinggalkan di antara kalian dua barang yang jika kalian mengikutinya, kalian tidak akan tersesat setelahku; Kitabullah dan Sunnahku!”

Tiada keraguan bahwa semua Muslim dituntut untuk mengikuti Sunnah Nabi Muhammad SAW. Namun, pertanyaannya adalah Sunnah mana yang asli dan Sunnah mana yang dibuat-buat belakangan, dan Sunnah palsu mana yang dinisbahkan kepada Nabi Muhammad SAW.

Menjejaki sumber-sumber laporan Abu Hurairah yang menyatakan hadis versi ‘Quran dan Sunnah’, kami menemukan bahwa hadis itu tidak dicatat dalam enam koleksi hadis sahih Sunni (Shihah as-Sittah). Tidak hanya itu, bahkan Bukhari, Nasa’i, Dzahabi dan masih banyak lainnya, menyatakan bahwa hadis ini adalah lemah karena sananya lemah. Meski dicatat bahwa meskipun kitab milik Hakim adalah sebuah koleksi hadis Sunni yang penting, tetapi kitab ini dipandang Iebih rendah dibandingkan dengan enam koleksi utama hadis-hadis Sunni. Sementara itu, Shahih Muslim (yang menyebutkan ‘Quran dan Ahlulbait’) menempati urutan kedua dalam enam koleksi hadis Sunni tersebut.

Tirmidzi melaporkan bahwa hadis versi ‘Quran dan Ahlulbait’ terujuk pada lebih dari 30 Sahabat. Ibnu Hajar Haitsami telah melaporkan bahwa dia mengetahui bahwa lebih dari 20 Sahabat juga mempersaksikannya.

Sementara versi ‘Quran dan Sunnah’ hanya dilaporkan oleh Hakim melalui hanya satu sumber. Jadi, mesti disimpulkan bahwa versi ‘Quran dan Ahlulbait’ adalah jauh lebih bisa dipegang. Lebih-lebih, Hakim sendiri juga menyebutkan versi’Quran dan Ahlulbait’ dalam kitabnva (al-­Mustadrak) melalui beberapa rantai otoritas (isnad), dan menegaskan bahwa versi ‘Quran dan Ahlulbait’ adalah hadis yang sahih sesuai berdasarkan kriteria yang digunakan oleh Bukhari dan Muslim, hanya saja Bukhari tidak meriwayatkannya.

Lebih jauh, kata ‘Sunnah’ sendiri tidak memberikan landasan pengetahuan. Semua Muslim, tanpa memandang kepercayaan mereka, mengklaim bahwa mereka mengikuti Sunnah Nabi Muhammad SAW. Perbedaan di antara kaum Muslim muncul dari perbedaan jalur periwayatan hadis-hadis Nabi Muhammad SAW. Sedangkan hadis-hadis tersebut bertindak sebagai penjelas atas makna-makna Quran, yang keasliannya disepakati oleh semua Muslim. Maka, perbedaan jalur periwayatan hadis yang pada gilirannya mengantarkan pada perbedaan interpretasi atas Quran dan Sunnah Nabi – telah menciptakan berbagai versi Sunnah. Semua Muslim, jadinya terpecah ke dalam berbagai mazhab, golongan, dan sempalan, yang diyakini berjumlah sampai 73 golongan. Semuanya mengikuti Sunnah versi mereka sendiri yang mereka klaim sebagai Sunnah yang benar. Kalau demikian, kelompok mana yang mengikuti Sunnah Nabi? Golongan manakah dari 73 golongan yang cemerlang, dan akan tetap bertahan? Selain hadis yang disebutkan dalam Shahih Muslim di atas, hadis sahih berikut ini memberikan satu-satunya jawaban detail terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut. Rasulullah SAW telah bersabda:

Aku tinggalkan di antara kalian dua ‘perlambang’ yang berat dan berharga, yang jika kalian berpegang erat pada keduanya kalian tidak akan tersesat setelahku. Mereka adalah Kitabullah dan keturunanku, Ahlulbait-ku. Yang Pemurah telah mengabariku bahwa keduanya tidak akan berpisah satu sama lain hingga mereka , datang menjumpaiku di telaga (surga).2

Tentu saja, setiap Muslim harus mengikuti Sunnah Nabi Muhammad SAW. Demikian pula kami, pengikut Ahlulbait, tunduk kepada Sunnah asli yang betul-betul dipraktikkan oleh Nabi Muhammad SAW dan meyakininya sebagai satu-satunya jalan keselamatan. Akan tetapi, hadis yang telah disebutkan di atas memberikan bukti bahwa setiap apa yang disebut sebagai Sunnah, yang bertentangan dengan Ahlulbait, adalah bukan Sunnah yang asli, melainkan Sunnah yang diadakan belakangan oleh beberapa individu bayaran yang menyokong para tiran. Dan inilah basis pemikiran mazhab Syi’ah (mazhab Ahlulbait). Ahlulbait Nabi, yakni orang-orang yang tumbuh dalam keluarga Nabi, adalah orang yang lebih mengetahui tentang Sunnah Nabi dan pernik-perniknya dibandingkan dengan orang-orang selain mereka, sebagaimana dikatakan oleh pepatah: “Orang Mekkah lebih mengetahui gang-gang mereka daripada siapapun selain mereka.”

Secara argumentatif, bila kita menerima kesahihan kedua versi hadis tersebut (Quran-Ahlulbait dan Quran-Sunnah), maka seseorang mesti tunduk kepada interpretasi bahwa kata ‘Sunnah-ku’ yang diberikan oleh Hakim berarti Sunnah yang diturunkan melalui Ahlulbait dan bukan dan sumber selain mereka, sebagaimana yang tampak dari versi Ahlulbait yang diberikan oleh Hakim sendiri dalam al-Mustadrak-nya dan oleh Muslim dalam Shahih-nya. Kini, marilah melihat hadis yang berikut ini:

Ummu Salamah meriwayatkan bahwa Rasulullah telah bersabda, ‘Ali bersama Quran, dan Quran bersama Ali. Mereka tidak akan berpisah satu sama lain hingga kembali kepadaku kelak di telaga (di surga).”3

Hadis di atas memberikan bukti bahwa Ali bin Abi Thalib dan Quran adalah tidak terpisahkan. Jika kita menerima keotentikan versi’Quran dan Sunnah’, maka orang dapat menyimpulkan bahwa yang membawa Sunnah Nabi adalah Imam Ali, sebab dialah orang yang diletakkan berdampingan dengan Quran.

Menarik untuk melihat bahwa Hakim sendiri memiliki banyak hadis tentang keharusan mengikuti Ahlulbait, dan salah satunya adalah hadis berikut ini. Hadis ini juga diriwayatkan oleh banyak ulama Sunni lainnya, dan dikenal sebagai ‘Hadis Bahtera’, yang dalamnya Nabi Muhammad SAW menyatakan, “Camkanlah! Ahlulbait-ku adalah seperti Bahtera Nuh. Barang siapa naik ke dalamnya selamat, dan barangsiapa berpaling darinya binasa.”4

Hadis di atas memberikan bukti fakta bahwa orang-orang yang mengambil mazhab Ahlulbait dan mengikuti mereka, akan diselamatkan dari hukuman neraka, sementara orang-orang yang berpaling dari mereka akan bernasib seperti orang yang mencoba menyelamatkan diri dengan memanjat gunung (tebing), dengan satu-satunya perbedaan adalah bahwa dia (anaknya Nuh yang memanjat tebing tersebut) tenggelam dalam air, sedangkan orang-orang ini tenggelam dalam api neraka. Hadis yang berikut ini juga menegaskan hal tersebut bahwa Nabi Muhammad SAW telah berkata tentang Ahlulbait; “Jangan mendahului mereka, kalian bisa binasa! Jangan berpaling dari mereka, kalian bisa binasa, dan jangan mencoba mengajari mereka, sebab mereka lebih tahu dari kalian!”5

Dalam salah satu hadis yang lain Rasulullah SAW bersabda, “Ahlulbait­ku adalah seperti Gerbang Pengampunan bagi Bani Israil. Siapa saja yang memasukinya akan terampuni.”6

Hadis di atas berhubungan dengan Surah al-Baqarah ayat 58 dan Surah al-A’raf ayat 161, yang menjelaskan Gerbang Pengampunan bagi Bani Israil, sahabat-sahabat Musa yang tidak memasuki Gerbang Pengampunan dalam ayat tersebut, tersesat di padang pasir selama empat puluh tahun. Sedangkan orang-orang yang tidak memasuki Bahtera Nuh, tenggelam. Ibnu Hajar menyimpulkan bahwa:

Analogi ‘Bahtera Nuh’ mengisyaratkan bahwa barang siapa yang mencintai dan memuliakan Ahlulbait, dan mengambil petunjuk dari mereka akan selamat dari gelapnya kekafiran, dan barang siapa yang menentang mereka akan tenggelam di samudra keingkaran, dan akan binasa dalam ‘sahara’ kedurhakaan dan pemberontakan.7

Sudahkah kita bertanya kepada diri kita sendiri, mengapa Nabi ‘Muhammad SAW begitu menekankan Ahlulbait? Apakah hanya disebabkan karena mereka adalah keluarga beliau, atau karena mereka membawa ajaran-ajaran (Surunah) beliau yang benar dan mereka adalah individu-­individu yang paling berpengetahuan di antara masyarakat setelah beliau tiada?

Berbagai versi dari ‘Hadis Dua Barang Berat (ats-Tsaqalain)’, yang membuktikan secara konklusif tentang perintah untuk mengikuti Quran dan Ahlulbait, adalah hadis-hadis yang tidak biasa. Hadis-hadis ini sering diulang-ulang dan dihubungkan dengan otoritas lebih dari 30 sahabat Nabi Suci melalui berbagai sumber. Nabi Suci senantiasa mengulang dan mengulang kata-kata ini (dan tidak hanya dalam satu keadaan, tetapi bahkan pada berbagai kesempatan) di depan publik, untuk menunjukkan kewajiban mengikuti dan menaati Ahlulbait. Beliau mengatakannya kepada khalayak pada saat Haji Perpisahan, pada hari Arafah, pada hari Ghadir Khum, pada saat kembali dari Tha’if, juga di Madinah di.atas mimbar, dan di atas peraduan beliau saat kamar beliau penuh sesak oleh sahabat-sahabat beliau, beliau bersabda,

Wahai saudara-saudara! Sebentar lagi aku akan berangkat dari sini, dan meskipun aku telah memberitahu kalian. Aku ulangi sekali lagi bahwa aku meninggalkan di antara kalian dua barang, yaitu Kitabullah dan keturunanku, yakni Ahlulbait-ku. (Kemudian beliau mengangkat tangan Ali dan berkata) Camkanlah! Ali ini adalah bersama Quran dan Quran adalah bersamanya. Keduanya tidak akan pernah berpisah satu sama lain hingga datang kepadaku di Telaga Kautsar.8

Ibnu Hajar Haitsami menulis, “Hadis-hadis tentang berpegang teguh itu telah dicatat melalui sejumlah besar sumber dan lebih dari 20 sahabat telah dihubungkan dengannya.”

Selanjutnya dia menulis,

“Di sini (mungkin) muncul keraguan, dan keraguan itu adalah bahwa hadis-hadis itu telah datang melalui berbagai sumber, sebagian mengatakan bahwa kata-kata itu diucapkan pada saat haji Wada. Yang lainnya mengatakan kata-kata itu diucapkan di Madinah ketika beliau berbaring di peraduan beliau dan kamar beliau penuh sesak dengan para sahabat beliau. Namun yang lainnya lagi mengatakan bahwa beliau di Ghadir Khum. Atau hadis yang lain pada saat Tha’if. Tetapi tidak terdapat inkonsistensi di sini, sebab dengan memandang penting dan agungnya Quran dan Ahlulbait yang suci, dan dengan penekanan pokok masalah di depan orang-­orang, Nabi Suci bisa jadi telah mengulang-ulang kata-kata ini pada semua kesempatan tersebut sehingga orang yang belum mendengar sebelumnya dapat mendengarnya kini.9

Menyimpulkan hadis di atas, Quran dan Ahlulbait adalah dua barang berharga yang ditinggalkan oleh Nabi Muhammad SAW kepada kaum Muslim, dan Nabi menyatakan bahwa jika kaum Muslim mengikuti keduanya mereka tidak akan tersesat setelah beliau, dan mereka akan dihantarkan ke surga, dan bahwa siapa yang mengabaikan Ahlulbait tidak akan bertahan. Hadis di atas telah dinyatakan oleh Nabi Muhammad SAW untuk menjawab ‘Sunnah’ mana yang asli dan kelompok mana yang membawa ‘Sunnah’ yang benar dari Nabi Muhammad SAW. Tujuannya adalah untuk tidak membiarkan kaum Muslim tersesat jalan setelah kepergian Nabi Muhammad SAW. Di samping itu, jika kita menggunakan kata ‘Sunnah’ saja, hal itu tidak memberikan jawaban spesifik atas persoalan ini, sebab setiap kelompok Muslim mengikuti Sunnah versi mereka sendiri maupun interpretasi mereka atas Quran dan Sunnah tersebut. Jadi, perintah Nabi ini jelas untuk mendorong kaum Muslim untuk mengikuti interpretasi Quran dan Sunnah Nabi yang diturunkan melalui saluran Ahlulbait yang keterbebasan mereka dari dosa, kesucian mereka dan kesalehan mereka ditegaskan oleh Quran suci (kalimat terakhir dari surah ke 33, al-Ahzab ayat 33).

Maksud tulisan ini adalah semata-mata untuk memperlihatkan bahwa pandangan Syi’ah tentang kedudukan penting Ahlulbait dan Kepemimpinan (Imamah) mereka tidaklah kabur. Dalam hal ini, kami ingin menyumbangkan pemahaman yang lebih baik di antara kaum ‘Muslim sehingga dapat membantu mengurangi permusuhan beberapa orang terhadap pengikut Ahlulbait Nabi Muhammad SAW.

Fakta bahwa kami (Syi’ah) telah mengambil akidah yang berbeda dari akidah Asy’ariyah sejauh mengenai ushuluddin, dan berbeda dari empat mazhab fikih Sunni sejauh mengenai syariah, ibadah ritual dan ketaatan, tidaklah didasarkan atas sektarianisme atau persangkaan belaka. Tetapi, penalaran teologis lah yang telah mengantarkan kami untuk mengambil akidah para Imam anggota Ahlulbait Nabi Suci, Rasulullah SAW.

Oleh karena itu, kami seluruhnya secara sendiri-sendiri telah mengikatkan diri kami sendiri kepada mereka dalam hal ketaatan maupun keyakinan, dalam pengambilan pengetahuan kami dari Quran dan Sunnah Nabi, dan dalam seluruh nilai-nilai material, moral dan spiritual yang didasarkan atas hujah-hujah logis dan teologis. Kami melakukan semua itu dalam rangka menaati Nabi Suci SAW dan menundukkan diri di hadapan Sunnah beliau.

Jika saja kami tidak diyakinkan oleh bukti-bukti untuk menolak seluruh Imam selain Ahlulbait, dan untuk mencari jalan mendekati Allah SWT hanya melalui mereka, kami mungkin. telah cenderung kepada akidah mayoritas Muslim demi persatuan dan persaudaraan. Namun, penalaran yang tak terbantahkan menyuruh kepada seorang yang beriman untuk mengikuti kebenaran, tanpa memandang pertimbangan apapun selainnya.

Muslim mayoritas tidak akan dapat memberikan argumen apapun untuk menunjukkan mana di antara empat mazhab fikih mereka yang paling benar. Adalah tidak mungkin untuk mengikuti semuanya, dan karena itu, sebelum orang dapat mengatakan wajibnya mengikuti mereka, orang itu mesti membuktikan mazhab yang mana (dari keempat mazhab) yang harus diikuti. Kami telah mencermati argumen-argumen Mazhab Hanafi, Syafi’i, Maliki dan Hambali, dengan pandangan mata seorang pencari kebenaran, dan kami telah jauh menelitinya, namun kami tidak menemukan jawaban atas permasalahan ini, kecuali bahwa mereka (empat Imam tersebut) diyakini sebagai fukaha yang besar dan jujur dan orang-orang yang adil. Tetapi, anda pasti sepenuhnya sadar bahwa kemampuan dalam syariah, kejujuran, keadilan dan kebesaran bukanlah monopoli empat orang tersebut. Lalu, mengapakah ada kewajiban untuk mengikuti mereka?

Kami tidak yakin bahwa ada orang yang meyakini bahwa empat orang Imam ini dalam hal apapun lebih baik dari Imam-Imam kami, keturunan yang suci dan murni dari Nabi Muhammad SAW, bahtera keselamatan, Gerbang Pengampunan, yang melalui mereka lah kita dapat menjaga dari perselisihan dalam masalah-masalah keagamaan, sebab mereka adalah simbol petunjuk, dan pemimpin-pemimpin menuju jalan yang lurus.

Namun sayang, setelah wafatnya Nabi Suci SAW, politik mulai memainkan perannya dalam urusan-urusan agama, dan anda tahu apa yang akhirnya terjadi di jantung Islam. Selama masa-masa penuh cobaan ini, Syi’ah terus memegang teguh Quran dan para Imam Ahlulbait yang ditinggalkan oleh Rasulullah SAW sebagai dua barang yang paling berat (atraksi). Telah terdapat beberapa sekte ekstrem (ghulat) yang muncul di setiap saat dalam perjalanan sejarah Islam. Namun, tubuh utama Syi’ah tidak pernah menyimpang dari jalur tersebut sejak masa Ali bin Abi Thalib dan Fathimah hingga hari ini.

Syi’ah sudah ada ketika Asyari (Abu Hasan Asyari) dan empat Imam Sunni belum lahir dan belum terdengar suaranya. Hingga tiga generasi pertama sejak masa Nabi Suci SAW, Asyari dan empat Imam Sunni belumlah dikenal. Asyari lahir pada 270-320 H, Ibnu Hanbal lahir pada 164-241 H, Syafi’i lahir pada 150-204 H, Malik lahir pada 95-169 H, sedangkan Abu Hanifah lahir pada 80-150 H.

Syi’ah, di sisi lain, mengikuti jalur Ahlulbait, yang termasuk dalamnya Ali bin Abi Thalib, Fathimah binti Muhammad Rasulullah SAW, Hasan bin Ali bin Abi T’halib dan Husain bin Ali bin Abi Thalib yang semuanya hidup sezaman dengan Nabi Muhammad SAW dan tumbuh besar dalam keluarga beliau.

Sejauh mengenai pengetahuan Imam-Imam Ahlulbait, cukuplah dikatakan bahwa Ja’far Shadiq adalah guru dua Imam Sunni, yaitu Abu Hanifah dan Malik bin Anas. Abu Hanifah mengatakan, “Kalaulah tanpa dua tahun itu, Nu’man pasti sudah celaka,” merujuk pada dua tahun dia menimba ilmu dari Ja’far Shadiq. Malik juga mengakui dengan terus terang bahwa dia tidak pernah menemukan seorangpun yang lebih terpelajar (berilmu) dalam fikih Islam dari pada Ja’far Shadiq.

Khalifah Abbasiyah, Manshur, memerintahkan Abu Hanifah untuk mempersiapkan sejumlah pertanyaan yang sulit untuk Ja’far tentang hukum Islam dan menanyakannya kepada Ja’far di hadapan Manshur. Abu Hanifahpun mempersiapkan 40 pertanyaan yang sulit dan menanyakannya . kepada Ja’far di depan Manshur. Imam tidak hanya menjawab seluruh pertanyaan tersebut, tetapi bahkan mengemukakan pandangan ulama­-ulama Irak dan Hijaz (pada saat itu). Dalam kesempatan tersebut, Abu Hanifah berkomentar, “Sungguh, orang yang paling berilmu di antara manusia adalah orang yang paling tahu tentang perbedaan pendapat di antara mereka.”10

Malik, Imam Sunni yang lain, berkata;

“Aku biasa datang kepada Ja’far bin Muhammad dan bersamanya untuk jangka waktu yang lama. Setiap aku mengunjungi dia, aku menemukannya sedang salat (berdoa), puasa, atau sedang membaca Quran. Setiap dia melaporkan sebuah pernyataan dari Rasulullah, dia sedang dalam keadaan berwudhu. Dia adalah seorang ahli ibadah yang terkemuka yang tidak mempedulikan dunia materi. Dia termasuk salah seorang yang takut kepada Allah.11

Syaikh Muhammad Abu Zahrah, salah seorang Ulama Sunni kontemporer, berkata;

“Ulama-ulama dari berbagai mazhab Islam tidak pernah sepakat secara bulat dalam satu masalah seperti kesepakatan mereka mengenai pengetahuan Imam Ja’far dan keutamaan beliau: Imam Sunni yang hidup pada zaman beliau adalah murid-murid beliau. Malik adalah salah seorang murid beliau dan salah seorang dari orang-orang yang hidup sezaman dengannya, misalnya Sufyan Tsauri dan lain-lain. Abu Hanifah adalah juga salah seorang murid beliau, meskipun usia keduanya hampir sama, dan dia (Abu Hanifah) menganggap Imam Ja’far sebagai orang yang paling berilmu di dunia Islam (saat itu).12

Ikatan persatuan dan persaudaraan dapat dikuatkan, dan perselisihan dapat dihentikan, jika seluruh Muslim sepakat bahwa mengikuti Ahlulbait adalah sebuah keharusan. Dalam kenyataannya, banyak ulama besar Sunni telah mengakui mazhab Syi’ah sebagai salah satu mazhab Islam yang ­paling kaya karena adanya penalaran mendalam dalam diri mereka bahwa ilmu-ilmu di mazhab Syi’ah diturunkan dari Ahlulbait Nabi Muhammad SAW, yang kesucian dan keunggulan pengetahuan mereka ditegaskan oleh Quran. Ulama-ulama Sunni semacam itu bahkan telah mengeluarkan fatwa bahwa orang-orang Sunni dapat mengikuti fikih ‘Syi’ah Dua Belas Imam’. Di antara ulama-ulama tersebut adalah Syaikh Mahmud Syaltut, rektor Universitas Azhar.

Lebih-lebih, perselisihan yang ada di antara berbagai mazhab Sunni sendiri sama sekali tidak lebih sedikit dari pada persesuaian antara Syi’ah dan Sunni. Sejumlah besar tulisan dari ulama-ulama kedua mazhab akan membuktikan hal ini.

Karena menurut hadis ats-Tsaqalain Ahlulbait membawa beban yang sama di mata Allah SWT dengan Quran suci, maka yang pertama (Ahlulbait) akan memiliki kualitas yang sama dengan yang kedua (Quran). Sebagaimana benarnya Quran dari permulaan hingga akhir tanpa bayang-­bayang keraguan sedikitpun, dan sebagaimana wajibnya bagi setiap Muslim untuk mematuhi perintah-perintahnya, demikian pula dengan Ahlulbait yang membawa petunjuk yang sempurna dan lurus, yang perintahnya mesti diikuti oleh semua orang.

Oleh karena itu, tidak ada kemungkinan untuk melarikan diri dari menerima kepemimpinan mereka dan mengikuti kepercayaan dan akidah mereka. Kaum Muslim terikat oleh hadis Nabi Suci tersebut untuk mengikuti mereka, dan bukan selain mereka. Sebagaimana tidak mungkin bagi setiap Muslim berpaling dari Quran suci atau mengambil sekumpulan hukum-hukum yang menyimpang darinya, demikian pula ketika Ahlulbait telah dipaparkan dengan tegas tanpa keraguan sebagai setara berat dan pentingnya dengan Quran, maka sikap yang sama harus diambil berkenaan dengan perintah-perintah mereka, dan tidak diperbolehkan menyimpang dari mereka untuk mematuhi orang-orang yang lain.

Setelah menyebutkan hadis at-Tsaqalain, Ibnu Hajar berkeyakinan bahwa; “Kata-kata ini menunjukkan bahwa Ahlulbait yang memiliki keistimewaan itu adalah orang-orang yang paling unggul di antara manusia.”13

Rasulullah telah bersabda;

“Siapa yang ingin hidup dan mati seperti aku, dan masuk surga (setelah mati) yang telah dijanjikan oleh Tuhanku kepadaku, yakni surga yang tak pernah habis, haruslah mengakui Ali sebagai penyokongnya setelahku, dan setelah dia (Ali) harus mengakui anak-anak Ali, sebab mereka adalah orang-orang yang tidak akan pernah membiarkanmu keluar dari pintu petunjuk, tidak pula mereka akan memasukkanmu ke pintu kesesatan!”4

Pada bagian lain, signifikansi kepemimpinan Ahlulbait telah ditegaskan oleh analogi menawan dari Rasulullah SAW berikut ini:

“Kedudukan Ahlulbait di antara kalian adalah seperti kepala bagi tubuh, atau mata bagi wajah, sebab wajah hanya dibimbing oleh mata.”15

Rasulullah SAW juga telah bersabda, “Ahlulbait-ku adalah tempat yang aman untuk melarikan diri dari kekacauan agama.” (Mustadrak Hakim).

Hadis ini, karena itu, tidak meninggalkan sedikitpun ruangan untuk keraguan apapun. Tidak ada jalan lain kecuali mengikuti Ahlulbait dan meninggalkan semua pertentangan dengan mereka.

Rasulullah bersabda, “Mengakui ali Muhammad (keluarga Muhammad) berarti keselamatan dari Neraka, dan kecintaan kepada mereka merupakan kunci untuk melewati jembatan Sirath (al-Mustaqim), dan ketaatan kepada mereka adalah perlindungan dari kemurkaan Ilahi.”16

Abdullah bin Hantab menyatakan, “Rasulullah SAW menghadap ke kita di Juhfah seraya mengatakan, `Bukankah aku memiliki hak yang lebih besar atas dirimu dibandingkan dengan dirimu sendiri?’ Mereka semua menjawab, ‘Tentu saja.’ Lalu beliau bersabda, ‘Aku akan meminta pertanggung jawabanmu atas dua perkara, yaitu Kitabullah dan keturunanku.’17

Oleh karena itu, alasan bahwa kami mengambil akidah Ahlulbait sebagai pengecualian atas yang lainnya adalah karena Allah Sendiri yang telah memberikan preferensi kepada mereka saja. Cukuplah untuk mengutip syair Syafi’i (salah satu Imam Sunni) tentang Ahlulbait yang berbunyi sebagai berikut:

Ahlulbait Nabi,

Kecintaan kepadamu adalah kewajiban yang ditetapkan oleh Allah kepada manusia,

Allah telah mewahyukannya dalam al-Quran, Cukuplah di antara keagungan kedudukanmu bahwa Barang siapa yang tidak bersalam kepadamu, salatnya tidak sah. Jika kecintaan kepada Ahlulbait Nabi adalah Rafidhi (menolak), Maka biarlah seluruh manusia dan jin mempersaksikan bahwa aku adalah seorang Rafidhi.18

 

Dalam salat kita, dan kami yakin juga dalam salat anda, kita tentu mengucapkan ; “Saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul-Nya. Ya, Allah, sampaikanlah shalawat-Mu pada Muhammad dan keluarganya!” (Asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa Rasuluh. Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Ali Muhammad).

Ahlulbait dalam Quran dan Hadis

Menurut hadis-hadis yang paling sahih dalam koleksi kitab hadis sunni dan Syi’ah, Ahlulbait (orang-orang anggota keluarga) Nabi adalah sa1ah satu simbol Islam yang paling berharga setelah kepergian Nabi Muhammad SAW. Terdapat banyak hadis dalam koleksi kitab hadis di kedua mazhab yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW telah mengingatkan kita untuk berpegang erat kedua perkara yang berat (ats­-Tsalaqalain), yakni Quran dan Ahlulbait, agar tidak tersesat setelah tiadanya beliau. Rasulullah SAW juga telah mengabarkan kepada kita bahwa kedua perkara berharga itu tidak akan berpisah dan selalu akan bersama hingga Hari Perhitungan. Hal ini mengharuskan kita bahwa dalam memahami penafsiran Quran dan Sunnah Nabi Muhammad SAW, kita mesti merujuk kepada orang-orang yang telah dilekatkan kepadanya, yakni Ahlulbait.

Mengetahui siapakah sesungguhnya Ahlulbait, karena itu, menjadi sesuatu yang sangat vital ketika orang meyakini hadis Nabi di atas maupun hadis-hadis lainnva yang dengan tegas menyatakan bahwa mengikatkan diri kepada Ahlulbait adalah satu-satunya jalan keselamatan. Hal ini dengan jelas memberikan implikasi bahwa seseorang yang mengikuti Ahlulbait yang ‘bukan sebenarnya’ akan tersesat.

Dalam menimbang secara kritis dan pentingnya masalah ini, tidak mengherankan jika terdapat perbedaan pandangan antara Syi’ah dan Sunni. Dalam kenyataannya, Sunni tidak memiliki suara yang satu dalam mencirikan Ahlulbait Nabi. Kebanyakan Sunni berpendapat bahwa Ahlulbait Nabi Muhammad SAW adalah Fathimah Zahra binti Muhammad SAW; Ali bin Abi Thalib, Hasan bin Ali bin Abi Thalib, Husain bin Ali bin Abi Thalib, dan istri-istri Nabi Muhammad SAW.

Kelompok Sunni yang lain lebih jauh bahkan memasukkan semua keturunan Nabi Muhammad SAW ke dalam daftar tersebut!

Kelompok Sunni lainnya malah begitu murah hati dan menyertakan semua keturunan Abbas (Abbasiah) maupun keturunan Agil dan Ja’far (keduanya saudara Ali bin Abi Thalib) ke dalam daftar di atas. Namun, mesti dicatat bahwa terdapat ulama-ulama Sunni terkemuka yang tidak memasukkan istri-istri Nabi Muhammad SAW ke dalam Ahlulbait Nabi Muhammad SAW. Hal ini bersesuaian dengan pandangan Syi’ah.

Bagi Syi’ah, Ahlulbait Nabi Muhammad SAW hanya terdiri atas individu-individu berikut ini: Fathimah Zahra, Ali, Hasan, Husain, dan sembilan orang Imam keturunan Husain. Dan jika dimasukkan Nabi Muhammad SAW ke dalamnya, mereka akan menjadi empat belas orang. Tentu saja, pada masa hidup Nabi Muhammad SAW hanya lima orang dari mereka yang hidup, dan sisanya belumlah lahir. Lebih jauh Syi’ah menegaskan bahwa ke-14 orang ini dilindungi Allah dari segala noda, dan karenanya layak untuk diikuti di samping Quran (simbol yang berat lainnya), dan hanyalah mereka yang memiliki pengetahuan sang sempurna tentang penjelasan (tafsir) ayat-ayat Quran.

Dalam diskusi ini, kami akan menjelaskan mengapa Syi ah mengeluarkan istri-istri Nabi Muhammad SAW dari Ahlulbait, dan juga kami akan mendiskusikan secara ringkas mengapa Ahlulbait terlindungi (maksum). Kami akan mendasarkan pembuktian kami atas: Quran, hadis-hadis dari koleksi kitab-kitab hadis sahih Sunni, dan kejadian-kejadian sejarah.

Bukti dari Quran

Kitab suci Quran menyebutkan Ahlulbait dan keutamaan khusus mereka dalam ayat berikut ini yang dikenal sebagai ‘Ayat Penyucian’ Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan segala kekotoran (rijs) dari kamu, wahai Ahlulbait dan mensucikanmu sesuci-sucinya. (QS. al-Ahzab: 33)

Perhatikanlah bahwa kata ‘rijs’ dalam ayat di atas mendapatkan awalan al- yang membuat makna kata tersebut menjadi umum/universal. Jadi ‘ar-Rijs’ bermakna setiap jenis ketidak murnian/kekotoran. Juga, dalam kalimat terakhir ayat di atas, Allah menegaskan ‘dan mensucikanmu sesuci-sucinya’. Kata ‘sesuci-sucinya’ merupakan makna penegasan dari masdar ‘tathhiran’. Inilah satu-satunya ayat dalam Quran di mana Allah SWT menggunakan penekanan ‘sesuci-sucinya’.

Menurut ayat di atas, Allah SWT mengungkapkan kehendaknya untuk menjaga agar Ahlulbait tetap suci dan tanpa noda/dosa, dan apa yang dikehendaki Allah SWT pasti terjadi, sebagaimana yang ditegaskan oleh Quran, Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, hanya mengatakan ‘Kun (jadilah),’ maka jadilah ia. (QS. an-Nahl : 40)

Memang benar, manusia bisa saja tidak punya dosa, sebab dia tidak dipaksa untuk melakukan dosa. Adalah pilihan manusia untuk menerima perintah Allah SWT dan mendapatkan pertolongan-Nya dalam menghindar atau untuk mengabaikan perintah Allah dan melakukan dosa. Allah adalah Penasehat, Pemberi kabar gembira dan Pemberi peringatan. yang tanpa dosa, tidak diragukan lagi, adalah tetap manusia. orang meyakini bahwa untuk menjadi manusia, orang mesti memiliki kesalahan. Pendapat semacam ini tidak memiliki dasar sama sekali. Yang benar adalah bahwa manusia dapat berbuat dosa, tetapi dia tidak diharuskan untuk melakukannya.

Adalah merupakan Kelembutan Allah SWT bahwa Dia menarik hamba-hamba-Nya menuju Dia, tanpa memaksa mereka sama sekali. Inilah pilihan kita untuk mengejar tarikan tersebut dan menahan diri dari berbuat kesalahan, atau berpaling dan melakukan kesalahan. Bagaimanapun, Allah SWT telah menjamin untuk menunjukkan jalan lurus’ dan memberikan kehidupan yang suci kepada mereka yang mencarinya.

Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya Kami akan memberikan kepadanya kehidupan yang suci (thayyibah) .(QS. an-Nahl : 97) 

Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menunjukkan baginya jalan keluar. (QS. at-Thalaq : 2)

Bermanfaat kiranya untuk disebutkan bahwa ayat al-Ahzab 33, yang berkaitan dengan pensucian Ahlulbait, telah diletakkan di tengah-tengah ayat yang berkenaan dengan istri-istri Nabi Muhammad SAW, dan inilah yang menjadi alasan utama beberapa orang Sunni yang memasukkan istri-istri Nabi Muhammad SAW ke dalam Ahlulbait. Namun, kalimat yang berhubungan dengan Ahlulbait (QS. al-Ahzab : 33) berbeda dengan kalimat-kalimat sebelumnya dan sesudahnya dengan perbedaan yang amat jelas. Kalimat-kalimat sebelum dan sesudahnya menggunakan hanya kata ganti perempuan, yang secara jelas ditujukan kepada istri-istri Nabi Muhammad SAW. Sebaliknya, kalimat di atas menggunakan hanya kata ganti laki-laki, yang dengan jelas menunjukkan bahwa Quran mengalihkan objek individu-individu yang dirujukinya.

Orang yang akrab dengan Quran pada tingkat tertentu, mengetahui bahwa pergantian Rujukan yang tajam semacam itu bukanlah hal yang aneh, dan ini telah terjadi pada berbagai tempat dalam Quran, Wahai Yusuf Berpalinglah dari ini dan mohon ampunlah (hai istriku) atas dosamu itu, karena kamu (istriku) termasuk orang-orang yang berbuat salah! (QS.Yusuf : 29).

Dalam ayat di atas, ‘Hai istriku’ tidak disebutkan dan Rujukan kepada Yusuf tampak tetap berlanjut. Namun, pergantian Rujukan dari laki-laki kepada perempuan dengan jelas menunjukkan bahwa kalimat yang kedua ditujukan kepada istri Aziz, dan bukan kepada Nabi Yusuf as. Perhatikan bahwa kedua kalimat itu berada dalam satu ayat! Catat juga bahwa pergantian Rujukan dari istri Aziz kepada Yusuf, dan kemudian sekali lagi berganti kepada istri Aziz jalam ayat-ayat sebelum ayat 29 adalah juga dalam satu kalimat.

Dalam bahasa Arab, ketika sekelompok perempuan adalah yang dituju, maka digunakan kata ganti perempuan. Namun, jika ada satu laki-laki di antara mereka, maka digunakan kata ganti laki-laki. Jadi, kalimat Quran di atas dengan jelas menunjukkan bahwa Allah menunjukannya kepada sekelompok orang yang berbeda dari istri-istri Nabi Muhammad SAW, sebab menggunakan kata ganti laki-laki, dan bahwa kelompok tersebut mengandung perempuan.

Jika hanya menyandarkan pada al-Ahzab 33, kita tidak dapat disimpulkan bahwa istri-istri Nabi Muhammad SAW tidak termasuk dalam Ahlulbait. Hal ini dapat dibuktikan lebih lanjut dengan hadis­–hadis sahih Sunni dari koleksi Shihah as-Sittah yang menyebutkan tentang siapakan Ahlulbait, dan juga melalui pembandingan antara spesifikasi Ahlulbait yang diberikan oleh Quran dengan kelakuan dari beberapa isteri Nabi Muhammad SAW yang disebutkan dalam Shihah as-Sittah, untuk membuktikan hal yang sebaliknya (bahwa istri-istri Nabi Muhammad SAW tidak termasuk ke dalam Ahlulbait).

Apa yang dapat dipahami dari hanya Surah al-Ahzab ayat 33 adalah bahwa Allah SWT mengalihkan Rujukan pembicaraannya (yang adalah istri­- isteri Nabi Muhammad SAW secara eksklusif pada permulaan ayat) kepada beberapa orang yang termasuk dalamnya perempuan, dan bisa jadi atau tidak bisa jadi termasuk istri-istri Nabi Muhammad SAW.

Hadis Sahih

Adalah menarik untuk melihat bahwa baik Shahih Muslim dan Shahih Tirmidzi maupun yang lainnya, menegaskan pandangan Syi’ah yang telah di atas. Dalam Shahih Muslim, terdapat sebuah bab yang diberi nama ‘Bab Tentang Keutamaan Sahabat’. Dalam bab ini, terdapat satu bagian yang dinamakan ‘Bagian Tentang Keutamaan Ahlulbait Nabi. Dalamnya hanya terdapat satu hadis, dan hadis tersebut tidak ada hubungannya dengan istri-istri Nabi Muhammad SAW. Hadis ini dikenal sebagai hadis tentang mantel (Hadis al-Kisa), dan berbunyi sebagai berikut:

Aisyah menceritakan, “Suatu hari Nabi Muhammad SAW keluar sore­-sore dengan mengenakan mantel hitam (kain panjang), kemudian Hasan bin Ali datang dan Nabi menampungnya dalam mantel, lalu Hasan datang dan masuk ke dalam mantel, lalu Fathimah datang dan Nabi memasukkannya ke dalam mantel, lalu Ali datang dan Nabi memasukkannya juga ke dalam mantel. Kemudian Nabi berucap, ‘Sesungguhnnya Allah bermaksud hendak menghilangkan segala kekotoran (najis) dari kamu, wahai Ahlulbait dan mensucikanmu sesuci – sucinya (kalimat terakhir dari QS. al-Ahzab : 33).19]

Orang dapat melihat bahwa penyusun Shahih Muslim menegaskan bahwa : Pertama, Ali, Fathimah, Hasan dan Husain adalah termasuk Ahlulbait. Ke dua, kalimat pensucian dalam Quran (kalimat terakhir QS. al-Ahzab : 33) diturunkan bagi keutamaan orang-orang yang disebutkan di atas, dan bukan untuk istri-istri Nabi Muhammad SAW.

Muslim (penyusun kitab tersebut) tidak menuliskan satu pun hadis lain dalam bagian ini (bagian tentang keutamaan Ahlulbait). Jika saja penyusun Shahih Muslim meyakini bahwa istri-istri Nabi Muhammad SAW adalah dalam Ahlulbait, dia tentu sudah mengutipkan hadis-hadis tentang mereka dalam bagian ini.

Adalah menarik melihat bahwa Aisyah, salah seorang istri Nabi Muhammad SAW, adalah perawi dari hadis di atas, dan dia sendiri menegaskan bahwa Ahlulbait adalah orang-orang yang telah disebutkan di atas.

Salah satu versi lain dari ‘hadis mantel’ tertulis dalam Shahih Tirmidzi, yang diriwayatkan oleh Umar bin Abi Salamah, putra dari Ummu Salamah (istri Nabi yang lain), yang berbunyi sebagai berikut:

Ayat ‘Sesungguhnya Allah bermaksud hendak…(QS. al-Ahzab : 33) diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dalam rumah Ummu Salamah. Sehubungan dengan hal itu, Nabi mengumpulkan Fathimah, Hasan, Husain, dan menutupi mereka dengan sebuah mantel (kisa), dan beliau juga menutupi Ali yang berada di belakang beliau. Kemudian Nabi berseru, “Ya, Allah! Inilah Ahlulbait-ku! Jauhkan mereka dari setiap kekotoran, dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya!’ Ummu Salamah (istri Nabi) menanyakan, “Apakah aku termasuk ke dalam kelompok mereka wahai Rasulullah?” Nabi menjawab, “Kamu tetap di tempatmu dan kamu menuju akhir yang baik.20

Terlihat bahwa Tirmidzi juga menegaskan bahwa Ali, Fathimah, Hasan, dan Husain adalah Ahlulbait, dan kalimat pensucian dalam Quran (kalimat terakhir dari al-Ahzab ayat 33) diturunkan untuk keutamaan orang-orang tersebut, dan bukan untuk istri-istri Nabi Muhammad SAW. Tampak juga dari hadis sahih di atas bahwa Nabi sendiri yang mengeluarkan isteri beliau dari Ahlulbait. Jika Ummu Salamah adalah termasuk dalam kelompok Ahlulbait, mengapa beliau SAW tidak menjawabnya secara positif? Mengapa beliau tidak memasukkannya ke dalam mantel? Mengapa Nabi Muhammad SAW menyuruh dia untuk tetap di tempatnya? Jika saja Nabi Muhammad SAW memasukkan Ummu Salamah ke dalam kelompok Alhubait, beliau tentu sudah memasukkannya ke dalam mantel dan akan segera berdo’a untuk kesuciannya.

Perlu juga disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW tidak mengatak­an, “Inilah sebagian di antara Ahlulbaitku!’ Alih-alih, beliau berkata, inilah Ahlulbaitku!” Sebab tidak ada anggota lain Ahlulbait yang hidup, pada masa Nabi Muhammad SAW. Perhatikan juga bahwa Ummu Salamah, isteri Nabi yang saleh, adalah perawi dari hadis ini kepada anaknya dan memberikan pernyataan tentang siapakah Ahlulbait itu!

Dalam hadis Hakim, bunyi pertanyaan dan jawabnya dalam kalimat terakhir dari hadis ini adalah:

Umma Salamah berkata, “Ya Nabi Allah! Tidakkah aku termasuk salah seorang anggota keluargamu?” Nabi Suci menjawab, “Kamu memiliki masa depan yang baik (tetap berada dalam kebaikan), tetapi hanya inilah anggota keluargaku. Ya Rabbi, anggota keluargaku lebih berhak!”21

Dan bunyi kalimat yang dilaporkan oleh Suyuthi dan Ibnu Atsir adalah sebagai berikut. Ummu Salamah berkata kepada Nabi Suci SAW, Apakah aku termasuk juga salah seorang dari mereka?” Nabi Muhammad SAW menjawab, “Tidak, kamu mempunyai kedudukan khususmu sendiri dan masa depanmu adalah baik.

Thabari juga mengutip Ummu Salamah yang mengatakan bahwa dia berkata, “Ya, Nabi Allah” Tidakkah aku termasuk juga salah seorang Ahlulbaitmu? Aku bersumpah demi Yang Maha Besar bahwa Nabi Suci tidak menjaminku dengan keistimewaan apapun kecuali bersabda Kamu memiliki masa depan baik.

Inilah variasi sahih lainnya tentang Hadis Mantel yang dinisbahkan kepada Shafiyah, yang juga salah seorang istri Nabi Muhammad SAW. Ja’far bin Abi Thalib meriwayatkan:

Pada waktu Rasulullah merasa bahwa rahmat dari Allah akan turun, beliau menyuruh Shafiyah, “Panggilkan untukku! Panggilkan untukku!” Shafiyah berkata, “Panggilkan siapa wahai Rasulullah?” Beliau berkata, “Panggilkan Ahlulbaitku yaitu Ali Fathimah, Hasan dan Husain!” Maka kami kirimkan (orang) untuk (mencari) mereka dan merekapun datang kepada beliau. Kemudian Nabi Muhammad SAW membentangkan mantel beliau ke atas mereka dan mengangkat tangan beliau (ke langit) dan berkata, “Ya, Allah! Inilah keluargaku (‘aalii), maka berkahilah Muhammad dan keluarga (‘aali) Muhammad” Dan Allah, pemilik Kekuatan Keagungan, mewahyukan, Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan segala kekotoran (najis) dari kamu, wahai Alhubait dan mensucikanmu sesuci-sucinya.24

Meskipun mayoritas hadis – hadist tentang masalah ini menunjukkan bahwa kalimat terakhir dari al-Ahzab ayat 33 diturunkan di rumah Ummu Salamah sebagaimana telah dikutip di muka, hadis di atas memberikan implikasi bahwa ayat tersebut bisa jadi telah diturunkan juga di rumah Shafiyah. Berdasarkan pandangan ulama-ulama Sunni, termasuk Ibnu Hajar, adalah sangat mungkin bahwa ayat ini diturunkan lebih dari sekali.

Dalam setiap kesempatan itu, Nabi mengulang-ulang tindakan beliau tersebut di depan istri beliau yang berbeda-beda agar mereka semuanya menyadari siapakah Ahlulbait itu.

Ucapan ketiga istri Nabi Muhammad SAW (Aisyah, Ummu Salameh Shafiyah) tidak meninggalkan kepada kita sebuah ruangan pun semuanya menyakini bahwa Ahlulbait pada masa hidup Nabi. Tidak lebih dari lima orang; Nabi Muhammad SAW, Fathimah, Ali, Hasan dan Husain.

Fakta bahwa kata ganti bagian terakhir al – Ahzab ayat 33 beralih dari perempuan menjadi laki-laki telah menghantarkan mayoritas ahli Sunni untuk meyakini bahwa bagian terakhir tersebut diturunkar berkenaan dengan Ali, Fathimah, Hasan dan Husain, sebagaimana yang di tampakkan oleh Ibnu Hajar Haitsami:

Berdasarkan pada pendapat mayoritas ahli tafsir (Sunni), firman Allah ‘Sesungguhnya Allah berkehendak… (kalimat terakhir dari ayat 33:33) diturunkan untuk Ali, Fathimah, Hasan, dan Husain, sebab penggunaan kata ganti laki-laki pada kata ‘ankum’ dan seterusnya. 25

Meskipun Syi’ah telah memberikan kehormatan yang amat besar kepada istri-istri yang sangat saleh dari istri-istri beliau SAW, misalnya Khadijah, Ummu Salamah, Ummu Aiman dan sebagainya, namun kami bahkan tidak memasukkan orang-orang yang sangat dihormati tersebut kedalam Ahlulbait sebab Nabi Muhammad SAW dengan jelas mengeluarkan dari Ahlulbait sesuai dengan hadis-hadis sahih dari Sunni maupun Syi’ah. Ahlulbait memiliki keutamaan khusus yang tidak dimiliki seorang pun yang saleh di dunia ini setelah Nabi Muhammad SAW. Keutamaan tersebut menurut Quran adalah kemaksuman, keterbebasan dari noda dan kesucian yang sempurna.

Ahlulbait dalam Hadis

Dalam bagian sebelumnya, tiga hadis sahih tentang mantel (hadis al-Kisa) dilaporkan dalam Shaih Muslim, Shahih Tirmidza dan Mustadrak Hakim. Dalam tiga hadis ini, tiga orang istri Nabi (Aisyah, Ummu Salamah dan Shafiyah) menegaskan bahwa Nabi Muhammad SAW mencirikan bahwa Ahlulbait beliau adalah terbatas pada putri beliau Fathimah, Ali, dan kedua anak mereka Hasan dan Husain. Juga menurut kutipan tersebut di atas, kalimat pensucian yang ada di alam Quran Surat al-Ahzab ayat 33 diturunkan berkenaan dengan keutamaan mereka dan bukan untuk istri­-istri Nabi Muhammad SAW. Kini, mari kita lihat apa yang biasa dilakukan oleh Rasulullah SAW setelah turunnya ayat tersebut.

Kebiasaan Nabi Setelah Turunnya Ayat Pensucian

Anas bin Malik meriwayatkan, “Sejak turun ayat ‘Sesungguhnya Allah berkehendak… (kalimat terakhir al-Ahzab ayat 33)’ dan selama enam bulan sesudah itu, Rasulullah SAW biasa berdiri di pintu rumah Fathimah dan berkata, ‘Waktunya untuk salat, wahai Ahlulbait! Sungguh Allah berkehendak untuk menghilangkan segala yang dibenci dari kalian dan menjadikan kalian suci dan tak ternoda.”26

Abu Hurairah meriwayatkan, “Rasulullah selama sembilan bulan di Madinah terus menerus mendatangi pintu Ali pada setiap salat subuh, meletakkan kedua tangan beliau di kedua sisi pintu dan berseru, “Ash-shalah! Ash-shalah’ Sungguh Allah akan menghindarkan segala kekotoran dari kalian, wahai Ahlulbait Muhammad, dan akan menjadikan kalian suci dan tak ternoda.”27

Ibnu Abbas meriwayatkan, “Kami menyaksikan Rasulullah selama sembilan bulan mendatangi pintu rumah Ali bin Abi Thalib, pada setiap waktu salat dan berkata, ‘Assalamu‘alaikum wa Rahmatullahi Ahlulbait! Sungguh hanyalah Allah berkehendak menghilangkan segala kejahatan dari kalian, Ahlulbait, dan mensucikan kalian sesuci-sucinya.’ Beliau melakukan hal ini tujuh kali setiap hari.”28

Dalam kitab Majma az-Zawa’id dan Tafsir-nya Suyuthi, telah dikutip dari Abu Said Khudri dengan variasi kalimat sebagai berikut :

Selama tujuh puluh hari Nabi Suci SAW mendekati rumah Fathimah Zahra setiap pagi dari biasa berkata, “Kedamaian atas kalian wahai Ahlulbait! Waktu shalat telah tiba.” Dan setelah itu beliau biasa membaca, “Wahai Ahlulbait Nabi…” dan kemudian berkata, “Aku berperang dengan siapa yang memerangi kalian dan aku berdamai dengan siapa yang berdamai dengan kalian!”29

Orang-orang yang bersaksi bahwa ayat pensucian (al-Ahzab : 33) berkenaan dengan keutamaan Keluarga Suci (Ahlulbait) yaitu:

Hasan bin Ali bin Abi Thalib

Hakim dalam hubungannya dengan prestasi-prestasi Hasan dan Haitsami telah meriwayatkan bahwa Hasan telah berdiri di depan orang­-orang setelah syahidnya ayahnya, Ali bin Abi Thalib, dan berkata selama pidatonya;

“Wahai orang-orang! Siapa yang mengetahui aku mengenaliku, dan siapa yang tidak mengenaliku harus mengetahui bahwa akulah Hasan bin Abi Thalib. Aku putra Nabi Suci dan Washi-nya. Akulah putra dari orang yang mengajak orang-orang menuju Allah dan memperingatkan mereka akan siksaan api neraka-Nya. Akulah putra dari ‘Suluh Yang Menerangi’ (sirajan munira). Aku adalah anggota dari keluarga yang Jibril biasa turun ke dalamnya dan naik lagi menuju langit. Aku anggota keluarga yang Allah telah mencegah segala kekotoran dari mereka dan menjadikan mereka suci.30

Telah diriwayatkan dalam Majma’ az-Zawa’id dan Tafsir Ibnu Katsir, bahwa;

Setelah kesyahidan ayahnya dan saat menduduki kekhalifahan, suatu hari ketika Hasan sedang menjalankan shalat, seseorang menyerangnya dan menikamkan sebilah pedang di pahanya. Dia tetap berada di tempat tidur selama beberapa bulan. Setelah sembuh, dia memberikan khutbah dan mengatakan, “Wahai orang Irak! Demi Allah, Kami adalah Amir kalian, tamu kalian dan termasuk salah seorang anggota keluarga yang Allah Yang Maha Besar telah berfirman, …Wahai Ahlulbait Nabi…! Hasan membahas masalah ini panjang lebar sehingga orang-orang yang ada di mesjid mulai menangis.31

Ummul Mukminin,Ummu Salamah

Dalam kitab Musykil al-Atsar, Tahawi telah mengutip Umrah Hamdaniah mengatakan;

“Aku pergi ke Ummu Salamah dan menyapanya. Dia bertanya, ‘Siapakah kamu?’ Aku menjawab, ‘Saya Umrah Hamdaniah.’ Umrah kemudian melanjutkan ceritanya. Lalu aku berkata, ‘Wahai Ummul Mukminin! Katakanlah sesuatu tentang orang yang telah terbunuh di antara kita hari ini. Sekelompok orang menyukainya dan sekelompok yang lain bermusuhan dengannya!” (yang dia maksud adalah Ali bin Abi Thalib). Ummu Salamah berkata, ‘Apakah kamu termasuk yang menyukainya atau yang memusuhinya?’ Aku menjawab, Aku tidak menyukainya dan tidak pula memusuhinya.’ (Di sini cerita kacau, dan setelah itu) Ummu Salamah mulai bercerita tentang turunnya ayat tathhir dan pada sisi ini mengatakan, ‘Allah menurunkan ayat …Wahai Ahlulbait Nabi.. tidak ada seorangpun dalam kamar saat itu kecuali Jibril, Nabi suci, Ali, Fathimah, Hasan dan Husain. Aku berkata, ‘Wahai Nabi Allah! Apakah aku juga termasuk Ahlulbait?’ Beliau menjawab, ‘Allah akan memberimu pahala dan membalas jasamu.’ Aku berharap bahwa beliau akan mengatakan “Ya” dan itu akan merupakan jawaban yang sangat lebih berharga dibandingkan dengan apa pun di dunia ini.”32

Ahmad dalam Musnad-nya, Thabari dalam Tafsir-nya dan Tahawi dalam Musykil al-Atsar telah mengutip Syahru bin Hausyab sebagai mengatakan:

Ketika berita kesyahidan Husain sampai di Madinah, saya mendengar Ummu Salamah berkata, “Mereka telah membunuh Husain. Aku sendiri telah menyaksikan bahwa Nabi Suci membentangkan mantel Khabari beliau kepada mereka dan mengatakan, ‘Ya Allah! Inilah anggota keluargaku! Singkirkanlah dari mereka segala kekotoran dan jadikanlah mereka bersih dan suci!’’33

Ibnu Abbas

Ahmad, Nasa’i, Muhibuddin, dan Haitsami telah melaporkan (kata-­kata diambil dari Musnad Ahmad) bahwa Amru bin Maimun berkata;

“Aku bersama Ibnu Abbas ketika 9 orang datang kepadanya dan mengatakan, ‘Ibnu Abbas, keluarlah bersama kami, atau biarkanlah kami sendiri!’ Dia menjawab, ‘Aku akan keluar bersama kalian’ Pada hari-hari itu mata Ibnu Abbas baik-baik saja dan dia dapat melihat. Mereka terlibat dalam percakapan, dan saya tidak memperhatikan apa yang mereka bicarakan. Setelah beberapa saat Ibnu Abbas kembali kepada kita. Dia kemudian mengibaskan pakaiannya seraya berkata, ‘Celakalah mereka! Mereka berbicara tentang seorang yang menikmati sepuluh keunggulan’ (Kemudian Ibnu Abbas merinci keutamaan Ali hingga dia berkata), ‘Nabi Suci mengembangkan mantel beliau di atas Ali, Hasan dan Husain dan bersabda, “Wahai Ahlulbait Nabi! Allah berkehendak untuk menjaga kalian dari segala jenis kekotoran dan cela, dan akan mensucikan kalian sesuci-sucinya.”“34

Sa’ad bin Abi Waqqash

Dalam al-Khasyaisy, Nasa’i telah mengutip Amir bin Sa’d bin Abi vaqqash yang bercerita bahwa Muawiyah telah berkata kepada Sa’d bin Abi Waqqash;

“Mengapa kamu menolak untuk mencaci Abu Turab?” Sa’d menjawab, “Aku tidak akan mencaci Ali karena tiga sifatnya yang aku dengar dari Nabi Suci. Jika satu saja dari ketiganya ada padaku, itu jauh lebih berharga bagiku ketimbang barang apa pun di dunia ini. Aku mendengar dari Nabi Suci ketika beliau meninggalkan Ali untuk melakukan peperangan, bersama-sama perempuan dan anak-anak sebagai wakil beliau di Madinah. Ali bertanya, ‘Akankah anda meninggalkanku bersama-sama dengan perempuan dan anak-anak di Madinah?’ Nabi Suci menjawab, ‘Tidak sukakah kamu bahwa kedudukanmu di sisiku seperti halnya kedudukan Harun di sisi Musa?’

Pada hari penentuan Khaibar, juga, aku mendengar Nabi Suci berkata, ‘Besok, aku akan serahkan panji-panji (tentara) kepada seseorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan Allah dan Rasul-Nya pun mencintainya’. Semua orang di antara kita sangat ingin dianugerahi dan dipilih oleh pernyataan itu, dan berharap panji-panji itu akan ada di tangan kita. Sementara itu Nabi Suci berkata, ‘Bawalah Ali ke hadapanku!’ Maka Ali datang dan matanya sedang sakit. Nabi Suci kemudian menorehkan ludah beliau ke mata Ali dan memberikan panji-panji ke tangannya.

Pada kesempatan lain, ketika ayat tathhir diturunkan, Nabi Suci memanggil Ali, Fathimah, Hasan dan Husain ke dekat beliau dan berkata, ‘Ya Allah! Inilah Ahlulbaitku.”35

Thabari, Ibnu Katsir, Hakim dan Tahawi juga telah mengutip Sa’d bin Abi Waqqash bahwa pada saat turunnya ayat ini, Nabi Suci memanggil Ali bersama-sama dengan kedua putranya dan Fathimah dan mengerudungi mereka di bawah mantel beliau dan berkata, “Ya Allah! Inilah anggota keluargaku.”36

Abu Said Khudri

Diriwayatkan bahwa Abu Said Khudri berkata,

“Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, Ayat ini telah diturunkan tentang lima orang yaitu aku sendiri, Ali, Hasan, Husain dan Fathimah”.37

Watsilah bin Asqa’

Mengenai ayat 33 Surah al-Ahzab, Thabari meriwayatkan bahwa Abu Ammar mengatakan;

“Aku sedang duduk-duduk dengan Watsilah bin Asqa ketika sebuah diskusi tentang Ali terjadi, dan orang-orang memaki­makinya. Ketika kejadian tersebut hampir berakhir, dia mengatakan kepadaku, ‘Tetaplah duduk hingga aku dapat bercakap-cakap denganmu tentang orang yang telah mereka maki-maki tersebut. Aku sedang bersama Nabi Suci ketika Ali, Fathimah, Hasan dan Husain mendekati beliau dan Nabi Suci membentangkan mantel beliau ke atas mereka dan berkata, “Ya Allah! Inilah Ahlulbaitku. Hindarkanlah dari mereka setiap kekotoran dan jadikanlah mereka bersih dan suci”38

Ibnu Atsir juga telah mengutip Syaddad bin Abdillah berkata;

“Saya telah mendengar dari Watsilah bin Asqa bahwa ketika kepala Husain dibawa, salah satu orang Suriah memaki Husain dan ayahnya, maka Watsilah berdiri dan berkata, Aku bersumpah demi Allah bahwa sejak aku mendengar Nabi Suci berkata tentang mereka, “Wahai Ahlulbait Nabi! Allah bermaksud hendak mensucikanmu dari kekotoran dan cela, dan hendak mensucikanmu sesuci-sucinya,” aku selalu mencintai Ali, Fathimah, Hasan dan Husain.”‘39

Ali bin Husain,Zainal Abidin

Thabari, Ibnu Katsir dan Suyuthi dalam tafsir mereka menyatakan; Ali bin Husain telah berkata kepada seorang Suriah, Pernahkah kamu membaca ayat ini dalam Surah al-Ahzab, Wahai Ahlulbait Allah hendak menghilangkan segala kekotoran dari kamu dan akan mensucikan kamu dengan sesuci-sucinya?’ Orang Suriah tersebut berkata, ‘Apakah ayat ini berkenaan dengan kalian?’ Imam menjawab, ‘Ya, ayat itu berkenaan dengan kami”. 40

Kharazmi telah mengutip kalimat berikut ini dalam kitabnya Maqtal:

 Ketika Zainal Abidin dan tawanan-tawanan lain yang berasal dari Keluarga Nabi Suci SAW dibawa ke Damaskus setelah syahidnya Husain cucu Nabi Suci, dan ditempatkan di sebuah penjara yang terletak di sebelah Mesjid Besar Damaskus, seorang lelaki tua mendekati mereka dan berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah membunuh kalian dan membinasakan kalian dan memusnahkan laki-laki kalian SAW memberikan kekuasaan kepada amirul mukminin (Yazid) atas diri kalian.”

Ali bin Husain berkata, “Hai orang tua! Pernahkah kamu membaca Quran yang suci?” Orang itu menjawab, “Ya!” Kemudian Imam berkata, “Pernahkah kamu membaca ayat Katakanlah Hai Muhammad! Aku tidak meminta upah apa pun kepada kalian atas misiku kecuali kecintaan kepada keluargaku (al-qurbaa)?” Orang tua itu berkata, “Ya, saya pernah membacanya!”

Imam berkata, “Pernahkah kamu membaca ayat Maka berikanlah apa yang pantas bagi keluarga terdekat, fakir miskin dan para pejalan dan ayat Ketahuilah bahwa apa saja (pendapatan) yang kamu peroleh maka seperlimanya adalah untuk Allah, Rasul, keluarga terdekat dan fakir miskin, jika kamu beriman kepada Allah dan apa yang Kami wahyukan kepada hamba Kami dalam al-Quran?” Orang tua itu menjawab, “Ya, saya pernah membacanya!”

Imam berkata, “Aku bersumpah demi Allah bahwa kata `keluarga terdekat’ merujuk kepada kami, dan ayat-ayat tersebut diturunkan berkenaan dengan kami. (Imam menambahkan), “Dan pernahkah juga kamu membaca ayat ini dalam Quran dimana Allah berfirman, Wahai Ahlulbait… (33:33)?” Orang tua itu berkata, “Ya, saya telah membacanya!” Imam berkata, “Apa yang dimaksud dengan Ahlulbait Nabi? Kamilah yang telah dihubungkan oleh Allah secara khusus dengan ayat tathhir!”

Orang tua itu berlanya, “Saya bertanya kepadamu, demi Allah, apakah kamu keluarga yang sama?” Imam menjawab, “Aku bersumpah demi kakekku Nabi Allah bahwa kamilah orang yang sama!” Orang tua itu tertegun dan menunjukkan penyesalan atas apa yang telah dia katakan. Kemudian dia mengangkat kepalanya menuju langit dan berkata, “Ya Allah, aku mohon ampun atas apa yang telah aku katakan, dan meninggalkan permusuhan dengan keluarga ini dan membenci musuh-musuh keturunan Muhammad!”41

Peristiwa Mubahalah

Peristiwa berikut ini dihubungkan dengan kejadian Mubahalah, yang berarti kutukan, atau memohon kutukan/laknat Allah ditimpakan kepada pendusta, yang terjadi pada tahun ke 9-10 Hijriah. Dalam tahun itu sebuah delegasi yang terdiri atas 14 pendeta Kristen datang dari Najran untuk menemui Nabi Muhammad SAW.

Ketika mereka bertemu dengan Nabi Muhammad SAW, mereka menanyakan pendapat beliau tentang Yesus. Rasulullah SAW berkata, “Kalian bisa beristirahat hari ini dan kalian akan mendapatkan jawabannya setelah itu.” Pada keesokan harinya, 3 ayat Quran (Ali lmran : 59-61) tentang Yesus di wahyukan kepada Nabi Muhammad SAW. Ketika orang-orang Kristen itu tidak menerima kata-kata Allah, Nabi Muhammad SAW lalu membacakan kalimat terakhir dari ayat-ayat tersebut;

“Maka siapa yang membantahmu tentang masalah ini sesudah datang kepadamu ilmu, maka katakanlah, “Marilah kita memanggil anak­-anak kami dan anak-anak kalian, perempuan-perempuan kami dan perempuan-perempuan kalian, diri-diri kami dan diri-diri kalian! Kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita mohon agar laknat Allah ditimpakan kepada para pendusta!”

(QS. Ali Imran: 61).

Dalam kejadian ini, Nabi Muhammad SAW menantang orang-orang Kristen. Pada hari berikutnya pendeta-pendeta Kristen tersebut keluar dari salah satu sisi tanah lapang. Juga pada sisi yang lain, Nabi Muhammad SAW keluar dari rumah beliau dengan menggendong Husain di lengan beliau dan Hasan berjalan bersama beliau dengan tangannya dipegang oleh beliau. Di belakang beliau adalah Fathimah Zahra, dan di belakang lagi adalah Ali. Ketika orang-orang Kristen itu melihat lima jiwa yang suci tersebut, dan betapa kukuhnya pendirian Nabi Muhammad SAW untuk membawa orang-orang terdekat beliau dalam menanggung resiko mubahalah itu, mereka merasa takjub SAW mengundurkan diri dari mubahalah yang telah disepakati tersebut dan tunduk kepada sebuah perjanjian dengan Nabi Muhammad SAW.

Suyuthi, seorang ulama besar Sunni, menulis;

“Dalam ayat di atas (3:61), menurut apa yang dikatakan oleh Jabir bin Abdillah Anshari, kata ‘anak-anak’ merujuk kepada Hasan dan Husain, kata ‘perempuan-perempuan’ merujuk kepada Fathimah, dan kata ‘diri-diri kami’ merujuk kepada Nabi dan Ali, Ali dianggap sebagai ‘diri’ Nabi.42

Konsekuensinya, sebagaimana adalah melanggar hukum untuk berusaha :mengungguli Nabi Muhammad SAW, demikian pula adalah melanggar hukum untuk menggantikan Ali (yang menurut kata-kata Allah adalah’diri’ Nabi). Siapapun yang menganggap telah menggantikan Ali berarti telah menggantikan Nabi. Ini merupakan satu lagi ayat Quran yang membuktikan kebenaran hak Imam Ali sebagai penerus langsung Nabi Muhammad SAW.

Muslim dan Tirmidzi memberikan konfirmasi atas peristiwa tersebut di atas, dan mencatat hadis berikut ini dalam kitab Shahih mereka. Diriwayatkan oleh Sa’d bin Abi Waqqash,

“….dan ketika Ali Imran ayat 61 diturunkan, Nabi Muhammad SAW memanggil Ali, Fathimah, Hasan dan Husain. Kemudian Nabi berkata, ‘Ya Allah! Inilah anggota keluargaku (Ahlii).”43

Titik simpul di sini adalah bahwa Rasulullah SAW tidak membawa serta seorang pun dari istri-istri beliau ke lapangan tempat mubahalah berlangsung, dan menurut hadis di atas, beliau menggunakan kata Ahl (famili) hanya bagi orang-orang tersebut di atas (yakni Ali, Fathimah, Hasan danHusain).

Perhatikan bahwa dalam Ali Imran ayat 61 ini Allah SWT menggunakan bentuk jamak ‘perempuan-perempuan’ dengan perkataan ‘Marilah kita memanggil perempuan-perempuan kami’, tetapi Nabi Muhammad SAW hanya membawa seorang perempuan, yakni Fathimah. Seandainya ada lebih dari satu orang dalam Ahlulbait, maka Nabi Muhammad SAW tentu sudah diminta oleh ayat ini untuk membawa serta mereka. Tetapi, karena tidak ada perempuan lain dalam Ahlulbait, maka beliau hanya membawa Fathimah.

Lagi pula, Nabi Muhammad SAW dalam peristiwa itu menyebutkan secara eksplisit siapa Ahlulbait, dan membacakan namanya satu persatu. Muslim, Tirmidzi, Hakim dan ulama-ulama Sunni lainnya telah mencatat hal itu dan menegaskan kesahihannya. Tidak ada disebut satu pun istri beliau dalam laporan-laporan tersebut.

Beberapa ulama Sunni telah meriwayatkan bahwa pada hari perundingan untuk menunjuk pemegang kekuasaan setelah wafatnya Umar, Ali berdebat dengan anggota-anggota syura dan mengingatkan mereka akan haknya atas kekhalifahan, dan salah satu argumentasinya adalah Peristiwa Mubahalah.

Pada hari perundingan, Ali berdebat dengan anggota-anggota komite dengan mengatakan,

“Aku meminta kesaksian kalian atas nama Allah, adakah seorang pun di antara kalian yang lebih dekat hubungannya dengan Rasulullah dibandingkan aku? Adakah laki-laki lain yang Nabi menganggapnya ‘jiwa beliau (sendiri), dan bahwa beliau meng­anggap anak-anaknya adalah ‘anak-anak beliau (sendiri), dan perempuannya adalah ‘perempuan beliau’?” Mereka menjawat` “Tidak, demi Allah!”44

Diriwayatkan juga bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sungguh, Allah yang memiliki Keagungan dan Kekuasaan telah meletakkan keturunan tiap Nabi dari tulang sulbi mereka, dan Dia Yang Maha tinggi telah meletakkan keturunanku di tulang sulbi Ali bin Abi Thalib.”45

Diriwayatkan juga bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Aku dan Ali berasal dari pohon yang sama, sedangkan orang-orang yang lain berasal dari pohon yang berbeda.”46

Dalam kitab tafsir Sunni yang lain, diriwayatkan dari Abdullah bin t mar bahwa Rasulullah SAW bersabda,

“Jika saja ada jiwa-jiwa lain di seluruh bumi yang lebih baik dari Ali, Fathimah, Hasan dan Husain, Allah tentu sudah memerintahkanku untuk membawa serta mereka bersama-samaku pada Mubahalah. Tetapi, karena mereka adalah yang paling utama di antara seluruh manusia dalam hal keutamaan (martabat) dan kehormatan, Allah telah membatasi pilihan-Nya kepada mereka saja yang ikut serta dalam Mubahalah.47

Peristiwa Mubahalah antara Nabi Muhammad SAW dan orang-orang kristen ini memberikan signifikansi dalam berbagai aspek, di antaranya:

1). Bukti ini menjadi sebuah pelajaran bagi seluruh orang Kristen yang ada di Semenanjung Arabia yang tidak berani lagi bermusuhan dengan Nabi Muhammad SAW,

2). Undangan untuk mubahalah (maknanya secara harfiah adalah saling mengutuk) diatur langsung oleh Allah SWT dan dalam rangka memenuhi perintah-Nya lah Nabi Muhammad SAW bersama sama Ahlulbait beliau datang ke lapangan tempat mubahalah. Ini menunjukkan bahwa urusan-urusan yang berkaitan dengan keNabian dan Islam ditetapkan langsung oleh Kehendak Allah,

3). Tanpa mengizinkan adanya pengaruh luar apapun dari orang kebanyakan (ummah). Masalah kepenggantian (ke-washi-an) Ali setelah Nabi Muhammad SAW harus dipandang serupa,

4) Tidak diragukan lagi bahwa Ali, Fathimah, Hasan dan Husain pasti mengikuti ajaran-ajaran Nabi Muhammad SAW,

5) Meskipun masih kanak-kanak, Hasan dan Husain tetap bertindak sebagai ‘dua rekan’ Nabi Muhammad SAW yang aktif dalam mubahalah. Ini menunjukkan bahwa usia bukanlah kriteria bagi kebesaran jiwa – ­jiwa maksum tersebut;

6) Bahwa tindakan pengutamaan oleh Nabi tersebut jelas meninggikan status mereka (Ahlulbait) di atas orang-orang selain mereka,

7) Hadis-hadis dari Nabi Muhammad SAW yang berhubungan dengan peristiwa ini jangan jelas menunjukkan siapakah Ahlulbait itu,

8) Ali telah disebutkan sebagai ‘diri’ Nabi Muhammad SAW sesuai dengan wahyu Allah, dan Ali secara de facto memang lebih unggul dibandingkan dengan yang lain sehubungan dengan kekhalifahan.

Apakah Hanya Sekedar Hubungan Darah?

Diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

“Setiap hubungan kerabatan akan berakhir pada hari pembalasan, kecuali hubungan kekerabatan denganku. Dan garis keturunan dari setiap orang adalah dari ayahnya, kecuali keturunan Fathimah, sebab akulah ayah mereka dan titik garis keturunan mereka!”48

Hadis di atas membuktikan bahwa nilai hubungan darah dalam Islam adalah kecil dan akan segera lebur ketika hari pembalasan terjadi. Namun, apa yang membuat hubungan dengan Nabi dan Ahlulbait beliau berbeda dengan yang lainnya adalah kualifikasi dan kesucian mhani yang mereka miliki, di samping gen mereka yang murni dari Nabi Muhammad SAW (yang juga diperlukan).

Berguna untuk disebutkan bahwa Fathimah adalah satu-satunya anak Rasulullah SAW yang bertahan hidup dan memberikan keturunan bagi beliau. Anak-anak beliau yang lain meninggal pada usia dini tanpa dapat meninggalkan sebuah permasalahan pun di belakang mereka. Orang-orang kafir Hijaz biasa merendahkan Nabi Muhammad SAW dengan kata­kata bahwa beliau tidak memiliki seorangpun anak laki-laki yang dapat melanjutkan keturunan beliau, karena kejadian itu. Allah menutunkan Surat Al – kautsar,

Sesungguhnya Kami telah memberimu Keberlimpahan/al-kautsar (yakni keturunan suci yang terus berlanjut). Maka shalatlah kepada Tuhanmu dan berkorbanlah! Sesungguhnya orang yang menghinamulah yang terputus (tanpa keturunan)

(QS. al-Kautsar : 1-3).

Apakah Ahlulbait Hasil Hubungan Perkawinan?

Terhadap pertanyaan’ Apakah istri-istri Nabi Muhammad SAW masuk ke dalam golongan Ahlulbait?” Muslim dalam Shahih-nya mencatat;

“Ibnu Hayyan meriwayatkan, ‘Kami pergi ke Zaid bin Arqam dan berkata kepadanya, “Kamu telah menemukan kebaikan (sebab kamu memiliki kemuliaan) karena dapat hidup di kalangan sahabat-sahabat Nabi Muhammad SAW dan melaksanakan shalat bersama-sama dengan beliau,” (dan bunyi hadis selanjutnya sama dengan 3 hadis sebelumnya), tetapi Nabi Muhammad SAW berkata, “Camkanlah! Aku meninggalkan bersama kalian dua barang/perkara yang berat, salah satunya adalah Kitabullah…”, (dan dalam hadis ini kami temukan kata-kata) ‘Kami berkata, “Siapakah Ahlulbait beliau tersebut (yang dimaksudkan oleh Nabi Muhammad SAW)? Apakah mereka adalah istri-istri beliau?” Atas pertanyaan tersebut Zaid berkata, “Tidak, demi Allah! Seorang perempuan hidup bersama dengan seorang pria (sebagai istrinya) untuk sementara waktu. Dia (pria) kemudian (dapat) menceraikannya dan dia (perempuan itu) kembali kepada orang tua dan kaumnya. Ahlulbait Nabi Muhammad SAW adalah garis darah dan keturunan beliau (orang-orang yang berasal dari keturunan beliau) yang dilarang menerima sedekah”.49

Dalam bab yang sama, Muslim juga melaporkan bahwa Zaid bin Arqam berkata;

“Aku telah menua dan telah melupakanbeberapa hal yang telah aku ingat dalam hubungannya dengan Rasulullah SAW. Jadi, terimalah apa saja yang aku riwayatkan padamu, dan terhadap apa yang tidak aku riwayatkan! Janganlah memaksaku untuk melakukannya!”Zaid kemudian berkata, “ suatu hari Rasulullah brediri dan berkuthbah di sebuah telaga yang terkenal sebagai Kham yang terletak di antara Mekkah dan Madinah. Beliau memuji Allah, mensucikan. Zaid kemudian berkata, “Suatu hari Rasulullah berdiri dan )erkhutbah di sebuah telaga yang dikenal sebagai Khum yang terletak di antara Mekkah dan Madinah. Beliau memuji Allah, mensucikan­nya, dan berkhutbah dan mendesak kita seraya mengatakan, Kini sampai ke tujuan kita, wahai manusia! Aku adalah seorang manusia. Aku hampir menerima kedatangan utusan Tuhanku dan aku harus menjawab panggilan itu. Tetapi aku meninggalkan bersama kalian Jua barang yang berat. Salah satunya adalah Kitabullah…, yang ke dua adalah anggota rumah tanggaku (Ahlulbait). Demi Allah, aku mengingatkan kalian (akan tugas kalian) terhadap Ahlulbaitku!, (beliau mengucapkannya tiga kali)”

Dia (Husain bin Sabra) bertanya kepada Zaid, “Siapakah anggota Ahlulbait beliau? Bukankah istri-istri beliau termasuk Ahlulbait?” Zaid menjawab, “Istri-istri beliau termasuk Ahlulbait, tetapi ‘ahlul’ di sini adalah orang-orang yang dilarang menerima zakat.”

Dia (Husain bin Sabra) bertanya kembali, “Siapakah mereka?” Dia kemudian menjawab, Ali dan keturunannya, Aqil dan keturunannya, dan keturunan Ja’far dan keturunan Abbas.”50

Terlihat bahwa paragraf ketiga dari hadis di atas bukan kata-kata Muhammad SAW. Itu hanyalah pendapat Zaid bin Arqam. Berlawanan dan hadis sebelumnya, di sini Zaid menyatakan, bahwa istri-istri Nabi adalah termasuk di antara Ahlulbait beliau tetapi Ahlulbait di sini adalah orang-orang yang… ) … Ali dan keturunannya, … dan keturunan Abbas.

Pertanyaannya adalah: Haruskah kita mengikuti perkataan Nabi Muhammad SAW yang menyebutkan dengan rinci siapakah Ahlulbait beliau, atau kita mesti menerima pendapat salah seorang sahabat yang dalam kasus ini, bertentangan dengan pendapat Nabi Muhammad SAW ?

Di samping itu, sejarah telah mengatakan kepada kita bahwa terdapat banyak tiran di antara Abbasiah (keturunan Abbas). Dapatkah kita menaati mereka dan mencintai mereka ? Padahal Allah SWT berfirman dalam Quran dan janganlah kami taati orang yang berdosa dan orang yang kafir di antara mereka (QS. al – Insan : 24). Apakah para tiran dari kalangan Abbasiah adalah termasuk Alhubait yang diletakkan oleh Rasulullah berdampingan dengan Quran sebagai salah satu dari dua barang berharga yang beliau tinggalkan untuk umat beliau agar mereka menaatinya setelah beliau?

Hal ini menunjukkan bahwa Ahlulbait adalah orang-orang yang khusus dan tidak termasuk dalamnya seluruh kerabat-kerabat Nabi Muhammad SAW. Secara kebahasaan, kata ‘ahlulbait’ sama sekali tidak mengandung makna kerabat. Kata ini secara kebahasaan berarti orang yang muncul dari darah beliau sebagaimana yang ditunjukkan oleh hadis Zaid bin Arqam yang pertama. Jadi, bahkan istri-istri Nabi tidak termasuk ke dalam Ahlulbait.

Pembaca yang meyakini kesahihan seluruh hadis yang ada dalam Shahih Muslim dapat menemukan adanya kontradiksi dalam hadis-hadis tentang hubungan antara istri-istri Nabi dengan Ahlulbait. Dalam sebuah Hadis, Zaid berkata bahwa istri-istri Nabi termasuk ke dalam Ahlulbait. sedangkan pada tiga hadis yang terpisah, orang ini (Zaid) bersumpah demi Allah bahwa istri-istri Nabi tidak termasuk ke dalam Ahlulbait. Apa yang dapat disimpulkan?

<!–[if !supportLists]–>1. <!–[endif]–>Haruskah kita mengesampingkan penjelasan Nabi Muhammad SAW dan berpegang teguh pada pendapat seorang sahabat?

<!–[if !supportLists]–>2. <!–[endif]–>Jika ya, maka kita harus menerima perkataan seorang sahabat yang menceritakan dua pendapat yang saling bertentangan, sementara dia berkata di hadis yang kedua bahwa dia telah menua dan dia tidak bisa ingat banyak-banyak?

<!–[if !supportLists]–>3. <!–[endif]–>Haruskah kita menerima riwayat yang saling bertentangan tersebut sebagai shahih kedua-duanya?

<!–[if !supportLists]–>4. <!–[endif]–>Jika ya, maka haruskah kita menerima seseorang yang bersumpah demi Allah, atau seseorang yang tidak bersumpah demi Allah?

Ketika Nabi dengan jelas mengeluarkan istri-istri beliau dari Ahlulbait dan ketikar istri–istri beliau seperti Aisyah, Ummu Salamah dan Shayifah juga menegaskan kenyataan ini (lihat bagian pertama) dan ketika Zaid bin Arqam bersumpah demi Allah bahwa istri–istri Nabi tidak termasuk ke dalam Alhubait, maka tidak ada pilihan kecuali menerima kenyataan bahwa istri-istri Rasulullah SAW adalah tidak termasuk ke dalam Alhubait.

Kini fokuskanlah pandangan ke kalimat terakhir dari hadis Zaid yang pertama!

Seorang perempuan hidup bersama dengan seorang pria (sebagai istrinya) untuk sementara waktu; dia (pria) kemudian (dapat) menceraikannya dan dia (perempuan itu) kembali kepada orang tua dan kaumnya. Ahlulbait Nabi Muhammad SAW adalah garis darah dan keturunan beliau (orang-orang yang berasal dari keturunan beliau) yang dilarang menerima sedekah.

Ini adalah penalaran yang tepat. Hubungan perkawinan antara seorang pria dan perempuan tidak pernah dianggap sebagai permanen. hubungan itu hanyalah hubungan yang kondisional dan dapat putus sesaat-saat, sebab seorang istri dapat diceraikan. Kenyataan menunjukkan bahwa dua istri Nabi yaitu Aisyah binti Abu Bakar dan Hafsah binti Umar Khattab pernah diancam untuk diceraikan dari Nabi oleh Quran, disebabkan oleh sebuah berita rahasia yang mereka ceritakan kepada orang tua mereka.

Sudah umum diketahui bahwa ayat-ayat berikut ini adalah diturunkan enam tentang Aisyah dan Hafsah;

Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan sebuah peristiwa secara rahasia kepada salah seorang istrinya (yakni Hafsah) dan dia (Hafsah) kemudian membeberkan pembicaraan itu (kepada A’isyah) dan Allah memberitahukan hal itu kepadanya (Muhammad),lalu dia (Muhammad) memberitahukan sebagian dan merahasiakan sebagian. Tatkala dia (Muhammad) memberitahukan yang sebagian itu (pembicarann antara Hafsalt dan A’isyah), maka dia (Hafsah) bertanya,”Siapakah yang telah memberitahukan hal itu kepadamu?” Nabi menjawab, “Yang Maha Mengetahui dan Maha Mengenal telah memberitahukannya kepadaku.” (QS. at-Tahrim : 3)

 

Jika kalian berdua (yakni Hafsah dan A’isyah) bertobat kepada Allah, maka hati kalian memang telah condong (untuk mematuhi perintah Rasul), dan jika kalian berdua bantu membantu dalam menentang Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah perlindungannya dan begitu pula Jibril dan orang – orang yang saleh di antara kaum mukmin dan selain itu malaikat juga adalah penolongnya.. (QS. al-Tahrim : 4) Jika dia menceraikan kalian, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik dari kalian, yang patuh, beriman, taat, yang bertaubat, yang beribadah, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan. (QS. at-Tahrim : 5)

Penjelasan Shahih Bukhari atas Surah at-Tahrim Ayat 5

Pada jilid 6 kitab Shahh Bukhari edisi Arab-Inggris, di bab yang berjudul Boleh jadi, jika dia menceeraikan kalian, Tuhannya akan …” (at-Tahrim : 5), dapat ditemukan hadis-hadis sebagai berikut:

Diriwayatkan dari Umar bin Khattab, “Istri-istri Nabi karena kecemburuan mereka, saling membantu untuk melawan Nabi, sehingga aku berkata kepada mereka, ‘Boleh jadi, jika dia menceraikan kalian, Allah akan memberinya istri-istri pengganti yang lebih baik dari kalian!’ Maka demikianlah ayat ini (QS. 66:5) diturunkan.” (Shahih Bukhari, hadis 6.438, jilid 6 hadis ke 438) Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, “Saya bermaksud bertanya kepada Umar, maka saya katakan, ‘Siapakah dua orang perempuan yang mencoba saling membantu dalam menentang Rasululllah?’ Saya hampir tidak melanjutkan perkataan saya ketika dia berkata, ‘Mereka adalah Aisyah dan Hafsah.”‘ (Shahih Bukhari, hadis 6.436)

Jika Allah sampai mengancam kedua istri Nabi itu dengan perceraian, disebabkan mereka saling membantu dalam menentang Nabi, lalu bagaimana bisa kita menyatakan bahwa mereka adalah suci dan bebas dosa (maksum)? Lagipula, hadis berikut ini menegaskan bahwa Nabi Muhammad SAW meninggalkan Aisyah dan Hafsah selama sebulan penuh sebagai hukuman atas terbongkarnya berita rahasia tersebut; Diriwayatkan dari Ibnu Abbas,

“Saya ingin sekali bertanya kepada Umar bin Khattab tentang dua perempuan di antara istri-istri Nabi yang tentang mereka Allah berfirman, Jika kalian berdua bertobat kepada Allah, maka hati kalian memang telah condong …(66:4), hingga Umar melaksanakan Haji, dan saya juga melaksanakan Haji bersamanya…Lalu saya berkata kepadanya, ‘Wahai amirul mukminin! Siapakah dua orang perempuan di antara istri-istri Nabi yang tentang mereka.

Allah berfirman: “Jika kalian berdua bertobat kepada Allah, maka hati kalian memang telah condong … (66:4)” Dia berkata, `Saya heran dengan pertanyaanmu itu hai Ibnu Abbas! Mereka adalah Aisyah dan Hafsah.’

Umar kemudian menceritakan sebuah hadis dan berkata, ‘…Aku berteriak kepada istriku dan dia menjawabnya dengan pedas, dan aku tidak suka kalau dia membantahku. Dia berkata kepadaku, “Mengapa engkau begitu terkejut dengan bantahanku? Demi Allah, istri-istri Nabi membantah beliau dan beberapa di antara mereka meninggalkan beliau (tidak berbicara dengan beliau) selama seharian penuh hingga malam tiba.”‘

Pembicaraan itu demikian menakutkanku, dan aku berkata kepadanya, `Siapapun yang melakukan hal itu akan binasa!’ Kemudian aku melangkah setelah merapikan pakaian, dan masuk ke (rumah) Hafsah dan berkata kepadanya, ‘Adakah di antara kalian yang membuat Nabi marah hingga malam?’ Dia menjawab, ‘Ya, ada.’ Aku lalu berkata, ‘Kalian orang yang binasa! Tidakkah kalian takut bahwa Allah akan marah karena marahnya Rasulullah dan karena itu kalian akan binasa? Maka janganlah meminta yang lebih banyak dari Nabi dan jangan membantah beliau dan jangan memutuskan pembicaraan dengan beliau! Mintalah kepadaku apapun yang kamu butuhkan dan jangan berusaha meniru tetanggamu (yaitu Aisyah) dalam kelakuannya, karena dia lebih menarik daripada kamu dan lebih dicintai oleh Nabi!’

Umar menambahkan, ‘Pada saat itu sebuah pembicaraan beredar dikalangan kita bahwa (kabilah) Ghassan sedang mempersiapkan kuda-kuda mereka untuk menyerang kita. Sahabat-sahabatku orang Anshar, pada saat tiba hari giliran mereka, pergi (ke kota) dan kembali kepada kita pada malam harinya dan mengetuk pintu rumahku dengan kasar dan menanyakan kalau-kalau aku ada di dalamnya. Aku menjadi terkejut dan keluar menemui dia. Dia berkata, “Hari ini telah terjadi peristiwa besar.” Aku bertanya, “Apakah itu? Sudah datangkah (kabilah) Ghassan?” Dia berkata, “Bukan, tetapi (peristiwa itu) lebih besar dan lebih mengejutkan; Rasulullah telah menceraikan istri – istri beliau !”

Umar menambahkan, ‘Nabi telah menjauhi istri-istri beliau dan aku berkata, “Hafsah adalah seorang pecundang yang binasa.” Aku sudah menduga bahwa peristiwa yang sangat mungkin ini (penceraian) akan terjadi pada waktu dekat-dekat ini. Maka aku lalu membenahi pakaianku dan melaksanakan salat Subuh bersama Nabi dan Nabi kemudian masuk ke ruangan atas dan tetap di sana mengasingkan diri. Aku masuk ke (kamar) Hafsah dan melihat dia menangis. Aku bertanya, “Apa yang membuat kamu menangis? Bukankah aku telah memperingatkanmu tentang hal itu? Sudahkah Nabi menceraikan kalian semuanya?” Dia berkata, “Aku tidak tahu. Itu beliau di sana sendirian di ruangan atas.”

Aku berkata (kepada Rasulullah SAW) dengan nada mengobrol, ‘Akankah anda memperhatikan apa yang aku katakan duhai Rasulullah? Kami, orang-orang Quraisy biasa berkuasa atas perempuan-perempuan kami, namun ketika kami tiba di Madinah kami menemukan bahwa laki-laki di sini dikuasai oleh perempuan-­perempuan mereka.’ Nabi tersenyum dan lalu aku berkata kepada beliau, “Akankah anda memperhatikan apa yang aku katakan duhai Rasulullah?”

Aku kemudian masuk ke kamar Hafsah dan berkata kepadanya, “Jangan berusaha meniru temanmu itu (Aisyah), karena dia lebih menarik daripada kamu dan lebih dicintai Nabi.” …Dan kemudian Nabi menjauhi istri-istri beliau selama 29 hari disebabkan oleh cerita rahasia yang telah dibukakan oleh Hafsah kepada Aisyah. Karena kemarahan beliau, Nabi telah berkata, “Aku tidak akan masuk ke (kamar) mereka selama satu bulan.” Beberapa orang di antara istri beliau mengakibatkan beliau berkata seperti itu, sehingga beliau meninggalkan mereka selama satu bulan.”‘ (QS. 66:4; Shahih Bukhari, hadis 7.119)

Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, “Selama setahun penuh aku telah berhasrat untuk bertanya kepada Umar bin Khattab tentang penjelasan sebuah ayat (dalam Surah at-Tahrim)…Umar menyisi untuk menjawab ‘panggilan alam’ ke dekat pohon Arak. Aku menunggu hingga dia selesai dan kemudian aku menyusul dia dan bertanya, ‘Wahai amirul mukminin! Siapakah dua perempuan Nabi yang saling membantu menetang beliau ?’ Dia berkata, ‘ Mereka adalah Hafsah dan Aisyah.’

Kemudian Umar menambahkan, ‘Suatu saat, ketika aku sedang berpikir tentang suatu masalah, istriku berkata, “Aku sarankan agar engkau melakukan ini dan itu.” Aku bertanya kepadanya, “Apa yang telah kau dapatkan untuk mengerjakan hal itu? Mengapa engkau menonjok hidungmu dalam suatu masalah yang aku ingin melihatnya selesai?” Dia kemudian berkata, “Betapa anehnya engkau ini, hai Ibnu Khattab! Engkau tidak ingin berdebat dengan cara (yang digunakan) putrimu mendebat Rasulullah begitu hebat sehingga beliau menjadi marah selama sehari penuh!”‘

Umar kemudian melaporkan bahwa dia seketika mengenakan pakaian luarnya dan pergi ke tempat Hafsah dan berkata kepadanya, ‘Wahai putriku! Apakah engkau mendebat Rasulullah sehingga beliau menjadi marah selama sehari penuh?’ Hafsah berkata, ‘Demi Allah, kami berdebat dengan beliau.’ Umar berkata, ‘Aku peringatkan engkau akan hukuman Allah dan kemarahan Rasulullah Wahai putriku! Janganlah engkau tertipu oleh orang yang membanggakan kecantikannya karena cinta Rasulullah kepadanya (yakni Aisyah).’

Umar menambahkan, ‘(Suatu hari) Temanku orang Anshar dengan tak disangka-sangka mengetuk pintuku dan berkata, “Buka! Buka!’ Aku bertanya, “Apakah Raja Ghassan telah datang?” Dia berkata, “Tidak, tetapi sesuatu yang lebih buruk. Rasulullah telah mengasingkan diri beliau dari istri-istri beliau.” Aku berkata, “Biarlah hidung Aisyah dan Hafsah tertempel pada debu (yaitu binasa)!”“‘ (Shahih Bukhari, hadis 6.435).

Dalam hadis di atas, Hafsah bersumpah demi Allah bahwa dia berbantahan dengan Rasulullah SAW dan membuat beliau menjauhinya selama sehari penuh! Inikah isyarat kesucian dan kesalehan? Menurut Quran Surah al-Ahzab 33, kesucian yang sempurna dan keterbatasan penuh dari dosa adalah ciri khas Ahlulbait. Ayat-ayat Quran di atas dan hadis-­hadis dalam Shahih Bukhari tersebut memberikan bukti bahwa beberapa istri Nabi tidaklah suci dan saleh, sebab kalau tidak tentu Allah tidak akan mengancam mereka dalam Quran dengan penceraian..

Inilah alasan utama pengambilan hadis Zaid bin Arqam dalam Shahih Muslim, dalam mana dia bersumpah demi Allah bahwa istri–istri Nabi tidak termasuk ke dalam Ahlulbait sebab mereka dapat diancam dengan penceraian dan dapat digantikan oleh perempuan-perempuan lain yang lebih baik dari mereka (QS. at-Tahrim : 5).

Hadis yang mengherankan lainnya dalam Shahih Bukhari adalah sebagai berikut:

Diriwayatkan oleh Abdullah, “Nabi berdiri dan berkhutbah, dan menunjuk ke rumah Aisyah, dan berkata, ‘Di sinilah fifiah (akan muncul), ‘(diucapkan tiga kali), ..dan dari sinilah salah satu sisi kepala setan akan muncul.”‘ (Shahih Bukhari, hadis 4.336).

Hadis ini memberikan satu isyarat lagi bahwa istri-istri Nabi tidaklah termasuk ke dalam Ahlulbait.

Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW membacakan ayat, “Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan segala kekotoran dari kalian wahai Ahlulbait, dan mensucikan kalian sesuci-sucinya,” dan kemudian Rasulullah bersabda, “Karena itu, aku dan Ahlulbaitku adalah bersih dari dosa.”51

Dalam hadis di atas, tampak bahwa Nabi sendiri yang menyimpulkan dengan kata-kata karena itu, bahwa beliau dan Ahlulbait beliau adalah bebas dari dosa (maksum).

Dalam tafsirnya tentang ayat tathhir (QS. al-Ahzab : 33), Ibnu Jarir Thabari mengutip Qatadah, 

“Hanya inilah, tidak ada lainnya, bahwa Allah berkehendak untuk menghilangkan segala keburukan dan ketidakpantasan dari anggota keluarga Muhammad dan membersihkan mereka dari setiap kontaminasi dan dosa.”‘52

Apakah Ahlulbait adalah Ibu-ibu Kaum Mukminin?

Salah satu hal yang digunakan oleh saudara-saudara Sunni dalam memasukkan Aisyah ke dalam Ahlulbait adalah bahwa dia Ummahatul Mukminin. Namun, mari kita renungkan fakta – fakta berikut ini.

Ambillah contoh seorang mukmin. Secara alamiah, ibu orang itu tentu menjadi ibu orang mukmin. Apakah julukan itu secara otomatis berarti bahwa ibu tersebut adalah seorang mukmin yang baik? Tentu saja tidak. Menjadi ibu seorang mukmin tidak lantas menjadikan ibu tersebut sebagai seorang mukmin yang baik dan saleh. Argumen yang sama dapat pula diterapkan kepada `ibu-ibu kaum mukmin’ (ummahatul mukminin).

Seluruh kitab-kitab hadis Sunni dipenuhi dengan hadis-hadis yang diriwayatkan oleh Ummul Mukminin Aisyah. Nabi Muhammad SAW memiliki banyak istri yang lain, dan mereka semua adalah ibu-ibu kaum mukminin. Banyak di antara istri-istri Nabi yang merupakan orang yang sangat saleh dan taat, misalnya Ummu Salamah dan Ummu Ayman: Namun, sayang hanya sedikit hadis-hadis yang diriwayatkan oleh mereka berdua dalam Shihah as-Sittah (tidak lebih dari 5% dari yang disampaikan oleh Aisyah). Dan kita mendengar dari Aisyah hadis yang sangat berlimpah. apakah itu disebabkan karena dia adalah putri Abu Bakar? Atau disebabkan karena dia satu-satunya istri Nabi yang memusuhi Ali?

Menurut ajaran Islam seorang mukmin diharuskan menghormati ibunya. Bagaimanapun, bilamana ibu tersebut menentang perintah Rasulullah, melakukan dan memimpin pemberontakan, dan membunuh orang-orang yang tak berdosa, kita, menurut ajaran Islam diharuskan untuk berlepas diri dari ibu semacam itu, dan yang sangat penting kita tidak dapat mempercayai ibu semacam itu dalam kaitannya dengan periwayatan hadis yang amat banyak tersebut.

Memang, terdapat alasan yang bagus mengapa Allah SWT memberi mereka julukan ‘ibu-ibu Kaum Mukminin’. Allah memberikan julukan ini untuk mencegah orang lain menikahi mereka setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW. Bukankah kita tidak dapat menikahi ibu kita sendiri? Seandainya Allah SWT tidak memberikan julukan tersebut kepada mereka, beberapa orang yang berpengaruh tentu telah menikahi mereka dan kemudian bisa jadi telah memiliki anak dan memerintahkan orang-orang untuk mengikuti mereka sebagai Ahlulbait, atau bahkan yang lebih buruk, mereka bisa jadi mengklaim sebagai putra-putra Nabi yang sesungguhnya dan mengklaim keNabian bagi mereka, dan kemungkinan-kemungkinan lain yang berbahaya. Karena itulah Allah SWT memberikan julukan “ibu-ibu kaum mukminin’ kepada mereka untuk mencegah perkawinan semacam itu.

Istri Nabi yang Paling Baik Versus yang Paling Dengki

Sudah umum diketahui di kalangan kaum Muslimin bahwa istri Nabi yang paling baik adalah Khadijah binti Khuwailid ra. Dialah perempuan pertama yang memeluk Islam dan memberikan seluruh kekayaannya untuk berjuang di jalan Allah SWT, dan Nabi Muhammad SAW tidak pernah menikah dengan perempuan lain selama hidupnya Khadijah.

Rasulullah SAW menyebutkan nama-nama perempuan yang terbaik di dunia ini secara kronologis, dan orang tentu terkejut bahwa Aisyah tidak ada dalam daftar tersebut.

Rasulullah SAW bersabda, “Perempuan yang paling unggul di seluruh alam yang dipilih Allah di antara seluruh perempuan adalah Asiah istri Firaun, Maryam binti Imran, Khadijah binti Khuwailid dan Fathimah binti Muhammad.53

Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Empat perempuan yang merupakan putri-putri seluruh alam; Maryam, Asiah (istri Fir’aun), Khadijah dan Fathimah. Dan yang paling unggul di antara mereka di seluruh alam adalah Fathimah.54

Lebih jauh, setelah kepergian Khadijah ketika Nabi Muhammad SAW menikahi Aisyah dan yang lainnya, beliau secara eksplisit menyatakan keutamaan beberapa di antara mereka di atas Aisyah dan berkata bahwa mereka lebih baik dari Aisyah (lihat Shahih at-Turmudzi; al-Isti’ab oleh Ibnu Abdul Barr; dan al-Ishabah oleh Ibnu Hajar Asqalani, pada bab tentang biografi Shafiyah). Juga ayat ‘Bisa jadi jika dia menceraikan kamu, Tuhannya akan memberinya istri yang lebih baik dari kamu, yang taat dan yang beriman’ ! QS. at-Tahrim : 5), dengan jelas menunjukkan bahwa terdapat perempuan­perempuan mukminah yang lebih baik dari Aisyah.

Dalam Shahih Bukhari hadis 5.168b, juga dilaporkan dalam Shahih Muslim,, dikatakan, pada satu kesempatan ketika Nabi Muhammad SAW menyebutkan Khadijah di depannya, Aisyah berkata,

“Suatu ketika Halah binti Khuwailid, saudara perempuan Khadijah, meminta izin Nabi Muhammad SAW untuk masuk. Melihat hal itu, Nabi Muhammad SAW teringat kepada cara Khadijah meminta izin, dan itu membuat beliau sedih. Beliau berseru, “Ya Allah Halah!”

Maka aku menjadi cemburu dan berkata, ‘Apa yang membuatmu teringat kepada seorang perempuan tua di antara perempuan­-perempuan tua Quraisy seorang perempuan (dengan mulut yang tak bergigi) bergusi merah dan telah meninggal sejak lama, dan yang Allah telah menggantikan tempatnya dengan memberimu seseorang yang lebih baik dari dia?” Nabi Allah SAW menjadi sangat marah mendengar perkataan itu sehingga rambut beliau berdiri.

Lebih jauh, Bukhari meriwayatkan pada hadis 5.166 bahwa Aisyah mengakui,

“Aku tidak pernah merasa cemburu terhadap istri-istri Nabi sebesar kecemburuanku kepada Khadijah. Meskipun aku tidak pernah melihatnya, namun Nabi Muhammad SAW sangat sering menyebutnya, dan setiap kali beliau menyembelih domba, beliau tentu memotong salah satu bagian dan diberikan kepada teman-teman perempuan Khadijah. Ketika kadang-kadang aku berkata kepada beliau,.’(Engkau memperlakukan Khadijah) seolah-olah tidak ada perempuan lain di bumi kecuali Khadijah!’ Maka beliau berkata, ‘Khadijah adalah begini­ begitu, dan darinyalah aku mendapatkan anak.”

Khadijah adalah perempuan yang paling awal beriman, yang kepadanya Jibril menyampaikan salam, dan yang diberi kabar gembira akan surga (Shahih Bukhari hadis 9.588). Diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda,

“Jibril berkata, ‘Inilah Khadijah datang kepadamu dengan sepiring makanan atau sebuah gelas yang berisi sesuatu minuman. Sampaikanlah kepadanya salam dari Tuhannya (Allah) dan berikanlah kepadanya kabar gembira bahwa dia akan memiliki sebuah istana di surga yang dibuat dari Qasab yang tidak ada dalamnya kebisingan dan keretakan (masalah)!”

Hadis-hadis yang sama dilaporkan juga melalui riwayat Ismail dan Aisyah (lihat Shahih Bukhari: hadis 3.19; 5.164; 5.165; 5.167; 5.168; 7.156; 8.33; 9.576).

Ketika Aisyah sudah cemburu, dia tentu melampaui batas dan melakukan hal-hal yang aneh seperti memecah-mecahkan piring dan merobek-robek pakaian. Pada kesempatan lain ketika Nabi Muhammad SAW berada di rumah Aisyah, Shafiyah, salah seorang Ummul Mukminin, mengirimkan kepada Nabi Muhammad SAW sepiring makanan yang betul­betul disukai beliau. Dia (Aisyah) menghancurkan piring itu bersama­-sama dengan makanan yang ada di atasnya.

Aisyah mengakui hal ini, “Shafiyah istri Nabi (suatu ketika) mengirimkan sepiring makanan yang dia buat untuk beliau ketika beliau sedang bersamaku. Ketika aku melihat sang pelayan perempuan, aku gemetar karena gusar dan marah, dan aku ambil mangkuk itu dan melemparkannya. Nabi Muhammad SAW lalu memandangku. Aku melihat kemarahan di wajah beliau dan aku berkata kepadanya, Aku berlindung dari kutukan Rasulullah hari ini.’ Nabi Muhammad SAW berkata, ‘Ganti!’ Aku berkata, ‘Apa gantinya duhai Nabi Allah?’ Beliau berkata, ‘Makanan seperti makanan dia (Shafiyah) dan sebuah mangkuk seperti mangkuknya!”55

Bukhari pun menegaskan episode tersebut dalam Shahih Bukhari hadis 7.152 (bab Kecemburuan).

Diriwayatkan dari Anas, “Ketika Nabi sedang dalam rumah seorang istrinya, salah seorang Ummul Mukminin mengirimkan sepotong daging di atas sebuah piring. Istri Nabi yang Nabi sedang ada di rumahnya itu menyerang tangan sang pelayan, menyebabkan piring itu jatuh dan pecah. Nabi Muhammad SAW mengumpulkan potongan-potongan piring tersebut dan lalu mulai menaruh makanan yang semula ada di atas piring tersebut dalamnya, dan berkata, ‘Ibumu (istriku) sedang cemburu.’ Kemudian beliau menahan pelayan itu hingga sebuah piring (yang masih bagus) dibawa dari rumah istri yang sedang beliau singgah tersebut. Beliau memberikan piring yang tidak pecah kepada istri beliau yang piringnya telah dipecahkan dan menaruh piring yang telah pecah itu di rumah istri beliau tempat pecahnya piring tersebut.”

Dalam kesempatan lain, Aisyah berkata tentang dirinya sendiri, aku berkata kepada Nabi Muhammad SAW, ‘Cukuplah bagimu tentang hafiyah begini dan begitu.’ Nabi Muhammad SAW berkata kepadaku, kamu telah mengucapkan kata-kata yang jika dicampur dengan air laut, akan mewarnainya.”56

Sekali lagi, Aisyah menceritakan kecemburuannya kepada Mariah (salah seorang istri Nabi yang lain),

“Aku belum pernah cemburu kepada seorang perempuan sebagaimana kecemburuanku kepada Mariah. Itu disebabkan karena dia memiliki baju dalam yang cantik. Dia biasa tinggal di rumah Haritsah bin Uman. Kami menakut-nakutinya dan aku menjadi khawatir. Nabi Allah SAW mengirimnya ke tempat yang lebih tinggi dan beliau suka mengunjunginya di sana. Hal itu menyusahkan kami, dan Allah memberkahi beliau dengan seorang bayi laki-laki melaluinya dan kami (lalu) menjauhi beliau.”57

Kecemburuan Aisyah bahkan melebihi Mariah, dan terarah kepada Ibrahim, seorang bayi baru lahir yang berdosa. Aisyah berkata,

“Ketika Ibrahim lahir, Rasulullah membawanya kepadaku dan berkata, ‘Lihatlah betapa miripnya dia denganku!’ Aku berkata, ‘Aku tidak melihat sedikitpun kemiripan.’ Rasulullah SAW berkata, `Tidak engkau lihat betapa tegap dan cakapnya dia?” Aku berkata, ‘Siapapun yang diminumi susu domba akan menjadi cakap dan tegap.’58

Aisyah sangat dipenuhi oleh emosi dan motif-motif egoistis. Ketika beberapa orang dengan liciknya melancarkan tuduhan kepada Mariah, Aisyah lah yang mendukung para penuduh dan berusaha menegaskan tuduhan yang salah tersebut. Namun Allah Yang Maha Tinggi dan Mulia, membebaskan Mariah dari tuduhan tersebut dan menyelamatkannya dari kezaliman, melalui Amirul Mukminin Ali. (untuk keterangan detil tentang Mariah ra, lihat al-Mustadrak oleh Hakim jilid 4, halaman 30 atau dalam Talkhis al-Mustadrak, oleh Dzahabi).

Ketika Aisyah dikuasai oleh kecurigaan dan tuduhan-tuduhan brutal, kecemburuannya akan melewati batas-batas, sedemikian jauh hingga mengungkapkan kata-kata yang mengantarkannya pada kecurigaan terhadap Rasulullah SAW. Dia sangat sering berpura-pura tidur ketika Nabi tinggal pada malam itu di rumahnya. Namun, kenyataannya dia mengamati dari dekat suaminya, memata-matai beliau dalam kegelapan, dan mengikuti ke mana pun beliau pergi dari belakang. Aisyah bercerita, “Ketika tiba giliran bermalam Rasulullah denganku, beliau memutar pinggang beliau, mengenakan mantel beliau dan melepaskan sepatu beliau dan meletakkannya dekat kaki beliau dan mengembangkan ujung selendang beliau di atas pembaringan dan kemudian berbaring hingga beliau mengira bahwa aku telah tertidur. Beliau kemudian melepaskan mantel beliau dan memakai sepatu beliau dengan perlahan, dan membuka pintu dan keluar dan kemudian menutup pintu dengan ringan. Aku menutupi kepalaku, mengenakan jilbab, mengencangkan kain kebaya, kemudian keluar mengikuti langkah-langkah beliau hingga beliau mencapai (pemakaman) al-Baqi.

 

Dia berdiri di sana untuk waktu yang lama. Dia mengangkat tangan tiga kali lalu kembali pulang. Aku juga ikut pulang. Dia mempercepat langkah beliau dan aku juga mempercepat langkahku. Dia lari, akupun lari. Dia sampai ke rumah, dan aku pun sampai ke rumah. Namun, aku mendahuluinya masuk rumah dan segera berbaring di tempat tidur. Dia masuk dan bertanya, ‘Mengapa nafasmu tersengas-sengal?’ Aku menjawab, ‘Tidak ada apa-apa.’ Dia berkata, ‘Katakanlah kepadaku, atau Yang Maha Lembut dan Maha Sadar akan memberitahuku!’ Aku lalu menceritakan jalan ceritanya. Dia berkata, ‘Kamukah hitam-hitam (dari bayanganmu) yang aku lihat di depanku?’ Aku berkata, ‘Ya.’ Beliau kemudian memukul dadaku yang menyebabkanku merasa nyeri dan berkata, ‘Apakah kamu berpikir bahwa Allah dan Rasul-Nya akan bertindak tidak adil kepadamu?”‘59

Dalam kesempatan lain, dia berkata,

‘Aku kehilangan jejak Rasulullah SAW. Aku curiga dia telah pergi ke salah seorang istrinya yang lain. Aku pergi mencarinya dan menemukannya sedang bersujud dan berseru, ‘Duhai Tuhanku, maafkan aku!”60

Di kesempatan lain, Aisyah berkata,

“Suatu malam, ketika bersamaku, Rasulullah SAW keluar. Aku menjadi cemburu. Ketika beliau datang dan melihat apa yang telah kulakukan, beliau berkata, Ada apakah Aisyah? Apakah kamu sedang cemburu ? “ Aku menjawab, ‘ Dan mengapakah orang sepertiku tidak ( boleh ) cemburu terhadap orang sepertimu ?” Rasulullah SAW berkata, ‘ Apakah setan telah menguasaimu”? 61

Bahkan Aisyah juga berbohong kepada Nabi Muhammad SAW. Suatu ketika, Nabi Muhammad SAW meminta Aisyah mengumpulkan informasi tertentu tentang seorang perempuan bernama Syarraf, saudara perempuan Dihya Kalbi. Informasi yang dia bawakan kepada beliau bukanlah informasi benar, tetapi informasi palsu yang didorong oleh motif egoistisnya. Ketika Nabi Muhammad SAW memberitahunya tentang informasi seber~arnya yang telah dia amati, Aisyah menjawab, “Ya Nabi Allah! Tidak ada rahasia yang tidak engkau ketahui. Siapakah yang dapat menyembunyikan sesuatupun darimu?”62

Bukhari meriwayatkan dalam Shahih hadis 6.434 dari Aisyah, “Nabi biasa meminum madu di rumah Zainab binti Jahsy dan aku suka tinggal di sana / bersama dia (Zainab). Maka Hafsah dan aku dengan diam-diam bersepakat bahwa jika beliau datang kepada salah seorang dari kita, kita akan berkata kepada beliau, ‘Nampaknya kamu telah memakan maghafir (sejenis getah yang berbau busuk), sebab aku mencium bau maghafir dalam dirimu.”‘

Dalam Shahih Bukhari hadis 7.192, diriwayatkan dari Ubaid bin Umar,

‘Aku mendengar Aisyah berkata, ‘Nabi Muhammad SAW biasa tinggal untuk waktu yang lama bersama Zainab binti Jahsy dan meminum madu di rumahnya. Maka Hafsah dan aku memutuskan bahwa jika Nabi datang kepada seorang dari kita, dia akan berkata, “Saya merasakan bau Maghafir pada dirimu. Apakah engkau habis makan Maghafir?” Maka diturunkanlah ayat, Wahai Nabi! Mengapakah engkau haramkan atas dirimu apa yang Allah telah menghalalkannya bagimu….. (QS. at-Tahrim : 1-4).”

Bahkan, setelah sebulan Nabi Muhammad SAW mengasingkan diri dari istri-istri beliau dan turun ayat, Kamu boleh menangguhkan salah seorang dari mereka yang kamu ingini dan (boleh pula) menggauli siapa yang kamu kehendaki. Maka siapa-siapa yang kamu ingini untuk menggaulinya kembali dari perempuan yang telah kamu cerai, maka tidak ada dosa bagimu (QS.al-Ahzab : 51), Aisyah masih saja mengeluarkan kata – kata yang tidak pantas, “ Nampak bagiku bahwa Tuhanmu bercepat – cepat memuaskan keinginanmu !”63

Kelakuan buruknya di depan Rasulullah SAW mencapai puncaknya ketika beliau sedang salat, dia menjulurkan kakinya di tempat sujud. Ketika beliau sujud dan mencubit kedua kakinya, dia menarik kakinya. Ketika beliau berdiri untuk melanjutkan salat, dia julurkan lagi kedua kakinya.

Dalam Shahih Bukhari: 1.492 dan 1.379 diriwayatkan oleh Aisyah, ‘Aku biasa tidur di depan Rasulullah dengan kakiku berada di kiblat beliau (di depan beliau). Dan ketika beliau bersujud, beliau menekan (mencubit) kakiku dan aku lalu menariknya dan ketika dia berdiri, aku menjulurkannya lagi.

Suatu hari, di depan ayahnya (Abu Bakar), dia memulai sebuah pertengkaran dengan Nabi Muhammad SAW dan berkata kepada beliau, “Adililah!” Ayahnya menghukum kekurang ajarannya dengan memberinya tamparan keras di wajahnya sehingga berdarah-darah dan darah itu mengalir mengenai pakaiannya.

Jika Aisyah marah kepada Nabi Muhammad SAW-seringkali dilakukan – dia tidak mau menyebut nama Nabi Muhammad SAW, tetapi lebih suka memanggilnya, “Demi Tuannya Ibrahim (anak Rasululllah SAW).” (Shahih Bukhari, edisi Arab-Inggris, hadis 7.155 dan 8.101, bab Kecemburuan dan Tipu Muslihat Perempuan).

Suatu saat, ketika dia pernah berkata dengan marah kepada Nabi \ Muhammad SAW, “Kamulah orangnya yang menganggap diri seolah-olah Nabi dari Allah.”65

Dengan sifat-sifat yang semacam itu, layakkah dia dimasukkan ke dalam Ahlulbait yang telah disucikan sesuci-sucinya oleh Allah SWT. Padahal, membantah Nabi Muhammad SAW saja sudah cukup untuk menunjukkan ketidakmurnian ketaatan dan kecacatan dalam hal kesalehan. Dia malah memarahi, menjauhi, memata-matai, mencurigai, bahkan menuduh Rasulullah SAW sebagai berpura-pura jadi Nabi.

Istri yang Paling Dicintai?

Sejumlah orang mengklaim bahwa Aisyah adalah istri Nabi yang paling dicintai dan penuh kasih, dan bahwa Nabi Muhammad SAW tidak dapat dipisahkan darinya. Mereka bahkan melaporkan bahwa beberapa orang istri beliau rela memberikan giliran mereka kepada Aisyah begitu mereka tahu bahwa Nabi Muhammad SAW mencintai dia dan tidak dapat menahan untuk bertemu dengannya. Klaim semacam ini jelas bertentangan dengan hadis-­hadis sahih sebelumnya yang menyebutkan bahwa Khadijah adalah istri Nabi yang paling baik, dan hadis-hadis yang menyebutkan sifat Aisyah yang amat pencemburu. Jika saja Aisyah adalah istri yang paling dicintai, dapatkah kita memberikan penjelasan atas kecemburuan Aisyah yang berlebihan itu?

Berikut ini penjelasan yang diberikan oleh Bukhari dan ulama-ulama hadis lainnya tentang sikap Aisyah terhadap suaminya SAW.

Dalam Shahih Bukhari hadis 7.570, diriwayatkan dari Qasim bin Muhammad,

‘Aisyah (sambil mengeluh sakit kepala) berkata, ‘Aduh, kepalaku!’ Nabi berkata, ‘Aku berharap bahwa (kematianmu) terjadi pada saat aku masih hidup, karena dengan demikian aku dapat memintakan ampunan Allah bagimu dan berdoa kepada Allah untukmu.’ Aisyah berkata, ‘Cerita yang sama! Demi Allah, aku pikir bahwa engkau menginginkanku mati, dan jika ini terjadi, engkau akan menghabiskan sisa harimu dengan tidur bersama salah seorang istrimu!”‘

Apakah narasi di atas menunjukkan bahwa Rasulullah SAW amat mencintai Aisyah sehingga beliau tidak dapat hidup tanpa dia? Aisyah sendiri, dengan sepenuh kecemburuannya, mengakui bahwa Nabi Muhammad SAW berharap untuk bersama dengan istri beliau yang lain dari pada menghabiskan waktu beliau bersama dirinya. Seraya meramalkan perjalanan hidup Aisyah di kemudian hari, Nabi Muhammad SWT bahkan berharap agar dia meninggal pada masa hidup beliau, sehingga beliau dapat memintakan ampunan Allah SWT baginya.

Lagi pula, bagaimana mungkin Nabi Muhammad SAW mencintai seseorang yang berbohong, memfitnah, mengumpat dan meragukan Allah dan Rasul-Nya dengan menuduh mereka tidak adil? (lihat hadis yang ada di bagian sebelumnya, juga pada hadis-hadis di bawah ini). Bagaimana mungkin Rasulullah SAW mencintai seseorang yang memata-matai beliau, ke luar tanpa izin beliau untuk mencari tahu di mana beliau pergi? Bagaimana mungkin Rasulullah SAW mencintai seseorang yang menghina salah seorang istri beliau (Khadijah) di depan beliau, bahkan ketika sudah meninggal? Bagaimana mungkin Nabi Muhammad SAW mencintai seseorang yang membenci putra beliau Ibrahim, dan menuduh istri beliau, Mariah, berbohong?

Bagaimana mungkin Nabi Muhammad SAW mencintai seseorang yang membenci putri beliau Fathimah Zahra, dan yang membenci saudara dan kemenakannya, Ali bin Abi Thalib, sampai-sampai dia tidak mau menyebutkan nama Ali dan berprasangka baik pada Ali?66

Perbuatan-perbuatan semacam itu dibenci oleh Allah SWT dan Nabi­Nya, dan mereka tidak akan mencintai orang yang melakukan perbuatan tersebut, sebab kebenaran adalah bersama Allah dan Rasul-Nya adalah retleksi dari kebenaran, karena itu tidak mungkin bagi beliau untuk mencintai seseorang yang menentang kebenaran. Dalam kenyataannya, tidak saja Rasulullah SAW tidak mencintai dia, bahkan beliau juga memperingatkan umat akan fitnah yang dia akan timbulkan.

Laporan-laporan lemah yang mengklaim adanya cinta yang berlebihan dari Rasulullah SAW kepada Aisyah senyatanya adalah dibuat oleh musuh­- musuh Ali. Mereka memberikan kehormatan yang paling tinggi kepada Aisyah manakala dia melayani mereka. Dia meriwayatkan bagi mereka apa yang mereka sukai, dan dia berperang dengan musuh mereka, Ali bin Abi Thalib.

Salah satu alasan yang dikemukakan oleh orang-orang yang mengklaim adanya kecintaan yang berlebihan Nabi Muhammad SAW kepada Aisyah adalah karena Aisyah cantik dan muda, dan satu-satunya perawan yang beliau nikahi, sebab sebelumnya tidak pernah dinikahi oleh orang lain. Yang lainnya berkata, “Sebab dia adalah putri Abu Bakar Sidiq, sahabat Nabi Muhammad SAW yang menemani beliau di gua (tsur).” Sementara yang lainnya menyatakan, “Sebab dia menghafal separuh agama dari Rasulullah SAW dan dia adalah seorang ahli hukum yang terpelajar.”

Untuk klaim yang pertama, jika saja Nabi Muhammad SAW menikahi dia karena dia cantik dan satu-satunya perawan yang beliau nikahi, lalu apa yang menghalangi beliau dari menikahi perawan-perawan cantik yang kecantikan dan daya tariknya jauh melebihi dia, dan yang memainkan model bagi suku­-suku Arab saat ini? Di sisi lain, sejarahwan Sunni sendiri menyebutkan adanya kecemburuan Aisyah kepada Zainab binti Jahsy, Shafiyah binti Huyay dan Mariah Qibt, karena mereka lebih cantik daripada dia.

Nabi Muhammad SAW menikahi Malikah binti Ka’ab yang dikenal karena kecantikannya yang menonjol. Aisyah pergi mengunjungi dia dan berkata, “Tidaklah kamu malu menikahi pembunuh ayahmu sendiri?” Dia (Malikah) lalu mencari perlindungan dari Rasulullah, dan atas kejadian itu lalu beliau menceraikannya. Orang-orangnya lalu datang kepada beliau dan berkata, “Wahai Rasulullah, dia masih muda dan kurang memiliki pengetahuan. Dia telah ditipu, karena itu ambillah dia kembali!” Rasulullah SAW menolak permintaan mereka, padahal pembunuh ayah Malikah adalah Khalid bin Khandama.67

Narasi ini dengan jelas bahwa Rasulullah SAW tidaklah menikahi seseorang karena kecantikannya, sebab kalau tidak beliau sudah tentu tidak akan menceraikan Malikah binti Ka’ab yang masih muda dan dikenal dengan kecantikannya yang terkemuka.

Narasi ini, juga narasi-narasi lain di bawah, menunjukkan kepada kita metode yang digunakan oleh Aisyah dalam menipu perempuan­-perempuan mukminat yang tidak berdosa, dan mencegah mereka dari menikahi Rasulullah SAW. Di sini Aisyah menghasut lewat perasaan Malikah terhadap kematian ayahnya, dan mengatakan bahwa pembunuh ayahnya adalah Rasulullah SAW, dengan kata-kata, “Tidaklah kamu malu menikahi pembunuh ayahmu sendiri?” Apa yang dapat dilakukan oleh gadis lugu tersebut kecuali meminta perlindungan dari Rasulullah SAW? Padahal, Rasulullah SAW bukan pembunuhnya.

Dilaporkan juga bahwa ketika Asma binti Nu’man dibimbing untuk berdampingan dengan mempelai laki-lakinya (yakni Nabi Muhammad SAW), Aisyah memberi tahu dia bahwa Nabi sangat amat senang dengan perempuan yang ketika mendekati beliau berkata, “Semoga Allah menyelamatkanku dari engkau!”68

Di sisi lain muncul pertanyaan, mengapa Nabi Muhammad SAW menceraikan keduanya, yang semata-mata hanyalah korban dari rencana dan tipuan Aisyah? Sebelum pembahasan lebih lanjut, kita harus menyadari bahwa Nabi Muhammad SAW adalah maksum, dan karena itu beliau tidak akan memaksa seseorang, ataupun melakukan sesuatu yang tidak benar. Oleh karena itu, dalam menceraikan kedua perempuan itu pastilah terdapat hikmah yang diketahui oleh Allah SWT dan Nabi-Nya. Sama halnya, meskipun kelakuan Aisyah sedemikian rupa, pasti terdapat Zikmah sehingga beliau tidak menceraikannya.

Sejauh tentang perempuan yang kedua, yaitu Asma binti Nu’man, sifat naifnya menjadi tampak ketika tipu daya Aisyah mencengkramnya, dan kalimat pertama yang dia sampaikan kepada Rasulullah SAW ketika beliau merentangkan tangan beliau kepadanya adalah “Aku berlindung kepada Allah dari Anda!” Meskipun dia cantik luar biasa, Nabi Muhammad SAW tidak membiarkannya tetap berada pada kecupetan pemikirannya.

Bersama-sama dengan para perawi lainnya, Ibnu Sa’d dalam kitab –at-Tabaqat-nya jilid VIII halaman 145 atas otoritas Ibnu Abbas berkata, Nabi Muhammad SAW menikahi Asma binti Nu’man, dan dia termasuk diantara perempuan yang paling cantik dan sempurna pada masanya.” Barangkali Nabi Muhammad SAW ingin mengajari kita tentang pentingnya pertimbangan intelektual daripada kecantikan fisik, sebab berepa banyak perempuan cantik telah dihantarkan oleh kebodohannya menuju kehancuran ?

Sejauh tentang perempuan yang pertama, yaitu Malikah binti Ka’ab, yang ditipu oleh Aisyah dengan mengatakan kepadanya bahwa suaminya (Nabi Muhammad SAW) adalah pembunuh ayahnya, Nabi Muhammad SAW tidak ingin gadis bodoh ini – yang masih muda dan kurang pengetahuan, sebagaimana yang dibenarkan oleh kaumnya – hidup dalam ketakutan dan teror yang dapat menyebabkan masalah-masalah besar lainnya, khususnya karena Aisyah tidak akan pernah membiarkannya hidup damai bersama Nabi Muhammad SAW. Tidak diragukan lagi, terdapat alasan lain yang diketahui oleh Nabi Muhammad SAW yang tidak kita ketahui.

Catatan Kaki

<!–[if !supportLists]–>1. <!–[endif]–>Referensi Sunni: Shahihb Muslim. dan keutamaan sahabat, bagian keutamaan Ali, publikasi arab saudi 1980, versi arab, jilid 4 hal 1873, hadis ke 36, (untuk versi inggris lihat Bab CMXCVI, jilid ke 4, hal 1286. hadis ke 5.920) dan sumber – sumber lain, misalnya shahih at-Turmudzi dan Musnas Ahmad

<!–[if !supportLists]–>2. <!–[endif]–>Referensi Sunni: Shahih at-Turmuzhi. Versi arab. Jilid 5. hal 222-663.328. dilaporkan lebih dari 30 sahabat dengan berbagai rantai periwayatan (sanad) al- Mustadrak oleh hakim. Dalam bab memahami (keutamaa) sahabat jilid3. hal 109.100.148.533. Hakin juga menyatakan bahwa hadis – hadis shahih menutur criteria dua Syekh ( Bukhari dan Muslim); Sunan Daramis jilid 2 hal 432; Musnad Ahmad bin Hanbal, lijid 3 hal. 14.17.26.59; jidil 4 hal. 336.370-372; jilid 5, hal. 182.189.350.366.419; fadha’il ash-Shahabah, Ahmad bin Hambal, jilid 2. hal 585 hadis ke 990;al-khasha’ish. Nasa ‘I hal 21.30; as-Sawiq al-Muhriqah. Ibnu Hajar haitsami, Bab II, bagian 1 hal 230; al-kabir, Thabari, jilid 3 hal 62-63 137; Kanz al-Ummal, Muttaqi hindi, bab al-I’tisham bi Hablilah, jiulid 1 hal 44; Tafsir Ibnu Katsir ( versi lengkap) jilid 4 hal 113, pada komentar pada ayat – ayat 42:23 (empat edisi); at-tabaqat al-Kubra, Ibnu Sa’d jilid 2 hal 194, publikasi dar Isadder Libanon; al-Jami’ash shaghir, suyuthi jilid 1 hal 194 juga pada jilid 2; Majda az’Zawa’i. Haitsami . jilid 9 hal 163; al-fatih al-kabitr, Binhani, jilid 1 hal451; Ushul Ghabah fi Ma’rifat ash-Shahbat, Ibnu Atsir, jilid 2 hal 12; Jami al-Ushul. Ibu Atsit, jilid 1 hal187. Hisory of ibn Asakir, jilid 5. halaman 436; at-ytajul jamilil Ushul, jilid 3 hal 308; al-Durr al-Mantsur Hafizha suyuthi, jilid 2 hal 60; Yamabi al- Mawadah, Qunduzi hanafi hal. 38.183; Abaqat al-Anwar, jilid 1 hal 16 dan masih banyak yang lain.

<!–[if !supportLists]–>3. <!–[endif]–>Referensi Sunni; al-Mustadrak, Hakim jilid 3 gal 124, berdsarkan otoritas Ummu salamah; ash-Ahawa’iqa-Muhriqat, Ibnu hajar bab 9 bagian ke 2 hal 191-194’ al-Awsath, Tabaranin juga dalam as-Saghir; Tabarik al – khulafa; jalaludi Suyuthi hal 173

<!–[if !supportLists]–>4. <!–[endif]–>Referensi Sunnial- Mutadrak, hakin jilid 2 hal 343 jilid 3 hal 150-151 dari otoritas abu Dzar. Hakim menyatakan bahwa hadis ini shahih; fadha il ash-Shahab Ahmad Bin Hambal, jilid 2 hal; 786; Tafsir kabit, Fakhrurrazi pada komentar ayat diatas ayat 42;23, bagian ke 27 hal167 Bazzar dari otoritas Ibnu Habbas dan Ibnu Zybair dengan kata – kata ‘tenggelam’ bukan ‘binasa’Ash-Shawa ‘iq al-Muhriqah. Ibnu hajar hait sami, bab 11 bagian 1 hal 234 komentar atas ayat 8;33 juga pada bagian ke 2 hal 282. Dia mengatakan bahwa hadis ini diriwayatkan dari banyak otoritar ‘tarikha al-Khulafa dan Jami us Saghi Suyuthi; al-Kabit. Tabarani, jilid 3 hal 37, 38,; as-saghir , Tabani, jilid 2 gal 22. Hilyat al-Awliya. Abu Nu’aim, jilid 4 hla 306; al-Kina wal Asma, Dulabi, jilid 1 hal 76; Yanabi al-Mawaddah. Qunduzi Hanafi, hal 30.370; Is’af ar- traghibin, saban

<!–[if !supportLists]–>5. <!–[endif]–>Referensi Sunni; al-Durr al-mantsur, Suyuthi, jilid 2 hal 60; ash Shawa’iq al-Muhriqah Ibnu hajar haitsama bab II bagian 1 hal 230. dikutif dar tabarani, juga di bagian 2, hal 342; Ushul Ghabah, Ibnu Atsir, jilid 3 hal 137; Yanabi al’Mawaddah, Qunduzi hanafi hal 41 335 jkanz al-Ummal, Muttaqi Hindi, jilid 1 hal 168, Majda ‘az Zawa’is. Haitsami jilid 9 hla 163. Aqabat al-Amwar, jilid 1 hla 184’; A’alam al-Wara, hal 28-33; as-Sirah al-halabiyyah, Nuriddin Halabi, jilid 3 hal 273.

<!–[if !supportLists]–>6. <!–[endif]–>Referensi Sunni; Majma’az-Zawid, haitsmi, jilid 9 hal 168; al-Awsat, tabarani hadis ke 18; Arba’in. abhani, hal 220,234, hadis yang mirip di catat oleh Daruquthni maupun Ibnu Hajar dalah kitabnya ash-Ahawa’iq al-Muhriqah, bab 9 bagian 2 hal dimana Nabi Muhammad saw mengatakan, “Ali adalah Gerbang Pengampunan, siapa saja yang memasukinya adalah seorang yang beriman dan siapa saja yang kcluar darinya adalah orang yang tidak beriman.”

7. Referensi Sunni: ash-Shawa’iq al-Muhriqah, Ibnu Hajar, ha1.91.

8. Referensi Sunni: nsh-Shawa’iq al-Muhriqah, Ibnu Hajar, bab 9, bagian 2.

9. Referensi Sunni: ash-Shama’iq al-Muhriqah, Ibnu Hajar Haitsami, bab 11, bagian l, hal. 230.

10. Referensi Sunni: Syaikh Muhammad Abu Zahrah dalam kitabnya al­Imam Shadiq, hal. 27.

11. Referensi Sunni: Syaikh Muhammad Abu,Zahrah dalam kitabnya al­Imam Shadiq, hal. 66.

12. Referensi Sunni: Syaikh Muhammad Abu Zahrah dalam kitabnya al­-Imam Shadiq, hal. 66.

13. Referensi Sunni: as-Shawn’iq al-Muhriqah, Ibnu Hajar, hal. 136.

14. Referensi Sunni: Kanz al-Llrnmal, Muttaqi Hindi, jilid 6, hal. 155, hadis ke 2.578, juga ringkasan Knnz al-Limmnl yang ada di catatan pinggir Musnad Anruad ibn Hanbnl jilid 5, hal. 32.

15. Referensi Sunni: Is’af ar-Raghibift, Saban; as-Synraf al-Mua’abbad, oleh Syaikh Yusuf Abahani, hal. 31, melalui lebih dari sah.t jalvr.

16. Referensi Sunni: Kitab asy-Syafa, Qadhi Iyadh, dipublikasikan pada tahun 1328 H, jilid 2, hal. 40; Yatvabi al-Mawaddah, Qunduzi Hanafi, bagian 65, hal. 370.

17. Referensi Sunni: Ihya’al-Mayyit, Hafizh Jalaluddin Suyuthi; Arba’in al­‘Arbain, Allamah Abahani.

18. Referensi Sunni: Tafsir al-anbir, Fakhruddin Razi, jilid 27, hal. 166, pada komentar atas ayat Quran 42:23; ash-Shawa’iq al-Muhriqah, oleh Ibnu Hajar, hal. 88, berkenaan dengan ayat Quran 33:33.

19. Referensi Sunni: Shahih Muslim, bab Keutamaan Sahabat, bagian keutamaan Ahlulbait Nabi Muhammad saw, edisi 1980, terbitan Arab Saudi, versi Arab, jilid 4, ha1.1883, hadis ke 61.

20. Referensi Sunni: Shahih at-Turmudzi, jilid 5, ha1.351, 663

21. Referensi Sunni: al-Mustadrak Hakim, jilid 2, hal. 416

22. Referensi Sunni: Usal al-Ghahah, Ibnu Atsir, jilid 2, hal. 289; Taf.sir al­Durr al-Mantsur, Suyuthi, jilid 5, hal. 198.

23. Referensi Sunni: Tafsir Thabari, jilid 22, hal. 7 pada komentar tentang ayat 33:33. Di samping Shahih Muslim dan Tirmidzi, yang dari keduanya kami mengutip ‘Nadis Mantel’ (kisa) melalui otoritas Aisvah dan Ummu Salamah secara berturut-turut, di bawah ini adalah referensi Sunni tentang hadis mantel, yang rnelaporkan tentang kedua versi hadis tersebut; Musnad Ahmad Ibn Harrbal, jilid 6, hal. 323, 292, 298; jilid 1, hal. 330-331; jilid 3, hal. 252; jilid 4, hal. 107 dari Abu Sa-id Khudri; Fadha’il ash-Sha}rabah, olch Ahmad bin Hanbal, jilid 2, hal. 578, hadis ke 978; al-Mmtadrak oleh Hakim, jilid 2, hal. 416 (dua hadis) dari Ibnu Abu Salamah, jilid 3, hal. 146-148 (lima hadis), hal. 158, 172; al-Khasaisy, Nasa’i, hal. 4,8; as-Sunan oleh Baihaqi, diriwayatkan dari Aisvah and Ummu Salamah; Tafsir al-Kabir-, Bukhari (penyusun Shahih Bukhari), jilid 1, bagian 2, hal. 69; tazhir al­Kabir, oleh Fakhrurrazi, jilid 2, hal. 700 (Istanbul), dari Aisyah; Tafsir al­Durr al-Mautsur, Suvuthi, jilid 5, hal. 198,605 dari Aisyah and Ummu Salamah; Tafsir Ibnu Jarir Thabari, jilid 22, hal. 5-8 (dari Aisyah dan Abu Sa’id Khudri), hal. 6,8 (dari Ibnu Abu Salamah) (10 hadis); Tafsir, Qurthubi, pada komentar atas avat 33:33 dari Ummu Salamah; Tafsir, Ibnu Katsir, jilid 3, hal. 485 (versi lengkap) dari Aisyah dan Umar bin Abi Salamah; Lisd al-Ghabah, oleh Ibnu Atsir, jilid 2, hal. 12; jilid 4, ha1.79 diriwayatkan dari Ibnu Abu Salamah; Shazun`iq al-Muyriqah, Ibnu Hajar Haitsami, bab 11, bagian 1, hal. 221 dari Ummu Salamah; Tarikh, Khatib Baghdadi, jilid 10, diriwavatkan dari Ibnu Abu Salamah; Tafsir al-Kasysyaf, Zamakhsyari, jilid 1, hal. 193 diriwavatkan dari Aisyah; Musykil al-Atsnr, Tahawi, bab l, hal. 332-336 (tujuh hadis); Dhakha’ir al-Liqbah, Muhibb Thabari, hal. 21-26, dari Abu Sa’id Kzudri; Majma’ az-Zawa’id, Haitsami, jilid 9, hal. 166 (dari berbagai jalur).

24. Referensi Sunni: al-Mustadrak Hakim, bab Memahami (keutamaan) Sahabat, jilid 3, hal. 148. Pengarang kemudian menulis, “Hadis ini adalah shahih berdasarkan kriteria dua Syekh (Bukhari Muslim).”; TaIkhis al-Mu-tadrak, Dzahabi, jilid 3, hal. 148; Used -Ghabah, Ibnu Atsir, jilid 3, hal. 33.

25. Referensi Sunni: as-Sawaiij al-Muhriqah, oleh Ibnu Hajar, bab 11, bagian l, hal. 220.

26. Referensi Sunni: Shaih-Turmudzi, jilid 72, ha1.85; Musnad Ahrnad Ibn Hanbal, jilid 3, hal. 258; al-Mustadrak, Hakim, jilid 3, ha1.158 yang menulis bahwa hadis ini shahih sesuai dengan kriteria Bukhari dan Muslim (tapi keduanya tidak melaporkan); Tafsir al-Durr al-Manfsur, Suyuthi, jilid 5, hal. 197, 199; Tafsir, Ibnu Jarir Thabari, jilid 22, hal. 5,6 (mengatakan ‘selama tujuh bulan’); Tafsir, Ibnu Katsir, jilid 3, hal. 483; Musnad, Tialasi, jilid 8, hal. 274; Usd al-Ghabah, Ibnu Atsir, jilid 5, hal. 146.

27. Referensi Sunni: Tafsir al-Durr al-Mantsur, Suyuthi, jilid 5, hal. 198,­199; Tafsir, Ibnu Jarir Thabari, jilid 22, hal. 6; Tafsir Ibnu Katsir, jilid 3, hal. 483; Dhakha’ir al-Llqbah oleh Muhibuddin Thabari, hal. 24 dari otoritas Anas bin Malik; Isti’ab oleh Ibnu Abdul Qarr, jilid 5, hal. 637; Usd al-Ghabah oleh Ibnu Atsir, jilid 5, hal. 146; mazma az’Zawa’id oleh Haitsami, jilid 9, hal. 121, 168; musykil al-Atsar oleh Tahawi, hal. 338. 28. Referensi Sunni: al-Durr al-Mantsur, oleh Hafizh Suyuthi, jilid 5, hal. 198.

29. Referensi Sunni: Tafsir al-Durr al-Mantsur, oleh Hafizh Suyuthi, jilid 5, hal. 199; Majma’ az-Zama’id oleh Haitsami, jilid 9, hal. 121, 168.

30. Referensi Sunni: al-Mustadrak, Hakim, jilid 3, hal. 172; Majma’ az­Zawdid, Haitsami, jilid 9, hal. 172.

31. Referensi Sunni: Majrna’ az-Zawa’id, Haitsami, jilid 9, hal. 172; Tafsir, Ibnu Katsir, jilid 3, hal. 486; Riwayat ini juga telah dilaporkan oleh Tabarani dan yang lainnya.

32. Referensi Sunni: Musykil al-Atsar-, Tahawi, jilid 1, ha1. 336.

33. Referensi Sunni: Musnad, Ahmad bin Hanbal, jilid 6, hal. 298; Tafsir al­Kabir, Ibnu Jarir Thabari, jilid 22, hal. 6; Musykil al-Atsar, oleh Tahawi, jilid l, hal. 335.

34. Referensi Sunni: Musnad, Ahmad bin Hanbal, jilid 1, hal. 331 (edisi pertama); Musnad, Ahmad bin Hanbal, jilid 5 hadis ke 3062 (edisi kedua); al-Khasyaisy, Nasa’i, hal. 11; ar-Riyadh an-Nadhirah, Mulubuddin Thabari, jilid 2, hal. 269; majma az-Zawa’id, Haitsami, jilid 9, hal. 119.

35. Referensi Sunni: al-Khasyaisy, Nasa’i, hal. 4; Cerita yang hampir sama dapat dibaca pada shahih Muslim, versi ini laris, bab CMXCVI (keutamaan Ali), hal. 1284, hadis ke 5.916.

36. Referensi Sunni: Tafsir al-Kabir, Ibnu Jarir Thabari, jilid 22, hat. 7; Tafsir, Ibnu Katsir, jilid 3, hal. 485; al-Mustadrak, Hakim, jilid 3, hal. 147; Musykil al-Atsar oleh Tahawi, jilid 1, hal. 336; jilid 2, hal. 33; Tarikh Thabari, versi Arab, jilid 5, hal. 31.

37. Referensi Sunni: Tafsir, Ibnu Jarir Thabari, jilid 22, hal. 5, tentang ayat 33:33; Dhakha’ir al-Uqbah, Muhibuddin Thabari, hal. 24; ash-Shawa’iq al-Muhriqah, Ibnu Hajar, bab 11, bagian l, hal. 221;11-lajma’ az-Zawa’id, Haitsami.

38. Referensi Sunni: Tafsir al-Kabir oleh Ibnu Jarir Thabari, jilid 22, hal. 6; al-Mustadrak, Hakim, jilid 2, hal. 416; jilid 3, hal. 417; Musnad, Ahmad bin Hanbal, jilid 6, hal. 107; Majma’az-Zarca’id, Haitsami, jilid 9, ha1.167; Musykil al-Atsar, Tahawi, jilid l, ha1.346; Sunan, Baihaqi, jilid 2, ha1.152.

39. Referensi Sunni:Usd (71-Ghabnh, Ibnu Atsir, jilid 2, hal. 20.

40. Referensi Sunni: Tafsir al-Kabir, Ibnu Jarir Thabari, jilid 22, hal. 7; Tafsir, Ibnu Katsir, jilid 3, hal. 486; Tafsir al-Durr al-Mantsur, Hafizh Suyuthi, jilid 5, hal. 199.

41. Referensi Sunni: Maqtal Husain, Khatib Kharazmi.

42. Referensi Sunni: al-Durr al-Mantsur, Hafizh Jalaluddin Suyuthi, jilid 2, hal. 38.

43. Referensi Sunni: Shahih Muslinr, bab Keutamaan Sahabat, bagian keutamaan Ali, edisi 1980, terbitan Arab Saudi, versi Arabi, jilid 4, hal. 1871, akhir dari hadis ke 32; Shahih at-Turmudzi, jilid 5, hal. 654; al-Mustadrak, Hakim, jilid 3, hal. 150, yang mengatakan bahwa hadis ini shahih menurut kriteria kedua Syekh (Bukhari dan Muslim); Dhakha’ir al-Ulqbah, Muhibuddin Thabari, hal. 25.

44. Referensi Sunni: Daruquthni, sebagaimana dikutip oleh Ibnu Hajar Haitsami dalam ash-Shawa ‘iq al-Muhriqnh, bab 11, bagian ke l, hal. 239.

45. Referensi Sunni: Tabarani; Abul Khair Hakimi, riwayat dari Abbas; ash-Shawa’iq al-Muhriqah, oleh Ibnu Hajar Haitsami, bab. 11, bagian l, hal. 239; Kunuz Matalib.

46. Referensi Sunni: ash-Shawa ‘iql al-Muhriqah, Ibnu Hajar Haitsami, bab 9, bagian 2, hal. 190; Tarikh al-Khulafiaa, oleh Jalaluddin Suyuthi, hal. 171; Awsath oleh Tabarani, dari Jabir bin Abdillah Anshari.

47. Referensi Sunni: Tafsir, Baidhawi, pada komentar atas ayat 3:61.

48. Referensi Sunni: Ibnu Jawzi, Baihaqi, dan Daruquthni, Dzahabi berdasarkan riwayat Umar bin Khathab, Ibnu Abbas, Ibnu Zubair, dan Ibnu Umar; ash-Shawa ‘iq al-Muhriqah, oleh Ibnu Hajar Haitsami, bab 11, bagian 1, hal. 239; Hadis vang mirip telah diriwayatkan oleh Abu Ya’la, Tabarani berdasarkan riwayat Fathimah dan Ibnu Umar.

49. Referensi Sunni: Shnhih Mrrslim, bab Keutamaan Sahabat, bagian keutamaan Ali, edisi 1980 terbitan Arab Saudi, versi Arab, jilid 4, hal. 1874, hadis ke 37 (untuk yang versi Inggris, lihat bab CMXCVI, hadis ke 5.923).

50. Referensi Sunni: Shahih Muslim, bab keutamaan Sahabat, bagian keutamaan All, edisi 1980 terbitan Arab Saudi, versi Arab, jilid 4, hal. 1873, hadis ke 36. (untuk vang versi Inggris, lihat bab CMXCVI, hal. 1286, hadis ke 5920).

51. Referensi Sunni: Shahih at-Turmudzi, sebagaimana dikutip dalam; al-­Durr al-Mantsur, Jalaluddin Suyuthi, jilid 5, hal. 605-606, 198 pada komentar tentang ayat Quran 33:33; Dala il an-Nabawiyyah, Bayhaqi; Kitab-kitab lainnya seperti Tabarani, Ibnu Mardawaih, Abu Nu’aim, dan sebagainya.

52. Referensi Sunni: Tafsir thabani, jilid 22, hal. 5 pada komentar tentang ayat 33:33.

53. Referensi Sunni: Shahih at-Tur-taudzi, jilid 5, hal. 702; al-Mustadrak, Hakim, jilid 3, ha1.157, yang mengatakan bahwa hadis ini shahih sesuai dengan kriteria Bukhari-Muslim; Musyad Ahmad ibn Hanbal, jilid 3, ha1. .135; Fadha’il ‘ash-Slrahabah, Ahmad bin Hanbal, jilid 2, hal. 755, hadis ke 1.325; Hilyat al- Awliya, Abu Nu’aim, jilid 2, hal. 344; Majma’ az-Zawa’id oleh Haitsami, jilid 9, ha1. 223; al-Isti’ab, Ibnu Abdul Barr, jilid 4, hal. 377; al-Awsat, Tabarani, juga Ibnu Habban, dsb.

54. Referensi Sunni: Ibnu Asakir, seperti yang dikutip dalam al-Durr a1­mantsur.

55. Referensi Sunni: Musnad, Ahmad bin Hanbal, jilid 6, hal. 227; Shahih an-Nasa’i, jilid 2, hal. 145.

56. Referensi Sunni: Shahih at-Turmudzi, dan Zan,akhsyari telah mengu’tip darinya pada hal. 73.

57. Referensi Sunni: at-Tabnqnt, Ibnu Sa’d, jilid 8, hal. 212; al-Ansab al­Asyraf, oleh Baladzuri jilid 1, hal. 339.

58. Referensi Sunni: at-Tabaqnat, Ibnu Sa’d, jilid 1, hal. 37; juga dalam al­Ansab al-Asyraf, Baladzuri.

59. Referensi Sunni: Shahih Muslim, versi Inggris, bab CCCLII (di bawah judul: Apa yang harus dikatakan ketika mengunjungi kuburan), jilid 2, hal. 461-462, hadis ke 2.127); Shahih Muslim, versi Arab, edisi 1980, terbitan Arab Saudi, jilid 2, hal. 669-670, hadis ke 1.03; Musnad, Ahmad bin Hanbal, jilid 6, hal. 147.

60. Referensi Sunni: Mcrsnnd, Ahmad bin Hanbal, jilid 6, ha1. 147.

61. Referensi Sunni: Musund, Ahmad bin Hanbal, jilid 6, hal. 115.

62. Referensi Sunni: Kanz al-Ummal, Muttaqi Hindi, jilid 6, hal. 294; at-­Tabaqat, lbnu Sa’d, jilid 8, hal. 115.

63. Referensi Sunni: Shahih Muslim versi Inggris, bab DHXXII, jilid 2, hal. 748-749, hadis ke 3.453-3.454; shahih Muslim versi Arab, edisi 1980, terbitan Arab Saudi, jilid 2, hal. 1085-1086, hadis ke 49-50.

64. Referensi Sunni: Kanz al-Ummull, Muttaqi Hindi, jilid 7, hal. 116, hadis

, ke 1.020; Ihya ‘Ulim ad-Difr, Ghazali, bab 3 tentang Nikah, jilid 2, hal. 35; Mukasyifat al-Qulnab, Ghazali, bab 94, hal. 238.

65. Referensi Sunni: Ihya UIlum ad-Din, Ghazali, bab 3, jilid 2, hal. 29, Kitab tentang Etika Perkawinan; Mukasyafatt al-Qulub, Ghazali, bab 94.

66. Lihat Shahih Bukhari, edisi Arab Inggris, hadis ke 3.761 dan 5.727 dan 5.736.

67. Referensi Sunni: at-Tabaqat, Ibnu Sa’d, jilid 8, hal. 148; Ibnu Katsir, jilid 5, hal. 299.

68. Referensi Sunni: al-Mustadrak Hakim, jilid 4, hal 37, tentang Asma; al-Ishabah, Ibnu Hajar Asqalani, jilid 4, hal. 233; at-Tabaqat, Ya’qubi, jilid 2, ha1.69.

Cinta Ahlul bait Upah Risalah Rasulullah Saw.. tapi kok 12 Imam Ahlul Bait Dizalimi oleh Mazhab Aswaja Sunni

Cinta Ahlul bait Upah Risalah Rasulullah Saw

قُلْ لا أَسْئَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْراً إِلاَّ الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبى‏ وَ مَنْ يَقْتَرِفْ حَسَنَةً نَزِدْ لَهُ فيها حُسْناً إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ شَكُورٌ

Katakanlah (Wahai Rasulullah):”bahwa aku tidak meminta upah apapun dari kalian (atas risalah yang dibawa), kecuali kecintaan terhadap kerabatku dan barang siapa berbuat baik Kami akan menambahkan di dalamnya kebaikan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.

Poros Pembahasan

Ulama Ahli sunah terperangkap dalam praduga dan tafsir bi ra’y dalam menjelaskan ayat ini. Oleh karena itu, banyak pendapat yang begitu unik yang mereka kemukakan yang insya Allah pada pembahasan mendatang akan kami bahas. Sedangkan para ulama Syi’ah dengan bersandar kepada ajaran dan tuntunan Ahlul bait a.s. telah mengemukakan penafsiran yang jelas dan baik sekali.

Sekilas Tentang Ayat-ayat Sebelumnya

Untuk lebih mempermudah dalam memahami ayat Mawaddah ini, perlu dijelaskan secara global tentang ayat sebelumnya dan awal dari ayat ini yang tidak kami sebut di atas.

الَّذينَ آمَنُوا وَ عَمِلُوا الصَّالِحاتِ

Dan mereka yang beriman dan beramal saleh, setelah menjelaskan nasib yang ditimpa oleh kaum durjana dan masa depan suram yang akan mereka jumpai, Allah Swt menggambarkan masa depan penuh gemilang kaum muslim yang telah mengkolaborasikan keimanan dengan amal saleh dan tidak mencukupkan diri dengan dua syahadat, akan tetapi lebih dari itu, mereka melakukan amal saleh dengan segala upaya. Dalam ayat mulia ini, selain pemaparan masa depan seorang mukmin yang beramal saleh juga menyebutkan tiga pahala yang akan mereka terima, di mana pahala kedua lebih baik dari pahala pertama dan pahala ketiga lebih istimewa dari pada pahala kedua.

  1. روضات الجنات Pahala pertama mereka adalah di hari kiamat mereka akan menempati surga. Di manakah روضات الجنات itu? Jawab, jika kita menelaah seluruh Al-Quran maka kalimat ini tidak akan dijumpai kecuali dalam ayat 22 surah Syura ini saja. Orang Arab menyebut taman yang hijau dan rindang, segar dan menyimpan banyak air dengan Raudhah. Terkadang kata ini juga digunkana untuk tempat genangan air. Hanya saja maksud kita dari kata ini dalam kajian kali ini adalah arti yang pertama yaitu taman yang rindang sejuk dan asri.

Soal; mengingat seluruh surga itu hijau dan rindang, lalu apa perlunya menyebut dengan jumlah tadi? Jawab, ini disebabkan selain surga mereka juga akan memiliki taman dan kebun lain yang khusus dihadiahkan bagi para hamba Allah Swt.

Hasilnya, pahala pertama yang akan dinikmati oleh seorang mukmin yang beramal saleh adalah tinggal di taman-taman surga.

  1. لهم مایشاؤن Orang mukmin yang melakukan amal saleh selain akan menghuni taman-taman surga itu, juga akan diberi imbalan lain berupa terkabulkannya segala hal yang mereka kehendaki. Sungguh ini merupakan nikmat materi yang teramat besar di mana apa yang diinginkan terwujud dan terealisasi.
  2. عند ربهمNikmat-nikmat surgawi gabungan antara nikmat materi dan non materi. Dari sisi materi, sebagaimana telah disebutkan, seorang mukmin yang beramal saleh berada pada posisi yang terbaik, dan dari sisi spiritual mereka juga demikian; karena mereka berada di sisi Allah Swt, itu adalah posisi para syahid yang disebut dalam surah Ali Imran ayat 169. Akan tetapi kita tidak mengetahui maksud dari di sisi tuhan mereka itu, serta berkah-berkahnya. Dia Mahatahu.

ذلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبيرُ  Itu merupakan keutamaan yang besar. Mengingat nikmat-nikmat tertinggi baik materi maupun non materi telah disiapkan untuk hamba-hamba mukmin yang beramal saleh, Allah menamakan semua itu dengan keutamaan yang besar. Dan saat Allah Swt yang Maha segala-galanya mengatakan keutamaan yang besar, maka kita sebagai manusia yang terbatas, sebesar apapun yang kita bayangkan akan terasa kecil dan nihil.

Hasilnya, tolok ukur penghambaan terhadap Allah dua hal: Iman dan amal saleh. Oleh karena itu, hal-hal lain seperti ilmu, kekayaan, harta dan kekuatan, posisi di tengah-tengah masyarakat semua akan bernilai dan berjarga saat berada di jalan keimanan dan amal saleh.

Penjelasan Dan Tafsir

Kecintaan Kepada Ahlul bait, Upah Risalah

Tanpa diragukan lagi, Rasulullah Saw dalam menyampaikan risalah dan mengemban tugasnya telah menerima berbagai kesulitan dan penderitaan; akan tetapi beliau sama sekali tidak meminta balasan kepada siapapun akan usaha mulia yang telah beliau lakukan. Di saat para sahabat datang dan menawarkan diri dengan berkata: Jika anda butuh materi; uang atau yang lain maka berapapun yang Anda minta akan kami berikan, maka turunlah ayat di atas[1] dan menjelaskan bahwa Rasulullah tidak akan meminta upah dari siapapun, selain cinta terhadap kerabat terdekatnya.

Dengan demikian, Rasulullah meminta upah jerih payah beliau mengemban tugas selama 23 tahun untuk Islam dan muslimin dengan kecintaan terhadap Qurba.

Siapakah Qurba itu?

Seluruh pembahasan ayat mulia ini bermuara pada maksud dari kata Qurba. Memang sebuah pertanyaan penting siapa gerangan Qurba yang menjadi upah jerih payah Rasulullah Saw dalam menyebar luasakan ajaran sucinya.

Sebagian ulama dan mufasir begitu mudah melewatkan kajian ayat mulia ini dan tidak menyibukkan dirinya dalam memahami kandungannya. Hal ini bisa jadi dikarenakan kandungan ayat ini tidak sesuai dengan praduga mereka dan memaksa mereka berbuat demikian. Padahal ayat ini memiliki kandungan yang begitu dalam. Untuk memahami keagungan ayat dan kandungannya ini cukuplah kita menyadur ungkapan para nabi di dalam Al-Quran tentang upah risalah ini.

Jika kita menelaah surah Asy-Syu’ara  kita akan mendapati bahwa masalah upah risalah para nabi sebelum Rasulullah; Nabi Nuh, Hud, Saleh, Luth dan Syu’aib juga telah disinggung. Akan tetapi semuanya tidak meminta upah apa-apa bahkan mereka juga tidak meminta kerabat mereka dicintai atau dihormati. Mereka hanya berkata:

وَ ما أَسْئَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِيَ إِلاَّ عَلى‏ رَبِّ الْعالَمينَ

Dan aku tidak meminta dari kalian upah apapun, upahku hanya tuhan semesta alam”.[2]

Bagaimana mungkin para nabi tidak meminta upah sedang Rasulullah Saw melakukannya?

Apakah posisi Rasulullah Saw lebih tinggi dari para nabi yang lain? Tanpa diragukan lagi, baginda Nabi Muhammad Saw sebagai penghulu para nabi lebih utama dari semua nabi dan rasul yang lain. Di dalam al-Quran disebutkan bahwa pada hari kiamat setiap nabi hanya saksi bagi ummatnya sendiri, sedang Rasulullah Saw saksi bagi semua saksi.[3]  فَكَيْفَ إِذا جِئْنا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهيدٍ وَ جِئْنا بِكَ عَلى‏ هؤُلاءِ شَهيداً

Kajian ini semakin sulit jadinya, di mana bagaimana mungkin Rasulullah Saw sebagai nabi yang paling utama meminta upah dari usaha yang dilakukannya sedang para nabi yang lain yang di bawahnya tidak memintanya?!

Soal: Apa tujuan Rasulullah Saw meminta upah semacam itu? Apakah itu untuk kepentingan dirinya sendiri; atau permintaan ini mengandung tujuan suci lain yang tersimpan yang kembali kepada kaum muslimin?

Jawab: untuk lebih memperjelas jawaban soal ini mari kita telaah dua ayat lain selain ayat Mawaddah ini.

  1. Dalam ayat 47 surah Saba’ disebutkan:

قُلْ ما سَأَلْتُكُمْ مِنْ أَجْرٍ فَهُوَ لَكُمْ إِنْ أَجْرِيَ إِلاَّ عَلَى اللَّهِ وَ هُوَ عَلى‏ كُلِّ شَيْ‏ءٍ شَهيدٌ

” (Wahai Rasulullah) katakanlah: apa yang aku minta dari upah maka itu untuk kalian, upahku hanya atas Allah Swt dan Dia Saksi atas segala sesuatu.

Ayat mulia ini, pada batas tertentu telah menyingkap sedikit tabir gelap yang menyelimuti ayat Mawaddah, dan menjelaskan bahwa Rasulullah Saw sama seperti para nabi yang lain tidak pernah mengharap imbalan dan upah, bahakan kecintaan terhadap Qurba pada hakikatnya kembali kepada masyarakat.

  1. Di dalam ayat 57 surah Furqan yang sebenarnya penjelas ayat 47 surah Saba’ disebutkan faidah kecintaan terhadap Qurba:

قُلْ ما أَسْئَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِلاَّ مَنْ شاءَ أَنْ يَتَّخِذَ إِلى‏ رَبِّهِ سَبيلاً

katakanlah: Aku tidak meminta upah sama sekali kecuali orang yang ingin memilih jalan menuju tuhannya.

Ayat pertama menjelaskan bahwa upah risalah bukan untuk kepentingan Rasulullah Saw akan tetapi kembali kepada umat manusia. Pada ayat ini dijelaskan bahwa adanya upah risalah pada dasarnya demi keberlangsungan risalah dan keuntungannya kembali kepada risalah dan agama itu sendiri.

Dengan demikian, upah risalah sama sekali bukan untuk kepentingan Rasul, akan tetapi beliau sama seperti nabi-nabi yang lain tidak meminta upah, hanya saja upah risalah adalah kecintaan terhadap Qurba  yang secara tidak langsung menjadi sebab kelanggengan risalah. Nah, setelah memahami bahwa mawaddah terhadap Qurba memiliki kepentingan yang luar biasa maka logiskah jika kita melewatkan kajian tentangnya?

Qurba Menurut Kaca Mata Syi’ah

Ulama Syiah dengan renungan yang seksama mengenai ayat mulia ini bersepakat bahwa maksud dari Qurba  adalah Ahlul bait a.s. Dan tanpa diragukan lagi, wilayah merupakan rahasia keberlangsungan risalah dan sepadan dengannya. Oleh karena itu, upah ini (kecintaan terhadap Qurba) sesuai dengan risalah sendiri; di samping itu wilayah pada hakikatnya pembimbing manusia menuju Allah Swt.

Jika ayat Mawaddah ditafsirkan sesuai kajian mufasir Syi’ah maka kandungan ayat ini akan terlihat jelas begitu juga ayat-ayat yang berkaitan dengannya juga akan dipahami serta memberikan keserasian dan relasi logis di antara ayat-ayat itu. Yang menarik dalam doa Nudbah, yang merupakan sekumpulan khazanah keilmuan ilahiyah menyebut tiga ayat di atas dan menyimpulkan sebuah hasil yang baik bahwa para imam adalah jalan-jalan yang berakhir pada rahmat dan ridho ilahi.

Pendapat Ulama Ahli sunah Tentang Qurba

Ulam Ahli sunah memaparkan berbagai pendapat tentang hal ini, di mana semua pendapat tersebut tidak sesuai dengan ayat itu sendiri. Berikut ini beberapa contoh darinya:

  1. Salah satu pendapat itu adalah Qurba adalah kecintaan terhadap Ahlul bait Rasulullah Saw; akan tetapi kecintaan itu tanpa wilayah dan imamah, yang ada hanya hubungan dhahir dengan mereka.  Hanya yang perlu ditanyakan, apakah kecintaan sederhana semacam ini dapat disejajarkan dengan risalah ilahiyah? Atau cinta biasa tanpa wilayah dapat dijadikan sebagai upah risalah?

Selain itu, bagaimana mungkin Rasulullah meminta upah seperti itu padahal para nabi yang lebih rendah derajatnya dari beliau tidak melakukannya dan memintanya dari Allah Swt semata? Oleh karena itu tafsir dan pendapat di atas tidak dapat dibenarkan.

  1. Sebagian menafsirkan Qurba dengan pekerjaan-pekerjaan baik yang mendekatkan manusia kepada Allah Swt. Oleh karena itu Mawaddah Qurba berarti cinta terhadap segala kebaikan; cinta shalat, puasa, haji, jihad, silaturahmi, menghormati orang-orang besar dan perbuatan baik yang lain adalah upah risalah!
  2. Sebagian berpendapat فی dalam ayat Mawaddah bermakna lam, dengan demikian arti ayat demikian: upah risalahku adalah cintailah diriku; karena aku termasuk famili kalian. Kemudian dibuatlah silsilah yang begitu panjang dan membeber hubungan Rasulullah Saw dengan semua kabilah Arab.

Akan tetapi isykalan pendapat ini juga jelas:

Pertama, penggunaan kata fi dengan arti lam sangat jarang dipakai dan bukti hal pemakain itu dalam ayat ini tidak ada. Kedua, cinta Rasulullah tidak sepadan dengan risalah sendiri dan tidak mungkin dijadikan sebagai upah penyebaran risalah. Tafsir semacam ini pada hakikatnya merusak keagungan ayat mawaddah ini.

  1. Tafsir lain yang lebih lemah dari sebelumnya adalah cintailah kerabat kalian sendiri karena cinta kerabat kalian adalah upah risalah Rasulullah Saw.

Ketidak benaran tafsir ini begitu gamblang sekali dan tidak butuh pada penguraian, karena bagaimana mungkin cinta keluarga sendiri menjadi upah risalah ilahi? Apakah dengan kecintaan semacam ini isalah lahi akan tetap langgeng. Iya begitulah jika kita terperangkap pada praduga yang menyimpang pendapat ini pasti akan muncul.

Apakah pendapat dan tafsir ini dan tafsir-tafsir sebelumnya sesuai dengan ayat itu atau jika seseorang sedikit saja mengetahui tata bahasa Arab dia akan mengetahui ketidak serasian tafsiran itu. Oleh karena itu tidak aneh jika para ulama pencetus tafsiran ini mengakui bahwa tafsir itu adalah metafora dan tidak hakiki.

Pengakuan Yang Tak Dapat Dihindari

Sebuah hal yang sangat menarik dan menggelikan adalah banyak para mufasir Ahli sunah yang menukil sebuah riwayat panjang dan detail dari Rasulullah Saw berkaitan dengan kecintaan terhadap Ahlul bait a.s.

Berikut ini riwayat tersebut yang dinukil dari Fakhr Razi: penulis kitab Kasyaf menukil dari Nabi Saw, di mana dia menukil 12 kalimat penuh makna dari baginda nabi Saw:

  1. Barang siapa meninggal atas kecintaan terhadap keluarga Muhammad Saw, maka dia mati dalam keadaan syahid.
  2. Barang siapa meninggal atas kecintaan terhadap keluarga Muhammad Saw, maka dia mati dalam keadaan terampuni dosa-dosanya.
  3. Barang siapa meninggal atas kecintaan terhadap keluarga Muhammad Saw, maka dia mati dalam bertaubat.
  4. Barang siapa meninggal atas kecintaan terhadap keluarga Muhammad Saw, maka dia mati dalam keadaan mukmin dan beriman sempurna.
  5. Barang siapa meninggal atas kecintaan terhadap keluarga Muhammad Saw, maka dia mati dalam malaikat maut kemudian malaikat Munkar dan Nakir mengabarkan berita gembira dengan surga.
  6. Barang siapa meninggal atas kecintaan terhadap keluarga Muhammad Saw, maka dia seperti seorang pengantin perempuan dibopong ke rumah suaminya.
  7. Barang siapa meninggal atas kecintaan terhadap keluarga Muhammad Saw, maka dibuka baginya di dalam kubur dua pintu menuju surga.
  8. Barang siapa meninggal atas kecintaan terhadap keluarga Muhammad Saw, maka Allah akan menjadikan kuburannya tempat ziarah para malaikat rahmat.
  9. Barang siapa meninggal atas kecintaan terhadap keluarga Muhammad Saw, maka dia mati dalam keadaan berpegang kepada sunnah dan jama’ah.
  10. Barang siapa meninggal atas kebencian terhadap keluarga Muhammad Saw maka dia akan datang di hari kiamat dengan cidat ditulisi: orang yang putus asa akan rahmat Allah.
  11. Barang siapa meninggal atas kebencian terhadap kelauarga Muahmmad Saw maka dia mati dalam keadaan kafir.
  12. Barang siapa meninggal atas kebencian terhadap kelauarga Muahmmad Saw maka dia tidak akan pernah mencium aroma surga.

Sesuai riwayat ini, arti kalimat di atas adalah, barang siapa membenci keluarga Rasulullah Saw bukan hanya dia tidak akan masuk surga, tapi lebih dari itu dia selama 500 tahun akan terjauhkan dari surga oleh karenanya dia tidak akan mencium aroma surga tersebut. Al-hasil orang semacam ini akan jauh dari surga.

Bagaimana mungkin orang akan percaya ulama sebesar Fakhr razi menukil riwayat yang teramat penting itu dan dengan tanpa perenungan dan kajian yang cukup menafsirkan ayat mawaddah dengan kecintaan biasa terhadap mereka. Lebih aneh dari itu, setelah menukil riwayat di atas, dia mulai menjelaskan maksud dari keluarga Rasulullah Saw, seraya berkata:” Keluarga Muhammad Saw adalah orang-orang yang urusannya kembali kepada beliau, siapa yang hubungannya dengan beliau maikn kuat dan erat maka dia disebut dengan Al (keluarga). Dan tanpa ragu lagi, Fatimah, Ali, Hasan dan Husain memiliki hubungan yang terkuat dengan Nabi di banding orang yang lain. Hal ini termasuk hal yang disepakati dan dinukil dari hadis yang mutawatir.[4] 

Penukilan riwayat di atas dari ulama fanatik Ahli sunah adala hal yang unik sekali. Ungkapan semacam ini membuat kita yang menelaahi kitab tersebut ragu, apakah penulisnya seorang Sunni atau Syi’i?

Soal, dengan merujuk kepada teks ayat dan ayat-ayat yang berkaitan dengan ayat mawaddah serta dengan mengkaji riwayat yang detail di atas, apakah dapat dipercaya bahwa kecintaan yang menjadi poros pembahasan ayat dan riwayat itu adalah kecintaan biasa dan minus wilayah?

Apakah secara yakin tidak dapat diklaim bahwa kecintaan di atas adalah wilayah dan imamah secabagi keberlangsungan risalah Rasulullah Saw?

Jika tidak, tafsir apakah yang sesuai riwayat serta ayat-ayat yang disebut di atas?

Tafsir Mawaddah Dalam Ungkapan Imam Shadiq a.s.

Dalam riwayat yang dinukil dari Imam Shadiq a.s. disebutkan:” orang yang bermaksiat (pada dasarnya) tidak mencintai Allah.[5]

Oleh karena itu, barangsiapa yang menentang jalan Ali a.s. maka berarti dia tidak mencintai Allah, karena tujuan kecintaan hendaknya berada pada ketaatan. Oleh karenanya, cinta tanpa ketaatan bukanlah sebuah cinta.

Berikut ini sebuah kisah yang menarik: Hajib seorang penyair terkenal pernah menggubah sebuah bait-bait syiir berkenaan dengan imam Ali yang kandungannya demikian: Agar cinta terhadap Ali tertanam di dada maka cukuplah itu sebagai keselamatan kendati manusia tenggelam dalam lautan dosa. Ini adalah kecintaan semu dan gombal yang merupakan lampu hijau bagi para pendosa.

Dalam satu malam, Hajib melihat imam Ali a.s. dalam mimpinya di mana beliau bersabda: apa syair yang sedang kau lantunkan itu?! Hajib bertanya lalu apa yang harus aku lantunkan? Jika di hari mahsyar kita bersama Ali maka malulah terhadapnya dan sedikitlah berbuat dosa.

Oleh karena itu kecintaan berarti ketaatan terhadap Allah dan meninggalkan dosa.

Tafsir Ayat Mawaddah sesuai dengan Riwayat

Dalam menjelaskan dan menafsirkan ayat mulia ini banyak riwayat-riwayat yang beragam dari kalangan syiah maupun ahli sunnah. Berikut ini beberapa contoh darinya:

1.      Ahmad salah seorang pemuka ahli sunnah dalam kitabnya Fadhailus- Shahabah menukil riwayat dibawah ini dari Said bin Jubair dari Amir: “Saat  ayat mawaddah turun mereka bertanya: wahai Rasulullah siapakah kerabatmu itu? Siapa gerangan yang kecintaannya wajib bagi kita? Beliau menjawab mereka adalah Ali, Fathimah dan kedua putranya. Rasul mengatakan ini sebanyak tiga kali.[6]

Dari riwayat yang indah ini dapat disimpulkan beberapa poin penting:

a.     Riwayat di atas menjelaskan bahwa maksud dari pada kerabat nabi a.s. bukanlah beliau, bukan kaum muslimin dan bukan perbuatan baik untuk mendekatkan diri kepada Allah. Selain itu kerabat itu tidak mencakup seluruh famili Rasulullah; akan tetapi hanya mencakup orang-orang khusuis yang namanya disebutkan di atas.

b.     Kesimpulan yang diambil dari poin pertama itu telah difahami oleh para sahabat saat itu, sehingga mereka tidak meraba-raba dan menerka seperti yang dilakukan ulama ahli sunnah setelah mereka dan para sahabat ini memahami bahwa kecintaan yang dimaksud khusus untuk para famili beliau, sehingga mereka meminta kejelasan dari pada rasul kerabat manakah yang dimaksud oleh ayat itu.

c.     Para sahabat nabi telah memahami kewajiban untuk mencintai Qurba dari ayat mawaddah sebagaimana difahami olrh seluruh ulama syiah dan ahlu sunnah terlepas dari maksud dari qurba itu. Akan tetapi kami  perlu mengulang soal ini kenapa kecintaan terhadap qurba itu diwajibkan?apakah masalah ini seperti sebagian hukum-hukum yang termasuk masalah taabbudi dimana filsafatnya tidak jelas bagi kita, atau falsafahnya jelas? Dan itu adalah kecintaan merupakan mukaddimah ketaatan dan mengikuti para pemuka agama.

Jika kita menginginkan penafsiran yang benar tentang ayat mawaddah dan beberapa ayat yang berkaitan dengannya berikut riwayat panjang yang dinukil oleh Fahr Razi juga riwayat di atas beserta riwayat-riwayat yang akan datang, maka kita harus mengakui bahwa kecintaan itu merupakan filsafah dari wilayah dan pemerintahan. Wilayah yang sejajar kedudukannya dengan risalah. Sebagaimana risalah pokok dari pada Islam maka wilayah akan keberlangsungannya.

Terlebih lagi jika kita mencermati bahwa kendati rasul memiliki sanak keluarga yang begitu banyak sepertyi Abbas bin Abdul Muthalib dan anak cucunya putra-putra Abu Thalib yang lain, putra-putra Abdul Muthalib yang lain dan cucu-cucunya, beliau hanya menunjuk fathimah, Ali, Hasan dan Husain saja, ini merupakan bukti yang sangat kuat bahwa yang dimaksud dalam masalah ini adalah wilayah dan imamamah. Dan jika yang dimaksud kecintaan biasa maka lazim bagi kita mencintai seluruh famili Rasulullah Saw.

2.      Marhum Thabrisi dalam Majmaul Bayan menukil sebuah riwayat dari Hakim Haskani, penulis Syawahidut-Tanzil dari Abu Umamah Bahili. Riwayat yang dinukil dari Rasulullah itu demikian: sesungguhnya Allah Swt menciptakan para nabi dari pokok yang berbeda-beda dan menciptakan aku dan Ali dari pokok yang satu, maka aku adalah aslinya, Ali cabangnya, Fathimah talqihnya, Hasan dan Husain buahnya, para pengikut kita daunnya, maka barang siapa berpegangan dengan rantingnya akan selamat sedang yang menyimpang akan tersesat. Jika seorang hamba menyembah Allah antara Shafa dan Marwah selama seribu tahun dan kemudian seribu tahun dan seribu tahun lagi sehingga dia laksana bejana kuno, kemudian dia tidak mencintai kami, maka (ibadah semacam ini ini tidak akan bermanfaat sama sekali, bahkan) Allah Swt akan mencampakkanya ke neraka. Kemudian beliau membaca ayat Mawaddah ini.[7]

Dari riwayat mulia ini juga dapat dipahami beberapa poin:

a.     Riwayat ini secara gamblang menafsirkan kata “mawaddah qurba dengan kecintaanterhadap Ahlul bait a.s. dan dari ungkapannya yang mencengangkan tadi dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa ini bukan sekedar kecintaan biasa. Akan tetapi sebuah kecintaan yang dibarengi oleh wilayah dan imamah.

b.     Riwayat ini pada hakikatnya gambaran dari ayat شجره طیبه [8]

c.     Daun sebuah pohon bertugas menjaga buah, jika sebuah pohon tidak memiliki daun maka buahnya akan rusak akibat sinar langsung matahari.

Tugas para Syi’ah sesuai riwayat ini adalah daun dari pohon mulia itu yang bertugas menjaga buahnya , yang tak lain adalah imamah dan wilayah.

d.     Dari riwayat ini dapat disimpulkan bahwa ibadah di antara Shafa dan Marwah begitu utama tidak seperti tempat lain yang ada di Masjidil Haram, akan tetapi ibadah di tempat sesuci itupun tidak akan bernilai jika tidak dilandasi oleh imamah dan wilayah.

e.     Lagi-lagi kami ulangi, jika kecintaan yang sedang dibahas oleh hadis ini dan yang lainnya hanya kecintaan biasa, maka hadis ini akan mubham, akan tetapi jika kita artikan kecintaan itu dengan wilayah dan imamah maka hadis ini akan tampak jelas.

3.      Suyuthi dalam tafsirnya menukil sebuah riwayat masyhur ang dinukil dari Imam Sajjad a.s.: Saat para tawanan Karbala tiba di kota Syam, akibat propaganda yang begitu gencar yang dilancarkan oleh Mu’awiyah dan penguasa setelahnya, seorang penduduk kota itu berkata kepada Imam Zainal abidin a.s.: Syukur kepada Allah yang telah membogkar kebohongan dan tingkah busukmu! Ungkapan ini begitu keji dan pedas sekali, akan tetapi saat mengetahui bahwa ini adalah imbas dari ulah para penguasa bany Umayyah, beliau menjawab tudingan orang tersebut dengan tanpa kemarahan:

·        tidakkah anda membaca al-Quran?

·        Dia menjawab: iya.

·        Tahukan Anda siapakah aku sebenarnya?

·        Siapakah Anda?

·        Apakah Anda pernah membaca ayat mulia ini, قُلْ لا أَسْئَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْراً إِلاَّ الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبى‏?

·        Iya, ayat ini berkaitan dengan kewajiban untuk mencintai keluarga Rasulullah Saw, lalu apa hubungannya ayat ini dengan Anda?

·        Qurba yang dimaksud oleh ayat itu adalah kami.

Saat orang tua itu mendengar hal ini, dia langsung terpukul dan tertegun dan akhirnya diapun bertaubat serta menyesali apa yang telah dia tuduhkan.[9]

Dari semua konteks dan bukti di atas dapat dipahami bahwa kecintaan dan mawaddah yang  ada pada ayat Mawaddah bukanlah kecintaan biasa melainkan kecintaan yang dibarengi dengan wilayah dan imamah.

Beberapa Poin Penting

1.      Sesuai beberapa ayat al-Quran kecintaan hendaknya menjadi sebab ketaatan dan penghambaan. Allah berfirman dalam surah Ali Imran ayat 31:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُوني‏ يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَ يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَ اللَّهُ غَفُورٌ رَحيمٌ

Katakanlah:” Jika kamu) benar- benar (mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa- dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Oleh karena itu, barng siapa mencintai seseorang maka dia harus mengikutinya, dan saat kita mengaku mencintai Ahlul bait a.s. maka kita harus mengikutinya jika tidak maka kecintaan kita perlu diragukan.

2.      Sebagaimana telah disebutkan, tanpa merujuk kepada seluruh riwayat dan ayat yang lain, ayat Mawaddah menjelaskan masalah imamah Amirul mukminin a.s. dan para imam yang lain. Dan dengan menelaah riwayat yang menjelaskan sebab turunnya, indikasi tersebut akan semakin jelas. Dan jika ayat ini disejajarkan dengan ayat-ayat yang berkaitan dengan masalah wilayah yang lain, seperti ayat Ikmal, ayat tablig, ayat Shadiqin dan seterusnya maka indikasinya akan semakin gmblang dan jelas.

3.      Ada dua isykalan yang dilontarkan oleh Alusi, mufasir terkenal Ahli sunah dalam kitabnya Ruhul ma’ani, di mana jawaban keduanya telah jelas dengan penjelasan di atas, berikut ini dua sanggahan itu:

a.     Bagaimana mungkin Rasulullah Saw meminta dari umat Islam untuk mencintai kerabatnya   sebagai upah atas jerih payah beliau menyampaikan risalah, padahal para nabi tidak ada satupaun dari mereka yang melakukannya?

Jawaban soal ini sudah jelas yaitu upah itu kembalinya kepada umat Islam sendiri bukan kepada beliau.

b.     Kalaupun kita menerima bahwa maksud dari ayat ini kecnitaan terhadap Ahlul bait a.s., akan tetapi apa hubungan antara kecintaan dan masalah imamah sebagaimana diklaim oleh kalangan Syi’ah?

Jawaban soal ini juga telah jelas bahwa upah segala sesuatu harus sesuai dengan kerja yang dilakukan, kecintaan yang sumber dan hasilnya adalah wilayah merupakan kecintaan yang sesuai dengan risalah. Sedang keintaan biasa minus wilyaha tentu tidak akan sekelas dengan risalah. Dan ketika kita meyakini bahwa Allah Swt Maha Bijak dan Dia patsi memberi upah dan balasan yang sesuai. Rasulullah juga manusia yang bijakyang pasti meminta upah yang sesuai pula. Dengan demikian maksud dari kecintaan yang sedang dibahas adalah wilayah dan imamah.

Pesan-pesan Ayat

Apa hakikat kecintaan yang disebut dalam ayat Mawaddah sebagai upah risalah ilahi itu? Apa arti dari kecintaan terhadap Amirul mukminin Ali a.s. dan para imam?

Untuk menjawab pertanyaan ini, perlu disebutkan bahwa cinta itu ada dua macam: cinta asli dan cinta palsu.

Untuk lebih jelasnya, perlu diperhatikan sebab cinta itu apa? Kenapa kita mencintai Ali a.s.? karena hartanya? Karena kesempurnaannya? Karena ilmunya? Karena keberniannya? Karena kemurahan hatinya? Karena pengorbanannya? Karena jihad dan pembelaannya terhadap Islam dan Rasulullah Saw? Atau karena masalah lain? Jika kita mencintai beliau karena nilai-nilai terpuji yang diyakininya itu, maka apakah serpihan nilai-nilai tersebut ada pada diri kita? Jika sama sekali tidak ada, maka cinta kita itu semu dan palsu sedang jika hal-hal itu ada maka cinta kita itu sejati.

Salah satu nilai yang sangat ditekankan oleh amirul mukminin Ali a.s. adalah lebih mengedepankan hukum dan undang-undang dari pada hubungan dan relasi. Salah satu contohnya adalah kisah yang cukup terkenal berikut ini:

Setelah menanggung berbagai kemadzluman, akhirnya setelah beberapa tahun, Ali a.s. menduduki posisi yang telah dicanagnkan oleh Allah dan rasul-Nya yaitu menjadi pemimpin umat Islam. Aqil, saudara beliau yang miskin meninggalkan Madinah menuju pusat pemerintahan Islam, Kufah, dengan tujuan dapat menerima bagian baitul mal yang lebih banyak lagi. Mengingat panasnya kota kufah, imam menggelar makan siang di atas atap rumah, dan dengan hidangan ala kadarnya tidak seperti penguasa-penguasa lain. Oleh karena itu, Aqil tidak mau menyantap hidangan makan malam itu dan berkata:” makanan ini tidak cocok dengan seleraku, kurangilah bebanku supaya aku dapat kembali ke Madinah.” Imam Ali a.s. menjawab:” wahai saudaraku pasar kota Kufah dekat dari sini, di sana terdapat toko-toko yang dipenuhi dengan barang-barang yang mahal, ayo ke sana dan curilah apa yang engkau sukai!

Aqil menyanggah:” Saudaraku, memamngnya kita pencuri yang harus melakukan hal seperti itu?” Beliau menjawab:” tidakkah meminta sesuatu yang lebih dari baitul mal merupakan pencurian?

Kemudian Ali a.s. mengusulkan hal lain dan bersabda:” Aku mendengar sebuah rombongan akan datang ke kota Kufah, mari kita bedua menyongsong mereka dan merampok barang-barang yang engkau inginkan!”

Aqil kembali menyanggah:” Saudaraku, memangnya kita ini para penyamun sehingga harus melakukan hal tersebut?”

Ali a.s. menjawab:”memberi bagian lebih dari Baitul mal merupakan salah satu bentuk perampokan, lalu mengapa engkau memintaku untuk melakukannya?[10]

Kemudian Ali mendekatkan sebuah besi panas ke tangan saudaranya. Aqil saat mengetahui sang panglima tidak akan mengabulkan permintaanya yang menyimpang dari keadilan akhirnya bangkit dan pergi.

Sepanjang sejarah manusia adakah orang seorang saudara yang memiliki segalanya, kekayaan negara berada di bawah kakinya, tapi bertindak demikian kepada saudaranya atas nama keadilan.

Gradasi Cinta

Cinta seperti hal lain bergradasi dan bertingkat-tingkat. Cinta terhadap Amirul mukminin Ali a.s. juga demikian. Sebagian cintanya palsu, cinta yang diucapkannya hanya pemanis lidah semata dan tidak pernah mengakar dalam hati. Sebagian cinta tidak palsu dan bersumber dari hati akan tetapi cinta itu tidak mendalam. Dan kelompok ketiga mereka yang mencintai beliau dari lubuk hati yang paling dalam, sehingga seluruh wujudnya menjadi copian dari sang kekasih. Pergaulan, ucapan, akhlak dan semua tindak tanduknya kelompok ini adalah tindak tanduk Ali a.s. Ini merupakan tingkatan tertinggi dari rasa cinta, sebuah tingkatan di mana penyandangnya tidak akan rela cintanya tersebut ditukar dengan hal apapun bahkan lebih dari itu mereka rela mengorbankan jiwanya di jalan ini. Berikut ini sebuah contoh dari cinta yang sejatai:

Maitsam At-Tammar, Pecinta Sejati

Ali a.s. berkata kepada salah satu sahabat beliau yang sangat setia mencintai beliau:” Engkau di masa yang akan datang, akan digantung karena membelaku, jalanku dan kecintaanmu kepadaku. Saat itu apa yang engkau bayangkan?

Sang pecinta tidak takut dan gentar. Dia tidak menjauh dari Ali akan tetapi dia merasa bahagia seraya berkata:” wahai tuanku di manakah aku akan digantung?!

Ali a.s. menyebut sebuah pohon kurma yang ada di kota Kufah, di situlah engkau akan digantung.

Sang pecinta tidak merasa ciut hatinya dan juga tidak mau keluar dari kota tersebut, malah rasa cinta semakin berkobar di dadanya.

Setiap hari dia datang ke pohon tersebut, merawatnya, menyiraminya, shalat di sampingnya dan berdialog dengannya:” hai pohon kurma! Engkau diciptakan untukku dan aku diciptakan untukmu! Pada satu hari, karena cinta kepada Ali, aku digantung di sini.”


[1] Tafsir Nemuneh, jilid 20, halaman 402.
[2]Surah Syu’ara’, ayat 109, 127, 145, 164 dan 180. poin ini juga disampaikan nabi-nabi yang lain dalam beberapa ayat Quran.
[3]Surah Nisa’, ayat 41.
[4] Tafsir Fakhr razi, jilid 27, halaman 165 dan 166.  Asli riwayat ini dapat dirujuk di Tafsir Qurthubi, jilid 8, halaman 5843 dan tafsir Tsa’labi, dalam tafsir ayat ini.
[5] Raudlatul Mutaqin, jilid 13, halaman 156.
[6] Hqaqul-Haq, jilid 3, hal 2. Riwayat ini juga disebutkan dalam kitab Durul-Mantsur, jilid 6, hal 7.
[7]Majma’ul bayan, jilid 9, halaman 28.
[8] Surah Ibrahim, ayat 24.
[9] Ad-Durul mantsur, jilid 6, halaman 7.
[10] Biharul anwar, jilid 9, (cetakan Tabriz) halaman 613.(sesuai penukilan kitab Dastan rastan, jilid 1, kisah ke-38).

Ulil amri adalah para Imam dari Ahlul bait (as)… Aswaja Sunni Menyimpangkan Makna Ulil Amri

Surat AN-NISA’: 59
Ulil amri adalah para Imam dari Ahlul bait (as)

يَأَيهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَ أَطِيعُوا الرَّسولَ وَ أُولى الأَمْرِ مِنكمْ

“Hai orang-orang yang beriman taatlah kamu kepada Allah, dan taatlah kamu kepada Rasul-Nya dan Ulil amri kamu.”

Yang dimaksud “Ulil-amri” dalam ayat ini adalah Ali bin Abi Thalib (as) dan Ahlul bait Nabi saw.

Dalam Tafsir Al-Burhan tentang ayat ini disebutkan suatu riwayat yang bersumber dari Jabir Al-Anshari (ra), ia berkata: Ketika Allah menurunkan ayat ini aku bertanya: Ya Rasulallah, kami telah mengetahui Allah dan Rasul-Nya, tetapi siapakah yang dimaksud dengan Ulil-amri yang ketaatannya kepada mereka Allah kaitkan dengan ketaatan kepada-Nya dan Rasul-Nya? Rasulullah saw menjawab:
Wahai Jabir, mereka itu adalah para penggantiku: Pertama, Ali bin Abi Thalib, kemudian Al-Hasan, kemudian Al-Husein, kemudian Ali bin Al-Husein, kemudian Muhammad bin Ali, kemudian Muhammad bin Ali yang dalam Taurat gelarnya masyhur Al-Baqir. Wahai Jabir, kamu akan menjumpai dia, sampaikan salamku kepadanya. Kemudian Ash-Shadiq Ja’far bin Muhammad, kemudian Musa bin Ja’far, kemudian Ali bin Musa, kemudian Muhammad bin Ali, kemudian Al-Hasan bin Muhammad, kemudian dua nama Muhammad dan yang punya dua gelar Hujjatullah di bumi-Nya dan Baqiyatullah bagi hamba-hamba-Nya yaitu Ibnul Hasan, dialah yang Allah perkenalkan sebutan namanya di seluruh belahan bumi bagian barat dan timur, dialah yang ghaib dari para pengikutnya dan kekasihnya, yang keghaibannya menggoyahkan keimamahannya kecuali bagi orang-orang yang Allah kokohkan keimanan dalam hatinya.”

Ringkasan Kritik Allamah Thabathaba’i terhadap Fakhrur Razi
Fakhrur Razi mengatakan: Pembatasan kata Ulil-amri dengan kata minkum menunjukkan salah seorang dari mereka yakni manusia biasa seperti kita, yaitu orang yang beriman yang tidak mempunyai keistimewaan Ishmah Ilahiyah (jaminan kesucian dari Allah). Yang perlu diragukan adalah pendapat yang mengatakan: Mereka (Ulil-amri) adalah satu kesatuan pemimpin, yang ketaatan kepada masing-masing mereka hukumnya wajib.

Ar-Razi lupa bahwa makna ini sudah masyhur digunakan dalam bahasa Al-Qur’an, misalnya: “janganlah kamu mentaati orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah)” (Al-Qalam: 8), “Janganlah kamu mentaati orang-orang kafir.” (Al-Furqan: 52), dan ayat-ayat yang lain dalam bentuknya yang bermacam-macam: kalimat positif, kalimat negatif, kalimat berita, kalimat perintah dan larangan.

Ringkasan Kritik Allamah Thabathaba’i terhadap Tafsir Al-Manar
Syeikh Rasyid Ridha mengatakan: Ulil-amri adalah Ahlul hilli wal-Aqdi yaitu orang-orang yang mendapat kepercayaan ummat. Mereka itu bisa terdiri dari ulama, panglima perang, dan para pemimpin kemaslatan umum seperti pemimpin perdagangan, perindustrian, pertanian. Termasuk juga para pemimpin buruh, partai, para pemimpin redaksi surat kabar yang Islami dan para pelopor kemerdekaan.

Inikah maksud dari Ulil-amri? Pendapat ini dan yang punya pandangan seperti ini telah menutupi makna Al-Qur’an yang sempurna dengan makna yang tidak jelas. Ayat ini mengandung makna yang jelas yaitu Ismah Ilahiyah (jaminan kesucian dari Allah) bagi Ulil-amri. Karena ketaatan kepada Ulil-amri bersifat mutlak, dikaitkan dengan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.
Apakah yang mempunyai sifat kesucian (‘ishmah) adalah para pemimpin lembaga-lembaga itu sehingga mereka dikatagorikan sebagai orang-orang yang ma’shum? Yang jelas tidak pernah terjadi para Ahlul hilli wal-‘Iqdi yang mengatur urusan ummat, mereka semuanya ma’shum. Mustahil Allah swt memerintahkan sesuatu yang penting tanpa mishdaq (ekstensi) yang jelas. Dan mustahil sifat ‘ishmah dimiliki oleh lembaga yang orang-orangnya tidak ma’shum, bahkan yang sangat memungkinkan mereka berbuat kezaliman dan kemaksiatan. Pendapat mereka ini jelas salah dan mengajak pada kesesatan dan kemaksiatan. Mungkinkah Allah mewajibkan kita taat kepada orang-orang seperti mereka?

Pendapat Ahlul Bait (as)
Ulil-amri adalah Ali bin Abi Thalib dan para Imam suci (as).

Dalam Tafsir Al-‘Ayyasyi tetang ayat ini menyebutkan bahwa:
Imam Muhammad Al-Baqir (as) berkata tentang ayat ini: “Mereka itu adalah para washi Nabi saw.”
Tentang ayat ini Imam Ja’far Ash-Shadiq (as) berkata: “Mereka adalah para Imam dari Ahlul bait Rasulullah saw.”
Tentang ayat ini Imam Muhammad Al-Baqir (as) berkata: “Mereka adalah para Imam dari keturunan Ali dan Fatimah hingga hari kiamat.”

Dalam kitab Yanabi’ul Mawaddah disebutkan suatu riwayat dari Salim bin Qais Al-Hilali, ia berkata bahwa Imam Ali bin Abi Thalib (as) berkata: “Yang paling dekat bagi seorang hamba terhadap kesesatan adalah ia yang tidak mengenal Hujjatullah Tabaraka wa Ta’ala. Karena Allah telah menjadikannya sebagai hujjah bagi hamba-hamba-Nya, dia adalah orang yang kepadanya Allah perintahkan hamba-hamba-Nya untuk mentaatinya dan mewajibkan untuk berwilayah kepadanya.
Salim berkata: Wahai Amirul mukmin, jelaskan kepadaku tentang mereka (Ulil-amri) itu.
Amirul mukminin (as) berkata: “Mereka adalah orang-orang yang ketaataannya kepada mereka Allah kaitkan pada diri-Nya dan Nabi-Nya.” Kemudian ia berkata: “Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kalian kepada Allah, Rasul-Nya, dan kepada Ulil-amri kalian.”
Salim bin Qais berkata: Wahai Amirul mukminin, jadikan aku tebusanmu, jelaskan lagi kepadaku tentang mereka itu.
Amirul mukminin (as) berkata: “Mereka adalah orang-orang yang oleh Rasulullah saw disampaikan di berbagai tempat dalam sabda dan khutbahnya, Rasulullah saw bersabda: ‘Sungguh aku tinggalkan pada kalian dua perkara, jika kalian berpegang teguh dengan keduanya kalian tidak akan tersesat sesudahku: Kitab Allah dan ‘itrahku, Ahlul baitku’.”

Riwayat hadis ini dan yang semakna dengan hadis tersebut terdapat dalam:

1. Tafsir Ad-Durrul Mantsur tentang ayat ini.
2. Tafsir Ath-Thabari tentang ayat ini.
3. Tafsir Fakhrur Razi, jilid 3 halaman 357, tentang ayat ini.
4. Yanabi’ul Mawaddah, oleh Syaikh Sulaiman Al-Qundusi Al-Hanafi, halaman 134, cet. Al-Haidariyah; halaman 114 dan 117, cet. Islambul.
5. Syawahidut Tanzil, oleh Al-Hakim Al-Haskani Al-Hanafi, jilid 1, halaman 148, hadis ke 202, 203 dan 204.
6. Ihqaqul Haqq, oleh At-Tustari, jilid 3, halaman 424, cet. pertama, Teheran.
7. Faraid As-Samthin, jilid 1, halaman 314, hadis ke 250.

Al Quran dan Hadis Menyatakan : “Wajib Ikut Mazhab Ahlul Bait”… Lho kok

Kewajiban Ikut Mazhab Ahlul-Bait (as)
 Dalil dari Al-Quran :
 
1. Ayat al-Wilayah (QS. al-Maidah: 54)
” Sesungguhnya pemimpin kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya dan orang yang beriman yang mendirikan salat dan memberikan sedekah dalam keadaan ruku.” Al-Tabrani telah menulisnya di dalam al-Ausat.2   Ibn Mardawaih daripada ‘Ammar bin Yassir berkata: Seorang peminta sadqah berdiri di sisi Ali yang sedang rukuk di dalam sembahyang sunat. Lalu beliau mencabutkan cincinnya dan memberikannya kepada peminta tersebut. Kemudian dia memberitahukan Rasulullah SAWAW mengenainya. Lalu ayat tersebut diturunkan. Kemudian Nabi SAWAW membacakannya kepada para sahabatnya. Beliau bersabda: Siapa yang telah menjadikan aku maulanya, maka Ali adalah maulanya. Wahai Tuhanku, hormatilah orang yang memperwalikannya dan musuhilah orang yang memusuhinya, cintailah orang orang mencintainya, bencilah orang yang membencinya, tolonglah orang yang menolongnya, tinggallah orang yang meninggalkannya dan penuhilah kebenaran bersamanya di mana saja dia berada.”

2. Ayat at-Tathir (Surah al-Ahzab (33): 33):

“ Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan segala dosa dari kamu (‘an-kum) wahai Ahlu l-Bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.”

Wahai Ahlu l-Bait Rasulullah cintamu suatu fardhu daripada Tuhan di dalam al-Qur’an telah diturunkan. Memadailah kebesaran Nabimu sesungguhnya  siapa yang tidak bersalawat ke atas kamu tidak sah sembahyangnya.
Dimaksudkan dengan Ahlu l-Bait AS ialah ‘Ali, Fatimah, Hasan, dan Husain AS. Demikianlah juga  para ulama Ahlu s-Sunnah menjelaskan bahawa maksud Ahlu l-Bait ialah Nabi SAWAW dan keturunan ‘Ali yang disucikan.

3. Ayat al-Mubahalah (surah Ali Imran (3): 61)
“ Sesiapa yang membantahmu mengenai (kisah ‘Isa) sesudah datang ilmu (yang menyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya): Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, wanita-wanita kami dan wanita-wanita kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubalahah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.”
Ahmad bin Hanbal di dalam Musnadnya53 berkata:’Abdullah telah memberitahukan kami dia berkata:Bapaku memberitahuku dia berkata: Qutaibah bin Sa’id dan Hatim bin Isma’il telah memberitahukan kami daripada Bakir bin Mismar daripada Amir bin Saad daripada bapanya dia berkata: Aku mendengar Rasulullah SAWAW bersabda kepadanya: Dia berkata: Manakala turun ayat al-Mubahalah maka beliau SAWAW menyeru ‘Ali, Fatimah, Hasan dan Husain dan bersabda:Wahai Tuhanku, mereka itulah keluargaku.

4. Ayat al-Muwaddah (Surah al-Syu’ara (42): 23):
“ Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan (al-qurba). Dan siapa yang mengerjakan kebaikan (al-Hasanah) akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.”
Ahmad bin Hanbal telah meriwayatkan di dalam Manaqib, al-Tabrani, al-Hakim dan Ibn Abi Hatim daripada ‘Abbas sebagaimana telah diriwayatkan oleh Ibn Hajr di dalam pentafsiran ayat 14 daripada ayat-ayat yang telah dinyatakan di dalam fasal pertama daripada bab sebelas daripada al-Sawa’iqnya dia berkata: Manakala turunnya ayat ini mereka bertanya: Wahai Rasulullah! Siapakah kerabat anda yang diwajibkan ke atas kami mengasihi mereka? Beliau SAWAW menjawab: ‘Ali, Fatimah dan dua anak lelaki mereka berdua.

5. Ayat Salawat (Surah al-Ahzab (33):56):
“ Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikatNya bersalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”
Imam Syafi’i dalam Musnadnya berkata: Ibrahim bin Muhammad telah memberitahukan kami bahawa Safwan bin Sulaiman telah memberitahukan kami daripada Abi Salmah daripada ‘Abdu r-Rahman daripada Abu Hurairah dia bertanya: Wahai Rasulullah, bagaimana kami bersalawat ke atas anda?

Maka Rasulullah SAWAW menjawab: Kalian berkata: Allahumma Salli ‘Ala Muhammad wa Ali Muhammad.104

6. Ayat Tabligh atau Hadith al-Ghadir (Surah al-Mai’dah (5:67)
“ Hai Rasul, sampaikan apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, (bererti) kamu tidak menyampaikan anamatNya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir.”
Fakhruddin al-Razi di dalam Mafatih al-Ghaib122 berkata: Ahli Tafsir telah menyebutkan bahawa sebab turun ayat ini sehingga dia berkata: (kesepuluh) ayat ini telah diturunkan tentang kelebihan ‘Ali bin Abi Talib AS. Manakala ayat ini diturunkan Nabi SAWAW memegang tangan ‘Ali AS dan bersabda: Siapa yang telah menjadikan aku maulanya, maka ‘Ali adalah maulanya. Hormatilah orang yang mewalikannya dan musuhilah orang yang memusuhinya.

Kemudian Umar (RD) memujinya dan berkata: Tahniah kepada anda wahai anak Abu Talib. Anda telah menjadi maulaku dan maula semua mukmin dan mukminah. Ini adalah riwayat Ibn ‘Abbas, al-Barra’ bin Azib dan Muhammad bin Ali.
 
Al-Suyuti di dalam al-Durr al-Manthur128 mengaitkan riwayat Ibn Mardawaih daripada Ibn Asakir kepada Abu Sai’d al-Khudri. Dia berkata: Manakala Rasulullah SAWAW melantik ‘Ali AS pada hari Ghadir Khum, maka beliau SAWAW mengisytiharkan wilayah ‘Ali AS. Lalu Jibra’il AS menurunkan ayat Ikmalu d-Din (Surah al-Mai’dah(5):3)”Pada hari ini telah aku sempurnakan agamamu.”
 
Dalil dari Hadiths Rasulullah (saw) :
 
Imam Ja’far al-Sadiq AS berkata:
“Aneh sekali mereka berkata: Mereka mengambil ilmu mereka semuanya daripada Rasulullah SAWAW. Lantas mereka mengetahui dan mendapat petunjuk daripadanya. Mereka fikir kami Ahlu l-Bait tidak mengambil ilmunya dan kami tidak mendapat petunjuk daripadanya. Sedangkan kami keluarganya dan zuriatnya. Di rumah kamilah turunnya wahyu. Dan dari kamilah ia mengalir kepada orang ramai. Adakah anda fikir merekalah yang mengetahui dan mendapat petunjuk sementara kami jahil dan sesat?
 
Imam Baqir AS berkata:
“Sekiranya kami memberitahukan kepada orang ramai menurut pendapat dan hawa nafsu kami, nescaya kami binasa. Tetapi kami memberitahukan mereka dengan hadith-hadith yang kami kumpulkannya daripada Rasulullah SAWAW sebagaimana mereka mengumpulkan emas dan perak.”Imam Ja’far al-Sadiq AS berkata:”Hadithku adalah hadith bapaku. Hadith bapaku adalah hadith datukku. Hadith datukku adalah hadith Husain. Hadith Husain adalah Hadith Hasan. Hadith Hasan adalah hadith Amiru l-Mukminin. Hadith Amiru l-Mukminin adalah hadith Rasulullah SAWAW. Dan hadith-hadith Rasulullah SAWAW adalah firman Allah SWT.1
 
Dan beliau AS berkata:
“Siapa yang meriwayatkan hadith tentang kami, maka kami akan bertanya kepadanya mengenainya di suatu hari. Sekiranya dia meriwayatkan kebenaran terhadap kami, seolah-olah dia meriwayatkan kebenaran terhadap Allah dan RasulNya. Dan sekiranya ia berbohong terhadap kami, seolah-olah dia berbohong terhadap Allah dan RasulNya, kerana kami apabila meriwayatkan hadith, kami tidak berkata: Fulan bin Fulan telah berkata, tetapi apa yang kami katakan: Allah berfirman dan RasulNya bersabda.”
 
1. Hadith al-Dar atau al-Indhar (Hadith jemputan di rumah atau hadith peringatan)
Sabda Nabi SAWAW:”Ini ‘Ali saudaraku, wazirku, wasiku dan khalifahku selepasku.”
Nabi (saw) bersabda :”Sesungguhnya ini adalah saudaraku, wasiku dan khalifahku pada kalian. Maka dengarlah kalian kepadanya, dan patuhilah.” Beliau berkata: Orang ramai bangun dan ketawa sambil berkata kepada Abu Talib, sesungguhnya beliau telah memerintahkan anda supaya mendengar anak anda dan mematuhinya.
 
2. Hadith Thaqalain (Hadith dua perkara yang berharga)
Sabda Nabi SAWAW
“Sesungguhnya aku tinggalkan pada kalian thaqalain (dua perkara yang berharga) Kitab Allah dan itrah Ahlu l-Baitku. Sekiranya kalian berpegang kepada kedua-duanya nescaya kalian tidak akan sesat selepasku selama-lamanya.”
Sayyid Syarafuddin al-Musawi di dalam Muraja’at59nya menegaskan bahawa mafhum sabda Nabi SAWAW: Sesungguhnya aku tinggalkan  kepada kalian sekiranya kalian berpegang kepadanya, kalian tidak akan sesat selamanya; Kitab Allah dan ‘itrahku. Iaitu orang yang tidak berpegang kepada kedua-duanya adalah berada di dalam kesesatan. Sebagaimana diperkuatkan oleh Hadith Nabi SAWAW: Janganlah kalian mendahului kedua-duanya nescaya kalian akan binasa dan janganlah kalian mengabaikan kedua-duanya nescaya kalian juga akan binasa. Dan janganlah kalian mengajar mereka kerana mereka itu lebih mengetahui daripada kalian.

3. Hadith al-Manzilah (Hadith mengenai kedudukan ‘Ali dan Harun)
Sabdanya SAWAW:
“Tidakkah anda meridhai wahai ‘Ali, anda di sisiku seperti Manzilah (kedudukan) Harun di sisi Musa hanya tidak ada nabi selepasku.”
Lantaran itu ‘Ali, menurut ayat ini, adalah khalifah Rasulullah pada kaumnya, wazirnya pada keluarganya dan rakan kongsinya di dalam urusannya sebagai penggantinya dan bukan sebagai nabi. Beliau adalah orang yang paling layak pada ummatnya semasa hidup dan mati. Oleh itu mereka wajib mentaatinya semasa beliau menjadi pembantunya seperti Harun kepada ummat Musa di zaman Musa.

4. Hadith al-Safinah (Hadith Bahtera)
Sabda Nabi SAWAW:
“Umpama Ahlul-Baitku samalah seperti bahtera Nuh. Siapa yang menaikinya berjaya. Dan siapa yang enggan atau terlambat akan tenggelam.”

Al-Tabrani telah mencatatkan di dalam al-Ausat64 daripada Abu Sa’id, Nabi SAWAW bersabda: Umpama Ahlu l-Baitku pada kalian sepertilah bahtera Nuh. Siapa yang menaikinya berjaya dan siapa yang enggan atau terlambat akan tenggelam. Dan umpama Ahlul-Baitku pada kalian sepertilah pintu pengampunan bagi Bani Isra’il. Siapa yang memasukinya akan diampun.
 Di antara orang yang mengakui kesahihannya ialah Imam al-Syafi’i sendiri. Al-Ujaili telah mengaitkan kata-kata Syafi’i di dalam Dhakhirah al-Mal:
Manakala aku melihat manusia telah berpegang kepada mazhab yang bermacam-macam di lautan kebodohan dan kejahilan Aku menaiki dengan nama Allah bahtera kejayaan mereka itulah Ahlul-Bait al-Mustafa dan penamat segala Rasul.
5. Hadith Madinah al-‘Ilm (Hadith Bandar Ilmu)

Sabda Nabi SAWAW:

“Aku adalah bandar ilmu dan ‘Ali adalah pintunya.”

Atau  kebinasaan jika ia menyalahi dan mendurhakai perintah orang yang memerintah. Sebagaimana sabdanya:’Siapa yang inginkan ilmu, maka hendaklah datang melalui pintunya dan siapa yang datang bukan melalui pintunya dikira pencuri dan dia adalah dari parti ‘iblis.’

Rasulullah SAWAW:”Anda wahai ‘Ali! Pewaris ilmuku, suami anak perempuanku, pelaksana agamaku dan khalifahku selepasku.”

Justeru itu Amirul Mukminin telah menunjuk kepada dadanya di suatu hari di atas mimbar Masjid di Kufah sebanyak tiga kali sambil berkata:
 “Disinilah sifat ilmu. Bertanyalah kepadaku sebelum kalian kehilanganku. Demi Allah sekiranya kalian bertanya kepadaku tentang jalan-jalan langit dan bumi, nescaya aku akan memberitahukan kalian mengenainya. Maka sesungguhnya aku lebih mengetahui jalan-jalan langit dan bumi.”

Hadith-hadith seumpama ini memanglah banyak, maka di manakah nilainya wahai Muslimun!, fakir dan renungkanlah !

  

 

Keutamaan Ahlulbait as Dalam Al-Qur’an

Keutamaan Ahlulbait as Dalam Al-Qur’an[1]

1. “Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus”. (Q.S. Al-Fatihah: 6)

اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ

Jabir bin Abdillah meriwayatkan dari Rasulullah SAWW bahwa beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah telah menjadikan Ali, istri, dan kedua putranya sebagai hujjah-Nya atas makhluk-Nya, dan mereka adalah lautan ilmu di antara umatku. Barangsiapa mendapatkan petunjuk melalui mereka, ia telah mendapatkan hidayah ke jalan yang lurus”.

Ia juga meriwayatkan bahwa beliau bersabda, “Carilah jalan (petunjuk) melalui matahari! Ketika matahari terbenam, carilah melalui bulan! Ketika bulan terbenam, carilah melalui planet Venus! Ketika planet Venus terbenam, carilah melalui dua bintang (….)!”

Para sahabat bertanya, “Apa maksud dari matahari, bulan, planet Venus, dan dua bintang (….) ??Farqadain?? itu?”

Beliau bersabda, “Matahari itu adalah aku, bulan adalah Ali, planet Venus adalah Fathimah, dan dua bintang (….) itu adalah Hasan dan Husein”.

2. “Maka, Adam menerima kalimah-kalimah dari Tuhannya, lalu, Ia mengampuninya. Sesungguhnya Ia Maha Pengampun, Maha Penyayang”. (Q.S. Al-Baqarah: 37)

فَتَلَقَّى آدَمُ مِنْ رَبِّهِ کَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ

Ibnu Najjar meriwayatkan dari Ibnu Abbas, berkenaan dengan kalimah-kalimah yang diterima oleh Adam dari Allah sehingga Ia menerima taubatnya itu Rasulullah SAWW bersabda, “Ia meminta kepada Allah untuk menerima taubatnya demi Muhammad, Ali, Fathimah, Hasan, dan Husein, dan Ia pun menerima taubatnya”.

3. “Maka, barangsiapa menghujatmu berkenaan dengan (risalah) ini setelah engkau mendapatkan ilmu, katakanlah, “Marilah kita panggil anak-anak kami dan anak-anak kalian, wanita-wanita kami dan wanita-wanita kalian, serta diri kami dan diri kalian. Kemudian, kita bermubâhalah (bersama),  lalu, kita timpakan laknat Allah atas orang-orang yang berbohong”. (Q.S. Âli ‘Imrân: 61)

فَمَنْ حَاجَّك فِيْهِ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ فَقُلْ تَعَالَوْا نَدْعُ أَبْنَاءَنَا وَ أَبْنَاءَکُمْ وَ نِسَاءَنَا وَ نِسَاءَکُمْ وَ أَنْفُسَنَا وَ أَنْفُسَکُمْ ثُمَّ نَبْتَهِلْ فَنَجْعَلْ لَعْنَةَ اللهِ عَلَی الْکَاذِبِيْنَ

Muhibbuddin ath-Thabari berkata, “Ketika ayat yang mulia itu turun, Rasulullah SAWW bersabda, “Empat orang ini (Ali, Fathimah, Hasan, dan Husein) adalah Ahlulbaitku”.

Begitu juga diriwayatkan dari Abu Sa’id, “Ketika ayat ini turun, Rasulullah SAWW memanggil Ali, Fathimah, Hasan dan Husein seraya bersabda, “Ya Allah, mereka ini adalah Ahlulbaitku”.

Muslim dan Tirmidzi juga meriwayatkan hadis tersebut.

4. “Apakah engkau tidak melihat bagaimana Allah mengumpamakan kalimah yang baik dengan sebatang pohon baik (dan subur) yang pokoknya menghujam (ke tanah) dan rantingnya (menjulang) ke langit?” (Q.S. Ibrahim: 24)

أَلَمْ تَرَ کَيْفَ ضَرَبَ اللهُ مَثَلاً کَلِمَةً طَيِّبَةً کَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَ فَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ

Rasulullah SAWW bersabda, “Pohon itu adalah aku, Fathimah adalah cabangnya, Ali adalah yang menyebabkannya membuahkan hasil, Hasan dan Husein adalah buahnya, dan umatku yang mencintai mereka adalah dedaunannya”. Kemudian, beliau melanjutkan, “Sumpah demi Dzat yang telah mengangkatku dengan kebenaran, mereka itu berada di dalam surga yang kekal”.

Beliau juga bersabda, “Aku adalah pohon itu, Ali adalah cabangnya, Fathimah adalah yang menyebabkannya membuahkan hasil, Hasan dan Husein adalah buahnya, dan para pengikut kami adalah dedaunannya. Ketika sebuah pohon tumbuh, dedaunannya akan runtuh”. Lalu, beliau melanjutkan, “Sumpah demi Dzat Yang telah mengutusku dengan kebenaran, mereka ini berada di dalam surga yang kekal”.

5. “Mereka yang diseru oleh mereka itu masih mencari perantara (untuk) menuju Tuhan mereka; perantara yang terdekat, mengharapkan rahmat-Nya, dan takut akan siksa-Nya. Sesungguhnya siksa Tuhan-Mu sangatlah pedih”. (Q.S. Al-Isrâ`: 57)

أًولئِك الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ يَبْتَغُوْنَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسيْلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَ يَرْجُوْنَ رَحْمَتَهُ وَ يَخَافُوْنَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ کَانَ مَحْذُوْرًا

Ikrimah berkata, “Mereka (perantara) itu adalah Nabi, Ali, Fathimah, Hasan dan Husein”.

6. “Sesungguhnya Aku telah membalas mereka pada hari ini karena kesabaran mereka. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang menang”. (Q.S. Al-Mukminun: 111)

إِنِّيْ جَزَيْتُهُمُ الْيَوْمَ بِمَا صَبَرُوْا أَنَّهُمْ هُمُ الْفَائِزُوْنَ

Abdullah bin Mas’ud berkata, “Artinya adalah Aku memberikan pahala surga kepada mereka pada hari ini disebabkan oleh kesabaran Ali bin Abi Thalib, Fathimah, Hasan, dan Husein di dunia dalam menjalankan perintah-perintah Ilahi, kelaparan, dan kemiskinan, serta dosa-dosa (umat manusia) dan cobaan Allah di dunia. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berbahagia dan terbebaskan dari hisab”.

7. “Perumpamaan cahaya Ilahi adalah seperti tempat pelita yang di dalamnya terdapat pelita; pelita itu (tersimpan) dalam kaca”. (Q.S. An-Nûr: 35)

وَ مَثَلُ نُوْرِهِ کَمِشْکاةٍ فِيْهَا مِصْبَاحٌ، اَلْمِصْبَاحُ فيْ زُجَاجَةٍ

 Musa bin Qasim meriwayatkan dari Ali bin Ja’far bahwa ia berkata, “Saya pernah bertanya kepada Musa bin Ja’far tentang ayat ini”. Beliau menjawab, “Misykât adalah Fathimah, mishbâh adalah Hasan, dan zujâjah adalah Husein”.

8. “Dialah yang telah menciptakan manusia dari air, lalu menjadikannya berhubungan nasab dan sebab (????)”. (Q.S. AL-Furqân: 54)

وَ هُوَ الَّذِيْ خَلَقَ مِنَ الْمَاءِ بَشَرًا فَجَعَلَهُ نَسَبًا وَ صِهْرًا

As-Sudi berkata, “Ayat ini turun berkenaan dengan Rasulullah dan Ali. Ketika Rasulullah menikahkan Fathimah dengan Ali, dan Ali adalah misanan dan suami putri beliau, dengan demikian, di samping memiliki hubungan nasab dengan beliau, ia juga menantu beliau”.

9. “Dan jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa”. (Q.S. Al-Furqân: 74)

وَ اجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا

Rasulullah SAWW bersabda, “Aku pernah bertanya kepada Jibril, ‘Apa yang dimaksud dengan azwâjunâ dan siapakah istri-istri kami itu?’ ‘Khadijah’, jawabnya. ‘Siapakah anak-cucu kami?’, tanyaku lagi. ‘Fathimah’, jawabnya. ‘Apakah maksud dari cahaya mata kami?’ tanyaku. ‘Hasan dan Husein’, jawabnya. ‘Apa yang dimaksud dengan (ayat) jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa?’, tanyaku. ‘Ali bin Abi Thalib’, jawabnya”.

10. “Sesungguhnya Allah hanya ingin menghilangkan segala jenis kotoran dari kalian, Ahlulbait”. (Q.S. Al-Ahzâb: 33)

إِنَّمَا يُرِيْدُ اللهُ لِيُذْهِبَ عَنْکُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ

Abu Sa’id al-Khudri berkata, “Ayat ini turun berkenaan dengan lima orang. Mereka adalah Rasulullah, Ali, Fathimah, Hasan, dan Husein”.

Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ahmad dalam kitab al-Manâqib dan Sabrani.

11. “Katakanlah (wahai Muhammad), ‘Aku tidak meminta upah dari kalian atas dakwah ini kecuali kecintaan kepada Ahlulbait(ku)”. (Q.S. Asy-Syûrâ: 23)

قُلْ لاَ أَسْأَلُکُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلاَّ الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَی

Az-Zamakhsyari berkata, “Ketika ayat ini turun, Rasulullah SAWW ditanya, ‘Wahai Rasulullah, siapakah keluarga (Ahlubait) Anda yang telah diwajibkan kepada kami untuk mencintai mereka itu?’ Beliau bersabda, Ali, Fathimah, dan kedua putranya’.”

Rasulullah bersabda, “Barangsiapa meninggal dunia dengan membawa kecintaan kepada keluarga Muhammad, maka ia telah meninggal dunia dalam keadaan syahid; ketahuilah, barangsiapa meninggal dunia dengan mencintai keluarga Muhammad, ia meninggal dunia dalam keadaan telah diampuni; ketahuilah barangsiapa meninggal dunia dengan membawa kecintaan kepada keluarga Muhammad, ia telah meninggal dunia dalam keadaan bertaubat; ketahuilah, barangsiapa meninggal dunia dengan membawa kecintaan kepada keluarga Muhammad, ia telah meninggal dunia dengan iman yang sempurna; ketahuilah barangsiapa meninggal dunia dengan membawa kecintaan kepada keluarga Muhammad, malaikat maut akan memberikan kabar gembira kepadanya dengan surga, dan kemudian malaikat Munkar dan Nakir akan memberikan kabar gembira yang sama; ketahuilah barangsiapa meninggal dunia dengan membawa kecintaan kepada keluarga Muhammad, ia melangkah menuju surga seperti pengantin wanita diarak menuju rumah pengantin pria; ketahuilah, barangsiapa meninggal dunia dengan membawa kecintaan kepada keluarga Muhammad, Allah akan meletakkan dua pintu di kuburannya menuju ke surga; ketahuilah, barangsiapa meninggal dunia dengan membawa kecintaan kepada keluarga Muhammad, Allah akan menjadikan kuburannya sebagai tempat berziarahnya para malaikat rahmat; ketahuilah, barangsiapa meninggal dunia dengan membawa kecintaan kepada keluarga Muhammad, ia meninggal dunia sesuai dengan sunnah dan jamaah; ketahuilah, barangsiapa meninggal dunia dengan menyimpan kebencian kepada keluarga Muhammad, pada hari Kiamat ia akan memasuki alam Mahsyar dengan keningnya yang bertuliskan “ia telah berputus-asa dari rahmat Allah”; ketahuilah, barangsiapa meninggal dunia dengan membawa kebencian dan permusuhan kepada keluarga Muhammad, ia meninggal dunia sebagai orang kafir; ketahuilah, barangsiapa meninggal dunia dengan membawa kebencian kepada keluarga Muhammad, ia tidak akan mencium semerbak bau surga”.

12. “Mereka sedikit tidur di malam hari”. (Q.S. Adz-Dzâriyât: 17)

کَانُوْا قَلِيْلاً مِنَ الَّليْلِ مَا يَهْجَعُوْنَ

Abdullah bin Abbas berkata, “Ayat ini turun berkenaan dengan Ali bin Abi Thalib, Hasan, Husein, dan Fathimah”.

13. “Dan orang-orang yang beriman dan anak-cucu mereka mengikuti (jejak) mereka dengan (memilih) iman, Kami akan menggabungkan anak-cucu mereka itu dengan mereka dan Kami tidak akan mengurangi amalan mereka sedikit pun. Setiap orang tergantung kepada amalannya”. (Q.S. Ath-Thûr: 21)

وَ الَّذِيْنَ آمَنُوْا وَ اتَّبَعَتْهُمْ ذَرِّيَّتَهُمْ بِإِيْمَانِ أَلْحَقَنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَ مَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْئٍ کُلُّ امْرِئٍ بِمَا کَسَبَ رَهِيْنٌ

Ibu Abbas berkata, “Ayat ini turun berkenaan dengan Rasulullah, Ali, Fathimah, Hasan, dan Husein”.

14. “Ada dua lautan berbeda yang saling bertemu, sedangkan di antara keduanya terdapat penghalang sehingga keduanya tidak saling bercampur. Maka, nikmat Allah yang manakah yang kalian berdua bohongkan? Dari keduanya keluar permata (….) dan (….)”. (Q.S. Ar-Rahmân: 19-22)

مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ يَلْتَقِيَانِ * بَيْنَهُمَا بَرْزَخٌ لاَ يَبْغِيَانِ * فَبِأَيِّ آلاَءِ رَبِّکُمَا تُکَذِّبَانِ * يَخْرُجُ مِنْهُمَا الُّلؤْلُؤُ وَ الْمَرْجَانُ

Ibnu Mardawaeh meriwayatkan dari Ibnu Abbas, “Maksud dari dua lautan yang saling bertemu adalah Ali dan Fathimah, penghalang antara keduanya sehingga mereka selalu sejajar adalah Rasulullah, dan permata (….) dan (….) yang keluar dari kedua lautan itu adalah Hasan dan Husein”.

15. “Dan mereka lebih mementingkan (orang lain) atas diri mereka meskipun mereka sendiri sangat membutuhkan”. (Q.S. Al-Hasyr: 9)

وَ يُؤْثِرُوْنَ عَلَی أًنْفُسِهِمْ وَ لَوْ کَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ

Seseorang datang menjumpai Rasulullah untuk mengadukan kelaparannya. Beliau mengutus seseorang ke rumah para istri beliau (untuk mencari makanan). Mereka menjawab, “Kami tidak memiliki apa-apa kecuali air”.

Rasulullah akhirnya bertanya, “Siapakah di antara kalian yang siap menjamunya?” “Saya, wahai Rasulullah”, jawab Ali tegas.

Ali pergi menjumpai Fathimah dan menceritakan peristiwa yang telah terjadi. Fathimah as berkata, “Kita tidak memiliki sesuatu kecuali makanan untuk anak-anak. Akan tetapi, kami lebih mementingkan tamu daripada mereka dan memberikan makanan tersebut kepadanya”.

Ali berkata, “Kita tidurkan terlebih dulu anak-anak kita dan kita matikan lampu demi tamu kita itu”.

Beliau melakukan hal itu dan tamu itu beristirahat. Pada pagi harinya, ayat itu turun.

Ibnu Abbas berkata, “Ayat ini turun berkenaan dengan Ali, Fathimah, Hasan dan Husein as”.

16. “Mereka memberikan makan orang miskin, anak yatim, dan tawanan meskipun mereka menyayanginya”. (Q.S. Ad-Dhar: 8)

وَ يُطْعِمُوْنَ الطَّعَامَ عَلَی حُبِّهِ مِسْکِيْنًا وَ يَتِيْمًا وَ أَسِيْرًا

Abul Fadhl Syihabuddin Mahmud al-Alusi berkata, “Tidak ada yang dapat dikatakan oleh seseorang mengenai Ali dan Fathimah kecuali Ali adalah pemimpin Mukminin dan pengganti Rasulullah, Fathimah adalah belahan jantung Ahmad dan bagian dari Muhammad. Adapun Hasan dan Husein, mereka adalah ruh, cahaya hati, dan penghulu pemuda penduduk surga. Dan keyakinan ini tidak ada hubungannya dengan mazhab Rafidhi, dan keyakinan yang tidak sama dengan keyakinan tersebut—menurut pendapatku—adalah sebuah kesesatan”.


[1] Makalah ini adalah ringkasan dari buku Fâthimah az-Zahrâ`, Syâdmâni-ye Del-e Peyambar, karya Ahmad Rahmani Hamadani.

Ketika Wasiat dan Syura Berganti Posisi

Ketika Wasiat dan Syura Berganti Posisi (*)

Beberapa Catatan untuk Ali Syariati

- Nadirsyah (*)(*) -

 

Sebagaimana pemikir Yunani, bagi para pemikir politik Islam, politik terkait dengan etika. Bedanya, jika pemikir Yunani membicarakan keterkaitan itu dalam wilayah filsafat moral, pemikir politik Islam mendiskusikannya dalam naungan teologi.1 Ini indikasi, bahwa bagi Islam persoalan politik tidak terpisah dengan persoalan agama.2 

Sejarah politik Islam sarat dengan tarik-menarik antara persoalan politik murni dengan keyakinan teologi. Beberapa aliran teologi besar diduga kuat lahir dari persoalan politik; dan pergantian pemimpin politik biasanya diwarnai isu aliran teologi. Inilah yang kemudian melahirkan “teo-politik”.3 Persoalan tidak berhenti di situ. Persoalan berikutnya, dan ini sangat elementer, adalah apakah Islam sesungguhnya mengenal sistem politik.4 Jawaban terhadap pertanyaan ini akan memicu sejumlah persoalan baru. Semua persoalan itu, kalau dipadatkan dan ditarik intinya, maka akan tampak bahwa semua kembali kepada pertanyaan besar: apakah Rasul – sebagai pemimpin politik – telah menunjuk penggantinya atau tidak ?

Jika menengok ke belakang, pada masa antara wafatnya Rasul dan menjelang terpilihnya Abu Bakar sebagai khalifah, tepatnya kalau perhatian dipusatkan kepada sebuah “balairung” Saqifah Bani Sa’idah, akan tampak sebuah kenyataan sejarah yang, mungkin tanpa pernah disadari sepenuhnya oleh mereka yang hadir di Saqifah, berakibat panjang dan masih (sangat) terasa dalam kehidupan keberagamaan. Sejarah Saqifah adalah bagian penting dari sejarah politik Islam.5 

Pada konteks inilah bisa dijelaskan antusiasme beberapa pakar untuk menulis dan mendiskusikan akar politik Islam itu, yakni peristiwa Saqifah, atau tepatnya proses suksesi sepeninggal Nabi. Ali Syari’ati termasuk di antara pakar yang mengetahui arti sebuah sejarah.6 Lewat karyanya Al-Ummah wa al-Imamah,7 Syari’ati membaca ulang proses peralihan kepemimpinan dari Nabi Muhammad Saw ke Abu Bakar. Syari’ati mencoba menembus batas-batas aliran politik dan justifikasi syari’ah – serta menukik ke dalam semangat tasamuh (toleransi) yang luar biasa, tanpa musti menodai keyakinannya. Ia tidak terjebak pada klaim yang dilancarkan kaum Sunni dan Syi’ah dalam masalah yang sangat sensitif ini.

Hasil bacaan ulang Syari’ati terhadap peristiwa Saqifah amatlah menarik. Hal ini karena pisau sosiologis yang dikedepankannya membuat ia berbeda dengan pakar lain yang “terpaku” pada nash-nash dan doktrin mapan lainnya. Urgensi melihat bacaan ulang Syari’ati terletak pada usahanya untuk menurunkan “derajat” pembahasan dari sesuatu yang bersifat transenden – dan karenanya menimbulkan efek yang masih dirasakan sampai kini – kepada kajian yang bersifat profan dan realis.

Tulisan ini ingin menengok ke belakang, ke masa silam dan mengurai pokok-pokok pikiran Syari’ati tentang Imamah, yang berujung pada hasil bacaan ulang Syari’ati terhadap peristiwa Saqifah. Selanjutnya akan dikemukakan analisis kritis berupa pengujian sosio-historis terhadap argumen Syari’ati dan pada bagian akhir, lewat fiqih siyasah,8 penulis mencoba membaca ulang peristiwa Saqifah tersebut.

Proses Terpilihnya Abu Bakar

 

Nabi Muhammad adalah pemimpin agama dan politik sekaligus. Ia adalah Nabi yang terakhir. Tidak mungkin ada Nabi lagi sepeninggalnya.9 Artinya, posisi sebagai pemimpin agama (setingkat Nabi) tidak mungkin ada yang meneruskan, tetapi sebagai pemimpin politik (setingkat kepala negara) dapat saja digantikan dan diteruskan oleh sahabatnya. Pertanyaannya: siapa yang menggantikan beliau sebagai pemimpin politik, apa syaratnya, dan bagaimana caranya ?

Wafatnya Rasul membuat Madinah bising oleh tangisan. Umat pun bertanya-tanya siapa yang akan memimpin mereka. Sebagian sahabat terkemuka rupanya telah memikirkan hal itu dan berkumpul di “balairung” Saqifah di perkampungan Bani Sa’idah.10 Yang mula-mula berkumpul di sana adalah golongan Anshar: Khazraj dan ‘Aus.11 Umar rupanya Mendengar pertemuan tersebut. Ia mencari Abu Bakar dan menerangkan gawatnya persoalan. Umar berkata, “saya telah mengetahui kaum Anshar sedang berkumpul di Saqifah, mereka merencanakan untuk mengangkat Sa’ad bin Ubaidah (dari suku Khazraj) untuk menjadi pemimpin. Bahkan, di antara mereka ada yang mengatakan dari kita seorang pemimpin dan dari Quraish seorang pemimpin (minna amir wa minkum amir).” Ini dapat membawa pada dualisme kepemimpinan yang tak pelak akan menggoyang “bayi” umat Islam.

Setelah mengerti betapa gawatnya persoalan, Abu Bakar mengikuti Umar ke Saqifah. Di tengah perjalanan keduanya bertemu Abu Ubaidah bin al-Jarrah dan ia diajak ikut serta. Ketika mereka tiba telah hadir terlebih dahulu beberapa kaum Muhajirin yang tengah terlibat perdebatan sengit dengan kaum Anshar. Umar, yang menyaksikan di depan matanya bahwa Muhajirin dan Anshar akan mencabik-cabik ukhuwah Islamiyah, hampir-hampir tidak kuasa menahan amarahnya. Setelah mendengar perdebatan yang terjadi, Abu Bakar mulai berbicara dengan tenang dan ia mengingatkan bahwa bukankah Nabi pernah bersabda, “Al-Aimmah min Quraish (kepemimpinan itu berada di tangan suku Quraish).”12 “Kami pemimpin (umara) dan kalian “menteri”/pembantu (wizara). Telah bersabda Rasul bahwa dahulukan Quraish dan jangan kalian mendahuluinya.”

Abu Bakar tidak lupa mengingatkan kepada kaum Anshar tentang sejarah pertentangan Khazraj dan Aus yang kalau meletup kembali (dengan masing-masing mengangkat pemimpin) akan membawa mereka semua ke alam jahiliyah lagi. Kemudian Abu Bakar menawarkan dua tokoh Quraish, Umar dan Abu Ubaidah. Kearifan Abu Bakar dalam berbicara – di tengah suasana penuh emosional – rupanya mengesankan mereka yang hadir. Umar menyadari hal ini dan ia mengatakan kepada mereka yang hadir bahwa bukankah Abu Bakar diminta oleh Nabi untuk menggantikan beliau sebagai imam shalat kalau Nabi sakit. Umar dan Abu Ubaidah segera akan membai’at Abu Bakar tetapi mereka didahului oleh Basyir bin Sa’ad, seorang tokoh Khazraj Kemudian yang hadir di Saqifah semuanya membai’at Abu Bakar.13 Keesokan harinya Abu Bakar naik mimbar dan semua penduduk Madinah membai’atnya.

Abu Bakar resmi menjadi Khalifah ar-Rasul.14 Kemudian ia pun berpidato, sebuah pidato yang menurut ahli sejarah dianggap sebagai suatu statemen politik yang amat maju, dan yang pertama sejenisnya dengan semangat “modern” (partisipatif-egaliter).15 

Benarkah semua sahabat membai’at Abu Bakar ? Ternyata tidak.16 Dari yang hadir di Saqifah, Sa’ad bin Ubaidah tidak membai’at Abu Bakar dan tidak pula ikut shalat jama’ah bersamanya. Di antara penduduk Madinah yang tidak hadir di Saqifah dan tidak membai’at Abu Bakar adalah Fatimah az-Zahra. Ali bin Abi Thalib dan Bani Hasyim serta pengikutnya tidak berbai’at sampai enam bulan kemudian, setelah wafatnya Fatimah az-Zahra.

Ketika diberitahukan kepada Imam Ali r.a. tentang peristiwa yang telah terjadi di Saqifah bani Sa’idah setelah Rasulullah wafat, ia bertanya:

“Apa yang dikatakan kaum Anshar ?”

“Kami angkat seorang dari kami sebagai pemimpin, dan kalian (kaum muhajirin) mengangkat seorang dari kalian sebagai pemimpin !”

“Mengapa kamu tidak berhujjah atas mereka bahwa Rasulullah Saw telah berpesan agar berbuat baik kepada orang-orang Anshar yang berbuat baik dan memaafkan siapa di antara mereka yang berbuat salah,” tanya Imam Ali lagi.

“Hujjah apa yang terkandung dalam ucapan seperti itu ?”

“Sekiranya mereka berhak atas kepemimpinan umat ini, niscaya Rasululullah Saw tidak perlu berpesan seperti itu tentang mereka.”

Kemudian Imam Ali bertanya:

“Lalu apa yang dikatakan orang Quraish ?”

“Mereka berhujjah bahwa Quraish adalah ‘pohon’ Rasulullah Saw.”

“Kalau begitu, mereka telah berhujjah dengan ‘pohonnya’ dan menelantarkan ‘buahnya’.”17 

Imamah Dalam Pandangan Ali Syari’ati

 

Syari’ati memulai konsep imamah dengan terlebih dahulu menerangkan makna ummah. Ia membandingkan istilah nation, qaum, qabilah dan sya’b dengan ummah. Baginya, keempat istilah itu – dengan pengecualian pada istilah qabilah – sama sekali tidak mengandung arti kemanusiaan yang dinamis. Hanya saja, kelebihan istilah qabilah ditemukan pula pada istilah ummah. Istilah yang terakhir ini masih memiliki kelebihan lain dibandingkan istilah qabilah, yakni ia mempunyai gerakan yang mengarah pada tujuan yang sama. Dalam istilah ummah, gerak yang mengarah ke tujuan bersama itu justru merupakan landasan ideologis.

Istilah ummah secara terperinci mengandung tiga konsep: kebersamaan dalam arah dan tujuan; gerakan menuju arah dan tujuah tersebut; dan keharusan adanya pimpinan dan petunjuk kolektif. Dari kajian filologi ini, Syari’ati memandang bahwa sesungguhnya tidak mungkin ada ummah tanpa imamah.18 Apa karakteristik imamah itu ? Sebagaimana istilah ummah, istilah imamah menampakkan diri dalam bentuk sikap sempurna, di mana seseorang dipilih sebagai kekuatan penstabilan dan pendinamisan massa. Yang pertama berarti menguasai massa sehingga berada dalam stabilitas dan ketenangan, dan kemudian melindungi mereka dari ancaman, penyakit, dan bahaya. Yang terakhir berkenaan dengan asas kemajuan dan perubahan ideologis, sosial dan keyakinan, serta menggiring massa dan pemikiran mereka menuju bentuk ideal.19 

Syari’ati memandang umat dan imam dalam kondisi yang dinamis, yang selalu bergerak ke arah perubahan demi tujuan bersama. Ia memandang bahwa tanggung jawab paling utama dan penting dari Imamah adalah perwujuan dari penegakan asas pemerintahan pada kaidah kemajuan, perubahan dan transformasi dalam bentuknya yang paling cepat, lalu melakukan akselerasi, dan menggiring umat menuju kesempurnaan sampai pada lenyapnya ambisi sebagian individu terhadap ketenangan dan kenyamanan.20 Dalam kalimat lain namun senada ia menulis, “Imamah dalam mazhab pemikiran Syi’ah adalah kepemimpinan progresif dan revolusioner yang bertentangan dengan rezim-rezim politik lainnya guna membimbing manusia serta membangun masyarakat di atas fondasi yang benar dan kuat, yang bakal mengarahkan menuju kesadaran, pertumbuhan, dan kemandirian dalam mengambil keputusan.”21 

Tugas imam, di mata Syari’ati, tidak hanya terbatas memimpin manusia dalam salah satu aspek politik, kemasyarakatan, dan perekonomian, juga tidak terbatas pada masa-masa tertentu dalam kedudukannya sebagai panglima, amir atau khalifah, tetapi tugasnya adalah menyampaikan kepada umat manusia dalam semua aspek kemanusiaan yang bermacam-macam. Seorang Imam dalam arti seperti ini, tidak terbatas hanya pada masa hidupnya, tetapi selalu hadir di setiap saat dan hidup selamanya.22 Walaupun demikian, Syari’ati mengingatkan bahwa imam bukanlah supra-manusia tetapi manusia biasa yang memiliki banyak kelebihan di atas manusia lain atau manusia super.23 

Jika demikian agung dan tinggi hakikat imam, kemudian bagaimana cara pemilihan imam itu ? Syari’ati bertanya, “apakah imam dipilih melalui pengangkatan atau pemilihan, ataukah berdasarkan penunjukkan dari Nabi Saw atau imam sebelumnya ?” Syari’ati mengajukan sebuah jawaban, “jawabnya – secara teoretis – adalah negatif untuk ketiga-tiganya …” Dalam alinea lain, ia menjelaskan bahwa imam adalah suatu hak yang bersifat esensial yang muncul dari diri seseorang. Sumbernya adalah dari diri imam itu sendiri, dan bukan dari faktor eksternal, semisal pengangkatan atau pemilihan. “Dia adalah seorang imam” lanjut Syari’ati, “tak peduli apakah ia muncul dari penjara al-Mutawakkil maupun dari mimbar Rasul, baik didukung oleh seluruh umat atau hanya diketahui keagungannya oleh tujuh atau delapan kelompok orang saja.”24 Syari’ati menyimpulkan, “… imamah tidak diperoleh melalui pemilihan, melainkan melalui pembuktian kemampuan seseorang. Artinya, masyarakat – yang merupakan sumber kedaulatan dalam sistem demokrasi – tidak terikat dengan imam melalui ikatan pemerintahan, tetapi berdasarkan ikatan orang banyak dengan kenyataan yang ada (pada imam tadi). Mereka bukan menunjuknya sebagai imam, tetapi mengakui kelayakannya (sebagai seorang imam).”25 

Jika logika Syari’ati di atas diteruskan, maka persoalannya apakah ada pemisahan lapangan kerja antara imam (yang diakui) dengan khalifah (yang dipilih) ? Syari’ati menolak pandangan ini karena akan bermuara kepada pemisahan antara agama dan negara. Kendati demikian, itu selalu identik dengan imamah. Baginya, Imamah terbatas hanya kepada pribadi-pribadi tertentu sebagaimana halnya dengann nubuwah, sedangkan pemerintahan tidak terbatas pada masa, sistem dan orang-orang tertentu. Satu-satunya garis pemisah yang ditegaskan Syari’ati adalah, “pemerintahan (khilafah) itu merupakan tanggung jawab yang tidak terbatas dalam sejarah, sedangkan imamah terbatas, baik dalam masa maupun orangnya. Dengan mengabaian perbedaan tadi, imamah dan khilafah sebenarnya merupakan tanggung jawab yang satu, untuk mencapai satu tujua dengan satu keterbatasan, seperti telah dikemukakan di atas, di mana seorang penguasa tidak selamanya seorang imam.”26 

Dalam hubungannya dengan peristiwa Saqifah, ada dua persoalan besar dari alur logika Syari’ati di atas. Pertama, bagaimana hubungan imam dengan khalifah yang ada pada masa yang sama ? Kedua, apakah imam tersebut harus dipilih oleh Allah atau Nabi sebagai pilihan yang harus pula diterima oleh umat manusia, kemudian diangkat sebagai imam untuk memimpin mereka dalam bidang politik, ataukah ia dipilih oleh manusia sendiri melalui musyawarah dan pemilihan umum ?

Dalam pandangan Syari’ati hubungan khalifah dengan imam yang ada pada satu masa merupakan bentuk hubungan seorang pemimpin spiritual, politik dan sosial dengan penguasa, sebagaimana halnya yang ada pada hubungan antara Gandhi dengan Nehru. Bentuk seperti ini, di mata Syari’ati, adalah bentuk yang wajar, dan pemisahan antara kedua tugas tersebut dapat memberi jaminan bagi tetap terpeliharanya keagungan dan kehormatan imam.

Sepintas memang jawaban Syari’ati bertentangan dengan tidak setujunya ia pada pemisahan kerja khilafah dan imamah, yang menurutnya akan bermuara pada pemisahan antara politik dan agama. Dapat dijelaskan bahwa bagi Syari’ati, pemisahan antara urusan politik atau negara dan agama bukan produk Islam, tetapi produk sejarah Islam yang terpengaruh nilai-nilai nasrani. Pada mulanya, seorang pemimpin mengurusi masalah politik dan agama sekaligus. Ia bagaikn Nabi Muhammad yang memimpin perang tetapi juga menjadi imam sholat. Sejarah Islam kemudian mencatat terjadinya pergeseran yang memisahkan antara khilafah dan imamah dalam bentuk aplikatif. Dan ini tidak disetujui oleh Syari’ati.27 Ini dipersulit dengan terjadinya pemisahan keduanya dalam ruang dan waktu yang berbeda. Terjadi pula pereduksian peranan imamah dan khilafah dalam sejarah Islam, lalu masing-masing ditempatkan dalam medan yang sempit.

Adapun yang dimaksud Syari’ati dengan pemisahan khilafah dan Imamah (atribut/sifat) di atas adalah pada tataran realitas. Ada imam yang diakui oleh sekelompok orang, lalu kelompok yang lain memilih orang lain untuk menjadi khilafah. Di sini perlu diingatkan bahwa, bagi Syari’ati, imamah bukanlah jabatan tetapi atribut (sifat). Penunjukan atas orang lain sebagai khilafah di saat adanya imam, dapat disejajarkan dengan penerimaan terhadap seorang Nabi sebagai seorang Rasul – seperti yang diberlakukan pada Yesus – dan menunjuk orang lain pada jabatan pemerintahan bagi bangsa Arab atau kaum muslim Emperor Islam, sebagaimana halnya dengan Kaisar.28 

Bagi Syari’ati, dalam ajaran Islam tidak dikenal pemisahan urusan negara atau politik dengan agama. Jika terjadi pada satu masa adanya imam dan adanya Khalifah maka hubungan yang terjadi adalah bagaikan hubungan Nehru dan Gandhi. Imam meski diam di rumah tidak berarti ke-imam-annya hilang, karena imam adalah atribut (sifat); tanpa melewati pemilihan. Dengan demikian, tanggung jawab dan tugas seorang imam – meski tidak dipilih sebagai khalifah – tetaplah ada.

Berbeda dengan konsep sekular yang betul-betul menghendaki pemisahan antara negara dan agama; dalam konsep Syari’ati, kalau pun harus terjadi – adanya imam dan khalifah dalam satu masa – maka yang ada adalah adanya pemimpin politik dan pemimpin spiritual. Apabila kemudian imam terpilih sebagai khalifah (melalui pemilihan), seperti yang terjadi pada Imam Ali dan Imam Hasan,29 maka bukanlah hal yang tabu bersatunya pemimpin politik dan pemimpin spiritual dalam diri satu pemimpin. Ini yang tidak mungkin terjadi dalam konsep sekular karena pemimpin spiritual bukanlah sebuah sifat tetapi sebuah jabatan tersendiri.

Berangkat dari tesis bahwa imam adalah sifat (atribut), ketika yang bukan imam menjadi khalifah maka bukannya hak imam yang terampas; tetapi yang terampas adalah hak umat manusia.30 Seorang imam tetap menjadi imam meskipun ia tidak menjalankan kekuasaan duniawi. Yang terampas haknya (dari memperoleh manfaat atas kehadiran imam) adalah makmum. Adalah hak umat untuk mendapat bimbingan dari imam dan bila ada “rekayasa” maka yang paling merugi adalah umat; karena umatlah yang terampas haknya.

Persoalan kedua sesungguhnya bermuara pada dua prinsip; pengangkatan dari Tuhan dan ijma’ umat Islam. Sejarah telah menjelaskan bahwa Syi’ah cenderung pada prinsip pertama dan Sunni cenderung pada prinsip kedua. Syari’ati menyerang prinsip kedua yang oleh Sunni dianggap telah menjadi unsur penting pada peristiwa Saqifah. Syari’ati sempat “terbang” ke Konferensi Asia Afrika di Bandung, menyebut Jenderal De Gaul dari Maroko, mengutip Profesor Chandle yang mengatakan, “musuh demokrasi dan kebebasan yang paling besar adalah demokrasi, liberalisme, dan kebebasan individu itu sendiri”, menyerang dunia Barat atas kecurangan mereka dalam memperkenalkan demokrasi, menyerang Robert Kennedy, revolusi kebudayaan di Cina dan revolusi Perancis. Syari’ati menyebut semua itu untuk menyerang demokrasi dan pemilihan pemimpin dengan suara terbanyak.31 

Setelah “berbusa-busa” berbicara tentang banyak hal, Syari’ati mulai menyinggung peristiwa Saqifah. Menurutnya, dengan mengabaikan polemik nash-wasiat, di satu sisi, dan syura-bai’at, di sisi lain, dalam peristiwa Saqifah hanya ada lima suara: dua suara dari kabilah Aus dan Khazraj, tiga suara dari Muhajirin, yakni Abu Bakar, Umar dan Abu Ubaidah bin al-Jarrah. Itu pun dengan catatan apabila pemimpin kabilah Aus, Sa’id bin Mu’adz, sudah tidak ada lagi, maka otomatis Sa’ad bin Ubaidah, pemimpin Khazraj, menjadi pemimpin tunggal orang Madinah menghadapi kelompok Mekah – yang terakhir ini disebut Syaria’ti telah memiliki kesadaran politik tinggi, sebagaimana terbukti pada akhirnya, di mana mereka (kelompok Mekah) tahu betul apa yang sedang mereka hadapi, dan bagaimana pula seharusnya bertindak.32 Syari’ati bermaksud mengatakan bahwa aspirasi dan kebutuhan penduduk Madinah hanya ditemukan oleh lima suara, yang berarti mengabaikan ratusan suara lainnya, dalam peristiwa Saqifah.

Bagi Syari’ati, sesungghunya prinsip bai’at-syura dan nash-wasiat tidaklah bertentangan sama sekali dan tidak pula ada di antara keduanya yang merupakan bid’ah dan tidak islami. Baik bai’at, musyawarah, maupun ijma’ (demokrasi) adalah salah satu kaidah islamiyah yang diajarkan oleh Al-Quran. Tetapi, Syari’ati tidak lupa menegaskan, “… tidak ada seorang pun yang dapat mengingkari adanya wasiat Rasulullah kepada Ali … Umat harus melaksanakan wasiat ini dan menyerahkan persoalan mereka kepada washi (orang yang diberi wasiat), dan kalau itu tidak mereka lakukan, mereka akan tersesat.”33 

Dalam pandangan Syari’ati, wasiat itu berfungsi sepanjang beberapa generasi, hingga kelak tiba pada masanya masyarakat dapat berdiri sendiri di atas kaki mereka, lalu memulai- setelah berakhirnya imamah atau tahap wasiat – tahapan pembinaan revolusioner tertentu, suatu tahap bai’at, musyawarah, dan ijma’ atau apa yang disebut Syi’ah atau para washi Rasulullah berjumlah dua belas imam, tidak lebih. Sementara jumlah pemimpin masyarakat (politik) sesudah wafat Nabi hingga akhir sejarah, jumlahnya tidak terbatas.

Pada masa-masa awal wasiat digunakan dalam proses suksesi. Selanjutnya, menurut Syari’ati, setelah pada tahun 250 H (tahun gaibnya Imam ke-dua belas) baru berlaku prinsip syura. Kalau ini berjalan mulus maka pada 250 H kita telah mempunyai masyarakat yang sempurna bentuknya, dan memiliki kelayakan yang membuatnya patut memilih pemimpin mereka yang paling baik melalui asas musyawarah, yang kemudian menduduki kursi kepemimpinan, dan menggerakkan sejarah sesuai dengan jalur yang telah digariskan oleh risalah Muhammad Saw.

Masa sepeninggal Nabi sampai 250 H adalah masa revolusi yang tidak membutuhkan demokrasi. Sayangnya, menurut Syari’ati, sesuatu yang tidak terduga telah muncul di Saqifah bani Sa’idah dan menyeret perjalanan sejarah Islam ke arah lain. Syari’ati pun berandai-andai, kalau seandainya peristiwa Saqifah itu terjadi pada 250 H dan tidak pada tahun 11 H, niscaya sejarah akan lain bentuknya. Sebab, meminjam istilah Chandle, demokrasi – bagi masyarakat belum maju – merupakan musuh demokrasi itu sendiri.34 

Catatan Kritis

 

Syari’ati memulai bahasannya dengan menjelaskan kaitan organik antara makna ummah dengan imamah. Pada bagian ini kajian Syari’ati lebih menitikberatkan pada pendekatan filologis, ketimbang sosiologis. Menurut hemat penulis, dalam menguraikan benang merah antara konsep ummah dengan imamah, sama sekali tidak berarti bahwa konsep khilafah tidak mendapat tempat dalam ummah. Hal ini perlu digarisbawahi mengingat terma imamah dianggap khas Syi’ah dan terma khilafah khas Sunni.

Hamid Enayat membedakan khilafah dan imamah sebagai kata kunci memahami paradigma politik Sunni dana Syi’ah, di samping kata kunci lain seperti wilayah dan ‘ishmah (Syi’ah), ijma’ dan bai’at (Sunni). Tetapi, perbedaan istilah imamah dan khilafah sesungguhnya hanya berlaku dalam makna aplikatif dan sistemik, keduanya tidak berbeda pada tataran teoretis. Bagi Ibn Khaldun, khilafah adalah tanggung jawab umum yang dikehendaki oleh peraturan syari’at untuk mewujudkan kemashlahatan dunia dan akhirat bagi umat dengan merujuk kemashlahatan dunia dan akhirat bagi umat dengan merujuk padanya. Hakekat khilafah ialah sebagai pengganti fungsi pembuat syari’at dalam memelihara urusan agama dan politik duniawi.36 Ini senada dengan pendapat al-Mawardi akan imamah, yakni, “imamah dibentuk untuk menggantikan fungsi kenabian guna memelihara agama dan mengatur dunia.”37 Artinya, khilafah dan imamah dalam makna yang belum memperoleh sentuhan politis adalah satu makna. Ini berarti mengatakan tidak mungkin ada ummah tanpa imamah – seperti yang disimpulkan Syari’ati – sama maknanya dengan pernyataan: tiada ummah tanpa khilafah.

Sejarah membuktikan bahwa masyarakat, apa pun nama komunitas itu, baik umat, qabilah atau society, memang membutuhkan pemimpin, atau istilah yang setara dengannya seperti khilafah, imam, presiden atau raja. Dalam masyarakat primitif sekalipun seorang pemimpin pasti lahir. Ia merupakan sesuatu yang lahir dari proses kebutuhan sosial masyarakat dalam memenuhi hajatnya baik secara bersama-sama maupun demi kepentingan individu semata.38 Persoalannya , adakah manusia yang sejak lahir (bahkan sejak belum lahir) telah ditakdirkan menjadi pemimpin ?

Bagi Syari’ati, imam merupakan sifat atau atribut yang melekat pada diri seseorang. Seorang imam tidak perlu dipilih karena imam bukanlah sebuah jabatan. Dipilih atau tidak ia tetap sebagai imam. Syari’ati dengan tegas ingin mengatakan bahwa ada seseorang yang ditakdirkan dan dilahirkan untuk menjadi imam, yakni melekatnya sifat atau atribut imam itu. Nabi Muhammad memberitahu umat melalui wasiatnya. Lalu kita pun mengetahui bahwa seseorang itu memiliki sifat seorang imam.

Pandangan Syari’ati tersebut perlu segera diberikan catatan. Jika imam itu lebih merupakan sifat atau atribut ketimbang jabatan, mengapa imam masih membutuhkan wasiat untuk memimpin umat? Bukankah dengan atau tanpa wasiat imam tetaplah seorang imam ? Persoalannya, kalau ada sekelompok masyarakat menolak seorang imam (dalam arti sifat / atribut) sebagai pemimpin (khalifah, amir atau raja) meskipun telah ada wasiat (yang memberitahu siapa pemimpin sepeninggal Nabi) maka yang tidak diakui, sebenarnya, seseorang yang memiliki sifat imam atau sekelompok orang itu tidak mengakui kebenaran adanya wasiat tentang itu. Pembedaan ini penting, karena jika dipilih alasan yang pertama maka boleh jadi imam itu rupanya kurang menampakkan sifat-sifat keimamannya. Sebagai orang yang memiliki atribut atau sifat imam ia ditolak. Dan ini semata-mata persoalan psiko-sosial masyarakat. Jika alasan kedua yang dipilih maka kita berjalan menyisiri “pantai” teologi.

Tampaknya, para pakar cenderung memilih yang kedua, sehingga persoalan menjadi bersifat teologis. Bagaimana mungkin wasiat Nabi dikesampingkan, kata kelompok yang satu. Kelompok lain menjawab bahwa mereka bukan mengesampingkan wasiat Nabi, tetapi apa betul Nabi berwasiat seperti itu ? Pembuktian masalah ini akan dipenuhi dalil dan justifikasi Al-Qur’an dan Hadis. Dan ini yang telah terjadi dalam sejarah Islam. Jika ingin mengikuti alur pemikiran Syari’ati maka sebaiknya dipilih alasan pertama.

Sayangnya, Syari’ati tidak konsisten dengan alur logikanya. Maka imam yang ia ketengahakan tetap bergantung pada wasiat. Imam memiliki kekuasaan atas dasar wewenang39 yang diperoleh dari wasiat. Padahal dari awal Syari’ati telah menegaskan, “salah satu ciri penting yang ingin saya tegaskan dalam kajian saya ini adalah pendekatan sosiologis terhadap masalah ummah dan imamah.”40 Mengaitkan imam dengan wasiat, hemat penulis, telah meruntuhkan bangunan logikanya yang dibangun dengan pendekatan sosiologis. Tetapi itu tidak berarti seluruh argumen Syari’ati inkonsisten. Syari’ati cukup konsisten dengan alur logikanya ketika ia berpendapat jika imam tidak dipilih untuk memimpin umat, maka yang terampas adalah hak umat (dari memperoleh manfaat atas kehadiran imam) bukan hak imam. Ia meletakkan imam secara sistemik dengan masyarakat dan dalam hubungan sosial yang demikian erat. Karenanya, alur logika Syari’ati bisa diteruskan dengan perumpamaan: jika umat tidak memperoleh pelayanan yang maksimal dari aparatur negara maka sesungguhnya yang terampas adalah hak imam (untuk melayani umatnya).

Syari’ati memandang bahwa sesungguhnya wasiat dan musyawarah sama-sama memperoleh justifikasi islami. Yang membedakan keduanya adalah waktu dan kondisi umat. Sepeninggal Nabi “bayi” umat belumlah kokoh dan kuat hingga tidak mungkin dapat menentukan nasibnya sendiri. Umat membutuhkan wasiat untuk menentukan siapa pemimpin mereka. Kelak, saat kondisi umat telah matang, wasiat tidak dibutuhkan lagi dan musyawarah-lah jalan yang tepat. Dalam rentang waktu 11 H sampai dengan 250 H yang dibutuhkan adalah mekanisme wasiat; pertama dari Nabi kemudian dari Imam yang terdahulu. Angka 250 H dipilih Syari’ati karena pada tahun itulah Imam Mahdi (imam kedua belas dalam kepercayaan Syi’ah Imamiyah Itsna Asy’ariyah) gaib dan akan kembali nanti di akhir zaman.41 Setelah 250 H mekanisme yang digunakan adalah musyawarah.

Benarkah umat pada masa awal itu belum matang ? Robert N. Bellah, sebagaimana sering dikutip Nurcholish Madjid,42 menganggap masyarakat pada masa itu telah menghasilkan sesuatu yang untuk masa dan tempatnya luar biasa modern. Tetapi, karena prasarana sosialnya pada bangsa Arab dan dunia saat itu belum siap, maka sistem kekhilafahan Islam itu tidak bertahan lama dan diganti dengan sistem “kerajaan” Bani Umayyah. Apabila komentar Bellah ini benar, maka umat pada masa itu bukan belum matang, seperti yang dinyatakan Syari’ati, tetapi, lebih tepat, terlalu matang (modern). Hal ini bisa ditafsirkan bahwa Syari’ati benar ketika mengutip Chandle, “demokrasi – bagi masyarakat belum maju – merupakan musuh demokrasi itu sendiri.” Faktor yang bisa dikemukakan untuk membuktikan belum siapnya umat Islam dengan pemilihan yang terbukan dan “modern” adalah sosialisasi politik yang masih primitif43 dengan ciri seperti, misalnya, tingkat fanatisme kesukuan yang cukup tinggi. Faktor lainnya adalah terdapat kecenderungan “membeo” seperti bila telah ada beberapa orang yang berbai’at maka semuanya akan berbai’at, juga tidak konsisten dalam mekanisme pemilihan khalifah pertama, kedua, ketiga dan keempat.

Pertanyaannya, apakah dengan demikian ide wasiat memperoleh justifikasi ? Menurut hemat penulis, terlalu terburu-buru menyimpulkan demikian. Ada faktor yang luput dari perhatian selama ini, yakni mekanisme wasiat tidak menjamin hilangnya perpecahan. Apabila dianggap kelompok Syi’ah merupakan kelompok yang representatif dalam mekanisme wasiat ini, maka yang terlihat adalah ketidakjelasan subjek penerima wasiat setelah Imam Husain. Syi’ah pun terpecah ke dalam beberapa kelompok, seperti Imamiyah, Kaisaniyah, Zaidiyah, dan Ismailiyah, karena saling mengklaim telah menerima wasiat.

Syari’ati berandai-andai, bila mekanisme wasiat ini berjalan maka pada 250 H masyarakat telah sempurna bentuknya. Penulis ingin melihat fakta sejarah sekitar 250 H baik di dunia Sunni secara umum maupun pada kelompok Syi’ah. Kegaiban Imam kedua belas sekitar tahun 250 H (862 M) atau 260 H (873 M) saat Dinasti Abbasiyah masih berkuasa. Pada masa diperintah oleh al-Mu’tamid (260 H) Imam kesebelas Syi’ah wafat dan tidak lama Imam kedua belas pun gaib. Ini bila berpegang pada angka 260 H (angka dari Thabathaba’i) tetapi jika berpegang pada angka 250 H (angka Syari’ati) maka yang berkuasa adalah al-Musta’in.

Jika dilihat masa kekuasaan Abbasiyah yang berkuasa dalam rentang waktu ratusan tahun, maka sekitar tahun 250-260 H adalah periode kedua Abbasiyah, yakni masa-masa kemunduran Khilafah Abbasiyah.44 Pada pemerintahan al-Musta’in berdiri Daulat Zaidiyah di Timur (Iran) yang didirikan oleh Hasan ibn Zaid (keturunan Ali bin Abi Thalib). Pemerintahannya berdasarkan “kerajaan” jika dilihat dari sistem pemilihannya (berdasarkan keluarga dan maula). Daulat ini bertahan selama 100 tahun dan kemudian punah.45 Pendek kata, pada mas itu kekuasaan telah terpecah menjadi beberapa dinasti kecil (seperti dinasti Fatimiyah di Mesir pada 296 H dan berkuasa selama 280 tahun). Terlihat bahwa masyarakat yang “matang” tidak tercapai: bahkan dunia Syi’ah pun dipenuhi perselisihan (misalnya, setelah tahun 140 H lahir sekte Ismailiyah). Sistem pemerintahan juga tidak berdasarkan musyawarah, yang dapat memungkinkan seorang muslim non-bangsawan menjadi khalifah.

Masyarakat sempurna memang tidak terjadi pada 250 H (atau 260 H) dan itu, Syari’ati memberi alasan, karena mekanisme wasiat terpotong oleh peristiwa Saqifah. Di samping alasan Syari’ati terkesan terburu-buru dan merupakan simplifikasi, dunia menyaksikan bahwa pada kondisi umat terpecah-pecah itulah Imam Mahdi gaib. Jadi, Imam Mahdi gaib pada situasi umat yang “tidak sempurna”. Tetapi bukan berarti keadaan kacau-balau. Sejarah mencatat pada sekitar masa Imam Mahdi berada dalam kegaiban beberapa disiplin ilmu dalam Islam mencapai puncak keemasannya. Sekitar dua puluh tahun setelah gaibnya Imam Mahdi, Muhammad Ibn Jarir ath-Thabari (893 M) lahir. Ia kemudian dikenal sebagai mufassir dan juga ahli fiqih terkemuka. Sekitar dua puluh tahun setelah gaib Imam Mahdi juga wafat at-Tirmidzi (892), Ibn Majah (886), Abu Dawud (888). Ketiganya merupakan ahli hadis terkemuka di samping Bukhari (wafat 870 M) – semasa dengan Imam ke-sebelas – dan Muslim (wafat 875).

Apa komentar Syaria’ti terhadap kemajuan ilmu agama pada masa itu ?46 Syari’ati menyerang kondisi “keemasan” itu dan menganggap dinasti Abbasiyah telah mendepolitisasi rakyat dan mengalihkan perhatian mereka dari masalah-masalah politik yang aktual dan soal-soal tentang “benar-salah” dengan jalan mendukung pertumbuhan ilmu pengetahuan, kesenian, kesusasteraan, penemuan ilmiah, argumen filosofis, dan penerjemahan, serta peniruan warisan dan budaya bangsa-bangsa lain. Pertumbuhan “ilmu-ilmu agama” memaksa soal-soal penting menyangkut agama terdesak ke belakang.47 Walhasil, Syari’ati tidak puas pada situasi masa Abbasiyah. Pada situasi yang tidak memuaskan itulah Imam Mahdi gaib, dan Syari’ati mengusulkan mulai diberlakukannya sistem musyawarah, sebagai ganti wasiat.

Tetapi, apakah memang pernah terjadi praktek musyawarah dalam pemilihan pemimpin ? Tentu tergantung dalam memberi makna pada terma musyawarah.48 Syari’ati memandang peristiwa Saqifah hanya “mengatasnamakan” musyawarah. Bagaimana mungkin terdapat musyawarah jika di sana hanya ada empat atau lima suara sementara hasil musyawarah menyangkut kepentingan seluruh penduduk Madinah dan sekitarnya ? Apabila diterima pendapat Syari’ati bahwa musyawarah di sana “diragukan” keabsahannya (karena hanya diwakili lima suara), maka dapatkah disimpulkan bahwa sebenarnya dalam rentetan sejarah Islam, khususnya pemilihan pemimpin, musyawarah telah ditendang jauh-jauh. Tentu saja hal ini berlebihan. Bagi penulis, jumlah lima suara dalam Saqifah itu absah. Hanya saja, perlu diperhitungkan apakah benar mereka yang tidak hadir di Saqifah terakomodasi dalam kelima suara itu ? Jadi, jika Syari’ati mempersoalkan jumlah suara (yang hanya lima), penulis tidak peduli lima suara atau dua suara sekalipun, tetapi apakah jumlah suara (dua, lima atau seratus) memang dapat mengakomodir aspirasi umat. Dan ini bukan saja problem umat dan mereka yang hadir di Saqifah, tetapi juga problem demokrasi masa kini. Perdebatan sistem pemilu distrik atau proporsional yang tengah marak di Indonesia, sebagai contoh, sebenarnya juga berujung pada persoalan mengakomodasi aspirasi rakyat.

Peristiwa Saqifah: Tinjauan Fiqih Siyasah

 

Peserta Saqifah, pendukung Ali, pendukung Abu Bakar dan para ulama tentu mempunyai alasan masing-masing dalam menilai terpilihnya Abu Bakar. Alasan itu seringkali dipenuhi dalil demi dalil; hingga dalil dibantah dalil. Lewat formula “tarjih” dan pendekatan Fiqih Siyasah, di bawah ini penulis akan berandai-andai.

Jika diterima riwayat yang mengatakan bahwa Nabi telah menyuruh Abu Bakar untuk menggantikannya menjadi imam sholat, sehingga pendukungnya berkata, “Nabi telah mempercayainya dalam urusan akhirat, lalu mengapa kita tidak mempercayainya dalam urusan dunia ?”, kemudian diterima pula riwayat tentang wasiat Nabi yang menyatakan bahwa sepeninggal beliau Ali bin Abi Thalib-lah yang akan memimpin umat. Sekali lagi, jika kedua riwayat ini diterima, maka apa yang terjadi ?

Pendukung Abu Bakar telah melakukan analogi, atau qiyas dalam bahasa usul fiqih. Sementara pendukung Ali menggunakan hadis (nash) sebagai dasar dukungannya. Jika kedua riwayat di atas diterima, maka berarti telah terjadi pertentangan antara qiyas dengan nash. Dalam konsepsi hukum Islam, bila nash dan qiyas dipertentangkan maka qiyas dikesampingkan. Lalu, apakah pendukung Ali menjadi “benar”, dan pendukung Abu Bakar telah “keliru” ?

Boleh jadi pendukung Ali memang “benar”, namun pendukung Abu Bakar belum tentu “keliru”. Bukankah dalam pengambilan konklusi diperlukan tidak saja “dalil intern” tetapi juga “dalil ekstern”. “Dalil intern” adalah nash, ijma’ dan qiyas; sedangkan “dalil ekstern” adalah keadilan, kemashlahatan, kesejahteraan, skala prioritas atau kebutuhan, dan sebagainya. Dengan alasan gentingnya persoalan bisa saja sebuah “dalil ekstern” mengalahkan “dalil intern”. Dalam konteks Saqifah, dapat dibayangkan seandainya perpecahan semakin memuncak dan budaya jahiliyah menyeruak ketengah-tengah pertemuan itu. Maka kemashlahatan umat dapat dipertimbangkan sehingga pengabaian nash itu terjadi.

Keputusan yang diambil “wakil umat”49 untuk mengabaikan nash demi kemashlahatan bisa dimaklumi, dan ini dibenarkan dalam Fiqih Siyasah. Tetapi, sayangnya, pengabaian nash ini berlangsung tidak hanya dua tahun (masa Abu Bakar) tetapi juga berlanjut dengan penunjukan Abu Bakar terhadap Umar untuk menggantikannya. Pada peristiwa terakhir ini sulit mentolelir keengganan Abu Bakar untuk menunjuk Ali sebagai khalifah. Agaknya, tidak ada alasan yang kuat, baik “dalil intern” maupun “dalil ekstern”, untuk lebih memilih Umar dibanding Ali. Kalaupun ada yang mencoba menjelaskan (atau membela) keputusan Abu Bakar itu, kelihatannya tidak lebih sebagai “rasionalisasi”. Jadi, yang justru menjadi persoalan adalah pengabaian nash oleh Abu Bakar saat Umar ditunjuk (atau wasiat ?) menjadi khalifah dan diteruskan saat terpilihnya Usman. Pengabaian nash tanpa alasan dan kondisi yang memungkinkan tentu menjadi persoalan besar. Fiqih Siyasah tidak dapat membenarkan hal yang terakhir ini.

Tentu saja, analisa di atas baru berlaku bila memang benar Ali mendapat wasiat Nabi untuk menggantikannya, dan jika juga benar Nabi menyuruh Abu Bakar menggantikannya menjadi imam shalat. Apabila diandaikan kedua riwayat itu tidak benar, lalu bagaimana Fiqih Siyasah merespon peristiwa Saqifah ? Tentu saja, keputusan itu sah, selama memenuhi keadilan, sesuai dengan asas musyawarah, menjamin kemashlahatan umat dan sebagainya, meskipun tidak ada dalil khusus tentang keputusan itu.50 

Penutup

 

Beberapa komentar di atas tentang pemikiran Syari’ati agaknya tidak akan sedikitpun menciderai kenyataan – seperti diakui beberapa penulis – akan besarnya sumbangan pemikiran Syari’ati terhadap Revolusi Islam Iran.51 

Mengenai pendekatan Fiqih Siyasah dalam peristiwa Saqifah segera terlihat bahwa Fiqih Siyasah hanya meletakkan dasar-dasar dan terkesan tidak memuaskan. Fiqih Siyasah bermain dengan terma yang abstrak (musyawarah, keadilan, kemashlahatan) dan dapat diartikan oleh semua pihak menurut “seleranya”. Pengujian terhadap nilai-nilai musyawarah, keadilan dan kemashlahatan, yang telah diletakkan kerangkanya oleh Fiqih Siyasah, dalam suatu masyarakat sebaiknya dilakukan lebih jauh dengan pengujian sosio-historis – yang terakhir ini telah lebih dahulu dilakukan Syari’ati.

Akhirnya, sejarah Saqifah meski disikapi dengan secara arif. Namun ini tidak berarti membiarkan lempengan sejarah sebagai barang rongsokan dan harus dimusiumkan. Pembahasan masa lalu amat penting dan bermanfaat, asalkan tidak “membudak” pada salah satu golongan dan tidak semata-mata melihat dari pendekatan teologi. Pada titik ini kita semua sepakat bahwa Syari’ati, betapa pun belum sempurna, telah mencoba untuk tidak “membudak” pada golongan tertentu dan mencoba keluar dari perdebatan teologi, yang seringkali tidak lagi jelas ujung pangkal persoalannya.

Catatan Kaki :

(*) Artikel dari Buku “Melawan Hegemoni Barat – Ali Syari’ati dalam Sorotan Cendekiawan Indonesia“, Editor: M. Deden Ridwan, Penerbit PT Lentera Basritama, Jl.Mesjid Abidin No.15/25 Jakarta, Juli 1999 M, h.131-172 

 

(*)(*) Nadirsyah

Lahir di Jakarta, 08 Desember 1973. Lulusan Fakultas Syariah IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Jurusan Perbandingan Mazhab dan Hukum ini kini mengabdi di almamaternya selaku staf pengajar. Di samping masih kuliah di Fakultas Hukum, Universitas Muhammadiyah, Jakarta (tingkat akhir), juga peneliti pada Lembaga Penelitian dan Pengkajian Ilmiah (LPPI) Institut Ilmu Al-Quran (IIQ) Jakarta. Aktif di pelbagai kelompok studi, antara lain, Forum Studi Hukum Islam (FSHI) dan Flamboyant Shelter, Ciputat. Salah satu tulisannya, “Pembaruan Hukum dalam Kerangka Postmodernisme” dapat disimak pada Suyoto (editor, et.all), Postmodernisme dan Masa Depan Peradaban (Yogyakarta: Aditya Media, 1994). Sejak Juni 1997 lalu, ia melanjutkan program pascasarjana di University of New England, Australia

 

     

  1. Ann K..S. Lambton, State and Government in Medieval Islam, an Introduction to The Study of Islamic Political Theory: The Jurist (Oxford: Oxford University Press, 1991), h.xiv 
  2. Lihat Nurcholish Madjid, “Agama dan Negara dalam Islam: Telaah atas Fiqh Siyasy Sunni,” dalam Budy Munawar-Rachman (editor), Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah (Jakarta: Paramadina, 1994), h.588. Bandingkan dengan Ahmad Syalabi, [1], al-Hukumah wa ad-Daulah fi al-Islam (Mesir: an-Nahdhah al-Misriyah, 1958),h.8-9 
  3. Istilah “teo-politik” digunakan untuk menjelaskan kecenderungan sebagian pihak yang mencari justifikasi politik dengan menjadikan teologi sebagai basis, atau sebaliknya, memilih aliran teologi atas dasar kepentingan politik. Perlu ditambahkan bahwa istilah ini tidak mesti bermakna peyoratif, karena ada kalanya keyakinan teologi melahirkan perilaku politik yang bukan saja diwarnai konsep teologi, tetapi juga mencerminkan etika qurani. Misalnya, sikap politik Umar bin Abdul Aziz ketika tidak mengikuti mainstream politik yang berkembang saat itu. 
  4. Penjelasan lebih lanjut, lihat Munawir Sjadzali, Islam dan Tata Negara: Ajaran, Sejarah dan Pemikiran (Jakarta: UI Press, 1990). Bandingkan dengan Nazih N. Ayubi, Political Islam: Religion and Politics in the Arab World (London: Routledge, 1991), h.1-10 
  5. Begitu pentingnya peristiwa itu, sehingga Jalaluddin Rakhmat setuju digunakannya istilah skisma (istilah yang sesungguhnya khas kristiani) untuk menunjuk pada pertentangan besar dua kubu dalam proses kepemimpinan setelah wafatnya Nabi. Lihat Jalaluddin Rakhmat, [1], “Skismadalam Islam: Sebuah Telaah Ulang,” dalam Budhy Munawar-Rachman (editor), op.cit., h. 692-694 
  6.  

Dalam tulisannya yang lain, Jalal beranggapan bahwa peristiwa Saqifah adalah fitnah al-kubra pertama dalam Islam. Lihat Jalaluddin Rakhmat, [2], “Ukhuwwah Islamiyah Perspektif Al-Qur’an dan Sejarah”, dalam Haidar Bagir (editor), Satu Islam Sebuah Dilema (Bandung: Mizan, 1986), h. 83

     

  1. Dalam salah satu artikelnya, “Why Read Islamic History ?” [telah diterjemahkan dan dikumpulkan dalam Islam Mazhab Pemikiran dan Aksi (Bandung: Mizan, 1992),h.34-42] Syari’ati mengulas pentingnya membaca dan mempelajari sejarah Islam guna memahami hal-hal kekinian. 
  2. Buku ini telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Afif Muhammad dengan judul Ummah dan Imamah: Suatu Tinjauan Sosiologis (Jakarta: Pustaka Hidayah, 1989) 
  3. Fiqih Siyasah dan Siyasah Syar’iyah (dengan huruf “s” besar) mengandung makna yang sama. Siyasah Syar’iyah bagi para fuqaha adalah: 
  4.  

“Wewenang waliy al-amri dalam mengerjakan sesuatu atas dasar maslahah yang tidak bertentangan dengan dasar-dasar agama meskipun tidak terdapat dalil khusus.” Lihat Abdul Wahab Khalaf, as-Siyasah asy-Syar’iyah (Cairo: Salafiyah, 1350 H), h.3. Sebagian ulama mendefinisikannya dengan:

Ilmu yang di dalamnya dibahas pengaturan urusan Daulah Islamiyah berupa undang-undang dan sistem yang sesuai dengan dasar-dasar Islam meskipun dalam mengaturnya tidak terdapat dalil khusus (Ibid., h.4)

Siyasah Syar’iyah (“s” besar) terbagi dua: siyasah syar’iyah (“s” kecil) dan siyasah wad’iyah. Abdurrahman Taj membedakan keduanya. Siyasah syar’iyah adalah segala hukum, peraturan atau perundang-undangan untuk mengatur persoalan umat yang bersumber atau bertumpu pada dasar-dasar agama Islam guna melindungi mashlahat dan menghindari madharat. Sedangkan, siyasah wad’iyah adalah segala peraturan yang dibuat oleh manusia untuk mengatur persoalan umat dan bersumber dari atau bertumpu pada ‘urf (adat kebiasaan), pengalaman, pandangan para pakar dan sebagainya, tanpa ada pertalian dengan wahyu atau sumber hukum Islam. Lihat Abdurrahman Taj, as-Siyasah asy-Syar’iyah wa al-Fiqh al-Islami (Mesir: Dar at-Ta’rif, 1953), h.10-11. Cetak miring dari penulis.

Pertanyaan yang seringkali dibahas dalam fiqih siyasah adalah apakah suatu keputusan atau peraturan dipandang islami meski tidak berkenaan dengan masalah agama, bahkan walaupun keputusan atau peraturan itu secara lahiriyah bertentangan dengan ajaran agama ? Umumnya dalam fiqih siyasah suatu keputusan atau peraturan itu dipandang islami jika memenuhi beberapa syarat. Misalnya, keputusan atau peraturan itu diambil melalui jalan musyawarah dan bertujuan untuk memenuhi kemashlahatan semua golongan (mashlahat al-‘ammah). Pada titik ini, fiqih siyasah dipandang absah dipakai sebagai suatu pendekatan untuk menilai keputusan atau peraturan yang dibuat oleh eksekutif dan atau legislatif: apakah islami atau tidak.

     

  1. Dalam konteks Islam, pemisahan atau tepatnya pembedaan posisi pemimpin agama dengan pemimpin politik tidak berarti bahwa pemimpin politik tidak concern dengan persoalan agama; atau tidak berarti bahwa pemimpin agama tidak peduli dengan masalah politik. Sebaliknya, bahkan mereka harus menjiwai dan menjalankan ajaran agama. Pembedaan ini hanya untuk menunjukkan lapangan kerja yang berbeda. Hal ini tentu berbeda dengan kalangan nasrani: “Berikan kaisar haknya, dan berikan hak Tuhan pada-Nya”. Maka, alinea di atas harus dipahami bahwa Muhammad adalah Nabi dan kepala negara sekaligus. Suksesi sepeninggalnya hanya pada lapangan kepala negara, tetapi tidak berarti pemimpin setelahnya sama sekali tidak memiliki otoritas keagamaan, meski tidak sebesar otoritas yang dimiliki Nabi. 
  2.  

Meski demikian, ada pula ulama yang berpendapat bahwa tidak ada keharusan mempunyai khalifah, dan Nabi semata-mata seorang Rasul yang tidak memiliki kekuasaan duniawi, negara atau pemerintahan. Yang berpendapat semacam itu adalah Ali Abdul Raziq dari Mesir. Untuk mengetahui lebih jauh pemikirannya, lihat, antara lain, Ali Abdul Razik, al-Islam wa Ushul al-Hukm, Kairo, 1925. Bantahan terhadap pendapat terakhir ini cukup banyak, salah satunya Dhiya’ ad-Din ar-Rais, al-Islam wa al-Khalifah fi al-‘Ashr al-Hadis, (Naqd kitab al-Islam wa Ushul al-Hukm) (Kairo: Dar at-Turas, 1972). Bandingkan dengan Ahmad Syalabi, [2] as-Siyasah fi al-Fikr al-Islami (al-Qahirah: Nahdhah al-Misriyah, 1983), h. 35-38.

     

  1. Peristiwa Saqifah yang diceritakan ini didasarkan kepada ath-Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Mulk, jilid IV, h.38-41; Munawir Sjadzali, op.cit, h. 21-23 ; Jalaluddin Rakhmat, [2], op.cit. h. 84-89 
  2. Aus dan Khazraz adalah dua suku di Madinah yang selalu bermusuhan sebelum kedatangan Nabi Muhammad. Akar permusuhan yang telah “mendarah daging” itu seringkali menimbulkan letupan kecil pada masa Nabi, sungguhpun demikian figur Nabi Muhammad berhasil meredam. Hanya saja, siapa yang dapat menjamin mereka tidak akan membuka luka lama sepeninggal Nabi. 
  3. Lihat al-Mawardi, al-Ahkam as-Sulthaniyah (Mesir: Musthafa Babi al-Halabi wa Auladuh, 1996), h.6; Ibn Khaldun, Muqaddimah (Beirut: Dar al-Fikr, tt), h.94. Berbeda dengan al-Mawardi dari pemikir Muslim Klasik dan pertengahan, Ibn Khaldun tidak memahami teks al-Aimmah min Quraish secara harfiah. Sesuai teori ashabiyahnya, ia memahami bahwa yang ditekankan adalah sifat dan kemampuan suku Quraish yang saat itu di atas suku lain. Quraish merupakan suku Arab paling terkemuka dengan solidaritas kuat, dominan, dan berwibawa. Jadi, teks itu harus dibaca: kepemimpinan itu harus berada pada mereka yang memiliki ciri-ciri suku Quraish, dan tidak harus selalu orang Quraish. Persoalannya,, apakah penjelasan Ibn Khaldun itu sama dengan yang dipikirkan mereka yang hadir di Saqifah, lebih khusus lagi dengan Abu Bakar yang menyetir teks itu. 
  4. Bai’at sesungguhnya telah dipergunakan sejak masa Nabi. Nabi sendiri sering melakukannya, misalnya, bai’at ar-ridwan dan bai’at al-aqabah. Imam an-Nasa’i mengelompokkan bai’at ke dalam sepuluh macam. [Lihat An-Nasa'i, Sunan an-Nasa'i bi Syarhi as-Suyuthi (Beirut: Dar al-jil, 1989), juz VI, h.683-684]. Inti baiat adalah janji untuk setia dan patuh kepada Nabi serta akan mengamalkan dan membela ajaran Islam. Istilah baiat ini rupanya diteruskan sepeninggal Nabi, namun mengalami pergeseran makna. Pada masa khalifah, baiat menjadi ikrar politik, yang tanpanya seorang khalifah tidak akan diakui. Lebih lanjut, lihat al-Mahami Ahmad Husein Ya’qub, an-Nizam as-Siyasi fi al-Islam (Qoum: Anshariyah, 1312 H), h. 69-75; Fathi Osman , “Bay’ah al-Imam: Kesepakatan Pengangkatan Kepala Negara Islam,” dalam Mumtaz Ahmad (editor), Masalah-Masalah Teori Politik Islam (Bandung: Mizan, 1993), h. 75-116 
  5. Analisis terhadap istilah khalifah berikut pergeseran maknanya secara menarik diberikan oleh W.Montgomeri Watt, [1], Pergolakan Politik Islam (Jakarta: P3M, 1988), h. 50-54. Bandingkan dengan Bernard Lewis, Bahasa Politik Islam (Jakarta: Gramedia, 1994), h. 61-71 
  6. Lihat Nurcholish Madjid, “Agama dan Negara dalam Islam: Telaah atas Fiqh Siyasy Sunni,” dalam Budhy Munawar-Rachman, op.cit.,h.592 
  7. Umar berpidato,” … berdirilah kalian dan berbai’atlah kalian (kepada Abu Bakar). Sungguh saya telah berbai’at kepadanya dan Anshar pun demikian.” Kemudian Usman berdiri, diikuti bani Umayyah, lalu semua berbai’at. Sa’ad bin Abi Waqash dan Abdurrahman bin Auf beserta sukunya berdiri dan berbai’at pula. Sedangkan bani Hasyim berbai’at dengan tekanan (paksaan). Demikian diceritakan al-Mahamy Ahmad Husin Ya’qub, op.cit., h.155-156 
  8. Seperti diriwayatkan dalam Nahj al-Balaghah Syarh Muhammad Abduh (Bandung: Mizan, 1990), terj. Muhammad al-Baqir, h.63-64. Maksud Imam Ali, bila Quraish pohon Rasul, maka Ali adalah buahnya. Ini bisa dimengerti mengingat dalam suku Quraish, bani Hasyim dan bani Umayyah adalah dua klan terhormat. Dan, Ali jelas merupakan pemuda bani Hasyim yang terhormat, mengingat Hamzah telah wafat dan Abbas pun baru masuk Islam, selain itu Abu Sufyan dari bani Umayyah baru masuk Islam pula. Jadi dari silsilah itu, seharusnya, jika al-Aimmah min Quraish dipahami secara lahiriyah maka hanya Imam Ali yang berhak menduduki jabatan khalifah. Tetapi ada juga yang menolak argumen ini. M.A. Shabhan melihat Ali yang masih sekitar tiga puluh tahun tidak mungkin diterima umat. Maka, jika logika di atas diteruskan sebenarnya Abu Sufyan yang harus menjadi khalifah. Untuk menghindari ini, maka diambillah Abu Bakar sebagai jalan tengah, orang Quraish tetapi bukan bani Hasyim dan bani Umayyah. Lihat M.A. Shabhan, Sejarah Islam Penafsiran Baru (Jakarta: Rajawali Press, 1993), h.24-25 

    Persoalannya, apakah “rasionalisasi” yang dikemukakan Shabhan memang hinggap di kepala mereka yang hadir di Saqifah ? Penulis cenderung meragukannya, karena dalam situasi mendadak, emosional, dan genting sukar sekali membayangkan peserta Saqifah berpikir seperti Shabhan

  9. Ali Syari’ati [1], Ummah dan Imamah: Suatu Tinjauan Sosiologis (Jakarta: Pustaka Hidayah, 1989), terj. Afif Muhammad, h.53 

     

     

  10. Ibid
  11. Ibid,
  12. Ali Syari’ati, [2] Islam Mazhab Pemikiran dan Aksi (Bandung: Mizan, 1992), h. 65 
  13. Ali Syari’ati [1], op.cit., h. 114 

     

  14. Ibid
  15. Ibid
  16. Ibid,
  17. Ibid,
  18. Ada dua makna imamah: imamah dalam arti jabatan dan imamah dalam arti sifat / atribut. Pemisahan imamah dan khilafah (dalam arti jabatan) akan bermuara pada pemisahan negara dengan agama. Pemisahan khilafah dan imamah (sifat / atribut) tidak bermuara ke sana. Dan yang terakhir ini yang disetujui Syari’ati. 
  19. Ali Syari’ati, [1], op.cit., h.161 
  20. Kebanyakan orang lupa bahwa Imam Hasan pernah menjadi Khalifah sepeninggal Imam Ali. Memang, penyebutan khalifah setelah Imam Ali acapkali langsung loncat pada Mu’awiyah. Lihat Abu al-A’la al-Maududi, Khilafah dan Kerajaan (Bandung: Mizan, 1990), h. 189 ; W.Montgomery Watt, [2], Kejayaan Islam (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1990), terj. Hartono Hadikusumo, h. 12 
  21. Kesimpulan Syari’ati ini ditentang oleh banyak ulama Iran, termasuk ayahnya sendiri, Muhammad Taqi Syari’ati. Lihat Ali Syari’ati, [1], op.cit., h.165. Haidar Bagir ketika memberi pengantar pada buku tersebut menulis, “Ia (Syari’ati, pen.) berupaya untuk menghilangkan kesan bahwa ketiga sahabat utama Nabi itu telah “merampas” hak Ali.” Bagir juga memberi catatan bahwa pendapat ini boleh jadi merupakan perkembangan belakangan sikap Syari’ati, jika dilihat pandangannya yang cukup keras sebelumnya, mengenai masalah yang sama. Ibid., h.15-16 

     

  22. Ibid
  23. Ibid
  24. Ibid
  25. Ibid
  26. Hamid Enayat, Modern Islamic Political Thought: The Response of The Shi’i and Sunni Muslims to The Twentieth Century (London: The Mac Millan Press, 1982), h.6 
  27. Ibn Khaldun, op.cit.,h.191 
  28. Al-Mawardi, op.cit.,h.5 
  29. Tentang makna kepemimpinan dalam disiplin sosiologi, lihat Soerjono Soekanto, Sosiologi: Suatu Pengantar (Jakarta: Rajawali Pers, 1993), h. 312-324 
  30. Masalah kekuasaan dan wewenang dalam Islam, lihat Mohammed Arkoun, Nalar Islami dan Nalar Modern: Berbagai Tantangan dan Jalan Baru (Jakarta: INIS, 1994), h. 209-238 
  31. Ali Syari’ati, [1], op.cit.,h.19 
  32. Ulama Syi’ah yang lain, Allamah Mulla Husain Thabathaba’i berpendapat bahwa Imam Mahdi gaib pada 260 H (bukan 250 H), dan diyakini oleh kaum Syi’ah bahwa pada tahun itu imam berada dalam kegaiban kecil, karena ia masih memiliki wakil khusus sampai empat orang. Setelah orang keempat wafat (70 tahun setelah kegaiban kecil) maka dimulailah masa gaib besar sampai akhir zaman nanti. Pada waktu yang telah ditentukan itulah nanti, menurut kepercayaan Syi’ah, Imam Mahdi akan muncul dari kegaibannya selama ini. Lebih jelasnya, lihat M.H.Thabatha’i, Shi’ite Islam (Jakarta: Grafiti Pers, 1989), terj. Djohan Effendi, h.241-246 
  33. Lihat Nurcholish Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban (Jakarta: Paramadina, 1992) h. 114 
  34. Tentang sosialisasi politik pada masyarakat primitif, lihat Michael Rush dan Philip Alfhoff, Pengantar Sosiologi Politik (Jakarta: Rajawali Pers, 1993), h. 102-103 
  35. Mengenai sebab-sebab kemunduran dan kejatuhan dinasti Abbasiyah, lihat Ira M. Lapidus, A History of Islamic Societies (Cambridge: Cambridge University Press, 1988), h. 126-136; W.Montgomery Watt, [2], h.165-166 
  36. Lihat Hamka, Sejarah Umat Islam (Kuala Lumpur: Pustaka Antara, 1980), h.254 
  37. Tentang kemajuan pada masa itu, lihat Philip K. Hitti, History of The Arabs, edisi kesepuluh, h. 297-316 
  38. Ali Syari’ati, [3], Membangun Masa Depan Islam (Bandung: Mizan, 1989), h.31 
  39. Dalam hal ini, kita harus berhati-hati dalam menterjemahkan kata syura. Boleh jadi syura itu bukan musyawarah seperti yang dikenal dalam budaya Indonesia; juga bukan bermakna demokrasi seperti yang dikenal dalam dunia Barat. Bisa saja syura itu bermakna konsultasi. Tentu saja studi lebih lanjut diperlukan, tetapi untuk sekedar pengantar bisa dilihat arti, penggunaan, dan pergeseran makna syura dalam Bernard Lewis, op.cit. h.194-202 
  40. Fiqih siyasah tidak mengatur secara tegas mengenai jumlah “wakil umat” atau yang dikenal dengan ahl al-hall wa al-aqd. Ini disesuaikan dengan kondisi dan preseden yang ada. 
  41. Lihat asas-asas tersebut dalam Abdul Wahab Khallaf, op.cit., h.19 dan Abdur Rahman Taj, op.cit., h.31 
  42. Lihat Ervand Abraham, Iran: Between two revolutions (New Jersey: Princeton University Press, 1983), h.464-467; Shaghrough Akhavi, Religion and Politics in Contemporery Iran: Clergy-State Relation in The Pahlevi Period (Albany: State University of New York Press, 1980), h.143-178: Riaz Hasan, Islam dan Konservatisme sampai Fundamentalisme (Jakarta: CV Rajawali, 1985), h. 91-95 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Allah SWT via AlQuran menyatakan : “Sesungguhnya Wali kalian hanyalah Allah, RasulNya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dalam keadan ruku’”… Jadi Jangan Pelintir maksud Allah SWT

Al-Quran dalam topik Imamah tidak membawa sebuah nama satupun yang disebut sebagai seorang Imam. Mungkin hal ini sebagai salah satu metode Allah SWT untuk menjaga Al-Quran dari tahrif, atau ada hikmah-hikmah lain yang masih terselubung. Walaupun demikian Al-Quran telah menjelaskan secara global Imamah Ali as  dan putra-putra beliau dalam beberapa ayat, dan hal ini telah dijelaskan oleh rasul sendiri secara gamblang, sehingga tidak ada kesamaran lagi bagi setiap pribadi pencari hakikat dan kebenaran.

Di dalam Al-Quran banyak terdapat Ayat-ayat yang menjelaskan kelayakan Imam Ali as sebagai seorang Imam.

Allamah Hilly dalam kitab Nahj Al Haq wa Kasyf Al Sidq mengatakan ada sekitar 88 ayat yang menetapkan keimamahan Ali as. Ayat-ayat tersebut, berlandaskan hadis-hadis yang termuat dalam kitab-kitab standar Ahli Sunnah yang menggambarkan dimensi-dimensi keagungan pribadi Ali dan keImamahan beliau. [1]

Begitu juga Qody Said Mar’asyi dalam Ihqaq Al haq menyebutkan sekitar 94 ayat lain yang menetapkan Wilayah Imam Ali a.s dengan berdasarkan 37 kitab standar Ahli Sunnah.

Di sini kita hanya ingin membawakan dan membahas satu ayat Al-Quran yang merupakan penjelas keimamahan Ali as.

Ayat Wilayah

“Sesungguhnya Wali kalian hanyalah Allah, RasulNya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dalam keadan ruku’”. (Al Maidah 55).

Berdasarkan hadis-hadis yang dinukil baik dari kalangan ulama’ Syiah maupun Ahli Sunnah, ayat ini turun berkenaan dengan Imam Ali a.s, dan sesuai kajian dan penuturan para ahli tafsir dan ahli hadis  Syiah serta pengakuan sekelompok ulama’ yang tidak sedikit dari kalangan Ahli Sunnah, bahwa pribadi yang menyedekahkan cincinnya pada si faqir dalam keadaan shalat (waktu ruku’) itu adalah pribadi agung Ali as. [2]

Allamah Mar’asyi dalam kitabnya Ihqaqul Haq menuturkan bahwa ada sekitar 85 kitab hadis dan tafsir Ahli Sunnah yang menukil bahwa ayat tersebut turun berkenaan dengan Imam Ali as

Dengan riwayat-riwayat ini jelas bahwa yang dinginkan dari kata jamak pada ayat di atas adalah kata tunggal dan itu Imam Ali as. Akan tetapi yang perlu dicermati di sini adalah apa arti sebenarnya dari kata wali yang terdapat dalam ayat ini.

Arti wali: Kata-kata Wali, Wilayat, Wala, Maula, dan  Awla, berasal dari akar kata yang sama yaitu Wala. Kata ini sangat banyak digunakan oleh Al-Quran; 124 dengan kata benda, dan sekitar 112 tempat dipakai dalam bentuk kata kerja.

Sebagaimana yang termuat dalam kitab Mufradatul Quran, karya Ragib Isfahani, dan kitab Maqayisul Lugah karya Ibn Fars, arti asli dari kata ini adalah kedekatan dua benda, yang seakan-akan tak berjarak sama sekali. Maksudnya jika dua sesuatu sudah sangat berdekatan, sangatlah mustahil jika dibayangkan ada sesuatu ketiga, ketika kita katakan walia zaid Amr artinya zaid di sisi Amr.

Kata ini juga bermakna teman, penolong dan penanggung jawab. Dengan kata lain pada semua arti tadi terdapat semacam kedekatan dan hubungan serta interaksi, dan untuk menentukan arti yang dinginkan dibutuhkan tanda-tanda dan kecermatan untuk memahami kontek kalimatnya.

Dengan memperhatikan poin-poin yang kita sebutkan tadi, kita dapat memahami bahwa maksud dari ayat di atas adalah hanya tuhan, rasul, dan Ali a.s sajalah yang memiliki kedekatan spesial dengan kaum muslim.

Telah jelas arti dekat di sini berkonotasi spiritual / metafisik bukan material. Konsekuensi kedekatan ini adalah wali (pemimpin) dapat mengganti semua hal yang dapat digantikan dari maula alaih (yang dipimpin). Atas dasar ini segala tindakan yang dilakukan oleh seorang muslim yang dapat diganti, wali mampu melakukannya dan mengiterpensi. Dengan pengertian semacam ini Wilayah diartikan penanggung jawab dan pemilik Ikhtiar. [3]

Dari satu sisi telah jelas tuhan wali seluruh hamba dalam urusan duniawi dan akhirat mereka. Dan Ia wali kaum mu’min dalam urusan agama dan penyeruan mereka terhadap kebahagiaan dan kesempurnaan mereka. Rasul dengan izin tuhan merupakan wali bagi kaum mu’minin. wilayah Imam Ali a.s yang dijelaskan dalam ayat ini juga bermaksud sama seperti arti di atas, yang konsekuensinya beliau mampu menginterfensi masalah dan urusan kaum muslim, dan beliau mendapatkan prioritas dalam jiwa, harta, kehormatan dan agama manusia. [4]

Ta’wilan Ahlisunnah

Mayoritas ulama’ Ahli sunnah mengakui bahwa sebab turunya ayat ini adalah Ali as bahkan Zamakhsari mengatakan dalam al Kassyaf, ketika menjawab persoalan kenapa berbentuk jamak bukankah ini ayat tersebut turun berkenaan dengan satu person saja (Imam Ali as):“hal ini supaya manusia mengamalkannya (bersedekah dalam keadaaan ruku’), dan mengindikasikan pribadi mu’min harus berbuat seperti yang demikian.” [5]

Fakhrur Razi dalam tafsirnya juga mengatakan: “ayat ini turun berkaitan dengan Ali a.s, dan sudah menjadi kesepakatan para ulama bahwa bersedekah dalam keadaan shalat (waktu ruku’) tidak pernah dilakukan kecuali oleh seorang pribadi agung Ali as.” [6]

Suyuthi dalam Durur Mansturnya membawakan pelbagai riwayat yang menunjukkan bahwa sebab turunya ayat ini adalah Ali a.s:”

Poin terpenting dan mendasar yang digunakan Ahli Sunnah untuk menjustifkasi ayat ini adalah, maksud dari wali dalam ayat ini adalah teman, bukan penanggung jawab dan pemilik ikhtiar.

Akan tetapi sebagaimana telah dijelaskan di awal-awal tadi –arti semacam ini (teman) tidak akan muncul dengan adanya alat hasr yang berupa Innama. Karena dengan demikian akan muncul konsekuensi pelarangan persahabatan dan berteman dengan selain Allah, Rasul, dan Ali as

 Kepemimpinan Ali as dalam Tinjauan Hadis Dan Sunnah

Dalam kitab-kitab hadis, baik di kalangan Ahlisunnah maupun di kalangan Syiah, terdapat bayak riwayat dari rasul yang menuturkan dan mencatat bahwa Ali as merupakan Imam dan Khalifah setelah beliau.

Riwayat-riwayat ini menunjukkan bahwa semenjak diutus, nabi telah diperintahkan untuk menyampaikan hal penting ini –kepemimpinan Ali as setelah beliau- kepada kaum muslimin, dan beliau juga telah menyampaikannya di berbagai kesempatan.

Mengingat kapasitas kitab ini tidak bisa  membahas riwayat itu secra keseluruhan kita hanya akan membawakan riwayat-riwayat yang berkaitan dengan peristiwa Al Gadir secara terperinci, dan selanjutnya kita akan membawakan riwayat-riwayat lain secara global.

Hadis Gadir

Hadis Gadir berkaitan dengan sebuah momen yang terjadi di penghujung kehidupan nabi SAWW, peristiwa ini terjadi pada waktu beliau kembali dari penunaian haji terkahir yang beliau laksanakan. Peristiwa akbar ini terjadi  di sebuah tempat yang diberi nama Gadir Khum. Tempat ini adalah tempat terpisahnya para jamaah haji dari Mesir, Irak, dan para jamaah haji yang berangkat dari kota Madinah.

Pada tahun kesepuluh hijriyah, Nabi SAWW bersama sekelompok besar dari sahabat pergi ke kota Mekah untuk menunaikan ibdah hajji. Setelah selesai menunaikan ibadah tersebut, beliau memberi titah kepada para sahabat untuk kembali ke kota Madinah. Ketika para rombongan sampai di kawasan Rabig sekitar tiga mil dari Juhfah, Jibril datang dan turun menjumpai rasul di Gadir Khum dengan menyampaikan misi dan wahyu dari tuhan: “Wahai Rasul sampaikan apa yang telah diturunkan kepadamu dari tuhanmu, dan andai kamu tidak melakukannya niscaya kamu tidak menyampaikan risalahNya, dan (ketahuilah) Allah akan menjagamu dari manusia.”(Maidah 67)

Dengan turunnya ayat ini rasul memerintahkan rombongan untuk berhenti, dan menyuruh mereka yang didepan untuk berhenti dan kembali, serta beliau memerintahkan untuk menunggu para rombongan yang masih tertinggal di belakang. Saat itu adalah waktu Dhuhur, cuaca sangat panas sekali, sebuah mimbar pun didirikan. Shalat Duhur didirikan secara berjamaah, kemudian setelah para sahabat berkumpul, beliau berdiri di atas mimbar setinggi 4 onta, dan dengan suara lantang beliau pun berpidato:” segala puji bagi Allah, dariNya kita minta pertolongan, dan kepadaNya kita beriman dan berserah diri, dan kita berlindung kepadaNya dari kejelekan amal perbuatan kita, tuhan yang tiada pembimbig dan pemberi hidayat selainNya. Siapa yang diberi petunjuk olehNya, tidak akan ada seorangpun yang sanggup menyesatkannya, aku bersaksi bahwa tiada yang layak disembah selainNya, dan Muhammad adalah utusan dan HambaNya.

Wahai Manusia sudah dekat rasanya aku akan memenuhi panggilanNya, dan akan meninggalkan kalian. Aku akan dimintai pertanggung jawaban, kalian pun juga demikian.

v Apakah yang kalian pikirkan tentang diriku?.

Ø  Kami bersaksi bahwa anda telah menjalankan dan telah berupaya untuk menyampaikan misi  yang telah anda emban, semoga Allah SWT memberikan pahala kepadamu.

v Apakah kalian bersaksi bahwa tuhan hanya satu dan Muhammad hamba sekaligus nabiNya, Surga, Neraka, dan kehidupan abadi di dunia lain adalah benar dan pasti?

Ø Iya, kami bersaksi.

v wahai manusia aku akan menitipkan dua hal berharga pada kalian supaya kalian beramal sesuai dengan dua hal tersebut.

Ø Pada saat itu berdirilah seorang dari mereka seraya berkata:”apa kedua hal tersebut?”

v Pertama kitab suci tuhan di mana pada satu sisinya berada di tangan tuhan, sedang yang lain berada di tangan kalian, sedang hal lainnya yang akan aku titipkan pada kalian adalah itrah dan ahlul baytku. Tuhan telah mengabariku bahwa kedua hal tadi tidak akan  berpisah sampai kapanpun.

v Wahai manusia janganlah kalian mendahului Al-Quran dan itrahku dan sekali-kali jangan tinggalkan keduanya karena kalian akan binasa dan celaka.

Tak lama kemudian nabi mengangkat tangan Ali as setinggi-tingginya sehingga tampaklah kulit ketiak kedua pribadi agung itu, dan beliau memperkenalkan imam Ali kepada khalayak seraya berkata:”Wahai manusia siapa gerangan yang lebih layak dan lebih berhak terhadap kaum mu’minin dari pada mereka sendiri?

Ø Tuhan dan rasulnya lebih tahu.

v Sesungguhnya Allah maulaku dn aku maula kaum mu’minin, dan aku lebih berhak atas diri mereka ketimbang mereka. Maka barang siapa yang maulanya adalah diriku maka ketahuilah bahwa Ali maulanya.

Sesuai penuturan Ahmad bin Hanbal, nabi mengulang ungkapan ini sebanyak empat kali, kemudian melanjutkan dengan do’a:”ya Allah cintailah mereka yang mencintai Ali, dan musuhilah mereka yang memusuhinya, kasihilah mereka yang mengasihinya, murkailah mereka yang membuat murka dia, tolonglah mereka yang menolongnya, hinakanlah mereka yang menghinanya dan merendahkannya, dan jadikanlah ia sebagai sendi dan poros (mihwar)  kebenaran.

Koreksi Sanad Hadis

Hadis Gadir salah satu hadis yang sangat populer baik dalam Syiah maupun Ahli Sunnah, sebagian mengklaim bahwa hadis ini mutawatir. Selain para ulama’ Syiah, sekelompok dari ulama’ Ahli Sunnah pun secara independen membahas dan menganalisanya, seperti: Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Thabari (W -310 H), dan Abu Abbas Ahmad bin Ahmad bin Said Hamadani (W-333 H), juga Abu Bakar Muhammad bin Umar bin Muhammad bin Salim Tamimi Baghdadi (W- 355 H) Dan masih banyak lagi. [7]

Untuk lebih memperjelas sejauh mana perhatian Tabiin dan Tabiinnya Tabiin dan para ilmuwan dan Fuqaha terhadap penukilan hadis ini dan kesahihan Sanadnya, kita akan bawakan secara singkat sejumlah Perawi hadis ini dari Ahli Sunnah di setiap abad, sedang untuk detailnya bisa dirujuk sendiri pada kitab-kitab yang secara panjang lebar memuat permasalahan ini. Para penukil hadis ini adalah: 

1. 110 sahabat.

2. 84 Tabiin.

3. 56 Ulama’ abad kedua.

4. 92 Ulama’ abad ketiga.

5. 43 Ulama’ abad keempat

6. 24 Ulama’ abad kelima.

7. 20 Ulama’ abad keenam.

8. 20 Ulama’ abad ketujuh.

9. 19 Ulama’ abad kedelapan.

10.    16 Ulama’ abad kesembilan.

11.    14 Ulama’ abad kesepuluh.

12.    12 Ulama’ abad kese belas.

13.    13 Ulama’ abad kedua belas.

14.   12 Ulama’ abad keiga belas.

15.   19 Ulama’ abad keempat belas.

Para Muhaddis (ahli hadis) Ahli Sunnah, Yang menukil hadis ini di antaranya; Ahmad bin Hanbal Syibani dengan 40 sanad, Ibn hajar Asqalani dengan 25 sanad, Jazri Syafii 80 sanad, Abu Said Sajistani 120 sanad, Amir Muhammad Yamani 40 sanad, Nisai 250 sanad, Abu Ya’la Hamadani 100 sanad, Abul I’rfan Haban dengan 30 sanad. [8]

Dengan demikian peristiwa Gadir Khum dan pelantikan yang dilakukan oleh nabi SAWW, merupakan salah satu musallamat sejarah, sehingga siapapun yang mengingkarinya, dia tidak akan bisa menerima kejadian dan peristiwa-peristiwa historis lainnya.

Arti Hadis

Poin utama dari hadis ini adalah penggalan riwayat yang mengatakan:

من كنت مولاه فهذا علي مولاه “ Barang siapa Aku pemimpinnya, maka Ali juga pemimpinnya.”

Dengan memperhatikan berbagai kontek yang ada, maksud dari kata maula dalam hadis ini berarti aula atau lebih utama. Pada akhirnya hadis ini mengindikasikan bahwa Ali a.s adalah wali setelah nabi dan pengnggung jawab kaum muslimin, dan dia lebih utama dari diri mereka. Qarinah atau kontek-kontek tersebut adalah:

 1. Pada permulaan hadis nabi bersabda” tidak kah aku terhadap diri kalian lebih utama dari kalian? ungkapan setelahnya yang mengatakan man kuntu maulahu… berdasarkan pada ungkapan ini, dengan demikian keserasian keduanya memberikan pengertian bahwa maula di situ berarti  awla dalam tashruf.

2. Pada akhir hadis rasul bersabda: ” اللهم وال من والاه وعادمن عاده doa ini merupakan penjelas akan maqam imam Ali a.s, dan hal ini dapat bermakna sebagaimana mestinya jika wali itu berarti maqam kepemimpinan dan wilayah.

1. Rasul dari khalayak meminta penyaksian, dan ungkapan man kuntu.., dalam  kontek penyaksian terhadap keesaan tuhan, dan kenabian rasul. Sehingga nilai hal tersebut (kewalian Ali as) dapat dipahami dari konteks tadi (penyaksian dengan keesaan Allah dan kenabian rasul).

2. Setelah nabi selesai dari ucapan beliau, dan sebelum khalayak berpencar dan terpisah-pisah satu sama lain, Jibril datang dengan membawa wahyu:”Hari ini telah Aku sempurnakan bagimu agamamu…” dan waktu itu rasul bersabda:” Maha Besar Allah atas penyempurnaan agama, dan perampungan nikmat, tuhan telah ridha dengan misiku dan kepemimpinan Ali as setelahku.” Atas dasar ini apakah ada satu tafsiran lagi selain Imamah dan kepemimpinan Ali as dari tema penyempurnaan agama dan perampungan nikmat, dan ditambah posisinya disejajarkan dengan sariat?.

Selain kontek dan berbagai qarinah yang telah kita sebutkan tadi, di sana terdapat kontek-kontek lain yang mengindikasikan keagungan misi yang harus disampaikan oleh rasul pada saat itu. Untuk lebih lengkapnya dapat dirujuk dalam kitab Al-Gadir jild pertama, halaman 370-383.

Sekilas Tentang Hadis-Hadis Yang Lain

1. ketika ayat indar [9]  turun, nabi meminta Abu Thalib untuk menyiapkan makanan, dan mengundang semua anak keturunan Abdul Muthalib. Pada waktu itu beliau bersabda:”siapakah dari kalian yang sudi menjadi patner bagiku, dan membantuku, niscaya dia akan menjadi saudara, khalifah, dan wasi setelah aku?.

Pada waktu itu tidak ada satu orang pun yang menjawab panggilan dan seruan nabi selain Ali as, beliau bersabda: “aku siap membaiat dan menolongmu” kemudian Nabi bersabda:” dia adalah saudaraku, wasi, khalifah dan pewaris sepeninggalku maka dengarkanlah dan patuhilah ucapannya!. [10]

2. ketika rasul hijrah ke Madinah, beliau mengikat tali persaudaraan diantara para sahabat kecuali Ali as, Ali as bersabda:”Wahai rasul kamu telah mengikat persaudaraan antara para sahabat, bagaimana dengan diriku?” baginda nabi bersabda:”apakah kamu tidak rela untuk menjadi saudaraku dan khalifah sepeninggalku?. [11]

3. Dalam riwayat yang tak sedikit jumlahnya rasul meminta dari para sahabat untuk memanggil Ali a.s dengan gelar Amirul Mu’minin, kemudian beliau bersabda:” kamu penghulu kaum muslim dan Imam kaum Muttaqin dan pemimpin para pribadi berwajah ceria di surga”.

Beliau juga bersabda:” ia wali setiap mu’min dan mu’minah”. Hadis ini diriwayatkan oleh kedua kelompok baik Syiah maupun Ahli Sunnah, dan kompilasi dari keduanya mencapai pada batas mutawatir. [12]

4. Secara mutawatir berdasarkan penukilan ulama’ Syiah dan Ahli Sunnah rasul bersabda kepada Imam Ali:” posisi dan kedudukanmu di sisiku seperti posisi dan kedudukan Harun disisi Musa as”. [13]  Artinya setiap hal yang dimiliki oleh Harun terhadap Musa as, juga dimiliki oleh Ali as dari rasul. Dan hal terpenting dari semua itu adalah khilafah dan kewasiaan Harun dari Musa as

Imamah / Kepemimpinan Para Imam Yang Lain

Keimamaham Imam yang lain dengan berbagai ungkapan dan penjelasan telah disampaikan pula oleh rasul SAWW. Riwayat-riwayat yang bertalian dengan hal ini dapat kita kategorikan dalam 6 kategori;

1. Kategori pertama riwayat-riwayat yang menyinggung Ahlul bayt, I’trah, durriyah, dan Dul Qurba. Begitu juga telah dijelaskan ciri-ciri umum dan universal para Imam yang berhak, dan keberlangsungannya dari keturunan Az Zahra as, riwayat-riwayat yang memuat permasalahan tersebut sangat banyak kita dapati dalam kitab-kitab sahih dan jami’ Ahli Sunnah. Riwayat tersebut secara luas dan panjang lebar telah termuat dan terkumpul dalam kitab Aqabatul Anwar, Al Gadir, Al Muraja’at, dan Ihqaqul Haq.

2. Kelompok riwayat yang menjelaskan perpindahan / peralihan kepemimpinan (Imamah) atau suksesi dari imam Ali a.s kepada imam Hasan as dan dari beliau kepada Imam Husain. Sebagian dari riayat-riwayat tersebut telah dimuat dalam kitab Ihqaqul Haq jild ke 19.

3. Kelompok riwayat yang yang menyebutkan jumlah Imam sebanyak 12 orang, dengan tanpa penyebutan nama. Riwayat ini mencapai 130 riwayat. Dan sekitar 40 riwayat yang menyebutkan bahwa khalifah dan pengganti setelah nabi SAWW sejumlah Nuqaba nabi Musa As. [14]

4. kurang lebih 91 riwayat menyebutkan jumlah Imam dengan membawakan nama Imam pertama dan terakhir. Dan sejumlah 94 riwayat yang hanya menyebutkan nama Imam yang terakhir. [15]

5. Sekitar 139 hadis yang menyebutkan bahwa Imam berjumlah 12 orang, dan secara gamblang riwayat-riwayat ini mengatakan bahwa 9 orang dari mereka adalah anak keturunan Al-Husain as dan sekitar 107 dari riwayat tadi menyebutkan  nama Imam yang terakkhir. [16]

6. Sekitar 50 hadis menyebutkan nama-nama Imam secara lengkap dari awal sampai akhir. Sebagai contoh berikut ini contoh dari riwayat-riwayat tersebut.                                                                                                                                                                                                   

Jabir bin Abdillah berkata:”ketika ayat 55 dari surat Nisa turun yang menegaskan ”taatilah Allah, dan taatilah rasul, dan para pemimin dari kalian”  aku bertanya pada rasul SAWW, “kami telah mengetahui tuhan dan rasulnya, namaun Ulil Amr yang wajib kita taati tersebut belum kami ketahui, siapakah gerangan mereka itu? Beliau bersabda:”mereka penggantiku, para Imam dan pemimpin sepeninggalku, yang pertama Ali, kemudian secara berurutan Hasan pura Ali, Husain putra Ali, Ali putra Al Husain, Muhammad putra Ali yang dalam Taurat dikenal dengan Baqirul Ulum, dan kamu pada suatu saat akan berjumpa dengannya, dan kapanpun kau menjumpainya sampaikanlah salamku padanya. Kemudian setelahnya secara urut Ja’far putra Muhammad, Musa putra Ja’far, Ali putra Musa, Muhammad putra Ali, Ali putra Muhammad, Hasan putra Ali, dan kemudian putranya yang nama dan kunyahnya (panggilan) sama dengan ku. Tuhan akan menjadikannya pemimin bagi dunia, dan ia akan tersembunyi dari pandangan dan penglihatan, dan ia akan gaib lama sekali. Sampai suatu saat di mana hanya ada orang-orang yang memiliki keiman yang  kokoh, yang teruji dan mendalam akan keyakinan terhadap kepemimpinannya. [17]

Riwayat-Riwayat Dari Ahli Sunnah Berkenaan Dengan Ke-Imamahan 12 Orang Imam

Tepat sekali kalau pada kajian ini kita bawakan riwayat- riwayat tentang ke-Imamahan para Imam 12 yang termuat dalam kitab-kitab standar Ahli Sunnah, riwayat- riwayat tersebut diantaranya:

1. Bukhari menukil dari Jabir bin Samarah:”Aku mendengar rasul bersabda:”setelahku 12 orang pemimpin akan datang.” Saat itu beliau melanjutkan ucapannya yang tak terdengar olehku kemudian ayahku berkata bahwa keseluruhan imam tersebut semuanya dari bangsa Quraisy.” [18]

2. Muslin juga menukil dari Jabir bin samarah:”aku mendengar rasul SAWW bersabda:”Islam akan memiliki pemimpin sampai 12 orang. Kemudian beliau bersabda yang tak bisa kupahami. Aku bertanya pada ayahku tentang apa yang tidak aku pahami itu, ia berkata:”beliau bersabda semuanya dari kaum Quraisy. [19]

3. Muslim dari Jabir juga menukil, ia (Jabir) berkata:”aku dan ayahku berjalan bersama rasul SAWW saat itu beliau bersabda:”agama ini akan memiliki 12 pemimpin, yang kesemuanya dari bangsa Quraisy. [20]

4. Muslim juga menukil dari Jabir:”aku mendengar rasul bersabda:”agama Islam akan langgeng sampai hari kiamat nanti, sampai dua belas orang khalifah memerintah yang kesemuanya dari Quraisy. [21]

Imam Ke 12

Sebagaimana kita jelaskan di atas, berdasarkan riwayat yang amat banyak yang diriwayatkan dari rasul SAWW, bahwa jumlah para imam ma’sum yang akan datang silih berganti dan menjadi pelanjut dan penerus jalan dan pembawa lentera hidayah bagi manusia adalah 12 orang, di mana imam kesebelas dari mereka telah melaksanakan tugas dan misi ilahi dalam menjaga agama dalam kondisi tersulit yang ditabur oleh para penguasa penyembah kekuasaan, yang  pada akhirnya mereka korbankan nyawa mereka di jalan agama tuhan.

Keimamahan imam Ke 12 Imam Mahdi as dimulai semenjak sahidnya Imam ke 11 (260 h), dan tetap berlangsung sampai saat ini, dan seterusnya. Hal ini menuntut kita untuk sedikit membahas sebagaian hakikat yang terkait dengan keimamahan  beliau.

Imam dan Hujjah tuhan Ke 12 lahir pada pertengahan bulan Sya’ban tahun 255 hijriyah, di kota Samira. Nama dan kunyah beliau sama dengan rasul M-H-M dan Abul Qasim, kendati ada larangan untuk menyebut nama beliau. [22] Beliau memiliki beberapa gelar di antaranya: Hujjat, Qaim, Wali Ashr, Khalafus Shaleh, Sahibuz Zaman, Baqiytullah dan al-Mahdi yang merupakan gelar termasyhur bagi beliau.

Imam Mahdi memiliki dua gaibah, pertama gaib sugra (kecil) yang berlangsung sangat singkat, dan yang kedua gaibah kubra (besar) gaibah ini berlangsung sangat lama. Gaibah sugra berlangsung dari kelahiran beliau sampai tahun 329 hijriah, sedang gaibah kubra dari tahun 329 tadi sampai masa kemunculan dan bangkitnya beliau nanti.

 Kabar Gembira Akan Munculnya Imam Mahdi as dalam Hadis

Syiah Maupun Ahli Sunnah secara mutawatir menukil riwayat-riwayat yang mengatakan:”pada akhir zaman nanti akan muncul seorang manusia yang bernama Mahdi yang akan melenyapkan kebodohan dan kezaliman, dan akan meyebar luaskan ilmu dan keadilan, dan ia akan menerapkan agama tuhan di atas dunia, kendati para musyrik tidak menyetujui dan membencinya”.

Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa:”jika umur dunia hanya tinggal sehari, tuhan akan memanjangkan hari itu sampai seorang anak manusia muncul yang akan memenuhi alam dengan keadilan, sebagaimana dunia telah dipenuhi oleh kezaliman dan penganiyaan. [23]

Mengingat pentingnya statistik riwayat-riwatyat yang dinukil baik oleh kalangan Syiah maupun Ahli Sunnah, berikut ini kami bawakan riwayat-riwayat tersebut yang kami bagi dalam 11 kategori:

1. sekitar 657 riwayat tentang kabar gembira munculnya Imam Mahdi as

2. 389 riwayat yang menjelaskan tentang Mahdi dari Ahli Bayt rasul.

3. 214 riwayat yang menjelaskan bahwa Mahdi dari keturunan Ali as

4. 192 riwayat yang menjelaskan bahwa Mahdi dari keturunan Fatimah.

5. 148 riwayat yang menjelaskan bahwa Mahdi adalah anak ke-9 dari keturunan Al Husain.

6. 185 riwayat yang menjelaskan bahwa Mahdi dari keturunan Imam Ali Zainal Abidin.

7. 146 riwayat yang menjelaskan bahwa Mahdi putra Imam Hasan Askari.

8. 132 riwayat yang menjelaskan bahwa Mahdi akan memenuhi alam dengan keadilan.

9. 91 riwayat yang menjelaskan bahwa Mahdi akan gaib lama sekali.

10.    318 riwayat yang menjelaskan bahwa Mahdi memiliki umur yang sangat panjang sekali.

11.    136 riwayat yang menjelaskan mahdi adalah Imam ke-12 dari para Imam Ahlul Bayt. [24]

Ahli Sunnah dan Imam Mahdi

Begitu jelasnya kemutawatiran riwayat-riwayat yang menyebutkan kabar gembira akan munculnya Mahdi as, sampai-sampai banyak dari para ulama’ Ahli Sunnah yang mengakui dan menegaskan secara gamblang kemutawatiran riwayat-riwayat tersebut. Berikut ini sebagaian dari mereka:

Allamah Syaukani dalam kitab Attaudhih fi Tawatutri ma jaa fil Muntadhar wad Dajjal wal Masih; Hafid [25] Abu Abdillah Ganji Syafi’i (W 658 H) dalam kitab Al Bayan fi Akhbar Shahibuz Zaman; Hafid ibn Hajar Al Asqalani Syafi’I (W 852 H) dalam Fathul Bari. [26]

Atas dasar ini keyakinan terhadap munculnya Imam Mahdi as bukanlah khusus bagi Syiah saja, akan tetapi Ahli Sunnah juga menyakininya, walaupun menurut keyakinan mereka beliau as sampai sekarang belum terlahirkan ke dunia.

Bahkan Wahabiyah sendiri yang menjadi penentang nomor wahid Syiah, tak mampu mengingkarinya. Dalam stateman / penjelasan yang dikeluarkan Rabithatul Alamil Islami pada tahun 1976 Masehi secara tegas disebutkan [27]:

”…ketika kerusakan, kezaliman dan kekafiran telah menyebar luas di dunia, Allah SWT akan memenuhinya dengan keadilan melalui dia (Mahdi) as, sebagaimana dunia telah dipenuhi oleh kezaliman. Ia merupakan khalifah terakhir dari Khualafaur Rasyidin yang berjumlah 12 sebagaimana dikabarkan oleh rasul SAW yang terdapat dalam kitab-kitab hadis yang sahih. Hadis-hadis yang berkaitan dengan hal ini banyak diriwayatkan dari para sahabat besar seperti Ustman bin Affan; Ali bin Abu Thalib; Thalhah bin Ubaidillah; dan Abdurrahman bin Auf …” [28]

Selain keterangan dan penjelasan yang kita bawakan tadi, para ulama’ non-Syiah juga menulis kitab-kitab yang berkaitan dengan Imam Mahdi as seperti: Abu Nu’aim pengarang kitab Akhbarul Mahdi; Ibn Hajar Haitsami yang menulis sebuah kitab berjudul Al Qaulul Mukhtasar fi Alamatil Mahdi Al Muntadhar; dan Idris yang berkebangsaan Irak dan Maroko yang mengarang kitab dengan judul Al Mahdi.


[1] Nahjul Haq wa Kasyfus Sidq, percetkan darul hijrah, Qom, halaman 172-211.

[2] Ihqaqul haq, jld 2, halaman 399 dan seterusnya.

[3] Ragib dalam Mufradatul Quran halaman 570 mengatakan:”Wilayah berarti kemenangan, penanggung jawab dan pemilik ikhtiar sebuah perbuatan, sebagian berpendapat wilayat dan walayat memiliki satu arti yaitu penanggung jawab dan pemilik ikhtiar. Wali dan maula juga berarti demikian, hanya terkadang berkonotasi subyek (ism fa’il) dan terkadang obyek (ism maf’uli). Thabarsi dalam majmaul bayan setelah ayat 157 Baqarah mengatakan:’wali dari kata wala yang berarti berdekatan tanpa ada penghalang, wali adalah orang yang lebih berhak dan layak untuk melakukan perbuatan orang lain. Pemimpin sebuah kaum dapat dipanggil dengan wali, karena kedekatan dan secara langsung mengurusi dan menyuruh dan melarang semua urusan. Dan kepada majikan dikatakan maula karena secara langsung mengurusi masalah hamba. Ibnu faris juga mengatakan:”barang siapa bertanggung jawab atas urusan seseorang maka ia akan menjadi wali baginya. (Maqayisul Lugah jild 6, halaman 141).

[4] Allamah Sayyid Husain Tehrani, Imam Syenasi (mengenal Imam), jild 5, halaman 199-265; Allamah Sayyid Abdul Husain Syarafuddin, Al Murajaat, muraje-e-ye 38, Ustad Muthahari, Majmue-ye Atsar, jild 3, halaman 268-289.

[5] Ak-KasysYaf, percetakan mesir, tahun 1373 syamsi, jild  1, halaman 505.

[6] Tafsirul Kabir, percetakan mesir, tahun 1357 Syamsi, jild 12,halaman 30.

[7] Allamah Amini dalam jild  pertama kitab Al-Gadir halaman 152-157 telah membawakan nama-nama ulama’ yang telah menulis kitab untuk mengomentari dan menganalisa hadis ini, beliau juga menjelaskan metode yang diperaktekkan para penulis dalam memaparkan keterangannya.

[8] Jumlah ini diambil dari Al-Gadir jild pertama. Sedang pembahsan sanad hadis ini terdapat kitab-kitab tersendiri di antarana; Gayatul maram, karya Allamh sayyid Hasyim Bahrani (w 1390), dan Al-‘Aqabat, karya Sayyid Mir Hamid Husain Hindi. (w 1306)

[9] Syua’ra 214.

[10] Al-‘umdah, Ibnu Bithriq, halaman 121, 122 dan halaman 133, 134; Gayatul Maram, halaman 320; Syawahidul Tanzil, jild 1, halaman 420; Al-Gadir, jild 2, halaman 278-279.

[11] Al-“umdah, halaman 215-223;Al-Gadir, jild 3 halaman 112-125.

[12] Manaqib ibnu Magazali, halaman 65-66.

[13]

Al-‘Umdah, halaman 173-185, Musnad Ahmad, jild 3, halaman 32, Al-Gadir jild 1, halaman 51 dan jild 3, halaman 197-201.

[14] Muntakhabul Atsar, Ayatullah Shafi, halaman 10-58.

[15] Muntakhabul Atsar, Ayatullah Shafi, halaman 58-64.

[16] Muntakhabul Atsar, Ayatullah Shafi, halaman 65-96.

[17] Muntakhabul Atsar, halaman 101.

[18] Sahih Bukhari, jild 9, bab Istikhlaf, halaman 81.

[19] Sahih Muslim, jild 6, kitab Al-Amarah, bab annas taba’un li quraisy, halaman 3.

[20] Sahih Muslim, jild 6, kitab Al-Amarah, bab annas taba’un li quraisy, halaman 3.

[21] Sahih Muslim, jild 6, kitab Al-Amarah, bab annas taba’un li quraisy, halaman 3, sebagai bahan tahqiq pembaca budiman dapat merujuk ada kitab, musnad bin hanbal, jild 5, halaman 86, 89, 97, 107; muntakhabul Atsar, halaman 16  ;Yanabiul Mawaddah, halaman 446.

[22] Terdapat polemic diantara ulama syiah apakah pelarangan menyebut nama Imam zaman bersifat temporal dan hanya khusus pada zaman gaib sugra beliau ataukah pelaranga tersebut permanent sifatnya dan berklaku pada setiap zaman. An-Najmus Tsaqib, Mirza Husain Thabarsi Nuri, tehran, percetakan ilmiye-ye islamiyeh, bab 2, halaman 48-49.

[23] Musnad Ahmad bin Hanbal, jild 1, halaman 99, jild 3, halaman 17 dan 70.

[24] Sesuai penuturan Ayatullah Ja’far Subhani, Muhadharah Ilahiyah,halaman 566.

[25] Hafid adalah orang yang mengetahui sunnah-sunnah nabi yang dia juga mampu membedakan sunnah-sunnah yang telah menjadi kesepakatan dan sunnah yang masih dipertentangkan. Ia pun mengetahui dengan sempurna kondisi para perawi dan tingkatan para guru-guru hadis. (Mudir Syaneh chi, Ilmul Hadis, jild 2, halaman 22).

[26] Untuk mengetahui lebih lanjut lihatlah Nuvid amn va aman, karya Ayatullah Shafi, Tehran, Darul kutubul Islamiyah, menurut tahqiq yang beliau lakukan sekitar 17 orang dari ulama’ Ahli sunnah yang menegaskan kemutawatiran riwayat-riwayat yang berkenaan dengan kemunculan Al-Mahdi as.

[27] Rabitahtul Alamil Islami, merupakan markas terbesar Wahabiyah yang berdomisili di Makah, penjelasan dan jawaban dari soal kemunculan Imam Mahdi as dikeluarkan oleh markas ini dengan tanda tangan KETUMnya.

[28] Dalam penjelasan tersebut ada sekitar 20 nama orang yang sahabat rasul SAWW yang mereka katakan telah menukil dan meriwayatkan hadis-hadis tadi, kita hanya menyebutkan saja sebagian dari mereka. (menurut penuturan Sire-ye Fisywayan, Mahdi Fisywai, Qom, Muasese-ye va ta’limati Imam Shadiq, halaman 701-703).

Nabi SAW bilang : “Memisahkan Diri Dari Ali Berarti Memisahkan Diri Dari Nabi SAW”… Jadi jelaslah kedudukan Sahabat Yang Tidak Mau Membai’at Imam Ali Pasca Wafat Nabi SAW, Apalagi Aisyah dan Muawiyah Yang Memerangi Imam Ali

Kedudukan Hadis “Memisahkan Diri Dari Ali Berarti Memisahkan Diri Dari Nabi SAW”.

Dalam tulisan kali ini akan dibahas contoh lain kesinisan salafy dalam menyikapi hadis-hadis keutamaan Ahlul Bait. Hadis ini termasuk salah satu hadis yang menjadi korban syiahphobia yang menjangkiti para ulama.

حدثنا عبد الله قال حدثني أبي قثنا بن نمير قثنا عامر بن السبط قال حدثني أبو الجحاف عن معاوية بن ثعلبة عن أبي ذر قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم يا علي انه من فارقني فقد فارق الله ومن فارقك فقد فارقني

Telah menceritakan kepada kami Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair yang berkata telah menceritakan kepada kami Amir bin As Sibth yang berkata telah menceritakan kepadaku Abul Jahhaf dari Muawiyah bin Tsa’labah dari Abu Dzar yang berkata Rasulullah SAW bersabda “Wahai Ali, siapa yang memisahkan diri dariKu maka dia telah memisahkan diri dari Allah dan siapa yang memisahkan diri dariMu maka dia telah memisahkan diri dariKu”.

Hadis dengan sanad diatas diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal dalam Fadhail As Shahabah no 962. Hadis tersebut juga diriwayatkan oleh Al Hakim dalam Al Mustadrak no 4624 dan no 4703, Al Bukhari dalam Tarikh Al Kabir juz 7 no 1431 biografi Muawiyah bin Tsa’labah, Ibnu Ady dalam Al Kamil 3/82 dan Al Bazzar dalam Musnad Al Bazzar no 4066. Berikut sanad riwayat Al Bazzar

حدثنا علي بن المنذر وإبراهيم بن زياد قالا نا عبد الله بن نمير عن عامر بن السبط عن أبي الجحاف داود عن أبي عوف عن معاوية بن ثعلبة عن أبي ذر رضي الله عنه قال قال رسول الله لعلي  يا علي من فارقني فارقه الله ومن فارقك يا علي فارقني

 

Telah menceritakan kepada kami Ali bin Mundzir dan Ibrahim bin Ziyad yang berkata telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Numair dari Amir bin As Sibth dari Abul Jahhaf Dawud bin Abi Auf dari Muawiyah bin Tsa’labah dari Abu Dzar RA yang berkata Rasulullah SAW bersabda kepada Ali “Wahai Ali siapa yang memisahkan diri dariKu maka dia telah memisahkan diri dari Allah dan siapa yang mmisahkan diri dariMu Ali maka dia telah memisahkan diri dariKu”.

.

.

Kedudukan Hadis

Hadis ini sanadnya shahih, telah diriwayatkan oleh para perawi terpercaya sebagaimana yang dikatakan Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid 9/184 no 14771 setelah membawakan hadis Abu Dzar RA di atas

رواه البزار ورجاله ثقات

Hadis riwayat Al Bazzar dan para perawinya tsiqat.

Al Hakim telah mnshahihkan hadis ini dalam kitabnya Al Mustadrak no 4624 dan memang begitulah keadaannya. Berikut keterangan mengenai para perawi hadis tersebut

  • Ali bin Mundzir disebutkan Ibnu Hajar dalam At Tahdzib juz 7 no 627 bahwa ia dinyatakan tsiqat oleh Abu Hatim, An Nasa’i, Ibnu Hibban dan Ibnu Numair. Ibnu Hajar dalam At Taqrib 1/703 memberikan predikat shaduq padahal ia sebenarnya orang yang tsiqah. Oleh karena itu Syaikh Syu’aib Al Arnauth dan Bashar Awad Ma’ruf dalam Tahrir Taqrib At Tahdzib no 4803 menyatakan Ali bin Mundzir tsiqat.
  • Abdullah bin Numair, disebutkan Ibnu Hajar dalam At Tahdzib juz 6 no 110 bahwa ia telah dinyatakan tsiqat oleh para ulama seperti Ibnu Ma’in, Ibnu Sa’ad, Ibnu Hibban dan Al Ajli. Ibnu Hajar dalam At Taqrib 1/542 menyatakan ia tsiqah.
  • Amir bin As Sibth atau Amir bin As Simth, Ibnu Hajar menuliskan biografinya dalam At Tahdzib juz 5 no 108 dan ia telah dinyatakan tsiqat oleh Yahya bin Sa’id, Ibnu Hibban, An Nasa’i dan Ibnu Ma’in berkata “shalih”. Ibnu Hajar dalam At Taqrib 1/461 menyatakan ia tsiqah.
  • Abul Jahhaf namanya Dawud bin Abi Auf. Ibnu Hajar menuliskan biografinya dalam At Tahdzib juz 3 no 375 dan ia telah dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Ma’in dan Ahmad bin Hanbal. Abu Hatim berkata “hadisnya baik” dan An Nasa’i berkata “tidak ada masalah dengannya”. Ibnu Syahin telah memasukkan Abul Jahhaf sebagai perawi tsiqah dalam kitabnya Tarikh Asma’ Ats Tsiqat no 347. Ibnu Ady telah mengkritik Abul Jahhaf karena ia banyak meriwayatkan hadis-hadis keutamaan Ahlul Bait dan tentu saja kritikan seperti ini tidak beralasan sehingga pendapat yang benar Abul Jahhaf seorang yang tsiqah.
  • Muawiyah bin Tsa’labah, ia seorang tabiin yang tsiqat. Ibnu Hibban memasukkan namanya dalam Ats Tsiqat juz 5 no 5480 seraya menegaskan bahwa ia meriwayatkan hadis dari Abu Dzar dan telah meriwayatkan darinya Abul Jahhaf. Al Bukhari menyebutkan biografinya dalam Tarikh Al Kabir juz 7 no 1431 seraya membawakan sanad hadis di atas dan tidak sedikitpun Bukhari memberikan cacat atau jarh pada Muawiyah bin Tsa’labah dan hadis yang diriwayatkannya. Abu Hatim dalam Al Jarh Wat Ta’dil 8/378 no 1733 menyebutkan bahwa Muawiyah bin Tsa’labah meriwayatkan hadis dari Abu Dzar dan telah meriwayatkan darinya Abul Jahhaf Dawud bin Abi Auf. Abu Hatim sedikitpun tidak memberikan cacat atau jarh padanya. Adz Dzahabi memasukkan nama Muawiyah bin Tsa’labah dalam kitabnya Tajrid Asma’ As Shahabah no 920 dimana ia mengutip Al Ismaili bahwa Muawiyah bin Tsa’labah seorang sahabat Nabi, tetapi Ibnu Hajar dalam Al Ishabah 6/362 no 8589 menyatakan bahwa Muawiyah bin Tsa’labah seorang tabiin. Tidak menutup kemungkinan kalau Muawiyah bin Tsa’labah seorang sahabat atau jika bukan sahabat maka ia seorang tabiin. Statusnya sebagai tabiin dimana tidak ada satupun yang memberikan jarh terhadapnya dan Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat sudah cukup sebagai bukti bahwa ia seorang tabiin yang tsiqat.

Keterangan di atas menunjukkan bahwa hadis tersebut telah diriwayatkan oleh para perawi tsiqat sehingga tidak diragukan lagi kalau hadis tersebut shahih. Sayangnya para pendengki tidak pernah puas untuk membuat syubhat-syubhat untuk meragukan hadis tersebut seolah hati mereka tidak rela dengan keutamaan Imam Ali yang ada pada hadis tersebut. Mari kita lihat syubhat salafiyun seputar hadis ini.

.

.

Syubhat Salafy Yang Cacat

Syaikh Al Albani memasukkan hadis ini dalam kitabnya Silsilah Ahadits Ad Dhaifah no 4893 dan berkata bahwa hadis ini mungkar. Pernyataan beliau hanyalah mengikut Adz Dzahabi dalam Talkhis Al Mustadrak hadis no 4624 dan Mizan Al I’tidal no 2638 yang berkata “hadis mungkar”. Seperti biasa perkataan ini muncul dari penyakit syiahphobia yang menjangkiti mereka, seolah mereka tidak rela dengan keutamaan Imam Ali, tidak rela kalau hadis ini dijadikan hujjah oleh kaum Syiah, tidak rela kalau keutamaan Imam Ali melebihi semua sahabat yang lain. Apa dasarnya hadis di atas disebut mungkar?. Silakan lihat, adakah kemungkaran dalam hadis di atas. Adakah isi hadis di atas mengandung suatu kemungkaran?. Apakah keutamaan Imam Ali merupakan suatu kemungkaran?. Sungguh sangat tidak bernilai orang yang hanya berbicara mungkar tanpa menyebutkan alasan dan dimana letak kemungkarannya. Begitulah yang terjadi pada Adz Dzahabi dan diikuti oleh Syaikh Al Albani, mereka hanya seenaknya saja menyebut hadis tersebut mungkar. Tentu saja jika suatu hadis disebut mungkar maka akan dicari-cari kelemahan pada sanad hadis tersebut.

Syaikh Al Albani melemahkan sanad hadis ini karena Muawiyah bin Tsa’labah bahwa ia hanya dinyatakan tsiqah oleh Ibnu Hibban sedangkan Abu Hatim dan Bukhari tidak memberikan komentar yang menta’dil ataupun yang mencacatnya. Memang bagi salafyun tautsiq Ibnu Hibban yang menyendiri tidaklah berharga dengan alasan Ibnu Hibban sering menyatakan tsiqah para perawi majhul. Sayang sekali alasan ini tidak bisa dipukul rata seenaknya. Muawiyah bin Tsa’labah tidak diragukan seorang tabiin dimana Al Hakim berkata tentang tabiin dalam Ma’rifat Ulumul Hadis hal 41

فخير الناس قرناً بعـد الصحـابة من شـافه أصحـاب رسول الله صلى الله عليه وسلّم، وحفظ عنهم الدين والسنن

Sebaik-baik manusia setelah sahabat adalah mereka yang bertemu langsung dengan sahabat Rasulullah SAW, memelihara dari mereka agama dan sunnah.

Jadi kalau seorang tabiin tidak dinyatakan cacat oleh satu orang ulamapun bahkan para ulama semisal Al Bukhari dan Abu Hatim menyebutkan biografinya tanpa menyebutkan cacatnya maka tautsiq Ibnu Hibban dapat dijadikan hujjah, artinya tabiin tersebut seorang yang tsiqah.

Mari kita lihat seorang perawi yang akan menggugurkan kaidah salafy yang seenaknya merendahkan tautsiq Ibnu Hibban, dia bernama Ishaq bin Ibrahim bin Nashr. Ibnu Hajar menyebutkan keterangan tentangnya dalam At Tahdzib juz 1 no 409. Disebutkan oleh Ibnu Hajar bahwa Ishaq bin Ibrahim adalah perawi Bukhari dan hanya Bukhari yang meriwayatkan hadis darinya. Tidak ada satupun ulama yang menta’dil beliau kecuali Ibnu Hibban yang memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Bahkan Al Bukhari yang menuliskan biografi Ibrahim bin Ishaq dalam Tarikh Al Kabir juz 1 no 1212 hanya berkata

إسحاق بن إبراهيم بن نصر أبو إبراهيم سمع أبا أسامة

Ishaq bin Ibrahim bin Nashr Abu Ibrahim mendengar hadis dari Abu Usamah

Adakah dalam keterangan Bukhari di atas ta’dil kepada Ishaq bin Ibrahim?. Tidak ada dan tentu berdasarkan kaidah salafy yang menganggap tautsiq Ibnu Hibban tidak bernilai maka Ishaq bin Ibrahim itu majhul dan hadisnya cacat. Tetapi bertolak belakang dengan logika salafy itu justru Ishaq bin Ibrahim dijadikan hujjah oleh Bukhari dalam kitabnya Shahih Bukhari.

Seperti biasa ternyata syaikh kita satu ini telah menentang dirinya sendiri. Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ahadits As Shahihah no 680 telah memasukkan hadis yang di dalam sanadnya ada perawi yang bernama Abu Sa’id Al Ghifari yang hanya dita’dilkan oleh Ibnu Hibban bahkan Syaikh mengakui kalau Abu Hatim dalam Jarh Wat Ta’dil hanya menyebutkan biografinya tanpa memberikan komentar jarh ataupun ta’dil. Dan yang paling lucunya Syaikh Al Albani mengakui kalau ia menguatkan hadis tersebut karena Abu Sa’id Al Ghifari adalah seorang tabiin. Sungguh kontradiksi syaikh kita satu ini. Mengapa sekarang di hadis Abu Dzar yang berisi keutamaan Imam Ali Syaikh mencampakkan metodenya sendiri dan bersemangat untuk mendhaifkan hadis tersebut. Apa masalahnya wahai syaikh?.

Selain itu Syaikh Al Albani juga menyebutkan syubhat yang lain yaitu ia melemahkan hadis ini karena Abul Jahhaf Dawud bin Abi Auf walaupun banyak yang menta’dilkan Abul Jahhaf, syaikh Al Albani mengutip perkataan Ibnu Ady seperti yang tertera dalam Al Mizan no 2638

ابن عدى فقال  ليس هو عندي ممن يحتج به  شيعي  عامة ما يرويه في فضائل أهل البيت

Ibnu Ady berkata “Menurutku ia bukan seorang yang dapat dijadikan hujjah, seorang syiah dan kebanyakan hadis yang diriwayatkannya adalah tentang keutamaan Ahlul Bait.

Bagaimana mungkin Syaikh mengambil perkataan Ibnu Ady dan meninggalkan Ibnu Ma’in, Ahmad bin Hanbal, Abu Hatim dan An Nasa’i. Seperti yang kami katakan sebelumnya jarh Ibnu Ady diatas tidak bernilai sedikitpun karena alasan seperti itu tidak dibenarkan. Bagaimana mungkin seorang perawi hanya karena ia syiah atau hanya karena ia meriwayatkan hadis keutamaan Ahlul bait maka hadisnya tidak dapat dijadikan hujjah. Apa namanya itu kalau bukan syiahphobia!. Abul Jahhaf adalah perawi yang tsiqah dan untuk mencacatnya diperlukan alasan yang kuat bukan alasan ngawur seperti yang dikatakan Ibnu Ady karena kalau ucapan Ibnu Ady itu dibenarkan maka alangkah banyaknya perawi yang hadisnya tidak bisa dijadikan hujjah(termasuk hadis Bukhari dan Muslim) hanya karena ia syiah atau hanya karena ia meriwayatkan hadis keutamaan Ahlul bait.

Kesimpulan

Hadis Abu Dzar di atas adalah hadis yang shahih dan para perawinya tsiqat sedangkan syubhat-syubhat salafiyun untuk mencacatkan hadis tersebut hanyalah ulah yang dicari-cari dan tidak bernilai sedikitpun. Sungguh kedengkian itu menutupi jalan kebenaran.