Uncategorized

Yazid bin Mu’awiyah adalah orang yang bertanggung-jawab atas pembunuhan Imam Husain

Benarkah Yazid bin Mu’awiyah Tidak Terlibat Dalam Pembunuhan Husain bin Aliy?

Salah satu syubhat nashibiy dalam merendahkan Syi’ah adalah mereka menuduh bahwa sebenarnya kaum Syi’ah yang membunuh Imam Husain bin Aliy [‘alaihis salaam] dan di sisi lain mereka membela Yazid bin Mu’awiyah dan mengatakan bahwa ia tidak memerintahkan dan tidak terlibat atas pembunuhan tersebut.

Perkataan nashibiy tersebut kalau dipikirkan dengan baik akan menimbulkan banyak kerancuan, diantaranya adalah

  1. Dalam riwayat shahih memang disebutkan bahwa sebagian sahabat seperti Ibnu Umar mencela penduduk Iraq Kufah atas pembunuhan Imam Husain. Riwayat-riwayat seperti ini yang dijadikan hujjah oleh nashibiy untuk menyatakan bahwa kaum Syi’ah adalah pembunuh Husain, menurut pandangan mereka, siapa lagi penduduk Kufah kalau bukan Syi’ah?. Jadi yang dimaksudkan para nashibiy bahwa Syi’ah membunuh Imam Husain adalah sebagian penduduk Kuufah yang terlibat dalam pembunuhan Imam Husain dan keluarganya. Tentu tidak bisa dipukul rata bahwa semua penduduk Kuufah adalah pembunuh Husain. Betapa banyak orang-orang Kufah yang tsiqat di masa Imam Husain tersebut dan mungkin tidak ikut terlibat maka apakah dengan seenaknya bisa dikatakan mereka pembunuh Imam Husain hanya karena mereka tinggal di Kuufah?.
  2. Sebenarnya pihak yang lebih patut bertanggung jawab adalah para petinggi yang memerintahkan pembantaian tersebut yaitu Yazid atau yang memimpin serangan tersebut seperti Ubaidillah bin Ziyaad dan Umar bin Sa’ad. Sebagian penduduk kufah tidak akan terlibat jika tidak ada yang mempengaruhi, memaksa, mengancam atau memerintahkan mereka
  3. Pengertian Syi’ah pada masa tersebut tidaklah sama dengan Syi’ah sekarang yang dikatakan nashibiy sebagai rafidhah, Syi’ah di masa tersebut lebih tepat diartikan bertasyayyu’ dan tidak mesti berpaham rafidhah. Dan kalau kita melihat kitab Rijal maka makna Syi’ah seperti ini mencakup juga tabiin kufah yang tsiqat di sisi ahlus sunnah pada masa Husain bin Aliy dan sebagian ulama ahlus sunnah di masa setelahnya. Contoh para ulama ahlus sunnah yang mendapat predikat seperti ini misalnya Sulaiman bin Mihran Al A’masyiy, Syarik, Abdurrazaq, dan lain-lain.
  4. Kita tidak akan menemukan dalam kitab Syi’ah Imamiyah orang-orang seperti A’masyiy, Syarik, dan Abdurrazaq sebagai orang-orang yang mereka jadikan pegangan dalam kitab mereka tetapi kita dapat menemukan dalam kitab ahlus sunnah bahwa mereka walaupun dituduh Syi’ah tetapi hadis-hadis mereka tetap menjadi pegangan ahlus sunnah. Sekarang silakan para nashibiy tersebut memiikirkan dengan baik ketika mereka menyatakan kaum Syi’ah yang membunuh Imam Husain, maka itu Syi’ah yang bagaimana?. Syi’ah yang jadi pegangan ahlus sunnah atau Syi’ah yang jadi pegangan Syi’ah Imamiyah.

Jadi hakikat sebenarnya pembunuh Imam Husain adalah Ubaidillah bin Ziyad dan Umar bin Sa’ad bersama pasukan mereka yang menghadang Imam Husain di Karbala. Dalam pasukan tersebut terdapat mereka orang-orang Kufah yang memang setia dengan pemerintahan Yazid bin Mu’awiyah dan terdapat pula sebagian penduduk Kuufah yang terlibat karena pengaruh, atau ancaman dari Ubaidillah bin Ziyad. Dan tentu Yazid bin Mu’awiyah sebagai khalifah pada saat itu yang memerintahkan penyerangan kepada Imam Husain adalah orang yang paling patut untuk dikatakan sebagai pembunuh Imam Husain ['alaihis salaam].

Walaupun begitu, sudah seharusnya penduduk Kufah yang tidak terlibat dalam pembunuhan tersebut bergabung dengan Imam Husain dan membela Beliau bersama keluarganya. Bukankah mereka mengetahui bahwa akan ada pasukan yang dikerahkan untuk menghadang Imam Husain maka tidak ada tindakan yang benar pada saat itu kecuali bergabung dengan Imam Husain dan keluarganya.

.

.

.

Kemudian mengenai pembelaan nashibiy bahwa Yazid bin Mu’awiyah tidak terlibat atas pembunuhan Imam Husain maka memang kita temukan ada ulama yang menyatakan demikian seperti Ibnu Taimiyyah tetapi sebagian ulama lain telah menegaskan bahwa Yazid bin Mu’awiyah adalah pihak yang bertanggung jawab atas pembunuhan Imam Husain, diantara yang berpendapat demikian adalah Ibnu Katsiir, Ibnu Jauziy, Adz Dzahabiy, As Suyuthiy, Ibnu Hazm dan selainnya.

قلت ولما فعل يزيد بأهل المدينة ما فعل وقتل الحسين وأخوته وآله وشرب يزيد الخمر وارتكب أشياء منكرة بغضه الناس وخرج عليه غير واحد ولم يبارك الله في عمره

[Adz Dzahabiy] aku katakan “dan ketika Yazid melakukan terhadap penduduk Madinah apa yang telah ia lakukan, membunuh Husain, saudaranya dan keluarganya, Yazid meminum khamar, dan melakukan berbagai perbuatan mungkar, orang-orang jadi membencinya, menyimpang darinya lebih dari sekali dan Allah SWT tidak memberikan barakah dalam hidupnya” [Tarikh Al Islam Adz Dzahabiy 2/65]

As Suyuthiy dalam Tarikh Al Khulafaa’ setelah menyebutkan kisah pembunuhan Imam Husain, ia berkata

لعن الله قاتله و ابن زياد معه و يزيد

Laknat Allah atas yang membunuhnya, Ibnu Ziyaad dan Yaziid [Tarikh Al Khulafaa’ 1/182]

Ibnu Katsiir dalam kitabnya Bidayah Wan Nihayah pernah berkata

وقد أخطأ يزيد خطأ فاحشا في قوله لمسلم بن عقبة أن يبيح المدينة ثلاثة أيام، وهذا خطأ كبير فاحش، مع ما انضم إلى ذلك من قتل خلق من الصحابة وأبنائهم، وقد تقدم أنه قتلالحسين وأصحابه على يدي عبيد الله بن زياد

Dan sungguh Yazid telah berbuat kesalahan dengan kesalahan yang begitu keji, ia memerintahkan kepada Muslim bin ‘Uqbah untuk menyerang Madinah selama tiga hari, dan ini kesalahan yang besar dan keji, bersamaan dengan itu banyak sahabat dan anak-anak mereka terbunuh, dan telah disebutkan sebelumnya bahwa ia telah membunuh Husain dan para sahabatnya melalui tangan Ubaidillah bin Ziyaad [Al Bidayah Wan Nihayah 8/243]

.

.

.

Terdapat riwayat yang menunjukkan bahwa Yazid terlibat dalam pembunuhan Imam Husain sehingga kepala Imam Husain dibawa Ubaidillah bin Ziyaad kepada Yazid dan Yazid menusuk kepala Imam Husain tersebut

قال ابن أبي الدنيا وثنا أبو الوليد ، قال ثنا خالد بن يزيد بن أسد قال ثنا عمار الدهني عن أبي جعفر قال وضع رأس الحسين بين يدي يزيد وعنده أبو برزة، فجعل يزيد ينكت بالقضيب على فيه ، ويقول نفلقن هاماً…فقال له أبو برزة : ارفع قضيبك فوالله لربما رأيت فاه رسول الله صلى الله عليه وسلم على فيه يلثمه
قال ابن ابي الدنيا وثنا سلمة بن شبيب قال ثنا الحميدي عن سفيان قال سمعت سالم بن أبي حفصة يقول قال الحسن جعل يزيد بن معاوية يطعن بالقضيب موضع في رسول الله صلى الله عليه وسلم

Ibnu Abi Dunyaa berkata telah menceritakan kepada kami Abul Waliid yang berkata telah menceritakan kepada kami Khalid bin Yaziid bin Asad yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Ammar Ad Duhniy dari Abu Ja’far yang berkata Kepala Husain diletakkan dihadapan Yazid dan disisinya ada Abu Barzah, maka Yazid menusuknya dengan tongkat seraya berkata “telah terpotong kepala…” maka Abu Barzah berkata “angkat tongkatmu, demi Allah aku telah melihat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] menciumnya”

Ibnu Abi Dunyaa berkata dan telah menceritakan kepada kami Salamah bin Syabiib yang berkata telah menceritakan kepada kami Al Humaidiy dari Sufyaan yang berkata aku mendengar Salim bin Abi Hafshah mengatakan Al Hasan berkata “Yazid bin Mu’awiyah menusuk dengan tongkat [kepala Husain] pada tempat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] [menciumnya]…[Ar Rad ‘Ala Al Muta’ashib Ibnu Jauziy hal 58]

Sanad dari Ibnu Jauziy sampai ke Ibnu Abi Dunyaa, telah disebutkan dalam riwayat sebelumnya yaitu sebagai berikut

أخبرنا محمد بن ناصر ، قال : أخبرنا جعفر بن أحمد بن السراج ، قال : أخبرنا أبو طاهر محمد بن علي العلاف ، قال : أخبرنا أبو الحسين ابن أخي ميمي ، قال : ثنا الحسين بن صفوان ، قال : ثنا عبد الله بن محمد بن أبي الدنيا القرشي

Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Naashr yang berkata telah mengabarkan kepada kami Ja’far bin Ahmad bin As Siraaj yang berkata telah mengabarkan kepada kami Abu Thaahir Muhammad bin Aliy Al ‘Alaaf yang berkata telah mengabarkan kepada kami Abu Husain bin Akhiy Miimiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Husain bin Shafwaan yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Muhammad bin Abi Dunyaa Al Qurasyiy… [Ar Rad ‘Ala Al Muta’ashib Ibnu Jauziy hal 57]

Sanad Ibnu Jauziy sampai ke Ibnu Abi Dunyaa adalah jayyid [baik] berikut keterangan mengenai para perawinya

  1. Muhammad bin Naashir, dikenal dengan Ibnu Naashir seorang imam muhaddis mufiid Iraaq. Ibnu Jauziy berkata “syaikh kami yang tsiqat hafizh dhabit termasuk ahlus sunnah” [As Siyaar Adz Dzahabiy 20/265]
  2. Ja’far bin Ahmad As Siraaj seorang syaikh imam muhaddis musnad, Abu Bakar bin Arabiy berkata “tsiqat”. Ibnu Naashir berkata “tsiqat ma’mun” [As Siyaar Adz Dzahabiy 19/228]
  3. Abu Thahir Muhammad bin Aliy yang dikenal Ibnu Al ‘Alaaf seorang imam yang alim, Al Khatib berkata “aku menulis darinya dan ia shaduq” [As Siyaar Adz Dzahabiy 17/608]
  4. Abu Husain Muhammad bin ‘Abdullah bin Husain Al Baghdadiy yang dikenal Ibnu Akhiy Miimiy syaikh shaduq musnad seorang yang tsiqat [As Siyaar Adz Dzahabiy 16/565]
  5. Husain bin Shafwan Abu Aliy seorang syaikh muhaddis tsiqat [As Siyaar Adz Dzahabiy 15/442]
  6. Abdullah bin Muhammad bin ‘Ubaid yang dikenal Ibnu Abi Dunyaa seorang yang shaduq hafizh [Taqrib At Tahdzib 1/321 no 3591]

Kami menukil dua sanad dari Ibnu Abi Dunyaa yang disebutkan Ibnu Jauziy, keduanya mengandung kelemahan tetapi saling menguatkan sehingga kedudukannya menjadi hasan.

.

.

Sanad pertama yaitu dari Ibnu Abi Dunyaa dari Abu Walid dari Khalid bin Yazid bin Asad dari ‘Ammar Ad Duhniy dari Abu Ja’far, berikut keterangan para perawinya

  1. Abul Walid adalah Ahmad bin Janab Al Mashiishiy termasuk perawi Muslim, Abu Dawud dan Nasa’i. Telah meriwayatkan darinya Muslim, Abu Zur’ah, Ahmad bin Hanbal dan anaknya [dimana mereka dikenal hanya meriwayatkan dari perawi tsiqat]. Shalih Al Jazariy berkata “shaduq”. Al Hakim berkata “tsiqat”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Abu Hatim meriwayatkan darinya dan berkata “shaduq” [Tahdzib At Tahdzib juz 1 no 25]
  2. Khalid bin Yazid bin Asad anak dari pemimpin Iraq, ia seorang ahli hadis dan ma’rifat, tidak mutqin, tafarrud dengan riwayat-riwayat mungkar. Al Uqailiy berkata “tidak memiliki mutaba’ah hadisnya”. Abu Hatim berkata “tidak kuat”. Ibnu Adiy mengatakan hadis-hadisnya tidak memiliki mutaba’ah dan ia seorang yang dhaif tetapi ditulis hadisnya [As Siyaar Adz Dzahabiy 9/410]
  3. ‘Ammar bin Muawiyah Ad Duhniy termasuk perawi Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibnu Majah . Telah meriwayatkan darinya Syu’bah yang berarti ia tsiqat dalam pandangan Syu’bah. Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Ma’in, Abu Hatim dan Nasa’i menyatakan tsiqat. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [At Tahdzib juz 7 no 662].
  4. Abu Ja’far Al Baqir, Muhammad bin Aliy bin Husain seorang yang tsiqat dan memiliki keutamaan [Taqrib At Tahdzib 1/497 no 6151]. Ia seorang Sayyid Imam, lahir pada tahun 56 H [As Siyaar Adz Dzahabiy]

Para perawinya tsiqat kecuali Khalid bin Yazid ia seorang yang dhaif tetapi bisa dijadikan i’tibar dan Abu Ja’far Al Baqir lahir tahun 56 H sedangkan peristiwa Yazid menusuk kepala Imam Husain terjadi pada tahun 61 H maka pada saat itu usia Beliau 5 tahun sudah memasuki usia tamyiz dan besar kemungkinan pada saat itu Beliau bersama ayahnya Aliy bin Husain dan keluarganya yang selamat digiring Ubaidillah untuk menghadap Yazid.

Sanad kedua yaitu Ibnu Abi Dunyaa dari Salamah bin Syabiib dari Al Humaidiy dari Sufyaan dari Salim bin Abil Hafshah dari Hasan Al Bashriy, berikut keterangan para perawinya

  1. Salamah bin Syabiib termasuk perawi Muslim, Abu Dawud, Nasa’i, Tirmidzi, Ibnu Majah seorang yang tsiqat [Taqrib At Tahdzib 1/247 no 2494]
  2. Al Humaidiy Abdullah bin Zubair bin ‘Iisa Al Quurasyiy termasuk perawi Bukhariy dan Muslim seorang yang tsiqat hafizh faqih sahabat Ibnu Uyainah [Taqrib At Tahdzib 1/303 no 3320]
  3. Sufyan bin Uyainah perawi kutubus sittah seorang tsiqat hafizh faqiih imam hujjah, berubah hafalan diakhir umurnya, dituduh melakukan tadlis tetapi hanya dari perawi tsiqat [Taqrib At Tahdzib 1/245 no 2451]
  4. Salim bin Abil Hafshah termasuk perawi Bukhariy dalam Adabul Mufrad dan Tirmidzi seorang yang shaduq dalam hadis hanya saja ia berlebihan dalam syi’ahnya [Taqrib At Tahdzib 1/226 no 2171]. Terdapat perselisihan mengenai Salim bin Abi Hafshah, Ahmad bin Hanbal berkata “aku kira tidak ada masalah dalam hadisnya”. Yahya bin Ma’in berkata “tsiqat”. ‘Amru bin Aliy menyatakan ia dhaif berlebihan dalam tasyayyu’. Abu Hatim berkata “ditulis hadinya tetapi tidak bisa dijadikan hujjah”. Al Ijliy berkata “tsiqat”. Abu Ahmad Al Hakim berkata “tidak kuat di sisi para ulama”. Ibnu Hibban berkata “sering terbalik dalam kabar dan keliru dalam riwayat”. Ibnu Adiy berkata “sesungguhnya aib atasnya hanyalah ia ghuluw dalam syi’ahnya adapun hadis-hadisnya aku harap tidak ada masalah padanya” [Tahdzib At Tahdzib juz 3 no 800]
  5. Hasan bin Abi Hasan Al Bashriy termasuk perawi kutubus sittah seorang yang tsiqat faqiih fadhl masyhur banyak melakukan irsal dan tadlis [Taqrib At Tahdzib 1/160 no 1227]

Para perawi sanad kedua semuanya tsiqat kecuali Salim bin Abi Hafshah, ia diperselisihkan kedudukannya tetapi sanad ini bersama-sama sanad yang pertama kedudukannya saling menguatkanmaka derajatnya menjadi hasan.

Riwayat Ibnu Abi Dunyaa di atas dikuatkan pula oleh riwayat Ibnu Sa’ad berikut

أخبرنا كثير بن هشام قال حدثنا جعفر ابن برقان قال حدثنا يزيد بن أبي زياد قال لما أتي يزيد بن معاوية برأس الحسين بن علي جعل ينكت بمخصرة معه سنه

Telah mengabarkan kepada kami Katsiir bin Hisyaam yang berkata telah menceritakan kepada kami Ja’far bin Burqaan yang berkata telah menceritakan kepada kami Yaziid bin Abi Ziyaad yang berkata ketika didatangkan kepada Yazid bin Mu’awiyah kepala Husain bin Aliy ia menusuknya dengan tongkat yang ia bawa…[Thabaqat Ibnu Sa’ad 6/448]

Riwayat ini para perawinya tsiqat kecuali Yazid bin Abi Ziyaad, ia seorang yang diperselisihkan kedudukannya dan yang rajih ia seorang yang dhaif tetapi bisa dijadikan i’tibar.

  1. Katsiir bin Hisyaam termasuk perawi Bukhariy dalam Adabul Mufrad, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah. Yahya bin Ma’in berkata “tsiqat”. Al Ijliy berkata “tsiqat shaduq”. Abu Dawud berkata “tsiqat”. Abu Hatim berkata “ditulis hadisnya”. Nasa’i berkata “tidak ada masalah padanya”. Ibnu Sa’ad berkata “tsiqat shaduq” [Tahdzib At Tahdzib juz 8 no 771]
  2. Ja’far bin Burqaan termasuk perawi Bukhariy dalam Adabul Mufrad, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah. Ahmad bin Hanbal berkata “jika meriwayatkan dari selain Az Zuhriy maka tidak ada masalah dalam hadisnya tetapi jika meriwayatkan dari Az Zuhriy maka sering keliru”. Yahya bin Ma’in berkata “tsiqat dan dhaif dalam riwayat Az Zuhriy”. Ibnu Numair berkata “tsiqat dan hadis-hadisnya dari Az Zuhriy mudhtharib”. Ibnu Sa’ad berkata “tsiqat shaduq”. Abu Nu’aim, Marwan bin Muhammad dan Ibnu Uyainah menyatakan ia tsiqat. Nasa’i berkata “tidak kuat dalam riwayat Az Zuhriy dan tidak ada masalah dalam riwayat selainnya” [Tahdzib At Tahdzib juz 2 no 131]
  3. Yazid bin Abi Ziyaad Al Qurasyiy termasuk perawi Bukhariy dalam At Ta’liq, Muslim, Tirmidzi, Abu Dawud, Nasa’i, dan Ibnu Majah. Ahmad bin Hanbal berkata “tidak hafizh”. Yahya bin Ma’in berkata “tidak kuat”. Al Ijliy berkata “ja’iz al hadits”. Abu Zur’ah berkata “layyin ditulis hadisnya tetapi tidak dijadikan hujjah”. Abu Hatim berkata “tidak kuat”. Abu Dawud berkata “tidak diketahui satu orangpun yang meninggalkan hadisnya tetapi selainnya lebih disukai daripadanya”. Ibnu Adiy berkata “syi’ah Kufah dhaif ditulis hadisnya”. Jarir berkata dari Yazid bahwa ketika Husain terbunuh aku berumur 14 atau 15 tahun”. Ibnu Hibban berkata “shaduq kecuali ketika tua jelek dan berubah hafalannya”. Abu Ahmad Al Hakim berkata “tidak kuat di sisi para ulama”. Ibnu Syahin memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Ahmad bin Shalih Al Mishriy berkata “tsiqat dan tidak membuatku heran perkataan yang membicarakannya”. An Nasa’iy berkata “tidak kuat” [Tahdzib At Tahdzib juz 11 no 531]

.
.

Kemudian dikuatkan lagi oleh riwayat Dhahhaak bin Utsman Al Hazaamiy sebagaimana yang disebutkan Ath Thabraniy berikut

حدثنا علي بن عبد العزيز ثنا الزبير بن بكار حدثني محمد بن الضحاك بن عثمان الحزامي عن أبيه قال خرج الحسين بن علي رضي الله عنهما إلى الكوفة ساخطا لولاية يزيد بن معاوية فكتب يزيد بن معاوية إلى عبيد الله بن زياد وهو واليه على العراق إنه قد بلغني أن حسينا قد سار إلى الكوفة وقد ابتلى به زمانك من بين الأزمان وبلدك من بين البلدان وابتليت به من بين العمال وعندها يعتق أو يعود عبدا كما يعتبد العبيد فقتله عبيد الله بن زياد وبعث برأسه إليه فلما وضع بين يديه تمثل بقول الحسين بن الحمامنفلق هاما من رجال أحبة … إلينا وهم كانو أعق وأظلما

Telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin ‘Abdul Aziz yang berkata telah menceritakan kepada kami Zubair bin Bakaar yang berkata telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Dhahhaak bin ‘Utsman Al Hazaamiiy dari Ayahnya yang berkata Husain bin Aliy [radiallahu ‘anhum] pergi menuju Kufah dalam keadaan marah terhadap kepemimpinan Yazid bin Mu’awiyah. Maka Yazid bin Mu’awiyah menulis kepada ‘Ubaidillah bin Ziyaad dan ia adalah wali-nya atas Irak “bahwasanya telah sampai kepadaku Husain melakukan perjalanan menuju Kufah dan sungguh itu akan menjadi bencana bagi zamanmu dibanding zaman-zaman lainnya dan negrimu dibanding negri-negri lainnya dan akan menimpamu dibanding perbuatan lainnya, dan dengannya engkau akan terbebas atau akan kembali menjadi budak seperti halnya perbudakan para budak, maka Ubaidillah bin Ziyad membunuhnya [Husain] dan mengirimkan kepalanya kepada Yazid, ketika [Kepala Husain] diletakkan di hadapannya maka ia berujar dengan perkataan Husain bin Hamaam “telah terpotong kepala orang yang dicintai…kepada kami mereka durhaka dan zalim” [Mu’jam Al Kabir Ath Thabraniy 3/115 no 2846]

Para perawi sanad Thabraniy tsiqat dan shaduq. berikut keterangan mengenai para perawinya

  1. Aliy bin ‘Abdul Aziiz, Abul Hasan Al Baghawiy, Ibnu Abi Hatim menyatakan ia shaduq [Al Jarh Wat Ta’dil 6/196 no 1076]. Daruquthniy berkata tentangnya “tsiqat ma’mun” [Su’alat Hamzah As Sahmiy no 389]
  2. Zubair bin Bakaar termasuk perawi Ibnu Majah, seorang Qadhiy Madinah yang tsiqat [Taqrib At Tahdzib 1/214 no 1991]
  3. Muhammad bin Dhahhaak bin Utsman Al Hazaamiy disebutkan Ibnu Hibban dalam Ats Tsiqat dan telah meriwayatkan darinya Ibrahim bin Mundzir dan penduduk Madinah [Ats Tsiqat 9/59 no 15174]. Ibnu Abi Hatim menyebutkan biografinya tanpa jarh dan ta’dil dan menyebutkan bahwa telah meriwayatkan darinya Yaqub bin Humaid Al Madaniy [Al Jarh Wat Ta’dil 7/290 no 1576]. Jadi telah meriwayatkan darinya perawi yang tsiqat dan shaduq yaitu Ibrahim bin Mundzir [shaduq] [Taqrib At Tahdzib 1/94 no 253], Yaqub bin Humaid [shaduq yahim] [Taqrib At Tahdzib 1/607 no 7815] dan Zubair bin Bakaar [tsiqat] [Taqrib At Tahdzib 1/214 no 1991].
  4. Dhahhaak bin Utsman Al Hazaamiy termasuk perawi Muslim, Abu Dawud, Nasa’i, Tirmidzi, Ibnu Majah. Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Ma’in, Mush’ab Az Zubairiy dan Abu Dawud menyatakan tsiqat. Abu Zur’ah berkata “tidak kuat”. Abu Hatim berkata “ditulis hadisnya tetapi tidak dijadikan hujjah dan dia shaduq”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Ibnu Sa’ad berkata “tsabit”. Ibnu Bukair berkata “tsiqat”. Ibnu Numair berkata “tidak ada masalah padanya”. Ali bin Madiniy berkata “tsiqat”. Ibnu ‘Abdil Barr berkata “banyak melakukan kesalahan tidak menjadi hujjah” [Tahdzib At Tahdzib juz 4 no 787].

Riwayat Ath Thabraniy ini memiliki cacat yaitu Dhahhaak bin Utsman Al Hazaamiy disebutkan bahwa ia wafat tahun 153 H [Tahdzib At Tahdzib juz 4 no 787] sedangkan kisah Yazid tersebut terjadi pada tahun 61 H. Maka terdapat jarak 92 tahun , tidak diketahui kapan lahirnya Dhahhaak bin Utsman dan jika berdasarkan usia pada umumnya maka ia lahir di atas tahun 61 H. Oleh karena itu riwayat Thabraniy tersebut dhaif karena sanadnya terputus, tetapi bisa dijadikan i’tibar.

.

.

Secara ringkas ada empat riwayat yang membuktikan bahwa kepala Imam Husain dibawa kehadapan Yazid dan tiga riwayat menyebutkan bahwa Yazid menusuk kepala Imam Husain dengan tongkat

  1. Riwayat Abu Ja’far Al Baqir lemah karena Khalid bin Yazid bin Asad seorang yang dhaif tetapi bisa dijadikan i’tibar
  2. Riwayat Hasan Al Bashriy lemah karena Salim bin Abi Hafshah diperselisihkan kedudukannya tetapi bisa dijadikan i’tibar
  3. Riwayat Yazid bin Abi Ziyaad lemah karena Yazid bin Abi Ziyaad diperselisihkan kedudukannya tetapi bisa dijadikan i’tibar
  4. Riwayat Dhahhaak bin Utsman Al Hazaamiy lemah karena sanadnya terputus dan bisa dijadikan i’tibar.

Keempat riwayat tersebut saling menguatkan maka kedudukannya menjadi hasan. Kepala Imam Husain memang dibawa ke hadapan Yazid dan Yazid menusuknya dengan tongkat.

Jika ada yang berdalih bahwa riwayat-riwayat di atas tidak menunjukkan bahwa Yazid memerintahkan Ubaidillah bin Ziyaad untuk membunuh Imam Husain. Maka jawabannya adalah sebagai berikut, jika para nashibiy tersebut menginginkan riwayat shahih dengan lafaz jelas perintah Yazid kepada Ubaidillah bin Ziyaad maka kami katakan dengan jujur kami tidak menemukannya. Tetapi anehnya para nashibiy itu menyatakan bahwa riwayat paling shahih mengenai peristiwa karbala dan siapa pembunuh Imam Husain adalah riwayat Shahih Bukhariy berikut

حدثني محمد بن الحسين بن إبراهيم قال حدثني حسين بن محمد حدثنا جرير عن محمد عن أنس بن مالك رضي الله عنهأتي عبيد الله بن زياد برأس الحسين بن علي عليه السلام فجعل في طست فجعل ينكث وقال في حسنه شيئا فقال أنس كان أشبههم برسول الله صلى الله عليه و سلم وكان مخصوبا بالوسمة

Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Husain bin Ibrahiim yang berkata telah menceritakan kepadaku Husain bin Muhammad yang berkata telah menceritakan kepada kami Jariir dari Muhammad dari Anas bin Malik [radiallahu ‘anhu] “didatangkan kepada Ubaidillah bin Ziyaad kepala Husain bin Aliy [‘alaihis salaam] maka ia meletakkannya di bejana dan menusuknya, seraya berkata tentang ketampanannya. Maka Anas berkata “Husain adalah orang yang paling mirip dengan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan saat itu rambutnya disemir dengan wasmah [Shahih Bukhariy 5/26 no 3748]

Apakah dalam riwayat shahih Bukhariy di atas terdapat lafaz Ubaidillah bin Ziyad memerintahkan membunuh Imam Husain?. Tidak ada lafaz seperti itu tetapi para nashibiy memahami riwayat ini sebagai bukti paling shahih bahwa yang bertanggung-jawab atas pembunuhan Imam Husain adalah Ubaidillah bin Ziyaad.

Riwayat seperti ini sudah cukup bagi mereka yang ingin mencari kebenaran. Dihadapkannya kepala Imam Husain kepada Ubaidillah bin Ziyaad dan bagaimana cara Ubaidillah memperlakukan kepala Imam Husain tersebut menjadi bukti cukup bahwa ia bertanggung-jawab atas pembunuhan Imam Husain [‘alaihis salaam]

Dan riwayat Bukhariy di atas tidak bertentangan dengan riwayat-riwayat yang kami bahas sebelumnya, melainkan saling melengkapi. Setelah dihadapkan ke Ubaidillah maka ia mengirimkan kepala Imam Husain tersebut kepada Yazid dan Yazid-pun memperlakukan kepala Imam Husain tersebut dengan keji maka hal ini menjadi bukti bahwa Yazid bin Mu’awiyah juga bertanggung-jawab atas pembunuhan Imam Husain [‘alaihis salaam].

Pandangan kami adalah sebagaimana pandangan para ulama seperti Ibnu Hazm, Ibnu Katsiir, Adz Dzahabiy, Ibnu Jauziy dan As Suyuthiy bahwa Yazid bin Mu’awiyah termasuk pihak yang bertanggungjawab terhadap pembunuhan Imam Husain [‘alaihis salaam]. Dan pandangan ini memang memiliki bukti kuat dari berbagai riwayat dan tarikh, diantaranya telah kami bawakan di atas.

.

.

Para nashibiy biasanya suka mencela Syi’ah sambil mengutip kitab-kitab Syi’ah yang menyatakan bahwa mereka yang membunuh Imam Husain [‘alaihis salaam] adalah kaum Syi’ah sendiri. Seperti yang kami jelaskan sebelumnya bahwa Syi’ah yang dimaksud adalah penduduk Kufah yang mengaku setia kepada Imam Husain tetapi pada akhirnya malah berkhianat atau berlepas diri dari Imam Husain. Hal ini diakui dalam mazhab Syi’ah sebagaimana nampak dalam literatur mereka, tetapi walaupun begitu mereka tidak menafikan bahwa orang yang paling bertanggung-jawab untuk pembunuhan Imam Husain [‘alaihis salaam] adalah Yazid bin Mu’awiyah yang memerintahkan Ubaidillah bin Ziyaad kemudian Ubaidillah bin Ziyaad mempengaruhi, memerintahkan dan mengancam sebagian penduduk Kufah, sehingga sebagian mereka berkhianat dan sebagian lagi berlepas diri atau mungkin walaupun tidak ikut tetap tidak berani untuk menentangnya.

Terdapat riwayat shahih di sisi mazhab Syi’ah yang membuktikan bahwa Yazid bin Mu’awiyah adalah orang yang bertanggung-jawab atas pembunuhan Imam Husain [‘alaihis salaam]

ابن محبوب، عن عبد الله بن سنان قال سمعت أبا عبد الله (عليه السلام) يقولثلاث هن فخر المؤمن وزينه في الدنيا والآخرة: الصلاة في آخر الليل ويأسه مما في أيدي الناس وولايته الامام من آل محمد (صلى الله عليه وآله) قال: وثلاثة هم شرار الخلق ابتلى بهم خيار الخلق: أبو سفيان أحدهم قاتل رسول الله (صلى الله عليه وآله) وعاداه ومعاوية قاتل عليا (عليه السلام) وعاداه ويزيد بن معاوية لعنه الله قاتل الحسين بن علي (عليهما السلام) وعاداه حتى قتله

Ibnu Mahbuub dari ‘Abdullah bin Sinaan yang berkata aku mendengar Aba ‘Abdullah [‘alaihis salaam] mengatakan Ada tiga hal yang menjadi kebanggan seorang mukmin dan menjadi keindahan baginya dalam kehidupan dunia dan akhirat yaitu Shalat di akhir malam, tidak mengharapnya ia terhadap apa yang ada di tangan orang-orang, dan wilayah Imam dari keluarga Muhammad [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Beliau berkata “dan ada tiga orang makhluk yang paling buruk telah menyakiti makhluk yang paling baik yaitu Abu Sufyan yang memerangi Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan memusuhinya, Mu’awiyah yang memerangi Aliy [‘alaihis salaam] dan memusuhinya, dan Yazid bin Mu’awiyah laknat Allah atasnya, yang memerangi Husain bin Aliy [‘alaihis salaam] dan memusuhinya sampai membunuhnya [Al Kafiy Al Kulainiy 8/234]

Riwayat Al Kulainiy di atas sanadnya shahih, sanad Al Kulainiy sampai Hasan bin Mahbuub telah disebutkan dalam riwayat sebelumnya yaitu dari Aliy bin Ibrahim dari Ayahnya [Al Kafiy Al Kulainiy 8/233]. Jadi sanad lengkap riwayat di atas adalah Aliy bin Ibrahim dari Ayahnya dari Hasan bin Mahbuub dari ‘Abdullah bin Sinaan

  1. Aliy bin Ibrahim bin Haasyim Al Qummiy adalah seorang yang tsiqat dalam hadis, tsabit, mu’tamad, shahih mazhabnya [Rijal An Najasyiy hal 260 no 680]
  2. Ibrahim bin Haasyim Al Qummiy seorang yang tsiqat jaliil. Ibnu Thawus pernah menyatakan hadis yang dalam sanadnya ada Ibrahim bin Haasyim bahwa para perawinya disepakati tsiqat [Al Mustadrakat Ilm Rijal Al Hadis, Asy Syahruudiy 1/222]
  3. Hasan bin Mahbuub As Saraad seorang penduduk kufah yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 354]
  4. ‘Abdullah bin Sinaan seorang yang tsiqat jaliil tidak ada celaan sedikitpun terhadapnya, ia meriwayatkan dari Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] [Rijal An Najasyiy hal 214 no 558]

Kami menukil riwayat di atas hanya ingin menunjukkan bahwa di sisi mazhab Syi’ah pandangan bahwa Yazid bin Mu’awiyah yang membunuh Imam Husain [‘alaihis salaam] adalah pandangan yang shahih.

.

.

Kesimpulan :

Dalam pandangan mazhab Ahlus sunnah dan dalam pandangan mazhab Syi’ah telah tsabit bahwa Yazid bin Mu’awiyah adalah orang yang bertanggung-jawab atas pembunuhan Imam Husain bin Aliy [‘alaihis salaam].

Umar bin Khaththab membaca Al Jumu’ah ayat 9 dengan lafaz yang berbeda dengan Al Qur’an sekarang

Benarkah Al Qur’an Versi Umar bin Khaththab [radiallahu ‘anhu] Berbeda Dengan Al Qur’an Sekarang?

Pertanyaan yang meresahkan tetapi jika anda membaca berbagai riwayat shahih maka sangat wajar timbul pertanyaan tersebut. Pada tulisan kali ini kami akan menunjukkan kepada para pembaca mengapa bisa timbul pertanyaan seperti itu

حدثني يونس بن عبد الأعلى قال أخبرنا ابن وهب قال ثنا حنظلة بن أبي سفيان الجمحي أنه سمع سالم بن عبد الله يحدث عن أبيه أنه سمع عمر بن الخطاب يقرأ إذا نودي للصلاة من يوم الجمعة فامضوا إلى ذكر الله

Telah menceritakan kepadaku Yuunus bin ‘Abdul A’laa yang berkata telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb yang berkata telah mengabarkan kepada kami Hanzhalah bin Abi Sufyaan Al Jumahiy bahwasanya ia mendengar Salim bin ‘Abdullah menceritakan dari Ayahnya bahwasanya ia mendengar Umar bin Khaththab membaca ayat “idzaa nuudiyalish shalaati min yawmil jumu’ati famdhuu ilaa dzikrillaah” [Tafsir Ath Thabariy 22/638 tahqiq Abdullah bin Abdul Muhsin At Turkiy]

Ath Thabariy menukil riwayat ini dalam kitab Tafsir surat Al Jumu’ah ayat 9 yang berbunyi sebagai berikut

يا أيها الذين آمنوا إذا نودي للصلاة من يوم الجمعة فاسعوا إلى ذكر الله

Wahai orang-orang yang beriman apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum’at maka bersegeralah kamu mengingat Allah…[QS Al Jumu’ah : 9]

Lafaz ayat fas’aw ilaa dzikrillaah dalam Al Qur’an dibaca Umar bin Khaththab [radiallahu ‘anhu] dengan famdhuu ilaa dzikrillaah. Riwayat Ath Thabariy di atas kedudukannya shahih, berikut keterangan para perawinya

  1. Yunuus bin ‘Abdul A’laa bin Maisarah Ash Shadafiy termasuk perawi Muslim, Ibnu Majah dan Nasa’iy seorang yang tsiqat [Taqrib At Tahdzib 2/349 tahqiq Mustafa Abdul Qadir Atha’]
  2. ‘Abdullah bin Wahb bin Muslim Al Qurasyiy termasuk perawi Bukhariy, Muslim, Ibnu Majah, Nasa’iy, Abu Daud dan Tirmidzi, seorang faqiih tsiqat hafizh ahli ibadah [Taqrib At Tahdzib 1/545]
  3. Hanzhalah bin Abi Sufyaan Al Jumahiy termasuk perawi Bukhariy, Muslim, Ibnu Majah, Nasa’iy, Abu Daud dan Tirmidzi seorang tsiqat hujjah [Taqrib At Tahdzib 1/250]
  4. Saalim bin ‘Abdullah bin Umar bin Khaththaab termasuk perawi Bukhariy, Muslim, Ibnu Majah, Nasa’iy, Abu Daud dan Tirmidzi salah seorang dari fuqaha sab’ah seorang yang tsabit ahli ibadah dan memiliki keutamaan [Taqrib At Tahdzib 1/335]

Bahkan diriwayatkan bahwa Umar bin Khaththab [radiallahu ‘anhu] mengetahui lafaz bacaan Al Jumu’ah ayat 9 tersebut tetapi Beliau malah memerintahkan untuk membaca seperti apa yang ia baca

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الصَّبَّاحِ قال حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ قال حَدَّثَنَا مُغِيرَةُ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ خَرَشَةَ بْنِ الْحُرِّ قال رَأَى مَعِي عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رضي الله عنه لَوْحًا مَكْتُوبًا فِيهِ إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ فقال مَنْ أَمْلَى عَلَيْكَ هَذَا ؟ قلت أُبَيُّ بْنُ كَعْبٍ فقال إِنَّ أُبَيًّا كَانَ أَقْرَأَنَا لِلْمَنْسُوخِ اقْرَأْهَا فَامْضُوا إِلَى ذِكْرِ اللَّه

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ash Shabbaah yang berkata telah menceritakan kepada kami Husyaim yang berkata telah menceritakan kepada kami Mughiirah dari Ibrahim dari Kharasyah bin Al Hurr yang berkata Umar bin Khaththab [radiallahu ‘anhu] melihat lembaran yang di dalamnya tertulis ayat “idzaa nuudiyalish shalaati min yawmil jumu’ati fas’aw ilaa dzikrillaah” [QS Al Jumu’ah : 9] maka ia berkata “siapakah yang mendiktekan kepadamu ayat ini?”. Aku berkata “Ubay bin Ka’ab”. Maka ia berkata “sesungguhnya Ubay adalah orang yang paling tahu mengenai ayat mansukh diantara kami ”bacalah ayat itu “famdhuu ilaa dzikrillaah” [Akhbar Madinah Ibnu Syabbah 2/276-277]

Riwayat di atas mengisyaratkan bahwa Umar menganggap ayat yang dibacakan Ubay tersebut adalah mansukh, sehingga disini seolah-olah Umar menunjukkan keheranannya padahal menurut Umar, Ubay bin Ka’ab [radiallahu ‘anhu] adalah orang yang paling tahu mengenai ayat mansukh. Itulah sebabnya ia malah memerintahkan Kharasyah bin Al Hurr agar membacanya dengan “famdhuu ilaa dzikrillaah” seperti yang ia baca. Riwayat Ibnu Syabbah di atas kedudukannya shahih, berikut keterangan para perawinya

  1. Muhammad bin Shabbaah Ad Duulabiy termasuk perawi Bukhariy, Muslim, Ibnu Majah, Nasa’iy, Abu Daud dan Tirmidzi seorang yang tsiqat lagi hafizh [Taqrib At Tahdzib 2/88]
  2. Husyaim bin Basyiir Al Washitiy termasuk perawi Bukhariy, Muslim, Ibnu Majah, Nasa’iy, Abu Daud dan Tirmidzi seorang yang tsiqat tsabit banyak melakukan tadlis dan irsal khafiy [Taqrib At Tahdzib 2/269], riwayat di atas Husyaim menyatakan dengan jelas sima’ nya maka selamat dari tadlis dan irsal-nya
  3. Mughiirah bin Miqsam Adh Dhabiy termasuk perawi Bukhariy, Muslim, Ibnu Majah, Nasa’iy, Abu Daud dan Tirmidzi seorang yang tsiqat mutqin kecuali ia melakukan tadlis dalam riwayatnya dari Ibrahiim [Taqrib At Tahdzib 2/208]. Dalam Tahrir Taqrib At Tahdzib terdapat komentar mengenai tadlisnya dari Ibrahim, Ahmad dan Ibnu Fudhail mengatakan ia melakukan tadlis dari Ibrahim tetapi Abu Dawud membantahnya bahwa ia tidak melakukan tadlis dari Ibrahim dan Aliy bin Madiniy menyebutkan bahwa ia orang yang paling alim dalam riwayat Ibrahim, kemudian riwayat ‘an anah Mughirah dari Ibrahiim telah diterima oleh Bukhariy dan Muslim dalam kitab Shahih keduanya [Tahrir Taqrib At Tahdzib no 6851]. Jadi dapat disimpulkan bahwa tadlis Mughirah dari Ibrahim termasuk tadlis yang diterima dan memenuhi syarat Bukhariy Muslim.
  4. Ibrahiim bin Yazid An Nakha’iy termasuk perawi Bukhariy, Muslim, Ibnu Majah, Nasa’iy, Abu Daud dan Tirmidzi seorang yang faqiih tsiqat hanya saja banyak melakukan irsal, ia wafat tahun 96 H [Taqrib At Tahdzib 1/69]
  5. Kharasyah bin Al Hurr termasuk perawi Bukhariy, Muslim, Ibnu Majah, Nasa’iy, Abu Daud dan Tirmidzi, Abu Dawud mengatakan ia sahabat, Al Ijliy mengatakan ia tabiin kibar yang tsiqat, wafat tahun 74 H [Taqrib At Tahdzib 1/268]

Adapun soal Ibrahim bin Yazid An Nakha’iy banyak melakukan irsal maka itu tidak membahayakan hadisnya karena tidak ada satupun ulama yang menyatakan bahwa ia melakukan irsal dalam riwayatnya dari Kharasyah bin Al Hurr dan berdasarkan tahun lahir dan wafat-nya Ibrahim hidup satu masa dengan Kharasyah maka berdasarkan kaidah jumhur ulama hadis, diterima dan dianggap muttashil riwayat ‘an anah perawi tsiqat bukan mudallis yang hidup dalam satu masa.

Dan diriwayatkan pula dengan sanad yang shahih bahwa Umar bin Khaththab [radiallahu ‘anhu] sampai wafatnya tetap membaca dengan bacaan “famdhuu ilaa dzikrillaah”.

عبد الرزاق عن معمر وغيره عن الزهري عن سالم عن بن عمر قال لقد توفي عمر وما يقرأ هذه الاية التي في سورة الجمعة إلا فامضوا إلى ذكر الله

‘Abdurrazzaaq dari Ma’mar dan selainnya dari Az Zuhriy dari Saalim dari Ibnu ‘Umar yang berkata sungguh Umar wafat dan tidaklah ia membaca ayat ini dalam Surat Al Jumu’ah kecuali dengan lafaz “famdhuu ilaa dzikrilaah” [Mushannaf ‘Abdurrazzaaq 3/207 no 5348]

Diantara selain Ma’mar bin Raasyid yang meriwayatkan hadis di atas dari Az Zuhriy adalah Yunus bin Yaziid sebagaimana dalam riwayat Ath Thabariy [Tafsir Ath Thabariy 22/639 tahqiq ‘Abdullah bin Abdul Muhsin At Turkiy]. Riwayat ‘Abdurrazzaaq di atas sanadnya shahih berikut keterangan para perawinya

  1. ‘Abdurrazzaaq bin Hamaam Ash Shan’aniy termasuk perawi Bukhariy, Muslim, Ibnu Majah, Nasa’iy, Abu Daud dan Tirmidzi seorang tsiqat hafizh penulis kitab, buta diakhir umurnya sehingga berubah hafalannya dan ia bertasyayyu’ [Taqrib At Tahdzib 1/599]. Riwayat di atas adalah dari Kitab-nya yang ditulis sebelum ia buta dan berubah hafalannya.
  2. Ma’mar bin Raasyid Al ‘Azdiy termasuk perawi Bukhariy, Muslim, Ibnu Majah, Nasa’iy, Abu Daud dan Tirmidzi seorang tsiqat tsabit fadhl kecuali riwayatnya dari Tsabit, A’masyiy, Hisyam bin Urwah dan apa yang ia riwayatkan di Basrah [Taqrib At Tahdzib 2/202]
  3. Muhammad bin Muslim, Ibnu Syihaab Az Zuhriy termasuk perawi Bukhariy, Muslim, Ibnu Majah, Nasa’iy, Abu Daud dan Tirmidzi seorang yang faqiih hafizh disepakati kemuliaan dan keitqanannya, termasuk pemimpin thabaqat keempat [Taqrib At Tahdzib 2/133]
  4. Saalim bin ‘Abdullah bin Umar bin Khaththaab termasuk perawi Bukhariy, Muslim, Ibnu Majah, Nasa’iy, Abu Daud dan Tirmidzi salah seorang dari fuqaha sab’ah seorang yang tsabit ahli ibadah dan memiliki keutamaan [Taqrib At Tahdzib 1/335]

Maka berdasarkan riwayat-riwayat shahih di atas tidak diragukan lagi bahwa Umar bin Khaththab [radiallahu ‘anhu] membaca Al Jumu’ah ayat 9 dengan lafaz yang berbeda dengan Al Qur’an sekarang yang disepakati kebenaran dan keasliannya. Kembali ke judul pertanyaan di atas maka kami persilakan untuk para pembaca menjawabnya sendiri?.

Menjawab Tulisan “Ketawa Merinding Ala Syi’ah” www.lppimakassar.com

Berbicara tentang Syiah seakan tidak ada habisnya.

Membaca Al Qur’an Di Kamar Mandi Dalam Fiqih Syi’ah Dan Fiqih Ahlus Sunnah?

Tulisan ini seperti biasa terkesan membela Syi’ah tetapi hakikat sebenarnya hanya ingin menunjukkan kedunguan para nashibiy. Sebagian orang yang memiliki kenifaqan di hatinya memasukkan perkara ini dalam kumpulan sampah yang disebutnya “Ketawa Merinding Ala Syi’ah” tanpa mereka sadari bahwa perkara yang sama juga ada dalam kitab pegangan mereka.

.

.

.

FiqihSyi’ah

Dalam Fiqih Syi’ah terdapat riwayat shahih di sisi mazhab mereka bahwa tidak mengapa membaca Al Qur’an di kamar mandi. Berikut riwayat yang dimaksud

Al Kafiy juz 6

Al Kafiy juz 6 hal 316

عنه، عن إسماعيل بن مهران، عن محمد بن أبي حمزة، عن علي بن يقطين قالقلت لأبي الحسن عليه السلام: أقرء القرآن في الحمام وأنكح؟ قال: لا بأس

Darinya dari Isma’iil bin Mihraan dari Muhammad bin Abi Hamzah dari Aliy bin Yaqthiin yang berkata aku bertanya kepada Abul Hasan [‘alaihis salaam] “bolehkah aku membaca Al Qur’an di kamar mandi dan nikah [di dalamnya]?”. Ia berkata “tidak apa-apa” [Al Kafiy 6/316 no 31]

Kemudian kebolehan membaca Al Qur’an di kamar mandi ini telah dikhususkan oleh riwayat setelahnya yaitu sebagai berikut

علي بن إبراهيم، عن أبيه، عن حماد بن عيسى، عن ربعي بن عبد الله، عن محمد بن مسلم قال: سألت أبا جعفر عليه السلام أكان أمير المؤمنين عليه السلام ينهى عن قراءة القرآن في الحمام؟قال: لا إنما نهى أن يقرء الرجل وهو عريان فأما إذا كان عليه إزار فلا بأس

Aliy bin Ibrahim dari Ayahnya dari Hammad bin Iisa dari Rib’iy bin ‘Abdullah dari Muhammad bin Muslim yang berkata aku bertanya kepada Abu Ja’far [‘alaihis salaam] “apakah amirul mukminin ‘alaihis salaam telah melarang membaca Al Qur’an di kamar mandi?”. Maka Beliau menjawab “tidak, sesungguhnya yang dilarang hanyalah orang yang membaca sedang ia dalam keadaan telanjang, adapun jika ia memakai kain maka tidak apa-apa” [Al Kafiy 6/316 no 32]

Al Majlisiy berkata bahwa riwayat pertama sanadnya shahih dan riwayat kedua sanadnya hasan [Mir’at Al ‘Uquul 22/405]. Sebagian nashibiy menjadikan adanya riwayat ini sebagai bahan celaan dan tertawaan terhadap mazhab Syi’ah. Anehnya mereka tidak menyadari bahwa sebagian ulama ahlus sunnah juga ada yang berpendapat demikian. Apakah lantas mereka akan dicela dan ditertawakan juga?.

.

.

.

Fiqih Ahlus Sunnah

Shahih Bukhariy juz 1

Shahih Bukhariy bab 36

Bukhariy menyebutkan dalam kitab Shahih-nya sebuah bab dengan judul sebagai berikut

باب قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ بَعْدَ الْحَدَثِ وَغَيْرِهِ
وَقَالَ مَنْصُورٌ عَنْ إِبْرَاهِيمَ لاَ بَأْسَ بِالْقِرَاءَةِ فِى الْحَمَّامِ ، وَبِكَتْبِ الرِّسَالَةِ عَلَى غَيْرِ وُضُوءٍ . وَقَالَ حَمَّادٌ عَنْ إِبْرَاهِيمَ إِنْ كَانَ عَلَيْهِمْ إِزَارٌ فَسَلِّمْ ، وَإِلاَّ فَلاَ تُسَلِّمْ

Bab bacaan Al Qur’an dan lainnya setelah hadats
Dan berkata Manshuur dari Ibrahiim “tidak apa-apa membaca Al Qur’an di kamar mandi dan menulis risalah tanpa berwudhu’. Dan berkata Hammad dari Ibrahiim “jika mereka memakai kain maka jawab salamnya tetapi jika tidak memakai kain maka jangan dijawab salamnya” [Shahih Bukhariy 1/79 Kitab Wudhu’  bab 36 ]

Ibnu Hajar dalam Kitab Fath Al Bariy Syarh Shahih Bukhariy memberikan penjelasan bahwa terjadi perselisihan di kalangan ulama mengenai membaca Al Qur’an di kamar mandi, berikut apa yang dijelaskan Ibnu Hajar

Fath Al Bariy juz 1

Fath Al Bariy juz 1 hal 344

قوله وقال منصور أي بن المعتمر عن إبراهيم أي النخعي وأثره هذا وصله سعيد بن منصور عن أبي عوانة عن منصور مثله وروى عبد الرزاق عن الثوري عن منصور قال سألت إبراهيم عن القراءة في الحمام فقال لم يبن للقراءة فيه قلت وهذا لا يخالف رواية أبي عوانة فإنها تتعلق بمطلق الجواز وقد روى سعيد بن منصور أيضا عن محمد بن أبان عن حماد بن أبي سليمان قال سألت إبراهيم عن القراءة في الحمام فقال يكره ذلك انتهى والإسناد الأول أصح

Perkataannya “dan berkata Manshuur yaitu bin Mu’tamar dari Ibrahim yaitu An Nakha’iy “Atsar ini telah disambungkan oleh Sa’id bin Manshuur dari Abi ‘Awaanah dari Manshuur seperti ini. Abdurrazaq meriwayatkan dari Ats Tsauri dari Manshur ia berkata “aku bertanya kepada Ibrahim tentang membaca Al Qur’an di kamar mandi?” maka ia menjawab “tidak ada keterangan tentang membaca Al Qur’an di dalamnya”. Aku [Ibnu Hajar] berkata “riwayat ini tidak menyelisihi riwayat Abi ‘Awaanah, karena dikaitkan dengan kemutlakan pembolehannya” Dan diriwayatkan juga oleh Sa’id bin Manshuur dari Muhammad bin Abaan dari Hammaad bin Abi Sulaiman ia berkata “aku bertanya kepada Ibrahim tentang membaca Al Qur’an di kamar mandi?”maka ia berkata “dimakruhkan hal tersebut”. [Ibnu Hajar berkata] Sanad yang pertama [yaitu riwayat Manshuur] lebih shahih. [Fath Al Bariy Syarh Shahih Bukhariy 1/344]

وروى بن المنذر عن على قال بئس البيت الحمام ينزع فيه الحياء ولا يقرأ فيه آية من كتاب الله وهذا لا يدل على كراهة القراءة وإنما هو أخبار بما هو الواقع بان شأن من يكون في الحمام أن يلتهي عن القراءة

Diriwayatkan oleh Ibnul Mundzir dari Aliy [radhiallahu ‘anhu] yang berkata “sejelek-jeleknya bagian rumah adalah kamar mandi, di dalamnya dilepaskan rasa malu dan tidak dibacakan di dalamnya ayat dari Kitabullah”. [Ibnu Hajar berkata] Perkataan ini tidak menjadi dalil makruhnya membaca Al Qur’an di dalam kamar mandi karena riwayat itu hanyalah merupakan kabar kenyataan yang terjadi, bahwa kamar mandi pada umumnya memang tempat yang tidak dibaca Al Qur’an di dalamnya. [Fath Al Bariy Syarh Shahih Bukhariy 1/344]

وحكيت الكراهة عن أبي حنيفة وخالفه صاحبه محمد بن الحسن ومالك فقالا لا تكره لأنه ليس فيه دليل خاص وبه صرح صاحبا العدة والبيان من الشافعية وقال النووي في التبيان عن الأصحاب لا تكره فاطلق لكن في شرح الكفايه للصيمري لا ينبغي أن يقرأ وسوى الحليمي بينه وبين القراءة حال قضاء الحاجة ورجح السبكي الكبير عدم الكراهة واحتج بان القراءة مطلوبه والاستكثار منها مطلوب والحدث يكثر فلو كرهت لفات خير كثير ثم قال حكم القراءة في الحمام أن كان القارئ في مكان نظيف وليس فيه كشف عورة لم يكره وإلا كره

Dinukil pendapat makruh dari Abu Hanifah, namun diselisihi oleh sahabatnya Muhammad bin Hasan dan Malik keduanya berkata “tidak makruh karena tidak ada dalil khusus yang melarangnya” demikian juga ditegaskan penulis kitab Al ‘Uddah dan Al Bayaan keduanya dari kalangan ulama Syafi’iyyah. An Nawawi berkata dalam At Tibyaan dari para sahabatnya yang mengatakan tidak makruh, lalu memutlakkan kebolehannya. Namun dalam Syarah Al Kifaayah Lis Shaimariy, ia berkata ”tidak selayaknya membaca Al Qur’an di kamar mandi”. Al Hulaimiy menyamakan antara membaca Al Qur’an di kamar mandi dengan membaca Al Qur’an pada saat buang hajat. As Subkiy Al Kabiir merajihkan tidak dimakruhkannya hal tersebut dan berhujjah bahwa membaca Al Qur’an telah diperintahkan, begitu juga memperbanyak membacanya juga sesuatu yang diperintahkan, sedangkan hadas itu sering terjadi, seandainya hal itu dimakruhkankan maka akan terluput kebaikan yang sangat banyak. Kemudian ia berkata “hukum membaca Al Qur’an di kamar mandi, jika membaca di tempat yang bersih dan tidak terbuka auratnya, maka tidak dimakruhkan, kalau tidak seperti itu, maka dimakruhkan. [Fath Al Bariy Syarh Shahih Bukhariy 1/344]

Berdasarkan penjelasan Ibnu Hajar di atas maka ternukil pendapat yang memakruhkan membaca Al Qur’an di kamar mandi dan ternukil pula pendapat yang membolehkan membaca Al Qur’an di kamar mandi yaitu Ibrahim An Nakha’iy, Malik, Muhammad bin Hasan, An Nawawiy, As Subkiy dan ulama mazhab Syafi’iy lainnya.

.

.

Penutup

Dalam tulisan ini saya tidak merajihkan pendapat yang mana. Saya hanya ingin menunjukkan bahwa ada sebagian ulama ahlus sunnah yang mengatakan hal yang sama dengan yang dikatakan Imam ahlul bait mazhab Syi’ah. Tentu saja perkataan imam ahlul bait menjadi hujjah di sisi mazhab Syi’ah dan tidak menjadi hujjah di sisi ahlus sunnah begitu pula perkataan sebagian ulama ahlus sunnah tersebut menjadi hujjah bagi sebagian pengikut ahlus sunnah dan tidak menjadi hujjah bagi Syi’ah.

Perbedaannya, dalam mazhab Syi’ah perkara ini telah diriwayatkan dengan sanad yang shahih oleh Imam ahlul bait, oleh karena itu saya tidak perlu repot-repot menukil pendapat para ulama Syi’ah. Sedangkan dalam mazhab Sunni, perkara ini tidak ditemukan adanya dalil yang membolehkan dan melarangnya dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihiwasallam] oleh karena itu para ulama ahlus sunnah berselisih pendapat sebagaimana yang telah dijelaskan di atas.

Kesimpulannya adalah mencela, mentertawakan atau merendahkan mazhab Syi’ah karena perkara ini sama saja seperti mencela, mentertawakan atau merendahkan sebagian ulama ahlus sunnah.

Dialog Imajiner Mengenai Bid’ahnya Maulid Nabi Saw

 

 

 

 

 

 

 

 

 

.

Dialog Imajiner Mengenai Bid’ahnya Maulid Nabi Saw

Betapa keras usaha dan upaya Nabi untuk menjaga agar umat Islam bersatu. Janganlah dirusak hanya karena berbeda dalam memahami anjuran Nabi. Bid’ahnya maulid masih diperselisihkan, tapi mencela, melecehkan dan merendahkan sesama muslim tidak diperdebatkan keharamannya. Orang Islam itu, kesibukannya melakukan amalan-amalan yang akan memasukkannya ke surga, bukan sibuk membuktikan orang lain pasti ke neraka. 

 

Suatu hari, disebuah masjid kampung, dipingggiran kota, sehabis shalat Ashar berjama’ah, seorang anak muda, yang tampak begitu saleh dengan bekas sujud yang tampak jelas di dahinya dan penampilannya yang sedemikian islami dengan baju koko dan kopiah yang serba putih, mendekati imam masjid yang sudah sedemikian berumur. Keriput diwajah imam masjid itu sedemikian jelas disertai tubuh yang mulai membungkuk. Dia sedang membereskan sajadahnya, memasukkan mic kedalam kotaknya dan menutup lemari yang berisikan deretan kitab Al-Qur’an dan beberapa majalah bulanan Islam. Sementara jama’ah sudah meninggalkan masjid satu-satu dan menyisakan mereka berdua.

Singkat cerita terjadilah dialog sebagai berikut:

Anak Muda [AM]: Pak ustad, mau tanya. Boleh?

Imam Masjid [IM]: Silahkan nak..

Keduanya kemudian duduk bersilah di sisi mimbar masjid. Pak Imam menyandarkan tubuh tuanya di dinding.

AM: Begini pak, benar di masjid ini akan diadakan peringatan maulid Nabi?

IM: Benar. Memang kenapa, bukannya kamu juga penduduk kampung ini, dan sudah tahu bahwa peringatan maulid di kampung ini telah menjadi tradisi tahunan dan warga kampung menyambutnya dengan gembira?

AM: Iya pak. Tapi bukankah itu amalan bid’ah?

IM: Bid’ah? Maksudnya?

AM: Iya bid’ah. Tidak ada contohnya dalam Islam. Tidak pernah dianjurkan Nabi, dan juga tidak pernah diamalkan para sahabat.

IM: Apa semua yang tidak dianjurkan Nabi dan tidak diamalkan sahabat sudah berarti bid’ah?

AM: Iya. Mengadakan hal-hal yang baru yang tidak ada contohnya dari Nabi itu semuanya bid’ah, semua yang bid’ah itu sesat dan kesesatan itu di neraka.

IM: Kamu tahu dari mana semua itu nak?

AM: Dari pengajian di kampusku di kota. Saya diajari ustad alumni Arab Saudi.

IM: Terus, apakah mengenakan kopiah dan sarung itu juga bid’ah? mengenakan mic di masjid saat azan itu juga bid’ah karena tidak ada contohnya dari Nabi?

AM: Kalau itu termasuk bid’ah dari segi bahasa, dan tidak masalah.

IM: Jadi yang bermasalah, bid’ah dari segi mana?

AM: Bid’ah secara istilah. Yaitu melakukan amalan ibadah yang tidak ada contohnya dalam syariat. Menggunakan kopiah dan sarung itu, masalah duniawi, bahkan implementasi dari perintah untuk menutup aurat, jadi apa saja yang akan dikenakan itu diserahkan pada ummat.

IM: Bukankah, mengadakan maulid nabi juga dari perintah Nabi untuk mengagungkan, memuliakan dan selalu mengingatnya?

AM: Memang dalam agama kita, kita diperintahkan memuliakan Nabi, tapi ya tentu sesuai dengan tuntunan Nabi. Nabi misalnya telah menganjurkan untuk bershalawat dan mematuhi perintahnya. Sahabat-sahabat sedemikian besarnya cintanya pada Nabi, tapi tidak ada seorangpun dari mereka yang menganjurkan memperingati hari kelahiran Nabi apalagi melakukannya.

IM: Nabi juga tidak pernah meminta kita mendirikan pesantren, tapi mengapa dilakukan?

AM: Pesantren hanya wasilah pak. Mendirikan pesantren bagian dari perintah Nabi untuk ummat ini menuntut ilmu dan belajar.

IM: Apa Nabi pernah memerintahkan mendirikan pesantren?

AM: Ya tidak pernah.

IM: Apa sahabat-sahabat melakukannya?

AM: Ya tidak. Tapi waktu itu memang tidak begitu penting mendirikan pesantren.

IM: Sekarang mengapa mendirikan pesantren? Apa karena dirasa penting, meskipun itu tidak pernah dilakukan Nabi dan sahabat-sahabatnya?

AM: Tapi pak. Mendirikan pesantren itu ada dasarnya. Pertama, adanya perintah untuk menuntut ilmu. Bentuk bagaimana menuntut ilmu itu diserahkan kepada ummat. Mau dipesantren, kajian di masjid, dengar ceramah, nonton program TV Islami, baca buku dan sebagainya, terserah.

Kedua, dimasa Nabipun dilakukan majelis-majelis ilmu, yang sesungguhnya itu adalah cikal bakal berdirinya pesantren. Hanya saja di masa Nabi masih dalam bentuk yang sangat sederhana.

IM: Bukankah memperingati maulid juga begitu?. Pertama, dasarnya adalah adanya perintah untuk mencintai dan mengagungkan Nabi. Bentuk amalannya diserahkan kepada ummat. Memperingati maulid Nabi adalah perwujudan dari kecintaan dan bentuk pengagungan pada Nabi. Sama halnya perintah mencintai dan menghormati orang tua. Nabi tidak memberi batasan dan pengkhususan mengenai bentuk amalannya. Ada yang mencintai orangtuanya dengan membiayai keduanya naik haji. Ada yang mencintai kedua orangtuanya dengan membangunkan rumah, membayarkan hutang-hutangnya atau dalam bentuk menjadi anak yang saleh dan berbakti. Ada pula yang sampai bertekad menjadi sarjana dengan niat, itu yang menjadi bentuk pengabdian dan kecintaannya pada orangtua. Jadi apa alasannya menghalangi mereka yang hendak mengekspresikan kecintaannya pada Nabi dengan memperingati hari kelahirannya dan bersuka cita didalamnya, sementara Nabi tidak pernah memberi batasan dan pengkhususan bagaimana amalan dari perintah mencintainya?.

Kedua, cikal bakalnya di masa Nabi sudah ada. Sahabat-sahabat sangat mengagungkan apa saja yang berkaitan dengan Nabi. Mereka berebutan untuk mengambil berkah dari sisa air wudhu Nabi. Mereka menyimpan rambut Nabi, mengambil keringat dan peluh Nabi. Mereka mendahulukan Nabi dari diri-diri mereka sendiri. Nah, dimasa kita yang tidak bisa bertemu Nabi, tentu tidak bisa mengagungkan Nabi sebagaimana yang dilakukan para sahabat. Kalau kita di Madinah, tentu kita akan setiap hari berziarah ke makam Nabi, dan mengambil berkah dengan menyentuh pusaranya. Sayang, kita menetap di tempat yang jauh dari itu. [Mata imam tua itu mulai berkaca-kaca]

Karenanya, cukuplah memperingati kelahiran Nabi dan memuliakan bulan kelahirannya, sebagai bentuk yang paling sederhana yang bisa kita lakukan untuk meluapkan kecintaan dan kerinduan kepada baginda Nabi. Selain itu, tentu saja dalam keseharian adalah meneladani Nabi. [Tidak tahan, imam masjid itu untuk menyeka matanya yang sembab]

Kalau kita tidak bisa mengambil berkah dari fisik ataupun makam Nabi dan semua tempat bersejarah yang pernah dipijaknya, setidaknya kita mengambil berkah dari waktu-waktu mulia yang pernah dilalui Nabi. Bukankah kita sendiri tetap menganggap istimewa, hari saat kita dilahirkan, hari pertama masuk sekolah, hari saat diwisuda, hari pernikahan, hari lahirnya anak pertama dan sebagainya, dan ketika mengenang semua hari-hari menggembirakan itu kita lantas bersyukur dan bersuka cita atas rahmat Allah. Karena itu kita mengistimewakan hari lahirnya Nabi, saat beliau hijrah, saat isra mi’raj, dengan mengenang, memperingati dan membicarakannya, sebagai bentuk cinta kita pada beliau.

AM: Tapi pak, bagaimanapun itu sama saja menambah-nambahkan syariat dalam agama. Tidak ada contohnya, dan tidak pernah diamalkan. Kalau memang itu penting, pasti Nabi dan sahabatnya pasti yang lebih dulu melakukan dan menyemarakkannya.

IM: Lho, kalau pesantren itu penting. Pasti Nabi dan sahabatnya yang lebih dulu mendirikannya.

AM: Pesantren hanya wasilah pak. Bukan ibadah.

IM: Bukan ibadah? Maksudnya?

AM: Ya, hanya wasilah untuk lebih mudah menuntut ilmu, dan lebih tersistematis dengan adanya kurikulum. Intinya itu adalah pengamalan dari perintah Nabi untuk menuntut ilmu.

IM: Lho, kalau begitu, maulid adalah juga wasilah untuk menunjukkan kecintaan kepada Nabi. Maulid, jalan untuk bisa mengumpulkan warga, sehingga mereka mau mendengarkan ceramah tentang Nabi, mereka jadi tahu akhlak dan keindahan perangai Nabi, mereka jadi tahu sunnah-sunnah Nabi apa saja. Dan dibuat tersistematis, agar ummat bisa lebih mudah untuk mengingatnya. Setiap Muharram yang diingat, peristiwa hijrahnya Nabi. Setiap Zulhijjah, yang diingat peristiwa haji terakhir Nabi dan lengkapnya syariat Islam. Setiap Rajab yang diingat adalah peristiwa isra mi’raj. Setiap Ramadhan, disaat Nabi menerima wahyu dan turunnya Al Qur’an pertama kali. Setiap Safar bulan wafatnya Nabi dan setiap Rabiul Awal adalah bulan kelahiran Nabi. Dengan adanya tradisi memperingati semua hal yang penting dari peristiwa yang pernah dialami Nabi tersebut menjadi wasilah bagi para ulama, da’i dan muballigh untuk lebih mudah menyampaikan ajaran-ajaran Islam kepada ummat.

Bapak tanya. Pembacaan proklamasi itu kapan? Hari ibu kapan diperingati? Kalau hari Kartini kapan?

AM: Hari proklamasi 17 Agustus. Hari Ibu 22 Desember dan Hari Kartini 21 April.

IM: Kok kamu bisa ingat?

AM: Ya, karena diperingati tiap tahun.

IM: Kalau tidak diperingati secara nasional, bagaimana? Apa kamu masih bisa ingat?

AM: Ya bisa jadi saya lupa. Tapi apa pentingnya mengetahui itu pak?

IM: Ya, apa pentingnya bagimu kamu tahu kapan kamu lahir, tanggal, bulan dan tahunnya?.

AM: [Diam]

IM: Sejarah itu penting nak. Dan adanya peringatan-peringatan itu diadakan sebagai bentuk penghargaan terhadap sejarah. Bukankah dalam Al-Qur’an sendiri banyak perintah untuk mengingat peristiwa-peristiwa ummat-ummat terdahulu, yang dengan itu kita bisa banyak mengambil ibrah?

AM: Tapi bukankah tanggal kelahiran Nabi itu diperselisihkan ulama pak?

IM: Tapi tidak ada yang menyelisihi bahwa baginda Nabi lahir dibulan Rabiul Awwal, iya kan?. Karena itu, kita juga tidak pernah mempersoalkan kapan acara maulid Nabi diadakan. Apa tepat 12 Rabiul Awal, lebih cepat atau lebih lambat. Ditiap kampung, masjid, kantor dan sekolah, beda-beda hari dimana mereka mengadakan Maulid. Dan itu tidak mesti dipersoalkan. Dan kami juga tidak pernah menyebut mereka yang tidak mau ikut maulidan sebagai orang yang tidak mencintai Nabi. Maulidan itu tidak wajib. Kalau ada yang menyatakan, yang tidak ikut acara maulidan itu berdosa, itu yang bid’ah.

AM: Tidak ada amalan yang kalau itu dianggap baik dan dapat mendekatkan pada Allah kecuali pernah dianjurkan Nabi dan diamalkan para sahabat. Maulid tidak dianjurkan dan tidak diamalkan, artinya tidak dianggap baik oleh Nabi.

IM: Nak, ceramah taraweh itu pernah tidak dilakukan Nabi? Pernah diamalkan sahabat?

AM: Setahu saya tidak.

IM: Lantas mengapa umat Islam saat ini menggalakkannya?. Di masjid-mesjid dibuatkan jadwal ceramah taraweh, ditentukan penceramahnya, temanya apa dan seterusnya. Kalau itu baik, pasti Nabi dan para sahabat yang lebih dulu mengamalkannya.

AM: Ya itu hanya karena memanfaatkan momentum Ramadhan saja pak. Ruhiyah umat Islam lebih siap mendengarkan siraman rohani dibanding bulan lain.

IM: Lho kalau itu alasannya. Kami mengadakan maulid juga sekedar memanfaatkan momentum Rabiul Awal saja. Ruhiyah umat Islam dibulan ini lebih siap untuk mendengarkan ceramah-ceramah mengenai keagungan Nabi dan keteladanannya. Jadi kalau memanfaatkan momentum Ramadhan bukan bid’ah, sementara memanfaatkan momentum Rabiul Awal menjadi bid’ah, begitu?.

AM: Tidak begitu juga sih pak. Tapi pak, memperingati Maulid itu menambah-nambah hari raya dalam Islam, sementara hari raya dalam Islam itu hanya tiga. Jum’at, Idul Fitri dan Idul Adha. Tidak perlu ditambah lagi. Menambahhya sama halnya meragukan kesempurnaan ajaran Islam yang telah dijamin kesempurnannya oleh Allah Swt. Atau menuduh Nabi tidak amanah dalam menyampaikan syariat ini.

IM: Yang bilang Maulid itu hari raya siapa?. Kami menyebutnya peringatan. Bukan perayaan. Karena bentuknya peringatan, ya bisa dilakukan kapan saja. Bahkan diluar Rabiul Awal pun sah-sah saja. Kalau perayaan, ya harus di hari Hnya. Kalaupun ada yang menyebutkan merayakan maulid Nabi, itu bukan maksudnya menjadikan hari maulid sebagai hari raya dan menyikapinya sebagaimana hari raya Jum’at, Idul Fitri atau Idul Adha. Ketiga hari raya itu memiliki rukun yang tidak bisa dibolak balik, ditambah ataupun dikurangi. Sementara Maulid, ya terserah pada penyelenggaranya. Ada yang melengkapinya dengan barazanji, ada pula yang tidak. Ada yang menyertainya dengan lomba-lomba ada pula sekedar mendengar ceramah, shalawatan dan makan bersama sudah cukup. Ada yang melakukannya dipagi hari. Ada sore hari, ada pula yang malam hari setelah shalat Isya. Kalau idul Fitri ya sudah ditentukan kapan dan batasannya.

AM: Tetap saja bid’ah pak. Bukankah bapak mengharapkan pahala dari mengadakan Maulid itu? Nah karena mengharap pahala, berarti itu dianggap ibadah. Sementara dalam ibadah Islam, tidak ada yang namanya maulidan. Kalau bapak ngotot menyebutnya bukan ibadah, berarti bapak harus menyebut itu perbuatan sia-sia karena tidak mengharap pahala.

IM: Apa mereka yang mendirikan pesantren itu tidak mengharap pahala? Apakah yang menyumbang untuk pembangunan pesantren tidak mengharap pahala? Sementara dalam hadits Nabi sama sekali tidak ada perintah untuk membangun pesantren, mendirikan ormas Islam, membuat yayasan-yayasan, membangun rumah sakit, puskesmas dan sekolah-sekolah?.

AM: [Diam]

IM: Apa yang lepas dari masalah ibadah nak? Mana yang kamu sebut tadi masalah duniawi?

AM: Mengenakan sarung dan kopiah. [Menjawab dengan nada lemah]

IM: Saya tanya, kalau itu hanya masalah duniawi. Mana yang lebih afdhal yang shalat dengan mengenakan sarung, kopiah dan baju koko, dengan yang shalat mengenakan kaos oblong, celana jeans dan topi koboy?

AM: Tentu yang pertama.

IM: Kok bisa? Bukankah itu hanya masalah duniawi? Berpakaian pun bisa menjadi ibadah, jika itu diniatkan untuk mendapatkan keridhaan Allah dan menjalankan tuntunan Nabi untuk mengenakan pakaian yang layak dan bersih. Bukankah tidurpun termasuk ibadah?. Apa Nabi pernah mencontohkan tidur di kasur yang empuk dan mahal?.

Jadi sekarang saya bertanya lagi. Mana yang lebih afdhal yang bergembira di bulan Maulid dengan niat kegembiraannya itu karena tahu bahwa bulan itu adalah bulan lahirnya Nabi yang mulia, yang dijunjung dan diagungkan oleh semua umat Islam. Yang kegembiraannya itu diluapkan dengan berbondong-bondong ke masjid, mendengar ceramah, bersilaturahmi dan makan bersama, atau yang lebih sibuk dan ribut-ribut menyebut mereka yang memperingati maulid itu sebagai ahli bid’ah, sesat dan tempatnya kelak di neraka?.

Mana yang lebih meneladani Nabi, mereka yang menyerukan persatuan dan persaudaraan Islam dengan memanfaatkan momentum bulan kelahiran Nabi atau mereka yang ngotot dan memaksakan pendapat mereka sendiri, dan menyebut mereka yang menyelisihnya sebagai golongan sesat dan jahil?.

AM: Lebih afdhal yang pertama, pak. [Sedikit tersipu]

Tapi pak, bukankah memperingati maulid Nabi sama halnya tasyabbuh dengan budaya kuffar yang juga memperingati hari kelahiran orang-orang yang mereka agungkan? Sementara Nabi melarang kita meniru-niru adat-adat dan kebiasaan mereka.

IM: Apa dalam semua hal? Kaum jahiliah Arab dulu dikenal sangat menghormati dan mengagungkan tamu, mereka juga punya ikatan yang kuat dengan keluarga dan kabilah mereka. Apa itu jelek dan harus diselisihi karena bakal menyerupai kebiasaan mereka? Kegigihan orang-orang Barat dalam menuntut ilmu, dalam menemukan hal-hal yang canggih dan baru dalam bidang tekhnologi, apa itu harus diselisihi karena telah menjadi tradisi keilmuan mereka?

Mengagungkan Nabi-nabi Allah, memuliakan orang-orang yang saleh dan mengistimewakan mereka diatas yang lainnya bukanlah kebiasaan jelek yang harus dihindari. Selama bentuk pengagungan dan pemuliaan kita tidak sampai menyamakan derajat mereka dengan Tuhan atau menyematkan sifat Rububiyah kepada orang-orang saleh itu.

Perintah agama kita jelas. Menyuruh kita melakukan hal-hal yang bisa menjengkelkan orang-orang kafir dan menyenangkan hati orang-orang beriman. Keras pada orang kafir dan berlembah lembut pada orang beriman. Nah, apa iya, melarang-larang umat Islam memperingat kelahiran Nabi itu menjengkelkan orang-orang kafir?. Apa iya mengharamkan makanan maulid itu membuat geram mereka? Apa iya sengaja menyulut perselisihan di bulan kelahiran Nabi itu membuat muak orang-orang kafir?

Dalam keyakinan bapak, semakin semarak umat Islam memperingati kelahiran Nabinya, akan semakin menjengkelkan orang-orang kafir. Semakin ummat Islam mengagungkan Nabi di kantor-kantor, sekolah-sekolah, di jalan-jalan, di tanah lapang, dan memuliakan bulan kelahirannya akan semakin menggeramkan orang-orang kafir. Semakin anak-anak bergembira dan bersorak sorai, bershalawatan dan menyanyikan syair-syair rindu pada Nabi di bulan maulid, akan semakin membuat mereka putus asa untuk menjauhkan generasi muda Islam dengan Nabinya.

Menyemarakkan maulid itu menyenangkan orang-orang beriman. Hari dimana kita berbagi kebahagiaan, keceriaan, kebersamaan, dengan makan bersama, duduk bersama, mendengarkan ceramah bersama, shalawatan bersama, melihat keceriaan anak-anak yang riang gembira, dan saling mematri janji untuk selalu saling memuliakan dan menjaga ukhuwah. Bukan begitu?.

AM: Iya pak. [Pemuda itu menganggukkan kepalanya]

Senyap sesaat, yang terdengar hanya suara gesekan tubuh imam masjid yang mengubah letak duduknya.

AM: Tapi Pak. Yang patut disayangkan. Mereka yang getol memperingati maulid, justru hanya masuk masjid saat peringatan maulid, dan dihari selainnya tidak menampakkan lagi batang hidungnya di masjid. Bahkan pada saat shalat lima waktu sekalipun.

IM: Justru, dengan adanya peringatan maulid itu setidaknya mereka tercatat pernah ke masjid. Coba kalau tidak ada maulid. Mungkin seumur-umur mereka tidak pernah ke masjid padahal mereka mengaku muslim juga.

AM: [Mengangguk]

IM: Nak, yang dimaksud bid’ah itu adalah jika mengubah-ubah syariat yang telah ditetapkan secara pasti. Misalnya menambah rakaat shalat. Naik haji bukan diwaktu yang telah ditentukan. Mengurangi rukun puasa. Dan sebagainya.

Kita tidak mewajibkan maulid. Yang mau ikut silahkan, yang tidakpun tidak kita paksa. Apalagi sampai mencemoohnya tidak mencintai Nabi dan telah berdosa. Semua orang punya cara untuk meluapkan kecintaannya pada Nabi. Kita percaya, yang tidak memperingati maulid juga tetap tidak kurang cintanya pada Nabi. Hanya saja, kecintaan pada Nabi itu akan ternodai kalau sampai menyakiti hati sesama muslim dengan menggelari mereka yang memperingati maulid sebagai ahli bid’ah, sesat dan ahli neraka, padahal ini pun masih diperselisihkan para ulama.

Betapa keras usaha dan upaya Nabi untuk menjaga agar umat Islam bersatu. Janganlah dirusak hanya karena berbeda dalam memahami anjuran Nabi. Bid’ahnya maulid masih diperselisihkan, tapi mencela, melecehkan dan merendahkan sesama muslim tidak diperdebatkan keharamannya. Orang Islam itu, kesibukannya melakukan amalan-amalan yang akan memasukkannya ke surga, bukan sibuk membuktikan orang lain pasti ke neraka.

AM: Iya pak. Terimakasih.

IM: Sama-sama.

Imam Masjid itu kemudian berdiri. Menyalakan tape masjid, yang seketika itu juga memperdengarkan alunan Qari yang melantunkan ayat suci Al-Qur’an.  Pak tua itu, keluar masjid, masuk WC, keluar dan memperbaharui wudhunya. Tidak lama lagi, matahari akan tenggelam, dan waktu maghrib akan masuk

Penggunaan Nama Abdur Rasul dan Abdul Husain di manfaatkan oleh orang kristiani ?

Sedikit Tinjauan Atas Penggunaan Nama Abdur Rasul dan Abdul Husain?

Kalau para pembaca cukup rajin mempelajari kitab atau tulisan para ulama Syi’ah maka para pembaca akan menemukan sebagian dari ulama Syi’ah yang memiliki nama seperti Abdur Rasul atau Abdul Husain. Mungkin di mata orang awam penggunaan nama seperti ini mengindikasikan kesyirikan karena penghambaan hanyalah kepada Allah SWT dan tidak kepada selain-Nya. Dan tidak jarang penggunaan nama ini dijadikan syubhat oleh para nashibiy untuk merendahkan ulama Syi’ah.

Kami akan menyikapi masalah ini secara objektif. Sebenarnya dengan akal yang waras saja kita dapat melihat dan membaca tulisan para ulama Syi’ah, tidak ada satupun dari mereka yang menuhankan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] atau menuhankan Ahlul Bait termasuk Imam Husain [‘alaihis salaam]. Jadi di sisi mereka nama Abdur Rasul dan Abdul Husain bukan bermakna menuhankan Rasul atau menuhankan Husain.

.

Soal argumen yang sering dimanfaatkan oleh orang kristiani maka itu tidak hanya berlaku pada blog ini tetapi juga berlaku pada blog-blog salafy dan intinya setiap blog yang merujuk pada kitab-kitab hadis bisa saja dijadikan amunisi orang kristiani. Dan anehnya hal seperti itu adalah kenyataan yang tidak tergantung dengan adanya blog semacam ini atau tidak. Misalnya soal riwayat tahrif Al Qur’an, banyak riwayat yang tersebar dalam kitab hadis [baik Sunni atau Syi'ah] baik shahih atau pun dhaif. Ada orang kristiani yang menjadikan riwayat itu untuk mencela Islam tidak menafikan fakta bahwa riwayat tersebut memang ada. Oleh karena itu sikap yang harus ditunjukkan bukan menghindari riwayat2 semacam itu tetapi menghadapi riwayat-riwayat tersebut dan mematahkan argumen mereka dengan baik. Begitulah caranya orang yang berjalan di atas kebenaran.

Saya bisa kasih contoh soal hadis Al Gharaniq, hadis itu tercantum dalam kitab-kitab ahlus sunnah terdapat pula ulama yang menguatkan kisah tersebut seperti Ibnu Hajar [walaupun tidak dinafikan terdapat sebagian ulama lain yang mendustakannya]. Banyak kalangan anti islam yang merendahkan Islam dengan mengutip riwayat semacam itu. Apa anda akan menyalahkan para ulama karena menulis riwayat semacam itu dalam kitab mereka?. Tidak perlu, cukup hadapi saja adanya riwayat semacam itu, kalau memang dhaif maka buktikan kedhaifannya dan bantah saja argumen orang-orang anti islam tersebut.

Dalam perkara Sunni-Syi’ah, golongan salafy itu paling sering menunjukkan sikap yang mirip dengan blog anti islam tersebut yaitu mengutip2 riwayat Syi’ah dengan tujuan merendahkan Syi’ah. Itu adalah sesuatu yang memang nyata terjadi dan bagi mereka yang peduli ya hadapi saja, silakan bahas syubhat para salafy itu dengan hujjah yang objektif, itulah jalan orang yang berada di atas kebenaran

Soal tulisan di atas, anda sok mengatakan orang arab akan memahami nama tersebut kepada kesyirikan, saya katakan saya tidak menafikan pada umumnya orang awam akan memahaminya seperti itu, oleh karena itulah tulisan ini berusaha menunjukkan kebenarannya kepada mereka yang awam bahwa Al Qur’an dan Al Hadis pernah menggunakan lafaz yang seperti itu, jadi tidak mesti lafaz “abdu” itu bermakna kesyirikan jika dinisbatkan pada selain Allah SWT karena lafaz tersebut bisa bermakna hamba sahaya kaum mukminin termasuk hamba sahaya Rasulullah [shallallahu 'alaihi wasallam].

Perkara orang kristiani mau menjadikan masalah ini sebagai bahan syubhat mereka untuk merendahkan Islam ya silakan tinggal dihadapi argumen mereka dan dibahas dan dibuktikan kebenarannya. Apa yang perlu anda takutkan jika anda yakin anda berada di atas jalan kebenaran?. Bukankah orang islam berani membahas kitab Injil kemudian berdebat dengan orang kristiani mengenai keyakinan mereka dan ternyata kalau orang kristiani berbalik membahas kitab pegangan orang islam maka mengapa orang islam mesti takut?

Fenomena seperti itu banyak dan tidak hanya tergantung Sunni dan Syi’ah, Saya juga dahulu lumayan sering membaca tulisan syubhat orang-orang anti islam dan memang yang mereka serang adalah Al Qur’an dan Al Hadis. Mungkin dalam kasus anda, anda sering menemukan argumen Syi’ah yang dijadikan amunisi tetapi dalam kasus saya justru yang sering saya temukan adalah argumen Sunni yang dijadikan amunisi terutama kitab Shahih Bukhariy Muslim.

.

.

Dan kalau kita melihat di dalam Al Qur’an dan Al Hadis maka akan kita dapati terdapat penggunaan kata ‘Abdu yang bukan bermakna kesyirikan atau penghambaan kepada selain Allah SWT. Diantaranya adalah sebagai berikut

وَأَنْكِحُوا الأيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan juga orang-orang shalih dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberikan kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas [pemberian-Nya] lagi Maha Mengetahui [QS An Nuur ; 32]

Allah SWT berfirman dan menyebutkan hamba sahaya kaum muslimin dengan lafaz ‘ibaadikum yang merupakan jamak dari lafaz ‘abdu. Jadi dalam bahasa Al Qur’anul Kariim terdapat lafaz ‘abdu yang disematkan pada kaum muslimin dan lafaz ini tidak bermakna kesyirikan.

حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي مَرْيَمَ حَدَّثَنَا أَبُو غَسَّانَ قَالَ حَدَّثَنِي أَبُو حَازِمٍ عَنْ سَهْلٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرْسَلَ إِلَى امْرَأَةٍ مِنْ الْمُهَاجِرِينَ وَكَانَ لَهَا غُلَامٌ نَجَّارٌ قَالَ لَهَا مُرِي عَبْدَكِ فَلْيَعْمَلْ لَنَا أَعْوَادَ الْمِنْبَرِ فَأَمَرَتْ عَبْدَهَا فَذَهَبَ فَقَطَعَ مِنْ الطَّرْفَاءِ فَصَنَعَ لَهُ مِنْبَرًا فَلَمَّا قَضَاهُ أَرْسَلَتْ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّهُ قَدْ قَضَاهُ قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرْسِلِي بِهِ إِلَيَّ فَجَاءُوا بِهِ فَاحْتَمَلَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَضَعَهُ حَيْثُ تَرَوْنَ

Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Maryam yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Ghassaan yang berkata telah menceritakan kepadaku Abu Haazim dari Sahl [radiallahu ‘anhu] bahwa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengutus seorang wanita muhajirin dimana wanita tersebut memiliki budak yang pandai mengolah kayu. Beliau berkata kepadanya perintahkanlah hamba sahayamu agar membuatkan mimbar untuk kami. Maka ia memerintahkan hamba sahayanya. Kemudian hamba sahaya itu mencari kayu di hutan dan membuatkan mimbar, ketika selesai wanita tersebut mengutus kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] bahwa ia telah menyelesaikan mimbar tersebut. Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “bawalah mimbar tersebut kepadaku” maka orang-orang membawa mimbar tersebut kemudian Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] meletakkannya pada tempat yang sekarang kalian lihat [Shahih Bukhariy 3/154 no 2569]

Dalam hadis shahih di atas Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] menggunakan lafaz ‘abdu untuk hamba sahaya milik seorang wanita muhajirin. Apakah lafaz tersebut bermakna budak itu menuhankan wanita muhajirin tersebut?. Tentu saja mereka yang berakal waras akan mengatakan tidak.

Dalam kitab Shahih Bukhariy, Bukhariy menyebutkan salah satu bab dengan lafaz berikut

بَاب إِمَامَةِ الْعَبْدِ وَالْمَوْلَى وَكَانَتْ عَائِشَةُ يَؤُمُّهَا عَبْدُهَا ذَكْوَانُ مِنْ الْمُصْحَفِ

Bab keimaman seorang budak dan maula, Aisyah pernah diimami budak-nya yang bernama Dzakwan dengan membaca Mushaf [Shahih Bukhariy 1/140].

Apakah dengan menggunakan lafaz ‘abduha, Bukhariy memaksudkan bahwa Dzakwan tersebut menuhankan Aisyah? Sekali lagi mereka yang berakal waras akan mengatakan tidak. Lafaz ‘abduha di atas bermakna budaknya atau hamba sahaya-nya Aisyah [radiallahu ‘anha].

حدثني أبو الطاهر قال أخبرني ابن وهب عن مالك بن أنس عن ثور بن زيد الدؤلي عن سالم أبي الغيث مولى ابن مطيع عن أبي هريرة ح وحدثنا قتيبة بن سعيد وهذا حديثه حدثنا عبدالعزيز ( يعني ابن محمد ) عن ثور عن أبي الغيث عن أبي هريرة قال خرجنا مع النبي صلى الله عليه و سلم إلى خبير ففتح الله علينا فلم نغنم ذهبا ولا ورقا غنمنا المتاع والطعام والثياب ثم انطلقنا إلى الوادي ومع رسول الله صلى الله عليه و سلم عبد له وهبه له رجل من جذام يدعى رفاعة بن زيد من بني الضبيب فلما نزلنا الوادي قام عبد رسول الله صلى الله عليه و سلم يحل رحله فرمي بسهم فكان فيه حتفه فقلنا هنيئا له الشهادة يا رسول الله قال رسول الله صلى الله عليه و سلم كلا والذي نفس محمد بيده إن الشملة لتلتهب عليه نارا أخذها من الغنائم يوم خبير لم تصبها المقاسم قال ففزع الناس فجاء رجل بشراك أو شراكين فقال يا رسول الله أصبت يوم خبير فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم شراك من نار أو شراكان من نار

Telah menceritakan kepada kami Abu Thahir yang berkata telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahab dari Malik bin Anas dari Tsaur bin Zaid Ad Dualiy dari Salim Abu Ghaits mantan budak Ibnu Muthi’ dari Abu Hurairah. Dan telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id dan ini adalah haditsnya, telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz [yaitu Ibnu Muhammad] dari Tsaur dari Abu Ghaits dari Abu Hurairah dia berkata Pada hari Khaibar kami keluar bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hingga Allah memberi kemenangan kepada kami, namun ghanimah yang kami peroleh bukan berupa emas atau perak, melainkan harta benda, makanan dan pakaian. Kemudian kami bergegas menuju sebuah bukit. Dan Rasulullah [shallallahu 'alaihi wasallam] saat itu bersama dengan budak beliau yang diberikan oleh seorang lelaki dari Judzam yang biasa dipanggil dengan nama Rifa’ah bin Zaid dari bani Adh Dhubaib. Ketika kami sampai di bukit itu, budak Rasulullah [shallallahu 'alaihi wasallam] tersebut berdiri untuk melepaskan ikatan tali pelananya. Namun tiba-tiba dia dipanah, dan menemui ajalnya di sana. Kami pun berkata “kami mengucapkan selamat baginya wahai Rasulullah karena telah mendapatkan mati syahid”. Tapi Rasulullah [shallallahu 'alaihi wasallam] malah berkata “Tidak, demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, sungguh ia akan dilahap oleh api neraka karena selimut dari ghanimah perang Khaibar yang diambilnya sebelum dibagikan”. Abu Hurairah berkata Orang-orang pun terkejut. Setelah itu datanglah seorang lelaki dengan membawa seikat atau dua ikat tali sandal seraya berkata, Wahai Rasulullah, aku dapatkan ini saat perang Khaibar. Maka Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata Seikat tali sandal dari api neraka atau dua ikat tali sandal dari api neraka [Shahih Muslim 1/108 no 115]

Perhatikan lafaz hadis Muslim di atas yaitu ‘abdu Rasulullah tersebut berdiri. Apakah yang dimaksud dengan lafaz tersebut adalah budak tersebut menuhankan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]?. Tentu saja orang yang berakal waras akan mengatakan tidak.

Ayat Al Qur’an dan hadis-hadis shahih di atas menunjukkan bahwa lafaz ‘abdu bisa saja disematkan pada seseorang tertentu dari kalangan kaum muslimin dan lafaz tersebut bermakna budak atau hamba sahaya atau pembantu dari orang tersebut bukan bermakna kesyirikan atau menuhankan selain Allah SWT.

.

.

Kembali ke nama yang dipakai oleh sebagian orang Syi’ah dengan sebutan Abdur Rasul atau Abdul Husain maka itu tidak lain bermakna sebagai budak atau hamba sahaya atau pembantu Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] atau Imam Husain [‘alaihis salaam]. Kalau ada yang membantah bagaimana mungkin itu diartikan sebagai budak karena Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan Imam Husain [‘alaihis salaam] sudah wafat.

Ya tidak ada masalah, mungkin maksud pemberian nama tersebut adalah agar yang bersangkutan menjadi seorang yang selalu mentaati perintah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] atau Imam Husain [‘alaihis salaam] layaknya seperti budak atau hamba sahaya keduanya.

Kami juga tidak menafikan bahwa di sisi para ulama ahlus sunnah penggunaan nama seperti Abdur Rasul dan Abdul Husain termasuk perkara yang diharamkan dengan alasan penghambaan itu hanya kepada Allah SWT bukan kepada selain Allah SWT. Tetapi sayangnya fatwa ulama ahlus sunnah tidak menjadi hujjah bagi ulama Syi’ah.

Adapun alasan penghambaan itu hanya kepada Allah SWT maka hal itu disepakati juga oleh ulama Syi’ah hanya saja mereka memaksudkan nama Abdur Rasul dan Abdul Husain bukan sebagai penghambaan dalam arti menyembah dan menuhankan tetapi dalam arti sebagai hamba sahaya yang senantiasa mentaati tuannya dalam hal ini Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] atau Imam Husain [‘alaihis salaam].

Dengan tulisan ini kami hanya ingin menunjukkan bahwa penggunaan nama tersebut di sisi Syi’ah tidak sedikitpun bermakna kesyirikan sebagaimana yang dikatakan oleh para nashibiy dan orang awam yang tidak tahu ilmunya. Dan telah kami tunjukkan bahwa Al Qur’an dan Hadis mengizinkan penggunaan lafaz ‘abdu yang disematkan pada selain Allah SWT dan bukanlah lafaz tersebut bermakna kesyirikan atau menuhankan selain Allah SWT.

Kami pribadi juga tidak menyukai penggunaan nama seperti itu karena menurut kami di mata orang awam penggunaan nama tersebut mungkin dapat menimbulkan fitnah. Tetapi kami tidak akan merendahkan orang yang memiliki nama tersebut apalagi jika yang bersangkutan memang seorang muslim atau ulama yang tentunya hanya menyembah kepada Allah SWT.

Sekedar info ini bukan pertama kalinya saya berdiskusi dengan orang WAHABi.

Pengalaman saya sebelumnya, biasanya orang yang sibuk menuduh blog anonim dengan tuduhan majhul adalah orang yang hanya percaya dengan guru atau Ustadz yang ia kagumi saja atau Ustadz dari golongannya saja sedangkan kalau Ustadz lain yang berbeda mazhabnya [misalnya salafy] maka tidak peduli setinggi apapun pendidikannya meski sudah sampai S3 di tanah Arab sana tetap saja tidak akan dipercayainya. Jadi memang tidak ada gunanya tuduhan majhul tersebut selain ingin menunjukkan bahwa hanya Ustadz dan gurunya saja yang bisa dipercaya, yang lain tidak. Dan orang seperti itu biasanya juga tidak bisa mempelajari ilmu dari sumber rujukan melainkan hanya bisa mengambil dari guru dan Ustadz-nya saja.

anda bilang anda menjelaskan dgn bhs Arab dari Al-Quran dan Hadits Shohih. tapi anda tdk memaparkan fundamental analisa ilmu bahasa Arab dlm mengkaji hal tsb. ini kan namanya berargumen dgn klaim. maaf, yg saya tangkap dari penjelasan anda utk kasus ini, lebih ke tafsir, bukan analisa bahasa.

Maaf ya kalau saya katakan anda tidak paham betul cara beragumentasi bahkan anda tidak paham apa yang namanya klaim dan apa yang namanya tafsir. Saya tidak keberatan untuk mengulangi secara ringkas inti argumen saya di atas. Yang dipermasalahkan dalam tulisan saya di atas adalah Apakah lafaz “abdu” itu tidak boleh digabungkan dengan lafaz selain Allah? atau Apakah lafaz “abdu” jika digabungkan kepada selain Allah akan selalu bermakna kesyirikan?. Argumen saya di atas menunjukkan

Al Qur’an pernah mengabungkan lafaz “abdu” dalam bentuk jamak kepada kaum mukminin yang berarti hamba sahaya kaum mukminin.

Rasulullah [shallallahu 'alaihi wasallam] pernah menyebutkan lafaz “abdu” pada seorang wanita muhajirin yang berarti budak atau hamba sahaya wanita tersebut [lihat Shahih Bukhariy di atas]
Abu Hurairah pernah menyebutkan seseorang dengan lafaz “abdu Rasulullah” [Lihat Shahih Muslim di atas]
Imam Bukhariy pernah menyebutkan judul bab dalam kitabnya dan menyebut budak Aisyah dengan lafaz “abdu” [Lihat Shahih Bukhariy di atas]

Jadi saya telah menunjukkan bahwa lafaz “abdu” bisa digabungkan pada selain Allah SWT dan bermakna sebagai hamba sahaya seseorang bukan bermakna kesyirikan. Dimana letak saya mengklaim atau memberikan tafsiran, itu jelas-jelas bunyi lafaz dalam Al Qur’an dan Hadis

kalau artikel yg lain , saya tdk complain, saya beberapa kali baca…saya sadar blm punya ilmunya, dan analisa anda tajam, layak dipertimbangkan. tapi kalau buat artikel ini, maaf-maaf saja, kok serasa anti-klimaks, dan tdk mendalam , sebgm biasanya anda berargumen. makanya saya nanya dan kasih saran. apalagi sudah cross-check dgn ustadz dan penuntut ilmu yg kompeten dlm Bhs Arab.

Tidak perlu panjang berbasa-basi. Anda tidak perlu percaya saya cukup anda buka Al Qur’an dan buka kitab Shahih Bukhariy dan Muslim, kemudian tunjukkan Al Qur’an dan Hadis yang saya gunakan di atas kepada Ustadz anda dan penuntut ilmu bahasa Arab yang anda bilang kompeten. Kalau mereka masih bilang lafaz “abdu” dalam Al Qur’an dan hadis-hadis di atas itu bermakna kesyirikan maka akan nampak jelas siapa sebenarnya yang berhujjah dan siapa yang hanya sekedar menurutkan hawa nafsunya

saya tdk sepintar anda dlm mengkritisi, mengevaluasi banyak literatur Sunni, dan mengevaluasi kecacatan kritik Sunni thd Syiah.
dan saya bertanya bagaimana cara saya sepintar anda.

Saya tidak tahu soal itu kan yang bilang pintar itu anda, bagi saya ya biasa saja, saya hanya berusaha untuk belajar dengan objektif tinggal baca literatur Sunni atau Syi’ah yang ingin dipelajari

kalau anda tanya saya suruh cari tahu ke Syiah, saya tdk punya koneksi dan referensi ke Syiah. guru saya, rekan saya, semuanya Sunni.
justru karena melihat ketajaman anda mengevaluasi banyak artikel kritik Sunni thd Syiah, makanya saya bertanya ke anda.

Orang yang memang berniat mencari kebenaran maka biasanya ia tidak akan malas mencari dan tidak akan mudah percaya kecuali dengan bukti yang objektif. Makanya saya katakan kalau anda ingin tahu tentang Syi’ah maka silakan tanya pada Ustadz Syi’ah yang memang mapan ilmunya soal mazhab Syi’ah atau silakan anda pelajari kitab-kitab Syi’ah. Tidak punya koneksi ya silakan cari koneksi, tidak punya literatur ya silakan cari literatur. Masalahnya sederhana, anda memang mau atau sekedar basa basi. Saya jelas bukan orang yang tepat untuk mewakili mazhab Syi’ah secara saya juga masih belajar.

anda bisa melakukan evaluasi , pasti tlh mengalami proses pembelajaran, dan pasti punya kemampuan. sebab kalau orang tdk punya kemampuan main asal evaluasi, namanya tdk profesional. tapi sepertinya anda profesional sekali dlm melakukan evaluasi tsb.

Kata-kata yang maaf gak penting, mungkin itulah sebabnya “anda gak bisa mencari” karena dalam pikiran anda namanya evaluasi itu harus profesional, gak jelas sekali maksudnya. Mencari kebenaran, mengevaluasi sesuatu bisa dilakukan setiap orang yang berakal, tinggal belajar bagaimana caranya. Kalau mau membahas hadis ya silakan belajar ilmu hadis, begitulah caranya. Anda mau bertanya dengan seseorang yang anda anggap kompeten dalam ilmu hadis ya tidak masalah tetapi siap-siap saja bisa jadi orang yang anda anggap kompeten ternyata tidak begitu paham dengan apa yang anda tanya. Yah namanya anggapan bisa saja keliru, anda menganggapnya kompeten tetapi ternyata jika ditimbang dengan kaidah ilmu ternyata tidak kompeten

kalau ada pintu dan jalan di depan mata, kenapa harus jalan jauh, cari yg lain, yg blm pasti??
kalo saya tanya yg terlalu Pro Sunni, jadinya kurang obyektif kan?
tetapi kalau saya tanya ke anda, apalagi motto anda adalah “Pencari Kebenaran”, dan analisanya tajam…tentu sikap saya ini dibenarkan dong?!

Aduh maaf ya sepertinya sebelumnya ada yang bilang agak ndak enak belajar sama yang majhul, rasa percaya menurun, kenapa sekarang malah bilang analisanya tajam. Justru info dari saya ini berdasarkan standar anda bahwa saya majhul maka kedudukannya sangat “belum pasti” dan sangat “kurang objektif”. Maaf saya agak malas berbasa-basi, jadi cukuplah basa-basinya silakan balik ke diskusi pokok tulisan di atas. Kalau mau berhujjah silakan bawakan hujjahnya tetapi kalau cuma mau menggerutu, saya tidak berminat. salam

Akidah Wahabi dan NU Sunni Memang Beda

Antara Tradisi Kultur Syi’ah-NU dan Adu Domba Wahabi

Waspadai Politik Adu Domba Wahabism

wahabi tidak toleran dan isu ini bisa dibawa ke PBB, kalangan Syiah yang tetap percaya diri dengan mengadakan berbagai event  secara terbuka. Radikalisme wahabi bertujuan mengulangi peristiwa kekerasan seperti terjadi di Iran, Iraq, atau Suriah, provokasi wahabi ini akan terjadi juga di Indonesia.

Ahlus Sunnah harus bijak dan hati-hati menyikapi isu-isu seputar tradisi dan kultur kaum Syafiiyah ini. Perlu pemahman, bahwa tradisi tersebut bukanlah perkara ushul tapi furu’.

Akidah wahabi dan NU Memang Beda

Berbagai perbedaan pendapat dan pergerakan antara NU dan Syi’ah adalah suatu kewajaran. Sebab, menurut Prof. Dr. Umar Shihab (Ketua MUI Pusat): “Syiah bukan ajaran sesat, baik Sunni maupun Syiah tetap diakui Konferensi Ulama Islam International sebagai bagian dari Islam.”

Lain halnya dengan aliran wahabi. Sebab ini aqidah. Karena wahabi  itu memang beda (dengan Sunni) secara aqidah

Saya  setuju kalau kita mengatakan ‘Laa Sunni Walaa Syiah’ (tidak ada Sunni dan tidak ada Syiah, Red).

SYIAH dan NU memiliki titik temu di bidang fikih dan tasawuf seperti tahlilan, qunut, maulidan, ziarah kubur, hormati ahlulbait  dll jadi bisa bersatu..Titik Temu Islam Ahlus Sunnah (NU) dan Islam Syi’ah ada dibidang fikih dan tasawuf serta sama sama anti Wahabi Nejed, Secara ideologis, wahabi selalu memiliki misi untuk menghancurkan negara yang tidak berdasarkan ajaran setan nejed.

Selain wahabi, Ahmadiyah dan aliran sesat sejenisnya berbeda dengan NU. Perbedaan utamanya dalam persoalan aqidah.

Perbedaan dalam Islam sudah terjadi sejak zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam. Para Sahabat sendiri sering berbeda dengan Nabi, juga dengan sesama Sahabat.

Tradisi perbedaan di kalangan para Sahabat berlanjut pada masa berikutnya. Termasuk di zaman para ulama mujtahidin. Perbedaan tersebut masing-masing berdasarkan dalil.Berbagai perbedaan di kalangan NU dan Syi’ah tidak perlu dipermasalahkan.

“Perbedaan sesama kita, Apalagi kalau hanya seperti angkat tangan berdoa setelah shalat, atau baca basmalah kecil dan keras, atau ketika sujud itu didahulukan tangan atau didahulukan lutut, atau kalau berwudhu sebahagian atau semua, MAKA JANGAN dipersoalkan”

“Yang penting (pendapatnya) ada dalil, dan tahu dalil, tidak taqlid,”

Kami meyakini, untuk menyerap berbagai perbedaan dalam dunia fikih, diperlukan tauhid yang lurus kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Seperti tercermin dalam ayat pertama surat al-’Alaq, “Iqro’ bismirobbikalladzi kholaq….” (Bacalah, dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan!).*

Perbedaan syariat wahabi dan Islam sudah berbeda dari pemahaman akidah.

“wahabi mengkafirkan orang-orang yang tidak mau mendukung ajaran mereka,”

Hari-hari ini adalah momen di mana wahabi mencari tempat pijakan di tubuh NU, dengan alasan memiliki beberapa kesamaan  ajaran. Di internet, bisa mudah kita temukan bagaimana kaum wahabi mencari momen ‘meminjam’ tangan NU guna memusuhi sesama loyalis ahlulbait.

Strategi lain dari dakwah wahabi saat ini yang perlu diperhatikan adalah, klaim-klaim wahabi terhadap kesamaan ajaran sebagian penganut NU dan indikasi adu domba antar kelompok.

Sejumlah elemen Islam berpaham wahabiyang selama ini peduli dengan gerakan pemurtadan dan perusakan akidah, menghimpun diri ke dalam satu aliansi bernama ”Aliansi Ahlus Sunnah untuk Kehormatan Keluarga dan Sahabat Nabi”– selanjutnya disingkat  “ASKES”

Hari Kamis (14/11/2013), sekitar 600 massa ASKES menggelar aksi unjuk rasa damai menentang pelaksanaan Ritual ‘Asyurakaum Syi’ah di Balai Samudera Kelapa Gading Jakarta.

Dalam aksi di depan Balai Samodra Jakarta itu, ASKES juga membagi-bagikan 400 eksemplar buku terbitan MUI Pusat yang berjudul “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia”.

Buku itu diutamakan dibagi kepada aparat keamanan yang dengan keras berupaya menjaga bentrokan antara massa ASKES dan peserta ritual Syiah.

“Ini salah satu bentuk edukasi. InsyaAllah, kami akan terus melakukan edukasi kepada umat Islam Indonesia tentang hakekat dan penyimpangan Syiah, sebagaimana telah dijelaskan dalam buku MUI tersebut,” kata Koordinator ASKES yang akrab dipanggil Ustad Anung itu.

Pada saat yang sama, penentangan terhadap ritual kaum Syiah itu juga dilakukan kaum Muslimin Indonesia di sejumlah kota, khususnya di Surabaya dan Bandung.

Di Surabaya, ritual kaum Syiah itu dilarang diselenggarakan pihak keamanan, karena sikap tegas Gubernur dan MUI Jatim.

Menurut Koorodinator “ASKES”,  Anung Al Hamat Lc, aksinya terutama dilakukan sebagai bentuk penyadaran kepada kaum Muslimin, bahwa ada perbedaan yang sangat mendasar antara ajaran dan ibadah kaum Syiah dengan umat Islam pada umumnya,

Pelaksanaan Asyuro pemeluk  Syiah yang dilaksanakan secara terbuka di beberapa kota rupanya telah menjadi perhatian elemen wahabi Indonesia. Seperti diketahui, biasanya dalam perayaan 10 Muharram, kaum Syiah mengadakan ritual atau kerap disebut Asyuro menimbulkan iri hati wahabi yang teramat sangat mencintai Mu’awiyah, Yazid dan konco konco nya.

Agresivitas wahabi di Indonesia, kini sangat mengganggu dan menyita tenaga serta pikiran umat Islam Indonesia. Hal itu juga suatu hal yang aneh. Kaum wahabi mengaku bersaudara dengan kaum NU, tetapi mereka tak henti-hantinya menyebarkan permusuhan, khususnya melaknat syi’ah yang pro ahlulbait.

Antara Tradisi Kultur Syi’ah-NU dan Adu Domba Wahabi

Antara Tradisi Kultur Syi’ah-NU dan Adu Domba Wahabi

Waspadai Politik Adu Domba Wahabism

Akidah wahabi dan NU Memang Beda

Berbagai perbedaan pendapat dan pergerakan antara NU dan Syi’ah adalah suatu kewajaran. Sebab, menurut Prof. Dr. Umar Shihab (Ketua MUI Pusat): “Syiah bukan ajaran sesat, baik Sunni maupun Syiah tetap diakui Konferensi Ulama Islam International sebagai bagian dari Islam.”

Lain halnya dengan aliran wahabi. Sebab ini aqidah. Karena wahabi  itu memang beda (dengan Sunni) secara aqidah

Saya  setuju kalau kita mengatakan ‘Laa Sunni Walaa Syiah’ (tidak ada Sunni dan tidak ada Syiah, Red).

SYIAH dan NU memiliki titik temu di bidang fikih dan tasawuf seperti tahlilan, qunut, maulidan, ziarah kubur, hormati ahlulbait  dll jadi bisa bersatu..Titik Temu Islam Ahlus Sunnah (NU) dan Islam Syi’ah ada dibidang fikih dan tasawuf serta sama sama anti Wahabi Nejed, Secara ideologis, wahabi selalu memiliki misi untuk menghancurkan negara yang tidak berdasarkan ajaran setan nejed.

Selain wahabi, Ahmadiyah dan aliran sesat sejenisnya berbeda dengan NU. Perbedaan utamanya dalam persoalan aqidah.

Perbedaan dalam Islam sudah terjadi sejak zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam. Para Sahabat sendiri sering berbeda dengan Nabi, juga dengan sesama Sahabat.

Tradisi perbedaan di kalangan para Sahabat berlanjut pada masa berikutnya. Termasuk di zaman para ulama mujtahidin. Perbedaan tersebut masing-masing berdasarkan dalil.Berbagai perbedaan di kalangan NU dan Syi’ah tidak perlu dipermasalahkan.

“Perbedaan sesama kita, Apalagi kalau hanya seperti angkat tangan berdoa setelah shalat, atau baca basmalah kecil dan keras, atau ketika sujud itu didahulukan tangan atau didahulukan lutut, atau kalau berwudhu sebahagian atau semua, MAKA JANGAN dipersoalkan”

“Yang penting (pendapatnya) ada dalil, dan tahu dalil, tidak taqlid,”

Kami meyakini, untuk menyerap berbagai perbedaan dalam dunia fikih, diperlukan tauhid yang lurus kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Seperti tercermin dalam ayat pertama surat al-’Alaq, “Iqro’ bismirobbikalladzi kholaq….” (Bacalah, dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan!).*

Perbedaan syariat wahabi dan Islam sudah berbeda dari pemahaman akidah.

“wahabi mengkafirkan orang-orang yang tidak mau mendukung ajaran mereka,”

Hari-hari ini adalah momen di mana wahabi mencari tempat pijakan di tubuh NU, dengan alasan memiliki beberapa kesamaan  ajaran. Di internet, bisa mudah kita temukan bagaimana kaum wahabi mencari momen ‘meminjam’ tangan NU guna memusuhi sesama loyalis ahlulbait.

Strategi lain dari dakwah wahabi saat ini yang perlu diperhatikan adalah, klaim-klaim wahabi terhadap kesamaan ajaran sebagian penganut NU dan indikasi adu domba antar kelompok.

Sejumlah elemen Islam berpaham wahabiyang selama ini peduli dengan gerakan pemurtadan dan perusakan akidah, menghimpun diri ke dalam satu aliansi bernama ”Aliansi Ahlus Sunnah untuk Kehormatan Keluarga dan Sahabat Nabi”– selanjutnya disingkat  “ASKES”

Hari Kamis (14/11/2013), sekitar 600 massa ASKES menggelar aksi unjuk rasa damai menentang pelaksanaan Ritual ‘Asyurakaum Syi’ah di Balai Samudera Kelapa Gading Jakarta.

Dalam aksi di depan Balai Samodra Jakarta itu, ASKES juga membagi-bagikan 400 eksemplar buku terbitan MUI Pusat yang berjudul “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia”.

Buku itu diutamakan dibagi kepada aparat keamanan yang dengan keras berupaya menjaga bentrokan antara massa ASKES dan peserta ritual Syiah.

“Ini salah satu bentuk edukasi. InsyaAllah, kami akan terus melakukan edukasi kepada umat Islam Indonesia tentang hakekat dan penyimpangan Syiah, sebagaimana telah dijelaskan dalam buku MUI tersebut,” kata Koordinator ASKES yang akrab dipanggil Ustad Anung itu.

Pada saat yang sama, penentangan terhadap ritual kaum Syiah itu juga dilakukan kaum Muslimin Indonesia di sejumlah kota, khususnya di Surabaya dan Bandung.

Di Surabaya, ritual kaum Syiah itu dilarang diselenggarakan pihak keamanan, karena sikap tegas Gubernur dan MUI Jatim.

Menurut Koorodinator “ASKES”,  Anung Al Hamat Lc, aksinya terutama dilakukan sebagai bentuk penyadaran kepada kaum Muslimin, bahwa ada perbedaan yang sangat mendasar antara ajaran dan ibadah kaum Syiah dengan umat Islam pada umumnya,

Pelaksanaan Asyuro pemeluk  Syiah yang dilaksanakan secara terbuka di beberapa kota rupanya telah menjadi perhatian elemen wahabi Indonesia. Seperti diketahui, biasanya dalam perayaan 10 Muharram, kaum Syiah mengadakan ritual atau kerap disebut Asyuro menimbulkan iri hati wahabi yang teramat sangat mencintai Mu’awiyah, Yazid dan konco konco nya.

Agresivitas wahabi di Indonesia, kini sangat mengganggu dan menyita tenaga serta pikiran umat Islam Indonesia. Hal itu juga suatu hal yang aneh. Kaum wahabi mengaku bersaudara dengan kaum NU, tetapi mereka tak henti-hantinya menyebarkan permusuhan, khususnya melaknat syi’ah yang pro ahlulbait.

wahabi tidak toleran dan isu ini bisa dibawa ke PBB, kalangan Syiah yang tetap percaya diri dengan mengadakan berbagai event  secara terbuka. Radikalisme wahabi bertujuan mengulangi peristiwa kekerasan seperti terjadi di Iran, Iraq, atau Suriah, provokasi wahabi ini akan terjadi juga di Indonesia.

Ahlus Sunnah harus bijak dan hati-hati menyikapi isu-isu seputar tradisi dan kultur kaum Syafiiyah ini. Perlu pemahman, bahwa tradisi tersebut bukanlah perkara ushul tapi furu’.

ulama Sunni [Ahlus Sunnah] yang meyakini adanya tahrif Al Qur’an termasuk Mujahid bin Jabr Al Makkiy dan Utsman bin Abi Syaibah

penjelasan saya ini berorientasi pada persatuan Sunni-Syiah dengan memberikan pemikiran berimbang.

Jangan hiraukan para pendengki itu. Mental kami terlalu kuat hanya untuk berciut-nyali menghadapi kicauan para pendengki.

Apakah Ada Ulama Sunni Yang Meyakini Tahrif Al Qur’an?

Sebelumnya kami pernah mengatakan di dalam blog ini bahwa terdapat ulama Sunni [Ahlus Sunnah] yang meyakini adanya tahrif Al Qur’an. Ulama yang dimaksud adalah Mujahid bin Jabr Al Makkiy dan Utsman bin Abi Syaibah. Silakan ikuti pembahasan ini dan nilailah dengan objektif

.

.

.حدثني محمد بن عمرو قال، حدثنا أبو عاصم، عن عيسى، عن ابن أبي نجيح، عن مجاهد في قوله: وإذ أخذَ الله ميثاق النبيين لما آتيتكم من كتاب وحكمة، قال: هي خطأ من الكاتب، وهي في قراءة ابن مسعود: وإذ أخذَ الله ميثاق الذين أوتوا الكتاب

Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin ‘Amru yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu ‘Aashim dari Iisa dari Ibnu Abii Najiih dari Mujaahid tentang ayat “waidz ‘akhadzallaahu miitsaaqan nabiyyiin lamaa ataytuukum min kitabin wa hikmatinn”. [Mujahid] berkata “itu adalah kesalahan dari juru tulis, dan dalam bacaan Ibnu Mas’ud adalah “waidz ‘akhadzallahu mitsaaqal ladziina ‘uutul kitaab” [Tafsir Ath Thabariy 6/553]

Riwayat ini sanadnya shahih hingga Mujahid, para perawinya tsiqat berikut perinciannya

  1. Muhammad bin ‘Amru adalah Muhammad bin ‘Amru bin ‘Abbas Al Bahiliy termasuk syaikh [guru] Ath Thabariy yang tsiqat. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Al Khatib menyebutkan dengan sanadnya dari Abdurrahman bin Yusuf bahwa Muhammad bin ‘Amru Al Bahiliy tsiqat [Mu’jam Asy Syuyukh Ath Thabariy no 307 hal 556-564]
  2. Abu ‘Aashim Dhahhak bin Makhlaad termasuk perawi kutubus sittah [Bukhariy, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah]. Yahya bin Ma’in berkata “tsiqat”. Al Ijliy berkata “tsiqat banyak meriwayatkan hadis”. Abu Hatim berkata “shaduq, ia lebih aku sukai dari Rawh bin ‘Ubadah”. Ibnu Sa’ad berkata “tsiqat faqiih”. Ibnu Qaani’ berkata “tsiqat ma’mun”. [Tahdzib At Tahdzib juz 4 no 793]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat tsabit” [Taqrib At Tahdzib 1/444]
  3. Iisa bin Maimun Al Jarsyiy termasuk perawi Abu Dawud dalam Naasikh Wal Mansuukh. Yahya bin Ma’in berkata “tidak ada masalah padanya”. Ia telah dinyatakan tsiqat oleh Abu Hatim, Abu Dawud, Ali bin Madiniy, As Saajiy, Tirmidziy, Abu Ahmad Al Hakim, dan Daruquthniy. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat dan berkata “hadisnya lurus” [Tahdzib At Tahdzib juz 8 no 439]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat” [Taqrib At Tahdzib 1/776]
  4. Abdullah bin Abi Najih termasuk perawi kutubus sittah. Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Ma’in, Abu Zur’ah, Nasa’iy dan Al Ijliy menyatakan tsiqat. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [Tahdzib At Tahdzib juz 6 no 102].
  5. Mujahid bin Jabr Al Makkiy termasuk perawi kutubus sittah. Yahya bin Ma’in dan Abu Zur’ah berkata “tsiqat”. Ibnu Sa’ad berkata “tsiqat faqih alim banyak meriwayatkan hadis”. Ibnu Hibban berkata “faqih wara’ ahli ibadah mutqin”. Al Ijliy berkata “tabiin tsiqat” [Tahdzib At Tahdzib juz 10  no 68]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat imam dalam tafsir dan ilmu” [Taqrib At Tahdzib 2/159].

Ada sedikit illat [cacat] pada sanad ini yaitu Abdullah bin Abi Najih dikatakan melakukan tadlis dan ia dikatakan tidak mendengar tafsir dari Mujahid. Ibnu Hibban berkata dalam biografi Abdullah bin Abi Najiih

قَالَ يحيى الْقطَّان لم يسمع التَّفْسِير بْن أبي نجيح من مُجَاهِد قَالَ أَبُو حَاتِم بن أبي نجيح وَابْن جريج نظرا فِي كتاب الْقَاسِم بْن أبي بزَّة عَن مُجَاهِد فِي التَّفْسِير فرويا عَن مُجَاهِد من غير سَماع

Yahya Al Qaththaan berkata Ibnu Abi Najih tidak mendengar tafsir dari Mujahid, Abu Hatim berkata Ibnu Abi Najih, Ibnu Juraij melihat dalam kitab Al Qaasim bin Bazzah dari Mujahid maka keduanya meriwayatkan dari Mujahid bukan dari mendengar langsung [Ats Tsiqat Ibnu Hibban 7/5 no 8759]

وسئل علي: سمع ابن أبي نجيح التفسير من مجاهد ؟ قال: لا، قال سفيان: لم يسمعه أحد من مجاهد إلا القاسم بن أبي بزة أملاه عليه، وأخذ كتابه الحكم وليث وابن أبي نجيح

Aliy pernah ditanya “apakah Ibnu Abi Najih mendengar tafsir dari Mujahid?. Ia berkata “tidak, Sufyan berkata tidak seorangpun mendengar dari Mujahid kecuali Al Qaasim bin Abi Bazzah, ia mengimla’kan kepadanya, dan telah berpegang pada kitabnya Al Hakam, Laits dan Ibnu Abi Najih [Ma’rifat Wal Tarikh Ya’qub Al Fasawiy 1/215].

Maka illat [cacat] tersebut tergolong illat yang tidak menjatuhkan karena tafsir Ibnu Abi Najih dari Mujahid adalah melalui perantara Al Qaasim bin Abi Bazzaah dan ia seorang yang tsiqat [Taqrib At Tahdzib 2/18]. Apalagi riwayat Ibnu Abi Najih dari Mujahid telah diambil Bukhariy dan Muslim dalam kitab Shahih mereka. Kesimpulannya riwayat diatas sanadnya shahih.

Matan riwayat di atas menyatakan dengan jelas bahwa Mujahid bin Jabr Al Makkiy telah mengatakan ada kesalahan dalam Al Qur’an Ali ‘Imran ayat 81 yaitu

وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ النَّبِيِّينَ لَمَا آتَيْتُكُمْ مِنْ كِتَابٍ وَحِكْمَةٍ

Dan [ingatlah] ketika Allah SWT mengambil perjanjian dari para Nabi “Sungguh apa saja yang Aku berikan kepadamu dari Kitab dan Hikmah…[QS Aliy Imran ; 81]

Menyatakan ada kesalahan dalam Al Qur’anul Karim baik sedikit ataupun banyak sama halnya dengan meyakini adanya tahrif Al Qur’an. Dalam menyikapi atsar Mujahid ini kami katakan bahwa perkataan Mujahid tersebut mungkar dan tertolak, Al Qur’an terjaga dari kesalahan karena Allah SWT telah menjaganya.

.

.

.

أنا أَبُو نُعَيْمٍ أَحْمَدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْحَافِظُ، قَالَ: سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ يَحْيَى الطَّلْحِيَّ، يَقُولُ: سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ الْحَضْرَمِيَّ، يَقُولُ: قَرَأَ عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ: فَضُرِبَ بَيْنَهُمْ بِسِنَّوْرٍ لَهُ نَابٌ، فَقَالَ لَهُ بَعْضُ أَصْحَابِهِ: إِنَّمَا هُوَ {بِسُورٍ لَهُ بَابٌ} [الحديد: 13] فَقَالَ: أَنَا لَا أَقْرَأُ قِرَاءَةَ حَمْزَةَ، قِرَاءَةُ حَمْزَةَ عِنْدَنَا بِدْعَةٌ

Telah menceritakan kepada kami Abu Nu’aim Ahmad bin ‘Abdullah Al Haafizh yang berkata aku mendengar ‘Abdullah bin Yahya Ath Thalhiy mengatakan aku mendengar Muhammad bin ‘Abdullah Al Hadhramiy mengatakan Utsman bin Abi Syaibah membaca ayat “fadhuriba baynahum bisinnawril lahu naab”. Maka sebagian sahabatnya mengatakan kepadanya, sesungguhnya ayat itu adalah “bisuuril lahu baab” [QS Al Hadiid ; 13]. Maka ia berkata “aku tidak membaca dengan bacaan Hamzah, bacaan Hamzah di sisi kami bid’ah” [Al Jaami’ Li Akhlak Ar Raawiy Wa Adab As Saami’ Al Khatib 1/464-465 no 648]

Atsar di atas sanadnya shahih hingga Utsman bin Abi Syaibah, para perawinya tsiqat berikut rinciannya

  1. Abu Nu’aim Ahmad bin ‘Abdullah Al Hafizh adalah Ahmad bin Abdullah bin Ahmad bin Ishaaq bin Muusa bin Mihraan, Abu Nu’aim Al Ashbahaniy seorang Imam hafizh tsiqat allamah syaikh islam [As Siyaar Adz Dzahabiy 17/454]
  2. Abdullah bin Yahya bin Mu’awiyah Ath Thalhiy, ia telah dinyatakan tsiqat oleh Al Haafizh Muhammad bin Ahmad bin Hammaad [Tarikh Al Islam Adz Dzahabiy 26/210]
  3. Muhammad bin ‘Abdullah Al Hadhramiy seorang hafizh shaduq muhaddis kufah, Daruquthniy menyatakan ia tsiqat, Al Khaliliy berkata “tsiqat hafizh” [As Siyaar Adz Dzahabiy 14/42-43]
  4. ‘Utsman bin Abi Syaibah termasuk perawi Bukhariy, Muslim, Abu Dawud, Nasa’i dan Ibnu Majah. Ia termasuk gurunya Bukhariy dan Muslim. Yahya bin Ma’in menyatakan ia tsiqat. Abu Hatim berkata “shaduq”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [Tahdzib At Tahdzib juz 7 no 299]

Atsar di atas membuktikan bahwa ‘Utsman bin Abi Syaibah mengingkari salah satu ayat Al Qur’an surah Al Hadiid ayat 13 yaitu pada lafaz berikut

فَضُرِبَ بَيْنَهُمْ بِسُورٍ لَهُ بَابٌ

Lalu diadakan diantara mereka dinding yang mempunyai pintu [QS Al Hadiid ; 13]

Utsman bin Abi Syaibah justru tidak menerima bacaan Al Qur’anul Kariim ini dan menyatakannya sebagai bid’ah. Hal ini membuktikan bahwa dalam keyakinannya bacaan Al Qur’an surah Al Hadiid ayat 13 yang ada sekarang adalah bacaan yang bid’ah atau diada-adakan. Keyakinan seperti ini sama saja dengan menyatakan adanya tahrif Al Qur’an.

Sebagian orang akan melakukan pembelaan basa-basi dengan mengatakan bahwa hal itu hanya merupakan perbedaan qira’at atau qira’at syaadz dan bukan menunjukkan adanya tahrif Al Qur’an. Pembelaan ini tidak ada gunanya karena hanya permainan kata-kata yang tidak bermakna. Terserah apapun para pembela itu menyebut qira’at begini qira’at begitu faktanya kedua ulama tersebut Mujahid dan Utsman bin Abi Syaibah menolak bacaan Al Qur’an yang jelas-jelas sudah beredar di kalangan kaum muslimin. Meyakini adanya bacaan lain kemudian mengingkari bacaan Al Qur’an yang beredar di kalangan kaum muslimin sama halnya dengan meyakini adanya tahrif Al Qur’an.

Atau ada pembelaan lain terkait kasus Utsman bin Abi Syaibah, mereka menyatakan bahwa Utsman bin Abi Syaibah itu tidak menghafal Al Qur’an maka apa yang ia baca bukan menunjukkan tahrif Al Qur’an tetapi ia hanya tidak menghafalnya. Pembelaan inipun tertolak karena kalau memang hakikatnya Utsman bin Abi Syaibah tidak menghafal Al Qur’an maka ketika ia diingatkan oleh para sahabatnya maka ia akan mengoreksi hafalannya bukannya malah menyatakan bacaan yang sebenarnya sebagai bid’ah. Justru atsar tersebut menunjukkan bahwa Utsman bin Abi Syaibah hafal dan yakin akan bacaannya dan mengingkari bacaan Al Qur’an yang beredar di kalangan kaum muslimin dengan berkata bid’ah.

.

.

.

Tulisan ini kami buat bukan bertujuan untuk merendahkan mazhab Ahlus Sunnah melainkan hanya ingin menyajikan informasi yang berimbang terkait masalah tahrif Al Qur’an. Para nashibiy suka merendahkan mazhab Syi’ah dan mengkafirkan mazhab Syi’ah karena didapati sebagian ulama Syi’ah meyakini tahrif Al Qur’an. Padahal hakikat sebenarnya sebagian ulama Syi’ah yang lain mengingkari keyakinan adanya tahrif Al Qur’an dan dalam mazhab Sunnipun ternyata ditemukan ada juga ulama yang meyakini tahrif Al Qur’an.

Tentu kita tidak dapat mengkafirkan suatu mazhab hanya karena pernyataan sebagian ulama mazhab tersebut dimana sebagian ulama lain mengingkari pernyataan mereka. Kami akan menawarkan solusi yang sederhana, siapapun ulamanya baik dalam mazhab Sunni atau Syi’ah yang menyatakan adanya tahrif Al Qur’an maka pernyataan ini tertolak dan tidak perlu dihiraukan karena bertentangan dengan Al Qur’anul Kariim yang jelas-jelas dijaga oleh Allah SWT.

Asmirandah Yang Bermazhab Ahlusunnah Wal Jama’ah pindah agama (murtad)

Pemeran ‘Ketika Cinta Bertasbih’, Asmirandah pindah agama - Tertangkap kamera ikuti kebaktian gereja - Metamorfosa Asmirandah, pemeran film 'Ketika Cinta Bertasbih' yang dikabarkan telah berpindah agama memeluk keyakinan Kristiani.
993683_1447366908815124_383375116_n
Asmirandah Yang Bermazhab Ahlusunnah Wal Jama’ah pindah agama (murtad), bukankah dia pemeran film yang bermazhab sunni ? memalukan jika  urusan agama itu cuma urusan pribadi masing-masing
.
Pemeran film ‘Ketika Cinta Bertasbih’, Asmirandah tertangkap kamera sedang khusyuk mengikuti kebaktian di gereja bersama kekasihnya, Jonas Rivano. Heboh foto Asmirandah yang sedang berdoa di Gereja dikonfirmasi sendiri oleh Asmirandah bahwa itu benar dirinya, dan hendaknya Media jangan memberitakan  orang yang di dalam foto itu ‘mirip‘ dirinya melainkan itu memang Asmirandah sendiri
Asmirandah dan Jonas Kebaktian di Manado
Beberapa foto yang menangkap Asmirandah dan Jonas Rivanno saat mengikuti Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR)di Manado…KKR merupakan sebuah jenis ibadah yang diselenggarakan oleh sebuah gereja Kristen.

Asmirandah dan Jonas yang kompak mengenakan kaos berwarna putih bertuliskan “I ♥ Manado”.

Keduanya terlihat khusyuk mengikuti peribadatan yang dipimpin oleh Pastor Gilbert Lumoindong. Selain mengikuti kebaktian, keduanya terlihat mengunjungi lokasi pengungsian korban bencana banjir Manado.

Asmirandah dan Jonas berkunjung ke lokasi pengungsian bersama tim Pastor Gilbert.

Desas desus kabar Asmirandah pindah agama alias murtad dari Islam sepertinya bukan isapan jempol belaka. Paling tidak terdapat dua bukti yang bisa menyimpulkan aktris cantik itu benar-benar murtad.

Bukti pertama adalah dari keyakinan ayahanda Andah sendiri, Anton Zantmant.

“Kalau menurut aku sih, dia sudah (pindah agama). Tapi enggak berani ngomong sama saya. Lagian sudah lama Andah enggak pulang kemari. Beberapa hari lalu lah dia ke sini. Sabtu atau Jumat gitu,” kata Anton saat ditemui di kediamannyan di kawasan Tanah Baru, Depok, Selasa (28/1).

Dengan sikap Andah tersebut, Anton sangat kecewa. “Ya pasti kecewa, tapi itu pilihan dia.”

Meski begitu, ia berjanji akan tetap menerima Andah sebagaimana mestinya. “Ya, pasti kecewa, tapi itu pilihan dia. Itu tetap hak dia. Mungkin itu yang terbaik. Dia tetap anak saya, pasti tetap saya terima. Kecuali dia bunuh orang atau pakai narkoba, enggak akan saya terima,” tandasnya.

Asmirandah tetap diterima Farmidzi Zantman. Meskipun kecurigaannya terhadap putrinya tersebut, yang diduga sudah berpindah keyakinan (murtad) ternyata benar. Tapi apapun faktanya, baginya wanita yang akrab disapa Andah tetaplah anaknya, darah dagingnya.

“Dia tetap anak saya, pasti tetap saya menerima. Kecuali dia bunuh orang atau narkoba, itu saya enggak akan saya terima,” ucapnya, Selasa, (28/1/2014), ditemui di rumahnya, di Tanah Baru, Depok, Jawa Barat.

Ia menilai Andah punya hak menentukan pilihannya. Mungkin, lanjut dia, yang dilakukan oleh putrinya tersebut merupakan yang terbaik. Dan, ia sendiri tidak bisa berbuat apa-apa.

Namun, ia tak bisa menutupi kekecewaanya apabila Andah benar telah berpindah keyakinan.

“Ya, pasti kecewa. Tapi, itu pilihan dia. Itu tetap hak dia,” lanjutnya.

Bukti kedua, beredarnya foto Andah sedang melakukan kebaktian bersama Jonas Rivanno di salah satu gereja di Jakarta. Kabarnya, foto itu diambil di gereja Tiberias Kelapa Gading, Jakarta.

Foto yang diambil oleh seseorang itu memperlihatkan dengan jelas bagaimana Andah dan Jonas begitu khusuk berdoa di gereja. Andah terlihat mengenakan pakaian berwarna hitam dibalut syal warna biru. Sementara Jonas sendiri mengenakan pakaian berwarna merah tua.

Metamorfosa Asmirandah, pemeran film ‘Ketika Cinta Bertasbih’ yang dikabarkan telah berpindah agama memeluk keyakinan Kristiani.

ALASAN ASMIRANDAH MURTAD KARNA HAMIL DILUAR NIKAH

Asmirandah akhirnya mengaku bahwa foto yang beredar itu adalah betul dirinya
yang sedang beribadah bersama Jonas Rivano

 

1621906_609405489115155_266296300_n

Foto Asmirandah di gereja ini beredar luas di dunia maya yang cukup menghebohkan. Apalagi, Asmirandah yang juga pemain film ‘Dalam Mihrab Cinta’ ini merupakan ikon kebangkitan film remaja muslim di Indonesia.

Dalam foto tersebut, Asmirandah terlihat menggunakan baju berwarna biru serta selendang. Sedangkan Jonas Rivanno tepat disampingnya. Keduanya terlihat tengah menunduk seraya menghayati ibadah.

Foto tersebut dikabarkan diambil dari gereja Tiberias, Kelapa Gading, Jakarta. Sayang, tidak mencantumkan kapan perisitiwa itu terjadi.

Sebelumnya, pada pertengahan Desember 2013 sempat muncul isu jika Asmirandah pindah agama dan dibaptis di Gereja Tiberias. Namun, Asmirandah membantah tudingan yang menyebutkan ia telah pindah agama.

13910635481728957326

Asmirandah Berdoa

Beredarnya foto Asmirandah dan Jonas Rivanno di jejaring sosial yang sedang beribadah di gereja (kebaktian), ia menanggapinya dengan rasa tak berdosa. Urusan agama dan keyakinan, menurut pemain sinetron Separuh Aku itu adalah hak dirinya yang tidak bisa dicampuri orang lain.

“Agama hak aku, itu iman saya. Terserah orang mau nilai aku seperti apa, itu urusan aku sama Tuhan”, ujar Asmirandah

Andah, demikian biasa dipanggil, mengaku tidak pernah membantah dirinya berpindah keyakinan atau tidak. Perempuan kelahiran Jakarta, 5 Oktober 1989 itu juga enggan untuk mencari tahu siapa yang mengabadikan gambar dan menyebarkan fotonya itu.

“Nggak apa-apa lah. Mungkin ini kuasa Tuhan untuk menjawab semuanya,” ungkap Andah.

Jika sahabat Nabi SAW dan Ahlul Bait berselisih, maka Syi’ah berpihak kepada Ahlul Bait !!!!!

Jika sahabat Nabi SAW dan Ahlul Bait berselisih, maka Syi’ah berpihak kepada Ahlul Bait !!!!!

Syubhat bahwa Syi’ah mencela para sahabat termasuk Abu Bakar, Umar dan Utsman. Saya tidak menafikan bahwa sebagian ulama dan pengikut Syi’ah melakukannya tetapi sebagian ulama lain dan pengikut Syi’ah yang lain juga ada yang menentang hal ini. Maka dari itu tuduhan ini tidak bisa dipukul-rata untuk semua Syi’ah. Dan tidak ada dalil shahih yang menunjukkan bahwa perkara mencela sahabat membuat seseorang menjadi kafir. Saya cukup sering membuat tulisan yang menunjukkan bahwa di sisi Sunni ternyata juga dapat ditemukan salafus shalih yang mencela sahabat, apakah mereka harus dikafirkan juga ?

Saya berpegang pada Sayyidah Fathimah [‘alaihis salaam] dalam masalah Fadak ketika Beliau berselisih dengan Abu Bakar. Dalam pandangan saya kebenaran ada bersama Sayyidah Fathimah sedangkan hadis yang disampaikan Abu Bakar keliru bertentangan dengan Al Qur’an dan Ahlul Bait. Para pembaca bisa melihat-nya secara rinci dalam sebagian tulisan di blog ini.

Begitu pula dalam perselisihan besar antar sahabat seperti perang Jamal dan perang Shiffin, saya tetap menjadikan ahlul bait sebagai pedoman. Dalam perang Jamal, Saya tetap berpegang pada Imam Aliy dengan menyatakan bahwa Beliau-lah yang benar sedangkan istri Nabi Aisyah [‘radiallahu ‘anha], Thalhah [radiallahu ‘anhu] dan Zubair [radiallahu ‘anhu] adalah pihak yang salah.

Dalam perang Shiffin, saya tetap berpegang pada Imam Aliy [‘alaihis salaam]. Saya tidak ragu untuk menyatakan bahwa Mu’awiyah dan pengikutnya adalah kelompok pembangkang yang menyeru kepada neraka [sebagaimana dinyatakan dalam hadis shahih]. Tidak seperti sebagian orang yang berpandangan bahwa tidak mengikuti salah satu kelompok atau tidak ikut ke dalam fitnah [sebagaimana ditunjukkan sebagian sahabat] adalah pandangan yang benar. Saya dengan jelas menyatakan bahwa yang tidak mengikuti Imam Aliy jelas keliru [walaupun tentu kekeliruan ini tidak bisa dibandingkan dengan kekeliruan kelompok Mu’awiyah].

Saya tidak akan basa-basi mengikuti pandangan sebagian ulama bahwa kelompok yang tidak ikut dalam fitnah tersebut lebih benar dibanding Imam Aliy dan pengikutnya. Bagi saya, Ahlul Bait [Imam Aliy, Imam Hasan dan Imam Husain] adalah pegangan yang menjadi penentu mana yang benar dan mana yang salah. Beginilah cara saya mengamalkan hadis Tsaqalain, sangat sederhana.

Muawiyah itu adalah kelompok pembangkang yang menyeru kepada neraka

Dalam peristiwa pembantaian Imam Husain [‘alaihis salaam] saya juga tidak ragu menyatakan bahwa kebenaran ada bersama Imam Husain. Tidak seperti sebagian orang yang mengkritik dan menyalahkan Imam Husain atas kepergiannya tersebut. Bahkan saya pernah membaca orang yang menjadikan hadis Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengenai jangan menentang penguasa sebagai bukti kesalahan Imam Husain [‘alaihis salaam]. Jika mereka bertanya apa bukti bahwa Imam Husain benar? Maka saya jawab Imam Husain adalah ahlul bait yang menjadi pegangan bagi umat islam jadi Beliau sudah pasti benar dalam masalah ini.

Kemudian yang lucu adalah syubhat bahwa yang membunuh Imam Husain adalah orang Syi’ah Kufah. Syubhat ini hanya syubhat murahan yang muncul dari para pesakitan. Apa di Kufah saat itu semuanya adalah pengikut Syi’ah Rafidhah?. Apa Umar bin Sa’ad bin Abi Waqqash yang dalam kitab Rijal disebut sebagai orang yang membunuh dan memerangi Imam Husain adalah pengikut Syi’ah Rafidhah?. Apa Ubaidillah bin Ziyaad itu pengikut Syi’ah Rafidhah?. Tentu saja pihak yang paling bertanggung jawab atas pembantaian tersebut adalah pemimpin pada saat itu yaitu Yazid bin Mu’awiyah. Aneh bin ajaib saya melihat sekelompok orang yang membela Yazid atau tidak menyalahkannya dan malah menuduh dengan membawa-bawa nama Syi’ah Rafidhah, sungguh kesesatan berpikir yang nyata. Maka dari itu tidak heran kalau mereka disebut sebagai nashibiy karena membela musuh-musuh ahlul bait.

Sejauh ini dengan melihat pembahasan di atas maka para pembaca akan melihat bahwa Antara orang yang berpegang pada Hadis Tsaqalain dan yang tidak, memiliki perbedaan dalam memahami dan menyikapi sejarah islam.

Bukankah nabi Saw pernah menyinggung ttg 12 pemimpin dari kaum Quraish ? Jika sahabat Nabi SAW dan Ahlul Bait berselisih, maka Syi’ah berpihak kepada Ahlul Bait !!!!!

Siapakah 12 imam terkemuka dari kaum Quraish. Rentang masa yang teraaammaat panjang sudah pasti akan menimbulkan distorsi atau kesalahpahaman. Tapi jauhnya rentang masa itu tidak lantas mengkaburkan kebenaran itu sendiri sehingga menyulitkan bagi orang2 yang datang sesudahnya untuk meneliti sebuah kebenaran.

Kita mulai dari apa pegangan saya dalam beragama?. Jawabannya adalah Al Qur’an dan As Sunnah. Kemudian seiring dengan pembelajaran saya, saya mendapati bahwa hadis Tsaqalain adalah hadis yang shahih maka saya pun menjadikan Ahlul Bait sebagai pedoman. Ahlul Bait dalam hadis Tsaqalain tidak lain mereka yang disucikan dalam Al Qur’anul Karim [Ayat Tathiir] yaitu Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam], Sayyidah Fathimah [‘alaihis salaam], Aliy bin Abi Thalib [‘alaihis salaam], Hasan [‘alaihis salaam] dan Husain [‘alaihis salaam]. Pembahasan rinci tentang ini sudah cukup sering saya tulis di dalam blog ini.

saya berpedoman kepada Ahlul Bait dalam kerangka kitab yang jadi pegangan saya yaitu kitab ahlus sunnah. Saya menjadikan ahlul bait sebagai pedoman tidak hanya atsar atau riwayat hadis mereka tetapi juga bagaimana sikap mereka atau pandangan mereka sebagaimana yang tercatat dalam kabar yang shahih. Contoh-contohnya sudah cukup sering dalam tulisan-tulisan di blog ini.

Saya berpegang pada Imam Aliy bin Abi Thalib [‘alaihis salaam] menjadikan perkataannya sebagai hujjah menjadikan sikapnya sebagai tauladan. Saya mengakui kepemimpinan Beliau [‘alaihis salaam] sebagaimana yang nampak dalam berbagai hadis shahih seperti hadis Tsaqalain, hadis Ghadir Khum, hadis Manzilah, hadis Wilayah [semuanya hadis dari kitab Ahlus sunnah].

Hadis Ghadir Khum, hadis Manzilah, dan hadis Wilayah dikatakan para nashibi tidak menjadikan Aliy bin Abi Thalib [‘alaihis salaam] sebagai pemimpin. Sudah ada tulisan saya yang membuktikan bahwa hadis-hadis tersebut adalah bukti kepemimpinan Imam Aliy. Saya berpegang pada hadis-hadis tersebut,

pandangan saya ini berasal dari hadis-hadis shahih keutamaan Ahlul Bait dalam kitab ahlus sunnah yang menjadi pegangan saya.

Al Qur’an memang ada memuji sahabat, tetapi tidak ditujukan untuk semua sahabat tanpa terkecuali

Sunni Runtuh !!

AL-QURAN YANG SUCI MEMUJI SAHABAT YANG BAIK DAN JUGA MENGUTUK SAHABAT YANG JAHAT.

Banyak ayat Al Qur’anul Karim yang memuji para sahabat dan banyak pula hadis shahih yang menunjukkan keutamaan para sahabat Nabi. Tetapi saya selalu mengedepankan objektifitas dalam penilaian terhadap sahabat Nabi. Tidak ada dalam aqidah saya bahwa sahabat itu bebas dari kesalahan bahkan terbukti dalam riwayat shahih sebagian sahabat melakukan kesalahan. Hal ini sebenarnya diakui juga oleh para nashibi hanya saja mereka bersikap seperti orang munafik. Mereka mengakui kalau sahabat bisa saja salah tetapi malah mencela orang yang menyatakan kesalahan sahabat.

Mengenai doktrin keadilan sahabat, jika dikatakan bahwa semua sahabat adil tanpa terkecuali maka hal ini keliru. Dalam salah satu tulisan, saya pernah mengisyaratkan bahwa keadilan sahabat yang saya yakini adalah tidak semua sahabat adil, para sahabat adil kecuali jika ditunjukkan dalil yang menjatuhkan keadilannya. Terdapat bukti shahih yang menunjukkan jatuhnya kedudukan sahabat tertentu, contohnya banyak ditulis dalam blog ini diantaranya

  1. Mu’awiyah bin Abu Sufyan, sahabat Nabi yang dikatakan berdusta atas Allah SWT dan Rasul-Nya dan dikatakan bahwa ia mati tidak dalam keadaan islam.
  2. Samurah bin Jundub, Abu Ghadiyah Al Juhaniy, Walid bin Uqbah dan Umarah bin Uqbah yang dinyatakan sebagai ahli neraka
  3. Mughirah bin Syu’bah yang mencaci Aliy bin Abi Thalib [‘alaihis salaam] padahal jelas dalam hadis shahih tidak membenci Aliy kecuali orang munafik.

Selagi tidak ada bukti kuat yang menjatuhkan kedudukan sahabat tertentu maka tidak ada halangan bagi saya untuk menerima hadis dari para sahabat Nabi. Tentu saja para nashibi tidak akan menerima pandangan ini. Saya tidak peduli dengan perkataan mereka, karena pandangan saya memiliki landasan yang shahih.

Dalam Al Qur’an, Ayat-ayat yang memuji sahabat tidak ditujukan untuk semua sahabat tanpa terkecuali karena diantara para sahabat di masa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] terdapat orang munafik sebagaimana Al Qur’an telah menyatakan bahwa diantara penduduk Madinah yang bersama Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] terdapat orang-orang munafik yang hanya Allah SWT yang mengetahui siapa mereka.

Hadis Al Haudh juga menjadi bukti bahwa ayat Al Qur’an yang memuji sahabat tidak ditujukan untuk semua sahabat tanpa terkecuali. Hadis Al Haudh menunjukkan bahwa terdapat sebagian sahabat yang murtad sepeninggal Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan tentu saja di zaman Nabi [shallallahu ‘alaihi wassalam] mereka tidak diragukan adalah sahabat Nabi bahkan dalam sebagian riwayat, Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “mereka bagian dariku”. Para sahabat yang akhirnya murtad tersebut jelas tidak layak dimasukkan dalam ayat Al Qur’an yang memuji sahabat. Maka kesimpulannya ayat Al Qur’an yang memuji para sahabat tidak ditujukan untuk semua sahabat pada saat itu tanpa terkecuali.

Walaupun demikian saya tidak pernah menyatakan bahwa semua sahabat itu tidak adil, munafik, murtad atau tercela. Jelas jika ada yang menganggap demikian berarti ia telah mengalami kesesatan dalam berpikir dan mengambil kesimpulan. Saya hanya membantah klaim dari sebagian orang bahwa semua sahabat tanpa terkecuali adalah adil dan terpuji karena bukti shahih menunjukkan tidak semua sahabat seperti itu.

Ada sebagian orang yang sebenarnya memahami pandangan saya tetapi pikiran busuk mereka menganggap bahwa jika ada satu sahabat saja dicela maka itu akan merambat ke para sahabat lainnya. Dan sebagian orang lain yang kerdil akalnya menganggap bahwa mencela siapapun dari sahabat Nabi sama halnya dengan mendustakan Al Qur’anul Kariim. Orang-orang seperti ini tidak berhujjah dengan landasan shahih melainkan dibutakan oleh waham khayal mereka sendiri. Merekalah yang lebih pantas dikatakan mendustakan Al Qur’an dan Hadis shahih. Apakah pandangan saya tentang sahabat ini berasal dari Syi’ah?. Saya jawab tidak, karena landasan yang menjadi dasar saya adalah Al Qur’an dan Hadis shahih Ahlus Sunnah yang menjadi pegangan saya.

Tanya Jawab Dengan Wahabi

Salafi:  Adakah wajar bagi orang yang berkaliber seperti kamu, mengutuk sahabat nabi yang terhormat? Tidakkah terdapat fakta bahawa Allah telah mewahyukan beberapa ayat pada memuji sahabat nabi dan berikan berita gembira dengan penyampaiannya. Dan khalu’I-Mukminin Muawiya, yang pastinya sahabat yang terhormat, berhak pada pujian yang dikandongi oleh ayat tersebut. Tidakkah menghina para sahabat bersamaan dengan menghina Allah dan nabi?

Ustad Husain Ardilla:   Mungkin kamu telah terlupa pada apa yang saya telah katakan dimalam yang lalu. Tiada siapa menafikan terdapat ayat yang diwahyukan pada memuji para sahabat. Tetapi jika kamu faham pengertian sahabat atau kawan, kamu akan mengakui bahawa ayat yang diwahyukan pada memuji sahabat bukanlah ditujukan secara umum. Kita tidak boleh menganggap bahawa kesemuanya adalah suci.

Tuan yang dihormati! Kamu tentu faham bahawa ‘sahabat’ secara lisan bererti ikatan dua insan. Maka ia boleh bererti tinggal bersama atau sebagaimana yang difahami secara umum, menolong atau memberikan bantuan kepada yang lain. Menurut bahasa Arab, al-Quran dan hadith, sahabat nabi merujuk kepada yang menghabiskan masa hidupnya bersama dengan nabi, sama ada dia muslim ataupun kafir. Maka interpretasi kamu bahawa semua para sahabat berhak syurga adalah salah. Itu bertentangan dengan minda yang sihat dan juga hadith.

Saya akan berikan lagi ayat al-Quran sebagai tambahan dan hadith sahih dari ulama sunni supaya kamu jangan tersalah faham mengenai perkataan ‘sahabat’. Perkataan ini telah digunakan untuk semua sahabat, sama ada mereka muslim ataupun kafir.

[1] Di dalam surah Najm [bintang], Allah berkata kepada yang kafir, ‘Sahabat kamu tidak membuat salah, dan tidak juga sesat.’ [53:2]

[2] Di dalam surah Saba [Sheba] Allah berkata, ‘Katakan, aku menyuruh kamu pada satu perkara, bahawa kamu bangun untuk Allah secara berpasangan atau sendirian, kemudian fikirkan; sahabat kamu tidak dirasuk.’ [34:46]

[3] Di dalam surah Kahf [Gua] Allah berkata, ‘dan berkata ia kepada sahabatnya sedang ia berselisih dengan dia: Saya punyai harta yang lebih dari kamu dan lebih ramai pengikut.. ‘ [18:34]

[4] di dalam surah yang sama, Allah berkata, ‘Sahabatnya berkata kepada dia sedang ia berselisih dengan dia: Adakah kamu percaya kepada Dia, yang menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setitik mani, kemudian Dia menjadikan kamu manusia yang sempurna.’ [18:37]

[5] Di dalam surah al-A’raf [tempat yang ditinggikan], Allah berkata, ‘Tidakkah mereka bayangkan bahawa sahabat mereka bukannya gila? Dia hanya sekadar memberi peringatan.’ [7:184]

[6] Di dalam surah An’am [ternakkan], Allah berkata, ‘Katakan: haruskan kita memanggil selain dari Allah, yang tidak memberi faedah kepada kami amhupun menganiaya kami, dan haruskan kami berpatah kebelakang setelah Allah membimbing kami, seperti mereka yang syaitan telah membuat mereka jatuh kebinggongan didunia. Dia mempunyai sahabat yang mengajak kepada jalan yang benar [berkata], ‘Marilah kepada kami’ Katakan sesungguhnya petunjuk Allah, adalah petunjuk yang benar, dan kita diarah supaya menyerah kepada tuhan alam ini.’ [6:71]

[7] Di dalam surah Yusuf, dia berkata, ‘[Yusuf berkata kepad dua orang sahabatnya yang kafir] Wahai sahabat aku di penjara berdua! Adakah banyak tuhan lebih baik dari Allah, yang satu, yang berkuasa?’ [12:39]

Ini adalah beberapa ayat yang saya telah sampaikan sebagai contoh. Adalah jelas bahawa perkataan ‘sahaba’, ‘sahib’ ‘musahib’ dan ‘ashab’ tidak mempunyai kaitan khusus kepada muslim. Ianya digunakan kepada muslim dan bukan muslim sama sahaja. Sebagaimana saya telah katakan, sesaorang yang mempunyai hubungan sosial dengan seorang yang lain dipanggil musahib atau ashab. Sahabat nabi dirujuk kepada mereka yang mempunyai hubungan sosial dengan diri baginda.

Sudah pasti diantara para sahabat nabi dan diantara mereka yang duduk-duduk dalam kumpulannya, terdapat segala jenis manusia, baik dan jahat, yang beriman dan juga hipokrit. Ayat yang diwahyukan pada memuji para sahabat tidak boleh dikatakan untuk mereka semua. Ianya hanya merujuk kepada sahabat yang baik. Adalah benar bahawa tidak ada nabi yang terdahulu mampunyai sahabat yang terkenal seperti yang ada kepada nabi kita. Sebagai contoh sahabat pada Badr, Uhud dan Hunain yang telah berdiri teguh dengan berlalunya dugaan masa. Mereka telah menolong nabi dan teguh dengan keputusan.

Tetapi diantara sahabatnya terdapat beberapa orang yang berperangai buruk, musuh kepada nabi dan ahli baytnya, manusia seperti Abdullah bin Ubayy, Abu Sifyan, Hakam bin As, Abu Huraira, Thalabi, Yazid bin Sufyan, Walid Bin Aqaba, Habib Bin Musailima, Samra Bin Jundab, Amr Bin As, Busr Bin Artat (seorang zalim yang hauskan darah manusia), Mughira Bin Sha’ba, Mu’awiya Bin Abi Sufyan, and Dhu’s-Sadiyya. Manusia ini, semasa hidup nabi dan juga setelah nabi wafat, telah memyebabkan bencana yang besar kepada manusia. Seorang yang seperti itu adalah Muawiya, yang nabi telah kutuk masa hidup baginda. Setelah wafatnya nabi, apabila Muawiya mempunyai peluang, dia bangun memberontak dengan nama mencari pembalasan terhadap pembunuhan Uthman dan telah menyebabkan pertumpahan darah yang banyak diantara muslim. Di dalam pembunuhan ini ramai dari sahabat nabi yang terhormat, seperti Ammar Yasir telah terbunuh syahid. Nabi sendiri telah meramalkan akan syahidnya. Saya telah sampaikan hadith mengenai kejadian itu.

AL-QURAN YANG SUCI MEMUJI SAHABAT YANG BAIK DAN JUGA MENGUTUK SAHABAT YANG JAHAT.

Terdapat banyak ayat dari al-Quran dan hadith yang memuji sahabat yang terkenal dan wara serta beriman. Dan terdapat juga banyak ayat dan hadith yang mengutuk para sahabat yang keji.

Salafi:  Bagaimana kamu boleh mengatakan bahawa sahabat nabi menyebabkan kekacauan umum?

Ustad Husain Ardilla:  Ini bukan sahaja kata-kata saya. Allah di dalam sura ahli Imran berkata: ‘Jika dia [Muhammad] mati atau terbunuh, adakah kamu akan berpaling semula?’ [3:144]

Selain dari itu dan ayat yang lain dari al-Quran, Ulama kamu, termasuk Bukhari, Muslim, Ibn Asakir, Yaqub Bin Sufyan, Ahmad Bin Hanbal, Abdu’l-Bar, dan lainnya telah merakamkan laporan dan hadith mengenai kutukan terhadap sebahagian sahabat. Saya akan merujuk hanya dua hadith. Bukhari menyatakan dari Sahl Ibn Sa’d dan Abdullah Ibn Mas’ud bahawa nabi Allah berkata, ‘Saya akan menunggu kamu dipancutan Kauthar. Apabila sekumpulan dari kamu telah sesat dari jalan saya. Saya akan berkata, ‘Wahai Allah! Mereka semua adalah sahabat saya!’ Kemudian jawapan dariNya akan sampai kepada saya, ‘Kamu tidak tahu apakah perubahan yang mereka telah adakan selepas kamu.’

Dan lagi Imam Ahmad Bin Hanbal di dalam Musnad, Tabrani di dalam Kabir, dan Abu Nasr Sakhri di dalam Ibana menyampaikan dari Ibn Abbas bahawa nabi berkata, ‘Saya hendak menyelamatkan kamu dari siksaan neraka. Saya meminta kamu takutlah kepada neraka dan janganlah membuat perubahan pada agama Allah. Apabila saya mati dan berpisah dengan kamu, saya akan berada dipancutan Kauthar. Sesiapa yang sampai kepada saya disana selamat. Dan pada penghujung masa apabila saya dapati ramai dari manusia di dalam siksaan tuhan, saya akan berkata, ‘Wahai Allah! Ini adalah manusia dari ummah saya,’ Jawapannya akan sampai, ‘Sesungguhnya, mereka ini kebali kebelakang sesudah kamu.’ Menurut dari kenyataan Tabrani di dalam Kabir, jawapannya adalah, ’Kamu tidak tahu apakah perubahan yang mereka adakan selepas kamu. Mereka menerima agama mereka yang terdahulu.’

ABU TALIB SEORANG YANG KUAT BERIMAN.

Kamu menekankan bahawa Muawiya dan Yazid adalah muslim walaupun banyak kesalahan mereka telah dirakamkan di dalam buku kamu. Sebahagian dari ulama sunni menulis sebuah buku mengenai kutukan terhadap mereka, tetapi kamu masih berkeras mengatakan bahawa mereka berhak dipuji dan bahawa Abu Talib yang beriman tulus kamu katakan kafir.

Memang dapat dilihat kata-kata begini adalah hasil dari kebencian terhadap Amirul-Mukminin Ali. Kamu cuba membantah hujah yang membuktikan kekafiran dan hipokritnya Muawiya dan Yazid. Dan bahkan kamu menolak kenyataan Abu Talib secara terbuka mengenai imannya kepada Allah dan nabi.

BUKTI TAMBAHAN TERHADAP IMAN ABU TALIB.

Bukankah ianya satu fakta bahawa ahli bayt nabi telah mengatakan bahawa Abu Talib adalah seorang yang beriman dan dia mati sebagai yang beriman? Tidakkah Asbagh Bin Nabuta, seorang yang dipercayai, telah menyampaikan dari Amirul-Mukminin bahawa dia berkata, ‘Saya bersumpah dengan Allah bahawa bapa saya, Abu Talib, datuk saya Abdul-Muttalib Hashim dan Abdul-Munaf tidak pernah menyembah berhala.’

Adakah wajar bahawa kamu menolak kenyataan Ali dan ahli bayt yang suci dan memberikan kepujian kepada kenyataan yang terkutuk Mughira, Amawis, Khariji, Nasibi dan musuh-musuh lain Amirul-mukminin.

JAFAR TAYYAR MEMELUK ISLAM ATAS ARAHAN BAPANYA.

Lebih-lebih lagi ramai ulama kamu, termasuk Ibn Abi’l-Hadid di dalam Sharh-e-Nahju’l-Balagha telah menulis bahawa satu hari Abu Talib datang ke masjid dan melihat nabi sedang sembahyang. Ali sedang sembahyang pada sebelah kanan baginda. Abu Talib mengarahkan anaknya Jafar, yang bersama dengannya dan belum lagi memeluk islam, ‘berdirilah disebelah sepupu kamu dan lakukan sembahyang bersamanya’ Jafar pergi berdiri kesebelah kiri nabi dan mula bersembahyang. Pada ketika itu Abu Talib mengubah syair ini, ‘Sesungguhnya Ali dan Jafar adalah kekuatan saya dan penghibur di dalam kesusahan dan kekeciwaan. Wahai Ali dan Jafar! Janganlah tinggalkan berdampingan dengan sepupu kamu dan anak saudara ku, tetapi bantulah dia. Saya bersumpah, saya tidak akan meninggalkan nabi. Bolehkah sesiapa meninggalkan kumpulan nabi yang begitu mulia?’

Maka itu adalah pandangan semua ulama kamu bahawa Jafar memeluk islam dan melakukan sembahyang dengan nabi adalah arahan dari Abu Talib.

NABI MENANGIS DENGAN KEMATIAN ABU TALIB DAN MENDOAKAN RAHMAT ALLAH PADANYA.

Ibn Abi’l-Hadid di dalam Sharh-e-Nahju’l-Balagha dan Ibn Jauzi di dalam Tadhkirat-e-Khawasu’l-Umma mengatakan dari Tabaqat-e-Muhammad Ibn Sa’d, yang menyampaikan dari Waqidi dan Allama Seyyed Muhammad Bin Seyyed Rasul Barzanji di dalam Kitabu’l-Islam Fi’l-‘am-o-Aba’-e-Seyyedu’l-An’am, kenyataan dari Ibn Sa’d dan Ibn Asakir, yang menyampaikan dari punca yang sahih dari Muhammad Bin Ishaq bahawa  Ali berkata, ‘Apabila Abu Talib meninggal dan saya memberitahu nabi Allah mengenainya, baginda menangis. Kemudian dia berkata kepada saya, ‘Pergi dan mandikan jasadnya di dalam persediaan untuk pengkebumian, balut dirinya dengan kafan dan kebumikan dia. Semoga Allah merahmatinya dan keampunan keatasnya!’

Adakah dibolehkan oleh islam untuk melakukan upacara pengkebumian kepada kafir? Adakah dibenarkan kepada kita untuk mengatakan bahawa nabi mendoakan kerahmatan Allah keatas orang kafir dan musyirik? Nabi tidak meninggalkan rumahnya untuk beberapa hari dan berterusan mendoakan untuk keamanan abadi Abu Talib

.

KETERANGAN DARI SURAH AL-QURAN DAN HADITH, MUAWIYA DAN YAZID ADALAH TERKUTUK.

[1] Sila rujuk kepada ayat 60 Surah 17 Bani Israel. Pengulas dari ulama kamu, seperti Tha’labi, Imam Fakhru’d-din Razi, dan yang lainnya berkata bahawa nabi melihat di dalam mimpinya bahawa Bani Umayya, seperti monyet, naik dan turun dari mimbarnya. Kemudiannya Jibril membawa ayat yang suci ini, ‘Dan apabila Kami katakan kepada kamu: Sesungguhnya Tuhanmu meliputi manusia. Dan Kami tidak menjadikan penglihatan yang Kami tunjukkan kepada kamu melainkan sebagai percubaan untuk manusia dan pokok yang terkutuk di dalam al-Quran juga. Dan Kami menjadikan mereka ketakutan, tetapi ianya hanya menambahkan kepada kedurhakaan mereka.’’[17:60]

Allah maha besar telah memanggil Bani Umayya, yang pemimpinnya adalah Abu Sufyan dan Muawiya, ‘pokok terkutuk’ di dalam al-Quran. Muawiya, yang menjadi dahan yang kuat pada pokok ini, pastinya terkutuk.

[2] Lagi Allah maha besar berkata, ‘Tetapi jika kamu berkuasa, kamu pastinya membuat kerosakkan dibumi dan memutuskan perhubungan persaudaraan. Mereka itulah yang Allah telah kutuk maka Dia telah menjadikan dia pekak dan buta matanya.’ [47:22-23]

Di dalam ayat ini mereka yang melakukan kerosakkan dibumi dan memutuskan tali persaudaraan telah dikutuk oleh Allah. Siapakah yang lebih merosakan dari Muawiya, yang mana khalifanya adalah terkenal dengan amalan kezaliman. Selain itu dia telah memutuskan ikatan persaudaraan.

[3] Juga Allah berkata di dalam al-Quran, ‘Sesungguhnya mereka yang mengatakan perkara yang jahat mengenai Allah dan rasulNya, Allah telah mengutuk mereka di dalam dunia ini dan juga diakhirat, dan dia telah menyediakan untuknya siksaan yang menghinakan.’ [33:57]

Pastinya menyakitkan Amirul-Mukminin dan kedua cucu nabi Hasan dan Husain begitu juga Ammar-e-Yasir dan sahabat terkenal yang lain adalah umpama menyakitkan nabi sendiri juga. Oleh kerana Muawiya telah menyakiti manusia yang wara’ ini, dia, menurut dari ayat al-Quran yang jelas, pastinya terkutuk didunia ini dan juga diakhirat.

[4] Di dalam surah Mukminun Allah berkata, ‘Pada hari dimana alasan mereka tidak memberikan faedah kepada mereka yang keji dan untuk mereka adalah kutukan dan untuk mereka tempat tinggal yang jahat.’ [40:52]

[5] Di dalam surah Hud, Dia berkata, ‘Sekarang sesungguhnya kutukan Allah kepada mereka yang zalim.’ [11:18]

[6] Di dalam surah al-Araf [Tempat yang ditinggikan] Allah berkata, ‘Kemudian yang memanggil akan panggil kepada mereka bahawa kutukan Allah keatas mereka yang zalim.’ [7:44]

Begitu juga banyak ayat lain yang diwahyukan mengenai mereka yang zalim. Telah jelas, bagi setiap mereka yang zalim dikutuk. Saya tidak fikir ada diantara kamu yang akan menafikan kezaliman yang dilakukan oleh Muawiya. Maka jelaslah pada fakta bahawa dia adalah zalim, cukuplah pada menerima kutukkan dari Allah, dari segala bukti yang nyata kita juga boleh mengutuk mereka yang menerima kutukkan dari Allah.

[7] Di dalam surah an-Nisa Allah berkata, ‘Dan sesiapa yang membunuh orang beriman dengan sengaja, hukuman baginya adalah neraka; dia akan tinggal di dalamnya, dan Allah akan hantar siksaan kepadanya dan mengutuknya dan menyediakan untuknya siksaan yang amat pedih.’ [4:93]

PEMBUNUHAN TERHADAP ORANG BERIMAN YANG TERKENAL SEPERTI IMAM HASAN, AMMAR HAJAR BIN ADI MALIK ASHTAR DAN MUHAMMAD BIN ABI BAKR ATAS ARAHAN MUAWIYA..

Ayat al-Quran dengan jelas mengatakan bahawa jika sesaorang membunuh seorang yang beriman dengan sengaja, dia berhak menerima kutukkan dan tempat tinggalnya adalah neraka. Tidakkah Muawiya bersekutu di dalam pembunuhan orang yang beriman? Tidakkah dia yang mengarahkan terhadap pembunuhan Hajar Ibn Adi dan tujuh orang sahabatnya? Tidakkah dia yang mengarahkan supaya Abdur-Rahman bin Hasan Al-Ghanzi ditanam hidup-hidup?

Ibn Asakir dan Yaqub Bin Sufyan di dalam buku sejarah mereka; Baihaqi di dalam Dala’il; Ibn Abdu’l-Bar di dalam Isti’ab; dan Ibn Athir di dalam Kamil telah mengatakan bahawa Hajar Bin Adi, salah seorang sahabat yang terkenal, dan bersama tujuh orang sahabatnya telah dibunuh dengan kejam oleh Muawiya. Kesalahan mereka, kerana enggan mengutuk Ali.

Imam Hasan adalah cucu nabi yang pertama. Tidakkah dia terjumlah di dalam Ashab-e-Kisa [mereka yang dibawah selimut]? Bukankah dia salah seorang dari ketua remaja disyurga dan yang beriman, yang mempunyai kedudukan tertinggi? Menurut dari kenyataan Mas’udi, Ibn Abdu’l-Bar, Abu’l-Faraj Ispahani, Tabaqa oleh Muhammad Bin Sa’d, Tadhkira oleh Sibt Ibn Jauzi, dan ulama sunni yang lain, Muawiya menghantar racun kepada Asma’ Ju’da dan menjanjkan kepada dia bahawa jika dia membunuh Hasan Ibn Ali, Muawiya akan memberi kepadanya 100 000 dirham dan akan mengahwinkannya dengan anaknya Yazid. Adakah kamu teragak-agak untuk memanggil Muawiya terkutuk? Tidakkah fakta yang sebenar, bahawa di dalam peperangan Siffin sahabat nabi yang agung Ammar Yasir, telah syahid atas arahan Muawiya? Kesemua ulama kamu mengatakan dengan satu kenyataan bahawa nabi telah berkata kepada Ammar Yasir, ‘Tidak beberapa lama lagi kamu akan dibunuh oleh sekumpulan penentang yang sesat.’

Adakah kamu masih ragu bahawa ribuan muslim beriman telah dibunuh oleh pegawai Muawiya? Tidakkah perwira yang gagah dan ikhlas telah diracun oleh arahan Muawiya? Bolehkan kamu nafikan bahawa pegawai tertinggi Muawiya, Amr bin As dan Muawiya bin Khadij, secara kejam mensyahidkan gabenor Imam Amirul-Mukminin, yang wara’ Muhammad bin Abi Bakr? Tidak puas dengan itu mereka masukkan badannya kedalam kulit keldai dan membakarnya. Jika saya hendak berikan kepada kamu secara khusus mereka yang beriman yang telah dibunuh oleh Muawiya dan pegawainya, ianya memerlukan bukan satu malam malah beberapa malam.

PEMBUNUHAN 30.000 ORANG YANG BERIMAN OLEH BUSR BIN ARTAT DENGAN ARAHAN MUAWIYA.

Kekejaman yang paling besar adalah Busr bin Artat telah membunuh ribuan orang yang beriman atas perintah Muawiya. Abu’l-Faraj Ispahani dan Allama Samhudi di dalam Ta’rikhu’l-Medina, Ibn Khallikan, Ibn Asakir dan Tabari di dalam sejarah mereka; Ibn Abi’l-Hadid di dalam Sharh-e-Nahju’l-Balagha, jilid I, dan ramai lain dari ulama kamu telah menulis bahawa Muawiya mengarahkan Busr menyerang San’a dan Yaman dari Madina dan Makah. Dia berikan arahan yang sama kepada Zuhak bin Qais Al-Fahri dan yang lain. Abu’l-Faraj mengatakannya dengan perkataan ini, ‘Sesiapa sahaja dari sahabat dan shia Ali yang dijumpai hendaklah dibunuh, walaupun wanita dan kanak-kanak, jangan dibiarkan hidup.’ Dengan arahan yang tegas ini, mereka keluat dengan tenaga askar 3 000 orang dan menyerang Madina, San’a, Yaman, Ta’if dan Najran. Apabila mereka sampai ke Yaman, gabenornya, Ubaidullah Ibn Abbas telah keluar dari kota. Mereka memasukki rumahnya dan membunuh kedua-dua anaknya, Sulayman dan Dawud diatas pangkuan ibunya.

Ibn Abi’l-Hadid menulis di dalamSharh-e-Nahju’l-Balagha, jilid I, ms 121, bahawa di dalam serangan ini 30 000 telah terbunuh, tidak termasuk yang mati terbakar.

Adakah tuan-tuan masih ragu yang Muawiya berhak pada kutukan?

MUAWIYA MENGARAHKAN SUPAYA ALI DIKUTUK.

Diantara bukti yang jelas bahawa Muawiya adalah kafir dan berhak kutukkan adalah secara umum penolakkannya terhadap Amirul-Mukminin dan arahannya kepada manusia untuk membaca kutukkan terhadap Imam di dalam qunut [doa di dalam solat] mereka. Fakta ini telah disahkan oleh kita berdua shia dan sunni. Bahkan ahli sejarah bangsa lain telah merakamkan bahawa amalan yang hina itu telah diarahkan secara terbuka, dan ramai yang telah terbunuh kerana tidak menyebutkan kutukan tersebut. Amalan ini telah diberhentikan oleh khalifa Umayya, Umar bin Abdil-Aziz.

Mereka yang mengutuk adik nabi, suami Fatima, Amirul-Mukminin Ali Ibn Abi Talib, dan yang mengarahkan orang lain melakukan pastinya dikutuk. Fakta ini telah dirakamkan oleh semua ulama terkenal di dalam buku sahih mereka, Sebagai contoh Imam Ahmad Bin Hanbal di dalam Musnad, Imam Abu Abdu’r-Rahman Nisa’i di dalam Khasa’isu’l-Alawi, Imam Tha’labi dan Imam Fakhru’d-in Razi di dalam Tafsir (ulasan), Ibn Abi’l-Hadid di dalam Sharh-e-Nahju’l-Balagha, Muhammad Bin Yusuf Ganji Shafi’i di dalam Kifayatu’t-Talib, Sibt Ibn Jauzi di dalam Tadhkira, Sulayman Balkhi Hanafi di dalam Yanabiu’l-Mawadda, Mir Seyyed Ali Hamadani di dalam Mawaddatu’l-Qurba, Dailami di dalam Firdaus, Muslim Bin Hajjaj di dalam Sahih, Muhammad Bin Talha Shafi’i di dalam Matalibu’s-Su’ul, Ibn Sabbagh Maliki di dalam Fusulu’l-Muhimma, Hakim di dalam Mustadrak, Khatib Khawarizmi di dalam Manaqib, Abraham Hamwaini di dalam Fara’id, Ibn Maghazili Shafi’i di dalam Manaqib, Imamu’l-haram di dalam Dhakha’iru’l-Uquba, Ibn Hajar di dalam Sawa’iq, dan ulama yang lainnya telah menyampaikan dengan sedikit perbezaan perkataan, mengatakan bahawa nabi telah berkata, ‘Sesiapa yang menghina Ali, sebenarnya menghina saya; yang menghina saya sebenarnya telah menghina Allah.’

Dailami di dalam Firdaus, Sulayman Hanafi di dalam Yanabiu’l-Mawadda telah menyampaikan bahawa nabi telah berkata, ‘Sesiapa yang menyakiti Ali, sebenarnya telah menyakiti saya, dan kutukan Allah keatas mereka yang telah menyakiti saya.’ Ibn Hajar Makki di dalam Sawa’iq menyebut satu hadith mengenai akibat terhadap sesaorang yang mengutuk terhadap mana-mana dari keturunan nabi. Dia mengatakan bahawa nabi berkata, ‘Jika sesiapa mengutuk ahli bayt saya, semoga kutukkan Allah diatasnya.’

Dari itu Muawiya pastinya terkutuk. Sebagaimana yang disampaikan oleh Ibn Athir di dalam Kamil, Muawiya biasa mengutuk Ali, cucu-cucu nabi, Hasan dan Husain dan juga Abbas dan Malik Ashtar di dalam qunut solat harian.

Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan di dalam Musnad dan beberapa punca bahawa nabi Allah berkata, ‘Jika sesiapa melukakan Ali dia akan dilayani sebagai yahudi atau kristian pada hari pengadilan.’ Pastinya kamu semua telah tahu bahawa adalah satu dari hukum islam bahawa memanggil Allah dan nabi dengan nama yang hina membawa kepada kafir.

Muhammad Bin Ganji Shafi’i di dalam Kifayatu’t-Talib, bahagian X, mengatakan bahawa satu ketika Abdullah Ibn Abbas and Sa’id Ibn Jabir melihat pada pinggir telaga zamzam sekumpulan orang Syria menghina Ali. Mereka pergi mendapatkannya dan berkata, ‘Siapa diantara kamu yang menghina nabi Allah?’ Orang Syria menjawa, ‘Tiada siapa diantara kami yang menghina nabi Allah.’ Kemudian mereka berkata, ‘Baik, siapa diantara kamu yang menghina Ali?’ Orang Syria berkata, ‘Ya, kami telah menghina Ali,’

Kemudian Abdullah dan Sa’id berkata, ‘Kamu harus menjadi saksi bahawa kami mendengat nabi berkata kepada Ali, ‘Sesiapa yang menghina kamu, sesungguhnya telah menghina saya; sesiapa yang menghina saya telah menghina Allah. Jika sesiapa yang menghina Allah, Dia akan menlontarkan mereka kedalam neraka.’

PARA SAHABAT NABI DITAHAP YANG BERBEZA PADA PEMAHAMAN.

Salafi: Adakah wajar bagi orang yang berkaliber seperti kamu, mengutuk sahabat nabi yang terhormat? Tidakkah terdapat fakta bahawa Allah telah mewahyukan beberapa ayat pada memuji sahabat nabi dan berikan berita gembira dengan penyampaiannya. Dan khalu’I-Mukminin Muawiya, yang pastinya sahabat yang terhormat, berhak pada pujian yang dikandongi oleh ayat tersebut. Tidakkah menghina para sahabat bersamaan dengan menghina Allah dan nabi?

Ustad Husain Ardilla: Mungkin kamu telah terlupa pada apa yang saya telah katakan dimalam yang lalu. Tiada siapa menafikan terdapat ayat yang diwahyukan pada memuji para sahabat. Tetapi jika kamu faham pengertian sahabat atau kawan, kamu akan mengakui bahawa ayat yang diwahyukan pada memuji sahabat bukanlah ditujukan secara umum. Kita tidak boleh menganggap bahawa kesemuanya adalah suci.

Tuan yang dihormati! Kamu tentu faham bahawa ‘sahabat’ secara lisan bererti ikatan dua insan. Maka ia boleh bererti tinggal bersama atau sebagaimana yang difahami secara umum, menolong atau memberikan bantuan kepada yang lain. Menurut bahasa Arab, al-Quran dan hadith, sahabat nabi merujuk kepada yang menghabiskan masa hidupnya bersama dengan nabi, sama ada dia muslim ataupun kafir. Maka interpretasi kamu bahawa semua para sahabat berhak syurga adalah salah. Itu bertentangan dengan minda yang sihat dan juga hadith.