Author: syiahali

syiah tidak sesat

PUASA QADHA DAN KAFFARAH PUASA, PUASA MUSAFIR DAN ZAKAT FITRAH

PUASA

Definisi Puasa

Satu dari sekian kewajiban dan ritual tahunan dalam Islam untuk membina jiwa seseorang adalah puasa. Puasa ialah meninggalkan hal-hal—yang akan tiba penjelasannya—dari azan Subuh sampai Maghrib untuk menaati perintah Allah. Untuk mengenal hukum-hukum puasa, pertama-tama kita harus mengenal macam-macamnya.

Macam-macam Puasa

1.Puasa wajib

2.Puasa haram

3.Puasa sunah

4.Puasa makruh

Puasa-puasa Wajib

1.Puasa bulan Ramadhan.

2.Puasa qodho.

3.Puasa kaffarah.*

4.Puasa karena nazar.

5.Puasa qodhoayah**yang wajib atas anak lelaki terbesar.[1]

Puasa-Puasa Haram

  • ·Puasa pada hari raya Idul Fitri (hari pertama dari bulan Syawal).
  • ·Puasa pada hari raya Idul Adha (hari kesepuluh dari bulan Zulhijah).
  • ·Puasa sunah seorang anak yang membuat orang tua ter-ganggu.
  • ·Puasa sunah seorang anak yang dilarang oleh orang tuanya (berdasarkan ihtiyath wajib).[2]

Puasa-puasa Sunah

Berpuasa pada hari-hari dalam setahun—selain puasa-puasa haram dan makruh—adalah sunah. Akan tetapi, ada hari-hari tertentu yang lebih ditekankan dan dianjurkan, antara lain:

  • ·Setiap hari Senin dan hari Jum’at.
  • ·Hari diutusnya Muhammad Saw. sebagai nabi (27 Rajab).
  • ·Hari raya Ghadir(18 Zulhijah).
  • ·Hari kelahiran Nabi Muhammad Saw. (17 Rabi’ul Awal).
  • ·Hari Arafah (9 Zulhijah), selama puasa tidak menjadi kendala dalam membaca doa-doa hari itu.
  • ·Sepanjang bulan Rajab dan bulan Syaban.
  • ·Tanggal 13, 14 dan 15 setiap bulan.[3]

Puasa-puasa Makruh

  • ·Puasa tamu tanpa seizin tuan rumah.
  • ·Puasa tamu yang dilarang tuan rumah.
  • ·Puasa anak tanpa seizin ayahnya.
  • ·Puasa pada hari ‘Asyura (10 Muharam).
  • ·Puasa hari Arafah jika menjadi penghalang untuk mem-baca doa-doa hari itu.
  • ·Puasa seseorang pada hari yang dia tidak tahu apakah itu hari Arafah atau hari raya Idul Adha.[4]

Niat Puasa

1.Puasa termasuk ibadah dan harus dikerjakan dalam rangka melaksanakan perintah Allah Swt.[5]

2.Seseorang bisa berniat pada setiap malam bulan Rama-dhan untuk puasa esok harinya, dan lebih baik berniat pada malam pertama bulan Ramadhan untuk puasa sebulan penuh.[6]

3.Pada puasa wajib, niat puasa tidak boleh terlambat sampai azan Subuh tanpa uzur.[7]

4.Pada puasa wajib, jika karena ada uzur—seperti lupa atau bepergian—tidak berniat puasa, maka selama tidak mengerjakan sesuatu yang membatalkan puasa, bisa berniat untuk puasa sebelum waktu Zuhur tiba.[8]

5.Niat tidak harus diucapkan dengan kata-kata, bahkan sudah cukup sebatas kesadaran untuk tidak me-ngerjakan hal-hal yang membatalkan puasa dari Subuh sampai Maghrib demi melaksanakan perintah Allah Swt.[9]

Kesimpulan Pelajaran

1.Waktu puasa dimulai dari azan Subuh sampai Maghrib.

2.Puasa bulan Ramadhan, puasa qodho, puasa kaffarahdan puasa nazar termasuk puasa-puasa wajib.

3.Puasa qodhoayah, setelah meninggalnya, adalah wajib atas anak lelaki terbesar.

4.Puasa hari raya Idul Fitri dan hari raya Idul Adha serta puasa sunah anak yang menyebabkan terusiknya kedua orang tua adalah haram.

5.Berpuasa pada hari-hari dalam setahun selain puasa-puasa haram dam makruh adalah sunah. Akan tetapi, terdapat hari-hari yang lebih ditekankan seperti:

a.Setiap hari Kamis dan Jum’at.

b.Hari kelahiran dan hari pengangkatan Muhammad Saw. sebagai nabi dan utusan Allah Swt.

c.Hari kesembilan dan kedelapan belas Zulhijah (hari Arafah dan hari raya Ghadir).

6.Puasa sunah anak tanpa seizin ayahnya adalah makruh.

7.Pada bulan Ramadhan, bisa berniat pada setiap malam untuk puasa esok harinya, dan lebih baik berniat pada malam pertama bulan Ramadhan untuk puasa sebulan penuh.

Pertanyaan:

1.Apa hukum berpuasa pada hari-hari ini; 10 Muharam, 10 Zulhijah, 9 Zulhijah dan pertama Syawal?

2.Apakah seorang anak boleh berpuasa jika ayahnya mengatakan kepadanya bahwa besok jangan berpuasa?

3.Jika setelah Subuh seseorang bangun dari tidur, apakah dia bisa berniat puasa?


*Penjelasan puasa qodhodan kaffarahdan beberapa hal yang berkaitan dengannya akan tiba pada pelajaran selanjutnya.

**Araki: dan puasa qodhoibu (masalah 1382). Gulpagani: berdasarkan ihtiyath wajibjuga salat qodhoibu (masalah 1399).

1.Al-’Urwah Al-Wutsqa, Jil. 2, hal. 240, Tauhih Al-Masail, masalah 1390.

1.Taudhih Al-Masail, masalah ke-1739-1742.

2.Ibid, masalah ke-1748.

1.Ibid, masalah ke-1747.

2.Ibid, masalah ke-1550.

3.Ibid.

4.Ibid, masalah ke-1554-1561.

5.Ibid.

6.Ibid, maslah ke-1550

.

PUASA QODHO DAN KAFFARAH PUASA, PUASA MUSAFIR DAN ZAKAT FITRAH

PUASA QODHO DAN KAFFARAH PUASA

Beberapa Hukum

1.Puasa qodhotidak harus dikerjakan langsung, akan tetapi berdasarkan ihtiyath wajib**harus dikerjakan sebelum tiba bulan Ramadhan tahun depan.[1]

2.Jika seseorang punya puasa qodhountuk beberapa bulanRamadhan, maka tidak apa-apa mendahulukan puasa qodho bulan Ramadhan yang mana saja. Akan tetapi, jika waktu meng-qodhopuasa bulan Ramadhan yang terakhir sempit—misalnya punya sepuluh hari puasa qodhodari bulan Ramadhan tahun lalu, sementara sepuluh hari lagi bulan Ramadhan tahun ini tiba, dia harus***meng-qodhopuasa sepuluh hari dari bulan Ramadhan tahun lalu.[2]

3.Seseorang tidak boleh meremehkan pelaksanaan kaffarahakan tetapi tidak harus langsung melaksanakan.[3]

4.Jika kaffarahwajub atas seseorang dan sudah bertahun-tahun belum melaksanakannya, kaffarah-nya tetap sedia kala dan tidak bertambah.[4]

5.Jika tidak berpuasa karena uzur bepergian, dan setelah bulan Ramadhan tidak ada uzur lagi, akan tetapi sengaja tidak meng-qodhopuasanya sampai bulan Ramadhan tahun berikutnya, maka selain harus meng-qodho juga harus mengeluarkan satu mud(750 gram) makanan untuk setiap hari puasa qodho-nya kepada fakir.[5]

6.Jika membatalkan puasa dengan perbuatan haram seperti istimna’, maka berdasarkan ihtiyath wajib*dia harus melaksanakan seluruh kaffarah; yakni memerde-kakan seorang budak, puasa dua bulan dan memberi makan enam puluh orang fakir. Jika dia tidak mampu membayar ketiga-tiganya, maka harus melaksanakan salah satunya yang dia mampu.[6]

Pada beberapa hal di bawah ini, tidak ada kewajiban qodhojuga kewajiban kaffarah:

1.Puasa-puasa yang tidak dikerjakan sebelum usia baligh.[7]

2.Puasa-puasa ketika dalam keadaan kafir bagi orang yang baru masuk Islam, yakni jika seorang kafir masuk Islam, dia tidak wajib meng-qodho puasa-puasa yang ditinggalkannyaa pada masa kekafirannya.[8]

3.Orang tua yang tidak bisa berpuasa karena usianya yang sudah lanjut dan setelah bulan Ramadhan juga tidak mampu meng-qodho puasanya*. Namun, jika puasa itu berat dan susah bagi dirinya, maka untuk setiap harinya dia harus mengeluarkan satumud (750 gram) makanan untuk orang fakir.[9]

Puasa Qodho Ayah dan Ibu

Setelah wafat ayah, anak lelaki terbesar harus mengerjakan salat qodho dan puasa qodhoayahnya, dan berdasarkan ihtiyath mustahab**juga salat qodhodan puasa qodhoibunya.[10]

* * *

PUASA MUSAFIR

Musafir yang harus meng-qoshrsalat yang empat rakaatnya menjadi dua rakaat tidak boleh berpuasa. Akan tetapi dia harus mengerjakan puasa qodho. Adapun musafir yang harus mengerjakan salat yang empat rakaatnya secara tamam(sempurna)—seperti musafir yang pekerjaannya adalah bepergian—maka dia harus berpuasa.[11]

Hukum Puasa Musafir

  • ·Dalam kondisi pergi:

1.Pergi sebelum Zuhur: maka ketika sampai di haddu tarakhus, puasanya batal. Akan tetapi jika sebelum sampai haddu tarakhus*dia membatalkan puasanya,berdasarkan ihtiyath wajibharus membayar kaffarah.**

2.Pergi setelah Zuhur: maka puasanya sah dan tidak boleh membatalkannya.

  • ·Dalam kondisi pulang:

1.Sebelum Zuhur dia sampai di tempat tinggalnya atau di tempat yang dia berniat tinggal sepuluh hari di situ:

a.Jika dia tidak mengerjakan hal-hal yang memba-talkan puasa, maka harus melanjutkan puasanya dan puasanya sah.

b.Dia telah mengerjakan hal-hal yang membatal-kan puasa, maka dia tidak wajib berpuasa pada hari itu, akan tetapi harus meng-qodho-nya.

2.Setelah Zuhur dia sampai di tempat tinggalnya, maka puasanya batal dan harus meng-qodho-nya.[12]

Catatan: bepergian pada bulan Ramadhan tidak apa-apa. Akan tetapi, jika untuk menghindar dari kewajiban puasa, maka hukum bepergian pada bulan itu adalah makruh.[13]

* * *

ZAKAT FITRAH

Seusai bulan suci Ramadhan, yakni pada hari raya Idul Fitri (1 Syawal) harus memberikan sedikit hartanya kepada orang fakir sebagai zakat Fitrah.

Ukuran Zakat Fitrah

Untuk diri sendiri dan orang yang menjadi tanggungannya seperti istri dan anak, zakatFitrah setiap orang dari mereka adalah 3 kg.[14]

Bahan Zakat Fitrah

Bahan yang dikeluarkan sebagai zakat Fitrah antara lain gandum,juw(sejenis gandum), kurma, kismis, beras, ja-gung dan semacamnya. Juga boleh mengeluarkan uang senilai satu dari bahan-bahan itu sebagai zakat Fitrah.[15]

Kesimpulan Pelajaran

1.Berdasarkan ihtiyath wajib, puasa qodho bulan Ramadhan harus dikerjakan sebelum tiba Ramadhan tahun berikut.

2.Jika punya puasa qodhobeberapa bulan Ramadhan, bo-leh mengerjakan qodho-nya yang mana saja, kecuali jika waktu untuk mengerjakan qodhotahun tidak tersisa lagi.

3.Jika menunda-nunda pelaksanaan kaffarahsampai ber-tahun-tahun, kaffarah-nya tetap sedia kala dan tidak bertambah.

4.Jika tanpa uzur tidak meng-qodhopuasa bulan Rama-dhan tahun lalu sampai bulan Ramadhan berikutnya, maka selain harus meng-qodhojuga harus mengeluarkan 750 gram makanan kepada orang fakir untuk setiap harinya.

5.Jika membatalkan puasa dengan perbuatan haram, ma-ka harus melaksanakan kaffarahketiga-tiganya.

6.Tidak ada qodho untuk puasa-puasa sebelum usia baligh dan puasa-puasa pada masa kafir bagi orang yang baru masuk Islam.

7.Anak lelaki terbesar harus mengerjakan salat qodho dan puasa qodhoayahnya setelah wafat ayahnya.

8.Puasa menjadi batal pada bepergian yang mewajibkan salat qashr.

9.Puasa musafir yang pergi setelah Zuhur adalah sah.

10.Jika sebelum zuhur musafir sampai di tempat tinggalnya atau sampai di tempat yang berniat tinggal sepuluh hari di sana, maka selama dia tidak mengerjakan hal-hal yang membatalkan puasa harus melanjutkan puasanya dan puasanya sah.

Pertanyaan:

1.Jelaskan waktu-waktu meng-qodho puasa Ramadhan!

2.Jelaskan waktu kaffarahpuasa!

3.Apa tugas seseorang yang sampai Ramadhan tahun berikutnya masih belum mengerjakan qodhopuasanya?

4.Apa tugas orang lelaki yang tidak mampu berpuasa karena usianya yang sudah lanjut?

5.Jika anak lelaki terbesar meninggal dunia, maka puasa qodhoayahnya menjadi tanggungan siapa?

6.Siapa saja yang harus tetap berpuasa dalam bepergian?


*Bagian pertama dari tema ini ada di Pelajaran 33. Silakan merujuk!

**Khu’i-Gulpagani: demikian berdasarkan ihtiyath mustahab. Al-‘Urwah Al-Wutsqa, Jil. 2, hal. 233, masalah ke-18.

1.Al-‘Urwah Al-Wutsqo’, Jil. 2/23, masalah ke-18. Tahrir Al-Wasilah, Jil. 1, hal. 298, masalah ke-4.

***Khu’i-Gulpagani: lebih baik, ihtiyath mustahab(masalah ke-1707). Araki: ihtiyath wajib(masalah ke-1731).

2.Taudhih Al-Masail, masalah ke-1698.

1.Ibid, masalah ke-1684.

2.Ibid, masalah ke-1685.

3.Ibid, masalah ke-1705.

*Araki-Gulpaigani: dia wajib melaksanakan semua kaffarah(masalah ke-1674-1698).

4.Ibid, masalah ke-1665.

5.Ibid, masalah ke-1694.

6.Ibid, masalah ke-1695.

*Gulpaigani: dalam kondisi ini, berdasarkan ihtiyath wajibjuga harus memberi makanan satu mud(750 gram) kepada orang fakir (masalah ke-1734).

1.Ibid, masalah ke-1725 & 1726.

**Araki: salat qodho dan puasa qodhoibunya juga wajib dilakukannya (masalah ke-1746). Gulpaigani: berdasarkan ihtiyath wajib,dia harus mengerjakan salat qodho dan puasa qodhoibunya, (masalah 1721).

2.Tahrir Al-Wasilah, Jil. 1, hal. 227, masalah ke-16.Taudhih Al-Masail, masalah ke-1712 & 1390.

3.Taudhih Al-Masail, masalah ke-1714.

*Haddu Tarakhus: sebatas jarak yang darinya musafir tidak melihat lagi pagar tempat tinggalnya dan tidak mendengar lagi azan dari tempat tinggalnya, sebagaimana sudah dijelaskan pada Pelajaran 25.

**Khu’i: wajib membayar kaffarah, (masalah ke-1730).

1.Ibid, masalah ke-1714, 1721, 1722-1723.

2.Ibid, masalah ke-1715.

1.Ibid, masalah ke-1991.

2.Ibid.

.

HAL-HAL YANG MEMBATALKAN PUASA

Pelaku puasa dari azan Subuh sampai Maghrib harus menghindari hal-hal yang bisa membatalkan salat, antara lain:

  • ·Makan dan minum.
  • ·Memasukkan debu tebal sampai ke tenggorokan.
  • ·Merendam seluruh kepala ke dalam air.
  • ·Muntah.
  • ·Berhubungan seks.
  • ·Istimna’ (onani).
  • ·Membiarkan diri dalam keadaan junubsampai azan Subuh.[1]

Hukum-hukum Hal yang Membatalkan Puasa

  • ·Makan dan Minum

1.Jika pelaku puasa sengaja memakan atau meminum sesuatu, maka puasanya batal.[2]

2.Jika pelaku puasa sengaja menelan sisa makanan yang ada di sela-sela gusi, maka puasanya batal.[3]

3.Menelan ludah tidak membatalkan puasa walaupun banyak. [4]

4.Jika pelaku puasa karena lupa (tidak tahu kalau dirinya lagi puasa) memakan atau meminum sesuatu, puasanya tidak batal.[5]

5.Seseorang tidak boleh membatalkan puasanya karena lemas, tetapi jika karena lemas dia tidak sanggup lagi, maka boleh membatalkan puasanya.[6]

  • ·Suntik

Jika bukan sebagai pengganti makanan, suntikan tidak-lah membatalkan puasa,*sekalipun menjadikan bagian anggota badannya terbius.[7]

  • ·Memasukkan Debu Tebal ke Tenggorokan

1.Jika pelaku puasa memasukkan debu tebal ke tenggorokan, puasanya batal,**baik debu makanan, seperti tepung atau selain makanan, seperti tanah.

2.Puasa tidak batal pada beberapa hal di bawah ini:

a.Debu tidak tebal.

b.Tidak sampai ke tenggorokan, tetapi hanya sampai di dalam mulut.

c.Masuk ke tenggorokan tanpa disengaja.

d.Tidak tahu kalau dalam keadaan berpuasa.

e.Ragu sampai atau tidaknya debu tebal ke teng-gorokan.[8]

  • ·Merendam Seluruh Kepala di dalam Air

1.Jika pelaku puasa sengaja memasukkan kepala ke dalam air mutlak*maka puasanya batal.

2.Puasa tidak batal pada beberapa hal di bawah ini:

a.Lupa merendam kepala ke dalam air.

b.Merendam sebagian kepala ke dalam air.

c.Merendam setengah dari kepala ke dalam air ke-mudian merendamkan setengah lainnya.

d.Jatuh ke dalam air secara tak sengaja.

e.Orang lain merendamkan kepalanya ke dalam air dengan paksa.

f.Ragu apakah seluruh kepala telah masuk ke da-lam air atau tidak.[9]

  • ·Muntah

1.Jika pelaku puasa sengaja muntah, sekalipun karena sakit, puasanya batal.[10]

2.Jika pelaku puasa tidak tahu hari puasa atau muntah tanpa disengaja, puasanya tidak batal.[11]

  • ·Istimna’ (Onani)

1.Jika pelaku salat ber-istimna’yakni dia sendiri melakukan kebiasaan rahasia sehingga cairan mani keluar darinya, maka puasanya batal.[12]

2.Jika mani keluar darinya tanpa disengaja, misalnya junubdalam keadaan tidur, puasanya tidak batal.[13]

Kesimpulan Pelajaran

1.Makan dan minum, memasukkan debu tebal ke teng-gorokan, merendam kepala ke dalam air, muntah, ber-hubungan seks, istimna’(onani), membiarkan diri dalam keadaan junub sampai azan Subuh, semua ini memba-talkan puasa.

2.Menelan ludah tidak membatalkan puasa.

3.Jika seseorang memakan atau meminum sesuatu karena lupa, puasanya tidak batal.

4.Suntikan tidak membatalkan puasa jika bukan sebagai pengganti makanan.

5.Jika debu tidak tebal atau tidak sampai ke tenggorokan atau pelaku puasa ragu apakah debu sampai ke teng-gorokan atau tidak, puasanya tidak batal.

6.Jika seseorang lupa merendam kepala ke dalam air atau jatuh ke dalam air tanpa disengaja atau direndamkan ke dalam air dengan paksa, maka puasanya tidak batal.

7.Jika pelaku puasa muntah tanpa disengaja atau tidak tahu hari puasa, puasanya tidak batal.

8.Jika pelaku puasa junub dalam keadaan tidur, puasanya tidak batal.

Pertanyaan:

1.Apa hukum membersihkan sisa makanan dalam mulut dengan tusuk gigi atau bersikat gigi ketika sedang ber-puasa?

2.Apakah memakan permen karet membatalkan puasa?

3.Seseorang dalam keadaan meminum air ingat bahwa dia sedang berpuasa, apa yang harus dia lakukan dan apa hukum puasanya?

4.Merokok termasuk bagian yang mana dari hal-hal yang membatalkan puasa?

5.Apa hukumnya berenang dalam keadaan berpuasa?


1.Taudhih Al-Masail, masalah ke-1572.

2.Ibid, masalah ke-1573.

3.Ibid, masalah ke-1574.

1.Ibid, masalah ke-1579.

2.Ibid, masalah ke-1575.

3.Ibid, masalah ke-1583.

*Gulpaigani: jika memang perlu disuntik, puasanya tidak batal, dan tidak ada perbedaan antara semua suntikan (masalah, ke-1585). Araki-Khu’i: suntik tidak membatalkan pua-sa; Istifta’,masalah ke-1585.

4.Ibid,masalah ke-1576.

**Khu’i: debu tebal membatalkan puasa.

5.Tahrir Al-Wasilah, Jil. 1/286. Taudhih Al-Masail,masalah 1608- 1618.

*Araki-Gulpagani: berdasarkan ihtiyath wajib, tidak boleh merendam kepala ke dalam air mudhaf, (masalah 1648).

1.Taudhih Al-Masail, masalah ke-1609, 1910, 1913, 1615. Al-‘Urwah Al-Wutsqa, Jil. 2, hal. 187, masalah ke48.

2.Ibid, masalahke-1646.

3.Ibid.

4.Ibid, masalah ke-1588.

5.Ibid, masalah ke-1589.

Shalat = “SIM” Akherat yang harus khusyu’, diikuti dengan membayar zakat dan memiliki kepedulian terhadap orang-orang yang lapar dan telantar

Meski semua ibadah kepada Allah adalah baik, tapi shalat adalah ibadah yang terbaik. Demikian dinyatakan oleh Al-Qur’an. Hadis, dan ungkapan para ulama dan sufi. Rasulullah bersabda : “Sebaik-baiknya amal adalah shalat pada waktunya.” Sayidina Ali bin Abi Thalib menyatakan : “Sesungguhnya amal perbuatan yang paling disukai Allah adalah shalat. Bahkan, ia diriwayatkan melafazkan kata : “Shalat …shalat …” pada detik-detik terakhir sebelum kematiannya. Sedangkan Imam Ja’far al-Shadiq – seorang pemimpin umat, sufi, dan filosof, guru Imam Abu Hanifah dan Imam Malik — juga menyeru : “Sesungguhnya sebaik-baik amal di sisi Allah pada hari kiamat adalah shalat.”

Namun, kita bertanya-tanya, kalau sedemikian penting nilai shalat dalam keseluruhan ajaran Islam, mengapa kita seolah tak banyak melihat manfaat shalat bagi orang-orang yang melakukannya? Mengapa negara-negara Muslim, yang di dalamnya banyak orang melakukan shalat, justru tertinggal dalam hal-hal yang baik dari negara-negara non-Muslim, dan menjadi “juara” dalam hal-hal yang buruk, seperti korupsi, misalnya? Mengapa tak jarang kita lihat orang yang tampak rajin menjalankan shalat, bahkan shalat jama’ah di masjid-masjid, tak memiliki akhlak yang dapat dicontoh? Apakah Allah Swt., telah melakukan kekeliruan ketika menyatakan bahwa “Innash-shalata tanhaa ‘anil fakhsyaa’I wal-munkar (Sesungguhnya shalat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar”? Apakah salah Rasul-Nya ketika menyatakan bahwa “jika shalat seseorang baik maka baiklah semua amalnya?” Shadaqa Allah al-‘Azhim wa shadaqa Rasul Allah (Sungguh benar Allah Yang Maha Agung dan Rasul-Nya).

Jika ada kekeliruan dan kesalahan, maka itu tentu terletak pada pemahaman kita tentang firman Allah Swt., dan tentang shalat yang benar. Mari, untuk itu, kita simak ayat lain dalam Kitab-Suci-Nya :

(Lukman menasihati putranya :) Hai Anakku, dirikanlah shalat dan perintahkanlah (kepada manusia) untuk mengerjakan yang makruf dan cegahlah (mereka) dari berbuat mungkar. Dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya itu termasuk urusan-urusan yang tegas (diwajibkan oleh Allah) (QS. 31 : 17). Tampak dalam ayat yang barusan dikutip bahwa perintah mendirikan shalat dipisahkan dari perintah mengerjakan yang makruf dan mencegah yang mungkar. Dengan kata lain, keduanya terpisah. Maknanya akan menjadi jelas ketika kita simak sabda Rasulullah, yang tampaknya dimaksudkan untuk menafsirkan ayat tersebut, sebagai berikut :

Laa shalaata li man la tanhaahu shalatahu ‘anil fakhsyaa’i wal munkar(Tak melakukan shalat orang-orang yang shalatnya tak menghindarkanya dari kekejian dan kemungkaran)” . Jadi, alih-alih sebagai jaminan bahwa orang yang shalat pasti tercegah dari perbuatan keji dan mungkar, maka ayat tersebut mesti difahami sebagi definisi shalat yang sesungguhnya. Bahwa shalat yang benar akan termanifestasikan dalam kebaikan akhlak.

Menjelaskan lebih jauh pengertian ini, Imam Ja’far al-Shadiq menyatakan :

“Ketahuilah bahwa sesungguhnya shalat itu merupakan anugerah Allah untuk manusia sebagai penghalang dan pemisah (dari keburukan). Oleh karena itu, sesiapa yang ingin mengetahui sejauh mana manfaat shalatnya, hendaklah ia memperhatikan apakah shalatnya mampu menjadi penghalang dan pemisah dirinya dari perbuatan keji dan mungkar. Shalat yang diterima (oleh Allah) adalah hanya sejauh yang mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan mungkar”

Shalat yang tak memiliki sifat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar tak memiliki nilai sebagai shalat yang benar, sehingga ia tertolak, sebagaimana dinyatakan dalam hadis yang lain : “Adakalanya seseorang shalat terus-menerus selama 50 tahun namun Allah tak menerima satu pun dari shalatnya.”

Nah, pertanyaan yang tidak-bisa-tidak akan muncul adalah : seperti apakah shalat yang benar, yang diterima oleh Allah, itu?

Shalat dan Keharusan Khusyuk

Allah berfirman : “Sesungguhnya shalat itu amat berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk” (QS. : 45). Jika ayat ini dibaca dengan teliti, akan kita dapati bahwa ia memiliki “pemahaman terbalik” (inverse logicsatau mafhum mukhalafah) bahwa shalat hanya memiliki nilai jika dilakukan dengan khusyuk.

Khusyuk bermakna kesadaran penuh akan kerendahan kehambaan (‘ubudiyah) diri kita sebagai manusia di hadapan keagungan Rububiyyah(Ketuhanan). Sikap khusyuk ini timbul sebagai konsekuensi kecintaan sekaligus ketakutan kita kepada Zat Yang Maha Kasih dan Maha Dahsyat ini. Sebagai implikasinya, orang yang memiliki sikap seperti ini akan berupaya memusatkan seluruh pikiran – seluruh keberadaannya – kepada Kehadiran-Nya dan membersihkannya dari apa saja yang selain Allah. Tidak bisa tidak ini berarti hadirnya hati. Tanpa kehadiran hati, shalat kehilangan nilainya. Rasulullah bersabda : “Shalat yang diterima adalah sekadar hadirnya hati.”

Diriwayatkan pula darinya saaw. bahwa “dua rakaat shalat orang yang khusyuk lebih bernilai ketimbang 1000 rakaat shalat orang yang tak peduli.” Kepada Abu Dzar Rasul saaw. mengajarkan : “Dua rakaat shalat pendek yang disertai dengan tafakur adalah lebih baik dari shalat sepanjang malam dengan hati yang lalai.”

Di kesempatan lain Rasul saaw. menamsilkan :

“Tak akan diterima shalat seseorang yang dilakukan bagai seekor burung yang mematuk-matuk makanannya.” Mudah dipahami bahwa seekor burung — sebagai hewan, yang tak memiliki hati atu perasan sebagimana manusia – yang sedang mematuk-matuk makanannya melakukan hal itu secara instinktif, sebagai bagian dari keharusannya untuk bertahan hidup Berbeda halnya dengan manusia. Bahkan ketika sedang kelaparan, manusia menikmati makanannya itu. Bukan hanya melahapnya, atau bahkan sekadar menikmati rasanya, melainkan juga menghayati cara penyajian dan suasana yang melingkupi waktu makan itu. Apatah pula ketika ia sedang menghadap kepada suatu Zat yang Maha Agung sekaligus Maha Lambut (Lathif) sebagaimana Allah Subhana-Hu wa Ta’ala. Jika hati tiada hadir, maka apa makna shalat, yang dikatakan sebagai sarana pertemuan kita dengan-Nya? [undzurilaina]

.

Selanjutnya, khusyuk mengharuskan pemahaman yang benar tentang makna seluruh gerakan dan bacaan shalat serta menghunjamkannya ke dalam hati. Bukan! Bahkan – pada puncaknya – bukanlah ucapan dan gerakan yang terhunjam ke hati melainkan – sebaliknya – hati, yang telah menghayati makna shalat, mendiktekan kepada lidah agar mengucapkan apa yang harus diucapkan dan menggerakkan anggota tubuh yang harus digerakkan. Inilah yang disebut sebagai tafahhum, sebagaimana dimaksud oleh hadis :

“Jadikanlah hatimu sebagai kiblat lidahmu; jangan engkau gerakkan lidahmu kecuali dengan aba-aba dari hatimu.”

Dan khusyuk bukanlah suatu hal yang mudah, seperti diingatkan Allah dalam firmannya, yang telah dikutip di atas :

“Dan mintalah tolong dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya keduanya amat sulit kecuali bagi orang-orang yang khusyuk” Memang, jika sebesar itu imbalan yang dapat kita peroleh dari melakukan shalat, tentu ia tak akan sedemikian mudah diraih. Diperlukan azam (tekad) yang teguh, disiplin yang ketat, dan latihan-latihan tak henti-hentinya serta – di atas semua itu – niat ikhlas hanya untuk mencari keridhaannya agar seseorang benar-benar dapat melakukan shalat secara khusyuk

Keharusan menyantuni orang miskin

Ternyata, khusyuk dan kehadiran hati belumlah semua syarat bagi diterimanya shalat seseorang. Rasulullah mengajarkan : “Shalat tidak sempurna melainkan dengan zakat.” Inilah kiranya hikmah dibalik penjajaran ibadah shalat dengan membayar zakat di banyak ayat-ayat al-Qur’an, antara lain :

“Dan dirikanlah shalat dan tunaikan zakat …”(QS. 2 : 110)

“Dan (Isma’il as.) menyuruh keluarganya untuk mendirikan shalat dan membayar zakat, dan ia adalah orang yang diridhai oleh Tuhannya.”(QS. 19 : 55)

Al-Qur’an juga mengutip pernyataan Nabi Isa :

“Dan dia menjadikanku orang yang diberkati di mana pun aku berada dan Dia memerintahkan kepadaku untuk mendirikan shalat dan membayar zakat selama hidupku” (QS. 19 : 31)

Namun, peringatan Allah yang paling tegas mengenai hal ini adalah ketika Dia mengancam :

“(Neraka) Wayl bagi orang-orang yang shalat. Yaitu orang-orang yang lalai dalam shalatnya. Yang riya’(tidak ikhlas karena Allah dan pamer). Dan menolak memenuhi keperluan dasar orang.“(QS. 107 : 4-7)

Kiranya sejalan belaka dengan itu, Imam Ja’far diriwayatkan berulangkali menegaskan :

“Tidak diterima shalat orang yang tak memiliki kepedulian terhadap orang-orang yang lapar dan telantar.”

Bahkan, dapat disimpulkan dari keseluruhan kandungan Surat Al-Ma’un yang merupakan sumber cuplikan ayat-ayat di atas, bahwa orang-orang seperti ini tak lebih dari orang-orang yang berpura-pura beragama (yukadzi-dzibu bid-din), atau hanya dalam hal lahiriahnya saja tampak beragama, karena – meski mereka termasuk orang-orang yang menegakkan shalat (al-mushallin) – mereka menolak anak yatim dan tak berupaya menyantuni orang miskin. (QS. 107 : 1-3)

Dapat disimpulkan bahwa shalat yang benar memiliki, baik dimensi individual maupun sosial. Banyak orang menunjuk kenyataan bahwa shalat dimulai dengan takbir dan ditutup dengan salam menyimbolkan kedua dimensi ini. Takbir – yang dihayati — merupakan perwujudan khusyuk, yakni kesadaran penuh bahwa Allah Maha Agung dan bahwa kita adalah hambanya yang rendah dan kecil. Sedangkan salam – khususnya salam kepada manusia — adalah simbol bagi keharusan kita menjalankan fungsi kekhalifahan manusia untuk menyebarkan rahmat bagi seluruh bagian alam semesta.

Akhirnya, mudah-mudahan kini sudah tak akan merasa aneh lagi jika melihat banyak orang yang shalat, tapi tak banyak orang yang tercegah dari perbuatan keji dan mungkar. Marilah, seraya meminta ‘inayah(pertolongan) dari Allah, kita perbaiki kualitas shalat kita sehingga dapat benar-benar menjadi shalat yang diterima oleh Allah, dan dapat memberikan berbagai manfaatnya bagi kita, sesuai janji-Nya :

Dan jika mereka berupaya habis-habisan untuk mencari Kami, sungguh akan kami tunjukkan jalan-jalan Kami.” [undzurilaina]

.

Ada sebagian orang yang mempertanyakan bahwa Bagaimana mungkin semua amal perbuatan dikabulkan hanya dengan satu syarat, seperti shalat?

Ada baiknya untuk menjawab pertanyaan tersebut kita mengambil analogi Polisi Lalu Lintas. Coba kita perhatikan polisi lalu lintas. Yang ditanyakan oleh seorang polisi pertama kali kepada seorang pengemudi kendaraan adalah apakah ia memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM). Bolehkah apabila kemudian sang pengemudi kemudian menunjukkan surat bukti kesehatan, paspor, surat izin mendirikan bangunan, surat berkelakuan baik dan surat-surat bukti diri lainnya?

Jawabannya, ya pada saat itu tidak ada gunanya surat-surat tersebut. Pada waktu itu polisi hanya akan menerima SIM saja. Hanya SIM yang dapat meloloskan dirinya untuk meneruskan perjalanan. Bila ia tidak memiliki bukti izin mengemudi, maka sekalipun ia memiliki segala bukti diri lainnya, ia tidak akan diperkenankan untuk melalui jalan itu.

Pada waktu kiamat juga demikian. Untuk sampai pada tujuan akhir, setiap orang diminta untuk menunjukkan surat bukti agar dapat lolos. Dan tanda bukti itu adalah SHALAT. Perbuatan lain tidak dibutuhkan pada waktu itu, karena yang diminta pertama kali adalah shalat.[undzurilaina]

(Disadur dari buku: ”Anda bertanya, Anda menjawab” karya Prof. Muhsin Qiraati)

AMAR MAKRUF DAN NAHI MUNKAR*

AMAR MAKRUF DAN NAHI MUNKAR*

 

Setiap orang bertanggung jawab atas setiap perbuatan buruk yang dilakukan dan perbuatan baik atau wajib yang ditinggalkan di tengah masyarakat. Oleh karena itu, tidak boleh diam atau masabodoh jika suatu perbuatan wajib ditinggalkan dan perbuatan haram dikerjakan. Semua lapi-san masyarakat harus berusaha mengamalkan yang wajib dan mencegah yang haram. Inilah yang disebut dengan amar makruf dan nahi munkar.

 

Pentingnya Amar Makruf dan Nahi Munkar

Pada sebagian hadis imam maksum a.s. dikatakan bahwa:

  • ·Amar makruf dan nahi munkar termasuk kewajiban yang paling penting dan mulia.
  • ·Kewajiban-kewajiban agama tetap kokoh karena ter-laksananya amar makruf dan nahi munkar.
  • ·Amar makruf dan nahi munkar termasuk ajaran agama yang tegas dan jelas. Dan barang siapa yang mengingkarinya adalah kafir.
  • ·Jika masyarakat meninggalkan amar makruf dan nahi munkar maka akan hilang keberkahan hidup dan doa-doa tidak dikabulkan.

 

Definisi Makruf dan Munkar

Dalam hukum agama, seluruh kewajiban dan sunah disebut dengan makruf, dan seluruh yang haram dan makruh disebut dengan munkar. Karenanya, mengajak masyarakat untuk melaksanakan kewajiban dan sunah adalah amar makruf, dan mencegah mereka dari pekerjaan haram dan makruh adalah nahi munkar.

Amar makruf dan nahi munkar adalah wajib kifayah, yakni kewajiban semua masyarakat yang apabila salah satu dari mereka telah melakukannya secara baik dan cukup, maka kewajiban ini gugur dari yang lain. Akan tetapi, jika semua orang meninggalkan dan tidak melakukan amar makruf dan nahi munkar, sedangkan syarat-syaratnya telah terpenuhi, maka mereka semua dihukumi telah mening-galkan kewajiban.[1]

 

Syarat-syarat Amar Makruf dan Nahi Munkar

Amar makruf dan nahi munkar itu wajib jika syarat-syaratnya terpenuhi, dan tentunya ia tidak wajib jika syarat-syarat ini tidak terpenuhi.

Syarat-syarat amar makruf dan nahi munkar ialah:

1.Pelaku amar makruf dan nahi munkar tahu bahwa apa yang dilakukan oleh orang lain adalah perkara haram dan apa yang ditinggalkannya adalah perkara wajib. Oleh karenanya, seseorang yang tidak tahu; apakahyang dilakukan orang lain itu perkara haram atau per-kara wajib, dia tidak wajib mencegahnya.

2.Dia melihat adanya kemungkinan amar makruf dan nahi munkarnya akan berpengaruh. Namun, jika dia ragu demikian, atau tahu bahwa itu tidak ada penga-ruhnya, maka dia tidak wajib beramar makruf dan nahi munkar.

3.Pelaku maksiat/munkar bersikeras dalam berbuat mak-siat. Oleh karena itu, jika diketahui bahwa dia mening-galkan maksiatnya dan tidak mengulangi atau tidak berhasil untuk mengulanginya, maka amar makruf dan nahi munkar terhadapnya tidaklah wajib.

4.Amar makruf dan nahi munkar tidak membahayakan secara serius jiwa, martabat dan harta pelakunya,keluarga, dan teman-temannya, maupun orang-orang Mukmin yang lain.[2]

 

Tahap-tahap Amar Makruf dan Nahi Munkar

Terdapat tahap-tahap dalam beramar makruf dan nahi munkar. Jika dengan melakukan tahap yang paling rendah sudah dapat mencapai tujuan amar makruf dan nahi munkar, maka tidak boleh melakukan tahap berikutnya. Tahap-tahap itu adalah:

Tahap Pertama: yaitu melakukan sesuatu sehingga pemaksiat (peninggal kewajiban ataupun pelaku maksiat) mengerti bahwa karena maksiatnya itu orang lain bersikap demikian, misalnya memalingkan wajah, bermuka masam di hadapannya atau tidak berbicara dengannya.

Tahap Kedua: yaitu beramar makruf dan nahi munkar dengan ucapan,*yakni mengajak peninggal kewajiban untuk mengerjakannya dan mengajak pelaku maksiat untuk meninggalkannya.

Tahap Ketiga: Menggunakan kekerasan, yaitu dengan melakukan pemukulan terhadap pelaku maksiat dan peninggal kewajiban dalam rangka melaksanakan amar makruf dan nahi munkar.[3]

Hukum-hukum Amar Makruf dan Nahi Munkar

1.Belajar syarat-syarat amar makruf dan nahi munkar dan masalah-masalah yang terkait dengannya adalah wajib supaya tidak terjadi kekeliruan dalam memerintahkan yang makruf dan melarang yang munkar.[4]

2.Jika tahu bahwa amar makruf dan nahi munkar tidak akan berpengaruh tanpa disertai permohonan dan nasihat, maka wajib disertai permohonan dan nasihat. Jika tahu bahwa permohonan dan nasihat saja—tanpa amar makruf dan nahi munkar—sudah berpengaruh, maka wajib melakukan demikian saja.[5]

3.Jika tahu atau memperkirakan bahwa dengan berulang kali, amar makruf dan nahi munkarnya akan berpe-ngaruh, maka wajib melakukannya dengan berulang kali.[6]

4.Maksud dari bersikeras dalam berbuat dosa tidak berarti berbuat maksiat secara terus menerus, tetapi melakukan maksiat tersebut walaupun hanya untuk kali kedua. Oleh karenanya, jika sekali meninggalkan salat dan ada rencana untuk meninggalkannya lagi, maka beramar makruf dan nahi munkar di sini adalah wajib.[7]

5.Dalam beramar makruf dan nahi munkar, tidak boleh melukai, mencederai dan membunuh pemaksiat tanpa izin hakim syar’i, kecuali jika kemunkarannya betul-betul serius seperti; pemaksiat hendak membunuh orang yang tak berdosa dan tidak bisa dicegah kecuali dengan melukainya.*[8]

 

Kearifan Amar Makruf dan Nahi Munkar

Orang yang melakukan amar makruf dan nahi munkar sebaiknya:

1.Layaknya seorang dokter yang baik dan seorang ayah yang penyayang.

2.Berniat ikhlas dan hanya karena Allah beramar makruf dan nahi munkar dan bukan karena sombong.

3.Tidak menganggap dirinya seolah paling suci, karena betapa banyak orang hari ini berbuat kesalahan sifat yang mulia yang membuatnya pantas disayangi olehAllah Swt., walaupun kesalahannya hari ini tidaklah terpuji dan dibenci oleh-Nya.[9]

 

 

Kesimpulan Pelajaran

1.Makruf adalah perkara-perkara wajib dan sunah, dan munkar adalah perkara-perkaraharam dan makruh.

2.Amar makruf dan nahi munkar adalah wajib kifayah.

3.Syarat-syarat amar makruf dan nahi munkar yaitu:

a.Pelaku amar makruf dan nahi munkar tahu mana yang makruf dan mana yang munkar.

b.Melihat kemungkinan akan adanya pengaruh dalam amar makruf dan nahi munkarnya.

c.Pemaksiat berniat keras mengulangi maksiatnya.

d.Perintah dan larangan tidak berdampak negatif.

4.Tahap-tahap amar makruf dan nahi munkar adalah sebagai berikut:

a.Tidak berteman dan berinteraksi dengan pemaksiat.

b.Memerintah atau melarang dengan ucapan.

c.Melakukan pemukulan terhadap pemaksiat.

5.Belajar syarat-syarat amar makruf dan nahi munkar serta tahap-tahap dan masalah-masalah yang terkait dengannya adalah wajib.

6.Jika pengulangan perintah atau larangan dalam beramar makruf dan nahi munkar diperlukan maka pengulangan wajib dilakukan.

7.Tidak boleh melukai dan membunuh pendosa tanpa izin pemimpin syar’i kecuali kemunkarannya termasuk per-kara yang betul-betul serius.

 

Pertanyaan:

1.Berikan lima contoh dari perkara yang makruf dan lima contoh dari perkara yang munkar!.

2.Dalam kondisi apa saja amar makruf dan nahi munkar tidak wajib?

3.Jika seseorang sedang mendengarkan musik, dan kita tidak tahu musik itu haram atau tidak, apakah wajib melarangnya atau tidak?

4.Jika melihat seseorang sedang salat dengan pakaian najis apakah wajib memberitahukan kepadanya? Mengapa?

5.Bolehkah membeli sesuatu dari toko yang pemiliknya meninggalkan salat?

6.Dalam kondisi apakah boleh mencederai pemaksiat? Berikan dua contoh!

 

 


*Masalah amar makruf dan nahi munkar tidak dijelaskan dalam risalah amaliyahAyatullah Araki dan Ayatullah Khu’i.

1.Tahrir Al-Wasilah, Jil. 1, hal. 463, masalah ke-2.

1.Ibid, Jil. 1, hal. 465, 472, masalah pertama.

*Dalam Risalah Ayatullah Gulpaiganidinyatakan bahwa pada tahap kedua hendaknya mengajak pemaksiat untuk melakukan yang makruf dan meninggalkan yang munkar dengan akhlak mulia dan bahasa santun dan menjelaskan maslahatnya. Tahap kedua dan ketiga kitab ini adalah tahap ketiga dan keempat dalam risalah beliau.

1.Ibid, Jil. 1, hal. 476.

2.Ibid, masalah ke-8.

3.Ibid, Jil. 1, hal. 467, masalah ke-3.

4.Ibid, hal. 468, masalah ke-5.

5.Ibid, hal. 470, masalah ke-4.

*Masalah ini tidak dijumpai dalam risalah amaliyahAyatullah Gulpaigani.

1.Ibid, hal. 481, masalah ke-11, 12.

2.Ibid, Jil. 1, hal. 481, masalah ke-14.

Perbedaan Khumus dengan Zakat !!

KHUMUS

 

Salah satu dari tugas-tugas ekonomi kaum muslimin adalah mengeluarkan khumus. Yakni pada beberapa perkara, se-perlima dari hartanya harus diserahkan kepada pemimpin syar’i untuk penggunaan yang sudah ditentukan.

 

Tujuh Hal yang Wajib Dikeluarkan Khumusnya

1.Apa yang diperoleh lebih dari biaya hidup setahun (hasil usaha).

2.Tambang.

3.Harta karun.

4.Harta rampasan perang.

5.Perhiasan yang didapatkan dari menyelam ke dalam laut.

6.Harta halal yang bercampur dengan harta haram.

7.Tanah yang dibeli kafir zimmi*dari orang Muslim.[1]

Mengeluarkan khumus merupakan kewajiban sebagaimana salat dan puasa. Maka, setiap orang baligh dan berakal yang memiliki salah satu dari tujuh hal di atas harus mengkhu-musinya (mengeluarkan khumusnya).

Pada awal usia baligh, seseorang yang peduli pada kewajiban salat dan puasa juga harus pada kewajiban me-ngeluarkan khumus dan zakat. Oleh karena itu, perlu sekali mengetahui masalah-masalahnya sebatas kebutuhan. Pada pelajaran ini, kita hanya membahas salah satu dari tujuh hal yang diwajibkan khumusnya dan menyangkut seluruh lapi-san masyarakat, yaitu khumus dari sesuatu yang diperoleh seseorang dan melebihi biaya hidup dirinya dan keluar-ganya.

Agar lebih jelas, kita harus menjawab dua pertanyaan ini: pertama, apa maksud dari biaya hidup setahun? Kedua, apakah satu tahun itu dihitung berdasarkan penanggalan Hijriyah dan bulan-bulan Qomariyah ataukah penanggalan Masehi dan bulan-bulan Syamsiyah? Lalu, bulan apakah sebagai permulaan tahun tersebut?

 

Biaya Setahun

Islam sangat menghargai usaha dan hasil seseorang dan amat mengutamakan kebutuhan hidupnya daripada penge-luaran khumus. Oleh karena itu, dalam satu tahun, setiap orang bisa memenuhi kebutuhannya dari hasil usahanya, dan di akhir tahun, jika tak ada lagi yang tersisa darinya, dia tidak wajib mengeluarkan khumus. Akan tetapi, setelah dia dapat hidup sesuai dengan standar kecukupan dan kebutu-hannya—yakni tidak berlebih-lebihan juga tidak irit, lalu jika di akhir tahun ada kelebihan dari biaya hidup setahun, maka 1/5 dari kelebihan itu dikeluarkan sebagai khumus dan sisanya disimpan untuk dirinya sendiri.

Dengan demikian maksud dari biaya hidup adalah segala macam kebutuhan yang diperlukan dalam hidupnya; baik untuk dirinya maupun untuk keluarganya seperti:

a.Makanan dan pakaian.

b.Barang-barang dan perabot rumah tangga.

c.Alat transportasi.

d.Biaya untuk tamu.

e.Biaya untuk nikah.

f.Buku-buku yang diperlukan.

g.Biaya bepergian.

h.Hadiah yang diberikan kepada orang lain.

i.Sedekah dan nazar atau mengeluarkan kaffarah.[2]

 

Tahun Mengeluarkan Khumus

Orang yang baligh, sejak hari pertama usia baligh, harus mengerjakan salat, dan pada bulan Ramadhan pertama harus berpuasa, dan setelah lewat satu tahun dari peng-hasilannya yang pertama—jika ada kelebihan dari biaya hi-dup yang dipakai selama setahun—maka 1/5 dari kelebihan biaya setahun itu dikeluarkan sebagai khumus.

Oleh karena itu, awal penghitungan khumus adalah penghasilan yang pertama dan akhir tahunnya adalah tanggal ulang tahun memperoleh penghasilan. Dengan demikian, awal tahun bagi petani adalah panen yang per-tama, bagi pegawai adalah gaji yang pertama, bagi tukang adalah bayaran yang pertama, dan bagi pedagang adalah transaksi pertama yang dia lakukan.[3]

 

Harta-harta yang tidak Dikhumusi

1.Harta warisan.

2.Sesuatu yang telah diberikan ke orang lain.

3.Hadiah yang diterima dari orang lain.

4.Sesuatu yang diberikan untuk orang lain sebagai tun-jangan hari raya.*

5.Harta yang diberikan kepada orang lain sebagai khumus atau zakat atau sedekah.[4]

 

Resiko-Resiko tidak Mengeluarkan Khumus

1.Selama seseorang belum mengkhumusi (mengeluarkan khumus) hartanya, dia tidak boleh menggunakan harta-nya. Yakni dia tidak boleh memakan makanan yang belum dikhumusi (belum dikeluarkan khumusnya), dia juga tidak boleh menggunakan uang yang belum dikhu-musi untuk membeli sesuatu.[5]

2.Jika melakukan jual beli dengan uang yang belum dikhumusi (tanpa izin pemimpin syar’i), maka 1/5 dari jual beli itu tidak sah.[6]**

3.Jika hendak mandi (wajib atau sunah) di permandian umum dengan membayar uang yang belum dikhumusi kepada pemilik permandian, maka mandinya batal.[7]***

4.Jika membeli rumah dengan uang yang belum dikhu-musi, maka salat di dalamnya batal.[8]

 

 

Hukum-hukum Khumus

1.Jika terdapat kelebihan dari biaya hidup setahun karena hidup qona’ahdan sederhana, maka harus dikhumusi.[9]

2.Jika perabot rumah yang dibeli sudah tidak diperlukan lagi, berdasarkan ihtiyath wajib*harus dikhumusi. Misal-nya, membeli kulkas yang lebih besar sehingga kulkas sebelumnya tidak diperlukan, maka kulkas sebelumnya harus dikhumusi.[10]

3.Bahan makanan untuk setahun yang dibeli dari uang penghasilan seperti; beras, minyak dan teh, jika pada akhir tahun masih tersisa maka harus dikhumusi.[11]

4.Jika anak yang belum baligh memiliki modal dan dia mendapatkan labanya, maka berdasarkan ihtiyath wajib**dia setelah masuk usia baligh harus mengeluarkan khumusnya.[12]***

 

Penyerahan Khumus

Khumus harus dibagi menjadi dua bagian, setengahnya adalah milik (sahm) Imam Mahdi a.s. yang harus diserahkan kepada marja’taklid—yang kepadanya penunai khumus bertaklid—atau kepada wakilnya, dan setengahnya lagi bisa diserahkan kepada marja’taklid atau diberikan dengan izin marja’taklid tersebut kepada para sayyid yang memiliki syarat-syarat tertentu.[13]****

Syarat-syarat Sayyid yang Berhak Menerima Khumus

1.Dia seorang fakir atau terlantar di perjalanan, sekalipun orang kaya di kotanya.

2.Dia bermazhab Syi’ah Imamiyah.

3.Berdasarkan ihtiyath wajib, dia tidak bermaksiat secara terang-terangan. Pemberian khumus kepadanya jangan sampai membantu dia untuk berbuat maksiat.

4.Berdasarkan ihtiyath wajib, dia tidak termasuk orang-orang yang biaya hidupnya menjadi tanggungan si pe-nunai khumus seperti istri dan anak.[14]

 

 

Kesimpulan Pelajaran

1.Salah satu dari tugas ekonomi kaum Muslimin adalah mengeluarkan khumus.

2.Pada beberapa hal di bawah ini wajib mengeluarkan khumus:

a.Hasil usaha.

b.Tambang.

c.Harta karun.

d.Rampasan perang.

e.Perhiasan laut.

f.Harta halal yang bercampur dengan harta haram.

g.Tanah yang dibeli oleh orang kafir zimmidari orang Muslim.

3.Makanan, pakaian, rumah, perabot rumah, kendaraan, biaya tamu, nikah, ziarah, bepergian, perhiasan, sede-kah, kaffarahadalah bagian dari biaya hidup setahun.

4.Tahun khumus dihitung sejak awal kali seseorang men-dapatkan kerja dan penghasilan, dan setelah lewat satu tahun maka kelebihan atau sisa dari biaya hidupnya selama setahun itu harus dikhumusi (dikeluarkan khu-musnya).

5.Tidak ada khumus pada harta seseorang yang dida-patkan dari warisan, dan sesuatu yang diberikan kepada dirinya, dan hadiah yang dia peroleh.

6.Selama harta itu belum dikhumusi, seseorang tidak boleh menggunakannya, dan jika dia menggunakannya untuk transaksi, maka 1/5 darinya tidak sah.

7.Setengah dari khumus seseorang adalah milik Imam Mahdi a.s. dan harus diserahkan kepada marja’taklid-nya dan setengahnya lagi dengan izin marja’taklidnya bisa diberikan kepada sayyid yang memiliki syarat-sya-rat sebagai berikut:

a.Orang fakir.

b.Bermazhab Syi’ah Imamiyah.

c.Tidak bermaksiat secara terang-terangan.

d.Tidak termasuk orang yang menjadi tanggungan da-lam pembiayaan hidup seperti: istri dan anak.

 

 

Pertanyaan:

1.Perhiasan apa yang ada khumusnya?

2.Jelaskan maksud hasil usaha!

3.Terangkan permulaan tahun khumus!

4.Apakah kado dan hadiah dikhumusi atau tidak?

5.Anak-anak yang bekerja dan menyimpan hasilnya, apa-kah khumus wajib atas mereka atau tidak?

6.Apa yang dimaksud dengan penyerahan khumus?

 

 

 


*Zimmah: arti kata ini adalah perjanjian. Kafir zimmiyaitu orang non-muslim yang berdomisili di negara Islam dan mereka terikat perjanjian untuk menjaga dan mematuhi peraturan sosial-politik kaum Muslimin dan harus membayar pajak yang sudah ditentukan sebagai jaminan untuk keamanan harta dan jiwa mereka.

1.Taudhih Al-Masail, masalah ke-1751.

1.Al-‘Urwah Al-Wutsqo’, Jil. 2, hal. 394.

2.Ibid, Jil. 2, hal. 394, masalah ke-6.

*Seluruh marja’taklid: sekaitan dengan nomor 2 dan 4, jika ada kelebihan dari biaya hidupnya selama setahun, maka harus menge-luarkan khumusnya (masalah ke-1762).

1.Al-‘Urwah Al-Wutsqo’, Jil. 2, hal. 389, 390, masalah ke-51.

2.Taudhih Al-Masail, masalah ke-1790.

3.Ibid, masalah ke-1760.

**Araki-Khu’i: transaksinya sah, akan tetapi harus mengeluarkan khumusnya (masalah ke-1794-1795).

4.Ibid, masalah ke-383.

***Khu’i: walaupun telah berbuat haram, tetapi mandinya tidak batal. Gulpaigani: bila dia tahu bahwa pemilik permandian pun tahu masa-lahnya dan rela, atau dia lupa untuk meminta kerelaannya, mandinya sah (masalah ke-389).

5.Ibid, masalah ke-873.

6.Ibid, masalah ke-1756.

*Khu’i: ihtiyath mustahab.

1.Ibid, masalah ke-1781.

2.Ibid, masalah ke-1780.

**Gulpaigani: setelah baligh harus membayar khumusnya, (masalah ke-1803).

3.Ibid, masalah ke-1794.

***Khu’i: tidak wajib membayar khumusnya, (masalah ke-1802).

4.Ibid, masalah ke-1834. Sayyid yaitu orang yang nasabnya dari pihak ayah sampai kepada Hasyim; kakek Rasulullah Saw. (-peny.).

****Gulpaigani-Araki: penunai khumus bisa memberikannya kepada para sayyid yang memiliki syarat-syarat, (masalah ke-1843).

1.Ibid, masalah ke-1835-1841

,

ZAKAT

 

Salah satu tugas ekonomi penting kaum Muslimin adalah zakat. Al-Quran menyebutkan zakat setelah menyebutkan salat. Ini menunjukkan betapa pentingnya masalah zakat, karena ia merupakan tanda keimanan seseorang dan modal keselamatannya. Sebagian hadis-hadis imam maksum a.s. menyatakan bahwa orang yang tidak menunaikan zakat sungguh telah keluar dari agamanya.

Seperti juga Khumus, zakat memiliki beberapa macam, salah satunya zakat badan dan kehidupan yang ditunaikan setiap tahun—tepatnya pada hari raya Idul Fitri—yang diwajibkan ke atas orang yang mampu menunaikannya. Masalah ini sudah dibahas di akhir pelajaran puasa.*

Macam lain dari zakat ialah zakat harta. Akan tetapi tidak semua harta harus dizakati (dikeluarkan zakatnya). hanya sembilan perkara yang harus dizakati.

 

Harta-harta yang Wajib Dizakati[1]

1.Pertanian

a.Gandum

b.Sya’ir (sejenis gandum yang tidak bagus).

c.Kurma

d.Kismis

2.Peternakan

a.Unta

b.Sapi

c.Kambing

3.Tambang

a.Emas

b.Perak

 

Nisab(Ukuran Penentu Kewajiban Zakat)

Zakat dari barang-barang yang sudah disebutkan di atas menjadi wajib jika sudah mencapai ukuran tertentu yang disebut dengan haddunisab.Oleh karena itu, jika hasilpanen atau jumlah hewan ternak tidak sampai haddu nisab, maka tidak wajib dikeluarkan zakatnya.

 

oNisabPertanian

Nisab empat pertanian di atas, yaitu gandum, sya’ir, kurma dan kismis, seluruhnya sama; yaitu kurang lebih 850 kg*. Oleh karena itu, jika hasil panen kurang dari 850 kg, tidak wajib mengeluarkan zakat.[2]

 

oNisabZakat Pertanian

Jika salah satu dari keempat hasil panen ini mencapai nisabmaka harus dibayar zakatnya, akan tetapi bergantung pada cara pengairannya. Maka itu, menurut cara pengairan, ukuran zakat hasil dibagi menjadi tiga macam:

1.Hasil panen yang pengairannya dari air hujan dan air sungai atau secara alami; di luar usaha petani, maka ukuran zakatnya adalah 1/10.

2.Hasil panen yang pengairannya dengan alat seperti timba atau diesel, maka ukuran zakatnyaadalah 1/20.

3.Hasil panen yang pengairannya dengan kedua-duanya, yakni selain dengan air hujan dan air sungai juga disiram dengan tangan dan alat lain, maka ukuran zakatnya adalah 1/10 untuk setengahnya dan 1/20 untuk setengah lainnya.[3]

 

oNisabZakat Peternakan

1.Kambing

Nisabnya kambing yang paling rendah adalah 40 ekor dan zakatnya adalah satu ekor. Jika jumlahnya tidak sampai 40 ekor maka tidak wajib zakat.[4]

2.Sapi

Nisabnya sapi yang paling rendah adalah 30 ekor dan zakatnya adalah satu anak sapi yang umurnya sudah setahun masuk ke tahun kedua.[5]

3.Unta

Nisabnya unta yang paling rendah adalah 5 ekor dan zakatnya adalah satu kambing. Selama jumlah unta tidak sampai 26 ekor maka setiap 5 ekor zakatnya satu kambing akan tetapi jika jumlahnya sudah mencapai 26 ekor maka zakatnya satu unta.[6]

 

oNisabZakat Tambang

Nisabemas adalah 15 mitsqal*. Dan nisabperak adalah 105 mitsqal. Adapun ukuran zakat dari keduanya adalah 1/40.[7]

 

Hukum-hukum Zakat

1.Biaya yang digunakan untuk membeli benih gandum, juw, kurma dan kismis serta upah pekerja dan lain-lainnya bisa diambil dari hasil panen. Akan tetapi, penghitungan ukuran nisabdilakukan sebelum pengu-rangan biaya*. Oleh karena itu, jika sebelum pengura-ngan biaya ukuran (bobot) barang-barang itu sudah mencapai nisab-nya,maka zakat sudah menjadi wajib, akan tetapi zakat yang dikeluarkan yaitu dari sisa pengurangan hasil panen untuk pembiayaan tersebut.[8]

2.Zakat ternak (kambing, sapi, unta) menjadi wajib jika:

a.Sudah setahun memilikinya.**Oleh karena itu, jika seseorang membeli sapi sebanyak 100 ekor dan 9 bulan kemudian menjual sapi-sapinya, maka dia tidak tidak wajib mengeluarkan zakatnya.[9]

b.Binatang ternaknya tidak bekerja selama setahun. Maka itu, sapi atau unta yang digunakan untuk bekerja di sawah atau mengangkut barang tidak adazakatnya.[10]

c.Binatang ternaknya makan sendiri dari rumput liar selama setahun. Maka itu, jika selama setahun atau kurang dari itu ternak itu makan dari rumput yang diarit atau rumput yang ditanam, maka pemiliknya tidak wajib menzakatinya.[11]

3.Zakat emas dan perak itu wajib bila berupa logam yangbiasa digunakan dalam muamalah. Maka itu, emas dan perak yang digunakan sebagai perhiasan oleh para wanita tidak ada zakatnya.[12]

4.Mengeluarkan zakat merupakan ibadah, dan apa-apa yang dikeluarkan hendaknya diniatkan sebagai zakat dan untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt.[13]

 

PenggunaanZakat

Zakat bisa digunakan untuk semua atau sebagian dari delapan kelompok di bawah ini:

1.Orang fakir, yaitu orang yang penghasilannya lebih rendah dari kebutuhan dirinya dan keluarganya selama setahun.

2.Miskin adalah orang melarat yang tidak punya apa-apa.

3.Orang yang diutus oleh imam maksum a.s. atau wakil beliau yang bertugas mengumpulkan, menyimpan dan membagi-bagikan zakat.

4.Untuk membuat hati orang cenderung kepada Islam dan kaum Muslimin. Misalnya, jika dengan zakat membantu orang nonmuslim akan membuatnya cenderung kepada Islam atau membantu umat Islam dalam peperangan.*

5.Memerdekakan para budak.

6.Orang yang terlilit hutang dan tidak mampu melunasi.

7.Zakat digunakan di jalan Allah Swt. Yakni pekerjaan-pekerjaan yang bermanfaat untuk masyarakat umum dan mendapat ridha Allah Swt. seperti untuk pemba-ngunan jalan, jembatan dan masjid.

8.Orang yang bepergian yang kehabisan bekal sehingga tidak bisa pulang, sekalipun dia kaya di kotanya.[14]

 

Kesimpulan Pelajaran

1.Harta-harta yang wajib dizakati (dikeluarkan zakatnya) yaitu: gandum, sya’ir(jenis gandum yang tidak bagus), kurma, kismis, unta, sapi, kambing, emas dan perak.

2.Zakat akan menjadi wajib jika harta yang harus dizakati sudah mencapai ukuran nisab. Ukuran nisabdan ukuran zakat tiap-tiap harta tersebut yaitu sebagai berikut:

 

No.

Jenis Harta

Nisab

Ukuran Zakat

1.

Gandum

847, 207 kg atau dibulatkan menjadi 850 kg

  • ·1/10: Pengairanalami.
  • ·1/20: Pengairan diu-sahakan oleh pemilik
  • ·3/40: Pengairan de-ngan kedua cara di atas.

2.

Sya’ir

3.

Kurma

4.

Kismis

5.

Unta

5ekor pertama

1 ekor kambing

Sampai 25 ekor

1 kambing dari setiap 5 ekor unta

26 ekor

1 ekor unta

6.

Sapi

30 ekor

1 ekor sapi berumur satu tahun

7.

Kambing

40 ekor

1 ekor kambing

8.

Emas

15mitsqol

1/40

9.

Perak

105 mitsqol

1/40

 

3.Zakat harus digunakan untuk delapan kelompok ter-tentu, di antaranya untuk pekerjaan yang diridhoi Allah Swt. seperti membangun jalan, masjid, jembatan dan sebagainya.

 

 

Pertanyaan:

1.Hasil panen pertanian apa yang wajib dizakati?

2.Apa maksud dari nisabdalam masalah zakat?

3.Apakah nisabdihitung sebelum hasil panen dikurangi untuk pembiayaan atau sesudah dikurangi?

4.Berapa nisabpaling rendah untuk sapi dan kambing dan ukuran zakat masing-masing ternak ini?

5.Berapa zakat dari 18 logam emas yang masing-masing logam itu seberat 10 mitsqal?

6.Zakat gandum yang pengairannya dengan air sungai yang disedot melalui mesin diesel adalah 1/10 ataukah 1/20?

7.Seseorang pada awal bulan Februari membeli 25 ekor kambing, dan pada awal bulan Juli di tahun yang sama dia membeli 20 ekor kambing lagi, kapankah pembaya-ran zakat kambing-kambing ini?

 

 

 

 

 


1.Taudhih Al-Masail, masalah ke-1853.

*Tepatnya, nisabgandum, sya’ir, kurma dan kismis adalah 847,207 kg.

1.Ibid, masalah ke-1864.

1.Ibid, masalah ke-1875-1879.

2.Ibid, masalah ke-1913.

3.Ibid, masalah ke-1912.

4.Ibid, masalah ke-1910.

*Satu mitsqalsekitar 5 gram (-pen.).

5.Ibid, masalah ke-1896-1897.

*Gulpaigani & Araki: penghitungan ukuran nisabdilakukan setelah pengurangan biaya (masalah ke-1909). Khu’i: biaya-biaya tidak bisa dikurangi, (masalah ke-1889).

1.Ibid, masalah 1880.

**Seluruh marja’taklid: jika selama 11 bulan menjadi pemilik sapi, kambing, unta, emas dan perak, maka di awal bulan ke-11 harus mengeluarkan zakatnya, akan tetapi permulaan tahun berikutnya harus dihitung setelah selesainya bulan ke-12, (masalah ke-1886).

2.Ibid, masalah ke-1856.

3.Ibid, masalah ke-1908.

4.Ibid.

1.Ibid, masalah ke-1899.

2.Ibid, masalah ke-1957.

*Gulpaigani: Tidak terlalu jauh bila dikatakan bahwa masalah ini khusus terkait dengan imam maksum a.s. (masalah ke-1933).

1.Ibid, masalah ke-1925.

.

SALAT JUM’AT DAN SALAT ID

SALAT JUM’AT DAN SALAT ID

 

 

SALAT JUM’AT

Salat Jum’at merupakan salah satu sarana perkumpulan mingguan kaum Muslimin. Para jemaah salat pada hari Jum’at bisa mengerjakan salat Jum’at sebagai ganti dari salat Zuhur.[1]*

 

Pentingnya Salat Jum’at

Imam Khomeini ra. dalam tulisannya tentang pentingnya salat Jum’at mengatakan: ‘Salat Jum’at dan dua khotbahnya merupakan peringatan hari besar bagi kaum Muslimin seperti musim haji dan hari raya Idul Fitri serta hari raya Idul Adha. Sayangnya, kaum Muslimin telah lengah dan tidak sadar akan pentingnya tugas ibadah-politik ini. Padahal, dengan sedikit pengetahuan dan perhatian ter-hadap hukum kenegaraan, politik, sosial dan ekonomi Islam, seseorang akan memahami bahwa Islam adalah agama politik. Seorang yang beranggapan bahwa agama terpisah dari politik adalah orang bid’ah yang tidak tahuIslam juga tidak mengenal politik”.[2]

Cara-cara Salat Jum’at

Kewajiban-kewajiban

Salat Jum’at terdiri dari dua rakaat seperti halnya salat Subuh. Bedanya, dalam salat Jum’at terdapat dua khotbah yang disampaikan oleh imam salat, tepatnya sebelum pelak-sanaan salat Jum’at.

 

Sunah-sunah

1.Membaca Al-Fatihah dan surah yang lain dengan suara keras (dilakukan oleh imam salat).*

2.Membaca surah Al-Jumu’ah setelah bacaan Al-Fatihah pada rakaat pertama (dilakukan oleh imam salat).

3.Membaca surah Al-Munafikun setelah membaca Al-Fatihah pada rakaat kedua (dilakukan oleh imam salat).

4.Membaca dua qunut; yang pertama pada rakaat pertama sebelum rukuk, dan yang kedua pada rakaat kedua sete-lah rukuk.[3]

 

Syarat-syarat Salat Jum’at

1.Seluruh syarat yang ada pada salat Jamaah juga harus dipenuhi pada salat Jum’at.**

2.Harus dikerjakan secara berjamaah, dan tidak sah jika dikerjakan sendirian.

3.Salat Jum’at dikerjakan sedikitnya oleh lima orang, yak-ni satu orang sebagai imam dan empat orang sebagai makmum.

4.Minimalnya, jarak antara dua (tempat pelaksanaan) salat Jum’at adalah satu farsakh.[4]

Tugas Imam Salat Jum’at dalam Menyampaikan Dua Khotbah

1.Memuji Allah Swt.

2.Bersalawat atas Nabi Saw. dan para imam maksum a.s.

3.Menganjurkan masyarakat untuk bertakwa dan meng-hindari dosa dan maksiat.

4.Membaca surah pendek dari Al-Quran.

5.Meminta ampunan kepada Allah Swt. untuk kaum muk-minin; laki-laki maupun perempuan.*

 

Hal-hal yang Sepatutnya Disampaikan dalam Dua Khotbah**

1.Masalah-masalah yang diperlukan oleh kaum Muslimin sekaitan dengan urusan dunia maupun akhirat.

2.Membicarakan situasi dunia terkini, baik yang meng-untungkan atau yang membahayakan bangsa.

3.Membicarakan masalah politik dan ekonomi yang ber-pengaruh pada kemerdekaan dan kemandirian kaum Muslimin dan berbagai cara interaksi dengan seluruh masyarakat dunia.

4.Membicarakan ikut campur negara-negara zalim dan penjajah dalam urusan politik dan ekonomi kaum Muslimin yang mengakibatkan ketertindasan mereka.[5]

 

Tugas Jemaah Salat Jum’at

1.Berdasarkan ihtiyath wajib, mereka harus mendengarkan khotbah salat Jum’at.

2.Berdasarkan ihtiyath mustahab, hendaknya mereka tidak berbicara. Dan jika pembicaraan mereka menyebabkan hilangnya kesan khotbah atau membuat membuat mereka sendiri tidak mendengarkan khotbah, maka wajib menghentikan pembicaraan.

3.Ketika Imam Jum’at menyampaikan khotbah, berdasar-kan ihtiyath mustahab, para jemaah hendaknya duduk menghadap ke arah Imam Jum’at dan tidak melihat ke sekitarnya lebih dari yang diizinkan dalam salat.[6]

* * *

SALAT ID

Salat Id; Fitri dan Adul adalah sunah.

 

Waktu Salat Id

1.Waktu salat Id dari matahari terbit sampai tergelincir.[7]

2.Sunah mengerjakan salat Id Adha setelah matahari terbit.

3.Sunah memakan atau meminum sesuatu pada saat matahari telah terbit, lalu mengeluarkan zakat Fitrah*, kemudian mengerjakan salat Id**.[8]

 

Cara-cara Salat Id

Salat Id; Fitri dan Adha, terdiri dari dua rakaat dan sembilan qunut, dan dikerjakan sebagai berikut:

1.Pada rakaat pertama: setelah membaca Al-Fatihah dan surah, bertakbir lima kali, dan setelah setiap takbir bacalah qunut. Hingga seusai qunutyang kelima, ber-takbir lalu rukuk kemudian sujud dua kali.

2.Pada rakaat kedua: setelah membaca Al-Fatihah dan surah, bertakbirlah empat kali, dan setelah setiap takbir bacalah qunut. Hingga seusai qunutyang keempat, bertakbir lalu rukuk kemudian sujud dua kali, lalu membaca tasyahud dan salam.

3.Pada qunutsalat Id, membaca doa apa saja sudah cukup. Akan tetapi, dengan mengharap pahala, sebaiknya membaca doa ini:

اَلَّلهُمَّ اَهْلَ الْكِبْرِيَاءِ وَ الْعَظَمَةِ وَ اَهْلَ الْجُوْدِ وَ الْجَبَرُوْتِ وَ اَهْلَ الْعَفْوِ وَ الرَّحْمَةِ وَ اَهْلَ التَّقْوَی وَ الْمَغْفِرَةِ اَسْأَلُكَ بِحَقِّ هَذَا الْيَوْمِ الَّذِي جَعَلْتَهُ لِلْمُسْلِمِيْنَ عِيْدًا وَ لِمُحَمَّدٍ صَلََّی اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ ذُخْرًا وَ شَرَفًا وَ مَزِيْدًا اَنْ تُصَلِّيَ عَلَی مُحَمَّدٍ وَ آلِ مُحَمَّدٍ وَ اَنْ تُدْخِلَنِيْ فِيْ كُلِّ خَيْرٍ اَدْخَلْتَ فِيْهِ مُحَمَّدًا وَ آلَ مُحَمَّدٍ وَ اَنْ تُخْرِجَنِيْ مِنْ كُلِّ سُوْءٍ اَخْرَجْتَ مِنْهُ مُحَمَّدًا وَ آلَ مُحَمَّدٍ صَلَوَاتُكَ عَلَيْهِ وَ عَلَيْهِمْ اَلَّلهُمَّ اِنِّي اَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا سَأَلَكَ بِهِ عِبَادُكَ الصَّالِحُوْنَ وَ اَعُوْذُ بِكَ مِمَّا اسْتَعَاذَ مِنْهُ عِبَادُكَ الْمُخْلََصُوْنَ.

 

Kesimpulan Pelajaran

1.Salat Jum’at dikerjakan pada hari Jum’at sebagai ganti salat Zuhur.

2.Salat Jum’at terdiri dari dua rakaat, dan wajib didahului oleh dua khotbah.

3.Syarat-syarat salat Jum’at antara lain:

a.Semua syarat yang berlaku pada salat Jamaah.

b.Harus dikerjakan secara berjamaah.

c.Minimalnya, didirikan oleh lima orang.

d.Minimalnya, jarak antara dua tempat pelaksanaan salat Jum’at adalah satu farsakh.

4.Khatib Jum’at—selain membaca khotbah; memuji Allah swt., bersalawat atas Nabi Saw. dan para imam maksum a.s.—hendaknya menyerukan masyarakat agar bertakwa dan menjauhi dosa serta membaca surah pendek dari Al-Quran.

5.Berdasarkan ihtiyath wajib, hendaknya para makmum mendengarkan khotbah ketika disampaikan, dan sunah menghindari pembicaraan.

6.Salat Id terdiri dari dua rakaat dan memiliki sembilan qunut.

7.Pada rakaat pertama salat Id, setelah membaca Al-Fatihah membaca enam takbir dan lima qunut, Pada rakaat kedua empat qunutdan lima takbir.

 

 

Pertanyaan:

1.Sebutkan perbedaan salat Zuhur dengan salat Jum’at!

2.Minimalnya, berapakah makmum dalam salat Jum’at?

3.Dengan merujuk pelajaran yang lalu, sebutkan syarat-syarat imam salat Jamaah yang juga berlaku pada imam Jum’at!

4.Apa pandangan Imam Khomeini ra. tentang orang yang beranggapan bahwa agama terpisah dari politik?

5.Berapa kalitakbir dan qunutdalam Salat Id?

 

 

 

 

 


1.Tahrir Al-Wasilah, hal. 231, masalah pertama.

*Gulpaigani: berdasarkan ihtiyath wajib, harus mengerjakan salat zuhur juga, Majma’ Al-Masail, Jil. 1, hal. 251.

2.Ibid, Jil. 1, hal. 234, masalah ke-9.

*Gulpaigani-Araki: ihtiyath wajibmembaca Al-Fatihah dan surah dalam salat Jum’at dengan suara keras (masalah ke-1848)

1.Ibid, Jil. 1, hal. 232 , As-Tsani.

**Syarat-syarat salat Jum’at telah dijelaskan pada pelajaran 28.

2.Ibid, Jil. 1, hal. 231. Tentang farsakh, lihat Pelajaran 25.

*Sebagian dari tugas-tugas ini adalah fatwa, sebagian lainnya adalah ihtiyath wajib, sebagian lain lagi berkaitan dengan dua khotbah, dan ada pula yang berkaitan dengan salah satu dari dua khotbah.

**Bagian ini dikutip dari Tahrir Al-Wasilah.

1.Ibid, Jil. 1, hal. 233-234, masalah ke-8007-9.

1.Ibid, Jil. 1, hal. 235, masalah ke-14.

2.Taudhih Al-Masail, masalah ke-1517.

*Zakat Fitrahadalah salah satu kewajiban dari sisi harta yang harus dibayar pada hari raya Idul Fitri, (rujuk Pelajaran 34).

**Gulpaigani: disunahkan makan dan minum sesuatu pada hari raya Idul Fitri, dan ihtiyath wajibmembayar zakat Fitrah atau menyisihkan zakat dari harta yang lain kemudian salat Id (masalah ke-1527).

3.Ibid, masalah ke-1518.

MERAMPAS, BERSUMPAH, BERBOHONG DAN MENGUMPAT

MERAMPAS, BERSUMPAH, BERBOHONG DAN MENGUMPAT

 

MERAMPAS (GHASAB)

Definisi Merampas (Ghasab)

Merampas (gashab) yaitu perbuatan seseorang menguasai milik atau hak orang lain dengan cara yang tidak benar dan zalim.

Merampas termasuk sebagai dosa besar, dan perampas akan mendapatkan azab yang pedih di Hari Kiamat nanti.

 

Macam-macam Merampas

1.Merampas barang milik:

a.Barang milik pribadi seperti; mengambil pena dan buku orang lain, atau memecahkan kaca rumah orang lain.

b.Barang milik umum seperti; mengambil barang-barang sekolah, memecahkan lampu jalan, tidak mengeluarkan khumus,atau tidak mengeluarkan zakat.

2.Merampas hak guna:

a.Hak guna pribadi seperti; menduduki bangku du-duk orang lain di kelas, atau salat di tempat yang sudah dipilih oleh orang lain di masjid.

b.Hak guna umum seperti; mencegah orang lain dari menggunakan masjid, atau jembatan, atau jalan, atau mencegah orang lain dari melintasinya.[1]

 

Hukum-hukum Merampas

1.Hukum seluruh macam merampas adalah haram dan terhitung sebagai dosa besar.[2]

2.Jika seseorang merampassesuatu, maka selain telah berbuat haram, dia harus mengembalikannya kepada pemiliknya, dan jika rampasan itu hilang, dia harus menggantinya.[3]

3.Jika dia merusakkan barang rampasannya, maka harus mengembalikan kepada pemiliknya berikut ongkos per-baikan. Jika setelah perbaikan, harganya menjadi lebih murah dari harga sebelumnya, dia harus membayar selisih harganya.[4]

4.Jika dia mengubah barang rampasannya menjadi lebih bagus—misalnya dia memperbaiki sepeda rampasan menjadi lebih bagus—lalu pemiliknya menuntutnya agar mengembalikan barang rampasan dengan keadan yang sudah lebih bagus itu, maka dia harus menye-rahkannya kepada pemiliknya dan tidak boleh meminta ongkos perbaikan, juga tidak berhak untuk mengu-bahnya lagi menjadi seperti semula.[5]

 

* * *

BERSUMPAH

1.Jika seseorang bersumpah dengan menyebut salah satu nama Allah; bahwa dia akan mengerjakan sesuatu atau meninggalkannya, misalnya; demi Allah akan berpuasa, atau demi Allah tidak akan merokok, maka dia wajib mengamalkan sumpahnya.[6]

2.Jika sengaja tidak mengamalkan sumpahnya, dia harus membayar salah satu dari tiga kaffarahberikut ini:

a.Memerdekakan seorang budak.

b.Memberi makan kepada sepuluh orang fakir.

c.Memberi pakaian kepada sepuluh orang fakir.

3.Jika tidak mampu membayar satu pun dari tiga macam kaffarahini,dia harus berpuasa tiga hari.*[7]

4.Jika dia mengatakan sumpah yang benar, hukum sumpahnya makruh. Namun, jika dia mengatakan sum-pah palsu, maka hukum sumpahnya haram dan ter-masuk dosa besar.[8]

* * *

BERBOHONG

1.Berbohong termasuk perbuatan haram dan dosa besar.[9]

2.Jika berbohong untuk mencegah terjadinya masalah yang betul-betul serius seperti; untuk mencegah terbu-nuhnya jiwa seseorang, atau hancurnya kehidupan rumah tangga, maka tidaklah apa-apa.[10]

MENGUMPAT (GHIBAH)

Definisi Mengumpat

Jika seseorang mempunyai sifat yang tidak terpuji, atau dia telah melakukan suatu perbuatan yang salah, dan tidak ada orang lain yang mengetahuinya, sedangkan dia sendiri tidak suka bila sifat dan perbuatan dirinya ini dibicarakan kepada orang lain, maka membicarakan orang tersebut di depan orang lain adalah perbuatan mengumpat dan menggunjing (ghibah).[11]

 

Hukum-hukum Mengumpat

1.Mengumpat ituharam; baik bagi pengumpat juga bagi pendengar umpatannya.[12]

2.Jika seseorang mengumpat kejelekan orang lain, dia harus bertaubat dan tidak harus menceritakan umpa-tannya kepada orang yang diumpatnya.[13]

3.Jika seseorang tidak mendirikan salat namun dia tidak menampakkan kebiasaan buruknya ini kepada orang lain, maka mengumpat orang seperti ini tetap tidak dibolehkan, walaupun wajib beramar makruf dan nahi munkar kepadanya.[14]

* * *

MENCUKUR JANGGUT

Berdasarkan ihtiyath wajib, hukum mencukur janggut—baik dengan silet maupun dengan mesin cukur—adalah haram.[15]

 

Pertanyaan:

Bolehkah seorang lelaki yang berusia sekitar 18 sampai 19 tahun mencukur wajahnya sampai dua atau tiga kali dengan maksud supaya bulu tumbuh di wajahnya atau supaya tumbuhnya lebih bagus, ataukah tidak boleh?

Jawab:

Berdasarkan ihtiyath wajib, tidak boleh mencukur janggut. Namun, selama janggut belum tumbuh, mencukur wajah dengan silet tidaklah apa-apa.[16]

 

Kesimpulan Pelajaran

1.Merampas merupakan dosa besar, dan perampas akan mendapatkan azab yang pedih di Hari Kiamat.

2.Merampasbarang milik dan hak guna pribadi dan umum adalah haram.

3.Seseorang yang merampas sesuatu harus mengemba-likan kepada pemiliknya.

4.Seseorang yang merusakkan barang rampasannya harus mengembalikan kepada pemiliknya beserta ongkos per-baikan.

5.Jika seseorang bersumpah dengan menyebut salah satu nama Allah; bahwa ia akan mengerjakan sesuatu atau akan meninggalkannya, dia wajib mengamalkannya.

6.Jika tidak mengamalkan sumpahnya, dia harus memer-dekakan seorang budak, atau memberi makan sepuluh orang fakir, atau memberi pakaian sepuluh orang fakir. Jika dia tidak bisa mengerjakan satu pun dari tiga hal ini, dia harus berpuasa tiga hari.

7.Bersumpah jujur adalah makruh, dan bersumpah palsu adalah adalah haram.

8.Berbohong itu haram dan termasuk dosa besar.

9.Mengumpat (ghibah) adalah dosa; baik bagi pengumpat juga bagi pendengar umpatannya.

10.Mengumpat seorang pendosa yang melakukan dosanya secara rahasia tetap tidak dibolehkan.

11.Berdasarkan ihtiyath wajib, haram mencukur janggut.

 

 

Pertanyaan:

1.Jelaskan pengertian dari merampas (ghasab) dan berikan dua contoh darimerampas hak guna!

2.Apa hukum mengambil barang orang lain untuk digu-nakan secara pribadi, misalnya; mengambil pena teman untuk menulis nomor telepon?

3.Menggunakan kapur dan papan tulis sekolah untuk latihan menulis, atau menulis yang tidak pada tempat-nya; termasuk yang mana dari macam-macam meram-pas (ghasab)?

4.Apakah pengertian dari mengumpat (ghibah)?

5.Apakah membicarakan nilai ujian seseorang kepada orang lain termasuk mengumpat?

6.Apa tugas orang yang telah mengumpat?

7.Seorang remaja yang telah tumbuh sedikit bulu di wajahnya dan dia malu jika membiarkannya demikian; apakah dia boleh mencukur bulu tersebut?

 


1.Tahrir Al-Wasilah, Jil. 2, hal. 173, masalah pertama.

2.Ibid.

3.Ibid, Jil. 2, hal. 173, masalah ke-3.

4.Taudhih Al-Masail, masalah ke-2553.

5.Ibid, masalah ke-2554.

1.Ibid, masalah ke-2670 & 2671.

*Gulpaigani: Ia harus berpuasa tiga hari berturut-turut, (masalah ke-2679).

2.Taudhih Al-Masail, masalah ke-2670 & ke-2671.

3.Ibid, masalah ke-2675.

4.Istiftaat, Jil. 2, hal. 616, pertanyaanke-4.

5.Ibid, pertanyaan pertama.

1.Ibid, hal. 617, pertanyaan ke-9.

2.Ibid.

3.Ibid, hal. 620, pertanyaan ke-15 & ke-16.

4.Ibid, Jil. 2, hal. 620, pertanyaan ke-18.

1.Ibid, hal. 30, pertanyaan ke-79.

2.Ibid, pertanyaan ke-80.

Sejarah mencatat bahwa Khalifah Abu Bakar pernah membakar 500 hadis koleksinya sendiri. Umar juga membakar banyak naskah hadis milik para sahabat

Kosa kata SYIAH ditulis dengan hurus Syin Ya Ain. SYIAH berarti pengikut, pendukung, golongan, kelompok, dan lain lain misalnya

syiah_imamiah121.jpg

(1) Syi’ah juga seperti mazhab-mazhab lainnya… mereka mempunyai banyak kitab hadis, ada empat kitab hadis standar mereka (tapi tidak berarti seluruh hadis di dalamnya shahih ya), ada al Wasail (20 an jilid) ada Mustadrak al Wasail, ada Bihar al Anwar (100 jilid) dan masih banya lainnya. mereka juga punya banyak kitab tentang ilmu hadis baik dirayah maupun rijal

.
Kitab-kitab hadis mereka juga disyarahi oleh ulama mereka

.
Kalau ulama Syi’ah berbicara tentang masalah khilafiah dengan Ahlusunnah ya wajar kan kalau hadis yang mereka sebutkan dari riwayat Ahlusunnah biar dialognya terasa beretika

.
(2) Sejarah mencatat bahwa Khalifah Abu Bakar pernah membakar 500 hadis koleksinya sendiri. Umar juga membakar banyak naskah hadis milik para sahabat. sebagaimana juga diriwayatkan bahwa Umar membakar kitab-kitab yang tersimpan di Perpustakaan Mesir sa’at itu. Mungkin itu yang Anda tanyakan.

A) Dapatkan bapak buktikan bahwa kitab-kitab yang berlebel Shahih, khususnya Bukhari dan Muslim itu telah disepakati ulama mazhab Anda (Ahlusunnah) bahwa seluruh isinya shahih 100%?

.
B) Memang di kalang ulama Mazhab Syi’ah tidak mengenal istilah kitab yang seluruh isinya shahih 100%, tidak al kafi tidak punya yang lainnya. Semua harus ditundukkan kepada penelitian dan ijtihad para mujtahidi dan ulama

.
Kalau hal ini akan anda anggap sebagai kekurangan Syi’ah maka para peneliti justru menganggapnya sebagai kemajuan dan obyektifitas sikap ulama Syi’ah!

Banyak bukti yang meyakinkan kami bahwa mengikuti AHlulbait as. adalah yang benar…. di antara bukti-bukti itu adalah bahwa selamanya yang memusuhi Ahlulbait dan Syi’ah adalah orang-orang berakhlak murahan dan berkata-kata buruk dan kotor, mengedepankan emosi dan tidak jujur dalam berdialog.

Syi’ah produk Yahudi adalah lagu lama nyanyian orang tak berilmu. Coba buktikan!
Dan setelah itu bandingkan dengan mazhab Anda

….
mazhab Syi’ah dapat ditegakkan di atas dalil-dalil Sunni sementara mazhab Sunni dapat digoyah dengan dalil-dalil Sunni sendiri! Bukankah begitu?!

Anda tau apa itu Syiah? Syiah Imamiyah berarti pengikut. Imam 12. Kata Syiah sdh ada pd Zaman Rasul. Yaitu pengikut Ali. Nah klu kita Yakin Imam Ali yg terbaik mengapa kita tdk jd pengikutnya. Apakah anda2 mau kita menjadi Syiah Muawiyah/Yazid? Naudzu billah.

kekuatan dan kebenaran Syiah tak dpt digoyah oleh kekuatan dan dalih apa saja. Krn semua yg dari Syiah adalah dalil2 kebenaran, bkn dalil yg rapuh. Klu anda tak percaya silahkan anda beradu argumentasi

Sudah saatnya umat Islam sadar akan kekeliruan mereka terhadap ajaran Ahlulbayt.

sudah saatnya Sunni sadar akan penyusup-penyusup Wahhabi=Salafy=Nashibi yang masuk jkedalam tubuh mereka….

Syi’ah mazhab bukan agama. Hanya kaum Wahhabi pembenci Ahlulbait saja yang menyebutnya agama. Para ulama Islam menyebutnya mazhab yang sah diikuti. Anda syadz/menyimpang dari jama’ah kaum Muslimin

.
Akhi jangan repot-repot menghujat SYi’ah dan mebongkar hakikat SYi’ah. Tanggapi aja bukti bahwa Abu Bakar dan Umar di mata Imam Ali as. adalah kadzib, atsim, ghadir dan khain. Ini riwayat Bukahri dan Muslim!! Bukan riwayat Syi’ah! Kitab kalian yang paling shahih setelah Al Qur’an al Karim!!
Apa yang kalian bantahkan kepada Syi’ah itu semuanya sudah terjawab oleh ulama kami…. hujatan Ibnu Hajar al Haitami sudah ditantah habis.. hujatan Ibnu Tamiyah juga sudah dibida total


Hujatan Utsman al Khamis (penulis bayaran dari Kuwait) yang sering dibanggakan dan diandalkan musuh-muus Syi’ah di negeri ini juga sudah dibantah dan dipermalukan santri-sntri muda kota Qom=Iran!

.
Jadi lebih baik anda meramu hujatan baru yang lebih canggih!

Syiah adalah pengikut Ahlulbait Nabi as. Ikhwanul Muslimin bukan Syi’ah! Tentang Hizbu Tahrir bukan bagian saya untuk menjawabnya takut salah, itu urusannya ulama Sunni!

.
Syi’ah dan Sunni bisa bergandengaan tangan, asal masing-masing menghormati sesama! Hanya kaum penabur ikhtilaf yang beranggapan tidak bisa bersatu!

Bantahan atas buku “Mengapa sy keluar dari Syiah, Karangan Sayyid Husain Al-Musawi” telah terbit dengan judul “Demi Allah Junjunglah Kebenaran” Diterjemah oleh Ustad Husin Syahab penerbit “Baitul Muhibbin”

.
Baca kitab Isu-isu Penting Ikhtilaf…. atau Ukhuwwah Islamiyah karya habib Husen al habsyi. Anda juga bisa download berbagai buku-buku Ulama Syiah dan Sunnah dalam bahasa Arab dan Indonesia di halaman yang telah kami sediakan ini

Menurut Anda orang yang membenci Sayyidina Ali as. apa hukum dan statusnya? Apakah Muawiyah termasuk yang mencintai atau membanci Sayyidina Ali as.?

Ketika Nabi Muhammad berada di Makkah; kosa kata SYIAH dipergunakan untuk pengikut Rasulullah yaitu SYIAH RASULULLAH; dan dipergunakan untuk pengikut Umayyah yaitu SYIAH UMMAYAH.

Ummayah adalah pemimpin utama di kota Makkah pada waktu itu. orang2 Musyrik di Makkah mengikuti Umayyah

Ketika Nabi Muhammad berada di Madinah; kosa kata SYIAH dipergunakan untuk pengikut Nabi Muhammad yaitu SYIAH RASULULLAH dan untuk orang2 Munafiq dan orang2 Kafir yaitu SYIAH JAHILIYYAH.

25 tahun setelah Rasulullah wafat; kosa kata SYIAH dipergunakan untuk pengikut Ali ibn Abu Tholib yaitu SYIAH ALI dan untuk pengikut Muawiyyah yaitu SYIAH MUAWIYYAH.

Muawiyyah adalah gubernur di Damaskus Syiria yang melakuken pemberontakan untuk menggulingkan Ali ibn Abu Tholib; sehingga terjadi perang SIFFIN.

303 tahun setelah Rasulullah wafat;  Abu Hasan Al Asy’ari mendirikan madhab Asy’ariyyah. Madhab Asy’ariyyah adalah ALIRAN KEPERCAYAAN di dalam agama Islam.

Madhab Asyariyyah berkembang sehingga menjadi besar; kemudian berubah nama menjadi madhab Ahlul Sunnah Wal Jamaah. Sebagian ajaran Madhab Ahlul Sunnah Wal Jamaah bukan berasal dari Rasulullah; karena madhab Ahlul Sunnah Wal Jamaah berasal dari madhab Asy’ariyyah.

Madhab Ahlul Sunnah Wal Jamaah adalah ALIRAN KEPERCAYAAN di dalam agama Islam. Kosa kata SYIAH dan SUNNI sekarang dipergunakan untuk membedakan Islam yang asli dari Rasulullah yaitu SYIAH dan Aliran Kepercayaan di dalam agama Islam yaitu SUNNI

 

Upaya pendekatan antara Syiah dan Suni sudah sering kali diadakan. Namun masih saja sebagian golongan Sunni yang masih menganggap Syiah sebagai umat yang lain. Sebenarnya upaya pendekatan tidak perlu dilakukan jika semua golongan mau belajar dan memahami sejarah Islam dari ribuan riwayat sahih yang beredar. Jika saja sebagian Sunni tersebut mau mempelajari dan memahami sejarah tersebut, mereka pasti paham dan mengenal baik akan keberadaan golongan Syiah sejak Nabi saw masih hidup, bukan setelah beliau wafat. Coba anda cari di Jagad Internet yang luas ini tentang jawaban persoalan di bawah ini:

Abu Bakr dipandang sebagai sahabat terdekat Nabi saw oleh mayoritas Sunni, Lalu mengapa pada waktu “hari persaudaraan” saat pertama kali datang di Madinah, Nabi saw lebih memilih Ali bin Abu Thalib sebagai saudaranya dengan mengatakan “Kamu adalah saudaraku di dunia ini dan di akhirat nanti”. Atas dasar apa golongan Sunni menganggap Abu Bakr sahabat terdekat Nabi saw.

Semua kaum muslim sepakat bahwa ajaran Islam mencakup dan menormai dalam segala aspek kehidupan, dari hal-hal yang sepele sampai hal-hal yang amat besar. Kaum Sunni mengatakan masalah Imamah tidak dijelaskan oleh Qur’an dan sunnah, jadi sahabat berijtihad dalam masalah imamah. Jika benar Nabi saw wafat tanpa memberikan petunjuk apapun tentang Imamah pada umatnya, lalu mengapa Abu Bakr menyebutkan hadits “al-aimmah min al-Quraish” Para imam berasal dari kaum Quraish di Saqifah Bani Saidah. Apa Abu Bakr memalsukan riwayat Nabi saw? dan mengapa Abu Bakr memilih Umar sebagai penggantinya, dengan menyalahi sunnah Nabi saw yang tidak menjelaskan apapun tentang imamah.

Dalam hadis-hadis sahih (Bukhari, Muslim, dll) Nabi saw menyatakan bahwa ”Kelak akan ada Dua Belas Pemimpin.” Ia lalu melanjutkan kalimatnya yang saya tidak mendengarnya secara jelas. Ayah saya mengatakan, bahwa Nabi menambahkan, ”Semuanya berasal dari suku Quraisy.” atau “Agama (Islam) akan berlanjut sampai datangnya Sa’ah (Hari Kebangkitan), berkat peranan Dua Belas Khalifah bagi kalian, semuanya berasal dari suku Quraisy”. Bandingkan susunan 12 imam yang disusun golongan sunni dan Syiah?

Kuat mana derajat kesahihan antara riwayat yang menyebutkan wasiat Nabi saw (biasa disebut hadits al-Thaqalain) untuk berpegangan pada al-Qur’an dan Sunnah dengan hadis yang memerintah kita semua berpegangan pada al-Qur’an dan Itrahnya (keturunannya)?

Tuhan telah mengutus 124.000 utusan ke dunia ini, apa ada bukti bahwa semua peninggalan mereka akan menjadi sedekah bagi para pengikutnya? Jika Sunni menganggap demikian mengapa para Umm al-Mukminin tidak memberikan seluruh kepunyaan Rasulullah ke Pemerintahan Islam? Setelah wafatnya Rasulullah saw, Sayyidah Fatimah bertengkar dengan Abu Bakr mengenai Fadak, yang seharusnya menjadi miliknya dari warisan Nabi saw, Fatimah marah dan tidak akan berbicara dengan Abu Bakr sampai akhir hayatnya karena Abu Bakr tidak memberikan Fadak kepadanya. Kenapa Abu Bakr tidak memberikan tanah Fadak tersebut sedangkan Umar bin Abd Aziz saat menjabat sebagai khalifah mengembalikan kembali tanah Fadak ke keturunan Sayyidah Fatimah as?

Jika anda melihat denah pemakaman Baqi’, anda akan mengetahui bahwa kuburan Uthman bin Affan terpencil dari makam sahabat lainnya. Bagaimana proses pemakaman khalifah ketiga Uthman bin Affan di luar Baqi’ (dulu)? Siapa saja sahabat besar yang bermusuhan dengan Uthman? dan siapa pemicu sebenarnya yang akhirnya membunuh Khalifah Uthman bin Affan? Aisyah bahkan menyebut Uthman sebagai Natsal, seseorang kafir yang harus dibunuh. Jika Sunni mengganggap Aisyah seorang yang benar berarti menerima julukan yang diberikan pada Uthman, dan jika Aisyah berkata dusta mengapa Sunni menganggap dia benar?

Tuhan telah berfirman bahwa barang siapa yang membunuh seorang muslim dengan sengaja, hukumannya adalah laknat Tuhan dan balasan Neraka selamanya. Sejarah mencatat selama perang Shiffin dan Jamal, 70.800 kaum muslim telah terbunuh. Dimana posisi pembunuh saat itu? apakah ayat tersebut berlaku bagi mereka? Jika kaum muslim melawan khalifah yang sah dan menyebabkan kekacauan dan terbunuhnya ribuan nyawa kaum muslim, dimana posisi mereka saat Hari Pembalasan? Neraka karena Pembunuh atau Surga karena “Mujtahid Teroris”? … Yang pasti salah satunya salah, bukan benar semuanya. Jika anda jawab benar semuanya, APA KATA DUNIA!!!

Apa sebenarnya arti dari kata “Mu’awiyah”, dan siapa sebenarnya ayah dari Muawiyah dan cerita sebelum kelahirannya, dan menurut al-Nasai, hanya ada satu hadis sahih yang menceritakan keutamaan Muawiyah, hadis apakah itu? Baca juga kisah menyedihkan wafatnya al-Nasa’i karena hadith tersebut.

Biasanya Golongan Sunni menuduh bahwa Syiahlah yang membantai Imam Husayn as beserta para pengikutnya, yang menjadi pertanyaan adalah mengapa mayoritas Sunni yang jumlahnya lebih banyak dari Syiah tidak menolong Imam Husain as? Dimana posisi Sunni ketika terjadi pembantaian cucu Nabi saw, Imam Husayn as?

Ingat, kebenaran itu harus dicari dan dipertahankan, bukan sesuatu yang dijejalkan langsung ke akal kita.

Dapatkan bapak buktikan bahwa kitab-kitab yang berlebel Shahih, khususnya Bukhari dan Muslim itu telah disepakati ulama mazhab Anda (Ahlusunnah) bahwa seluruh isinya shahih 100%?

Kosa kata SYIAH ditulis dengan hurus Syin Ya Ain. SYIAH berarti pengikut, pendukung, golongan, kelompok, dan lain lain misalnya

syiah_imamiah121.jpg

(1) Syi’ah juga seperti mazhab-mazhab lainnya… mereka mempunyai banyak kitab hadis, ada empat kitab hadis standar mereka (tapi tidak berarti seluruh hadis di dalamnya shahih ya), ada al Wasail (20 an jilid) ada Mustadrak al Wasail, ada Bihar al Anwar (100 jilid) dan masih banya lainnya. mereka juga punya banyak kitab tentang ilmu hadis baik dirayah maupun rijal

.
Kitab-kitab hadis mereka juga disyarahi oleh ulama mereka

.
Kalau ulama Syi’ah berbicara tentang masalah khilafiah dengan Ahlusunnah ya wajar kan kalau hadis yang mereka sebutkan dari riwayat Ahlusunnah biar dialognya terasa beretika

.
(2) Sejarah mencatat bahwa Khalifah Abu Bakar pernah membakar 500 hadis koleksinya sendiri. Umar juga membakar banyak naskah hadis milik para sahabat. sebagaimana juga diriwayatkan bahwa Umar membakar kitab-kitab yang tersimpan di Perpustakaan Mesir sa’at itu. Mungkin itu yang Anda tanyakan.

A) Dapatkan bapak buktikan bahwa kitab-kitab yang berlebel Shahih, khususnya Bukhari dan Muslim itu telah disepakati ulama mazhab Anda (Ahlusunnah) bahwa seluruh isinya shahih 100%?

.
B) Memang di kalang ulama Mazhab Syi’ah tidak mengenal istilah kitab yang seluruh isinya shahih 100%, tidak al kafi tidak punya yang lainnya. Semua harus ditundukkan kepada penelitian dan ijtihad para mujtahidi dan ulama

.
Kalau hal ini akan anda anggap sebagai kekurangan Syi’ah maka para peneliti justru menganggapnya sebagai kemajuan dan obyektifitas sikap ulama Syi’ah!

Banyak bukti yang meyakinkan kami bahwa mengikuti AHlulbait as. adalah yang benar…. di antara bukti-bukti itu adalah bahwa selamanya yang memusuhi Ahlulbait dan Syi’ah adalah orang-orang berakhlak murahan dan berkata-kata buruk dan kotor, mengedepankan emosi dan tidak jujur dalam berdialog.

Syi’ah produk Yahudi adalah lagu lama nyanyian orang tak berilmu. Coba buktikan!
Dan setelah itu bandingkan dengan mazhab Anda

….
mazhab Syi’ah dapat ditegakkan di atas dalil-dalil Sunni sementara mazhab Sunni dapat digoyah dengan dalil-dalil Sunni sendiri! Bukankah begitu?!

Anda tau apa itu Syiah? Syiah Imamiyah berarti pengikut. Imam 12. Kata Syiah sdh ada pd Zaman Rasul. Yaitu pengikut Ali. Nah klu kita Yakin Imam Ali yg terbaik mengapa kita tdk jd pengikutnya. Apakah anda2 mau kita menjadi Syiah Muawiyah/Yazid? Naudzu billah.

kekuatan dan kebenaran Syiah tak dpt digoyah oleh kekuatan dan dalih apa saja. Krn semua yg dari Syiah adalah dalil2 kebenaran, bkn dalil yg rapuh. Klu anda tak percaya silahkan anda beradu argumentasi

Sudah saatnya umat Islam sadar akan kekeliruan mereka terhadap ajaran Ahlulbayt.

sudah saatnya Sunni sadar akan penyusup-penyusup Wahhabi=Salafy=Nashibi yang masuk jkedalam tubuh mereka….

Syi’ah mazhab bukan agama. Hanya kaum Wahhabi pembenci Ahlulbait saja yang menyebutnya agama. Para ulama Islam menyebutnya mazhab yang sah diikuti. Anda syadz/menyimpang dari jama’ah kaum Muslimin

.
Akhi jangan repot-repot menghujat SYi’ah dan mebongkar hakikat SYi’ah. Tanggapi aja bukti bahwa Abu Bakar dan Umar di mata Imam Ali as. adalah kadzib, atsim, ghadir dan khain. Ini riwayat Bukahri dan Muslim!! Bukan riwayat Syi’ah! Kitab kalian yang paling shahih setelah Al Qur’an al Karim!!
Apa yang kalian bantahkan kepada Syi’ah itu semuanya sudah terjawab oleh ulama kami…. hujatan Ibnu Hajar al Haitami sudah ditantah habis.. hujatan Ibnu Tamiyah juga sudah dibida total


Hujatan Utsman al Khamis (penulis bayaran dari Kuwait) yang sering dibanggakan dan diandalkan musuh-muus Syi’ah di negeri ini juga sudah dibantah dan dipermalukan santri-sntri muda kota Qom=Iran!

.
Jadi lebih baik anda meramu hujatan baru yang lebih canggih!

Syiah adalah pengikut Ahlulbait Nabi as. Ikhwanul Muslimin bukan Syi’ah! Tentang Hizbu Tahrir bukan bagian saya untuk menjawabnya takut salah, itu urusannya ulama Sunni!

.
Syi’ah dan Sunni bisa bergandengaan tangan, asal masing-masing menghormati sesama! Hanya kaum penabur ikhtilaf yang beranggapan tidak bisa bersatu!

Bantahan atas buku “Mengapa sy keluar dari Syiah, Karangan Sayyid Husain Al-Musawi” telah terbit dengan judul “Demi Allah Junjunglah Kebenaran” Diterjemah oleh Ustad Husin Syahab penerbit “Baitul Muhibbin”

.
Baca kitab Isu-isu Penting Ikhtilaf…. atau Ukhuwwah Islamiyah karya habib Husen al habsyi. Anda juga bisa download berbagai buku-buku Ulama Syiah dan Sunnah dalam bahasa Arab dan Indonesia di halaman yang telah kami sediakan ini

Menurut Anda orang yang membenci Sayyidina Ali as. apa hukum dan statusnya? Apakah Muawiyah termasuk yang mencintai atau membanci Sayyidina Ali as.?

Ketika Nabi Muhammad berada di Makkah; kosa kata SYIAH dipergunakan untuk pengikut Rasulullah yaitu SYIAH RASULULLAH; dan dipergunakan untuk pengikut Umayyah yaitu SYIAH UMMAYAH.

Ummayah adalah pemimpin utama di kota Makkah pada waktu itu. orang2 Musyrik di Makkah mengikuti Umayyah

Ketika Nabi Muhammad berada di Madinah; kosa kata SYIAH dipergunakan untuk pengikut Nabi Muhammad yaitu SYIAH RASULULLAH dan untuk orang2 Munafiq dan orang2 Kafir yaitu SYIAH JAHILIYYAH.

25 tahun setelah Rasulullah wafat; kosa kata SYIAH dipergunakan untuk pengikut Ali ibn Abu Tholib yaitu SYIAH ALI dan untuk pengikut Muawiyyah yaitu SYIAH MUAWIYYAH.

Muawiyyah adalah gubernur di Damaskus Syiria yang melakuken pemberontakan untuk menggulingkan Ali ibn Abu Tholib; sehingga terjadi perang SIFFIN.

303 tahun setelah Rasulullah wafat;  Abu Hasan Al Asy’ari mendirikan madhab Asy’ariyyah. Madhab Asy’ariyyah adalah ALIRAN KEPERCAYAAN di dalam agama Islam.

Madhab Asyariyyah berkembang sehingga menjadi besar; kemudian berubah nama menjadi madhab Ahlul Sunnah Wal Jamaah. Sebagian ajaran Madhab Ahlul Sunnah Wal Jamaah bukan berasal dari Rasulullah; karena madhab Ahlul Sunnah Wal Jamaah berasal dari madhab Asy’ariyyah.

Madhab Ahlul Sunnah Wal Jamaah adalah ALIRAN KEPERCAYAAN di dalam agama Islam. Kosa kata SYIAH dan SUNNI sekarang dipergunakan untuk membedakan Islam yang asli dari Rasulullah yaitu SYIAH dan Aliran Kepercayaan di dalam agama Islam yaitu SUNNI

 

Upaya pendekatan antara Syiah dan Suni sudah sering kali diadakan. Namun masih saja sebagian golongan Sunni yang masih menganggap Syiah sebagai umat yang lain. Sebenarnya upaya pendekatan tidak perlu dilakukan jika semua golongan mau belajar dan memahami sejarah Islam dari ribuan riwayat sahih yang beredar. Jika saja sebagian Sunni tersebut mau mempelajari dan memahami sejarah tersebut, mereka pasti paham dan mengenal baik akan keberadaan golongan Syiah sejak Nabi saw masih hidup, bukan setelah beliau wafat. Coba anda cari di Jagad Internet yang luas ini tentang jawaban persoalan di bawah ini:

Abu Bakr dipandang sebagai sahabat terdekat Nabi saw oleh mayoritas Sunni, Lalu mengapa pada waktu “hari persaudaraan” saat pertama kali datang di Madinah, Nabi saw lebih memilih Ali bin Abu Thalib sebagai saudaranya dengan mengatakan “Kamu adalah saudaraku di dunia ini dan di akhirat nanti”. Atas dasar apa golongan Sunni menganggap Abu Bakr sahabat terdekat Nabi saw.

Semua kaum muslim sepakat bahwa ajaran Islam mencakup dan menormai dalam segala aspek kehidupan, dari hal-hal yang sepele sampai hal-hal yang amat besar. Kaum Sunni mengatakan masalah Imamah tidak dijelaskan oleh Qur’an dan sunnah, jadi sahabat berijtihad dalam masalah imamah. Jika benar Nabi saw wafat tanpa memberikan petunjuk apapun tentang Imamah pada umatnya, lalu mengapa Abu Bakr menyebutkan hadits “al-aimmah min al-Quraish” Para imam berasal dari kaum Quraish di Saqifah Bani Saidah. Apa Abu Bakr memalsukan riwayat Nabi saw? dan mengapa Abu Bakr memilih Umar sebagai penggantinya, dengan menyalahi sunnah Nabi saw yang tidak menjelaskan apapun tentang imamah.

Dalam hadis-hadis sahih (Bukhari, Muslim, dll) Nabi saw menyatakan bahwa ”Kelak akan ada Dua Belas Pemimpin.” Ia lalu melanjutkan kalimatnya yang saya tidak mendengarnya secara jelas. Ayah saya mengatakan, bahwa Nabi menambahkan, ”Semuanya berasal dari suku Quraisy.” atau “Agama (Islam) akan berlanjut sampai datangnya Sa’ah (Hari Kebangkitan), berkat peranan Dua Belas Khalifah bagi kalian, semuanya berasal dari suku Quraisy”. Bandingkan susunan 12 imam yang disusun golongan sunni dan Syiah?

Kuat mana derajat kesahihan antara riwayat yang menyebutkan wasiat Nabi saw (biasa disebut hadits al-Thaqalain) untuk berpegangan pada al-Qur’an dan Sunnah dengan hadis yang memerintah kita semua berpegangan pada al-Qur’an dan Itrahnya (keturunannya)?

Tuhan telah mengutus 124.000 utusan ke dunia ini, apa ada bukti bahwa semua peninggalan mereka akan menjadi sedekah bagi para pengikutnya? Jika Sunni menganggap demikian mengapa para Umm al-Mukminin tidak memberikan seluruh kepunyaan Rasulullah ke Pemerintahan Islam? Setelah wafatnya Rasulullah saw, Sayyidah Fatimah bertengkar dengan Abu Bakr mengenai Fadak, yang seharusnya menjadi miliknya dari warisan Nabi saw, Fatimah marah dan tidak akan berbicara dengan Abu Bakr sampai akhir hayatnya karena Abu Bakr tidak memberikan Fadak kepadanya. Kenapa Abu Bakr tidak memberikan tanah Fadak tersebut sedangkan Umar bin Abd Aziz saat menjabat sebagai khalifah mengembalikan kembali tanah Fadak ke keturunan Sayyidah Fatimah as?

Jika anda melihat denah pemakaman Baqi’, anda akan mengetahui bahwa kuburan Uthman bin Affan terpencil dari makam sahabat lainnya. Bagaimana proses pemakaman khalifah ketiga Uthman bin Affan di luar Baqi’ (dulu)? Siapa saja sahabat besar yang bermusuhan dengan Uthman? dan siapa pemicu sebenarnya yang akhirnya membunuh Khalifah Uthman bin Affan? Aisyah bahkan menyebut Uthman sebagai Natsal, seseorang kafir yang harus dibunuh. Jika Sunni mengganggap Aisyah seorang yang benar berarti menerima julukan yang diberikan pada Uthman, dan jika Aisyah berkata dusta mengapa Sunni menganggap dia benar?

Tuhan telah berfirman bahwa barang siapa yang membunuh seorang muslim dengan sengaja, hukumannya adalah laknat Tuhan dan balasan Neraka selamanya. Sejarah mencatat selama perang Shiffin dan Jamal, 70.800 kaum muslim telah terbunuh. Dimana posisi pembunuh saat itu? apakah ayat tersebut berlaku bagi mereka? Jika kaum muslim melawan khalifah yang sah dan menyebabkan kekacauan dan terbunuhnya ribuan nyawa kaum muslim, dimana posisi mereka saat Hari Pembalasan? Neraka karena Pembunuh atau Surga karena “Mujtahid Teroris”? … Yang pasti salah satunya salah, bukan benar semuanya. Jika anda jawab benar semuanya, APA KATA DUNIA!!!

Apa sebenarnya arti dari kata “Mu’awiyah”, dan siapa sebenarnya ayah dari Muawiyah dan cerita sebelum kelahirannya, dan menurut al-Nasai, hanya ada satu hadis sahih yang menceritakan keutamaan Muawiyah, hadis apakah itu? Baca juga kisah menyedihkan wafatnya al-Nasa’i karena hadith tersebut.

Biasanya Golongan Sunni menuduh bahwa Syiahlah yang membantai Imam Husayn as beserta para pengikutnya, yang menjadi pertanyaan adalah mengapa mayoritas Sunni yang jumlahnya lebih banyak dari Syiah tidak menolong Imam Husain as? Dimana posisi Sunni ketika terjadi pembantaian cucu Nabi saw, Imam Husayn as?

Ingat, kebenaran itu harus dicari dan dipertahankan, bukan sesuatu yang dijejalkan langsung ke akal kita.

Dalam keyakinan ulama Syi’ah tidak ada sebuah kitab hadis pun yang seluruh isinya diakui shahih seratus persen

Gugatan Wahabi :

Sebenarnya kitab hadist yang menjadi andalan orang-orang syiah itu apa? kelihatannya anda tidak begitu mengakui akan otetisitas al-kafi? jika kutub al-arba’ah (al-kafi, al-istibshar, at-tahdzid dan man la yahdhuruhu al-faqih) merupakan pegangan pokok, kenapa sulit ditemukan (kalau tidak mau dikatakan ada) beredar di khalaya’. saya kan juga ingin mengetahui isinya.

____________
Jawaban Ustad Husain Ardilla :

Salam akhi
Dalam keyakinan ulama Syi’ah tidak ada sebuah kitab hadis pun yang seluruh isinya diakui shahih seratus persen…. tidak terkecuali al-kutub arba’ah yang saudara sebutkan itu.

Keyakinan ini telah ada sejak masa penulis empat kitab tersebut, bukan barang baru… jadi setiap hadis yang dimuat di dalamnya harus juga diseleksi, tentunya oleh ahlinya, bukan oleh bebas bagi sembarang orang, walaupun tidak bermodalkan ilmu yang cukup!

Kitab-kitab tersebut tidak disembunyikan dari peredaran…. mereka yang hidup di negeri Arab, khususnya yang terbuka, seperti Mesir, Lebanon, Kuwait, Bahrain, Syiria dll akan dengan mudah menemukannya…. Anda juga dapat mengaksesnya di internet….

Kalau di Indonesia buku-buku tersebut sulit didapat ya dikarenakan jarangnya peminat. Dan bukan hanya buku-buku Syi’ah saja yang sulit didapat, banyak buku Ahlusunnah yang juga sulit ditemukan di negeri kita ini.

berapa lama Imam Ali as. hidup di tengah-tengah masyarakat Muslim dewasa itu, tapi tahukan Anda, berapa hadis yang sempat diriwayatkan para ulama Ahlusunnah dari Imam Ali, Hasan dan Husain ??

Gugatan  Wahabi :

Mas ,bisa tolong beri comment tentang tulisan di blog saya.Mungkin jawaban anda bisa membantu.
ini linknya:
http://oktara.wordpress.com/2008/02/27/mana-hadits-riwayat-fatimah/

____________
Jawaban Ustad Husain Ardilla :

Salam saya sudah baca artikel Anda di alamat di atas…

.
Benar kata Anda jawabannya ustaz (AS) kurang memuaskan sebab ia lebih banyak didasarkan pada fakta sejarah yang kurang akurat…. seperti tentang kedekatan Abu Hurairah dan keintimimannya derngan Nabi mulia saw. sehingga digambarkan dengan kata-kata: Namun masa yang sebentar itu sangat efektif. Di masa yang sebentar itu, nyaris tiap saat beliau selalu mendampingi Rasulullah SAW. Mana buktinya?

Memang banyak riwayat yang menyebut efektifitas Abu Hurairah dalam menyerap ilmu dari Nabi saw. bahkan dengan cara yang menggelikan seperti tawaran Nabi kepada para sahabatnya siapa di antara mereka yang mau menerima curahan ilmu Nabi supaya ia menggelar serbanya di tanah, eh tapi sayangnya mereka bungkam dan ogah menerima tawaran itu hanya Abu Hurairah saja yang mau, ya akhirnya Nabi mulai menuangkan ilmunya ke kain serban “Ajaib” itu sehingga berjatuhan “Kemerotok” ilmu dan hikmat dari mulut suci Nabi saw ke hamparan sebarn Abu Hurairah… sebuah terobosan baru dalam duni “Transfer mentransfer ilmu”.

Tapi anehnya setiap hadis pujian untuk Abu Hurairah yang meriwayatkan ya Abu Hurairah sediri! Aneh kah?!

Dalam hemat kami bukan masalah efektifitas belajar atau apapun terserah istilahnya, yang hampir dapat dipastikan ialah bahwa adanya :KEENGGANAN MENERIMA HADIS DARI RIWAYAT KELUARGA SUCI RASULULLAH SAW. itulah yang menjadi alasan utamanya….

Coba Anda renungkan, berapa lama Imam Ali as. hidup di tengah-tengah masyarakat Muslim dewasa itu, tapi tahukan Anda, berapa hadis yang sempat diriwayatkan para ulama Ahlusunnah dari ‘Gerbang Kota Ilmu Nabi” itu?
Apa ada yang berkelit dengan mengatakan Ali “keburu mati”?

.
Demikian juga dengan Imam Hasan dan Imam Husain as.!
Kaum Muslim Sunni benar-benar mengalami Krisis parah tentang riwayat/hadis dari jalur Ahlulbait as. Dan hal ini telah diakui oleh para ulama mereka!

Dimanakah, fatwa-fatwa dan aqdhiyah (keputusan-keputusan hukum) yang ditetapkan Imam Ali as. di masa kekhalifahannya?

Untuk sekedar menambah wawasan ada baiknya bila Anda membaca buku karya Sayyid Syarafuddin al Musawi berjudul “Abu Hurairah” yang dalam edisi bahasa Indonesia berjudul; “Menggugat Abu Hurairah” (Bagi Anda tidak perlu menggugat, cukup merenungkan, meneliti dan selanjutnya terserah Anda) Penulisnya bermazhab Syi’ah, tapi apa salahnya kita juga membacanya.

الحكمةُ ضالَّةُ المؤمن

Mutiara hikmah itu adala dambaan seorang mukmin.

Dan buku “Dua Pusaka Nabi saw”. karya Ali Umar Al Habsyi.