Uncategorized

Ijtihad Sahabat Sunni yang adil : Membunuh Cucu Nabi SAW, Imam Hasan AS.

KONSPIRASI PEMBUNUHAN IMAM HASAN BIN ALI (as) dalam Tarikh Ahlu Sunnah Wal Jama’ah

Setelah Imam ‘Alî bin Abî Thâlib as meninggal dibunuh oleh ‘Abdurrahmân bin Muljam dengan pedang pada waktu subuh tanggal 17 Ramadhan tahun 40 H.,24 Januari 661 M., Hasan bin ‘Alî dibaiat dan pertempuran-pertempuran dengan Mu’âwiyah berlanjut. Pada pertengahan Jumadil Awal tahun 41 H., 16September 661 M. tercapai persetujuan damai antara Hasan bin ‘Alî dan Mu’âwiyah. Surat perdamaian berbunyi sebagai berikut:

SURAT PERJANJIAN DAMAI
=================

Bismillâhirrahmânirrahim.

Ini adalah pernyataan damai dari Hasan bin ‘Alî kepada Mu’âwiyah bin Abî Sufyân, bahwa Hasan menyerahkan kepada Mu’âwiyah wilayah Muslimîn, dan Mu’âwiyah akan menjalankan Kitâb Allâh SWT dan Sunnah Rasûl Allâh saw. dan tata cara Khulafâ’ ur-Râsyidîn yang tertuntun, dan Mu’âwiyah bin Abî Sufyân tidak boleh mengangkat seseorang jadi khalîfah sesudahnya, tetapi akan diadakan lembaga syura di antara kaum Muslimîn dan bahwa masyarakat akan berada dalam keadaan aman di daerah Allâh SWT di Syam, Iraq, Hijaz dan Yaman, dan bahwa sahabat-sahabat ‘Alî dan Syî’ah-nya
terpelihara dalam keadaan aman, bagi diri, harta, para wanita dan anak-anak mereka, dan bahwa Mu’âwiyah bin Abî Sufyân setuju dan berjanji dengan nama Allâh bahwa Mu’âwiyah tidak akan mengganggu atau menganiaya secara tersembunyi atau terbuka terhadap Hasan bin ‘Alî atau saudaranya Husain bin ‘Alî atau salah seorang ahlu’l-bait Rasûl Allâh saw. dan tidak akan mengganggu mereka yang berada di seluruh penjuru dan bahwa Mu’âwiyah akan menghentikan pelaknatan terhadap ‘Alî.”

{Ibnu Hajar, Shawâ’iq, hlm. 81}

Dan sebagaimana biasa Mu’âwiyah melanggar janji. Ia meracuni Hasan bin ‘Alî bin Abî Thâlib, dan setelah Hasan meninggal ia bersujud yang diikuti semua yang hadir seperti dilakukannya tatkala Imâm ‘Alî meninggal dunia. Ibnu Sa’d menceritakan: ‘Mu’âwiyah meracuni Hasan berulang-ulang’.
Wâqidî berkata: ‘Mu’âwiyah meminumkan racun kepada Hasan, kemudian ia selamat, kemudian diminumkan racun lagi dan selamat, kemudian yang terakhir Hasan meninggal.

Tatkala maut mendekat, dokter /thabib yang menjenguknya berulang-ulang mengatakan bahwa Hasan diracun orang.
Adiknya Husain (SA) berkata: ‘Ya ayah Muhammad, beritahukan saya, siapa yang meminumkan racun kepadamu?’.

Hasan ( SA) menjawab: ‘Mengapa, wahai saudaraku?’.

Husain (sa) : ‘Demi Allâh, aku akan membunuhnya. Dan bila aku tidak berhasil, akan aku meminta orang mencarinya’.

Hasan berkata (SA) : ‘Wahai saudaraku, sesungguhnya dunia ini adalah malam-malam yang fana. Doakan dia, agar dia dan aku bertemu di sisi Allâh, dan aku melarang meracuninya’.

{Ibnu Katsîr, Târîkh, jilid 8, hlm. 43}

Mas’ûdî mengatakan: ‘Tatkala ia diberi minum racun, ia bangun menjenguk beberapa orang kemudian setelah sampai di rumah, ia berkata: ‘Aku telah diracuni, berkali-kali tetapi belum pernah aku diberi minum seperti ini, aku sudah keluarkan racun itu sebagian, tetapi kemudian kembali biasa lagi’.

Husain berkata: ‘Wahai saudaraku, siapa yang meracunimu?’. Hasan menjawab: ‘Dan apa yang hendak kau lakukan dengannya? Bila yang kuduga benar, maka Allâh-lah yang melakukan hisab terhadapnya. Bila bukan dia, aku tidak menghendaki orang membebaskan diriku. Dan dia berada dalam keadaan demikian sampai 3 hari sebelum ia ra. akhirnya meninggal.

Dan yang meminumkan racun kepadanya adalah Ja’dah binti Asy’ats bin Qais al-Kindî, dan Mu’âwiyah yang memerintahkan kepadanya, dan bila ia berhasil membunuh Hasan ia akan dapat 100.000 dirham dan ‘aku akan mengawinkan kau dengan Yazîd’. Ialah yang mengirim racun kepada Ja’dah, istri Hasan.

Dan tatkala Hasan meninggal, ia mengirim uang tersebut dengan surat: ‘Sesungguhnya kami mencintai nyawa Yazîd, kalau tidak maka tentu akan kami penuhi janji dan mengawinkan engkau dengannya’.

{Mas’ûdî, Murûj adz-Dzahab, jilid 2, hlm. 50}

Abû’l-Faraj al-Ishfahânî menulis: ‘Hasan telah mengajukan syarat perdamaian kepada Mu’âwiyah: ‘Mu’âwiyah bin Abî Sufyân tidak boleh mengangkat seseorang jadi khalîfah sesudahnya. Dan bila Mu’âwiyah akan mengangkat Yazîd, anaknya, jadi khalîfah, maka yang memberatkannya adalah Hasan bin ‘Alî dan Sa’d bin Abî Waqqâsh110, maka Mu’âwiyah
meracuni mereka berdua dan mereka meninggal. Ia mengirim racun kepada putri Asy’ats bin Qais: ‘Aku akan kawinkan kau dengan anakku Yazîd, bila kau racuni Hasan’, dan ia mengirim 100.000 dirham dan ia tidak mengawinkannya dengan Yazîd.

{Al-Ishfahânî, Maqâtil ath-Thâlibiyîn, hlm. 29; Diriwayatkan Ibn Abîl-Hadîd, Syarh Nahju’l-Balâghah, jilid 4, hlm. 11, 17}

Abul Hasan al-Madâ’inî berkata: ‘Hasan meninggal tahun 49 H., 669 M. setelah sakit selama 40 hari pada umur 47 tahun. Ia diracuni Mu’âwiyah melalui tangan Ja’dah binti Asy’ats, istri Hasan dengan kata-kata: ‘Bila engkau membunuhnya dengan racun, maka engkau dapat 100.000 dan akan aku kawinkan kau dengan Yazîd, anakku’.

Dan tatkala Hasan meninggal, maka ia memberikan uang tersebut dan tidak mengawinkannya dengan Yazîd. Ia berkata: ‘Aku takut kau akan lakukan terhadap anakku seperti yang engkau lakukan terhadap anak Rasûl Allâh saw’

Hushain bin Mundzir ar-Raqasyi berkata: ‘Demi Allâh Mu’âwiyah tidak memenuhi sama sekali janjinya, ia membunuh Hujur dan teman-temannya, membaiat anaknya Yazîd dan
meracuni Hasan.

{Ibn Abîl-Hadîd, Syarh Nahju’l-Balâghah, jilid 4, hlm. 4. & hlm. 7.}

Abû ‘Umar berkata dalam al-Istî’âb: ‘Qatâdah dan Abû Bakar bin Hafshah berkata: ‘Mu’âwiyah meracuni Hasan bin ‘Alî, melalui istri Hasan, yaitu putri Asy’ats bin Qais al-Kindî. Sebagian orang berkata: ‘Mu’âwiyah memaksanya, dan tidak memberinya apa-apa, hanya Allâh yang tahu!’. Kemudian ia menyebut sumbernya, yaitu Mas’ûdî.

{Ibnu ‘Abd al-Barr, Kitâb al-Istî’âb, jilid 1, hlm. 141}

Ibnu al-Jauzî mengatakan dalam ‘at-Tadzkirah Khawâshsh’l-Ummah’: ‘Para ahli sejarah di antaranya ‘Abdul Barr meriwayatkan bahwa ia diracuni istrinya Ja’dah binti Asy’ats bin Qais al-Kindî.

As-Sûdî berkata: Yang memerintahkannya adalah Yazîd bin Mu’âwiyah agar meracuni Hasan dan bahwa ia berjanji akan mengawininya. Dan tatkala Hasan meninggal Ja’dah mengirim surat kepada Yazîd menagih janjinya. Dan Yazîd berkata: ‘Hasan saja kamu bunuh, apalagi aku, demi Allâh, aku tidak rela’. Asy-Sya’bî mengatakan: ‘Sesungguhnya yang melakukan tipu muslihat adalah Mu’âwiyah. Ia berkata kepada istri Hasan: ‘Racunilah Hasan, maka akan aku kawinkan engkau dengan Yazîd dan memberimu 100.000 dirham.”

Dan tatkala Hasan meninggal Ja’dah menuntut janjinya. Mu’âwiyah lalu mengiriminya uang tersebut dan menambahkan : ‘Sesungguhnya aku mencintai Yazîd, dan mengharapkan agar ia tetap hidup, kalau tidak demikian tentu aku akan kawinkan engkau dengannya’.

Sya’bî berkata lagi: ‘Dan ini benar dengan berdasarkan saksi yang dapat dipercaya: ‘Sesungguhnya Hasan berkata tatkala akan mati dan telah sampai kepadanya apa yang dilakukan Mu’âwiyah: ‘Aku telah tahu minumannya dan kebohongannya, demi Allâh ia tidak memenuhi janjinya, dia tidak jujur dalam perkataannya’. Kemudian Sya’bî mengutip ath-Thabaqât dari Ibnu Sa’d: “Mu’âwiyah meracuninya berulang ulang.

{Ibnu al-Jauzî, ‘al-Tadzkirah’, hlm. 121}

Ibnu ‘Asâkir berkata: ‘Ia diberi minum racun, berulang-ulang, banyak, mula-mula ia bisa pulih, lalu diberi minum lagi dan ia tidak bisa pulih dan dikatakan: Sesungguhnya Mu’âwiyah telah memperlakukan dengan ramah seorang pembantunya agar meracuninya dan ia lalu melakukannya dan berpengaruh sedikit demi sedikit, sampai ia memakai alat untuk bisa duduk dan ia bertahan sampai 40 kali.

Muhammad bin al-Mirzubân meriwayatkan: ‘Ja’dah binti Asy’ats bin Qais adalah istri Hasan dan Yazîd melakukan tipu muslihat agar ia mau meracuni Hasan. ‘Dan saya akan mengawininya, dan Ja’dah melakukannya. Dan tatkala Hasan meninggal Ja’dah menanyakan janji Yazîd dan Yazîd berkata: ‘Sesungguhnya, demi Allâh, kalau Hasan saja kamu
bunuh, apalagi kami’.

{Ibnu ‘Asâkir, Târîkh, jilid 4, hlm. 229.}

Hasan bin ‘Alî (as) sakit yang berakhir dengan kematiannya. Ia diracun istrinya, atas suruhan Mu’âwiyah dengan bayaran 100.000 dinar. Ia lalu memerintahkan Marwân bin Hakam yang diangkatnya jadi gubernur Madînah untuk terus mengamati Hasan dan menyuratinya. Tatkala datang berita bahwa Hasan telah meninggal seluruh penduduk Syam bertakbir. Seorang wanita, Fakhîtah binti Quraidhah bertanya kepada Mu’âwiyah: ‘Apakah kamu bertakbir bagi matinya putri Fâthimah? Ya, aku bertakbir karena hatiku gembira

Ia sangat gembira dan bahagia dan bersujud, dan semua yang hadir ikut bersujud.

{Ibnu Qutaibah, al-Imâmah wa’s-Siyâsah, jilid 1, hlm. 144; Ibnu ‘Abdu Rabbih, al- ’Iqd al-Farîd, jilid 2, hlm. 298; ar-Raghib al-Ishfahânî, Al-Muhâdharât, jilid 2, hlm. 224 dll.}

Imam Ali as berkata bahwa Nabi Saww bersabda : Orang yang mendatangkan kesusahan kepada orang Mu’min tanpa sebab bagaikan orang yang telah memusnahkan Mekah dan Baitul Makmur sepuluh kali dan bagaikan dia telah membunuh seribu malaikat Allah. Mengasihi seorang Mu’min karena Allah semata-mata adalah sebagian dari iman. Ingatlah barang siapa yang cinta karena Ridha Allah semata-mata, membenci karena Allah semata-mata, memberikan sesuatu demi karena Allah, dan menjauhi pemberian hanya karena Allah (apabila dia tahu bahwa Allah tidak menyukainya) adalah salah seorang dari hamba-hamba pilihanNya. Dia adalah salah seorang dari orang-orang Islam yang sempurna, yang mana budi pekertinya amat disukai orang orang-orang lain.

{DiRiwayatkan Akhu Tirbal, Kitab Al Mukmin, Syed Murtadha Husayn }

Imam Ja’far al-Sadiq AS berkata, Nabi SAWW bersabda : “Apabila seorang Mu’min secara tidak benar mencela saudaranya, dia akan jauh dari persahabatan di antara mereka. Apabila seorang Mu’min memanggil saudaranya sebagai musuh, sama ada salah seorang dari mereka kafir. Allah tidak menerima doa-doa orang-orang yang mencela orang-orang Mu’min. Dia juga tidak menerima doa-doa yang membenci dan meletakkan permusuhan dalam hati-hati mereka terhadap orang-orang Mu’min.”

{Kitab Al Mukmin, Syed Murtadha Husayn}

Maka Apa yang membuat Kenistaan dan penindasan kaum yang dzalim terhadap AhlulBait Nabi SAWW dibiarkan, ditutupi, bahkan para Pelakunya DiIdolakan?

Apakah Para Imam Ahlul Bait Nabi SAWW bukan orang-orang yang Mulia? Bukankah Ahlal bait Nabi SAWW disucikanNYA ? lalu ketika Orang – Orang Suci di abaikan haknya dan didzalimi serta dibunuh para pelakunya justru di Elu2kan dan di Jadikan Panutan, kegilaan macam apa yang sedang dialami Umat Muhammad SAWW?

Kebohongan demi kebohongan disodorkan hingga berabad-abad, kebutaan Ummat Muhammad karena jauh dari Kebenaran, hasilnya seperti yang kita sedang alami bersama

Perintah Allah untuk membayar Upah Risalah Rasulullah saw

Yaitu firman dalam (Surat al-Syu’ara (42): 23): “Katakanlah:” Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan (al-qurba). Dan siapa yang mengerjakan kebaikan (al-Hasanah) akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. “

Para ahli Tafsir Syi’ah bersepakat bahwa ayat tersebut diturunkan secara khusus kepada Ahl-Bait; ‘Ali as, Fatimah as, Hasan as dan Husain as. Demikian juga kebanyakan Ahli Tafsir Ahlu s-Sunnah wal-Jama’ah di dalam buku-buku Sahih dan Musnad mereka mengakui bahwa ayat tersebut diturunkan kepada ‘itrah yang suci.

Tetapi ada segolongan kecil dari mereka (Sunni) yang membuat interpretasi yang menyalahi apa yang diturunkan Allah SWT itu.

Ahlu l-Bait AS dan para ulama Syi’ah bersepakat bahwa perkataaan al-Qur’ba di dalam ayat tersebut adalah kerabat Rasulullah SAW; ‘Ali, Fatimah, Hasan dan Husain.(salam untuk mereka). Merekalah orang yang paling dekat dengan Rasulullah SAW. Dan kata al-Hasanah (kebaikan) berarti kasih sayang kepada mereka dan menjadikan mereka imam, karena Allah sangat mengampuni orang yang mewalikan mereka.

Dan ini adalah suatu hal yang disepakati oleh Syi’ah karena itu merupakan suatu kepastian karena banyak hadits-hadits muktabar tentang ini.

Hadits-hadits yang muktabar menurut Ahlu s-Sunnah wa l-Jama’ah sebagai berikut:

Ahmad bin Hanbal telah meriwayatkan di dalam Manaqib, al-Tabrani, al-Hakim dan Ibn Abi Hatim dari ‘Abbas sebagaimana telah diriwayatkan oleh Ibn Hajr di dalam interpretasi ayat 14 dari ayat-ayat yang telah dinyatakan di dalam pasal satu dari bab sebelas dari al -Sawa ‘iqnya dia berkata:

Ketika turunnya ayat ini mereka bertanya: Wahai Rasulullah! Siapakah kerabat anda yang diwajibkan ke atas kami mengasihi mereka? Beliau SAW menjawab: ‘Ali, Fatimah dan dua anak lelaki mereka berdua.

Hadith ini juga telah dicatat oleh Ibn Mardawaih, [1] diriwayatkan dari Ibnu Abbas oleh Ibn Mundhir, al-Muqrizi, al-Baghawi, al-Tha’labi dalam tafsir-tafsir mereka. Al-Suyuti di dalam Durr al-Manthur, Abu Nu’aim di dalam Hilyahnya, al-Hamawaini di dalam al-Fara’id, al-Wahidi di dalam Asbab al-Nuzul dan Ibn Maghazili di dalam al-Manaqib, al-Zamakhsyari di dalam al-Kasysyaf,[2] Muhibbuddin al-Tabari dalam Dhakha’ir al-’Uqba, [3] Thalhah al-Syafi’i di dalam Matalib su’ul, [4] Abu Sa’id di dalam Tafsirnya, [5] al-Nasafi di dalam tafsirnya, [6] Abu Hayyan di dalam Tafsirnya, [7] Ibn Sibagh al-Maliki di dalam Fusul al-Muhimmah, [8] al-Hafiz al-Haithami di dalam al-Majma ‘, [9] al-Kanji al-Syafi’i di dalam kifayah al- Talib.[10]

Al-Qastalani di dalam al-Mawahib, berkata: “Allah memastikan kasih sayang kepada semua kerabat Rasulullah SAW dan mewajibkan kasih sayang bagian dari Ahlu l-Baitnya AS dan zuriatnya. Justru itu Dia berfirman dalam (QS Al-Syura ‘(42): 23 )…..” Katakanlah: “Aku tidak meminta upahmu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang kepada kekeluargaan.” al-Zurqani di dalam Syarh al-Mawahib, [11] al-Syablanji di dalam Nur al-Absar, [12] Ibn Hajr di dalam Sawa’iq al-Muhriqah, [13] al-Suyuti di dalam ‘Ihya al-Mayyit di Hamisy al-Ithaf. [14]

Al-Bukhari di dalam Sahihnya,[15] dari Ibnu Abbas RD bahwa dia ditanya tentang firman :…” kecuali kasih sayang kepada kekeluargaan. ” Dia berkata: Itulah adalah kerabat Rasulullah SAW. Al-Tabari dalam Tafsirnya, [16] dari Sa’id bin Jubair tentang firman, Surat al-Syura ‘(42): 23 )…..” Katakanlah: “Aku tidak meminta upahmu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang kepada kekeluargaan . ” Dia berkata: Itulah adalah kerabat Rasulullah SAW.

Ibn Hajr al-’Asqalani di dalam al-Kafi al-Syafi fi Takhrij Ahadith al-Kasysyaf, [17] berkata: al-Tabrani, Ibn Abi Hatim dan al-Hakim telah meriwayatkannya di dalam Manaqib al-Syafi’i dari Husayn Asyqar dari Qais bin al-Rabi ‘dari A’masy dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas ditanya: Wahai Rasulullah! Siapakah kerabat anda yang diwajibkan ke atas kami mengasihi mereka? Beliau menjawab: ‘Ali, Fatimah, Hasan dan Husain.

Al-Qunduzi al-Hanafi di dalam Yanabi ‘al-Mawaddah, [18] berkata: Ahmad telah meriwayatkan di dalam Musnadnya dengan sanadnya daripda Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas RD bahwa ayat ini diturunkan kepada lima orang. Al-Tabrani di dalam Mu’jam al-Kabirnya menyatakan ayat ini diturunkan kepada lima orang.

Ibn Abi Hatim di dalam Tafsirnya dan al-Hakim di dalam al-Manaqibnya menyatakan ayat ini diturunkan kepada lima orang. Al-Wahidi di dalam Al-Wasit, Abu Nu’aim di dalam Hilyah al-Auliya ‘, al-Tha’labi di dalam Tafsirnya, al-Hamawaini di dalam Fara’id al-Simtin, Abu Bakar bin Syahabbuddin al-Syafi’ i dalam Rasyfah Sadi[19] semuannya meriwayatkan bahwa ayat tersebut di turunkan kepada lima orang.

Al-Mulla di Sirahnya meriwayatkan sebuah hadits: “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan ke atas kalian kasih sayang terhadap kerabatku dan aku menanyakan kalian tentang mereka di hari esok.” Ahmad di dalam Manaqib dan al-Tabrani di dalam al-Kabir meriwayatkan dari ‘Abbas RD dia berkata: Sedangkan turunnya ayat ini mereka bertanya: Wahai Rasulullah SAW siapakah kerabat kamu yang diwajibkan ke atas kami mengasihi mereka? Beliau menjawab: ‘Ali, Fatimah, dan kedua-dua anak lelaki mereka.
Al-Baghawi dan al-Tha’labi meriwayatkan di dalam Tafsir mereka dari ‘Ibn Abbas RD dia berkata Sedangkan turunnya ayat (Surah al-Syu’ara’ (42): 23), sebagian orang berkata: Ia hanya menghendaki supaya kita mengasihi kerabatnya. Lantas Jibril memberitahukan Nabi SAW tentang tuduhan mereka. Maka turunlah ayat (Surah al-Syu’ara ‘(42): 24) “Bahkan mereka mengatakan: Dia (Muhammad) telah mengada-adakan dusta terhadap Allah.” Maka sebagian mereka berkata: Wahai Rasulullah kami menyaksikan sesungguhnya Anda adalah seorang yang benar. Maka turunlah pula (Surat al-Syu’ara ‘(42): 25): “Dan Dialah yang menerima tobat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Al-Tabrani di dalam al-Ausat dan al-Kabir telah meriwayatkan dari Abu Tufail sebuah khutbah Hasan AS: Kami dari Ahlu l-Bait yang telah difardhukan Allah untuk mengasihi mereka dan menjadikan mereka pemimpin. Maka beliau berkata: Di antara apa yang telah diturunkan ke atas Muhammad SAW adalah: Katakanlah: “Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan.” Di dalam riwayat yang lain: Kami adalah dari Ahlu l-Bait yang telah fardhukan Allah ke atas setiap Muslim mengasihi mereka. Maka turunlah ayat (Surah al-Syu’ara (24): 23): “Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan.” Dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. “

Al-Sudi meriwayatkan dari Ibnu Abbas mengenai firmanNya: “Dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri” dia berkata: al-Muawaddah (cinta) terhadap kerabat keluarga Muhammad SAW.

Al-Hakim di dalam al-Mustadrak[20] dengan membuang sanad-sanadnya dari ‘Umar bin’ Ali dari bapaknya dari ‘Ali bin Husain dia berkata: Hasan bin Ali berpidato ketika pembunuhan’ Ali AS. Ia memuji Tuhan hingga akhirnya beliau berkata: “Kami adalah dari Ahlu l-Bait yang dihilangkan kekotoran mereka oleh Allah dan membersihkan mereka dengan sebersih-bersihnya. Dan kamilah Ahlu l-Bait yang difardhukan Allah ke atas setiap Muslim supaya mengasihi mereka. Maka beliau berkata : Allah berfirman kepada NabiNya: Katakanlah ‘Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun …..”
Al-Dhahabi juga meriwayatkan hadits tersebut di dalam al-Talkhisnya.[21]

Al-Zamakhsyari di dalam al-Kasysyaf[22] berkata: Sedangkan ayat tersebut diturunkan, ada orang bertanya: Wahai Rasulullah, siapakah kerabat anda yang diwajibkan ke atas kami mengasihi mereka? Beliau menjawab: ‘Ali, Fatimah, dan kedua-dua anak lelaki mereka. Dan diriwayatkan dari ‘Ali AS: Aku merayu kepada Rasulullah SAW tentang hasad dengki manusia terhadapku. Maka beliau menjawab: Tidakkah Anda meridhai bahwa Anda di kalangan empat orang yang pertama akan memasuki surga? Aku, anda, Hasan dan Husain …..

Al-Karimi meriwayatkan dari ‘Aisyah dengan sanadnya dari’ Ali RA. al-Tabrani meriwayatkannya dari Abi Rafi ‘di dalam Takhrij Al-kasysyaf dari Nabi SAW: Diharamkan syurga ke atas orang yang menzalimi Ahlu l-Baitku dan menyakitiku di itrahku. Hadith ini juga telah diriwayatkan oleh al-Tha’labi di dalam al-Takhrij al-Kasysyat. Al-Khawarizmi di dalam Maqtal al-Husain, [23] Ibn Batriq di dalam al-Umdah[24] dari Musnad Ahmad dengan membuang beberapa sanad dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas bahwa ayat tersebut telah diturunkan kepada lima orang.

Muhammad bin Thalhah al-Syafi’i dalam Matalib al-Su’ul[26] berkata: Merekalah dhawi l-Qurba di dalam ayat tersebut, ianya telah diterangkan dan disetujui oleh perawi-perawi hadits di dalam Musnad-Musnad mereka dari Jubair dari ‘Ibnu Abbas sedangkan turunnya firmanNya: “Katakanlah:” Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan. Dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.

” Mereka bertanya wahai Rasulullah SAW: “Siapakah mereka yang diwajibkan atas kami mengasihi mereka? Ia SAW menjawab: ‘Ali, Fatimah, Hasan dan Husain.
Al-Wahidi dan al-Tha’labi meriwayatkan hadits ini dengan sanadnya al-Tha’labi menyatakan: Ketika Rasulullah SAW melihat kepada ‘Ali, Fatimah, Hasan dan Husain beliau bersabda: Aku memerangi orang yang memerangi kalian dan berdamai dengan orang yang berdamai dengan kalian. Al-Hijazi di dalam al-Wadhih[27] berkata: Mereka itu adalah ‘Ali, Fatimah kedua anak lelaki mereka berdua. Dia berkata: Pengertian ini telah diriwayatkan oleh Rasulullah SAW yang telah diterangkan oleh Allah SWT.
Al-Kanji al-Syafi’i di dalam kifayah al-Talib[28] dengan membuang beberapa sanad dari Jabir bin ‘Abdullah, berkata:

Seorang Badui datang kepada Nabi SAW berkata: “Ya Muhammad terangkan ke atasku Islam. Maka dia berkata: “Kami naik saksi bahwa tiada tuhan selain Dia yang Tunggal tiada sekutu bagiNya dan sesungguhnya Muhammad adalah hambaNya dan pesuruhNya. Dia bertanya: Apakah Anda meminta upah dariku ke atasnya? Menjawab: Tidak! Melainkan mengasihi kerabatku. Dia bertanya: kerabatku atau kerabat Anda? Beliau menjawab: kerabatku. Dia berkata: Sekarang aku membai’ah Anda, dan bagi orang yang tidak mencintai Anda dan mencintai kerabat anda, maka laknat Allah ke atas mereka. Maka Nabi SAW bersabda: Amin ….. Buatlah rujukan ke buku-buku hadits karangan Ahlu s-Sunnah wal-Jama’ah, niscaya Anda akan menemukan hadits-hadits yang banyak tentang ini.

Ayatullah Mar’asyi al-Najafi di dalam Ta’liqatuhu ‘Ala Ihqaq al-Haqa’iq[29] karangan al-Sa’id al-Syahid Nur Allah al-Tastari, telah mengumpulkan hadits-hadits yang banyak dari referensi Ahlu s-Sunnah dengan menyebutkan perawi-perawi mereka. Begitu juga al-’Allamah al-Amini di dalam al-Ghadir.[30]

Justru itu referensi Ahlu s-Sunnah sendiri telah mengukuhkan pernyataan Syi’ah karena ada hadits-hadits yang muktabar dan mutawatir tentang hak ‘Ali dan keluarganya AS. Sesungguhnya kebenaran terserlah wa l-hamdulillah.

Singkatnya, dengan ayat ini orang yang menjadi imam dan khalifah setelah Rasulullah SAW secara langsung adalah imam ‘Amiru l-Mukmimin’ Ali AS. Karena ayat tersebut membuktikan bahwa mengasihi ‘Ali AS adalah wajib karena Allah memberikan pahala kepada orang yang mengasihi kerabatnya. Karena itu jika kesalahan terjadi dari mereka maka kasih sayang kepada mereka wajib dihentikan karena firman di dalam

(Surah al-Mujadalah (58): 22): “Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan akhirat, saling berkasih sayang dengan orang -orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya. “

Dan selain dari ‘Ali AS adalah tidak maksum. Karena itu, beliaulah imam secara langsung. Ayatullah al-’Uzma al-Syahid al-Nur al-Tastari di buku Ihqaq al-Haqa’iq berkata: Orang-orang Syi’ah mengemukakan dalil-dalil pada keimamahan ‘Ali AS terhadap Ahlu s-Sunnah bukanlah suatu hal yang wajib , malah ianya suatu amalan sukarela karena Ahlu s-Sunnah wal-Jama’ah telah sepakat sesama mereka tentang keimamahan ‘Ali AS setelah Rasulullah SAW.

—————————————————————————————————–

1. al-Nabhan, al-Arba’in, hlm. 90.
2. Al-Kasysyaf, II, hlm. 339.
3. Dhakha’ir al-’Uqba, hlm. 25.
4. Matalibal-su’ul, hlm. 8.
5. Hamisyh Mafatih al-Ghaib, VI, hlm. 665.
6. Tafsir al-Nasafi, hlm. 99.
7. Tafsir Abu Hayyan, VII, hlm. 156.
8. al-Fusul al-Muhimmah, hlm. 12.
9. Majma ‘al-Zawaid, IX, hlm. 168.
10. Kifayah al-Thalib, hlm. 31.
11. Syarh al-Mawahib, VII, hlm. 3 & 21.
12. Nur al-Absar, hlm. 112.
13. al-Sawa’iq al-Muhriqah, hlm. 105.
14. Ihya ‘al-Mayyit, 101 & 135.
15. Sahih, VI, hlm. 129.
16. Jami ‘al-Bayan, XXV, hlm. 14-15.
17. al-Kafi al-Syafi’i, hlm. 145.
18. Yanabi ‘al-Mawaddah, hlm. 106.
19. Rasyfah al-Sadi, hlm. 21 … 106.
20. al-Mustadrak, III, hlm. 172.
21. al-Talkhis, III, hlm. 172.
22. al-Kasysyaf, III, hlm. 402.
23. Maqtal al-Husain, hlm.1.
24. al-Umdah, hlm. 23.
25. Matalib al-su’ul, hlm. 3.
26. al-Wadhih, XXV, hlm. 19.
27. Kifayah al-Thalib, hlm. 31.
28. Ta’liqatuhu ‘Ala Ihqaq al-Haqa’iq, III, hlm. 2 & 23.
29. al-Ghadir, II, hlm. 306.
30. Syi’ah mengatakan bahwa Imamah ‘Ali AS adalah setelah Rasulullah SAW secara langsung tanpa wasitah yaitu tidak didahului oleh orang lain. Sementara Ahlu s-Sunnah mengatakan Imamah ‘Ali AS adalah setelah Rasulullah SAW secara wasitah (perantaraan) yaitu telah didahului oleh Khalifah Abu Bakar, Umar dan Utsman.

Imam Hasan bin Ali as berpidato dihadapan Muawiyah,Amr bin Ash,Uthbah bin abu sufyan,AlHakam dan lain-lain di Majlis Muawiyah

Imam Hasan bin Ali as berpidato dihadapan Muawiyah,Amr bin Ash,Uthbah bin abu sufyan,AlHakam dan lain-lain di Majlis Muawiyah :

“Dengarlah dariku wahai kumpulan yang menentangku. Janganlah kalian menyembunyikan kebenaran yang kalian ketahui. Dan janganlah kalian membenarkan kebatilan sekiranya aku berkata mengenainya. Aku akan mulai percakapanku dengan anda wahai Mu`awiyah dan aku tidak akan berkata sesuatu pun melainkan ia bertepatan dengan anda.”

1.Aku menyeru kalian dengan nama Allah, adakah kalian mengetahui bahawa lelaki yang kalian telah mencacinya itu adalah orang yang telah melakukan solat di hadapan dua kiblat. Dan anda telah melihat kedua-dua kitab kesesatan menyembah al-Lata dan al-`Uzza?[3] Dia juga telah mela­kukan dua bai`ah, bai`ah al-Ridwan dan bai`ah al-Fath sedangkan anda wahai Mu`awiyah, di bai`ah pertama kafir sementara di bai`ah kedua anda menarik balik bai`ah anda (nakithin).[4]

2. Aku menyeru kalian dengan nama Allah adakah kalian mengetahui bahawa sesungguhnya Rasulullah (s.`a.w.) telah mengepung Bani Quraidah dan Bani Nadhir kemudian beliau (s.`a.w.) mengutus `Umar b. al-Khattab bersama bendera Muhajirin dan Sa`d b. Mu`adh bersa­ma bendera Ansar. Adapun Sa`d b. Mu`adh pergi ke medan perang dan tercedera. Adapun `Umar telah lari dari medan peperangan. Dia mengatakan bahawa para sahabatnya pengecut tetapi para saha­batnya pula mengatakan dia adalah seorang yang pengecut.[5]

Lantas Rasulullah (s.`a.w.) bersabda: “Besok aku akan mem­beri bendera kepada seorang lelaki di mana dia mencintai Allah dan RasulNya, dan Allah dan RasulNya mencintainya terus mara tanpa lari kemudian terus berjuang sehingga Allah memberi keme­nangan melaluinya”.[6]

Abu Bakr, `Umar serta orang-orang Muhajirin dan Ansar kurang senang mengenainya. `Ali pada masa itu mengidap penyakit mata. Rasul (s.`a.w.) menjemputnya lalu meniupkan di matanya lalu dia pun sembuh.[7] Kemudian beliau memberikan kepadanya satu bendera.[8] Dia pun pergi berjuang sehingga mendapat kemenangan dengan perto­longan Allah S.W.T. Sedangkan anda pada masa itu di Makkah adalah seorang musuh Allah dan RasulNya. Adakah sama di antara lelaki yang mencintai sesuatu kerana Allah dan RasulNya lelaki yang memusuhi Allah dan RasulNya?[9] Aku bersumpah dengan nama Allah bahawa hati anda tidak pernah menerima Islam, tetapi lidah anda takut. Oleh itu anda bercakap apa yang tidak ada di hati anda. Lihat umpamanya hadis Nabi s.`a.w. kepada `Ali A.S: ” Tidak akan mencintai anda melainkan dia seorang mukmin, dan tidak membencikan anda melainkan dia seorang munafiq”.[10]

3. Aku menyeru kalian dengan nama Allah adakah kalian mengetahui bahawa Rasulullah (s.`a.w.) telah melantiknya (`Ali) di Madinah ebelum peperangan Tabuk tanpa memarahi dan bencinya. Lalu orang-orang munafiq bercakap mengenainya. Maka beliau (`Ali) berkata: Janganlah anda meninggalkan aku wahai Rasulullah kerana aku tidak pernah meninggalkan anda di dalam mana-mana peperangan. Lantas Rasulullah (s.`a.w.) bersabda: Anda adalah wasiku, khali­fahku pada keluargaku samalah kedudukan Harun di sisi Musa”. Kemudian beliau memegang tangan `Ali A.S seraya bersabda: “Wahai manusia! Siapa yang menjadikan aku wali, maka sesungguhnya dia telah menjadikan Allah wali. Dan siapa yang telah menjadikan `Ali wali maka dia telah menjadikan aku wali. Siapa yang telah mentaati aku, maka sesungguhnya dia telah mentaati Allah. Dan siapa yang mentaati `Ali maka dia mentaati aku. Dan siapa yang mencintaiku, maka dia mencintai Allah. Dan siapa yang mencintai `Ali, maka dia telah mencintaiku”.[11]

4. Aku menyeru kalian dengan nama Allah adakah kalian mengetahui bahawa sesungguhnya Rasulullah (s.`a.w.) bersabda pada Haji Wida`: ” Wahai manusia sesungguhnya aku telah tinggalkan kepada kalian dan kalian tidak akan sesat selepasnya; Kitab Allah dan itrah Ahl l-Baitku. Justeru itu halalkanlah halalnya dan haramkanlah haramnya. Beramallah menurut muhkamnya dan berimanlah menurut mutasyabihahnya.

Dan katakanlah: Kami percaya apa yang telah diturunkan Allah (al-Kitab), cintailah Ahl l-Baitku dan itrahku. Hormatilah orang-orang yang mewalikan mereka. Tolonglah mereka bagi menentang musuh-musuh mereka. Sesungguhnya kedua-duanya akan sentiasa berada pada kalian sehinggalah dikembalikan ke atasku di Haud pada hari kiamat.[12]

Kemudian beliau menjemput `Ali ketika beliau berdiri di atas mimbar lalu menarik tangannya seraya bersabda: “Wahai Tuhanku, hormatilah orang yang mewalikannya, musuhilah orang yang menen­tangnya. Wahai Tuhanku, jangan jadikan di bumi ini tempat duduk penentang-penentang `Ali, dan di langit tidak ada tempat naik serta jadikanlah mereka di neraka yang terkebawah”.[13]

5. Aku menyeru kalian dengan nama Allah adakah kalian mengetahui bahawa sesungguhnya Rasulullah (s.`a.w.) bersabda: Andalah orang yang boleh mencebok haudku di hari kiamat. Anda akan membekalkan air daripadanya sebagaimana seorang daripada kamu membekalkan ” wanita asing ” di tengah untanya”.[14]

6. Aku menyeru kalian dengan nama Allah, adakah kalian mengetahui bahawa `Ali telah berjumpanya (s.`a.w.) ketika sakit yang membawa kewafatannya, maka Rasulullah (s.`a.w.) menangis. Lalu `Ali berkata: Apakah yang membuat anda menangis wahai Rasulullah? Beliau bersabda: “Apa yang membuatkan aku menangis adalah kerana keilmuanku bahawa hasad dengki masih membara di hati umat ini, tetapi mereka tidak berani menzahirkannya sehingga aku wafat”.[15]

7. Aku menyeru kalian dengan nama Allah, adakah kalian mengetahui bahawa Rasulullah (s.`a.w.) ketika hampir wafat, Ahlu l-Baitnya berkumpul dan beliau bersabda: “Sesungguhnya Ahl al-Baitku pada kalian sepertilah bahtera Nuh. Siapa yang menaikinya berjaya dan siapa yang meninggalkannya tenggelam”.[16]

8. Aku menyeru kalian dengan nama Allah adakah kalian mengetahui bahawa para sahabat Rasulullah (s.`a.w.) telah menerima wilayah `Ali pada masa Rasulullah dan pada masa hidupnya?[17]

9. Aku menyeru kalian dengan nama Allah adakah kalian mengetahui bahawa sesungguhnya `Ali adalah orang yang pertama mengharamkan segala keinginan duniawi ke atas dirinya, lantas Allah `Azza Wajalla menurunkan ayat Surah al-Maidah 5: 88-89 “Wahai orang-orang yang beriman janganlah kamu kalian mengharamkan apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan makanlah makanan yang halal lagi baik daripada apa yang Allah telah rezekikan kepada kamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepadaNya”.

Di sisinya segala jenis ilmu; ilmu mengenai hukum, kefasihan bercakap, keilmuan yang utuh dan sebab-sebab turunnya al-Qur’an.[18] Beliau adalah di kalangan kumpulan di mana kami tidak mengetahui mereka melengkapi sepuluh orang yang telah diberitahukan Allah bahawa mereka adalah Mukminin. Sedangkan kalian di kalangan kumpulan yang hampir bilangan mereka dilaknati Allah di atas lidah Rasulullah (s.`a.w.). Lantaran itu aku menjadi saksi untuk kalian dan menjadi saksi bagi menentang kalian; sesungguhnya kalian adalah orang-orang yang dilaknati Allah di atas lidah nabi-Nya.[19]

10. Aku menyeru kalian dengan nama Allah adakah kalian mengetahui bahawa sesungguhnya Rasulullah (s.`a.w.) mengutus kepada anda supaya anda menulis bagi pihaknya kepada Bani Khuzaimah ketika Khalid b. Walid melakukan angkara terhadap mereka, maka utusan itu berpaling kepadanya (Mu`awiyah) lalu berkata: Dia sedang makan. Maka utusan berpaling kepada anda sebanyak tiga kali. Dan setiap kali dia berpaling kepada anda dia berkata: Dia sedang makan. Maka Rasululullah (s.`a.w.) bersabda: ” Wahai Tuhanku, janganlah Engkau membuat perutnya terasa kenyang.” Justeru itu sabda itu adalah untuk anda dan makanan anda sehingga hari kia­mat.

11. Aku menyeru kalian dengan nama Allah adakah kalian mengeta­hui: Sesungguhnya apa yang aku perkatakan itu benar. Sesungguhnya wahai Mu`awiyah anda menarik dengan bapa anda di atas seekor unta merah diterajui oleh saudara anda yang duduk. Ini berlaku di hari al-Ahzab. Maka Rasulullah (s.`a.w.) melaknati pemandu, penunggang dan penarik. Bapa anda adalah penunggang, anda penar­ik dan saudara anda yang duduk adalah pemandu. [20]

12. Aku menyeru kalian dengan nama Allah adakah kalian mengetahui bahawa sesungguhnya Rasulullah (s.`a.w.) telah melaknati Abu Sufyan:

Pertama: Ketika beliau (s.`a.w.) keluar dari Makkah ke Madinah dan Abu Sufyan datang dari Syam. Lantas Abu Sufyan marah lalu mencacinya dan mengancamnya dan berhasrat untuk melakukan keka­saran terhadapnya tetapi Allah memalingkannya dari melaksanakan niat jahatnya.

Kedua: Hari al-`Air (keldai) di mana Abu Sufyan mengusirnya supaya ia tidak menjadi benteng kepada Rasulullah (s.`a.w.).

Ketiga: Hari Uhud di mana Rasulullah (s.`a.w.) bersabda: ” Allah adalah maula kami sedangkan anda tidak mempunyai maula.” Abu Sufyan berkata: Kami ada al-`Uzza sedangkan kalian tidak mempun­yainya. Lantaran itu Allah, para MalaikatNya, para RasulNya dan Mukminun melaknatinya.

Keempat: Hari Hunain di mana Abu Sufyan mulai mengumpulkan Qurai­sy dan Hawazin sementara `Uyainah mengumpulkan Ghatafan dan Yahudi. Lalu Allah menentang mereka dengan kemarahan mereka sendiri sehingga mereka tidak dapat mencapai kemenangan.

Ini adalah firman Allah `Azza Wajalla diturunkan di dalam dua surah kedua-duanya mengenai Abu Sufyan dan para sahabatnya sebagai kafir dan anda wahai Mu`awiyah di hari itu seorang musyr­ik menurut pendapat bapa anda di Makkah.[21] Sedangkan `Ali di hari itu bersama Rasulullah (s.`a.w.) menurut “pendapatnya” dan aga­manya.

Kelima: Firman Allah `Azza Wajalla Surah al-Fath 48: 25 “Dan merekalah orang-orang kafir yang menghalangi kamu dari (masuk) Masjid Haram dan menghalangi haiwan korban sampai ke tempat penyembelihannya”

Anda, bapa anda dan musyrikin Quraisy menghalang Rasulullah (s.`a.w.). Justeru itu Allah melaknatinya dengan laknat yang meliputinya dan zuriatnya sehingga hari kiamat.[22]

Keenam: Hari al-Ahzab di mana Abu Sufyan mengumpulkan Quraisy sementara `Uyainah b. Hasin b. Badr mengumpulkan Ghatafan. Lantas Rasulullah (s.`a.w.) melaknati pemandu, pengikut dan penarik.

Ditanya Rasulullah: Adakah di kalangan penunggang itu muk­min? Beliau bersabda: Laknat tidak akan kena mukmin dari kalan­gan penunggang (al-Atba`). Tetapi di kalangan pemandu tidak ada seorang pun daripada mereka mukmin, tidak ada seorang pun yang menyahuti seruan dan tidak seorang pun berjaya.

Ketujuh: Hari Thaniyyah, di mana Rasulullah (s.`a.w.) hampir dibunuh oleh dua belas orang lelaki. Tujuh daripada mereka dari Bani Umayyah, lima daripada semua kabilah Quraisy. Justeru itu Allah dan Rasul-Nya melaknati orang-orang yang memasuki al-Thaniyyah selain daripada Nabi (s.`a.w.). [23]

13. Aku menyeru kalian dengan nama Allah adakah kalian mengetahui sesungguhnya Abu Sufyan telah berjumpa `Uthman ketika dia dibai`ah di Masjid Rasulullah (s.`a.w.), dia berkata: Wahai anak saudaraku! Adakah pengintip ke atas kita sekarang? Dia menjawab: Tidak ada. Maka Abu Sufyan berkata: Pusingkanlah jawatan khali­fah wahai pemuda-pemuda Bani Umayyah. Demi orang yang di mana diri Abu Sufyan di tanganNya, tidak ada syurga dan neraka?[24]

14. Aku menyeru kalian dengan nama Allah adakah kalian mengetahui bahawa sesungguhnya Abu Sufyan memegang tangan Husain ketika `Uthman dibai`ah dan berkata: Wahai anak saudaraku, marilah keluar bersama-samaku ke kubur Baqi`. Lalu beliau pun keluar bersamanya sehinggalah sampai di pertengahan kubur, dia menendang kubur itu dan melaung dengan sekuat-kuatnya: Wahai penghuni kubur! Perkara di mana kalian memerangi kami kerananya sekarang ia berada di tangan kami sedangkan kalian telah menjadi reput. Lantas Husain b. `Ali A.S berkata: Allah menjadikan uban anda sehodoh-hodohnya dan Dia menjadikan muka anda sehodoh-hodohnya. Kemudian beliau melepaskan tangannya lalu meninggalkannya keseor­angan. Sekiranya al-Nu`man b. Basyir tidak memimpin tangannya (Abu Sufyan) dan mengembalikannya ke Madinah, nescaya dia mati di situ.

Ini adalah untuk anda wahai Mu`awiyah. Adakah anda mampu menolak hujah kami dan hujah orang yang anda telah melaknatinya bahawa sesungguhnya bapa anda Abu Sufyan berhasrat untuk menjadi Muslim, tetapi anda telah mengutuskan kepadanya sebuah bait syair yang menonjolkan kelebihan Quraisy dan lain-lain. Justeru itu anda telah menghalangnya dari menerima Islam dan anda telah menghalangnya.[25]

Di antaranya `Umar b. al-Khattab telah melantik anda menjadi wali (gabenor) di Syam, tetapi anda mengkhianatinya. Kemudian `Uthman melantik anda menjadi wali, tetapi anda hanya menunggu saat kehancurannya. Kemudian lebih daripada itu anda beramai-ramai menentang Allah dan RasulNya. Sesungguhnya anda telah memerangi `Ali A.S sedangkan anda telah mengenalinya sebagai orang yang pertama memeluk Islam, kelebihannya, keilmuannya di dalam segala urusan.[26]

Malah beliau lebih layak daripada anda dan selain daripada anda di sisi Allah dan RasulNya. Anda telah menegahnya dan membuat orang ramai di dalam kesamaran. Anda telah mengalirkan darah makhluk Allah dengan tipudaya dan kelicikan anda. Perbuatan orang yang tidak beriman dengan hari akhirat dan tidak takutkan pembalasan. Malah apabila sampai ajal, anda akan ber­pindah ke tempat yang paling celaka sedangkan `Ali ke tempat yang paling baik. Dan Allah pasti menunggu anda.[27] Ini adalah khusus untuk anda wahai Mu`awiyah. Adapun keai­ban-keaiban anda yang lain aku tidak mahu menyebutkannya kerana aku tidak mahu memanjangkan perkara ini.

Adapun anda wahai `Amru b. `Uthman, jawapanku terhadap anda tidak akan mencapai maksudnya disebabkan kebodohan anda. Sekir­anya anda mengikuti perkara-perkara tersebut, anda akan mengeta­hui bahawa anda sepertilah nyamuk manakala ia berkata kepada lebah: Berpeganglah sekuat-kuatnya kerana aku ingin turun di atas anda. Lalu lebah menjawab: Aku tidak pun menyedari kejatuhan anda di atasku. Bagaimana turunnya anda ke atasku akan menyulit­kanku? Demi Allah sesungguhnya aku tidak merasai bahawa anda secara terang memusuhiku sehingga ia menyulitkanku. Dan aku akan memberi jawapan kepada kata-kata anda: Adakah cacian anda terha­dap `Ali A.S. akan mengurangkan kemuliaannya atau menjauhkannya daripada Rasulullah (s.`a.w.)? Atau ujiannya itu mencacatkan Islam, atau tidak ada keadilan di dalam hukum? Atau cintakan dunia? Sekiranya anda menjawab salah satu daripada soalan-soalan tersebut, maka sesungguhnya anda telah berbohong.

Adapun kata-kata anda: Sesungguhnya bagi kalian pada kami sembilan belas hutang darah musyrikin Bani Umayyah di dalam peperangan Badr, jawapanku bahawa Allah dan Rasul-Nya telah membunuh mereka semua.

Mudah-mudahan kamu akan membunuh di kalangan Bani Hasyim sembilan belas, dan tiga selepas sembilan belas kemudian dibunuh di kalangan Bani Umayyah sembilan belas. Sembilan belas sekaligus selain apa yang telah dibunuh di kalangan Bani Umayyah di mana bilangan mereka sebenar tidak diketahui melainkan Allah. Sesungguhnya Rasulullah (s.`a.w.) bersabda: “Apabila sampai Bani Umayyah tiga puluh orang lelaki, mereka membahagi-bahagikan harta Allah di kalangan mereka. Mengambil hamba-hambaNya sebagai milik, kitabNya sebagai lambang semata-mata. Apabila mereka meningkat tiga ratus sepuluh orang, mereka berhak dilaknati. Dan apabila mereka meningkat kepada empat ratus tujuh puluh lima, kebinasaan mereka lebih cepat daripada mengunyah sebiji kurma”. Begitu juga Hakam b. Abi al-`As termasuk di dalam firman dan hadis itu juga. Rasulullah (s.`a.w.) bersabda: Rendahlah suara kalian kerana Bani Umayyah sedang mendengar.

Hal demikian itu berlaku manakala Rasulullah (s.`a.w.) melhat mereka di dalam mimpinya, begitu juga orang-orang yang memiliki urusan khalifah selepasnya. Ia meresahkan Rasulullah (s.`a.w.). Lalu Allah `Azza Wajalla berfirman maksudnya “Dan Kami tidak menjadikan mimpi yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia dan (begitu pula) pohon kayu yang terkutuk dalam al-Qur’an” (Surah al-Isra’ 17: 60) iaitu Bani Umayyah. Allah juga berfirman “Malam al-Qadar (kemuliaan) itu lebih baik dari seribu bulan” (Surah al-Qadar 97: 3). Aku menja­di saksi untuk kalian dan ke atas kalian bahawa kekuasaan kalian selepas pembunuhan `Ali hanya seribu bulan yang telah ditetapkan oleh Allah `Azza Wajalla di dalam kitabNya.

Adapun anda wahai `Amru b. al-`As yang dilaknati Allah, sesungguhnya anda adalah anjing (ganas). Ibu anda adalah perem­puan jahat. Anda dilahirkan di atas “hamparan” yang dikongsikan oleh beberapa lelaki Quraisy seperti Abu Sufyan b. al-Harb, al-Walid b. Mughirah, `Uthman b. al-Harth, al-Nadar b. Kaldah dan al-`As b. Wa’il. Setiap mereka menyangka bahawa anda adalah anak lelakinya. Kemudian seorang yang paling jahat daripada mereka mendapat kemenangan di atas anda.[28]

Kemudian anda berkhutbah di dalam keadaan berdiri: Aku membenci Muhammad. Al-`As b. Wa’il berkata: Sesungguhnya Muham­mad adalah seorang lelaki yang terputus keturunannya. Sekiranya beliau mati nescaya terputuslah keturunannya. Lantas Allah S.W.T. menurunkan ayat Surah al-Kauthar 108: 3 “Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus”.

Ibu anda pernah datang menawarkan dirinya kepada Bani `Abd Qais supaya menidurinya (bughyah), dia mendatangi mereka menurut giliran mereka sama ada di dalam perjalanan ataupun di wadi-wadi mereka. Kemudian anda pada setiap tempat dipersaksikan oleh Rasulullah (s.`a.w.) sebagai musuh yang paling kuat menentangnya dan yang paling pembohong. Kemudian anda adalah di antara penum­pang-penumpang bahtera; orang-orang yang mendatangi Raja Najjasyi bagi membunuh Ja`far b. Abu Talib dan orang-orang Muhajirin lain memohon perlindungan Raja Najjasyi. Tetapi tipudaya tersebut terserlah dan membuat datuk anda berada di bawah (gagal) dan menghancurkan niat jahatnya serta usaha anda yang sia-sia. Dia telah menjadikan kalimah orang-orang kafir di bawah dan kalimah Allah di atas.[29]

Adapun kata-kata anda tentang `Uthman, maka anda yang tidak mempunyai sifat malu dan keagamaan, anda telah menyalakan api ke atasnya. Kemudian anda telah melarikan diri ke Palestin semata-mata kerana menunggu giliran. Manakala berita pembunuhannya sampai, anda telah menawarkan diri anda kepada Mu`awiyah. Lantas anda menjual agama anda kepadanya dengan dunia orang lain wahai si jahat. Kami tidak mencela anda kerana memarahi kami dan kami tidak juga mengkritik anda kerana cintakan kami. Anda adalah musuh Bani Hasyim pada masa Jahiliyah dan Islam.

Sesungguhnya anda telah menghina Rasulullah (s.`a.w.) di dalam tujuh puluh bait syair. Justeru itu Rasulullah (s.`a.w.) bersabda: “Wahai Tuhanku sesungguhnya aku tidak pandai bersyair, lantaran itu aku tidak patut menjawabnya oleh itu wahai Tuhanku laknatilah `Amru b. al-`As pada setiap bait syair seribu laknat”.[30]

Kemudian anda wahai `Amru, anda lebih mencintai dunia anda daripada agama anda. Anda telah mengadap Raja Najjasyi dan memberi hadiah kepadanya semasa lawatan anda pada kali pertama dan kedua. Tetapi kesemuanya menemui jalan buntu. Hasrat anda adalah supaya Ja`far dan para sahabatnya dibunuh. Manakala Raja Najjasyi menyalahkan anda mengenainya, lantas anda menghalalkan darah sahabat anda `Ammarah b. al-Walid.[31]

Adapun anda wahai Walid b. `Uqbah, demi Allah, aku tidak mencela anda memarahi `Ali kerana beliau telah menyebat anda lapan puluh kali sebat.[32]

Dan beliau telah membunuh bapa anda tanpa bertarung di hari Badr. Atau bagaimana anda mencacinya sedangkan Allah telah menamakannya mukmin di dalam sepuluh ayat al-Qur’an. Dan Dia telah menamakan anda fasiq sebagaimana fir­manNya dalam Surah al-Sajdah 32: 18 “Maka apakah orang yang beriman seperti orang yang fasiq? Mereka tidak sama”. Dan firmanNya dalam Surah al-Hujurat 49: 6 “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasiq membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan sesuatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menye­babkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”.

Adapun anda dan sebutan anda sebagai Quraisy pada hakikatnya anda bukanlah Quraisy, malah anda adalah anak lelaki kepada seorang yang tidak mengetahui budi bahasa dari keluarga Safuriyah bernama Zakwan.

Adapun sangkaan anda bahawa kami telah membunuh `Uthman, demi Allah, Talhah, Zubair dan `Aisyah sendiri tidak mampu untuk mengaitkannya dengan `Ali b. Abu Talib.[33]

Bagaimana anda sanggup berkata sedemikian rupa? Sekiranya anda bertanya ibu anda siapa­kah bapa anda ketika dia meninggalkan Zakwan, lalu dia mengaitkan anda dengan `Uqbah b. Abu Mu`it, nescaya dia merasa angkuh dan bermegah dengan apa yang dia lakukan. Sedangkan Allah telah menyediakan bagi anda, bapa anda dan ibu anda kehinaan dan me­nanggung malu di dunia dan di akhirat. Allah tidak akan menza­limi hamba-hambaNya.[34]

Kemudian anda wahai Walid! Allah lebih besar dari orang yang anda kaitkan namanya. Bagaimana anda mencaci `Ali kerana sekiranya anda bekerja keras nescaya anda dapat mempastikan nasab anda kepada bapa anda yang sebenar dan bukan kepada orang yang dikaitkan namanya dengan anda. Kerana ibu anda sendiri telah mengatakan: Wahai anakku, bapa anda adalah lebih celaka dan jahat daripada `Uqbah.

Adapun anda `Utbah b. Abu Sufyan; Demi Allah anda bukanlah cekap sehingga aku memberi jawapan kepada anda, tidak pula bera­kal sehingga aku mendera anda, kerana tidak ada di sisi anda kebaikan yang diharapkan sekiranya anda mencaci `Ali, tidak ada keaiban baginya terhadap anda. Kerana anda di sisiku tidaklah setanding dengan seorang hamba `Ali b. Abu Talib sehingga aku memberi jawapan kepada anda dan mencela anda, tetapi Allah `Azza Wajalla sedang menunggu anda, bapa anda, ibu anda dan saudara anda. Anda adalah dari zuriat datuk-datuk anda yang disebutkan di dalam al-Qur’an, maka Dia berfirman di dalam Surah al-Ghasyiah 88: 3-5 “Bekerja keras lagi kepayahan (nasibah), memasuki api yang sangat panas, diberi minum (dengan air) dari sumber yang sangat panas”.

Adapun ancaman anda untuk membunuhku, kenapa anda tidak membunuh orang yang anda mendapatinya di atas hamparan anda bersama isteri anda. Dia telah mengalahkan anda bagi menguasai kemaluannya (farajnya) dan dia berkongsi dengan anda pula bagi mendapatkan anaknya sehingga dia mengaitkan anak lelaki tersebut dengan anda sedangkan ia bukanlah anak lelaki anda. Celakalah anda! Jikalaulah anda bekerja keras bagi membalas dendam terha­dapnya adalah lebih wajar kerana ia merupakan suatu kebebasan, kerana anda mengancam untuk membunuhku, tetapi aku tidak mencela anda mencaci `Ali kerana beliau telah membunuh saudara anda secara bertarung. Beliau dan Hamzah b. `Abdu l-Muttalib telah berkongsi di dalam pembunuhan datuk anda, sehingga Allah membakar mereka berdua dengan api neraka dan merasakan mereka berdua dengan azab yang pedih. Dan beliaulah yang mengusir bapa saudara anda sebelah ibu dengan perintah Rasulullah (s.`a.w.).

Adapun harapanku untuk menjadi khalifah, demi Allah sekira-nya aku mengharapkannya adalah kerana aku berhak menuntutnya. Sedangkan anda tidak setanding dengan saudara anda dan tingkah laku bapa anda. Kerana saudara anda lebih kuat menentang Allah S.W.T. dan paling kuat tuntutannya bagi mengalirkan darah Muslim­in. Dia juga menuntut apa yang dia tidak layak untuknya dengan menipu orang ramai. Justeru itu Allah memusnahkan tipu dayanya, dan Allah sebaik-baik orang yang mendedahkan tipu daya mereka.

Adapun kata-kata anda: Sesungguhnya `Ali adalah sejahat jahat Quraisy untuk Quraisy. Demi Allah, beliau tidak hina sehingga memerlukan kasihan belas, dan beliau tidak dibunuh secara zalim.

Adapun anda wahai Mughirah b. Syu`bah! Sesungguhnya anda adalah musuh Allah, meninggalkan kitabNya, pembohong terhadap nabi-Nya.[35]

Anda adalah penzina dan wajib dilaksanakan hukum rejam ke atas anda, kerana orang-orang yang adil dan baik menjadi saksi terhadap anda. Tetapi rejam anda ditangguhkan lantas kebenaran ditolak dengan kebatilan dan kebenaran dengan kekerasan.[36]

Justeru itu Allah menyediakan untuk anda azab yang pedih. Kehinaan di dalam kehidupan dunia dan azab di akhirat adalah lebih hina. Andalah orang yang telah memukul Fatimah binti Rasulullah (s.`a.w.) sehingga terkeluar darahnya dan “tergugur” kandungannya kerana anda menghina Rasulullah (s.`a.w.) dan menya­lahi perintahnya “mencabuli” kemuliaan anak perempuannya kerana Rasulullah (s.`a.w.) bersabda kepadanya: “Wahai Fatimah! Andalah penghulu wanita syurga”.[37]

Dan Allah akan memasukkan anda ke neraka dan anda akan menerima akibat dari kata-kata anda sendiri. Mana satukah di kalangan tiga perkara anda telah mencaci `Ali, adakah kekurangannya pada keturunannya? Atau jauhnya daripada Rasulullah (s.`a.w.)? Atau membawa bencana pada Islam atau kezaliman di dalam hukuman, atau cinta kerana dunia? Sekiranya anda berpendapat sedemikian maka sesungguhnya anda berbohong dan orang ramai akan membohongi anda pula.

Adakah anda menyangka bahawa `Ali A.S. telah membunuh `Uthman secara zalim?! `Ali, demi Allah orang yang paling ber­takwa dan orang yang paling bersih daripada orang yang mencelanya mengenai perkara tersebut. Sekiranya `Ali telah membunuh `Uthman secara zalim, demi Allah anda bukanlah ada kaitan dengannya. Di masa hidupnya anda tidak pernah membantunya dan pada masa matinya anda tidak menerima pusaka daripadanya. Anda masih mengelilingi rumah anda mengejar wanita-wanita jahat, anda menghidupkan amalan jahiliyah, anda mematikan Islam sepertilah di masa lalu.

Adapun penentangan anda terhadap Bani Hasyim dan Bani Umayyah adalah dakyah anda untuk Mu`awiyah.

Adapun pendapat anda mengenai pemerintahan dan pendapat para sahabat anda tentang kerajaan (al-Mulk) yang anda miliki, ia adalah seperti Fir`aun yang telah memerintah Mesir selama empat ratus tahun sedangkan Musa dan Harun adalah nabi yang diutuskan menghadapi penderitaan. Ia adalah milik Allah. Dia memberi­kannya kepada orang yang baik dan jahat. Allah berfirman dalam Surah al-Anbiya’ 21: 111 “Dan aku tidak mengetahui boleh jadi hal itu cubaan bagi kamu dan kesenangan sampai kepada suatu waktu sahaja”. Dan firmanNya dalam Surah al-Isra’ 17: 16 “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaa­ti Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya”.

Kemudian Hasan pun berdiri dan menyingkatkan kainnya sambil membaca Surah al-Nur 24: 26: ” Wanita-wanita yang keji bagi lelaki yang keji dan lelaki yang keji bagi wanita-wanita yang keji.” Mereka wahai Mu`awiyah, demi Allah, adalah anda para sahabat anda dan pengikut-pengikut anda (Syi`ah anda).

Dan lelaki yang baik adalah bagi wanita-wanita yang baik. Mereka itulah bersih daripada tuduhan yang dilemparkan ke atas mereka. Bagi mereka pengampunan dan rezeki yang mulia. Mereka adalah `Ali b. Abi Talib A.S, para sahabatnya dan pengikut-pengi­kutnya (Syi`ahnya).

Kemudian beliau keluar sambil berkata kepada Mu`awiyah: Rasailah akibat apa yang telah dilakukan oleh tangan anda. Se­sungguhnya Allah telah menyediakan bagi anda dan mereka kehinaan di dalam kehidupan dunia dan azab yang pedih di akhirat.

Mu`awiyah berkata kepada para sahabatnya: Rasailah kalian akibat apa yang anda telah lakukannya. Al-Walid b. `Uqbah berkata: Demi Allah, kami tidak merasai melainkan sebagaimana anda merasainya dan kami tidak berani melainkan menentang anda.

Mu`awiyah berkata: Tidakkah aku telah berkata kepada kalian sesungguhnya kalian tidak akan dapat menghina lelaki itu (Hasan). Sekiranya kalian mentaatiku semenjak awal lagi, nescaya kalian beroleh kemenangan menentang lelaki ini apabila beliau mendedah­kan keburukan kalian. Demi Allah, beliau tidak berdiri sehingga beliau menyiksaku seisi rumah. Dan aku bercita-cita untuk men­yerangnya. Lantaran itu tidak ada kebaikan di hari ini dan sele­pasnya.[38]

Dia berkata: Marwan b. Hakam mendengar tentang perjumpaan Mu`awiyah dan para sahabatnya dengan Hasan b. `Ali A.S. Lalu dia datang berjumpa mereka di sisi Mu`awiyah dan bertanya mereka. Apakah (benar) apa yang telah sampai kepadaku tentang Hasan dan

kemarahannya?

Dia menjawab: Beliau (Hassan) memanglah begitu. Marwan berkata kepada mereka: Kenapa kalian tidak menjemputku bersama? Demi Allah, aku akan mencacinya, aku akan mencaci bapanya, Ahlu l-Baitnya dengan cacian sehingga hamba-hamba lelaki dan perempuan aku berpesta dengan penuh kegembiraan.

Hasan berkata: Adapun anda wahai Marwan, bukan aku yang mencaci anda dan bapa anda, tetapi Allah `Azza Wajalla telah melaknati anda, bapa anda, keluarga anda, zuriat anda dan zuriat yang keluar dari keturunan bapa anda sehingga hari kiamat di atas lidah nabiNya Muhammad. Demi Allah, wahai Marwan, anda tidak akan mengingkarinya, begitu juga orang yang datang di dalam majlis ini kerana laknat ini adalah daripada Rasulullah (s.`a.w.) untuk anda dan bapa anda sebelum anda.[39] Allah tidak akan menam­bahkan kepada anda apa yang menakutkan anda melainkan kezaliman yang besar. Memang benar Allah dan rasulNya dan Dia berfirman dalam Surah al-Isra’ 17: 60 “Dan pohon kayu yang terkutuk dalam al-Qur’an, dan Kami menakuti mereka tetapi yang demikian itu hanyalah menambah besar kedurhakaan mereka”.

Anda Wahai Marwan dan zuriat anda merupakan pohon yang dilaknati Allah di dalam al-Qur’an. Demikian itu adalah daripada Rasulullah (s.`a.w.) daripada Jibra`il daripada Allah `Azza Wajalla.[40]

Mu`awiyah melompat, lalu meletakkan tangannya di mulut Hasan seraya berkata: Wahai Abu Muhammad! Aku bukanlah jahat dan ganas.Lalu Hasan A.S membersihkan kainnya, kemudian beliau berdiri dan keluar. Mereka juga keluar dari majlis itu dengan kemarahan dan dukacita serta dengan muka hitam di dunia dan akhirat.

Sebenarnya tuntutan Hasan b. `Ali A.S terhadap Imamah/Khila­fah adalah berdasarkan nas daripada datuknya Rasulullah (s.`a.w.) Beliau begitu yakin bahawa hak Imamah/Khilafah selepas Rasulullah (s.`a.w.) adalah hak `Ali dan kemudian haknya dan seterusnya. Apatah lagi Mu`awiyah b. Abu Sufyan telah menentang bapanya `Ali A.S sebagai imam/khalifah di masa itu secara kekerasan.

Beberapa bulan selepas kewafatan bapanya, beliau telah mengambil alih jawatan khalifah, kemudian beliau pula terpaksa berdamai dengan Mu`awiyah. Perdamaian beliau dengan Mu`awiyah telah ditentang oleh kebanyakan Syi`ahnya sendiri. Namun begitu beliau terpaksa melakukannya demi menjaga dirinya, Ahl al-Baitnya dan Syi`ahnya. Beliau berkata: Demi Allah sekiranya perdamaianku dengan Mu`awiyah berlaku, nescaya aku dapat menjaga darahku dan menyelamatkan keluargaku, maka ia adalah lebih baik daripada mereka membunuhku. Lantaran itu keluargaku akan dibunuh. Demi Allah sekiranya aku memerangi Mu`awiyah, nescaya mereka memotong tengkukku dan membawanya kepada Mu`awiyah. Demi Allah sekiranya aku berdamai dengannya dalam keadaan aku mulia lebih baik dari dia membunuhku dalam keadaan aku menjadi tawanan.[41]

Kemudian Hasan terus mempertahankan tindakannya, beliau berkata: Demi Allah, aku tidak menyerahkan jawatan khalifah kepadanya melainkan selepas aku dapati tiada pembantu untukku. Sekir­anya aku mendapati pembantu-pembantu, nescaya aku memeranginya malam dan siang sehingga Allah menghukum di antara aku dan dia, tetapi aku mengetahui sikap penduduk-penduduk Kufah dan ujian mereka. Orang yang fasiq tidak sesuai untukku kerana mereka tidak mempunyai kesetiaan, tidak ada tanggungjawab sama ada dari segi kata-kata dan perbuatan. Mereka berselisih di kalangan mereka dan berkata: Sesungguhnya hati kami bersama anda tetapi pedang-pedang mereka ditujukan kepada kami.[42]

Oleh itu perdamaian yang dilakukan oleh Hasan adalah kerana terpaksa, tanpa pembantu-pembantu. Walau bagaimanapun beliau tidak berpuas hati terhadap sikap penduduk Kufah yang pengecut untuk berjuang bersamanya menentang Mu`awiyah.

Walau bagaimanapun caci mencaci secara serius telah berlaku di antara Hasan dan Mu`awiyah serta rakan-rakannya tentang Ima­mah/Khilafah. Mu`awiyah bukan sahaja mencaci Hasan malah dia mencaci `Ali b. Abi Talib dengan cacian yang melulu dan penuh dengan fitnah. Hasan menjawabnya dengan hujah yang mantap se­hingga dapat menundukkan mereka semua, kerana jawapan Hasan kepada mereka bukanlah merupakan cacian atau cercaan kerana ia adalah suatu hakikat yang sukar ditolak di mana mereka sendiri mengakuinya. Lantaran itu ia patut dibezakan di antara mencaci, mencerca, mencela dan menerangkan hakikat sesuatu. Apatah lagi jika ia berdasarkan kepada nas. `Ali berkata: Jika seseorang itu memberitahu hal atau keadaan seseorang tertentu menyalahi nas al-Qur’an dan Sunnah Nabi (s.`a.w.) adalah lebih wajar dan tidak boleh dikatakan pencaci.[43]

Walau bagaimanapun Mu`awiyah dan pemerintah Bani Umayyah selepasnya terus mencaci `Ali di atas mimbar masjid selama 70 tahun. Hanya semasa pemerintahan `Umar b. `Abd al-`Aziz ia dihentikan.[44] Kemudian ia diteruskan kembali oleh pemerintah Bani Umayyah yang lain.

LIHAT :

[1] Al-Tabarsi, Abu `Ali al-Fadil b. al-Hasan, al-Ihtijaj, Beirut 1403 H., I, hlm. 269-279.

[2] Sibt Ibn al-Jauzi, Tadhkirah al-Khawwas , Tunis 1972 M., hlm. 200.

[3] Sibt Ibn al-Jauzi, Tadhkirah al-Khawwas, hlm. 200; al-Turmudhi, Abu `Isa Muhammad b. `Isa b. Sawrah, Sunan al-Turmudhi, V, hlm. 642; al-Tabari, Abu Ja`far Muhammad b. Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Cairo 1956 M., II, hlm. 310.

[4] Ibid.

[5] Al-Bukhari, Abu `Abdullah Muhammad b. Ismail, Sahih Bukhari, Cairo 1348 H., III, hlm. 46; Al-Hakim al-Nisaburi, Muhammad b. `Abdullah, al-Mustadrak `ala al-Sahihain fi al-Hadith, Cairo, 1969 M., III, hlm. 37; al-Dhahabi, Abu `Abdullah Muhammad b. Ahmad b. `Uthman, al-Talkhis, Hyderabad, 1958 M., III, hlm. 37 dan lain-lain.

[6] Al-Khawarizmi, al-Manaqib, Cairo 1340 H., hlm. 232; Ibn Hajr al-`Asqalani, Lisan al-Mizan, VI, hlm. 237; al-Qunduzi al-Hanafi, Sulayman b. Ibrahim, Yanabi` al-Mawaddah fi Syama`il al-Nabi wa Fada`il Amir al-Mu’minin `Ali, Iran 1385 H., hlm. 132.

[7] Al-Khawarizmi, ibid., hlm. 148.

[8] Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi` al-Mawaddah, hlm. 81

[9] Sibt Ibn al-Jauzi, Tadhkirah al-Khawwas, hlm. 200-201.

[10] Al-Qunduri al-Hanafi, Yanabi’ al-Mawaddah, hlm. 112.

[11] Al-Wahidi, Asbab al-Nuzul, Cairo 1957 M., I, hlm. 422; al-Zamakhsyari, Abu al-Qasim Mahmud b. `Umar, al-Kasysyaf `an Haqa`iq Ghawamid al-Tanzil wa `Uyun al-Aqawil fi Wujuh al-Ta`wil, Cairo t.t., I, hlm. 422; al-Syablanji, Mu`min b. Hasan Mu`min, Nur al-Absar fi Manaqib al-Bayt al-Nabi al-Mukhtar (s.`a.w.), Cairo 1367 H., hlm. 105; al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-`Ummal, VI, hlm. 117.

[12] Muslim, Abu al-Husayn Muslim b. Hajjaj, Sahih Muslim, Cairo, 1311 H., II, hlm. 238; Ahmad b. Hanbal, al-Musnad, III, hlm. 17, 26, 59; IV, hlm. 367; al-Turmudhi, Sahih, II, hlm. 308.

[13]Ibn Hajr al-`Asqalani, Abu al-Fadl Ahmad b. `Ali b. Muhammad b. Muhammad, Tahdhib al-Tahdhib, Hyderabad 1327 H., XI, hlm.445; al-Kanji al-Syafi`i, Kifayah al-Talib, Tehran 1404 H., hlm. 116-117.

[14] Al-Khawarizmi, al-Manaqib, hlm. 143.

[15] Al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-`Ummal, VI, hlm. 408; al-Khatib al-Baghdadi, Tarikh Baghdad, Baghdad 1950 M., XII, hlm. 397; al-Kanji al-Syafi`i, Kifayah al-Talib, hlm. 273.

[16] Al-Hakim, al-Mustadrak, II, hlm. 343; al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi` al-Mawaddah, hlm. 27.

[17] Al-Zamakhsyari, al-Kasysyaf, I, hlm. 422; al-Syablanji, Nur al-Absar, hlm. 105.

[18] Abu Nu`aim al-Asfahani, Hilyah al-Auliya’ wa Tabaqat al-Asfiya’, Cairo 1956 M., I, hlm. 67; al-Kanji al-Syafi`i, Kifayah al-Talib, hlm. 208-9.

[19] Al-Syablanji, Nur al-Absar, hlm. 89; al-Kanji al-Syafi`i, Kifayah al-Talib, hlm. 172-174.

[20] Ibn al-Athir, `Izz al-Din Abu Hasan `Ali b. Muhammad b. `Abd al-Kasim al-Jazari, Usd al-Ghabah fi Ma`rifah al-Sahabah, Baghdad 1349 H., IV, hlm. 385; Sibt Ibn al-Jauzi, Tadhkirah al-Khawwas, hlm. 201.

[21] Al-Tabari, Tarikh, XI, hlm. 357; Nasr b. Mazahim, Kitab al-Siffin, Baghdad 1950 M., hlm. 247.

[22] Lihat umpamanya, al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-`Ummal, VI, hlm.91.

[23] Sibt Ibn al-Jauzi, Tadhkirah al-Khawwas, hlm. 201-202.

[24] Lihat umpamanya, al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-`Ummal, VI, hlm.91-93; al-Hakim, al-Mustadrak, IV, hlm. 480.

[25] Ibn Abi al-Hadid, `Izz al-Din Abu Hamid `Abd al-Hamid b. Abi al-Husayn Hibat Allah, Syarh Nahj al-Balaghah, Cairo 1959 M., II, hlm. 102.

[26] Al-Kanji al-Syafi`i, Kifayah al-Talib, hlm. 172-173.

[27] Sibt Ibn al-Jauzi, Tadhkirah al-Khawwas, hlm. 200.

[28] Sibt Ibn al-Jauzi, Tadhkirah al-Khawwas, hlm. 204-205.

[29] Sibt Ibn al-Jauzi, Tadhkirah al-Khawwas, hlm. 186.

[30] Al-Haithami, Nur al-Din `Ali b. Abi Bakr, al-Majma` al-Zawa`id, Tunis 1375 H., VII, hlm. 348-350.

[31] Sibt Ibn al-Jauzi, Tadhkirah al-Khawwas, hlm. 186-187.

[32] Ibn al-Athir, Usd al-Ghabah, IV, hlm. 408.

[33] Ibn Qutaibah, Abu Muhammad `Abdullah b. Muslim, al-Imamah wa al-Siyasah, Cairo 1332 H., I, hlm. 84.

[34] Al-Haithami, al-Majma`, VII, hlm. 247-250.

[35] Al-Haithami, al-Majma`, VII, hlm. 247-250.

[36] Ibn Hajr al-`Asqalani, Abu al-Fadl Ahmad b. `Ali b. Muhammad b. Muhammad, al-Isabah fi Ma`rifah al-Sahabah, Baghdad 1345, H., III, hlm. 452; Ibn al-Athir, Usd al-Ghabah, IV, hlm. 407; al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-`Ummal, III, hlm. 88.

[37] Ahmad b. Hanbal, al-Musnad, I, hlm. 293; al-Turmudhi, Sahih, VI, hlm. 301.

[38] Sibt Ibn al-Jauzi, Tadhkirah al-Khawwas, hlm. 200.

[39] Al-Tabari, Tafsir, Cairo 1952 M., XXX, hlm. 167; al-Hakim, al-Mustadrak, III, hlm. 170; Sibt Ibn al-Jauzi, Tadhkirah al-Khawwas, hlm. 209.

[40] Al-Turmudhi, Sahih, II, hlm. 120; al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-`Ummal, I, hlm. 252; Sibt Ibn al-Jauzi, Tadhkirah al-Khawwas, hlm. 209.

[41] Al-`Allamah al-Tabarsi, al-Ihtijaj, II, hlm. 290.

[42] Ibid., hlm. 291.

[43] Syarif al-Radhi, Abu Hasan Muhammad b. al-Hasan al-Musawi, Nahj al-Balaghah, Baghdad 1364 H., hlm. 323.

[44] Al-Suyuti, Jalal al-Din `Abd al-Rahman b. Abu Bakr, Tarikh al-Khulafa’, Cairo 1963 M., hlm. 243.

Nabi saw Menangisi Ali as

Hijrah ke Madinah

Tepat pada saat orang-orang kafir Qureiys selesai mempersiapkan komplotan terror untuk membunuh Rasul Allah Saww Madinah telah siap menerima kedatangan beliau. Nabi Muhammad saaw meninggalkan kota Makkah secara diam-diam di tengah kegelapan malam. Beliau bersama Abu Bakar meninggalkan kampung halaman, keluarga tercinta dan sanak famili. Beliau berhijrah, seperti dahulu pernah juga dilakukan Nabi Ibrahim as. dan Musa a.s.

Di antara orang-orang yang ditinggalkan Nabi Muhammad s.a.w. termasuk puteri kesayangan beliau, Syd.Fatimah (sa) dan putera paman beliau yang diasuh dengan kasih sayang sejak kecil, yaitu Imam Ali (sa) yang selama ini menjadi yg paling terpercaya bg beliau Saww.

Imam Ali (sa) sengaja ditinggalkan oleh Nabi Muhammad untuk melaksanakan tugas khusus:
berbaring di tempat tidur beliau, guna mengelabui mata komplotan Qureiys yang siap hendak membunuh beliau. Sebelum Imam Ali (sa) melaksanakan tugas tersebut, ia dipesan oleh Nabi Muhammad s.a.w. agar barang-barang amanat yang ada pada beliau dikembalikan kepada pemiliknya masing-masing. Setelah itu bersama semua anggota keluarga Rasul Allah saww untuk segera menyusul berhijrah.

Malam ketika Ali as tidur menggantikan Nabi Saww adalah malam yang diabadika Al Qur’an ,dimana Allah Swt membanggakan pengorbanan Ali (sa) kepada para malaikatNYA,bahkan Jibril dan Mikali turun menjaga Imam Ali (sa) serta mengucap selamat bagi beliau (sa)

setelah menunaikan semua amanat Nabi sawww Imam Al i( sa) membeli seekor unta untuk kendaraan bagi wanita yang akan berangkat hijrah bersama-sama. Rombongan hijrah yang menyusul perjalanan Rasul Allah s.a.w. terdiri dari keluarga Bani Hasyim dan dipimpin sendiri oleh Imam Ali (sa0. Di dalam rombongan ini termasuk Sitti Fatimah (sa) Fatimah binti Asad bin Hasyim (ibu Imam Ali r.a.), Fatimah binti Zubair bin Abdul Mutthalib dan Fatimah binti Hamzah bin Abdul Mutthalib. Aiman dan Abu Waqid Al Laitsiy, ikut bergabung dalam rombongan.

Rombongan Hijrah ini berangkat dalam keadaan terburu-buru tanpa persiapan yang memadai , dan Perjalanan ini tidak dilakukan secara diam-diam.

Dalam perjalanan Abu Waqid berjalan cepat-cepat menuntun unta yang dikendarai para wanita, agar jangan terkejar oleh orang-orang kafir Qureiys. Mengetahui hal itu, Imam Ali (sa). segera memperingatkan Abu Waqid, supaya berjalan perlahan-lahan, karena semua penumpangnya wanita. Rombongan berjalan melewati padang pasir di bawah sengatan terik matahari.

Imam Ali (sa), sebagai pemimpin rombongan, berangkat dengan semangat yang tinggi. Beliau siap menghadapi segala kemungkinan yang bakal dilakukan orang-orang kafir Qureiys terhadap rombongan. Ia bertekad hendak mematahkan moril dan kecongkakan mereka. Untuk itu IA (SA) SANGAT SIAP Melakukan perlawanan tiap saat.

Mendengar rombongan Imam Ali sa berangkat, orang-orang Qureiys sangat penasaran. Lebih-lebih karena rombongan Imam Ali sa BERANI meninggalkan Makkah secara TERANG-TERANGAN di siang hari. Orang-orang Qureiys menganggap bahwa keberanian Imam Ali sa yang semacam itu sebagai tantangan terhadap mereka.

Orang-orang Qureiys cepat-cepat mengirim delapan orang anggota pasukan berkuda untuk mengejar Imam Ali sa dan rombongan. Pasukan itu ditugaskan menangkapnya hidup-hidup atau mati.

Delapan orang Qureiys itu, di sebuah tempat bernama Dhajnan berhasil mendekati rombongan Imam Ali sa

Setelah Imam Ali sa mengetahui datangnya pasukan berkuda Qureiys, ia segera memerintahkan dua orang lelaki anggota rombongan agar menjauhkan unta dan menambatnya. Ia sendiri kemudian menghampiri para wanita guna membantu menurunkan mereka dari punggung unta.

Seterusnya ia MAJU seorang diri menghadapi gerombolan Qureisy dengan pedang terhunus. Rupanya Imam Ali sa hendak berbicara dengan bahasa yang dimengerti oleh mereka. Ia tahu benar bagaimana cara menundukkan mereka.

Melihat Imam Ali sa mendekati mereka, gerombolan Qureiys itu berteriak-teriak menusuk perasaan:

“Hai penipu, apakah kaukira akan dapat menyelamatkan perempuan-perempuan itu? Ayo, kembali! Engkau sudah tidak berayah lagi.”

Imam Ali sa dengan tenang menanggapi teriakan-teriakan gerombolan Qureiys itu. Ia bertanya:

“Kalau aku tidak mau berbuat itu…?”

“Mau tidak mau engkau harus kembali,” sahut gerombolan Qureiys dengan cepat.

Mereka lalu berusaha mendekati unta dan rombongan wanita. Imam Ali sa menghalangi usaha mereka.

Jenah, seorang hamba sahaya milik Harb bin Umayyah, mencoba hendak memukul Imam Ali sa dari atas kuda. Akan tetapi belum sempat ayunan pedangnya sampai, hantaman pedang Imam Ali r.a. telah mendahului tiba di atas bahunya. Tubuhnya TERBELAH menjadi dua, sehingga pedang Imam Ali sa sampai menancap pada punggung kuda.

Serangan-balas secepat kilat itu sangat menggetarkan teman-teman Jenah. Sambil menggeretakkan gigi, Imam Ali sa berkata:

“Lepaskan orang-orang yang hendak berangkat berjuang! Aku tidak akan kembali dan aku tidak akan menyembah selain Allah Yang Maha Kuasa!”

Gerombolan Qureiys mundur. Mereka meminta kepada Imam Ali sa untuk menyarungkan kembali pedangnya. Imam Ali sa dengan tegas menjawab:

“AKU HENDAK BERANGKAT MENYUSUL SAUDARAKU..PUTRA PAMANKU ,RASULULLAH..SIAPA YANG INGIN KUROBEK DAGINGNYA DAN KUTUMPAHKAN DARAHNYA COBALAH ..MAJU DAN DEKATI AKU “

Tanpa memberi jawaban lagi gerombolan Qureiys itu segera meninggalkan tempat. Kejadian ini mencerminkan watak konfrontasi bersenjata yang bakal datang antara kaum muslimin melawan agresi kafir Qureiys.

Di Dhajnan, rombongan Imam Ali sa beristirahat semalam. Ketika itu tiba pula Ummu Aiman (ibu Aiman). Ia menyusul anaknya yang telah berangkat lebih dahulu bersama Imam Ali sa Bersama Ummu Aiman turut pula sejumlah orang muslimin yang berangkat hijrah.

Keesokan harinya rombongan Imam Ali r.a. beserta rombongan Ummu Aiman melanjutkan perjalanan. Imam Ali sa sudah rindu sekali ingin segera bertemu dengan Rasul Allah s.a.w.

Waktu itu Rasul Allah saww bersama Abu Bakar sudah tiba dekat kota Madinah. Untuk beberapa waktu, beliau tinggal di Quba. Beliau menantikan kedatangan rombongan Imam Ali sa Kepada Abu Bakar , Rasul Allah s.a.w. memberitahu, bahwa beliau tidak akan memasuki kota Madinah, sebelum putera pamannya dan puterinya sendiri datang.

Selama dalam perjalanan itu Imam Ali sa. tidak berkendaraan sama sekali.

Ia berjalan dengan KAKI TELANJANG menempuh jarak Ratusan km sehingga kakinya PECAH PECAH dan MEMBENGKAK.

Akhirnya tibalah semua anggota rombongan dengan selamat di Quba. Betapa gembiranya Rasul Allah Saww menyambut kedatangan orang-orang yang disayanginya itu….

Namun..Ketika Nabi Muhammad saww . melihat Imam Ali sa. tidak sanggup berjalan lagi karena kakinya membengkak…pecah berurai Airmata Nabi Saww…

Beliau merangkul dan memeluknya seraya menangis karena sangat terharu…

Beliau kemudian meludah di atas telapak tangan, lalu diusapkan pada kaki Imam Ali sa ..

Konon sejak saat itu sampai wafatnya, Imam Ali r.a. tidak pernah mengeluh karena sakit kaki.

Peristiwa yang sangat mengharukan itu berkesan sekali dalam hati Rasul Allah s.a.w. dan tak terlupakan selama-lamanya.

Berhubung dengan peristiwa hijrah Ali dan pengorbanan beliau (sa), turunlah wahyu Ilahi yang memberi penilaian tinggi kepada kaum Muhajirin, seperti terdapat dalam Surah Ali ‘Imran:195.

ISLAM ITU CINTA,TUNDUK TANPA “TAPI”…
==========================

Kita diperintah untuk mengenal Allah SWT dalam menyembahNYA,mencintaiNYA,

maka adalah hal yg Mutlaq harus ada bagi setiap muslim dalam beribadah adalah selalu berusaha mengenal Rasulullah SAWW,mengenal kebesaran beliau SAAW,mencintai beliau SAWW,sebagaimana FirmanNYA :

“Katakanlah (wahai Muhammad)..Jika kalian mencintai Allah,maka CINTAI lah aku niscaya Allah menCINTAI kalian “

{QS.Ali Imran (3):31}

FirmanNYA :

“Katakanlah sesungguhnya aku tidak meminta sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang kepada keluarga (al-Qurba) (ku)” ..Dan sesiapa yang mengerjakan kebaikan (al-Hasanat) akan kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri”

{al-Syu‘ara‘ 42:23 }

Nabi Muhammad SAWW bersabda bahwa:
=========================

“Tidaklah BERIMAN seorang hamba hingga aku lebih dicintainya dibanding dirinya,keluargaku lebih dicintainya dibanding keluarganya,dengan begitu mereka lebih mencintai keluargaku dibanding keluarganya dengannya mereka mencintaiku lebih dari diri diri mereka “

(Biharul Anwar,XXVII hal 13 dan Kanzul Ummal hal 93 )

Rasulullah saww :

“Siapa yang ingin hidup seperti hidupku dan wafat seperti wafatku serta masuk ke surga yang telah dijanjikan kepadaku oleh Tuhanku yaitu Jannatul Khuld, maka hendaklah ia berwilayah (berpemimpin) kepada Ali dan keturunan sesudahnya, karena sesungguhnya mereka tidak akan mengeluarkan kamu dari pintu petunjuk dan tidak akan memasukkan kamu ke pintu kesesatan.“

(Shahih Bukhari, jld 5, hl. 65, cetkn. Darul Fikr)

Ali tidak akan dicintai melainkan oleh Mukmin dan tidak akan dimarahi melainkan oleh orang kafir. Beliau adalah rabb-al ardh (tuan bumi) selepasku dan penghuninya.

{Al-Bukhari, Sahih, iii, hlm. 54. Muslim, Sahih, ii, hlm. 236-7.}

(Di dalam naskhah yang lain beliau adalah zarr al-Ardh dan penghuninya).

dia adalah Kalimah Allah al-Taqwa, ‘Urwat Allah al-Wuthqa (ikatan Allah yang kuat).

Firman-Nya dalam Surah al-Taubah (9): 32,

‘‘Adakah kalian hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut-mulut kalian dan sesungguhnya Allah adalah penyempurna cahaya-Nya, sekalipun dibenci oleh Musyrikun”

Nabi Saww bersabda :

Dan musuh-musuh Allah hendak memadamkan cahaya saudaraku Ali. Tetapi Allah menyempurnakan cahaya-Nya.”

Wahai manusia! Hendaklah orang yang datang menyampaikan sabdaku ini kepada orang yang tidak datang (ghaiba-kum). Wahai Tuhanku persaksikanlah! Wahai manusia! Sesungguhnya Allah telah merenung kali ketiga, maka Dia memilih daripada mereka selepasku dua belas wasi daripada Ahl Baitku, mereka itu adalah sebaik-baik umatku. Daripada mereka sebelas imam selepas saudaraku (akhi) seorang demi seorang.

{Al-Kanji al-Syafi‘i, Kifayah al-Talib, hlm. 479.}

ABU DZAR AL GHIFFARI ra
================

Majlis bai’ah Abubakar Abu Dzar lantang berseru menyampaikan yang HAQ..dia berseru kepada seluruh yang hadir :

“Wahai umat yang bingung selepas Nabinya dikhianati..! !

Sesungguhnya Allah berfirman dalam Surah Ali al-Imran (3): 33-34

‘‘Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran ke atas sekalian alam. (Mereka itu) satu keturunan, sesetengahnya akan sesetengah yang lain dan Allah Maha Mendengar dan Maha mengetahui” Maka Keluarga Muhammad adalah daripada keturunan Nuh, Ibrahim dan Isma‘il..‘Itrah (keturunan) Nabi Muhammad Saw. adalah Ahl Bait al-Nubuwwah, tempat turunnya perutusan dan tempat berkunjungnya para Malaikat.

Mereka seperti langit yang diangkat, gunung yang tersergam, Ka‘bah yang tersembunyi, mata yang bersih, bintang petunjuk dan pokok yang diberkati yang telah memancarkan cahayanya serta diberkati minyaknya oleh Muhammad, penutup segala nabi dan penghulu anak Adam.

Sementara Ali adalah wasi kepada segala wasi dan IMAM bagi orang yang BERTAQWA. Beliau adalah al-Siddiq al-Akbar, al-Faruq al-A‘zam, wasi Muhammad, pewaris ilmunya dan orang yang paling aula dengan al-Mukminin daripada diri mereka sendiri sebagaimana firman Allah dalam Surah al-Ahzab (33): 6 ‘‘Nabi adalah aula (dekat) dengan Mukminin daripada diri mereka sendiri, manakala isteri-isterinya adalah ibu mereka dan kerabat pertalian darah sebahagian mereka lebih aula daripada yang lain di dalam Kitab Allah”.

Lantaran itu dahulukanlah mereka yang telah didahulukan oleh Allah dan kemudiankanlah mereka yang telah dikemudiankan oleh Allah. Jadikanlah wilayah, dan wirathah bagi orang yang dipilih oleh Allah SWT.

{Al-Syarif al-Radhi, Nahj al-Balaghah, hlm.162-3.Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi‘ al-Mawaddah, hlm. 124-5.}

Murka Allah Bagi Pembunuh Hujr bin Adi, dkk

Pada hari ke 19 Ramadhan, Amirul Mukminin Imam Ali as sulit berbicara akibat racun yang bersarang dalam dirinya, dan beliau berkata, “Singkatkanlah pertanyaan-pertanyaan kalian.”

Hujur bin Adhi berkata, “Aku berdiri dan mengungkapkan syair kepada Imam Ali as,
Alangkah malangnya sang pemuka kaum takwa, ayah para manusia suci, sang Haidar yang suci (jiwanya) !
Orang kafir yang nista, pezina, terkutuk, fasik turunnya, celakalah yang telah membunuhnya.
Laknat Allah bagi yang berpaling dari kalian (wahai Ahlulbayt) dan yang berlepas diri dari kalian dengan laknat yang amat dahsyat.
Karena kalian pada hari Mahsyar adalah bekalku, dan kalian Itrah Sang Nabi pemberi hidayah.

Mendengar syair Hujur ini, Imam Ali as menatapnya seraya berkata, “Bagaimanakah jadinya engkau nanti, yang pada saat itu, engkau akan dipaksa untuk berlepas diri dariku?”

Hujur menjawab,”Aku bersumpah demi Allah, seandainya aku dicincang dengan pedang lalu dibakar, aku tidak akan berpaling darimu.”

Imam Ali as berkata,”Semoga Allah memberimu balasan yang baik dan taufik dalam setiap kebaikan.”

Hujr bin Adi al Adbar adalah seorang sahabat Rasulullah (saww) dan salah satu pengikut sejati Imam Ali (as). Muawiyah Laknatullah telah memerintahkan pengikutnya (Laknatullah untuk mereka) membunuh Hujr bin Adi al Adbar. Hujr merupakan salah seorang sahabat Rasulullah (saww) yang tidak terima jika Imam Ali (as) dihina dengan cara apapun. Ibn Ziyad Laknatullah menyarankan kepada Muawiyah Laknatullah untuk menangkap Hujr dan sahabat-sahabatnya. Saat perjalanan ke Damaskus, Muawiyah Lakanatullah memerintahkan agar mereka dibunuh.

Ulama Mazhab Hanafi, Kamaluddin Umar ibn al Adim mencatat dalam Bughyat al Talib fi Tarikh Halab juz.2 hal.298 :

“Dia (Hujr bin Adi al Adbar) adalah penduduk Kufah, ia datang menemui Rasulullah (saww) sbg utusan (dr Kufah) dan dia salah seorang perawi dari (jalur) Ali bin Abi Thalib”

Hujr bin Adi al Adbar ikut serta dalam perang Jamal dan Sifin disisi Ali dan dia termasuk dalam syiah-nya. Ia telah dibunuh atas perintah Muawiyah di desa Mriaj Adra dekat Damaskus. Pada saat akan dibunuh ia meminta ; “Jgn singkirkan rantai ini setelah aku terbunuh, bgtu juga jgn bersihkan darahnya. Kami akan bertemu dg Muawiyah dan akan ku laporkan penentanganku terhadapnya” (Al Isaba, juz.1 halm.313 “Dzikr Hujr bin Adi”).

Aisyah berkata :

“Muawiyah..! kau telah membunuh Hujr dan sahabat-sahabatnya, Demi Allah, Rasul (saww) berkata kepadaku ; “Di lembah Adra tujuh orang akan terbunuh, yg membuat Allah dan seluruh (isi) langit murka”
(Tarikh, olh ibn Asakir, juz. 12 hal.227 “Dzikr Hujr bin Adi”)

“Hujr dan sahabat-sahabatnya ditangkap dan dibawa ke lembah Adra yang dekat dengan damaskus. Muawiyah memerintahkan bahwa hujr dan sahabat-sahabatnya hrs dibunuh dilembah tsb.”
(asad-ul-Ghaba, juz.1 hal. 244 “Dzikr Hujr bin Adi”)

Ibn Qutayba Dinwari (213-276 H) mencatat dalam karyanya yg masyhur “Al Ma’arif’”hal 76 :
Ia datang kepada Rasulullah saw sebagai utusan dan masuk Islam, ia hadir dalam perang Qadsiya, ia juga hadir dalam perang Jamal dan Sifin bersama Ali, lalu Muawiyah membunuhnya di Adra bersama kelompoknya”

Ulama mazhab Syafi’i, Allamah Hibatullah Lalkai (w.418) mencatat dalam “Syarh Usul Itiqad Ahlu Sunnah” Juz. 7 hal. 18 :
“Apa yang telah diriwayatkan mengenai karamah Hujr bin Adi atau Qais Makhshus seorang sahabat Rasulullah (saw)”

Imam Ali (as) bicara mengenai Hujr bin Adi :

Tercatat bahwa Imam Ali meramalkan terbunuhnya Hujr, hal ini oleh Allamah Muttaqi al Hindi dicatat dalam “Kanzul-Ummal” :
(Imam) Ali berkata “Hai orang-orang Kufah..! tujuh orang terbaik di antara kalian akan terbunuh, perumpamaan mereka sama dengan orang beriman di lembah”. Hujr bin Adi al Adbar dan sahabat-sahabatnya berada diantara mereka, dan mereka berasal dari Kufah, Muawiyah membunuh mereka di Adra perbatasan Damaskus”
(Kanzul Umal, Juz. 13 hal.531 riwayat 36530)

Pernah juga Aisyah bertanya kepada Muawiyah, (Kanzul Ummal juz.13 hal.556 riwayat 37510) :
Abi al Aswad meriwayatkan bahwa Muawiyah menemui Aisyah, dan Aisyah bertanya kepadanya ;
“Mengapa kau bunuh orang-orang Adra” (mksdnya Hujr dan sahabatnya).
Muawiyah menjawab : “Wahai Umul Mukminin, Aku melihat bahwa kematian mereka lebih baik untuk umat dan hidupnya mereka akan membawa kerugian umat”
Ia (Aisyah) berkata : “Aku mendengar Rasulullah (saww) berkata : “Beberapa orang akan terbunuh di Adra, Allah dan penduduk surga akan murka karena hal itu”

Untuk para Nashibi (wahabi) Muawiyah adalah orang yang mulia, mereka menyanjung Muawiyah dan mengatakan dia adalah Khalifah Muslim, menyebut “Radhiallahu Anhu” setelah menyebut namanya…!

Sejarah dipaparkan sangat jelas bahwa Muawiyah telah membuat Allah Murka, bukan hanya dalam kasus yang ini, ia adalah pembenci Ahlul Bait (as) yang masuk dalam al Ahzab 33. Tidak diragukan lagi bahwa Muawiyah adalah orang yang pantas dilaknat..!

Dalam Al Bidayah wal Nihayah juz. 8 hal.55 disebutkan bahwa :
“Ibn Asakir mencatat bahwa Hujr datang kepada Rasulullah (saw) dan mendengar (hadis) dari Ali, ammar, Syarajil bin Marat yang dikenal dengan Syarjil bin Marat”

Al Hakim dalam Mustadrak membuat bab khusus tentang Hujr bin Adi (ra), “Keutamaan Hujr bin Adi (ra) dan Ia seorang sahabat Muhammad saw (Manaqib Hujr bin Adi wa huwa asahab Muhammad” (Al Mustadrak Sahihain Juz.3 hal.468)

Jika orang berdalih bahwa Muawiyah adalah “sahabat” Rasul (saww) dan oleh karenanya ia tidak boleh dilaknat, siapapun yang mengatakan hal tersebut, lihatlah bahwa Muawiyah adalah pembunuh sahabat Rasulullah (saww) yang sekaligus pengikut Imam Ali (as), maka cukup bagi kami bahwa murka Allah kepada Muawiyah membebaskan kami untuk melaknat orang terkutuk ini.

“Sesungguhnya orang-orang yang menyimpan apa yang Kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilaknat oleh Allah dan dilaknat oleh semua makhluk yang dapat melaknat. Kecuali mereka yang telah bertaubat dan melakukan perbaikan dan menerangkan kebenaran, mereka itu Akulah Yang Maha menerima taubat lagi Maha Penyayang.”(Al-
Baqarah ;159-160)

BUKU : MENGAPA SAYA KELUAR DARI SYIAH.. adalah karya salafi wahabi untuk memfitnah

allahumma shalli ‘ala muhammad wa aali muhammad

PENDAHULUAN

Perbedaan adalah rahmat Allah swt dan dinamika yang berkembang di dalam tradisi intelektual Islam dari zaman klasik hingga abad modern saat ini. Tapi terkadang perbedaan menjadi bencana di tangan manusia-manusia yang tidak bertanggungjawab. Padahal islam mengajarkan untuk menebarkan kedamaian baik dengan lisan maupun tulisan, dan tentu saja dengan tindakan. Bahkan Tuhan berpesan, “Janganlah kebencianmu pada suatu kaum membuat kamu berlaku tidak adil”…dan juga “janganlah kamu menghina suatu kaum karena boleh jadi mereka lebih baik dari kamu”.

Namun, Falsafah Islam yang berkeadilan dan falsafah Indonesia yang menghargai kebhinekaan telah tercemari dengan berbagai tindakan atas nama agama. Gerakan islam yang mengandung kekerasan, Konflik keagamaan yang berujung peperangan, terorisme, dan saling menyesatkan telah menjadi konsumsi publik yang membahayakan. Setiap insan berinovatif bukan untuk membangun hal-hal yang positif, tetapi cenderung negatif dan destruktif.

Teman saya yang memiliki semangat keislaman yang tidak diragukan lagi berteriak, “Tugas kita adalah menegakkan izzah Islam, agar semua orang tunduk kepada Tuhan, dan orang2 yang menyimpang harus diluruskan”. Tapi teman saya yang satu lagi dengan lemah berkomentar, “mengapa agama yang diturunkan untuk menebar kasih sayang, tetapi malah menyebar kebencian? Saya berkata pula menimpali, “pendapat kamu berdua disatukan dengan terbitnya buku ini, “Mengapa Saya Keluar dari Syiah?” kok bisa begitu?, tanya mereka. Dengan singkat saya menjawab, karena si penulis ingin meluruskan orang2 sesat seperti keinginanmu (teman pertama), tetapi sekaligus menebar kebencian seperti pendapatmu (kpd teman yg kedua).

Kehadiran buku ini memberikan beberapa hal penting. Pertama, Pada tahap tertentu buku ini menjelaskan pemikiran-pemikiran mazhab syiah, hanya saja —daripada membahas secara ilmiah—, buku ini secara sengaja mengumpulkan sisi-sisi negatif mazhab syiah.

Kedua, Buku ini pada tahap tertentu telah menciptakan sentimen kemazhaban dari kedua belah pihak (sunni dan syiah) yang dapat merusak persatuan kaum muslimin dalam bingkai berbeda-beda tetapi tetap satu juga.

Ketiga, terkait dengan hal yang kedua, buku ini meningkatkan ketegangan hubungan antar umat seagama yang seharusnya dipupuk terlebih disaat Islam dipojokkan dengan beragam isu konflik yang berdampak internasional seperti isu terorisme.

Meskipun begitu, pertama, buku ini juga telah menjadi iklan gratis bagi mazhab syiah, sehingga bagi pengkaji yang objektif terpancing untuk memahami mazhab syiah dari sumber-sumber yang kredibel. selain itu, kedua, buku ini mengingatkan orang syiah –dan pada tahap tertentu juga orang-orang sunni— untuk lebih waspada karena masih ada sisa-sisa penghalang bagi pendekatan antar mazhab dan persatuan kekuatan kaum muslimin. dan ketiga, Buku ini menjadi contoh bahwa terkadang penerbit buku tidak mengindahkan keilmiahan dan dampak sosial religius dalam penerbitan buku, tetapi lebih pada keuntungan.

Tetapi sebagai sebuah sikap ilmiah saya berusaha untuk sabar dalam membaca dan tentunya menganalisis setiap katanya, utuk mendapatkan misi dan visi pengarangnya. Untuk itu, saya akan tuliskan beberapa hal penting untuk kita dapat mengenal isi buku dan pengarangnya. (Catt. Karena takut tulisannya kepanjangan, maka akan dibuat secara bersambung)

SEKILAS SOSOK BUKU DAN PENGARANG

Buku ini berjudul asli “Lillahi Tsumma Littarikh”, yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul yang cukup propokatif, “Mengapa Saya Keluar dari Syiah?” yang diterbitkan oleh penerbit Pustaka al-Kaustsar edisi pertama tahun 2002 dan kini telah dicetak edisi kelimanya tahun 2008.

Buku ini ditulis oleh seorang yang mengaku bernama Sayid Husain al-Musawi. Dari namanya, ia mengaku keturunan Nabi saaw dan telah menjadi mujtahid dengan menyelesaikan pendidikannya di haujah Najaf Irak dibawah asuhan Sayid (?) Muhamamd Husain Ali Kasyf al-Ghita (lihat hal.4). Ia mengaku lahir di Karbala dari keluarga syiah yang taat beragama, serta mengawali pendidikannya hingga remaja di kota tempat Imam Husain as syahid tersebut (lihat hal. 2).

Buku ini terdiri dari 153 halaman yang dimulai dengan kata pengantar oleh Syaikh Mamduh Farhan al-Buhairi yang mengaku pakar aliran syiah. Dengan pengantar tersebut, buku ini semakin kelihatan “prestisiusnya”. Membahas banyak persoalan yang selain pendahuluan dan penutup, buku ini dibagi dalam tujuh pembahasan, sbb :
1. Tentang Abdullah bin Saba’
2. Hakikat Penisbatan Syiah Kepada Ahlul Bait
3. Nikah Mut’ah dan Hal-Hal yang Berhubungan Dengannya
4. Khumus
5. Kitab-kitab Samawi
6. Pandangan Syiah terhadap Ahlussunnah
7. Pengaruh Kekuatan Asing Dalam Pembentukan Ajaran Syiah.

Pada halaman terakhir dilampirkan fatwa yang dikeluarkan oleh Husain Bahrul Ulum, tentang kesesatan buku tersebut.

KEJANGGALAN SOSOK PENGARANG

Ada pepatah yang terkenal “Sepandai-pandai tupai melompat, sekali-kali jatuh juga” dan “sepandai-pandai menyembunyikan bangkai akhirnya akan tercium juga”. Pepatah ini kelihatannya sesuai untuk penulis buku ini, bahkan bukan hanya sekali-kali saja dia jatuh tetapi seringkali dia jatuh pada berbagai kesalahan dalam tulisannya. Kita akan lihat bahwa buku ini tidak lebih merupakan dongeng imajiner seorang penulis untuk menciptakan propokasi kepada umat Islam. Tapi al-hamdulillah, Allah masih menjaga kaum muslimin dari berbagai perpecahan dan tipu daya setan baik setan yang berbentuk jin maupun setan manusia.

Buku ini tidak menuliskan secara jelas siapa sebenarnya Sayid Husain al-Musawi. Tidak diketahui kapan lahir dan silsilah keluarganya, pendidikan dan guru-gurunya baik di Karbala’ maupun di Najaf (Irak). Juga tidak diketahui karya-karya yang ditulisnya selain buku ini. Dari sini kita meragukan keadaan dan kualitas keilmuannya yang mengaku mujtahid syiah.

Terlebih setelah kita mendapatkan beberapa kejanggalan yang sangat mencolok dari buku yang ditulisnya ini. Kejanggalan sosok pengarang terlihat saat kita melanjutkan bacaan menelusuri buku ini kata-kata demi kata, paragraf demi paragraf, dan halaman demi halaman. Diantara kejanggalannya adalah sbb:

(Catt : Untuk memepermudah, tulisan asli Husain al-Musawi saya beri tanda >; sedangkan tanggapan saya menggunakan tanda #

1. Husain al-Musawi menulis pada halaman 128 :

> “Disaat sedang memandikan saya menemukan bahwa sang mayit tidak di khitan. Saya tiak bisa menyebutkan siapa nama mayat tersebut, karena anak-anaknya mengetahui siapa yang memandikan bapaknya. Jika saya menyebutkan, pasti mereka akan mengetahui siapa saya, selanjutnya akan mengetahui penulis buku ini, sehingga terbukalah segala urusan saya dan akan terjadi suatu tindakan yang tidak terpuji.”

# Perhatikanlah, bahwa dia mengakui dirinya tidak ingin dikenali. Dia tidak menyebutkan siapa nama mayit yang memandikannya, karena takut dikenali dan dampaknya….. Tetapi dia berani menyebutkan Nama Ayatullah Sayid Khui, Syeikh Kasyf al-Ghita, bahkan Ayatullah Khumaini dengan hinaan dan cercaan yang lebih buruk lagi padahal mereka menurut pengakuannya adalah guru dan marja’nya.

2. Husain musawi menulis pada halaman 94 :

> “Diakhir pembahasan tentang khumus ini saya tidak melewatkan perkataan temanku yang mulia, seorang penyair jempolan dan brilian, Ahmad Ash-Shafi an-Najafi Rahimahullah. Saya mengenalnya setelah saya meraih gelar mujtahid. Kami menjadi teman yang sangat kental walaupun terdapat perbedaan umur yang sangat mencolok, dimana dia tiga puluh lima tahun lebih tua dari umurku.” (Mengapa Saya Keluar dari Syiah, 2008, hal. 94)

# Perlu diketahui bahwa Ahmad Ash-Shafi an-Najafi dilahirkan pada tahun 1895 M/ 1313-14 H dan wafat pada tahun 1397 H. Jika kita bandingkan dengan umur yang disebutkan oleh Husain al-Musawi bahwa Ahmad Ash-Shafi an-Najafi itu lebih tua 35 tahun dari dirinya, maka kita menemukan tahun kelahirn Husain al-Musawi adalah tahun 1930 M atau 1349 H, dengan perhitungan sbb :
- 1895 M + 35 = 1930 M
- 1314 H + 35 = 1349 H

Kemudian, bandingkan dengan halaman 68 Husain Musawi menyebutkan bahwa ia bertemu dengan Sayid Syarafudin al-Musawi (Pengarang Kitab al-Muraja’at atau Dialog Sunnah Syiah) di Najaf, Irak.
Husain Musawi menulis pada halaman 68 :

> “Suatu hari di kota Najaf datang berita kepada saya bahwa yang mulia Sayid Abdul Husain Syarafuddin al-Musawi sampai ke Baghdad, dan sampai ke Hauzah (kota ilmu) untuk bertemu dengan yang mulia Imam Ali Kasyif al-Ghita. Sayid Syarafuddin adalah orang yang sangat dihormati dikalangan orang-orang syiah, baik dari kalangan awam maupun orang-orang khusus. Terutama setelah terbitnya kitab-kitab yang dia karang yaitu kitab Muraja’at dan kitab Nash wal Ijtihad.” (lihat hal. 68)

# Perlu diketahui bahwa Sayid Syarafuddin al-Musawi datang ke Najaf pada tahun 1355 H (buku al-Muraja’at diterbitkan pertama kali juga tahun 1355 H). Jika kita bandingkan tahun kelahiran Husain al-Musawi dengan kedatangan Sayid syarafuddin al-Musawi maka usianya pada saat itu masih 6 tahun (1349 H – 1355 H = 6 tahun)….sementara pada Bab PENDAHULUAN (halaman 2), Husain al-Musawi menyebutkan bahwa ia datang ke Najaf pada usia remaja setelah menyelesaikan pendidikannya di Karbala….bagaimana mungkin ia ada di Najaf pada saat itu dan menjadi pelajar tingkat tinggi (kelas bahtsul kharij) pada usia 6 tahun…???? Sungguh kebohongan yang nyata

Kemudian pada halaman 4 dia menulis :

> “Yang penting, saya menyelesaikan studiku dengan sangat memuaskan, hingga saya mendapat ijazah (sertifikat) ilmiah dengan meendapat derajat ijtihad dari salah seorang tokoh yang paling tinggi kedudukannya, yaitu Sayid (?) Muhammad Husain Ali Kasyf al-Ghita.”

# Dengan jelas ia menyebutkan bahwa dia mendapat ijazah mujtahid dari Sayid (?) Kasyf al-Ghita’ tapi tidak disebutkan tahun berapa ijazahnya dikeluarkan. Perlu diketahui bahwa Kasyif Ghita’ bukanlah Sayid (bukan keturunan ahlul bait), tetapi Syeikh. Syeikh Kasyif al-Ghita meninggal pada tahun 1373 H. Jika kita bandingkan tahun kelahiran Husain al-Musawi dengan tahun wafatnya Syeikh Kasyf al-Ghita, maka kita menemukan usia Husain al-Musawi tamat dari belajar dan menjadi mujtahid maksimal adalah 24 tahun (1349 – 1373 H = 24 tahun). Jika kita kurangi bahwa ia mendapat gelar 5 tahun sebelum meninggalnya Syeikh Ali Kasyf al-Ghita, yakni tahun 1368 H, maka berarti usianya menjadi mujtahid adalah 19 tahun (1349 – 1368 H = 19 tahun). Suatu prestasi yang membanggakan dan luar biasa. Tetapi anehnya, selain tidak ada datanya, tidak ada pula satupun ulama dan pelajar serta masyarakat mengetahui ada seorang yang mencapai gelar mujtahid pada usia tersebut dan berasal dari Karbala yang bernama Husain al-Musawi.

Dan lebih mengherankan lagi, sehingga kedok si penulis semakin terbuka, adalah bahwa Husain al-Musawi menulis pada halaman 131-132, sbb :
> “Ketika saya berkunjung ke India saya bertemu dengan Sayid Daldar Ali. Dia memperlihatkan kepada saya kitabnya yang berjudul Asas al-ushul.”

# Ini adalah kebohongan nyata yang tidak bisa disembunyikan lagi oleh Husain al-Musawi. Ketahuilah bahwa Sayid Daldar Ali adalah ulama abad ke 19 yang wafat pada tahun 1820 M/ 1235 H (lihat kitab ‘Adz-Dzari’ah Ila Tasanif al-Syiah’). Ini berarti, sayid Daldar Ali telah meninggal selama 110-114 tahun sebelum lahirnya Husain al-Musawi yang lahir pada tahun 1930 M (1820 M – 1930 M = 110 tahun) atau (1235 – 1349 H = 114 tahun). Bagaimana mungkin Husain al-Musawi bertemu dengan sayid Daldar Ali padahal ia sendiri belum lahir bahkan ayah dan kakeknya pun mungkin belum lahir…????

Jika dia memang bertemu dengan Sayid Daldar Ali, berarti setidaknya Husain al-Musawi lahir pada tahun 1800 M. Jika dia lahir tahun 1800 M, bagaimana mungkin usianya lebih muda dari Ahmad Ash-Shafi an-Najafi yang lahir pada tahun 1895 M..??? dan bagaimana mungkin dia belajar kepada Syeikh Kasyf Ghita yang lahir pada tahun 1877 M..?? bagaimana dia bertemu dengan Sayid Khui di tahun 1992 (berarti usianya 192 tahun)? bagaimana mungkin dia mengikuti Revolusi Iran pada tahun 1979 (berarti usianya 179 tahun) ..??? dan banyak lagi kisah aneh yang diimajinasikan oleh si penulis buku ini.

Dengan beberapa bukti di atas (dan masih banyak lagi lainnya) kita dapat menyimpulkan bahwa pengarang buku ini bukanlah seorang mujtahid syiah, bahkan mungkin bukan pula penganut mazhab syiah. Namanya juga diragukan apakah benar Sayid Husain al-Musawi atau sekedar mencatut nama agar lebih meyakinkan. Bagi saya, penulis buku ini adalah sosok imajiner yang membuat kisah imajinasi dengan berusaha menjadi tokoh utama dalam sandiwara fiktif ini. Buku ini bisa kita anggap sebagai novel dongeng untuk mendiskriditkan Islam seperti The Satanic Verses yang ditulis oleh Salman Rusydi…..mungkin saja, Husain al-Musawi ingin menjadi pelanjut Salman Rusydi. Wallahu a’lam

HUSAIN AL-MUSAWI TIDAK MENGENAL ULAMA-ULAMA DAN IMAM-IMAM SYIAH

“Husain al-Musawi yang mengaku mujtahid syiah ini, ternyata tidak mengenal tokoh-tokoh dan ulama-ulama syiah, bahkan ia tidak mengenal imam syiah.”

Sebagai buku yang ditulis untuk propokatif, karya Husain al-Musawi, “Mengapa Saya Keluar Dari Syiah?” memang sudah sewajarnya tidak memiliki bobot akademis dan ilmiah. Selain kerancuan dan kejanggalan sosok Husain al-Musawi yang mengaku mujtahid syiah, dia juga tidak mengenal tokoh-tokoh syiah bahkan gurunya sendiri. Selain itu bahkan dia tidak mengetahui tradisi keilmuan syiah dalam ushul maupun furu’.

Seperti telah dijelaskan sebelumnya, bahwa Husain al-Musawi adalah sosok fiktif yang mengarang buku dengan khayalan dan imajinasinya. Dia ingin membuat sandiwara dan berusaha menjadi pemain utamanya dan menjadikan yang lain sebagai “bandit-banditnya”. Tapi sayang, ternyata pemeran utama ini tidak tahu naskah skenarionya, dan tidak mengenal dengan baik lawan bermainnya. Pada edisi ketiga ini, kita akan mengungkap lanjutan kepalsuannya dan kebodohannya tentang ulama-ulama dan imam
-imam syiah. Untuk tidak berpanjang mari kita cermati beberapa isi buku tersebut.

1). Pada halaman 4 (dan berlanjut dihalaman2 berikutnya), ia menulis :

> “Yang penting, saya menyelesaikan studiku dengan sangat memuaskan, hingga saya mendapat ijazah (sertifikat) ilmiah dengan mendapat derajat ijtihad dari salah seorang tokoh yang paling tinggi kedudukannya, yaitu SAYID MUHAMMAD HUSAIN ALI KASYIF AL-GHITA”….

# Perhatikanlah, Husain Musawi menyebut “Sayid Muhammad Husain Ali Kasyf al-Ghita, padahal Allamah Kasyif al-Ghita bukanlah “SAYID”, karena beliau bukanlah keturunan dari Rasulullah saaw dan Ahlul bait nabi saaw. Sehingga Allamah Kasyf al-Ghita tidak pernah dipanggil dengan Sayid melainkan dengan “SYEIKH”. Kita bisa baca semua buku-buku ulama syiah yang besar maupun yang kecil, semua menyebut dengan “SYEIKH KASYF AL-GHITA”. Bahkan kita bisa lihat sendiri di dalam karya-karyanya misalnya “Ashl Syiah wa Ushuluha” disana disebutkan nama SYEIKH MUHAMMAD HUSAIN ALI KASYF AL-GHITA.

Bagaimana mungkin Husain al-Musawi yang mengaku mujtahid dan menjadi murid Syeikh Kasyif al-Ghita, tidak tahu tentang silsilah gurunya ini…??? Padahal orang awam syiah sekalipun tahu perbedaan antara Sayid dengan Syeikh.

2). Pada halman 12, ia menulis :

> “…sebagaimana SAYID MUHAMMAD JAWAD pun mengingkari keberadaannya ketika memberi pengantar buku tersebut”,

# Perhatikanlah, dia menyebut Sayid Muhammad Jawad, padahal yang benar adalah “SYEIKH MUHAMMAD JAWAD (MUGHNIYAH)” karena beliau juga bukan keturunan ahlul bait as.

# Masih banyak lagi kesalahannya seperti menyebut Sayid Ali Gharwi (lihat halaman 26), padahal seharausnya Mirza Ali Ghuruwi. Begitu juga pada halaman 111 dia menulis “SAYID MUHAMMAD BAQIR ASH-SHADUQ”..??? Siapa orang ini….??? Apakah maksudnya Syeikh Shaduq yang bernama asli Abu Ja’far Muhammad bin Ali bin Husain bin Babawaih al-Qummi (gelarnya Syeikh Shaduq)…???? Atau apakah maksudnya adalah Allamah Sayid Muhammad Baqir Ash-Shadr, salah seorang marja’ syiah di Najaf…?? … ini mungkin hanya salah tulis

3. Tidak hanya disitu ia juga tidak bisa membedakan antara ulama sunni dan syiah. Bahkan keliru menyebut buku syiah. Misalnya : Pada halaman 28 dan 29 dia mengutip dari buku “Maqatil ath-Thalibin” padahal buku tersebut bukan buku syiah. “Maqatil ath-Thalibin” adalah buku karya Ulama ahlus sunnah Abul Faraj al-Isfahani al-Umawi.

Itu diantara kekeliruan2 nya menyebut ulama-ulama syiah. Tapi hal itu masih lumayan. Sebab, tidak hanya sampai disitu, bahkan Husain al-Musawi yang mengaku mujtahid syiah ini, tidak bisa membedakan imam2 syiah. Dia kesulitan membedakan Imam-imam syiah karena terkadang memiliki panggilan yang sama. Perhatikan pernyataanya berikut ini :

4. Pada halaman 18, ia menulis :
> Amirul mukminin as berkata, “Kalaulah aku bisa membedakan pengikutku, maka tidak akan aku dapatkan kecuali orang-orang yang memisahkan diri. Kalaulah akau menguji mereka, maka tidak akan aku dapatkan kecuali orang-orang murtad. Kalaulah aku menyeleksi mereka, maka tidak ada yang akan lolos seorang pun dari seribu orang.” (Al-Kafi/Ar-Raudhah, 8/338)

# Ternyata Husain al-Musawi tidak mengenal Imam-imam Syiah. Diatas ia menulis “AMIRUL MUKMININ as berkata”. Perlu diketahui, gelar AMIRUL MUKMININ itu diperuntukkan kepada Imam Ali bin Abi Thalib as (imam pertama syiah). Setelah kita periksa ke kitab ar-Raudhah al-Kafi, ternyata tidak terdapat kata “Amirul Mukminin”, tetapi yang ada adalah “ABUL HASAN”. Di bawah ini saya tuliskan riwayatnya sbb :

وَ بِهَذَا الْإِسْنَادِ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سُلَيْمَانَ عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الصُّوفِيِّ قَالَ حَدَّثَنِي مُوسَى بْنُ بَكْرٍ الْوَاسِطِيُّ قَالَ قَالَ لِي أَبُو الْحَسَنِ ( عليه السلام ) لَوْ مَيَّزْتُ شِيعَتِي لَمْ أَجِدْهُمْ إِلَّا وَاصِفَةً وَ لَوِ امْتَحَنْتُهُمْ لَمَا وَجَدْتُهُمْ إِلَّا مُرْتَدِّينَ وَ لَوْ تَمَحَّصْتُهُمْ لَمَا خَلَصَ مِنَ الْأَلْفِ وَاحِدٌ وَ لَوْ غَرْبَلْتُهُمْ غَرْبَلَةً لَمْ يَبْقَ مِنْهُمْ إِلَّا مَا كَانَ لِي إِنَّهُمْ طَالَ مَا اتَّكَوْا عَلَى الْأَرَائِكِ فَقَالُوا نَحْنُ شِيعَةُ عَلِيٍّ إِنَّمَا شِيعَةُ عَلِيٍّ مَنْ صَدَّقَ قَوْلَهُ فِعْلُهُ .

“Dengan sanad-sanad ini, dari Muhammad bin Sulaiman, dari Ibrahim bin Abdillah al-Sufi berkata: meyampaikan kepadaku Musa bin Bakr al-Wasiti berkata : “Abu al-Hasan a.s berkata kepadaku (Qala li Abul Hasan) : ‘Jika aku menilai syi‘ahku, aku tidak mendapati mereka melainkan pada namanya/sifatnya saja. Jika aku menguji mereka, nescaya aku tidak mendapati mereka kecuali orang-orang yang murtad (murtaddiin). Jika aku periksa mereka dengan cermat, maka tidak seorangpun yang lulus dari seribu orang. Jika aku seleksi mereka, maka tidak ada seorangpun yang tersisisa dari mereka selain dari apa yang ada padaku, sesungguhnya mereka masih duduk di atas bangku-bangku, mereka berkata : Kami adalah Syi‘ah Ali. Sesungguhnya Syi‘ah Ali adalah orang yang amalannya membenarkan kata-katanya. (ar-Raudhat al-Kafi hadis no 290)

# Perhatikan, hadits di atas menyebutkan ABUL HASAN as, bukan Amirul Mukminin. Ketahuilah Abul Hasan as adalah panggilan utk beberapa imam syiah diantaranya adalah Imam Ali bin Abi Thalib as (imam pertama), Imam Ali Zainal Abidin as (imam keempat), Imam Musa al-Kadzhim (imam ketujuh), Imam Ali ar-Ridha (imam kedelapan), dan Imam Ali al-Hadi (imam kesepuluh).

Sekarang siapakah Abul Hasan yang dimaksud oleh hadits di atas..???

Jawabnya adalah bahwa hadits diatas berasal dari Imam Musa al-Kadzhim bukan dari Amirul mukminin Imam Ali bin Abi Thalib as. Sebab, hadits tersebut diriwayatkan oleh Musa bin Bakr al-Wasithi, dan beliau adalah sahabat Imam Musa al-Kadzhim as (imam ketujuh syiah).

Bagaimana mungkin, Husain al-Musawi yang mengaku mujtahid ini, tidak mengenal imamnya sendiri..???? Ini mujtahid yag salah kaprah….

# Selain itu, perhatikan bagaimana ia memotong bagian akhir dari riwayat tersebut yang menegaskan, “Kami adalah Syi‘ah Ali. Sesungguhnya Syi‘ah Ali adalah orang yang amalannya membenarkan kata-katanya”.

Jika kita perhatikan akhir dari riwayat tersebut, maka jelaslah bagaimana Imam Musa al-Kadzim menyipati orang2 syiah yg sejati…..
Dimanakah posisi Husain al-Musawi…??? mungkin termasuk yag bagian pertama dari hadits di atas….yaitu ngaku syiah dan murtaddin yang tidak lolos seleksi para imam….Wallahu a’lam.

KESALAHAN KESIMPULAN TENTANG ABDULLAH BIN SABA’

Salah satu sebab terjadinya kesalahan berpikir adalah terlalu cepat mengambil kesimpulan saat belum memahami sebuah persoalan secara utuh. Banyak orang bisa membaca berita, tetapi sedikit yang bisa menafsirkan dan menganalisis berita.

Pembahasan tentang Abdullah bin saba’ bisa dinilai dari dua hal yaitu keberadaan Abdullah bin Saba’ dan pendapat para ulama syiah tentang sosok Abdullah bin Saba’.

1. Keberadaan Abdullah bin Saba’

Para ulama dan ilmuwan muslim baik dari sunni maupun syiah berbeda pendapat tentang keberadaan sosok Abdullah bin Saba’. Sebagian menganggapnya ada dan sebagian lagi menganggapnya sosok dongeng dan fiktif.

Keberadaan Abdullah bin Saba’ disebutkan baik oleh buku2 syiah maupun buku2 sunni. Jika ditelusuri sumber buku2 syiah ttg Abdulah bin Saba’ terdapat pada karya An-Naubakhti, Firaq al-Syiah dan al-Asyari al-Qumi, al-Maqqalat wal Firaq. Dan setelah kita periksa maka ternyata karya an-Naubakhti dan al-Qummi ini tidak menyebutkan sanadnya dan sumber pengambilannya…shg dianggap bahwa mereka hanya menuliskan cerita populer tersebut yg beredar dikalangan sunni.

Adapun yg pertama melakukan studi ilmiah dan istematis ttg Abdullah bin Saba’ adalah Sayid Murtadha al-Askari. Dan dari hasil penelususrannya tersebut, ia menganggap bahwa cerita ttg Abdullah bin Saba’ adalah fiktif. Sehingga, ia menolak keberadaan Abdullah bin saba’.

Adapun dari sunni yang menegaskan bahwa Ibnu Saba’ adalah fiktif dan dongeng adalah Thaha Husain dalam bukunya Fitnah al-Kubra dan Ali wa Banuhu, Dr. Hamid Hafna Daud dalam kitabnya Nadzharat fi al-Kitab al-Khalidah, Muhammad Imarah dalam kitab Tiyarat al-Fikr al-Islami, Hasan Farhan al-Maliki dalam Nahu Inqadzu al-Tarikh al-Islami, Abdul Aziz al-Halabi dlm kitabnya Abdullah bin Saba’, Ahmad Abbas Shalih dalam kitabnya al-Yamin wa al-Yasar fil Islami.

2. Pendapat para ulama Syiah tentang Abdullah bin Saba’

Para ulama syiah dari dulu hingga sekarang tidak menganggap Abdullah bin Saba’ sebagai tokoh syiah dan sahabat Imam Ali dan Imam-imam lainnya. Bahkan seluruh ulama syiah mengecam dan melaknat serta berlepas diri (tabarri) dari pendapat dan diri Abdullah bin Saba’. Bahkan buku-buku dan pendapat-pendapat yang dikutip oleh Husain al-Musawi dalam bukunya ini sudah cukup memnunjukkan sikap para Imam syiah dan ulama syiah tentang Abdullah bin saba’.

Dengan dua catatan di atas, maka jelaslah persoalan Ibnu Saba’ yang tidak kaitannya dengan mazhab syiah. Mungkinkah org ditolak keberadaanya atau yang dihina dan dikafirkan oleh seluruh imam2 syiah dan ulama-ulama syiah dijadikan tokoh panutan dalam syiah..??? sungguh kesimpulan yang gegabah dan tentu saja salah kaprah. …

Pada halaman 12, Husain al-Musawi menulis :
> “Abdullah bin Saba’adalah salah satu sebab, bahkan sebab yang paling utama kebencian sebagian besar orang syiah kepada ahlus sunnah.

# Darimana sumber kesimpulan Husain al-Musawi ini muncul..??? Sumber satu2nya adalah imajinasinya yang tak pernah kering. Coba perhatikan, Husain al-Musawi berusaha mempropokasi pembacanya. Pertanyaan kita apa hubungan antara Abdullah bin Saba’ dan kebencian kepada ahlu sunnah. Padahal kalau kita perhatikan seluruh buku2 syiah dan juga buku2 sunni dari yang besar sampai yang kecil tidak ada satupun yang memuji Abdulah bin Saba’. Semua buku itu mencela dan menyatakan kesesatan dan kekafiran Abdulah bin Saba’. Jadi sunni dan syiah sepakat akan kekafiran Abdulah bin Saba’. Seharusnya kesimpulan yang rasional dari hal itu adalah bahwa ahlussunnah dan syiah sama2 membenci Abdullah bin Saba’. Coba perhatikan enam kutipan kitab syiah yang ditulisnya dari mulai halaman 12 sampai halaman 15, bukankah semua isinya menghujat Abdullah bin Saba’..???

Seharusnya, jika dia menyatakan bahwa syiah adalah pengikut Ibnu Saba’, maka dia harus menyebutkan hadits2 syiah yg memuji Ibnu Saba’..??? tapi sayang dia takkan menemukannya….wallahu a’lam

SYIAH DAN PENAMAAN RAFIDHAH

Seperti kita lihat dalam bukunya yg saya bedah di froum diskusi ini, salah satu kebiasaan Husain al-Musawi adalah menciptakan riwayat palsu atau riwayat lemah dan juga memotong2 riwayat hadits2 syiah sesuka hatinya utk menciptakan citra buruk syiah. Tapi propagandanya memang sudah bisa ditebak bagi org2 yg mau menggunakan sedikit tenaga dan pikirannya.

Diantara yg dipotongnya adalah riwayat ttg penamaan Rafidhah kepada syiah….

- Pada halaman 22 poin 4, Husain al-Musawi menuliskan sbb :

> Sesunguhnya Ahlu Bait menyebut dan menyifati para pengikut mereka sebagai thagut umat ini, kelompok sempalan dan pelempar kitab. Kemudian mereka menambahkan atas hal itu dengan ucapannya, ‘Ingat sesungguhnya laknat Allah atas orang2 yg zahalim’. Oleh karena itu mereka datang kepada Abu Abdillah as, lalu berkata kepadanya : ‘Sesungguhnya kami telah dicela dengan celaan yang sangat berat di atas punggung-punggung kami, matilah terhadapnya hati-hati kami, para pemimpin menghalalkan darah-darah kami dalam hadits yang diriwayatkan oleh para ahli fikih mereka. Maka Abu Abdullah berkata, “Rafidhah”? Mereka menjawab “Ya”. Maka dia berkata, “tidak! demi Allah bukanlah mereka yang menamai kamu sekalian dengan nama tersebut, tetapi Allah lah yg menamai kamu sekalian dengan nama tersebut.” (Al-Kafi, 3/34)

Husain al-Musawi kemudian mengomentari riwayat tersebut dgn mengatakan, “Abu Abdullah menjelaskan bahwa yg menamai mereka dengan sebutan rafidhah adalah Allah dan bukan ahlus sunnah.
——————-

# Perhatikanlah bagaimana ia memgutip sebagian riwayat dan menyembunyikan riwayat lanjutannya. Setelah saya periksa teks aslinya ternyata sangat panjang (sampai dua halaman) dan Husain al-Musawi memotong teksnya sesuka hatinya untuk menunjukkan sisi negatifnya saja. Padahal hadits ini merupakan pujian bagi orang-orang syiah. Hadits tersebut terdapat dalam Kitab Raudhat al-Kafi bab Khutbah Thalutiyah yg merupakan pujian2 dan kelebihan2 org2 syiah.

Perhatikan teks lengkap berikut ini dari“Kitab Raudhat al-Kafi Bab Khutbah Thalutiyyah hdits no 6 sbb :

عِدَّةٌ مِنْ أَصْحَابِنَا عَنْ سَهْلِ بْنِ زِيَادٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سُلَيْمَانَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ كُنْتُ عِنْدَ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ( عليه السلام ) إِذْ دَخَلَ عَلَيْهِ أَبُو بَصِيرٍ وَ قَدْ خَفَرَهُ النَّفَسُ فَلَمَّا أَخَذَ مَجْلِسَهُ قَالَ لَهُ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ ( عليه السلام ) يَا أَبَا مُحَمَّدٍ مَا هَذَا النَّفَسُ الْعَالِي فَقَالَ جُعِلْتُ فِدَاكَ يَا ابْنَ رَسُولِ اللَّهِ كَبِرَ سِنِّي وَ دَقَّ عَظْمِي وَ اقْتَرَبَ أَجَلِي مَعَ أَنَّنِي لَسْتُ أَدْرِي مَا أَرِدُ عَلَيْهِ مِنْ أَمْرِ آخِرَتِي فَقَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ ( عليه السلام ) يَا أَبَا مُحَمَّدٍ وَ إِنَّكَ لَتَقُولُ هَذَا قَالَ جُعِلْتُ فِدَاكَ وَ كَيْفَ لَا أَقُولُ هَذَا فَقَالَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ أَ مَا عَلِمْتَ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُكْرِمُ الشَّبَابَ مِنْكُمْ
وَ يَسْتَحْيِي مِنَ الْكُهُولِ قَالَ قُلْتُ جُعِلْتُ فِدَاكَ فَكَيْفَ يُكْرِمُ الشَّبَابَ وَ يَسْتَحْيِي مِنَ الْكُهُولِ فَقَالَ يُكْرِمُ اللَّهُ الشَّبَابَ أَنْ يُعَذِّبَهُمْ وَ يَسْتَحْيِي مِنَ الْكُهُولِ أَنْ يُحَاسِبَهُمْ قَالَ قُلْتُ جُعِلْتُ فِدَاكَ هَذَا لَنَا خَاصَّةً أَمْ لِأَهْلِ التَّوْحِيدِ قَالَ فَقَالَ لَا وَ اللَّهِ إِلَّا لَكُمْ خَاصَّةً دُونَ الْعَالَمِ قَالَ قُلْتُ جُعِلْتُ فِدَاكَ فَإِنَّا قَدْ نُبِزْنَا نَبْزاً انْكَسَرَتْ لَهُ ظُهُورُنَا وَ مَاتَتْ لَهُ أَفْئِدَتُنَا وَ اسْتَحَلَّتْ لَهُ الْوُلَاةُ دِمَاءَنَا فِي حَدِيثٍ رَوَاهُ لَهُمْ فُقَهَاؤُهُمْ قَالَ فَقَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ ( عليه السلام ) الرَّافِضَةُ قَالَ قُلْتُ نَعَمْ قَالَ لَا وَ اللَّهِ مَا هُمْ سَمَّوْكُمْ وَ لَكِنَّ اللَّهَ سَمَّاكُمْ بِهِ أَ مَا عَلِمْتَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ أَنَّ سَبْعِينَ رَجُلًا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ رَفَضُوا فِرْعَوْنَ وَ قَوْمَهُ لَمَّا اسْتَبَانَ لَهُمْ ضَلَالُهُمْ فَلَحِقُوا بِمُوسَى ( عليه السلام ) لَمَّا اسْتَبَانَ لَهُمْ هُدَاهُ فَسُمُّوا فِي عَسْكَرِ مُوسَى الرَّافِضَةَ لِأَنَّهُمْ رَفَضُوا فِرْعَوْنَ وَ كَانُوا أَشَدَّ أَهْلِ ذَلِكَ الْعَسْكَرِ عِبَادَةً وَ أَشَدَّهُمْ حُبّاً لِمُوسَى وَ هَارُونَ وَ ذُرِّيَّتِهِمَا ( عليهما السلام ) فَأَوْحَى اللَّهُ عَزَّ وَ جَلَّ إِلَى مُوسَى ( عليه السلام ) أَنْ أَثْبِتْ لَهُمْ هَذَا الِاسْمَ فِي التَّوْرَاةِ فَإِنِّي قَدْ سَمَّيْتُهُمْ بِهِ وَ نَحَلْتُهُمْ إِيَّاهُ فَأَثْبَتَ مُوسَى ( عليه السلام ) الِاسْمَ لَهُمْ ثُمَّ ذَخَرَ اللَّهُ عَزَّ وَ جَلَّ لَكُمْ هَذَا الِاسْمَ حَتَّى نَحَلَكُمُوهُ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ رَفَضُوا الْخَيْرَ وَ رَفَضْتُمُ الشَّرَّ افْتَرَقَ النَّاسُ كُلَّ فِرْقَةٍ وَ تَشَعَّبُوا كُلَّ شُعْبَةٍ فَانْشَعَبْتُمْ مَعَ أَهْلِ بَيْتِ نَبِيِّكُمْ ( صلى الله عليه وآله ) وَ ذَهَبْتُمْ حَيْثُ ذَهَبُوا وَ اخْتَرْتُمْ مَنِ اخْتَارَ اللَّهُ لَكُمْ وَ أَرَدْتُمْ مَنْ أَرَادَ اللَّهُ فَأَبْشِرُوا ثُمَّ أَبْشِرُوا فَأَنْتُمْ وَ اللَّهِ الْمَرْحُومُونَ الْمُتَقَبَّلُ مِنْ مُحْسِنِكُمْ وَ الْمُتَجَاوَزُ عَنْ مُسِيئِكُمْ مَنْ لَمْ يَأْتِ اللَّهَ عَزَّ وَ جَلَّ بِمَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَمْ يُتَقَبَّلْ مِنْهُ حَسَنَةٌ وَ لَمْ يُتَجَاوَزْ لَهُ عَنْ سَيِّئَةٍ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ فَهَلْ سَرَرْتُكَ قَالَ قُلْتُ جُعِلْتُ فِدَاكَ زِدْنِي فَقَالَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ إِنَّ لِلَّهِ عَزَّ وَ جَلَّ مَلَائِكَةً يُسْقِطُونَ الذُّنُوبَ عَنْ ظُهُورِ شِيعَتِنَا كَمَا يُسْقِطُ الرِّيحُ الْوَرَقَ فِي أَوَانِ سُقُوطِهِ وَ ذَلِكَ قَوْلُهُ عَزَّ وَ جَلَّ الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَ مَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَ يَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آمَنُوا اسْتِغْفَارُهُمْ وَ اللَّهِ لَكُمْ دُونَ هَذَا الْخَلْقِ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ فَهَلْ سَرَرْتُكَ قَالَ قُلْتُ جُعِلْتُ فِدَاكَ زِدْنِي قَالَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ لَقَدْ ذَكَرَكُمُ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ فَقَالَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجالٌ صَدَقُوا ما عاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضى نَحْبَهُ وَ مِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ وَ ما بَدَّلُوا تَبْدِيلًا
إِنَّكُمْ وَفَيْتُمْ بِمَا أَخَذَ اللَّهُ عَلَيْهِ مِيثَاقَكُمْ مِنْ وَلَايَتِنَا وَ إِنَّكُمْ لَمْ تُبَدِّلُوا بِنَا غَيْرَنَا وَ لَوْ لَمْ تَفْعَلُوا لَعَيَّرَكُمُ اللَّهُ كَمَا عَيَّرَهُمْ حَيْثُ يَقُولُ جَلَّ ذِكْرُهُ وَ ما وَجَدْنا لِأَكْثَرِهِمْ مِنْ عَهْدٍ وَ إِنْ وَجَدْنا أَكْثَرَهُمْ لَفاسِقِينَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ فَهَلْ سَرَرْتُكَ قَالَ قُلْتُ جُعِلْتُ فِدَاكَ زِدْنِي فَقَالَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ لَقَدْ ذَكَرَكُمُ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ فَقَالَ إِخْواناً عَلى سُرُرٍ مُتَقابِلِينَ وَ اللَّهِ مَا أَرَادَ بِهَذَا غَيْرَكُمْ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ فَهَلْ سَرَرْتُكَ قَالَ قُلْتُ جُعِلْتُ فِدَاكَ زِدْنِي فَقَالَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ وَ اللَّهِ مَا أَرَادَ بِهَذَا غَيْرَكُمْ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ فَهَلْ سَرَرْتُكَ قَالَ قُلْتُ جُعِلْتُ فِدَاكَ زِدْنِي فَقَالَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ لَقَدْ ذَكَرَنَا اللَّهُ عَزَّ وَ جَلَّ وَ شِيعَتَنَا وَ عَدُوَّنَا فِي آيَةٍ مِنْ كِتَابِهِ فَقَالَ عَزَّ وَ جَلَّ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَ الَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ إِنَّما يَتَذَكَّرُ أُولُوا الْأَلْبابِ فَنَحْنُ الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَ عَدُوُّنَا الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ وَ شِيعَتُنَا هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ فَهَلْ سَرَرْتُكَ قَالَ قُلْتُ جُعِلْتُ فِدَاكَ زِدْنِي فَقَالَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ وَ اللَّهِ مَا اسْتَثْنَى اللَّهُ عَزَّ وَ جَلَّ بِأَحَدٍ مِنْ أَوْصِيَاءِ الْأَنْبِيَاءِ وَ لَا أَتْبَاعِهِمْ مَا خَلَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ ( عليه السلام ) وَ شِيعَتَهُ فَقَالَ فِي كِتَابِهِ وَ قَوْلُهُ الْحَقُّ يَوْمَ لا يُغْنِي مَوْلًى عَنْ مَوْلًى شَيْئاً وَ لا هُمْ يُنْصَرُونَ إِلَّا مَنْ رَحِمَ اللَّهُ يَعْنِي بِذَلِكَ عَلِيّاً ( عليه السلام ) وَ شِيعَتَهُ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ فَهَلْ سَرَرْتُكَ قَالَ قُلْتُ جُعِلْتُ فِدَاكَ زِدْنِي قَالَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ لَقَدْ ذَكَرَكُمُ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ إِذْ يَقُولُ يا عِبادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلى أَنْفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعاً إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ وَ اللَّهِ مَا أَرَادَ بِهَذَا غَيْرَكُمْ فَهَلْ سَرَرْتُكَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ قَالَ قُلْتُ جُعِلْتُ فِدَاكَ زِدْنِي فَقَالَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ لَقَدْ ذَكَرَكُمُ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ فَقَالَ إِنَّ عِبادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطانٌ وَ اللَّهِ مَا أَرَادَ بِهَذَا إِلَّا الْأَئِمَّةَ ( عليهم السلام ) وَ شِيعَتَهُمْ فَهَلْ سَرَرْتُكَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ قَالَ قُلْتُ جُعِلْتُ فِدَاكَ زِدْنِي فَقَالَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ لَقَدْ ذَكَرَكُمُ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ فَقَالَ فَأُولئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَ الصِّدِّيقِينَ وَ الشُّهَداءِ وَ الصَّالِحِينَ وَ حَسُنَ
أُولئِكَ رَفِيقاً فَرَسُولُ اللَّهِ ( صلى الله عليه وآله ) فِي الْآيَةِ النَّبِيُّونَ وَ نَحْنُ فِي هَذَا الْمَوْضِعِ الصِّدِّيقُونَ وَ الشُّهَدَاءُ وَ أَنْتُمُ الصَّالِحُونَ فَتَسَمَّوْا بِالصَّلَاحِ كَمَا سَمَّاكُمُ اللَّهُ عَزَّ وَ جَلَّ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ فَهَلْ سَرَرْتُكَ قَالَ قُلْتُ جُعِلْتُ فِدَاكَ زِدْنِي قَالَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ لَقَدْ ذَكَرَكُمُ اللَّهُ إِذْ حَكَى عَنْ عَدُوِّكُمْ فِي النَّارِ بِقَوْلِهِ وَ قالُوا ما لَنا لا نَرى رِجالًا كُنَّا نَعُدُّهُمْ مِنَ الْأَشْرارِ أَتَّخَذْناهُمْ سِخْرِيًّا أَمْ زاغَتْ عَنْهُمُ الْأَبْصارُ وَ اللَّهِ مَا عَنَى وَ لَا أَرَادَ بِهَذَا غَيْرَكُمْ صِرْتُمْ عِنْدَ أَهْلِ هَذَا الْعَالَمِ شِرَارَ النَّاسِ وَ أَنْتُمْ وَ اللَّهِ فِي الْجَنَّةِ تُحْبَرُونَ وَ فِي النَّارِ تُطْلَبُونَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ فَهَلْ سَرَرْتُكَ قَالَ قُلْتُ جُعِلْتُ فِدَاكَ زِدْنِي قَالَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ مَا مِنْ آيَةٍ نَزَلَتْ تَقُودُ إِلَى الْجَنَّةِ وَ لَا تَذْكُرُ أَهْلَهَا بِخَيْرٍ إِلَّا وَ هِيَ فِينَا وَ فِي شِيعَتِنَا وَ مَا مِنْ آيَةٍ نَزَلَتْ تَذْكُرُ أَهْلَهَا بِشَرٍّ وَ لَا تَسُوقُ إِلَى النَّارِ إِلَّا وَ هِيَ فِي عَدُوِّنَا وَ مَنْ خَالَفَنَا فَهَلْ سَرَرْتُكَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ قَالَ قُلْتُ جُعِلْتُ فِدَاكَ زِدْنِي فَقَالَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ لَيْسَ عَلَى مِلَّةِ إِبْرَاهِيمَ إِلَّا نَحْنُ وَ شِيعَتُنَا وَ سَائِرُ النَّاسِ مِنْ ذَلِكَ بُرَآءُ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ فَهَلْ سَرَرْتُكَ وَ فِي رِوَايَةٍ أُخْرَى فَقَالَ حَسْبِي .

“Sejumlah sahabat kami, dari Sahal bin Ziad, dari Muhammad bin Sulaiman, dari ayahnya berkata: Aku berada di sisi Abu Abdillah as, mendadak Abu Basir datang. Beliau kelihatan gelisah dengan nafasnya yg sesak. Setelah dia duduk, maka Abu Abdillah as berkata kepadanya: Wahai Abu Muhammad, mengapa engkau resah seperti ini? Maka dia menjawab : Aku jadikan diriku sbg tebusan utkmu, wahai putra Rasulullah, umurku telah tua, tulangku lemah dan ajalku semkain dekat, tetapi aku belum tahu bagaimana keadaanku di akhirat kelak.?

Abu Abdillah as berkata: Wahai Abu Muhammad, mengapa engkau berkata seperti itu? Abu Basir berkata: Aku jadikan diriku sbg tebusan utkmu, mengapa aku tidak boleh berkata demikian? Maka Imam as berkata: Tidakkah engkau tahu bahwa sesungguhnya Allah memuliakan para pemuda dan malu kepada golongan tua diantara kamu? Abu Basir berkata: Aku jadikan diriku sebagai tebusan utkmu, bagaimana Dia memuliakan para pemuda di kalangan kita dan malu kepada yang tua?

Abu Abdilah as. berkata: “Dia memuliakan para pemuda diantara kamu supaya Dia tidak menyiksa mereka dan Dia malu kepada kelompok tua diantara kamu supaya Dia tidak menghisab mereka. Abu Basir berkata: Aku jadikan diriku sbg tebusanmu, adakah hal ini hanya khusus untuk kita atau untuk semua ahli tauhid? Abu Abdillah as berkata: “Tidak, demi Allah hal ini khusus untuk kamu dan tidak untuk yg lain. Abu Basir berkata: “Aku jadikan diriku sbg tebusan utkmu, kami telah buruk, punggung kami patah, hati kami mati, penguasa menghalalkan darah kami dengan hadis2 yang diriwayatkan oleh para fukaha mereka.

Abu Abdillah as. berkata : Rafidhah? Abu Basir berkata: Ya!. Beliau as. berkata : “Bukan mereka yang menamai kamu demikain, tetapi Allah swt yang telah menamai kamu dengan nama tersebut. TIDAKKAH ENGKAU TAHU WAHAI ABU MUHAMMAD, BAHWA ADA 70 LAKI-LAKI BANI ISRAEL BERSAMA FIRA’UN YANG MENGIKUTINYA. KETIKA MEREKA MELIHAT KESESATAN FIR’AUN DAN PETUNJUK DARI MUSA AS, MAKA MEREKA MENOLAK (RAFADHU) FIR’AUN.

KEMUDIAN MEREKA MENGIKUTI MUSA DAN BERADA DALAM NAUNGAN MUSA AS, DAN MEEKA DIKENAL SEBAGAI ORG2 YANG RAJIN BERIBADAH. MEREKA MENOLAK FIRA’UN. MAKA ALLAH MEWAHYUKAN KEPADA MUSA AS AGAR MENJADIKAN NAMA ITU UNTUK MEREKA DI DALAM TAURAT.

SESUNGGUHNYA AKU MENJADIKAN NAMA MEREKA, KEMUDIAN ALLAH MENYIMPAN NAMA TERSEBUT SEHINGGA MEMBERIKAN NAMA TERSEBUT KEPADA KAMU SEKALIAN. WAHAI ABU MUHAMMAD, MEREKA TELAH MENOLAK KEBAIKAN SEDANGKAN KAMU SEDANG MENOLAK KEJAHATAN. MANUSIA TERPECAH MENJADI BEBERAPA GOLONGAN DAN SYIAH, TETAPI KAMU TELAH MENJADI SYIAH AHLUL BAIT NABIMU. KARENA ITU, KAMU TELAH BERPEGANG DENGAN APA YANG TELAH DIPERINTAHKAN ALLAH DAN KAMU TELAH MEMILIH APA2 YANG TELAH DIPILIH ALLAH. MAKA BERGEMBIRALAH KAMU DAN BERITAKAN KABAR GEMBIRA INI KEPADA MEREKA.

Kemudian, selanjutnya Abu Abdilah as memberikan kabar gembira dan keutamaan serta kelebihan2 syiah mereka……silahkan anda baca riwayat di atas…maaf sy gak terjemahkan seluruhnya… takut kepanjangan..

# Perhatikanlah…bahwa dengan membaca keseluruhan hadits ini, maka akan dengan jelas terlihat bahwa Husain al-Musawi berusaha membalikkan fakta yg sebenarnya dengan memotong2 riwayat sesuka hatinya…

Apakah Husain al-Musawi ingin mengatakan bahwa org2 yg menolak (rafadhu) Firuan adalah org2 sesat dan yg mengikuti Fira’aun adalah org2 soleh yg selamat….???

Begitulah org2 syiah menolak pemerintahan2 zalim yg meniru pemerintahan Fira’un. Jika Fir’aun dahulu kala memeriksa semua rumah utk mencari dan membunuh anak lelaki yg akan meruntuhkan kekuasaanya… maka penguasa2 masa itu…membunuh para ahlul bait Rasul saaw. Mereka meracun Hasan as dan membunuh Husain as dan keluarganya serta sahabat2nya di Karbala…Tidak hanya sampai disitu, mereka mengawasi setiap Keturunan Rasulullah saaw berikutnya dan mengawasi para pengiktunya. Mencaci maki ahlul bait dan pengikutnya…membunuh org2 yg tidak mau mencaci keluarga Nabi saaw.

Sampai2..seperti Firaun di zaman Musa as, mereka juga mengawasi rumah Imam Hasan al-Askari (Imam kesebelas syiah) utk mencari tahu kelahiran bayinya al-Imam Muhammad al-Mahdi afs dan membunuhnya, karena mereka tahu Imam Mahdi dan para pengikutnya akan meruntuhkan kekuasaan mereka…..org2 syiah inilah yg disebut hadits tersebut sbg yg menolak (rafadhu) penguasa zalim….apakah org yg menolak pemimpin2 zalim seperti Firaun itu sesat..??? silahkan anda jawab sendiri….karena sy rasa tidak perlu diajari lagi.

Bersambung

HUSEIN AL-MUSAWI MEMANIPULASI AYAT AL-QURAN TENTANG SIKAP KEBENCIAN FATIMAH ZAHRA as ATAS KELAHIRAN IMAM HUSAIN as.

Oleh : Candiki Repantu

Tuhan berfirman di dalam al-Quran menginagtkan kita untuk tidak berdusta, “Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka Itulah orang-orang pendusta. (Q.S. an-Nahl : 105)

Ayat di atas memberikan ancaman keras bagi para pendusta, terutama berdusta atas nama Tuhan. Dan Husein al-Musawi ternyata telah membuat dirinya dilumuri kedustaan melalui bukunya tersebut. Telah kita perhatikan bersama, bagaimana hebatnya taktik Husein al-Musawi utk mengelabui pembaca dengan memotong-motong riwayat2 dari kitab2 ahlul bait sehingga riwayat tersebut menjadi tidak sesuai dengan teks asli dan maksud periwayatan. Tetapi tidak hanya sampai disitu, Husein al-Musawi bahkan rela memotong-motong ayat al-Quran (yang terselip di dalam sebuah hadits) utk mengelabui pembacanya, sehingga merubah maknanya dan menjadikan ayat itu sebagai hadits. Mari kita buktikan kedustaan yang dilakukan oleh Husein al-Musawi al-Kadzab.

Memang bagi pembaca yg tidak jeli, akan melihat bahwa riwayat itu mengindikasikan penghinaan pada Sayidah Fatimah az-Zahra as, tetapi jika kita lihat teks asli dan membacanya dengan teliti, maka akan jelaslah kebohongan yg diciptakan Husein al-Musawi. Dimana Husein al-Musawi memotong ayat al-Quran yg terletak di tengah-tengah hadits. Mari kita perhatikan riwayat dibawah ini yg ditulis oleh Husein al-Musawi al-Kadzab sbb :

> Pada halaman 30-31 Husein al-Musawi menulis :

“Al-Kulaini meriwayatkan dalam al-Ushul min al-Kitab al-Kafi : “Sesungguhnya Jibril turun kepada Nabi Muhammad s.a.w seraya berkata : Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah memberi kabar gembira dengan seorang anak yang akan lahir dari Fatimah, dia akan oleh umatmu setelahmu.’ Maka Nabi bersabda : Wahai Jibril dan keselamatan atas Tuhanku, saya tidak butuh kepada anak yang lahir dari Fatimah yang akan dibunuh oleh umatku setelahku.’ Maka Jibril naik lalu turun kembali dan mengatakan seperti di atas.

“Wahai Jibril dan keselamatan atas Tuhanku, saya tidak butuh kepada seorang bayi yang akan dibunuh oleh umatku setelahku.” Maka Jibril naik kelangit lalu turun kembali dan berkata : “Wahai Muhammad, sesungguhnya Tuhanmu menyampaikan salam kepadamu dan memberi kabar gembira kepadamu bahwa Dia akan menjadikan dalam keturunanmu keimaman, kepemimpinan dan wasiat.” Maka Nabi berkata : “sesungguhnya saya ridha”. Kemudian dia mengutus seseorang kepada Fatimah untuk menyampaikan bahwa Allah memberi kabar kepadaku dengan seorang anak yang akan lahir darimu yang akan di bunuh oleh umatku setelahku. Maka Fatimah mengutus seseorang kepada nabi untuk menyampaikan bahwa dia tidak butuh kepada seorang anak yg akan dibunuh oleh umatmu setelahmu. Lalu nabi mengutus kepadanya bahwa Allah azza wa Jalla akan menjadikan dalam keturunannnya keimaman, kepemimpinan dan wasiat. Maka Fatimah mengirim utusan kepadanya bahwa ia ridha. MAKA DIA MENGANDUNGNYA DENGAN PERASAAN TIDAK SUKA DAN MELAHIRKANNYA JUGA DENGAN PERASAAN TIDAK SUKA. Dan Husain tidak menyusu kepada Fatimah, juga kepada wanita yang lain. Nabi saw datang kepadanya, lalu meletakkan ibu jarinya ke dalam mulutnya, maka Husain mengisapnya hingga cukup untuk dua sampai tiga hari.”

Setelah menulis riwayat di atas Husein al-Musawi berkomentar dengan melakukan tuduhan-tuduhan yang disengaja utnutk memjelekkan citra mazhab syiah :

“SAYA TIDAK MENGETAHUI APAKAH MUNGKIN RASULULLAH MENOLAK KABAR GEMBIRA YANG DIBERIKAN ALLAH KEPADANYA? DAN APAKAH MUNGKIN JUGA FATIMAH AZ-ZAHRA MENOLAK KEPUTUSAN YANG TELAH DITETAPKAN ALLAH DAN ALLAH HENDAK MEMBERI KABAR GEMBIRA DENGANYA, SEHINGGA DIA BERKATA, SAYA TIDAK BUTUH DENGANNYA.? APAKAH DIA MENGANDUNG HUSAIN DALAM KEADAAN TIDAK SENANG, DAN MELAHIRKANNYA DALAM KEADAAN TIDAK SENANG? APAKAH DIA JUGA MENOLAK UNTUK MENYUSUI HUSAIN SEHINGGA NABI DATANG UNTUK MENYUSUINYA DENGAN MEMASUKKAN IBU JARINYA UNTUK MENGENYANGKANNYA UNTUK DUA SAMPAI TIGA HARI.?”

# Saya Jawab :

Dari kutipan Husein al-Musawi al-Kadzab diatas, yang ingin saya permasalhkan adlah kutipannya yang menyebutkan : “MAKA DIA MENGANDUNGNYA DENGAN PERASAAN TIDAK SUKA DAN MELAHIRKANNYA JUGA DENGAN PERASAAN TIDAK SUKA.”

Dengan kutipan itu, Husein al-Musawi al-Kadzab ingin menujukkan bahwa Fatimah az-Zahra as tidak suka mengandung dan melahirkan Imam Husein as.

Setelah memeperhatikan riwayat yg dikutip oleh Husein al-Musawi, saya merasa ada sesuatu yg tidak beres dalam periwayatn di atas. Saya lagi-lagi mencurigai bahwa seperti kebiasaanya yg telah kita saksikan bersama bahwa Husein al-Musawi al-Kadzab sering mengutip hadits dhaif dan memelintir suatu riwayat demi mencapai keinginannya untuk menfitnah mazhab syiah. Dan ternyata, dugaan saya tidak keliru, saya menemukan bahwa Husein al-Musawi memanipulasi ayat al-Quran yg terdapat di pertengahan riwayat tersebut. Mari kita perhatikan teks asli berikut ini yang saya kutip dari Kitab Ushul al-Kafi jilid 1 Bab Maulid Husain as :

- مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى عَنْ عَلِيِّ بْنِ إِسْمَاعِيلَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو الزَّيَّاتِ عَنْ رَجُلٍ مِنْ أَصْحَابِنَا عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ( عليه السلام ) قَالَ إِنَّ جَبْرَئِيلَ ( عليه السلام ) نَزَلَ عَلَى مُحَمَّدٍ ( صلى الله عليه وآله ) فَقَالَ لَهُ يَا مُحَمَّدُ إِنَّ اللَّهَ يُبَشِّرُكَ بِمَوْلُودٍ يُولَدُ مِنْ فَاطِمَةَ تَقْتُلُهُ أُمَّتُكَ مِنْ بَعْدِكَ فَقَالَ يَا جَبْرَئِيلُ وَ عَلَى رَبِّيَ السَّلَامُ لَا حَاجَةَ لِي فِي مَوْلُودٍ يُولَدُ مِنْ فَاطِمَةَ تَقْتُلُهُ أُمَّتِي مِنْ بَعْدِي فَعَرَجَ ثُمَّ هَبَطَ ( عليه السلام ) فَقَالَ لَهُ مِثْلَ ذَلِكَ فَقَالَ يَا جَبْرَئِيلُ وَ عَلَى رَبِّيَ السَّلَامُ لَا حَاجَةَ لِي فِي مَوْلُودٍ تَقْتُلُهُ أُمَّتِي مِنْ بَعْدِي فَعَرَجَ جَبْرَئِيلُ ( عليه السلام ) إِلَى السَّمَاءِ ثُمَّ هَبَطَ فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ إِنَّ رَبَّكَ يُقْرِئُكَ السَّلَامَ وَ يُبَشِّرُكَ بِأَنَّهُ جَاعِلٌ فِي ذُرِّيَّتِهِ الْإِمَامَةَ وَ الْوَلَايَةَ وَ الْوَصِيَّةَ فَقَالَ قَدْ رَضِيتُ ثُمَّ أَرْسَلَ إِلَى فَاطِمَةَ أَنَّ اللَّهَ يُبَشِّرُنِي بِمَوْلُودٍ يُولَدُ لَكِ تَقْتُلُهُ أُمَّتِي مِنْ بَعْدِي فَأَرْسَلَتْ إِلَيْهِ لَا حَاجَةَ لِي فِي مَوْلُودٍ مِنِّي تَقْتُلُهُ أُمَّتُكَ مِنْ بَعْدِكَ فَأَرْسَلَ إِلَيْهَا أَنَّ اللَّهَ قَدْ جَعَلَ فِي ذُرِّيَّتِهِ الْإِمَامَةَ وَ الْوَلَايَةَ وَ الْوَصِيَّةَ فَأَرْسَلَتْ إِلَيْهِ أَنِّي قَدْ رَضِيتُ فَ

حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهاً وَ وَضَعَتْهُ كُرْهاً وَ حَمْلُهُ وَ فِصالُهُ ثَلاثُونَ شَهْراً حَتَّى إِذا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَ بَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَ عَلى والِدَيَّ وَ أَنْ أَعْمَلَ صالِحاً تَرْضاهُ وَ أَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي

فَلَوْ لَا أَنَّهُ قَالَ أَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي لَكَانَتْ ذُرِّيَّتُهُ كُلُّهُمْ أَئِمَّة وَ لَمْ يَرْضَعِ الْحُسَيْنُ مِنْ فَاطِمَةَ ( عليها السلام ) وَ لَا مِنْ أُنْثَى كَانَ يُؤْتَى بِهِ النَّبِيَّ فَيَضَعُ إِبْهَامَهُ فِي فِيهِ فَيَمُصُّ مِنْهَا مَا يَكْفِيهَا الْيَوْمَيْنِ وَ الثَّلَاثَ فَنَبَتَ لَحْمُ الْحُسَيْنِ ( عليه السلام ) مِنْ لَحْمِ رَسُولِ اللَّهِ وَ دَمِهِ وَ لَمْ يُولَدْ لِسِتَّةِ أَشْهُرٍ إِلَّا عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ ( عليه السلام ) وَ الْحُسَيْنُ بْنُ عَلِيٍّ ( عليه السلام ) . وَ فِي رِوَايَةٍ أُخْرَى عَنْ أَبِي الْحَسَنِ الرِّضَا ( عليه السلام ) أَنَّ النَّبِيَّ ( صلى الله عليه وآله ) كَانَ يُؤْتَى بِهِ الْحُسَيْنُ فَيُلْقِمُهُ لِسَانَهُ فَيَمُصُّهُ فَيَجْتَزِئُ بِهِ وَ لَمْ يَرْتَضِعْ مِنْ أُنْثَى .

“Muhammad bin Yahya, dari Ali bin Ismail, dari Muhammad bin Amru al-Zayyat, dari seorang laki-laki sahabat kami, dari Abu Abdillah as yang berkata: “Sesungguhnya Jibril turun kpd Nabi Muhammad saaw dan berkata : ‘Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah memberi kabar gembira kepada engkau dengan seorang bayi yang kelak dilahirkan oleh Fatimah as, tetapi umatmu akan membunuhnya setelahmu. Maka berkatalah Rasul saaw : ‘Wahai Jibrail, salam atas Tuhanku, aku tidak berhajat pada anak yang akan dibunuh oleh umatku setelahku, lalu Jibril as telah naik ke langit. Kemudian turun dan mengatakan hal yang sama…..dst…. Kemudian Jibril turun kembali dan berkata : “Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah menyampaikan salam dan memberi kabar gembira kepada engkau bahwa Dia menjadikan pada keturunanmu imamah, wilayah dan wasiat. Maka Rasul saaw bersabda: “Sungguh aku ridha”.

Kemudian Rasul saaw mengabarkan kepada Fatimah as : “Sesungguhnya Allah telah memberi kabar gembira kepadaku dengan seorang bayi yang kelak dilahirkan oleh engkau, umatku akan membunuhnya setelahku, lalu Fatimah as memberikan jawaban : “Aku tidak berhajat kepada bayi yang dilahirkan olehku, yang akan dibunuh oleh umatmu setelahmu”….

Kemudian Rasul saaw memberitahukan kepadanya bahwa Allah swt telah menjadikan pada keturunanya imamah, wilayah dan wasiat. Lalu Fatimah berkata : “Sesungguhnya aku ridha.

(Allah berfirman) : “IBUNYA MENGANDUNGNYA DENGAN SUSAH PAYAH, DAN MELAHIRKANNYA DENGAN SUSAH PAYAH PULA. MENGANDUNGNYA SAMPAI MENYAPIHNYA ADALAH TIGA PULUH BULAN SEHINGGA APABILA DIA TELAH DEWASA DAN UMURNYA SAMPAI EMPAT PULUH TAHUN DIA BERDOA: YA, TUHANKU, TUNJUKILAH AKU UNTUK MENSYUKURI NIKMAT ENGKAU YANG TELAH ENGKAU BERIKAN KEPADAKU DAN KEPADA IBU BAPAKU DAN SUPAYA AKU DAPAT BERBUAT AMAL YANG SOLEH YANG ENGKAU RIDHAI; BERILAH KEBAIKAN KEPADAKU DENGAN (MEMBERI) KEBAIKAN KEPADA ANAK CUCUKU. (lihat Q.S Al-Ahqaf : 15).

Seandainya Rasul saaw tidak berkata: “berilah kepadaku kebakan dengan kebaikan bagi anak cucuku” maka, keturunnay telah menjadi para imam semuanya.

Imam Husein as tidak menyusu kepada Fatimah as dan lainnya. Rasul saaw datang dan meletakkan jarinya dimulut Husein as, lalu Husein as menghisapnya sehinga cukup untuknya sampai dua atau tiga hari. Maka daging Husain as tumbuh dari daging Rasul saaw dan darahnya. Tidak pernah dilahirkan (seorg bayi berumur) enam bulan melainkan Isa bin Maryam a.s dan Husain bin Ali as.

Di dalam riwayat lain, dari Abul Hasan al-Ridha as bahwa Husain a.s dibawa kepada Nabi saaw, beliau telah mengulurkan lidahnya, lalu Husein telah menghisapnya, dan cukuplah hal itu dan Husein as tidak menyusu pada wanita manapun. (lihat kitab Ushul al-Kafi jilid 1 bab Maulid Husain as, hadits no. 4)

# Al-Majlisi di dalam kitab Mir’at al-Uqul menegaskan bahwa hadits ini mursal (lihat Mir’at al-Uqul, juz. 5 hal. 364). Dalam kesempatan ini saya tidak ingin mengomentari kualitas hadits tersebut, tetapi lebih pada manipulasi yang dilakukan oleh Husein a-Musawi. Manipulasi itu adalah sebagai berikut.

# Husein al-Musawi memotong dan mengubah teks ayat al-Quran surat al-Ahqaf : 15 yang ada di dalam hadits tersebut sehingga di dalam buku “MENGAPA SAYA KELUAR DARI SYIAH?” diterjemahkan sbb :

“MAKA DIA MENGANDUNGNYA DENGAN PERASAAN TIDAK SUKA (Hamalathu kurhan).. DAN MELAHIRKANNYA JUGA DENGAN PERASAAN TIDAK SUKA (wa wadha’athu kurhan).

Kalimat yang dimanipulasi oleh Husein al-Musawi al-Kadzab di atas jelas mengindikasikan bahwa Sayidah fatimah az-Zahra tidak menyukai (benci) kehamilannya dan tidak suka atas kelahiran Imam Husein as. seperti dikomentari oleh Husein al-Musawi al-Kadzab.

# Coba kita perhatikan bagaimna Husein al-Musawi mengubah ayat “HAMALATHU UMMUHU KURHAN” (حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهاً ) yang berarti “IBUNYA MENGANDUNGNYA DENGAN SUSAH PAYAH/KESULITAN” menjadi kalimat “HAMALATHU KURHAN” حَمَلَتْهُ كُرْهاً ً (dengan menghapus kalimat “UMMUHU”) YANG diartikan “MAKA DIA MENGANDUNGNYA DENGAN PERASAAN TIDAK SUKA.”

Dan kalimat “WA WADHA’ATHU KURHAN” (وَ وَضَعَتْهُ كُرْهاً ) diartikan “DAN MELAHIRKANNYA DENGAN PERASAAN TIDAK SUKA”, padahal semestinya diartikan “DAN MELAHIRKANNYA DENGAN SUSAH PAYAH/KESULITAN”.

# Ketahuliah wahai saudaraku sekalian, Husein al-Musawi al-Kadzab telah memanipulasi dengan memotong ayat al-Quran yang terdapat pada hadits tersebut. Lengkapnya hadits tersebut adalah memuat Q.S. al-Ahqaf : 15 sbb :

حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهاً وَ وَضَعَتْهُ كُرْهاً وَ حَمْلُهُ وَ فِصالُهُ ثَلاثُونَ شَهْراً حَتَّى إِذا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَ بَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَ عَلى والِدَيَّ وَ أَنْ أَعْمَلَ صالِحاً تَرْضاهُ وَ أَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي

“(firman Allah): “IBUNYA MENGANDUNGNYA DENGAN SUSAH PAYAH, DAN MELAHIRKANNYA DENGAN SUSAH PAYAH PULA. Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun dia berdoa : ya, tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat engkau yang telah engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapaku dan supaya aku dapat berbuat amal yang soleh yang engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi) kebaikan kepada anak cucuku. (Q.S. Al-Ahqaf : 15).

Jadi, Kesimpulannya : “TIDAK ADA DISEBUTKAN DI DALAM HADITS ITU BAHWA FATIMAH as MENGANDUNG DAN MELAHIRKAN HUSEIN as DALAM KEADAAN TIDAK SUKA”. HANYA SAJA AYAT AL-QURAN SURAT AL-AHQAF : 15 ITU YANG DIMANIPULASI OLEH HUSEIN AL-MUSAWI AL-KADZAB.”

Kemudian bukannya Fatimah yang tidak mau menyusui Husain as, melainkan Husain as memang tidak menyusu kepada siapapun sampai Rasulullah saaw datang dan memasukkan jarinya untuk memnuhi kebutuhan Husain as. Tentang hal ini, banyak terdapat hadits dan riwayat-riwayat sejarah mengenainya. Apakah Husein al-Musawi tidak tahu, atau hanya kura-kura dalam perahu, alias pura-pura tidak tahu? Ambillah pelajaran wahai orang-orang yang berpikir…! Wallahu a’lam.

HUSAIN AL-MUSAWI AL-KADZAB MEMALSUKAN HADITS TENTANG MUT’AH

Oleh : Candiki Repantu

Artinya : “Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka Itulah orang-orang pendusta. (Q.S. an-Nahl : 105)

Rasulullah saaw memerintahkan al-Walid bin Uqbah untuk mengambil zakat kepada kaum al-Harts bin Dlirar al-Khuzai yang telah memeluk Islam. Tetapi ditengah jalan, al-Walid merasa gentar dan kembali kepada Nabi saaw dengan membuat laporan palsu bahwa al-Harts dan kaumnya tidak mau membayar zakat bahkan ingin membunuhnya. Mendengar laporan ini Rasulullah saaw mengutus utusan lagi untuk memperjelas persoalannya sebelum mengambil tindakan tegas. Hasilnya, ternyata al-Walid berdusta kepada Rasulullah saaw tentang al-Harts dan kaumnya. Peristiwa ini diabadikan Allah dengan menurunkan Q.S. al-Hujurat : 6, “Hai orang-orang yg beriman, apabila datang kepadamu orang fasik membawa berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaanya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (Q.S. al-Hujurat : 6)

Husain al-Musawi al-Kadzab dengan bukunya, “Mengapa Saya Keluar dari Syiah?”, kelihatannya melanjutkan tradisi al-Walid bin Uqbah yang digelar fasik oleh Allah swt. Jika, pada bukti sebelumnya, saya telah menunjukkan kedustaan Husein al-Musawi al-Kadzab karena dia memanipulasi hadits atau ayat dengan cara memotong kalimatnya, maka pada kesempatan ini, saya akan menunjukkan bagaimana kedustaan yang lebih nyata yang dilakukan oleh Husein al-Musawi al-Kadzab, yaitu bahwa “HUSEIN AL-MUSAWI AL-KADZAB MEMBUAT HADITS PALSU MELALUI IMAJINASINYA DAN KEMUDIAN MENISBAHKAN HAL ITU KEPADA RASUL SAAW DAN PARA IMAM AHLUL BAIT AS.”

Mari kita telusuri kedustaan yang di buat oleh Husein al-Musawi al-Kadzab saat membahas tentang mut’ah berikut ini.

> Husein al-Musawi menulis pada halaman 44, empat hadits tentang Mut’ah sbb :

1. Nabi saaw bersabda, “Barangsiapa yg melakukan mut’ah kpd seorang wanita mukminah, maka seolah2 dia berkunjung ke Ka’bah sebanyak tujuh puluh kali.”

Kemudian Husain al-Musawi berkomentar : “Apakah org yg melakukan mut’ah sama dengan org yg mengunjungi ka’bah sebanyak tujuh puluh kali? Dengan siapa? Dengan wanita mukminah?

# Saya Jawab :

Perhatikanlah Husain al-Musawi al-Kadzab menulis hadits di atas tanpa menunjukkan sumbernya shg kita kesulitan melacak pengutipannya dan memeriksa hadits tersebut. Saya sendiri berusaha mencari dibeberapa kitab hadits syiah yang berbicara tentang mut’ah, tetapi tak menemukan hadits tersebut. Jadi, bisa dihipotesakan bahwa Husein al-Musawi al-Kadzab tidak bisa menunjukkan sumbernya, karena hadits itu hanya buatannya sendiri yg dihasilkan dari khayalannya. Silahkan, jika ada para pendukung Husein al-Musawi al-Kadzab yang bisa menunjukkan secara lengkap hadits tersebut dengan sanadnya di dalam kitab hadits standar syiah untuk kita periksa kualitasnya.
——–
> Husein al-Musawi al-Kadzab menulis pd halaman 44 hadits ke-2 :

2. Ash-Shaduq meriwayatkan dari Ash-Shadiq as, dia berkata, “sesungguhnya mut’ah adalah agamaku dan agama bapakku. Brangsiapa yg mengerjakannya, maka dia telah mengamalkan agamanya. Barangsiapa yg mengingkarinya, maka berarti dia mengingkari agama kami dan berakidah dengan selain agama kami.” (Man la Yahdhuruhu al-Faqih, 3/366)…Husain al-Musawi melanjutkan, “Ini adalah pengkafiran terhadap org yg menolak mut’ah”.

# Saya Jawab :

Setelah membaca dan melacak hadits tersebut di dalam kitab Man Layahdhuruh al-Faqih, saya tidak menemukan riwayat tersebut di atas. Jadi, lagi-lagi Husein al-Musawi membuat hadits palsu melalui imajinasinya sendiri. Sungguh inilah mujtahid yg salah kaprah. Yang ada dan masyhur dikalangan Syiah adalah sebuah riwayat dengan berbunyi “TAQIYAH ADALAH AGAMAKU DAN AGAMA BAPAKKU”… bukan kalimat “Mut’ah adalah agamaku dan agama bapakku”. Dengan demikian, maka Husein al-Musawi telah merubah lafal hadits sesuka hatinya. Sungguh ini merupakan kedustaan yang sangat nyata. Meskipun begitu, (mungkin saja saya kurang jeli memeriksa kitab Man Layahdhuruh al-Faqih), saya persilahkan bagi pendukung Husein al-Musawi al-Kadzab utk menunjukkan hadits tersebut secara lengkap dengan sanadnya dan sumbernya di dalam kitab Man Layahdhuruhul Faqih bab dan nomor haditsnya.
————-

> Selanjutnya Husein al-Musawi al-kadzab menuliskan hadits ke-3 pd hal 44 :

3. Dikatakan kepada Abu Abdulah as, “Apakah dalam mut’ah terdapat pahala? Dia berkata, “Jika dengannya dia mengharap ridha Allah swt, tidak ada satu kata pun yg dia katakan kecuali Allah menuliskannya sebagi suatu kebaikan. Jika dia mendekatinya, maka Allah akan mengampuni dosanya berkat mut’ah yg dia lakukan. Jika dia mandi, maka Allah akan mengampuni dosanya sebanyak air yg membasahi rambutnya.” (Man La Yahdhuruhu al-Faqih, 3/366)

# Saya jawab :

Hadits tersebut memang ada di dalam kitab Man La yahdhuruh al-Faqih juz 3, Kitab al-Nikah bab al-Mut’ah, hadits no. 4602. Tetapi, ktahuilah bahwa hadits ini dhaif dan tidak bisa dijadikan hujjah dengan sanad dari Shalih bin Uqbah bin Sam’an, yang mana Sholih bin Uqbah adalah sanad yang dinilai dhaif dan pembohong oleh para ulama rijal (lihat Kitab Rijal karya al-Hilli juz 2, rijal no 237; Kitab Naqd al-Rijal karya Sayid Mushtafa juz 2, hal. 411 rijal no. 2592). Dengan demikian hadits ini gugur
———–

> Huseein al-Musawi al-Kadzab menulis hadits ke-4 sbb :

4. Nabi saaw bersabda, “Barangsiapa yg melakukan mut’ah dengan seorang wanita, maka dia akan aman dari murka Allah yg Maha Memaksa. Barangsiapa yg melakukan mut’ah dua kali, maka dia akan dikumpulkan bersama org2 baik. Barangsiapa yg melakukan mut’ah tiga kali, maka dia akan berdampingan denganku di surga. (Man La Yahdhuruhu al-Faqih, 3/366)

# Saya Jawab :

Lagi-lagi Husein al-Musawi memalsukan hadits melalui imajinasinya. Setelah berusaha melacaknya pada sumber yang disebutkan Husein al-Musawi, saya tidak menemukan riwayat tersebut. Hadits ini tidak saya temukan di dalam kitab Man La Yahdhuruhu al-Faqih dan kemungkinan besar juga tidak terdapat di dalam kitab hadits syiah lainnya. Silahkan, bagi para pendukung Husein al-Musawi jika ada yang mau menunjukkan secara jelas dimana terdapat hadits tersebut, sehingga kita bisa memeriksanya.
————

> Kemudian Husein al-Musawi al-Kadzab menuliskan hadits yang katanya dikutip dari Tafsir Fathullah Kasyani sbb :

5. Sayid Fathullah Kasyani meriwayatkan dalam tafisr Manhaj ash-Shadiqin dari Nabi saaw sesungguhnya dia bersabda, “Barangsiapa yg melakukan mut’ah satu kali, maka dia seperti derajat Husain as. Barangsiapa melakukan muta’ah dua kali, maka dia seperti derajat Hasan as. Barangsiapa yg melakukan Mut’ah tiga kali, maka derajatnya seperti derajat Ali bin Abi Thalib, dan barangsiapa ygmelakukan mut’ah empat kali, maka derajatnya seperti derajatku.”

# Saya Jawab :

Hadits ini juga tidak ada sumbernya, dan tidak ada di dalam kitab Tafsir Fathulah Kasyani saat menafsirkan Q.S. an-Nisa : 24. Perhatikan, Husain al-Musawi tidak menyebut halaman berapa dari kitab Tafsir Minhaj ash-shadiqin. Lagi-lagi Husein al-Musawi al-Kadzab menunjukkan kedurhakaannya pada Nabi saaw dan ahlul bait dengan membat hadits palsu atas nama mereka.

Demikianlah kedustaan nyata yang di buat oleh Husein al-Musawi terhadap Rasulullah saaw dan ahul baitnya. Ambillah pelajaran wahai orang-orang yang berakal. Wallahu a’lam.

Pujian Nabi SAW kepada Syi’ah Ali dan Ahlu Baitnya AS

Orang yang pertama menggunakan nama Syi’ah bagi pengikut-pengikut ‘Ali Amiru l-Mukminin AS adalah Rasulullah SAW sendiri. Beliaulah orang yang meletakkan batu asas dan menyemaikan benihnya yang pertama. Dan orang yang memperkuatkannya adalah Imam Amiru l-Mukminin ‘Ali AS. Pada masa itu Syi’ah dikenali dengan nama Syi’ah ‘Ali AS.

Ibn Khaldun berkata di dalam Muqaddimahnya bahwa Syi’ah dari segi bahasa bererti sahabat dan pengikut. Dan dari segi istilah Fuquha’ dan Mutakallimun dahulu dan sekarang ialah pengikut ‘Ali dan anak-anaknya.

Muhammad Kurdi ‘Ali di dalam Khutatal-Syam berkata:”Tidak perlu bagi kita mencari dalil bahwa sebahagian sahabat dikenali dengan Syi’ah Ali. Dan dia berkata lagi:’Adapun sebahagian penulis mengatakan bahwa mazhab Syi’ah adalah daripada bid’ah ‘Abdullah bin Saba’ yang dikenali dengan Ibn Sauda’ adalah tidak dikenali di dalam mazhab mereka.’ Muhammad Kurdi ‘Ali bukanlah seorang Syi’ah malah seorang yang menentang Syi’ah. Tetapi ‘kebenaran membuatkan orang yang insaf atau degil bercakap.’

Ibn Hajr di dalam al-Sawa’iq al-Muhriqah[1] meriwayatkan daripada Ibn ‘Abbas bahwa dia berkata: Manakala Allah SWT menurunkan (Surah al-Bayyinah (98): 7):”Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal soleh, mereka itulah sebaik-baik makhluk.” Rasulullah SAW bersabda kepada ‘Ali:’Mereka itulah anda dan Syi’ah anda. Dan Syi’ah anda datang pada hari kiamat di dalam keadaan ridha dan diridhai dan musuh anda datang dengan marah dan dibelenggu.’ Beliau berkata, siapakah musuhku? Nabi SAW bersabda:’Orang yang membersihkan diri mereka daripada anda dan melaknati anda.’

Al-Hamawaini al-Syafi’i di dalam Fara’id al-Simtin[2], dengan sanadnya daripada Jabir bahwa dia berkata:”Kami berada di sisi Nabi SAW maka ‘Ali AS pun datang. Rasulullah SAW bersabda:’Saudaraku telah datang kepada kalian.’ Kemudian beliau bersabda:’Demi diriku di tanganNya. Sesungguhnya ini (‘Ali AS) dan Syi’ahnya, mereka itulah orang yang menang (al-Fa’izun) pada hari kiamat.

Sesungguhnya beliaulah orang yang pertama di kalangan kalian beriman bersamaku, orang yang paling setia di kalangan kalian dengan janji Allah SWT, orang yang paling teguh di kalangan kalian dengan suruhan Allah SWT, orang yang paling adil di kalangan kalian tentang orang di bawah jagaannya, orang yang paling adil di kalangan kalian di dalam pembahagian dan orang yang paling tinggi martabatnya di kalangan kalian di sisi Allah SWT.’

Dan dia berkata:(Surah al-Bayyinah(98): 7) diturunkan kepada ‘Ali AS. Dia berkata lagi: Sahabat-sahabat Muhammad SAW apabila ‘Ali AS datang kepada mereka, mereka berkata: Sebaik-baik makhluk telah datang.

Al-Khawarizmi al-Hanafi di dalam Manaqib[3]nya telah meriwayatkannya daripada Jabir daripada Nabi SAW. Dia juga meriwayatkannya daripada al-Mansur al-Dawaniqi di dalam hadith yang panjang daripada Nabi SAW mengenainya. Nabi SAW bersabda:’Sesungguhnya ‘Ali dan Syi’ahnya besok merekalah yang mendapat kemenangan di hari kiamat, memasuki syurga.’

Dia juga meriwayatkan daripada Nabi SAW, sesungguhnya Nabi SAW bersabda:’Wahai ‘Ali! Sesungguhnya Allah telah mengampuni untuk anda, keluarga anda, Syi’ah anda dan pencinta-pencinta Syi’ah anda.’ Di dalam riwayat yang lain Nabi SAW bersabda:’Ali adalah orang yang paling alim, paling awal Islam.’ Sesungguhnya Syi’ah beliaulah mendapat kemenangan di hari esok.’

Di dalam riwayat yang lain pula Nabi SAW bersabda:’Sekiranya tidak ada golongan yang akan berkata kepada anda sebagaimana diperkatakan oleh Nasara tentang ‘Isa AS, nescaya aku akan berkata sesuatu mengenai anda dan mereka akan mengambil tanah di bawah kedua tapak kaki anda, dan dari ‘lebihan air basuhan’ anda untuk bersyafa’at dengannya. Tetapi cukuplah kedudukan anda di sisiku sebagaimana kedudukan Harun di sisi Musa. Aku adalah daripada anda, anda mewarisiku dan aku mewarisi anda melainkan tidak ada nabi selepasku. Andalah yang membersihkan dhimmahku. Syi’ah anda akan berada di atas mimbar-mimbar daripada cahaya. Dan sesungguhnya kebenaran berada di atas lidah anda, di hati dan di dahi anda.’

Al-Khawarizimi al-Hanafi juga meriwayatkan di dalam Manaqib[4]nya hadith yang panjang dengan sanadnya daripada Ibn ‘Abbas marfu’:’Sesungguhnya Jibra’il memberitahu bahwa ‘Ali dan Syi’ahnya bergembira bersama Muhammad di syurga.’

Ibn Hajr di dalam al-Sawa’iq al-Muhriqah[5] meriwayatkan daripada ‘Ali AS. Sesungguhnya beliau berkata: Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda:’Wahai Ali! Anda akan mendatangi Allah dan Syi’ah anda di dalam keadaan redha dan diredhai. Musuh anda akan mendatangi kemarahanku di dalam keadaan terbelenggu. Kemudian diikat kedua-dua tangannya di tengkuknya. Dan memperlihatkan kepada mereka belenggu-belenggu tersebut.’ Ibn Hajr berpendapat bahwa Syi’ah di dalam hadith-hadith tersebut dimaksudkan dengan Ahlu s-Sunnah. Kerana Syi’ah menurutnya dilaknati Allah kerana bid’ah mereka[6].

Al-Qunduzi al-Hanafi meriwayatkan di dalam Yanabi’ al-Mawaddah[7] daripada Mawaddah al-Qurba karangan al-Hamdani al-Syafi’i di dalam al-Mawaddah al-Thaniah daripada Abu Dhar daripada Nabi SAW sesungguhnya beliau bersabda:’Sesungguhnya Allah melihat ke bumi daripada ‘ArasyNya lalu memilihku, memilih ‘Ali untukku sebagai menantuku, memberikan kepadanya Fatimah dan Dia tidak memberikan kelebihan kepada seorangpun daripada anak-anak lelakinya. Dia memberikan kelebihan kepada Hasan dan Husain dan Dia tidak memberikannya kepada seorangpun seumpamanya. Dia telah memberikan kepadanya mertuanya seumpamanya. Dia telah memberikan kepadaku al-Haudh. Dia juga telah menjadikannya (‘Ali) sebagai pembahagi syurga dan neraka di mana Dia tidak memberikannya seumpamanya kepada para malaikat. Dia telah menjadikan Syi’ahnya di syurga. Dia memberikan kepadaku saudaraku seumpama aku dan tidak ada seorangpun ‘saudara lelaki’ seumpamaku.’

Wahai saudaraku! Sesiapa yang ingin memadamkan kemarahan Tuhan, dan ingin supaya Allah menerima amalannya, maka hendaklah dia mencintai ‘Ali bin Abu Talib kerana mencintainya menambahkan keimanan. Dan mencintainya dapat mencairkan segala kejahatan sebagaimana api dapat mencairkan logam.

Dia juga meriwayatkannya di dalam Yanabi’ al-Mawaddah[8] bahwa Anas bin Malik berkata: Nabi SAW bersabda:’Jibra’il memberitahuku bahwa sesungguhnya Allah mencintai ‘Ali. Dia tidak mencintai para malaikat sebagaimana Dia mencintai ‘Ali. Setiap kali Allah bertasbih. Dia menjadikan beberapa Malaikat yang mengucap istighfar kepada orang yang mencintainya (‘Ali) dan Syi’ahnya sehingga hari kiamat.’
Dan di dalam riwayat yang lain Nabi SAW ditanya tentang ‘Siapakah yang berteduh di bawah bendera anda? Nabi SAW bersabda:’Mukminun para wali Allah, Syi’ah yang benar, Syi’ahku dan Syi’ah Ali, pencinta-pencintanya, penolong-penolongnya. Alangkah beruntungnya mereka dan sebaik-baik darjat. Dan neraka wail bagi orang yang membohongi aku tentang ‘Ali atau membohongi ‘Ali keranaku, atau mempertikaikannya mengenai maqamnya yang dikurniakan Allah SWT[9].

Ibn al-Maghazali al-Syafi’i di dalam Manaqib[10]nya dengan sanadnya daripada Nabi SAW bahwa dia berkata: Nabi SAW bersabda:’Ummat aku yang akan memasuki syurga sebanyak tujuh puluh ribu orang tanpa hisab.’ Kemudian beliau berpaling kepada ‘Ali AS dan bersabda:’Mereka itu adalah Syi’ah anda dan anda adalah imam mereka.’

Ibn al-Sibagh al-Maliki di dalam al-Fusul al-Muhimmah[11], al-Syablanji di dalam Nur al-Absar[12] meriwayatkan daripada Ibn ‘Abbas bahwa dia berkata: Manakala turunnya ayat (Surah al-Bayyinah(98): 7), Nabi SAW bersabda kepada ‘Ali:’Anda dan Syi’ah anda datang pada hari kiamat di dalam keadaan redha dan meredhai, sementara musuh-musuh anda datang di dalam keadaan marah dan terbelenggu.’

Ibn al-Maghazali al-Maliki di dalam Manaqib[13]nya meriwayatkan daripada Ibn Abbas bahwa dia berkata: Aku bertanya Rasulullah SAW tentang firmanNya (Surah al-Wiqi’ah (56):10-11)’Dan orang-orang yang paling dahulu beriman, mereka itulah orang yang didekatkan (kepada Allah).’ Beliau menjawab: Jibra’il telah memberitahu kepadaku bahwa maksud ayat itu ialah ‘Ali dan Syi’ahnya yang mendahului ke syurga, dan hampir kepada Allah kerana kekeramatannya.’

Ahmad bin Hanbal di dalam Manaqib[14]nya menerangkan bahwa sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda kepada Ali AS:’Wahai ‘Ali! Tidakkah anda ridha, sesungguhnya anda bersamaku di syurga, Hasan dan Husain, zuriat kita di belakang kita, isteri-isteri kita di belakang zuriat-zuriat kita dan syi’ah kita yang mempercayai kita mempunyai akhlak yang terpuji”.

Dan banyak lagi hadith-hadith Nabi SAW mengenai pujian beliau terhadap Syi’ah ‘Ali dan Ahlu l-Baitnya telah diriwayatkan oleh para ulama Ahlu s-Sunnah di dalam Sahih-sahih, Musnad-musnad, dan karangan-karangan mereka. Al-’Allamah Sayyid al-’Abbas al-Husaini al-Kasyani telah mencatat lebih daripada seratus hadith yang muktabar semuanya menurut Ahlu s-Sunnah wa l-Jama’ah di dalam bukunya berjudul al-Syi’ah wa l-’Itrah al-Tahirah.

Aku berdoa ke hadrat Allah SWT supaya memberkati Sayyid al-Kasyani dan semua ulama kami yang Abrar agar semua karya mereka dapat dicetak dan dicetak lagi bagi faedah kaum Muslimin.

——

1. al-Sawa’iq al-Muhriqah, hlm. 128.
2. Fara’id al-Simtin, I, hlm. 87 (Bab 31).
3. al-Manaqib, hlm. 105 & 118.
4. al-Manaqib, hlm. 120.
5. al-Sawa’iq al-Muhriqah, hlm. 25.
6. Ibn Hajr menerima hadith-hadith tersebut tetapi dengan memberi pengertian yang aneh. Semoga Allah membakarnya dengan petirNya.
7. Yanabi’ al-Mawaddah, hlm. 289 & 305.
8. Yanabi’ al-Mawaddah, hlm. 243-246.
9. Ibid.
10. al-Manaqib, hlm. 79.
11. al-Fusul al-Muhimmah, hlm. 105.
12. Nur al-Absar, hlm. 102.
13. al-Manaqib, hlm. 85.
14. al-Manaqib, hlm. 159.

Kesaksian Para Sahabat atas Perubahan Sunnah Nabi … Simaklah Pengakuan Pedoman Agama Sunni

Abi Sa’id al-Khudri berkata: “Pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, Rasulullah SAW keluar rumah untuk menunaikan shalat Id. Usai shalat beliau berdiri menghadap para hadirin yang masih duduk di saf, kemudian berkhotbah yang penuh dengan nasehat dan perintah.”

Abu Sa’id melanjutkan: “Cara seperti ini dilanjutkan oleh para sahabatnya sampailah suatu hari ketika aku keluar untuk shalat Id (Idul Fitri atau Idul Adha) bersama Marwan, gubernur kota Madinah. Sesampainya di sana Marwan langsung naik ke atas mimbar yang dibuat oleh Katsir bin Shalt. Aku tarik bajunya.

Tapi dia menolakku. Marwan kemudian memulai khotbah Id-nya sebelum shalat. Kukatakan padanya: “Demi Allah kalian telah rubah.” “Wahai Aba Sa’id” Tukas Marwan, “Telah sirna apa yang kau ketahui” Kukatakan padanya: “Demi Allah,
apa yang kutahu adalah lebih baik dari apa yang tidak kuketahui.” Kemudian Marwan berkata lagi: “Orang-orang ini tidak akan mau duduk mendengar khotbah kami seusai shalat. Karena itu kulakukan khotbah sebelumnya.”(1)

Coba teliti gerangan apa yang menyebabkan sahabat seperti ini berani merubah Sunnah Nabi. Itu dikarenakan Bani Umaiyah (yang mayoritasnya adalah sahabat Nabi) terutama Muawiyah bin Abu Sufyan yang konon sebagai Penulis Wahyu, senantiasa memaksa kaum muslimin untuk mencaci dan melaknat Ali bin Abi Thalib dari atas mimbar- mimbar masjid. Muawiyah memerintahkan orang-orangnya di setiap negeri untuk menjadikan cacian dan laknat pada Ali sebagai suatu tradisi yang mesti dinyatakan oleh para khatib.

Ketika sejumlah sahabat protes atas ketetapan ini, Muawiyah tidak segan-segan
memerintahkan mereka dibunuh atau dibakar. Muawiyah telah membunuh sejumlah sahabat yang sangat terkenal seperti Hujur bin U’dai beserta para pengikutnya, dan sebagian lain dikuburkan hidup-hidup. “Kesalahan” mereka (dalam persepsi Muawiyah) semata-mata karena enggan mengutuk Ali dan bersikap protes atas dekrit Muawiyah.

Abul A’la al-Maududi dalam kitabnya al-Khilafah Wal Muluk (Khilafah Dan Kerajaan) menukil dari Hasan al-Bashri yang berkata: “Ada empat hal dalam diri Muawiyah, yang apabila satu saja ada pada dirinya, itu sudah cukup sebagai alasan untuk mencelakakannya:
1. Dia berkuasa tanpa melakukan sebarang musyawarah sementara sahabat-sahabat lain yang merupakan cahaya kemuliaan masih hidup.
2. Dia melantik puteranya (Yazid) sebagai pemimpin setelahnya, padahal sang putera adalah seorang pemabuk dan pecandu minuman keras dan musikus.
3. Dia menyatakan Ziyad (seorang anak zina) sebagai puteranya, padahal Nabi SAWW bersabda: “Anak adalah milik sang ayah, sementara yang melacur dikenakan sanksi rajam.
4. Dia telah membunuh Hujur dan para pengikutnya. Karena itu maka celakalah dia lantaran (membunuh) Hujur; dan celakalah dia karena Hujur dan para pengikutnya.(2)

Sebagian sahabat yang mukmin lari dari masjid seusai shalat karena tidak mau mendengar khotbah yang berakhir pada kutukan terhadap Ali dan keluarganya. Itulah kenapa Bani Umaiyah merubah Sunnah Nabi ini dengan mendahulukan khotbah sebelum shalat agar yang hadir terpaksa mendengarnya.

Nah, sahabat jenis apa yang berani merubah Sunnah Nabinya, bahkan hukum-hukum Allah sekalipun semata-mata demi meraih cita-citanya yang rendah dan ekspresi dari rasa dengki yang sudah terukir. Bagaimana mereka bisa melaknat seseorang yang telah Allah sucikan dari segala dosa dan nista dan diwajibkan oleh Allah untuk bersalawat kepadanya sebagaimana kepada Rasul-Nya.

Allah juga telah mewajibkan kepada semua manusia untuk mencintainya hingga Nabi SAW bersabda: “Mencintai Ali adalah iman dan membencinya adalah nifak (kemunafikan).”(3)

Namun sahabat-sahabat seperti ini telah merubahnya. Mereka berkata, kami telah dengar sabda-sabda Nabi tentang Ali, tetapi kami tidak mematuhinya. Seharusnya mereka bersalawat kepadanya, mencintainya dan taat patuh kepadanya; namun sebaliknya mereka telah mencaci dan melaknatnya sepanjang enam puluh tahun, seperti yang dicatat oleh sejarah.

Apabila sahabat-sahabat Musa pernah sepakat mengancam nyawa Harun dan
hampir-hampir membunuhnya, maka sebagian sahabat Muhammad SAWW telah membunuh “Harun-nya” (yakni Ali) dan mengejar-ngejar anak keturunannya serta para Syi’ahnya di setiap tempat dan ruang. Mereka telah hapuskan nama-nama dan bahkan melarang kaum muslimin menggunakan nama mereka.

Tidak sekadar itu, hatta para sahabat besar dan agungpun mereka paksa untuk melakukan hal yang serupa. Demi Allah, sangat mengherankan ketika membaca buku-buku referensi kitab ahl-Sunnah yang memuat berbagai Hadits yang mewajibkan cinta pada Nabi dan saudaranya serta anak pamannya, yakni Ali bin Abi Thalib, dan sejumlah Hadits-Hadits lain yang mengutamakan Ali atas para sahabat yang lain. Sehingga Nabi SAW bersabda:
“Engkau (hai Ali) di sisiku bagaikan kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tiada Nabi setelahku.”(4)
Atau sabdanya:
“Engkau dariku dan aku darimu”.(5)
Dan sabdanya lagi:
“Mencintai Ali adalah iman dan membencinya adalah nifak”.(6)
Sabdanya:
“Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah gerbangnya”.(7)
Dan sabdanya:
“Ali adalah wali (pemimpin) setiap mukmin setelahku.”(8)
Dan sabdanya:
“Siapa yang menjadikan aku sebagai maulanya (pemimpinnya) maka Ali adalah
maulanya. Ya Allah, bantulah mereka yang mewila’nya dan musuhilah mereka yang memusuhinya.”(9)

Apabila kita ingin mencatat semua keutamaan Ali yang disabdakan oleh Nabi SAWW dan yang diriwayatkan oleh para ulama ahl-Sunnah dengan sanadnya yang shahih, maka ia pasti akan memerlukan suatu buku tersendiri. Bagaimana mungkin sejumlah sahabat seperti itu pura-pura tidak tahu akan Hadits ini, lalu mencacinya, memusuhinya, melaknatnya dari atas mimbar dan membunuh atau memerangi mereka?

Orang pertama yang pernah mengancam akan membakar rumahnya (Ali) beserta para penghuni yang ada di dalamnya adalah Umar bin Khattab; orang pertama yang memeranginya adalah Thalhah, Zubair, Ummul Mukminin Aisyah binti Abu Bakar, Muawiyah bin Abu Sufyan dan A’mr bin A’sh dan sebagainya.
Rasa terkejut dan kaget ini bertambah dalam dan seakan tidak akan pernah berakhir berakhir.

Setiap orang yang berpikir rasional akan segera mendukung pendapat ini. Bagaimana bisa ulama-ulama Ahlu Sunnah sepakat mengatakan bahwa semua sahabat adalah adil sambil mengucapkan “Radhiallahu Anhum”, bahkan mengucapkan salawat untuk mereka tanpa kecuali.

Sehingga ada yang berkata, “Laknatlah Yazid tapi jangan berlebihan”. Apa yang dapat kita bayangkan tentang Yazid yang telah melakukan tragedi yang sangat tragis ini, yang tidak dapat diterima bahkan oleh akal dan agama. Aku nyatakan kepada Ahlu Sunnah Wal Jamaah, jika mereka benar-benar mengikut Sunnah Nabi, agar meninjau hukum Al-Qur’an dan Sunnah Nabi secara cermat dan seadil-adilnya tentang kefasikan Yazid dan kekufurannya. Rasululah SAW telah bersabda:
“Siapa yang mencaci Ali maka dia telah mencaciku; dan siapa yang mencaciku maka dia telah mencaci Allah; dan siapa yang mencaci Allah maka Allah akan menjatuhkannya ke dalam api neraka.”(10)

Demikian itu adalah sanksi bagi orang yang mencaci Ali. Maka bagaimana pula apabila ada orang yang melaknatnya dan memeranginya. Mana alim-ulama kita dari hakikat kebenaran ini? Apakah hati mereka telah tertutup rapat?

Anas bin Malik berkata:
“Tiada sesuatu yang kuketahui di zaman nabi lebih baik dari (hukum) shalat.” Kemudian dia bertanya: “Tidakkah kalian kehilangan sesuatu di dalam shalat?”

Az-Zuhri pernah bercerita:
“Suatu hari aku berjumpa dengan Anas bin Malik di Damsyik. Saat itu beliau sedang menangis. “Apa yang menyebabkan Anda menangis?”, tanyaku. “Aku telah lupa segala yang kuketahui melainkan shalat ini. Itupun telah kusia-siakan.” Jawab Anas.(11)

Agar jangan sampai terkeliru dengan mengatakan bahwa para Tabi’inlah yang merubah segala sesuatu setelah terjadinya sejumlah fitnah, perselisihan dan serta peperangan, ingin kunyatakan di sini bahwa orang pertama yang merubah Sunnah Rasul dalam hal shalat adalah khalifah muslimin yang ketiga, yakni Utsman bin Affan. Begitu juga Ummul Mukminin Aisyah. Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam kitabnya bahwa Rasulullah SAW menunaikan shalat di Mina dua rakaat (qashar). Begitu juga Abu Bakar, Umar dan periode awal dari kekhalifahan Utsman. Setelah itu Utsman Shalat di sana (Mina) sebanyak empat rakaat.”(12)

Muslim juga meriwayatkan dalam kitab Shahihnya bahwa Zuhri berkata: “Suatu hari aku bertanya pada Urwah kenapa Aisyah shalat empat rakaat dalam perjalanan musafirnya?”

“Aisyah telah melakukan takwil sebagaimana Utsman”(13) jawabnya. Umar bin Khattab juga tidak jarang berijtihad dan bertakwil di hadapan nas-nas Nabi yang sangat jelas, bahkan dihadapan nas-nas Al-Qur’an, lalu kemudian menjatuhkan hukuman mengikut pendapatnya.

Beliau pernah berkata: “Dua mut’ah yang dahulunya (halal) dan dilakukan di zaman Nabi, kini aku melarangnya dan mengenakan hukuman bagi orang yang melaksanakannya(14), (bertamattu’ dalam haji dan nikah mut’ah pent.) Beliau juga pernah berkata kepada orang yang junub tetapi tidak memperoleh air untuk mandi, “Jangan sembahyang”.

Walaupun ada firman Allah di dalam surah al-Maidah ayat 6: “… Lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang bersih”.

Bukhari meriwayatkan dalam kitab Shahihnya pada Bab Idza Khofa al-Junub A’la Nafsihi (Apabila Orang Junub Takut Akan Dirinya) berikut: “Kudengar Syaqiq bin Salmah berkata, suatu hari aku hadir dalam majlis Abdillah dan Abu Musa. Abu Musa bertanya pada Abdillah bagaimana pendapatmu tentang orang yang junub kemudian tidak memperoleh air untuk mandi?” Abdillah menjawab, “dia tidak perlu shalat sampai ia temukan air.” Abu Musa bertanya lagi, “bagaimana pendapatmu tentang jawaban Nabi kepada Ammar dalam masalah yang sama ini?” Abdullah menjawab, “Umar tidak begitu yakin dengan itu.” Abu Musa melanjutkan, “lalu bagaimana dengan ayat ini, (al-Maidah: 6)?” Abdullah diam tidak menjawab. Kemudian dia berkata, “apabila kita izinkan mereka (melakukan tayammum), niscaya mereka akan bertayammum saja dan tidak akan menggunakan air apabila udaranya dirasakan dingin. ” Kukatakan pada Syaqiqbahwa Abdillah sebenarnya tidak suka lantaran ini semata-mata; dan Syaqiq pun mengiakan”

Kesaksian Sahabat atas Diri Mereka
Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda kepada kaum Anshar: “Suatu hari kalian akan menyaksikan sifat tamak yang dahsyat sepeninggalku. Karena itu bersabarlah sehingga kalian menemui Allah dan Rasul-Nya di telaga haudh.” Anas berkata, “Kami tidak sabar.”(15)

Ala’ bin Musayyab dari ayahnya pernah berkata: “Aku berjumpa dengan Barra’ bin A’zib ra. Kukatakan padanya, “berbahagialah Anda karena dapat bersahabat dengan Nabi SAWW dan membai’atnya di bawah pohon (bai’ah tahta syajarah). Barra’ menjawab, “wahai putera saudaraku, engkau tidak tahu apa yang telah kami lakukan sepeninggalnya.”(16)

Jika sahabat utama yang tergolong di antara as-Sabiqin al-Awwalin dan pernah membai’at Nabi di bawah pohon, serta Allah rela kepada mereka dan Maha Tahu apa yang ada dalam hati mereka sehingga diberinya ganjaran yang besar; apabila sahabat-sahabat ini kemudian bersaksi bahwa dirinya dan para sahabat yang lain telah melakukan “sesuatu” sepeninggal Nabi, bukankah pengakuan mereka ini adalah bukti kebenaran yang disabdakan oleh Nabi SAW bahwa sebagian dari sahabatnya akan berpaling darinya sepeninggalnya.

Apakah seseorang yang berpikir rasional akan tetap mengatakan bahwa semua sahabat adalah adil seperti yang diklaim oleh Ahlu Sunnah Wal Jama’ah. Mereka yang mengklaim seperti itu jelas telah menyalahi nas dan akal. Karena dengan demikian hilanglah segala kriteria intelektual yang sepatutnya dijadikan pegangan sebuah penelitian dan kajian.

1 Shahih Bukhari jil. 1 hal. 122.
2 Al-Khilafah Wal Muluk Oleh al-Maududi hal. 106.
3 Shahih Muslim jil. 2 hal. 61
4 Shahih Bukhari jil. 2 hal. 305; Shahih Muslim jil. 2 hal. 366; Mustadrak al-Hakim jil. 3 hal. 109.
5 Shahih Bukhari jil. 1 hal. 76; Shahih Turmidzi jil. 5 hal. 300; Shahih Ibnu Majahjil. 1 hal. 44
6 Shahih Muslim jil. 1 hal. 61; Sunan an-Nasai jil. 6 hal. 177; Shahih Turmudzi jil. 8 hal. 306.
7 Shahih Thurmudzi jil. 5 hal. 201; Mustadrak al-Hakim jil. 3 hal. 126.
8 Musnad Ahmad Bin Hanbal jil. 5 hal. 25; Mustadrak al-Hakim jil. 3 hal. 134.
9 Shahih Muslim jil.2 hal.362; Mustadrak al-Hakim jil. 3 hal. 109; Musnad Ahmad Bin Hanbal jil. 4 hal, 281.
10 Mustadrak al-Hakim jil. 3 hal. 121; Khasais an-Nasai hal. 24; Musnad Ahmad Bin Hanbal jil. 6 hal. 33; Manaqib al-Khawarizmi
hal. 81; ar-Riyadh an Nadhirah oleh Thabari jil. 2 hal. 219; Tarikh as-Suyuti hal. 73.
11 Shahih Bukhari jil.l hal.74
12 Shahih Bukhari jil. 2 hal. 154; Shahih Muslim jil. 1 hal. 260
13 Shahih Muslim jil. 2 hal.134.
14 Shahih Bukhari jil. 1 hal. 54
15 Shahih Bukhari jil. 2 hal. 135
16 Shahih Bukhari jil.3 hal. 32.

Detik Detik Wafatnya Ammar Bin Yasir karena dilukai Pasukan Sayyidina Sunni yaitu Muawiyah ”yang adil” (nyindir ni)… ada sabda terkenal Nabi saw tentang Ammar, yaitu “Ammar, engkau akan dibunuh oleh golongan pendurhaka”.. Kemudian dalam perang Shiffin, ia menjadi syahid dalam memerangi pasukan Mu’awiyah.

Ammar bin Yasir
.
Abu Sinan ad-Duali berkata, “Saya melihat Ammar bin Yasir meminta minum. maka didatangkanlah kepadanya segelas susu. Lantas ia meminumnya dan berkata, “Sungguh benarlah Allah dan rasul-Nya. Pada hari ini aku akan menemui kekasih-kekasihku, Muhammad dan para pengikutnya. Sungguh Rasulullah pernah berkata kepadaku, “Sesungguhnya sesuatu yang terakhir kali akan engkau ambil dari dunia ini adalah minuman susu.” Demi Allah sekiranya musuh mampu mengalahkan kita, kita tetap yakin bahwa kita berada di atas kebenaran sedangkan mereka berada di atas kebatilan.”
.
Selain itu ada sabda terkenal Nabi saw tentang Ammar, yaitu “Ammar, engkau akan dibunuh oleh golongan pendurhaka”. Kemudian dalam perang Shiffin, ia menjadi syahid dalam memerangi pasukan Mu’awiyah.

Source: Tokoh-tokoh di Ranjang Kematian, karya Yusuf Ali Budawi; The Crisis of Muslim History, karya Mahmoud M. Ayoub; http://www.jalal-center.com; Khulafa’ rasyidin di antara Nas dan ijtihad.

Abu Dzar al-Ghifari wafat di pengasingan karena sering mengeritik kebijakan Kekhalifahan Utman bin Affan yang mana Usman dianggap ahlul surga oleh Sunni

Abu Dzar al-Ghifari
.
Ia wafat di pengasingan karena sering mengeritik kebijakan Kekhalifahan Utman bin Affan. al-Asytar berkata dari Ummu Dzar, “Pada saat Abu Dzar sakit menjelang wafatnya, istrinya menangis. Maka Abu Dzar bertanya, “Mengapa engkau menangis? Istrinya menjawab, “Aku menangis karena tidak ada yang membantuku mengafanimu. padahal aku tidak mempunyai pakaian yang cukup untuk mengafanimu dan engkau pun tidak mempunayi pakaian untuk itu”.
.

Abu Dzar berkata, ‘kalau begitu janganlah menangis. sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda kepada sekelompok orang yang aku berada di antara mereka. “Sungguh, salah seorang dari kalian akan mati di padang sahara dengan disaksikan oleh sekelompok orang Mukmin”. Semua yang mendengar sabda Nabi itu telah wafat di suatu desa atau dihadapan masyarakat muslim, kecuali aku. Akulah yang dimaksud, yang akan mati di padang sahara. Demi Tuhan, aku tidak berbohong dan tidak pula dibohongi. maka lihatlah ke jalan! isterinya bertanya, “Buat apa? Bukankah sudah tidak ada lagi orang yang berhaji?”
.
Isterinya segera menuju ke sebuah bukit pasir, berdiri di atasnya dan memandang. beberapa saat kemudian ia kembali kepada Abu Dzar untuk merawatnya. selang beberapa saat ia kembali lagi ke bukit pasir. Tiba-tiba di kejauhan tampak bayangan orang yang berjalan di atas kendaraan mereka, seolah-olah seperti burung rakham. Istri Abu Dzar melambai-lambaikan kain. maka mereka mendatangi dan berdiri di hadapannya. mereka bertanya, “Ada apakah dengan dirimu? ia balik bertaanya, “Maukah kalian mengafani seseorang dari kaum muslimin? Mereka bertanya “siapakah dia? ia menjawab “Abu Dzar”
.
Mereka segera memberangkatkan unta mereka dan melecutkan cemeti ke lehernya. mereka berpacu mendatangi Abu Dzar. Abu Dzar berkata, “Bergembiralah!” Kemudian Abu Dzar bercerita kepada mereka, “Sesungguhnya saya pernah mendengar Rasulullah saw bersabda kepada sejumlah orang yang aku berada di antara mereka. “Sungguh, salah seorang dari kalian akan mati di padang sahara dengan disaksikan oleh sekelompok orang Mukmin”. semua yang mendengar sabda Nabi itu telah wafat di suatu desa atau dihadapan masyarakat muslim, kecuali aku. Apakah kalian bisa mendengar? Sungguh seandainya aku atau isteriku mempunyai kain yang cukup untuk mengkafaniku, niscaya aku tidak akan menggunakannya sebagai kafanku selain kainku atau kain isteriku ini. Apakah kalian bisa mendengar? Sungguh aku menyumpah kalian dengan nama Allah dan Islam, jangan sampai salah seorang dari kalian mengkafaniku sedangkan ia pernah menjadi amir, syarif/pemimpin, naqib, atau kurir.

.
Maka tidak ada di antara orang tersebut yang tidak pernah menjadi salah satu dari apa yang disebutkan. “Aku akan mengkafanimu dengan selendang yang kukenakan ini, dan dengan dua kain lagi yang berada di dalam tas kulitku yang dipintal dan ditenun ibuku sendiri untuk diriku.” Akhirnya, pemuda itulah yang mengkafaninya dengan disaksikan sejumlah orang tersebut, di antara mereka adalah Hajar bin Adbar, Malik bin Asytar dan sejumlah orang yang semuanya dari Yaman.

Source: Tokoh-tokoh di Ranjang Kematian, karya Yusuf Ali Budawi; The Crisis of Muslim History, karya Mahmoud M. Ayoub; http://www.jalal-center.com; Khulafa’ rasyidin di antara Nas dan ijtihad.