Penulis: syiahali

syiah tidak sesat

Mengaku Pengikut Salaf; Wahabi Anti Takwil Padahal Salaf Shalih Melakukan Takwil

Mengaku Pengikut Salaf; Wahabi Anti Takwil Padahal Salaf Shalih Melakukan Takwil

Untuk Membungkam Wahabi Yang Anti Takwil (Bag. 1). Mohon Disebarluaskan..!

Kitab ini “as-Saif ash-Shaqil Fi ar-Radd ‘Ala ibn Zafil” adalah karya al-Imam al-Hafizh Taqiyyuddin as-Subki (756 H); Ulama terkemuka dalam madzhab Syafi’i . Isinya dari a sampe z membantah aqidah sesat Ibn Qayyim (murid Ibn Taimiyah). Guru dan murid ini sama-sama berakidah tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya); mengatakan Allah duduk di atas arsy
.
Na’udzu Billah!!! Ibn Zafil yang dimaksud dalam kitab di atas adalah Ibn Qayyim.

(1)

Terjemah 1:
al-Bayhaqi telah mengutip dalam kitab Manaqib Ahmad dari pemimpin ulama madzhab Hanbali –yang juga putra dari pimpinan ulama madzhab Hanbali–;
yaitu Imam Abu al-Fadl at-Tamimi, bahwa beliau (Abu al-Fadl) berkata: “Imam Ahmad sangat mengingkari terhadap orang yang mengatakan bahwa Allah sebagai benda (jism). Dan ia (Imam Ahmad) mengatakan bahwa nama-nama Allah itu diambil dari tuntunan syari’at dan dengan dasar bahasa. Sementara para ahli bahasa mengatakan bahwa definisi “jism” (benda) hanya berlaku bagi sesuatu yang memiliki panjang, lebar, volume, susunan, bentuk, (artinya yang memiliki dimensi), padahal Allah Maha Suci dari pada itu semua. Dengan demikian Dia (Allah) tidak boleh dinamakan dengan “jism” (benda), karena Dia Maha Suci dari makna-makna kebendaan, dan penyebutan “jism” pada hak Allah tidak pernah ada di dalam syari’at; maka itu adalah sesuatu yang batil”.
(2)
Terjemah 2:
al-Bayhaqi dalam kitab Manaqib Ahmad berkata: “Telah mengkabarkan kepada kami al-Hakim, berkata: Mengkabarkan kepada kami Abu Amr ibn as-Sammak, berkata: Mengkabarkan kepada kami Hanbal ibn Ishak, berkata: Aku telah mendengar pamanku Abu Abdillah (Ahmad ibn Hanbal) berkata: ”Mereka (kaum Mu’tazilah) mengambil dalil dalam perdebatan denganku, –ketika itu di istana Amîr al-Mu’minîn–, mereka berkata bahwa di hari kiamat surat al-Baqarah akan datang, demikian pula surat Tabarak akan datang. Aku katakan kepada mereka bahwa yang akan datang itu adalah pahala dari bacaan surat-surat tersebut
.
Dalam makna firman Allah “Wa Ja’a Rabbuka” (QS. al-Fajr 23), bukan berarti Allah datang, tapi yang dimaksud adalah datangnya kekuasaan Allah. Karena sesungguhnya kandungan al-Qur’an itu adalah pelajaran-pelajaran dan nasehat-nasehat”. Dalam peristiwa ini terdapat penjelasan bahwa al-Imâm Ahmad tidak meyakini makna “al-Majî’” (dalam QS. al-Fajr di atas) dalam makna Allah datang dari suatu tempat.
Demikian pula beliau tidak meyakini makna “an-Nuzûl” pada hak Allah yang (disebutkan dalam hadits) dalam pengertian turun pindah dari satu tempat ke tempat yang lain seperti pindah dan turunnya benda-benda
.
Tapi yang dimaksud dari itu semua itu versi  sunni adalah untuk mengungkapkan dari datangnya tanda-tanda kekuasaan Allah, karena mereka (kaum Mu’tazilah) berpendapat bahwa al-Qur’an jika benar sebagai Kalam Allah dan merupakan salah satu dari sifat-sifat Dzat-Nya, maka tidak boleh makna al-Majî’ diartikan dengan datangnya Allah dari suatu tempat ke tampat lain. Oleh karena itu al-Imâm Ahmad menjawab pendapat kaum Mu’tazilah dengan mengatakan bahwa yang dimaksud adalah datangnya pahala bacaan dari surat-surat al-Qur’an tersebut. Artinya pahala bacaan al-Qur’an itulah yang akan datang dan nampak pada saat kiamat itu”
.
Tambahan:
Riwayat al-Bayhaqi di atas juga telah dikutip oleh Ibn Katsir dalam kitab al-Bidâyah Wa al-Nihâyah, j. 10, h. 327) dengan redaksi berikut:
“al-Bayhaqi dalam Kitab Manaqib Ahmad meriwayatkan dari al-Hakim dari Abu Amr as-Sammak dari Hanbal, bahwa al-Imâm Ahmad ibn Hanbal telah mentakwil firman Allah: “Wa ja’a Rabbuka” (QS. al-Fajr: 23) bahwa yang dimaksud ”Jâ’a” bukan berarti Allah datang dari suatu tempat, tapi yang dimaksud adalah datangnya pahala yang dikerjakan dengan ikhlas karena Allah. Tentang kualitas riwayat ini al-Bayhaqi berkata: “Kebenaran sanad riwayat ini tidak memiliki cacat sedikitpun”
.
Dari penjelasan di atas terdapat bukti kuat bahwa al-Imâm Ahmad memaknai ayat-ayat tentang sifat-sifat Allah, juga hadits-hadits tentang sifat-sifat Allah, tidak dalam pengertian zhahirnya
.
Karena pengertian zhahir teks-teks tersebut seakan Allah ada dengan memiliki tempat dan kemudian berpindah-pindah, juga seakan Allah bergerak, diam, dan turun dari atas ke bawah, padahal jelas ini semua mustahil atas Allah. Hal ini berbeda dengan pendapat Ibn Taimiyah dan para pengikutnya (kaum Wahhabiyyah), mereka menetapkan adanya tempat bagi Allah, juga mengatakan bahwa Allah memiliki sifat-sifat tubuh, hanya saja untuk mengelabui orang-orang awam mereka mengungkapkan kata-kata yang seakan bahwa Allah Maha Suci dari itu semua, kadang mereka biasa berkata “Bilâ Kayf…(Sifat-sifat Allah tersebut jangan ditanyakan bagaimana?)”, kadang pula mereka berkata “’Alâ Mâ Yalîqu Billâh… (Bahwa sifat-sifat tersebut adalah sifat-sifat yang sesuai bagi keagungan Allah)
.
Kita katakan kepada mereka: ”Andaikan al-Imâm Ahmad berkeyakinanbahwa Allah bergerak, diam, pindah dari satu tempat ke tempat yang lain, maka beliau akan memaknai ayat-ayat tersebut dalam makna zhahirnya, juga beliau akan akan memahami makna al-Majî’ dalam makna datang dari suatu tempat atau datang dari arah atas ke arah bawah seperti datangnya para Malaikat. Namun sama sekali al-Imâm Ahmad tidak mengatakan demikian”
.
Penting Untuk Membungkam Wahabi:

Kita katakan: “Wahai Wahabi, kalian anti takwil, kalian mengatakan: “al-Mu’awwil Mu’aththil” (orang yang melakukan takwil maka ia telah mengingkari al-Qur’an), lalu apa yang hendak kalian katakan terhadap Imam Ahmad yang telah melakukan takwil sebagaimana dalam riwayat di atas, –yang bahkan diriwayatkan oleh Ibn Katsir; salah seorang rujukan utama kalian? Mau lari ke mana kalian! Apakah kalian hendak mengatakan Imam Ahmad sesat? Sungguh  yang sesat itu adalah kalian sendiri…

Kalian Para Wahabi yang telah mengotori Madzhab Hanbali…!

Syi’ah benar

Sunni salah

Yang dimaksud dengan Ulil Amri dalam ayat An-Nisā 59 adalah Ali dan para imam ma’shum as dari keturunan beliau

Tafsir Surat An-Nisa Ayat 59 & ar-Ra’d Ayat 7

 Asbabun Nuzul An-Nisā`:59 & Ar-Ra’d:7
.
1. Asbabun Nuzul Surah An-Nisā`:59, tentang Perintah Menaati Ulil Amr
“Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah, taatlah kepada Rasul dan Ulil Amr (yang berasal dari) dirimu”
.
Yang dimaksud dengan Ulil Amr dalam ayat di atas adalah Ali dan para imam ma’shum as dari keturunan beliau
.
Silahkan rujuk:
1.Yanābī’ul Mawaddah, karya Syeikh Sulaiman Al-Qundusi Al-Hanafi, hal. 134 dan 137, cetakan Al-Haidariyah; hal. 114 dan 117, cetakan Islambul.
2.Syawāhidut Tanzīl, karya Al-Hakim Al-Haskani Al-Hanafi, juz 1, hal. 148, hadis ke 202, 203 dan 204.
3.Tafsir Ar-Razi, juz 3, hal. 357.
4.Ihqāqul Haqq, karya At-Tustari, juz 3, hal. 424, cetakan pertama, Tehran.
5.Farā`idus Simthain juz 1 hal. 314, hadis ke 250.2. Asbabun Nuzul Surah Ar-Ra’d:7, tentang “Mundzir dan Pemandu Kepada Kebenaran”
“Sesungguhnya engkau hanyalah seorang pemberi peringatan (mundzir), dan setiap kaum (pasti memiliki) seorang pemberi petunjuk”

Yang dimaksud dengan “penunjuk jalan” dalam ayat di atas adalah Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as

Ibnu abbas meriwayatkan bahwa ketika ayat ini turun Rasulullah SAWW meletakkan tangan di atas dadanya sambil bersabda: “Aku adalah mundzir”. Dan ketika membaca: “Wa li kulli qaumin hād”, beliau menunjuk ke arah Imam Ali as seraya bersabda: “Wahai Ali, kamu adalah pemberi petunjuk itu, dan orang-orang yang mendapatkan petunjuk setelah aku (wafat), mereka mendapatkannya melalui (petunjukmu)”.

Hadis ini dan hadis-hadis lain yang searti dengannya dapat dilihat di dalam buku-buku referensi berikut:
1.Tafsir Ath-Thabari, juz 13, hal. 72 dan 108.
2.Tafsir An-Naisaburi (catatan pinggir) Tafsir Jāmi’ul Bayān, juz 13, hal. 78.
3.Tafsir Fathul Qadīr, karya Asy-Syaukani, tentang ayat ini.
4.Tafsir Fakhrur Razi, juz 5, hal. 271, cetakan Dar At-Thaba’ah Al-‘Amirah, Mesir; juz 3, hal. 14, cetakan yang lain.
5.Tafsir Ibnu Katsir, juz 2, hal. 502.
6.Ad-Durrul Mantsūr, karya As-Suyuthi, juz 4, hal. 45.
7.Syawāhidut Tanzīl, karya Al-Hakim Al-Haskani, tentang ayat ini.
8.Manāqib Ibnu Syahra-asyub, juz 2, hal. 280.
9.Nūrul Abshār, Asy-Syablanji hal. 71, cetakan Al-‘Utsmaniyah; hal. 71, cetakan As-Sa’idiyah, Mesir.
10.Tarjamah Al-Imam Ali bin abu Thalib dalam Tarikh Dimasyq, karya oleh Ibnu Asakir Asy-Syafi’i, juz 2, hal. 415, hadis ke: 913, 914, 915, 916.
11.Mustadrak Al-Hakim, juz 3, hal. 129-130.
12.Yanābī’ul Mawaddah, karya Al-Qundusi Al-Hanafi, hal. 115-121, cetakan Al-Haidariyah: hal. 99 dan 104, cetakan Islambul.
13.Rūhul Ma’āni, karya Al-Alusi, juz 13, hal. 97.
14.Zādul Mashīr, Ibnu Jauzi Al-Hanbali, juz 4, hal. 307.
15.Fathul Bayān, karya Shiddiq Hasan Khan, juz 5, hal. 75.
16.Ihqāqul Haqq, karya At-Tustari, juz 3, hal. 77-93.
17.Fadhā`ilul Khamsah minas Shihāhis Sittah, juz 1, hal. 266.
18.Farā`idus Simthain, juz 1, hal. 148.

Khalid bin walid pula yang membakar Bani Salim hidup-hidup di zaman Abu Bakar

Mengapa saudara-saudara keberatan bila seorang muslim yang salih, yang tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh orang yang tidak berdosa, yang menjalankan perintah Allah dan menjauhi laranganNya disebut terjaga dari dosa? Apakah saudar-saudara menganut paham dosa warisan atau ‘original sin’?
.
Apalagi Allah berfirman:
“Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan (segala) kenistaan dari padamu,hai Ahlul Bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab: 33)
.
Yang dimaksud Al-Qur’an adalah ‘Ali, Fathimah, Hasan dan Husain. Ahlussunah pun percaya bahwa semua sahabat adil, dan semua tindakan mereka adalah ijtihad. Dan tindakan mereka mendapat pahala termasuk diantaranya sahabat yang melaksanakan pembunuhan berdarah dingin, pezinah, pemabuk, pembohong, pembakar orang hidup-hidup atau memerangi Imam zamannya dan perbuatan-perbuatan yang tidak terlukiskan dengan kata-kata
.
Ada juga kisah Khalid bin walid yang memenggal kepala Malik bin Nuwairah1 dan memperkosa istri Malik yang cantik malam itu juga. Ia menggunakan kepala Malik sebagai tungku
.
Ini bukan tuduhan kaum Syi’ah, tetapi catatan sejarawan Sunni! Umar bin Khattab menyebut Khalid bin Walid sebagai pembunuh dan pezinah yang harus dirajam. Abu Bakar menyatakan bahwa Khalid hanya sekedar salah ijtihad, dan menamakannya ‘syaifullah’ atau pedang Allah. “Aku tidak akan menyarungkan pedang yang telah dihunus Allah untuk memerangi musuhmusuhNya.”, kata Abu Bakar
.
Khalid pula yang membakar Bani Salim hidup-hidup di zaman Abu Bakar. Umar mengingatkan Abu Bakar, dengan membawa hadits Rasulullah SAWW bahwa tidak boleh menghukum dengan hukuman yang hanya Allah boleh melakukannya. Dan Abu Bakar mengatakan, seperti diatas “Aku tidak akan menyarungkan pedang yang telah dihunus Allah untuk memerangi musuh-musuhNya.” Banyak pula ulah Khalid yang lain, yang oleh ‘Abdurrahman bin ‘Auf dikatakan sebagai perbuatan jahiliyah, yaitu tatkala ia membunuh Bani Jazimah secara berdarah dingin
.
Baca buku-buku yang berada dalam lemari saudara-saudara. Sekali lagi, tuduhan ini disampaikan oleh Umar bin Khattab, Ibnu Umar dan Abu Darda’. Kedua sahabat terakhir ini, ikut dalam pasukan Khalid dan membuat penyaksian. Peristiwa inilah yang melahirkan adagium di kemudian hari bawah semua sahabat itu adil dan tiap tindakan mereka merupakan ijtihad dan kalau benar mereka dapat dua pahala, kalau salah satu pahala
.
Pantaslah kalau Mu’awiyah yang meracuni Hasan, cucu Rasulullah, atau ‘Abdullah bin Zubair yang hendak membakar Ahlul Bait di gua ‘Arim atau Yazid yang membantai cucu Rasulullah, Husain dan keluarganya di Karbala, mengatakan bahwa mereka hanya menjalankan ‘sunnah’ atau contoh para sahabat sebelumnya
.
Umar memecat Khalid bin Walid –yang oleh sejarawan disebut sebagai shahibul khumur, pemabuk– tatkala Umar menggantikan Abu Bakar dikemudian hari. Apakah orang Syi’ah harus mengangkat mereka sebagai Imam? Sebab memiliki Imam, wajib hukumnya? Bukankah Rasulullah SAWW bersabda: “Barangsiapa tidak mengenal Imam zamannya, ia mati dalam keadaan jahiliyah.”? Dan hadits yang mengatakan bahwa sepeninggal Rasulullah SAWW ada 12 Imam, yang semuanya dari keturunan Quraisy. Bacalah hadits-hadits shahih enam seperti Bukhari dan Muslim!
.
Mengkritik akidah mazhab lain tidak boleh berdasarkan prasangka dan sinisme. Hormatilah akidah mereka. Benarlah kata orang, “Jangan melempar rumah orang lain bila rumah Anda terbuat dari kaca.” Bacalah buku sejarah. Bukan ‘asal ngomonng’. Bukan zamannya lagi berbohong dengan ayatayat dan hadits, sebab umat sekarang sudah banyak yang pandai.

Khalid bin walid yang memenggal kepala Malik bin Nuwairah dan memperkosa istri Malik yang cantik malam itu juga. Ia menggunakan kepala Malik sebagai tungku.

Ibnu Hisyam, Sirah, jilid 2, hlm. 283; Bacalah Ibnu Hisyam, Sirah, jilid 4, hlm. 53-57; Ibnu Sa’d, Thabaqat, hlm. 659, Bukhari dalam Kitab al-Maghazi, bab pengiriman Khalid ke Banu Jadzimah, Tarikh Abu’l-Fida’, jilid 1, hlm. 145, UsduI-Ghabah jilid 3, hlm. 102; al-Ishabah, jilid 1, hlm. 318; jilid 2, hlm. 81  ‘Rasul mengirim pasukan ke daerah sekitar Makkah untuk mengajak mereka ke dalam Islam: beliau tidak memerintahkan mereka. untuk bertempur. Di antara yang dikirim adalah Khalid bin Walid yang diperintahkannya ke kawasan datar sekitar perbukitan Makkah sebagai misionaris; ia tidak memerintahkan mereka bertempur’. Mulanya klan Jadzimah, penghuni wilayah itu ragu, tetapi Khalid mengatakan: ‘Letakkan senjata kerana setiap orang telah menerima Islam’. Ada pertukaran kata kerana curiga akan Khalid, tetapi seorang anggota suku itu berkata: ‘Apakah Anda akan menumpahkan darah kami? Semua telah memeluk Islam dan meletakkan senjata. Perang telah usai dan semua orang aman’. Begitu mereka meletakkan senjata, Khalid memerintahkan tangan mereka diikat ke belakang dan memancung leher mereka dengan pedangnya sampai sejumlah orang mati. Ketika berita ini sampai kepada Rasul, ia menyuruh Ali ke sana dan menyelidiki hal itu dan ‘memerintahkan agar menghapus semua praktek jahiliah’. Ali berangkat membawa wang, yang dipinjam Rasul dari beberapa saudagar Makkah untuk membayar tebusan darah dan kerugian lain, termasuk sebuah wadah makan anjing yang rusak. Ketika semua lunas dan masih ada wang sisa, Ali menanyakan apakah masih ada yang belum dihitung; mereka menjawab tidak. Ali memberikan semua sisa wang sebagai hadiah, atas nama Rasul. Ketika Ali kembali melapor, Rasul yang sedang berada di Ka’bah, menghadap Kiblat dan menadahkan tangannya tinggi ke atas sampai ketiaknya tampak, seraya berseru: ‘Ya Allah! Saya tak bersalah atas apa yang dilakukan Khalid’, sampai tiga kali. Abdurrahman bin ‘Auf mengatakan kepada Khalid: ‘Anda telah melakukan perbuatan jahiliah di dalam Islam’.

lalu………..

Ibn Hajar, al-Isabah, III, hlm.336 Demikian juga pendirian Umar terhadap Khalid bin al-Walid mengenai jenayahnya yang besar terhadap Malik bin Nuwairah, isterinya dan kaumnya.

Umar bin Khattab dan Ali meminta Khalifah Abu Bakar supaya mengenakan hukum hudud ke atas Khalid bin al-Walid kerana memperkosa isteri Malik bin Nuwairah . Tetapi Abu Bakar enggan berbuat demikian.

lalu…

Al-Ashabah, jilid 2, hlm. 209; Ibnu ‘Asakir, Tarikh, jilid 5, hlm. 30; Khazanah al-Adab jilid 2, hlm. 8: Khalid al-Walid dan asistennya Dhirar bin Azwar setelah jadi Muslim tetap minum minuman keras, syarib al-khumur, berzina dan membuat maksiat, shahib al-fujur.

Ibid (rujukan seperti di atas): Orang mengetahui dendam Khalid pada keluarga Banu Jadzimah sebelum Islam. Terlihat jelas bahwa dendam pribadi di kalangan kaum Quraisy sangat kuat dan berlangsung lama seperti sering dikatakan Umar bin Khaththab. Perintah Rasul Allah kepada Ali untuk menyelesaikan masalah Banu Jadzimah agaknya membekas pada Khalid bin Walid. Tatkala ia berada di bawah komando Ali berperang melawan Bani Zubaidah di Yaman, ia mengirim surat kepada Rasul Allah melalui Buraidah, yang mengadukan tindakan Ali mengambil seorang tawanan untuk dirinya sendiri. Wajah Rasul berubah kerana marah dan Buraidah memohon maaf kepad Rasul dan menyatakan bahwa ia hanya menjalankan tugas. Rasul Allah lalu bersabda: “Janganlah kamu mencela Ali, sebab dia adalah bagian dari diriku dan aku pun adalah bagian dari dirinya. Dan dia adalah wali, pemimpin, setelah aku”. Lalu beliau mengulangi lagi: “Dia adalah hagian dari diriku dan aku pun adalah bagian dari dirinya. Dan dia adalah wali, pemimpin, setelah aku” (Sila rujuk juga: Hadits ini berasal dari ‘Abdullah bin Buraidah. Lihat Imam Ahmad, Musnad, jilid 5, hlm. 347).

padahal…

Nasa’i, al-Khasha’ish al-’Alawiyah’ hlm. 17. Hadits ini diriwayatkan juga oleh Ibnu Jarir, Thabrani dan lain-lain: Dalam versi yang sedikit berbeza Nasa’i meriwayatkan bahwa Rasul Allah bersabda: “Hai Buraidah, jangan kamu coba mempengaruhiku membenci Ali, kerana Ali adalah sama denganku dan aku sama dengan Ali. Dan dia adalah walimu sesudahku”

lalu…

Thabari, Tarikh, jilid 3, hlm. 254; Tarikh al-Khamis, jilid 3, hlm. 343. Tatkala Abu Bakar mengingatkan akan kebiasaannya (Khalid al-Walid), ‘main perempuan’ dan dosanya membunuh 1100 (seribu seratus) kaum Muslimin secara berdarah dingin, ia hanya bersungut dan mengatakan bahwa Umarlah yang menulis surat itu’.

Lihat Tafsir al-Qurthubi jilid 14, hlm. 228; Faidh al-Qadir, jilid,4, hlm. 290; Tafsir Ibnu Katsir, jilid 3, hlm. 506; Tafsir Baqawi jilid 5, hlm. 225; Ibn Abil Hadid, Syarh Nahju’l-Balaghah, jilid 1, hlm. 185, 186, jilid 12, hlm. 259 dan lain-lain

.

Khalid bin walid membunuh

Malik bin Nuwairah

pengumpul zakat Nabi Saw

hanya karena ingin

memperkosa isteri

Malik

yang cantik jelita

bernama UMMU

TAMiM

Cerita ini diangkat berdasarkan apa yang dicatat oleh Tabari dalam Tarikhnya ketika Umar berkata keras kepada Khalid :”Kamu telah membunuh seorang Muslim kemudian kamu memperkosa isterinya. Demi Allah aku akan merajam kamu dengan batu.”[Al-Tabari,Tarikh ,IV, hlm.1928]

Kata-kata Umar ini cukup membuktikan bahwa Malik bin Nuwairah adalah seorang Muslim dan Khalid telah menzinai (memperkosa) isteri Malik setelah membunuh suaminya terlebih dahulu. Jika tidak kenapa Umar berkata:”Demi Allah aku akan merajam kamu dengan batu.”

Dan juga tercatat dalam al-Isabah bahwa Khalifah Abu Bakar tidak mengenakan hukum hudud ke atas Khalid bin al-Walid yang telah membunuh Malik bin Nuwairah dan kabilahnya. Umar dan Ali a.s. menuntut supaya Khalid dihukum rajam.[Ibn Hajr, al-Isabah , III, hlm.336]

Umar memahami bahwa isteri Malik bin Nuwairah tidak boleh dijadikan hamba (budak). Oleh karena itu pembunuhan atas Malik bin Nuwairah dan kaumnya tidak patut dilakukan karena mereka adalah Muslim. Keengganan mereka membayar zakat kepada Abu Bakar tidak boleh menjadi hujah terhadap kemurtadan mereka.

Alasan pembunuhan ke atas mereka disebabkan salah faham mengenai perkataan ‘idfi’u, yang menurut suku Kinanah berarti “bunuh” dan dalam bahasa Arab biasa ia berarti “panaskan mereka dengan pakaian” dan tidak menghalalkan darah mereka oleh para pembela fanatik tidak dapat diterima karena jika tidak mengerti sepatutnya mereka merujuk perkara itu kepada Khalid untuk mengetahui maksud yang sebenarnya.

Mereka membunuh Malik dan kaumnya dengan licik dan Malik sendiri telah dibunuh oleh Dhirar yang bukan dari suku Kinanah. Dan Dhirar pasti memahami bahwa perkataaan idfi’u bukanlah perkataan untuk mengharuskan pembunuhan, namun ia tetap membunuh Malik. Karena itu alasan kekeliruan yang terjadi dalam pembunuhan tersebut tidak bisa dijadikan hujah dalam perbuatan jahat Khalid, apalagi perkosaannya terhadap isteri Malik bin Nuwairah setelah membunuh suaminya.

Dengan itu tidak heranlah jika Ali as dan Umar meminta Khalifah Abu Bakar supaya merajam Khalid, tetapi Abu Bakar segan melakukannya malah memberinya gelar ”Pedang Allah yang terhunus”.

Jika tidak membayar zakat djadikan alasan serangan dan pembunuhan, Tidakah Nabi Saw sendiri tidak memerangi sahabatnya Tha’labah yang enggan membayar zakat kepada beliau Saw, dan Allah SWT telah menurunkan peristiwa ini di dalam Surah al-Taubah(9):75-77.

Semua ahli tafsir Ahlul Sunnah menyatakan bahwa ayat itu diturunkan mengenai Tha’labah yang enggan membayar zakat karena beranggapan bahwa itu adalah jizyah bukan zakat. Maka Allah Swt menjelaskan hakikatnya.

Dan Nabi Saww tidak memeranginya dan tidak pula merampas hartanya sedangkan beliau Saw mampu melakukannya. Adapun Malik bin Nuwairah dan kaumnya bukanlah mengingkari zakat sebagai satu fardhu agama.

Tetapi apa yang mereka ingkar adalah penguasaan Abu Bakar atas jabatan khalifah selepas Rasulullah Saw dengan menggunakan kekuatan dan paksaan. Dan mereka pula benar-benar mengetahui tentang hadis al-Ghadir.

Oleh karena itu tidak heranlah jika Abu Bakar terus mempertahankan Khalid tanpa memparhitungkan perbuatan jahat yang dilakukannya terhadap Muslimin karena Khalid telah melakukan sesuatu untuk kepentingan politik dan dirinya. Malah itulah perintahnya di bawah operasi “tidak membayar zakat dan murtad” sekalipun itu bertentangan dengan Sunah Nabi Saww

.

Mengapa saudara-saudara keberatan bila seorang muslim yang salih, yang tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh orang yang tidak berdosa, yang menjalankan perintah Allah dan menjauhi laranganNya disebut terjaga dari dosa? Apakah saudar-saudara menganut paham dosa warisan atau ‘original sin’?
.
Apalagi Allah berfirman:
“Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan (segala) kenistaan dari padamu,hai Ahlul Bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab: 33)
.
Yang dimaksud Al-Qur’an adalah ‘Ali, Fathimah, Hasan dan Husain. Ahlussunah pun percaya bahwa semua sahabat adil, dan semua tindakan mereka adalah ijtihad. Dan tindakan mereka mendapat pahala termasuk diantaranya sahabat yang melaksanakan pembunuhan berdarah dingin, pezinah, pemabuk, pembohong, pembakar orang hidup-hidup atau memerangi Imam zamannya dan perbuatan-perbuatan yang tidak terlukiskan dengan kata-kata
.
Ada juga kisah Khalid bin walid yang memenggal kepala Malik bin Nuwairah1 dan memperkosa istri Malik yang cantik malam itu juga. Ia menggunakan kepala Malik sebagai tungku
.
Ini bukan tuduhan kaum Syi’ah, tetapi catatan sejarawan Sunni! Umar bin Khattab menyebut Khalid bin Walid sebagai pembunuh dan pezinah yang harus dirajam. Abu Bakar menyatakan bahwa Khalid hanya sekedar salah ijtihad, dan menamakannya ‘syaifullah’ atau pedang Allah. “Aku tidak akan menyarungkan pedang yang telah dihunus Allah untuk memerangi musuhmusuhNya.”, kata Abu Bakar
.
Khalid pula yang membakar Bani Salim hidup-hidup di zaman Abu Bakar. Umar mengingatkan Abu Bakar, dengan membawa hadits Rasulullah SAWW bahwa tidak boleh menghukum dengan hukuman yang hanya Allah boleh melakukannya. Dan Abu Bakar mengatakan, seperti diatas “Aku tidak akan menyarungkan pedang yang telah dihunus Allah untuk memerangi musuh-musuhNya.” Banyak pula ulah Khalid yang lain, yang oleh ‘Abdurrahman bin ‘Auf dikatakan sebagai perbuatan jahiliyah, yaitu tatkala ia membunuh Bani Jazimah secara berdarah dingin
.
Baca buku-buku yang berada dalam lemari saudara-saudara. Sekali lagi, tuduhan ini disampaikan oleh Umar bin Khattab, Ibnu Umar dan Abu Darda’. Kedua sahabat terakhir ini, ikut dalam pasukan Khalid dan membuat penyaksian. Peristiwa inilah yang melahirkan adagium di kemudian hari bawah semua sahabat itu adil dan tiap tindakan mereka merupakan ijtihad dan kalau benar mereka dapat dua pahala, kalau salah satu pahala
.
Pantaslah kalau Mu’awiyah yang meracuni Hasan, cucu Rasulullah, atau ‘Abdullah bin Zubair yang hendak membakar Ahlul Bait di gua ‘Arim atau Yazid yang membantai cucu Rasulullah, Husain dan keluarganya di Karbala, mengatakan bahwa mereka hanya menjalankan ‘sunnah’ atau contoh para sahabat sebelumnya
.
Umar memecat Khalid bin Walid –yang oleh sejarawan disebut sebagai shahibul khumur, pemabuk– tatkala Umar menggantikan Abu Bakar dikemudian hari. Apakah orang Syi’ah harus mengangkat mereka sebagai Imam? Sebab memiliki Imam, wajib hukumnya? Bukankah Rasulullah SAWW bersabda: “Barangsiapa tidak mengenal Imam zamannya, ia mati dalam keadaan jahiliyah.”? Dan hadits yang mengatakan bahwa sepeninggal Rasulullah SAWW ada 12 Imam, yang semuanya dari keturunan Quraisy. Bacalah hadits-hadits shahih enam seperti Bukhari dan Muslim!
.
Mengkritik akidah mazhab lain tidak boleh berdasarkan prasangka dan sinisme. Hormatilah akidah mereka. Benarlah kata orang, “Jangan melempar rumah orang lain bila rumah Anda terbuat dari kaca.” Bacalah buku sejarah. Bukan ‘asal ngomonng’. Bukan zamannya lagi berbohong dengan ayatayat dan hadits, sebab umat sekarang sudah banyak yang pandai
.

Ahli-ahli sejarah kita dengan gamblang menggambarkan ulah beberapa sahabat tersebut.Ada kisah Khalid bin walid yang memenggal kepala Malik bin Nuwairah1 dan memperkosa istri Malik yang cantik malam itu juga. Ia menggunakan kepala Malik sebagai tungku.Ini bukan tuduhan, tetapi catatan sejarawan Sunni! Malik bin Nuwairah adalah sahabat pengumpul zakat yang ditunjuk Rasulullah SAWW, dan oleh Rasulullah SAWW dikatakan sebagai ahli surga

.

Abu Bakar menyatakan bahwa Khalid hanya sekedar salah ijtihad, dan menamakannya ‘syaifullah‘ atau pedang Allah… Khalid pula yang membakar Bani Salim hidup-hidup di zaman Abu Bakar ( padahal hadits Rasulullah SAWW bahwa tidak boleh menghukum dengan hukuman yang hanya Allah boleh melakukannya ), Banyak pula ulah Khalid yang lain, yang oleh ‘Abdurrahman bin ‘Auf dikatakan sebagai perbuatan jahiliyah, yaitu tatkala ia membunuh Bani Jazimah secara berdarah dingin.

.

Khalid bin Walid (Dialah pembunuh Malik bin Nuwairah bin Hamzah At-Tamimi pada peristiwa “Al-Bithah”, dan langsung memperkosa bekas istrinya, Ummu Tamim binti Al-Minhal, yang tergolong wanita tercantik di antara kaum wanita masa itu. Kemudian Khalid pulang kembali ke Madinah seraya menancapkan beberapa anak panah di surbannya. Melihat itu, Umar bin Khaththab r.a. segera mencabut dan mematahkannya, lalu berkata kepadanya (sebagaimana tercantum dalam Tarikh Ibn Atsir dan lainnya): “Engkau telah membunuh seorang Muslim, lalu engkau memperkosa istrinya! Demi Allah, akan kurajam engkau!”

Kemudian ia memberitahukan tentang masalah itu kepada Khalifah Abu Bakar (seperti yang tertera pada buku biografi Watsimah bin Musa, dalam kitab Wafay Al-A’yn karya Ibn Khalikan): “Khalid telah berzina, rajamlah ia!” Namun Abu Bakar menjawab: “Aku tidak akan merajamnya. Ia telah ‘bertakwil’ dan keliru dalam takwilnya itu.” Umar berkata lagi: “Dan ia juga telah membunuh seorang Muslim. Bunuhlah ia sebagai hukuman atas perbuatannya itu!”

Jawab Abu Bakar: “Tidak, aku tidak akan membunuhnya karena itu. Ia telah bertakwil dan keliru dalam takwilnya itu.”

Tetapi, Umar tetap mendesaknya sehingga ia (Abu Bakar) akhirnya berkata: “Bagaimana pun juga, aku tidak mau menyarungkan ‘pedang’ yang telah dihunus oleh Allah SWT.” Kemudian Abu Bakar membayar diyat (uang tebusan) untuk keluarga Malik dari Bayt Al-Mal dan Melepas kan semua tawanan dari keluarganya. Peristiwa ini tidak disangsikan lagi kebenarannya. Dan tidak pula disangsikan bahwa Khalid lah yang melakukannya

Peristiwa ini telah disebutkan oleh Muhammad bin Jarir Ath-Thabari dalam Tarikh-nya serta Ibn Atsir dalam Al-Kamil. Juga oleh Watsimah bin Musa bin Al-Furat serta Al-Waqidi dalam kedua kitab mereka, Saif bin Umar dalam kitab Ar-Riddah wa Al-Futuh, Zubair bin Bakkar dalam Al-Muwaffaqiyyat, Tsabit bin Qasim dalam Ad-Dalail, Ibn Hajar Al-’Asqallani (pada pasal tentang riwayat hidup Malik) dalam Al-Ishabah, Ibn Syahmah dalam kitab Raudhah Al- Manadzir, Abu Al-Fida’ dalam Al-Mukhtasar, dan masih banyak lagi dari penulis-penulis yang dahulu dan sekarang. Semuanya menyebutkan tentang sikap memaafkan dari Abu Bakar terhadap Khalid atas dasar bahwa ia telah “bertakwil dan keliru dalam penakwilannya.”

Ada peristiwa tentang Khalid yang terjadi pada masa hidup RasuluUah SAWW. Yaitu tatkala beliau SAWW mengutus Khalid  kepada suku Judzaimah untuk berdakwah, bukan untuk memerangi mereka. Sebelum itu –di zaman jahiliyah– suku Judzaimah tersebut pernah membunuh paman Khalid bernama Al-Fakih bin Mughirah. Maka segera setelah Khalid tiba di perkampungan mereka, ia memerintahkan: “Letakkan senjata kalian, sebab semua orang telah memeluk agama Idam.” Mereka pun segera meletakkan senjata mereka. Akan tetapi Khalid memerintahkan penangkapan atas mereka lalu membunuh sejumlah besar dari mereka. Ketika berita itu sampai kepada Nabi SAWW, beliau mengangkat tangan dan berdoa: “Ya Allah, aku berlepas tangan dari perbuatan Khalid! (Beliau mengulangi ucapannya ini, dua kali, sebagaimana tercantum dalam Shahih Al-Bukhari, jilid III, halaman 47, pada bab “Al-Maghazi: Pengutusan Khalid bin Walid ke suku Judzaimah)”

Sunni menuduh Nabi Bermuka Masam

Sunni  menuduh Nabi Bermuka Masam

Surah ke 80 (Abasa): Dengan nama Allah Maha Pengasih Maha Penyayang Dia (seorang pemimpin Bani Umayah tertentu) bermuka masam dan berpaling (ketika ia sedang bersama Nabi), Karena telah datang seorang buta (Ibnu Ummi Maktum) kepadanya, Tahukah kamu mungkin ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa) Atau dia ingin mendapatkan pelajaran, sehingga pelajaran itu memberi rnanfaat kepadanya (orang buta)? Adapun orang yang merasa dirinya (pemimpin Bani Umayah) serba cukup, Maka kamu melayaninya? Padahal tiada (celaan) atasmu jika dia tidak membersihkan diri (beriman) Dan adapun orang yang datarvg kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran) Sedang ia takut (kepada Allah dalam hatinya) Maka kamu mengabaikannya. Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaranajaran Tuhan itu adalah satu peringatan.

Sebab turunnya surah ini merupakan peristiwa sejarah yang terjadi. Suatu ketika Nabi Muhammad SAW tengah bersama sejumlah orang kaya Quraisy dari suku Umayah, di antaranya Utsman bin Affan, yang belakangan menduduki tampuk kekhalifahan.

Ketika Rasulullah SAW tengah mengajari mereka, Abdullah bin Ummi Maktum, seorang buta dan termasuk salah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW, datang kepadanya. Nabi Muhammad SAW menyambutnya dengan penuh hormat dan memberikan tempat duduk yang paling dekat dengan dirinya. Bagaimanapun, Nabi tidak menjawab pertanyaan orang buta itu dengan segera mengingat ia berada di tengah-tengah pembicaraan dengan suku Quraisy.

Karena Abdullah miskin dan buta, para pembesar Quraisy merendahkannya dan mereka tidak suka penghormatan dan penghargaan yang ditujukan kepadanya oleh Nabi Muhammad SAW. Mereka juga tidak suka kehadiran orang buta di tengah-tengah mereka sendiri dan perkataannya yang menyela perbincangan mereka dengan Nabi Muhammad SAW. Akhirnya, salah seorang kaya dari Bani Umayah (yakni Utsman bin Affan) bermuka masam dan berpaling kepadanya. Perbuatan pembesar Quraisy ini tidak diridhai oleh Allah SWT dan pada gilirannya Dia menurunkan Surah Abasa (80) melalui malaikat Jibril di waktu yang sama. Surah ini memuji kedudukan Abdullah kendati ia papa dan buta.

Dan dalam ayat-ayat belakangan Allah ‘mengingatkan’ Nabi-Nya SAW bahwa mengajari seorang kafir tidaklah penting andai kata orang kafir itu tidak cenderung untuk menyucikan dirinya dan menyakiti seorang mukmin hanya karena ia tidak kaya dan sehat. Sekelompok mufasir Sunni yang bersama Nabi Muhammad SAW sepanjang standar aturan-aturan moral biasa menuduh beliau menghina Abdullah, dan dengan itu, mereka mencoba mengatakan bahwa beliau tidak bebas dari kelemahan karakter dan perilaku. Ini terjadi ketika orang yang menghina si miskin tadi adalah seorang kaya dari Bani Umayah yang masih non-Muslim, atau baru masuk Islam (yakni Utsman).

Namun sebagian orang demi membersihkan wajah Utsman dari perilaku buruk semacam itu tidak segan dan sungkan menuduh Nabi Muhammad SAW berbuat seperti itu (bermuka masam) dan mengritik Nabi Muhammad SAW demi membela Utsman. Ulangan peristiwa yang sama dilakukan oleh Umayah selama kekuasaan mereka melalui (lisan dan tulisan) para perawi bayaran. Terkenal dalam sejarah bahwa Umayah adalah musuh paling sengit terhadap keluarga Nabi Muhammad SAW dan Islam.

Seperti telah dikatakan, itu tidak sesuai bagi mereka dimana pemimpin mereka,Utsman, diperingatkan Quran. Demikianlah, para ulama yang bekerja untuk Umayah dipaksa menulis bahwa ayat ini diperintahkan untuk menegur Nabi Muhammad SAW, bukannya Utsman. Omong kosong semacam itu adalah untuk menjaga wibawa dan kehormatan Utsman dengan harga menghinakan Nabi Muhammad SAW sebagai penghulu para Nabi. Berikut ini merupakan mendapat sejumlah mufasir Sunni. Disebutkan bahwa ayat-ayat ini turun sekaitan dengan Abdullah bin Ummi Maktum, yakni Abdullah bin Syarih bin Malik bin Rabi’ah Fihri dari (kabilah) Bani Amir bin Luay.

Dia datang kepada Rasulullah SAW ketika beliau tengah mencoba memasukkan orang-orang ini kepada Islam Utbah bin Rabi’ah, Abu Jahal bin Hisyam, Abbas bin Abdul Muththalib, Ubay dan Umayah bin Khalaf. Orang buta itu berkata, “Wahai Rasulullah, bacakanlah kepadaku kepadaku dan ajari aku sesuatu yang Allah ajarkan kepadamu!” Dia terus menyeru Nabi dan mengulang-ulang permohonannya, tidak mengetahui bahwa Nabi Muhammad SAW tpngah sibuk menghadapi orang lain, sampai kegusaran tampak pada wajah Nabi karena disela.

Nabi Muhammad SAW berkata kepada dirinya sendirinya bahwa orang – orang (pembesar Quraisy) ini akan mengatakan bahwa para pengikutnya (Muhammad) hanyalah orang buta dan para budak, maka beliau berpaling darinya dan bersitatap dengan orang-orang yang ia ajak bicara. Maka ayat-ayat selanjutnya pun diturunkan. Setelah itu Rasulullah SAW pun bersikap baik kepadanya. Dan apabila ia memandang orang buta, ia biasa berkata, “Selamat datang orang yang kepadanya Tuhanku menegurku

karenanya!” Beliau biasa meminta Abdullah bin Ummi Maktum jika beliau membutuhkan sesuatu dan menjadikannya sebagai wakil di Madinah dua kali selama peperangan.

Tafsir Sunni di atas juga telah disebutkan dalam al-Durr al-Mantsur oleh Suyuthi, dengan sedikit perbedaan. Abul A’la Maududi seorang mufasir Quran lainnya memiliki pandangan yang lebih moderat. Berikut ini tafsirannya atas Surah Abasa ayat 17: Di sini kebinasaan telah diungkapkan secara langsung bagi orang-orang kafir yang tidak memperhatikan pesan kebenaran. Sebelum ini, dari permulaan surah hingga ayat 16, sesungguhnya ia ditujukan untuk menegur orang-orang kafir kendati seolah-olah ia ditujukan kepada Nabi Muhammad SAW.’ Bagaimanapun, faktanya adalah Quran tidak memberikan keterangan apapun bahwa orang yang bermuka masam kepada orang buta adalah Nabi Muhammad SAW dan juga tidak memastikan siapa yang dituju (oleh ayat tersebut).

Dalam ayat-ayat di atas Allah SWT tidak mengalamatkan kepada Nabi Muhammad SAW entah oleh nama atau julukannya (yakni wahai Muhammad, atau wahai Nabi, atau wahai Rasulullah). Lebih dari itu, terjadi perubahan kata benda dari `dia’ dalam dua ayat pertama kepada ‘engkau’ dalam ayat-ayat terakhir dalam surah tersebut. Allah tidak menyatakan, ‘Engkau bermuka masam dan berpaling’. Alih-alih, Yang Maha Kuasa menyatakan, Dia bermuka dan berpaling (ketika ia tengah bersama Nabi). Karena telah datang kepadanya seorang yang buta. Tahukah kamu bahwa ia (orang buta tersebut) ingin membersihkan dirinya dari dosa (QS. 80:1-3).

Kendatipun kita mengandaikan bahwa ‘engkau’ dalam ayat ke tiga tertuju kepada Nabi Muhammad SAW, maka nyatalah dari tiga ayat di atas bahwa kata-kata ‘dia’ (orangyang bermuka masam) dan ‘kamu’ tertuju pada dua orang yang berbeda. Dua ayat selanjutnya mendukung gagasan ini; Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya (QS. 80: 5-6).

Dengan demikian, orang yang bermuka masam bukanlah Nabi Muhammad SAW karena ada perbedaan antara `dia’ dan ‘kamu’. Dalam surah 80:6 Allah berfirman kepada Nabi-Nya SAW dengan mengatakan bahwa mendakwahi orang-orang yang sombong dari bangsa Quraisy yang bermuka masam kepada seorang buta tidaklah pantas dan tidaklah apaapa untuk lebih mendahulukan mendakwahi seorang yang buta, sekalipun orang buta datang belakangan. Alasannya, mendakwahi siapapun yang tidak bermaksud untuk menyucikan dirinya (sampai ke tingkat ia bermuka masam kepada seorang mukmin) tidaklah berguna.

Lebih dari itu, bermuka masam bukanlah perilaku yang berasal dari Nabi Muhammad SAW terhadap musuh-musuhnya yang nyata, apalagi (bermuka masam) terhadap orang beriman yang mencari petunjuk! Satu pertanyaan yang muncul adalah: Bagaimana bisa seorang Nabi Muhammad SAW yang diutus sebagai rahmat untuk umat manusia berbuat tidak senonoh ketika seorang mukmin awam tidak berbuat seperti itu? Dakwaan ini juga berlawanan dengan pujian Allah SWT sendiri atas moral luhur dan etika mulia dari Nabi Muhammad SAW, Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung (QS. al-Qalam 68 : 4).

Seseorang yang menghina orang lain tidaklah pantas menerima pujian semacam itu. Disepakati bahwa Surah Al-Qalam turun sebelum Surah Abasa. Ia bahkan diturunkan segera setelah Surah Iqra (96-surah pertama yang diwahyukan).

Bagaimana bisa masuk akal bahwa Allah SWT melimpahkan kebesaran pada makhluk-Nya di permulaan keNabiannya, menyatakan bahwa ia berada dalam budi pekerti yang agung, dan setelah itu balik menegur dan mengecamnya atas keraguan yang tampak pada tindakantindakan moralnya. Allah SWT berfiman, Dan berilah peringatan kepada kerabat kerabatmu yang terdekat, dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman (QS. as-Syu’ara : 214-5).

Masyhur diketahui bahwa ayat-ayat ini merupakan wahyu Mekkah awal. Katakata yang sama bisa ditemukan di ujung Surah al-Hijr ayat 88. Allah Yang Maha Mulia lebih jauh berfirman, Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu), dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik! (QS. 15:94).

Beliau diperintahkan untuk berpaling dari orang-orang musyrik dalam ayat ini yang diketahui telah diturunkan pada permulaan ‘seruan terbuka kepada Islam’ (setelah periode sembunyi-sembunyi). Bagaimana bisa dibayangkan bahwa setelah semua perintah ini, Rasul agung dan mulia berbuat salah dengan cara sedemikian yang akan membutuhkan pelarangan yang dinyatakan? Para mufasir Quran dari madrasah Ahlulbait lebih jauh menegaskan bahwa bahkan dalam pertanyaan ayat ketiga dan ke empat surah tersebut mengenai keraguan apakah Abdullah mendapatkan manfaat dengan berbicara dengan Nabi Muhammad SAW ataukah tidak, telah tertanam dalam minda orang yang belum memeluk Islam, dan tidak menyadari jiwa Islam.

Hal ini tidak pernah terdapat dalam minda Nabi Muhammad SAW yang telah diutus untuk mengajarkan keimanan kepada setiap orang dan semuanya, tanpa memandang kedudukan duniawi apapun. Itulah sebabnya mereka menyimpulkan bahwa kata ‘kamu’ dalam ayat ke tiga tetap tidak berlaku bagi Nabi Muhammad SAW.

Alih-alih ia berlaku bagi salah seorang yang hadir dari Umayah, dan bahwa tak satu pun dari ayat pertama surah ini (80:1- 4) tertuju kepada Nabi Muhammad SAW kendatipun ayat-ayat terakhir ditujukan kepada Nabi Muhammad SAW. Mereka yang memahami bahasa Quran dan membaca bahasa Arab Quran yang orisinal menyadari lompatan konstan antara gaya penulisan Quran orang pertama, kedua, dan ketiga.

Dalam banyak ayat Quran, Allah mengubah objek pembicara (sasaran) secara tajam, dan dengan sendirinya, adalah tidak selalu mudah untuk melukiskan siapakah yang dituju ketika nama sasaran pembicaraan tidak diungkapkan. Itulah sebabnya Nabi Muhammad SAW memerintahkan kita untuk merujuk pada Ahlulbait as dalam hal penafsiran ayat-ayat Quran karena mereka adalah ‘orang-orang yang mendalam ilmunya’ (QS. 3:7), ‘ahli zikir’ (QS. 16:43; 21:7), dan ‘orang-orang yang disucikan yang telah menyentuh pengertian al- Quran (lihat 56:79).

Diriwayatkan bahwa Imam Shadiq as berkata, “Ia diturunkan sekaitan dengan seorang lelaki dari Bani Umayah. Ia tengah berada di majelis Nabi Muhammad SAW, kemudian Ibnu Ummi Maktum datang. Ketika ia melihat Ibnu Ummi Maktum ia merasa kesal kepadanya, bermuka masam, dan berpaling darinya. Maka Allah SWT mengatakan apa yang Dia sebut sebagai ketidak sukaan atas perbuatannya.” Demikian juga dikatakan bahwa Imam Shadiq as berkata, “Setiap kali Rasulullah SAW melihat Abdullah bin Ummi Maktum, beliau berkata, ‘ Selamat datang, selamat datang, demi Allah, engkau tidak akan mendapati Allah menegurku terhadapmu’ (80:5- 11), ini karena rasa malu.” Dalam tafsir Sayid Syubbar dilaporkan dari Qummi bahwa ayat tersebut diturunkan tentang Utsman dan Ibnu Ummu Maktum, seorang yang buta.

Ia datang kepada Rasulullah SAW ketika beliau sedang bersama para sahabat. Di saat itu, ada Utsman. Rasulullah SAW mengenalkannya kepada Utsman, dan Utsman bermuka masam dan memalingkan wajahnya darinya. Allah Yang Maha Kuasa berfirman dalam Quran tentang Nabi Muhammad SAW,…dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah hanyalah wahyu yang diturunkan kepadanya (QS. 53: 3-4).

Maka bagaimana bisa Nabi Muhammad SAW mengatakan sesuatu v.-ang menyerang jika ucapan-ucapannya adalah wahyu atau ilham? Nabi Muhammad SAW tidak berbicara berdasarkan keinginan sendirinya. Secara menarik, kaum Sunni membenarkan bahwa Surah Abasa diturunkan segera setelah Surah an-Najm dimana ia menyatakan Nabi Muhammad SAW tidak berbicara karena keinginannya sendiri.

Juga dalam Surah al-Ahzab ayat 33 membenarkan bahwa Ahlulbait itu suci tidak berdosa. Kita semua mafhum bahwa keutamaan Nabi lebih tinggi ketimbang keutamaan keluarganya. Beliau juga terhitung sebagai Ahlulbait. Lantas, bagaimana mungkin ia menyakiti hati seorang mukmin namun tetap menjaga kesucian secara sempurna ? Perhatikan juga firman Allah berikut! Padahal tiada (celaan) atasmu (untuk mengajari kepala kabilah yang sombong) jika dia tidak membersihkan diri (beriman) (QS. Abasa : 7).

Hal di atas tidak berarti bahwa apa yang dilakukan Nabi Muhammad SAW merupakan suatu kesalahan, karena Allah menggunakan frase `padahal tiada celaan atasmu’. Ini artinya pilihan Nabi tidaklah galat, melainkan itu bukan sesuatu yang tercela untuk dilakukan. Juga ketika Allah menyatakan, mengajarinya tidak penting jika orang Quraisy itu tidak menyucikan dirinya. Nah, Nabi Muhammad SAW tidak mengetahui sebelumnya bahwa orang Quraisy itu akan bermuka masam kepada orang mukmin yang buta tersebut, dengan demikian, syarat jika tidak terpenuhi. Karena itu, apa yang Nabi Muhammad SAW lakukan adalah tepat sebelum ketika orang tersebut bermuka masam (karena Nabi Muhammad SAW berada di tengah-tengah pembicaraannya dengan orang-orang Quraisy itu ketika Ibnu Ummi Maktum datang).

Dan begitu orang Quraisy itu bermuka masam, Nabi menghentikan pembicaraan dan kemudian ayat tersebut diturunkan. Sebagaimana bisa kita saksikan, apa yang Nabi SAW lakukan merupakan tugasnya detik demi detik. Teguran tersebut untuk masa depan, sebagaimana dalam kasus ayat Quran lainnya dimana Allah mengingatkan Nabi-Nya bahwa tidak layak baginya untuk mempersulit diri sendiri guna memandu orang-orang karena sebagian dari mereka tidak pernah bisa diberi petunjuk, dan tidak seyogianya Nabi sedih atas mereka.

Kesimpulannya, kami menyediakan bukti dan keterangan dari Quran, hadis, sejarah, dan tata bahasa Arab, untuk mendukung fakta bahwa ayat-ayat sebelumnya dari surah ini tidak merujuk Nabi Muhammad SAW dan sesungguhnya orang yang bermuka masam kepada orangbuta itu bukanlah Nabi Muhammad SAW. Kami sebutkan juga bahwa Surah Abasa ayat 511 hanyalah pengingat untuk masa depan Nabi Muhammad SAW bahwa mendakwahi seorang kafir tidaklah berhasil sekiranya orang kafir tersebut tidak mencoba untuk menyucikan dirinya sendiri dan ketika seorang kafir tersebut menyakiti dan melukai seorang mukmin hanya gara-gara orang mukmin itu miskin dan buta (tidak sehat jasmaninya).

Mengapa mereka harus mencari hadits-hadits Abu Hurairah misalnya, yang meriwayatkan bahwa Allah menciptakan Adam seperti wajah Allah dengan panjang 60 hasta (sittuna dzira), sedang Al-Qur’an mengatakan bahwa tiada sesuatu pun yang menyerupaiNya, laisa kamitslihi syai’un, atau Nabi Musa lari telanjang bulat karena bajunya dibawa lari oleh batu, atau sapi berbahasa Arab, atau hadits yang menyatakan kalu lalat masuk ke dalam kuah, maka seluruh lalat harus dimasukkan kedalamnya sehingga menimbulkan ‘perang lalat’ di koran-koran Mesir karena dokter-dokter muda menolak hadits yang ‘berbahaya’ tersebut? Dan Allah yang turun ke langit bumi, sepertiga malam, sehingga Allah tidak punya kesempatan untuk kembali karena kesiangan?

Mengenai sikap terhadap sahabat, kaum Syi’ah berpegang pada Al-Quran dan Sunnah serta catatan sejarah. Bahwa diantara para sahabat ada juga yang lalim, seperti si munafik ‘Abdullah bin ‘Ubay dengan kelompoknya yang berjumlah 300 orang yang melakukan desersi sebelum perang Uhud
.
Lihat buku-buku sejarah Islam, seperti “Riwayat Hidup Rasulullah SAW” karangan Abul Hasan Ali Al-Hasany an-Nadwy, terjemahan Bey Arifin dan Yunus Ali Muhdhar, hal. 213 atau Ibnu Hisyam, “Sirah Nabawiyah” jilid II, hal. 213. Atau Mu’awiyah dan para jendralnya yang melakukan pembersihan etnis dengan membunuh kaum Syi’ah secara berdarah dingin, shabran, menyembelih bayi-bayi Syi’ah, memperbudak para muslimah dan membakar kebun dan membakar manusia hidup-hidup, mengarak kepala dari kota ke kota, minum arak, berzina dan sengaja merencanakan dan membuat haditshadits palsu yang bertentangan dengan hukum syar’i. Mengapa saudara tidak membaca sejarah dan hadits-hadits kita sendiri?
.
Bila saudara-saudara menganggap cerita-cerita yang membuka ‘aib’ para sahabat sebagai kufur, maka tidak akan ada lagi ahli sejarah dan ahli hadits yang tidak kafir. Syi’ah menolak hadits yang diriwayatkan oleh para sahabat lalim. Mereka heran mengapa kaum Sunnah keberatan bila mereka meriwayatkan hadits-hadits dari keluarga Rasulullah sebab ayat-ayat Al-Qur’an turun dirumah mereka
.
Dan Rasulullah tinggal serumah dan mengajari mereka? Mengapa mereka harus mencari hadits-hadits Abu Hurairah misalnya, yang meriwayatkan bahwa Allah menciptakan Adam seperti wajah Allah dengan panjang 60 hasta (sittuna dzira), sedang Al-Qur’an mengatakan bahwa tiada sesuatu pun yang menyerupaiNya, laisa kamitslihi syai’un, atau Nabi Musa lari telanjang bulat karena bajunya dibawa lari oleh batu, atau sapi berbahasa Arab, atau hadits yang menyatakan kalu lalat masuk ke dalam kuah, maka seluruh lalat harus dimasukkan kedalamnya sehingga menimbulkan ‘perang lalat’ di koran-koran Mesir karena dokter-dokter muda menolak hadits yang ‘berbahaya’ tersebut? Dan Allah yang turun ke langit bumi, sepertiga malam, sehingga Allah tidak punya kesempatan untuk kembali karena kesiangan?
.
Mengapa mereka harus berpegang pada Abu Hurairah yang oleh sahabat-sahabat besar seperti ummul mu’minin Aisyah dan Umar bin Khattab dan ulama-ulama besar seperti Ibnu Qutaibah menganggapnya sebagai pembohong? Bukankah Ibnu Qutaibah disebut sejarawan sebagai nashibi atau pembenci Ahlul Bait dan bukan Syi’ah? Baca sejarah dan hadits-hadits shahih Bukhari Muslim! Haruslah diakui bahwa pandangan Syi’ah ini berbeda dengan kaum Sunni yang menganggap semua sahabat itu adil, ‘udul, dan bila mereka membunuh atau memerangi sesama muslim, mereka akan tetap mendapat pahala. Bila tindakan mereka salah, mereka akan mendapat satu pahala dan kalau benar mendapat dua pahala
.
Malah ada ulama Sunni, seperti Ibnu Katsir, Ibnu Hazm dan Ibnu Taymiyyah menganggap ‘Abudrrahman bin Muljam yang membacok Imam ‘Ali bin Abi Thalib yang sedang shalat shubuh sebagai mujtahid. Demikian pula pembantai Husain dan keluarganya di Karbala. Pembunuh-pembunuh cucu Rasulullah ini dianggap mendapat pahala, satu bila salah dan dua bila benar! Suatu hari, saya kedatangan tiga orang Afghanistan. Saya tanyakan, mengapa kaum muslimin di Afghanistan saling berperang? Mereka menjawab: mereka berperang karena berijtihad seperti ummul mu’minin ‘Aisyah yang memerangi ‘Ali dalam perang Jamal. Kalau benar dapat dua pahala dan kalau salah dapat satu.
Dan saya dengar, koran-koran Jakarta pun telah memuat keyakinan mereka ini. Kaum Thaliban di Afghanistan, yang punya pendapat seperti ini, yang mengurung dan tidak membolehkan wanita bekerja atau sekolah bukanlah Syi’ah, tetapi kaum Wahabi! Sebaliknya kaum Syi’ah juga berpendapat bahwa banyak pula sahabat yang mulia, yang harus diteladani kaum muslimin. Al-Qur’an juga menyebutkan bahwa diantara para sahabat ada yang ‘kufur’ dan ‘munafik’. (Termasuk ayat-ayat terakhir bacalah At-Taubah ayat 48, 97).
.

Banyak sekali hadits-hadits seperti hadits Al-Haudh, diantaranya tercatat dalam Shahih Bukhari dan Muslim. Mereka membenarkan ayat Al-Qur’an tersebut dan menceritakan adanya sekelompok sahabat digiring ke neraka dan tatkala ditanya Rasul, ada suara yang menjawab “Engkau tidak mengetahui apa yang mereka lakukan sesudahmu”. Ahli-ahli sejarah kita dengan gamblang menggambarkan ulah beberapa sahabat tersebut. Apakah pandangan Syi;ah tersebut ‘kufur’ atau ‘sesat’? Apakah mereka harus dikafirkan karena keyakinan mereka itu? Kita boleh menyesali perbedaan itu, tetapi perbedaan ini menyangkut masalah cabang agama bukan pokok, bukan ushuluddin.

Mu’awiyah dan para jendralnya yang melakukan pembersihan etnis dengan membunuh kaum Syi’ah secara berdarah dingin, shabran, menyembelih bayi-bayi Syi’ah, memperbudak para muslimah dan membakar kebun dan membakar manusia hidup-hidup, mengarak kepala dari kota ke kota, minum arak, berzina dan sengaja merencanakan dan membuat haditshadits palsu yang bertentangan dengan hukum syar’i. Mengapa saudara tidak membaca sejarah dan hadits-hadits kita sendiri?

Mengenai sikap terhadap sahabat, kaum Syi’ah berpegang pada Al-Quran dan Sunnah serta catatan sejarah. Bahwa diantara para sahabat ada juga yang lalim, seperti si munafik ‘Abdullah bin ‘Ubay dengan kelompoknya yang berjumlah 300 orang yang melakukan desersi sebelum perang Uhud
.
Lihat buku-buku sejarah Islam, seperti “Riwayat Hidup Rasulullah SAW” karangan Abul Hasan Ali Al-Hasany an-Nadwy, terjemahan Bey Arifin dan Yunus Ali Muhdhar, hal. 213 atau Ibnu Hisyam, “Sirah Nabawiyah” jilid II, hal. 213. Atau Mu’awiyah dan para jendralnya yang melakukan pembersihan etnis dengan membunuh kaum Syi’ah secara berdarah dingin, shabran, menyembelih bayi-bayi Syi’ah, memperbudak para muslimah dan membakar kebun dan membakar manusia hidup-hidup, mengarak kepala dari kota ke kota, minum arak, berzina dan sengaja merencanakan dan membuat haditshadits palsu yang bertentangan dengan hukum syar’i. Mengapa saudara tidak membaca sejarah dan hadits-hadits kita sendiri?
.
Bila saudara-saudara menganggap cerita-cerita yang membuka ‘aib’ para sahabat sebagai kufur, maka tidak akan ada lagi ahli sejarah dan ahli hadits yang tidak kafir. Syi’ah menolak hadits yang diriwayatkan oleh para sahabat lalim. Mereka heran mengapa kaum Sunnah keberatan bila mereka meriwayatkan hadits-hadits dari keluarga Rasulullah sebab ayat-ayat Al-Qur’an turun dirumah mereka
.
Dan Rasulullah tinggal serumah dan mengajari mereka? Mengapa mereka harus mencari hadits-hadits Abu Hurairah misalnya, yang meriwayatkan bahwa Allah menciptakan Adam seperti wajah Allah dengan panjang 60 hasta (sittuna dzira), sedang Al-Qur’an mengatakan bahwa tiada sesuatu pun yang menyerupaiNya, laisa kamitslihi syai’un, atau Nabi Musa lari telanjang bulat karena bajunya dibawa lari oleh batu, atau sapi berbahasa Arab, atau hadits yang menyatakan kalu lalat masuk ke dalam kuah, maka seluruh lalat harus dimasukkan kedalamnya sehingga menimbulkan ‘perang lalat’ di koran-koran Mesir karena dokter-dokter muda menolak hadits yang ‘berbahaya’ tersebut? Dan Allah yang turun ke langit bumi, sepertiga malam, sehingga Allah tidak punya kesempatan untuk kembali karena kesiangan?
.
Mengapa mereka harus berpegang pada Abu Hurairah yang oleh sahabat-sahabat besar seperti ummul mu’minin Aisyah dan Umar bin Khattab dan ulama-ulama besar seperti Ibnu Qutaibah menganggapnya sebagai pembohong? Bukankah Ibnu Qutaibah disebut sejarawan sebagai nashibi atau pembenci Ahlul Bait dan bukan Syi’ah? Baca sejarah dan hadits-hadits shahih Bukhari Muslim! Haruslah diakui bahwa pandangan Syi’ah ini berbeda dengan kaum Sunni yang menganggap semua sahabat itu adil, ‘udul, dan bila mereka membunuh atau memerangi sesama muslim, mereka akan tetap mendapat pahala. Bila tindakan mereka salah, mereka akan mendapat satu pahala dan kalau benar mendapat dua pahala
.
Malah ada ulama Sunni, seperti Ibnu Katsir, Ibnu Hazm dan Ibnu Taymiyyah menganggap ‘Abudrrahman bin Muljam yang membacok Imam ‘Ali bin Abi Thalib yang sedang shalat shubuh sebagai mujtahid. Demikian pula pembantai Husain dan keluarganya di Karbala. Pembunuh-pembunuh cucu Rasulullah ini dianggap mendapat pahala, satu bila salah dan dua bila benar! Suatu hari, saya kedatangan tiga orang Afghanistan. Saya tanyakan, mengapa kaum muslimin di Afghanistan saling berperang? Mereka menjawab: mereka berperang karena berijtihad seperti ummul mu’minin ‘Aisyah yang memerangi ‘Ali dalam perang Jamal. Kalau benar dapat dua pahala dan kalau salah dapat satu.
Dan saya dengar, koran-koran Jakarta pun telah memuat keyakinan mereka ini. Kaum Thaliban di Afghanistan, yang punya pendapat seperti ini, yang mengurung dan tidak membolehkan wanita bekerja atau sekolah bukanlah Syi’ah, tetapi kaum Wahabi! Sebaliknya kaum Syi’ah juga berpendapat bahwa banyak pula sahabat yang mulia, yang harus diteladani kaum muslimin. Al-Qur’an juga menyebutkan bahwa diantara para sahabat ada yang ‘kufur’ dan ‘munafik’. (Termasuk ayat-ayat terakhir bacalah At-Taubah ayat 48, 97).
.

Banyak sekali hadits-hadits seperti hadits Al-Haudh, diantaranya tercatat dalam Shahih Bukhari dan Muslim. Mereka membenarkan ayat Al-Qur’an tersebut dan menceritakan adanya sekelompok sahabat digiring ke neraka dan tatkala ditanya Rasul, ada suara yang menjawab “Engkau tidak mengetahui apa yang mereka lakukan sesudahmu”. Ahli-ahli sejarah kita dengan gamblang menggambarkan ulah beberapa sahabat tersebut. Apakah pandangan Syi;ah tersebut ‘kufur’ atau ‘sesat’? Apakah mereka harus dikafirkan karena keyakinan mereka itu? Kita boleh menyesali perbedaan itu, tetapi perbedaan ini menyangkut masalah cabang agama bukan pokok, bukan ushuluddin.

Mengapa mereka harus berpegang pada Abu Hurairah yang oleh sahabat-sahabat besar seperti ummul mu’minin Aisyah dan Umar bin Khattab dan ulama-ulama besar seperti Ibnu Qutaibah menganggapnya sebagai pembohong?

Mengenai sikap terhadap sahabat, kaum Syi’ah berpegang pada Al-Quran dan Sunnah serta catatan sejarah. Bahwa diantara para sahabat ada juga yang lalim, seperti si munafik ‘Abdullah bin ‘Ubay dengan kelompoknya yang berjumlah 300 orang yang melakukan desersi sebelum perang Uhud
.
Lihat buku-buku sejarah Islam, seperti “Riwayat Hidup Rasulullah SAW” karangan Abul Hasan Ali Al-Hasany an-Nadwy, terjemahan Bey Arifin dan Yunus Ali Muhdhar, hal. 213 atau Ibnu Hisyam, “Sirah Nabawiyah” jilid II, hal. 213. Atau Mu’awiyah dan para jendralnya yang melakukan pembersihan etnis dengan membunuh kaum Syi’ah secara berdarah dingin, shabran, menyembelih bayi-bayi Syi’ah, memperbudak para muslimah dan membakar kebun dan membakar manusia hidup-hidup, mengarak kepala dari kota ke kota, minum arak, berzina dan sengaja merencanakan dan membuat haditshadits palsu yang bertentangan dengan hukum syar’i. Mengapa saudara tidak membaca sejarah dan hadits-hadits kita sendiri?
.
Bila saudara-saudara menganggap cerita-cerita yang membuka ‘aib’ para sahabat sebagai kufur, maka tidak akan ada lagi ahli sejarah dan ahli hadits yang tidak kafir. Syi’ah menolak hadits yang diriwayatkan oleh para sahabat lalim. Mereka heran mengapa kaum Sunnah keberatan bila mereka meriwayatkan hadits-hadits dari keluarga Rasulullah sebab ayat-ayat Al-Qur’an turun dirumah mereka
.
Dan Rasulullah tinggal serumah dan mengajari mereka? Mengapa mereka harus mencari hadits-hadits Abu Hurairah misalnya, yang meriwayatkan bahwa Allah menciptakan Adam seperti wajah Allah dengan panjang 60 hasta (sittuna dzira), sedang Al-Qur’an mengatakan bahwa tiada sesuatu pun yang menyerupaiNya, laisa kamitslihi syai’un, atau Nabi Musa lari telanjang bulat karena bajunya dibawa lari oleh batu, atau sapi berbahasa Arab, atau hadits yang menyatakan kalu lalat masuk ke dalam kuah, maka seluruh lalat harus dimasukkan kedalamnya sehingga menimbulkan ‘perang lalat’ di koran-koran Mesir karena dokter-dokter muda menolak hadits yang ‘berbahaya’ tersebut? Dan Allah yang turun ke langit bumi, sepertiga malam, sehingga Allah tidak punya kesempatan untuk kembali karena kesiangan?
.
Mengapa mereka harus berpegang pada Abu Hurairah yang oleh sahabat-sahabat besar seperti ummul mu’minin Aisyah dan Umar bin Khattab dan ulama-ulama besar seperti Ibnu Qutaibah menganggapnya sebagai pembohong? Bukankah Ibnu Qutaibah disebut sejarawan sebagai nashibi atau pembenci Ahlul Bait dan bukan Syi’ah? Baca sejarah dan hadits-hadits shahih Bukhari Muslim! Haruslah diakui bahwa pandangan Syi’ah ini berbeda dengan kaum Sunni yang menganggap semua sahabat itu adil, ‘udul, dan bila mereka membunuh atau memerangi sesama muslim, mereka akan tetap mendapat pahala. Bila tindakan mereka salah, mereka akan mendapat satu pahala dan kalau benar mendapat dua pahala
.
Malah ada ulama Sunni, seperti Ibnu Katsir, Ibnu Hazm dan Ibnu Taymiyyah menganggap ‘Abudrrahman bin Muljam yang membacok Imam ‘Ali bin Abi Thalib yang sedang shalat shubuh sebagai mujtahid. Demikian pula pembantai Husain dan keluarganya di Karbala. Pembunuh-pembunuh cucu Rasulullah ini dianggap mendapat pahala, satu bila salah dan dua bila benar! Suatu hari, saya kedatangan tiga orang Afghanistan. Saya tanyakan, mengapa kaum muslimin di Afghanistan saling berperang? Mereka menjawab: mereka berperang karena berijtihad seperti ummul mu’minin ‘Aisyah yang memerangi ‘Ali dalam perang Jamal. Kalau benar dapat dua pahala dan kalau salah dapat satu.
Dan saya dengar, koran-koran Jakarta pun telah memuat keyakinan mereka ini. Kaum Thaliban di Afghanistan, yang punya pendapat seperti ini, yang mengurung dan tidak membolehkan wanita bekerja atau sekolah bukanlah Syi’ah, tetapi kaum Wahabi! Sebaliknya kaum Syi’ah juga berpendapat bahwa banyak pula sahabat yang mulia, yang harus diteladani kaum muslimin. Al-Qur’an juga menyebutkan bahwa diantara para sahabat ada yang ‘kufur’ dan ‘munafik’. (Termasuk ayat-ayat terakhir bacalah At-Taubah ayat 48, 97).
.

Banyak sekali hadits-hadits seperti hadits Al-Haudh, diantaranya tercatat dalam Shahih Bukhari dan Muslim. Mereka membenarkan ayat Al-Qur’an tersebut dan menceritakan adanya sekelompok sahabat digiring ke neraka dan tatkala ditanya Rasul, ada suara yang menjawab “Engkau tidak mengetahui apa yang mereka lakukan sesudahmu”. Ahli-ahli sejarah kita dengan gamblang menggambarkan ulah beberapa sahabat tersebut. Apakah pandangan Syi;ah tersebut ‘kufur’ atau ‘sesat’? Apakah mereka harus dikafirkan karena keyakinan mereka itu? Kita boleh menyesali perbedaan itu, tetapi perbedaan ini menyangkut masalah cabang agama bukan pokok, bukan ushuluddin.

apabila sahabat-sahabat ini kemudian bersaksi bahwa dirinya dan para sahabat yang lain telah melakukan “perubahan sunnah” sepeninggal Nabi, bukankah pengakuan mereka ini adalah bukti kebenaran yang disabdakan oleh Nabi SAWW bahwa sebagian dari sahabatnya akan berpaling darinya sepeninggalnya

Kesaksian Atas Perubahan Sunnah Nabi

 Kesaksian Atas Perubahan Sunnah Nabi
.
Kesaksian atas perubahan Sunnah Nabi, lalu mengunakan Sunnah Mereka Sendiri (Sunnah Sahabat)

Abi Sa’id al-Khudri berkata: “Pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, Rasulullah SAWW keluar rumah untuk menunaikan shalat Id. Usai shalat beliau berdiri menghadap para hadirin yang masih duduk di saf, kemudian berkhotbah yang penuh dengan nasehat dan perintah.”

Abu Sa’id melanjutkan: “Cara seperti ini dilanjutkan oleh para sahabatnya sampailah suatu hari ketika aku keluar untuk shalat Id (Idul Fitri atau Idul Adha) bersama Marwan, gubernur kota Madinah. Sesampainya di sana Marwan langsung naik ke atas mimbar yang dibuat oleh Katsir bin Shalt. Aku tarik bajunya. Tapi dia menolakku. Marwan kemudian memulai khotbah Id-nya sebelum shalat. Kukatakan padanya: “Demi Allah kalian telah rubah.” “Wahai Aba Sa’id” Tukas Marwan, “Telah sirna apa yang kau ketahui” Kukatakan padanya: “Demi Allah, apa yang kutahu adalah lebih baik dari apa yang tidak kuketahui.” Kemudian Marwan berkata lagi: “Orang-orang ini tidak akan mau duduk mendengar khotbah kami seusai shalat. Karena itu kulakukan khotbah sebelumnya.”[1]
.
Coba teliti gerangan apa yang menyebabkan sahabat seperti ini berani merubah Sunnah Nabi. Itu dikarenakan Bani Umaiyah (yang mayoritasnya adalah sahabat Nabi) terutama Muawiyah bin Abu Sufyan yang konon sebagai Penulis Wahyu, senantiasa memaksa kaum muslimin untuk mencaci dan melaknat Ali bin Abi Thalib dari atas mimbar- mimbar masjid. Muawiyah memerintahkan orang-orangnya di setiap negeri untuk menjadikan cacian dan laknat pada Ali sebagai suatu tradisi yang mesti dinyatakan oleh para khatib
.
Ketika sejumlah sahabat protes atas ketetapan ini, Muawiyah tidak segan-segan
memerintahkan mereka dibunuh atau dibakar. Muawiyah telah membunuh sejumlah sahabat yang sangat terkenal seperti Hujur bin U’dai beserta para pengikutnya, dan sebagian lain dikuburkan hidup-hidup. “Kesalahan” mereka (dalam persepsi Muawiyah) semata-mata karena enggan mengutuk Ali dan bersikap protes atas dekrit Muawiyah
.
Abul A’la al-Maududi dalam kitabnya al-Khilafah Wal Muluk (Khilafah Dan Kerajaan) menukil dari Hasan al-Bashri yang berkata: “Ada empat hal dalam diri Muawiyah, yang apabila satu saja ada pada dirinya, itu sudah cukup sebagai alasan untuk mencelakakannya:
  1. Dia berkuasa tanpa melakukan sebarang musyawarah sementara sahabat-sahabat lain yang merupakan cahaya kemuliaan masih hidup.
  2. Dia melantik puteranya (Yazid) sebagai pemimpin setelahnya, padahal sang putera adalah seorang pemabuk dan pecandu minuman keras dan musikus.
  3. Dia menyatakan Ziyad (seorang anak zina) sebagai puteranya, padahal Nabi SAWW bersabda: “Anak adalah milik sang ayah, sementara yang melacur dikenakan sanksi rajam.
  4. Dia telah membunuh Hujur dan para pengikutnya. Karena itu maka celakalah dia lantaran (membunuh) Hujur; dan celakalah dia karena Hujur dan para pengikutnya.[2]
Sebagian sahabat yang mukmin lari dari masjid seusai shalat karena tidak mau mendengar khotbah yang berakhir pada kutukan terhadap Ali dan keluarganya. Itulah kenapa Bani Umaiyah merubah Sunnah Nabi ini dengan mendahulukan khotbah sebelum shalat agar yang hadir terpaksa mendengarnya
.
Nah, sahabat jenis apa yang berani merubah Sunnah Nabinya, bahkan hukum-hukum Allah sekalipun semata-mata demi meraih cita-citanya yang rendah dan ekspresi dari rasa dengki yang sudah terukir. Bagaimana mereka bisa melaknat seseorang yang telah Allah sucikan dari segala dosa dan nista dan diwajibkan oleh Allah untuk bersalawat kepadanya sebagaimana kepada Rasul-Nya
.
Allah juga telah mewajibkan kepada semua manusia untuk mencintainya hingga Nabi SAWW bersabda: “Mencintai Ali adalah iman dan membencinya adalah nifak.“[3]
.
Namun sahabat-sahabat seperti ini telah merubahnya. Mereka berkata, kami telah dengar sabda-sabda Nabi tentang Ali, tetapi kami tidak mematuhinya. Seharusnya mereka bersalawat kepadanya, mencintainya dan taat patuh kepadanya; namun sebaliknya mereka telah mencaci dan melaknatnya sepanjang enam puluh tahun, seperti yang dicatat oleh sejarah
.
Apabila sahabat-sahabat Musa pernah sepakat mengancam nyawa Harun dan hampir-hampir membunuhnya, maka sebagian sahabat Muhammad SAWW telah membunuh “Harun-nya” (yakni Ali) dan mengejar-ngejar anak keturunannya serta para Syi’ahnya di setiap tempat dan ruang. Mereka telah hapuskan nama-nama dan bahkan melarang kaum muslimin menggunakan nama mereka
.
Tidak sekadar itu, hatta para sahabat besar dan agungpun mereka paksa untuk melakukan hal yang serupa. Demi Allah, sangat mengherankan ketika membaca buku-buku referensi kitab ahl-Sunnah yang memuat berbagai Hadits yang mewajibkan cinta pada Nabi dan saudaranya serta anak pamannya, yakni Ali bin Abi Thalib, dan sejumlah Hadits-Hadits lain yang mengutamakan Ali atas para sahabat yang lain
.
Sehingga Nabi SAWW bersabda:
“Engkau (hai Ali) di sisiku bagaikan kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tiada Nabi setelahku.”[4]
Atau sabdanya:
“Engkau dariku dan aku darimu”.[5]
Dan sabdanya lagi:
“Mencintai Ali adalah iman dan membencinya adalah nifak”.[6]
Sabdanya:
“Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah gerbangnya”.[7]
Dan sabdanya:
“Ali adalah wali (pemimpin) setiap mukmin setelahku.“[8]
Dan sabdanya:
“Siapa yang menjadikan aku sebagai maulanya (pemimpinnya) maka Ali adalah maulanya. Ya Allah, bantulah mereka yang mewila’nya dan musuhilah mereka yang memusuhinya.“[9]
Apabila kita ingin mencatat semua keutamaan Ali yang disabdakan oleh Nabi SAWW dan yang diriwayatkan oleh para ulama ahl-Sunnah dengan sanadnya yang shahih, maka ia pasti akan memerlukan suatu buku tersendiri. Bagaimana mungkin sejumlah sahabat seperti itu pura-pura tidak tahu akan Hadits ini, lalu mencacinya, memusuhinya, melaknatnya dari atas mimbar dan membunuh atau memerangi mereka?
Orang pertama yang pernah mengancam akan membakar rumahnya (Ali) beserta para penghuni yang ada di dalamnya adalah Umar bin Khattab; orang pertama yang memeranginya adalah Thalhah, Zubair, Ummul Mukminin Aisyah binti Abu Bakar, Muawiyah bin Abu Sufyan dan A’mr bin A’sh dan sebagainya
.
Rasa terkejut dan kagetku bertambah dalam dan seakan tidak akan berakhir
.
Setiap orang yang berpikir rasional akan segera mendukung pendapatku ini. Bagaimana ulama-ulama Ahlu Sunnah sepakat mengatakan bahwa semua sahabat adalah adil sambil mengucapkan “Radhiallahu Anhum”, bahkan mengucapkan salawat untuk mereka tanpa kecuali.
Sehingga ada yang berkata, “Laknatlah Yazid tapi jangan berlebihan“. Apa yang dapat kita bayangkan tentang Yazid yang telah melakukan tragedi yang sangat tragis ini, yang tidak dapat diterima bahkan oleh akal dan agama. Aku nyatakan kepada Ahlu Sunnah Wal Jamaah, jika mereka benar-benar mengikut Sunnah Nabi, agar meninjau hukum Al-Qur’an dan Sunnah Nabi secara cermat dan seadil-adilnya tentang kefasikan Yazid dan kekufurannya.
Rasululah SAWW telah bersabda:
“Siapa yang mencaci Ali maka dia telah mencaciku; dan siapa yang mencaciku maka dia telah mencaci Allah; dan siapa yang mencaci Allah maka Aku akan menjatuhkannya ke dalam api neraka.“[10]
Demikian itu adalah sanksi bagi orang yang mencaci Ali. Maka bagaimana pula apabila ada orang yang melaknatnya dan memeranginya. Mana alim-ulama kita dari hakikat kebenaran ini? Apakah hati mereka telah tertutup rapat?
Anas bin Malik berkata:
“Tiada sesuatu yang kuketahui di zaman nabi lebih baik dari (hukum) shalat.” Kemudian dia bertanya: “Tidakkah kalian kehilangan sesuatu di dalam shalat?”
Az-Zuhri pernah bercerita:
“Suatu hari aku berjumpa dengan Anas bin Malik di Damsyik. Saat itu beliau sedang menangis. “Apa yang menyebabkan Anda menangis?”, tanyaku. “Aku telah lupa segala yang kuketahui melainkan shalat ini. Itupun telah kusia-siakan.” Jawab Anas.[11]
Agar jangan sampai terkeliru dengan mengatakan bahwa para Tabi’inlah yang merubah segala sesuatu setelah terjadinya sejumlah fitnah, perselisihan dan serta peperangan, ingin kunyatakan di sini bahwa orang pertama yang merubah Sunnah Rasul dalam hal shalat adalah khalifah muslimin yang ketiga, yakni Utsman bin Affan. Begitu juga Ummul Mukminin Aisyah. Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam kitabnya bahwa Rasulullah SAWW menunaikan shalat di Mina dua rakaat (qashar). Begitu juga Abu Bakar, Umar dan periode awal dari kekhalifahan Utsman. Setelah itu Utsman Shalat di sana (Mina) sebanyak empat rakaat.”[12]
Muslim juga meriwayatkan dalam kitab Shahihnya bahwa Zuhri berkata: “Suatu hari aku bertanya pada Urwah kenapa Aisyah shalat empat rakaat dalam perjalanan musafirnya?”
.
“Aisyah telah melakukan takwil sebagaimana Utsman”[13] jawabnya. Umar bin Khattab juga tidak jarang berijtihad dan bertakwil di hadapan nas-nas Nabi yang sangat jelas, bahkan dihadapan nas-nas Al-Qur’an, lalu kemudian menjatuhkan hukuman mengikut pendapatnya.
Beliau pernah berkata: “Dua mut’ah yang dahulunya (halal) dan dilakukan di zaman Nabi, kini aku melarangnya dan mengenakan hukuman bagi orang yang melaksanakannya[14], (bertamattu’ dalam haji dan nikah mut’ah pent.) Beliau juga pernah berkata kepada orang yang junub tetapi tidak memperoleh air untuk mandi, “Jangan sembahyang”
.
Walaupun ada firman Allah di dalam surah al-Maidah ayat 6: “… Lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang bersih”.
Bukhari meriwayatkan dalam kitab Shahihnya pada Bab Idza Khofa al-Junub A’la Nafsihi (Apabila Orang Junub Takut Akan Dirinya) berikut: “Kudengar Syaqiq bin Salmah berkata, suatu hari aku hadir dalam majlis Abdillah dan Abu Musa. Abu Musa bertanya pada Abdillah bagaimana pendapatmu tentang orang yang junub kemudian tidak memperoleh air untuk mandi?” Abdillah menjawab, “dia tidak perlu shalat sampai ia temukan air.” Abu Musa bertanya lagi, “bagaimana pendapatmu tentang jawaban Nabi kepada Ammar dalam masalah yang sama ini?” Abdullah menjawab, “Umar tidak begitu yakin dengan itu.” Abu Musa melanjutkan, “lalu bagaimana dengan ayat ini, (al-Maidah: 6)?” Abdullah diam tidak menjawab. Kemudian dia berkata, “apabila kita izinkan mereka (melakukan tayammum), niscaya mereka akan bertayammum saja dan tidak akan menggunakan air apabila udaranya dirasakan dingin. ” Kukatakan pada Syaqiqbahwa Abdillah sebenarnya tidak suka lantaran ini semata-mata; dan Syaqiq pun mengiakan”
Kesaksian Sahabat atas Diri Mereka
Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah SAWW pernah bersabda kepada kaum Anshar: “Suatu hari kalian akan menyaksikan sifat tamak yang dahsyat sepeninggalku. Karena itu bersabarlah sehingga kalian menemui Allah dan Rasul-Nya di telaga haudh.” Anas berkata, “Kami tidak sabar.“[15]
Ala’ bin Musayyab dari ayahnya pernah berkata: “Aku berjumpa dengan Barra’ bin A’zib ra. Kukatakan padanya, “berbahagialah Anda karena dapat bersahabat dengan Nabi SAWW dan membai’atnya di bawah pohon (bai’ah tahta syajarah). Barra’ menjawab, “wahai putera saudaraku, engkau tidak tahu apa yang telah kami lakukan sepeninggalnya.”[16]
.
Jika sahabat utama yang tergolong di antara as-Sabiqin al-Awwalin dan pernah membai’at Nabi di bawah pohon, serta Allah rela kepada mereka dan Maha Tahu apa yang ada dalam hati mereka sehingga diberinya ganjaran yang besar; apabila sahabat-sahabat ini kemudian bersaksi bahwa dirinya dan para sahabat yang lain telah melakukan “perubahan sunnah” sepeninggal Nabi, bukankah pengakuan mereka ini adalah bukti kebenaran yang disabdakan oleh Nabi SAWW bahwa sebagian dari sahabatnya akan berpaling darinya sepeninggalnya
.
Apakah seseorang yang berpikir rasional akan tetap mengatakan bahwa semua sahabat adalah adil seperti yang diklaim oleh Ahlu Sunnah Wal Jama’ah. Mereka yang mengklaim seperti itu jelas telah menyalahi nas dan akal. Karena dengan demikian hilanglah segala kriteria intelektual yang sepatutnya dijadikan pegangan sebuah penelitian dan kajian.
—————————————
  1. Shahih Bukhari jil. 1 hal. 122.
  2. Al-Khilafah Wal Muluk Oleh al-Maududi hal. 106.
  3. Shahih Muslim jil. 2 hal. 61
  4. Shahih Bukhari jil. 2 hal. 305; Shahih Muslim jil. 2 hal. 366; Mustadrak al-Hakim jil. 3 hal. 109.
  5. Shahih Bukhari jil. 1 hal. 76; Shahih Turmidzi jil. 5 hal. 300; Shahih Ibnu Majahjil. 1 hal. 44
  6. Shahih Muslim jil. 1 hal. 61; Sunan an-Nasai jil. 6 hal. 177; Shahih Turmudzi jil. 8 hal. 306.
  7. Shahih Thurmudzi jil. 5 hal. 201; Mustadrak al-Hakim jil. 3 hal. 126.
  8. Musnad Ahmad Bin Hanbal jil. 5 hal. 25; Mustadrak al-Hakim jil. 3 hal. 134.
  9. Shahih Muslim jil.2 hal.362; Mustadrak al-Hakim jil. 3 hal. 109; Musnad Ahmad Bin Hanbal jil. 4 hal, 281.
  10. Mustadrak al-Hakim jil. 3 hal. 121; Khasais an-Nasai hal. 24; Musnad Ahmad Bin Hanbal jil. 6 hal. 33; Manaqib al-Khawarizmi hal. 81; ar-Riyadh an Nadhirah oleh Thabari jil. 2 hal. 219; Tarikh as-Suyuti hal. 73.
  11. Shahih Bukhari jil.l hal.74
  12. Shahih Bukhari jil. 2 hal. 154; Shahih Muslim jil. 1 hal. 260
  13. Shahih Muslim jil. 2 hal.134.
  14. Shahih Bukhari jil. 1 hal. 54
  15. Shahih Bukhari jil. 2 hal. 135
  16. Shahih Bukhari jil.3 hal. 32.

PENGHIANATAN² ABU HURAIRAH TERHADAP NABI SAWW

PENGHIANATAN² ABU HURAIRAH

PENGHIANATAN² ABU HURAIRAH

PENGHIANATAN² ABU HURAIRAH TERHADAP NABI SAWW

Di dalam Shahihnya Jilid 2, hal 29, Bukhori telah mencatat bahwa Abu Hurairah telah berkata,”Nabi Muhammad saww mempercayai aku untuk menjaga zakat pada bulan Ramadhan. Seseorang datang (kerumahku) dan mulai mengumpulkan beberapa makanan (dari hasil zakat itu). Aku menangkapnya dan berkata, ‘Demi Allah aku akan membawamu kepada Nabi. ’Ia berkata, ’Aku sangat melarat dan aku memiliki anak²’. Aku melepaskannya. Keesokan paginya Nabi berkata padaku, ‘Apa yang tawananmu lakukan semalam?’. Aku berkata, ’Ia berkeluh kesah padaku bahwa Ia melarat dan mempunyai anak² yang kelaparan. Aku kasihan kepadanya serta membebaskannya’.
Nabi bersabda, ‘Ia bohong, Ia akan datang lagi’. Aku perhatikan dia. Ia datang dan mulai mengumpulkan beberapa makanan. Kutangkap dia dan mengatakan bahwa aku akan membawanya kepada Nabi. Ia berkata, ‘Aku melarat dan memiliki anak². Biarkan aku pergi dan aku tidak akan kembali lagi. Pagi harinya Nabi berkata padaku, ‘Apa yang tawananmu lakukan semalam?’. Aku berkata, ‘Ia berkeluh kesah padaku bahwa Ia melarat dan mempunyai anak² yang kelaparan. Aku kasihan kepadanya serta membebaskannya’.
Nabi bersabda, ‘Ia dusta, Ia akan datang lagi’. Aku awasi dia pada malam ketiga. Ia datang dan mulai mengumpulkan beberapa makanan. Kutangkap dia dan mengatakan bahwa aku akan membawanya kepada Nabi. Ia berkata, ‘Aku ajari engkau beberapa kata, yang Allah akan memberkatimu dengannya. Ketika engkau hendak pergi tidur bacalah ayat al-Qur’an (ayat Kursi). Engkau akan dijaga oleh Malaikat dan setan tidak akan mendekatimu sampai pagi’. Kulepaskan dia. Pagi harinya Nabi berkata padaku, ‘Apa yang tawananmu lakukan semalam?’. Aku sampaikan semua yang terjadi kepada Nabi. Beliau bersabda kepadaku, ‘Tahukah kamu dengan siapa engkau bicara selama tiga malam itu ?’. Aku berkata, ‘Tidak’. Nabi bersabda, ‘Ia adalah setan’”
Setelah membaca Hadits ini entah apa yang hendak dikatakan oleh para pembela dan pecinta Abu Hurairah dan Bukhori, karena terlalu banyak cacat yang harus ditutupi, misalnya :
  • Abu Hurairah berpihak kepada pencuri dan tidak amanah. Dia mengesampingkan sabda Nabi yang mengatakan orang itu bohong.
  • Dia telah bersumpah demi Allah dan membatalkannya karena berpihak kepada orang yang salah.  Menurut Abu Hurairah membatalkan janji itu hal biasa, ingat dia mengatakan janji itu sampai 3x)
  • Abu Hurairah memberikan zakat yang bukan haknya untuk membagikan, karena dia sendiri berkata dia hanya mendapat amanah untuk ‘menjaga’saja.
  • Dia percaya kepada orang yang berulang kali berbohong, Atau Abu Hurairah ini “sakit” sehingga tidak mampu membedakan mana yang patut dipercaya mana yang tidak.