Author: syiahali

syiah tidak sesat

Syi’ah, Dua Pusaka Nabi

Gugatan Wahabi :

Asskum WRWB… Saya lihat negara2 Islam yg ada sekarang.., semuanya adalah budak2 Amerika dan Imperialisme.., pemimpin2nya adalah kebanyakan para koruptor., membuat ummatIslam dlm negara2 tsb menjadi bodoh dalam segala hal dan tertinggal. sehingga melahirkan kebodohan dan kemiskinan. Dan menjadi santapan empuk para misionaris agama2 lain utk memurtadkan mereka. Saya lihat hanya Iran dan kelompok2 lain di beberapa negara timteng yg dengan nyata melakukan perlawanan keras kepada Amerika, imperialisme dan zionisme. Kebetulan mereka adalah mayoritas penganut Syi’ah. saya sangat simpati dan salut pd syiah. Syi’ah adalah alternatif pergerakan yg nyata dan jelas dalam Islam, ketimbang kita memilih jadi Komunis dan ke kiri2an. saya ingin jadi Syi’ah. tolong bimbing dan beritahu saya bagaimana tuk jadi Syi’ah dan bagaimana tata cara melakukan ibadah Sy’ah. makasih Wasskum WRWB.

__________
jawaban ustad husain ardilla :

Imam Ali Ridha as. (imam Kedelapan Syi’ah) pernah berkata, “… andai manusia mengetahui keindahan ucapan-ucapan kami pasti mereka mengikuti kami.” Jadi pelajari sabda-sabda para imam Syi’ah dan renungkan makna-makna dalam yang terkandung di dalamnya.

untuk mengenal konsep keberagamaan ala Syi’ah anda coba baca buku: Dialog Sunah-Syi’ah, Dua Pusaka Nabi, Akhirnya kutemukan kebenaran dll. untuk fikih Shalat menurut Ahlulbait as. dan jangan lupa kunjungi terus situs-situs Syi’ah. ini salah satunya.

dukung blog ini.Bagus untuk pembelajaran dan menjadikan kita mau ‘berpikir’.
Memang percuma berdebat dengan Wahhabi/Salafy,abaikan saja mereka.

Alhamdulillah, kami ketemu dengan saudara seperti Anda…. Benar apa yang Anda katakan…. Jangan lupa pelajar terus menguak misteri di balik carut mawutnya pemikiran dalam Islam! Temukan jati diri Anda di dalamnya…. Ikhlaskan niat mencari kebenaran, pasti Allah membukakan pintu petunjukkan-Nya ke jalan yang Dia ridhai.

para ulama syi’ah memiliki ta’wil dan arahan yang jelas

Gugatan Wahabi :

bagaimana pendapat anda tentang kitab Fashl al-Khitab fi istbati tahrifi kitabi rabb al-arbab.… “seandainya itu semua hanya isu palsu belaka lantas kenapa riwayat2 yg ada mengenai perubahan Al Qur’an itu ada banyak sekali di kitab2 induk syiah sendiri “KITAB-KITAB EMPAT YG SAHIH”, yg kesahihannya tidak diragukan lagi dikalangan syiah dan juga di puji2 oleh semua ulama syiah”, sebagai bukti ini saya nukilkan sedikit dari kitab AL-MURAJA’AT:

ويقول عبد الحسين شرف الموسوي عن الكتب الأربعة: هي الكافي و التهذيب و الاستبصار و من لا ‏يحضره الفقيه، وهي متواترة ومضا مينها مقطوع بصحتها و الكافي أقدمها و أعظمها و أحسنها وأتقنها ( ‏المراجعات ۱۱٠ ص ٣۱۱ ، مقدمة الكافي )

Artinya :‎
Telah berkata Abdul Husain Syaraf Almausawi memuji keempat kitab ; kitab-kitab itu ‎adalah, Alkafi dan Attahzib dan Alistibshar dan Man La Yahdhuruhul Faqih ‎kitab-kitab itu adalah Mu’tawatir dan kandungannya terpasti kebenarannya dan Alkafi ‎diantaranya yang paling awal, paling agung, paling bagus dan paling sempurna ‎‎(Al-muraja’at 110 hal. 311).‎

jika anda berkenan untuk membimbing saya menunjukkan riwayat2 perubahan Al Qur’an yang ada dikitab2 Ahlussunnah?.

Pertama2 saya ingin menunjukkan bagaimana pandangan ulama2 syiah mengenai “KITAB-KITAB EMPAT YG SAHIH” itu!, sungguh bertolak belakang dengan yg anda katakan bahwa kitab2 itu tidak dipandang oleh ulama2 syiah!, dan hanya pihak Ahl Assunnah saja yg meyakini kesahihannya!, coba anda perhatikan riwayat2 berikut ini:

Pertama:
ALKAFI, yang dikarang oleh: Abuja’far Muhammad Bin Ya’kub Bin Ishaq Alkulaini, ‎berasal dari Kulain, satu desa di Iran, meninggal pada tahun 329 H di Baghdad, ‎berisikan 16199 Hadits (lihat pengertian Hadits, dikalangan Syiah) Kitab Alkafi tersebut ‎dipuji setinggi; langit oleh ulama syiah seperti berikut:‎

قال الشيخ المفيد : الكافي و هو من اجّل كتب الشيعة و اكثرها فا ئدة ( تصحيح الاعتقاد ص ٢٧ )‏

Artinya :‎
Telah berkata Assyaikh Almufid: Alkafi adalah dari bilangan kitab-kitab syiah yang ‎termulya dan paling banyak faedah (Tashihul-I’tiqad hal 27)‎

وقال المحقق علي بن العالي الكركي ، في اجازته للقاضي صفي الدين عيسى: الكتاب الكبير في الحديث ، ‏المسمى بالكافي ، الذي لم يعمل مثله….وقد جمع هذا الكتاب من الأحاديث الشرعية و الأسرار الدينية ما ‏لايوجد في غيره (بحار الأنوار ج ٢٥ ص ٦٧)‏

Artinya‏ ‏‎:‎
Telah berkata Almuhaqiq Ali Bin Abdil-Ali Alkarki dikala memberi ijazah pengukuhan ‎kepada Algadhi Shafiyyiddin Isaa ; kitab yang besar dalam Hadits, yang bernama ‎Alkafi, yang tidak pernah dibuat sepertinya, kitab ini telah menghimpun dari syareat ‎dan rahasia-rahasia agama yang tidak terdapat di kitab yang lain (Biharulanwar 25 hal. ‎‎67).‎

وقال الفيض الصافي: الكافي….اشرفها و اوثقها و اتمها و اجمعها؛ لاشتماله على الأصول من بينها، وخلوه ‏من الفضول و شينها ( الوافي ج ۱ ص ٦ طبعة طهران ۱٣٢٤ )‏

Artinya‏ ‏‎:‎
Telah berkata Alfaidh: ALKAFI …. yang termulya, yang terbenar, tersempurna dan ‎terlengkap diantara yang lain, dan kosongnya dari kecerobohan dan keburukan (Alwafi ‎‎1 hal 6 cetakan Teheran 1324 H)‎

وقال المجلسي: كتاب الكافي…أضبط الأصول واجمعها، واحسن مؤلفات الفرقة الناجية و أعظمها (مرأة ‏العقول ج ۱ ص ٣ )‏

Artinya :‎
Telah berkata Almajlisi: ALKAFI …. ushul yang paling jitu dan sempurna, dan yang ‎paling baik dan paling agung diantara kitab-kitab karangan Firgah yang selamat ‎‎(Mir’atuluqul 1 hal. 3)‎

وقال المولى محمد أمين الاسترابادي في الفوائد المدنية: وقد سمعنا عن مشائخنا و علمائنا أنه لم يصنف في ‏الاسلام كتاب يوازيه أو يدانيه ( مستدرك الوسائل ج ٣ ص ٥٣٢ )‏

Artinya :‎
Telah berkata Almawla Muhammad Amin Alistarabadi di kitab Alfawaid Almadaniyah ‎kami telah mendengar dari masyaikh-masyaikh (guru-guru) dan ulama-ulama kami, ‎bahwa tidak pernah dibuat dalam Islam kitab yang dapat menyamai atau ‎menandinginya (Mustadrak Alwasail 3 hal. 532).‎

وقيل فيه : هو أجل الكتب الاربعة، الأصول المعتمدة عليها لم يكتب مثله في المنقول من آل الرسول، لثقة ‏الاسلام محمد بن يعقوب الكليني الرازي المتوفي سنة ٣٢٨ ( الذريعة الى تصانيف الشيعة ۱٧ ص ٢٤٥ )‏

Artinya :‎
Dia kitab yang termulya diantara keempat kitab, ushul yang menjadi panutan, tidak ‎pernah ditulis sepertinya dari yang ternukil dari keluarga Rasul, yang ditulis oleh ‎kepercayaan Islam, Muhammad Bin Ya’kub Alkulaini Arrazi yang meninggal tahun 328 H ‎‎(Adzzari’ah Ila Tasanif Assyiah, Agha Bazrak Attahrani 17 hal. 245).‎

وقال حسين علي المقدم عن الكافي: يعتقد بعض العلمأ أنه عرض على القائم صلواة الله عليه فاستحسنه ‏وقال: كاف لشيعتنا ( مقدمة الكافي )‏

Artinya :‎
Telah berkata Husin Ali Almuqaddam : sebagian dari ulama (syiah) percaya bahwa dia ‎‎(Alkafi) dipersembahkan kepada Alqaim (Imam mereka yang gaib) salawat Allah Alaihi; ‎dimana menyenangkannya dan berkata cukup (kitab ini) untuk syiah kami ‎‎(Pendahuluan Alkafi hal. 25). Perhatikan, arti “Alkafi” adalah “yang cukup”‎

ويقول عبد الحسين شرف الموسوي عن الكتب الأربعة: هي الكافي و التهذيب و الاستبصار و من لا ‏يحضره الفقيه، وهي متواترة ومضا مينها مقطوع بصحتها و الكافي أقدمها و أعظمها و أحسنها وأتقنها ( ‏المراجعات ۱۱٠ ص ٣۱۱ ، مقدمة الكافي )‏

Artinya :‎
Telah berkata Abdul Husain Syaraf Almausawi memuji keempat kitab ; kitab-kitab itu ‎adalah, Alkafi dan Attahzib dan Alistibshar dan Man La Yahdhuruhul Faqih ‎kitab-kitab itu adalah Mu’tawatir dan kandungannya terpasti kebenarannya dan Alkafi ‎diantaranya yang paling awal, paling agung, paling bagus dan paling sempurna ‎‎(Almurajaat 110 hal. 311).‎
Apa yang tersebut di atas adalah pujian ulama syiah terhadap kitab Alkafi yang tidak ‎perlu dikomentari lagi. Sekarang pujian mereka terhadap Alkulaini pengarang kitab ‎Alkafi itu.‎

قال النجاشي : شيخ أصحابنا في وقته بألري، و وجههم وكان أوثق الناس في الحديث و أثبتهم ( الرجال ‏للنجاشي ص ٢٦٦ )‏

Artinya :‎
Telah berkata Annajasi : (dia adalah) syaikh (guru) kawan-kawan kami pada zamannya ‎di negeri Array, dan pemuka mereka, dia adalah yang paling dapat dipercaya diantara ‎manusia dalam soal hadits dan paling pasti kebenarannya diantara mereka (Kitab Arrijal ‎hal. 266).‎

وقال السيد رضي الدين ابن طاؤس : الشيخ المتفق على ثقته و امانته محمد بن يعقوب الكليني ( كشف ‏المحجة ۱٥٨ )‏

Artinya :‎
Telah berkata Assayyid Radhiyuddin Ibin Thawus ; dialah syaikh yang disepakati (ulama ‎syiah) kebenarannya dan amanatnya, ialah : Muhammad Bin Ya’qub Alkulaini ‎‎(Kasyfulmahajjah hal. 158).

Kedua :
MAN LA YAHDHURUHUL FAQIH dikarang oleh tokoh Syiah Abi Ja’far Assaduq, ‎Muhammad Bin Ali Bin Alhusain Bin Musa Bin Babawaih Alqummi, meninggal tahun 381 ‎H, terdiri dari 6593 Hadits ; berkata Muhammad Shodiq Asshadr memujinya : ini adalah ‎sumber kedua bagi Assyi’ah, dan berkata : tokoh kami Assaduq telah mencapai satu ‎kedudukan yang mulia dizamannya yang tidak pernah dicapai oleh orang lain, dan ‎merupakan orang yang pertama mendapat gelar ASSADUQ (yang benar) dimana gelar ‎itu khusus baginya, dimana dengan gelar itu langsung orang mengenalnya, gelar itu ‎didapat karena kepastiannya dalam meriwayatkan, serta kekuatan hafalannya dan
ketelitiannya (Assyi’ah hlm. 124).‎

Ketiga
ATTAHDZIB, oleh tokoh ulama syiah, Abi Ja’far Muhammad Bin Alhasan Ali Atthusi, ‎meninggal tahun 460 H. , kitab ini merupakan ketiga bagi syiah mencakup ‎‎13590 hadits.‎
Telah disebutkan tentang kitab ini : Ia merupakan bekal bagi seorang faqih tentang apa ‎yang diminta dari riwayat-riwayat hukum pada umumnya yang tidak dapat dipenuhi ‎oleh selainnya. (Assyiah him. 125 – 126).

Adapun mengenai tegas tidaknya riwayat2 yg berhubungan‎ dgn tahrif tersebut dan arahan2 para ulama syiah, coba anda perhatikan berikut ini:

‎1. Telah berkata ulama Syiah ahli tafsir Alkasyi dalam buku tafsirnya “Asshafi fi syarhil ‎kafi fil ushul …. hal. 14″ :‎
Adapun iqtiqad tokoh-tokoh ulama kami Rahimahumullah dalam soal itu (perubahan ‎dalam Al Qur’an), maka yang jelas dari Kepercayaan Islam Muhammad Bin Ya’kub ‎Alkulaini, sejahtera tempat semayamnya , bahwa dia beritiqad (percaya) adanya ‎perubahan dan pengurangan dalam Al Qur’an, karena dia (Alkulaini) meriwayatkan ‎riwayat-riwayat dengan pengertian ini dalam kitabnya ALKAFI, dan tidak pernah ada ‎yang membantahnya, dimana Alkulaini dalam pendahuluan kitabnya menyebutkan ‎bahwa dia percaya kepada apa yang diriwayatkan dalam kitabnya itu, begitu juga ‎gurunya Alkulaini, Ali Bin Ibrahim Alqummi, penuh dengan kepercayaan itu malah ‎melebihi, begitu juga ulama Assyaikh Ahmad Bin Abi Tholib Attibrisi, disucikan ‎jiwanya, mengikuti mereka berdua dalam kitabnya “ALIHTIJAJ”.‎

‎2.‎ Telah berkata Ahli hadits Syiah Almajlisi dalam kitabnya, Hayatul Qulub juz 2 hal. ‎‎541.‎
Di Haji Wada’ Rasulullah bersabda : sesungguhnya Ali Bin Abi Tholib Waliku, dan ‎Washiku dan Khalifahku sesudah Aku, tetapi sahabatnya meneladani perbuatan ‎kaumnnya Musa, dan mengikuti berhala ummat ini dan samirinya, yang saya ‎maksud, Abu Bakar dan Umar, dimana orang-orang munafiq itu merampas ‎Khilafahnya Rasulullah dari Khalifahnya (Ali Bin Abi Tholib), dan melampaui itu ‎kepada Khalifahnya Allah, ialah Kitab yang Allah turunkan, mereka rubah dan mereka ‎rusak, dan mereka buat sesuka selera mereka.‎

‎3. Telah berkata ahli hadits Syiah, Mulla Baqir Almajlisi dalam kitabnya ‎‎”MIRATUL UQUL” dalam mensyarah bab : tiada siapa-siapa terkecuali para imam ‎yang menghimpun Al Qur’an lengkap.‎
Tidaklah samar lagi bahwa khabar ini dan banyak lagi khabar yang sah dan nyata ‎adanya kekurangan dalam Al Qur’an dan perubahannya, dan saya mempunyai ‎banyak khabar dalam hal ini yang mu’tawatir ma’nanya (Fashlull Khitab Hal. 252).‎

‎4.‎ Dan berkata Albahrani ahli tafsir Syiah yang masyhur dalam muqadimah tafsirnya ‎‎(Alburhan hal. 36)‎
Ketahuilah, bahwa kebenaran yang orang tidak dapat mengelak dari padanya, ‎menurut khabar-khabar yang mu’tawatir yang ini maupun yang lain, bahwa Al Qur’an ‎yang ada ini, telah terjadi padanya sesudah Rasulillah wafat, perubahan-perubahan, ‎dan banyak kalimat maupun ayat telah dibuang dari padanya oleh penghimpunnya; ‎sedangkan Al Qur’an yang sempurna yang sesuai dengan apa yang Allah turunkan ‎adalah yang dihimpun oleh Ali Alaihissalam, turun-temurun sampai kepada Alqaim ‎alaihissalam, (Imam yang gaib) dimana Al Qur’an itu sekarang ada padanya Selawat ‎Allah atasnya.‎

‎5. Dan di halaman 49 dari muqaddimah tafsirnya itu, ia menambah : buat saya jelas ‎kebenaran riwayat-riwayat itu, yaitu riwayat perombakan dan perubahan Al Qur’an ‎setelah mengikut khabar-khabar, dimana itu menjadi satu kepastian hukum dan ‎kelaziman mazhab Syiah, perubahan-perubahan mana menjadi biang keladi ‎perampasan Khilafah, maka perhatikanlah.‎

Saya cukupkan 5 aja mengingat ruang dan waktu, sebenarnya masih banyak lagi riwayat2 lainnya!.

Wassalam.

sebelum dan sesudahnya saya ucapkan terima kasih.
wassalam.

__________________
Jawaban Ustda Husain Ardilla:

Salam ya Abdallah, wahai Hamba Allah yang budiman.

mayoritas ulama Syi’ah mengatakan tidak semua hadis kitab empat itu sahih.

Pertama perlu saya katakan bahwa empat kitab hadis standar Syi’ah itu tidak dipandang oleh para ulama mereka sebagai semua isinya dan riwayat yang terkandung di dalamnya adalah shahih seperti mayoritas ulama saudara-saudara kita Ahlusunnah meyakininya. (lebih lanjut saya persilahkan merujuk buku SABDA ILMU; ALI UMAR, TERBITAN AL HUDA).

selain itu kebanyakan riwayat-riwayat itu tidak sharih (tegas) menunjukkan tahrif, karenanya para ulama syi’ah memiliki ta’wil dan arahan yang jelas tentangnya.

Kitab Fashlu al Khithab adalah karya Syeikh Nuri Thabarsi (seorang muhaddis Syi’ah) dalam kitab tersebut ia menyimpulkan berdasarkan riwayat-riwayat yang ia himpun dari sumber-sumber tertentu baik Syiah maupun Sunni (yang banyak darinya dipertanyakan oleh para ulama Syi’ah sendiri) bahwa Al Qur’an telah mengalami perubahan.

Apa yang dilakukan Syeikh Nuri telah bertentangan dengan para ulama Syi’ah sendiri sejak zaman Syeikh Shaduq sampai sekarang. Telah banyak kitab dan komentar ulama Syi’ah yang menyalahkan Syeikh Nuri. Ia terjebak dalam jeratan riwayat-riwayat yang belum ia seleksi. Mudah-mudahan dalam kesempatan lain saya berkesempatan membicarakan masalah ini lebih detail lagi.

Tetapi yang harus dipahami di sini bahwa tidak benar seseorang menuduh Syi’ah meyakini tahrif dengan dasar kerena seorang ulama Syi’ah telah mengarang buku dan meyakini tahrif!! Sebab ternyata di kalangan ulama Ahlusunnuah juga ada ulama yang bernama al-Khathib (seorang ulama Mesir) menulis buku dengan judul al-Furqan di dalamnya ia membuktikan bahwa Al Qur’an telah mengalami tahrif…. kenyataan ini saya sampaikan bukan dengan tujuan membela mazhab Syia’h dan menuduh Ahllusunnah!

Pendapat para mujtahidin mayoritas syi’ah di setiap zaman juga tegas tentang keselamatan Alqur’an dari pengurangan apalagi penambahan pada ayat-ayat Alqur’an.

tentang riwayat adanya tahrif Alqur’an dalam kitab-kitab Ahlusunnah, saya persilahkan anda membaca Shahih Bukhari, di antarnya:

Riwayat 1:

حدثنا يوسف بن موسى: حدثنا أبو أسامة: حدثنا الأعمش: حدثنا عمرو ابن مرة، عن سعيد بن جبير، عن ابن عباس رضي الله عنهما قال
لما نزلت: {وأنذر عشيرتك الأقربين}. ورهطك منهم المخلصين، خرج رسول الله صلى الله عليه وسلم حتى صعد الصفا، فهتف: (يا صباحاه). فقالوا: من هذا، فاجتمعوا إليه، فقال: (أرأيتم إن أخبرتكم أن خيلا تخرج من سفح هذا الجبل، أكنتم مصدقي). قالوا: ما جربنا عليك كذبا، قال: (فإني نذير لكم بين يدي عذاب شديد). قال أبو لهب: تبا لك، ما جمعتنا إلا لهذا، ثم قام. فنزلت: {تبت يدا أبي لهب وتب}. وقد تب. هكذا قرأها الأعمش يومئذ.

Dalam riwayat itu terdapat tambahan ورهطك منهم المخلصين، pada ayat وأنذر عشيرتك الأقربين. walaupun para ulama memberikan tasfiran lain tentangnya, dan tafsirna mereka itu harus kita hormati.

Riwayat 2:

حدثنا قبيصة بن عقبة: حدثنا سفيان، عن الأعمش، عن إبراهيم، عن علقمة قال
دخلت في نفر من أصحاب عبد الله الشأم، فسمع بنا أبو الدرداء فأتانا، فقال: أفيكم من يقرأ؟ فقلنا نعم. قال: فأيكم أقرأ؟ فأشاروا إلي، فقال: اقرأ، فقرأت: {والليل إذا يغشى. والنهار إذا تجلى. والذكر والأنثى}. قال: أنت سمعتها من في صاحبك؟ قلت: نعم، قال: وأنا سمعتها من في النبي صلى الله عليه وسلم، وهؤلاء يأبون علينا.

dalam riwayat di atas bacaan ayat tersebut berubah dari yang ada dalam Mush-haf kita sekarang:والليل إذا يغشى. والنهار إذا تجلى. والذكر والأنثى. coba anda bandingkan sendiri. yang ada dalam mush-haf adalah وما خلق الذكر والأنثى

Riwayat 3:

Sama dengan sebelumnya:

حدثنا عمر: حدثنا أبي: حدثنا الأعمش، عن إبراهيم قال
قدم أصحاب عبد الله على أبي الدرداء، فطلبهم فوجدهم، فقال: أيكم يقرأ على قراءة عبد الله؟ قال: كلنا، قال: فأيكم أحفظ؟ فأشاروا إلى علقمة، قال: كيف سمعته يقرأ: {والليل إذا يغشى}. قال علقمة: {والذكر والأنثى}. قال: أشهد أني سمعت النبي صلى الله عليه وسلم يقرأ هكذا، وهؤلاء يريدونني على أن أقرأ: {وما خلق الذكر والأنثى}. والله لا أتابعهم.

sementara saya cukupkan sekian dulu

Wa alaikum salam akhi Abdallah (hamba Allah).
Senang bertemu kembali.

Tentang komentar anda yang panjang lebar sampai menyerupai artikel di atas, ada beberapa catatan yang perlu saya sampiakan:

1) Tidak kami ragukan bahwa para ulama kami telah memuji keunggulan kitab al Kafi dan 3 kitab hadis lainnya. tetapi pujian itu tidak meniscayakan bahwa mereka meyakini kesahihan seluruh isinya kecuali jika menegaskan hal itu. sementara mayoritas ulama mengatakan bahwa al Kafi kendati sangat agung tidak berarti seluruh isinya shahih dan dapat dijadikan hujjah!

Keterangan lebih lanjut dapat anda baca langsung (bukan dari sumber kedua, apalagi dari musuh-musuh Syi’ah- maaf, sebab sering begitu yang terjadi-) ke buku-buku ulama Syi’ah. Memang ada beberapa di antara ulama Syi’ah yang meyakini kesahihan seluruh hadis al Kafi, tetapi pendapat itu tidak mewakili mazhab, ia hanya mewaliki diri mereka sendiri, dan itu adalah hak ijtihad mereka.

2) Pada beberapa kutipan yang anda sebutkan terdapat kejanggalan, minimal buat kami, seperti di mana anda menyebut:

وقال حسين علي المقدم عن الكافي: يعتقد بعض العلمأ أنه عرض على القائم صلواة الله عليه فاستحسنه ‏وقال: كاف لشيعتنا ( مقدمة الكافي )‏

Artinya :‎
Telah berkata Husin Ali Almuqaddam : sebagian dari ulama (syiah) percaya bahwa dia ‎‎(Alkafi) dipersembahkan kepada Alqaim (Imam mereka yang gaib) salawat Allah Alaihi; ‎dimana menyenangkannya dan berkata cukup (kitab ini) untuk syiah kami ‎‎(Pendahuluan Alkafi hal. 25).

di muqaddimah al kafi yang mana? dan nama Husain Ali anda sifati dengan al Mugaddam, siapa sejati orang itu? Padahal kata itu adalah menerangkan bahwa si Husain Ali itu adalah pemberi mukaddimah kitab Al Kafi. Jadi untuk ringkasnya tolong anda sebutkan kitab yang anda sebut dengan nama مقدمة الكافي )‏ ) -pendahuluan Alkafi- itu cetakan penerbit nama? kalau perlu anda seken bira para pengunjung tahu?

dan seperti : ( ‏المراجعات ۱۱٠ ص ٣۱۱ ، مقدمة الكافي )!
Sementara itu saja dulu.

Masalah kedua: Tentang adanya tahrif, anda membawakan beberapa komentar ulama Syi’ah yang anda anggap menegaskan kayakinan itu. di sini perlua kami katakan.

A) Apakah anda pernah membaca ketegasan keterangan para mujtahidin Syiah di sepanjang zaman yang menolak dengan keras anggapan seperti itu?!

B) Bebarapa pernyataan/hadis yang anda anggap menegaskan makna tahrif seperti:

Telah berkata ahli hadits Syiah, Mulla Baqir Almajlisi dalam kitabnya ‎‎”MIRATUL UQUL” dalam mensyarah bab tiada siapa-siapa terkecuali para imam ‎yang menghimpun Al Qur’an lengkap.‎

Tidaklah samar lagi bahwa khabar ini dan banyak lagi khabar yang sah dan nyata ‎adanya kekurangan dalam Al Qur’an dan perubahannya, dan saya mempunyai ‎banyak khabar dalam hal ini yang mu’tawatir ma’nanya (Fashlull Khitab Hal. 252).

hadis seperti itu ternyata ada juga dalam riwayat yang dishahihkan ulama Ahlusnnah, apa itu berarti Ahlusunnah meyakini tahrif??? disamping di sini ada sebuah kejanggalan, anda merujuk kitab “MIRATUL UQUL” sementara sumber yang anda sebutkan adalah kitab Fashlull Khitab Hal. 252!! Apakah anda merujuk melalui sumber tangan kedua?! Semoga tidak!

C) Apa anda tidak merasa perlu merujuk ketarangan ulama Syi’ah tentang makna kata tahrif yang termuat dalam hadis-hadis itu?

saya hanya akan mengingatkan, bahwa dalam kitab-kitab hadis Shahih standar Ahlusunnah juga terdapat banyak hadis tahrif, sebagiannya telah saya sebutkan, dan kami minta anda menjelaskan sikap ulama Ahlulsunnah tentangnya, tapi anda tidak menjawabnya sedikitpun! Jadi saya tunggu komentar anda tentangnya.

Dan akhirnya saya, persilahkan siapaun yang ingin mencari kebenaran tentang masalah ini untuk merujuk langsung kitab-kitab ulama Syi’ah, di nataranya adalah tafsir Al Bayan, karya Al marja’ al A’la (pimpinan tertinggi Syi’ah) Sayyid Abul Qasim al Khu’i (rahimahullahu) dan tafsir Al Mizan karya Allamah Sayyid M.H Thabathaba’i dan I’lamul Khalaf biman Qala mi at tahrif min as salaf dan buku-buku lainnya, pasti anda mendapatkan ketaranag memuaskan tentangnya.

Foto Tentara Iran Shalat dan berdo’a Dalam Perang Irak vs Iran 1980 – 1988

Inggris persenjatai Saddam Hussein saat perang dengan Iran

Sejumlah dokumen rahasia telah mengungkapkan bahwa pemerintah Inggris diam-diam memasok peralatan militer untuk rezim mantan diktator Irak, Saddam Hussein, selama perang saudara yang berlangsung delapan tahun terhadap Iran.

Meskipun pemerintah London telah berulang kali membantah tuduhan bahwa negaranya membantu Saddam Hussein dalam perang yang dipaksakan terhadap Iran selama delapan tahun. London bersikeras bahwa dirinya netral. Sementara itu, dokumen-dokumen tersebut menunjukkan bahwa mantan Perdana Menteri Inggris, Margaret Thatcher, menyediakan 78 jenis peralatan militer untuk Irak.

Terbongkarnya dokumen ini menjadi pukulan keras bagi pemerintahan Inggris dan semakin memperjelas bahwa Inggris bersikap munafik karena sembari mengirimkan senjata ke Irak, negara ini menandatangani resolusi Dewan Keamanan PBB 479 yang diadopsi pada tanggal 28 September 1980. Resolusi ini menyerukan kepada semua negara anggota DK PBB “untuk menahan diri dari setiap tindakan yang dapat menyebabkan eskalasi lebih lanjut dan pelebaran konflik.”

Rezim Irak menginvasi Iran pada tanggal 22 September 1980 dan, dibantu oleh kekuatan hegemonik Barat, berusaha menyusun taktik brutal itu bisa mendapatkan kekuasaan.

Irak menggunakan senjata kimia terhadap warga sipil Iran dan menewaskan ribuan orang. Jumlah korban diperkirakan lebih dari 100.000 orang dengan 20.000 orang merupakan tentara Iran.

Selama perang 8 tahun yang dikenakan terhadap Iran, Inggris bertekad untuk meningkatkan perekonomian dengan memasok Saddam dengan peralatan perang yang kemudian memaksa Saddam untuk diadili karena kejahatan perang yang dilakukannya.

Dalam sebuah surat rahasia untuk Thatcher pada Maret 1981, seorang menteri menulis bahwa kontrak dengan Irak mencapai lebih dari USD 150 juta dalam enam bulan terakhir (selama 1981). Selanjutnya, surat itu menceritakan pertemuan dengan Saddam yang digambarkan sebagai “langkah maju yang signifikan dalam membangun hubungan kerja sama dengan Irak, yang disinyalir akan menghasilkan manfaat politik yang besar.”

Thatcher mengatakan melalui surat dengan tulisan tangan itu bahwa ia “sangat senang”. Kemudian Thatcher memerintahkan penggunaan kekuatan mematikan untuk mengepung kedubes Iran di London pada tahun 1980.

Selanjutnya, keputusan Thatcher untuk melakukan penjualan senjata pada rezim Irak menjadi bumerang di Inggris pada tahun 1990 ketika Irak menginvasi Kuwait dan Inggris menemukan dirinya berperang dengan negara yang telah dipersenjatainya.

Sementara itu, Arab Saudi di saat perang Iran-Irak selama delapan tahun mendukung penuh Saddam Husein, sang diktator Irak

.

Perang Iran-Irak

Perang Iran-Iraq
Chemical weapon1.jpg
Prajurit Iran dengan masker gas di medan pertempuran.
Tanggal 22 September 198020 Agustus 1988
Lokasi Teluk Persia, Perbatasan Iran-Iraq
Hasil Jalan buntu; Kegagalan strategis Iraq; Kegagalan taktis Iran; Gencatan senjata dengan mandat PBB; status quo ante bellum; Pengutukan kepada Iraq oleh PBB; Iran temporarily holds onto the Shatt al-Arab waterway
Casus belli Perselisihan jalur air Syath al-Arab; Perselisihan batas historis dan teritorial; Ketakutan rejim Ba’ath Irak terhadap ancaman Iran; Ketakutan terhadap kebangkitan Syi’ah di selatan Irak karena Revolusi Islam Iran tahun 1979.
Perubahan wilayah Kedua pihak kembali ke batas sebelum perang
Pihak yang terlibat
 Iran
Flag of Kurdistan.svg Persatuan Patriot Kurdistan
Bendera Irak Irak
Mojahedin Khalgh - Logo.gif Mujahidin Rakyat Iran
Komandan
Bendera Iran Ruhollah Khomeini
Bendera Iran Hashemi Rafsanjani
Bendera Iran Ali Shamkhani
Bendera Iran Mustafa Chamran
Bendera Irak Saddam Hussein
Bendera Irak Ali Hassan al-Majid
Kekuatan
305.000 prajurit
500.000 Pasdaran dan Milisi Basij
900 tank
1.000 kendaraan berat
3.000 artileri
470 pesawat
750 helikopter[1]
190.000 prajurit
5.000 tank
4.000 kendaraan berat
7.330 artileri
500+ pesawat,
100+ helikopter[2]
Jumlah korban
Est. 500,000-750,000 prajurit/milisi/sipil terbunuh atau luka Est. 375,000-500,000 prajurit/milisi/sipil terbunuh atau luka
Perang Iran-Irak

Perang Iran-Irak juga dikenali sebagai Pertahanan Suci dan Perang Revolusi Iran di Iran, dan Qadisiyyah Saddam (قادسيّة صدّام, Qādisiyyat Saddām) di Irak, adalah perang di antara Irak dan Iran yang bermula pada bulan September 1980 dan berakhir pada bulan Agustus 1988. Umumnya, perang ini dikenali sebagai Perang Teluk Persia sehingga Konflik Iraq-Kuwait meletus pada awal 1990-an, dan untuk beberapa waktu dikenali sebagai Perang Teluk Persia Pertama.

Peperangan ini bermula ketika pasukan Irak menerobos perbatasan Iran pada 22 September 1980 akibat masalah perbatasan yang berlarut-larut antara kedua negara dan juga kekhawatiran Saddam Hussein atas perlawanan Syiah yang dibawa oleh Imam Khomeini dalam Revolusi Iran. Walaupun Irak tidak mengeluarkan pernyataan perang, tentaranya gagal dalam misi mereka di Iran dan akhirnya serangan mereka dapat dipukul mundur Iran. Walaupun PBB meminta adanya gencatan senjata, pertempuran tetap berlanjut sampai tanggal 20 Agustus 1988; Pertukaran tawanan terakhir antara kedua negara ini terjadi pada tahun 2003. Perang ini telah mengubah wilayah dan situasi politik global.

Perang ini juga memiliki kemiripan seperti Perang Dunia I. Taktik yang digunakan seperti pertahanan parit, pos-pos pertahanan senapan mesin, serangan dengan bayonet, penggunaan kawat berduri, gelombang serangan manusia serta penggunaan senjata kimia(seperti gas mustard) secara besar-besaran oleh tentara Irak untuk membunuh pasukan Iran dan juga penduduk sipilnya, seperti yang dialami juga oleh warga suku Kurdi di utara Irak. Dalam perang ini dipercaya lebih dari satu juta tentara serta warga sipil Irak dan Iran tewas, dan lebih banyak lagi korban yang terluka dari kedua belah pihak selama pertempuran berlangsung.

Walaupun perang Iran-Irak yang dimulai dari tahun 1980-1988 merupakan perang yang terjadi di wilayah Teluk Persia, akar dari masalah ini sebenarnya dimulai lebih dari berabad-abad silam. Berlarut-larutnya permusuhan yang terjadi antara kerajaan Mesopotamia(terletak di lembah sungai Tigris-Eufrat, yang kini menjadi sebuah negara Irak modern) dengan kerajaan Persia atau negara Iran modern

.

Perang Irak-Iran Meletus

Perang Irak -Iran meletus pada tanggal 22 September 1980.

Perang Iran-Irak 1980-1988

Perang terbuka akhirnya meletus antara Irak dan Iran, pada tanggal 22 September 1980.Sebelumnya selama tiga minggu telah terjadi pertempuran di perbatasan kedua negara. Irak mengebom pesawat-pesawat Iran dan pangkalan logistik Iran termasuk Bandara Internasional Tehran.

Meningkatnya ketegangan hubungan kedua negara dimulai, ketika Irak pada tahun 1975 melanggar perjanjian perbatasan dengan Iran, terkait kedaulatan sungai Shatt al-Arab yang mengalir di perbatasan kedua negara.

Sedangkan pejabat Irak mengatakan bahwa Iran menyerang instalasi ekonomi Irak di sungai Shatt al-Arab. Laporan lain mengatakan Iran menembak cadangan minyak Irak di wilayah Basra, selatan Irak, dan membakarnya

Bagian selatan dari sungai Shatt al-Arab membentuk bagian dari perbatasan kedua negara, kemudian menuju ke Teluk,  merupakan jalur pasokan utama minyak menuju Barat.

Perang Irak – Iran ini berlangsung selama delapan tahun, dan berakhir dengan gencatan senjata dibawah payung PBB, pada 20 Agustus 1988

.

Imam Ali dan Dua Khalifah

Salamun Alaikum wa rahmatollah. Bismillahi Taala

Video berikut merupakan sambungan dari post sebelum ini, tentang kesahihan Imamah Ali(a). Jelas, Rasul(s) telah menggunakan segala jenis perkataan yang merujuk kepada kepimpinan Imam Ali dan Ahlulbait(a), bukan semata-mata mencintai mereka. Selamat menonton. Mulakan dengan nama Allah dan solawat kepada Rasul dan Ahlulbaitnya.

Video: Siapakah Khulafa Ar Rashidin

Salam alaikum wa rahmatollah. Bismillahi Taala.

Dengan lafaz nama Tuhan yang maha Agung dan solawat kepada Nabi dan keluarganya, selamat menonton video berkaitan Khalifah Ar Rasyidin yang sebenar.

Takhrij Hadis Tutuplah Pintu Masjid Kecuali Pintu Ali

Takhrij Hadis Tutuplah Pintu Masjid Kecuali Pintu Ali

Sebagaimana hadis keutamaan Ahlul Bait pada umumnya, hadis ini juga menjadi korban kesinisan mereka yang mengidap “syiahphobia” [atau terinfeksi virus nashibi]. Segala puji bagi Allah, Allah SWT menegakkan hujjahnya meski orang-orang munafik tidak suka [baca : nashibi] hadis ini ternyata diriwayatkan dengan beberapa jalan [sanad] yang saling menguatkan sehingga walaupun terdapat kelemahan atau kritik pada setiap sanadnya tetap saja secara keseluruhan hadis tersebut shahih. Tulisan ini insya Allah akan menampilkan sedikit takhrij hadis “tutuplah pintu masjid kecuali pintu Imam Ali”
.

.

Hadis Riwayat Sa’ad bin Malik

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا حجاج ثنا فطر عن عبد الله بن شريك عن عبد الله بن الرقيم الكناني قال خرجنا إلى المدينة زمن الجمل فلقينا سعد بن مالك بها فقال أمر رسول الله صلى الله عليه و سلم بسد الأبواب الشارعة في المسجد وترك باب علي رضي الله عنه

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Hajjaaj yang berkata telah menceritakan kepada kami Fithr dari ‘Abdullah bin Syarik dari ‘Abdullah bin Ruqaim Al Kinaniy yang berkata “kami keluar menuju Madinah pada zaat perang Jamal maka kami bertemu Sa’ad bin Malik yang berkata Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk menutup pintu-pintu yang mengarah ke masjid dan meninggalkan pintu Ali radiallahu ‘anhu” [Musnad Ahmad 1/175 no 1511]

Hadis Sa’ad ini juga diriwayatkan Ibnu Abi Ashim dalam As Sunnah no 1384, Ath Thahawi dalam Musykil Al Atsar no 3554, Nasa’i dalam Khasa’is Aliy no 40 & 41, Ibnu Asakir dalam Tarikh-nya 42/165 dengan jalan dari Fithr bin Khalifah dari ‘Abdullah bin Syarik dari ‘Abdullah bin Ruqaim Al Kinaniy dari Sa’ad.

Diriwayatkan oleh Ath Thahawi dalam Musykil Al Atsar no 3553, Ibnu Adiy dalam Al Kamil 3/234 dengan jalan sanad dari Zafir bin Sulaiman dari Israil bin Yunus dari ‘Abdullah bin Syarik dari Al Harits bin Tsa’labah dari Sa’ad. An Nasa’i dalam Al Khasa’is no 40 juga meriwayatkan dengan jalan sanad dari ‘Ali bin Qadim dari Isra’il dari ‘Abdullah bin Syarik dari Al Harits bin Malik dari Sa’ad.

Nampak riwayat Isra’il berselisih dengan riwayat Fithr dan yang mahfudz [terjaga] adalah riwayat Fithr karena diriwayatkan dengan sanad yang shahih sampai ke Fithr sedangkan riwayat Isra’il tidak tsabit karena Zafir bin Sulaiman seorang yang shaduq tetapi banyak melakukan kesalahan [At Taqrib 1/307]. Ali bin Qadim seorang yang shaduq [At Taqrib 1/701] tetapi ia dilemahkan Ibnu Ma’in dan As Saji berkata “shaduq ada kelemahan padanya” [At Tahdzib juz 7 no 606]. Berikut analisis perawi Ahmad dalam riwayat Fithr

  • Hajjaj bin Muhammad Al Mashishiy adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat. Ahmad bin Hanbal telah meriwayatkan dan memuji dirinya. Ali bin Madini dan Nasa’i berkata “tsiqat”. Abu Ibrahim Ishaq bin ‘Abdullah berkata Hajjaj lebih terpercaya dari ‘Abdurrazaq. Ibnu Sa’ad berkata “tsiqat shaduq insya Allah tetapi mengalami perubahan hafalan di akhir umurnya”. Muslim, Al Ijli, Ibnu Qani’ dan Maslamah bin Qasim menyatakan tsiqat. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [At Tahdzib juz 2 no 381]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat tsabit mengalami ikhtilath di akhir umurnya ketika datang ke Baghdad sebelum wafatnya” [At Taqrib 1/190]. Hajjaj memiliki mutaba’ah dari Yazid bin Harun sebagaimana disebutkan Ibnu Abi Ashim dan Yazid bin Harun seorang yang tsiqat mutqin ahli ibadah [At Taqrib 2/333]
  • Fithr bin Khalifah adalah perawi Bukhari dan Ashabus Sunan. Ahmad berkata “tsiqat shalih al hadits”. Yahya bin Sa’id menyatakan tsiqat. Ibnu Ma’in berkata “tsiqat”. Al Ijli berkata tsiqat hasanul hadis dan bertasyayyu’. Abu Hatim berkata “shalih al hadits”. Nasa’i kadang berkata “tidak ada masalah padanya” kadang berkata “tsiqat”. Abu Nu’aim menyatakan tsiqat dan tsabit dalam hadis. Ibnu Sa’ad berkata “tsiqat insya Allah”. Al Jauzjaniy berkata “tidak tsiqat”. As Saji menyatakan ia shaduq tsiqat tidak mutqin dan ia mengutamakan Ali dari Utsman. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Ibnu Adiy menyatakan ia memiliki hadis-hadis baik kukira tidak ada masalah dengannya [At Tahdzib juz 8 no 550]. Ibnu Hajar berkata shaduq dituduh tasyayyu’ [At Taqrib 2/16]
  • ‘Abdullah bin Syarik Al ‘Amiriy perawi Nasa’i dalam Al Khasa’is. Ahmad, Ibnu Main dan Abu Zur’ah menyatakan tsiqat. Abu Hatim dan Nasa’i berkata “tidak kuat”. Nasa’i juga terkadang berkata “tidak ada masalah padanya”. Al Jauzjaniy menyatakan ia pendusta. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat tetapi memasukkannya juga ke dalam Adh Dhu’afa karena berlebihan dalam tasyayyu’. Daruquthni berkata “tidak ada masalah padanya”. Abu Fath Al Azdiy berkata ia tidak ditulis hadisnya. Yaqub bin Sufyan menyatakan tsiqat [At Tahdzib juz 5 no 444]. Ibnu Hajar berkata “shaduq tasyayyu’, Al Jauzjaniy berlebihan ketika mendustakannya [At Taqrib 1/501]. Abu Hatim dan Nasa’i termasuk ulama yang ketat dalam menjarh sehingga jarh “tidak kuat” bisa berarti hadisnya hasan atau tidak mencapai derajat shahih. Al Jauzjaniy dan Al Azdiy bukan ulama yang bisa dijadikan pegangan perkataannya.
  • ‘Abdullah bin Ruqaim Al Kinaniy adalah perawi Nasa’I dalam Al Khasa’is, Nasa’i berkata “tidak dikenal”. Bukhari berkata “fihi nazhar” [At Tahdzib juz 5 no 369]. Ibnu Hajar berkata “majhul termasuk thabaqat ketiga” [At Taqrib 1/492]. Pernyataan Bukhari yang dikutip Ibnu Hajar “fihi nazhar” perlu ditinjau kembali karena Al Bukhari menyebutkan biografinya tanpa menyebutkan jarh dan ta’dil [Tarikh Al Kabir juz 5 no 247]. Abu Hatim juga menyebutkan keterangan tentangnya tanpa jarh dan ta’dil [Al Jarh wat Ta’dil 5/54 no 250]

Al Haitsami menyatakan “sanad riwayat Ahmad hasan” [Majma’ Az Zawaid 9/149 no 14672]. Ibnu Hajar juga menyebutkan sanad riwayat Ahmad ini hasan [An Nukat ‘Ala Kitab Ibnu Shalah 1/465]. Hal ini menunjukkan bahwa dalam pandangan Ibnu Hajar dan Al Haitsami riwayat tabiin majhul thabaqat ketiga kedudukannya hasan. Menurut kami hadis di atas lemah karena ‘Abdullah bin Ruqaim seorang yang tidak dikenal kredibilitasnya tetapi dia seorang tabiin thabaqat ketiga yang meriwayatkan dari sahabat Nabi maka riwayatnya dapat dijadikan i’tibar. Hadisnya hasan dengan ada syawahid atau mutaba’ah.

حدثنا علي بن سعيد الرازي قال نا سويد بن سعيد قال نا معاوية بن ميسرة بن شريح قال نا الحكم بن عتيبة عن مصعب بن سعد عن ابيه قال امر رسول الله صلى الله عليه و سلم بسد الابواب إلا باب علي قالوا يا رسول الله سددت الابواب كلها الا باب علي قال ما أنا سددت ابوابكم ولكن الله سدها

Telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin Sa’id Ar Raziy yang berkata telah menceritakan kepada kami Suwaid bin Sa’id yang berkata telah menceritakan kepada kami Mu’awiyah bin Maisarah bin Syuraih yang berkata telah menceritakan kepada kami Al Hakam bin Utaibah dari Mush’ab bin Sa’ad dari ayahnya yang berkata Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] memerintahkan untuk menutup pintu pintu kecuali pintu Ali, mereka berkata “wahai Rasulullah, engkau menutup pintu pintu kecuali pintu Ali?”. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “bukan aku yang menutup pintu pintu kalian tetapi Allah yang menutupnya” [Mu’jam Al Awsath 4/186 no 3930]

Hadis ini mengandung kelemahan tetapi dapat dijadikan I’tibar perawinya diperbincangkan yaitu ‘Ali bin Sa’id Ar Raziy dan Suwaid bin Sa’id sedangkan Muawiyah bin Maisarah adalah shaduq hasanul hadis

  • ‘Ali bin Sa’id Ar Raziy seorang yang diperbincangkan. Hamzah meriwayatkan dari Daruquthni bahwa Ali bin Sa’id menceritakan hadis yang tidak memiliki mutaba’ah dan ia telah diperbincangkan. Ibnu Yunus berkata “ia seorang hafizh dan memiliki kefahaman”. Maslamah bin Qasim berkata “ia tsiqat alim dalam hadis”. Adz Dzahabiy menyebutnya al hafizh al baara’. Syaikh Nayif bin Shalah Al Manhsuri menyimpulkan bahwa dia tsiqat dan dibicarakan dalam sirah-nya [Irsyad Al Qaadhi no 679]
  • Suwaid bin Sa’id Al ‘Anbariy adalah perawi Muslim dan Ibnu Majah. Telah meriwayatkan darinya Imam Muslim, Abu Zur’ah, Abu Hatim, dan Baqiy bin Makhlad. [mereka adalah huffazh yang dikenal meriwayatkan dari perawi yang mereka anggap tsiqat]. Ahmad bin Hanbal berkata “tsiqat” dan terkadang berkata “tidak aku ketahui kecuali kebaikan”. Al Baghawiy berkata “ia termasuk hafizh”. Abu Hatim berkata “shaduq melakukan tadlis”. Bukhari berkata “sungguh ia telah menjadi buta dan mentalqinkan hadis-hadis yang bukan hadisnya”. Shalih bin Muhammad berkata “ia shaduq hanya saja ketika buta ia melakukan talqin hadis-hadis yang bukan hadisnya”. Al Hakim berkata “buta di akhir umurnya dituduh melakukan talqin hadis-hadis yang bukan hadisnya, siapa yang mendengar hadis darinya ketika ia masih melihat maka hadisnya hasan”. Nasa’i berkata “tidak tsiqat”. Ali bin Madini berkata “tidak ada apa-apanya”. Hamzah As Sahmiy meriwayatkan dari Daruquthni yang menyatakan Suwaid bin Sa’id dibicarakan oleh Ibnu Ma’in, ia meriwayatkan dari Abu Muawiyah dari A’masy dari Athiyah dari Abu Sa’id secara marfu’ hadis “Hasan dan Husain Sayyid pemuda ahli surga”, Ibnu Ma’in berkata “hadis ini bathil dari Abu Muawiyah”. Daruquthni membantahnya dan menyatakan Suwaid memiliki mutaba’ah yaitu dalam Musnad Abu Yaqub Ishaq bin Ibrahim Al Baghdadi [yang tsiqat] telah meriwayatkan dari Abu Kuraib dari Abu Muawiyah seperti yang dikatakan Suwaid. Al Ijli menyatakan tsiqat. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Salamah berkata dalam Tarikh-nya Suwaid tsiqat tsiqat [At Tahdzib juz 4 no 481]. Ibnu Hajar menyatakan ia shaduq hanya saja ketika ia menjadi buta ia melakukan talqin hadis yang bukan darinya [At Taqrib 1/403]
  • Mu’awiyah bin Maisarah bin Syuraih, Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [Ats Tsiqat juz 7 no 10986]. Ibnu Abi Hatim menyatakan “Syaikh” dan menyebutkan bahwa telah meriwayatkan darinya Qutaibah bin Sa’id, Yahya bin Sulaiman, Utsman bin Abi Syaibah, ‘Abdullah bin Umar Al Qurasyiy dan Al Hakam bin Mubarak [Al Jarh Wat Ta’dil 8/386 no 1764]. Telah meriwayatkan darinya sekumpulan perawi tsiqat, Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat dan Abu Hatim menyatakan “syaikh” [yaitu lafaz ta’dil yang ringan] maka kedudukannya adalah shaduq hasanul hadis.
  • Al Hakam bin Utaibah Al Kindi adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat. Ibnu Mahdi berkata “tsiqat tsabit”. Ibnu Ma’in, Abu Hatim dan Nasa’i menyatakan tsiqat. Ibnu Sa’ad berkata “tsiqat tsiqat faqih alim banyak meriwayatkan hadis”. Yaqub bin Sufyan berkata “faqih tsiqat” [At Tahdzib juz 2 no 756]. Ibnu Hajar menyatakan tsiqat tsabit faqih [At Taqrib 1/232]
  • Mush’ab bin Sa’ad adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat. Ibnu Sa’ad berkata “tsiqat banyak meriwayatkan hadis”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Al Ijli berkata “tabiin tsiqat” [At Tahdzib juz 10 no 306]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat” [At Taqrib 2/186]

Hadis riwayat Ahmad dan Thabrani di atas saling menguatkan sehingga kedudukannya menjadi hasan. Kesimpulannya hadis Sa’ad dalam perkara ini termasuk hadis yang hasan. Hadis Sa’ad dikuatkan oleh hadis yang lain yaitu hadis Ibnu Umar berikut.

.

.

Hadis Riwayat Ibnu Umar

وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ دَاوُدَ ، قَالَ : حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ صَالِحٍ النَّخَّاسُ ، قَالَ : حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرٍو الرَّقِّيُّ , عَنْ زَيْدِ بْنِ أَبِي أُنَيْسَةَ , عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ , عَنِ الْعَيْزَارِ بْنِ حُرَيْثٍ ، قَالَ : كُنْتُ عِنْدَ ابْنِ عُمَرَ , فَسَأَلَهُ رَجُلٌ عَنْ عَلِيٍّ , وَعُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا , فَقَالَ لَهُ : ” أَمَّا عَلِيٌّ , فَلا تَسْأَلْنَا عَنْهُ , وَلَكِنِ انْظُرْ إِلَى مَنْزِلَتِهِ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّهُ سَدَّ أَبْوَابَنَا فِي الْمَسْجِدِ غَيْرَ بَابِهِ , وَأَمَّا عُثْمَانَ , فَإِنَّهُ أَذْنَبَ ذَنْبًا يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ عَظِيمًا ، عَفَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَنْهُ , وَأَذْنَبَ ذَنْبًا صَغِيرًا , فَقَتَلْتُمُوهُ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Aliy bin Dawud yang berkata telah menceritakan kepada kami Walid bin Shalih An Nakhkhas yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidillah bin ‘Amru Ar Raqiy dari Zaid bin Abi Unaisah dari Abi Ishaq dari Al ‘Aizaar bin Huraits yang berkata “aku pernah berada di sisi Ibnu Umar, maka seseorang bertanya kepadanya tentang Ali dan Utsman radiallahu ‘anhuma. Maka ia berkata “ada pun Ali maka jangan bertanya kepada kami tentangnya tetapi lihatlah kediamannya termasuk [kediaman] Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bahwasanya Beliau menutup pintu-pintu kami di dalam masjid selain pintunya. Adapun Utsman bahwasanya ia melakukan kesalahan besar pada hari berkumpulnya dua pasukan maka Allah telah mengampuninya dan ia melakukan kesalahan kecil maka kalian membunuhnya [Musykil Al Atsar Ath Thahawiy no 3558]

Riwayat Ath Thahawiy ini diriwayatkan oleh para perawi tsiqat semuanya para perawi Muslim kecuali Syaikh [guru]nya Ath Thahawiy yaitu Muhammad bin ‘Ali bin Dawud dan dia tsiqat

  • Muhammad bin Aliy bin Dawud, Adz Dzahabiy menyebutnya Imam hafizh. Ibnu Yunus menyatakan ia hafizh dalam hadis dan memiliki kefahaman, ia tsiqat hasanul hadis [As Siyar Adz Dzahabiy 13/338]
  • Walid bin Shalih An Nakhkhas adalah perawi Bukhari dan Muslim. Ahmad bin Ibrahim Ad Dawraqiy dan Abu Hatim menyatakan tsiqat. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Abu Awanah dalam Shahih-nya berkata “tsiqat” [At Tahdzib juz 11 no 227]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat” [At Taqrib 2/286]
  • ‘Ubaidillah bin ‘Amru Ar Raqiy adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat. Ibnu Ma’in dan Nasa’I menyatakan tsiqat. Abu Hatim berkata “shalih al hadits tsiqat shaduq tidak dikenal memiliki hadis mungkar dia lebih aku sukai daripada Zuhair bin Muhammad”. Ibnu Sa’ad berkata “tsiqat shaduq banyak meriwayatkan hadis dan dituduh melakukan kesalahan”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Dinyatakan tsiqat oleh Al Ijli dan Ibnu Numair [At Tahdzib juz 7 no 74]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat faqih dituduh melakukan kesalahan” [At Taqrib 1/637]
  • Zaid bin Abi Unaisah adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat. Ibnu Ma’in berkata “tsiqat”. Nasa’I berkata “tidak ada masalah”. Ibnu Sa’ad berkata “tsiqat banyak meriwayatkan hadis”. Al Ijli berkata “tsiqat”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Abu Dawud berkata “tsiqat”. Yaqub bin Sufyan menyatakan tsiqat. Ibnu Khalifun menyebutkan bahwa Adz Dzahiliy, Ibnu Numair dan Al Barqiy menyatakan ia tsiqat [At Tahdzib juz 3 no 279]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat dan memiliki riwayat yang menyendiri” [At Taqrib 1/326]
  • Abu Ishaq As Sabi’i adalah ‘Amru bin Abdullah As Sabi’i perawi kutubus sittah yang tsiqat. Ahmad, Ibnu Ma’in, Nasa’i, Abu Hatim, Al Ijli menyatakan ia tsiqat [At Tahdzib juz 8 no 100]. Ia dilemahkan sebagian orang karena ikhtilath dan tadlis. Tetapi pelemahan ini perlu ditinjau kembali, adapun ikhtilath Abu Ishaq, Adz Dzahabi telah menolaknya. Adz Dzahabi menyebutnya imam tabiin di kufah dan paling tsabit diantara mereka dan ia tidak mengalami ikhtilath [Al Mizan juz 3 no 6393]. Hal senada dikatakan pula oleh Abu Sa’id Al Ala’iy [Al Mukhtalithin hal 94]. Ibnu Hajar menyatakan dalam At Taqrib ia tsiqat dan mengalami ikhtilath di akhir umurnya tetapi dikoreksi dalam Tahrir At Taqrib bahwa perkataan “ikhtilath di akhir umurnya” tidaklah benar karena ia tidak mengalami ikhtilath. [Tahrir At Taqrib no 5065]. Adapun tadlis Abu Ishaq juga diperbincangkan, yang rajih adalah ia tidak banyak melakukan tadlis, cukup banyak hadis ‘an anah Abu Ishaq dalam kitab shahih dan ‘an anah Abu Ishaq dari ‘Aizaar bin Huraits juga dipakai Muslim dalam Shahih-nya. Apalagi dikenal di kalangan mutaqaddimin bahwa mereka sering menyatakan irsal sebagai tadlis, sehingga tadlis yang dituduhkan pada Abu Ishaq kemungkinan adalah irsal.
  • ‘Aizaar bin Huraits adalah perawi Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasa’i. Ibnu Ma’in dan Nasa’I menyatakan tsiqat. Ibnu Hibban memasukkan dalam Ats Tsiqat. Al Ijli berkata “tsiqat” [At Tahdzib juz 8 no 379]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat” [At Taqrib 1/768]

Hadis ini sanadnya jayyid, kelemahan pada Abu Ishaq seputar ikhtilath dan tadlis adalah kelemahan yang ringan. Riwayat Ibnu Umar ini juga disebutkan melalui jalur lain yaitu dari Syu’bah dari Abu Ishaq dan Israil dari Abu Ishaq. Kedua riwayat ini menggugurkan kelemahan karena ikhtilath dan tadlis. Di kalangan mereka yang menuduh tadlis kepada Abu Ishaq maka riwayat Syu’bah dari Abu Ishaq termasuk riwayat yang diterima tadlisnya dan di kalangan mereka yang menuduh Abu Ishaq mengalami ikhtilath maka riwayat Israil dari Abu Ishaq adalah jayyid karena ia mendengar dari Abu Ishaq sebelum ikhtilath. Berikut perincian riwayat-riwayat tersebut

Riwayat Ibnu Umar disebutkan juga oleh Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Ausath 2/37 no 1166 dengan jalan sanad dari Zaid dari Abu Ishaq dari Al ‘Aala’ bin ‘Araar dari Ibnu Umar dengan matan seperti di atas. Kedua riwayat ini [Thahawi dan Thabrani] sanadnya jayyid tetapi riwayat Thahawi lebih kuat daripada riwayat Thabraniy.

Dalam penyebutan Al ‘Alaa’ bin ‘Araar, Zaid [dalam riwayat Thabraniy] memiliki mutaba’ah yaitu dari Syu’bah, Ma’mar, Israil dan Zuhair bin Muawiyah. Maka disini ada dua kemungkinan, kemungkinan pertama terjadi tashif pada riwayat Thahawi seharusnya perawi tersebut adalah Al ‘Alaa’ bin ‘Araar atau kemungkinan kedua, Abu Ishaq meriwayatkan dari dua orang yaitu Al ‘Alaa’ bin ‘Araar dan ‘Aizaar bin Huraits. Kemungkinan manapun tidak menjatuhkan hadis tersebut karena Al ‘Alaa’ bin ‘Araar seorang yang tsiqat sebagaimana dikatakan Ibnu Ma’in [At Tahdzib juz 8 no 340]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat” [At Taqrib 1/764]

أخبرنا إسماعيل بن مسعود قال حدثنا خالد عن شعبة عن أبي إسحاق عن العلاء قال سأل رجل بن عمر عن عثمان قال كان من الذين تولوا يوم التقى الجمعان فتاب الله عليه ثم أصاب ذنبا فقتلوه وسأله عن علي فقال لا تسأل عنه ألا ترى منزله من رسول الله صلى الله عليه و سلم

Telah mengabarkan kepada kami Ismail bin Mas’ud yang berkata telah menceritakan kepada kami Khalid dari Syu’bah dari Abi Ishaq dari Al ‘Alaa’ yang berkata seorang laki-laki bertanya kepada Ibnu Umar tentang Utsman. Ibnu Umar berkata “ia orang yang berpaling [lari] pada hari bertemunya dua pasukan, Allah menerima taubatnya kemudian ia melakukan kesalahan maka kalian membunuhnya dan ia bertanya tentang Aliy maka Ibnu Umar berkata “jangan bertanya tentangnya, tidakkah kau lihat kediamannya yang termasuk [kediaman] Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] [Sunan Al Kubra An Nasa’I 5/137 no 8489]

Lafaz riwayat Syu’bah “manzilahu min Rasulullah” lebih tepat diartikan “kediamannya termasuk dari [kediaman] Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam. Hal ini nampak jelas dari riwayat-riwayat lain. Seperti berikut

أخبرنا عبد الرزاق عن معمر عن أبي إسحاق عن العلاء بن عرار أنه سأل بن عمر عن علي وعثمان قال أما علي فهذا منزله لا أحدثك عنه بغيره وأما عثمان فأذنب يوم أحد ذنبا عظيما فعفا الله عنه وأذنب فيكم ذنبا صغيرا فقتلتموه

Telah mengabarkan kepada kami ‘Abdurrazaq dari Ma’mar dari Abu Ishaq dari Al ‘Alaa’ bin ‘Aarar bahwasanya ia bertanya kepada Ibnu Umar tentang Ali dan Utsman. Ibnu Umar berkata “adapun Ali maka ini adalah kediamannya, aku tidak akan menceritakan tentangnya selain itu kepadamu sedangkan Utsman ia melakukan kesalahan pada hari Uhud kesalahan yang besar maka Allah mengampuninya dan ia melakukan kesalahan terhadap kalian kesalahan kecil maka kalian membunuhnya [Mushannaf ‘Abdurrazaq 11/232 no 20408]

Riwayat Ma’mar di atas juga disebutkan Ahmad bin Hanbal dalam kitabnya Fadha’il Ash Shahabah no 1012. Disini digunakan lafaz “fahadzaa manzilahu” yang lebih tepat diartikan “ini adalah kediamannya”. Apa maksud “fahadza” itu dijelaskan dalam riwayat Isra’il

أخبرنا أحمد بن سليمان الرهاوي قال حدثنا عبيد الله قال حدثنا إسرائيل عن أبي إسحاق عن العلاء بن عرار قال سالت ابن عمر وهو في مسجد رسول الله عن علي وعثمان فقال أما علي فلا تسألني عنه وانظر إلى منزله من رسول الله ليس في المسجد بيت غير بيته وأما عثمان فإنه أذنب ذنبا عظيما يوم التقى الجمعان فعفى الله عنه وغفر له وأذنب فيكم ذنبا دون ذلك فقتلتموه

Telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin Sulaiman Ar Rahaawiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Ubaidillah yang berkata telah menceritakan kepada kami Israil dari Abi Ishaq dari Al ‘Alaa’ bin ‘Aarar yang berkata aku bertanya kepada Ibnu Umar dan ia berada di dalam masjid Rasulullah tentang Ali dan Utsman. Ibnu Umar berkata “adapun Ali jangan bertanya kepadaku tentangnya dan lihatlah kediamannya termasuk [kediaman] Rasulullah, tidak ada rumah di dalam masjid selain rumahnya. Adapun Utsman maka bahwasanya ia melakukan kesalahan besar pada hari bertemunya dua pasukan dan Allah mengampuninya kemudian ia melakukan kesalahan kecil terhadap kalian maka kalian membunuhnya [Sunan Al Kubra An Nasa’I 5/138 no 8491 ]

Ibnu Umar ketika itu berada di masjid Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan lafaz “fahadza” yang dimaksud dalam riwayat Ma’mar tidak lain merujuk pada masjid tersebut. Jadi Ibnu Umar mengatakan masjid tersebut adalah manzilahu Ali, sehingga dalam riwayat Israil disebutkan tidak ada rumah di dalam masjid selain rumahnya Ali. Maka memang tepat bahwa “manzilahu” diartikan kediaman atau bait.

أخبرني هلال بن العلاء بن هلال قال حدثنا حسين قال حدثنا زهير عن أبي إسحاق عن العلاء بن عرار قال سألت عبد الله بن عمر قلت ألا تحدثني عن علي وعثمان قال أما علي فهذا بيته من بيت رسول الله صلى الله عليه و سلم ولا أحدثك عنه بغيره وأما عثمان فإنه أذنب يوم أحد ذنبا عظيما فعفا الله عنه وأذنب فيكم صغيرا فقتلتموه

Telah mengabarkan kepada kami Hilaal bin Al Alaa’ bin Hilaal yang berkata telah menceritakan kepada kami Husain yang berkata telah menceritakan kepada kami Zuhair dari Abi Ishaq dari Al ‘Alaa’ bin ‘Araar yang berkata “aku bertanya kepada Abdullah bin Umar, aku berkata “ceritakan kepadaku tentang Ali dan Utsman. Ibnu Umar berkata “Adapun Ali maka ini adalah rumahnya termasuk rumah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan aku tidak akan menceritakan yang lain tentangnya kepadamu. Adapun Utsman bahwasanya ia melakukan kesalahan pada hari Uhud kesalahan yang besar maka Allah mengampuninya dan ia melakukan kesalahan kecil terhadap kalian maka kalian membunuhnya [Sunan Al Kubra An Nasa’i 5/138 no 8490]

Secara keseluruhan riwayat Ibnu Umar menyebutkan bahwa rumahnya Ali adalah rumahnya Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] maka ketika diperintahkan untuk menutup pintu pintu sahabat yang terhubung ke masjid, Imam Ali dikecualikan karena sebagaimana rumahnya adalah rumah Rasulullah maka pintu Ali sama seperti pintu Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tetap terbuka. Hal ini sebabnya masjid Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] itu juga disebut kediaman Imam Ali dan kediaman Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Riwayat Ibnu Umar ini tidak diragukan lagi kedudukannya shahih. Ibnu Hajar telah menyatakan shahih hadis Ibnu Umar tersebut [Qaul Al Musaddad hal 1/18]

حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ هِشَامِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ عُمَرَ بْنِ أَسِيْدَ عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ : لَقَدْ أُوتِيَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ ثَلاثَ خِصَالٍ لأَنْ تَكُونَ لِي وَاحِدَةٌ مِنْهُنَّ أَحَبُّ إلَيَّ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ : زَوَّجَهُ ابْنَتَهُ فَوَلَدَتْ لَهُ , وَسَدَّ الأَبْوَابَ إلاَّ بَابَهُ , وَأَعْطَاهُ الْحَرْبَةَ يَوْمَ خَيْبَرَ

Telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Hisyaam bin Sa’d dari Umar bin Usaid dari Ibnu Umar yang berkata sungguh telah diberikan kepada Ali bin Abi Thalib tiga perkara yang jika ada padaku salah satu dari ketiganya maka itu lebih aku sukai daripada unta merah yaitu [Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam] menikahkannya dengan putrinya dan memiliki anak, menutup pintu pintu [masjid] kecuali pintunya dan memberinya panji pada hari Khaibar [Al Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 12/70 no 32762]

Hadis Ibnu Umar ini diriwayatkan para perawi tsiqat perawi Bukhari Muslim kecuali Hisyam bin Sa’d dan ia termasuk perawi Muslim.

  • Waki’ bin Jarrah adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat. Ahmad bin Hanbal sangat memujinya dan menyatakan ia jauh lebih hafizh dari Ibnu Mahdiy. Ibnu Ma’in berkata “aku tidak pernah melihat orang yang lebih utama dari Waki’. Ibnu Ma’in berkata “orang yang paling tsiqat itu ada empat yaitu Waki’, Ya’la bin Ubaid, Al Qa’nabiy dan Ahmad bin Hanbal. Ibnu Sa’ad menyatakan ia hujjah tsiqat ma’mun banyak meriwayatkan hadis. Al Ijli menyatakan ia tsiqat ahli ibadah dan hafizh. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat dan berkata “hafizh mutqin”. [At Tahdzib 11 juz 211]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat hafizh dan ahli ibadah” [At Taqrib 2/284]
  • Hisyam bin Sa’d Al Madaniy adalah perawi Bukhari dalam At Ta’liq, Muslim dan Ashabus Sunan. Ahmad berkata “Hisyam bukan hafizh”. Ibnu Ma’in berkata “dhaif dan Dawud bin Qais lebih aku sukai daripadanya” dalam riwayat lain Ibnu Ma’in berkata “shalih bukan seorang yang matruk” dalam riwayat lain Ibnu Ma’in berkata “tidak kuat”. Al Ijli menyatakan ia hasanul hadis. Abu Zur’ah berkata “tempat kejujuran dan ia lebih aku sukai dari Muhammad bin Ishaq”. Abu Hatim berkata “ditulis hadisnya tetapi tidak dapat dijadikan hujjah, dia dan Muhammad bin Ishaq disisiku sama kedudukannya”. Nasa’i berkata “dhaif” terkadang berkata “tidak kuat”. Ali bin Madini berkata “shalih dan tidak kuat”. As Saji berkata “shaduq”. Al Hakim berkata “dikeluarkan oleh Muslim sebagai syawahid” [At Tahdzib juz 11 no 80]. Ibnu Hajar berkata shaduq memiliki kesalahan dan dituduh tasyayyu” [At Taqrib 2/266]
  • Umar bin Usaid perawi Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan Nasa’i. Ia dikatakan juga ‘Amru bin Abi Sufyan. Telah meriwayatkan darinya Hisyam bin Sa’d. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. [At Tahdzib juz 8 no 66]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat [At Taqrib 1/736]. Adz Dzahabi menyatakan “tsiqat” [Al Kasyf no 4163]

Hadis ini dikatakan oleh Ibnu Hajar sanadnya hasan [Fath Al Bari 10/451]. Syaikh Al Albaniy juga membenarkan apa yang dikatakan Ibnu Hajar [Ats Tsamar Al Mustathab 1/491]. Hadis Ibnu Umar ini sanadnya lemah karena Hisyam bin Sa’d Al Madaniy  tetapi dapat dijadikan I’tibar maka kedudukannya hasan dengan penguat dari hadis sebelumnya.

Selain Ibnu Abi Syaibah, hadis ini juga diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal sebagaimana yang disebutkan Ibnu Hajar dalam Qaul Al Musaddad 1/7, Ibnu Asakir dalam Tarikh-nya 42/121-122,  Ibnu Abi Ashim dalam As Sunnah no 1199, dan Abu Ya’la dalam Musnad-nya 9/452 no 5601 dengan jalan sanad yang berujung pada Hisyam bin Sa’d dari Umar bin Usaid dari Ibnu Umar. Berikut adalah riwayat Abu Ya’la dalam Musnadnya

حدثنا نصر بن علي أخبرنا عبد الله بن داود عن هشام بن سعد عن عمر ابن أسيد عن ابن عمر قال كنا نقول على عهد رسول الله صلى الله عليه و سلم ك النبي ثم أبو بكر ثم عمر ولقد أعطي علي بن أبي طالب ثلاث خصال لأن يكون في واحدة منهن أحب إلي من حمر النعم : تزوج فاطمة وولدت له وغلق الأبواب غير بابه ودفع الراية يوم خيبر

Telah menceritakan kepada kami Nashr bin ‘Aliy yang berkata telah mengabarkan kepada kami ‘Abdullah bin Dawud dari Hisyaam bin Sa’d dari Umar bin Usaid dari Ibnu Umar yang berkata kami dahulu mengatakan di masa hidup Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] yaitu Nabi kemudian Abu Bakar kemudian Umar dan sungguh telah datang kepada Ali tiga perkara yang jika saja salah satunya ada padaku maka itu lebih aku sukai dari pada unta merah yaitu menikahi Fathimah dan memiliki anak darinya, ditutup pintu-pintu [masjid] selain pintunya dan ia pembawa panji pada perang Khaibar [Musnad Abu Ya’la 9/452 no 5601].

Ada sebagian nashibi yang melemahkan hadis Umar bin Usaid dari Ibnu Umar ini karena pada riwayat Ibnu Umar seperti dalam kitab shahih tidak ditemukan matan yang menyebutkan keutamaan Imam Ali. Hujjah ini lemah sekali, riwayat Umar bin Usaid di atas adalah riwayat dengan matan yang lebih panjang. Hal yang ma’ruf bahwa terkadang perawi meringkas matan hadis atau menyampaikan apa yang ingin disampaikan dan meninggalkan apa yang ingin ditinggalkan. Hal yang ma’ruf pula bahwa terkadang perawi mengetahui hadis tersebut dengan matan yang panjang sedangkan perawi lain hanya mengetahui dengan matan yang lebih ringkas. Dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah yang lain disebutkan hadis Umar bin Usaid dari Ibnu Umar dengan matan yang ringkas

ثنا أبو بكر بن أبي شيبة ثنا وكيع عن هشام بن سعد عن عمر ابن أسيد عن ابن عمر قال كنا نقول زمن رسول الله صلى الله عليه وسلم خير الناس رسول الله صلى الله عليه وسلم وأبو بكر وعمر

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah yang berkata telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Hisyaam bin Sa’d dari Umar bin Usaid dari Ibnu Umar yang berkata “kami mengatakan di zaman Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] manusia yang paling baik adalah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan Abu Bakar dan Umar. [As Sunnah Ibnu Abi Ashim no 1198]

Jadi Ibnu Abi Syaibah dalam kitabnya Al Mushannaf menyebutkan penggalan akhir [keutamaan Imam Ali] dan meninggalkan penggalan awal [keutamaan Abu Bakar dan Umar] tetapi sebaliknya pada riwayat Ibnu Abi Ashim dari Ibnu Abi Syaibah ia menyebutkan penggalan awal tetapi meninggalkan penggalan akhir. Hal seperti ini ma’ruf dalam ilmu hadis dan tidak ada yang perlu dipertentangkan atau dipermasalahkan. Apalagi penggalan akhir tentang keutamaan Imam Ali itu memang masyhur disebutkan dalam berbagai hadis lain. Mengenai penyebutan ditutup pintu masjid selain pintu Ali dalam riwayat Hisyaam bin Sa’d telah dikuatkan oleh riwayat Abu Ishaq sebelumnya. Secara keseluruhan hadis Ibnu Umar kedudukannya shahih.

.

.

Hadis Riwayat Ibnu ‘Abbas

أخبرنا محمد بن المثنى قال حدثنا يحيى بن حماد قال حدثنا الوضاح قال حدثنا يحيى قال حدثنا عمرو بن ميمون قال قال بن عباس وسد أبواب المسجد غير باب علي فكان يدخل المسجد وهو جنب وهو طريقه ليس له طريق غيره

Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya bin Hammaad yang berkata telah menceritakan kepada kami Wadhdha’ yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin Maimun yang berkata Ibnu Abbas berkata ditutup pintu pintu masjid [oleh Nabi] selain pintu Ali maka kadang ia masuk ke masjid sedang ia dalam keadaan junub karena ia tidak memiliki jalan lain selain jalan itu [Sunan Al Kubra Nasa’I 5/119 no 8428]

Hadis Ibnu Abbas disebutkan juga dalam Sunan Tirmidzi 5/641 no 3732, Musnad Ahmad 1/330 no 3062, Mu’jam Al Kabir Ath Thabraniy 12/98 no 12593 & 12594, Musykil Al Atsar Ath Thahawiy no 3955 & 3966, Mustadrak Al Hakim juz 3 no 4652 dan Tarikh Ibnu Asakir 42/98-103 semuanya dengan jalan sanad dari Abu Balj dari ‘Amru bin Maimun dari Ibnu Abbas. Berikut keterangan perawi sanad Nasa’I di atas

  • Muhammad bin Al Mutsanna adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat. Ibnu Ma’in berkata “tsiqat”. Adz Dzahiliy berkata “hujjah”. Abu Hatim berkata “shalih al hadits shaduq”. Ibnu Khirasy berkata “termasuk orang yang tsabit”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Al Khatib berkata “tsiqat tsabit”. Daruquthni berkata “termasuk orang yang tsiqat, ia didahulukan dari Bindar”. Maslamah berkata “tsiqat masyhur termasuk hafizh” [At Tahdzib juz 9 no 698]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat tsabit” [At Taqrib 2/129]
  • Yahya bin Hammaad Asy Syaibaniy termasuk perawi Bukhari dan Muslim. Ibnu Sa’ad berkata “tsiqat banyak meriwayatkan hadis”. Abu Hatim berkata “tsiqat”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Al Ijli menyatakan tsiqat [At Tahdzib juz 11 no 338]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat” [At Taqrib 2/300]
  • Wadhdhah bin ‘Abdullah adalah Abu Awanah perawi kutubus sittah yang tsiqat. Abu Zur’ah berkata tsiqat jika meriwayatkan hadis dari kitabnya. Abu Hatim berkata “kitabnya shahih jika meriwayatkan dari hafalannya banyak melakukan kesalahan dan ia tsiqat shaduq”. Ibnu Sa’ad berkata “tsiqat shaduq”. Al Ijli menyatakan tsiqat. Ibnu Syahin memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Yaqub bin Syaibah berkata “tsabit baik hafalannya dan shahih kitabnya”. Ibnu Khirasy berkata “shaduq dalam hadis”. [At Tahdzib juz 11 no 204]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat tsabit” [At Taqrib 2/283]
  • Yahya bin Abi Sulaim adalah Abu Balj perawi Ashabus Sunan. Telah meriwayatkan darinya Syu’bah [itu berarti tsiqat dalam pandangannya]. Ibnu Ma’in, Ibnu Sa’ad, Daruquthni dan Nasa’I menyatakan tsiqat. Bukhari berkata “fihi nazhar”. Abu Hatim berkata “shalih al hadits tidak ada masalah padanya”. Yazid bin Harun berkata “ia banyak menyebut Allah”. Yaqub bin Sufyan berkata “tidak ada masalah padanya”. [At Tahdzib juz 12 no 184]. Pendapat yang rajih ia seorang yang tsiqat, pembicaraan terhadapnya tidaklah tsabit dan insya Allah akan dibuat tulisan khusus untuk membahas kredibilitas Abu Balj dan membantah syubhat para nashibi.
  • ‘Amru bin Maimun Al Awdiy perawi kutubus sittah ia menemui masa jahiliyah. Al Ijli menyatakan tsiqat. Ibnu Ma’in dan Nasa’I berkata “tsiqat”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. [At Tahdzib juz 8 no 181]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat ahli ibadah” [At Taqrib 1/747]

Hadis Ibnu Abbas ini tidak diragukan lagi kedudukannya shahih. Sebagian orang menyebarkan syubhat terhadap Abu Balj untuk melemahkan hadis ini. Diantara mereka ada yang menukil pendapat Ahmad bin Hanbal bahwa hadis tersebut mungkar. Jika memang tsabit perkataan Imam Ahmad tersebut [kenyataannya tidak tsabit] maka beliaulah yang keliru. Hadis tersebut tidaklah mungkar dan tidak selayaknya tuduhan “meriwayatkan hadis mungkar” dijatuhkan kepada Abu Balj karena seperti yang dapat dilihat hadis Ibnu Abbas radiallahu ‘anhu [riwayat Abu Balj] telah dikuatkan oleh hadis Ibnu Umar radiallahu ‘anhu dan hadis Sa’ad bin Malik radiallahu ‘anhu. Syaikh Al Albaniy mengingkari tuduhan Adz Dzahabi bahwa hadis ini mungkar disebabkan Abu Balj tidak menyendiri dengannya tetapi memiliki banyak syawahid [Atsmar Al Mustathab 1/487]. Kesimpulannya hadis Ibnu Abbas shahih.

Secara keseluruhan riwayat riwayat di atas saling menguatkan, walaupun para nashibi berusaha mendhaifkan atau mencari celah untuk melemahkan sanad-sanadnya maka kelemahan itu tidak menjatuhkan hadisnya ke derajat dhaif. Sangat masyhur dalam ilmu hadis bahwa hadis yang dijadikan I’tibar tidak mesti semua perawinya tsiqat dan bebas dari cacat karena kalau memang begitu maka hadis itu sudah shahih dengan sendirinya dan tidak memerlukan syawahid atau mutaba’ah.

Fenomena “perawi zero jarhnya” adalah penyakit khas kaum nashibi yaitu orang-orang “ngeyel” yang mencari-cari dalih untuk melemahkan hadis keutamaan Ahlul Bait. Padahal banyak sekali dalam kitab shahih para perawi yang tidak zero jarhnya dan banyak ditemukan perawi tsiqat yang ternukil jarh terhadapnya dari salah satu ulama. Menyatakan suatu hadis sebagai hujjah dengan syarat perawi tersebut zero jarhnya adalah naïf. Para nashibi itu sendiri mengalami tanaqudh dalam perkara ini. Jika mereka berhujjah dengan hadis maka mereka bersikap tasahul terhadap para perawinya tetapi jika mereka mau mencela hadis keutamaan Ahlul Bait maka mereka leluasa menukil setiap jarh yang ada terhadap perawi tersebut. Dasar munafik, sungguh benar sekali hadis yang menyatakan tidaklah mencintai Ali kecuali mukmin dan tidak membenci Ali kecuali munafik.

.

.

Sebagian ulama yang mempermasalahkan hadis ini disebabkan [menurut mereka] bertentangan dengan hadis dalam kitab shahih bahwa pintu masjid ditutup selain pintu Abu Bakar. Berikut hadis-hadisnya.

حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ حَدَّثَنَا فُلَيْحٌ قَالَ حَدَّثَنِي سَالِمٌ أَبُو النَّضْرِ عَنْ بُسْرِ بْنِ سَعِيدٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ خَطَبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ النَّاسَ وَقَالَ إِنَّ اللَّهَ خَيَّرَ عَبْدًا بَيْنَ الدُّنْيَا وَبَيْنَ مَا عِنْدَهُ فَاخْتَارَ ذَلِكَ الْعَبْدُ مَا عِنْدَ اللَّهِ قَالَ فَبَكَى أَبُو بَكْرٍ فَعَجِبْنَا لِبُكَائِهِ أَنْ يُخْبِرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ عَبْدٍ خُيِّرَ فَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هُوَ الْمُخَيَّرَ وَكَانَ أَبُو بَكْرٍ أَعْلَمَنَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ أَمَنِّ النَّاسِ عَلَيَّ فِي صُحْبَتِهِ وَمَالِهِ أَبَا بَكْرٍ وَلَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا خَلِيلًا غَيْرَ رَبِّي لَاتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ وَلَكِنْ أُخُوَّةُ الْإِسْلَامِ وَمَوَدَّتُهُ لَا يَبْقَيَنَّ فِي الْمَسْجِدِ بَابٌ إِلَّا سُدَّ إِلَّا بَابَ أَبِي بَكْرٍ

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Muhammad yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu ‘Aamir yang berkata telah menceritakan kepada kami Fulaih yang berkata telah menceritakan kepadaku Abu Nadhr dari Busr bin Sa’id dari Abu Sa’id Al Khudri radiallahu ‘anhu yang berkata Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkhutbah di ahadapan manusia dan berkata sesungguhnya Allah telah memberi pilihan kepada seorang hamba untuk memilih antara dunia dan apa yang ada di sisi-Nya maka hamba tersebut memilih apa yang ada di sisi Allah. [Abu Sa’id] berkata maka Abu Bakar menangis yang membuat kami heran dengan tangisannya hanya karena Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengabarkan ada seorang hamba yang diminta untuk memilih. Ternyata Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang dimaksud dengan hamba tersebut dan Abu Bakar paling mengetahui [akan hal itu] daripada kami. Maka Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata sesungguhnya orang yang paling amanah dalam persahabatannya dan hartanya adalah Abu Bakar. Seandainya aku boleh mengambil kekasih selain Rabb-ku maka aku akan mengambil Abu Bakar. Akan tetapi cukuplah persaudaraan dan kasih sayang dalam islam. Sungguh tidak ada satupun pintu di dalam masjid yang tersisa melainkan tertutup kecuali pintu Abu Bakar [Shahih Bukhari 5/4 no 3654]

حدثنا عبدالله بن جعفر بن يحيى بن خالد حدثنا معن حدثنا مالك عن أبي النضر عن عبيدالله بن حنين عن أبي سعيد أن رسول الله صلى الله عليه و سلم جلس على المنبر فقال عبد خيره الله بين أن يؤتيه زهرة الدنيا وبين ما عنده فاختار ما عنده فبكى أبو بكر وبكى فقال فديناك بآبائنا وأمهاتنا قال فكان رسول الله صلى الله عليه و سلم هو المخير وكان أبو بكر أعلمنا به وقال رسول الله صلى الله عليه و سلم إن أمن الناس علي في ماله وصحبته أبو بكر ولو كنت متخذا خليلا لاتخذت أبا بكر خليلا ولكن إخوة الإسلام لا تبقين في المسجد خوخة إلا خوخة أبي بكر

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Ja’far bin Yahya bin Khalid yang berkata telah menceritakan kepada kami Ma’n yang berkata telah menceritakan kepada kami Malik dari Abu An Nadhr dari Ubaid bin Hunain dari Abu Sa’id bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] duduk di atas mimbar lalu berkata Ada seorang hamba yang diberikan pilihan oleh Allah SWT yaitu antara kekayaan dunia dan apa yang ada di sisiNya [Allah], hamba itu memilih apa yang ada di sisi-Nya. Maka Abu Bakar menangis dan Rasulullah menangis. Abu Bakar berkata “sungguh kami serahkan kepadamu apa yang kami miliki”. Rasulullah adalah hamba yang diberikan pilihan dan Abu Bakar paling mengetahui diantara kami tentang hal itu. Rasulullah berkata “orang yang paling amanah dalam harta dan persahabatannya adalah Abu Bakar. Seandainya aku diperbolehkan untuk mengambil kekasih maka aku akan mengambil Abu Bakar sebagai kekasih tetapi cukuplah persaudaraan dalam islam. Jangan ada pintu kecil masjid yang tersisa kecuali pintu kecil Abu Bakar [Shahih Muslim 4/1854 no 2382]

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ الْجُعْفِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا وَهْبُ بْنُ جَرِيرٍ قَالَ حَدَّثَنَا أَبِي قَالَ سَمِعْتُ يَعْلَى بْنَ حَكِيمٍ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَرَضِهِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ عَاصِبٌ رَأْسَهُ بِخِرْقَةٍ فَقَعَدَ عَلَى الْمِنْبَرِ فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ ثُمَّ قَالَ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ النَّاسِ أَحَدٌ أَمَنَّ عَلَيَّ فِي نَفْسِهِ وَمَالِهِ مِنْ أَبِي بكْرِ بْنِ أَبِي قُحَافَةَ وَلَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا مِنْ النَّاسِ خَلِيلًا لَاتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ خَلِيلًا وَلَكِنْ خُلَّةُ الْإِسْلَامِ أَفْضَلُ سُدُّوا عَنِّي كُلَّ خَوْخَةٍ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ غَيْرَ خَوْخَةِ أَبِي بَكْر

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Muhammad Al Ju’fiy yang berkata telah menceirtakan kepada kami Wahb bin Jarir yang berkata telah menceritakan kepada kami Ayahku yang berkata aku mendengar Ya’la bin Hakim dari ‘Ikrimah dari Ibnu Abbas yang berkata Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] keluar dalam keadaan sakit yang menyebabkan wafatnya. Ketika itu kepalanya dibalut kain, Beliau naik ke atas mimbar dan mengucapkan pujian kepada Allah kemudian berkata sesungguhnya tidak ada orang yang paling amanah dihadapanku tentang diri dan hartanya selain Abu Bakar bin Abi Quhaafah, sekiranya aku diperbolehkan mengambil seorang manusia sebagai khalil maka aku akan mengambil Abu Bakar sebagai khalil. Akan tetapi persaudaraan islam lebih utama. Tutuplah dariku semua pintu kecil di masjid ini kecuali pintu kecil Abu Bakar [Shahih Bukhari 1/100 no 467]

Ketiga hadis ini shahih dan kami katakan tidak ada pertentangan antara hadis keutamaan Abu Bakar radiallahu ‘anhu ini dengan keutamaan Ali ‘Alaihis salam. Hal ini dijelaskan oleh Ibnu Hajar dalam Fath Al Bari ketika menjelaskan hadis ini. Sebelumnya kami akan memberikan hadiah kecil kepada para nashibi sebagai tinjauan atas “metode ngawur bin bid’ah” mereka dalam menilai hadis. Jika kita menerapkan metode hadis ala nashibi maka ketiga hadis shahih di atas tidak bisa dijadikan hujjah alias dhaif karena

  1. Hadis Bukhari yang pertama di dalam sanadnya terdapat Fulaih bin Sulaiman. Utsman Ad Darimi dari Ibnu Ma’in berkata “dhaif kedudukannya mendekati Abu Uwais”. Terkadang Ibnu ma’in berkata “tidak kuat dan tidak dapat dijadikan hujjah”. Abu Hatim berkata “tidak kuat”. Nasa’I berkata “dhaif”. Abu Ahmad Al Hakim berkata “tidak kuat di sisi para ulama”. Ali bin Madini mendhaifkannya. Ar Ramliy berkata dari Abu Dawud “tidak ada apa-apanya”. [At Tahdzib juz 8 no 553].
  2. Hadis Muslim yang kedua di dalam sanadnya terdapat Ubaid bin Hunain. Ibnu Sa’ad berkata “tsiqat tidak banyak meriwayatkan hadis”. Abu Hatim berkata “shalih al hadits”. Ibnu Hibban memasukkan dalam Ats Tsiqat [At Tahdzib juz 7 no 129]. Menurut salah seorang nashibi, pernyataan Abu Hatim “shalih al hadits” berarti ia bermasalah dalam hafalannya dan tidak bisa dijadikan hujjah jika tafarrud. Nashibi yang lain menyatakan Ibnu Sa’ad dan Ibnu Hibban tasahul dalam mentautsiq perawi. Maka berdasarkan metode ilmu hadis ala nashibi maka Ubaid bin Hunain tidak bisa dijadikan hujjah.
  3. Hadis Bukhari yang ketiga didalam sanadnya terdapat Wahb bin Jarir dan ayahnya. Mengenai Wahb bin Jarir, Affan membicarakannya. Ibnu Hibban berkata “sering keliru”. [At Tahdzib juz 11 no 273]. Al Uqaili memasukkannya dalam Adh Dhu’afa [Adh Dhu’afa Al Uqaili 4/324 no 1928]. Mengenai Jarir bin Hazm, Ibnu Ma’in menyatakan ia tsiqat tetapi ia juga berkata meriwayatkan dari Qatadah dari Anas hadis-hadis mungkar. Ahmad berkata “Jarir banyak melakukan kesalahan”. Ibnu Hibban berkata “sering keliru meriwayatkan hadis dari hafalannya”. Al Azdy menyatakan ia shaduq tetapi bukan hafizh dan meriwayatkan hadis-hadis mungkar. [At Tahdzib juz 2 no 111]. Al Uqaili memasukkannya dalam Adh Dhu’afa [Adh Dhu’afa Al Uqaili 1/198 no 243]

Maka bagaimana nashibi itu mau berhujjah dengan hadis shahih kalau hadis shahih di atas ternyata diriwayatkan oleh para perawi yang masih ternukil jarh-nya. Itulah dilema para nashibi dan alangkah lucunya kalau mereka masih tidak sadar diri. Kami perlu menekankan kepada nashibi yang sering menukil tulisan kami, jangan sampai anda mengira kami sedang melemahkan hadis shahih Bukhari dan Muslim di atas. Kami ingin menunjukkan kepada anda para nashibi bahwa metode hadis ala anda itu tidak laku dalam ilmu hadis karena membahayakan banyak hadis shahih termasuk hadis yang anda jadikan hujjah.

Kembali pada hadis di atas, hadis keutamaan Imam Ali tidaklah bertentangan dengan hadis keutamaan Abu Bakar. Keduanya shahih dan bisa dijamak, peristiwa itu terjadi dua kali. Pada awalnya Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] memerintahkan untuk menutup pintu-pintu masjid kecuali pintu Imam Ali kemudian setelah beberapa lama kemudian sebagian sahabat meminta izin kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] untuk membuat pintu kecil [khawkhah]. Pada akhirnya sebelum wafat, Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] menutup semua pintu kecil itu kecuali pintu kecil Abu Bakar. Hal inilah yang dijelaskan Ibnu Hajar dalam Fath Al Bari.

ومحصل الجمع أن الأمر بسد الأبواب وقع مرتين ، ففي الأولى استثني علي لما ذكره ، وفي الأخرى استثني أبو بكر ، ولكن لا يتم ذلك إلا بأن يحمل ما في قصة علي على الباب الحقيقي وما في قصة أبي بكر على الباب المجازي والمراد به الخوخة كما صرح به في بعض طرقه ، وكأنهم لما أمروا بسد الأبواب سدوها وأحدثوا خوخا يستقربون الدخول إلى المسجد منها فأمروا بعد ذلك بسدها ، فهذه طريقة لا بأس بها في الجمع بين الحديثين ، وبها جمع بين الحديثين المذكورين أبو جعفر الطحاوي في مشكل الآثار ، وهو في أوائل الثلث الثالث منه ، وأبو بكر الكلاباذي في ” معاني الأخبار ” وصرح بأن بيت أبي بكر كان له باب من خارج المسجد وخوخة إلى داخل المسجد ، وبيت علي لم يكن له باب إلا من داخل المسجد ، والله أعلم

Dengan mengumpulkan kedua hadis tersebut maka perintah untuk menutup pintu-pintu masjid itu terjadi dua kali. Pada peristiwa yang pertama Ali dikecualikan dan pada peristiwa yang kedua, Abu Bakar dikecualikan. Tetapi hal itu tidakbisa dipahami sempurna kecuali bahwa yang disebutkan pada kisah Ali adalah pintu secara hakiki [yang sebenarnya] sedangkan yang disebutkan dalam kisah Abu Bakar adalah pintu secara majaz [kiasan] dimana yang dimaksud adalah pintu kecil [khaukhah] sebagaimana yang disebutkan secara jelas dalam sebagian riwayatnya. Seolah-olah mereka ketika diperintahkan menutup pintu-pintu masjid, mereka menutupnya dan membuat pintu kecil [khaukhah] dan mereka masuk kedalam masjid melaluinya maka setelah itu pintu-pintu kecil itu juga ditutup. Maka tidak ada masalah menggabungkan antara kedua hadis ini. Dan menggabungkan kedua hadis ini juga disebutkan oleh Abu Ja’far Ath Thahawiy dalam Musykil Al Atsar dan Abu Bakar Al Kalabadzi dalam Ma’aniy Al Akhbar dengan menjelaskan bahwa rumah Abu Bakar memiliki pintu yang terhubung ke luar masjid dan khaukhah yang terhubung ke dalam masjid sedangkan rumah Ali tidak memiliki pintu kecuali yang terhubung untuk masuk kedalam masjid. Wallahu a’lam. [Fath Al Bari Syarh Shahih Bukhari Ibnu Hajar10/451]

Perkataan Ibnu Hajar ini diikuti oleh Al Mubarakfuri dalam penjelasannya terhadap hadis Sunan Tirmidzi. [Tuhfatul Ahwadzi 9/89 no 3611]. Penjelasan ini sudah cukup untuk membungkam syubhat yang dilontarkan kaum nashibi.

.

.

Kesimpulan

Hadis tutuplah pintu masjid kecuali pintu Ali adalah shahih dengan keseluruhan jalannya. Diantara ulama yang mengumpulkan jalan-jalannya dan menguatkan hadis ini adalah Al Hafizh Ibnu Hajar [dalam Fath Al Bari 10/451 dan Qaul Al Musaddad 1/17-19], Al Hafizh Asy Syaukaniy [Fawaid Al Majmu’ah no 56] dan Syaikh Al Albaniy [Atsmar Al Mustathab 1/487-493]

setan dari NAJAD seperti di nubuwahkan Nabi SAW sudah muncul yaitu salafi wahabi

.

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah

Sebagian Demo anti syi’ah di indonesia cuma angin yang dilakukan orang dungu kampungan

Wednesday, May 13th, 2009

Primitif mini comic

Sebagian demo anti syiah didanai orang orang setan salafi wahabi najad

Kontroversi letak Nejd : Arab Saudi atau Iraq ?

 Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna yang berkata telah menceritakan kepada kami Husain bin Hasan yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Aun dari Nafi’ dari Ibnu Umar yang berkata [Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “Ya Allah berilah keberkatan kepada kami, pada Syam kami dan pada Yaman kami”. Para sahabat berkata “dan juga Najd kami?”. Beliau bersabda “disana muncul kegoncangan dan fitnah, dan disanalah muncul tanduk setan” [Shahih Bukhari 2/33 no 1037]

Setidaknya ada dua pendapat mengenai letak Najd :

  1. Najd adalah wilayah nejd /najd / nejed / najad yang berada di Arab Saudi
  2. Najd adalah Iraq (Irak adalah Najd / Najd = Irak)

Pendapat pertama adalah pendapat Ahlus Sunnah wal Jama’ah (muslim Sunni) dari empat madzhab (mayoritas kaum muslimin). Pendapat kedua dari wahhabi dan salafy. Pendapat pertama adalah yang terkuat dengan beberapa argumentasi berikut ini:

  • Arti Harfiah (sebenarnya)

Nejd yang dimaksud cukup jelas tanpa interpretasi apapun. Atau dengan meminjam istilahnya (doktrinnya) salafy sendiri yakni “mengimani hadits shohih tanpa tahrif (pengubahan), ta’thil (pengingkaran), tamtsil (penyerupaan) maupun takwil”. Nejd pada masa Rasulullah adalah nama sebuah wilayah yang sama sampai hari ini dan terletak di sebelah timurnya Hijaz dan berada di Arab Saudi (sekarang). Maka pendapat yang menyatakan bahwa “Nejd adalah Iraq” berarti telah melakukan tahrif, tamtsil, takwil, & ta’thil. Kita harus berhati-hati pada orang yang suka mencari-cari takwil ayat-ayat mutasyabihat (apalagi ayat-ayat muhkamat) tanpa ilmu karena hati mereka ini condong kepada kesesatan. Sebab jika takwil mereka salah, mereka bisa menimpakan fitnah pada penduduk Irak & menyembunyikan fitnah dari Nejd !!! Mereka ini aneh sekali karena mengaku-ngaku ahlul hadits maupun ahlus sunnah wal jama’ah, bahkan pewaris manhaj salafus sholih namun mengapa mereka justru menakwilkan hadits shohih dengan cara seperti itu?

  • Sisi bahasa : Arti Nama Nejd (tanah yang tinggi/dataran tinggi)

Secara etimologi, kata Najd adalah dataran tinggi (tanah yang tinggi), sedangkan kata Iraq secara etimologi bermakna tanah sepanjang tepian sungai atau “daerah yang terletak di antara sungai-sungai”. Faktanya, nama-nama tersebut memang menerangkan kondisinya masing-masing yang sebenarnya. Najd berada di daerah gurun pedalaman di dataran tinggi sedangkan Irak berada di sekitar sungai eufrat dan sungai tigris yang subur. Iraq (terutama daerah di antara sungai Euphrates & Tigris) terletak di dataran rendah. Kota Baghdad sendiri (ibukota Irak) juga berada di dataran rendah. Hal ini berbanding seratus delapan puluh derajat dibandingkan dengan kota Riyadh (ibukota Saudi) yang berada di wilayah Nejd dan berada di dataran tinggi. Pendapat Salafy yang mengatakan bahwa maksud ”Nejed” dalam riwayat hadits di atas bukanlah nama negeri tertentu, tetapi untuk setiap tanah yang lebih tinggi dari sekitarnya. Kemudian hal tersebut dijadikan hujjah untuk pendapat “Nejed adalah Irak” maka hal ini sangat lucu dan tidak logis sebab faktanya Irak berada di dataran rendah. Sebagian salafy – wahhabi telah melakukan takwil & tafsir secara ngawur dari sisi bahasa. Sebagian lainnya hanyalah melakukan taklid buta tanpa menggunakan akalnya untuk berfikir.

  • Dari arah Timur (arah matahari terbit)

Telah menceritakan kepadaku Harmalah bin Yahya yang berkata telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb yang berkata telah mengabarkan kepadaku Yunus dari Ibnu Syihab dari Salim bin ‘Abdullah dari ayahnya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata dan Beliau menghadap ke arah timur “fitnah datang dari sini, fitnah datang dari sini, fitnah datang dari sini, dari arah munculnya tanduk setan” [Shahih Muslim 4/2228 no 2905]

Telah menceritakan kepada kami Musa bin Harun yang berkata telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad Fuuraan yang berkata telah menceritakan kepada kami Aswad bin ‘Aamir yang berkata telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Yahya bin Sa’id dari Salim dari Ibnu Umar bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menghadap ke arah matahari terbit seraya berkata “dari sini muncul tanduk setan, dari sini muncul fitnah dan kegoncangan dan orang-orang yang bersuara keras dan berhati kasar [Mu’jam Al Awsath Thabrani 8/74 no 8003 - HR Thabrani dengan sanad shohih]

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang menceritakan kepada kami ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id mawla bani hasyim yang berkata telah menceritakan kepada kami Uqbah bin Abi Shahba’ yang berkata telah menceritakan kepada kami Salim dari ‘Abdullah bin Umar yang berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengerjakan shalat fajar kemudian mengucapkan salam dan menghadap ke arah matahari terbit seraya bersabda “fitnah datang dari sini, fitnah datang dari sini dari arah munculnya tanduk setan” [Musnad Ahmad 2/72 no 5410]

Banyak hadits yang saling menjelaskan.  Arah tanduk syaithan adalah arah timur (arah matahari terbit). Sedangkan arah timur yang dimaksudkan adalah dilihat dari kota Madinah. Kota tempat di mana Rasulullah memberikan peringatan dengan menunjukkan tangannya ke arah timur (arah matahari terbit). Kota Riyadh yang berada di wilayah Nejd (Arab Saudi) tepat berada di timurnya Madinah. Sedangkan Irak berada di timur lautnya Madinah (terletak di timurnya Syam atau utaranya Najd). Kesimpulannya: Salafy – Wahhabi yang memahami timurnya Madinah adalah Irak berarti kurang faham geografi dengan mencari-cari takwil yang aneh-aneh. Bukan hanya mendahulukan pendapat daripada nash-nash Al Qur’an dan Sunnah, namun juga membuat takwil yang tidak logis dan tidak masuk akal.

Ciri mereka ini mirip sekali dengan ciri Islam ekstrim kanan (kaum khawarij) yang meninggalkan akalnya untuk berfikir (berfikir sempit/dangkal) sehingga menginterpretasikan dalil secara tidak ilmiah. Mereka kebalikan dari kaum mu’tazilah yang membebaskan akalnya secara liar dan memahami Islam secara liberal.

  • Nejd dicela karena penduduknya

Orang-orang Arab Badui itu, lebih sangat kekafiran dan kemunafikannya, dan lebih wajar tidak mengetahui hukum-hukum yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya. Dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS At Taubah 97)

Penduduk Nejd (Arab Saudi) mayoritas adalah suku Arab Badui (Arab Badwi/Bedouins). Suku bangsa ini berbeda dengan bangsa Arab umumnya yang berada di Hijaz (baratnya Nejd) maupun di Syam ataupun di Irak (utaranya Nejd). Meskipun tidak menutup kemungkinan terjadi percampuran ataupun perpindahan beberapa Arab badui ke beberapa tempat seperti Irak. Namun, asal mereka tetaplah dari Nejd (Arab Saudi). Arab Badui ini secara jelas dan berulang kali dicela oleh Allah dalam Al Qur’an serta Rasulullah dalam berbagai hadits. Penduduk Irak dan Syam tidak pernah dicela oleh Allah dalam Al Qur’an. Dalil-dalil dan penjelasan dalam masalah ini bisa dilihat di sini: Arab Badui, Nejd & Kemunafikan. Satu hal yang menjadi catatan; “Mereka ini lebih wajar tidak mengetahui (mengerti) hukum-hukum Islam”.

  • Rasulullah membedakan Nejd dengan Irak

Tidak ada riwayat yang mengatakan bahwa Nejd adalah Iraq. Orang yang mengatakan bahwa “Nejd adalah Irak” berarti tidak faham dalam masalah ini. Rasulullah sendiri tahu dan membedakan Irak dengan Nejed sebagaimana beliau membedakan antara Madinah, Syam, Mesir & Yaman. Bahkan dalam hadits di bawah ini, beliau menyebutkannya secara sistematis searah jarum jam jika dilihat dari letak wilayahnya. Madinah sebagai pusatnya, Syam & Mesir arah jam 10 – 12 (barat-utara), Iraq arah jam 1 (utara-timur/timur laut), Nejd arah jam 3 (timur) dan Yaman arah jam 6 (selatan)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Ammar Al Maushulli yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Haasyim Muhammad bin ‘Ali dari Al Mu’afiy dari Aflah bin Humaid dari Qasim dari Aisyah yang berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menetapkan miqat bagi penduduk Madinah di Dzul Hulaifah, bagi penduduk Syam dan Mesir di Juhfah, bagi penduduk Iraq di Dzatu ‘Irq, bagi penduduk Najd di Qarn dan bagi penduduk Yaman di Yalamlam [Shahih Sunan Nasa’i no 2656]

Andaikata betul nejd adalah Iraq, maka pertanyaannya adalah buat apa Rasulullah membedakan penduduk Irak dengan penduduk Nejd? Lalu apa nama daerah pedalaman di sebelah timurnya Madinah? Mengapa Irak yang berada di dataran rendah diberi nama Najd (tanah yang tinggi)? Mengapa timurnya Madinah adalah Iraq, apakah Rasulullah bingung arah? Atau jika Nejd berada di Iraq, di manakah tepatnya wilayah tersebut berada? Adakah sebuah wilayah bernama “Nejd” di Irak? Fitnah apa saja yang muncul dari wilayah tersebut? Argumentasi mereka yang mengatakan bahwa Nejd adalah Iraq dan mereka ngotot mempertahankannya, bukan hanya tidak ditopang dengan dalil-dalil yang shohih & relevan tetapi juga tidak menggunakan akal sehat alias hanya memperturutkan hawa nafsu, semangat debat kusir serta kejahatan menyembunyikan kebenaran.

  • Sisi Sejarah & Realitas

Khawarij pertama bermula dari Dzul Khuwaisirah, seorang lelaki dari Bani Tamim. Bani Tamim sendiri merupakan salah satu suku Arab Badui yang tinggal di nejd. Dia berpendapat bahwa Rasulullah tidak adil sewaktu membagi ghanimah (harta rampasan perang). Fitnah lainnya adalah nabi palsu Musailamah Al Kadzab berikut pengikutnya dari suku Arab Badui, dari wilayah Nejd. Orang-orang yang keluar dari barisan dalam perang shiffin (perang saudara sesama muslim) juga khawarij dari Arab Badui. Mereka ini berasal (bersumber) dari Nejd namun berulah (membuat fitnah) di Irak. Bahkan Ibnu Taimiyah yang dianggap salafy sebagai syaikh terbesar mereka, sependapat dalam hal ini.

Dalam kitab Naqdu al Taqdis, Ibnu  Taimiyah berkata: Telah Mutawatir khobar dari Nabi Shallallahu alaihi Wasallam bahwa fitnah dan pangkal kekufuran berasal dari timur  –timur Madinah-  seperti Najd dan semua daerah sebelah timurnya (Madinah) Kemudian beliau memberikan contoh yang terjadi di Najd. Tidak diragukan lagi bahwa di sana muncul kemurtadan dan hal-hal lain yang termasuk kekufuran, di antaranya Musailamah al Kadzab dan para pengikutnya, Thalihah al Asadiy dan para pengikutnya, Sujah dan para pengikutnya hingga mereka diperangi oleh abu Bakar as Shiddiq dan orang-orang mukmin yang bersama beliau. Ada yang terbunuh dan ada yang kembali sebagai mukmin maupun Munafiq.

Begitupun peringatan dari ulama-ulama Sunni seperti Shaykh Habib M. Ya’qoubi, Syaikh Habib Ali Zain al–Abideen Al-Jifri, Syaikh Muhammad Tahir-ul-Qadri, dan ulama sunni lain termasuk dari Indonesia. Para teroris yang akhir-akhir ini mencoreng citra kaum muslimin dan mengacau keamanan dunia juga kebanyakan dari mereka atau yang mengikuti mereka. Pihak intelijen dan pihak kepolisian pun sudah tahu siapa yang harus dicari dan dicurigai setiap kali ada aksi terorisme. Hendropriyono selaku mantan ketua Badan Intelijen Negara (BIN) pernah menyebut habitat teroris seperti Nurdin M. Top adalah wahhabi aliran garis keras. Kelompok ini tidak mau berpartai karena dianggapnya kafir serta suka mengkafirkan sesama muslim. Para analis dan sejarawan internasional seperti David Livingstone dengan bukunya Terrorisme – Illuminati dan yang lain juga sependapat dalam hal ini. Febe Armanios, seorang analis terorisme dan Timur Tengah melaporkan dalam CRS Report for Congress untuk kebijakan Amerika Serikat bahwa dalang terorisme juga mengarah kepada Wahhabi dan Salafy.

Hal ini cukup aneh karena dari sisi kognitif tidak mengarah ke sana. Tapi dari sisi emosi, akhlaq dan budaya seperti doktrin egoisme & kesombongan “hanya kami yang benar & selamat sendiri”; menolak kebenaran dari luar kalangan; doktrin intoleran “kebencian & permusuhan terhadap outsiders”; memahami Islam secara sempit; budaya taklid alias mengekor & tidak kritis terhadap pemimpinnya; budaya keras & kasar; ajaran yang menyalahi fithrah alias membatasi (menghambat) aktualisasi diri & akhirnya terbentur realitas; serta emosi-emosi negative & akhlaq buruk lainnya adalah alasan-alasan psikologis yang lebih dari cukup untuk mengarahkan mereka pada perilaku yang bermasalah. Memang benar tidak semuanya seperti itu. Namun kebenaran yang tidak boleh ditolak adalah bahwa para teroris islam ekstrim dewasa ini hampir semuanya adalah hasil didikan wahhabi – salafy.

  • Argumentasi “Nejd adalah Irak” sangat lemah

Pendapat “Nejd adalah Irak” muncul karena mereka menafsirkan hadits terkait Nejd dengan hadits-hadits berikut.

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin ‘Umar bin Abaan, Waashil bin ‘Abdul A’laa, dan Ahmad bin ‘Umar Al Wakii’iy [dan lafaznya adalah lafaz Ibnu Abaan] ketiganya berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Fudlail, dari ayahnya yang berkata Aku mendengar Saalim bin ‘Abdillah bin ‘Umar berkata “Wahai penduduk ‘Iraaq, aku tidak bertanya tentang masalah kecil dan aku tidak mendorong kalian untuk masalah besar. Aku pernah mendengar ayahku, Abdullah bin ‘Umar berkata Aku pernah mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa salam bersabda ‘Sesungguhnya fitnah itu datang dari sini ia menunjukkan tangannya ke arah timur dari arah munculya dua tanduk setan’. Kalian saling menebas leher satu sama lain. Musaa hanya membunuh orang yang ia bunuh yang berasal dari keluarga Fir’aun itu karena tidak sengaja. Lalu Allah ‘azza wa jalla berfirman padanya ‘Dan kamu pernah membunuh seorang manusia, lalu kami selamatkan kamu dari kesusahan dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan.” [Thaahaa: 40]”. Berkata Ahmad bin Umar dalam riwayatnya dari Salim tanpa mengatakan “aku mendengar” [Shahih Muslim 4/2228 no 2905].

Perlu dicermati bahwa yang memperingatkan penduduk Iraq dalam hadits di atas adalah Saalim bin ‘Abdillah bin ‘Umar, bukan Rasulullah. Dalam matan hadits di atas juga tidak ada yang secara eksplisit mengatakan bahwa “Nejd adalah Irak” atau “Fitnah akan muncul dari Irak.” Hadits tersebut shohih dan Rasulullah memperingatkan bahaya fitnah dari arah timur dan beliau (Rasulullah) tidak memperingatkan penduduk Irak secara khusus melalui hadits di atas. Jika Salim memperingatkan penduduk Iraq dengan hadits tersebut, rasanya cukup wajar karena fitnah dan peperangan pada zaman Ali bin Abi Thalib banyak terjadi di Irak. Namun, bukan berarti sumbernya berasal dari Irak. Sebab Salim sendiri tidak pernah mengatakan dalam hadits tersebut, “Wahai penduduk Iraq, kalian adalah sumber fitnah yang dimaksudkan Rasulullah.” Hadits shohih tersebut tidak relevan dan tidak kuat untuk mendukung pendapat “Nejd adalah Iraq”. Hadits shohih tersebut justru relevan untuk mendukung pendapat, “fitnah datang dari arah timur (Najd).”

Hadits lain yang sering digunakan salafy sebagai argumentasinya adalah hadits berikut:

Telah menceritakan kepada kami Hasan bin Ali Al-Ma’mariy yang berkata telah menceritakan kepada kami Ismaail bin Mas’ud yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidullah bin ‘Abdillah bin ‘Aun dari ayahnya, dari Naafi’ dari Ibnu ‘Umar bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Ya Allah, berikanlah keberkatan kepada kami pada Syaam kami dan pada Yamaan kami”. Beliau [shallallaahu ‘alaihi wasallam] mengatakannya beberapa kali. Ketika beliau mengatakan yang ketiga kali atau yang keempat, para shahabat berkata “Wahai Rasulullah, dan juga Iraq kami?”. Beliau bersabda  “Sesungguhnya di sana terdapat kegoncangan dan fitnah, dan disanalah akan muncul tanduk setan” [Mu’jam Al Kabiir Ath Thabrani 12/384 no 13422].

Hadis ini lemah karena Ubaidillah telah menyelisihi dua orang perawi tsiqat (terpercaya) yaitu Azhar bin Sa’d dan Husain bin Hasan dimana keduanya menyebutkan lafaz Najd bukan lafaz Iraq. Hadits serupa dengan lafaz Najd lebih shohih dan diriwayatkan oleh Imam Bukhori dengan sanad Husain bin Hasan. Seandainya hadits tersebut memang benar dan shohih maka logika “nejed adalah irak” tetap ngawur sebab seandainya hadits itu benar berarti tempat munculnya fitnah adalah berada di Nejd dan Irak. Hadits tersebut juga tidak bisa digunakan untuk menghapus hadits shohih dengan lafaz nejd ataupun hadits lain sebagai penjelas misal hadits arah timur, arah matahari terbit, hadits khawarij, maupun hadits-hadits terkait Arab Badui lainnya. Jika dipaksakan bahwa hadits dengan lafaz Irak adalah shohih maka interpretasinya adalah fitnah dari Najd dan Irak. Tidak logis jika diinterpretasikan bahwa Nejd adalah Irak. Interpretasinya adalah Nejd sebagai sumbernya dan Irak terkena imbasnya.

Di dalam sejarah, para khowarij berasal dari Arab Badui yang tinggal di Nejd namun berulah di Irak sehingga diperangi oleh Khalifah Ali bin Abi Thalib di Irak pula. Kekacauan yang ada di Irak saat ini kabarnya juga ditunggangi oleh Arab Saudi dan para khowarij yang sengaja menginginkan agar kondisi Irak tidak pernah stabil. Sebab pemilu terakhir menunjukkan Presiden Irak terpilih berasal dari Sunni sedangkan Perdana Menterinya dari Syiah. Hal ini merupakan representasi dari penduduk Irak yang memang hampir seimbang antara Sunni & Syiah. Namun hal ini tentu tidak disukai oleh wahhabi-salafy yang sangat memusuhi Syiah.

Hadits lain yang dijadikan argumentasi adalah hadits yang di dalam sanadnya ada nama Ziyaad bin Bayaan. Ziyaad bin Bayaan dikatakan oleh Adz Dzahabi “tidak shahih hadisnya”. Ia telah dimasukkan Adz Dzahabi dalam kitabnya Mughni Ad Dhu’afa no 2222. Al Uqaili juga memasukkannya ke dalam Adh Dhu’afa Al Kabir 2/75-76 no 522. Bukhari berkata “dalam sanad hadisnya perlu diteliti kembali” [Al Mizan juz 2 no 2927] Ibnu Hibban tidak hanya menta’dil Ziyaad bin Bayaan, Ibnu Hibban juga memasukkan nama Ziyaad bin Bayaan dalam kitabnya Adh Dhu’afa yang memuat nama perawi dhaif menurutnya. Ibnu Hibban berkata “Ziyaad bin Bayaan mendengar dari Ali bin Nufail, dalam sanad hadisnya perlu diteliti kembali (fii isnad nazhar)” [Al Majruhin no 365]. Ziyaad bin Bayaan juga terbukti meriwayatkan hadis mungkar dan kemungkarannya terletak pada sanad hadis tersebut. Hadis yang dimaksud adalah hadis Al Mahdi dimana Ziyad bin Bayaan membawakan dengan sanad dari Ali bin Nufail dari Ibnu Musayyab dari Ummu Salamah secara marfu’. Hadis ini yang diingkari oleh Bukhari dan pengingkaran tersebut terletak pada sanadnya. Ibnu Ady dalam Al Kamil dengan jelas mengatakan kalau Bukhari mengingkari hadis Ziyad bin Bayaan ini.

Hadits-hadits lain yang dijadikan argumentasi adalah tidak shohih dari sisi matan maupun sanad, sebagiannya dhaif dan sebagiannya lagi mengandung illat (cacat). Seandainya hadits yang dijadikan pijakan memang shohih, maka ada dua tempat dimana munculnya fitnah yang dimaksud oleh hadis tersebut yaitu “Najd dan Irak. Sedangkan logika salafy kalau “Najd adalah Irak sudah jelas-jelas salah dan berbahaya. Sebab konsekuensi dari kalimat itu adalah menafikan Nejd (Arab Saudi) dari tempat fitnah yang kaum muslimin diperingatkan oleh Rasulullah. Seandainya mereka mengingkari bahwa Nejd (Arab Saudi) bukan sumber fitnah, maka ini lebih ngawur lagi.

Lagi pula jika mereka berargumentasi: “Lafadz Nejd yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah Iraq karena hadits saling menjelaskan”, bisa dengan mudah dipatahkan. Dengan logika yang sama, bahkan lebih kuat bisa saja ada orang yang berkata, “Lafadz Iraq yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah Nejd karena hadits saling menjelaskan dan sanad hadits dengan lafadz Nejd lebih kuat”

Terserah mereka mau membebaskan kutukan nama tempatnya dengan beragam argument, tetapi mereka sekali-kali tidak dapat melepaskan kutukan terhadap penduduknya yakni Arab Badui yang ditegaskan oleh Allah sendiri dalam Al Qur’an lebih cenderung kafir & munafik serta tidak mengerti tentang ilmu agama melainkan sedikit.

Kaum muslimin yang berhati-hati tentu akan lebih memilih menjauhi segala fitnah, baik dari Nejd (Arab Saudi) maupun dari Irak. Kemudian, kaum muslimin yang faham dalam masalah ini cukup mewaspadai fitnah dari Najd (Arab Saudi) saja. Termasuk mewaspadai fitnah wahhabi – salafy yang berasal dari Nejd dan orang-orang Arab Badui. Sedangkan mereka yang bebal tetap saja mempercayai kata-kata orang Arab Badui dari Nejd dan justru tidak percaya pada pendapat lain yang menyelisihi mereka. Mereka ini tidak mengerti karena hatinya sudah terkunci !!!

Mereka ini seperti orang Kristen yang ditunjukkan bukti nyata mengenai kata-kata tidak senonoh dalam kitab suci mereka namun mereka tetap berkilah bahwa Tuhan menceritakan apa saja di Al Kitab seperti berita di televisi agar menjadi pelajaran bagi manusia. Ya, terserah mereka. Bagiku agamaku dan bagimu agamamu. Tugas kaum muslimin hanyalah menyampaikan. Begitu pula terhadap salafy.

Jika salafy menanggapinya dengan melakukan bantahan berbumbu cacian, sebaiknya hal tersebut ditujukan kepada orang-orang kafir terlebih dahulu sebelum ditujukan kepada kaum muslimin. Sebab orang-orang kafir juga telah menulis tentang wahhabi – salafy dengan negative. Mereka menulis sejarah wahhabi dan Arab Saudi dengan deskripsi yang negative pula. Hal ini bisa didapati di Wikipedia, ensiklopedia, sejarah umum, jurnal-jurnal, tulisan-tulisan mereka di website maupun di buku-buku. Mereka bahkan memisahkan istilah wahhabi dengan Islam, yakni Wahhabisme bukan ajaran Islam namun gerakan Islam radikal. Termasuk berkaitan dengan terorisme, radikalisasi Islam, militansi dan semacamnya. Bahkan, situs Terrorisme – Illuminati mengklaim bahwa wahhabi – salafy sebagai agen-agen Freemason – Illuminati kaki tangan Zionis Internasional.

Saya pribadi tidak membenarkan tetapi juga tidak menafikan apa yang ditulis oleh orang-orang kafir tersebut kecuali beberapa yang sudah ada bukti-buktinya. Sebaiknya salafy segera memprotes orang-orang kafir itu sebelum menghujat kaum muslimin yang menyampaikan kebenaran berdasarkan bukti-bukti kuat dan dalil-dalil yang akurat. Bukan sebaliknya, asyik menghujat kaum muslimin dan membiarkan orang-orang kafir begitu saja. Kaum muslimin sendiri tidak perlu risau jika orang-orang kafir menjelek-jelekkan faham salafy – wahhabi. Kami tidak punya urusan dan kami sebagai kaum muslimin baru akan bersikap keras jika kaum kufar menjelek-jelekkan Islam, Al Qur’an & ajaran-ajarannya termasuk jika mereka mencaci-maki Allah & Rasul-Nya, Ahlul Bayt, Salafus Sholih, Ulama’ & Imam Kaum Muslimin serta jama’ah kaum Muslimin. Jika mereka hanya menjelek-jelekkan firqah-firqah tersebut, maka kami tidak peduli & tidak cemburu. Itulah wujud wala’ & bara’ (loyal & disloyal) atas dasar Islam bukan atas dasar firqah

 

Arab Badui, Nejd & Kemunafikan

Apakah orang-orang yang beriman, hari ini benar-benar peduli dengan dua musuh bebuyutannya: yakni Kaum Kafir dan Kaum Munafik ??? Mungkin kita terlalu banyak menyoroti bahaya dari kaum kafir seperti Zionis Yahudi beserta Orientalis Kristen. Namun, apakah kita benar-benar memperhatikan musuh yang sebenarnya dari dalam? Mereka ini adalah kaum munafik! Ya, kaum munafik. Sesungguhnya persatuan dan kemajuan kaum muslimin sejak zaman nabi telah dirongrong oleh kaum munafik ini. Pun begitu sampai hari ini. Sayangnya, banyak kaum muslimin masih bodoh dan terlena sehingga orang-orang munafik yang pandai berdusta, gemar berkhianat dan tidak menepati janji itu telah menipu kaum muslimin mentah-mentah.

Siapakah kaum munafik di zaman Nabi? Mereka adalah sebagian dari penduduk Madinah dan sebagian orang-orang Arab Badui (badwi, bedouins) yang tinggal di timurnya Madinah (Nejd, Najd, Nejed, Najad) di gurun – gurun pasir pedalaman Arab. Lalu siapakah kaum munafik di zaman ini? Mereka adalah penganut Islam KTP (tidak bersungguh-sungguh beragama Islam alias Islam ekstrim kiri) dan Islam yang pemahaman keagamaannya menggunakan Manhaj Arab Badui alias Islam ekstrim kanan.

Lalu, bagaimana Islam memandang ciri-ciri orang Arab Badui ini? Mari kita lihat dalam Al Qur’an . Dalil-dalil ini memberitakan gambaran mereka di masa lalu, sekarang & masa datang. Penyebutan secara eksplisit Arab Badui (al a’raab) di dalam al Quran mirip seperti penyebutan Yahudi & Nashrani. Padahal, Al Quran tidak menyebutkan kaum Yaman, Syam, Iraq, atau Persia secara eksplisit. Padahal, suku bangsa itu juga berada di sekitar Hijaz yang didiami suku Quraisy, kaumnya Rasulullah. Bahkan, suku Quraisy yang berada di Hijaz pun tidak dicela secara eksplisit, padahal mereka dulunya memerangi Rasulullah. Begitu pula dengan Romawi dan Mesir, tidak dicela. Namun, yang dicela Allah dengan tegas dan berulang kali ada tiga kaum : Yahudi, Nasrani, & Arab Badui. Seolah-olah, sifat-sifat buruk mereka itu abadi. Seolah-olah kita diperingatkan dengan tiga kaum tersebut sampai kiamat nanti. Mari kita lihat ciri-ciri arab badui:

 

Ciri 1: Cenderung Kafir dan Munafik

Meskipun di antara orang-orang Arab Badui ada yang beriman, namun Al Qur’an telah menegaskan bahwa mereka ini lebih cenderung kepada kekafiran dan kemunafikan. Kekafiran dan kemunafikan orang-orang Arab Badui adalah yang terburuk dan terdangkal jika dibandingkan dengan kaum yang lain. Mereka ini juga cenderung bodoh (tidak mengerti, bebal) dan tidak memahami hukum-hukum Islam. Dengan kata lain, mereka ini miskin hikmah dan akalnya tumpul (sempit/dangkal). Mereka juga kikir saat diminta mengeluarkan hartanya untuk berjihad, padahal sebetulnya mereka punya.

Orang-orang Arab Badui itu, lebih sangat kekafiran dan kemunafikannya, dan lebih wajar tidak mengetahui hukum-hukum yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya. Dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS At Taubah 97)

Di antara orang-orang Arab Badui itu ada orang yang memandang apa yang dinafkahkannya (di jalan Allah), sebagai suatu kerugian, dan dia menanti-nanti marabahaya menimpamu, merekalah yang akan ditimpa marabahaya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS At Taubah 98)

Di antara orang-orang Arab Badui yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik; dan (juga) di antara penduduk Madinah. Mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, (tetapi) Kamilah yang mengetahui mereka. Nanti mereka akan Kami siksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar. (QS At Taubah 101)

Ayat di atas terkait Perang Tabuk. Kisah detail tentang mereka bisa dibaca di QS At Taubah.

 

Ciri 2: Enggan Berjihad & Bodoh (dangkal)

Orang-orang Badui yang tertinggal (tidak turut ke Hudaibiyah) akan mengatakan: “Harta dan keluarga kami telah merintangi kami, maka mohonkanlah ampunan untuk kami”; mereka mengucapkan dengan lidahnya apa yang tidak ada dalam hatinya. Katakanlah : “Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah jika Dia menghendaki kemudharatan bagimu atau jika Dia menghendaki manfaat bagimu. Sebenarnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS Al Fath 11)

Orang-orang Badui yang tertinggal itu akan berkata apabila kamu berangkat untuk mengambil barang rampasan: “Biarkanlah kami, niscaya kami mengikuti kamu”; mereka hendak merobah janji Allah. Katakanlah: “Kamu sekali-kali tidak (boleh) mengikuti kami; demikian Allah telah menetapkan sebelumnya”; mereka akan mengatakan: “Sebenarnya kamu dengki kepada kami”. Bahkan mereka tidak mengerti melainkan sedikit sekali. (QS Al Fath 15)

Katakanlah kepada orang-orang Badui yang tertinggal: “Kamu akan diajak untuk (memerangi) kaum yang mempunyai kekuatan yang besar, kamu akan memerangi mereka atau mereka menyerah (masuk Islam). Maka jika kamu patuhi (ajakan itu) niscaya Allah akan memberikan kepadamu pahala yang baik dan jika kamu berpaling sebagaimana kamu telah berpaling sebelumnya, niscaya Dia akan mengazab kamu dengan azab yang pedih”. (QS Al Fath 16)

 

Ciri 3: Keimanannya Dipertanyakan

Orang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah: “Kamu belum beriman, tapi katakanlah ‘kami telah tunduk’, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al Hujuraat 14)

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar. (QS Al Hujurat 15)

Mereka juga berkoar-koar tentang agama mereka, padahal hati mereka ini hampir-hampir nol dari keimanan. Maka jangan heran jika mereka berkoar – koar dengan kata-kata manis tentang agama mereka, tentang keimanan mereka, akan tetapi kita dapati akhlaq dan perilaku mereka itu adalah jauh panggang daripada api.

Katakanlah: “Apakah kamu akan memberitahukan kepada Allah tentang agamamu, padahal Allah mengetahui apa yang di langit dan apa yang di bumi dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu?” (QS Al Hujurat 16)

 

Ciri 4: Lebih Mencintai dirinya daripada diri Rasul (Egois)

Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar. (QS At Taubah 119)

Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang Arab Badui yang berdiam di sekitar mereka, tidak turut menyertai Rasulullah (berperang) dan tidak patut (pula) bagi mereka lebih mencintai diri mereka daripada mencintai diri Rasul. Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah, dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik, (QS At Taubah 120)

 

Ciri 5: Cenderung Khawarij

Telah menceritakan kepadaku Harmalah bin Yahya yang berkata telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb yang berkata telah mengabarkan kepadaku Yunus dari Ibnu Syihab dari Salim bin ‘Abdullah dari ayahnya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata dan Beliau menghadap kearah timur “fitnah datang dari sini, fitnah datang dari sini, fitnah datang dari sini, dari arah munculnya tanduk setan [Shahih Muslim 4/2228 no 2905]

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah yang berkata telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Ikrimah bin ‘Ammar dari Salim dari Ibnu Umar yang berkata “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar dari pintu rumah Aisyah dan berkata “sumber kekafiran datang dari sini dari arah munculnya tanduk setan yaitu timur [Shahih Muslim 4/2228 no 2905]

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin Mushir dari Asy Syaibani dari Yusair bin ‘Amru yang berkata “aku bertanya kepada Sahl bin Hunaif “apakah engkau mendengar Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] menyebutkan tentang Khawarij? Sahl berkata aku mendengarnya, dan ia menyisyaratkan tangannya ke arah timur [dan berkata] muncul kaum yang membaca Al Qur’an dengan lisan mereka tetapi tidak melewati tenggorokan mereka, mereka keluar dari agama seperti anak panah yang lepas dari busurnya [Shahih Muslim 2/750 no 1068]

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna yang berkata telah menceritakan kepada kami Husain bin Hasan yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Aun dari Nafi’ dari Ibnu Umar yang berkata [Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “Ya Allah berilah keberkatan kepada kami, pada Syam kami dan pada Yaman kami”. Para sahabat berkata “dan juga Najd kami?”. Beliau bersabda “disana muncul kegoncangan dan fitnah, dan disanalah muncul tanduk setan [Shahih Bukhari 2/33 no 1037]

Telah menceritakan kepada kami Abul Yaman yang berkata telah mengabarkan kepada kami Syu’aib dari Az Zuhri yang berkata telah mengabarkan kepadaku Abu Salamah bin ‘Abdurrahman bahwa Abu Sa’id Al Khudri radiallahu ‘anhu berkata kami bersama Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan Beliau sedang membagi harta rampasan perang, tiba-tiba datanglah Dzul Khuwaisirah dan dia seorang laki-laki dari bani Tamim, ia berkata “wahai Rasulullah berbuat adillah!”. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “celaka engkau, siapa yang bisa berlaku adil jika aku dikatakan tidak berlaku adil, sungguh celaka dan rugi jika aku tidak berlaku adil”. Umar berkata “wahai Rasulullah izinkanlah aku memenggal lehernya”. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “biarkanlah ia, sesungguhnya ia memiliki para sahabat dimana salah seorang dari kalian menganggap kecil shalat kalian dibanding shalat mereka dan puasa kalian dibanding puasa mereka, mereka membaca Al Qur’an tetapi tidak melewati tenggorokan mereka, mereka keluar dari agama seperti keluarnya anak panah dari busurnya. Dilihat mata panahnya maka tidak nampak apapun, dilihat pegangan panahnya maka tidak nampak apapun, dilihat batang panahnya maka tidak nampak apapun, dilihat bulu panahnya maka tidak nampak apapun sungguh ia mendahului kotoran dan darah. Ciri-ciri mereka adalah seorang laki-laki hitam yang salah satu lengannya seperti payudara perempuan atau seperti daging yang bergerak-gerak dan mereka keluar saat terjadi perselisihan di antara orang-orang. Abu Sa’id berkata “aku bersaksi bahwa aku mendengar hadis ini dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan aku bersaksi bahwa Ali bin Abi Thalib telah memerangi mereka dan ketika itu aku bersamanya, maka ia [Ali] memerintahkan untuk mencari laki-laki itu, akhirnya orang itu ditangkap dan dibawa kehadapannya maka aku bisa melihat ciri-ciri yang disebutkan oleh Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] [Shahih Bukhari 4/200 no 3610]

 

Ciri 6: Bersuara Keras & Berhati Kasar

Telah menceritakan kepada kami Musa bin Harun yang berkata telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad Fuuraan yang berkata telah menceritakan kepada kami Aswad bin ‘Aamir yang berkata telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Yahya bin Sa’id dari Salim dari Ibnu Umar bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menghadap ke arah matahari terbit seraya berkata “dari sini muncul tanduk setan, dari sini muncul fitnah dan kegoncangan dan orang-orang yang bersuara keras dan berhati kasar [Mu’jam Al Awsath Thabrani 8/74 no 8003 – HR Thabrani ini sanadnya Shohih]

Telah menceritakan kepada kami Musaddad yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya dari Isma’il yang berkata telah menceritakan kepadaku Qais bin Uqbah bin Amru Abi Mas’ud yang berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengisyaratkan tangannya kearah Yaman dan berkata “Iman di Yaman disini dan kekerasan hati adalah milik orang-orang Faddadin [arab badui yang bersuara keras] di belakang unta-unta mereka dari arah munculnya tanduk setan [dari] Rabi’ah dan Mudhar [Shahih Bukhari no 3126]

 

Ciri 7: Sombong & Angkuh

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya yang berkata qara’tu ala Malik dari Abi Zanad dari Al A’raj dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “sumber kekafiran datang dari timur, kesombongan dan keangkuhan adalah milik orang-orang penggembala kuda dan unta Al Faddaadin Ahlul Wabar [arab badui] dan kelembutan ada pada penggembala kambing [Shahih Muslim 1/71 no 52]

 

Ulasan Kaum Munafik dalam Al Qur’an

Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: “Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah”. Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta. Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan. Yang demikian itu adalah karena bahwa sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci mati; karena itu mereka tidak dapat mengerti. Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya) maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)? Dan apabila dikatakan kepada mereka: Marilah (beriman), agar Rasulullah memintakan ampunan bagimu, mereka membuang muka mereka dan kamu lihat mereka berpaling sedang mereka menyombongkan diri. Sama saja bagi mereka, kamu mintakan ampunan atau tidak kamu mintakan ampunan bagi mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (QS Al Munafiqun 1-6)

Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian,” padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta. Dan bila dikatakan kepada mereka:”Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi”. Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.” Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. Apabila dikatakan kepada mereka: “Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman.” Mereka menjawab: “Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?” Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh; tetapi mereka tidak tahu. Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: “Kami telah beriman”. Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok.” Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka. Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk. Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat. Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar), atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir,sebab takut akan mati. Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir. Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu. (QS Al Baqarah 8 – 20)

Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan. sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma’ruf dan mereka menggenggamkan tangannya (kikir-penj). Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasik. (QS At Taubah 67)

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: “Kami takut akan mendapat bencana”. Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka. (QS Al Maidah 51 – 52)

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang munafik yang berkata kepada saudara-saudara mereka yang kafir di antara ahli kitab: “Sesungguhnya jika kamu diusir niscaya kami pun akan keluar bersamamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh kepada siapapun untuk (menyusahkan) kamu, dan jika kamu diperangi pasti kami akan membantu kamu.” Dan Allah menyaksikan bahwa Sesungguhnya mereka benar-benar pendusta. (QS Al Hasyr 11)

Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang menghalang- halangi di antara kamu dan orang-orang yang berkata kepada saudara- saudaranya: “Marilah kepada kami”. Dan mereka tidak mendatangi peperangan melainkan sebentar. Mereka bakhil terhadapmu, apabila datang ketakutan (bahaya), kamu lihat mereka itu memandang kepadamu dengan mata yang terbalik- balik seperti orang yang pingsan karena akan mati, dan apabila ketakutan telah hilang, mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam, sedang mereka bakhil untuk berbuat kebaikan. Mereka itu tidak beriman, maka Allah menghapuskan (pahala) amalnya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. Mereka mengira (bahwa) golongan-golongan yang bersekutu itu belum pergi; dan jika golongan-golongan yang bersekutu itu datang kembali, niscaya mereka ingin berada di dusun-dusun bersama-sama orang Arab Badui, sambil menanya-nanyakan tentang berita-beritamu. Dan sekiranya mereka berada bersama kamu, mereka tidak akan berperang, melainkan sebentar saja. (QS Al Ahzab 18 – 20)

Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka Sesungguhnya bersumpah: “Kami tidak menghendaki selain kebaikan.” Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya). (QS At Taubah 107)

(Ingatlah), ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya berkata: “Mereka itu (orang-orang mukmin) ditipu oleh agamanya”. (Allah berfirman): “Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS Al Anfaal 49)

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali. (QS An Nisaa 142)

Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu. (QS An Nisaa 61)

Dan di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (distribusi) zakat; jika mereka diberi sebahagian dari padanya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebahagian dari padanya, dengan serta merta mereka menjadi marah. (QS At Taubah 58)

(Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) shaitan ketika dia berkata kepada manusia: “Kafirlah kamu”, maka tatkala manusia itu telah kafir, maka ia berkata: “Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta Alam”. (QS Al Hasyr 16)

Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang (munafik) vang berkata “Kami mendengarkan, padahal mereka tidak mendengarkan. Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah; orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apapun. (QS Al Anfaal 21 – 22)

Kesimpulan

  • Arah munculnya tanduk setan = arah matahari terbit = arah timur = arah Nejd (tanah yang tinggi, negerinya orang-orang Arab Badui)
  • Dari sana muncul kegoncangan, fitnah, dan sumber kekafiran
  • Fitnah berasal dari Kaum Munafiqin Arab Badui, dengan ciri-ciri munafik, bekerja sama dengan ahli kitab padahal sejatinya mereka saling menipu, sombong, angkuh, bersuara keras, berhati kasar, kikir dan enggan berjihad bersama kaum mu’min, bodoh (bebal, dangkal, miskin hikmah), membaca Al Quran tidak sampai ke hati, ibadah kaum muslimin tidak ada apa-apanya dibandingkan mereka, dan mereka keluar dari agama.

  • Dalam sejarah Islam yang saya pelajari, dari wilayah ini telah muncul nabi palsu bernama Musailamah al Kadzdzab (si pendusta) beserta orang-orang Arab Badui pengikutnya yang langsung diperangi oleh kaum muslimin.
  • Dalam perang Shiffin, antara kubu Ali bin Abi Thalib dengan kubu Muawiyah (keduanya Muslim) terdapat seorang komandan pasukan dari Ali bernama Hurkus. Dia dari Bani Tamim dari Arab Badui. Sebagaimana karakter orang badui di atas, dia kaku, keras dan berpikiran sempit. “Laa hukma illallah (tiada hukum selain Allah),” serunya. Pelanggar hukum Allah boleh dibunuh, demikian pendapatnya. Disebabkan karena kekisruhan perang sesama muslim itu, orang-orang yang mengikuti Hurkus keluar dari barisan dan merencanakan pembunuhan terhadap Muawiyah dan Ali. Muawiyah berhasil selamat namun Khalifah Ali dibunuh oleh kaum khawarij yang bodoh tapi sok tahu dan sok lurus itu.
  • Sejarah Wahhabisme dan berdirinya Kerajaan Saudi Arabia. Wahhabisme berasal dari Nejd. Kerajaan ini mengalami pasang surut sebanyak tiga kali. Arab Saudi sendiri merupakan gabungan kerajaan Nejd dengan Hijaz yang ditaklukkan dengan pasukan Arab Badui-Wahhabi yang bernama Ikhwan (bukan Ikhwanul Muslimin yang di Mesir). Ibukota Arab Saudi pun masih berada di Riyadh, di wilayah Nejd. Mereka dulu berperang dengan Kekhalifahan Islam Turki Usmani. Mereka memusuhi ulama sebelumnya yang mereka anggap sebagai ulama suu’ (jahat) dan membantai mereka dengan alasan ahlul bid’ah, kafir dsb. Inggris berada di belakang mereka dalam upaya memecah belah umat dan wilayah Kekhalifahan Islam.
  • Ulasan di atas setidaknya bisa menjawab beberapa fatwa aneh wahhabi ekstrim berikut:
    • Fatwa jihad untuk Afghanistan 1984 ketika wilayah itu diinvasi Uni Soviet (analisa: saat itu terjadi perang dingin antara AS dengan Uni Soviet dan perebutan pengaruh politik; Zionis AS punya kepentingan ‘mengamankan’ wilayah strategis tersebut sehingga AS membantu Thaliban)
    • Fatwa jihad untuk Ambon 1999 ketika terjadi konflik horizontal di Indonesia (analisa: sekedar catatan, wilayah tersebut sebelumnya aman dan dijadikan percontohan kerukunan umat beragama Islam-Kristen; tahun 1998 terjadi reformasi dan 1999 adalah pemilu; setelah rezim Soeharto, politikus Islam nyaris berkuasa. Zionis AS punya kepentingan agar ‘Islam Politik’ tidak berkuasa di Indonesia. Boleh jadi AS sengaja menciptakan citra islamophobia)
    • Tidak mengeluarkan fatwa jihad ketika Afghanistan diinvasi Zionis AS 2001 (analisa: kaum muslimin punya kepentingan yang sama sebagaimana tahun 1984, tetapi mengapa kali ini tidak dibela? Apakah karena musuhnya Zionis AS? Bukankah yang diperangi adalah orang-orang mereka sendiri yang dulu jihad di tahun 1984, yakni Thaliban?)
    • Tidak mengeluarkan fatwa jihad ketika Iraq diinvasi Zionis AS 2003 (analisa: kepentingan kaum muslimin bertentangan dengan kepentingan zionis AS, maka apakah mereka bingung sehingga tidak mengeluarkan fatwa jihad???)
    • Tidak mengeluarkan fatwa jihad ketika Chechnya diinvasi Rusia (Analisa: ada kepentingan kaum muslimin tetapi tidak ada kepentingan Zionis, jadi apakah ini jadi sebab tidak perlu dikeluarkannya fatwa jihad???)
    • Tidak mengeluarkan fatwa jihad ketika Palestina dicaplok Zionis Israel, bahkan Syaikh M. Nasiruddin al-Albani, yang dianggap oleh mayoritas Wahhabi-Salafi ekstrim sebagai ulama terbesar mereka, telah mengeluarkan sebuah fatwa aneh bahwa semua kaum muslim di PalestinaLibanon Selatan, dan Dataran Tinggi Golan harus meninggalkan tanah/negeri mereka secara massal dan pergi ke tempat lain. Alasan dia (dan dia tetap memegangnya) bahwa setiap Negeri Muslim yang diduduki/dijajah oleh orang Non-Muslim maka menjadi Negeri Non-Muslim. Oleh karenanya setiap Muslim dilarang tinggal/menetap di situ. Selain itu, mereka juga dikabarkan mengharamkan kaum muslimin untuk membantu Hamas dan Hizbullah yang berjihad mengusir Zionis Israel. Ketika beberapa orang menanyakan kepadanya, dengan terheran-heran, bahwa tidak akan ada satu negara pun di dunia yang mau menampung orang-orang/bangsa Palestina, bahkan Saudi Arabia pun, dia mengatakan: “Mereka mungkin bisa mencoba pergi ke Sudan, di sana mereka mungkin akan ditampung.” Seandainya fatwa tersebut dikeluarkan saat Indonesia belum merdeka, niscaya yang mentaatinya hanyalah kaum munafiqin dan pengecut. Lihatlah kaum muslimin Indonesia! Dari dulu sampai merdeka, (insya Allah sampai kapan pun) kita tetap berani dan gigih berjihad mengusir penjajah dan pantang ‘berhijrah’ ke negeri yang lebih aman. ‘Hijrah’ dalam kondisi seperti itu hanya dilakukan oleh kaum pengecut dan kaum munafikin yang enggan untuk berjihad atau kalaupun mau berjihad hanyalah sebentar. Hadits riwayat Mujasyi` bin Mas`ud As-Sulami ra., ia berkata: Aku datang menghadap Nabi saw. untuk membaiat beliau untuk berhijrah. Beliau bersabda: Sesungguhnya hijrah telah berlalu bagi orang-orang yang telah melaksanakannya, tetapi masih ada hijrah untuk tetap setia pada Islam, jihad serta kebajikan. (Shahih Muslim No.3465) Hadis riwayat Ibnu Abbas ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda pada hari penaklukan, yaitu penaklukan kota Mekah: Tidak ada lagi hijrah, yang ada ialah jihad dan niat. Maka bila kamu sekalian diperintahkan berperang, peranglah! (Shahih Muslim No.3467)

Bagaimana sikap kita terhadap mereka?

Ternyata Islam bukan hanya mengabarkan bahwa orang-orang Arab Badui itu cenderung munafik dan kafir melainkan juga khawarij, anjing-anjing neraka, seburuk-buruk umat yang mengaku Islam. Mereka itulah biang kerok perusak citra Islam dengan aksi-aksi terorisme dan aksi-aksi memecah belah umat! Mereka itulah Islam radikal yang ekstrim kanan. Hati mereka telah terkunci, termasuk dalam memahami tulisan ini. Mereka dangkal dalam memahami Al Qur’an, Sunnah, Bukti, Fakta, Realitas dan Sejarah. Itu disebabkan karena Allah telah mengunci mati hati mereka. Ingatlah, Sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. Sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh; tetapi mereka tidak tahu. Allah akan membalas olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka.

Kita akan kesulitan mengenali kesesatan mereka yang keluar dari agama ini. Dilihat dari apapun, kesesatannya sulit dikenali sebagaimana perumpamaan yang Rasulullah sabdakan “Dilihat mata panahnya maka tidak nampak apapun, dilihat pegangan panahnya maka tidak nampak apapun, dilihat batang panahnya maka tidak nampak apapun, dilihat bulu panahnya maka tidak nampak apapun.”

Kita tidak perlu mengolok-olok mereka dengan label munafik, fasik, sesat, ahlul bid’ah apalagi kafir. Meskipun kita dapati bahwa mereka memang benar-benar seperti itu. Cukuplah itu menambah keimanan kita bahwa Allah tidak berdusta dengan Al Qur’an dan Rasulullah tidak main-main dengan peringatannya. Sebab, jika kita memberikan label seperti itu, takutnya nanti jika kita salah orang maka tuduhan itu akan berbalik ke kita. Apalagi jika kita sudah mengatakan kafir. Maka, mengkafirkan orang sembarangan adalah jalan tol tercepat menuju kekafiran.

“Katakanlah (hai Muhammad) : Biarlah setiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing, karena Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih lurus (jalan yang ditempuhnya).” (Al-Isra’ : 84)

“….janganlah kamu merasa sudah bersih, Dia (Allah) lebih mengetahui siapa yang bertaqwa.” (An-Najm : 32)

“Barangsiapa yang berkata pada saudaranya ‘hai kafir’ kata-kata itu akan kembali pada salah satu diantara keduanya. Jika tidak (artinya yang dituduh tidak demikian) maka kata itu kembali pada yang mengucapkan (yang menuduh)”. (HR Bukhori & Muslim)

Saya sendiri sebetulnya ingin bersikap lemah lembut terhadap mereka. Supaya hati-hati mereka tertarik dan kembali ke dalam jama’ah kaum muslimin. Namun, Allah lebih tahu mana yang terbaik dan benar untuk kita lakukan dan kita pun harus taat. Katakanlah: “Kami dengar dan kami taat”

Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah jahannam. Dan itu adalah tempat kembali yang seburuk-buruknya. (QS At Taubah 73)

Hai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah jahannam dan itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali. (QS At Tahrim 9)

Maka mengapa kamu (terpecah) menjadi dua golongan dalam (menghadapi) orang-orang munafik, padahal Allah telah membalikkan mereka kepada kekafiran, disebabkan usaha mereka sendiri ? Apakah kamu bermaksud memberi petunjuk kepada orang-orang yang telah disesatkan Allah? Barangsiapa yang disesatkan Allah, sekali-kali kamu tidak mendapatkan jalan (untuk memberi petunjuk) kepadanya. (QS An Nisaa’ 88)

Sesungguhnya jika tidak berhenti orang-orang munafik, orang- orang yang berpenyakit dalam hatinya dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah (dari menyakitimu), niscaya Kami perintahkan kamu (untuk memerangi) mereka, kemudian mereka tidak menjadi tetanggamu (di Madinah) melainkan dalam waktu yang sebentar, dalam keadaan terlaknat. Di mana saja mereka dijumpai, mereka ditangkap dan dibunuh dengan sehebat-hebatnya. Sebagai sunnah Allah yang berlaku atas orang-orang yang telah terdahulu sebelum (mu), dan kamu sekali-kali tiada akan mendapati perubahan pada sunnah Allah. (QS Al Ahzab 60 – 62)

Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang mukmin bahwa sesungguhnya bagi mereka karunia yang besar dari Allah. Dan janganlah kamu menuruti orang-orang yang kafir dan orang- orang munafik itu, janganlah kamu hiraukan gangguan mereka dan bertawakkallah kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pelindung. (QS Al Ahzab 48)

“Hai orang-orang khawarij, kaum munafiqin, dan orang-orang yang pandai bicara tapi bodoh akhlaqnya, saksikanlah bahwa aku ‘menghunuskan pedang’ ke arah kepalamu! Tidak akan aku tebas lehermu sampai imam kaum muslimin memerintahkan untuk berjihad menghancurkanmu! Tidak pula aku sarungkan pedangku sampai engkau bertaubat dan kembali ke dalam jama’ah kaum muslimin! Sesungguhnya jama’ah kaum muslimin ini bisa dikenali dari sikap mereka yang lemah lembut terhadap sesama mu’min dan bersikap keras terhadap orang-orang kafir. Kaum muslimin adalah umat yang adil dan pertengahan. Tidaklah ada kaum yang mampu mengalahkan ibadah kaum muslimin kecuali orang-orang khawarij !!! (maksudnya sebagian kaum muslimin meremehkan ibadahnya dibandingkan ibadah kaum khawarij) Sesungguhnya hari ini kami bersikap keras dengan lidah kami terhadap orang-orang munafik. Maka bertaubatlah sebelum Allah mengizinkan kami untuk bersama-sama memerangi kalian dengan pedang (senjata) kami !!! Bertaubatlah, lakukan perbaikan, bersatulah, dan ikhlaslah dalam beragama !!!”

Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka. Kecuali orang-orang yang taubat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar. (QS An Nisa 145 – 146)

Maka cukuplah kita bersikap keras dengan lidah kita, tetapi dengan penuh kehati-hatian menjaga lidah serta tidak perlu menghiraukan gangguan mereka. Cukuplah kita bertawakal kepada Allah dan Allah adalah sebaik-baik penolong.

n.b. Tulisan di atas boleh jadi benar, boleh jadi salah. Sebab penulis hanya manusia biasa yang tidak lepas dari salah dan lupa. Saya berusaha seadil-adilnya agar tidak jatuh pada generalisasi yang salah. Kebetulan background saya psikologi jadi observasidan analisa saya lebih cenderung menekankan aspek perilaku dan akhlaq. Tentu dengan mendahulukan Al Qur’an dan As sunnah yang ternyata lebih kuat dan sejalan dalam hal ini. Terakhir, ambillah pendapatku jika sesuai dengan Al Quran dan Sunnah. Tinggalkan jika menyalahi keduanya. Semoga Allah senantiasa memberikan kita petunjuk dan rahmat-Nya. Semoga Allah menjauhkan kita dari kemunafikan. Sebab tidaklah merasa aman dari sifat ini kecuali orang-orang munafik. Semoga Allah menyatukan hati kita dalam tali ukhuwah islamiyah. Semoga Allah membersihkan barisan kaum mu’min dari kaum munafiqin

.

FITNAH AKHIR ZAMAN DARI ARAB SAUDI !!!

Kaum Muslimin Dihancurkan dari Dalam

Tsauban Radhiyallahu ‘anhu beliau berkata : Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Sesungguhnya Allah Ta’ala telah menyatukan untukku dunia, lalu aku melihat
timur dan baratnya dan sesungguhnya umatku akan sampai kekuasaannya seluas yang disatukan Allah untukku dan aku diberi dua harta simpanan yaitu emas dan perak lalu aku memohon kepada Rabb-ku untuk umatku agar dia tidak menghancurkannya dengan kelaparan yang menyeluruh, dan menguasakan atas mereka musuh-musuhnya dari selain mereka sendiri lalu menghancurkan seluruh jama’ah mereka, dan Rabb-ku berkata : “Wahai Muhammad, sesungguhnya Aku jika telah memutuskan satu qadha’ maka tidak dapat ditolak, dan Aku telah memberikan kepadamu untuk umatmu bahwa Aku tidak akan menghancurkan mereka dengan kelaparan yang menyeluruh dan tidak akan menguasakan atas mereka musuh-musuh dari selain mereka yang menghancurkan seluruh jama’ahnya walaupun mereka telah berkumpul dari segala penjuru – atau mengatakan- : Orang yang ada diantara penjuru dunia- sampai sebagian mereka membunuh dan menjadikan rampasan perang sebagian yang lainnya” [Hadits Shahih Riwayat Muslim (2889)]

Sungguh, meskipun kaum kafir dari seluruh dunia bersatu, mereka tidak akan mampu menguasai seluruh kaum muslimin sampai sebagian kita membunuh dan menjadikan rampasan perang sebagian yang lain. Inilah fitnah akhir zaman yang mau tidak mau harus kita hadapi. Pembunuhan antar sesama kaum muslimin seperti yang ada di Iraq dan Timur Tengah. Sungguh fitnah zaman ini adalah perpecahan dan permusuhan di antara kaum muslimin sendiri. Belum lagi ditambah ancaman dan terkaman dari orang-orang kafir.

Sumber Fitnah dari Nejd (Arab Saudi)

Dari Ibnu Umar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

“Ya Alloh berkahilah Syam kami dan Yaman kami”. Para sahabat berkata, “juga Nejd kami?” Rasulullah berkata, “Ya Alloh berkahilah Syam kami dan Yaman kami”. Para sahabat berkata, “juga Nejd kami?” –Saya (perawi) menduga beliau menyebutkan tiga kali- kemudian Nabi bersabda, “Dari sanalah (Nejd) keguncangan dan fitnah bermula, dan disana pula muncul dua tanduk syaithan.” (HR Bukhari)

Para Wahabi / Salafy memahami Nejd dalam hadits di atas adalah Iraq. Mereka berargumentasi bahwa jika dipandang dari Madinah, Nejd (Iraq) berada di timurnya sedangkan Nejd (pedalaman Arab) berada di selatannya. Berikut hadits shohih yang mereka anggap menguatkan pendapatnya:

Diriwayatkan dari Ibnu Umar, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menghadap ke arah timur  kemudian bersabda : “Ketahuilah sesungguhnya fitnah berasal dari sini, sesungguhnya fitnah berasal dari sini, disinilah muncul tanduk syaithan.” (HR Muslim)

Akan keluar dari arah timur segolongan manusia yang membaca Al-Qur’an namun tidak sampai melewati kerongkongan mereka (tidak sampai ke hati), mereka keluar dari agama seperti anak panah keluar dari busurnya, mereka tidak akan bisa kembali seperti anak panah yang tak akan kembali ketempatnya, tanda-tanda mereka ialah bercukur (Gundul). (HR Bukhori no 7123, Juz 6 hal 2074. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Majah, Abu Daud, dan Ibnu Hibban)

Padahal telah diketahui bersama, bahwa ketika Nabi bersabda demikian, beliau berada di Madinah, dan ketika itu beliau menghadap ke arah timur sedangkan timur Madinah adalah  Nejd (pedalaman Arab) bukan Iraq (Silakan lihat di peta dunia, khususnya peta Saudi Arabia) Saya yakin Nabi tidak bingung arah, sehingga bingung mana timur, mana utara. Saya yakin, orang yang membuat peta juga tidak bingung arah, sehingga timur dianggap utara dan selatan dianggap timur. Sungguh, selatannya Madinah adalah Makkah, bukannya Nejed seperti yang dikira oleh orang-orang yang bingung arah itu. Kami sarankan bagi mereka membeli kompas dan datang sendiri ke sana jika tidak mempercayai peta. Ada garis lurus ke timur dari Madinah menuju kota Riyadh (salah satu kota di wilayah Nejd yang dulu merupakan tempat tinggal orang-orang Badui). Tidak meleset ke utara, tidak pula meleset ke selatan. Nejd (timurnya Hijaz) sendiri berada diantara Medina (baratnya) dan Yamama (timurnya).

Catatan:

  • Seorang muslim tidak boleh mengingkari hadits di atas apalagi riwayatnya shohih dengan periwayat dua imam hadits terpercaya (Imam Bukhari dan Imam Muslim)
  • Seorang muslim tidak boleh berdusta dan asal berdalih, mencampur adukkan yang haq dengan yang bathil, serta menyembunyikan kebenaran hanya untuk membela golongannya. Bukan untuk menegakkan kebenaran dan melayani kepentingan kaum Muslimin seluruhnya. Dari ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Orang yang paling dibenci Allah ialah pembantah yang mencari-cari alasan untuk memenangkan pendapatnya. Riwayat Muslim.
  • Salafy / Wahabi tidak perlu khawatir jika mereka merasa benar-benar berada di atas kebenaran. Atau bahkan merasa paling benar sendiri. Siapa tahu yang dimaksud Rasulullah adalah fitnah lain seperti kemungkinan munculnya para du’at penyeru pintu Jahannam dari Nejd (Arab). Mereka menyerukan egoisme dan sombongisme berkedok monoteisme (tauhid) sehingga yang mengijabahinya akan memasuki pintu Jahannam itu menjadi gerombolan anjing-anjing neraka.
  • Maksud asal fitnah dari Nejd (Arab Saudi) tidak bisa kemudian dilihat dari lahirnya saja. Boleh jadi kita tertipu melihat suasana yang terkesan tenang dan baik. Hal ini seperti tsunami. Asalnya gempa di kedalaman laut. Tapi lautnya sendiri terlihat tenang setelah gempa itu. Kemudian negeri-negeri di sekitarnya mengalami imbas kerusakan yang dahsyat.
  • Dalam sejarah Islam, satu-satunya kelompok yang bercukur adalah para penganut Muhammad bin Abdul Wahab, karena dia telah memerintahkan setiap pengikutnya mencukur rambut kepalanya hingga mereka yang mengikuti tidak diperbolehkan berpaling dari majlisnya sebelum bercukur gundul. Hal tersebut terjadi di masa lalu dan kini sudah ditinggalkan. (Sumber : rubrik : Bayan, majalah bulanan Cahaya Nabawiy No. 33 Th.III Syaban 1426 H / September 2005 M)
  • Kesimpulan: Kita harus hati-hati dengan semua syubhat dan fitnah yang berasal dari negeri Nejd (timurnya Hijaz). Kita harus belajar sejarah (tarikh) khususnya tentang negeri Nejd sejak zaman nabi, dakwah Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahab (Gerakan Wahabi) sampai terbentuknya Kerajaan Saudi Arabia. Kita juga harus selalu memantau Nejd, negeri timurnya Madinah, yang di sana ada kota Riyadh, ibukotanya Kerajaan Saudi Arabia (KSA), termasuk gerak-gerik mereka terhadap kepentingan Kaum Muslimin di seluruh dunia. Hati-hatilah fitnah dari Nejd (timurnya Hijaz) !

Da’i-da’i Arab Mengajak ke Pintu Jahannam

Kemudian, mari kita bahas hadits shohih berikutnya:

Dari Hudzaifah Ibnul Yaman Radhiyallahu Ta’ala Anhu berkata : Manusia bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang keburukan karena khawatir jangan-jangan menimpaku. Maka aku bertanya ; Wahai Rasulullah, sebelumnya kita berada di zaman Jahiliyah dan keburukan, kemudian Allah mendatangkan kebaikan ini. Apakah setelah ini ada keburukan ? Beliau bersabda : Ada”. Aku bertanya : Apakah setelah keburukan itu akan datang kebaikan ? Beliau bersabda : Ya, akan tetapi didalamnya ada kabut (dakhanun)” . Aku bertanya : Apakah dakhanun itu ?. Beliau menjawab : Suatu kaum yang mensunnahkan selain sunnahku dan memberi petunjuk dengan selain petunjukku. Jika engkau menemui mereka maka ingkarilah. Aku bertanya : Apakah setelah kebaikan itu ada keburukan ? Beliau bersabda : Ya, da’i – da’i yang mengajak ke pintu Jahannam. Barangsiapa yang mengijabahinya, maka akan dilemparkan ke dalamnya. Aku bertanya : Wahai Rasulullah, berikan ciri-ciri mereka kepadaku. Beliau bersabda : Mereka mempunyai kulit seperti kita dan berbahasa dengan bahasa kita. Aku bertanya : Apa yang engkau perintahkan kepadaku jika aku menemuinya ? Beliau bersabda : Berpegang teguhlah pada Jama’ah Muslimin dan imamnya. Aku bertanya : Bagaimana jika tidak ada jama’ah maupun imamnya ? Beliau bersabda : Hindarilah semua firqah itu, walaupun dengan menggigit pokok pohon hingga maut menjemputmu sedangkan engkau dalam keadaan seperti itu” (HR Bukhori dan Muslim)
Jika diperhatikan, saya mengklasifikasikan masa keburukan sebagai masa meraja-lelanya kaum khawarij yang membunuh sesama muslim. Sebab fitnah ini sangat merepotkan untuk kita berantas, kaum khawarij itu muslim, bahkan terlihat lebih sholih dari kita (sehingga kita kesulitan untuk memerangi mereka secara frontal), tapi mereka terbukti fasik (suka mencaci muslim & akhlaqnya bejat) karena mereka selalu memandang hitam-putih (tidak terlihat kebijaksanaannya), dan akhirnya kafir (jika mereka mengkafirkan atau membunuh muslim yang tidak kafir). Pelajaran terpenting dari hadits-hadits di atas bukanlah sebuah penguatan untuk menuduh kelompok ini sesat atau kelompok anu sesat. Tetapi, pelajaran terpenting yang harus diambil seorang muslim adalah:

  • Dakwah yang menentang dan memerangi dakhanun beserta bid’ah-bid’ahnya secara berlebihan (ekstrim) adalah du’at yang menyeru ke pintu jahannam. Disebut demikian karena kebencian dan permusuhan yang berlebihan sehingga jika diijabahi akan terjadi perselisihan yang banyak, perpecahan dan banyak pembunuhan terhadap sesama muslim yang mengantarkan pelakunya masuk jahannam. Kaum muslimin pun terancam dari bahaya lidah dan tangan mereka. Mereka ini menghadirkan masa keburukan buat kaum muslimin. Mereka juga mengikuti kaum Yahudi yang mengusung faham egoism dan terjangkiti penyakit sombong. Anggapan sesat mereka adalah hanya mereka sendiri yang benar dan mereka menolak kebenaran dari luar kalangannya. Ketahuilah, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda, “Tidak masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat seberat atom rasa sombong.” Kemudian beliau bersabda, “Sombong yaitu menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim) Kemudian, mereka hampir sangat sulit diajak kembali karena mereka membaca Al-Qur’an namun tidak sampai melewati kerongkongan mereka (tidak sampai ke hati), mereka keluar dari agama seperti anak panah keluar dari busurnya, mereka tidak akan bisa kembali seperti anak panah yang tak akan kembali ketempatnya.
  • Tidak mengijabahi da’i-da’i yang mengajak ke pintu Jahannam. Ciri-ciri mereka adalah mempunyai kulit seperti kita dan berbahasa dengan bahasa kita. Karena kulit dan bahasa Rasulullah adalah Arab, maka da’i-da’i yang dimaksud adalah orang Arab.
  • Sikap kita jika bertemu mereka: Berpegang teguhlah pada Jama’ah Muslimin dan imamnya, seperti Kekhalifahan Islam Turki Usmani atau Kekhalifahan Islam yang lain. Bukan jama’ah-jama’ah kecil dengan imamnya yang menyeru pada golongannya.
  • Karena sekarang kita tidak punya jama’ah yang dimaksud dan imamnya maka: Hindarilah semua firqah itu, walaupun dengan menggigit pokok pohon hingga maut menjemputmu sedangkan engkau dalam keadaan seperti itu. Pokok pohon yang dimaksud adalah Al Qur’an. Hati-hati saudaraku, jangan sampai tertipu oleh da’i yang dimaksud, padahal kita disuruh menghindari semua firqah. Taatlah pada Rasul yang menyuruh kita menghindari semua firqah. Jika tidak, kita mudah disesatkan untuk berpegang teguh pada golongan mereka, bukan berpegang teguh pada Al Quran. Cukup kita semua berpegang pada Al Qur’an dan Sunnah. Kemudian bersabar menunggu datangnya Imam Mahdi.
  • Ali bin Abi Thalib berkata: “Jama’ah adalah kumpulan orang-orang yang berada dalam kebenaran sekalipun jumlahnya sedikit. Sedangkan firqah adalah kumpulan orang-orang batil sekalipun jumlahnya banyak.” Dengan demikian, syarat agar kumpulan itu disebut jama’ah adalah “kebenaran” yang bersama-sama ditegakkannya, bukan “bajunya” atau “organisasinya”.
  • Kenalilah Imam Mahdi dan pengikutnya, beliau datang dari timur, menaklukkan Arab,Rum dan Dajjal  Amerika Israel. Sembari menunggu beliau, marilah kita terus menimba ilmu yang bermanfaat, memperbaiki diri dengan amal sholih, menyelamatkan saudara semuslim dari bahaya lidah dan tangan kita, menjaga ukhuwah islamiyah, amar ma’ruf nahy munkar dan terus tolong-menolong dalam kebaikan dan taqwa.
  • Kesimpulan: Berpegang teguhlah pada Al Qur’an dan Sunnah! Hindari semua firqah apalagi firqah yang diseru oleh orang Arab. Apalagi jika menilik dua hadits sebelumnya, maka: Hindari semua firqah, apalagi yang diseru oleh orang Arab dari Nejd (Hijaz).

 

Fitnah Ulama Buruk yang Mengekor Penguasa

Beberapa hadits terkait hal ini ada beberapa;

  • Celaka atas umatku dari ulama yang buruk. (HR. Al Hakim)
  • Yang aku takuti terhadap umatku ada tiga perbuatan, yaitu kesalahan seorang ulama, hukum yang zalim, dan hawa nafsu yang diperturutkan. (HR. Asysyihaab)
  • Ketamakan menghilangkan kebijaksanaan dari hati para ulama. (HR. Ath-Thabrani)
  • Apabila kamu melihat seorang ulama bergaul erat dengan penguasa maka ketahuilah bahwa dia adalah pencuri. (HR. Ad-Dailami)
  • Para ulama fiqih adalah pelaksana amanat para rasul selama mereka tidak memasuki (bidang) dunia. Mendengar sabda tersebut, para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apa arti memasuki (bidang) dunia?” Beliau menjawab, “Mengekor kepada penguasa dan kalau mereka melakukan seperti itu maka hati-hatilah terhadap mereka atas keselamatan agamamu. (HR. Ath-Thabrani)
  • Seorang ulama yang tanpa amalan seperti lampu membakar dirinya sendiri (Berarti amal perbuatan harus sesuai dengan ajaran-ajarannya). (HR. Ad-Dailami)

Sebagaimana nasehat di atas, hindari semua firqah, apalagi yang diseru oleh orang Arab dari Nejd (Hijaz). Nah, selain keutamaan ulama’ (baik berdasarkan Al Qur’an . Amal perbuatannya juga tidak seperti ajarannya. Jika dia mengajarkan taat pada Imam Kaum Muslimin, maka seharusnya dia benar-benar taat. Salafi – Wahabi tidak perlu semakin risau hanya karena Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab berasal dari Nejd (Hijaz) dan dikenal sangat dekat dengan Ibnu Saud sehingga mereka berdua sangat heroik mengusir Khilafah Islamiyah Turki Usmani dan kemudian mendirikan Kerajaan Saudi Arabia. Toh, beliau juga banyak berjasa dalam memurnikan tauhid, bukan? Saya sendiri pernah membaca salah satu kitabnya dan memang bagus. Tapi saya tidak tahu apakah akhlaq beliau sebagus kitabnya.

Maka, tidak patut bagi seorang muslim memfitnah seorang muslim lain apalagi ulama’ tanpa bukti yang nyata. Maka kita harus mempelajari sejarah Kerajaan Arab Saudi dulu baik-baik. Mereka yang sangat gemar menuduh dan memfitnah muslim lain apalagi ulama’ Kaum Muslimin tentu dipertanyakan keislamannya.

 

Pemimpinnya disangka punya pegangan, padahal sama sekali tidak demikian !!!

Hadits berikutnya:

“Sungguh, menjelang terjadinya Kiamat ada masa-masa harj (kerusuhan / huru-hara) Para sahabat bertanya : “Apakah harj itu ?” Beliau bersabda : “Pembunuhan.” Mereka bertanya : “Apakah lebih banyak jumlahnya dari orang yang kita bunuh? Sesungguhnya kita dalam satu tahun membunuh lebih dari tujuh puluh ribu orang?” Beliau bersabda :“Bukan pembunuhan orang-orang musyrik oleh kalian itu, tetapi pembunuhan dilakukan oleh sebagian kalian terhadap sesamanya (kaum muslimin) ” Mereka bertanya : “Apakah pada masa itu kami masih berakal?“ Beliau bersabda, “Akal kebanyakan manusia zaman itu dicabut, kemudian mereka dipimpin oleh orang-orang yang tak berakal, ke­banyakan manusia menyangka para pemimpin itu mempunyai pegangan, padahal sama sekali tidak demikian. (HR. Ahmad dan Ibnu Majah. Hadits shahih.)

Hampir tidak ada satupun orang yang berilmu mengingkari adanya fitnah pembunuhan terhadap sesama muslim. Lihatlah konflik di Iraq, Afghanistan, Pakistan dan di negeri-negeri Timur Tengah lainnya. Biasanya konflik terjadi antara kaum Syi’ah Ekstrim dengan Sunni Ekstrim yang dipicu fitnah khowarij. Berdasarkan hadits di atas, saya bernasehat:

“Gunakan kembali akalmu, jangan mau dipimpin oleh orang (da’i-da’i) yang tidak mempergunakan (meremehkan) akalnya. Apalagi pemimpin (da’i-da’i) yang menyuruhmu meninggalkan akal agar tunduk pada ajaran-ajaran mereka (taklid buta). Banyak orang tertipu. Sekali lagi, banyak orang tertipu. Kebanyakan manusia menyangka para pemimpin itu punya pegangan (berperang di atas kebenaran, Al Qur’an dan Sunnah). Padahal sama sekali tidak demikian. Mereka memfitnah kaum selain mereka, menimbulkan permusuhan dan bersegera melakukan pembunuhan terhadap sesama muslim. Saya nasehatkan kepada kaum muslimin; mohon ditahan lidah dan tangan kalian dari saudara sesama muslim. Janganlah saling membunuh, hanya karena perbedaan-perbedaan yang tidak mengeluarkan kita dari Islam.”

 

Keluar dari Jama’ah Kaum Muslimin

Barangsiapa keluar dari ketaatan serta memisahkan diri dari jama’ah lalu mati, maka kematiannya adalah kematian secara jahiliyah. Barangsiapa berperang dibawah panji ashabiyah, emosi karena ashabiyah lalu terbunuh, maka mayatnya adalah mayat jahiliyah. Barangsiapa memisahkan diri dari umatku (kaum muslimin) lalu membunuhi mereka, baik yang shalih maupun yang fajir (jahat) dan tidak menahan tangan mereka terhadap kaum mukminin serta tidak menyempurnakan perjanjian mereka kepada orang lain, maka ia bukan termasuk golonganku dan aku bukan golongannya” [HR Muslim]

Jangan memisahkan diri dari Jama’ah Kaum Muslimin dengan embel-embel ashabiyah. Mereka bisa dikenali dari nama-nama mereka dan panji-panji mereka. Mereka tidak lagi menamakan diri muslim (kaum muslimin), melainkan nama-nama jahiliyah yang mereka ada-adakan. Mereka mudah tersulut emosinya ketika disinggung kebanggaan ashabiyahnya.

Sesungguhnya mereka bukan golongan Nabi (Kaum Muslimin) sekalipun mereka mengaku-ngaku sebagai golongan nabi atau bahkan karena kebodohannya menganggap sebagai golongan yang paling benar (selamat).

Sesungguhnya kebanyakan manusia menyangka mereka punya pegangan (kebenaran, Al Qur’an dan Sunnah), padahal sama sekali tidak demikian. Ciri-ciri mereka adalah dipimpin orang-orang tidak berakal (logikanya rusak sehingga tidak mampu berfikir secara bijaksana) !!!


Salafi / Wahabi tidak perlu tersinggung. Lalu berkata bahwa saya (penulis) memahami hadits-hadits di atas secara serampangan tanpa ilmu, tidak ilmiah, tidak faham, tidak ada dasarnya, mengikuti akalnya yang bodoh dan ahlul bid’ah. Lalu saya diminta mencari ilmu dulu dari mereka yang punya pegangan kuat (Al Qur’an dan Sunnah) serta pemahaman yang benar (Manhaj Salafus Sholih). Jika ciri-ciri di atas tidak ada pada golongan kalian, maka janganlah bersikap ashobiyah dengan mengorbankan kehormatan saudaramu semuslim. Bukankah orang yang berkata tanpa dasar (ilmu) itu tidak baik? Bukankah golongan yang berada di atas kebenaran, tidak perlu ragu dan seharusnya bersikap tenang?

 

KHAWARIJ: Benih Perselisihan Kaum Muslimin

Dalam sebuah hadits shahih dalam Musnad (disebutkan). “Suatu hari Nabi melewati orang ini dalam keadaan sujud. Maka beliau menghampiri para sahabatnya. Beliau berkata : “Siapa yang mau membunuhnya ?” Abu Bakar mengiyakan, lalu bangkit dengan pedang terhunus. Kemudian beliau menghampiri orang itu, belaiu mendapati sedang sujud. Maka beliaupun kembali (tidak membunuhnya) seraya berkata :”Ya Rasulullah, bagaimana aku membunuh yang mengucapkan laa illaha illa Allah?”. Demikian juga yang dilakukan Umar. Kemudian Ali menyanggupinya, beliau bergegas ke sana, tapi orang tersebut sudah tidak ada lagi. Kemudian. Beliau bersabda : “Seandainya ia berhasil dibunuh, tentu tidak akan ada lagi dua orang yang berselisih di antara umatku”

Akan keluar pada akhir zaman suatu kaum, umurnya masih muda, sedikit ilmunya, mereka mengatakan dari sebaik-baik manusia. Membaca Al-Qur’an tidak melebihi kerongkongannya. Terlepas dari agama seperti terlepasnya anak panah dari busurnya”. [HR Bukhari & Muslim]

“Mencaci orang muslim adalah kefasikan dan membunuhnya adalah kufur” [Hadits Riwayat Bukhari No. 48, Muslim No. 64]

“Janganlah kalian menjadi kafir sepeninggalku, yaitu sebagian kalian membunuh yang lain” [Hadits Riwayat Bukhari No. 121. Muslim No. 65]

Hadits-hadits di atas mencirikan kaum khawarij yang luar biasa dalam beribadah namun tidak memahami Islam dengan benar. Mereka tidak faham ‘kekufuran yang mengeluarkan pelakunya dari agama’ (seperti membunuh muslim tanpa alasan syar’i) serta kekufuran yang tidak mengeluarkan pelakunya dari agama (seperti berhukum bukan dengan hukum Islam). Mereka suka mengkafirkan, bersikap keras terhadap sesama muslim dan mereka tidak akan segan-segan membunuhnya karena kaum khawarij bersikap ghuluw (berlebih-lebihan/ekstrim) dalam beragama. Mereka mengikuti ahli kitab yang sok tahu, memandang kaum muslimin salah padahal kebanyakan di antara mereka sendiri terbukti fasik (suka mencaci kaum muslimin). Ciri-ciri mereka masih muda dan ilmunya sedikit. Hadits di atas menjelaskan tentang buruknya kaum khawarij (bukan golongan lain!). Mereka menghadirkan mimpi buruk dengan membunuh Khalifah Ali serta membuat perpecahan dan permusuhan. Sampai sekarang, mereka tetap melakukan aksi-aksi bodohnya seperti terorisme dan lainnya. Maka jangan heran jika kebanyakan teroris hampir pasti berawal dari mereka dan du’at dari Nejd gemar sekali berseru dan saling tuduh khawarij di antara mereka sendiri. Dengan demikian, saran buat pemerintah yang ingin meminimalisir bahaya terorisme adalah mengajak kembali (taubat) gerombolan anjing-anjing neraka itu kepada jama’ah kaum muslimin. Jika mereka tidak mau (besar kemungkinan karena egoism dan kesombongannya) maka usir saja mereka dari Nusantara dan kembalikan mereka ke Nejd. Sesungguhnya negeri Arab akan segera kita perangi !

Arab Saudi akan diperangi dan Jazirah Arab akan kembali ke tangan Kaum Muslimin !!!

Tidaklah dunia akan lenyap sehingga negeri Arab dikuasai oleh seorang laki-laki dari ahli baitku (keluarga rumahku) yang namanya sama dengan namaku.’’ [Musnad Ahmad 5: 199 hadits nomor 3573 dengan tahqiq Ahmad Syakir, dia berkata,”Isnadnya shahih.”Dan Tirmidzi 6:485, dan dia berkata, "Ini adalah hadist hasan shahih.” Dan Sunan Abu Daud 11: 371]

“Kalian perangi jazirah Arab dan Allah beri kalian kemenangan. Kemudian Persia (Iran), dan Allah beri kalian kemenangan. Kemudian kalian perangi Rum, dan Allah beri kalian kemenangan. Kemudian kalian perangi Dajjal, dan Allah beri kalian kemenangan.” (HR Muslim 5161)

Kita mungkin merasa aneh, mengapa Arab akan diperangi lagi oleh kaum Muslimin. Bukankah Islam berasal dari Arab? Bukankah penghuni jazirah Arab sekarang ini adalah kaum muslimin? Sebetulnya tidak aneh karena Rasulullah mengabarkan bahwa sumber fitnah dimulai dari Arab, dengan da’i-da’i yang juga bercirikan orang Arab. Bahkan yang memeranginya kemungkinan besar adalah bangsa timur dibawah pimpinan Imam Mahdi.

Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Qubai. Ia menuturkan : “(Pada suatu ketika) kami bersama Abdullah Ibnu Amer Ibnu Al-Ash. Dia ditanya tentang mana yang akan terkalahkan lebih dahulu, antara dua negeri. Konstantinopel atau Rumiyyah. Kemudian ia meminta petinya yang sudah agak lusuh. Lalu ia mengeluarkan sebuah kitab.” Abu Qubail melanjutkan kisahnya : Lalu Abdullah menceritakan : “Suatu ketika, kami sedang menulis di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tiba-tiba beliau ditanya : “Mana yang terkalahkan lebih dahulu, Konstantinopel atau Rumiyyah?” Beliau menjawab : “Kota Heraclius-lah yang akan terkalahkan lebih dulu”. Maksudnya adalah Konstantinopel”.

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Ad-Darimi, Ibnu Abi Syaibah, Abu Amer Ad-Dani, Al-Hakim, dan Abdul Ghani Al-Maqdisi. Abdul Ghani menilai bahwa hadits ini hasan sanadnya. Sedangkan Imam Hakim menilainya sebagai hadits shahih. Penilaian Al-Hakim itu juga disetujui oleh Imam Adz-Dzahabi.

Kata Rumiyyah dalam hadits di atas maksudnya adalah Roma, ibu kota Italia sekarang ini, sedangkan Konstantinopel adalah ibukota Byzantium (Romawi Timur). Sebagaimana kita ketahui, bahwa kemenangan pertama ada di tangan Muhammad Al-Fatih Al-Utsmani. Hal itu terjadi lebih dari delapan ratus tahun setelah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyabdakan hadits di atas. Semoga kemenangan kedua segera berada di tangan Muhammad bin ‘Abdullah Al Mahdi.

Kaum Muslimin harus bersatu dan berbaiat kepada Al Mahdi, baik sukarela maupun terpaksa. Apakah Al Mahdi berasal dari golongannya ataukah bukan. Apakah ia berwarga negara Arab ataukah bukan? Sebab sejatinya Islam bukanlah Arab. Islam adalah agama untuk seluruh umat manusia. Kaum Muslimin tidak mengikuti bangsa Arab. Kaum Muslimin mengikuti Allah dan Rasul-Nya.

Selain alasan dari hadits-hadits shohih di atas, sebetulnya kaum muslimin juga punya alasan kuat untuk memerangi Kerajaan Saudi Arabia (KSA). Mereka telah merusak perbendaharaan kaum muslimin (situs-situs Islam bersejarah) yang telah bertahun-tahun dijaga Salafus Sholih, kedzaliman dan pembunuhan kaum muslimin tanpa alasan (seperti menghukum/membunuh TKW yang membela diri/terpaksa/tidak sengaja membunuh ketika hendak diperkosa – hukum di KSA tidak mengenal perkosaan kecuali zina, jadi korban perkosaan justru dituduh pezina – sangat tidak adil dan tidak islami, penyiksaan TKI Muslim, penembakan demonstran muslim, dsb), dugaan keterlibatan KSA dalam memperkeruh krisis di Iraq, dugaan perilaku bejat para petinggi di sana dengan gaya hidup hedonisnya tanpa empati & mau peduli pada saudaranya di Palestina, serta alasan terkuat dugaan keterlibatan mereka dalam makar jahat Zionisme Internasional dari awal berdirinya Kerajaan sampai sekarang.

Boleh jadi, rakyat Saudi sendiri sekarang amat tertekan. Hampir mirip kondisinya sama rakyat di negeri manapun dibawah pemerintahan otoriter. Namun, semua itu tertutup rapat dan rahasia. Nah, bom sosial ini cepat atau lambat akan meledak. Apalagi jika menilik tanda-tanda yang ada sekarang. Tanda-tanda itu sangat jelas dengan gejala sosial perselisihan hebat dan gejala alam dengan banyaknya gempa. Maka tinggal menunggu waktu saja, mungkin sekitar beberapa tahun ke depan Al Mahdi akan diutus.

“Aku kabarkan berita gembira mengenai Al-Mahdi yang diutus Allah ke tengah ummatku ketika banyak terjadi perselisihan antar-manusia dan gempa-gempa.  Maka ia akan memenuhi bumi dengan keadilan dan kejujuran sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kesewenang-wenangan dan kezaliman.” (HR Ahmad)

Jika kita melihat realitas dengan jeli serta mau mencari informasi (dengan pikiran terbuka tentunya) maka terlihatlah bukti-bukti konspirasi itu dengan sangat nyata. Mereka membuat makar, sedangkan Allah juga sedang mempersiapkan makar-Nya. Maka, apakah konspirasi Yahudi dan orang-orang kafir itu dapat mengalahkan makar Allah? Jawabannya Tidak! Sekali-kali tidak! Mereka akan ditaklukkan, dalam waktu yang dekat !!! Oleh sebab itu, bersiap-siaplah wahai kaum muslimin, masa-masa kemenangan kita akan segera datang !!!

Bagaimana Solusinya?

“Ketahuilah bahwasanya bakal terjadi fitnah-fitnah (malapetaka)!” Kami bertanya: “Bagaimana jalan keluarnya wahai Rasululloh?” Beliau bersabda: “Berpegang teguh dengan Kitabullah, sebab di dalamnya disebutkan sejarah orang-orang sebelum kalian, dan khabar tentang yang akan datang setelah kalian, dan di dalamnya juga terdapat hukum terhadap perselisihan di antara kalian. Ia adalah pemisah antara hak dan bathil, dan sekali-kali bukanlah senda gurau. Barangsiapa mening-galkannya karena keangkuhan, niscaya Alloh akan membinasakannya. Dan barangsiapa mencari petunjuk dari selainnya, niscaya Alloh akan menye-satkannya. Ia adalah tali Alloh yang kokoh. Dan ia adalah bacaan yang penuh hikmah. Dan ia adalah jalan Alloh yang lurus.” (HR: Ahmad dan At-Tirmidzi)

Dari hadits di atas dapat diambil beberapa pembelajaran: Berpegang teguh dengan Al Qur’an, belajar dari sejarah masa lalu (khususnya fitnah & perselisihan yang menimpa ahli kitab), Al Qur’an adalah Al Furqan (pembeda), jangan sombong dengan meninggalkan Al Qur’an, & Allah akan memberikan petunjuk kepada kita melalui Al Qur’an. Sekali lagi, Allah akan memberikan petunjuk di zaman fitnah ini melalui Al Qur’an. Maka jadilah Ahlul Qur’an !!! Tidak hanya sekedar membaca tapi benar-benar memahami dan merenungi isi kandungannya sampai ke hati.

Kemudian, kesimpulan umum dari tulisan di atas adalah: “Berpegang teguhlah kepada Al Qur’an !!! Berserah dirilah hanya kepada Allah dan mintalah petunjuk hanya kepada-Nya saja melalui Al Qur’an! Hanya Dia yang mampu memberikan petunjuk di zaman fitnah ini. Hindari semua firqah, apalagi yang diseru oleh orang-orang Arab dari Nejd (Hijaz) yang da’i-da’inya bergaul erat dengan penguasa, tidak berakal (memandang rendah akal), terlihat seperti punya pegangan padahal sama sekali tidak demikian serta bersifat tamak sehingga tidak tampak kebijaksanaannya !!! Bersabarlah untuk menunggu Al Mahdi beserta pasukan panji-panji hitamnya dari arah timur .

“Aku adalah manusia biasa yang mungkin benar dan mungkin pula salah. Oleh karena itu, hendaklah kamu memperhatikan dan meneliti pendapatku itu. Jika sesuai dengan Al Quran dan As Sunnah maka ambillah, dan jika bertentangan dengan keduanya maka tinggalkanlah.”

Wallahu a’lam

n.b.: Hendaknya kaum muslimin bersikap bijaksana, tidak asal tuduh-menuduh tanpa bukti yang nyata. Boleh jadi yang dituduh lebih baik daripada yang menuduh. Bahkan, siapa tahu suatu kaum sudah bertaubat sehingga tidak layak diberikan tuduhan keji. Kemudian, mengapa dalam tulisan ini banyak menyebut golongan Wahabi / Salafy / Salafiyyun? Karena untuk membahas hadits-hadits di atas, firasat saya mengatakan bahwa orang-orang Salafi Wahabi akan cepat tersinggung dan marah. Soalnya KSA adalah negerinya Wahabi/Salafy.

Mari kita menjadikan ciri-ciri di atas sebagai introspeksi diri kita masing-masing. Maksud dari tulisan di atas adalah mengabarkan hadits-hadits terkait akhir zaman, khususnya fitnah dari Arab. Jika saya salah memahami hadits-hadits di atas, silakan beri komentar penjelasan dan maksud hadits-hadits tersebut. Namun jika Anda menafsirkan bahwa hadits-hadits di atas sengaja ditujukan dan sangat mirip dengan ciri-ciri pada kelompok Anda, kemudian Anda menuduh saya berdusta atau memfitnah maka mengapa Anda sendiri tidak segera meninggalkan firqah Anda? Apakah anda tidak berfikir? Anda sendiri yang menafsirkan bahwa hadits-hadits itu mengarah ke firqah anda. Sementara saya sendiri tidak berani mengarahkannya secara frontal karena siapa tahu mereka sudah bertaubat.

Sesungguhnya saya hanyalah pemberi peringatan (bahaya fitnah Arab) dan pembawa kabar gembira (akan datangnya Al Mahdi). Maka katakan kebenaran meskipun pahit, janganlah takut akan manusia, takutlah pada Allah

.
Sebahagian para pengikut wahabi merasa marah jika kita sebut bahawa Nejd tempat kelahiran Imam mereka adalah tempat keluarnya tanduk Syaitan dan tempat keluarnya khawarij. Mereka beralasan bahwa Nedj yang di maksud Rasululah s.a.w adalah Iraq, karena negeri Iraq sumber dari kekacauan dan fitnah
.
Mari kita lihat sejauh mana kebenaran yang telah disampaikan oleh pengikut wahabi yang terlalu fanatik dengan Imamnya Muhammad bin Abdul Wahab sehingga beliau hampir seperti nabi yang tidak salah dan khilaf. Padahal sangat nyata dan telah jelas dalam sejarah  beliau tergolong salah dan sesat
.
Informasi Bahaya fitnah daerah Najd berasal dari hadits Rasulullah s.a.w yang menceritakan keberkatan tanah  Yaman, dan Syam sebagaimana didalam hadisnya
:
Artinya : Dari Ibnu Umar r.a berkata : Rasulullah s.a.w menyebutkan : ” Ya Allah berilah keberkatan kepada negeri Syam kami, berilah keberkatan kepada negeri Yaman kami, Berkata mereka : ” Pada Najd kami Ya Rasulullah “, berkata Rasulullah : Ya Allah berilah keberkatan kepada negeri Syam kami, berilah keberkatan kepada negeri Yaman kami, Berkata mereka : ” Pada Najd kami Ya Rasulullah “, Berkata Rasulullah : Disana terdapat kegoncangan ( aqidah ) dan fitnah, dan disanalah terbitnya tanduk Syaitan. ( H.R . Bukhari , kitab al-Fitan, bab Qulun Nabi s.a.w. al-Fitnah Min Qibla al-Masyriq, no : 7094 )
.  
Dari hadis ini kita mengetahui bahwa Rasul telah mendo’akan negeri Syam dan Yaman, sebab itulah para sahabat berlomba-lomba untuk pindah ke negeri Yaman dan Syam
.
Kenapa Najd yang terdapat di hadis ini bukan negeri Iraq? Adapun sebagai Jawabannya sebagai berikut :
1 – Negeri yang dido’akan Rasulullah adalah negeri-negeri yang telah masuk islam sebahagian penduduknya, sebahagian ahli Syam telah mendatangi Nabi s.a.w. dan mengucap kalimat dua Syahadah, penduduk Yaman mendatangi Rasul dan memeluk islam ketika itu, sementara penduduk daerah Iraq tidak ada yang datang ke hadapan Rasul, bahkan mereka masuk islam pada masa pemerintahan Abu Bakar dan Umar bin Khatab ketika penaklukkan negara Farsi, sementra penduduk Najd ( tempat kelahiran pemimpin wahabi ) telah berbondong-bondong pergi ke Madinah untuk memeluk islam, bagaimana boleh didalam hadis menyebutkan kalimat ” di Nejd kami “.  Sementara Iraq belum jatuh ke tangan umat islam, dan masih di pegang oleh negara Farsi, ungkapan kami di sini memiliki dua makna
:
Yang pertama : Para sahabat yang bersama Rasul, dan mereka bermaksud bahwa ungkapan kami adalah makna kepemilikan Iraq, dan ini mustahil sebab Iraq belum jatuh ketangan umat Islam
.
Yang kedua : Utusan yang datang dari Najd, jikalau Najd itu Iraq, maka sesuatu yang mustahil sebab tidak ada riwayat yang mengatakan adanya utusan kaum yang datang dari Iraq, maka mestilah Nejd tersebut bahagian negara yang dikenal yaitu Riyahd dan sekelilingnya
.
Sementara kalimat ” kami ” pada negeri Syam, karena telah datang sebahagian utusan negeri Syam ke Madinah untuk memeluk islam dan di Syam terdapat Baitul Maqdis, dan tempat para nabi-nabi terdahulu
.
2 – Rasul mengatakan bahwa Najd adalah tempat keluarnya tanduk syaiton, terlepas dari hakikat ataupun majaz, tapi yang dimaksud adalah orang yag membawa kesesatan dan fitnah bagi umat islam dan mereka tergolong dari orang – orang kafir. Karena Syaitan pemimpin orang-orang kafir dan menyesatkan orang, ini sangat jauh sekali keadaannya dengan fitnah yang berlaku di Iraq.  Pembunuhan Imam Ali r.a di tangan orang – orang Khawarij suatu fitnah yang lebih kecil di bandingkan dengan fitnahnya Musailamah al-Kadzab yang berasal dari Yamamah Nejd ( Riyadh sekarang ), yang telah mengaku nabi dan membunuh puluhan para sahabat sehingga Umar bin Khatab menjadi sangat takut sekali akan habisnya penghafal al-Qur`an disebabkan serangan Musailamah
.
Musailamah dan pengikutnya tergolong orang-orang yang kafir dan menyesatkan orang lain, sementara orang-orang Khawarij masih dalam keadaaan islam sebagaimana didalam riwayat Ibnu Abbas dari Imam Ali di dalam Sohih Bukhari. Tetapi mereka pelampau yang keluar dari batasan, demikiannya juga pandangan ulama ahlus Sunnah bahwa khawarij telah keluar dari jama’ah  tetapi tidak keluar dari Islam. Dengan demikian tahulah kita bahwa fitnah yang terdapat di Yamamah ( Najd ) lebih besar dari fitnah yang berada di Iraq, di Najd juga tedapat khawarij dan golongan Qaramithoh yang kafir
.
3 – Kita mengetahui bahwa Iraq adalah negeri yang berkat juga. Bukti keberkatan Iraq adalah pindahnya ulama-ulama besar dari golongan sahabat ke Iraq seperti Imam Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Mas`ud, Anas bin Malik, `Ammar bin Yasir, Hudzaifah bin Yaman, Sa`ad bin Abi Waqash, Imran bin Hushain, jikalau negeri Iraq tidak berkat bagaimana boleh para sahabat pindah ke Iraq berbondong-bondong. Di negeri Iraq pula terbitnya banyak ulama hadis dan mazhab ahlussunnah seperti mazhab Imam Hanafi, Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Sufyan ats-Tsauri dan Sufyan bin Uyaynah, timbulnya di baghdad ulama dan fakar-fakar qira`ah dan Nahu, berbeda dengan Najd Yamamah yang tidak terdapat sedikitpun para sahabat yang bermukim di situ bahkan para sahabat datang ke Najd Yamamah untuk memerangi orang kafir dan murtad pengikut Musailamah. Bagaimana bisa kita katakan bahwa Iraq tempat yang terkutuk dan tidak berkat, sementara Iraq telah mengeluarkan jutaan ulama. Kenapa wahabi mengikuti mazhab Hanbali sementara Imam Ahmad berasal dari Iraq
.
4 – Iraq telah masyhur ketika zaman jahiliyah, jikalau Rasul bermaksud Iraq niscaya beliau akan sebutkan secara jelas dengan namanya khusustetapi Rasul tidak menyebutkan Iraq bahkan menyebutkan Najd yang berarti bukan Iraq. Jadi jika disebut dengan Najd maka di maksud adalah  Najd secara uruf yaitu daerah Yamamah , Dar’ah dan sekitarnya, karena kawasan ini juga dataran tinggi
.
5 – Hadis Rasulullah s.a.w. yang berbunyi :
Artinya : Dari Ibnu Umar r.a. beliau mendengar Rasul bersabda dalam keadaan mengarah ke bahagian arah timur Madinah : ” Ingatlah bahwasanya fitnah datang dari sana dari tempat terbitnya tanduk syaitan. ( H.R .Bukhari no : 7093 ).
Bahagian timur Madinah adalah Nejd ( bahagian Yamamah, Dir`ah, dll ) bukan Iraq. Ini jelas kalau kita melihat peta, adapun para ulama yang menafsirkan timur tersebut ke arah Iraq telah bersalah dengan kenyataan dan ilmu zaman sekarang, karena timurnya Madinah bukan Iraq
.
6 – Hadis Rasulullah s.a.w yang menyuruh penduduk Nejd agar berniat ihram dari Qarnu Manazil .
Artinya   ari Abdullah bin Umar r.a. beliau berkata : Rasulullah s.a.w. menyuruh penduduk Madinah berniat ihram dari Dzul- Hulaifah, penduduk Syam dari Juhfah, dan penduduk Nejd dari Qarn, Manazil. ( H.R. Malik , Kitab Hajj, bab Mawaqitu al-Ihlal no : 732 ).
Sementara lafaz didalam Sohih Bukhari ialah
:
Artinya   ari Ibnu Umar beliau berkata : Rasulullah telah menentukan miqat bagi ahli Najd di Qaran, Juhfah untuk penduduk Syam, Dzul Hulaifah untuk penduduk Madinah, , berkata Ibnu Umar : telah sampai kepadaku bahwa Nabi s.a.w. berkata : ” Bagi penduduk Yaman dari Yalamlam”. kemudian disebutkan Iraq, berkata beliau : Ketika itu belum ada Iraq. ( H.R. Bukhari, no 7344 ).
Dari kedua hadis diatas jelaslah bahwa yang di maksud Najd adalah daerah dataran tinggi yang terdiri dari Yamamah ( Riyadh sekarang ), Dir`ah dan lain-lainnya. Bukan Iraq, karena ketika itu orang Iraq belum memeluk islam, sementara Qarnu Manazil berhampiran dengan Yamamah (Riyadh sekarang ).

7 – Adapun riwayat yang menggantikan Masyriq ( arah timur ) kepada Iraq, riwayat ini telah diubah dan tidak shahih. Karena kebanyakkan riwayat mengatakan Masyriq. Adapun penafsiran Salim bin Abudullah bin Umar kepda Iraq adalah salah satu ijtihad beliau yang belum bisa dijadikan pegangan, sebab bukan dari penafsiran Rasulullah s.a.w. Sebagaimana beliau pernah berijtihad untuk melarang para wanita pergi shalat ke masjid sehingga ayah beliau Abdullah bin Umar marah tidak bercakapan dengan beliau sampai Abdullah bin Umar meninggal dunia

.

Hadits-hadits yang memberitakan akan datangnya Faham Wahabi.

Sungguh Nabi s a w telah memberitakan tentang golongan Khawarij ini dalam beberapa hadits beliau, maka hadits-hadits seperti itu adalah merupakan tanda kenabian beliau s a w, karena termasuk memberitakan sesuatu yang masih ghaib (belum terjadi). Seluruh hadits-hadits ini adalah shahih, sebagaimana terdapat dalam kitab shahih BUKHARI & MUSLIM dan sebagian yang lain terdapat dalam selain kedua kitab tsb. Hadits-hadits itu antara lain:

1. Fitnah itu datangnya dari sini, fitnah itu datangnya dari arah sini, sambil menunjuk ke arah timur (Najed-pen ).

2. Akan muncul segolongan manusia dari arah timur, mereka membaca Al Qur’an tetapi tidak bisa membersihkannya, mereka keluar dari agamanya seperti anak panah yang keluar dari busurnya dan mereka tidak akan kembali ke agama hingga anak panah itu bisa kembali ketempatnya (busurnya), tanda-tanda mereka bercukur kepala (plontos – pen).

3. Akan ada dalam ummatku perselisihan dan perpecahan kaum yang indah perkataannya namun jelek perbuatannya. Mereka membaca Al Qur’an, tetapi keimanan mereka tidak sampai mengobatinya, mereka keluar dari agama seperti keluarnya anak panah dari busurnya, yang tidak akan kembali seperti tidak kembalinya anak panah ketempatnya. Mereka adalah sejelek-jelek makhluk, maka berbahagialah orang yang membunuh mereka atau dibunuh mereka. Mereka menyeru kepada kitab Allah, tetapi sedikitpun ajaran Allah tidak terdapat pada diri mereka. Orang yang membunuh mereka adalah lebih utama menurut Allah. Tanda-tanda mereka adalah bercukur kepala (plontos – pen).

4. Di Akhir zaman nanti akan keluar segolongan kaum yang pandai bicara tetapi bodoh tingkah lakunya, mereka berbicara dengan sabda Rasulullah dan membaca Al Qur’an namun tidak sampai melewati kerongkongan mereka, meraka keluar dari agama seperti anak panah keluar dari busurnya, maka apabila kamu bertemu dengan mereka bunuhlah, karena membunuh mereka adalah mendapat pahala disisi Allah pada hari kiamat.

5. Akan keluar dari arah timur segolongan manusia yang membaca Al Qur’an namun tidak sampai mengobati mereka, mereka keluar dari agama seperti anak panah keluar dari busurnya, mereka tidak akan bisa kembali seperti anak panah yang tak akan kembali ketempatnya, tanda-tanda mereka ialah bercukur kepala (plontos – pen).

6. Kepala kafir itu seperti (orang yang datang dari) arah timur, sedang kemegahan dan kesombongan (nya) adalah (seperti kemegahan dan kesombongan orang-orang yang) ahli dalam (menunggang) kuda dan onta.

7. Dari arah sini inilah datangnya fitnah, sambil mengisyaratkan ke arah timur (Najed – pen).

8. Hati menjadi kasar, air bah akan muncul disebelah timur dan keimanan di lingkungan penduduk Hijaz (pada saat itu penduduk Hijaz terutama kaum muslimin Makkah dan Madinah adalah orang-orang yang paling gigih melawan Wahabi dari sebelah timur (Najed – pen).

9. (Nabi s a w berdo’a) Ya Allah, berikan kami berkah dalam negeri Syam dan Yaman, para sahabat berkata: Dan dari Najed, wahai Rasulullah, beliau berdo’a: Ya Allah, berikan kami berkah dalam negeri Syam dan Yaman, dan pada yang ketiga kalinya beliau s a w bersabda: Di sana (Najed) akan ada keguncangan fitnah serta disana pula akan muncul tanduk syaitan.

10. Akan keluar dari arah timur segolongan manusia yang membaca Al Qur’an namun tidak sampai membersihkan mereka. Ketika putus dalam satu kurun, maka muncul lagi dalam kurun yang lain, hingga adalah mereka yang terakhir bersama-sama dengan dajjal.

Dalam hadits-hadits tsb dijelaskan, bahwa tanda-tanda mereka adalah bercukur kepala (plontos – pen). Dan ini adalah merupakan nash atau perkataan yang jelas ditujukan kepada kaum khawarijin yang datang dari arah timur, yakni para penganut Ibnu Abdil Wahab, karena dia telah memerintahkan setiap pengikutnya bercukur rambut kepalanya hingga mereka yang mengikut kepadanya tidaklah dibolehkan berpaling dari majelisnya sebelum melakukan perintah tsb (bercukur – plontos). Hal seperti ini tidak pernah terjadi sebelumnya dari aliran-aliran SESAT lainnya. Oleh sebab itu, hadits-hadits tsb jelas ditujukan kepada mereka, sebagaimana apa yang telah dikatakan oleh Sayyid Abdurrahman Al-Ahdal, seorang mufti di Zubaid. Beliau r a berkata: “Tidak usah seseorang menulis suatu buku untuk menolak Ibnu Abdil Wahhab, akan tetapi sudah cukup ditolak oleh hadits-hadits Rasulullah s a w itu sendiri yang telah menegaskan bahwa tanda-tanda mereka adalah bercukur (gundul), karena ahli bid’ah sebelumnya tidaklah pernah berbuat demikian selain mereka.”

Muhammad bin Abdul Wahhab (pendiri Wahabisme – pen) sungguh pernah juga memerintah kaum wanitanya untuk bercukur (gundul – pen). Pada suatu saat ada seorang wanita masuk agamanya dan memperbarui Islamnya sesuai dengan doktrin yang dia masukkan, lalu dia memerintahkan wanita itu bercukur kepala (gundul pacul – pen). Kemudian wanita itu menjawab: “Anda memerintahkan kaum lelaki bercukur kepala, seandainya anda memerintahkan mereka bercukur jenggot mereka maka boleh anda memerintahkan kaum wanita mencukur rambut kepalanya, karena rambut kaum wanita adalah kedudukannya sama dengan jenggot kaum lelaki”. Maka dia kebingungan dan tidak bisa berkata apa-apa terhadap wanita itu. Lalu kenapa dia melakukan hal itu, tiada lain adalah untuk membenarkan sabda Nabi s a w atas dirinya dan para pengikutnya, yang dijelaskan bahwa tanda-tanda mereka adalah bercukur (gundul/plontos). Jadi apa yang dia lalukan itu semata-mata membuktikan kalau Nabi s a w itu benar dalam segala apa yang disabdakan.

Adapun mengenai sabda Nabi s a w yang mengisyaratkan bahwa akan ada dari arah timur (Najed – pen) keguncangan dan dua tanduk syaithon, maka sebagian ulama mengatakan bahwa yang dimaksud dengan dua tanduk syaithon itu tiada lain adalah Musailamah Al-Kadzdzab dan Muhammad Ibn Abdil Wahhab.Sebagian ahli sejarah menyebutkan peperangan BANI HANIFAH, mengatakan: Di akhir zaman nanti akan keluar di negeri Musailamah seorang lelaki yang menyerukan agama selain agama Islam.

Ada beberapa hadits yang didalamnya menyebutkan akan timbulnya fitnah, diantaranya adalah:

1. Darinya (negeri Musailamah dan Muhammad bin Abdul Wahhab) fitnah yang besar yang ada dalam ummatku, tidak satupun dari rumah orang Arab yang tertinggal kecuali dimasukinya, peperangan bagaikan dalam api hingga sampai keseluruh Arab, sedang memeranginya dengan lisan adalah lebih sangat (bermanfaat – pen) daripada menjatuhkan pedang.

2. Akan ada fitnah yang menulikan, membisukan dan membutakan, yakni membutakan penglihatan manusia didalamnya sehingga mereka tidak melihat jalan keluar, dan menulikan dari pendengaran perkara hak, barang siapa meminta dimuliakan kepadanya maka akan dimuliakan.

3. Akan lahir syaithon dari Najed, Jazirah Arab akan goncang lantaran fitnahnya. Al-Allamah Sayyid Alwi bin Ahmad bin Hasan bin Al-Quthub As-Sayyid Abdullah Al-Haddad Ba’Alawi didalam kitabnya: ”Jalaa’uzh zhalaam fir rarrdil Ladzii adhallal ‘awaam” sebuah kitab yang agung didalam menolak faham wahabi, beliau r a menyebutkan didalam kitabnya sejumlah hadits, diantaranya ialah hadits yang diriwayatkan oleh Abbas bin Abdul Muthalib r a sbb: “Akan keluar di abad kedua belas nanti dilembah BANI HANIFAH seorang lelaki, tingkahnya seperti pemberontak, senantiasa menjilat (kepada penguasa Sa’ud – pen) dan menjatuhkan dalam kesusahan, pada zaman dia hidup banyak kacau balau, menghalalkan harta manusia, diambil untuk berdagang dan menghalalkan darah manusia, dibunuhnya manusia untuk kesombongan, dan ini adalah fitnah, didalamnya orang-orang yang hina dan rendah menjadi mulia (yaitu para petualang & penyamun digurun pasir – pen), hawa nafsu mereka saling berlomba tak ubahnya seperti berlombanya anjing dengan pemiliknya”. Kemudian didalam kitab tersebut Sayyid Alwi menyebutkan bahwa orang yang tertipu ini tiada lain ialah Muhammad bin Abdul Wahhab dari Tamim. Oleh sebab itu hadits tersebut mengandung suatu pengertian bahwa Ibnu Abdul Wahhab adalah orang yang datang dari ujung Tamim, dialah yang diterangkan hadits Nabi s a w yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Abu Sa’id Al-Khudri r a bahwa Nabi s a w bersabda: “Sesungguhnya diujung negeri ini ada kelompok kaum yang membaca Al Qur’an, namun tidak sampai melewati kerongkongan mereka, mereka keluar dari agama seperti anak panah keluar dari busurnya, mereka membunuh pemeluk Islam dan mengundang berhala-berhala (Amerika, Inggeris dan kaum Zionis baik untuk penggalian berhala purbakala atau untuk kepentingan yang lain – pen), seandainya aku menjumpai mereka tentulah aku akan membunuh mereka seperti dibunuhnya kaum ‘Ad.Dan ternyata kaum Khawarij ini telah membunuh kaum muslimin dan mengundang ahli berhala (Amerika, Zionis dan sekutunya – pen) ”.  Ketika Imam Ali bin Abi Thalib kw ditebas oleh kaum khawarij, ada seorang lelaki berkata: “Segala Puji bagi Allah yang telah melahirkan mereka dan menghindarkan kita dari mereka”. Kemudian Imam Ali berkata: “Jangan begitu, demi Tuhan yang diriku berada didalam Kekuasaan-Nya, sungguh diantara mereka ada seorang yang dalam tulang rusuknya para lelaki yang tidak dikandung oleh perempuan, dan yang terakhir diantara mereka adalah bersama dajjal”.

Ada hadits yang diriwayatkan oleh Abubakar didalamnya disebutkan BANI HANIFAH, kaum Musailamah Al-Kadzdzab, Beliau s a w berkata: “Sesungguhnya lembah pegunungan mereka senantiasa menjadi lembah fitnah hingga akhir masa dan senantiasa terdapat fitnah dari para pembohong mereka sampai hari kiamat”. Dalam riwayat lain disebutkan: “Celaka-lah Yamamah, celaka karena tidak ada pemisah baginya”.

Di dalam kitab Misykatul Mashabih terdapat suatu hadits berbunyi sbb: “Di akhir zaman nanti akan ada suatu kaum yang akan membicarakan kamu tentang apa-apa yang belum pernah kamu mendengarnya, begitu juga (belum pernah) bapak-bapakmu (mendengarnya), maka berhati-hatilah jangan sampai menyesatkan dan memfitnahmu”. Allah SWT telah menurunkan ayat Al Qur’an berkaitan dengan BANI TAMIM sbb: “Sesungguhnya orang-orang yang memanggil kamu dari luar kamar (mu) kebanyakan mereka tidak mengerti”. (QS. 49 Al-Hujurat: 4).

Juga Allah SWT menurunkan ayat yang khitabnya ditujukan kepada mereka sbb: “Jangan kamu semua mengangkat suaramu diatas suara Nabi”. (QS. 49 Al-Hujurat 2). Sayyid Alwi Al-Haddad mengatakan: “Sebenarnya ayat yang diturunkan dalam kasus BANI HANIFAH dan mencela BANI TAMIM dan WA”IL itu banyak sekali, akan tetapi cukuplah sebagai bukti buat anda bahwa kebanyakan orang-orang Khawarij itu dari mereka, demikian pula Muhammad bin Abdul Wahhab dan tokoh pemecah belah ummat, Abdul Aziz bin Muhammad bin Su’ud (pendiri kerajaan Saudi Arabia – pen) adalah dari mereka”.

Diriwayatkan bahwa Nabi s a w bersabda: “Pada permulaan kerasulanku aku senantiasa menampakkan diriku dihadapan kabilah-kabilah pada setiap musim dan tidak seorangpun yang menjawab dengan jawaban yang lebih buruk dan lebih jelek daripada penolakan BANI HANIFAH”. Sayyid Alwi Al-Haddad mengatakan: “Ketika aku sampai di Tha’if untuk ziarah ke Abdullah Ibnu Abbas r a, aku bertemu dengan Al-Allamah Syeikh Thahir Asy-Syafi’i, dia memberi tahukan kepadaku bahwa dia telah menulis kitab guna menolak faham wahabi ini dengan judul: “AL-INTISHARU LIL AULIYA’IL ABRAR”. Dia berkata kepadaku: “Mudah-mudahan lantaran kitab ini Allah memberi mafa’at terhadap orang-orang yang hatinya belum kemasukan bid’ah yang datang dari Najed (faham Wahabi), adapun orang yang hatinya sudah kemasukan maka tak dapat diharap lagi kebahagiannya, karena ada sebuah hadits riwayat Bukhari: ‘Mereka keluar dari agama dan tak akan kembali’. Sedang yang dinukil sebagian ulama yang isinya mengatakan bahwa dia (Muhammad bin Abdul Wahhab) adalah semata-mata meluruskan perbuatan orang-orang Najed, berupa anjuran terhadap orang-orang Baduy untuk menunaikan sholat jama’ah, meninggalkan perkara-perkara keji dan merampok ditengah jalan, serta menyeru kemurnian tauhid, itu semua adalah tidak benar”.

Memang nampaknya dari luar dia telah meluruskan perbuatan manusia, namun kalau ditengok kekejian-kekejiannya dan kemungkaran-kemungkaran yang dilakukannya berupa:

1. Mengkafirkan ummat muslimin sebelumnya selama 600 tahun lebih (yakni 600 tahun sebelum masa Ibnu Taimiyah dan sampai masa Wahabi, jadi sepanjang 12 abad lebih.

2. Membakar kitab-kitab yang relatif amat banyak (termasuk Ihya’ karya Al-Ghazali)3. Membunuh para ulama, orang-orang tertentu & masyarakat umum.

4. Menghalalkan darah dan harta mereka (karena dianggap kafir – pen).

5. Melahirkan jisim bagi Dzat Allah SWT.

6. Mengurangi keagungan Nabi Muhammad saw, para Nabi & Rasul a s serta para Wali ra.

7. Membongkar makam mereka dan menjadikan sebagai tempat membuang kotoran (toilet).

8. Melarang orang membaca kitab “DALAA’ILUL KHAIRAT”, kitab Ratib dan dzikir-dzikir, kitab-kitab maulid Dziba’.

9. Melarang membaca Shalawat Nabi s a w diatas menara-menara setelah melakukan adzan, bahkan telah membunuh siapa yang telah melakukannya.

10. Menyuap orang-orang bodoh dengan doktrin pengakuan dirinya sebagai nabi dan memberi pengertian kepada mereka tentang kenabian dirinya dengan tutur kata yang manis.

11. Melarang orang-orang berdo’a setelah selesai menunaikan sholat.

12. Membagi zakat menurut kemauan hawa nafsunya sendiri.

13. Dia mempunyai i’tikad bahwa Islam itu sempit.

14. Semua makhluk adalah syirik.

15. Dalam setiap khutbah dia berkata bahwa bertawasul dengan para Nabi, Malaikat dan para Wali adalah kufur.

16. Dia mengkafirkan orang yang mengucapkan lafadz: “maulana atau sayyidina”  terhadap seseorang tanpa memperhatikan firman Allah yang berbunyi: “Wasayyidan”  dan sabda Nabi s a w kepada kaum Anshar: “Quumuu li sayyidikum”, kata sayyid didalam hadits ini adalah shahabat Sa’ad bin Mu’adz.

17. Dia juga melarang orang ziarah ke makam Nabi s a w dan menganggap Nabi s a w itu seperti orang mati lainnya.

18. Mengingkari ilmu Nahwu, lughat dan fiqih, bahkan melarang orang untuk mempelajarinya karena ilmu-ilmu tsb dianggap bid’ah.

Dari ucapan dan perbuatan-perbuatannya itu jelas bagi kita untuk menyakini bahwa dia telah keluar dari kaidah-kaidah Islamiyah, karena dia telah menghalalkan harta kaum muslimin yang sudah menjadi ijma’ para ulama salafushsholeh tentang keharamannya atas dasar apa yang telah diketahui dari agama, mengurangi keagungan para Nabi dan Rasul, para wali dan orang-orang sholeh, dimana menurut ijma’ ulama’ keempat mazhab Ahlissunnah wal jama’ah / mazhab Salafushsholeh (yang asli – pen) bahwa mengurangi keagungan seperti itu dengan sengaja adalah kufur, demikian kata sayyid Alwi Al-Haddad.

Dia berusia 95 tahun ketika mati dengan mempunyai beberapa orang anak yaitu Abdullah, Hasan, Husain dan Ali mereka disebut dengan AULADUSY SYEIKH atau PUTRA-PUTRA MAHA GURU AGUNG (menurut terminologi yang mereka punyai ini adalah bentuk pengkultusan-individu, mengurangi kemuliaan para Nabi dan Rasul tapi memuliakan dirinya sendiri – dimana kejujurannya? – pen). Mereka ini mempunyai anak cucu yang banyak dan kesemuanya itu dinamakan AULADUSY SYEIKH sampai sekarang.

Catatan: Kalau melihat 18 point doktrin Wahabi diatas maka jelaslah bahwa Muhammad bin Abdul Wahhab adalah seorang preman dan petualang akidah serta sama sekali tidak dapat digolongkan bermazhab Ahlissunnah Wal Jama’ah atau mazhab Salafush-Sholeh.

Ada lagi doktrin yang tidak disebutkan oleh penulis diatas yaitu:

1. Melarang penggunaan alat pengeras untuk adzan atau dakwa atau apapun.

2. Melarang penggunaan telpon.

3. Melarang mendengarkan radio dan TV.

4. Melarang melagukan adzan.

5. Melarang melagukan / membaca qasidah.

6. Melarang melagukan Al Qur’an seperti para qori’ dan qari’ah yakni yang seperti dilagukan oleh para fuqoha.

7. Melarang pembacaan Burdah karya imam Busiri rahimahullah.

8. Melarang mengaji “sifat 20″ sebagai yang tertulis dalam kitab Kifatayul Awam, Matan Jauharatut Tauhid, Sanusi dan kitab-kitab Tauhid Asy’ari / kitab-kitab Ahlussunnah Wal Jama’ah, karena tauhid kaum Wahabi berkisar Tauhid “Rububiyah & uluhiyah” saja.

9. Imam Masjidil Haram hanya seorang yang ditunjuk oleh institusi kaum Wahabi saja, sedang sebelum Wahabi datang imam masjidil Haram ada 4 yaitu terdiri dari ke 4 madzhab Ahlussunnah yaitu Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali. Inilah, apakah benar kaum Wahabi sebagai madzhab Ahlissunnah yang melarang madzhab Ahlussunnah?. Tepatnya, Wahabi adalah: “MADZHAB YANG MENGHARAMKAN MADZHAB”.

10. Melarang perayaan Maulid Nabi pada setiap bulan Rabiul Awal.

11. Melarang perayaan Isra’ Mi’raj yang biasa dilaksanakan setiap malam 27 Rajab, jadi peraktis tidak ada hari-hari besar Islam, jadi agama apa ini kok kering banget? 

12. Semua tarekat sufi dilarang tanpa kecuali.

13. Membaca dzikir “La Ilaaha Illallah”  bersama-sama setelah shalat dilarang.

14. Imam dilarang membaca Bismillah pada permulaan Fatihah dan melarang pembacaan Qunut pada shalat subuh.

Beberapa diantara larangan-larangan itu tetap saja dilanggar oleh para pengikutnya, hal ini menunjukkan bahwa mereka adalah kaum munafiq. 

Doktrin-doktrin Wahabi ini tidak lain berasal dari gurunya Muhammad bin Abdul Wahhab yakni seorang orientalis Inggris bernama Hempher yang bekerja sebagai mata-mata Inggris di Timur Tengah guna mengadu domba kaum muslimin. Imprealisme / Kolonialisme Inggris memang telah berhasil mendirikan sekte-sekte bahkan agama baru ditengah ummat Islam seperti Ahmadiyah dan Baha’i. Jadi Wahabiisme ini sebenarnya bagian dari program kerja kaum kolonial.

Mungkin pembaca menjadi tercenggang kalau melihat nama-nama putra-putra Muhammad bin Abdul Wahhab yaitu Abdullah, Hasan, Husain dan Ali dimana adalah nama-nama yang tekait dekat dengan nama tokoh-tokoh ahlilbait, hal ini tidak lain putra-putranya itu lahir sewaktu dia belum menjadi rusak karena fahamnya itu dan boleh jadi nama-nama itu diberikan oleh ayah dari Muhammad bin Abdul Wahhab yang adalah seorang sunni yang baik dan sangat menentang putranya setelah putranya rusak fahamnya dan demikian pula saudara kandungnya yang bernama Sulaiman bin Abdul Wahhab sangat menentangnya dan menulis buku tentangan kepadanya yang berjudul: ”ASH-SHAWA’IQUL ILAHIYAH FIRRADDI ALA WAHABIYAH”. Nama-nama itu diberikan oleh ayahnya tidak lain untuk bertabaruk kepada para tokoh suci dari para ahlilbait Nabi s a w. Kemudian nama-nama itu tidak muncul lagi dalam nama-nama orang yang sekarang disebut-sebut atau digelari Auladusy Syaikh tsb.

Diantara kekejaman dan kejahilan kaum Wahabi adalah meruntuhkan kubah-kubah diatas makam sahabat-sahabat Nabi saw yang berada di Mu’ala (Makkah), di Baqi’ & Uhud (Madinah) semuanya diruntuhkan dan diratakan dengan tanah dengan mengunakan dinamit penghancur. Demikian juga kubah diatas tanah dimana Nabi saw dilahirkan, yaitu di Suq al Leil di ratakan dengan tanah dengan menggunakan dinamit dan dijadikan tempat parkir onta. Saat ini karena gencarnya desakan kaum muslimin international maka kabarnya dibangun perpustakaan. Benar-benar kaum Wahabi itu golongan paling jahil diatas muka bumi ini. Tidak pernah menghargai peninggalan sejarah dan menghormati nilai-nilai luhur Islam Semula Alkubbatul Khadra atau kubah hijau dimana Nabi Muhammad s a w dimakamkan juga akan didinamit dan diratakan dengan tanah tapi karena ancaman international maka orang-orang biadab itu menjadi takut dan mengurungkan niatnya.

Semula seluruh yang menjadi manasik haji itu akan dimodifikasi termasuk maqom Ibrahim akan digeser tapi karena banyak yang menentang termasuk Sayyid Almutawalli Syakrawi dari Mesir maka diurungkannya.

Setelah saya memposting tentang Wahabi ini seorang ikhwan mengirim email ke saya melalui Japri dan mengatakan kepada saya bahwa pengkatagorian Wahabi sebagai kelompok Khawarij itu kurang lengkap, karena Wahabi tidak anti Bani Umaiyah bahkan terhadap Yazid bin Muawiyah pun membelanya. Dia memberi difinisi kepada saya bahwa Wahabi adalah gabungan sekte-sekte yang telah menyesatkan ummat Islam, terdiri dari gabungan Khawarij, Bani Umaiyah, Murji’ah, Mujassimah, Musyabbihah dan  Hasyawiyah. Teman itu melanjutkan jika anda bertanya kepada kaum Wahabi mana yang lebih kamu cintai kekhalifahan Bani Umaiyah atau Abbasiyah, mereka pasti akan mengatakan lebih mencintai Bani Umaiyah dengan berbagai macam alasan yang dibuat-buat yang pada intinya meskipun Bani Abbas tidak suka juga pada kaum alawi tapi masih ada ikatan yang lebih dekat dibanding Bani Umaiyah, dan Bani Umaiyah lebih dahsyat kebenciannya kepada kaum alawi, itulah alasannya.

——————————————————————————————————————————————————————————-
Wahai saudaraku yang budiman, waspadalah terhadap gerakan Wahabiyah ini mereka akan melenyapkan semua mazhab baik Sunni (Ahlussunnah Wal Jama’ah) maupun Syi’ah, mereka akan senantiasa mengadu domba kedua mazhab besar. Sekali lagi waspadalah dan waspadalah gerakan ini benar-benar berbahaya dan jika kalian lengah, kalian akan terjengkang dan terkejut kelak. Gerakan ini dimotori oleh juru dakwa – juru dakwa yang radikal dan ekstrim, yang menebarkan kebencian dan permusuhan dimana-mana yang didukung oleh keuangan yang cukup besar (petro-dollar)
.
Kesukaan mereka menuduh golongan Islam yang tak sejalan dengan mereka dengan tuduhan kafir, syirik dan ahlil bid’ah, itulah ucapan yang didengung-dengungkan disetiap mimbar dan setiap kesempatan, mereka tak pernah mengakui jasa para ulama Islam manapun kecuali kelompok mereka sendiri
.
Di negeri kita ini mereka menaruh dendam dan kebencian mendalam kepada para Wali Songo yang menyebarkan dan meng Islam kan penduduk negeri ini. Diantaranya timbulnya fitnah perang padri yang penuh kekejian dan kebiadaban persis seperti ketika Ibnu Sa’ud dan Ibnu Abdul Wahab beserta kaumnya menyerang haramain
.
Mereka mengatakan ajaran para wali itu masih tercampur kemusyrikan Hindu dan Budha, padahal para Wali itu jasanya telah meng Islam kan 90 % penduduk negeri ini. Mampukah wahabi-wahabi itu meng Islam kan yang 10 % sisanya? Mempertahankan yang 90 % dari terkapan orang kafir saja tak bakal mampu, apalagi mau menambah 10 % sisanya. Jika bukan karena Rahmat Allah yang mentakdirkan para Wali Songo untuk berdakwa ke negeri kita ini tentu orang-orang yang asal bunyi dan menjadi corong bicara kaum wahabi itu masih berada dalam kepercayaan animisme, penyembah berhala atau masih kafir lainnya (Naudzu Billah min Dzalik)
.
Klaim Wahabi bahwa mereka penganut As-Salaf, As-Salafushsholeh dan Ahlussunnah wal Jama’ah serta sangat setia pada keteladanan sahabat dan tabi’in adalah omong kosong dan suatu bentuk penyerobotan HAK PATEN SUATU MAZHAB. Mereka bertanggung jawab terhadap hancurnya peninggalan-pininggalan Islam sejak masa Rasul suci Muhammad s a w, masa para sahabatnya r a dan masa-masa setelah itu. Meraka menghancurkan semua nilai-nilai peninggalan luhur Islam dan mendatangkan arkeolog-arkeolog (ahli-ahli purbakala) dari seluruh dunia dengan biaya ratusan juta dollar untuk menggali peninggalan-peninggalan pra Islam baik yang dari kaum jahiliyah maupun sebelumnya dengan dalih obyek wisata dsb. Mereka dengan bangga setelah itu menunjukkan bahwa zaman pra Islam telah menunjukkan kemajuan yang luar biasa, maka jelaslah penghancuran nilai-nilai luhur peninggalan Islam tidak dapat diragukan lagi merupakan pelenyapan bukti sejarah hingga timbul suatu keraguan dikemudian hari.Oleh karena itu janganlah dipercaya kalau mereka mengaku-ngaku sebagai faham yang hanya berpegang pada Al Qur’an dan As-Sunnah serta keteladanan Salafushsholeh apalagi mengaku sebagai GOLONGAN YANG SELAMAT DSB, itu semua omong kosong dan kedok untuk menjual barang dagangan berupa akidah palsu yang disembunyikan. Sejarah hitam mereka dengan membantai ribuan kaum muslimin di Makkah dan Madinah serta daerah lain di wilayah Hijaz (yang sekarang di namakan Saudi, suatu nama bid’ah karena nama negeri Rasulullah s a w diganti dengan nama satu keluarga kerajaan yaitu As-Sa’ud). Yang terbantai itu terdiri dari para ulama-ulama yang sholeh dan alim, anak-anak yang masih balita bahkan dibantai dihadapan ibunya.

Pemalsuan Kitab-kitab Ulama klasik Oleh Tangan-tangan Salafy Wahabi

Pemalsuan Kitab-kitab Ulama klasik  Oleh Tangan-tangan Salafy Wahabi

Pemalsuan Kitab-kitab Ulama Oleh Tangan-tangan Salafy Wahabi
.
Salafi Wahabi – “Mereka Memalsukan Kitab-Kitab Karya Ulama Klasik: Episode Kebohongan Publik Sekte Salafi Wahabi”.
.
Adagium yang mengatakan bahwa, buku adalah pengikat ilmu, tidak ada yang mengingkarinya. Lebih dari itu, buku merupakan salah satu media utama dalam mencari kebenaran. Telah berabad-abad lamanya, para ulama terdahulu mewarisi ilmu mereka kepada generasi setelahnya melalui buku yang mereka tulis. Buku menjadi sangat berharga dan penting. la menjadi sandaran utama umat dalam mencari kebenaran dan petunjukTuhan. Lalu, apa jadinya jika buku-buku para ulama yang mewarisi ilmu dan petunjuk itu dikotori, diselewengkan, bahkan dipalsukan? Ke mana lagi umat ini hendak mencari kebenaran?
.
Barangkali Anda terperanjat, kasus-kasus penyelewengan Salafi Wahabi dalam hal amanah ilmiah ini sangat banyak dan beragam, sebagaimana yang-insya’Allah-akan dikupas dalam buku ini, seperti: pemusnahan dan pembakaran buku; sengaja meringkas, mentahkik, dan mentakhrij kitab-kitab hadis yang jumlah halamannya besar untuk menyembunyi-kan hadis-hadis yang tidak mereka sukai; menghilangkan hadis-hadis tertentu yang tidak sesuai dengan faham mereka; memotong-motong dan mencuplik pendapat ulama untuk kemudian diselewengkan maksud dan tujuannya; mengarang-ngarang hadis dan pendapat ulama; memerintahkan ulama mereka untuk menulis suatu buku, lalu mengatasnamakan buku itu dengan nama orang lain; tindakan intimidasi dan provokasi; membeli manuskrip; menyogok penerbit; sampai kepada pencurian buku-buku induk dan manuskrip untuk dihilangkan sebagian isinya, atau dimusnahkan semuanya
.
Sering terjadinya kasus-kasus penyelewengan seperti ini dibenarkan oleh ulama-ulama kawakan di Timur Tengah, semisal: Mufti Mesir, Syaikh Prof. Dr. Ali Jum’ah; tokoh ulama Syria, al-Muhaddits asy-Syaikh Abdullah al-Harari al-Habasyi; tokoh ulama Maroko, al-Muhaddits as-Sayyid Ahmad al-Ghimari; tokoh ulama Syria, Prof. Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi; tokoh ulama tasawuf di Makah, al-Muhaddits asy-Syaikh Muhammad ibnu Alawi al-Maliki, dan ulama-ulama lainnya
.
Sekte Salafi Wahabi sangat menyadari bahwa buku merupakan salah satu media paling efektif untuk ‘mengarah-kan’ umat kepada faham yang mereka inginkan. Karenanya, tidak aneh jika mereka sangat concern dalam ranah per-bukuan, penerbitan, dan penerjemahan. Beragam jenis buku -baik buku kertas maupun e-book/digital- mereka cetak untuk dibagikan secara gratis maupun dengan harga murah
.
Barangkali juga terlintas dalam benak Pembaca suatu pertanyaan, mengapa Salafi Wahabi melakukan tindakan-tindakan tidak terpuji itu? Di antara jawabannya adalah, karena faham penyelewengan, pemalsuan, perusakan, dan pe-lenyapan buku adalah doktrin ulama mereka, sebagai bagian dari upaya memperjuangkan akidah Salafi Wahabi yang mereka yakini paling benar. Anda mungkin tidak percaya, tapi inilah di antara bukti yang menunjukan bahwa, sekte Salafi Wahabimendoktrinkan para pengikutnya untuk membakar dan melenyapkan buku-buku karya ulama Islam
.
Salah seorang tokoh ulama Salafi Wahabi Saudi, Abu Ubaidah Masyhur ibnu Hasan Alu Salman menyatakan dalam salah satu bukunya, “Buku-buku semacam ini banyak dimiliki orang dan mengandung akidah-akidah sesat, seperti kitab: al-Fushush dan al-Futuhat karya Ibnu Arabi, al-Budd karya Ibnu Sab’in, Khal’u an-Na’lain karya Ibnu Qusai, ‘Ala al-Yaqin karya Ibnu Bukhan, buku-buku sastra karya Ibnu Faridh, buku-buku karya al-Afif at-Tilmisani, dan buku-buku sejenisnya. Begitu juga kitab Syarh Ibnu Farghani terhadap kasidah dan syair Ibnu Faridh. Hukum semua buku yang semacam ini adalah, dilenyapkan keberadaannya (idzhab a’yaniha) kapan saja buku itu ditemukan, dengan cara dibakar, dicuci dengan air…” (lihat buku Salafi Wahabi: Kutub Hadzdzara minha al-Ulama, karangan Abu Ubaidah Masyhur ibnu Hasan Alu Salman, penerbit Dar ash-Shami’i, Riyadh, Saudi Arabia, h. 9)
.
Murid setia Ibnu Taimiyah sekaligus guru Salafi Wahabi, Ibnu Qayyim al-Jauziyah juga pernah menyatakan, “…Begitu juga, tidak perlu untuk mengganti rugi dalam membakar kitab-kitab sesat dan melenyapkannya (itlafuha).” (Lihat kitab: Zad al-Ma’ad karangan Ibnu Qayyim al-Jauziyah, penerbit Muassasah ar-Risalah, vol. 3, Beirut, Lebanon, h. 581)
.
Dalam bukunya yang lain, Ibnu Qayyim juga berwasiat untuk menghancurkan dan melenyapkan buku-buku bid’ah, “Maksudnya adalah, bahwa kitab-kitab yang mengandung kebohongan dan bid’ah ini wajib untuk dihilangkan dan dilenyapkan. Perbuatan (melenyapkan) ini lebih utama daripada melenyapkan alat-alat hiburan, musik, dan melenyapkan perabot minuman keras. Sungguh bahaya kitab-kitab itu jauh lebih besar dari bahaya-bahaya lain, dan tidak ada ganti-rugi dalam menghancurkan dan melenyapkannya.” (Ibnu Qayyima-Jauziyah: ath-Thuruq al-Hukmiyah fi as-Siyasah asy-Syar’iyah, penerbit Majma al-Fiqh al-Islami, Jeddah, Saudi Arabia 1428 H., h. 325)
.
Begitu juga dengan Ibnu Taimiyah, soko guru Salafi Wahabi. Ia telah mengeluarkan fatwa untuk membakar buku-buku yang dianggap bertentangan dengan fahamnya. (Lihat akhir nomor 59 dari kitab al-Akhbar dan kitab al-Jami’ yang digabung dengan kitab Mushannaf Abd ar-Razaq 11/424, dan kitab Mushannaf Ibnu Abu Syaibah 6/211-212, penerbit Dar al-Fikr, bab Tahriq al-Kutub)
.

Jika kita berbaik sangka, barangkali wasiat dan fatwa Ibnu Taimiyah serta muridnya tentang pembakaran dan pelenyapan buku itu dimaksudkan untuk sesuatu yang baik. Yang menjadi rancu adalah, bid’ah dan sesat yang mereka berdua maksud, tidak sama dengan bid’ah dan sesat yang dimaksudkan oleh sekte Salafi Wahabi, wa bil khusus bid’ah dan sesat versi pendiriSalafi Wahabi, Muhammad Ibnu Abdul Wahab. Scbagaimana telah dikupas pada buku penulis yang ke-1, “Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi; Mereka Membunuh Nemuanya Termasuk Para Ulama”, Muhammad Ibnu Abdul Wahab -begitu juga para pengikutnya- memang terkenal bengis dan kejam terhadap umat Islam yang tidak sepaham dengannya.

Mengaku Pengikut Salaf; Wahabi Anti Takwil Padahal Salaf Shalih Melakukan Takwil

Mengaku Pengikut Salaf; Wahabi Anti Takwil Padahal Salaf Shalih Melakukan Takwil

Untuk Membungkam Wahabi Yang Anti Takwil (Bag. 1). Mohon Disebarluaskan..!

Kitab ini “as-Saif ash-Shaqil Fi ar-Radd ‘Ala ibn Zafil” adalah karya al-Imam al-Hafizh Taqiyyuddin as-Subki (756 H); Ulama terkemuka dalam madzhab Syafi’i . Isinya dari a sampe z membantah aqidah sesat Ibn Qayyim (murid Ibn Taimiyah). Guru dan murid ini sama-sama berakidah tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya); mengatakan Allah duduk di atas arsy
.
Na’udzu Billah!!! Ibn Zafil yang dimaksud dalam kitab di atas adalah Ibn Qayyim.

(1)

Terjemah 1:
al-Bayhaqi telah mengutip dalam kitab Manaqib Ahmad dari pemimpin ulama madzhab Hanbali –yang juga putra dari pimpinan ulama madzhab Hanbali–;
yaitu Imam Abu al-Fadl at-Tamimi, bahwa beliau (Abu al-Fadl) berkata: “Imam Ahmad sangat mengingkari terhadap orang yang mengatakan bahwa Allah sebagai benda (jism). Dan ia (Imam Ahmad) mengatakan bahwa nama-nama Allah itu diambil dari tuntunan syari’at dan dengan dasar bahasa. Sementara para ahli bahasa mengatakan bahwa definisi “jism” (benda) hanya berlaku bagi sesuatu yang memiliki panjang, lebar, volume, susunan, bentuk, (artinya yang memiliki dimensi), padahal Allah Maha Suci dari pada itu semua. Dengan demikian Dia (Allah) tidak boleh dinamakan dengan “jism” (benda), karena Dia Maha Suci dari makna-makna kebendaan, dan penyebutan “jism” pada hak Allah tidak pernah ada di dalam syari’at; maka itu adalah sesuatu yang batil”.
(2)
Terjemah 2:
al-Bayhaqi dalam kitab Manaqib Ahmad berkata: “Telah mengkabarkan kepada kami al-Hakim, berkata: Mengkabarkan kepada kami Abu Amr ibn as-Sammak, berkata: Mengkabarkan kepada kami Hanbal ibn Ishak, berkata: Aku telah mendengar pamanku Abu Abdillah (Ahmad ibn Hanbal) berkata: ”Mereka (kaum Mu’tazilah) mengambil dalil dalam perdebatan denganku, –ketika itu di istana Amîr al-Mu’minîn–, mereka berkata bahwa di hari kiamat surat al-Baqarah akan datang, demikian pula surat Tabarak akan datang. Aku katakan kepada mereka bahwa yang akan datang itu adalah pahala dari bacaan surat-surat tersebut
.
Dalam makna firman Allah “Wa Ja’a Rabbuka” (QS. al-Fajr 23), bukan berarti Allah datang, tapi yang dimaksud adalah datangnya kekuasaan Allah. Karena sesungguhnya kandungan al-Qur’an itu adalah pelajaran-pelajaran dan nasehat-nasehat”. Dalam peristiwa ini terdapat penjelasan bahwa al-Imâm Ahmad tidak meyakini makna “al-Majî’” (dalam QS. al-Fajr di atas) dalam makna Allah datang dari suatu tempat.
Demikian pula beliau tidak meyakini makna “an-Nuzûl” pada hak Allah yang (disebutkan dalam hadits) dalam pengertian turun pindah dari satu tempat ke tempat yang lain seperti pindah dan turunnya benda-benda
.
Tapi yang dimaksud dari itu semua itu versi  sunni adalah untuk mengungkapkan dari datangnya tanda-tanda kekuasaan Allah, karena mereka (kaum Mu’tazilah) berpendapat bahwa al-Qur’an jika benar sebagai Kalam Allah dan merupakan salah satu dari sifat-sifat Dzat-Nya, maka tidak boleh makna al-Majî’ diartikan dengan datangnya Allah dari suatu tempat ke tampat lain. Oleh karena itu al-Imâm Ahmad menjawab pendapat kaum Mu’tazilah dengan mengatakan bahwa yang dimaksud adalah datangnya pahala bacaan dari surat-surat al-Qur’an tersebut. Artinya pahala bacaan al-Qur’an itulah yang akan datang dan nampak pada saat kiamat itu”
.
Tambahan:
Riwayat al-Bayhaqi di atas juga telah dikutip oleh Ibn Katsir dalam kitab al-Bidâyah Wa al-Nihâyah, j. 10, h. 327) dengan redaksi berikut:
“al-Bayhaqi dalam Kitab Manaqib Ahmad meriwayatkan dari al-Hakim dari Abu Amr as-Sammak dari Hanbal, bahwa al-Imâm Ahmad ibn Hanbal telah mentakwil firman Allah: “Wa ja’a Rabbuka” (QS. al-Fajr: 23) bahwa yang dimaksud ”Jâ’a” bukan berarti Allah datang dari suatu tempat, tapi yang dimaksud adalah datangnya pahala yang dikerjakan dengan ikhlas karena Allah. Tentang kualitas riwayat ini al-Bayhaqi berkata: “Kebenaran sanad riwayat ini tidak memiliki cacat sedikitpun”
.
Dari penjelasan di atas terdapat bukti kuat bahwa al-Imâm Ahmad memaknai ayat-ayat tentang sifat-sifat Allah, juga hadits-hadits tentang sifat-sifat Allah, tidak dalam pengertian zhahirnya
.
Karena pengertian zhahir teks-teks tersebut seakan Allah ada dengan memiliki tempat dan kemudian berpindah-pindah, juga seakan Allah bergerak, diam, dan turun dari atas ke bawah, padahal jelas ini semua mustahil atas Allah. Hal ini berbeda dengan pendapat Ibn Taimiyah dan para pengikutnya (kaum Wahhabiyyah), mereka menetapkan adanya tempat bagi Allah, juga mengatakan bahwa Allah memiliki sifat-sifat tubuh, hanya saja untuk mengelabui orang-orang awam mereka mengungkapkan kata-kata yang seakan bahwa Allah Maha Suci dari itu semua, kadang mereka biasa berkata “Bilâ Kayf…(Sifat-sifat Allah tersebut jangan ditanyakan bagaimana?)”, kadang pula mereka berkata “’Alâ Mâ Yalîqu Billâh… (Bahwa sifat-sifat tersebut adalah sifat-sifat yang sesuai bagi keagungan Allah)
.
Kita katakan kepada mereka: ”Andaikan al-Imâm Ahmad berkeyakinanbahwa Allah bergerak, diam, pindah dari satu tempat ke tempat yang lain, maka beliau akan memaknai ayat-ayat tersebut dalam makna zhahirnya, juga beliau akan akan memahami makna al-Majî’ dalam makna datang dari suatu tempat atau datang dari arah atas ke arah bawah seperti datangnya para Malaikat. Namun sama sekali al-Imâm Ahmad tidak mengatakan demikian”
.
Penting Untuk Membungkam Wahabi:

Kita katakan: “Wahai Wahabi, kalian anti takwil, kalian mengatakan: “al-Mu’awwil Mu’aththil” (orang yang melakukan takwil maka ia telah mengingkari al-Qur’an), lalu apa yang hendak kalian katakan terhadap Imam Ahmad yang telah melakukan takwil sebagaimana dalam riwayat di atas, –yang bahkan diriwayatkan oleh Ibn Katsir; salah seorang rujukan utama kalian? Mau lari ke mana kalian! Apakah kalian hendak mengatakan Imam Ahmad sesat? Sungguh  yang sesat itu adalah kalian sendiri…

Kalian Para Wahabi yang telah mengotori Madzhab Hanbali…!

Syi’ah benar

Sunni salah

Yang dimaksud dengan Ulil Amri dalam ayat An-Nisā 59 adalah Ali dan para imam ma’shum as dari keturunan beliau

Tafsir Surat An-Nisa Ayat 59 & ar-Ra’d Ayat 7

 Asbabun Nuzul An-Nisā`:59 & Ar-Ra’d:7
.
1. Asbabun Nuzul Surah An-Nisā`:59, tentang Perintah Menaati Ulil Amr
“Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah, taatlah kepada Rasul dan Ulil Amr (yang berasal dari) dirimu”
.
Yang dimaksud dengan Ulil Amr dalam ayat di atas adalah Ali dan para imam ma’shum as dari keturunan beliau
.
Silahkan rujuk:
1.Yanābī’ul Mawaddah, karya Syeikh Sulaiman Al-Qundusi Al-Hanafi, hal. 134 dan 137, cetakan Al-Haidariyah; hal. 114 dan 117, cetakan Islambul.
2.Syawāhidut Tanzīl, karya Al-Hakim Al-Haskani Al-Hanafi, juz 1, hal. 148, hadis ke 202, 203 dan 204.
3.Tafsir Ar-Razi, juz 3, hal. 357.
4.Ihqāqul Haqq, karya At-Tustari, juz 3, hal. 424, cetakan pertama, Tehran.
5.Farā`idus Simthain juz 1 hal. 314, hadis ke 250.2. Asbabun Nuzul Surah Ar-Ra’d:7, tentang “Mundzir dan Pemandu Kepada Kebenaran”
“Sesungguhnya engkau hanyalah seorang pemberi peringatan (mundzir), dan setiap kaum (pasti memiliki) seorang pemberi petunjuk”

Yang dimaksud dengan “penunjuk jalan” dalam ayat di atas adalah Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as

Ibnu abbas meriwayatkan bahwa ketika ayat ini turun Rasulullah SAWW meletakkan tangan di atas dadanya sambil bersabda: “Aku adalah mundzir”. Dan ketika membaca: “Wa li kulli qaumin hād”, beliau menunjuk ke arah Imam Ali as seraya bersabda: “Wahai Ali, kamu adalah pemberi petunjuk itu, dan orang-orang yang mendapatkan petunjuk setelah aku (wafat), mereka mendapatkannya melalui (petunjukmu)”.

Hadis ini dan hadis-hadis lain yang searti dengannya dapat dilihat di dalam buku-buku referensi berikut:
1.Tafsir Ath-Thabari, juz 13, hal. 72 dan 108.
2.Tafsir An-Naisaburi (catatan pinggir) Tafsir Jāmi’ul Bayān, juz 13, hal. 78.
3.Tafsir Fathul Qadīr, karya Asy-Syaukani, tentang ayat ini.
4.Tafsir Fakhrur Razi, juz 5, hal. 271, cetakan Dar At-Thaba’ah Al-‘Amirah, Mesir; juz 3, hal. 14, cetakan yang lain.
5.Tafsir Ibnu Katsir, juz 2, hal. 502.
6.Ad-Durrul Mantsūr, karya As-Suyuthi, juz 4, hal. 45.
7.Syawāhidut Tanzīl, karya Al-Hakim Al-Haskani, tentang ayat ini.
8.Manāqib Ibnu Syahra-asyub, juz 2, hal. 280.
9.Nūrul Abshār, Asy-Syablanji hal. 71, cetakan Al-‘Utsmaniyah; hal. 71, cetakan As-Sa’idiyah, Mesir.
10.Tarjamah Al-Imam Ali bin abu Thalib dalam Tarikh Dimasyq, karya oleh Ibnu Asakir Asy-Syafi’i, juz 2, hal. 415, hadis ke: 913, 914, 915, 916.
11.Mustadrak Al-Hakim, juz 3, hal. 129-130.
12.Yanābī’ul Mawaddah, karya Al-Qundusi Al-Hanafi, hal. 115-121, cetakan Al-Haidariyah: hal. 99 dan 104, cetakan Islambul.
13.Rūhul Ma’āni, karya Al-Alusi, juz 13, hal. 97.
14.Zādul Mashīr, Ibnu Jauzi Al-Hanbali, juz 4, hal. 307.
15.Fathul Bayān, karya Shiddiq Hasan Khan, juz 5, hal. 75.
16.Ihqāqul Haqq, karya At-Tustari, juz 3, hal. 77-93.
17.Fadhā`ilul Khamsah minas Shihāhis Sittah, juz 1, hal. 266.
18.Farā`idus Simthain, juz 1, hal. 148.

Khalid bin walid pula yang membakar Bani Salim hidup-hidup di zaman Abu Bakar

Mengapa saudara-saudara keberatan bila seorang muslim yang salih, yang tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh orang yang tidak berdosa, yang menjalankan perintah Allah dan menjauhi laranganNya disebut terjaga dari dosa? Apakah saudar-saudara menganut paham dosa warisan atau ‘original sin’?
.
Apalagi Allah berfirman:
“Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan (segala) kenistaan dari padamu,hai Ahlul Bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab: 33)
.
Yang dimaksud Al-Qur’an adalah ‘Ali, Fathimah, Hasan dan Husain. Ahlussunah pun percaya bahwa semua sahabat adil, dan semua tindakan mereka adalah ijtihad. Dan tindakan mereka mendapat pahala termasuk diantaranya sahabat yang melaksanakan pembunuhan berdarah dingin, pezinah, pemabuk, pembohong, pembakar orang hidup-hidup atau memerangi Imam zamannya dan perbuatan-perbuatan yang tidak terlukiskan dengan kata-kata
.
Ada juga kisah Khalid bin walid yang memenggal kepala Malik bin Nuwairah1 dan memperkosa istri Malik yang cantik malam itu juga. Ia menggunakan kepala Malik sebagai tungku
.
Ini bukan tuduhan kaum Syi’ah, tetapi catatan sejarawan Sunni! Umar bin Khattab menyebut Khalid bin Walid sebagai pembunuh dan pezinah yang harus dirajam. Abu Bakar menyatakan bahwa Khalid hanya sekedar salah ijtihad, dan menamakannya ‘syaifullah’ atau pedang Allah. “Aku tidak akan menyarungkan pedang yang telah dihunus Allah untuk memerangi musuhmusuhNya.”, kata Abu Bakar
.
Khalid pula yang membakar Bani Salim hidup-hidup di zaman Abu Bakar. Umar mengingatkan Abu Bakar, dengan membawa hadits Rasulullah SAWW bahwa tidak boleh menghukum dengan hukuman yang hanya Allah boleh melakukannya. Dan Abu Bakar mengatakan, seperti diatas “Aku tidak akan menyarungkan pedang yang telah dihunus Allah untuk memerangi musuh-musuhNya.” Banyak pula ulah Khalid yang lain, yang oleh ‘Abdurrahman bin ‘Auf dikatakan sebagai perbuatan jahiliyah, yaitu tatkala ia membunuh Bani Jazimah secara berdarah dingin
.
Baca buku-buku yang berada dalam lemari saudara-saudara. Sekali lagi, tuduhan ini disampaikan oleh Umar bin Khattab, Ibnu Umar dan Abu Darda’. Kedua sahabat terakhir ini, ikut dalam pasukan Khalid dan membuat penyaksian. Peristiwa inilah yang melahirkan adagium di kemudian hari bawah semua sahabat itu adil dan tiap tindakan mereka merupakan ijtihad dan kalau benar mereka dapat dua pahala, kalau salah satu pahala
.
Pantaslah kalau Mu’awiyah yang meracuni Hasan, cucu Rasulullah, atau ‘Abdullah bin Zubair yang hendak membakar Ahlul Bait di gua ‘Arim atau Yazid yang membantai cucu Rasulullah, Husain dan keluarganya di Karbala, mengatakan bahwa mereka hanya menjalankan ‘sunnah’ atau contoh para sahabat sebelumnya
.
Umar memecat Khalid bin Walid –yang oleh sejarawan disebut sebagai shahibul khumur, pemabuk– tatkala Umar menggantikan Abu Bakar dikemudian hari. Apakah orang Syi’ah harus mengangkat mereka sebagai Imam? Sebab memiliki Imam, wajib hukumnya? Bukankah Rasulullah SAWW bersabda: “Barangsiapa tidak mengenal Imam zamannya, ia mati dalam keadaan jahiliyah.”? Dan hadits yang mengatakan bahwa sepeninggal Rasulullah SAWW ada 12 Imam, yang semuanya dari keturunan Quraisy. Bacalah hadits-hadits shahih enam seperti Bukhari dan Muslim!
.
Mengkritik akidah mazhab lain tidak boleh berdasarkan prasangka dan sinisme. Hormatilah akidah mereka. Benarlah kata orang, “Jangan melempar rumah orang lain bila rumah Anda terbuat dari kaca.” Bacalah buku sejarah. Bukan ‘asal ngomonng’. Bukan zamannya lagi berbohong dengan ayatayat dan hadits, sebab umat sekarang sudah banyak yang pandai.