Uncategorized

Republik Islam Iran Amalkan Ayat Ayat Semesta Tentang Sains Islam

Revolusi Islam, Kemajuan dan Pembangunan Iran

 

Sanksi ekonomi adalah sebuah instrumen yang dipakai oleh kekuatan-kekuatan Barat untuk menekan Iran sejak hari-hari pertama berdirinya pemerintahan Republik Islam. Amerika Serikat dan Uni Eropa mengadopsi sejumlah langkah untuk menghambat pertumbuhan ekonomi Iran. Sekarang, usia Revolusi Islam sudah menginjak 35 tahun dan bangsa Iran mengukir sejumlah prestasi di segala bidang di tengah keterbatasan dan tekanan.

Bangsa Iran menanggung beban berat dalam menghadapi tekanan ekonomi, tapi mereka sama sekali tidak pesimis dan justru termotivasi untuk bangkit demi mencegah terhentinya perputaran roda produksi di berbagai sektor, seperti industri minyak.

AS menggunakan semua kemampuannya – mulai dari sanksi minyak hingga merusak pasar dan iklim investasi di Iran – untuk mengubah struktur ekonomi yang ada dan membangkitkan ketidakpuasan di tengah masyarakat. Saat ini, para pejabat Gedung Putih juga masih berbicara tentang terbukanya semua opsi di atas meja, mulai dari sanksi hingga invasi militer. AS dan sekutunya melakukan banyak investasi untuk mencegah Iran mencapai kemajuan dan mengesankan kegagalan Republik Islam.

Pada dasarnya, tekanan ekonomi Barat terhadap Iran mengincar dua tujuan strategis. Tujuan pertama, Barat pada awalnya fokus untuk mengesankan ketidakmampuan Iran dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya di sektor-sektor utama produksi, tapi cara ini tidak berjalan efektif. Iran menunjukkan perlawanan dan berusaha untuk mencapai swasembada di bidang infrastuktur. Oleh karena itu, strategi tersebut secara praktis gagal dan Barat beralih ke manuver yang lebih agresif yaitu mencegah kemajuan Republik Islam. Strategi itu jauh lebih berbahaya dari cara pertama.

Barat ingin mencegah pengembangan teknologi nasional Iran serta menurunkan kualitas dan kuantitas tingkat produksi di dalam negeri sebagai cara untuk merusak ekonomi Republik Islam. Sanksi dan tekanan juga mulai diarahkan untuk mengejar tujuan strategis kedua. Sejalan dengan itu, Barat fokus untuk melumpuhkan industri minyak Iran sebagai sumber pendapatan utama negara yang akan menjamin kelancaran pembangunan ekonomi. Mereka mencoba menghentikan kemampuan ekonomi Iran di berbagai sektor produksi dan kemajuan.

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar, Ayatullah Sayid Ali Khamenei dalam sebuah pidatonya pada Hari Nasional Melawan Arogansi Dunia, mengatakan, “Salah satu pelajaran besar konfrontasi bangsa Iran dengan AS adalah mempertahankan resistensi dan kearifan, bertawakkal kepada Allah Swt, kerja keras, dan persatuan di antara para pejabat negara.” Rahbar menilai perang bangsa Iran dengan AS akan terus berlanjut dan menegaskan, “Salah satu hal yang dibutuhkan dalam perang besar itu adalah resistensi dan kerja keras untuk kemajuan negara di bidang sains dan pembangunan sebagai mukaddimah untuk meraih kemenangan.”

Pasca kemenangan Revolusi Islam pada 1979, bangsa Iran melewati tahun-tahun yang penuh dengan aksi heroik dan perlawanan untuk menghadapi tekanan seperti, perang yang dipaksakan, konspirasi, dan sanksi. Namun, mereka meraih kemenangan setelah perjuangan panjang di semua bidang, termasuk di bidang ekonomi. Kemajuan di bidang teknologi nano, teknologi nuklir damai, sel punca, produksi ilmu pengetahuan, dan dunia antariksa, termasuk di antara prestasi utama Iran pasca revolusi. Saat ini, Iran menduduki posisi pertama produksi ilmu pengetahuan di Timur Tengah dan termasuk di antara sepuluh negara dunia dari segi pertumbuhan indeks ilmiah.

Saat ini, tercatat hanya segelintir negara yang sedang menyusun program nasional nano dan Iran juga termasuk salah satu dari mereka. Di bidang produksi teknologi itu, Tehran menempati posisi pertama di Timur Tengah dan di antara negara-negara Islam, serta menduduki posisi ke-14 dunia. Di Iran saat ini, ada banyak ilmuan muda termasuk dari kalangan perempuan yang menggeluti bidang nano teknologi.

Bangsa Iran membuktikan kepada dunia bahwa tekanan dan sanksi dapat dipatahkan dengan kebijakan ekonomi muqawama, tanpa menghambat laju kemajuan negara. Tentu saja, sektor ekonomi merupakan medan perang yang sangat rumit dan sarat dengan pasang surut. Kemenangan di perang ini hanya bisa diraih oleh negara-negara yang sukses menggabungkan perlawanan dengan kemajuan di bidang teknologi strategis.

Di bidang teknologi nuklir damai, Barat telah mempolitisasi kasus nuklir Iran dan bahkan tidak bersedia menjual bahan bakar untuk kebutuhan reakor riset medis Iran. Standar ganda itu mendorong Tehran memperkaya uranium ke tingkat 20 persen guna memenuhi kebutuhan bahan bakar reaktor riset dan industri. Selama ini, reaktor riset tersebut digunakan untuk memproduksi obat-obatan seperti radio isotop bagi pengobatan kanker dan penyakit kronis lainnya. Keberhasilan Iran di bidang nuklir merupakan sebuah penekanan terhadap tekad bangsa untuk melangkah maju serta komitmennya dalam memperjuangkan kepentingan negara di tingkat regional maupun internasional.

Kekuatan-kekuatan hegemonik membentuk poros yang kuat untuk memonopoli sains dan teknologi. Tidak hanya itu, Barat juga menghalangi negara-negara lain yang melakukan riset di bidang teknologi mutakhir. Selain membentuk blok militer semacam Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), negara-negara arogan juga melancarkan tindakan serupa di bidang sains dan teknologi. Dalam kondisi demikian, negara dunia terbagi menjadi negara kaya dan miskin. Namun, bangsa Iran dengan tekadnya telah menerobos monopoli tersebut. Dengan capaian besar ini, reaktor riset Tehran yang bertumpu pada kemampuan para ilmuannya tidak lagi bergantung kepada negara lain dalam pengayaan uranium.

Prestasi-prestasi bangsa Iran diperoleh setelah lebih dari tiga dekade kerja keras dan perlawanan terhadap dikte Barat. Kemajuan itu menunjukkan bahwa tidak ada faktor yang bisa menghalangi bangsa Iran untuk mencapai puncak kemajuan sains dan teknologi. Koran Christian Science Monitor belum lama ini, mengulas tentang sanksi dan dampak-dampkanya terhadap ekonomi Iran, dan menulis, “Pembatasan telah mendorong Republik mengambil langkah-langkah menuju kemajuan.” Menurutnya, Barat gagal mencapai hasil yang diharapkan lewat sanksi, sebab penerapan sanksi ketat telah membakar semangat Tehran untuk maju di semua bidang.

Presiden Konfederasi Kamar Dagang dan Industri Asia-Pasifik (CACCI), Benedicto Yujuico dalam kunjungannya ke Tehran, mengatakan Iran berada di posisi luar biasa di bidang pengembangan ekonomi. Dia menambahkan, “Iran harus bekerjasama dengan negara-negara anggota CACCI dalam proyek-proyek bersama di sektor minyak dan gas, suku cadang mobil dan pesawat, dan bidang-bidang lain.

Di sektor energi, Iran berupaya menjalankan program terpadu untuk menjaga keamanan pasokan energi dunia. Republik Islam saat ini tercatat sebagai salah satu negara pemilik cadangan minyak dan gas terbesar di dunia. Betapa tidak, negara ini menguasai 10 persen cadangan minyak dunia, dan 17 persen cadangan gas dunia. Pada Juli 2013, raksasa energi Inggris, British Petroleum (BP) memasukkan Iran sebagai negara dengan cadangan gas teratas dunia sekitar 32.9 triliun meter kubik. Perusahaan itu menurunkan cadangan gas Rusia menjadi 32,9 triliun meter kubik dari 44,6 triliun meter kubik dalam sebuah laporan tahunan.

Iran telah berusaha untuk meningkatkan produksi gasnya dengan menarik investasi domestik dan asing, khususnya di ladang gas Pars Selatan. Pars Selatan merupakan bagian dari ladang gas yang lebih luas dan terbagi dengan Qatar. Bidang yang lebih besar meliputi area seluas 9.700 kilometer persegi, di mana 3.700 kilometer persegi berada di wilayah perairan Iran di Teluk Persia. Sisanya, 6.000 kilometer persegi atau disebut sebagai Dome Utara, berada di perairan teritorial Qatar. Menurut catatan Badan Energi Internasional (IEA), ladang itu diperkirakan memiliki 50,97 triliun meter kubik gas dan 50 miliar barel cadangan minyak mentah.

Presiden Iran Hassan Rohani dalam pidatonya di Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, mengatakan bahwa Iran dapat menjadi salah satu dari 10 kekuatan ekonomi dunia dalam waktu dekat dan berencana membuka kembali perdagangan dengan negara-negara lain. Dia mengatakan besarnya cadangan minyak Iran dapat berperan penting dalam upaya menjaga stabilitas energi global.

Sistem Pendidikan Republik Islam Iran MENGGUNCANG DUNiA !!!!!

pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Ayatullah Uzma Sayid Ali Khamenei menegaskan bahwa Republik Islam Iran terbukti bisa meraih kehormatan dan kemajuan tanpa dukungan Amerika Serikat (AS) dan negara-negara Barat lainnya. Dia juga menilai realitas ini sebagai faktor yang telah membangkitkan kegusaran AS.

Hal ini dia ungkapkan dalam kata sambutannya pada acara wisuda calon perwira Garda Revolusi Islam Iran di Universitas Imam Husain, Teheran, Rabu (21/5).

“Dewasa ini kubu arogan dunia sangat gusar menyaksikan kemajuan yang diraih Iran dan pemerintahan Islam tanpa bergantung pada AS dan kekuatan-kekuatan Barat lainnya, melainkan dengan mengandalkan kapasitas dan kemampuan dalam negeri sendiri. Untuk menanggapi (kegusaran) mereka itu kita mengulang lagi ungkapan terkenal Syahid Baheshti, ‘Matilah akibat kemarahan kalian!’,” tegasnya.

Menurut Khamenei, isu-isu yang dikembangkan oleh kekuatan-kekuatan raksasa dunia untuk menyudutkan Iran, termasuk isu nuklir dan hak asasi manusia (HAM) adalah nonsen dan tendensi belaka. “Dengan dalih dan tekanan inilah mereka berusaha mengalihkan bangsa Iran dari resistensinya di depan pemaksaan kehendak dan gertakan mereka, namun hal ini tidak akan pernah terjadi,” ujar Khamenei.

Dia menambahkan, “Bangsa Iran telah membuktikan keberdayaannya di berbagai bidang dan menunjukkan kemampuannya meraih kemajuan sains dan sosial serta pengaruh internasional dan kehormatan politik tanpa bersandar pada AS.”

Dia juga menilai Iran didukung oleh mayoritas khalayak dunia. Dia mengatakan, “Meski ada sepak terjang (Barat) sedemikian rupa, dewasa ini mayoritas masyarakat dunia mempercayai dan memuji bangsa Iran.”

Rahbar juga menyinggung upaya imperium media negara-negara adidaya dunia untuk mencegah masyarakat internasional sadar akan kemajuan dan keberhasilan bangsa Iran. Ia menjelaskan, dengan memperhatikan upaya-upaya ini, sekarang banyak dari masyarakat dunia yang percaya kepada rakyat Iran dan sebagian besar dunia bersama bangsa Iran.

Di bagian lain pidatonya, Rahbar memprotes penggunaan istilah palsu “masyarakat internasional” sebagai lawan Republik Islam Iran. “Realitasnya adalah mereka bukan masyarakat internasional dan hanya segelintir negara arogan yang dipengaruhi korporasi-korporasi milik Zionis,” tegasnya.

Masyarakat internasional, katanya, adalah negara-negara dan bangsa-bangsa yang tertindas dan tidak kuasa menentang arogansi kekuatan-kekuatan besar dunia karena ditekan. Akan tetapi jika ada peluang, pasti mereka akan menunjukkan penentangannya.

“Masyarakat dunia,” lanjutnya, “adalah bangsa-bangsa dan pemerintah-pemerintah tertindas yang akibat tekanan kekuatan-kekuatan besar tidak berani menunjukkan perlawanan terhadap mereka, dan seandainya mendapatkan kesempatan maka pasti akan menunjukkan perlawanan… Masyarakat dunia adalah para para ilmuwan, pemikir, penuntut kebaikan dan pendamba kebebasan dunia.”

Menurut Rahbar, Islam adalah satu-satunya jalan keselamatan manusia dari peristiwa-peristiwa mengerikan sepanjang masa dan merupakan jalan untuk merealisasikan kemuliaan manusia.

“Pemuda-pemuda beriman dan loyal adalah para pembangun masa depan Iran dan merupakan cikal bakal utama terbentuknya kebudayaan baru Islam,” tandasnya

kemajuan ilmu pengetahuan akan mendasari kekuatan ekonomi dan politik Republik Islam Iran. Selain menekankan gerakan maju ilmiah dengan menyinggung kebangkitan satu dekade terakhir di sektor produksi ilmu, kelanjutan gerakan tersebut sangat penting dan esensial, yang bahkan diakui oleh lembaga pusat ilmiah dunia meski adanya berbagai pandangan negatif terhadap Republik Islam.

 

Dalam menjelaskan sejumlah data statistik lembaga-lembaga informasi sains dunia, Rahbar mengatakan, “Berdasarkan data-data tersebut, perkembangan sains di Iran dalam 12 tahun terakhir jika dibanding dengan sebelumnya mengalami kenaikan 16 kali lipat dan perkembangan ilmiah di Iran 13 kali lipat lebih tinggi di atas rata-rata dunia.” Beliau menambahkan pula, lembaga-lembaga informasi sains dunia juga menyatakan bahwa jika perkembangan sains di Iran ini terus berlanjut, maka dalam lima tahun mendatang, Republik Islam akan merah posisi keempat dunia di bidang ini.

 

Yang pasti ini semua menunjukkan indeks positif dalam gerakan maju sektor ilmiah dan sains di Iran, akan tetapi pada saat yang sama juga harus diperhatikan bahwa sektor ilmiah dan sains dunia juga tidak akan stagnan dan terus berlanjut. Dengan adanya gerakan berkesinambungan ini, masalah yang muncul adalah perbedaan jarak ilmiah dan sains antara negara-negara dunia ketiga dan negara-negara maju. Oleh karena itu, untuk mengejar ketertinggalan itu harus dikerahkan upaya ganda.

 

Pengalaman membuktikan bahwa dalam dua dekade terakhir, kekuatan dunia tidak akan menyia-nyiakan segala upaya untuk menjegal kemajuan ilmiah di Iran. Dan sekarang, tahap baru gerakan maju telah dimulai bersamaan dengan dimulainya masa tugas pemerintahan kesebelas Iran, yang diharapkan dapat melanjutkan dan bahkan semakin meningkatkan laju kemajuan sains, ekonomi dan diplomasi bangsa ini

Di antara kemajuan sains yang dicapai Iran terkait bidang teknologi nano, lingkungan dan eurospace. “Tahun 1390 HS, para ilmuan muda kita berhasil mengayakan uranium sampai 20 persen dan ini yang membuat musuh tercengang,”

Pihaknya menilai sanksi yang diberlakukan Barat tehadap Iran tidak akan berdampak apapun terhadap prinsip-prinsip dan sikap Teheran.

Sejak masa-masa awal kemenangan Revolusi Islam, masalah kemandirian di bidang ekonomi senantiasa menjadi perhatian utama. Pasalnya, pada era pra-revolusi, akibat kesalahan fatal politik Rezim Pahlevi, menyebabkan Iran amat bergantung dengan Barat, khususnya AS. Sebaliknya, pasca kemenangan Revolusi Islam, negara-negara Barat berupaya menekan dan mengancam Republik Islam Iran dengan berbagai cara, termasuk dengan menerapkan embargo ekonomi.

Karena itu, Iran pun berusaha mencapai kemandirian di bidang pertanian dan industri. Upaya ini bahkan terus dilanjutkan, meski di saat Iran menjalani masa-masa sulit perang yang dipaksakan oleh Rezim Ba’ats, Irak selama delapan tahun. Upaya tiada kenal lelah inipun, akhirnya membuahkan hasil yang membanggakan. Iran berhasil mencapai swasembada gandum, sebuah komoditas strategis pertanian. Sejak tahun lalu, Iran bahkan sanggup mengekspor hasil produksi gandumnya ke sejumlah negara. Begitu pula di berbagai komoditas pertanian lainnya. Iran juga berhasil meraih kemajuan dengan menerapkan program mekanisasi pertanian.

Salah satu dampak buruk yang diwariskan sistem perekonomian Rezim Pahlevi dan masih berpengaruh hingga kini adalah ketergantungan Iran terhadap pendapatan minyak bumi. Masalah ini membuat struktur ekonomi menjadi rapuh, namun dengan usaha keras pemerintah Republik Islam Iran, ketergantungan terhadap pendapatan minyak pun perlahan-lahan mulai dibatasi. Sebagai misal, pada tahun 2007-2008 ini, komposisi pendapatan minyak dalam anggaran negara Iran kurang dari 50 persen. Sebaliknya, dalam beberapa tahun terakhir pendapatan dari sektor non-minyak makin naik secara signifikan. Berdasarkan sejumlah data, pendapatan Iran di sektor non-minyak pada tahun 2006 mengalami peningkatan 47 persen atau sekitar 16 miliar USD. Peningkatan ini membuat situasi ekonomi Iran relatif bisa bertahan meski harga minyak dunia mengalami fluktuatif.

Di sisi lain, untuk memanfaatkan secara optimal cadangan minyak, Iran berupaya meningkatkan produksi komoditas petrokimia dan olahan minyak lainnya agar lebih bermanfaat dan bernilai. Sehingga pada periode 2007-2008, produksi petrokimia Iran meningkat lebih dari 30 juta ton. Rencananya tiga tahun lagi, produksi di sektor ini akan ditingkatkan menjadi 58 juta ton.

Salah satu produksi industri Iran yang berhasil diekspor sejak beberapa tahun terakhir adalah produk otomotif. Iran mengekspor kendaraan penumpang dan barangnya ke berbagai negara seperti Syria, Turkmenistan, Afghanistan, Azerbaijan, dan Venezuela. Iran juga menjalin kerjasama pembangunan pabrik mobil dengan sejumlah negara. Pada tahun 2006, Iran mengeskpor lebih dari 30 ribu kendaraan senilai 350 juta USD. Pembangunan di bidang infrastruktur, seperti pembangunan jalan, rel kereta api, jembatan, jalan tol dalam kota, dan kereta api bawah tanah (subway) merupakan langkah pembangunan paling kentara pasca revolusi.

Kemajuan lain ekonomi Iran pasca Revolusi Islam adalah meningkatnya investasi asing, padahal Iran saat ini masih berada di bawah tekanan sanksi ekonomi AS. Tahun lalu, investasi asing di sektor perminyakan, yang merupakan salah satu bidang yang paling dikhawatirkan oleh AS, mengalami peningkatan sekitar 9 persen. Begitu juga di bidang gas, tingkat eksplorasi, produksi, dan ekspor di bidang ini mengalami peningkatan signifikan. Pada bulan Februari ini, menteri perminyakan Iran melaporkan adanya penemuan ladang gas baru dengan cadangan gas sebesar 11 triliun kaki kubik. Iran adalah negara pemilik cadangan gas terbesar kedua di dunia, setelah Rusia. Selain itu, Teheran juga telah menjalin beragam kontrak kerjasama di bidang gas dengan negara-negara lain. Sebagai contoh, baru-baru ini Iran dan Austria menandatangani kontrak ekspor gas senilai 50 miliar USD dan kerjasama produksi gas dengan Malaysia senilai 16 miliar USD.

Salah satu slogan utama Revolusi Islam Iran adalah meningkatkan taraf hidup rakyat, khususnya kalangan menengah ke bawah dan mewujudkan keadilan sosial. Karena itu, pemerintah Republik Islam Iran berusaha keras meningkatkan taraf hidup masyarakat berpendapatan rendah. Terlebih khusus di era kepemimpinan Presiden Ahmadinejad, yang lebih fokus untuk merealisasikan visi keadilan yang yang disuarakan oleh Revolusi Islam. Program kunjungan ke daerah Presiden Ahmadinejad beserta kabinetnya merupakan upaya serius pemerintah untuk menyentuh secara langsung persoalan rakyat di berbagai daerah sehingga bisa diupayakan tindakan yang lebih cepat untuk mengatasi persoalan daerah. Selama dua tahun pertama masa kepemimpinannya, Presiden Ahmadinejad berhasil mengunjungi 30 propinsi. Kini, di paruh kedua masa kepemiminannya, dia pun melaksanakan kembali rangkaian safari ke berbagai daerah untuk menganalisa dan menindaklanjuti kebijakan sebelumnya.

Masih di bidang pembangunan keadilan sosial, Pemerintahan Ahmadinejad juga mengeluarkan program pembagian ‘saham keadilan’. Lewat program ini, saham perusahaan-perusahaan negara dibagikan kepada kalangan masyarakat berpendapatan rendah, sementara hasil keuntungannya akan dikembalikan lagi kepada mereka.

Kendati Iran pasca revolusi, menghadapi beragam tekanan dan embargo, namun para ilmuan dan teknisi militer Iran tidak pernah menyerah untuk memajukan kekuatan pertahanan negaranya. Tak heran bila kini Iran berhasil meraih keberhasilan yang tidak pernah diduga sebelumnya di bidang persenjataan modern. Angkatan bersenjata RII, saat ini berhasil membuat dan mengembangkan berbagai bentuk roket, seperti roket darat ke darat, darat ke laut, dan darat ke udara. Begitu pula di bidang pembuatan helikopter dan pesawat tempur, para ilmuan Iran berhasil mencapai kemajuan yang menarik di bidang ini. Sejumlah pesawat tempur berteknologi tinggi baik berjenis tanpa awak maupun standar, berhasil dibuat oleh Iran.

Angkatan darat militer Iran juga berhasil membuat peralatan perang modern lainnya seperti, tank, panser, meriam, dan beragam bentuk senjata personal. Begitu pula di matra laut, kekuatan pertahanan laut Iran juga berhasil menorehkan prestasi gemilang. Seperti pembuatan beragam jenis kapal perang dan perahu cepat militer serta beragam persenjataan penting lainnya. Di bidang perangkat militer elektronik, Iran juga berhasil membuat gebrakan baru di bidang ini. Tak heran jika kini Iran menyatakan siap mengadapi ancaman perang elektronik.

Kemajuan mengagumkan Iran di bidang industri militer membuat sejumlah negara kian tertarik menjalin kerjasama dengan Iran. Saat ini, Iran telah mengekspor hasil-hasil industri militernya ke 57 negara.

Revolusi Islam Iran telah memberikan karunia, berkah dan keberhasilan yang begitu berharga bagi rakyat Iran. Revolusi ini telah menghadiahkan nilai-nilai luhur seperti tuntutan kemerdekaan, kebangkitan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan kemandirian. Nilai-nilai inilah yang mendorong rakyat Iran untuk terus berjuang memutus ketergantungan di bidang ekonomi, politik, dan budaya asing serta mewujudkan keadilan ekonomi dan kemajuan iptek.

Islam senantiasa menekankan perlunya menuntut ilmu. Ada banyak ayat Al-Quran dan hadis Nabi yang mengajak kaum muslimin untuk menuntut ilmu di manapun dan kapanpun. Ajakan ini disikapi secara serius oleh pemerintah dan rakyat Iran. Pada tahap awal, pemerintah Republik Islam Iran berusaha membukan peluang sebesar-besarnya bagi seluruh rakyat untuk bisa mengenyam pendidikan formal, dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Pasal 30 UUD Republik Islam Iran menyatakan, “Pemerintah berkewajiban menyediakan pendidikan dan pengajaran gratis bagi seluruh rakyat hingga akhir tingkat pendidikan menengah dan mengembangkan pendidikan tinggi secara gratis pula hingga semampunya”.

Sejak awal Revolusi Islam, pemerintah Iran telah mencanangkan program perang melawan buta huruf. Terkait hal ini, Bapak Pendiri Revolusi Islam, Imam Khomeini menugaskan dibentuknya Lembaga Kebangkitan Melek Huruf. Upaya kontinyu dan tak kenal lelah lembaga ini berhasil menurunkan secara drastis angka buta huruf. Sebelum Revolusi Islam, angka buta huruf di Iran mencapai 50 persen, namun pasca Revolusi angka ini berhasil ditekan menjadi 10 persen. Prestasi cemerlang Lembaga Kebangkitan Melek Huruf ini bahkan berkali-kali mendapat pujian dan penghargaan dari lembaga-lembaga internasional, termasuk Unesco.

Di sisi lain, dalam beberapa tahun terakhir, dunia pendidikan di Iran terus mengalami kemajuan dan pertumbuhan yang pesat baik secara kualitas maupun kuantitas. Setiap tahun, terdapat banyak sekolah yang dibangun di berbagai kawasan di Iran. Pemerintah dan para prakstisi pendidikan juga terus berusaha menyesuaikan kurikulum dan metode pendidikannya dengan pelbagai hasil temuan baru di bidang ilmu pengetahuan.

Dunia perguruan tinggi Iran juga mengalami perkembangan dan kemajuan yang pesat pasca Revolusi Islam. Meski angka para peminat pendidikan tinggi di Iran terus meningkat tajam, namun begitu, kini kapasitas kursi pendidikan di perguruan tinggi telah mencapai lebih dari satu juta 200 ribu kursi. Fenomena lain yang menarik di dunia kampus Iran adalah lebih dari 60 persen mahasiswa Iran adalah kaum hawa. Kenyataan ini merupakan salah satu efek dari upaya pemerintah memajukan peran kaum perempuan.

Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah makalah ilmiah para ilmuan Iran yang berhasil diterbitkan oleh berbagai majalah dan media ilmiah ternama dunia kian meningkat. Keberhasilan di bidang ini merupakan salah satu indikator kemajuan sains di setiap negara. Ironisnya, meski media-media ilmiah Barat mengklaim dirinya bersikap secara obyektif namun sebagian masih menolak untuk merilis makalah ilmiah para ilmuan Iran.

Pasca Revolusi Islam, para pakar sains dan teknologi di Iran berhasil mencapai kemajuan yang pesat, bahkan tergolong sebagai lompatan ilmiah. Teknologi nano sebagai salah satu dari empat teknologi paling bergengsi dan rumit di dunia, telah bertahun-tahun menjadi fokus perhatian dan penelitian para ilmuan Iran. Teknologi ini bahkan bisa memperbaiki molekul dan sel-sel badan yang rusak. Teknologi nano biasa dimanfaatkan untuk keperluan kedokteran, pertanian, industri, dsb. Hingga kini, Iran tergolong sebagai negara maju di bidang teknologi nano dan berhasil memproduksi sejumlah komoditas dengan bantuan teknologi nano.

Salah satu keberhasilan lainnya Iran di bidang iptek adalah prestasi cemerlang di bidang stem cell atau sel punca. Selama bertahun-tahun, para ilmuan Iran telah mengembangkan teknologi sel punca untuk pengobatan dan keperluan kedokteran lainnya. Sel punca ini mampu memproduksi beragam jenis sel tubuh manusia, karena itu, sel ini memiliki peran yang amat vital. Para ilmuan Iran juga berhasil memanfaatkan teknologi sel punca untuk menyembuhkan beragam penyakit akut yang selama ini sulit diobati. Seperti penyembuhan penyakit buta dan beragam kasus lainnya. Namun prestasi paling berkesan di bidang ini adalah keberhasilan para ilmuan Iran mengkloning seekor kambing dengan memanfaatkan sel punca. Prestasi ini merupakan bukti kemajuan Iran di bidang kedokteran, khususnya dalam reproduksi sel punca.

Pusat Riset Ruyan merupakan lembaga penelitian yang berhasil mengembangkan teknologi stem cell atau sel punca di Iran. Televisi CNN dalam laporannya mengenai kemajuan Iran di bidang teknologi ini menuturkan, “Pusat Riset Ruyan adalah salah satu sentra penelitian sel punca janin di Iran. Di lembaga ini, sains berkembang pesat”. CNN dalam laporannya ini juga menambahkan, salah satu penyebab kemajuan Iran di bidang iptek adalah karena para pemimpin negara ini menghendaki ilmu pengetahuan.

Salah satu keberhasilan Iran lainnya di bidang kedokteran adalah pembuatan obat IMOD. Obat ini berfungsi untuk meningkatkan fungsi ketahanan tubuh di hadapan virus AIDS. Keampuhan obat ini bahkan telah diakui oleh otoritas kedokteran dunia. Pada tanggal 3 Februari yang lalu, para pakar farmasi Iran juga berhasil mengeluarkan obat baru Angi Pars, obat ini berfungsi untuk menyembuhkan luka penyakit diabetes atau kencing manis, sehingga bisa mencegah terjadinya amputasi. Begitu juga di bidang kedokteran lainnya, para ilmuan kedokteran Iran berhasil membuat terobosan baru dalam metode operasi, seperti operasi otak dan saraf, jantung, dan mata. Saat ini, di kawasan Timur Tengah, Republik Islam Iran terbilang sebagai negara paling maju di bidang kedokteran.

Ternyata Iran menyimpan prestasi yang mengagumkan di bidang nuklir. Namun, dibalik polemik yang sengaja dihembuskan Barat untuk menentang kemajuan Iran di bidang ini,  Meski Iran berada di bawah tekanan dan embargo, namun negara ini tetap berhasil mencapai prestasi cemerlang dalam teknologi nuklir. Selama ini, negara-negara Barat, khususnya AS memanfaatkan nuklir untuk membuat bom pemusnah massal, karena itu mereka juga berpikir bahwa Iran memanfaatkan teknologi nuklir untuk kepentingan militer. Padahal, teknologi ini bisa dimanfaatkan untuk keperluan yang positif, seperti sebagai sumber energi listrik. Atas dasar inilah, Iran mengembangkan teknologi nuklir. Langkah ini dilakukan untuk menjadikan nuklir sebagai sumber energi alternatif. Selain dimanfaatkan untuk pembangkit tenaga listrik, teknologi nuklir juga bisa digunakan untuk keperluan kedokteran, dan rekayasa genetika di bidang pertanian dan peternakan.

Untuk menghilangkan adanya kecurigaan Barat terhadap program nuklir sipil Iran, para pejabat tinggi Tehran telah berkali-kali menggelar dialog dengan negara-negara Barat dan menjalin kerjasama yang transparan dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Tahun lalu, Presiden Ahmadinejad mengumumkan, bahwa Republik Islam Iran secara resmi telah memasuki fase industrialisasi produksi bahan bakar nuklir. Upaya ini merupakan salah satu bentuk tekad nyata Iran untuk mencapai kemandirian di bidang nuklir.

Baru-baru ini, tanggal 4 Februari lalu, Iran juga berhasil menorehkan prestasi baru di bidang teknologi antariksa. Pembangunan stasiun peluncuran antariksa dan peluncuran roket pembawa satelit Safir merupakan kesuksesan terbaru Iran di bidang ini. Seluruh keberhasilan tersebut merupakan berkah kemenangan Revolusi Islam dan buah prestasi iman, ikhtiar, persatuan rakyat Iran serta kepemimpinan bijaksana Pemimpin Revolusi Islam Iran. Mari belajar dari Iran.

Revolusi Islam Iran telah memberikan karunia, berkah dan keberhasilan yang begitu berharga bagi rakyat Iran. Revolusi ini telah menghadiahkan nilai-nilai luhur seperti tuntutan kemerdekaan, kebangkitan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan kemandirian. Nilai-nilai inilah yang mendorong rakyat Iran untuk terus berjuang memutus ketergantungan di bidang ekonomi, politik, dan budaya asing serta mewujudkan keadilan ekonomi dan kemajuan iptek.

Islam senantiasa menekankan perlunya menuntut ilmu. Ada banyak ayat Al-Quran dan hadis Nabi yang mengajak kaum muslimin untuk menuntut ilmu di manapun dan kapanpun. Ajakan ini disikapi secara serius oleh pemerintah dan rakyat Iran. Pada tahap awal, pemerintah Republik Islam Iran berusaha membukan peluang sebesar-besarnya bagi seluruh rakyat untuk bisa mengenyam pendidikan formal, dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Pasal 30 UUD Republik Islam Iran menyatakan, “Pemerintah berkewajiban menyediakan pendidikan dan pengajaran gratis bagi seluruh rakyat hingga akhir tingkat pendidikan menengah dan mengembangkan pendidikan tinggi secara gratis pula hingga semampunya”.

Sejak awal Revolusi Islam, pemerintah Iran telah mencanangkan program perang melawan buta huruf. Terkait hal ini, Bapak Pendiri Revolusi Islam, Imam Khomeini menugaskan dibentuknya Lembaga Kebangkitan Melek Huruf. Upaya kontinyu dan tak kenal lelah lembaga ini berhasil menurunkan secara drastis angka buta huruf. Sebelum Revolusi Islam, angka buta huruf di Iran mencapai 50 persen, namun pasca Revolusi angka ini berhasil ditekan menjadi 10 persen. Prestasi cemerlang Lembaga Kebangkitan Melek Huruf ini bahkan berkali-kali mendapat pujian dan penghargaan dari lembaga-lembaga internasional, termasuk Unesco.

Di sisi lain, dalam beberapa tahun terakhir, dunia pendidikan di Iran terus mengalami kemajuan dan pertumbuhan yang pesat baik secara kualitas maupun kuantitas. Setiap tahun, terdapat banyak sekolah yang dibangun di berbagai kawasan di Iran. Pemerintah dan para prakstisi pendidikan juga terus berusaha menyesuaikan kurikulum dan metode pendidikannya dengan pelbagai hasil temuan baru di bidang ilmu pengetahuan.

Dunia perguruan tinggi Iran juga mengalami perkembangan dan kemajuan yang pesat pasca Revolusi Islam. Meski angka para peminat pendidikan tinggi di Iran terus meningkat tajam, namun begitu, kini kapasitas kursi pendidikan di perguruan tinggi telah mencapai lebih dari satu juta 200 ribu kursi. Fenomena lain yang menarik di dunia kampus Iran adalah lebih dari 60 persen mahasiswa Iran adalah kaum hawa. Kenyataan ini merupakan salah satu efek dari upaya pemerintah memajukan peran kaum perempuan.

Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah makalah ilmiah para ilmuan Iran yang berhasil diterbitkan oleh berbagai majalah dan media ilmiah ternama dunia kian meningkat. Keberhasilan di bidang ini merupakan salah satu indikator kemajuan sains di setiap negara. Ironisnya, meski media-media ilmiah Barat mengklaim dirinya bersikap secara obyektif namun sebagian masih menolak untuk merilis makalah ilmiah para ilmuan Iran.

Pasca Revolusi Islam, para pakar sains dan teknologi di Iran berhasil mencapai kemajuan yang pesat, bahkan tergolong sebagai lompatan ilmiah. Teknologi nano sebagai salah satu dari empat teknologi paling bergengsi dan rumit di dunia, telah bertahun-tahun menjadi fokus perhatian dan penelitian para ilmuan Iran. Teknologi ini bahkan bisa memperbaiki molekul dan sel-sel badan yang rusak. Teknologi nano biasa dimanfaatkan untuk keperluan kedokteran, pertanian, industri, dsb. Hingga kini, Iran tergolong sebagai negara maju di bidang teknologi nano dan berhasil memproduksi sejumlah komoditas dengan bantuan teknologi nano.

Salah satu keberhasilan lainnya Iran di bidang iptek adalah prestasi cemerlang di bidang stem cell atau sel punca. Selama bertahun-tahun, para ilmuan Iran telah mengembangkan teknologi sel punca untuk pengobatan dan keperluan kedokteran lainnya. Sel punca ini mampu memproduksi beragam jenis sel tubuh manusia, karena itu, sel ini memiliki peran yang amat vital. Para ilmuan Iran juga berhasil memanfaatkan teknologi sel punca untuk menyembuhkan beragam penyakit akut yang selama ini sulit diobati. Seperti penyembuhan penyakit buta dan beragam kasus lainnya. Namun prestasi paling berkesan di bidang ini adalah keberhasilan para ilmuan Iran mengkloning seekor kambing dengan memanfaatkan sel punca. Prestasi ini merupakan bukti kemajuan Iran di bidang kedokteran, khususnya dalam reproduksi sel punca.

Pusat Riset Ruyan merupakan lembaga penelitian yang berhasil mengembangkan teknologi stem cell atau sel punca di Iran. Televisi CNN dalam laporannya mengenai kemajuan Iran di bidang teknologi ini menuturkan, “Pusat Riset Ruyan adalah salah satu sentra penelitian sel punca janin di Iran. Di lembaga ini, sains berkembang pesat”. CNN dalam laporannya ini juga menambahkan, salah satu penyebab kemajuan Iran di bidang iptek adalah karena para pemimpin negara ini menghendaki ilmu pengetahuan.

Salah satu keberhasilan Iran lainnya di bidang kedokteran adalah pembuatan obat IMOD. Obat ini berfungsi untuk meningkatkan fungsi ketahanan tubuh di hadapan virus AIDS. Keampuhan obat ini bahkan telah diakui oleh otoritas kedokteran dunia. Pada tanggal 3 Februari yang lalu, para pakar farmasi Iran juga berhasil mengeluarkan obat baru Angi Pars, obat ini berfungsi untuk menyembuhkan luka penyakit diabetes atau kencing manis, sehingga bisa mencegah terjadinya amputasi. Begitu juga di bidang kedokteran lainnya, para ilmuan kedokteran Iran berhasil membuat terobosan baru dalam metode operasi, seperti operasi otak dan saraf, jantung, dan mata. Saat ini, di kawasan Timur Tengah, Republik Islam Iran terbilang sebagai negara paling maju di bidang kedokteran.

Isu nuklir Iran adalah topik yang begitu akrab. Namun, dibalik polemik yang sengaja dihembuskan Barat untuk menentang kemajuan Iran di bidang ini, ternyata Iran menyimpan prestasi yang mengagumkan di bidang nuklir. Meski Iran berada di bawah tekanan dan embargo, namun negara ini tetap berhasil mencapai prestasi cemerlang dalam teknologi nuklir. Selama ini, negara-negara Barat, khususnya AS memanfaatkan nuklir untuk membuat bom pemusnah massal, karena itu mereka juga berpikir bahwa Iran memanfaatkan teknologi nuklir untuk kepentingan militer. Padahal, teknologi ini bisa dimanfaatkan untuk keperluan yang positif, seperti sebagai sumber energi listrik. Atas dasar inilah, Iran mengembangkan teknologi nuklir. Langkah ini dilakukan untuk menjadikan nuklir sebagai sumber energi alternatif. Selain dimanfaatkan untuk pembangkit tenaga listrik, teknologi nuklir juga bisa digunakan untuk keperluan kedokteran, dan rekayasa genetika di bidang pertanian dan peternakan.

Untuk menghilangkan adanya kecurigaan Barat terhadap program nuklir sipil Iran, para pejabat tinggi Tehran telah berkali-kali menggelar dialog dengan negara-negara Barat dan menjalin kerjasama yang transparan dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Tahun lalu, Presiden Ahmadinejad mengumumkan, bahwa Republik Islam Iran secara resmi telah memasuki fase industrialisasi produksi bahan bakar nuklir. Upaya ini merupakan salah satu bentuk tekad nyata Iran untuk mencapai kemandirian di bidang nuklir.

Baru-baru ini, tanggal 4 Februari lalu, Iran juga berhasil menorehkan prestasi baru di bidang teknologi antariksa. Pembangunan stasiun peluncuran antariksa dan peluncuran roket pembawa satelit Safir merupakan kesuksesan terbaru Iran di bidang ini. Seluruh keberhasilan tersebut merupakan berkah kemenangan Revolusi Islam dan buah prestasi iman, ikhtiar, persatuan rakyat Iran serta kepemimpinan bijaksana Pemimpin Revolusi Islam Iran.

Wilayah Negara Iran masuk dalam kategori Negara-negara timur tengah yang memiliki luas wilayah 1.648.195 kilometer persegi dengan jumlah penduduk pada tahun 2006 sebesar 7.270.198 jiwa. Tingkat ekonomi pada tahun 2006 di Negara ini tergolong menengah kebawah pada tahun 2004 sebesar   US$ 2439.  Negara ini menmpati peringkat HDI ke 96 dari 177 negara. Dan  EDI ke 86 dari 125 negara.

Menurut dokumen yang disetujui oleh supreme council of education pada 1998, perkembangan nasional adalah tujuan utama bagi pendidikan yaitu untuk meningkatkan produktivitas, mencapai integrasi social dan nasional, mengelaola nilai-nilai social, moral dan spiritual denagan penekanan pada penguatan dan dorongan keyakinan terhadap Islam. Tujuan-tujuan yang disetujui council juga menekankan peran pendidikan pada pengembangan sumberdaya manusia untuk level ekonomi yang berbeda-beda dan oleh karena itu pendidikan dipandang sebagai investasi untuk masa depan

Anggaran Pendidikan

Anggaran kementrian pendidikan pada tahun 1996 adalah 6.130 miliyar riyal (RI), merupakan 3,8% dari anggaran belanja Negara. Anggaran yang disetujui adalah RI 5.455,6 miliyar riyal, tetapi untuk menyediakan dana talangan bagi kementrian pendidikan, bebrapa tambahan tambahan dana telah di alokasikan dan anggaran pendidikan bertambah menjadi RI 6.130 miliyar riyal. Selain itu, untuk meningkatkan anggaran, beberapa kesepakatan telah disetujui selama dua tahun terakhir untuk memberikan sumber dana baru bagi kementrian pendidikan.

Pada tahun 2003, total pembiayaan pendidikan (termasuk pendidikan dasar hingga prauniversitas) sejumlah RI 39, 880 miliyar riyal atau 12% dari total anggaran belanja Negara pada tahun 2001.

Peran Pemerintah

Sistem sekolah berada di bawah yurisdiksi Kementerian Pendidikan dan Pelatihan.Selain sekolah, Kementerian ini juga memiliki tanggung jawab untuk beberapa pelatihan guru dan beberapa lembaga teknis. Departemen Pendidikan mempekerjakan jumlah tertinggi pegawai negeri sipil 42%  dari total dan menerima 21%  dari anggaran nasional. Sebanyak 15.018.903 siswa telah bersekolah di sekolah dengan 87.024 kelas 485.186 di seluruh negeri pada tahun akademik 1990-1991. Dengan rincian sebagai berikut: 509 sekolah untuk anak-anak cacat, 3.586 TK, 59.280 Sekolah Dasar, 15.580 Sekolah Menengah Pertama, 4.515 Sekolah Menengah Atas, 380 Sekolah Teknik, 405 Studi Bisnis dan sekolah-sekolah kejuruan, 64 Sekolah Pertanian, 238 kota dan 182 guru sekolah dasar pedesaan ‘akademi pelatihan, tujuh kejuruan dan profesional latihan guru dan 19 lembaga perguruan tinggi teknologi. Ada juga 2.259 sekolah-sekolah pendidikan orang dewasa.

Pendidikan Pra- Sekolah

Pendidikan sebelum sekolah dasar ditempuh 1 tahun dan melayani anak usia 5 tahun. Pendidikan sebelum sekolah dasar tidak wajib. Tidak ada ujian pada akhir sekolah  ini dan anak-anak secara otomatis melanjutkan ke pendidikan berikutnya.

Pendidikan dasar

Sekolah dasar adalah pendidikan formal tahap pertama dan hukumnya adalah wajib. Dan ditempuh selama 5 tahun dan usia masuk sekolah dasar adalah 6 tahun. Para siswa mengikuti ujian akhir pada tingkat ke lima, dan apabila lulus mereka mendapatkan ijazah tamat sekolah dasar

Pendidikan Menengah

Pendidikan menengah terdiri dari dua tahapan, sekolah menengah rendah dan sekolah menengah tinggi. Sekolah menengah rendah ditempuh selama 3 tahun (kelompok usia 11- 13 tahun). Pendidikan delapan tahun yang terdiri dari sekolah dasar dan sekolah menengah rendah di kategorikan sebagai pendidikan dasar.

Program 3 tahun sekolah menengah tinggi adalah untuk para siswa yang telah lulus dari sekolah menengah rendah. Mata pelajaran yang ditawarkan pada sekolah menengah tinggi dapat di klasifikasikan menjadi tiga bidang : akademik, teknik, dan kejuruan, sertaKar-Danesh (ilmu pengetehuan ketrampilan, sebuah cabangdari kejuruan yang fleksibel).

Program satu tahun prauniversitas tersedia bagi mereka yang berhasil lulus dari sekolah menengah atas jurusan akademik. Bagi yang mengambil jurusan teknik dan kejuruan, para siswa yang telah lulus sekolah menengah atas dapat mendaftar pada program dua tahun yang dapat mengantarkan di dalamnya termasuk universitas,collage dan pusat-pusat pendidikan tinggi. Yang dapat masuk perguruan tinggi adalah mereka yang telah lulus sekolah menengah atas dan berhasil lulus pada ujian masuk perguruan tinggi. Universitas di bagi menjadi universitas umum dan khusus, universitas teknologi komperhensif, universitas terbuka, universitas Islam azad, dan universitas kedokteran

————————————

Kurikulum Pendidikan

Pendidikan pra sekolah

Pada jenjang pra sekolah murid diajarkan mengenai belajar bahsa, pengantar matematika, dan konsep sains, lebih-lebih pada nilai-nilai agama dan kepercayaan. Selain itu juga meliputi tentang kegiatan ketrampilan seperti kerajinan tangan, menggunting, mancetak, menggambar, bercerita, bermain, dan berolahraga.

Pendidikan dasar

Fokus kurikulum pendidikan dasar adalah pada pengembangan ketrampilan dasar baca dan berhitung, studi lingkungan dalam tema fisik dan fenomena social, dan pembelajaran agama. Semua mata pelajaran dan buku pelajaran untuk sekolah dasar diputuskan dan disiapkan pada level pusat.

Pendidikan menengah

Pendidikan menengah rendah

Kelompok agama minoritas melakukan pembelajaran khusus mereka dan terdapat daftar bacaan khusus untuk kelompok sunni. Diwajibkan untuk lulus semua mata pelajaran pada jurusan yang berbeda. Pembelajaran digunakan dengan bahasa Persia pada semua level. Untuk daerah bilingual, maka diadakan kursus satu bulan untuk mengajarkan kunci-kunci konsep bahasa sebelum tahun ajaran baru di mulai. Ujian dilakukan pada akhir kelas III yang diadakan oleh level kabupaten dan propinsi.

Pendidikan menengah atas

Sekolah menengah atas diperuntukkan bagi siswa yang telah lulus sekolah menengah dasar. Mata pelajaran yang ditawarkan dikelompokkan dalam jurusan sebagai berikut:

Jurusan akademik: tujuan jurusan ini adalah mempromosikan pengetahuan umum dan budaya. Tedapat ujian akhir yang dikelola oleh tingkat nasional dan bagi siwa yang lulus mendapat ijazah diploma.

Jurusan teknik dan pendidikan kejuruan: Jurusan ini terdiri dari tiga bidang: teknik pertanian dan kejuruan. Sekarang terdapat 30 bidang pada pendidikan teknik dan kejuruan (TVE). Siwa yang memenuhi kualifikasi pendidikan TVE dapat juga masuk  pada lembaga yang menawarkan program teknik atau preuniversity dan mendapat sertifikat terampil pertama.

Jurusan kar-danesh (knowledge skill):  Tiap kar-danesh mempunyai silabi yang dikembangkan di bawah secretariat pendidikan menengah proses pendidikan ini mencakup 400 ketrampilan, berbeda dengan jurusan yang lain. Pendidikan ini bersifat berbasis kompetensi. Siswa yang beehasil dianugrahi ijazah terampil tingkat II, dan diploma.

Pendidikan di Iran mempunyai jenjang pendidikan pra sekolah 1 tahun, pendidikan dasar 5 tahun, pendidikan menengah dasar 3 tahun, pendidikan menengah atas 3 tahun. Pendidikan menengah atas terbagi atas: jurusan akademik, Jurusan teknik dan pendidikan kejuruan, Jurusan kar-danesh.pendidikan Pendidikan di Iran di pegang oleh Kementerian Pendidikan dan Pelatihan.

Ulama sunni  seakan-akan lupa bahwa perintah Al-Quran untuk memikirkan ayat-ayatnya tidak hanya tertuju kepada para sahabat, tetapi juga kepada generasi-generasi sesudahnya yang tentunya harus berpikir sesuai dengan perkembangan pemikiran pada masanya masing-masing.

Pintu ijtihad syi’ah jauh lebih cair dan berkelanjutan. Filsafat syi’ah terus berjalan dan tetap hidup. Metode burhani (demonstrative) yang dipakai dalam filsafat lebih unggul daripada metode dialektika (jadal) yang dipakai dalam teologi dan yurisprudensi

Metode akidah syi’ah dibagi tiga yang terintegrasi : 1. Metode teologi/kalam.. 2. Metode filsafat/falsafi.. 3. Metode irfan/akhlak/etika.. Jelas syi’ah lebih unggul karena keyakinan syi’ah memiliki keterikatan dengan filsafat

Ma’rifatullah  syi’ah melalui penelitian mendalam pada alam semesta untuk membuktikan kebenaran empiris dari ayat ayat kauniyah melalui pengujian dan penyelidikan…

Ulama yang dimaksud oleh AL QURAN  dan  mazhab syi’ah  adalah ilmuan peneliti pengkaji alam dan bukan Cuma ahli fikih saja… Dalam mazhab sunni pengkajian terhadap tanda tanda kebesaran Allah (ayat ayat kauniyah) SECARA THE FACTO dianggap bukanlah masalah agama

Sering kita jumpai pertanyaan dari beberapa orang yang ingin mengetahui apa perbedaan dan persamaan makna dari istilah Ilmuwan dengan Ulama. Apakah Ilmuwan hanya sebutan khusus untuk para ahli ilmu alam (eksakta) sedangkan Ulama sebutan untuk para ahli Ilmu Agama (baca:Dinul Islam)? Apakah telah terjadi berbagai pergeseran atau penyempitan makna, sehingga terjadi dikotomi keduanya? Adapula yang menganggap bahwa al ulama hanyalah orang-orang yang hanya mengurusi rutinitas ibadah pokok (makhdo) dalam rukun Islam dengan menafikan masalah lainya. Sehingga mereka menganggap para ulama tidak punya ilmu dan kemampuan dalam mengentaskan masalah pembangunan peradaban dan perkembangan iptek.Bukankah dimensi ibadah itu tidak hanya terbatas masalah rukun Islam yang lima perkara saja.

Untuk mencari kejelasannya, berikut ini kami ulas permasalahannya. Mudah-mudahan dapat membantu kita menyibak makna yang sebenarnya. Kita mencoba dengan menggali akar katanya, lalu menelusuri darimana munculnya.


Definisi ulama  ialah orang yang bekerja dan mendalami dengan tekun dan sungguh-sungguh dalam bidang ilmu pengetahuan. Ulama merupakan hamba Allah yang takut melanggar perintah Allah dan takut melalaikan perintahNya dikarenakan dengan ilmunya ia sangat mengenal keagungan Allah. Ia bertahuid (mengesakan) Allah ketika bekerja dalam bidang ilmu pengetahuan yang berbeda. Di sini diberikan beberapa contoh: Mereka yang belajar fisika ialah ulama  fisikawan. Yang belajar kimia ialah ulama  kimiawan. Yang belajar biologi ialah ulama biolog.

Dari definsi di atas jelas bahwa arahnya hanya kepada para ahli ilmu alam (eksakta) yang merupakan ayat kauniyah Allah.

(sesungguhnya yang paling takut kepada Allah diantara hambaNya adalah ulama- Qs.Fathir 28).

Nash yang jelas tentang lafadz al Ulama dalam al Quran di atas adalah berbentuk ism makrifat (khusus-dapat dikenali secara jelas) bukan berbentuk umum (ism nakirah), yaitu ulama. Artinya al Ulama adalah hamba Allah yang takut melanggar perintah Allah dan takut melalaikan perintahNya dikarenakan dengan ilmunya ia sangat mengenal keagungan Allah. Ia bertahuid (mengesakan) Allah

Ulama pemegang amanah para rosul, selama ia tidak menggauli penguasa / ambisi kekuasaan, dan tidak cinta berat terhadap dunia / materialis, jika ia menjilat penguasa / ambisi kekuasaan, dan cinta berat terhadap dunia / materialis maka sungguh ia telah menghianati para rosul, maka berhati-hatilah kepadanya

Ciri lain seorang al ulama adalah memiliki kepekaan terhadap penderitaan ummat lalu mengupayakan jalan keluarnya (Qs.9:128). Ia umumnya dibangkitkan Allah di tengah-tengah qoum yang ummi (buta huruf, masyarakat biasa/kecil : Qs.62:2).

Al Ulama adalah kedudukan mulia dari Allah kepada hamba pilihan yang memahami ayat-ayat Allah berupa Ilmu kauniyah yang dibentangkan Allah di alam semesta dan Ilmu Syariah yang tertulis dalam kitabNya. Maka untuk mendapatkan definisi yang benar harus dikembalikan yang membuat istilah al Ulama (dalam hal ini Allah)

.
Jelas bahwa kata al Ulama bukan sekedar istilah dan kedudukan sosial buatan manusia. Bukan pula orang yang didudukan di lembaga bentukan pemerintahan sekular dengan subsidi dana. Namun kosa kata al Ulama berasal dari Kalamullah dan memiliki arti dan kedudukan sangat terhormat disisi Rabb.

Untuk lebih jelasnya coba perhatikan kembali dalilnya sebagai berikut:

  1. Dalam Qs. 35:27-28 dan al Hadits yang menjelaskannya, diperoleh ciri dari al Ulama, yaitu yang memahami Ilmu Alam Semesta. Selain itu rasa takutnya kepada Allah sebagai faktor utama keulamaan. Ia dapat mencapai derajat demikian dikarenakan pengenalannya kepada Allah melalui ilmu sehingga muncul sifat dan perilaku taqwa.
  2. Dalam Qs. 42:13 dan al Hadits yang menjelaskannya, diperoleh makna bahwa Ulama adalah yang memahami Ilmu Syariat Dinullah.
  3. Dalam Qs.9: 128, al Ulama memiliki kepekaan, kepedulian terhadap penderitaan ummat serta mampu memberikan solusi yang tepat atas dasar sunnah.
  4. Dalam Qs. 24 : 37, al ulama adalah lelaki yang mengutakan zikrullah (mendakwahkan Islam) diatas urusan bisnis dan pekerjaan pribadi demi mendapatkan keridhoanNya.
  5. Dalam Qs. 2 : 207-208, al ulama bercirikan pribadi-pribadi tangguh yang telah melakukan transaksi kepada Allah atas dirinya secara lahir-bathin serta hartanya. Kemudian berupaya untuk mengamalkan Dinul Islam secara kaffah dengan mengajak para ulama sedunia membangun kesepakatan dan kerjasama menuju hal itu. Ia bukanlah orang yang menjual Islam untuk kepentingan pribadi berupa materi, pujian, dan kedudukan.

Adapun manusia yang hanya faham dan ahli mengenai ilmu eksakta (alam) tapi jahil mengenai al Quran, maka bukanlah termasuk al ulama. Bisa jadi ia hanyalah ilmuwan, cendikia atau intelektual dari golongan orang-orang kafir atau penganut sekularisme (munafiq), dan dari golongan moderat (muqtasidah) yang selalu mengambil jalan yang aman. Para penganut faham moderat ini, umumnya orang yang memiliki kedudukan di tengah masyarakat umum (kafir dan mukmin) sehingga takut menanggung resiko ujian dan hilang kedudukan apabila menyatakan dirinya muslim yang kaffah. Sebaliknya seorang ulama memahami ilmu ˜alam, eksakta (ilmuwan) sekaligus faham ilmu syariat dinullah, atau salah satunya saja, beraqidah lurus dan beramal sholih.

Maka, titik temu antara Ilmuwan dengan al Ulama berpangkal pada masalah aqidah yang benar sebagai syarat pokok keulamaan. Ulama dan Ilmuwan satu kesatuan, dan ulama jelas bukan orang bodoh yang tidak faham urusan duniawiyah. Ilmu yang mereka miliki hanyalah sebagai jalan untuk mengenal Allah dan mendapat ridhoNya, bukan ilmu pengetahuan sebagai tujuan akhir hidupnya. Kemudian dengan ilmunya ia mengajak manusia bertauhid kepada Allah subhanahuwata’ala bukan dengan ilmunya menyesatkan dirinya dan ummat, naudzubillah min dzalik.

Dzikir Alam Semesta dan Sains Islam

Al-Qur’an bukanlah kitab sains, akan tetapi ia satu-satunya kitab suci yang kaya dengan konsep-konsep seminal saintifik. Kekayaan inilah yang mengilhami ilmuan-ilmuan muslim dahulu mengembangkan karya-karya sainsnya. Bahkan rata-rata, ulama’ dahulu tidak hanya mengkaji ilmu-ilmu keislaman akan tetapi juga mempelajari sains, atau setidaknya mengenalnya – sesuatu yang jarang kita temui di era kontemporer sekarang. Orang pun belum banyak mengenal, bahwa al-Ghazali memiliki teori kedokteran atau al-Razi yang menulis berjilid-jilid buku kimia dan matematika.

Semua hal itu dibimbing oleh ayat-ayat saintifik dalam al-Qur’an. Al-Qur’an hanya menyediakan konsep-konsep seminal, manusialah yang harus mengeksplorasi – agar bermanfaat bagi kehidupan. Karena pada dasarnya alam dan lingkungan diciptakan untuk membantu manusia menjalankan tugasnya sebagai Khalifah di bumi.

Al-Qur’an telah menurukan petunjuk, bahwa alam dan lingkungannya hendaknya dapat dipikirkan secara mendalam. “Katakanlah, Perhatikanlah apa yang ada di langit dan bumi. Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul-Nya yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman” (QS. Yunus: 101).

Salah satu fenomena alam yang diungkap oleh al-Qur’an adalah bahwa alam semesta ini selalu bertasbih kepada Allah Zat Pencipta. Satu hal yang cukup membuat kita takjub dan perlu bertafakkur serta juga bertasbih adalah, ternyata seluruh alam semesta beserta isinya ini bertasbih secara kontinyu kepada-Nya.

Allah SWT berfirman:
Apa yang ada di langit dan bumi membaca tasbih. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS. Al-Hasyr: 24).
Senantiasa bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan bumi” (QS. Al-Jumu’ah:1).
Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang menunjukkan bahwa alam semesta tidak berhenti berdzikir, hingga hari kiamat, seperti QS. Al-Anbiya’: 79 al-Nur: 41, al-Hajj: 18 dan QS.al-Ra’d:13.

Sebagai manusia awam, kita tidak mengetahi secara jelas bagaiman alam semesta itu membaca tasbih.Bertasbih adalah membaca dzikir tertentu yang mensucikan Allah SWT dari hal-hal yang tidak pantas bagi-Nya. Bacaan tasbih berfungsi mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kalimat tasbih juga mengandung pengertian hanya Allah saja yang patut dipuji dan disucikan Dzat-Nya. Dalam konteks ini, tasbih adalah media untuk mentauhidkan-Nya.

Jadi, membaca tasbih berfungsi ganda yang saling berkait : fungsi Tauhidiy dan fungsi Taqarrub. Hal ini mengandung pengertian, pendekatan diri kepada Allah mesti akan mencapai pada level keimanan. Dengan kata lain, jika kita mendekatkan diri kepada-Nya akan tetapi level keimanan kita justru jatuh, maka ada problem dengan cara kita mendekat kepada-Nya.

Tugas Saintis Muslim

Tasbih dalam kaitannya dengan alam, baik langit, bumi dan seisinya sudah tentu menuntut untuk dipahami menurut cara pandang khusus. Manusia tidak mudah membuka rahasia itu, akan tetapi substansi dan kontinuitas tasbih alam setidaknya dapat ditangkap secara riil dan konkrit. Bagimanakah makrokosmos itu bertasbih? Para ilmuan memiliki beragam tafsir yang saling melengkapi. Pergerakan gunung, gelombang laut atau metamorphosis binatang ada yang menafsirkan mereka bertasbih dan bersujud kepada-Nya. Ada pula penelitian, asal muasal sinar kosmis oleh NASA.

Penemuan spektakuler adalah terdapat sinar radiasi dari Ka’bah –sebagai pusat. Radiasi dari Ka’bah itu bahkan terusannya dapat ditemukan di planet Mars, panjang sinar itu tak berujung entah kemana. Ada yang menduga, sinar itu hingga ke langit bumi tepatnya di Baitul Izzah. Wallahu a’lam. Yang menarik sinar radiasi dari Ka’bah tersebut member efek kepada penduduk sekitarnya. Menurut penelitian, penduduk Makkah lebih sehat dan rata-rata umurnya lebih panjang dari manusia umumnya. Apakah keajaiban sinar tersebut menjadi penyebab kelak Dajjal tidak bisa melihat kota Makkah sehingga tak mampu dimasuki? Hanya Allah yang tahu.

Pelajaran yang bisa kita serap adalah, pergerakan alam tersebut sesungguhnya untuk kebaikan manusia. Dzikir mereka kepada Allah tidak semata-mata untuk beribadah, karena mereka tidak memiliki kewajiban beribadah. Akan tetapi dzikir itu sebenarnya agar manusia bisa menangkap keagungan Sang Pencipta. Oleh sebab itu, perusakan alam, berarti sama saja menghentikan mereka untuk berdzikir – yang artinya, manusia tidak mau ‘mendengarkan’ tasbih dan sujud mereka untuk mengingat-Nya.

Selain itu, makna yang semestinya bisa ditangkap manusia adalah, ada perintah untuk meneliti rahasia alam. Maka tugas ilmuan muslim adalah mengembangkan konsep-konsep seminal dalam al-Qur’an untuk diterapkan menjadi sebuah sains terapan yang bermanfaat bagi kehidupan manusia dan keimanan kaum muslimin.

Tujuan sains Islam bukanlah pragmatism sebagaimana sains sekular.
Sains Islam diemplementaiskan dengan 3 fungsi utama :
Pertama, menambah keimanan kepada-Nya, taqarrub kepada-Nya dan memudahkan manusia menjalankan kehidupan. Jika ada sains yang justru menjauhkan pada Allah, maka itu sesungguhnya bukanlah sains, tapi ‘rekayasa’ manusia sekuler. Tinga fungsi utama inilah yang diterapkan para ulama terdahulu untuk menciptakan peradaban Islam.

Sangat banyak tata cara alam semesta bertasbih dan berdzikir. Untuk itu, saintis muslim wajib mengesplorasi agar ada penemuan-penemuan sepektakuler yang menambah keimanan kita kepada Allah. Anak didik perlu diajar adab terhadap alam sehingga lahirlah kelak al-Ghazali dan al-Razi baru di era kontemporer yang siap menyambut peradaban Islam yang bermartabat

  1. Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun. ( QS. Al Israa’ 17:44 )
  2. Senantiasa bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. ( QS. Al Jumuah 62:1 )
  3. Bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi; hanya Allah lah yang mempunyai semua kerajaan dan semua pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. ( QS. At Taghaabun 64:1 )
  4. Sesungguhnya malaikat-malaikat yang ada di sisi Tuhanmu tidaklah merasa enggan menyembah Allah dan mereka mentasbihkan-Nya dan hanya kepada-Nya-lah mereka bersujud.( QS. Al A’raf 7:206 )
  5. Dan guruh itu bertasbih dengan memuji Allah, (demikian pula) para malaikat karena takut kepada-Nya, dan Allah melepaskan halilintar, lalu menimpakannya kepada siapa yang Dia kehendaki, dan mereka berbantah-bantahan tentang Allah, dan Dia-lah Tuhan Yang Maha keras siksa-Nya. ( QS. Ar Ra’d 13:13 )
  1. Dan kamu (Muhammad) akan melihat malaikat-mmlaikat berlingkar di sekeliling ‘Arsy bertasbih sambil memuji Tuhannya; dan diberi putusan di antara hamba-hamba Allah dengan adil dan diucapkan: “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam”. ( QS. Az-Zumar 39:75 )
  2. (Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): “Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala, ( QS. Al Mu’min 40:7 )
  3. Tidaklah kamu tahu bahwasanya Allah: kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya [1044], dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. ( QS. An Nuur 24:41 ) [1044] Masing-masing makhluk mengetahui cara shalat dan tasbih kepada Allah dengan ilham dari Allah.
  1. maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat); dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud. Dan kamilah yang melakukannya. (QS. Al Anbiyaa’ 21:79 )
  2. Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Daud kurnia dari Kami. (Kami berfirman): “Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud”, dan Kami telah melunakkan besi untuk- nya,( QS. Saba’ 34:10 )
  3. Sesungguhnya Kami menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersama dia (Daud) di waktu petang dan pagi, ( QS. Shaad 38:18 )
  4. Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu bangun berdiri. ( QS. Ath-Thuur 52:48 )
  1. Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang Maha Besar. ( QS. Al Waaqi’ah 56:74 )
  2. Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Rabbmu yang Maha Besar.( QS. Al Waaqi’ah 56:96 )
  3. Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Maha Besar. ( QS. Al Haaqqah 69:52 )
  4. Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Asmaaul Husna. Bertasbih kepadaNya apa yang di langit dan bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. ( QS. Al Hasyr 59:24 )
  5. Berkatalah seorang yang paling baik pikirannya di antara mereka: “Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, hendaklah kamu bertasbih (kepada Tuhanmu)?” ( QS. Al Qalam 68:28 )
  6. maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (shalat),( QS. Al Hijr 15:98 )
Sesungguhnya orang yang benar benar percaya kepada ayat ayat Kami adalah mereka yang apabila diperingatkan dengan ayat ayat itu mereka segera bersujud seraya bertasbih dan memuji Rabbnya, dan lagi pula mereka tidaklah sombong. ( QS. As Sajdah 32:15 )

Al-Quran dan Alam Raya

Seperti dikemukakan di atas bahwa Al-Quran berbicara tentang alam dan fenomenanya. Paling sedikit ada tiga hal yang dapat dikemukakan menyangkut hal tersebut:

(1) Al-Quran memerintahkan atau menganjurkan kepada manusia untuk memperhatikan dan mempelajari alam raya dalam rangka memperoleh manfaat dan kemudahan-kemudahan bagi kehidupannya, serta untuk –mengantarkannya kepada kesadaran akan Keesaan dan Kemahakuasaan Allah SWT.Dari perintah ini tersirat pengertian bahwa manusia memiliki potensi untuk mengetahui dan memanfaatkan hukum-hukum yang mengatur fenomena alam tersebut. Namun, pengetahuan dan pemanfaatan ini bukan merupakan tujuan puncak (ultimate goal).

(2) Alam dan segala isinya beserta hukum-hukum yang mengaturnya, diciptakan, dimiliki, dan di bawah kekuasaan Allah SWT serta diatur dengan sangat teliti.

Alam raya tidak dapat melepaskan diri dari ketetapan-ketetapan tersebut –kecuali jika dikehendaki oleh Tuhan. Dari sini tersirat bahwa:

(a) Alam raya atau elemen-elemennya tidak boleh disembah, dipertuhankan atau dikultuskan.(b) Manusia dapat menarik kesimpulan-kesimpulan tentang adanya ketetapan-ketetapan yang bersifat umum dan mengikat bagi alam raya dan fenomenanya (hukum-hukum alam).

(3) Redaksi ayat-ayat kawniyyah bersifat ringkas, teliti lagi padat, sehingga pemahaman atau penafsiran terhadap ayat-ayat tersebut dapat menjadi sangat bervariasi, sesuai dengan tingkat kecerdasan dan pengetahuan masing-masing penafsir.

Dalam kaitan dengan butir ketiga di atas, perlu digarisbawahi beberapa prinsip dasar yang dapat, atau bahkan seharusnya, diperhatikan dalam usaha memahami atau menafsirkan ayat-ayat Al-Quran yang mengambil corak ilmiah. Prinsip-prinsip dasar tersebut adalah

(1) Setiap Muslim, bahkan setiap orang, berkewajiban untuk mempelajari dan memahami Kitab Suci yang dipercayainya, walaupun hal ini bukan berarti bahwa setiap orang bebas untuk menafsirkan atau menyebarluaskan pendapat-pendapatnya tanpa memenuhi seperangkat syarat-syarat tertentu.(2) Al-Quran diturunkan bukan hanya khusus ditujukan untuk orang-orang Arab ummiyyin yang hidup pada masa Rasul saw. dan tidak pula hanya untuk masyarakat abad ke-20, tetapi untuk seluruh manusia hingga akhir zaman. Mereka semua diajak berdialog oleh Al-Quran serta dituntut menggunakan akalnya dalam rangka memahami petunjuk-petunjuk-Nya. Dan kalau disadari bahwa akal manusia dan hasil penalarannya dapat berbeda-beda akibat latar belakang pendidikan, kebudayaan, pengalaman, kondisi sosial, dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), maka adalah wajar apabila pemahaman atau penafsiran seseorang dengan yang lainnya, baik dalam satu generasi atau tidak, berbeda-beda pula.

(3) Berpikir secara kontemporer sesuai dengan perkembangan zaman dan iptek dalam kaitannya dengan pemahaman Al-Quran tidak berarti menafsirkan Al-Quran secara spekulatif atau terlepas dari kaidah-kaidah penafsiran yang telah disepakati oleh para ahli yang memiliki otoritas dalam bidang ini.

(4) Salah satu sebab pokok kekeliruan dalam memahami dan menafsirkan Al-Quran adalah keterbatasan pengetahuan seseorang menyangkut subjek bahasan ayat-ayat Al-Quran. Seorang mufasir mungkin sekali terjerumus kedalam kesalahan apabila ia menafsirkan ayat-ayat kawniyyah tanpa memiliki pengetahuan yang memadai tentang astronomi, demikian pula dengan pokok-pokok bahasan ayat yang lain.

Dalam kaitannya dengan prinsip-prinsip pokok di atas, ulama-ulama tafsir memperingatkan perlunya para mufasir –khususnya dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Quran dengan penafsiran ilmiah– untuk menyadari sepenuhnya sifat penemuan-penemuan ilmiah, serta memperhatikan secara khusus bahasa dan konteks ayat-ayat Al-Quran.

Pesan Al-Quran bagi  Ulama

Dalam Al-Quran terdapat lebih dari 750 hingga 1108  ayat membahas berbagai fenomena alam  Sehingga termasuk kepentingan yang mendasar untuk menyingkap ayat-ayat keilmuan tersebut, dan bagaimana kita bisa memanfaatkannya.   Mengenai hal di atas terdapat pandangan berbeda di kalangan ulama..


…. dan telah Kami wahukan Kitab (Al-Quran) kepadamu untuk menerangkan segala-sesuatu dengan jelas …. (16:89)

Hadis Rasul :
 Rasulullah berkata, ” Akan terjadi kejahatan-kejahatan “. Beliau ditanya, ” Apa yang menyelamatkan kita darinya ?” Beliau menjawab, ” Kitab Allah, di dalamnya terdapat berita-berita tentang apa yang terjadi sebelum kalian dan yang terjadi setelah kalian “

Ayat-ayat  sains  melibatkan sebuah pesan penting bagi para ilmuwan Muslim.

1. Dianjurkan untuk mengkaji seluruh aspek alam dan menemukan misteri-misteri penciptaan.

” Dan pada penciptaan kalian dan pada binatang0binatang melata itu terdapat ayat-ayat bagi kaum yang meyakininya (45 :5)

Tetapi mengkaji ayat-ayat keilmuan dalam Al-Quran harus mendorong kaum Muslim untuk mengejar sains dan tidak hanya terpaku pada petunjuk-petunjuk yang ada.

2. Ayat-ayat itu menegaskan bahwa segala sesuatu di dunia itu teratur dan bertujuan. Dan tidak ada cacat.

“… Dan Dia ciptakan segala sesuatu, kemudian Dia mengaturnya dengan sangat tepat.”(25:2)

3. Al-Quran menyuruh kita mengenali hukum-hukum alam ( pola-pola Allah di alam semesta) dan mengeksploitasinya untuk kesejahteraan manusia denga tidak melampaui batas-batas syariah.

” …. Allah telah meninggikan langit dan menyeimbangkannya. janganlah kalian menyalahi keseimbangan (55:5-8)

Eksploitas material harus menggiring kita pada kemajuan spiritual dan bukan menghancurkannya.

4. Sains adalah perwujudan berbeda dari satu dunia yang diciptakan dan yang dikelola oleh satu Tuhan. Karena itu kombinasi ilmu-ilmu tersebut harus menggiring kita kepada gambaran tunggal dunia.

5. Al-Quran dan hubungannya dengan sains, adalah keunikan pandangan dunia dan epistemologinya. Kebanyakan kesalahan yang terjadi pada perkembangan sains memiliki akar pada pandangan materialistik yang menyertai sains modern. Al-Quran memperingatkan kita pada perangkap-perangkap ini dan memberitahukan rintangan-rintangan terhadap pengetahuan alam yang benar kepada kita.

Ringkasnya, Pelajaran penting dari ayat-ayat keilmuan Al-Quran :

1. Priorotas harus diberikan pada manusia pada penemuan alam dengan menggunakan indera dan akal

2. Al-Quran memberi kita pandangan-dunia (world-view) yang benar.

 

 

Sisi-Sisi al-Quran yang Terlupakan

 Ayat-Ayat Semesta


AL QUR’AN DAN ASTRONOMI
Banyak fakta, seperti penciptaan alam semesta dari ketiadaan, mengembangnya alam semesta, serta garis-garis edar planet di jagat raya, yang hanya mampu diketahui melalui astronomi modern, telah diberitakan dalam Al Qur’an sekitar 1400 tahun lalu.
AL QUR’AN DAN FISIKA
Tahukah Anda bahwa unsur besi pada awalnya terbentuk di bintang-bintang di luar angkasa, bahwa materi diciptakan berpasang-pasangan, dan bahwa waktu adalah suatu konsep yang relatif? Al Qur’an telah mengisyaratkan tentang semua fakta ilmiah ini.
AL QUR’AN DAN PLANET BUMI
Banyak fakta ilmiah, dari lapisan-lapisan atmosfir hingga fungsi geologis gunung, dari proses pembentukan hujan hingga struktur dunia bawah laut, dijelaskan dalam ayat-ayat Al Qur’an.
AL QUR’AN DAN BIOLOGI
Al Qur’an memaparkan perkembangan embrio manusia dalam rahim ibu melalui penjelasan yang benar-benar sesuai dengan penemuan embriologi modern.
INFORMASI MENGENAI PERISTIWA MASA DEPAN DALAM AL QUR’AN
Allah mengisahkan dalam Al Qur’an tentang sejumlah peristiwa penting yang akan terjadi di masa depan, dan berbagai peristiwa ini terjadi persis sebagaimana kisah tersebut.
PENGETAHUAN AL QUR’AN
Untuk meningkatkan pengetahuan Anda tentang Al Qur’an, Anda dapat mengunjungi, “Pengetahuan Al Qur’an” dan “Indeks Al Qur’an”. Pada bagian ini, ayat-ayat Al Qur’an dikelompokkan menurut pokok bahasannya.


Umat Islam, mulai dari kalangan skripturalis-fundamentalis sampai kontekstualis-liberal hingga kini masih satu pandangan dan keyakinan bahwa al-Quran merupakan kitab utama yang berkedudukan tertinggi. Diturunkannya al-Quran ke muka bumi diimani sebagai panduan umat manusia (huda al-linnas) dalam menjalani kehidupan di dunia. Karena itu pula al-Quran dipercaya sebagai sumber nilai obyektif, universal dan abadi.

Ajaran al-Quran mencakup seluruh aspek kehidupan (as-Syumul). Juga mencakup seluruh ruang lingkup kehidupan, ulai dari kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, Negara dan bahkan global (internasional).

Namun demikian, pengetahuan umat Islam tentang al-Quran tidak jarang dipahami sangat dangkal dan sempit. Universalitas al-Quran kemudian direduksi hanya menyangkut persoalan fikih, tasawuf dan politik (siyasah) saja. Umat Islam justru banyak mengabaikan pesan-pesan al-Quran yang berkaitan dengan persoalan-persoalan metafisik (kealaman). Ada kesan bahwa persoalan-persoalan kealaman bukan bagian dari persoalan ukhrawi.

Bahkan khusus untuk membincangkan “kebangkitan Islam”, tidak dapat dipungkiri bahwa fokusnya selalu dibelokkan ke ranah politik praktis-ideologis. Seakan-akan hanya dengan pendirian “negara khilafah”, kejayaan Islam dapat dibangkitkan kembali. Sedangkan aspek lain, utamanya aspek pengembangan ilmu pengetahuan, hanya menjadi suplemen (tambahan) bila impian tentang negara khilafah telah dapat diwujudkan, seolh pengembangan ilmu pengetahuan masih bukan persoalan yang mendesak bagi dunia Islam.

Memperhatikan pereduksian al-Quran dan Islam sedemikian sempit, syi’ahberupaya keras untuk menjebol kesempitan tersebut. Dengan kepakaran dalam fisika teori, dia berusaha melihat keunggulan Islam dari sisi yang lain. Kesadarannya sebagai seorang saintifik muslim,  yakin bahwa kebangkitan Islam saat ini hanya dapat diwujudkan dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Membeber bukti tentang luluh lantaknya Afghanistan dan Irak yang justru oleh produk sains Negara-negara Barat, khususnya AS dan Inggris. Di sisi lain, negara-negara Islam atau berpenduduk mayoritas Muslim seperti Indonesia umumnya memiliki kekayaan sumber daya alam melimpah. Tapi kelimpahruahan tersebut tidak kemudian berarti kemakmuran dan kesejahteraan bagi masyarakatnya. Sebabnya satu: umat Islam tidak menguasai ilmu pengetahuan baik teoritis maupun praktis

Dengan melandaskan pada tafsir al-Jawahir karya Guru Besar Universitas Kairo, Syaikh Jauhari Thanthawi, Agus Purwanto bermaksud menggedor kesadaran umat Islam – utamanya kalangan akademisi – bahwa sesungguhnya ada 750 ayat kauniyyah dalam al-Quran yang terselip di antara 6236 ayat.

Sedangkan ayat-ayat fikih tidak lebih dari 150 ayat saja. Tapi anehnya, mengapa para ulama lebih banyak menghabiskan energinya untuk membahas persoalan fikih – yang justru sering memicu perseteruan dan konflik antar umat Islam – daripada membahas fenomena terbitnya matahari, beredarnya bulan dan kelap-kelipnya bintang, gerak awan di langit, kilat dan petir yang menyambar, malam yang gelap gulita dan fenomena keajaiban alam lainnya.

mengingatkan bahwa fungsi al-Quran juga berlaku bagi konstruksi ilmu pengetahuan dengan memberi petunjuk tentang prinsip-prinsip sains yang selalu dikaitkan dengan pengetahuan metafisik dan spiritual. Dengan kata lain, wahyu (dan sunnah) dapat dijadikan sebagai sumber inspirasi bagi bangunan ilmu pengetahuan

patut menjadi bacaan bagi siapa saja yang ingin mengetahui pertemuan antara alam logika bebas dan alam wahyu ilahiah, dilihat dari sisi fisika. Ajakan terhadap kaum Muslim untuk menaruh perhatian pada sains sebagai panggilan Ilahi.

Ayat-ayat Semesta yang merana

Jika fenomena pergantian siang dan malam, terbit tenggelamnya matahari dan bintang-bintang, dan sabit purnamanya bulan di serangkaian malam adalah sesuatu yang biasa bagi kita, maka tidak demikian halnya bagi para ilmuwan sejati. Seperti lelaki ini.

menggebrak dan mendobrak dunia ilmu (sains) yang terkungkung Barat kini. Ia telah melihat ketimpangan itu: bahwa sains telah dijauhkan sedemikian rupa dari Tuhan, Sang Kreator Tunggal. Dan ia segera berpaling kepada kitab suci (Al-Quran) seraya menemukan keterkejutan, bahwa kitab yang dipandang sebagian (besar) orang adalah kitab agama (fikih) itu memuat lebih dari seperlimanya ayat-ayat yang berbicara tentang sains. Ayat-ayat tentang Semesta. Dan ayat tentang hukum (agama) hanyalah 150 ayat saja!

Namun sayang seribu sayang, ayat-ayat semesta dalam Al-Qur’an dalam arti ayat-ayat kauniyah, adalah ayat-ayat yang merana, karena diabaikan umat Islam dan praktis tidak pernah dibahas di dalam pengajian-pengajian atau seminar-seminar Islam. Di samping itu, fakta bahwa ilmuwan yang terkemuka di bidang sains saat ini sebagian besar datang dari Barat membuatnya sebagai seorang muslim tertantang. Jadilah ia seorang yang gandrung pada alam semesta, disamping sastra, sejarah, dan filsafat.

tak kurang dari 800 ayat Al-Qur’an mengandung petunjuk ke arah sains. Ini lebih banyak dibandingkan hitungan Syekh Jauhari Tanthawi, guru besar Universitas Kairo, Mesir, dalam bukunya: Al-Jawahir, yang menyebut adanya 750 ayat semesta di dalam Al-Qur’an – fakta yang dirujuk dan disitirnya selama 15 tahun, yang tentu membuatnya malu, lantas berusaha
menghitung sendiri.

Bukan seperti buku teks teori nan rumit, tetapi sudah diubahnya menjadi cerita yang mengalir, bisa diikuti dan dimengerti (tetapi bukan mudah lho!) sehingga bahkan membuat kita seperti enggan meletakkannya kecuali sudah sampai halaman terakhir.

Ia bicarakan banyak hal. Fenomena siang malam, garis edar, berpasang-pasangan, Tuhan yang supersibuk, ketidakkekalan materi, menghunjam ke bumi, menembus langit, Isra’ Mi’raj, teleportasi, hingga bahasa makhluk (lain) sebagaimana dimengerti Nabi Sulaiman as. Semuanya berangkat dari ayat di dalam Al-Qur’an. Semuanya bermuara pada satu hal: bahwa sungguh Allah telah meletakkan dasar-dasar sains di dalam kitab-Nya yang telah diturunkan-Nya 14 abad silam! Berharap sederhana: masyarakat muslim berbondong-bondong mempelajari, mengembangkan, menguasai sains eksakta sebagai bagian dari tugas kekhalifahan manusia di atas bumi. Yang kini banyak diambil orang Barat

Bagi mereka yang ingin lebih serius mempelajari dan membangun sains islam, saya  menganjurkan memahami dulu tiga hal: (1) sejarah (tradisi) Islam awal (Rasul saw. dan para sahabat) (2). bahasa Arab (nahwu-sharaf) dan (3). sejarah pemikiran/filsafat.

Renungan Alam Semesta

 Ayat-Ayat Semesta; Sisi – Sisi Al Quran Yang Terlupakan

Al Quran merupakan pedoman umat Islam dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Tapi kita sering kali melupakan sisi – sisi Al Quran yang menarik untuk dibahas. Padahal, ada banyak hal yan dapat dikaji lebih mendalam dari kalam Allah SWT terutama dalam menunjang sains. Ironisnya, tidak banyak masyarakat muslim yang dapat memahaminya, bahkan ada pula yang belum mengetahuinya.

Hal ini dikarenakan adanya tradisi masyarakat Indonesia sendiri yang cenderung kesufi-sufian. Akibatnya, Sains Islam tak kunjung berkembang, karena masyarakat (umat Islam) sebagai mayoritas bangsa ini juga di negeri –negeri Muslim umumnya masih terbelakang, bodoh dan miskin.

Padahal Dunia Islam, pernah mencapai masa keemasannya, di bidang sains, teknoligi, filsafat sekitar abad ke-8 samapai ke-15. tapi kini, dunia Islam terutama sains islam mulai meredup.

mencoba mengangkat kembali dunia Islam terutama sains Islam, dengan mengkaji ayat-ayat kauniyah yang berada dalam Al Quran. Ayat-ayat Kauniyah sendiri merupakan ayat – ayat Al Quran yang membahas tentang alam semesta.

Dari sekitar 1.108 ayat – ayat kauniyah. Dan setelah di kaji ulang hanya ada 800 ayat – ayat Kauniyah yang mengandung informasi dinamis. Selain itu juga, penulis mengajak pembaca untuk dapat membangun dunia Islam terutama sains Islam dengan cara memotivasi ilmuwam muslim khususnya untuk mendukung riset dengan ayat – ayat kauniyah.

Tak hanya mengulas tentang ayat-ayat kauniyah saja,  juga mengulas fenomena-fenomena alam yang disedernakan ke dalam konsep fisika, misalnya fisika kuantum, terori relativitas dan hal yang sederhana mungkin.

Fenomena yang di ungkap misalnya peristiwa Isra’ mi’raj yang pernah dialami Rasulullah SAW. Peristiwa Isra’ Mi’raj tidak bisa dijelaskan dengan metode fisika klasik ataupun teori relativitas. Peristiwa Isra’ Mi’raj sebenarnya merupakan peristiwa teleportasi kuantum, sehingga untuk sampai ke sidratul muntaha tidak dapat ditempuh dengan kecepatan cahaya sekalipun.

Selain itu pula, peristiwa pergantian siang dan malam pun turut dijelaskan oleh penulis. Walaupun sudah banyak diketahui orang bahwa pergantian siang dan malam terjadi karena bumi berputar pada porosnya. Dan peristiwa terjadinya malam terjadi lantaran bumi bagian yang bersangkutan membelakangi matahari sehingga tidak mendapatkan sinar matahari. Sementara itu, bagian bumi yang lainnya menghadap dan mendapat sinar matahari, sehhingga di belahan bumi tersebut mengalami peristiwa terang ataupun siang.

juga menambahkan peristiwa pergantian siang dan malam juga dikarenakan jarak bumi yang ideal terhadap matahari, sehingga intensitas matahari ke bumi pun ideal. Sehingga kehidupan di bumi pun dapat berlangsung, berbeda dengan kehidupan di planet yang lainnya, yang memiliki jarak yang berbeda.

Walaupun ada beberapa ayat-ayat kauniyah yang belum dibahas secara mendetail. Akan tetapi penuturan yang disampaikanseakan mengajak pembacanya untuk turut berdialog serta merenungkan segala fenomena yang terjadi di alam semesta ini. Selain itu, yang dirancang sebagai salah satu media untuk memotivasi ilmuwan muslim khususnya, buku ini juga bisa dijadikan sebagai salah satu alternatif pilihan untuk masyarakat umum guna menunjang pengetahuan tentang Dunia Islam dan sains.

juga disajikan dengan kalimat yang lugas dan mudah dipahami. Yang dilengkapi juga dengan penjelasan secara ilmiah terutama fisika serta juga judul yang menggelitik untuk dibaca. Salah satu kelebihan juga piawai mengarahkan para pembaca untuk dapat memahami teori-teori fisaka dengan mudah. Sehingga dapat menepis anggapan bahwa fisika sulit dimenegerti. Selain itujuga menyarankan bagi para pembaca yang berkeinginan untuk menjadi seorang ilmuwan dengan menempuh jalan sunyi, yakni jauh dari gemerlap duniawi.

mengajak kaum Muslim untuk menaruh perhatian pada sains sebagai panggilan ilahi. Dia menunjukkan dengan sangat fasih bukan saja perhatian Al-Qur’an pada sains, tetapi juga perintah Allah Swt kepada umat Islam untuk mengembangkan sains dan teknologi. Yang terlibat dalam fisika sebagai misi sucinya, melakukan riset ilmiah adalah ibadah yang lebih utama daripada shalat tahajud.”

berimajinasi akan adanya sains matematika, astronomi, fisika kimia dan biologi yang sejak awal dibangun dari Kitab Suci Al-Qur’an Al-Karim. Karena itu, buku ini wajib dibaca oleh mereka yang memimpikan bangkitnya kembali peradaban Islam. Peradaban masa depan bertumpu pada sains, tanpa sains tidak ada masa depan.”

patut dibaca oleh siapa saja yang ingin mengetahui pertemuan antara alam logika bebas dan alam wahyu ilahiah, dilihat dari sisi fisika.”

menjelaskan mata rantai antara Al-Qur’an sebagai wahyu Allah, dan ilmu pengetahuan sebagai olah pikir rasio manusia.”

“Sebuah karya penting yang mencoba menafsirkan ayat-ayat kauniyah Al-Qur’an dari perspektif sains modern. Patut dibaca semua kalangan.”

“Membaca Ayat-Ayat Semesta benar-benar mencerahkan. Kita bukan hanya dihadapkan dengan kesejajaran antara konsep-konsep teori dan fakta sains modern dengan ayat-ayat Al-Qur’an, seperti yang dirintis oleh Maurice Bucaille yang melakukan interpretasi ilmiah Kitab Suci Al-Qur’an, tetapi menjadikan Kitab itu sebagai sumber hipotesis-hipotesis ilmiah yang bisa diuji secara eksperimen, langsung atau tak langsung seperti yang dilakukan oleh Ibnu Sina dan para ilmuwan Muslim pada zaman kejayaan peradaban Islam kurun pertama. Itulah sebabnya buku ini wajib dibaca dan dimiliki oleh para ilmuwan Muslim terutama pada kompilasi lebih dari 800 ayat yang berkaitan dengan alam semesta beserta indeksnya yang komprehensif sehingga memudahkan untuk mengambil inspirasi ilmiah yang cukup banyak.”

“Al-Qur’an berbicara banyak tentang alam semesta. Buku ini membantu para pembaca untuk mengetahui dengan mudah bagaimana pandangan Islam tentang alam semesta.”

semakin membuktikan bahwa Al-Qur’an, sebagai mukjizat, memberi porsi yang besar terhadap alam semesta dalam berbagai aspeknya, dan ‘penafsiran’ yang diberikan oleh penulis buku ini (yang memang ahli di bidangnya) semakin mempertegas kehebatan Al-Qur’an.”

melakukan rekonstruksi sains Islam dengan ontologi, aksiologi, dan epistemologi yang khas Islam melalui contoh-contoh lugas dan gamblang.”


Al Qur’an adalah firman Allah yang di dalamnya terkandung banyak sekali sisi keajaiban yang membuktikan fakta ini. Salah satunya adalah fakta bahwa sejumlah kebenaran ilmiah yang hanya mampu kita ungkap dengan teknologi abad ke-20 ternyata telah dinyatakan Al Qur’an sekitar 1400 tahun lalu. Tetapi, Al Qur’an tentu saja bukanlah kitab ilmu pengetahuan. Namun, dalam sejumlah ayatnya terdapat banyak fakta ilmiah yang dinyatakan secara sangat akurat dan benar yang baru dapat ditemukan dengan teknologi abad ke-20. Fakta-fakta ini belum dapat diketahui di masa Al Qur’an diwahyukan, dan ini semakin membuktikan bahwa Al Qur’an adalah firman Allah.


Ammar bin Yasir kepalanya terlepas dari badan, Dibunuh Golongan Pendurhaka

 

 
Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka membaiatnya di bawah pohon…(Al-Fath : 18).
.
Ayat ini menurut para mufasir berhubungan para sahabat Nabi yang memberikan baiatnya kepada Rasulullah. Salah satu dari mereka itu bernama Ammar Bin Yasir. Ia seorang putra dari Sumayyah yang dikenal sebagai syahidah pertama dalam Islam. Ammar berkulit sawo matang dan berperawakan tinggi. Kedua matanya hitam kebiru-biruan. Pundaknya bidang dan rambutnya lebat.
 
Ia masuk Islam ketika berada di Ka`bah tidak sengaja mendengarkan ayat-ayat Al-Quran yang dibacakan Muhammad SAW. Karena terasa berbeda dengan lantunan syair-syair Arab maka Ammar menelusurinya. Maka larangan untuk tidak mendekati Muhammad SAW tidak digubrisnya. Akhirnya Ammar pun sengaja datang ke Darul Arqam. Di depan rumah itu Ammar kepergok Suhaib Bin Sanan.
 
“Mau apa kau ke sini,” tanya Ammar mendahului. ”Aku mau menemui Muhammad dan ingin mendengarkan ajaran-ajarannya,” jawab Suhaib singkat. “Aku pun begitu,” ungkap Ammar. Dan setelah itu mereka masuk dan mendengarkan tausiyah Rasulullah hingga menjelang malam. Besoknya Ammar datang lagi dan masuk Islam. Ia menghafal ayat-ayat Al-Quran yang disampaikan Rasulullah SAW. Ia membacanya secara lunak. Hari berikutnya membaca secara keras dan makin keras hingga terdengar ke luar rumah.
 .
Ammar selain berjasa dalam membangun masjid pertama, Quba, juga ikut berjuang bersama Nabi dalam perang Badr, Uhud, Khaibar, Khandak dan peperangan lainnya. Ammar bersama orangtuanya, Sumayyah Binti Kahiyyat dan Yasir pernah disiksa oleh Abu Jahal Bin Hisyam ditengah-tengah padang pasir, ramdha. Saat tahu tentang itu, Rasulullah datang dan berkata, “hai keluarga Yasir, sabarlah! kalian dijanjikan pahala surga.”
 .
Bahkan mereka diancam akan dibunuh jika tidak meninggalkan agama Islam. Kedua orangtua Ammar, Yasir dan Sumayah, tetap berpegang teguh memegang Islam dengan berani berujar di hadapan para musyrikin, “kami yang sudah suci dengan Islam tidak mau mengotorinya lagi.”
.
Mendengar itu para musyrikin marah dan akhirnya membunuh keduanya dengan tombak. Atas tindakan itu, akhirnya Ammar tidak bisa apa-apa selain menuruti kaum musyrikin. Ia dihadapan para pemuka musyrikin melontarkan cacian dan makiannya kepada Rasulullah dan langsung menyatakan keluar dari agama Islam. Kejadian itu pun diketahui Nabi. Selang beberapa hari setelah kejadian itu turunlah ayat kepada Nabi, “Barang siapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (Dia mendapat kemurkaan Allah) kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap beriman (Dia tidak berdosa)” (QS An-nahl:106).
.
Berdasarkan ayat ini umat Islam pada waktu itu diizinkan untuk melakukan taqiyah dalam rangka menjaga keselamatan. Inilah yang dilakukan Ammar yang terpaksa mencaci maki Nabi dan menyatakan keluar dari Islam untuk penyelamatan jiwanya. Dan tindakan taqiyah yang dilakukan Ammar tadi dibenarkan oleh Nabi, “Kalau mereka kembali menyiksamu lagi, ucapkan cacianmu padaku; Allah akan mengampunimu dikarenakan kamu terpaksa melakukannya.”
.
Setelah Rasulullah SAW ke Madinah, kaum Muslimin tinggal bersama beliau bermukim di sana, secepatnya masyarakat Islam terbentuk dan menyempurnakan barisannya.Maka di tengah-tengah masyarakat Islam yang beriman ini, Ammar pun mendapatkan kedudukan yang tinggi. Rasulullah amat sayang kepadanya, dan beliau sering membanggakan keimanan dan ketakwaan Ammar kepada para shahabat.Rasulullah bersabda, “Diri Ammar dipenuhi keimanan sampai ke tulang punggungnya!”
.
Dan sewaktu terjadi selisih paham antara Khalid bin Walid dengan Ammar, Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang memusuhi Ammar, maka ia akan dimusuhi Allah. Dan siapa yang membenci Ammar, maka ia akan dibenci Allah!”Maka tak ada pilihan bagi Khalid bin Walid, pahlawan Islam itu, selain segera mendatangi Ammar untuk mengakui kekhilafannya dan meminta maaf
.Jika Rasulullah SAW telah menyatakan kesayangannya terhadap seorang Muslim demikian rupa, pastilah keimanan orang itu, kecintaan dan jasanya terhadap Islam, kebesaran jiwa dan ketulusan hati serta keluhuran budinya telah mencapai batas dan puncak kesempurnaan.

Demikian halnya Ammar, berkat nikmat dan petunjuk-Nya, Allah telah memberikan kepada Ammar ganjaran setimpal, dan menilai takaran kebaikannya secara penuh.

Hingga disebabkan tingkatan petunjuk dan keyakinan yang telah dicapainya, maka Rasulullah menyatakan kesucian imannya dan mengangkat dirinya sebagai contoh teladan bagi para sahabat.

Beliau bersabda, “Contoh dan ikutilah setelah kematianku nanti, Abu Bakar dan Umar. Dan ambillah pula hidayah yang dipakai Ammar untuk jadi bimbingan!”

Ketika Rasulullah dan kaum Muslimin membangun masjid di Madinah, beliau turut serta mengangkat batu dan melakukan pekerjaan yang paling sukar. Di tengah-tengah khalayak ramai yang sedang hilir mudik itu, terlihatlah Ammar bin Yasir sedang mengangkat batu besar.

Rasulullah juga melihat Ammar, dan langsung mendekatinya. Setelah berhampiran, maka beliau mengipaskan debu yang menutupi kepala Ammar dengan tangannya. kemudian bersabda di hadapan semua shahabatnya, “Malangnya Ibnu Sumayyah, ia dibunuh oleh golongan pendurhaka!”

Kata-kata itu diulangi oleh Rasulullah sekali lagi… kebetulan bertepatan dengan ambruknya dinding di atas tempat Ammar bekerja, hingga sebagian kawannya menyangka bahwa ia tewas yang menyebabkan Rasulullah meratapi kematiannya itu.

Para sahabat terkejut dan menjadi ribut karenanya, tetapi dengan nada menenangkan dan penuh kepastian, Rasulullah menjelaskan, “Tidak, Ammar tidak apa-apa. Hanya nanti ia akan dibunuh oleh golongan pendurhaka!”

Ammar mendengarkan ramalan itu dan meyakini kebenaran pandangan yang disingkapkan oleh Rasulullah. Tetapi ia tidak merasa gentar, karena semenjak menganut Islam ia telah dicalonkan untuk menghadapi maut dan mati syahid di setiap detik, baik siang maupun malam.

Ammar selalu terjun bersama Rasulullah dalam tiap perjuangan dan peperangan bersenjata, baik di Badar, Uhud, Khandaq, dan Tabuk. Dan tatkala Rasulullah telah wafat, perjuangan Ammar tidaklah berhenti. Ia terus berjuang dan berjihad menegakkan agama Allah.

 
Ada hadits lain yang berkenaan dengan Ammar, yaitu dari Khalid Bin Walid yang berkata bahwa dirinya pernah bertengkar dengan Ammar. Lalu mengadukannya kepada Nabi. Saat itu Rasulullah SAW langsung berkata, “Hai Khalid, siapa yang memaki-maki Ammar Bin Yasir, Allah akan memaki-maki dia. Barang siapa yang memusuhinya, Allah akan menjadi musuh dia. Barangsiapa yang merendahkan Ammar, Allah pun akan merendahkan dia.” Inilah pujian yang menyatakan kedudukan Ammar Bin Yasir dihadapan Allah dan Rasul-Nya.
 
Selain tercatat sebagai muslim yang taat, Ammar juga termasuk orang berusaha mendamaikan pertengkaran antara Anshar dan Muhajirin saat peristiwa Saqifah, yang merebutkan kepemimpinan Islam pasca wafat Nabi. Orang-orang Anshar mengajukan Saad Bin Ubadah dan orang-orang muhajirin menunjuk Abu Bakar. Ammar ketika melihat perseturuan itu memberikan nasehat kepada kedua kelompok tersebut. Sebagai jalan keluarnya, Ammar mengadakan rapat yang disebut Majelis Syura. Konsep inilah bukti kontribusi gagasan/ide dari Ammar Bin Yasir pada Islam. Ammar juga pada masa khalifah Umar Bin Khattab diamanahi sebagai gubernur Kufah, Irak.
 
Bahkan pada masa khalifah Utsman Bin Affan, Ammar memberikan nasehat kepadanya. Terutama masalah pengangkatan pejabat-pajabat teras yang berasal dari keluarga Utsman. Atas tindakannya itu Ammar dianggap orang yang berusaha melakukan sabotase terhadap pemerintah. “Alhamdulillah, ternyata penegak kebenaran selalu dihinakan,” ucap Ammar ketika Hasyim Bin Walid Bin Mughira mengejeknya. Kemudian dalam buku Syarh Nahjul Balaghah dikabarkan tubuhnya dipukuli beberapa kaum musyrikin hingga pingsan. Dalam keadaan itulah sebagian kaum muslimin membawanya ke rumah Ummu Salamah, salah seorang istri Nabi. Ammar pingsan cukup lama hingga beberapa waktu tidak shalat—karena tidak sadar. Ketika sadar dari pingsan Ammar berkata, “Alhamdulillah bukan sekali ini aku disakiti, dahulu juga dianiaya ketika membela Rasulullah.”
 
 

Ketika terjadi pertentangan antara Khalifah Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah, Ammar berdiri di samping menantu Rasulullah tersebut. Bukan karena fanatik atau berpihak, tetapi karena tunduk kepada kebenaran dan teguh memegang janji! Ali adalah khalifah kaum Muslimin, dan berhak menerima baiat sebagai pemimpin umat.

Ketika meletus Perang Shiffin yang mengerikan itu, Ammar ikut bersamanya. Padahal saat itu usianya telah mencapai 93 tahun. Orang-orang dari pihak Muawiyah mencoba sekuat daya untuk menghindari Ammar, agar pedang mereka tidak menyebabkan kematiannya hingga menjadi manusia “golongan pendurhaka”.

Tetapi keperwiraan Ammar yang berjuang seolah-olah ia satu pasukan tentara juga, menghilangkan pertimbangan dan akal sehat mereka. Maka sebagian dari anak buah Muawiyah mengintai-ngintai kesempatan untuk menewaskannya. Hingga setelah kesempatan itu terbuka, mereka pun membunuh Ammar.

Maka sekarang tahulah orang-orang siapa kiranya golongan pendurhaka itu, yaitu golongan yang membunuh Ammar, yang tidak lain dari pihak Muawiyah!

Jasad Ammar bin Yassir kemudian dipangku Khalifah Ali, dibawa sebuah ke tempat untuk dishalatkan bersama kaum Muslimin, lalu dimakamkan dengan pakaiannya.

Setelah itu, para sahabat kemudian berkumpul dan saling berbincang. Salah seorang berkata, “Apakah kau masih ingat waktu sore hari itu di Madinah, ketika kita sedang duduk-duduk bersama Rasulullah SAW dan tiba-tiba wajahnya berseri-seri lalu bersabda, “Surga telah merindukan Ammar?”

“Benar,” jawab yang lain. “Dan waktu itu juga disebutnya nama-nama lain, di antaranya Ali, Salman dan Bilal…” timpal seorang lagi.

Bila demikian halnya, maka surga benar-benar telah merindukan Ammar. Dan jika demikian, maka telah lama surga merindukannya, sedang kerinduannya tertangguhkan, menunggu Ammar menyelesaikan kewajiban dan memenuhi tanggungjawabnya. Dan tugas itu telah dilaksanakannya dan dipenuhinya dengan hati gembira.

Menurut sejarah Ammar Bin Yasir wafat dimasa khalifah Ali Bin Abi Thalib, yaitu pada usia 94 tahun, saat perang Siffin kepalanya terlepas dari badan. Ali Bin Abi Thalib kemudian menshalatkan dan menguburkannya di Riqqah, 300 km dari kota Damaskus, Suriyah.
 
Begitulah perjuangan seorang muslim di masa awal Islam. Meskipun penuh cobaan dari kaum musyrikin, tetapi kepatuhan dan ketangguhannya dalam memeluk Islam betul-betul sebuah teladan yang harus diikuti umat Islam.

Syi’ah Proklamirkan Perang Jihad Melawan ISIS ! Sambutlah Panggilan Husain…Mari berjumpa Tuhan, Syahid jadi harapan

PBB: Pembunuhan tentara Irak kejahatan perang

Perangi ISIS, Ulama Top Syiah Ingin Guncang Irak

Ulama terkemuka Syiah, Muqtada al-Sadr.

Pasukan khusus Irak terlibat pertempuran sengit dengan gerilyawan ISIS.

Warga Islam Syiah di Baghdad untuk dimobilisasi untuk menghadapi ISIS.

Tentara di Irak

Pasukan keamanan Irak mengadakan patroli di sejumlah tempat.

ISIS mengatakan mereka merencanakan serangan ke ibukota Baghdad. Kelompok yang memiliki kaitan dengan al-Qaida ini diperkirakan memiliki sekitar 3.000 sampai 5.000 pejuang.

Seorang gerilyawan anggota kelompok militan Sunni, ISIS, di Irak.

BAGHDAD -

“Kami akan mengguncang tanah di bawah kaki kebodohan dan ekstremisme”, katanya, mengacu pada pemberontak Sunni yang telah menguasai sebagian wilayah dalam dua minggu terakhir, dalam pidato televisi dari kota suci Syiah Najaf.

Dia menambahkan bahwa ia hanya mendukung “bentuk dukungan internasional dari negara-negara non-pendudukan tentara Irak”.

Ulama Syiah terkemuka, Moqtada al-Sadr menyerukan pendukungnya untuk mengguncang bumi Irak dengan perang melawan militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Al-Sadr juga menolak campur tangan militer Amerika Serikat.

Dalam pidatonya di televisi, al-Sadr menyatakan oposisi atau menentang penasihat militer Amerika Serikat yang bertemu dengan komandan pasukan Irak. Kehadiran sekitar 300 penasihat militer Amerika Serikat itu untuk memberikan pengarahan bagaimana memukul mundur para militan ISIS.

Sepak terjang ISIS sudah meluas di Irak. Mereka mengepung para pasukan Irak di beberapa kota, seperti Qaim, Rawa, Haditha dan Ramadi.

Komisaris hak asasi manusia PBB mengatakan pembunuhan berdarah dingin oleh kelompok militan Sunni di Irak utara hampir dipastikan sebagai kejahatan perang.

Navi Pillay mengatakan PBB memiliki bukti dari pengawas hak asasi manusia di Irak yang menunjukkan ratusan tentara yang ditahan dieksekusi.

“Bila ada yang membunuh orang dengan cara pembantaian massal seperti ini, tindakan itu harus dihentikan dan perlu dilakukan apa yang perlu untuk menghentikan melalui udara atau cara lain,” tambahnya.

Ulama Syiah paling senior di Irak Ali al-Sistani

Ulama Syiah paling senior di Irak Ali al-Sistani menyerukan kepada rakyat Irak untuk mengangkat senjata memerangi kelompok militan Sunni yang mengancam ibu kota Baghdad.

Ali al-Sistani menyampaikan seruan itu dalam khotbah Jumat (13/06) di Karbala. Di kota ini terdapat berbagai tempat suci umat Syiah.

“Dari sini Karbala, kami menyerukan kepada semua warga negara yang mampu mengangkat senjata dan memerangi teroris sebagai bentuk pembelaan terhadap negara mereka, rakyatnya, tempat-tempat suci, untuk menjadi relawan dan bergabung dengan pasukan keamanan guna menjalankan tugas suci ini,” kata Ali al-Sistani.

Pernyataan ini disampaikan bersamaan dengan munculnya sejumlah laporan bahwa terjadi pertempuran antara kelompok militan Sunni dan pejuang Syiah .

Kelompok militan yang tergabung di dalam ISIS itu menyatakan tekad untuk bergerak ke Baghdad dan bahkan menuju Karbala, tetapi beberapa kelompok pemberontak Sunni telah mengatakan mereka tidak berencana menyerang daerah yang mayoritas penduduknya umat Syiah.

Wiji Thukul PRD Masih Hidup dan Belum Mati

Penyair Wiji Thukul
.
Wahyu Susilo, adik kandung Wiji Thukul, juga berharap sang kakak masih hidup.Mantan pimpinan Partai Rakyat Demokratik (PRD) bawah tanah, Andi Arief mengatakan, Goenawan Muhamad, Jaap Erkelens, Wahyu Susilo dan Daniel Indra Kusuma merupakan orang-orang yang diduga mengetahui keberadaan Widji Thukul
.
Menurut Andi, tulisan Goenawan Muhamad di Caping 2013, tulisan Linda Christanty “Wiji Thukul dan Orang Hilang”, pengakuan Wahyu Susilo dan Danial Indrakusuma yang mengatakan Thukul dalam keadaan aman pada tahun 2000, menjadi bukti mereka mengetahui keberadaan Thukul
.
“Jika dilihat dari kronologi yang terjadi, ada keterkaitan yang kuat mereka mengetahui keberadaan Widji Thukul. Goenawan Muhamad, Jaap Erkelens, Wahyu Susilo dan Daniel Indrakusuma perlu diajak bicara mengenai hal ini,” ujar Andi Arief, Minggu (29/6/2014).
.
.
.
.
.
.
.
.
,
,
Sejumlah sahabat Wiji Thukul di Solo masih yakin bahwa pencipta puisi Peringatan itu masih hidup. Menurut “eyang” Hartono, rekan Wiji Thukul di Teater Jagat, Thukul belum mati. Hartono yang dipercaya teman-temannya memiliki ilmu kebatinan tinggi sudah “menerawang” keberadaan Thukul.
.
“Ia tidak ada di dunia roh, artinya belum mati. Tapi ia juga tidak terdeteksi di alam sini, seperti berada di alam lain,” kata Hartono, 50 tahun, ketika ditemui di rumahnya di Desa Telukan, Grogol, Sukoharjo, pada Maret lalu.
.
Menurut Hartono, Thukul hanya hilang dan akan muncul kembali suatu saat nanti. “Saya punya kemampuan mencari barang hilang, bahkan bangkai yang sudah dimakan ikan sekali pun. Jika jasad Thukul tidak bisa saya temukan, berarti ia belum mati,” kata Hartono sambil meramalkan bahwa 30 tahun setelah menghilang, Thukul akan muncul kembali.
.

Andi Arief dan  Dyah Sujirah (Sipon), istri Widji Thukul, ternyata mempunyai keyakinan yang sama mengenai keadaan Thukul. Mereka berdua hingga kini meyakini Widji Thukul masih hidup dan sedang berada disuatu tempat.

Istri Wiji Thukul: Kalau Masih Hidup, Segera Muncul ke Publik

Penyataan aktivis 98, Andi Arief, tentang keberadaan penyair Wiji Thukul, mendapat berbagai tanggapan. Tak terkecuali pihak keluarga yang memberikan respons. Istri Thukul, Dyah Sujirah, berharap suaminya segera muncul di hadapan publik memberikan kesaksian sejujur-jujurnya apa yang dialami selama ini

.
“Beberapa kawan yang kembali (dari penahanan dan penculikan) juga mengatakan bahwa dia (Wiji Thukul) masih hidup. Feeling saya juga menyebutkan dia masih hidup. Sebagai tokoh SMID, Andi Arief tahu banyak dan mungkin baru sekarang dia bersedia bicara sebagai bagian dari tanggungjawabnya untuk menyampaikan kenyataannya,” kata Sipon saat ditemui di rumahnya di Kampung Kalangan, Jagalan, Jebres, Solo, Senin (30/6/2014)
.
“Lebih baik dia (Thukul) segera muncul ke publik untuk menyampaikan semua yang pernah dialaminya selama ini dengan segamblang-gamblangnya, dengan sejujur-jujurnya, tanpa perlu merasa tertekan apapun,” tambah Sipon yang kini menghidupi dirinya dari usaha menjahit dan jualan pakaian
.
Wiji Widodo atau yang kemudian akrab dengan nama seniman sebagai Wiji Thukul Wijaya atau Wiji Thukul adalah penyair asal Solo yang kemudian bergabung dengan Jaker (Jaringan Kesenian Rakyat), organisasi sayap Partai Rakyat Demokratik
.
Thukul menghilang dari berbagai aktivitas umum semenjak sejumlah tokoh partai tersebut dikejar-kejar aparat Orde Baru. Selanjutnya nama Wiji Thukul disebut-sebut sebagai salah satu korban penculikan aktivitis di masa Orde Baru
.
Belakangan Andi Arief menyebut Thukul masih hidup. Andi adalah mantan Ketua Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID), organisasi kemahasiswaan pro PRD. Andi mengaku saat dikejar-kejar aparat, dia bersama Thukul dan beberapa kawan lainnya sempat berpindah-pindah tempat persembunyian.

.

Keyakinan yang sama muncul dari Sipon–panggilan akrab Dyah Sujirah, istri Wiji Thukul. Hingga kini, nama Wiji Widodo masih dicantumkan sebagai kepala keluarga di kartu keluarga Sipon. Dia tidak bersedia menyandang status janda apalagi menyatakan suaminya telah meninggal

.

“Suami saya hilang. Kalau dibilang mati, di mana jasadnya?” kata Sipon pada Maret lalu saat ditemui di rumahnya di Jagalan, Brebes, Solo

.
Wiji Thukul, aktivis buruh yang puisi-puisinya keras mengkritik orde baru dan penyemangat kala reformasi ’98 lalu masih belum diketahui jejaknya. Thukul pun masuk dalam daftar orang hilang yang diduga diculik pihak yang tak bertanggung jawab
.
Tapi di tengah misteriusnya nasib Wiji Thukul ada suara lain yang berkata soal nasib sang aktivis ini. Adalah Andi Arief mantan aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD) yang kini menjadi staf khusus Presiden SBY bidang bencana
.
Andi Arief yang bersahabat dan dekat dengan Wiji Thukul lewat organisasi PRD ini meyakini kalau Thukul masih hidup, tak seperti yang dikatakan orang soal penculikan dan pembunuhan.”Menurut saya Thukul masih hidup dan dia tidak ditangkap, tapi saya nggak tahu dia di mana,” kata Andi saat ditemui di Jakarta, Senin (30/6/2014) malam
.
Andi pun menyarankan agar menanyakan kemana Thukul ke Wahyu Susilo, adik Thukul atau ke Goenawan Muhammad yang disebutnya pernah memberi perlindungan pada Thukul.”Tapi saya yakin kasus ini akan terungkap, ini kan pelan-pelan sudah ada kemajuan sedikit-sedikit,” jelas Andi tanpa merinci kemajuan yang dimaksud
.
Dia mengisahkan soal pertemuan terakhirnya dengan Wiji Thukul pada 1998 lalu, usai dia keluar dari penjara Polda Metro Jaya. Andi mengaku dia ditangkap Kopassus hingga kemudian ditahan di Mabes Polri dan dipindahkan ke Polda Metro Jaya.
.
“Setelah dari Polda tahun ’98 saya ketemu dia di Alia Cikini. Saya kasih dia Rp 2 juta pas ketemu. Saya ngobrol-ngobrol biasa dengan Thukul, lupa lah itu sudah lama. Intinya saya ketemu dia 2 bulan setelah Juli ’98. Dia baik-baik saja ketemu saya,” jelas Andi.
.
Andi lalu bercerita, pertemuan itu dilakukan atas pertemuan Thukul. “Thukul yang kontak aku, dan saya memang setelah juli ’98 memang paling senang nongkrong di TIM. Setelah ketemu di TIM itu nggak pernah ketemu lagi. Dia bilangnya mau pergi saya nggak tahu,” urai Andi.
.
“Pada saat itu hingar bingarnya kan nggak ada yang bilang Thukul hilang dan saya ketemu Thukul berdasarkan permintaan Thukul,” tambahnya
.
Aktivis 98 Andi Arief yakin rekannya Wiji Thukul masih hidup dan tidak ditangkap. Alasan yang paling membuatnya yakin adalah pertemuannya dengan Thukul di TIM dan sejumlah testimoni lain.
.
Andi yang kini jadi staf khusus presiden mengatakan, pernah bertemu Thukul setelah keluar dari penjara Polda Metro Jaya tahun 1998 lalu. Mereka bertemu di Alia Cikini. Andi sempat memberi Thukul uang Rp 2 juta dan sempat mengobrol. Kondisi Thukul saat itu, baik-baik saja.
.
Setelah dua bulan selepas dari penjara, Andi juga sempat mengecek keberadaan Thukul pada adiknya. Lalu, dijawab baik-baik saja. “Jawabannya tukul aman. Itulah mengapa sampai tahun 2000 Thukul tidak dibicarakan sebagai orang hilang,” terang Andi dalam keterangan tertulis, Rabu (2/7/2014).
.
Andi menambahkan, Thukul bisa saja hilang dan sembunyi di tempat orang-orang yang pernah melindunginya selama Agustus 1996 sampai 1997. Petunjuk soal Thukul juga bisa didapat lewat testimoni sejumlah pihak.
.
Namun, dia menyayangkan sikap sejumlah pihak yang memperdagangkan isu hilangnya aktivis tahun 1997-1998 untuk kepentingan Pilpres 2014.
.
“Kader PRD tidak ada yang cengeng. Yang cengeng LSM dan NGO yang buat PRD seperti cengeng. Kemarin saya pada puncaknya kemuakan. Perjuangan kita sudah berat, kasarnya tidak dapat apa-apa, kekuasaan pun tidak, banyak yang hidup susah kawan-kawan saya. Lha kok seperti didagangkan lima tahunan,” terangnya
.

Indera Keenamku Melihat Wiji Thukul Masih Hidup

kenapa sunni mendiamkan pelaknatan terhadap Ahlulbait Nabi Saw di atas mimbar-mimbar yang dilakukan atas perintah Mu’awiyah dan para penguasa tiran Bani Umayyah ???

sejarah-dracula

Kaum Nawashib mengklaim bahwa Mu’awiyah tidak bisa disalahkan atas terbunuhnya Sahabat Nabi Ammar bin Yasir dan para rekannya!

Yazid tidak boleh dipersalahkan atas pembunuhan atas al Husain dan para sahabat setianya!

Dengan logika seperti itu mereka bermaksud menyucikan Fir’aun dari kejahatan membunuh dan membantai pengikut Nabi Musa as.

Sedangkan Al Qur’an berkata tentang Fir’aun:

يُذَبِّحُ أَبْنَاءَهُمْ وَيَسْتَحْيِي

(Dia membunuh anak-anak lelaki mereka -bani Israil- dan membiarkan hidup kaum wanita mereka).

Allah menetapkan bahwa tindakan membunuh itu adalah tindakan Fir’aun karena dialah penguasa, panglima dan yang emerintah pembantaian itu. Inilah kehama adilan Allah!

Kemaha-adilan Allah menetapkan bahwa tanggung jawab utama harus dipikul oleh para pemimpin (yang memerintahkan kejahatan) sebelum membebankannya kepada para pengikut… Tetapi kebiasaan kaum Nawashib adalah menjungkir balikkan permasalahan… 

Rahasia di balik sikap menyimpan mereka dengan ketentuan Allah adalah bahwa Allah tidak pernah akan takut kepada para pemimpin dan penguasa! Sedangkan kaum Nawashib sangat takut kepada para penguasa! Dari sini perbedaan itu muncul. Dan yang aneh bin ajaib adalah kaum Nawashib memberlakukan kaidah menyimpang ini setengah-setengah, mereka menyematkan kepada para pemimpin idola mereka jasa penaklukan negeri-negeri, pemberian santunan tanpa batas kepada para penyair yang memuji… Merekalah yang menaklukan negeri-negeri itu… Merekalah yang berbaik hati menyantuni para penyair itu… Bukan para prajurit yang berjuang di medan perang… Bukan rakyat (karena kenyataannya harta itu adalah harta umat Islam, bukan uang pribadi para penguasa dan emir_pen).

Kaum Nawashib menisbatkan kepada Allah kejahatan yang dilakukan para penguasa tiran... Mereka berkata: Allah-lah yang menetapkan taqdir semua urusan itu, maka hamba pasti tidak kuasa lari darinya! Dan kewajiban kita adalah diam dan pasrah (kepada taqdir Allah)…

Sementara itu mereka selalu mengingat-ingat dengan penuh kecaman pemenjaraan yang dialami oleh Ahmad bin Hanbal dan Ibnu Taimiyah, mereka mengatakan bahwa para penguasa telah menzalimi mereka… Mereka bangkit murka demi mereka seakan mereka telah disembelih seperti yang dialami al Husain!!

Kaum Nawaashib mengecam siapapun yang mengkritik sebagian sahabat dan menuduhnya sebagai tindakan mencaci maki dan melaknat! Sementara mereka mendiamkan pelaknatan terhadap Ahlulbait Nabi Saw di atas mimbar-mimbar (yang dilakukan atas perintah Mu’awiyah dan para penguasa tiran Bani Umayyah_pen). Jadi pelaknatan terhadap Ahlulbait Nabi Saw di atas mimbar-mimbar masjid di seluruh negeri Islam sekan tidak terlihat oleh mereka! Seakan mereka tidak membaca buku-buku Sunnah/hadis seperti Shahih Bukhari hingga Sunan Ibnu Majah…

Sementara itu mencari-cari data di celah-celah lembaran sejarah seorang penduduk Kufah yang hidup di abad ketiga Hijrah yang mencerca Mu’awiyah…. Duhai andai aku tau apa jawaban mereka ketika kelak Mahkamah  Pengadilan Allah digelar ketika seluruh makhluk digiring untuk dihisab? Di mana ketika itu penuntutnya adalah Nabi Muhammad, para saksinya adalah penghuni langit dan Hakimnya adalah Allah Sang Maha Pencipta?

sejarah-dracula

Strategi Dan Makar Jahat Kaum Nawashib

Di antara setrategi kaum Nawashib dan makar jahat mereka adalah mereka bungkam seribu bahasa mendiamkan kejahatan kenashibian dan kaum Nawashib, sementara itu pada waktu yang sama mereka mencari-cari kesalahan pengikut kelompok lain, aliran dan pendapat mereka… Seakan kenashibian (sikap membenci keluarga Nabi Saw) itu tidak ada wujudnya di dunia nyata.

Mereka (kaum salafy -red) sesak napas ketika disebut dan dibongkar mazhab jahat ini (kenashibian) yang memimpin negeri-negeri kaum Muslimin selama sembilan dasawarsa! Dan telah mampu membangun generasi ideologis menyimpang yang eksis hingga hari ini walaupun dengan kualitas tertentu dan dengan nama-nama yang memukau tapi menipu!!

Mereka (salafiyun _red) hendak mengelabui umat Islam dengan mengatakan bahwa kaum Nawashib adalah Ahlusunnah… Kemudian mereka sangat sakit hati jika kaum Nawashib generasi pertama disebut-sebut, mereka (kaum Nawashib generasi belakangan) itu tidak suka jika disebut dan dibongkar kejahatan kaum Nawashib generasi pertama… Walaupun mereka telah melakukan kajahatan membantai dan melaknat atau merusak sendi-sendi agama dll.

Tetapi anehnya mereka tidak bersikap demikian dalam semua kasus, karena separuh akidah mereka adakah kecaman terhadap musuh-musuh kaum Nawashib yang sudah mati, baik mereka itu Syiah, Jahmiyah, Mu’tazilah, Khawarij dll… Mengapakah mereka di sini melembek dan di sana meraung-raung?

Mereka menyibukkan kita dengen tuduhan bahwa kami hendak membongkar lembaran lama hanya demi masa lalu belaka.

Kaum Nawashib itu jika tidak kita adili dengan kebenaran mereka pasti akan menuduh kami dengan kebatilan. Kita harus serang terlebih dahulu dan kita sibukkan mereka dengan diri mereka sendiri, sebab jika kita tidak melakukannya mereka akan menyerang akal-akal dan hati-hati kita!!

Maka cara terafdhal dalam berhadapan dengan mereka adalah kita hadapi tuduhan palsu mereka dengan bukti kebenaran akan kajahatan mereka!! Jika mereka diam ya kami diam! (Allah tidak menyukai membongkar kejahatan dengan kata-kata kecuali orang yang dizalimi)

Latar belakang kemunafikan dan pola pikir bani Umayyah dalam memandang hina simbol-simbol kesucian sangat banyak, seperti:

  • Menanamkan perasaan tidak butuh kepada Nabi Saw agar beliau memintakan istighfar…
  • Kata-kata dan praktik yang kaku yang menyakitkan Nabi Saw, seperti berlambat-lambat dari memenuhi panggilan Nabi Saw dengan alasan masih belum selesai menyantap makanannya (merujuk kepada Muawiyah ketika dipanggil Nabi saw tidak bersegera menyambut panggilan beliau, akan tetapi beralasan masih makan _red)
  • Mencongkel dan menghancurkan kuburan Hamzah paman Nabi Saw dan memukul-mukulnya…
  • Upaya untuk merusak mimbar Nabi Saw di masjid beliau…
  • Menghancurkan Ka’bah sebanyak dua kali…
  • Dan juga melaknat Nabi Saw di atas mimbar-mimbar… Bukan hanya melaknati Ali saja, mereka melaknati Ali dan semua orang yang mencitai Ali… Dan para sahabat yang shaleh,…  seperti istri Nabi Ummul Mukminin Ummu Salamah dan Ibnu Abbas telah memahami maksud pelaknatan itu bahwa pada hakikatnya Rasulullah lah yang mereka incar!!!
  • Mereka lebih mengutamakan para Khalifah dari pada para Nabi dan Rasul as. Akidah itu mereka pekikkan dari atas mimbar-mimbar dan tidak mereka rahasiakan.

Imam Abu Daud telah meriwayatkan sebagian dari apa yang telah saya sebutkan di atas. Demikian juga dengan al Baladzuri dan ulama lain…

Marwan bin al Hakam melarang Abu Ayyub al Anshari meletakkan pipi beliau di atas tanah pusara Nabi Saw.. ISIS dan Pendahulu mereka lebih dekat kepada Marwan si fasik itu dan sangat jauh dari Abu Ayyub sang sahabat mulia itu!!

Ya, boleh jadi di kalangan lain ada yang bersikap berlebihan baik di sisi Ka’bah, makam Nabi Saw atau makam-makam Ahlulbait… Tetapi semua itu tidak membenarkan ISIS untuk menghancurkan Ka’bah dan membenci Nabi Saw dan Ahlulbait beliau!

kejahatan Mu’awiyah dan para penguasa bani Umayyah yang melestarikan kemunafikan dan kedengkian bani Umayyah kepada Allah dan Rasul-Nya… Data-data sejarah tak terbantahkan telah membuktikan semua kejahatan dan kemunafikan akidah dan kekafiran sikap mereka itu! Namun anehnya (walaupun tentu tidak aneh sebab sebagian kaum munafik adalah kekasih dan pembela kaum munafik lainnya) kaum Salafi Wahhabi akan berontak dengan emosi jahiliyah tak terkontrol jika ada yang berani membongkar bukti-bukti kemunafikan para penguasa bani Umayyah, utamanya Mu’awiyah, Yazid, Marwan dan juga Abu Sufyan dan al Hakam ayah Marwan yang terkutuk itu!!

Mereka akan segera menuduh siapapun yang menyentuh “kehormatan” Muawiyah, dituduh sebagai mencaci maki sahabat Nabi Saw. Dan karenanya ia berhak divonis sesat dan zindiq dan akhirnya darahnya  halal ditumpahkan… Inilah logika Salafi Wahhabi…

Kenyataan yang tidak dapat dipungkiri adalah bahwa Mu’awiyah telah melakukan perusakan dan penghancuran sendi-sendi agama Islam… Satu demi satu ajaran Islam ia lecehkan dengan terang-terangan dan seakan menantang umat Islam!

Kehormatan Nabi Mulia Muhammad saw. ia lecehkan…. Kesakralan ajarannya ia hinakan…  Kehormatan darah para pengikut setia Nabi saw. ia halalkan…

Dan yang lebih mengerikan dari kejahatan-kejahatan Mu’awiyah adalah ia jadikan Khalifah Ali dan Ahlulbait Nabi saw. sebagai alamat pelampiasan dendam kusumat jahiliyah dan balas dendamnya atas kekalahan kemusyrikan dan kekafiran para penyembah arca dan hawa nafsu! Imam Ali ra. ia laknati dan caci-maki di atas mimbar dan di hadapan keluarga; anak dan cucu-cucu Ali ra.! Lebih dari itu, ia jadikan pelaknatan atas Sayyidina Ali; sahabat agung, Khalifah Rasyid dan menantu kesayangan Nabi saw. sebagai bagian dari politik kotornya untuk memuntahkan dendam kemusyrikan dan kekafiranya!

Setelah itu semua, Mu’awiyah masih tidak puas… ia harus melakukan langkah akhir untuk melengkapi kejahatannnya… ia mengangkat Yazid; putranya yang sangat fasik itu sebagai Khalifah Rasul, Amirul Mukminin dan Bapak kaum Muslimin serta Pengawal Syari’at Islam! Dengan demikian telah lengkaplah penjungkir-balikan nilai-nilai agama Islam!

Karena Nabi saw. harus menyelamatkan Risalah Islam yang telah beliau bawa dan beliau perjuangkan bersama para sahabat, utamanya Sayyidina Ali ra.! Maka Nabi saw. bangkit untuk mengingatkan kaum Muslimin akan kejahatan yang akan dilakukan Mu’awiyah atas agama! Dan agar umat Islam mewaspadai pergerakan para pemimpin kekafiran yang berkedok Islam! Sebab orang munafik jauh lebih berbahaya dan mengancam Islam dan kaum Muslimin ketimbang kaum yang terang-terangan kafir!

sejarah-dracula

Syeikh Nâshiruddîn al Albâni Menshahihkan Hadis Mu’awiyah Orang Pertama yang Merusak Agama Nabi saw.!

Kendati kekejaman para penguasa tiran bani Umayyah telah merampas kebebasan umat Islam untuk menukil sabda-sabda Nabi saw. yang membongkar kejahatan, kefasikan dan kemunafikan musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya yang didominasi kaum munafik dan utamanya adalah bani Umayyah, dan khususnya adalah Gembong Mereka seperti Abu Sufyan dan Mu’awiyah putranya. Namun Allah SWT tetap mengabadikan sabda-sabda suci itu walau karihal kafirûn wal munâfiqûn! Sampai-sampai para ulama yang biasanya sangat membela Mu’awiyah dan bani Umayyah pun tak kuasa mendustakannya! Ia begitu gamblang bak matahari di siang bolong! Karenanya, suka atau tidak suka, mereka tidak memenukan jalan untuk menudustakannya.

Sebagai contoh adalah bahwa hadis Nabi saw. yang berbunyi:

.

أول من يغير سنتي رجل من بني أمية

“Orang pertama yang akan merusaka Sunnah/agamuku adalah seorang dari bani Umayyah.”

http://islamicweb.com/arabic/books/albani.asp?id=12235

.

Syeikh Nâshiruddîn al Albâni tidak kuasa kecuali mengakui bahwa ia adalah hadis hasan. Dan hadis hasan adalah bagian dari hadis shahih! demikian dikatakan para ulama!

Komentar Syeikh Nâshiruddîn al Albâni

Setelah mengatakan bahwa hadis ini adalah berststus hasan, ia menegaskan bahwa yang dimaksud dengan: seorang dari bani Umayyah adalah Mu’awiyah… dan di antara kejahatannya dalam merusak agama adalah dengan:

ولعل المراد بالحديث تغيير نظام اختيار الخليفة ، وجعله وراثة . والله أعلم

Mungkin yang dimaksud dengan hadis ini adalah merubah sistem kekhalifahan dan dijadikannya sebagai warisan/turun temurun. Allahu A’lam.

Lebih lanjut baca:

Silsilah al Ahâdîts ash Shahîhah,4/329/nomer hadis: 1749

http://islamicweb.com/arabic/books/albani.asp?id=12235

.

Jadi jelaslah bagi kita semua bahwa Mu’awiyah yang sangat dibanggakan dan dibela secara membuta oleh Ustadz Firanda dan para tuannya, para Masyâikh Wahhâbi Arab adalah seorang PERUSAK AGAMA. Sebagaimana dalam hadis shahih riwayat Imam Bukhari, Nabi saw. menyebut Mu’awiyah sebagai PEMIMPIN KELOMPOK PENGANJUR KE DALAM API NERAKA!

Pengakuan dan keterangan Albâni di sini adalah penting bagi para mukallid Salafi Wahhâbi sebab ia adalah ahli hadis kebanggan mereka! Walaupun kami (Ahlusunnah) sama sekali tidak pernah membanggakannya karena kenashibian dan kelinglungannya dalam mentakhrij banyak hadis)… karenanya keterangannya saya sebutkan di sini!

Maka dengan demikian jelaslah bagi kita bahwa: Mu’awiyah adalah Perusak agama Islam dan Sunnah Sayyidul Anâm!

Dan adalah sebuah kedunguan ketika seorang membela si perusak agama!

Untuk mengharumkan nama Mu’awiyah yang aroma busuknya telah menyengat setiap hidung kaum beriman dan mereka yang jujur, para Salafi Wahhâbi melakukan segala cara, yang walaupun pada akhirnya hanya akan membongkar kedok sebenarnya siapa mereka dan akan membawa malu di dunia sebelum nanti di akhirat!

Di antara cara yang mereka lakukan adalah mendustkan berbagai fakta sejarah yang terang benderang bak matahari di siang bolong yang membuktikan kemunafikan dan kejahatan Mu’awiyah dan banu Umayyah pada umumnya… Dan di antara yang mereka hendak sembunyikan adalah fakta sejarah bahwa Mu’awiyah telah melancarkan pencaci-makian dan pelaknatan atas Imam Ali (karramallahu wajhahu wa radhiyallahu ‘ahnu)…. bahkan lebih dari itu, Mu’awiyah telah memerintahkan umat Islam untuk memcaci-maki dan melaknati Khalifah Ali ra. serta menjadikannya program dinasti tiran yang dipimpinannya!

Terlampau banyak bukti yang menegeskan kenyataan ini… hanya saja dalam kesempatan ini saya akan menyajikan satu dari ratusan butki yang memastikan fakta sejarah itu. Sementara bukti-bukti lain insya Allah akan saya sajikan dalam kesempatan lain.

Di antara bukti itu adalah riwayat shahih yang dikeluarkan Imam Ibnu Mâjah,1/26 hadis no.121 (hadis terakhir dalam Bab Keutamaan Ali bin Ali Thalib ra.) di bawah ini:

Teks Hadis:

حدثنا علي بن محمد حدثنا أبو معاوية حدثنا موسى بن مسلم عن ابن سابط وهو عبد الرحمن عن سعد بن أبي وقاص قال قدم معاوية في بعض حجاته فدخل عليه سعد فذكروا عليا فنال منه فغضب سعد وقال تقول هذا لرجل سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول من كنت مولاه فعلي مولاه وسمعته يقول أنت مني بمنزلة هارون من موسى إلا أنه لا نبي بعدي وسمعته يقول لأعطين الراية اليوم رجلا يحب الله ورسوله

…. dari Sa’ad bin Abi Waqqâsh, ia berkata, “Mu’awiyah datang dalam salah satu kesempatan ketika ia menunaikan ibadah haji, lalu Sa’ad menemuinya, ketika itu mereka (yang duduk-duduk bersama Mu’awiyah) menyebut-nyebut Ali, dan Mu’awiyah pun mencaci-makinya. Sa’ad marah dan berkata, ‘Hai Mu’awiyah  apakah engkau berkata demikian terhadap seorang yang aku telah mendengar Rasulullah saw., ‘Sesiapa yang aku Maulâ-nya maka Ali adalah Maulâ-nya’. Dan aku mendengar beliau bersabda, ‘Kedudukanmu (hai Ali) di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa hanya saja tidak ada nabi sepeninggalku’. Dan aku mendengar beliau bersabda, ‘Aku akan serahkan bendera kepanglimaan perang ini kepada seorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya.’”

[ http://islamicweb.com/arabic/books/albani.asp?id=2095 ]

.

Hadis riwayat di atas telah masyhur dinukil para ulama hadis kita dari sahabat Sa’ad ra. dan bukan sesuatu yang samar bagi para santri apalagi para kyia Ahlusunnah. Hanya saja yang penting dicatat di sini adalah bahwa riwayat di atas -yang tegas-tegas menyebutkan dan membuktikan bahwa Mu’awiyah mencaci-maki Imam Ali ra. itu- telah dishahihkan oleh Syeikh Nâshiruddîn al Albâni; Gembong Ahli Hadis Kebanggaan Wahhâbi Sallafi, walaupu kami Ahlusunnah sama sekali tidak pernah membanggakannya sebab ia sering linglung dalam mentakhrij hadis/riwayat/atsar. Baca keterangannya dalam Silsilah al Ahâdîts ash Shahîhah, 4/335. Baca juga dalam Shahîh Sunan Ibnu Mâjah; juga oleh al Albâni (terbitan Maktabah at tarbiyah al Arabi. Cet III. Tahun 1408 H/1988M.) atau lihat di tahrij hadis aleh Al Bani online DISINI

Jika Wahhâbi Salafi Mengelak!

Mungkin kaum awam Salafi Wahhâbi (yang sering menjadi korban pembodohan para ustdaz dan masyâikh mereka) berusaha mengelak dengan mengatakan bahwa tidak ada kejelasan dalam riwayat di atas bahwa Mu’awiyah mencaci-maki Ali! Yang ada hanya kata nâla yang artinya menyentuh atau menyebut-nyebut? Jadi mungkin saja Mu’awiyah sedang memuji Ali! Jika ada yang berkata demikian maka, pertama-tama saya ucapkan bela sungkawa atas kematian ilmu dan nurani. Sebab kecintaan kepada pemimpin pohon terkutuk rupanya telah membutakan akal pikirannya! Kedua, tidak ada ulama Ahlusunnah yang memahami demikian. Justeru semua menegskan bahwa dalam kesempatan itu Mu’awiyah mencaci-maki dan mencela-cela Sayyidina Ali ra. sehingga Sa’ad terpaksa membuktikan kedok kemunafikan Mu’awiyah dengan menyebut tiga hadis penting keutamaan Khalifah Ali ra. sebagai balasan atas kejahatan Mu’awiyah tersebut, sebab prbadi yang sedang mereka makan daging sucinya itu adalah pribadi yang sangat mulia dan agung kedudukannya di sisi Allah dan rasul-Nya…. dan apa yang dilakukan Mu’awiyah atasnya adalah bukti dendam kusumatnya atas Allah dan Rasul-Nya…

Tiga hadis itu adalah hadis Muwâlah, hadis Manzilah dan hadis Râyah. Ketiga hadis ini telah diriwayatkan para ahli hadis kita dengan banyak jalur yang shahih…. kendati sebagian kaum Wahhâbi Salafi berusaha mendha’ifkannya karena dianggapnya ia menguntungkan Syi’ah dalam menegakkan akidah mereka tentang imamah!

Hadis Di atas Tegas Mengatakan Bahwa Mu’awiyah Mencaci dan Mencela Sayyidina Ali ra.!

Sekali lagi saya katakan di sini bahwa teks hadis tersebut di atas sudah jelas dan gamblang! Mu’awiyah mencela dan mencaci maki Sayyidina Ali ra. perhatikan apa yang ditegaskan oleh Syeikh Fuâd Abdul Bâqi (pentahqiq kitab Sunan Ibnu Mâjah) ketika  beliau menerangkan kata-kata: فنال منه: Maksudnya Mu’awiyah mencela dan mencaci-maki Ali.” (Selanjutnya baca Sunan Ibnu Mâjah,1/45. Diterbitkan oleh Maktabah Dahlân-Indonesia)

Akhirnya!

Dan sebelum saya akhiri ulasan saya ini saya ingin katakan bahwa riwayat di atas adalah satu dari ratusan riwayat dan data sejarah akurat yang menegaskan kejahatan Mu’awiyah atas Islam dan atas Ali bin Abi Thalib ra. dan tidak cukup demikian ia memaksakan kejahatan itu agar dilakukan oleh kaum Muslimin… dan akhirnya kaum Muslimin pun terjatuh dalam kubangan kejahatan Mu’awiyah… mereka mena’ati Mu’awiyah dalam bermaksiat kepada Sang Khaliq dengan mencela dan mencaci Sayyidina Ali ra. jadi pantaslah jika Nabi Muhammad saw. (yang tidak pernah akan berkata-kata melainkan dari wahyu suci) menyebut Mu’awiyah sebagai PEMIMPIN KELOMPOK PENGANJUR KE DALAM API NERAKA!

Umat Islam di masa kekuasaan zalim Mu’awiyah ikut-ikutan berlomba-lomba mencaci dan melaknati Ali, Khalifah Nabi saw. sementara Nabi telah bersabda bahwa mencaci Ali sama dengan mencaci Nabi saw.! Lalu apakah bayangan kita hukum orang yang mencaci Nabi saw.?! Pasti neraka tempatnya, karena ia adalah bukti kakafiran!

Jadi kaum Muslimin di zaman kekuasaan Mu’awiyah yang tiran itu yang ikut serta mencaci dan melaknati Ali ada dua kemungkinan:

Pertama: Mereka memang sudah menjadi munafik dengan membenci dan memerangi Ali serta mencaci dan melaknati beliau ra.

Atau kedua, mereka dalam melakukan semua kekufuran itu karena takut kekejaman Mu’awiyah atas siapapun yang menolak melaksanakan perintahnya untuk melaknati dan mencela-cela Ali ra.

Jika kemungkinan pertama yang terjadi itu artinya bahwa kaum Muslimin benar-benar telah disesatkan oleh Mu’awiyah dan digiring ke dalam api nereka Jahannam (atau dalam istilah kaum Wahhâbi Salafi seperti Ustadz Firanda: kaum Muslimin sedang diberi hidayah oleh Mu’awiyah sebab Mu’awiyah adalah Hâdiyan Mahdiyan/yang memberi petunjuk dan diberi petunujuk oleh Allah, seperti dalam hadis palsu yang sering dibanggakan Salafi Wahhâbi para pendukung kemunafikan dann kaum munafikin).

Dan jika kemungkinan kedua yang terjadi, dan bahwa mereka hanya karena terpaksa untuk menyelamatkan diri dalam melakukan kehendak Mu’awiyah… maka itu artinya kaum Muslimin sedang tertaqiyyah! Lalu mengapaka kaum Salafi Wahhâbi sering mengejek-ngejek kaum Syi’ah sebagai bermunafik karena mereka bertaqiyyah??!! Bukankah kenyataan ini akan membuat malu kita di hadapan kaum Syi’ah? Karena itulah saya sejak awal telah mengatakan bahwa kaum Wahhâbi Salafi termasuk gembong kaum Nashibi seperti Ibnu Taimiyah jika mereka masih kita akui sebagai bagian dari Ahlusunnah hanya akan membuat malu kita di hadapan kaum Syi’ah!!

Karena itu waspadai kelicikan dan kelicinan kejahatan mereka!

Saya benar-benar terkejut mendengar pertanyaan yang bertujuan membela Muawiyah di dalam sebuah komentar di blog ini. Mereka meragukan bahwa Muawiyah telah benar-benar mengutuk Imam Ali as. Apakah peristiwa ini benar-benar perintah Muawiyah? Begitu kata mereka. Mari kita buka kitab-kitab sejarah Islam yang mencatat kejadian tersebut, apakah peristiwa itu benar-benar pernah terjadi? Apakah benar itu pengutukan atau bukan? Jika benar, apakah memang pengutukkan itu atas perintah Muawiyah?

MUAWIYAH TELAH MENGUTUK SAYYIDINA ALI PADA SETIAP KHOTBAH JUMAT DAN HAL INI MENJADI BID’AH YANG TERUS MENTRADISI SELAMA 90 TAHUN SAMPAI BERKUASANYA UMAR BIN ABDUL AZIZ YANG BIJAK

1. Ibn Abi al Hadid di dalam syarah atau komentarnya atas kitab Nahjul Balaghah Jil. 1 hlm. 464 menyatakan : Pada akhir khotbah Jumat, Muawiyah mengatakan : “Ya Allah, laknatlah Abu Turab, dia yang telah menentang agama-Mu dan jalan-Mu, laknat dia dan hukum dia di neraka!” Muawiyah inilah yang memperkenalkan bid’ah terbesar dan terburuk ini kepada khalayak umat Islam pada masa kekuasaannya hingga masa Umar bin Abdul Aziz.”

2. Di dalam kitab Mu’jam al-Buldan Jil. 1, hlm 191, ‘Allamah Yaquut Hamawi menyatakan : Atas perintah Mu’awiyyah, ‘Ali dilaknat selama masa kekuasaan Bani Umayyah dari Masyrik (Timur) hingga Maghrib (Barat) dari mimbar-mimbar Masjid.

3. Masih di dalam kitab yang sama, Mu’jam al-Buldan Jil. 5, hlm. 35, Hamawi mengatakan : “Salah satu perubahan (bid’ah) terburuk yang telah dimulai sejak awal mula pemerintahan Muawiyah adalah bahwa Muawiyah sendiri dan dengan perintah kepada gubernurnya, membiasakan menghina Imam Ali saat berkhotbah di Masjid. Hal ini bahkan dilakukan di mimbar masjid Nabi di hadapan makam Nabi Muhammad Saw, sampai sahabat-sahabat terdekat Nabi, keluarga dan kerabat terdekat Imam Ali mendengar sumpah serapah ini.”

4. Di dalam kitab Al-Aqd al-Farid Jil. 1 hlm. 246, Anda bisa membaca :Setelah kematian ‘Ali dan Hasan, Muawiyah memerintahkan sebuah titah ke seluruh masjid termasuk masjid Nabawi agar semua orang turut melaknat ‘Ali!”

5. Di dalam kitab yang sama, Al-Aqd al-Farid Jil. 2 hlm. 300 anda bisa membaca isi surat Ummu Salamah, isteri Rasulullah Saw, yang menulis kepada Muawiyah : “…Engkau sedang mengutuk Allah dan Rasul-Nya di mimbarmu karena engkau mengutuk Ali bin Abi Thalib. Barangsiapa yang mencintai Ali, aku bersaksi bahwa Allah dan Rasul-Nya mencintainya.” Tetapi tak seorang pun memperhatikan ucapannya.

6. Di dalam kitab al-Nasa’ih al-Kafiyah hlm. 77, Anda juga bisa membaca : Praktek (pelaknatan) yang berlangsung sekian lama ini memunculkan sebuah asumsi bahwa apabila seseorang tidak melakukan pelaknatan tersebut maka shalat Jumat-nya tidaklah dianggap sah!”

7. Seorang alim dari Pakistan yang bermazhab Hanafi, Maulana Raghib Rahmani, di dalam kitabnya tentang “Hazrat Umar bin Abdul Aziz”,Khalifatul Zahid, hlm. 246 menyampaikan komentarnya dengan tajam :“(Praktek pelaknatan) ini tentu saja tidak menguntungkan, karena ini adalah bid’ah yang telah diperkenalkan ke masyarakat yang telah “memotong hidung” (memalukan) kota-kota, di mana bid’ah ini bahkan dilakukan di mimbar-mibar masjid, bahkan tanpa malu sampai juga ke “telinga” masjid Nabawi. Inilah bid’ah yang diperkenalkan oleh Amir Muawiyah!

8. Di dalam bukunya Al-Khilafah wal Mulk yang sempat menggemparkan dunia Islam, Abul A’la al-Maududi, seorang alimPakistan bermazhab Hanafi, menulis :

Ketika pada zaman Muawiyah dimulai kebiasaan mengutuk Sayyidina Ali dari atas mimbar-mimbar dan pencaci-makian serta pencercaan terhadap pribadinya secara terang-terangan, di siang hari maupun di malam hari, kaum muslimin di mana-mana merasa sedih dan sakit hati sungguh pun mereka terpaksa harus berdiam diri menekan perasaannya itu. Kecuali Hujur bin Adi, yang tidak dapat menyabarkan dirinya…” (Abul A’la al-Maududi, Khilafah dan Kerajaan, hlm. 209-210, Penerbit Mizan, Cet. VII, 1998, Bandung)

Dan akhirnya, Muawiyah menyuruh Ziyad untuk membunuh Hujur bin ‘Adi, salah seorang sahabat besar Nabi yang zahid, abid, dan termasuk di antara tokoh-tokoh umat terbaik. Di dalam surat perintahnya, Muawiyah menulis : “Bunuhlah orang ini (Hujur) dengan cara yang seburuk-buruknya.” Maka Ziyad mengubur Hujur dalam keadaan hidup-hidup. (Abul A’la al-Maududi, Khilafah dan Kerajaan, hlm. 211, Penerbit Mizan, Cet. VII, 1998, Bandung)

Kisah terperinci mengenai cobaan berat yang dialami oleh Hujur bin ‘Adi itu banyak terdapat di dalam buku-buku yang ditulis oleh para ahli hadis maupun para ahli sejarah, baik yang sudah tersebar luas maupun yang tidak disebarkan,” Begitu tulis Thaha Husain di dalam bukunya yang terkenal al-Fitnah al-Kubra yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Malapetaka Terbesar Dalam Sejarah Islam pada hlm. 624, yang diterbitkan oleh Pustaka Jaya, Cet. I, Tahun 1985.

Inilah sebagian bukti-bukti tertulis di dalam kitab-kitab sejarah yang bisa anda temui hingga saat ini. Apakah masih terbetik keraguan di dalam hati anda tentang bejatnya Muawiyah, si setan berwujud manusia ini?

Dan ketika Hasan bin Ali mengundurkan diri sebagai khalifah, Muawiyah pun akhirnya berdiri sebagai seorang penguasa tunggal, lalu dia menyampaikan pidatonya di kota Madinah :

Amma ba’du! Sesungguhnya aku, demi Allah ketika menjadi penguasa atas kamu sekalian, bukannya aku tidak mengetahui bahwa kalian tidak menyenangi kekuasaanku ini, tetapi sesungguhnya aku benar-benar tahu apa yang ada dalam hati kalian tentang hal ini, namun aku telah merampasnya dari kalian dengan pedangku ini. Dan sekiranya kalian tidak menadpati diriku telah memenuhi hak-hak kamu seluruhnya, hendaknya kalian memuaskan diri dengan sebagiannya saja dariku!” (Ibnu Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, Jil. 8, hlm. 132)

Pada masa kekuasaan Muawiyah, rakyat dibungkam dari menyampaikan kebenaran, mereka hanya boleh memuji-muji atau jika enggan sebaiknya diam. Karena jika rakyat berani memprotes pemerintah pada masa itu maka bersiap-siaplah untuk dijebloskan ke dalam penjara, dibunuh, disiksa atau paling tidak dibuang! (Abul A’la al-Maududi, Khilafah dan Kerajaan, hlm. 209, Penerbit Mizan, Cet. VII, 1998, Bandung)

Apakah orang seperti ini yang ingin anda bela mati-matian? Hanya orang-orang yang serupa dengan Muawiyah saja dan pengikutnya yang super dungu yang ngotot membela manusia keji semacam ini! Mereka itulah kaum Wahabi para pemuja kaum durjana seperti Muawiyah bin Abi Sufyan dan Yazid bin Muawiyah. Mereka menjadikan keduanya sebagai pemimpin-pemimpin mereka!

Jika anda membenci kekejaman, kezaliman, dan kebengisan yang dilakukan para diktator dunia seperti Adolf Hitler, Pol Pot, Slobodan Milosevich, Saddam Husein, George W Bush, Ehud Olmert, maka anda juga mesti membenci makhluk durjana seperti Muawiiyah ini. Tapi itu pun jika hati nurani anda masih sehat wal afiat…

Di dalam Musnad Ahmad bin Hanbal Jil. 6, hlm. 33, diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw yang kita cintai telah bersabda, “Barangsiapa yang mengutuk Ali sesungguhnya ia telah mengutukku. Barangsiapa yang berani mengutukku berarti ia telah mengutuk Allah. Barangsiapa yang telah mengutuk Allah, maka Allah akan melemparkannya ke neraka Jahannam!

Rasulullah Saw telah menubuwatkan bahwa peristiwa pelaknatan atau pengutukan atas sahabat Nabi yang mulia, Ali bin Abi Thalib, yang juga salah seorang anggota Ahlul Bayt akan terjadi. Melalui mata batinnya, Rasulullah Saw telah melihat beberapa sahabatnya yang sangat dengki terhadap Sayyidina Ali as. Allah Swt pun menyingkapkan kedengkian mereka terhadap Nabi Saw dan Ahlul Baytnya :

Mereka itulah orang yang dikutuki Allah. Barangsiapa yang dikutuki Allah, niscaya kamu sekali-kali tidak akan memperoleh penolong baginya. Ataukah ada bagi mereka bahagian dari kerajaan? Kendatipun ada, mereka tidak akan memberikan sedikit pun kepada manusia. Ataukah mereka dengki kepada manusialantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya? Sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab dan Hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar.”
(Al-Quran Surah Al-Nisaa [4] ayat 54)

Ingatkah anda, bagaimana anda melafadzkan shalawat kepada Nabi Saw di dalam shalat anda?

Inilah mengapa dengan teramat keras Nabi Saw memperingatkan umatnya untuk tidak melakukan tindakan bodoh tersebut. Dan anda perhatikan, bahwa Ummu Salamah, isteri Nabi telah memperingatkan Muawiyah tentang hal ini, namun lelaki durjana ini tiada mempedulikan peringatan tersebut.

Saya berdoa kepada Allah Swt semoga orang-orang yang tulus namun masih meragukan kebenaran ini menjadi tersadarkan dan semakin mendapatkan keyakinan yang sahih…

Muawiyah Melaknat sayyidina Ali kw di Mimbar-mimbar Masjid

sejarah-dracula

- Bid’ah Terbesar Sepanjang Sejarah Islam (bag.2) –

Saya benar-benar terkejut mendengar pertanyaan yang bertujuan membela Muawiyah di dalam sebuah komentar di blog ini. Mereka meragukan bahwa Muawiyah telah benar-benar mengutuk Imam Ali as. Apakah peristiwa ini benar-benar perintah Muawiyah? Begitu kata mereka. Mari kita buka kitab-kitab sejarah Islam yang mencatat kejadian tersebut, apakah peristiwa itu benar-benar pernah terjadi? Apakah benar itu pengutukan atau bukan? Jika benar, apakah memang pengutukkan itu atas perintah Muawiyah?

MUAWIYAH TELAH MENGUTUK SAYYIDINA ALI PADA SETIAP KHOTBAH JUMAT DAN HAL INI MENJADI BID’AH YANG TERUS MENTRADISI SELAMA 90 TAHUN SAMPAI BERKUASANYA UMAR BIN ABDUL AZIZ YANG BIJAK

1. Ibn Abi al Hadid di dalam syarah atau komentarnya atas kitab Nahjul Balaghah Jil. 1 hlm. 464 menyatakan : Pada akhir khotbah Jumat, Muawiyah mengatakan : “Ya Allah, laknatlah Abu Turab, dia yang telah menentang agama-Mu dan jalan-Mu, laknat dia dan hukum dia di neraka!” Muawiyah inilah yang memperkenalkan bid’ah terbesar dan terburuk ini kepada khalayak umat Islam pada masa kekuasaannya hingga masa Umar bin Abdul Aziz.”

2. Di dalam kitab Mu’jam al-Buldan Jil. 1, hlm 191, ‘Allamah Yaquut Hamawi menyatakan : Atas perintah Mu’awiyyah, ‘Ali dilaknat selama masa kekuasaan Bani Umayyah dari Masyrik (Timur) hingga Maghrib (Barat) dari mimbar-mimbar Masjid.

3. Masih di dalam kitab yang sama, Mu’jam al-Buldan Jil. 5, hlm. 35, Hamawi mengatakan : “Salah satu perubahan (bid’ah) terburuk yang telah dimulai sejak awal mula pemerintahan Muawiyah adalah bahwa Muawiyah sendiri dan dengan perintah kepada gubernurnya, membiasakan menghina Imam Ali saat berkhotbah di Masjid. Hal ini bahkan dilakukan di mimbar masjid Nabi di hadapan makam Nabi Muhammad Saw, sampai sahabat-sahabat terdekat Nabi, keluarga dan kerabat terdekat Imam Ali mendengar sumpah serapah ini.”

4. Di dalam kitab Al-Aqd al-Farid Jil. 1 hlm. 246, Anda bisa membaca :Setelah kematian ‘Ali dan Hasan, Muawiyah memerintahkan sebuah titah ke seluruh masjid termasuk masjid Nabawi agar semua orang turut melaknat ‘Ali!”

5. Di dalam kitab yang sama, Al-Aqd al-Farid Jil. 2 hlm. 300 anda bisa membaca isi surat Ummu Salamah, isteri Rasulullah Saw, yang menulis kepada Muawiyah : “…Engkau sedang mengutuk Allah dan Rasul-Nya di mimbarmu karena engkau mengutuk Ali bin Abi Thalib. Barangsiapa yang mencintai Ali, aku bersaksi bahwa Allah dan Rasul-Nya mencintainya.” Tetapi tak seorang pun memperhatikan ucapannya.

6. Di dalam kitab al-Nasa’ih al-Kafiyah hlm. 77, Anda juga bisa membaca : Praktek (pelaknatan) yang berlangsung sekian lama ini memunculkan sebuah asumsi bahwa apabila seseorang tidak melakukan pelaknatan tersebut maka shalat Jumat-nya tidaklah dianggap sah!”

7. Seorang alim dari Pakistan yang bermazhab Hanafi, Maulana Raghib Rahmani, di dalam kitabnya tentang “Hazrat Umar bin Abdul Aziz”,Khalifatul Zahid, hlm. 246 menyampaikan komentarnya dengan tajam :“(Praktek pelaknatan) ini tentu saja tidak menguntungkan, karena ini adalah bid’ah yang telah diperkenalkan ke masyarakat yang telah “memotong hidung” (memalukan) kota-kota, di mana bid’ah ini bahkan dilakukan di mimbar-mibar masjid, bahkan tanpa malu sampai juga ke “telinga” masjid Nabawi. Inilah bid’ah yang diperkenalkan oleh Amir Muawiyah!

8. Di dalam bukunya Al-Khilafah wal Mulk yang sempat menggemparkan dunia Islam, Abul A’la al-Maududi, seorang alimPakistan bermazhab Hanafi, menulis :

Ketika pada zaman Muawiyah dimulai kebiasaan mengutuk Sayyidina Ali dari atas mimbar-mimbar dan pencaci-makian serta pencercaan terhadap pribadinya secara terang-terangan, di siang hari maupun di malam hari, kaum muslimin di mana-mana merasa sedih dan sakit hati sungguh pun mereka terpaksa harus berdiam diri menekan perasaannya itu. Kecuali Hujur bin Adi, yang tidak dapat menyabarkan dirinya…” (Abul A’la al-Maududi, Khilafah dan Kerajaan, hlm. 209-210, Penerbit Mizan, Cet. VII, 1998, Bandung)

Dan akhirnya, Muawiyah menyuruh Ziyad untuk membunuh Hujur bin ‘Adi, salah seorang sahabat besar Nabi yang zahid, abid, dan termasuk di antara tokoh-tokoh umat terbaik. Di dalam surat perintahnya, Muawiyah menulis : “Bunuhlah orang ini (Hujur) dengan cara yang seburuk-buruknya.” Maka Ziyad mengubur Hujur dalam keadaan hidup-hidup. (Abul A’la al-Maududi, Khilafah dan Kerajaan, hlm. 211, Penerbit Mizan, Cet. VII, 1998, Bandung)

Kisah terperinci mengenai cobaan berat yang dialami oleh Hujur bin ‘Adi itu banyak terdapat di dalam buku-buku yang ditulis oleh para ahli hadis maupun para ahli sejarah, baik yang sudah tersebar luas maupun yang tidak disebarkan,” Begitu tulis Thaha Husain di dalam bukunya yang terkenal al-Fitnah al-Kubra yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Malapetaka Terbesar Dalam Sejarah Islam pada hlm. 624, yang diterbitkan oleh Pustaka Jaya, Cet. I, Tahun 1985.

Inilah sebagian bukti-bukti tertulis di dalam kitab-kitab sejarah yang bisa anda temui hingga saat ini. Apakah masih terbetik keraguan di dalam hati anda tentang bejatnya Muawiyah, si setan berwujud manusia ini?

Dan ketika Hasan bin Ali mengundurkan diri sebagai khalifah, Muawiyah pun akhirnya berdiri sebagai seorang penguasa tunggal, lalu dia menyampaikan pidatonya di kota Madinah :

Amma ba’du! Sesungguhnya aku, demi Allah ketika menjadi penguasa atas kamu sekalian, bukannya aku tidak mengetahui bahwa kalian tidak menyenangi kekuasaanku ini, tetapi sesungguhnya aku benar-benar tahu apa yang ada dalam hati kalian tentang hal ini, namun aku telah merampasnya dari kalian dengan pedangku ini. Dan sekiranya kalian tidak menadpati diriku telah memenuhi hak-hak kamu seluruhnya, hendaknya kalian memuaskan diri dengan sebagiannya saja dariku!” (Ibnu Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, Jil. 8, hlm. 132)

Pada masa kekuasaan Muawiyah, rakyat dibungkam dari menyampaikan kebenaran, mereka hanya boleh memuji-muji atau jika enggan sebaiknya diam. Karena jika rakyat berani memprotes pemerintah pada masa itu maka bersiap-siaplah untuk dijebloskan ke dalam penjara, dibunuh, disiksa atau paling tidak dibuang! (Abul A’la al-Maududi, Khilafah dan Kerajaan, hlm. 209, Penerbit Mizan, Cet. VII, 1998, Bandung)

Apakah orang seperti ini yang ingin anda bela mati-matian? Hanya orang-orang yang serupa dengan Muawiyah saja dan pengikutnya yang super dungu yang ngotot membela manusia keji semacam ini! Mereka itulah kaum Wahabi para pemuja kaum durjana seperti Muawiyah bin Abi Sufyan dan Yazid bin Muawiyah. Mereka menjadikan keduanya sebagai pemimpin-pemimpin mereka!

Jika anda membenci kekejaman, kezaliman, dan kebengisan yang dilakukan para diktator dunia seperti Adolf Hitler, Pol Pot, Slobodan Milosevich, Saddam Husein, George W Bush, Ehud Olmert, maka anda juga mesti membenci makhluk durjana seperti Muawiiyah ini. Tapi itu pun jika hati nurani anda masih sehat wal afiat…

Di dalam Musnad Ahmad bin Hanbal Jil. 6, hlm. 33, diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw yang kita cintai telah bersabda, “Barangsiapa yang mengutuk Ali sesungguhnya ia telah mengutukku. Barangsiapa yang berani mengutukku berarti ia telah mengutuk Allah. Barangsiapa yang telah mengutuk Allah, maka Allah akan melemparkannya ke neraka Jahannam!

Rasulullah Saw telah menubuwatkan bahwa peristiwa pelaknatan atau pengutukan atas sahabat Nabi yang mulia, Ali bin Abi Thalib, yang juga salah seorang anggota Ahlul Bayt akan terjadi. Melalui mata batinnya, Rasulullah Saw telah melihat beberapa sahabatnya yang sangat dengki terhadap Sayyidina Ali as. Allah Swt pun menyingkapkan kedengkian mereka terhadap Nabi Saw dan Ahlul Baytnya :

Mereka itulah orang yang dikutuki Allah. Barangsiapa yang dikutuki Allah, niscaya kamu sekali-kali tidak akan memperoleh penolong baginya. Ataukah ada bagi mereka bahagian dari kerajaan? Kendatipun ada, mereka tidak akan memberikan sedikit pun kepada manusia. Ataukah mereka dengki kepada manusialantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya? Sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab dan Hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar.”
(Al-Quran Surah Al-Nisaa [4] ayat 54)

Ingatkah anda, bagaimana anda melafadzkan shalawat kepada Nabi Saw di dalam shalat anda?

Inilah mengapa dengan teramat keras Nabi Saw memperingatkan umatnya untuk tidak melakukan tindakan bodoh tersebut. Dan anda perhatikan, bahwa Ummu Salamah, isteri Nabi telah memperingatkan Muawiyah tentang hal ini, namun lelaki durjana ini tiada mempedulikan peringatan tersebut.

Saya berdoa kepada Allah Swt semoga orang-orang yang tulus namun masih meragukan kebenaran ini menjadi tersadarkan dan semakin mendapatkan keyakinan yang sahih…

Laa hawla wa laa quwwata illa billah

- See more at: http://www.inilah-salafi-takfiri.com/general/muawiyah-melaknat-sayyidina-ali-kw-di-mimbar-mimbar-masjid#sthash.yxh2weuP.dpuf

Wahabi Sedang Berusaha Rebut Kekuasaan Pemerintah dengan Merongrong NU dan Syi’ah

 Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor Nusron Wahid menegaskan, warga Nahdlatul Ulama harus kian solid dalam menjaga aqidah Islam Ahlussunah Wal Jamaah karena kelompok Islam garis keras terus berupaya melemahkan NU dan NKRI dengan mengambil kesempatan Pemilu 2014.

Nusron menyampaikan hal itu dalam forum silaturahmi dengan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Ngawi, berikut badan otonom, lembaga, dan lajnah NU setempat, di Pendopo Widya Graha Pemkab Ngawi, Jawa Tengah, Senin (16/6/2014).

Di tahun politik sekarang ini warga NU harus memperkuat aqidah Ahlussunah wal Jamaah, karena banyak kaum Islam Wahabi sedang berusaha merebut kekuasaan pemerintah dan merongrong warga NU,” ungkap Nusron

Nusron juga mengingatkan, pada musim kampanye seperti ini tak sedikit orang yang berusaha mendekati NU secara tidak serius. “Menjelang pilpres banyak ulama yang pura-pura NU, ke sana kemari mengaku kader ormas tertentu,” tuturnya.

Politik, lanjutnya, tidak boleh bergantung pada siapa yang bayar, tetapi mesti didasarkan atas pertimbangan aqidah. Pria kelahiran Kudus, Jawa Tengah, ini juga menekankan pentingnya membangun silaturahmi  sesama muslim.

Nusron mengatakan, silaturahmi ke Ngawi ia laksanakan dalam rangka menyambut datangnya  bulan suci Ramadhan 1435 H dan pemilu presiden 2014. Hadir dalam forum tersebut Bupati Ngawi yang juga Dewan Penasihat Ikatan Sarjana NU (ISNU) Ngawi, H Budi Sulistyono; dan segenap pengurus PCNU setempat.

KH Said Aqil Siroj : Anggapan Tahlilan berasal dari Hindu itu Keliru

 Salah satu tradisi keagamaan yang lekat dengan warga NU adalah Tahlilan, Selametan atau Kendurian. Ada sebagian yang menganggap bahwa tradisi itu berasal dari ajaran agama Hindu, padahal anggapan semacam itu adalah sebuah kekeliruan.

Pernyaatan itu disampaikan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj di Pondok Pesantren Ats-Tsaqafah, Ciganjur, Jakarta, Sabtu (14/5/2014). Menurut doktor dari Universitas Ummul Qura ini, sikap dan ritual orang Hindu terhadap orang mati berbeda.

“Orang kalau `nyerang` kita itu lho, (Tahlilan) ini warisan hindu ini. Salah itu, bukan dari Hindu. Itu dibawa Sunan Ampel dari Champa sana, dari Vietnam. Kalau Hindu mayatnya dibakar, udah selesai, kalau ini tidak, ini dari umat Islam Champa,” terang Kiai Said

Menurut Kiai Said, secara genealogis, ajaran Islam yang ada di Champa pada waktu itu adalah ajaran Islam yang dibawa dari Timur Tengah.

“Champa dari mana? ya dari Timur Tengah juga, hanya beda dikit, kalau Mesir 3 hari saja, di Mesir mendoakan orang meninggal pakai Al-Quran saja. Kalau tahlil seperti kita, dari Yaman tuh. Kenapa? Karena tidak semua orang bisa baca Al-Quran, yang ta`ziyah kan ingin mendoakan semua, ya udah qulhu, falaq binnas, dipilih yang gampang, dari pada baca Alquran nanti salah malah dapat dosa,” jelas Kiai Said.

Kiai Said mengatakan, tradisi 3, 7, 40 malah itu dari Syiah, namun demikian bukan berarti dengan hitungan itu membuat keyakinan dan aqidah kita ikut menjadi Syiah.

“Ya ga apa-apa, yang penting bukan aqidahnya yang kita ambil dari Syiah, bukan mempercayai Ali itu ma`sum, gak pernah dosa; mencaci Abu Bakar, Umar, Usman, Tidak. Hanya budayanya saja,” tuturnya.

ISIS Irak hasil peninggalan kebencian bani Umayyah terhadap keluarga /Ahlulbait Nabi Saw

 

diyala ISIS Kuasai Dua Daerah di Provinsi Diyala Irak

 

 

 

 

 

 
ULAMA Syiah Berbasis di Irak Ayatollah Ali al-Sistani menyuarakan dukungannya terhadap tentara Irak untuk memerangi pejuang Negara Islam Irak dan Syam (ISIS).

Sistani mengeluarkan pernyataan pada hari Selasa kemarin (10/6/2014) yang mengutuk penguasaan provinsi Nineveh oleh pejuang ISIS.

Ulama Syiah senior tersebut menyerukan persatuan di antara semua faksi politik yang ada di Irak untuk melawan ISIS.

conv Irak Klaim Helikopter Militer Mereka Berhasil Tewaskan 8 Pejuang ISIS

Al Qaeda, ISIS dan sejenisnya = Neo Bani Umayah

Latar belakang ideologis DAISY/ISIS/ISIL adalah Salafi berafiliasi kepada ide-ide Ibnu Taimiyah dan ekstrimis Wahhabi… Latar belakang ideologis inilah yang akan mendorong mereka untuk berani menghancurkan Ka’bah dan membongkar dan mencongkel makam Rasulullah dan menyembunyikannya… Hal ini telah diketahui oleh yang mengetahui latar belakang ideologis

Latar belakang ideologis ISIS bukan Hanbali (karena pengikut Hanbali dahulu sangat antusias bertabarruk/mengambil keberkahan dari penghuni kubur).. Latar belakarng ideologis ISIS adalah Taimiyah+Wahhabi dari sisi akidah. Adapun latar belakang politik mereka adalah Umawiyah!

Keimanan itu adalah ketundukan, kepatuhan dan mengambil pelajaran dari peninggalan dan tanda-tanda keagungan Allah baik yang tersebar di alam maupun dalam jiwa. Adapun kemunafikan, maka ia kering, tanpa perenungan matang dan pandangan baik dari sisi agama, ibadah mereka adalah kering… Kekauan hati.!

Latar belakang ideologis ini adalah hasil peninggalan kekakuan dan kebencian bani Umayyah terhadap Nabi Saw,  keluarga/Ahlulbait beliau. Sedangkan kekakuan sikap dan kebencian bani Umayyah adalah hasil dari kemunafikan. Jadi masalahnya saling terkait. 

Tidak seorang pun dapat menghentikan alasan ISIS untuk menghancurkan Ka’bah selama ia membenarkan alasan ISIS ketika menghancurkan kuburan para Nabi dan para wali Allah… Problemnya satu!

Ya, boleh jadi si pengecut tidak kuasa melaksanakan apa yang menjadi keyakinannya… Tetapi ISIS berani berterang-terangan dalam menyuarakan akidah Salafy mereka yang sangat kental… Mereka tidak takut siapa pun. Karena itu mereka tidak berbasa-basi dalam menyatakan kebatilannya!

Salafy moderat tidak diakui di tengah-tengah Salafy ekstirm dan tersingkirkan. Yang saya maksudkan dengan Salafy moderat adalah yang berani mengkritisi ide-ide Ibnu Taimiyyah dan Ibnu Abdil Wahhab demi membela Al Quran dan Sunnah. Inilah Salafy moderat yang tersingkirkan dan tidak diakui. Yang akan diterima hanya kaum ekstrim yang mengedepankan ide-ide kaum Ekstrimis Salafy di atas Al Quran dan Sunnah Rasulullah saw. Dalam pandangan mereka inilah Salafy tulen yang sempurna dan lurus akidahnya.

Saya tidak bermaksud memaparkan alasan-alasan ISIS dalam merobohkan Ka’bah. Karena alasan-alasan mereka dari sisi mukaddimah adalah bersifat Salafiyah Saudiyah  yang umum yaitu bahwa konsekwensi dari kemurnian Tauhid (menurut mereka) adalah harus menghancurkan setiap simbol-simbol atau panji-panji Kemusyrikan. Dan tidak diragukan lagi bahwa berdasarkan pola pendidikan akidah yang kita pelajari (di Arab Saudi sesuai dengan akidah Wahabi/Salafy) mengusap-usap atau mengambil keberkahan dari dinding Ka’bah adalah KEMUSYRIKAN… bahwa mengusap-usap dan mengambil keberkahan dari Maqam Ibrahim adalah KEMUSYRIKAN… !!! Dan seterusnya.

ISIS berdiri tegak di atas akidah ini..! Dan tidak diragukan lagi bahwa ini adalah akidah dan pemahaman yang salah...tetapi mencongkel dari pikiran mereka yang sudah tercemar ini membutuhkan waktu…, Karena itu apabila para pengikut ISIS melihat bahwa Ka’bah sudah menjadi simbol praktik kemusyrikan maka ia harus segera dihancurkan!!

Inilah inti akidah ISIS dan hasil yang bakal lahir darinyaAkidah seperti ini telah memenuhi kitab-kitab akidah Salafy Wahhabi… Ini adalah mukaddimah yang saya maksudkan, hanya saja dalam mengetrapkannya mereka memilih obyek yang tidak akan membangkitkan emosi masyarakt umum.

Dan dalam membantah akidah menyimpang ISIS ini dan juga efek yang ditimbulkannya butuh kepada pembaharuan pemahaman yang besar-besaran… Pembaharuan yang menjadikan Al Quran sebagai pedoman dan bimbingan… Dan hal ini akan memporak-porandakan akidah menyimpang seperti itu… Jangan disangka bahwa kaum Muslimin siap meninggalkan apapun demi Al Quran. Yang menjadikan mereka memuji dan mencintai Al Quran adalah karena mereka mengira bahwa Al Quran berpihak kepada mereka…. Namun jika terbukti Al Quran melawan mereka pasti mereka pun tidak segan-segan membuang Al Quran!!

poli Ulama Syiah Irak Dukung Militer Lawan Pejuang ISIS

Latar belakang kemunafikan dan pola pikir bani Umayyah dalam memandang hina simbol-simbol kesucian sangat banyak, seperti:

  • Menanamkan perasaan tidak butuh kepada Nabi Saw agar beliau memintakan istighfar…
  • Kata-kata dan praktik yang kaku yang menyakitkan Nabi Saw, seperti berlambat-lambat dari memenuhi panggilan Nabi Saw dengan alasan masih belum selesai menyantap makanannya (merujuk kepada Muawiyah ketika dipanggil Nabi saw tidak bersegera menyambut panggilan beliau, akan tetapi beralasan masih makan _red)
  • Mencongkel dan menghancurkan kuburan Hamzah paman Nabi Saw dan memukul-mukulnya…
  • Upaya untuk merusak mimbar Nabi Saw di masjid beliau…
  • Menghancurkan Ka’bah sebanyak dua kali…
  • Dan juga melaknat Nabi Saw di atas mimbar-mimbar… Bukan hanya melaknati Ali saja, mereka melaknati Ali dan semua orang yang mencitai Ali… Dan para sahabat yang shaleh,…  seperti istri Nabi Ummul Mukminin Ummu Salamah dan Ibnu Abbas telah memahami maksud pelaknatan itu bahwa pada hakikatnya Rasulullah lah yang mereka incar!!!
  • Mereka lebih mengutamakan para Khalifah dari pada para Nabi dan Rasul as. Akidah itu mereka pekikkan dari atas mimbar-mimbar dan tidak mereka rahasiakan.

Imam Abu Daud telah meriwayatkan sebagian dari apa yang telah saya sebutkan di atas. Demikian juga dengan al Baladzuri dan ulama lain…

Marwan bin al Hakam melarang Abu Ayyub al Anshari meletakkan pipi beliau di atas tanah pusara Nabi Saw.. ISIS dan Pendahulu mereka lebih dekat kepada Marwan si fasik itu dan sangat jauh dari Abu Ayyub sang sahabat mulia itu!!

Ya, boleh jadi di kalangan lain ada yang bersikap berlebihan baik di sisi Ka’bah, makam Nabi Saw atau makam-makam Ahlulbait… Tetapi semua itu tidak membenarkan ISIS untuk menghancurkan Ka’bah dan membenci Nabi Saw dan Ahlulbait beliau!

kejahatan Mu’awiyah dan para penguasa bani Umayyah yang melestarikan kemunafikan dan kedengkian bani Umayyah kepada Allah dan Rasul-Nya… Data-data sejarah tak terbantahkan telah membuktikan semua kejahatan dan kemunafikan akidah dan kekafiran sikap mereka itu! Namun anehnya (walaupun tentu tidak aneh sebab sebagian kaum munafik adalah kekasih dan pembela kaum munafik lainnya) kaum Salafi Wahhabi akan berontak dengan emosi jahiliyah tak terkontrol jika ada yang berani membongkar bukti-bukti kemunafikan para penguasa bani Umayyah, utamanya Mu’awiyah, Yazid, Marwan dan juga Abu Sufyan dan al Hakam ayah Marwan yang terkutuk itu!!

Mereka akan segera menuduh siapapun yang menyentuh “kehormatan” Muawiyah, dituduh sebagai mencaci maki sahabat Nabi Saw. Dan karenanya ia berhak divonis sesat dan zindiq dan akhirnya darahnya  halal ditumpahkan… Inilah logika Salafi Wahhabi…

Inilah logika dan ideologi ISIS kelompok teroris ideologis yang didukung zionis Israel dan semua musuh-musuh Allah dan umat Islam, tidak terkecuali sebagian para raja  di Timur Tengah dan sebagian kaum dungu di tanah air tercinta Indonesia!!! kita semua harus waspada akan gelombang bahaya yang diusung mereka… Jangan sampai sang merah putih kita dinodai oleh darah-darah yang akan membuat najis kesuciannya!!

Dalam mazhab Syi’ah, Shalat tarawih berjama’ah hukumnya bid’ah dan yang disunahkah adalah shalat sunah malam di bulan Ramadhan yang dilakukan sendiri [tidak berjama’ah]

sumber tulisan : Secondprince

Kali ini kami akan menyampaikan bagaimana pandangan mazhab Syi’ah mengenai shalat tarawih.

Pembahasan berikut akan mengutip hadis-hadis Syi’ah dan melakukan penilaian dengan standar ilmu Rijal Syi’ah sehingga dapat disimpulkan pandangan yang shahih dalam mazhab Syi’ah berkenaan hukum shalat tarawih. Tujuan penulisan ini hanya berusaha menampilkan secara objektif [sesuai kaidah ilmiah] apa sebenarnya pandangan mazhab Syi’ah tentang shalat tarawih.

.

.

.

وعنه عن حماد عن عبد الله بن المغيرة عن ابن سنان عن أبي عبد الله عليه السلام قال: سألته عن الصلاة في شهر رمضان قال ثلاث عشرة ركعة منها الوتر وركعتان قبل صلاة الفجر كذلك كان رسول الله صلى الله عليه وآله يصلي ولو كان فضلا لكان رسول الله صلى الله عليه وآله أعمل به وأحق

Dan darinya [Husain bin Sa’iid] dari Hamaad dari ‘Abdullah bin Mughiirah dari Ibnu Sinaan dari Abi ‘Abdullah [‘alaihis salaam], [Ibnu Sinaan] berkata aku bertanya kepadanya tentang shalat di bulan Ramadhaan, maka Beliau menjawab “tiga belas raka’at termasuk di dalamnya witir dan dua raka’at sebelum shalat fajar, demikianlah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] shalat dan seandainya ada yang lebih utama maka Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] lebih berhak dalam mengamalkannya [Tahdzib Al Ahkaam Syaikh Ath Thuusiy 3/69]

Lafaz Syaikh Ath Thuusiy dalam awal sanad “dan darinya” maka “nya” yang dimaksud adalah Husain bin Sa’iid bin Hamaad sebagaimana yang nampak dalam riwayat sebelumnya [Tahdzib Al Ahkaam Syaikh Ath Thuusiy 3/68]. Jalan sanad Ath Thuusiy sampai ke Husain bin Sa’iid adalah shahih sebagaimana yang dinyatakan oleh Sayyid Al Khu’iy daam biografi Husain bin Sa’iid bin Hamaad [Mu’jam Rijal Al Hadiits Sayyid Al Khu’iy 6/267 no 3424]

Benarkah jalan sanad Syaikh Ath Thuusiy sampai ke Husain bin Sa’iid bin Hamaad adalah shahih?. Berikut pembuktiannya, disebutkan oleh Syaikh Ath Thuusiy

وما ذكرته فهذا الكتاب عن الحسين بن سعيد فقد أخبرني به الشيخ أبو عبد الله محمد بن محمد بن النعمان والحسين بن عبيد الله وأحمد بن عبدون كلهم، عن أحمد بن محمد بن الحسن بن الوليد، عن أبيه محمد بن الحسن بن الوليد وأخبرني أيضا أبو الحسين بن أبي جيد القمي، عن محمد بن الحسن بن الوليد، عن الحسين بن الحسن بن أبان عن الحسين بن سعيد ورواه أيضا محمد بن الحسن بن الوليد، عن محمد بن الحسن الصفار، عن أحمد بن محمد، عن الحسين بن سعيد

Dan apa yang disebutkan tentangnya dalam kitab ini dari Husain bin Sa’iid maka sungguh telah mengabarkan kepadaku Syaikh Abu ‘Abdullah Muhammad bin Muhammad bin Nu’man, Husain bin ‘Ubaidillah dan Ahmad bin ‘Abduun semuanya dari Ahmad bin Muhammad bin Hasan bin Waliid dari Ayahnya Muhammad bin Hasan bin Waliid. Dan telah mengabarkan kepadaku Abu Husain bin Abi Jayyid Al Qummiy dari Muhammad bin Hasan bin Waliid dari Husain bin Hasan bin Abaan dari Husain bin Sa’iid. Dan diriwayatkan Muhammad bin Hasan bin Waliid dari Muhammad bin Hasan Ash Shaffaar dari Ahmad bin Muhammad dari Husain bin Sa’iid [Syarh Masyaikh Tahdzib Al Ahkaam hal 63]

Untuk memudahkan cukuplah kami ambil salah satu jalan sanad dari keseluruhan sanad di atas yaitu Jalan sanad Syaikh Ath Thuusiy dari Abu Husain bin Abi Jayyid Al Qummiy dari Muhammad bin Hasan bin Waliid dari Husain bin Hasan bin Abaan dari Husain bin Sa’iid. Para perawi sanad ini semuanya tsiqat

  1. Abu Husain bin Abi Jayyid adalah Aliy bin Ahmad bin Muhammad bin Abi Jayyid seorang yang tsiqat karena ia termasuk diantara guru-guru An Najasyiy [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadiits hal 384]
  2. Muhammad bin Hasan bin Waliid adalah Muhammad bin Hasan bin Ahmad bin Walid seorang syaikh Qum, faqih mereka, yang terdahulu dan terkemuka, seorang yang tsiqat tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 383 no 1042]
  3. Husain bin Hasan bin Abaan dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Daud Al Hilliy dalam biografi Muhammad bin Awramah [Rijal Ibnu Dawud hal 270 no 431]

Kesimpulannya adalah benar apa yang dikatakan Sayyid Al Khu’iy bahwa jalan sanad Syaikh Ath Thuusiy sampai ke Husain bin Sa’iid adalah shahih. Kemudian bagaimanakah sanad riwayat di atas dari Husain bin Sa’iid sampai ke Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam]. Berikut keterangan para perawinya

  1. Husain bin Sa’iid bin Hammaad adalah seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 355]
  2. Hammaad bin Iisa Al Juhaniy adalah seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 334]
  3. ‘Abdullah bin Mughiirah seorang yang tsiqat tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 215 no 561]
  4. ‘Abdullah bin Sinaan seorang yang tsiqat jaliil tidak ada celaan terhadapnya, ia meriwayatkan dari Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] [Rijal An Najasyiy hal 214 no 558]

Berdasarkan keterangan di atas maka disimpulkan bahwa sesuai kaidah ilmu Rijal Syi’ah maka riwayat Syaikh Ath Thuusiy di atas sanadnya shahih. Matan riwayat menunjukkan bahwa shalat tarawih termasuk sunnah. Apakah shalat tersebut dilakukan berjama’ah atau sendiri?. Jawabannya ada dalam riwayat berikut

الحسين بن سعيد عن حماد بن عيسى عن حريز عن زرارة وابن مسلم والفضيل قالوا: سألناهما عن الصلاة في رمضان نافلة بالليل جماعة فقالا: ان النبي صلى الله عليه وآله كان إذا صلى العشاء الآخرة انصرف إلى منزله، ثم يخرج من آخر الليل إلى المسجد فيقوم فيصلي، فخرج في أول ليلة من شهر رمضان ليصلي كما كان يصلي فاصطف الناس خلفه فهرب منهم إلى بيته وتركهم ففعلوا ذلك ثلاث ليال فقام في اليوم الرابع على منبره فحمد الله وأثنى عليه ثم قال: (أيها الناس إن الصلاة بالليل في شهر رمضان النافلة في جماعة بدعة، وصلاة الضحى بدعة ألا فلا تجتمعوا ليلا في شهر رمضان لصلاة الليل ولا تصلوا صلاة الضحى فان ذلك معصية، الا وإن كل بدعة ضلالة وكل ضلالة سبيلها إلى النار ثم نزل وهو يقول قليل في سنة خير من كثير في بدعة

Husain bin Sa’iid dari Hammaad bin Iisa dari Hariiz dari Zurarah dan Ibnu Muslim dan Fudhail, mereka berkata kami bertanya kepada mereka berdua [Abu Ja’far dan Abu ‘Abdullah] tentang shalat sunah malam di bulan Ramadhan dengan berjama’ah. Maka keduanya menjawab “sesungguhnya Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] jika telah mengerjakan shalat Isyaa’ Beliau pulang ke rumahnya kemudian keluar ke masjid di akhir malam untuk shalat. Beliau keluar di malam pertama di bulan Ramadhan untuk shalat seperti biasa kemudian orang-orang ikut shalat di belakangnya maka Beliau menghindar dari mereka, pulang ke rumahnya dan meninggalkan mereka, mereka melakukan hal ini tiga malam maka pada malam keempat Beliau naik mimbar mengucapkan pujian kepada Allah SWT dan berkata “wahai manusia sesungguhnya shalat sunnah malam di bulan Ramadhan dengan berjama’ah adalah bid’ah dan shalat Dhuha adalah bid’ah, mala janganlah kalian berkumpul di malam bulan Ramadhan untuk shalat malam dan janganlah kalian melakukan shalat Dhuha, sesungguhnya yang demikian adalah dosa. Dan sesungguhnya semua bid’ah itu sesat dan semua kesesatan tempatnya di neraka”. Kemudian Beliau turun [dari mimbar] dan mengatakan “sedikit dalam sunnah lebih baik dari banyak dalam bid’ah” [Tahdzib Al Ahkam Syaikh Ath Thuusiy 3/69-70]

Lafaz dalam riwayat Syaikh Ath Thuusiy dimana para perawi [yaitu Zurarah, Ibnu Muslim dan Fudhail] berkata “kami bertanya kepada mereka berdua”. Yang dimaksud mereka berdua disini adalah Imam Abu Ja’far Al Baqir dan Abu ‘Abdullah. Hal ini sebagaimana disebutkan [dalam hadis yang sama] dengan lafaz sharih [jelas] dalam riwayat Syaikh Ash Shaduq [Man La Yahdhuuru Al Faqiih 2/137 no 1964]

Jalan sanad Syaikh Ath Thuusiy sampai ke Husain bin Sa’iid telah disebutkan sebelumnya adalah shahih. Kemudian para perawi sanad di atas berikut keterangannya

  1. Husain bin Sa’iid bin Hammaad adalah seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 355]
  2. Hammaad bin Iisa Al Juhaniy adalah seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 334]
  3. Hariiz bin ‘Abdullah As Sijistaniy seorang penduduk Kufah yang tsiqat [Al Fahrasat Syaikh Ath Thuusiy hal 118]
  4. Zurarah bin A’yan Asy Syaibaniy seorang yang tsiqat, meriwayatkan dari Abu Ja’far dan Abu Abdullah [Rijal Ath Thuusiy hal 337]
  5. Muhammad bin Muslim seorang faqih wara’ sahabat Abu Ja’far dan Abu ‘Abdullah, termasuk orang yang paling terpercaya [Rijal An Najasyiy hal 323-324 no 882]

Berdasarkan keterangan di atas maka disimpulkan bahwa sesuai kaidah ilmu Rijal Syi’ah maka riwayat Syaikh Ath Thuusiy di atas sanadnya shahih. Matan riwayat menunjukkan bahwa shalat tarawih berjama’ah adalah bid’ah. Maka disini dapat dipahami pula bahwa shalat tarawih yang disunahkan pada riwayat sebelumnya adalah dikerjakan sendiri bukan dengan berjama’ah.

Terdapat riwayat lain dari imam Aliy bin Abi Thalib [‘alaihis salaam] yang menegaskan kalau shalat tarawih berjama’ah adalah bid’ah. Riwayat ini disebutkan dalam Al Kafiy dengan matannya berupa khutbah Imam Aliy yang panjang dimana dalam sebagian khutbah Beliau terdapat ucapan berikut

والله لقد أمرت الناس أن لا يجتمعوا في شهر رمضان إلا في فريضة وأعلمتهم أن اجتماعهم في النوافل بدعة فتنادى بعض أهل عسكري ممن يقاتل معي: يا أهل الاسلام غيرت سنة عمر ينهانا عن الصلاة في شهر رمضان تطوعا

Demi Allah, ketika aku perintahkan orang-orang untuk tidak berkumpul [shalat berjama’ah] di bulan Ramadhan kecuali dalam shalat Fardhu dan aku beritahu mereka bahwa berkumpul [shalat berjama’ah] dalam shalat sunnah adalah bid’ah maka sebagian tentaraku yang berperang bersamaku berteriak “wahai orang islam, ia ingin mengubah sunah Umar, ia melarang kita untuk shalat sunah di bulan Ramadhan” [Al Kafiy Al Kulainiy 8/62-63]

Sanad riwayat Al Kafiy di atas disebutkan Al Kulainiy di awal riwayat yaitu sanad berikut

علي بن إبراهيم، عن أبيه، عن حماد بن عيسى، عن إبراهيم بن عثمان، عن سليم بن قيس الهلالي قال: خطب أمير المؤمنين عليه السلام

Aliy bin Ibrahim dari Ayahnya dari Hammaad bin Iisa dari Ibrahim bin ‘Utsman dari Sulaim bin Qais Al Hilaaliy yang berkata Amirul Mukminin [‘alaihis salaam] berkhutbah…[Al Kafiy Al Kulainiy 8/58]

Para perawi sanad Al Kulainiy tersebut adalah tsiqat maka kedudukannya shahih. Berikut keterangan mengenai para perawinya sesuai standar ilmu Rijal Syi’ah

  1. Aliy bin Ibrahim bin Haasyim, tsiqat dalam hadis, tsabit, mu’tamad, shahih mazhabnya [Rijal An Najasyiy hal 260 no 680]
  2. Ibrahim bin Haasyim Al Qummiy seorang yang tsiqat jaliil. Ibnu Thawus pernah menyatakan hadis yang dalam sanadnya ada Ibrahim bin Haasyim bahwa para perawinya disepakati tsiqat [Al Mustadrakat Ilm Rijal Al Hadis, Asy Syahruudiy 1/222]
  3. Hammaad bin Iisa Al Juhaniy adalah seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 334]
  4. Ibrahim bin Utsman yang dimaksud disini ada dua kemungkinan, pertama yaitu Ibrahim bin Utsman Abu Ayuub sebagaimana disebutkan Sayyid Al Khu’iy bahwa ia meriwayatkan dari Sulaim bin Qais dan telah meriwayatkan darinya Hammaad bin Iisa [yaitu hadis ini] [Mu’jam Rijal Al Hadiits, Sayyid Al Khu’iy 1/233 no 208]. Ibrahim bin Utsman Abu Ayuub seorang yang tsiqat [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadits hal 11]. Kemungkinan kedua ia adalah Ibrahim bin Umar Al Yamaniy dan penulisan “bin Utsman” tersebut adalah tashif [keliru] sebagaimana disebutkan oleh Sayyid Muhammad Al Abthahiy [Tahdzib Al Maqaal Fii Tanqiih Kitab Rijal An Najasyiy 1/187]. Pendapat kedua ini kami nilai lebih rajih karena Ibrahim bin Umar Al Yamaniy memang dikenal meriwayatkan dari Sulaim bin Qais Al Hilaaliy [selain dari hadis ini]. Dan qarinah yang menguatkan adalah Al Kulainiy juga membawakan dua hadis lain dengan sanad “Aliy bin Ibrahim dari Ayahnya dari Hammad bin Iisa dari Ibrahim bin Umar Al Yamaniy dari Sulaim bin Qais” [Al Kafiy Al Kulainiy 1/191 dan Al Kafiy Al Kulainiy 8/343]. Ibrahim bin Umar Al Yamaaniy seorang yang tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 20 no 26]
  5. Sulaim bin Qais Al Hilaaliy termasuk sahabat Amirul Mukminin, seorang yang tsiqat [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadiits hal 262]

.

.

.

Kesimpulan

Dalam mazhab Syi’ah ternyata memang shahih bahwa Shalat tarawih berjama’ah hukumnya bid’ah dan yang disunahkah adalah shalat sunah malam di bulan Ramadhan yang dilakukan sendiri [tidak berjama’ah].

Tentu saja pandangan mazhab Syi’ah tersebut berdasarkan riwayat shahih di sisi mereka dan tidak menjadi hujjah bagi mazhab Ahlus Sunnah sebagaimana pula riwayat shahih di sisi mazhab Ahlus Sunnah tidak menjadi hujjah bagi mazhab Syi’ah. Perbedaan di antara kedua mazhab adalah suatu keniscayaan karena kitab pegangan masing-masing yang berbeda, yang bisa dilakukan adalah hendaknya masing-masing penganut kedua mazhab tersebut tidak menjadikan perbedaan itu sebagai bahan celaan.

Didalam Kitab Syi’ah disebutkan Ahlul Bait adalah Aliy, Hasan, dan Husain serta Sembilan Imam dari keturunan Husain

sumber tulisan : Secondprince

Shahih Hadis Tsaqalain Dalam Mazhab Syi’ah

Salah satu syubhat yang sering dilontarkan oleh para pembenci Syi’ah adalah tuduhan bahwa Syi’ah menjadikan hujjah hadis Tsaqalain dengan mengambil dari kitab Ahlus Sunnah karena Syi’ah tidak memiliki hadis Tsaqalain yang shahih dalam kitab mereka.

Setelah kami membaca kitab-kitab hadis mazhab Syi’ah maka bisa dipastikan bahwa tuduhan tersebut tidak benar, Syi’ah tidak menjadikan hadis Ahlus Sunnah sebagai pegangan mereka dan sebaliknya Ahlus Sunnah juga tidak menjadikan hadis Syi’ah sebagai pegangan mereka. Kedua mazhab masing-masing memiliki hujjah dari hadis-hadis dalam kitab pegangan mereka sendiri.

Tulisan ini hanya menyajikan informasi kepada para pembaca bahwa faktanya, Syi’ah juga memiliki hadis Tsaqalain yang shahih [sesuai dengan standar ilmu hadis Syi’ah] dalam kitab hadis mereka.

.

.

Riwayat Pertama

حدثنا محمد بن الحسن بن أحمد بن الوليد رضي الله عنه قال حدثنا محمد بن الحسن الصفار، عن محمد بن الحسين بن أبي الخطاب، ويعقوب بن يزيد جميعا، عن محمد بن أبي عمير، عن عبد الله بن سنان، عن معروف بن خربوذ، عن أبي الطفيل عامر بن واثلة، عن حذيفة بن أسيد الغفاري قال لما رجع رسول الله صلى الله عليه وآله من حجة الوداع ونحن معه أقبل حتى انتهى إلى الجحفة فأمر أصحابه بالنزول فنزل القوم منازلهم، ثم نودي بالصلاة فصلى بأصحابه ركعتين، ثم أقبل بوجهه إليهم فقال لهم إنه قد نبأني اللطيف الخبير أني ميت وأنكم ميتون، وكأني قد دعيت فأجبت وأني مسؤول عما أرسلت به إليكم، وعما خلفت فيكم من كتاب الله وحجته وأنكم مسؤولون، فما أنتم قائلون لربكم؟ قالوا: نقول: قد بلغت ونصحت وجاهدت فجزاك الله عنا أفضل الجزاء ثم قال لهم: ألستم تشهدون أن لا إله إلا الله وأني رسول الله إليكم وأن الجنة حق؟ وأن النار حق؟ وأن البعث بعد الموت حق؟ فقالوا: نشهد بذلك، قال: اللهم اشهد على ما يقولون، ألا وإني أشهدكم أني أشهد أن الله مولاي، وأنا مولى كل مسلم، وأنا أولى بالمؤمنين من أنفسهم، فهل تقرون لي بذلك، وتشهدون لي به؟ فقالوا: نعم نشهد لك بذلك، فقال: ألا من كنت مولاه فإن عليا مولاه وهو هذا، ثم أخذ بيد علي عليه السلام فرفعها مع يده حتى بدت آباطهما: ثم: قال: اللهم وال من والاه، وعاد من عاداه، وانصر من نصره واخذل من خذله، ألا وإني فرطكم وأنتم واردون علي الحوض، حوضي غدا وهو حوض عرضه ما بين بصرى وصنعاء فيه أقداح من فضة عدد نجوم السماء، ألا وإني سائلكم غدا ماذا صنعتم فيما أشهدت الله به عليكم في يومكم هذا إذا وردتم علي حوضي، وماذا صنعتم بالثقلين من بعدي فانظروا كيف تكونون خلفتموني فيهما حين تلقوني؟ قالوا: وما هذان الثقلان يا رسول الله؟ قال: أما الثقل الأكبر فكتاب الله عز وجل، سبب ممدود من الله ومني في أيديكم، طرفه بيد الله والطرف الآخر بأيديكم، فيه علم ما مضى وما بقي إلى أن تقوم الساعة، وأما الثقل الأصغر فهو حليف القرآن وهو علي بن أبي طالب وعترته عليهم السلام، وإنهما لن يفترقا حتى يردا علي الحوض قال معروف بن خربوذ: فعرضت هذا الكلام على أبي جعفر عليه السلام فقال: صدق أبو الطفيل رحمه الله هذا الكلام وجدناه في كتاب علي عليه السلام وعرفناه

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Hasan bin Ahmad bin Waliid [radiallahu ‘anhu] yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Hasan Ash Shaffaar dari Muhammad bin Husain Abil Khaththaab dan Ya’qub bin Yaziid keduanya dari Muhammad bin Abi ‘Umair dari ‘Abdullah bin Sinaan dari Ma’ruf bin Kharrabudz dari Abu Thufail ‘Aamir bin Watsilah dari Hudzaifah bin Usaid Al Ghifariy yang berkata ketika Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wa ‘alihi] kembali dari Haji Wada dan kami bersama Beliau, hingga sampailah kami di Juhfah, Beliau memerintahkan para sahabatnya untuk bersitirahat, maka merekapun beristirahat. Kemudian diserukan untuk shalat maka Beliau shalat dengan para sahabatnya dua rakaat, Kemudian Beliau menghadapkan wajahnya kepada mereka dan berkata bahwasanya Dia yang Maha Halus dan Maha Mengetahui memberitakan kepadaku bahwa aku akan segera wafat dan kalian juga akan wafat, seolah aku akan dipanggil dan aku akan menjawabnya, dan aku akan diminta pertanggungjawaban atas apa yang aku diutus kepada kalian dan apa yang aku tinggalkan kepada kalian dari Kitab Allah dan Hujjah-nya dan kalian juga akan diminta pertanggungjawaban, maka apa yang akan kalian katakan kepada Rabb kalian?. Mereka berkata “kami akan mengatakan sungguh Engkau telah menyampaikan, memberi nasehat dan telah berusaha dengan sungguh-sungguh, maka semoga Allah SWT memberikan ganjaran dengan ganjaran yang paling baik”. Kemudian Beliau berkata “bukankah kalian bersaksi bahwa Tiada Tuhan selain Allah dan Aku adalah Rasulullah yang diutus kepada kalian, bahwa surga itu benar, neraka itu benar, dan hari kebangkitan itu benar?. Mereka berkata “sungguh kami bersaksi akan hal itu”. Beliau berkata “Ya Allah saksikanlah apa yang mereka katakan, dan aku meminta kesaksian kalian bahwasanya aku bersaksi Allah adalah maulaku, dan aku adalah maula bagi setiap muslim, dan aku yang paling berhak atas kaum mu’minin dibanding diri mereka sendiri, apa kalian menerima dan menyaksikan?. Mereka berkata “benar kami bersaksi akan hal itu”. Beliau berkata “maka barang siapa yang menganggap aku sebagai Maulanya maka Aliy adalah maulanya, dan inilah dia, kemudian Beliau mengambil tangan Aliy dan mengangkatnya bersama tangan Beliau hingga nampak ketiak keduanya, kemudian Beliau berkata “Ya Allah dukunglah siapa yang mendukungnya dan musuhilah siapa yang memusuhinya, tolonglah siapa yang menolongnya dan tinggalkanlah siapa yang meninggalkannya. Aku akan meninggalkan kalian dan kalian akan dikembalikan kepadaku di Al Haudh, Al Haudhku yang luasnya terbentang antara Basra dan Shan’a yang didalamnya terdapat gelas-gelas dari perak sebanyak bintang-bintang di langit, aku akan menanyakan kepada kalian apa yang kalian lakukan mengenai perkara yang aku telah bersaksi atas kalian pada hari ini, ketika kalian dikembalikan kepadaku di Al Haudh nanti, dan aku akan menanyakan kepada kalian apa yang kalian lakukan dengan Ats Tsaqalain sepeninggalku maka perhatikanlah bagaimana kalian memperlakukan keduanya ketika aku telah pergi. Mereka berkata “apakah Tsaqalain itu wahai Rasulullah?”. Beliau berkata “Tsaqal Al Akbar yaitu Kitab Allah ‘azza wajalla yaitu Tali yang terbentang dari Allah dan dariku di tangan kalian, ujung yang satu di Tangan Allah dan ujung yang lain ada di tangan kalian, di dalamnya terkandung ilmu mengenai perkara yang lalu dan perkara yang akan datang hingga hari kiamat. Dan Tsaqal Al Asghar adalah Haliif [sekutu] Al Qur’an dan ia adalah Aliy bin Abi Thalib dan keturunan-nya [‘alaihimus salaam], keduanya tidak akan berpisah sampai kembali kepadaku di Al Haudh. Ma’ruf bin Kharrabudz berkata aku memberitahukan hadis ini kepada Abu Ja’far [‘alaihis salaam] maka Beliau berkata “benar Abu Thufail, rahmat Allah atasnya, perkataan ini kami temukan dalam kitab Aliy [‘alaihis salaam] dan kami mengenalnya” [Al Khishaal Syaikh Ash Shaduuq hal 65-67 no 98]

Riwayat Syaikh Ash Shaduq di atas sanadnya shahih berdasarkan standar ilmu Rijal Syi’ah. Berikut keterangan mengenai para perawinya

  1. Muhammad bin Hasan bin Ahmad bin Walid adalah Syaikh Qum, faqih mereka, yang terdahulu dan terkemuka, seorang yang tsiqat tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 383 no 1042]
  2. Muhammad bin Hasan Ash Shaffaar ia terkemuka di Qum, tsiqat, agung kedudukannya [Rijal An Najasyiy hal 354 no 948]
  3. Muhammad bin Husain bin Abil Khaththaab seorang yang mulia, agung kedudukannya, banyak memiliki riwayat, tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 334 no 897]
  4. Ya’qub bin Yazid bin Hammaad Al Anbariy seorang yang tsiqat shaduq [Rijal An Najasyiy hal 450 no 1215]
  5. Muhammad bin Abi Umair, ia termasuk orang yang paling terpercaya baik di kalangan khusus [Syi’ah] maupun kalangan umum [Al Fahrasat Ath Thuusiy hal 218]
  6.  ‘Abdullah bin Sinaan seorang yang tsiqat jaliil tidak ada celaan sedikitpun terhadapnya, ia meriwayatkan dari Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] [Rijal An Najasyiy hal 214 no 558]
  7. Ma’ruf bin Kharrabudz, Al Kasyiy menyebutkan bahwa ia termasuk ashabul ijma’ [enam orang yang paling faqih] diantara para fuqaha dari kalangan sahabat Abu Ja’far [‘alaihis salaam] dan Abu Abdullah [‘alaihis salaam] [Rijal Al Kasyiy 2/507]. Al Majlisiy menyatakan Ma’ruf bin Kharrabudz tsiqat [Al Wajiizah no 1897]

Abu Thufail dan Hudzaifah keduanya adalah sahabat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan disini tidak perlu kami nukil keterangan tentang keduanya karena sudah cukup telah shahih sanadnya hingga Abu Ja’far yang menegaskan keshahihan hadis tersebut.

.

.

Riwayat Kedua

Diriwayatkan dalam kitab Al Kafiy hadis yang panjang tentang khutbah Jum’at Imam Abu Ja’far, dan di dalamnya terdapat keterangan hadis Tsaqalain, Imam Abu Ja’far berkata

وقد بلغ رسول الله (صلى الله عليه وآله) الذي ارسل به فألزموا وصيته وما ترك فيكم من بعده من الثقلين كتاب الله وأهل بيته اللذين لا يضل من تمسك بهما ولا يهتدي من تركهما،

Dan sungguh Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wa ‘alihi] telah menyampaikan apa yang Beliau diutus dengannya maka berpegang teguhlah kalian dengan wasiat Beliau yaitu apa yang ditinggalkan kepada kalian sepeninggalnya dari Ats Tsaqalain yaitu Kitab Allah dan Ahlul Baitnya dimana tidak akan tersesat siapa yang berpegang teguh pada keduanya dan tidak akan mendapat petunjuk bagi siapa yang meninggalkan keduanya [Al Kafiy Al Kulainiy 3/423]

Sanad lengkap riwayat panjang yang kami kutip hanya mengenai hadis Tsaqalain di atas telah disebutkan Al Kulainiy dengan sanad berikut

محمد بن يحيى، عن أحمد بن محمد، عن الحسين بن سعيد، عن النضر بن سويد، عن يحيى الحلبي، عن بريد بن معاوية، عن محمد بن مسلم، عن أبي جعفر في خطبة يوم الجمعة

Muhammad bin Yahya dari Ahmad bin Muhammad dari Husain bin Sa’id dari Nadhr bin Suwaid dari Yahya Al Halabiy dari Buraid bin Mu’awiyah dari Muhammad bin Muslim dari Abu Ja’far tentang khutbah pada hari Jum’at…[Al Kafiy Al Kulainiy 3/422]

Riwayat Al Kulainiy di atas sanadnya shahih berdasarkan standar ilmu Rijal Syi’ah. Berikut keterangan mengenai para perawinya

  1. Muhammad bin Yahya Al Aththaar seorang yang tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 353 no 946]
  2. Ahmad bin Muhammad bin Iisa Al Qummiy adalah seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 351]
  3. Husain bin Sa’id bin Hammaad seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 355]
  4. Nadhr bin Suwaid seorang yang tsiqat dan shahih al hadis [Rijal An Najasyiy hal 427 no 1147]
  5. Yahya bin ‘Imran bin ‘Aliy Al Halabiy seorang yang tsiqat tsiqat shahih al hadis [Rijal An Najasyiy hal 444 no 1199]
  6. Buraid bin Mu’awiyah meriwayatkan dari Abu Ja’far [‘alaihis salaam] dan Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam], seorang yang tsiqat faqiih [Khulashah Al Aqwaal Allamah Al Hilliy hal 81-82]
  7. Muhammad bin Muslim bin Rabah termasuk orang yang paling terpercaya [Rijal An Najasyiy hal 323-324 no 882]

 

Riwayat Ketiga

Diriwayatkan oleh Syaikh Ath Thuusiy sebuah riwayat dimana salah seorang Syaikh yang sudah tua datang ke hadapan Imam Abu ‘Abdullah dan dalam riwayat tersebut terdapat penggalan perkataan pujian Imam Abu ‘Abdullah kepada Syaikh tersebut

فقال له أبو عبد الله (عليه السلام): يا شيخ، إن رسول الله (صلى الله عليه وآله) قال: إني تارك فيكم الثقلين ما إن تمسكتم بهما لن تضلوا: كتاب الله المنزل، وعترتي أهل بيتي، تجئ وأنت معنا يوم القيامة

Maka Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] berkata kepadanya “wahai Syaikh, sesungguhnya Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “aku tinggalkan kepada kalian Ats Tsaqalain [dua perkara berat] yang jika kalian berpegang teguh kepada keduanya maka kalian tidak akan tersesat yaitu Kitab Allah dan Itrah-ku Ahlul Bait-ku, datanglah dan engkau bersama kami pada hari kiamat…[Al Amaliy Syaikh Ath Thuusiy hal 162]

Sanad lengkap riwayat Syaikh Ath Thuusiy di atas [dimana kami hanya menukil penggalan hadis Tsaqalain saja] adalah sebagai berikut

حدثنا محمد بن محمد، قال حدثنا أبو القاسم جعفر بن محمد بن قولويه (رحمه الله)، قال حدثني أبي، قال حدثني سعد بن عبد الله، عن أحمد بن محمد ابن عيسى، عن الحسن بن محبوب الزراد، عن أبي محمد الأنصاري، عن معاوية بن وهب، قال كنت جالسا عند جعفر بن محمد (عليهما السلام) إذ جاء شيخ قد انحنى من الكبر

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Muhammad yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Qaasim Ja’far bin Muhammad bin Quluwaih [rahimahullah] yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepadaku Sa’d bin ‘Abdullah dari Ahmad bin Muhammad bin Iisa dari Hasan bin Mahbuub Az Zaraad dari Abu Muhammad Al Anshariy dari Mu’awiyah bin Wahb yang berkata “aku dahulu pernah duduk di sisi Ja’far bin Muhammad [‘alaihimas salaam] ketika datang seorang Syaikh yang bungkuk karena usianya yang sudah tua……[Al Amaliy Syaikh Ath Thuusiy hal 161]

Riwayat Syaikh Ath Thuusiy di atas sanadnya hasan berdasarkan standar ilmu Rijal Syi’ah. Berikut keterangan mengenai para perawinya

  1. Muhammad bin Muhammad adalah Muhammad bin Muhammad bin Nu’man Syaikh Mufid, ia termasuk diantara guru-guru Syi’ah yang mulia dan pemimpin mereka, dan orang yang paling terpercaya di zamannya, dan paling alim diantara mereka [Khulashah Al Aqwaal Allamah Al Hilliy hal 248 no 46]
  2. Abul Qaasim Ja’far bin Muhammad bin Quluwaih Al Qummiy termasuk orang yang tsiqat dan mulia dalam hadis dan faqih [Rijal An Najasyiy hal 123 no 318]
  3. Muhammad bin Quluwaih ayahnya Abul Qaasim Ja’far bin Muhammad bin Quluwaih seorang yang tsiqat [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadits hal 570]
  4. Sa’d bin ‘Abdullah Al Qummiy adalah seorang yang tsiqat [Al Fahrasat Syaikh Ath Thuusiy hal 135]
  5. Ahmad bin Muhammad bin Iisa Al Qummiy adalah seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 351]
  6. Hasan bin Mahbuub seorang penduduk kufah yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 354]
  7. Abu Muhammad Al Anshariy dia seorang yang khair [Wasa’il Syi’ah Al Hurr Al Amiliy 20/381 no 1389]
  8. Mu’awiyah bin Wahb Al Bajalliy seorang yang tsiqat [Rijal An Najasyiy 412 no 1097]

Semua para perawi sanad di atas adalah perawi tsiqat kecuali Abu Muhammad Al Anshariy dan dia termasuk perawi yang mamduh. Pujian terhadapnya telah disebutkan oleh riwayat Al Kulainiy dalam Al Kafiy

أبو علي الأشعري، عن محمد بن عبد الجبار، عن أبي محمد الأنصاري – قال: وكان خيرا

Abu ‘Aliy Al Asy’ariy dari Muhammad bin ‘Abdul Jabbaar dari Abi Muhammad Al Anshariy, [Muhammad bin ‘Abdul Jabbaar] berkata dia seorang yang khair…[Al Kafiy Al Kulainiy 3/127]

Abu ‘Aliy Al Asy’ariy adalah Ahmad bin Idris seorang yang tsiqat faqih banyak meriwayatkan hadis dan shahih riwayatnya [Rijal An Najasyiy hal 92 no 228] dan Muhammad bin ‘Abdul Jabbaar seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 391]

.

.

.

Riwayat Keempat

Dalam kitab Al Kafiy terdapat riwayat dari Abu ‘Abdullah mengenai siapa yang dimaksud dengan Ulil Amri dalam Al Qur’anul Karim dan dalam riwayat tersebut terdapat penggalan hadis Tsaqalain, Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] berkata

فقال رسول الله صلى الله عليه وآله: في علي: من كنت مولاه، فعلي مولاه، وقال صلى الله عليه وآله أوصيكم بكتاب الله وأهل بيتي، فإني سألت الله عز وجل أن لا يفرق بينهما حتى يوردهما علي الحوض، فأعطاني ذلك وقال لا تعلموهم فهم أعلم منكم، وقال: إنهم لن يخرجوكم من باب هدى، ولن يدخلوكم في باب ضلالة

Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wa ‘alihi] telah berkata tentang Aliy “barang siapa yang Aku maulanya maka Aliy adalah maulanya” dan Beliau [shallallahu ‘alaihi wa ‘alihi] bersabda “aku wasiatkan kepada kalian dengan Kitab Allah dan Ahlul Baitku, aku telah meminta kepada Allah ‘azza wajalla bahwa tidak akan memisahkan keduanya hingga keduanya kembali ke Al Haudh maka Allah mengabulkannya. Beliau berkata “jangan mengajari mereka karena mereka lebih alim [tahu] dari kalian”. Beliau berkata “sesungguhnya mereka tidak akan mengeluarkan kalian dari pintu petunjuk dan tidak akan memasukkan kalian ke dalam pintu kesesatan”…[Al Kafiy Al Kulainiy 1/288]

Riwayat Al Kafiy di atas disebutkan dengan dua jalan sanad. Adapun sanad yang shahih adalah sanad berikut

محمد بن يحيى، عن أحمد بن محمد بن عيسى، عن محمد بن خالد والحسين بن سعيد عن النضر بن سويد، عن يحيى بن عمران الحلبي، عن أيوب بن الحر وعمران بن علي الحلبي، عن أبي بصير عن أبي عبد الله عليه السلام مثل ذلك

Muhammad bin Yahya dari Ahmad bin Muhammad bin Iisa dari Muhammad bin Khalid dan Husain bin Sa’iid dari Nadhr bin Suwaid dari Yahya bin ‘Imraan Al Halabiy dari Ayuub bin Al Hurr dan ‘Imran bin Aliy Al Halabiy dari Abi Bashiir dari Abu ‘Abdullah [‘alaihissalam] seperti di atas [Al Kafiy Al Kulainiy 1/288]

Sanad riwayat Al Kafiy di atas kedudukannya shahih berdasarkan standar ilmu Rijal Syi’ah. Berikut keterangan mengenai para perawinya

  1. Muhammad bin Yahya Al Aththaar seorang yang tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 353 no 946]
  2. Ahmad bin Muhammad bin Iisa Al Qummiy adalah seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 351]
  3. Muhammad bin Khalid dikatakan Najasyiy bahwa ia dhaif dalam hadis [Rijal An Najasyiy hal 335 no 898] tetapi ia dinyatakan tsiqat oleh Syaikh Ath Thuusiy [Rijal Ath Thuusiy hal 363]. Dan dalam sanad ini ia telah dikuatkan oleh Husain bin Sa’id bin Hammaad seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 355]
  4. Nadhr bin Suwaid seorang yang tsiqat dan shahih al hadis [Rijal An Najasyiy hal 427 no 1147]
  5. Yahya bin ‘Imran bin ‘Aliy Al Halabiy seorang yang tsiqat tsiqat shahih al hadis [Rijal An Najasyiy hal 444 no 1199]
  6. Ayub bin Al Hurr seorang yang tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 103 no 256] dan dalam sanad ini ia dikuatkan oleh ‘Imran bin ‘Aliy Al Halabiy seorang yang tsiqat sebagaimana disebutkan Najasyiy dalam biografi Ahmad bin ‘Umar bin Abi Syu’bah Al Halabiy [Rijal An Najasyiy hal 98 no 245]
  7. Abu Bashiir adalah Abu Bashiir Al Asdiy Yahya bin Qasim seorang yang tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 441 no 1187]

.

Riwayat Kelima

حدثنا أحمد بن زياد بن جعفر الهمداني رضي الله عنه قال حدثنا علي بن إبراهيم بن هاشم، عن أبيه، عن محمد بن أبي عمير، عن غياث بن إبراهيم، عن الصادق جعفر ابن محمد، عن أبيه محمد بن علي، عن أبيه علي بن الحسين، عن أبيه الحسين عليهم السلام قال سئل أمير المؤمنين عليه السلام عن معنى قول رسول الله صلى الله عليه وآله ” إني مخلف فيكم الثقلين كتاب الله، وعترتي ” من العترة؟ فقال: أنا، والحسن، والحسين، والأئمة التسعة من ولد الحسين تاسعهم مهديهم وقائمهم، لا يفارقون كتاب الله ولا يفارقهم حتى يردوا على رسول الله صلى الله عليه وآله حوضه

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Ziyaad bin Ja’far Al Hamdaaniy [radiallahu ‘anhu] yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin Ibrahim bin Haasyim dari Ayahnya dari Muhammad bin Abi ‘Umair dari Ghiyaats bin Ibrahiim dari Ash Shaadiq Ja’far bin Muhammad dari Ayahnya Muhammad bin Aliy dari Ayahnya Aliy bin Husain dari Ayahnya Husain bin Aliy [‘alaihimus salaam] yang berkata Amirul Mukminin pernah ditanya tentang makna perkataan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wa ‘alihi] “aku tinggalkan untuk kalian Ats Tsaqalain yaitu Kitab Allah dan Itrah-ku”, siapakah itrah-nya?. Beliau berkata “Aku, Hasan, Husain dan kesembilan Imam dari keturunan Husain, dan yang kesembilan dari mereka adalah Mahdi dan Qa’im mereka, mereka tidak akan berpisah dari Kitab Allah dan Kitab Allah tidak akan berpisah dari mereka, sampai semuanya kembali kepada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wa ‘alihi] di Al Haudh-nya [Ma’aaniy Al Akhbar Syaikh Ash Shaduuq hal 90-91 no 4]

Riwayat Syaikh Ash Shaduq di atas sanadnya shahih berdasarkan standar ilmu Rijal Syi’ah. Berikut keterangan mengenai para perawinya

  1. Ahmad bin Ziyaad bin Ja’far Al Hamdaaniy, ia seorang yang tsiqat fadhl sebagaimana yang dinyatakan Syaikh Shaduq [Kamal Ad Diin Syaikh Shaduq hal 369]
  2. Aliy bin Ibrahim bin Haasyim, tsiqat dalam hadis, tsabit, mu’tamad, shahih mazhabnya [Rijal An Najasyiy hal 260 no 680]
  3. Ibrahim bin Haasyim Al Qummiy seorang yang tsiqat jaliil. Ibnu Thawus pernah menyatakan hadis yang dalam sanadnya ada Ibrahim bin Haasyim bahwa para perawinya disepakati tsiqat [Al Mustadrakat Ilm Rijal Al Hadis, Asy Syahruudiy 1/222]
  4. Muhammad bin Abi Umair, ia termasuk orang yang paling terpercaya baik di kalangan khusus [Syi’ah] maupun kalangan umum [Al Fahrasat Ath Thuusiy hal 218]
  5. Ghiyaats bin Ibrahiim At Tamimiy seorang yang tsiqat, meriwayatkan dari ‘Abu Abdullah [‘alaihis salaam] [Rijal An Najasyiy hal 305 no 833]

.

Kesimpulan

Tidak diragukan bahwa hadis Tsaqalain kedudukannya shahih dalam mazhab Syi’ah sama seperti halnya kedudukan hadis Tsaqalain shahih dalam mazhab Ahlus Sunnah. Hanya saja perbedaan antara kedua mazhab tersebut adalah dalam Kitab Syi’ah disebutkan dengan dalil yang shahih bahwa Ahlul Bait yang dimaksud adalah Aliy, Hasan, dan Husain serta Sembilan Imam dari keturunan Husain sedangkan dalam mazhab Ahlus Sunnah tidak terdapat hadis yang menyebutkan demikian.

Studi Kritis Riwayat Ibnu Abbas : Ayat Tathir Turun Khusus Untuk Istri-istri Nabi

sumber tulisan : Secondprince

Studi Kritis Riwayat Ibnu Abbas : Ayat Tathiir Turun Khusus Untuk Istri-istri Nabi

Salah satu dalil yang dijadikan hujjah oleh para pembenci Syiah [pengidap syiahphobia] untuk menolak keutamaan Ayat Tathiir khusus untuk ahlul kisa’ adalah riwayat Ibnu Abbas yang menyatakan bahwa Ayat Tathiir turun khusus untuk istri-istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Riwayat tersebut dinukil oleh Ibnu Katsiir dalam kitab Tafsir-nya dengan menisbatkan riwayat tersebut dari Ibnu Abi Hatim

.

.

وهكذا روى ابن أبي حاتم قال حدثنا علي بن حرب الموصلي حدثنا زيد بن الحباب حدثنا حسين بن واقد عن يزيد النحوي عن عكرمة عن ابن عباس في قوله { إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت } قال نزلت في نساء النبي صلى الله عليه وسلم خاصة خاصة وقال عكرمة من شاء باهلته أنها نزلت في أزواج النبي صلى الله عليه وسلم

Dan demikian diriwayatkan Ibnu Abi Hatim yang berkata telah menceritakan kepada kami Aliy bin Harb Al Maushulliy yang berkata telah menceritakan kepada kami Zaid bin Hubaab yang berkata telah menceritakan kepada kami Husain bin Waaqid dari Yaziid An Nahwiy dari ‘Ikrimah dari Ibnu Abbas tentang firman Allah [Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait]. Ia berkata “turun khusus untuk istri-istri Nabi”. Dan Ikrimah berkata “barang siapa yang ingin, aku tantang bermubahalah bahwa ayat ini turun untuk istri-istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]”[Tafsir Ibnu Katsiir 6/410-411].

Riwayat ini memang disebutkan Ibnu Abi Hatiim dalam kitab tafsirnya tetapi ia tidak menyebutkan sanad lengkapnya.

من طريق عكرمة رضي الله عنه عن ابن عباس رضي الله عنهما في قوله { إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ } قال نزلت في نساء النبي صلى الله عليه وسلم خاصة وقال عكرمة رضي الله عنه من شاء بأهلته أنها نزلت في أزواج النبي صلى الله عليه وسلم

Dari jalan Ikrimah radiallahu ‘anhu dari Ibnu ‘Abbas radiallahu ‘anhuma tentang firman Allah [Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait], Ia berkata “turun khusus untuk istri-istri Nabi”. Dan Ikrimah berkata “barang siapa yang ingin, aku tantang bermubahalah bahwa ayat ini turun untuk istri-istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] [Tafsir Ibnu Abi Hatiim no 17675].

Sanad lengkap riwayat tersebut telah disebutkan oleh Ibnu Asakir dalam kitab Tarikh-nya dengan jalan sanad sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Katsiir

أخبرنا أبو القاسم بن السمرقندي أنا أبو الحسين بن النقور أنا أبو طاهر المخلص نا عبد الله بن محمد بن زياد نا علي بن حرب نا زيد بن الحباب حدثني حسين بن واقد عن زيد النحوي عن عكرمة عن ابن عباس إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت قال نزلت في أزواج النبي صلى الله عليه وسلم خاصة قال عكرمة ومن شاء باهلته أنها نزلت في نساء النبي صلى الله عليه وسلم

Telah mengabarkan kepada kami Abul Qaasim bin As Samarqandiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Abul Husain bin Naquur yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Thaahir bin Mukhallash yang berkata telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad bin Ziyaad yang berkata telah menceritakan kepada kami Aliy bin Harb yang berkata telah menceritakan kepada kami Zaid bin Hubaab yang berkata telah menceritakan kepadaku Husain bin Waaqid dari Zaid An Nahwiy dari Ikrimah dari Ibnu Abbas [Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait], Ia berkata “turun khusus untuk istri-istri Nabi”. Dan Ikrimah berkata “barang siapa yang ingin, aku tantang bermubahalah bahwa ayat ini turun untuk istri-istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] [Tarikh Ibnu Asakir 69/150]

Dalam Tarikh Ibnu Asakir [kitab yang sudah ditahqiq], nama perawi yang meriwayatkan dari Ikrimah tertulis Zaid An Nahwiy sedangkan nama perawi yang dinukil dari Ibnu Katsiir adalah Yazid An Nahwiy. Kemungkinan terjadi tashif [salah tulis] dalam penulisan nama perawi tersebut. Perawi yang dikenal meriwayatkan dari Ikrimah adalah Yaziid An Nahwiy. Atau jika tidak terjadi tashif maka Zaid An Nahwiy perawi yang meriwayatkan dari Ikrimah itu tidak dikenal.

Riwayat Ibnu Abbas ini diriwayatkan para perawi yang tsiqat atau shaduq tetapi matan riwayat tersebut mungkar. Kemungkaran riwayat Ibnu Abbas tersebut dilihat dari dua sisi

  1. Mungkar bertentangan dengan lafaz Al Qur’an
  2. Mungkar bertentangan dengan Hadis-hadis shahih

.

.

.

Bertentangan Dengan Lafaz Al Qur’an

Matan riwayat menyebutkan bahwa ayat tersebut turun khusus untuk istri-istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Penyebutan lafaz khusus bermakna tidak untuk selain yang disebutkan, karena percuma menyebutkan lafaz “khusus” kalau ternyata ayat tersebut tertuju juga untuk pribadi lain selain istri-istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Jika memang ayat tathiir khusus untuk istri-istri Nabi maka tidak mungkin lafaz kata ganti yang digunakan adalah “kum” [jama’ mudzakkar]. Lafaz jamak mudzakkar hanya digunakan sebagai kata ganti untuk merujuk jamak laki-laki atau jamak laki-laki bergabung dengan perempuan. Istri-istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] secara khusus berarti adalah jamak perempuan sehingga kata ganti yang digunakan harusnya bentuk mu’annats yaitu kunna.

Ada dua jenis bantahan soal penggunaan kata ganti “kum” dan keduanya adalah bantahan kosong yang tidak bernilai. Bantahan pertama : kata ganti kum digunakan karena masuknya Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] sebagai Sayyidul bait dalam Ayat tersebut. Jawaban ini justru menentang zhahir matan riwayat Ibnu Abbas karena dengan mengatakan demikian maka konsekuensinya adalah Ayat Tathiir tersebut sebenarnya turun ditujukan untuk Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] beserta istri-istrinya, jadi ayat tersebut sudah tidak turun khusus untuk istri-istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam].

Bantahan kedua : kata ganti “kum” digunakan karena pada dasarnya kata “ahlul bait” bersifat maskulin sehingga siapapun ahlul bait yang dimaksud maka lafaz kata gantinya akan selalu jamak mudzakkar. Dengan demikian ayat tathiir memang turun khusus untuk istri-istri Nabi dan penggunaan kata ganti kum hanya karena istri-istri Nabi disitu disebutkan dengan kata Ahlul Bait yang bersifat maskulin. Bantahan ini juga tidak bernilai karena bertentangan atau tidak sesuai dengan lafaz Ayat Al Qur’an. Perhatikan surat Al Ahzab ayat 33 dan 34 berikut

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا وَاذْكُرْنَ مَا يُتْلَى فِي بُيُوتِكُنَّ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ وَالْحِكْمَةِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ لَطِيفًا خَبِيرًا

Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui. [QS Al Ahzab : 33 & 34]

Jika memang “kum” digunakan karena ada kata ahlul bait yang bersifat maskulin maka seharusnya semua kata ganti yang ditujukan untuk istri-istri Nabi sebelum diucapkan lafaz “ahlul bait” haruslah dalam bentuk “kunna” karena kata ganti sebelum lafaz ahlul bait masih merujuk pada kata nisaa’ nabiy dan semua kata ganti yang ditujukan untuk istri-istri Nabi sesudah diucapkan lafaz “ahlul bait” haruslah dalam bentuk “kum” karena kata ganti setelah lafaz ahlul bait merujuk pada ahlul bait yang bersifat maskulin. Zhahir ayat Al Qur’an di atas justru tidak menetapkan demikian.

  1. Lafaz “liyudzhiba ‘ankum” diucapkan sebelum lafaz ahlul bait yang dikatakan maskulin. Harusnya dengan teori maskulin maka kata ganti untuk istri-istri Nabi pada lafaz “menghilangkan dari kamu” masih dalam bentuk kunna
  2. Lafaz “buyuutikunna” diucapkan setelah lafaz ahlul bait yang dikatakan maskulin. Artinya adalah “rumahmu”. Seharusnya kedudukannya sama dengan kata “wayuthahhirakum”, jika kamu [kum] yang terikat pada wayuthahhiraa merujuk pada kata ahlul bait sebelumnya yang bersifat maskulin maka kata “buyuutikunna” harusnya diucapkan dalam bentuk “buyuutikum” karena kamu yang terikat pada lafaz buyuut juga merujuk pada kata ahlul bait sebelumnya.

Zhahir ayat Al Qur’an bertentangan dengan teori kata Ahlul Bait yang bersifat maskulin. Dikatakan bahwa teori kata Ahlul Bait bersifat maskulin nampak jelas dalam Ayat Al Qur’an berikut

قَالَتْ يَا وَيْلَتَى أَأَلِدُ وَأَنَاْ عَجُوزٌ وَهَذَا بَعْلِي شَيْخًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عَجِيبٌ قَالُواْ أَتَعْجَبِينَ مِنْ أَمْرِ اللّهِ رَحْمَتُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ إِنَّهُ حَمِيدٌ مَّجِيدٌ

Istrinya [Sarah] berkata “sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak padahal aku seorang perempuan tua dan ini suamiku pun sudah dalam keadaan tua pula, sesungguhnya ini benar-benar sangat aneh. Para malaikat itu berkata “apakah kamu merasa heran terhadap ketetapan Allah, rahmat Allah dan keberkatan-Nya dicurahkan atas kamu Ahlul Bait. Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah [QS Huud : 72 & 73]

Ada yang mengatakan bahwa Ahlul Bait dalam ayat di atas adalah Istri Nabi Ibrahiim saja dan tetap digunakan kata “kum” karena ada lafaz Ahlul Bait yang bersifat maskulin. Jawaban terhadap hujjah ini adalah sebagai berikut

  1. Kalau memang demikian lantas kenapa digunakan kata Ata’jabiina yang berarti “apakah kamu merasa heran”. Bukankah orang itu mengatakan kum pada lafaz ‘alaikum adalah istri Nabi Ibrahim [Sarah] saja dan ia lah yang menunjukkan keheranannya [yang nampak dalam kalimat tersebut]. Seharusnya kalau memang teori Ahlul Bait maskulin itu memang benar maka lafaz “kamu merasa heran” dan “dicurahkan atas kamu” harus sama-sama menggunakan kata ganti mudzakkar karena keduanya merujuk pada istri Nabi Ibrahim yang pada kalimat itu disebut dengan lafaz Ahlul Bait.
  2. Seandainya pun teori kata ahlul bait maskulin itu benar maka mengapa harus memakai lafaz “kum” tidak menggunakan lafaz “ka”. Bukankah lafaz Ata’jabiina menunjukkan bahwa subyek yang heran tersebut adalah tunggal yaitu istri Nabi Ibrahim, lafaz Ahlul Bait disana jika memang hanya sebagai pengganti “istri Nabi Ibrahim” maka konsekuensinya adalah lafaz “ka” lebih tepat digunakan dibanding lafaz “kum” walaupun keduanya sama-sama maskulin

Jelas tidak mungkin ada kontradiksi dalam ayat Al Qur’an maka hakikat yang sebenarnya bukanlah demikian. Sebenarnya penggunaan lafaz ‘alaikum menunjukkan bahwa rahmat dan keberkatan itu ditujukan pada Istri Nabi ibrahiim dan Nabi Ibrahiim, karena pada saat itu keduanya berada di hadapan para Malaikat tersebut dan kelahiran Ishaaq adalah rahmat tidak hanya bagi Sarah tetapi juga bagi Ibrahiim. Jika laki-laki berkumpul bersama perempuan maka kata ganti yang digunakan bersifat jamak mudzakkar. Berbeda dengan lafaz Ata’jabiina yang hanya tertuju pada Sarah saja karena dalam zhahir ayat Al Qur’an tersebut ia sendiri lah yang menunjukkan keheranan atas ketetapan Allah SWT.

.

.

Dan yang sangat mengherankan muncul sekelompok orang yang sok tahu mengenai bahasa arab dan merasa seolah dirinya paling pintar. Ketika ada yang berhujjah [terutama orang Syi’ah] bahwa lafaz “kum” bersifat jamak mudzakkar jadi tidak mungkin khusus untuk wanita harusnya kalau khusus untuk istri Nabi menggunakan lafaz “kunna”. Mereka menuduh orang Syi’ah sebagai tidak paham bahasa arab dengan alasan kata Ahlul Bait bersifat maskulin maka siapapun yang paham bahasa arab tidak akan mempermasalahkan lafaz “kum” tersebut khusus untuk istri-istri Nabi [yang pada kalimat itu disebut dengan ahlul bait].

Kami akan menunjukkan kepada para pembaca bahwa sebagian ulama ahli tafsir dan ahli bahasa arab [dari kalangan ahlus sunnah] telah menjelaskan atau berhujjah dengan cara demikian dan menurut orang sok pintar tersebut maka para ulama tersebut tidak paham bahasa arab.

 Tafsir Ibnu Athiyyah

Tafsir Ibnu Athiyyah 7 hal 118

Ibnu Athiyyah dalam kitab tafsirnya ketika membahas tentang surat Al Ahzab ayat 33, ia mengatakan

وقالت فرقة : هي الجمهور { أهل البيت } علي وفاطمة والحسن والحسين ، وفي هذا أحاديث عن النبي صلى الله عليه وسلم ، قال أبو سعيد الخدري : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « نزلت هذه الآية في خمسة فيّ وفي علي وفاطمة والحسن والحسين » رضي الله عنهم ، ومن حجة الجمهور قوله { عنكم } و { يطهركم } بالميم ، ولو كان النساء خاصة لكان عنكن

Dan berkata golongan yaitu Jumhur bahwa [Ahlul Bait] adalah Aliy, Fathimah, Hasan dan Husain dan dalam hadis ini dari Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] Abu Sa’id Al Khudriy berkata Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “ayat ini turun untuk lima orang yaitu untuknya [Beliau] dan untuk Aliy, Fathimah, Hasan dan Husain [radiallahu ‘anhum] dan yang menjadi hujjah jumhur adalah firman-Nya [‘ankum] dan [yuthahhirakum] dengan miim, seandainya itu khusus untuk wanita maka digunakan kata ‘ankunna [Tafsir Ibnu Athiyyah 7/118]

Kitab Tafsir Ibnu Athiyyah atau yang dikenal Al Muharrar Al Wajiiz Fii Tafsiir Kitab Al ‘Aziiz ditulis oleh ‘Abdul Haaq bin Ghalib bin ‘Abdurrahman yang dikenal dengan Ibnu Athiyyah Al ‘Andalusiy. Disebutkan bahwa ia seorang yang faqiih alim dalam tafsir, ahkam, hadis, fiqih, nahwu, lughah dan syair [Ad Diibaaj Al Mazhab, Ibnu Farhuun 2/57]

 Bahr Al Muhith

Bahr Al Muhith 7 hal 224

Abu Hayyan Al Andalusiy dalam kitab tafsirnya ketika membahas surat Al Ahzab 33, ia berkata

وقول عكرمة، ومقاتل، وابن السائب: أن أهل البيت في هذه الآية مختص بزوجاته عليه السلام ليس بجيد، إذ لو كان كما قالوا، لكان التركيب: عنكن ويطهركن

Dan perkataan Ikrimah, Muqathil, dan Ibnu As Saa’ib bahwa Ahlul Bait dalam ayat ini khusus untuk istri-istri Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidaklah jayyid karena jika memang seperti yang mereka katakan maka akan digunakan lafaz ‘ankunna wa yuthahhirakunna [Tafsiir Al Bahr Al Muhiith Abu Hayyaan Al Andalusiy 7/224]

Abu Hayyaan Al Andalusiy adalah seorang Syaikh Imam Allamah Muhaddis Al Bari’ Tarjuman Al Arab dan Lisan ahli syair [Dzail Tazkirah Al Huffaaz, Abu Mahasin Al Husainiy hal 23].

 Maani Al Quran

Ma'ani Al Quran 4 hal 226

Abu Ishaq Az Zajjaaj dalam kitabnya Ma’aniy Al Qur’an ketika membahas Al Ahzab ayat 33 pada lafaz ahlul bait, ia berkata

وقيل إن أهل البيت ههنا يعنى به نساء النبي – صلى الله عليه وسلم وقيل نساء النبي – صلى الله عليه وسلم – والرجال الذين هم آله واللغة تدل على أنه للنساء والرجال جميعا لقوله ( عنكم ) بالميم ، ويطهركم ولو كان للنساء لم يجز إلا عنكن ويطهركن والدليل على هذا قوله : ( واذكرن ما يتلى في بيوتكن ) حيث أفرد النساء بالخطاب

Dan dikatakan bahwa Ahlul Bait disini adalah istri-istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan dikatakan pula bahwa adalah istri-istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan laki-laki yang termasuk keluarganya. Dan lughah [bahasa] telah menetapkan bahwasanya ia adalah wanita bersama dengan laki-laki karena firman-Nya ‘ankum dengan mim dan yuthahhirakum, seandainya ia adalah wanita [saja] maka tidak boleh selain lafaz ‘ankunna wa yuthahhirakunna. Dalil untuk ini adalah firman-Nya “dan ingatlah apa yang dibacakan di rumah-mu” disini yang diajak bicara adalah wanita saja [Ma’aniy Al Qur’an Wa I’rabihi, Abu Ishaaq Az Zajjaaj 4/226-227]

Abu Ishaq Az Zajjaaj disebutkan Adz Dzahabiy bahwa ia adalah Imam ahli Nahwu di zamannya [As Siyaar Adz Dzahabiy 14/360]. Al Khatib menyebutkan bahwa ia termasuk orang yang memiliki keutamaan, baik keyakinannya [aqidahnya] dan memiliki tulisan-tulisan yang baik tentang sya’ir [Tarikh Baghdad 6/613-614 no 3079]

Silakan orang-orang yang sok pintar itu menuduh para ulama ahli nahwu dan ahli tafsir di atas sebagai orang yang tidak paham bahasa arab. Betapa menyedihkan ketika orang-orang jahil berlagak seperti orang pintar.

.

.

Hakikatnya kata “ahli” dan “ahlul bait” bersifat umum yang zhahirnya bermakna penghuni rumah atau keluarga, dan secara umum yang namanya keluarga merupakan campuran antara laki-laki dan wanita karena sebuah keluarga hanya bisa terbentuk dari pernikahan laki-laki dan wanita dan mungkin memiliki anak laki-laki atau wanita. Oleh karena itu wajar jika dalam sebagian hadis kata ahli dan ahlul bait digantikan oleh kata ganti jamak mudzakkar karena ahli dan ahlul bait yang tertuju pada hadis tersebut adalah umum untuk keseluruhan anggota keluarga atau penghuni rumah [dimana bergabung laki-laki dan wanita].

Adapun jika lafaz ahli atau ahlul bait dalam suatu hadis atau ayat Al Qur’an ternyata merupakan kata ganti bagi anggota keluarga khusus wanita [yaitu istri] maka akan lebih tepat digunakan kata ganti mu’annats bukan mudzakkar. Berikut contoh hadisnya

حدثنا محمد بن بشار حدثنا عبد الأعلى حدثنا هشام بن أبي عبد الله عن أبي الزبير عن جابر بن عبد الله أن النبي صلى الله عليه و سلم رأى امرأة فدخل على زينب فقضى حاجته وخرج وقال إن المرأة إذا أقبلت أقبلت في صورة شيطان فإذا رأى أحدكم امرأة فأعجبته فليأت أهله فإن معها مثل الذي معها

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyaar yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdul A’laa yang berkata telah menceritakan kepada kami Hisyaam bin Abi ‘Abdullah dari Abi Zubair dari Jaabir bin ‘Abdullah bahwa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] pernah melihat seorang wanita maka Beliau mendatangi Zainab dan menunaikan hajatnya, kemudian Beliau keluar dan berkata “sesungguhnya wanita ketika datang ia datang dalam rupa syaithan maka jika salah seorang dari kalian melihat wanita kemudian terkagum dengannya maka hendaklah ia mendatangi istrinya [ahli-nya] karena apa yang ada pada dirinya [istrinya] seperti yang ada padanya [wanita tersebut] [Sunan Tirmidzi 3/464 no 1158, Tirmidzi berkata “hadis Jabir hadis shahih hasan gharib”]

Hadis di atas menggunakan lafaz ahli yang bermakna istri kemudian Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] menggunakan kata “ha” [yang bersifat mu'annats] sebagai kata ganti bagi kata ahli tersebut. Seandainya teori kata ganti ala maskulin itu benar maka dengan adanya lafaz ahli maka kata gantinya harus “hum”  [yang bersifat mudzakkar] tetapi fakta riwayat di atas tidak menunjukkan demikian.

حَدَّثَنَا الْأُوَيْسِيُّ عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ صَالِحٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ حَدَّثَنِي عُرْوَةُ وَابْنُ الْمُسَيَّبِ وَعَلْقَمَةُ بْنُ وَقَّاصٍ وَعُبَيْدُ اللَّهِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا حِينَ قَالَ لَهَا أَهْلُ الْإِفْكِ مَا قَالُوا قَالَتْ وَدَعَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ وَأُسَامَةَ بْنَ زَيْدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ حِينَ اسْتَلْبَثَ الْوَحْيُ يَسْأَلُهُمَا وَهُوَ يَسْتَشِيرُهُمَا فِي فِرَاقِ أَهْلِهِ فَأَمَّا أُسَامَةُ فَأَشَارَ بِالَّذِي يَعْلَمُ مِنْ بَرَاءَةِ أَهْلِهِ وَأَمَّا عَلِيٌّ فَقَالَ لَمْ يُضَيِّقْ اللَّهُ عَلَيْكَ وَالنِّسَاءُ سِوَاهَا كَثِيرٌ وَسَلْ الْجَارِيَةَ تَصْدُقْكَ فَقَالَ هَلْ رَأَيْتِ مِنْ شَيْءٍ يَرِيبُكِ قَالَتْ مَا رَأَيْتُ أَمْرًا أَكْثَرَ مِنْ أَنَّهَا جَارِيَةٌ حَدِيثَةُ السِّنِّ تَنَامُ عَنْ عَجِينِ أَهْلِهَا فَتَأْتِي الدَّاجِنُ فَتَأْكُلُهُ فَقَامَ عَلَى الْمِنْبَرِ فَقَالَ يَا مَعْشَرَ الْمُسْلِمِينَ مَنْ يَعْذِرُنِي مِنْ رَجُلٍ بَلَغَنِي أَذَاهُ فِي أَهْلِي وَاللَّهِ مَا عَلِمْتُ عَلَى أَهْلِي إِلَّا خَيْرًا فَذَكَرَ بَرَاءَةَ عَائِشَةَ

Telah menceritakan kepada kami Al ‘Uwaisiy ‘Abdul Aziz bin ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa’d dari Shalih dari Ibnu Syihaab yang berkata telah menceritakan kepadaku ‘Urwah, Ibnu Musayyab, ‘Alqamah bin Waqqaash, dan Ubaidillah dari ‘Aisyah [radiallahu ‘anha] ketika orang-orang yang menyebarkan berita bohong [ahlul ifkiy] berkata kepadanya apa yang telah mereka katakan. [Aisyah] berkata Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasalam] kemudian memanggil Aliy bin Abi Thalib dan Usamah bin Zaid [radiallahu ‘anhum] ketika wahyu belum turun, Beliau meminta pendapat keduanya mengenai rencana Beliau menceraikan istrinya [ahli-nya]. Maka adapun Usamah ia menyatakan sebagaimana yang ia ketahui bahwa istri Beliau [ahli-nya] terlepas dari tuduhan tersebut. Adapun Aliy mengatakan “Allah tidak akan menyusahkanmu, wanita selain dirinya masih banyak, dan tanyakanlah pada budaknya yang akan membenarkanmu”. Beliau berkata “pernahkah engkau melihat sesuatu yang meragukanmu”. [budak] berkata “aku tidak pernah melihat sesuatu selain ketika ia masih muda ketika ia ketiduran dari menjaga adonan roti keluarganya maka datanglah hewan yang memakannya”. Maka Beliau berdiri di atas mimbar dan berkata “wahai kaum muslimin siapa yang dapat memberikan alasan tentang seseorang yang gangguannya terhadap istriku [ahli-ku] telah sampai kepadaku, demi Allah tidaklah aku mengetahui tentang istriku [ahli-ku] kecuali kebaikan, maka Beliau menyebutkan bahwa Aisyah terlepas dari tuduhan tersebut [Shahih Bukhariy 9/113 no 7369]

Perhatikan hadis di atas yang menceritakan kisah “berita bohong” yang dituduhkan terhadap Ummul Mukminin Aisyah [radiallahu ‘anha]. Dalam matan hadis disebutkan lafaz dimana Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] meminta saran Usamah [radiallahu ‘anhu] dan Aliy [radiallahu ‘anhu] mengenai niat menceraikan istri Beliau. Lafaz “istrinya” yang digunakan dalam hadis ini adalah “ahli-hi”. Lafaz ahli secara zhahir bermakna keluarga, maka ahli-hi pada dasarnya bermakna keluarga Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Bukankah keluarga Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] ada banyak mencakup juga di dalamnya Aliy, Hasan dan Husain [‘alaihimus salaam].

Kalau kita berpegang pada keumuman lafaz “ahli-hi” atau mengaitkannya dengan teori kata “ahli” yang bersifat maskulin maka kata ganti bagi “ahli-hi” harus bersifat jamak mudzakkar. Hal ini bertentangan dengan matan hadis di atas. Aliy [radiallahu ‘anhu] menyebutkan lafaz

لَمْ يُضَيِّقْ اللَّهُ عَلَيْكَ وَالنِّسَاءُ سِوَاهَا كَثِيرٌ

Allah tidak akan menyusahkanmu, wanita selain dirinya masih banyak

Perhatikan lafaz “siwaaha” yang bermakna “selain dirinya” ha pada lafaz “siwaaha” tersebut adalah kata ganti bagi “ahli-hi” karena “ahli-hi” yang dimaksud dalam hadis ini bukan seluruh istri-istri Nabi, bukan keluarga Aliy, bukan keluarga Abbas [walaupun secara istilah mereka semua adalah ahli Nabi]. Ha pada lafaz “siwaha” bersifat mu’annats bukan mudzakkar dan maknanya disini merujuk pada “ahli-hi” secara khusus yaitu Aisyah [radiallahu ‘anha] karena memang Beliaulah istri Nabi yang sedang dituduh sebagian orang.

Mengapa tidak digunakan “hum” yang bersifat jamak mudzakkar padahal fungsinya disana sebagai kata ganti bagi “ahli-hi”?. Jawabannya karena memang teori kata ganti ala maskulin yang dilontarkan sebagian kaum jahil itu mengada-ada. Pada hakikatnya, kata ganti pada suatu kalimat harus memperhatikan apakah kata yang digantikan tersebut merujuk pada keumuman lafaz-nya atau khusus untuk pribadi tertentu. Jadi jika lafaz “ahli” dalam suatu kalimat merujuk pada “khusus istri Nabi” maka kata ganti bagi “ahli” tersebut harus bersifat mu’annats bukan mudzakkar.

.

.

Mungkar Bertentangan Dengan Hadis Shahih

Riwayat Ibnu Abbas di atas mungkar dari sisi bertentangan dengan hadis shahih bahwa Ayat Tathiir turun khusus untuk ahlul kisa’ dalam hal ini Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam], Ali, Fathimah, Hasan dan Husain. Ummu Salamah sebagai salah satu istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersaksi bahwa ayat tersebut turun untuk ahlul kisa’ dan ia tidak meyakini bahwa Ayat tathiir diturunkan untuknya sebagai salah satu istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam].

وأنبأنا أبو محمد عبد الله بن صالح البخاري قال حدثنا الحسن بن علي الحلواني قال حدثنا يزيد بن هارون قال حدثنا عبد الملك بن أبي سليمان عن عطاء عن أم سلمة وعن داود بن أبي عوف عن شهر بن حوشب عن أم سلمة وعن أبي ليلى الكندي عن أم سلمة رحمها الله بينما النبي صلى الله عليه وسلم في بيتي على منامة له عليها كساء خيبري إذ جاءته فاطمة رضي الله عنها ببرمة فيها خزيرة فقال لها النبي صلى الله عليه وسلم ادعي زوجك وابنيك قالت : فدعتهم فاجتمعوا على تلك البرمة يأكلون منها ، فنزلت الآية : إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا فأخذ رسول الله صلى الله عليه وسلم فضل الكساء فغشاهم مهيمه إياه ، ثم أخرج يده فقال بها نحو السماء ، فقال اللهم هؤلاء أهل بيتي وحامتي فأذهب عنهم الرجس وطهرهم تطهيرا قالت : فأدخلت رأسي في الثوب ، فقلت : رسول الله أنا معكم ؟ قال إنك إلى خير إنك إلى خير قالت : وهم خمسة : رسول الله صلى الله عليه وسلم ، وعلي ، وفاطمة ، والحسن والحسين رضي الله عنهم

Telah memberitakan kepada kami Abu Muhammad ‘Abdullah bin Shalih Al Bukhari yang berkata telah menceritakan kepada kami Hasan bin ‘Ali Al Hulwaaniy yang berkata telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Malik bin Abi Sulaiman dari Atha’ dari Ummu Salamah dan dari Dawud bin Abi ‘Auf dari Syahr bin Hawsyaab dari Ummu Salamah dan dari Abu Laila Al Kindiy dari Ummu Salamah “sesungguhnya Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] berada di rumahku di atas tempat tidur yang beralaskan kain buatan Khaibar. Kemudian datanglah Fathimah dengan membawa bubur, maka Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “panggillah suamimu dan kedua putramu”. [Ummu Salamah] berkata “kemudian ia memanggil mereka dan ketika mereka berkumpul makan bubur tersebut turunlah ayat Sesungguhnya Allah SWT berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya, maka Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengambil sisa kain tersebut dan menutupi mereka dengannya, kemudian Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengulurkan tangannya dan berkata sembari menghadap langit “ya Allah mereka adalah ahlul baitku dan kekhususanku maka hilangkanlah dosa dari mereka dan sucikanlah sesuci-sucinya. [Ummu Salamah] berkata “aku memasukkan kepalaku kedalam kain dan berkata “Rasulullah, apakah aku bersama kalian?. Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “kamu menuju kebaikan kamu menuju kebaikan. [Ummu Salamah] berkata “mereka adalah lima orang yaitu Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam], Ali, Fathimah, Hasan dan Husein raidallahu ‘anhum” [Asy Syari’ah Al Ajjuri 4/383 no 1650 sanadnya shahih]

Kisah yang disebutkan Ummu Salamah di atas menyebutkan dengan jelas bahwa Ayat Tathiir turun untuk ahlul kisa’ dimana Ummu Salamah mengatakan bahwa mereka ada lima orang yaitu Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam], Ali, Fathimah, Hasan dan Husain. Kemudian Ummu Salamah memahami bahwa pernyataan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] “kamu menuju kebaikan” adalah penolakan halus dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] untuk memasukkan dirinya [Ummu Salamah] bersama mereka dalam ayat tersebut

وحدثنا ابن أبي داود أيضا قال حدثنا سليمان بن داود المهري قال حدثنا عبد الله بن وهب قال حدثنا أبو صخر عن أبي معاوية البجلي عن سعيد بن جبير عن أبي الصهباء عن عمرة الهمدانية قالت قالت لي أم سلمة أنت عمرة ؟ قالت : قلت نعم يا أمتاه ألا تخبريني عن هذا الرجل الذي أصيب بين ظهرانينا ، فمحب وغير محب ؟ فقالت أم سلمة أنزل الله عز وجل إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا وما في البيت إلا جبريل ورسول الله صلى الله عليه وسلم وعلي وفاطمة والحسن والحسين رضي الله عنهما وأنا فقلت : يا رسول الله أنا من أهل البيت ؟ قال أنت من صالحي نسائي قالت أم سلمة : يا عمرة فلو قال نعم كان أحب إلي مما تطلع عليه الشمس وتغرب

Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Dawud yang berkata telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Dawud Al Mahriy yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Wahb yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Shakhr dari Abu Muawiyah Al Bajaliy dari Sa’id bin Jubair dari Abi Shahba’ dari ‘Amrah Al Hamdaniyah yang berkata Ummu Salamah berkata kepadaku “engkau ‘Amrah?”. Aku berkata “ya, wahai Ibu kabarkanlah kepadaku tentang laki-laki yang gugur di tengah-tengah kita, ia dicintai sebagian orang dan tidak dicintai oleh yang lain. Ummu Salamah berkata “Allah SWT menurunkan ayat Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya, dan ketika itu tidak ada di rumahku selain Jibril, Rasulullah, Ali, Fathimah, Hasan, Husein dan aku, aku berkata “wahai Rasulullah apakah aku termasuk Ahlul Bait?”. Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “engkau termasuk istriku yang shalih”. Ummu Salamah berkata “wahai ‘Amrah sekiranya Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] menjawab iya niscaya jawaban itu lebih aku sukai daripada semua yang terbentang antara timur dan barat [dunia dan seisinya] [Asy Syari’ah Al Ajjuri 4/248 no 1542, sanadnya shahih]

Ummu Salamah sebagai istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] tentu lebih mengetahui dibanding Ibnu Abbas jika memang ayat tersebut diturunkan untuknya. Maka disini bisa dikatakan bahwa riwayat Ibnu Abbas itu keliru dan kekeliruan tersebut bisa berasal dari Ibnu Abbas atau dari perawi yang meriwayatkan riwayat Ibnu Abbas tersebut. Kami pribadi lebih merajihkan bahwa yang keliru adalah perawi yang meriwayatkan hadis dari Ibnu Abbas dalam hal ini Ikrimah, dengan alasan

  1. Ikrimah telah dijarh oleh sebagian ulama dimana ada yang menyatakan bahwa ia berdusta atas nama Ibnu Abbas. Bersamaan dengan ta’dil para ulama terhadapnya maka jarh dusta disini bisa ditafsirkan sebagai kesalahan atau tidak sengaja berdusta
  2. Terdapat riwayat shahih dari Ibnu ‘Abbas bahwa ayat tathir khusus untuk ahlul kisa’ yaitu Rasulullah [shallallahu 'alaihi wasallam], Aliy, Fathimah, Hasan dan Husain

.

.

Adz Dzahabiy berkata “Ikrimah maula Ibnu Abbas shaduq hafizh ‘alim, ia telah didustakan oleh Mujahid, Ibnu Sirin dan Malik” [Man Tukullima Fiihi Wa Huwa Muwatstsaq no 246]

حدثنا عبد العزيز بن عبد الله الأويسي حدثنا إبراهيم بن سعد عن أبيه عن سعيد بن المسيب إنه كان يقول لبرد مولاه يا برد لا تكذب علي كما كذب عكرمة على ابن عباس

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Aziiz bin ‘Abdullah Al Uwaisiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibrahiim bin Sa’d dari Ayahnya dari Sa’id bin Al Musayyab yang berkata kepada maulanya “janganlah engkau berdusta atasku sebagaimana Ikrimah berdusta atas Ibnu ‘Abbas” [Ma’rifat Wal Tarikh Ya’qub Al Fasawiy 2/3 sanadnya shahih]

حدثنا بن إدريس عن فطر قال قلت لعطاء ان عكرمة يقول قال بن عباس سبق الكتاب الخفين فقال عطاء كذب عكرمة أنا رأيت بن عباس يمسح عليهما

Telah menceritakan kepada kami Ibnu Idriis dari Fithr yang berkata aku berkata kepada Atha’ bahwa Ikrimah mengatakan Ibnu ‘Abbas berkata “Al Kitab telah mendahului dalam masalah dua khuuf” maka Atha’ berkata Ikrimah berdusta, aku telah melihat Ibnu ‘Abbas mengusap keduanya [khuuf]” [Al Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 1/170 no 1951 sanadnya shahih]

Ikrimah telah dita’dilkan oleh sebagian ulama maka jarh dusta yang dimaksud disini bisa diartikan tidak sengaja berdusta atau melakukan kesalahan dalam riwayat Ibnu Abbas dan kesalahan ini dipandang oleh sebagian ulama sebagai kedustaan, wallahu ‘alam. Ahmad bin Hanbal termasuk salah satu ulama yang menta’dilkan dan berhujjah dengan Ikrimah, tetapi diriwayatkan pula bahwa ia pernah menyatakan Ikrimah mudhtharib al hadits [Aqwaal Ahmad no 1844]. Ibnu Sa’ad menukil dalam kitabnya bahwa Ikrimah banyak meriwayatkan hadis dan banyak memiliki ilmu tetapi tidak bisa dijadikan hujjah hadisnya dan orang-orang telah membicarakannya [Thabaqat Ibnu Sa'ad 7/288].

Kami lebih merajihkan pendapat yang menta’dilkan Ikrimah hanya saja memang benar bahwa ia pernah melakukan kesalahan dalam sebagian riwayat Ibnu Abbas. Dan terdapat bukti bahwa Ikrimah telah keliru dalam hadis tersebut yaitu riwayat berikut

أخبرنا أبو بكر أحمد بن جعفر بن حمدان القطيعي ببغداد من أصل كتابه ثنا عبد الله بن أحمد بن حنبل حدثني أبي ثنا يحيى بن حماد ثنا أبو عوانة ثنا أبو بلج ثنا عمرو بن ميمون قال : إني لجالس عند ابن عباس إذ أتاه تسعة رهط فقالوا : يا ابن عباس : إما أن تقوم معنا و إما أن تخلو بنا من بين هؤلاء قال : فقال ابن عباس بل أنا أقوم معكم قال و هو يومئذ صحيح قبل أن يعمى قال : فابتدؤوا فتحدثوا فلا ندري ما قالوا قال فجاء ينفض ثوبه و يقول أف و تف وقعوا في رجل له بضع عشرة فضائل ليست لأحد غيره

Telah menceritakan kepada kami Abuu Bakar Ahmad bin Ja’far bin Hamdaan Al Qathi’iy di Baghdad dari Ushul Kitab-nya yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya bin Hamaad yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Balj yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin Maimun yang berkata aku duduk di sisi Ibnu ‘Abbaas ketika datang kepadanya sembilan orang, mereka berkata “wahai Ibnu ‘Abbaas engkau pergi bersama kami atau membebaskan kami dari mereka. [‘Amru bin Maimun] berkata maka Ibnu ‘Abbaas berkata “aku akan pergi bersama kalian”. [‘Amru bin Maimun] berkata “dan ia pada hari itu masih dalam keadaan baik belum kehilangan penglihatannya”. [‘Amru bin Maimun] berkata “maka mereka mulai berbicara dan aku tidak mengetahui apa yang mereka katakan”. [‘Amru bin Maimun] berkata maka Ibnu ‘Abbas datang sambil merapikan pakaiannya dan mengatakan “Uff uff mereka telah mencela seorang laki-laki yang memiliki sepuluh keutamaan yang tidak dimiliki seorang pun selainnya”…[Al Mustadrak Ash Shahihain juz 3 no 4652, dishahihkan oleh Al Hakim dan Adz Dzahabiy]

Kemudian dalam hadis tersebut Ibnu ‘Abbas menyebutkan sepuluh keutamaan yang dimiliki Aliy bin Abi Thalib, diantara sepuluh keutamaan tersebut, Ibnu ‘Abbas menyebutkan

قال و أخذ رسول الله صلى الله عليه و سلم ثوبه فوضعه على علي و فاطمة و حسن و حسين و قال : إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت و يطهركم تطهيرا

[Ibnu ‘Abbaas] berkata “dan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengambil kain kemudian menutupi Aliy, Fathimah, Hasan dan Husain seraya berkata “Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya”. [Al Mustadrak Ash Shahihain juz 3 no 4652]

Kedudukan hadis ini shahih sebagaimana dikatakan Al Hakim dan disepakati oleh Adz Dzahabiy. Dan hadis ini menjadi hujjah bahwa di sisi Ibnu ‘Abbas ayat tathiir [Al Ahzab ayat 33] khusus untuk Ahlul Kisa’ yaitu Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam], Aliy, Fathimah, Hasan dan Husain. Sebagaimana nampak dalam lafaz perkataan Ibnu ‘Abbas bahwa keutamaan tersebut tidak dimiliki oleh selain Aliy [dan selain yang disebutkan oleh Ibnu ‘Abbaas]. Hadis ini menjadi qarinah yang menguatkan bahwa riwayat Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas yang mengatakan ayat tersebut turun khusus untuk istri-istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] adalah keliru

.

.

Kesimpulan

Riwayat Ibnu ‘Abbas yang menyatakan ayat tathiir [Al Ahzab 33] turun khusus untuk istri-istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] kedudukannya mungkar dan hal itu kemungkinan adalah kekeliruan dari Ikrimah yang meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbaas.