Uncategorized

Shahihkah Atsar Ibnu ‘Abbas : Haramnya Alat Musik Duff ?

 

Sumber : Secondprince

Shahihkah Atsar Ibnu ‘Abbas : Haramnya Alat Musik Duff ?

Terdapat riwayat dari Ibnu ‘Abbaas yang dijadikan hujjah oleh sebagian orang untuk mengharamkan musik.

أخبرنا أبو نصر بن قتادة أنبأ أبو منصور العباس بن الفضل النضروي ثنا أحمد بن نجدة ثنا سعيد بن منصور ثنا أبو عوانة عن عبد الكريم الجزري عن أبي هاشم الكوفي عن بن عباس قال الدف حرام والمعازف حرام والكوبة حرام والمزمار حرام

Telah mengabarkan kepada kami Abu Nashr bin Qatadah yang berkata telah memberitakan kepada kami Abu Manshuur Al ‘Abbas bin Fadhl An Nadhrawiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Najdah yang berkata telah menceritakan kepada kami Sa’iid bin Manshuur yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah dari ‘Abdul Kariim Al Jazariy dari Abi Haasyim Al Kuufiy dari Ibnu ‘Abbaas yang berkata “Duff haram, Al Ma’azif haram, Al Kuubah haram dan seruling haram” [Sunan Al Kubra Baihaqiy 10/222 no 20789]

Riwayat Ibnu ‘Abbaas di atas tidak tsabit, ia mengandung illat [cacat]. Ibnu Hajar menyebutkan dalam Al Mathalib Al ‘Aaliyah no 2193 riwayat tersebut

قَالَ مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ أَبِي هَاشِمٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللّهُ عَنْهُ قَالَ الْكُوبَةُ حَرَامٌ وَالدُّفُّ حَرَامٌ وَالْمَعَازِفُ حَرَامٌ وَالْمَزَامِيرُ حَرَامٌ

Musaddad berkata telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah dari Abi Haasyim dari Ibnu ‘Abbaas [radiallahu ‘anhu] berkata “Al Kuubah haram, duff haram, Al Ma’aazif haram dan seruling haram” [Al Mathalib Al ‘Aaliyah no 2193]

.

.

Terdapat idhthirab pada sanadnya dari sisi Abu Awanah, terkadang ia meriwayatkan dari Abi Haasyim dari Ibnu ‘Abbaas dan terkadang ia meriwayatkan dari Abdul Kariim Al Jazariy dari Abu Haasyim Al Kuufiy dari Ibnu ‘Abbas.

Abu Awanah seorang yang tsiqat tsabit namun ternukil sedikit kelemahan padanya. Ahmad bin Hanbal berkata “Jika Abu Awanah menceritakan hadis dari kitabnya maka ia tsabit dan jika ia menceritakan dari selain kitabnya maka ia pernah melakukan kesalahan”. Abu Hatim berkata “kitabnya shahih dan jika ia menceritakan dari hafalannya maka terdapat banyak kekeliruan dan ia seorang yang shaduq tsiqat” [Al Jarh Wat Ta’dil Ibnu Abi Hatiim 9/40-41 no 173]. Tentu saja kelemahan ini tidak melemahkan Abu Awanah secara mutlak, hanya sebagai qarinah yang menguatkan bahwa idhthirab sanad tersebut kemungkinan besar berasal darinya.

Kemudian cacat lain adalah Abu Haasyim Al Kuufiy. Tidak diketahui dengan pasti siapa dia?. Mereka yang menyatakan shahih atsar Ibnu ‘Abbaas di atas berhujjah bahwa Abu Haasyim yang dimaksud adalah Sa’d Abu Haasyim As Sinjaariy

سعد أبو هاشم السنجاري سمع بن عباس وابن عمر روى عنه خصيف وعبد الكريم

Sa’d Abu Haasyim As Sinjaariy mendengar dari Ibnu ‘Abbaas dan Ibnu ‘Umar dan telah meriwayatkan darinya Khusaif dan ‘Abdul Kariim [Tarikh Al Kabiir Al Bukhariy juz 4 no 1981]

سعد أَبُو هَاشم السنجاري سكن دمشق يرْوى عَن بن عَبَّاس وابْن عمر روى عَنهُ خصيف وعَبْد الْكَرِيم الجزريان

Sa’d Abu Haasyim As Sinjaariy tinggal di Dimasyiq meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbaas dan Ibnu ‘Umar, telah meriwayatkan darinya Khusaif dan ‘Abdul Kariim, keduanya Al Jazariy [Ats Tsiqat 4/296 no 2987]

سعد أبو هاشم السنجارى جزرى روى عن ابن عمر و ابن عباس روى عنه على بن ذيمة وخصيف وعبد الكريم وهلال بن خباب سمعت ابى يقول ذلك. قال أبو محمد وروى عنه اسماعيل بن سالم. حدثنا عبد الرحمن انا أبو بكر بن ابى خيثمة فيما كتب إلى قال سألت يحيى بن معين عن ابى هاشم السنجارى قال اسمه سعد روى عن ابن عمر بصرى ثقة

Sa’d Abu Haasyim As Sinjaariy Jazariy meriwayatkan dari Ibnu ‘Umar dan Ibnu ‘Abbaas, telah meriwayatkan darinya ‘Aliy bin Badziimah, Khusaif, ‘Abdul Kariim dan Hilaal bin Khabaab, aku mendengar ayahku mengatakan demikian. Abu Muhammad mengatakan telah meriwayatkan darinya Isma’iil bin Saalim. Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Khaitsamah dengan kitabnya dimana ia berkata aku bertanya kepada Yahya bin Ma’in tentang Abi Haasyim As Sinjaariy, Ia berkata “namanya Sa’d, telah meriwayatkan dari Ibnu ‘Umar dan dia orang Bashrah yang tsiqat” [Al Jarh Wat Ta’dil Ibnu Abi Hatiim 4/98 no 436]

سعد أبو هاشم السنجاري حدث عن ابن عباس وابن عمر وعنه علي بن بذيمة وخصيف وعبد الكريم الجزري، وهلال بن خباب، وإسماعيل بن سالم وثقه ابن معين وقيل هو بصري نزل سنجار

Sa’d Abu Haasyim As Sinjaariy menceritakan hadis dari Ibnu ‘Abbaas dan Ibnu ‘Umar, telah meriwayatkan darinya Aliy bin Badziimah, Khusaif, ‘Abdul Kariim Al Jazariy, Hilaal bin Khabaab dan Isma’iil bin Saalim, ditsiqatkan Ibnu Ma’in dan dikatakan ia orang Bashrah yang tinggal di Sinjaar [Tarikh Al Islam Adz Dzahabiy 3/53 no 75]

Jika melihat dari perawi yang meriwayatkan dari Abu Haasyim yaitu Abdul Kariim Al Jazariy dan ia meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbaas maka terdapat kemungkinan Abu Haasyim tersebut adalah Sa’d Abu Haasyim As Sinjaariy. Hanya saja Sa’d Abu Haasyim As Sinjaariy tidak dikenal sebagai Abu Haasyim Al Kuufiy. Tidak ada keterangan dalam kitab biografi perawi bahwa ia adalah orang Kufah, justru disebutkan bahwa ia adalah orang Bashrah yang tinggal di Dimasyiq dan Sinjaar. Maka disini juga terdapat kemungkinan bahwa bisa saja Abu Haasyim Al Kuufiy yang dimaksud bukan Abu Haasyim As Sinjaariy.

Dua kemungkinan tersebut sama-sama memiliki qarinah yang menguatkan dan tidak bisa ditarjih maka hujjah mereka yang menshahihkan atsar Ibnu ‘Abbaas masih berdasarkan kemungkinan yang tidak menafikan kemungkinan yang lain.

.

.

Syaikh Al Albaniy dalam kitab Tahrim Alati Ath Tharb hal 92 menyatakan bahwa atsar Ibnu ‘Abbaas di atas kemungkinan sanadnya shahih dan ia menguatkan kemungkinan kalau Abu Haasyim tersebut adalah Abu Haasyim As Sinjaariy


Tahrim Alati Tharb

Tahrim Alati Tharb hal 92

قلت : و هذا إسناد صحيح إن كان ( أبو هاشم الكوفي ) هو ( أبو هاشم السنجاري ) المسمى ( سعدا ) فإنه جزري كعبد الكريم وذكروا أنه روى عنه لكن لم أر من ذكر أنه كوفي وفي ” ثقات ابن حبان ” ( 4 / 296 ) أنه سكن دمشق والله أعلم

Aku [Syaikh Al Albaniy] katakan “sanad ini shahih jika Abu Haasyim Al Kuufiy adalah Abu Haasyim As Sinjaariy yang bernama Sa’d. Ia adalah Al Jazariy sama seperti ‘Abdul Kariim dan disebutkan bahwa ia [Abdul Kariim] telah meriwayatkan darinya tetapi aku tidak melihat ada yang menyebutkan bahwa ia orang kuufah. Dalam Ats Tsiqat Ibnu Hibban 4/296 disebutkan bahwa ia tinggal di Dimasyiq, wallahu a’lam [Tahrim Alati Ath Tharb hal 92]

Sebenarnya pernyataan ini bisa dikatakan sesuatu yang aneh jika diteliti lebih lanjut bagaimana pandangan Syaikh Al Albani terhadap gurunya Al Baihaqi dalam sanad tersebut yaitu Abu Nashr bin Qatadah.

Silsilah Adh Dhaifah juz 8

Silsilah Adh Dhaifah juz 8 hal 337

Syaikh pernah berkomentar tentang suatu hadis dalam kitabnya yang lain, dimana ia berkata

ورجاله ثقات غير شيخ البيهقي أبي نصر بن قتادة فلم أعرفه

Dan para perawinya tsiqat selain gurunya Al Baihaqiy yaitu Abi Nashr bin Qatadah, aku tidak mengenalnya [Silsilah Al ‘Ahaadiits Adh Dhaiifah Syaikh Al Albaniy 8/337]

Kalau Syaikh Al Albaniy tidak mengenal Abu Nashr bin Qatadah maka apa yang membuatnya menyatakan shahih sanad yang di dalamnya ada Abu Nashr bin Qatadah.

Abu Nashr bin Qatadah salah seorang guru Al Baihaqiy memang tidak ditemukan biografinya dalam kitab Rijal tetapi Al Baihaqiy banyak meriwayatkan hadis darinya dan dalam sebagian hadis yang ia riwayatkan telah dinyatakan shahih sanadnya oleh Al Baihaqiy [salah satunya bisa dilihat dalam Sunan Al Kubra Baihaqiy 4/336 no 8458]. Perkataan Baihaqiy “sanadnya shahih” berarti menunjukkan tautsiq terhadap Abu Nashr bin Qatadah.

Selain Syaikh Al Albaniy, Syaikh ‘Abdullah bin Yusuuf Al Judai’ juga menguatkan atsar Ibnu ‘Abbaas ini dengan alasan yang sama bahwa Abu Haasyim tersebut adalah Sa’d Abu Haasyim As Sinjaariy. Adapun penyebutan Al Kuufiy maka Syaikh Al Judai’ menyebutkan bahwa mungkin saja ia pernah tinggal di Kuufah atau berasal dari Kuufah. [Ahaadiits Dzam Al Ghinaa’ Wal Ma’aazif Fii Miizaan hal 151]

Hujjah Syaikh Al Judai’ tersebut tetap berdasarkan pada kemungkinan bahwa Abu Haasyim tersebut adalah Sa’d Abu Haasyim As Sinjaariy. Kemungkinan ini sama kuatnya dengan jika dikatakan Abu Haasyim Al Kuufiy seorang yang majhul tidak ditemukan biografinya dan ia bukan Abu Haasyim As Sinjaariy karena tidak ada keterangan dalam kitab Rijal yang menyebutkan kalau Abu Haasyim As Sinjaariy adalah orang Kuufah. Justru dengan mengumpulkan keterangan tentangnya dalam kitab-kitab Rijal dapat dinyatakan bahwa Abu Haasyim As Sinjaariy adalah orang yang berasal dari Bashrah dan tinggal di Dimasyiq dan Sinjaar.

.

.

Kemudian jika diteliti dengan baik maka matan atsar Ibnu ‘Abbas tersebut mungkar yaitu bertentangan dengan hadis shahih yang mengabarkan bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] membolehkan seseorang memainkan duff di hadapan Beliau.

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا زيد بن الحباب ثنا حسين حدثني عبد الله بن بريدة عن أبيه ان أمة سوداء أتت رسول الله صلى الله عليه و سلم ورجع من بعض مغازيه فقالت انى كنت نذرت ان ردك الله صالحا ان أضرب عندك بالدف قال ان كنت فعلت فافعلي وان كنت لم تفعلي فلا تفعلي فضربت فدخل أبو بكر وهى تضرب ودخل غيره وهى تضرب ثم دخل عمر قال فجعلت دفها خلفها وهى مقنعة فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم ان الشيطان ليفرق منك يا عمر أنا جالس ها هنا ودخل هؤلاء فلما ان دخلت فعلت ما فعلت

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepada kami Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Zaid bin Hubaab yang berkata telah menceritakan kepada kami Husain yang berkata telah menceritakan kepadaku ‘Abdullah bin Buraidah dari Ayahnya bahwasanya seorang budak wanita hitam datang kepada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] ketika Beliau kembali dari sebuah perperangan. Maka Budak itu berkata “sesungguhnya aku pernah bernadzar untuk memukul Duff di dekatmu jika Allah mengembalikanmu dalam keadaan selamat”. Beliau berkata “jika engkau telah bernadzar maka lakukanlah jika tidak maka tidak perlu kau lakukan”. Maka ia memukul duff, kemudian Abu Bakar masuk, ia tetap memukulnya. Masuklah sahabat yang lain maka ia tetap memukulnya kemudian ketika Umar masuk ia menyembunyikan Duff tersebut di balik punggungnya dan ia menutupinya. Maka Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “sesungguhnya setan benar-benar takut kepadamu wahai Umar, aku duduk disini dan mereka masuk, ketika engkau masuk maka ia melakukan apa yang telah ia lakukan tadi” [Musnad Ahmad 5/353 no 23039, Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata “sanadnya kuat”]

.

.

Kesimpulan

Atsar Ibnu ‘Abbaas yang mengatakan haramnya duff dari segi sanad memiliki illat [cacat] yang menjatuhkan sehingga tidak bisa dijadikan hujjah, kemudian dari segi matan hal itu mungkar bertentangan dengan kabar shahih dimana Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] membolehkan menabuh duff.

Takhrij Hadis Haram Al Kuubah : Hadis Yang Dijadikan Hujjah Mengharamkan Musik

Sumber : Secondprince

 

Takhrij Hadis Haram Al Kuubah : Hadis Yang Dijadikan Hujjah Mengharamkan Musik

Pada awal mula berdirinya blog ini, kami pernah menuliskan kajian singkat mengenai hukum Musik termasuk hadis-hadis yang dijadikan hujjah untuk mengharamkan Musik. Diantara hadis-hadis tersebut terdapat hadis yang matannya menyebutkan tentang pengharaman Al Kuubah. Dan Al Kuubah ini dinyatakan oleh sebagian ulama sebagai salah satu alat musik tabuh seperti gendang.

Tulisan ini akan mengkaji lebih dalam mengenai hadis Al Kuubah dan pendapat yang rajih [di sisi penulis] berdasarkan kaidah ilmiah mengenai makna hadis tersebut.

.

.

.

Hadis ‘Abdullah bin ‘Abbaas

حدثنا عبد الله حدثني أبى ثنا أبو أحمد ثنا سفيان عن على بن بذيمة حدثني قيس بن حبتر قال سألت بن عباس عن الجر الأبيض والجر الأخضر والجر الأحمر فقال ان أول من سأل النبي صلى الله عليه و سلم وفد عبد القيس فقالوا انا نصيب من الثفل فأي الاسقية فقال لا تشربوا في الدباء والمزفت والنقير والحنتم واشربوا في الاسقية ثم قال ان الله حرم على أو حرم الخمر والميسر والكوبة وكل مسكر حرام قال سفيان قلت لعلي بن بذيمة ما الكوبة قال الطبل

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad yang berkata telah menceritakan kepada kami Sufyaan dari Aliy bin Badziimah yang berkata telah menceritakan kepadaku Qais bin Habtar yang berkata aku bertanya kepada Ibnu ‘Abbaas tentang Al Jarr [wadah air minum dari tembikar] putih, Al Jarr hijau dan Al Jarr merah. Maka Beliau berkata “sesungguhnya yang pertama kali bertanya kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] tentang hal itu adalah delegasi [utusan] ‘Abdul Qais, mereka berkata “sesungguhnya kami memperoleh peralatan, maka tempat-tempat air mana [yang boleh digunakan]?. Beliau berkata “Janganlah kalian minum dari Ad Dubaa’, Al Muzaffat, An Naqiir dan Al Hantam, tetapi minumlah dari tempat-tempat air, kemudian Beliau berkata “sesungguhnya Allah telah mengharamkan atasku atau telah mengharamkan khamr, judi, Al Kuubah dan setiap yang memabukkan adalah haram. Sufyaan berkata aku bertanya kepada Aliy bin Badziimah, apakah Al Kuubah itu?. Ia berkata “gendang”. [Musnad Ahmad bin Hanbal 1/274 no 2476, Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata “sanadnya shahih”]

Ahmad bin Hanbal juga meriwayatkan hadis di atas dalam kitabnya Al Asyribah hal 79 no 193, Abu Dawud dalam Sunan-nya 2/356 no 3696, Abu Ya’la dalam Musnad-nya 5/114 no 2729, Ibnu Hibban dalam Shahih-nya 12/187 no 5365, Al Baihaqiy dalam Sunan Al Kubra 10/221 no 20780, dan Ibnu Asakir dalam Tarikh-nya 41/273-274 semuanya dengan jalan sanad Abu Ahmad Az Zubairiy dari Sufyaan dari Aliy bin Badziimah dari Qais bin Habtar dari Ibnu ‘Abbas dengan matan yang menyebutkan lafaz haram Al Kuubah. Adapun Ath Thahawiy juga menyebutkan hadis ini dalam kitabnya Syarh Ma’aaniy Al Atsaar 4/223 no 6487 dengan sanad yang sama tetapi tanpa menyebutkan lafaz haram Al Kuubah.

Abu Ahmad Az Zubairiy dalam periwayatan dari Sufyaan memiliki mutaba’ah dari Qabiishah bin ‘Uqbah sebagaimana yang disebutkan Muhammad bin Aslam Ath Thuusiy dalam Al Arba’iin hal 99 no 39 dan Ibnu Muqriy dalam Mu’jam-nya hal 375 no 1257.

حَدَّثَنَا قَبِيصَةُ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ عَنْ عَلِيِّ بْنِ بَذِيمَةَ عَنْ قَيْسِ بْنِ حَبْتَرٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حَرَّمَ الْخَمْرَ وَالْمَيْسِرَ وَالْكُوبَةَ يَعْنِي الطَّبْلَ وَكُلُّ مُسْكِرٍ حَرَامٌ

Telah menceritakan kepada kami Qabiishah yang berkata telah menceritakan kepada kami Sufyaan Ats Tsawriy dari Aliy bin Badziimah dari Qais bin Habtar dari ‘Ibnu ‘Abbaas dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang berkata “Sesungguhnya Allah ‘azza wajalla telah mengharamkan khamar, judi, Al Kuubah yaitu gendang dan semua yang memabukkan adalah haram. [Al Arba’iin Muhammad bin Aslam Ath Thuusiy hal 99 no 39]

Sedikit catatan mengenai hadis Qabiishah di atas yaitu lafaz “ya’niy Ath Thabl” setelah lafaz Al Kuubah bukanlah bagian dari lafaz hadis Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tetapi ia adalah perkataan Ali bin Badziimah sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat Abu Ahmad Az Zubairiy dari Sufyaan. Jadi telah terjadi idraaj dalam matan hadisnya.

Al Bazzaar meriwayatkan hadis Qabiishah dari Sufyaan dengan sanad dan matan berikut

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُمَارَةَ بْنِ صُبَيْحٍ ثنا قَبِيصَةُ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ عَبْدِ الْكَرِيمِ عَنْ قَيْسِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ حَرَّمَ الْمَيْتَةَ وَالْمَيْسِرَ وَالْكُوبَةَ يَعْنِي الطَّبْلَ وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ كُلُّ مُسْكِرٍ حَرَامٌ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Umarah bin Shubaih yang berkata telah menceritakan kepada kami Qabiishah dari Sufyaan dari ‘Abdul Kariim dari Qais bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas dari Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] bahwasanya Beliau mengharamkan bangkai, judi, Al Kuubah yaitu gendang dan Ibnu ‘Abbas berkata “segala yang memabukkan adalah haram” [Kasyf Al Asytaar 3/349 no 2913]

Hadis riwayat Al Bazzar ini tidak mahfuuzh karena Muhammad bin ‘Umarah bin Shubaih telah menyelisihi Muhammad bin Aslam Ath Thuusiy dalam riwayat dari Sufyaan. Muhammad bin ‘Umaarah bin Shubaih disebutkan Ibnu Hibban dalam Ats Tsiqat [Ats Tsiqat Ibnu Hibban 9/112 no 15474] telah meriwayatkan darinya sekumpulan perawi tsiqat seperti Ahmad bin ‘Amru Al Bazzaar, Abdullah bin Muhammad bin Naajiyah, Ibnu Abi Dunyaa dan yang lainnya [Mu’jam Syuyuukh Ath Thabariy no 302]. Maka ia seorang yang shaduq hasanul hadis hanya saja ia telah menyelisihi Muhammad bin Aslam Ath Thuusiy seorang yang dikatakan Abu Hatim tsiqat dan Abu Zur’ah berkata “tsiqat” [Al Jarh Wat Ta’dil 7/201 no 1129]. Maka riwayat Qabiishah yang tsabit adalah dari Sufyaan dari Aliy bin Badziimah dari Qais bin Habtar dari Ibnu ‘Abbas.

Sufyaan Ats Tsawriy dalam periwayatan dari Aliy bin Badziimah memiliki mutaba’ah dari

  1. Israiil bin Yunuus sebagaimana disebutkan oleh Ath Thabraniy dalam Mu’jam Al Kabiir 12/101 no 12598 dan Al Baihaqiy dalam Sunan Al Kubra 8/303 no 17208 dengan matan yang menyebutkan idraaj lafaz Ath Thabl setelah lafaz Al Kuubah.
  2. Qais bin Rabii’ sebagaimana disebutkan Ath Thabraniy dalam Mu’jam Al Kabiir 12/102 no 12599 dengan sanad dari Muhammad bin ‘Abdullah Al Hadhramiy dari Abu Bilal Al Asy’ariy dari Qais bin Rabii’. Hanya saja sanad ini tidak tsabit sebagai mutaba’ah karena Abu Bilal Al Asy’ariy seorang yang dhaif sebagaimana dikatakan Ad Daruquthniy [Sunan Daruquthniy 1/220 no 71]
  3. Muusa bin A’yaan sebagaimana disebutkan Ath Thabraniy dalam Mu’jam Al Kabir 12/102 no 12600 dengan jalan sanad Muusa bin A’yaan dari Aliy bin Badziimah dari Sa’iid bin Jubair dari Qais bin Habtar dari Ibnu ‘Abbas dengan matan hanya berupa lafaz “semua yang memabukkan adalah haram” tanpa menyebutkan Al Kuubah.

Sanad yang mahfuzh adalah riwayat Sufyaan dan Isra’iil dari Aliy bin Badziimah dari Qais bin Habtar dari Ibnu ‘Abbaas [tanpa menyebutkan Sa’iid bin Jubair]. Adapun periwayatan Muusa bin A’yaan yang menambahkan Sa’iid bin Jubair antara Aliy bin Badziimah dan Qais bin Habtar mengandung illat [cacat] sebagaimana disebutkan Al Mizziy dalam Tuhfatul Asyraf 4/657-658 no 6333. Al Mizziy membawakan riwayat yang menjadi bukti idhthirab Muusa bin A’yaan dan menukil dari Al Khatib yang mengatakan kalau Muusa bin A’yaan telah tercampur dalam hadis ini dan yang shahih adalah apa yang diriwayatkan Sufyaan dari Aliy bin Badziimah.

Aliy bin Badziimah dalam periwayatan dari Qais bin Habtar memiliki mutaba’ah dari ‘Abdul Kariim bin Maliik Al Jazariy seperti nampak dalam riwayat berikut

حدثنا عبد الله حدثني أبى قال ثنا أحمد بن عبد الملك وعبد الجبار بن محمد قالا ثنا عبيد الله يعنى بن عمرو عن عبد الكريم عن قيس بن حبتر عن بن عباس عن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال ان الله حرم عليكم الخمر والميسر والكوبة وقال كل مسكر حرام

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Ahmad bin ‘Abdul Malik dan ‘Abdul Jabbaar bin Muhammad, keduanya berkata telah mencritakan kepada kami Ubaidillah yakni bin ‘Amru dari ‘Abdul Kariim dari Qais bin Habtar dari Ibnu ‘Abbas dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang berkata Sesungguhnya Allah telah mengharamkan khamar, judi, Al Kuubah dan semua yang memabukkan adalah haram [Musnad Ahmad bin Hanbal 1/289 no 2625, Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata “sanadnya shahih”]

Ahmad bin ‘Abdul Malik dan ‘Abdul Jabbaar bin Muhammad dalam periwayatan dari Ubaidillah bin ‘Amru memiliki mutaba’ah dari

  1. Zakaria bin ‘Adiy sebagaimana disebutkan Ahmad bin Hanbal dalam Musnad-nya 1/350 no 3274 dan dalam kitabnya Al Asyribah hal 35 no 14
  2. ‘Aliy bin Ma’bad sebagaimana disebutkan Ath Thahawiy dalam Syarh Ma’aaniy Al Atsaar 4/216 no 6445
  3. Jandal bin Waaliq sebagaimana disebutkan Al Baihaqiy dalam Sunan Al Kubra 10/213 no 20732
  4. Yahya bin Yuusuf Az Zammiy sebagaimana disebutkan Al Baihaqiy dalam Sunan Al Kubra 10/221 no 20779 dan Kitabnya Al Adaab hal 423 no 923

Yahya bin Yuusuf Az Zammiy meriwayatkan dari Ubaidillah bin ‘Amru hadis tersebut dengan lafaz berikut

أخبرنا أبو الحسين بن بشران أنبأ الحسين بن صفوان ثنا عبد الله بن محمد بن أبي الدنيا ثنا يحيى بن يوسف الزمي ثنا عبيد الله بن عمرو عن عبد الكريم هو الجزري عن قيس بن حبتر عن بن عباس عن النبي صلى الله عليه و سلم قال إن الله تبارك وتعالى حرم عليكم الخمر والميسر والكوبة وهو الطبل وقال كل مسكر حرام

Telah mengabarkan kepada kami Abu Husain bin Busyraan yang berkata telah memberitakan kepada kami Husain bin Shafwaaan yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Muhammad bin Abi Dunyaa yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yuusuf Az Zammiy yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidillah bin ‘Amru dari ‘Abdul Kariim, ia Al Jazariy dari Qais bin Habtar dari Ibnu ‘Abbas dari Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang berkata Allah tabaraka wata’ala telah mengharamkan khamar, judi, Al Kuubah dan ia adalah gendang dan berkata “segala yang memabukkan adalah haram” [Sunan Al Kubra Al Baihaqiy 10/221 no 20779]

Riwayat di atas mengandung illat [cacat] pada matan “wa huwa ath thabl” setelah lafaz Al Kuubah. Yahya bin Yusuf Az Zammiy adalah seorang yang tsiqat [Taqrib At Tahdzib 2/319] tetapi dengan lafaz itu ia telah menyelisihi lima perawi tsiqat shaduq yang meriwayatkan dari Ubaidillah bin ‘Amru Ar Raqiy tanpa menyebutkan lafaz tersebut. Mereka adalah

  1. Zakaria bin Adiy seorang yang tsiqat jaliil hafizh [Taqrib At Tahdzib 1/313]
  2. Aliy bin Ma’bad Ar Raqiy seorang yang tsiqat faqiih [Taqrib At Tahdzib 1/703]
  3. Ahmad bin ‘Abdul Malik Al Asdiy seorang yang tsiqat, telah membicarakan tentangnya tanpa hujjah [Taqrib At Tahdzib 1/40]
  4. ‘Abdul Jabbaar bin Muhammad Al Khaththaabiy seorang yang jaliil, dan Abu Aruubah telah memujinya dengan kebaikan [Su’alat Hamzah As Sahmiy no 328]
  5. Jandal bin Waaliq seorang yang shaduq pernah melakukan kekeliruan dan kesalahan [Taqrib At Tahdzib 1/167].

Oleh karena itu tambahan lafaz “wa huwa ath thabl” tidaklah tsabit sebagai perkataan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] karena illat [cacat] tafarrud Yahya bin Yusuf yang menyelisihi riwayat jama’ah bahkan diantaranya terdapat perawi yang lebih tsiqat dan hafizh darinya.

Ubaidillah bin ‘Amru Ar Raqiy adalah perawi yang tsiqat faqih dan pernah melakukan kesalahan [Taqrib At Tahdzib 1/637] dan dalam periwayatan dari ‘Abdul Kariim Al Jazariy, ia memiliki mutaba’ah dari Ma’qil bin ‘Ubaidillah perawi yang shaduq sering keliru [Taqrib At Tahdzib 2/201] dalam penyebutan lafaz haram Al Kuubah, yaitu hadis berikut

حدثنا أحمد بن النضر العسكري ثنا سعيدبن حفص النفيلي قال قرأنا على معقل بن عبيد الله عن عبد الكريم عن قيس بن حبتر الربعي عن عبد الله بن عباس قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم ثمن الخمر حرام ومهر البغي حرام وثمن الكلب حرام والكوية حرام وإن أتاك صاحب الكلب يلتمس ثمنه فأملأ يديه ترابا والخمر والميسر وكل مسكر حرام

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Nadhr Al ‘Askariy yang berkata telah menceritakan kepada kami Sa’iid bin Hafsh An Nufailiy yang berkata kami membacakan kepada Ma’qil bin ‘Ubaidillah dari ‘Abdul Kariim dari Qais bin Habtar Ar Rib’iy dari ‘Abdullah bin ‘Abbaas yang berkata Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “hasil penjualan khamar haram, hasil melacur haram, hasil penjualan anjing haram, Al Kuubah haram, dan jika datang kepadamu pemilik anjing meminta hasil penjualan anjingnya maka ia telah memenuhi kedua tangannya dengan tanah, khamar, judi dan segala yang memabukkan adalah haram [Mu’jam Al Kabir Ath Thabraniy 12/102 no 12601]

Ahmad bin Nadhr Al ‘Askariy disebutkan Ibnu Munadiy bahwa ia termasuk orang yang tsiqat [Tarikh Baghdad 6/413-315 no 2905]. Sa’id bin Hafsh An Nufailiy adalah seorang yang shaduq tetapi berubah hafalannya di akhir umurnya [Taqrib At Tahdzib 1/350]. Sa’iid bin Hafsh An Nufailiy dalam periwayatannya dari Ma’qil bin Ubaidillah memiliki mutaba’ah dari Muhammad bin Yaziid bin Sinan Al Jazariy sebagaimana disebutkan Daruquthniy dalam Sunan-nya 3/7 no 19.

Qais bin Habtar dalam periwayatan dari Ibnu ‘Abbas memiliki mutaba’ah dari Syaibah bin Musaawir sebagaimana disebutkan Ath Thabraniy dalam Mu’jam Al Awsath

حدثنا محمد بن أبان نا إسحاق بن وهب ثنا حفص بن عمر الإمام ثنا هشام الدستوائي عن عباد بن أبي علي عن شيبة بن المساور عن بن عباس أن النبي صلى الله عليه و سلم حرم ستة الخمر والميسر والمعازف والمزامير والدف والكوبة

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abaan yang berkata telah menceritakan kepada kami Ishaaq bin Wahb yang berkata telah menceritakan kepada kami Hafsh bin ‘Umar Al Imaam yang berkata telah menceritakan kepada kami Hisyaam Ad Dustuwa’iy dari ‘Abbaad bin Abi ‘Aliy dari Syaibah bin Musaawir dari Ibnu ‘Abbaas bahwa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengharamkan enam hal yaitu khamar, judi, al ma’azif, seruling, duff dan Al Kuubah [Mu’jam Al Awsath 7/241 no 7388]

Riwayat Ath Thabraniy di atas sanadnya dhaif sehingga tidak bisa dijadikan penguat dengan alasan sebagai berikut

  1. Hafsh bin ‘Umar Al Imam adalah perawi yang dhaif [Taqrib At Tahdzib 1/228].
  2. ‘Abbad bin Abi ‘Aliy tidak dikenal kredibilitasnya, Adz Dzahabiy menyebutkan bahwa ia meriwayatkan hadis mungkar dan Ibnu Qaththan berkata “tidak tsabit ‘adalah-nya” [Mizan Al I’tidal Adz Dzahabiy 4/32-33 no 4135]
  3. Syaibah bin Musaawir disebutkan Ibnu Hajar yang menukil dari Ibnu Ma’in [riwayat Ad Duuriy] bahwa ia tsiqat. Dan Ibnu Hajar menyatakan bahwa riwayatnya dari Ibnu ‘Abbas mursal [Ta’jil Al Manfa’ah 1/646-647 no 461]. Tautsiq Ibnu Ma’in yang dinukil Ibnu Hajar tersebut keliru, dalam Tarikh Ad Duuriy no 4959 Yahya bin Ma’in menyebutkan tentang Syaibah bin Musaawir tetapi tidak menyebutkan tautsiq terhadapnya.

Kembali pada riwayat Aliy bin Badziimah yang dikeluarkan Ahmad bin Hanbal di atas, riwayat tersebut sanadnya shahih para perawinya tsiqat.

  1. Abu Ahmad Az Zubairiy gurunya Ahmad bin Hanbal adalah seorang yang tsiqat tsabit hanya saja sering keliru dalam riwayat Sufyaan Ats Tsawriy [Taqrib At Tahdzib 2/95]. Ia memiliki mutaba’ah dari Qabiishah bin ‘Uqbah seorang yang shaduq terkadang keliru [Taqrib At Tahdzib 2/26]
  2. Sufyan Ats Tsawriy seorang yang tsiqat hafizh faqiih ahli ibadah imam hujjah termasuk pemimpin thabaqat ketujuh, dituduh melakukan tadlis [Taqrib At Tahdzib 1/371]. Ia memiliki mutaba’ah dari Israil bin Yunus seorang yang tsiqat dan ada yang membicarakan tentangnya tanpa hujjah [Taqrib At Tahdzib 1/88]
  3. Aliy bin Badziimah seorang yang tsiqat dan dikatakan tasyayyu’ [Taqrib At Tahdzib 1/688]. Ia memiliki mutaba’ah dari ‘Abdul Kariim bin Malik Al Jazariy seorang yang tsiqat mutqin [Taqrib At Tahdzib 1/611]
  4. Qais bin Habtar yang meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas adalah seorang yang tsiqat [Taqrib At Tahdzib 2/32]

Kesimpulannya hadis ‘Abdullah bin ‘Abbas mengenai pengharaman Al Kuubah memiliki sanad yang shahih. Riwayat ‘Abdullah bin ‘Abbas [radiallahu ‘anahu] memiliki syahid [penguat] dari riwayat ‘Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash [radiallahu ‘anhu] dan Riwayat Qais bin Sa’ad [radiallahu ‘anhu].

.

.

.

Hadis ‘Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ قَال حَدَّثَنَا الضَّحَّاكُ بْنُ مَخْلَدٍ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْحَمِيدِ بْنُ جَعْفَرٍ قَالَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ أَبِي حَبِيبٍ عَنْ عَمْرِو بْنِ الْوَلِيدِ بْنِ عَبْدَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حَرَّمَ الْخَمْرَ وَالْمَيْسِرَ وَالْكُوبَةَ وَالْغُبَيْرَاء

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Hanbal yang berkata telah menceritakan kepada kami Adh Dhahhaak bin Makhlad yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Hamiid bin Ja’far yang berkata telah menceritakan kepada kami Yaziid bin Abi Habiib dari ‘Amru bin Al Waliid bin ‘Abdah dari ‘Abdullah bin ‘Amru yang berkata aku mendengar Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengatakan Sesungguhnya Allah ‘azza wajalla telah mengharamkan khamar, judi, Al Kuubah dan Al Ghubairaa’ [Al Asyribah Ahmad bin Hanbal no 207]

Hadis ‘Abdullah bin ‘Amru [radiallahu ‘anhu] di atas juga disebutkan Ahmad bin Hanbal dalam Musnad-nya 2/171 no 6591, Al Baihaqiy dalam Sunan-nya 10/221 no 20782. Ya’qub bin Sufyaan dalam Ma’rifat Wal Tarikh 2/519, biografi Walid bin ‘Abdah dan Ibnu Abdil Barr dalam At Tamhiid 1/247-248 dan At Tamhiid 5/167. Semuanya dengan jalan sanad ‘Abdul Hamiid bin Ja’far dari Yaziid bin Abi Habiib dari ‘Amru bin Waliid bin ‘Abdah dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin Ash.

‘Abdul Hamiid bin Ja’far dalam periwayatan dari Yaziid bin Abi Habiib memiliki mutaba’ah dari

  1. Laits bin Sa’ad sebagaimana disebutkan Ibnu Wahb dengan lafaz sanad ‘Amru bin Waliid berkata telah disampaikan kepadaku dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin Ash [Al Muwatta Ibnu Wahb no 75 dan Sunan Baihaqiy 10/222 no 20784]
  2. ‘Abdullah bin Lahii’ah sebagaimana disebutkan Ibnu Wahb dengan lafaz sanad ‘Amru bin Waliid berkata telah disampaikan kepadaku dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin Ash dan matan yang mengandung tambahan lafaz pengharaman Al Qinniin [Al Muwatta Ibnu Wahb no 75 dan Sunan Baihaqiy 10/222 no 20784]. Ahmad bin Hanbal juga menyebutkan riwayat Yahya bin Ishaaq dari Ibnu Lahii’ah dari Yazid dari ‘Amru bin Walid dengan lafaz ‘an anah dari ‘Abdullah bin ‘Amru dengan matan tanpa menyebutkan lafaz Al Qiniin [Musnad Ahmad bin Hanbal 2/158 no 6478]
  3. Muhammad bin Ishaaq, telah meriwayatkan darinya tiga perawi yaitu pertama Hammaad bin Salamah sebagaimana yang disebutkan Abu Dawud dalam Sunan-nya 2/353 no 3685, Ath Thahaawiy dalam Syarh Ma’aaniy Al Atsar 4/217 no 6451, Ya’qub bin Sufyaan dalam Ma’rifat Wal Tarikh 2/518, Al Baihaqiy dalam Sunan Al Kubra 10/221 20781. Kedua Muhammad bin Salamah Al Harraaniy sebagaimana disebutkan Al Bazzaar dalam Al Bahr Az Zukhaar 6/424-425 no 2454. Kedua perawi ini [Hammad dan Muhammad bin Salamah] meriwayatkan dengan jalan sanad dari Ibnu Ishaq dari Yaziid bin Abi Habiib dari Walid bin ‘Abdah dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash. Ketiga adalah Yaziid bin Haruun sebagaimana disebutkan Abu Ubaid Qaasim bin Salaam dalam Ghariib Al Hadiits 5/304 dengan jalan sanad dari Ibnu Ishaaq dari Yaziid bin Abi Habiib dari ‘Abdullah bin ‘Amru [tanpa menyebutkan ‘Amru bin Waliid bin ‘Abdah atau ‘Waliid bin ‘Abdah].

Dari ketiga mutaba’ah tersebut hanya Laits bin Sa’ad yang tsabit sebagai penguat bagi ‘Abdul Hamiid bin Ja’far. Adapun riwayat Muhammad bin Ishaaq tidak mahfuzh dengan alasan sebagai berikut

  1. Adanya idhthirab pada riwayat Muhammad bin Ishaaq yaitu terkadang ia menyebutkan dari Yazid dari Waliid bin ‘Abdah dari Abdullah bin ‘Amru dan terkadang menyebutkan dari Yazid dari ‘Abdullah bin ‘Amru [tanpa menyebutkan Waliid bin ‘Abdah].
  2. Semua riwayat Muhammad bin Ishaaq, ia riwayatkan dengan lafaz ‘an anah padahal ia masyhur melakukan tadlis dari perawi dhaif dan majhul sehingga Ibnu Hajar memasukkan namanya dalam mudallis martabat keempat [Thabaqat Al Mudallisin hal 51 no 125]
  3. Muhammad bin Ishaaq telah menyelisihi riwayat Laits bin Sa’ad dan ‘Abdul Hamiid bin Ja’far dimana Muhammad bin Ishaaq menyebutkan orang yang meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amru adalah Waliid bin ‘Abdah. Sedangkan kedua perawi tsiqat yaitu Laits dan ‘Abdul Hamiid [yang lebih tsiqat dari Ibnu Ishaaq] menyebutkan dengan nama ‘Amru bin Walid bin ‘Abdah.

Sedangkan riwayat Abdullah bin Lahii’ah terdapat pembicaraan tentangnya karena mengandung illat [cacat] yang tersembunyi yaitu idhthirab pada sisi Ibnu Lahii’ah. Terkadang ia meriwayatkan dengan sanad berikut

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا يحيى ثنا بن لهيعة عن عبد الله بن هبيرة عن أبي هبيرة الكلاعي عن عبد الله بن عمرو بن العاصي قال خرج علينا رسول الله صلى الله عليه و سلم يوما فقال ان ربي حرم على الخمر والميسر والمزر والكوبة والقنين

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahii’ah dari ‘Abdullah bin Hubairah dari Abi Hubairah Al Kalaa’iy dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin Ash yang berkata Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] keluar menemui kami pada suatu hari maka Beliau berkata “sesungguhnya Rabb-ku telah mengharamkan khamar, judi, mizr, Al Kuubah dan Al Qinniin” [Musnad Ahmad 2/172 no 6608]

حديث ابن لهيعة عن ابن هبيرة عن أبي هبيرة الكحلاني مولى لعبدالله بن عمرو عن عبدالله بن عمرو أن رسول الله {صلى الله عليه وسلم} خرج إليهم ذات يوم في المسجد فقال إن ربي حرم علي الخمر والميسر والمزر والكوبة والقنين حدثناه طلق بن السمح اللخمي

Hadiist Ibnu Lahii’ah dari Ibnu Hubairah dari Abi Hubairah Al Kahlaaniy maula ‘Abdullah bin ‘Amru dari ‘Abdullah bin ‘Amru bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] keluar menemui mereka pada suatu hari di dalam masjid, maka Beliau berkata “sesungguhnya Rabb-ku mengharamkan atasku khamar, judi, mizr, Al Kuubah dan Al Qinniin. Telah menceritakan kepada kami Thalq bin As Samh Al Lakhmiy [Futuuh Mishr Wa Akhbaruha, Ibnu Abdul Hakam hal 169]

أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ أنَا ابْنُ وَهْبٍ قَالَ أَخْبَرَنِي ابْنُ لَهِيعَةَ  عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ هُبَيْرَةَ عَنْ أَبِي هُبَيْرَةَ الْكَحْلَانِيِّ عَنْ مَوْلَى لِعَبْدِ اللَّهِ بْن عَمْرٍو عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ إِلَيْهِمْ ذَاتَ يَوْمٍ وَهُمْ فِي الْمَسْجِدِ فَقَالَ إِنَّ رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ حَرَّمَ عَلَيَّ الْخَمْرَ والْمَيْسِرَ وَالْكُوبَةَ والْقِنِّينَ وَالْكُوبَةُ الطَّبْلُ

Telah mengabarkan kepada kami Muhammad yang berkata telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb kepadaku Ibnu Lahii’ah dari ‘Abdullah bin Hubairah dari Abu Hubairah Al Kahlaaniy dari Maula ‘Abdullah bin ‘Amru dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] keluar menemui mereka pada suatu hari dan mereka ada di dalam masjid, maka Beliau berkata “sesungguhnya Rabb-ku ‘azza wajalla telah mengharamkan khamar, judi, Al Kuubah dan Al Qinniin, Al Kuubah adalah gendang [Al Muwatta Ibnu Wahb no 74]

Riwayat Ibnu Wahb di atas juga disebutkan Al Baihaqiy dalam Sunan Al Kubra 10/222 no 20783 dengan jalan sanad dari Ibnu Wahb dari Ibnu Lahii’ah dari ‘Abdullah bin Hubairah dari Abi Hurairah atau Hubairah Al ‘Ajlaaniy dari maula ‘Abdullah bin ‘Amru dari Abdullah bin ‘Amru secara marfu’.

Abdullah bin Lahii’ah adalah perawi yang shaduq hanya saja setelah kitabnya terbakar maka hafalannya berubah dan kedudukannya menjadi dhaif. Yahya yang dimaksud dalam riwayat Ahmad adalah Yahya bin Ishaaq As Sailahiiniy dan ia disebutkan Ibnu Hajar termasuk sahabat Ibnu Lahii’ah yang terdahulu [Tahdzib At Tahdzib juz 2 no 729 biografi Hafsh bin Haasyim]. Dan Ibnu Wahb juga termasuk yang mendengar Abdullah bin Lahii’ah sebelum ikhtilath, sehingga dikatakan bahwa riwayatnya dari Abdullah bin Lahii’ah adalah shahih [Tahrir Taqrib At Tahdzib no 3563].

Thalq bin As Samh disebutkan Adz Dzahabiy bahwa Abu Hatim berkata “Syaikh Mesir tidak dikenal” dan berkata selainnya “tempat kejujuran, insya Allah” [Mizan Al I’tidal 3/472 no 4030]. Di saat lain Adz Dzahabiy berkata “ada kelemahan padanya” [Diwan Adh Dhu’afa no 2023]. Ibnu Hajar berkata “maqbul” [Taqrib At Tahdzib 1/453]. Dan tidak diketahui apakah ia meriwayatkan dari ‘Abdullah bin Lahii’ah sebelum atau sesudah kitabnya terbakar.

Secara ringkas berikut sanad hadis ‘Abdullah bin ‘Amru tentang pengharaman Al Kuubah yang diriwayatkan Abdullah bin Lahii’ah

  1. ‘Abdullah bin Lahii’ah dari Yazid bin Abi Habiib dari ‘Amru bin Waliid dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash
  2. ‘Abdullah bin Lahii’ah dari ‘Abdullah bin Hubairah dari Abu Hubairah Al Kalaa’iy dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash
  3. ‘Abdullah bin Lahii’ah dari ‘Abdullah bin Hubairah dari Abu Hubairah dari Maula ‘Abdullah bin ‘Amru dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash

Ketiga sanad ini diriwayatkan oleh perawi-perawi yang mendengar dari Ibnu Lahii’ah sebelum ia mengalami ikhtilath [sebelum kitabnya terbakar] maka tidak bisa dinyatakan riwayat mana yang lebih rajih. Hal ini berarti menunjukkan adanya idhthirab dan nampak bahwa idhthirab tersebut berasal dari ‘Abdullah bin Lahii’ah.

Jika dikatakan bahwa sanad pertama yaitu dari Yazid dari ‘Amru bin Waliid lebih rajih karena dikuatkan oleh riwayat Laits bin Sa’ad maka ini bisa jadi benar, hanya saja perlu diperhatikan bahwa tidak semua matan riwayat ‘Abdullah bin Lahii’ah sama dengan matan riwayat Laits bin Sa’ad. Matan pengharaman lafaz Al Qinniin yang ada pada riwayat Ibnu Lahii’ah tidak terdapat pada riwayat Laits bin Sa’ad maka kedudukannya tidak mafuuzh.

‘Amru bin Waliid dalam periwayatan dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin Ash memiliki mutaba’ah dari ‘Abdurrahman bin Raafi’ At Tanuukhiy, sebagaimana riwayat berikut

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا يزيد أنا فرج بن فضالة عن إبراهيم بن عبد الرحمن بن رافع عن أبيه عن عبد الله بن عمرو قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم ان الله حرم على أمتي الخمر والميسر والمزر والكوبة والقنين وزادني صلاة الوتر قال يزيد القنين البرابط

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepada kami Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Yaziid yang berkata telah menceritakan kepada kami Faraj bin Fadhalah dari Ibrahim bin ‘Abdurrahman bin Raafi’ dari Ayahnya dari ‘Abdullah bin ‘Amru yang berkata Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas umatku khamar, judi, mizr, Al Kuubah, Al Qinniin dan menambahkan kepadaku shalat witir. Yazid berkata “Al Qinniin adalah gitar [Musnad Ahmad 2/165 no 6547]

Ahmad bin Hanbal juga menyebutkan hadis ini dalam Musnad-nya 2/167 no 6564 dan Al Asyribah hal 84 no 214. Riwayat ini sanadnya dhaif karena

  1. Faraj bin Fadhalah seorang yang dhaif [Taqrib At Tahdzib 2/8]
  2. Ibrahim bin ‘Abdurrahman bin Rafi’ seorang yang majhul [Ta’jil Al Manfa’ah no 15]
  3. Abdurrahman bin Rafi’ At Tanuukhiy seorang yang dhaif [Taqrib At Tahdzib 1/568]

Sejauh ini dapat disimpulkan bahwa sanad yang tsabit adalah riwayat Abdul Hamiid bin Ja’far dan Laits bin Sa’ad yang bermuara pada Yazid bin Abi Habiib dari ‘Amru bin Waliid bin ‘Abdah dari ‘Abdullah bin ‘Amru. Para perawinya tsiqat hanya saja terdapat illat [cacat] dengan memperhatikan kedua riwayat

  1. Riwayat Abdul Hamiid menyebutkan ‘Amru bin Walid meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amru dengan lafaz ‘an anah
  2. Riwayat Laits bin Sa’ad menyebutkan ‘Amru bin Walid meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amru dengan lafaz “telah sampai kepadaku dari”

Jika ditarjih maka riwayat Laits bin Sa’ad lebih rajih karena ia seorang yang tsiqat tsabit faqiih imam masyhur [Taqrib At Tahdzib 2/48] sedangkan ‘Abdul Hamiid bin Ja’far seorang yang shaduq dituduh berpehaman qadariy dan pernah melakukan kesalahan [Taqrib At Tahdzib 1/554]. Dan jika digabungkan maka menunjukkan bahwa lafaz ‘an anah pada riwayat Abdul Hamiid adalah mursal sebagaimana ditunjukkan oleh riwayat Laits bin Sa’ad. Kesimpulannya hadis ‘Abdullah bin ‘Amru bin Ash di atas ma’lul [cacat] karena mursal.

.

.

.

Hadis Qais bin Sa’ad Al Anshariy

‘Abdullah bin Wahb menyebutkan hadis Qais bin Sa’ad setelah ia menyebutkan hadis Abdullah bin Lahii’ah dari Ibnu Hubairah. Berikut hadis lengkapnya

وأخبرنا أبو زكريا بن أبي إسحاق المزكي وأبو بكر أحمد بن الحسن القاضي قالا ثنا أبو العباس محمد بن يعقوب أنبأ محمد بن عبد الله بن عبد الحكم أنبأ بن وهب أخبرني بن لهيعة عن عبد الله بن هبيرة عن أبي هريرة أو هبيرة العجلاني عن مولى لعبد الله بن عمرو عن عبد الله بن عمرو بن العاص أن رسول الله صلى الله عليه و سلم خرج إليهم ذات يوم وهم في المسجد فقال إن ربي حرم علي الخمر والميسر والكوبة والقنين والكوبة الطبل قال وأنبأ بن وهب أخبرني الليث بن سعد وبن لهيعة عن يزيد بن أبي حبيب عن عمرو بن الوليد بن عبدة عن قيس بن سعد وكان صاحب راية النبي صلى الله عليه و سلم أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال ذلك قال والغبيراء وكل مسكر حرام قال عمرو بن الوليد وبلغني عن عبد الله بن عمرو بن العاص مثله ولم يذكر الليث القنين

Dan telah mengabarkan kepada kami Abu Zakaria bin Abi Ishaaq Al Muzakkiy dan Abu Bakar Ahmad bin Hasan Al Qaadhiy, keduanya berkata telah menceritakan kepada kami Abul ‘Abbaas Muhammad bin Ya’qub yang berkata telah memberitakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Abdul Hakam yang berkata telah memberitakan kepada kami Ibnu Wahb yang berkata telah mengabarkan kepadaku Ibnu Lahii’ah dari ‘Abdullah bin Hubairah dari Abi Hurairah atau Hubairah Al ‘Ajlaaniy dari maula ‘Abdullah bin ‘Amru dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin Ash bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] keluar menemui mereka pada suatu hari dan mereka ada di dalam masjid, Beliau berkata “sesungguhnya Rabb-ku mengharamkan atasku khamr, judi, Al Kubbah dan Al Qinniin, dan Al Kuubah adalah gendang, telah memberitakan kepada kami Ibnu Wahb yang berkata telah mengabarkan kepadaku Laits bin Sa’ad dan Ibnu Lahii’ah dari Yaziid bin Abi Habiib dari ‘Amru bin Waliid bin ‘Abdah dari Qais bin Sa’ad dan ia sahabat yang pernah melihat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengatakan demikian mengatakan “dan ghubairaa’ dan segala yang memabukkan adalah haram”. ‘Amru bin Walid bin ‘Abdah berkata “dan telah sampai kepadaku dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin Ash seperti itu”. Dan Laits tidak menyebutkan Al Qinniin. [Sunan Al Kubra Baihaqiy 10/222 no 20783-20784]

Riwayat di atas juga disebutkan dalam Al Muwatta Ibnu Wahb hal 46 no 74-75. Ibnu ‘Abdul Hakam meriwayatkan dari Ayahnya dari Ibnu Lahii’ah hadis Qais bin Sa’ad di atas sebagai berikut

حديث ابن لهيعة عن يزيد بن أبي حبيب عن عمرو بن الوليد بن عبدة عن قيس بن سعد أن رسول الله {صلى الله عليه وسلم} خرج إليهم ذات يوم وهم في المسجد فقال إن ربي حرم علي الخمر والميسر والكوبة والقنين وكل مسكر حرام حدثناه أبي عبدالله بن عبد الحكم وربما أدخل فيما بين عمرو بن الوليد وبين قيس أنه بلغه

Hadis Ibnu Lahii’ah dari Yaziid bin Abi Habiib dari ‘Amru bin Waliid bin ‘Abdah dari Qais bin Sa’ad bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] keluar menemui mereka pada suatu hari dan mereka di dalam masjd, maka Beliau berkata sesungguhnya Rabb-ku mengharamkan atasku khamr, judi, Al Kuubah dan Al Qinniin dan setiap yang memabukkan adalah haram. Telah menceritakan tentangnya Ayahku ‘Abdullah bin ‘Abdul Hakam dan sepertinya terdapat diantara ‘Amru bin Waliid dan Qais lafaz bahwasanya telah sampai kepadanya [Futuuh Mishr Wa Akhbaruha, Ibnu ‘Abdul Hakam hal 180]

Riwayat Ibnu Wahb dari Ibnu Lahii’ah telah disebutkan dalam pembahasan sebelumnya menunjukkan adanya idhthirab sehingga yang tersisa adalah riwayat Laits bin Sa’ad. Perhatikan matannya

عن قيس بن سعد وكان صاحب راية النبي صلى الله عليه و سلم أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال ذلك قال والغبيراء وكل مسكر حرام

Dari Qais bin Sa’ad dan ia sahabat yang pernah melihat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengatakan demikian mengatakan “dan ghubairaa’ dan segala yang memabukkan adalah haram”.

Lafaz qaala dzalik di atas merujuk pada matan hadis sebelumnya yaitu hadis Ibnu Lahii’ah dari Ibnu Hubairah

عن عبد الله بن عمرو بن العاص أن رسول الله صلى الله عليه و سلم خرج إليهم ذات يوم وهم في المسجد فقال إن ربي حرم علي الخمر والميسر والكوبة والقنين والكوبة الطبل

Dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin Ash bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] keluar menemui mereka pada suatu hari dan mereka ada di dalam masjid, Beliau berkata “sesungguhnya Rabb-ku mengharamkan atasku khamr, judi, Al Kubbah dan Al Qinniin” dan Al Kuubah adalah gendang

Hanya saja perlu dipahami [berdasarkan qarinah yang kuat] bahwa lafaz “wal kuubah ath thabl” setelah lafaz qinniin bukan bagian dari hadis Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Qarinahnya adalah sebagai berikut

  1. Riwayat Yahya bin Ishaaq dan Thalq bin As Samh dari Ibnu Lahii’ah menyebutkan hadis ‘Abdullah bin ‘Amru bin Ash di atas tanpa menyebutkan lafaz “wal kuubah ath thabl”
  2. Riwayat ‘Abdullah bin ‘Abdul Hakam dari Ibnu Lahii’ah [sebagaimana disebutkan Ibnu ‘Abdul Hakam] menyebutkan hadis Qais bin Sa’ad tanpa menyebutkan lafaz “wal kuubah ath thabl”. Dan ‘Abdullah bin ‘Abdul Hakam dikatakan tsiqat oleh Abu Zur’ah dan Abu Hatim berkata “shaduq” [Al Jarh Wat Ta’dil Ibnu Abi Hatiim 5/105-106 no 485]. Hanya saja tidak diketahui apakah ia meriwayatkan dari Abdullah bin Lahii’ah sebelum atau sesudah kitabnya terbakar.
  3. Pada matan riwayat Baihaqiy di atas memang terdapat lafaz dimana perkataan perawi tercampur dengan hadisnya tanpa terdapat keterangan milik siapa lafaz tersebut. Seperti misalnya lafaz ولم يذكر الليث القنين lafaz ini tertulis sesudah lafaz ‘Amru bin Walid berkata “dan telah sampai kepadaku dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin Ash seperti itu”. Tidak mungkin lafaz ini masuk dalam perkataan ‘Amru bin Walid bin ‘Abdah dan kemungkinannya lafaz ini adalah milik Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Abdul Hakam. Maka lafaz والكوبة الطبل besar kemungkinan juga perkataan Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Abdul Hakam terhadap tafsir Al Kuubah.

Maka dapat disimpulkan bahwa lafaz “wal kuubah ath thabl” bukan bagian dari hadis Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Adapun lafaz qinniin, itu hanya ada pada riwayat Ibnu Lahii’ah sedangkan pada riwayat Laits tidak ada. Maka lafaz qaala dzalik itu mencakup pengharaman khamar, judi dan Al Kuubah pada riwayat sebelumnya. Secara keseluruhan matan riwayat Laits bin Sa’ad adalah pengharaman khamar, judi, Al Kuubah, Al Ghubairaa’ dan setiap yang memabukkan adalah haram.

Riwayat Laits bin Sa’ad sebagaimana yang diriwayatkan Al Baihaqiy kedudukan sanadnya jayyid diriwayatkan oleh para perawi tsiqat dan shaduq.

  1. Abu Zakariya bin Abu Ishaq Al Muzakkiy seorang yang tsiqat mulia baik zuhud wara’ dan mutqin [Siyar A’laam An Nubalaa’ Adz Dzahabiy 17/295-296 no 179]
  2. Ahmad bin Hasan Abu Bakar seorang imam alim musnad khurasan. As Sam’aniy berkata “tsiqat dalam hadis” [Siyar A’laam An Nubalaa’ Adz Dzahabiy 17/356 no 221]
  3. Abul ‘Abbaas Muhammad bin Ya’quub Al ‘Asham seorang Imam muhaddis. Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah menyatakan tsiqat. Abu Nu’aim bin ‘Adiy berkata “tsiqat ma’mun”. Ibnu Abi Hatim berkata “tsiqat shaduq” [Siyar A’laam An Nubalaa’ Adz Dzahabiy 15/452-458 no 258]
  4. Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Abdul Hakam seorang yang faqih tsiqat [Taqrib At Tahdzib 2/96]
  5. ‘Abdullah bin Wahb bin Muslim Al Qurasyiy seorang yang faqiih tsiqat hafizh ahli ibadah [Taqrib At Tahdzib 1/545]
  6. Laits bin Sa’ad Abu Harits Al Mishriy seorang yang tsiqat tsabit faqiih imam masyhur [Taqrib At Tahdzib 2/48]
  7. Yaziid bin Abi Habiib Al Mishriy seorang yang tsiqat faqih [Taqrib At Tahdzib 2/322]
  8. ‘Amru bin Waliid bin ‘Abdah seorang yang shaduq [Taqrib At Tahdzib 1/748]. Ibnu Yuunus menyebutkan bahwa ia temasuk seorang yang mempunyai keutamaan dan ahli fiqih [Tarikh Ibnu Yunus 1/378-379 no 1036]

Ibnu ‘Abdul Hakam yaitu ‘Abdurrahman bin ‘Abdullah bin ‘Abdul Hakam dalam kitabnya Futuuh Mishr Wa Akhbaruha hal 180 menyebutkan riwayat dimana seolah ‘Amru bin Waliid bin ‘Abdah meriwayatkan dari Qais bin Sa’ad secara mursal yaitu dengan lafaz “telah sampai kabar kepadanya dari Qais”. Seandainya saja sanadnya tsabit dan shahih maka riwayat ini bisa menjadi illat [cacat] yang menjatuhkan hadis Qais bin Sa’ad. Riwayat Ibnu ‘Abdul Hakam tersebut adalah riwayat ‘Abdullah bin ‘Abdul Hakam dari Ibnu Lahii’ah maka kedudukannya tidak tsabit sebagai hujjah karena tidak diketahui apakah ‘Abdullah bin ‘Abdul Hakam meriwayatkan sebelum atau setelah Ibnu Lahii’ah ikhtilath dan kitabnya terbakar.

‘Amru bin Waliid bin ‘Abdah dalam periwayatan dari Qais bin Sa’ad [radiallahu ‘anhu] memiliki mutaba’ah dari Bakr bin Sawadah yaitu riwayat berikut

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ قَال حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ إِسْحَاقَ ثنا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ زَحْرٍ عَنْ بَكْرِ بْنِ سَوَادَةَ عَنْ قَيْسِ بْنِ سَعْدِ بْنِ عُبَادَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حَرَّمَ عَلَيَّ الْخَمْرَ  وَالْكُوبَةَ وَالْقِنِّينَ وَإِيَّاكُمْ وَالْغُبَيْرَاءَ فَإِنَّهَا ثُلُثُ خَمْرِ الْعَالَمِ قَالَ قُلْتُ لِيَحْيَى  مَا الْكُوبَةُ ؟ قَالَ الطَّبْلُ

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Hanbal yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ishaaq yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ayuub dari ‘Ubaidillah bin Zahr dari Bakr bin Sawaadah dari Qais bin Sa’ad bin ‘Ubadah [radiallahu ‘anhu] bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “Sesungguhnya Allah ‘azza wajalla mengharamkan atasku khamar, Al Kuubah dan Qinniin dan jauhilah Al Ghubairaa’ karena itu adalah sepertiga khamr di dunia. Ahmad bin Hanbal berkata aku berkata kepada Yahya “apa itu Al Kuubah?”. Ia berkata “gendang” [Al Asyribah Ahmad bin Hanbal hal 40 no 27]

Riwayat ini juga disebutkan Ahmad bin Hanbal dalam Musnad-nya 3/422 no 15519, Ath Thabraniy dalam Mu’jam Al Kabir 18/352 no 897, Ibnu ‘Abdul Hakam dalam Futuuh Mishr Wa Akhbaruha hal 180, Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf 8/141-142 no 24540 dengan tambahan lafaz Qinniin adalah Al ‘Uud, Al Baihaqiy dalam Sunan Al Kubra 10/222 no 20784 dengan tambahan lafaz, Abu Zakariyaa berkata Al Qinniin adalah Al ‘Uud [Abu Zakariyaa adalah kuniyah Yahya bin Ishaaq maka ini menjelaskan bahwa tambahan lafaz dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah adalah idraaj dari Yahya bin Ishaaq]. Semuanya dengan jalan sanad Yahya bin Ayuub dari Ubaidillah bin Zahr dari Bakr bin Sawaadah dari Qais bin Sa’ad [radiallahu ‘anhu]. Kedudukan riwayat ini dhaif karena

  1. Ubaidillah bin Zahr berdasarkan pendapat yang rajih ia seorang yang dhaif tetapi bisa dijadikan i’tibar hadisnya
  2. Bakr bin Sawaadah berdasarkan qarinah yang kuat, riwayatnya dari Qais bin Sa’ad mursal.

Ubaidillah bin Zahr Al ‘Ifrikiy, Bukhariy berkata “tsiqat” [Ilal Tirmidzi no 335]. Abu Dawud berkata aku mendengar Ahmad mengatakan Ubaidillah bin Zahr tsiqat [Su’alat Abu Ubaid Al Ajurriy no 1523]. Ibnu Hajar mengatakan bahwa Ahmad yang dimaksud disini adalah Ahmad bin Shalih Al Mishriy [Tahdzib At Tahdzib juz 7 no 25]. Nasa’iy berkata “tidak ada masalah padanya”. Al Hakim berkata “layyin hadisnya”. Al Khatib berkata “seorang yang shalih dan dalam hadisnya layyin [lemah]. Al Harbiy berkata “selainnya lebih terpercaya darinya”. [Tahdzib At Tahdzib juz 7 no 25]

Ahmad bin Hanbal mendhaifkannya, Yahya bin Ma’in berkata “tidak ada apa-apanya”, Aliy bin Madiiniy berkata “munkar al hadiits”. Abu Hatim berkata “layyin [lemah] hadisnya”. Abu Zur’ah berkata “tidak ada masalah, shaduq” [Al Jarh Wat Ta’dil Ibnu Abi Hatim 5/315 no 1499]

Yahya bin Ma’in dalam riwayat Ad Dariimiy berkata “semua hadisnya di sisiku dhaif” [Tarikh Ad Dariimiy no 626]. Yahya bin Ma’in berkata dalam riwayat Ibnu Junaid “dhaif dalam hadis” [Su’alat Ibnu Junaid no 549].

Abu Mushir mengatakan bahwa Ubaidillah bin Zahr pemilik riwayat-riwayat mu’dhal dan karenanya lemah hadisnya. Ibnu Adiy mengatakan bahwa hadis-hadisnya tidak memiliki mutaba’ah [Al Kamil Ibnu Adiy 5/522-5214 no 190]

Ya’qub bin Sufyaan berkata “dhaif” [Ma’rifat Wal Tariikh Ya’quub bin Sufyaan Al Fasawiy 2/424]. Daruquthniy berkata “dhaif” [Al Ilal Daruquthniy no 160]. Al Ijliy berkata “ditulis hadisnya dan tidak kuat” [Ma’rifat Ats Tsiqat no 1156]. Ibnu Hibban berkata “mungkar hadis jiddan, ia meriwayatkan hadis-hadis maudhu’ dari para perawi tsabit” [Al Majruuhin Ibnu Hibban 2/28-29 no 603]

Ibnu Hajar berkata dalam At Taqrib “shaduq sering keliru” [At Taqrib 1/632]. Dalam Tahrir Taqrib At Tahdzib dikoreksi bahwa kedudukan Ubaidillah bin Zahr adalah dhaif tetapi bisa dijadikan i’tibar. [Tahrir Taqrib At Tahdzib no 4290]

Dengan mengumpulkan seluruh perkataan para ulama tentangnya maka pendapat yang rajih tentangnya adalah ia seorang yang dhaif tetapi bisa dijadikan i’tibar hadisnya karena banyak ulama mendhaifkannya dan sebagian jarh terhadapnya bersifat mufassar. Dalam kaidah ilmu hadis jarh mufassar lebih didahulukan dibanding ta’dil, maka dari itu ta’dil sebagian ulama terhadap Ubaidillah bin Zahr hanya mengangkat derajatnya sebagai perawi yang bisa dijadikan i’tibar hadisnya tetapi tidak bisa dijadikan hujjah.

Bakr bin Sawaadah disebutkan oleh Ibnu Hajar yang menukil dari Ibnu Yunuus bahwa ia wafat tahun 128 H [Tahdzib At Tahdzib juz 1 no 888] sedangkan Qais bin Sa’ad disebutkan Ibnu Hajar yang menukil dari Al Haitsam bin Adiy, Al Waqidiy, Khaliifah bin Khayyaath dan yang lainnya bahwa ia wafat pada akhir pemerintahan Mu’awiyah [Tahdzib At Tahdzib juz 8 no 702] berarti tahun 60 atau kurang dari itu. Maka terdapat selisih 68 tahun atau lebih antara wafatnya Qais bin Sa’ad dan Bakr bin Sawaadah, hal ini merupakan qarinah kemungkinan terputusnya sanad.

Qarinah [petunjuk] lain adalah Ibnu Hajar menukil dari An Nawawiy bahwa Bakr bin Sawaadah tidak mendengar dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash [Tahdzib At Tahdzib juz 1 no 888]. Sedangkan ‘Abdullah bin ‘Amru wafat setelah wafatnya Qais bin Sa’ad, ada yang mengatakan tahun 63 H, 65 H, 68 H, 73 H, atau 77 H [Tahdzib At Tahdzib juz 5 no 575]. Jika Bakr bin Sawaadah tidak mendengar dari ‘Abdullah bin ‘Amru maka lebih mungkin lagi Bakr bin Sawaadah tidak mendengar dari Qais bin Sa’ad.

Berdasarkan keterangan di atas maka hadis Bakr bin Sawaadah tidak tsabit sebagai mutaba’ah bagi ‘Amru bin Walid bin ‘Abdah karena kedhaifan Ubaidillah bin Zahr dan terputusnya sanad antara Bakr bin Sawaadah dan Qais bin Sa’ad [radiallahu ‘anhu].

.

.

Secara ringkas pembahasan di atas tentang hadis yang mengharamkan Al Kuubah dapat dilihat dalam poin berikut

  1. Hadis ‘Abdullah bin ‘Abbaas memiliki sanad yang shahih dengan lafaz pengharaman khamr, judi, Al Kuubah dan segala yang memabukkan
  2. Hadis ‘Abdullah bin ‘Amru diriwayatkan para perawi tsiqat hanya saja mengandung illat [cacat] mursal dengan lafaz pengharaman khamr, judi, Al Kuubah, Al Ghubairaa’
  3. Hadis Qais bin Sa’d memiliki sanad yang shahih dengan lafaz pengharaman khamr, judi, Al Kuubah, Al Ghubairaa’ dan segala yang memabukkan

Kesimpulan takhrij hadis di atas dan pembahasannya adalah hadis pengharaman Al Kuubah memiliki sanad yang shahih dari jalan ‘Abdullah bin ‘Abbaas dan Qais bin Sa’ad. Dan lafaz yang tsabit termasuk di dalamnya pengharaman khamr, judi, Al Kuubah, Al Ghubairaa’ dan segala yang memabukkan. Adapun lafaz Al Qinniin maka kedudukannya tidak tsabit.

.

.

.

Pembahasan Makna Al Kuubah

Terdapat perselisihan soal makna Al Kuubah di sisi para ulama. Sebagian mengatakan bahwa Al Kuubah adalah gendang dan dikatakan juga bahwa Al Kuubah adalah dadu yang dipakai pada permainan judi.

   إِنَّ اللّه حَرَّم الخَمْرَ والكُوبةَ هي النَّرْدُ وقيل الطَّبْل وقيل البَرْبَطُ

“Sesungguhnya Allah mengharamkan khamar dan Al Kuubah” itu maksudnya adalah dadu, dikatakan itu gendang dan dikatakan itu gitar [An Nihaayah Fii Ghariib Al Hadiits Wal Atsar Ibnu Atsir hal 815]

وأما الكُوبة فإنّ محمد بن كثير أخبرني أن الكُوبة النرد في كلام أهل اليمن وقال غيره الطبل

Adapun Al Kuubah maka sesungguhnya Muhammad bin Katsiir mengabarkan kepadaku bahwasanya Al Kuubah adalah dadu dalam perkataan penduduk Yaman, dan berkata selainnya bahwa itu adalah gendang [Ghariib Al Hadiits Abu Ubaid Al Haraawiy 5/304]

وفي الحديث إِنَّ اللّه حَرَّم الخَمْرَ والكُوبةَ قَالَ ابْنُ الأَعْرَابِيِّ  الْكُوبَةُ النَّرْدُ  وَيُقَالُ الطَّبْلُ  وَقِيلَ الْبَرْبَطُ

Dan dalam hadis “sesungguhnya Allah mengharamkan khamar dan Al Kuubah”. Ibnu Arabiy berkata Al Kuubah adalah dadu, dan ada yang mengatakan itu adalah gendang, dan dikatakan itu adalah gitar [Al Gharibain Fii Al Qur’an Wal Hadiits Abu Ubaid juz 5 hal 1654]

Pendapat yang mengatakan Al Kuubah adalah gendang memiliki hujjah dari perkataan para perawi hadis yang mengharamkan Al Kuubah. [nampak dalam sebagian riwayat bahwa perawi-perawi tersebut menyisipkan penafsiran mereka ke dalam hadis]

  1. Aliy bin Badziimah sebagaimana disebutkan Ahmad bin Hanbal dalam Musnad Ahmad bin Hanbal 1/274 no 2476
  2. Yahya bin Yuusuf Az Zammiy sebagaimana disebutkan Al Baihaqiy dalam Sunan Al Kubra 10/221 no 20779
  3. Muhammad bin ‘Abdullah bin Abdul Hakam sebagaimana disebutkan Al Baihaqiy dalam Sunan Al Kubra 10/222 no 20783
  4. Yahya bin Ishaaq sebagaimana disebutkan Ahmad bin Hanbal dalam Al Asyribah hal 40 no 27

Terdapat kaidah bahwa tafsir perawi hadis terhadap hadis yang ia riwayatkan lebih didahulukan dibanding tafsir selainnya. Sehingga dengan kaidah ini sebagian ulama merajihkan bahwa makna Al Kuubah adalah gendang.

Kaidah ini benar hanya saja ia tidak bersifat mutlak. Terdapat bukti kuat yang menunjukkan bahwa makna Al Kuubah pada masa sahabat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] adalah nardu atau dadu

حدثنا عصام قال حدثنا حريز عن سلمان الإلهاني عن فضالة بن عبيد وكان بمجمع من المجامع فبلغه أن أقواما يلعبون بالكوبة فقام غضبانا ينهى عنها أشد النهي ثم قال ألا إن اللاعب بها ليأكل قمرها كآكل لحم الخنزير ومتوضىء بالدم يعني بالكوبة النرد

Telah menceritakan kepada kami ‘Ishaam yang berkata telah menceritakan kepada kami Hariiz dari Salman Al ‘Alhaaniy dari Fadhalah bin ‘Ubaid dan pada saat itu ia berkumpul pada suatu perkumpulan, maka disampaikan kepadanya bahwa sekelompok orang bermain dengan Kuubah maka ia berdiri marah dan melarangnya dengan larangan yang keras kemudian berkata ketahuilah bahwa bermain dengan itu untuk memakan hasilnya maka seperti memakan daging babi dan berwudhu’ dengan darah. Yang dimaksud Kuubah adalah An Nardu [dadu] [Adabul Mufrad Al Bukhariy 1/433 no 1267]

Riwayat ini sanadnya shahih sampai Fadhalah bin ‘Ubaid dan ia adalah seorang sahabat Nabi [Al Jarh Wat Ta’dil 7/77 no 433].

  1. ‘Ishaam bin Khalid Al Hadhramiy termasuk salah satu guru Bukhariy dalam kitab Shahih-nya. Nasa’iy berkata “tidak ada masalah padanya”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [Tahdzib At Tahdzib juz 7 no 372]
  2. Hariiz bin ‘Utsman Al Himshiy. Abu Dawud berkata “guru-guru Hariiz semuanya tsiqat”. Ahmad bin Hanbal berkata “tsiqat tsiqat”. Yahya bin Ma’in berkata “tsiqat”. Duhaim menyatakan ia baik sanadnya shahih hadisnya dan tsiqat [Tahdzib At Tahdzib juz 2 no 436]
  3. Salman bin Sumair Asy Syammiy. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Ia termasuk guru Hariiz dan Abu Dawud mengatakan bahwa semua guru Hariiz tsiqat. [Tahdzib At Tahdzib juz 4 no 230]. Ibnu Hajar berkata “maqbul” [Taqrib At Tahdzib 1/374]. Pendapat yang rajih ia seorang yang tsiqat berdasarkan apa yang disebutkan Abu Dawud dan Al Ijliy berkata “tabiin syam yang tsiqat” [Ma’rifat Ats Tsiqat no 651].

Lafaz “ya’niy bilkuubah annardu” [Kuubah yang dimaksud adalah dadu] bisa jadi berasal dari para perawi sanad tersebut termasuk Al Bukhariy. Hanya saja kami tidak menemukan qarinah kuat yang menunjukkan milik siapa lafaz tersebut. Tetapi riwayat tersebut sangat bersesuaian dengan hadis Nabi berikut

حدثني زهير بن حرب حدثنا عبدالرحمن بن مهدي عن سفيان عن علقمة بن مرثد عن سليمان بن بريدة عن أبيه أن النبي صلى الله عليه و سلم قال من لعب بالنردشير فكأنما صبغ يده في لحم خنزير ودمه

Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman bin Mahdiy dari Sufyaan dari ‘Alqamah bin Martsad dari Sulaiman bin Buraidah dari Ayahnya bahwasanya Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “barang siapa yang bermain dadu maka ia seperti mencelupkan tangannya dalam daging babi dan darahnya” [Shahih Muslim 4/1770 no 2260]

Maka nampak bahwa makna Al Kuubah dalam riwayat Fadhalah bin ‘Ubaid tersebut adalah An Nardu yaitu dadu. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tafsir Al Kuubah sebagai dadu sudah dikenal di masa sahabat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam].

Berdasarkan hal ini maka kami menilai pendapat yang lebih rajih adalah yang menyatakan bahwa makna Al Kuubah adalah dadu [yang dipakai dalam perjudian]. Terbukti bahwa penafsiran tersebut sudah dikenal di masa sahabat sedangkan penafsiran Al Kuubah adalah gendang berasal dari para perawi hadis yang hidup jauh setelah masa sahabat Nabi.

.

.

.

Syubhat Syaikh Abdullah Ramadhan bin Muusa

Syaikh Abdullah Ramadhan bin Muusa dalam kitabnya Radd ‘Ala Al Qaradhawiy Wal Judai’ hal 285 dalam salah satu bantahannya kepada Syaikh Al Judai’ mengatakan bahwa An Nardu sudah termasuk dalam Judi maka ketika Al Kuubah disebutkan setelah Al Maisir [judi] maka makna Al Kuubah disana pasti bukan An Nardu [dadu] tetapi makna lain yaitu Ath Thabl [gendang]. Syaikh membawakan atsar berikut

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي دَاوُدَ أَخْبَرَنَا وَهْبُ بْنُ بَيَانٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنَا مُعَاوِيَةُ بْنُ صَالِحٍ عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ عَنْ نَافِعٍ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ يَقُولُ النَّرْدُ مِنَ الْمَيْسِرِ

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Dawud yang berkata telah menceritakan kepada kami Wahb bin Bayaan yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Wahb yang berkata telah mengabarkan kepada kami Mu’awiyah bin Shalih dari Yahya bin Sa’iid dari Naafi’ bahwa ‘Abdullah bin ‘Umar berkata “an nardu [dadu] termasuk judi” [Tahriim An Nardu, Abu Bakar Al Ajurriy hal 131 hadis no 21]

Syaikh Abdullah Ramadhan bin Muusa menyatakan atsar ini shahih [dan memang demikian]. Hanya saja bantahan Syaikh Abdullah Ramadhan bin Muusa dengan atsar ini tidak tepat, bahkan justru dengan atsar ini malah menguatkan qarinah bahwa Al Kuubah yang dimaksud adalah An Nardu.

وحدثنا محمد بن المثنى ومحمد بن حاتم قالا حدثنا يحيى ( وهو القطان ) عن عبيدالله أخبرنا نافع عن ابن عمر قال ( ولا أعلمه إلا عن النبي صلى الله عليه و سلم ) قال  كل مسكر خمر وكل خمر حرام

Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna dan Muhammad bin Haatim keduanya berkata telah menceritakan kepada kami Yahya [ia Al Qaththaan] dari Ubaidillah yang berkata telah mengabarkan kepada kami Nafi’ dari Ibnu ‘Umar yang berkata “aku tidak mengetahuinya kecuali dari Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam yang berkata semua yang memabukkan adalah khamar dan semua khamar adalah haram” [Shahih Muslim 3/1587 no 2003]

Silakan perhatikan kembali hadis Ibnu ‘Abbaas tentang pengharaman Al Kuubah, dalam matan hadis tersebut ada empat perkara yang diharamkan yaitu

  1. Khamar
  2. Judi
  3. Al Kuubah
  4. Segala yang memabukkan

Telah tsabit dalam hadis shahih bahwa segala yang memabukkan adalah khamar maka pada dasarnya perkara no 4 itu adalah perkara yang sama dengan no 1. Maka wajar pula jika Al Kuubah tersebut bermakna An Nardu [dadu] dan telah tsabit bahwa An Nardu termasuk judi sehingga perkara no 3 itu adalah perkara yang sama dengan no 2. Jadi hujjah Syaikh Abdullah Ramadhan bin Muusa menguatkan makna Al Kuubah dalam hadis tersebut sebagai Ath Thabl [gendang] dengan dasar bahwa An Nardu sudah termasuk dalam lafaz judi [maka tidak mungkin Al Kuubah disana bermakna An Nardu] adalah hujjah yang tidak tepat sasaran. Bukankah segala yang memabukkan sudah masuk dalam lafaz “khamar” tetapi tetap saja disebutkan lagi.

Atau mari kita melihat hadis Qais bin Sa’d [radiallahu ‘anhu] dimana terdapat lafaz pengharaman Al Ghubairaa’ setelah pengharaman Khamr. Dan Al Ghubairaa’ sendiri sebenarnya termasuk khamar

قَالَ مَالِك فَسَأَلْتُ زَيْدَ بْنَ أَسْلَمَ مَا الْغُبَيْرَاءُ فَقَالَ هِيَ الْأُسْكَرْكَة

Maalik berkata aku bertanya kepada Zaid bin Aslam “apakah Al Ghubairaa’, maka ia berkata “ itu adalah Al ‘Uskarkah” [Muwatta Malik riwayat Yahya bin Yahya 2/413 no 2452]

Al ‘Uskarkah yang dimaksud dalam atsar di atas adalah khamar habsyah sebagaimana disebutkan oleh Al Jauhariy [An Nihaayah Fii Ghariib Al Hadiits Wal Atsar Ibnu Atsiir hal 437]

Maka hal ini sangat bersesuaian, Khamr diharamkan dan setelah itu disebutkan pula Al Ghubairaa’ kemudian Judi diharamkan dan disebutkan pula Al Kuubah yang bermakna An Nardu [dadu].

.

.

.

Kesimpulan

Hadis pengharaman Al Kuubah adalah hadis yang shahih hanya saja tidak tepat jika hadis tersebut dijadikan hujjah untuk mengharamkan musik atau alat musik [yaitu gendang]. Pendapat yang rajih adalah makna Al Kuubah tersebut adalah An Nardu yaitu dadu yang sering dipakai dalam perjudian.

Sayyidina Ali Pernah Peringatkan, Waspadai Kelompok ISIS !

Sayyidina Ali Pernah Peringatkan, Waspadai Kelompok Ini!
Selasa, 22/07/2014 11:00
Sayyidina Ali Pernah Peringatkan, Waspadai Kelompok Ini!

Solo, NU Online
Kemunculan kelompok ekstrem seperti ISIS (the Islamic State of Iraq and Syria), Al Nusro dan lain-lain, sudah diprediksi kedatangannya oleh sahabat Ali bin Abi Thalib.

Menurut pengasuh Majelis ‘Bismillah’ MWCNU Pasarkliwon Surakarta, Habib Muhammad bin Husein Al-Habsyi, 1.400 tahun silam, Imam Ali telah mengingatkan akan datangnya gerombolan bengis yang akan mengibarkan panji-panji hitam yang menyerupai panji-panji hitam Imam Mahdi.

“Ucapan beliau terekam dalam literatur Hadits Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yakni dalam kitab Kanzul Ummal yang dihimpun oleh ulama besar yang bernama Al Muttaqi Al Hindi pada riwayat nomer 31.530,” terang cicit Muallif Simtuddurar, Habib Ali Al-Habsyi itu, Ahad (20/7).

Dalam kitab tersebut, diriwayatkan bahwa Imam Ali pernah berkata: “Jika kalian melihat bendera-bendera Hitam, tetaplah kalian di tempat kalian berada, jangan beranjak dan jangan menggerakkan tangan dan kaki kalian. Kemudian akan muncul kaum lemah (lemah akal sehat dan imannya), tiada yang peduli pada mereka, hati mereka seperti besi (hati keras membatu jauh dari cahaya Hidayah).

Mereka akan mengaku sebagai Ashabul Daulah (pemilik negara, saat ini ISIS telah mengumumkan berdirinya Daulah Islam di Iraq dan Syam), mereka tidak pernah menepati janji, mereka berdakwah pada Al Haq (kebenaran) tapi mereka bukan Ahlul Haq (pemegang kebenaran).

Namanya dari sebuah julukan, marganya dari nama daerah (nama pemimpin mereka, memakai nama julukan dan marga dari asal daerah Baghdad) rambut mereka tak pernah dicukur, panjang seperti rambut perempuan, jangan bertindak apapun sampai nanti terjadi perselisihan diantara mereka sendiri, kemudian Allah mendatangkan kebenaran kepada siapa yang dikehendaki-Nya.” (Ajie Najmuddin/Mahbib)

 

 

Bagaimana Sejarah Terbentuknya ISIS?

Bagaimana Sejarah Terbentuknya ISIS ?
Rabu, 06/08/2014 15:59

Jakarta, NU Online
Negara Islam Irak dan Suriah ISIS merupakan kelompok Jihadis yang aktif di Irak dan Suriah.

ISIS dibentuk pada April 2013 dan cikal bakalnya berasal dari al-Qaida di Irak (AQI), tetapi kemudian dibantah oleh al-Qaida. Demikiran reportase yang dikutip dari laman BBC Indonesia.

Kelompok ini menjadi kelompok jihad utama yang memerangi pasukan pemerintah di Suriah dan membangun kekuatan militer di Irak.

Huruf “S” dalam singkatan ISIS berasal dari bahasa arab “al-Sham”, yang merujuk ke wilayah Damaskus (Suriah) dan Irak.

Tetapi dalam konteks jihad global disebut Levant yang merujuk kepada wilayah di Timur Tengah yang meliputi Israel, Yordania, Lebanon, wilayah Palestina, dan juga wilayah Tenggara Turki.

Jumlah mereka tidak diketahui secara pasti, tetapi diperkirakan memiliki ribuan pejuang, termasuk jihadis asing.

Koresponden BBC mengatakan tampaknya ISIS akan menjadi kelompok jihadis yang paling berbahaya setelah al-Qaida.

Siapa Abu Bakr al-Baghdadi?

Organisasi ini dipimpin oleh Abu Bakr al-Baghdadi. Hanya sedikit yang mengetahui tentang dia, tetapi dia diyakini lahir di Samarra, bagian utara Baghdad, pada 1971 dan bergabung dengan pemberontak yang merebak sesaat setelah Irak diinvasi oleh AS pada 2003 lalu.

Pada 2010 dia menjadi pemimpin al-Qaida di Irak, salah satu kelompok yang kemudian menjadi ISIS.

Baghdadi dikenal sebagai komandan perang dan ahli taktik, analis mengatakan hal itu yang membuat ISIS menjadi menarik bagi para jihadis muda dibandingkan al-Qaeda, yang dipimpin oleh Ayman al-Zawahiri, seorang teolog Islam.

Prof Peter Neumann dari King’s College London memperkirakan sekitar 80% pejuang Barat di Suriah telah bergabung dengan kelompok ini.

ISIS mengklaim memiliki pejuang dari Inggris, Prancis, Jerman, dan negara Eropa lain, seperti AS, dunia Arab dan negara Kaukakus.

Sumber dana

Tak seperti pemberontak di Suriah, ISIS tampak akan mendirikan kekhalifahan Islam di Suriah dan Irak.

Kelompok ini tampak berhasil membangun kekuatan militer. Pada 2013 lalu, mereka menguasai Kota Raqqa di Suriah – yang merupakan ibukota provinsi pertama yang dikuasai pemberonyak.

Juni 2014, ISIS juga menguasai Mosul, yang mengejutkan dunia. AS mengatakan kejatuhan kota kedua terbesar di Irak merupakan ancaman bagi wilayah tersebut.

Kelompok ini mengandalkan pendanaan dari individu kaya di negara-negara Arab, terutama Kuwait dan Arab Saudi, yang mendukung pertempuran melawan Presiden Bashar al-Assad.

Saat ini, ISIS disebutkan menguasai sejumlah ladang minyak di wilayah bagian timur Suriah, yang dilaporkan menjual kembali pasokan minyak kepada pemerintah Suriah.

ISIS juga disebutkan menjual benda-benda antik dari situs bersejarah.

ISIS menguasai kota Raqqa dan kota utama Mosul di Irak utara.

Prof Neumann yakin sebelum menguasai Mosul pada Juni lalu, ISIS telah memiliki dana serta aset senilai US$900 juta dollar, yang kemudian meningkat menjadi US$2 milliar.

Kelompok itu disebutkan mengambil ratusan juta dollar dari bank sentral Irak di Mosul. Dan keuangan mereka semakin besar jika dapat mengontrol ladang minyak di bagian utara Irak.

Kelompok ini beroperasi secara terpisah dari kelompok jihad lain di Suriah, al-Nusra Front, afiliasi resmi al-Qaeda di negara tersebut, dan memiliki hubungan yang “tegang” dengan pemberontak lain.

Baghdadi mencoba untuk bergabung dengan al-Nusra, yang kemudian menolak tawaran tersebut. Sejak itu, dua kelompok itu beroperasi secara terpisah.

Zawahiri telah mendesak ISIS fokus di Irak dan meninggalkan Suriah kepada al-Nusra, tetapi Baghdadi dan pejuangnya menentang pimpinan al-Qaida.

Di Suriah, ISIS menyerang pemberontak lain dan melakukan kekerasan terhadap warga sipil pendukung opoisisi Suriah. (mukafi niam) Foto: Reuters

Hadis Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] Diutus Menghancurkan Seruling dan Gendang

Sumber : Secondprince

Hadis Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] Diutus Menghancurkan Seruling dan Gendang

Hadis ini termasuk diantara hadis-hadis yang dijadikan hujjah oleh sebagian ulama untuk mengharamkan musik dan nyanyian. Kami membuat tulisan ini setelah membaca mengenai kedudukan hadis ini dari kitab Syaikh Abdullah Al Judai’ yaitu Al Muusiq Wal Ghinaa’ Fi Miizan Al Islam dan kitab bantahannya dari Syaikh Abdullah Ramadhan bin Muusa yaitu Raddu ‘Ala Al Qaradhawiy Wal Judai’. Tulisan ini hanya ingin menelaah secara kritis pendapat mana yang lebih rajih dari kedua penulis tersebut mengenai hadis ini.

.

.

Takhrij Hadis Ibnu ‘Abbas

أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْن عَلِيٍّ المقري نا جدي أَبُو منصور مُحَمَّد بْن أحمد الخياط نا عَبْدُ الملك بْن مُحَمَّد بْن بشران ثنا أَبُو علي أحمد بْن الفضل بْن خزيمة ثنا مُحَمَّدُ بْنُ سويد الطحان ثنا عَاصِم بْن عَلِيّ ثنا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْن ثابت عَنْ أبيه عَنْ مكحول عَنْ جبير بْن نفير عَنْ مالك بْن نحام الثقة عَنْ عِكْرِمَة عَنِ ابْنِ عَبَّاس رَضِيَ اللَّهُ عنه أن النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بُعِثْتُ بِهَدْمِ الْمِزْمَارِ وَالطَّبْلِ

Telah mengabarkan kepada kami ‘Abdullah bin ‘Aliy Al Muqriy yang berkata telah menceritakan kepada kami kakekku Abu Manshuur Muhammad bin Ahmad Al Khayyaath yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Malik bin Muhammad bin Bisyraan yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu ‘Aliy Ahmad bin Fadhl bin Khuzaimah yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Suwaid Ath Thahhaan yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Aashim bin ‘Aliy yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman bin Tsaabit dari Ayahnya dari Makhuul dari Jubair bin Nufair dari Malik bin Nahaam Ats Tsiqat dari ‘Ikrimah dari ‘Ibnu ‘Abbaas [radiallahu ‘anhu] bahwasanya Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “Aku diutus untuk menghancurkan seruling dan gendang” [Talbiis Ibliis Ibnul Jauziy hal 226]

Riwayat ini sanadnya tsabit hingga ‘Aashim bin ‘Aliy, berikut keterangan mengenai para perawinya

  1. ‘Abdullah bin ‘Aliy Al Muqriy, Ibnu Nuqthah mengatakan bahwa ia seorang yang tsiqat shalih termasuk imam kaum muslimin [Syadzratu Adz Dzahab Ibnu ‘Imaad Al Hanbaliy 6/211]
  2. Abu Manshuur Muhammad bin Ahmad bin Khayyaath seorang yang tsiqat shalih [Takmilatul ‘Ikmaal, Ibnu Nuqthah 2/309-310 no 1654]
  3. ‘Abdul Malik bin Muhammad bin Bisyraan, Al Khatib berkata “kami menulis darinya, ia seorang yang shaduq tsabit shalih [Tarikh Baghdad 12/188-189 no 5548]
  4. Abu ‘Aliy Ahmad bin Fadhl bin ‘Abbaas bin Khuzaimah, Al Khatib berkata “tsiqat” [Tarikh Baghdad 5/570-571 no 2453]
  5. Muhammad bin Suwaid bin Yaziid Abu Ja’far Ath Thahhaan, Al Khatib berkata “tsiqat” [Tarikh Baghdad 3/281 no 874]
  6. ‘Aashim bin ‘Aliy Al Wasithiy seorang yang shaduq pernah melakukan kesalahan [Taqrib At Tahdzib 1/458]

Muhammad bin Suwaid bin Yaziid dalam periwayatan dari ‘Aashim bin ‘Aliy memiliki mutaba’ah dari ‘Umar bin Hafsh As Saduusiy sebagaimana yang disebutkan dalam Fawa’id Tammaam bin Muhammad Ar Raaziy.

أَخْبَرَنَا أَبُو يَعْقُوبَ إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ ثنا عُمَرُ بْنُ حَفْصٍ ثنا عَاصِمُ بْنُ عَلِيٍّ ثنا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ ثَابِتِ بْنِ ثَوْبَانَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ مَكْحُولٍ عَنْ جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ وَعَنِ الثِّقَةِ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بُعِثْتُ بِهَدْمِ الْمِزْمَارِ وَالطَّبْلِ

Telah mengabarkan kepada kami Abu Ya’quub Ishaq bin Ibrahiim yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Umar bin Hafsh yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Aashim bin ‘Aliy yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman bin Tsaabit bin Tsauban dari Ayahnya dari Makhuul dari Jubair bin Nufair dan dari seorang yang tsiqat dari ‘Ikrimah dari ‘Ibnu ‘Abbas bahwasanya Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasalla] berkata “Aku diutus untuk menghancurkan seruling dan gendang” [Fawa’id At Tammaam Ar Raaziy 1/49 no 100]

Riwayat Tammaam bin Muhammad Ar Raaziy di atas sanadnya tsabit hingga ‘Aashim bin ‘Aliy

  1. Abu Ya’qub An Nahdiy Ishaq bin Ibrahim, Ibnu Asakir mengatakan ia seorang yang tsiqat dan termasuk dalam hamba-hamba Allah yang shalih [Tarikh Ibnu Asakir 8/166 no 620]
  2. ‘Umar bin Hafsh Abu Bakar As Saduusiy, Al Khatib berkata “tsiqat” [Tarikh Baghdad 13/59-60 no 5883]
  3. ‘Aashim bin ‘Aliy Al Wasithiy seorang yang shaduq pernah melakukan kesalahan [Taqrib At Tahdzib 1/458]

Kemudian hadis ini dengan matan “Aku diperintahkan menghancurkan seruling dan gendang” disebutkan oleh Syaikh Al Albaniy dalam kitabnya Silsilah Ahadits Adh Dhaifah dimana Beliau menukil riwayat dari Ad Dailamiy

رواه الديلمي (1/2/219) عن محمد بن عبد الله بن بزرة حدثنا همام عن عاصم بن علي عن ابن ثوبان عن أبيه عن مكحول عن جبر بن مالك عن عكرمة عن ابن عباس مرفوعا.

قلت: وهذا إسناد ضعيف مظلم، جبر بن الك لم أعرفه. ومثله همام ومحمد بن عبد الله بن بزرة

Diriwayatkan Ad Dailamiy 1/2/219 dari Muhammad bin ‘Abdullah bin Bazrah yang berkata telah menceritakan kepada kami Hammaam dari ‘Aashim bin ‘Aliy dari Ibnu Tsauban dari Ayahnya dari Makhuul dari Jabr bin Maalik dari ‘Ikrimah dari ‘Ibnu ‘Abbas secara marfu’. Aku [Syaikh Al Albaniy] berkata “sanad ini dhaif gelap, Jabr bin Maalik aku tidak mengenalnya, dan begitu pula Hammaam dan Muhammad bin ‘Abdullah bin Bazrah [Silsilah Al ‘Ahaadiits Adh Dha’iifah 6/181 no 2663]

Riwayat Ad Dailamiy di atas tidak bisa dijadikan mutaba’ah karena Muhammad bin ‘Abdullah dan Hammaam majhul maka sanadnya tidak tsabit sampai ke ‘Aashim bin ‘Aliy.

.

.

.

Pembahasan Sanad Ibnu ‘Abbaas

Sanad Ibnu Jauziy sudah cukup jelas, adapun sanad Tammaam bin Muhammad Ar Raaziy memerlukan penjelasan mengenai kemungkinan rincian sanadnya. Perhatikan lafaz sanad

مَكْحُولٍ عَنْ جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ وَعَنِ الثِّقَةِ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ

Sanad di atas secara zhahir mengandung dua kemungkinan yaitu

  1. Makhuul meriwayatkan dari Jubair bin Nufair secara mursal dan Makhuul meriwayatkan dari seorang perawi tsiqat dari Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas secara marfu’
  2. Makhuul meriwayatkan dari Jubair dari Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas secara marfu’ dan Makhuul meriwayatkan dari seorang perawi tsiqat dari Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas secara marfu’

Berdasarkan riwayat Ibnu Jauziy dan Tammaam bin Muhammad Ar Raaziy maka secara keseluruhan sanad riwayat tersebut terbagi menjadi

  1. ‘Abdurrahman bin Tsaabit bin Tsauban dari Ayahnya dari Makhuul dari Jubair bin Nufair dari Malik bin Nahaam seorang yang tsiqat dari Ikrimah dari Ibnu ‘Abbaas
  2. ‘Abdurrahman bin Tsaabit bin Tsauban dari Ayahnya dari Makhuul dari Jubair bin Nufair dari Ikrimah dari Ibnu ‘Abbaas secara marfu’ atau ‘Abdurrahman bin Tsaabit bin Tsauban dari Ayahnya dari Makhuul dari Jubair bin Nufair secara mursal.
  3. ‘Abdurrahman bin Tsaabit bin Tsauban dari Ayahnya dari Makhuul dari seorang yang tsiqat dari Ikrimah dari Ibnu ‘Abbaas

Nampak adanya idhtirab [kekacauan] dalam sanad riwayat tersebut. Dan hal ini kemungkinan berasal dari ‘Abdurrahman bin Tsaabit bin Tsauban. Ia seorang yang diperselisihkan kedudukannya.

Ahmad bin Hanbal dalam riwayat Muhammad bin Aliy berkata “tidak kuat dalam hadis”. Dalam riwayat Atsram berkata “hadis-hadisnya mungkar”. Dalam riwayat Al Marwadziy mengatakan bahwa ia seorang ahli ibadah dari penduduk Syam dan memiliki keutamaan [Mausu’ah Aqwaal Ahmad bin Hanbal no 1519]

Yahya bin Ma’in dalam riwayat Ad Duuriy terkadang berkata “tidak ada masalah dengannya” terkadang berkata “aku tidak menyebutnya kecuali yang baik” terkadang berkata “shalih al hadits”. Dalam riwayat Ibnu Junaid terkadang berkata “shalih” dan terkadang berkata “dhaif al hadits”. Dalam riwayat Ad Darimiy, Ibnu Ma’in berkata “dhaif”. Dalam riwayat Mu’awiyah bin Shalih menyatakan ia dhaif dan ditulis hadisnya. Dalam riwayat ‘Abdullah bin Syu’aib Ash Shaabuuniy berkata “dhaif”. Dalam riwayat Ibnu Abi Khaitsamah berkata “tidak ada apa-apanya” [Mausu’ah Aqwaal Yahya bin Ma’in no 2221]

Aliy bin Madiiniy, Abu Zur’ah dan Al Ijliy berkata “tidak ada masalah padanya”. ‘Amru bin Aliy berkata “hadis orang-orang syam semuanya dhaif kecuali sekelompok orang diantaranya Auza’iy dan ‘Abdurrahman bin Tsabit bin Tsauban”. Duhaim berkata “tsiqat”. Abu Hatim menyatakan ia tsiqat berubah hafalan di akhir hidupnya dan hadisnya lurus. Abu Daud berkata “tidak ada masalah padanya”. Nasa’iy terkadang berkata “dhaif” terkadang berkata “tidak kuat” dan terkadang berkata “tidak tsiqat”. Shalih bin Muhammad mengatakan bahwa ia orang Syam yang shaduq dan orang-orang mengingkari hadis-hadis yang ia riwayatkan dari ayahnya dari Makhuul”. Ibnu Khirasy berkata “dalam hadisnya ada kelemahan”. Ibnu Adiy menyatakan ia seorang yang shalih ditulis hadisnya memiliki hadis-hadis yang baik bersamaan dengan kelemahan padanya [Tahdzib Al Kamal 17/12-17 no 3775]

Dengan mengumpulkan semua pendapat ulama tentangnya maka pendapat yang rajih adalah ‘Abdurrahman bin Tsabit bin Tsauban seorang yang shaduq hasanul hadis hanya saja terdapat kelemahan dalam sebagian hadisnya terutama hadisnya dari Ayahnya dari Makhuul.

Riwayat di atas termasuk riwayat ‘Abdurrahman bin Tsaabit bin Tsauban dari Ayahnya dari Makhuul maka kedudukannya lemah dan tidak bisa dijadikan hujjah jika tafarrud [menyendiri]. Apalagi dalam riwayat di atas nampak adanya idhthirab [kekacauan] sanad yang besar kemungkinan berasal darinya.

.

.

.

Syahid [Penguat] Riwayat Ibnu ‘Abbaas

Riwayat ‘Abdullah bin ‘Abbaas [radiallahu ‘anhu] memiliki syahiid dari riwayat Aisyah [radiallahu ‘anha] dan Aliy bin Abi Thalib [radiallahu ‘anhu]. Hanya saja kedua riwayat itu sanadnya dhaif sehingga tidak bisa dijadikan penguat.

حدثنا إسحاق بن إبراهيم بن يونس وأحمد بن حفص السعدي قالا حدثنا احمد بن عيسى المصري حدثنا إبراهيم بن اليسع التيمي المكي عن هشام بن عروة عن أبيه عن عائشة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم أمرني ربي عزوجل بنفي الطنبور والمزمار

Telah menceritakan kepada kami Ishaaq bin Ibrahiim bin Yuunus dan Ahmad bin Hafsh As Sa’diy [keduanya] berkata telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Iisa Al Mishriy yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibrahiim bin Yasa’ At Taimiy Al Makkiy dari Hisyaam bin ‘Urwah dari Ayahnya dari ‘Aisyah yang berkata Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “Aku diperintahkan Rabb-ku ‘azza wajalla untuk menghancurkan tanbur dan seruling” [Al Kamiil Ibnu Adiy 1/386]

Riwayat Aisyah [radiallahu ‘anha] di atas kedudukannya dhaif karena Ibrahim bin Yasa’ At Taimiy Al Makkiy atau Ibrahim bin Abi Hayyah. Bukhariy berkata “munkar al hadits”. Nasa’i berkata “dhaif”. Daruquthniy berkata “matruk”. Abu Hatim berkata “munkar al hadits”. Ibnu Madiniy berkata “tidak ada apa-apanya”. Yahya bin Ma’in menyatakan tsiqat. Ibnu Hibban menyatakan ia meriwayatkan dari Ja’far dan Hisyaam hadis-hadis mungkar [Lisan Al Miizan Ibnu Hajar 1/271-272 no 166]

أَخْبَرَنَا ابْن الحصين نا أَبُو طالب بْن عيلان نا أَبُو بَكْر الشافعي ثنا عَبْد اللَّهِ بْن مُحَمَّد بْن ناجية  ثنا عباد بْن يعوق  ثنا مُوسَى بْن عمير عَنْ جَعْفَر بْن مُحَمَّد عَنْ أبيه عَنْ جده عَنْ علي قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بُعِثَ بِكَسْرِ الْمَزَامِيرِ “

Telah menceritakan kepada kami Ibnu Hushain yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Thalib bin ‘Ailaan yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Asy Syafi’iy yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Muhammad bin Naajiyah yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abbaad bin Ya’qub yang berkata telah menceritakan kepada kami Muusa bin ‘Umair dari Ja’far bin Muhammad dari Ayahnya dari kakeknya dari Aliy yang berkata Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang berkata “Aku diutus untuk menghancurkan seruling” [Talbiis Ibliis Ibnu Jauziy hal 226]

Riwayat Aliy bin Abi Thalib [‘alaihis salaam] di atas sanadnya dhaif karena Muusa bin Umair. Yahya bin Ma’in berkata “tidak ada apa-apanya”. Ibnu Numair, Abu Zur’ah dan Daruquthniy berkata “dhaif”. Abu Hatim menyatakan ia pendusta. Nasa’i berkata “tidak tsiqat”. Ya’qub bin Sufyaan berkata “dhaif”. Al Uqailiy berkata “munkar al hadits” [Tahdzib At Tahdzib juz 10 no 644]

.

.

Pembahasan Syaikh Al Judai’ dan Syaikh ‘Abdullah Ramadhan bin Muusa

Syaikh ‘Abdullah bin Yuusuf Al Judai’ dalam kitabnya Al Muusiq Wal Ghinaa’ Fii Miizan Al Islaam hal 412-413 menyatakan hadis tersebut dhaif karena kelemahan ‘Abdurrahman bin Tsaabit bin Tsauban dalam riwayat dari Ayahnya dari Makhuul.

Syaikh Abdullah Al Judai’ memahami sanad riwayat tersebut sebagai berikut. Beliau melihat ada dua jalan sanad dari Makhuul yaitu

  1. Makhuul meriwayatkan dari Jubair bin Nufair secara mursal
  2. Makhuul meriwayakan dari perawi majhul dari Ikrimah secara maushul.

Beliau juga menyebutkan kemungkinan bahwa perawi majhul tersebut sebagai mutaba’ah Jubair dari Ikrimah tetapi beliau lebih merajihkan bahwa Makhuul meriwayatkan dari Jubair secara mursal dan melalui perawi mubham secara muttashil. Maka menurut Syaikh Al Judai’ kedua jalan tersebut tetap dhaif.

Apa yang dikatakan Syaikh Al Judai’ perihal Ibnu Tsauban itu sudah benar sebagaimana yang telah kami sebutkan rincian jarh dan ta’dil dari para ulama tentangnya. Adapun cara Syaikh Judai’ melihat sanad tersebut maka kami katakan itu berdasarkan zhahir sanad dari riwayat Tammaam Ar Raaziy. Adapun riwayat Ibnu Jauziy zhahir sanadnya berbeda dengan riwayat Tammaam. Hal ini sepertinya terluput dari pandangan Syaikh atau Beliau mengira bahwa kedua jalan sanad Ibnu Jauziy dan Tammaam itu sama maka ini keliru.

.

.

.

Adapun Syaikh Abdullah Ramadhan bin Muusa dalam kitabnya Raddu ‘Ala Al Qaradhawiy Wal Judai’ hal 318 menyatakan bahwa sanad hadis tersebut jayyid dan hadisnya tsabit. Beliau membawakan hujjah-hujjahnya dan bantahan terhadap Syaikh Al Judai’. Berikut kami akan membahas hujjah yang digunakan Syaikh Abdullah Ramadhan bin Muusa untuk menguatkan hadis ini.

Syaikh ‘Abdullah Ramadhan bin Muusa dalam kitabnya Raddu ‘Ala Al Qaradhawiy Wal Judai’ hal 321 ketika membantah Syaikh Al Judai’ mengenai lafaz jarh Shalih bin Muhammad terhadap ‘Abdurrahman bin Tsaabit bin Tsauban bahwa orang-orang mengingkari hadis-hadis yang ia riwayatkan dari ayahnya dari Makhuul. Syaikh Abdullah Ramadhan bin Muusa mengatakan bahwa itu bermakna sebagian hadisnya dari Ayahnya dari Makhuul bukan semua hadisnya dari Ayahnya dari Makhuul.

Jadi perkataan Shalih bin Muhammad menurut Syaikh tidak bermakna mendhaifkan secara mutlak riwayat ‘Abdurrahman bin Tsaabit bin Tsauban dari Ayahnya dari Makhuul. Menurut kami bantahan Syaikh disini tidak bernilai hujjah. Ini lafaz perkataan Shalih bin Muhammad [yang dinukil Ibnu Hajar]

قال صالح بن محمد شامي صدوق إلا أن مذهبه القدر وانكروا عليه أحاديث يرويها عن أبيه عن مكحول

Shalih bin Muhammad berkata “orang syam yang shaduq hanya saja mazhabnya qadari dan orang-orang mengingkari hadis-hadis yang ia riwayatkan dari Ayahnya dari Makhuul [Tahdzib At Tahdzib Ibnu Hajar juz 6 no 306]

Syaikh ‘Abdullah Ramadhan bin Muusa mempermasalahkan lafaz أحاديث  [‘Ahaadits] yang menurutnya bukan lafaz yang bersifat umum jadi maknanya hanya sebagian hadis saja. Berbeda hal-nya jika lafaznya الأحاديث [Al ‘Ahadits] maka maknanya bersifat umum dan mencakup seluruh hadisnya. Oleh karena itu menurut Syaikh jarh Shalih bin Muhammad itu hanya berlaku pada sebagian hadis ‘Abdurrahman bin Tsaabit dari Ayahnya dari Makhuul.

Pernyataan lafaz ‘Ahadits bisa bermakna sebagian itu memang benar. Sehingga jarh Shalih bin Muhammad itu maknanya adalah sebagian hadis ‘Abdurrahman bin Tsaabit dari Ayahnya dari Makhuul mungkar dan itu adalah lafaz jarh mufassar. Dan jarh tersebut sudah cukup untuk menyatakan bahwa riwayatnya dari Ayahnya dari Makhuul tidak bisa dijadikan hujjah jika tafarrud [menyendiri]. Adapun selain riwayat dari Ayahnya dari Makhuul maka kedudukannya shaduq hasanul hadis. Hal ini bersesuaian dengan jarh para ulama lain seperti Ahmad bin Hanbal dan Yahya bin Ma’in bersamaan dengan tautsiq mutlak dari ulama lain semisal Abu Hatim dan Duhaim. Kalau ada orang yang ingin menyatakan shahih riwayat ‘Abdurrahman bin Tsaabit bin Tsauban dari Ayahnya dari Makhuul maka orang tersebut harus membawakan bukti yang dapat mengeluarkan riwayat tersebut dari jarh yang dimaksud Shalih bin Muhammad yaitu dengan membawakan syawahid atau mutaba’ah bagi hadis tersebut.

Terdapat contoh dari ulama mu’tabar yaitu Ahmad bin Hanbal mengenai penggunaan lafaz ‘Ahaadiits dan ternyata memiliki makna seluruh atau sebagian besar hadisnya. Berikut contohnya

حدثنا محمبن عيسى قال سمعت محمد بن على الوراق قال سمعت أحمد بن حنبل يقول في أحاديث يزيد بن أبي حبيب عن سعد بن سنان عن أنس قال روى خمسة عشر حديثا منكرة كلها ما أعرف منها واحدا

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Iisa yang berkata aku mendengar Muhammad bin ‘Aliy Al Waraaq yang berkata aku mendengar Ahmad bin Hanbal mengatakan tentang ‘Ahaadits [hadis-hadis] Yaziid bin Abi Habiib dari Sa’d bin Sinaan dari Anas. Ia berkata “diriwayatkan lima belas hadis mungkar seluruhnya aku tidak mengenalnya satupun” [Adh Dhu’afa Al ‘Uqailiy 2/473 no 596]

Apakah lafaz ‘Ahaadiits Yaziid bin Abi Habiib dari Sa’d bin Sinaan dari Anas di atas bermakna sebagian hadis saja?. Tidak, di sisi Ahmad bin Hanbal ia malah menyebutkan bahwa ada lima belas hadis dan semuanya mungkar. Maka hal ini menunjukkan bahwa lafaz tersebut pada saat itu di sisi Ahmad bin Hanbal bermakna keseluruhan.

وقال أحاديث عكرمة بن عمار عن يحيى بن أبي كثير ضعاف ليس بصحاح قلت له من عكرمة أو من يحيى قال لا إلا من عكرمة

[Ahmad bin Hanbal] berkata ‘Ahaadits [hadis-hadis] ‘Ikrimah bin ‘Ammaar dari Yahya bin Abi Katsiir dhaif tidak shahih, aku [‘Abdullah bin Ahmad] berkata kepadanya “apakah hal itu dari ‘Ikrimah atau dari Yahya?”. Ia menjawab “tidak lain itu dari ‘Ikrimah” [Al Ilal Ahmad bin Hanbal no 3255]

قال وعكرمة بن عمار مضطرب الحديث عن يحيى بن أبي كثير

[Ahmad bin Hanbal] berkata “dan ‘Ikrimah bin ‘Ammar mudhtharib al hadiits dari Yahya bin Abi Katsiir” [Al Ilal Ahmad bin Hanbal no 4492]

Lafaz ‘Ahaadiits Ikrimah bin ‘Ammar dari Yahya bin Abi Katsir di atas bermakna sebagian besar hadis Ikrimah dari Yahya, oleh karena itu di saat lain Ahmad bin Hanbal berkata Ikrimah mudhtharib al hadits dari Yahya, ini adalah lafaz umum yang mencakup sebagian besar hadisnya Ikrimah dari Yahya.

.

.

Syaikh ‘Abdullah Ramadhan bin Muusa dalam kitabnya Raddu ‘Ala Al Qaradhawiy Wal Judai’ hal 323 menyatakan bahwa hadis di atas bukan bagian dari riwayat mungkar yang dikatakan dalam jarh Shalih bin Muhammad. Beliau menjadikan bukti bahwa hadis ini tidak disebutkan Ibnu Adiy dalam kitabnya Al Kamil dan tidak ada satupun ulama yang menyatakan hadis tersebut mungkar.

Adapun Ibnu Adiy tidak memasukkan hadis ini dalam Al Kamil maka itu memang benar tetapi hal ini tidak menjadi bukti bahwa hadis tersebut tidak mungkar. Ibnu Adiy memang menyebutkan beberapa hadis ‘Abdurrahman bin Tsabit yang mungkar dan ia tidak menyebutkan hadis ini maka bukan berarti langsung dikatakan Ibnu Adiy menganggap hadis ini tidak mungkar karena

  1. Bisa saja Ibnu Adiy tidak mengetahui hadis tersebut, hal ini sangat mungkin sekali dimana tidak setiap ulama mengetahui semua hadis mungkar yang ada.
  2. Manhaj Ibnu Adiy dalam Al Kamil tidak mensyaratkan ia harus menuliskan semua hadis mungkar milik perawi tertentu yang dijarh [dicela] sebagian ulama. Bisa saja ia menyebutkan sebagian dan merasa cukup untuk menjadikan sebagian tersebut sebagai bukti kelemahan perawi tertentu

Ibnu Adiy pernah berkata dalam  Al Kamil pada biografi Ahmad bin Salamah Abu ‘Amru Al Kuufiy

وأحمد بن سلمة هذا له من المناكير عن الثقات غير ما ذكرت وليس هو ممن يحتج بروايته

Dan Ahmad bin Salamah ini memiliki riwayat-riwayat mungkar dari perawi tsiqat selain apa yang aku sebutkan dan ia bukan termasuk orang yang dijadikan hujjah riwayatnya [Al Kamil Ibnu Adiy 1/311-312 no 27]

Perkataan Ibnu Adiy di atas menunjukkan bahwa terkadang ia cukup menyebutkan sebagian hadis mungkar yang menjadi bukti kelemahan perawi tertentu dan meninggalkan sebagian yang lain.

.

Kemudian perkataan Syaikh bahwa tidak ada satupun ulama yang menyatakan hadis Ibnu ‘Abbas tersebut mungkar, juga tidak menjadi hujjah. Pokok permasalahan disini bukanlah hadis Ibnu ‘Abbas tersebut dikatakan mungkar atau tidak oleh ulama tertentu. Yang dipermasalahkan disini adalah ternukil jarh dari ulama hadis Shalih bin Muhammad bahwa orang-orang mengingkari hadis-hadis ‘Abdurrahman bin Tsaabit dari Ayahnya dari Makhuul.

Jarh ini bersifat khusus untuk riwayat tertentu sehingga memang tidak pada tempatnya dijadikan hujjah untuk mendhaifkan secara mutlak ‘Abdurrahman bin Tsaabit. Apalagi ia justru dikatakan Shalih bin Muhammad seorang yang shaduq dan sebagian ulama lain telah memberikan ta’dil terhadapnya.

Hanya saja memang ternukil sebagian ulama yang melemahkannya seperti Ahmad, Ibnu Ma’in, Ibnu Khirasy, Nasa’iy dan Ibnu Adiy. Maka penjamakan terhadap semua perkataan tersebut adalah ‘Abdurrahman bin Tsaabit memiliki kelemahan pada dhabitnya. Jika fakta ini digabungkan dengan jarh Shalih bin Muhammad mengenai orang-orang yang mengingkari riwayatnya dari Ayahnya dari Makhuul. Maka satu-satunya penjelasan yang masuk akal adalah riwayat-riwayat mungkar tersebut adalah bagian dari kelemahan ‘Abdurrahman bin Tsaabit pada sisi dhabit-nya. Jadi sangat wajar kalau dipahami bahwa riwayatnya dari Ayahnya dari Makhuul tidak bisa dijadikan hujjah jika tafarrud [menyendiri]. Atau dengan bahasa lain kedudukannya dhaif sampai dibuktikan ada syawahid atau mutaba’ah yang menguatkannya.

.

Syaikh ‘Abdullah Ramadhan bin Muusa kemudian dalam kitabnya Raddu ‘Ala Al Qaradhawiy Wal Judai’ hal 324 membawakan hadis ‘Abdurrahman bin Tsaabit dari Ayahnya dari Makhuul yang tidak diingkari para ulama bahkan dishahihkan sebagian ulama yaitu hadis dalam Sunan Tirmidzi berikut

حدثنا إبراهيم بن يعقوب حدثنا علي بن عياش حدثنا عبد الرحمن بن ثابت بن ثوبان عن أبيه عن مكحول عن جبير بن نفير عن ابن عمر عن النبي صلى الله عليه و سلم قال إن الله يقبل توبة العبد مالم يغرغر

Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Ya’quub yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin ‘Ayyaasy yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman bin Tsaabit bin Tsauban dari Ayahnya dari Makhuul dari Jubair bin Nufair dari Ibnu ‘Umar dari Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang berkata “Sesungguhnya Allah akan tetap menerima taubat seorang hamba selama belum sekarat” [Sunan Tirmidzi 5/547 no 3537]

Memang tidak dipungkiri bahwa hadis ini telah dikuatkan dan dishahihkan oleh sebagian ulama, diantaranya At Tirmidzi sendiri berkata “hasan gharib”, Ibnu Hibban memasukkannya dalam Shahihnya [Shahih Ibnu Hibban no 628] dan Al Hakim menyatakan sanadnya shahih [Al Mustadrak 4/286 no 7659]

Tetapi jika Syaikh ‘Abdullah Ramadhan bin Muusa menyatakan tidak ada ulama yang mengingkarinya maka ia keliru. Hadis ini justru dimasukkan Ibnu Adiy dalam kitabnya Al Kamil biografi ‘Abdurrahman bin Tsaabit bin Tsauban [Al Kamil Ibnu Adiy 5/461]. Dan Ibnu Adiy memasukkan hadis tersebut dalam Al Kamil menunjukkan bahwa itu termasuk dalam kelemahan dan kemungkaran hadis ‘Abdurrahman bin Tsaabit [sebagaimana hal ini diakui sendiri oleh Syaikh Abdullah Ramadhan bin Muusa]

Dan Adz Dzahabiy ternukil dalam sebagian kitabnya bahwa ia menyatakan hadis tersebut mungkar

قلت بل هو منكر ضعفه ابن معين في رواية عثمان بن سعيد، وقال مرة ليس به بأس وقال أحمد أحاديثه مناكير، وقال النسائي ليس بالقوي وقال ابن عدي يُكتب حديثه على ضعفه. قلت ومكحول مدلِّس فأين الصحة منه

Aku [Adz Dzahabiy] berkata “bahkan ia mungkar, Ibnu Ma’in telah melemahkannya dalam riwayat Utsman bin Sa’iid dan terkadang berkata “tidak ada masalah padanya”. Ahmad berkata “hadis-hadisnya mungkar”. Nasa’iy berkata “tidak kuat”. Ibnu Adiy berkata “ditulis hadisnya untuk melemahkannya”. Aku [Adz Dzahabiy] berkata “dan Makhuul mudallis, maka dimana letak shahihnya?” [Naqd Al Imam Adz Dzahabiy Li Bayaan Al Wahm hal 122 no 81]

Adz Dzahabiy juga memasukkan hadis ini dalam kitabnya Miizan Al I’tidal Adz Dzahabiy 4/264-264 no 4833 biografi ‘Abdurrahman bin Tsaabit. [hal ini menunjukkan di sisi Adz Dzahabiy bahwa hadis tersebut termasuk dalam kelemahan atau kemungkaran ‘Abdurrahman bin Tsaabit]

Anehnya dalam sebagian kitabnya yang lain Adz Dzahabiy justru menguatkan hadis ini [sebagaimana dishahihkan dalam Talkhiis Al Mustadrak] dan ia pernah berkata dalam bahwa hadis ini sanadnya shalih [Siyar A’lam An Nubala Adz Dzahabiy 5/160 biografi Makhuul]

Pada intinya memang ternukil ulama yang menyatakan mungkar hadis riwayat Tirmidzi yang dibawakan Syaikh Abdullah Ramadhan bin Muusa dan sebenarnya berdasarkan pendapat yang rajih kedudukan hadis tersebut adalah dhaif [hal ini memerlukan pembahasan khusus]. Hujjah Syaikh dengan hadis ini seolah ingin membatasi jarh Shalih bin Muhammad jelas tidak mengena, justru hadis riwayat Tirmidzi ini bisa dilemahkan dengan menggunakan jarh Shalih bin Muhammad.

.

.

Kembali ke hadis pokok tulisan di atas. Syaikh ‘Abdullah Ramadhan bin Muusa memiliki cara pandang yang berbeda mengenai sanad hadis ini. Dalam kitab Raddu ‘Ala Al Qaradhawiy Wal Judai’ hal 318, Syaikh menjelaskan mengenai sanad Ibnu Jauziy, bahwa hadis tersebut tsabit dan sanadnya jayyid, para perawinya tsiqat adapun Maalik bin Nahaam yang ada dalam sanad tersebut adalah Maalik bin Yukhaamir [disini Syaikh menguatkan seolah terjadi tashif dalam sanad Ibnu Jauziy]

Dalam Raddu ‘Ala Al Qaradhawiy Wal Judai’ hal 319-320, Syaikh menjelaskan mengenai sanad Tammaam Ar Raaziy bahwa ada dua kemungkinan tentang lafaz “wa ‘an ats tsiqat” dalam sanad tersebut

  1. Kemungkinan pertama, bisa saja huruf waw disana adalah tambahan dari naskah atau dari perawi sehingga sanad Tammaam sebenarnya adalah Makhuul dari Jubair dari seorang yang tsiqat dari Ikrimah dari ‘Ibnu ‘Abbas secara marfu’. Maka hal ini bersesuaian dengan sanad Ibnu Jauziy
  2. Kemungkinan kedua, bisa saja huruf waw disana memang mahfuzh atau tsabit maka Makhuul meriwayatkan dari Jubair dan Makhuul juga meriwayatkan dari seorang yang tsiqat, kemudian keduanya [Jubair dan orang tsiqat tersebut] meriwayatkan dari Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas. Sehingga jika digabungkan dengan sanad Ibnu Jauziy, Syaikh menekankan bahwa Jubair mendengar hadis ini dari Maalik dan juga dari Ikrimah.

Yang manapun dari kedua kemungkinan ini maka hadis tersebut tetap shahih, karena kedua kemungkinan yang disebutkan Syaikh Abdullah Ramadhan bin Muusa tetap berkonsekuensi para perawinya tsiqat.

.

Cara pandang Syaikh ‘Abdullah Ramadhan bin Muusa terhadap sanad hadis tersebut jelas tidak bisa disalahkan tetapi juga tidak bisa dibenarkan secara mutlak. Jika kita bandingkan antara cara pandang Syaikh Al Judai’ dan Syaikh ‘Abdullah Ramadhan bin Muusa ada perbedaan yang cukup signifikan yaitu Syaikh Al Judai’ tidak sedikitpun menyinggung kemungkinan adanya tashif dalam kitab, Beliau memperlakukan sanad tersebut sebagaimana zhahirnya. Berbeda dengan Syaikh Abdullah Ramadhan bin Muusa yang menyebutkan kemungkinan adanya tashif dalam kitab, misalnya

  1. Soal lafaz nama Malik bin Nahaam sebenarnya adalah Malik bin Yukhaamir [hal ini berarti tashif dalam kitab Talbiis Ibliis Ibnu Jauziy]
  2. Soal huruf “waw” dalam lafaz “wa ‘an ats tsiqat” seharusnya tidak ada maka lafaz sebenarnya adalah ‘an ats tsiqat [hal ini berarti tashif dalam kitab Fawa’id At Tammaam]

Soal dua kemungkinan yang disebutkan Syaikh ‘Abdullah Ramadhan bin Muusa maka kami katakan itu tidak menafikan kemungkinan  lain yang membuat sanad tersebut dhaif, misalnya bagaimana kalau misalnya yang mengalami tashif itu adalah kitab Talbiis Ibliis Ibnu Jauziy. Seharusnya ada huruf “waw” dalam sanad Ibnu Jauziy, maka seharusnya sanad Ibnu Jauziy adalah

مكحول عَنْ جبير بْن نفير وَعَنِ مالك بْن نحام الثقة عَنْ عِكْرِمَة

Makhuul dari Jubair bin Nufair dan dari Maalik bin Nahaam seorang yang tsiqat dari ‘Ikrimah

Maka sanad Ibnu Jauziy akan bersesuaian dengan sanad Tammaam bin Muhammad Ar Raaziy. Dan zhahir sanad ini tidak semata-mata memiliki dua kemungkinan sanad

  1. Makhuul dari Jubair dari Ikrimah dari Ibnu Abbas secara marfu’
  2. Makhhul dari seorang yang tsiqat [Maalik] dari Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas secara marfu’.

Bisa saja zhahir sanad di atas menunjukkan dua kemungkinan sanad lain yaitu

  1. Makhuul dari Jubair bin Nufair secara mursal
  2. Makhuul dari seorang yang tsiqat [Maalik] dari Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas secara marfu’

Sanad pertama jelas dhaif sedangkan sanad kedua mengandung illat [cacat] yaitu Makhuul dikenal banyak mengirsalkan riwayat maka apa buktinya Makhuul tidak mengirsalkan riwayat itu dari orang tsiqat yaitu Malik bin Nahaam, mengingat Maalik ini tidak ditemukan biografinya, sehingga tidak diketahui tahun lahir wafatnya dan tidak dikenal apakah ia termasuk gurunya Makhuul atau bukan.

Kalau dikatakan Maalik bin Nahaam adalah Maalik bin Yukhaamir maka ini pun masih perlu diteliti kembali, memang Makhuul disebutkan Al Mizziy dalam jajaran orang-orang yang meriwayatkan dari Malik bin Yukhaamir tetapi apakah Malik bin Yukhaamir termasuk orang yang meriwayatkan dari ‘Ikrimah. Jadi qarinah-nya masih kurang kuat untuk menyatakan Maalik bin Nahaam sebagai Maalik bin Yukhaamir.

Oleh karena itu kemungkinan-kemungkinan yang disebutkan Syaikh ‘Abdullah Ramadhan bin Muusa tidak menafikan kemungkinan lain dan tidak pula menafikan kemungkinan yang disebutkan Syaikh Al Judai’ [yang memperlakukan sanad itu sesuai dengan zhahirnya]

Menurut kami pendapat yang lebih rajih disini adalah memperlakukan sanad-sanad tersebut sebagaimana zhahir sanadnya. Adapun masalah kemungkinan tashif, hal itu tidak memberikan keyakinan yang kuat karena kekurangan qarinah [petunjuk] untuk menyatakan bahwa lafaz mana yang tashif dan di kitab mana. Dan seperti yang telah kami tunjukkan dalam pembahasan di atas, secara zhahir sanad riwayat Ibnu Jauziy dan Tammaam Ar Raaziy menunjukkan adanya idthirab.

.

.

Kesimpulan

Pembahasan panjang di atas membuktikan bahwa apa yang dikatakan Syaikh Al Judai’ bahwa hadis Ibnu ‘Abbas tentang menghancurkan seruling dan gendang kedudukannya dhaif adalah pendapat yang benar dan lebih rajih dibandingkan hujjah bantahan Syaikh ‘Abdullah Ramadhan bin Muusa.

Dhaif Atsar Ibnu Mas’ud : Nyanyian Menumbuhkan Kemunafikan Dalam Hati

sumber : Secondprince

Dhaif Atsar Ibnu Mas’ud : Nyanyian Menumbuhkan Kemunafikan Dalam Hati

Sedikit membicarakan mengenai masalah Nyanyian. Sudah dikenal bahwa terdapat sekelompok orang islam [baca : salafiy] yang sangat keras dalam mengharamkan musik dan nyanyian. Diantara mereka ada yang membawakan dan berhujjah dengan atsar Ibnu Mas’ud [radiallahu ‘anhu] bahwa Nyanyian menumbuhkan kemunafikan dalam hati. Tulisan ini berusaha membuktikan bahwa berdasarkan pendapat yang rajih kedudukan sebenarnya atsar tersebut di sisi ilmu hadis adalah dhaif.

.

.

Riwayat Pertama

حَدَّثَنَا حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ قَالَ حَّدَثَنَا الحُسَيْنُ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو خَيْثَمَةَ وَعُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ قَالا حَدَّثَنَا غُنْدَرٌ عَنْ شُعْبَةَ عَنِ الْحَكَمِ عَنْ حَمَّادٍ عَنْ إِبْرَاهِيمَ قَالَ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْعُودٍ الْغِنَاءُ يُنْبِتُ النِّفَاقَ فِي الْقَلْبِ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad yang berkata telah menceritakan kepada kami Husain yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Khaitsamah dan Ubaidillah bin ‘Umar keduanya berkata telah menceritakan kepada kami Ghundar dari Syu’bah dari Al Hakam dari Hammaad dari Ibrahiim yang berkata ‘Abdullah bin Mas’ud berkata “Nyanyian menumbuhkan kemunafikan di dalam hati” [Dzammul Malaahiy Ibnu Abi Dunyaa hal 42 no 31, tahqiq ‘Amru bin Abdul Mun’im bin Saliim]

Ibnu Abi Dunyaa juga menyebutkan sanad di atas dalam kitabnya Dzammul Malaaahiy hadis no 34, riwayat Ibnu Abi Dunyaa ini juga dikeluarkan oleh Al Baihaqiy dalam kitabnya Sunan Al Kubra 10/223 no 2795 dan Syu’ab Al Iman 4/278 no 5098

Ghundaar dalam periwayatan atsar di atas dari Syu’bah memiliki mutaba’ah dari

  1. Sa’iid bin ‘Aamir sebagaimana disebutkan Ibnu Abi Dunyaa dalam Dzammul Malahiy hadis no 36
  2. Waki’ bin Jarrah sebagaimana disebutkan Al Khallaal dalam kitabnya As Sunnah 5/76 no 1659

Al Hakam bin Utaibah dalam periwayatan atsar di atas dari Hammaad bin Abi Sulaiman memiliki mutaba’ah sebagai berikut

  1. Manshuur bin Mu’tamar sebagaimana disebutkan Ibnu Abi Dunyaa dalam Dzammul Malaahiy hadis no 35, Al Khallal dalam As Sunnah 5/73 no 1647, Al Baihaqiy dalam Syu’ab Al Imaan 4/279 no 5099, dan Ibnu Bathah dalam Al Ibanah kitab Iman 2/703 no 945 semuanya dengan jalan sanad Sufyan dari Manshur dari Hammad dari Ibrahim dari Ibnu Mas’ud. Ibnu Abi Dunya dalam Dzammul Malaahiy hadis no 37 juga menyebutkan dengan sanad Syariik dari Manshuur dari Ibrahim yang berkata mereka mengatakan Nyanyian menumbuhkan kemunafikan di dalam hati [tanpa menyebutkan Ibnu Mas’ud]. Riwayat Syarik tidak mahfuuzh dibanding riwayat Sufyaan karena Syarik jelek hafalannya.
  2. Abu Awanah Wadhaah bin ‘Abdullah sebagaimana disebutkan Ibnu Abi Dunyaa dalam Dzammul Malahiy hadis no 38 dengan jalan sanad Abu Awanah dari Hammad dari Ibrahim seperti hadis tersebut [mitslahu]. Lafaz mitslahu secara zhahir merujuk pada hadis sebelumnya pada no 37 yaitu riwayat Syarik dengan lafaz Ibrahim berkata “mereka mengatakan Nyanyian menumbuhkan kemunafikan di dalam hati” tanpa menyebutkan Ibnu Mas’ud.
  3. ‘Awwaam bin Hausyab sebagaimana disebutkan Ibnu Abi Dunyaa dalam Dzammul Malahiy hadis no 39, Al Khallaal dalam As Sunnah 5/72 no 1646 dan Ibnu Bathah dalam Al Ibanah kitab Iman 2/704 no 947 dengan jalan sanad dari Husyaim dari ‘Awwaam dari Hammad dari Ibnu Mas’ud [tanpa menyebutkan Ibrahim An Nakha’iy]. Sanad ini tidak mahfuuzh karena Husyaim dikenal sebagai mudallis dan riwayatnya disini dengan ‘an anah.
  4. Syu’bah bin Hajjaaj sebagaimana disebutkan Al Khallaal dalam kitabnya As Sunnah 5/76 no 1659. Dalam riwayat Al Khallal ini disebutkan bahwa Syu’bah setelah mendengar atsar itu dari Al Hakam maka ia mendatangi Hammaad dan Hammaad menyebutkan atsar tersebut kepadanya.

Sekilas seolah nampak adanya idhthirab yaitu dari sisi Hammaad bin Abi Sulaiman tetapi jika ditelaah dengan baik nampak bahwa yang rajih dan mahfuuzh adalah riwayat Hammaad dari Ibrahim dari Ibnu Mas’ud sebagaimana yang disebutkan Syu’bah, Al Hakam bin Utaibah dan Manshuur bin Mu’tamar. Adapun riwayat Abu Awanah bisa dijamak dengan riwayat Syu’bah, Al Hakam dan Manshuur yaitu bahwa diantara mereka yang dimaksudkan Ibrahim adalah Ibnu Mas’ud.

Ibrahim bin Yazid An Nakha’iy disebutkan biografinya dalam At Tahdzib dan Ibnu Hajar menukil bahwa Abu Nu’aim mengatakan ia wafat tahun 96 H dan umurnya ada yang mengatakan 49 tahun dan ada yang mengatakan 58 tahun [Tahdzib At Tahdzib juz 1 no 325]. Berdasarkan keterangan ini maka Ibrahim lahir tahun 38 H atau 47 H. Sedangkan Abdullah bin Mas’ud disebutkan dalam At Tahdzib bahwa ia wafat tahun 32 H atau 33 H [Tahdzib At Tahdzib juz 6 no 43]. Maka dapat disimpulkan bahwa Ibrahim tidak menemui masa Ibnu Mas’ud maka riwayatnya terputus [inqitha’] dan kedudukannya dhaif.

.

.

.

Syaikh Al Albani dalam Tahrim Alati Tharb hal 145 mengakui bahwa sanad Ibrahim dari Ibnu Mas’ud inqitha’ [terputus sanadnya] hanya saja dalam pandangan Syaikh Al Albaniy mursal Ibrahim khususnya dari Ibnu Mas’ud kedudukannya shahih. Diantara hujjah Syaikh Al Albani adalah riwayat berikut

حدثنا أبو عبيدة بن أبي السفر الكوفي حدثنا سعيد بن عامر عن شعبة عن سليمان الأعمش قال قلت لإبراهيم النخعي أسند لي عن عبد الله بن مسعود فقال إبراهيم إذا حدثتك عن رجل عن عبد الله فهو الذي سميت وإذا قلت قال عبد الله فهو عن غير واحد عن عبد الله

Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Ubaidah bin Abi As Safri Al Kuufiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Sa’iid bin ‘Aaamir dari Syu’bah dari Sulaiman Al A’masyi yang berkata aku berkata kepada Ibrahim An Nakha’iy “berikan sanad kepadaku dari ‘Abdullah bin Mas’ud”. Ibrahim berkata “jika aku menceritakan kepadamu dari seseorang dari ‘Abdullah maka ia adalah orang yang aku sebutkan namanya dan jika aku berkata Abdullah berkata maka itu dari lebih dari seorang dari ‘Abdullah [Sunan Tirmidzi Kitab Al Ilaal hal 249]

Riwayat ini tidak bisa dijadikan hujjah untuk menyatakan bahwa mursal Ibrahim dari Ibnu Mas’ud kedudukannya shahih. Faedah yang didapatkan dari riwayat di atas adalah jika Ibrahim berkata Ibnu Mas’ud berkata maka sanadnya adalah Ibrahim dari lebih dari seorang dari ‘Abdullah bin Mas’ud. Sanad ini tetap saja tidak bisa dijadikan hujjah karena mubham-nya orang-orang yang disebutkan Ibrahim dari Abdullah bin Mas’ud.

Mubham-nya orang-orang yang dimaksud mengandung kemungkinan bahwa bisa saja orang-orang tersebut tergolong dhaif atau majhul sehingga hadisnya tidak bisa dijadikan hujjah. Apalagi Ibrahim bin Yazid tidak dikenal sebagai perawi yang meriwayatkan hanya dari perawi tsiqat saja. Bahkan Aliy bin Madiniy menyatakan kalau Ibrahim bin Yazid juga meriwayatkan dari perawi majhul. Disebutkan dalam Tahdzib Al Kamal biografi Yazid bin Aus Al Kuufiy

فقال رجل يَا أَبَا الحسن فإبراهيم النخعي عمن روى من المجهولين ؟ فقال روى عن يزيد بْن أوس عَن علقمة فمن يزيد بْن أوس ؟ لا نعلم أحدا روى عنه غير إِبْرَاهِيم

Seorang laki-laki berkata “ wahai Abul Hasan apakah Ibrahim An Nakha’iy termasuk yang meriwayatkan dari orang-orang majhul?. Maka ia [Aliy bin Madiniy] berkata “ia telah meriwayatkan dari Yazid bin Aus dari Alqamah maka siapakah Yazid bin Aus?, tidak seorangpun diketahui meriwayatkan darinya kecuali Ibrahim [Tahdzib Al Kamal 32/91 no 6966]

Syaikh Al Muallimiy telah membahas perkataan Ibrahim kepada A’masyiy tersebut dan menurutnya riwayat tersebut tidaklah mengangkat inqitha’ sanad Ibrahim dari Ibnu Mas’ud karena masih mengandung kemungkinan bahwa lafaz “lebih dari seorang” itu termasuk mereka yang tidak bertemu dengan Ibnu Mas’ud atau bertemu dengannya tetapi tidak tsiqat [At Tankiil Al Mu’allimiy 2/142]

Sebagian orang mengatakan bahwa terdapat lafaz riwayat dimana Ibrahim menyebutkan “lebih dari seorang sahabatnya [Ibnu Mas’ud]” maka hal itu berarti sanad tersebut muttashil [bersambung] dan tidak ada sahabat Ibnu Mas’ud yang tidak tsiqat. Pernyataan ini juga tidak sepenuhnya benar, karena ketersambungan sanad tidak semata-mata berlandaskan pada lafaz “sahabat” karena seorang perawi bisa saja melakukan tadlis terhadap sahabatnya dan tidak ada jaminan bahwa semua sahabat Ibnu Mas’ud adalah tsiqat.

Mungkin orang tersebut bisa membawakan nama murid atau sahabat Ibnu Mas’ud yang menurutnya tsiqat dalam berbagai kitab Rijal tetapi apa yang ada dalam kitab Rijal bukanlah pembatas yang memustahilkan orang-orang majhul atau dhaif meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud. Nampak jelas disini bahwa sebagian orang memaksakan asumsinya sendiri berandai-andai dengan kemungkinan demi menyatakan shahih hadis yang sesuai keyakinannya.

Secara zhahir riwayat A’masyiy masih mengandung berbagai kemungkinan sehingga tidak bisa dijadikan hujjah untuk mengangkat kelemahan inqitha’ sanad Ibrahim dari Ibnu Mas’ud. Bukankah terdapat kemungkinan bahwa bisa saja perkataan Ibrahim tersebut khusus untuk riwayat yang ia ceritakan kepada A’masyiy saja?. Apa jaminannya bahwa itu berlaku untuk semua riwayat dimana Ibrahim berkata “qaala Ibnu Mas’ud”?. Maka bagaimana mungkin bisa dinyatakan shahih jika terdapat berbagai kemungkinan yang melemahkan.

.

.

.

Syaikh Al Albaniy kemudian menukil dari Al Ala’iy yang menyebutkan bahwa jama’ah Imam telah menshahihkan riwayat mursal Ibrahim dan Al Baihaqiy telah mengkhususkan shahih mursalnya dari Ibnu Mas’ud. Pernyataan Al Ala’iy ini dapat dilihat dalam kitabnya Jami’ At Tahshiil Fii Ahkam Al Marasiil no 13 biografi Ibrahim bin Yazid An Nakha’iy.

Apa yang dikatakan oleh Al Ala’iy dan dinukil oleh Syaikh Al Albaniy tersebut tidak sepenuhnya benar. Memang terdapat sebagian ulama yang menyatakan shahih mursal Ibrahim dari Ibnu Mas’ud dan sebagian ulama lain tetap menyatakan dhaif termasuk Al Baihaqiy. Maka penisbatan terhadap Al Baihaqiy tersebut tidak benar. Ulama yang menguatkan riwayat Ibrahim dari Ibnu Mas’ud diantaranya adalah

  1. Ath Thahawiy termasuk ulama yang menyatakan shahih riwayat mursal Ibrahim dari Ibnu Mas’ud dan hujjahnya adalah berdasarkan riwayat Al A’masyiy di atas [Syarh Ma’aniy Al Atsar 1/226]. Seperti yang telah kami jelaskan di atas bahwa riwayat A’masyiy tersebut jika ditelaah secara kritis tidaklah menjadi bukti untuk menshahihkan mursal Ibrahim dari Ibnu Mas’ud.
  2. Ibnu Rajab Al Hanbaliy dalam Syarh Ilal Tirmidzi menjadikan riwayat Al A’masyiy tersebut sebagai hujjah untuk mentarjihkan riwayat mursal atas musnad dan ini berlaku khusus bagi Ibrahim An Nakha’iy dan terkhusus untuk riwayat irsal-nya dari Ibnu Mas’ud. [Syarh Ilal Tirmdizi 1/542].

Adapun ulama yang tetap menyatakan dhaif inqitha’ Ibrahim dari Ibnu Mas’ud adalah Al Baihaqiy, Al Bukhariy [sebagaimana dinukil Al Baihaqiy], Al Jurqaaniy, Adz Dzahabiy dan An Nawawiy.

Al Khilafiyat Al Baihaqiy

Al Khilafiyat juz 3 hal 356

Al Baihaqiy dalam kitabnya Al Khilaafiyyaat pernah menukil riwayat Ibrahim dari Ibnu Mas’ud kemudian ia berkata

وهذا مرسل إبراهيم لم يسمع من عبد الله بن مسعود ومرسلات إبراهيم ليست بشيء

Riwayat ini mursal, Ibrahim tidak mendengar dari Ibnu Mas’ud dan riwayat-riwayat mursal Ibrahim tidak ada apa-apanya [Al Khilaafiyyaat Al Baihaqiy 2/356]


Qiraat Khalaf Imam Baihaqiy

Qiraat Khalaf Imam Baihaqiy hal 212

Al Baihaqiy dalam kitabnya Qiraa’ah Khalaf Al Imaam hal 212 menukil dari Al Bukhariy yang membawakan riwayat Salamah bin Kuhail dari Ibrahim dari Abdullah kemudian Bukhariy berkata riwayat ini mursal tidak dapat dijadikan hujjah dengannya


Abathil Jurqaniy

Abathil Jurqaniy juz 2 hal 231

Al Jurqaaniy dalam kitabnya Al Abathiil Wal Manakiir 2/231 membawakan riwayat Hammaad dari Ibrahim dari Abdullah kemudian ia menyatakan riwayat tersebut bathil mudhtharib dan Ibrahim tidak mendengar dari Ibnu Mas’ud sedikitpun.


Mizan Itidal juz 1

Mizan Itidal juz 1 hal 204

Adz Dzahabiy dalam kitabnya Mizan Al I’tidal biografi Ibrahim bin Yazid An Nakha’iy menyebutkan

وأنه إذا أرسل عن ابن مسعود وغيره فليس ذلك بحجة

Bahwasanya ia [Ibrahim] jika mengirsalkan dari Ibnu Mas’ud dan selainnya maka tidaklah menjadi hujjah [Mizan Al I’tidal 1/204 no 252]


Al Majmu' Nawawi juz 3

Al Majmu' Nawawi juz 3 hal 311

An Nawawiy dalam kitabnya Al Majmu’ ketika menyebutkan riwayat dari Hammaad dari Ibrahim dari Ibnu Mas’ud maka ia berkata

 وهو ان إبراهيم النخعي لم يدرك ابن مسعود بالاتفاق فهو منقطع ضعيف

Dan ia sesungguhnya Ibrahim An Nakha’iy telah disepakati tidak menemui masa Ibnu Mas’ud maka ia munqathi’ [terputus sanadnya] dhaif [Al Majmu’ An Nawawiy 3/311-312]

Apa yang kami sebutkan di atas hanya ingin menunjukkan bahwa sebagian ulama menguatkan mursal Ibrahim dari Ibnu Mas’ud dan sebagian yang lain tetap melemahkan inqitha’ antara Ibrahim dan Ibnu Mas’ud. Pada dasarnya pendapat ulama yang berselisih harus ditimbang dengan kaidah ilmu manakah yang lebih rajih. Berdasarkan pembahasan sebelumnya nampak bahwa yang lebih rajih adalah tetap menyatakan mursal Ibrahim dari Ibnu Mas’ud dhaif dan hal ini sudah sesuai dengan kaidah ilmu hadis.

.

.

Riwayat Kedua

حَدَّثَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ قَالَ ثنا عَبْدُ الرَّحْمَنِ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ طَلْحَةَ عَنْ سَعِيدِ بْنِ كَعْبٍ الْمُرَادِيِّ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَزِيدَ عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ الْغِنَاءُ يُنْبِتُ النِّفَاقَ فِي الْقَلْبِ كَمَا يُنْبِتُ الْمَاءُ الزَّرْعَ وَإِنَّ الذِّكْرَ يُنْبِتُ الإِيمَانَ فِي الْقَلْبِ كَمَا يُنْبِتُ الْمَاءُ الزَّرْعَ

Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman dari Muhammad bin Thalhah dari Sa’id bin Ka’b Al Muraadiy dari Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Yaziid dari Ibnu Mas’ud yang berkata “Nyanyian menumbuhkan kemunafikan di dalam hati sebagaimana air menumbuhkan tanaman dan Dzikir menumbuhkan iman di dalam hati sebagaimana air menumbuhkan tanaman” [As Sunah Al Khalaal 5/73-74 no 1650]

Atsar ini juga diriwayatkan Ibnu Abi Dunya dalam Dzammul Malaaahiy hal 41 no 30 dan Al Baihaqiy dalam kitab Sunan-nya 10/223 no 2796 semuanya dengan jalan sanad Sa’iid bin Ka’b Al Muraadiy dari Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Yaziid dari Ibnu Mas’ud.

Sanad ini dhaif karena Sa’iid bin Ka’b Al Muraadiy tidak dikenal kredibilitasnya. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat 8/262 no 13345 dan menyebutkan Muhammad bin Thalhah meriwayatkan darinya. Ibnu Abi Hatim menyebutkan biografinya dalam kitab Al Jarh Wat Ta’dil 4/57 no 249 tanpa menyebutkan jarh dan ta’dil dan hanya menyebutkan Muhammad bin Thalhah yang meriwayatkan darinya. Berdasarkan hal ini nampak bahwa Sa’iid bin Ka’b Al Muraadiy adalah perawi yang majhul ‘ain karena hanya seorang yang meriwayatkan darinya, adapun penyebutan Ibnu Hibban dalam Ats Tsiqat tidak memiliki qarinah yang menguatkan ta’dilnya.

Al Bukhariy menyebutkan tentangnya hanya saja dengan nama Sa’iid bin Kulaib. Ia berkata dalam kitab Tarikh-nya

سعيد بن كليب عن محمد بن عبد الرحمن بن يزيد مرسل روى عنه محمد بن طلحة الكوفي

Sa’iid bin Kulaib meriwayatkan dari Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Yaziid mursal dan telah meriwayatkan darinya Muhammad bin Thalhah Al Kuufiy [Tarikh Al Kabiir juz 3 no 1694]

Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Yaziid An Nakha’iy adalah seorang yang tsiqat termasuk perawi thabaqat keenam [Taqrib At Tahdzib Ibnu Hajar 2/106] dan Ibnu Hajar menyebutkan bahwa perawi thabaqat keenam tidak tsabit bertemu dengan seorangpun dari sahabat Nabi [Taqrib At Tahdzib Ibnu Hajar 1/25]. Oleh karena itu sanad di atas juga dhaif karena munqathi’ [terputus sanadnya] yaitu Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Yazid tidak bertemu dengan Ibnu Mas’ud.

Terdapat riwayat yang menunjukkan bahwa perawi diantara Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Yazid dan Ibnu Mas’ud adalah Ayahnya, hanya saja riwayat ini tidak mahfuzh.

وَحَدَّثَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ قَالَ ثنا جَرِيرٌ عَنْ لَيْثٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَزِيدَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ  الْغِنَاءُ يُنْبِتُ النِّفَاقَ فِي الْقَلْبِ

Dan telah menceritakan kepada kami Abu ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepada kami Jarir dari Laits dari Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Yazid dari Ayahnya yang berkata ‘Abdullah berkata “Nyanyian menumbuhkan kemunafikan di dalam hati” [As Sunnah Al Khallaal 5/73 no 1649]

Riwayat ini tidak mahfuzh karena Laits bin Abi Sulaim, ia seorang yang shaduq hanya saja mengalami ikhtilath yang berat [bercampur hafalannya] dan hadisnya tidak bisa dibedakan sehingga ditinggalkan [Taqrib At Tahdzib 2/48]. Apalagi terdapat qarinah bahwa Laits mengalami idhthirab dalam periwayatan atsar ini, sebagaimana nampak dalam riwayat berikut

حَدَّثَنَا حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ قَالَ حَّدَثَنَا الحُسَيْنُ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ الْمُنْذِرِ قَالَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ قَالَ حَدَّثَنَا لَيْثٌ عَنْ طَلْحَةَ بْنِ مُصَرِّفٍ قَالَ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ الْغِنَاءُ يُنْبِتُ النِّفَاقَ فِي الْقَلْبِ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad yang berkata telah menceritakan kepada kami Husain yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepada kami Aliy bin Mundzir yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudhail yang berkata telah menceritakan kepada kami Laits dari Thalhah bin Musharrif yang berkata ‘Abdullah berkata “Nyanyian menumbuhkan kemunafikan di dalam hati” [Dzammul Malaahiy Ibnu Abi Dunyaa hal 45 no 40]

Riwayat di atas menjadi bukti bahwa Laits mengalami idhthirab [kekacauan dalam periwayatan], ia terkadang meriwayatkan dari Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Yazid dari ayahnya dari Ibnu Mas’ud dan terkadang meriwayatkan dari Thalhah bin Musharrif dari Ibnu Mas’ud. Kekacauan periwayatan ini memang sudah dikenal terjadi padanya, oleh karena itu riwayatnya tidak bisa dijadikan hujjah.

.

.

Riwayat Ketiga

حَدَّثَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ قَالَ ثنا وَكِيعٌ عَنْ سَلامِ بْنِ مِسْكِينٍ عَنْ شَيْخٍ لَهُمْ لَمْ يَكُنْ يُسَمِّيهِ عَنْ أَبِي وَائِلٍ أَنَّهُ دُعِيَ إِلَى وَلِيمَةٍ فَرَأَى لَعَّابِينَ فَخَرَجَ قَالَ سَمِعْتُ ابْنَ مَسْعُودٍ يَقُولُ الْغِنَاءُ يُنْبِتُ النِّفَاقَ كَمَا يُنْبِتُ الْمَاءُ الْبَقْلَ

Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Salaam bin Miskiin dari Syaikh mereka yang tidak disebutkan namanya dari Abi Wail bahwasanya ia diundang ke suatu walimah [pernikahan] maka ia melihat permainan [musik] maka ia keluar dan berkata aku mendengar Ibnu Mas’ud mengatakan Nyanyian menumbuhkan kemunafikan di dalam hati seperti air menumbuhkan sayuran [As Sunnah Al Khallaal 5/76 no 1658]

Riwayat ini juga disebutkan oleh Ibnu Bathah dalam Al Ibanah kitab Iiman 2/703 no 946 juga dengan jalan sanad Waki’ dari Salaam bin Miskiin dari Syaikh dari Abu Wail dari Ibnu Mas’ud secara mauquf.

Waki’ dalam periwayatan dari Salaam bin Miskiin tentang atsar Ibnu Mas’ud di atas secara mauquf telah diselisihi oleh

  1. Muslim bin Ibrahim yang meriwayatkan dari Salaam bin Miskiin secara marfu’ sebagaimana disebutkan oleh Abu Dawud dalam kitab Sunan-nya 2/699 no 4927
  2. Haramiy bin ‘Umarah yang meriwayatkan dari Salaam bin Miskiin secara marfu’ sebagaimana disebutkan Ibnu Abi Dunyaa dalam Dzammul Malaahiy hal 45 no 41 dan Al Baihaqiy dalam kitab Sunan-nya 10/223 no 20797

Baik atsar tersebut mauquf atau marfu’ maka sanadnya tetap dhaif karena Syaikh yang disebutkan Salaam bin Miskiin tersebut majhul. Apalagi matan riwayat ini sudah jelas mungkar [karena bertentangan dengan hadis shahih], baik ulama yang mengharamkan musik maupun yang membolehkannya telah sepakat bahwa terdapat dalil shahih Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] pernah mendengarkan nyanyian saat acara walimah.

.

.

.

Kesimpulan

Secara ringkas ada tiga riwayat Ibnu Mas’ud yang mengatakan bahwa Nyanyian menumbuhkan kemunafikan di dalam hati, yaitu

  1. Riwayat Ibrahim An Nakha’iy dari Ibnu Mas’ud, kedudukannya dhaif karena sanadnya terputus
  2. Riwayat Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Yaziid dari Ibnu Mas’ud, kedudukannya dhaif karena terdapat perawi majhul dan sanadnya terputus
  3. Riwayat Abu Wail dari Ibnu Mas’ud, kedudukannya dhaif karena terdapat perawi majhul

Berdasarkan pembahasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada satupun atsar dengan sanad shahih dimana ‘Abdullah bin Mas’ud [radiallahu ‘anhu] mengatakan bahwa Nyanyian dapat menumbuhkan kemunafikan di dalam hati.

Kisah Pembakaran Abdullah bin Saba’ Dalam Kitab Syi’ah

Sumber : Secondprince

Kisah Pembakaran Abdullah bin Saba’ Dalam Kitab Syi’ah

Sebelumnya pernah disinggung dalam sebagian tulisan di blog ini bahwa dalam mazhab Syi’ah terdapat riwayat shahih yang menyebutkan tentang Abdullah bin Saba’ bahwa ia seorang ghuluw kafir menyatakan ketuhanan Aliy bin Abi Thalib sehingga Imam Aliy menghukum dengan membakarnya. Hal ini dijadikan syubhat celaan oleh para pembenci Syi’ah. Ada diantara mereka yang mengatakan bahwa perbuatan Imam Aliy membakar Abdullah bin Saba’ bertentangan dengan hadis tidak boleh menyiksa dengan siksaan Allah [api].

Perlu diingatkan bahwa pembahasan yang kami buat disini adalah berdasarkan sudut pandang Syi’ah. Kami akan menilai sejauh mana validitas tuduhan para pembenci Syi’ah tersebut.

.

.

.

Ada ulama Syi’ah menyatakan bahwa ‘Abdullah bin Sabaa’ adalah tokoh fiktif. Anggapan ini keliru kalau dilihat dari sudut pandang mazhab Syi’ah karena telah terbukti melalui riwayat shahih bahwa ‘Abdullah bin Sabaa’ memang ada dan ia seorang ghuluw dalam kekafiran. Berikut riwayat shahih di sisi Syi’ah mengenai Abdullah bin Saba’

حدثني محمد بن قولويه، قال: حدثني سعد بن عبد الله، قال: حدثنا يعقوب بن يزيد ومحمد بن عيسى، عن ابن أبي عمير، عن هشام بن سالم، قال: سمعت أبا عبد الله عليه السلام يقول وهو يحدث أصحابه بحديث عبد الله بن سبأ وما ادعى من الربوبية في أمير المؤمنين علي بن أبي طالب، فقال: انه لما ادعى ذلك فيه استتابه أمير المؤمنين عليه السلام فأبي أن يتوب فأحرقه بالنار

Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Quluwaih yang berkata telah menceritakan kepadaku Sa’d bin ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepada kami Ya’qub bin Yaziid dan Muhammad bin Iisa dari Ibnu Abi ‘Umair dari Hisyaam bin Saalim yang berkata aku mendengar Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] mengatakan dan ia menceritakan kepada para sahabatnya tentang perkataan Abdullah bin Saba’ dan apa yang ia serukan tentang Rububiyah [ketuhanan] Amirul Mukminin Aliy bin Abi Thalib, maka Beliau selanjutnya berkata “ketika ia menyerukan hal itu maka Amirul Mukminin [‘alaihis salaam] memintanya bertaubat, ia menolak bertaubat maka Beliau membakarnya dengan api [Rijal Al Kasyiy 1/323 no 171]

Riwayat Al Kasyiy di atas sanadnya shahih berdasarkan standar ilmu Rijal Syi’ah berikut keterangan mengenai para perawinya

  1. Muhammad bin Quluwaih ayahnya Abul Qaasim Ja’far bin Muhammad bin Quluwaih seorang yang tsiqat [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadits hal 570]
  2. Sa’d bin ‘Abdullah Al Qummiy adalah seorang yang tsiqat [Al Fahrasat Syaikh Ath Thuusiy hal 135]
  3. Ya’qub bin Yazid bin Hammaad Al Anbariy seorang yang tsiqat shaduq [Rijal An Najasyiy hal 450 no 1215]
  4. Muhammad bin Iisa bin Ubaid, terdapat perbincangan atasnya. Najasyiy menyebutkan bahwa ia tsiqat, banyak riwayatnya dan baik tulisannya [Rijal An Najasyiy hal 333 no 896].
  5. Muhammad bin Abi Umair, ia termasuk orang yang paling terpercaya baik di kalangan khusus [Syi’ah] maupun kalangan umum [Al Fahrasat Ath Thuusiy hal 218]
  6. Hisyam bin Saalim, ia dikatakan An Najasyiy “tsiqat tsiqat” [Rijal An Najasyiy hal 434 no 1165]

Dan disebutkan pula dalam riwayat muwatstsaq dan shahih bahwa imam ahlul bait [‘alaihis salaam] telah melaknat ‘Abdullah bin Saba’

حدثني محمد بن قولويه، قال: حدثني سعد بن عبد الله، قال: حدثنا يعقوب بن يزيد ومحمد بن عيسى، عن علي بن مهزيار، عن فضالة بن أيوب الأزدي عن أبان بن عثمان، قال سمعت أبا عبد الله عليه السلام يقول: لعن الله عبد الله بن سبأ أنه ادعى الربوبية في أمير المؤمنين عليه السلام وكان والله أمير المؤمنين عليه السلام عبدا لله طائعا، الويل لمن كذب علينا وأن قوما يقولون فينا ما لا نقوله في أنفسنا، نبرأ إلى الله منهم نبرأ إلى الله منهم

Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Quluwaih yang berkata telah menceritakan kepadaku Sa’d bin ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepada kami Ya’qub bin Yaziid dan Muhammad bin Iisa dari Aliy bin Mahziyaar dari Fadhalah bin Ayuub Al Azdiy dari Aban bin ‘Utsman yang berkata aku mendengar Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] mengatakan “laknat Allah atas ‘Abdullah bin Sabaa’ sesungguhnya ia menyerukan Rububiyah [ketuhanan] Amirul Mukminin [‘alaihis salaam], demi Allah, Amirul Mukminin adalah hamba Allah yang taat, celakalah yang berdusta atas kami dan sesungguhnya terdapat kaum yang mengatakan tentang kami apa yang tidak pernah kami katakan tentang diri kami, kami berlepas diri kepada Allah dari mereka, kami berlepas diri kepada Allah dari mereka [Rijal Al Kasyiy 1/324 no 172]

Riwayat Al Kasyiy di atas sanadnya muwatstsaq berdasarkan standar ilmu Rijal Syi’ah karena para perawinya tsiqat hanya saja Aban bin ‘Utsman seorang yang jelek mahzabnya, berikut keterangan mengenai para perawinya

  1. Muhammad bin Quluwaih ayahnya Abul Qaasim Ja’far bin Muhammad bin Quluwaih seorang yang tsiqat [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadits hal 570]
  2. Sa’d bin ‘Abdullah Al Qummiy adalah seorang yang tsiqat [Al Fahrasat Syaikh Ath Thuusiy hal 135]
  3. Ya’qub bin Yazid bin Hammaad Al Anbariy seorang yang tsiqat shaduq [Rijal An Najasyiy hal 450 no 1215]
  4. Muhammad bin Iisa bin Ubaid, terdapat perbincangan atasnya. Najasyiy menyebutkan bahwa ia tsiqat, banyak riwayatnya dan baik tulisannya [Rijal An Najasyiy hal 333 no 896].
  5. Aliy bin Mahziyaar seorang yang tsiqat dalam riwayatnya, tidak ada celaan atasnya dan shahih keyakinannya [Rijal An Najasyiy hal 253 no 664]
  6. Fadhalah bin Ayuub Al Azdiy seorang yang tsiqat dalam hadisnya dan lurus dalam agamanya [Rijal An Najasyiy hal 310-311 no 850]
  7. Abaan bin ‘Utsman Al Ahmar, Al Hilliy menukil dari Al Kasyiy bahwa terdapat ijma’ menshahihkan apa yang shahih dari Aban bin ‘Utsman, dan Al Hilliy berkata “di sisiku riwayatnya diterima dan ia jelek mazhabnya” [Khulashah Al ‘Aqwaal Allamah Al Hilliy hal 74 no 3]

وبهذا الاسناد، عن يعقوب بن يزيد، عن ابن أبي عمير وأحمد بن محمد بن عيسى، عن أبيه والحسين بن سعيد، عن ابن أبي عمير عن هشام بن سالم، عن أبي حمزة الثمالي، قال، قال علي بن الحسين عليهما السلام لعن الله من كذب علينا، اني ذكرت عبد الله بن سبأ فقامت كل شعرة في جسدي، لقد ادعى أمرا عظيما ماله لعنه الله، كان علي عليه السلام والله عبدا لله صالحا، أخو رسول الله، ما نال الكرامة من الله الا بطاعته لله ولرسوله، وما نال رسول الله (ص) الكرامة من الله الا بطاعته لله

Dan dengan sanad ini dari Ya’qub bin Yaziid dari Ibnu Abi Umair dan dari Ahmad bin Muhammad bin Iisa dari Ayahnya dan Husain bin Sa’iid dari Ibnu Abi Umair dari Hisyaam bin Saalim dari Abi Hamzah Ats Tsumaliy yang berkata Aliy bin Husain [‘alaihimas salaam] berkata “Laknat Allah kepada orang yang berdusta atas kami, aku menyebutkan Abdullah bin Sabaa’ maka berdirilah setiap bulu di badanku, sesungguhnya dia telah menyeru perkara yang berat, laknat Allah atasnya, demi Allah, Aliy [‘alaihis salaam] adalah hamba Allah yang shalih, saudara Rasulnya dan tidaklah ia mendapatkan karamah dari Allah kecuali dengan ketaatannya kepada Allah dan Rasul-nya dan tidaklah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wa ‘alihi] mendapatkan karamah dari Allah kecuali dengan ketaatannya kepada Allah” [Rijal Al Kasyiy 1/324 no 173]

Adapun maksud perkataan Al Kasyiy “dan dengan sanad ini” adalah sanad pada riwayat sebelumnya yaitu dari Muhammad bin Quluwaih dari Sa’ad bin ‘Abdullah. Jadi sanad lengkap sanad di atas ada dua jalan yaitu

  1. Dari Muhammad bin Quluwaih dari Sa’ad bin ‘Abdullah dari Ya’qub bin Yaziid dari Ibnu Abi Umair dari Hisyaam bin Saalim dari Abi Hamzah Ats Tsumaliy dari Aliy bin Husain
  2. Dari Muhammad bin Quluwaih dari Sa’ad bin ‘Abdullah dari Ahmad bin Muhammad bin Iisa dari Ayahnya dan Husain bin Sa’iid dari Ibnu Abi Umair dari Hisyaam bin Saalim dari Abi Hamzah Ats Tsumaliy dari Aliy bin Husain

Secara keseluruhan sanad riwayat Al Kasyiy tersebut shahih berdasarkan standar ilmu Rijal Syi’ah, berikut keterangan para perawinya dan kami cukupkan pada sanad yang pertama

  1. Muhammad bin Quluwaih ayahnya Abul Qaasim Ja’far bin Muhammad bin Quluwaih seorang yang tsiqat [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadits hal 570]
  2. Sa’d bin ‘Abdullah Al Qummiy adalah seorang yang tsiqat [Al Fahrasat Syaikh Ath Thuusiy hal 135]
  3. Ya’qub bin Yazid bin Hammaad Al Anbariy seorang yang tsiqat shaduq [Rijal An Najasyiy hal 450 no 1215]
  4. Muhammad bin Abi Umair, ia termasuk orang yang paling terpercaya baik di kalangan khusus [Syi’ah] maupun kalangan umum [Al Fahrasat Ath Thuusiy hal 218]
  5. Hisyam bin Saalim, ia dikatakan An Najasyiy “tsiqat tsiqat” [Rijal An Najasyiy hal 434 no 1165]
  6. Abu Hamzah Ats Tsumaliy adalah Tsabit bin Diinar seorang yang tsiqat dan mu’tamad dalam riwayat dan hadis [Rijal An Najasyiy hal 115 no 296]

Setelah membawakan riwayat-riwayat mengenai ‘Abdullah bin Sabaa’ maka Al Kasyiy menutupnya dengan kata-kata berikut

وذكر بعضي أهل العلم أن عبد الله بن سبأ كان يهوديا فأسلم ووالى عليا عليه السلام، وكان يقول وهو على يهوديته في يوشع بن نون وصي موسى بالغلو، فقال في اسلامه بعد وفات رسول الله صلى الله عليه وآله في علي عليه السلام مثل ذلك وكان أول من شهر بالقول بفرض امامة علي وأظهر البراءة من أعدائه وكاشف مخالفيه وكفرهم، فمن هيهنا قال من خالف الشيعة أصل التشيع والرفض مأخوذ من اليهودية

Dan disebutkan oleh sekelompok ahli ilmu bahwa ‘Abdullah bin Sabaa’ adalah seorang Yahudiy yang masuk Islam dan berwala’ kepada Aliy [‘alaihis salaam]. Dahulu ketika masih Yahudiy ia mengatakan tentang Yusya’ bin Nuun sebagai washi Musa dengan ghuluw, maka setelah ia memeluk islam, ia mengatakan setelah wafatnya Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wa ‘alihi] tentang Aliy [‘alaihis salaam] hal yang sama, ia orang pertama yang dengan jelas mengatakan tentang kewajiban Imamah Aliy dan menampakkan bara’ah terhadap musuh-musuhnya, menyingkap orang-orang yang menyelisihinya dan mengkafirkan mereka. Maka dari sinilah, orang-orang yang menyelisihi Syi’ah berkata “asal Tasyayyu’ dan Rafidhah diambil dari Yahudi” [Rijal Al Kasyiy 1/324]

Nukilan Al Kasyiy di atas sering dijadikan hujjah oleh para pembenci Syi’ah untuk merendahkan mazhab Syi’ah. Padahal kalau ditelaah secara kritis maka nukilan di atas tidak bernilai hujjah dengan alasan sebagai berikut

  1. Tidak disebutkan siapakah sekelompok ahli ilmu yang dimaksud dalam perkataan Al Kasyiy di atas apakah mereka dari kalangan Syi’ah atau dari kalangan ahlus sunnah. Apalagi jika dilihat lafaz bahwa sekelompok ahli ilmu tersebut mengatakan ‘Abdullah bin Sabaa’ orang pertama yang menyatakan Imamah Aliy maka lafaz seperti ini tidak akan mungkin diucapkan oleh ulama dari kalangan Syi’ah karena para ulama Syi’ah bersepakat bahwa Imamah Aliy itu dinyatakan pertama kali oleh Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] sehingga dengan dasar ini maka kemungkinan besar ahli ilmu yang dimaksud Al Kasyiy adalah dari kalangan ahlus sunnah
  2. Di sisi mazhab Syi’ah tidak ada satupun riwayat shahih yang membuktikan bahwa ‘Abdullah bin Sabaa’ menyerukan tentang Imamah Aliy, justru riwayat-riwayat shahih membuktikan bahwa apa yang diseru ‘Abdullah bin Sabaa’ adalah tentang Rububiyah [ketuhanan] Aliy bin Abi Thalib. Maka apa yang dikatakan sebagian ahli ilmu tersebut tidak memiliki dasar dalam mazhab Syi’ah
  3. Riwayat-riwayat yang menyebutkan Abdullah bin Saba’ menyerukan Imamah Aliy atau Aliy sebagai washiy Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] hanya ditemukan dalam kitab ahlus sunnah diantaranya adalah riwayat Saif bin Umar. Maka hal ini menguatkan dugaan bahwa “sekelompok ahli ilmu” yang dimaksud Al Kasyiy adalah dari kalangan ahlus sunnah.

Berbeda halnya dengan “sekelompok ahli ilmu” yang dinukil oleh Al Kasyiy, Syaikh Ath Thuusiy dalam kitab Rijal-nya menyebutkan tentang ‘Abdullah bin Sabaa’ dengan lafaz berikut

عبد الله بن سبا، الذي رجع إلى الكفر وأظهر الغلو

‘Abdullah bin Sabaa’, termasuk orang yang kembali pada kekafiran dan menampakkan ghuluw [Rijal Ath Thuusiy hal 75]

Apa yang dikatakan oleh Syaikh Ath Thuusiy di atas memiliki dasar dari riwayat shahih mazhab Syi’ah sebagaimana telah dibuktikan di atas bahwa Abdullah bin Sabaa’ telah kufur karena menyatakan Rububiyah Aliy bin Abi Thalib.

.

.

Tidak disebutkan dalam riwayat-riwayat di atas apakah Aliy bin Abi Thalib membakar Abdullah bin Sabaa’ hidup-hidup atau membunuhnya terlebih dahulu baru kemudian membakar jasadnya. Tetapi terdapat qarinah yang menguatkan bahwa Aliy bin Abi Thalib mungkin membakarnya hidup-hidup. Dalam salah satu riwayat shahih Syi’ah disebutkan

علي بن إبراهيم، عن أبيه، عن ابن أبي عمير، عن هشام بن سالم، عن أبي عبد الله عليه السلام قال: أتى قوم أمير المؤمنين عليه السلام فقالوا: السلام عليك يا ربنا فاستتابهم فلم يتوبوا فحفر لهم حفيرة وأوقد فيها نارا وحفر حفيرة أخرى إلى جانبها وأفضى ما بينهما فلما لم يتوبوا ألقاهم في الحفيرة وأوقد في الحفيرة الأخرى [نارا] حتى ماتوا

Aliy bin Ibrahiim dari Ayahnya dari Ibnu Abi Umair dari Hisyaam bin Saalim dari Abi ‘Abdullah [‘alaihis salaam] yang berkata “datang suatu kaum kepada Amirul Mukminin [‘alaihis salaam] maka mereka berkata “salam untukmu wahai Tuhan kami”. Maka Beliau meminta mereka untuk bertaubat tetapi mereka tidak mau bertaubat. Beliau membuat lubang untuk mereka, menyalakan api di dalamnya dan membuat lubang lagi di sisi lainnya dan menghubungkan diantara keduanya, maka ketika mereka tidak mau bertaubat, Beliau memasukkan mereka ke dalam lubang dan menyalakan lubang yang lain dengan api hingga akhirnya mereka mati [Al Kafiy Al Kulainiy 7/258-259 no 18]

Riwayat Al Kafiy di atas sanadnya shahih berdasarkan standar ilmu Rijal Syi’ah berikut keterangan mengenai para perawinya

  1. Aliy bin Ibrahim bin Haasyim, tsiqat dalam hadis, tsabit, mu’tamad, shahih mazhabnya [Rijal An Najasyiy hal 260 no 680]
  2. Ibrahim bin Haasyim Al Qummiy seorang yang tsiqat jaliil. Ibnu Thawus pernah menyatakan hadis yang dalam sanadnya ada Ibrahim bin Haasyim bahwa para perawinya disepakati tsiqat [Al Mustadrakat Ilm Rijal Al Hadis, Asy Syahruudiy 1/222]
  3. Muhammad bin Abi Umair, ia termasuk orang yang paling terpercaya baik di kalangan khusus [Syi’ah] maupun kalangan umum [Al Fahrasat Ath Thuusiy hal 218]
  4. Hisyaam bin Saalim meriwayatkan dari Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] ia tsiqat tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 434 no 1165]

Walaupun memang dalam riwayat di atas masih terdapat kemungkinan bahwa mereka bukan mati terbakar tetapi mati karena asap dari api yang menyala di lubang yang satunya.

.

Kemudian para pembenci Syi’ah seperti yang dapat para pembaca lihat salah satunya disini, mengutip salah satu riwayat dari Imam Ja’far bahwa tidak boleh menghukum dengan azab Allah, mereka menyebutkan telah mengutip riwayat tersebut dari Kitab Gunahane Kabira oleh Ayatullah Dastaghaib Shiraziy

Kalau dilihat sepintas memang penulis situs tersebut agak aneh ketika membawakan riwayat tentang Abdullah bin Sabaa’ ia mengutip dari kitab sumber hadisnya [Rijal Al Kasyiy] tetapi ketika ia mengutip hadis larangan membakar, ia malah mengutip kitab bahasa parsi yang bukan kitab sumber hadisnya. Seperti biasa nampak bagi saya bahwa penulis situs tersebut hanya mengkopipaste hujjah para sahabatnya di forum pembenci Syi’ah.

Riwayat yang dijadikan hujjah oleh mereka para pembenci Syi’ah tersebut, telah disebutkan oleh Al Majlisiy dalam Bihar Al Anwar 79/45 dan Al Hurr Al Amiliy dalam Wasa’il Syi’ah 3/29-30

الحسن بن يوسف بن المطهر العلامة في ( منتهى المطلب ) رفعه قال : إن امرأة كانت تزني وتوضع أولادها وتحرقهم بالنار خوفا من أهلها ، ولم يعلم به غير أمها ، فلما ماتت دفنت فانكشف التراب عنها ولم تقبلها الارض ، فنقلت من ذلك المكان إلى غيره ، فجرى لها ذلك ، فجاء أهلها إلى الصادق ( عليه السلام ) وحكوا له القصة ، فقال لامها : ما كانت تصنع هذه في حياتها من المعاصي ؟ فأخبرته بباطن أمرها ، فقال الصادق ( عليه السلام ) : إن الارض لا تقبل هذه ، لانها كانت تعذب خلق الله بعذاب الله ، اجعلوا في قبرها شيئا من تربة الحسين ( عليه السلام ) ، ففعل ذلك بها فسترها الله تعالى

Al Hasan bin Yuusuf bin Muthahhar Al Allamah dalam Muntaha Al Mathlab, merafa’kan, [perawi] berkata “bahwa seorang wanita pezina membakar anak-anaknya dengan api karena takut kepada keluarganya, tidak ada yang mengetahui perbuatannya kecuali Ibunya, ketika ia wafat dan dikuburkan maka bumi mengeluarkannya dan tidak menerima jasadnya, maka kemudian dipindahkan ke tempat lainnya dan ternyata juga terjadi hal yang sama, maka keluarganya datang kepada Ash Shaadiq [‘alaihis salaam] dan menceritakan kepada Beliau peristiwa tersebut. Maka Beliau berkata kepada ibunya “dosa apa yang pernah ia lakukan semasa hidupnya?”. Ibunya menceritakan kepada Beliau perbuatannya. Maka Ash Shaadiq [‘alaihis salaam] berkata “sesungguhnya bumi tidak menerimanya karena ia telah menyiksa ciptaan Allah dengan siksaan Allah [api], kemudian Beliau menempatkan pada kuburnya sedikit dari tanah kuburan Husain [‘alaihis salaam], maka ketika hal itu dilakukan, Allah ta’ala menutup kuburnya [Wasa’il Syi’ah Syaikh Al Hurr Al Amiliy 3/29-30]

منتهى المطلب: قال: روي أن امرأة كانت تزني وتضع أولادها فتحرقهم بالنار، خوفا من أهلها، ولم يعلم بها غير أمها، فلما ماتت دفنت، فانكشف التراب عنها ولم تقبلها الأرض، فنقلت من ذلك المكان إلى غيره، فجرى لها ذلك، فجاء أهلها إلى الصادق عليه السلام وحكوا له القصة، فقال لامها ما كانت تصنع هذه في حياتها من المعاصي؟ فأخبرته بباطن أمرها، فقال الصادق عليه السلامإن الأرض لا تقبل هذه لأنها كانت تعذب خلق الله بعذاب الله، اجعلوا في قبرها من تربة الحسين عليه السلام، ففل ذلك بها فسترها الله تعالى

Muntaha Al Mathlab : berkata : diriwayatkan bahwa seorang wanita pezina membakar anak-anaknya dengan api karena takut kepada keluarganya, tidak ada yang mengetahui perbuatannya kecuali Ibunya, ketika ia wafat dan dikuburkan maka bumi mengeluarkannya dan tidak menerima jasadnya, maka kemudian dipindahkan ke tempat lainnya dan ternyata juga terjadi hal yang sama, maka keluarganya datang kepada Ash Shaadiq [‘alaihis salaam] dan menceritakan kepada Beliau peristiwa tersebut. Maka Beliau berkata kepada ibunya “dosa apa yang pernah ia lakukan semasa hidupnya?”. Ibunya menceritakan kepada Beliau perbuatannya. Maka Ash Shaadiq [‘alaihis salaam] berkata “sesungguhnya bumi tidak menerimanya karena ia telah menyiksa ciptaan Allah dengan siksaan Allah [api], kemudian Beliau menempatkan pada kuburnya sedikit dari tanah kuburan Husain [‘alaihis salaam], maka ketika hal itu dilakukan, Allah ta’ala menutup kuburnya [Bihar Al Anwar Al Majlisiy 79/45]

Al Majlisiy dan Al Hurr Al Amiliy menukil riwayat tersebut dari kitab Muntaha Al Mathlab Allamah Al Hilliy, dan inilah yang disebutkan dalam kitab tersebut

فقد روى أن امرأة كانت تزني تضع أولادها فتحرقهم بالنار خوفا من أهلها ولم يعلم به غير أمها فلما ماتت دفنت فانكشف التراب عنها ولم تقبلها الأرض فنقلت عن ذلك الموضع إلى غيره فجرى لها ذلك فجاء أهلها إلى الصادق عليه السلام وحكوا له القصة فقال لامها ما كانت تصنع هذه في حيوتها من المعاصي فأخبرته بباطن أمرها فقال عليه السلام أن الأرض لا تقبل هذه لأنها كانت تعذب خلق الله بعذاب الله اجعلوا في قبرها شيئا من تربة الحسين عليه السلام ففعل ذلك فسترها الله تعالى

Sungguh telah diriwayatkan bahwa seorang wanita pezina membakar anak-anaknya dengan api karena takut kepada keluarganya, tidak ada yang mengetahui perbuatannya kecuali Ibunya, ketika ia wafat dan dikuburkan maka bumi mengeluarkannya dan tidak menerima jasadnya, maka kemudian dipindahkan ke tempat lainnya dan ternyata juga terjadi hal yang sama, maka keluarganya datang kepada Ash Shaadiq [‘alaihis salaam] dan menceritakan kepada Beliau peristiwa tersebut. Maka Beliau berkata kepada ibunya “dosa apa yang pernah ia lakukan semasa hidupnya?”. Ibunya menceritakan kepada Beliau perbuatannya. Maka Ash Shaadiq [‘alaihis salaam] berkata “sesungguhnya bumi tidak menerimanya karena ia telah menyiksa ciptaan Allah dengan siksaan Allah [api], kemudian Beliau menempatkan pada kuburnya sedikit dari tanah kuburan Husain [‘alaihis salaam], maka ketika hal itu dilakukan, Allah ta’ala menutup kuburnya [Muntaha Al Mathlab Allamah Al Hilliy 1/461]

Seperti yang dapat para pembaca lihat sumber hadis tersebut ternyata adalah nukilan ulama yang tidak bersanad, maka berdasarkan standar ilmu hadis Syi’ah hadis tersebut tidak bisa dijadikan hujjah karena tidak ada sanadnya.

Bagaimana mungkin riwayat dengan kedudukan seperti ini dijadikan hujjah untuk menentang riwayat shahih bahkan menurut bahasa lebay para pembenci Syi’ah telah meruntuhkan kema’shuman Imam ahlul bait dalam mazhab Syi’ah. Saran kami kepada penulis situs tersebut, ada baiknya anda belajar bersikap objektif dan merujuk kepada kitab hadis serta menerapkan metode ilmiah, sebelum anda berbicara sok soal mazhab orang lain. Alangkah lucunya ketika anda menuliskan sebuah tulisan panjang untuk merendahkan Syi’ah ternyata inti tulisan tersebut berhujjah pada riwayat dhaif di sisi mazhab Syi’ah.

.

.

.

Kesimpulan

Dalam mazhab Syi’ah, hadis larangan membakar atau menyiksa dengan siksaan Allah kedudukannya dhaif sehingga walaupun telah shahih bahwa Imam Aliy membakar ‘Abdullah bin Sabaa’ maka hal itu tidaklah bertentangan dengan kema’shuman Imam dalam mazhab Syi’ah.

Adapun dalam mazhab Ahlus Sunnah [berdasarkan pendapat yang rajih dan menjadi pegangan kami] telah berlalu penjelasannya dalam beberapa tulisan kami [bisa dilihat di daftar artikel] bahwa tidak shahih Imam Aliy membakar orang-orang murtad hidup hidup, yang benar adalah Beliau membunuh mereka kemudian membakar jasadnya. Dalam pandangan kami, hal ini adalah kekhususan bagi Beliau dan tidak bertentangan dengan hadis larangan menyiksa dengan siksaan Allah SWT.

Tragedi Hari Kamis : Kritik Atas Tanggapan Ibnu Abdillah Al Katibiy

sumber : Secondprince

Tragedi Hari Kamis : Kritik Atas Tanggapan Ibnu Abdillah Al Katibiy

Beberapa hari yang lalu kami mendapat kiriman link yang katanya membantah tulisan kami tentang “Tragedi Hari Kamis”. Setelah kami membaca tulisannya, ternyata sang penulis tidaklah berbeda dengan para pengingkar lainnya yang mencari-cari syubhat demi membela Umar bin Khaththab [radiallahu ‘anhu].

Pertama-tama kami tekankan kepada penulis tersebut tolong tidak usah mengkait-kaitkan tulisan kami tersebut dengan Syi’ah. Kami tidak menulisnya atas nama Syi’ah dan tidak pula berhujjah dengan pandangan Syi’ah. Kalau anda mau membantah kami ya silakan kutip tulisan kami dan silakan bantah apa yang ingin anda bantah. Jangan mencampuradukkan bantahan terhadap kami dengan bantahan terhadap Syi’ah. Berikut kami tunjukkan syubhat-syubhat dari penulis tersebut [tulisannya kami kutip dalam bentuk quote]

.

.

.

Syubhat Dalih Pembelaan Tehadap Umar bin Khaththab

Inti dari tulisan kami tentang Tragedi Hari Kamis adalah Umar bin Khaththab [radiallahu ‘anhu] telah keliru ketika mencegah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dalam penulisan wasiat tersebut. Sedangkan inti dari bantahan anda adalah Umar benar atas sikapnya, dan dalam bantahan tersebut anda membawakan syubhat-syubhat berikut.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki perhatian yang begitu besar atas umatnya, hal yang paling dikhawatirkan Beliau sebelum wafatnya adalah keadaan umatnya sepeninggalannya. Meskipun beliau sudah menyampaikan semua yang harus disampaikan kepada umatnya, dan telah sempurna agama islam. Beliau masih merasa sesuatu yang kurang, maka beliau dalam keadaan payah memerintahkan para sahabat untuk menyediakan kertas agar bisa menulis sesuatu yang dianggap penting dari apa yang telah ada

Silakan tanya diri anda, anda umat siapa?. Jika anda memang umat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] maka bukankah seharusnya anda lebih mengedepankan dan membela dengan mati-matian apa yang dikatakan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Kalau anda bisa mengatakan Rasulullah masih merasa sesuatu yang kurang maka bukankah sebagai umat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] harusnya menganggap Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang lebih paham tentang kondisi umatnya dan apa yang terbaik bagi umatnya. Posisi kami disini jelas yaitu membela yang dikatakan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan menyalahkan Umar bin Khaththab [radiallahu ‘anhu].

Sayidina Umar setelah mendengar firman Allah di Arafah yang disampaikan Nabi dalam haji Wada` :

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا  [المائدة : 3[

“Pada hari Ini Telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan Telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan Telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu”                (Al Maidah : 3)

Serta setelah mendengar sabda Rasullullah dalam haji wada’ :

وقد تَرَكْتُ فِيكُمْ ما لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُ إن اعْتَصَمْتُمْ بِهِ كِتَابُ اللَّهِ

“..Benar-benar telah kutinggalkan dalam kalian sesuatu yang kalian tidak akan pernah tersesat setelahnya jika kalian berpegang teguh dengannya, yaitu Kitab Allah..” (HR Muslim)

Jawaban kami sederhana saja. Siapakah yang lebih paham akan Al Qur’anul Karim terutama Al Maidah ayat 3 yang anda kutip?. Jawabannya ya jelas Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Siapakah yang paling paham akan ucapan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] saat Haji Wada tersebut? Jawabannya ya Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] sendiri. Jadi tidak ada gunanya anda membela Umar bin Khaththab [radiallahu ‘anhu] dengan ayat Al Qur’an dan hadis tersebut. Bahkan seharusnya kalau memang Umar bin Khaththab [radiallahu ‘anhu] mau berpegang teguh pada Al Qur’an. Bukankah Beliau pernah membaca Ayat

وَمَا آَتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا

Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah [QS Al Hasyr : 7]

Jadi sikap yang benar disini adalah menerima apa yang dikatakan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tersebut tidak peduli apakah wasiat tersebut sesuatu yang belum diucapkan atau penekanan terhadap sesuatu yang pernah diucapkan sebelumnya.

Alasan bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] sakit atau dalam keadaan payah bukanlah alasan yang kuat untuk membantah apa yang dikatakan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Sebagian sahabat yang ada disana justru ingin memenuhi permintaan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] hanya saja mereka diselisihi oleh sebagian lain yang mengikuti pendapat Umar. Artinya dalam pandangan sebagian sahabat, wasiat tersebut masih mungkin untuk dipenuhi dengan cara-cara yang tidak menyulitkan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Jadi berhentilah berapologi dan lihatlah masalah ini dengan objektif.

.

.

.

Syubhat Tragedi Yang Dimaksud Ibnu ‘Abbas

Pada tulisan kami sebelumnya [tentang Tragedi Hari Kamis] kami menyebutkan bahwa yang dimaksud tragedi atau bencana oleh Ibnu ‘Abbas adalah terhalangnya Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dari penulisan wasiat tersebut. Sedangkan penulis tersebut menganggap yang dimaksud bencana itu adalah perselisihan dan keributan di sisi Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam].

Penulis tersebut telah melakukan syubhat halus disini, yaitu mencoba untuk menyimpangkan makna bencana yang dipahami Ibnu ‘Abbaas. Kami mengakui kalau perselisihan dan keributan di sisi Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] itu sangat tidak pantas apalagi Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dalam keadaan sakit. Penulis tersebut mengatakan

Yang diratapi Sayidina Abbas bukan tidak jadinya Rasulullah dalam menuliskan wasiat akan tetapi perselisihan dan kegaduhan para sahabat di samping Rasulullah, padahal Rasulullah dalam keadaan sakit parah.

Pernyataan penulis tersebut tidak tepat karena dalam hadis Shahih Bukhariy terdapat matan yang dengan jelas menyebutkan bahwa yang diratapi Ibnu ‘Abbas adalah terhalangnya [tidak jadinya] Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dalam menuliskan wasiatnya.

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سُلَيْمَانَ قَالَ حَدَّثَنِي ابْنُ وَهْبٍ قَالَ أَخْبَرَنِي يُونُسُ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ لَمَّا اشْتَدَّ بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَجَعُهُ قَالَ ائْتُونِي بِكِتَابٍ أَكْتُبْ لَكُمْ كِتَابًا لَا تَضِلُّوا بَعْدَهُ قَالَ عُمَرُ إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَلَبَهُ الْوَجَعُ وَعِنْدَنَا كِتَابُ اللَّهِ حَسْبُنَا فَاخْتَلَفُوا وَكَثُرَ اللَّغَطُ قَالَ قُومُوا عَنِّي وَلَا يَنْبَغِي عِنْدِي التَّنَازُعُ فَخَرَجَ ابْنُ عَبَّاسٍ يَقُولُ إِنَّ الرَّزِيَّةَ كُلَّ الرَّزِيَّةِ مَا حَالَ بَيْنَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبَيْنَ كِتَابِهِ

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sulaiman yang berkata telah menceritakan kepadaku Ibnu Wahb yang berkata telah mengabarkan kepadaku Yunus dari Ibnu Syihaab dari ‘Ubaidillah bin ‘Abdullah dari Ibnu ‘Abbas yang berkata Ketika Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengalami sakit berat maka Beliau berkata “Berikan kepadaku kertas sehingga aku tuliskan untuk kalian tulisan maka kalian tidak akan tersesat setelahnya” Umar berkata “sesungguhnya Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] sedang sakit dan cukuplah bagi kita Kitab Allah”. Maka mereka berselisih dan menimbulkan keributan. Beliau berkata “pergilah kalian dariku, tidak pantas terjadi pertengkaran di sisiku”. Maka Ibnu ‘Abbas keluar dan mengatakan “sesungguhnya musibah yang paling besar adalah terhalangnya antara Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan wasiat tulisannya [Shahih Bukhariy 1/34 no 114]

أَخْبَرَنِي زَكَرِيَّا بْنُ يَحْيَى ، قَالَ : ثنا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ ، قَالَ : أنا عَبْدُ الرَّزَّاقِ ، قَالَ : ثنا مَعْمَرٌ ، عَنِ الزُّهْرِيِّ ، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ، قَالَ : ” لَمَّا حَضَر رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَفِي الْبَيْتِ رِجَالٌ فِيهِمْ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : هَلُمَّ أَكْتُبُ لَكُمْ كِتَابًا لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُ أَبَدًا ، فَقَالَ عُمَرُ : إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ غَلَبَ عَلَيْهِ الْوَجَعُ ، وَعِنْدَكُمُ الْقُرْآنُ حَسْبُنَا كِتَابُ اللَّهِ ، فَاجْتَمَعُوا فِي الْبَيْتِ ، فَقَالَ قَوْمٌ : قُومُوا يَكْتُبْ لَكُمْ كِتَابًا لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُ أَبَدًا ، وَقَالَ قَوْمٌ مَا قَالَ عُمَرُ ، فَلَمَّا أَكْثَرُوا اللَّغَطَ وَالاخْتِلافَ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَهُمْ : قُومُوا عَنِّي ” ، قَالَ عُبَيْدُ اللَّهِ : وَكَانَ ابْنُ عَبَّاسٍ ، يَقُولُ : إِنَّ الرَّزِيَّةَ كُلَّ الرَّزِيَّةِ مَا فَاتَ مِنَ الْكِتَابِ الَّذِي أَرَادَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَكْتُبُ أَنْ لا تَضِلُّوا بَعْدَهُ أَبَدًا ، لَمَّا كَثُرَ لَغَطُهُمْ وَاخْتِلافُهُمْ

Telah mengabarkan kepadaku Zakariyaa bin Yahya yang berkata telah menceritakan kepada kami Ishaaq bin Ibrahiim yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrazaaq yang berkata telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhriy dari ‘Ubaidillah bin ‘Abdullah dari Ibnu ‘Abbas yang berkata ketika telah dekat [kematian] Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan berkumpul orang-orang di dalam rumahnya, diantara mereka ada Umar bin Khaththab. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “kemarilah, aku akan menuliskan untuk kalian tulisan sehingga kalian tidak akan sesat selamanya”. Umar berkata “sesungguhnya Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dikuasai oleh sakitnya dan di sisi kalian terdapat Al Qur’an maka cukuplah bagi kita Kitab Allah”. Maka berkumpullah orang-orang di dalam rumah. Sebagian orang berkata “berikanlah agar Beliau menuliskan untuk kalian sehingga kalian tidak akan tersesat selamanya” dan sebagian orang berkata seperti yang dikatakan ‘Umar. Ketika terjadi keributan dan perselisihan di sisi Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] maka Beliau berkata kepada mereka “pergilah kalian dariku”. ‘Ubaidillah berkata bahwa Ibnu ‘Abbas mengatakan “sesungguhnya musibah yang sangat besar adalah tidak jadinya dibuat tulisan yang mana Rasulullah berkeinginan menulisnya agar mereka tidak sesat selamanya ketika terjadi keributan dan perselisihan diantara mereka” [Sunan Nasa’iy no 7474, sanadnya shahih]

Kedua hadis di atas menjadi bukti shahih bahwa Ibnu ‘Abbas menganggap tidak jadinya ditulis wasiat tersebut sebagai musibah yang besar. Tidak dipungkiri bahwa penyebab Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak jadi menuliskannya karena keributan dan pertengkaran para sahabat di sisi Beliau. Tetapi bukan berarti seperti yang dikatakan penulis bahwa yang diratapi Ibnu ‘Abbas bukan tidak jadinya Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] menulis tetapi yang diratapi Ibnu ‘Abbas adalah perselisihan dan keributan para sahabat. Ini contoh syubhat halus untuk membela Umar bin Khaththab [radiallahu ‘anhu].

Dalam ilmu logika ada yang namanya sebab dan ada yang namanya akibat. Nah penulis tersebut telah mencampuradukkan atau menjadikan sebab sebagai akibat dan ini keliru. Musibah besar yang dimaksud Ibnu ‘Abbas adalah tidak jadinya wasiat itu ditulis, ini adalah akibat sedangkan penyebab musibah besar tersebut adalah karena perselisihan dan keributan para sahabat di sisi Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam], ini adalah sebab.

Kami akan bawakan analogi sederhana. Anda ingin pergi kerumah orang tua anda karena keperluan yang sangat mendesak tetapi hal itu tidak jadi terlaksana karena ada keributan yang besar di jalan menuju rumah orang tua anda. Anda akan menyampaikannya dengan kalimat berikut “sungguh masalah besar bagiku adalah tidak jadinya aku pergi ke rumah orang tuaku karena ada keributan besar di jalan”. Tentu saja yang dipahami dari kalimat tersebut adalah yang anda anggap masalah besar itu adalah tidak jadinya anda pergi ke rumah orang tua anda bukan keributannya walaupun memang hakikatnya keributan itu yang membuat anda tidak jadi pergi kerumah anda.

.

.

.

Syubhat Seolah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] Menyetujui Umar

Pada akhirnya Rasulullah tidak menulis wasiat tersebut, itu berarti secara tidak langsung Beliau setuju dengan pendapat Umar. Seandainya perkara yang akan disampaikan beliau adalah perkara yang wajib diketahui oleh semua orang mukmin tidak mungkin beliau diam di akhir hayatnya, padahal Allah telah mewajibkan Beliau untuk menyampaikannya risalahnya dalam ayat :

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ (67) [المائدة : 67[

“Hai rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS Al Maidah : 67)

Tidak perlu berandai-andai wahai penulis. Jangan terlalu berlebihan membela Umar bin Khaththab sampai-sampai anda mau menisbatkan hal yang aneh kepada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] memang tidak jadi menuliskannya dan ini bermakna bisa saja bahwa apa yang Beliau ingin tuliskan itu sudah pernah Beliau sampaikan sebelumnya Atau Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] kemudian menyampaikan hal tersebut secara lisan kepada beberapa orang yang mendengarnya [mengingat sebagian besar sahabat disuruh pergi pada saat itu].

حَدَّثَنَا قَبِيصَةُ حَدَّثَنَا ابْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ سُلَيْمَانَ الْأَحْوَلِ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّهُ قَالَ يَوْمُ الْخَمِيسِ وَمَا يَوْمُ الْخَمِيسِ ثُمَّ بَكَى حَتَّى خَضَبَ دَمْعُهُ الْحَصْبَاءَ فَقَالَ اشْتَدَّ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَجَعُهُ يَوْمَ الْخَمِيسِ فَقَالَ ائْتُونِي بِكِتَابٍ أَكْتُبْ لَكُمْ كِتَابًا لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُ أَبَدًا فَتَنَازَعُوا وَلَا يَنْبَغِي عِنْدَ نَبِيٍّ تَنَازُعٌ فَقَالُوا هَجَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ دَعُونِي فَالَّذِي أَنَا فِيهِ خَيْرٌ مِمَّا تَدْعُونِي إِلَيْهِ وَأَوْصَى عِنْدَ مَوْتِهِ بِثَلَاثٍ أَخْرِجُوا الْمُشْرِكِينَ مِنْ جَزِيرَةِ الْعَرَبِ وَأَجِيزُوا الْوَفْدَ بِنَحْوِ مَا كُنْتُ أُجِيزُهُمْ وَنَسِيتُ الثَّالِثَةَ

Telah menceritakan kepada kami Qabiishah yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Uyainah dari Sulaiman Al Ahwal dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas [radiallahu ‘anhuma] bahwasanya ia berkata “hari Kamis dan tahukah kalian hari Kamis” kemudian Beliau menangis hingga air matanya mengalir, Beliau berkata “pada hari Kamis, sakit Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] semakin berat maka Beliau berkata “ambilkan aku kertas sehingga aku tuliskan untuk kalian maka kalian tidak akan tersesat selamanya” maka mereka bertengkar dan sangat tidak layak terjadi pertengkaran di sisi Nabi. Mereka berkata “Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] meracau”. Beliau berkata “biarkanlah aku, sesungguhnya aku lebih baik dari apa yang kalian seru atasnya”. Dan Beliau berwasiat tiga hal dekat kewafatannya, keluarkanlah orang-orang musyrik dari Jazirah Arab, dan perlakukan para utusan sebagaimana aku memperlakukan mereka, dan aku lupa yang ketiga [Shahih Bukhariy 4/69 no 3053]

Jadi bagian mana Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] akhirnya menyetujui Umar bin Khaththab. Apalagi anehnya penulis tersebut sebenarnya menukil hadis ini tetapi entah mengapa ia malah berkata

Dan jika hal ini memang hal yang harus (wajib) diketahui, kemudian sahabat tidak menyediakan kertas bagi beliau, apa yang menghalangi Rasulullah untuk mengatakan wasiatnya melalui lisan ??

Bukankah anda wahai penulis menukil hadis dimana Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berwasiat secara lisan. Jadi bagaimana bisa muncul perkataan anda di atas. Apakah anda tidak memahami hadis yang anda nukil?.

.

.

.

Syubhat Mengenai Perkataan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] Meracau

Perkataan sayidina Umar bukanlah bentuk pembangkangan beliau pada Rasulullah tapi merupakan pendapat yang ia utarkan untuk dimusyawarahkan. Hanya saja kaum syi’ah yang membenci Sayidina Umar menggambarkan peristiwa ini dengan gambaran yang berlebihan, seolah-olah Sayidina Umar menentang dengan keras mereka yang menghendaki penulisan ini dan dengan kasar berkata “Nabi tadi hanya mengingau”. Padahal dalam riwayat yang ada, perkataan “Nabi Mengingau” justru muncul dari mereka yang menentang Sayidina Umar itupun dengan makna istifham inkari.

Dalam tulisan kami sebelumnya [mengenai tragedi hari kamis], kami tidak pernah mengatakan bahwa Umar bin Khaththab yang mengatakan bahwa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengigau atau meracau. Inilah yang kami maksud bahwa sang penulis mencampuradukkan bantahannya terhadap Syi’ah dengan bantahan terhadap kami. Mungkin saja penulis tersebut menemukan banyak orang Syi’ah yang menuduh Umar yang mengatakan hal tersebut tetapi jangan coba-coba menisbatkan hal tersebut kepada kami. Kami berhujjah dengan objektif dimana jelas dalam hadis bahwa yang mengatakan hal tersebut adalah sebagian sahabat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam].

حدثنا إسحاق بن إبراهيم أخبرنا وكيع عن مالك بن مغول عن طلحة بن مصرف عن سعيد بن جبير عن ابن عباس أنه قال يوم الخميس وما يوم الخميس ثم جعل تسيل دموعه حتى رأيت على خديه كأنها نظام اللؤلؤ قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم ( ائتوني بالكتف والدواة ( أو اللوح والدواة ) أكتب لكم كتابا لن تضلوا بعده أبدا ) فقالوا إن رسول الله صلى الله عليه و سلم يهجر

Telah menceritakan kepada kami Ishaaq bin Ibrahiim yang berkata telah mengabarkan kepada kami Wakii’ dari Malik bin Mighwal dari Thalhah bin Musharrif dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbaas bahwasanya ia berkata “hari kamis, ada apa dengan hari Kamis?” kemudian air matanya mengalir hingga aku melihat seperti butiran mutiara di kedua pipinya. [Ibnu ‘Abbas] berkata Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata ambilkan tulang dan tinta atau lembaran dan tinta, akan aku tuliskan untuk kalian tulisan yang kalian tidak akan tersesat selamanya. Maka mereka berkata “sesungguhnya Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] telah mengigau” [Shahih Muslim 3/1257 no 1637]

حدثنا بكار بن قتيبة البكراوي قثنا يعقوب بن إسحاق الحضرمي قثنا مالك بن مغول عن طلحة بن مصرف عن سعيد بن جبير عن ابن عباس أنه قال يوم الخميس وما يوم الخميس قال ثم نظرت إلى دموعه على خده كأنه نظام اللؤلؤ قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ( ائتوني بكتف أكتب لكم كتابا لا تضلوا بعده أبدا ) فقالوا إنما رسول الله صلى الله عليه وسلم يهجر

Telah menceritakan kepada kami Bakkaar bin Qutaibah Al Bakraawiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Yaquub bin Ishaaq Al Hadhraamiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Malik bin Mighwaal dari Thalhah bin Musharrif dari Sa’iid bin Jubair dari Ibnu ‘Abbaas bahwasanya Beliau berkata “hari kamis, ada apa dengan hari Kamis?” kemudian aku melihat air matanya mengalir seperti butiran mutiara di kedua pipinya. [Ibnu ‘Abbas] berkata Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata ambilkan aku tulang, akan aku tuliskan untuk kalian tulisan yang kalian tidak akan tersesat selamanya. Maka mereka berkata “sesungguhnya Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] hanya mengigau” [Mustakhraj Abu Awanah 3/477-478 no 5762, sanadnya shahih]

Aneh bin ajaib, penulis yang membantah dengan terlalu bersemangat itu malah mendistorsi riwayat dengan mengatakan

Maksudnya ketika Umar mengatakan usulanya dan mengatakan bahwa Nabi sedang payah, mereka yang menentang sayidina umar mengatakan “Apakah Nabi Mengingau (meracau) !!?” dengan maksud “tidak mungkin Nabi mengingau!” maka biarkanlah Nabi menuliskan wasiatnya.

Tidak perlu berbasa-basi, berkelit dan mencari dalih. Silakan perhatikan lafaz riwayat dimana para sahabat berkata “innama Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] yahjuru”. Apakah lafaz itu sesuai dengan basa-basi anda wahai penulis yaitu makna istifham inkari?. Jelas tidak, makna lafaz tersebut adalah sebagian sahabat mengatakan bahwa ucapan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] hanya mengigau atau meracau.

Kalau kita lihat bahwa ada dua golongan sahabat yaitu yang pertama golongan yang menginginkan wasiat tersebut ditulis dan yang kedua golongan yang sependapat dengan Umar. Pertanyaannya golongan manakah yang mengatakan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengigau?. Penulis tersebut beranggapan bahwa golongan yang menginginkan wasiat tersebut ditulis yang mengucapkan lafaz yahjuru dan makna “Apakah Nabi mengigau?” disana adalah “tidak mungkin Nabi mengigau”. Sesungguhnya ini hanyalah syubhat basa-basi karena zhahir riwayat mendustakannya [sebagaimana telah kami tunjukkan dengan riwayat Muslim dan Abu Awanah di atas]. Anehnya penulis tersebut menukil hadis berikut

قالوا ما شأنه أهجر؟ استفهموه. فذهبوا يفدون عليه. قال: “دعوني فالذي أنا فيه خير مما تدعونني إليه

Mereka berkata, Bagaimana keadaannya, apakah ia meracau (mengigau)? hendaknya kalian tanyakan kembali kepada beliau. Maka beliau bersabda : ”Menyingkirlah kalian dari-Ku, keadaanku sekarang lebih baik dari pada apa yg kalian kira “ (Sunan al-Kubra : 4/433)

Apakah zhahir lafaz di atas menunjukkan bahwa sahabat yang menginginkan wasiat tersebut ditulis adalah golongan yang mengucapkan lafaz “mengigau”. Kalau makna kalimat itu adalah “tidak mungkin Nabi mengigau” maka mengapa disana ada lafaz “kalian tanyakan kembali kepada Beliau”. Apakah mungkin orang yang yakin bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak mengigau malah meminta agar ditanyakan lagi kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]?. Justru lebih masuk akal bahwa mereka menganggap Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] memang mengigau maka minta ditanyakan kembali maksudnya.

Kemudian apakah jawaban Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] “keadaanku sekarang lebih baik daripada apa yang kalian kira” pantas ditujukan kepada orang yang mengatakan “tidak mungkin Nabi mengigau”?. Jelas tidak, justru jawaban tersebut lebih pantas ditujukan pada orang yang memang mengatakan “Nabi mengigau”. Kami tidak mengerti apa sebenarnya yang sedang dimainkan oleh penulis disini. Zhahir lafaz yang sudah jelas malah dipelintir demi melindungi kesalahan sebagian sahabat.

.

.

.

Syubhat Ahlul Bait Berselisih

Kalau kaum syi’ah mau jujur pun, maka akan terlihat nyata bahwa bukan hanya Umar saja yang mencegah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari menulis kerana sakitnya yang berat, melainkan ada sahabat lainnya juga yang mencegah Nabi, bahkan dimungkinkan juga dari kalangan ahlul bait, dalam riwayat imam Bukhari lainnya disebutkan :

لما حضر رسول الله صلى الله عليه وسلم وفي البيت رجال فقال: صلى الله عليه وسلم هلمّوا أكتب لكم كتاباً لا تضلون بعده”. فقال بعضهم: إن رسول الله قد غلبه الوجع وعندكم القرآن، حسبنا كتاب الله. فاختلف أهل البيت واختصموا، فمنهم من يقول قربوا يكتب لكم كتاباً لا تضلون بعده، ومنهم من يقول غير ذلك. فلما أكثروا اللغو والاختلاف قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: قوموا

“Ketika telah dekat kematian Rasulullah, dalam Rumahnya berkumpul beberapa orang. Nabi saw Berkata “Kemarilah, aku akan menulis sebuah tulisan yang dengannya kalian tidak akan tersesat selamannya” kemudian sebagian mereka berkata bahwa Rasululllah saw sedang sakit, dan kalian telah memiliki Al Qur`an, Cukuplah kitabullah. Maka ahlu bait berselisih, dan mereka bertengkar sebagian mereka berkata “Berikanlah agar Nabi saw menulis untuk kalian tulisan yang dengannya kalian tidak akan tersesat setelahnya” dan sebagian mereka berkata selain itu. Ketika mereka membuat suasana menjadi gaduh dan saling berselisih, Maka Rasulullah berkata “Berdirilah (pergilah) kalian semua” ( HR Bukhari )

Dengan riwayat ini penulis tersebut berusaha menunjukkan bahwa ahlul bait juga ikut berselisih yaitu sebagian sependapat dengan Umar dan sebagian menyelisihi Umar. Pertanyaan sederhana adalah siapakah ahlul bait yang dimaksud disana? Apakah yang dimaksud adalah Ahlul Bait Nabi?. Kalau iya maka Apakah istri-istri Nabi?. Apakah keluarga Ali? Apakah keluarga Ja’far? Apakah keluarga Abbaas?. Perhatikan hadis dengan kisah yang sama yaitu riwayat Nasa’iy yang kami nukil sebelumnya. Disana terdapat lafaz

فَاجْتَمَعُوا فِي الْبَيْتِ ، فَقَالَ قَوْمٌ : قُومُوا يَكْتُبْ لَكُمْ كِتَابًا لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُ أَبَدًا ، وَقَالَ قَوْمٌ مَا قَالَ عُمَرُ ، فَلَمَّا أَكْثَرُوا اللَّغَطَ وَالاخْتِلافَ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَهُمْ : قُومُوا عَنِّي

Maka berkumpullah orang-orang di dalam rumah. Sebagian orang berkata “berikanlah agar Beliau menuliskan untuk kalian sehingga kalian tidak akan tersesat selamanya” dan sebagian orang berkata seperti yang dikatakan ‘Umar. Ketika terjadi keributan dan perselisihan di sisi Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] maka Beliau berkata kepada mereka “pergilah kalian dariku” [Sunan Nasa’iy no 7474, sanadnya shahih]

Riwayat Nasa’iy menunjukkan bahwa “orang-orang di dalam rumah” pada saat itu terbagi menjadi dua yaitu yang ingin memenuhi permintaan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan yang sependapat dengan Umar. Lafaz “orang-orang di dalam rumah” inilah yang dalam riwayat Bukhariy disebut dengan “ahlul bait”. Maka makna “ahlul bait” tersebut adalah orang-orang yang berada di dalam rumah yaitu para sahabat Nabi.

Hal ini juga dinyatakan oleh Ibnu Hajar dalam Fath Al Bariy dan Muhammad bin ‘Abdul Haadiy As Sindiy dalam Hasyiyah As Sindiy Ala Shahih Bukhariy

قوله في الرواية الثانية فاختلف أهل البيت  أي من كان في البيت من الصحابة ولم يرد أهل بيت النبي صلى الله عليه وسلم

Perkataannya dalam riwayat kedua “maka Ahlul Bait berselisih” maksudnya adalah para sahabat yang berada di dalam rumah bukan maksudnya adalah ahlul bait Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] [Fath Al Bariy Ibnu Hajar 8/135]

قوله : (فاختلف أهل البيت) أي الذي كانوا فيه من الصحابة لا أهل بيته صلى الله عليه وسلّم

Perkataannya “maka Ahlul Bait berselisih” adalah orang-orang yang berada di dalamnya dari kalangan sahabat bukan ahlul baitnya [shallallahu ‘alaihi wasallam] [Hasyiyah As Sindiy ‘Ala Shahih Bukhariy 3/35]

.

.

.

Syubhat Riwayat Al Mustadrak Al Hakim

Penulis tersebut membawakan hadis lain riwayat Al Hakim dalam Al Mustadrak yang menyebutkan soal tulisan agar tidak tersesat

أخبرني أحمد بن عبد الله المزني بنيسابور ومحمد بن العدل ثنا إبراهيم بن شريك الأسدي بالكوفة ثنا أحمد بن يونس عن أبو شهاب عن عمرو بن قيس عن ابن أبي مليكة عن عبد الرحمن بن أبي بكر قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ائتني بدواة وكتف اكتب لكم كتابا لن تضلوا بعده أبدا ثم ولانا قفاه ثم أقبل علينا فقال : يأبى الله والمؤمنون إلا أبا بكر

Telah mengabarkan kepadaku Ahmad bin ‘Abdullah Al Muzanniy di Naisabur dan Muhammad bin Al ‘Adl yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Syariik Al Asdiy di Kufah yang berkata telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yuunus dari Abuu Syihaab dari ‘Amru bin Qais dari Ibnu Abi Mulaikah dari ‘Abdurrahman bin Abi Bakar yang berkata Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “ambilkan aku tinta dan tulang akan aku tuliskan tulisan sehingga kalian tidak akan sesat selamanya” kemudian Beliau membelakangi kami kemudian menghadap kami dan berkata “Allah dan kaum mukminin enggan kecuali Abu Bakar” [Al Mustadrak Ash Shahihain 3/542 no 6016]

Riwayat ini dinyatakan shahih oleh Adz Dzahabiy dalam Talkhis Al Mustadrak. Tetapi Ibnu Hajar menyatakan hadis ini cacat dalam Ittihaful Maharah

قلت: بل معلول. فقد أخرجه أحمد من طريق: عبد الرحمن بن أبي بكرالدستكي، عن ابن أبي مليكة، عن عائشة، نحوه

Aku katakan “bahkan ia ma’lul [cacat]. Sungguh telah dikeluarkan oleh Ahmad dengan jalan ‘Abdurrahman bin Abi Bakar Ad Dastakiy dari Ibnu Abi Mulaikah dari Aisyah seperti di atas” [Ittihaful Maharah 10/596 no 13476]

Untuk mengetahui pendapat yang rajih maka akan kami tampilkan takhrij singkat riwayat Ibnu Abi Mulaikah dari Aisyah yang dimaksud

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا أبو معاوية ثنا عبد الرحمن بن أبي بكر القرشي عن بن أبي مليكة عن عائشة قالت لما ثقل رسول الله صلى الله عليه و سلم قال رسول الله صلى الله عليه و سلم لعبد الرحمن بن أبي بكر ائتني بكتف أو لوح حتى اكتب لأبي بكر كتابا لا يختلف عليه فلما ذهب عبد الرحمن ليقوم قال أبي الله والمؤمنون ان يختلف عليك يا أبا بكر

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman bin Abu Bakar Al Qurasyiy dari Ibnu Abi Mulaikah dari Aisyah yang berkata ketika sakit Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bertambah berat, Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata kepada ‘Abdurrahman bin Abu Bakar “ambilkan tulang atau lembaran sehingga aku bisa menuliskan untuk Abu Bakar sebuah tulisan agar tidak berselisih atasnya, ketika Abdurrahman pergi berdiri maka Beliau berkata “Allah dan kaum mukimin enggan berselisih atasmu wahai Abu Bakar” [Musnad Ahmad 6/47 no 24245]

Riwayat ini sanadnya dhaif karena ‘Abdurrahman bin Abi Bakar Al Qurasyiy, Yahya bin Ma’in berkata “dhaif”. Abu Hatim berkata “tidak kuat dalam hadis”. Nasa’iy berkata “tidak tsiqat”. Ibnu Adiy berkata “hadisnya tidak memiliki mutaba’ah dan ia termasuk yang ditulis hadisnya”. Ibnu Sa’ad berkata “ia memiliki hadis-hadis dhaif”. Al Bazzaar berkata “layyin al hadits”. As Sajiy berkata “shaduq ada kelemahan padanya” [Tahdzib At Tahdzib Ibnu Hajar juz 6 no 299]. Tetapi ‘Abdurrahman bin Abu Bakar Al Qurasyiy dalam riwayatnya dari Ibnu Abi Mulaikah memiliki mutaba’ah

  1. ‘Abdul Aziz bin Rafii’ sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Daud Ath Thayalisiy dalam Musnadnya [Musnad Abu Dawud Ath Thayalisiy 1/210 no 1508] dengan jalan sanad dari Muhammad bin Aban dari Abdul ‘Aziz bin Rafii’ dari Ibnu Abi Mulaikah dari Aisyah. Muhammad bin Aban Al Ju’fiy dinyatakan dhaif oleh Abu Daud, Bukhariy berkata “tidak kuat” di saat lain berkata “dibicarakan hafalannya dan tidak bisa dijadikan pegangan”. Nasa’iy berkata “tidak tsiqat”. Ahmad berkata “bukan termasuk pendusta”. Abu Hatim mengatakan tidak kuat dalam hadis ditulis hadisnya tetapi tidak bisa dijadikan hujjah [Lisan Al Mizan Ibnu Hajar juz 5 no 109]. Adapun ‘Abdul Aziz bin Rafii’ seorang yang tsiqat [Taqrib At Tahdzib 1/603]
  2. Nafii’ bin ‘Umar sebagaimana diriwayatkan Ahmad bin Hanbal dalam Musnadnya [Musnad Ahmad bin Hanbal 6/106 no 24795] dengan jalan sanad dari Mu’ammal bin Ismaiil dari Naafii’ bin ‘Umar dari Ibnu Abi Mulaikah dari Aisyah. Mu’ammal bin Ismaiil dinyatakan tsiqat oleh Yahya bin Ma’iin . Abu Hatim berkata “shaduq keras dalam sunnah dan banyak melakukan kesalahan”. Bukhariy berkata “munkar al hadits”. Abu Daud memujinya hanya saja ia sering keliru dalam sesuatu. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat dan berkata sering keliru. As Sajiy berkata “shaduq banyak melakukan kesalahan”. Ibnu Sa’ad berkata “tsiqat banyak melakukan kekelriuan”. Ibnu Qaani’ berkata “shalih terkadang keliru”. Daruquthniy berkata “tsiqat banyak melakukan kesalahan”. Ishaq bin Rahawaih menyatakan ia tsiqat [Tahdzib At Tahdzib juz 10 no 682]. Adapun Naafii’ bin ‘Umar seorang yang tsiqat tsabit [Taqrib At Tahdzib 2/238]

Ibnu Abi Mulaikah dalam periwayatannya dari Aisyah memiliki mutaba’ah diantaranya adalah

  1. Urwah bin Zubair sebagaimana yang diriwayatakan Muslim dalam Shahih-nya [Shahih Muslim 4/1857 no 2387].
  2. Qaasim bin Muhammad sebagaimana diriwayatkan Bukhariy dalam Shahih-nya [Shahih Bukhariy 7/119 no 5666]
  3. Ubaidillah bin ‘Abdullah sebagaimana diriwayatkan Ahmad bin Hanbal dalam Musnad-nya [Musnad Ahmad bin Hanbal 6/34 no 24107]. Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata ‘sanadnya shahih dengan syarat syaikhain dan disebutkan bahwa konteks pembicaraan tersebut terkait dengan Abu Bakar sebagai Imam shalat.

Takhrij singkat di atas menunjukkam bahwa telah tsabit riwayat tersebut dari Aisyah termasuk Ibnu Abi Mulaikah juga meriwayatkan dari Aisyah. Yang meriwayatkan dari Ibnu Abi Mulaikah adalah Abdurrahman bin Abu Bakar Al Qurasyiy, ‘Abdul Aziz bin Rafii’ dan Naafii’ bin ‘Umar. Walaupun masing-masing sanad mengandung kelemahan tetapi kedudukannya saling menguatkan.

Oleh karena itu benarlah apa yang dikatakan Ibnu Hajar bahwa sanad riwayat Al Hakim tersebut ma’lul [cacat] karena Ibnu Abi Mulaikah tidak meriwayatkannya dari ‘Abdurrahman bin Abu Bakar tetapi dari Aisyah. Sanad riwayat Al Hakim terdiri dari perawi tsiqat dan shaduq hanya saja Abu Syihaab yang meriwayatkan dari ‘Amru bin Qais dari Ibnu Abi Mulaikah telah dibicarakan hafalannya.

Abu Syihaab Al Hanaath dikatakan Ahmad bin Hanbal tidak ada masalah dengan hadisnya, Yahya bin Ma’in menyatakan tsiqat. Ibnu Numair berkata “tsiqat shaduq”. Ibnu Sa’ad berkata “tsiqat” dan Al Bazzar menyatakan tsiqat. Yahya bin Sa’id berkata “ia tidak hafizh”. Yaqub bin Syaibah berkata “tsiqat banyak meriwayatkan hadis, seorang yang shalih tidak kuat, dan dibicarakan hafalannya”. Nasa’iy berkata “tidak kuat”. As Sajiy berkata “shaduq sering keliru dalam hadisnya”. Abu Ahmad Al Hakim berkata “tidak hafizh di sisi para ulama” [Tahdzib At Tahdzib juz 6 no 271]. Dan riwayat Abu Syihaab ini tidak memiliki mutaba’ah yang menguatkan sehingga bisa jadi kekeliruan sanad tersebut berasal darinya. Kesimpulannya hadis riwayat Al Hakim tersebut ma’lul [cacat] sehingga tidak bisa dijadikan hujjah.

.

.

.

Memang tidak diketahui apakah sebenarnya yang akan dituliskan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] agar para sahabat tidak tersesat sepeninggalnya [terdapat riwayat soal tiga wasiat yang ternyata perawinya lupa isi wasiat terakhir] oleh karena itu kita disini hanya bisa menduga-duga berdasarkan hadis-hadis sebelumnya. Menurut pendapat kami wasiat tersebut sudah pernah disampaikan kepada para sahabat karena kami tidak bisa menerima pandangan bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] belum pernah menyampaikannya.

Dalam tulisan kami sebelumnya kami menunjukkan hadis yang cocok dengan matan riwayat di atas dan memiliki sanad yang shahih yaitu hadis Tsaqalain yang menyebutkan agar para sahabat berpegang teguh pada Al Qur’an dan Ahlul Bait agar tidak tersesat.

حَدَّثَنَا يحيى قَال حَدَّثَنَا جرير عن الحسن بن عبيد الله عن أبي الضحى عن زيد بن أرقم قَال النبي صلى الله عليه وسلم إني تارك فيكم ما إن تمسكتم به لن تضلوا كتاب الله عز وجل وعترتي أهل بيتي وإنهما لن يتفرقا حتى يردا علي الحوض

Telah menceritakan kepada kami Yahya yang berkata telah menceritakan kepada kami Jarir dari Hasan bin Ubaidillah  dari Abi Dhuha dari Zaid bin Arqam yang berkata Nabi SAW bersabda “Aku tinggalkan untuk kalian yang apabila kalian berpegang-teguh kepadanya maka kalian tidak akan sesat yaitu Kitab Allah azza wa jalla dan ItrahKu Ahlul Baitku dan keduanya tidak akan berpisah hingga kembali kepadaKu di Al Haudh [Ma’rifat Wal Tarikh Al Fasawi 1/536 dengan sanad yang shahih]

Silakan bagi siapapun yang tidak setuju dengan pandangan kami, kami tidak pernah memaksa siapapun. Kami telah menunjukkan hujjah kami bukan atas nama Syi’ah dan bukan atas nama membela Syi’ah. Kami hanya berusaha memahami riwayat Ibnu Abbas tersebut dengan objektif dan hasilnya memang benar Umar bin Khaththab [radiallahu ‘anhu] telah keliru. Salam Damai

Benarkah mayoritas umat Islam Indonesia Ahlussunnah Wal Jamaah ? Ilusi

Saudi Arabia tempat pendidikan teroris

Saudi Arabia tempat pendidikan teroris

Benarkah mayoritas umat Islam Indonesia Ahlussunnah Wal Jamaah ? Mayoritas Muslim Indonesia tidak menyadari dan tidak memiliki identitas kemazhaban. Mayoritas hanya menyadari dirinya sebagai Muslim, dan terikat dengan identitas keislamannya. Labelisasi Sunni sebagai label sekterian diberikan oleh ulama berkedok agama untuk menggebuk musuh dan meraih keuntungan-keuntungan sesaat. Yang mereka kerjakan tidak lebih hanya mengumbar slogan-slogan hampa makna, retorika-retorika menyihir, dan waham atau ilusi belaka. Tak jarang ada partai politik melakukan kegiatan politik, tapi memanfaatkan agama sebagai tameng dan syariat sebagai topeng

.

Namun, dalam kenyataannya, label-label (klaim-klaim) itu tidak dipahami dan diakui oleh individu-individu umat. Misalnya : Coba buat survei, tanyakan siapa Asy’ari, Maturidi apa mereka tau ? Tak jarang, untuk sampai ke pucuk kekuasaan maka di pakailah retorika dan slogan agama. Apakah slogan, retorika, dan ungkapan-ungkapan manis yang nyaring terdengar itu tulus merupakan upaya untuk keluar dari keterpurukan, atau cuma “pepesan kosong”, karena sifatnya yang emosional-sloganistik ? Slogan-slogan yang secara lahir manis bagai madu, sifatnya emosional, tak rasional, dan tidak realistik

.

Nahdhatul Ulama (NU) bermazhab Ahlus Sunnah wal Jamaah dan berakidah sesuai dengan ajaran-ajaran Abul Hasan Al-Asy’ari ?   Sebagian besar tradisi NU seperti ziarah kubur, tahlil, peringatan 4-7-40 dan haul, penghormatan terhadap ulama, tawasul, tabaruk, dan sebagainya merupakan tradisi-tradisi khas Syiah yang tidak terdapat dalam referensi-referensi kitab klasik Ahlus Sunnah wal Jamaah melainkan semata-mata ada dalam kitab-kitab klasik Syiah seperti Mafatih Al-Jinan karya Abbas Al-Qummi, Al-Iqbal karya Al-Kaf’ami, Al-Balad Al-Amin karya Sayyid Ibn Thawus dan sebagainya.

.

Ada beberapa aliran yang jelas bukan bagian dari Ahlussunah di antaranya Syiah, Wahabi Khawarij, dan Mu’tazilah. Pengikut Syi’ah menggunakan ijtihad terbaru dari Marja’i Taqlid yang masih hidup, Syi’ah mengikuti perkembangan zaman yang berubah, yang menuntut ijtihad baru atau reinterpretasi atas ajaran-ajaran Islam.

 

Syi’ah mengkritik para sahabat yang kemudia menyebut pihaknya sebagai Syi’ah Ali dan Ahlul Bait.Bahkan, secara historis, para imam Ahlus Sunnah wal Jamaah seperti Abu Hanifa dan Imam Malik belajar kepada Imam Ja’far Ash-Shodiq, imam keenam Syiah, dalam soal-soal agama. Interaksi ilmiah terus berlangsung secara damai sampai ada ambisi politik yang menyeret isu mazhab dalam pertarungan profan tersebut.
.
Syiah adalah mazhab Islam yang terpengaruh dengan tradisi Persia dan Zoroastrianisme ?  Iran baru memeluk mazhab Syiah pada abad 15 Masehi di zaman Safawi. Sebelumnya, Iran adalah pusat perkembangan mazhab Ahlus Sunnah wal Jamaah yang dapat dilihat dari fakta sebagian besar kitab rujukan milik Ahlus Sunnah saat ini merupakan karya-karya ulama Sunni berdarah Persia, seperti Shahih Bukhori dan sebagainya. Bahkan, Syiah semula merupakan mazhab resmi Mesir di era Daulah Fathimiyyah yang berhasil membangun pusat kota Kairo dan Universitas Al-Azhar
.
.
Mazhab Syiah yang dijadikan sebagai mazhab resmi Dinasti Safawi merupakan reaksi dendam atas penaklukan Muslim Arab atas Persia ? Dinasti Safawi sebenarnya bukan didirikan oleh elit berdarah Persia melainkan oleh sekelompok keluarga yang memiliki darah Turki Azeri. Oleh karena itu, pusat kerajaan Safawi dimulai dari Ardabil yang memiliki banyak perampuran etnik Turki-Azeri dan Kurdi. Sebaliknya, penganut Syiah paling awal adalah kelompok Arab Irak yang bertempat di Kufah, Irak dan sebagian lain berada di wilayah Bahrain (hingga kini mayoritas penduduknya bermazhab Syiah), Yaman (hingga kini mayoritas penduduk Yaman Utara bermazhab Syiah Zaidiyyah), Mesir (cikal-bakal dinasti Fathimiyah), dan sebagainya. Yang jelas, Syiah dianut oleh bangsa dan suku-suku Arab jauh sebelum bangsa Iran memeluknya.
Salafi-Wahabi adalah sama dengan Ahlu Sunnah wal Jamaah ? Salafi Wahabi adalah ajaran asing dalam sejarah Islam, yang memiliki banyak kemiripan dengan ajaran Khawarij. Mereka sama sekali berbeda dengan Ahlus Sunnah wal Jamaah yang kerap mengedepankan jalan tengah dan moderasi dalam berbagai prinsipnya. Pertentangan ajaran Wahabi-Salafi yang membajak Sunni terutama sangat bertentangan dengan ajaran-ajaran Imam Syafii yang dianut oleh mayoritas Ahlus Sunnah wal Jamaah di Indonesia.
.
Rezim-rezim Arab seperti Arab Saudi, Bahrain dan Qatar bermazhab Ahlus Sunnah wal Jamaah ? Sebagian  pemimpin rezim-rezim petrodolar ini beraliran sekuler ekstrem yang sama sekali tidak terikat dengan syariah Islam dari mazhab mana pun. Mereka menjalin hubungan bilateral secara terang-terangan dan terbuka dengan Amerika Serikat dan secara sembunyi-sembunyi dengan anak kesayangan AS, Israel, yang setiap hari membunuhi mayoritas Muslim Sunni di Palestina, Afghanistan, Yaman, Somalia, Sudan, dan sebagainya.
.
Arab Saudi adalah kerajaan yang menjunjung tinggi Islam ? Dalam masa kekuasaan rezim Kerajaan Arab Saudi di Jazirah Arab selama 100 tahun terakhir Arab Saudi, dua kota utama umat Muslim, Mekkah dan Madinah, telah mengalami perusakan yang massif. Jika trend ini dibiarkan dalam puluhan tahun mendatang maka sejarah Islam tidak akan lagi meninggalkan jejak-jejak historis dan arkeologis yang berarti. Segalanya akan berganti wajah menjadi dua kota kosmopilitan yang kehilangan sakralitas. Dekonstruksi atas situs-situs historis umat Islam yang dilakukan oleh rezim Arab Saudi ini mirip dengan kelakuan rezim zionis Israel terhadap situs-situs historis keagamaan milik Kristen dan Muslim di tanah suci Palestina. Motif kedua rezim itupun sama: menghilangkan jejak-jejak sakralitas dan historisitas kota-kota suci demi membangun sebuah pemahamaan keagamaan yang seutuhnya didistorsi.

 

Jumat, 15 Januari 2010
.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) menilai bahwa saat ini tidak banyak kajian-kajian keislaman yang dihasilkan oleh para pemuka agama Islam, para ulama maupun para da’i di negeri ini. Ini ditegaskan Ketua MUI KH Cholil Ridwan dalam perbincangan dengan Republika di sela-sela peluncuran Buku Indeks Hadits dan Syarah oleh Buya H. Muhammad Alfis Chaniago di Gedung MUI Jakarta, Kamis (14/1)
.
.
”Sebenarnya kajian-kajian keislaman di negeri ini sudah berlangsung sejak lama, namun belakangan tidak banyak lagi kajian-kajian keislaman yang dihasilkan.Sayangnya, kajian keislaman ini belakangan justru banyak dikuasai oleh kalangan liberal. Sehingga yang banyak berkembang di kalangan umat belakangan ini adalah paham-paham liberal,” tegas kiai Cholil Ridwan
.
.
Karena banyak dikuasai oleh kalangan liberal, menurut kiai Ridwan maka praktis masalah-masalah seperti sekularisasi agama dan hal-hal yang berkait dengan paham liberal dan yang bertentangan dengan MUI, justru menjadi marak di negeri ini.Menurut kiai Ridwan, ini karena metode dakwah para ulama dan da’i di Indonesia belakangan ini cenderung tetap mempertahankan cara-cara konvensional.”Jadi para da’i dan ulama terjebak pada kegiatan-kegiatan rutin dakwah yang sifatnya normatif dan konvensional,” papar kiai Ridwan

.

Walaupun diakui kiai Ridwan bahwa MUI maupun ormas Islam seperti Muhammadiyah dan NU telah memiliki pusat kajian keislaman. Namun itu tetap dirasa kurang. Karena itu pihaknya berharap agar para ulama, da’i dan pemuka agama Islam juga banyak melakukan kajian-kajian keislaman yang berhubungan langsung dengan persoalan-persoalan keseharian yang dihadapi umat.
.
Belum Menjawab Persoalan Umat

Sementara itu, Buya H. Muhammad Alfis Chaniago, mengungkapakan bahwa kajian-kajian keislaman yang dilakukan oleh para ulama, pemuka agama Islam, dan para da’i dirasa sudah cukup banyak. Sayangnya, kajian-kajian keislaman tersebut belum bisa menjawab sepenuhnya persoalan-persoalan yang tengah dihadapi umat dalam kehidupan keseharian.

”Memang sudah banyak kajian-kajian keislaman dilakukan, namun sayangnya belum bisa menjawab sepenuhnya persoalan-persoalan yang dihadapi umat,” kata Alfis. ”Jadi sebenarnya umat sekarang ini masih banyak mengharapkan para ulama, da’i, dan pemuka agama untuk melakukan kajian-kajian keislaman yang bisa menjawab tantangan ke depan,” tambahnya.

Dalam upaya menjawab tantangan tersebut, Alfis meluncurkan buku Indeks Hadits yang terdiri dari dua jilid itu. Buku tersebut ditulis Alfis selama dua tahun dengan menyisihkan waktunya tiga jam setiap hari. Buku Indeks Hadits dan Syarah ini berisi 1.646 Hadits pilihan dari enam kitab Hadits Shaheh.

Syi’ah angkat Iran jadi negara Islam yang paling maju di dunia

Berbuat untuk Menolong Bangsa dan Umat.

Tepuk tangan begitu meriah dikalangan Syiah, ketika Pak Amin menyatakan kalimat “Jangan takut disebut Syiah”.

Amien Rais: “Sunnah dan Syi’ah adalah madzhab-madzhab yang legitimate dan sah saja dalam Islam

Maknanya pak Amin berpendapat kalau Syiah itu bagian dari khazanah Islam , sehingga tidak perlu alergi menghadapi perkembangan Syiah di Indonesia, apalagi Amin Rais banyak membicarakan kemajuan Syiah di Iran dengan pengaruh peradaban Syiah Fatimiyun Mesir yang bertahan di Mesir seperti “Al Azhar”.

Picture

Jika membaca cerita-cerita rekaan yang dimuat di media-media takfiri, Iran selalu diidentikkan dengan sekutu Amerika, banyak AIDS karena maraknya nikah mut’ah, negri di mana ulama-ulama ahlussunnah dibantai dan dibunuh, atau fitnah keji lainnya. Sayangnya, berita rekaan itu ditulis tanpa sumber yang jelas, namanya juga rekaan. Di bawah ini kami turunkan pengalaman seorang dokter Indonesia yang mengikuti sebuah forum Internasional di Iran pertengahan Mei ini. Namanya dr. Atma Gunawan SpPd. KGH (Spesialis Penyakit Ginjal & Hipertensi [Nephrologist).

Dr . Atma Gunawan SpPd. KGH (Spesialis Penyakit Ginjal & Hipertensi [Nephrologist) melakukan kunjungan ke Iran pada 11-14 Mei 2014 untuk menghadiri National Kidney Transplant Meeting di Tehran, Kunjungan beliau difasilitasi oleh Novartis (salah satu perusahaan farmasi Iran). Beliau menuturkan pengalamannya seperti berikut.Pertama, embargo negara barat terhadap Iran terjadi sejak revolusi Islam tahun 1979, jadi sudah 35 tahun lamanya. Namun dampak ini membawa berkah. Negara ini menjadi mandiri. Mereka mengalami kemajuan pesat dan tidak tergantung negara luar dalam hal militer (memproduksi pesawat  jet, helikopter , drone atau pesawat tanpa awak, missile jarak sedang dan jauh), tenaga nuklir, manufaktur , pengeboran minyak (oil rig), sandang pangan, dan kesehatan.Mereka juga punya manufaktur sendiri untuk mobil, lebih 50% mobil dijalan raya adalah produk negara ini. Iran surplus dalam beras dan gandum, dihasilkan oleh daerah bagian utara Iran. Kalau kita terbang dari Isfahan ke Tehran maka terlihat dibawahnya terhampar pertanian hijau yang diairi.

Kedua, dalam hal kesehatan jauh lebih maju dari Indonesia. Kami melihat exhibition alat kesehatan pada saat ada national kidney transplant meeting di Tehran. Mereka memproduksi sendiri peralatan operasi dari hal sederhana seperti handschoen, tubing, catheter (termasuk utk angioplasty ), dialyzer, surgical set Orthopedi dan urologi , laparaskopi , peritoneuscopi , laringioscope. Hormon erythropoetin (di Indonesia jadi obat mahal dan import semua), di Iran ada 3 farmasi yg memproduksi sendiri hormon tersebut. Mereka sudah lama punya asuransi seperti BPJS, sehingga  hemodialisis (HD) adalah free, termasuk dapat erythropoetin. Kebutuhan  mesin HD disini terpenuhi, sehingga pasien semua dapat HD sesuai standar 3 kali seminggu (di demua unit HD kita –Indonesia — hanya bisa 2 x seminggu, itupun kurang dari 60% pasien).

Iran menduduki urutan ketiga dalam hal jumlah pasien transplantasi ginjal setelah AS, Brazil ( data journal Int. Kidney May 2009), dan ke-empat di atas AS dalam hal jumlah dibandingkan popolasi penduduk . Untuk negara-negara midle east, Iran adalah tertinggi dalam hal deceased (non living) donor kidney transplant diatas Turkey dan Arab Saudi. Kami mengunjungi Hashemi Nezhad Hospital , dan juga bertemu urologist transplant surgeon dari Shariati hospital . Rata-rata dari RS tersebut tindakan kidney Transplant sebanyak 120-150 pasien per tahun, 2-3 pasien per minggu, dan 25-50% adalah dari deceased donor.

Ketiga, Iran adalah negara Islam, resmi menyebut Republik Islam Iran.  Dengan  Islam mazhab Syiah dijadikan sebagai agama resmi negara. Konsep Islam diterapkan dalam semua aspek kehidupan, tidak hanya di pribadi. Pemimpin tertinggi adalah Supreme Leader, yang disebut Imam (Ayatullah). Posisinya berada di atas Presiden Iran saat ini, Hassan Rouhani. Di  pagar-pagar dan tembok semua kantor pemerintahan , termasuk bandara dan dalam pesawat, di tempeli tulisan ayat-ayat Al-Quran.

Polisi tak hanya berperan menjaga keamanan, tapi juga polisi shariah, yang menangkap pelanggar agama. Pornografi dan pornoaksi di media cetak, TV, iklan di jalan, mall, jalan , tempat wisata, taman, hampir tak ada. Di taman, di jalan, tak terlihat orang laki wanita bergandengan tangan, berpelukan, berciuman. Internet di sensor ketat, Twitter dan Facebok diblokir. Saya mencoba memasukan kata apapun yang berbau pornografi , coba Twitter dan Facebook , akan berakhir ke web pemerintah yang berisi larangan dan terblokir. Berjabatan tangan laki dan wanita dilarang dan tak pernah saya lihat di depan umum. Di TV, saat shalat shubuh, terlihat siaran langsung Presiden Iran Hassan Rouhani memimpin shalat jamaah di musholla kecil.

Keempat, jilbab di Iran diwajibkan. Semua wanita pegawai pemerintah mengenakan jilbab yg menutup semua bagian rambut, termasuk polisi dan pramugari. Bahkan semua turis asing non muslim wanita, tak terkecuali, harus pakai jilbab. Terlihat pemandangan lucu , karena turis wanita dari Eropa, Jepang, Cina, mengenakan jilbab sekenanya karena canggung. Meskipun pemerintah Iran memasang iklan cara berjilbab yg benar , namun sebagian wanita muda  di kota besar masih memperlihatkan rambut bagian depan. Dan ini dibiarkan saja oleh polisi shariah Iran. Tetapi semuanya mengenakan baju mantel yang menjulur sampai bawah lutut . Sehingga tidak terlihat lekuk tubuh seperti kebanyakan wanita berjilbab di Indonesia.

Kelima, dalam hal kepemimpinan setelah Rasulullah, mazhab Syiah di Iran berbeda pendapat dengan Sunni. Secara de jure mereka hanya mengakui Sayidina Ali, disebut Imam Ali, sebagai Khalifah. Ada 12 Imam selain Ali yg mereka akui dan hormati. Di sinilah bermulanya perpecahan dan terbentuknya Syiah dan Suni. Namun, sama sekali mereka tidak mengkafirkan Khalifah Abu Bakr, Umar atau Ustman. Sama halnya mereka menganggap penganut Sunni lainnya sebagai sesama saudara Islam. Waktu kami datang ke Iran bertepatan dengan hari kelahiran Ali bin Abi Thalib dan hari tersebut merupakan hari libur. Mereka menyebutnya Father’s Day.

Keenam, orang Iran beranggapan bahwa Imam-imam yang 12 tersebut dan Imam lainnya (termasuk Khomeini ) adalah kekasih Allah dan mendapat karomah, sehingga berdoa saat menziarahi maqam mereka, bisa jadi perantara untuk lebih dikabulkan doa. Namun kepercayaan mereka tetap tauhid, bahwa Allah Esa- lah sang pengabul dan tempat bermohon. Ini mirip muslim di Indonesia , terutama kalangan Nahdliyin, yang berziarah ke makam-makam wali songo , atau ke makam Gus Dur.

Di Iran tradisi ziarah sangat kuat berakar. Kalau kita biasa ziarah saat Idul Fitri, disini hari Kamis dan Jum’at biasa ziarah. Pada hari tertentu, di kota suci Qom, di makam Khomeini , kota Karbala dan Najaf, dipenuhi jutaan warga Syiah utk ziarah dan seremonial doa. Kami mengunjungi kota Qom, masuk ke masjid dimana didalam masjid terdapat maqam Sayidah Maksumah dan Imam-imam besar lainnya. Terlihat banyak peziarah berjubel dan histeria menyentuh pagar maqam, hal yang sama ketika kita melihat jamaah haji memegangi Kabah. Inilah yg oleh kalangan Sunni – Salafi dianggap bisa menjerumuskan kepada hal syirik.

Menarik , dalam masjid tersebut dipenuhi dgn orang-orang yang belajar agama dengan dibimbing para Ayatullah. Qom adalah kota pendidikan  dan jihad. Terdapat 150 pelajar Indonesia yg belajar di Qom. Disinilah lahir Imam Khomeini. Kami juga mengunjungi rumah Khomeini yang di Tehran. Terletak masuk gang sempit di daerah penduduk padat, tersembunyi dibelakang sebuah musholla. Sangat kontras dengan setelah sebelumnya kami mengunjungi istana kerajaan Pahlevi (Syah Iran) yang bergelimang kemewahan.

Ketujuh, bilangan  shalat di Iran sama seperti di tempat lain yaitu 5 kali. Tetapi 5 shalat tersebut dilakukan dalam 3 waktu (meski bukan diwajibkan). Mereka punya dasar ayat dan hadis yang membenarkan hal itu. Dhuhur dengan Ashar di lakukan satu waktu, demikian juga Isya dan Maghrib . Biasanya dilakukan di awal. Kalau kita jamak, selesai satu shalat langsung lanjut shalat berikutnya, maka di Iran setelah shalat pertama dilanjutkan zikir dan shalawat, lalu shalat berikutnya. Rakaat shalat tidak dipendekkan, saat berdiri tidak bersedekap, tiap dua rakaat sebelum ruku membaca doa qunut, dan bacaan saat sujud dikeraskan. Sehingga saat sujud terdengar riuh.

Kedelapan, tentang nikah mut’ah. Menurut Ali, mahasiswa S2 Indonesia yng sudah 8 tahun di Qom, nikah Mut’ah dalam arti sebenarnya jarang ditemukan di Iran, karena pandangan masyarakat yg sudah maju dan berubah. Kalaupun ada tidak dalam arti nikah sebenarnya, yaitu semacam tukar cincin di Indonesia, namun dibuat ijab kabul seperti akad nikah, untuk mengikat. Keduanya belum boleh serumah atau seperti suami istri.

Namun menurut  tour guide saya, Laela, wanita muda dari Shiraz, kejadian nikah mut’ah masih ada walaupun jarang. Biasanya  pada kalangan bawah, non educated , miskin, karena motif ekonomi.
Poligami juga hal yang jarang terjadi di Iran, lebih dianggap sebagai aib. Karena disini peranan wanita yang dominan dan penduduknya modern. Di kabinet sekarang terdapat satu menteri dan 4 wakil menteri [perempuan] . Wanita menempati hampir semua sektor pekerjaan, mulai cleaning service, resepsionis , taxi driver, pramugari, tour guide, dokter, polisi, karyawan dan peg awai negeri.

Sembilan, masyarakat Iran sangat suka bersedekah . Di trotoar setiap lampu merah, penyeberangan jalan, depan toko-toko, didirikan kotak-kotak amal. Dipakai untukk sosial keagamaan. Di Iran dikenal ada religion tax, yaitu 20% dari penghasilan jasa dan barang. Itu masih ditambah pajak negara , tergantung pendapatan , dari 8-20%. Itulah mengapa Iran merupakan donator terbesar untuk Palestina, Rohingya Myanmar, dan negara miskin muslim lainnya. Komitmen mereka dalam membebaskan masjidil Aqsa dari cengkeraman Yahudi sangat kuat. Selain konsisten membantu pejuang Hizbullah dan Paletina, hampir tiap kota ditemui masjid besar bentuknya replika dari masjidil Aqsa. Ini untuk menanamkan kesadaran bangsa Iran bahwa perjuangan mereka belum selesai sampai masjidil Aqsa dibebaskan dari Israel.

Penduduk Iran sangat ramah dan suka membantu. Kalau bicara selalu sambil senyum. Senang memberi info bila kita bertanya. Seorang petugas resto sampai meninggalkan resto untuk mengantarkan team kami menunjukkan ruang hospital yang kami cari. Namun dalam karakter berlalu lintas mereka tidak sabar, sehingga jalanan semrawut , rem mendadak, memotong seenaknya, tanpa memberi isyarat , selalu mepet.

Kesepuluh, jumlah penduduk Iran sekitar 75 juta jiwa. Semua laki-laki , sebelum selesai kuliah, harus masuk wajib militer selama 1.5 tahun. Dengan begitu mereka punya kekuatan cadangan militer yang bisa bertempur dlm jumlah yang sangat besar. Saya amati pemuda2disana berbadan tegap dan percaya diri. Iran juga punya jutaan sukarelawan berani mati yang siap maju bila dibutuhkan. Mereka berhimpun dalam organisasi-organisasi masyarakat.

Inilah penuturan seorang profesional tentang Iran. Sekarang, Anda mau percaya siapa? Apakah orang yang melihat Iran dengan mata kepala sendiri atau cerita fabrikasi kelompok takfiri?

Picture

Syi’ah mempromosikan Republik Islam ke puncak daftar negara yang paling maju di dunia, sebuah lembaga penelitian yang berbasis di AS mengatakan.

“Terpilihnya Hassan Rouhani yang moderat sebagai presiden, [dan] adanya kesepakatan bersejarah dengan Barat atas program nuklir telah memberikan berkontribusi untuk Iran menjadi negara yang paling baik di dunia selama tahun lalu secara sosial, ekonomi dan politik,” Fund for Peace menyimpulkan dalam sebuah survei baru.

Presiden Rouhani menjabat Presiden Agustus lalu setelah kemenangannya pada pemilu bulan Juni.

Penelitian oleh lembaga yang berbasis di Washington ini telah menyurvei negara berdasarkan dua belas indikator politik, ekonomi dan sosial, dan mengatakan Iran masuk dalam menjadi katagori negara “peringkat pertama” yang paling maju.

sunni tidak kenal Imam 12 yang disebut Rasul berasal dari Bani Qurays, berarti Sunni tidak cinta Ahlul Bait

azr1“Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu hai Ahlul Bait, dan mensucikan kamu sesuci-sucinya.” (Qs. Al-Ahzab : 33).

“Jika dengan mencintai keluarga Nabi Saw aku disebut Rafidhi (Syiah), maka saksikanlah sesungguhnya aku seorang Rafidhi (Syiah) dan cukuplah shalatku menjadi tidak sah dengan tidak menyertakan shalawat kepada mereka.” (Imam Syafi’i ra).

Sebagaimana pernyataan Imam Syafi’i ra di atas, akan timbul berbagai pertanyaan dalam benak kaum muslimin yang mau berpikir tentang kebenaran sebuah keyakinan, siapakah yang dimaksud keluarga Nabi (Ahlul bait) yang hendak disucikan oleh Allah swt? adakah kewajiban untuk mencintai mereka sebagaimana kewajiban mencintai Nabi? mengapa dalam redaksi shalawat kepada Nabi kita harus menyertakan pula shalawat kepada keluarganya? Keistimewaan seperti apa yang dimiliki keluarga Nabi sampai dalam setiap shalat kita harus menyertakan shalawat kepada mereka? Kalau mereka memiliki kedudukan yang agung dan mulia dalam agama ini, namun mengapa kajian tentang keluarga nabi tidak banyak kita dapatkan dalam kehidupan religius kita sehari-hari?

Tidaklah berlebihan, dalam ruang yang sempit ini saya mencoba menyelipkan sedikit tulisan mengenai mereka. Semoga dengan itu kita mau mengenal, mengikuti dan mencintai keluarga nabi atau yang sering kita dengar dengan ungkapan: Ahlul Bait.

Keistimewaan Keluarga Para Nabi.
Telah menjadi sunatullah, Nabi-nabi memiliki keluarga yang dimuliakan, diagungkan dan anak keturunan mereka dipilih oleh Allah sebagai washi, pelanjut risalah kenabian. Berikut ini beberapa ayat Al-Qur’an menjelaskan masalah ini :
“Dan Kami menganugerahkan kepada Ishak dan Yaqub. Kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebagian keturunannya (Nuh) yaitu Dawud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Demikianlah Kami memberikan balasan kepada orang-orang yang berbuat baik; dan Zakaria, Yahya, Isa dan Ilyas, semuanya termasuk orang-orang yang saleh; dan Ismail, Alyasa’, Yunus dan Luth, masing-masing Kami lebihkan derajatnya di atas umat (di masanya); dan Kami lebihkan (pula) derajat sebagian dari bapak-bapak mereka, keturunan mereka dan saudara-saudara mereka. Dan Kami telah memilih mereka (untuk menjadi nabi-nabi dan rasul-rasul) dan Kami menunjuki mereka kepada jalan yang lurus. Inilah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya.” (Qs. Al-An’am : 84).

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh dan Ibrahim, dan Kami jadikan kepada keturunan keduanya kenabian dan al-kitab, maka diantara mereka ada yang menerima petunjuk dan banyak diantara mereka yang fasiq” (Qs. Al-Hadid : 26).

“Dan Kami anugerahkan kepada Ibrahim, Ishak dan Yaqub dan Kami jadikan kenabian dan al-Kitab kepada keturunannya, dan Kami berikan kepadanya balasan di dunia; dan sesungguhnya di akhirat mereka benar-benar termasuk orang-orang yang shaleh” ( Qs. Al-Ankabut : 27)
Dan beberapa ayat lainnya yang tersebar dalam Al-Qur’an satu-satunya kitab Samawi yang tetap steril dari berbagai upaya penyelewengan dan perubahan.

Ayat-ayat di atas berbicara tentang sunatullah di muka bumi, dalam hal pemilihan washi para Nabi yang berasal dari keturunan mereka yang saleh dan suci, bukan yang fasiq dan bahwa pewarisan ilmu al-Kitab, hukum dan kenabian di antara putra-putra mereka yang suci telah ditetapkan sejak diturunkannya Adam as ke muka bumi. Silsilah yang suci ini memberikan gambaran yang jelas bahwa risalah Ilahiah ini tidak pernah keluar dari lingkaran keluarga-keluarga Nabi yang disucikan, dan tidak diwarisi oleh hati yang pernah dikotori oleh kesyirikan, kekejian dan kezaliman.

Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim”. (Qs. Al-Baqarah: 124).

Jika ajaran Nabi terdahulu saja yang hanya berlaku untuk masa dan kaum tertentu memerlukan silsilah yang suci dan jiwa yang bersih, maka bagaimana mungkin ajaran Islam tidak memerlukan silsilah yang suci yang akan saling mewarisi ajaran Muhammad Saw yang luhur dan kekal hingga hari kiamat?. Jika Nabi terdahulu saja memerlukan orang yang menggantikannya di dalam urusan tabligh dari kalangan keluarga dan keturunannya yang saleh, maka bagaimana mungkin Rasulullah Saw tidak membutuhkan orang-orang yang meneruskan ajaran ini dari keluarga dan keturunannya yang suci?

Jika ayat-ayat tentang nabi dan keturunannya menekankan bahwa pemilihan washi para nabi telah berlaku bagi keluarga nabi yang saleh dengan tujuan untuk menjaga kesucian risalah, maka bagaimana mungkin ajaran Muhammad Saw yang kekal tidak membutuhkan pribadi-pribadi suci dari keturunannya yang akan menjaga nilai-nilai ajaran Ilahi dari usaha penyimpangan?

Melalui pengkajian ayat-ayat Al-Qur’an, tampak jelas bahwa masalah pemilihan atau seleksi pelanjut kepemimpinan Ilahiah adalah semata-mata wewenang Dzat yang Maha Mengetahui, tanpa adanya campur tangan siapapun.

“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami.” (Qs. Fathir : 32).

Dalam ayat lain, dikisahkan tentang Nabi Musa as, “Dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun, saudaraku, teguhkanlah dengan dia kekuatanku, dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku, supaya kami banyak bertasbih kepada Engkau, dan banyak mengingat Engkau. Sesungguhnya Engkau adalah Maha Mengetahui (keadaan) kami.” Allah berfirman : “Sesungguhnya telah diperkenankan permintaanmu, hai Musa.” (Qs. Thaha : 29-36).

Kita menyaksikan dalam ayat ini betapa Nabi Musa memohon kepada Allah SWT dengan penuh pengharapan dan kerendahan hati untuk memilih saudaranya, Harun, sebagai pembantunya dalam urusan Tabligh. Jika nabi Musa as saja, dengan segala ketinggian kedudukan dan kedekatannya kepada Allah SWT tidak memperkenankan dirinya untuk memilih langsung orang yang akan menggantikan dia sepeninggalnya dan yang membantunya dalam tugas-tugasnya, maka bagaimana mungkin umat Islam berhak memilih orang-orang yang menggantikan Rasulullah Saw sebagai khalifah sepeninggalnya? sebuah keberanian ‘ijtihad’ yang telah menimbulkan perselisihan, perpecahan bahkan sampai pertumpahan darah dikalangan sahabat.

Imamah dan Ahlul Bait.

Sekarang, seberapa banyakkah yang kita tahu tentang ayat muhkamah di dalam Al-Qur’an yang turun berkaitan dengan keagungan keluarga Rasulullah yang mulia? Atau seberapa banyakkah kisah yang kita ketahui tentang Rasulullah yang selalu mengingatkan ummatnya akan pengutamaan Allah atas keluarganya.

Imam Muslim meriwayatkan di dalam kitab Shahihnya, (juz 4 hal 123, cetakan Beirut Lebanon), Zaid bin Arqam berkata, “Pada suatu hari Rasulullah Saw berdiri di tengah-tengah kami dan menyampaikan khutbah di telaga yang bernama “Khum”, yang terletak antara Makah dan Madinah. Setelah mengucapkan hamdalah dan puji-pujian kepada-Nya serta memberi nasihat dan peringatan Rasulullah Saw berkata, “Adapun selanjutnya, wahai manusia, sesungguhnya aku ini manusia yang hampir didatangi oleh utusan Tuhanku, maka akupun menghadap-Nya. Sesungguhnya aku tinggalkan padamu dua perkara yang amat berharga, yang pertama adalah kitab Allah, yang merupakan tali Allah. Barangsiapa yang mengikutinya maka dia berada di atas petunjuk, dan barang siapa yang meninggalnya maka ia berada di atas kesesatan.”

Kemudian Rasulullah Saw melanjutkan sabdanya, Adapun yang kedua adalah Ahlul Baitku. Demi Allah aku peringatkan kamu akan Ahlul Baitku, aku peringatkan kamu akan Ahlul Baitku, aku peringatkan kamu akan Ahlul Baitku.” Al-Hakim juga meriwayatkannya dalam al-Mustadraknya dari Zaid bin Arqam bahwa nabi bersabda pada Haji Wada’, “Sesungguhnya aku telah tinggalkan kepada kalian tsaqalain (dua peninggalan yang sangat berharga) yang salah satu dari keduanya lebih besar daripada yang lain, Kitabullah (Al-Qur’an) dan keturunanku. Oleh karena itu perhatikanlah kalian dalam memperlakukan keduanya sepeninggalku. Sebab sesungguhnya keduanya tidak akan pernah berpisah sehingga berjumpa denganku di Haudh.” Setelah menyebutkan hadits ini Al-Hakim berkata, “Hadits ini shahih sesuai syarat (yang ditetapkan Bukhari-Muslim).”

Sebagaimana diketahui bahwa kaum muslimin sepakat untuk mensahihkan seluruh hadits yang diriwayatkan Imam Muslim, maka saya mencukupkan dengan hanya mengutip kedua hadits ini sebab dalam banyak kitab hadits ini pun dinukil. Di antaranya juga terdapat dalam Sunan Ad-Darimi, Shahih Turmidzi, Sunan Abu Dawud, Sunan Ibnu Majah, Musnad Ahmad dan beberapa kitab lainnya. Ibnu Hajar dalam kitabnya ash-Shawai’iq telah menyampaikan silsilah hadits ini hingga kepada dua puluh lebih sahabat, lalu beliau (rahimahullah) menyatakan dengan tegas, ” Ketahuilah, sesunggguhnya hadits berpegang teguh kepada Kitab Allah dan ahlul bait mempunyai jalur yang banyak, dan diriwayatkan lebih dari 20 orang sahabat.”

Dalam riwayat tersebut, Rasul menyebut keduanya (Al-Qur’an dan Ahlul Baitnya) sebagai Tsaqalain yakni sesuatu yang sangat berharga. Keduanya sebagaimana hadits Rasulullah tidak akan pernah terpisah dan saling melengkapi. Keduanya tidak dapat dipisahkan, apalagi oleh sekedar perkataan Umar bin Khattab pada saat Rasulullah mengalami masa-masa akhir dalam kehidupannya, bahwa Al-Qur’an sudah cukup bagi kita (baca tragedi ini dalam Al-Bukhari pada bab “Al-Ilmu” (Jilid I, hal 22). Muslim meriwayatkannya dalam Shahihnya pada akhir bab al-Washiyah dan juga tertulis dalam Musnad Ahmad jilid I hal. 355). Rasulullah menjamin bahwa siapapun yang bersungguh-sungguh dan berpegang pada kedua tsaqal ini, maka tidak akan pernah mengalami kesesatan. Kemunduran dan penyimpangan kaum muslimin terjadi ketika mencoba memisahkan kedua tsaqal ini.

Tentu saja sabda Rasul tentang Ahlul Baitnya yang tidak akan terpisah dengan Al-Qur’an bukan berdasarkan hawa nafsu pribadinya, sebab Allah SWT telah menjamin dalam Al-Quran bahwa apapun yang disampaikan Rasul adalah semata-mata wahyu dari-Nya. Pertanyaanya, mengapa Al-Quran saja tidak cukup menjadi petunjuk bagi kaum muslimin sepeninggal Rasulullah?.

Di antara jawabannya, semua kitab suci adalah kitab-kitab petunjuk yang mengandung prinsip-prinsip dasar petunjuk dan tidak menjelaskan prinsip-prinsip tersebut secara mendetail dan terperinci. Dan para Rasul diutus untuk menjelaskan kitab yang diwahyukan yang menjadi bukti kerasulannya, “Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul pun melainkan dengan bahasa kaumnya, agar dia dapat memberi penjelasan kepada mereka. ” (Qs. Ibrahim: 4).

Apakah semasa hidupnya Rasulullah telah menjelaskan kepada ummat Islam seluruh aturan-aturan dalam Al-Qur’an secara mendetail? Niscaya kita akan menjawab tidak seluruhnya, sebab selama sepuluh tahun Rasulullah Saw memerintah di Madinah, telah terjadi sekitar dua puluh tujuh atau dua puluh delapan peperangan (ghazwah) dan tiga puluh lima hingga sembilan puluh sariyah.

Ghazwah adalah sebuah peperangan yang dipimpin langsung oleh Rasulullah Saw, sedangkan sariyah adalah sebuah peperangan yang tidak langsung dipimpin olehnya. Akan tetapi, ia mengutus sebuah pasukan yang dipimpin oleh salah seorang sahabat yang telah ditunjuk olehnya. Tentu saja dengan berbagai kesibukan mengatur pertahanan dan peperangan menghadapi kaum kafir pada awal-awal revolusi Islam membuat Rasululllah tidak sempat untuk menjelaskan semua maksud ayat-ayat Al-Qur’an secara terperinci.

Sementara Allah SWT berfirman, ” Alif Lam Ra. (Inilah) kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi kemudian dijelaskan secara terperinci , (yang diturunkan) dari sisi (Allah) yang Maha Bijaksana dan Maha Teliti”. (Qs. Hud : 1). Dan di ayat lain, “Tidaklah Kami lalaikan sesuatu pun dalam Kitab ini.” (Qs. Al-An’am : 38).

Berkembangnya paham-paham yang saling bertolak belakang misalnya antara paham Jabariyah dan Qadariyah yang masing-masing menjadikan Al-Qur’an menjadikan landasan pemikirannya, menjadi bukti bahwa kaum muslimin di awal perkembangan Islam mengalami kehilangan pegangan dalam memahami ayat-ayat Al-Qur’an. Bahwa sesungguhnya Rasul belum menjelaskan seluruhnya, walaupun agama ini telah sempurna, “Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu.” (Qs. Al-Maidah : 3 ).

Sebab, “Kewajiban Rasul tidak lain hanya menyampaikan (risalah Allah).” (Qs. Al-Maidah : 99).

Bukan berarti Rasulullah sama sekali tidak menjelaskan, “Dan Kami tidak menurunkan kepadamu al-Kitab ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. ” (Qs. An-Nahl : 64),

masalah ini berkaitan dengan Al-Qur’an sebagai mukjizat, berkaitan dengan kedalaman dan ketinggian Al-Qur’an, sehingga hukumnya membutuhkan penafsir dan pengulas.

Al-Qur’an adalah petunjuk untuk seluruh ummat manusia sampai akhir zaman karenanya akan selalu berlaku dan akan selalu ada yang akan menjelaskannya sesuai dengan pengetahuan Ilahi. “Sungguh, Kami telah mendatangkan kitab (Al-Qur’an) kepada mereka, yang Kami jelaskan atas dasar pengetahuan, sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Qs. Al-A’raf : 52). Dan menurut hadits Rasulullah Ahlul Baitlah yang meneruskan tugas Rasulullah untuk menjelaskan secara terperinci ayat-ayat Al-Qur’an.

Penerus nabi adalah orang-orang tahu interpretasi ayat-ayat Al-Qur’an sesuai dengan makna sejatinya, sesuai dengan karakter esensial Islam, sesuai yang dikehendaki Allah SWT. Imam Ali as dalam salah satu khutbahnya yang dihimpun dalam Nahj Balaqah, khutbah ke-4, “Melalui kami kalian akan dibimbing dalam kegelapan dan akan mampu menapakkan kaki di jalan yang benar. Dengan bantuan kami kalian dapat melihat cahaya fajar setelah sebelumnya berada dalam kegelapan malam. Tulilah telinga yang tidak mendengarkan seruan (nasihat) sang pemandu”.

Tentang Imam Ali as Rasulullah bersabda, “Aku adalah kota ilmu, sedangkan Ali adalah pintunya. Barang siapa yang menghendaki ilmu, hendaklah ia mendatangi pintunya” Hadits ini disepakati keshahihannya oleh kaum muslimin sebab banyak terdapat dalam kitab-kitab hadits, diantaranya At-Thabari, Hakim, Ibnu Hajar, Ibnu Katsir dan lainnya. Umar bin Khattab pun mengakui keilmuan Imam Ali as sebagaimana yang diriwayatkan Ath-Thabari, Al-Kanji Asy-Syati’i dan As-Shuyuti dalam kitabnya masing-masing, “Dari sanad Abu Hurairah, Umar bin Khattab berkata, “Ali adalah orang yang paling mengetahui di antara kami tentang masalah hukum. Aku mengetahui hal itu dari Rasululah maka sekali-kali aku tidak akan pernah meninggalkannya”

Dalil yang menyatakan bahwa tidak hanya Rasulullah yang mengetahui makna Ilahiah Al-Qur’an, maksud sebagaimana yang diinginkan Allah SWT terdapat dalam ayat, “Sebenarnya (Al-Qur’an) itu adalah ayat-ayat yang jelas dalam dada orang-orang berilmu.” (Qs. Al-Ankabut : 49). Dan Ahlul Baitlah yang dimaksud dengan orang-orang berilmu tersebut.

Dan dengan firman Allah SWT, “Aku hendak jadikan seorang khalifah (wakil) di muka bumi.” (Qs. Al-Baqarah : 30), berarti di muka bumi akan senantiasa ada yang menjadi pemimpin otoritatif yang diangkat Allah SWT untuk menjadi khalifahnya. Akan tetap ada di muka bumi orang-orang yang menerima pengetahuan dari sumber Ilahiah. Imam Ali as berkata, “Pengetahuan masuk ke mereka, sehingga mereka mempunyai pengetahuan mendalam tentang kebenaran.” Mereka memiliki pengetahuan bukan hasil belajar dan terlepas dari kekeliruan. Mereka pun memiliki ‘Roh Tuhan’ yang menghubungkan mereka dengan dunia gaib.

Betapa pentingnya keberadaan Imam dan seorang Khalifah di muka bumi, “Dan kalau Allah tidak melindungi sebagian manusia dengan sebagian yang lain, niscaya rusaklah bumi ini. ” (Qs. Al-Baqarah : 251). Sebagian manusia yang menjadi pelindung atas manusia yang lainnya adalah Ahlul Bait sebagaimana hadits Rasulullah Saw, “Perumpamaan Ahlul Baitku seperti bahtera Nuh, barangsiapa yang menaikinya niscaya ia akan selamat; dan barangsiapa tertinggal darinya, niscaya ia akan tenggelam dan binasa.”

Seluruh ulama Islam sepakat akan keshahihan hadits ini yang dikenal sebagai hadits Safinah, diantaranya Al-Hakim, Ibnu Hajar dan Ath-Thabrani. Dan kitapun tahu dari informasi Rasulullah bahwa di akhir zaman akan muncul juru penyelamat yang akan menyelamatkan manusia dari berbagai kedzaliman dan menyebarkan keadilan di muka bumi, dialah yang dinanti-nantikan, Imam Mahdi as. Rasulullah Saw bersabda, “Kiamat tidak akan tiba kecuali kalau dunia ini sudah dipenuhi dengan kezaliman dan permusuhan. Kemudian keluar setelah itu seorang laki-laki dari Ahlul Baitku memenuhi dunia dengan keadilan sebagaimana telah dipenuhi dengan kezaliman dan permusuhan.” Hadits-hadits Rasulullah Saw tentang Imam Mahdi sangat banyak jumlahnya.

Hanya saja, sejauh mana kita mencoba mengenali siapa yang termasuk Ahlul Bait nabi, siapakah mereka Imam 12 yang disebut Rasul berasal dari Bani Qurays, dan siapakah Imam Mahdi yang akan muncul di akhir zaman?. Sebagai muslim adalah kewajiban untuk mengetahui dan taat kepada mereka, sebagaimana wajibnya kaum muslimin taat kepada titah Allah SWT yang termaktub dalam Al-Qur’an. Dalam Shahih Muslim, Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang meninggal dan tidak mengetahui imam zamannya, maka ia meninggal dalam keadaan jahiliyah.” Dan dalam Al-qur’an Allah SWT berfirman, “(Ingatlah), pada hari ketika Kami panggil setiap umat dengan imamnya.” (Qs. Al-Isra’: 71).

Jadi kecintaan kepada Ahlul Bait Nabi Saw bukan sekedar cinta biasa, bukan sekedar efek dari kecintaan kepada Nabi Saw bukan pula sekedar upah terhadap dakwah Rasulullah Saw, bukan pilihan, melainkan kewajiban yang telah menjadi bagian dari syariat agama karena Ahlul Bait dan Itrah Nabilah yang menjadi pelanjut tugas kenabian untuk menjaga kemurnian risalah Ilahi. Kecintaan kita kepada Ahlul Bait adalah juga kecintaan kepada Rasulullah Saw, kecintaan kepada Allah SWT, kecintaan kepada Islam dan agama ini. Imam Syafii pernah mengatakan, “Tidak sah shalat seseorang yang tidak menyertakan dalam shalatnya, shalawat kepada Nabi dan Ahlul Baitnya.”

Ulama Harus Menjelaskan Makna Hakiki Kecintaan Terhadap Ahlul Bait as

Ayatullah Naser Makarem Shirazi, salah satu marji’ besar Syiah di kota Qom, Iran, menyatakan, “Para mubaligh harus benar-benar perhatian dalam menjelaskan makna dan kandungan dari kecintaan kepada Ahlul Bait sehingga jangan sampai sebagian orang beranggapan bahwa dengan melakukan perbuatan menyimpang, mereka dapat tetap masuk surga dengan hanya menyimpan kecintaan terhadap Sayidah Zahra sa.

Ayatullah Makarem Shirazi menjelaskan tingkatan para pecinta Ahlul Bait as dan menegaskan, “Para pecinta Ahlul Bait as terbagi menjadi tiga bagian. Pertama kelompok yang hanya mencintai Ahlul Bait as demi riya, dan kelompok itu termasuk dalam golongan para pendusta. Kedua kelompok yang mencintai Ahlul Bait as secara awam atau yang hanya menyatakan cinta akan tetapi tidak pernah memperhatikan ucapan dan perilaku manusia-manusia suci itu.”

Adapun dalam menjelaskan para pecinta sejati Ahlul Bait as, Ayatullah Makarem Shirazi mengatakan, “Kelompok ketiga adalah para pecinta sejati, mereka yang sepanjang hidupnya mematuhi perintah Allah Swt dengah sepenuh hati. Mereka adalah kelompok yang merasa mudah untuk mematuhi perintah-Nya akan tetapi merasa sangat berat untuk berbuat maksiat.”