Penulis: syiahali

syiah tidak sesat

Menyangkal keimaman seperti halnya menyangkal kenabian !


Pengertian Tiga Tauhid

Tauhid Dzat

Banyak orang berpendapat bahwa makna Tauhid Dzat (pengesaan Tuhan dalam Dzatadalah, bahwa Tuhan adalah Esa dan bukan dua. Ungkapan ini bukanlah sebuah ungkapan yang cermat, sebagaimana yang diriwayatkan dari Amirul Mukminin Ali a.s. Karena arti dari ungkapan ini adalah satu numerik. Artinya, dua bagi Tuhan dapat dikonsepsikan (tashawwur), akan tetapi tidak ada wujudnya di luar. Dan tentu saja ungkapan ini adalah ungkapan yang salah.

Ungkapan yang benar yaitu bahwa Tauhid Dzat berarti bahwa Tuhan itu satu dan dua bagi-Nya tidak dapat dikonsepsikan. Dengan kata lain, tidak ada yang serupa dan semisal dengan-Nya. Sesuatu tidak serupa dengan-Nya, dan juga Ia tidak serupa dengan sesuatu, sebab Dia adalah Satu Wujud Nir-­Batas Nan Sempurna memiliki sifat seperti ini.

Dengan argumentasi yang sama, kita jumpai dalam hadis.

Imam Ash-Shadiq a.s. pernah ditanya oleh salah seorang sahabat, “Apakah arti dari AllahuAkbar?”

Beliau menjawab, “Allah adalah lebih Besar dari segala sesuatu.” Dan beliau melanjutkan, “Apakah ada sesuatu yang lebih besar dari-Nya?”

Lalu sahabat itu bertanya lagi, “Lalu apa tafsir Alldhu Akbar itu?”

Beliau menjawab, “Allah adalah lebih Besar dari penyifatan.”[1]

Tauhid Sifat

Ketika kita mengatakan bahwa satu cabang tauhid adalah Tauhid Sifat (pengesaan Tuhan dalam sifat), maksudnya ialah; sebagaimana Dzat-Nya adalah azali (tidak bermula) dan abadi (tidak berakhir), pun sifat-Nya,seperti ilmu, kuasa, dan lain sebagainya azali dan abadi. Ini dari satu sisi.

Dari sisi lain, sifat ini bukanlah tambahan (za’id) dari luar Dzat-Nya, tidak memiliki sisi aksidental(‘aridh) dan teraksiden (ma’rudh), melainkan sifat ini adalah Dzat-Nya sendiri.

Dan dari sisi ketiga, sifat-Nya tidak terpisah dengan sifat yang lainnya. Maksudnya, ilmu dan kuasa-Nya adalah satu, dan keduanya adalah Dzat-Nya itu sendiri.

Penjelasan

Bilamana kita merujuk kepada diri kita sendiri, kita melihat pada mulanya kita tidak memiliki satu pun sifat-sifat yang melekat pada diri kita. Tatkala kita terlahir ke dunia ini, kita tidak memilki ilmu, juga tidak memiliki kekuasaan. Secara gradual, sifat­-sifat ini terbina dalam diri kita. Dengan dasar ini, sifat-sifat yang kemudian muncul ini adalah perkara-perkara “lain” dari luar diri (dzat) kita. Oleh karena itu, mungkin saja suatu hari kekuatan, ilmu dan pengetahuan yang kita miliki akan sirna. Dan juga dengan jelas kita melihat, antara ilmu dan kekuasaan yang kita miliki terpisah satu dengan yang lainnya. Kekuasaan berada pada raga kita dan ilmu berada pada ruh kita.

Akan tetapi, Tuhan sama sekali tidak dapat dikonsepsikan seperti di atas tadi. Seluruh Dzat-Nya adalah ilmu, dan seluruh Dzat-Nya merupakan kuasa. Dan segala sesuatu yang ada pada­Nya adalah satu. Tentu saja kita memastikan bahwa makna-makna ini tidak berada pada diri kita. Sifat-sifat dengan makna seperti ini tidak akrab dan tampak ruwet. Mak tidak ada jalan bagi kita selain menggunakan kekuatan logika dan filsafat, serta penalaran cermat.

Tauhid Fi’il

Artinya, setiap wujud, setiap gerak, setiap perbuatan di alam semesta ini kembali kepada DzatKudus ilahi. Tauhid Fi’il berarti pengesaan Tuhan dalam perbuatan. Dzat Kudus-Nya adalah sebab-musabab, sebab seluruh akibat. Bahkan, perbuatan yang kita kerjakan -dalam satu makna- berasal dari-Nya. Ia yang memberikan kekuatan (qudrah), kebebasan (ikhtryar), dan kehendak(iradah) kepada kita. Padahal -dengan demikian- kita adalah pelaku dari perbuatan-perbuatan kita sendiri. Dan kita bertanggungjawab atas perbuatan-perbuatan yang kita lakukan.

Dari satu perspektif, Tuhan adalah pelaku perbuatan kita sendiri. Lantaran segala sesuatu yang kita miliki berasal dari-Nya. Tiada yang dapat memberikan pengaruh di dalam alam wujud ini kecuali Allah!

Tauhid Ibadah

Maksudnya adalah Allah swt. satu-satunya Dzat yang harus disembah, dan selain-Nya tidak pantas disembah. Karena ibadah khusus bagi seseorang yang sempurna mutlak (kamal mutlaq)dan mutlak sempurna (mutlaq kamal)Dzat yang tidak memerlukan segala sesuatu, pemberi seluruh anugerah, pencipta seluruh wujud. Dan sifat ini tidak akan dijumpai selain pada Dzat Nan Kudus.

Tujuan utama ibadah adalah menemukan jalan untuk mendekatkan diri kepada derajat kesempurnaan mutlak dan mu dak sempurna, Wujud Nir-Batas itu. Dan refleksi pancaran dari sifat sempurna dan indah-Nya bertakhta dalam relung jiwa yang merupakan hasil penjagaan jarak dari hawa nafsu, serta menggayutkan diri kepada membina dan menghias diri (tahdzib nafs).

Tujuan ini hanya dapat tercapai dengan beribadah kepada Allah swt. yang merupakan Pemilik kesempurnaan mutlak.[2]


[1] Ma (mi al-Akbar, Syaikh Shaduq, hal. 11, hadis ke-l.

[2] Tafsir Nemuneh, jilid 27, hal. 446.

Akar peristiwa al-Ghadir menurut nukilan sejarah merupakan peristiwa yang telah ditetapkan dan dibuktikan validitasnya.  Para penulis sejarah dengan merekam pelbagai peristiwa dan menukil turun-temurun kisah ini dan menjadi sandaran masyarakat melalui jalan yang beragam, mengakui kebenaran masalah ini.  Sedemikian masalah ini argumentatif sedemikian sehingga ia dapat dijumpai pada sastra, teologi, tafsir, dan bahkan kitab-kitab hadis standar Ahlusunnah dan Syiah dimana Nasai salah seorang ulama besar Ahlusunnah menukil hadis ini melalui 250 sanad.

Definisi Syi’ah

Kata Syi’ah menurut bahasa adalah pendukung atau pembela. Syi’ah Ali adalah pendukung Ali atau pembela Ali. Syi’ah Muawiyyah adalah pendukung Muawiyyah.
.
Al-Mufid, seorang tokoh Syi’ah abad ke 5 H (w. 413 H/1022 M) mendefinisikan Syi’ah sebagai:
الشِّيْعَةُ أَتْبَاعُ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ صَلَوَاتُ اللهِ عَلَى سَبِيْلِ الْولاَءِ وَالْاِعْتِقَادِ بِإِمَامَتِهِ بَعْدَ الرَّسُوْلِ صَلَوَاتُ اللهِ عَلَيْهِ وَأَلِهِ بِلاَ فَصْلٍ, وَنَفَي الاِمَامَةَ عَمَّنْ تَقَدَّمَهُ فِي مَقَامِ الخِلاَفَةِ, وَجَعَلَهُ فِي الاِعْتِقَادِ مَتْبُوْعًا لَهُ غَيْرَ تَابِعٍ لِأَحَدٍ مِنْهُمْ عَلىَ وَجْهِ الاِقْتِدَاءِ (اوائل المقالات :2-4).
“Syi’ah adalah pengikut Amirul Mukminin (Ali bin Abi Thalib) shalawatullah ‘alaih atas dasar mencintai dan meyakini kepemimpinannya (imamah) sesudah Rasul SAW tanpa terputus (oleh orang lain seperti Abu Bakar dan lainnya). Tidak mengakui keimamahan imamah orang sebelumnya (Ali) sebagai pewaris kedudukan khalifah dan hanya meyakini Ali sebagai pemimpin, bukan mengikuti salah satu dari orang-orang sebelumnya (Abu Bakar, Umar dan Utsman).” (Al-Mufid, Awa’il al-Maqalat, hal. 2-4).

Definisi Al-Mufid di atas secara tegas menunjukkan bahwa kami tidak mengakui kekhalifahan sahabat Abu Bakar, Umar dan Utsman.


Yang dimaksud orang kafir yang najis hukumnya adalah:

1. Orang yang mengingkari Tuhan (tidak menerima adanya Tuhan).

2. Orang yang mengingkari kenabian Rasulullah saw.

3. Orang yang tidak mengesakan Tuhan (menganggap ada lebih dari satu Tuhan).

4. Orang yang mengingkari hal-hal paling penting dalam agama, yang sekiranya pengingkaran itu melazimkan pengingkaran terhadap nabi atau menyebabkan tidak sempurnanya agama.

5. Orang yang mencela para imam maksum atau bahkan memusuhi mereka

Rukun Iman Syi’ah
Pada dasarnya, dalam hal kepercayaan kepada Allah, Syi’ah tidak berbeda dengan Ahlussunnah wal Jama’ah. Syi’ah juga percaya bahwa Allah adalah Esa, tidak beranak dan diperanakkan. Kami juga meyakini bahwa Allah tidak serupa dengan sesuatu apapun, dan kami menghukumi kafir terhadap orang-orang yang menyekutukan Allah
.
Akan tetapi yang membuat doktrin Syi’ah dan Ahlussunnah berbeda adalah penambahan Syi’ah terhadap doktrin imamah. Menurut kami  siapapun yang beriman kepada Allah namun  mengi’tiqadkan juhud (ingkar)  terhadap kepemimpinan Sayyidina Ali setelah Nabi SAW dan para imam keturunan beliau, maka hukumnya melebihi hukum orang yang mengingkari shalat fardhu jika HUJJAH atau Dalil telah sampai kepadanya
.
Muhammad Jawad al-Amili berkata:
الإِيْمَانُ عِنْدَنَا إِنَّمَا يَتَحَقَّقُ بِالاِعْتِرَافِ بِإِمَامَةِ الأَئِمَّةِ الاِثْنيَ عَشَرَ عَلَيْهِمْ السَّلاَمُ, إِلاَّ مَنْ مَاتَ فِي عَهْدِ أَحَدِهِمْ فَلاَ يُشْتَرَطُ فِي إِيْمانِهِ إلاَّ مَعْرِفَةُ إمَامِ زَمَانِهِ وَمِنْ قَبْلِهِ.
“Iman menurut kami hanya terwujudkan dengan cara mengakui keimamahan Imam yang dua belas, kecuali bagi orang yang mati pada zaman salah satu dari mereka maka tidak disyaratkan beriman kecuali mengetahui Imam pada masanya dan masa sebelumnya.” (Ushul Madzhab al-Syi’ah, hal. 693)
.
Al-Kulaini dalam kitabnya menyebutkan suatu riwayat, sebagai berikut:
وعن أبي جعفر قال : “….. لَقِّنُوْا مَوْتَاكُمْ عِنْدَ المَوْتِ شَهَادَةَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَالْوِلاَيَةَ.
“Tuntunlah orang yang sedang sakratul maut bacaan syahadat (persaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah) dan wilayah (pengakuan atas kepemimpina Ali).” (Furu’ al-Kafi, 1/34)
.
Demikianlah, konsep imamah menjadi sentral doktrin kaum syi’ah. Kami menjadikan imamah sebagai salah satu rukun dari rukun-rukun agama Islam. Namun syi’ah tidak mengkafirkan kelompok lain yang tidak mengakui keimamahan Ali dan imam-imam keturunannya karena bisa saja diantara mereka ada yang belum sampai hujjah kepadanya. Jangan lupa ! Ilmu tentang syi’ah banyak disensor ulama sunni
.
Disebutkan dalam kitab al-Wasa’il karangan al-Mufid:
اِتَّفَقَتْ الإِمَامِيَّةُ عَلَى أَنَّ مَنْ أَنْكَرَ إِمَامَةَ أَحَدٍ مِنَ الأَئِمَّةِ وَجَحَدَ مَا أَوْجَبَهُ اللهُ تعالى لَهُ مِنْ فَرْضِ الطَّاعَةِ فَهُوَ كَافِرٌ ضَالٌّ مُسْتَحِقٌّ لِلْخُلُوْدِ فِي النَّارِ.
“Syi’ah Imamiyyah sepakat bahwa orang yang tidak meyakini keimamahan salah satu dari para imam dan mengingkari apa yang telah diwajibkan Allah SWT kepadanya dari kewajiban taat (kepada para imam), maka dia kafir, sesat dan layak kekal di neraka.” (Ushul Madzhab al-Syi’ah, hal. 867). Riwayat tersebut juga dikutip oleh al-Majlisi dalam Bihar al-Anwar (8/366)
.
Adapun dalam hal nubuwwah (kenabian), Syi’ah tidak berbeda dengan Ahlussunnah. Kami juga mengakui eksistensi nubuwwah. Namun demikian, kami tetap menjadikan imamah sebagai sentral dari doktrin kami
.
Al-Thusi, salah satu ulama Syi’ah, menganggap bahwa orang yang menolak keyakinan imamah ini jika disertai i’tiqad juhud (ingkar) sama halnya dengan menolak nubuwwah, sebagaimana perkataannya:
وَدَفْعُ الاِمَامَةِ كُفْرٌ, كَمَا أَنَ دَفْعَ النُّبُوَّةِ كُفْرٌ, لِاَنَّ الجَهْلَ بِهِمِا عَلَى حَدٍّ وَاحِدٍ.
Menyangkal keimaman adalah kafir, seperti halnya menyangkal kenabian. Sebab (hukum)  tidak tahu pada keduanya berada pada taraf yang sama.” (al-Thusi, Talkhis al-Syafi, 4/131)
.
Konsep imamah menjadi salah satu doktrin utama dalam keyakinan Syi’ah. Imamah adalah sebuah konsep kepemimpinan Syi’ah yang merupakan teori absolut. Konsep inilah sebenarnya menjadi dasar paling asasi dari doktrin-doktrin Syi’ah yang lain.Dalam Syi’ah, imamah tidak hanya merupakan kepemimpinan duniawi saja, akan tetapi juga mencakup urusan ukhrawi. Bagi Syi’ah, imamah merupakan penerus kenabian yang dasar-dasarnya berada pada dalil-dalil syara’ (nash ilahiy)
.
Syi’ah meyakini bahwa Nabi Muhammad telah menunjuk sayyidina Ali secara langsung sebagai imam pengganti beliau dengan penunjukan yang jelas dan tegas
.
Kembali Kepada Quran Dan Ahlulbait

Islam adalah keduanya (Al Quran dan Ahlul Bait) yang tidak akan terpisah hingga akhir zaman, hingga kehadiran Ahlul Bait Rasulullah yang terakhir, Imam Mahdi afs yang dinanti-natikan. Ahlul Bait adalah madrasah yang paling komplit yang mengandung berbagai khazanah ke- Islaman. Madrasah ini telah terbukti menghasilkan kader-kader yang mumpuni dan telah mempersembahkan karya-karya cemerlang bagi kehidupan umat manusia.

Sepanjang sejarah perjalanan umat manusia, polemik dan perbedaan pendapat telah menjadi keniscayaan tersendiri yang tak terelakkan. Adanya paradigma (cara pandang) yang berbeda pada umat manusia adalah konklusi dari dua jalan (kebajikan dan kejahatan) yang telah diilhamkan Allah SWT dalam diri setiap manusia (baca Qs. 90:10).

Oleh karenanya, keberadaan tolok ukur kebenaran yang menjadi rujukan semua pihak adalah suatu keniscayaan pula, yang eksistensinya bagian dari hikmah Ilahi. Allah SWT telah menurunkan kitab pedoman yang merupakan tolok ukur kebenaran dan menjadi penengah untuk menyelesaikan berbagai hal yang diperselisihkan umat manusia.

Allah SWT berfirman: “Manusia itu (dahulunya) satu umat. Lalu Allah mengutus para Nabi (untuk) menyampaikan kabar gembira dan peringatan. Dan diturunkan-Nya bersama mereka kitab yang mengandung kebenaran, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan.” (Qs. Al-Baqarah : 213).
Ayat ini menjelaskan bahwa manusia tanpa bimbingan dan petunjuk Ilahi akan berpecah belah dan bergolong-golongan. Penggalan selanjutnya pada ayat yang sama menjelaskan pula, bahwa kedengkian dan memperturutkan hawa nafsulah yang menyebabkan manusia terlibat dalam perselisihan dan perpecahan.

Kebijaksanaan Ilahilah yang kemudian menurunkan sang Penengah (para nabi as) yang membawa kitab-kitab yang menerangi. Kitab-kitab Ilahiah terutama Al Quran memberikan petunjuk dan arahan yang jelas tentang kebenaran yang seharusnya ditempuh umat manusia.

Namun hawa nafsu, kedengkian, kedurhakaan dan juga kebodohan telah menjerumuskan manusia jauh berpaling dari mata air jernih kebenaran.
Puluhan ribu nabi telah diutus sepanjang sejarah hidup manusia di segala penjuru dunia. Umat Islam meyakini mata rantai kenabian bermula dari Nabi Adam as dan berakhir di tangan Muhammad SAW dan tidak ada lagi nabi sesudahnya.
Ditutupnya kenabian hanya bisa sesuai dengan hikmah dan falsafah diutusnya para nabi bila syariat samawi yang terakhir tersebut memenuhi seluruh kebutuhan umat manusia, di setiap masa dan di setiap tempat. Al Quran sebagai kitab samawi terakhir telah dijamin oleh Allah SWT keabadian dan keutuhannya dari berbagai penyimpangan hingga akhir masa.

Akan tetapi secara zahir Al Quran tidak menjelaskan hukum-hukum dan ajaran Islam secara mendetail. Oleh karenanya penjelasan perincian hukum menjadi tanggung jawab nabi untuk menerangkannya kepada seluruh umatnya.

Sewaktu Nabi Muhammad SAW masih hidup tanggung jawab itu berada dipundaknya. Karena itu hadits-hadits Nabi Muhammad SAW menjadi hujah dan sumber autentik ajaran Islam. Namun apakah semasa hidupnya, Rasulullah SAW telah menjelaskan seluruh hukum dan syariat Islam kepada seluruh umat?

.
Kalau tidak semua, siapa yang bertanggung jawab untuk menjelaskannya? Siapa pula yang bertanggung jawab menengahi silang sengketa sekiranya terjadi penafsiran yang berbeda tentang ayat-ayat Al Quran dalam tubuh umat Islam?
Saya sulit menerima jika dikatakan tanggung jawab penjelasan syariat Islam pasca Rasul jatuh ke tangan para sahabat. Sementara untuk contoh sederhana sahabat sendiri berbeda pendapat bagaimana cara Rasululullah melakukan wudhu dan salat yang benar, padahal Rasul mempraktikkan wudhu dan salat bertahun-tahun di hadapan mereka.

Untuk persoalan wudhu saja mereka menukilkan pendapat yang berbeda-beda, karenanya pada masalah yang lebih rumit sangat mungkin terjadi penukilan yang keliru. Ataupun tanggung jawab penafsiran Al Quran jatuh kepada keempat imam mazhab yang untuk sekadar menafsirkan apa yang dimaksud debu pada surah Al-Maidah ayat 6 saja sulit menemukan kesepakatan.

Kata mazhab Syafi’i debu meliputi pasir dan tanah, tanah saja kata Hanbali; tanah, pasir, batuan, salju dan logam kata Maliki; tanah, pasir dan batuan kata Hanafi (al-Mughniyah, 1960; Al-Jaziri, 1986).

Petunjuk Umat

Islam hanya dapat ditawarkan sebagai agama yang sempurna, yang dapat memenuhi segala kebutuhan manusia jika di dalam agama itu sendiri tidak terdapat perselisihan dan perpecahan. Karenanya, hikmah Ilahi meniscayakan adanya orang-orang yang memiliki kriteria seperti yang dimiliki Nabi Muhammad SAW untuk memberikan bimbingan kepada umat manusia di setiap masa tentunya selain syariat.
Ilmu yang mereka miliki tidak terbatas dengan apa yang pernah disampaikan Nabi Muhammad SAW (sebagaimana maklum Nabi tidak sempat menjelaskan semua tentang syariat Islam) namun juga memiliki potensi mendapatkan ilmu langsung dari Allah SWT ataupun melalui perantara sebagaimana ilham yang diterima Siti Maryam dan ibu nabi Musa as (Lihat Qs. Ali-Imran : 42, Thaha:38).

Mereka menguasai ilmu Al Quran sebagaimana penguasaan nabi Muhammad SAW sehingga ucapan-ucapan merekapun merupakan hujjah dan sumber autentik ajaran Islam. Masalah ini berkaitan dengan Al Quran sebagai mukjizat, berkaitan dengan kedalaman dan ketinggian Al Quran, sehingga hukumnya membutuhkan penafsir dan pengulas.

Al Quran adalah petunjuk untuk seluruh ummat manusia sampai akhir zaman karenanya akan selalu berlaku dan akan selalu ada yang akan menjelaskannya sesuai dengan pengetahuan Ilahi. “Sungguh, Kami telah mendatangkan kitab (Al Quran) kepada mereka, yang Kami jelaskan atas dasar pengetahuan, sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Qs. Al-A’raf :52).
Pada ayat lain, Allah SWT berfirman, “Dan Kami tidak menurunkan kepadamu al-Kitab ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. ” (Qs. An-Nahl : 64).

Dengan pemahaman seperti ini maka jelaslah maksud dari penggalan hadits Rasulullah, Kutinggalkan bagi kalian dua hal yang berharga, Al Quran dan Ahlul Baitku. (HR Muslim). Bahwa keduanya Al Quran dan Ahlul Bait adalah dua hal yang tak terpisahkan hingga hari kiamat, memisahkan satu sama lain akibatnya adalah kesesatan dan di luar dari koridor ajaran Islam itu sendiri.

Penyimpangan

Rasul menyebut keduanya (Al Quran dan Ahlul Baitnya) sebagai Tsaqalain yakni sesuatu yang sangat berharga. Keduanya saling melengkapi dan tidak dapat dipisahkan. Penerus nabi adalah orang-orang yang tahu interpretasi ayat-ayat Al Quran sesuai dengan makna sejatinya, sesuai dengan karakter esensial Islam, sebagaimana yang dikehendaki Allah SWT.
Rasulullah menjamin bahwa siapapun yang bersungguh-sungguh dan berpegang pada kedua tsaqal ini, maka tidak akan pernah mengalami kesesatan. Kemunduran dan penyimpangan kaum Muslimin terjadi ketika mencoba memisahkan kedua tsaqal ini.
Islam adalah keduanya (Al Quran dan Ahlul Bait) yang tidak akan terpisah hingga akhir zaman, hingga kehadiran Ahlul Bait Rasulullah yang terakhir, Imam Mahdi afs yang dinanti-natikan. Ahlul Bait adalah madrasah yang paling komplit yang mengandung berbagai khazanah ke- Islaman. Madrasah ini telah terbukti menghasilkan kader-kader yang mumpuni dan telah mempersembahkan karya-karya cemerlang bagi kehidupan umat manusia.

Imam Ja’far Shadiq (fiqh), Jalaluddin Rumi (tasawuf), Ibnu Sina (kedokteran), Mullah Sadra (Filsafat), Allamah Taba’tabai (tafsir) dan Imam Khomeini (politik), sebagian kecil orang-orang besar yang terlahir dari madrasah ini.

Konsep Imamah dan Wilayah

Membincangkan Wilayah al-Faqih (vilayat-e faqih) tidak bisa terlepas dari konsep Imamah dan wilayah. Imamah dan wilayah adalah konsep kepemimpinan yang diyakini oleh umat syiah. Mayoritas syiah terdapat di Iran (Persia). Iran lewat perjuangan Ayatullah Khomeini telah menjadikan konsep Wilayah al-Faqih sebagai konstitusi negaranya setelah revolusi 1979.

Karenanya, sebelum membahas fokus kajian ini, penulis terlebih dahulu menguraikan konsep Imamah dan wilayah tersebut sebagai faktor perumusan wilayah al-faqih.

MAKNA IMAMAH

Imamah merupakan bahasa Arab yang berakar dari kata imam. Kata imam[1] sendiri berasal dari kata “amma” yang berarti “menjadi ikutan”. Kata imam berarti “pemimpin atau contoh yang harus diikuti, atau yang mendahului”. Orang yang menjadi pemimpin harus selalu di depan untuk diteladani sebagai contoh dan ikutan. Kedudukan imam sama dengan penanggung jawab urusan umat.[2]

Dalam al-Quran, kata imam (bentuk tunggal) dipergunakan sebanyak 7 kali, dan kataa‘immah (bentuk plural) 5 kali dengan arti dan maksud yang bervariasi sesuai dengan penggunaanya. Bisa bermakna jalan umum (Q.S. Yasin/36: 12); pedoman (Q.S. Hud/11: 7); ikut (Q.S. al-Furqan: 74); dan petunjuk (Q.S. al-Ahqaf/46: 12). Begitu pula dalam makna pemimpin, kata ini merujuk pada banyak konteks, seperti pemimpin yang akan dipanggil Tuhan bersama umatnya untuk mempertanggungjawabkan amal perbuatan mereka (Q.S. al-Isra/17: 71); pemimpin orang-orang kafir (Q.S. at-Taubah/9: 12); pemimpin spiritual atau para rasul yang dibekali wahyu untuk mengajak manusia mengerjakan kebajikan, mendirikan salat, menunaikan zakat, yaitu Nabi Ibrahim, Ishaq dan Ya‘qub (Q.S. al-Anbiya/21: 73); pemimpin dalam arti luas dan bersifat umum ataupun dalam arti negatif (Q.S. al-Qasas/28: 5 dan 41); dan pemimpin yang memberi petunjuk berdasarkan perintah Allah Swt (Q.S. as-Sajadah/32: 24).[3]

Ungkapan-ungkapan tersebut menunjukkan bahwa kata imam yang berarti pemimpin, bisa digunakan untuk beberapa maksud, yaitu pemimpin dalam arti negatif yang mengajak manusia kepada perbuatan maksiat, pemimpin dalam arti luas dan bersifat umum, dan pemimpin yang bersifat khusus yakni pemimpin spiritual.

Kata imam yang berarti pemimpin dalam arti luas dan bersifat umum bisa digunakan untuk sebutan pemimpin pemerintahan atau pemimpin politik (sekuler), dan bisa pula untuk pemimpin agama. Sedangkan dalam arti pemimpin yang bersifat khusus, yakni sebagai pemimpin spiritual, bisa saja berimplikasi politik karena dipengaruhi oleh tuntutan keadaan. Karena, pada kenyataannya, upaya melaksanakan ajaran agama dalam kehidupan bermasyarakat dalam ajaran Islam, tidak hanya menyangkut pribadi tapi juga kehidupan kolektif, sebab itu, urusan seorang imambisa berdimensi politis.

Nabi Muhammad saaw. misalnya, pada awalnya lebih berfungsi sebagai nabi dan rasul dalam makna sempit, yakni pemimpin spiritual yang menerima wahyu untuk disampaikan kepada umat manusia. Kemudian, dalam perkembangan berikutnya, pada periode Madinah, kedudukan beliau mulai bersifat politis, sebab beliau juga melaksanakan tugas politik dan pemerintahan sebagai pemimpin atau kepala negara bagi masyarakat Madinah.[4]

Secara istilah, imam adalah seorang yang memegang jabatan umum dalam urusan agama dan juga urusan dunia sekaligus.[5] Dengan demikian Islam tidak mengenal pemisahan mutlak agama dan negara, dunia dan akhirat, mesjid dan istana, atau ulama dan politikus. Inilah yang menjadikan penganut syiah, tidak hanya memandang para imam sebagai pengajar agama, tetapi juga sebagai pengatur segala urusan umat yang berhubungan dengan pranata-pranata sosial, politik, keamanan, ekonomi, budaya, dan seluruh kebutuhan interaksi umat lainya.

PENETAPAN IMAMAH SEBAGAI USHULUDDIN

Salah satu perbedaan pokok yang mendasar antara sunni dan syiah adalah keyakinan tentang imamah, yaitu bahwa Allah swt melalui lisan Nabi-Nya telah mengangkat orang-orang yang memiliki kualitas tinggi untuk menjadi pemimpin umat setelah wafatnya Nabi Muhammad saaw.

Keyakinan pada posisi imamah ini begitu mendasar dalam mazhab syiah imamiyah, sehingga dijadikan salah satu prinsip agama (ushuluddin), selain keyakinan pada ketuhanan (tauhid), keadilan (al-adl), kenabian (an-nubuwah), dan hari kebangkitan (al-ma’ad). Sehingga secara sederhana dapat dikatakan, seseorang dapat disebut sebagai penganut syiah jika ia mempercayai adanya imam yang dipilih Nabi saaw, yang secara formal berhak penuh melanjutkan kedudukan menggantikan Nabi Muhammad sebagai Imam seluruh umat, yang dalam keyakinan syiah, orang yang dipilih nabi tersebut adalah Ali bin Abi Thalib, kerabat dan menantu beliau.

Sebagai dasar pikirnya, syiah meyakini bahwa kebijaksanaan Tuhan (al-hikmah al-ilahiah) menuntut perlunya pengutusan para rasul untuk membimbing umat manusia. Demikian pula mengenai imamah, yakni bahwa kebijaksanaan Tuhan juga menuntut perlunya kehadiran seorang imam sesudah meninggalnya seorang rasul guna terus dapat membimbing umat manusia dan memelihara kemurnian ajaran para nabi dan agama Ilahi dari penyimpangan dan perubahan. Selain itu, untuk menerangkan kebutuhan-kebutuhan zaman dan menyeru umat manusia ke jalan serta pelaksanaan ajaran para nabi. Tanpa itu, tujuan penciptaan, yaitu kesempurnaan dan kebahagiaan, al-takamul wa al-sa’adah, sulit dicapai, karena tidak ada yang membimbing, sehingga umat manusia tidak tentu arah dan ajaran para nabi menjadi sia-sia.[6]

Hal ini juga berdasar pada wahyu ilahi. Misalnya, di dalam al-Quran, Allah berfirman bahwa manusia diperintahkan untuk bergabung dengan orang-orang yang takwa dan benar, “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan bergabunglah bersama orang-orang yang benar” (QS. Al-Taubah: 119).

Ayat ini tidak berlaku untuk satu masa saja, tapi untuk seluruh zaman. Seruan agar orang-orang beriman bergabung dalam barisan orang-orang benar, al-shadiqin,pertanda adanya imam maksum yang harus diikuti pada setiap zaman, sebagaimana disebutkan oleh banyak mufassir sunni dan syiah terhadap makna ayat ini.[7]

KRITERIA IMAMAH: ISHMAH DAN ILMU

Imam yang menggantikan Nabi Saw bukanlah sembarang orang, tetapi harus memiliki sejumlah sifat yang dimiliki Nabi Saw. oleh karena itu, persyaratan menjadi Imam tidak cukup harus seorang Quraisy, seperti yang diyakini sahabat ketika itu, tetapi harus pula memiliki syarat-syarat lain, yaitu ‘ismah (kemampuan menjaga diri dari dosa walau sekecil apa pun) dan ilm (ilmu yang sempurna).[8] Dalam hal ini, berdasarkan pada nas-nas yang shahih, syiah menegaskan bahwa orang yang memiliki sifat demikian hanyalah orang-orang tertentu (bukan semuanya) dari ahlul bait yang memiliki kedekatan dengan Nabi Saaw. Ahlul bait nabi yang dimaksud sebagaimana disebutkan di dalam al-Quran (Q.S. al-Ahzab: 33) diantaranya adalah Imam Ali bin Abi Thalib dan kedua anaknya, Imam Hasan dan Imam Husain.

Imamah yang memiliki sifat ‘ismah perlu, karena syariat tidak akan dapat berjalan tanpa adanya kekuasaan mutlak yang berfungsi memelihara serta menafsirkan pengertian yang benar dan murni (tanpa melakukan kesalahan) terhadap syariat itu. Begitu pula dengan ilmu imam, mestilah suci dan bersifat hudhuri (kehadiran langsung objek ilmu) dan syuhudi (tersaksikan dengan mata batin) atau bantuan gaib dan taufik ilahiah. Selain itu, struktur jasmani, otak serta urat syaraf, dan potensi ilmiah para imam sempurna dan senantiasa mendapat pertolongan ilahi. Semua itu, mutlak diperlukan untuk sampainya pesan-pesan ilahi secara jelas dan sempurna, tanpa cacat dan kesalahan.[9] Jadi, bagi syiah, orang yang memenuhi syarat untuk berperan sebagai penafsir hukum Tuhan hanyalah perantara ‘supra manusiawi’ yang diberi petunjuk oleh pencipta hukum tersebut, yaitu para Imam. Karenanya, syiah mengembangkan teori tentang Imamah sesuai dengan ketentuan imam yang dipilih oleh Tuhan dan bukan hasil pilihan umat manusia.[10]

Ishmah dan ilmu berjalan seiring dan saling dukung. Maksudnya, ishmah diperoleh salah satunya melalui ilmu yang sempurna. Dengan ilmunya, seorang imam mengetahui hukum-hukum agama dan akibat-akibat yang ditimbulkan karena melanggar ajaran-ajaran agama tersebut. Dengan ilmu yang yakin (ilmu al-yakin) dan menyaksikan konsekuensi perbuatannya (ain al-yakin), seorang imam akan senantiasa menjaga dirinya dari perbuatan maksiat dan dosa. Laiknya seperti orang yang mengetahui dengan ilmunya yang pasti bahwa minyak panas akan dapat melukai dan menghancurkan kulitnya, maka ia tidak akan mau mencelupkan tangannya ke dalam kuali yang berisi minyak panas, walaupun hal itu belum pernah dicobanya.

Syiah, selain menggunakan dalil akal untuk menetapkan ‘ishmah para Imam, juga mengajukan dalil naqli, al-Quran dan hadits. Diantaranya yang cukup jelas adalah firman Allah kepada Nabi Ibrahim as, bahwa imam akan diangkat dari keturunannya,“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat, lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman, ’sesungguhnya Aku menjadikan engkau Imam bagi seluruh manusia.’ Ibrahim berkata: ‘(Dan saya mohon juga) dari keturunanku.’ Allah berfirman: “Janjiku (ini) tidak berlaku untuk orang yang zalim. (Q.S. al-Baqarah: 124).

Ayat ini membicarakan tentang kisah Nabi Ibrahim as. yang setelah melewati fase kenabian dan kerasulan, dan setelah lulus dalam sejumlah ujian berat, maka Nabi Ibrahim as. diangkat menjadi Imam seluruh manusia. Dengan kesungguhannya, Nabi Ibrahim meminta kepada Allah agar jabatan ini diberikan juga kepada sebagian keturunannya, tetapi Allah menegaskan kepada Nabi Ibrahim bahwa orang-orang zalim dan para pendosa tidak akan mencapai posisi ini.

Frase terakhir dari ayat di atas menegaskan bahwa ketetapan Allah tidak akan mengenai orang-orang yang zalim. Allamah Thabathabai menjelaskan bahwa dalam hal ini, secara terperinci kelompok manusia dibagi pada empat posisi, yaitu :

1. Manusia yang zalim sepanjang umurnya.
2. Manusia yang tidak zalim sepanjang umurnya.
3. Manusia yang zalim di awal umurnya, dan tidak diakhir umurnya.
4. Manusia yang tidak zalim di awal umurnya, tetapi zalim diakhirnya.[11]

Merujuk pada pembagian ini, maka kelompok manusia yang kedualah yang berhak mendapat dan diangkat menjadi imam, karena tidak pernah berbuat zalim alias maksum, seperti ditegaskan oleh ayat di atas. Sebab seseorang yang berbuat dosa adalah orang zalim atas dirinaya, sesuai dengan firman Allah, “…di antara mereka ada yang manganiaya diri mereka sendiri.” (Q.S. Fatir: 32).

Selain ayat di atas, Allah juga menegaskan kepada manusia untuk mematuhi pemimpin melalui firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah rasul-(Nya), dan ulil amri diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan rasul, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (Q.S. al-Nisa’: 59).

Ayat tersebut menurut Husein al-Habsyi menunjukkan bahwa ulil amri yang wajib ditaati adalah pemimpin yang senantiasa cocok dengan hukum Allah Swt. Ketaatan mutlak tidak akan pernah dilaksanakan kecuali jika pemimpin tersebut adalah orang yang maksum. Sebab, jika mereka berbuat kesalahan, maka harus ditegur dan ditolak saat itu juga. Sikap semacam ini bertentangan dengan keharusan taat kepada mereka. Akhirnya dua perintah Allah akan menjadi saling berbenturan, padahal keduanya menuntut adanya pelaksanaan untuk menghindari murka Yang Maha Kuasa, dalam arti kata taat kepada mereka.[12]

Sedangkan ayat yang secara jelas menyebutkan ahlul bait adalah ayat tathir,“Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu hai ahlul bait dan mensucikan kamu sesuci-sucinya.” (Q.S. al-Ahzab: 33)

Para ulama ahli hadis, tafsir, dan sejarawan menyatakan bahwa ayat di atas turun kepada lima orang, yaitu Nabi Muhammad Saw, Ali bin Abi Thalib, Fatimah, Hasan dan Husein. Hal ini dapat ditemukan dalam banyak literatur baik di kalangan sunni maupun syiah seperti Musnad Ahmad bin Hambal, Mustadrak al-Hakim, Sunanal-Turmizi, tafsir Al-Tabari, Tarikh Baghdadi dan lain-lain.[13] Bahkan beberapa buku ditulis khusus untuk menguraikan tentang ayat tersebut, diantaranya[14]:

1. Sayid Syahid al-Qadhi Nurullah al-Tusturi, Al-Sahab al-Mathir fi Tafsiri Ayat Tathir.
2. Allamah Baha’uddin Muhammad bin Hasan al-Isfahani yang dikenal dengan gelar al-Fadhil al-Hindi, Tathir at-Tathir.
3. Allamah Sayid Abdul Baqi al-Husaini, Syarhu Tathir at-Tahir.
4. Syekh Abdul Karim bin Muhammad bin Thahir al-Qummi, Al-Shuwar al-Munthabaah.
5. Syekh Ismail bin Zainal Abidin yang bergelar Misbah, Tafsir Ayat at-Tathir.
6. Syekh Muhammad Ali bin Muhammad Taqi al-Bahrain, Jala’ul Dhamir fi Halli Musykilat Ayat Takhir.
7. Allamah Syekh Abdul Husain bin Mustafa, Aghlab ad-Dawain fi Tafsiri Ayat Tathir.
8. Syekh Luthfullah Ash-Shafi, Risalah Qayyimah fi Tafsiri Ayat Tathir.
9. Sayid Ja’far Murtadha al-Amili, Ahlulbait fi Ayat at-Tathir.
10. Syekh Muhammad Mahdi ash-Shifi, Kitab fi Maqal Ayat Tathir.
11. Sayid Ali al-Muwahhid al-Abthahi, Ayat Tathir fi Ahadits al-Fariqain.
12. Syekh Ja’far Subhani, Ayat at-Tathir.
13. Sayid Kamal haydari, al-Ishmah.

Dengan demikian, nas-nas al-Quran di atas secara jelas mengungkapkan bahwa, kepemimpinan ilahiah dalam Islam tidaklah berakhir setelah Rasulullah saw wafat. Akan tetapi, garis imamah dilanjutkan oleh Imam Ali bin Abi Thalib dan orang-orang suci dari keturunannya melalui jalur Imam Ali dan Fatimah al-Zahra as.

Dan batasan di atas mengenai imamah tampak bahwa untuk mencapai kedudukan ini dituntut syarat-syarat yang sangat berat, baik dari sisi taqwa, yaitu telah mencapai tingkat ishmah, kemaksuman yang menjadikan seseorang terpelihara dari perbuatan-perbuatan dosa dan kesalahan, serta memiliki ilmu dan pengetahuan yang mencakup seluruh bidang pengetahuan dan aturan agama serta pengetahuan tentang manusia dan kebutuhannya untuk setiap zaman. Setidaknya ada tiga syarat penting yang mesti dimiliki seseorang untuk menduduki posisi Imamah yaitu :

1. Merupakan pilihan dan diangkat oleh Allah swt, bukan diangkat oleh masyarakat umum
2. Memiliki keilmuan yang mencakup keseluruhan ilmu yang diperoleh secaraladunni dari sisi Allah swt.
3. Maksum dari segala kesalahan dan kekeliruan serta dosa.[15]

Ketiga syarat tersebut mengindikasikan bahwa orang yang menjadi imam mestilah diangkat oleh Allah, seperti halnya para Nabi, bukan diangkat oleh manusia. Namun, orang yang diangkat Allah swt haruslah orang yang memiliki kualitas kenabian secara lahiriah dan ruhaniah seperti yang disyaratkannya memiliki ilmu dan kemaksuman. Orang-orang yang memiliki kualitas seperti ini hanya Allah swt yang mengetahuinya, karena hanya Dialah yang senantiasa mengawasi manusia dengan kecermatan, ketelitian, dan pengawasan yang tidak mungkin dihinggapi kekeliruan.

Selain itu, Imamah juga merupakan petunjuk pelaksanaan prinsip-prinsip keadilan Ilahi yang mesti dijalankan manusia. Tuhan dianggap adil karena Ia ingin manusia berjalan di garis yang benar; Tuhan pencipta manusia dan tidak akan membiarkan makhluk-Nya dalam kesesatan. Untuk misi itulah para rasul diutus oleh Tuhan.

PENGANGKATAN DAN PENUNJUKKAN IMAM

Seperti disebutkan di atas bahwa pengangkatan atau penunjukan imam merupakan hak preogratif Allah swt, yang disampaikan melalui wahyu dan lisan Rasulullah saaw. Manusia tidaklah memiliki peran dalam pemilihan tersebut, disebabkan penentuan seorang imam menunut kelayakan zatiah, yakni kelayakan yang mana pada diri seseorang telah tertanam sifat-sifat dan kriteria imam seperti ishmah danilmu secara sempurna dan telah menjadi jati dirinya.

Imamah dalam pandangan kaum syiah tidak hanya merupakan suatu sistem pemerintahan, tetapi juga rancangan Tuhan yang absolut dan menjadi dasar syariat, yang kepercayaan kepadanya dianggap sebagai penegas keimanan. Khwajah Nasiruddin at-Thusi sebagaimana dikutip oleh Murtadha Muthahhari menggunakan ungkapan ilmiah dan mengatakan bahwa Imam adalah luthf (karunia) Allah. Maksudnya seperti kenabian dan berada di luar otoritas manusia. Karenanya, Imam tak dapat dipilih berdasarkan keputusan manusia. Seperti Nabi Saw, Imam ditunjuk berdasarkan ketetapan Allah Swt. Bedanya, Nabi berhubungan langsung dengan Allah Swt, sedangkan Imam diangkat oleh Nabi saw setelah mendapat perintah dari Allah Swt.[16]

Pandangan ini diperkuat dengan penunjukan langsung Rasulullah Muhammad saaw untuk menjadikan Imam Ali sebagai pemimpin (maula, waliy) seluruh kaum muslimin sesaat setelah menyelesaikan haji wada’. Peristiwa bersejarah ini dikenal dengan “hadits ghadir khum” yang mencapai derajat mutawatir.

Jumhur ulama Islam baik dari sunni dan syiah telah mengakui bahwa Nabi Saw pada hari ke-18, pada bulan Zulhijjah tahun ke-10 H, sepulangnya dari haji wada’ menuju Madinah al-Munawarah, beliau berhenti di Ghadir, di sebuah dataran yang bernama Khum. Beliau memerintahkan orang yang mendahuluinya untuk kembali dan menanti orang-orang yang tertinggal di belakang. Sehingga semua orang yang bersama beliau berkumpul, jumlah mereka pada waktu itu diperkirakan mencapai 70.000 orang atau lebih, dan ada yang berpendapat 120.000 orang.[17]

Rasulullah naik ke atas mimbar, beliau berbicara dengan khutbah yang sangat istimewa. Pesan-pesan ilahiah mengenai persaudaraan, keimanan, keutamaan Islam, dan sebagainya disampaikan nabi saaw dengan fasihnya. Hingga kemudian beliau menyampaikan akan keutamaan Imam Ali bin Abi Thalib, mendoakannya dan mendoakan orang-orang yang mendukungnya, serta mereka yang menjadikannya sebagai wali.[18]

Kemudian, beliau memerintahkan para sahabatnya agar menyediakan tempat bagi Ali, kemudian mendudukkannya di tempat itu. Nabi kemudian memerintahkan semua yang bersama beliau untuk mendatanginya, baik perseorangan maupun berjamaah, untuk menyampaikan ucapan selamat kepadanya atas kepemimpinan Ali kelak terhadap seluruh kaum Muslim. Setelah itu para sahabat diperintahkan nabi membai’at Imam Ali. Rasulullah Saw berkata, “Tuhanku telah memerintahkan kepadaku tentang hal ini, dan menyuruh kamu sekalian untuk membai’at kepada Ali.” Riwayat ini menurut Ayatullah Sayyid Muhammad al-Musawi, terdapat dalam lebih 60 kitab karangan ulama-ulama terkenal Sunni, lebih dari 300 sumber dan lebih 100 periwayat dari sahabat Nabi. Sumber-sumber itu antara lain Sunan Abu Daud,Sahih Muslim, Sir al-‘Alamin karya Abu Hamid al-Gazali, Sunan Ibnu Majah, al-Mustadrak al-Hakim, Minhaj al-Sunnah Ibnu Taimiyah, Sunan an-Nasa’i dan lain-lain.[19]

Inilah deklarasi umum kepemimpinan Imam Ali, dengan memproklamirkan, “Barang siapa yang menjadikan aku sebagai pemimpinnya, maka inilah Ali sebagai pemimpinnya juga (man kuntu maula hu fa hadza Ali maula hu .[20]

Hadits ini mempunyai banyak jalur periwayatan baik dari jalur sunni maupun syiah, sehingga mustahil untuk diragukan. Ridha al-Hakimi dalam Hamaseh Ghadirmenyatakan “Apabila (kriteria keshahihan) hadits al-Ghadir ini tidak kita terima kebenarannya, niscaya tidak ada satupun hadits lain yang dapat kita terima”.[21]

Hadis al-Ghadir termasuk hadis yang paling mutawatir. Husain Ali Mahfuz, dalam risetnya yang mendalam seputar persoalan Ghadir Khum, telah mencatat dengan dokumentasi bahwa hadits al-ghadir ini telah dirawikan oleh paling sedikit 110 sahabat, 84 thabiin, 355 ulama, 25 sejarawan, 27 ahli hadits, 11 mufasir, 18 teolog, dan 5 filolog.[22] Al-Amini dalam karya monumentalnya al-Ghadir sebanyak 11 jilid dengan panjang lebar menelusuri sumber-sumber rujukan hadits tersebut. Al-Amini menyebutkan para perawinya dari kalangan sahabat yang mencapai 110 orang sahabat sebagai berikut :

1. Abu Hurairah al-Dausi (w.57/58H). Diantaranya diriwayatkan oleh al-Khatib al-Baghdadi di dalam Tarikh Baghdad jilid VIII, hlm. 290. Al-Khawarizmi di dalam Manaqib, hlm. 130. Ibn Hajar di dalam Tahzhib al-Tahzhib jilid VII, hlm. 327.
2. Abu Laila al-Ansari (w. 37 H). Diantaranya ditulis oleh al-Khawarizmi, Manaqib, hlm. 35. Al-Suyuti di dalam Tarikh al-Khulafa’, hlm. 114 dan Samhudi di dalam kitab Jawahir al-Aqidain.
3. Abu Zainab bin ‘Auf al-Ansari. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah jilid 3, hlm. 307. dan jilid 5, hlm. 205; Ibn Hajr Asqalani, al-Isabah jilid 3, hlm. 408 dan jilid 4, hlm. 80.
4. Abu Fadhalah al-Ansari, sahabat Nabi saaw di dalam peperangan Badr. Di antara orang yang memberi penyaksian kepada ‘Ali AS dengan hadith al-Ghadir di hari Rahbah. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir dalam Usd al-Ghabahjilid 3, hlm. 307, dan jilid 5, hlm.205.
5. Abu Qudamah al-Ansari. Di antara orang yang menyahut seruan ‘Ali AS di hari Rahbah. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir dalam Usd al-Ghabah jilid 5, hlm. 276.
6. Abu ‘Umrah bin ‘Umru bin Muhsin al-Ansari. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah Jilid 3, hlm. 307.
7. Abu al-Haitsam bin al-Taihan meninggal dunia saat perang al-Siffin tahun 37 H. Diriwayatkan oleh al-Qadhi dalam Tarikh Ali Muhammad, hlm. 67.
8. Abu Rafi’ al-Qibti, hamba Rasulullah SAWAW. Diriwayatkan oleh al-Khawarizmi dalam Maqtal dan Abu Bakr al-Ja’abi di dalam Nakhb.
9. Abu Dhuwaib Khuwalid atau Khalid bin Khalid bin Muhrith al-Hazali wafat di dalam pemerintahan Khalifah ‘Uthman. Diriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah dalamHadith al-Wilayah, al-Khawarizmi di dalam Maqtal.
10. Abu Bakr bin Abi Qahafah al-Taimi (w.13H). Lihat Ibn Uqdah dalam Hadith al-Wilayah; Abu Bakr al-Ja’abi dalam al-Nakhb, al-Mansur al-Razi dalam kitabnya Hadith al-Ghadir, Syamsuddin al-Jazari al-Syafi’i dalam Asna al-Matalib, hlm. 3.
11. Usamah bin Zaid bin al-Harithah al-Kalbi (w.54H). Diriwayatkan di dalamHadith al-Wilayah dan Nakhb al-Manaqib.
12. Ubayy bin Ka’ab al-Ansari al-Khazraji (w. 30/32H). Lihat Abu Bakr al-Ja’abi dalam Nakhb al-Manaqib.
13. As’ad bin Zararah al-Ansari. Diriwayatkan oleh Syamsuddin al-Jazari di dalamAsna al-Matalib, hlm. 4.
14. Asma’ binti Umais al-Khath’amiyyah. Diriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah dalamHadith al-Wilayah.
15. Umm Salamah isteri Nabi SAWAW. Lihat al-Samhudi al-Syafii dalam Jawahir al-Aqirain; dan al-Qunduzi al-Hanafi dalam Yanabi al-Mawaddah, hlm. 40.
16. Umm Hani’ binti Abi Talib. Lihat al-Qunduzi l-Hanafi, Yanabi’ al-Mawaddah, hlm. 40 dan Ibn ‘Uqdah, Hadith al-Wilayah.
17. Abu Hamzah Anas bin Malik al-Ansari al-Khazraji hamba Rasulullah saaw (w. 93H). Lihat al-Khatib al-Baghdadi di dalam Tarikhnya jilid VII, hlm. 377; Ibn Qutaibah, al-Ma’arif, hlm. 291; al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa’, hlm. 114.
18. Al-Barra’ bin ‘Azib al-Ansari al-Ausi (w. 72H). Diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal di dalam Musnadnya, IV, hlm. 281; Ibn Majah di dalam Sunan, I, hlm. 28-29.
19. Baridah bin al-Hasib Abu Sahl al-Aslami (w. 63H). Diriwayatkan oleh al-Hakim di dalam al-Mustadrak, III, hlm. 110; al-Suyuti di dalam Tarikh al-Khulafa’, hlm. 114.
20. Abu Sa’id Thabit bin Wadi’ah al-Ansari al-Khazraji al-Madani. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, III, hlm. 307.
21. Jabir bin Samurah bin Janadah Abu Sulaiman al-Sawa’i (w. 70H). Diriwayatkan oleh al-Muttaqi al-Hindi di dalam Kanz al-Ummal, VI, hlm. 398.
22. Jabir bin Abdullah al-Ansari (w. 73/74H). Diriwayatkan oleh Ibn ‘Abd al-Birr di dalam al-Isti’ab, II, hlm. 473; Ibn Hajr di dalam Tahdhib al-Tadhib, V, hlm. 337.
23. Jabalah bin ‘Umru al-Ansari. Diriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah dengan sanad-sanadnya di dalam Hadith al-Wilayah.
24. Jubair bin Mut’am bin ‘Adi al-Qurasyi al-Naufali (w. 57/58/59 H). Diriwayatkan oleh al-Qunduzi l-Hanafi di dalam Yanabi’ al-Mawaddah, hlm. 31, 336.
25. Jarir bin ‘Abdullah bin Jabir al-Bajali (w. 51/54 H). Diriwayatkan oleh al-Haithami di dalam Majma’ al-Zawa’id, IX, hlm. 106.
26. Abu Dhar Janadah al-Ghaffari (w.31 H). Diriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah; Syamsuddin al-Jazari al-Syafi’i di dalam Asna l-Matalib, hlm. 4.
27. Abu Junaidah Janda’ bin ‘Umru bin Mazin al-Ansari. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, I, hlm. 308.
28. Hubbah bin Juwain Abu Qadamah al-’Arani (w. 76-79H). Diriwayatkan oleh al-Haithami di dalam Majma’ al-Zawa’id, IX, hlm. 103; al-Khatib al-Baghdadi di dalam Tarikh Baghdad, VIII, hlm. 276.
29. Hubsyi bin Janadah al-Jaluli. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, III, hlm. 307, V, hlm. 203; Ibn Kathir di dalam al-Bidayah wa Nihayah, VI, hlm. 211.
30. Habib bin Badil bin Waraqa’ al-Khaza’i. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, I, hlm. 368; Ibn Hajr di dalam al-Isabah, I, hlm. 304.
31. Huzaifah bin Usyad Abu Sarihah al-Ghaffari. (w.40/42 H). Diriwayatkan oleh al-Qunduzi al-Hanafi di dalam Yanabi’ al-Mawaddah, hlm. 38.
32. Huzaifah al-Yamani (w.36 H). Diriwayatkan oleh Syamsuddin al-Jazari al-Syafi’i di dalam Asna al-Matalib, hlm. 40.
33. Hasan bin Tsabit. Salah seorang penyair al-Ghadir pada abad pertama Hijrah.
34. Imam Mujtaba Hasan bin ‘Ali AS. Diriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah dan Abu Bakr al-Ja’abi di dalam al-Nakhb.
35. Imam Husain bin ‘Ali AS. Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim di dalam Hilyah al-Auliya’, IX, hlm.9.
36. Abu Ayyub Khalid bin Zaid al-Ansari (w.50/51H). Diriwayatkan oleh Muhibuddin al-Tabari di dalam al-Riyadh al-Nadhirah, I, hlm. 169; Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabbah, V, hlm. 6 dan lain-lain.
37. Abu Sulaiman Khalid bin al-Walid al-Mughirah al-Makhzumi (w. 21/22H). Diriwayatkan oleh Abu Bakr al-Ja’abi di dalam al-Nakhb.
38. Khuzaimah bin Thabit al-Ansari Dhu al-Syahadataini (w. 37H). Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah,III, hlm. 307 dan lain-lain.
39. 39. Abu Syuraih Khuwailid Ibn `Umru al-Khaza`i (w. 68 H).Di antara orang yang menyaksikan Amiru l-Mukminin dengan hadis al-Ghadir.
40. Rifaah bin `Abd al-Munzhir al-Ansari. Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah dengan sanad-sanadnya di dalam Hadis al-Wilayah.
41. Zubair bin al-`Awwam al-Qurasyi (w. 36 H).Diriwayatkan oleh Syamsuddin al-Jazari al-Syafi`i di dalam Asna l-Matalib, hlm. 3.
42. Zaid bin Arqam al-Ansari al-Khazraji (w. 66/68 H). Diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal di dalam Musnadnya, IV, hlm.368 dan lain-lain.
43. Abu Sa`id Zaid bin Thabit (w. 45/48 H).Diriwayatkan oleh Syamsuddin al-Jazari al-Syafi`i di dalam Asna l-Matalib,hlm. 4 dan lain-lain.
44. Zaid Yazid bin Syarahil al-Ansari. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, II, hlm. 233; Ibn Hajr di dalam al-Isabah, I, hlm. 567 dan lain-lain.
45. Zaid bin `Abdullah al-Ansari.Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah dengan sanad-sanadnya di dalam Hadis al-Wilayah.
46. Abu Ishak Sa`d bin Abi Waqqas (w. 54/56/58 H). Diriwayatkan oleh al-Hakim di dalam al-Mustadrak , III, hlm. 116 dan lain-lain.
47. Sa`d bin Janadah al-`Aufi bapa kepada `Atiyyah al-`Aufi. Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadis al-Wilayah , dan lain-lain.
48. Sa`d bin `Ubadah al-Ansari al-Khazraji (w. 14/15 H). Diriwayatkan oleh Abu Bakr al-Ja`abi di dalam Nakhb.
49. Abu Sa`id Sa`d bin Malik al-Ansari al-Khudri (w.63/64/65H). Diriwayatkan oleh al-Khawarizmi di dalam Manaqibnya, hlm. 8; Ibn Kathir di dalam Tafsirnya, II, hlm. 14 dan lain-lain.
50. Sa`id bin Zaid al-Qurasyi `Adwi (w. 50/51 H). Diriwayatkan oleh Ibn al-Maghazili di dalam Manaqibnya.
51. Sa`id bin Sa`d bin `Ubadah al-Ansari.Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalamHadis al-Wilayah.
52. Abu `Abdullah Salman al-Farisi (w. 36/37 H). Diriwayatkan oleh Syamsuddin al-Jazari al-Syafi`i di dalam Asna l-Matalib, hlm. 4 dan lain-lain.
53. Abu Muslim Salmah bin `Umru bin al-Akwa` al-Islami (w. 74H). Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah dengan sanad-sanadnya didalam Hadis al-Wilayah.
54. Abu Sulaiman Samurah bin Jundab al-Fazari (w.58/59/60 H). Diriwayatkan oleh Syamsuddin al-Jazari al-Syafi`i di dalam Asna l-Matalib, hlm. 4 dan lain-lain.
55. Sahal bin Hanif al-Ansari al-Awsi (w. 38 H). Diriwayatkan oleh Syamsuddin al-Jazari al-Syafi`i di dalam Asna l-Matalib, hlm. 4 dan lain-lain.
56. Abu `Abbas Sahal bin Sa`d al-Ansari al-Khazraji al-Sa`idi (w. 91H). Diriwayatkan oleh al-Qunduzi l-Hanafi di dalam Yanabi` al-Mawaddah, hlm. 38 dan lain-lain.
57. Abu Imamah al-Sadiq Ibn `Ajalan al-Bahili (w. 86 H). Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadis al-Wilayah.
58. Dhamirah al-Asadi. Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadis al-Wilayah.
59. Talhah bin `Ubaidillah al-Tamimi wafat pada tahun 35 Hijrah di dalam Perang Jamal. Diriwayatkan oleh al-Mas`udi di dalam Muruj al-Dhahab, II, hlm. 11; al-Hakim di dalam al-Mustadrak, III, hlm. 171 dan lain-lain.
60. Amir bin `Umair al-Namiri. Diriwayatkan oleh Ibn Hajr di dalam al-Isabah, II, hlm. 255.
61. Amir bin Laila bin Dhumrah. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, III, hlm. 92 dan lain-lain.
62. Amir bin Laila al-Ghaffari. Diriwayatkan oleh Ibn Hajr di dalam al-Isabah, II, hlm. 257 dan lain-lain.
63. 63. Abu Tufail `Amir bin Wathilah. Diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal di dalam Musnadnya, I, hlm. 118; al-Turmudhi di dalam Sahihnya, II, hlm. 298 dan lain-lain.
64. 64. `Aisyah binti Abu Bakr bin Abi Qahafah, isteri Nabi (s.`a.w.). Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadis al-Wilayah.
65. Abbas bin `Abdu l-Muttalib bin Hasyim bapa saudara Nabi (s.`a.w.). Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadis al-Wilayah.
66. Abdu al-Rahman bin `Abd Rabb al-Ansari. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, III, hlm. 307; Ibn Hajr di dalam al-Isabah, II, hlm. 408 dan lain-lain.
67. Abu Muhammad bin `Abdu al-Rahman bin Auf al-Qurasyi al Zuhri (w. 31 H). Diriwayatkan oleh Syamsuddin al-Jazari al-Syafi`i di dalam Asna al-Matalib, hlm. 3 dan lain-lain.
68. Abdu al-Rahman bin Ya`mur al-Daili. Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalamHadis al-Wilayah dan lain-lain.
69. Abdullah bin Abi `Abd al-Asad al-Makhzumi. Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadis al-Wilayah.
70. Abdullah bin Badil bin Warqa’ Sayyid Khuza`ah. Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadis al-Wilayah.
71. Abdullah bin Basyir al-Mazini. Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadis al-Wilayah.
72. Abdullah bin Thabit al-Ansari. Diriwayatkan oleh al-Qadhi di dalam Tarikh Ali Muhammad, hlm. 67.
73. Abdullah bin Ja`far bin Abi Talib al-Hasyim (w. 80 H). Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadis al-Wilayah.
74. Abdullah bin Hantab al-Qurasyi al-Makhzumi. Diriwayatkan oleh al-Suyuti di dalam Ihya’ al-Mayyit.
75. Abdullah bin Rabi`ah. Diriwayatkan oleh al-Khawarizmi di dalam Maqtalnya.
76. Abdullah bin `Abbas (w. 68 H). Diriwayatkan oleh al-Nasa`i di dalam al-Khasa`is, hlm. 7 dan lain-lain.
77. Abdullah bin Ubayy Aufa `Alqamah al-Aslami (w.86/87H). Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadis al-Wilayah.
78. Abu `Abd al-Rahman `Abdullah bin `Umar bin al-Khattab al- `Adawi (w. 72/73 H). Diriwayatkan oleh al-Haithami di dalam Majma` al-Zawa’id, IX, hlm. 106 dan lain-lain.
79. Abu `Abdu al-Rahman `Abdullah bin Mas`ud al-Hazali (w. 32/33H). Diriwayatkan oleh al-Suyuti di dalam al-Durr al-Manthur, II, hlm. 298 dan lain-lain.
80. Abdullah bin Yamil. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, III, hlm. 274; Ibn Hajr di dalam al-Isabah, II, hlm. 382 dan lain-lain.
81. Uthman bin `Affan (w. 35 H). Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadis al-Wilayah dan lain-lain.
82. Ubaid bin `Azib al-Ansari, saudara al-Bara’ bin `Azib. Di antara orang yang membuat penyaksian kepada `Ali a.s di Rahbah. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, III, hlm. 307.
83. Abu Tarif `Adi bin Hatim (w. 68 H). Diriwayatkan oleh al-Qunduzi al-Hanafi di dalam Yanabi` al-Mawaddah, hlm. 38 dan lain-lain.
84. Atiyyah bin Basr al-Mazini. Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadis al-Wilayah.
85. Uqbah bin `Amir al-Jauhani. Diriwayatkan oleh al-Qadhi di dalam Tarikh Ali Muhammad, hlm. 68.
86. Amiru l-Mukminin `Ali bin Abi Talib a.s. Diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal di dalam Musnadnya, I, hlm. 152; al-Haithami di dalam Majma` al-Zawa’id, IX, hlm. 107; al-Suyuti di dalam Tarikh al- Khulafa’, hlm. 114; Ibn Hajr di dalamTahdhib al-Tahdhib, VII, hlm. 337; Ibn Kathir di dalam al-Bidayah wa al-Nihayah, V, hlm. 211 dan lain-lain.
87. Abu Yaqzan `Ammar bin Yasir (w. 37H).Diriwayatkan oleh Syamsuddin al-Jazari al-Syafi`i di dalam Asna al-Matalib, hlm. 4 dan lain-lain.
88. Ammarah al-Khazraji al-Ansari. Diriwayatkan oleh al-Haithami di dalamMajma` al-Zawa’id, IX, hlm. 107 dan lain-lain.
89. Umar bin Abi Salmah bin `Abd al-Asad al-Makhzumi (w. 83 H). Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadis al-Wilayah.
90. Umar bin al-Khattab (w. 23 H). Diriwayatkan oleh Muhibbuddin al-Tabari di dalam al-Riyadh al-Nadhirah, II, hlm. 161; Ibn Kathir di dalam al-Bidayah wa al-Nihayah, VII, hlm. 349 dan lain-lain.
91. Abu Najid `Umran bin Hasin al-Khuza`i (w. 52 H). Diriwayatkan oleh syamsuddin al-Jazari al-Syafi`i di dalam Asna al-Matalib, hlm. 4 dan lain-lain.
92. Amru bin al-Humq al-Khuza`i al-Kufi (w. 50 H). Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadis al-Wilayah.
93. Amru bin Syarhabil.Diriwayatkan oleh al-Khawarizmi di dalam Maqtalnya.
94. Amru bin al-`Asi. Diriwayatkan oleh Ibn Qutaibah di dalam al-Imamah wa al-Siyasah, hlm. 93 dan lain-lain.
95. Amru bin Murrah al-Juhani Abu Talhah atau Abu Maryam. Diri-wayatkan oleh al-Muttaqi al-Hindi di dalam Kanz al-`Ummal, VI, hlm. 154 dan lain-lain.
96. Al-Siddiqah Fatimah binti Nabi (s.`a.w.).Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalamHadis al-Wilayah dan lain-lain.
97. Fatimah binti Hamzah bin `Abdu l-Muttalib. Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadis al-Wilayah.
98. Qais bin Thabit bin Syamas al-Ansari. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalamUsd al-Ghabah, I, hlm. 368; Ibn Hajr di dalam al-Isabah, I, hlm. 305 dan lain-lain.
99. Qais bin Sa`d bin `Ubadah al-Ansari al-Khazraji. Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadis al-Wilayah.

100. Abu Muhammad Ka`ab bin `Ajrah al-Ansari al-Madani (w. 51 H). Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadis al-Wilayah.

101. Abu Sulaiman Malik bin al-Huwairath al-Laithi (w. 84 H). Diriwayatkan oleh al-Suyuti di dalam Tarikh al-Khulafa’, hlm. 114 dan lain-lain.

102. Al-Miqdad bin `Amru al-Kindi al-Zuhri (w. 33 H). Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadis al-Wilayah dan lain-lain.

103. Najiah bin`Amru al-Khuza`i. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, V, hlm. 6; Ibn Hajr di dalam al-Isabah, III, hlm. 542 dan lain-lain.

104. Abu Barzah Fadhlah bin `Utbah al-Aslami (w. 65 H). Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadis al-Wilayah.

105. Na’mar bin `Ajalan al-Ansari. Diriwayatkan oleh al-Qadhi di dalam Tarikh Ali Muhammad, hlm. 68 dan lain-lain.

106. Hasyim al-Mirqal Ibn`Utbah bin Abi Waqqas al-Zuhri (w. 37H). Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, I, hlm. 366; Ibn Hajr di dalam _al-Isabah, I, hlm. 305.

107. Abu Wasmah Wahsyiy bin Harb al-Habsyi al-Hamsi. Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadis al-Wilayah.

108. Wahab bin Hamzah.Diriwayatkan oleh al-Khawarizmi pada Fasal Keempat di dalam Maqtalnya.

109. Abu Juhaifah Wahab bin`Abdullah al-Suwa’i (w. 74 H). Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadis al-Wilayah.

110. Abu Murazim Ya’li bin Murrah bin Wahab al-Thaqafi. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah , II, hlm.233; Ibn Hajr di dalam al-Isabah , III, hlm. 542[23].

Demikianlah 110 perawi-perawi hadis al-Ghadir di kalangan sahabat mengenai penunjukan Ali a.s sebagai imam atau khalifah secara langsung oleh Rasulullah saaw. Kemudian diikuti pula oleh 84 perawi-perawi dari golongan para Tabi`in yang meriwayatkan hadis al-Ghadir serta 360 perawi-perawi di kalangan para ulama Sunnah yang meriwayatkan hadis tersebut di dalam buku-buku mereka. Malah terdapat 26 pengarang dari kalangan para ulama Ahl al-Sunnah yang mengarang buku secara khusus tentang hadis al-Ghadir.[24]

Para perawi hadis al-Ghadir tidak berhenti sampai batas ini, melainkan juga dinukil secara mutawatir pada setiap tingkatan-tingkatannya. Jumlah para perawinya dari abad kedua hingga abad keempat belas Hijrah mencapai 360 orang. Diantara ulama Sunni kontemporer yang menyebutkan peristiwa ini, diantaranya :

1. Ahmad Zaini Dahlan al-Makki al-Syafii dalam kitabnya Futuhat al-Islamiyah
2. Syeikh Yusuf al-Nabhani al-Beiruti dalam kitabnya al-Syaraf al-Muayyad
3. Muhammad Abduh dalam karyanya Tafsir al-Manar
4. Abdul Hamid al-Alusi al-Baghdadi dalam kitabnya Natsr al-La’ali
5. Sayyid Mukmin Sablanji al-Misri dalam Nur al-Abshar
6. Syeikh Muhammad Habibullah Syanqithi dalam Kifayah al-Thalib
7. Dr. Ahmad Rifai dalam kitabnya Ta’liqat Mu’jam al-Udaba
8. Ahmad Zaki al-Mishri dalam kitabnya Ta’liqat al-Ghani
9. Ahmad Nashim al-Mishri dalam kitabnya Ta’liqat Diwan Mihyar Dailami
10. Muhammad Mahmud Rifai dalam kitabnya Syarhu al-Hasyimiyat
11. Nashir as-sunnah al-Hamdhrani dalam Tasynif al-Adzan
12. Dr. Umar al-Faruk dalam Hakim al-Muammarah.[25]

Adapun ulama Syiah diantaranya :

1. Syeikh Ahmad bin Ali bin Abi Thalib at-Thabarsi menulis kitab al-Ihtijaj
2. Mir Hamid Husain al-Hindi dalam karyanya Abaqat al-Anwar sebanyak 20 jilid
3. Syeikh Abdul Husain al-Amini dalam karyanya al-Ghadir sebanyak 11 jilid
4. Ali Akbar Shadeqi, Payam Ghadir (Khutbah al-Rasul saw fi Ghadir Khum).
5. Syeikh Ayub al-Hairi, al-Ghadir

Hadits al-Ghadir di atas umumnya dipandang sebagai pelantikan Imam Ali as saja, sedangkan syiah meyakini ada 12 imam. Keyakinan akan 12 imam atau khalifah ini didukung teks-teks hadits yang cukup terkenal yang diriwayatkan para ahli hadits di dalam kitab-kitab utama mereka seperti : Sahih Bukhari, Muslim, Turmuzi, Abu Daud, Musnad Ibn Hanbal, serta kitab-kitab standar lainnya yang jika kita telusuri akan mencapai setidaknya 270 riwayat, diantaranya Al-Qanduzi al-Hanafi telah meriwayatkan di dalam kitabnya Yanabi’ al-Mawaddah, “Yahya bin Hasan telah menyebutkan di dalam kitab al-’Umdah melalui dua puluh jalan bahwa para khalifah sepeninggal Rasulullah saw itu berjumlah dua belas orang khalifah, dan seluruhnya dari bangsa Quraisy. Dan begitu juga di dalam Sahih Bukhari melalui tiga jalan, di dalam Sahih Muslim melalui sembilan jalan, di dalam Sunan Abu Dawud melalui tiga jalan, di dalam Sunan Turmudzi melalui satu jalan, dan di dalam al-Hamidi melalui tiga jalan.

Sebagai misal, di dalam Sahih Bukhari berasal dari Jabir yang mengatakan, “Rasulullah saw telah bersabda, ‘Akan muncul sepeninggalku dua belas orang amir’, kemudian Rasulullah saw mengatakan sesuatu yang saya tidak mendengarnya. Lalu saya menanyakannya kepada ayah saya, ‘Apa yang telah dikatakannya?’ Ayah saya men-jawab, ‘Semuanya dari bangsa Quraisy.’” Adapun di dalam Sahih Muslim berasal dari ‘Amir bin Sa’ad yang berkata, “Saya menulis surat kepada Ibnu Samrah, ‘Beritahukan kepada saya sesuatu yang telah Anda dengar dari Rasulullah saw.’ Lalu Ibnu Samrah menulis kepada saya, ‘Saya mendengar Rasulullah saw bersabda pada hari Jumat sore pada saat dirajamnya al-Aslami, ‘Agama ini akan tetap tegak berdiri hingga datangnya hari kiamat dan munculnya dua belas orang khalifah yang kesemuanya berasal dari bangsa Quraisy.”

Ayatullah Ibrahim Amini meneliti hadits-hadits tentang 12 imam atau khalifah dan mengelompokkanya menjadi lima kelompok,[26] yaitu :

1. Hadits-hadits yang menggambarkan bahwa para khalifah dan umara setelah nabi berjumlah 12 orang. Misalnya hadits yang diriwayatkan oleh Muslim Jilid III, “Agama ini akan terus tegak hingga datangnya hari kiamat atau datang kepada kamu dua belas orang khalifah, (imam) semuanya berasal dan suku Quraisy.”
2. Hadits-hadits yang menyebutkan bahwa para imam berjumlah dua belas orang dan terakhirnya bernama al-Qaim atau Mahdi.
3. Hadits-hadits yang menyebutkan jumlah 12 orang dengan disertai nama-nama setiap imam.
4. Hadits-hadits yang menyatakan bahwa para imam ada 12 orang dan semuanya suci.
5. Hadits-hadits yang menunjukkan bahwa ahlul bait akan tetap ada hingga hari kiamat.

Syiah meyakini bahwa tafsiran yang paling tepat mengenai dua belas khalifah yang ditentukan Nabi Muhammad saaw. itu adalah para Imam maksum as. dari Imam Ali bin Abi Thalib as hingga Imam Muhammad al-Mahdi afs.

Meskipun begitu, umumnya ulama sunni tetap menganggap bahwa pengangkatan Imam Ali sebagai khalifah bukanlah hal yang mutlak, bahkan sebagiannya ada yang menolak persoalan tersebut. Menurut analisa Jalaluddin Rakhmat, setidaknya, dalam menanggapi persoalan ini para pemikir sunni melakukan enam teknik pengalihan fakta[27], yaitu :

1. Membuang sebagian isi hadits dan menggantinya dengan kata-kata yang kabur. Contoh: Tarikh al-Thabari meriwayatkan ucapan Nabi tentang Ali, “Inilah washiku dan khalifahku untuk kamu”. Kata-kata ini dalam tafsir al-Thabari dan Ibnu Katsir diganti dengan “wa kadza wa kadza (demikianlah-demikianlah)”. Tentu kata ‘washi’ dan ‘khalifah’ sangat jelas, sedangkan” wa kadza” tidak jelas.
2. Membuang seluruh beritanya dengan memberithaukan bahwa pembuangan cerita itu ada. Contohnya: Dalam buku ‘Shiffin’ karya Nashr bin Mazahim (w. 212 H) dan Muruj al-Dzahab karya al-Masudi (w. 246 H) diceritakan bahwa Muhammad bin Abu Bakar menulis surat kepada Muawiyah menjelakan keutamaan Imam Ali sebagai ‘washi’ nabi, dan muawiyah mengakuinya. Namun, al-Thabari yang juga menceritakan kisah tersebut dengan merujuk pada buku-buku di atas sebagai sumber, membuang semua isi surat itu dengan alasan supaya orang banyak tidak resah mendengarnya. Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa al-Nihayah, juga menghilangkan isi surat itu dengan alasan yang sama.
3. Memberikan makna lain (takwil) pada riwayat. Contohnya : al-Thabrani dalamMajma al-Zawaid meriwayatkan ucapan Nabi kepada Salman al-Farisi bahwa Ali adalah washi-nya. Al-Thabrani memberikan komentar, “Nabi menjadikannya washi untuk keluarganya, bukan untuk khalifah”.
4. Membuang sebagian riwayat tanpa menyebutkan petunjuk atau alasan. Contohnya: Ibnu Hisyam mendasarkan kitabnya, Tarikh Ibnu Hisyam padaTarikh Ibnu Ishaq. Akan tetapi Ibnu Hisyam dalam kata pengantarnya berkata bahwa ia meninggalkan beberapa bagian riwayat Ibnu Ishaq yang jelek bila disebut orang. Diantara yang ditinggalakanya itu adalah kisah “wa andzir ashiratakal aqrabin”, yang dalam Sirah Ibnu Ishaq di riwayatkan Nabi mengatakan “Inilah (Ali) saudaraku, washiku, dan khalifahku untuk kamu”. Muhammad Husein Haikal dalam bukunya Hayat Muhammad melakukan hal yang sama. Pada bukunya cetakan pertama, ia mengutip ucapan Nabi, “siapa yang akan membantuku dalam urusan ini akan menjadi saudaraku, washiku, dan khalifahku untuk kamu”. Pada cetakan kedua (tahun 1354 H) ucapan Nabi ini dibuang dari bukunya.
5. Melarang penulisan hadits-hadits Nabi saw, dari masa sahabat sampai masa thabiin, sehingga kemungkinan hadits banyak yang hilang.
6. Mendhaifkan hadits-hadits yang mengurangi kehormatan orang yang kita dukung atau yang menunjukkan kehebatan lawan. Contohnya: Ibnu Katsir mendhaifkan hadits-hadits tentang keutamaan Imam Ali sebagai washi dankhalifah Nabi. Ia menganggap riwayat ini sebagai dusta yang dibuat-buat orang syiah atau orang-orang bodoh dalam ilmu hadits. Padahal hadits itu diriwayatkan dari banyak sahabat oleh Imam Ahmad, al-Thabari, al-Thabrani, Abu Nuaim al-Isbahani, Ibnu Asakir, dan lainya.

Cara ini telah melahirkan diskusi mazhab yang panjang. Ulama Sunni menulis buku yang menyerang mazhab syiah, dan Ulama syiah membalasnya dengan menulis buku juga sebagai jawaban. Al-Hilli menulis buku Minhaj al-Karamah yang dibantah oleh Ibnu Rouzban (dari sunni) dan dibalas lagi oleh al-Marasyi al-Tustary (dari Syiah). Kompilasi bantahan ini sekarang menjadi buku ‘Ihqaq al-Haq’ sebanyak 19 jilid, yang setiap jilidnya sama dengan ukuran Encyclopedia Britannica. Ibnu Taymiyah menulis buku ‘Minhaj al-Sunnah’ juga untuk membantah buku ‘Minhaj al-Karamah’. Akhirnya ditulislah 11 jilid al-Ghadir dan 20 jilid “Abaqat al-Anwar” untuk membuktikan keshahihan hadits ghadir khum yang didhaifkan Ibnu Taymiyah. Sampai saat ini belum ada bantahan untuk kedua buku tersebut.

HUBUNGAN IMAMAH DAN WILAYAH

Pada dasarnya, imamah dan wilayah adalah konsepsi yang tak terpisahkan, antara bagian dan keseluruhan. Maksudnya, wilayah adalah payung besar yang menaungi seluruh konsepsi kepemimpinan Islam, baik itu kenabian (an-nubuwah), keimaman (imamah), ataupun keulamaan (fukaha). Ini berarti wilayah merupakan konsepsi yang khas sebagai bentuk distribusi kepemimpinan mulai dari Allah (wilayah Allah), Nabi (wilayah al-nabi), imam (wilayah al-imam), hingga ulama (wilayah al-faqih).

Ayat berikut dipandang oleh syiah sebagai rujukan penting mengenai wilayah: “Sesungguhnya wali kamu hanyalah Allah, rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan salat dan memberikan sedekah dalam keadaan rukuk.” (Q.S. al-Maidah: 55)

Ayat ini menetapkan tiga “kewalian” yaitu Allah, Nabi Muhammad Saw, dan “orang yang beriman”. Frasa terakhir (orang yang beriman) ini, disebutkan oleh para ahli hadits dan tafsir merujuk kepada Imam Ali bin Abi Thalib.[28] Jadi, ayat ini mengindikasikan kewalian Imam Ali bin Abi Thalib, dan para imam lainnya yangwilayah mereka ditetapkan melalui penunjukan mereka oleh Nabi Saw.[29]

Menurut A.A. Sachedina, Nabi Muhammad sebagai rasul terakhir telah melaksanakan tugasnya mengemban wilayah al-ilahiyah. Wilayah al-Ilahiyah berkaitan dengan visi moral wahyu islami. Wahyu islami memandang kehidupan publik sebagai suatu proyeksi niscaya dari tanggapan pribadi terhadap tantangan moral untuk menciptakan suatu tatanan masyarakat yang berdasarkan ajaran-ajaran Allah di muka bumi. Untuk mewujudkan itu, kepemimpinan amat penting. Sebab hanya melalui kepemimpinan yang dibimbing oleh Allah, penciptaan masyarakat yang ideal dapat diwujudkan. Masalah kepemimpinan yang dibimbing oleh Allah dalam memenuhi rencana Allah, di bawah naungan wilayah al-Ilahiyah, dengan demikian menempati posisi sentral dalam sistem keimanan atau pandangan Syiah, yang di dalamnya Nabi Muhammad Saw sebagai wakil aktif Allah yang transendental di muka bumi, digambarkan sebagai memiliki wilayah Ilahi. Untuk menjamin kontinuitas visi wahyu yang demikian, kontinuitas realisasi kepemimpinan menjadi sebuah keniscayaan.[30]

Fakta ini demikian penting, sehingga baik selama masa hidup Nabi Muhammad Saw, maupun segera setelah wafatnya, masalah kepemimpinan dalam Islam menjadi jalin-berjalin demikian erat dengan penciptaan suatu tatanan Islami. Wahyu Islami tak pelak lagi mengandung arti bimbingan Allah melalui perwakilan yang ditunjuk oleh Allah, yaitu Nabi Muhammad Saw, untuk mewujudkan tatanan masyarakat Islami. Dan setelah Rasulullah Muhammad saaw, amanah untuk menjaga dan mewujudkan tatanan islami itu dilanjutkan oleh para imam yang diangkat oleh Allah melalui lisan wahyu Rasulullah saaw.

IMAMAH DAN WILAYAH SEBAGAI KEPEMIMPINAN UNIVERSAL

Kata maula[31] dan al-waliy dalam kamus-kamus Bahasa Arab memiliki beberapa arti, diantaranya : yang bertanggung jawab dalam suatu pekerjaan (al-mutawalli fi al-amr), penolong (nashir), teman (shahib), pecinta (muhib), sekutu (haliif), pewaris (warits).

Akan tetapi, kata al-wali atau maula, sebagaimana terdapat dalam konteks ayat wilayah (Q.S. al-maidah: 55) dan hadits Ghadir Khum di atas, disepakati oleh ulama syiah sebagai konsepsi kepemimpinan universal yang dimiliki oleh Imam Ali bin Abi Thalib. Sedangkan bagi ulama sunni, istilah ini ditafsirkan bermacam-macam,meskipun ada konsensus di antara mereka bahwa ayat dan hadits itu diwahyukan untuk memuji kesalehan dan ketakwaan Ali, namun kata al-wali ditafsirkan sebagai mengandung arti muwalat (persahabatan yang menolong) Ali dan tidak meniscayakan penerimaan akan wilayah (otoritas dalam bentuk kepemimpinan universal/imamah).

Sebagian dari penulis ahli sunnah menyatakan bahwa al-wali atau maula dalam ayat dan hadis “man kuntu maula” berarti teman atau kekasih atau dengan kata lain dalam hadis al-Ghadir, Rasul hanya ingin menegaskan pada kaum muslimin bahwa siapa yang mencintai beliau harus juga mencintai Imam Ali a.s dan tidak lebih dari itu.

Memang tidak ada yang memungkiri bahwa kata al-wali atau maula bisa berarti teman atau kekasih. Akan tetapi, menurut pandangan syiah, dalam konteks ayatwilayah dan hadits al-ghadir, tidaklah tepat memaknai kata tersebut dengan teman atau kekasih dikarenakan alasan sebagai berikut: [32]

1. Bahwasanya kecintaan terhadap Imam Ali a.s. dan kecintaan kaum muslimin dengan sesama mereka adalah masalah yang sudah tersebar luas dan diketahui oleh seluruh umat Islam, karena diawal-awal dakwah rasul, beliau selalu menyampaikan “innamal mukminuna ikhwah”, sesungguhnya orang mukmin itu bersaudara “, oleh karena itu tidak perlu lagi rasul mengumpulkan puluhan bahkan ratusan ribu kaum muslimin dalam kondisi dibawah terik matahari hanya untuk menyampaikan bahwa mereka harus mencintai Imam Ali as.
2. Ayat tentang wilayah ini mengandung makna pengaturan dan ketaatan khusus pada tiga wali yakni Allah, Nabi dan ‘orang beriman’ (Imam Ali).
3. Sesungguhnya sabda Rasul saww, “Bukankah aku lebih berhak atas kalian dibanding dari kalian?”, yang diucapkan sebelum melantik Imam Ali as, menandakan yang dimaksud dengan maula dihadis al-Ghadir bukan hanya sekedar kecintaan, akan tetapi kepemimpinan Imam Ali as. Sebagaimana Rasul adalah pemimpin kaum muslimin dan beliau lebih berhak atas mereka dibanding diri mereka sendiri begitu pula halnya dengan Imam Ali as.
4. Doa Nabi Muhammad saaw, “Ya Allah, cintailah orang yang mencintainya dan musuhilah orang yang memusuhinya. Bantulah mereka yang membantunya dan tiggalkanlah mereka yang meninggalkannya”, mengindikasikan kepemimpinan Imam Ali, sebab secara alami dalam kepemimpinan ada yang mendukung dan ada yang memusuhinya.
5. Ucapan selamat dan baiat yang disampaikan para sahabat kepada Imam Ali as juga membuktikan akan adanya suatu yang istimewa yang dialami beliau as. Kalau saja yang dimaksud rasul dalam hadis al-Ghadir itu hanya sekedar kecintaan, maka adalah hal yang biasa dan bukan suatu yang istimewa sehingga ayat diturunkan dan para sahabat mengucapkan selamat.

Para ulama Syiah, memaknai maula dalam arti pokoknya yang lain, yaitu al-awla bittasharruf (pemimpin) dan al-ahaq (lebih berhak untuk mengemban otoritas), sebab al-awla dalam penggunaan umum sering diterapkan pada seseorang yang dapat mengemban otoritas atau yang mampu mengelola urusan-urusan. Selain itu,al-wali, sebagaimana terdapat dalam ayat Alquran di atas, tidak selalu berarti seseorang yang memiliki otoritas untuk mendukung atau menolong, sebab banyak sekali ayat-ayat Alquran yang lain yang mengandung makna perintah tolong-menolong antara Rasul dengan kaum Muslim.

Namun, al-wali yang diterapkan pada Nabi Muhammad Saaw, mengandung maknawilayah tasharruf, yang berarti pemilikan akan otoritas yang memberi wali hak untuk bertindak dengan cara apa pun yang dinilainya paling baik, menurut kearifannya, sebagai seorang wakil bebas dalam mengelola urusan-urusan umat. Wilayah al-tasharruf dapat diemban hanya oleh orang yang ditunjuk untuk ini oleh otoritas mutlak yaitu Allah, atau oleh orang yang secara eksplisit ditunjuk oleh Nabi Muhammad Saaw, dalam kedudukan otoritas melalui perwakilan. Konsekuensinya, Imam yang ditunjuk oleh nas sebagai wali memiliki wilayah al-tasharrruf dan diakui sebagai penguasa umat.[33]

Dari hal-hal di atas bisa ditarik kesimpulan bahwa yang dimaksud “maula” dalam hadis al-Ghadir adalah “Khilafah dan Imamah” bagi Imam Ali as. sebagai pemimpin universal. Kepemimpinan universal ini akan terus berlangsung melalui garis para imam, yang secara eksplisit ditunjuk oleh imam-imam sebelumnya. Dalam pengertian terakhir inilah wilayah imam atas umat terkonseptualisasikan. Karena itu, secara keagamaan, melecehkan para imam yang ditunjuk oleh Allah ini sama saja dengan pengingkaran.

Secara kronologis, kepemimpinan umat pasca Nabi Muhammad saaw, menurut perspektif syiah, dimulai oleh Imam Ali bin Abi Thalib, kemudian anak beliau yakni Imam Hasan al-Mujtaba, Imam Husain, dan dilanjutkan sembilan keturunan dari Imam Husain yaitu Ali Zainal Abidin, Muhammad al-Baqir, Ja’far Shadiq, Musa Kazhim, Ali Ridha, Muhammad al-Jawad, Ali al-Hadi, Hasan al-Askari, dan Muhammad al-Mahdi. Hanya saja, Imam yang terakhir ini, meskipun telah lahir pada abad ke-3 Hijrah (tahun 255 H) namun mengalami kegaiban hingga waktu yang tidak diketahui. Dalam masa ketersembunyian Imam Mahdi ini, wilayah imam terdelegasikan kepada ulama yang memenuhi syarat-syarat tertentu untuk secara formal memimpin, membimbing, dan menjelaskan syariat Islam kepada kaum muslimin. Kepemimpinan ulama ini berlaku hingga hadirnya Imam kedua belas, Imam Muhammad al-Mahdi afs.

Ketika al-Mahdi, Imam kedua belas datang kembali, maka otoritas-otoritas temporal dan spiritual akan terpadu pada dirinya seperti halnya Nabi Muhammad saw. Dia akan mempersatukan dua bidang pemerintahan islami yang ideal itu. Maka gagasan tentang Imamah yang ditunjuk di antara keturunan Ali, yang berkesinambungan di sepanjang sejarah dan dalam segala keadaan politis, diperkuat oleh harapan berkenaan dengan Imamah dari Imam terakhir yang sedang gaib. Hal ini mengukuhkan kembali harapan Imamiyah akan pemerintahan islami sejati oleh seorang Imam yang absah dari kalangan keturunan Husein.[34]

Kegaiban dalam pemikiran dan keyakinan syiah terbagi dalam dua tingkatan.Pertama, “kegaiban kecil” (minor occultation/ghaibah ash-shugra) selama 74 tahun (255-329 H), yaitu ketika Imam Mahdi “bersembunyi di dunia fisik dan mewakilkan kepemimpinannya kepada para wakil Imam”. Pada masa ini kesulitan dalam halmarja’ (kepemimpinan agama dan politik) relatif bisa diatasi. Karena, posisi marja’dijabat oleh empat wakil al-Mahdi, yaitu Abu ‘Ammar Usman bi Sa’id, Abu Ja’far Muhammad bin Usman, Abu al-Qasim al-Husain bin Ruh dan Abu al-Hasan ‘Ali bin Muhammad Samari.

Kedua, “kegaiban besar” (major occultation/ ghaibah al-kubra), yaitu pasca meninggalnya keempat wakil Imam di atas hingga datangnya kembali Imam Muhammad al-Mahdi pada akhir zaman. Dalam periode “kegaiban besar” inilah kepemimpinan didelegasikan kepada para faqih. Konsepsi inilah yang dikenal dengan istilah wilayah al-faqih.

[1] Gelar yang paralel dengan imam adalah amir dan khalifah. Pada awal pemerintahan Islam, masa Rasulullah Saw dan Khulafaar-Rasyidun, penguasa daerah disebut amil (pekerja pemerintah, gubernur) sinonim dengan amir. Kata amirberasal dari akar kata amr yang berarti “perintah”. Amir bermakna “yang memerintah”, kemudian makna ini berkembang sehingga berarti “pemimpin”. Selama pemerintahan Islam di Madinah, para komandan divisi militer disebut Amir, yaitu amir al-jaisy atau amir al-jund. Para gubernur yang mulanya adalah pemimpin militer yang menaklukkan daerah, juga disebut Amir. Tugas utama amir pada mulanya adalah penguasa daerah, yaitu pengelola administrasi politik, pengumpul pajak, dan pemimpin agama. kemudian pada masa pasca Rasulullah Saw, tugas amir bertambah meliputi memimpin ekpedisi militer, menandatangani perjanjian damai, memelihara keamanan taklukan Islam, membangun mesjid, menjadi Imam salat Jumat, mengurus administrasi pengadilan, dan bertanggung jawab kepada khalifah di Madinah. Pada masa Dinasti Umayyah dan Abbasiyah, makna amir hampir sama dengan masa Rasulullah Saw. Taufik Abdullah. et. al., Ensiklopedi Tematis Dunia Islam jilid III. (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 2002), h. 204-206.

[2] Taufik Abdullah. et.al. Ensiklopedi, h. 204-206.

[3] Taufik Abdullah. et.al. Ensiklopedi, h. 205.

[4] Taufik Abdullah. et.al. Ensiklopedi, h. 205.

[5] Taufik Abdullah. et.al. Ensiklopedi, h. 205.

[6] Pembahasan mengenai imamah dengan dalil-dalil rasional banyak di bahas dalam kitab-kitab kalam syiah. Begitu pula dengan dalil-dalil naqliyah yang bersumber dari al-Quran maupun hadits Nabi Muhammad saaw dan dikomparasikan dengan berbagai argumen mazhab sunni. Lihat misalnya, al-Kulaini,Ushul al-Kafi.(Beirut: Muassasah al-a’lami li al-mathbuat, 2005). Abdul Husain Ahmad al-Amini al-Najafi. al-Ghadir fi al-Kitab wa al-Sunnah wa al-Adab Jilid I. (Beirut: Muassasah al-a’lami lil mathbuat, 1994). Syaikh Abdullah Hasan, Munazarah fil Imamah.

[7] Tentang ayat ini, Fakhr al-Razi, berkomentar; “Ayat ini menjelaskan bahwa setiap orang yang jaiz al-khatha, yang dapat melakukan kesalahan, harus bergabung dan wajib mengikuti orang yang dijamin kebenarannva atau maksum. Mereka adalah orang yang dimaksud oleh Allah sebagai orang-orang yang benar di atas, as-shodiqun. Prinsip ini bukan hanya berlaku pada satu masa saja, tapi untuk sepanjang masa. Jadi, pada setiap masa pasti ada orang maksum. Lihat Fakr al-Razi. Tafsir al-Kabir jilid XVI, h. 221.

[8] Tentang ‘Ismah, dapat di baca secara lengkap dalam Ja’far Subhani. Ma’a al-Syiah al-Imamiyah fi ‘Aqaidihim. (Mu’awiniyatu Syu’uni al-Ta’lim wa al-Buhuts al-Islamiyah, 1413), h. 56-70. Ja’far Subhani. Ishmah Keterpeliharaan Nabi dari Dosa.(Yayasan As-Sajjad, 1991). Sayid Kamal Haydari. Ishmah. (Huquq al-Thab’i Mahfuzhah, 1997); Muhammad at-Tijani as-Samawii. Bersama Orang-orang Yang Benar. (Jakarta: Yayasan as-Sajjad, 1997), h. 213-220.

[9] Ibrahim Amini. Para Pemimpin Teladan. (Jakarta: Al-Huda, 2005), h. 31. dan 40-64.

[10] Munawir Sjadzali. Islam dan Tata Negara. (Jakarta: UI Press, 1993), h. 216.

[11] Allamah Thabathabai. al-Mizan fi Tafsir al-Quran jilid I. (Beirut: Muassasah al-a’lami li al-mathbuat, 1991), h. 270.

[12] Lihat Husain Al-Habsyi. Sunnah-Syiah dalam Ukhwah Islamiyah.(Malang: Yayasan Al-Kautsar, 1991), h. 186. Ja’far Subhani. Ma’a al-Syiah, h. 61.

[13] Lihat pembahasan khusus tentang ayat ini dalam Ali Umar al-Habsyi. Keluarga Suci Nabi Saw: Tafsir Surah al-Ahzab Ayat 33. (Jakarta: Ilya, 2004). Husain Al-Habsyi.Sunnah, h. 187, dan Ja’far Subhani. Ma’a al-Syiah, h. 58.

[14] Lihat Ali Umar al-Habsyi. Keluarga, h. 10-11.

[15] Lihat Muhammad Taqi Misbah Yazdi. Iman Semesta: Merancang Piramida Keyakinan (Jakarta: al-Huda, 2005), h. 290.

[16] Murtadha Muthahhari. Manusia dan Alam Semesta. (Jakarta: Lentera, 2002), h. 471.

[17] Sayid Muhammad Al-Musawi. Mazhab Syiah. (Bandung: Muthahari Press, 2005), h. 460.

[18] Teks khutbah ini dikumpulkan dengan baik dari berbagai sumber oleh Ali Akbar Shadeqi. Pesan Terakhir Nabi saw: Terjemahan Lengkap Kotbah Nabi saw di Ghadir Khum 18 Dzulhijjah 10 H. (Bandung: Pustaka Pelita, 1998).

[19] Sayid Muhammad Al-Musawi. Mazhab, h. 460.

[20] Ali Akbar Shadeqi. Pesan terakhir, h. 58. lihat juga Al-Mustdrak li al-Hakim juz 3, h. 109. Musnad Ahmad juz 4, h. 437-438. Sunan al-Tirmizi juz 5, h.297. Husain Al-Habsyi. Sunnah, h. 37. Sayid Muhammad Al-Musawi. Mazhab, h. 460-461. Muhammad Baqir al-Majlisi. Bihar al-Anwar Juz al-Hadi wa al-’Isyrun, (Beirut: Muassasatu al-Wafa’, 1983), h. 387.

[21] Ali Akbar Shadeqi. Pesan Terakhir, h. 18.

[22] Sayid Husain Muhammad Jafri. Dari Saqifah Sampai Imamah (Bandung: Pustaka Hidayah, 1995), h. 51.

[23] Abdul Husain Ahmad al-Amini al-Najafi. al-Ghadir fi al-Kitab wa al-Sunnah wa al-Adab Jilid I. (Beirut: Muassasah al-a’lami lil mathbuat, 1994), h. 14-158.

[24] Al-Amini. Al-Ghadir, h. 14-158.

[25] Lihat al-Amini. al-Ghadir, h. 147-151.

[26] Lihat Ibrahim Amini. Para, h. 319-321.

[27] Jalaluddin Rakhmat. Tinjauan Kritis Atas Sejarah Fiqih: Dari Fiqih al-Khulafa’ al-Rasyidin Hingga Mazhab Liberalisme, dalam Budhy Munawar Rachman. ed.Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah. (Jakarta: Paramadina, 1995), h. 264-266.

[28] Lihat diantaranya : Abu Ishaq Ahmad bin Ibrahim ats-Tsa’labi. Tafsir al-Kasyfwa al-bayan ‘an Tafsir al-Qur’an. al-Hakim al-Hiskani. Syawahid at-Tanzil jilid 1 (Beirut), h. 171-177. Jalaluddin as-Suyuthi. Tafsir ad-Durr al-Mantsur. al-Muttaqi al-Hindi. Kanz al-’Ummal jilid 1, h. 305 dan jilid 15, h. 146. (bab keutamaan Ali); ath-Thabrani.Mu’jamah al-Awsath. Al-Hakim an-Naisaburi. Ma’rifah ‘Ulum al-Hadits. (Mesir, 1937), h. 102. al-Khawarizmi. Kitab al-Manaqib, h. 187. Ibnu ‘Asakir. Tarikh Dimasyq jilid 2, h. 409. Ibnu Hajar al-’Asqalani. al-Kaff asy-Syaf fi Takhrij Ahadits al-Kasysyaf. Mesir, h. 56. Muhibuddin ath-Thabari. Dzakha’ir al-’Ugba, h. 201. dan kitab ar-Riyadh an-Nadhirah jilid 2, h. 227. Ahmad bin Yahya al-Baladzari. Ansab al-Asyraf jilid 2diperiksa oleh Mahmudi (Beirut), h. 150. Al-Wahidi. Asbab an-Nuzul, diperiksa oleh Sayid Ahmad al-Shamad (1389 ), h. 192.

[29] Abdulaziz A. Sachedina. Kepemimpinan Islam Perspektif Syiah. (Bandung: Mizan, 1994), h. 165.

[30] Lihat Abdulaziz A. Sachedina. Kepemimpinan, h. 164.

[31] Al-Amini menyebutkan padanan kata maula hingga mencapai 27 makna yaitu :al-Rab (Tuhan), al-am (paman), ibn al-am (anak paman), al-ibn (anak laki-laki), ibn al-ukht (putra saudari perempuan), al-mu’tiq (pembebas), al-mu’taq (yang dibebaskan), al-abd (hamba), al-malik (penguasa), al-tabi’ (pengikut), al-mun’am alaih (yang diberi nikmat), as-syarik (sekutu), al-halif (sekutu), ash-shahib (teman), al-jar (tetangga), al-nazil (tamu yang berkunjung), al-Shihru (keluarga suami), al-Qarib(teman dekat), al-mun’im (pemberi nikmat), al-faqid (mitra), al-waliy (pelindung), al-aula bi al-syai (yang lebih utama), al-Sayid ghairu al-malik wa al-mu’tiq (tuan), al-muhib (yang mencintai), al-nashir (penolong), al-mutasharrif fi al-amr (yang terlibat dalam urusan), al-mutawalli fi al-amr (yang bertanggung jawab atas urusan). Lihat al-Amini, al-Ghadir, h. 362-363.

[32] Bandingkan dengan Ibrahim Amini. Para, h. 96-97. Tim Penerbit al-Huda (peny).Antologi Islam. (Jakarta: al-Huda, 2005), h. 301-310.

[33] Abdulaziz A. Sachedina. Kepemimpinan, h. 166.

[34] Abdulaziz A. Sachedina. Kepemimpinan, h. 167.

Ghadir Khum: Sejarah Yang Mustahil Untuk Diingkari

ghadir khumAllah Swt berfirman: “Hai rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu), berarti kamu tidak menyampaikan risalah/agama-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS. Al Maidah: 67)

Peristiwa pengangkatan Imam Ali sebagai pengganti dan penerus kepemimpinan Islam pasca Nabi saw, terjadi di tempat yang bernama Ghadir Khum, yang terletak di kawasan antara Mekkah dan Madinah di dekat Juhfah, sekitar 200 km dari Mekkah.

Peristiwa besar yang menggemparkan sejarah ini,

terjadi pada bulan terakhir tahun ke-10 Hijriah, setelah Rasul saw menjalankan Haji Perpisahan/Terakhir (Hajjatul Wada’). Semua sahabat sadar bahwa sebentar lagi wahyu akan terputus dari mereka. Ini adalah saat-saat terakhir kebersamaan mereka dengan Nabi Besar Muhammad saw.

Dalam sebagian riwayat, Haji Perpisahan/Terakhir tersebut juga disebut dengan hajjatul ikmal wa itmam (haji lengkap dan sempurna), karena setelah ayat ke-67 dari surah al Maidah tersebut diamalkan oleh Rasul saw dimana beliau secara resmi mengangkat tangan Ali bin Abi Thalib tinggi-tinggi sehingga terlihat bagian dalam lengan beliau dan bersabda:

“Man kuntu maula fa hadza ‘aliyyun maula” (Barangsiapa yang menjadikan aku sebagai pemimpinnya, maka ia pun harus menjadikan Ali sebagai pemimpinnya),

maka turunlah ayat berikut sebagai happy ending dakwah beliau:

“Pada hari Ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al Maidah: 3).

Sebelum Rasulullah saw mengangkat Ali sebagai penggantinya, beliau menyampaikan pidato panjang di Ghadir Khum, dimana di antaranya beliau menjelaskan posisi dirinya dan ahlul baitnya, khususnya Imam Ali. Dan di akhir orasinya, Nabi saw mendoakan Ali secara khusus:

“Jadikanlah kebenaran selalu berada bersama Ali.”

Ini adalah kalimat terbaik, terindah dan memiliki makna paling dalam yang diucapkan Nabi di saat itu. Rasul saw menjadikan Ali sebagai mizan (timbangan) kebenaran. Dengan kata lain, untuk mengetahui sesuatu itu benar maka ia harus kita ukur dengan Ali, bukan sebaliknya. Yakni salah besar kalau kita mengukur Ali dengan kebenaran. Sebab Ali adalah manifestasi sempurna kebenaran itu sendiri. Kalau kita mengukur Ali dengan kebenaran maka ini namanya “jeruk makan jeruk”. Sabda agung Nabi saw tersebut yang ditujukan kepada Imam Ali tak ubahnya sabda beliau yang dialamatkan kepada putri semata wayangnya, Fatimah az Zahra: “

“Ridha Allah terletak pada keridhaan Fatimah dan murka-Nya pun terletak pada kemurkaan Fatimah.”

Sebagaimana Ali, Fatimah yang notabene istri tercinta Ali adalah tolak ukur kebenaran. Sesuatu menjadi benar ketika Fatimah meridhainya, dan sesuatu menjadi batil ketika Fatimah memurkainya. Siapapun yang membuat marah Fatimah maka sejatinya ia sedang membuat marah Allah, dan siapapun yang membuat Fatimah tertawa maka ia sedang membahagiakan Allah.

Peristiwa Ghadir dengan pelbagai redaksi dan kisahnya mungkin dapat dilupakan, namun ia tak dapat diingkari begitu saja seperti apa yang dilakukan oleh Fakrur Razi, penulis tafsir Mafatihul Ghaib. Mungkin Fakrur Razi puyeng bila menerima konsekuensi logis dari kejadian Khadir Khum, sehingga karena itu beliau dengan enteng menganggap peristiwa itu tidak pernah ada dalam lembaran sejarah.

Sementara itu, Ahmad bin Hanbal bukan hanya tidak menolak peristiwa tersebut, bahkan beliau berpendapat bahwa Nabi saw menyampaikan hadis, “Man kuntu maula….” sebanyak 4 kali. Nabi saw juga memerintahkan supaya mereka yang hadir dan menjadi saksi sejarah di Khadir Khum menyampaikan pesan penting beliau itu kepada mereka yang tidak hadir.

Allah Swt berfirman :

“Sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu) berarti kamu tidak menyampaikan agama-Nya.”

Berkenaan dengan ayat di atas, di sini ada pertanyaan kritis dan penting: Kira-kira hal apa yang belum secara resmi disampaikan Nabi saw, sehingga beliau diancam oleh Allah Swt bila tidak menyampaikannya maka seluruh jerih payah dakwah beliau selama 23 tahun akan menjadi sia-sia?! Bukankah perintah shalat, zakat, puasa, haji, jihad dll sudah dengan gamblang dijelaskan oleh Baginda Rasul saw?.

Bukankah menurut jumhur ahli tafsir bahwa surah al Maidah adalah termasuk surah yang terakhir turun kepada Nabi saw?, Sehingga ketetapan/hukum apa yang masih perlu disampaikan oleh Rasul saw di Haji Perpisahan tersebut? Ketetapan apa gerangan yang bila Nabi saw mengamalkannya agama menjadi lengkap dan sempurna? Tidak lain adalah ketetapan seputar pemimpin dan imam umat sepeninggal beliau yang menjaga agama dari penyimpangan dan kekaburan pemahaman.

Bukti Kebenaran Peristiwa Ghadir Khum dan Hadis Man Kuntu Maula

Allamah Amini dalam kitab monumentalnya Al Ghadir, menyebutkan seluruh perawi hadis Man Kuntu Maula yang diucapkan Nabi saw di Ghadir Khum, tidak kurang dari 110 sahabat yang meriwayatkan hadis tersebut, di antaranya Thalhah, Zubair, Abu Bakar dll.

Dan 84 perawi hadis tersebut dari generasi kedua, yakni tabiin. Bahkan peristiwa Ghadir Khum dan hal-hal yang terkait dengannya, diabadikan dalam 360 kitab Ahlus Sunah. Jadi, status hadis Man Kuntu Maula bukan hanya mutawatir (diriwayatkan oleh banyak perawi dan tak ada keraguan perihal kesahihannya), tetapi fauqa mutawatir (di atas mutawatir).

Polemik Seputar Makna Man Kuntu Maula

Seperti yang kami tegaskan, bahwa Peristiwa Ghadir Khum tidak dapat dihapus dari kening sejarah, dan pengingkaran terhadap hal tersebut berangkat dari fanatisme mazhab yang sempit atau kebodohan yang akut.

Maka perdebatan berkaitan dengan Ghadir Khum bukan berkisar pada benar tidaknya Nabi saw mengangkat tangan Imam Ali tinggi-tinggi dan membacakan hadis: Man Kuntu Maula, namun perselisihan pendapat hanya mengacu pada makna dan pemahaman dari hadis tersebut. Syiah punya makna dan pemahaman tersendiri terhadap hadis tersohor tersebut, sedangkan Ahlu Sunah juga memiliki persepsi dan pemahaman tersendiri.

Beberapa Indikasi Yang Menunjukkan bahwa Maula berarti Pemimpin

Indikasi Pertama: Nabi saw menyampaikan hadis Man Kuntu Maula di hadapan ribuan sahabat, tua-muda, laki-perempuan di musim panas yang menyengat, dan di gurun pasir yang tandus selepas manasik haji, dan memerintahkan mereka yang meninggalkan kafilah untuk kembali bergabung bersama beliau, dan mereka yang tertinggal di belakang, untuk segera mempercepat langkahnya untuk menyusul beliau hanya untuk mengatakan bahwa:

“siapa yang menjadikan beliau sebagai sahabatnya maka dia pun harus menjadikan Ali sebagai sahabatnya”

atau

“siapa yang menjadikan beliau sebagai kekasihnya maka ia pun harus menjadikan Ali sebagai kekasihnya”?!

Bukankah mereka sudah tahu bahwa Ali adalah ahlul bait Rasul saw yang harus dicintai dan disayangi? Lalu mengapa Rasul saw perlu bersusah payah mengumpulkan mereka hanya untuk menyampaikan masalah ini menjelang akhir kehidupan beliau?!

Indikasi Kedua: Ayat al yauma akmaltu (al maidah 3) turun berkaitan dengan peristiwa Ghadir Khum, lalu apakah agama menjadi sempurna dengan Rasul saw menjadikan Ali sebagai sahabat dan penolongnya?

Indikasi Ketiga: Turunnya ayat Iblagh (al Maidah 67). Apakah Nabi saw diancam oleh Allah Swt bila tidak mengatakan kepada umat bahwa mereka harus menjadikan Ali sebagai sahabat dan mencintainya maka agama tidak sempurna dan dakwah beliau sia-sia?

Indikasi Keempat: Khalifah Abu Bakar dan Umar, juga sahabat Usman, Thalhah dan Zubair dengan tanpa sungkan-sungkan mengucapkan selamat (tabrik) kepada Imam Ali atas terpilihnya ia sebagai pemimpin umat Islam pasca Nabi saw. Ucapan selamat dikatakan kepada seseorang bila seseorang mendapatkan maqam yang tinggi, bukan karena ia dikenal sebagai sahabat yang harus dicintai. (Perihal ucapan selamat sahabat-sahabat senior terhadap Imam Ali atas kedudukannya sebagai pemimpin umat pasca Nabi saw, dapat Anda temukan dalam tafsir at Tsa`labi berkaitan dengan ayat al Maidah 67, dimana Tsa`labi tegas-tegas menyatakan bahwa ayat tersebut terkait dengan Peristiwa Ghadir Khum. kita juga bisa lihat dalam Musnad Ibn Hanbal 6, hal. 401, al Bidayah wa an Nihayah juz 5 hal. 209).

Indikasi Kelima: Hasan bin Tsabit adalah penyair pertama Ghadir. Setelah Nabi saw menyampaikan hadis Man Kuntu Maula, ia memimta izin kepada Nabi saw untuk membacakan syair terkait peristiwa besar tersebut. Dalam salah satu baitnya, disebutkan: “Qum ya `alyyun fa innani radhitu min ba`di imaman wa hadiya” (bangkitlah wahai Ali, aku meridhai engkau sebagai imam dan pemberi petunjuk sesudahku). Maka sahabat Hasan bin Tsabit sebagai seorang yang hidup di zaman Nabi saw dan dekat dengan masa turunnya wahyu lebih mengetahui sastra Arab ketimbang mereka yang mengartikan kata “maula” dengan sahabat/penolong atau budak yang dibebaskan dll.[Ghadir Khum: Sejarah Yang Mustahil Untuk Diingkari]

:stun:

SILSILAH 12 IMAM AHLUL BAYT RASULULLAH

Dari jalur Abdullah Ibn Abd.Muthalib

HASYIM (pemuka bani hasyim)
|
Abd.Muthalib
|
Abdullah
|
Muhammad Saw
|
Fatimah Az-Zahra

Dari Jalur Abu Thalib

Hasyim
|
Abd.Muthalib
|
Abu Thalib
|
‘Ali Al-Murtadha (imam ke 1, syahid dibunuh)

Dari jalur imam ‘Ali Al-Murtadha dan Fatimah Az-Zahra

‘Ali Al-Murtadha-Fatimah Az Zahra
|
Imam Hasan (imam ke 2 syahid diracun) – Imam Husein (imam ke 3 syahid terbunuh) – Zainab Al Kubra

Anak cucu Imam Hasan as

Imam Hasan as
|
Hasan Al-Mutamma
|
Abdullah Al-Mahdi
|
Muhammad Al_Nafs Al Zakkiyah
|
Ibrahim
|
Idris (Imam Syi’ah Idrisiyah)

Anak Cucu Imam Husein as

Imam Husein as
|
‘Ali Zainal Abidin (imam ke 4 syahid diracun) – ‘Ali Akbar – ‘Ali Asghar
|
Zaid (imam syi’ah Zaidiyah) – Muhammad Al-Bakir (imam ke 5 syahid diracun)

Dari jalur Muhammad Al-Bakir

Muhammad Al-Bakir
|
Ja’Far As-Shadiq (imam ke 6 syahid diracun dan guru dari 3 imam besar ahlulsunnah)
|
Ismail (imam syi’ah Ismaliyah) – Musa Al-Kadzim (imam ke 7 syahid diracun) – Muhammad Al-Dibaj – ‘Ali Al-Uraidhi – Abdullah Al-Fatah

Dari jalur Musa Al-Kadzim

Musa Al-Kadzim
|
‘Ali Ar-Ridha (imam ke 8 syahid diracun)
|
Muhammad Al-Jawad Al-Taqi (imam ke 9 syahid diracun)
|
‘Ali Al-Hadi (imam ke 10 syahid di racun)
|
Hasan Al-Askari (imam ke 11 syahid diracun)
|
Muhammad Al-Mahdi Al-Muntadzar (imam ke 12 ghaib kubra)

INILAH 12 IMAM AHLUL BAIT
1.IMAM ALI BIN ABI THALIB AS, PEMIMPIN YANG ADIL
2.IMAM HASAN AL-MUJTABA AS, PENGAYOM UMAT YANG TABAH
3.IMAM HUSAIN ASY-SYAHID, PENGHULU PARA SYAHID
4.IMAM ALI ZAINAL ABIDIN, KEINDAHAN KAUM ‘ABID
5.IMAM MUHAMMAD AL-BAQIR, PENYINGKAP KHAZANAH ILMU
6.IMAM JA‘FAR ASH-SHADIQ, PENCETUS UNIVERSITAS ISLAM
7.IMAM MUSA AL-KAZHIM, PELINDUNG KAUM TERTINDAS
8.IMAM ALI AR-RIDHA, TELADAN PEJUANG YANG SABAR
9.IMAM MUHAMMAD AL-JAWAD, SAMUERA ILMU DAN TAKWA
10.IMAM ALI AL-HADI, TEGUH DI ATAS KEBENARAN
11.IMAM HASAN AL-‘ASKARI, PEMBINA GENERASI UNGGUL
12.IMAM AL-MAHDI, JANJI KEADILAN SEDUNIA

:stun:

Para Imam 12 dari Quraisy, Bani Hasyim dan Ahl Bait Rasulullah s.a.w. Ini adalah terjemahan Kitab al-Imarah (Pemerintahan) daripada Sahih Muslim. Cairo, 1955, Jilid II, him. 1542-1543.
Bab pada menyatakan urusan kekhalifah/lmamah hanya berada di tangan dua belas (12) Imam daripada Quraisy

Para Imam 12 dari Quraisy, Bani Hasyim dan Ahl Bait Rasulullah s.a.w.

Ini adalah terjemahan Kitab al-Imarah (Pemerintahan) daripada Sahih Muslim. Cairo, 1955, Jilid II, him. 1542-1543. Bab pada menyatakan urusan kekhalifah/lmamah hanya berada di tangan dua belas (12) Imam daripada Quraisy, seperti berikut:

Hadith No. 4;

Ahmad bin ‘Abdullah bin Yunus telah memberitahukan haddatha-na” kami. ‘Asim bin Muhammad bin Zaid telah memberitahukan kami daripada bapanya. … Dia berkata: ‘Abd u-llah berkata: Rasulullah s.a.ui. bersabda; “Sentiasa urusan ini “Khalifah/Imamah” berada di tangan Quraisy, sekalipun tinggal dua orang”.

Hadith No. 5;

Qutaibah bin Sa’id telah memberitahukan kami. Jarir telah memberitahu-kan kami daripada Husain daripada Jabir bin Samurah. Dia berkata: Aku telah

mendengar Nabi s.a.w. bersabda. Rifa’ah bin al-Haitham al-Wasiti telah

memberitahukan kami. Khalid bin ‘Abdullah al-Tihan telah memberitahukan kami daripada Husain Jabir bin Samurah. Dia berkata: Aku telah datang kepada Rasulullah bersama bapaku, maka aku mendengarnya bersabda: “Urusan ini (Khalifah/Imamah) tidak akan selesai sehingga berlalunya kepada

mereka dua belas (12) khalifah”. Dia berkata: Kemudian dia bercakap kepadaku dengan perlahan. Dia berkata: maka aku pun berkata kepada bapaku: Apakah yang diucapkannya? Dia menjawab: Mereka semua adalah daripada Quraisy”.

Hadith No. 6;

Ibn Abi ‘Umar telah memberitahukan aku. Sufyan talah memberitahu kepada kami daripada ‘Abdu l-Malik bin ‘Umair daripada Jabir bin Samurah. Dia, berkata: Aku talah mendengar Nabi s.a.u. bersabda: “Sentiasa urusan manusia berlalu begitu sahaja selagi mereka tidak dipimpin oleh dua belas (12) lalaki”. Kemudian Nabi s.a.w. bercakap kepadaku dengan perkataan yang perlahan. Maka aku pun bertanya bapaku: Apakah yang diucapkan oleh Rasulullah s.a.w.? Maka dia berkata: Semua mereka adalah daripada Quraisy”.

Hadith No.7;

Haddad bin Khalid al-Azdiyy telah memberitahukan aku. Hammad bin Salmah telah memberitahukan kami daripada Simak bin Harb. Dia berkata: Aku telah

mendengar Jabir bin Samurah berkata: Aku telah mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: “Islam sentiasa kuat/mulia sehingga dua belas (12) khalifah”. Kemudian dia mengucapkan kalimah yang aku tidak memahaminya. Maka aku pun berkata kepada bapaku: Apakah yang diucapkannya? Dia berkata: “Semua mereka adalah daripada Quraisy”.

Hadith No. 8;

Abu Bakr din, Abi Syaibah…… Jabir bin Samurah berkata: Nabi s.a.w.

Bersabda: “Sentiasa urusan ini (Khalifah/Imamah) menjadi teguh/mulia sehingga dua belas (12) khalifah”. Dia berkata: Kemudian dia bercakap sesuatu yang aku tidak memahaminya. Maka aku bertanyakan bapaku: Apakah yang diucapkan­nya? Maka dia menjawab: “Semua mereka adalah daripada Quraisy”.

Hadith No. 9;

Nasru bin ‘Ali al-Jadhami telah memberitahukan aku….. Jabir bin Samurah berkata: Aku datang kepada Rasulullah bersama bapaku maka aku mendengarnya ‘ bersabda: “Agama ini sentiasa kuat/mulia sehingga dua belas (12) khalifah”. Dia (Rasulullah s.a.w.) telah mengucapkan perkataan yang tidak dapat didengari-nya oleh orang ramai. Aku bertanya kepada bapaku: Apakah yang d,iucepkan oleh-nya? Dia menjawab: “Semua mereka adalah daripada Quraisy”.

Hadith No. 10;

Qutaibah bin Sa’id dan Abu Bakr bin Abi Syaibah telah menceritakan kepada kami….. Jabir bin Samurah berkata: Aku telah mendengar Rasulullah
s.a.w. bersabda: “Agama ini sentiasa teguh sehingga datangnya Qiamat atau
(berlalu) di atas kamu dua belas (12) khalifah”.

Sementara al-Bukhari di dalam Sahihnya, Cairo, 1952, IX, him. “205, mengatakan dsngan perkataan “12 amir”. Walau bagaimanapun Muslim dan al-Bukhari bersetuju bahawa urusan dunia tidak akan selesai malainkan berlalunya 12 khalifah, 12 lelaki, atau 12 amir.

Iman menurut kami hanya terwujudkan dengan cara mengakui keimamahan Imam yang dua belas

Akar peristiwa al-Ghadir menurut nukilan sejarah merupakan peristiwa yang telah ditetapkan dan dibuktikan validitasnya.  Para penulis sejarah dengan merekam pelbagai peristiwa dan menukil turun-temurun kisah ini dan menjadi sandaran masyarakat melalui jalan yang beragam, mengakui kebenaran masalah ini.  Sedemikian masalah ini argumentatif sedemikian sehingga ia dapat dijumpai pada sastra, teologi, tafsir, dan bahkan kitab-kitab hadis standar Ahlusunnah dan Syiah dimana Nasai salah seorang ulama besar Ahlusunnah menukil hadis ini melalui 250 sanad.

Definisi Syi’ah

Kata Syi’ah menurut bahasa adalah pendukung atau pembela. Syi’ah Ali adalah pendukung Ali atau pembela Ali. Syi’ah Muawiyyah adalah pendukung Muawiyyah.
.
Al-Mufid, seorang tokoh Syi’ah abad ke 5 H (w. 413 H/1022 M) mendefinisikan Syi’ah sebagai:
الشِّيْعَةُ أَتْبَاعُ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ صَلَوَاتُ اللهِ عَلَى سَبِيْلِ الْولاَءِ وَالْاِعْتِقَادِ بِإِمَامَتِهِ بَعْدَ الرَّسُوْلِ صَلَوَاتُ اللهِ عَلَيْهِ وَأَلِهِ بِلاَ فَصْلٍ, وَنَفَي الاِمَامَةَ عَمَّنْ تَقَدَّمَهُ فِي مَقَامِ الخِلاَفَةِ, وَجَعَلَهُ فِي الاِعْتِقَادِ مَتْبُوْعًا لَهُ غَيْرَ تَابِعٍ لِأَحَدٍ مِنْهُمْ عَلىَ وَجْهِ الاِقْتِدَاءِ (اوائل المقالات :2-4).
“Syi’ah adalah pengikut Amirul Mukminin (Ali bin Abi Thalib) shalawatullah ‘alaih atas dasar mencintai dan meyakini kepemimpinannya (imamah) sesudah Rasul SAW tanpa terputus (oleh orang lain seperti Abu Bakar dan lainnya). Tidak mengakui keimamahan imamah orang sebelumnya (Ali) sebagai pewaris kedudukan khalifah dan hanya meyakini Ali sebagai pemimpin, bukan mengikuti salah satu dari orang-orang sebelumnya (Abu Bakar, Umar dan Utsman).” (Al-Mufid, Awa’il al-Maqalat, hal. 2-4).

Definisi Al-Mufid di atas secara tegas menunjukkan bahwa kami tidak mengakui kekhalifahan sahabat Abu Bakar, Umar dan Utsman.


Yang dimaksud orang kafir yang najis hukumnya adalah:

1. Orang yang mengingkari Tuhan (tidak menerima adanya Tuhan).

2. Orang yang mengingkari kenabian Rasulullah saw.

3. Orang yang tidak mengesakan Tuhan (menganggap ada lebih dari satu Tuhan).

4. Orang yang mengingkari hal-hal paling penting dalam agama, yang sekiranya pengingkaran itu melazimkan pengingkaran terhadap nabi atau menyebabkan tidak sempurnanya agama.

5. Orang yang mencela para imam maksum atau bahkan memusuhi mereka

Rukun Iman Syi’ah
Pada dasarnya, dalam hal kepercayaan kepada Allah, Syi’ah tidak berbeda dengan Ahlussunnah wal Jama’ah. Syi’ah juga percaya bahwa Allah adalah Esa, tidak beranak dan diperanakkan. Kami juga meyakini bahwa Allah tidak serupa dengan sesuatu apapun, dan kami menghukumi kafir terhadap orang-orang yang menyekutukan Allah
.
Akan tetapi yang membuat doktrin Syi’ah dan Ahlussunnah berbeda adalah penambahan Syi’ah terhadap doktrin imamah. Menurut kami  siapapun yang beriman kepada Allah namun  mengi’tiqadkan juhud (ingkar)  terhadap kepemimpinan Sayyidina Ali setelah Nabi SAW dan para imam keturunan beliau, maka hukumnya melebihi hukum orang yang mengingkari shalat fardhu jika HUJJAH atau Dalil telah sampai kepadanya
.
Muhammad Jawad al-Amili berkata:
الإِيْمَانُ عِنْدَنَا إِنَّمَا يَتَحَقَّقُ بِالاِعْتِرَافِ بِإِمَامَةِ الأَئِمَّةِ الاِثْنيَ عَشَرَ عَلَيْهِمْ السَّلاَمُ, إِلاَّ مَنْ مَاتَ فِي عَهْدِ أَحَدِهِمْ فَلاَ يُشْتَرَطُ فِي إِيْمانِهِ إلاَّ مَعْرِفَةُ إمَامِ زَمَانِهِ وَمِنْ قَبْلِهِ.
“Iman menurut kami hanya terwujudkan dengan cara mengakui keimamahan Imam yang dua belas, kecuali bagi orang yang mati pada zaman salah satu dari mereka maka tidak disyaratkan beriman kecuali mengetahui Imam pada masanya dan masa sebelumnya.” (Ushul Madzhab al-Syi’ah, hal. 693)
.
Al-Kulaini dalam kitabnya menyebutkan suatu riwayat, sebagai berikut:
وعن أبي جعفر قال : “….. لَقِّنُوْا مَوْتَاكُمْ عِنْدَ المَوْتِ شَهَادَةَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَالْوِلاَيَةَ.
“Tuntunlah orang yang sedang sakratul maut bacaan syahadat (persaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah) dan wilayah (pengakuan atas kepemimpina Ali).” (Furu’ al-Kafi, 1/34)
.
Demikianlah, konsep imamah menjadi sentral doktrin kaum syi’ah. Kami menjadikan imamah sebagai salah satu rukun dari rukun-rukun agama Islam. Namun syi’ah tidak mengkafirkan kelompok lain yang tidak mengakui keimamahan Ali dan imam-imam keturunannya karena bisa saja diantara mereka ada yang belum sampai hujjah kepadanya. Jangan lupa ! Ilmu tentang syi’ah banyak disensor ulama sunni
.
Disebutkan dalam kitab al-Wasa’il karangan al-Mufid:
اِتَّفَقَتْ الإِمَامِيَّةُ عَلَى أَنَّ مَنْ أَنْكَرَ إِمَامَةَ أَحَدٍ مِنَ الأَئِمَّةِ وَجَحَدَ مَا أَوْجَبَهُ اللهُ تعالى لَهُ مِنْ فَرْضِ الطَّاعَةِ فَهُوَ كَافِرٌ ضَالٌّ مُسْتَحِقٌّ لِلْخُلُوْدِ فِي النَّارِ.
“Syi’ah Imamiyyah sepakat bahwa orang yang tidak meyakini keimamahan salah satu dari para imam dan mengingkari apa yang telah diwajibkan Allah SWT kepadanya dari kewajiban taat (kepada para imam), maka dia kafir, sesat dan layak kekal di neraka.” (Ushul Madzhab al-Syi’ah, hal. 867). Riwayat tersebut juga dikutip oleh al-Majlisi dalam Bihar al-Anwar (8/366)
.
Adapun dalam hal nubuwwah (kenabian), Syi’ah tidak berbeda dengan Ahlussunnah. Kami juga mengakui eksistensi nubuwwah. Namun demikian, kami tetap menjadikan imamah sebagai sentral dari doktrin kami
.
Al-Thusi, salah satu ulama Syi’ah, menganggap bahwa orang yang menolak keyakinan imamah ini jika disertai i’tiqad juhud (ingkar) sama halnya dengan menolak nubuwwah, sebagaimana perkataannya:
وَدَفْعُ الاِمَامَةِ كُفْرٌ, كَمَا أَنَ دَفْعَ النُّبُوَّةِ كُفْرٌ, لِاَنَّ الجَهْلَ بِهِمِا عَلَى حَدٍّ وَاحِدٍ.
Menyangkal keimaman adalah kafir, seperti halnya menyangkal kenabian. Sebab (hukum)  tidak tahu pada keduanya berada pada taraf yang sama.” (al-Thusi, Talkhis al-Syafi, 4/131)
.
Konsep imamah menjadi salah satu doktrin utama dalam keyakinan Syi’ah. Imamah adalah sebuah konsep kepemimpinan Syi’ah yang merupakan teori absolut. Konsep inilah sebenarnya menjadi dasar paling asasi dari doktrin-doktrin Syi’ah yang lain.Dalam Syi’ah, imamah tidak hanya merupakan kepemimpinan duniawi saja, akan tetapi juga mencakup urusan ukhrawi. Bagi Syi’ah, imamah merupakan penerus kenabian yang dasar-dasarnya berada pada dalil-dalil syara’ (nash ilahiy)
.
Syi’ah meyakini bahwa Nabi Muhammad telah menunjuk sayyidina Ali secara langsung sebagai imam pengganti beliau dengan penunjukan yang jelas dan tegas


Meratapi Fatimah

Di pertengahan malam, tangisan-tangisan penuh kesyahduan memenuhi segenap ruang di dalam rumah suci ini.

Para wanita Quraish, terutamanya dari Bani Hashim, keluar dari rumah mereka, mula berarak ke rumah Fatimah, sambil berteriak menunjukkan kesedihan mereka. Takziah diberikan kepada Imam Ali, dan anak-anak Fatimah, yang kini menjadi yatim.

Para lelaki Madinah juga datang dalam jumlah yang besar untuk memberi penghormatan kepada Ali dan meratapi kehilangan puteri Nabi(s) bersama beliau. Imam Ali duduk di satu sudut, sementara Hassanain, Zainab dan Umm Kalsum tidak berhenti-henti menangis.

Orang ramai yang melihat keadaan ini mula menangis. Atas permintaan Fatimah ke atas Imam Ali, beliau berkata kepada Abu Dzar: “Umumkan pada orang ramai bahawa pengebumian akan ditangguhkan.”

Apabila malam melepasi pertengahannya, Imam Ali, dengan bantuan Asma, memandikan jasad yang lemah, kurus dan suci milik Fatimah, dan mengkafankan beliau. Apabila kafan bakal di siapkan sepenuhnya, Imam Ali memanggil anak-anak beliau untuk melihat wajah ibu mereka kali terakhir dan mengucapkan selamat tinggal.

Sesetengah pendapat mengatakan beliau berumur 18 tahun dan pendapat lain mengatakan beliau berumur 28 tahun.

Hassanain, berlari penuh kesedihan untuk menyentuh jasad suci bonda mereka, yang pergi terlalu awal. Mereka mahu terus bersama dan merasai kehadiran beliau lagi. Beberapa minit berlalu, yang kedengaran hanyalah tangisan tragik dari bilik itu, mereka berbicara dengan penuh kasih sayang dan keterdesakan pada bonda mereka. Kesedihan yang begitu mendalam, tanpa ada siapa yang memahaminya.

Mereka berkata: “Wahai bonda tercinta Hassan dan Hussain! Kami akan merasai kehilangan mu dengan mendalam setiap hari yang berlalu, begitu juga dengan hilangnya Muhammad al Mustafa. Apabila bonda sampai ke tempat baginda, sampaikan salam kami pada baginda! Katakan pada baginda, kami ditinggalkan kesunyian di dalam dunia ini!”

Kemudian jasad Fatimah di bawa keluar, dan dengan bantuan Hassanain, Ammar, Miqdad, Zubair, Abu Dzar, Salman dan beberapa orang dari Bani Hashim, mereka menuju ke tempat pengebumian beliau.

Ali, dengan penuh sebak, menurunkan jasad isterinya ke dalam tanah, dan mengucapkan selamat tinggal pada beliau dalam suasana yang begitu suram.

Setelah selesai mengebumikan isterinya, beliau memandang dengan penuh sayu pada kubur Rasulullah(s). Imam Ali mendekati kubur yang penuh berkah itu, kemudiannya meluahkan segala kepada baginda(s) segala kesakitan dan kesedihan di hatinya.

:stun:

Kembali Kepada Quran Dan Ahlulbait

Islam adalah keduanya (Al Quran dan Ahlul Bait) yang tidak akan terpisah hingga akhir zaman, hingga kehadiran Ahlul Bait Rasulullah yang terakhir, Imam Mahdi afs yang dinanti-natikan. Ahlul Bait adalah madrasah yang paling komplit yang mengandung berbagai khazanah ke- Islaman. Madrasah ini telah terbukti menghasilkan kader-kader yang mumpuni dan telah mempersembahkan karya-karya cemerlang bagi kehidupan umat manusia.

Sepanjang sejarah perjalanan umat manusia, polemik dan perbedaan pendapat telah menjadi keniscayaan tersendiri yang tak terelakkan. Adanya paradigma (cara pandang) yang berbeda pada umat manusia adalah konklusi dari dua jalan (kebajikan dan kejahatan) yang telah diilhamkan Allah SWT dalam diri setiap manusia (baca Qs. 90:10).

Oleh karenanya, keberadaan tolok ukur kebenaran yang menjadi rujukan semua pihak adalah suatu keniscayaan pula, yang eksistensinya bagian dari hikmah Ilahi. Allah SWT telah menurunkan kitab pedoman yang merupakan tolok ukur kebenaran dan menjadi penengah untuk menyelesaikan berbagai hal yang diperselisihkan umat manusia.

Allah SWT berfirman: “Manusia itu (dahulunya) satu umat. Lalu Allah mengutus para Nabi (untuk) menyampaikan kabar gembira dan peringatan. Dan diturunkan-Nya bersama mereka kitab yang mengandung kebenaran, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan.” (Qs. Al-Baqarah : 213).
Ayat ini menjelaskan bahwa manusia tanpa bimbingan dan petunjuk Ilahi akan berpecah belah dan bergolong-golongan. Penggalan selanjutnya pada ayat yang sama menjelaskan pula, bahwa kedengkian dan memperturutkan hawa nafsulah yang menyebabkan manusia terlibat dalam perselisihan dan perpecahan.

Kebijaksanaan Ilahilah yang kemudian menurunkan sang Penengah (para nabi as) yang membawa kitab-kitab yang menerangi. Kitab-kitab Ilahiah terutama Al Quran memberikan petunjuk dan arahan yang jelas tentang kebenaran yang seharusnya ditempuh umat manusia.

Namun hawa nafsu, kedengkian, kedurhakaan dan juga kebodohan telah menjerumuskan manusia jauh berpaling dari mata air jernih kebenaran.
Puluhan ribu nabi telah diutus sepanjang sejarah hidup manusia di segala penjuru dunia. Umat Islam meyakini mata rantai kenabian bermula dari Nabi Adam as dan berakhir di tangan Muhammad SAW dan tidak ada lagi nabi sesudahnya.
Ditutupnya kenabian hanya bisa sesuai dengan hikmah dan falsafah diutusnya para nabi bila syariat samawi yang terakhir tersebut memenuhi seluruh kebutuhan umat manusia, di setiap masa dan di setiap tempat. Al Quran sebagai kitab samawi terakhir telah dijamin oleh Allah SWT keabadian dan keutuhannya dari berbagai penyimpangan hingga akhir masa.

Akan tetapi secara zahir Al Quran tidak menjelaskan hukum-hukum dan ajaran Islam secara mendetail. Oleh karenanya penjelasan perincian hukum menjadi tanggung jawab nabi untuk menerangkannya kepada seluruh umatnya.

Sewaktu Nabi Muhammad SAW masih hidup tanggung jawab itu berada dipundaknya. Karena itu hadits-hadits Nabi Muhammad SAW menjadi hujah dan sumber autentik ajaran Islam. Namun apakah semasa hidupnya, Rasulullah SAW telah menjelaskan seluruh hukum dan syariat Islam kepada seluruh umat?
Kalau tidak semua, siapa yang bertanggung jawab untuk menjelaskannya? Siapa pula yang bertanggung jawab menengahi silang sengketa sekiranya terjadi penafsiran yang berbeda tentang ayat-ayat Al Quran dalam tubuh umat Islam?
Saya sulit menerima jika dikatakan tanggung jawab penjelasan syariat Islam pasca Rasul jatuh ke tangan para sahabat. Sementara untuk contoh sederhana sahabat sendiri berbeda pendapat bagaimana cara Rasululullah melakukan wudhu dan salat yang benar, padahal Rasul mempraktikkan wudhu dan salat bertahun-tahun di hadapan mereka.

Untuk persoalan wudhu saja mereka menukilkan pendapat yang berbeda-beda, karenanya pada masalah yang lebih rumit sangat mungkin terjadi penukilan yang keliru. Ataupun tanggung jawab penafsiran Al Quran jatuh kepada keempat imam mazhab yang untuk sekadar menafsirkan apa yang dimaksud debu pada surah Al-Maidah ayat 6 saja sulit menemukan kesepakatan.

Kata mazhab Syafi’i debu meliputi pasir dan tanah, tanah saja kata Hanbali; tanah, pasir, batuan, salju dan logam kata Maliki; tanah, pasir dan batuan kata Hanafi (al-Mughniyah, 1960; Al-Jaziri, 1986).

Petunjuk Umat

Islam hanya dapat ditawarkan sebagai agama yang sempurna, yang dapat memenuhi segala kebutuhan manusia jika di dalam agama itu sendiri tidak terdapat perselisihan dan perpecahan. Karenanya, hikmah Ilahi meniscayakan adanya orang-orang yang memiliki kriteria seperti yang dimiliki Nabi Muhammad SAW untuk memberikan bimbingan kepada umat manusia di setiap masa tentunya selain syariat.
Ilmu yang mereka miliki tidak terbatas dengan apa yang pernah disampaikan Nabi Muhammad SAW (sebagaimana maklum Nabi tidak sempat menjelaskan semua tentang syariat Islam) namun juga memiliki potensi mendapatkan ilmu langsung dari Allah SWT ataupun melalui perantara sebagaimana ilham yang diterima Siti Maryam dan ibu nabi Musa as (Lihat Qs. Ali-Imran : 42, Thaha:38).

Mereka menguasai ilmu Al Quran sebagaimana penguasaan nabi Muhammad SAW sehingga ucapan-ucapan merekapun merupakan hujjah dan sumber autentik ajaran Islam. Masalah ini berkaitan dengan Al Quran sebagai mukjizat, berkaitan dengan kedalaman dan ketinggian Al Quran, sehingga hukumnya membutuhkan penafsir dan pengulas.

Al Quran adalah petunjuk untuk seluruh ummat manusia sampai akhir zaman karenanya akan selalu berlaku dan akan selalu ada yang akan menjelaskannya sesuai dengan pengetahuan Ilahi. “Sungguh, Kami telah mendatangkan kitab (Al Quran) kepada mereka, yang Kami jelaskan atas dasar pengetahuan, sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Qs. Al-A’raf :52).
Pada ayat lain, Allah SWT berfirman, “Dan Kami tidak menurunkan kepadamu al-Kitab ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. ” (Qs. An-Nahl : 64).

Dengan pemahaman seperti ini maka jelaslah maksud dari penggalan hadits Rasulullah, Kutinggalkan bagi kalian dua hal yang berharga, Al Quran dan Ahlul Baitku. (HR Muslim). Bahwa keduanya Al Quran dan Ahlul Bait adalah dua hal yang tak terpisahkan hingga hari kiamat, memisahkan satu sama lain akibatnya adalah kesesatan dan di luar dari koridor ajaran Islam itu sendiri.

Penyimpangan

Rasul menyebut keduanya (Al Quran dan Ahlul Baitnya) sebagai Tsaqalain yakni sesuatu yang sangat berharga. Keduanya saling melengkapi dan tidak dapat dipisahkan. Penerus nabi adalah orang-orang yang tahu interpretasi ayat-ayat Al Quran sesuai dengan makna sejatinya, sesuai dengan karakter esensial Islam, sebagaimana yang dikehendaki Allah SWT.
Rasulullah menjamin bahwa siapapun yang bersungguh-sungguh dan berpegang pada kedua tsaqal ini, maka tidak akan pernah mengalami kesesatan. Kemunduran dan penyimpangan kaum Muslimin terjadi ketika mencoba memisahkan kedua tsaqal ini.
Islam adalah keduanya (Al Quran dan Ahlul Bait) yang tidak akan terpisah hingga akhir zaman, hingga kehadiran Ahlul Bait Rasulullah yang terakhir, Imam Mahdi afs yang dinanti-natikan. Ahlul Bait adalah madrasah yang paling komplit yang mengandung berbagai khazanah ke- Islaman. Madrasah ini telah terbukti menghasilkan kader-kader yang mumpuni dan telah mempersembahkan karya-karya cemerlang bagi kehidupan umat manusia.

Imam Ja’far Shadiq (fiqh), Jalaluddin Rumi (tasawuf), Ibnu Sina (kedokteran), Mullah Sadra (Filsafat), Allamah Taba’tabai (tafsir) dan Imam Khomeini (politik), sebagian kecil orang-orang besar yang terlahir dari madrasah ini.

Konsep Imamah dan Wilayah

Membincangkan Wilayah al-Faqih (vilayat-e faqih) tidak bisa terlepas dari konsep Imamah dan wilayah. Imamah dan wilayah adalah konsep kepemimpinan yang diyakini oleh umat syiah. Mayoritas syiah terdapat di Iran (Persia). Iran lewat perjuangan Ayatullah Khomeini telah menjadikan konsep Wilayah al-Faqih sebagai konstitusi negaranya setelah revolusi 1979.

Karenanya, sebelum membahas fokus kajian ini, penulis terlebih dahulu menguraikan konsep Imamah dan wilayah tersebut sebagai faktor perumusan wilayah al-faqih.

MAKNA IMAMAH

Imamah merupakan bahasa Arab yang berakar dari kata imam. Kata imam[1] sendiri berasal dari kata “amma” yang berarti “menjadi ikutan”. Kata imam berarti “pemimpin atau contoh yang harus diikuti, atau yang mendahului”. Orang yang menjadi pemimpin harus selalu di depan untuk diteladani sebagai contoh dan ikutan. Kedudukan imam sama dengan penanggung jawab urusan umat.[2]

Dalam al-Quran, kata imam (bentuk tunggal) dipergunakan sebanyak 7 kali, dan kataa‘immah (bentuk plural) 5 kali dengan arti dan maksud yang bervariasi sesuai dengan penggunaanya. Bisa bermakna jalan umum (Q.S. Yasin/36: 12); pedoman (Q.S. Hud/11: 7); ikut (Q.S. al-Furqan: 74); dan petunjuk (Q.S. al-Ahqaf/46: 12). Begitu pula dalam makna pemimpin, kata ini merujuk pada banyak konteks, seperti pemimpin yang akan dipanggil Tuhan bersama umatnya untuk mempertanggungjawabkan amal perbuatan mereka (Q.S. al-Isra/17: 71); pemimpin orang-orang kafir (Q.S. at-Taubah/9: 12); pemimpin spiritual atau para rasul yang dibekali wahyu untuk mengajak manusia mengerjakan kebajikan, mendirikan salat, menunaikan zakat, yaitu Nabi Ibrahim, Ishaq dan Ya‘qub (Q.S. al-Anbiya/21: 73); pemimpin dalam arti luas dan bersifat umum ataupun dalam arti negatif (Q.S. al-Qasas/28: 5 dan 41); dan pemimpin yang memberi petunjuk berdasarkan perintah Allah Swt (Q.S. as-Sajadah/32: 24).[3]

Ungkapan-ungkapan tersebut menunjukkan bahwa kata imam yang berarti pemimpin, bisa digunakan untuk beberapa maksud, yaitu pemimpin dalam arti negatif yang mengajak manusia kepada perbuatan maksiat, pemimpin dalam arti luas dan bersifat umum, dan pemimpin yang bersifat khusus yakni pemimpin spiritual.

Kata imam yang berarti pemimpin dalam arti luas dan bersifat umum bisa digunakan untuk sebutan pemimpin pemerintahan atau pemimpin politik (sekuler), dan bisa pula untuk pemimpin agama. Sedangkan dalam arti pemimpin yang bersifat khusus, yakni sebagai pemimpin spiritual, bisa saja berimplikasi politik karena dipengaruhi oleh tuntutan keadaan. Karena, pada kenyataannya, upaya melaksanakan ajaran agama dalam kehidupan bermasyarakat dalam ajaran Islam, tidak hanya menyangkut pribadi tapi juga kehidupan kolektif, sebab itu, urusan seorang imambisa berdimensi politis.

Nabi Muhammad saaw. misalnya, pada awalnya lebih berfungsi sebagai nabi dan rasul dalam makna sempit, yakni pemimpin spiritual yang menerima wahyu untuk disampaikan kepada umat manusia. Kemudian, dalam perkembangan berikutnya, pada periode Madinah, kedudukan beliau mulai bersifat politis, sebab beliau juga melaksanakan tugas politik dan pemerintahan sebagai pemimpin atau kepala negara bagi masyarakat Madinah.[4]

Secara istilah, imam adalah seorang yang memegang jabatan umum dalam urusan agama dan juga urusan dunia sekaligus.[5] Dengan demikian Islam tidak mengenal pemisahan mutlak agama dan negara, dunia dan akhirat, mesjid dan istana, atau ulama dan politikus. Inilah yang menjadikan penganut syiah, tidak hanya memandang para imam sebagai pengajar agama, tetapi juga sebagai pengatur segala urusan umat yang berhubungan dengan pranata-pranata sosial, politik, keamanan, ekonomi, budaya, dan seluruh kebutuhan interaksi umat lainya.

PENETAPAN IMAMAH SEBAGAI USHULUDDIN

Salah satu perbedaan pokok yang mendasar antara sunni dan syiah adalah keyakinan tentang imamah, yaitu bahwa Allah swt melalui lisan Nabi-Nya telah mengangkat orang-orang yang memiliki kualitas tinggi untuk menjadi pemimpin umat setelah wafatnya Nabi Muhammad saaw.

Keyakinan pada posisi imamah ini begitu mendasar dalam mazhab syiah imamiyah, sehingga dijadikan salah satu prinsip agama (ushuluddin), selain keyakinan pada ketuhanan (tauhid), keadilan (al-adl), kenabian (an-nubuwah), dan hari kebangkitan (al-ma’ad). Sehingga secara sederhana dapat dikatakan, seseorang dapat disebut sebagai penganut syiah jika ia mempercayai adanya imam yang dipilih Nabi saaw, yang secara formal berhak penuh melanjutkan kedudukan menggantikan Nabi Muhammad sebagai Imam seluruh umat, yang dalam keyakinan syiah, orang yang dipilih nabi tersebut adalah Ali bin Abi Thalib, kerabat dan menantu beliau.

Sebagai dasar pikirnya, syiah meyakini bahwa kebijaksanaan Tuhan (al-hikmah al-ilahiah) menuntut perlunya pengutusan para rasul untuk membimbing umat manusia. Demikian pula mengenai imamah, yakni bahwa kebijaksanaan Tuhan juga menuntut perlunya kehadiran seorang imam sesudah meninggalnya seorang rasul guna terus dapat membimbing umat manusia dan memelihara kemurnian ajaran para nabi dan agama Ilahi dari penyimpangan dan perubahan. Selain itu, untuk menerangkan kebutuhan-kebutuhan zaman dan menyeru umat manusia ke jalan serta pelaksanaan ajaran para nabi. Tanpa itu, tujuan penciptaan, yaitu kesempurnaan dan kebahagiaan, al-takamul wa al-sa’adah, sulit dicapai, karena tidak ada yang membimbing, sehingga umat manusia tidak tentu arah dan ajaran para nabi menjadi sia-sia.[6]

Hal ini juga berdasar pada wahyu ilahi. Misalnya, di dalam al-Quran, Allah berfirman bahwa manusia diperintahkan untuk bergabung dengan orang-orang yang takwa dan benar, “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan bergabunglah bersama orang-orang yang benar” (QS. Al-Taubah: 119).

Ayat ini tidak berlaku untuk satu masa saja, tapi untuk seluruh zaman. Seruan agar orang-orang beriman bergabung dalam barisan orang-orang benar, al-shadiqin,pertanda adanya imam maksum yang harus diikuti pada setiap zaman, sebagaimana disebutkan oleh banyak mufassir sunni dan syiah terhadap makna ayat ini.[7]

KRITERIA IMAMAH: ISHMAH DAN ILMU

Imam yang menggantikan Nabi Saw bukanlah sembarang orang, tetapi harus memiliki sejumlah sifat yang dimiliki Nabi Saw. oleh karena itu, persyaratan menjadi Imam tidak cukup harus seorang Quraisy, seperti yang diyakini sahabat ketika itu, tetapi harus pula memiliki syarat-syarat lain, yaitu ‘ismah (kemampuan menjaga diri dari dosa walau sekecil apa pun) dan ilm (ilmu yang sempurna).[8] Dalam hal ini, berdasarkan pada nas-nas yang shahih, syiah menegaskan bahwa orang yang memiliki sifat demikian hanyalah orang-orang tertentu (bukan semuanya) dari ahlul bait yang memiliki kedekatan dengan Nabi Saaw. Ahlul bait nabi yang dimaksud sebagaimana disebutkan di dalam al-Quran (Q.S. al-Ahzab: 33) diantaranya adalah Imam Ali bin Abi Thalib dan kedua anaknya, Imam Hasan dan Imam Husain.

Imamah yang memiliki sifat ‘ismah perlu, karena syariat tidak akan dapat berjalan tanpa adanya kekuasaan mutlak yang berfungsi memelihara serta menafsirkan pengertian yang benar dan murni (tanpa melakukan kesalahan) terhadap syariat itu. Begitu pula dengan ilmu imam, mestilah suci dan bersifat hudhuri (kehadiran langsung objek ilmu) dan syuhudi (tersaksikan dengan mata batin) atau bantuan gaib dan taufik ilahiah. Selain itu, struktur jasmani, otak serta urat syaraf, dan potensi ilmiah para imam sempurna dan senantiasa mendapat pertolongan ilahi. Semua itu, mutlak diperlukan untuk sampainya pesan-pesan ilahi secara jelas dan sempurna, tanpa cacat dan kesalahan.[9] Jadi, bagi syiah, orang yang memenuhi syarat untuk berperan sebagai penafsir hukum Tuhan hanyalah perantara ‘supra manusiawi’ yang diberi petunjuk oleh pencipta hukum tersebut, yaitu para Imam. Karenanya, syiah mengembangkan teori tentang Imamah sesuai dengan ketentuan imam yang dipilih oleh Tuhan dan bukan hasil pilihan umat manusia.[10]

Ishmah dan ilmu berjalan seiring dan saling dukung. Maksudnya, ishmah diperoleh salah satunya melalui ilmu yang sempurna. Dengan ilmunya, seorang imam mengetahui hukum-hukum agama dan akibat-akibat yang ditimbulkan karena melanggar ajaran-ajaran agama tersebut. Dengan ilmu yang yakin (ilmu al-yakin) dan menyaksikan konsekuensi perbuatannya (ain al-yakin), seorang imam akan senantiasa menjaga dirinya dari perbuatan maksiat dan dosa. Laiknya seperti orang yang mengetahui dengan ilmunya yang pasti bahwa minyak panas akan dapat melukai dan menghancurkan kulitnya, maka ia tidak akan mau mencelupkan tangannya ke dalam kuali yang berisi minyak panas, walaupun hal itu belum pernah dicobanya.

Syiah, selain menggunakan dalil akal untuk menetapkan ‘ishmah para Imam, juga mengajukan dalil naqli, al-Quran dan hadits. Diantaranya yang cukup jelas adalah firman Allah kepada Nabi Ibrahim as, bahwa imam akan diangkat dari keturunannya,“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat, lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman, ’sesungguhnya Aku menjadikan engkau Imam bagi seluruh manusia.’ Ibrahim berkata: ‘(Dan saya mohon juga) dari keturunanku.’ Allah berfirman: “Janjiku (ini) tidak berlaku untuk orang yang zalim. (Q.S. al-Baqarah: 124).

Ayat ini membicarakan tentang kisah Nabi Ibrahim as. yang setelah melewati fase kenabian dan kerasulan, dan setelah lulus dalam sejumlah ujian berat, maka Nabi Ibrahim as. diangkat menjadi Imam seluruh manusia. Dengan kesungguhannya, Nabi Ibrahim meminta kepada Allah agar jabatan ini diberikan juga kepada sebagian keturunannya, tetapi Allah menegaskan kepada Nabi Ibrahim bahwa orang-orang zalim dan para pendosa tidak akan mencapai posisi ini.

Frase terakhir dari ayat di atas menegaskan bahwa ketetapan Allah tidak akan mengenai orang-orang yang zalim. Allamah Thabathabai menjelaskan bahwa dalam hal ini, secara terperinci kelompok manusia dibagi pada empat posisi, yaitu :

1. Manusia yang zalim sepanjang umurnya.
2. Manusia yang tidak zalim sepanjang umurnya.
3. Manusia yang zalim di awal umurnya, dan tidak diakhir umurnya.
4. Manusia yang tidak zalim di awal umurnya, tetapi zalim diakhirnya.[11]

Merujuk pada pembagian ini, maka kelompok manusia yang kedualah yang berhak mendapat dan diangkat menjadi imam, karena tidak pernah berbuat zalim alias maksum, seperti ditegaskan oleh ayat di atas. Sebab seseorang yang berbuat dosa adalah orang zalim atas dirinaya, sesuai dengan firman Allah, “…di antara mereka ada yang manganiaya diri mereka sendiri.” (Q.S. Fatir: 32).

Selain ayat di atas, Allah juga menegaskan kepada manusia untuk mematuhi pemimpin melalui firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah rasul-(Nya), dan ulil amri diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan rasul, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (Q.S. al-Nisa’: 59).

Ayat tersebut menurut Husein al-Habsyi menunjukkan bahwa ulil amri yang wajib ditaati adalah pemimpin yang senantiasa cocok dengan hukum Allah Swt. Ketaatan mutlak tidak akan pernah dilaksanakan kecuali jika pemimpin tersebut adalah orang yang maksum. Sebab, jika mereka berbuat kesalahan, maka harus ditegur dan ditolak saat itu juga. Sikap semacam ini bertentangan dengan keharusan taat kepada mereka. Akhirnya dua perintah Allah akan menjadi saling berbenturan, padahal keduanya menuntut adanya pelaksanaan untuk menghindari murka Yang Maha Kuasa, dalam arti kata taat kepada mereka.[12]

Sedangkan ayat yang secara jelas menyebutkan ahlul bait adalah ayat tathir,“Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu hai ahlul bait dan mensucikan kamu sesuci-sucinya.” (Q.S. al-Ahzab: 33)

Para ulama ahli hadis, tafsir, dan sejarawan menyatakan bahwa ayat di atas turun kepada lima orang, yaitu Nabi Muhammad Saw, Ali bin Abi Thalib, Fatimah, Hasan dan Husein. Hal ini dapat ditemukan dalam banyak literatur baik di kalangan sunni maupun syiah seperti Musnad Ahmad bin Hambal, Mustadrak al-Hakim, Sunanal-Turmizi, tafsir Al-Tabari, Tarikh Baghdadi dan lain-lain.[13] Bahkan beberapa buku ditulis khusus untuk menguraikan tentang ayat tersebut, diantaranya[14]:

1. Sayid Syahid al-Qadhi Nurullah al-Tusturi, Al-Sahab al-Mathir fi Tafsiri Ayat Tathir.
2. Allamah Baha’uddin Muhammad bin Hasan al-Isfahani yang dikenal dengan gelar al-Fadhil al-Hindi, Tathir at-Tathir.
3. Allamah Sayid Abdul Baqi al-Husaini, Syarhu Tathir at-Tahir.
4. Syekh Abdul Karim bin Muhammad bin Thahir al-Qummi, Al-Shuwar al-Munthabaah.
5. Syekh Ismail bin Zainal Abidin yang bergelar Misbah, Tafsir Ayat at-Tathir.
6. Syekh Muhammad Ali bin Muhammad Taqi al-Bahrain, Jala’ul Dhamir fi Halli Musykilat Ayat Takhir.
7. Allamah Syekh Abdul Husain bin Mustafa, Aghlab ad-Dawain fi Tafsiri Ayat Tathir.
8. Syekh Luthfullah Ash-Shafi, Risalah Qayyimah fi Tafsiri Ayat Tathir.
9. Sayid Ja’far Murtadha al-Amili, Ahlulbait fi Ayat at-Tathir.
10. Syekh Muhammad Mahdi ash-Shifi, Kitab fi Maqal Ayat Tathir.
11. Sayid Ali al-Muwahhid al-Abthahi, Ayat Tathir fi Ahadits al-Fariqain.
12. Syekh Ja’far Subhani, Ayat at-Tathir.
13. Sayid Kamal haydari, al-Ishmah.

Dengan demikian, nas-nas al-Quran di atas secara jelas mengungkapkan bahwa, kepemimpinan ilahiah dalam Islam tidaklah berakhir setelah Rasulullah saw wafat. Akan tetapi, garis imamah dilanjutkan oleh Imam Ali bin Abi Thalib dan orang-orang suci dari keturunannya melalui jalur Imam Ali dan Fatimah al-Zahra as.

Dan batasan di atas mengenai imamah tampak bahwa untuk mencapai kedudukan ini dituntut syarat-syarat yang sangat berat, baik dari sisi taqwa, yaitu telah mencapai tingkat ishmah, kemaksuman yang menjadikan seseorang terpelihara dari perbuatan-perbuatan dosa dan kesalahan, serta memiliki ilmu dan pengetahuan yang mencakup seluruh bidang pengetahuan dan aturan agama serta pengetahuan tentang manusia dan kebutuhannya untuk setiap zaman. Setidaknya ada tiga syarat penting yang mesti dimiliki seseorang untuk menduduki posisi Imamah yaitu :

1. Merupakan pilihan dan diangkat oleh Allah swt, bukan diangkat oleh masyarakat umum
2. Memiliki keilmuan yang mencakup keseluruhan ilmu yang diperoleh secaraladunni dari sisi Allah swt.
3. Maksum dari segala kesalahan dan kekeliruan serta dosa.[15]

Ketiga syarat tersebut mengindikasikan bahwa orang yang menjadi imam mestilah diangkat oleh Allah, seperti halnya para Nabi, bukan diangkat oleh manusia. Namun, orang yang diangkat Allah swt haruslah orang yang memiliki kualitas kenabian secara lahiriah dan ruhaniah seperti yang disyaratkannya memiliki ilmu dan kemaksuman. Orang-orang yang memiliki kualitas seperti ini hanya Allah swt yang mengetahuinya, karena hanya Dialah yang senantiasa mengawasi manusia dengan kecermatan, ketelitian, dan pengawasan yang tidak mungkin dihinggapi kekeliruan.

Selain itu, Imamah juga merupakan petunjuk pelaksanaan prinsip-prinsip keadilan Ilahi yang mesti dijalankan manusia. Tuhan dianggap adil karena Ia ingin manusia berjalan di garis yang benar; Tuhan pencipta manusia dan tidak akan membiarkan makhluk-Nya dalam kesesatan. Untuk misi itulah para rasul diutus oleh Tuhan.

PENGANGKATAN DAN PENUNJUKKAN IMAM

Seperti disebutkan di atas bahwa pengangkatan atau penunjukan imam merupakan hak preogratif Allah swt, yang disampaikan melalui wahyu dan lisan Rasulullah saaw. Manusia tidaklah memiliki peran dalam pemilihan tersebut, disebabkan penentuan seorang imam menunut kelayakan zatiah, yakni kelayakan yang mana pada diri seseorang telah tertanam sifat-sifat dan kriteria imam seperti ishmah danilmu secara sempurna dan telah menjadi jati dirinya.

Imamah dalam pandangan kaum syiah tidak hanya merupakan suatu sistem pemerintahan, tetapi juga rancangan Tuhan yang absolut dan menjadi dasar syariat, yang kepercayaan kepadanya dianggap sebagai penegas keimanan. Khwajah Nasiruddin at-Thusi sebagaimana dikutip oleh Murtadha Muthahhari menggunakan ungkapan ilmiah dan mengatakan bahwa Imam adalah luthf (karunia) Allah. Maksudnya seperti kenabian dan berada di luar otoritas manusia. Karenanya, Imam tak dapat dipilih berdasarkan keputusan manusia. Seperti Nabi Saw, Imam ditunjuk berdasarkan ketetapan Allah Swt. Bedanya, Nabi berhubungan langsung dengan Allah Swt, sedangkan Imam diangkat oleh Nabi saw setelah mendapat perintah dari Allah Swt.[16]

Pandangan ini diperkuat dengan penunjukan langsung Rasulullah Muhammad saaw untuk menjadikan Imam Ali sebagai pemimpin (maula, waliy) seluruh kaum muslimin sesaat setelah menyelesaikan haji wada’. Peristiwa bersejarah ini dikenal dengan “hadits ghadir khum” yang mencapai derajat mutawatir.

Jumhur ulama Islam baik dari sunni dan syiah telah mengakui bahwa Nabi Saw pada hari ke-18, pada bulan Zulhijjah tahun ke-10 H, sepulangnya dari haji wada’ menuju Madinah al-Munawarah, beliau berhenti di Ghadir, di sebuah dataran yang bernama Khum. Beliau memerintahkan orang yang mendahuluinya untuk kembali dan menanti orang-orang yang tertinggal di belakang. Sehingga semua orang yang bersama beliau berkumpul, jumlah mereka pada waktu itu diperkirakan mencapai 70.000 orang atau lebih, dan ada yang berpendapat 120.000 orang.[17]

Rasulullah naik ke atas mimbar, beliau berbicara dengan khutbah yang sangat istimewa. Pesan-pesan ilahiah mengenai persaudaraan, keimanan, keutamaan Islam, dan sebagainya disampaikan nabi saaw dengan fasihnya. Hingga kemudian beliau menyampaikan akan keutamaan Imam Ali bin Abi Thalib, mendoakannya dan mendoakan orang-orang yang mendukungnya, serta mereka yang menjadikannya sebagai wali.[18]

Kemudian, beliau memerintahkan para sahabatnya agar menyediakan tempat bagi Ali, kemudian mendudukkannya di tempat itu. Nabi kemudian memerintahkan semua yang bersama beliau untuk mendatanginya, baik perseorangan maupun berjamaah, untuk menyampaikan ucapan selamat kepadanya atas kepemimpinan Ali kelak terhadap seluruh kaum Muslim. Setelah itu para sahabat diperintahkan nabi membai’at Imam Ali. Rasulullah Saw berkata, “Tuhanku telah memerintahkan kepadaku tentang hal ini, dan menyuruh kamu sekalian untuk membai’at kepada Ali.” Riwayat ini menurut Ayatullah Sayyid Muhammad al-Musawi, terdapat dalam lebih 60 kitab karangan ulama-ulama terkenal Sunni, lebih dari 300 sumber dan lebih 100 periwayat dari sahabat Nabi. Sumber-sumber itu antara lain Sunan Abu Daud,Sahih Muslim, Sir al-‘Alamin karya Abu Hamid al-Gazali, Sunan Ibnu Majah, al-Mustadrak al-Hakim, Minhaj al-Sunnah Ibnu Taimiyah, Sunan an-Nasa’i dan lain-lain.[19]

Inilah deklarasi umum kepemimpinan Imam Ali, dengan memproklamirkan, “Barang siapa yang menjadikan aku sebagai pemimpinnya, maka inilah Ali sebagai pemimpinnya juga (man kuntu maula hu fa hadza Ali maula hu .[20]

Hadits ini mempunyai banyak jalur periwayatan baik dari jalur sunni maupun syiah, sehingga mustahil untuk diragukan. Ridha al-Hakimi dalam Hamaseh Ghadirmenyatakan “Apabila (kriteria keshahihan) hadits al-Ghadir ini tidak kita terima kebenarannya, niscaya tidak ada satupun hadits lain yang dapat kita terima”.[21]

Hadis al-Ghadir termasuk hadis yang paling mutawatir. Husain Ali Mahfuz, dalam risetnya yang mendalam seputar persoalan Ghadir Khum, telah mencatat dengan dokumentasi bahwa hadits al-ghadir ini telah dirawikan oleh paling sedikit 110 sahabat, 84 thabiin, 355 ulama, 25 sejarawan, 27 ahli hadits, 11 mufasir, 18 teolog, dan 5 filolog.[22] Al-Amini dalam karya monumentalnya al-Ghadir sebanyak 11 jilid dengan panjang lebar menelusuri sumber-sumber rujukan hadits tersebut. Al-Amini menyebutkan para perawinya dari kalangan sahabat yang mencapai 110 orang sahabat sebagai berikut :

1. Abu Hurairah al-Dausi (w.57/58H). Diantaranya diriwayatkan oleh al-Khatib al-Baghdadi di dalam Tarikh Baghdad jilid VIII, hlm. 290. Al-Khawarizmi di dalam Manaqib, hlm. 130. Ibn Hajar di dalam Tahzhib al-Tahzhib jilid VII, hlm. 327.
2. Abu Laila al-Ansari (w. 37 H). Diantaranya ditulis oleh al-Khawarizmi, Manaqib, hlm. 35. Al-Suyuti di dalam Tarikh al-Khulafa’, hlm. 114 dan Samhudi di dalam kitab Jawahir al-Aqidain.
3. Abu Zainab bin ‘Auf al-Ansari. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah jilid 3, hlm. 307. dan jilid 5, hlm. 205; Ibn Hajr Asqalani, al-Isabah jilid 3, hlm. 408 dan jilid 4, hlm. 80.
4. Abu Fadhalah al-Ansari, sahabat Nabi saaw di dalam peperangan Badr. Di antara orang yang memberi penyaksian kepada ‘Ali AS dengan hadith al-Ghadir di hari Rahbah. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir dalam Usd al-Ghabahjilid 3, hlm. 307, dan jilid 5, hlm.205.
5. Abu Qudamah al-Ansari. Di antara orang yang menyahut seruan ‘Ali AS di hari Rahbah. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir dalam Usd al-Ghabah jilid 5, hlm. 276.
6. Abu ‘Umrah bin ‘Umru bin Muhsin al-Ansari. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah Jilid 3, hlm. 307.
7. Abu al-Haitsam bin al-Taihan meninggal dunia saat perang al-Siffin tahun 37 H. Diriwayatkan oleh al-Qadhi dalam Tarikh Ali Muhammad, hlm. 67.
8. Abu Rafi’ al-Qibti, hamba Rasulullah SAWAW. Diriwayatkan oleh al-Khawarizmi dalam Maqtal dan Abu Bakr al-Ja’abi di dalam Nakhb.
9. Abu Dhuwaib Khuwalid atau Khalid bin Khalid bin Muhrith al-Hazali wafat di dalam pemerintahan Khalifah ‘Uthman. Diriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah dalamHadith al-Wilayah, al-Khawarizmi di dalam Maqtal.
10. Abu Bakr bin Abi Qahafah al-Taimi (w.13H). Lihat Ibn Uqdah dalam Hadith al-Wilayah; Abu Bakr al-Ja’abi dalam al-Nakhb, al-Mansur al-Razi dalam kitabnya Hadith al-Ghadir, Syamsuddin al-Jazari al-Syafi’i dalam Asna al-Matalib, hlm. 3.
11. Usamah bin Zaid bin al-Harithah al-Kalbi (w.54H). Diriwayatkan di dalamHadith al-Wilayah dan Nakhb al-Manaqib.
12. Ubayy bin Ka’ab al-Ansari al-Khazraji (w. 30/32H). Lihat Abu Bakr al-Ja’abi dalam Nakhb al-Manaqib.
13. As’ad bin Zararah al-Ansari. Diriwayatkan oleh Syamsuddin al-Jazari di dalamAsna al-Matalib, hlm. 4.
14. Asma’ binti Umais al-Khath’amiyyah. Diriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah dalamHadith al-Wilayah.
15. Umm Salamah isteri Nabi SAWAW. Lihat al-Samhudi al-Syafii dalam Jawahir al-Aqirain; dan al-Qunduzi al-Hanafi dalam Yanabi al-Mawaddah, hlm. 40.
16. Umm Hani’ binti Abi Talib. Lihat al-Qunduzi l-Hanafi, Yanabi’ al-Mawaddah, hlm. 40 dan Ibn ‘Uqdah, Hadith al-Wilayah.
17. Abu Hamzah Anas bin Malik al-Ansari al-Khazraji hamba Rasulullah saaw (w. 93H). Lihat al-Khatib al-Baghdadi di dalam Tarikhnya jilid VII, hlm. 377; Ibn Qutaibah, al-Ma’arif, hlm. 291; al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa’, hlm. 114.
18. Al-Barra’ bin ‘Azib al-Ansari al-Ausi (w. 72H). Diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal di dalam Musnadnya, IV, hlm. 281; Ibn Majah di dalam Sunan, I, hlm. 28-29.
19. Baridah bin al-Hasib Abu Sahl al-Aslami (w. 63H). Diriwayatkan oleh al-Hakim di dalam al-Mustadrak, III, hlm. 110; al-Suyuti di dalam Tarikh al-Khulafa’, hlm. 114.
20. Abu Sa’id Thabit bin Wadi’ah al-Ansari al-Khazraji al-Madani. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, III, hlm. 307.
21. Jabir bin Samurah bin Janadah Abu Sulaiman al-Sawa’i (w. 70H). Diriwayatkan oleh al-Muttaqi al-Hindi di dalam Kanz al-Ummal, VI, hlm. 398.
22. Jabir bin Abdullah al-Ansari (w. 73/74H). Diriwayatkan oleh Ibn ‘Abd al-Birr di dalam al-Isti’ab, II, hlm. 473; Ibn Hajr di dalam Tahdhib al-Tadhib, V, hlm. 337.
23. Jabalah bin ‘Umru al-Ansari. Diriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah dengan sanad-sanadnya di dalam Hadith al-Wilayah.
24. Jubair bin Mut’am bin ‘Adi al-Qurasyi al-Naufali (w. 57/58/59 H). Diriwayatkan oleh al-Qunduzi l-Hanafi di dalam Yanabi’ al-Mawaddah, hlm. 31, 336.
25. Jarir bin ‘Abdullah bin Jabir al-Bajali (w. 51/54 H). Diriwayatkan oleh al-Haithami di dalam Majma’ al-Zawa’id, IX, hlm. 106.
26. Abu Dhar Janadah al-Ghaffari (w.31 H). Diriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah; Syamsuddin al-Jazari al-Syafi’i di dalam Asna l-Matalib, hlm. 4.
27. Abu Junaidah Janda’ bin ‘Umru bin Mazin al-Ansari. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, I, hlm. 308.
28. Hubbah bin Juwain Abu Qadamah al-’Arani (w. 76-79H). Diriwayatkan oleh al-Haithami di dalam Majma’ al-Zawa’id, IX, hlm. 103; al-Khatib al-Baghdadi di dalam Tarikh Baghdad, VIII, hlm. 276.
29. Hubsyi bin Janadah al-Jaluli. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, III, hlm. 307, V, hlm. 203; Ibn Kathir di dalam al-Bidayah wa Nihayah, VI, hlm. 211.
30. Habib bin Badil bin Waraqa’ al-Khaza’i. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, I, hlm. 368; Ibn Hajr di dalam al-Isabah, I, hlm. 304.
31. Huzaifah bin Usyad Abu Sarihah al-Ghaffari. (w.40/42 H). Diriwayatkan oleh al-Qunduzi al-Hanafi di dalam Yanabi’ al-Mawaddah, hlm. 38.
32. Huzaifah al-Yamani (w.36 H). Diriwayatkan oleh Syamsuddin al-Jazari al-Syafi’i di dalam Asna al-Matalib, hlm. 40.
33. Hasan bin Tsabit. Salah seorang penyair al-Ghadir pada abad pertama Hijrah.
34. Imam Mujtaba Hasan bin ‘Ali AS. Diriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah dan Abu Bakr al-Ja’abi di dalam al-Nakhb.
35. Imam Husain bin ‘Ali AS. Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim di dalam Hilyah al-Auliya’, IX, hlm.9.
36. Abu Ayyub Khalid bin Zaid al-Ansari (w.50/51H). Diriwayatkan oleh Muhibuddin al-Tabari di dalam al-Riyadh al-Nadhirah, I, hlm. 169; Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabbah, V, hlm. 6 dan lain-lain.
37. Abu Sulaiman Khalid bin al-Walid al-Mughirah al-Makhzumi (w. 21/22H). Diriwayatkan oleh Abu Bakr al-Ja’abi di dalam al-Nakhb.
38. Khuzaimah bin Thabit al-Ansari Dhu al-Syahadataini (w. 37H). Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah,III, hlm. 307 dan lain-lain.
39. 39. Abu Syuraih Khuwailid Ibn `Umru al-Khaza`i (w. 68 H).Di antara orang yang menyaksikan Amiru l-Mukminin dengan hadis al-Ghadir.
40. Rifaah bin `Abd al-Munzhir al-Ansari. Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah dengan sanad-sanadnya di dalam Hadis al-Wilayah.
41. Zubair bin al-`Awwam al-Qurasyi (w. 36 H).Diriwayatkan oleh Syamsuddin al-Jazari al-Syafi`i di dalam Asna l-Matalib, hlm. 3.
42. Zaid bin Arqam al-Ansari al-Khazraji (w. 66/68 H). Diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal di dalam Musnadnya, IV, hlm.368 dan lain-lain.
43. Abu Sa`id Zaid bin Thabit (w. 45/48 H).Diriwayatkan oleh Syamsuddin al-Jazari al-Syafi`i di dalam Asna l-Matalib,hlm. 4 dan lain-lain.
44. Zaid Yazid bin Syarahil al-Ansari. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, II, hlm. 233; Ibn Hajr di dalam al-Isabah, I, hlm. 567 dan lain-lain.
45. Zaid bin `Abdullah al-Ansari.Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah dengan sanad-sanadnya di dalam Hadis al-Wilayah.
46. Abu Ishak Sa`d bin Abi Waqqas (w. 54/56/58 H). Diriwayatkan oleh al-Hakim di dalam al-Mustadrak , III, hlm. 116 dan lain-lain.
47. Sa`d bin Janadah al-`Aufi bapa kepada `Atiyyah al-`Aufi. Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadis al-Wilayah , dan lain-lain.
48. Sa`d bin `Ubadah al-Ansari al-Khazraji (w. 14/15 H). Diriwayatkan oleh Abu Bakr al-Ja`abi di dalam Nakhb.
49. Abu Sa`id Sa`d bin Malik al-Ansari al-Khudri (w.63/64/65H). Diriwayatkan oleh al-Khawarizmi di dalam Manaqibnya, hlm. 8; Ibn Kathir di dalam Tafsirnya, II, hlm. 14 dan lain-lain.
50. Sa`id bin Zaid al-Qurasyi `Adwi (w. 50/51 H). Diriwayatkan oleh Ibn al-Maghazili di dalam Manaqibnya.
51. Sa`id bin Sa`d bin `Ubadah al-Ansari.Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalamHadis al-Wilayah.
52. Abu `Abdullah Salman al-Farisi (w. 36/37 H). Diriwayatkan oleh Syamsuddin al-Jazari al-Syafi`i di dalam Asna l-Matalib, hlm. 4 dan lain-lain.
53. Abu Muslim Salmah bin `Umru bin al-Akwa` al-Islami (w. 74H). Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah dengan sanad-sanadnya didalam Hadis al-Wilayah.
54. Abu Sulaiman Samurah bin Jundab al-Fazari (w.58/59/60 H). Diriwayatkan oleh Syamsuddin al-Jazari al-Syafi`i di dalam Asna l-Matalib, hlm. 4 dan lain-lain.
55. Sahal bin Hanif al-Ansari al-Awsi (w. 38 H). Diriwayatkan oleh Syamsuddin al-Jazari al-Syafi`i di dalam Asna l-Matalib, hlm. 4 dan lain-lain.
56. Abu `Abbas Sahal bin Sa`d al-Ansari al-Khazraji al-Sa`idi (w. 91H). Diriwayatkan oleh al-Qunduzi l-Hanafi di dalam Yanabi` al-Mawaddah, hlm. 38 dan lain-lain.
57. Abu Imamah al-Sadiq Ibn `Ajalan al-Bahili (w. 86 H). Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadis al-Wilayah.
58. Dhamirah al-Asadi. Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadis al-Wilayah.
59. Talhah bin `Ubaidillah al-Tamimi wafat pada tahun 35 Hijrah di dalam Perang Jamal. Diriwayatkan oleh al-Mas`udi di dalam Muruj al-Dhahab, II, hlm. 11; al-Hakim di dalam al-Mustadrak, III, hlm. 171 dan lain-lain.
60. Amir bin `Umair al-Namiri. Diriwayatkan oleh Ibn Hajr di dalam al-Isabah, II, hlm. 255.
61. Amir bin Laila bin Dhumrah. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, III, hlm. 92 dan lain-lain.
62. Amir bin Laila al-Ghaffari. Diriwayatkan oleh Ibn Hajr di dalam al-Isabah, II, hlm. 257 dan lain-lain.
63. 63. Abu Tufail `Amir bin Wathilah. Diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal di dalam Musnadnya, I, hlm. 118; al-Turmudhi di dalam Sahihnya, II, hlm. 298 dan lain-lain.
64. 64. `Aisyah binti Abu Bakr bin Abi Qahafah, isteri Nabi (s.`a.w.). Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadis al-Wilayah.
65. Abbas bin `Abdu l-Muttalib bin Hasyim bapa saudara Nabi (s.`a.w.). Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadis al-Wilayah.
66. Abdu al-Rahman bin `Abd Rabb al-Ansari. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, III, hlm. 307; Ibn Hajr di dalam al-Isabah, II, hlm. 408 dan lain-lain.
67. Abu Muhammad bin `Abdu al-Rahman bin Auf al-Qurasyi al Zuhri (w. 31 H). Diriwayatkan oleh Syamsuddin al-Jazari al-Syafi`i di dalam Asna al-Matalib, hlm. 3 dan lain-lain.
68. Abdu al-Rahman bin Ya`mur al-Daili. Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalamHadis al-Wilayah dan lain-lain.
69. Abdullah bin Abi `Abd al-Asad al-Makhzumi. Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadis al-Wilayah.
70. Abdullah bin Badil bin Warqa’ Sayyid Khuza`ah. Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadis al-Wilayah.
71. Abdullah bin Basyir al-Mazini. Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadis al-Wilayah.
72. Abdullah bin Thabit al-Ansari. Diriwayatkan oleh al-Qadhi di dalam Tarikh Ali Muhammad, hlm. 67.
73. Abdullah bin Ja`far bin Abi Talib al-Hasyim (w. 80 H). Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadis al-Wilayah.
74. Abdullah bin Hantab al-Qurasyi al-Makhzumi. Diriwayatkan oleh al-Suyuti di dalam Ihya’ al-Mayyit.
75. Abdullah bin Rabi`ah. Diriwayatkan oleh al-Khawarizmi di dalam Maqtalnya.
76. Abdullah bin `Abbas (w. 68 H). Diriwayatkan oleh al-Nasa`i di dalam al-Khasa`is, hlm. 7 dan lain-lain.
77. Abdullah bin Ubayy Aufa `Alqamah al-Aslami (w.86/87H). Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadis al-Wilayah.
78. Abu `Abd al-Rahman `Abdullah bin `Umar bin al-Khattab al- `Adawi (w. 72/73 H). Diriwayatkan oleh al-Haithami di dalam Majma` al-Zawa’id, IX, hlm. 106 dan lain-lain.
79. Abu `Abdu al-Rahman `Abdullah bin Mas`ud al-Hazali (w. 32/33H). Diriwayatkan oleh al-Suyuti di dalam al-Durr al-Manthur, II, hlm. 298 dan lain-lain.
80. Abdullah bin Yamil. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, III, hlm. 274; Ibn Hajr di dalam al-Isabah, II, hlm. 382 dan lain-lain.
81. Uthman bin `Affan (w. 35 H). Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadis al-Wilayah dan lain-lain.
82. Ubaid bin `Azib al-Ansari, saudara al-Bara’ bin `Azib. Di antara orang yang membuat penyaksian kepada `Ali a.s di Rahbah. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, III, hlm. 307.
83. Abu Tarif `Adi bin Hatim (w. 68 H). Diriwayatkan oleh al-Qunduzi al-Hanafi di dalam Yanabi` al-Mawaddah, hlm. 38 dan lain-lain.
84. Atiyyah bin Basr al-Mazini. Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadis al-Wilayah.
85. Uqbah bin `Amir al-Jauhani. Diriwayatkan oleh al-Qadhi di dalam Tarikh Ali Muhammad, hlm. 68.
86. Amiru l-Mukminin `Ali bin Abi Talib a.s. Diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal di dalam Musnadnya, I, hlm. 152; al-Haithami di dalam Majma` al-Zawa’id, IX, hlm. 107; al-Suyuti di dalam Tarikh al- Khulafa’, hlm. 114; Ibn Hajr di dalamTahdhib al-Tahdhib, VII, hlm. 337; Ibn Kathir di dalam al-Bidayah wa al-Nihayah, V, hlm. 211 dan lain-lain.
87. Abu Yaqzan `Ammar bin Yasir (w. 37H).Diriwayatkan oleh Syamsuddin al-Jazari al-Syafi`i di dalam Asna al-Matalib, hlm. 4 dan lain-lain.
88. Ammarah al-Khazraji al-Ansari. Diriwayatkan oleh al-Haithami di dalamMajma` al-Zawa’id, IX, hlm. 107 dan lain-lain.
89. Umar bin Abi Salmah bin `Abd al-Asad al-Makhzumi (w. 83 H). Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadis al-Wilayah.
90. Umar bin al-Khattab (w. 23 H). Diriwayatkan oleh Muhibbuddin al-Tabari di dalam al-Riyadh al-Nadhirah, II, hlm. 161; Ibn Kathir di dalam al-Bidayah wa al-Nihayah, VII, hlm. 349 dan lain-lain.
91. Abu Najid `Umran bin Hasin al-Khuza`i (w. 52 H). Diriwayatkan oleh syamsuddin al-Jazari al-Syafi`i di dalam Asna al-Matalib, hlm. 4 dan lain-lain.
92. Amru bin al-Humq al-Khuza`i al-Kufi (w. 50 H). Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadis al-Wilayah.
93. Amru bin Syarhabil.Diriwayatkan oleh al-Khawarizmi di dalam Maqtalnya.
94. Amru bin al-`Asi. Diriwayatkan oleh Ibn Qutaibah di dalam al-Imamah wa al-Siyasah, hlm. 93 dan lain-lain.
95. Amru bin Murrah al-Juhani Abu Talhah atau Abu Maryam. Diri-wayatkan oleh al-Muttaqi al-Hindi di dalam Kanz al-`Ummal, VI, hlm. 154 dan lain-lain.
96. Al-Siddiqah Fatimah binti Nabi (s.`a.w.).Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalamHadis al-Wilayah dan lain-lain.
97. Fatimah binti Hamzah bin `Abdu l-Muttalib. Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadis al-Wilayah.
98. Qais bin Thabit bin Syamas al-Ansari. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalamUsd al-Ghabah, I, hlm. 368; Ibn Hajr di dalam al-Isabah, I, hlm. 305 dan lain-lain.
99. Qais bin Sa`d bin `Ubadah al-Ansari al-Khazraji. Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadis al-Wilayah.

100. Abu Muhammad Ka`ab bin `Ajrah al-Ansari al-Madani (w. 51 H). Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadis al-Wilayah.

101. Abu Sulaiman Malik bin al-Huwairath al-Laithi (w. 84 H). Diriwayatkan oleh al-Suyuti di dalam Tarikh al-Khulafa’, hlm. 114 dan lain-lain.

102. Al-Miqdad bin `Amru al-Kindi al-Zuhri (w. 33 H). Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadis al-Wilayah dan lain-lain.

103. Najiah bin`Amru al-Khuza`i. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, V, hlm. 6; Ibn Hajr di dalam al-Isabah, III, hlm. 542 dan lain-lain.

104. Abu Barzah Fadhlah bin `Utbah al-Aslami (w. 65 H). Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadis al-Wilayah.

105. Na’mar bin `Ajalan al-Ansari. Diriwayatkan oleh al-Qadhi di dalam Tarikh Ali Muhammad, hlm. 68 dan lain-lain.

106. Hasyim al-Mirqal Ibn`Utbah bin Abi Waqqas al-Zuhri (w. 37H). Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, I, hlm. 366; Ibn Hajr di dalam _al-Isabah, I, hlm. 305.

107. Abu Wasmah Wahsyiy bin Harb al-Habsyi al-Hamsi. Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadis al-Wilayah.

108. Wahab bin Hamzah.Diriwayatkan oleh al-Khawarizmi pada Fasal Keempat di dalam Maqtalnya.

109. Abu Juhaifah Wahab bin`Abdullah al-Suwa’i (w. 74 H). Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadis al-Wilayah.

110. Abu Murazim Ya’li bin Murrah bin Wahab al-Thaqafi. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah , II, hlm.233; Ibn Hajr di dalam al-Isabah , III, hlm. 542[23].

Demikianlah 110 perawi-perawi hadis al-Ghadir di kalangan sahabat mengenai penunjukan Ali a.s sebagai imam atau khalifah secara langsung oleh Rasulullah saaw. Kemudian diikuti pula oleh 84 perawi-perawi dari golongan para Tabi`in yang meriwayatkan hadis al-Ghadir serta 360 perawi-perawi di kalangan para ulama Sunnah yang meriwayatkan hadis tersebut di dalam buku-buku mereka. Malah terdapat 26 pengarang dari kalangan para ulama Ahl al-Sunnah yang mengarang buku secara khusus tentang hadis al-Ghadir.[24]

Para perawi hadis al-Ghadir tidak berhenti sampai batas ini, melainkan juga dinukil secara mutawatir pada setiap tingkatan-tingkatannya. Jumlah para perawinya dari abad kedua hingga abad keempat belas Hijrah mencapai 360 orang. Diantara ulama Sunni kontemporer yang menyebutkan peristiwa ini, diantaranya :

1. Ahmad Zaini Dahlan al-Makki al-Syafii dalam kitabnya Futuhat al-Islamiyah
2. Syeikh Yusuf al-Nabhani al-Beiruti dalam kitabnya al-Syaraf al-Muayyad
3. Muhammad Abduh dalam karyanya Tafsir al-Manar
4. Abdul Hamid al-Alusi al-Baghdadi dalam kitabnya Natsr al-La’ali
5. Sayyid Mukmin Sablanji al-Misri dalam Nur al-Abshar
6. Syeikh Muhammad Habibullah Syanqithi dalam Kifayah al-Thalib
7. Dr. Ahmad Rifai dalam kitabnya Ta’liqat Mu’jam al-Udaba
8. Ahmad Zaki al-Mishri dalam kitabnya Ta’liqat al-Ghani
9. Ahmad Nashim al-Mishri dalam kitabnya Ta’liqat Diwan Mihyar Dailami
10. Muhammad Mahmud Rifai dalam kitabnya Syarhu al-Hasyimiyat
11. Nashir as-sunnah al-Hamdhrani dalam Tasynif al-Adzan
12. Dr. Umar al-Faruk dalam Hakim al-Muammarah.[25]

Adapun ulama Syiah diantaranya :

1. Syeikh Ahmad bin Ali bin Abi Thalib at-Thabarsi menulis kitab al-Ihtijaj
2. Mir Hamid Husain al-Hindi dalam karyanya Abaqat al-Anwar sebanyak 20 jilid
3. Syeikh Abdul Husain al-Amini dalam karyanya al-Ghadir sebanyak 11 jilid
4. Ali Akbar Shadeqi, Payam Ghadir (Khutbah al-Rasul saw fi Ghadir Khum).
5. Syeikh Ayub al-Hairi, al-Ghadir

Hadits al-Ghadir di atas umumnya dipandang sebagai pelantikan Imam Ali as saja, sedangkan syiah meyakini ada 12 imam. Keyakinan akan 12 imam atau khalifah ini didukung teks-teks hadits yang cukup terkenal yang diriwayatkan para ahli hadits di dalam kitab-kitab utama mereka seperti : Sahih Bukhari, Muslim, Turmuzi, Abu Daud, Musnad Ibn Hanbal, serta kitab-kitab standar lainnya yang jika kita telusuri akan mencapai setidaknya 270 riwayat, diantaranya Al-Qanduzi al-Hanafi telah meriwayatkan di dalam kitabnya Yanabi’ al-Mawaddah, “Yahya bin Hasan telah menyebutkan di dalam kitab al-’Umdah melalui dua puluh jalan bahwa para khalifah sepeninggal Rasulullah saw itu berjumlah dua belas orang khalifah, dan seluruhnya dari bangsa Quraisy. Dan begitu juga di dalam Sahih Bukhari melalui tiga jalan, di dalam Sahih Muslim melalui sembilan jalan, di dalam Sunan Abu Dawud melalui tiga jalan, di dalam Sunan Turmudzi melalui satu jalan, dan di dalam al-Hamidi melalui tiga jalan.

Sebagai misal, di dalam Sahih Bukhari berasal dari Jabir yang mengatakan, “Rasulullah saw telah bersabda, ‘Akan muncul sepeninggalku dua belas orang amir’, kemudian Rasulullah saw mengatakan sesuatu yang saya tidak mendengarnya. Lalu saya menanyakannya kepada ayah saya, ‘Apa yang telah dikatakannya?’ Ayah saya men-jawab, ‘Semuanya dari bangsa Quraisy.’” Adapun di dalam Sahih Muslim berasal dari ‘Amir bin Sa’ad yang berkata, “Saya menulis surat kepada Ibnu Samrah, ‘Beritahukan kepada saya sesuatu yang telah Anda dengar dari Rasulullah saw.’ Lalu Ibnu Samrah menulis kepada saya, ‘Saya mendengar Rasulullah saw bersabda pada hari Jumat sore pada saat dirajamnya al-Aslami, ‘Agama ini akan tetap tegak berdiri hingga datangnya hari kiamat dan munculnya dua belas orang khalifah yang kesemuanya berasal dari bangsa Quraisy.”

Ayatullah Ibrahim Amini meneliti hadits-hadits tentang 12 imam atau khalifah dan mengelompokkanya menjadi lima kelompok,[26] yaitu :

1. Hadits-hadits yang menggambarkan bahwa para khalifah dan umara setelah nabi berjumlah 12 orang. Misalnya hadits yang diriwayatkan oleh Muslim Jilid III, “Agama ini akan terus tegak hingga datangnya hari kiamat atau datang kepada kamu dua belas orang khalifah, (imam) semuanya berasal dan suku Quraisy.”
2. Hadits-hadits yang menyebutkan bahwa para imam berjumlah dua belas orang dan terakhirnya bernama al-Qaim atau Mahdi.
3. Hadits-hadits yang menyebutkan jumlah 12 orang dengan disertai nama-nama setiap imam.
4. Hadits-hadits yang menyatakan bahwa para imam ada 12 orang dan semuanya suci.
5. Hadits-hadits yang menunjukkan bahwa ahlul bait akan tetap ada hingga hari kiamat.

Syiah meyakini bahwa tafsiran yang paling tepat mengenai dua belas khalifah yang ditentukan Nabi Muhammad saaw. itu adalah para Imam maksum as. dari Imam Ali bin Abi Thalib as hingga Imam Muhammad al-Mahdi afs.

Meskipun begitu, umumnya ulama sunni tetap menganggap bahwa pengangkatan Imam Ali sebagai khalifah bukanlah hal yang mutlak, bahkan sebagiannya ada yang menolak persoalan tersebut. Menurut analisa Jalaluddin Rakhmat, setidaknya, dalam menanggapi persoalan ini para pemikir sunni melakukan enam teknik pengalihan fakta[27], yaitu :

1. Membuang sebagian isi hadits dan menggantinya dengan kata-kata yang kabur. Contoh: Tarikh al-Thabari meriwayatkan ucapan Nabi tentang Ali, “Inilah washiku dan khalifahku untuk kamu”. Kata-kata ini dalam tafsir al-Thabari dan Ibnu Katsir diganti dengan “wa kadza wa kadza (demikianlah-demikianlah)”. Tentu kata ‘washi’ dan ‘khalifah’ sangat jelas, sedangkan” wa kadza” tidak jelas.
2. Membuang seluruh beritanya dengan memberithaukan bahwa pembuangan cerita itu ada. Contohnya: Dalam buku ‘Shiffin’ karya Nashr bin Mazahim (w. 212 H) dan Muruj al-Dzahab karya al-Masudi (w. 246 H) diceritakan bahwa Muhammad bin Abu Bakar menulis surat kepada Muawiyah menjelakan keutamaan Imam Ali sebagai ‘washi’ nabi, dan muawiyah mengakuinya. Namun, al-Thabari yang juga menceritakan kisah tersebut dengan merujuk pada buku-buku di atas sebagai sumber, membuang semua isi surat itu dengan alasan supaya orang banyak tidak resah mendengarnya. Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa al-Nihayah, juga menghilangkan isi surat itu dengan alasan yang sama.
3. Memberikan makna lain (takwil) pada riwayat. Contohnya : al-Thabrani dalamMajma al-Zawaid meriwayatkan ucapan Nabi kepada Salman al-Farisi bahwa Ali adalah washi-nya. Al-Thabrani memberikan komentar, “Nabi menjadikannya washi untuk keluarganya, bukan untuk khalifah”.
4. Membuang sebagian riwayat tanpa menyebutkan petunjuk atau alasan. Contohnya: Ibnu Hisyam mendasarkan kitabnya, Tarikh Ibnu Hisyam padaTarikh Ibnu Ishaq. Akan tetapi Ibnu Hisyam dalam kata pengantarnya berkata bahwa ia meninggalkan beberapa bagian riwayat Ibnu Ishaq yang jelek bila disebut orang. Diantara yang ditinggalakanya itu adalah kisah “wa andzir ashiratakal aqrabin”, yang dalam Sirah Ibnu Ishaq di riwayatkan Nabi mengatakan “Inilah (Ali) saudaraku, washiku, dan khalifahku untuk kamu”. Muhammad Husein Haikal dalam bukunya Hayat Muhammad melakukan hal yang sama. Pada bukunya cetakan pertama, ia mengutip ucapan Nabi, “siapa yang akan membantuku dalam urusan ini akan menjadi saudaraku, washiku, dan khalifahku untuk kamu”. Pada cetakan kedua (tahun 1354 H) ucapan Nabi ini dibuang dari bukunya.
5. Melarang penulisan hadits-hadits Nabi saw, dari masa sahabat sampai masa thabiin, sehingga kemungkinan hadits banyak yang hilang.
6. Mendhaifkan hadits-hadits yang mengurangi kehormatan orang yang kita dukung atau yang menunjukkan kehebatan lawan. Contohnya: Ibnu Katsir mendhaifkan hadits-hadits tentang keutamaan Imam Ali sebagai washi dankhalifah Nabi. Ia menganggap riwayat ini sebagai dusta yang dibuat-buat orang syiah atau orang-orang bodoh dalam ilmu hadits. Padahal hadits itu diriwayatkan dari banyak sahabat oleh Imam Ahmad, al-Thabari, al-Thabrani, Abu Nuaim al-Isbahani, Ibnu Asakir, dan lainya.

Cara ini telah melahirkan diskusi mazhab yang panjang. Ulama Sunni menulis buku yang menyerang mazhab syiah, dan Ulama syiah membalasnya dengan menulis buku juga sebagai jawaban. Al-Hilli menulis buku Minhaj al-Karamah yang dibantah oleh Ibnu Rouzban (dari sunni) dan dibalas lagi oleh al-Marasyi al-Tustary (dari Syiah). Kompilasi bantahan ini sekarang menjadi buku ‘Ihqaq al-Haq’ sebanyak 19 jilid, yang setiap jilidnya sama dengan ukuran Encyclopedia Britannica. Ibnu Taymiyah menulis buku ‘Minhaj al-Sunnah’ juga untuk membantah buku ‘Minhaj al-Karamah’. Akhirnya ditulislah 11 jilid al-Ghadir dan 20 jilid “Abaqat al-Anwar” untuk membuktikan keshahihan hadits ghadir khum yang didhaifkan Ibnu Taymiyah. Sampai saat ini belum ada bantahan untuk kedua buku tersebut.

HUBUNGAN IMAMAH DAN WILAYAH

Pada dasarnya, imamah dan wilayah adalah konsepsi yang tak terpisahkan, antara bagian dan keseluruhan. Maksudnya, wilayah adalah payung besar yang menaungi seluruh konsepsi kepemimpinan Islam, baik itu kenabian (an-nubuwah), keimaman (imamah), ataupun keulamaan (fukaha). Ini berarti wilayah merupakan konsepsi yang khas sebagai bentuk distribusi kepemimpinan mulai dari Allah (wilayah Allah), Nabi (wilayah al-nabi), imam (wilayah al-imam), hingga ulama (wilayah al-faqih).

Ayat berikut dipandang oleh syiah sebagai rujukan penting mengenai wilayah: “Sesungguhnya wali kamu hanyalah Allah, rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan salat dan memberikan sedekah dalam keadaan rukuk.” (Q.S. al-Maidah: 55)

Ayat ini menetapkan tiga “kewalian” yaitu Allah, Nabi Muhammad Saw, dan “orang yang beriman”. Frasa terakhir (orang yang beriman) ini, disebutkan oleh para ahli hadits dan tafsir merujuk kepada Imam Ali bin Abi Thalib.[28] Jadi, ayat ini mengindikasikan kewalian Imam Ali bin Abi Thalib, dan para imam lainnya yangwilayah mereka ditetapkan melalui penunjukan mereka oleh Nabi Saw.[29]

Menurut A.A. Sachedina, Nabi Muhammad sebagai rasul terakhir telah melaksanakan tugasnya mengemban wilayah al-ilahiyah. Wilayah al-Ilahiyah berkaitan dengan visi moral wahyu islami. Wahyu islami memandang kehidupan publik sebagai suatu proyeksi niscaya dari tanggapan pribadi terhadap tantangan moral untuk menciptakan suatu tatanan masyarakat yang berdasarkan ajaran-ajaran Allah di muka bumi. Untuk mewujudkan itu, kepemimpinan amat penting. Sebab hanya melalui kepemimpinan yang dibimbing oleh Allah, penciptaan masyarakat yang ideal dapat diwujudkan. Masalah kepemimpinan yang dibimbing oleh Allah dalam memenuhi rencana Allah, di bawah naungan wilayah al-Ilahiyah, dengan demikian menempati posisi sentral dalam sistem keimanan atau pandangan Syiah, yang di dalamnya Nabi Muhammad Saw sebagai wakil aktif Allah yang transendental di muka bumi, digambarkan sebagai memiliki wilayah Ilahi. Untuk menjamin kontinuitas visi wahyu yang demikian, kontinuitas realisasi kepemimpinan menjadi sebuah keniscayaan.[30]

Fakta ini demikian penting, sehingga baik selama masa hidup Nabi Muhammad Saw, maupun segera setelah wafatnya, masalah kepemimpinan dalam Islam menjadi jalin-berjalin demikian erat dengan penciptaan suatu tatanan Islami. Wahyu Islami tak pelak lagi mengandung arti bimbingan Allah melalui perwakilan yang ditunjuk oleh Allah, yaitu Nabi Muhammad Saw, untuk mewujudkan tatanan masyarakat Islami. Dan setelah Rasulullah Muhammad saaw, amanah untuk menjaga dan mewujudkan tatanan islami itu dilanjutkan oleh para imam yang diangkat oleh Allah melalui lisan wahyu Rasulullah saaw.

IMAMAH DAN WILAYAH SEBAGAI KEPEMIMPINAN UNIVERSAL

Kata maula[31] dan al-waliy dalam kamus-kamus Bahasa Arab memiliki beberapa arti, diantaranya : yang bertanggung jawab dalam suatu pekerjaan (al-mutawalli fi al-amr), penolong (nashir), teman (shahib), pecinta (muhib), sekutu (haliif), pewaris (warits).

Akan tetapi, kata al-wali atau maula, sebagaimana terdapat dalam konteks ayat wilayah (Q.S. al-maidah: 55) dan hadits Ghadir Khum di atas, disepakati oleh ulama syiah sebagai konsepsi kepemimpinan universal yang dimiliki oleh Imam Ali bin Abi Thalib. Sedangkan bagi ulama sunni, istilah ini ditafsirkan bermacam-macam,meskipun ada konsensus di antara mereka bahwa ayat dan hadits itu diwahyukan untuk memuji kesalehan dan ketakwaan Ali, namun kata al-wali ditafsirkan sebagai mengandung arti muwalat (persahabatan yang menolong) Ali dan tidak meniscayakan penerimaan akan wilayah (otoritas dalam bentuk kepemimpinan universal/imamah).

Sebagian dari penulis ahli sunnah menyatakan bahwa al-wali atau maula dalam ayat dan hadis “man kuntu maula” berarti teman atau kekasih atau dengan kata lain dalam hadis al-Ghadir, Rasul hanya ingin menegaskan pada kaum muslimin bahwa siapa yang mencintai beliau harus juga mencintai Imam Ali a.s dan tidak lebih dari itu.

Memang tidak ada yang memungkiri bahwa kata al-wali atau maula bisa berarti teman atau kekasih. Akan tetapi, menurut pandangan syiah, dalam konteks ayatwilayah dan hadits al-ghadir, tidaklah tepat memaknai kata tersebut dengan teman atau kekasih dikarenakan alasan sebagai berikut: [32]

1. Bahwasanya kecintaan terhadap Imam Ali a.s. dan kecintaan kaum muslimin dengan sesama mereka adalah masalah yang sudah tersebar luas dan diketahui oleh seluruh umat Islam, karena diawal-awal dakwah rasul, beliau selalu menyampaikan “innamal mukminuna ikhwah”, sesungguhnya orang mukmin itu bersaudara “, oleh karena itu tidak perlu lagi rasul mengumpulkan puluhan bahkan ratusan ribu kaum muslimin dalam kondisi dibawah terik matahari hanya untuk menyampaikan bahwa mereka harus mencintai Imam Ali as.
2. Ayat tentang wilayah ini mengandung makna pengaturan dan ketaatan khusus pada tiga wali yakni Allah, Nabi dan ‘orang beriman’ (Imam Ali).
3. Sesungguhnya sabda Rasul saww, “Bukankah aku lebih berhak atas kalian dibanding dari kalian?”, yang diucapkan sebelum melantik Imam Ali as, menandakan yang dimaksud dengan maula dihadis al-Ghadir bukan hanya sekedar kecintaan, akan tetapi kepemimpinan Imam Ali as. Sebagaimana Rasul adalah pemimpin kaum muslimin dan beliau lebih berhak atas mereka dibanding diri mereka sendiri begitu pula halnya dengan Imam Ali as.
4. Doa Nabi Muhammad saaw, “Ya Allah, cintailah orang yang mencintainya dan musuhilah orang yang memusuhinya. Bantulah mereka yang membantunya dan tiggalkanlah mereka yang meninggalkannya”, mengindikasikan kepemimpinan Imam Ali, sebab secara alami dalam kepemimpinan ada yang mendukung dan ada yang memusuhinya.
5. Ucapan selamat dan baiat yang disampaikan para sahabat kepada Imam Ali as juga membuktikan akan adanya suatu yang istimewa yang dialami beliau as. Kalau saja yang dimaksud rasul dalam hadis al-Ghadir itu hanya sekedar kecintaan, maka adalah hal yang biasa dan bukan suatu yang istimewa sehingga ayat diturunkan dan para sahabat mengucapkan selamat.

Para ulama Syiah, memaknai maula dalam arti pokoknya yang lain, yaitu al-awla bittasharruf (pemimpin) dan al-ahaq (lebih berhak untuk mengemban otoritas), sebab al-awla dalam penggunaan umum sering diterapkan pada seseorang yang dapat mengemban otoritas atau yang mampu mengelola urusan-urusan. Selain itu,al-wali, sebagaimana terdapat dalam ayat Alquran di atas, tidak selalu berarti seseorang yang memiliki otoritas untuk mendukung atau menolong, sebab banyak sekali ayat-ayat Alquran yang lain yang mengandung makna perintah tolong-menolong antara Rasul dengan kaum Muslim.

Namun, al-wali yang diterapkan pada Nabi Muhammad Saaw, mengandung maknawilayah tasharruf, yang berarti pemilikan akan otoritas yang memberi wali hak untuk bertindak dengan cara apa pun yang dinilainya paling baik, menurut kearifannya, sebagai seorang wakil bebas dalam mengelola urusan-urusan umat. Wilayah al-tasharruf dapat diemban hanya oleh orang yang ditunjuk untuk ini oleh otoritas mutlak yaitu Allah, atau oleh orang yang secara eksplisit ditunjuk oleh Nabi Muhammad Saaw, dalam kedudukan otoritas melalui perwakilan. Konsekuensinya, Imam yang ditunjuk oleh nas sebagai wali memiliki wilayah al-tasharrruf dan diakui sebagai penguasa umat.[33]

Dari hal-hal di atas bisa ditarik kesimpulan bahwa yang dimaksud “maula” dalam hadis al-Ghadir adalah “Khilafah dan Imamah” bagi Imam Ali as. sebagai pemimpin universal. Kepemimpinan universal ini akan terus berlangsung melalui garis para imam, yang secara eksplisit ditunjuk oleh imam-imam sebelumnya. Dalam pengertian terakhir inilah wilayah imam atas umat terkonseptualisasikan. Karena itu, secara keagamaan, melecehkan para imam yang ditunjuk oleh Allah ini sama saja dengan pengingkaran.

Secara kronologis, kepemimpinan umat pasca Nabi Muhammad saaw, menurut perspektif syiah, dimulai oleh Imam Ali bin Abi Thalib, kemudian anak beliau yakni Imam Hasan al-Mujtaba, Imam Husain, dan dilanjutkan sembilan keturunan dari Imam Husain yaitu Ali Zainal Abidin, Muhammad al-Baqir, Ja’far Shadiq, Musa Kazhim, Ali Ridha, Muhammad al-Jawad, Ali al-Hadi, Hasan al-Askari, dan Muhammad al-Mahdi. Hanya saja, Imam yang terakhir ini, meskipun telah lahir pada abad ke-3 Hijrah (tahun 255 H) namun mengalami kegaiban hingga waktu yang tidak diketahui. Dalam masa ketersembunyian Imam Mahdi ini, wilayah imam terdelegasikan kepada ulama yang memenuhi syarat-syarat tertentu untuk secara formal memimpin, membimbing, dan menjelaskan syariat Islam kepada kaum muslimin. Kepemimpinan ulama ini berlaku hingga hadirnya Imam kedua belas, Imam Muhammad al-Mahdi afs.

Ketika al-Mahdi, Imam kedua belas datang kembali, maka otoritas-otoritas temporal dan spiritual akan terpadu pada dirinya seperti halnya Nabi Muhammad saw. Dia akan mempersatukan dua bidang pemerintahan islami yang ideal itu. Maka gagasan tentang Imamah yang ditunjuk di antara keturunan Ali, yang berkesinambungan di sepanjang sejarah dan dalam segala keadaan politis, diperkuat oleh harapan berkenaan dengan Imamah dari Imam terakhir yang sedang gaib. Hal ini mengukuhkan kembali harapan Imamiyah akan pemerintahan islami sejati oleh seorang Imam yang absah dari kalangan keturunan Husein.[34]

Kegaiban dalam pemikiran dan keyakinan syiah terbagi dalam dua tingkatan.Pertama, “kegaiban kecil” (minor occultation/ghaibah ash-shugra) selama 74 tahun (255-329 H), yaitu ketika Imam Mahdi “bersembunyi di dunia fisik dan mewakilkan kepemimpinannya kepada para wakil Imam”. Pada masa ini kesulitan dalam halmarja’ (kepemimpinan agama dan politik) relatif bisa diatasi. Karena, posisi marja’dijabat oleh empat wakil al-Mahdi, yaitu Abu ‘Ammar Usman bi Sa’id, Abu Ja’far Muhammad bin Usman, Abu al-Qasim al-Husain bin Ruh dan Abu al-Hasan ‘Ali bin Muhammad Samari.

Kedua, “kegaiban besar” (major occultation/ ghaibah al-kubra), yaitu pasca meninggalnya keempat wakil Imam di atas hingga datangnya kembali Imam Muhammad al-Mahdi pada akhir zaman. Dalam periode “kegaiban besar” inilah kepemimpinan didelegasikan kepada para faqih. Konsepsi inilah yang dikenal dengan istilah wilayah al-faqih.

[1] Gelar yang paralel dengan imam adalah amir dan khalifah. Pada awal pemerintahan Islam, masa Rasulullah Saw dan Khulafaar-Rasyidun, penguasa daerah disebut amil (pekerja pemerintah, gubernur) sinonim dengan amir. Kata amirberasal dari akar kata amr yang berarti “perintah”. Amir bermakna “yang memerintah”, kemudian makna ini berkembang sehingga berarti “pemimpin”. Selama pemerintahan Islam di Madinah, para komandan divisi militer disebut Amir, yaitu amir al-jaisy atau amir al-jund. Para gubernur yang mulanya adalah pemimpin militer yang menaklukkan daerah, juga disebut Amir. Tugas utama amir pada mulanya adalah penguasa daerah, yaitu pengelola administrasi politik, pengumpul pajak, dan pemimpin agama. kemudian pada masa pasca Rasulullah Saw, tugas amir bertambah meliputi memimpin ekpedisi militer, menandatangani perjanjian damai, memelihara keamanan taklukan Islam, membangun mesjid, menjadi Imam salat Jumat, mengurus administrasi pengadilan, dan bertanggung jawab kepada khalifah di Madinah. Pada masa Dinasti Umayyah dan Abbasiyah, makna amir hampir sama dengan masa Rasulullah Saw. Taufik Abdullah. et. al., Ensiklopedi Tematis Dunia Islam jilid III. (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 2002), h. 204-206.

[2] Taufik Abdullah. et.al. Ensiklopedi, h. 204-206.

[3] Taufik Abdullah. et.al. Ensiklopedi, h. 205.

[4] Taufik Abdullah. et.al. Ensiklopedi, h. 205.

[5] Taufik Abdullah. et.al. Ensiklopedi, h. 205.

[6] Pembahasan mengenai imamah dengan dalil-dalil rasional banyak di bahas dalam kitab-kitab kalam syiah. Begitu pula dengan dalil-dalil naqliyah yang bersumber dari al-Quran maupun hadits Nabi Muhammad saaw dan dikomparasikan dengan berbagai argumen mazhab sunni. Lihat misalnya, al-Kulaini,Ushul al-Kafi.(Beirut: Muassasah al-a’lami li al-mathbuat, 2005). Abdul Husain Ahmad al-Amini al-Najafi. al-Ghadir fi al-Kitab wa al-Sunnah wa al-Adab Jilid I. (Beirut: Muassasah al-a’lami lil mathbuat, 1994). Syaikh Abdullah Hasan, Munazarah fil Imamah.

[7] Tentang ayat ini, Fakhr al-Razi, berkomentar; “Ayat ini menjelaskan bahwa setiap orang yang jaiz al-khatha, yang dapat melakukan kesalahan, harus bergabung dan wajib mengikuti orang yang dijamin kebenarannva atau maksum. Mereka adalah orang yang dimaksud oleh Allah sebagai orang-orang yang benar di atas, as-shodiqun. Prinsip ini bukan hanya berlaku pada satu masa saja, tapi untuk sepanjang masa. Jadi, pada setiap masa pasti ada orang maksum. Lihat Fakr al-Razi. Tafsir al-Kabir jilid XVI, h. 221.

[8] Tentang ‘Ismah, dapat di baca secara lengkap dalam Ja’far Subhani. Ma’a al-Syiah al-Imamiyah fi ‘Aqaidihim. (Mu’awiniyatu Syu’uni al-Ta’lim wa al-Buhuts al-Islamiyah, 1413), h. 56-70. Ja’far Subhani. Ishmah Keterpeliharaan Nabi dari Dosa.(Yayasan As-Sajjad, 1991). Sayid Kamal Haydari. Ishmah. (Huquq al-Thab’i Mahfuzhah, 1997); Muhammad at-Tijani as-Samawii. Bersama Orang-orang Yang Benar. (Jakarta: Yayasan as-Sajjad, 1997), h. 213-220.

[9] Ibrahim Amini. Para Pemimpin Teladan. (Jakarta: Al-Huda, 2005), h. 31. dan 40-64.

[10] Munawir Sjadzali. Islam dan Tata Negara. (Jakarta: UI Press, 1993), h. 216.

[11] Allamah Thabathabai. al-Mizan fi Tafsir al-Quran jilid I. (Beirut: Muassasah al-a’lami li al-mathbuat, 1991), h. 270.

[12] Lihat Husain Al-Habsyi. Sunnah-Syiah dalam Ukhwah Islamiyah.(Malang: Yayasan Al-Kautsar, 1991), h. 186. Ja’far Subhani. Ma’a al-Syiah, h. 61.

[13] Lihat pembahasan khusus tentang ayat ini dalam Ali Umar al-Habsyi. Keluarga Suci Nabi Saw: Tafsir Surah al-Ahzab Ayat 33. (Jakarta: Ilya, 2004). Husain Al-Habsyi.Sunnah, h. 187, dan Ja’far Subhani. Ma’a al-Syiah, h. 58.

[14] Lihat Ali Umar al-Habsyi. Keluarga, h. 10-11.

[15] Lihat Muhammad Taqi Misbah Yazdi. Iman Semesta: Merancang Piramida Keyakinan (Jakarta: al-Huda, 2005), h. 290.

[16] Murtadha Muthahhari. Manusia dan Alam Semesta. (Jakarta: Lentera, 2002), h. 471.

[17] Sayid Muhammad Al-Musawi. Mazhab Syiah. (Bandung: Muthahari Press, 2005), h. 460.

[18] Teks khutbah ini dikumpulkan dengan baik dari berbagai sumber oleh Ali Akbar Shadeqi. Pesan Terakhir Nabi saw: Terjemahan Lengkap Kotbah Nabi saw di Ghadir Khum 18 Dzulhijjah 10 H. (Bandung: Pustaka Pelita, 1998).

[19] Sayid Muhammad Al-Musawi. Mazhab, h. 460.

[20] Ali Akbar Shadeqi. Pesan terakhir, h. 58. lihat juga Al-Mustdrak li al-Hakim juz 3, h. 109. Musnad Ahmad juz 4, h. 437-438. Sunan al-Tirmizi juz 5, h.297. Husain Al-Habsyi. Sunnah, h. 37. Sayid Muhammad Al-Musawi. Mazhab, h. 460-461. Muhammad Baqir al-Majlisi. Bihar al-Anwar Juz al-Hadi wa al-’Isyrun, (Beirut: Muassasatu al-Wafa’, 1983), h. 387.

[21] Ali Akbar Shadeqi. Pesan Terakhir, h. 18.

[22] Sayid Husain Muhammad Jafri. Dari Saqifah Sampai Imamah (Bandung: Pustaka Hidayah, 1995), h. 51.

[23] Abdul Husain Ahmad al-Amini al-Najafi. al-Ghadir fi al-Kitab wa al-Sunnah wa al-Adab Jilid I. (Beirut: Muassasah al-a’lami lil mathbuat, 1994), h. 14-158.

[24] Al-Amini. Al-Ghadir, h. 14-158.

[25] Lihat al-Amini. al-Ghadir, h. 147-151.

[26] Lihat Ibrahim Amini. Para, h. 319-321.

[27] Jalaluddin Rakhmat. Tinjauan Kritis Atas Sejarah Fiqih: Dari Fiqih al-Khulafa’ al-Rasyidin Hingga Mazhab Liberalisme, dalam Budhy Munawar Rachman. ed.Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah. (Jakarta: Paramadina, 1995), h. 264-266.

[28] Lihat diantaranya : Abu Ishaq Ahmad bin Ibrahim ats-Tsa’labi. Tafsir al-Kasyfwa al-bayan ‘an Tafsir al-Qur’an. al-Hakim al-Hiskani. Syawahid at-Tanzil jilid 1 (Beirut), h. 171-177. Jalaluddin as-Suyuthi. Tafsir ad-Durr al-Mantsur. al-Muttaqi al-Hindi. Kanz al-’Ummal jilid 1, h. 305 dan jilid 15, h. 146. (bab keutamaan Ali); ath-Thabrani.Mu’jamah al-Awsath. Al-Hakim an-Naisaburi. Ma’rifah ‘Ulum al-Hadits. (Mesir, 1937), h. 102. al-Khawarizmi. Kitab al-Manaqib, h. 187. Ibnu ‘Asakir. Tarikh Dimasyq jilid 2, h. 409. Ibnu Hajar al-’Asqalani. al-Kaff asy-Syaf fi Takhrij Ahadits al-Kasysyaf. Mesir, h. 56. Muhibuddin ath-Thabari. Dzakha’ir al-’Ugba, h. 201. dan kitab ar-Riyadh an-Nadhirah jilid 2, h. 227. Ahmad bin Yahya al-Baladzari. Ansab al-Asyraf jilid 2diperiksa oleh Mahmudi (Beirut), h. 150. Al-Wahidi. Asbab an-Nuzul, diperiksa oleh Sayid Ahmad al-Shamad (1389 ), h. 192.

[29] Abdulaziz A. Sachedina. Kepemimpinan Islam Perspektif Syiah. (Bandung: Mizan, 1994), h. 165.

[30] Lihat Abdulaziz A. Sachedina. Kepemimpinan, h. 164.

[31] Al-Amini menyebutkan padanan kata maula hingga mencapai 27 makna yaitu :al-Rab (Tuhan), al-am (paman), ibn al-am (anak paman), al-ibn (anak laki-laki), ibn al-ukht (putra saudari perempuan), al-mu’tiq (pembebas), al-mu’taq (yang dibebaskan), al-abd (hamba), al-malik (penguasa), al-tabi’ (pengikut), al-mun’am alaih (yang diberi nikmat), as-syarik (sekutu), al-halif (sekutu), ash-shahib (teman), al-jar (tetangga), al-nazil (tamu yang berkunjung), al-Shihru (keluarga suami), al-Qarib(teman dekat), al-mun’im (pemberi nikmat), al-faqid (mitra), al-waliy (pelindung), al-aula bi al-syai (yang lebih utama), al-Sayid ghairu al-malik wa al-mu’tiq (tuan), al-muhib (yang mencintai), al-nashir (penolong), al-mutasharrif fi al-amr (yang terlibat dalam urusan), al-mutawalli fi al-amr (yang bertanggung jawab atas urusan). Lihat al-Amini, al-Ghadir, h. 362-363.

[32] Bandingkan dengan Ibrahim Amini. Para, h. 96-97. Tim Penerbit al-Huda (peny).Antologi Islam. (Jakarta: al-Huda, 2005), h. 301-310.

[33] Abdulaziz A. Sachedina. Kepemimpinan, h. 166.

[34] Abdulaziz A. Sachedina. Kepemimpinan, h. 167.

Ghadir Khum: Sejarah Yang Mustahil Untuk Diingkari

ghadir khumAllah Swt berfirman: “Hai rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu), berarti kamu tidak menyampaikan risalah/agama-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS. Al Maidah: 67)

Peristiwa pengangkatan Imam Ali sebagai pengganti dan penerus kepemimpinan Islam pasca Nabi saw, terjadi di tempat yang bernama Ghadir Khum, yang terletak di kawasan antara Mekkah dan Madinah di dekat Juhfah, sekitar 200 km dari Mekkah.

Peristiwa besar yang menggemparkan sejarah ini,

terjadi pada bulan terakhir tahun ke-10 Hijriah, setelah Rasul saw menjalankan Haji Perpisahan/Terakhir (Hajjatul Wada’). Semua sahabat sadar bahwa sebentar lagi wahyu akan terputus dari mereka. Ini adalah saat-saat terakhir kebersamaan mereka dengan Nabi Besar Muhammad saw.

Dalam sebagian riwayat, Haji Perpisahan/Terakhir tersebut juga disebut dengan hajjatul ikmal wa itmam (haji lengkap dan sempurna), karena setelah ayat ke-67 dari surah al Maidah tersebut diamalkan oleh Rasul saw dimana beliau secara resmi mengangkat tangan Ali bin Abi Thalib tinggi-tinggi sehingga terlihat bagian dalam lengan beliau dan bersabda:

“Man kuntu maula fa hadza ‘aliyyun maula” (Barangsiapa yang menjadikan aku sebagai pemimpinnya, maka ia pun harus menjadikan Ali sebagai pemimpinnya),

maka turunlah ayat berikut sebagai happy ending dakwah beliau:

“Pada hari Ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al Maidah: 3).

Sebelum Rasulullah saw mengangkat Ali sebagai penggantinya, beliau menyampaikan pidato panjang di Ghadir Khum, dimana di antaranya beliau menjelaskan posisi dirinya dan ahlul baitnya, khususnya Imam Ali. Dan di akhir orasinya, Nabi saw mendoakan Ali secara khusus:

“Jadikanlah kebenaran selalu berada bersama Ali.”

Ini adalah kalimat terbaik, terindah dan memiliki makna paling dalam yang diucapkan Nabi di saat itu. Rasul saw menjadikan Ali sebagai mizan (timbangan) kebenaran. Dengan kata lain, untuk mengetahui sesuatu itu benar maka ia harus kita ukur dengan Ali, bukan sebaliknya. Yakni salah besar kalau kita mengukur Ali dengan kebenaran. Sebab Ali adalah manifestasi sempurna kebenaran itu sendiri. Kalau kita mengukur Ali dengan kebenaran maka ini namanya “jeruk makan jeruk”. Sabda agung Nabi saw tersebut yang ditujukan kepada Imam Ali tak ubahnya sabda beliau yang dialamatkan kepada putri semata wayangnya, Fatimah az Zahra: “

“Ridha Allah terletak pada keridhaan Fatimah dan murka-Nya pun terletak pada kemurkaan Fatimah.”

Sebagaimana Ali, Fatimah yang notabene istri tercinta Ali adalah tolak ukur kebenaran. Sesuatu menjadi benar ketika Fatimah meridhainya, dan sesuatu menjadi batil ketika Fatimah memurkainya. Siapapun yang membuat marah Fatimah maka sejatinya ia sedang membuat marah Allah, dan siapapun yang membuat Fatimah tertawa maka ia sedang membahagiakan Allah.

Peristiwa Ghadir dengan pelbagai redaksi dan kisahnya mungkin dapat dilupakan, namun ia tak dapat diingkari begitu saja seperti apa yang dilakukan oleh Fakrur Razi, penulis tafsir Mafatihul Ghaib. Mungkin Fakrur Razi puyeng bila menerima konsekuensi logis dari kejadian Khadir Khum, sehingga karena itu beliau dengan enteng menganggap peristiwa itu tidak pernah ada dalam lembaran sejarah.

Sementara itu, Ahmad bin Hanbal bukan hanya tidak menolak peristiwa tersebut, bahkan beliau berpendapat bahwa Nabi saw menyampaikan hadis, “Man kuntu maula….” sebanyak 4 kali. Nabi saw juga memerintahkan supaya mereka yang hadir dan menjadi saksi sejarah di Khadir Khum menyampaikan pesan penting beliau itu kepada mereka yang tidak hadir.

Allah Swt berfirman :

“Sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu) berarti kamu tidak menyampaikan agama-Nya.”

Berkenaan dengan ayat di atas, di sini ada pertanyaan kritis dan penting: Kira-kira hal apa yang belum secara resmi disampaikan Nabi saw, sehingga beliau diancam oleh Allah Swt bila tidak menyampaikannya maka seluruh jerih payah dakwah beliau selama 23 tahun akan menjadi sia-sia?! Bukankah perintah shalat, zakat, puasa, haji, jihad dll sudah dengan gamblang dijelaskan oleh Baginda Rasul saw?.

Bukankah menurut jumhur ahli tafsir bahwa surah al Maidah adalah termasuk surah yang terakhir turun kepada Nabi saw?, Sehingga ketetapan/hukum apa yang masih perlu disampaikan oleh Rasul saw di Haji Perpisahan tersebut? Ketetapan apa gerangan yang bila Nabi saw mengamalkannya agama menjadi lengkap dan sempurna? Tidak lain adalah ketetapan seputar pemimpin dan imam umat sepeninggal beliau yang menjaga agama dari penyimpangan dan kekaburan pemahaman.

Bukti Kebenaran Peristiwa Ghadir Khum dan Hadis Man Kuntu Maula

Allamah Amini dalam kitab monumentalnya Al Ghadir, menyebutkan seluruh perawi hadis Man Kuntu Maula yang diucapkan Nabi saw di Ghadir Khum, tidak kurang dari 110 sahabat yang meriwayatkan hadis tersebut, di antaranya Thalhah, Zubair, Abu Bakar dll.

Dan 84 perawi hadis tersebut dari generasi kedua, yakni tabiin. Bahkan peristiwa Ghadir Khum dan hal-hal yang terkait dengannya, diabadikan dalam 360 kitab Ahlus Sunah. Jadi, status hadis Man Kuntu Maula bukan hanya mutawatir (diriwayatkan oleh banyak perawi dan tak ada keraguan perihal kesahihannya), tetapi fauqa mutawatir (di atas mutawatir).

Polemik Seputar Makna Man Kuntu Maula

Seperti yang kami tegaskan, bahwa Peristiwa Ghadir Khum tidak dapat dihapus dari kening sejarah, dan pengingkaran terhadap hal tersebut berangkat dari fanatisme mazhab yang sempit atau kebodohan yang akut.

Maka perdebatan berkaitan dengan Ghadir Khum bukan berkisar pada benar tidaknya Nabi saw mengangkat tangan Imam Ali tinggi-tinggi dan membacakan hadis: Man Kuntu Maula, namun perselisihan pendapat hanya mengacu pada makna dan pemahaman dari hadis tersebut. Syiah punya makna dan pemahaman tersendiri terhadap hadis tersohor tersebut, sedangkan Ahlu Sunah juga memiliki persepsi dan pemahaman tersendiri.

Beberapa Indikasi Yang Menunjukkan bahwa Maula berarti Pemimpin

Indikasi Pertama: Nabi saw menyampaikan hadis Man Kuntu Maula di hadapan ribuan sahabat, tua-muda, laki-perempuan di musim panas yang menyengat, dan di gurun pasir yang tandus selepas manasik haji, dan memerintahkan mereka yang meninggalkan kafilah untuk kembali bergabung bersama beliau, dan mereka yang tertinggal di belakang, untuk segera mempercepat langkahnya untuk menyusul beliau hanya untuk mengatakan bahwa:

“siapa yang menjadikan beliau sebagai sahabatnya maka dia pun harus menjadikan Ali sebagai sahabatnya”

atau

“siapa yang menjadikan beliau sebagai kekasihnya maka ia pun harus menjadikan Ali sebagai kekasihnya”?!

Bukankah mereka sudah tahu bahwa Ali adalah ahlul bait Rasul saw yang harus dicintai dan disayangi? Lalu mengapa Rasul saw perlu bersusah payah mengumpulkan mereka hanya untuk menyampaikan masalah ini menjelang akhir kehidupan beliau?!

Indikasi Kedua: Ayat al yauma akmaltu (al maidah 3) turun berkaitan dengan peristiwa Ghadir Khum, lalu apakah agama menjadi sempurna dengan Rasul saw menjadikan Ali sebagai sahabat dan penolongnya?

Indikasi Ketiga: Turunnya ayat Iblagh (al Maidah 67). Apakah Nabi saw diancam oleh Allah Swt bila tidak mengatakan kepada umat bahwa mereka harus menjadikan Ali sebagai sahabat dan mencintainya maka agama tidak sempurna dan dakwah beliau sia-sia?

Indikasi Keempat: Khalifah Abu Bakar dan Umar, juga sahabat Usman, Thalhah dan Zubair dengan tanpa sungkan-sungkan mengucapkan selamat (tabrik) kepada Imam Ali atas terpilihnya ia sebagai pemimpin umat Islam pasca Nabi saw. Ucapan selamat dikatakan kepada seseorang bila seseorang mendapatkan maqam yang tinggi, bukan karena ia dikenal sebagai sahabat yang harus dicintai. (Perihal ucapan selamat sahabat-sahabat senior terhadap Imam Ali atas kedudukannya sebagai pemimpin umat pasca Nabi saw, dapat Anda temukan dalam tafsir at Tsa`labi berkaitan dengan ayat al Maidah 67, dimana Tsa`labi tegas-tegas menyatakan bahwa ayat tersebut terkait dengan Peristiwa Ghadir Khum. kita juga bisa lihat dalam Musnad Ibn Hanbal 6, hal. 401, al Bidayah wa an Nihayah juz 5 hal. 209).

Indikasi Kelima: Hasan bin Tsabit adalah penyair pertama Ghadir. Setelah Nabi saw menyampaikan hadis Man Kuntu Maula, ia memimta izin kepada Nabi saw untuk membacakan syair terkait peristiwa besar tersebut. Dalam salah satu baitnya, disebutkan: “Qum ya `alyyun fa innani radhitu min ba`di imaman wa hadiya” (bangkitlah wahai Ali, aku meridhai engkau sebagai imam dan pemberi petunjuk sesudahku). Maka sahabat Hasan bin Tsabit sebagai seorang yang hidup di zaman Nabi saw dan dekat dengan masa turunnya wahyu lebih mengetahui sastra Arab ketimbang mereka yang mengartikan kata “maula” dengan sahabat/penolong atau budak yang dibebaskan dll.[Ghadir Khum: Sejarah Yang Mustahil Untuk Diingkari]

:stun:

SILSILAH 12 IMAM AHLUL BAYT RASULULLAH

Dari jalur Abdullah Ibn Abd.Muthalib

HASYIM (pemuka bani hasyim)
|
Abd.Muthalib
|
Abdullah
|
Muhammad Saw
|
Fatimah Az-Zahra

Dari Jalur Abu Thalib

Hasyim
|
Abd.Muthalib
|
Abu Thalib
|
‘Ali Al-Murtadha (imam ke 1, syahid dibunuh)

Dari jalur imam ‘Ali Al-Murtadha dan Fatimah Az-Zahra

‘Ali Al-Murtadha-Fatimah Az Zahra
|
Imam Hasan (imam ke 2 syahid diracun) – Imam Husein (imam ke 3 syahid terbunuh) – Zainab Al Kubra

Anak cucu Imam Hasan as

Imam Hasan as
|
Hasan Al-Mutamma
|
Abdullah Al-Mahdi
|
Muhammad Al_Nafs Al Zakkiyah
|
Ibrahim
|
Idris (Imam Syi’ah Idrisiyah)

Anak Cucu Imam Husein as

Imam Husein as
|
‘Ali Zainal Abidin (imam ke 4 syahid diracun) – ‘Ali Akbar – ‘Ali Asghar
|
Zaid (imam syi’ah Zaidiyah) – Muhammad Al-Bakir (imam ke 5 syahid diracun)

Dari jalur Muhammad Al-Bakir

Muhammad Al-Bakir
|
Ja’Far As-Shadiq (imam ke 6 syahid diracun dan guru dari 3 imam besar ahlulsunnah)
|
Ismail (imam syi’ah Ismaliyah) – Musa Al-Kadzim (imam ke 7 syahid diracun) – Muhammad Al-Dibaj – ‘Ali Al-Uraidhi – Abdullah Al-Fatah

Dari jalur Musa Al-Kadzim

Musa Al-Kadzim
|
‘Ali Ar-Ridha (imam ke 8 syahid diracun)
|
Muhammad Al-Jawad Al-Taqi (imam ke 9 syahid diracun)
|
‘Ali Al-Hadi (imam ke 10 syahid di racun)
|
Hasan Al-Askari (imam ke 11 syahid diracun)
|
Muhammad Al-Mahdi Al-Muntadzar (imam ke 12 ghaib kubra)

INILAH 12 IMAM AHLUL BAIT
1.IMAM ALI BIN ABI THALIB AS, PEMIMPIN YANG ADIL
2.IMAM HASAN AL-MUJTABA AS, PENGAYOM UMAT YANG TABAH
3.IMAM HUSAIN ASY-SYAHID, PENGHULU PARA SYAHID
4.IMAM ALI ZAINAL ABIDIN, KEINDAHAN KAUM ‘ABID
5.IMAM MUHAMMAD AL-BAQIR, PENYINGKAP KHAZANAH ILMU
6.IMAM JA‘FAR ASH-SHADIQ, PENCETUS UNIVERSITAS ISLAM
7.IMAM MUSA AL-KAZHIM, PELINDUNG KAUM TERTINDAS
8.IMAM ALI AR-RIDHA, TELADAN PEJUANG YANG SABAR
9.IMAM MUHAMMAD AL-JAWAD, SAMUERA ILMU DAN TAKWA
10.IMAM ALI AL-HADI, TEGUH DI ATAS KEBENARAN
11.IMAM HASAN AL-‘ASKARI, PEMBINA GENERASI UNGGUL
12.IMAM AL-MAHDI, JANJI KEADILAN SEDUNIA

:stun:

Para Imam 12 dari Quraisy, Bani Hasyim dan Ahl Bait Rasulullah s.a.w. Ini adalah terjemahan Kitab al-Imarah (Pemerintahan) daripada Sahih Muslim. Cairo, 1955, Jilid II, him. 1542-1543.
Bab pada menyatakan urusan kekhalifah/lmamah hanya berada di tangan dua belas (12) Imam daripada Quraisy

Para Imam 12 dari Quraisy, Bani Hasyim dan Ahl Bait Rasulullah s.a.w.

Ini adalah terjemahan Kitab al-Imarah (Pemerintahan) daripada Sahih Muslim. Cairo, 1955, Jilid II, him. 1542-1543. Bab pada menyatakan urusan kekhalifah/lmamah hanya berada di tangan dua belas (12) Imam daripada Quraisy, seperti berikut:

Hadith No. 4;

Ahmad bin ‘Abdullah bin Yunus telah memberitahukan haddatha-na” kami. ‘Asim bin Muhammad bin Zaid telah memberitahukan kami daripada bapanya. … Dia berkata: ‘Abd u-llah berkata: Rasulullah s.a.ui. bersabda; “Sentiasa urusan ini “Khalifah/Imamah” berada di tangan Quraisy, sekalipun tinggal dua orang”.

Hadith No. 5;

Qutaibah bin Sa’id telah memberitahukan kami. Jarir telah memberitahu-kan kami daripada Husain daripada Jabir bin Samurah. Dia berkata: Aku telah

mendengar Nabi s.a.w. bersabda. Rifa’ah bin al-Haitham al-Wasiti telah

memberitahukan kami. Khalid bin ‘Abdullah al-Tihan telah memberitahukan kami daripada Husain Jabir bin Samurah. Dia berkata: Aku telah datang kepada Rasulullah bersama bapaku, maka aku mendengarnya bersabda: “Urusan ini (Khalifah/Imamah) tidak akan selesai sehingga berlalunya kepada

mereka dua belas (12) khalifah”. Dia berkata: Kemudian dia bercakap kepadaku dengan perlahan. Dia berkata: maka aku pun berkata kepada bapaku: Apakah yang diucapkannya? Dia menjawab: Mereka semua adalah daripada Quraisy”.

Hadith No. 6;

Ibn Abi ‘Umar telah memberitahukan aku. Sufyan talah memberitahu kepada kami daripada ‘Abdu l-Malik bin ‘Umair daripada Jabir bin Samurah. Dia, berkata: Aku talah mendengar Nabi s.a.u. bersabda: “Sentiasa urusan manusia berlalu begitu sahaja selagi mereka tidak dipimpin oleh dua belas (12) lalaki”. Kemudian Nabi s.a.w. bercakap kepadaku dengan perkataan yang perlahan. Maka aku pun bertanya bapaku: Apakah yang diucapkan oleh Rasulullah s.a.w.? Maka dia berkata: Semua mereka adalah daripada Quraisy”.

Hadith No.7;

Haddad bin Khalid al-Azdiyy telah memberitahukan aku. Hammad bin Salmah telah memberitahukan kami daripada Simak bin Harb. Dia berkata: Aku telah

mendengar Jabir bin Samurah berkata: Aku telah mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: “Islam sentiasa kuat/mulia sehingga dua belas (12) khalifah”. Kemudian dia mengucapkan kalimah yang aku tidak memahaminya. Maka aku pun berkata kepada bapaku: Apakah yang diucapkannya? Dia berkata: “Semua mereka adalah daripada Quraisy”.

Hadith No. 8;

Abu Bakr din, Abi Syaibah…… Jabir bin Samurah berkata: Nabi s.a.w.

Bersabda: “Sentiasa urusan ini (Khalifah/Imamah) menjadi teguh/mulia sehingga dua belas (12) khalifah”. Dia berkata: Kemudian dia bercakap sesuatu yang aku tidak memahaminya. Maka aku bertanyakan bapaku: Apakah yang diucapkan­nya? Maka dia menjawab: “Semua mereka adalah daripada Quraisy”.

Hadith No. 9;

Nasru bin ‘Ali al-Jadhami telah memberitahukan aku….. Jabir bin Samurah berkata: Aku datang kepada Rasulullah bersama bapaku maka aku mendengarnya ‘ bersabda: “Agama ini sentiasa kuat/mulia sehingga dua belas (12) khalifah”. Dia (Rasulullah s.a.w.) telah mengucapkan perkataan yang tidak dapat didengari-nya oleh orang ramai. Aku bertanya kepada bapaku: Apakah yang d,iucepkan oleh-nya? Dia menjawab: “Semua mereka adalah daripada Quraisy”.

Hadith No. 10;

Qutaibah bin Sa’id dan Abu Bakr bin Abi Syaibah telah menceritakan kepada kami….. Jabir bin Samurah berkata: Aku telah mendengar Rasulullah
s.a.w. bersabda: “Agama ini sentiasa teguh sehingga datangnya Qiamat atau
(berlalu) di atas kamu dua belas (12) khalifah”.

Sementara al-Bukhari di dalam Sahihnya, Cairo, 1952, IX, him. “205, mengatakan dsngan perkataan “12 amir”. Walau bagaimanapun Muslim dan al-Bukhari bersetuju bahawa urusan dunia tidak akan selesai malainkan berlalunya 12 khalifah, 12 lelaki, atau 12 amir.

Orang yang mencela para imam maksum atau bahkan memusuhi mereka tergolong orang kafir yang najis hukumnya

Akar peristiwa al-Ghadir menurut nukilan sejarah merupakan peristiwa yang telah ditetapkan dan dibuktikan validitasnya.  Para penulis sejarah dengan merekam pelbagai peristiwa dan menukil turun-temurun kisah ini dan menjadi sandaran masyarakat melalui jalan yang beragam, mengakui kebenaran masalah ini.  Sedemikian masalah ini argumentatif sedemikian sehingga ia dapat dijumpai pada sastra, teologi, tafsir, dan bahkan kitab-kitab hadis standar Ahlusunnah dan Syiah dimana Nasai salah seorang ulama besar Ahlusunnah menukil hadis ini melalui 250 sanad.

Definisi Syi’ah

Kata Syi’ah menurut bahasa adalah pendukung atau pembela. Syi’ah Ali adalah pendukung Ali atau pembela Ali. Syi’ah Muawiyyah adalah pendukung Muawiyyah.
.
Al-Mufid, seorang tokoh Syi’ah abad ke 5 H (w. 413 H/1022 M) mendefinisikan Syi’ah sebagai:
الشِّيْعَةُ أَتْبَاعُ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ صَلَوَاتُ اللهِ عَلَى سَبِيْلِ الْولاَءِ وَالْاِعْتِقَادِ بِإِمَامَتِهِ بَعْدَ الرَّسُوْلِ صَلَوَاتُ اللهِ عَلَيْهِ وَأَلِهِ بِلاَ فَصْلٍ, وَنَفَي الاِمَامَةَ عَمَّنْ تَقَدَّمَهُ فِي مَقَامِ الخِلاَفَةِ, وَجَعَلَهُ فِي الاِعْتِقَادِ مَتْبُوْعًا لَهُ غَيْرَ تَابِعٍ لِأَحَدٍ مِنْهُمْ عَلىَ وَجْهِ الاِقْتِدَاءِ (اوائل المقالات :2-4).
“Syi’ah adalah pengikut Amirul Mukminin (Ali bin Abi Thalib) shalawatullah ‘alaih atas dasar mencintai dan meyakini kepemimpinannya (imamah) sesudah Rasul SAW tanpa terputus (oleh orang lain seperti Abu Bakar dan lainnya). Tidak mengakui keimamahan imamah orang sebelumnya (Ali) sebagai pewaris kedudukan khalifah dan hanya meyakini Ali sebagai pemimpin, bukan mengikuti salah satu dari orang-orang sebelumnya (Abu Bakar, Umar dan Utsman).” (Al-Mufid, Awa’il al-Maqalat, hal. 2-4).

Definisi Al-Mufid di atas secara tegas menunjukkan bahwa kami tidak mengakui kekhalifahan sahabat Abu Bakar, Umar dan Utsman.


Yang dimaksud orang kafir yang najis hukumnya adalah:

1. Orang yang mengingkari Tuhan (tidak menerima adanya Tuhan).

2. Orang yang mengingkari kenabian Rasulullah saw.

3. Orang yang tidak mengesakan Tuhan (menganggap ada lebih dari satu Tuhan).

4. Orang yang mengingkari hal-hal paling penting dalam agama, yang sekiranya pengingkaran itu melazimkan pengingkaran terhadap nabi atau menyebabkan tidak sempurnanya agama.

5. Orang yang mencela para imam maksum atau bahkan memusuhi mereka

Rukun Iman Syi’ah
Pada dasarnya, dalam hal kepercayaan kepada Allah, Syi’ah tidak berbeda dengan Ahlussunnah wal Jama’ah. Syi’ah juga percaya bahwa Allah adalah Esa, tidak beranak dan diperanakkan. Kami juga meyakini bahwa Allah tidak serupa dengan sesuatu apapun, dan kami menghukumi kafir terhadap orang-orang yang menyekutukan Allah
.
Akan tetapi yang membuat doktrin Syi’ah dan Ahlussunnah berbeda adalah penambahan Syi’ah terhadap doktrin imamah. Menurut kami  siapapun yang beriman kepada Allah namun  mengi’tiqadkan juhud (ingkar)  terhadap kepemimpinan Sayyidina Ali setelah Nabi SAW dan para imam keturunan beliau, maka hukumnya melebihi hukum orang yang mengingkari shalat fardhu jika HUJJAH atau Dalil telah sampai kepadanya
.
Muhammad Jawad al-Amili berkata:
الإِيْمَانُ عِنْدَنَا إِنَّمَا يَتَحَقَّقُ بِالاِعْتِرَافِ بِإِمَامَةِ الأَئِمَّةِ الاِثْنيَ عَشَرَ عَلَيْهِمْ السَّلاَمُ, إِلاَّ مَنْ مَاتَ فِي عَهْدِ أَحَدِهِمْ فَلاَ يُشْتَرَطُ فِي إِيْمانِهِ إلاَّ مَعْرِفَةُ إمَامِ زَمَانِهِ وَمِنْ قَبْلِهِ.
“Iman menurut kami hanya terwujudkan dengan cara mengakui keimamahan Imam yang dua belas, kecuali bagi orang yang mati pada zaman salah satu dari mereka maka tidak disyaratkan beriman kecuali mengetahui Imam pada masanya dan masa sebelumnya.” (Ushul Madzhab al-Syi’ah, hal. 693)
.
Al-Kulaini dalam kitabnya menyebutkan suatu riwayat, sebagai berikut:
وعن أبي جعفر قال : “….. لَقِّنُوْا مَوْتَاكُمْ عِنْدَ المَوْتِ شَهَادَةَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَالْوِلاَيَةَ.
“Tuntunlah orang yang sedang sakratul maut bacaan syahadat (persaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah) dan wilayah (pengakuan atas kepemimpina Ali).” (Furu’ al-Kafi, 1/34)
.
Demikianlah, konsep imamah menjadi sentral doktrin kaum syi’ah. Kami menjadikan imamah sebagai salah satu rukun dari rukun-rukun agama Islam. Namun syi’ah tidak mengkafirkan kelompok lain yang tidak mengakui keimamahan Ali dan imam-imam keturunannya karena bisa saja diantara mereka ada yang belum sampai hujjah kepadanya. Jangan lupa ! Ilmu tentang syi’ah banyak disensor ulama sunni
.
Disebutkan dalam kitab al-Wasa’il karangan al-Mufid:
اِتَّفَقَتْ الإِمَامِيَّةُ عَلَى أَنَّ مَنْ أَنْكَرَ إِمَامَةَ أَحَدٍ مِنَ الأَئِمَّةِ وَجَحَدَ مَا أَوْجَبَهُ اللهُ تعالى لَهُ مِنْ فَرْضِ الطَّاعَةِ فَهُوَ كَافِرٌ ضَالٌّ مُسْتَحِقٌّ لِلْخُلُوْدِ فِي النَّارِ.
“Syi’ah Imamiyyah sepakat bahwa orang yang tidak meyakini keimamahan salah satu dari para imam dan mengingkari apa yang telah diwajibkan Allah SWT kepadanya dari kewajiban taat (kepada para imam), maka dia kafir, sesat dan layak kekal di neraka.” (Ushul Madzhab al-Syi’ah, hal. 867). Riwayat tersebut juga dikutip oleh al-Majlisi dalam Bihar al-Anwar (8/366)
.
Adapun dalam hal nubuwwah (kenabian), Syi’ah tidak berbeda dengan Ahlussunnah. Kami juga mengakui eksistensi nubuwwah. Namun demikian, kami tetap menjadikan imamah sebagai sentral dari doktrin kami
.
Al-Thusi, salah satu ulama Syi’ah, menganggap bahwa orang yang menolak keyakinan imamah ini jika disertai i’tiqad juhud (ingkar) sama halnya dengan menolak nubuwwah, sebagaimana perkataannya:
وَدَفْعُ الاِمَامَةِ كُفْرٌ, كَمَا أَنَ دَفْعَ النُّبُوَّةِ كُفْرٌ, لِاَنَّ الجَهْلَ بِهِمِا عَلَى حَدٍّ وَاحِدٍ.
Menyangkal keimaman adalah kafir, seperti halnya menyangkal kenabian. Sebab (hukum)  tidak tahu pada keduanya berada pada taraf yang sama.” (al-Thusi, Talkhis al-Syafi, 4/131)
.
Konsep imamah menjadi salah satu doktrin utama dalam keyakinan Syi’ah. Imamah adalah sebuah konsep kepemimpinan Syi’ah yang merupakan teori absolut. Konsep inilah sebenarnya menjadi dasar paling asasi dari doktrin-doktrin Syi’ah yang lain.Dalam Syi’ah, imamah tidak hanya merupakan kepemimpinan duniawi saja, akan tetapi juga mencakup urusan ukhrawi. Bagi Syi’ah, imamah merupakan penerus kenabian yang dasar-dasarnya berada pada dalil-dalil syara’ (nash ilahiy)
.
Syi’ah meyakini bahwa Nabi Muhammad telah menunjuk sayyidina Ali secara langsung sebagai imam pengganti beliau dengan penunjukan yang jelas dan tegas

.

 

SILSILAH 12 IMAM AHLUL BAYT RASULULLAH

Dari jalur Abdullah Ibn Abd.Muthalib

HASYIM (pemuka bani hasyim)
|
Abd.Muthalib
|
Abdullah
|
Muhammad Saw
|
Fatimah Az-Zahra

Dari Jalur Abu Thalib

Hasyim
|
Abd.Muthalib
|
Abu Thalib
|
‘Ali Al-Murtadha (imam ke 1, syahid dibunuh)

Dari jalur imam ‘Ali Al-Murtadha dan Fatimah Az-Zahra

‘Ali Al-Murtadha-Fatimah Az Zahra
|
Imam Hasan (imam ke 2 syahid diracun) – Imam Husein (imam ke 3 syahid terbunuh) – Zainab Al Kubra

Anak cucu Imam Hasan as

Imam Hasan as
|
Hasan Al-Mutamma
|
Abdullah Al-Mahdi
|
Muhammad Al_Nafs Al Zakkiyah
|
Ibrahim
|
Idris (Imam Syi’ah Idrisiyah)

Anak Cucu Imam Husein as

Imam Husein as
|
‘Ali Zainal Abidin (imam ke 4 syahid diracun) – ‘Ali Akbar – ‘Ali Asghar
|
Zaid (imam syi’ah Zaidiyah) – Muhammad Al-Bakir (imam ke 5 syahid diracun)

Dari jalur Muhammad Al-Bakir

Muhammad Al-Bakir
|
Ja’Far As-Shadiq (imam ke 6 syahid diracun dan guru dari 3 imam besar ahlulsunnah)
|
Ismail (imam syi’ah Ismaliyah) – Musa Al-Kadzim (imam ke 7 syahid diracun) – Muhammad Al-Dibaj – ‘Ali Al-Uraidhi – Abdullah Al-Fatah

Dari jalur Musa Al-Kadzim

Musa Al-Kadzim
|
‘Ali Ar-Ridha (imam ke 8 syahid diracun)
|
Muhammad Al-Jawad Al-Taqi (imam ke 9 syahid diracun)
|
‘Ali Al-Hadi (imam ke 10 syahid di racun)
|
Hasan Al-Askari (imam ke 11 syahid diracun)
|
Muhammad Al-Mahdi Al-Muntadzar (imam ke 12 ghaib kubra)

INILAH 12 IMAM AHLUL BAIT
1.IMAM ALI BIN ABI THALIB AS, PEMIMPIN YANG ADIL
2.IMAM HASAN AL-MUJTABA AS, PENGAYOM UMAT YANG TABAH
3.IMAM HUSAIN ASY-SYAHID, PENGHULU PARA SYAHID
4.IMAM ALI ZAINAL ABIDIN, KEINDAHAN KAUM ‘ABID
5.IMAM MUHAMMAD AL-BAQIR, PENYINGKAP KHAZANAH ILMU
6.IMAM JA‘FAR ASH-SHADIQ, PENCETUS UNIVERSITAS ISLAM
7.IMAM MUSA AL-KAZHIM, PELINDUNG KAUM TERTINDAS
8.IMAM ALI AR-RIDHA, TELADAN PEJUANG YANG SABAR
9.IMAM MUHAMMAD AL-JAWAD, SAMUERA ILMU DAN TAKWA
10.IMAM ALI AL-HADI, TEGUH DI ATAS KEBENARAN
11.IMAM HASAN AL-‘ASKARI, PEMBINA GENERASI UNGGUL
12.IMAM AL-MAHDI, JANJI KEADILAN SEDUNIA

:stun:

Para Imam 12 dari Quraisy, Bani Hasyim dan Ahl Bait Rasulullah s.a.w. Ini adalah terjemahan Kitab al-Imarah (Pemerintahan) daripada Sahih Muslim. Cairo, 1955, Jilid II, him. 1542-1543.
Bab pada menyatakan urusan kekhalifah/lmamah hanya berada di tangan dua belas (12) Imam daripada Quraisy

Para Imam 12 dari Quraisy, Bani Hasyim dan Ahl Bait Rasulullah s.a.w.

Ini adalah terjemahan Kitab al-Imarah (Pemerintahan) daripada Sahih Muslim. Cairo, 1955, Jilid II, him. 1542-1543. Bab pada menyatakan urusan kekhalifah/lmamah hanya berada di tangan dua belas (12) Imam daripada Quraisy, seperti berikut:

Hadith No. 4;

Ahmad bin ‘Abdullah bin Yunus telah memberitahukan haddatha-na” kami. ‘Asim bin Muhammad bin Zaid telah memberitahukan kami daripada bapanya. … Dia berkata: ‘Abd u-llah berkata: Rasulullah s.a.ui. bersabda; “Sentiasa urusan ini “Khalifah/Imamah” berada di tangan Quraisy, sekalipun tinggal dua orang”.

Hadith No. 5;

Qutaibah bin Sa’id telah memberitahukan kami. Jarir telah memberitahu-kan kami daripada Husain daripada Jabir bin Samurah. Dia berkata: Aku telah

mendengar Nabi s.a.w. bersabda. Rifa’ah bin al-Haitham al-Wasiti telah

memberitahukan kami. Khalid bin ‘Abdullah al-Tihan telah memberitahukan kami daripada Husain Jabir bin Samurah. Dia berkata: Aku telah datang kepada Rasulullah bersama bapaku, maka aku mendengarnya bersabda: “Urusan ini (Khalifah/Imamah) tidak akan selesai sehingga berlalunya kepada

mereka dua belas (12) khalifah”. Dia berkata: Kemudian dia bercakap kepadaku dengan perlahan. Dia berkata: maka aku pun berkata kepada bapaku: Apakah yang diucapkannya? Dia menjawab: Mereka semua adalah daripada Quraisy”.

Hadith No. 6;

Ibn Abi ‘Umar telah memberitahukan aku. Sufyan talah memberitahu kepada kami daripada ‘Abdu l-Malik bin ‘Umair daripada Jabir bin Samurah. Dia, berkata: Aku talah mendengar Nabi s.a.u. bersabda: “Sentiasa urusan manusia berlalu begitu sahaja selagi mereka tidak dipimpin oleh dua belas (12) lalaki”. Kemudian Nabi s.a.w. bercakap kepadaku dengan perkataan yang perlahan. Maka aku pun bertanya bapaku: Apakah yang diucapkan oleh Rasulullah s.a.w.? Maka dia berkata: Semua mereka adalah daripada Quraisy”.

Hadith No.7;

Haddad bin Khalid al-Azdiyy telah memberitahukan aku. Hammad bin Salmah telah memberitahukan kami daripada Simak bin Harb. Dia berkata: Aku telah

mendengar Jabir bin Samurah berkata: Aku telah mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: “Islam sentiasa kuat/mulia sehingga dua belas (12) khalifah”. Kemudian dia mengucapkan kalimah yang aku tidak memahaminya. Maka aku pun berkata kepada bapaku: Apakah yang diucapkannya? Dia berkata: “Semua mereka adalah daripada Quraisy”.

Hadith No. 8;

Abu Bakr din, Abi Syaibah…… Jabir bin Samurah berkata: Nabi s.a.w.

Bersabda: “Sentiasa urusan ini (Khalifah/Imamah) menjadi teguh/mulia sehingga dua belas (12) khalifah”. Dia berkata: Kemudian dia bercakap sesuatu yang aku tidak memahaminya. Maka aku bertanyakan bapaku: Apakah yang diucapkan­nya? Maka dia menjawab: “Semua mereka adalah daripada Quraisy”.

Hadith No. 9;

Nasru bin ‘Ali al-Jadhami telah memberitahukan aku….. Jabir bin Samurah berkata: Aku datang kepada Rasulullah bersama bapaku maka aku mendengarnya ‘ bersabda: “Agama ini sentiasa kuat/mulia sehingga dua belas (12) khalifah”. Dia (Rasulullah s.a.w.) telah mengucapkan perkataan yang tidak dapat didengari-nya oleh orang ramai. Aku bertanya kepada bapaku: Apakah yang d,iucepkan oleh-nya? Dia menjawab: “Semua mereka adalah daripada Quraisy”.

Hadith No. 10;

Qutaibah bin Sa’id dan Abu Bakr bin Abi Syaibah telah menceritakan kepada kami….. Jabir bin Samurah berkata: Aku telah mendengar Rasulullah
s.a.w. bersabda: “Agama ini sentiasa teguh sehingga datangnya Qiamat atau
(berlalu) di atas kamu dua belas (12) khalifah”.

Sementara al-Bukhari di dalam Sahihnya, Cairo, 1952, IX, him. “205, mengatakan dsngan perkataan “12 amir”. Walau bagaimanapun Muslim dan al-Bukhari bersetuju bahawa urusan dunia tidak akan selesai malainkan berlalunya 12 khalifah, 12 lelaki, atau 12 amir.

:stun:

Kelebihan keturunan Rasulullah s.a.w.

Terjemahan Kitab al-Fadail daripada Sahih Muslim, Cairo, 1955, Dilid IV, him. 1782 mengenai “kelebihan keturunan’Rasulullah s.a.w.”.

1. (Hadis No. 2276) Muhammad bin Mihran al-Razi dan Muhammad bin ‘Abdu r-Rahman bin Sahm telah memberitahukan haddatha-na aku semuanya daripada al-Walld. Muhammad bin Mihran berkata: al-Walid bin Muslim telah memberitahukan kami. Al-Auza’i telah memberitahukan kita daripada Abi ‘Ammar, sssungguhnya beliau telah mendengar Wathilah bin al-Asaq’ berkata: Aku men-dengar Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya Allah telah memilih Kinanah daripada anak Isma’il. Dia telah memilih Quraisyh daripada Kinanah, memilih Bani Hashim daripada Quraisyh dan Dia telah memilih aku daripada Bani Hashim”. Hadis ini dikenali dengan hadis al-Istifa’.

Kelebihan Ahl al-Bait nabi s.a.w.

2. (Hadis No. 2424) Abu Bakr bin Abi Syaibah dan Muhammad bin Abdullah bin Numair telah memberitahukan kami, mereka berdua berkata: Muhammad bin Bisyr telah memberitahukan kami daripada Zakariyya’a daripada Mus’ab bin Syaibah daripada Safiyyah binti Syaibah. Dia berkata: ‘Aisyah berkata: Nabi s.a.w. telah keluar di waktu siang dan di atasnya Kisa’ pakaian (selimut) berwarna hitam. Al-Hasan bin ‘Ali datang (kepadanya lalu dia memasukkannya (kemudian datang Fatimah maka dia memasukkannya (ke dalamnya). Kemudian ‘Ali datang maka dia memasukkannya. Kemudian dia membaca “Sesungguhnya Allah mahu menghilangkan daripada kamu Ahl al-Bait kekotoran dan membersihkan kamu dengan sebersih bersihnya” (Surah al-Ahzab (33): 33). Hadis ini dikenali dengan hadis al-Kisa’.

3. (Hadis No. 2404 (31) Abu Bakr bin Abi Syaibah dan Ghundar telah memberitahukan kami daripada Syu’bah. Muhammad bin al-Muthanna dan Ibn Basysyar berkata: Muhammad bin Ja’far dan Mus’ab bin Sa’d bin Abi Waqqas telah mem­beritahukan kami daripada Sa’d bin Abi Waqqas. Dia berkata: Rasulullah s.a.i telah meninggalkan ‘Ali bin Abi Talib (di Madinah) semasa Peperangan tabuk. Maka ‘Ali a.s. berkata: Uahai Rasulullah! Kamu tinggalkan aku (untuk men— jaga) perempuan dan kanak-kanak? Rasulullah s.a.w. bersabda: tidakkah kamu redha kedudukan (al-Manzilah) kamu disisiku samalah kedudukan Harun disisi Musa? Hanya tidak ada nabi selepasku”. Hadis ini dikenali dengan hadis al-Manzilah (Ibid., him. 1871).

4. (Hadis No. 2408) Zuhair bin Harb dan Syuja’ bin Makhlad telah memberi­tahukan aku….. kemudian Rasulullah s.a.u. berdiri dan bersabda: Adapun sekalian daripada itu, wahai manusia! Sesungguhnya aku adalah manusia di mana aku akan didatangi oleh utusan Tuhanku, maka aku akan menyahutinya. Dan aku meninggalkan kepadamu dua perkara yang berharga: Pertamanya kitab Allah padanya petunjuk dan cahaya. Oleh itu beramal dan berpegang teguhlah kamu semua dengan kitab Allah dan keluargaku”. Hadis ini dikenali dengan Hadis Thaqalain. (Sahih Muslim, IV, him. 1873).

Jika.diperhatikan hadis “imam dua belas”, hadis al-Istif a”‘, hadis al-Manzilah, dan hadis Thaqalain, maka ternyata bahawa Imamah/Khalifah mestilah berada di tangan ‘Ali dan anak-anaknya daripada Fatimah seperti al-Hasan dan al-Husain. Kerana merekalah Ahl Bait Rasulullah s.a.w. Sementara isteri-isteri baginda tidaklah termasuk di dalam pengertian Ahl al-Bait dari segi istilah. ‘Aisyah umpamanya dari Bani Taim, Hafsah dari Bani ‘Adi dan mereka berdua bukan dari Bani Hashim. Dan mereka tidak termasuk di dalam Surah al-Ahzab (33): 33 yang berdiri dengan sendiri; tanpa kaitan dengan ayat sebelumnya. Lantaran itu perkataan innama telah digunakan di dalam ayat tersebut (Surah al-Ahzab : 33).

Lantaran itu tidak hairanlah jika Syaikh Sulaiman al-Balkhi (Ahli Sunnah) menyatakan: “Hadis imam dua belas tidak sesuai jika dimaksudkan dengan Khalifah al-Rasyidin kerana mereka kurang daripada 12. Dan ianya juga tidak sesuai dengan khalifah-khalifah dari Bani Umayyah kerana merska lebih dari 12. Semua mereka adalah zalim selain dari Umar bin Abdul Aziz, dan mereka pula bukan daripada Bani Hashim kerana nabi bersabda: Semua mereka mestilah dari Bani Hashyim

.

Dan ianya juga tidak sesuai dengan khalifah-khalifah dari Bani ‘Abbas kerana mereka lebih dari 12. Mereka juga menindas anak cucu Rasulullah dan melanggar suruhan al-Qur’an. Oleh itu satu cara untuk mentafsirkan hadis itu ialah menerima 12 imam itu dari Ahl Bait Rasulullah s.a.w. kerana merekalah yang paling alim, paling takwa, mempunyai sifat-sifat yang paling baik, paling tinggi nasab-nya dan lebih mulia dari sisi Allah, dan ilmu-ilmu mereka diambil dari bapa-bapa mereka yang berhubung rapat dengan moyang mereka Muhammad s.a.u.”, (Yanabi al-Muawaddah, him. -447)

.

:stun:

Kemuliaan Ahlul Bait Dalam Hadis Rasulullah SAW

Rasulullah SAW bersabda. “Kutinggalkan kepadamu dua peninggalan (Ats Tsaqalain), kitab Allah dan Ahlul BaitKu. Sesungguhnya keduanya tak akan berpisah, sampai keduanya kembali kepadaKu di Al Haudh“ (Mustadrak As Shahihain Al Hakim juz III hal 148 Al Hakim menyatakan dalam Al Mustadrak As Shahihain bahwa sanad hadis ini shahih berdasarkan syarat Bukhari dan Muslim).

Hadis-hadis Shahih dari Rasulullah SAW menjelaskan bahwa mereka Ahlul Bait AS adalah pedoman bagi umat Islam selain Al Quranul Karim. Mereka Ahlul Bait senantiasa bersama Al Quran dan senantiasa bersama kebenaran.

Bahwa Rasulullah SAW bersabda “Wahai manusia sesungguhnya Aku meninggalkan untuk kalian apa yang jika kalian berpegang kepadanya niscaya kalian tidak akan sesat ,Kitab Allah dan Itrati Ahlul BaitKu”.(Hadis riwayat Tirmidzi,Ahmad,Thabrani,Thahawi dan dishahihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albany dalam kitabnya Silsilah Al Hadits Al Shahihah no 1761)

Hadis ini menjelaskan bahwa manusia termasuk sahabat Nabi diharuskan berpegang teguh kepada Al Quran dan Ahlul Bait. Ahlul Bait yang dimaksud dijelaskan sendiri dalam Hadis Sunan Tirmidzi di atas atau Hadis Kisa’ yaitu Sayyidah Fathimah AS, Imam Ali AS, Imam Hasan AS dan Imam Husain AS.

Selain itu ada juga hadis

Hanash Kanani meriwayatkan “aku melihat Abu Dzar memegang pintu ka’bah (baitullah)dan berkata”wahai manusia jika engkau mengenalku aku adalah yang engkau kenal,jika tidak maka aku adalah Abu Dzar.Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda “Ahlul BaitKu seperti perahu Nabi Nuh, barangsiapa menaikinya mereka akan selamat dan barangsiapa yang tidak mengikutinya maka mereka akan tenggelam”.(Hadis riwayat Hakim dalam Mustadrak Ash Shahihain jilid 2 hal 343 dan Al Hakim menyatakan bahwa hadis ini shahih).

Hadis ini menjelaskan bahwa Ahlul Bait seperti bahtera Nuh dimana yang menaikinya akan selamat dan yang tidak mengikutinya akan tenggelam. Mereka Ahlul Bait Rasulullah SAW adalah pemberi petunjuk keselamatan dari perpecahan.

Ibnu Abbas berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda”Bintang-bintang adalah petunjuk keselamatan penghuni bumi dari bahaya tenggelam di tengah lautan.Adapun Ahlul BaitKu adalah petunjuk keselamatan bagi umatKu dari perpecahan.Maka apabila ada kabilah arab yang berlawanan jalan dengan Mereka niscaya akan berpecah belah dan menjadi partai iblis”.
(Hadis riwayat Al Hakim dalam Mustadrak Ash Shahihain jilid 3 hal 149, Al Hakim menyatakan bahwa hadis ini shahih sesuai persyaratan Bukhari Muslim).

Begitu besarnya kemuliaan Ahlul Bait Rasulullah SAW ini membuat mereka jelas tidak bisa dibandingkan dengan sahabat-sahabat Nabi ra. Tidak benar jika dikatakan bahwa Ahlul Bait sama halnya sahabat-sahabat Nabi ra sama-sama memiliki keutamaan yang besar karena jelas sekali berdasarkan dalil shahih di atas bahwa Ahlul Bait kedudukannya lebih tinggi karena Mereka adalah tempat rujukan bagi para sahabat Nabi setelah Rasulullah SAW meninggal. Jadi tidak tepat kalau dikatakan Ahlul Bait juga bisa salah, atau sahabat Nabi bisa mengajari Ahlul Bait atau Menyalahkan Ahlul Bait. Sekali lagi, Al Quran dan Hadis di atas sangat jelas menunjukkan bahwa mereka Ahlul Bait akan selalu bersama kebenaran oleh karenanya Rasulullah SAW memerintahkan umatnya(termasuk sahabat-sahabat Beliau SAW) untuk berpegang teguh dengan Mereka Ahlul Bait

.

Sempuranya Islam adalah dengan Risalah Rasulullah SAWW dan Wilayah Ali AS

Yaitu firman (Surat al-Mai’dah (5:67) “Hai Rasul, sampaikan apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan anamatNya. Allah memelihara kamu dari (gangguan ) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir. “

Allah SWT telah memerintahkan Nabi-Nya di Ghadir Khum supaya memberikan ayat yang mulia ini kepada umat Muslimin. Ahli Tafsir Sunnah dan Syi’ah bersepakat bahwa ayat ini diturunkan di Ghadir Khum mengenai ‘Ali AS untuk melaksanakan urusan Imamah. Itu merupakan nash bagi jabatan khalifah yang besar dan pimpinan agama yang mulia. Tidak akan meragukannya melainkan orang yang menuruti hawa nafsu atau karena fanatik kepada mazhab yang dianut.

Sikap tersebut adalah melanggar Qur’an dan mengingkari hadits-hadits Nabi SAWW yang mutawatir yang disepakati kesahihannya kecuali orang fanatik yang dikuasai oleh nafsu al-Ammarah. Dengan sikap itu dia akan binasa karena pengingkarannya terhadap dasar agama.

Al-’Allamah al-Sayyid al-’Abbas al-Kasyani menyatakan di dalam buku Masabih al-Jinan114 bahwa hari perayaan al-Ghadir adalah perayaan Allah yang besar dan perayaan Rasulullah serta Ahlu l-Bayt Muhammad SAWW. Itulah sebesar-besar perayaan dan semulia-mulia perayaan di sisi mereka. Yaitu hari di mana Rasulullah SAWW telah melantik ‘Ali AS sebagai imam dan khalifah berikutnya dengan kehadiran dan disaksikan ribuan kaum Muslimin yang datang dari segenap pelosok dunia.

Ia telah memerintahkan mereka supaya membai’ahnya dan menyerahkan kepadanya urusan pemerintahan Mukminin. Peristiwa ini terjadi saat Haji Wada ‘di suatu tempat bernama Ghadir Khum, tiga mil dari Juhfah dekat Rabigh setelah beliau kembali dari mengerjakan haji di antara Mekkah dan Madinah. Jibra’il datang kepada beliau untuk tujuan tersebut.

Nabi SAWW merasa takut untuk melanggar kaumnya belum siap, lalu ia berdoa: “Ya Tuhanku! Sesungguhnya kaumku masih baru dengan zaman Jahiliyyah. Apabila aku melakukan perintah ini, mereka akan berkata: Ia melakukannya kepada sepupunya.

Kemudian Jibra’il AS datang kepada kedua kali sekitar lima jam berlalunya siang dan berkata: Ya Muhammad! Sesungguhnya Allah menyampaikan salam kepada Anda dan berfirman : “Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepada kamu dari Tuhanmu (yaitu tentang ‘Ali) dan jika kamu tidak melaksanakannya maka kamu tidak menyampaikan risalahnya.”

Jumlah yang hadir saat itu melebihi seratus ribu orang. Jibra’il memberitahu Nabi SAWW supaya umat berhenti di tempat itu, dan menyatakan ‘Ali sebagai khalifah mereka, dan menyampaikan kepada mereka bahwa sesungguhnya Allah SWT telah memeliharanya’ Asamahu dari orang-orang. Sedangkan tiba di Ghadir Khum, azan berkumandang di langit dan shalat berjama’ah didirikan.

Di hari itu panas terik, jika daging dilemparkan ke tanah niscaya ia akan masak. Nabi SAWW menyuruh mereka supaya menyusun batu seperti mimbar kemudian diteduhi dengan kain di atasnya. Lalu beliau berdiri di atasnya sementara mereka berkumpul, ia memberi khutbahnya yang paling bersejarah, menguatkan suaranya supaya dapat didengar oleh seratus ribu lebih Muslimin yang datang dari setiap pelosok. Setelah memuji Allah, ia menyampaikan nasihat dan menyatakan kepada ummah pada semakin dekatnya wafat beliau seraya berkata: Aku telah dipanggil dan hampir aku menyahutinya dan denyut jantung hatiku kian memuncak di hadapan kalian.

“Kemudian beliau mengangkat tangan ‘Ali AS sehingga orang ramai melihat keputihan ketiak Rasulullah SAWW sambil berkata: Wahai manusia! Tidakkah aku lebih aula dari diri kalian? Mereka menjawab: Ya Wahai Rasulullah (SAWW).

Ya Beliau bersabda: “Ya Tuhanku, siapa yang aku telah menjadi maulanya, maka ‘Ali adalah maulanya.” Tuhanku, cintailah mereka yang mewalikannya dan memusuhilah mereka yang sedang. Dan tolonglah orang yang menolongnya. Hinalah orang yang menghinanya. Murkailah orang yang memarahinya. Cintailah orang yang mencintainya. Muliakanlah orang yang memuliakannya.

Sesungguhnya Allah menyempurnakan bagi kalian agama kalian dengan wilayah dan imamahnya. Tidak membenci ‘Ali kecuali orang yang celaka. Tidak mewalikan ‘Ali kecuali orang yang bertaqwa. Wahai manusia, janganlah kalian kembali sesudahku dalam keadaan kafir, bunuh membunuh sesama kalian. Sesungguhnya aku tinggalkan kepada kalian dua hal yang beharga jika kalian berpegang teguh kepadanya, kalian tidak akan sesat selama-lamanya : Kitab Allah dan Itrah Ahlu l-Baitku. Keduanya tidak akan berpisah sehingga kedua-duanya dikembalikan di Haudh.

Wahai manusia! Telah sesat kebanyakan orang-orang yang terdahulu. Akulah Sirat al-Mustaqim di mana Allah telah memerintahkan kalian agar berjalan di atasnya untuk mendapat petunjuknya. Ali sesudahku, kemudian Hasan, Husain dan sembilan (manusia) imam dari keturunannya yang menunjuk kebenaran. Sesungguhnya aku telah menjelaskan kepada kalian dan memahamkan kalian. Dan inilah ‘Ali yang akan memahamkan kalian sesudahku.

Sesungguhnya aku menyeru kalian agar berjabat tanganku sebagai tanda membai’ahnya dan memperakuinya. Sesungguhnya aku telah membai’ah Allah dan ‘Ali . Sesungguhnya bai’ah kalian kepadanya adalah dari Allah. Justru itu barang siapa yang mengingkari bai’ahnya maka dia sesungguhnya mengingkari dirinya sendiri. Dan barang siapa yang menepati apa yang telah dijanjikan Allah SWT maka Dia akan memberi ganjaran yang besar. “

Tiba-tiba ‘Umar bin al-Khattab berkata kepada’ Ali : Selamat kepada Anda wahai anak lelaki Abu Talib. Anda adalah maulaku dan maula setiap Mukmin dan mukminat. Di dalam riwayat yang lain pula Umar berkata: Selamat bahagia untuk Anda wahai ‘Ali.

Abu Sa’id al-Khudri berkata: Pada masa itu kami belum pulang sehingga turunnya ayat ikmalu d-Din (Surah al-Maidah (5): 3) yang berarti: “Pada hari ini telahku sempurnakan bagimu agamamu, dan telahku cukupkan kepadamu nikmatKu , dan telahku redha Islam itu agamamu. “

Nabi bersabda : Allahu Akbar karena (Allah telah) menyempurnakan agama, menyempurnakan nikmat dan keridhaan Tuhan dengan Risalahku dan dengan Wilayah ‘Ali AS sesudahku

:stun:

Kewajipan ikut mazhab Ahlul-Bait (as).

>> Dalil dari Al-Quran :

1. Ayat al-Wilayah (QS. al-Maidah: 54)

” Sesungguhnya pemimpin kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya dan orang yang beriman yang mendirikan salat dan memberikan sedekah dalam keadaan ruku.”

Al-Tabrani telah menulisnya di dalam al-Ausat.2 Ibn Mardawaih daripada ‘Ammar bin Yassir berkata:

” Seorang peminta sadqah berdiri di sisi Ali yang sedang rukuk di dalam sembahyang sunat. Lalu beliau mencabutkan cincinnya dan memberikannya kepada peminta tersebut. Kemudian dia memberitahukan Rasulullah SAWAW mengenainya. Lalu ayat tersebut diturunkan. Kemudian Nabi SAWAW membacakannya kepada para sahabatnya.

Beliau bersabda:

” Siapa yang telah menjadikan aku maulanya, maka Ali adalah maulanya. Wahai Tuhanku, hormatilah orang yang memperwalikannya dan musuhilah orang yang memusuhinya, cintailah orang orang mencintainya, bencilah orang yang membencinya, tolonglah orang yang menolongnya, tinggallah orang yang meninggalkannya dan penuhilah kebenaran bersamanya di mana saja dia berada.”

2. Ayat at-Tathir (Surah al-Ahzab (33): 33):”

” Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan segala dosa dari kamu (‘an-kum) wahai Ahlu l-Bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.”

Dimaksudkan dengan Ahlul-Bait AS ialah ‘Ali, Fatimah, Hasan, dan Husain AS. Demikianlah juga para ulama Ahlus-Sunnah menjelaskan bahawa maksud Ahlul-Bait ialah Nabi SAWAW dan keturunan ‘Ali yang disucikan.

3. Ayat al-Mubahalah (surah Ali Imran (3): 61)

” Sesiapa yang membantahmu mengenai (kisah ‘Isa) sesudah datang ilmu (yang menyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya): Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, wanita-wanita kami dan wanita-wanita kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubalahah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.”

Ahmad bin Hanbal di dalam Musnadnya53 berkata:’Abdullah telah memberitahukan kami dia berkata: Bapaku memberitahuku dia berkata: Qutaibah bin Sa’id dan Hatim bin Isma’il telah memberitahukan kami daripada Bakir bin Mismar daripada Amir bin Saad daripada bapanya dia berkata: Aku mendengar Rasulullah SAWAW bersabda kepadanya: Dia berkata: Manakala turun ayat al-Mubahalah maka beliau SAWAW menyeru ‘Ali, Fatimah, Hasan dan Husain dan bersabda:Wahai Tuhanku, mereka itulah keluargaku.

4. Ayat al-Muwaddah (Surah al-Syu’ara (42): 23):

” Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan (al-qurba). Dan siapa yang mengerjakan kebaikan (al-Hasanah) akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.”

Ahmad bin Hanbal telah meriwayatkan di dalam Manaqib, al-Tabrani, al-Hakim dan Ibn Abi Hatim daripada ‘Abbas sebagaimana telah diriwayatkan oleh Ibn Hajr di dalam pentafsiran ayat 14 daripada ayat-ayat yang telah dinyatakan di dalam fasal pertama daripada bab sebelas daripada al-Sawa’iqnya dia berkata: Manakala turunnya ayat ini mereka bertanya:

Wahai Rasulullah! Siapakah kerabat anda yang diwajibkan ke atas kami mengasihi mereka?

Beliau SAWAW menjawab: ” Ali, Fatimah dan dua anak lelaki mereka berdua.”

5. Ayat Salawat (Surah al-Ahzab (33):56):

” Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikatNya bersalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”

Imam Syafi’i dalam Musnadnya berkata: Ibrahim bin Muhammad telah memberitahukan kami bahawa Safwan bin Sulaiman telah memberitahukan kami daripada Abi Salmah daripada ‘Abdur Rahman daripada Abu Hurairah dia bertanya:

Wahai Rasulullah, bagaimana kami bersalawat ke atas anda?

Maka Rasulullah SAWAW menjawab: Kalian katakanlah, ” Allah humma salli ala Muhammad wa ali Muhammad

6. Ayat Tabligh atau Hadith al-Ghadir (Surah al-Mai’dah (5:67)

” Hai Rasul, sampaikan apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, (bererti) kamu tidak menyampaikan anamatNya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir.”

Fakhruddin al-Razi di dalam Mafatih al-Ghaib berkata: Ahli Tafsir telah menyebutkan bahawa sebab turun ayat ini sehingga dia berkata: (kesepuluh) ayat ini telah diturunkan tentang kelebihan ‘Ali bin Abi Talib AS.

Manakala ayat ini diturunkan Nabi SAWAW memegang tangan ‘Ali AS dan bersabda:

” Siapa yang telah menjadikan aku maulanya, maka ‘Ali adalah maulanya. Hormatilah orang yang mewalikannya dan musuhilah orang yang memusuhinya. “

Kemudian Umar (RD) memujinya dan berkata:

” Tahniah kepada anda wahai anak Abu Talib. Anda telah menjadi maulaku dan maula semua mukmin dan mukminah.” ( riwayat Ibn ‘Abbas, al-Barra’ bin Azib dan Muhammad bin Ali.)

Al-Suyuti di dalam al-Durr al-Manthur mengaitkan riwayat Ibn Mardawaih daripada Ibn Asakir kepada Abu Sai’d al-Khudri. Dia berkata: Manakala Rasulullah SAWAW melantik ‘Ali AS pada hari Ghadir Khum, maka beliau SAWAW mengisytiharkan wilayah ‘Ali AS. Lalu Jibra’il AS menurunkan ayat Ikmalud-Din (Surah al-Mai’dah(5):3) – ” Pada hari ini telah aku sempurnakan agamamu.”

:stun:

>> Dalil dari hadiths Rasulullah (saw) :

Imam Ja’far al-Sadiq AS berkata:

“Aneh sekali mereka berkata: Mereka mengambil ilmu mereka semuanya daripada Rasulullah SAWAW. Lantas mereka mengetahui dan mendapat petunjuk daripadanya. Mereka fikir kami Ahlul-Bait tidak mengambil ilmunya dan kami tidak mendapat petunjuk daripadanya. Sedangkan kami keluarganya dan zuriatnya. Di rumah kamilah turunnya wahyu. Dan dari kamilah ia mengalir kepada orang ramai. Adakah anda fikir merekalah yang mengetahui dan mendapat petunjuk sementara kami jahil dan sesat?

Imam Baqir AS berkata:

” Sekiranya kami memberitahukan kepada orang ramai menurut pendapat dan hawa nafsu kami, nescaya kami binasa. Tetapi kami memberitahukan mereka dengan hadith-hadith yang kami kumpulkannya daripada Rasulullah SAWAW sebagaimana mereka mengumpulkan emas dan perak.”

Imam Ja’far al-Sadiq AS berkata:

” Hadithku adalah hadith bapaku. Hadith bapaku adalah hadith datukku. Hadith datukku adalah hadith Husain. Hadith Husain adalah Hadith Hasan. Hadith Hasan adalah hadith Amiru l-Mukminin. Hadith Amiru l-Mukminin adalah hadith Rasulullah SAWAW. Dan hadith-hadith Rasulullah SAWAW adalah firman Allah SWT.1

1. Hadith al-Dar atau al-Indhar (Hadith jemputan di rumah atau hadith peringatan)

Nabi (saw) bersabda :

” Sesungguhnya ini adalah saudaraku, wasiku dan khalifahku pada kalian. Maka dengarlah kalian kepadanya, dan patuhilah.” Beliau berkata: Orang ramai bangun dan ketawa sambil berkata kepada Abu Talib, sesungguhnya beliau telah memerintahkan anda supaya mendengar anak anda dan mematuhinya.

2. Hadith Thaqalain (Hadith dua perkara yang berharga)

Sabda Nabi SAWAW

” Sesungguhnya aku tinggalkan pada kalian thaqalain (dua perkara yang berharga) Kitab Allah dan itrah Ahlul-Baitku. Sekiranya kalian berpegang kepada kedua-duanya nescaya kalian tidak akan sesat selepasku selama-lamanya.”

Sayyid Syarafuddin al-Musawi di dalam Muraja’at-nya menegaskan bahawa mafhum sabda Nabi SAWAW: Sesungguhnya aku tinggalkan kepada kalian sekiranya kalian berpegang kepadanya, kalian tidak akan sesat selamanya; Kitab Allah dan ‘itrahku. Iaitu orang yang tidak berpegang kepada kedua-duanya adalah berada di dalam kesesatan.

Sebagaimana diperkuatkan oleh Hadith Nabi SAWAW:

” Janganlah kalian mendahului kedua-duanya nescaya kalian akan binasa dan janganlah kalian mengabaikan kedua-duanya nescaya kalian juga akan binasa. Dan janganlah kalian mengajar mereka kerana mereka itu lebih mengetahui daripada kalian.

3. Hadith al-Manzilah (Hadith mengenai kedudukan ‘Ali dan Harun)

Sabdanya SAWAW:

” Tidakkah anda meridhai wahai ‘Ali, anda di sisiku seperti Manzilah (kedudukan) Harun di sisi Musa hanya tidak ada nabi selepasku.”

Lantaran itu ‘Ali, menurut ayat ini, adalah khalifah Rasulullah pada kaumnya, wazirnya pada keluarganya dan rakan kongsinya di dalam urusannya sebagai penggantinya dan bukan sebagai nabi.

Beliau adalah orang yang paling layak pada ummatnya semasa hidup dan mati. Oleh itu mereka wajib mentaatinya semasa beliau menjadi pembantunya seperti Harun kepada ummat Musa di zaman Musa.

4. Hadith al-Safinah (Hadith Bahtera)

Sabda Nabi SAWAW:

” Umpama Ahlul-Baitku samalah seperti bahtera Nuh. Siapa yang menaikinya berjaya. Dan siapa yang enggan atau terlambat akan tenggelam.”

Al-Tabrani telah mencatatkan di dalam al-Ausat daripada Abu Sa’id, Nabi SAWAW bersabda: Umpama Ahlul-Baitku pada kalian sepertilah bahtera Nuh. Siapa yang menaikinya berjaya dan siapa yang enggan atau terlambat akan tenggelam. Dan umpama Ahlul-Baitku pada kalian sepertilah pintu pengampunan bagi Bani Isra’il. Siapa yang memasukinya akan diampun.

Di antara orang yang mengakui kesahihannya ialah Imam al-Syafi’i sendiri. Al-Ujaili telah mengaitkan kata-kata Syafi’i di dalam Dhakhirah al-Mal:

Manakala aku melihat manusia telah berpegang kepada mazhab yang bermacam-macam di lautan kebodohan dan kejahilan Aku menaiki dengan nama Allah bahtera kejayaan mereka itulah Ahlul-Bait al-Mustafa dan penamat segala Rasul.

5. Hadith Madinah al-’Ilm (Hadith Bandar Ilmu)

Sabda Nabi SAWAW:

” Aku adalah bandar ilmu dan ‘Ali adalah pintunya.”

Atau kebinasaan jika ia menyalahi dan mendurhakai perintah orang yang memerintah. Sebagaimana sabdanya:

” Siapa yang inginkan ilmu, maka hendaklah datang melalui pintunya dan siapa yang datang bukan melalui pintunya dikira pencuri dan dia adalah dari parti ‘iblis. “

Rasulullah SAWAW bersabda:

” Anda wahai ‘Ali! Pewaris ilmuku, suami anak perempuanku, pelaksana agamaku dan khalifahku selepasku.”

Justeru itu Amirul Mukminin telah menunjuk kepada dadanya di suatu hari di atas mimbar Masjid di Kufah sebanyak tiga kali sambil berkata:

” Disinilah sifat ilmu. Bertanyalah kepadaku sebelum kalian kehilanganku. Demi Allah sekiranya kalian bertanya kepadaku tentang jalan-jalan langit dan bumi, nescaya aku akan memberitahukan kalian mengenainya. Maka sesungguhnya aku lebih mengetahui jalan-jalan langit dan bumi. “

Hadith-hadith seumpama ini memanglah banyak, maka di manakah nilainya wahai Muslimun!, fikir dan renungkanlah !

Hadis tentang ahlul bait

Berikut ini adalah beberapa hadis Rasulullah SAW tentang ahlul bait :
Keistimewaan ahlul bait

Sabda Rasulullah SAW: “Mengapa ada orang-orang yang mengatakan bahwa hubungan kekerabatan dengan Rasulullah tidak bermanfaat pada hari kiamat? Sungguhlah, kekerabatanku berkesinambungan di dunia dan akhirat”

Sabda Rasulullah SAW: “Bintang-bintang adalah keselamatan bagi penghuni langit, sedang ahlul-baitku keselamatan bagi penghuni bumi”

Ahlul bait adalah bekal dari Rasulullah

Sahih Muslim: Zain bin Arqam berkata Rasulullah bersabda: “Amma ba’du. Hai sekalian manusia, sesungguhnya aku adalah hamba Allah. Utusan Tuhanku (Malaikat Maut) hampir tiba dan aku harus memenuhi panggilanNya. Aku tinggalkan pada kalian Ath-thaqalain (dua bekal berat). Yang pertama adalah Kitabullah (Al-Quran) , di dalamnya terdapat petunjuk dan cahay terang. Maka amalkan dan berpeganglah padanya”. “Dan ahlul-baitku. Aku ingatkan kalian kepada Allah mengenai ahlul-baitku, aku ingatkan kalian kepada Allah mengenai ahlul-baitku, aku ingatkan kalian kepada Allah mengenai ahlul-baitku”

Manfaat mencintai ahlul-bait

Hadis riwayat Imam Ahmad bin Hambal:

“Barangsiapa mencitaiku dan mencintai keduanya itu (yakni Al Hassan dan Al-Hussein) serta mencintai ibu dan bapa mereka, yakni Fatimah az-Zahra dan Sayyidina ‘Ali – kemudian ia meninggal dunia sebagai pengikut sunnahku, ia bersamaku di dalam syurga yang sederajat”

“Pada hari kiamat aku akan akan menjadi syafi’ (penolong) bagi empat golongan. Yang menghormati keturunanku; yang memenuhi keperluan mereka; yang berupaya membantu urusan mereka pada waktu diperlukan dan yang mencintai mereka sepenuh hati”

Wasiat agar umat Islam mencintai ahlul-bait

Hadis riwayat At -Thabarani dan lain-lain: “Belum sempurna keiimanan seorang hamba Allah sebelum kecintannya kepadaku melebihi kecintaannya kepada dirinya sendiri; sebelum kecintannya kepada keturunanku melebihi kecintaannya kepada keturunannya sendiri; sebelum kecintaannya kepada ahli-baitku melebihi kecintaannya kepada keluarganya sendiri, dan sebelum kecintannya kepada zatku melebihi kecintaannya kepada zatnya sendiri”.

Ibnu ‘Abbas RA berkata bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda: “Cintailah Allah atas kenikmatannya yang diberikanNya kepadamu sekalian dan cintailah aku dengan mencintai Allah dan cintailah ahlul-baitku karena mencintaiku”

Ad-Dailami meriwayatkan hadis dari Ali RA yang menyebut sabda Rasulullah SAW: “Di antara kalian yang paling mantap berjalan di atas sirath ialah yang paling besasr kecintaannya kepada ahlul-baitku dan para sahabatku”

Siapakah Ahlul Bait

Hadis Al Hakim berasal dari Zaid bin Arqam r.a.,

“.. Mereka (ahlul bait) adalah keturunanku, dicipta dari darah dagingku dan dikurniai pengertian serta pengetahuanku. Celakalah orang dari umatku yang mendustakan keutamaan mereka dan memutuskan hubungan denganku melalui (pemutusan hubungan dengan) mereka. Kepada orang-orang seperti ini, Allah SWT tidak akan menurunkan syafaatku (pertolonganku)”

Hadis Keutamaan Ahlul Bait Rasulullah Saaw

Hadis Keutamaan Ahlul Bait, Ahlulbayt Rasulullah as

Keutamaan Ahlul Bait Rasul as

“Hanash Kanani meriwayatkan “aku melihat Abu Dzar memegang pintu ka’bah (baitullah)dan berkata”wahai manusia jika engkau mengenalku aku adalah yang engkau kenal,jika tidak maka aku adalah Abu Dzar.Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda “Ahlul BaitKu seperti perahu Nabi Nuh,barangsiapa menaikinya mereka akan selamat dan barangsiapa yang tidak mengikutinya maka mereka akan tenggelam”.

Hadis riwayat Hakim dalam Mustadrak Ash Shahihain jilid 2 hal 343 dan Al Hakim menyatakan bahwa hadis ini shahih.

Ibnu Abbas berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda”Bintang-bintang adalah petunjuk keselamatan penghuni bumi dari bahaya tenggelam di tengah lautan.Adapun Ahlul BaitKu adalah petunjuk keselamatan bagi umatKu dari perpecahan. Maka apabila ada kabilah arab yang berlawanan jalan dengan Mereka niscaya akan berpecah belah dan menjadi partai iblis”.

Hadis riwayat Al Hakim dalam Mustadrak Ash Shahihain jilid 3 hal 149, Al Hakim menyatakan bahwa hadis ini shahih sesuai persyaratan Bukhari Muslim.

Bahwa Rasulullah SAW bersabda “Wahai manusia sesungguhnya Aku meninggalkan untuk kalian apa yang jika kalian berpegang kepadanya niscaya kalian tidak akan sesat ,Kitab Allah dan Itrati Ahlul BaitKu”.

Hadis riwayat Tirmidzi, Ahmad, Thabrani, Thahawi dan dishahihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albany dalam kitabnya Silsilah Al Hadits Al Shahihah no 1761.

Keutamaan Sayyidah Fathimah Az Zahra as

Rasulullah SAW bersabda” Wanita penghuni surga yang paling utama adalah Khadijah binti Khuwailid, Fathimah binti Muhammad, Maryam binti Imran, dan Asiyah binti Mazahim istri Firaun.

Hadis shahih riwayat Ahmad,Thabrani,Hakim,Thahawi dalam Shahih Al Jami’As Saghir no 1135 dan Silsilah Al Hadits Al Shahihah no1508.

Bahwa ada malaikat yang datang menemui Rasulullah SAW dan berkata “sesungguhnya Fathimah adalah penghulu seluruh wanita di dalam surga”.

Hadis riwayat Al Hakim dalam Al Mustadrak dengan sanad yang baik.

Rasululah SAW bersabda kepada Fathimah“Tidakkah Engkau senang jika Engkau menjadi penghulu bagi wanita seluruh alam”

Hadis riwayat Al Bukhari dalam kitab Al Maghazi .

Aisyah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Wahai Fathimah, tidakkah anda puas menjadi sayyidah dari wanita sedunia (atau) menjadi wanita tertinggi dari semua wanita dari ummat ini atau wanita mukmin”

Hadis dalam Sahih Bukhari jilid VIII, Sahih Muslim jilid VII, Sunan Ibnu Majah jilid I hlm 518 , Musnad Ahmad bin Hanbal jilid VI hlm 282, Mustadrak Al Hakim jilid III hlm156.

Bahwa Rasulullah SAW bersabda “Fathimah adalah bahagian dariku, barangsiapa yang membuatnya marah, membuatku marah!”

Hadis riwayat Bukhari dalam Shahih Bukhari Kitab Bad’ul Khalq bab Manaqib Qarabah Rasul.

Bahwa Rasulullah SAW bersabda”Fathimah adalah sebahagian daripadaku; barangsiapa ragu terhadapnya, berarti ragu terhadapku, dan membohonginya adalah membohongiku”

Hadis riwayat Bukhari dalam Shahih Bukhari kitab nikah bab Dzabb ar-Rajuli.

Keutamaan Imam Ali as

bahwa Rasulullah SAW bersabda “Ali bersama Al Quran dan Al Quran bersama Ali. Keduanya tidak akan berpisah hingga keduanya menemuiku di telaga Haudh”.

Hadis riwayat Al Hafidz Al Hakim dalam Mustadrak Ash Shahihain juz 3 hal 124. Hadis ini dishahihkan oleh Al Hakim dalam Mustadrak Ash Shahihain yang berkata ”ini hadis yang shahih tetapi keduanya (Bukhari dan Muslim) tidak meriwayatkannya”. Dalam Talkhis Mustadrak Adz Dzahabi juga mengakui keshahihan hadis ini.

bahwa Rasulullah SAW bersabda “barangsiapa taat kepadaKu, berarti ia taat kepada Allah dan siapa yang menentangKu berarti ia menentang Allah dan siapa yang taat kepada Ali berarti ia taat kepadaKu dan siapa yang menentang Ali berarti ia menentangKu.”

Hadis riwayat Al Hakim dalam Al Mustadrak juz 3 hal 121. Al Hakim dalam Al Mustadrak berkata hadis ini shahih sanadnya akan tetapi Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya. Adz Dzahabi juga mengakui kalau hadis ini shahih dalam Talkhis Al Mustadrak.

bahwa Rasulullah SAW bersabda” Kurasa seakan-akan aku segera akan dipanggil (Allah), dan segera pula memenuhi panggilan itu, Maka sesungguhnya aku meninggalkan padamu ats Tsaqalain. yang satu lebih besar (lebih agung) dari yang kedua : Yaitu kitab Allah dan Ittrahku. Jagalah Baik-baik kedua peninggalanku itu, sebab keduanya takkan berpisah sehingga berkumpul kembali denganku di al Haudh. Kemudian beliau berkata lagi: “Sesungguhnya Allah Azza Wa Jalla adalah maulaku, dan aku adalah maula setiap Mu’min. Lalu beliau mengangkat tangan Ali Bin Abi Thalib sambil bersabda : Barangsiapa yang menganggap aku sebagai maulanya, maka dia ini (Ali bin Abu Thalib) adalah juga maula baginya. Ya Allah, cintailah siapa yang mencintainya, dan musuhilah siapa yang memusuhinya..

Hadis riwayat Al Hakim dalam kitab Mustadrak As Shahihain, Juz III hal 109 . Menurut Al Hakim dalam kitab Al Mustadrak Hadis ini Shahih berdasarkan persyaratan Bukhari dan Muslim , pernyataan ini dibenarkan Adz Dzahabi dalam Talkhis Al Mustadrak.

Keutamaan Imam Hasan as dan Imam Husain as

Bahwa Rasulullah SAW bersabda”Hasan dan Husain adalah dua pemimpin Ahli Surga

Hadis riwayat Ahmad,Turmudzi dan Thabrani dalam Al Awsath dan Shahih Al Jami’ no 3180.

Bahwa Rasulullah SAW bersabda”Hasan dan Husain adalah dua pemimpin para pemuda penduduk surga dan Ayah Mereka lebih baik dari Mereka”.

Hadis shahih riwayat Ibnu Majah dan Al Hakim dinyatakan shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilat As Shahihah no 796 dan Shahih Al Jami’ no 3182.

Bahwa Rasulullah SAW berdoa untuk Hasan”Ya Allah Aku sangat mencintai dan menyayangi Hasan maka cintai dan kasihilah Dia, serta cintai dan sayangilah orang yang mencintai dan menyayanginya”.

Hadis dalam Shahih Bukhari bab Manaqib Al Hasan wa Al Husain no 3749 dan Shahih Muslim bab Fadhail Al Hasan wa Al Husain no 2422.

Suatu ketika Nabi Muhammad SAW berdiri di atas mimbar dan Hasan ada di sampingnya. Beliau SAW menoleh ke arah Hasan dan sesaat kemudian menoleh ke arah kaum muslimin di hadapannya. Lalu Beliau SAW bersabda “AnakKu ini adalah seorang pemimpin. Semoga Allah menyelamatkan dua kelompok dari kaum muslimin dengan berkahnya”.

Hadis dalam Shahih Bukhari bab Manaqib Al Hasan wa Al Husain no 3746.

Nabi Muhammad SAW bersabda “Husain adalah dariKu dan Aku dari Husain. Allah mencintai orang yang mencintainya. Husain adalah keturunan dari keturunan-keturunan Nabi.

Hadis riwayat Bukhari dalam Al Adab Al Mufrad, Turmudzi dalam Al Manaqib dan berkata hadis ini hasan. Syaikh Al Albani menyatakan hadis ini hasan dalam Shahih Al Jami’ no 3416.

Keistimewaan ahlul bait

Kita tahu bahwa Rasulullah-Ahlulbait tidak bisa dipisahkan, karena keduanya memang satu.

Sabda Rasulullah SAW: “Mengapa ada orang-orang yang mengatakan bahwa hubungan kekerabatan dengan Rasulullah tidak bermanfaat pada hari kiamat? Sungguhlah, kekerabatanku berkesinambungan di dunia dan akhirat”

Sabda Rasulullah SAW: “Bintang-bintang adalah keselamatan bagi penghuni langit, sedang ahlul-baitku keselamatan bagi penghuni bumi”

Ahlul bait adalah bekal dari Rasulullah

Sahih Muslim: Zain bin Arqam berkata Rasulullah bersabda: “Amma ba’du. Hai sekalian manusia, sesungguhnya aku adalah hamba Allah. Utusan Tuhanku (Malaikat Maut) hampir tiba dan aku harus memenuhi panggilanNya. Aku tinggalkan pada kalian Ath-thaqalain (dua bekal berat). Yang pertama adalah Kitabullah (Al-Quran) , di dalamnya terdapat petunjuk dan cahay terang. Maka amalkan dan berpeganglah padanya”. “Dan ahlul-baitku. Aku ingatkan kalian kepada Allah mengenai ahlul-baitku, aku ingatkan kalian kepada Allah mengenai ahlul-baitku, aku ingatkan kalian kepada Allah mengenai ahlul-baitku”

Manfaat mencintai ahlul-bait

Hadis riwayat Imam Ahmad bin Hambal:

“Barangsiapa mencitaiku dan mencintai keduanya itu (yakni Al Hassan dan Al-Hussein) serta mencintai ibu dan bapa mereka, yakni Fatimah az-Zahra dan Sayyidina ‘Ali – kemudian ia meninggal dunia sebagai pengikut sunnahku, ia bersamaku di dalam syurga yang sederajat”

“Pada hari kiamat aku akan akan menjadi syafi’ (penolong) bagi empat golongan. Yang menghormati keturunanku; yang memenuhi keperluan mereka; yang berupaya membantu urusan mereka pada waktu diperlukan dan yang mencintai mereka sepenuh hati”

Wasiat agar umat Islam mencintai ahlul-bait

Hadis riwayat At -Thabarani dan lain-lain: “Belum sempurna keiimanan seorang hamba Allah sebelum kecintannya kepadaku melebihi kecintaannya kepada dirinya sendiri; sebelum kecintannya kepada keturunanku melebihi kecintaannya kepada keturunannya sendiri; sebelum kecintaannya kepada ahli-baitku melebihi kecintaannya kepada keluarganya sendiri, dan sebelum kecintannya kepada zatku melebihi kecintaannya kepada zatnya sendiri”.

Ibnu ‘Abbas RA berkata bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda: “Cintailah Allah atas kenikmatannya yang diberikanNya kepadamu sekalian dan cintailah aku dengan mencintai Allah dan cintailah ahlul-baitku karena mencintaiku”

Ad-Dailami meriwayatkan hadis dari Ali RA yang menyebut sabda Rasulullah SAW: “Di antara kalian yang paling mantap berjalan di atas sirath ialah yang paling besasr kecintaannya kepada ahlul-baitku dan para sahabatku”

Siapakah Ahlul Bait

Hadis Al Hakim berasal dari Zaid bin Arqam r.a.,

“.. Mereka (ahlul bait) adalah keturunanku, dicipta dari darah dagingku dan dikurniai pengertian serta pengetahuanku. Celakalah orang dari umatku yang mendustakan keutamaan mereka dan memutuskan hubungan denganku melalui (pemutusan hubungan dengan) mereka. Kepada orang-orang seperti ini, Allah SWT tidak akan menurunkan syafaatku (pertolonganku)”

Sumber Rujukan

* (Tun) Suzana (Tun) Hj Othman, Hj Mujaffar Dato’ Hj Mohammad, Ahlul Bait (keluarga) Rasulullah SAW dan Kesultanan Melayu , Crescent News , Kuala Lumpur 2006


Ahlulbait(as) Sentiasa Bersama Kebenaran


Ahlul Bait adalah personaliti yang selalu berada dalam kebenaran

Mereka mendapat kemuliaan yang begitu besar yang telah ditetapkan dalam Al Quran dan Hadis. Banyak sekali isu-isu berkaitan masalah ini yang membuat orang enggan membahasnya. Yang saya maksud adalah bagaimana sebenarnya kedudukan Ahlul Bait Rasulullah SAW dalam Islam. Ada sebahagian kelompok yang sangat memuliakan Ahlul Bait, berpedoman kepada mereka dan mengambil ilmu dari mereka. Ada juga kelompok yang lain yang juga memuliakan Ahlul Bait dan mendudukkan mereka setaraf dengan para sahabat Nabi SAW yang juga memiliki keutamaan yang besar. Ada perbezaan yang besar diantara kedua kelompok ini.

  • Kelompok yang pertama memiliki pandangan bahawa Ahlul Bait adalah pedoman bagi umat islam agar tidak sesat yakni mereka adalah personaliti yang ma’sum dan terbebas dari kesalahan. Kelompok yang pertama ini adalah Islam Syiah
  • Kelompok yang kedua memiliki pandangan bahwa Ahlul Bait tidak ma’sum walaupun memiliki banyak keutamaan iaitu mereka juga tidak terbebas dari kesalahan. Kelompok yang kedua ini adalah Islam Sunni.

Tulisan ini adalah analisis tentang bagaimana sebenarnya kedudukan Ahlul Bait dalam Islam. Sumber-sumber yang saya pakai sepenuhnya adalah hadis-hadis dalam Kitab Hadis Sunni. Sebelumnya perlu ditekankan bahawa tulisan ini berusaha untuk menelaah pandangan manakah yang benar dan sesuai dengan dalil berkaitan kedudukan Ahlul Bait Rasulullah SAW. Sebaiknya perlu juga dijelaskan bahwa pembahasan seputar kemuliaan Ahlul Bait ini tidak perlu selalu dikaitkan dengan Sunni atau Syiah. Maksudnya bagaimanapun nantinya pandangan saya tidak perlu dikaitkan dengan adakah saya Sunni atau Syiah(sememangnya saya Syiah) karena sememangnya bukan itu pokok masalahnya. Cukup sekadar mengkaji dalil atau argumen yang dipakai dan nilailah sendiri benar atau tidak.

Kemuliaan Ahlul Bait Dalam Al Quran

Al Quran dalam Surah Al Ahzab 33 telah menyatakan kedudukan Ahlul Bait bahawa mereka adalah manusia yang disucikan oleh Allah SWT.

Mari kita lihat Al Ahzab ayat 33 yang berbunyi

Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ta’atilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai Ahlul Bait dan mensucikanmu sesuci-sucinya.

Jika kita melihat ayat sebelum dan sesudah ayat ini maka dengan sekilas kita dapat menyimpulkan bahwa Ahlul Bait yang dimaksudkan itu adalah isteri-isteri Nabi SAW karena memang ayat sebelumnya ditujukan pada isteri-isteri Nabi SAW. Pemahaman seperti ini dapat dibenarkan jika tidak ada dalil shahih yang menjelaskan tentang ayat ini. Mari kita bahas.

Kita sepakat bahwa Al Quran diturunkan secara beransur-ansur, ertinya tidak diturunkan sekaligus dalam bentuk kitab yang utuh melainkan diturunkan sebahagian-sebahagian. Untuk mengetahui bila ayat-ayat Al Quran diturunkan kita harus merujuk kepada Asbabun Nuzulnya. Tapi sayangnya tidak semua ayat Al Quran terdapat asbabun nuzul yang shahih menjelaskan sebab turunnya. Berdasarkan hal ini maka ayat-ayat dalam al Quran dibahagi menjadi

  1. Ayat Al Quran yang memiliki Asbabun Nuzul atau sebab turunnya. Maksudnya ayat ini turun berkaitan dengan peristiwa atau tujuan tertentu. Hal ini diketahui dengan hadis asbabun nuzul yang shahih.
  2. Ayat Al Quran yang tidak memiliki Asbabun Nuzul atau sebab turunnya karena memang tidak ada asbabun nuzul yang shahih yang menjelaskan sebab turunnya

Lalu apa kaitannya dengan pembahasan ini?.  Ternyata terdapat asbabun nuzul yang shahih yang menjelaskan turunnya penggalan terakhir surah Al Ahzab 33 yang lebih dikenal dengan sebutan Ayat Tathhir(ayat penyucian) iaitu frasa:

Innamaa Yuriidullaahu Liyudzhiba ’Ankumurrijsa Ahlalbayti Wayuthahhirakum Tathhiiraa.(QS Al Ahzab 33)

Yang  terjemahannya adalah

Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai Ahlul Bait dan mensucikanmu sesuci-sucinya.

Ternyata banyak Hadis-hadis shahih dan jelas yang menyatakan bahwa ayatInnamaa Yuriidullaahu Liyudzhiba ’Ankumurrijsa Ahlalbayti Wayuthahhirakum Tathhiiraa.(QS Al Ahzab 33) turun sendiri terpisah dari ayat sebelum dan sesudahnya. Artinya ayat tersebut tidak terkait dengan ayat sebelum dan sesudahnyayang ditujukan untuk istri-istri Nabi SAW. Ayat tersebut justru ditujukan untuk Pribadi-pribadi yang lain dan bukan istri-istri Nabi SAW. Mungkin ada yang akan berpendapat bahwa yang seperti ini sama halnya dengan Mutilasi ayat, hal ini jelas tidak benar karena ayat yang dimaksud memang ditujukan untuk peribadi tertentu sesuai dengan asbabun nuzulnya.

Sebenarnya Ada dua cara untuk mengetahui siapa yang dituju oleh suatu Ayat dalam Al Quran.

  • Cara yang pertama adalah dengan melihat ayat sebelum dan ayat sesudah dari ayat yang dimaksud, memahaminya secara keseluruhan dan baru kemudian menarik kesimpulan.
  • Cara kedua adalah dengan melihat Asbabun Nuzul dari Ayat tersebut yang terdapat dalam hadis yang shahih tentang turunnya ayat tersebut.

Cara pertama yaitu dengan melihat urutan ayat, jelas memiliki syarat bahwa ayat-ayat tersebut diturunkan secara bersamaan atau diturunkan berkaitan dengan individu-individu yang sama. Dan untuk mengetahui hal ini jelas dengan melihat Asbabun Nuzul ayat tersebut. Jadi sebenarnya baik cara pertama atau kedua sama-sama memerlukan asbabun nuzul ayat tersebut. Seandainya terdapat dalil yang shahih dari asbabun nuzul suatu ayat tentang siapa yang dituju dalam ayat tersebut maka hal ini jelas lebih diutamakan ketimbang melihat urutan ayat baik sebelum maupun sesudahnya. Alasannya adalah ayat-ayat Al Quran tidaklah diturunkan secara bersamaan melainkan diturunkan berangsur-angsur. Oleh karenanya dalil shahih dari Asbabun Nuzul jelas lebih tepat menunjukkan siapa yang dituju dalam ayat tersebut.

Berbeda halnya apabila tidak ditemukan dalil shahih yang menjelaskan Asbabun Nuzul ayat tersebut. Maka dalam hal ini jelas lebih tepat dengan melihat urutan ayat baik sebelum maupun sesudahnya untuk menangkap maksud kepada siapa ayat tersebut ditujukan.

Jadi ini bukan mutilasi ayat tapi memang ayatnya turun sendiri terpisah dari ayat sebelum maupun sesudahnya dan ditujukan untuk pribadi-pribadi tertentu. Hal ini berdasarkan hadis-hadis yang menjelaskan Asbabun Nuzul Ayat Tathir, Hadis ini memiliki derajat yang sahih dan dikeluarkan oleh Ibn Abi Syaibah, Ahmad, Al Tirmidzi, Al Bazzar, Ibnu Jarir Ath Thabari, Ibnu Hibban, Ibnu Abi Hatim, Al Hakim, Ath Thabrani, Al Baihaqi dan Al Hafiz Al Hiskani. Berikut adalah hadis riwayat Tirmidzi dalam Sunan Tirmidzi.

Diriwayatkan dari Umar bin Abu Salamah yang berkata, “Ayat berikut ini turun kepada Nabi Muhammad SAW, Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya.(QS Al Ahzab 33). Ayat tersebut turun di rumah Ummu Salamah , lalu Nabi Muhammad SAW memanggil Fathimah, Hasan dan Husain, lalu Rasulullah SAW menutupi mereka dengan kain sedang Ali bin Abi Thalib ada di belakang punggung Nabi SAW .Beliau SAW pun menutupinya dengan kain Kemudian Beliau bersabda” Allahumma( ya Allah ) mereka itu Ahlul BaitKu maka hilangkanlah dosa dari mereka dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya. Ummu Salamah berkata,” Dan apakah aku beserta mereka wahai Rasulullah SAW? . Beliau bersabda “ engkau mempunyai tempat sendiri dan engkau menuju kebaikan”. (Hadis Sunan Tirmidzi no 3205 dan no 3871 dinyatakan shahih oleh Syaikh Nashiruddin Al Albani dalam Shahih Sunan Tirmidzi).

Dari hadis ini dapat diketahui beberapa hal sebagai berikut

  1. Bahwa ayat ini turun di rumah Ummu Salamah ra, dan terpisah dari ayat sebelum maupun sesudahnya. Hadis itu menjelaskan bahwa yang turun itu hanya penggalan ayat Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya.
  2. Ahlul Bait yang dimaksud dijelaskan sendiri oleh Nabi SAW melalui kata-kata Beliau SAW “Ya Allah, mereka adalah Ahlul BaitKu” Pernyataan ini ditujukan pada mereka yang diselimuti kain oleh Rasulullah SAW yaitu Sayyidah Fatimah as, Imam Ali as, Imam Hasan as dan Imam Husain as.
  3. Ayat ini tidak ditujukan untuk istri-istri Nabi SAW. Buktinya adalah Pertanyaan Ummu Salamah. Pertanyaan Ummu Salamah mengisyaratkan bahwa ayat itu tidak ditujukan untuk istri-istri Nabi SAW, karena jika Ayat yang dimaksud memang turun untuk istri-istri Nabi SAW maka seyogyanya Ummu Salamah tidak perlu bertanya Dan apakah aku beserta mereka wahai Rasulullah SAW?. Bukankah jika ayat tersebut turun mengikuti ayat sebelum maupun sesudahnya maka adalah jelas bagi Ummu Salamah bahwa Beliau ra selaku istri Nabi SAW juga dituju dalam ayat tersebut dan Beliau ra tidak akan bertanya kepada Rasulullah SAW. Adanya pertanyaan dari Ummu Salamah ra menyiratkan bahwa ayat ini benar-benar terpisah dari ayat yang khusus untuk Istri-istri Nabi SAW. Sekali lagi ditekankan kalau memang ayat itu jelas untuk istri-istri Nabi SAW maka Ummu Salamah ra tidak perlu bertanya lagi “Dan apakah aku bersama mereka wahai Nabi Allah?”.
  4. Penolakan Rasulullah SAW terhadap pertanyaan Ummu Salamah, Beliau SAW bersabda “ engkau mempunyai tempat sendiri dan engkau menuju kebaikan”. Hal ini menunjukkan Ummu Salamah selaku salah satu Istri Nabi SAW tidaklah bersama mereka Ahlul Bait yang dituju oleh ayat ini. Beliau Ummu Salamah ra mempunyai kedudukan tersendiri dan bukanlah Ahlul Bait yang dimaksud dalam ayat ini.

Kesimpulan dari hadis-hadis Asbabun nuzul ayat tathhir adalah Ahlul Bait dalam Al Ahzab 33 itu adalah

  1. Rasulullah SAW sendiri karena ayat itu turun untuk Beliau berdasarkan kata-kata Ayat berikut ini turun kepada Nabi Muhammad SAW
  2. Mereka yang diselimuti kain oleh Rasulullah SAW dan dinyatakan bahwa mereka adalah Ahlul Bait Rasulullah SAW yang dimaksud yaitu Sayyidah Fatimah as, Imam Ali as, Imam Hasan as dan Imam Husain as.

Terdapat beberapa ulama ahlus sunnah yang menyatakan bahwa ayat tathiir adalah khusus untuk Ahlul Kisa’ (Rasulullah SAW, Sayyidah Fatimah as, Imam Ali as, Imam Hasan as dan Imam Husain as) yaitu

  1. Ibnu Jarir Ath Thabari dalam kitab Tafsir Ath Thabary juz I hal 50 ketika menafsirkan ayat ini beliau membatasi cakupan Ahlul Bait itu hanya pada diri Nabi SAW, Ali, Fathimah, Hasan dan Husain dan menyatakan bahwa ayat tersebut hanya untuk Mereka berlima (merujuk pada berbagai riwayat yang dikutip Thabari).
  2. Abu Ja’far Ath Thahawi dalam kitab Musykil Al Atsar juz I hal 332-339 setelah meriwayatkan berbagai hadis tentang ayat ini beliau menyatakan bahwa ayat tathiir ditujukan untuk Rasulullah SAW, Ali, Fathimah, Hasan dan Husain dan tidak ada lagi orang selain Mereka. Beliau juga menolak anggapan bahwa Ahlul Bait yang dituju oleh ayat ini adalah istri-istri Nabi SAW. Beliau menulis Maka kita mengerti bahwa pernyataan Allah dalam Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya. (Al-Ahzab :33) ditujukan pada orang-orang yang khusus dituju olehNya untuk mengingatkan akan derajat Mereka yang tinggi dan para istri Rasulullah SAW hanyalah yang dituju pada bagian yang sebelumnya dari ayat itu yaitu sebelum ditujukan pada orang-orang tersebut”.

Mungkin terdapat keraguan sehubungan dengan urutan ayat Al Ahzab 33, kalau memang ayat tersebut hanya ditujukan untuk Ahlul Kisa’ kenapa ayat ini terletak diantara ayat-ayat yang membicarakan tentang istri-istri Nabi. Perlu ditekankan bahwa peletakan susunan ayat-ayat dalam Al Quran adalah dari Nabi SAW dan juga diketahui bahwa ayat ayat Al Quran diturunkan berangsur-angsur, pada dasarnya kita tidak akan menyelisihi urutan ayat kecuali terdapat dalil yang shahih yang menunjukkan bahwa ayat tersebut turun sendiri dan tidak berkaitan dengan ayat sebelum maupun sesudahnya. Berikut akan diberikan contoh lain tentang ini, yaitu penggalan Al Maidah ayat 3

“Pada pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu”.

Ayat di atas adalah penggalan Al Maidah ayat 3 yang turun sendiri di arafah berdasarkan Hadis shahih yang diriwayatkan oleh Bukhari dalam Shahih Bukhari no 4606 , Muslim dalam Shahih Muslim, no 3017 tidak terkait dengan ayat sebelum maupun sesudahnya yang berbicara tentang makanan yang halal dan haram.

Dari Thariq bin Syihab, ia berkata, ‘Orang Yahudi berkata kepada Umar, ‘Sesungguhnya kamu membaca ayat yang jika berhubungan kepada kami, maka kami jadikan hari itu sebagai hari besar’. Maka Umar berkata, ‘Sesungguhnya saya lebih mengetahui dimana ayat tersebut turun dan dimanakah Rasulullah SAW ketika ayat tersebut diturunkan kepadanya, yaitu diturunkan pada hari Arafah (9 Dzulhijjah) dan Rasulullah SAW berada di Arafah. Sufyan berkata: “Saya ragu, apakah hari tsb hari Jum’at atau bukan (dan ayat yang dimaksud tersebut) adalah “Pada pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu”(H.R.Muslim, kitab At-Tafsir)

Makna Ayat Tathir

Innamaa Yuriidullaahu Liyudzhiba ’Ankumurrijsa Ahlalbayti Wayuthahhirakum Tathhiiraa.(QS Al Ahzab 33)

Innama
Setelah mengetahui bahwa ayat ini ditujukan untuk ahlul kisa’(Rasulullah SAW, Sayyidah Fathimah AS, Imam Ali AS, Imam Hasan AS dan Imam Husain AS) sekarang akan dibahas makna dari ayat tersebut. Ayat ini diawali dengan kataInnama, dalam bahasa arab kata ini memiliki makna al hashr atau pembatasan. Dengan demikian lafal ini menunjukkan bahwa kehendak Allah itu hanya untuk menghilangkan ar rijs dari Ahlul Bait as dan menyucikan Mereka sesuci-sucinya. Allah SWT tidak menghendaki hal itu dari selain Ahlul Bait as dan tidak juga menghendaki hal yang lain untuk Ahlul Bait as.

Yuridullah
Setelah kata Innama diikuti kata yuridullah yang berarti Allah berkehendak, perlu dijelaskan terlebih dahulu bahwa iradah Allah SWT terbagi dua yaitu iradah takwiniyyah dan iradah tasyri’iyyahIradah takwiniyyah adalah iradah Allah yang bersifat pasti atau niscaya terjadi, hal ini dapat dilihat dari ayat berikut

“Sesungguhnya perintahNya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadaNya ‘Jadilah ‘maka terjadilah ia”(QS Yasin :82)
“Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apanila Kami menghendakinya,Kami hanya berkata kepadanya ‘Jadilah’maka jadilah ia”(QS An Nahl :40)
“Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki”(QS Hud:107)

Sedangkan yang dimaksud Iradah tasyri’iyah adalah Iradah Allah SWT yang terkait dengan penetapan hukum syariat bagi hamba-hambanya agar melaksanakannya dengan ikhtiar mereka sendiri. Dalam hal ini iradah Allah SWT adalah penetapan syariat adapun pelaksanaannya oleh hamba adalah salah satu tujuan penetapan syariat itu, oleh karenanya terkadang tujuan itu terealisasi dan terkadang tidak sesuai dengan pilihan hamba itu sendiri apakah mematuhi syariat yang telah ditetapkan Allah SWT atau melanggarnya. Contoh iradah ini dapat dilihat pada ayat berikut

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah)bulan ramadhan,bulan yang didalamnya diturunkan Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda(antara yang haq dan yang bathil).Karena itu barangsiapa diantara kamu hadir di bulan itu maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka) maka(wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu,pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjukNya yang diberikan kepadamu supaya kamu bersyukur”.(QS Al Baqarah :185).

“Hai orang-orang beriman apabila kamu hendak mengerjakan sholat,maka basuhlah muka dan tanganmu sampai ke siku dan sapulah kepalamu dan kakimusampai dengan kedua mata kaki dan jika kamu junub maka mandilah dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air atau menyentuh perempuan lalu kamu tidak memperoleh air,maka bertanyamumlah dengan tanah yang baik(bersih) sapulah muka dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmatnya bagimu supaya kamu bersyukur”.(QS Al Maidah : 6)


Iradah dalam Al Baqarah 185 adalah berkaitan dengan syariat Allah tentang puasa dimana aturan-aturan yang ditetapkan Allah itu adalah untuk memudahkan manusia dalam melaksanakannya,sehingga iradah ini akan terwujud pada orang yang berpuasa. Sedangkan yang tidak mau berpuasa jelas tidak ada hubungannya dengan iradah ini. Begitu juga Iradah dalam Al Maidah ayat 6 dimana Allah hendak membersihkan manusia dan menyempurnakan nikmatnya bagi manusia supaya manusia bersyukur, iradah ini jelas terkait dengan syariat wudhu dan tanyamum yang Allah tetapkan oleh karenanya iradah ini akan terwujud bagi orang yang bersuci sebelum sholat dengan wudhu dan tanyamum dan ini tidak berlaku bagi orang yang tidak bersuci baik dengan wudhu atau tanyamum. Dan perlu ditekankan bahwa iradah tasyri’iyah ini ditujukan pada semua umat muslim yang melaksanakan syariat Allah SWT tersebut termasuk dalam hal ini Ahlul Bait as.

Iradah dalam Ayat tathhiir adalah iradah takwiniyah dan bukan iradah tasyri’iyah artinya tidak terkait dengan syariat tertentu yang Allah tetapkan, tetapi iradah ini bersifat niscya atau pasti terjadi. Hal ini berdasarkan alasan-alasan berikut

  1. Penggunaan lafal Innama yang bermakna hashr atau pembatasan menunjukkan arti bahwa Allah tidak berkehendak untuk menghilangkan rijsdengan bentuk seperti itu kecuali dari Ahlul Bait, atau dengan kata lain kehendak penyucian ini terbatas hanya pada pribadi yang disebut Ahlul Bait dalam ayat ini.
  2. Berdasarkan asbabun nuzulnya ayat ini seperti dalam hadis riwayat Turmudzi di atas tidak ada penjelasan bahwa iradah ini berkaitan dengan syariat tertentu yang Allah tetapkan.
  3. Allah memberi penekanan khusus setelah kata kerjaliyudzhiba(menghilangkan) dengan firmannya wa yuthahhirakum tathiira. Dan kata kerja kedua ini wa yuthahhirakum(menyucikanmu) dikuatkan denganmashdar tathiira(sesuci-sucinya)yang mengakhiri ayat tersebut. Penekanan khusus ini merupakan salah satu petunjuk bahwa iradah Allah ini adalah iradah takwiniyah.

Li yudzhiba ‘An kumurrijsa Ahlal bait
Kemudian kalimat selanjutnya adalah li yudzhiba ‘an kumurrijsa ahlal bait . Kalimat tersebut menggunakan kata ‘an bukan min. Dalam bahasa Arab, kata ’an digunakan untuk sesuatu yang belum mengenai, sementara kata min digunakan untuk sesuatu yang telah mengenai. Oleh karena itu, kalimat tersebut memiliki arti untuk menghilangkan rijs dari Ahlul Bait (sebelum rijs tersebut mengenai Ahlul Bait), atau dengan kata lain untuk menghindarkan Ahlul Bait dari rijs. Sehingga jelas sekali, dari kalimat ini terlihat makna kesucian Ahlul Bait dari rijs. Lagipula adalah tidak tepat menisbatkan bahwa sebelumnya mereka Ahlul bait memiliki rijs kemudian baru Allah menyucikannya karena Ahlul Bait yang disucikan dalam ayat ini meliputi Imam Hasan dan Imam Husain yang waktu itu masih kecil dan belum memiliki rijs.

Ar Rijs
Dalam Al Quran terdapat cukup banyak ayat yang menggunakan kata rijs, diantaranya adalah sebagai berikut.

“Sesungguhny,a (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji (rijs) termasuk perbuatan setan” (QS Al Maidah: 90).
“Maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis (rijs) dan jauhilah perkataan-perkataan dusta” (QS Al Hajj: 30).
“Dan adapun orang orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat ini bertambah kekafiran (rijs) mereka, di samping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir” (QS At Taubah: 125).
“Maka berpalinglah dari mereka, karena sesungguhnya mereka itu adalah najis (rijs)” (QS At Taubah: 95).
“Dan Allah menimpakan kemurkaan (rijs) kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya” (QS Yunus: 100).

Dari semua ayat-ayat ini dapat ditarik kesimpulan bahwa rijs adalah segala hal bisa dalam bentuk keyakinan atau perbuatan yang keji, najis yang tidak diridhai dan menyebabkan kemurkaan Allah SWT.

Asy Syaukani dalam tafsir Fathul Qadir jilid 4 hal 278 menulis,

“… yang dimaksud dengan rijs ialah dosa yang dapat menodai jiwa jiwa yang disebabkan oleh meninggalkan apa-apa yang diperintahkan oleh Allah dan melakukan apa-apa yang dilarang oleh-Nya. Maka maksud dari kata tersebut ialah seluruh hal yang di dalamnya tidak ada keridhaan Allah SWT”.

Kemudian ia melanjutkan,

“Firman `… dan menyucikan kalian… ‘ maksudnya adalah: `Dan menyucikan kalian dari dosa dan karat (akibat bekas dosa) dengan penyucian yang sempurna.’ Dan dalam peminjaman kata rijs untuk arti dosa, serta penyebutan kata thuhr setelahnya, terdapat isyarat adanya keharusan menjauhinya dan kecaman atas pelakunya”.

Lalu ia menyebutkan sebuah riwayat dari Ibnu Abbas sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al Hakim, At Turmudzi, Ath Thabarani, Ibnu Mardawaih, dan Al Baihaqi dalam kitab Ad Dalail jilid 4 hal 280, bahwa Nabi saw. bersabda dengan sabda yang panjang, dan pada akhirnya beliau mengatakan “Aku dan Ahlul BaitKu tersucikan dari dosa-dosa”. (kami telah membahas secara khusus hadis ini di bagaian yang lain)

Ibnu Hajar Al Haitami Al Makki dalam kitab Ash Shawaiq hal 144-145 berkata,

“Ayat ini adalah sumber keutamaan Ahlul Bait, karena ia memuat mutiara keutamaan dan perhatian atas mereka. Allah mengawalinya dengan innama yang berfungsi sebagai pengkhususan kehendakNya untuk menghilangkan hanya dari mereka rijs yang berarti dosa dan keraguan terhadap apa yang seharusnya diimani dan menyucikan mereka dari seluruh akhlak dan keadaan tercela.”

Jalaluddin As Suyuthi dalam kitab Al lklil hal 178 menyebutkan bahwa

kesalahan adalah rijs, oleh karena itu kesalahan tidak mungkin ada pada Ahlul Bait.

Semua penjelasan diatas menyimpulkan bahwa Ayat tathiir ini memiliki makna bahwa Allah SWT hanya berkehendak untuk menyucikan Ahlul Bait dari semua bentuk keraguan dan perbuatan yang tercela termasuk kesalahan yang dapat menyebabkan dosa dan kehendak ini bersifat takwiniyah atau pasti terjadi. Selain itu penyucian ini tidak berarti bahwa sebelumnya terdapat rijs tetapi penyucian ini sebelum semua rijs itu mengenai Ahlul Bait atau dengan kata lain Ahlul Bait dalam ayat ini adalah pribadi-pribadi yang dijaga dan dihindarkan oleh Allah SWT dari semua bentuk rijs. Jadi tampak jelas sekali bahwa ayat ini telah menjelaskan tentang kedudukan yang mulia dari Ahlul Bait yaitu Rasulullah SAW, Imam Ali as, Sayyidah Fathimah Az Zahra as, Imam Hasan as dan Imam Husain as. Penyucian ini menetapkan bahwa Mereka Ahlul Bait senantiasa menjauhkan diri dari dosa-dosa dan senantiasa berada dalam kebenaran. Oleh karenanya tepat sekali kalau mereka adalah salah satu dari Tsaqalain selain Al Quran yang dijelaskan Rasulullah SAW sebagai tempat berpegang dan berpedoman umat islam agar tidak tersesat.

Kemuliaan Ahlul Bait Dalam Hadis Rasulullah SAW

Rasulullah SAW bersabda. “Kutinggalkan kepadamu dua peninggalan (Ats Tsaqalain), kitab Allah dan Ahlul BaitKu. Sesungguhnya keduanya tak akan berpisah, sampai keduanya kembali kepadaKu di Al Haudh“ (Mustadrak As Shahihain Al Hakim juz III hal 148 Al Hakim menyatakan dalam Al Mustadrak As Shahihain bahwa sanad hadis ini shahih berdasarkan syarat Bukhari dan Muslim).

Hadis-hadis Shahih dari Rasulullah SAW menjelaskan bahwa mereka Ahlul Bait AS adalah pedoman bagi umat Islam selain Al Quranul Karim. Mereka Ahlul Bait senantiasa bersama Al Quran dan senantiasa bersama kebenaran.

Bahwa Rasulullah SAW bersabda “Wahai manusia sesungguhnya Aku meninggalkan untuk kalian apa yang jika kalian berpegang kepadanya niscaya kalian tidak akan sesat ,Kitab Allah dan Itrati Ahlul BaitKu”.(Hadis riwayat Tirmidzi,Ahmad,Thabrani,Thahawi dan dishahihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albany dalam kitabnya Silsilah Al Hadits Al Shahihah no 1761)

Hadis ini menjelaskan bahawa manusia termasuk sahabat Nabi diharuskan berpegang teguh kepada Al Quran dan Ahlul Bait. Ahlul Bait yang dimaksud dijelaskan sendiri dalam Hadis Sunan Tirmidzi di atas atau Hadis Kisa’ yaitu Sayyidah Fathimah AS, Imam Ali AS, Imam Hasan AS dan Imam Husain AS.

Selain itu ada juga hadis

Hanash Kanani meriwayatkan “aku melihat Abu Dzar memegang pintu ka’bah (baitullah)dan berkata”wahai manusia jika engkau mengenalku aku adalah yang engkau kenal,jika tidak maka aku adalah Abu Dzar.Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda “Ahlul BaitKu seperti perahu Nabi Nuh, barangsiapa menaikinya mereka akan selamat dan barangsiapa yang tidak mengikutinya maka mereka akan tenggelam”.(Hadis riwayat Hakim dalam Mustadrak Ash Shahihain jilid 2 hal 343 dan Al Hakim menyatakan bahwa hadis ini shahih).

Hadis ini menjelaskan bahwa Ahlul Bait seperti bahtera Nuh dimana yang menaikinya akan selamat dan yang tidak mengikutinya akan tenggelam. Mereka Ahlul Bait Rasulullah SAW adalah pemberi petunjuk keselamatan dari perpecahan.

Ibnu Abbas berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda”Bintang-bintang adalah petunjuk keselamatan penghuni bumi dari bahaya tenggelam di tengah lautan.Adapun Ahlul BaitKu adalah petunjuk keselamatan bagi umatKu dari perpecahan.Maka apabila ada kabilah arab yang berlawanan jalan dengan Mereka niscaya akan berpecah belah dan menjadi partai iblis”.
(Hadis riwayat Al Hakim dalam Mustadrak Ash Shahihain jilid 3 hal 149, Al Hakim menyatakan bahwa hadis ini shahih sesuai persyaratan Bukhari Muslim).

Begitu besarnya kemuliaan Ahlul Bait Rasulullah SAW ini membuat mereka jelas tidak bisa dibandingkan dengan sahabat-sahabat Nabi ra. Tidak benar jika dikatakan bahwa Ahlul Bait sama halnya sahabat-sahabat Nabi ra sama-sama memiliki keutamaan yang besar karena jelas sekali berdasarkan dalil shahih di atas bahwa Ahlul Bait kedudukannya lebih tinggi karena Mereka adalah tempat rujukan bagi para sahabat Nabi setelah Rasulullah SAW meninggal. Jadi tidak tepat kalau dikatakan Ahlul Bait juga bisa salah, atau sahabat Nabi bisa mengajari Ahlul Bait atau Menyalahkan Ahlul Bait. Sekali lagi, Al Quran dan Hadis di atas sangat jelas menunjukkan bahwa mereka Ahlul Bait akan selalu bersama kebenaran oleh karenanya Rasulullah SAW memerintahkan umatnya(termasuk sahabat-sahabat Beliau SAW) untuk berpegang teguh dengan Mereka Ahlul Bait.

HADIS HADIS SUNNI TELAH DIUTAK ATIK DAN DIJAMAH OLEH TANGAN TANGAN JAHIL LALU DI CAMPUR ADUK ANTARA YANG BENAR DENGAN YANG BATHIL SEHINGGA PENGANUT SUNNI TIDAK MAMPU LAGi MEMBEDAKAN MANA YANG ASLI DAN MANA YANG PALSU

PERPECAHAN SUNNI VS SYI’AH SALAH SATUNYA KARENA HADIS HADiS SUNNI ASWAJA SALING KONTRADIKSI..

DENGAN KATA LAIN BAHWA HADIS HADIS SUNNI TELAH DIUTAK ATIK DAN DIJAMAH OLEH TANGAN TANGAN JAHIL LALU DI CAMPUR ADUK ANTARA YANG BENAR DENGAN YANG BATHIL SEHINGGA PENGANUT SUNNI TIDAK MAMPU LAGi MEMBEDAKAN MANA YANG ASLI DAN MANA YANG PALSU

.

Sebuah pertanyaan penting yang timbul, bagaimana kita menyikapi hadist-hadist yang simpang siur, yang setiap golongan mempertahankan pendapatnya masing-masing dengan menggunakan dalil-dalil hadistnya.

Jawaban pertanyaan ini pernah saya paparkan kepada seorang teman saya yang telah menjadi mu’alaf. Dia seorang mu’alaf yang tekun mempelajari agama dari satu pesantren ke pesantren lainnya. Tapi saking tekunnya dia malah menjadi bingung sendiri, karena fatwa yang dia dapat berbeda-beda pada setiap pesantren

Inti pertanyaannya adalah bagaimana menyikapi hadist-hadist yg saling kontradiksi dan apakah mengakui hadist itu wajib atau tidak.

Saya menjawab bahwa dialah yang harus memutuskan sendiri jawabannya. Saya hanya bercerita sedikit tentang sejarah hadist. Selanjutnya saya minta agar dia mempergunakan PIKIRAN nya, karena Allah selalu dan selalu menyuruh umatnya untuk BERPIKIR

.

Dalam sejarahnya, pembukuan hadist itu secara resmi muncul lebih 200 tahun setelah meninggalnya Rasulullah. Pertama-tama oleh Imam Bukhari (meninggal 256H/870), lalu Muslim (meninggal 261H/875), Abu Daud (meninggal 275H/888), Tirmidzi (meninggal 270H/883), Ibn Maja (meninggal 273H/886), dan al-Nasa’i (meninggal 303H/915)

.
Semenjak itulah baru Umat Islam menganggap Hadist sebagai sumber hukum Islam setelah alqur’an. Dan bagi umat islam yg tidak mau mengakui hadist akan dianggap menyeleweng, sesat, bahkan kafir

.

Dalam pernyataan pembukaannya, Bukhari (yang dianggap sebagai sumber nomor satu dari Hadits shahih) menyatakan bahwa dari hampir 600 ribu Hadits yang ia ketahui pada zamannya, dia hanya dapat memastikan sebanyak 7397 sebagai hadits shahih dari nabi Muhammad

. Ini adalah suatu pengakuan dari para pendukung Hadits bahwa sedikitnya 98,76% dari apa yang orang diharuskan untuk percaya sebagai sumber kedua selain Al-Qur’an, dan sebagai salah satu sumber utama hukum Islam, adalah semata-mata suatu kebohongan belaka!

.

Seharusnyalah PIKIRAN dan LOGIKA kita bertanya :
Apakah yg dipakai oleh umat Islam pada masa sebelum 200 tahun itu?

.
Apakah hadist2 yg kita pakai sekarang ini.?

Tentu saja TIDAK.
Kalaupun ada hadist pada masa itu, tidaklah mungkin dipakai sebagai dasar hukum, karena ada jutaan hadist yang tersebar simpang siur, dan tidak ada yang dapat dipercaya sebagai suatu pegangan. Dan memang pada kenyataannya umat Islam pada masa itu tidak mengangap hadist apapun sebagai pegangan. Mereka hanya berpegang kepada satu2nya hukum, yaitu alqur’an yang suci dan mulia. Yang diturunkan dari sisi Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana

.

Lalu apa artinya ini…?
Apakah kita mengangap bahwa kita adalah umat yg lebih baik dari umat2 yg terdahulu.?
Apakah kita lebih baik dari pada umat-umat pada masa sahabat Abu Bakar, Umar, Ustman, Ali dan para tabi’in…..?
Apakah umat islam pada masa ini lebih baik dari pada umat2 di masa2 dimana Islam begitu perkasa dan berjaya dan menjadi penguasa lebih dari separo belahan dunia

.

Bukankah kenyataanya bahwa umat Islam pada masa itulah yang telah mengeluarkan Eropa dari kegelapan. Bahwa pemerintahan-pemerintahan besar pada masa itu adalah pemerintahan Islam, dan kebanyakan ilmu pengetahuan modern itu berasal dari Islam.
Bahwa akal pikiran yang terbesar dan termaju di segala zaman pada masa itu seluruhnya memandang dengan penuh hormat kepada kebudayaan Islam yang mutiara-mutiaranya tetap tersimpan dan Barat tidak pernah menemukannya.

Bukankah kenyataannya umat-umat Islam pada masa itu, walaupun jumlahnya tidak sebanyak pada masa ini tetapi mereka adalah singa-singa yg perkasa yang menguasai belantara dunia…..?

Dan adalah kenyataannya bahwa umat-umat Islam pada masa ini, walaupun jumlahnya begitu banyak, bahkan di Indonesia saja jumlahnya 200 juta lebih, namun hanyalah kawanan-kawanan kambing yang gampang digiring oleh serigala-serigala kelaparan.

Sangat Ironis bukan….?

Dan kenapa kita tidak juga mau BERPIKIR apakah yang menjadi penyebab semua itu.?

:stun:

PERPECAHAN UMAT…!

Itulah biang keladinya. Terpecahnya umat ini yang memisahkan dirinya dalam golongan-golongan, mazhab-mazhab, sekte-sekte.

Lalu apa yang menjadi penyebab perpecahan umat ini.?
Tidak lain dari pada munculnya hadist-hadist…!
Masing-masing golongan menganggap hanya hadistnyalah yang benar dan shahih, dan tidak akan mau mengakui hadist-hadist di luar golongannya.

Lalu golongan manakah yang benar sebenar-benarnya.?
Sunni..?
Syi’ah..?
Mazhab Maliki..?
Mazhab Hanafi..?
Mazhab Hambali..?
Mazhab Syafi’i..?
Siapakah yang dapat menjadi hakim untuk menilai kebenaran golongan-golongan itu.?

.

Lalu hadist golongan manakah yang benar sebenar-benarnya.?
Siapakah yang dapat menjadi hakim untuk menilai kebenaran hadist-hadist itu.?
Kita kah…?
Ulama-ulama kita kah…?

Subhanallah….

Penulis Sejarah menyadari adanya prasangka dari saksi-saksi pelapor suatu peristiwa atau keadaan dan para penyalur yang membentuk rangkaian Isnad. Ia juga harus menyadari kemungkinan adanya kesalahan dan kekeliruan mereka karena kelemahan-kelamahan manusiawai, seperti lupa, salah tanggap, salah tafsir, pengaruh penguasa terhadap dirinya, serta latar belakang keyakinan pribadinya. Suatu rangkaian Isnad yang lengkap , dengan penyalur-penyalur yang identitas orangnya dapat dipercaya, belum bisa menjadi kebenaran suatu berita.

:stun:

Murthada al-Askari misalnya, telah berhasil menemukan nama 150 orang sahabat nabi yang fiktif, yang telah dimasukan oleh para penulis sejarah lama sebagai saksi-saksi pelapor. Penulis sejarah semacam ini telah memasukan nama berbagai kota dan sungai yang kenyataannnya tidak pernah ada. Al’ Amin berhasil mengumpulkan nama 700 nama pembohong yang pernah mengada-adakan berita tentang Nabi Muhammad, bahkan ada yang menyampaikan seorang diri beribu-ribu hadis palsu. Diantar mereka terdapat para pembohong Zuhud, yang sembahyang, mengaji dan berdoa semalaman tetapi pada pagi hari mulai duduk mengajar dan berbohong seharian.

Sebenarnya para ulama jaman dahulu telah mengetahui cerita fiktif, dan telah mengenal para penulis buku tersebut sebagai pembohong , tetapi karena berbagai sebab, keritik-keritik mereka terhenti ditengah jalan. Kedudukan Ulama makin beralih ke “tugas dakwah” dan “mengabaikan penelitian”. Penelitian dijaman para sahabatpun dilupakan. Ditutupnya pintu ijtihad, telah menambah parahnya perkembangan penelitian sejarah jaman para sahabat dan tabiin, generasi kedua. Sedangkan para ulama terus bertaklid pada ijtihad para imam yang hidup pada masa-masa kemudian.
.

Itulah sebabnya buku-buku yang mengandung hasil studi yang kritis tidak lagi mendapatkan pasaran. Karena “pikiran-pikiran baru” ini akan membuat dirinya terasing dalam kalangannya sendiri dan dari masyarakat yang telah “mantap” dalam keyakinan.

.

:stun:

Pada abad kedua puluh ini telah muncul para peneliti yang sangat tekun antar lain Syekh Muhammad Ridha al-Muzhaffar dalam bukunya SHAQIFAH dan Abdul Farah Abdul Maqshud dalam buku AS-SHAQIFAH WAL KHILAFAH. Dan buku ini bertujuan untuk melanjutkan penelitian yang telah dilakukan peneliti2 muslim

.

RIWAYAT HIDUP DAN HADIS-HADIS ABU HURAIRAH :
========================================

Abdurrahman bin Shakhr Al-Azdi (bahasa Arab: عبدالرحمن بن صخر الأذدي) (lahir 598 – wafat 678), yang lebih dikenal dengan panggilan Abu Hurairah (bahasa Arab: أبو هريرة), adalah seorang Sahabat Nabi yang terkenal dan merupakan periwayat hadits yang paling banyak disebutkan dalam isnad-nya oleh kaum Islam Sunni.

Masa muda

Abu Hurairah berasal dari kabilah Bani Daus dari Yaman. Ia diperkirakan lahir 21 tahun sebelum hijrah, dan sejak kecil sudah menjadi yatim. Nama aslinya pada masa jahiliyah adalah Abdus-Syams (hamba matahari) dan ia dipanggil sebagai Abu Hurairah (ayah/pemilik kucing) karena suka merawat dan memelihara kucing. Ketika mudanya ia bekerja pada Basrah binti Ghazawan, yang kemudian setelah masuk Islam dinikahinya.

Menjadi muslim

Thufail bin Amr, seorang pemimpin Bani Daus, kembali ke kampungnya setelah bertemu dengan Nabi Muhammad dan menjadi muslim. Ia menyerukan untuk masuk Islam, dan Abu Hurairah segera menyatakan ketertarikannya meskipun sebagian besar kaumnya saat itu menolak. Ketika Abu Hurairah pergi bersama Thufail bin Amr ke Makkah, Nabi Muhammad mengubah nama Abu Hurairah menjadi Abdurrahman (hamba Maha Pengasih). Ia tinggal bersama kaumnya beberapa tahun setelah menjadi muslim, sebelum bergabung dengan kaum muhajirin di Madinah tahun 629. Abu Hurairah pernah meminta Nabi untuk mendoakan agar ibunya masuk Islam, yang akhirnya terjadi. Ia selalu menyertai Nabi Muhammad sampai dengan wafatnya Nabi tahun 632 di Madinah.

Peran politik

Umar bin Khattab pernah mengangkat Abu Hurairah menjadi gubernur wilayah Bahrain untuk masa tertentu. Saat Umar bermaksud mengangkatnya lagi untuk yang kedua kalinya, ia menolak.
Ketika perselisihan terjadi antara Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah bin Abu Sufyan, ia tidak berpihak kepada salah satu diantara mereka.

Periwayat hadits

Abu Hurairah adalah sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits dari Nabi Muhammad, yaitu sebanyak 5.374 hadits. Diantara yang meriwayatkan hadist darinya adalah Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Anas bin Malik, Jabir bin Abdullah, dan lain-lain. Imam Bukhari pernah berkata: “Tercatat lebih dari 800 orang perawi hadits dari kalangan sahabat dan tabi’in yang meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah”.
Marwan bin Hakam pernah menguji tingkat hafalan Abu Hurairah terhadap hadits Nabi. Marwan memintanya untuk menyebutkan beberapa hadits, dan sekretaris Marwan mencatatnya. Setahun kemudian, Marwan memanggilnya lagi dan Abu Hurairah pun menyebutkan semua hadits yang pernah ia sampaikan tahun sebelumnya, tanpa tertinggal satu huruf

.
Salah satu kumpulan fatwa-fatwa Abu Hurairah pernah dihimpun oleh Syaikh As-Subki dengan judul Fatawa’ Abi Hurairah.

Keturunan

Abu Hurairah termasuk salah satu di antara kaum fakir muhajirin yang tidak memiliki keluarga dan harta kekayaan, yang disebut Ahlush Shuffah, yaitu tempat tinggal mereka di depan Masjid Nabawi. Abu Hurairah mempunyai seorang anak perempuan yang menikah dengan Said bin Musayyib, yaitu salah seorang tokoh tabi’in terkemuka.

Wafat

Pada tahun 678 atau tahun 59 H, Abu Hurairah jatuh sakit, meninggal di Madinah, dan dimakamkan di Baqi’.
Ada beberapa riwayat yang disampaikan Abu Hurairah sebagai saksi pelapor dalam peristiwa Saqifah. Abu Hurairah pun telah menyampaikan keutamaan2 Abu Bakar dan Umar yang melebihi keutamaan para dsahabat lainnya. Tetapi sehubungan dengan peristiwa saqifah , riwayat sejarah dan hadis yang disampaikan oleh Abu Hurairah harus dipandang dengan kritis karena profil kontroversil tokoh ini.

“Kepribadian Abu Hurairah lemah. Tatkala ia kembali dari Bahrain, Umar bin Khatab memukulnya sampai berdarah, karena Umar menuduhnya menggelapkan uang Baitul Mal . Umar menuduhnya sebagai pencuri, dan menamakannya “musuh Allah dan musuh kaum muslimin. Abu Hurairah ketika itu menjadi gubernur ketiga di Bahrain sesudah Al’ Ala bin Hadhrami, yang kemudian diganti oleh Qudamah bin Madh’un. Umar tidak mempercayai sebuah hadis pun dari Abu Hurairah dan melarang (dia) menyampaikan hadis.”

.

Kesimpulan :
1. Keputusan Umar Bin Khatab ra ini berdasarkan emosi dan pertimbangan kehawatiran akan akhlak Abu Hurairah yang buruk.( wajar seorang Khalifah memberi instruksi spt ini saat kekuasaannya).
2. Tetapi ini hanya keputusan seorang Umar bin Khatab sebagai Khalifah ….yang TIDAK BOLEH DIJADIKAN PANUTAN UMAT Islam setelah kekhalifahan beliau,…..karena umat hanya boleh mengikuti ucapan risalah hadis Nabi SAW saja, dan sejarah adalah bagian dari kisah pembelajaran UNTUK DIAMBIL HIKMAHNYA.
3. Terbukti ADA BANYAK HADIS Abu Hurairah yang bisa dibilang SAHIH karena sinkron dengan Al Quran (sebagaimana nasihat Nabi SAW).
4. Tetapi TERBUKTI ADA BANYAK PULA HADIS Abu Huarirah yang JELAS PALSU (Madzu/ Dhaif) karena bertentangan dengan Al Quran dan akidah aqal sehat.

5. YANG JADI PERMASALAHAN , …..Siapa dan Bagaimana Cerita KONVERSI KEIMANAN sang Syek Doyan Makan ini…?…….monggo di duga2……mudah cekalii…

:stun:

BUKTI :

1. CONTOH HADIS YANG SAHIH DARI ABU HURAIRAH KARENA SINKRON DGN AL QURAN DAN AKIDAH ISLAM , SBB :

” Abu Hurairah bertanya kepada Nabi :” Siapa yang paling bahagia dgn syafaatmu ya Rasulallah ?, Nabi menjawab : ” Orang yang mengatakan Tiada Tuhan Selain Allah dan Bersih Hatinya (ikhlas)”.

2. CONTOH HADIS PALSU DARI ABU HURAIRAH YANG BERTENTANGAN DENGAN AYAT AL QURAN DAN JELAS BERSIFAT ” ISRAILIYAT” SBB :

“HR dari Abu Hurairah :” Nabi bersabda ” Kalau Allah memutuskan sesuatu dilangit , maka para malaikat semua “mengepakan sayapnya” dgn merendah diri karena mendengar firman Allah….bla…bla…”

MAKA BUNYI HADIS INI JELAS BERTENTANGAN DENGAN AYAT AL QURAN SBB :

Az’Zukhruf 19 : “ Dan mereka (= Nasrani ) menjadikan malaikat-malaikat yang mereka itu adalah hamba-hamba Allah Yang Maha Pemurah sebagai orang-orang perempuan . Apakah mereka menyaksikan penciptaan malaikat-malaikat itu ? .”

….KITA TAK BISA INGKARI BAHWA KAUM NASRANI KETIKA ITU MENGGAMBARKAN MALAIKAT SEBAGI “TERLIHAT SBG WANITA”( atau tak berjenis kelamin), “BERSAYAP”, atau “BAYI BERSAYAP”….

:stun:

Setelah Utsman meninggal , Abu Hurairah mem-bai’at Mu’awiyah

Kepribadiannya yang piknikus itu dapat dilukiskan dengan kata-katanya sendiri (yg pernah diucapkan Abu Hurairah) :” Sungguh semarak makan di meja Mu’awiyah, dan sungguh sempurna solat dibelakang Ali bin Abi Thalib. Dan iapun memilih makan dimeja Mu’awiyah . Ia mem bai’at Mu’awiyah sebagai khalifahnya . Lalu hadis-hadisnya pun mulai bermunculan . Yang pertama berbunyi :”Aku mendengar rasul Allah bersabda :” Sesungguhnya Allah mengamanatkan wahyunya kepada ketiga oknum, yaitu saya , Jibril serta Mu’awiyah. Karena doyannya kepada makanan itulah maka orang menamakannya Syekh al’Mudhfrah, ….”Syekh Doyan Makan” . Seluruh hadisnya disampaikan di jaman Mu’awiyah.

Hadis-hadis yang disampaikan Abu Hurairah berjumlah 5.373 buah…dibandingkan dengan seluruh hadis yang disampaikan oleh keempat Khalifah ur Rassyidin, jumlah ini sangat banyak. Abu Bakar misalnya menyampaikan hanya 142 hadis, Umar hanya 537 hadis, Utsman hanya 146 hadis dan Ali hanya 586 hadis, Jumlah semuanya hanya 1.411 hadis , dan itu berarti Cuma 21% dari jumlah hadis yang disampaikan Abu Hurairah seorang diri

.

Dan jumlah ini hamper sama dengan jumlah ayat-ayat Al Quran. Umar mengancam akan memukulnya, apabila ia membawakan hadis. Ia (Abu Hurairah) sendiri mengaku tidak berani mengucapkan sebuah hadispun di jaman Umar. Ummul mukminin Aisyah mengatakan bahwa ia tak pernah mendengar rasul bercerita seperti apa yang disampaikan oleh Abu Hurairah. Ali menamakannya “Pembohong Ummah”. Demikian juga tokoh-tokoh kemudian, Sayyid Muhammad Rasyid Ridha mengatakan bahwa sekiranya Abu Huarirah meninggal sebelum Umar, maka Umat Islam tidak akan mewarisi hadis-hadis yang penuh khurafat, isykalat dan israiliyat. (pengaruh Injil).

Abu Hurairah sering menjadi saksi pelapor dari suatu kejadian (sejarah dll)..padahal dia tidak hadir ditempat tersebut. Ia hanya tinggal selama satu tahun sembilan bulan di Suffah Mesjid Nabi di Madinah , yairu antara bulan safar tahun tujuh hijriah, sampai bulan zulkhaidah tahun delapan. Setelah itu ia berada jauh di Bahrain. Tetapi ia telah memberikan laporan –laporan sebagai saksi mata tentang hal-hal yang terjadi pada masa-masa sebelum dan sesudahnya. Misalnya ia menceriytakan bahwa Rasul Allah menyuruh Abu Thalib membaca syahadat tatkala ayah Ali itu sedang menghadapi maut, tetapi Abu Thalib menolak, dan karena itu Abu Thalib meninggal dalam keadaan kafir. Katanya, pada wqaktu itulah turun ayat Al Quran :” Kamu tidak dapat memberi hidayah (kepada) siapa saja yang kamu cintai, tetapi Allah-lah pemberi hidayah (kepada) siapa yang Ia kehendaki. Dan Ia telah mengetahui siapa yang menerima petunjuk.(QS 28:56)

.

Anehnya Abu Thalib meninggal tiga tahun sebelum hijriah, sedangkan Abu Hurairah baru muncul dalam masyarakat Islam tujuh tahun setelah Hijriah, yakni 10 tahun setelah Abu Thalib wafat. Dan ia menyampaikan hadis itu sebagai saksi mata . Maka dapatlah dimaklumi apabila Mu’awiyah memberikannya sejumlah uang kepadanya untuk hadis tsb. Banyak sangat hadis Abu Hurairah seperti itu.

:stun:

TERHILAFKAN/ TERKONTAMINASI KEDALAM KARYA2 BUKHARI DAN MUSLIM

A. Hadis-hadis Israiliyat banyak disampaikan Abu Hurairah. yang berakibat kehilafan manusiawi pengumpul hadis sekian abad kemudian seperti Bukhari dan Muslim dalam Shahih-nya antara lain meriwayatkan dari Abu Hurairah :” Allah menciptakan Adam seperti bentuk (shurah) Allah, dengan panjang badan 60 hasta (27 m)” Dan tambahan via jalur Sa’id bin Musib :” Lebar badan Adam 7 hasta (dzira), yaitu 2,15 m”. Melalui jalur lain dengan lafal yang lain :” Bila dua orang berkelahi, maka hindarilah memeukul wajahnya, karena Allah membentuk Adam menurtu bentuk-Nya”. Melalui jalur lain lagi , ada yang berbunyi :” Bila memukuil orang , hindarilah menampar wajahnya, dan janganlah berkata :” Mudah-mudahan Allah memburukan wajahmu”, sebab wajah Allah adalah SAMA dengan wajahmu, sebab sesungguhnya Allah membebntuk Adam menurut wajah-Nya.

B. Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam sahihnya, dari Abu Hurairah :” Rasul bersabda :” Malaikat maut datsang kepad Musa dan bersabda :” Penuhilah kehendak Tuhanmu !”, maka Nabi Musa pun menampar mata malaekat Maut, sehingga biji mata Malaekat Maut keluar dari rongganya. Maka Malaekat Maut kembali kepada Allah dan berkata :” Sesungguhnya Engkau mengutus kepada hamba-Mu yang tiada menghendaki kematian dan ia mencopot mataku”. Maka Allah mengembalikan biji mata Malaekat Maut kedalam tempatnya semula. Dan berkata :” Kembalilah kepadanya dan katakan agar ia meletakan tangannnya diatas punggung seekor sapi , maka umurnya akan bertambah satu tahun untuk setiap bulu sapi yang melekat ditangannya”. Nabi Musa kemudian bertanya kepada Allah :” Sesudah itu bagaimana ?”. Allah menjawab :” Sesudah itu mati”. Maka Musa bekata :” Jika demikian, maka lebih baik aku mati sekarang saja”. Ia lalu memohon kepada Allah agar ia didekatkan ke tanah suci, sejauh lemparan batu”.

C. Bukhari dan Muslim menulis dalam sahihnya berasal dari Abu Hurairah :” Rasul bersabda :” Bani Israil suatu ketika serdang mandi telanjang dan saling melihat aurat mereka. Dan Nabi Musa tidak akan mandi bersama mereka, karena (beliau malu) kemaluannnya besar, ia menderita hernia (burut).”. Suatu ketika Nabi Musa pergi mandi dan meletakan bajunya diatas batu , maka batu itupun berlari membawa bajunya . Dan setelah Musa menjamah bekas tempat batu itu , dia baru sadar dan melihat batu yang lari . Ia pun keluar dari tempat pemandiannnya dengan telanjang bulat dan mengejar batu itu, sambil berteriak :” Wahai batu , bajuku !! Wahai batu, bajuku !!”. Makam orang Israil pun melihat kearah kemaluan nabi Musa (pen : aneh, tak ada cerita insting menutupi dengan tangannya) dan berkata :” Demi Allah, Musa tidak menderita penyakit”. Maka batu itupun muncul kembali dari persembunyiannya, sehingga terlihat oleh Musa dan Musa lalu mengambil pakainnya . Ia kemudian menampar batu itu sehingga meninggalkan bekas pada enam atau tujuh tempat”.

D. Muslim meriwayatkan dalam sahihnya dari Abu Huarirah :” Allah menciptakan bumi pada hari Sabtu dan menciptakan Gunung pada hari Minggu, menciptakan pohon pada hari Senin, menciptakan yang jelak-jelek pada hari Selasa , menciptakan cahaya pada hari Rabu, menyebarkan hewan-hewan pada hari Kamis, dan menciptakan Adam a.s pada hari Jumat, sesudah waktu Asar , sebagi ciptaan terakhir dan pada hari yang terakhir , serta saat yang terakhir, yaitu (waktu) diantara waktu Asar dan Malam”.

:stun:
NAH…INI DIA BUKTI YANG PENULIS CARI2, YANG MENYEMBUHKAN KEPALA YANG PUSING, MEMPERTANYAKAN KEGANJILAN BUNYI SUATU HADIS DALAM “SAHIH” BUKHARI DAN “SAHIH” MUSLIM. TERNYATA LABEL “SAHIH” TERSEBUT BUKANLAH ATAS KESEPAKATAN UMAT DAN ULAMA. TETAPI HANYA KEHENDAK ATAU KHILAF PRIBADI ATAU KEJAHILAN SEMENTARA ORANG…OK,
Semoga Allah SWT tetap melimpahkan rachmat dan hidayahnya kepada Imam Bukhari dan Imam Muslim atas jerih payahnya selama ini dan semoga beliau di akhirat dapat menyaksikan generasi penerusnya “MEMBERSIHKAN” nama baik mereka…amin.
.
HAL KEUTAMAAN PARA SAHABAT

A. Abdulah Faraj ibn Jauzi meriwayatkan dari Abu Huraihar : “ Rasul Allah menceritakan kepada saya , Surga dan Neraka saling membanggakan diri . Neraka berkata kepada Surga :” kedudukanku lebih agung dari pada kedudukanmu, ditempatku berdiam Fir’aun, raja-raja dan para penguasa yang jahat, serta kelaurga mereka, Lalu Allah mewahyukan kepada Surga agar ia berkata kapada Neraka :” Tetapi keagungan itu ada padaku, karena Allah telah menghiasi aku dengan Abu Bakar”.

B. Abdul Abbas al- Walid bin Ahmad al-Jauzini menyampaikan dari Abu Hurairah :” Saya mendengar Rasul Allah bersabda bahwa Abu Bakar mempunyai sebuah kubah dari permata putih, berpintu empat. Melalui pintu-pintu itu hemnbusan angin rakhmat . Diluar kubah terdapat pengampunan Allah dan didalam kubah terdapat keridhaan Allah. Setiap kali Abu Bakar merindukan Allah , maka pintun akan terbuka dan dia dapat melihat Allah.”.

C. Ibn Habban meriwayatkan dari Abu Hurairah :” Aku mendengar Rasul Allah bersabda :” tatkala aku bermikraj ke langit , aku tiada menemukan sesuatu dilangit, kecuali aku bertemu dengan tulisan “ Muhammad Rasul Allah, Abu Bakar Shiddiq “.

D. Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah :” Setelah salat subuh Rasul Allah menemui orang banyak , maka berkatalah seorang gembala sapi, bahwa tatkala ia mengembala sapi maka ia telah memukul sapinya, dan tiba-tiba sapi itu berkata :” Kami tidak diciptakan untuk diperlakukan seperti itu, kami diciptakan untuk membajak”. Maka orang itu berkata :” Subhanallah sapi bicara”. Maka Rasul Allah bersabda :” Sesungguhnya Aku percaya akan apa yang dikatakannnya, aku, Abu Bakar dan Umar. Padahal Abu Bakar dan Umar tidak hadir diantara kami. Dan seorang diantara kami berkata, bahwa tatkala seseorang sedang mengembala kambing, ia bertemu dengan seekor Srigala yang sedang membawa seekor Kambing. Tatkala ia menuntut kambing itu dari Srigala , maka tiba-tiba Srigala itu berkata :” Rebutlah dariku kalau engkau sanggup, Bukankah hari ini Hari Binatang Buas, hari yang tiada seorang boleh mengembala, kecuali diriku ?”. Maka orang itupun berkata :” Maha suci Allah, Srigala berbicara”. Maka Rasul bersabda :” Sesungguhnya Aku percaya akan apa yang dikatakannnya, aku, Abu Bakar dan Umar. Padahal mereka berdua ,Abu Bakar dan Umar tidak hadir diantara kami”.

Para penulis muslim dijaman dahulu telah melihat kelemahan2 hadis Abu Hurairah. Para peneliti sudah tahu Abu Hurairah mendapatkan kisah-kisah Injil Perjajnjian Lama dari Ka’ah al-Ahbar selama hampir tiga puluh tahun persahabatan diantara keduanya, sebelum dia menyampaikan hadis2nya dijaman Mu’awiyah.

Para peneliti juga mengetahui bahwa Mu’awiyah politikus yang ulung itu telah memerintahkan mengumpulkan “para sahabat” , agar menyampaikan hadis2 yang mengutamakan para sahabat Abu Bakar, Umar, Utman untuk mengimbangi keutamaan Abu Thurab (Ali bi Abu Thalib). Untuk itu Mu’awiyah memberikan imbalan berupa uang dan kedududkan kepada mereka .

Abul Hasan ‘ Ali bin Muhammad bin Abi Saif al-Mada’ini, dalam bukunya Al- Ahdats, mengutip sepucuk surat Mu’awiyah kapada bawahannya sbb:

“ Segera setelah menerima surat ini , kamu harus memanggil orang-orang . agar menyediakan hadis-hadis tentang para sahabat dan Khalifah. Perhatikanlah, apabila seseorang Muslim menyampaikan hadis tentang Abu Turab (Ali), maka kamupun harus menyediakan hadis yang sama tentang sahabat lain untuk mengimbanginya. Hal ini sangat menyenangkan saya dan mendinginkan hati saya dan akan melemahkan kedudukan Abu Thurab dan syi’ah-nya”. Ia juga memerintahkan untuk menghotbahkannnya di semua desa dan mimbar.

Dalam hubungannya dengan peristiwa saqifah dan sejarah lainnya, maka kita akan melihat kesamaan berita tersebut meskipun ada perbedaan dalam detilnya. Kecuali berita yang dibuat oleh penulis bernama Sa’if bin Umar ‘Usayyid Tamimi. Ternyata Sa’if bin Umar merupakan satu satunya orang yang menceritakan adanya seorang tokoh yang bernama “Abdullah bin Saba” yang tidak dicatat oleh penulis lainya manapun. Abdullah bin Saba menurut Sa’if adalah seorang Yahudi dari Shan’a , Yaman yang memeluk agama Islam pada jaman Utsman. Ia bergabung dengan kaum Muslim dan mengembara dari kota ke kota

.

abu artinya bapak—hurairah artinya kucing jadi abu hurairah artinya bapaknya kucing…kumpul dengan nabi 1 thn 3 bln meriwayatkan hampir 6000 hadis cukup fantastis karena Ali..abu bakar..umar dan usman gabungan dari hadis2 beliau ini jumblahnya kurang dari 1500 hadis ketika ditang aisyah darimana sumbernya abu hurairah menjawab dari kantongnya abu hurairah…di panggail abu hurirah atau bapaknya kucing karena malas bekerja dan kerjanya mengompulkan kucing tiap sore hari mengetuk ruah sahabat untuk minta makanan dgn dalih kucingnya…kare seringnya membawa2 kucing maka dia di panggil bapaknya kucing atau abu hurairah…ini jaman modern teliti aja hadis2nya dan jangan membunuh karakter saudara kita dgn cap syiah dan lain sebagainya beri argumen yang baik kalau kita membelanya.

.

pada jaman ali terjadi perang antara Ali sebagai Khalifah yang di kenal sebagai Ahlus Sunnah dan Muawiyah yang memberontak tdk mau mengakui ali sebagai Khalifah dan menamakan kelompoknya sebagai Jamaah..berebut pengaruh pada orang-orang madinah untuk segera memutuskan dia berada di pihak yang mana?Ali yang Ahlus Sunnah atau Muawiyah yg menamakan kelompoknya jamaah..?orang-orang madinah pada saat itu mengambil suatu keputusan,bahwa mrk bukan Ahlus Sunnah dan juga bukan Jamaah akan tetapi mereka adalah Ahlus Sunnah wal Jamaah..inilah sejarah Ahlus Sunnah wal jamaah yang didak mempunyai keberanian mengambil sikap..mana yang benar Ali atau si pemberontak Muawiyah?jawaban mereka benaaaaaaaar semua…yg kemudian kt warisi hingga saat ini…

.

Siapa Sembunyikan Hadits-hadits Rasulullah SAW

:stun:

Fatimah Az Zahra As berpesan pada Imam ‘Ali AS agar memakamkan jenazahnya pada malam hari karena tidak mau dishalatkan oleh “kedua sahabat” Nabi yang menzolimi beliau perihal tanah fadak dan ke-pemimpinan Imam ‘Ali AS selepas wafatnya Nabi Muhammad SAW.

Rasa sakit hati beliau semakin memuncak ketika sahabat Umar ibn Khattab RA menyerbu rumah beliau dan menyeret Imam ‘Ali AS selayaknya seekor anjing yang hina. Sayidah Fatimah yang ketika itu sedang hamil tua berusaha menolong suaminya, namun atas perintah Umar untuk mencegahnya. Pencegahan tersebut menggunakan kekerasan dengan memukul perut (sebagian riwayat rusuk) sayidah Fatimah AS sehingga beliau terjatuh dan keguguran.

Abu Bakr RA yang mengetahui hal ini segera meminta maaf di hari-hari terakhir Sayidah AS Fatimah karena takut akan kutukan tersebut. Namun sampai di akhir hayatnya, Sayidah Fatimah tetap bersikeras pada prinsipnya. Dan penyesalan Abu Bakr RA dan Umar ibn Khttab RA adalah karena tidak beroleh maaf dari Sayidah Fatimah.

Coba baca kembali sengketa tanah Fadak mas, semuanya terbuka.

Tidak ada yang aneh dengan bai’at Imam Ali pada Abubakar… Apakah aneh seorang Nabi Harun as terpaksa membiarkan kaum Musa as menyembah berhala sapi emas buatan Samiri, sehingga sepulangnya Musa as dari bukit Tursina, Musa as menarik janggutnya lantas “Berkata Musa: “Hai Harun, apa yang menghalangi kamu ketika kamu melihat mereka telah sesat, kamu tidak mengikuti aku? Maka apakah kamu telah mendurhakai perintahku?” Harun menjawab’ “Hai putera ibuku, janganlah kamu pegang janggutku dan jangan kepalaku; sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata : “Kamu telah memecah antara Bani Israil dan kamu tidak memelihara amanatku”. (QS Thaha ayat 92-94 ; Baca lebih seksama teks al-Quran ini dan renungkan kaitannya dengan kasus yg anda anggap aneh!)

Sayyidah Fatimah Az-Zahra (as) wafat 6 bulan setelah ayahnya, Rasulullah Saw wafat. Sedangkan Abu Bakar wafat 2 1/2 tahun setelahnya dan Umar wafat pada 24 Hijriyah. Meskipun Abu Bakar dan Umar wafat jauh setelah wafatnya Sayyidah Fatimah (as) tetapi mengapa jasad Sayyidah Fatimah tidak dikuburkan di sebelah makam ayahnya yang sangat dicintainya, namun mengapa kedua sahabat ini justru bisa dimakamkan di samping Rasulullah Saw? Apakah mungkin Sayyidah Fatimah sendiri yang meminta agar dia dimakamkan jauh dari ayah yang sangat dicintainya itu? Jika benar begitu, mengapa?

Banyak sejarah yang telah dimanipulasi untuk mengangkat derjat dan keutamaan beberapa “sahabat” Nabi. Sedangkan keluarga Nabi direndahkan. Seperti ucapan Ibnu Taymiah yang menyatakan bahwa Imam ‘Ali AS bukan saudara Nabi Muhammad SaaW, sedangkan fakta menyatakan bahwa Imam ‘Ali AS memang saudara Nabi Muhammad AS.

Sejarah telah diatur dan kita hanya memiliki rekaan sebuah cerita ‘sejarah’ kononnya…aku dari dulu mengkaji perihal sahabat² yang di’angkat’kononnya penuh keistimewaan disisi nabi.aku tahu siapa abu bakar,umar,usman dan aisyah.kalau mereka hidup,mereka pasti malu kerana aku tahu siapa mereka…apa tujuan abu bakar berdamping dengan Nabi,apa keistimewaan umar dalam islam…?gagah?sebutkan nama² orang yang mati ditangan umar?!10 orang pun cukup…tak ada kan…usman dan femili muawiyah…

dan apa wasiat Nabi pada aisyah sebelum wafat.jgn sekali-kali keluar dari rumah…tapi macammana pula dengan wataknya sebagai ketua peperangan antara beliau dan ali.Nabi sudah berkata bahawa baginda gedung ilmu dan ali pintunya….kenapa kita berpaksikan hadis sibapak kucing yang nyaris dihukum mati oleh umar.banyak lagi yang kita tenggelam oleh cerita rekaan antara zaman kita sehingga zaman nabi.contoh seperti politik sekarang.media sentiasa menggambarkan pemimpin arus perdana sebagai wira dan tiada ruang untuk kita lihat apa keburukannya.cukuplah berpegang pada al-quran dan sunah.sayangi ahlul bait….aku bukan sunnah mahupun syiah…aku pencari kebenaran

bila kita kaji perihal diatas kita akan dapat sedikit sebanyak fakta pada persoalan dimana dan mengapa makamnya fatimah dirahsiakan.apakah kerana bimbang ancaman musuh dalam selimut.lihat sahaja pada cara kematian ahlul bait yg lain selain fatimah.ali,hasan dan husin.tragis bukan.benar kita terleka pada sejarah peperangan aisyah dan ali.kenapa orang yang paling hampir dengan nabi saling berperang.bukan lah perselisihan kecil anak beranak jika sudah segerombolan angkatan perang tersedia.allah sahaja yang maha mengetahui.allahumasolli ala muhammad,awala ali muhammad.itu sahaja tanda kasihnya aku pada Nabi dan keluarga nabi

bahwa tidak ada 1 orang pun yg boleh mengetahui makamnya selain para pengubur…Ali bahkan membuat 7 kubur untuk mengecoh Abu n Umar…ketika Abu n Umar ingin mbongkar semua makam tuk dapat memandikan dan mensholati lagi jenazah Fatimah, Ali menjaga Baqi dengan membawa Zulfikar dan menyatakan akan terjadi pertumpahan darah bila tetap dlakukan pbongkaran. Abu n Umar pada akirnya mengalah agar tidak terjadi pertumpahan darah walau mereka terus bersedih dan menangis atas penolakan Fatimah…bahkan Abu meminta semua membatalkan baiat atas dirinya…namun semua itu sudah tidak berlaku…fatimah telah murka…smua wasiat dilakukan karna rasa marah yg luar biasa terhadap abu n umar

dan alasan kenapa fatimah, dan juga al-Hasan yang sungguh ingin dmakamkan di samping makam rosul tidak dapat terwujud karena penolakan dari Aisyah bahkan sampai jenazah al-Hasan yang merupakan ahlul bait..cucu kebanggaan Rosul…dihujani dengan panah dan tombak…(Semoga Allah menunjukkan jalan yang benar pada kita)

.
sungguh di luar apa yg telah saya ketahui apa yg terdapat dalam buku tersebut…jika selama ini dalam buku2 plajaran kbanyakan mengagungkan Abu Bakar n Umar…mbaca buku ini benar2 mbuat saya dalam keadaan bingung n berusaha mcari jawab…sbgian besar teman bdiskusi menyatakan itu buku dari kelompok yg tlalu mengagungkan Ali….n ingin memecah belah Islam..tapi smakin saya mcari jawaban…hampir semua buku dengan judul berbeda memiliki alur cerita yang sama hanya beda cara penyampaian…

tapi…patutkah juga keluarga Rosul dperlakukan sperti tu??sedang Rosul mengatakan pada mereka bahwa Fatimah adalah penghulu wanita di surga??ali adalah suami penghuni surga…hasan dan husein adalah cucu yang dikasihinya…malah kaum muslim juga yang membunuh husein dengan sangat biadab..pbunuhan terkeji pertama yg ada di muka bumi..hingga seluruh binatang dan malaikat mengutuk perbuatan tersebut..bahkan jika boleh memilih mereka tidak ingin lagi berada di dunia..Maha Besar Allah…semoga apa yg kita ketahui bukanlah suatu kesesatan…
benar2 bingung….sgala yg awalnya stau qt baik..kok jadi buruk???

tdk ada satupun yg mngetahui dimana kbradaan makam sayyidah fatimah,krna beliau mmng tidak inggin kuburanx diketahui oleh orng2 munafiq,beliau wafat dlm keadaan sakit hati yg tramat dlm,rosul jauh lbh mncintai putrix dibnding sapapun,”fatimah bit atu minni’fatimah adlh sbgian dr aq,mk jgn sekali2 mnyakiti sydh fatimah krna rosul akan trsakiti,dan apabila rosul sdh trsakiti mk allah akan murka kpdax,krna rosul mrpakan kekasih allah,dan allah tdk akan mnciptakan dunia dan seisix klo bkn krna rosulullah

Inilah umat Islam sepeninggal Rasulullah SAW…selalu mencakar dirinya sendiri dari dalam. ada teman mengatakan bahwa terkadang sejarah adalah milik siapa yang berkuasa saat itu…,mungkin ada benarnya juga tapi kita lupa satu hal bahwa Allah menjadikan sejarah agar umat yang “belakangan” bisa belajar “positif dan negatif-nya”sejarah tersebut. Dienul Islam adalah agama pembawa kedamaian,kesejahteraan dan kemajuan,yang mendukung manusia selaku khalifah Allah dimuka bumi. Ia bukanlah agama yang membawa kebencian menjadi sesuatu yang absolut karena Sang Pencipta adalah Maha Pemaaf,jika “produk”nya bertaubat. Marilah kita jalankan Dien ini sesuai dengan aslinya tanpa melibatkan oknum yang lain,biarlah mereka dan diri kita akan bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukan dikehidupan dunia ini. Dien ini dilaksanakan dengan “manual” yang telah diberikan “Pencipta”nya dan akal pikiran kita serta hati nurani sebagai nilai pembandingnya..

Ada kisah yang menceritakan seorang shahabat bertanya pada Baginda Rasul tentang konsep dan hakikat dosa serta pahala lalu Rasul berkata “Tanyalah hati nuranimu jika kamu melakukan sesuatu,jika hatimu gundah gulana dan rasa bersalah setelah melakukan sesuatu maka itulah perbuatan dosa..begitupun sebaliknya..WaLlaahu a’lam..Allahumma Sholli ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhammad.

Teka-teki yang hendak kita cari jawabannya. Sebenarnya jika kita kritis pula maka kita harus bertanya pula, kenapa Sy. Fathimah Zahro as mewasiatkan untuk dimakamkan pada malam hari?
Kenapa sampai sekarang makam beliau masih teka-teki, artinya tidak diketahui secara jelas makamnya?

Kenapa, dan kenapa?

Ada apa dibalik semua ini?


Berikut ini adalah kisah seorang penuntut ilmu di Cairo, ketika sedang mengkaji sebuah kitab Shahih Muslim. Dia bersama seorang Syeikhnya sedang mencari hadits-hadit Nabi tentang keutamaan Madinah, ternyata yang dicarinya itu tidak ditemukan. Padahal seharusnya hadits-hadits ada di shahih Muslim. Nah siapa gerangan yang menyembunyikan sabda-sabda Rasulullah SAW?Selamat mengikuti….

Bismillah Ar-Rahman Ar-Rahim
Allhumma Solli ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi

Ma’arad Al-Kitab (World Book Exhibition)@ Cairo telah pun hampir ke penghujungnya. Saya hampir setiap hari turun ma’arad. Sehinggakan setiap hari jika bertemu dengan teman-teman se’talaqqi’ saya mereka akan bertanya ‘Lepas ini turun ma’arad ke?’

Mesti mereka heran ‘Buku apa saja yang dibeli sampai perlu turun ma’arad tiap2 hari?!’.

Sebenarnya, turun ma’arad hampir setiap hari itu bukan menunjukkan betapa banyaknya buku yang dibeli tapi adalah untuk survey-survey kitab dari sudut harga, pencetakan, pentahqiq dan sebagainya.

Tanpa disadari sebenarnya kita BELAJAR SAMBIL MEMBELI!!!! Itu juga dikira sebagai ilmu yang tidak diperolehi di kitab-kitab. Berharga bukan?!

Tips….

Kalau mau tahu bagus atau tidak tahqiqnya sebuah kitab adalah dengan kita membaca muqaddimah Pentahqiq tersebut. Disitu, Pentahqiq ada menyebutkan kerja2 yang dilakukan dalam mentahqiq sesebuah kitab dan kita dapat lihat perbezaan yang wujud diantara pelbagai jenis pencetakkan.

Tetapi ramai yang terlepas pandang akan bab ini. Yang penting bagi mereka ‘asal murah’ dan ‘asal cantik’.

Sebagai seorang yang bergelar Penuntut dan Pengkaji Ilmu, itu tidak sepatutnya berlaku.Kita sepatutnya bersifat ‘MATANG’ dalam memilih buku.

Berapa banyak buku yang luarannya cantik tapi didalamnya racun yang berbisa.

Sekarang alfaqir lebih berhati-hati dalam membeli buku kerana 1 kejadian.

Ketika itu, kami membaca kitab Sohih Muslim bersama seorang Sheikh, apabila sampai bab yang meriwayatkan tentang kelebihan madinah, seluruh hadits-hadits berkenaan itu dihapus, tidak ada dalam cetakan kitab hadits tersebut yang miliki teman alfaqir. Pada sangkaan alfaqir, mungkin hanya kesalahan dalam cetakan. Tapi, apabila dicari-cari hadits-hadits tersebut, tidak juga ketemui. Bila tanya teman lain, yang juga mempunyai sama cetakan, itu juga berlaku pada dirinya.

Dahulu…

Kami pernah mendengar dari kalam masyayikh kami bahawa ada terdapat pihak-pihak  tertentu sengaja menyembunyikan hadits-hadits yang kurang sesuai dengan pendapat mereka.

Pada ketika itu…

Saya terfikir ‘Tergamakkah mereka lakukan sedemikian?! Menyembunyikan Hadits-hadits Rasulullah untuk kepentingan sendiri?’.

Pada mulanya saya agak meragui kerana tidak tergambar iannya boleh berlaku sedemikian. Akan tetapi, apabila diri sendiri melihatnya dengan mata kepala, akhirnya diri ini akur akan kebenarannya.

Kalau seandainya Imam Ali.as langsung menjadi khalifah setelah Nabi.saw sesuai dengan harapan Allah dan Rasul-Nya mungkin perselisihan antara sahabat tidak separah yang sudah terjadi. Ketika mereka mengangkat Khalifah bukan sebagaimana yang dianjurkan olehRasul.saw maka kekacauanpun segara terjadi dan terus terjadi.

Mungkin itu memang kehendak Allah untuk menguji kita mau ikut jalan yang mana, apakah jalan kebenaran dengan mengikuti anjuran Rasul.saw atau jalan yang batil yang dibuat oleh pelaku makar. Dan, saya kira itu wajar saja karena “setiap Allah mengutus para rasul maka Dia juga menjadikan setan2 dari jenis jin dan manusia untuk menyimpangkan ajaran Rasul tersebut” kejadian itu selalu terjadi pada setiap rasul dan terjadi pula bagi kerasulan Muhammad.saw

kita  hanya bisa menyesalkan ulama sunni  yang menyembunyikan kebenaran kepada kita, seperti dalam Alqur’an Surat Al-baqarah ayat 159 “Sesungguhnya orang-orang yang Menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dila’nati Allah dan dila’nati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat mela’nati.”

sebagai contoh,  dulu saya membaca dalam kita bukhori, cetakan beirut yang tanggal penerbitannya sudah sangat tua (saya lupa tahun terbirny; mungkin 1923) bahwa rasulullah bersabda, “tak henti-hentinya keamiran di tangan orang quraiys. dan yang menjadi pengganti sesudahku adalah 12 orang dari keturunan Quraisy, yaitu Ali, Hasan, Husein, dst s.d imam mahdi.” tapi, pada kitab bukhori cetakan yang baru-baru ini hadits tersebut sudah tidak ditemukan dalam kitab bukhori.
saya pikir, kok bisa-bisanya ya orang mengurang-ngurangkan kitab hadits, apa gak takut dosa

contoh lain :

Terdapat penghapusan besar-besaran secara sengaja akan keutamaan-keutamaan Ali dan Ahlul Baitnya dari kitab-kitab sejarah. Ini Ibnu Hisyam yang menukil Sirah Ibnu Ishak berkata di dalam mukaddimah kitabnya, “Di dalam kitab ini ditinggalkan sebagian yang disebutkan oleh Ibnu Ishak… dan begitu juga hal-hal yang buruk untuk dikatakan, dan beberapa hal yang tidak baik orang menyebutkannya… “

Dia mengatakan kata-kata ini sebagai pengantar untuk menyembunyikan kebenaran. Di antara hal-hal yang tidak baik orang menyebutkannya adalah ajakan Rasulullah saw kepada Abu Thalib manakala Allah SWT memerintahkannya, “Dan berilah peringatan kepada keluargamu yang terdekat. ” Thabari telah menyebutkannya beserta sanadnya. Dia mengatakan Rasulullah saw telah bersabda, “Wahai putra-putra Abdul Muththalib! Demi Allah tidak ada seorang pun pemuda bangsa Arab yang telah membawa untuk kaumnya sesuatu yang lebih berharga dan lebih utama dari apa yang aku bawa untuk kalian. Aku datang membawa kebaikan dunia dan akhirat. Dan Allah telah memerintahkan aku untuk menyeru kalian agar menerimanya. Maka siapakah di antara kalian yang bersedia memberikan dukungan bagiku dalam urusan ini; dan sebagai imbalannya, ia akan menjadi saudaraku, washiku, serta menjadi khalifah (pengganti)ku di antara kalian?”

Semua yang hadir diam seribu bahasa, kecuali Ali yang termuda di antara mereka; ia berdiri dan berkata dengan lantangnya, “Aku – wahai Nabi Allah – yang akan menjadi pembantumu!” Kemudian Rasulullah saw berkata, “Inilah saudaraku, washiku dan khalifahku di antara kalian! Dengar kata-katanya, dan taatlah kepadanya!” Maka bangkitlah mereka sambil tertawa dan berkata kepada Abu Thalib, “Lihatlah betapa dia telah memerintahkan Anda agar mendengarkan kata-kata anak Anda dan taat kepadanya.”(Tarikh ath-Thabari, jld. 2, hal. 216 -217.)

Apakah riwayat ini termasuk sesuatu yang buruk untuk dikatakan, sehingga harus dihapus sebagian kata-katanya?!

Jangan membuat Anda heran Thabari menyebutkan kisah ini, karena dengan segera dia mencabut kembali perkataannya itu. Dia meriwayatkan kisah ini di dalam kitab tafsirnya dengan disertai penyimpangan. Dia mengatakan, “Rasulullah saw bersabda, ‘Maka siapakah di antara kalian yang bersedia memberikan dukungan bagiku; dan sebagai imbalannya, ia akan menjadi saudaraku… dan seterusnya dan seterusnya.’” Kemudian Thabari melanjutkan, “Kemudian Rasulullah saw berkata, ‘Sesungguhnya inilah saudaraku… dan seterusnya dan seterusnya, maka dengarkan kata-katanya, dan taatlah kepadanya.(Tafsir ath-Thabari, jld. 19, hal. 72.)

Apa yang dimaksud dengan kata-kata “dan seterusnya dan seterusnya” yang dikatakan oleh Thabari?!

ini merupakan contoh yang jelas pengurangan riwayat.

tapi, soal hadits dalam musnad ahmad tentang “penegasan kepemimpinan ali” belum tentu dihapus. jadi saya mufakat untuk menganggapnya “tidak ada”.

rasulullah yang menyatakan, “inilah ali, imam, wali, dan khalifah sesudahku.” jadi dengan hadits ini sudah cukup menjelaskan bahwa Ali merupakan khalifah pertama.

rasulullah saw bersabda : “siapapun yang menjadikan aku sebagai khalifahnya, maka Ali adalah khalifahnya” (al-Muttaqi Al-Hindi, Kanz al-Umal, vol.XV. hal 123)

rasulullah bersabda, “Ali adalah saudaraku, pewaris dan khalifahku diantara kalian semua. taatilah dia, ikutilah dia, dan perhatikanlah ucapan-ucapannya. (ahmad bin hanbal, , al musnad Vol.. I hal 111, 159; ibn al-asir, al-Kamil Vol II. hal 22).

dan masih banyak lagi. saya tidak dapat menulis semuanya di sini.

Saat ini saya lagi memfokuskan mencari dasar hak Ali untuk menjadi khalifah yang pertama berdasarkan Al Qur’an dan Mencari dukungan ayat Q.S 5:67.
Logika saya jika ada ayat dalam al qur’an yang merekomendasikan Ali secara tegas/gamlang dan menguatkan untuk menjadi khalifah yang pertama setelah kepemimpinan Nabi maka kebenaran hak ali untuk menjadi khalifah yang pertama harus diyakini atau dibenarkan. Karena saya menganggap bahwa al Qur’an adalah hukum tertinggi dalam agama islam, jika didalam al qur’an sudah ditegaskan atau diperintahkan, maka hukum2 dibawahnya (seperti hadist, pendapat ulama dsb) harus ngikut ke hukum yang lebih tinggi diatasnya. (SESUAI DENGAN AZAS KEPATUHAN SUATU HUKUM). –>

Karena saya menganggap bahwa al Qur’an adalah hukum tertinggi dalam agama islam, jika didalam al qur’an sudah ditegaskan atau diperintahkan, maka hukum2 dibawahnya (seperti hadist, pendapat ulama dsb) harus ngikut ke hukum yang lebih tinggi diatasnya.

“setiap orang memiliki penerima wasiat (washi) dan ahli waris, dan Ali adalah penerima wasiat dan ahli warisku.” (Ibnu Asakir, at-Tarikh, vol. III, hal 5; Riyad an-nadhiroh, vol.II, hal.178. )

adakah jaminan dari Allah kalau kitab bukhori itu akan terjamin keasliannya hingga akhir zaman?

Dari Situ…

Sangat PENTING!!!  Talaqqi (ngaji langsung pada guru) hadits-hadits  Rasulullah SAW dengan seorang sheikh (guru) yang mempunyai sanad pengriwayatan Hadits.

???? ??????? ???? ?? ??? ?? ???
Kalau tidak kerana sanad, maka sesiapa saja akan berkata dengan apa yang dikehendakinya.

Ya ALLAh, Jadikan kami seorang yang amanah dalam menyampaikan ILMU…


Seandainya sejak zaman dulu kitab kitab hadis sunni BEREDAR  SESUAi  VERSi  ASLi nya seperti beredar  nya  ALQURAN  di pasar pasar dan rumah penduduk maka MAZHAB  SUNNi  tidak akan tegak

Banyak hadis yang telah disensor dari kita!! Ulama sunni meringkas hadis, mengedit hadis dan menyembunyikan hadis YANG  MERUGiKAN MAZHAB MEREKA !!

Sunni dianggap menyembunyikan hadis-hadis yang menjelaskan, bahwa Ali merupakan khalifah setelah Nabi.

Dalam  tafsir  al Qur’an ayat-ayat yang memihak syi’ah disembunyikan oleh orang Sunni atau disebarkan hadis hadis dha’if  syi’ah  yang mendeskriditkan Syi’ah.

Menurut syi’ah  bahwa  al Qur’an dan hadis  shahih  yang diriwayatkan oleh orang Syi’ah kedudukannya adalah atas segala ilmu.

Sewaktu  anda  belajar  agama  di waktu  kecil,  anda  Cuma  mampu  menemukan  kitab  shahih  Bukhari  Muslim  edisi  ringkasan… Lha, yang  asli  nya  sudah  disembunyikan ….Ketika  anda  dewasa, di era  digital  internet  ini  anda  AKAN  TERPERANJAT  ketika  menemukan  bahwa  kebenaran  syi’ah  ternyata  terselip  dalam  kitab  hadis  sunni….

Ada  ulama   sunni  berkata : “Ada  hadis  Imam Ali  yang  memuji  abubakar- Umar  – Usman  dll  dalam  kitab hadis  sunni”

Kitab  hadis  aswaja  sunni  memang  punya  beberapa  versi  cerita  yang  saling  kontradiktif   dalam  persoalan  imamah  dll

Dalam hadis  Bukhari : Imam  Ali  mengklaim  bahwa  kekhalifahan  adalah  haknya, dan  Imam  Ali  menyatakan  Abubakar  berbohong  dan  bertindak  sewenang  wenang… Mungkinkah  sesuatu yang bertentangan  terjadi  ??? Di satu  sisi  mencela, disisi  lain  memuji  ???? tidak  mungkin…. Karena  mustahil  Imam  Ali  plin plan  apalagi  berdusta… JAdi  hadis  yang dinisbatkan  pada  Ali yang  menyatakan  Abubakar  lebih  baik  daripada  dia  sangat  meragukan  karena  bertentangan  dengan  ucapan  Imam  Ali  dalam hadis hadis  lain….

Berikut  ini saya berikan  contoh  kontradiksi  nya  hadis  Bukhari  Muslim :

1. Surat  Al  Lail  ayat  1-3   dalam kitab  Bukhari  Muslim  berbeda  dengan         yang  ada  dalam  Al  Quran

2. Riwayat   Aisyah  tentang  shalat  dhuha  saling bertentangan, riwayat       pertama  menyatakan  “boleh”  tapi  riwayat  kedua  menyatakan  “tidak    boleh”

3. Said  bin  Musaiyab  menyatakan  ia  saksi  wafat nya  Abu  Thalib, tapi    realita  fakta  sejarah  menyatakan  Said  dan  Abu Thalib  tidak  pernah bertemu

4. Hadis  pelecehan  terhadap  para  Nabi  yang  di bawakan  Abu  Hurairah

Kenapa  bisa  kontradiktif ??? Karena  jalur  perawi  ada  yang berdusta  dan ada yang jujur…semua  dishahihkan  Bukhari  Muslim…

Di zaman  Dinasti  Umayyah, Abbasiyah dan  Usmaniyah  syari’at  Islam yang sebenarnya  tidak ditegakkan.. Penguasa  bebas  membunuh  orang  orang yang  tidak bersalah  tanpa pengadilan.. Kejahatan  mereka  terhadap  umat  benar benar  diluar   perikemanusiaan.. Pemerintahan  para  penjahat

Namun  mazhab  aswaja sunni menutup nutupi  masalah ini  dengan cara menampilkan   yang   baik   baik  saja  dan  menguburkan yang  buruk buruk karena  ulama  sunni  sangat  berkepentingan  agar  mazhab  mereka  tetap tegak…

Namun  seiring   perjalanan  waktu, kebenaran  mulai  terungkap…. Aswaja mulai   kelabakan  maka  mereka  tidak   mampu   lagi  melarang  umat  mempelajari   syi’ah…….Aswaja  tidak  mampu  lagi  membuang   hadis hadis  dalam kitab  shahih nya  karena  umat  sudah  tahu….

Hadis  seperti  penunjukan  Imam  Ali  sebagai  khalifah  tidak  mampu  lagi  disembunyikan  sunni.. Mengingkari  bukti  wasiat  Imamah  Ali  sama  saja dengan  mengingkari  wasiat  Nabi  SAW, adalah  zindiq  jika  mengingkari  Sunnah  Nabi  yang  mutawatir

Adzan, Wudhu dan Tata Cara Shalat Syiah


Tata Cara Wudhu`



Pertama kali, berniatlah untuk berwudhu` dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah. Ambillah air wudhu` dengan tangan kanan.

 

Basuhlah wajah Anda dengan air tersebut dimulai dari tempat tumbuhnya rambut di dahi hingga ujung janggut. Membasuh wajah disyaratkan dari atas ke bawah.

 

Lalu ambillah air untuk kedua kalinya dengan tangan kiri dan basuhlah tangan kanan dimulai dari siku-siku hingga ujung jari-jari. Membasuh tangan kanan disyaratkan dari atas ke bawah.

 

Lalu ambillah air untuk ketiga kalinya dengan tangan kanan dan basuhlah tangan kiri dari siku-siku hingga ujung jari-jari. Membasuh tangan kiri juga disyaratkan dari atas ke bawah.

 

Kemudian usaplah kepala bagian atas ke arah depan dengan tangan kanan dan menggunakan sisa air yang tersisa di tangan. Anda tidak diperkenankan mengambil air baru untuk mengusap kepala.

 

Setelah itu, usaplah kaki kanan Anda dengan sisa air yang ada di tangan kanan dari ujung jari kaki hingga pergelangan kaki. Anda tidak diperkenankan mengambil air baru untuk mengusap kaki kanan.

 

Selanjutnya, usaplah kaki kiri Anda dengan sisa air yang ada di tangan kiri dari ujung jari kaki hingga pergelangan kaki. Anda tidak diperkenankan mengambil air baru untuk memngusap kaki kiri. Dengan demikian, Anda tela selesai berwudhu`.

Praktek Wudhu dalam bentuk Video:

Praktek Tayamum dalam bentuk Video:


Telah di sepakati oleh para ulama faqih komuniti Syiah, berdasarkan dalil-dalil dari Al Quran dan hadis suci Rasul(s) dan Ahlulbait(a) baginda, bahawa najis dapat dibahagikan kepada 10 perkara:
  • Air Kencing
  • Tahi
  • Air Mani
  • Mayat/bangkai(haiwan yang tidak disembelih)
  • Darah
  • Anjing
  • Babi
  • Orang Kafir
  • Arak
  • Peluh dari haiwan yang memakan tahi( contoh: Unta)

Yang dimaksud orang kafir yang najis hukumnya adalah:

1. Orang yang mengingkari Tuhan (tidak menerima adanya Tuhan).

2. Orang yang mengingkari kenabian Rasulullah saw.

3. Orang yang tidak mengesakan Tuhan (menganggap ada lebih dari satu Tuhan).

4. Orang yang mengingkari hal-hal paling penting dalam agama, yang sekiranya pengingkaran itu melazimkan pengingkaran terhadap nabi atau menyebabkan tidak sempurnanya agama.

5. Orang yang mencela para imam maksum atau bahkan memusuhi mereka.

Segala sesuatu, selain 10 perkara najis ini, adalah suci hukumnya. Namun benda yang suci dapat menjadi najis jika benda najis itu basah, atau terkena cairan hingga menjadi basah, lalu basahannya mengenai benda yang tidak najis itu. Hal ini dikarenakan air yang jumlahnya sedikit dapat menjadi najis jika terkena benda najis. Lalu air yang telah najis itu jika mengenai benda yang lain, maka ia telah membuat benda lain tersebut najis. Lain halnya jika air berjumlah banyak, karena air yang berjumlah banyak tidak akan najis jika terkena benda najis, asal tidak berubah warna, rasa dan baunya.

 Perkara yang dapat mensucikan

Segala yang terkena najis dapat disucikan dengan perantara:

1. Air;

2. Tanah;

3. Matahari;

4. Perubahan bentuk;

5. Berpindahnya benda najis;

6. Memeluk agama Islam;

7. Taba’iyat;

8. Tak terlihatnya kembali benda najis;

9. Istibra’ hewan pemakan benda najis;

10. Tak terlihatnya seorang Muslim.

Kita akan membahasnya satu per satu. Adapun yang pertama,

Air

Air dapat mensucikan kebanyakan najis. Namun air sendiri memiliki macam-macam yang harus kita fahami. Air memiliki dua jenis: air murni, dan air tidak murni. Air murni adalah air yang tidak bercampur apa-apa, sehingga dapat disebut “air” saja; lain halnya dengan air tidak murni, seperti air kelapa, air buah, dan lain sebagainya (tidak termasuk air hujan, karena murni).

Hukum-hukum air tidak murni (air mudhaf):

1. Air itu tidak bisa digunakan untuk bersuci dan mensucikan najis;

2. Air mudhaf akan menjadi najis jika terkena benda najis sesedikit apapun;

Macam-macam dan hukum air murni (air mutlaq):

Hanya air murni saja yang dapat mensucikan najis dan digunakan untuk bersuci.

Air murni ada beberapa macam: air yang diam, dan air yang tidak diam. Air yang diam, adalah air murni yang disimpan dalam wadah-wadah tertentu, seperti bejana, timba, ember, dan lain sebagainya. Sedang air yang tidak diam, banyak contohnya seperti air hujan, air sungai, dan air sumur (air sumur tidak dikategorikan sebagai air yang diam, meskipun kita lihat air itu diam)

Hukum air yang diam (yang telah saya maksudkan di atas) adalah:

1. Air yang diam, jika jumlahnya banyak disebut dengan air yang banyak (air kurr);

2. Namun jika sedikit, disebut dengan air sedikit (air qalil).

Yang dimaksud banyak adalah: beratnya 377.419 Kg, atau jika air tersebut ditaruh dalam wadah dan diukur volumenya mencapai 3.5 jengkal panjang * 3.5 jengkal lebar * 3.5 jengkal tinggi, yakni 42.975 jengkal. Adapun jika ada air yang volume atau beratnya kurang dari itu, disebut dengan air sedikit.

Air sedikit juga memiliki beberapa hukum, yang di antaranya adalah:

1. Air sedikit akan menjadi najis jika terkena benda najis sesedikit apapun;

2. Air sedikit yang telah menjadi najis, jika tercampur dengan air yang banyak atau air yang mengalir, maka itu menjadi suci.

3. Air sedikit yang telah digunakan untuk mensucikan najis adalah najis hukumnya (air yang telah terbuang dan disiramkan ke najis).

Adapun hukum air yang banyak adalah:

1. Seluruh air murni (selain air yang sedikit) jika terkena benda najis, asal tidak berubah warna, bau dan rasanya, air itu tidak najis. Hukum ini berlaku untuk air yang mengalir seperti sungai, air hujan yang sedang dalam keadaan turun, dan juga air sumur.

Kriteria spesial yang dimiliki air hujan adalah:

1. Jika air hujan turun mengguyur suat benda atau tempat yang pernah terkena benda najis, namun benda najis itu sendiri sudah tidak ada, maka sekali terguyur itu akan suci;

2. Kita dapat menganggap karpet atau pakaian yang najis di bawah guyuran hujan dan semuanya dapat disucikan dengan sendirinya tanpa perlu kita peras;

3. Jika air hujan mengguyur tanah yang najis, maka tanah itu menjadi suci.

Tanah

Jika kita berjalan kaki, lalu sandal, sepatu atau telapak kaki telanjang kita menginjak benda najis, jika kita teruskan perjalanan sampai benda najis di telapak kaki sepatu atau sandal tidak terlihat lagi maka itu dihukumi telah suci. Jadi, tanah hanya dapat mensucikan telapak kaki dan juga bagian bawah sepatu atau sandal. Namun syarat-syaratnya:

1. Tanah sendiri harus suci;

2. Tanah harus kering;

3. Yang dimaksud tanah bisa mencakup tanah biasa, pasir, kerikil, lantai dari batu bata, dan lain sebagainya (yang masih tergolong dari tanah, bukan benda lain seperti aspal, karpet, lantai dari kayu, dst.).

Matahari

Matahari juga dapat mensucikan najis, namun ada syarat-syaratnya:

1 Yang dapat disucikan adalah tanah, dinding, pohon-pohonan, dan segala yang tidak dapat dipindahkan dengan mudah seperti kursi, meja, dst.;

2. Benda najis harus berupa cairan, yang sekiranya dengan teriknya matahari akan menguap dan menghilang karena kering;

3. Terik matahari harus mengena secara langsung, tidak bisa dalam keadaan mendung, atau sinar matahari melewati kaca, terpantul cermin, dll.;

4. Matahari dengan sendirinya yang telah membuatnya kering, tidak karena dibantu oleh angin atau faktor-faktor lainnya;

5. Jika benda najis yang berbentuk cair itu juga bersama dengan benda najis yang tidak cair, yang tidak cair harus dihilangkan dahulu, karena tidak akan bisa hilang begitu saja dengan terik sinar matahari;

6. Jika tanah, lantai atau dinding pernah terkena najis, namun sudah kering, dan ingin disucikan dengan matahari, kita dapat menyiramnya dengan sedikit air agar basah, lalu dikeringkan dengan sinar matahari.

Perubahan bentuk

Jika benda najis berubah menjadi bentuk lain, maka dapat dihukumi suci. Misalnya, bangkai yang telah berubah menjadi tanah; biji-bijian najis yang telah tumbuh menjadi tumbuhan; kayu najis yang terbakar hingga menjadi abu; air najis yang telah menjadi wap; dan seterusnya.

Berpindahnya benda najis

Contoh untuk masalah ini, adalah darah manusia yang dihisap oleh binatang yang tidak menyembur darahnya jika dipotong lehernya, seperti serangga. Jadi, jika sekor nyamuk menggigit kita, darah kita yang telah masuk ke dalam perutnya tidak najis; jika misalnya nyamuk itu hinggap di dinding lalu kita pukul; asal ia tidak dalam keadaan menghisap darah kita, karena itu tetap dihukumi najis.

Islam

Jika orang kafir mengucapkan dua syahadat dan menjadi Muslim, maka tubuh dan segala sesuatu yang pernah menjadi najis karena tersentuh olehnya, dalam keadaan basah misalnya, menjadi suci semua.

Taba’iyat

Yakni dengan sucinya suatu yang najis menyebabkan sucinya najis yang lain. Misalnya, anggur (minuman) terus direbus hingga menjadi cuka, maka wadahnya menjadi suci pula; mayat yang mulanya najis, setelah dimandikan, ranjang tempat pemandiannya pun menjadi suci pula; dan lain sebagainya.

Tak terlihatnya kembali benda najis

Singkatnya dapat dijelaskan dengan contoh ini, misalnya, seekor ayam pernah terlihat ada benda najis di paruhnya, namun esok harinya kita tidak melihatnya lagi, maka paruhnya dihukumi suci.

Istibra’ hewan pemakan najis

Terkadang ada hewan-hewan peliharaan yang terbiasa memakan kotoran, yakni benda najis. Air seni dan kotoran hewan-hewan itu dihukumi najis, meskipun hewan yang mulanya halal untuk dimakan. Untuk membuat mereka menjadi suci kembali, mereka perlu dikarantina. Yakni mereka dikurung dan hanya diberi makanan yang suci saja. Namun berapa lama? Demikian sebagian penjelasannya:

1. Unta = 40 hari;

2. Sapi = 20 hari;

3. Kambing = 10 hari;

4. Bebek = 5 hari;

5. Ayam = 3 hari…

Tidak terlihatnya seorang Muslim

Misalnya, jika kita memiliki seorang teman, ia Muslim, lalu pakaiannya terkena najis. Ia pun menyadari bahwa bajunya najis. Lalu ia meletakkannya di suatu tempat. Kemudian kita pergi dan tidak melihat teman kita ini selama beberapa hari. Pada suatu saat kita bertemu dengannya mengenakan pakaian yang pernah terkena najis itu. Di sini kita dapat memberi kemungkinan bahwa ia telah mensucikannya, maka kita dapat menganggapnya suci

Adzan

أَللهُ أَكْبَرُ

(Allōhu akbar) 4 kali

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أللهُ

(Asyhadu allā ilāha illallōh) 2 kali

أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

(Asyhadu anna Muhammadan rōsulullōh) 2 kali

أَشْهَدُ أَنَّ عَلِيًّا وَلِيُّ اللهِ

(Asyhadu anna ‘Aliyyan waliyullōh) 2 kali

حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ

(Hayya ‘alash Sholāh) 2 kali

حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ

(Hayya ‘alal falāh) 2 kali

حَيَّ عَلَى خَيْرِ الْعَمَلِ

(Hayya ‘alā khoiril ‘amal) 2 kali

أَللهُ أَكْبَرُ

(Allōhu akbar) 2 kali

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ

(Lā ilāha illallōh) 2 kali

Iqamah

أَللهُ أَكْبَرُ

(Allōhu akbar) 2 kali

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أللهُ

(Asyhadu allā ilāha illallōh) 2 kali

أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

(Asyhadu anna Muhammadan rōsulullōh) 2 kali

أَشْهَدُ أَنَّ عَلِيًّا وَلِيُّ اللهِ

(Asyhadu anna ‘Aliyyan waliyullōh) 2 kali

حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ

(Hayya ‘alash Sholāh) 2 kali

حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ

(Hayya ‘alal falāh) 2 kali

حَيَّ عَلَى خَيْرِ الْعَمَلِ

(Hayya ‘alā khoiril ‘amal) 2 kali

قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ

(Qod qōmatish sholāh) 2 kali

أَللهُ أَكْبَرُ

(Allōhu akbar) 2 kali

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ

(Lā ilāha illallōh) 1 kali

.

Doa-doa Am Sebelum Solat/ Selepas Azan


Adalah menjadi satu amalan yang sangat mustahab untuk melaungkan azan dan iqamah sebelum solat wajib harian. Di antara azan dan iqamah, seseorang itu boleh sujud, duduk dan bacalah doa ini:

“Ya Allah, jadikanlah hatiku lembut, hidupku makmur dan berikanlah aku rezeki yang berterusan, dan tetapkanlah bagi ku tempat di sisi kubur Nabi(sawa) untuk aku tinggal dan berehat dengan rahmat Mu, Wahai Yang Maha Pemurah Lagi Pengasihani”

Kemudian, mintalah apa sahaja hajat, kerana hajat antara Azan dan Iqamah tidak tertolak.

Doa Sebelum Takbiratul Ihram

“Aku hadapkan muka ku kepada Dia yang menciptakan langit dan bumi, dalam keadaan ku berserah diri,  terhadap Umat Ibrahim dan Muhammad serta petunjuk Amirul Mukminin- dan aku bukanlah dari kalangan musyrikin. Sesungguhnya solatku, ibadahku, hidup dan matiku adalah hanya untuk Allah, Tuhan sekalian alam. Tiadalah sekutu baginya. dan aku telah diperintahkan, dan aku adalah dari kalangan orang yang berserah diri. Ya Allah, jadikanlah aku dari kalangan orang-orang Muslim.

.
Nabi (s) bersabda “Sembahyanglah kamu sebagaimana kamu melihat aku mengerjakan sembahyang (Shahih Bukhari Klang Book Centre, hadis no. 1939)”.
.
Waktu-waktu Shalat dalam mazhab Syiah ialah:

1 – Waktu Shalat Subuh, dari terbit fajar hingga terbit matahari
2- Waktu Shalat Zuhur dan Asar, ketika matahari tegak di atas kepala hingga bergerak ke arah maghrib (barat)
3- Waktu Shalat Maghrib dan Isya’, selepas terbenam matahari hingga ke pertengahan malam.

Nabi (s) telah menghimpunkan shalat zuhur dalam waktu asar, asar dalam waktu zuhur (mengerjakan shalat zuhur 4 rakaat kemudian terus shalat asar 4 rakaat), maghrib dalam waktu isya’, dan Isya dalam waktu maghrib (mengerjakan shalat Maghrib 3 rakaat dan terus mengerjakan Isya’ 4 rakaat) bukan kerana ketakutan, bukan kerana peperangan atau bukan kerana perjalanan supaya tidak menyulitkan umatnya. Shalat seperti telah diamalkan oleh orang-orang Syiah sejak zaman Rasulullah (s). (Rujukan Sahih Muslim, cetakan Klang Book Centre, Hadis no 666 – 671.

                                                                                             
Hadis tentang Shalat itu ditemui juga dalam sahih Bukhari (Shahih Bukhari Klang Book Centre, hadis no. 307, 310).

Shalat Asar saat matahari belum tergelincir:

Shalat Asar sesudah Shalat Zuhur:
Syiah menjadikan tanah sebagai tempat meletakkan dahi ketika sujud. Dalam bahasa Arab kata kerja ‘Sajada’ di tambah mim dalam perkataan ‘Masjid’ adalah ‘isim makan’ (kata nama tempat) yang membawa maksud tempat sujud. Nabi (s) menjadikan bumi sebagai tempat sujud, dalam Sunan Tirmidzi cetakan Victory Agencie Kuala Lumpur 1993, jil 1 menyatakan nabi (s) ketika sujud, baginda meletakkan hidung dan wajah baginda di bumi:
Nabi juga memerintahkan supaya sujud di atas Turab (tanah):

.

Salam’alaikum. Artikel ini hanya menunjukkan cara-cara asas perlaksanaan solat yang diajar oleh Aimmah(as). Untuk permasalahan yang lebih detail, sila rujuk para marja’ masing-masing.

Beberapa peringatan sebelum solat

  • Untuk solat zuhur dan asar, maka semua bacaan hendaklah tidak di ziharkan(dikuatkan), atau semua bacaan hendaklah hanya dengan suara berbisik, sekurang-kurangnya didengari oleh diri sendiri, suara bisikan itu. Bacaan Bismillahirrahmanirrahim, sunat di ziharkan. Sebarang bacaan yang tidak sepatutnya diziharkan, tetapi dikuatkan dengan sengaja, maka ia membatalkan solat.
  • Untuk solat maghrib,isya’ dan subuh, maka segala bacaan perlu diziharkan termasuklah bacaan zikir ketika rukuk dan sujud, kecuali untuk bacaan Tasbih al Arba’ah selepas rakaat kedua, yang akan dibincangkan sebentar lagi. Sebarang bacaan yang wajib diziharkan, tetapi tidak dilakukan akan membatalkan solat.
  • Untuk setiap kali takbir, adalah mustahab untuk mengangkat tangan, seperti takbiratul ihram.

Tata Cara Shalat

1. Pertama sekali, berdirilah dengan tegak, menghadap Qiblat. Niatkan di dalam hati berkenaan dengan solat yang ingin anda lakukan, fardhu atau mustahab, serta nama solat, maghrib,isyaj,subuh,dll, atau jenis solat mustahab yang ingin dilakukan, seperti istigfar,taubat, witir dan lain-lain.

Pertama kali, berdirilah dengan posisi tegak sambil mengadap Kiblat. Berniatlah untuk melaksanakan shalat dan tentukan jenis shalat yang ingin Anda kerjakan (shalat Zhuhur, Ashar, Maghrib, Isya` atau Shubuh).

2. Angkatlah tangan sehingga ke telinga, dalam keadaan tapak tangan menghadap qiblat, seraya dengan itu, ucapkan

اللهُ أَكْبَرُ

Allahu Akbar(Allah Maha Besar dari segalanya).

Bacalah takbiratul ihram (Allāhu Akbar) dan bersamaan dengan itu angkatlah kedua tangan Anda seperti terlihat di gambar.

3. Kembalikan semula tangan di sisi kanan dan kiri, rapatkan jari-jari kita. Kemudiannya bacalah surah al Fatihah, seperti berikut:

َوَعَنْ عُبَادَةَ بْنِ اَلصَّامِتِ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِأُمِّ اَلْقُرْآنِ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْه

Dari Ubadah Ibnu al-Shomit bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Tidak sah sholat bagi orang yang tidak membaca Ummul Qur’an (al-fatihah).” Muttafaq Alaihi. -bulughul maram, hadits no. 295-

Bacalah surah Al-Fātihah sebagai berikut:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Dengan Nama Allah yang Maha Pemurah Lagi Maha Pengasihani

الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Segala puji hanya untuk Allah, tuhan sekalian alam

الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

yang Maha Pemurah Lagi Maha Pengasihani

مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ

Raja hari pembalasan

إيَّاكَ نَعْبُدُ وَ إيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ

Hanya kepadaMu kami sembah dan memohon pertolongan

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ

Tunjukkanlah kami jalan yang lurus.(mengikuti Ahlulbait)

صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ

iaitu jalan orang-orang yang Kau beri nikmat(Ahlulbait)

غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّيْنَ

bukanlah jalan orang-orang Kau murkai dan orang-orang yang sesat.

4.Kemudian bacalah satu surah sempurna dari sarah-surah Al Quran. Seperti:

قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ، اللهُ الصَّمَدُ، لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ، وَ لَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

(Qul huwallōhu ahad ▪ Allōhush shamad ▪ Lam yalid wa lam yūlad ▪ Wa lam yakul lahū kufuwan ahad)

ingat, baca surah yang lengkap sahaja, pembacaan surah-surah secara  setengah setengah akan membatalkan solat fardhu, bagaimanapun, untuk solat-solat mustahab yang tertentu, adalah dibenarkan.

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah Lagi Maha Pengasihani.

قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ

Katakanlah(wahai Muhammad) Allah itu Satu

اللهُ الصَّمَدُ

Hanya Allah sahaja yang kita perlukan

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ

Tidak beranak juga tidak diberanakkan

وَ لَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

Dan tiada apa yang menyerupaiNya

5.

Setelah selesai, ucapkan takbir, dan terus rukuk, iaitu satu posisi di mana badan dibongkokkan sehingga tangan boleh memegang kepala lutut. Setelah berada dalam keadaan ini, ucapkan zikir rukuk:

سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ

(Subhāna rabbiyal ‘azhīmi wa bihamdih)

Maha Suci Tuhanku, yang maha Agung, dan segala kepujian untukNya.

Cukup sekadar baca sekali sahaja, bagaimanapun, adalah sangat-sangat mustahab bagi kita untuk mengulangi bacaan ini atau dengan apa-apa zikir lain seperti Subhanallah , atau dengan bersolawat ke atas Nabi dan keluarga baginda.

6.

Kemudian bangunlah dari ruku’ . Setelah selesai membaca zikir untuk rukuk, kembali semula ke posisi berdiri tegak. Semasa anda bergerak semula ke posisi berdiri tegak ini, ucapkan::

سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ

(Sami’allahu liman hamidah); Didengari oleh Allah siapa yang memujiNya

7.Ucapkan takbir, kemudian terus ke posisi sujud.

waktu sujud baca:

سُبْحًانَ رَبِّيَ اْلأعْلَى وَبِحَمْدِهِ

(Subhāna rabbiyal a’lā wa bihamdih) ; Maha suci Tuhan, yang Maha Tinggi dan pujian ke atasNya.

.

Sila ambil perhatian: Syarat-syarat tempat sujud, yang diriwayatkan oleh para Aimmah(as), ialah seperti berikut.

  1. Tanah dan batu
  2. Benda atau hasil yang keluar dari tanah yang tidak digunakan untuk dibuat makanan dan pakaian.

Cukup sekadar bahagian dahi sahaja yang bersentuhan dengan bahan-bahan sujud ini. Bagaimanapun adalah mustahab jika menyertakan sekali dengan hidung.

Telapak tangan mestilah menyentuh lantai, dirapatkan jari-jari menunjuk ke arah kiblat.

Kaki mesti ditegakkan dengan jari-jarinya terpacak di atas lantai

8.

Kemudian duduklah di antara dua sujud. Duduklah dalam keadaan kaki kanan berada di atas telapak kaki kiri. baca :

أَسْتَغْفِرُ اللهَ رَبِّيْ وَ أتُوْبُ إلَيْهِ

(Astaughfirullaha rabbī wa atūbu ilaih) ; Aku memohon keampunan dari Allah dan kepadaNya aku bertaubat.

9.

Setelah selesai membaca, ucapkan takbir, dan Kemudian sujudlah untuk kedua kalinya, serta ulangi bacaan zikir ketika sujud seperti di (7).

10.

Duduklah sejenak setelah bangun dari sujud dan sebelum berdiri untuk melanjutkan rakaat berikutnya (kurang 1 saat) angkat takbir, dan terus berdiri tegak semula.

Berdirilah kembali untuk melaksanakan rakaat kedua , Ketika mahu berdiri itu, lafazkan(mustahab) sambil membaca:

بِحَوْلِ اللهِ وَ قُوَّتِهِ أَقُوْمُ وَ أَقْعُدُ

(Bihaulillāhi wa quwatihī aqūmu wa aq’ud) ; Dengan kekuatan Allah aku berdiri dan aku duduk.

11. Apabila telah berdiri, 

Dalam posisi berdiri itu, bacalah surah Al-Fātihah dan satu surah dari surah-surah Al-Quran.

 setelah selesai, angkat tangan untuk berdoa, dengan keadaan tangan berada di depan muka. Bacalah apa sahaja doa di dalam bahasa Arab.

Untuk solat fardhu, adalah diwajibkan untuk membaca qunut dalam bahasa Arab, manakala untuk solat mustahab(melainkan solat sunat tertentu) dibenarkan untuk melakukan pembacaan doa qunut di dalam bahasa masing-masing.

Sebelum Anda melaksanakan ruku’ untuk rakaat kedua, bacalah qunut. Di dalam qunut Anda bebas membaca doa sesuai dengan keinginan Anda. Seperti doa memintakan ampun untuk kedua orang tua:

رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَ لِوَالِدَيَّ وَ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِيْ صَغِيْرًا

(Rabbighfir lī wa liwālidaiyya war hanhumā kamā rabbayānī shaghīrā)

12.

Lakukanlah ruku’ dan bacalah bacaan ruku’ di atas.

Lalu berdirilah dari ruku’ sambil membaca bacaan di atas.

Kemudian sujudlah dan baca doa sujud di atas.

Kemudian duduklah di antara dua sujud seraya membaca bacaan di atas.

Lalu sujudlah untuk kedua kalinya dan baca bacaan sujud di atas.

apabila selesai bangun dari sujud kedua, terus ke posisi duduk, dan mulakan bacaan Tasyahud. Bacaannya seperti berikut:

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكََ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ، أَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَ آلِ مُحَمَّدٍ

Aku bersaksi bahawa tiada Tuhan selain Allah, yang satu dan tiada sekutunya, dan aku bersaksi bahawa Muhammad itu hamba dan RasulNya. Ya Allah, sampaikankah solawat pada Muhammad dan keluarga Muhammad.

(Asyhadu an lā ilāha illallōhu wahdahū lā syarīka lah ▪ Wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhū wa rasūluh ▪ Allōhumma shalli ‘alā Muhammadin wa Āli Muhammad)

Kemudian berdirilah sambil membaca bacaan ketika berdiri di atas. Untuk rakaat ketiga dan keempat, sebagai ganti dari surah Al-Fatihah, Anda dapat membaca bacaan berikut ini:

سُبْحَانَ اللهِ وَ الْحَمْدُ ِللهِ وَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَ اللهُ أَكْبَرُ

(Subhānallōh wal hamdulillāh wa lā ilāha illallōh wallōhu akbar).

Pada rakaat ketiga dan keempat ini Anda tidak perlu membaca surah apapun.

Setelah Anda selesai melaksanakan ruku’ dan sujud untuk kedua rakaat, Anda harus duduk untuk melaksanakan tasyahhud terakhir seraya membaca bacaan tasyahhud pertama di atas. Setelah itu, bacalah bacaan salam berikut sebagai penutup shalat Anda:

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْنَا وَ عَلىَ عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ

Assalāmu‘alaika ayyuhan nabiyyu wa rahmatullāhi wa barakātuh ▪ Assalāmu’alainā wa ‘alā ‘ibādillāhish shōlihīn ▪ Assalāmu’alaikum wa rahmatullāhi wa barakātuh).

Catatan!

Untuk shalat wajib yang kurang dari empat rakaat, seperti Maghrib dan Shubuh, hanya rakaat ketiga dan keempat yang dapat dihilangkan. Sementara rakaat kedua dan ketiga harus tetap dilaksanakan.

PERINGATAN BAGI TASYAHUD RAKAAT TERAKHIR

Jika anda sedang solat subuh maka ini merupakan rakaat terakhir anda. Bagi rakaat terakhir, selepas habis membaca tasyahud, maka haruslah terus disambung dengan bacaan salam, seperti berikut:

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْنَا وَ عَلىَ عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ

Setelah selesai ucapkanlah takbir 3x.

SAMBUNGAN BAGI SOLAT MAGHRIB, ISYA’, ZUHUR DAN ASAR

Untuk rakaat seterusnya, segala langkah adalah sama kecuali,cumanya untuk rakaat ketiga dan keempat, anda boleh memilih samada untuk membaca Al Fatihah atau Tasbih al Ar Baah, seperti berikut:

سُبْحَانَ اللهِ وَ الْحَمْدُ ِللهِ وَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَ اللهُ أَكْبَرُ

ulang sekurang-kurangnya 3 kali.

Sekian sahaja, jika ada soalan,komen atau pembetulan, harap boleh diberitahu.

Tatacara Shalat dalam Mazhab Syiah Ja’fariyah

Sholat adalah salah satu dari rukun-rukun islam yang sangat ditekankan kepada seluruh ummat islam untuk menjalankannya bahkan anjuran dari nabi besar Muhammad saw untuk tidak meninggalkannya, karena seluruh perbuatan baik dan buruk  tergantung pada yang satu ini. Jika sholat kita baik maka seluruh perbuatan kita juga akan baik, karena sholat yang kita lakukan setiap hari sebanyak lima waktu itu subuh, dzuhur, asar, magrib dan isya akan mencegah kita dari perbuatan jelek, namun sebaliknya jika kita mendirikan sholat dan masih juga melakukan hal yang tidak terpuji maka kita harus kembali pada diri kita masing-masing dan mengkoreksi kembali apakah sholat yang kita dirikan itu benar-benar sudah memenuhi syarat atau ketika kita mendirikannya, benak dan pikiran kita masih dikuasai atau diganggu oleh pikiran-pikiran selain Allah.


Pertama kali, berdirilah dengan posisi tegak sambil mengadap Kiblat. Berniatlah untuk melaksanakan shalat dan tentukan jenis shalat yang ingin Anda kerjakan (shalat Zhuhur, Ashar, Maghrib, Isya` atau Shubuh).

Bacalah takbiratul ihram (Allāhu Akbar) dan bersamaan dengan itu angkatlah kedua tangan Anda seperti terlihat di gambar.

Bacalah surah Al-Fātihah sebagai berikut:
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ، إيَّاكَ نَعْبُدُ وَ إيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ، اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ، صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّيْنَ
(Bismillāhirrohmānirrohīm ▪ Alhamdulillāhi robbil ‘Ālāmīn ▪ Arrohmānirrohīm ▪ Māliki yaumiddīn ▪ Iyyāka na’budu wa iyyāka nasta’īn ▪ Ihdinash shirōthol mustaqīm ▪ Shirōthol ladzīna an’amta ‘alaihim ghoiril maghdhūbi ‘alaihim waladh dhōllīn)

Kemudian bacalah satu surah sempurna dari sarah-surah Al Quran. Seperti:
قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ، اللهُ الصَّمَدُ، لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ، وَ لَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ
(Qul huwallōhu ahad ▪ Allōhush shamad ▪ Lam yalid wa lam yūlad ▪ Wa lam yakul lahū kufuwan ahad)

Setelah itu, ruku’lah dan baca:
سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ
(Subhā robbiyal ‘azhīmi wa bihamdih)

Kemudian bangunlah dari ruku’ sambil membaca:
سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ
(Sami’allōhu liman hamidah)

Setelah itu, sujudlah dan baca:
سُبْحًانَ رَبِّيَ اْلأعْلَى وَبِحَمْدِهِ
(Subhāna rabbiyal a’lā wa bihamdih)

Kemudian duduklah di antara dua sujud seraya membaca:
أَسْتَغْفِرُ اللهَ رَبِّيْ وَ أتُوْبُ إلَيْهِ
(Astaughfirullōha rabbī wa atūbu ilaih)

Kemudian sujudlah untuk kedua kalinya seraya membaca bacaan sujud di atas.
Duduklah sejenak setelah bangun dari sujud dan sebelum berdiri untuk melanjutkan rakaat berikutnya.

Berdirilah kembali untuk melaksanakan rakaat kedua sambil membaca:
بِحَوْلِ اللهِ وَ قُوَّتِهِ أَقُوْمُ وَ أَقْعُدُ
(Bihaulillāhi wa quwatihī aqūmu wa aq’ud)

Dalam posisi berdiri itu, bacalah surah Al-Fātihah dan satu surah dari surah-surah Al-Quran.

Sebelum Anda melaksanakan ruku’ untuk rakaat kedua, bacalah qunut. Di dalam qunut Anda bebas membaca doa sesuai dengan keinginan Anda. Seperti doa memintakan ampun untuk kedua orang tua:
رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَ لِوَالِدَيَّ وَ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِيْ صَغِيْرًا
(Rabbighfir lī wa liwālidaiyya war hanhumā kamā rabbayānī shaghīrā)

Lakukanlah ruku’ dan bacalah bacaan ruku’ di atas.
Lalu berdirilah dari ruku’ sambil membaca bacaan di atas.

Kemudian sujudlah dan baca doa sujud di atas.

Kemudian duduklah di antara dua sujud seraya membaca bacaan di atas.
Lalu sujudlah untuk kedua kalinya dan baca bacaan sujud di atas.

Setelah itu, duduklah dan baca bacaan tasyahhud pertama sebagai berikut:
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكََ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ، أَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَ آلِ مُحَمَّدٍ
(Asyhadu an lā ilāha illallōhu wahdahū lā syarīka lah ▪ Wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhū wa rasūluh ▪ Allōhumma shalli ‘alā Muhammadin wa Āli Muhammad)

Kemudian berdirilah sambil membaca bacaan ketika berdiri di atas. Untuk rakaat ketiga dan keempat, sebagai ganti dari surah Al-Fatihah, Anda dapat membaca bacaan berikut ini:
سُبْحَانَ اللهِ وَ الْحَمْدُ ِللهِ وَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَ اللهُ أَكْبَرُ
(Subhānallōh wal hamdulillāh wa lā ilāha illallōh wallōhu akbar).

Pada rakaat ketiga dan keempat ini Anda tidak perlu membaca surah apapun.
Setelah Anda selesai melaksanakan ruku’ dan sujud untuk kedua rakaat, Anda harus duduk untuk melaksanakan tasyahhud terakhir seraya membaca bacaan tasyahhud pertama di atas. Setelah itu, bacalah bacaan salam berikut sebagai penutup shalat Anda:
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْنَا وَ عَلىَ عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ
(Assalāmu‘alaika ayyuhan nabiyyu wa rahmatullāhi wa barakātuh ▪ Assalāmu’alainā wa ‘alā ‘ibādillāhish shōlihīn ▪ Assalāmu’alaikum wa rahmatullāhi wa barakātuh).

Catatan!
Untuk shalat wajib yang kurang dari empat rakaat, seperti Maghrib dan Shubuh, hanya rakaat ketiga dan keempat yang dapat dihilangkan. Sementara rakaat kedua dan ketiga harus tetap dilaksanakan.

40 Hadis Shalat



بسم الله الرحمن الرحيم

allahumma bihaqi muhammadin wa aali muhammadin alaihi sholli ala muhammad wa aali muhammad warzukna wawalidaina wa azwajana wa auladana wa duryatina mimba’dina hubba muhammad wa aali muhammad Allahuma ahyina ala dzalik wa amitsna ala dzalik wa surna fi zumratim man ahabba muhammada wa ala muhammad ma’a muhammadin wa aalihi ya karim

40 Hadis Shalat

Hadis Pertama: Urgensitas Shalat

أول ما افترض الله على أمتي الصلوات الخمس وأول ما يرفع من أعمالهم الصلوات الخمس وأول ما يسألون عنه الصلوات الخمس

Rasulullah saw bersabda:

“Hal pertama yang diwajibkan oleh Allah swt atas umatku adalah shalat lima waktu, hal pertama yang diangkat dari amalan-amalan mereka adalah shalat lima waktu, dan hal pertama yang dipertanyakan kepada mereka adalah shalat lima waktu.” [Kanzul ‘Ummal, jilid 7, hadis 18859]

Hadis Kedua: Shalat Dan Tiang Agama

عن أبي جعفر عليه السلام قال: بني الاسلام على خمسة أشياء: على الصلاة، والزكاة، والحج، والصوم، والولاية

Dari Abi Ja’far (Imam Baqir) as berkata:

“Islam dibangun di atas lima hal: Shalat, zakat, haji, puasa dan wilayah (kepemimpinan atau imamah).” [Bihar, jilid 79, hal 234]

Hadis Ketiga: Perumpamaan Shalat

عن أبي جعفر عليه السلام قال: الصلاة عمود الدين، مثلها كمثل عمود الفسطاط إذا ثبت العمود ثبتت الاوتاد والاطناب، وإذا مال العمود وانكسر لم يثبت وتد ولا طنب

Dari Abi Ja’far as berkata:

“Shalat adalah tiang agama, perumpamaannya seperti tiang kemah, bila tiangnya kokoh maka paku dan talinya akan kokoh, dan bila tiangnya miring dan patah maka paku dan talinya pun tidak akan tegak.” [Bihar, jilid 82, hal 218]

Hadis Keempat: Shalat Penyebab Kebahagiaan

قال رسول الله صلي الله عليه و اله: خمس صلوات من حافظ عليهن كانت له نورا وبرهانا ونجاة يوم القيامة

Rasulullah saw bersabda:

“Barangsiapa yang menjaga shalat lima waktu maka ia akan memperoleh cahaya, burhan dan keselamatan pada hari kiamat kelak.” [Kanzul ‘Ummal, jilid 7, hadis 18862]

Hadis Kelima: Shalat dan Cahaya Hati

صلاة الرجل نور في قلبه فمن شاء منكم فلينور قلبه

Rasulullah saw bersabda:

“Shalat seseorang adalah cahaya di hatinya dan barangsiapa di antara kalian yang berkeinginan maka hendaknya ia menyinari hatinya dengan cahaya.” [Kanzul ‘Ummal, jilid 7, hadis 18973]

Hadis Keenam: Shalat Parameter Penerimaan Amal Perbuatan

قال الصادق (عليه السلام): أوّل ما يحاسب به العبد الصلاة، فإن قبلت قبل سائر علمه، وإذا ردّت ردّ عليه سائر عمله

Imam Ja’far Shadiq as berkata:

“Hal pertama yang akan dihisab (diperhitungkan) dari seorang hamba adalah shalat, jika shalatnya diterima maka seluruh amalnya akan diterima dan jika shalatnya ditolak maka seluruh amalnya akan ditolak.” [Wasa’il Al-Syi’ah, jilid 3, hal 22]

Hadis Ketujuh: Shalat dan Metode Para Nabi

قال صلى الله عليه واله: الصلاة من شرايع الدين، وفيها مرضاة الرب عزوجل، فهي منهاج الانبياء

Rasulullah saw bersabda:

“Shalat adalah termasuk dalam syareat agama, dan di dalamnya terdapat keridhaan Tuhan swt, dan shalat adalah metode para nabi.” [Bihar, jilid 82, hal 231]

Hadis Kedelapan: Shalat Bendera Islam

قال النبي صلى الله عليه واله: علم الإسلام الصلاة فمن فرغ لها قلبه وحافظ عليها بحدها ووقتها وسننها فهو مؤمن

“Bendera Islam adalah shalat, maka barangsiapa memberikan hatinya untuknya dan menjaganya dengan batasan dan waktunya serta sunah-sunnahnya maka ia adalah seorang mukmin (hakiki).” [Kanzul ‘Ummal, jilid 7, hadis 18870]

Hadis Kesembilan: Shalat dan Effesiensinya

قال الصادق ( عليه السلام ) ـ في حديث ـ : إنّ ملك الموت يدفع الشيطان عن المحافظ على الصلاة ، ويلقّنه شهادة أن لا إله إلا الله ، وأنّ محمّداً رسول الله ، في تلك الحالة العظيمة

Imam Ja’far Shadiq as berkata:

“Sesunguhnya malaikat kematian (pencabut nyawa) menghalau syetan dari orang yang menjaga shalat dan mentalqinkan (mendektekan) kepadanya kesaksian bahwa tiada tuhan selain Allah dan sesungguhnya Nabi Muhammad saw adalah Rasulullah (utusan Allah) dalam kondisi menakutkan tersebut.” [Wasa’il Al-Syi’ah, jilid 3, hal 19]

Hadis Kesepuluh: Shalat dan Anak-anak

قال الباقر عليه السلام: إنّا نأمر صبياننا بالصلاة إذا كانوا بني خمس سنين ، فمروا صبيانكم بالصلاة إذا كانوا بني سبع سنين

Imam Baqir as berkata:

“Sesungguhnya kami memerintahkan anak-anak kami untuk shalat bila mereka mencapai usia lima tahun, maka perintahkanlah anak-anak kalian untuk shalat bila mereka mencapai usia tujuh tahun.” [Wasa’il Al-Syi’ah, jilid 3, hal 12]

Pasal Kedua

Urgensitas dan Keutamaan Shalat

Hadis Kesebelas: Nilai Shalat

قال الصادق عليه السلام: صلاة فريضة خير من عشرين حجة وحجة خير من بيت مملو ذهبا يتصدق منه حتى يفني أو حتى لا يبقي منه شئ

Imam Ja’far Shadiq as berkata:

“Shalat wajib lebih baik dari dua puluh haji dan haji satu kali lebih baik dari sebuah rumah berisikan penuh dengan emas yang disedekahkan sehingga habis atau tidak tersisa sedikitpun juga.” [Bihar, jilid 82, hal 227]

Hadis Kedua Belas: Keutamaan Shalat

قال أمير المؤمنين عليهم السلام: اوصيكم بالصلاة وحفظها، فانها خير العمل وهي عمود دينكم

Amirul Mukminin Ali as berkata:

“Aku wasiatkan kepada kalian akan shalat dan menjaganya, karena sesungguhnya shalat adalah sebaik-baik amal dan ia adalah tiang agama kalian.” [Bihar, jilid 82, hal 209]

Hadis Ketiga Belas: Urgensitas Shalat

قال النبي صلى الله عليه واله: ما من صلاة يحضر وقتها إلا نادى ملك بين يدي الناس [أيها الناس] قوموا إلى نيرانكم التي أو قدتموها على ظهوركم فأطفئوها بصلاتكم

Nabi saw bersabda:

“Tidak ada satu shalat pun yang tiba waktunya kecuali satu malaikat menyeru di antara manusia (Wahai manusia) bangkitlah menuju api-api yang kalian nyalakan di hadapan kalian sendiri maka padamkanlah api tersebut dengan shalat kalian.” [Bihar, jilid 82, hal 209]

Hadis Keempat Belas: Berkah Shalat

عن علي عليه السلام قال: إن الانسان إذا كان في الصلاة فان جسده وثيابه وكل شئ حوله يسبح

Imam Ali as berkata:

“Sesungguhnya manusia apabila berada dalam kondisi shalat maka tubuh, pakaian dan segala sesuatu di sekitarnya akan bertasbih.” [Bihar, jilid 82, hal 213]

Hadis Kelima Belas: Kedudukan Shalat

قال النبي صلى الله عليه واله: موضع الصلاة من الدين كموضع الرأس من الجسد

Rasulullah saw bersabda:

“Kedudukan shalat dari agama adalah seperti kedudukan kepala dari badan.” [Kanzul ‘Ummal, jilid 7, hadis 18972]

Hadis Keenam Belas: Shalat dan Kesucian Jiwa

قال النبي صلى الله عليه واله: مثل الصلوات الخمس كمثل نهر جار عذب على باب أحدكم يغتسل فيه كل يوم خمس مرات فما يبقى ذلك من الدنس

Rasulullah saw bersabda:

“Perumpamaan shalat lima waktu adalah seperti sebuah sungai tawar yang mengalir di sisi pintu rumah salah seorang di antara kalian yang setiap harinya ia mandi lima kali, maka tidak tertinggal sedikitpun kotoran (di badannya, artinya barangsiapa yang sehari semalam mendirikan shalat lima waktu juga maka ia akan terbebas dari kotoran-kotoran jiwa dan ruh).” [Kanzul ‘Ummal, jilid 7, hadis 18931]

Hadis Ketujuh Belas: Shalat dan Ikatan Janji dengan Allah swt

روي عن النبي صلى الله عليه واله قال: قال الله تعالى: افترضت على أمتك خمس صلوات وعهدت عندي عهدا أنه من حافظ عليهن لوقتهن أدخلته الجنة ومن لم يحافظ عليهن فلا عهد له عندي

Dari Rasulullah saw:

“Allah swt berfirman: Aku telah mewajibkan shalat lima waktu kepada umatmu dan Aku ikatkan sebuah perjanjian di sisiKu bahwa barangsiapa yang menjaganya pada waktu-waktunya maka Aku akan memasukkannya ke dalam surga, dan barangsiapa yang tidak menjaganya maka tidak ada ikatan perjanjian untuknya di sisiKu.” [Kanzul ‘Ummal, jilid 7, hadis 18872]

Hadis Kedelapan Belas: Shalat dan Mengingat Allah swt

“روي عن الباقر عليه السلام أنه قال: ذكر الله لاهل الصلاة أكبر من ذكرهم إياه، ألا ترى أنه يقول: “اذكروني أذكركم

Dari Imam Baqir as berkata:

“Ingatan Allah swt untuk orang-orang yang mendirikan shalat lebih besar dari ingatan mereka kepada Allah, apakah engkau tidak melihat bahwa Allah swt berfirman:

فاذكروني أذكركم واشكروا لي ولا تكفرون

“Maka ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu.” (QS. Al-Baqarah (2): 152) [Bihar, jilid 82, hal 199]

Hadis Kesembilan Belas: Shalat dan Rahmat Allah swt

قال أمير المؤمنين عليه السلام: إذا قام الرجل إلى الصلاة أقبل إليه إبليس ينظر إليه حسدا لما يرى من رحمة الله التي تغشاه

Imam Ali as berkata:

“Jika seseorang berdiri melaksanakan shalat maka Iblis menghadap kepadanya sambil memandangnya dengan hasud karena melihat rahmat yang menyelimutinya.” [Bihar, jilid 82, hal 207]

Hadis Kedua Puluh: Shalat dan Meninggalkan Dosa

وروي أن فتى من الانصار كان يصلي الصلاة مع رسول الله صلى الله عليه واله ويرتكب الفواحش، فوصف ذلك لرسول الله صلى الله عليه واله فقال: إن صلاته تنهاه يوما ما، فلم يلبث أن تاب

Diriwayatkan bahwa seorang pemuda dari kaum Anshar malaksanakan shalat bersama Rasulullah saw dan tetap melakukan hal-hal buruk, maka hal tersebut dilaporkan kepada Rasulullah saw, maka Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya suatu hari shalatnya akan mencegahnya, maka tidak berselang lama ia bertaubat. [Bihar, jilid 82, hal 198]

Pasal Ketiga

Urgensitas Waktu Shalat

Hadis Kedua Puluh Satu: Bagaimana dan Kapan Kita Mendirikan Shalat?

قال أبو عبد الله عليه السلام إذا صليت صلاة فريضة فصلها لوقتها صلاة مودع يخاف أن لا يعود إليها

Imam Ja’far Shadiq as berkata:

“Apabila engkau melaksanakan shalat wajib maka shalatlah pada (awal) waktunya seperti shalat orang yang ingin berpisah, takut tidak akan kembali lagi.” [Mahajjatul Baidha’, jilid 1, hal 350]

Hadis Kedua Puluh Dua: Urgensitas Waktu Shalat

قال النبي صلى الله عليه واله: قال الله عز و جل: إن لعبدي علي عهدا إن أقام الصلاة لوقتها أن لا أعذبه وأن أدخله الجنة بغير حساب

Nabi saw bersabda:

Allah swt berfirman: Sesungguhnya hamba-Ku memiliki sebuah perjanjian atas-Ku jika ia mendirikan shalat pada waktunya maka Aku tidak akan mengazabnya dan Aku akan memasukkannya ke surga dengan tanpa hisab.” [Kanzul ‘Ummal, jilid 7, hadis 19036]

Hadis Kedua Puluh Tiga: Nabi saw dan Shalat Awal Waktu

عن عائشة قالت: كان رسول الله صلى الله عليه و اله يحدثنا و نحدثه فاذا حضرت الصلوة فكأنه لم يعرفنا و لم نعرفه اشتغالا بعظمة الله

Dari Aisyah berkata:

Rasulullah saw sedang berbincang-bincang dengan kita maka ketika tiba waktu shalat seakan-akan beliau saw tidak mengenal kita dan kita tidak mengenalnya karena sibuk dengan kebesaran Allah.” [Mahajjatul Baidha’, jilid 1, hal 350]

Hadis Kedua Puluh Empat: Shalat Pada Waktunya

عن أبي عبد الله عليه السلام قال: إن العبد إذا صلى الصلاة لوقتها وحافظ عليها ارتفعت بيضاء نقية تقول حفظتني حفظك الله، وإذا لم يصلها لوقتها ولم يحافظ عليها رجعت سوداء مظلمة تقول: ضيعتني ضيعك الله

Imam Ja’far Shadiq as berkata:

“Sesungguhnya seorang hamba jika shalat pada waktunya dan menjaganya maka (dengan bentuk) seberkas cahaya putih bersih naik ke atas sambil berkata: Engkau telah menjagaku maka semoga Allah swt menjagamu, dan bila tidak melaksanakan shalat pada waktunya dan tidak memperhatikannya maka akan kembali kepadanya (dengan bentuk) kegelapan pekat sambil berkata: Engkau telah menyia-nyiakanku maka semoga Allah swt menyia-nyiakanmu.” [Maajjatul Baidha’, jilid 1, hal 340]

Hadis Kedua Puluh Lima: Keutamaan Shalat Pada Waktunya

قال النبي صلى الله عليه واله: أحب الأعمال إلى الله الصلاة لوقتها ثم بر الوالدين ثم الجهاد في سبيل الله

Rasulullah saw bersabda:

“Amalan yang paling dicintai oleh Allah swt adalah shalat pada waktunya, kemudian berbakti kepada kedua orang tua, kemudian jihad di jalan Allah swt.” [Kanzul ‘Ummal, jilid 7, hadis 18897]

Pasal Keempat

Lalai Dalam Shalat dan Meninggalkannya

Hadis Kedua Puluh Enam: Meremehkan Shalat

قال النبي صلى الله عليه واله: ليس مني من استخف بصلاته، لا يرد على الحوض لا والله

Nabi saw bersabda:

“Bukan dariku orang yang meremehkan shalatnya, ia tidak akan masuk telaga Kautsar kepadaku, tidak demi Allah.” [Bihar, jilid 82, hal 224]

Hadis Kedua Puluh Tujuh: Merendahkan Shalat

قال الصادق عليه السلام: شفاعتنا لا تنال مستخفا بصلاته

Imam Ja’far Shadiq as berkata:

“Syafa’at kita tidak akan mengena orang yang meremehkan shalatnya.” [Bihar, jilid 82, hal 227]

Hadis Kedua Puluh Delapan: Menyia-nyiakan Shalat

قال النبي صلى الله عليه واله: لا تضيعوا صلاتكم فان من ضيع صلاته حشره الله مع قارون وفرعون وهامان

Nabi saw bersabda:

“Janganlah kalian menyia-nyiakan shalat kalian, karena sesungguhnya barangsiapa yang menyia-nyiakan shalatnya maka Allah swt akan mengumpulkannya bersama Qarun dan Fir’aun serta Haman (Menteri dan Pembantu).” [Bihar, jilid 82, hal 202]

Hadis Kedua Puluh Sembilan: Shalat Tidak Sempurna dan Nabi saw

عن أبي جعفر (عليه السلام) قال: بينا رسول الله (صلّى الله عليه وآله) جالس في المسجد إذ دخل رجل فقام يصلّي فلم يتمّ ركوعه ولا سجوده، فقال رسول الله (صلّى الله عليه واله): نقر كنقر الغراب لئن مات هذا وهكذا صلاته ليموتنّ على غير ديني

Imam Baqir as berkata:

“Ketika Rasulullah saw sedang duduk di masjid, masuklah seorang laki-laki, lalu ia berdiri dan shalat, tetapi ia tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya, maka Rasulullah saw bersabda: Ia telah mematuk seperti patukan burung gagak, bila orang ini meninggal dunia sementara shalatnya seperti ini maka ia akan meninggal bukan di atas agamaku.” [Mahajjatul Baidha’, jilid 1, hal 340]

Hadis Ketiga Puluh: Lalai Dalam Shalat

قال رسول الله صلى الله عليه واله: الصلاة عماد الدين، فمن ترك صلاته متعمدا فقد هدم دينه، ومن ترك أوقاتها يدخل الويل، والويل واد في جهنم كما قال الله تعالى: “ويل للمصلين الذين عن صلاتهم ساهون”

Rasulullah saw bersabda:

“Shalat adalah tiang agama, maka barangsiapa yang meninggalkan shalatnya secara sengaja maka ia telah menghancurkan agamanya, dan barangsiapa meninggalkan waktu-waktunya maka ia akan memasuki wail, dan wail adalah sebuah lembah di neraka Jahannam sebagaimana Allah swt berfirman:

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ

“Maka wail bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya” {QS. Al-Maa’uun (107): 4 dan 5} [Bihar, jilid 82, hal 202]

Hadis Ketiga Puluh Satu: Hasil Meninggalkan Shalat

قال رسول الله صلی الله عليه و اله: لا تتركن الصلاة متعمدا فإنه من ترك الصلاة متعمدا فقد برئت منه ذمة الله ورسوله

Rasulullah saw bersabda:

“Janganlah meninggalkan shalat dengan sengaja karena sesungguhnya barangsiapa yang meninggalkan shalat dengan sengaja maka ia akan terlepas dari tanggungan (jaminan) Allah swt dan Rasul-Nya saw.” [Kanzul ‘Ummal, jilid 7, hadis 19096]

Hadis Ketiga Puluh Dua: Meninggalkan Shalat

قال صلى الله عليه واله: من ترك صلاة لا يرجو ثوابها، ولا يخاف عقابها، فلا ابالي أيموت يهوديا أو نصرانيا أو مجوسيا

Rasulullah saw bersabda:

“Barangsiapa meninggalkan sebuah shalat karena tidak mengharap pahalanya dan tidak takut akan balasannya maka akupun tidak memperdulikan apakah ia akan meniggal dunia dalam keadaan Yahudi atau Nasrani atau Majusi.” [Bihar, jilid 82, hal 202]

Hadis Ketiga Puluh Tiga: Meninggalkan Shalat dan Kekafiran

قال صلى الله عليه واله: من ترك صلاته حتى تفوته من غير عذر، فقد حبط عمله، ثم قال: بين العبد وبين الكفر ترك الصلاة

Rasulullah saw bersabda:

“Barangsiapa yang meninggalakan shalatnya sehingga melewatkan waktunya tanpa alasan maka amalnya terputus, kemudian beliau saw bersabda: Antara seorang hamba dan kekafiran adalah meninggalkan shalat.” [Bihar, jilid 82, hal 202]

Hadis Ketiga Puluh Empat: Balasan Meninggalkan Shalat

قال رسول الله صلی الله علیه و اله: من ترك الصلاة متعمدا كتب اسمه على باب النار ممن يدخلها

Rasulullah saw bersabda:

“Barangsiapa yang meninggalkan shalat secara sengaja maka namanya akan ditulis di atas pintu neraka di antara orang yang akan memasukinya.” [Kanzul ‘Ummal, jilid 7, hadis 19090]

Pasal Kelima

Adab dan Syarat-syarat Diterimanya Shalat

Hadis Ketiga Puluh Lima: Shalat dan Syarat-syarat Penerimaannya

عن أبي عبد الله عليه السلام قال: قال الله تبارك وتعالى: إنما أقبل الصلاة لمن تواضع لعظمتي، ويكف نفسه عن الشهوات من أجلي، ويقطع نهاره بذكري، ولا يتعاظم على خلقي، ويطعم الجايع ويكسو العاري، ويرحم المصاب، ويؤوي الغريب

Imam Ja’far Shadiq as berkata:

“Allah swt berfirman: Sesungguhnya Aku menerima shalat orang yang merendah diri karena kebesaran-Ku, menahan dirinya dari hawa nafsu kerena-Ku, mengakhiri siangnya dengan mengingat-Ku, tidak membesarkan diri atas makhluk-Ku, memberi makan orang lapar dan memberi pakaian orang yang tidak berpakaian, berbelas kasihan kepada orang yang tertimpa musibah dan memberikan perlindungan kepada orang yang asing.” [Bihar, jilid 66, hal 391]

Hadis Ketiga Puluh Enam: Neraca Penerimaan Shalat

عن أبي عبد الله عليه السلام قال: من أحب أن يعلم أقبلت صلاته أم لم تقبل، فلينظر هل منعته صلاته عن الفحشاء والمنكر؟ فبقدر ما منعته قبلت منه

Dari Abi Abdillah (Imam Ja’far Shadiq) as berkata:

“Barangsiapa ingin mengetahui apakah shalatnya diterima atau tidak maka hendaknya ia melihat apakah shalatnya mencegahnya dari kekejian dan kemungkaran? Maka seukuran yang dapat mencegahnya, shalatnya diterima. [Bihar, jilid 82, hal 198]

Hadis Ketiga Puluh Tujuh: Shalat Dan Wilayah Kepada Ahlul Bait

قال رجل لزين العابدين عليه السلام: ما سبب قبولها؟ قال: ولايتنا والبراءة من أعدائنا

Seseorang berkata kepada Imam Ali Zainal Abidin: Apakah sebab diterimanya shalat? Beliau as menjawab: Wilayah kami dan berlepas diri dari musuh-musuh kami. [Bihar, jilid 84, hal 245]

Hadis Ketiga Puluh Delapan: Shalat Wajib Dan Sunnah

عن أبي جعفر (عليه السلام) قال: إنّ العبد ليرفع له من صلاته نصفها أو ثلثها أو ربعها أو خمسها، فما يرفع له إلاّ ما أقبل عليه منها بقلبه، وإنّما أمرنا بالنافلة ليتمّ لهم بها ما نقصوا من الفريضة

Imam Baqir berkata:

Sesungguhnya shalat seorang hamba akan diangkat (diterima) setengah, sepertiga, seperempat dan seperlimanya maka tidak diangkat shalatnya kecuali apa yang dihadapkan dengan hatinya. Dan diperintahkan untuk mengerjakan shalat-shalat sunnah untuk menyempurnakan apa-apa yang kurang dari shalat wajib. [Al-Haqa’iq, Marhum Faidh Kasyani, hal 219]

Hadis Ketiga Puluh Sembilan: Shalat Dengan Azhan Dan Iqamah

قال أبو عبدالله ( عليه السلام ) : من صلى بإذان وإقامة صلى خلفه صفان من الملائكة، ومن صلى بإقامة بغير أذان صلى خلفه صف واحد من الملائكة، قلت له: وكم مقدار كل صف؟ فقال: أقله ما بين المشرق الى المغرب، وأكثره ما بين السماء والأرض

Imam Ja’far Ash-Shadiq as berkata:

Barangsiapa mendirikan shalat dengan azhan dan iqamah maka dua baris malaikat akan shalat di belakangnya, dan barangsiapa shalat dengan iqamah saja tanpa azhan maka satu barisan malaikat akan shalat di belakangnya.

Perawi bertanya: Berapakah jumlah setiap barisan?

Imam as menjawab: Paling sedikitnya antara masyriq (arah timur) dan maghrib (arah barat) dan paling banyaknya antara langit dan bumi. [Wasail Asy-Syiah, jilid 4, hal 620]

Hadis Keempat Puluh: Shalat Dan Doa

قال أبو عبد الله عليه السلام: إن الله عزوجل فرض عليكم الصلواة الخمس في أفضل الساعات، فعليكم بالدعاء في أدبار الصلوات

Imam Ja’far Ash-Shadiq as berkata:

Sesungguhnya Allah swt mewajibkan shalat lima waktu atas kalian pada waktu-waktu paling utama, maka hendaknya kalian berdoa setelah selesai shalat-shalat tersebut. [Al-Khishal, jilid 1, hal 278]

.

Mengapa Sujud di Atas Tanah?



Sujud secara bahasa berarti al-khudû’, yakni tunduk atau merendahkan diri. Sedangkan sujud dalam shalat bermakna meletakkan dahi di atas tanah. Inilah wujud peribadatan dan “penghinaan” seorang makhluk di hadapan Khalik. Sampai-sampai disebutkan dalam riwayat, “Keadaan paling dekat antara seorang hamba kepada Allah adalah ketika sujud.”

Karenanya menurut saya, shalat sejatinya bukanlah bacaan surah pendek yang lama (apalagi dilama-lamakan), tapi justru sujud yang lama. Kepala atau dahi dilambangkan sebagai bagian yang dimuliakan. Padahal hakikatnya manusia hanya diciptakan dari tanah (turâb, ardh) bahkan tanah hitam. Kesombongan manusia itu dihancurkan dengan menaruh lambang kemuliaan (dahi) ke tempat aslinya (tanah) di hadapan Sang Pencipta.

Sujud dalam Fikih dan Sejarah

Dalam fikih Syiah Ahlul Bait, sujud di atas tanah merupakan perintah Rasulullah dan para imam Ahlul Bait as. Dalam Fiqh Al-Imâm Ja’far diriwayatkan bahwa seseorang bertanya kepada Imam Jakfar tentang tempat yang boleh dijadikan tempat sujud. Lalu dijawab, “Tidak boleh sujud kecuali di atas ardh (tanah, bumi) atau yang tumbuh di bumi, kecuali yang dimakan atau dipakai.”

Orang itu bertanya apa sebabnya, kemudian Imam menjawab, “Sujud merupakan ketundukan kepada Allah, maka tidaklah layak dilakukan di atas apa yang boleh dimakan dan dipakai, karena anak-anak dunia adalah hamba dari apa yang mereka makan dan mereka pakai, sedangkan sujud adalah dalam rangka beribadah kepada Allah…” Hal ini sesuai dengan perintah Nabi Muhammad dalam Shahîh Al-Bukhârî:

جعلت لي الأرض مسجداً وطهوراً

“Dijadikannya tanah bagiku sebagai tempat sujud dan suci.” Artinya tanah bukan saja mensucikan untuk bertayamum tapi juga sebagai tempat sujud. Dalam segala kondisi Nabi selalu sujud di atas tanah. Pernah ketika terjadi hujan di bulan Ramadan, masjid Nabi yang beratapkan pelepah kurma menjadi becek. Abu Said Al-Khudri dalam riwayat Bukhari berkata, “Aku melihat Rasulullah dikening dan hidungnya terdapat bekas lumpur.”

Dalam kondisi panas, beberapa sahabat seperti Jabir bin Abdullah Al-Anshari biasanya akan menggenggam dan membolak-balikkan kerikil agar dingin sebelum digunakan untuk sujud. Sedangkan beberapa sahabat yang lain mengadu kepada Nabi, tapi tidak ditanggapi.

عن خباب بن الأرت قال شكونا إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم شده الرمضاء في جباهنا وأكفنا فلم يشكنا

Khabab bin Al-Arat berkata, “Kami mengadu kepada Rasulullah saw. tentang sangat panasnya dahi kami (saat sujud), tapi beliau tidak menanggapi pengaduan kami.” (HR. Al-Baihaqi) Tapi ada juga sahabat yang mencari-cari kesempatan untuk sujud di atas kain, tapi ketahuan Rasul, sebagaimana juga diriwayatkan dalam Sunan Al-Baihaqî:

عن عياض بن عبد الله القرشي قال رأى رسول الله صلى الله عليه وسلم رجلا يسجد على كور عمامته فأوما بيده ارفع عمامتك وأومأ إلى جبهته

Iyad bin Abdullah Al-Quraisyi berkata, “Rasulullah saw melihat seseorang sujud di atas lilitan serbannya. Maka beliau memberi isyarat dengan tangannya untuk mengangkat serbannya sambil menunjuk pada dahinya.” Mungkin karena riwayat di atas dan banyak riwayat lainnya sehingga Imam Syafii pun mengatakan bahwa seseorang harus sujud di atas tanah:

وَلَوْ سَجَدَ على رَأْسِهِ ولم يُمِسَّ شيئا من جَبْهَتِهِ الْأَرْضَ لم يَجْزِهِ السُّجُودُ وَإِنْ سَجَدَ على رَأْسِهِ فَمَاسَّ شيئا من جَبْهَتِهِ الْأَرْضَ أَجْزَأَهُ السُّجُودُ إنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى

“Apabila seseorang sujud dan dahinya sama sekali tidak menyentuh tanah, maka sujudnya dianggap tidak sah. Tetapi jika seseorang sujud dan bagian dahinya menyentuh tanah (al-ardh), maka sujudnya dianggap cukup dan sah, Insya Allah Taala.” (Al-Umm, 1/114)

Artinya, menurut mazhab Imam Syafii seseorang ketika sujud dahinya harus menyentuh tanah. Tapi apakah orang Syiah protes ketika teman-teman bermazhab Syafii sujud di atas sajadah yang terbuat dari kain bahkan bahan sintetis? Lalu kenapa ada yang protes (bahkan menyebutnya musyrik) ketika orang Syiah sujud di atas tanah padahal itu sesuai dengan fikih mereka yang diajarkan Ahlul Bait?!

Meski demikian Rasulullah saw. memberikan keringanan untuk sujud di atas setiap benda yang tumbuh di atas tanah, jika memang cuaca sangat panas atau sangat dingin. Terkadang Rasul menggunakan khumrah (semacam tikar kecil) dan terkadang karena uzur/darurat beliau mengizinkan sahabat untuk menarik serbannya. Artinya selama bisa sujud di atas tanah, maka Rasul melarang (seperti dalam riwayat Al-Baihaqi).

Turbah Al-Husain

Sebuah blog menyebut Syiah sebagai penyembah berhala. Hal itu karena mereka tidak memahami dengan benar makna “muslim”. Ketika seseorang bersyahadat dan menjadi Muslim, maka yang disembah adalah Allah. Sedangkan syirik adalah menyembah selain Allah. Bagaimana mungkin menjadi musyrik dan menyembah berhala padahal dalam shalatnya ia bertakbir, tahmid, tahlil, salawat dan seterusnya? Tentu kalian tidak ingin disebut sebagai penyembah berhala karena sujud di atas kain sajadah, ‘kan?

Turbah hanyalah sebuah lempengan tanah tempat orang-orang Syiah “sujud di atasnya” (masjûd ‘alaih) bukan “sujud kepadanya” (masjûd lahu). Lalu mengapa tanah Karbala atau turbatul Husain yang dipilih?

Pertama, yang diwajibkan adalah sujud di atas tanah atau yang tumbuh dari bumi kecuali yang dapat dimakan atau dipakai. Jadi menurut saya, tidak ada kewajiban untuk sujud di atas tanah Karbala. Kedua, menjadikan tanah Karbala sebagai turbah tidak berarti tanah Madinah dekat pusara Nabi saw. tidak memiliki keutamaan. Karena masing-masing memiliki keutamaannya sendiri.

Hanya saja tanah Karbala adalah tempat terbunuhnya cucu Nabi dan keluarganya untuk membela Islam sejati yang hampir musnah. Tanah tersebut telah dibanjiri darah suci para syuhada yang berjuang di jalan Allah. Kaum Syiah akan terus mengingat perjuangan Imam Husain as. Bukankah segala sesuatu yang berkaitan dengan Allah akan memiliki keutamaan? “Kemuliaan suatu tempat terletak pada siapa yang menempatinya,” kata pepatah.

Imam ash-Shadiq as berkata, “Sujud di atas tanah adalah suatu kewajiban.” (Wasail Syiah juz 3 hal.)

فقد قال الأمام جعفر الصادق عليه السلام لا تسجد إلا على الأرض أو ما أنبتت الأرض

Berkata Imam Ja’far ash-Shadiq as, “Janganlab kamu sujud kecuali di atas tanah atau apa-apa yang… tumbuh dari tanah.” (Biharul Anwar juz 85 hal. 149, al-Kafi juz 3 hal. 330).
Seseorang bertanya tentang sujud di atas sorban sedangkan dahinya tidak menyentuh tanah.

فقال الإمام جعفر الصادق عليه السلام لايجزيه ذلك حتى تصل جبهته الأرض

Berkata Imam ash-Shadiq as, “Tidak boleh sehingga sampai mengena dahinya ke tanah.” (Wasail Syiah juz 3 hal. 609).

سأل هشام بن الحكم الإمام الصادق عليه السلام فقال: أخبرني يا بن رسول :الله عما يجوز السجود عليه السلام يجوز السجود على الأرض أوما أنبتت، إلا ما أآِل أو لُبش

“Hisyam bin hakam bertanya kepada Imam ash-Shadiq as, “Beritahu aku wahai putra Rasulullah tentang apa-apa yang boleh sujud di atasnya dan apa-apa yang tidak boleh?” Beliau menjawab,
‘Boleh sujud di atas tanah atau apa-apa yang tumbuh dari tanah, kecuali yang dapat dimakan
atau yang dapat dipakai.” (Wasail Syiah juz 3 hal. 591).

عن أنس بن مالك قال: آنا نصلي مع رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم في شدة الحر فيأخذ أحدنا الحصباء في يده، فإذا بردت وضعها و سجد عليها

Dari Anas bin Malik berkata, “Kami salat bersamaRasulullah saw di musim yang sangat panas, salah satu dari kami mengambil kerikil lalu diletakkan di tangannya, apabila kerikil tadi sudah dingin lalu kerikil tersebut diletakkan dan di pakai untuk sujud di atasnya.”(Sunan Baihaqi juz 2 halo 105, Nailul authar juz 2 hal. 268) ..

عن ابن عباس: إن النبي صلى الله عليه
وآله وسلم آان يصلي على الخُمرة

Dari Abdullah bin Abbas, “Sesungguhnya Nabi saw salat di atas Khumroh (tikar yangterbuat dari daun pohon kurma sebesar wajah).” (Musnad Ahmad bin Hambal juz 1 hal. 269/ 309/29/358; Sahih Tirmizi juz 2 hal. 151).

عن ابن عمر: آان رسول الله صلى الله عليه وآله و سلم يصلي على الخُمرة

Dari Abdullah bin Umar, “Bahwasannya Rasulullah saw salat di atas Khumroh ( tikar yang terbuat dari daun pohon kurma sebesar wajah).” (Musnad Ahmad bin Hambal juz 2 haI. 92; Sunan Tirmizdi juz 2 hal. 151) .

عن وائل قال: رأيت النبي صلى الله عليه واله وسلم إذا سجد و ضع جبهتة وأنفه على الارض

Dari Wail berkata, “Aku melihat Nabi saw apabila beliau sujud, beliau meletakkan dahi danhidungnya di atas tanah.” (Ahkamul Qur ‘an lil Jash Shoh, juz 3 hal. 36 Musnad Ahmad Bin Hanbal, juz 4 hal. 315).
Rasulullah saw melarang para sahabatnya jika bersujud selain di atas tanah.

Doa Selepas Solat


Doa Selepas Fardhu Subuh

Dengan nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Pengasihani. Dengan nama Allah dan solawat ke atas Muhammad dan keluarga suci baginda, dan ku serahkan urusanku pada Allah, sesungguhnya Allah swt Maha Maha melihat hambanya.

“Tiada Tuhan selain Mu, maha suci kepada Mu, aku berada dalam kegelapan, kemudian “Kami kabulkan doanya(Yunus) dan menyelamatkan beliau dari panik serta dengan keadaan itu Kami mengampunkan Mukminin.” Cukuplah Allah bagiku.

Seperti yang Allah swt mahukan dan tiada daya dan kekuatan selain Allah swt. Seperti yang Allah kehendaki, dan bukannya seperti yang dimahukan oleh manusia. Cukuplah bagiku Rabbku dari marbubin(hambanya). Cukuplah bagiku Khaliq(pencipta) dari makhluqin(yang dicipta). Cukuplah bagiku Raziq(ynag memberi rezeki) dari marzuqin(yang diberi rezeki). Cukuplah bagiku Allah, Tuhan sekalian Alam. Tiada Tuhan Selain ALlah, ku serahkan urusanku padaNya, Tuhan Arsh yang Maha Agung

Doa selepas Fardhu Zuhur

Ya Allah, aku menyeru Mu demi diperkenankan rahmat mu, dan demi keampunanmu, dan manfaat dari sifat mulia, keselamatan dari setiap dosa.Dengan nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Pengasih, Tiada Tuhan selain Allah, yang Maha Agung dan Lembut. Tiada Tuhan selain Allah, Tuhan arash rahmat. Segala puji hanya untuk Allah.

Ya Allah, janganlah tinggalkan aku dengan dosa melainkan Kau mengampunkannya, dengan bala melainkan Kau menolaknya, dengan penyakit melainkan Kau menyembuhkannya,, dengan keaiban melainkan Kau menyembunyikannya, dengan rezeki melainkan Kau menambahnya, dengan ketakutan melainkan Kau melindungku dari nya, dari kejahatan melainkan Kau mengalahkannya, dan dengan hajat ku melainkan Kau mengabulkannya selagi mana ia adalah keredhaan mu dan untuk kebaikan ku, amin, wahai Tuhan sekalian alam.

Doa Selepas Farhu Asar

Ya Allah, aku berlindung kepada Mu dari diri yang tidak dapat dipuaskan, dari hati yang tidak berbelas kasihan, dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari solat yang tidak diterima dan dari doa yang tidak dimakbulkan. Ya Allah aku menyeruMu, untuk kesenangan selepas tekanan, kegembiraan selepas kesedihan, keselesaan selepas kesusahan. Ya Allah, segala kelebihanku adalah dari Mu. Tiada Tuhan selain mu. Aku memohon keampunan dan bertaubat kepada mu.

Doa Selepas Fardhu Maghrib

Ya Allah, aku menyeru Mu demi diperkenankan rahmat mu, dan demi keampunanmu, dan manfaat dari sifat mulia, keselamatan dari dosa, keselamatan dari api neraka dan bencana yang lain, tercapainya syurga dan rumahnya yang aman, dan kedekatan kepada Nabi Mu, Muhammad dan keluarganya yang disucikan(solawat ke atas mereka semua). Ya Allah, segala kelebihanku adalah dari Mu. Tiada Tuhan selain mu. Aku memohon keampunan dan bertaubat kepada mu.

Doa Selepas Fardhu Isya’

Ya Allah, sesungguhnya, aku tidak punyai ilmu akan sumber rezeki ku, dan aku mencarinya semata-mata berdasarkan lintasan dalam hati ku, dan aku berkeliaran di dalam kota demi mencarinya. Aku tidak mengetahui samada ia berada di dataran atau pergunungan, di langit atau di bumi, di daratan atau di lautan, di tangan siapa atau dari siapa. Dan sesungguhnya aku mengetahui Kau mempunyai ilmu yang luas, dan sumbernya berada di tangan Mu, dan hanya Engkaulah yang mengagihkannya demi kebaikanMu, serta mencipta peluang demi RahmatMu.

Ya Allah, oleh itu, berkatilah Muhammad dan keluarga Muhammad. Ya Tuhanku, tambahkanlah rezeki ku, yang dibahagikan oleh Mu, dan jadikanlah ia mudah dicari dan sumbernya dekat, dan janganlah jadikan aku berusaha mendapatkan sesuatu yang tidak Kau takdirkan kepada ku. Demi sesungguhnya Engkau sangat adil dalam menghukumku, dan aku memerlukan rahmatMu. Solawat ke atas Muhammad dan keluarga Muhammad, demi rahmat Mu, bermurah hatilah terhadap hambaMu, sesungguhnya Kau Maha Pemurah.

Taaqibat Umum Selepas Solat Fardhu


Taaqib ialah satu perbuatan di mana kita duduk membaca al Quran atau doa-doa jaran Ahlulbait(as) selepas solat. Hukum membaca Taaqibat selepas solat ialah Sunat Muakkad, iaitu sangat-sangat dituntut.

1. Imam al Baqir(as) telah berkata bahawa selepas setiap kali solat fardhu, tiada amalan yang lebih mulia dari Tasbih Fatimah Zahra, kerana jika ada, sudah tentu Rasulullah(sawa) akan mengajarkannya. Tentang  kelebihannya, insyaAllah saya akan tuliskan nanti. Tasbih Fatimah Zahra adalah seperti berikut.

Allahu Akbar x 34

Alhamdulillah x 33

Subhanallah x 33

Setelah selesai membaca Tasbih ini, akhiri dengan ucapan لاَ إِلٰهَ إِلاَّ ٱللَّهُ

2. Imam al Baqir(as) meriwayatkan bahawa seseorang yang duduk diam selepas solat dan membaca 3 kali  perkara berikut akan diampunkan segala dosa beliau:

Tasbih Fatimah Zahra ini sungguh banyak kebaikannya. Biarlah saya beri satu sahaja pendapat para Imam tentang zikir ini, ,menandakan kehebatannya di sisi Allah swt.

Diriwayatkan dari Imam Muhammad Baqir(as):”Tiada jenis ibadah yang lebih mulia dari Tasbih az Zahra(sa). Jika ada yang lbih hebat darinya, maka sudah tentu Rasulullah(sawa) akan mengajarkannya kepada Hazrat Fatimah(sa).’(Wasaaelush Shia , Vol 4 ms. 1024)

Selamat beramal.

SOAL 336:
Apa hukum orang yang meninggalkan shalat secara sengaja atau meremehkannya?
JAWAB:
Lima shalat fardhu harian merupakan salah satu kewajiban yang sangat penting dalam syari’ah Islam bahkan merupakan tiang agama. Meninggalkan dan meremehkannya haram secara syar’i dan menyebabkan siksa.

SOAL 337:
Apakah wajib shalat atas orang yang tidak menemukan sarana bersuci (air atau tanah untuk wudhu atau tayammum)?
JAWAB:
Berdasarkan ihtiyâth hendaklah tetap melaksanakan shalat pada waktunya dan meng-qadha’nya dengan wudhu atau tayammum di luar waktu.

SOAL 338:
Dalam kondisi-kondisi apakah ‘udul (berpindah niat) dalam shalat wajib menurut Anda?
JAWAB:
Wajib berpindah niat dalam kondisi-kondisi berikut:
1. Dari shalat Ashar ke shalat Dhuhur ketika sadar saat sedang shalat (Ashar) bahwa ia belum melakukan shalat Dhuhur.
2. Dari shalat Isya’ ke Maghrib ketika sadar saat sedang shalat dan sebelum melewati batas udul bahwa ia belum melakukan shalat maghrib.
3. Apabila mempunyai tanggungan 2 shalat qadha’ secara berurutan dan melakukan shalat (yang) kedua karena lupa sebelum melakukan shalat qadha’ yang pertama.
Dimustahabkan ‘udul dalam kondisi sebagai berikut:
1. Dari shalat ada’ kepada shalat qadha’ wajib, jika waktu keutamaan shalat ada’ belum lewat.
2. Dari shalat wajib ke shalat mustahab demi menyusul shalat jamaah.
3. Dari shalat faridhah ke shalat nafilah pada Dhuhur hari Jum’at bagi orang yang lupa membaca surah al-Jumu’ah namun membaca surah lainnya sampai setengah atau lebih. Dalam kondisi demikian dimustahabkan berpindah niat dari shalat faridhah ke shalat nafilah untuk memulai shalat faridhah lagi dengan membaca surah al-Jumu’ah.

SOAL 339:
Apakah pelaku shalat yang ingin menggabungkan shalat Jum’at dan shalat Dhuhur di hari Jum’at berniat qurbah (mendekatkan diri kepada Allah) saja tanpa niat wujub (melakukan shalat wajib) dalam kedua shalat tersebut, ataukah berniat qurbah dan wujub dalam salah satu dari keduanya, sedangkan pada shalat lainnya cukup berniat qurbah saja, atau berniat qurbah dan wujub dalam kedua-duanya?
JAWAB:
Cukup meniatkan qurbah dalam kedua shalat tersebut dan tidak wajib meniatkan wujub dalam keduanya.

SOAL 340:
Jika darah dari mulut atau hidung terus mengalir sejak awal waktu faridhah hingga menjelang batas akhir waktunya, apa hukum shalat?
JAWAB:
Jika tidak mampu mensucikan badan dan khawatir waktu shalat faridhah berakhir, hendaknya melakukan shalat dalam keadaan begitu.

SOAL 341:
Apakah badan diwajibkan tenang dan tidak bergerak (istiqrâr) sama sekali ketika membaca zikir-zikir mustahab dalam shalat ataukah tidak?
JAWAB:
Perihal kewajiban istiqrâr dan tenang ketika sedang shalat, tidak ada perbedaan antara zikir-zikir yang wajib dan yang mustahab. Kecuali jika pembacaan dzikir dilakukan dengan niat dzikir muthlaq walaupun dibaca dalam keadaan bergerak tidak bermasalah.

SOAL 342:
Sebagian pasien di rumah sakit menggunakan selang saluran kencing dimana kencing akan keluar dari pasien tanpa kehendak dalam keadaan tidur atau sadar, atau ketika sedang melakukan shalat. Kami mohon jawaban atas pertanyaan sebagai berikut: Apakah melakukan shalat keadaan begitu sudah cukup ataukah wajib mengulanginya?
JAWAB:
Jika ia melakukan shalat dalam kondisi begitu sesuai tugas syar’i-nya yang benar, maka sahlah hukumnya, dan tidak wajib meng-qadha’ atau mengulangnya.

———————-

SOAL 343:
Apa dalil yang dijadikan dasar oleh mazhab Syi’ah tentang waktu-waktu shalat faridhah harian? Sebagaimana Anda ketahui bahwa Ahlussunah menganggap masuknya waktu Isya’ sebagai dalil berakhirnya waktu Maghrib dan bahwa shalat Maghrib yang dilakukan pada waktu itu terhitung qadha’, demikian pula waktu shalat Dhuhur dan Ashar. Karena itulah mereka berkeyakinan, bahwa ketika waktu shalat Isya’ telah tiba dan imam melakukan shalat Isya’, ma’mum tidak diperbolehkan melakukan shalat Maghrib bersamanya sehingga kedua shalat tersebut dilakukan dalam satu waktu?
JAWAB:
Dalilnya ialah keumuman (ithlaq) ayat-ayat Al-Qur’an dan Sunnah yang mulia, di samping riwayat-riwayat yang secara khusus menunjukkan bolehnya menggabungkan dua shalat, dan di kalangan Ahlussunnah juga terdapat beberapa riwayat tentang diperbolehkannya dua shalat pada waktu salah satu dari keduanya.

SOAL 344:
Dengan memperhatikan bahwa akhir waktu shalat Ashar adalah Maghrib dan akhir shalat Dhuhur adalah beberapa saat menjelang Maghrib seukuran waktu yang diperlukan untuk shalat Ashar, saya ingin bertanya apakah yang dimaksud dengan Maghrib itu, apakah ia waktu terbenamnya matahari ataukah ketika suara adzan Maghrib dikumandangkan sesuai waktu setempat?
JAWAB:
Akhir waktu shalat Ashar adalah terbenamnya matahari.

SOAL 345:
Berapa menit jarak waktu antara terbenamnya matahari dan adzan Maghrib?
JAWAB:
Nampaknya hal itu berbeda sesuai dengan musim-musim dalam setahun.

SOAL 346:
Saya terlambat dalam bekerja sehingga pulang kerumah pada jam 11 malam dan tidak ada waktu melakukan shalat Maghrib dan Isya’ saat bekerja karena banyaknya klien. Apakah sah shalat maghrib setelah jam 11 malam?
JAWAB:
Boleh selama tidak menyebabkan penundaan sampai tengah malam. Namun berusahalah untuk tidak melakukannya setelah jam 11 malam bahkan melakukannya pada awal waktu.

SOAL 347:
Seukuran apakah dari shalat yang apabila dilakukan pada waktu ada’, maka niat ada’-nya sah? Apa hukumnya jika ragu bahwa ukuran itu dilakukan dalam waktu shalat ataukah di luarnya?
JAWAB:
Cukup terlaksana satu rakaat pada akhir waktu untuk dianggap sebagai shalat ada’. Jika Anda ragu apakah waktu yang tersisa itu cukup untuk sedikitnya satu rakaat ataukah tidak, maka Anda wajib melakukan shalat dengan tujuan malaksanakan tanggungan (dzimmah) dan tidak berniat melakukan ada’ atau qadha’.

SOAL 348:
Kedutaan-kedutaan dan konsulat-konsulat Republik Islam di negara-negara non Islam telah menyediakan jadwal waktu untuk menentukan waktu-waktu syar’i di ibu kota- ibu kota dan kota-kota besar. Pertanyaan pertama ialah, sampai batas apakah bisa mengandalkan jadwal-jadwal tersebut. Kedua, apa yang wajib dilakukan di kota-kota lain di negara-negara non Islam tersebut?
JAWAB:
Yang menjadi tolok ukur ialah kemantapan mukallaf. Jika ia tidak mempercayai bahwa jadwal-jadwal tersebut sesuai dan benar, maka ia wajib ber-ihtiyâth (bertindak berdasarkan kehati-hatian) dan menanti sampai yakin datangnya waktu syar’i.

SOAL 349:
Apa pendapat Anda tentang fajar shadiq dan fajar kadzib, apa taklif pelaku shalat dalam masalah ini?
JAWAB:
Standard syar’i tentang waktu shalat dan puasa adalah fajar shadiq. Penentuannya dikembalikan kepada penilaian mukallaf.

SOAL 350:
Di sebuah SMA full-time, para pengurus melaksanakan shalat Dhuhur dan Ashar secara berjamaah pada jam 2 siang, dan sebelum dimulainya pelajaran sore. Yang menyebabkan keterlambatan ialah bahwa pelajaran-pelajaran pada sesi pagi selesai sebelum waktu syar’i Dhuhur sekitar tiga per empat jam dan mempertahankan murid-murid sampai waktu Dhuhur syar’i sangatlah sulit. Dengan memperhatikan pentingnya shalat pada awal waktu, kami mohon pendapat Anda?
JAWAB:
Tidak ada larangan menunda shalat jamaah agar para mushalli (pelaku shalat) berkumpul, jika mereka tidak hadir pada awal waktu di sekolah.

SOAL 351:
Apakah wajib melakukan shalat dhuhur setelah adzan Dhuhur, dan melakukan shalat ashar setelah tiba waktunya, demikian juga shalat Maghrib dan Isya’?
JAWAB:
Ketika waktunya telah tiba, mukallaf boleh memilih antara menggabungkan atau memisahkan keduanya.

SOAL 352:
Apakah wajib menunggu pada malam-malam terang bulan untuk shalat subuh selama 15-20 menit, padahal jam saat ini tersedia dalam jumlah yang cukup dan bisa mendapatkan kepastian tentang terbitnya fajar?
JAWAB:
Tidak ada perbedaan antara malam-malam terang bulan dan malam-malam lainnya berkenaan dengan terbitnya fajar dan berkenaan dengan waktu fardhu subuh juga waktu wajib imsak untuk puasa, meskipun ihtiyâth dalam masalah ini tetap baik.

SOAL 353:
Apakah ukuran selisih waktu-waktu syar’i antara beberapa daerah dan yang dikarenakan perbedaan ufuk adalah sama dalam tiga waktu shalat harian? misalnya, perbedaan waktu dhuhur antara dua daerah ialah 25 menit, maka apakah hal ini juga berlaku pada waktu-waktu lainnya dan dengan ukuran yang sama, ataukah ia berubah pada waktu subuh dan Isya’?
JAWAB:
Hanya karena sama dalam ukuran selisih antara keduanya mengenai terbitnya fajar atau tergelincirnya matahari atau terbenamnya matahari tidak meniscayakan kesamaan pada waktu-waktu lainnya. Ukuran selisih antara bebagai kota biasanya justru tidak sama dalam tiga waktu shalat.

SOAL 354:
Ahlussunah melakukan shalat Maghrib sebelum Maghrib syar’i (waktu syar’i matahari terbenam). Apakah kami boleh pada hari-hari haji dan hari-hari lainnya berjama’ah dengan mereka dan cukup shalat dalam waktu tersebut?
JAWAB:
Belum diketahui secara pasti apakah mereka shalat sebelum masuk waktunya. Bergabung dalam jamaah dan bermakmum dengan mereka tidak ada masalah dan cukup, namun harus melakukan shalat pada waktunya kecuali jika dalam masalah waktu tersebut juga ber-taqiyyah
.

SOAL 355:
Matahari di Denmark dan Norwegia terbit pada jam 7 pagi terus bersinar hingga waktu Ashar sementara di negara terdekat lainnya pada waktu yang sama menunjukkan jam 12 malam. Apa taklif saya berkenaan dengan shalat dan puasa?
JAWAB:
Wajib mengikuti ufuk tempat tersebut berkenaan dengan waktu-waktu shalat harian, dan jika melakukan puasa menimbulkan kesulitan karena siangnya yang sangat panjang maka gugurlah puasa ada’ dan ia wajib meng-qadha-’nya.

SOAL 356:
Sampainya cahaya matahari ke bumi memerlukan waktu kira-kira 7 menit. Apakah tolok ukur berakhirnya waktu shalat subuh adalah terbitnya matahari ataukah ketika cahayanya telah sampai ke bumi?
JAWAB:
Tolok ukurnya ialah terbit dan terlihatnya matahari di ufuk tempat pelaku shalat.

SOAL 357:
Media masa mengumumkan waktu-waktu syar’i setiap hari pada hari sebelumnya. Apakah boleh berpegangan pada pengumuman tersebut dan menganggap bahwa waktu telah masuk setelah adzan dikumandangkan lewat radio dan televisi?
JAWAB:
Tolok ukurnya ialah kemantapan mukallaf tentang masuknya waktu.


SOAL 358:
Apakah waktu shalat bermula apabila adzan dimulai ataukah wajib menunggu sampai adzan tersebut berakhir baru memulai shalat? Apakah orang yang berpuasa boleh ifthar begitu adzan dimulai ataukah wajib menunggu sampai berakhir?
JAWAB:
Jika telah mantap bahwa adzan tersebut dimulai sejak masuknya waktu maka tidak wajib menunggu sampai berakhir.

SOAL 359:
Apakah sah shalat orang yang mendahulukan yang kedua atas yang pertama, seperti mendahulukan Isya’ sebelum Maghrib?
JAWAB:
Jika mendahulukannya karena keliru atau lupa sampai selesai shalat maka tidak ada masalah bahwa shalatnya sah. Jika melakukannya dengan sengaja maka shalatnya batal.

SOAL 360:
Dengan menghaturkan salam hormat dengan menyongsong datangnya bulan Ramadhan dan dengan memperhatikan perluasan beberapa desa serta sulitnya memastikan dengan tepat terbitnya fajar (masuknya watu Subuh), maka kami mengharap YM menerangkan kapan kita harus mulai berpuasa (imsak) dan melakukan shalat Subuh?
JAWAB:
Seyogyanya para Mukminin -semoga mereka mendapatkan perlindungan dari Allah SWT- memperhatikan ihtiyâth berkenaan dengan imsak puasa dan waktu shalat subuh, dengan melakukan imsak pada saat dimulainya adzan subuh dari media (radio) dan hendaknya melakukan shalat setelah berlalu 5 sampai 6 menit dari adzan.

SOAL 361:
Waktu shalat Ashar sampai adzan Maghrib atau sampai terbenam matahari? Pertengahan malam secara syar’i untuk (akhir) waktu Isya’ dan (kewajiban) baytutah (bermalam) di Mina jam berapa?
JAWAB:
Akhir waktu shalat Ashar adalah terbenamnya matahari. Berdasarkan ihtiyâth untuk shalat Maghrib dan Isya’ dan sejenisnya hendaknya malam itu dihitung dari awal terbenam matahari sampai adzan Subuh, oleh karena itu waktu akhir Maghrib dan Isya’ kira-kira setelah berlalu 11 jam setengah dari adzan Dhuhur, namun untuk baytutah di Mina harus dihitung dari tenggelam matahari sampai terbit matahari.

SOAL 362:
Jika seseorang pada saat melakukan shalat ashar ingat bahwa belum melakukan shalat Dhuhur, apa yang harus dilakukan?
JAWAB:
Jika ia melakukan shalat Ashar karena menduga telah melakukan shalat Dhuhur sebelumnya, dan dia lakukan shalat Ashar tersebut pada waktu musytarak antara Dhuhur dan Ashar, maka dia harus langsung merubah niat Ashar menjadi Dhuhur, kemudian setelah salam dia melakukan shalat Ashar. Jika hal itu terjadi pada waktu khusus Dhuhur, maka berdasarkan ihtiyâth dia wajib merubah niatnya menjadi shalat Dhuhur, kemudian setelah selesai dia bangun lagi untuk melakukan shalat Dhuhur kemudian Ashar. Hal itu juga berlaku pada Maghrib dan Isya’

Syi’ah mazhab cinta, Syi’ah mazhab kelembutan ! Bukan mazhab pencela pencaci


Renungan seorang Syiah tentang bagaimana seharusnya bersikap

Pertikaian antara Suni dan Syiah selalu terdengar telinga kita. Suni dan Syiah. Apakah gambaran “Suni” dan “Syiah” yang ada di pikiran kita adalah “Suni” dan “Syiah” secara hakiki dan sebenarnya? Ataukah hanya kumpulan informasi yang tidak pasti benar? Sebagaimana yang kita tahu, seringkali apa yang kita fahami tidak pasti sesuai dengan kenyataan yang ada. Begitu pula dengan pemahaman kita mengenai Suni dan Syiah yang kita saksikan mereka tidak bisa disatukan.

Kini, entah karena unsur kesengajaan atau tidak, telah terciptalah opini umum bahwa Suni dan Syiah adalah dua kelompok yang berseteru. Syiah dengan segala caranya berusaha berdakwah menyebarkan fahamnya, Suni dengan segala provokasi pihak tertentu, dengan sekuat tenaga menghambat gerakan Syiah dan berusaha memojokkannya. Akhirnya kedua belah pihak dengan faham masing-masing yang saling dianggap benar oleh setiap kelompok terus bertikai dan memecah kesatuan Islam; terlebih lagi saat diprovokasi oleh pihak-pihak tertentu, Wahabi misalnya.

Syiah dan Suni yang ada di benak publik, bukanlah Suni dan Syiah yang sebenarnya. Hal ini terbukti dengan memahami bahwa pengikut suatu ajaran bukanlah ajaran itu sendiri. Meski pengikut suatu ajaran acap kalinya menjadi cerminan ajarannya. Namun tidak selalu begitu nyatanya. Pemahaman kita tentang Suni dan Syiah yang kita miliki detik ini juga “tidak pasti” benar dan sesuai dengan arti Suni dan Syiah yang hakiki. Karena apa yang kita fahami adalah hasil dari yang kita lihat, yakni tingkah laku orang-orang yang mengaku Suni dan Syiah di depan kita… Padahal! Jika kita tanya kepada mereka, baik kepada seorang Suni, baik kepada seorang Syiah, dapatkah mereka secara mantap mengaku bahwa mereka adalah Suni sejati, Syiah sejati?

Padahal jika kita renungi, sebagai pengaku Syiah, banyak sekali yang harus kita benahi. Tidak usah terlalu membahas Suni. Syiah sendiri, apakah seorang Syiah dengan yakin berani menyatakan dirinya adalah Syiah? Bukankah Syiah adalah orang yang menapakkan kakinya di jejak telapak kaki imamnya? Siapakah di antara kita, orang yang mengaku Syiah, telah melangkah sedemikian rupa? Sehingga dengan yakinnya kita menyuapi ajaran Imam-Imam kita kepada orang lain tanpa perlu mempertimbangkan seberapa tinggi kelayakan kita untuk mengaku sebagai Syiah? Itulah hal yang harus dipertimbangkan jika kita ingin mengajak mereka mengikuti kita dari arah yang berhadapan, dengan memposisikan diri di hadapan mereka.

Banyak sekali masalah pribadi yang kita miliki yang berujung menjadi coreng hitam di wajah Ahlul Bait. Misalnya, terkadang kita begitu fanatik lantas terlalu percaya diri sendiri dengan memposisikan diri sebagai Syiah, sampai-sampai kita terlalu jauh optimis terhadap diri sendiri, sehingga tatkala terjadi suatu konflik yang sebenarnya tidak ada kaitannya dengan agama atau madzhab, misalnya konflik keluarga, kita bersikap dalam masalah itu “atas nama” seorang Syiah. Dengan penuh ketidak sadaran tentang apakah kita Syiah yang layak atau tidak, kita terus bersikap dalam berbagai masalah. Lalu ternyata sikap kita tidak dapat diterima oleh pihak lain, yang ujungnya berbenturan, bertikai, dan hasilnya terciptalah kesan “Suni dan Syiah berselisih.”

Tak perlu kita mengelak jika kita menduh diri kita terkadang terlalu “percaya diri” sebagai seorang Syiah. Coba kita renungkan sejenak, jika ada pimpinan kita, misalnya Imam Ali as, beranikah kita mengaku di hadapannya bahwa kita pengikut setianya? Oh ya, mungkin yang membuat kita terlalu percaya diri sebagai seorang Syiah dalam sikap-sikap kita, adalah sangkaan bahwa sebenarnya “pengakuan” ini bersifat sepihak. Kita mungkin merasa cukup kita sedikit mengenal Ahlul Bait, lalu mengaku Syiah, maka cukup semuanya, kita adalah Syiah. Padahal bukan seperti itu sama sekali. Pengakuan ini tidak sepihak, tapi diperlukan pengakuan dari pihak kedua, yaitu Ahlul Bait. Kita boleh yakin tentang ke-Syiah-an kita jika kita telah menyatakan pengakuan kita sebagai Syiah kepada Ahlul Bait, lalu mereka pun meng-iya-kan pengakuan ini. Siapakah di antara kita yang telah melakukannya? Tak satu pun.

Kalau begitu, apa yang membuat kita mengaku sebagai Syiah, yang kemudian menjadi kelompok yang berhadapan dengan Suni, dan dengan sendirinya muncul konflik-konflik berdarah yang memecah kesatuan umat Islam?

Tak sedikit orang yang mengaku pengikut Ahlul Bait saat bertemu dengan mereka, namun mereka berkata bahwa “kamu bukan pengikut kami.” Di masa hayat Ahlul Bait saja ada orang seperti itu, apa lagi di masa ini? Tentu sangat amat banyak “pengaku Syiah yang ditolak”. Begitu jauh jarak yang terbentang antara kita dengan Ahlul Bait. Lalu kita mengaku Syiah? Sombong sekiranya kita berdiri di hadapan Suni dan mengaku bahwa “akulah Syiah Ali.”

Kitalah yang telah mewujudkan fenomena “konflik Suni Syiah” karena kesalahan-kesalahan kita, dari yang paling kecil secara individual, sampai kesalahan bersama. Tidak yakin dengan pernyataan itu? Kalau tidak, apa kita yakin bahwa setiap sikap kita mendapat persetujuan dari Ahlul Bait? Padahal kita jauh dari mereka! Padahal Syiah adalah orang yang berjalan di atas jejak telapak kaki Ahlul Bait.

“Jadilah hiasan bagi kami, jangan mencoreng muka kami.” Itu pun telah menyindir diri kita jauh sebelum kita dilahirkan. Seolah mereka tahu bahwa kelak kita lahir ratusan tahun setelah mereka lalu sedikit mengenal Ahlul Bait, kemudian mengaku Syiah, menjadi fanatik, terlampau percaya diri, sehingga setiap prilaku kita dinilai sebagai prilaku seorang Syiah padahal mungkin kita tidak sengaja akan hal itu. Penilaian-penilaian publik itulah yang mewujudkan “pemahaman” dalam benak setiap orang siapakah “Syiah”. Padahal belum tentu Ahlul Bait setuju dengan “Syiah” yang ada saat ini dan individunya.

“Tunjukkanlah indahnya ajaran kami, jika mereka melihatnya, mereka pasti mencari dan mengikuti kami.” Ucapan sang Imam begitu singkat dan penuh makna. Mengapa kita tidak memajang ajaran mereka yang di depan khalayak umat manusia “tanpa” perlu menampakkan wajah kita di sebelahnya? Kalau ajaran Ahlul Bait itu sebuah lukisan yang indah, pajanglah di dinding, tanpa memajang muka kita di sebelah lukisan itu; supaya orang yang melihat keindahan lukisan tersebut tidak terganggu dengan kehadiran wajah kita yang buruk.

Ya, wajah yang buruk. Siapakah di antara kita yang berani berkata “tidak memiliki wajah yang buruk”? Pasti terlalu percaya diri jika ada yang berkata tidak. Semoga kita tidak menjadi orang yang terlalu percaya diri dan terjebak keburukan itu.

Cukup kita tunjukkan mana jalan yang benar dengan segala argumen yang kita miliki, tanpa mengaku “aku lah orang yang telah berjalan di jalan yang benar itu”. Lalu jika ia memahami benarnya jalan tersebut, akalnya yang akan memutuskan dia harus melewatinya. Jika ia melewatinya, syukur. Jika tidak, apa urusan kita terhadap orang yang tidak mau menyelamatkan dirinya sendiri? Jika ia terhidayahi, Tuhan yang telah memberinya petunjuk, bukan kita.

Andai kita Syiah yang hakiki, tidak mungkin kita membiarkan diri kita memiliki cela sedikitpun yang mungkin dapat mencoreng wajah Ahlul Bait. Siapa kita yang telah mencoreng wajah mulia mereka? Kelak Imam Mahdi akan mengadili orang yang mengaku sebagai pengikutnya terlebih dahulu sebelum lainnya. Jika kita mengaku orang yang punya banyak cela, tak perlu kita unjukkan wajah ini di sebelah wajah Ahlul Bait, kita tidak layak untuk itu. Seharusnya kita memposisikan diri kita di posisi yang sama dengan sesama kita. Cukup kita ajak saudara-saudara kita yang tidak mengenal Ahlul Bait untuk mengenal mereka, lalu tinggalkan, biar mereka dengan jiwanya masing-masing memproses pengalamannya itu. Ajak mereka dari arah mereka, bukan menarik mereka dari hadapan mereka. Karena yang berhak ada di hadapan mereka hanya Ahlul Bait. Kita tak lebih dari seorang yang mengaku Syiah yang belum tentu Ahlul Bait mengakui kita.

Di diri setiap manusia selalu ada peperangan antara sifat-sifat baik dan sifat-sifat buruk yang biasanya disebut sebagai Jihad Akbar; padahal jihad tersebut adalah Jihad Awsath (Jihad antara Jihad Akbar dan Jihad Asghar).

Orang yang selalu melakukan segala sesuatu berdasarkan akal dan menentang hawa nafsunya disebut dengan orang yang melakukan Jihad Awsath. Dia ingin menjadi orang yang menuruti akal dan menentang nafsu; derajat yang lebih dari itu baru disebut dengan Jihad Akbar, yaitu peperangan antara akal dan cinta, antara hikmah dar irfan dengan rasional dan masyhud.

Dalam jihad ini, akal menerima kebenaran suatu kenyataan berdasarkan dengan dali-dalil rasional. Pengikut akal selalu menerima segala sesuatu jika ada dalil yang masuk akal. Akan tetapi cinta, ia tidak mencukupkan pengetahuan yang didapat dengan usahanya saja (Ilmu Hushuli), bahkan ia menginginkan ilmu yang menyatu dengan jiwa (Ilmu Hudhuri) sehingga apa yang ia fahami ia juga merasakannya dengan seluruh wujudnya.

Oleh karena itu di sinilah terjadi peperangan antara akal dan cinta lalu mulailah Jihad Akbar. Perlu diketahui bahwa keduanya tidak ada yang salah dan semua benar; hanya saja salah satunya benar dan yang satu lagi lebih benar; yang satu baik dan yang satunya lagi lebih baik; satu diantaranya sempurna dan yang satu lagi lebih sempurna. Berdasarkan ini, sesungguhnya segala yang dilakukan oleh para wali Allah selalu berdasarkan cinta. Imam Shadiq as. berkata, “Sebaik-baik manusia adalah orang yang mencintai ibadah.”[1] Dan orang yang mencintai ibadah adalah orang yang telah merasakan hakikat surga dan neraka.

Akal menetapkan adanya surga dan neraka dengan dali-dalil yang masuk akal. Tapi cinta berkata, “Aku ingin melihat surga dan neraka.” Orang yang selalu berusaha menetapkan kebenaran surga dan neraka dengan dalil-dalil rasional adalah orang yang berakal; tapi orang yang selalu ingin melihat dan memaknai surga dan neraka adalah orang yang cinta.

Apa yang dilakukan oleh Imam Husain as. berdasarkan cinta. Cinta berada di atas akal, bukan hal yang berntentangan dengan akal. Terkadang kita menyebut seseorang telah melakukan suatu perbuatan yang tidak masuk akal, yakni melakukan perbuatan tanpa didasari akal pemikiran. Terkadang juga kita mengatakan bahwa seseorang telah melakukan suatu perbuatan bukan hanya masuk akal, bahkan di atas itu, ia melakukannya dengan penuh cinta; ia tidak hanya memahami tapi juga meresapi dengan wujud dirinya.

Ketika seorang manusia telah menggapai hakikat dan berjalan sesuai syuhud dan cinta, maka akal sudah tidak terlalu berperan lagi. Tidak bergunanya akal dalam artian bahwa cahaya akal di bawah kekuatan cahaya yang lebih terang lagi; bukan berarti akal sudah tidak bercahaya lagi.

Jadi, akal dalam dua keadaan tidak diperhatikan lagi oleh manusia:

1. Ketika seorang manusia berada dalam keadaan marah atau syahwat kemudian melakukan suatu maksiaat. Di sini akal sama sekali tidak dipandang dan apa yang ia lakukan berdasarkan kebodohan. Hal ini tidak ada bedanya dengan bulan purnama yang tak nampak karena gerhana bulan total terjadi. Di sini akal orang tersebut tidak lagi bersinar. Akal orang yang bermaksiat seperti bulan yang tampak karena gerhana. Inilah yang dimaksud oleh Imam Ali as. ketika beliau berkata, “Betapa sering akal ditawan oleh hawa nafsu.”

2. Akal tetap bercahaya, tapi ada cahaya lain yang lebih terang dari cahayanya. Hal ini sama seperti bintang-bintang yang bersinar. Bintang tidak berguna di siang hari karena ada cahaya matahari yang lebih terang darinya. Orang yang jatuh cinta akalnya tetap bekerja, tapi cahaya cintanya lebih terang dari cahaya akal.

Apa yang dijalankan oleh Imam Husain as. di Karbala tidak hanya masuk akal, bahkan lebih dari itu, beliau melakukan segalanya dengan penuh cinta.


[1] Ushul Kafi, jilid 2.


Imam Muhammad Baqir as berkata:

Apakah agama ini suatu selain kecintaan?

Cinta apakah yang beliau maksud? Ucapannya begitu membuat kita bertanya-tanya; bagaimana bisa agama yang kita anggap hal besar, hanya ia sebut sebagai “kecintaan”.

Perlu kita fahami apa yang sedang terjadi dalam hubungan seorang pecinta dengan kecintaannya. Kita dapat saksikan bahwa seorang pecinta, selalu berusaha bersikap menyenangkan untuk kecintaannya. Oleh karena itu, pecinta menyukai apa yang disukai kecintaannya, dan membenci apa yang dibencinya. Melakukan apa yang diinginkan kekasihnya, menjauhi apa yang tidak disukainya.

Cinta yang dimaksud oleh sang imam dalam perkataannya adalah cinta kita kepada Tuhan. Artinya, ia ingin kita membangun hubungan dengan Tuhan dengan cinta. Agama dapat disimpulkan dalam cinta seorang hamba kepada Tuhannya. Karena hamba pecinta, akan melakukan segala yang diinginkan kecintaannya.

Jika direnungi, tiada kecintaan setinggi Ia. Beruntung mereka yang benar-benar mencintai Tuhan dan menjalani hari-harinya dengan cinta itu. Orang yang memiliki-Nya, kurang apa? Orang yang tidak memiliki-Nya, bagaimana disebut kaya? Ia adalah segalanya.


Islam mengajarkan kita untuk menjadikan keridhaan Allah sebagai motivasi aktifitas kehidupan. Mengingat manusia adalah makhluk sosial yang tidak lepas dari interaksi satu sama lain, maka manusia tidak akan bisa terlepas dari hubungan lelaki dan perempuan.

Islam begitu ketat dalam mengatur hubungan yang satu ini. Hubungan lelaki dan perempuan adalah pondasi utama terwujudnya kehidupan bersosial. Jika hubungan ini terjalin dengan sebaik-baiknya, maka terbentuk pula masyarakat yang baik dan sehat. Namun jika sebaliknya, maka sebaliknya pula.

Dalam artikel ini yang akan saya bicarakan adalah hubungan lelaki dan perempuan dalam kategori asmara dan ketertarikan seksual; tidak perlu saya bahas hubungan antara ayah dan putrinya, kakak perempuan dan adiknya, dll.

Dunia hiburan dengan semua bentuknya seperti film, sinetron, novel, komik, dan lain sebagainya, lebih dari sering mengangkat masalah cinta dan asmara sebagai temanya. Karena bagi semua orang hal itu begitu menyenangkan dan membangkitkan gairah dalam hubungan lelaki dan perempuan.

Cinta dan asmara yang diunjukkan di dalamnya selalu diagung-agungkan. Dianggapnya sebagai permata suci yang sangat mulia. Padahal jika saya mau katakan, mustahil jika semua itu tidak ada kaitannya dengan seks! Ya, seks adalah kenikmatan nomor satu di dunia ini yang tidak ada tandingannya. Ibaratnya jika seks itu adalah seseorang yang telanjang, maka cinta dan asmara adalah pakaiannya. Pakaian inilah yang diperindah, dipercantik dan didisain sedemikian menarik yang pastinya peminat pakaian itu akan tertarik pula dengan “tubuh telanjang”.

Lalu apa kata Islam? Secara frontal, saya jelaskan bahwa aturan hijab dalam Islam adalah untuk mencegah umat manusia berani memasuki area suci “seks” seenaknya tanpa aturan. Kebalikan dari dunia hiburan yang digemari masyarakat, Islam tidak terlalu menjunjung cinta dan asmara sedemikian tinggi dalam hubungan seorang lelaki dengan kekasihnya. Islam, sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, terus menerus menyarankan manusia agar menjadikan keridhaan Allah sebagai motivasi hubungan antar lelaki dan perempuan, bukannya cinta dan asmara.

Sebagaimana Islam menutupi pakaian wanita dan perhiasannya dengan hijab demi tercegahnya hubungan seks tanpa aturan (di luar nikah), Islam juga menghijabi masalah cinta dan asmara sehingga membuat kita tidak terlalu perlu mengangkatnya sebagai tema hiburan.

Singkatnya, mengapa Islam begitu begis terhadap hubungan lelaki dan perempuan, yang tak luput dari hubungan seks, yang tidak berada di dalam ikatan pernikahan? Anda sendiri tahu apa jawabnya. Silahkan anda rasakan sendiri apa hasil hubungan bebas lelaki dan perempuan sat ini? Seks bebas bagaikan tumor yang terus tumbuh besar merusak setiap lapisan masyarakat, begitu juga anak cucu anda jika anda tidak berusaha membenahi fenomena ini. Diawali dengan pornografi, sampai ke prakteknya; semunya berawal dari cinta dan asmara yang dielu-elukan media! Cinta yang dianggap suci, murni, dll…yang hanya sekedar kulit tipis, mudah terkelupas dan pecinta pasti akan memasuki hubungan seks; tak dapat dihindari. Padahal Islam hanya melegalkan seks dalam hubungan suami dan istri, bukan seorang lelaki dengan setiap wanita yang ia sukai.

Lalu apa pendapat Islam tentang cinta dan asmara? Apakah Islam sama sekali menolaknya? Tidak. Islam mengagungkan cinta, namun tidak sembarang cinta. Cinta yang hakiki adalah cinta kepada Tuhan. Dengan cinta Ilahi, dengan sendirinya cinta-cinta yang lain akan timbul. Sebagaimana cinta seorang ibu kepada anaknya adalah cinta naluriah yang muncul dengan sendirinya, tanpa perlu kecintaan itu ditampilkan di dunia entertainment sebagaimana cinta dan asmara yang sampai sekarang tidak pernah kehabisan penggemarnya, cinta seorang suami dan istrinya pun juga cinta yang naluriah pula, yang tanpa perlu dipoles dan dipanas-panaskan dalam dunia hiburan, dengan sendirinya pun manusia akan mencintai istri/suaminya.

Masalah cinta dan asmara inilah yang diungkit-ungkit oleh pemuda jaman ini jika seandainya mereka harus menikah dengan orang yang tidak dikenali sebelumnya; mereka berkata, “kita tidak saling mencintai, bagaimana kita bisa menikah?” Cara berfikir inilah yang telah kita petik sebagai buah segar dari sekian luasnya ladang hiburan yang tersebar di seluruh dunia. Adapun jika pemuda itu menanyakan pertanyaannya kepada Islam, akan dijawabnya, “Tuhan yang akan menciptakan kecintaan antara kalian setelah menikah.” Namun pemuda itu mentah-mentah menolaknya dan menganggapnya mustahil; karena segala yang tercetak dalam benaknya, cinta yang hanya ada di dunia ini adalah cinta yang pernah ia saksikan dalam dunia hiburan.

Tidak mustahil Tuhan menciptakan cinta, kita sebagai pecinta saja telah Ia ciptakan! Dalam sebuah hadits disebutkan, saat kita mencintai Tuhan dan menjauhi larangan-larangannya, Ia akan menciptaan kecintaan terhadap kita dalam hati setiap manusia. Ya, ya… sekali lagi, ini mungkin tidak masuk akal bagi orang yang mendengarnya untuk pertama kali.

Kembali ke fakta yang ada saat ini. Jika kita menjalin hubungan dengan lawan jenis berdasarkan cinta, joba kita jelaskan apa yang kita cintai dan sukai itu? Semuanya pasti tidak terlepas dari kecantikan, ketampanan, kekayaan, dan lain sebagainya. Contoh saja, cinta dan asmara yang diangkat dalam dunia hiburan yang pasti bertumpu pada kecantikan seorang wanita, yang kemudian diagung-agungkan menjadi cinta abadi, cinta suci, dan lain sebagainya. Meskipun saya sendiri tidak menutup kemungkinan ada cinta-cinta lain yang tidak berlandaskan agama, namun juga tidak bertumpu pada kecantikan, ketampanan, dan faktor-faktor duniawi lainnya; namun, itu jarang sekali.

Jika kita mau menjadikan agama, khususnya Islam, sebagai sandaran kita, maka saya akui kita akan mendapatkan cinta abadi dan suci. Perhatikan contoh ini. Seseorang menikah, karena menganggapnya sebagai ibadah, anjuran agama, dan demi terbentuknya keluarga yang sehat, sehingga mereka dapat mendidik anak-anak dan membesarkan mereka lalu dipersembahkan kepada bangsa. Mereka tidak saling mencintai sebelum mereka menikah, karena mereka tidak saling mengenal satu sama lain. Mereka menikah karena mendengar anjuran-anjuran untuk menikah dengan orang yang baik agama dan akhlaknya. Setelah mereka menikah, dengan sendirinya mereka pasti menyadari bahwa mereka harus saling mencintai, dengan demikian tumbuhlah cinta seorang suami dengan istrinya. Cinta mereka dikarenakan cinta Ilahi, cinta itu akan selalu ada selama Tuhan ada. Cinta inilah yang tumbuh dari Tuhan, bukan dari kecantikan, ketampanan, harta benda, dan lain sebagainya. Kalau mau diadu, manakah cinta abadi, apakah cinta seperti ini atauka cinta Romeo dengan Juliet? Silahkan anda adu dan anda nilai.

Adapun jika anda bertanya, bagaimana jika ternyata setelah mereka menikah mereka menemukan banyak ketidak-cocokan yang berujung pada pertengkaran, bahkan perceraian? Jawabnya, akan menjadi demikian jika yang menikah belum terlalu matang dan kurang meresapi ajaran-ajaran agama. Bukankah kita sebagai manusia memiliki banyak perbedaan satu sama lain? Islam datang menyatukan kita, umat manusia; dan seharusnya kita bersatu. Islam pun datang dengan ajarannya untuk menyatukan kita dengan istri/suami kita, seperti apapun perbedaan yang kita miliki. Kebijakan lah yang dapat menyatukan perbedaan-perbedaan, lalu saling melengkapi. Jika kebijakan itu tidak kita miliki, pasti jalan yang kita pilih adalah perpisahan.

Kalau mau berbicara tentang bagaimana kita harus menikah dan memilih pasangan, pembahasannya lebih spesifik dari pembahasan ini; masih banyak masalah lain yang perlu dibahas.

Di Iraq, banyak sekali terjadi pernikahan antara keluarga Suni dengan Syiah. Namun itu bukan berarti kedua belah pihak keluarga saling menerima akidah satu sama lain, bukankah Allah Swt telah berfirman bahwa tidak ada seorang pun yang menanggung dosa orang lain?


Syiah menuduh Aisyah sebagai penghianat

Tanya: Tuhan telah menurunkan ayat suci-Nya pada peristiwa Ifk[1] yang terkenal, yang menunjukkan kesucian ‘Aisyah istri Nabi. Namun mengapa Syiah sampai sekarang juga masih menuduhnya sebagai pengkhianat?

Jawab: Mengapa anda tidak merujuk ke tafsir-tafsir Syiah? Para penafsir Syiah mensucikan ‘Aisyah dalam perkara Ifk. Silahkan anda merujuk ke tafsir-tafsir Syiah.[2]

Almarhum Thabathabai menolak kebenaran riwayat-riwayat Ahlu Sunah yang menyatakan bahwa Rasulullah saw telah berburuk sangka terhadap istrinya. Yakni Allamah Thabathabai telah lebih jauh mensucikan istri Nabi ketimbang Ahlu Sunah sendiri.

Perbedaan pendapat antara penafsir Syiah dan Suni dalam perkara Ifk adalah, sebagian dari mereka menyatakan bahwa ayat tersebut tidak berkenaan dengan ‘Aisyah, namun Mariyah Qibthiyah, berdasarkan dalil-dalil sejarah. Namun manapun yang benar, yang terpenting adalah istri-istri Nabi, entah ‘Aisyah entah Mariyah, semuanya suci dari tuduhan semacam ini.

Yang aneh lagi, penanya dalam pertanyaannya (saya tidak bawakan di sini) menyatakan bahwa istri-istri Nabi mungkin saja berbuat dosa, namun mereka tidak mungkin berkhianat dalam masalah keintiman. Lalu ia menjadikannya kaidah umum yang berlaku bagi seluruh istri Nabi. Mereka menjadikan tafsir ayat 10 surah At-Tahrim sebagai alasan pandangannya.

Lagi pula sebelumnya telah saya jelaskan (pada jawaban pertanyaan ke-51) bahwa tafsir Qumi tidak dapat dijadikan rujukan secara ilmiah. Karena tafsir tersebut didapat dari seseorang yang tidak dikenal yang menisbatkannya kepada Ali bin Ibrahim. Kebanyakan isinya diriwayatkan dari Ziyad bin Mundzir yang dikenal dengan Abil Jarud, seorang yang dhaif dalam riwayat.

Namun maksud kami membela ‘Aisyah ini bukan berarti kami membelanya secara total. Tidak diragukan bahwa ia telah melakukan perbuatan yang bertentangan dengan syari’at, yakni pemberontakannya terhadap pemerintahan Ali bin Abi Thalib. Padahal sebelumnya Allah swt telah berfirman, “Dan tinggallah kalian di rumah-rumah kalian…”[3]

Semua ulama Syiah dan para sejarawan sepakat bahwa sikap tersebut salah. Meskipun ada saja yang membela-bela ‘Aisyah dengan membawa alasan ‘Aisyah berijtihad. Padahal semua tahu bahwa semua orang tidak punya hak untuk berijtihad di hadapan firman Tuhan yang jelas.


[1] An-Nur: 11.

[2] Majma’ul Bayan, jld. 4, hlm. 120; Al-Mizan fi Tafsiril Qur’an, jld. 15, hlm. 105 dan 116.

[3] Al-Ahzab: 33.


Aisyah keluar rumah tanpa izin suaminya

Sibth bin Jauzai, salah seorang ulama besar Ahlu Sunah. Ia menulis banyak kitab terkenal. Ia selalu sibuk di masjid-masjid baghdad berceramah menyampaikan wejangan-wejangannya untuk memberi petunjuk kepada masyarakat sekitarnya. Ia wafat pada tahun 597 di Baghdad.[1]

Salah satu kriteria khas Imam Ali bin Abi Thalib as adalah, ia sering berkata kepada semua orang: “Tanyalah kepadaku sebelum kalian kehilangan aku.”

Ucapan itu adalah ucapan khas Imam Ali as dan Imam-Imam setelahnya. Siapapun selain mereka yang berkata seperti itu pasti ujungnya malu sendiri.

Ada sebuah dialog antara Sibth bin Jauzi dengan seorang perempuan pemberani. Pada suatu hari, Sibth bin Jauzi mengaku sangat pintar dan berkata “Wahai orang-orang, tanyalah apapun kepadaku sebelum kalian kehilangan aku.” Padahal saat itu banyak sekali hadirin yang duduk di sekitar mimbarnya.

Lalu seorang perempuan dari bawah mimbar berkata, “Beritahu aku, apakah hadits ini benar atau tidak; hadits yang mengatakan bahwa sekelompok Muslimin telah membunuh Utsman bin Affan lalu jenazahnya dibiarkan begitu saja sampai tiga hari dan tak satupun ada yang bersedia mengangkatnya untuk dikubur?”

Sibth bin Jauzi menjawab, “Ya, memang benar.”

Perempuan: “Apakah hadits ini juga benar; ada hadits yang mengatakan bahwa ketika Salman Al Farisi berada di Madain dan meninggal di sana, Imam Ali as dari Kufah datang ke Madain lalu menshalati jenazah Salman, mengkafani dan menguburkn jenazahnya karena ia tidak mau jenazah Salman tergeletak begitu saja?”

Sibth bin Jauzi: “Ya, benar hadits itu.”

Perempuan: “Lalu mengapa Ali bin Abi Thalib yang saat itu juga berada di Madinah tidak mau datang mengurusi jenazah Utsman bin Affan untuk dimandikan, dikafani dan dikuburkan? Padahal keduanya sahabat nabi? Kalau begitu pasti salah satu di antara mereka ada yang salah: Kalau bukan Ali yang salah karena tidak mau menguburkan orang yang beriman, berarti Utsman bukanlah orang yang beriman sehingga Ali tidak bersedia mengurus jenazahnya?[2]

Sibth bin Jauzi diam sejenak. Karena jika ia menyebut salah satu dari keduanya salah, berarti ia telah menentang keyakinannya bahwa keduanya adalah kahlifah yang benar. Oleh karena itu ia berkata:

“Wahai perempuan, jika engkau datang ke sini tanpa izin suamimu lalu engkau banyak berbicara dengan orang yang bukan muhrim seperti aku, maka semoga Tuhan melaknatmu. Namun jika engkau datang dengan izin suamimu, maka semoga Allah melaknat suamimu.”

Perempuan itu heran dan berkata: “Apakah Aisyah pergi ke luar rumah untuk berperang melawan Ali bin Abi Thalib dalam perang Jamal telah minta izin terlebih dahulu kepada nabi atau tidak?”

Sibth bin Jauzi juga tidak bisa menjawab pertanyaannya. Karena jika ia menjawab bahwa Aisyah tidak meminta izin untuk keluar rumah, berarti ia telah menyalahkan Aisyah. Namun jika ia menjawab bahwa nabi mengizinkannya ke luar rumah, berarti ia telah menyalahkan Ali bin Abi Thalib.

Ia tidak berkata apa-apa. Lalu tak lama kemudian turun dari mimbarnya dan pulang ke rumah.[3]


[1] Safinatul Bihar, jilid 1, halaman 193.

[2] Namun akhirnya tiga hari kemudian ada sebagian orang yang secara diam-diam menggotong jenazahnya dan dikuburkan di belakang Baqi’, kuburan orang-orang Yahudi. (Tarikh, Thabari, jilid 9, halaman 143.

[3] Biharul Anwar, jilid 29, halaman 647.


Pernikahan antara keturunan Ahlul Bait dan para sahabat

Tanya: Kebanyakan pembesar dari kalangan sahabat telah mengikat hubungan kekeluargaan dengan Ahlul Bait Nabi; hubungan itu serasi dan Ahlul Bait pun mencintai mereka. Bukankah demikian?

Jawab: Kami perlu menjelaskan dua hal penting di sini:

Pertama: penanya berfikiran bahwa hubungan kekerabatan antar kabilah merupakan tanda keharmonisan dan keserasian mereka. Karena para sahabat menikah dengan anggota keluarga dari Ahlul Bait, maka hubungan mereka serasi. Sebagaimana yang dikenal dahulu kala bahwa adanya pernikahan antar kabilah menunjukkan keserasian hubungan antara mereka.

Padahal ikhtilaf dan perselisihan antara Ahlul Bait dan sahabat-sahabat Nabi bukanlah perselisihan yang bersifat kekabilahan, namun ikhtilaf akidah dan sikap; yang mana tidak dapat diselesaikan dengan jalinan hubungan pernikahan beberapa orang dari anak cucu mereka.

Dengan penjelasan lain, jika seandainya ikhtilaf dan perselisihan antara keluarga Nabi dengan kelompok lain merupakan ikhtilaf politik, ekonomi, atau semisalnya , kita dapat menanggapi adanya pernikahan antar kedua belah pihak sebagai tanda membaiknya hubungan mereka.

Titik ikhtilaf mereka ada bertumpu pada permasalahan yang sangat prinsip dan mendasar, yaitu kekhilafahan dan kepemimpinan umat Islam sepeninggal Nabi. Permasalahan ini tidak akan dapat diselesaikan hanya dengan adanya pernikahan antar keluarga; hingga saat ini pun masih belum tuntas terselesaikan. Jadi, pernikahan Hasan atau Husain putra Ali bin Abi Thalib dengan wanita dari keluarga khulafa tidak akan pernah menjadi indikasi adanya kedekatan pemikiran antara mereka.

Di Iraq, banyak sekali terjadi pernikahan antara keluarga Suni dengan Syiah. Namun itu bukan berarti kedua belah pihak keluarga saling menerima akidah satu sama lain.

Khalifah ketiga memiliki seorang istri beragama Kristen; ia bernama Na’ilah. Apakah hal itu menjadi bukti bahwa Utsman bin Affan adalah orang Kristen dan berpemikiran sama?[1]

Kedua: bukankah Allah Swt telah berfirman bahwa tidak ada seorang pun yang menanggung dosa orang lain?[2] Jika seseorang merupakan pendosa besar, anak cucunya tidak akan menanggung dosanya. Jika kakek-nenek seseorang telah menzalimi keluarga Nabi, dosa itu tidak akan dipikul oleh cucunya. Karena setiap orang menanggung dosa dan kebajikan masing-masing.

Lebih dari itu, dalam jawaban pertanyaan ketiga kita telah jelaskan bahwa keputusan-keputusan sedemikian rupa diambil oleh para Imam Syiah demi kemaslahatan yang telah mereka pertimbangkan. Mereka tidak ingin pengikutnya terus tertekan keadaan dan penderitaan. Namun sikap itu tidak menjadi dalil adanya persamaan pemikiaran antara mereka dengan para khulafa.


[1] Al-Bidayah wa Al-Nihayah, jld. 7, hlm. 153.

[2] An Najm:38.


Pernikahan Ummu Kultsum dengan Umar bin Khattab

Tanya: Bukankah Ummu Kultsum, putri Ali bin Abi Thalib, dinikahkan dengan Umar bin Khattab? Bukankah hal itu menunjukkan keserasian hubungan mereka?

Jawab: Pernikahan Ummu Kultsum dengan Umar bin Khattab adalah masalah yang masih kontroversial dalam sejarah kita. Penggalan dari peristiwa tersebut dalam sejarah ditukil secara berbeda-beda versi dan terkadang saling bertentangan pula. Oleh karena itu, untuk menetapkan sesuatu kita tidak bisa bersandar pada -hal-hal yang masih kontroversi dan tidak jelas seperti ini. Coba lihat versi-versi riwayat yang ada tentang pernikahan tersebut sebagaimana yang disebutkan di bawah ini:

1. Ali bin Abi Thalib menikahkan putrinya dengan Umar bin Khattab.

2. Pernikahan itu berlangsung dengan perantara Abbas paman Ali bin Abi Thalib.

3. Pernikahan itu berlangsung atas dasar ancaman.

4. Pernikahan akhirnya berhasil dan Umar memiliki seorang anak bernama Zaid.

5. Khalifah terbunuh sebelum perayaan pernikahan.

6. Zaid pun juga mempunyai seorang anak.

7. Ia terbunuh dan tidak memiliki warisan.

8. Ia dan ibunya terbunuh pada satu hari yang sama.

9. Ibunya masih hidup setelah kematiannya.

10. Maharnya empat puluh ribu Dirham.

11. Maharnya empat ribu Dirham.

12. Maharnya lima ratus Dirham.

Perbedaan versi riwayat sedemikian rupa membuat orang yang mendengarnya ragu akan benar atau tidaknya berlangsungnya pernikahan tersebut.[1]

Anggap saja memang pernikahan itu telah berlangsung, namun, kita tidak bisa menyebutnya sebagai pernikahan yang dilaksanakan secara wajar-wajar saja, yakni dengan kerelaan kedua belah pihak keluarga. Karena:

1. Tidak ada yang bisa mengingkari bahwa pada saat itu hubungan keluarga Rasulullah Saw dan Khalifah sedang renggang sekali disebabkan oleh peristiwa penyerangan rumah putri Rasulullah Saw dan penghinaan terhadapnya. Banyak sekali bukti-bukti yang menjadi saksi terjadinya peristiwa menyakitkan itu.[2]

2. Umar adalah orang yang kasar dan keras, ketika khalifah pertama memilihnya sebagai khalifah, sekelompok sahabat ribut karena masalah itu dan berkata: “Engkau telah memilih orang yang keras dan kasar untuk menjadi penguasa kami!”

3. Thabari menulis: “Khalifah, mulanya melamar putri Abu Bakar yang bernama Ummu Kultsum, namun karena Umar adalah orang yang keras wataknya dan kasar perilakunya, putrinya menolak untuk dinikahi.”[3]

Oleh karena itu, kita tidak bisa menjadikan pernikahan tersebut sebagai bukti baiknya hubungan.

Jika kita setuju bahwa pernikahan merupakan bukti baiknya hubungan, berarti Rasulullah Saw memiliki hubungan yang baik dan sepemikiran dengan Abu Sufyan, karena beliau telah menikahi putrinya, Ummu Habibah? Padahal Abu Sufyan adalah orang yang telah menyalakan api perang-perang berdarah melawan Islam seperti perang Uhud dan Ahzab.

Begitu pula apakah berarti sepemikiran dan berhubungan baik dengan Huyaiy bin Akhtab karena beliau telah menikahi anaknya yang bernama Shafiyah?

Ulama Syiah telah membahas lebih jauh dan melontarkan kritikan-kritikannya terhadap peristiwa ini dalam buku-bukunya.


[1] Perbedaan versi riwayat yang seringkali bertentangan itu dijelaskan dalam Adz Dzari’ah Ath Thahirah, karya Abi Bashar Daulabi (224-310 H.) hlm. 157.

[2] Peristiwa penyerangan dan penghinaan terhadap rumah wahyu serta putri Rasulullah Saw (Fatimah Az Zahra) tercantum dalam buku-buku terpercaya Ahlu Sunah, misalnya Al-Musnaf, jld. 8, hlm. 490, nomor 4549, milik Abi Syaibah, guru Bukhari yang wafat pada tahun 235 H.; Ansab Al-Asyraf, milik Baladzari, jld. 1, hlm. 586, cetakan Darul Ma’arif, Kairo; Al-Imamah wa As Siyasah, Ibnu Qutaibah (213-276 H.), jld. 1, hlm. 13012, cetakan Maktabah Tijari Kubra, Mesir;Tarikh Thabari, Thabari (224-310 H.), jld. 2, hlm. 443; Istii’aab, Ibnu Abdul Badr (368-463 H.), jld. 3, hlm. 972; dan masih banyak lagi.

[3] Tarikh Thabari, jld. 5, hlm. 58.


Sebagian orang dengan tanpa lelah berusaha terus menerus merendahkan posisi dan kemuliaan Ahlulbayt dan Kesucian keluarga rasul Saww.

Bahkan sebagian lainnya tanpa ragu menjadi penerus kesalahan sejarah dengan bangga dan busung dada.

Disamping fitnahan atas imam Ali As yang menurut ‘sejarah miring’ bahwa beliau –difitnah- menikahi putri Abu jahal. Demi mendukung hujjah mereka tuk menyelamatkan nama baik dua syaikh saat terkena pasal ketidak ridhoan Az Zahro As

Ar Rasul Saww : “Keridoan Fatimah adalah keridhoan ALLAH, kemurkaan Fatimah adalah kemurkaan ALLAH”

Yang pembahasan mengenai hal tersebut akan di urai dalam bab berikutnya.

Satu point yang akan dibahas kali ini adalah kesalahan fundamental berkali kali dari sejarah yang beredar di umum hasil ‘karya besar’ ulama Ummayah demi membuat bangga leluhur Ummayah yang mati di badar adalah :

TUDUHAN BAHWA PUTRI SUCI IMAM ALI AS, UMMU KULTHUM AS MENIKAH DENGAN UMAR BIN KHOTTOB

Kitab sejarah Abul fida volume 1 halaman 171 dan Al Faruq Shibli Numani Vol II halaman 593 sama sama meredaksikan :

“Pernikahan Umar dengan ummu kulthum berlangsung pada tahun 17 hijriyah saat ummu kulthum berusia 5 atau 4 tahun. Dengan dasar ini diyakini bahwa tahun kelahiran ummu kulthum adalah 12 atau 13 hijriyah.”

Sesungguhnya dalam riwayat yang dibawakan kedua sejarahwan diatas terdapat beberapa kejanggalan bila mengacu pada riwayat yang di redaksikan Bukhari :

“Sayyidah Fatimah As meninggal 6 bulan setelah wafatnya rasulullah Saww dan beliau As meninggal pada tahun yang sama dengan tahun meninggal Rasulillah Saww yaitu 11 hijriyah, sementara ummu kulthum putri imam Ali as lahir pada tahun 9 hijriyah.”

Analisa 1 :
Dengan dasar ini adalah tidak mungkin ia adalah ummu kulthum yang sama.
Sejarahwan sunni mencantumkan kelahiran ummu kulthum yang menikah dengan umar tahun 12 atau 13 hijriyah

Sementara bukhari mencantumkan tahun kelahiran putri Imam Ali As tahun 9 hijriyah.
Tidak akan pernah mungkin pribadi yang belum lahir menikah dengan Pria Dewasa

Paparan :
Kesucian Ahlulbayt terus terjaga dengan pernikahan wanita wanita mereka dengan sesama bany hasyim

Umar bin khottob mempunyai 7 orang istri, yang pertama bernama zainab saudari dari uthman bin mazun

Istri yang kedua bernama qariba putri dari Ibn Umait al makzami dan saudara dari Ummul mukminin ummu salamah ra. Qariba bercerai dari umar pada tahun 6 sebelum masehi setelah perjanjian hudabiyah

Istri ketiga bernama malaika anak dari jarul al khuzai yang juga dipanggil Ummu kulthum, karena ia menolak islam maka malaika (ummu kulthum binta jarul) ini pun di ceraikan pada tahun yang sama (tahun 6 sebelum masehi)

Istri yang ke empat bernama jamila anak dari Asim bin Thabit. Nama asli jamila adalah Asya yang kemudian oleh Rasul Saww diganti rasul Saww menjadi jamila saat ia di dalam ISLAM.

Istrinya yang lain adalah ummu hakim anak dari Al harith bin hisyam al makhzumi dan lainnya adalah Fukhia yamania dan Atika putrid dari zaid bin Amr bin nafil
[Al Faruq - Volume II by Shibli Numani English Translation]

Analisa 2 :
Redaksi dalam kitab al faruq diatas mencantumkan nama ummu kulthum/malaika binta jarul yang juga merupakan istrinya yang ketiga namun telah diceraikan sesaat setelah perjanjian hudabiyah

Lalu siapa yang di nikahi umar kemudian yang juga di sebut ummu kulthum…?

Untuk ini kita akan tengok sebuah sejarah yang juga diawali dari Hadith Suci Al Musthofa Saww bahwa “Abu bakar dipersaudarakan dengan Umar dan Imam Ali As dipersaudarakan Dunia wal akhirat dengan Rasulillah Saww”

Abu bakar mempunyai beberapa Putri selain ummul mukminin Aisyah. Perincian nama namanya bisa di jumpai pada Tarikh Tabari vol 3 hal 50, Tarikh kamil vol 3 hal 121, al isaba ibn hajar al asqalani vol 3 hal 27, dinulikkan bahwa Abu bakar mempunyai seorang putri bernama Ummu kulthum

Abu bakar meninggal pada tahun 13 hijriyah, dan usia pernikahan ummu kulthum binta abu bakar saat menikah adalah 4 tahun (17 h)

Aisyah adalah putri tertua Abu bakar, dengan meninggalnya Abu bakar, umar memberikan ummu kulthum kepada Aisyah sebagai penanggung jawabnya, seperti di redaksikan Tarikh khamis vol 3 hal 267, Tarikh kamil vol 3 hal 21 dan Al istab ibn bdul barr vol 2 hal 795

Kesimpulan :
Dengan demikian diperoleh kesimpulan bahwa umar bin khottob menikahi Ummu kulthum binta Abi Bakar melalui Aisyah dan bukan Ummu kulthum binta Ali as.

Pernikahan Umar dengan ummu kulthum binta Abu bakar terjadi pada tahun 17 Hijriyah
Sesuai dengan Kitab sejarah Abul fida volume 1 halaman 171 dan Al Faruq Shibli Numani Vol II halaman 593 sama sama meredaksikan :

“Pernikahan Umar dengan ummu kulthum berlangsung pada tahun 17 hijriyah saat ummu kulthum berusia 5 atau 4 tahun. Dengan dasar ini diyakini bahwa tahun kelahiran ummu kulthum adalah 12 atau 13 hijriyah.”

Tambahan :
Dalam thabari vol 12 hal 15, Tarikh Khamis vol II hal 318 dan Al Istiab Ibn Abdu; Barr Vol 2 hal 795 diredaksikan :

“Ummu kulthum yang di nikahi Umar bin khattab meninggal sebelum tahun 50 hijriyah, hasan bin Ali As, Abdullah bin Umar dan Sa’ad bin Abi Waqash diminta umar tuk menyolatinya. Sejarah mencatat bahwa ummu kulthum binta Ali As ikut dalam rombongan karbala dan menjadi saksi pembantaian Putra Suci As Syahidu Syabab As pada tahun 61 hijriyah. Dan juga sejarah mencatat bahwa setelah peristiwa duka tersebut Ummu kulthum binta Ali As menikah dengan Abdullah bin Jafar At thayyar.”

Catatan kecil :
Hubungan Umar dengan ahlulbayt tidak lah mulus dengan diketahuinya penyerangan Rumah Ahlulbayt dan pendrobakan pintu rumah Imam Ali As sehingga menyebabkan keguguran janin Al Muhsin As. Serta Persaksian Sayyidah Fatimah As yang diredaksikan Muslim bahwa Beliau As tidak meridhoi keduanya akibat perbuatan zalim mereka kepada Ahlu Kisa As.


Syiah bisa seenaknya saja berbuat dosa

Tanya: Syiah berkeyakinan bahwa mereka tidak masalah seperti apapun dosa mereka, karena mereka mencintai Ali. Keyakinan macam apakah ini?

Jawab: Ini juga tidak terbukti. Syiah tidak sama seperti Murji’ah. Penganut aliran Murji’ah lah yang berkata bahwa iman cukup untuk menyelamatkan kita dari api neraka, meskipun kita tidak melakukan amal perbuatan apapun. Justru Syiah kebalikan dari itu. Menurut Syiah, tidak hanya iman itu tidak cukup, bahkan diperlukan amal saleh yang diiringi dengan ketulusan serta ketakwaan. Allah swt berfirman:

“Sesungguhnya Allah menerima amal perbuatan yang dilakukan oleh orang-orang yang bertakwa.”(Al-Maidah:  27)

Imam Baqir as berkata kepada salah satu sahabatnya yang bernama Jabir:

“Wahai Jabir, apakah cukup seseorang mengaku pengikut kami dan Ahlul Bait saja? Sungguh demi Tuhan, pengikut kami yang sebenarnya adalah orang yang berpaling dari dosa dan selalu mentati Tuhannya. Kriteria pengikut kami adalah rendah hati, takut akan Allah, zikir, shalat, puasa dan amal saleh…”[1]

Ini hanyalah sebuah contoh dari riwayat-riwayat yang ada terkait dengan masalah ini dan masih banyak riwayat yang lainnya. Jika seandainya ditemukan riwayat yang bertentangan dengan riwayat di atas, yakni menyatakan bahwa amal saleh tidak perlu dilakukan, karena itu bertentangan dengan Al-Qur’an maka riwayat sedemikian rupa tidak dapat diterima.

Coba anda tunjukkan Syiah yang mana yang telah seenaknya melakukan dosa karena mengaku mencintai Ahlul Bait?

Bukannya kalian sendiri yang pernah menukilkan bahwa Rasulullah saw berkata kepada para pahlawan Badar (perang Badar):

“Lakukanlah apa yang ingin kalian lakukan sesuka hati, karena aku telah mewajibkan surga atas kalian.”[2]

Kalian kum Salafi telah menginjak kehormatan-kehormatan Ilahi dengan cara mendidik teroris-teroris. Kalian tidak menghormati darah orang tua atau anak kecil, tidak menghormati harta benda kaum Muslimin dan wanita-wanita mereka. Menurut kalian semua umat Islam selain pengikut Muhammad bin ‘Abdul Wahab adalah musyrik dan murtad yang harus kalian tumpahkan darahnya dan rampas hartanya serta menawan wanita-wanitanya. Apakah anda yang seperti ini dengan nyaman membandingkan diri dengan Syiah?


[1] Amali, Syaikh Thusi, hlm. 743; Al-Kafi, jld. 2, hlm. 73.

[2] Shahih Bukhari Nafi’,  kitab Al-Maghazi, 304, hadits 3983.


Imamah atau ke-imaman dari segi bahasa adalah kepemimpinan dan setiap orang yang memiliki kedudukan sebagai seorang pemimpin disebut dengan imam (yang mana kata jamaknya adalah aimmah), baik memimpin di jalan yang benar maupun di jalan yang batil. Allah Swt. berfirman:

Dan Kami jadikan mereka pemimpin-pemimpin yang menyeru (manusia) ke neraka dan pada hari kiamat mereka tidak akan ditolong. (QS. Al-Qashash [28] : 41)

Adapun dalam istilah ilmu Kalam, adalah kepemimpinan umum atas seluruh masyarakat Muslim di seluruh perkara baik perkara agama maupun dunia yang mana dari sudut pandang syi’ah keabsahaman kepemimpinan ini bergantung pada penobatan Tuhan dan nabi-Nya. Oleh karena itu, penentuan imam setelah kenabian adalah hal yang dituntut oleh hikmah Ilahi.

Pentingnya Keberadaan Imam

Dalam pembahasan sebab-sebab kenabian terakhir Rasulullah Saw. kita telah jelaskan bahwa ada tiga perkara yang dapat menjadi sebab perlunya diutus seorang nabi baru dan diturunkannya syariat baru di sepanjang sejarah manusia dan tiga perkara tersebut tidak ada dalam diri Islam.

Pertama, ketidak-cukupan syari’at-syari’at sebelumnya mengingat kebutuhan-kebutuhan masyarakat mendatang telah dicukupkan oleh Allah Swt. dengan diutusnya nabi Muhammad Saw.

Kedua, ajaran nabi-nabi sebelumnya selalu mengalami penyelewengan dan perubahan (tahrif) atau ajarannya dilupakan. Namun Islam, Allah swt. sendiri yang menjaga Al-Qur’an dari tahrif.

Ketiga, kitab-kitab langit menjelaskan permasalahan-permasalahan secara global dan para nabi-lah yang bertugas untuk menjelaskannya secara rinci. Dengan meninggalnya nabi, berarti tidak ada orang yang menjelaskan kitab suci tersebut dan juga banyak permasalahan-permasalahan baru bermunculan dan hukumnya tidak dapat dijelaskan. Oleh karenanya, hikmah Ilahi menuntut diutusnya seorang nabi baru yang dapat menyempurnakan kekurangan ini. Adapun bagaimana dengan Islam? Jawabannya begini: dalam faham mazhab syi’ah pemenuhkan kekurangan tersebut telah diperhitungkan pula sebelumnya dan Allah Swt. dengan cara menentukan imam-imamm maksum yang memiliki kriteria-kriteria yang sama seperti nabi Muhammad Saw., hanya saja mereka tidak memiliki kedudukan sebagai seorang nabi atau rasul, menjaga Islam dari penyelewengan dan tahrif. Para imam selalu diilhami sehingga dapat menjelaskan permasalahan apa saja yang akan datang nanti. Dengan pemenuhan kebutuhan seperti inilah Islam menjadi agama sempurna yang tidak perlu ada agama lain setelahnya untuk diturunkan.[1]

Poin terakhir, yakni ketergantungan Islam sebagai agama sempurna dan global terhadap ditentukannya imam maksum dan tidak benarnya penentuan imam selain dengan cara penobatan, dapat kita fahami dari beberapa ayat dan riwayat yang mana penafsirannya pun juga telah dijelaskan.

Di surah Al-Ma’idah Allah Swt. berfirman:

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. (QS. Al-Maa’idah [5] : 3)

Secara sekilas dari melihat nada ayat di atas kita memahami bahwa pasti ada peristiwa yang terjadi sebelum diturunkannya ayat tersebut. Kejadian itu adalah batu bata terakhir bangunan Islam yang telah diletakkan dan karenanya Islam menjadi sempurna lalu menjadi agama yang diridhai Allah Swt. untuk dipeluk umat manusia. Hari itu juga adalah hari yang dimana kaum kafir telah berputus asa atas usahanya meruntuhkan pilar Islam. Penafsiran ayat ini dengan jelas tercatat dalam buku-buku tafsir ternama. Hari itu adalah hari ke-18 Dzulhijjah, ketika Rasulullah Saw. sedang kembali dari haji Wada’, saat beliau tiba di suatu tempat bernama Ghadir Khum. Di hari itu Rasulullah Saw. berbicara di depan umum tentang diangkatnya Imam Ali As. sebagai imam dan pengganti setelahnya dengan berkata “Siapakah yang memiliki wewenang di antara kalian atas diri kalian dan juga lebih mulia daripada kalian?” Para haji menjawab “Allah Swt. dan engkau, wahai Rasulullah.” Lalu beliau mengangkat tangan Imam Ali As. hingga terlihat ketiak mereka lalu dengan tegas berkata “Barang siapa menjadikan aku sebagai pemimpinnya, maka jadikanlah Ali sebagai pemimpinnya.”[2]

Berdasarkan kandungan hadis di atas, ditentukannya Imam Ali As. sebagai seorang imam setelah Rasulullah Saw. adalah penyempurna agama Islam. Dan, Islam sebagai agama yang sempurna, di dalam teks nya harus ada yang namanya penobatan imam maksum untuk semua periode setelah nabi. Karena tiadanya hal itu di dalam Islam bertentangan dengan kesempurnaan agama tersebut; karena sebagaimana yang kita tahu pengutusan Rasulullah Saw. kelazimannya adalah penobatan seorang imam. Karena tanpa ditentukannya seorang imam maka apa yang telah dilakukan dan disampaikan oleh nabi Muhammad Saw. adalah sia-sia belaka. Oleh karenanya Allah Swt. berfirman:

Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. (QS, Al-Maa’idah [5] : 67)

Berdasarkan berbagai riwayat baik dari kalangan Suni maupun Syi’ah, perkara yang harus disampaikan oleh Rasulullah Saw. sebelum kepergiannya adalah perkara kepemimpinan Imam Ali As.[3]

Kriteria Seorang Imam

Saat kita mengamati dengan detil dalil-dalil aqli pentingnya keberadaan imam, kita dapat menyimpulkan bahwa imam sebagai seorang pengganti nabi harus memiliki tiga kriteria pokok: dinobatkan oleh Allah Swt., memiliki ilmu yang diilhamkan dari-Nya, dan maksum. Karena, dari satu sisi, jika seorang imam tidak memiliki ilmu yang diilhamkan oleh Allah Swt. dan tidak maksum, maka ia tidak mungkin bisa menjaga ajaran Islam dari penyelewengan dan tahrif; mereka juga tidak bisa menjelaskan hukum-hukum dengan benar. Dan dari sisi lain, hanya Tuhan yang mengetahui siapa yang memiliki kriteria-kriteria tersebut sehingga dapat Ia jadikan imam. Ketiga kriteria tersebut dapat kita temukan dalam ayat-ayat Al-Qur’an.

1. Dinobatkan Oleh Tuhan

Kita meyakini bahwa Imam Ali As. dinobatkan oleh Allah Swt. melalui rasul-Nya untuk menjadi imam setelah nabi Muhammad Saw. Dengan demikian, sempurnalah agama Islam. Ayat yang memerintahkan beliau untuk menyampaikan deklarasi penobatan Imam Ali As. sebagai imam dan hadis-hadis yang menunjukkan kepemimpinannya adalah bukti penobatan imam dari sisi Tuhan. Ditambah lagi ketika nabi ditanya siapakah Wali Amr yang harus ditaati? Apakah setiap pemimpin negara harus ditaati? Atau orang-orang tertentu saja? Rasulullah Saw. menjawab dengan menyebutkan nama-nama imam setelahnya. Dan dengan demikian beliau telah menentukan siapa saja imam yang akan memimpin kelak.

2. Ilmu yang Diilhamkan

Di ayat suci yang berbunyi: Berkatalah orang-orang kafir: “Kamu bukan seorang yang dijadikan Rasul.” Katakanlah: “Cukuplah Allah menjadi saksi antaraku dan kamu, dan antara orang yang mempunyai ilmu Al Kitab” (QS. Ar-Ra’d [13] : 43) Di ayat tersebut diterangkan mengenai kesaksian Tuhan dan sebagian orang di hari kiamat atas kebenaran ajaran agama Islam yang mana mereka memiliki “ilmu Al Kitab”.

Para ahli tafsir dalam menjelaskan ayat tersebut berkata bahwa maksud dari ilmu Al Kitab adalah pengetahuan terhadap apa yang tercatat pada lauhul mahfudz. Maksudnya adalah, seseorang dapat menjadi saksi kebenaran risalah nabi Muhammad Saw. ketika ia memiliki ilmu yang diilhamkan oleh Allah Swt. tentang lauhul mahfudz. Juga banyak riwayat yang menjelaskan bahwa orang-orang yang memiliki ilmu Al Kitab adalah Imam Ali As. dan anak-anaknya yang maksum. Dengan demikian ayat tersebut menyinggung ilmu ghaib para imam yang diilhamkan oleh Allah Swt. kepada mereka. ayat lain yang serupa adalah: Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. (QS. Al-Baqarah [2] : 143)

Karena memberikan kesaksian amal perbuatan manusia di hari kiamat adalah bagian dari pengetahuan akan semua perbuatan umat manusia dengan niat-niat mereka dan kesaksian ini tidak mungkin diberikan kecuali saksinya memiliki ilmu ghaib yang diilhamkan.

Untuk menjelaskan maksud ayat ini, meskipun ada beberapa pendapat yang telah diutarakan, namun pandangan-pandangan yang lebih sesuai dengan kandungan ayat tersebut dan juga pernah dijelaskan dalam berbagai riwayat adalah bahwa yang dimaksud dengan ummatan wasatha dalam surah Al-Hajj ayat 77 adalah para imam dan washi Rasulullah Saw. Dalam sebuah riwayat yang ditukil dari Imam Shadiq As. disebutkan bahwa beliau berkata “Apakah kalian pikir yang dimaksud dengan ummat wasath yang bersaksi atas semua umat manusia adalah seluruh Muslimin?” Sesungguhnya bukan begitu, maksud dari istilah tersebut adalah Ahlul Bait As.

3. Kemaksuman

Syi’ah berkeyakinan bahwa para imam Syi’ah, begitu pula dengan Fathimah Azzahra As., meskipun mereka bukan nabi tapi mereka memiliki derajat kemaksuman. Oleh karena itu, kemaksuman bukanlah kriteria khusus yang hanya dimiliki para nabi saja, namun selain nabi juga ada orang-orang yang maksum.

Kemaksuman yang dimiliki oleh 13 manusia suci tersebut sama persis dengan kemaksuman yang dimiliki para nabi. Yakni mereka terjaga dari segala dosa, baik sengaja atau tidak, dan juga dari kelalaian dan kelupaan. Ini bukan berarti selain 13 manusia suci tidak ada manusia maksum, karena mungkin saja ada orang lain yang juga maksum karena kebiasaannya untuk tidak berbuat dosa. Karena siapapun yang telah memiliki sifat taqwa yang melekat, meskipun dia berada dalam situasi yang benar-benar mendorongnya untuk berdosa namun ia tidak melakukannya, ia adalah maksum, alias terjaga dari dosa tersebut. Misalnya orang-orang seperti Salman Al-Farisi. Hanya saja, kita tidak bisa memastikan kemaksuman selain 13 manusia suci dan para nabi; kita hanya bisa memberikan kemungkinan saja. Rasulullah Saw. pernah bersabda “Salman adalah termasuk dari kami, Ahlul Bait.” Mungkin kata itu menunjukkan bahwa Salman memiliki beberapa kriteria yang juga dimiliki oleh Ahlul Bait As. Tidak hanya salman, orang lain siapapun itu, jika ia memiliki sifat taqwa yang benar-benar melekat dan tak melakukan dosa, dapat dikata bahwa ia telah mencapai derajat kemaksuman.

Berdasarkan apa yang telah lalu, jelas apa bedanya kemaksuman yang dimiliki oleh nabi dan 13 manusia suci dengan kemaksuman selain mereka. Kemaksuman manusia-manusia suci dapat dibuktikan dengan berbagai dalil baik ayat maupun riwayat. Di sini kita akan membawakan dalil-dalil kemaksuman para imam:

Dalil Qur’ani Kemaksuman Para Imam

Untuk membuktikan kemaksuman para imam, Syi’ah menjadikan beberapa ayat sebagai dalilnya. Misalnya:

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. An-Nisaa’ [4] : 59)

Ayat ini memerintahkan orang-orang yang beriman untuk mentaati Allah, Rasul-Nya, dan Wali Amr. Ketaatan itu pun adalah ketaatan total, yakni lebih dari ketaatan dalam lingkup keagamaan, namun juga sosial dan politik juga. Istilahnya, kita harus mentaati perintah-perintah mereka baik yang maulawiyyah maupun yang wilayah. Sebagaimana yang telah kita bahas sebelumnya, Rasulullah Saw. memiliki beberapa kedudukan, yang mana kita harus mentaatinya di semua kedudukannya.

Lalu bagaimana ayat tersebut membuktikan kemaksuman para imam? Kata “taatilah” di ayat tersebut diulang sebanyak dua kali: pertama hanya untuk Allah Swt., dan kedua untuk Rasulullah Saw. dan Wali Amr. Dengan melihat kesejajaran Rasul dan Wali Amr di ayat tersebut dari segi harusnya mereka ditaati, menunjukkan bahwa mereka memiliki kedudukan yang sama untuk ditaati.

Ayat tersebut mengharuskan ketaatan terhadap mereka secara mutlak tanpa alasan apapun. Sebagaimana Allah Swt. harus ditaati tanpa alasan, Rasul dan Wali Amr juga harus ditaati seperti itu. Karena dalam sastra Arab, kata “taatilah” di sini adalah mutlaq dan ketaatan terhadap Rasulullah Saw. dan para imam merupakan kelaziman dari ketaatan terhadap Tuhan.

Jika mereka adalah orang-orang yang tidak terjaga dari dosa, maka ada kemungkinan kita bisa tidak mentaati mereka, dan itu bertentangan dengan kandungan ayat; ada dua perintah yang bertentangan: mentaati Tuhan yang tidak mungkin salah, dan mentaati Rasulullah Saw. yang mungkin salah. Jadi, dapat dikatakan bahwa karena Allah Swt. memerintahkan kita untuk mentaati mereka, artinya Ia telah menjamin bahwa segala yang mereka perintahkan adalah benar, yakni mereka maksum.

Di sisi lain, ayat tersebut diturunkan dalam rangka mengagungkan Rasulullah dan Wali Amr. Bagaimana mungkin orang yang tidak maksum disejajarkan dengan Rasulullah saw. dan mereka diagungkan di hadapan Tuhan?

Dan juga, ketaatan yang sampai ditekankan seperti ini adalah ketaatan khusus, bukan ketaatan biasa seperti kita mentaati orang biasa karena ia memerintahkan apa yang diperintahkan Tuhan dan melarang apa yang dilarang-Nya dalam rangka Amar Makruf Nahi Munkar. Karena jika tidak, apa gunanya ketaatan tersebut dijelaskan dan ditekankan dalam Al-Qur’an?

Selain apa yang telah dijelaskan tadi, jika seandainya ayat di atas ada pengecualiannya, yakni kita harus mentaati Rasulullah Saw. dan Wali Amr, kecuali begini dan begitu, pasti Allah Swt. telah mengatakannya sejak awal. Artinya ketatan terhadap mereka tidak ada pengecualiannya. Adapun ketaatan terhadap selain mereka, ada pengecualiannya, seperti ketaatan terhadap kedua orang tua. Allah Swt. berfirman:

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. (QS. Al-Israa’ [17] : 23)

Ayat tersebut menekankan ketaatan terhadap orang tua. Namun karena orang tua bukanlah manusia suci yang terlepas dari dosa, Allah Swt. memberikan pengecualiannya dengan berfirman:

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS. Al-‘Ankabut [29] : 8)

Jadi, perintah Allah Swt. dan penekanan-Nya untuk mentaati Rasulullah Saw. dan para imam, dengan mengingat apa yang telah kita bahas di atas, mengisyarahkan kemaksuman mereka. Karena jika tidak maksum bagaimana mungkin Allah Swt. memerintahkan kita untuk taat tanpa terkecuali?

Salah satu syubhat yang sering didengar adalah, jika memang 12 imam adalah Wali Amr yang dinobatkan oleh Tuhan, lalu mengapa nama mereka tidak disebutkan dalam Al-Qur’an? Syubhat ini telah tersebar sejak zaman para imam hidup hingga sekarang. Namun untuk menjawabnya, para imam sendiri telah mengajari kita untuk menjawab begini: di dalam Al-Qur’an ada perintah shalat, namun apakah kalian melihat detil berapa rakaat kita harus shalat? Lalu kita harus bertanya kepada siapa tentang berapa rakaat kita musti shalat? Kita harus bertanya kepada Rasulullah Saw. Allah Swt. berfirman:

keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. Dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan, (QS. An-Nahl [16] : 44)

Oleh karena itu, Rasulullah Saw. harus menjelaskan detil hukum-hukum syar’i. Begitu juga perintah zakat. Apakah Al-Qur’an menjelaskan bahwa dari 40 Dirham kita harus membayarkan satu Dirham? Tidak semuanya disebutkan dalam Al-Qur’an, kita yang harus mencari detilnya dalam ucapan-ucapan dan penjelassan Rasulullah Saw.

Untuk mengenal siapa Wali Amr, kita harus merujuk pada penafsirannya. Rasulullah Saw. sendiri yang menjelaskan tafsiran ayat tersebut. Diriwayatkan oleh Jabir bin Abdullah Anshari bahwa Rasulullah Saw. dalam rangka menjelaskan ayat tersebut menyebutkan nama para imam 12 dan mengenalkan mereka kepada para sahabatnya.[4]

Ayat lain yang dapat dijadikan bukti kemaksuman para imam adalah:

Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. (QS. Al-Ahzaab [33] : 33)

Pada ayat tersebut Allah Swt. menyebutkan ada sekelompok orang yang dikenal dengan Ahlul Bait, dan Ia hendak mensucikan mereka dari dosa. Kehendak ini pasti kehendak yang khusus berkenaan dengan mereka. Kehendak Tuhan ada dua, tasyri’i dan takwini. Kehendak tasyri’i adalah kehendak yang berkaitan dengan perintah Tuhan kepada manusia yang mana jika perintah tersebut dijalankan, kehendak Tuhan akan tercapai. Misalnya, Allah Swt. memerintahkan mandi dan wudhu karena Ia hendak mensucikan kalian (dari hadas baik kecil maupun besar). Kehendak tersebut akan terwujud dengan dijalankan perintah mandi dan wudhu. Namun kehendak takwiniadalah kehendak yang pasti akan tercapai tanpa  syarat apapun. Sebagai contoh, saat Allah Swt. berkehendak untuk menciptakan manusia, Ia berkata “Jadilah! Maka ia jadi.”

Ahlul Bait As.

Sebagian ulama Ahli Sunah, menganggap Ahlul Bait sebagai istri-istri nabi, karena permulaan ayat berbicara tentang mereka. Dengan demikian mereka menganggap kehendak Allah Swt. dalam ayat itu sebagai kehendak tasyri’i, karena mereka tidak meyakini kemaksuman istri-istri nabi. Dengan demikian, bagi mereka ayat tersebut tidak dapat dijadikan bukti kemaksuman para imam.

Namun apa yang mereka fahami salah. Karena beberapa alasan, misalnya, dhamir dalam bagian terakhir ayat semuanya untuk lelaki, bukan untuk perempuan. Dengan demikian tidak mungkin yang dimaksud adalah istri-istri nabi. Tidak hanya itu, lebih dari 70 riwayat baik dari Syi’ah maupun Suni yang merupakan riwayat sahih menjelaskan bahwa yang dimaksud Ahlul Bait dalam ayat tersebut adalah lima manusia suci: Rasulullah Saw., imam Ali As., Sayidah Fathimah Azzahra As., imam Hasan As. dan imam Husain As.[5]

Kehendak takwini Tuhan tidak berarti jabr, namun artinya adalah kehendak itu pasti akan terjadi dan bahkan sudah terjadi. Perlu diketahui bahwa pada dasarnya kehendak takwini Tuhan mencakup segala ciptaan-Nya, baik melalui perantara pelaku yang berkehendak, maupun pelaku-pelaku alami yang tidak berkehendak. Kehendak takwini di ayat ini adalah kehendak yang terwujud melalui perantara pelaku yang berkehendak, yakni Ahlul Bait dengan kehendaknya sendiri mencapai kedudukan suci kemaksuman.

Kedudukan Para Imam

Syi’ah berkeyakinan bahwa semua kedudukan yang dimiliki Rasulullah Saw., selain kedudukan sebagai seorang nabi dan rasul, juga dimiliki oleh para imam. Keyakinan ini adalah salah satu keyakinan pokok dalam ajaran Syi’ah. Ayat Al-Qur’an yang membuktikan hal ini adalah ayat yang telah kita baca tadi, ayat 59 surah An-Nisaa’.

Sebagaimana sebelumnya telah dijelaskan, kedudukan para imam sebagai para pemimpin umat Islam secara umum dapat ditetapkan dengan ayat tersebut.

Adapun kedudukan sebagai hakim, sesungguhnya masalah kehakiman adalah bagian dari pemerintahan. Rasulullah Saw. dengan kedudukannya sebagai wali Muslimin dapat menjalankan tugasnya sebagai seorang hakim; begitu juga dengan para imam.

Dengan kedua kedudukan agung tersebut, kita pasti juga sampai pada pemahaman dimana mereka juga memiliki kedudukan berikutnya, yakni terpercayanya ucapan-ucapan mereka dalam menjelaskan penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an. Karena seseorang yang telah dipilih Tuhan untuk duduk sebagai hakim pasti benar-benar memahami penafsiran ayat-ayat kitab suci-Nya; karena jika tidak ia tak mungkin bisa menghakimi dengan benar.

Dengan demikian kita dapat menyimpulkan bahwa Wali Amr adalah orang-orang pilihan Tuhan yang memiliki kedudukan sebagai pemerintah, hakim, dan juga penafsir ayat-ayat suci Allah Swt.

Berdasarkan pembahasan sebelumnya, telah terbukti bahwa Wali Amr adalah imam-imam suci. Apakah ada juga selain mereka? Jawabnya, ya. Para imam suci juga pernah memerintahkan kita untuk merujuk kepada seorang yang adil dan faham betul akan agama di masa keghaiban Imam Mahdi Aj., istilahnya faqih, dengan beberapa kriteria yang telah mereka sebutkan. Mereka berkata bahwa menolak pendapat seorang yang faqih sama dengan menolak kami, dan itu artinya syirik. Inilah dasar Wilayatul Faqih. Pembahasan ini tidak bisa kita teruskan lebih lanjut, karena keluar dari pembahasan asli buku ini.


[1] Mengenai Rasulullah Saw., dengan melihat bahwa beliau beberapa tahun pertama dakwahnya dimulai di Syu’b Abi Thalib di dalam kepungan kaum musyrikin, selama 10 tahun sering berperang melawan musuh-musuh Islam, dan kondisi-kondisi susah seperti itu tidak membiarkan beliau untuk dapat menjelaskan hukum-hukum syar’i dan pengetahuan-pengetahuan Islam secara sempurna kepada umatnya.

[2] Syaikh Kulaini, Al-Kafi, jil. 1, hlm. 289.

[3] Al-Ghadir, jil. 1, halaman 52, 214-216, 219, 220, 222; Ushul Al-Kafi, jil. 1, hlm. 289 dan 295; Ahmad Tabrasi, Al-Ihtijaj, jil. 1, hlm. 69; Ali ibn Muhammad Amadi, Ghayatul Maram, hlm. 336.

[4] Ghayatul Maram, hlm. 263-267.

[5] Ahmad bin Hambal, Musnad Ahmad, jil. 4, hlm. 107; Al-Kafi, jil. 1, hlm. 286-287.


Bagaimana orang-orang Iran menjadi Syiah

Jika dipikir-pikir, Islam masuk di Iran saat khalifah kedua, Umar bin Khattab, berkuasa; lalu bagaimana bisa kebanyakan penduduk Iran memiliki faham Syiah? Ternyata sejarah mencatat bahwa orang-orang Iran mengalami proses panjang untuk menjadi Syiah, yakni tepatnya sejak abad pertama hingga abad kedua Hijriah.

Ada dialog antara seorang Zoroaster dengan Alim Syiah tentang masalah ini. Mari kita simak dialog tersebut:

Tanya: “Aku pikir yang dapat menjad faktor  mengapa orang-orang Syiah dapat dengan mudah menjadi Syiah adalah hal-hal berikut ini:

1. Orang-orang Iran sudah terbiasa dengan sistim pemerintahan kerajaan, sehingga mereka dengan mudah menerima pemerintahan yang berlangsung turun temurun, yaitu imamah(keimaman para Imam Syiah).

2. Orang-orang Iran sejak dulu meyakini kekuasaan para raja adalah kekuasaan Ilahi yang sudah ditakdirkan Tuhan, yang mana keyakinan seperti ini sejalan dengan akidah Syiah Imamiah.

3. Pernikahan Imam Husain as dengan Syahrbanu, putri Yazdgird ke-3, raja Sasanid terakhir, adalah salah satu faktor mengapa faham Syiah dengan mudah tersebar.

4. Faham Syiah mengandung unsur kebanggaan diri orang-orang Persia di hadapan bangsa Arab. Oleh karena itu Syiah adalah buatan orang-orang Iran.”

Jawab: “Tak satu pun dari empat hal di atas yang menjadi faktor ke-Syiahan orang-orang Iran. Karena pondasi pertama Syiah sudah ada di jaman nabi Muhammad saw, yang kemudian pengikut Syiah mulai bertambah mulai dari Salman, Abu Dzar, Miqdad dan seterusnya.

Sejarah bahkan tidak membenarkan apa yang anda nyatakan tentang bagaimana orang-orang Iran menanggapi kerajaan-kerajaan yang ada. Justru orang-orang Iran kesal dengan kerjaan Sasanid saat itu karena mereka tidak melihat adanya keadilan dan kesejahteraan pada rakyat, dan tentunya mereka membenci pemerintahan yang turun menurun seperti itu. Mereka haus dengan datangnya aturan baru yang adil dan benar.

Adapun pernikahan Imam Husain as dengan putri Yazdgird, memang memiliki efek bagi ke-Syiahan orang-orang Iran; namun itu bukanlah faktor utama.”

T: “Jika memang demikian, apa faktor utama itu?”

J: “Panjang ceritanya. Ada 11 faktor yang dapat saya sebutkan mengapara kini kebanyakan penduduk Iran memeluk mazhab Syiah Imamiah, yang mana faktor-faktor tersebut adalah fase yang terus dilewati hingga akhirnya rakyat Iran menjadi seperti apa yang ada sekarang:

1. Pada pertengahan pertama abad ke-1 Hijriah, rakyat Iran memang sedang haus dengan datangnya pemerintahan baru yang adil dan benar. Oleh karena itu dengan kedatangan Islam mereka begitu menyambut dengan penuh kegembiraan. Salman Alfarisi memiliki peran utama dalam hal ini. Ia menjadikan Madain, ibu kota pemerintahan Sasanid waktu itu, sebagai pusat dakwah penyebaran Islam di Persia. Salman mempelajari Islam dari Ali as, dan Ali as dari Rasulullah saw. Yang mana ajaran tersebut adalah ajaran Syiah. Lalu orang-orang Persia pun mempelajari Islam dari Salman Al Farisi; demikian jalurnya.

2. Pemerintahan Islam di masa kekhalifahan Imam Ali as berpusat di Kufah, sebuah kota yang mana orang-orang Persia sering berlalu lalang di sana. Keadilan dan kecintaan beliau kepada rakyat menarik perhatian orang-orang Persia saat itu dan tentunya menjadi faktor mereka mau memeluk Islam.

3. Kebangkitan Imam Husain as yang dikenal dengan peristiwa Karbala. Amarah umat Islam yang sebenarnya pasca terbunuhnya Imam Husain as membuat berita tragis itu tersebar ke mana-mana, hingga ke telinga Muslimin (dan juga selainnya) di Persia. Berita mengejutkan tersebut membuat mereka bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi, dan menggiring mereka mengenal Syiah.

4. Masa keemasan para Imam di jaman Imam Shadiq as sangat memukau. Beliau sampai memiliki lebih dari empat ribu murid, yang setiap dari mereka adalah penyebar ajaran Islam. Yang tentunya memiliki peran istimewa tersebarnya faham Syiah di Iran.

5. Qom adalah tempat aman bagi para imigran Syiah Iraq yang datang ke Iran. Oleh karena itu keberadaan kota suci Qom juga memiliki peran penting tersebarnya faham Syiah di Iran.

6. Diasingkannya Imam Ridha as dari Madinah ke Khurasan (sebuah propinsi di Iran) juga menjadi faktor penting dalam masalah ini.

7. Kedatangan para pecinta Imam Ridha as ke Khurasan, yang akhirnya mereka menyebar di Iran, dan menjadi mubaligh yang mengajarkan faham Ahlul Bait.

8. Lambat laun semakin banyak ulama besar Syiah yang bermunculan, dan mereka membantu tersebarnya faham Syiah ke seluruh penjuru Iran. Mereka misalnya seperti Syaikh Kulaini, Syaikh Thusi, Syaikh Shaduq,  Syaikh Mufid, dan…

9. Pemerintahan dinasti Buwaih (Ali Buwaih) menjadi faktor penting penyebaran Syiah di Iran, yang mana pemerintahan itu adalah pemerintahan Islami Syiah.

10. Menjadi Syiah-nya Sultan Khoda Bandeh berkat Allamah Hilli di permulaan abad ke-8 Hijriah membuat Syiah semakin dikenal akhirnya diresmikan sebagai mazhab di Iran.

11. Berdirinya pemerintahan Shafawiyah yang dipengaruhi oleh ulama Syiah di abad ke-10 dan 11 Hijriah.”

Muawiyah orang pertama yang menyebarkan budaya mencaci sahabat dan meresmikannya, kenapa Hasan berdamai dengannya?


Muawiyah orang pertama yang mencaci sahabat

Mu’awiyah bin Abi Sufyan adalah orang pertama yang menyebarkan budaya mencaci sahabat dan meresmikannya. Ia adalah orang yang pernah mencaci khalifah masanya. Ketika ia mendengar bahwa Sa’ad bin Abi Waqqash enggan untuk mencaci Ali bin Abi Thalib, ia bertanya padanya, “Mengapa engkau tidak mau mencaci Ali?” Ia menjawab, “Karena Ali memiliki tiga fadhilah (keutamaan) yang tidak dimiliki oleh orang selainnya dan aku ingin sekali memilikinya. Bagiku keutamaan itu lebih berharga dari harta benda apapun.”

Lalu Sa’ad bin Abi Waqqash menjelaskan tiga fadhilah tersebut yang secara singkatnya seperti ini:

A. Dalam salah satu peperangan, Rasulullah Saw tidak mengajaknya untuk ikut. Beliau memerintahkannya untuk menjadi wakilnya di Madinah. Ali bin Abi Thalib berkata kepada beliau, “Apakah anda meninggalkanku bersama para wanita dan anak-anak?” Rasulullah Saw menjawab, “Apakah engkau tidak rela dalam hubunganmu denganku untuk menjadi seperti Harun bagi Musa? Hanya saja tidak ada Nabi lagi setelahku.”

B. Di saat perang Khaibar akan dimulai, Rasulullah Saw berkata, “Esok aku akan memberikan bendera (untuk berperang) kepada seseorang yang mana ia mencintai Tuhan dan Rasul-Nya. Dan, Tuhan serta Rasul-Nya pun mencintainya.” Kemudian setiap orang mengangkat kepalanya masing-masing dan berharap bendera akan diberikan kepadanya. Seraya memuji orang itu, Rasulullah Saw berkata, “Panggillah Ali.” Ali bin Abi Thalib datang namun ia sedang sakit mata. Rasulullah Saw mengusapkan air liurnya ke mata Ali lalu penyakitnya sembuh. Beliau memberikan bendara kepadanya kemudian Ali memenangkan benteng Khaibar.

C. Saat ayat Mubahalah turun, kedua belah pihak (Rasulullah Saw dengan seorang yang menantangnya) berencana untuk membawa orang-orang terdekatnya masing-masing baik dari lelaki, perempuan dan anak-anak. Lalu di hari Mubahalah Rasulullah Saw membawa Ali, Fathimah, dan Hasan serta Husain. Lalu beliau berkata, “Ya Allah, mereka adalah keluargaku…”[1]

Kini kami bertanya, Orang yang mencela seorang sahabat seperti ini dan memaksa orang lain untuk mencelanya pula, apakah termasuk seorang Muslim?

Coba kita membaca tafsir Al-Manar:

“Di Istanbul pernah diadakan suatu majlis pertemuan yang mana ada seorang tokoh terkenal dari Jerman hadir di situ, begitu pula ada banyak tokoh Makkah yang hadir. Ia berkata, “Bagi kami, bangsa Eropa, perlu untuk dibuat sebuah monumen patung Mu’awiyah bin Abi Sufyan untuk dipajang di Berlin.”

Para hadirin bertanya, “Mengapa?”

“Karena ialah yang telah menjadikan pemerintahan Islam sebagai kerajaan (dengan segala kriteria yang dimiliki). Jika tidak begitu, pasti Islam telah menyebar ke seluruh penjuru dunia dan bangsa Eropa pasti Muslim semuanya.”[2]


[1] Shahih Muslim, bagian Keutamaan Sahabat, bab Keutamaan Ali, hadits 2404.

[2] Al-Manar, jld. 11, hlm. 260.


Kalau Muawiyah murtad, kenapa Hasan berdamai dengannya

Tanya: Syiah berkeyakinan bahwa Mu’awiyah telah murtad. Lalu mengapa Hasan bin Ali menyerahkan kepemimpinan umat Islam kepada orang yang murtad?

Jawab: Semua fuqaha, baik dari kalangan Suni maupun Syiah, menyebut Mu’awiyah sebagai seorang baghi (pemberontak). Yakni ia adalah orang yang menentang Imam zamannya dan termasuk orang-orang yang zalim. Imam Ahmad bin Hambal berkata: Jika tidak ada Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib, dan andai beliau tidak memerangi orang-orang yang memberontak, pasti fuqaha tidak pernah memahami adanya hukum bughat (hukum para pemberontak). Ia telah memerangi tiga kelompok: Nakitsin (para pengingkar janji), Qasithin (para pemberontak dan orang zalim) dan Mariqin (orang yang tidak mau mentaati pemimpinnya/khawarij).

Amirul Mukminin  juga tidak pernah kalah dalam peperangan-peperangannya. Ia selalu menjalankan tugasnya. Apapun yang dilakukannya, semuanya sesuai perintah sang Nabi.

Adapun Imam Hasan as, ia tidak berniat menyerahkan pemerintahan umat Islam kepada pemberontak.

Jika anda beranggapan bahwa Imam Hasan as telah menyerahkan pemerintahannya kepada pemberontak hanya karena perdamaiannya dengan Mu’awiyah, lalu mengapa anda tidak beranggapan juga bahwa Rasulullah saw telah menyerahkan tanah suci Makkah dan rumah Tuhan ke tangan kaum musyrikin karena perdamaian Hudaibiah?


Tanya: Mengapa Imam Husain as. tidak melawan saat Mu’awiyah menjadi khalifah?

Jawab: Selama 11 tahun menjadi Imam, Imam Husain as. sering melakukan banyak perdebatan dengan Mu’awiyah. Hal ini dapat kita saksikan dalam surat-surat beliau yang ditujukan kepada Mu’awiyah. Dalam surat-surat beliau, tidak jarang beliau menyinggung kejahatan-kejahatan yang telah dilakukan Mu’awiyah seperti membunuh tokoh-tokoh Syi’ah sebagaimana Hajar bin ‘Uday dan ‘Amr bin Hamq. Dalam surat-surat itu juga Imam Husain as. menuding pemerintahan Mu’awiyah sebagai kejahatan besar bagi Muslimin.[1] Seperti itulah Imam Husain menunjukkan ketidak-cocokannya dengan pemerintahan Mu’awiyah. Beliau juga menyebut jihad melawan Mu’awiyah sebagai jihad yang terbaik dan orang meninggalkannya harus beristighfar.[2]

Adapun mengapa beliau tidak melawan Mu’awiyah waktu itu, kita bisa menemukan jawabannya dengan melihat kembali apa yang sering beliau sampaikan dalam perkataan-perkataannya. Selebihnya, kita dapat menemukan jawaban tersebut dengan cara menelaah kembali bukti-bukti sejarah lainnya yang berkenaan dengan beliau.

Perjanjian antara Imam Hasan as. dan Mu’awiyah

Imam Husain as. dalam salah surat yang telah beliau tulis untuk Mu’awiyah menyatakan bahwa beliau benar-benar menghormati surat perjanjian yang telah disepakati oleh Imam Hasan as. dan Mu’awiyah. Dalam surat tersebutlah beliau menentang tuduhan yang berbunyi bahwa beliau telah melanggar surat perjanjian itu.[3]

Tapi di sini timbul pertanyaan lain. Bukankah sejak awal saat Mu’awiyah memasuki Kufah ia sudah menginjak-injak perjanjian tersebut? Bukankah sejak awal Mu’awiyah tidak mempedulikan perjanjian tersebut? Lalu mengapa Imam Husain as. tetap bersikap sesuai perjanjian padahal perjanjian itu telah dilanggar sendiri oleh Mu’awiyah?

Kita dapat menjawab pertanyaan di atas dari beberapa sudut pandang:

Pertama, jika kita memperhatikan perkataan Mu’awiyah yang tercatat dalam surat-suratnya, kita tidak bisa menemukan bukti yang sangat jelas yang menunjukkan bahwa Mu’awiyah telah melanggar perjanjiannya. Dalam perkataannya, “Aku telah menjanjikan beberapa hal kepada Hasan bin Ali…”, kita dapat memahami bahwa bisa jadi hal-hal yang dijanjikan Mu’awiyah kepada Imam Husain tersebut di luar lingkaran perjanjian yang kita maksud. Oleh karena itu kita tidak bisa secara langsung menganggap Mu’awiyah telah melanggar perjanjian antara dia dengan Imam Hasan as. Atau paling tidak, dia mempunyai alasan agar tidak disebut sebagai orang yang telah melanggar perjanjiannya.

Kedua, kita harus membedakan antara pribadi Mu’awiyah dengan pribadi Imam Husain as. dalam dunia politik; sebagaimana nampak jelas sekali perbedaan Mu’awiyah dengan Imam Ali as. dalam dunia itu.

Dalam dunia politik, Mu’awiyah adalah tipe orang yang menghalalkan segala cara (meski cara-cara itu tidak benar) untuk mencapai tujuan-tujuannya. Kita dapat melihat contohnya ketika ia  berselisih dengan Imam Ali as. saat itu. Misalnya seperti alasan penuntutan darah Utsman, merayu Thalhah dan Zubair, menancapkan Al-Qur’an di ujung tombak saat perang Shiffin, menyerang kota-kota yang berada di bawah pemerintahan Imam Ali as. dan masih banyak lagi yang lainnya. Tapi di sisi lain, Imam Husain as. adalah seorang lelaki yang enggan melakukan kecurangan untuk menggapai tujuannya. Sebagaimana Imam Ali as. juga bukan tipe orang yang menghalalkan segala cara untuk mencapai kemenangannya. Imam Ali as. berkata, “Aku tidak akan pernah menggunakan kezaliman untuk mencapai kemenanganku.”[4]

Oleh karena itu, pantas saja Imam Husain as. tidak bersedia melanggar perjanjian kakaknya Al Hasan dengan Mu’awiyah meskipun Mu’awiyah sendiri telah melanggarnya.

Ketiga, kita harus benar-benar memahami situasi dan kondisi masa itu dan mari kita pikirkan apa yang akan terjadi jika Imam Husain as. tidak mementingkan perjanjian tersebut. Pada waktu itu Mu’awiyah dikenal sebagai seorang pemerintah negara Islam. Kekuasaannya sangat luas sekali, mulai dari negri Syam, Iraq, Hijaz, hingga Yaman. Di setiap sudut negara yang ia kuasai, terdapat kelompok-kelompok yang bekerja untuknya dan bertugas melakukan segala macam propaganda politik yang memberikan keuntungan kepada Mu’awiyah.

Ketika ia berselisih dengan Imam Ali as. saja ia mampu menyembunyikan kesalahannya dalam memberikan perlindungan kepada Utsman dan akhirnya khalifah ketiga itu mati terbunuh; bahkan ia mengaku di hadapan banyak orang bahwa dirinya adalah penuntut darah Utsman. Apa lagi di zaman Imam Husain as. yang mana tidak ada lagi kekuatan yang berarti yang dapat menandingi Mu’awiyah. Jika seandainya Imam Husain as. tidak mempedulikan perjanjian yang telah disepakati oleh kakaknya dengan Mu’awiyah, maka ia akan dituduh sebagai seorang pengingkar dan pengkhianat. Dan jika hal itu terjadi, maka pemikiran masyarakat umum akan berlawanan dengan beliau; dan akhirnya, usaha beliau dan sahabat-sahabat beliau dalam menyingkap kedok Mu’awiyah menjadi gagal dan sia-sia.

Posisi Mu’awiyah

Image Mu’awiyah begitu positif di mata masyarakat saat itu, terutama masyarakat Syam; sehingga sama sekali tidak memungkinkan adanya satu gerakan pun untuk melawan kekuatannya. Terlebih lagi mereka mengenal Mu’awiyah sebagai sahabat sang Nabi, penulis wahyu, dan saudara dari salah satu istri Rasulullah Saw. Mereka juga memandang Mu’awiyah sebagai seseorang yang memiliki peran utama dalam penyebaran Islam di wilayah Syiria dan Damaskus.

Bagitu juga pengalamannya dalam dunia politik serta umur yang dimiliki oleh Mu’awiyah yang mana ia jauh lebih tua dari pada Imam Hasan as. dan Imam Husain as. Dalam sebuah surat yang ia tujukan kepada Imam Hasan as., Mu’awiyah menyebut dua hal tersebut sebagai tanda kelayakannya untuk duduk di atas kursi kekhalifahan.[5] Dengan demikian, posisi Mu’awiyah sangat sulit diganggu gugat.

Siasat Mu’awiyah

Mu’awiyah selalu memanfaatkan segala kesempatan yang ia dapat untuk memberikan tekanan terhadap keluarga Bani Hasyim dan sampai-sampai ia berhasil membunuh Imam Hasan as. dengan cara meracuni beliau.[6] Akan tetapi, gerak geriknya begitu halus dan tersembunyi; ia berlaku keji di dalam namun di luar seakan ia yang nomor satu dalam memberikan penghormatan kepada Bani Hasyim, khususnya Imam Husain as. Sebagai contoh, salah satu siasatnya adalah, ia selalu memberikan hadiah-hadiah bulanan dan tahunan yang melimpah ruah kepada Imam Hasan as., Imam Husain as. dan Abdullah bin Ja’far (dan tujuannya hanyalah bersikap baik di luar, namun menyiksa di dalam—pent.). Adapun kenapa mereka menerima hadiah-hadiah tersebut, hal itu tidak perlu dipertanyakan, karena selain mereka memang berhak untuk memegang harta baitul mal, mereka juga paling tahu di jalan apa mereka harus menggunakannya.[7]

Inilah siasat Mu’awiyah dan kepicikannya. Bahkan sesaat sebelum ia mati pun ia sempat menasehati anaknya yang bernama Yazid bahwa jika kelak Imam Husain as. berperang melawannya, jangan sampai ia terbunuh.[8]

Kita dapat menyadari apa tujuan Mu’awiyah dari semua siasat piciknya ini. Jelas sekali dengan ini semua Mu’awiyah berusaha untuk menduduki kursi kekhilafahan yang dipandang sah oleh masyarakat umum. Ia tidak ingin kenyamanannya duduk di kursi kekhilafahan terganggu akibat tangan yang terlumuri darah Imam. Ia tidak ingin masyarakat memandangnya sebagai musuh keluarga nabi. Dengan demikian ia memamerkan kebaikan-kebaikannya terhadap keluarga nabi di mata umum meski di balik itu Mu’awiyah adalah yang paling keji terhadap Bani Hasyim. Mu’awiyah melakukan semua itu karena ia berpikiran bahwa dengan usahanya ia dapat membuat masyarakat merasa berhutang terhadapnya dan menghapuskan adanya kemungkinan masyarakat untuk memberontak. Di samping pemberian-pemberiannya pun, Mu’awiyah juga tak lupa menyisipkan kata-kata kecongkakan; ia berkata kepada Imam Hasan as. dan Imam Husain as., “Ambillah harta yang melimpah ini! Tapi ketahuilah, aku adalah anak Hindun, sedangkan anak-anak Hindun tidak pernah ada yang berbuat seperti ini padamu selain aku, baik sebelum aku atau setelahku nanti.”

Imam Husain as. menunjukkan bahwa dirinya sama sekali tidak merasa berhutang kepada Mu’awiyah hanya karena pemberian-pemberiannya dengan berkata, “Demi Tuhan, tidak ada satupun orang baik sebelummu maupun setelahmu yang dapat memberi hadiah-hadiah seperti ini kepada orang yang lebih mulia dari kami dua bersaudara ini.”[9]

Mu’awiyah sangat menyadari bahwa menggunakan cara yang kasar secara terang-terangan dalam menyikapi Bani Hasyim hanya akan memberikan hasil yang tak diharapkan. Jika ia terang-terangan tampil sebagai musuh Bani Hasyim, masyarakat umum bakal terheran-heran dengan sikapnya dan lama kelamaan timbul rasa benci di hati umum terhadap pemerintah, lalu satu persatu dari mereka akan menyadari kenyataan sebenarnya lalu menjadi pendukung Bani Hasyim. Yang lebih perlu kita perhatikan adalah, di zaman itu Mu’awiyah sama sekali tidak pernah memperkirakan adanya bahaya besar yang dapat ditimbulkan oleh Imam Husain as. Oleh karenanya, jalan terbaik untuknya adalah menjalankan siasat seperti ini.

Di sisi lain, Imam Husain as. selalu berupaya untuk mengukir tanda tanya sejelas-jelasnya atas pemerintahan yang tak sah ini. Salah satu contoh sikap beliau adalah surat-surat yang ditulis untuk Mu’awiyah dalam rangka mengingatkan ia atas pelanggaran-pelanggaran dan bid’ah-bid’ahnya.[10] Salah satu contohnya juga adalah penolakan beliau atas sikap Mu’awiyah yang mana sesaat sebelum meninggal ia mewasiatkan agar Yazid menjadi penggantinya.[11] Imam Husain as. pun sangat menyadari bahwa perlawanan ceroboh terhadap pemerintah tidak akan memberikan hasil apa-apa, terlebih lagi dengan adanya siasat busuk Mu’awiyah yang telah kita jelaskan dan juga upaya kaki tangan pemerintah yang tak pernah berhenti melakukan propaganda.

Kondisi saat itu

Imam Husain as. sesaat sepeninggal kakaknya Al Hasan as. menerima banyak surat dari warga Kufah yang mengaku sebagai pengikutnya dan siap dengan segala perintah Imam.[12] Akan tetapi, Imam Husain as. sama sekali tidak yakin ia akan menang jika ia bergabung dengan orang-orang Kufah itu. Beliau berfikiran sedemikian rupa dikarenakan beberapa sebab: kuatnya sistim pemerintahan Mu’awiyah yang berpusat di Syam, dikuasainya kota Kufah secara total oleh pihak pemerintah, di pengalaman-pengalaman sebelumnya warga Kufah pernah mengecewakan Imam Ali as. dan Imam Hasan as., Mu’awiyah memiliki wajah yang tampak sebagai seorang pemimpin Muslimin secara lahiriah meski kenyataannya ia serigala berbulu domba dan lain sebagainya. Oleh karena itu, melawan pemerintah bersama orang-orang Kufah artinya adalah membuang-buang tenaga yang sangat sedikit, mati konyol dan memberikan kesan pemberontakan.

Adapun di zaman pemerintahan Yazid, kondisi saat itu berbeda jauh dengan sebelumnya.


[1] Al Imamah Was Siyasah, jilid 1, halaman 180: Imam Husain as. berkata, “Aku tidak melihat kejahatan lain yang lebih besar dari pemerintahanmu bagi Muslimin.

[2] Ibid. Imam Husain as. berkata, “Demi Tuhan, aku tidak mengetahui adanya jihad yang lebih afdhal ketimbang berjihad melawanmu. Jika aku melakukannya, sesungguhnya itu untuk mendekatkan diri kepada Allah; dan jika aku tidak melakukannya, maka aku harus beristighfar.” Ucapan beliau ini juga disebutkan dalam Biharul Anwar, jilid 44, halaman 213 dengan sedikit perbedaan.

[3] Mausu’ah Kalimatul Imam Husain as., halaman 239: Beliau berkata, “Na’uzubillah. Aku tidak melanggar perjanjian yang telah disepakati oleh kakakku Al Hasan denganmu.”

[4] Nahjul Balaghah, khutbah 126.

[5] Maqatilut Thalibin, halaman 40. Mu’awiyah berkata, “Sesungguhnya aku lebih layak dan lebih berpengalaman dari pada engkau dan umurku lebih tua dari padamu… maka tunduklah kepadaku.”

[6] Al Irsyad, halaman 357.

[7] Mausu’ah Kalimah Al Imam Al Husain as., halaman 209 dan 210.

[8] Al Akhbarut Thiwal, halaman 227, dan Tajarib Al Umam, jilid 2, halaman 39.

[9] Tarikh Ibnu Asakir, Tarjumatul Imam Husain as., halaman 7, hadis ke-5.

[10] Biharul Anwar, jilid 44, halaman 212.

[11] Tarikh Ya’qubi, jilid 2, halaman 228; Al Imamah wa As Siyasah, jilid 1, halaman186.

[12] Tarikh Ya’qubi, jilid 2, halaman 228.

wahabi penuh dengan tuduhan yang tidak berdalil dan tidak masuk akal terhadap Syiah yang tentunya pesanan AS


Keyakinan tentang Bada', yakni para Imam lebih tinggi dari Tuhan

Tanya: Bada’ termasuk kepercayan dan akidah Syiah, padahal di sisi lain mereka meyakini para Imam mengetahui ilmu ghaib. Apakah para Imam lebih tinggi dari Tuhan?

Jawab: Pertanyaan di atas diutarakan berdasarkan sebuah kitab yang ditulis oleh Syaikh Nashir Qafari, yang termasuk sekongkol Salafi.

Kitab tulisan Syaikh Qafari penuh dengan tuduhan yang tidak berdalil terhadap Syiah, yang tentunya ia belajar dari gurunya, Ibnu Taimiyah. Pantas di dalam penuh dengan tuduhan yang tidak masuk akal. Sebagai contoh saya jelaskan beberapa di antaranya; Ia menulis, “Di Iran Imam Khumaini menambahkan namanya sebelum dua syahadat dalam adzan.”[1]

Saya heran mengapa penanya hanya membaca buku orang seperti ini.

Penanya bertanya tentang bada’, lalu berkata bahwa Syiah meyakini bada’; kemudian secara mengherankan ia menyimpulkan bahwa Syiah menganggap para Imamnya lebih tinggi dari Tuhan. Nalar apakah yang telah digunakannya hingga berlogika seperti ini?

Saya akan menjelaskan kedua masalah di atas:

Pertama, bada’ yakni seorang manusia merubah nasib baiknya karena telah melakukan perbuatan buruk. Begitu juga, manusia dapat merubah nasib buruknya dengan melakukan amal perbuatan baik. Allah swt berfirman:

“Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh mahfuzh).” (Ar-Ra’d: 39)

Seorang ahli hadits besar dari kalangan Ahlu Sunah, Jalaluddin Suyuthi dalam kitabnya Ad Durr Al-Mantsur, dalam menafsirkan ayat tersebut membawakan beberapa riwayat dari Nabi yang intinya manusia dapat merubah sebagian dari nasib yang telah ditakdirkan Tuhan dengan melakukan amal perbuatan baik, misalnya berbuat baik kepada orang tua, atau bersedekah, dan lain sebagainya. Misalnya salah satu hadits yang ia bawakan seperti “Sedekah dapat menolak bala’.”[2]

Bada’ dengan pengertian seperti ini dapat diterima oleh semua Muslimin. Bada’ bukan berarti Tuhan tidak tahu akan takdir hambanya. Sebagai contoh, kaum Nabi Yunus telah ditakdirkan untuk menerima adzab karena pertentangannya. Nabi mereka telah memberitahukan mereka bahwa Tuhan hendak mengadzab mereka, beliau pun pergi meninggalkan kawasan yang mereka tinggali itu dan menjauhinya. Namun ternyata mereka menyesal, mereka mendengar perkataan seseorang lalu mereka bersama-sama pergi ke gurun dan meratapi dosa mereka sampai maningisinya. Allah swt menerima taubat mereka dan akhirnya Ia tidak jadi menurunkan siksaan-Nya. Kisah ini disebutkan dalam ayat yang berbunyi:

“Dan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? Tatkala mereka (kaum Yunus itu), beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai kepada waktu yang tertentu.” (Yunus: 98)

Mengenai peristiwa tersebut dapat dikatakan bahwa Tuhan pada mulanya hendak menurunkan adzab kepada umatnya. Namun terjadi bada’ dan Tuhan tidak jadi menurunkan siksaan. Ungkapan ini hanya berlaku bagi manusia sendiri, bukan bagi Tuhan; yakni, dari sudut pandang manusia Tuhan tidak jadi menurunkan siksaan-Nya karena umatnya telah bertaubat; namun dari sudut pandang Tuhan, Ia sejak awal sudah tahu bahwa mereka akan bertaubat. Lalu mengapa kita menggunakan istilah bada’? Alasannya karena Nabi dulu pernah menggunakan istilah tersebut, dan Bukhari pernah menukilnya dalam Shahih nya.[3]

Ada satu hal menarik, Wahabi sendiri dalam membahas “bertawasul kepada amal saleh” mereka menukilkan hadits bada’. Rasulullah saw bersabda:

“Ada tiga orang yang lari ke goa karena menghindar dari hujan. Tiba-tiba jatuh reruntuhan batu yang akhirnya menutup pintu goa. Mereka berbicara satu sama lain dan berkata, “Sungguh demi Tuhan, tidak akan ada yang bisa menyelamatkan kalian selain kejujuran. Siapapun di antara kalian yang pernah melakukan amal kebaikan, maka mintalah kepada tuhan untuk menyelamatkan kita dari kematian atas kehormatan amal tersebut.”…”

Bada’ tidak dapat diartikan sebagai kebodohan Tuhan. Karena Tuhan Maha Suci dari sifat yang sedemikian. Kita sebagai manusia yang memiliki sudut pandang terbatas melihat seolah fenomena yang sudah ditakdirkan Tuhan berubah-ubah. Saat dikatakan “terjadi bada’ bagi Tuhan”, itu hanyalah ungkapan emosional (yang diperuntukkan bagi manusia) saja, tidak bisa dikaitkan secara hakiki dengan ilmu yang Tuhan miliki. Karena Tuhan sejak semulanya mengetahui segala sesuatu dengan perubahan-perubahan yang akan terjadi; hanya kita saja yang tidak tahu.

Oleh karena itu, bada’ tidak bertentangan dengan ke-Maha-Tau-an Tuhan.

Jadi, jika kami meyakini bahwa Imam-Imam maksum memiliki ilmu ghaib, itu bukan berarti mereka lebih tinggi dari Tuhan; ilmu mereka adalah ilmu yang diberikan Tuhan, itupun terbatas; sedangkan ilmu sebenarnya yang dimiliki Tuhan tidaklah terbatas. Ilmu para Imam adalah karunia, sedang ilmu Tuhan adalah ilmu dari dzat-Nya sendiri.


[1] Ushul Madzah Asy Syiah, jld. 3, hlm. 154.

[2] Ad Durr Al-Mantsur, jld. 6, hlm. 661.

[3] Shahih Bukhari, jld. 4, hlm. 172, Kitab Ahadits Al-Anbiya’, hadits nomor 3465, dan Kitab Al-Buyu’, hadits nomor 2215.


Mengapa imam Syiah tidak menggunakan ilmu ghaibnya

Tanya: Jika Ali dan dua anaknya, Hasan dan Husain, memiliki kekuatan yang luar biasa dalam menghadapi kesulitan-kesulitan, lalu mengapa Hasan bin Ali memilih untuk berdamai dengan Mu’awiyah? Mengapa Husain bin Ali bernasib begitu malang hingga terbunuh di Karbala dan tidak mencapai tujuannya?

Jawab: Dalam Al-Qur’an memang dijelaskan bahwa Rasulullah saw memiliki kekuatan luar biasa. Beliau telah melakukan Isra’ Mi’raj, membelah bulan, dan mukjizat-mukjizat serta karamah lainnya. Semua itu telah ditukil dalam kitab-kitab hadits secara mutawatir. Namun meski ia memiliki kekuatan luar biasa seperti itu, beliau pernah mengalami patah gigi di perang Uhud, wajahnya berdarah, 70 orang dari sahabatnya gugur, dan seterusnya. Beliau meletakkan batu besar di atas perutnya untuk menahan lapar pada peristiwa perang Khandaq. Pada perjanjian Hudaibiah ia terpaksa untuk berdamai dengan kaum musyrik Makkah. Beliau gagal untuk memenangkan Thaif. Sepeninggal beliau banyak pemberontakan-pemberontakan di kabilah-kabilah Jaziratul Arab. Lalu menurut anda mengapa Nabi begitu sengsara seperti ini padahal ia memiliki kekuatan luar biasa?

Jawabannya singkat, para Nabi selalu berusaha hidup selayaknya manusia biasa; dan dalam keadaan biasa mereka selalu berdakwah mengajak manusia kepada jalan yang benar dan memusuhi orang-orang kafir yang memerangi mereka. Hanya saja terkadang mereka menggunakan kekuatan luar biasa yang telah dianugerahkan Tuhan kepada mereka untuk membuktikan kebenaran dakwah, yakni mukjizat.

Begitu pula Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as dan anak-anaknya as.

Anda secara tidak langsung telah menghina Husain as dengan mengatakan bahwa ia tidak mencapai tujuannya. Kami berkeyakinan beliau telah mencapai tujuannya. Jelas tujuannya adalah kebangkitan dan kesadaran umat Islam dalam berjihad dan ber-amar makruf nahi munkar. Beliau berhasil mengajarkan umat Islam untuk tidak diam di bawah penindasan pemerintah-pemerintah zalim Bani Umayah. Keberhasilan Al-Husain as telah menuai keberhasilan kebangkitan-kebangkitan setelahnya.

Penanya mengira Imam Husain as sama seperti para khalifah lainnya yang bekerja keras untuk mendapatkan kekuasaan. Oleh karena itu, saat melihat Imam Husain as gugur di medan perang, ia berkata bahwa Husain as gagal meraih tujuan.

Justru dengan gugurnya Imam Husain as hidup umat islam yang sebenarnya dimulai. Kehidupan yang penuh dengan kesadaran dan kebangkitan. Gugurnya Imam Husain as bukanlah kematiannya, namun kehidupan hakiki. Allah swt berfirman:

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki.” (Ali-Imran:169.)


Selain Al Qur'an, kitap apa saja yang disimpan Imam-Imam Syiah

Tanya: Apakah ada kitab selain Al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw? Apakah hanya Ali saja yang mengetahuinya? Apakah kitab-kitab seperti Al-Jami’ah, Shahifah Namus, Shahifah ‘Abithah, Shahifah Du’abatus Saif, Shahifah Ali, Jafr, Mushaf Fathimah, Taurat, Injil dan Zabur juga dimiliki dan disimpan oleh para Imam Syiah?

Jawab: Sepeninggal Rasulullah saw, umat Islam menjadikan Al-Qur’an dan Sunah Nabi sebagai pegangan mereka. Keduanya adalah rukun dasar yang mana berdirinya Islam bergantung pada dua rukun itu. Bagi kami, hadits-hadits para Imam maksum adalah cerminan sunah Nabi; karena kami yakin apa yang mereka katakan pasti dari Nabi.

Untuk menjaga sunah, terkadang Nabi memerintahkan untuk dituliskannya sunah tersebut. Misalnya:

1. Dalam Fathul Makkah, Rasulullah saw berkhutbah lalu setelah itu seseorang dari Yaman mendatangi Nabi lalu meminta agar dituliskan khutbah tersebut untuknya. Rasulullah saw memerintahkan para sahabatnya untuk menuliskan khutbah tersebut.[1]

2. Di akhir hayatnya Rasulullah saw bersabda, “Berilah aku sebuah pena dan kertas agar aku dapat menuliskan wasiat untuk kalian agar kelak kalian tidak akan tersesat.” Namun sayang sekali Umar menghalangi beliau dari penulisan wasiat seraya berkata, “Begitu parah sakit Nabi hingga beliau sampai mengigau. Cukup bagi kami kitab Allah.”[2]

3. Seseorang dari kaum Anshar duduk di dekat Nabi sambil mendengarkan ucapan-ucapannya. Namun ia sering lupa karena ingatannya yang lemah. Lalu ia mengadukan lemahnya ingatan itu kepada Rasulullah saw. Beliau berkata padanya, “Mintalah pertolongan pada menulis.” Yakni ia diperintahkan untuk mencatat daripada hanya mendengarkannya.[3]

Umar bin Syu’aib menukilkan dari kakeknya bahwa ia bertanya kepada Rasulullah saw, “Apakah aku perlu menulis apa yang telah aku dengar darimu?” Beliau menjawab, “Ya, tulislah.”[4]

Al-Qur’an pun memerintahkan jika seandainya kita berhutang kepada seseorang maka kita harus mencatatnya.[5]

Oleh karena alasan begitu pentingnya sunah Nabi, Ali as dan anak-anaknya selalu menulis dan mencatat segala apa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah saw.

Ali bin Abi Thalib as pernah berkata, “Setiap kali aku bertanya pada Nabi, beliau selalu menjawabku. Dan jika aku diam, ia yang selalu memulai memberitahu aku.”[6]

Oleh karena itu, segala kitab dan catatan yang dimiliki oleh Ali as semuanya hadits Nabi yang ia tulis dari apa yang ia dengar dari lisan beliau. Kitab-kitab yang ia tulis memiliki nama yang bermacam-macam dan diwariskan lalu disimpan oleh anak-anak dan keturunan beliau. Dalam riwayat kami sering disebutkan bahwa terkadang Imam Baqir as dan Imam Ja’far Shadiq as memberikan hukum berdasarkan kitab-kitab tersebut.[7]

Bahkan perlu anda ketahui bahwa Ali as tidak hanya selalu mencatat hadits saja, ia merupakan orang pertama yang mencatat Al-Qur’an. Beliau mencatatnya terus menerus selama dua puluh tiga tahun; selama dua puluh tiga tahun, begitu ayat Al-Qur’an diturunkan beliau mencatatnya. Ali as sendiri pernah berkata, “Demi Tuhan, tidak ada satu pun ayat dalam Al-Qur’an kecuali aku tahu untuk apa ayat itu turun dan di mana diturunkannya dan mengenai siapa. Tuhan telah mengkaruniai aku wadah ilmu yang luas dan lidah yang lancar dalam menjelaskannya.”[8]

Oleh karena itu, kitab-kitab yang telah anda sebutkan kebanyakan adalah kitab hadits Nabi. Misalnya seperti Mushaf Fathimah, kita telah jelaskan pula sebelumnya.

Nama-nama kitab yang telah disebutkan dalam pertanyaan tersebut juga disebutkan oleh Bukhari dalam Shahihnya.[9]

Anehnya si penanya menganggap keberadaan kitab-kitab tersebut sebagai titik lemah Syiah. Padahal bagi kami itu kebalikannya. Keberadaan kitab-kitab tersebut justru menunjukkan betapa Ahlul Bait mementingkan terjaganya sunah Nabi.

Di lain sisi, terasa aneh saat kita melihat sejarah Ahlu Sunah bahwa khalifah Umar pernah melarang Muslimin untuk tidak menuliskan hadits.

‘Aisyah pernah berkata, “Suatu malam aku melihat ayahku susah tidur. Aku bertanya apa sebabnya. Namun di pagi hari, dia berkata kepadaku, “Bawakan catatan-catatan hadits yang pernah kau simpan.” Seluruhnya ada sekitar 500 hadits Nabi dalam catatan-catatan itu. Ia mengumpulkannya menjadi satu lalu membakarnya.”[10]

Saat Umar bin Khattab menjadi khalifah, ia menulis surat pengumuman lalu disebarkan; yang isinya: “Barang siapa meulis selain Al-Qur’an dari Nabi, maka hendaknya tulisan itu dilenyapkan.”[11]

Semenjak itulah penulisan hadits dilarang sehingga penulisan hadits mendapatkan kesan buruk bagi masyarakat.

Namun pada pemerintahan Umar bin Abdul Aziz, ia sebagai khalifah merasa bahwa ditinggalkannya penulisan hadits akan mengancam keutuhan sunah nabawi. Kemudian ia menulis surat kepada Abu Bakar bin Hazm (seorang alim di Madinah) untuk menulis kembali hadits-hadits Nabi.[12]

Kondisi yang mencengangkan. Lambat laun muncullah para pedagang hadits yang menjual hadits-hadits palsu buatan mereka sendiri.

Salah jika kita perfikiran bahwa hanya Al-Qur’an saja kitab yang diperlukan umat Islam. Kita perlu kitab-kitab lain yang menjelaskan dan menafsirkan maksud Al-Qur’an.

Adapun para Imam juga menyimpan kitab-kitab langit lainnya seperti Taurat, Injil dan Zabur, itu memang benar dan tidak ada yang perlu dipermasalahkan mengenainya. Saat umat Islam menguasai kandungan kitab-kitab langit lainnya, hal itu dapat menjadi senjata yang ampuh bagi Muslimin untuk meraih kemenangannya saat berdakwah Islam kepada pemeluk agama lain. Sebagai contoh, Imam Ali Ridha as pernah berdebat dengan Ahlul Kitab dengan menggunakan kitab mereka sendiri karena ia menguasai kitab-kitab mereka; kitab yang mana di dalamnya disebutkan tanda-tanda dan ciri-ciri Nabi terakhir, Muhammad saw.


[1] Shahih Bukhari, bab Kitabul Ilm, hadits 112.

[2] Ibid, hadits 114.

[3] Sunan Tirmidzi, jld. 5, hlm. 39.

[4] Ibid, hlm. 125.

[5] Al-Baqarah: 282.

[6] Thabaqat Al-Kubra, Ibnu Sa’ad, jld. 2, hlm. 283; Sunan Tirmidzi, jld. 5, hlm. 638, hadits 2722, dan hlm. 40, hadits 3729; Tarikh Al-Khulafa, Suyuthi, hlm. 170.

[7] Wasailus Syiah, jld. 4.

[8] Thabaqat Al-Kubra, jld. 2, hlm. 338; Kanzul Ummal, jld. 15, hlm. 135.

[9] Shahih Bukhari, bab Kitabatul Ilm, hadits 1.

[10] Tadzkiratul Huffadz, Dzahabi, jld. 1, hlm. 5.

[11] Musnad Ahmad bin Hanbal, jld. 3, hlm. 12 dan 14.

[12] Shahih Bukhari, bab Kaifa Yafidhu Al-Ilm, hadits 4.


Alasan Imam-Imam Syiah ber-taqiyah

Tanya: Alasan bertaqiyah adalah karena takut akan siksaan atau kematian. Padahal para Imam maksum tidak takut akan kedua hal tersebut, lalu mengapa mereka bertaqiyah?

Jawab: Taqiyah bukanlah karena para Imam takut akan kematian ataupun siksan, namun ada alasan-alasan lain yang sebagian darinya dapat saya sebutkan di sini:

1. Pemerintahan Umawiah dan Abbasiah tidak menginginkan adanya perkumpulan di rumah Imam-Imam Syiah. Mereka benar-benar bertentangan dengan kegiatan tersebut. Pada era pemerintahan Mu’awiyah, perkumpulan-perkumpulan tersebut telah dibasmi; dan orang-orang seperti Hajar bin Uday dan Maitsam At Tammar digantung di depan umum. Oleh karena itu, supaya keberadaan para Syiah terjaga, para Imam memutuskan untuk ber-taqiyah.

2. Jika misalnya para Imam tidak ber-taqiyah, mereka tidak dapat melakukan tugas-tugas mereka yang lain. Dengan cara bertaqiyah para Imam dapat sedikit berinteraksi dengan kelompok penentangnya dan dengan cara ini pula para Imam dapat mengarahkan pengikut-pengikutnya. Jika tidak ber-taqiyah, hal itu musthail dilakukan.

3. Amar Makruf Nahi Munkar terkadang dapat dilakukan dengan cara menentang secara terang-terangan, dan terkadang tidak; karena mungkin hanya akan menimbulkan banyak kerugian.

Oleh karena itu para Imam tidak bertaqiyah untuk menyelamatkan nyawa mereka, namun tujuannya adalah menyalamatkan para Syiah.

Salamah bin Muhriz berkata: Aku berkata kepada Imam Shadiq as: “Seseorang telah menjadikanku washinya dan ia tidak memiliki anak selain seorang putri. Lalu bagaimana aku membagikan warisannya?” Imam berkata: “Berikanlah separuh hartanya kepada anak perempuan itu dan separuh lainnya kepada keluarga dari ayahnya.” Aku kembali ke Kufah dan menceritakan perbincangan kami dengan Imam kepada Zurarah. Zurarah berkata, “Imam menyatakan hukum ini atas dasar taqiyah. Hukum sebenarnya yang Imam benarkan adalah semua harta tersebut harus diberikan kepada anak perempuan tersebut.”

Tahun berikutnya aku datang ke Madinah untuk melaksanakan ibadah Haji. Aku menceritakan hal ini kepada Imam Shadiq dan aku berkata, “Sepertinya engkau telah ber-taqiyah saat itu.” Ia berkata, “Ya, benar, aku khawatir jika engkau memberikan semua harta sang ayah kepada anaknya maka keluarga ayah tersebut akan menuntutmu dan menagih separuh harta ayah darimu untuk mereka.”

Lalu beliau bertanya kepadaku, “Sebenarnya apa yang telah kamu lakukan terhadap separuh harta yang lain?” Aku menjawab, “Aku tidak memberikannya.” Ia membalas, “Apakah ada seorang pun yang tahu hal ini?” Aku jawab, “Tidak.” Lalu beliau menambahkan, “Maka berikanlah semuanya kepada anak perempuan itu.”[1]


[1] Wasail Asy Syiah, jld. 17, bab 14, hadits 3 dan bab 5, hadits 4.

Pembagian Tauhid Menurut Syi’ah


Pengertian Tiga Tauhid

Tauhid Dzat

Banyak orang berpendapat bahwa makna Tauhid Dzat (pengesaan Tuhan dalam Dzatadalah, bahwa Tuhan adalah Esa dan bukan dua. Ungkapan ini bukanlah sebuah ungkapan yang cermat, sebagaimana yang diriwayatkan dari Amirul Mukminin Ali a.s. Karena arti dari ungkapan ini adalah satu numerik. Artinya, dua bagi Tuhan dapat dikonsepsikan (tashawwur), akan tetapi tidak ada wujudnya di luar. Dan tentu saja ungkapan ini adalah ungkapan yang salah.

Ungkapan yang benar yaitu bahwa Tauhid Dzat berarti bahwa Tuhan itu satu dan dua bagi-Nya tidak dapat dikonsepsikan. Dengan kata lain, tidak ada yang serupa dan semisal dengan-Nya. Sesuatu tidak serupa dengan-Nya, dan juga Ia tidak serupa dengan sesuatu, sebab Dia adalah Satu Wujud Nir-­Batas Nan Sempurna memiliki sifat seperti ini.

Dengan argumentasi yang sama, kita jumpai dalam hadis.

Imam Ash-Shadiq a.s. pernah ditanya oleh salah seorang sahabat, “Apakah arti dari AllahuAkbar?”

Beliau menjawab, “Allah adalah lebih Besar dari segala sesuatu.” Dan beliau melanjutkan, “Apakah ada sesuatu yang lebih besar dari-Nya?”

Lalu sahabat itu bertanya lagi, “Lalu apa tafsir Alldhu Akbar itu?”

Beliau menjawab, “Allah adalah lebih Besar dari penyifatan.”[1]

Tauhid Sifat

Ketika kita mengatakan bahwa satu cabang tauhid adalah Tauhid Sifat (pengesaan Tuhan dalam sifat), maksudnya ialah; sebagaimana Dzat-Nya adalah azali (tidak bermula) dan abadi (tidak berakhir), pun sifat-Nya,seperti ilmu, kuasa, dan lain sebagainya azali dan abadi. Ini dari satu sisi.

Dari sisi lain, sifat ini bukanlah tambahan (za’id) dari luar Dzat-Nya, tidak memiliki sisi aksidental(‘aridh) dan teraksiden (ma’rudh), melainkan sifat ini adalah Dzat-Nya sendiri.

Dan dari sisi ketiga, sifat-Nya tidak terpisah dengan sifat yang lainnya. Maksudnya, ilmu dan kuasa-Nya adalah satu, dan keduanya adalah Dzat-Nya itu sendiri.

Penjelasan

Bilamana kita merujuk kepada diri kita sendiri, kita melihat pada mulanya kita tidak memiliki satu pun sifat-sifat yang melekat pada diri kita. Tatkala kita terlahir ke dunia ini, kita tidak memilki ilmu, juga tidak memiliki kekuasaan. Secara gradual, sifat­-sifat ini terbina dalam diri kita. Dengan dasar ini, sifat-sifat yang kemudian muncul ini adalah perkara-perkara “lain” dari luar diri (dzat) kita. Oleh karena itu, mungkin saja suatu hari kekuatan, ilmu dan pengetahuan yang kita miliki akan sirna. Dan juga dengan jelas kita melihat, antara ilmu dan kekuasaan yang kita miliki terpisah satu dengan yang lainnya. Kekuasaan berada pada raga kita dan ilmu berada pada ruh kita.

Akan tetapi, Tuhan sama sekali tidak dapat dikonsepsikan seperti di atas tadi. Seluruh Dzat-Nya adalah ilmu, dan seluruh Dzat-Nya merupakan kuasa. Dan segala sesuatu yang ada pada­Nya adalah satu. Tentu saja kita memastikan bahwa makna-makna ini tidak berada pada diri kita. Sifat-sifat dengan makna seperti ini tidak akrab dan tampak ruwet. Mak tidak ada jalan bagi kita selain menggunakan kekuatan logika dan filsafat, serta penalaran cermat.

Tauhid Fi’il

Artinya, setiap wujud, setiap gerak, setiap perbuatan di alam semesta ini kembali kepada DzatKudus ilahi. Tauhid Fi’il berarti pengesaan Tuhan dalam perbuatan. Dzat Kudus-Nya adalah sebab-musabab, sebab seluruh akibat. Bahkan, perbuatan yang kita kerjakan -dalam satu makna- berasal dari-Nya. Ia yang memberikan kekuatan (qudrah), kebebasan (ikhtryar), dan kehendak(iradah) kepada kita. Padahal -dengan demikian- kita adalah pelaku dari perbuatan-perbuatan kita sendiri. Dan kita bertanggungjawab atas perbuatan-perbuatan yang kita lakukan.

Dari satu perspektif, Tuhan adalah pelaku perbuatan kita sendiri. Lantaran segala sesuatu yang kita miliki berasal dari-Nya. Tiada yang dapat memberikan pengaruh di dalam alam wujud ini kecuali Allah!

Tauhid Ibadah

Maksudnya adalah Allah swt. satu-satunya Dzat yang harus disembah, dan selain-Nya tidak pantas disembah. Karena ibadah khusus bagi seseorang yang sempurna mutlak (kamal mutlaq)dan mutlak sempurna (mutlaq kamal)Dzat yang tidak memerlukan segala sesuatu, pemberi seluruh anugerah, pencipta seluruh wujud. Dan sifat ini tidak akan dijumpai selain pada Dzat Nan Kudus.

Tujuan utama ibadah adalah menemukan jalan untuk mendekatkan diri kepada derajat kesempurnaan mutlak dan mu dak sempurna, Wujud Nir-Batas itu. Dan refleksi pancaran dari sifat sempurna dan indah-Nya bertakhta dalam relung jiwa yang merupakan hasil penjagaan jarak dari hawa nafsu, serta menggayutkan diri kepada membina dan menghias diri (tahdzib nafs).

Tujuan ini hanya dapat tercapai dengan beribadah kepada Allah swt. yang merupakan Pemilik kesempurnaan mutlak.[2]


[1] Ma (mi al-Akbar, Syaikh Shaduq, hal. 11, hadis ke-l.

[2] Tafsir Nemuneh, jilid 27, hal. 446.

Akar peristiwa al-Ghadir menurut nukilan sejarah merupakan peristiwa yang telah ditetapkan dan dibuktikan validitasnya.  Para penulis sejarah dengan merekam pelbagai peristiwa dan menukil turun-temurun kisah ini dan menjadi sandaran masyarakat melalui jalan yang beragam, mengakui kebenaran masalah ini.  Sedemikian masalah ini argumentatif sedemikian sehingga ia dapat dijumpai pada sastra, teologi, tafsir, dan bahkan kitab-kitab hadis standar Ahlusunnah dan Syiah dimana Nasai salah seorang ulama besar Ahlusunnah menukil hadis ini melalui 250 sanad.

Definisi Syi’ah

Kata Syi’ah menurut bahasa adalah pendukung atau pembela. Syi’ah Ali adalah pendukung Ali atau pembela Ali. Syi’ah Muawiyyah adalah pendukung Muawiyyah.
.
Al-Mufid, seorang tokoh Syi’ah abad ke 5 H (w. 413 H/1022 M) mendefinisikan Syi’ah sebagai:
الشِّيْعَةُ أَتْبَاعُ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ صَلَوَاتُ اللهِ عَلَى سَبِيْلِ الْولاَءِ وَالْاِعْتِقَادِ بِإِمَامَتِهِ بَعْدَ الرَّسُوْلِ صَلَوَاتُ اللهِ عَلَيْهِ وَأَلِهِ بِلاَ فَصْلٍ, وَنَفَي الاِمَامَةَ عَمَّنْ تَقَدَّمَهُ فِي مَقَامِ الخِلاَفَةِ, وَجَعَلَهُ فِي الاِعْتِقَادِ مَتْبُوْعًا لَهُ غَيْرَ تَابِعٍ لِأَحَدٍ مِنْهُمْ عَلىَ وَجْهِ الاِقْتِدَاءِ (اوائل المقالات :2-4).
“Syi’ah adalah pengikut Amirul Mukminin (Ali bin Abi Thalib) shalawatullah ‘alaih atas dasar mencintai dan meyakini kepemimpinannya (imamah) sesudah Rasul SAW tanpa terputus (oleh orang lain seperti Abu Bakar dan lainnya). Tidak mengakui keimamahan imamah orang sebelumnya (Ali) sebagai pewaris kedudukan khalifah dan hanya meyakini Ali sebagai pemimpin, bukan mengikuti salah satu dari orang-orang sebelumnya (Abu Bakar, Umar dan Utsman).” (Al-Mufid, Awa’il al-Maqalat, hal. 2-4).

Definisi Al-Mufid di atas secara tegas menunjukkan bahwa kami tidak mengakui kekhalifahan sahabat Abu Bakar, Umar dan Utsman.


Yang dimaksud orang kafir yang najis hukumnya adalah:

1. Orang yang mengingkari Tuhan (tidak menerima adanya Tuhan).

2. Orang yang mengingkari kenabian Rasulullah saw.

3. Orang yang tidak mengesakan Tuhan (menganggap ada lebih dari satu Tuhan).

4. Orang yang mengingkari hal-hal paling penting dalam agama, yang sekiranya pengingkaran itu melazimkan pengingkaran terhadap nabi atau menyebabkan tidak sempurnanya agama.

5. Orang yang mencela para imam maksum atau bahkan memusuhi mereka

Rukun Iman Syi’ah
Pada dasarnya, dalam hal kepercayaan kepada Allah, Syi’ah tidak berbeda dengan Ahlussunnah wal Jama’ah. Syi’ah juga percaya bahwa Allah adalah Esa, tidak beranak dan diperanakkan. Kami juga meyakini bahwa Allah tidak serupa dengan sesuatu apapun, dan kami menghukumi kafir terhadap orang-orang yang menyekutukan Allah
.
Akan tetapi yang membuat doktrin Syi’ah dan Ahlussunnah berbeda adalah penambahan Syi’ah terhadap doktrin imamah. Menurut kami  siapapun yang beriman kepada Allah namun  mengi’tiqadkan juhud (ingkar)  terhadap kepemimpinan Sayyidina Ali setelah Nabi SAW dan para imam keturunan beliau, maka hukumnya melebihi hukum orang yang mengingkari shalat fardhu jika HUJJAH atau Dalil telah sampai kepadanya
.
Muhammad Jawad al-Amili berkata:
الإِيْمَانُ عِنْدَنَا إِنَّمَا يَتَحَقَّقُ بِالاِعْتِرَافِ بِإِمَامَةِ الأَئِمَّةِ الاِثْنيَ عَشَرَ عَلَيْهِمْ السَّلاَمُ, إِلاَّ مَنْ مَاتَ فِي عَهْدِ أَحَدِهِمْ فَلاَ يُشْتَرَطُ فِي إِيْمانِهِ إلاَّ مَعْرِفَةُ إمَامِ زَمَانِهِ وَمِنْ قَبْلِهِ.
“Iman menurut kami hanya terwujudkan dengan cara mengakui keimamahan Imam yang dua belas, kecuali bagi orang yang mati pada zaman salah satu dari mereka maka tidak disyaratkan beriman kecuali mengetahui Imam pada masanya dan masa sebelumnya.” (Ushul Madzhab al-Syi’ah, hal. 693)
.
Al-Kulaini dalam kitabnya menyebutkan suatu riwayat, sebagai berikut:
وعن أبي جعفر قال : “….. لَقِّنُوْا مَوْتَاكُمْ عِنْدَ المَوْتِ شَهَادَةَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَالْوِلاَيَةَ.
“Tuntunlah orang yang sedang sakratul maut bacaan syahadat (persaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah) dan wilayah (pengakuan atas kepemimpina Ali).” (Furu’ al-Kafi, 1/34)
.
Demikianlah, konsep imamah menjadi sentral doktrin kaum syi’ah. Kami menjadikan imamah sebagai salah satu rukun dari rukun-rukun agama Islam. Namun syi’ah tidak mengkafirkan kelompok lain yang tidak mengakui keimamahan Ali dan imam-imam keturunannya karena bisa saja diantara mereka ada yang belum sampai hujjah kepadanya. Jangan lupa ! Ilmu tentang syi’ah banyak disensor ulama sunni
.
Disebutkan dalam kitab al-Wasa’il karangan al-Mufid:
اِتَّفَقَتْ الإِمَامِيَّةُ عَلَى أَنَّ مَنْ أَنْكَرَ إِمَامَةَ أَحَدٍ مِنَ الأَئِمَّةِ وَجَحَدَ مَا أَوْجَبَهُ اللهُ تعالى لَهُ مِنْ فَرْضِ الطَّاعَةِ فَهُوَ كَافِرٌ ضَالٌّ مُسْتَحِقٌّ لِلْخُلُوْدِ فِي النَّارِ.
“Syi’ah Imamiyyah sepakat bahwa orang yang tidak meyakini keimamahan salah satu dari para imam dan mengingkari apa yang telah diwajibkan Allah SWT kepadanya dari kewajiban taat (kepada para imam), maka dia kafir, sesat dan layak kekal di neraka.” (Ushul Madzhab al-Syi’ah, hal. 867). Riwayat tersebut juga dikutip oleh al-Majlisi dalam Bihar al-Anwar (8/366)
.
Adapun dalam hal nubuwwah (kenabian), Syi’ah tidak berbeda dengan Ahlussunnah. Kami juga mengakui eksistensi nubuwwah. Namun demikian, kami tetap menjadikan imamah sebagai sentral dari doktrin kami
.
Al-Thusi, salah satu ulama Syi’ah, menganggap bahwa orang yang menolak keyakinan imamah ini jika disertai i’tiqad juhud (ingkar) sama halnya dengan menolak nubuwwah, sebagaimana perkataannya:
وَدَفْعُ الاِمَامَةِ كُفْرٌ, كَمَا أَنَ دَفْعَ النُّبُوَّةِ كُفْرٌ, لِاَنَّ الجَهْلَ بِهِمِا عَلَى حَدٍّ وَاحِدٍ.
Menyangkal keimaman adalah kafir, seperti halnya menyangkal kenabian. Sebab (hukum)  tidak tahu pada keduanya berada pada taraf yang sama.” (al-Thusi, Talkhis al-Syafi, 4/131)
.
Konsep imamah menjadi salah satu doktrin utama dalam keyakinan Syi’ah. Imamah adalah sebuah konsep kepemimpinan Syi’ah yang merupakan teori absolut. Konsep inilah sebenarnya menjadi dasar paling asasi dari doktrin-doktrin Syi’ah yang lain.Dalam Syi’ah, imamah tidak hanya merupakan kepemimpinan duniawi saja, akan tetapi juga mencakup urusan ukhrawi. Bagi Syi’ah, imamah merupakan penerus kenabian yang dasar-dasarnya berada pada dalil-dalil syara’ (nash ilahiy)
.
Syi’ah meyakini bahwa Nabi Muhammad telah menunjuk sayyidina Ali secara langsung sebagai imam pengganti beliau dengan penunjukan yang jelas dan tegas


Mengapa Dzat Tuhan tidak Dapat Diketahui

Poin utama dalam masalah nir-batasnya Dzat Allah dan terbatasnya akal adalah ilmu dan pengetahuan kita sebagai manusia.

Dia adalah wujud mutlak dari segala dimensi. Dzat-Nya, seperti ilmu, kuasa dan seluruh sifat-sifat-Nya, adalah tak terbatas. Dari sisi lain, kita dan seluruh yang bertalian dengan keberadaan kita, seperti ilmu, kuasa, hidup, ruang dan waktu, semuanya serba terbatas.

Oleh karena itu, dengan segala keterbatasan yang kita miliki, bagaimana mungkin kita dapat mengenal wujud dan sifat yang mutlak dan tak terbatas? Bagaimana mungkin ilmu kita yang terbatas dapat menyingkap wujud nir-batas?

Ya, dari satu sisi, kita dapat melihat dari jauh kosmos pikiran dan memberikan isyarat global ihwal Dzat dan sifat Allah swt. Akan tetapi, untuk mencapai hakikat Dzat dan sifat-Nya secara detail adalah mustahil bagi kita.

Dari sisi lain, wujud nir-batas dari segala dimensi ini tidak memiliki keserupaan dan kesamaan. Dan ketakterbatasan ini hanyalah Dia; Allah Swt. sebab, sekiranya Dia memiliki keserupaan dan persamaan, maka kedua-duanya menjadi terbatas.

Sekarang bagaimana kita dapat memahami wujud yang tak memiliki kesamaan dan keserupaan? Segala sesuatu yang kita lihat selain-Nya adalah wujud yang mungkin (mumkinul wujud).,sedangkan sifat- sifat wajib al-wujuberbeda dengan -sifat yang lainnya.[1]

Kita tidak berasumsi bahwa kita tidak memiliki pengetahuan tentang hakikat wujud Allah, tentang ilmu, kuasa, kehendak dan hidup-Nya. Akan tetapi, kita berasumsi bahwa kita memiliki pengetahuan global tentang hakikat wujud dan sifat-sifat­Nya. Dan kedalaman serta batin seluruh hal-hal ini tidak akan pernah kita ketahui. Dan kaki akal seluruh orang-orang bijak dunia, tanpa kecuali, dalam masalah ini tampak lumpuh:

Pada akal seorang hakim hingga kapan Anda menggapai?

 Tak ‘kan pernah terlintas dalam benakmu jalan ini.

Akal tak ‘kan memahami kedalaman Dzat-Nya,

bilamanakah sampai bongkahan kqyu ke dasar laut![2]

Dalam hadis yang diriwayatkan dari Imam Ash-Shadiq a.s. dikatakan: “Diamlah bilamana pembahasan sampai pada Dzat Allah”.[3] Artinya, jangan membahas ihwal Dzat Allah. Dalam masalah ini, seluruh akal buntu dan tidak akan pernah mencapai tujuannya. Berpikir tentang Dzat Nir-batas melalui akal yang terbatas adalah mustahil. Karena segala yang dirangkum oleh akal bersifat terbatas; dan terbatas bagi Tuhan adalah mustahil.

Dengan ungkapan yang lebih jelas, tatkala kita menyaksikan jagad raya dan seluruh keajaiban makhluk-makhluk, dengan segenap kompleksitas dan keagungannya, atau bahkan melihat wujud diri kita sendiri, secara umum,kita memahami bahwa jagad raya ini memiliki pencipta dan Sumber Awal. Pengetahuan ini adalah pengetahuan global yang merupakan tahapan akhir bagi kekuatan pengenalan manusia tentang Tuhan. Namun, semakin kita mengetahui rahasia-rahasia keberadaan, semakin juga kita mengenal keagungan-Nya serta jalan pengetahuan global tentang-Nya semakin kuat.

Akan tetapi, ketika kita bertanya kepada diri kita sendiri apakah hakikat Dia? Dan bagaimanakah Dia? Ketika kita mengarahkan tangan ke arah realitas Dzat Allah, kita tidak akan mendapatkan sesuatu selain keheranan dan rasa takjub. Kita akan mengatakan bahwa jalan untuk menuju ke arah-Nya adalah terbuka, dan jalan untuk menyentuh hakikatnya adalah tertutup.

Dengan menyebutkan satu perumpamaan kita dapat menjelaskan masalah ini. Bahwa kita semua tahu bahwa ada kekuatan alam yang disebut sebagai kekuatan gravitasi. Segala sesuatu yang terlepas akan jatuh dan tertarik ke bawah. jika kekuatan gravitasi ini tidak ada, ketenangan dan ketentraman bagi seluruh makhluk di muka bumi tidak akan ada.

Ilmu tentang adanya gravitasi bumi bukanlah sesuatu yang hanya diketahui oleh para ilmuwan saja. Anak-anak yang berakal sehat pun dapat mencerap realitas gravitasi bumi ini dengan baik. Akan tetapi, hakikat gravitasi bumi itu apa, apakah ia adalah gelombang-gelombang frekuensi atau atom-atom atau kekuatan lain?

Dan anehnya adalah gravitasi bumi bertentangan dengan segala sesuatu yang kita kenal dari alam semesta ini. Secara lahiriah, untuk transformasi dari satu titik ke titik yang lain tidak memerlukan waktu yang cukup. Berbeda dengan cahaya yang memiliki gerakan tercepat dalam dunia materi ini. Akan tetapi, ketika mengalami transformasi dari satu titik ke titik yang lain, ia masih memerlukan waktu jutaan tahun lamanya. Namun, gravitasi bumi dapat berpindah dalam satu detik dari satu titik bumi ke titik bumi yang lain dalam waktu yang cukup pendek dan atau sekurang-kurangnya kecepatan yang dimilikinya lebih singkat dari yang kita dengar hingga kini.

Kekuatan macam apakah yang memiliki efek seperti ini? Bagaimanakah hakikat kekuatan ini? Tidak ada seorang pun yang memiliki jawaban yang jelas atas pertanyaan-pertanyaan ini.

Kita hanya memiliki pengetahuan global tentang kekuatan gravitasi ini sebagai salah satu makhluk. Kita tidak memiliki pengetahuan tentangnya secara detail. Bagaimana kita dapat menguak ihwal Pencipta dunia materi dan hakikat metafisis yang merupakan wujud nir-batas dan dapat mengetahui kedalaman dzat-Nya?

Akan tetapi, dengan kondisi seperti ini pun kita dapat menyaksikan bahwa Dia selalu hadir, mengawasi setiap tempat dan bersama setiap wujud di alam semesta ini.

Seratus ribu jelmaan yang keluar dari-Mu,

Seratus ribu pandangan aku menyaksikan -Mu.[4]


[1] Makna “air-terbatas” ini tidak dapat kita ilustrasikan. Apabila dipertanyakan bahwa bagaimana kalimat “nir-terbatas” ini digunakan, sementara dengan kalimat ini kita sedang memberikan sebuah kabar dan membicarakan hukum-hukumnya? Memangnya tashdiq (penegasan) tanpa tasawwur(gagasan) dapat terwujud? Jawaban atas pertanyaan ini adalah, dalam menggunakan kalimat ini, kita mengambilnya dari dua singular (kalimat tunggal), na (‘adam) nir yang bermakna tidak, danmutanahi yang bermakna terbatas. Maksudnya, kedua kalimat ini dapat kita konsepsikan secara terpisah nir dan terbatas. Setelah itu, kita sintesakan satu dengan yang lainnya dan mengisyaratkannya kepada wujud yang tidak tergagaskan dalam benak. Dari pengetahuan tentang wujud ini kita temukan pengetahuan global. (perhatikan baik-baik)

[2] Payam-e Qur’an, jilid 4, hal. 33.

[3] Tafsir Ali bin Ibrahim berdasarkan nukilan dari Nur ats-Tsaqalain, jilid 5, hal. 170.

[4] Payam-e Imam, Syarah Nahjul Balaghah, jilid 1, hal. 91.


Pertanyaan-pertanyaan tentang Mengenal Tuhan

Maksud dari Mengenal dan Berjumpa dengan Tuhan

Tanya: Banyak sekali riwayat dalam kitab Ushul Al-Kafi dan Bashairu Ad-Darajat yang menjelaskan perihal para imam suci dan kedudukan mereka. Dengan menelaah riwayat-riwayat itu, kita dapat memahami bahwa pertama kali makhluk yang diciptakan Allah Swt adalah mereka. Begitu juga hadis-hadis yang lain dan doa ziarah Al-Jami’ah Al-Kabirah yang menerangkan bahwa mereka adalah Asma’ ‘nama-nama’ Allah, wajah Allah, tangan Allah, dan lain sebagainya. Atas dasar hadis-hadis seperti ini, apakah kita bisa mengatakan bahwa maksud dari mengenal Allah Swt dan berjumpa dengan-Nya adalah mengenal para imam itu? Sebagaimana mereka pernah menyatakan, “Mengenalku sebagai wujud nurani (wujud yang memiliki kedudukan bercahaya) adalah mengenal Tuhan.”[1]

Tolong berikan kepada kami penjelasan bagaimana semestinya kita memahami hadis-hadis seperti ini dan hadis-hadis lain mengenai ma’rifatullah.

Jawab: Kedudukan nurani yang dimiliki para imam adalah derajat kesempurnaan tertinggi yang telah mereka capai. Adapun disebutnya para imam sebagai Asma’ Allah, wajah Allah, tangan Allah, dan lain sebagainya, semua itu mengandung pembahasan irfan yang sangat mendalam dan tidak mungkin untuk diterangkan di sini. Penjelasan yang dapat diberikan secara singkat di sini adalah bahwa mereka merupakan manifestasi sempurna dari seluruh nama dan sifat agung Allah. Mereka memiliki hak untuk ditaati secara mutlak. Oleh karenanya, mengenal mereka sama seperti mengenal Allah.

Mengenal Diri sebagai Kunci Mengenal Tuhan

Tanya: Sebagaimana yang tercatat dalam kitab Risalah Liqaiyah-nya Mirza Jawad Agha Maliki, berfikir dan merenung seputar pengenalan kita akan diri adalah kunci pengenalan kita akan Tuhan.Dengan mengakui keberadaan jiwa (ruh) sebagai maujud yang abstrak (mujarrad), apakah mungkin akal kita mampu mengenalnya? Kalau memang mampu, tolong Anda berikan keterangan yang lebih jelas dari keterangan yang ada dalam  kitab itu.

Jawab: Akal mampu mengenal hal-hal yang abstrak sebagaimana ia mampu memahami hal-hal yang kongkret dan materiil. Dalam Filsafat, khususnya pada bab Mujarradat (realitas-realitas abstrak)banyak sekali permasalahan-permasalahan realitas abstrak yang dapat diselesaikan di sana. Akan tetapi “berfikir” yang dimaksud di sini bukanlah berfikir biasa, yakni di suatu ruang yang sunyi; tanpa suara bising, seseorang duduk sendiri lalu memejamkan kedua matanya dan membayangkan wajahnya sebagaimana ketika ia sedang bercermin, kemudian ia menepis semua khayalan selain wajahnya yang setiap kali mendatangi pikirannya.

Penjelasan atas Dua Persoalan

Tanya: ada dua persoalan yang pernah dijelaskan dalam Risalah Liqaiyah. Yang pertama mengenai berfikir seputar mengenal diri yang dijelaskan semikian, “Ada kalanya seseorang merenung sampai pada penguraian dirinya, dan ada kalanya dia merenung sampai pada penguraian alam semesta sehingga dia menyaksikan bahwa apa yang dia ketahui dari alam semesta itu tidak lain adalah dirinya sendiri dan alam wujudnya; bukan alam eksternal, dan bahwa sesungguhnya alam-alam yang dia ketahui hanyalah satu tingkatan dari dirinya.”

Yang kedua dijelaskan begini, “Hendaknya dia menepis setiap khayalan dari hatinya kemudian berfikir akan ketiadaan.”

Yang ingin saya tanyakan di sini ialah: apa yang dimaksud dengan menepis khayalan dan memikirkan ketiadaan? Saya berharap Anda dapat menjelaskan kedua persoalan di atas.

Jawab: Maksud dari permasalahan pertama adalah bahwa seseorang senantiasa memahamkan dirinya bahwa setiap hal yang dia ketahui dari dirinya dan dari alam luar[2] sebenarnya ada dalam dirinya dan ia dapat mengetahui semuanya dengan cara mengetahui dirinya. Untuk memahami alam luar, ia dapat mengetahuinya dengan cara memahami diri sendiri tanpa harus memahami alam luar terlebih dahulu. Adapun maksud dari menepis khayalan yaitu seseorang hanya membayangkan wajahnya saja dan jangan sampai hal-hal yang lain terlintas di dalam benaknya. Dan yang dimaksud berpikir dalam ketiadaan, yakni seseorang harus memahami bahwa wajah yang sedang ia bayangkan pada hakikatnya adalah ketiadaan.

Mencapai Derajat “Mengenal Diri”

Tanya: Apakah orang-orang yang tidak bermazhab Islam, bahkan tidak beragama, mampu mencapai kedudukan mengenal diri dengan cara menjalankan amalan-amalan ajaran agamanya? Jika mampu, sebagaimana yang sudah dijelaskan bahwa orang yang telah mengenal diri maka telah mengenal Tuhannya, tentu ia akan mencapai tujuan hakiki Islam, yaitu Tauhid. Dengan demikian, mereka tanpa harus memeluk ajaran Islam dan mengamalkan ajaran-ajarannya dapat mencapai tujuan mereka yang hakiki. Oleh karenanya, saya ingin mengkonfirmasikan; apakah perkiraan ini benar?

Jawab: Sebagian orang mengira hal ini mungkin terjadi dan masuk akal. Akan tetapi, jika kita merujuk ayat-ayat Al-Qur’an dan riwayat-riwayat, akan kita temukan bahwa hal ini tidak dapat dibenarkan, kecuali jika orang-orang tersebut adalah mustadh’af yang benar-benar tidak mendapat kesempatan untuk mengenal Islam.

Maksud dari mengingat Tuhan

Tanya: Apa maksud dari “mengingat Tuhan” yang sering kita jumpai dalam ayat-ayat Al-Qur’an? Apakah mengingat para kekasih Tuhan dan nikmat-nikmatnya juga termasuk mengingat Tuhan? Tolong Anda jelaskan maksud dari mengingat Tuhan!

Jawab: Dari redaksinya saja sudah jelas apa maksud mengingat Tuhan. Yang dimaksud dengan mengingat Tuhan adalah pertama-tama, kita mengingatnya di saat melakukan suatu pekerjaan atau menjauhi suatu perbuatan sebagaimana yang Allah Swt inginkan. Dan lebih tinggi dari pengertian ini, kita harus selalu menyadari bahwa diri kita sedang berada di hadapan Tuhan. Lebih tinggi lagi, kita “melihat” Tuhan berada di hadapan kita.


[1] Bihar Al-Anwar: jil. 26; hal. 101.

[2] Yang dimaksud dengan alam luar adalah segala hal yang ada di luar mental dan pikiran.


Mengapa kita perlu mengenal Allah

Tidak akan ada gerak tanpa motivasi. Tentu saja upaya untuk mengetahui masalah asal-usul keberadaan semesta juga tidak dapat terlaksana tanpa motivasi dan dorongan. Para filsuf dan ilmuwan menyebutkan tiga faktor fundamental dalam rangka mengenal Tuhan. Faktor tersebut senada dengan apa disinggung secara jelas oleh al-Qur’an, antara lain:

A. Motivasi Akal

B. Motivasi Kasih

C. Motivasi Fitri

A. Motivasi Akal

Setiap manusia pecinta kesempurnaan. Kecintaan ini bersifat substansial dan merata. Hanya saja, setiap orang melihat kesempurnaannya pada suatu hal tertentu, lalu mengusahakannya. Ada sekelompok orang yang, alih-alih mengejar air, mengejar kepuasan dan kesempurnaan semu serta mengira bahwa itu adalah realitas.

Motivasi ini kerap disebut sebagai “naluri mencari keuntungan dan menghindari kerugian”. Lantaran naluri ini, manusia melihat dirinya memiliki tugas untuk menyikapi secara serius hubungannya dengan segala hal yang bertalian dengan nasibnya (dari perspektif untung dan rugi).

Akan tetapi, menyebut kecintaan ini sebagai naluri (gharizah) bukanlah suatu hal yang mudah, karena naluri biasanya digunakan pada hal-hal yang memiliki efek tanpa intervensi pemikiran dalam pelbagai perbuatan manusia atau segala makhluk lainya. Atas alasan ini, dalam urusan dunia fauna, istilah ini juga sering dipakai.

Oleh karena itu, lebih baik kita menggunakan istilah “kecendrungan-kecendrungan transendental” yang digunakan oleh sebagian orang dalam masalah ini.

Secara umum, cinta pada kesempurnaan dan cenderung kepada keuntungan spiritual dan material serta menghindar dari segala bentuk kerugian mengarahkan seseorang untuk meneliti kemungkinan diperoleh atau tidaknya. Yakni, semakin kemungkinan memperoleh keuntungan itu kuat, atau semakin terjadinya kerugian itu besar, penelitian atas masalah ini semakin penting.

Adalah mustahil bagi seseorang yang memberikan kemungkinan tentang suatu perkara yang akan menentukan nasibnya, namun ia tidak memandang dirinya bertanggung jawab untuk meneliti perkara tersebut.

Dalam kategori ini, iman kepada Allah dan pengkajian agama merupakan perkara yang niscaya. Sebab, teks-teks agama banyak memuat persoalan nasib dan persoalan baik-buruk perilaku manusia yang berhubungan erat dengan iman.

Dalam menjelaskan masalah ini, sebagian orang membawakan beberapa perumpamaan. Misalnya, Anggaplah kita melihat seseorang yang berada di persimpangan dua jalan. Kepada dirinya ia berkata, “Tinggal di tempat ini sangat berbahaya, dan memilih jalan ini juga berbahaya, sedangkan jalan yang lain adalah jalan keselamatan.” Kemudian, ia menguraikan indikasi-indikasi dan bukti-bukti untuk keduanya. Tentu, ia perlu meneliti dua jalan di hadapannya itu. Mengabaikan kedua-duanya adalah bertentangan dengan akal sehat!

Kaidah akal ”menghindari kerugian yang mungkin ada” yang popular ini merupakan turunan dari motivasi akal. Kepada Nabi saw., Al-Qur’an menegaskan, “Katakanlah, “Bagaimanakah pendapat Kamu seandainya Al-Qur’an ini berasal dari sisi Allah, kemudian Kamu mengingkarinya, siapakah yang lebih sesat dari orang yang selalu berada dalam penyimpangan yang jauh?”.” (Qs. Fushshilat [41]: 52)

Tentu saja, ayat ini tidak ditujukan kepada mereka yang enggan menggunakan argumentasi logis. Sejatinya, bila ayat ini ditujukan kepada orang-orang keras kepala, pongah, dan fanatik, maka ia menyatakan bahwa sekiranya Anda menolak mutlak akan kebenaran Al-Qur’an, Tauhid dan adanya kehidupan setelah kematian (ma’ad), niscaya tidak ada argumentasi yang dapat menafikan semua kebenaran ini. Dengan demikian, kemungkinan yang tersisa adalah bahwa ajakan Al-Qur’an dan perkara hari kebangkitan sungguh sebuah kebenaran. Pada titik ini, pikirkanlah nasib buruk yang kelak akan Anda hadapi akibat kesesatan dan penentangan tak berdasar yang Anda lakukan terhadap ajakan Ilahi ini.

Pesan ayat ini serupa dengan apa yang disampaikan oleh para Imam Maksum a.s. dalam menghadapi orang-orang yang keras kepala pada kesempatan terakhir, sebagaimana hadis yang diriwayatkan dalam Al-Kafi. Marilah kita simak bersama!

Banyak informasi yang telah disampaikan kepada Imam Ash-Shadiq a.s. tentang Ibn Abi AI-Aujah; seorang materialis dan ateis. Sampai akhirnya mereka bertemu di musim haji. Sebagian dari sahabat Imam berkata, “Rupanya Ibn Abi al-Aujah kini telah memeluk Islam”.

Imam berkata, “Ia kini lebih gelap dan lebih buta hatinya. Ia tidak akan pernah menjadi Muslim”.

Tatkala melihat Imam, ia berkata, “Salam Sejahtera, wahai Tuanku!”

Imam menjawab dengan melontarkan pertanyaan kepadanya, “Untuk apa engkau datang kemari?”

Ia menjawab, “Di samping sudah menjadi kebiasaan kami, juga tradisi lingkungan menuntut demikian, aku hendak menyaksikan perbuatan orang-orang ini yang biasa dilakukan oleh para jin; menggundul kepala dan melempar jumrah.”

Imam berkata, “Engkau masih saja tetap sesat dan keras kepala, Wahai Abdul Karim.”[1]

Sebelum Ibn Abi al-Aujah menjawab, Imam segera menukas, “Di musim haji ini, bukanlah tempat untuk berdebat!”

Lalu beliau menepikan aba’ah-nya seraya berkata, “Jika benar seperti yang kau katakan bahwa Allah dan Hari Kiamat itu tidak ada -padahal tidaklah demikian- maka di samping kami adalah orang-orang selamat, engkau juga demikian. Namun, jika benar apa yang kami yakini -dan memang demikian kenyataannya- maka kami termasuk orang-orang selamat, sedangkan engkau pasti binasa.”

Ibn Abi al-Aujah menatap orang-orang yang menyertainya dan berkata, “Di lubuk hatiku yang paling dalam aku merasakan luka. Bawalah aku kembali!” Mereka membawanya pulang. Tidak lama setelah itu, ia meninggal.[2]

B. Motivasi Kasih

Sebuah pepatah mengatakan, “Al-Insan ‘abidul ihsan” (Manusia adalah hamba kebaikan).

Dengan kandungan yang sama, Imam Ali a.s. pernah berkata, “Al-Insan ‘abdul ihsan” (Manusia adalah hamba kebaikan).[3] Pada hadis lain, beliau juga menegaskan, “Bil Ihsan tumlakul qulub”(Dengan perbuatan baik, hati akan tertaklukkan).[4]

Juga sebuah hadis yang dinukil dari Imam Ali a.s. mengatakan: “Wa afdhil man syi’ta takun amirahu” (Lakukan kebaikan kepada siapa saja, niscaya engkau menjadi tuannya).”[5]

Akar dari semua pesan itu dapat dijumpai pada hadis Rasulullah saw., bahwa “Sesungguhnya Allah Swt. telah menjadikan hati takluk kepada siapa saja yang berbuat baik kepadanya dan murka terhadap siapa saja yang berlaku buruk kepadanya.”[6]

Kesimpulan dari semua itu ialah; barangsiapa berbuat khidmat atau kebaikan kepada orang lain, niscaya ia (penerima kebaikan itu) memiliki kecenderungan untuk mengenal pelaku kebaikan itu dan berterima kasih kepadanya. Dan semakin tinggi nilai sebuah kebaikan, semakin takluk pula hati penerima dan semakin tinggi keinginannya untuk mengenal pemberi kebaikan itu.

Namun, harus diperhatikan bahwa konsep “bersyukur kepada pemberi kebaikan” terlebih dahulu diakui oleh rasa kasih, jauh sebelum dibenarkan oleh akal sehat.

Kami ingin mengakhiri bagian ini dengan sebuah syair dari pujangga Arab ternama sebagai sebuah isyarat kecil;

Berbuat baiklah kepada insan,

Niscaya hati mereka takluk kepada tuan,

Demikianlah insan adalah udak ihsan.

Dalam hadis Imam al-Baqir a.s. dikatakan, “Pada suatu malam, Rasulullah saw. berada di rumah ‘Aisyah. ‘Aisyah bertanya kepada beliau, ‘Mengapa Anda begitu bersusah-payah untuk beribadah padahal Allah Swt. telah mengampuni segala dosa Anda, baik yang telah terjadi maupun yang akan datang?”[7]

Nabi saw. menjawab, ‘Apakah tidak pantas aku menjadi hamba yang bersyukur?”[8]

C. Motivasi Kasih

Maksud fitrah di sini ialah perasaan-perasaan dan pengetahuan jiwa yang tidak memerlukan penalaran rasional.

Ketika kita melihat sebuah pemandangan yang indah, atau sekuntum bunga yang semerbak mewangi dan warnanya yang mempesona, kita merasakan ketertarikan dan gairah di dalam diri kita. Ketertarikan ini disebut sebagai kecintaan kepada keindahan. Kita tidak memerlukan penalaran untuk mencntai keindahan ini. Ya, cinta keindahan adalah satu dari sekian kecendrungan transendental jiwa manusia.

Upaya mengarahkan diri kepada agama, khususnya mengenal Tuhan, tidak hanya merupakan salah satu perasaan esensial (dzatt) dalam relung jiwa manusia, tetapi juga sebagai salah satu dorongan yang paling kuat dalam fitrah dan jiwa seluruh manusia.

Berdasarkan dalil ini, tidak satu kaum atau bangsa pun, di masa lalu atau kini, yang tidak menjadikan pikiran dan ruh sebagai hakim atas jenis agama atau ideologi. Dan kenyataan ini menunjukkan kemendasaran perasaan mendalam ini.

Al-Qur’an, ketika menuturkan pengutusan nabi-nabi besar, seringkali menandaskan bahwa risalah utama mereka ialah memerangi syirik dan penyembahan berhala, bukan membuktikan keberadaan Tuhan, karena masalah terakhir ini memang telah tertanam di dalam lubuk hati setiap manusia. Dengan kata lain, manusia tidak menuntut masalah ini untuk menanamkannya pada setiap lubuk hati manusia. Akan tetapi, para nabi menuntut bagaimana menyirami pokok masalah itu dan membunuh hama dan belukar yang acapkali membuat kering dan layu pokok tersebut.

Ungkapan “alla ta’budu illallah” atau “alla ta’budu illa iyyaahu” (Jangan sembah selain Allah) diterangkan dalam bentuk penolakan terhadap berhala-berhala, bukan menetapkan keberadaan Tuhan. Pelbagai ucapan para nabi tentang realita ini telah diuraikan dengan jelas di dalam Al-Qur’an, di antaranya dakwah Nabi saw[9], Nabi Nuh[10], Nabi Yusuf[11], dan Nabi Hud[12].

Apakah mungkin seorang ilmuwan yang telah meluangkan waktu dan susah-payah selama puluhan tahun untuk mengenal kehidupan habitat semut, atau ilmuwan yang lainnya dengan cucuran keringat telah menghabiskan waktu selama puluhan tahun untuk meneliti habitat burung, pepohonan, atau ikan-ikan di laut, tanpa tersisa dorongan selain cinta terhadap pengetahuan yang terpatri dalam lubuk hatinya? Apakah mungkin para ilmuwan ini tidak ingin mengenal sumber sejati samudera tak-bertepi ini semenjak azal (primordial) hingga abad (etemal)? Ketertarikan kepada pengetahuan adalah motivasi yang mengajak kita kepada ma’rifatullah (mengenal Tuhan).

Alhasil, Akal kita menuntun kita kepada pengenalan kepada Tuhan ini, rasa kasih menarik kita kepada keinginan untuk itu, dan fitrah kitalah yang mendorong kita bergerak ke arahnya.


[1] Abdul Karim adalah nama asli Ibn Abi al-Aujah. Karena ia mengingkari keberadaan Tuhan, Imam ash-Shadiq as secara khusus memanggilnya dengan nama demikian supaya membuatnya malu.

[2] AI-Kafi, jilid 1, hal. 61, kitab at-Tauhid, bab Hndiits al-’Alam; Tafsir Nemuneh, jilid 20, hal. 325.

[3] Ghurar al-Hikam

[4] Idem.

[5] Biharul Anwarjilid 77, hal. 421, cetakan Akhundi

[6] Tuhaf al-Uqul, hal. 37, bagian hadis-hadis Nabi saw.

[7] Indikasi kepada ayat pertama surat al-Fath yang dapat dijumpai dengan gamblang pada Tafsir Nemuneh, jilid 22, hal. 18.

[8] Ushul Kafijilid 2, bab Syukr, hadis ke-6

[9] QS. Hud [11]: 2.

[10] QS. Hud [11] : 26

[11] QS. Yusuf [12] : 40.

[12] QS. al-Ahqaf [46] : 21.