Uncategorized

PBNU: “Gerakan Anti Syiah Timbulkan Perpecahan Umat Islam !”.. Wahabi Takfiri Dalang Pelanggar HAM

http://liputanislam.com/wp-content/uploads/2014/04/fuui-antisyiah-2_20140420_165947.jpg

Wahabi Takfiri Susupi Kaum Sunni

Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (Ijabi) Jawa Barat melaporkan inisiator “Deklarasi Aliansi Nasional Anti Syiah” ke Polda Jabar. Hal ini dikarenakan dapat memicu terjadinya konflik.

“Kita sudah laporkan ke Polda, karena kata ‘anti’ itu bisa menimbulkan konflik. Ini tidak sesuai dengan budaya Jawa Barat yang silih asah silih asih dan silih asuh,” kata Ketua Ijabi Jabar Hesti Raharja di Cijagra, Kecamatan Lengkong, Kota Bandung, Ahad (20/4).

Menurutnya perbedaan Syiah dan Sunni hanya perbedaan pendapat antara kelompok satu dengan yang lain. “Kita menghargai kebebasan berpendapat. Tapi saya berharap semua pihak mengedepankan kedamaian,” kata Hesti.

Dia mengatakan, perbedaan yang ada harusnya disikapi dengan rasa toleransi yang tinggi. Menurutnya, fiqih yang dianut satu kelompok tidak bisa digunakan untuk menghakimi kelompok lain. Dia mencontohkan, kata ‘aamiin’ dalam sholat ada yang mengatakan boleh dan ada yang mengatakan tidak.

“Yang pasti semua warga negara Indonesia berlandaskan Pancasila. Kalau perbedaan yang lain biar menjadi diskusi ilmiah,” ujarnya.

http://liputanislam.com/wp-content/uploads/2014/04/indonesia_anti-syiah.jpg

April 24, 2014

Gerakan anti-Syiah di Bandung, Jawa Barat, dinilai sebagai sikap yang tidak perlu dari sudut pandang persatuan umat. Gerakan tersebut justru akan memecah belah umat Islam.

“Realitasnya, Syiah ada dan besar. Keberadaannya signifikan, bukan hanya di Indonesia, melainkan dunia. Jadi, saling meniadakan itu tidak mungkin. Sunni dan Syiah ada dan tidak boleh menegasi. Sama halnya seperti Kristen, ada Kristen Katolik ada Kristen Protestan,” kata Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Slamet Effendi Yusuf kepada SH, di Jakarta, Selasa (22/4).

Apalagi jika dilihat dari hakikat hak asasi manusia. Setiap manusia memiliki kebebasan memeluk agama sesuai hati nuraninya. Syiah, Slamet menegaskan, tidak bisa dikatakan bukan golongan Islam karena ada dalam sejarah politik Islam maupun pemikiran Islam.

Slamet mengatakan, sebaiknya tidak dilakukan gerakan anti-Syiah. Ini karena Indonesia adalah negara demokratis yang secara konstitusional menyerahkan sepenuhnya kepada setiap orang untuk memilih keyakinannya dalam beragama.

“Kalau dilihat dari aspek yang berkaitan dengan perspektif keamanan, hal seperti ini (gerakan anti-Syiah-red) akan sangat makin memungkinkan konflik-konflik langsung antara Sunni dan Syiah. Sebaiknya fokus meningkatkan dakwah umat Islam, sehingga orang-orang Sunni tidak berpindah aliran atau agama,” ujarnya.

http://liputanislam.com/wp-content/uploads/2014/04/undangan-deklarasi-anti-syiah.jpg

PBNU: “Gerakan Anti Syiah Timbulkan Perpecahan Umat Islam !”..

Wahabi Takfiri Dalang Pelanggar HAM

Anggota Majelis Ulama Indonesia yang akan menghadiri deklarasi anti-Syiah akhir pekan ini di Bandung tidak mendapat restu organisasi. Mereka hadir bukan mengatasnamakan Ormas MUI.

Ketua Ukhuwah Islamiyah MUI Umar Shihab menjelaskan tidak ada anggotanya yang  terlibat dalam deklarasi itu. Dalam waktu dekat MUI akan membahas nama-nama anggotanya yang akan hadiri ke deklarasi itu.

Wartawan : “[Bagaimana] ketika membawa nama-nama MUI secara sepihak tanpa nama pengurus?”

Umar Shihab:Itu akan dibawa dalam rapat MUI. Yang jelas MUI tidak pernah melibatkan diri dalam aliansi itu. Dalam rapat pengurus pusat.

Wartawan: “Kapan kira-kira rapatnya?”

Umar Shihab: “Tolong ditanyakan ke Din Syamsuddin,”

Demikian wawancara antara Ketua Ukhuwah Islamiyah MUI Umar Shihab dengan wartawan PortalKBR, Rabu (16/4).

Minggu (20/4) besok sejumlah ormas dan tokoh Islam akan mendeklarasikan Aliansi Nasional Anti-Syiah. Panitia penyelenggara mengaku pertemuan itu bertujuan untuk menguatkan jejaring Anti-Syiah. Setelahnya, mereka berencana mengkampanyekan aksi Anti-Syiah hingga ke berbagai masjid di penjuru nusantara

komnas ham

 

 

 

 

 

Ketua Komnas HAM Hafid Abbas menegaskan setiap warga negara Indonesia berhak melakukan apa pun untuk memajukan dirinya dalam memperjuangkan haknya. Namun, upaya tersebut harus sesuai dengan undang-undang dan hukum yang berlaku.

“Jangan sampai mengganggu hak orang lain,” ujar Hafid ketika dihubungi media, Ahad (20/4).

Pernyataan Hafid ini menanggapi deklarasi Aliansi Nasional Anti-Syiah di Bandung, Jawa Barat, Ahad. Dalam deklarasi tersebut, Aliansi mengeluarkan ajakan untuk melarang ajaran Syiah di Indonesia.

Menurut Hafid, seharusnya terkait pelarangan dan pencabutan izin diserahkan kepada pemerintah dan lembaga penegak hukum. “Kalau memang tidak sesuai hukum, bukan mereka yang harus membubarkan. Mereka tidak berhak melarang ajaran Syiah atau membubarkan organisasi Syiah,” kata dia.

Hafid mengacu pada Pasal 28C Undang-Undang Dasar 1945 terkait hak asasi dan anti-diskriminasi. “Belum ada undang-undang yang membatalkan atau melarang keberadaan Syiah, jadi seharusnya mereka tidak mengganggu hak orang lain,” kata Hafid.

Pasal 28C Ayat (2) menyebutkan “Setiap orang berhak untuk memajukan dirinya dalam memperjuangkan haknya secara kolektif untuk membangun masyarakat, bangsa dan negaranya.”

Sebelumnya, sejumlah ulama mendeklarasikan Aliansi Nasional Anti-Syiah di Bandung, Jawa Barat, Ahad (20/4). Deklarasi di markas Forum Ulama Ummat Indonesia (FUUI) di Jalan Cijagra itu dihadiri lebih dari 500 orang

Deklarasi itu diawali orasi sederet ulama di dalam Masjid Al-Fajr milik Ketua FUUI Athian Ali M. Dai. Orasinya bertema tentang bahaya dan ancaman Syiah, rencana aksi, hingga mengarah ke calon presiden tertentu.

Pengurus MUI Pusat Ketua Bidang Hukum dan Perundangan, Mohammad Ma’ruf Baharun, juga hadir dalam aksi tersebut dan turut berorasi menentang ajaran Syiah di Indonesia. Ia bahkan menyerukan strategi untuk membendung ajaran Syiah, di antaranya pemakaian nama para sahabat Nabi Muhammad SAW secara massif bagi para bayi dan asrama santri.

Baharun juga mengatakan di semua partai politik kini ada orang Syiah yang bertujuan meraih kekuasaan. Dari informasi yang dihimpun media nasional Tempo dari sumber-sumber inteligen, acara ini digelar terkait lolosnya calon anggota DPR dari PDI Perjuangan, Jalaluddin Rakhmat, tokoh Syiah Indonesia, ke gedung DPR. Para peserta aksi khawatir bahwa capres Joko Widodo dari PDIP Perjuangan terpilih jadi presiden, Jalaluddin Rakhmat akan jadi Menteri Agama. Para penentang Syiah itu khawatir nantinya mereka bisa disebut penganut aliran sesat.

intoleransi

Lupakan Bhinneka Tunggal Ika

Wakil Sekretaris Jenderal Partai Nasional Demokrat (Nasdem), Willy Aditya menegaskan, deklarasi anti-Syiah memperlihatkan dilupakannya Bhinneka Tunggal Ika yang menaungi seluruh perbedaan.

“Deklarasi anti-Syiah ini sudah berulang kali terjadi. Di Sampang, warga Syiah sampai terusir dari tanah dan tempat mereka lahir. Ini sesungguhnya mencemaskan, kita seolah lupa ada Bhinneka Tunggal Ika yang menaungi seluruh perbedaan. Indonesia ini dibangun di atas fondasi perbedaan dan didukung seluruh kelompok aliran, ajaran, dan agama,” kata Willy di Jakarta, Selasa.

Willy berharap, cara-cara deklarasi antiajaran lain sebaiknya ditinggalkan. Sebagai warga negara, ada pekerjaan besar yang harus dilaksanakan, yaitu mengejar ketertinggalan dari negara lain. “Sebagai warga negara yang plural, kita wajib belajar dari para pendiri bangsa yang menerima setiap perbedaan,” serunya.

Ia mengingatkan, deklarasi anti terhadap golongan ataupun aliran agama tertentu juga tak digunakan untuk kampanye hitam membentuk opini publik pada Pemilu 2014. “Sayang bila kita masih bertikai soal seperti ini. Harusnya level perdebatan kita sudah soal program dan apa yang akan bisa memajukan bangsa, bukan lagi soal keyakinan, bukan lagi soal yang merusak kebinekaan kita,” ujarnya.

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), sebelumnya menyatakan seruan anti-Syiah dapat dikategorikan hate speech (seruan untuk membenci) dan pelanggaran terhadap konstitusi.

“Kalau ada seruan membubarkan sebuah kepercayaan hanya karena perbedaan, itu sama saja melanggar undang-undang. Kalau meminta pemerintah menuruti imbauan itu, berarti menyuruh pemerintah melanggar undang-undang,” kata anggota Komnas HAM, Imdadun Rahmat kepada SH, Senin (21/4).

Ia berharap pemerintah mengambil langkah tegas dan tidak menggubris seruan yang disampaikan sejumlah ulama tersebut. Imdadun juga mengkritik Gubernur Jawa Barat yang menyatakan dukungannya kepada aksi anti-Syiah.

Seorang kepala daerah seharusnya memberikan dukungan dan jaminan hidup kepada seluruh warga negara demi tegaknya konstitusi negara. “Kalau ada kepala daerah mendukung, itu sama saja melanggar undang-undang,” ujarnya.

Berbagai aksi intoleransi yang menggunakan kekerasan mewarnai kehidupan bangsa Indonesia beberapa tahun terakhir. Pembakaran desa kaum Syiah Sampang, penutupan gereja, pemboikotan terhadap Lurah Susan yang non-muslim, demo menentang peringatan Asyura, aksi pembubaran acara Mauludan di Yogyakarta, adalah di antaranya.

Wahid Institute mencatat, pada tahun 2012 terjadi 198 kasus pelanggaran atas kebebasan beragama yang dilakukan dengan bentuk-bentuk kekerasan, pemaksaan, dan pelarangan. Sementara Setara Institute mengungkapkan, ada 103 kasus pelanggaran kebebasan beragama dengan berbagai ancaman, perusakan, kekerasan, bahkan penghilangan nyawa.

Bersamaan dengan itu, aksi-aksi kelompok yang menghendaki pengubahan dasar negara, yakni dari Pancasila menjadi dasar agama, juga makin terang-terangan. Bukan lagi gerakan laten. Sebut saja: kelompok Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) yang berencana menggugat Pancasila sebagai Dasar Negara ke Mahkamah Konstitusi (MK). Ada pula kelompok Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang terang-terangan menolak sistem demokrasi, nasionalisme, Pancasila, dan NKRI.

Sayangnya, sikap pemerintah masih mengecewakan dan tidak tegas menyelesaikan berbagai masalah ini. Padahal semua kejadian ini jelas mengancam eksistensi negara Republik Indonesia. Bangsa Indonesia ini sangat majemuk. Survei BPS tahun 2010 menyebutkan bahwa Indonesia ini dihuni oleh 1.128 suku bangsa. Agama penduduknya juga beragam. Selain lima ajaran agama besar yang dianut bangsa Indonesia, yakni Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu dan Budha, terdapat juga ratusan aliran kepercayaan warisan leluhur Bangsa Indonesia. Di dalam masing-masing agama juga terdapat mazhab atau sekte. Para pendiri Republik Indonesia sudah menyadari kemajemukan ini sehingga menyodorkan konsep negara semua untuk semua, yang menampung rakyat Indonesia yang beraneka ragam suku, agama, dan adat-istiadat itu. Bukan untuk satu orang, bukan untuk satu golongan, tapi ‘semua buat semua’.

Aksi-aksi intoleransi jelas bertentangan dengan semangat ini. Penyeragaman hanya akan menimbulkan konflik, yang malah akan mengalihkan perhatian rakyat dari akar persoalan negeri ini. Ketidakadilan ekonomi, kemiskinan, atau korupsi, jauh lebih urgen untuk ditangani. Namun rakyat kini dibuat sibuk berkonflik dan saling membenci. Ketika negara terpecah-belah, siapakah yangakan mengambil keuntungan? Tak lain, kaum neokolonialis dan imperialis. Rakyat sibuk bertengkar, sementara mereka leluasa menguras sumber daya alam kita dan mengeruk uang dari negeri ini. Semoga kita semua bisa menyadari hal ini.

intoleransi

Dialog

Anggota Komisi VIII DPR, Ali Maschan Moesa menyatakan, kisruh seputar gerakan anti-Syiah di Bandung harus diselesaikan dengan cara berdialog. Kementerian Agama harus mememfasilitasi permasalahan yang terjadi antara gerakan Syiah dan Aliansi Nasional Anti-Syiah. Pergerakan apa pun yang terjadi saat ini tidak boleh direspons dengan kekerasan.

“Perbedaan etnis, keyakinan, apakah komunitas lainya, menurut saya masalah ini tidak bisa diseret-seret menggunakan kekerasan. Harusnya diajak berdialog,” tutur Ali saat dihubungi di Jakarta, Rabu (23/4).

Menurutnya, hal yang berhubungan dengan sebuah keyakinan tidak harus ketemu. “Intinya adalah saling memahami satu sama lain,” katanya.

Hal yang mendasari masalah ini, Ali mengatakan, adalah keegoisan kedua belah pihak yang dalam konteks pluralitas hal ini tidak bisa terjadi. Agama Islam itu tidak satu warna, tetapi bermacam-macam warna. Di tengah pluralitas masyarakat Indonesia yang tinggi, yang harus dikembangkan adalah hal yang positif.

Ali juga mengungkapkan, saat ini Komisi VIII masih menyusun undang-undang tentang kerukunan umat beragama. “Masih dalam draf awal. Itu inisiatif dari pemerintah. Kita tunggu itu,” ujarnya.

KH Alawi Al Bantani (foto:LiputanIslam)

 

 

 

 

 

 

 

Setelah sebelumnya KH Umar Shihab menyebut kehadiran anggota MUI dalam Deklarasi Anti-Syiah yang akan diselenggarakan di Bandung tanggal 20 April mendatang sebagai illegal dan akan dibawa ke rapat pengurus pusat, kini giliran ulama NU yang menyampaikan kritiknya. Dalam orasinya di Bandung kemarin (16/4), KH. Alawi Nurul Alam Al Bantani  menilai  acara deklarasi itu mengandung banyak kejanggalan sehingga tak pantas disebuat ‘deklarasi nasional’.

“Pertama dari segi tempat. Jika deklarasi ini memang berskala nasional, mengapa tidak menggunakan Mesjid Raya Bandung? Mengapa acara tingkat nasional itu hanya menggunakan mesjid tingkat RW?” tanyanya.

Kedua, konotasi dari kata tingkat nasional juga meniscayakan keikutsertaan hampir semua elemen masyarakat dan ormas muslim. Namun dari pembicara yang disebut dalam poster itu tidak ada satu elemen penting ormas muslim yang hadir. Semua pembicara itu adalah Wahabi, tak satupun ulama Ahlu Sunnah yang disebut dalam poster itu. Selain itu, ulama yang disebutkan akan hadir, tidak ada yang berasal dari Jawa Barat.

KH Al Bantani juga menyinggung rencana  kehadiran Gubernur Jawa Barat,  Ahmad Heryawan.

“Saya yakin gubernur tidak akan hadir di acara itu karena kehadirannya di acara itu akan membuat stigma bahwa dirinya adalah penasehat Wahabi takfiri di Bandung dan Jawa Barat, dan itu tidak menguntungkan dirinya,” katanya.

Lebih lanjut, KH Alawi mengkritik penyelenggara deklarasi yang akan memanfaatkan masyarakat awam.  Sebagaimana diberitakan di jejaring sosial, penyelenggara deklarasi juga akan membagikan kaos bertuliskan kebencian terhadap Syiah terhadap para tukang becak. Menurut KH Alawi, upaya ini menunjukkan bahwa pihak penyelenggara ingin menjadikan masyarakat yang tidak paham tentang Sunni dan Syiah sebagai tameng untuk menghantam Syiah. KH Alawi juga menyayangkan pihak kepolisian tidak menindak aksi tersebut.

Iran siap jihad, walau sanksi atau embargo BARAT menyusahkan rakyat Iran bertahun-tahun.

Khamenei: Jihad Berakhir jika AS Sudah Disingkirkan

Khamenei: Jihad Berakhir jika AS Sudah Disingkirkan

Selasa,  27 Mei 2014  −  12:29 WIB
Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

TEHERAN –

Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, mengatakan bahwa jihad atau perjuangan yang dilakukan Iran akan berakhir, jika telah menyingkirkan Amerika Serikat (AS). Dia menganggap AS sebagai negara penindas.

Komentar Khamenei itu disampaikan di hadapan anggota parlemen di Teheran, di saat negoisasi nuklir antara Iran dengan negara-negara kekuatan dunia mengalami kebuntuan. Menurut Khamenei, Iran harus memiliki senjata dan memiliki kemampuan untuk mempertahankan diri.

Negoisasi nuklir Teheran kembali mengalami kebuntuan, karena negara-negara kekuatan dunia yang mengklaim mewakili masyarakat internasional menuntut terlalu banyak.

”Pertempuran dan jihad tidak terbatas,” ucap Khamenei, seperti dilansir Mail Online, semalam (26/5/2014). ”Pertempuran hanya akan berakhir, ketika masyarakat bisa menyingkirkan penindas yang ada di depan dan Amerika di kepala.”

”Pertempuran dan jihad tidak terbatas, karena kejahatan di depan terus ada,” lanjut Khamenei. ”Ini membutuhkan perjuangan yang sulit dan panjang untuk langkah besar,” imbuh pemimpin tertinggi di negeri para Mullah itu.

Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif, juga mengakui alotnya negoisasi nuklir Teheran.

”Mereka (negara-negara kekuatan dunia) harus berhenti menuntut terlalu banyak,” kata Zarif yang menegaskan kebuntuan negoisasi nuklir Teheran bukan kesalahan Iran.

Iran hingga kini masih bernegoisasi dengan negara-negara kekuatan dunia, yakni Amerika Serikat, Rusia, Prancis, Inggris, China, dan Jerman.

”Mereka harus berhenti menuntut terlalu banyak. Kami memiliki garis merah kami, dan mereka juga ingin jaminan bahwa program nuklir kami akan selalu tetap damai,” kata Zarif seperti dikutip kantor berita IRNA.

Khamenei: Gempur Iran Bukan Prioritas AS Sekarang

Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, mengaku sudah tahu ada opsi intervensi militer dari Washington dalam negoisasi nuklir Teheran yang alot. Kendati demikian, Khamenei meyakini, serangan terhadap Iran bukan prioritas Amerika Serikat (AS) untuk saat ini.

”Mereka menyadari bahwa serangan militer sebagai tindakan berbahaya, atau bahkan lebih berbahaya bagi bagi yang negara yang menyerang,” tulis New York Times, mengutip pernyataan Khamenei pada peringatan 25 tahun meninggalnya Ayatollah Ruhollah Khomeini, kemarin.

Dalam sebuah pidato, di dekat makamKomeini, Pemimpin Tertinggi Iran itu ragu jika AS akan menyerang Iran.

”Serangan militer bukanlah prioritas bagi Amerika sekarang,” ucapnya.”Mereka telah meninggalkan gagasan dari setiap aksi militer,” katanya lagi, seperti dilansir Al Arabiya, Kamis (5/6/2014).

Di bawah pemerintahan Presiden Hassan Rouhani, Iran telah berhasil bernegoisasi dengan negara-negara kekuatan dunia untuk tahap awal November tahun lalu. Hasilnya, Iran bersedia membatasi kegiatan nuklirnya dengan kompensasi negara-negara Barat akan meringankan sanksi atau embargo yang menyusahkan rakyat Iran bertahun-tahun.

Negoisasi atas mandat Rouhani itu ditentang kelompok garis keras Iran yang sejak awal anti-Barat.”Apa yang kita berikan, dan apa yang kita dapatkan?,” bunyi pamphlet yang tersebar di Iran untuk menyindir negoisasi nuklir Teheran antara pemerintah Rouhani dengan negara-negara Barat.

Rouhani sendiri kemarin, membuat pernyataan keras. Dia akan melawan siapa pun yang memberangus hak Iran untuk memiliki nuklir. Komentar Rouhani itu untuk meredam gejolak kelompok garis kerasan Iran yang terus mengkritik negoisasi nuklir Teheran.

Dicap Musuh Tuhan, Pembangkang Iran Digantung

Dicap Musuh Tuhan, Pembangkang Iran Digantung

Gholamreza Khosravi Savajani, pembangkang politik Iran.

Seorang pembangkang pemerintah Iran dijadwalkan untuk dieksekusi mati pada Minggu (1/6/2014) waktu setempat. Dia divonis hukuman hukuman gantung pada 2010 atas tuduhan menjadi musuh Tuhan.

Gholamreza Khosravi Savajani—nama pembangkang politik Iran itu—diduga menjadi peyumbang dana bagi Organisasi Muhajidin Rakyat Iran (PMOI). Itu merupakan kelompok yang berupaya menggulingkan rezim Republik Islam Iran.

Kelompok hak asasi manusia mendesak pemerintah Iran untuk tidak mengeksekusi seorang karena menjadi pembangkang politik.

”(Dia) dijatuhi hukuman mati dengan cara digantung (untuk tuduhan) menjadi musuh Tuhan,” bunyi pernyataan Amnesty Internasional yang menyebut pengadilan yang memvonis Savajani itu tidak adil.

Savajani ditahan selama lebih dari 40 bulan di sel isolasi di pusat penahanan sejak ia ditangkap pada tahun 2008. Dia juga dituduh menjalin hubungan dengan kelompok Mujahidin – e Khalq (MEK), kelompok yang juga ingin menggulingkan rezim Iran.

“Sekali lagi pemerintah Iran akan segera mengeksekusi seorang pria yang bahkan (dia) tidak menerima pengadilan yang adil, yang mengabaikan hukum internasional dan hukum Iran,” kata Hassiba Hadj Saharoui, Wakil Direktur Amnesty International untuk Timur Tengah dan Afrika Utara, seperti dikutip Reuters.

PMOI selama ini bermarkas di Paris. Menurut kelompok itu, keluarga Savajani itu telah dipanggil ke penjara, tempat ia ditahan dan diberitahu bahwa Savajani akan dieksekusi hari ini.

Oposisi Iran juga mengecam eksekusi Savajani. ”Sudah saatnya bagi masyarakat internasional pada umumnya dan pemerintahan Barack Obama pada khususnya untuk memecah keheningan memalukan mereka atas pembunuhan barbar yang kita saksikan di Iran, terutama setelah (presiden) yang menyebut Moderrat, yakni Hassan Rouhani, menjabat,” kata Ali Safavi , juru bicara Dewan Nasional Perlawanan Iran, kelompok oposisi Iran kepada Fox News.

Sementara itu, pihak Iran menegaskan sistem peradilan di Iran sudah adil. Mereka justru menuduh Barat mempolitisir hak asasi manusia untuk melemahkan sisitem peradilan Iran.

Media Iran sebelumnya melaporkan, Savajani, satu dari empat orang akan dihukum mati atas tuduhan melakukan penipuan dana, saat Iran dipimpin Presiden Mahmoud Ahmadinejad.

Kampanye Lepas Jilbab, Wanita Iran Diberitakan Digilir 3 Pria

Kampanye Lepas Jilbab, Wanita Iran Diberitakan Digilir 3 Pria

Masih Alinejad, jurnalis perempuan Iran yang berkampanye lepas jilbab.

Media Pemerintah Iran melaporkan, bahwa Masih Alinejad, jurnalis wanita Iran yang berkampanye melepas jilbab di media sosial telah menjadi korban perkosaan oleh tiga pria di London, Inggris.

Dia disebut digilir tiga pria setelah mengonsumsi obat-obatan dan membuka baju di tempat umum. Bahkan televisi pemerintah Iran menyebut, Masih Alinejad diperkosa di depan anaknya.

Pemberitaan itu langsung menyebar luas dan diketahui Masih Alinejad yang saat ini bekerja di Inggris. Diberitakan seperti itu, Alinejad bereaksi keras.

Dia menuduh media pemerintah Iran membuat berita bohong dan mengarang cerita.”Mereka sangat mudah membuat (cerita) adegan pemerkosaan yang mereka ciptakan dalam imajinasi mereka menjadi sebuah berita,” ujar Alinejad, seperti dikutip Al Arabiya, Kamis (5/6/2014).

”Mereka bahkan tidak memiliki belas kasihan kepada anak saya, dan mereka membuat dia menjadi saksi pemerkosaan tersebut,” kritik Alinejad terhadap media pemerintah Iran.

Alinejad telah membuat heboh Iran beberapa waktu lalu dengan menyuarakan kampanye lepas jilbab di Facebook. Dalam sekejap, halaman Facebook yang jadi media kampanyenya itu dikuti banyak wanita Iran.

Mereka ramai-ramai pamer foto di Facebook dengan pose melepas Jilbab. Alinejad mengatakan, kampanye itu bukan bermaksud menentang penggunaan jilbab, namuan lebih menekankan pada wanita Iran untuk mendapatkan hak kebebasan.

Gara-gara kampanye beraninya itu, Korps Pengawal Revolusi Iran menuduh Alinejad telah bekerjasama dengan intelijen asing dan mempromosikan imoralitas dan pegaulan bebas di Iran.

Waspadai televisi Wahabi Salafi Anti NU (Gerakan Takfiri Internasional) yang 100% didanai Arab Saudi

Waspadai televisi Wahabi Salafi Anti NU (Gerakan Takfiri Internasional) yang 100% didanai Arab Saudi
Gerakan Wahabi Internasional
Arrahmah Hujamkan Belati ke Tengkuk Rodja
Sekarang ada bermunculan siaran televisi  seperti rodja tv, wesal tv, dan insan tv. Ketiga siaran TV yang  adalah saluran televisi Islam yang beraliran garis keras Wahabi dengan ciri khasnya yang suka mem-bid’ah-kan dan men-syirik-kan golongan lain dalam Islam. Pengisi acara biasanya para lulusan Arab Saudi atau LIPIA Jakarta yang 100% didanai Arab Saudi. Hati-hatilah dengan siran mereka. Lebih detail lihat: Ciri Ajaran dan Ulama Wahabi
lepas dari semua itu, tikam-tikaman Arrahman dan Radio Rodja ini bisa jadi sebuah pelajaran bahwa para penganjur Wahabi-Sufyani-Takfiri sebenarnya sangat rapuh diinternal mereka sendiri dan tidak mempunyai kesatuan suara.

Ketika Qabil mengambil sebongkah batu besar untuk membunuh saudaranya Habil, kita tahu akhirnya. Tragedi. Tapi saat situs garis keras Arrahmah.com mencabut belati paling tajamnya lalu … slap, slap … mendadak menghujamkannya ke tengkuk Rodja, radio garis keras yang jadi kawan-separit dalam kampanye ganjil pengkafiran mazhab Syiah, bahkan Ali Moertopo bakal terkikik-kikik dalam kuburnya.

Fakta: Pada hari Rabu, 21 Agustus, Arrahmah menurunkan sebuah berita yang lebih mirip editorial. Judulnya: Beberapa pertanyaan untuk “Ustadz Rodja”. Diracik oleh A.Z. Muttaqin — disebut-sebut nama pena Jibril Abdurrahman, bos besar Arrahmah — berita langsung menghujam dipagraf pertama: “Wahai ustadz Rodja, seruan ulama untuk tidak melawan kudeta di share bertubi-tubi oleh anda dengan alasan tidak boleh menentang pemerintahan sah yang menang dari proses demokrasi.”

Sebagian pembaca setia Arrahmah bisa jadi bingung. Kudeta apa? Pemerintah sah yang mana?

Ini jelas bukan gaya Muttaqin yang dikenal teduh dalam berargumen dan punya empati besar pada pembaca untuk selalu menyajikan konteks dan alur berpikir yang runut. Paragraf kedua sedikit memperterang pangkal kemarahan Arrahmah. Pemilik situs berang karena Rodja mengkampanyekan dukungan bagi rezim militer yang berkuasa di Mesir saat ini. Tulis Arrahman: “Anehnya ketika Tamarod (baca: Syiah) provokator dan bersama militer pelaku penggulingan Mursi, anda seakan bisu, di mana suara ulama-ulama anda ustadz rodja? Seandainya Mursi dan Ikhwanul Muslimin (IM) melakukan apa yang dilakukan militer saat ini kepada para demonstran Tamarod dengan pembunuhan, kami yakin IM dan Mursi yang disalahkan oleh ustadz rodja. He… Aneh bin ajaib memang…”

Paragraf selebihnya memuat kritik kaliber tinggi – bila tidak bisa disebut sumpah serapah. Rodja, kata Arrahmah menuduh, mengambil sikap tuannya, yaitu Kerajaan Arab Saudi yang menginstruksikan “tidak melawan kudeta di Mesir”. Memposisikan diri sebagai pendukung Ikhwanul Muslimin, organisasi garis keras yang tersepak dari kursi kekuasaan di Mesir, Arrahmah menggambarkan ustadz-ustadz di Radio Rodja sebagai mereka yang “tidak bisa berdalil”, “tidak mengetahui sejarah” dan “jahil”.

Tapi cerita baru separuh. Dipojokkan seperti itu, Radio Rodja –cukup tenar hingga streamingnya jadi ‘kembang penghias’ situs Polda Metro Jaya — memutuskan melawan. Meski seperti tak menyangka dapat “serangan fajar” dari teman seperjuangan sendiri, orang-orang Rdoja bergegas membuka kunci senjata argumennya. Dor, dor, dor … Mereka menyerang Arrahmah dengan menggambarkan situs tak lebih dari “barisan pejuang ingusan”, “tidak menggunakan otak, hanya mengandalkan semangat palsu”. Tapi Rodja terbukti hanya separuh hati dalam menyerang. Luka dalam akibat serangan awal Arrahmah seperti begitu membekas. Dalam hitungan jam lepas menurukan berita yang menyerang balik arrahmah, situs Radio Rodja mencabut dan menghapus berita itu.

Bisa jadi, penghapusan itu dipicu oleh semacam instruksi dari para sesepuh Salafi lokal yang jengah anak-anak asuhnya saling bacok. Namun, lepas dari semua itu, tikam-tikaman Arrahman dan Radio Rodja ini bisa jadi sebuah pelajaran bahwa para penganjur Wahabi-Sufyani-Takfiri sebenarnya sangat rapuh diinternal mereka sendiri dan tidak mempunyai kesatuan suara.

Mereka tidak lebih dari segerombolan orang yang bermodalkan militansi semu, tanpa mempunyai asas perjuangan dan analisis yang jelas. Mereka tidak mempunyai data yang jelas tentang mana lawan dan mana kawan. Sehingga, mudah dibaca, mereka rentan dimobilisasi, digeser ke sana dan ke sini, dimanfaatkan oleh musuh-musuh Islam. [

Mediasi

Mediasi

13 November 2013 12:08

Gerakan Takfiri Internasional

Trend Tran 7 Sebarkan Ajaran Wahabi Takfiri Anti NKRI
Menurut aduan masyarakat, acara Khazanah Trans 7 keluar dari ajaran Islam dan menganggap ajaran Islam berupa Tawassul dan Ziarah Kubur adalah syirik dan pelakunya adalah musyrik.

Ajaran Wahabi Takfiri anti NKRI dan persatuan dengan memakai kedok Islam menyusup di Tran 7. Penyusupan itu terbongkar setelah Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) mendapatkan banyak pengaduan dan laporan dari berbagai lapisan masyarakat.

Menurut aduan masyarakat, acara Khazanah Trans 7 keluar dari ajaran Islam dan menganggap ajaran Islam berupa Tawassul dan Ziarah Kubur adalah syirik dan pelakunya adalah musyrik.

Tidak cukup sampai disitu, acara Khazanah Trans 7 juga membid’ahkan shalawat kepada Nabi saw, bahkan sarat dengan fitnahajaran Islam, sehingga masyarakat menjadi resah atas provokasi tayangan acara Khazanah Trans 7 yang disetting oleh “ulama” Wahabi Takfiri.

Berdasar pengaduan masyarakat itulah maka pada tanggal 17/04/2013 Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) memanggil Direktur Utama Trans 7 dan tim penyelenggara acara Khazanah.

Adapun yang mewakili pihak pelapor yaitu:

1. Habib Musthafa Al Jufri
2. Habib Fachry Jamalullail
3. KH Thabary Syadzily
4. Ketua Lembaga Da’wah NU

Dalam sebuah pernyataan, Ketua KPI, Muhammad Riyanto mengatakan, langkah mediasi dilakukan antara pihak pelapor, pihak Trans 7 dan KPI, termasuk MUI sebagai penengah.

Dalam mediasi yang berlangsung selama sembilan puluh menit tersebut, pihak Trans 7 mengakui ada beberapa episode Khazanah memicu kontroversial di masyarakat. Ada yang mendukung dan ada pihak yang keberatan karena bermuatan fitnah bagi ajaran Islam.

“Ke depannya, Trans 7 akan merubah konten dan materi di dalamnya, sesuai tuntutan pelapor dan kami,” kata Riyanto kepada wartawan di Jakarta, Rabu (17/4/13).

Mediasi tersebut juga menyinggung masalah penyimpangan yang ditayangkan acara Khazanah Trans 7, antara lain tentang pembagian tauhid menjadi tiga. Pembagian Tauhid ini sudah jelas-jelas tidak punya dalil yang valid sehingga menyalahi akidah umat Islam, selain itu juga menimbulkan efek fitnah.

Penyimpangan lainnya juga tersirat dari tayangan Khazanah Trans 7 yang melecehkan muslimin yang berziarah kubur. Padahal ziarah kubur dalam ajaran Islam hukumnya sunnah.

Khazanah Trans 7 juga menayangkan fakta sejarah shalawat Badar yang dimanipulasi, dan syair-syair shalawat ditafsirkan seenaknya agar timbul persepsi negative terhadap muslimin yang bershalawa Badar

wahabi salafi bantu Amerika melakukan black campaign dan memberi Gambaran negatif dan buruk tentang Iran dan Syi’ah

“Sejak salafi masuk Indonesia maka radikalisme merajalela. Mulai dari issue madzab, Pengeboman, dan pembid’ah-an sampai dengan Pengkafiran madzab lain yang berbeda dengan mereka“(Voice Area) – See more at: http://www.inilah-salafi-takfiri.com/general/salafi-wahabi-yang-anti-persatuan-dan-anti-kebhineka-an#sthash.3Ao6D087.dpuf
“Sejak salafi masuk Indonesia maka radikalisme merajalela. Mulai dari issue madzab, Pengeboman, dan pembid’ah-an sampai dengan Pengkafiran madzab lain yang berbeda dengan mereka“(Voice Area) – See more at: http://www.inilah-salafi-takfiri.com/general/salafi-wahabi-yang-anti-persatuan-dan-anti-kebhineka-an#sthash.3Ao6D087.dpuf

“Sejak salafi masuk Indonesia maka radikalisme merajalela. Mulai dari issue madzab, Pengeboman, dan pembid’ah-an sampai dengan Pengkafiran madzab lain yang berbeda dengan mereka“(Voice Area)

Anda mungkin terkejut membaca judul diatas ? Terkesan fitnah mungkin menurut anda ? Ah tidak juga !

Sejak salafi masuk Indonesia maka radikalisme merajalela. Mulai dari issue madzab, Pengeboman, dan pembid’ah-an sampai dengan Pengkafiran madzab lain yang berbeda dengan mereka.

Sebenarnya Salafi terbagi menjadi dua cabang (aliran) yang masing-masing memiliki tugas dan target yang berbeda dalam menjalankan metode dakwahnya tapi pada dasarnya hal itu sama-sama bermuara pada satu kepentingan yang absolut yaitu untuk melanggengkan kekuasaan Raja Saudi dan dominasi Amerika dan Israel di timur tengah.

Pertama, Salafi dakwah yang memiliki ciri – ciri :

[1]. Mendukung Arab Saudi menyediakan pangkalan militer kepada Amerika Serikat ketika menyerang Irak pada PERANG TELUK I, fatwa pro Amerika yang ditanda tangani Syaikh Abdul Aziz Bin Baaz salah satu ulama wahabi yang tunduk dan patuh pada setiap perkataan Raja Saudi yang ahli maksiat.

[2]. Mendukung Irak ( Saddam Hussein ) menyerang Iran pada saat perang Irak – iran 1980 -1988, saat itu Amerika Serikat dan Sebagian negara negara Arab mendorong dilakukannya pembunuhan massal terhadap 1 juta rakyat Iran.

[3]. Loyal kepada kerajaan Saudi yang monarkhi absolut dan pro Amerika – Israel, sikap pro Amerika ditandai dengan fatwa fatwa ulama salafi wahabi seperti Syaikh Albani yang meminta rakyat Palestina hijrah keluar dari Palestina.

[4]. Gemar sekali membid’ah–kan dan mengkafir-kan orang islam yang bermadzab lain khususnya dari kalangan NU dan SYIAH.

[5]. Berdakwah demi mendapat uang dari Arab Saudi, dalam tempo yang relatif singkat ratusan pesantren / ma’had, majalah, bulletin, VCD dll secara masif berkembang di Indonesia.

[6]. Menghujat dan memfitnah syi’ah imamiyah melalui buku buku, majalah, VCD, situs-situs internet dengan target agar mereka diakui oleh Nahdlatul Ulama (N.U) sebagai pembela ahlusunnah wal jama’ah yang harus diterima sebagai saudara seakidah. Taktik mereka ini berhasil, terbukti ALBAYYiNAT dan SALAFi bersatu menghadang syi’ah.

[7]. Berupaya merebut basis basis NU perkotaan, bahkan berupaya mengambil alih pengaruh sekaligus pengurus masjid-masjid NU diperkotaan (tapi mereka belum berhasil dalam urusan ini).

[8]. Anti Iran, segala hal yang berbau syi’ah dan Iran berupaya mereka hanguskan, ini tidak lepas dari politik Arab Saudi dan Amerika -Israel yang anti Iran. Aliran dana dari CIA dan Arab Saudi sangat deras untuk memuluskan proyek ini !

[9]. Gemar merevisi bahkan memalsukan kitab kitab ulama salaf demi memuluskan ajaran wahabi (edisi cetak saudi).

[10]. Merekayasa berbagai aksi anarkhisme terhadap jama’ah syi’ah di Indonesia, yang selama ini hidup dengan damai dengan madzab Islam lainnya.

Kedua, Salafi jihadi yaitu salafi yang memfokuskan dakwahnya dalam bentuk teror dan jihad melawan madzab-madzab Islam yang lain minus Israel dan Amerika.

Adapun tokoh-tokohnya antara lain :
Abubakar ba’asyirAmroziImam SamuderaNoordin M TopDoktor Azahari,Osama bin Laden.

ciri-cirinya adalah :
[1]. Gampang sekali menuduh kafir dan menghalalkan darah muslim lainnya.

[2]. Gemar mengesahkan aksi radikalisme seperti pemboman dan anarkhisme, bahkan diantara mereka adalah pelaku langsung anarkhisme dan pengeboman, bahkan tidak segan segan melakukan aksi bom bunuh diri yang terkadang membuat orang islam sendiri terbunuh dan ekonomi umat islam hancur.

[3]. Ingin mendirikan negara Islam, tetapi tidak jelas bagaimana format negara Islam yang mereka inginkan, apakah monarkhi saudi atau khilafah gaya Hizbut Tahrir ?? tidak jelas.

[4]. Berdakwah dengan cara radikal, pensesatan, pengkafiran dan pembid’ah-an .
Salafi Wahabi adalah teroris perusak indonesia dan anti bhinneka. Sudah bukan rahasia lagi bahwa Raja Abdullah yang membuat ulama Salafi Wahabi rela mencium telapak kakinya , adalah pemimpin Arab Saudi yang dikenal dekat dengan AS. Bahkan terhadap mantan presiden AS George W. Bush, Raja Abdullah banyak memberikan hadiah dan bantuan secara finansial dan juga keleluasaan dalam menentukan kebijakan militer AS dan Barat di Arab Saudi yang juga berimbas pada kawasan Timur Tengah. Tidak jauh dengan rajanya, tentara Arab Saudi pun mau tak mau menjadi akrab dengan tentara AS. Ibaratnya, guru kencing berdiri, ya murid pun kencing berlari. Mereka sering mengadakan acara bersama. Mulai latihan perang bersama, sampai acara pesta bersama

 

Media-media Barat dan industri film raksasa Amerika Serikat, Hollywood gencar mengangkat isu-isu yang berhubungan dengan Iran dan Muslim dalam beberapa tahun terakhir. Gambaran negatif dan buruk tentang Iran dan Syi’ah  selalu menjadi fokus utama Barat untuk menyebarluaskan Iranphobia dan Syi’ah phobia di tengah opini publik dunia. Hollywood dan media-media Barat biasanya menyerang Iran melalui klaim-klaim pelanggaran hak asasi manusia, dukungan terhadap terorisme, dan produksi senjata nuklir. Aksi terbaru Barat untuk menghantam Republik Islam adalah produksi dan pemberian penghargaan tertinggi di ajang Oscar 2013 kepada film Argo karya Ben Affleck.

Langkah itu kembali memperlihatkan bahwa di Hollywood seni telah dikalahkan oleh politik. Argo dipilih sebagai film terbaik mengalahkan delapan pesaingnya, yakni Amour, Beasts of The Southern Wild, Django Unchained, Les Miserables, Life of Pi, Silver Linings Playbook, Zero Dark Thirty, dan pesaing terberatnya, Lincoln. Ketika sebuah film yang sarat dengan distorsi sejarah dipilih sebagai karya terbaik, tentu akar permasalahan itu terdapat pada isu yang diangkat oleh sang sutradara dan bukan pada kreativitas seni di dalamnya.

Argo mengangkat kisah 34 tahun lalu ketika Kedutaan Besar AS di Tehran diduduki oleh mahasiswa revolusioner Iran. Film drama misi CIA ini mengisahkan tentang upaya penyelamatan enam diplomat Amerika dari Iran pada masa Revolusi Islam tahun 1979. Namun sayangnya memberikan gambaran infaktual tentang masyarakat Iran di masa itu. Terlepas dari alur cerita film, apa yang diangkat di Argo adalah sebuah kebohongan sejarah yang nyata dan bahkan menuai kritik dari Duta Besar Kanada di Tehran waktu itu, Ken Taylor dan Tony Mendez, agen CIA yang diperankan oleh Ben Affleck.

Ken Taylor mengkritik film itu dan mengatakan, “Sisi lucunya adalah si penulis naskah (Chris Terrio) di Hollywood tidak tahu apa yang dia bicarakan.” Argo meremehkan tingkat sebenarnya dari keterlibatan Kanada yang cukup besar. Taylor mengkritik Argo dalam menggabungkan segudang kebebasan kreatif yang termasuk “hitam dan putih” penggambaran rakyat Iran dan adegan yang dibuat. Dia menambahkan bahwa Argo adalah “ciri orang dengan cara yang tidak benar.”

Berbeda dengan kebohongan-kebohongan film Argo, Amerika tidak memainkan peran menentukan dalam membantu pelarian para diplomat yang diculik dari Iran, tapi dubes Kanada waktu itu telah menyalahgunakan wewenangnya dan memberi paspor Kanada kepada para diplomat Amerika dan membantu pelarian mereka dari Republik Islam. Lalu faktor apa yang membuat film Argo yang sarat dengan penyimpangan sejarah terpilih sebagai film terbaik 2013? Untuk menjawab pertanyaan itu, maka di sini perlu disinggung dua ciri khas film itu.

Pertama, Argo – seperti kebanyakan karya Hollywood – adalah sebuah film Amerika yang menonjolkan heroisme mereka dan mengemban misi untuk melawan kejahatan. Ini sudah menjadi ciri khas film-film Hollywood dan bahkan jika makhluk luar angkasa menyerang bumi, maka seorang Amerika akan bergegas untuk menyelamatkan bumi dan umat manusia. Oleh karena itu, jika operasi penyelamatan enam diplomat Amerika dari Tehran dilakukan tanpa bantuan seorang agen CIA, maka sisi heroisme Amerika tidak akan tersalurkan dan tidak akan menyedot perhatian pemirsa. Untuk itu, mereka menulis skenario Argo keluar dari realitas sejarah.

Dan kedua, film Argo menitikberatkan pada sikap anti-Iran. Saat ini, apa saja yang menyudutkan dan menyerang Iran akan laris manis dijual di Amerika dan Barat, mulai dari bahaya nuklir Iran, Iranphobia, sampai Revolusi Islam. Oleh sebab itu, peristiwa pendudukan Kedutaan Besar AS di Tehran kembali diangkat ke layar lebar untuk menebar propaganda di saat-saat sensitif seperti sekarang ini. First Lady Amerika, Michelle Obama bahkan secara mengejutkan tampil di ajang Oscar tahun ini dengan membacakan nominasi film terbaik. Ibu Negara AS membacakan nominasi melalui sebuah tayangan yang disaksikan langsung oleh seluruh penonton di Teater Dolby, Hollywood, Ahad, 24 Februari 2013.

Argo adalah sebuah film propaganda seperti film-film Nazi karya sineas wanita Leni Riefenstahl. Sama seperti Riefenstahl, mengagungkan sebuah organisasi kriminal yang menebar kematian. Dan juga tujuan utamanya adalah untuk menciptakan kebencian dan mengubah penonton menjadi pembunuh massal. Riefenstahl memuja Partai Nazi dan Hitler, sementara Argo mengagungkan CIA. Riefenstahl menebar kebencian lewat karya-karyanya dan memoles pandangan antisemitisme agar terlihat cantik, sementara Argo membuat provokasi Zionis melalui gerakan Islamphobia dan Iranphobia terlihat alami dan tak terelakkan.

Hollywood hampir 100 persen dikuasai oleh Zionis. Para milyarder Zionis yang memiliki dan menjalankan Hollywood, menentukan jenis film yang harus dipasarkan ke dunia. Mereka adalah pendukung fanatik dari genosida Israel di Palestina pendudukan. Israel ingin menyeret Amerika Serikat dalam perang melawan musuh-musuh mereka. Dan Iran adalah musuh utama rezim Zionis. Seorang komedian Yahudi, Bill Maher baru-baru ini mengakui bahwa Israel mengendalikan pemerintahan AS. Masalah utama Israel dengan Iran bukanlah isu nuklir, sebab baik CIA maupun Mossad telah meyakinkan bahwa Tehran tidak membangun senjata nuklir. Masalah Israel adalah bahwa pemerintah Iran menawarkan dukungan ideologis dan material yang kuat untuk perlawanan Palestina.

Pada dasarnya, film Argo merupakan sebuah mata rantai panjang untuk menutupi kekalahan memalukan militer Amerika dalam operasi pembebasan di Gurun Tabas, Iran. Pada 25 April 1980, pemerintah Amerika yang dipimpin oleh Jimmy Carter memerintahkan militer untuk menyerang Iran. Serangan ini dilakukan di pertengahan malam oleh pasukan elit yang diperlengkapi dengan berbagai persenjataan modern dengan didukung pesawat Hercules C-130 dan sejumlah helikopter. Sekitar 90 pasukan komando yang ikut dalam operasi Eagle Claw ditugaskan untuk membebaskan para diplomat Amerika yang ditahan di Tehran.

Dalam perjalanan menuju Gurun Tabas di timur Iran, dua helikopter mengalami kerusakan teknis, namun operasi tetap dilanjutkan. Sejumlah helikopter dan pesawat mendarat di tempat yang telah ditentukan dan siap melakukan tahapan operasi berikutnya, bergerak menuju Tehran. Namun, Tabas menciptakan sebuah keajaiban. Kali ini kehendak Tuhan kembali menggagalkan kelicikan para agresor. Saat tiba di sana, satu lagi dari helikopter Amerika mengalami kerusakan teknis yang berujung pada terhentinya operasi ini. Karena operasi rahasia ini membutuhkan sedikitnya enam helikopter, Presiden Jimmy Carter memutuskan untuk menghentikan operasi Eagle Claw dan memerintahkan agar semua pesawat dan helikopter segera kembali.

Seorang kritikus budaya Kim Nicolini mengatakan, “Argo merupakan bagian dari propaganda liberal konservatif yang dibuat oleh Hollywood untuk mendukung politik konservatif pemerintahan liberal Barack Obama saat kita bergerak menuju pemilihan presiden. Ini juga bilangan prima roda perang Amerika yang mendukung serangan Israel terhadap Iran.” Nicolini mengecam Argo karena benar-benar mengabaikan cerita versi Iran, dan mencatat bahwa film ini adalah versi yang menghapus peristiwa sebenarnya. Dia berargumen bahwa tidak ada yang otentik tentang manipulasi film peristiwa bersejarah, dan film ini sebagai propaganda politik murni.

Seorang analis politik mengatakan, Argo membuka kedok skema rumit Amerika untuk mempekerjakan setiap media guna melancarkan propaganda dan menghasut Iranphobia di seluruh dunia. Seorang akademisi Iran Doktor Salami Ismail mengatakan, “Argo adalah turunan dari Hollywoodism yang keterlaluan. Pada kenyataannya, itu adalah upaya lain untuk memicu Iranphobia tidak hanya di Amerika tetapi di seluruh dunia.”

Dalam sebuah wawancara dengan Press TV, pejabat tinggi Iran Masoumeh Ebtekar yang terlibat langsung dalam peristiwa pendudukan Kedutaan Besar AS pada tahun 1979, mengatakan, awalnya mengira bahwa film tersebut akan menjadi representasi seimbang tentang kejadian, tapi setelah menyaksikannya, dia mengatakan itu tidak menceritakan kisah pendudukan yang sebenarnya. Ebtekar mengatakan,

“Kelompok yang mengambil alih Kedubes Amerika adalah sekelompok pemuda, pria dan wanita yang sangat tertib dan cukup tenang. Adegan yang Anda lihat di Argo sama sekali tidak benar.”

Kritikus film Iran Masoud Foroutan mengatakan bahwa Argo adalah “politik-termotivasi.” Dia mengatakan, “Pembuatan film dari aspek teknis bagus, tapi cerita ini tidak otentik. Cerita ini custom-made (dibuat-buat) dan Anda bisa melihat di mana itu akan berakhir. Film ini adalah sesuatu yang bermotif politik.” Sementara itu, kantor berita Mehr menyebut penganugerahan Oscar untuk Argo adalah sebuah langkah politik. Sebab, Ibu Negara Michelle Obama ikut membacakan nominator dan pemenang kategori film terbaik itu lewat sambungan video dari Gedung Putih.

Menteri Kebudayaan Iran Mohammed Hosseini mengatakan, Hollywood tengah “memelintir” sejarah dan sejumlah pejabat Iran lainnya menyebut film itu adalah sebuah “perang lunak” terhadap budaya Iran. Dengan seluruh upaya dan propaganda Barat terhadap Iran, masyarakat dunia menyaksikan bahwa mereka selain tidak mencapai tujuannya, dalam beberapa kasus bahkan memiliki dampak yang merugikan mereka sendiri.

Terlepas dari cerita di film itu, apa yang diangkat di Argo adalah sebuah kebohongan sejarah yang nyata dan bahkan menuai kritik dari duta besar Kanada di Tehran waktu itu, Ken Taylor dan Tony Mendez, agen CIA yang diperankan oleh Ben Affleck.

 

Berbeda dengan kebohongan-kebohongan film Argo, Amerika tidak memainkan peran menentukan dalam membantu pelarian para diplomat yang diculik dari Iran, tapi dubes Kanada waktu itu telah menyalahgunakan wewenangnya dan memberi paspor Kanada kepada para diplomat Amerika dan membantu pelarian mereka dari Republik Islam.

 

Lalu faktor apa yang membuat film Argo yang sarat dengan penyimpangan sejarah terpilih sebagai film terbaik 2013? Untuk menjawab pertanyaan itu, maka di sini perlu disinggung dua ciri khas film itu.

 

Pertama, Argo – seperti kebanyakan karya Hollywood – adalah sebuah film Amerika yang menonjolkan heroisme mereka dan mengemban misi untuk melawan kejahatan. Ini sudah menjadi ciri khas film-film Hollywood dan bahkan jika makhluk luar angkasa menyerang bumi, maka seorang Amerika akan bergegas untuk menyelamatkan bumi dan umat manusia.

 

Oleh karena itu, jika operasi penyelamatan enam diplomat Amerika dari Tehran dilakukan tanpa bantuan seorang agen CIA, maka sisi heroisme Amerika tidak akan tersalurkan dan tidak akan menyedot perhatian pemirsa. Untuk itu, mereka menulis skenario Argo keluar dari realitas sejarah.

 

Dan kedua, film Argo menitikberatkan pada sikap anti-Iran. Saat ini, apa saja yang menyudutkan dan menyerang Iran akan laris manis dijual di Amerika dan Barat, mulai dari bahaya nuklir Iran, Iranphobia, sampai Revolusi Islam. Oleh sebab itu, peristiwa pendudukan Kedutaan Besar AS di Tehran kembali diangkat ke layar lebar untuk menebar propaganda di saat-saat sensitif seperti sekarang ini.

 

First Lady Amerika, Michelle Obama bahkan secara mengejutkan tampil di ajang Oscar tahun ini dengan membacakan nominasi film terbaik. Ibu Negara AS membacakan nominasi melalui sebuah tayangan yang disaksikan langsung oleh seluruh penonton di Teater Dolby, Hollywood, Ahad, 24 Februari 2014.

 

Pada dasarnya, film Argo merupakan sebuah mata rantai panjang untuk menutupi kekalahan memalukan militer Amerika dalam operasi pembebasan di Gurun Tabas, Iran. Pada 25 April 1980, pemerintah Amerika yang dipimpin oleh Jimmy Carter memerintahkan militer untuk menyerang Iran. Serangan ini dilakukan di pertengahan malam oleh pasukan elit yang diperlengkapi dengan berbagai persenjataan modern dengan didukung pesawat Hercules C-130 dan sejumlah helikopter. Sekitar 90 pasukan komando yang ikut dalam operasi Eagle Claw ditugaskan untuk membebaskan para diplomat Amerika yang ditahan di Tehran.

 

Dalam perjalanan menuju Gurun Tabas di timur Iran, dua helikopter mengalami kerusakan teknis, namun operasi tetap dilanjutkan. Sejumlah helikopter dan pesawat mendarat di tempat yang telah ditentukan dan siap melakukan tahapan operasi berikutnya, bergerak menuju Tehran.

 

Namun, Tabas menciptakan sebuah keajaiban. Kali ini kehendak Tuhan kembali menggagalkan kelicikan para agresor. Saat tiba di sana, satu lagi dari helikopter Amerika mengalami kerusakan teknis yang berujung pada terhentinya operasi ini. Karena operasi rahasia ini membutuhkan sedikitnya enam helikopter, Presiden Jimmy Carter memutuskan untuk menghentikan operasi Eagle Claw dan memerintahkan agar semua pesawat dan helikopter segera kembali.

 

12 khalifah dari Quraisy adalah para imam ahlulbait..Khalifah umat islam adalah ahlulbait

apapun Hujjah yang akan dilakukan oleh Kaum Ahlusunnah akan semakin menunjukkan kebingungan mereka akan mistery ’12 pemimpin Quraisy” dalam Bukhari..

Bagi Saya pribadi Para Aimmah AS telah ditentukan secara Nash Tegak. Bahkan dihukumi sebagai Quran Yang Natiq (penjelas Kitabullah) Al Ahzab ayat 33 jelas menunjukkan Para Pribadi Suci AS. Hal ini jelas menunjukkan kepemimpinan Berlanjut pada imam syi’ah.

dari Jabir bin Samurah, ia berkata, “Saya masuk bersama ayah saya kepada Nabi SAW. maka saya mendengar beliau berkata, ‘Sesungguhnya urusan ini tidak akan habis sampai melewati dua belas khalifah.’ Jabir berkata, ‘Kemudian beliau berbicara dengan suara pelan. Maka saya bertanya kepada ayah saya, ‘Apakah yang dikatakannya?’ Ia berkata, ‘Semuanya dari suku Quraisy.’ Dalam riwayat yang lain disebutkan, ‘Urusan manusia akan tetap berjalan selama dimpimpin oleh dua belas orang.’ Dalam satu riwayat disebutkan. ‘Agama ini akan senantiasa jaya dan terlindungi sampai dua belas khalifah. (H.R.Shahih Muslim, kitab “kepemimpinan”, bab”manusia pengikut bagi Quraisy dan khalifah dalam kelompok Quraisy”)

Sebelumnya saya ingin menunjukkan sebuah hadis dalam Musnad Ahmadno 3781 diriwayatkan dari Masyruq yang berkata”Kami duduk dengan Abdullah bin Mas’ud mempelajari Al Quran darinya. Seseorang bertanya padanya ‘Apakah engkau menanyakan kepada Rasulullah SAW berapa khalifah yang akan memerintah umat ini?Ibnu Mas’ud menjawab ‘tentu saja kami menanyakan hal ini kepada Rasulullah SAW dan Beliau SAW menjawab ‘Dua belas seperti jumlah pemimpin suku Bani Israil’.

 

Dalam Fath Al Bari Ibnu Hajar Al Asqallani menyatakan hadis Ahmad dengan kutipan dari Ibnu Mas’ud ini memiliki sanad yang baik. Hadis ini juga dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir dalam Takhrij Musnad Ahmad. Merujuk ke hadis di atas ternyata Khalifah untuk umat Islam itu hanya 12 belas. Padahal kenyataannya ada banyak sekali khalifah yang memerintah umat Islam.

Bagi Ulama Syiah hadis ini merujuk kepada 12 Imam Ahlul Bait sebagai pengganti Rasulullah SAW. Jika kita mengambil premis bahwa ada banyak sekali khalifah yang memerintah umat Islam atau khalifah yang dimiliki umat Islam maka jelas sekali pemerintahan yang dimaksud bukanlah pemerintahan Islam yang memiliki banyak kahlifah yang terbagi dalam Khulafaur Rasyidin(di sisi Sunni), Dinasti Umayyah, Dinasti Abbasiyah, dan Dinasti Utsmaniyyah karena mereka semua jauh lebih banyak dari 12.

Dari sini dapat dimengerti mengapa Ulama Syiah menyatakan bahwa khalifah yang dimaksud disini adalah 12 khalifah pengganti Rasulullah SAW. Tentu saya pribadi tidak akan menilai penafsiran mana yang lebih baik. Saya hanya ingin menampilkan bahwa penafsiran Ulama Syiah terhadap hadis 12 khalifah ini juga ada dasarnya.

Masalah Kekhalifahan adalah masalah yang sangat penting dalam Islam. Masalah ini adalah dasar penting dalam penerapan kehidupan keislaman, setidaknya begitu yang saya tahu :mrgreen: . Kata Khalifah sendiri menyiratkan makna yang beragam, bisa sesuatu dimana yang lain tunduk kepadanya, sesuatu yang menjadi panutan, sesuatu yang layak diikuti, sesuatu yang menjadi pemimpin, sesuatu yang memiliki kekuasaan dan mungkin masih ada banyak lagi ;)

Saat Sang Rasulullah SAW yang mulia masih hidup maka tidak ada alasan untuk Pribadi Selain Beliau SAW untuk menjadi khalifah bagi umat Islam. Hal ini cukup jelas kiranya karena sebagai sang Utusan Tuhan maka Sang Rasul SAW lebih layak menjadi seorang Khalifah. Sang Rasul SAW adalah Pribadi yang Mulia, Pribadi yang selalu dalam kebenaran, dan Pribadi yang selalu dalam keadilan. Semua ini sudah jelas merupakan konsekuensi dasar yang logis bahwa Sang Rasulullah SAW adalah Khalifah bagi umat Islam.

Lantas bagaimana kiranya jika Sang Rasul SAW wafat? siapakah Sang Khalifah pengganti Beliau SAW? Atau justru kekhalifahan itu sendiri menjadi tidak penting. Pembicaraan ini bisa sangat panjang dan bagi sebagian orang akan sangat menjemukan. Dengan asumsi bahwa kekhalifahan akan terus ada maka Sang khalifah setelah Rasulullah SAW bisa berupa

  • Khalifah yang ditunjuk oleh Rasulullah SAW
  • Khalifah yang diangkat oleh Umat Islam

Kedua Premis di atas masih mungkin terjadi dan tulisan ini belum akan membahas secara rasional premis mana yang benar atau lebih benar. Tulisan kali ini hanya akan menunjukkan adanya suatu riwayat dimana Sang Rasulullah SAW pernah menyatakan bahwa Ahlul Bait adalah Khalifah bagi Umat Islam. Bagaimana sikap orang terhadap riwayat ini maka itu jelas bukan urusan penulis :mrgreen:

Dari Zaid bin Tsabit RA yang berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya Aku telah meninggalkan di tengah-tengah kalian dua Khalifah yaitu Kitab Allah yang merupakan Tali yang terbentang antara bumi dan langit, serta KeturunanKu Ahlul BaitKu. Keduanya tidak akan berpisah sampai menemuiKu di Telaga Surga Al Haudh. (Hadis Ini diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal dalam Musnad Ahmad jilid 5 hal 182, Syaikh Syuaib Al Arnauth dalam Takhrij Musnad Ahmad menyatakan bahwa hadis ini shahih. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Kabir jilid 5 hal 154, Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid jilid 1 hal 170 berkata “para perawi hadis ini tsiqah”. Hadis ini juga disebutkan oleh As Suyuthi dalam Jami’ Ash Shaghir hadis no 2631 dan beliau menyatakan hadis tersebut Shahih.)

Hadis di atas adalah Hadis Tsaqalain dengan matan yang khusus menggunakan kata Khalifah. Hadis ini adalah hadis yang Shahih sanadnya dan dengan jelas menyatakan bahwa Al Ithrah Ahlul Bait Nabi SAW adalah Khalifah bagi Umat islam. Oleh karena itu Premis bahwa Sang Khalifah setelah Rasulullah SAW itu ditunjuk dan diangkat oleh Rasulullah SAW adalah sangat beralasan :mrgreen:

Imam Ali Mengakui Kepemimpinannya : Hujjah Hadis Ghadir Khum

Hadis Ghadir Khum yang menunjukkan kepemimpinan Imam Ali adalah salah satu hadis shahih yang sering dijadikan hujjah oleh kaum Syiah dan ditolak oleh kaum Sunni. Kebanyakan mereka yang mengingkari hadis ini membuat takwilan-takwilan agar bisa disesuaikan dengan keyakinan mahzabnya. Padahal Imam Ali sendiri mengakui kalau hadis ini adalah hujjah bagi kepemimpinan Beliau. Hal ini terbukti dalam riwayat-riwayat yang shahih dimana Imam Ali ketika menjadi khalifah mengumpulkan orang-orang di tanah lapang dan berbicara meminta kesaksian soal hadis Ghadir Khum.

عن سعيد بن وهب وعن زيد بن يثيع قالا نشد على الناس في الرحبة من سمع رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول يوم غدير خم الا قام قال فقام من قبل سعيد ستة ومن قبل زيد ستة فشهدوا انهم سمعوا رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول لعلي رضي الله عنه يوم غدير خم أليس الله أولى بالمؤمنين قالوا بلى قال اللهم من كنت مولاه فعلي مولاه اللهم وال من والاه وعاد من عاداه

Dari Sa’id bin Wahb dan Zaid bin Yutsai’ keduanya berkata “Ali pernah meminta kesaksian orang-orang di tanah lapang “Siapa yang telah mendengar Rasulullah SAW bersabda pada hari Ghadir Khum maka berdirilah?. Enam orang dari arah Sa’id pun berdiri dan enam orang lainnya dari arah Za’id juga berdiri. Mereka bersaksi bahwa sesungguhnya mereka pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda kepada Ali di Ghadir Khum “Bukankah Allah lebih berhak terhadap kaum mukminin”. Mereka menjawab “benar”. Beliau bersabda “Ya Allah barangsiapa yang aku menjadi pemimpinnya maka Ali pun menjadi pemimpinnya, dukunglah orang yang mendukung Ali dan musuhilah orang yang memusuhinya”. [Musnad Ahmad 1/118 no 950 dinyatakan shahih oleh Syaikh Ahmad Syakir]

Sebagian orang membuat takwilan batil bahwa kata mawla dalam hadis Ghadir Khum bukan menunjukkan kepemimpinan tetapi menunjukkan persahabatan atau yang dicintai, takwilan ini hanyalah dibuat-buat. Jika memang menunjukkan persahabatan atau yang dicintai maka mengapa ada sahabat Nabi yang merasa ada sesuatu yang mengganjal di hatinya ketika mendengar kata-kata Imam Ali di atas. Adanya keraguan di hati seorang sahabat Nabi menyiratkan bahwa Imam Ali mengakui hadis ini sebagai hujjah kepemimpinan. Maka dari itu sahabat tersebut merasakan sesuatu yang mengganjal di hatinya karena hujjah hadis tersebut memberatkan kepemimpinan ketiga khalifah sebelumnya. Sungguh tidak mungkin ada keraguan di hati sahabat Nabi kalau hadis tersebut menunjukkan persahabatan atau yang dicintai.

عن أبي الطفيل قال جمع علي رضي الله تعالى عنه الناس في الرحبة ثم قال لهم أنشد الله كل امرئ مسلم سمع رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول يوم غدير خم ما سمع لما قام فقام ثلاثون من الناس وقال أبو نعيم فقام ناس كثير فشهدوا حين أخذه بيده فقال للناس أتعلمون انى أولى بالمؤمنين من أنفسهم قالوا نعم يا رسول الله قال من كنت مولاه فهذا مولاه اللهم وال من والاه وعاد من عاداه قال فخرجت وكأن في نفسي شيئا فلقيت زيد بن أرقم فقلت له انى سمعت عليا رضي الله تعالى عنه يقول كذا وكذا قال فما تنكر قد سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول ذلك له

Dari Abu Thufail yang berkata “Ali mengumpulkan orang-orang di tanah lapang dan berkata “Aku meminta dengan nama Allah agar setiap muslim yang mendengar Rasulullah SAW bersabda di Ghadir khum terhadap apa yang telah didengarnya. Ketika ia berdiri maka berdirilah tigapuluh orang dari mereka. Abu Nu’aim berkata “kemudian berdirilah banyak orang dan memberi kesaksian yaitu ketika Rasulullah SAW memegang tangannya (Ali) dan bersabda kepada manusia “Bukankah kalian mengetahui bahwa saya lebih berhak atas kaum mu’min lebih dari diri mereka sendiri”. Para sahabat menjawab “benar ya Rasulullah”. Beliau bersabda “barang siapa yang menjadikan Aku sebagai pemimpinnya maka Ali pun adalah pemimpinnya dukunglah orang yang mendukungnya dan musuhilah orang yang memusuhinya. Abu Thufail berkata “ketika itu muncul sesuatu yang mengganjal dalam hatiku maka aku pun menemui Zaid bin Arqam dan berkata kepadanya “sesungguhnya aku mendengar Ali RA berkata begini begitu, Zaid berkata “Apa yang patut diingkari, aku mendengar Rasulullah SAW berkata seperti itu tentangnya”.[Musnad Ahmad 4/370 no 19321 dengan sanad yang shahih seperti yang dikatakan Syaikh Syu’aib Al Arnauth dan Tahdzib Khasa’is An Nasa’i no 88 dishahihkan oleh Syaikh Abu Ishaq Al Huwaini]

Kata mawla dalam hadis ini sama halnya dengan kata waliy yang berarti pemimpin, kata waly biasa dipakai oleh sahabat untuk menunjukkan kepemimpinan seperti yang dikatakan Abu Bakar dalam khutbahnya. Inilah salah satu hadis Ghadir Khum dengan lafaz Waly.

عن سعيد بن وهب قال قال علي في الرحبة أنشد بالله من سمع رسول الله يوم غدير خم يقول إن الله ورسوله ولي المؤمنين ومن كنت وليه فهذا وليه اللهم وال من والاه وعاد من عاداه وأنصر من نصره

Dari Sa’id bin Wahb yang berkata “Ali berkata di tanah lapang aku meminta dengan nama Allah siapa yang mendengar Rasulullah SAW pada hari Ghadir Khum berkata “Allah dan RasulNya adalah pemimpin bagi kaum mukminin dan siapa yang menganggap aku sebagai pemimpinnya maka ini (Ali) menjadi pemimpinnya dukunglah orang yang mendukungnya dan musuhilah orang yang memusuhinya dan jayakanlah orang yang menjayakannya. [Tahdzib Khasa’is An Nasa’i no 93 dishahihkan oleh Syaikh Abu Ishaq Al Huwaini].

Dan perhatikan khutbah Abu Bakar ketika ia selesai dibaiat, ia menggunakan kata Waly untuk menunjukkan kepemimpinannya. Inilah khutbah Abu Bakar

قال أما بعد أيها الناس فأني قد وليت عليكم ولست بخيركم فان أحسنت فأعينوني وإن أسأت فقوموني الصدق أمانة والكذب خيانة والضعيف فيكم قوي عندي حتى أرجع عليه حقه إن شاء الله والقوي فيكم ضعيف حتى آخذ الحق منه إن شاء الله لا يدع قوم الجهاد في سبيل الله إلا خذلهم الله بالذل ولا تشيع الفاحشة في قوم إلا عمهم الله بالبلاء أطيعوني ما أطعت الله ورسوله فاذا عصيت الله ورسوله فلا طاعة لي عليكم قوموا الى صلاتكم يرحمكم الله

Ia berkata “Amma ba’du, wahai manusia sekalian sesungguhnya aku telah dipilih sebagai pimpinan atas kaliandan bukanlah aku yang terbaik diantara kalian maka jika berbuat kebaikan bantulah aku. Jika aku bertindak keliru maka luruskanlah aku, kejujuran adalah amanah dan kedustaan adalah khianat. Orang yang lemah diantara kalian ia kuanggap kuat hingga aku mengembalikan haknya kepadanya jika Allah menghendaki. Sebaliknya yang kuat diantara kalian aku anggap lemah hingga aku mengambil darinya hak milik orang lain yang diambilnya jika Allah mengehendaki. Tidaklah suatu kaum meninggalkan jihad di jalan Allah kecuali Allah timpakan kehinaan dan tidaklah kekejian tersebar di suatu kaum kecuali adzab Allah ditimpakan kepada kaum tersebut. Taatilah aku selama aku taat kepada Allah dan RasulNya. Tetapi jika aku tidak mentaati Allah dan RasulNya maka tiada kewajiban untuk taat kepadaku. Sekarang berdirilah untuk melaksanakan shalat semoga Allah merahmati kalian. [Sirah Ibnu Hisyam 4/413-414 tahqiq Hammam Sa’id dan Muhammad Abu Suailik, dinukil Ibnu Katsir dalam Al Bidayah 5/269 dan 6/333 dimana beliau menshahihkannya].

Terakhir kami akan menanggapi syubhat paling lemah soal hadis Ghadir Khum yaitu takwilan kalau hadis ini diucapkan untuk meredakan orang-orang yang merendahkan atau tidak suka kepada Imam Ali perihal pembagian rampasan di Yaman. Silakan perhatikan hadis Ghadir Khum yang disampaikan oleh Rasulullah SAW kepada banyak orang, tidak ada di sana disebutkan perihal orang-orang yang merendahkan atau mencaci Imam Ali. Kalau memang hadis ghadir khum diucapkan Rasulullah SAW untuk menepis cacian orang-orang terhadap Imam Ali maka Rasulullah SAW pasti akan menjelaskan duduk perkara rampasan di Yaman itu, atau menunjukkan kecaman Beliau kepada mereka yang mencaci Ali. Tetapi kenyataannya dalam lafaz hadis Ghadir Khum tidak ada yang seperti itu, yang ada malah Rasulullah meninggalkan wasiat bahwa seolah Beliau SAW akan dipanggil ke rahmatullah, wasiat tersebut berkaitan dengan kepemimpinan Imam Ali dan berpegang teguh pada Al Qur’an dan ithrati Ahlul Bait. Sungguh betapa jauhnya lafaz hadis tersebut dari syubhat para pengingkar.

Hadis yang dijadikan hujjah oleh penyebar syubhat ini adalah hadis Buraidah ketika ia menceritakan soal para sahabat yang merendahkan Imam Ali. Hadis tersebut bukan diucapkan di Ghadir Khum dan tentu saja Rasulullah SAW akan marah kepada sahabat yang menjelekkan Imam Ali karena Imam Ali adalah pemimpin setiap mukmin (semua sahabat Nabi) sepeninggal Nabi SAW . Disini Rasulullah SAW mengingatkan Buraidah dan sahabat lain yang ikut di Yaman agar berhenti dari sikap mereka karena Imam Ali adalah pemimpin bagi setiap mukmin sepeninggal Nabi SAW.

عن عبد الله بن بريدة عن أبيه بريدة قال بعث رسول الله صلى الله عليه و سلم بعثين إلى اليمن على أحدهما علي بن أبي طالب وعلى الآخر خالد بن الوليد فقال إذا التقيتم فعلي على الناس وان افترقتما فكل واحد منكما على جنده قال فلقينا بنى زيد من أهل اليمن فاقتتلنا فظهر المسلمون على المشركين فقتلنا المقاتلة وسبينا الذرية فاصطفى علي امرأة من السبي لنفسه قال بريدة فكتب معي خالد بن الوليد إلى رسول الله صلى الله عليه و سلم يخبره بذلك فلما أتيت النبي صلى الله عليه و سلم دفعت الكتاب فقرئ عليه فرأيت الغضب في وجه رسول الله صلى الله عليه و سلم فقلت يا رسول الله هذا مكان العائذ بعثتني مع رجل وأمرتني ان أطيعه ففعلت ما أرسلت به فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم لا تقع في علي فإنه منى وأنا منه وهو وليكم بعدي وانه منى وأنا منه وهو وليكم بعدي

Dari Abdullah bin Buraidah dari ayahnya Buraidah yang berkata “Rasulullah SAW mengirim dua utusan ke Yaman, salah satunya dipimpin Ali bin Abi Thalib dan yang lainnya dipimpin Khalid bin Walid. Beliau SAW bersabda “bila kalian bertemu maka yang jadi pemimpin adalah Ali dan bila kalian berpisah maka masing-masing dari kalian memimpin pasukannya. Buraidah berkata “kami bertemu dengan bani Zaid dari penduduk Yaman kami berperang dan kaum muslimin menang dari kaum musyrikin. Kami membunuh banyak orang dan menawan banyak orang kemudian Ali memilih seorang wanita diantara para tawanan untuk dirinya. Buraidah berkata “Khalid bin Walid mengirim surat kepada Rasulullah SAW memberitahukan hal itu. Ketika aku datang kepada Rasulullah SAW, aku serahkan surat itu, surat itu dibacakan lalu aku melihat wajah Rasulullah SAW yang marah kemudian aku berkata “Wahai Rasulullah SAW, aku meminta perlindungan kepadamu sebab Engkau sendiri yang mengutusku bersama seorang laki-laki dan memerintahkan untuk mentaatinya dan aku hanya melaksanakan tugasku karena diutus. Rasulullah SAW bersabda “Jangan membenci Ali, karena ia bagian dariKu dan Aku bagian darinya dan Ia adalah pemimpin kalian sepeninggalKu, ia bagian dariKu dan Aku bagian darinya dan Ia adalah pemimpin kalian sepeninggalKu.[Musnad Ahmad tahqiq Syaikh Ahmad Syakir dan Hamzah Zain hadis no 22908 dan dinyatakan shahih].

Syaikh Al Albani berkata dalam Zhilal Al Jannah Fi Takhrij As Sunnah no 1187 menyatakan bahwa sanad hadis ini jayyid, ia berkata

أخرجه أحمد من طريق أجلح الكندي عن عبد الله بن بريدة عن أبيه بريدة وإسناده جيد رجاله ثقات رجال الشيخين غير أجلح وهو ابن عبد الله بن جحيفة الكندي وهو شيعي صدوق

Dikeluarkan Ahmad dengan jalan Ajlah Al Kindi dari Abdullah bin Buraidah dari ayahnya Buraidah dengan sanad yang jayyid (baik) para perawinya terpercaya, perawi Bukhari dan Muslim kecuali Ajlah dan dia adalah Ibnu Abdullah bin Hujayyah Al Kindi dan dia seorang syiah yang (shaduq) jujur.

Justru hadis Buraidah di atas menjadi penguat bahwa Imam Ali adalah pemimpin bagi setiap mukmin (semua sahabat Nabi)  sepeninggal Nabi SAW dan sungguh tidak berguna syubhat dari para pengingkar.

Imam Hasan Berdamai Dengan Mu’awiyah Tanda Beliau Tidak Melaksanakan Wasiat Nabi SAW ?

Imam Hasan Berdamai Dengan Mu’awiyah Tanda Beliau Tidak Melaksanakan Wasiat Nabi SAW ?

Imam Hasan berdamai dengan Mu’awiyah tanda beliau tidak melaksanakan wasiat Nabi SAW ?

Pemerintahan (jabatan kepala negara) hanyalah salah satu fungsi imamah. Aspek duniawi hanya salah satu saja dari fungsi dari imamah.

Syi’ah percaya bahwa tingkat imamah lebih tinggi dibanding tingkat pemerintahan (Abubakar-Umar-Usman- Mu’awiyah dan para tiran Dinasti Umayyah Abbasiyah). Imam adalah wakil Allah SWT dan khalifah Nabi saw.

Logika :

  1. Sebelum hijrah Nabi SAW, tidak ada soal tentang berkuasanya orang lain di Mekkah. Sebelum hijrah, Nabi SAW tidak pernah duduk di singgasana. Mengenai kenabian, kita juga melihat bahwa Nabi saw adalah pemimpin umat Muslim, namun kepemimpinan ini atau kedudukannya sebagai pemimpin negara hanyalah salah satu fungsinya sebagai seorang Nabi.
  2. Bukankah Nabi Harun tidak mampu berkuasa ketika umat menzalimi nya ?

Maka begitu pula dengan 12 imam. Imam Ali as tak memiliki cukup pendukung yang kompeten. Ketika para Imam tidak mampu duduk di singgasana karena kezaliman umat, tidaklah menjadikan kekhalifahan dan keimaman itu menjadi tidak ada. Dalam kondisi demikian, maka tidak ada masalah siapa yang jadi penguasa. Kita tak boleh mencampuradukkan masalah imamah dengan masalah pemerintahan.

Bahwasanya Golongan Suni tidak mengakui pengangkatan Ali bin Abi Thalib tersebut, tidaklah menjadikan pengangkatan itu menjadi tidak ada.. Hak untuk memerintah bukan diberikan kepadanya oleh umat. Hak tersebut diberikan kepadanya oleh Allah SWT, atas dasar superioritasnya atas seluruh manusia. Imam diangkat oleh Nabi saw setelah mendapat perintah dari Allah SWT.

 

Sebagian nabi adalah pemandu sekaligus pemimpin seperti Ibrahim as, Musa as, Isa as dan Nabi terakhir Muhammad saw. Sebagian nabi lainnya hanya pemandu saja. Beda antara kenabian dan imamah adalah kenabian itu bimbingan, sedangkan imamah adalah kepemimpinan. Kenabian adalah menyampaikan dan menunjukkan jalan yang benar.

Imamah adalah memimpin dan memobilisasi serta mengorganisasikan kekuatan-kekuatan yang ada. Tugas seorang imam adalah mengawasi, memimpin, memandu dan memperhatikan umat yang di pimpinnya. Fungsi lain yang lebih tinggi tingkatannya adalah tugas imam untuk menjelaskan Islam dengan terperinci.

imamah adalah tugas atau misi ilahiah. Imamah adalah perjanjian Allah SWT, bukan perjanjian manusia. Imamah merupakan suatu organisasi kaum Muslim dan sebuah sistem kehidupan. Imamah adalah basis Islam dan bagian tertinggi dari Islam. Penunaian salat, zakat, puasa, haji dan jihad dan seterusnya berkaitan dengan eksistensi imam.

Kehidupan Imam Husain as merupakan contoh kepemimpinan yang sangat bagus. Imam Husain as bangkit untuk mengembalikan masyarakat yang sesat ke jalan yang benar. Imam Husain as melakukan revolusi suci melawan kemunafikan dan kepalsuan, dan memandu gerakan reformasi untuk beramar makruf bernahi munkar.

Imam Ali as berkata kepada Ibn Abbas, “Kekhalifahan ini lebih tak ada artinya bagiku ketimbang sepatu usang kalau aku tidak membawa yang benar atau tidak memperbaiki yang salah.” (Nahj al-Balâghah, khotbah 33)

Pengangkatan Abu Bakar sebagai Khalifah tentu tidak disetujui keluarga Nabi Ahlul Baitdan pengikutnya, Ali mem-bai’at Abu Bakar setelahFatimah meninggal, yaitu enam bulan setelah meninggalnya Rasulullah demi mencegah perpecahan dalam ummat

Sahabat Nabi  SAW ada yang menyatakan bahwa Ali belum pantas untuk menyandang jabatan Khalifah karena umurnya yang masih muda, ada pula yang menyatakan bahwa kekhalifahan dan kenabian sebaiknya tidak berada di tangan Bani Hasyim.

Imam Ali AS berbai’at kepada Abubakar setelah USMAN bin AFFAN menyatakan : “tidak seorangpun mau bergabung dalam lasykar muslim untuk memerangi kaum MURTAD kalau anda tidak berbai’at kepada ABUBAKAR”..

Jadi Imam Ali menjaga keutuhan Islam dari kepunahan !!!

“Justifikasi sangat penting yang dititahkan Allah SWT adalah penguasa dapat menuntut haknya atas rakyat dan rakyat dapat menuntut haknya atas penguasa. Allah SWT menetapkan masing-masing berkewajiban terhadap satu sama lain. Sistem ini ada untuk mengembangkan cinta di antara mereka dan untuk kemuliaan dan keagungan agama mereka. Rakyat tidak akan baik kalau penguasa-nya tidak baik, dan penguasa tidak akan baik kalau rakyatnya tidak jujur.” (Nahj al-Balâghah, khotbah 216)

pembaiatan oleh imam ‘Ali bukanlah pengakuan akan keabsahan Abu Bakar …Baiat ‘Ali terhadap Abubakar karena Kaum Muslimin Meminta Hal Tersebut Sebagai Syarat Agar Mereka Mau memerangi sebagian kabilah Arab yang MURTAD.. Abubakar dan Umar Tidak Memberi peluang Kelompok Imam Ali menghimpun kekuatan

Ada dua pilihan bagi Imam Ali :

1. Memerangi Abubakar cs dengan resiko ISLAM  hancur  binasa karena MUSUH  MUSUH  Imam Ali  dan  MUSUH MUSUH  ABUBAKAR  Cs telah mengepung mereka !!

2. Membai’at Abubakar  secara the facto  agar  Islam tetap hidup dimuka bumi ini… Tanpa membai’at  secara THE JURE

Ummul Mukminin Aisyah telah berkata: “Sekalian orang Arab telah murtad setelah wafatnya Rasulullah” Al-Bidayah wa al-Nihayah: 6/336; Tarikh Madinah Dimasyq: 30/316, dalam pandangan Syiah yang dimaksud dengan murtad bukanlah murtad daripada keimanan, akan tetapi menentang perintah-perintah yang telah ditetapkan oleh Rasulullah.

Ummul Mukminin Aisyah telah berkata:
Sekalian orang Arab telah murtad setelah wafatnya Rasulullah
Al-Bidayah wa al-Nihayah: 6/336; Tarikh Madinah Dimasyq: 30/316

 

Allah (swt) berfirman kepada Rasulullah (s):
“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) sebelummu ‘jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalanmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” Surah az-Zummar ayat 65.

Kita menerima bahwasanya ayat-ayat ini diturunkan tentang sahabat. Akan tetapi berapa ramai antara sahabat-sahabat yang mampu menjaga makam tersebut, Perlulah adanya pembahasan dan penelitian.

Begitu juga dalam Sahih Muslim terdapat hadis yang bernama Hadis Haudh, yang mana tidak ada jalan lagi untuk Ahlussunnah mengelak dari hal tersebut. Di hari kiamat sebilangan para sahabat akan dibawa ke api neraka. Rasulullah bertanya ke mana dibawa sahabat-sahabat baginda. Lantas dijawab ke neraka. Ditanya kenapa, lantas dijawab lagi, kerana mereka murtad dan kembali ke masa jahiliyah sepeninggalan baginda. Yang lebih menarik, Bukhari mengatakan hanya sedikit daripada mereka yang selamat.
Sahih Bukhari: 7/208; Shawahid Tanzil: 284/1

Ringkasan Pertanyaan

bah 216)

Imam Ali Membai’at Abubakar Tanda Beliau Tidak Melaksanakan Wasiat Nabi SAW ?

Imam Ali Membai’at Abubakar Tanda Beliau Tidak Melaksanakan Wasiat Nabi SAW ?

Imam Ali membai’at Abubakar tanda beliau tidak melaksanakan wasiat Nabi SAW ?  Pemerintahan (jabatan kepala negara) hanyalah salah satu fungsi imamah. Aspek duniawi hanya salah satu saja dari fungsi dari imamah.

Syi’ah percaya bahwa tingkat imamah lebih tinggi dibanding tingkat pemerintahan (Abubakar-Umar-Usman- Mu’awiyah dan para tiran Dinasti Umayyah Abbasiyah). Imam adalah wakil Allah SWT dan khalifah Nabi saw.

Logika :

  1. Sebelum hijrah Nabi SAW, tidak ada soal tentang berkuasanya orang lain di Mekkah. Sebelum hijrah, Nabi SAW tidak pernah duduk di singgasana. Mengenai kenabian, kita juga melihat bahwa Nabi saw adalah pemimpin umat Muslim, namun kepemimpinan ini atau kedudukannya sebagai pemimpin negara hanyalah salah satu fungsinya sebagai seorang Nabi.
  2. Bukankah Nabi Harun tidak mampu berkuasa ketika umat menzalimi nya ?

Maka begitu pula dengan 12 imam. Imam Ali as tak memiliki cukup pendukung yang kompeten. Ketika para Imam tidak mampu duduk di singgasana karena kezaliman umat, tidaklah menjadikan kekhalifahan dan keimaman itu menjadi tidak ada. Dalam kondisi demikian, maka tidak ada masalah siapa yang jadi penguasa. Kita tak boleh mencampuradukkan masalah imamah dengan masalah pemerintahan.

Bahwasanya Golongan Suni tidak mengakui pengangkatan Ali bin Abi Thalib tersebut, tidaklah menjadikan pengangkatan itu menjadi tidak ada.. Hak untuk memerintah bukan diberikan kepadanya oleh umat. Hak tersebut diberikan kepadanya oleh Allah SWT, atas dasar superioritasnya atas seluruh manusia. Imam diangkat oleh Nabi saw setelah mendapat perintah dari Allah SWT.

 

Sebagian nabi adalah pemandu sekaligus pemimpin seperti Ibrahim as, Musa as, Isa as dan Nabi terakhir Muhammad saw. Sebagian nabi lainnya hanya pemandu saja. Beda antara kenabian dan imamah adalah kenabian itu bimbingan, sedangkan imamah adalah kepemimpinan. Kenabian adalah menyampaikan dan menunjukkan jalan yang benar.

Imamah adalah memimpin dan memobilisasi serta mengorganisasikan kekuatan-kekuatan yang ada. Tugas seorang imam adalah mengawasi, memimpin, memandu dan memperhatikan umat yang di pimpinnya. Fungsi lain yang lebih tinggi tingkatannya adalah tugas imam untuk menjelaskan Islam dengan terperinci.

imamah adalah tugas atau misi ilahiah. Imamah adalah perjanjian Allah SWT, bukan perjanjian manusia. Imamah merupakan suatu organisasi kaum Muslim dan sebuah sistem kehidupan. Imamah adalah basis Islam dan bagian tertinggi dari Islam. Penunaian salat, zakat, puasa, haji dan jihad dan seterusnya berkaitan dengan eksistensi imam.

Kehidupan Imam Husain as merupakan contoh kepemimpinan yang sangat bagus. Imam Husain as bangkit untuk mengembalikan masyarakat yang sesat ke jalan yang benar. Imam Husain as melakukan revolusi suci melawan kemunafikan dan kepalsuan, dan memandu gerakan reformasi untuk beramar makruf bernahi munkar.

Imam Ali as berkata kepada Ibn Abbas, “Kekhalifahan ini lebih tak ada artinya bagiku ketimbang sepatu usang kalau aku tidak membawa yang benar atau tidak memperbaiki yang salah.” (Nahj al-Balâghah, khotbah 33)

Pengangkatan Abu Bakar sebagai Khalifah tentu tidak disetujui keluarga Nabi Ahlul Baitdan pengikutnya, Ali mem-bai’at Abu Bakar setelahFatimah meninggal, yaitu enam bulan setelah meninggalnya Rasulullah demi mencegah perpecahan dalam ummat

Sahabat Nabi  SAW ada yang menyatakan bahwa Ali belum pantas untuk menyandang jabatan Khalifah karena umurnya yang masih muda, ada pula yang menyatakan bahwa kekhalifahan dan kenabian sebaiknya tidak berada di tangan Bani Hasyim.

Imam Ali AS berbai’at kepada Abubakar setelah USMAN bin AFFAN menyatakan : “tidak seorangpun mau bergabung dalam lasykar muslim untuk memerangi kaum MURTAD kalau anda tidak berbai’at kepada ABUBAKAR”..

Jadi Imam Ali menjaga keutuhan Islam dari kepunahan !!!

“Justifikasi sangat penting yang dititahkan Allah SWT adalah penguasa dapat menuntut haknya atas rakyat dan rakyat dapat menuntut haknya atas penguasa. Allah SWT menetapkan masing-masing berkewajiban terhadap satu sama lain. Sistem ini ada untuk mengembangkan cinta di antara mereka dan untuk kemuliaan dan keagungan agama mereka. Rakyat tidak akan baik kalau penguasa-nya tidak baik, dan penguasa tidak akan baik kalau rakyatnya tidak jujur.” (Nahj al-Balâghah, khotbah 216)

pembaiatan oleh imam ‘Ali bukanlah pengakuan akan keabsahan Abu Bakar …Baiat ‘Ali terhadap Abubakar karena Kaum Muslimin Meminta Hal Tersebut Sebagai Syarat Agar Mereka Mau memerangi sebagian kabilah Arab yang MURTAD.. Abubakar dan Umar Tidak Memberi peluang Kelompok Imam Ali menghimpun kekuatan

Ada dua pilihan bagi Imam Ali :

1. Memerangi Abubakar cs dengan resiko ISLAM  hancur  binasa karena MUSUH  MUSUH  Imam Ali  dan  MUSUH MUSUH  ABUBAKAR  Cs telah mengepung mereka !!

2. Membai’at Abubakar  secara the facto  agar  Islam tetap hidup dimuka bumi ini… Tanpa membai’at  secara THE JURE

Ummul Mukminin Aisyah telah berkata: “Sekalian orang Arab telah murtad setelah wafatnya Rasulullah” Al-Bidayah wa al-Nihayah: 6/336; Tarikh Madinah Dimasyq: 30/316, dalam pandangan Syiah yang dimaksud dengan murtad bukanlah murtad daripada keimanan, akan tetapi menentang perintah-perintah yang telah ditetapkan oleh Rasulullah.

Ummul Mukminin Aisyah telah berkata:
Sekalian orang Arab telah murtad setelah wafatnya Rasulullah
Al-Bidayah wa al-Nihayah: 6/336; Tarikh Madinah Dimasyq: 30/316

 

Allah (swt) berfirman kepada Rasulullah (s):
“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) sebelummu ‘jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalanmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” Surah az-Zummar ayat 65.

Kita menerima bahwasanya ayat-ayat ini diturunkan tentang sahabat. Akan tetapi berapa ramai antara sahabat-sahabat yang mampu menjaga makam tersebut, Perlulah adanya pembahasan dan penelitian.

Begitu juga dalam Sahih Muslim terdapat hadis yang bernama Hadis Haudh, yang mana tidak ada jalan lagi untuk Ahlussunnah mengelak dari hal tersebut. Di hari kiamat sebilangan para sahabat akan dibawa ke api neraka. Rasulullah bertanya ke mana dibawa sahabat-sahabat baginda. Lantas dijawab ke neraka. Ditanya kenapa, lantas dijawab lagi, kerana mereka murtad dan kembali ke masa jahiliyah sepeninggalan baginda. Yang lebih menarik, Bukhari mengatakan hanya sedikit daripada mereka yang selamat.
Sahih Bukhari: 7/208; Shawahid Tanzil: 284/1

Ringkasan Pertanyaan

Apakah Imam Ali As memberikan baiat kepada Abu Bakar ? Mengapa demikian?

Pertanyaan

Tatkala Imam Ali As mengetahui bahwa Allah Swt telah mengangkatnya sebagai khalifah lalu mengapa ia memberikan baiat kepada Abu Bakar, Umar dan Usman? Apabila Anda katakan bahwa ia tidak memiliki kekuasaan dan kemampuan, sementara kita tahu bahwa barangsiapa yang tidak memiliki kekuasaan dan kemampuan maka sesungguhnya ia tidak memiliki kelayakan untuk menjadi imam, karena seseorang dapat menjadi imam tatkala ia memiliki kemampuan

.

Apabila Anda katakan bahwa Imam Ali memiliki kemampuan namun beliau tidak memanfaatkannya maka hal ini merupakan sebuah pengkhianatan dan seorang pengkhianat tidak dapat menjadi seorang imam! Ia tidak dapat menjadi pemimpin yang dipercaya oleh masyarakat. Sementara Imam Ali As tidak mungkin berbuat khianat. Ia suci dari segala macam pengkhianatan. Lalu apa jawaban Anda atas keberatan ini? Apa Anda memiliki jawaban benar atas kritikan dan isykalan ini?

Jawaban Global

Pertama: Imam Ali As, sejumlah sahabatnya dan sebagian sahabat Rasulullah Saw pada mulanya tidak memberikan baiat kepada Abu Bakar dan tatkala memberikan baiat hal itu dilakukan semata-mata untuk menjaga Islam dan kemaslahatan pemerintahan Islam

.

Kedua, seluruh problema yang ada tidak dapat diselesaikan dengan pedang dan keberanian. Tidak setiap saat otot dan kekuatan fisik harus digunakan. Manusia bijak dan cendekia memecahkan setiap persoalan dengan perantara media-media tertentu

.

Ketiga, apabila Imam Ali As memberikan baiat kepada beberapa orang tertentu lantaran kemaslahatan yang bernilai seperti menjaga agama Tuhan dan segala jerih payah Rasulullah Saw maka hal itu tidak bermakna bahwa beliau lebih menguatirkan kekuasaan mereka ketimbang jiwanya atau mereka lebih memiliki kemampuan dan kekuasaan dalam masalah kepemimpinan dan leadership umat Islam

.

Keempat, yang dapat disimpulkan dari sejarah dan tuturan Imam Ali bahwa beliau berulang kali menyampaikan protes terhadap situasi dan kondisi di masa tiga khalifah namun upaya maksimal beliau dikerahkan untuk menjaga dan menguatkan pemerintahan Islam di hadapan musuh-musuhnya.

Jawaban Detil

Dengan menyimak sejarah masa awal-awal kemunculan Islam maka menjadi jelas bahwa Pertama, Rasulullah Saw belum lagi dikebumikan orang-orang berkumpul di Saqifah Bani Sa’idah dan sebagian orang memberikan baiat kepada orang selain Ali As sementara Ali As sedang sibuk mengurus pemakaman Rasulullah Saw, mengafani dan mengebumikan Rasulullah Saw.[1]

.

Sebagaian kecil sahabat beserta pemuka kabilah seperti Abbas bin Abdul Muththalib, Fadhl bin Abbas, Zubair bin Awwam, Khalid bin Sa’id, Miqdad bin Amr, Salman Parsi, Abu Dzar Ghiffari, Ammar bin Yasir, Bara’a bin ‘Azib, Ubay bin Ka’ab tidak memberikan baiat kepada segelintir orang yang berkumpul di Saqifah dan berpihak pada Imam Ali As.[2] Sesuai dengan nukilan lugas dari Ahmad bin Hanbal dalam Musnad 1/55 dan Thabari 2/466 sebagian orang ini berkumpul di rumah Fatimah Zahra As dan menolak memberikan baiat kepada Abu Bakar.[3]

.

Disebutkan dalam kitab sejarah bahwa Baginda Ali As dalam menjawab mereka yang berkumpul di rumahnya dan permintaan mereka untuk memberikan baiat kepadanya, “Besok pagi datanglah (kemari) dan cukurlah rambut kalian!” Akan tetapi keesokan harinya hanya tiga orang yang datang.[4]

.

Demikian juga dalam sejarah diriwayatkan bahwa Ali As tidak memberikan baiat selama Fatimah Zahra masih hidup namun tatkala melihat orang-orang mengabaikannya maka beliau terpaksa berdamai dengan Abu Bakar.[5]

.

Karena itu, Imam Ali As dan sebagian sahabatnya demikian juga sebagian sahabat Rasulullah Saw mula-mula dan hingga masa tertentu pasca wafatnya Rasulullah Saw tidak memberikan baiat kepada Abu Bakar dan tatkala mereka memberikan baiat hal itu dilakukan untuk kemaslahatan dan keselamatan pemerintahan Islam.

.

Beladzuri dalam menjelaskan sebab mengapa Imam Ali memberikan baiat berkata, “Pasca wafatnya Rasulullah Saw dimana sebagian suku Arab telah murtad, Usman datang ke hadapan Ali dan berkata, “Wahai Putra Paman! Selama Anda tidak memberikan baiat tiada seorang pun yang akan pergi berperang melawan musuh.” Usman senantiasa membicarakan hal ini dengan Ali hingga pada akhirnya Baginda Ali As memberikan baiat kepada Abu Bakar.”[6] Akan tetapi Baginda Ali As sendiri senantiasa menyampaikan keluhan dan protes (terhadap proses perampasan khilafah ini) pada masa Abu Bakar dan setelahnya.

.

Terkait dengan hal ini, Imam Ali As bersabda, “Ketahuilah! Demi Allah putra Abu Quhafah (Abu Bakar) membusanai dirinya dengan (kekhalifahan) itu, padahal ia tahu pasti bahwa kedudukanku sehubungan dengan itu adalah sama dengan kedudukan poros pada penggiling. Air bah mengalir (menjauh) dariku dan burung tak dapat terbang sampai kepadaku. Aku memasang tabir terhadap kekhalifahan dan melepaskan diri darinya. Kemudian aku mulai berpikir, apakah aku harus menyerang ataukah menanggung dengan tenang kegelapan membutakan dan azab, dimana orang dewasa menjadi lemah dan orang muda menjadi tua, dan orang mukmin yang sesungguhnya hidup di bawah tekanan sampai ia menemui Allah (saat matinya). Aku dapati bahwa kesabaran atasnya lebih bijaksana. Maka aku mengambil kesabaran, walaupun ia menusuk di mata dan mencekik di kerongkongan.”[7]

.

Adapun terkait mengapa Imam Ali As dengan keberanian yang dimilikinya namun tidak angkat senjata? Maka jawabannya adalah bahwa seluruh problema yang terjadi tidak dapat diselesaikan dengan pedang dan perang. Tidak setiap saat otot dan kekerasan fisik harus digunakan. Manusia bijak dan cendekia memecahkan setiap persoalan dengan media-media tertentu. Memiliki kekuasaan dan kemampuan serta keberaninan di medan perang sekali-kali tidak dapat menjadi dalih untuk melakukan pelbagai perbuatan yang tidak mendatangkan kemasalahatan.

.

Sebagaimana Nabi Harun As tatkala melihat kaum Musa berpaling menjadi penyembah sapi meski beliau adalah seorang elokuen (fasih) dan merupakan washi (penyampai wasiat) Nabi Musa As akan tetapi beliau tidak melakukan apa pun kecuali menyampaikan kebenaran dan peringatan kepada mereka. Al-Qur’an menandaskan tuturan Harun sebagai jawaban dari protes keras Nabi Musa As atas sikapnya yang berdiam diri tidak mencegah penyembahan sapi Bani Israil, Harun menjawab, “Hai putra ibuku, janganlah kamu pegang janggutku dan jangan (pula) kepalaku; sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata (kepadaku), “Kamu telah memecah antara Bani Isra’il dan kamu tidak memelihara amanahku.” (Qs. Thaha [20]:94)

.

Ihwal Nabi Ibrahim, al-Qur’an memberitakan bahwa Nabi Ibrahim menjauhkan diri dari penyembah berhala, “Maka ketika Ibrahim sudah menjauhkan diri dari mereka (Qs. Maryam [19]:49) Demikian juga terkait dengan tindakan para pemuda Ashabul Kahf yang menarik diri dari kaum zalim, (Kami berkata kepada mereka), “Apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Tuhanmu akan melimpahkan rahmat-Nya kepadamu dan menghamparkan ketenangan bagimu dalam urusan kamu ini.” (Qs. Al-Kahf [18]:16) Apakah benar kita memandang mereka dalam proses toleransi dan menahan diri ini atau takut atau pengkhianat? Padahal dalam kondisi seperti ini jalan toleransi dan menahan diri merupakan jalan terbaik.

.

Apabila Imam Ali As memberikan baiat kepada sebagian orang karena kemaslahatan seperti menjaga agama Tuhan dan hasil kerja keras Rasulullah Saw hal ini tidak bermakna bahwa beliau takut dari kekuatan dan kekuasaan mereka atau lebih kurang kekuasaan dan kekuatannya dalam masalah kepemimpinan umat Islam dimana apabila kepemimpinan diserahkan kepadanya maka pada masa-masa tersebut kekuasaan kepemimpinannya dapat dibuktikan.

.

Baginda Ali As menjelaskan mengapa dirinya tidak angkat senjata. Hal itu disebabkan karena beliau sendiri,  sebagaimana yang dijelaskan, “Saya melihat dan mendapatkan bahwa tidak ada pendukung bagi aku kecuali keluarga saya; maka aku hindarkan mereka dari terjerumus ke dalam kematian. Aku terus menutup mata saya walaupun kelilipan. Aku minum walaupun kerongkongan terteguk. Aku bersabar walaupun susah bernapas dan walaupun harus menelan jadam sebagai makanan.”[8]

.

Pada kesempatan lain, Baginda Ali menjelaskan alasannya mengapa tidak angkat senjata sedemikian, “Apabila aku katakan maka mereka akan menyebut aku serakah akan kekuasaan, tetapi apabila aku berdiam diri mereka akan mengatakan bahwa aku takut mati. Sungguh sayang, setelah segala pasang surut (yang saya alami)! Demi Allah, putra Abu Thalib lebih akrab dengan kematian daripada seorang bayi dengan dada ibunya. “[9]

.

Kesimpulannya bahwa alasan mengapa Baginda Ali As memberikan baiat kepada para khalifah hal itu bukan lantaran takut (karena semua orang, kawan dan lawan tahu tentang keberaniaan tiada tara yang dimiliki Baginda Ali As) melainkan kurangnya pendukung di jalan kebenaran dan juga didorong oleh kemaslahatan untuk menjaga kesatuan, keutuhan dan kemaslahatan Islam. Sebuah tindakan yang dilakukan oleh setiap pemimpin sejati bahkan Rasulullah Saw sendiri, dimana lantaran kurangnya pendukung dan untuk  menjaga pendukung yang sedikit itu dan menjaga kemaslahatan Islam, terpaksa menarik diri dari kaumnya dan berhijrah ke Madinah hingga beliau mendapatkan banyak pengikut yang berujung pada peristiwa Fathu Makkah. Atau pada masa lainnya, Rasulullah Saw terpaksa memilih berdamai dengan orang-orang Musyrik. Apakah tindakan seperti ini dapat disebut sebagai tindakan pengecut bahwa apabila Rasulullah Saw memandang dirinya sebagai Rasululullah lantas mengapa berdamai dengan orang-orang musyrik? Dimana apabila beliau tidak memiliki kekuataan yang dapat menandingi lantas ia tidak memiliki kelayakan untuk menjabat sebagai seorang nabi dan pemimpin?!

.

Karena itu, Baginda Ali As, meski beliau adalah khalifah Rasulullah Saw, lebih memilih bersabar dan menahan diri. Hal itu didorong oleh keinginan yang luhur untuk menjaga kemaslahatan masyarakat Islam. Karena beliau dengan baik memahami bahwa bukan tempatnya untuk angkat senjata, menghunus pedang dan memamerkan keberanian dan adu otot di jalan Allah. Akan tetapi kondisi masyarakat Islam pasca wafatnya Rasulullah menuntut kesabaran lebih tinggi nilainya ketimbang keberanian. Beliau mengetahui bahwa dalam kondisi seperti ini bahwa menghunus pedang akan lebih banyak dimanfaatkan oleh musuh-musuh Islam untuk melenyapkan dan mencerabut Islam hingga ke akar-akarnya. Karena itu, kemaslahatan pribadi dikorbankan untuk kemaslahatan yang lebih penting yaitu asas Islam. [IQuest]

 

[1]. Kanz al-‘Ummâl, 5/652.

[2]. Suyuthi, Târikh al-Khulâfah, hal. 62, Dar al-Fikr, Libanon. Târikh Ya’qubi, 124/125-2. Thabari, Târikh al-Umam wa al-Muluk, jil. 2, hal. 443, Istiqamat, Kairo. Musnad Ahmad, jil. 3, hal. 165, Dar al-Shadir.

[3]. Ibid.

[4]. Ma’âlim al-Madrasatain, Allamah ‘Askari, jil. 1, hal. 162.

[5]. Thabari, Târikh al-Umam wa al-Muluk, 2/448, Istiqamat, Kairo.

[6]. Ansab al-Asyrâf, 1/587.

[7].  Nahj al-Balâgha, Khutbah 3, hal. 45.

[8]. Nahj al-Balâgha, Khutbah 36, hal. 73.

[9]. Nahj al-Balâgha, Khutbah 5, hal. 51.

Wapres Boediono: Waspadai Penyusupan Kelompok Takfiri Di NU

 

“Saya tidak pernah bosan mengingatkan kita semua bahwa agama Islam adalah agama kasih sayang yang penuh dengan toleransi dan penghargaan terhadap perbedaan,” 

Menurut Kantor Berita ABNA,  Wakil Presiden Boediono mengingatkan semua pihak selalu waspada terhadap kemungkinan penyusupan kelompok takfiri di tengah-tengah bangsa Indonesia yang sebagian merupakan korban dari pendidikan agama salah dan memiliki orientasi keliru dari negara lain.

“Khusus kepada Muslimat Nahdlatul Ulama sebagai bagian dari Ahlussunnah Waljamaah yang terkenal kebesaran jiwa dan tasamuhnya agar waspada kemungkinan penyusupan kelompok-kelompok takfiri,” kata Boediono saat membuka Rakenas dan Mukernas Muslimat Nahdlatul Ulama di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta, Rabu.

“Saya tidak pernah bosan mengingatkan kita semua bahwa agama Islam adalah agama kasih sayang yang penuh dengan toleransi dan penghargaan terhadap perbedaan,” tambah Wapres.

Hadir dalam acara itu Wakil Menteri Agama Agama Nazaruddin Umar, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo, Ketua PBNU KH. Said Aqil Siradj dan Ketua Umumm Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa. Rakernas dihadiri oleh ratusan jajaran Muslimat NU dari kantor pusat, wilayah dan cabang serta para penanggungjawab dan penggiat perangkat Muslimat NU dari seluruh Indonesia.

Boediono mengingatkan pula agar ibu-ibu harus menjaga anak-anaknya agar tetap berada di jalur tengah sebagaimana diperintah Allah SWT untuk menjadi Umat Tengah (umatan wasathan), umat yang adil, berwawasan, dan tidak ekstrim.

Wapres meyakini hanya dengan toleransi beragama, sikap tasamuh, seimbang, dan berkeadilan, maka Indonesia yang penuh keragaman dapat menjadi negara yang aman, damai dan sejahtera.

“Dengan rekam jejak Muslimat NU dan kekuatan jejaring dan modal sosial yang ada, saya yakin Muslimat NU akan semakin maju, semakin luas kiprahnya baik pada tataran nasional maupun internasional,” katanya.

Sebagai bagian dari pembangunan berkeadilan dan berkesetaraan gender, Boediono mencatat, Muslimat NU telah mensosialisasikannya melalui penyampaian ajaran Agama Islam yang mewajibkan untuk memuliakan ibu, melindungi istri dan anak perempuan guna membimbing untuk menuju keluarga sakinah mawaddah dan warrahmah, dan menjadikan sebagai bagian penting dalam mengambil keputusan terbaik bagi keluarga.

Kesejahteraan rakyat termasuk kesejahteraan pekerja perempuan adalah bagian dari tujuan pembangunan nasional yang akan mengangkat harkat dan martabat bangsa.

“Kita menginginkan pekerja perempuan terus ditingkatkan pendidikan dan keterampilan kerjanya sehingga tidak harus merantau jauh dari tanah air untuk menghidupi keluarganya,” kata Wapres.

Boediono minta agar Muslimat NU melalui divisi tenaga kerjanya bisa membantu pemerintah untuk mencapai tujuan tersebut. “Kita tidak ingin melihat negara kita dipandang sekedar sebagai penyedia tenaga kerja wanita tidak terampil,” kata Wapres.

“Kita ingin membangun bangsa ini menjadi bangsa yang sanggup menjamin kehidupan seluruh warganya dengan sejahtera sesuai dengan amanat konstitusi kita,” kata Boediono.

Rektor Al Azhar : Muslim Boleh Berpindah Mazhab dari Sunni ke Syiah atau Sebaliknya

Rektor Universitas al Azhar:

Muslim Boleh Berpindah Mazhab dari Sunni ke Syiah atau Sebaliknya

Syiah adalah salah satu mazhab resmi dalam Islam dan bukan suatu kesalahan bagi umat Islam menganut mazhab Syiah atau terjadi peralihan mazhab dari sunni ke syiah atau sebaliknya. Sebagaimana bolehnya beralih mazhab dalam internal mazhab Sunni yang empat.

Rektor Universitas al Azhar: Muslim Boleh Berpindah Mazhab dari Sunni ke Syiah atau Sebaliknya

Syiah adalah salah satu mazhab resmi dalam Islam dan bukan suatu kesalahan bagi umat Islam menganut mazhab Syiah atau terjadi peralihan mazhab dari sunni ke syiah atau sebaliknya. Sebagaimana bolehnya beralih mazhab dalam internal mazhab Sunni yang empat.

Syaikh Ahmad at Tayyib Rektor Universitas al Azhar Mesir dalam sebuah wawancara dengan stasiun televisi Mesir channel Neil News menyatakan Syiah adalah salah satu mazhab resmi dalam Islam dan bukan suatu kesalahan bagi umat Islam menganut mazhab Syiah atau terjadi peralihan mazhab dari sunni ke syiah atau sebaliknya. Sebagaimana bolehnya beralih mazhab dalam internal mazhab Sunni yang empat.
Berikut redaksi menukilkan sebagian dari wawancara tersebut:

Wartawan Neil News: Apakah menurut anda, aqidah mazhab Syiah tidak bermasalah?

Syaikh Tayyib: Tidak. Apa masalahnya?. 50 tahun lalu Syaikh Shaltut telah mengeluarkan fatwa Syiah adalah mazhab kelima Islam dan diakui sebagaimana empat mazhab lainya.

WN: Jika salah seorang anak kita masuk Syiah, apa yang mesti kita lakukan?

ST: Apa salahnya? Sebagaimana kita tidak mempermasalahkan muslim yang sebelumnya bermazhab Hanafi beralih ke mazhab Maliki. Jadi bukan kesalahan jika seorang muslim beralih dari mazhab yang empat ke mazhab kelima.

WN: Kami memang mengenal muslim Syiah berlaku baik dan hormat perlakuannya terhadap kami. Dan terjadi di antara kami pernikahan. Bagaimana pendapat anda?

ST: Apa masalahnya?. Pernikahan antar pengikut mazhab adalah sesuatu yang dibolehkan.

WN: Ada yang mengatakan Syiah itu memiliki Al-Qur’an yang berbeda. Bagaimana pendapat anda?

ST: Perkataan tersebut, adalah khurafat dan khayalan orang-orang yang lanjut usia. Al-Qur’an muslim Syiah sama sekali tidak memiliki perbedaan dengan Al-Qur’an yang kita muslim Sunni yakini, bahkan termasuk dalam khat dan penyusunan halaman sekalipun.

WN: 23 ulama dari Negara Arab Saudi telah mengeluarkan fatwa Syiah adalah orang-orang rafidah dan kafir.

ST: Untuk kaum muslimin diseluruh dunia, hanya fatwa dari Al Azhar yang berlaku, dan fatwa mereka tidak memiliki i’tibar sama sekali, kecuali untuk mereka saja, bukan untuk seluruh kaum muslimin.
WN: Lantas apa yang menyebabkan terjadinya perselisihan dan pertikaian antara sunni dan syiah dibeberapa Negara muslim?

ST: Perselisihan tersebut dipicu oleh kepentingan politik asing, dan dalam meloloskan kepentingan mereka, mereka menciptakan perselisihan dan pertikaian antara kaum muslim dengan menghembuskan isu-isu perbedaan yang terdapat dalam mazhab-mazhab Islam yang ada.

WN: Bukankah kita tahu, Syiah itu tidak mengakui Abu Bakar dan Umar, lantas bagaimana anda menyebutnya tetap sebagai muslim?.

ST: Iya, mereka memang tidak menerimanya. Namun bukankah percaya dan mengakui kekhalifaan Abu Bakar dan Umar bukan bagian dari ushul agama ini? Kisah mengenai Abu Bakar dan Umar ra adalah penggalan sejarah yang tidak memiliki keterkaitan dengan ushul aqidah.

WN: Diantara keyakinan Syiah yang lain, adalah mereka meyakini Imam Zaman mereka masih hidup sampai sekarang sejak kelahirannya lebih dari seribu tahun yang lalu. Pendapat anda?

ST: Ya mungkin saja. Mengapa tidak mungkin?. Hanya saja dalil mereka tidak meyakinkan kita untuk mengikuti apa yang mereka yakini.

WN: Apakah mungkin seorang anak kecil yang masih berumur 8 tahun telah menjadi imam? Syiah meyakini, salah seorang diantara imam mereka, telah menjadi imam disaat masih berusia 8 tahun.

ST: Jika seorang bayi dengan izin Allah telah diangkat menjadi Nabi, maka seorang anak diusia 8 tahun bisa saja telah mampu menjadi imam, dan itu bukan sesuatu yang ajaib. Sebagai Ahlus Sunnah apa yang Syiah yakini mengenai imam mereka, tidak kita terima. Namun apa yang mereka yakini itu tidak merusak hakikat Islam, dan mereka tetap saja bagian dari kaum muslimin.

Al Quran dan Hadis Hanya Memuji Sahabat Yang Bersifat Khusus, Tidak Untuk Seluruh Sahabat.

.
Sunni menganggap perselisihan shahabat   adalah berdasarkan ijtihad. jika benar dapat 2 pahala, jika salah dapat 1 pahala. Apakah semua sahabat memenuhi syarat untuk melakukan ijtihad ? termasuk yang munafik ? Pendapat bahwa jika ijtihad benar dapat 2 pahala, jika salah dapat 1 pahala itu dari manakah (hadis bukan) ?
.
Kemudian apakah bila kesalahan itu menyebabkan dosa besar seperti membunuh sesama muslim dapat ditutupi (impas) dengan pahala yang satunya ?  Doktrin meng`udul`kan setiap sahabat adalah pembelaan terhadap pemberontakan muawiyah dan menilainya bukan nawashib.
.
Anda melarang mengkritik sahabat ?Mungkinkah dalam perang yang memakan lebih dari 1000 orang muslim hanya persoalan ijtihadiyah belaka karena ke dua belah pihak sama-sama benar ?kalian dengan tanpa dasar mengatakan bahwa seluruh sahabat tanpa terkecuali adalah telah mendapat ridha Allah dan mereka puntelah ridha kepada Allah! Omong kosong!!!!!!!
.
Tidak semua sahabat telah diridhai Allah dan meridhai Allah… tidak jarang dari mereka yang dilaknat, dicela dan divonis kemunafikannya. jadi mana buktinya kalau seluruh sahabat itu telah diridhai Allah. Ayat ayat yang akan kamu bawa-bawa tidak mengena, ia bersifat khusus tidak untuk seluruh sahabat.Kalau sahabatnya memang salah menurut Al Qur’an dan Sunah lalu bagaimana? Apa tetap akan dibenarkan?Ada sahabat berbohong kepada Nabi saw. (seperti Walid sahabat kebangaan kaum Wahabi) sehingga Allah menurunkan ayat yang menegasakan kefasikannya, apakah juga mau dibela dan diebenarkan?
.

syiah-lah yang benar2 mengikuti sunnah Nabi saw yaitu berpegang teguh kepada Al-Quran dan Ahlul Baitnya yang suci.Insya Allah para pencinta Rasulullah saw dan keluarganya yang suci akan digabungkan bersama mereka… Amien.