Author: syiahali

syiah tidak sesat

Apakah dengan merebut nama dan hak paten merek Ahlu Sunnah seorang dengan otomatis benar-benar di atas Sunnah dan Ajaran Nabi saw.?

Berebut Merek Lupa Esensi

lihat al-quran yang membagi dua sahabat, termasuk ciri-cirinya: ashabul jannah wa ashabunnar. Kedua, nanti di akhirat. Dalam riwayat disebutkan bahwa nanti Rasulullah saw menantikan kedatangan para sahabatnya di telaga alkautsar dan akan terpisahkan antara sahabat yang benar-benar setia dan mengikuti ajaran Rasulullah dengan sahabat yang menyalahi sunnah Nabi atau mereka yang mengubah-ubah ajaran Islam setelah wafat Nabi Muhammad saw.

Dua istilah yang sejak lama telah dimonopoli kelompok tertentu untuk mempropagandakan viliditasnya dalam mewakili Sunnah dan ajaran musrin Islam! Kelompok tertentu itu mengklaim bahwa kelompoknya lah satu-satunya yang mewakili ajaran/Sunnah Nabi saw. secara utuh dan kâffah! Sedangkan kelompok lain adalah Ahli Bid’ah yang menyimpang dari kemurnian ajaran dan Sunnah Nabi Islam!

Dahulu penamaan ini dimonopoli oleh kelompok Ahli hadis yang barisan terdepannya adalah kaum Hanâbilah (kelompok yang dalam akidahnya mengadopsi pemikiran yang dirancang Ahmad bin Hanbal, khususnya dalam masalah ketuhanan dan terlebih lagi dalam masalah sifat Allah)…. kaum Syi’ah, Mu’tazailah dan kelompok-kelompok lain digolongkan dalam Ahli Bid’ah!

Dengan kemunculan Abul Hasan Al Asy’ari yang merancang akidah barunya (di mana sebelumnya, selama kurang lebih empat puluh tahun ia bermazhab Mu’tazilah bahkan seorang tokoh pemberlanya, dan kemudian mendadak berbalik arah menentang mazhab Mu’tazilah dan membela Ahli Hadis dan merancang akidah baru yang tidak sepenuhnya persis dengan akidah Ahli hadis)… dengan kemunculannya, nama Ahlu Sunnah menjadi monopoli kaum Asy’ariyah! Maka siapapun selain yang berakidah Asyi’ari adalah Ahli Bid’ah!

Dengan kebangkitan kaum Wahhâbi yang sering kerkedok dengan nama Salafi yang dimotori oleh para ulama AS dan dengan dukungan penuh real AS… mereka merebut kembali monopoli nama Ahlu Sunnah hanya untuk mereka.. kini giliran kaum Asy’ariyah dikeluarkan dari Ahlu Sunnah… dalam keyakinan mereka kaum Asy’ariyah adalah Ahli Bid’ah!

Setelah keterangan singkat di atas, saya mengajak Anda merenungkan sejauh mana monopoli penamaan itu berguna?

Apakah dengan merebut nama dan hak paten merek Ahlu Sunnah seorang dengan otomatis benar-benar di atas Sunnah dan Ajaran Nabi saw.? Atau kepatuhan dan konsistensi dalam menjalankan Sunnah Nabi saw. secara utuh yang akan menentukan apakah dia/kelompok itu termasuk Ahlu Sunnah atau Ahli Bid’ah!

Dalam Al Qur’an Allah Swt mengecam kaum Yahudi, Nashrani dan Shabi’in yang hanya sibuk memperebutkan kursi istimewa di sisi Allah dengan hanya mengandalkan nama dan gelar keanggotaan! Hal mana mestinya cukup menkadi pelajaran berharga bagi kaum Muslimin agar tidak terjebak dalam lembah kesesatan seperti umat-umat terdahulu!

Shalawat Kepada Nabi Saw. Adalah Bukti Kecil!

Di sini saya tidak ingin membebani pembaca dengan ratusan contoh kasus untuk mmebuktikan siapa yang Ahlu Sunnah dan siapa yang terjatuh dalam lembah penyimpangan sehingga berhak disebut sebagai Ahlu Bid’ah! Kasus praktik bershalawat atas Nabi saw. semestinya sudah cukup menjadi bukti di sampinh ratusan bukti lain.

Kendati para ulama dan para muhaddis Ahlusunnah telah meriwayatkan dan menshahihkan hadis yang mengatakan bahwa Nabi saw. dalam mengajarkan ibadah shalawat selalu menyertakan menyebutkan Ahlulbitnya as.; Allâhumma Shalli ‘Alâ Muhammad wa Âli Muhammad. Tidak ada satupun hadis shahih yang mengajarkan shalawat tanpa menyebut wa Âli Muhammad… sebagaimana tidak ada satu hadis pun baik yang maudhû’/palsu dan dh’aif/lemah apalagi yang shahih yang menyebutkan bahwa Nabi saw. menyertakan menyebut wa Ash-hâbih/dan para sahabatnya…  dan apalagi dengan pelengkap kata Ajmaîn/dan seluruh sahabatnya!!

Lalu mengapakan dan atas dasar apakah umat Islam Ahlusunnah menjalankan praktik menyimpang dengan menggurukan kata wa Âli Muhammad ? Siapakah yang mengajarkan bahwa ibdaha shalawat itu harus dengan mengurangi kata wa Âli Muhammad? Siapakah yang mengajarkan mereka menambah kata wa Ash-hâbihatau wa shahbih? Bukankan menambah dalam ibadah sesuatu yang tidak diajarkan sebagaimana juga menguranginya adalah itu Bid’ah? Bukankan pelaksana praktik bid’ah lebih pantas menyabdang gelar Ahlu Bid’ah bukan Ahlu Sunnah?!

Sementara kaum Syi’ah baik kaum awamnya apalagi ulamanya konsisten menjalan praktik ibadah shalawat sesuai yang diajarkan Nabi saw. jadi merekalah yang Ahlu Sunnah!

Dalam kesempatan singkat ini saya mengharap kapada seluruh ulama Ahlusunnah untuk mengajukan satu bukti dari Al Qur’an dan Sunnah Nabi yang shahihah bahwa ibadah shalawat yang diajarkan Nabi Muhammad saw. itu tanpa menyebutkan wa Âlihi? Sebagimana saya menanti mereka mampu menyebutkan satu nash saja (kalau menghadirkan nash shahih mereka kerepotan maka saya akan tolerir walaupun hanya nash tidak shahih yang mereka hadirkan) bahwa Nabi mengajarkan kita agar juga menyebut para sahabatnya dalam shalawat!

Tantangan saya tidak dibatasi waktu… Saya akan sabar menanti walau sampai menjelang kiamat tiba!!

Bukankah ini bukti bahwa mereka Anti Sunnah Nabi saw. dalam ibadah Shalawat? Kalau bukan itu alasannya… kira-kira apa yang menjadikan mereka turun temurun menggugurkan sebuah kata kunci dalam sebuah amal ibadah shalawat?! Dan jika mereka menyebut kata wa Âlihi (yang memang diperintahkan Nabi saw.) mereka segera menyusulnya dengan kata wa Ash-hâbihi! Bukankah demikian yang kita saksikan dari kalian wahai kalian yang mengaku Ahlusunnah?!

Inilah contoh bid’ah yang kalian warisi dari Salaf kalian… yang telah terpengaruh oleh kesesatan Bani Umayyah yang siang malam memerangi Ahlulbait Nabi as…. kini kesesatan dan penyimpangan itu benar-benar telah berubah dan diyakini sebagai Sunah!

Rasulullah saw menantikan kedatangan para sahabatnya di telaga alkautsar dan akan terpisahkan antara sahabat yang benar-benar setia dan mengikuti ajaran Rasulullah dengan sahabat yang menyalahi sunnah Nabi atau mereka yang mengubah-ubah ajaran Islam setelah wafat Nabi

Kritik hadis kononnya Nabi (s.a.w) kencing berdiri

apa   alat uji untuk membuktikan kebenaran hadis juga sirah nabawiyyah ??

.

lihat al-quran yang membagi dua sahabat, termasuk ciri-cirinya: ashabul jannah wa ashabunnar. Kedua, nanti di akhirat. Dalam riwayat disebutkan bahwa nanti Rasulullah saw menantikan kedatangan para sahabatnya di telaga alkautsar dan akan terpisahkan antara sahabat yang benar-benar setia dan mengikuti ajaran Rasulullah dengan sahabat yang menyalahi sunnah Nabi atau mereka yang mengubah-ubah ajaran Islam setelah wafat Nabi Muhammad saw.
.
cukup melihat al-quran dan gunakan akal sehat. Apabila Anda menemukan hadis yang walaupun diriwayatkan Bukhari atau Muslim, bertentangan dengan al-quran, tolaklah. Begitu juga jika terdapat hadis yang tidak dapat diterima akal, yang merendahkan derajat dan kemuliaan Nabi maka wajib ditolak
.
Dikisahkan Sunni bahwa Nabi mendatangi rumah istri seorang sahabat tanpa ada sahabat tersebut. Kemudian kepala Nabi bersandar pada pangkuan istri yang bukan muhrim tersebut dan diseliksik—mencari kutu—selanjutnya terbangun dengan wajah ceria,bahwa hadis tersebut harus ditolak karena telah menunjukkan perbuatan Nabi yang tidak mengetahui aturan-aturan Islam dalam bertamu.
.
“Mendatangi perempuan yang bukan istrinya dan tidur dipangkuan istri orang, bukan termasuk akhlak Nabi. Begitu pun kepala Nabi berkutu, menunjukkan Nabi tidak menjaga kebersihan. Al-Quran menerangkan bahwa Nabi Muhammad saw berakhlak mulia, terpuji, bersih, dan suci. Jelas hadis tersebut bertentangan dengan informasi al-quran. Karena itu, jika menemukan hadis-hadis atau berita sejarah Nabi yang merendahkan kemuliaan Rasulullah saw perlu dikaji secara kritis, atau langsung tolak,”
.
Mereka yang mengkritik Syiah telah membawakan riwayat-riwayat yang ada dalam kitab rujukan Syiah yaitu Al Kafi dalam karya-karya mereka seraya mereka berkata Kitab Al Kafi di sisi Syiah sama seperti Shahih Bukhari di sisi Sunni. Tujuan mereka berkata seperti itu adalah sederhana yaitu untuk mengelabui mereka yang awam yang tidak tahu-menahu tentang Al Kafi. Atau jika memang mereka tidak bertujuan seperti itu berarti Mereka lah yang terkelabui.
.
Dengan kata-kata seperti itu maka orang-orang yang membaca karya mereka akan percaya bahwa riwayat apa saja dalam Al Kafi adalah shahih atau benar sama seperti hadis dalam Shahih Bukhari yang semuanya didakwa shahih. Mereka yang mengkritik Syiah atau lebih tepatnya menghakimi Syiah itu adalah Dr Abdul Mun’im Al Nimr dalam karyanya(terjemahan Ali Mustafa Yaqub) Syiah, Imam Mahdi dan Duruz Sejarah dan Fakta, Ihsan Illahi Zahir dalam karyanya Baina Al Sunnah Wal Syiah, Mamduh Farhan Al Buhairi dalam karyanya Gen Syiah dan lain-lain.
.
Tidak diragukan lagi bahwa karya-karya mereka memuat riwayat-riwayat dalam kitab rujukan Syiah sendiri seperti Al Kafi tanpa penjelasan pada para pembacanya apakah riwayat tersebut shahih atau tidak di sisi Ulama Syiah. Karya-karya mereka ini jelas menjadi rujukan oleh orang-orang(termasuk oleh mereka yang menamakan dirinya salafi) untuk mengkafirkan atau menyatakan bahwa Syiah sesat.
.
Sungguh sangat disayangkan, karena kenyataan yang sebenarnya adalah Al Kafi di sisi Syiah tidak sama kedudukannya dengan Shahih Bukhari di sisi Sunni. Al Kafi memang menjadi rujukan oleh ulama Syiah tetapi tidak ada ulama Syiah yang dapat membuktikan bahwa semua riwayat Al Kafi shahih. Dalam mengambil hadis sebagai rujukan, ulama syiah akan menilai kedudukan hadisnya baru menetapkan fatwa. Hal ini jelas berbeda dengan Shahih Bukhari dimana Bukhari sendiri menyatakan bahwa semua hadisnya adalah shahih, dan sudah menjadi ijma ulama(sunni tentunya) bahwa kitab Shahih Bukhari adalah kitab yang paling shahih setelah Al Quran.
.
Kedudukan Shahih Bukhari
Shahih Bukhari adalah kitab hadis Sunni yang ditulis oleh Bukhari yang memuat 7275 hadis. Jumlah ini telah diseleksi sendiri oleh Bukhari dari 600.000 hadis yang diperolehnya dari 90.000 guru. Kitab ini ditulis dalam waktu 16 tahun yang terdiri dari 100 kitab dan 3450 bab. Hasil seleksi Bukhari dalam Shahih Bukhari ini telah Beliau nyatakan sendiri sebagai hadis yang shahih.
.
Bukhari berkata “Saya tidak memasukkan ke kitab Jami’ ini kecuali yang shahih dan saya telah meninggalkan hadis-hadis shahih lain karena takut panjang” (Tahdzib Al Kamal 24/442).
.
Bukhari hidup pada abad ke-3 H, karya Beliau Shahih Bukhari pada awalnya mendapat kritikan oleh Abu Ali Al Ghassani dan Ad Daruquthni, bahkan Ad Daruquthni menulis kitab khusus Al Istidrakat Wa Al Tatabbu’ yang mengkritik 200 hadis shahih yang terdapat dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Tetapi karya Ad Daruquthni ini telah dijawab oleh An Nawawi dan Ibnu Hajar dalam Hady Al Sari dan Fath Al Bari.
.
An Nawawi dan Ibnu Shalah yang hidup pada abad ke-7 adalah ulama yang pertama kali memproklamirkan bahwa Shahih Bukhari adalah kitab yang paling otentik sesudah Al Quran. Tidak ada satupun ulama ahli hadis saat itu yang membantah pernyataan ini. Bahkan 2 abad kemudian pernyataan ini justru dilegalisir oleh Ibnu Hajar Al Asqallani dalam kitabnya Hady Al Sari dan sekali lagi tidak ada yang membantah pernyataan ini. Oleh karenanya adalah wajar kalau dinyatakan bahwa ulama-ulama sunni telah sepakat bahwa semua hadis Bukhari adalah shahih. (lihat Imam Bukhari dan Metodologi Kritik Dalam Ilmu Hadis oleh Ali Mustafa Yaqub hal 41-45).
.
Kedudukan Al Kafi
.
Al Kafi adalah kitab hadis Syiah yang ditulis oleh Syaikh Abu Ja’far Al Kulaini pada abad ke 4 H. Kitab ini ditulis selama 20 tahun yang memuat 16.199 hadis. Al Kulaini tidak seperti Al Bukhari yang menseleksi hadis yang ia tulis. Di Al Kafi, Al Kulaini menuliskan riwayat apa saja yang dia dapatkan dari orang yang mengaku mengikuti para Imam Ahlul Bait as. Jadi Al Kulaini hanyalah sebagai pengumpul hadis-hadis dari Ahlul Bait as. Tidak ada sedikitpun pernyataan Al Kulaini bahwa semua hadis yang dia kumpulkan adalah otentik. Oleh karena Itulah ulama-ulama sesudah Beliau telah menseleksi hadis ini dan menentukan kedududkan setiap hadisnya.
.
Di antara ulama syiah tersebut adalah Allamah Al Hilli yang telah mengelompokkan hadis-hadis Al Kafi menjadi shahih, muwatstsaq, hasan dan dhaif. Pada awalnya usaha ini ditentang oleh sekelompok orang yang disebut kaum Akhbariyah. Kelompok ini yang dipimpin oleh Mulla Amin Astarabadi menentang habis-habisan Allamah Al Hilli karena Mulla Amin beranggapan bahwa setiap hadis dalam Kutub Arba’ah termasuk Al Kafi semuanya otentik. Sayangnya usaha ini tidak memiliki dasar sama sekali. Oleh karena itu banyak ulama-ulama syiah baik sezaman atau setelah Allamah Al Hilli seperti Syaikh At Thusi, Syaikh Mufid, Syaikh Murtadha Al Anshari dan lain-lain lebih sepakat dengan Allamah Al Hilli dan mereka menentang keras pernyataan kelompok Akhbariyah tersebut. (lihat Prinsip-prinsip Ijtihad Antara Sunnah dan Syiaholeh Murtadha Muthahhari hal 23-30).
.
Dari hadis-hadis dalam Al Kafi, Sayyid Ali Al Milani menyatakan bahwa 5.072 hadis shahih, 144 hasan, 1128 hadis Muwatstsaq(hadis yang diriwayatkan perawi bukan syiah tetapi dipercayai oleh syiah), 302 hadis Qawiy (kuat) dan 9.480 hadis dhaif. (lihat Al Riwayat Li Al Hadits Al Tahrif oleh Sayyid Ali Al Milani dalam Majalah Turuthuna Bil 2 Ramadhan 1407 H hal 257). Jadi dari keterangan ini saja dapat dinyatakan kira-kira lebih dari 50% hadis dalam Al Kafi itu dhaif. Walaupun begitu jumlah hadis yang dapat dijadikan hujjah (yaitu selain hadis yang dhaif) jumlahnya cukup banyak, kira-kira hampir sama dengan jumlah hadis dalam Shahih Bukhari.
.
Semua keterangan diatas sudah cukup membuktikan perbedaan besar di antara Shahih Bukhari dan Al Kafi. Suatu Hadis jika terdapat dalam Shahih Bukhari maka itu sudah cukup untuk membuktikan keshahihannya. Sedangkan suatu hadis jika terdapat dalam Al Kafi maka tidak bisa langsung dikatakan shahih, hadis itu harus diteliti sanad dan matannya berdasarkan kitab Rijal Syiah atau merujuk kepada Ulama Syiah tentang kedudukan hadis tersebut.
.
Peringatan
Oleh karena cukup banyaknya hadis yang dhaif dalam Al-Kafi maka sepatutnya orang harus berhati-hati dalam membaca buku-buku yang menyudutkan syiah dengan menggunakan riwayat-riwayat Hadis Syiah seperti dalam Al-Kafi. Dalam hal ini bersikap skeptis adalah perlu sampai diketahui dengan pasti kedudukan hadisnya baik dengan menganalisis sendiri berdasarkan Kitab Rijal Syiah atau merujuk langsung ke Ulama Syiah.
.
Dan Anda bisa lihat di antara buku-buku yang menyudutkan syiah dengan memuat riwayat syiah sendiri seperti dari Al Kafi tidak ada satupun penulisnya yang bersusah payah untuk menganalisis sanad riwayat tersebut atau menunjukkan bukti bahwa riwayat itu dishahihkan oleh ulama syiah. Satu-satunya yang mereka jadikan dalil adalah Fallacy bahwa Al Kafi itu di sisi Syiah sama seperti Shahih Bukhari di Sisi Sunni. Padahal sebenarnya tidak demikian, sungguh dengan fallacy seperti itu mereka telah menyatakan bahwa Syiah itu kafir dan sesat. Sungguh Sayang sekali.
.
Peringatan ini jelas ditujukan kepada mereka yang akan membaca buku-buku tersebut agar tidak langsung percaya begitu saja. Pikirkan dan analisis riwayat tersebut dengan Kitab Rijal Syiah (Rijal An Najasy atau Rijal Al Thusi). Atau jika terlalu sulit dengarkan pendapat Ulama Syiah perihal riwayat tersebut. Karena pada dasarnya mereka Ulama Syiah lebih mengetahui hadis Syiah ketimbang para penulis buku-buku tersebut. Salam damai.

shalat tarawih berjam’ah adalah bid’ah ! Yang ada itu shalat malam yang tidak berbeda dengan shalat-shalat malam di bulan-bulan lain, hanya saja Rasulullah SAW sangat menganjurkannya di bulan Ramadhan

عبد الرزاق عن الثوري عن منصور عن مجاهد قال جاء رجل إلى بن عمر قال أصلي خلف الإمام في رمضان قال أتقرأ القرآن قال نعم قال افتنصت كأنك حمار صل في بيتك

Mujahid meriwayatkan seseorang datang kpd Abdullah bin Umar dan bertanya : “haruskan aku shalat dibelakang Imam selama Ramadhan? Ia (Abdullah bin Umar) bertanya : “Kau bisa membaca Al Qur’an?”. Ia menjawab : “Ya”. (Abdullah bin Umar) berkata: “lalu mengapa kau diam2 berdiri seperti keledai, pergilah dan Shalatlah dirumahmu” (Mushanaf Abdulrazaq, j.4 h.264)

وقال مالك وأبو يوسف وبعض الشافعية وغيرهم الأفضل فرادى في البيت

“Berkata Malik dan Abu Yusuf dan beberapa ulama Syafi’i dan yang lainnya mengatakan bahwa lebih baik shalat sendiri-sendiri/masing2 di rumah” (Syarh Sahih Muslim, j. 6 h.39)

Pengikut mazhab Ahlul Bait as tidak solat tarawih pada malam bulan Ramadhan tetapi mereka melakukan qiamul lail atau solat malam mengikut tatacara yang diajarkan oleh a’immah ahlul bait as. Tatacara lengkap boleh dibaca dalam kitab Mafatih al-Jinan

.

Solat malam itu dilakukan mengikut kemampuan seseorang. Paling kurang ialah 2 rakaat. Paling banyak ialah 1000 rakaat untuk selama satu bulan Ramadhan. Solat malam dilakukan secara persendirian dan tidak secara jamaah. Ia dilakukan di rumah masing-masing atau di masjid atau di mana sahaja yang sesuai. Mereka mempergiatkan amalan solat pada malam sepuluh terakhir pada bulan Ramadhan

Tarawih ialah shalat sunnah Ramadhan yang dilakukan dengan berjamaah. Ia dinamakan Tarawih disebabkan adanya waktu istirahat (tarwihah) di dalamnya sesudah tiap empat rakaat. Tapi kami (kaum Syi’ah Imamiiyah) melaksanakan shalat sunnah Ramadhan sendiri-sendiri, sebagaimana yang berlaku pada zaman Rasulullah.

Di antara hasil penakwilan mereka ialah shalat Tarawih yang tidak pernah dilakukan pada zaman Rasulullah maupun masa khilafah Abu Bakar r.a. Shalat tersebut untuk pertama kali ditradisikan oleh Khalifah Kedua, pada tahun 14 H, seperti yang disepakati oleh para ulama

.

Hal ini ditegaskan oleh Al-’Askari dalam keterangannya tentang “Hal-hal Baru yang Diciptakan oleh Umar”, dan kemudian dikutip oleh As-Sayuthi pada pasal tentang Umar bin Khaththab, dalam bukunya, Tarikh Al-Khulafa’, halaman 51.

Dalam “Riwayat Hidup Umar” dari kita Al-Isti’ab, Ibn Abdil-Bar menulis: “Dia (Umar)-lah yang telah menyemarakkan bulan Ramadhan dengan shalat yang jumlah rakaatnya genap’ (yakni shalat Tarawih).”

Al-Allamah Abu Al-Walid Muhammad bin Syuhnah, ketika menyebut kematian Umar pada rangkaian peristiwa tahun ke-23 H dalam kitab sejarahnya Raudhat Al-Manazhir, berkata: “Dialah orang pertama yang melarang penjualan ummahat al-aulad (hamba-hamba perempuan yang beranak dari majikannya). Dialah yang pertama kali mengimami shalat jenazah dengan empat takbir. Dan dia pulalah orang pertama yang menyelenggarakan shalat Tarawih berjamaah dengan dipimpin oleh seorang Imam… dan seterusnya.”

Sebelumnya Anda telah tahu bahwa naskah ini termuat pada keterangan bagian tepi (hamisy) Tarikh Ibn Atsir. Adapun yang kami nukilkan di sini terdapat pada juz II, halaman 122.

Ketika As-Sayuthi menyebutkan dalam kitabnya Tarikh Al-Khulafa’ tentang “Hal-hal Baru yang Diciptakan oleh Umar r.a.”, yang ia kutip dari Al-’Askari, ia berkata: “Dialah orang pertama yang dijuluki Amir Al-Mukminin…, dan seterusnya,” sampai pada keterangan, “Dialah yang pertama mentradisikan shalat Tarawih pada malam-malam bulan Ramadhan, yang pertama kali mengharamkan mut’ah, yang pertama kali melaksanakan shalat Jenazah   dengan empat takbir… dan seterusnya.”

Berkata Muhammad bin Sa’ad, ketika menceritakan biografi Umar bin Khaththab r.a. dalam Ath-Thabaqat, juz III: “Beliaulah orang pertama yang mentradisikan shalat malam-malam Ramadhan (Tarawih) dengan berjamaah. Kemudian ia menginstruksikannya ke seluruh negeri, yaitu pada bulan Ramadhan tahun 14 H. Ia mengangkat dua qari (imam) di Madinah;  seorang mengimami sembahyang Tarawih untuk kaum laki-laki dan seorang lainnya untuk kaum wanita… dan seterusnya.”

Tarawih ialah shalat sunnah Ramadhan yang dilakukan dengan berjamaah. Ia dinamakan Tarawih disebabkan adanya waktu istirahat (tarwihah) di dalamnya sesudah tiap empat rakaat. Tapi kami (kaum Syi’ah Imamiiyah) melaksanakan shalat sunnah Ramadhan sendiri-sendiri, sebagaimana yang berlaku pada zaman Rasulullah.

Pada akhir juz I, dari kitab Shahih Al-Bukhari, yaitu pasal “Shalat Tarawih”, Al-Bukhari merawikan bahwa Rasulullah SAWW pernah bersabda: Barangsiapa mengerjakan shalat (sunnah) pada malam bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan keikhlasan, akan diampuni dosanya yang telah lalu. Kata Al-Bukhari selanjutnya: “… sedemikian itulah keadaannya sampai Rasulullah SAWW wafat, dan juga pada masa Khalifah Abu Bakar serta sebagian dari masa Khalifah Umar. (Yakni, yang pada masa-masa itu belum dikenal “shalat Tarawih”).

Muslim, pada bab “Anjuran Shalat Malam Bulan Ramadhan”, dalam kitab Shahih-nya, juz I, telah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAWW selalu menganjurkan kaum Muslim agar menghidupkan malam-malam bulan Ramadhan dengan shalat sunnah, tanpa mewajibkannya. Dalam hal ini beliau bersabda: Barangsiapa mengisi malam-malam bulan Ramadhan dengan shalat yang disertai keimanan dan keikhlasan kepada Allah, niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Ketika Rasulullah SAWW berpulang ke rahmatullah, keadaannya tetap seperti itu. Begitu pula pada zaman Abu Bakar, hingga awal pemerintahan Khalifah Kedua, Umar bin Khaththab r.a.

Pada pasal “Shalat Tarawih”, Al-Bukhari merawikan dari Abdur-Rahman bin ‘Abd (Al-Qari) katanya: Pada suatu malam di bulan Ramadhan, aku keluar bersama Umar menuju masjid. Kami melihat banyak orang sedang shalat sendiri-sendiri, masing-masing terpisah dari lainnya, Umar berkata: “Seandainya orang-orang itu aku kumpulkan dalam satu jamaah yang dipimpin oleh seorang imam, tentu lebih baik.” Kemudian ia menetapkan niatnya itu dan mengumpulkan mereka dalam. satu jamaah yang dipimpin oleh Ubay bin Ka’ab. Sesudah itu –kata ‘Abdur-Rahman– pada malam yang lain aku keluar bersama Umar lagi, sementara orang-orang sedang melaksanakan shalat mereka di belakang seorang imam. Ketika menyaksikan itu, Umar berkata: “Alangkah baiknya bid’ah ini!”

Nama lengkap ‘Abdur-Rahman ‘Abd (Al-Qari) ialah Ibn Daisy bin Muslim bin Ghalib Al-Madani. Abdur- Rahman ini pada waktu itu adalah pejabat Umar dalam menguruti Bayt Al-Mal. la adalah sekutu Bani Zuhrah. Meninggal dunia pada tahun 80 H, dalam usia 78 tahun.

Pada awal halaman 4, juz V, kitab Irsyad As-Sari fi Syarh Shahih Al-Bukhari, Al-’Allamah Al-Qasthallani, ketika sampai kepada ucapan Umar dalam hadis tersebut (yakni, “Alangkah baiknya bid’ah ini”), berkata: “Ia menamakannya bid’ah, sebab Rasulullah SAWW tidak menyunatkan kepada mereka untuk menunaikannya secara berjamaah. Hal itu juga belum pemah ada di zaman Khalifah Abu Bakar. Baik tentang waktu pelaksanaannya, atau tentang pelaksanaannya pada tiap malam Ramadhan ataupun tentang jumlah rakaatnya. (Yakni duapuluh rakaat seperti sekarang).”

Keterangan seperti itu dapat Anda jumpai pula dalam kitab Tuhfat Al-Bari. Hal ini tidak diperselisihkan oleh siapa pun di kalangan kaum Muslim. Maka, mudah-mudahan Anda cukup puas dengannya sebagai petunjuk atas diberlakukannya pemaafan-pemaafan bagi para penakwil.

.

Allah SWT berfirmah kepada Rasulullah SAWW:

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS Aali Imran: 31)

.

Dan perintah Allah kepada umat Muhammad:
“…apa yang diberikan Rasul kepada kalian, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagi kalian, Maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya” (QS Al-Hasyr: 7)
.
Dan firman Allah:
Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya Maka sungguhlah dia Telah sesat, sesat yang nyata” (QS Al-Ahzab: 36)
.
Semua pemeluk agama Islam pengikut Muhammad Rasulullah SAWW pasti meyakini bahwa bid’ah adalah perbuatan yang harus dijauhi. Hal itu karena terlampau banyak hadis Rasul –baik dalam kitab standart Ahlusunnah maupun Syiah- yang melarang dengan keras dan tegas kepada segenap umatnya dalam pelaksanaan bid’ah. Bahkan dalam beberapa hadis disebutkan bahwa berkumpul dengan pelaku bid’ahpun dilarang, apalagi melakukan bid’ah. Hal itu karena imbas dari ajaran Islam yang mengajarkan ajaran tauhid, termasuk tauhid dalam penentuan hukum agama. Jangankan manusia biasa, Rasulullah pun dilarang untuk membikin-bikin hukum agama. Beliau hanya berhak menyampaikan hukum Allah saja, tanpa diperkenankan untuk menambahi maupun menguranginya. Pelaku bid’ah dapat divonis sebagai penentang dalam masalah tauhid penentuan hukum yang menjadi hak preogatif Tuhan belaka. Hanya Dia yang memiliki otoritas mutlak untuk itu
.
Pada kesempatan kali ini, kita akan menegok kembali hukum ‘Shalat Tarawih’ di bulan suci Ramadhan yang seringnya dilakukan secara berjamaah oleh kebanyakan kaum muslimin, tidak terkecuali di Indonesia. Apakah Rasul pernah mencontohkannya ataukah tidak? Siapa pertama kali yang mempolopori pelaksanaan shalat tarawih berjamaah, dan dengan alasan apa? Jika Rasul tidak pernah mencontohkannya –bahkan memerintahkan untuk shalat sendiri-sendiri- maka pelaksanaannya secara berjamaah apakah tidak termasuk kategori bid’ah, sedang Rasul dalam hadisnya perbah bersabda: “ Bid’ah adalah sesat” (kullu bid’atin dhalalah) dimana ungkapan ini meniscayakan bahwa tidak ada lagi pembagian bid’ah menjadi ‘baik’ (hasanah) dan ‘buruk/sesat’ (dhalalah)?
.

Kita akan mulai dengan apa yang dinyatakan oleh Imam Bukhari dalam kitab shahihnya yang dinukil dari Abdurrahman bin Abdul Qori yang menjelaskan: “Pada salah satu malam di bulan Ramadhan, aku berjalan bersama Umar (bin Khattab). Kami melihat orang-orang nampak sendiri-sendiri dan berpencar-pencar. Mereka melakukan shalat ada yang sendiri-sendiri ataupun dengan kelompoknya masing-masing. Lantas Umar berkata: “Menurutku alangkah baiknya jika mereka mengikuti satu imam (untuk berjamaah)”. Lantas ia memerintahkan agar orang-orang itu melakukan shalat dibelakang Ubay bin Ka’ab. Malam berikutnya, kami kembali datang ke masjid. Kami melihat orang-orang melakukan shalat sunnah malam Ramadhan (tarawih) dengan berjamaah. Melihat hal itu lantas Umar mengatakan: “Inilah sebaik-baik bid’ah!”” (Shahih Bukhari jilid 2 halaman 252, yang juga terdapat dalam kitab al-Muwattha’ karya Imam Malik halaman 73)

.

Dari riwayat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa; Pertama: Shalat terawih berjamaah tidak pernah dilakukan sebelum adanya perintah dari Umar. Kedua: Pertama kali shalat tarawih berjamaah diadakan pada zaman Umar sebagai khalifah. Sedang pada masa Rasul maupun khalifah pertama (Abu Bakar) tidak pernah ada. Ketiga: Atas dasar itulah maka Umar sendiri mengakui bahwa ini adalah ‘hasil pendapat pribadinya’ sehingga ia mengatakan “Ini adalah sebaik-baik bid’ah” (nimatul bid’ah hadzihi). Sekarang yang menjadi pertanyaan; Bolehkan seorang manusia biasa mengada-ngada dengan dasar ‘pendapat pribadinya’ untuk membikin hukum peribadatan dalam Islam? Apa hukum mengada-ngada tersebut? Bagaimana memvonis pengada-ngada dan pelaksana hukum bikinan (baca: bid’ah) tersebut?
.

Kini kita lihat pengakuan beberapa ulama Ahlusunnah tentang hakekat hukum shalat tarawih berjamaah itu sendiri. Di sini kita akan mengambil beberapa contoh dari pribadi-pribadi tersebut. Al-Qosthalani dalam mensyarahi ungkapan Umar (“Ini adalah sebaik-baik bid’ah”) dalam kitab Shahih Bukhari tadi mengatakan: “Ia mengakui bahwa itu adalah bid’ah karena Rasul tidak pernah memrintahkanya sehingga shalat sunah di malam Ramadhan harus dilakukan secara berjamaah. Pada zaman Abu Bakar pun tidak pernah ada hal semacam itu. Begitu pula tidak pernah ada pada malam pertama Ramadhan (di malam hari keluarnya perintah Umar tadi. red). Juga dalam kaitannya dengan jumlah rakaat (shalat tarawih) yang tidak memiliki asal” (Irsyad as-Sari jilid 5 halaman 4). Ungkapan dan penjelasan semacam ini juga dapat kita temukan dalam kitab Fathul Bari, Umdah al-Qori dan beberapa kitab lain yang dikarya untuk mensyarahi Shahih Bukhari. As-Suyuthi dalam kitab “Tarikh al-Khulafa’” menjelaskan bahwa, pertama kali yang memerintahkan untuk melakukan shalat tarawih secara berjamaah adalah Umar bin Khatab

.

Ini pula yang diungkapkan oleh Abu Walid Muhammad bin Syuhnah dalam mengisahkan kejadian tahun 23 H. Sebagaimana juga diakui oleh Muhammad bin Saad sebagaimana yang tercantum dalam jilid ketiga kitab “at-Tabaqoot” sewaktu menyebut nama Umar bin Khatab. Juga yang dinyatakan oleh Ibnu Abdul Bar dalam kitab “al-Isti’ab” sewaktu mensyarahi pribadi Umar bin Khatab. Jadi jelas sekali dan tidak dipungkiri oleh siapapun bahwa; shalat tarawih secara berjamaah adalah ibadah yang tidak pernah dicontohkan apalagi diperintahkan oleh baginda Rasulullah sehingga hal itu tergolong bid’ah yang harus dijauhi oleh setiap pribadi muslim yang mengaku cinta dan taat kepada pribadi mulia Rasulullah

.
Sementara, dalam hadis-hadis lain disebutkan bahwa Rasulullah dengan keras melarang umatnya untuk melakukan shalat sunah secara berjamaah. Sebagai contoh, dalam sebuah hadis sahih disebutkan bahwa Rasul pernah bersabda: “Hendaknya atas kalian untuk melakukan shalat di rumah kalian, karena sebaik-baik shalat adalah yang dilakukan di rumah, kecuali shalat fardhu (wajib)” (Shohih Muslim dengan Syarh Imam Nawawi jilid 6 halaman 39, atau pada kitab Fathul Bari jilid 4 halaman 252)
.
Dengan menggabungkan empat argumen di atas tadi –(1) perintah mengikuti Rasul sehingga mendapat ridho Allah, (2) larangan melakukan bid’ah, (3) shalat tarawih tidak dicontohkan Rasul yang mensicayakan bid’ah dalam peribadatan dan (4) perintah Rasul untuk melakukan shalat sunah di rumah, secara sendiri-sendiri- maka banyak dari ulama Ahlusunnah sendiri yang mereka melakukan shalat tarawih di rumah masing-masing, tidak berjamaah di masjid ataupun mushalla. Malah dalam kitab “al-Mushannaf” disebutkan, Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan bahwa; “Ibnu Umar tidak pernah melakukan shalat tarawih berjamaah”. Dan dalam kitab yang sama, Mujahid mengatakan: “Pernah seseorang datang kepada Ibnu Umar dan bertanya: “Pada bulan Ramadhan, apakah shalat tarawih kita lakukan dengan berjamaah?” Ibnu Umar berkata: “Apakah kamu bisa membaca al-Quran?” Ia (penanya tadi) menjawab: “Ya!?” lantas Ibnu Umar berkata: Lakukan shalat tarawih di rumah!” (Al-Mushannaf jilid 5 halaman 264 hadis ke-7742 dan ke-7743)
.
Namun, sebagian dari ikhwan Ahlsunnah mengelak bahwa itu (tarawih berjamaah) adalah bid’ah berargumen dengan beberapa dalil. Di sini kita akan sebutkan sandaran mereka dengan kritisi ringkas atas dalil yang mereka kemukakan.

Ada dua hadis yang sering dijadikan argumen sebagai landasan hukum legalitas shalat tarawih berjamaah di bulan Ramadhan

;

1- Ummul Mukmin Aisyah berkata: “Pada satu pertengahan malam, Rasulullah keluar dari rumah untuk melaksanakan shalat di masjid. Beberapa orang mengikuti shalat beliau (sebagai makmum. red). Masyarakatpun mulai berdatangan karena kabar yang tersebar. Hal itu berjalan hingga malam ketiga. Masjidpun menjadi penuh. Pada malam keempat, setelah melaksanakan shalat Subuh Rasul berkhutbah di depan masyarakat dengan sabdanya: “…Aku khawatir perbuatan ini akan menjadi (dianggap) kewajiban sedang kalian tidak dapat melaksanakannya”. Sewaktu Rasulullah meninggal, suasana menjadi sedia kala” (Shahih Bukhari jilid 1 halaman 343)
.

Menjadikan hadis di atas sebagai dalil akan legalitas shalat tarawih berjamaah sangatlah lemah dan tidak sempurna. Karena di dalam teks hadis tersebut jelas sekali bahwa, tidak ada penjelasan bahwa itu terjadi pada bulan Ramadhan sehingga itu menunjukkan shalat tarawih. Selain karena hadis itu secara sanadnya terdapat pribadi yang bernama Yahya bin Bakir yang dihukumi lemah (dhaif) dalam meriwayatkan hadis. Hal itu bisa dilihat dalam kitab “Tahdzibul Kamal” jilid 20 halaman 40 dan atau Siar A’lam an-Nubala’ jilid 10 halaman 612. apalagi jika kita kaitkan dengan pengakuan sahabat Umar sendiri yang mengaakan bahwa tarawih adalah; “Sebaik-baik bid’ah”, sebagaimana yang telah kita singung di atas

.

2- Ibn Wahab menukil dari Abu Hurairah yang meriwayatkan bahwa, suatu saat Rasul memasuki masjid. Belioau melihat para sahabat di beberapa tempat sedang sibuk melaksanakan shalat. Beliau bertanya: “Shalat apa yang mereka lakukan?”. Dijawab: “Sekelompok sedang melakukan shalat dengan diimami oleh Ubay bin Ka’ab”. Rasul lantas bersabda: “Apa yang mereka lakukan benar dan mereka telah melakukan kebaikan.” (Fathul Bari jilid 4 halaman 252).
Menjadikan hadis ini sebagai pembenar pelaksanaan shalat tarawih berjamaah pun tidak benar, karena dalam teks hadis jelas tidak dinyatakan shalat apakah yang sedang mereka laksanakan, shalat tarawihkah ataukah shalat fardhu (shalat wajib). Selain itu, Ibnu Hajar sendiri (penulis kitab “Fathul Bari” tadi) setelah menukil hadis tersebut menyatakan kelemahan hadis tersebut dari dua sisi; pertama: Terdapat pribadi yang bernama Muslim bin Khalid yang lemah (dhaif) dalam meriwayatkan hadis. Kedua: Dalam hadis ini disebutkan bahwa Rasul yang mengumpulkan orang-orang agar shalat di belakang Ubay bin Ka’ab, padahal yang terkenal (ma’ruf) adalah sahabat Umar-lah yang mengumpulkan orang-orang untuk shalat bersama Ubay bin Ka’ab
.

Dari sini jelaslah bahwa, pelaksanaan ‘ibadah shalat tarawih berjamaah’ bukan hanya tidak pernah diperintahkan oleh Rasul, bahkan Rasul sendiri tidak pernah mencontohkannya. Dan terbukti pula bahwa sahabat umar-lah yang mempelopori ibadah tersebut. Padahal kita tahu bahwa ‘penentuan amal ibadah’ adalah hak mutlak Allah yang dijelaskan melalui lisan suci Rasulullah. Rasul sendiri tidak berhak menentukan suatu amal ibadah, apalagi manusia biasa, walaupun ia tergolong sahabat. Oleh karenanya, sahabat Umar sendiri mengakui bahwa itu adalah bagian dari Bid’ah. Sedang kita tahu bahwa semua bid’ah adalah sesat, sehingga tidak ada lagi celah untuk membagi bid’ah kepada baik dan tidak baik

.

Semoga dalam bulan suci Ramadhan ini kita bisa mengamalkan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya, termasuk menjauhi segala macam jenis bid’ah seperti melaksanakan shalat tarawih berjamaah. Karena bagaimana mungkin kita akan dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT namun jalan dan sarana yang kita tempuh adalah melalui perbuatan yang dibenci oleh Allah, seperti bid’ah. Mustahil sesuatu yang menjauhkan dari Allah (seperti Bid’ah) akan dapat mendekatkan kepada-Nya (masuk kategori ibadah). Ini adalah dua hal kontradiktif yang mustahil terjadi.

.

Jemaah Shalat Fardhu Atau Tarawih ?

Ah, bulan ramadhan telah tiba, syukur, dapat lagi merasa nikmatnya pada tahun ini. Bila sampai sahaja bulan ini, maka pada awalnya, penuhlah masjid dengan para pengunjung yang datang menunaikan solat Tarawih.

Tidak perlu rasanya saya beritahu, di dalam fikah Syiah, tiada solat tarawih secara berjemaah, yang dianggap bidaah oleh Rasulullah(sawa) dan para Imamnya, yang ada hanya solat-solat nafila yang didirikan secara individu.

Bagaimanapun, bagi saudara Sunni yang meyakini bahawa solat ini adalah satu Sunnah Rasul, maka, teruskan dengan apa yang kalian yakini, dan semoga Allah swt menerimanya.

Yang mahu ditanggapi dalam luahan ini hanyalah perkara yang pernah saya lakukan ketika Sunni dahulu, dan masih dilihat berleluasa amalannya di masa sekarang. Teringat dahulu, saya kerap mementingkan Tarawih berjemaah lebih dari solat fardhu berjemaah. Bukan saya seorang, tetapi ramai lagi saudara Sunni yang lain. Ini dapat dilihat dari tindakan mereka yang sampai ke masjid selepas habis menunaikan solat Isyak, hanya semata-mata untuk tarawih berjemaah. Solat fardhu Isyak mereka telah tunaikan di rumah secara berseorangan. Psikologi ini tidak betul, dan harus diubah.

Sepatutnya, solat fardhu berjemaah mendapat keutamaan yang lebih dari nafila berjemaah, ini adalah sabda Rasul sendiri, yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:

“Sebaik-baik solat adalah solat di rumah, kecuali solat fardhu.”

Ini jelas menunjukkan keutamaan solat fardhu berjemaah berbanding solat nafilah. Jadi lepas ini, selain kejar untuk berterawih berjemaah, maka cubalah sedaya upaya untuk tirit bersolat fardhu secara jemaah juga.

Nasihat ikhlas dari saudara Syiah mu.

Jadi jelas sekali dan tidak dipungkiri oleh siapapun bahwa; shalat tarawih secara berjamaah adalah ‘ibadah’ yang tidak pernah dicontohkan apalagi diperintahkan oleh baginda Rasulullah sehingga hal itu tergolong bid’ah yang harus dijauhi oleh setiap pribadi muslim yang mengaku cinta dan taat kepada pribadi mulia Rasulullah. Dan berdasarkan hadis terkenal Rasul; “Setiap bid’ah adalah sesat” (kullu bid’ah dhalalah) maka tidak ada lagi celah untuk membagi bid’ah menjadi baik dan buruk/sesat.

Studi Kritis atas Shalat Tarawih

 

Allah SWT berfirmah kepada Rasulullah SAWW:

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS Aali Imran: 31)

Dan perintah Allah kepada umat Muhammad:

“…apa yang diberikan Rasul kepada kalian, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagi kalian, Maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya” (QS Al-Hasyr: 7)

Dan firman Allah:

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya Maka sungguhlah dia Telah sesat, sesat yang nyata” (QS Al-Ahzab: 36)

Semua pemeluk agama Islam pengikut Muhammad Rasulullah SAWW pasti meyakini bahwa bid’ah adalah perbuatan yang harus dijauhi. Hal itu karena terlampau banyak hadis Rasul –baik dalam kitab standart Ahlusunnah maupun Syiah- yang melarang dengan keras dan tegas kepada segenap umatnya dalam pelaksanaan bid’ah. Bahkan dalam beberapa hadis disebutkan bahwa berkumpul dengan pelaku bid’ahpun dilarang, apalagi melakukan bid’ah. Hal itu karena imbas dari ajaran Islam yang mengajarkan ajaran tauhid, termasuk tauhid dalam penentuan hukum agama. Jangankan manusia biasa, Rasulullah pun dilarang untuk membikin-bikin hukum agama. Beliau hanya berhak menyampaikan hukum Allah saja, tanpa diperkenankan untuk menambahi maupun menguranginya. Pelaku bid’ah dapat divonis sebagai penentang dalam masalah tauhid penentuan hukum yang menjadi hak preogatif Tuhan belaka. Hanya Dia yang memiliki otoritas mutlak untuk itu.

Pada kesempatan kali ini, kita akan menegok kembali hukum ‘Shalat Tarawih’ di bulan suci Ramadhan yang seringnya dilakukan secara berjamaah oleh kebanyakan kaum muslimin, tidak terkecuali di Indonesia. Apakah Rasul pernah mencontohkannya ataukah tidak? Siapa pertama kali yang mempolopori pelaksanaan shalat tarawih berjamaah, dan dengan alasan apa? Jika Rasul tidak pernah mencontohkannya –bahkan memerintahkan untuk shalat sendiri-sendiri- maka pelaksanaannya secara berjamaah apakah tidak termasuk kategori bid’ah, sedang Rasul dalam hadisnya perbah bersabda: “Setiap Bid’ah adalah sesat” (kullu bid’atin dhalalah) dimana ungkapan ini meniscayakan bahwa tidak ada lagi pembagian bid’ah menjadi ‘baik’ (hasanah) dan ‘buruk/sesat’ (dhalalah)?

Kita akan mulai dengan apa yang dinyatakan oleh Imam Bukhari dalam kitab shahihnya yang dinukil dari Abdurrahman bin Abdul Qori yang menjelaskan: “Pada salah satu malam di bulan Ramadhan, aku berjalan bersama Umar (bin Khattab). Kami melihat orang-orang nampak sendiri-sendiri dan berpencar-pencar. Mereka melakukan shalat ada yang sendiri-sendiri ataupun dengan kelompoknya masing-masing. Lantas Umar berkata: “Menurutku alangkah baiknya jika mereka mengikuti satu imam (untuk berjamaah)”. Lantas ia memerintahkan agar orang-orang itu melakukan shalat dibelakang Ubay bin Ka’ab. Malam berikutnya, kami kembali datang ke masjid. Kami melihat orang-orang melakukan shalat sunnah malam Ramadhan (tarawih) dengan berjamaah. Melihat hal itu lantas Umar mengatakan: “Inilah sebaik-baik bid’ah!”” (Shahih Bukhari jilid 2 halaman 252, yang juga terdapat dalam kitab al-Muwattha’ karya Imam Malik halaman 73).

Dari riwayat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa; Pertama: Shalat terawih berjamaah tidak pernah dilakukan sebelum adanya perintah dari Umar. Kedua: Pertama kali shalat tarawih berjamaah diadakan pada zaman Umar sebagai khalifah. Sedang pada masa Rasul maupun khalifah pertama (Abu Bakar) tidak pernah ada. Ketiga: Atas dasar itulah maka Umar sendiri mengakui bahwa ini adalah ‘hasil pendapat pribadinya’ sehingga ia mengatakan “Ini adalah sebaik-baik bid’ah” (nimatul bid’ah hadzihi). Sekarang yang menjadi pertanyaan; Bolehkan seorang manusia biasa mengada-ngada dengan dasar ‘pendapat pribadinya’ untuk membikin hukum peribadatan dalam Islam? Apa hukum mengada-ngada tersebut? Bagaimana memvonis pengada-ngada dan pelaksana hukum bikinan (baca: bid’ah) tersebut?

Kini kita lihat pengakuan beberapa ulama Ahlusunnah tentang hakekat hukum shalat tarawih berjamaah itu sendiri. Di sini kita akan mengambil beberapa contoh dari pribadi-pribadi tersebut. Al-Qosthalani dalam mensyarahi ungkapan Umar (“Ini adalah sebaik-baik bid’ah”) dalam kitab Shahih Bukhari tadi mengatakan: “Ia mengakui bahwa itu adalah bid’ah karena Rasul tidak pernah memrintahkanya sehingga shalat sunah di malam Ramadhan harus dilakukan secara berjamaah. Pada zaman Abu Bakar pun tidak pernah ada hal semacam itu. Begitu pula tidak pernah ada pada malam pertama Ramadhan (di malam hari keluarnya perintah Umar tadi. red). Juga dalam kaitannya dengan jumlah rakaat (shalat tarawih) yang tidak memiliki asal” (Irsyad as-Sari jilid 5 halaman 4). Ungkapan dan penjelasan semacam ini juga dapat kita temukan dalam kitab Fathul Bari, Umdah al-Qori dan beberapa kitab lain yang dikarya untuk mensyarahi Shahih Bukhari. As-Suyuthi dalam kitab “Tarikh al-Khulafa’” menjelaskan bahwa, pertama kali yang memerintahkan untuk melakukan shalat tarawih secara berjamaah adalah Umar bin Khatab. Ini pula yang diungkapkan oleh Abu Walid Muhammad bin Syuhnah dalam mengisahkan kejadian tahun 23 H. Sebagaimana juga diakui oleh Muhammad bin Saad sebagaimana yang tercantum dalam jilid ketiga kitab “at-Tabaqoot” sewaktu menyebut nama Umar bin Khatab. Juga yang dinyatakan oleh Ibnu Abdul Bar dalam kitab “al-Isti’ab” sewaktu mensyarahi pribadi Umar bin Khatab. Jadi jelas sekali dan tidak dipungkiri oleh siapapun bahwa; shalat tarawih secara berjamaah adalah ibadah yang tidak pernah dicontohkan apalagi diperintahkan oleh baginda Rasulullah sehingga hal itu tergolong bid’ah yang harus dijauhi oleh setiap pribadi muslim yang mengaku cinta dan taat kepada pribadi mulia Rasulullah.

Sementara, dalam hadis-hadis lain disebutkan bahwa Rasulullah dengan keras melarang umatnya untuk melakukan shalat sunah secara berjamaah. Sebagai contoh, dalam sebuah hadis sahih disebutkan bahwa Rasul pernah bersabda: “Hendaknya atas kalian untuk melakukan shalat di rumah kalian, karena sebaik-baik shalat adalah yang dilakukan di rumah, kecuali shalat fardhu (wajib)” (Shohih Muslim dengan Syarh Imam Nawawi jilid 6 halaman 39, atau pada kitab Fathul Bari jilid 4 halaman 252).

Dengan menggabungkan empat argumen di atas tadi –(1) perintah mengikuti Rasul sehingga mendapat ridho Allah, (2) larangan melakukan bid’ah, (3) shalat tarawih tidak dicontohkan Rasul yang mensicayakan bid’ah dalam peribadatan dan (4) perintah Rasul untuk melakukan shalat sunah di rumah, secara sendiri-sendiri- maka banyak dari ulama Ahlusunnah sendiri yang mereka melakukan shalat tarawih di rumah masing-masing, tidak berjamaah di masjid ataupun mushalla. Malah dalam kitab “al-Mushannaf” disebutkan, Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan bahwa; “Ibnu Umar tidak pernah melakukan shalat tarawih berjamaah”. Dan dalam kitab yang sama, Mujahid mengatakan: “Pernah seseorang datang kepada Ibnu Umar dan bertanya: “Pada bulan Ramadhan, apakah shalat tarawih kita lakukan dengan berjamaah?” Ibnu Umar berkata: “Apakah kamu bisa membaca al-Quran?” Ia (penanya tadi) menjawab: “Ya!?” lantas Ibnu Umar berkata: Lakukan shalat tarawih di rumah!” (Al-Mushannaf jilid 5 halaman 264 hadis ke-7742 dan ke-7743).

Namun, sebagian dari ikhwan Ahlsunnah mengelak bahwa itu (tarawih berjamaah) adalah bid’ah berargumen dengan beberapa dalil. Di sini kita akan sebutkan sandaran mereka dengan kritisi ringkas atas dalil yang mereka kemukakan.

Ada dua hadis yang sering dijadikan argumen sebagai landasan hukum legalitas shalat tarawih berjamaah di bulan Ramadhan;

1- Ummul Mukmin Aisyah berkata: “Pada satu pertengahan malam, Rasulullah keluar dari rumah untuk melaksanakan shalat di masjid. Beberapa orang mengikuti shalat beliau (sebagai makmum. red). Masyarakatpun mulai berdatangan karena kabar yang tersebar. Hal itu berjalan hingga malam ketiga. Masjidpun menjadi penuh. Pada malam keempat, setelah melaksanakan shalat Subuh Rasul berkhutbah di depan masyarakat dengan sabdanya: “…Aku khawatir perbuatan ini akan menjadi (dianggap) kewajiban sedang kalian tidak dapat melaksanakannya”. Sewaktu Rasulullah meninggal, suasana menjadi sedia kala” (Shahih Bukhari jilid 1 halaman 343)

Menjadikan hadis di atas sebagai dalil akan legalitas shalat tarawih berjamaah sangatlah lemah dan tidak sempurna. Karena di dalam teks hadis tersebut jelas sekali bahwa, tidak ada penjelasan bahwa itu terjadi pada bulan Ramadhan sehingga itu menunjukkan shalat tarawih. Selain karena hadis itu secara sanadnya terdapat pribadi yang bernama Yahya bin Bakir yang dihukumi lemah (dhaif) dalam meriwayatkan hadis. Hal itu bisa dilihat dalam kitab “Tahdzibul Kamal” jilid 20 halaman 40 dan atau Siar A’lam an-Nubala’ jilid 10 halaman 612. apalagi jika kita kaitkan dengan pengakuan sahabat Umar sendiri yang mengaakan bahwa tarawih adalah; “Sebaik-baik bid’ah”, sebagaimana yang telah kita singung di atas.

2- Ibn Wahab menukil dari Abu Hurairah yang meriwayatkan bahwa, suatu saat Rasul memasuki masjid. Belioau melihat para sahabat di beberapa tempat sedang sibuk melaksanakan shalat. Beliau bertanya: “Shalat apa yang mereka lakukan?”. Dijawab: “Sekelompok sedang melakukan shalat dengan diimami oleh Ubay bin Ka’ab”. Rasul lantas bersabda: “Apa yang mereka lakukan benar dan mereka telah melakukan kebaikan.” (Fathul Bari jilid 4 halaman 252).

Menjadikan hadis ini sebagai pembenar pelaksanaan shalat tarawih berjamaah pun tidak benar, karena dalam teks hadis jelas tidak dinyatakan shalat apakah yang sedang mereka laksanakan, shalat tarawihkah ataukah shalat fardhu (shalat wajib). Selain itu, Ibnu Hajar sendiri (penulis kitab “Fathul Bari” tadi) setelah menukil hadis tersebut menyatakan kelemahan hadis tersebut dari dua sisi; pertama: Terdapat pribadi yang bernama Muslim bin Khalid yang lemah (dhaif) dalam meriwayatkan hadis. Kedua: Dalam hadis ini disebutkan bahwa Rasul yang mengumpulkan orang-orang agar shalat di belakang Ubay bin Ka’ab, padahal yang terkenal (ma’ruf) adalah sahabat Umar-lah yang mengumpulkan orang-orang untuk shalat bersama Ubay bin Ka’ab.

Dari sini jelaslah bahwa, pelaksanaan ‘ibadah shalat tarawih berjamaah’ bukan hanya tidak pernah diperintahkan oleh Rasul, bahkan Rasul sendiri tidak pernah mencontohkannya. Dan terbukti pula bahwa sahabat umar-lah yang mempelopori ibadah tersebut. Padahal kita tahu bahwa ‘penentuan amal ibadah’ adalah hak mutlak Allah yang dijelaskan melalui lisan suci Rasulullah. Rasul sendiri tidak berhak menentukan suatu amal ibadah, apalagi manusia biasa, walaupun ia tergolong sahabat. Oleh karenanya, sahabat Umar sendiri mengakui bahwa itu adalah bagian dari Bid’ah. Sedang kita tahu bahwa semua bid’ah adalah sesat, sehingga tidak ada lagi celah untuk membagi bid’ah kepada baik dan tidak baik.

Taraweh: Bid’ah yang Indah Itu….
Dari kitab Sahih Bukhari[1] dan Sahih Muslim[2] kita dapat mengambil pelajaran bahwa pada zaman Nabi Muhammad Saw dan pada zaman kekhalifahan Abu Bakar serta pada beberapa waktu pemerintahan Umar, tidak terdapat ritual shalat Tarawih.
Kalau kita saksikan dikebanyakan masjid-masjid saudara kita, Ahlussunnah, kita sering menjumpai pada malam-malam bulan Ramadhan terdapat ritual shalat berjamaah yang jumlah raka’atnya sebanyak 8 rakaat, 20 raka’at atau 36 rakaat. Konon Rasulullah Saw hanya mengerjakan 8 rakaat secara berjamaah kemudian melanjutkannya di rumah. Hal ini juga diikuti oleh para sahabat.
.
Namun, bagaimana sebenarnya hukum shalat Tarawih ini? Berikut ini mari kita menyimak tulisan berikut ini dengan tajuk “Bid’ah yang Indah itu..
.
 Dari kitab Sahih Bukhari[1] dan Sahih Muslim[2] kita dapat mengambil pelajaran bahwa pada zaman Nabi Muhammad Saw dan pada zaman kekhalifahan Abu Bakar serta pada beberapa waktu pemerintahan Umar, tidak terdapat ritual shalat Tarawih. Hingga pada suatu waktu dari salah satu malam-malam bulan Ramadhan, Umar masuk ke Masjid dan menyaksikan masyarakat melakukan shalat secara sendiri-sendiri (munfarid). Ia juga melihat di salah satu sudut masjid itu, ada sekelompok kaum muslim melaksanakan shalat secara berjamaah
.
Kemudian Umar berkata, “Kalau semua orang melaksanakan shalat secara berjamaah pasti akan menarik. Lalu ia mengumpulkan mereka untuk melaksanakan shalat di bawah pimpinan seorang imam (Ubay bin Ka’ab). Pada malam berikutnya ia masuk masjid itu dan menyaksikan jamaah masjid melaksanakan shalat secara berjamaah, seraya mengucapkan “Ni’mal bid’atu hadzihi[3]. (Alangkah indahnya bid’ah ini). Jadi pendapat yang mengatakan bahwa bilangan rakaat salat Tarawih itu sebanyak 20 rakaat merupakan pendapat Khalifah Umar bin Khatab.
.
Al-’Allamah al-Qasthalani, ketika sampai pada ucapan Umar dalam hadits tersebut (yakni alangkah baiknya bid’ah ini) berkata: “Ia (Umar) menamakannya bid’ah, sebab Rasulullah Saw sendiri tidak menjadikannya sebagai sunnah kepada mereka untuk dilakukan secara berjamaah.  Hal itu juga belum pernah terjadi pada masa Khalifah Abu Bakar, baik tentang waktu pelaksanaannya, atau tentang pelaksanaannya pada tiap malam Ramadhan, ataupun tentang jumlah rakaatnya.[4]
.
Dalam kitab Fiqh ‘alal Madzahib al Arba’ah[5] ihwal shalat Tarawih, “Adalah mustahab apabila shalat Tarawih ini dilaksanakan secara berjamaah, namun jumlah rakaatnya bukan 20 rakaat dan baru beberapa lama setelah itu ditambahkan. Dari kitab ini juga Anda bisa mengetahui seluk beluk salat Tarawih ini. Penyusun kitab ini, Abdul Rahman al-Jazairi menjelaskan bahwa: “Syaikhan, (Imam Bukhari dan Muslim) meriwayatkan sebuah hadits bahwa Rasulullah Saw keluar dari rumahnya pada tengah malam di bulan suci Ramadhan, yaitu pada malam ketiga, kelima dan kedua puluh tujuh, secara terpisah. Kemudian beliau Saw shalat di dalam masjid. Jamaah masjid pun turut pula melakukan shalat di dalam masjid beliau. Ketika itu beliau Saw melakukan shalat sebanyak 8 rakaat. Tetapi kemudian mereka menyempurnakan shalat mereka di rumah mereka masing-masing…” Kemudian Abdul al-Jaziri menyimpulkan pandangannya sendiri dari riwayat tersebut dan berkata: “Dari riwayat ini jelaslah bahwa Nabi Saw telah menetapkan kesunahan shalat Tarawih secara berjamaah. Tetapi beliau Saw tidak melakukannya -bersama-sama dengan mereka- sebanyak 20 rakaat, sebagaimana yang dilakukan pada masa sahabat (pasca wafat Rasulullah Saw) dan pada masa-masa selanjutnya hingga sekarang ini. Setelah keluar pada tiga malam itu, beliau Saw tidak keluar lagi karena takut nantinya shalat itu akan diwajibkan atas mereka sebagaimana yang juga pada  riwayat lainnya. Dan telah jelas pula bahwa jumlah rakaatnya tidak terbatas hanya 8 rakaat saja sebagaimana yang beliau lakukan bersama mereka. Dalilnya adalah bahwa mereka menyempurnakannya di dalam rumah-rumah mereka. Sementara perbuatan umar menjelaskan bahwa jumlah rakaatnya adalah 20. Dimana ketika itu (ketika Umar berkuasa sebagai Khalifah) dia menganjurkan kaum muslimin agar melakukan shalat Tarawih di dalam masjid sebanyak 20 rakaat, dan hal itu disetujui oleh para sahabat Nabi Saw.
.
Pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz penambahan rakaat shalat Tarawih terjadi lagi sampai 36 rakaat. Tujuan penambahan tersebut ini untuk menyesuaikan keutamaan dan kemuliaan penduduk kota Makkah. Karena mereka melakukan thawaf (mengelilingi Ka’bah) satu kali setelah setiap 4 rakaat. Berdasarkan hal itu, Umar bin Abdul Aziz menganggap perlu untuk menambahkan dalam setiap thawaf sebanyak 4 rakaat”.[6]
.
Dalam salah satu kitab fiqih Sunni “al-Mughni“, ulama Ahli Sunnah yang bernama al-Kharqi berata bahwa shalat Tarawih itu dilakukan sebanyak 20 rakaat. Ibnu Quddamah, seorang ulama Sunni terkenal lainnya berkata di dalam syarahnya bahwa menurut pandangan Imam Ahmad bin Hanbal, yang lebih kuat bahwa shalat Tarawih itu berjumlah 20 rakaat. Hal ini persis dengan pendapat as-Tsauri, Abu Hanifah dan Imam Syafi’i. Namun Imam Malik berpendapat bahwa shalat Tarawih itu berjumlah 36 rakaat. Dia mengatakan bahwa hal itu sesuai dengan perbuatan orang-orang Madinah.
.
Dalam pandangan madzhab Ahli Sunnah, keotentikan kitab al-Bukhari menempati urutan ke dua setelah Al-Qur’an dan sangat banyak yang memberikan komentar atas   kitab ini. Dalam kitab ini, para komentator itu memberikan pandangan beragam tentang jumlah rakaat yang ada pada salat Tarawih, sebagian mereka mengatakan bahwa jumlah rakaat shalat Tarawih itu adalah 13 rakaat, yang lainnya mengatakan 20 rakaat, kelompok yang lain berpendapat 24 rakaat, ada yang mengatakan 28 rakaat, sebagian lagi berujar 36 rakaat, ada juga yang mengatakan 38 rakaat, sebagiannya lagi mengatakan 39 rakaat, pendapat selanjutnya adalah 41 rakaat, pendapat lainnya adalah 47 rakaat, dan begitu seterusnya.
.
Ibnu Abdil Bar menulis: “Dialah Umar yang telah menyemarakkan bulan suci Ramadhan dengan shalat yang jumlah rakaatnya genap (yakitu shalat Tarawih)”[7]
.
Al-Allamah Abu Al-Walid Muhammad bin Syuhnah berkata: Dan dia pulalah orang pertama yang menyelenggarakan shalat Tarawih berjamaah dengan dipimpin oleh seorang imam….”[8]
.
As-Suyuthi menulis di dalam kitabnya Tarikhul Khulafa’ tentang hal-hal baru yang diciptakan oleh Umar, diantaranya ia berkata: “Dialah orang pertama yang mentradisikan shalat Tarawih pada malam-malam bulan Ramadhan”
.
Imam al-Bukhari -setelah meriwayatkan sebuah hadits Rasulullah Saw yang berbunyi: “Barangsiapa yang melakukan shalat (sunat) pada malam bulan Ramadhan……dst”- berkata: “….Sedemikian itulah keadaannya sampai Rasulullah Saw wafat, dan juga pada masa Khalifah Abu Bakar serta sebagian dari masa Khalifah Umar. (Yakni, yang pada masa-masa itu belum dikenal “shalat Tarawih”[9]
.
Muslim pun -di dalam kitab Shahih-nya- mengutip hadits yang sama dan kemudian memberikan komentar yang sama.[10]
.
Kiranya perlu diingat bahwa setelah pengarang kitab Fiqh ‘alal al Arba’ah menjelaskan permasalahan ini, ia kemudian memberikan pembenaran atas bid’ah yang dilakukan oleh Umar ini:[11]
.
Mengapa bid’ah ini diperbolehkan? Bukankah bid’ah yang sangat berpengaruh ini merupakan bentuk kesesatan? Apakah merupakan pengecualian yang berasal dari Nabi Saw?
.
Apakah dengan digantinya 11 rakaat sebagai shalat malam, 20 rakaat yang dilakukan tidak bertentangan dengan petunjuk yang diberikan oleh Nabi Saw?
Apakah menghatamkan seluruh Al Qur’an di antara jamaah masjid sebagai sebuah ibadah yang sunah dan bukan merupakan suatu bid’ah?
.
Apakah Umar berkata, “Lakukan 20 rakaat atau khatamkan Al Qur’an bagi mereka?
Apakah Umar memerintahkan supaya shalat Tarawih dilakukan di seluruh masjid?
Jawaban dari seluruh pertanyaan ini adalah iya. Shalat Tarawih yang digagas oleh ‘Umar ini merupakan suatu bid’ah. Oleh karena itu dalam fiqh Ahlul Bayt As terdapat pelarangan untuk melaksanakan shalat Tarawih karena tidak berasal dari sunnah Nabi Saw, melainkan merupakan sunnah Khalifah Kedua yang tidak dapat dijadikan sebagai sumber hukum.
.
Tentang solat malam pada bulan Ramadhan (qiyamulail fi Ramadhan) menurut pandangan  madzhab Ahlulbait As, memang berbeda dengan madzhab Sunni, baik dalam jumlah rakaatnya maupun dalam waktu dan doa-doa dan cara-cara lainnya. Aimah As dan ulama mereka tidak  berbeda pendapat mengenai jumlah rakaat dan cara melakukan shalat-shalat malam Ramadhan tersebut. Maksumin As dan para ulama AhlulbaitAs melakukan shalat atau qiyamulail pada bulan suci Ramadhan sebanyak seribu rakaat, selama sebulan penuh. Semenjak malam pertama bulan Ramadhan mereka melakukan solat sebanyak dua puluh rakaat. Hal ini mereka lakukan hingga malam ke dua puluh, di mana jumlah keseluruhan dari solat yang mereka lakukan adalah empat ratus rakaat. Selebihnya, yaitu dimulai semenjak malam ke-21 sampai malam terakhir, mereka melakukannya tiga puluh rakaat. Jadi selama sepuluh malam berjumlah tiga ratus rakaat.  Sedang pada tiga malam ganjil, yaitu malam ke 19, 21 dan 23, mereka menambahkannya menjadi seratus rakaat, yang jumlah keseluruhan pada tiga malam ini adalah tiga ratus rakaat. Menurut pandangan madzab Ahlulbait, tiga malam ganjil adalah malam-malam Lailatul Qadar dan mempunyai keutamaan dan kemuliaan ketimbang seribu bulan ibadah. Pada malam-malam lailatul Qadar amalan-amalan yang sangat dianjurkan di antaranya adalah mengadakan perenungan terhadap keadaan diri sendiri, mengadakan majelis-majelis keilmuan, selalu mengingat Allah Swt dengan zikir-zikir yang telah diajarkan oleh para Imam As, bertawassul kepada Ahlulbait As, berdoa dengan khusyu dan lainnya.
.

[1] . Sahih Bukhari, Kitab Shalat Taraweh, Hal. 322. Jil, No. 2009-2012
[2] . Sahih Muslim, Bab Targhib fi Qiyam Ramadhan wa huwa Tarawih, Hal. 334, No. 756
[3] . Sahih Bukhari, Kitab Shalat Tarawih, Hal. 322, No. 2010
[4] . Irsyadu Sahih Bukhari, 5/4
[5] . Jil. 1, Pembahasan tentang Shalat Matbu’, Shalat Tarawih, Hal. 340
[6] . Al Mughni, Jil. 6. Hal. 137-138
[7] . Isti’ab, Ibnu Abdil Bar
[8] . Raudhatal Manadhir, Jil. 2, Hal. 122
[9] . Sahih Bukhari, Juz 1, Pasal Solat Taraweh
[10] . Sahih Muslim, Juz 1,  Anjuran Shalat Malam pada Bulan Ramadhan

[11] . Ibid

 
Nampak jelas kesemua hujah  Imam Syatibi atau ulama2 lain yang mengulas perihal Tarawikh ini berdasarkan satu hal saja: ANDAIAN… Sedangkan prinsip asas hukum termasuk ibadah mestilah berdasarkan nas yg qath’i  (pasti/sahih) kecuali untuk tujuan fadail a’mal (kelebihan beramal) bolehlah digunakan wp hadis yg daif (lemah) tapi bukan yg maudhuk (palsu/rekaan).
.
Sedangkan ulama mereka sendiri menafikan apa yg mereka kata…. Mengapa mereka tidak merujuk kpd pensyarah kitab mereka sendiri lalu membuat syarahan yang baru (kira bid’ah dari segi bahasa lah ni). Lihat;
.
“Amalan ini dikatakan BID’AH kerana Rasulullah S.A.W TIDAK PERNAH MELAKUKAN solat ini secara berjemaah, dan solat ini tidak juga dilaksanakan sedemikian dalam masa al-Siddiq (merujuk kepada khalifah pertama), tidak juga didirikan di bahagian awal malam atau jumlah rakaat yang sedemikian.” (Riwayat Sunni: al-Qastallani, Irshad al-Sari Sharh al-Bukhari, jilid 5, ms. 4; al-Nawawi, Sharh Sahih Muslim, jilid 6, ms 287).
.
“Umar adalah yang pertama menentukan contoh untuk solat malam di bulan Ramadhan, Tarawih, dan mengumpulkan manusia padanya, dan mengarahkan kawasan-kawasan lain mengenai perkara itu. Ini terjadi pada bulan Ramadhan tahun 14 Hijrah. Dia melantik untuk manusia seorang Qari qur’an yang memimpin solat Tarawih untuk lelaki dan wanita.”(Ibn Sa’d, Kitab al-Tabaqat, jilid 3, ms 281; al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa’, ms 137; al-’Ayni, ‘Umdat al-Qari fi Sharh Sahih al-Bukhari, jilid 6, ms 125)
.
 
Bmana mereka boleh lari dari nas yg qath’i dan berpegang kepada andaian.Tidakkah semua org ada andaian tersendiri. Bersediakah mereka yg mempertahankan “sebaik2 bid’ah” ini menerima andaian org lain pula. Jika mereka tidak bersedia maka mereka telah memasukkan “ANDAIAN” sebagai sumber hukum selain Al-Quran dan Sunnah.
.
p/s Mungkin juga di lain masa jika berbangkit isu tarawikh ni mu terangkan bahawa Saidina Ali ketika menjadi khalifah/ ketika berada di Kota Kufah melarang orang ramai melakukan solat terawih dan menyuruh anaknya Saidina Hasan memukul dengan tongkat orang yang melakukannya tetapi orang ramai berkeras terus melakukannya kerana ia sudah menjadi amalan tradisi di zaman Umar.  Jadi pandangan Imam Ali sama dengan pandangan Nabi dan Abu Bakar. Pandangan Umar sama dengan Uthman dan seterusnya hingga kini (bagi yg ingin “melakukan sebaik2 bid’ah)
.
Pandangan Ahl Bait/Keluarga Nabi Mengenai Salat Tarawih
Iman al-Baqir A.S dan Imam al-Sadiq A.S telah ditanya mengenai boleh tidaknya mendirikan solat sunat secara berjemaah di malam-malam Ramadhan. Mereka berdua menyampaikan sebuah hadis Rasulullah S.A.W. di mana baginda bersabda mafhumnya: “Sesungguhnya mendirikan solat nafila (solat sunat) secara berjemaah di masa malam-malam Ramadhan adalah BID’AH, wahai manusia! Janganlah mendirikan solat nafila Ramadhan secara berjemaah. Tidak diragukan, melakukan amalan yang sedikit menyembah Allah yang mematuhi sunnah adalah lebih baik dari melakukan amalan yang banyak yang dihasilkan dari bid’ah.” (al-Hurr al-’Amili, Wasa’il al-Shia’ah, jilid 8, ms 45). Maksudnya menurut AB semasa zaman Nabi lagi, Nabi telah melarangnya.
.
Di kalangan Syiah selalu mementingkan untuk mendirikan solat malam, dipanggil Tahajjud atau Qiyam al-Lail atau Solat al-Lail, pada bahagian terakhir malam setiap bulan, terutama semasa bulan Ramadhan. Syiah juga menggalakkan mendirikan solat Nawafil sebagai tambahan di malam-malam bulan Ramadhan. Bagaimanapun, mereka dirikan solat pilihan ini kebanyakannya di rumah-rumah mereka dan tidak pernah berjemaah walaupun dilakukan di masjid. Dengan melakukan begini mereka telah patuh pada al-Quran dan sunnah Rasulullah S.A.W.
.
Ini bermakna pendapat yang menyatakan Syiah tidak melakukan sembahyang tarawih/solat nafila (sunat) adalah tidak begitu tepat. Yang ditegah oleh syiah ialah sembahyang tarawih/solat nafila berjemaah.
.
Definisi Tarawih:
Perkataan Tarawih tidak pernah disebut oleh al-Quran atau hadis Rasulullah S.A.W. dalam menjelaskan solat berjamaah tambahan pada malam-malam di bulan Ramadhan. Ini adalah istilah yang dihasilkan kemudiannya diantara para Muslim. Dari tatabahasa, perkataan Tarawih adalah jamak dari perkataantarwiha yang merujuk kepada waktu rehat singkat di antara dua atau empat rakaat salat tersebut. Kemudiannya, seluruh solat sunnat berjemaah tambahan ini dipanggil dengan istilah ini – Tarawih. ATAU Definisi Tarawih ialah bermaksud duduk bersenang-senang atau beristirehat. Manakala Solat Tarawih bererti solat sunat dengan rasa senang dan kelapangan hati selepas solat fardhu Isya’.
.
Tarwiha= waktu rehat sekejap (jadi wakru rehat pukul 1-2 adalah Tarwiha)

Tarawih= waktu-waktu rehat sekejap (antara 2/4 rakaat)= semua waktu rehat yg sekejap itu digabungkan menjadi TARAWIH… aneh sekali solat ni… kok rehat-rehat jadi nama solat?

Menurut orang Irantarawih berjamaah itu tidak ada di zaman Rasulullah tapi baru diselenggarakan pada zaman khalifah Umar bin Khattab.Itulah sebabnya mereka tidak tarawih berjamaah di masjid-masjid, melainkan shalat-shalat sendiri di rumah

Sama halnya dengan negara-negara muslim lainnya, masyarakat Iran juga menyemarakkan Ramadhan dengan berbagai agenda yang bernilai ibadah. Hanya saja ada kekhasan budaya masyarakat Iran yang bisa jadi sulit ditemui di tempat lainnya. Kalau kaum muslimin di Indonesia misalnya, mempersoalkan berapa rakaat salat tarawih yang harus ditunaikan secara berjamaah, antara 8 atau 20 rakaat, kaum muslimin di Iran justru tidak melakukannya. 

.

Berbeda dengan mayoritas muslim di Indonesia dan Negara-negara Timur Tengah lainnya, Iran memasuki Ramadhan 12 Agustus 2010. Awal Ramadhan di Iran diumumkan secara resmi oleh Mufti Iran tidak seperti di Indonesia yang biasanya masing-masing Ormas Islam mengumumkan awal puasanya sendiri-sendiri, sehingga terkadang berbeda satu sama lain. Mungkin dikarenakan adanya kedekatan emosional antara rakyat Iran dengan alim ulamanya
.
Sama halnya dengan negara-negara muslim lainnya, masyarakat Iran juga menyemarakkan Ramadhan dengan berbagai agenda yang bernilai ibadah. Hanya saja ada kekhasan budaya masyarakat Iran yang bisa jadi sulit ditemui di tempat lainnya. Kalau kaum muslimin di Indonesia misalnya, mempersoalkan berapa rakaat salat tarawih yang harus ditunaikan secara berjamaah, antara 8 atau 20 rakaat, kaum muslimin di Iran justru tidak melakukannya. Menurut orang Iran, tarawih berjamaah itu tidak ada di zaman Rasulullah tapi baru diselenggarakan pada zaman khalifah Umar bin Khattab. Itulah sebabnya mereka tidak tarawih berjamaah di masjid-masjid, melainkan shalat-shalat sendiri di rumah
.
.
Meskipun tidak menyelenggarakan shalat tarawih secara berjamaah, bukan berarti mesjid sepi. Justru mesjid-mesjid penuh sesak dengan orang-orang semalam suntuk. Khususnya pada malam ke-19, 21 dan 23. Menurut keyakinan orang Iran ada hadits Rasulullah yang menyebutkan, malam lailatul Qadr kemungkinan jatuh pada ketiga malam tersebut. Karenanya pada ketiga malam tersebut masjid-masjid, husainiyah (balai pertemuan), dan rumah-rumah yang memang menyediakan diri untuk ‘open house’, penuh sesak dengan orang-orang yang berburu pahala dan keutamaan malam Lailatul Qadr, yang menurut Al-Qur’an dan hadits, ibadah pada malam itu lebih baik dari ibadah selama seribu bulan. Pada ketiga malam itu, mereka melakukan ibadah sampai menjelang sahur. Di antaranya membaca doa jauzan Kabir.Doa ini memuat seribu Asmaul Husna (nama-nama Allah yang baik dan indah), karenanya butuh berjam-jam untuk membaca doa ini. Dan bisa lebih lama lagi karena di sela-sela bacaan doa, si pembaca doa menyelipkan munajat, syair-syair rintihan penyesalan atas dosa-dosa di hadapan Allah SWT. Tak heran bila suasana sangat emosional dan isak tangis terdengar di sana-sini.
Pada hari ke-25 hingga ke-27 di masjid-masjid diadakan i’tikaf secara nasional. I’tikaf yakni berdiam diri di masjid dengan niat mengisinya dengan beribadah kepada Allah SWT. I’tikaf ini telah menjadi program nasional setiap tahunnya, karenanya biaya konsumsi termasuk fasilitas i’tikaf seperti tasbih, buku-buku doa dan sajadah disediakan pemerintah.Kekhasan lainnya di negeri para mullah ini, tentu saja tradisi berbuka puasa. Sekitar dua jam sebelum berbuka, mereka melakukan majelis-majelis Al-qur’an. Tidak hanya di masjid-masjid, tetapi juga di tempat-tempat terbuka, seperti di taman dan sebagainya. Bulan Ramadhan adalah bulan dimana Al-Qur’an diturunkan, karenanya menurut mereka, Al-Qur’an harus lebih banyak dibaca pada bulan ini. Dalam majelis tersebut, mereka tidak hanya membaca Al-Qur’an tapi juga mengkaji dan mendiskusikannya. Sejak Sayyid Muhammad Husein Tabataba’i seorang bocah 7 tahun meraih gelar Doktor Honoris Causa dari Hijaz College Islamic University, Inggris, dengan nilai 93 karena hafal dan faham Al Quran, dikenal di seluruh dunia, Iran lebih agresif lagi memperkenalkan Al-Qur’an keseluruh dunia..Saat ini sudah ada 600 pusat lembaga kegiatan berbasis Al Quran yang sedang aktif dan dua tahun kedepan ditargetkan ada seribu perpustakan dan Bank CD Qurani di pusat-pusat kegiatan AlQur’an di Iran. Telah berkali-kali Iran menjadi tuan rumah penyelenggaraan Pameran Al-Qur’an Internasional. Dalam Pameran Al-Qur’an Internasional ke XVI 2008 di Teheran ditampilkan juga Al-Qur’an terkecil yang memecahkan rekor dunia. Al-Qur’an yang hanya berukuran 5 x 7 cm ini dibuat oleh kaligrafer Iran Roin Abar Khanzadeh, 94 kali lebih kecil dari Al-Qur’an terkecil sebelumnya. Yang menarik Al Quran terkecil ini ditulis dengan mata telanjang oleh penulisnya dan bila dijejer hanya menempati ukuran kertas A3. Dengan tingkat apresiasi yang tinggi terhadap Al-Qur’an wajar jika Iran menghasilkan banyak Mufassir terkemuka dalam dunia Islam, diantaranya Allamah Mohammad Husain Thabatabai, penulis tafsir Al Mizan yang fenomenal..Seteleh majelis-majelis Al-Qur’an diselenggarakan, merekapun tinggal menanti buka puasa. Berbuka puasa bersama, diselenggarakan di masjid-masjid. Mereka memulai berbuka dengan teh panas, buah kurma dan manisan Zulbiyo bo Mir. Zulbiyo bo Mir adalah makanan khusus yang dibuat hanya pada bulan Ramadhan bahannya 99 % terdiri dari gula. Makanan khas lainnya adalah Ash dan Halim. Ash semacam sup yang dibuat dari sayuran yang dihaluskan, ditambah mie halus yang diatasnya disiramkan saus

.

Sedangkan Halim adalah bubur gandum bercampur serat-serat daging yang dibubuhi kacang peste dan kelapa tabur. Hanya saja Ash dan Halim ini terbilang cukup mahal, sehingga hanya disajikan di restoran-restoran. Masyarakat Iran pada umumnya merasa cukup berbuka dengan menu teh panas, kurma dan manisan Zulbiyo bo Mir yang terkadang di tambah dengan keju putih. Karenanya tidak ada kehebohan belanja di pasar-pasar menjelang berbuka puasa, tidak ada kesibukan khusus mempersiapkan aneka minuman segar berbuka macam es cendol, es buah, es pisang ijo dan sebagainya. Orang-orang Iran sepertinya tidak menganggap bahwa karena seharian puasa, maka saat berbuka perut mesti dimanjakan oleh makanan dan minuman yang variatif. Siang harinya pun, restoran dan penjual juz buah tetap buka, bagi yang tidak berpuasa mungkin karena non muslim, musafir, berhalangan atau karena sakit, tidak sungkan-sungkan menikmati makanan dan minuman di kios-kios yang terbuka. Di Iran tidak ada polisi dan orang-orang yang razia dan menghalang-halangi orang lain untuk makan di siang hari ramadhan.

.

Kekhasan berikutnya, di Iran ada lembaga amal yang sangat terkemuka, yaitu Komite Imdad (pertolongan) Imam Khomeini (KIIK). Program utama lembaga ini membantu Ikramul Aytam (Pemuliaan Anak Yatim). Di tiap bulan Ramadhan, KIIK membuka posko di berbagai kota yang menerima bantuan dan menyalurkan dana dari masyarakat untuk memuliakan anak yatim. Disetiap posko terdapat daftar nama lengkap dengan gambar dan biografi singkat puluhan atau ratusan anak yatim. Bagi yang ingin memberikan bantuannya cukup memilih kepada siapa bantuannya itu diserahkan. Tidak melulu berupa uang, namun juga berupa pakaian, buku-buku atau mainan. Karenanya di hampir setiap posko mudah kita temui tumpukan hadiah dan bungkusan kado yang nanti akan diserahkan kepada anak yatim yang terlah terdaftar. Besarnya animo masyarakat menunjukkan KIIK sebagai lembaga yang dapat dipercaya menyalurkan pertolongan sekaligus tempat ‘berlindung’ bagi yang membutuhkan.

.

Hal istimewa lainnya, hari Jumat pada pekan terakhir bulan Ramadhan orang Iran menyebutnya sebagai Hari Al-Quds. Hari dimana mereka meramaikan jalan-jalan utama di kota-kota besar untuk berdemonstrasi, menuntut pembebasan Palestina dari penjajahan Israel. Pada hari itu, Yel-yel marg bar Israel (kematian bagi Israel),marg bar Amrika (kematian bagi Amerika) dipekikkan di berbagai kota di Iran. Para peserta demo menunaikan sholat Jumat bersama-sama dan membentuk shaf panjang, yang di Teheran bisa mencapai puluhan kilometer. Aksi unjuk rasa besar-besaran ini menunjukkan bentuk solidaritas muslim Iran terhadap muslim Palestina dan ketidak setujuan mereka terhadap aksi penindasan terhadap bangsa lain yang merdeka dan berdaulat.

.

Bulan Ramadhan adalah bulan yang berkah, bulan yang selalu dinanti nanti oleh setiap muslim dimanapun berada, keistimewaan, keagungan, kedahsyatannya membuat umat Islam bangkit dan bersemangat, padahal di bulan ini pula umat Islam harus berpuasa “full” selama sebulan lamanya, kalau dipikir secara akal, tidak akan sampai kesana, tetapi dipikir secara ruhiyah batiniyah… wow greats… anda penasaran? silahkan mencobanya..

Bagi orang orang yang tahu hakikat Ramadhan (puasa dan ibadah ibadah yang dianjurkan selama Ramadhan), tentu akan bersikap seperti yang telah saya paparkan di pembukaan diatas.. yang pada akhirnya akal pikiran kita pun akan mengamininya.

.

Bagi Republik Islam Iran, negara yang baru I Juli 2012 kemarin ditimpa sangsi yang kesekian kalinya oleh negara negara “adikuasa dunia” merupakan negara terbesar muslim “Syiah” di dunia ini, sama halnya dengan Indonesia yang merupakan negara terbesar muslim “Sunni” di dunia, datangnya bulan suci Ramadhan, disambut dengan bahagia dan suka cita, Terminal Bis penuh dengan orang orang yang mudik karena ingin berpuasa di tengah tengah keluarga, mesjid mesjid dihias sedemikian rupa, poster poster di jalan jalan bercerita tentang penyambutan bulan agung ini. acara acara di Tv maupun radio rame berbicara tentang Ramadhan.

.

Pemerintah pun mengumumkan restoran atau kedai kedai makanan harus buka jam berapa selama bulan Ramadhan. beberapa kebutuhan Sembako sudah naik jauh hari sebelum Ramadhan ini akan tiba, Naiknya harga bukan disebabkan karena kedatangan bulan Ramadhan sebagaimana di negara kita, tetapi disebabkan oleh sangsi sangsi tersebut di atas, kita lihat akan seperti apa jadinya…, teman teman Iran saya banyak yang mengeluh dengan kenaikan ini, dan sebagian bahkan ada yang memaki maki pemerintahannya sendiri tanpa tahu harus berbuat apa… kita orang asing disini, merasakan sekali bagaimana kesusahan mereka, karena disini pun kita (mahasiswa asing, red) mengalaminya karena beasiswa yang tidak naik naik angkanya, hiks hiks… berbeda dengan mereka (pekerja asing, diplomat, red) tambah subur dengan tingginya nilai “Dollar atau Euro” disini, yang sekarang mencapai 20.000 riyal per 1 dollar

mmmhhhh

Penetapan 1 Ramadhan

Tidak seperti di Indonesia yang selalu ada dua bahkan tiga atau empat pendapat tentang penetapan 1 Ramadhan, di Iran semuanya kompak, mengikuti pemerintah. untuk tahun ini jatuh pada hari Sabtu 21 Juli 2012. mereka (masyarakat syiah) mempunyai pemimpin spiritual yang harus ditaati, dialah sang Rahbar atau pemimpin tertinggi Iran sekarang “Ayatullah Ali Khomenei”. bagaimana kita orang Indonesia disini? teman saya yang notabene pelatih Badminton di Timnas badminton Iran, menunggu “fatwa” dari KBRI kapan puasa dimulai, dan kapan Tarawih mulai akan dilaksanakan, tetapi sayang sampai tadi malam belum kedengaran “fatwa” tersebut, hehee… padahal dia sebagai warga Indonesia disini, ingin sekali “kompak” dengan orang orang Indonesia disini, terutama dengan KBRI sebagai perwakilan pemerintah.

Makanan “Khas” Bulan Puasa Iran

Sebagaimana di Indonesia, di Iran pun mempunyai makanan makanan tertentu di bulan Ramadhan, tetapi tetap menurut saya makanan Indonesia tetap “Paling TOP” deh kalau soal makanan. diantara makanan khas Iran ketika bulan puasa, adalah Zulbiye, sejenis kue manis terbuat dari sagu, Halim, sejenis bubur terbuat dari gandum yang dicampur dengan daging, Osh reshte, sejenis sup dengan mie, kacang kacangan dan daging, dan lain lain…  Untuk minumannya, Teh panas masih menjadi andalan orang Iran di berbagai musim (seperti kita ketahui, Iran mempunyai 4 musim, Musim Panas, Musim Dingin, Musim Gugur dan Musim Semi), seperti Ramadhan kali ini sama dengan Ramadhan tahun lalu, yaitu musim panas, dimana waktu sahur bisa jam 3.30 pagi dan buka bisa jam 9.30 malam. ini Ramadhan ketiga saya alami di negeri Ahmadinejad ini.

Shalat Tarawih

Untuk Shalat Tarawih, tidak dilaksanakan secara berjamaah di mesjid mesjid Iran, jadi jangan aneh, kalau anda berkunjung kesini di bulan Ramadhan, anda tidak akan bisa mendapati mesjid mesjid penuh sesak dengan jamaah sebagaimana di Indonesia, kecuali di dua tempat suci yaitu di Kota suci Qom dan Mashhad, anda akan merinding bila berkunjung kesana, sebagaimana halnya di Mekah dan Madina, tidak ada matinya, penuh sesak dengan jamaah, apalagi sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, Manusia dari berbagai pelosok di Iran berziarah ke dua tempat itu tak terkecuali dari berbagai pelosok dunia. Kemah atau tenda pun didirikan di sekitar Mesjid pusat peribadatan terbesar di Iran itu (Mesjid Imam Ridha di Mashhad dan Sayyidah Fatimah Maksoma di Qom, red), karena hotel hotel sudah penuh. sebagaimana di Indonesia, disini pun untuk Ifthar atau berbuka puasa, disediakan secara gratis, teh panas dan kurma, atau halim dan Non (Roti Iran).

Islam Syiah beranggapan bahwa shalat sunnah tidak bisa dikerjakan berjamaah, melainkan dikerjakan sendiri sendiri, bahkan shalat sunnah Ramadhan mereka lebih banyak rakaatnya daripada Shalat Tarawih itu sendiri, kalau dikalkulasikan selama sebulan itu mencapai 1000 rakaat. maka terkenal dengan shalat sunnah 1000 rakaat, menjelang Lailatul Qadar adalah waktu yang paling tepat untuk shalat sunnah sebanyak banyaknya.

Budaya Mudik

di Iran, sebagaimana di Indonesia ada juga budaya mudik, Tehran sebagaimana Jakarta, merupakan pusat kota penting tempat dimana orang orang daerah mengadu nasib. jadi wajar ketika ada moment moment penting yang mengharuskan kumpul bersama keluarga besar, mereka pulang kampung alias mudik.

yang membedakannya dengan Indonesia adalah “moment pentingnya”, kalau di Iran, Lebaran Idul Fitri bukan moment penting yang mengharuskan pulang kampung sebagaimana di Indonesia. Tetapi ketika Tahun Baru Iran, mereka akan pulang kampung dan menikmati liburan sampai 3 minggu, termasuk awal bulan Ramadhan mereka pun pulang kampung dengan mengambil cuti, karena tidak ada libur resmi untuk ini.

Pameran Alquran Internasional seperti biasa digelar selama bulan Ramadhan, dan berbagai discount diberikan pada bulan berkah ini,

Kebiasaan ngabuburit di Indonesia, sama sekali tidak dikenal di negeri ini.Berpuasa di negeri mayoritas Muslim ternyata tidak selalu mudah. Di negeri Islam Iran, mayoritas umat Muslim yang menganut mazhab Syiah tidak melaksanakan shalat Tarawih.

Oleh karena itu, sebagai umat yang meganut mazhab Suni, warga Indonesia di Iran, kesulitan untuk melaksanakan shalat Tarawih. Warga Indonesia yang kebanyakan mahasiswa harus pontang-panting mencari masjid yang melaksanakan Tarawih. Saya pun kaget ketika pertama kali datang ke negeri Ahmadinejad ini untuk studi S2 di Universitas Internasional Imam Khomeini.

Namun, bagi yang tinggal di Teheran, seperti saya, mungkin masih lebih beruntung. Karena, Duta Besar Republik Indonesia (KBRI) Teheran di Iran, Iwan Wiranataatmadja, mendatangkan para imam langsung dari Tanah Air untuk memimpin shalat Tarawih.

Tidak hanya memimpin Taraweh, para imam itu juga berceramah seusai shalat Tarawih. Rasanya menghapus dahaga rohani. Berbagai topik disajikan para imam untuk menambah khazanah keislaman warga Indonesia di Iran.

Selain itu, mereka juga menjadi imam pada shalat Jumat di area perkantoran KBRI Teheran. Biasanya, jika tidak ada imam dari Indonesia, yang menjadi imam dan khatib untuk shalat Jumat adalah para mahasiswa yang menempuh studi di negeri Persia ini.

Para imam yang didatangkan dari Indonesia itu, di antaranya Prof Dr Ali Aziz, guru besar IAIN Sunan Ampel Surabaya, Syeikh Mustafa Mas’ud dari Jakarta, dan KH Athian Ali dari Bandung. Tiga imam ini tidak didatangkan sekaligus, melainkan dibagi menjadi tiga tahap, yang pertama di 10 awal Ramadhan, yang kedua 10 hari di pertengahan Ramadhan, sementara yang ketiga di 10 akhir Ramadhan hingga memimpin shalat Idul Fitri mendatang.

Kehadiran imam tersebut menambah semangat masyarakat Indonesia di sana untuk Tarawih. Mereka berduyun-duyun ke KBRI untuk melaksanakan Tarawih sebelum azan Isya berkumandang. Lewat Tarawih berjamaah ini pula, warga Indonesia di Iran dapat bersilaturahim satu dengan yang lainnya.

15 jam

Bulan Ramadhan di negeri orang berbeda dengan di Tanah Air. Jika di Indonesia masyarakat dan media massa begitu antusias menyambut bulan suci ini, di Republik Islam Iran hal itu sama sekali tak tampak. Ini karena budaya masyarakatnya yang berbeda.

Kebiasaan ngabuburit menjelang berbuka puasa di Indonesia tidak dikenal oleh masyarakat Iran.Meski begitu, ada juga warga setempat yang menjual makanan ciri khas menjelang buka puasa, namun jumlahnya relatif sedikit. Makanan tersebut bernama halim, terbuat dari tepung gandum yang dicampur dengan daging kambing.

Saya pernah antre untuk membeli makanan menjelang buka puasa.. Namun, setelah disantap, ternyata rasanya sangat hambar dan tidak cocok dengan lidah Indonesia. Saya agak terheran mengapa Halim menjadi makanan favorit warga Iran?Berbeda dengan di Indonesia yang waktu puasanya (mulai sahur hingga Maghrib) relatif tetap, yakni sekitar 13,5 jam.

Namun, di Iran, jika pada musim panas, waktu berpuasa bisa lebih lama sampai 15 jam lebih. Untuk Ramadhan tahun ini, lama puasa sekitar 15 jam karena bertepatan denga musim panas. Biasanya, kami melaksanaknakan sahur sekitar pukul 04.30 dan buka puasa pukul 19.30 waktu setempat.Ramadhan di Iran diperingati dengan biasa saja, walaupun di setiap jalan banyak terpajang spanduk-spanduk yang bertema Ramadhan. Begitupun di televisi-televisi Iran banyak iklan tentang Ramadhan. Tapi, semua itu hanya di beberapa media, tidak terasa kehidupan sehari-hari.

Sholat Sunnah di Malam Bulan Ramadhan menurut Rasul Saww dan Ahlilbayt Suci yang dilakukan MUNFARID (sendiri sendiri – bukan Jamaah)

Dan ini bukan Tarawih sebagaimana yang di fahamkan khalayak dari hasil Ijtihad seorang Sahabat Nabi.

Berikut Amalan dan detil nya :

Malam Pertama
Shalat sebanyak empat rakaat dengan membaca surah at-Tauhid sebanyak lima belas kali setelah membaca surah al-Fâtihah pada setiap rakaat.
Malam Kedua
Shalat empat rakaat dengan membaca surah al-Qadr sebanyak dua puluh kali setelah membaca surah al-Fâtihah pada setiap rakaat.
Malam Ketiga
Shalat sepuluh rakaat dengan membaca surah al-Fâtihah sekali dan at-Tauhid sebanyak lima puluh kali pada setiap rakaat.
Malam Keempat
Shalat delapan rakaat dengan membaca surah al-Fâtihah sekali dan surah al-Qadr sebanyak dua puluh kali pada setiap rakaat.
Malam Kelima
Shalat dua rakaat dengan membaca surah al-Fâtihah sekali dan at-Tauhid sebanyak lima puluh kali pada setiap rakaat. Dan setelah mengucapkan salam, membaca Allôhumma sholli ‘alâ Muhammad wa Âli Muhammad sebanyak seratus kali.
Malam Keenam
Shalat empat rakaat dengan membaca surah al-Fâtihah dan surah al-Mulk pada setiap rakaat.
Malam Ketujuh
Shalat empat rakaat dengan membaca surah al-Fâtihah sekali dan al-Qadr sebanyak tiga belas kali pada setiap rakaat.
Malam Kedelapan
Shalat dua rakaat dengan membaca surah al-Fâtihah sekali dan at-Tauhid sebanyak sepuluh kali pada setiap rakaat. Setelah mengucapkan salam, membaca subhânallôh sebanyak seribu kali.
Malam Kesembilan
Shalat enam rakaat antara shalat Isya` dan waktu tidur dengan membaca surah al-Fâtihah sekali dan ayat kursi sebanyak tujuh kali pada setiap rakaat. Setelah selesai, membaca Allôhumma sholli ‘alâ Muhammad wa Âli Muhammad sebanyak lima puluh kali.
Malam Kesepuluh
Shalat dua puluh rakaat dengan membaca surah al-Fâtihah sekali dan at-Tauhid sebanyak tiga puluh kali.
Malam Kesebelas
Shalat dua rakaat dengan membaca surah al-Fâtihah sekali dan al-Kautsar sebanyak dua puluh kali pada setiap rakaat.
Malam Kedua Belas
Shalat delapan rakaat dengan membaca surah al-Fâtihah sekali dan al-Qadr sebanyak tiga puluh kali pada setiap rakaat.
Malam Ketiga Belas
Shalat empat rakaat dengan membaca surah al-Fâtihah sekali dan at-Tauhid sebanyak dua puluh lima kali pada setiap rakaat.
Malam Keempat Belas
Shalat enam rakaat dengan membaca surah al-Fâtihah sekali dan az-Zilzâl sebanyak tiga puluh kali pada seetiap rakaat.
Malam Kelima Belas
Shalat empat dengan membaca surah at-Tauhid sebanyak seratus kali setelah membaca al-Fâtihah pada dua rakaat pertama dan lima puluh kali surah at-Tauhid (setelah membaca surah al-Fâtihah) pada dua rakaat berikutnya.
Malam Keenam Belas
Shalat dua belas rakaat dengan membaca surah al-Fâtihah dan dua belas kali surah at-Takâtsur pada setiap rakaat.
Malam Ketujuh Belas
Shalat dua rakaat dengan membaca surah al-Fâtihah dan surah sekehendak hati pada rakaat pertama dan pada rakaat kedua surah al-Fâtihah dan seratus kali surah at-Tauhid. Setelah mengucapkan salam, membaca lâ ilâha illallôh sebanyak seratus kali.
Malam Kedelapam Belas
Shalat empat rakaat dengan membaca surah al-Fâtihah dan dua puluh lima kali surah al-Kautsar pada setiap rakaat.
Malam Kesembilan Belas
Shalat lima puluh rakaat dengan membaca surah al-Fâtihah dan lima puluh kali surah az-Zilzâl. Mungkin maksudnya adalah dalam setiap satu rakaat membaca surah tersebut sekali, (bukan lima puluh kali). Karena, sangat sulit untuk membaca surah az-Zilzâl sebanyak 2500 kali dalam semalam.
Malam Kedua Puluh, Kedua Puluh Satu, Kedua Puluh Dua, Kedua Puluh Tiga, dan Kedua puluh Empat
Shalat delapan rakaat dengan membaca surah sesuka hati.
Malam Kedua Puluh Lima
Shalat delapan rakaat dengan membaca surah al-Fâtihah dan sepuluh kali surah at-Tauhid pada setiap rakaat.
Malam Kedua Puluh Enam
Shalat delapan rakaat dengan membaca surah al-Fâtihah dan seratus kali surah at-Tauhid pada setiap rakaat.
Malam Kedua Puluh Tujuh
Shalat empat rakaat dengan membaca surah al-Fâtihah dan al-Mulk pada setiap rakaat. Jika tidak mampu, hendaknya membaca surah at-Tauhid sebanyak dua puluh kali.
Malam Kedua Puluh Delapan
Shalat enam rakaat dengan membaca surah al-Fâtihah, seratus kali ayat Kursi, seratus kali surah at-Tauhid, dan seratus kali surah al-Kautsar pada setiap rakaat. Setelah selesai mengerjakan shalat, mengirimkan shalawat atas Muhammad dan keluarganya sebanyak seratus kali.
Penulis berkata, “Menurut apa yang telah kutemukan (dalam beberapa hadis), cara mengerjakan shalat malam kedua puluh delapan adalah enam rakaat dengan membaca surah al-Fâtihah, sepuluh kali ayat Kursi, sepuluh kali surah al-Kautsar, sepuluh kali surah at-Tauhid, dan seratus kali shalawat.
Malam Kedua Puluh Sembilan
Shalat dua rakaat dengan membaca surah al-Fâtihah dan dua puluh kali surah at-Tauhid pada setiap rakaat.
Malam Ketiga Puluh
Shalat dua belas rakaat dengan membaca surah al-Fâtihah dan dua puluh kali surah at-Tauhid pada setiap rakaat. Setelah selesai mengerjakan shalat, membaca shalawat untuk Muhammad dan keluarga Muhammad sebanyak seratus kali.
Shalat-shalat tersebut dilakukan dengan satu salam setiap selesai mengerjakan dua rakaat.
Kitab Zâd al-Ma’âd – Allamah al-Majlisi ra

Semoga dalam bulan suci Ramadhan ini kita bisa mengamalkan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya, termasuk menjauhi segala macam jenis bid’ah seperti melaksanakan shalat tarawih berjamaah. Karena bagaimana mungkin kita akan dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT namun jalan dan sarana yang kita tempuh adalah melalui perbuatan yang dibenci oleh Allah, seperti bid’ah. Mustahil sesuatu yang menjauhkan dari Allah (seperti Bid’ah) akan dapat mendekatkan kepada-Nya (masuk kategori ibadah). Ini adalah dua hal kontradiktif yang mustahil terjadi. Semoga dengan menjauhi semua bid’ah kita dapat meninggalkan bulan Ramadhan dengan kembali ke fitrah yang suci, melalui Iedul Fitri. Amin

Ulil Amri Sunni vs Ulil Amri Syi’ah ! prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah wajibnya taat kepada pemimpin zalim

versi sunni :

Di antara prinsip-prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah wajibnya taat kepada pemimpin kaum Muslimin selama mereka tidak memerintahkan untuk berbuat kemaksiyatan, meskipun mereka berbuat zhalim. Karena mentaati mereka termasuk dalam ketaatan kepada Allah, dan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah wajib.

Berkata  Ibnu Katsir ketika menafsirkan surat an-Nisa ayat 59: “Tampaknya- wallahu’a’lam- ayat ini umum mencakup seluruh ulil amri apakah dari kalangan para penguasa ataupun para ulama.” [Tafsir Qur’anil Adzim juz 1, hal 530, penerbit Darul Ma’rifah, Beirut, Cet . Pertama]. Berkata Ibnu Taimiyyah: ”Ulil amri ada dua golongan: Para ulama dan para penguasa.” (Majmu Fatwa juz 28, hal 170, Penerbit Maktabah Ibnu Taimiyyah, Kairo, Mesir)

contoh perselisihan ahlu sunnah dengan ulil amri ialah  ketika ulill amri melakukan sebuah kemaksiatan kepada Allah maka tetap ahlu sunnah tidak boleh memberontak kepada mereka, hal ini bisa terlihat dalam gambaran hadis di bawah ini :

خيار أئمتكم الذين تحبونهم ويحبونكم وتصلون عليهم ويصلون عليكم وشرار أئمتكم الذين تبغضونهم ويبغضونكم وتلعنونهم ويلعنونكم ) قالوا قلنا يا رسول الله أفلا ننابذهم عند ذلك ؟ قال ( لا ما أقاموا فيكم الصلاة لا ما أقاموا فيكم الصلاة ألا من ولى عليه وال فرآه يأتي شيئا من معصية الله فليكره ما يأتي من معصية الله ولا ينزعن يدا من طاعة  (صحيح المسلم كتاب الإمارة : 4782 )

: ” sebaik-baik Imam kalian adalah orang-orang yang kalian mencintai mereka dan mereka mencintai kalian dan kalian mendoakan mereka dan mereka mendoakan kalian dan sejelek-jelek imam adalah imam-imam yang kalian marah kepada mereka dan mereka marah kepada kalian, mereka melaknat kalian dan kalian melaknat mereka,  mereka (para sahabat) berkata : kami berkata : apakah kita tidak mencabut mereka dari kekuasaannya   di saat itu ?, beliau bersabda : “Jangan, selama mereka shalat dengan kalian; jangan, selama mereka shalat dengan kalian,  ketahuilah barang siapa yang diberi wali kapadanya seorang waliul amri lalu dia melihat pada wali tersebut sesuatu dari maksiat kepada Allah maka hendaklah dia membenci apa yang dia lakukan dari maksiat kepada Allah tersebut dan jangan sekali-kali mencabut tangannya dari ketaatan padanya (memberontak) ( HR Muslim, kitabul imarah  no 4782)

dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, beliau bersabda :

“Wajib atasmu untuk mendengar dan taat, dalam kondisi susah maupun mudah, dalam keadaan semangat ataupun dalam keadaan tidak menyenangkan, atau bahkan ketika mereka itu lebih mengutamakan kepentingan diri mereka di atas kepentinganmu.” (HR. Muslim, lihat Syarh Muslim [6/469])
Kemudian hadits dari Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Akan ada para pemimpin/penguasa setelahku yang mengikuti petunjuk bukan dengan petunjukku dan menjalankan sunnah namun bukan sunnahku. Dan akan ada di antara mereka orang-orang yang memiliki hati laksana hati syaitan yang bersemayam di dalam raga manusia.” Maka Hudzaifah pun bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang harus kulakukan jika aku menjumpainya?” Beliau menjawab,“Kamu harus tetap mendengar dan taat kepada pemimpin itu, walaupun punggungmu harus dipukul dan hartamu diambil. Tetaplah mendengar dan taat.” (HR. Muslim dalam Kitab al-Imarah)

.

jawaban kami :

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa aali Muhammad

 يَأَيهَُّا الَّذِينَ ءَامَنُواْ أَطِيعُواْ اللَّهَ وَ أَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَ أُوْلىِ الْأَمْرِ مِنكم‏…

“Yaa ayyuhalladzina aamanu athii’ullaha wa athii’uur rasuula wa uulil amri minkum…” (An-Nisa: 59).

Ada dua pendapat besar di kalangan kaum muslimin sejak ditinggal Nabi saw hingga sekarang – dan agaknya akan berlanjut terus hingga datangnya Imam Mahdi as – mengenai ulil amri yang kita wajib taati itu. Pendapat pertama mengatakan ulil amri adalah para pemimpin bagi umat Islam yang penetapannya dilakukan oleh manusia, yaitu melalui bai’at dari umat Islam. Bahkan ada di antara penganut paham pertama ini yang berpendapat bahwa para pemimpin negara-negara yang mayoritas penduduknya muslim itu sebagai ulil amri. Hal ini, agaknya karena pada saat ini tidak ada seorangpun yang disepakati oleh seluruh muslimin untuk menjadi pemimpin tunggal umat.

Di lain pihak, pendapat kedua meyakini bahwa ulil amri itu adalah para pemimpin tertinggi umat yang ditetapkan dan diangkat langsung oleh Allah swt. Setiap ulil amri menjadi pemimpin umat pada zamannya masing-masing, sejak Rasul saw wafat hingga dunia ini berakhir nanti. Ada ulil amri yang diakui sebagian besar masyarakat sehingga menjadikan mereka sekaligus sebagai pemimpin politik umat, tapi banyak pula yang ditolak oleh sebagian besar umat yang ternyata lebih memilih orang-orang yang bukan ulil amri sebagai pemimpin politiknya

.

Singkatnya, Allah swt selalu menetapkan dan memberikan pemimpin-pemimpin bagi manusia, tapi kebebasan manusia membuat mereka boleh memilih untuk mengikuti dan mentaati pemimpin-pemimpin yang ditetapkan Allah itu atau menolak mereka. Tentu saja, bukti-bukti atas kepemimpinan mereka yang ditetapkan Allah itu pun telah Allah berikan secara jelas kepada manusia. Apapun pilihan manusia, semuanya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah swt di hari pengadilan nanti

.

Surat AN-NISA’: 59
Ulil amri adalah para Imam dari Ahlul bait (as)

يَأَيهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَ أَطِيعُوا الرَّسولَ وَ أُولى الأَمْرِ مِنكمْ

“Hai orang-orang yang beriman taatlah kamu kepada Allah, dan taatlah kamu kepada Rasul-Nya dan Ulil amri kamu.”

Yang dimaksud “Ulil-amri” dalam ayat ini adalah Ali bin Abi Thalib (as) dan Ahlul bait Nabi saw.

Dalam Tafsir Al-Burhan tentang ayat ini disebutkan suatu riwayat yang bersumber dari Jabir Al-Anshari (ra), ia berkata: Ketika Allah menurunkan ayat ini aku bertanya: Ya Rasulallah, kami telah mengetahui Allah dan Rasul-Nya, tetapi siapakah yang dimaksud dengan Ulil-amri yang ketaatannya kepada mereka Allah kaitkan dengan ketaatan kepada-Nya dan Rasul-Nya? Rasulullah saw menjawab:
Wahai Jabir, mereka itu adalah para penggantiku: Pertama, Ali bin Abi Thalib, kemudian Al-Hasan, kemudian Al-Husein, kemudian Ali bin Al-Husein, kemudian Muhammad bin Ali, kemudian Muhammad bin Ali yang dalam Taurat gelarnya masyhur Al-Baqir. Wahai Jabir, kamu akan menjumpai dia, sampaikan salamku kepadanya. Kemudian Ash-Shadiq Ja’far bin Muhammad, kemudian Musa bin Ja’far, kemudian Ali bin Musa, kemudian Muhammad bin Ali, kemudian Al-Hasan bin Muhammad, kemudian dua nama Muhammad dan yang punya dua gelar Hujjatullah di bumi-Nya dan Baqiyatullah bagi hamba-hamba-Nya yaitu Ibnul Hasan, dialah yang Allah perkenalkan sebutan namanya di seluruh belahan bumi bagian barat dan timur, dialah yang ghaib dari para pengikutnya dan kekasihnya, yang keghaibannya menggoyahkan keimamahannya kecuali bagi orang-orang yang Allah kokohkan keimanan dalam hatinya.”

Ringkasan Kritik Allamah Thabathaba’i terhadap Fakhrur Razi
Fakhrur Razi mengatakan: Pembatasan kata Ulil-amri dengan kata minkum menunjukkan salah seorang dari mereka yakni manusia biasa seperti kita, yaitu orang yang beriman yang tidak mempunyai keistimewaan Ishmah Ilahiyah (jaminan kesucian dari Allah). Yang perlu diragukan adalah pendapat yang mengatakan: Mereka (Ulil-amri) adalah satu kesatuan pemimpin, yang ketaatan kepada masing-masing mereka hukumnya wajib.

Ar-Razi lupa bahwa makna ini sudah masyhur digunakan dalam bahasa Al-Qur’an, misalnya: “janganlah kamu mentaati orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah)” (Al-Qalam: 8), “Janganlah kamu mentaati orang-orang kafir.” (Al-Furqan: 52), dan ayat-ayat yang lain dalam bentuknya yang bermacam-macam: kalimat positif, kalimat negatif, kalimat berita, kalimat perintah dan larangan.

Ringkasan Kritik Allamah Thabathaba’i terhadap Tafsir Al-Manar
Syeikh Rasyid Ridha mengatakan: Ulil-amri adalah Ahlul hilli wal-Aqdi yaitu orang-orang yang mendapat kepercayaan ummat. Mereka itu bisa terdiri dari ulama, panglima perang, dan para pemimpin kemaslatan umum seperti pemimpin perdagangan, perindustrian, pertanian. Termasuk juga para pemimpin buruh, partai, para pemimpin redaksi surat kabar yang Islami dan para pelopor kemerdekaan.

Inikah maksud dari Ulil-amri? Pendapat ini dan yang punya pandangan seperti ini telah menutupi makna Al-Qur’an yang sempurna dengan makna yang tidak jelas. Ayat ini mengandung makna yang jelas yaitu Ismah Ilahiyah (jaminan kesucian dari Allah) bagi Ulil-amri. Karena ketaatan kepada Ulil-amri bersifat mutlak, dikaitkan dengan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.
Apakah yang mempunyai sifat kesucian (‘ishmah) adalah para pemimpin lembaga-lembaga itu sehingga mereka dikatagorikan sebagai orang-orang yang ma’shum? Yang jelas tidak pernah terjadi para Ahlul hilli wal-‘Iqdi yang mengatur urusan ummat, mereka semuanya ma’shum. Mustahil Allah swt memerintahkan sesuatu yang penting tanpa mishdaq (ekstensi) yang jelas. Dan mustahil sifat ‘ishmah dimiliki oleh lembaga yang orang-orangnya tidak ma’shum, bahkan yang sangat memungkinkan mereka berbuat kezaliman dan kemaksiatan. Pendapat mereka ini jelas salah dan mengajak pada kesesatan dan kemaksiatan. Mungkinkah Allah mewajibkan kita taat kepada orang-orang seperti mereka?

Pendapat Ahlul Bait (as)
Ulil-amri adalah Ali bin Abi Thalib dan para Imam suci (as).

Dalam Tafsir Al-‘Ayyasyi tetang ayat ini menyebutkan bahwa:
Imam Muhammad Al-Baqir (as) berkata tentang ayat ini: “Mereka itu adalah para washi Nabi saw.”
Tentang ayat ini Imam Ja’far Ash-Shadiq (as) berkata: “Mereka adalah para Imam dari Ahlul bait Rasulullah saw.”
Tentang ayat ini Imam Muhammad Al-Baqir (as) berkata: “Mereka adalah para Imam dari keturunan Ali dan Fatimah hingga hari kiamat.”

Dalam kitab Yanabi’ul Mawaddah disebutkan suatu riwayat dari Salim bin Qais Al-Hilali, ia berkata bahwa Imam Ali bin Abi Thalib (as) berkata: “Yang paling dekat bagi seorang hamba terhadap kesesatan adalah ia yang tidak mengenal Hujjatullah Tabaraka wa Ta’ala. Karena Allah telah menjadikannya sebagai hujjah bagi hamba-hamba-Nya, dia adalah orang yang kepadanya Allah perintahkan hamba-hamba-Nya untuk mentaatinya dan mewajibkan untuk berwilayah kepadanya.
Salim berkata: Wahai Amirul mukmin, jelaskan kepadaku tentang mereka (Ulil-amri) itu.
Amirul mukminin (as) berkata: “Mereka adalah orang-orang yang ketaataannya kepada mereka Allah kaitkan pada diri-Nya dan Nabi-Nya.” Kemudian ia berkata: “Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kalian kepada Allah, Rasul-Nya, dan kepada Ulil-amri kalian.”
Salim bin Qais berkata: Wahai Amirul mukminin, jadikan aku tebusanmu, jelaskan lagi kepadaku tentang mereka itu.
Amirul mukminin (as) berkata: “Mereka adalah orang-orang yang oleh Rasulullah saw disampaikan di berbagai tempat dalam sabda dan khutbahnya, Rasulullah saw bersabda: ‘Sungguh aku tinggalkan pada kalian dua perkara, jika kalian berpegang teguh dengan keduanya kalian tidak akan tersesat sesudahku: Kitab Allah dan ‘itrahku, Ahlul baitku’.”

Riwayat hadis ini dan yang semakna dengan hadis tersebut terdapat dalam:

1. Tafsir Ad-Durrul Mantsur tentang ayat ini.
2. Tafsir Ath-Thabari tentang ayat ini.
3. Tafsir Fakhrur Razi, jilid 3 halaman 357, tentang ayat ini.
4. Yanabi’ul Mawaddah, oleh Syaikh Sulaiman Al-Qundusi Al-Hanafi, halaman 134, cet. Al-Haidariyah; halaman 114 dan 117, cet. Islambul.
5. Syawahidut Tanzil, oleh Al-Hakim Al-Haskani Al-Hanafi, jilid 1, halaman 148, hadis ke 202, 203 dan 204.
6. Ihqaqul Haqq, oleh At-Tustari, jilid 3, halaman 424, cet. pertama, Teheran.
7. Faraid As-Samthin, jilid 1, halaman 314, hadis ke 250.

Nabi saaw bersabda:

“Setelahku akan ada 12 Khalifah, semuanya dari Bani Hasyim”

(Qunduzi Hanafi, Yanabi’ al Mawaddah, jilid III, hlm 104)

Jabir bin Samurah berkata: “Aku mendengar Rasulullah saaw bersabda:

“Islam akan senantiasa kuat di bawah 12 Khalifah”. Baginda kemudian mengucapkan kata kata yang tidak aku fahami, lalu aku bertanya bapaku apakah yang dikatakan oleh Rasulullah saaw. Beliau menjawab: “Semuanya dari Quraisy”

(Muslim. Sahih, jilid VI, hlm 3, Bukhari, Sahih, jilid VIII, hlm 105, 128)

FIRMAN Allah SWT:

“Taatilah kamu kepada Allah dan taatlah kepada Rasul dan Ulil Amri di kalangan kamu.”

(An-Nisa: 49)

Ulil amri adalah para Imam dari Ahlul bait (as)

FIRMANNYA SWT :

يَأَيهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَ أَطِيعُوا الرَّسولَ وَ أُولى الأَمْرِ مِنكمْ

“Hai orang-orang yang beriman taatlah kamu kepada Allah, dan taatlah kamu kepada Rasul-Nya dan Ulil amri kamu.”

Yang dimaksud “Ulil-amri” dalam ayat ini adalah Ali bin Abi Thalib (as) dan Ahlul bait Nabi saw.

Dalam Tafsir Al-Burhan tentang ayat ini disebutkan suatu riwayat yang bersumber dari Jabir Al-Anshari (ra), ia berkata:

Ketika Allah menurunkan ayat ini aku bertanya:

Ya Rasulallah, kami telah mengetahui Allah dan Rasul-Nya, tetapi siapakah yang dimaksud dengan Ulil-amri yang ketaatannya kepada mereka Allah kaitkan dengan ketaatan kepada-Nya dan Rasul-Nya?

Rasulullah saw menjawab:
Wahai Jabir, mereka itu adalah para penggantiku: Pertama, Ali bin Abi Thalib, kemudian Al-Hasan, kemudian Al-Husein, kemudian Ali bin Al-Husein, kemudian Muhammad bin Ali, kemudian Muhammad bin Ali yang dalam Taurat gelarnya masyhur Al-Baqir. Wahai Jabir, kamu akan menjumpai dia, sampaikan salamku kepadanya. Kemudian Ash-Shadiq Ja’far bin Muhammad, kemudian Musa bin Ja’far, kemudian Ali bin Musa, kemudian Muhammad bin Ali, kemudian Al-Hasan bin Muhammad, kemudian dua nama Muhammad dan yang punya dua gelar Hujjatullah di bumi-Nya dan Baqiyatullah bagi hamba-hamba-Nya yaitu Ibnul Hasan, dialah yang Allah perkenalkan sebutan namanya di seluruh belahan bumi bagian barat dan timur, dialah yang ghaib dari para pengikutnya dan kekasihnya, yang keghaibannya menggoyahkan keimamahannya kecuali bagi orang-orang yang Allah kokohkan keimanan dalam hatinya.”

Allah SWT mewajibkan semua orang-orang yang beriman untuk mentaati “Ulil Amri” secara mutlak. Dan, menaati mereka sama dengan mentaati Rasulullah saw.

Sekaitan dengan ayat di atas, Jabir bin Abdillah bertanya, “Ya Rasulullah, siapakah orang-orang yang wajib ditaati seperti yang diisyaratkan dalam ayat ini?”

Rasulullah saw menjawab, “Yang wajib ditaati adalah para khalifahku wahai Jabir, yaitu para imam kaum muslimin sepeninggalku nanti. Imam pertama mereka adalah Ali bin Abi Thalib, kemudian Hasan, kemudian Husein, kemudian Ali bin Husein, kemudian Muhammad bin Ali yang telah dikenal di dalam kitab Taurat dengan nama “Al-Baqir” dan engkau akan berjumpa dengannya wahai Jabir. Apabila engkau nanti berjumpa dengannya, maka sampaikanlah salamku kepadanya. Kemudian setelah itu As-Shadiq Ja’far bin Muhammad, kemudian Musa bin Ja’far, kemudian Ali bin Musa, kemudian Muhammad bin Ali, kemudian Ali bin Muhammad, kemudian Hasan bin Ali, kemudian yang terakhir ialah Al-Mahdi bin Hasan bin Ali sebagai Hujjatullah di muka bumi ini dan Khalifatullah yang terakhir.

{ Ghayah al-Maram, jilid 10, hal. 267, Itsbat al-Hudat, jilid 3/123 dan Yanabi’ al-Mawaddah, hal. 494, 443-Qundusi al hanafi}

Surah An Nisa ayat 59 – Perintah Mentaati Ulil Amri

“Hai orang-orang yang beriman taatlah kamu kepada Allah, dan taatlah kamu kepada Rasul-Nya dan Ulil Amri kamu.”

Yang dimaksud “Ulil Amri” dalam ayat ini adalah Ali dan para Imam dari keturunannya.

-Imam Ali bin Abi Tholib AS (40 H)
-Imam Hasan bin Ali al-Mujtaba AS ( 50 H)
-Imam Husein bin Ali asy-Syahid AS (61 H)
-Imam Ali Bin Husein Zainal Abidin as-Sajjad AS (95 H)
-Imam Muhammad bin Ali al-Baqir AS (114 H)
-Imam Ja’far bin Muhammad ash-Shodiq AS (148 H)
-Imam Musa bin Ja’far al-Kadhim AS (183)
-Imam Ali bin Musa ar-Ridho AS (203)
-Imam Muhammad bin Ali al-Jawad AS (220 H)
-Imam Ali bin Muhammad al-Hadi AS (254 H)
-Imam Hasan bin Ali al-Askari AS (260 H)
-Imam Abul Qasim Muhammad bin Hasan al-Mahdi AFS (lahir 15 Sya’ban 255 H dan masih hidup)

LIHAT REFERENSI KITAB SEBAGAI RUJUKAN DARI AHLU SUNNAH WAL JAMA’AH :
Yanabi’ul Mawaddah, oleh Syaikh Sulaiman Al-Qundusi Al-Hanafi, halaman 134 dan 137, cet,. Al-Haidariyah; halaman 114 dan 117, cet. Islambul. Syawahidut Tanzil, oleh Al-Hakim Al-Haskani Al-Hanafi, jilid 1, halaman 148, hadis ke 202, 203 dan 204. Tafsir Ar-Razi, jilid 3, halaman 357. Ihqaqul Haqq, oleh At-Tastari, jilid 3, halaman 424, cet. Pertama, Teheran. Faraid As-Samthin, jilid 1, halaman 314, hadis ke 250.

Nabi SAWW bersabda :

“Sesiapa yang ingin hidup dan mati seperti aku, dan masuk surga (setelah mati) yang telah dijanjikan oleh Tuhanku kepadaku, yakni surga yang tak pernah habis, haruslah mengakui Ali sebagai pemimpinnya setelahku, dan setelah dia (Ali) harus mengakui anak-anak Ali, sebab mereka adalah orang-orang yang tidak akan pernah membiarkanmu keluar dari pintu petunjuk, tidak pula mereka akan memasukkanmu ke pintu kesesatan!

1) Hilyatul Awliya', by Abu Nu'aym, v1, pp 84,86
(2) al-Mustadrak, by al-Hakim, v3, p128
(3) al-Jamiul Kabir, by al-Tabarani
(4) al-Isabah, by Ibn Hajar al-Asqalani
(5) Kanzul Ummal, v6, p155
(6) al-Manaqib, by al-Khawarizmi, p34
(7) Yanabi' al-Mawaddah, by al-Qunduzi al-Hanafi, p149

(8) History of Ibn Asakir, v2, p95

إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَ رَسُولُهُ وَ الَّذِينَ ءَامَنُواْ الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَوةَ وَ يُؤْتُونَ الزَّكَوةَ وَ هُمْ رَاكِعُونَ وَ مَن يَتَوَلَّ اللَّهَ وَ رَسُولَهُ وَ الَّذِينَ ءَامَنُواْ فَإِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْغَلِبُون

“Sesungguhnya wali kamu hanyalah Allah, RasulNya dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan solat dan menunaikan zakat dan mereka tunduk (kepada Allah) dan barangsiapa yang menjadikan Allah, RasulNya dan orang-orang yang beriman sebagai penolongnya maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.”

NABI SAWW BERSABDA :

” Siapa yang ingin berpegang kepada agamaku dan menaiki bahtera kejayaan selepasku, maka hendaklah dia mengikuti Ali bin Abi Talib, memusuhi lawan2nya dan mewalikan walinya karena dia adalah wasiku, dan khalifahku ke atas ummatku semasa hidupku dan setelah kewafatanku. Dia adalah IMAM setiap muslim dan AMIR setiap mukmin, perkataannya adalah perkataanku, perintahnya adalah perintahku. Larangannya adalah laranganku. Pengikutnya adalah pengikutku. Penolongnya adalah penolongku. Orang yang menjauhinya adalah menjauhiku.”

Kemudian Nabi Saww bersabda lagi:

“Siapa yang menjauhi Ali selepasku dia tidak akan ‘melihatku.’ Dan aku tidak melihatnya di hari kiamat. Dan siapa yang menentang ‘Ali, Allah haramkan ke atasnya syurga dan menjadikan tempat tinggalnya di neraka. Siapa yang menjauhi ‘Ali, Allah akan menjauhinya di hari kiamat. Di hari itu akan dizahirkan segala-galanya dan sesiapa yang menolong ‘Ali, niscaya Allah akan menolongnya.”

{Al-Hamawaini al-Syafi’i meriwayatkan di dalam Fara’id al-Simtain}

RUJUKAN LAIN TTG 12 IMAM DALAM AHLUSUNNAH WAL JAMA’AH

Musnad Ahmad No. 3593حَدَّثَنَا حَسَنُ بْنُ مُوسَى حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ عَنِ الْمُجَالِدِ عَنِ الشَّعْبِيِّ عَنْ مَسْرُوقٍ قَالَكُنَّا جُلُوسًا عِنْدَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ وَهُوَ يُقْرِئُنَا الْقُرْآنَ فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ هَلْ سَأَلْتُمْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمْ تَمْلِكُ هَذِهِ الْأُمَّةُ مِنْ خَلِيفَةٍ فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْعُودٍ مَا سَأَلَنِي عَنْهَا أَحَدٌ مُنْذُ قَدِمْتُ الْعِرَاقَ قَبْلَكَ ثُمَّ قَالَ نَعَمْ وَلَقَدْ سَأَلْنَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ اثْنَا عَشَرَ كَعِدَّةِ نُقَبَاءِ بَنِي إِسْرَائِي

َTelah menceritakan kepada kami [Hasan bin Musa] telah menceritakan kepada kami [Hammad bin Zaid] dari [Al Mujalid] dari [Asy Sya'bi] dari [Masruq] ia berkata; Tatkala kami duduk-duduk bersama Abdullah bin Mas’ud, saat itu ia sedang membacakan Al Qur`an kepada kami, lalu seorang laki-laki berkata kepadanya; Wahai Abu Abdurrahman, apakah kalian pernah menanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam BERAPAKAH UMAT INI MEMILIKI KHALIFAH? [Abdullah bin Mas'ud] berkata; Tidak ada seorang pun yang menanyakan hal itu kepadaku sejak aku datang ke Iraq sebelum engkau, kemudian ia melanjutkan; Ya, kami pernah menanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam, lalu beliau menjawab: “Sebanyak DUA BELAS orang seperti jumlah pemimpin bani Israil.”

Bukhari menukil dari Jabir bin Samarah:”Aku mendengar rasul bersabda:”setelahku 12 orang pemimpin akan datang.” Saat itu beliau melanjutkan ucapannya yang tak terdengar olehku kemudian ayahku berkata bahwa keseluruhan imam tersebut semuanya dari bangsa Quraisy.”

[Sahih Bukhari, jild 9, bab Istikhlaf, halaman 81.]

Kata al-khilafah bermakna al-niyabah ‘an al-ghayr atau pengggantian juga berarti : al-imamah al-‘uzhma atau kekhalifahan atau kepemimpinan yang agung. Lihat Kamus al-Munawwir hlm. 393, Catakan th. 1984. Contoh faktualnya adalah Sayyidina Ali bin Abi Thalib yang diangkat sebagai khalifah. Dan di dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Rasulullah Saw bersabda : “Inilah dia saudaraku, penerima wasiatku (al-washî) dan khalifahku (khalîfatî)…” Rujukan :

LIHAT :

- Târikh al-Thabarî Jil. 2, hlm. 319, dan
– al-Kâmil fî al-Târikh li Ibni al-Atsîr Jil. 2 hlm. 63.

Dari Jabir bin Samurah, ia berkata, “Saya masuk bersama ayah saya kepada Nabi SAW. maka saya mendengar beliau berkata, ‘Sesungguhnya urusan ini tidak akan habis sampai melewati dua belas khalifah.’ Jabir berkata, ‘Kemudian beliau berbicara dengan suara pelan. Maka saya bertanya kepada ayah saya, ‘Apakah yang dikatakannya?’ Ia berkata, ‘Semuanya dari suku Quraisy.’ Dalam riwayat yang lain disebutkan, ‘Urusan manusia akan tetap berjalan selama dimpimpin oleh dua belas orang.’ Dalam satu riwayat disebutkan. ‘Agama ini akan senantiasa jaya dan terlindungi sampai dua belas khalifah.

(H.R.Shahih Muslim, kitab “kepemimpinan”, bab”manusia pengikut bagi Quraisy dan khalifah dalam kelompok Quraisy”)

Muslim juga menukil dari Jabir bin samarah:”aku mendengar rasul SAWW bersabda:”Islam akan memiliki pemimpin sampai 12 orang. Kemudian beliau bersabda yang tak bisa kupahami. Aku bertanya pada ayahku tentang apa yang tidak aku pahami itu, ia berkata:”beliau bersabda semuanya dari kaum Quraisy.

[Sahih Muslim, jild 6, kitab Al-Amarah, bab annas taba’un li quraisy, halaman 3.]

Muslim dari Jabir juga menukil, ia (Jabir) berkata:”aku dan ayahku berjalan bersama rasul SAWW saat itu beliau bersabda:”agama ini akan memiliki 12 pemimpin, yang kesemuanya dari bangsa Quraisy.

[Sahih Muslim, jild 6, kitab Al-Amarah, bab annas taba’un li quraisy, halaman 3.]

KAITAN DENGAN PERINTAH MENGIKUTI AHLALBAIT NABI SAWW

Hadis Tsaqalain maka kelihatan jelas bahwa 12 Imam adalalah dari Ithrahti Ahlulbait.
Ulama terkenal Al-Dhahabi mengatakan dalam bukunya Tadzkirat al-Huffaz , jilid 4, halaman 298, dan Ibn Hajar al-’Asqalani menyatakan dalam al-Durar al-Kaminah, jilid 1, hal. 67 bahwa Sadruddin Ibrahim bin Muhammad bin al-Hamawayh al-Juwayni al-Shafi’i (disingkat Al-Juwayni) adalah seorang ahli Hadis yang mumpuni. Al-Juwayni menyampaikan dari Abdullah bin Abbas (ra) bahwa Nabi (sawa) mengatakan,

”Saya adalah penghulu para Nabi dan Ali bin Abi Thalib adalah pemimpin para penerus, dan sesudah saya akan ada dua belas penerus. Yang pertama adalah Ali bin Abi Thalib dan yang terakhir adalah Al-Mahdi.”

Al-Juwayni juga meriwayatkan dari Ibnu Abbas (r) bahwa Rasulullah (sawa) berkata: ”Sudah pasti bahwa wakil-wakilku dan Bukti Allah bagi makhluk sesudahku ada dua belas. Yang pertama di antara mereka adalah saudaraku dan yang terakhir adalah anak (cucu) ku.” Orang bertanya: “Wahai Rasulullah, siapakah saudaramu itu?”. Beliau menjawab: “Ali bin Abi Thalib.” Lalu beliau ditanyai lagi: “ Dan siapakan anak (cucu) mu itu?” Nabi yang suci (sawa) menjawab: ”Al-Mahdi. Dia akan mengisi bumi dengan keadilan dan persamaan ketika ia (bumi) dipenuhi ketidakadilan dan tirani. Dan demi Yang Mengangkatku sebagai pemberi peringatan dan memberiku kabar gembira, meski seandainya masa berputarnya dunia ini tinggal sehari saja, Allah SWT akan memperpanjang hari itu sampai diutusnya (anakku) Mahdi, kemudian ia akan disusul Ruhullah Isa bin Maryam (a.s.) yang turun ke bumi dan berdoa di belakangnya (Mahdi). Dunia akan diterangi oleh sinarnya, dan kekuatannya akan mencapai hingga ke timur dan ke barat.”

Al-Juwayni juga meriwayatkan bahwa Rasulullah (saw) mengatakan: ”Aku dan Ali dan Hasan dan Husain dan sembilan anak cucu Husain adalah yang disucikan (dari dosa) dan dalam kebenaran.” [Al-Juwayni, Fara'id al-Simtayn, Mu'assassat al-Mahmudi li-Taba'ah, Beirut 1978, p. 160.] Sekaitan dengan ayat di atas, Jabir bin Abdillah bertanya, “Ya Rasulullah, Siapa kah orang-orang yang wajib ditaati seperti yang diisyaratkan dalam ayat ini?” Rasulullah saaw menjawab, “Yang wajib ditaati adalah para khalifahku wahai Jabir, yaitu para Imam kaum Muslimin sepeninggalku nanti. Imam pertama mereka adalah Ali bin Abi Thalib, kemudian Hasan, kemudian Husein, kemudian Ali bin Husein, kemudian Muhammad bin Ali yang telah dikenal di dalam kitab Taurat dengan nama “Al-Baqir” dan engkau akan berjumpa dengannya wahai Jabir. Apabila engkau nanti berjumpa dengannya, maka sampaikanlah salamku kepadanya. Kemudian setelah itu As-Shadiq Ja’far bin Muhammad, kemudian Musa bin Ja’far, kemudian Ali bin Musa, kemudian Muhammad bin Ali, kemudian Ali bin Muhammad, kemudian Hasan bin Ali,kemudian yang terakhir ialah Al-Mahdi bin Hasan bin Ali sebagai Hujjatullah di muka bumi ini dan Khalifatullah yang terakhir.

( Rujuk ke Ghayah al-Maram, jilid 10, hal. 267, Itsbat al-Hudat, jilid 3/123 dan Yanabi’ al-Mawaddah, hal. 494, 443-Qundusi al hanafi )

Seorang ulama Ahlusunah terkemuka bernama Al-Juwaini menukil sebuah riwayat, “Ketika ayat tersebut turun, Abu Bakar dan Umar berkata, ‘Ya Rasul Allah, apakah kepemimpinan ini dikhususkan untuk Ali?’

Rasul menjawab, ‘Ya, wilayah (kepemimipinan) ini diturunkan untuknya dan untuk para washi-ku sampai Hari Kiamat.’

Lalu kedua orang itu berkata lagi, ‘Ya Rasul Allah, jelaskanlah kepada kami siapa sajakah mereka itu?’

Beliau menjawab, ‘Mereka itu adalah Ali, ia adalah saudaraku, wazirku, pewarisku, washiku dan khalifahku bagi umatku, dan dialah wali (pemimpin) setiap mukmin sepeninggalku, kemudian setelahnya adalah cucuku Al-Hasan, kemudian cucuku Al-Husein dan kemudian sembilan orang dari putra-putra keturunan Al-Husein secara berurutan. Al-Qur’an senantiasa bersama mereka, sebagaimana mereka selalu bersama Al-Qur’an, keduanya itu tidak akan pernah berpisah hingga mereka menjumpaiku di telaga Surga.

[ Ghayatul Maram, bab 58, hadis ke-4.]

Rasul Allah SAWW yang menegaskan:

“Aku ini adalah kotanya ilmu atau kotanya hikmah, sedangkan Ali adalah pintu gerbangnya. Barang siapa ingin memperoleh ilmu hendaknya ia mengambil lewat pintunya.”

Mu’adz bin Jabal mengatakan bahwa Rasul Allah s.a.w. berkata kepada Imam Ali as.:

“Engkau mengungguli orang lain dalam tujuh perkara. Tak ada seorang Qureisy pun yang dapat menyangkalnya. Yaitu:

-Engkau adalah orang pertama yang beriman kepada Allah,

-Engkau orang yang terdekat dengan janji Allah,

-Engkau orang yang termampu menegakkan perintah Allah,

-Engkau orang yang paling adil mengatur pembagian (ghanimah),

-Engkau orang yang paling berlaku adil terhadap rakyat,

-Engkau paling banyak mengetahui semua persoalan,

-dan Engkau orang yang paling tinggi nilai kebaikan sifatnya di sisi Allah.

khulafaurrasyidin HARAM membuat buat sunnah baru karena AGAMA TELAH SEMPURNA

hadis “Berpeganglah kamu sekalian dengan sunnahku dan sunnah para Khulafa’ Rasyidin setelahku” adalah hadis PALSU yang bisa menjerumuskan seseorang kedalam bid’ah !!!

.

kalau hadis tersebut di artikan memberi kewenangan kepada 4 khalifah untuk membuat hukum baru ( sunnah khulafa rasyidin), maka jelas bertentangan dengan QS. AN Nisa’ ayat 59..

Pada QS. An Nisa’ ayat 59 jelas bahwa setiap ada perselisihan antara kaum mukminin maka harus dikembalikan kepada Allah ( Al-Quran ) dan Rasul-Nya ( Sunnah Rasul ). Artinya hanya Allah dan Rasul-Nya yang berhak membuat hukum. Sementara Ulil Amri bukan pembuat hukum tetapi hanya sebagai PELAKSANA hukum. Kalau memang Ulil Amri punya hak untuk membuat hukum pasti ayatnya berbunyi “…kembalikanlah kepada Allah, Rasul-Nya dan Ulil Amri”

 


Hadits “Kamu Harus Berpegang Teguh Kepada Sunahku Dan Sunah Para Khulafa` RasyidinMerupakan Kebohongan Yang Nyata”  Orang yang melihat hadis ini untuk pertama kali dia akan mengira hadis ini merupakan hujjah yang kokoh dan petunjuk yang jelas akan kewajiban mengikuti mazhab para Khulafa` Rasyidin. Yaitu Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan , dan tidak mungkin membawanya ke arti lain, kecuali dengan melakukan takwil yang didasari ta’assub

.

WAFATNYA Rasulullah saw membuat sebagian umat Islam goyah iman dan pudar ketaatan. Meskipun sudah disebutkan di Ghadir Khum bahwa yang berhak menjadi pemimpin Islam setelah Rasulullah saw adalah Ali bin Abi Thalib, tetap menyelenggarakan pemilihan khalifah di Saqifah.

Mereka lupa bahwa Rasulullah saw sendiri dalam hadis-hadis telah menyebutkan dua belas khalifah yang berhak memimpin dan membimbing umat Islam. Misalnya riwayat Said bin Jubair dari Ibnu Abbas berkata bahwa Rasulullah sawbersabda,“Sesungguhnya khalifah-khalifahku dan wasi-wasiku, hujah-hujah Allah di atas makhluk-Nya selepasku ialah dua belas orang; yang pertama Ali dan yang akhirnya cicitku Al-Mahdi; maka itulah Isa putra Maryam shalat di belakang Al-Mahdi.”

Bahkan, dalam hadis yang dikeluarkan Abu Al-Mu’ayyid Ibn Ahmad Al-Khawarizmi dengan sanad dari Abu Sulaiman secara rinci disebutkan nama-namanya: Ali, Fathimah, Hasan, Husain, Ali bin Husain, Muhammad bin Ali, Ja’far bin Muhammad, Musa bin Ja’far, Ali bin Musa, Muhammad bin Ali, Ali bin Muhammad, Hasan bin Ali, dan Muhammad Al-Mahdi bin Hasan.

Muslim dalam kitab Shahih Muslimmeriwayatkan dari Jabir bin Samurah bahwa, “Aku bersama bapakku berjumpa Nabi Muhammad saw. Maka aku mendengar Nabi saw bersabda, “Urusan ini tidak akan selesai sehingga berlaku pada mereka dua belas khalifah.” Dia berkata: kemudian beliau berbicara dengan perlahan kepadaku. Akupun bertanya kepada ayahku, apakah yang diucapkan oleh beliau? Dia menjawab, “Semuanya dari Quraisy.”

Dalam bagian kitab fadhl ahlulbait, Muslim menyebut dua belas orang dari kalangan Bani Hasyim. Juga Bukhari dalam Shahih Bukhari bagian kitab al-ahkam meriwayatkandari Jabir bin Samurah bahwa Nabi Muhammad saw bersabda, “Selepasku adalah dua belas amir (pemimpin).”Bukhari menyebutkannya dengan tiga riwayat dan Muslim sembilan riwayat serta Abu Daud tiga riwayat. Sedangkan Al-Turmudzi satu riwayat dan Al-Humaidi tiga riwayat.

Al-Qunduzi al-Hanafi dalam Yanabi’ al-Mawaddah bab 95meriwayatkan bahwa Jabir bin ‘Abdullah berkata, Rasulullah saw bersabda, “Wahai Jabir! Sesungguhnya para wasiku dan para imam selepasku pertamanya Ali kemudian Hasan kemudian Husain kemudian Ali bin Husain kemudian Muhammad bin Ali Al-Baqir. Anda akan menemuinya wahai Jabir sekiranya Anda mendapatinya; maka sampailah salamku kepadanya. Kemudian Ja’far bin Muhammad, kemudian Musa bin Ja’far, kemudian Ali bin Musa, kemudian Muhammad bin Ali, kemudian Ali bin Muhammad, kemudian Hasan bin Ali. Kemudian Al-Qa’im, namanya sama dengan namaku dan kunyahnya sama dengan kunyahku, anak Hasan bin Ali. Dengan beliaulah Allah akan ‘membuka’ seluruh pelosok bumi di Timur dan di Barat, dialah yang ghaib dari penglihatan. Tidak akan percaya kepada imamahnya melainkan orang yang telah diuji hatinya oleh Allah Swt.” Kemudian Jabir berkata,“Wahai Rasulullah.apakah orang-orang bisa mengambil manfaat darinya ketika ghaibnya?” Beliau menjawab,“Ya! Demi yang mengutuskan aku dengan kenabian sesungguhnya mereka mengambil cahaya daripada wilayahnya ketika ghaibnya, seperti orang mengambil faedah dari matahari sekalipun ianya ditutupi awan.”

Para muhadis dan perawi yang disebutkan tersebut orang-orang ternama dan banyak dirujuk oleh ulama-ulama. Karena itu, kebenarannya layak untuk dipegang sebelum benar-benar dipastikan terdapat kekeliruan. Sudah banyak kajian hadis dan sejarah yang membuktikan kebenaran dari riwayat-riwayat tentang adanya khalifah-khalifah Islam setelah Rasulullah saw. Namun, untuk umat Islam Indonesia kajian berkaitan dengan hadis atau riwayat tersebut belum banyak diketahui sehingga tidak jarang ada orang yang berani menolaknya.

.

Dari sini tampak sekali kehebatan tipuan dan kelihaian para pemalsu. Di dalamnya mereka menetapkan kebenaran mazhab Ahlus Sunnah —madrasah Khulafa` Rasyidin— dihadapan madzhab Syi’ah —madrasah Ahlul Bait. Dari sini kita dapat menjelaskan bahwa pertumbuhan madrasah-madrasah pemikiran Ahlus Sunnah adalah di dalam rangka menentang mazhab Ahlul Bait. Karena madrasah-madrasah tersebut berdiri di atas dasar hadis ini dan hadis-hadis lain yang sepertinya.  Namun, dengan menggunakan pandangan ilmiah dan dengan sedikit bersusah payah di dalam meneliti kenyataan sejarah dan hal-hal yang melingkupi hadis ini dan hadis-hadis lain yang sepertinya, atau dengan melihat ke dalam ilmu hadis dan ilmu al-Jarh wa at-Ta’dil, niscaya akan tampak dengan jelas kebohongan hadis ini

.

Sesungguhnya kesulitan pertama yang dihadapi hadis “Kamu harus berpegang teguh kepada sunahku dan sunah para Khulafa` Rasyidin …” ialah Bukhari Muslim membuangnya dan tidak meriwayatkannya. Dan ini berarti kekurangan di dalam derajat kesahihannya. Karena sesahih-sahihnya hadis adalah hadis-hadis yang diriwayatkan oleh dua orang Syeikh, yaitu Bukhari dan Muslim. Kemudian yang diriwayatkan oleh Bukhari saja. Lalu yang diriwayatkan oleh Muslim saja. Kemudian yang memenuhi syarat keduanya. Kemudian yang memenuhi syarat Bukhari saja. Dan kemudian yang memenuhi syarat Muslim saja. Keutamaan-keutaman ini tidak terdapat di dalam hadis di atas.  Hadis di atas terdapat di dalam Sunan Abu Dawud, Sunan Turmudzi dan Sunan ibnu Majah

.

Para perawi hadis ini seluruhnya tidak lolos dari kelemahan dan tuduhan dalam pandangan para ulama ilmu al-Jarh wa at-Ta’dil. Orang yang meneliti biografi mereka dapat melihat hal ini dengan jelas. Pada kesempatan ini saya tidak bisa mendiskusikan seluruh para perawi hadis ini seorang demi seorang, dengan berbagai macam jalannya, dan dengan menukil pandangan para ulama ilmu al-Jarh wa at-ta’dil tentang mereka. Melainkan saya akan mencukupkan dengan hanya mendhaifkan seorang atau dua orang perawi dari musnad setiap riwayat. Itu sudah cukup digunakan untuk mendhaifkan riwayat tersebut, sebagaimana yang disepakati oleh para ulama ilmu al-Jarh wa at-Ta’dil. Karena, bisa saja perawi yang dhaif ini sendiri yang telah membuat riwayat ini

.

Turmudzi telah meriwayatkan hadis ini dari Baqiyah bin Walid. Dan, inilah pandangan para ulama ilmu al-Jarh wa at-Ta’dil tentang Baqiyah bin Walid: Ibnu Jauzi berkata tentangnya di dalam sebuah perkataan, “Sungguh kami ingat bahwa Baqiyah telah meriwayatkan dari orang-orang yang majhul dan orang-orang lemah. Mungkin saja dia tidak menyebutkan mereka dan tidak menyebutkan orang-orang yang meriwayatkan baginya.”

.

Ibnu Hiban berkata, “Tidak bisa berhujjah dengan Bughyah.” Ibnu Hiban juga berkata, “Baqiyah seorang penipu. Dia meriwayatkan dari orang-orang yang lemah, dan para sahabatnya tidak meluruskan perkataannya dan membuang orang-orang yang lemah dari mereka.”  Abu Ishaq al-Jaujazani berkata, “Semoga Allah merahmati Bughyah, dia tidak peduli jika dia menemukan khurafat pada orang tempat dia mengambil hadis.” Dan ucapan-ucapan lainnya dari para huffadz dan ulama ilmu al-Jarh wa at-Ta’dil. Dan apa yang telah kita sebutkan itu sudah cukup.

.

Walid bin Muslim meriwayatkan hadis dari Tsaur an-Nashibi. Sebagaimana kata Ibnu Hajar al-’Asqolani, “Kakeknya telah terbunuh pada hari Muawiyah terserang penyakit sampar. Adapun Tsaur, jika nama Ali disebut dihadapannya dia mengatakan, “Saya tidak menyukai laki-laki yang telah membunuh kakek saya.” Adapun berkenaan dengan Walid, adz-Dzahabi berkata, “Abu Mushir mengatakan Abu Walid seorang penipu, dan mungkin dia telah menyembunyikan cacat para pendusta.”  Abdullah bin Ahmad bin Hambal berkata “Ayah saya ditanya tentangnya (tentang Walid), dia menjawab, ‘Dia seorang yang suka mengangkat-angkat.” Dan begitu juga perkataan-perkataan yang lainnya. Itu sudah cukup untuk mendhaifkan riwayatnya

.

Di samping itu, hadis tersebut sebagai hadis ahad. Seluruh riwayatnya kembali kepada seorang sahabat, Urbadh bin Sariyah. Hadis ahad tidak bisa digunakan sebagai hujjah, disamping Urbadh termasuk pengikut dan agen Muawiyah.

.

PEMBUAT BID’AH MEMANDANG AGAMA TIDAK LENGKAP DAN BERTUJUAN MELENGKAPINYA

CONTOH PERBUATAN BID’AH :

a. Apa yang dilakukan oleh Sayyidina Umar ibn Khattab ketika mengumpulkan semua umat Islam untuk mendirikan shalat tarawih berjamaah. Tatkala Sayyidina Umar melihat orang-orang itu berkumpul untuk shalat tarawih berjamaah, dia berkata: “Sebaik-baik bid’ah adalah ini”.

Sayyidina Umar Ibnul Khattab, setelah mengadakan shalat Tarawih berjama’ah dengan dua puluh raka’at yang diimami oleh sahabat Ubai bin Ka’ab beliau berkata :

نِعْمَتِ اْلبِدْعَةُ هذِهِ
“Sebagus bid’ah itu ialah ini”.

b. Sayyidina Utsman ibn Affan menambah adzan untuk hari Jumat menjadi dua kali. Imam Bukhari meriwatkan kisah tersebut dalam kitab Shahih-­nya bahwa penambahan adzan tersebut karena umat Islam semakin banyak. Selain itu, Sayyidina Utsman juga memerintahkan untuk mengumandangkan iqamat di atas az-Zawra’, yaitu sebuah bangunan yang berada di pasar Madinah.

c.Abu Bakar, Umar dan Usman Melarang Haji Tamattu’

Sebelumnya mohon maaf jika tulisan ini akan mengundang rasa tidak enak di kalangan sebagian kaum muslimin. Adalah hak siapapun untuk mencintai dan mengutamakan tokoh-tokoh tertentu apalagi para Sahabat Nabi. Mereka para sahabat Nabi SAW adalah pribadi-pribadi yang memiliki keutamaan yang tinggi. Walaupun begitu sudah jelas Tidak setiap apapun yang dilakukan oleh para Sahabat Nabi itu selalu benar. Mereka terkadang berijtihad dalam menghadapi suatu masalah.

Sayangnya adalah sudah jelas bahwa ketika suatu nash telah ditetapkan maka tidak ada lagi tempat untuk berijtihad. Sejarah mencatat ternyata ada di antara mereka para sahabat Nabi SAW yang telah benar-benar menyalahi nash yang ditetapkan oleh Rasulullah SAW. Kali ini dipaparkan perselisihan berkenaan dengan Haji Tamattu’. Dalam hal ini ketiga sahabat Nabi yaitu Abu Bakar RA, Umar RA dan Usman RA diriwayatkan telah melarang haji tamattu’ yang justru dihalalkan oleh Rasulullah SAW.

ثنا حجاج ثنا شريك عن الأعمش عن الفضيل بن عمرو قال أراه عن سعيد بن جبير عن بن عباس قال تمتع النبي صلى الله عليه و سلم فقال عروة بن الزبير نهى أبو بكر وعمر عن المتعة فقال بن عباس ما يقول عرية قال يقول نهى أبو بكر وعمر عن المتعة فقال بن عباس أراهم سيهلكون أقول قال النبي صلى الله عليه و سلم ويقول نهى أبو بكر وعمر  

Hajjaj menceritakan kepada kami, Syarik menceritakan kepada kami dari Al A’masy dari Al Fudhail bin Amr ia berkata tampaknya dari Said bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata ”Nabi SAW bertamattu’ ”. Lalu Urwah bin Zubair berkata ”Abu Bakar dan Umar telah melarang tamattu’! ”. Maka Ibnu Abbas berkata ”Apa yang dikatakan Urayyah?”. Ia menjawab ”Ia berkata Abu Bakar dan Umar telah melarang tamattu’ ”. Ibnu Abbas berkata ”Tampaknya mereka akan binasa! Aku katakan ’Nabi SAW bersabda’, ia justru berkata ’Abu Bakar dan Umar melarang’ ”. (Hadis riwayat Ahmad dalam Musnad Ahmad hadis no 3121, Syaikh Ahmad Syakir berkata tentang hadis ini “Sanadnya Shahih”)

 

عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ قَالَ اخْتَلَفَ عَلِيٌّ وَعُثْمَانُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا وَهُمَا بِعُسْفَانَ فِي الْمُتْعَةِ فَقَالَ عَلِيٌّ مَا تُرِيدُ إِلَّا أَنْ تَنْهَى عَنْ أَمْرٍ فَعَلَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا رَأَى ذَلِكَ عَلِيٌّ أَهَلَّ بِهِمَا جَمِيعًا

Dari Said bin Al Musayyab yang berkata “ Ali dan Usman berselisih paham tentang haji tamattu’ di tempat yang bernama Usfan. Ali berkata kepada Usman “Engkau tidak menginginkan kecuali melarang perkara yang pernah dilakukan Nabi SAW”. Maka ketika Ali tetap pada pendiriannya, Beliau menunaikan haji dan umrah sekaligus’. (Shahih Bukhari Kitab Al Hajj Bab Tamattu’, Iqran dan Ifrad hadis no 1569)

حدثني يحيى عن مالك عن بن شهاب عن محمد بن عبد الله بن الحارث بن نوفل بن عبد المطلب انه حدثه انه سمع سعد بن أبي وقاص والضحاك بن قيس عام حج معاوية بن أبي سفيان وهما يذكران التمتع بالعمرة إلى الحج فقال الضحاك بن قيس

لا يفعل ذلك الا من جهل أمر الله عز و جل فقال سعد بئس ما قلت يا بن أخي فقال الضحاك فإن عمر بن الخطاب قد نهى عن ذلك فقال سعد قد صنعها رسول الله صلى الله عليه و سلم وصنعناها معه  

Yahya menyampaikan kepadaku (hadis) dari Malik dari Ibnu Shihab bahwa Muhammad bin Abdullah bin Al Harits bin Nawfal bin Abdul Muttalib memberitahukan kepadanya bahwa pada tahun ketika Muawiyah bin Abi Sufyan pergi haji, ia mendengar Sa’ad bin Abi Waqqash dan Dhahhak bin Qais mendiskusikan tamattu’ di antara umra dan haji. Dhahhak bin Qais berkata “Hanya seseorang yang tidak memperdulikan Allah SWT yang akan melakukan hal itu”. Sedangkan Sa’ad berkata “Betapa salahnya apa yang telah engkau katakan, wahai anak sudaraku”. Dhahhak berkata “Umar bin Khattab melarang hal itu”, dan Sa’ad berkata “Rasulullah SAW melakukannya dan kami melakukan itu dengannya”. (Hadis dalam Al Muwatta Imam Malik bin Anas, Kitab Haji Bab Haji Tamattu’ hadis no 763)

.

Semua riwayat di atas dengan jelas menyatakan bahwa Abu Bakar, Umar dan Usman telah melarang haji tamattu’ yang justru telah dihalalkan oleh Rasulullah SAW. Dalam hal ini sudah jelas Rasulullah SAW lebih layak dijadikan pegangan sebagaimana yang dinyatakan Imam Ali dan para sahabat lainnya.

Walaupun begitu timbul pertanyaan Mengapa ketiga sahabat tersebut melarang sesuatu yang justru merupakan Sunnah Rasulullah SAW? Adakah mereka bertiga tidak mengetahuinya? Bukankah melarang Sunah Rasulullah SAW adalah suatu bid’ah, atau itu sebenarnya bukan bid’ah? Adakah itu adalah Ijtihad mereka demi maslahat tertentu?. Pertanyaan usil yang akan membuat sebagian orang mendelik sambil berkata “Jangan mencaci sahabat Rasul”.

Aduhai wahai engkau, tidakkah dikau melihat tidak ada cacian disini karena yang ada hanyalah sebuah paparan. Mungkin bagimu kecintaan kepada sahabat Nabi telah menjadi dogma yang berubah rasanya “bahwa Sahabat tidak patut dikritik dan mereka selalu benar”. Tetapi bagi sebagian yang lain “Rasulullah SAW selalu jadi yang utama”

Ok deh mari kita lepaskan semua atribut yang tidak jelas. Saya cuma bingung saja setelah membaca hadis ini. Kira-kira penjelasan apa yang paling tepat dalam menjelaskan hadis di atas. Ketiga sahabat tersebut tentunya adalah sahabat Nabi SAW yang saya yakin akan berusaha mengamalkan Sunnah Rasulullah SAW. Atau mungkin hadis ini patut dipertanyakan kebenarannya? tapi bagaimana ya

Pengumpulan Al-Quran

Telah jelas bahwa ketika Rasulullah Saw membacakan al-Qur’an untuk masyarakat ketika itu, sahabat-sahabat Nabi, yang bertugas mencatat Wahyu Ilahi pada waktu itu, juga menuliskan ayat-ayat al-Qur’an itu, namun pertanyaannya adalah kapankah terjadi pengumpulan al-Qur’an secara keseluruhan sehingga pengumpulan tersebut menghasilkan “al-Qur’an” yang ada pada zaman kita sekarang?

* * * * * * * * * * * *

Ada tiga pendapat yang menyatakan tentang bagaimana al-Qur’an dikumpulkan:

1. Al-Qur’an dikumpulkan semenjak pada zaman Rasulullah Saw dan dengan pengawasan secara langsung dari beliau meski bukan beliau sendiri yang menulis dan mengumpulkannya.[1]

2. Al-Qur’an yang ada pada zaman sekarang ini dikumpulkan oleh Imam Ali As dan pengumpulannya  beliau lakukan selepas Rasulullah Saw wafat dan melakukan hal ini ketika berdiam diri di rumah.[2]

3. Al-Qur’an dikumpulkan setelah wafatnya Rasulullah Saw oleh sebagian sahabat Nabi Saw.[3]

Mayoritas ulama Syiah menerima pendapat yang pertama, khususnya ulama-ulama kiwari yang meyakini bahwa al-Qur’an dikodifikasi pada masa Rasulullah Saw dan dilakukan di bawah pengawasan beliau.[4]

Sebagian lainnya menerima pandangan kedua dan memandang bahwa Imam Ali As yang mengkodifikasi al-Qur’an ini.[5]

Namun sebagian besar Ahli Sunah memilih pendapat ketiga. Kaum orientalis juga meyakini kebenaran akan pendapat belakangan ini, bahkan mereka menambahkan bahwa al-Qur’an yang dikumpulkan oleh Imam Ali As tidak mendapat perhatian dari para sahabat sendiri.

Sebagaimana yang telah  kita ketahui bersama bahwa sesuai dengan pendapat yang pertama dan kedua, pengumpulan al-Qur’an disandarkan kepada Allah Swt. Demikian pula dengan keberadaan surat-surat beserta urutannya yang juga merupakan Wahyu Allah Swt. Karena Rasulullah, sesuai dengan penjelasan al-Qur’an bahwa, “Dan dia tidak berbicara menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (Qs. al-Najm [53]: 2-3). Segala sesuatu yang disabdakan oleh Nabi Saw, khususnya dalam masalah keagamaan, mengikuti petunjuk wahyu, demikian pula para Imam, selepas wafatnya nabi, adalah penerus jalan risalah dan telah diangkat oleh Allah Swt dengan dibekali ilmu laduni.

Kelompok yang menerima pendapat ketiga, mereka bukan saja tidak akan dapat membuktikan bahwa kedua hal ini bersumber dari Tuhan dan memiliki corak Ilahiah; tentang kemunculan surat-surat dan urutannya yang ada di al-Qur’an, namun juga pada hakekatnya mereka mengingkari bahwa kedua hal ini bersumber dari Tuhan. Mereka berpandangan bahwa selera pribadi para sahabat turut andil dalam menentukan urusan ini.

Dalam pembahasan ini perlu diketahui bahwa:

1. Allamah Thabathaba’i berkata ketika menafsirkan ayat: Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (Qs. Hijr: 9) bahwa: Ciri-ciri khusus yang dimiliki oleh al-Qur’an, seperti kefasihan dan keindahan gaya bahasa, tidak adanya ikhtilaf antara satu ayat dengan ayat yang lainnya dan juga tidak adanya seorang pun yang bisa menandinginya, semuanya terdapat dalam al-Qur’an yang ada pada tangan kita sekarang. Oleh karena itu kita simpulkan bahwa al-Qur’an yang ada pada zaman sekarang ini, adalah al-Qur’an yang ada pada masa permulaan datangnya agama Islam juga dan yang telah pula dikenal  pada zaman Nabi Muhammad Saw sendiri.[6]

Walaupun penafsiran ini menafikan adanya distorsi (tahrif) terhadap Al Qur’an, namun tidak dapat menetapkan dan membuktikan bahwa kumpulan, bentuk dan coraknya adalah bersumber dari Tuhan; lantaran tipologi yang telah disebutkan tersebut, tidak sedimikian sehingga dapat membuktikan urutan kumpulan ayat-ayat yang merajut surah-surah, dan urutan surah-surah yang membentuk al-Qur’an yang ada tidak dapat digunakan sebagai dalil untuk menetapkan bahwa urutan keseluruhan ayat-ayat yang membentuk suatu surat, dan urutan kumpulan surat-surat yang membentuk al-Qur’an yang ada sebagaimana yang ada pada zaman Nabi Saw.

2. Apabila ada seorang yang mampu menetapkan dan membuktikan kemukjizatan bilangan di samping kosa-kata dan susunan Qur’ani pada domain surah-surah dan urutan-urutannya yaitu antara ayat-ayat yang terdapat pada satu surah dan dengan surah-surah itu sendiri terjalin hubungan bilangan khusus dimana hal tersebut mustahil bagi manusia maka corak Ilahiah surah-surah dan urutannya juga akan terbukti, namun demikian kembali corak Ilahiah urutan seluruh ayat-ayat yang terajut dalam sebuah surah tidak akan terbukti.[7]

Untuk memahami lebih detail tentang pembahasan ini,  silahkan Anda merujuk: Mahdi Hadavi Tehrani, Mabâni Kalâmi Ijtihâd.


[1] Sayid Abdul Wahab Thaliqani, ‘Ulumul Qur’ân, Hal. 83.

[2] Sayid Muhammad Ridha Jalali Naini, Târikh Jam’ Qur’ân Karim, Hal. 87.

[3]  Pendapat ini banyak diterima oleh kebanyakan Ahlus Sunah, Idem , Hal. 19-51.

[4] Sayid Abdul Wahab Thaliqani, ‘Ulumul Qur’an, Hal. 83; Sayid Ali Milani, al-Tahqiq fii Nafii al-Tahrif ‘an al-Qur’an al-Syarif, hal. 41-42, dan hal. 46, Muhammad Hadi Ma’rifat, Shiyanat al-Qur’an min al-Tahrif, hal. 34.

[5] Sayid Muhammad  Ridha Jalali Naini, Târikh Jam’ Qur’ân Karîm, Hal. 80.

[6] Allamah Thaba-thabai, al-Mizan, jil. 12, Hal. 104, 106 dan 138.

[7] Mahdi Hadavi Tehrani, Mabâni Kalâmi Ijtihâd, Hal. 54-55, Muasasah Farhange Khaneh Khurd, Qum, Cetakan pertama, 1377.

Apakah Penghimpunan Al-Qur’an dalam Bentuk Kitab Dilakukan pada Masa Nabi saw atau Pasca Beliau?

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa nama surat pertama Al-Qur’an adalah Fâtihatul Kitâb. Fâtihatul Kitâb berarti pendahuluan kitab. Dan suatu hadis yang dinukil dari Nabi saw. menyatakan bahwa pada masa beliau, surat ini juga dikenal dengan nama ini.

Dari sini, titik terang pada satu masalah penting dalam Islam ini menjadi tampak. Masalah tersebut adalah —berbeda dengan pendapat yang telah popular bahwa Al-Qur’an pada masa Nabi saw. hanya berbentuk lembaran yang terpisah-pisah, kemudian baru dikumpulkan pada masa Abu Bakar, Umar, atau Utsman— bahwa Al-Qur’an pada masa Nabi saw. sendiri telah terkumpul sesuai dengan bentuknya hari ini, dan surat pertamanya adalah surat Al-Hamd. Jika tidak demikain, surat ini bukan sebagai surat pertama yang turun kepada Nabi saw. dan juga tidak ada dalil lain untuk menamakan surat ini dengan nama Fâtihatul Kitâb.

Bukti-bukti lain yang banyak juga menegaskan bahwa Al-Qur’an dalam bentuk kumpulan yang kini berada di tangan kita telah dikumpulkan pada masa Nabi saw. atas perintah beliau.

Ali bin Ibrahim menukil dari Imam Ash-Shadiq as bahwa Rasulullah saw bersabda kepada Ali as, “Wahai Ali! Kumpulkanlah Al-Qur’an yang berada pada potongan-potongan sutra, kertas, dan semisalnya yang terpisah-terpisah itu.” Imam Ash-Shadiq as menambahkan, “Ali as pergi dari majelis tersebut dan mengumpulkan Al-Qur’an di dalam potongan kain berwarna kuning, lalu menorehkan stempel di atasnya.”[1]

Bukti yang lain adalah Kharazmi, seorang ulama besar Ahli Sunnah, dalam buku Al-Manâqib menukil dari Ali bin Riyah bahwa Ali bin Thalib dan Ubay bin Ka’b mengumpulkan Al-Qur’an pada masa Nabi saw.

Bukti ketiga adalah pernyataan Al-Hakim, seorang penulis kenamaan Ahli Sunnah dalam kitab Al-Mustadrak. Ia menukil ucapan Zaid bin Tsabit, “Kami berada di hadirat Nabi saw. Kami mengumpulkan Al-Qur’an dari potongan-potongan terpisah. Dan masing-masing dikumpulkan sesuai dengan bimbingan Nabi saw. Kami meletakkan pada tempatnya masing-masing. Akan tetapi, dengan tulisan yang terpisah-pisah ini, Nabi saw. memerintahkan Ali untuk mengumpulkannya pada satu tempat. Kami mendapatkan peringatan keras dari Nabi untuk tidak memperlakukannya dengan buruk.”

Sayid Murtadha, ulama besar Syi’ah berkata, “Al-Qur’an dikumpulkan pada masa Rasulullah saw. sebagaimana bentuknya pada hari ini”.[2]

Thabarani dan Ibnu ‘Asakir menukil dari Syi’ah bahwa enam orang dari Anshar mengumpulkan Al-Qur’an pada masa Nabi saw.[3] Qatadah bercerita, “Aku pernah bertanya kepada Anas, ‘Siapakah yang mengumpulkan Al-Qur’an pada masa Nabi saw?’ Ia menjawab, ‘Empat orang dan mereka semua berasal dari Anshar: Ubay bin Ka’b, Muadz, Zaid bin Tsabit, dan Abu Zaid.’”[4] Masih lagi riwayat yang lain. Jika kita menukilnya di sini, pembahasan kita akan melebar.

Lebih dari itu, selain hadis-hadis yang terdapat di dalam buku-buku referensi Ahli Sunnah dan Syi’ah, pemilihan nama Fâtihatul Kitâb untuk surat Al-Hamd —sebagaimana yang telah kami singgung di atas— merupakan saksi hidup untuk membuktikan hal ini.

Pertanyaan

Pertanyaan yang muncul  di sini ialah bagaimana pendapat ini dapat dipercaya, sementara di kalangan sekelompok ulama terkenal tersebar pendapat yang menyatakan bahwa Al-Qur’an dikumpulkan pasca wafatnya Rasulullah saw (melalui Ali as atau orang lain)?

Untuk menjawab pertanyaan ini, harus dijelaskan bahwa Al-Qur’an yang dikumpulkan oleh Ali as bukan Al-Qur’an itu sendiri. Akan tetapi, kumpulan dari Al-Qur’an, tafsir, dan asbâbun nuzul ayat-ayatnya.

Tentang Al-Qur’an yang dikumpulkan oleh Utsman, hal itu hanyalah sebuah perintah darinya untuk menyatukan penulisan Al-Qur’an disertai dengan bacaan dan harakat demi menghindari perbedaan antarbacaan (qirâ’ah).

Akan tetapi, desakan sekelompok orang bahwa Al-Qur’an tidak dikumpulkan pada masa Nabi saw dan kebanggaan ini sudah menjadi hak Utsman atau khalifah pertama, barangkali hanya bertujuan menciptakan keutamaan semata baginya. Oleh karena itu, setiap bentuk keutamaan ini dinisbahkan kepada orang yang dinukilkan dalam riwayat tersebut.

Pada dasarnya, bagaimana mungkin dapat dipercaya Nabi saw menyepelekan pekerjaan teramat penting ini? Padahal, beliau sangat menaruh perhatian, bahkan terhadap pekerjaan-pekerjaan kecil sekalipun. Bukankah Al-Qur’an ini merupakan undang-undang dasar umat Islam, kitab agung pendidikan dan pengajaran, pondasi seluruh program-program Islam dan akidahnya? Apakah tidak dikumpulkannya Al-Qur’an pada masa Nabi saw tidak mengandung resiko penyepelean terhadap sebagian Al-Qur’an dan atau munculnya perbedaan di kalangan muslimin?

Di samping itu, hadis masyhur “Tsaqalain”  yang dinukil oleh Ahli Sunnah dan Syi’ah bahwa Nabi saw bersabda, “Telah aku tinggalkan dua pusaka berharga di antara Kamu: Kitab Allah dan ‘Itrahku”, menunjukkan bahwa Al-Qur’an merupakan sebuah kitab yang telah dikumpulkan.

Apabila kita meneliti riwayat-riwayat yang menceritakan pengumpulan Al-Qur’an oleh beberapa sahabat di bawah pengawasan Nabi saw dengan jumlah pengumpul yang berbeda-beda, tentu hal itu tidak akan menimbulkan polemik. Barangkali setiap riwayat tersebut memperkenalkan beberapa orang dari para pengumpul tersebut.[5]



[1] Redaksi asli riwayat ini adalah “Wantalaq ‘Ali as fa jama’ahu fî tsubûtin ashfar tsumma khatama ‘alaih”. Lihat  Târikh Al-Qur’ân Abu ‘Abdillâh Zanjâni, hal. 24.

[2] Majma’ al-Bayân,jilid 1, hal. 15.

[3] Muntakhab Kanz al-‘Ummâl,jilid 2, hal. 52.

[4] Shahîh Bukhâri, jilid6, hal. 102.

[5] Tafsir Nemûneh,jilid1, hal. 8.

Sahabat Nabi SAW tidak berwenang membuat “sunnah sahabat” karena AGAMA TELAH SEMPURNA

inti pembahasan :
- Sahabat Nabi SAW tidak berwenang membuat “sunnah sahabat” karena AGAMA TELAH SEMPURNA
- Kesaksian atas perubahan Sunnah Nabi, lalu mengunakan Sunnah Mereka Sendiri (Sunnah Sahabat)

Keadilan semua sahabat dalam Qs.Al Fath ayat 10 dan Qs. Al Fath ayat 18 ?? Peserta bai’at dibawah pohon yang berjumlah 1500 orang akan diridhai jika menepati janjinya ! Jika kelak mereka melanggar janji maka tidak diridhai !

.

Peserta bai’at dibawah pohon yang berjumlah 1500 orang akan diridhai   dan tidak  masuk  neraka  jika menepati janjinya ! Jika kelak mereka melanggar janji maka tidak diridhai ! Faktanya ada diantara mereka yang  melanggar janji !

Allah berfirman
لَا يَسْتَوِي مِنْكُمْ مَنْ أَنْفَقَ مِنْ قَبْلِ الْفَتْحِ وَقَاتَلَ أُولَئِكَ أَعْظَمُ دَرَجَةً مِنَ الَّذِينَ أَنْفَقُوا مِنْ بَعْدُ وَقَاتَلُوا وَكُلًّا وَعَدَ اللَّهُ
Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan. Mereka lebih tingi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik (Qs Al Hadid:10)
.
Yang dimaksud dengan Penaklukan adalah penaklukan Hudaibiyah, yaitu ketika Rasulullah membai’at shahabat-shahbatnya dibawah sebuah pohon, ketika yang berbaiat dengan Beliau sejumlah 1500 orang, merekalah yang telah menaklukkan khaibar
.

 SHAHIH BUKHARI NO. 3852
حَدَّثَنِي أَحْمَدُ بْنُ إِشْكَابٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ عَنْ الْعَلَاءِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ لَقِيتُ الْبَرَاءَ بْنَ عَازِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا فَقُلْتُ
طُوبَى لَكَ صَحِبْتَ النَّبِي…َّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبَايَعْتَهُ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَقَالَ يَا ابْنَ أَخِي إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثْنَا بَعْدَهُ
Telah menceritakan kepadaku [Ahmad bin Isykab] telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Fudlail] dari [Al 'Ala` bin Al Musayyab] dari [Bapaknya] ia berkata; Aku bertemu [Al Bara' bin 'Azib radliallahu 'anhuma] seraya berkata; “Beruntunglah kamu karena mendampingi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berbai’at kepadanya di bawah pohon pada bai’atur ridlwan.” Al Bara’ berkata; “Wahai anak saudaraku, kamu tidak tahu apa yang kami perbuat setelah itu.”
.

Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bahwa beliau SAWW pernah
bersabda kepada kaum Anshar: “Suatu hari kalian akan menyaksikan sifat tamak
yang dahsyat sepeninggalku. Karena itu bersabarlah sehingga kalian menemui
Allah dan Rasul-Nya di telaga haudh.” Anas berkata, “Kami tidak sabar.”(1)
.
Ala’ bin Musayyab dari ayahnya pernah berkata: “Aku berjumpa dengan
Barra’ bin A’zib ra. Kukatakan padanya, “berbahagialah Anda karena
dapat bersahabat dengan Nabi SAWW dan membai’atnya di bawah pohon
(bai’ah tahta syajarah). Barra’ menjawab, “wahai putera saudaraku,
engkau tidak tahu apa yang telah kami lakukan sepeninggalnya.”(2)

Jika sahabat utama yang tergolong di antara as-Sabiqin al-Awwalin dan pernah

membai’at Nabi di bawah pohon, serta Allah rela kepada mereka dan Maha Tahu

apa yang ada dalam hati mereka sehingga diberinya ganjaran yang besar; apakah

mereka yang menghianati Bai’ah itu tetap diridhoi Allah ? apalagi sahabat-sahabat

ini kemudian bersaksi bahwa dirinya dan para sahabat yang lain telah melakukan

“sesuatu yang berbeda (baca bid’ah)” sepeninggal Nabi, pengakuan mereka ini

adalah bukti kebenaran yang disabdakan oleh Nabi SAW bahwa sebagian dari

sahabatnya akan berpaling darinya sepeninggalnya.

Rasululah SAW juga telah bersabda: “Siapa yang mencaci Ali maka dia telah

mencaciku; dan siapa yang mencaciku maka dia telah mencaci Allah; dan

siapa yang mencaci Allah maka Allah akan menjatuhkannya ke dalam api

neraka.”(3)

.

Sangat jelas hukuman bagi orang yang mencaci Imam Ali AS. Lalu apa hukuman

bagi mereka yang melaknatnya dan memeranginya., sementara sejarah

mengabarkan bahwa Muawiyah melaknati Imam Ali AS selama 70

tahun lebih , dan juga beliau AS telah diperangi oleh 3 kelompok

dalam 3 Perang Besar.

1. Shahih Bukhari jil. 2 hal. 135

2. Shahih Bukhari jil.3 hal. 32.

3. Mustadrak al-Hakim jil. 3 hal. 121; Khasais an-Nasai hal. 24;

Musnad Ahmad Bin Hanbal jil. 6 hal. 33; Manaqib al-Khawarizmi

.

Al-Bukhari meriwayatkan bahawa al-Musayyab berkata: Aku berjumpa al-Barra’ bin ‘Azib (r.a), lalu aku berkata: Alangkah beruntungnya anda kerana anda telah bersahabat (Sahabta) dengan Nabi (saw.) dan membaiahnya di bawah pokok. Lantas dia menjawab: Wahai anak saudaraku! Sebenarnya anda tidak mengetahui apa yang kami lakukan (Ahdathna-hu) selepasnya (al-Bukhari, Sahih, v, hlm. 343 (Hadis no.488 )

.

Kesemua hadis-hadis tersebut adalah menepati ayat al-Inqilab firman-Nya di dalam Surah Ali Imran (3): 144: “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang (murtad), maka ia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikitpun dan Allah akan memberi balasan kepada mereka yang bersyukur.”

.

Dan bilangan yang sedikit sahaja yang “terselamat” adalah menepati firman-Nya di dalam Surah Saba’ (34): 13: “Dan sedikit sekali dari hamba-hambaku yang berterima kasih.”

.

Pengakuan Sahabat Nabi SAW bernama Al-Barra’ bin ‘Azib (r.a) membuktikan bahwa Ayat bai’at ridwan  tidaklah meliputi seluruh sahabat,  hanya untuk sahabat istiqamah  yang hadir dan setia pada perjanjian hingga ke akhir usianya.

Salam dan Solawat. Baru-bari ini ada seorang saudara dari Sunni membangkitkan satu persoalan menarik. Di zaman perjanjian Hudaibiyah, sekumpulan orang Islam telah membai’at Nabi di bawah pohon. Pembai’atan ini masyhur dengan Bai’atul Ridwan yang membawa kepada turunnya ayat berikut:

Mereka yang membai’at dikau hakikatnya mereka membai’at Allah, sesungguhnya Allah ridha dengan Mukminin jikalau mereka membai’at engkau di bawah pohon.”

Ahlusunnah tidak dapat menerima bahawa apabila seseorang itu yang telah diredhai tuhannya boleh atau mampu untuk menyimpang dari jalan kebenaran. Antara yang terlibat dalam pembai’atan ini ialah para sahabat besar seperti Umar, Abu Bakar, Uthman, Khalid dan beberapa orang lagi telah hadir.

Jawapan kami ialah pertamanya ayat itu sendiri menggunakan kalimah ‘iz zarfiah muqayyad‘. Iaitu ayat itu menyatakan pada ketika itu Allah meridhai engkau yang memberi Bai’at. Dengan ini tuhan meridhai mereka sebelum dan selepas pembai’atan tertakluk dengan syarat selagi individu itu mampu tetap menjaga kemakmuran ini.

Kami membacakannya mereka kisah orang yang telah kami berikannya ayat maka dia menuruti Syaitan dan termasuk di kalangan mereka yang sesat”
al-A’raf 175

Kesimpulannya dengan pengajaran peristiwa ini, jikalau Tuhan meridhai seseorang, maka Dia akan menyatakan keridhaanNya dengan bentuk yang sangat berharga selama seseorang itu menjaga keistiqamahan prinsip itu. Jika tidak, begitu banyak orang yang memiliki makam yang sangat tinggi namun setelah itu mereka tersesat.

Sebagai contoh Abdullah bin Abi Sara sahabat Rasulullah (s) penulis wahyu pertama, akan tetapi selepas beberapa ketika ia murtad dan menghina Rasulullah (s). Hingga sampai ke satu tahap, Rasulullah berkata pada waktu Fath Makkah, beberapa orang daripada mereka, walaupun mereka bergantung pada kain Kaabah, penggallah kepala mereka, salah seorang daripada mereka ialah Abdullah bin Abi Sara’.

Allah (swt) berfirman kepada Rasulullah (s):
“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) sebelummu ‘jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalanmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” Surah az-Zummar ayat 65.

Kita menerima bahwasanya ayat-ayat ini diturunkan tentang sahabat. Akan tetapi berapa ramai antara sahabat-sahabat yang mampu menjaga makam tersebut, Perlulah adanya pembahasan dan penelitian.

Begitu juga dalam Sahih Muslim terdapat hadis yang bernama Hadis Haudh, yang mana tidak ada jalan lagi untuk Ahlussunnah mengelak dari hal tersebut. Di hari kiamat sebilangan para sahabat akan dibawa ke api neraka. Rasulullah bertanya ke mana dibawa sahabat-sahabat baginda. Lantas dijawab ke neraka. Ditanya kenapa, lantas dijawab lagi, kerana mereka murtad dan kembali ke masa jahiliyah sepeninggalan baginda. Yang lebih menarik, Bukhari mengatakan hanya sedikit daripada mereka yang selamat.
Sahih Bukhari: 7/208; Shawahid Tanzil: 284/1

Ummul Mukminin Aisyah telah berkata:
Sekalian orang Arab telah murtad setelah wafatnya Rasulullah
Al-Bidayah wa al-Nihayah: 6/336; Tarikh Madinah Dimasyq: 30/316, Wahabi ingin mempermasalahkan Syiah iaitu engkau mengatakan sesudah Nabi semua orang selain empat orang telah murtad, iaitu selama masa 23 tahun usaha keras Rasulullah mendidik hanya empat orang yang tidak murtad? Jawaban kami ialah, kalau kami mengatakan hanya empat orang yang tidak murtad,tetapi Ummul Mukminin Aisyah mengatakan semua orang Islam itu murtad, tentunya dalam pandangan Syiah yang dimaksud dengan murtad bukanlah murtad daripada keimanan, akan tetapi menentang perintah-perintah yang telah ditetapkan oleh Rasulullah.

Pada zaman khalifah ke dua, ketika salah seorang sahabat meninggal, saat Huzaifah tidak menerima bahawa sahabat ini bukan daripada kalangan munafik, hinggalah khalifah tidak hadir untuk menyolatinya kerana ia takut orang tersebut daripada golongan munafik. Ini kerana Syiah dan Sunni menerima bahawasanya Huzaifah sahabat penyimpan rahsia dan Rasulullah pernah mengatakan nama-nama orang munafik kepadanya

.

Menjawab : Ayat Bai’ah Ridwan

Salah satu ayat yang sering digunakan golongan Ahlusunnah untuk membuktikan keadilan para sahabat ialah ayat surah Al-Fath ayat 18. Mereka mendakwa seluruh sahabat yang hadir di dalam peristiwa tersebut mendapat keredhaan Ilahi. Allah (s.w.t) berfirman:

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا . الفتح / 18 .

Demi sesungguhnya! Allah redha akan orang-orang yang beriman, ketika mereka memberikan pengakuan taat setia kepadamu (wahai Muhammad) di bawah naungan pohon (yang termaklum di Hudaibiyah); maka (dengan itu) ternyata apa yang sedia diketahuiNya tentang (kebenaran iman dan taat setia) yang ada dalam hati mereka, lalu Ia menurunkan semangat tenang tenteram kepada mereka, dan membalas mereka dengan kemenangan yang dekat masa datangnya- Surah Al-Fatḥ ayat 18.

Jawapan pertama: Ayat ini tidak meliputi seluruh sahabat, namun paling kurang hanyalah terkena pada mereka yang hadir dalam peristiwa Baiʽatul Riḍwān dan bilangan mereka yang dinukilkan oleh ulama Ahlusunnah adalah sekitar 1300 hingga 1400 orang. Muḥammad bin Ismāʽīl Al-Bukhārī menulis:

4463 ، عَنْ جَابِرٍ قَالَ كُنَّا يَوْمَ الْحُدَيْبِيَةِ أَلْفًا وَأَرْبَعَ مِائَةٍ .
صحيح البخاري ، ج6 ، ص45 .

Daripada Jābir yang berkata: Kami seramai seribu empat ratus orang telah berada di hari Al-Ḥudaybiyah – Saḥīḥ Al-Bukhārī, jilid 6 halaman 45.

Jumlah ini tidaklah meliputi lebih seratus dua puluh ribu orang sahabat Rasul di zaman kewafatan baginda. Oleh itu ayat ini tidaklah menunjukkan keadilan seluruh sahabat mahu pun keredhaan Allah kerana terdapat pengkhususan dalam ayat tersebut.

Jawapan ke-dua: Keredhaan Allah juga tidak meliputi semua orang yang memberi Baiʽat pada hari tersebut, bahkan keredhaan itu hanyalah untuk mereka yang memberikan Baiʽat dengan iman di dalam hati. Ini disebabkan Allah meletakkan syarat keimanan di dalam hati untuk keredhaan-Nya « رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ » . Dengan tidak memenuhi syarat tersebut, maka seseorang itu akan dinafikan dari keredhaan tersebut.

Ini bermaksud sekurang-kurangnya Allah (s.w.t) meredhai seluruh orang yang beriman. Walau bagaimana pun tidak ada bukti bahawa seluruh orang yang memberi Baiʽat dalam peristiwa tersebut mukmin hakiki. Oleh sebab itu Allah (s.w.t) mengikat dengan kata-kata: « عَنِ الْمُؤْمِنِينَ ». Oleh itu kaum munafiqin seperti Abdullah bin Ubai dan orang yang mempunyai syak dalam iman tidak boleh dikatakan memberi Baiʽat yang hakiki. Di samping tidak dikategotikan sebagai Baiʽat hakiki, mereka ini juga tidak mendapat keredhaan tersebut sebagaimana orang beriman yang tidak hadir di dalam peristiwa itu.

Dengan ini, ayat ini tidak termasuk orang yang mengesyaki kenabian Muhammad (s.a.w) seperti Umar bin Al-Khattab pada kejadian itu dan setelah peristiwa itu, bahkan juga ia tidak memberikan Baiʽat dengan keimanan. Detik-detik keraguan Umar terhadap kenabian Rasulullah banyak tercatat secara terperinci di dalam kitab-kitab Ahlusunnah di mana ringkasannya adalah seperti berikut:

Pada suatu ketika Rasulullah (s.a.w) melihat di dalam mimpinya bahawa baginda memasuki Makkah bersama para sabahat mengerjakan Ṭawaf di BaituLlah. Pagi keesokan harinya baginda memaklumkannya kepada para sahabat. Mereka bertanya kepada Rasul tentang mimpi tersebut. Lantas baginda menjawab “Insyallah kita akan memasuki kota Makkah dan mengerjakan Umrah”, namun baginda tidak menentukan bilakah perkara ini akan terjadi.

Semua orang sudah bersiap sedia untuk bergerak dan ketika mereka sampai di Hidaibiyah, musyrikin Quraysh sudah mengetahui kedatangan Rasulullah (s.a.w) dan para sahabat baginda. Maka Musyrikin Quraysh pun bersiap-siap menghalang kedatangan rombongan ini ke Kota Makkah dengan senjata. Oleh kerana matlamat Rasulullah (s.a.w) ke Makkah hanyalah dengan niat menziarahi BaituLlah dan bukan untuk berperang, baginda membuat perjanjian dengan Musyrikin Quraysh bahawa rombongannya tidak akan memasuki Kota Makkah pada tahun ini. Namun pada tahun hadapan mereka tidak dihalang mengerjakan ‘Umrah. Perkara ini menyebabkan Umar bin Al-Khattab dan orang yang sama pemikiran dengannya merasa bimbang dan mengesyaki kenabian Rasulullah (s.a.w) dan (Na’uzubillah) beliau turut menyangka Rasulullah (s.a.w) seorang penipu. Oleh sebab itu beliau memprotes dengan nada yang agak keras. Dhahabī di dalam Tārikh Al-Islām menukilkan kisah ini sebagai:

… فقال عمر : والله ما شككت منذ أسلمت إلا يومئذ ، فأتيت النبي صلى الله عليه وسلم فقلت : يا رسول الله ، ألست نبي الله قال : بلى قلت : ألسنا على الحق وعدونا على الباطل قال : بلى قلت : فلم نعطي الدنية في ديننا إذا قال : إني رسول الله ولست أعصيه وهو ناصري . قلت : أولست كنت تحدثنا أنا سنأتي البيت فنطوف حقا قال : بلى ، أفأخبرتك أنك تأتيه العام قلت : لا . قال : فإنك آتيه ومطوف به … .
تاريخ الإسلام ، الذهبي ، ج 2 ، ص 371 – 372 و صحيح ابن حبان ، ابن حبان ، ج 11 ، ص 224 و المصنف ، عبد الرزاق الصنعاني ، ج 5 ، ص 339 – 340 و المعجم الكبير ، الطبراني ، ج 20 ، ص 14 و تفسير الثعلبي ، الثعلبي ، ج 9 ، ص 60 و الدر المنثور ، جلال الدين السيوطي ، ج 6 ، ص 77 و تاريخ مدينة دمشق ، ابن عساكر ، ج 57 ، ص 229 و … .

Maka ‘Umar berkata: Demi Allah, aku tidak syak sejak keIslamanku kecuali pada hari ini, maka aku datang kepada Rasulullah (s.a.w) dan bertanya: Wahai Rasulullah, tidakkah engkau Nabi Allah? Jawab baginda: Bahkan iya. Aku bertanya: Tidakkah kita di atas kebenaran dan musuh kita di atas kebatilan? Baginda menjawab: Bahkan iya. Umar berkata: Mengapakah kita menunjukkan kelemahan terhadap agama kita? Baginda menjawab: Sesungguhnya aku utusan Allah dan tidak menderhakai-Nya dan Dialah pembantuku. Umar bertanya: Tidakkah engkau berkata kita akan memasuki Makkah dan berṭawaf? Nabi bersabda: Apakah aku memberitahumu kita akan mengerjakannya pada tahun ini? Umar berkata: Tidak. Rasulullah bersabda: Engkau akan memasuki Makkah dan berṭawaf.
-Tārikh Al-Islām Ad-Dhahabī, jilid 2 halaman 372-371
– Sahīh Ibnu Ḥabbān, jilid 11 halaman 224
– Al-Muṣannaf, ʽAbdul Razzāq Al-Ṣunʽānī, jilid 5 halaman 339-340
– Mu’jam Al-Kabīr, Al-Ṭabrānī, jilid 20 halaman 14
– Tafsīr Al-Thaʽlabī, Al-Thaʽlabī, jilid 9 halaman 60
– Al-Durrul Manthur, Jalāluddīn Al-Suyūṭī, jilid 6 halaman 77
– At-Tārikh Madīnah Dimashqi, Ibnu ʽAsākir, jilid 57 halaman 229 dan banyak lagi…

Menarik perhatian di sini ʽUmar tidak yakin dengan kat-kata Rasulullah dan untuk ketenangan, beliau pergi kepada temannya Abu Bakar dan bertanya hal yang sama. Lebih menarik di sini Abu Bakar mengulangi jawapan Rasulullah (s.a.w).

Riwayat ini telah dinukilkan oleh Bukhārī dan Muslim, namun demi melindungi maruah ʽUmar, kata-kata « والله ما شككت منذ أسلمت إلا يومئذ » tidak dimasukkan dalam kisah perilaku khalifah ke-dua tersebut. Silakan anda merujuk Ṣaḥīḥ Al-Bukārī jilid 4 halaman 70, jilid 6 halaman 45 dan Ṣaḥīḥ Muslim jilid 5 halaman 175.

Sejarawan terkenal Ahlusunnah, Muhammad bun Umar al-Wāqidī menulis:

. . . فكان ابن عباس رضي اللّه عنه يقول : قال لي في خلافته ]يعني عمر[ وذكر القضية : إرتبت ارتياباً لم أرتبه منذ أسلمت إلا يومئذ ، ولو وجدت ذاك اليوم شيعة تخرج عنهم رغبة عن القضية لخرجت .

Ibnu ‘Abbas berkata: ʽUmar bin Al-Khattab di zaman kekhalifahannya terkenang peristiwa perjanjian Hudaibiyah dan berkata: Pada hari itu aku telah syak (kenabian Rasulullah), belum pernah aku syak demikian semenjak memasuki Islam. Andainya pada hari itu ada ditemui orang yang membuat keputusan untuk keluar dari perjanjian tersebut, maka aku pun turut akan keluar.

Wāqidī menambah dengan menukilkan riwayat daripada Abū Saʽid Al-Khudrī yang berkata kepada ʽUmar:

… والله لقد دخلني يومئذٍ من الشك حتى قلت في نفسي : لو كنا مائة رجلٍ على مثل رأيي ما دخلنا فيه أبداً ! .
كتاب المغازي ، الواقدي ، ج 1 ، ص 144 ، باب غزوة الحديبية ، المكتبة الشاملة ، الإصدار الثاني

Demi Allah, sesungguhnya betapa syak pada hari itu sehingga aku berkata kepada diriku: Andainya kita mempunyai seratus lelaki yang berpandangan sepertiku, kita tidak akan sekali-kali menyertai perjanjian tersebut. – Kitab Al-Maghāzī, Al-Wāqidī, jilid 1 halaman 144, software maktabah Al-Shamilah. Kitab ini dapat dirujuk dalam laman web: http://www.alwarraq.com

Apakah boleh dikatakan keredhaan Allah selama-lamanya untuk orang seperti ini? Bolehkah sesorang yang tidak beriman terhadap kenabian Rasulullah (s.a.w) dan mengesyaki kerasulan baginda dapat berada di dalam keredhaan Allah?.

Jawapan ke-tiga: Keredhaan ini tidak boleh dikatakan selama-lamanya atau abadi. Begitu juga tidak dijamin kebaikan seluruh orang yang hadir di dalam peristiwa ini kerana ayat tersebut hanya menyabitkan keredhaan Ilahi untuk orang yang memberi Baiʽat hanya pada ketika itu semata-mata, termasuk sebab dan keikhlasan mereka yang menyertai perjanjian dalam peristiwa itu.

Dengan kata yang lain, keredhaan ini akan kekal sehingga waktu tertentu sahaja sebagaimana pembaiʽatan dan perjanjian juga akan kekal sehingga ada terjadi perubahan di dalamnya. Ini disebabkan kewujudan Maʽlul tanpa ʽlal adalah mustahil.

Keredhaan Allah (s.w.t) kepada manusia hanyalah kerana amalan yang dilaksanakan semata-mata. Individu yang tidak beramal tidak akan diredhai oleh Tuhan iaitu selama ia mengerjakan amalan, ia akan diredhai. Tetapi ketika seseorang individu melakukan dosa, maka keredhaan ke atasnya juga akan turut luput.

Dalil paling baik untuk perkara ini ialah ayat tentang perjanjian tersebut:

إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللَّهَ يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ فَمَن نَّكَثَ فَإِنَّمَا يَنكُثُ عَلىَ‏ نَفْسِهِ وَ مَنْ أَوْفىَ‏ بِمَا عَاهَدَ عَلَيْهُ اللَّهَ فَسَيُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا . الفتح / 10 .

Sesungguhnya orang-orang yang memberi pengakuan taat setia kepadamu (wahai Muhammad), mereka hanyasanya memberikan pengakuan taat setia kepada Allah; Allah mengawasi keadaan mereka memberikan taat setia itu (untuk membalasnya). Oleh itu, sesiapa yang tidak menyempurnakan janji setianya maka bahaya tidak menyempurnakan itu hanya menimpa dirinya; dan sesiapa yang menyempurnakan apa yang telah dijanjikannya kepada Allah, maka Allah akan memberi kepadanya pahala yang besar. – Surah Al-Fatḥ ayat 10.

Dalam ayat tersebut, Allah (s.w.t) secara jelas berfirman jikalau sesiapa yang mengingkari perjanjian dengan Allah (s.w.t), maka bahayanya adalah untuk diri sendiri. Allah akan memberikan ganjaran untuk orang yang tetap setia dengan perjanjian tersebut selama ia tidak berubah.

Oleh itu jelaslah ayat itu meliputi orang yang memberikan Baiʽat di hari tersebut sehingga ke akhir hayat selagi ia tetap berteguh dengan janji setianya. Katakanlah keredhaan ini adalah buat selama-lamanya, maka untuk apa Allah berfirman ” فَمَن نَّكَثَ فَإِنَّمَا يَنكُثُ “? Apakah firman ini sia-sia belaka?

Perkara ini juga banyak terdapat di dalam riyawat-riyawa seperti yang dinukilkan oleh Malik bin Anas di dalam Al-Muwaṭṭa’:

عَنْ أَبِي النَّضْرِ مَوْلَى عُمَرَ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ أَنَّهُ بَلَغَهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِشُهَدَاءِ أُحُدٍ هَؤُلَاءِ أَشْهَدُ عَلَيْهِمْ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ أَلَسْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ بِإِخْوَانِهِمْ أَسْلَمْنَا كَمَا أَسْلَمُوا وَجَاهَدْنَا كَمَا جَاهَدُوا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَلَى وَلَكِنْ لَا أَدْرِي مَا تُحْدِثُونَ بَعْدِي فَبَكَى أَبُو بَكْرٍ ثُمَّ بَكَى … .

Daripada Abi Nadr mawla Umar bin Ubaidillah bahawa Rasulullah (s.a.w) bersabda mengenai para Syuhada Uhud “Aku bersaksi untuk mereka”. Abu Bakar As-Ṣiddiq berkata “Wahai Rasulullah, Apakah kami bukan saudara-saudara mereka? Kami masuk Islam sebagaimana mereka masuk islam dan kami berjihad sebagaimana mereka berjihad”. Rasulullah (s.a.w) berkata “Ya, tapi Aku tidak tahu Apa yang akan kamu lakukan sepeninggalKu”. Abu Bakar menangis bersungguh-sungguh… – Hadis Dalam Al Muwatta Imam Malik Kitab Jihad Bab Para Syuhada di Jalan Allah hadis no 987

Hadis tersebut secara jelas menunjukkan akibat terhadap individu seperti Abu Bakar jikalau tidak taat dan beramal dengan syarat-syarat di dalam Bai’atnya di waktu akan datang, maka kemurkaan Allah akan menggantikan keredhaan-Nya.

Jawapan ke-empat: Sebahagian daripada sahabat yang menghadiri bai’at telah mengakui melanggar pembaiʽatan mereka seperti Barā’ bin ʽĀzib, Abū Saʽid Al-Khudrī dan ʽAisyah:

1) Barā’ bin ʽĀzib: Bukhārī di dalam Ṣaḥīḥnya menulis:

عَنْ الْعَلَاءِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ لَقِيتُ الْبَرَاءَ بْنَ عَازِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا فَقُلْتُ طُوبَى لَكَ صَحِبْتَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبَايَعْتَهُ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَقَالَ يَا ابْنَ أَخِي إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثْنَا بَعْدَهُ .
صحيح البخارى ، ج 5 ، ج65 ، ح 4170 كتاب المغازي باب غزوة الحديبية .

Daripada Al-ʽAlā’ bin Al-Musayyab, daripada ayahnya yang berkata: Aku bertemu dengan Al-Barā’ bin ʽĀzib RaḍiyaLlah ʽAnhumā dan berkata kepadanya:Bergembiralah engkau kerana bersama-sama Nabi dan memberi Baiʽat kepada baginda di bawah pohon. Maka beliau menjawab: Wahai anak saudaraku, sesungguhnya engkau tidak tahu bid’ah apa yang telah kami lakukan setelah kewafatan baginda.- Ṣaḥīḥ Al-Bukharī, jilid 5 halaman 65, hadis 4170

Barā’ bin ʽĀzib adalah salah seorang sahabat besar dan orang yang turut memberi Baiʽat di bawah pohon telah memberikan pengakuan bahawa beliau dan yang lainnya telah melakukan banyak bid’ah setelah kewafatan Rasulullah (s.a.w). Ini juga merupakan bukti yang jelas bahawa keredhaan Allah terhadap orang yang memberi Baiʽat di Hudaibiyah tidaklah kekal abadi selama-lamanya.

2) Pengakuan Abī Saʽid Al-Khudrī: Ibnu Ḥajar Al-ʽAsqalānī di dalam Al-Iṣābah menulis:

عن العلاء بن المسيب عن أبيه عن أبي سعيد قلنا له هنيئا لك برؤية رسول الله صلى الله عليه وسلم وصحبته قال إنك لا تدري ما أحدثنا بعده .
الإصابة ، ابن حجر ، ج 3 ، ص 67 و الكامل ، عبد الله بن عدي ، ج 3 ، ص 63 و … .

Daripada Al-ʽAlā’ bin Al-Muasayyab, daripada ayahnya, daripada Abī Saʽīd menukilkan bahawa: Kami berkata kepada Abū Saʽīd: Alangkah baiknya engkau, kerana melihat Rasulullah dan berbicara bersama baginda. Abū Saʽīd berkata: Sesungguhnya engkau tidak tahu Bid’ah apa yang telah kami lakukan setelah kewafatan baginda.

3) ʽAisyah:

Dhahabī di dalam Siyar Aʽlam Al-Nubalā’ menulis:

عن قيس ، قال : قالت عائشة… إني أحدثت بعد رسول الله صلى الله عليه وسلم حدثا ، ادفنوني مع أزواجه . فدفنت بالبقيع رضي الله عنها
سير أعلام النبلاء ، الذهبي ، ج 2 ، ص 193 و الطبقات الكبري ، محمد بن سعد ، ج 8 ، ص74 ، ترجمة عائشة ، والمصنّف ، ابن أبي شيبة الكوفي ، ج 8 ، ص708 و …

Daripada Qays yang berkata: ʽAisyah berkata… Sesungguhnya aku telah lakukan bid’ah setelah kewafatan Rasulullah (s.a.w) sebenar-benar bidʽah, pusarakan aku bersama isteri-isteri baginda. Maka beliau dimakamkan di Baqī’ RaḍiyaLlahu ʽAnha – Siyar Aʽlam Al-Nubalā’, Al-Dhahabī, jilid 2 halaman 193.

Ḥakim Nisyaburī juga menukilkan riwayat seperti ini dan berkata:

هذا حديث صحيح على شرط الشيخين ولم يخرجاه .
المستدرك على الصحيحين ، الحاكم ، ج 4 ، ص6 .

Hadis ini sahih atas syarat dua Shaykh (Bukhārī dan Muslim), mereka berdua tidak pernah mengeluarkannya. – Al-Mustadrak ʽAlā Al-Ṣaḥiḥayn jilid 4 halaman 6.

Dhahabī juga di dalam Talkhis Al-Mustadrak menegaskan pandangannya. Apakah dengan pengiktirafan para sahabat besar yang melakukan bid’ah setelah kewafatan baginda dapat dikatakan mendapat keredhaan Allah selama-lamanya?

Jawapan ke-lima: Sifat Allah teridir daripada Dhātī dan Fiʽlī. Sifat Dhātī adalah sifat Azālī dan Abadī, namun sifat Fiʽlī tidak seperti ini, bahkan tertakluk pada suatu zaman seperti yang dikatakan oleh Fakhrul Rāzī:

والفرق بين هذين النوعين من الصفات وجوه . أحدها : أن صفات الذات أزلية ، وصفات الفعل ليست كذلك . وثانيها : أن صفات الذات لا يمكن أن تصدق نقائضها في شيء من الأوقات ، وصفات الفعل ليست كذلك . وثالثها : أن صفات الفعل أمور نسبية يعتبر في تحققها صدور الآثار عن الفاعل ، وصفات الذات ليست كذلك .
تفسير الرازي ، الرازي ، ج 4 ، ص 75 .

Dan beza di antara kedua sifat Allah (Dhāt dan Fiʽl) ialah beberapa perkara: 1. Sifat Dhāt Azalī dan abadi, dan sifat Al-Fiʽl tidak seperti itu. 2. Sesungguhnya sifat Al-Dhāt tidak mungkin menepati pertentangannya terhadap sesuatu dalam waktu-waktu (contohnya jahil bertentnagan dengan ‘ālim); dan sifat Fiʽl tidak seperti itu. 3. Sesungguhnya sifat Fiʽl adalah perkara yang berhubung dengan kadangkala terjadi dengan kemunculan dalam suatu kesan daripada Fiʽl, namun sifat Dhāt tidak seperti ini (iaitu kekal abadi).

Oleh itu ketika Allah menyatakan keredhaan atau kemurkaan-Nya, ini bermakna pengurniaan pahala dan balasan. Oleh itu keredhaan dan kemurkaan Allah adalah sifat Fiʽl, bukan sifat Dhatī. Jikalau ianya dari sifat Fiʽl maka ia tidak akan berkekalan. Mengenai perkara ini Ibnu Ḥajar Al-‘Asqalānī berkata:

ومعنى قوله ولا يرضى أي لا يشكره لهم ولا يثيبهم عليه فعلى هذا فهي صفة فعل .
فتح الباري ، ابن حجر ، ج 11 ، ص 350 .

Makna kata-kata « ولا يرضي » ialah tidak menghargai perbuatan yang dilakukan sekarang dan tidak diberi ganjaran. Inilah dia sifat Fiʽl – Fathul Bārī, ibnu Ḥajar, jilid 11 halaman 350

.

Abi Sa’id al-Khudri berkata: “Pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, Rasulullah SAWW keluar rumah untuk menunaikan shalat Id. Usai shalat beliau berdiri menghadap para hadirin yang masih duduk di saf, kemudian berkhotbah yang penuh dengan nasehat dan perintah.”
.
Abu Sa’id melanjutkan: “Cara seperti ini dilanjutkan oleh para sahabatnya sampailah suatu hari ketika aku keluar untuk shalat Id (Idul Fitri atau Idul Adha) bersama Marwan, gubernur kota Madinah. Sesampainya di sana Marwan langsung naik ke atas mimbar yang dibuat oleh Katsir bin Shalt. Aku tarik bajunya. Tapi dia menolakku. Marwan kemudian memulai khotbah Id-nya sebelum shalat. Kukatakan padanya: “Demi Allah kalian telah rubah.” “Wahai Aba Sa’id” Tukas Marwan, “Telah sirna apa yang kau ketahui” Kukatakan padanya: “Demi Allah, apa yang kutahu adalah lebih baik dari apa yang tidak kuketahui.” Kemudian Marwan berkata lagi: “Orang-orang ini tidak akan mau duduk mendengar khotbah kami seusai shalat. Karena itu kulakukan khotbah sebelumnya.”[1]
.
Coba teliti gerangan apa yang menyebabkan sahabat seperti ini berani merubah Sunnah Nabi. Itu dikarenakan Bani Umaiyah (yang mayoritasnya adalah sahabat Nabi) terutama Muawiyah bin Abu Sufyan yang konon sebagai Penulis Wahyu, senantiasa memaksa kaum muslimin untuk mencaci dan melaknat Ali bin Abi Thalib dari atas mimbar- mimbar masjid. Muawiyah memerintahkan orang-orangnya di setiap negeri untuk menjadikan cacian dan laknat pada Ali sebagai suatu tradisi yang mesti dinyatakan oleh para khatib.
Ketika sejumlah sahabat protes atas ketetapan ini, Muawiyah tidak segan-segan
memerintahkan mereka dibunuh atau dibakar. Muawiyah telah membunuh sejumlah sahabat yang sangat terkenal seperti Hujur bin U’dai beserta para pengikutnya, dan sebagian lain dikuburkan hidup-hidup. “Kesalahan” mereka (dalam persepsi Muawiyah) semata-mata karena enggan mengutuk Ali dan bersikap protes atas dekrit Muawiyah
.
Abul A’la al-Maududi dalam kitabnya al-Khilafah Wal Muluk (Khilafah Dan Kerajaan) menukil dari Hasan al-Bashri yang berkata: “Ada empat hal dalam diri Muawiyah, yang apabila satu saja ada pada dirinya, itu sudah cukup sebagai alasan untuk mencelakakannya:
  1. Dia berkuasa tanpa melakukan sebarang musyawarah sementara sahabat-sahabat lain yang merupakan cahaya kemuliaan masih hidup.
  2. Dia melantik puteranya (Yazid) sebagai pemimpin setelahnya, padahal sang putera adalah seorang pemabuk dan pecandu minuman keras dan musikus.
  3. Dia menyatakan Ziyad (seorang anak zina) sebagai puteranya, padahal Nabi SAWW bersabda: “Anak adalah milik sang ayah, sementara yang melacur dikenakan sanksi rajam.
  4. Dia telah membunuh Hujur dan para pengikutnya. Karena itu maka celakalah dia lantaran (membunuh) Hujur; dan celakalah dia karena Hujur dan para pengikutnya.[2]
Sebagian sahabat yang mukmin lari dari masjid seusai shalat karena tidak mau mendengar khotbah yang berakhir pada kutukan terhadap Ali dan keluarganya. Itulah kenapa Bani Umaiyah merubah Sunnah Nabi ini dengan mendahulukan khotbah sebelum shalat agar yang hadir terpaksa mendengarnya
.
Nah, sahabat jenis apa yang berani merubah Sunnah Nabinya, bahkan hukum-hukum Allah sekalipun semata-mata demi meraih cita-citanya yang rendah dan ekspresi dari rasa dengki yang sudah terukir. Bagaimana mereka bisa melaknat seseorang yang telah Allah sucikan dari segala dosa dan nista dan diwajibkan oleh Allah untuk bersalawat kepadanya sebagaimana kepada Rasul-Nya.
Allah juga telah mewajibkan kepada semua manusia untuk mencintainya hingga Nabi SAWW bersabda: “Mencintai Ali adalah iman dan membencinya adalah nifak.“[3]
Namun sahabat-sahabat seperti ini telah merubahnya. Mereka berkata, kami telah dengar sabda-sabda Nabi tentang Ali, tetapi kami tidak mematuhinya. Seharusnya mereka bersalawat kepadanya, mencintainya dan taat patuh kepadanya; namun sebaliknya mereka telah mencaci dan melaknatnya sepanjang enam puluh tahun, seperti yang dicatat oleh sejarah
.
Apabila sahabat-sahabat Musa pernah sepakat mengancam nyawa Harun dan hampir-hampir membunuhnya, maka sebagian sahabat Muhammad SAWW telah membunuh “Harun-nya” (yakni Ali) dan mengejar-ngejar anak keturunannya serta para Syi’ahnya di setiap tempat dan ruang. Mereka telah hapuskan nama-nama dan bahkan melarang kaum muslimin menggunakan nama mereka
.
Tidak sekadar itu, hatta para sahabat besar dan agungpun mereka paksa untuk melakukan hal yang serupa. Demi Allah, sangat mengherankan ketika membaca buku-buku referensi kitab ahl-Sunnah yang memuat berbagai Hadits yang mewajibkan cinta pada Nabi dan saudaranya serta anak pamannya, yakni Ali bin Abi Thalib, dan sejumlah Hadits-Hadits lain yang mengutamakan Ali atas para sahabat yang lain
.
Sehingga Nabi SAWW bersabda:
“Engkau (hai Ali) di sisiku bagaikan kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tiada Nabi setelahku.”[4]
Atau sabdanya:
“Engkau dariku dan aku darimu”.[5]
.
Dan sabdanya lagi:
“Mencintai Ali adalah iman dan membencinya adalah nifak”.[6]
Sabdanya:
“Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah gerbangnya”.[7]
Dan sabdanya:
“Ali adalah wali (pemimpin) setiap mukmin setelahku.“[8]
.
Dan sabdanya:
“Siapa yang menjadikan aku sebagai maulanya (pemimpinnya) maka Ali adalah maulanya. Ya Allah, bantulah mereka yang mewila’nya dan musuhilah mereka yang memusuhinya.“[9]
Apabila kita ingin mencatat semua keutamaan Ali yang disabdakan oleh Nabi SAWW dan yang diriwayatkan oleh para ulama ahl-Sunnah dengan sanadnya yang shahih, maka ia pasti akan memerlukan suatu buku tersendiri. Bagaimana mungkin sejumlah sahabat seperti itu pura-pura tidak tahu akan Hadits ini, lalu mencacinya, memusuhinya, melaknatnya dari atas mimbar dan membunuh atau memerangi mereka?
.
Orang pertama yang pernah mengancam akan membakar rumahnya (Ali) beserta para penghuni yang ada di dalamnya adalah Umar bin Khattab; orang pertama yang memeranginya adalah Thalhah, Zubair, Ummul Mukminin Aisyah binti Abu Bakar, Muawiyah bin Abu Sufyan dan A’mr bin A’sh dan sebagainya.
Rasa terkejut dan kagetku bertambah dalam dan seakan tidak akan berakhir
.
Setiap orang yang berpikir rasional akan segera mendukung pendapatku ini. Bagaimana ulama-ulama Ahlu Sunnah sepakat mengatakan bahwa semua sahabat adalah adil sambil mengucapkan “Radhiallahu Anhum”, bahkan mengucapkan salawat untuk mereka tanpa kecuali
.
Sehingga ada yang berkata, “Laknatlah Yazid tapi jangan berlebihan“. Apa yang dapat kita bayangkan tentang Yazid yang telah melakukan tragedi yang sangat tragis ini, yang tidak dapat diterima bahkan oleh akal dan agama. Aku nyatakan kepada Ahlu Sunnah Wal Jamaah, jika mereka benar-benar mengikut Sunnah Nabi, agar meninjau hukum Al-Qur’an dan Sunnah Nabi secara cermat dan seadil-adilnya tentang kefasikan Yazid dan kekufurannya
.
Rasululah SAWW telah bersabda:
“Siapa yang mencaci Ali maka dia telah mencaciku; dan siapa yang mencaciku maka dia telah mencaci Allah; dan siapa yang mencaci Allah maka Aku akan menjatuhkannya ke dalam api neraka.“[10]
Demikian itu adalah sanksi bagi orang yang mencaci Ali. Maka bagaimana pula apabila ada orang yang melaknatnya dan memeranginya. Mana alim-ulama kita dari hakikat kebenaran ini? Apakah hati mereka telah tertutup rapat?
Anas bin Malik berkata:
“Tiada sesuatu yang kuketahui di zaman nabi lebih baik dari (hukum) shalat.” Kemudian dia bertanya: “Tidakkah kalian kehilangan sesuatu di dalam shalat?”
Az-Zuhri pernah bercerita:
“Suatu hari aku berjumpa dengan Anas bin Malik di Damsyik. Saat itu beliau sedang menangis. “Apa yang menyebabkan Anda menangis?”, tanyaku. “Aku telah lupa segala yang kuketahui melainkan shalat ini. Itupun telah kusia-siakan.” Jawab Anas.[11]
Agar jangan sampai terkeliru dengan mengatakan bahwa para Tabi’inlah yang merubah segala sesuatu setelah terjadinya sejumlah fitnah, perselisihan dan serta peperangan, ingin kunyatakan di sini bahwa orang pertama yang merubah Sunnah Rasul dalam hal shalat adalah khalifah muslimin yang ketiga, yakni Utsman bin Affan. Begitu juga Ummul Mukminin Aisyah. Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam kitabnya bahwa Rasulullah SAWW menunaikan shalat di Mina dua rakaat (qashar). Begitu juga Abu Bakar, Umar dan periode awal dari kekhalifahan Utsman. Setelah itu Utsman Shalat di sana (Mina) sebanyak empat rakaat.”[12]
.
Muslim juga meriwayatkan dalam kitab Shahihnya bahwa Zuhri berkata: “Suatu hari aku bertanya pada Urwah kenapa Aisyah shalat empat rakaat dalam perjalanan musafirnya?”
“Aisyah telah melakukan takwil sebagaimana Utsman”[13] jawabnya. Umar bin Khattab juga tidak jarang berijtihad dan bertakwil di hadapan nas-nas Nabi yang sangat jelas, bahkan dihadapan nas-nas Al-Qur’an, lalu kemudian menjatuhkan hukuman mengikut pendapatnya
.
Beliau pernah berkata: “Dua mut’ah yang dahulunya (halal) dan dilakukan di zaman Nabi, kini aku melarangnya dan mengenakan hukuman bagi orang yang melaksanakannya[14], (bertamattu’ dalam haji dan nikah mut’ah pent.) Beliau juga pernah berkata kepada orang yang junub tetapi tidak memperoleh air untuk mandi, “Jangan sembahyang”.
Walaupun ada firman Allah di dalam surah al-Maidah ayat 6: “… Lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang bersih”
.
Bukhari meriwayatkan dalam kitab Shahihnya pada Bab Idza Khofa al-Junub A’la Nafsihi (Apabila Orang Junub Takut Akan Dirinya) berikut: “Kudengar Syaqiq bin Salmah berkata, suatu hari aku hadir dalam majlis Abdillah dan Abu Musa. Abu Musa bertanya pada Abdillah bagaimana pendapatmu tentang orang yang junub kemudian tidak memperoleh air untuk mandi?” Abdillah menjawab, “dia tidak perlu shalat sampai ia temukan air.” Abu Musa bertanya lagi, “bagaimana pendapatmu tentang jawaban Nabi kepada Ammar dalam masalah yang sama ini?” Abdullah menjawab, “Umar tidak begitu yakin dengan itu.” Abu Musa melanjutkan, “lalu bagaimana dengan ayat ini, (al-Maidah: 6)?” Abdullah diam tidak menjawab. Kemudian dia berkata, “apabila kita izinkan mereka (melakukan tayammum), niscaya mereka akan bertayammum saja dan tidak akan menggunakan air apabila udaranya dirasakan dingin. ” Kukatakan pada Syaqiqbahwa Abdillah sebenarnya tidak suka lantaran ini semata-mata; dan Syaqiq pun mengiakan”
.
Kesaksian Sahabat atas Diri Mereka
Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah SAWW pernah bersabda kepada kaum Anshar: “Suatu hari kalian akan menyaksikan sifat tamak yang dahsyat sepeninggalku. Karena itu bersabarlah sehingga kalian menemui Allah dan Rasul-Nya di telaga haudh.” Anas berkata, “Kami tidak sabar.“[15]
.
Ala’ bin Musayyab dari ayahnya pernah berkata: “Aku berjumpa dengan Barra’ bin A’zib ra. Kukatakan padanya, “berbahagialah Anda karena dapat bersahabat dengan Nabi SAWW dan membai’atnya di bawah pohon (bai’ah tahta syajarah). Barra’ menjawab, “wahai putera saudaraku, engkau tidak tahu apa yang telah kami lakukan sepeninggalnya.”[16]
.
Jika sahabat utama yang tergolong di antara as-Sabiqin al-Awwalin dan pernah membai’at Nabi di bawah pohon, serta Allah rela kepada mereka dan Maha Tahu apa yang ada dalam hati mereka sehingga diberinya ganjaran yang besar; apabila sahabat-sahabat ini kemudian bersaksi bahwa dirinya dan para sahabat yang lain telah melakukan “sesuatu” sepeninggal Nabi, bukankah pengakuan mereka ini adalah bukti kebenaran yang disabdakan oleh Nabi SAWW bahwa sebagian dari sahabatnya akan berpaling darinya sepeninggalnya.
Apakah seseorang yang berpikir rasional akan tetap mengatakan bahwa semua sahabat adalah adil seperti yang diklaim oleh Ahlu Sunnah Wal Jama’ah. Mereka yang mengklaim seperti itu jelas telah menyalahi nas dan akal. Karena dengan demikian hilanglah segala kriteria intelektual yang sepatutnya dijadikan pegangan sebuah penelitian dan kajian.
—————————————
  1. Shahih Bukhari jil. 1 hal. 122.
  2. Al-Khilafah Wal Muluk Oleh al-Maududi hal. 106.
  3. Shahih Muslim jil. 2 hal. 61
  4. Shahih Bukhari jil. 2 hal. 305; Shahih Muslim jil. 2 hal. 366; Mustadrak al-Hakim jil. 3 hal. 109.
  5. Shahih Bukhari jil. 1 hal. 76; Shahih Turmidzi jil. 5 hal. 300; Shahih Ibnu Majahjil. 1 hal. 44
  6. Shahih Muslim jil. 1 hal. 61; Sunan an-Nasai jil. 6 hal. 177; Shahih Turmudzi jil. 8 hal. 306.
  7. Shahih Thurmudzi jil. 5 hal. 201; Mustadrak al-Hakim jil. 3 hal. 126.
  8. Musnad Ahmad Bin Hanbal jil. 5 hal. 25; Mustadrak al-Hakim jil. 3 hal. 134.
  9. Shahih Muslim jil.2 hal.362; Mustadrak al-Hakim jil. 3 hal. 109; Musnad Ahmad Bin Hanbal jil. 4 hal, 281.
  10. Mustadrak al-Hakim jil. 3 hal. 121; Khasais an-Nasai hal. 24; Musnad Ahmad Bin Hanbal jil. 6 hal. 33; Manaqib al-Khawarizmi hal. 81; ar-Riyadh an Nadhirah oleh Thabari jil. 2 hal. 219; Tarikh as-Suyuti hal. 73.
  11. Shahih Bukhari jil.l hal.74
  12. Shahih Bukhari jil. 2 hal. 154; Shahih Muslim jil. 1 hal. 260
  13. Shahih Muslim jil. 2 hal.134.
  14. Shahih Bukhari jil. 1 hal. 54
  15. Shahih Bukhari jil. 2 hal. 135
  16. Shahih Bukhari jil.3 hal. 32.

Pengumpulan Al-Quran

Telah jelas bahwa ketika Rasulullah Saw membacakan al-Qur’an untuk masyarakat ketika itu, sahabat-sahabat Nabi, yang bertugas mencatat Wahyu Ilahi pada waktu itu, juga menuliskan ayat-ayat al-Qur’an itu, namun pertanyaannya adalah kapankah terjadi pengumpulan al-Qur’an secara keseluruhan sehingga pengumpulan tersebut menghasilkan “al-Qur’an” yang ada pada zaman kita sekarang?

* * * * * * * * * * * *

Ada tiga pendapat yang menyatakan tentang bagaimana al-Qur’an dikumpulkan:

1. Al-Qur’an dikumpulkan semenjak pada zaman Rasulullah Saw dan dengan pengawasan secara langsung dari beliau meski bukan beliau sendiri yang menulis dan mengumpulkannya.[1]

2. Al-Qur’an yang ada pada zaman sekarang ini dikumpulkan oleh Imam Ali As dan pengumpulannya  beliau lakukan selepas Rasulullah Saw wafat dan melakukan hal ini ketika berdiam diri di rumah.[2]

3. Al-Qur’an dikumpulkan setelah wafatnya Rasulullah Saw oleh sebagian sahabat Nabi Saw.[3]

Mayoritas ulama Syiah menerima pendapat yang pertama, khususnya ulama-ulama kiwari yang meyakini bahwa al-Qur’an dikodifikasi pada masa Rasulullah Saw dan dilakukan di bawah pengawasan beliau.[4]

Sebagian lainnya menerima pandangan kedua dan memandang bahwa Imam Ali As yang mengkodifikasi al-Qur’an ini.[5]

Namun sebagian besar Ahli Sunah memilih pendapat ketiga. Kaum orientalis juga meyakini kebenaran akan pendapat belakangan ini, bahkan mereka menambahkan bahwa al-Qur’an yang dikumpulkan oleh Imam Ali As tidak mendapat perhatian dari para sahabat sendiri.

Sebagaimana yang telah  kita ketahui bersama bahwa sesuai dengan pendapat yang pertama dan kedua, pengumpulan al-Qur’an disandarkan kepada Allah Swt. Demikian pula dengan keberadaan surat-surat beserta urutannya yang juga merupakan Wahyu Allah Swt. Karena Rasulullah, sesuai dengan penjelasan al-Qur’an bahwa, “Dan dia tidak berbicara menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (Qs. al-Najm [53]: 2-3). Segala sesuatu yang disabdakan oleh Nabi Saw, khususnya dalam masalah keagamaan, mengikuti petunjuk wahyu, demikian pula para Imam, selepas wafatnya nabi, adalah penerus jalan risalah dan telah diangkat oleh Allah Swt dengan dibekali ilmu laduni.

Kelompok yang menerima pendapat ketiga, mereka bukan saja tidak akan dapat membuktikan bahwa kedua hal ini bersumber dari Tuhan dan memiliki corak Ilahiah; tentang kemunculan surat-surat dan urutannya yang ada di al-Qur’an, namun juga pada hakekatnya mereka mengingkari bahwa kedua hal ini bersumber dari Tuhan. Mereka berpandangan bahwa selera pribadi para sahabat turut andil dalam menentukan urusan ini.

Dalam pembahasan ini perlu diketahui bahwa:

1. Allamah Thabathaba’i berkata ketika menafsirkan ayat: Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (Qs. Hijr: 9) bahwa: Ciri-ciri khusus yang dimiliki oleh al-Qur’an, seperti kefasihan dan keindahan gaya bahasa, tidak adanya ikhtilaf antara satu ayat dengan ayat yang lainnya dan juga tidak adanya seorang pun yang bisa menandinginya, semuanya terdapat dalam al-Qur’an yang ada pada tangan kita sekarang. Oleh karena itu kita simpulkan bahwa al-Qur’an yang ada pada zaman sekarang ini, adalah al-Qur’an yang ada pada masa permulaan datangnya agama Islam juga dan yang telah pula dikenal  pada zaman Nabi Muhammad Saw sendiri.[6]

Walaupun penafsiran ini menafikan adanya distorsi (tahrif) terhadap Al Qur’an, namun tidak dapat menetapkan dan membuktikan bahwa kumpulan, bentuk dan coraknya adalah bersumber dari Tuhan; lantaran tipologi yang telah disebutkan tersebut, tidak sedimikian sehingga dapat membuktikan urutan kumpulan ayat-ayat yang merajut surah-surah, dan urutan surah-surah yang membentuk al-Qur’an yang ada tidak dapat digunakan sebagai dalil untuk menetapkan bahwa urutan keseluruhan ayat-ayat yang membentuk suatu surat, dan urutan kumpulan surat-surat yang membentuk al-Qur’an yang ada sebagaimana yang ada pada zaman Nabi Saw.

2. Apabila ada seorang yang mampu menetapkan dan membuktikan kemukjizatan bilangan di samping kosa-kata dan susunan Qur’ani pada domain surah-surah dan urutan-urutannya yaitu antara ayat-ayat yang terdapat pada satu surah dan dengan surah-surah itu sendiri terjalin hubungan bilangan khusus dimana hal tersebut mustahil bagi manusia maka corak Ilahiah surah-surah dan urutannya juga akan terbukti, namun demikian kembali corak Ilahiah urutan seluruh ayat-ayat yang terajut dalam sebuah surah tidak akan terbukti.[7]

Untuk memahami lebih detail tentang pembahasan ini,  silahkan Anda merujuk: Mahdi Hadavi Tehrani, Mabâni Kalâmi Ijtihâd.


[1] Sayid Abdul Wahab Thaliqani, ‘Ulumul Qur’ân, Hal. 83.

[2] Sayid Muhammad Ridha Jalali Naini, Târikh Jam’ Qur’ân Karim, Hal. 87.

[3]  Pendapat ini banyak diterima oleh kebanyakan Ahlus Sunah, Idem , Hal. 19-51.

[4] Sayid Abdul Wahab Thaliqani, ‘Ulumul Qur’an, Hal. 83; Sayid Ali Milani, al-Tahqiq fii Nafii al-Tahrif ‘an al-Qur’an al-Syarif, hal. 41-42, dan hal. 46, Muhammad Hadi Ma’rifat, Shiyanat al-Qur’an min al-Tahrif, hal. 34.

[5] Sayid Muhammad  Ridha Jalali Naini, Târikh Jam’ Qur’ân Karîm, Hal. 80.

[6] Allamah Thaba-thabai, al-Mizan, jil. 12, Hal. 104, 106 dan 138.

[7] Mahdi Hadavi Tehrani, Mabâni Kalâmi Ijtihâd, Hal. 54-55, Muasasah Farhange Khaneh Khurd, Qum, Cetakan pertama, 1377.

Apakah Penghimpunan Al-Qur’an dalam Bentuk Kitab Dilakukan pada Masa Nabi saw atau Pasca Beliau?

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa nama surat pertama Al-Qur’an adalah Fâtihatul Kitâb. Fâtihatul Kitâb berarti pendahuluan kitab. Dan suatu hadis yang dinukil dari Nabi saw. menyatakan bahwa pada masa beliau, surat ini juga dikenal dengan nama ini.

Dari sini, titik terang pada satu masalah penting dalam Islam ini menjadi tampak. Masalah tersebut adalah —berbeda dengan pendapat yang telah popular bahwa Al-Qur’an pada masa Nabi saw. hanya berbentuk lembaran yang terpisah-pisah, kemudian baru dikumpulkan pada masa Abu Bakar, Umar, atau Utsman— bahwa Al-Qur’an pada masa Nabi saw. sendiri telah terkumpul sesuai dengan bentuknya hari ini, dan surat pertamanya adalah surat Al-Hamd. Jika tidak demikain, surat ini bukan sebagai surat pertama yang turun kepada Nabi saw. dan juga tidak ada dalil lain untuk menamakan surat ini dengan nama Fâtihatul Kitâb.

Bukti-bukti lain yang banyak juga menegaskan bahwa Al-Qur’an dalam bentuk kumpulan yang kini berada di tangan kita telah dikumpulkan pada masa Nabi saw. atas perintah beliau.

Ali bin Ibrahim menukil dari Imam Ash-Shadiq as bahwa Rasulullah saw bersabda kepada Ali as, “Wahai Ali! Kumpulkanlah Al-Qur’an yang berada pada potongan-potongan sutra, kertas, dan semisalnya yang terpisah-terpisah itu.” Imam Ash-Shadiq as menambahkan, “Ali as pergi dari majelis tersebut dan mengumpulkan Al-Qur’an di dalam potongan kain berwarna kuning, lalu menorehkan stempel di atasnya.”[1]

Bukti yang lain adalah Kharazmi, seorang ulama besar Ahli Sunnah, dalam buku Al-Manâqib menukil dari Ali bin Riyah bahwa Ali bin Thalib dan Ubay bin Ka’b mengumpulkan Al-Qur’an pada masa Nabi saw.

Bukti ketiga adalah pernyataan Al-Hakim, seorang penulis kenamaan Ahli Sunnah dalam kitab Al-Mustadrak. Ia menukil ucapan Zaid bin Tsabit, “Kami berada di hadirat Nabi saw. Kami mengumpulkan Al-Qur’an dari potongan-potongan terpisah. Dan masing-masing dikumpulkan sesuai dengan bimbingan Nabi saw. Kami meletakkan pada tempatnya masing-masing. Akan tetapi, dengan tulisan yang terpisah-pisah ini, Nabi saw. memerintahkan Ali untuk mengumpulkannya pada satu tempat. Kami mendapatkan peringatan keras dari Nabi untuk tidak memperlakukannya dengan buruk.”

Sayid Murtadha, ulama besar Syi’ah berkata, “Al-Qur’an dikumpulkan pada masa Rasulullah saw. sebagaimana bentuknya pada hari ini”.[2]

Thabarani dan Ibnu ‘Asakir menukil dari Syi’ah bahwa enam orang dari Anshar mengumpulkan Al-Qur’an pada masa Nabi saw.[3] Qatadah bercerita, “Aku pernah bertanya kepada Anas, ‘Siapakah yang mengumpulkan Al-Qur’an pada masa Nabi saw?’ Ia menjawab, ‘Empat orang dan mereka semua berasal dari Anshar: Ubay bin Ka’b, Muadz, Zaid bin Tsabit, dan Abu Zaid.’”[4] Masih lagi riwayat yang lain. Jika kita menukilnya di sini, pembahasan kita akan melebar.

Lebih dari itu, selain hadis-hadis yang terdapat di dalam buku-buku referensi Ahli Sunnah dan Syi’ah, pemilihan nama Fâtihatul Kitâb untuk surat Al-Hamd —sebagaimana yang telah kami singgung di atas— merupakan saksi hidup untuk membuktikan hal ini.

Pertanyaan

Pertanyaan yang muncul  di sini ialah bagaimana pendapat ini dapat dipercaya, sementara di kalangan sekelompok ulama terkenal tersebar pendapat yang menyatakan bahwa Al-Qur’an dikumpulkan pasca wafatnya Rasulullah saw (melalui Ali as atau orang lain)?

Untuk menjawab pertanyaan ini, harus dijelaskan bahwa Al-Qur’an yang dikumpulkan oleh Ali as bukan Al-Qur’an itu sendiri. Akan tetapi, kumpulan dari Al-Qur’an, tafsir, dan asbâbun nuzul ayat-ayatnya.

Tentang Al-Qur’an yang dikumpulkan oleh Utsman, hal itu hanyalah sebuah perintah darinya untuk menyatukan penulisan Al-Qur’an disertai dengan bacaan dan harakat demi menghindari perbedaan antarbacaan (qirâ’ah).

Akan tetapi, desakan sekelompok orang bahwa Al-Qur’an tidak dikumpulkan pada masa Nabi saw dan kebanggaan ini sudah menjadi hak Utsman atau khalifah pertama, barangkali hanya bertujuan menciptakan keutamaan semata baginya. Oleh karena itu, setiap bentuk keutamaan ini dinisbahkan kepada orang yang dinukilkan dalam riwayat tersebut.

Pada dasarnya, bagaimana mungkin dapat dipercaya Nabi saw menyepelekan pekerjaan teramat penting ini? Padahal, beliau sangat menaruh perhatian, bahkan terhadap pekerjaan-pekerjaan kecil sekalipun. Bukankah Al-Qur’an ini merupakan undang-undang dasar umat Islam, kitab agung pendidikan dan pengajaran, pondasi seluruh program-program Islam dan akidahnya? Apakah tidak dikumpulkannya Al-Qur’an pada masa Nabi saw tidak mengandung resiko penyepelean terhadap sebagian Al-Qur’an dan atau munculnya perbedaan di kalangan muslimin?

Di samping itu, hadis masyhur “Tsaqalain”  yang dinukil oleh Ahli Sunnah dan Syi’ah bahwa Nabi saw bersabda, “Telah aku tinggalkan dua pusaka berharga di antara Kamu: Kitab Allah dan ‘Itrahku”, menunjukkan bahwa Al-Qur’an merupakan sebuah kitab yang telah dikumpulkan.

Apabila kita meneliti riwayat-riwayat yang menceritakan pengumpulan Al-Qur’an oleh beberapa sahabat di bawah pengawasan Nabi saw dengan jumlah pengumpul yang berbeda-beda, tentu hal itu tidak akan menimbulkan polemik. Barangkali setiap riwayat tersebut memperkenalkan beberapa orang dari para pengumpul tersebut.[5]



[1] Redaksi asli riwayat ini adalah “Wantalaq ‘Ali as fa jama’ahu fî tsubûtin ashfar tsumma khatama ‘alaih”. Lihat  Târikh Al-Qur’ân Abu ‘Abdillâh Zanjâni, hal. 24.

[2] Majma’ al-Bayân,jilid 1, hal. 15.

[3] Muntakhab Kanz al-‘Ummâl,jilid 2, hal. 52.

[4] Shahîh Bukhâri, jilid6, hal. 102.

[5] Tafsir Nemûneh,jilid1, hal. 8.

HADITS KHULAFA`UR RASYIDIN ANTARA AHLUS SUNNAH DAN SYIAH

inti pembahasan :

- khulafaurrasyidin adalah 12 imam ahlulbait, bukan Abubakar – Umar – USman

- Agama telah sempurna, jadi khulafaurrasyidin HARAM membuat buat sunnah baru

hadis “Berpeganglah kamu sekalian dengan sunnahku dan sunnah para Khulafa’ Rasyidin setelahku” adalah hadis PALSU yang bisa menjerumuskan seseorang kedalam bid’ah !!!

.

kalau hadis tersebut di artikan memberi kewenangan kepada 4 khalifah untuk membuat hukum baru ( sunnah khulafa rasyidin), maka jelas bertentangan dengan QS. AN Nisa’ ayat 59..

Pada QS. An Nisa’ ayat 59 jelas bahwa setiap ada perselisihan antara kaum mukminin maka harus dikembalikan kepada Allah ( Al-Quran ) dan Rasul-Nya ( Sunnah Rasul ). Artinya hanya Allah dan Rasul-Nya yang berhak membuat hukum. Sementara Ulil Amri bukan pembuat hukum tetapi hanya sebagai PELAKSANA hukum. Kalau memang Ulil Amri punya hak untuk membuat hukum pasti ayatnya berbunyi “…kembalikanlah kepada Allah, Rasul-Nya dan Ulil Amri”


Hadits “Kamu Harus Berpegang Teguh Kepada Sunahku Dan Sunah Para Khulafa` RasyidinMerupakan Kebohongan Yang Nyata”  Orang yang melihat hadis ini untuk pertama kali dia akan mengira hadis ini merupakan hujjah yang kokoh dan petunjuk yang jelas akan kewajiban mengikuti mazhab para Khulafa` Rasyidin. Yaitu Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan , dan tidak mungkin membawanya ke arti lain, kecuali dengan melakukan takwil yang didasari ta’assub

.

WAFATNYA Rasulullah saw membuat sebagian umat Islam goyah iman dan pudar ketaatan. Meskipun sudah disebutkan di Ghadir Khum bahwa yang berhak menjadi pemimpin Islam setelah Rasulullah saw adalah Ali bin Abi Thalib, tetap menyelenggarakan pemilihan khalifah di Saqifah.

Mereka lupa bahwa Rasulullah saw sendiri dalam hadis-hadis telah menyebutkan dua belas khalifah yang berhak memimpin dan membimbing umat Islam. Misalnya riwayat Said bin Jubair dari Ibnu Abbas berkata bahwa Rasulullah sawbersabda,“Sesungguhnya khalifah-khalifahku dan wasi-wasiku, hujah-hujah Allah di atas makhluk-Nya selepasku ialah dua belas orang; yang pertama Ali dan yang akhirnya cicitku Al-Mahdi; maka itulah Isa putra Maryam shalat di belakang Al-Mahdi.”

Bahkan, dalam hadis yang dikeluarkan Abu Al-Mu’ayyid Ibn Ahmad Al-Khawarizmi dengan sanad dari Abu Sulaiman secara rinci disebutkan nama-namanya: Ali, Fathimah, Hasan, Husain, Ali bin Husain, Muhammad bin Ali, Ja’far bin Muhammad, Musa bin Ja’far, Ali bin Musa, Muhammad bin Ali, Ali bin Muhammad, Hasan bin Ali, dan Muhammad Al-Mahdi bin Hasan.

Muslim dalam kitab Shahih Muslimmeriwayatkan dari Jabir bin Samurah bahwa, “Aku bersama bapakku berjumpa Nabi Muhammad saw. Maka aku mendengar Nabi saw bersabda, “Urusan ini tidak akan selesai sehingga berlaku pada mereka dua belas khalifah.” Dia berkata: kemudian beliau berbicara dengan perlahan kepadaku. Akupun bertanya kepada ayahku, apakah yang diucapkan oleh beliau? Dia menjawab, “Semuanya dari Quraisy.”

Dalam bagian kitab fadhl ahlulbait, Muslim menyebut dua belas orang dari kalangan Bani Hasyim. Juga Bukhari dalam Shahih Bukhari bagian kitab al-ahkam meriwayatkandari Jabir bin Samurah bahwa Nabi Muhammad saw bersabda, “Selepasku adalah dua belas amir (pemimpin).”Bukhari menyebutkannya dengan tiga riwayat dan Muslim sembilan riwayat serta Abu Daud tiga riwayat. Sedangkan Al-Turmudzi satu riwayat dan Al-Humaidi tiga riwayat.

Al-Qunduzi al-Hanafi dalam Yanabi’ al-Mawaddah bab 95meriwayatkan bahwa Jabir bin ‘Abdullah berkata, Rasulullah saw bersabda, “Wahai Jabir! Sesungguhnya para wasiku dan para imam selepasku pertamanya Ali kemudian Hasan kemudian Husain kemudian Ali bin Husain kemudian Muhammad bin Ali Al-Baqir. Anda akan menemuinya wahai Jabir sekiranya Anda mendapatinya; maka sampailah salamku kepadanya. Kemudian Ja’far bin Muhammad, kemudian Musa bin Ja’far, kemudian Ali bin Musa, kemudian Muhammad bin Ali, kemudian Ali bin Muhammad, kemudian Hasan bin Ali. Kemudian Al-Qa’im, namanya sama dengan namaku dan kunyahnya sama dengan kunyahku, anak Hasan bin Ali. Dengan beliaulah Allah akan ‘membuka’ seluruh pelosok bumi di Timur dan di Barat, dialah yang ghaib dari penglihatan. Tidak akan percaya kepada imamahnya melainkan orang yang telah diuji hatinya oleh Allah Swt.” Kemudian Jabir berkata,“Wahai Rasulullah.apakah orang-orang bisa mengambil manfaat darinya ketika ghaibnya?” Beliau menjawab,“Ya! Demi yang mengutuskan aku dengan kenabian sesungguhnya mereka mengambil cahaya daripada wilayahnya ketika ghaibnya, seperti orang mengambil faedah dari matahari sekalipun ianya ditutupi awan.”

Para muhadis dan perawi yang disebutkan tersebut orang-orang ternama dan banyak dirujuk oleh ulama-ulama. Karena itu, kebenarannya layak untuk dipegang sebelum benar-benar dipastikan terdapat kekeliruan. Sudah banyak kajian hadis dan sejarah yang membuktikan kebenaran dari riwayat-riwayat tentang adanya khalifah-khalifah Islam setelah Rasulullah saw. Namun, untuk umat Islam Indonesia kajian berkaitan dengan hadis atau riwayat tersebut belum banyak diketahui sehingga tidak jarang ada orang yang berani menolaknya.

.

Dari sini tampak sekali kehebatan tipuan dan kelihaian para pemalsu. Di dalamnya mereka menetapkan kebenaran mazhab Ahlus Sunnah —madrasah Khulafa` Rasyidin— dihadapan madzhab Syi’ah —madrasah Ahlul Bait. Dari sini kita dapat menjelaskan bahwa pertumbuhan madrasah-madrasah pemikiran Ahlus Sunnah adalah di dalam rangka menentang mazhab Ahlul Bait. Karena madrasah-madrasah tersebut berdiri di atas dasar hadis ini dan hadis-hadis lain yang sepertinya.  Namun, dengan menggunakan pandangan ilmiah dan dengan sedikit bersusah payah di dalam meneliti kenyataan sejarah dan hal-hal yang melingkupi hadis ini dan hadis-hadis lain yang sepertinya, atau dengan melihat ke dalam ilmu hadis dan ilmu al-Jarh wa at-Ta’dil, niscaya akan tampak dengan jelas kebohongan hadis ini

.

Sesungguhnya kesulitan pertama yang dihadapi hadis “Kamu harus berpegang teguh kepada sunahku dan sunah para Khulafa` Rasyidin …” ialah Bukhari Muslim membuangnya dan tidak meriwayatkannya. Dan ini berarti kekurangan di dalam derajat kesahihannya. Karena sesahih-sahihnya hadis adalah hadis-hadis yang diriwayatkan oleh dua orang Syeikh, yaitu Bukhari dan Muslim. Kemudian yang diriwayatkan oleh Bukhari saja. Lalu yang diriwayatkan oleh Muslim saja. Kemudian yang memenuhi syarat keduanya. Kemudian yang memenuhi syarat Bukhari saja. Dan kemudian yang memenuhi syarat Muslim saja. Keutamaan-keutaman ini tidak terdapat di dalam hadis di atas.  Hadis di atas terdapat di dalam Sunan Abu Dawud, Sunan Turmudzi dan Sunan ibnu Majah

.

Para perawi hadis ini seluruhnya tidak lolos dari kelemahan dan tuduhan dalam pandangan para ulama ilmu al-Jarh wa at-Ta’dil. Orang yang meneliti biografi mereka dapat melihat hal ini dengan jelas. Pada kesempatan ini saya tidak bisa mendiskusikan seluruh para perawi hadis ini seorang demi seorang, dengan berbagai macam jalannya, dan dengan menukil pandangan para ulama ilmu al-Jarh wa at-ta’dil tentang mereka. Melainkan saya akan mencukupkan dengan hanya mendhaifkan seorang atau dua orang perawi dari musnad setiap riwayat. Itu sudah cukup digunakan untuk mendhaifkan riwayat tersebut, sebagaimana yang disepakati oleh para ulama ilmu al-Jarh wa at-Ta’dil. Karena, bisa saja perawi yang dhaif ini sendiri yang telah membuat riwayat ini

.

Turmudzi telah meriwayatkan hadis ini dari Baqiyah bin Walid. Dan, inilah pandangan para ulama ilmu al-Jarh wa at-Ta’dil tentang Baqiyah bin Walid: Ibnu Jauzi berkata tentangnya di dalam sebuah perkataan, “Sungguh kami ingat bahwa Baqiyah telah meriwayatkan dari orang-orang yang majhul dan orang-orang lemah. Mungkin saja dia tidak menyebutkan mereka dan tidak menyebutkan orang-orang yang meriwayatkan baginya.”

.

Ibnu Hiban berkata, “Tidak bisa berhujjah dengan Bughyah.” Ibnu Hiban juga berkata, “Baqiyah seorang penipu. Dia meriwayatkan dari orang-orang yang lemah, dan para sahabatnya tidak meluruskan perkataannya dan membuang orang-orang yang lemah dari mereka.”  Abu Ishaq al-Jaujazani berkata, “Semoga Allah merahmati Bughyah, dia tidak peduli jika dia menemukan khurafat pada orang tempat dia mengambil hadis.” Dan ucapan-ucapan lainnya dari para huffadz dan ulama ilmu al-Jarh wa at-Ta’dil. Dan apa yang telah kita sebutkan itu sudah cukup.

.

Walid bin Muslim meriwayatkan hadis dari Tsaur an-Nashibi. Sebagaimana kata Ibnu Hajar al-’Asqolani, “Kakeknya telah terbunuh pada hari Muawiyah terserang penyakit sampar. Adapun Tsaur, jika nama Ali disebut dihadapannya dia mengatakan, “Saya tidak menyukai laki-laki yang telah membunuh kakek saya.” Adapun berkenaan dengan Walid, adz-Dzahabi berkata, “Abu Mushir mengatakan Abu Walid seorang penipu, dan mungkin dia telah menyembunyikan cacat para pendusta.”  Abdullah bin Ahmad bin Hambal berkata “Ayah saya ditanya tentangnya (tentang Walid), dia menjawab, ‘Dia seorang yang suka mengangkat-angkat.” Dan begitu juga perkataan-perkataan yang lainnya. Itu sudah cukup untuk mendhaifkan riwayatnya

Di samping itu, hadis tersebut sebagai hadis ahad. Seluruh riwayatnya kembali kepada seorang sahabat, Urbadh bin Sariyah. Hadis ahad tidak bisa digunakan sebagai hujjah, disamping Urbadh termasuk pengikut dan agen Muawiyah.

.

PEMBUAT BID’AH MEMANDANG AGAMA TIDAK LENGKAP DAN BERTUJUAN MELENGKAPINYA

CONTOH PERBUATAN BID’AH :

a. Apa yang dilakukan oleh Sayyidina Umar ibn Khattab ketika mengumpulkan semua umat Islam untuk mendirikan shalat tarawih berjamaah. Tatkala Sayyidina Umar melihat orang-orang itu berkumpul untuk shalat tarawih berjamaah, dia berkata: “Sebaik-baik bid’ah adalah ini”.

Sayyidina Umar Ibnul Khattab, setelah mengadakan shalat Tarawih berjama’ah dengan dua puluh raka’at yang diimami oleh sahabat Ubai bin Ka’ab beliau berkata :

نِعْمَتِ اْلبِدْعَةُ هذِهِ
“Sebagus bid’ah itu ialah ini”.

b. Sayyidina Utsman ibn Affan menambah adzan untuk hari Jumat menjadi dua kali. Imam Bukhari meriwatkan kisah tersebut dalam kitab Shahih-­nya bahwa penambahan adzan tersebut karena umat Islam semakin banyak. Selain itu, Sayyidina Utsman juga memerintahkan untuk mengumandangkan iqamat di atas az-Zawra’, yaitu sebuah bangunan yang berada di pasar Madinah.

c.Abu Bakar, Umar dan Usman Melarang Haji Tamattu’

Sebelumnya mohon maaf jika tulisan ini akan mengundang rasa tidak enak di kalangan sebagian kaum muslimin. Adalah hak siapapun untuk mencintai dan mengutamakan tokoh-tokoh tertentu apalagi para Sahabat Nabi. Mereka para sahabat Nabi SAW adalah pribadi-pribadi yang memiliki keutamaan yang tinggi. Walaupun begitu sudah jelas Tidak setiap apapun yang dilakukan oleh para Sahabat Nabi itu selalu benar. Mereka terkadang berijtihad dalam menghadapi suatu masalah.

Sayangnya adalah sudah jelas bahwa ketika suatu nash telah ditetapkan maka tidak ada lagi tempat untuk berijtihad. Sejarah mencatat ternyata ada di antara mereka para sahabat Nabi SAW yang telah benar-benar menyalahi nash yang ditetapkan oleh Rasulullah SAW. Kali ini dipaparkan perselisihan berkenaan dengan Haji Tamattu’. Dalam hal ini ketiga sahabat Nabi yaitu Abu Bakar RA, Umar RA dan Usman RA diriwayatkan telah melarang haji tamattu’ yang justru dihalalkan oleh Rasulullah SAW.

ثنا حجاج ثنا شريك عن الأعمش عن الفضيل بن عمرو قال أراه عن سعيد بن جبير عن بن عباس قال تمتع النبي صلى الله عليه و سلم فقال عروة بن الزبير نهى أبو بكر وعمر عن المتعة فقال بن عباس ما يقول عرية قال يقول نهى أبو بكر وعمر عن المتعة فقال بن عباس أراهم سيهلكون أقول قال النبي صلى الله عليه و سلم ويقول نهى أبو بكر وعمر  

Hajjaj menceritakan kepada kami, Syarik menceritakan kepada kami dari Al A’masy dari Al Fudhail bin Amr ia berkata tampaknya dari Said bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata ”Nabi SAW bertamattu’ ”. Lalu Urwah bin Zubair berkata ”Abu Bakar dan Umar telah melarang tamattu’! ”. Maka Ibnu Abbas berkata ”Apa yang dikatakan Urayyah?”. Ia menjawab ”Ia berkata Abu Bakar dan Umar telah melarang tamattu’ ”. Ibnu Abbas berkata ”Tampaknya mereka akan binasa! Aku katakan ’Nabi SAW bersabda’, ia justru berkata ’Abu Bakar dan Umar melarang’ ”. (Hadis riwayat Ahmad dalam Musnad Ahmad hadis no 3121, Syaikh Ahmad Syakir berkata tentang hadis ini “Sanadnya Shahih”)

 

عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ قَالَ اخْتَلَفَ عَلِيٌّ وَعُثْمَانُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا وَهُمَا بِعُسْفَانَ فِي الْمُتْعَةِ فَقَالَ عَلِيٌّ مَا تُرِيدُ إِلَّا أَنْ تَنْهَى عَنْ أَمْرٍ فَعَلَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا رَأَى ذَلِكَ عَلِيٌّ أَهَلَّ بِهِمَا جَمِيعًا

Dari Said bin Al Musayyab yang berkata “ Ali dan Usman berselisih paham tentang haji tamattu’ di tempat yang bernama Usfan. Ali berkata kepada Usman “Engkau tidak menginginkan kecuali melarang perkara yang pernah dilakukan Nabi SAW”. Maka ketika Ali tetap pada pendiriannya, Beliau menunaikan haji dan umrah sekaligus’. (Shahih Bukhari Kitab Al Hajj Bab Tamattu’, Iqran dan Ifrad hadis no 1569)

حدثني يحيى عن مالك عن بن شهاب عن محمد بن عبد الله بن الحارث بن نوفل بن عبد المطلب انه حدثه انه سمع سعد بن أبي وقاص والضحاك بن قيس عام حج معاوية بن أبي سفيان وهما يذكران التمتع بالعمرة إلى الحج فقال الضحاك بن قيس

لا يفعل ذلك الا من جهل أمر الله عز و جل فقال سعد بئس ما قلت يا بن أخي فقال الضحاك فإن عمر بن الخطاب قد نهى عن ذلك فقال سعد قد صنعها رسول الله صلى الله عليه و سلم وصنعناها معه  

Yahya menyampaikan kepadaku (hadis) dari Malik dari Ibnu Shihab bahwa Muhammad bin Abdullah bin Al Harits bin Nawfal bin Abdul Muttalib memberitahukan kepadanya bahwa pada tahun ketika Muawiyah bin Abi Sufyan pergi haji, ia mendengar Sa’ad bin Abi Waqqash dan Dhahhak bin Qais mendiskusikan tamattu’ di antara umra dan haji. Dhahhak bin Qais berkata “Hanya seseorang yang tidak memperdulikan Allah SWT yang akan melakukan hal itu”. Sedangkan Sa’ad berkata “Betapa salahnya apa yang telah engkau katakan, wahai anak sudaraku”. Dhahhak berkata “Umar bin Khattab melarang hal itu”, dan Sa’ad berkata “Rasulullah SAW melakukannya dan kami melakukan itu dengannya”. (Hadis dalam Al Muwatta Imam Malik bin Anas, Kitab Haji Bab Haji Tamattu’ hadis no 763)

.

Semua riwayat di atas dengan jelas menyatakan bahwa Abu Bakar, Umar dan Usman telah melarang haji tamattu’ yang justru telah dihalalkan oleh Rasulullah SAW. Dalam hal ini sudah jelas Rasulullah SAW lebih layak dijadikan pegangan sebagaimana yang dinyatakan Imam Ali dan para sahabat lainnya.

Walaupun begitu timbul pertanyaan Mengapa ketiga sahabat tersebut melarang sesuatu yang justru merupakan Sunnah Rasulullah SAW? Adakah mereka bertiga tidak mengetahuinya? Bukankah melarang Sunah Rasulullah SAW adalah suatu bid’ah, atau itu sebenarnya bukan bid’ah? Adakah itu adalah Ijtihad mereka demi maslahat tertentu?. Pertanyaan usil yang akan membuat sebagian orang mendelik sambil berkata “Jangan mencaci sahabat Rasul”.

Aduhai wahai engkau, tidakkah dikau melihat tidak ada cacian disini karena yang ada hanyalah sebuah paparan. Mungkin bagimu kecintaan kepada sahabat Nabi telah menjadi dogma yang berubah rasanya “bahwa Sahabat tidak patut dikritik dan mereka selalu benar”. Tetapi bagi sebagian yang lain “Rasulullah SAW selalu jadi yang utama”

Ok deh mari kita lepaskan semua atribut yang tidak jelas. Saya cuma bingung saja setelah membaca hadis ini. Kira-kira penjelasan apa yang paling tepat dalam menjelaskan hadis di atas. Ketiga sahabat tersebut tentunya adalah sahabat Nabi SAW yang saya yakin akan berusaha mengamalkan Sunnah Rasulullah SAW. Atau mungkin hadis ini patut dipertanyakan kebenarannya? tapi bagaimana ya

Pengumpulan Al-Quran

Telah jelas bahwa ketika Rasulullah Saw membacakan al-Qur’an untuk masyarakat ketika itu, sahabat-sahabat Nabi, yang bertugas mencatat Wahyu Ilahi pada waktu itu, juga menuliskan ayat-ayat al-Qur’an itu, namun pertanyaannya adalah kapankah terjadi pengumpulan al-Qur’an secara keseluruhan sehingga pengumpulan tersebut menghasilkan “al-Qur’an” yang ada pada zaman kita sekarang?

* * * * * * * * * * * *

Ada tiga pendapat yang menyatakan tentang bagaimana al-Qur’an dikumpulkan:

1. Al-Qur’an dikumpulkan semenjak pada zaman Rasulullah Saw dan dengan pengawasan secara langsung dari beliau meski bukan beliau sendiri yang menulis dan mengumpulkannya.[1]

2. Al-Qur’an yang ada pada zaman sekarang ini dikumpulkan oleh Imam Ali As dan pengumpulannya  beliau lakukan selepas Rasulullah Saw wafat dan melakukan hal ini ketika berdiam diri di rumah.[2]

3. Al-Qur’an dikumpulkan setelah wafatnya Rasulullah Saw oleh sebagian sahabat Nabi Saw.[3]

Mayoritas ulama Syiah menerima pendapat yang pertama, khususnya ulama-ulama kiwari yang meyakini bahwa al-Qur’an dikodifikasi pada masa Rasulullah Saw dan dilakukan di bawah pengawasan beliau.[4]

Sebagian lainnya menerima pandangan kedua dan memandang bahwa Imam Ali As yang mengkodifikasi al-Qur’an ini.[5]

Namun sebagian besar Ahli Sunah memilih pendapat ketiga. Kaum orientalis juga meyakini kebenaran akan pendapat belakangan ini, bahkan mereka menambahkan bahwa al-Qur’an yang dikumpulkan oleh Imam Ali As tidak mendapat perhatian dari para sahabat sendiri.

Sebagaimana yang telah  kita ketahui bersama bahwa sesuai dengan pendapat yang pertama dan kedua, pengumpulan al-Qur’an disandarkan kepada Allah Swt. Demikian pula dengan keberadaan surat-surat beserta urutannya yang juga merupakan Wahyu Allah Swt. Karena Rasulullah, sesuai dengan penjelasan al-Qur’an bahwa, “Dan dia tidak berbicara menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (Qs. al-Najm [53]: 2-3). Segala sesuatu yang disabdakan oleh Nabi Saw, khususnya dalam masalah keagamaan, mengikuti petunjuk wahyu, demikian pula para Imam, selepas wafatnya nabi, adalah penerus jalan risalah dan telah diangkat oleh Allah Swt dengan dibekali ilmu laduni.

Kelompok yang menerima pendapat ketiga, mereka bukan saja tidak akan dapat membuktikan bahwa kedua hal ini bersumber dari Tuhan dan memiliki corak Ilahiah; tentang kemunculan surat-surat dan urutannya yang ada di al-Qur’an, namun juga pada hakekatnya mereka mengingkari bahwa kedua hal ini bersumber dari Tuhan. Mereka berpandangan bahwa selera pribadi para sahabat turut andil dalam menentukan urusan ini.

Dalam pembahasan ini perlu diketahui bahwa:

1. Allamah Thabathaba’i berkata ketika menafsirkan ayat: Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (Qs. Hijr: 9) bahwa: Ciri-ciri khusus yang dimiliki oleh al-Qur’an, seperti kefasihan dan keindahan gaya bahasa, tidak adanya ikhtilaf antara satu ayat dengan ayat yang lainnya dan juga tidak adanya seorang pun yang bisa menandinginya, semuanya terdapat dalam al-Qur’an yang ada pada tangan kita sekarang. Oleh karena itu kita simpulkan bahwa al-Qur’an yang ada pada zaman sekarang ini, adalah al-Qur’an yang ada pada masa permulaan datangnya agama Islam juga dan yang telah pula dikenal  pada zaman Nabi Muhammad Saw sendiri.[6]

Walaupun penafsiran ini menafikan adanya distorsi (tahrif) terhadap Al Qur’an, namun tidak dapat menetapkan dan membuktikan bahwa kumpulan, bentuk dan coraknya adalah bersumber dari Tuhan; lantaran tipologi yang telah disebutkan tersebut, tidak sedimikian sehingga dapat membuktikan urutan kumpulan ayat-ayat yang merajut surah-surah, dan urutan surah-surah yang membentuk al-Qur’an yang ada tidak dapat digunakan sebagai dalil untuk menetapkan bahwa urutan keseluruhan ayat-ayat yang membentuk suatu surat, dan urutan kumpulan surat-surat yang membentuk al-Qur’an yang ada sebagaimana yang ada pada zaman Nabi Saw.

2. Apabila ada seorang yang mampu menetapkan dan membuktikan kemukjizatan bilangan di samping kosa-kata dan susunan Qur’ani pada domain surah-surah dan urutan-urutannya yaitu antara ayat-ayat yang terdapat pada satu surah dan dengan surah-surah itu sendiri terjalin hubungan bilangan khusus dimana hal tersebut mustahil bagi manusia maka corak Ilahiah surah-surah dan urutannya juga akan terbukti, namun demikian kembali corak Ilahiah urutan seluruh ayat-ayat yang terajut dalam sebuah surah tidak akan terbukti.[7]

Untuk memahami lebih detail tentang pembahasan ini,  silahkan Anda merujuk: Mahdi Hadavi Tehrani, Mabâni Kalâmi Ijtihâd.


[1] Sayid Abdul Wahab Thaliqani, ‘Ulumul Qur’ân, Hal. 83.

[2] Sayid Muhammad Ridha Jalali Naini, Târikh Jam’ Qur’ân Karim, Hal. 87.

[3]  Pendapat ini banyak diterima oleh kebanyakan Ahlus Sunah, Idem , Hal. 19-51.

[4] Sayid Abdul Wahab Thaliqani, ‘Ulumul Qur’an, Hal. 83; Sayid Ali Milani, al-Tahqiq fii Nafii al-Tahrif ‘an al-Qur’an al-Syarif, hal. 41-42, dan hal. 46, Muhammad Hadi Ma’rifat, Shiyanat al-Qur’an min al-Tahrif, hal. 34.

[5] Sayid Muhammad  Ridha Jalali Naini, Târikh Jam’ Qur’ân Karîm, Hal. 80.

[6] Allamah Thaba-thabai, al-Mizan, jil. 12, Hal. 104, 106 dan 138.

[7] Mahdi Hadavi Tehrani, Mabâni Kalâmi Ijtihâd, Hal. 54-55, Muasasah Farhange Khaneh Khurd, Qum, Cetakan pertama, 1377.

Apakah Penghimpunan Al-Qur’an dalam Bentuk Kitab Dilakukan pada Masa Nabi saw atau Pasca Beliau?

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa nama surat pertama Al-Qur’an adalah Fâtihatul Kitâb. Fâtihatul Kitâb berarti pendahuluan kitab. Dan suatu hadis yang dinukil dari Nabi saw. menyatakan bahwa pada masa beliau, surat ini juga dikenal dengan nama ini.

Dari sini, titik terang pada satu masalah penting dalam Islam ini menjadi tampak. Masalah tersebut adalah —berbeda dengan pendapat yang telah popular bahwa Al-Qur’an pada masa Nabi saw. hanya berbentuk lembaran yang terpisah-pisah, kemudian baru dikumpulkan pada masa Abu Bakar, Umar, atau Utsman— bahwa Al-Qur’an pada masa Nabi saw. sendiri telah terkumpul sesuai dengan bentuknya hari ini, dan surat pertamanya adalah surat Al-Hamd. Jika tidak demikain, surat ini bukan sebagai surat pertama yang turun kepada Nabi saw. dan juga tidak ada dalil lain untuk menamakan surat ini dengan nama Fâtihatul Kitâb.

Bukti-bukti lain yang banyak juga menegaskan bahwa Al-Qur’an dalam bentuk kumpulan yang kini berada di tangan kita telah dikumpulkan pada masa Nabi saw. atas perintah beliau.

Ali bin Ibrahim menukil dari Imam Ash-Shadiq as bahwa Rasulullah saw bersabda kepada Ali as, “Wahai Ali! Kumpulkanlah Al-Qur’an yang berada pada potongan-potongan sutra, kertas, dan semisalnya yang terpisah-terpisah itu.” Imam Ash-Shadiq as menambahkan, “Ali as pergi dari majelis tersebut dan mengumpulkan Al-Qur’an di dalam potongan kain berwarna kuning, lalu menorehkan stempel di atasnya.”[1]

Bukti yang lain adalah Kharazmi, seorang ulama besar Ahli Sunnah, dalam buku Al-Manâqib menukil dari Ali bin Riyah bahwa Ali bin Thalib dan Ubay bin Ka’b mengumpulkan Al-Qur’an pada masa Nabi saw.

Bukti ketiga adalah pernyataan Al-Hakim, seorang penulis kenamaan Ahli Sunnah dalam kitab Al-Mustadrak. Ia menukil ucapan Zaid bin Tsabit, “Kami berada di hadirat Nabi saw. Kami mengumpulkan Al-Qur’an dari potongan-potongan terpisah. Dan masing-masing dikumpulkan sesuai dengan bimbingan Nabi saw. Kami meletakkan pada tempatnya masing-masing. Akan tetapi, dengan tulisan yang terpisah-pisah ini, Nabi saw. memerintahkan Ali untuk mengumpulkannya pada satu tempat. Kami mendapatkan peringatan keras dari Nabi untuk tidak memperlakukannya dengan buruk.”

Sayid Murtadha, ulama besar Syi’ah berkata, “Al-Qur’an dikumpulkan pada masa Rasulullah saw. sebagaimana bentuknya pada hari ini”.[2]

Thabarani dan Ibnu ‘Asakir menukil dari Syi’ah bahwa enam orang dari Anshar mengumpulkan Al-Qur’an pada masa Nabi saw.[3] Qatadah bercerita, “Aku pernah bertanya kepada Anas, ‘Siapakah yang mengumpulkan Al-Qur’an pada masa Nabi saw?’ Ia menjawab, ‘Empat orang dan mereka semua berasal dari Anshar: Ubay bin Ka’b, Muadz, Zaid bin Tsabit, dan Abu Zaid.’”[4] Masih lagi riwayat yang lain. Jika kita menukilnya di sini, pembahasan kita akan melebar.

Lebih dari itu, selain hadis-hadis yang terdapat di dalam buku-buku referensi Ahli Sunnah dan Syi’ah, pemilihan nama Fâtihatul Kitâb untuk surat Al-Hamd —sebagaimana yang telah kami singgung di atas— merupakan saksi hidup untuk membuktikan hal ini.

Pertanyaan

Pertanyaan yang muncul  di sini ialah bagaimana pendapat ini dapat dipercaya, sementara di kalangan sekelompok ulama terkenal tersebar pendapat yang menyatakan bahwa Al-Qur’an dikumpulkan pasca wafatnya Rasulullah saw (melalui Ali as atau orang lain)?

Untuk menjawab pertanyaan ini, harus dijelaskan bahwa Al-Qur’an yang dikumpulkan oleh Ali as bukan Al-Qur’an itu sendiri. Akan tetapi, kumpulan dari Al-Qur’an, tafsir, dan asbâbun nuzul ayat-ayatnya.

Tentang Al-Qur’an yang dikumpulkan oleh Utsman, hal itu hanyalah sebuah perintah darinya untuk menyatukan penulisan Al-Qur’an disertai dengan bacaan dan harakat demi menghindari perbedaan antarbacaan (qirâ’ah).

Akan tetapi, desakan sekelompok orang bahwa Al-Qur’an tidak dikumpulkan pada masa Nabi saw dan kebanggaan ini sudah menjadi hak Utsman atau khalifah pertama, barangkali hanya bertujuan menciptakan keutamaan semata baginya. Oleh karena itu, setiap bentuk keutamaan ini dinisbahkan kepada orang yang dinukilkan dalam riwayat tersebut.

Pada dasarnya, bagaimana mungkin dapat dipercaya Nabi saw menyepelekan pekerjaan teramat penting ini? Padahal, beliau sangat menaruh perhatian, bahkan terhadap pekerjaan-pekerjaan kecil sekalipun. Bukankah Al-Qur’an ini merupakan undang-undang dasar umat Islam, kitab agung pendidikan dan pengajaran, pondasi seluruh program-program Islam dan akidahnya? Apakah tidak dikumpulkannya Al-Qur’an pada masa Nabi saw tidak mengandung resiko penyepelean terhadap sebagian Al-Qur’an dan atau munculnya perbedaan di kalangan muslimin?

Di samping itu, hadis masyhur “Tsaqalain”  yang dinukil oleh Ahli Sunnah dan Syi’ah bahwa Nabi saw bersabda, “Telah aku tinggalkan dua pusaka berharga di antara Kamu: Kitab Allah dan ‘Itrahku”, menunjukkan bahwa Al-Qur’an merupakan sebuah kitab yang telah dikumpulkan.

Apabila kita meneliti riwayat-riwayat yang menceritakan pengumpulan Al-Qur’an oleh beberapa sahabat di bawah pengawasan Nabi saw dengan jumlah pengumpul yang berbeda-beda, tentu hal itu tidak akan menimbulkan polemik. Barangkali setiap riwayat tersebut memperkenalkan beberapa orang dari para pengumpul tersebut.[5]



[1] Redaksi asli riwayat ini adalah “Wantalaq ‘Ali as fa jama’ahu fî tsubûtin ashfar tsumma khatama ‘alaih”. Lihat  Târikh Al-Qur’ân Abu ‘Abdillâh Zanjâni, hal. 24.

[2] Majma’ al-Bayân,jilid 1, hal. 15.

[3] Muntakhab Kanz al-‘Ummâl,jilid 2, hal. 52.

[4] Shahîh Bukhâri, jilid6, hal. 102.

[5] Tafsir Nemûneh,jilid1, hal. 8.



7 orang kibarus shahabah yang tidak memberikan bai’at pada Khalifah Ali Radhiallahu ‘Anhu

Bersabda Rasulullahshallallahu ‘alayhi wa sallam:

وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

Barangsiapa yang mati dan dilehernya tidak ada bai’at maka dia mati dalam keadaan jahiliyah. [HR. Muslim No. 1851, Ath Thabarani dalam Al Kabir No. 769, dari Muawiyah, Alauddin Al Muttaqi Al Hindi dalam Kanzul ‘Ummal No. 14810, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 1638

Apakah Hakikat Bai’at itu?

Bai’at adalah satu jenis perjanjian dan kontrak antara pemberi bai’at dari satu sisi, dan penerima bai’at dari sisi lain. Muatan bai’at ini adalah ketaatan, mengikuti, menolong, dan membela orang yang dibai’at. Dan sesuai dengan syarat yang disebutkan dalam bai’at, bai’at memiliki tingkatan.Contohnya Bai’at al ‘Aqabah Al Ulaa berbeda isi dengan Bai’at Al Ridhwan. Begitu pun dengan bentuk bai’at terhadap jama’ah minal jama’ah muslimin

.

Berdasarkan ayat Al-Qur’an dan hadis, bai’at merupakan sejenis kontrak yang mengikat (‘aqd lâzim) dari sisi pemberi bai’at. Ia wajib mengamalkan apa yang telah diikrarkannya dalam bai’at tersebut. Dengan demikian, hal ini termasuk bagian dari kaidah umum; “Aufû bil ‘Uqûd (Penuhilah akad-akad itu).” (QS.Al-Maidah [5]: 1)

Oleh karena itu, orang yang memberikan bai’at tidak berhak untuk meninggal kan bai’at-nya. Akan tetapi, apabila menurut penerima bai’at tidak baik, ia dapat mencabut dan meninggalkan bai’at tersebut. Ketika itulah pemberi bai’at baru terbebas dari keharusan menaati janji yang diikrarkannya

Maka, dalam masalah bai’at, pemberi bai’at tidak dapat untuk meninggalkan bai’at-nya

Apakah Bai’at Memiliki Peran dalam Legitimasi Kepemimpinan Seorang Nabi atau Imam?

Nabi saw. dan para imam maksum a.s. yang ditunjuk oleh Allah swt. secara langsung tidak pernah memerlukan bai’at. Maksudnya, ketaatan kepada Nabi saw. dan para imam maksum a.s. dan penunjukkan dari sisi Tuhan bersifat niscaya dan mesti, baik atas mereka yang berbai’at atau mereka yang tidak.

Dengan kata lain, kedudukan kenabian dan imâmah adalah wajib untuk ditaati. Sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an, “Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amr di antara Kamu.” (QS. An-Nisa’ [4]: 59)

Dari sini mucsul satu pertanyaan, yaitu mengapa Nabi saw. berulang kali mengambil bai’at dari para sahabat dan orang-orang yang baru memeluk Islam?, sebagaimana tersebut di dalam Al-Qur’an secara jelas: bai’at Ridhwân dalam surat Al-Fath [48], ayat 18, dan bai’at dengan penduduk Makkah dalam surat Al-Mumtahanah [60].

Untuk menjawab pertanyaan ini, perlu kita tekankan bahwa seluruh bai’at itu merupakan satu jenis pengukuhan atas loyalitas yang diambil pada kondisi-kondisi tertentu, dan digunakan khususnya dalam menghadapi keadaan kritis. Hal ini dilakukan supaya di bawah siluetnya, bai’at ini dapat menghembuskan berkahnya kepada setiap orang.

Akan tetapi, bai’at yang dilakukan oleh para khalifah adalah sebagai penerimaan kedudukan khilafah (pemerintahan). Betapapun demikian, kami meyakini bahwa khilafah Nabi saw. bukan sebuah kedudukan yang diperoleh melalui bai’at, melainkan semata-mata dari sisi Allah swt. dan terwujud melalui persona Nabi saw. dan para imam maksum a.s.

Dalam hadis sahih ditegaskan bahwa barang siapa mati dalam keadaan tidak mengenal Imam zamannya maka ia mati jahiliyah. Maka kalau Imamah bukan hal penting dan termasuk Ushuluddin mengapakah keharusan mengenal imam dianggap begitu penting sehingga yang tidak mengenal imam digolongkan mati jahiliyyah.

Nabi saw. bersabda :

Siapa mati yang sedang ia tidak mengenal imam zamannya maka ia mati dalam keadaan jahiliyyah

Hadis di atas dan hadis-hadis mengandung makna serupa seperti yang disebut Syeikh Al Mudzaffar dapat Anda jumpai dalam banyak kitab-kitab mu’tabarah para ulama Ahlusunnah, di antaranya:

Shahih Bukhari, bab al Fitan,5/13.

Shahih Muslim,6/21-22 hadis1849.

Musnad Ahmad,2/83, 3/446 dan 4/96.

Shahih Ibn Hibban,6/49 hadis 4554.

Al Mu’jam Al Kabir; Al Thabarani,10/350 hadis 10687.

Mustadrak; Al Hakim,1/77.

Hilyatul Awliyaa’,3/224.

Jaami’ Al Ushuul; Ibn Al Atsiir Al Jazari,4/7.

Musnad Ath Thayalisi:259.

Al Kuna wa Al Alqaab,2/3.

Sunan Al Baihaqi,8/156 dan 157.

Al Mabshuuth; Al Sarkhasi,1/113.

Syarah Nahj Al Balaghah; Ibn Abi Al Hadid,9/155.

Syarah Muslim; Al Nawawi,12/44.

Talkhis Al Mustadrak; Al Dzahabi,1/77 dan177.

Tafsir Ibn Katsir,1/517.

Syarh Al Maqashid,2/275.

Majma’ al Zawaid,5/218,219,223 dan312.

Kanz Al Ummal,3/200.

Tafsiir Al Wushuul,2/39.

dll.

Hadis di atas telah disepakati kesahihannya, baik oleh Ahlusunnah wal Jama’ah maupun Syi’ah.

Imamah termasuk ushuluddin, “Di antaranya adalah riwayat-riwayat yang banyak yang menunjukkan bahwa barang siapa mati tanpa  Imam maka ia mati jahiliyah dan lain sebagainya, maka berarti ia termasuk ushuluddin, seperti riwayat Muslim  dalam bab Al Amr bi Luzuumi Al Jama’ah, pada kitab Al Imaarah dari Ibnu Umar, “Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda:

Barang siapa melepas tangan dari keta’atan ia berjumpa dengan Allah pada hari kiamat tanpa  memiliki bukti, dan barang siapa mati sedang dilehernya tidak ada ikatan bai’at maka ia mati jahiliyah.

Para pengikut ajaran Syi’ah Itsna Asyariyyah mendasarkan hukum mereka (Syariah) pada al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Perbedaan antara hukum syariah Sunni dan Syiah terletak pada keyakinan bahwa Nabi Muhammad memberikan Ali ra. sebagai pemimpin pertama setelah Nabi Muhammad saw. Lebih lanjut, menurut pengikut Syi’ah Itsna Asyariyyah, bahwa Imam atau pemimpin umat tidaklah dapat dipilih oleh manusia secara demokrasi (pemilu).

Imam adalah jabatan langsung dari Allah swt. Sedangkan pengikut Sunni percaya bahwa pemimpin umat dipilih dengan pemilu dan yang memiliki suara terbanyaklah yang menjadi pemimpin (khalifah). Perbedaan inilah yang membuat Syi’ah dan Sunni menjadi terpecah.

Imam Ali merasa dirinya yang paling berhak tetapi orang-orang malah membaiat Abu Bakar. Hal ini telah diisyaratkan oleh Rasulullah SAW

Telah menceritakan kepada kami Abu Hafsh Umar bin Ahmad Al Jumahi di Makkah yang berkata telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdul Aziz yang berkata telah menceritakan kepada kami Amru bin ‘Aun yang berkata telah menceritakan kepada kami Husyaim dari Ismail bin Salim dari Abi Idris Al Awdi dari Ali Radhiyallahu ‘anhu yang berkata “Diantara yang dijanjikan Nabi SAW kepadaku bahwa Umat akan mengkhianatiku sepeninggal Beliau”. [Al Mustadrak 3/150 no 4676 dishahihkan oleh Al Hakim dan Adz Dzahabi]

Selama masa 6 bulan itu ternyata pemerintahan Abu Bakar mengalami berbagai masalah seperti adanya “kaum yang murtad” dan adanya Nabi palsu Musailamah Al Kadzdzab beserta pengikutnya. Berbagai masalah ini dapat dimanfaatkan oleh orang-orang munafik untuk memecah belah umat. Merekapun juga melihat tindakan memisahkan diri yang dilakukan Imam Ali dan hal ini bisa saja dimanfaatkan oleh mereka untuk menyebarkan fitnah perpecahan.

Oleh karena itulah setelah 6 bulan Imam Ali memutuskan memberikan baiat untuk menutup celah yang akan dimanfaatkan oleh kaum munafik dan baiat ini adalah demi keutuhan umat islam. Inilah yang dimaksud Imam Ali bahwa ia mengalami penderitaan dan kesulitan sepeninggal Nabi SAW [hal ini telah diberitakan oleh Nabi SAW kepada Imam Ali]. Di satu sisi Beliaulah yang paling berhak tetapi beliau tetap memberikan baiat demi keutuhan umat islam.

Telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin Sahl seorang faqih dari Bukhara yang berkata telah menceritakan kepada kami Sahl bin Mutawwakil yang berkata telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yunus yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudhail dari Abi Hayyan At Taimi dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas RA yang berkata Nabi SAW berkata kepada Ali “Sesungguhnya kamu akan mengalami kesukaran [bersusah payah] sepeninggalKu”. Ali bertanya “apakah dalam keselamatan agamaku?”. Nabi SAW menjawab “dalam keselamatan agamamu” [Mustadrak Ash Shahihain 3/151 no 4677 dishahihkan oleh Al Hakim dan Adz Dzahabi]

Pernyataan Imam Ali kalau Beliau adalah yang paling berhak sepeninggal Nabi SAW jelas berdasarkan apa yang telah dikatakan oleh Nabi SAW sendiri, diantaranya

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya bin Hamad dari Abi ‘Awanah dari Yahya bin Sulaim Abi Balj dari ‘Amr bin Maimun dari Ibnu Abbas yang berkata Rasulullah SAW bersabda kepada Ali “KedudukanMu di sisiKu sama seperti kedudukan Harun di sisi Musa hanya saja Engkau bukan seorang Nabi. Sesungguhnya tidak sepatutnya Aku pergi kecuali Engkau sebagai KhalifahKu untuk setiap mukmin sepeninggalKu” [As Sunnah Ibnu Abi Ashim no 1188 dengan sanad yang shahih]

Sepeninggal Abu Bakar, Umar ditunjuk Abu Bakar untuk menggantikannya dan orang-orangpun membaiat Umar. Disini Imam Ali melihat betapa orang-orang menerima keputusan Abu Bakar dan membaiat Umar padahal Imam Ali merasa bahwa Beliau adalah yang paling berhak. Hal inilah yang dinyatakan oleh Beliau sebagai penderitaan dan kesulitan tetapi beliau tetap bersabar dan ikut memberikan baiat pula kepada Umar agar tidak menimbulkan perpecahan di kalangan kaum muslimin.

Sepeninggal Umar, beliau memerintahkan pemilihan khalifah melalui Majelis syura yang ia bentuk. Terdapat berbagai riwayat seputar masalah ini yang terkadang “agak kontroversi” tetapi singkat cerita majelis tersebut mengangkat Utsman sebagai khalifah. Sekali lagi Imam Ali melihat orang-orang memilih Utsman padahal Imam Ali merasa yang paling berhak. Hal inilah yang dinyatakan Imam Ali sebagai penderitaan dan kesulitan yang beliau alami. Tidak ada satupun dikalangan umat yang mengalami penderitaan dan kesulitan seperti itu. Beliau yang berhak tetapi beliau tetap bersabar dan menerima. Tentu saja akhlak seperti ini hanya dimiliki orang-orang khusus

.

Para sahabat dan tabi’in ada yang tidak berbai’at

Imam Ath Thabari menceritakan, bahwa Imam Ali radhiyallah ‘anhu berkata pada Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallah ‘anhu: “Berbai’atlah Engkau!” Sa’ad menjawab: “Aku tidak akan berbai’at sebelum orang-orang semua berbai’at. Tapi demi Allah tidak ada persoalan apa-apa bagiku.” Mendengar itu Ali berkata: “Biarkanlah dia.”

Lalu Ali menemui Ibnu Umar  dan berkata yang sama, maka jawab Ibnu Umarradhiyallah ‘anhuma: “Aku tidak akan berbai’at sebelum orang-orang semua berbai’at.” Jawab Ali: “Berilah aku jaminan.” Jawab Ibnu Umar : “Aku tidak punya orang yang mampu memberi jaminan.” Lalu Al Asytar berkata: “Biar kupenggal lehernya!” Jawab Ali : “Akulah jaminannya, biarkan dia.” [Imam Ibnu Hazm, Al Fashl fil Milal wal Ahwa’ An Nihal, 4/103]

Imam Al Waqidi mencatat ada 7 orang kibarus shahabah yang tidak memberikan bai’at pada Khalifah Ali radhiyallah ‘anhu  yaitu: Sa’ad bin Abi Waqqash, Abdullah bin Umar, Shuhaib bin Sinan, Zaid bin Tsabbit, Muhammad bin Maslamah, Salamah bin Aqwa’ dan Usamah bin Zaid  radhiyallah ‘anhum. [Tarikh Ar Rusul, 4/429]


بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

ya_ali

ada hadis Dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Rasulullah bersabda:
وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً
“Barangsiapa yang mati dan dilehernya tidak ada bai’at maka dia mati dalam keadaan jahiliyah.” (HR. Muslim No. 1851, Ath Thabarani dalam Al Kabir No. 769, dari Muawiyah, Alauddin Al Muttaqi Al Hindi dalam Kanzul ‘Ummal No. 14810, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 16389)
.
Maka, kematian orang yang tidak berbai’at kepada khalifah –jika dia ada- bermakna:
-    Matinya seperti orang yang mati pada zaman jahiliyah
–    Bukan dia-nya yang jahiliyah dan kafir
–    Dihitung sebagai orang yang bermaksiat
.
Para sahabat dan tabi’in ada yang tidak berbai’at
Ada pun tidak berbai’at kepada khalifah al ‘uzhma, telah terjadi pada masa-masa awal Islam. Imam Ath Thabari menceritakan, bahwa Ali Radhiallah ‘Anhu berkata pada Sa’ad bin Abi Waqqash Radhiallahu ‘Anhu: “Berbai’atlah Engkau!” Sa’ad menjawab: “Aku tidak akan berbai’at sebelum orang-orang semua berbai’at. Tapi demi Allah tidak ada persoalan apa-apa bagiku.” Mendengar itu Ali berkata: “Biarkanlah dia.”
.
Lalu Ali menemui Ibnu Umar  dan berkata yang sama, maka jawab Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma: “Aku tidak akan berbai’at sebelum orang-orang semua berbai’at.” Jawab Ali: “Berilah aku jaminan.” Jawab Ibnu Umar : “Aku tidak punya orang yang mampu memberi jaminan.” Lalu Al Asytar berkata: “Biar kupenggal lehernya!” Jawab Ali : “Akulah jaminannya, biarkan dia.” (Imam Ibnu Hazm, Al Fashl fil Milal wal Ahwa’ An Nihal, 4/103)
.
Imam Al Waqidi mencatat ada 7 orang kibarus shahabah   yang tidak memberikan bai’at pada Khalifah Ali Radhiallahu ‘Anhu  yaitu: Sa’ad bin Abi Waqqash, AbdullaH bin Umar, Shuhaib bin Sinan, Zaid bin Tsabbit, Muhammad bin Maslamah, Salamah bin Aqwa’ dan Usamah bin Zaid  Radhiallahu ‘Anhum. (Tarikh Ar Rusul, 4/429)
.

Satu persoalan utama yang sering terlepas pandang oleh umat Islam adalah sejak dari masa dini Islam lagi adalah kasus penting, perlunya keberadaan ‘Penunjuk Jalan’ atau Imam yang mana telah disabdakan oleh Rasul Junjungan saaw:

Ibn Abu Asim di dalam kitab al-Sunnah, halaman 489 meriwayatkan hadis ini:

من مات وليس عليه إمام مات ميتة جاهلية

Barangsiapa yang mati tanpa memiliki Imam, maka matinya adalah mati Jahiliyyah.

al-Albani di dalam komentarnya tentang hadis ini, menulis:

إسناده حسن ورجاله ثقات

Isnadnya hasan dan semua perawinya Tsiqah.

Ibn Hibban juga meriwayatkan di dalam Sahihnya, jilid 7 hlm 49:

من مات بغير إمام مات ميتة جاهلية

Barangsiapa mati tanpa Imam, matinya adalah mati Jahiliyyah.

Imam Muslim meriwayatkan di dalam sahihnya, kitab al Imarah:

“Barangsiapa mati sedangkan di lehernya tak ada bai’ah (kepada Khalifah) maka dia mati dalam keadaan mati jahiliyah.”

Maka, hadis ini adalah hadis yang sahih dan dipersetujui oleh semua kelompok Islam.

Walaupun terdapat perbedaan pandangan tentang maksudnya, kesahihan dan terkenalnya hadis ini diperakui sedemikian rupa hingga para pemimpin yang zalim pun gagal dalam menafikannya, makanya mereka mencari ulah dalam memutarbelitkan maknanya.

Allamah Amini berkata setelah mengutip hadis ini dari sumber-sumber Sunni yang sahih: Adalah sebuah kenyataan abadi bahawa sumber-sumber Sunni yang sahih telah membuktikannya dan umat tidak memiliki pilihan kecuali tunduk patuh kepadanya, dan keislaman seseorang itu tidak menjadi sempurna kecuali dia menerima konsep dan kandungan hadis ini

.

Konsepnya menjelaskan tentang kesudahan yang dahsyat bagi mereka yang matinya tanpa Imam, dan orang seperti itu adalah jauh dari keselamatan dan rahmat. Kematian zaman Jahiliyyah adalah sebuah kematian yang mengerikan, iaitu kematian atheisme dan tanpa iman.

Bagi menjelaskan hadis ini, maksud kata Jahiliyyah haruslah terlebih dahulu difahami.

Dari sudut pandang Al Quran dan hadis, zaman kenabian Rasul saaw adalah zaman ilmu, manakala zaman sebelum misi kenabian adalah zaman Jahiliyyah, iaitu, sebelum misi kerasulan Baginda saaw, umat tidak mengetahui cara dan jalan untuk mengenali realiti-realiti kewujudan disebabkan oleh penyimpangan pada agama-agama yang diwahyukan dan apa yang jelas pada masyarakat saat itu atas nama agama adalah tidak lebih dari tahyul dan ilusi

.

Bahkan agama-agama yang sudah diselewengkan dan penuh dengan kepercayaan-kepercayaan ilusi ini, telah dijadikan alat oleh segelintir pihak yang kaya dan berkuasa saat itu untuk menguasai dan menekan masyarakat awam, sebuah realiti yang dirakam kemas dalam sejarah.

Misi suci Rasul saaw adalah permulaan bagi era ilmu pengetahuan. Misi dasar dan utama Rasul saaw adalah memerangi kepercayaan tahyul dan penyimpangan dan menjelaskan pada masyarakat tentang kebenaran.

MENGENALI IMAM YANG MANA?

Dengan sedikit pertimbangan terhadap kandungan hadis yang kita bicarakan ini dan atas apa yang kita bicarakan di atas, langsung tidak membuka ruang keraguan buat kita untuk mencari jawaban pada persoalan yang dikemukakan: Imamah Imam yang manakah yang menjamin keberlangsungan Islam yang murni, yang jika diabaikan oleh umat, bisa menjerumuskan mereka pada status Jahiliyyah?

Mungkinkah yang dimaksudkan oleh hadis suci ini adalah mentaati siapapun yang berkuasa untuk mengurus umat yang kita diwajibkan taat dan patuh, jika mana kita ingkar, akan mengakibatkan kita mati Jahiliyyah, tanpa peduli samada pemimpin itu bejat dan menyeleweng, atau sebagaimana yang disebut oleh Al Quran:

“Imam-imam yang mengajak orang ke neraka”. (QS. al-Qashash: 41)

Menjadi bukti bahawa semua pemimpin yang menyeleweng sepanjang sejarah Islam telah menggunakan hadis ini guna melegalisasikan kepemimpinan dan mengukuhkan penguasaan mereka ke atas umat. Bahkan ulama-ulama yang biasa mendatangi istana para Raja dan para pendakwah di istana-istana menterjemahkan hadis Nabi saaw ini lalu mengalungkannya ke leher para pemerintah yang menyeleweng ini. Adalah jelas, perbuatan mereka itu bukanlah disebabkan oleh salahfaham mereka tentang maksud sebenar akan hadis ini, sebaliknya ia adalah mainan kata semata-mata.

Adalah sukar untuk kita percaya, sebagaimana yang dijelaskan di dalam Syarah Nahjul Balaghah oleh Ibn Abi al Hadid, bahawa Abdullah ibn Umar enggan membaiah Amirul Mukminin Ali bin Abi Talib as disebabkan oleh kesalahfahaman dan tidak memiliki pengetahuan mendalam, namun berpegang teguh pada hadis “Barangsiapa mati tanpa Imam…” yang dia riwayatkan sendiri lalu, tanpa membuang waktu telah pergi bertemu dengan Hajjaj bin Yusuf pada malam hari untuk memberikan bai’ahnya kepada Abdul Malik bin Marwan, sang Khalifah…kerana dia tidak mahu melalui malamnya tanpa adanya Imam!

Namun, apakah orang yang zalim dan kejam seperti para pemimpin dari Bani Umayyah dan Bani Abbassiyah layak untuk digelar Imam?

Allah SWT berfirman:

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: ” (Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim”.
QS. al-Baqarah (2) : 124

Dalam ayat yang kami bawakan ini, jelas, Imam tidak bisa disandang oleh mereka yang zalim, itu janji Allah.

Imamah adalah satu janji Allah, dikurniakanNya hanya kepada orang yang adil, zuhud dan suci maksum. Andai para Imam tidak memiliki ciri ciri kemaksuman ini, pastilah mereka terdedah pada kesalahan dan akan menjerumuskan umat pada kesalahan juga. Ini bertentangan dengan firman Allah yang berikut:

a) Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolongpun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.
QS. Hud (11) : 113

b) Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antara mereka.
QS. al-Insan (76) : 24

Dalam kedua dua ayat di atas, Allah telah memerintahkan kita agar jangan cenderung pada orang yang zalim dan jangan mengikuti orang yang berdosa. Maka, tanggapan kelompok jumhur bahawa para Khalifah wajib ditaati tanpa bantahan adalah bertentangan dengan perintah Allah dalam ayat ayat di atas.

Andaikata Imam bisa melakukan kesalahan, umat sendiri akan turut melakukan kesalahan kerana mengikuti Imam yang salah. Hal seperti ini tidak bisa diterima memandangkan kepatuhan dalam dosa adalah suatu dosa, dilarang dan bertentangan dengan syariah. Tambahan pula, Imam akan dipatuhi dan diingkari pada masa yang sama dan ini adalah mustahil.

Kepercayaan kelompok Jumhur bahawa umatlah yang memilih pemimpin atau Imam juga adalah bertentangan dengan firman Allah berikut:

a) Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilih-Nya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia).
QS. al-Qashash (28) : 68

b) Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah.
QS. al-Anbiya (21) : 73

c) Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.
QS. as-Sajdah (32) : 24

Ayat ayat di atas dengan jelas membuktikan bahawa para pemimpin atau Imam adalah dipilih oleh Allah sendiri, dan ini berlawanan dengan kepercayaan jumhur.

Lalu siapakah para Imam yang Allah pilih ini yang jika kita tidak mengenalnya, maka mati kita adalah matinya jahiliyah?

Mari kita telusuri hadis suci Nabi saaw untuk mendapatkan gambaran jelas tentang hal ini.

الْأَئِمَّةُ مِنْ قُرَيْشٍ .
“ Para imam itu dari suku Quraisy.”

Hadits di atas (Al-a`immatu min Quraisy) diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dalam Al-Musnad (11859) dari Anas bin Malik dan Abu Barzah Al-Aslami (18941); An-Nasa`i dalam As-Sunan Al-Kubra (5942); Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf dari Anas (54/8) dan Ali bin Abi Thalib (54/17); Abdurrazaq dalam Al-Mushannaf dari Ali (19903); Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (7061) dari Ali; Ath-Thabarani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir dari Anas (724) dan dalam Ash-Shaghir dari Ali (426); Al-Baihaqi dalam Ma’rifatu As-Sunan wa Al-Atsar dari Anas (1595); Ath-Thayalisi dalam Al-Musnad (957) dari Abu Barzah dan Anas (2325); Al-Khallal dalam As-Sunnah (34) dari Salman Al-Farisi dan Ali (64); Ibnu Abi Ashim dalam As-Sunnah (929) dari Anas dan Abu Barzah (934); Ar-Ruyani dalam Al-Musnad (746, 750) dari Abu Barzah; Abu Ya’la Al-Maushili dalam Al-Mu’jam (155); Ibnul A’rabi dalam Al-Mu’jam (2259) dari Ali; Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq (4635) dari Anas; dan Ibnu Adi dalam Al-Kamil (biografi Ibrahim bin Athiyah Al-Wasithi) dari Anas.

Tentang sanadnya, Imam Al-Haitsami berkata, “Diriwayatkan Ahmad, Abu Ya’la, Ath-Thabarani dalam Al-Awsath, dan Al-Bazzar ( Dalam riwayat Al-Bazzar dengan lafal, “Al-Mulku fi Quraisy.”)

Para perawi Ahmad adalah orang-orang tsiqah (terpercaya)” (Majma’ Az- Zawa`id (8978).

Al-Hafizh Al-Iraqi berkata, “Diriwayatkan An-Nasa`i dan Al-Hakim dari hadits Anas dengan sanad shahih” (Takhrij Ahadits Al-Ihya` (3711).

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata, “Diriwayatkan An-Nasa`i dari Anas, Ath-Thabarani dalam Ad-Du’a`, dan Al-Bazzar serta Al-Baihaqi dengan beberapa jalur periwayatan dari Anas. Saya katakan, sungguh saya telah mengumpulkan jalur-jalur riwayat hadits ini dalam satu juz tersendiri dimana ia diriwayatkan oleh hampir empat puluh orang sahabat. … Dan sanadnya hasan” (At-Talkhish Al-Habir (1987).

Syaikh Syu’aib Al-Arna`uth berkata, “Hadits shahih dengan berbagai jalur periwayatan dan hadits-hadits lain yang menguatkannya” (Musnad Ash-Shahabah fi Al-Kutub At-Tis’ah (527).

Syaikh Al-Albani berkata, “Shahih, diriwayatkan dari sejumlah sahabat, di antaranya yaitu: Anas bin Malik, Ali bin Abi Thalib, dan Abu Barzah Al-Aslami” (Irwa` Al-Ghalil (520). Al-Albani juga menshahihkan hadits ini dalam Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir (4523 dan 4524) dan dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib (2188 dan 2259).

Secara ringkas, demikian para ulama lain yang menshahihkan hadits ini; Imam Al-Munawi ( Faidh Al-Qadir (3108).

Syaikh Muhammad Ja’far Al-Kattani ( Nuzhum Al-Mutanatsir min Al-Hadits Al-Mutawatir (175).

Al-Ajluni (Kasyfu Al-Khafa` (850), Al-Burhanfuri (Kanzu Al-‘Ummal (1649, 14792, 23800) dan lain lain

Maka dari hadis ini kita tahu bahawa para Imam itu adalah dari Quraisy. Namun, berapa ramaikah mereka ini? Hadis berikut menjelaskannya

Jabir bin Samurah berkata: “Aku mendengar Rasulullah saaw bersabda: “Islam akan senantiasa kuat di bawah 12 Khalifah”. Baginda kemudian mengucapkan kata kata yang tidak aku fahami, lalu aku bertanya bapaku apakah yang dikatakan oleh Rasulullah saaw. Beliau menjawab: “Semuanya dari Quraisy” (Muslim. Sahih, jilid VI, hlm 3, Bukhari, Sahih, jilid VIII, hlm 105, 128)

Apakah semua yang berstatus Quraisy layak menyandang gelaran Imam atau Khalifaf ini? Hadis berikut pula merincikan siapakah para Imam atau Khalifah yang berjumlah 12 orang itu

Nabi saaw bersabda: “Setelahku akan ada 12 Khalifah, semuanya dari Bani Hasyim” (Qunduzi Hanafi, Yanabi’ al Mawaddah, jilid III, hlm 104)

Mungkin ada di kalangan yang berpenyakit dalam hati akan menyanggah hadis ini dan mengatakan ianya tidak sahih. Jika demikian, kami persilakan anda teruskan membaca hadis berikutnya pula

Dari Zaid bin Tsabit RA yang berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya Aku telah meninggalkan di tengah-tengah kalian dua Khalifah yaitu Kitab Allah yang merupakan Tali yang terbentang antara bumi dan langit, serta KeturunanKu Ahlul BaitKu. Keduanya tidak akan berpisah sampai menemuiKu di Telaga Surga Al Haudh. (Hadis Ini diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal dalam Musnad Ahmad jilid 5 hal 182, Syaikh Syuaib Al Arnauth dalam Takhrij Musnad Ahmad menyatakan bahwa hadis ini shahih. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Kabir jilid 5 hal 154, Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid jilid 1 hal 170 berkata “para perawi hadis ini tsiqah”. Hadis ini juga disebutkan oleh As Suyuthi dalam Jami’ Ash Shaghir hadis no 2631 dan beliau menyatakan hadis tersebut Shahih.)

Maka, jika kita menyusun kembali semua premis premis yang dibawakan di atas, kita bisa menyimpulkan seperti berikut:

1. Sepeninggalan Rasul saaw, ada pengganti beliau yang dipanggil Imam/ khalifah

2. Imam/Khalifah ini berjumlah 12 orang

3. Kesemua mereka adalah dari Quraisy

4. Kesemua mereka adalah dari Bani Hasyim

5. Kesemua mereka adalah Ahlul Bayt Nabi as

Maka dengan ini, siapapun selain dari Ahlul Bayt as yang mendakwa diri mereka sebagai Khalifah atau Imam umat, dakwaan mereka tertolak. Hujjah yang kami bawakan di atas tidak membuka ruang walau sekecil apapun untuk memberikan jabatan Khalifah/ Imamah pada selain Ahlul Bayt as

Masalah Kekhalifahan adalah masalah yang sangat penting dalam Islam. Masalah ini adalah dasar penting dalam penerapan kehidupan keislaman, setidaknya begitu yang saya tahu :mrgreen: . Kata Khalifah sendiri menyiratkan makna yang beragam, bisa sesuatu dimana yang lain tunduk kepadanya, sesuatu yang menjadi panutan, sesuatu yang layak diikuti, sesuatu yang menjadi pemimpin, sesuatu yang memiliki kekuasaan dan mungkin masih ada banyak lagi ;)

Saat Sang Rasulullah SAW yang mulia masih hidup maka tidak ada alasan untuk Pribadi Selain Beliau SAW untuk menjadi khalifah bagi umat Islam. Hal ini cukup jelas kiranya karena sebagai sang Utusan Tuhan maka Sang Rasul SAW lebih layak menjadi seorang Khalifah. Sang Rasul SAW adalah Pribadi yang Mulia, Pribadi yang selalu dalam kebenaran, dan Pribadi yang selalu dalam keadilan. Semua ini sudah jelas merupakan konsekuensi dasar yang logis bahwa Sang Rasulullah SAW adalah Khalifah bagi umat Islam.

Lantas bagaimana kiranya jika Sang Rasul SAW wafat? siapakah Sang Khalifah pengganti Beliau SAW? Atau justru kekhalifahan itu sendiri menjadi tidak penting. Pembicaraan ini bisa sangat panjang dan bagi sebagian orang akan sangat menjemukan. Dengan asumsi bahwa kekhalifahan akan terus ada maka Sang khalifah setelah Rasulullah SAW bisa berupa

* Khalifah yang ditunjuk oleh Rasulullah SAW
* Khalifah yang diangkat oleh Umat Islam

Kedua Premis di atas masih mungkin terjadi dan tulisan ini belum akan membahas secara rasional premis mana yang benar atau lebih benar. Tulisan kali ini hanya akan menunjukkan adanya suatu riwayat dimana Sang Rasulullah SAW pernah menyatakan bahwa Ahlul Bait adalah Khalifah bagi Umat Islam. Bagaimana sikap orang terhadap riwayat ini maka itu jelas bukan urusan penulis :mrgreen:

.

Dari Zaid bin Tsabit RA yang berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya Aku telah meninggalkan di tengah-tengah kalian dua Khalifah yaitu Kitab Allah yang merupakan Tali yang terbentang antara bumi dan langit, serta KeturunanKu Ahlul BaitKu. Keduanya tidak akan berpisah sampai menemuiKu di Telaga Surga Al Haudh. (Hadis Ini diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal dalam Musnad Ahmad jilid 5 hal 182, Syaikh Syuaib Al Arnauth dalam Takhrij Musnad Ahmad menyatakan bahwa hadis ini shahih. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Kabir jilid 5 hal 154, Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid jilid 1 hal 170 berkata “para perawi hadis ini tsiqah”. Hadis ini juga disebutkan oleh As Suyuthi dalam Jami’ Ash Shaghir hadis no 2631 dan beliau menyatakan hadis tersebut Shahih.)

Hadis di atas adalah Hadis Tsaqalain dengan matan yang khusus menggunakan kata Khalifah. Hadis ini adalah hadis yang Shahih sanadnya dan dengan jelas menyatakan bahwa Al Ithrah Ahlul Bait Nabi SAW adalah Khalifah bagi Umat islam. Oleh karena itu Premis bahwa Sang Khalifah setelah Rasulullah SAW itu ditunjuk dan diangkat oleh Rasulullah SAW adalah sangat beralasan :mrgreen:

KHALIFAH UMAT ISLAM ADALAH AHLUL BAIT

Rasulullah SAW  menegaskan bahwa khalifah umat Islam yang sah sepeninggal beliau adalah dari kalangan Ahlul Bait dan keturunannya. Simak hadis berikut di bawah ini.

  

 

Dari Zaid bin Tsabit RA yang berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda :  “ Sesungguhnya Aku telah meninggalkan di tengah-tengah kalian dua Khalifah yaitu Kitab Allah yang merupakan Tali yang terbentang antara bumi dan langit, serta Keturunanku Ahlul BaitKu. Keduanya tidak akan berpisah sampai menemuiku di Telaga Surga Al Haudh ”.

Hadis Ini diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal dalam Musnad Ahmad jilid 5 hal 182, Syaikh Syuaib Al Arnauth dalam Takhrij Musnad Ahmad menyatakan bahwa hadis ini shahih. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Kabir jilid 5 hal 154, Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid jilid 1 hal 170 berkata “para perawi hadis ini tsiqah”. Hadis ini juga disebutkan oleh As Suyuthi dalam Jami’ Ash Shaghir hadis no 2631 dan beliau menyatakan hadis tersebut Shahih.

Hadis ini adalah hadis yang sahih sanadnya dan dengan jelas menyatakan bahwa Al Ithrah , Ahlul Bait Nabi SAW adalah Khalifah bagi Umat Islam sepeninggal Rasulullah Muhammad SAW. Hal ini juga menegaskan bahwa Khalifah setelah Rasulullah SAW itu ditunjuk dan diangkat oleh Rasulullah SAW  sendiri.

KEHARUSAN BER – IMAMAH

Mazhab Syi’ah Imamiyah Itsna ‘Asyariyah, meyakini dengan seyakin – yakinnya bahwa Kepemimpinan Umat        ( IMAMAH ) dalam urusan agama dan dunia sepeninggal Nabiyullah Muhammad SAW telah ditetapkan oleh Rasulullah Muhammad SAW dan wasiat para Imam sesudah beliau. Kami meyakini dengan seyakin – yakinnya bahwa Pemimpinan Umat , dengan berbagai istilah seperti Imam, Khalifah, Ulil Amri, Wali dan lain – lain – hanya berhak disandang oleh para pemimpin dari kalangan Ahlul Bait Nabi SAW dan keturunannya yang berjumlah 12 orang.

Kenapa kami harus memiliki keyakinan seperti ini ?. Apakah karena kami tertipu oleh ulah si Yahudi Abdullah bin Saba’ , seperti yang sering diembus – embuskan oleh musuh – musuh dan pembenci Syi’ah ?. Absolutely, not !.

Sebabnya ialah – meminjam ungkapan Sayyid Syarafuddin Al Musawi – bahwa dalil – dalil ( petunjuk, nash )  syari’ah telah memaksa kami untuk berpegang teguh hanya kepada para Imam Ahlul Bait Nabi SAW dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam kepemimpinan umat dan rujukan agama. Dalil – dalil yang pasti dan meyakinkan itulah yang telah menghilangkan pilihan lain bagi setiap mukmin dan menghalanginya dari apa yang diinginkannya ( andaikata ia ingin memilih sesuatu yang lain ) !.

Dalil – dalil syari’ah yang kami maksud tidak saja terdapat di dalam kitab – kitab hadis yang berasal dari kalangan ulama kami, tetapi juga termaktub di banyak kitab –hadis dari para ulama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah ( Sunni ). Diantaranya ,misalnya, keharusan berimam atau memiliki Imam dan mengenal Imam zamannya.

Banyak sekali hadis dari kalangan Ahlus Sunnah yang meriwayatkan sabda Nabi SAW tentang keharusan ber- Imam atau memiliki Imam dan mengenal Imam zamannya, diantaranya :

  • “Barangsiapa mati tanpa Imam, maka ia mati dalam keadaan jahiliyah”
  • “Barangsiapa meninggal dan tidak mengetahui Imam zamannya, maka ia meninggal dalam keadaan jahiliyah “

Orang yang tidak berImam dan tidak mengenal Imam zamannya akan mati dalam keadaan jahiliyah. Mati dalam keadaan jahiliyah diartikan sebagai mati tidak dalam keadaan Islam. Jadi,  keharusan ber-Imam dan mengenal Imam zamannya merupakan kewajiban setiap mukmin. Sehingga tidak bisa dipungkiri lagi bahwa  Imamah merupakan salah satu pokok ajaran agama.

 

12 IMAM / KHALIFAH

Mazhab Syi’ah Imamiyah ‘Itsna Asyariyah meyakini bahwa  Kepemimpin Umat  ( Imamah ) sepeninggal Rasulullah Muhammad SAW, dengan berbagai jabatan seperti Imam, Khalifah, Wali dan sebagainya berjumlah 12 orang yang semuanya berada dalam garis keturunan Ahlul Bait Nabi SAW.

Riwayat – riwayat tentang 12 Pemimpin ini dapat kita temukan di dalam kitab – kitab hadis di kalangan ulama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Rasulullah SAW bersabda : “ Agama ( Islam ) akan selalu tegak dan kukuh sampai tiba saatnya atau sampai berlalu dua belas khalifah( pemimpin ), semuanya dari Quraisy “

( Sahih Muslim, jilid 6 halaman 3 – 4 , Bab  “ Manusia Mengikuti Orang Quraisy, Kitab Pemerintahan. Hadis ini juga terdapat di dalam kitab Shahih Tirmidzi, Bab  “ Apa yang terjadi pada para khalifah melalui pintu fitnah “, Sunan Abi Dawud, jilid 3 halaman 106, dll ).

2. Diriwayatkan oleh Bukhari dari Jabir yang berkata : “ Aku mendengar Nabi SAW bersabda : “ Akan ada dua belas amir ( pemimpin ) dan kemudian belia bersabda dengan kalimat yang tidak aku pahami. Dan, ayahku berkata : “ Semuanya dari orang Quraisy “.

Dan, dalam riwayat lain lagi ; “ Kemudian Nabi bersabda dengan kalimat yang sulit aku pahami dan aku bertanya kepada ayahku apa yang disabdakan Rasulullah SAW, maka ( ayahku ) berkata : “ Semuanya orang Quraisy “.

Fat’l Al Bari, jilid 16, hal. 338, Mustadrak Shahihain, jilid 3, hal. 617 )

3. Rasulullah bersabda : “ Urusan manusia ( amr an nas ) tidak akan berlalu sebelum berlalu dua belas orang yang menjadi wali ( penguasa )”

 

Shahih Muslim bi Syarh Nawawi, jilid 12 hal. 202, Jalaluddin As Suyuthi, Tarikh Al Khulafa, hal. 10 dll ).

 

4. Rasulullah SAW bersabda : “ Urusan umat ini ( amr hadzihil ummah ) senantiasa akan jaya sampai berlalu dua belas imam ( pemimpin ), semuanya orang Quraisy “ ( Kanzul – ‘Ummal, jilid 13, hal. 27 ).

5. Dan diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Al Hakim dengan lafal  seperti yang pertama, dari Masruq yang berkata : “ Kami sedang duduk suatu malam di rumah ‘Abdillah ( Ibnu Mas’ud ) yang membacakan kepada kami Al Qur’an. Seorang lelaki mengajukan pertanyaan : “ Ya ayah dari ‘Abdurrahman, apakah kamu pernah bertanya kepada Rasul Allah SAW berapa khalifah dari umat    ini ? “. Maka, ‘Abdillah menjawab : “ Tiada seorangpun bertanya tentang masalah ini sampai saya datang dari Iraq sebelum anda !”. Menanyakannya dan beliau SAW bersabda : “ Dua belas seperti jumlah dua belas nuqaba ( pemimpin ) Banu Israil “

 

Musnad Ahmad, jilid 1, hal. 398, 406 ; Al Hakim, Mustadrak, jilid 4, hal. 501, Fat’h – Al Bari, jilid 16, hal. 339 dll ).

Lantas, siapa 12 Imam / Khalifah yang wajib dikenal dan ditaati itu yang dengannya kita tidak akan mati dalam keadaan jahiliyah ?. Kami, kaum muslimin dari mazhab Syi’ah Imamiyah ‘Itsna ‘Asyariyah ( Syi’ah 12 Imam ) berkeyakinan mereka adalah para Imam / Khalifah dari Ahlul Bait Nabi SAW dan Keturunannya , dimulai dari Imam Ali bin Abi Abi Thalib dan berakhir pada Imam Mahdi afs.

Nah, pertanyaan buat Ustad   Aswaja  Sunni  dan para pengikutnya . Tolong sebutkan siapa saja nama – nama 12 Imam yang wajib kalian kenal dan kalian ta’ati itu ?.

firman Allah SWT di dalam KitabNya yang menjadikan  kontinuitas kepemimpinan di dalam keturunan Nabiyullah Ibrahim AS. Simak Surah Al Baqarah   ( 2 ) ayat 124.

“ Dan ( ingatlah )  ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat            ( perintah dan larangan ), lalu Ibrahim melaksanakannya dengan baik. Allah berfirman : “ Sesungguhnya Aku akan menjadikan engkau pemimpin ( imam ) bagi manusia “. Ibrahim berkata : “ Dan dari keturunanku ( juga ) ! “. Allah berfirman : “ Janjiku ( ini ) tidak akan diperoleh orang – orang yang zalim “.

Ayat di atas menegaskan bahwa Allah SWT akan menjadikan para Imam di dalam garisi keturunan Nabi Ibrahim AS . Di bagian lain Ibrahim AS berdo’a kepada Allah SWT  seperti termaktub di dalam Surah Ibrahim ( 14 )  ayat 37, sbb :

“ Tuhan kami, sesungguhnyab aku telah menempatkan  sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam – tanaman di dekat rumahMu ( baitullah ) yang dihormati. Ya Tuhan kami, ( yang demikian itu ) agar mereka mendirikan sholat, maka jadikanlah hati manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah – buahan, mudah – mudahan mereka bersyukur “

Semua ahli tafsir sependapat bahwa Nabi Muhammad SAW dan Ahlul Bait beliau merupakan keturunan  ( dzurriyah ) dari Nabi Ibrahim AS.

Pendapat Ulama Sunni Tentang 12 Pemimpin

BAGIAN I
Hadis 12 Pemimpin

 

روى‌ جابر بن‌ سَمُرة‌ فقال‌: سمعت‌ُ النبيّ صلّي‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌ يقول‌: يكون‌ اثنا عشر أميراً. فقال‌ كلمة‌ً لم ‌أسمعها، فقال‌ أبي‌: أنّه‌ قال‌: كلّهم‌ من‌ قريش‌.

Jabir bin Samurah meriwayatkan,  “Aku mendengar Nabi (saww) berkata” :”Kelak akan ada Dua Belas Pemimpin.” Ia lalu melanjutkan kalimatnya yang saya tidak mendengarnya secara jelas. Ayah saya mengatakan, bahwa Nabi menambahkan, ”Semuanya berasal dari suku Quraisy.”[Sahih Bukhari (inggris),  Hadits: 9.329, Kitabul Ahkam;  Sahih al-Bukhari (arab) , 4:165, Kitabul Ahkam]

BAGIAN II

Pendapat Para Ulama Sunni

  Ibn Arabi 

…فعددنا بعد رسول‌ الله صلّي‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌ اثني‌ عشر أميرًا، فوجدنا أبابكر، عمر، عثمان‌، عليًّا، الحسن‌، معاوية‌، يزيد، معاوية‌ بن‌ يزيد، مروان‌، عبد الملك‌ بن‌ مروان‌، الوليد، سليمان‌، عمر بن‌ عبد العزيز، يزيد بن‌ عبدالملك ، ‌مروان‌ بن محمد بن مروان، السفّاح‌،… وبعده‌ سبعة‌ وعشرون‌ خليفة‌ بن‌ بني‌ العبّاس‌. وإذا عددنا منهم‌ اثني‌ عشر انتهي‌ العدد بالصّورة‌ إلي‌ سليمان‌ بن‌ عبد الملك‌. وإذا عددناهم‌ بالمعني‌ كان‌ معنا منهم‌ خمسة‌، الخلفاء الاربعة‌، وعمر بن‌ عبد العزيز.

ولم‌ أعلم‌ للحديث‌ معني‌. ابن‌ العربي‌ّ، «شرح‌ سنن‌ التّرمذي‌ّ» 9: 68 ـ 69

Kami telah menghitung pemimpin (Amir-Amir) sesudah Nabi (sawa) ada dua belas. Kami temukan nama-nama mereka itu sebagai berikut: Abubakar, Umar, Usman, Ali, Hasan, Muawiyah, Yazid, Muawiyah bin Yazid, Marwan, Abdul Malik bin Marwan, Yazid bin Abdul Malik, Marwan bin Muhammad bin Marwan, As-Saffah… Sesudah ini ada lagi 27 khalifah Bani Abbas.

Jika kita perhitungkan 12 dari mereka, kita hanya sampai pada Sulaiman. Jika kita ambil apa yang tersurat saja, kita cuma mendapatkan 5 orang di antara mereka dan kepadanya kita tambahkan 4 ‘Khalifah Rasyidin’, dan Umar bin Abdul Aziz….

Saya tidak paham arti hadis ini. [Ibn Arabi, Syarh Sunan Tirmidzi, 9:68-69]

Qadi Iyad Al-Yahsubi  

قال‌: إنّه‌ قد ولي‌ أكثر من‌ هذا العدد. وقال‌: وهذا اعتراض‌ باطل‌ لانّه‌ صلّى‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌ لم‌ يقل‌: لايلي‌ الاّ اثنا عشرخليفة‌؛ وإنّما قال‌: يلي‌. وقد ولي‌ هذا العدد، ولايضرّ كونه‌ وُجد بعدهم‌ غيرهم‌. النووي‌ّ: «شرح‌ صحيح‌ مسلم‌» 12: 201 ـ 202. ابن‌ حجر العسقلاني‌ّ: «فتح‌ الباري‌» 16: 339

Jumlah khalifah yang ada lebih dari itu. Adalah keliru untuk membatasinya hanya sampai angka dua belas. Nabi (saw) tidak mengatakan bahwa jumlahnya hanya dua belas dan bahwa tidak ada tambahan lagi. Maka mungkin saja jumlahnya lebih banyak lagi. [Al-Nawawi, Syarh Shahih Muslim, 12:201-202;  Ibn Hajar al-'Asqalani, Fath al-Bari, 16:339]

Jalaludin as-Suyuti

إن‌ّ المراد وجود اثني‌ عشر خليفة‌ في‌ جميع‌ مدّة‌ الاسلام‌ إلي‌ يوم‌ القيامه‌ يعملون‌ بالحق‌ّ وإن‌ لم‌ تتوال‌ أيّامهم‌…وعلى‌ هذا فقد وُجد من‌ الاثني‌ عشر خليفة‌ الخلفاء الاربعة‌، والحسن‌، ومعاوية‌، وابن‌ الزّبير، وعمر بن‌ عبد العزيز، هؤلاء ثمانية‌. ويحتمل‌ أن‌ يُضم‌ّ إليهم‌ المهتدي‌ من‌ العبّاسيّين‌، لانّه‌ فيهم‌ كعمر بن‌ عبد العزيز في‌ بني‌ أُميّة‌. وكذلك الطاهر لما اوتي‌ من‌ العدل‌، وبقي‌ الاثنان‌ المنتظران‌ أحدهما المهدي‌ لانّه‌ من‌ آل‌ بيت‌ محمّد صلّي‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌. السّيوطي‌: «تاريخ‌ الخلفاء»: 12. ابن‌ حجر الهيثمي‌ّ: الصّواعق‌ المحرقة‌: 19

Hanya ada dua belas Khalifah sampai hari kiamat. Dan mereka akan terus melangkah dalam kebenaran, meski mungkin kedatangan mereka tidak secara berurutan. Kita lihat bahwa dari yang dua belas itu, 4 adalah Khalifah Rasyidin, lalu Hasan, lalu Muawiyah, lalu Ibnu Zubair, dan akhirnya Umar bin Abdul Aziz. Semua ada 8. Masih sisa 4 lagi. Mungkin Mahdi, Bani Abbasiyah bisa dimasukkan ke dalamnya sebab dia seorang Bani Abbasiyah seperti Umar bin Abdul Aziz yang (berasal dari) Bani Umayyah. Dan Tahir Abbasi juga bisa dimasukkan sebab dia pemimpin yang adil. Jadi, masih dua lagi. Salah satu di antaranya adalah Mahdi, sebab ia berasal dari Ahlul Bait Nabi (as).” [Al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa, Halaman 12; Ibn Hajar al-Haytami, Al-Sawa'iq al-Muhriqa Halaman 19]

Ibn Hajar al-’Asqalani 

لم‌ ألق‌ أحدًا يقطع‌ في‌ هذا الحديث‌، يعني‌ بشي‌ء معيّن‌؛ فان‌ّ في‌ وجودهم‌ في‌ عصر واحد يوجد عين‌ الافتراق‌، فلايصح‌ّ أن‌ يكون‌ المراد. ابن‌ حجر العسقلاني‌ّ، «فتح‌ الباري‌» 16: 338 ـ 341

Tidak seorang pun mengerti tentang hadis dari Sahih Bukhari ini.

Adalah tidak benar untuk mengatakan bahwa Imam-imam itu akan hadir sekaligus pada satu saat bersamaan. [Ibn Hajar al-'Asqalani, Fath al-Bari 16:338-341]

 Ibn al-Jawzi  

وأوّل‌ بني‌ أُميّة‌ يزيد بن‌ معاوية‌، وآخرهم‌ مروان‌ الحمار. وعدّتهم‌ ثلاثة‌ عشر. ولايعدّ عثمان‌، و معاوية‌، ولا ابن‌ الزّبير لكونهم‌ صحابة‌. فإذا أسقطناهم‌ منهم‌ مروان‌ بن‌ الحكم‌ للاختلاف‌ في‌ صحبته‌، أو لانّه‌ كان‌ متغلّبًا بعد أن‌ اجتمع‌ النّاس‌على‌ عبد الله بن‌ الزّبير صحّت‌ العدّة‌…وعند خروج‌ الخلافة‌ من‌ بني‌ أُميّة‌ وقعت‌ الفتن‌ العظيمة‌ والملاحم‌ الكثيرة‌ حتّى ‌استقرّت‌ دولة‌ بني‌ العبّاس‌، فتغيّرت‌ الاحوال‌ عمّا كانت‌ عليه‌ تغيّرًا بيّنًا. ابن‌ الجوزي‌ّ ، «كشف‌ المشكل‌» ، نقلاً عن‌ ابن‌ حجر العسقلاني‌ّ في‌ «فتح‌ الباري‌» 16: 340، عن‌ سبط‌ ابن‌ الجوزي‌ّ.

Khalifah pertama Bani Umayyah adalah Yazid bin Muawiyah dan yang terakhir adalah Marwan Al-Himar. Total jumlahnya tiga belasUsman, Muawiyah dan Ibnu Zubair tidak termasuk karena mereka tergolong Sahabat Nabi (s).  Jika kita kecualikan (keluarkan) Marwan bin Hakam karena adanya kontroversi tentang statusnya sebagai Sahabat atau karena ia berkuasa padahal Abdullah bin Zubair memperoleh dukungan masyarakat, maka kita mendapatkan angka Dua Belas.… Ketika kekhalifahan muncul dari Bani Umayyah, terjadilah kekacauan yang besar sampai kukuhnya (kekuasaan) Bani Abbasiyah. Bagaimana pun, kondisi awal telah berubah total. [Ibn al-Jawzi, Kashf al-Mushkil, sebagaimana dikutip dalam Ibn Hajar al-'Asqalani, Fath al-Bari 16:340 dari Sibt Ibn al-Jawzi]

Al-Nawawi

ويُحتمل‌ أن‌ المراد [بالائمّة‌ الاثني‌ عشر] مَن‌ْ يُعَزُّ الإسلام‌ في‌ زمنه‌ ويجتمع‌ المسلمون‌ عليه‌.

النووي‌ّ، «شرح‌ صحيح‌ مسلم‌» 12: 202 ـ 203

Ia bisa saja berarti bahwa kedua belas Imam berada dalam masa (periode) kejayaan Islam. Yakni ketika Islam (akan) menjadi dominan sebagai agama. Para Khalifah ini, dalam masa kekuasaan mereka, akan menyebabkan agama menjadi mulia.[Al-Nawawi, Sharh Sahih Muslim ,12:202-203]

 Al-Bayhaqi   

وقد وُجد هذا العدد (اثنا عشر) بالصفة‌ المذكورة‌ إلي‌ وقت‌ الوليد بن‌ يزيد بن‌ عبد الملك. ثم‌ّ وقع‌ الهرج‌ والفتنة ‌العظيمة‌…ثم‌ّ ظهر ملك العبّاسيّة‌…وإنّما يزيدون‌ على‌ العدد المذكور في‌ الخبر إذا تركت‌ الصفة‌ المذكورة‌ فيه‌، أو عُدَّ منهم ‌من‌ كان‌ بعد الهرج‌ المذكور فيه‌.

ابن‌ كثير: «البداية‌ والنّهاية‌» 6: 249؛ السّيوطي‌ّ، «تاريخ‌ الخلفاء»:11

Angka (dua belas) ini dihitung hingga periode Walid bin Abdul Malik. Sesudah ini, muncul kerusakan dan kekacauan. Lalu datang masa dinasti Abbasiyah. Laporan ini telah meningkatkan jumlah Imam-imam. Jika kita abaikan karakteristik mereka yang datang sesudah masa kacau-balau itu, maka angka tadi menjadi jauh lebih banyak.” [Ibn Katsir, Ta'rikh, 6:249; Al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa Halaman 11]

 Ibn Katsir

فهذا الّذي‌ سلكه‌ البيهقي‌ّ، وقد وافقه‌ عليه‌ جماعة‌ من‌ أن‌ّ المراد بالخلفاء الاثني‌ عشر المذكورين‌ في‌ هذا الحديث‌ هم ‌المتتابعون‌ إلي‌ زمن‌ الوليد بن‌ يزيد بن عبد الملك‌ الفاسق‌ الّذي‌ قدّمنا الحديث‌ فيه‌ بالذّم‌ّ والوعيد، فانّه‌ مسلك‌ فيه‌ نظر…فان‌ اعتبرنا ولاية‌ ابن‌ الزبير قبل‌ عبد الملك‌ صاروا ستّة‌ عشر، وعلى كلّ تقدير فهم‌ اثنا عشر قبل‌ عمر بن‌ عبد العزيز. فهذا الّذي‌ سلكه‌ على‌ هذا التّقدير يدخل‌ في‌ الاثني‌ عشر يزيد بن‌ معاوية‌، و يخرج‌ منهم‌ عمر بن‌ عبد العزيز الّذي‌ أطبق‌ الائمّة‌ على شكره‌ وعلى مدحه‌، وعدوّه‌ من‌ الخلفاء الرّاشدين‌، وأجمع‌ الناس‌ قاطبة‌ على‌ عدله‌. ابن‌ كثير، «البداية‌ والنّهاية‌» 6: 249 ـ 250

Barang siapa mengikuti Bayhaqi dan setuju dengan pernyataannya bahwa kata ‘Jama’ah’ berarti Khalifah-khalifah yang datang secara tidak berurutan hingga masa Walid bin Yazid bin Abdul Malik yang jahat dan sesat itu, maka berarti ia (orang itu) setuju dengan hadis yang kami kritik dan mengecualikan tokoh-tokoh tadi.

Dan jika kita menerima Kekhalifahan Ibnu Zubair sebelum Abdul Malik, jumlahnya menjadi enam belas. Padahal jumlah seluruhnya seharusnya dua belas sebelum Umar bin Abdul Aziz. Dalam perhitungan ini, Yazid bin Muawiyah termasuk di dalamnya sementara Umar bin Abdul Aziz tidak dimasukkan.  Meski demikian, sudah menjadi pendapat umum bahwa para ulama menerima Umar bin Abdul Aziz sebagai seorang Khalifah yang jujur dan adil. [Ibn Katsir, Ta'rikh, 6:249-250]

MEREKA BINGUNG ?

Kita perlu pendapat seorang ulama Sunni lain yang dapat mengklarifikasi siapa Dua Belas Penerus, Khalifah, para Amir atau Imam-imam sebenarnya.

Al-Dzahabi mengatakan dalam Tadzkirat al-Huffaz , jilid 4, halaman 298, dan Ibn Hajar al-’Asqalani menyatakan dalam al-Durar al Kaminah, jilid 1, hal. 67, bahwa Shadrudin Ibrahim bin Muhammad bin al-Hamawayh al-Juwaini al-Syafi’i  adalah seorang ahli Hadis yang mumpuni.

Lebih lengkap tentang Al-Juwaini, silahkan rujuk catatan Al-Muhadits Al-Juwaini Asy-Syafi’i (ra) dan Hadis Tentang Sayyidah Fathimah sa

BAGIAN III

Al-Juwayni Asy-Syafi’i : 

عن‌ عبد الله بن‌عبّاس‌ رضي‌ الله عنه‌، عن‌ النّبي‌ّ  صلّي‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌ أنّه‌ قال‌: أنا سيّد المُرسَلين‌، وعلي‌ّ بن‌ أبي‌ طالب‌ سيّدالوصيّين‌، وأن‌ّ أوصيائي‌ بعدي‌ اثنا عشر، أوّلهم‌ علي‌ّ بن‌ أبي‌ طالب‌، وآخرهم‌ القائم‌.

 dari Abdullah bin Abbas (ra) bahwa Nabi (sawa) mengatakan,”Saya adalah penghulu para Nabi dan Ali bin Abi Thalib adalah pemimpin para penerus, dan sesudah saya akan ada dua belas penerus. Yang pertama  adalah Ali bin Abi Thalib dan yang terakhir adalah al-Qaim.

عن‌ ابن‌ عبّاس‌ رضي‌ الله عنه‌، عن‌ النبي‌ّ صلّي‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌ أنّه‌ قال‌: أن‌ّ خلفائي‌ وأوصيائي‌وححج‌ الله على‌ الخلق‌ بعدي‌ لاثنا عشر، أوّلهم‌ أخي‌، وآخرهم‌ وَلَدي‌. قيل‌: يا رسول‌ الله، ومن‌ أخوك‌؟ قال‌: علي‌ّ بن‌ أبي‌طالب‌. قيل‌: فمن‌ وَلَدُك‌َ؟ قال‌: المهدي‌ّ الّذي‌ يملاها قسطًا وعدلاً كما مُلئت‌ جورًا وظلمًا. والّذي‌ بعثني‌ بالحق‌ّ بشيرًا لو لم‌ يبق‌ من‌ الدّنيا الاّ يوم‌ واحد لطَوَّل‌ الله ذلك‌ اليوم‌ حتّي‌ يخرج‌ فيه‌ ولدي‌ المهدي‌، فينزل‌روح‌ الله عيسى بن‌ مريم‌ فيُصلّي‌ خلفَه‌ُ، وتُشرق‌ الارض‌ بنور ربّها، ويبلغ‌ سلطانه‌ المشرق‌ والمغرب‌.

Dari Ibnu Abbas (r) bahwa Rasulullah (sawa) berkata: ”Sudah pasti bahwa washi-washiku dan Bukti (hujjah) Allah bagi makhluk sesudahku ada dua belas. Yang pertama di antara mereka adalah saudaraku dan yang terakhir adalah anak (cucu) ku.”  Orang bertanya: “Wahai Rasulullah, siapakah saudaramu itu?”. Beliau menjawab: “Ali bin Abi Thalib.” Lalu beliau ditanyai lagi: “ Dan siapakan anak (cucu) mu itu?” Nabi yang suci (sawa) menjawab: ”Al-Mahdi. Dia akan mengisi bumi dengan keadilan dan persamaan ketika ia (bumi) dipenuhi ketidakadilan dan tirani. Dan demi Yang Mengangatku sebagai pemberi peringatan dan memberiku  kabar gembira, meski seandainya masa berputarnya dunia ini tinggal sehari saja, Allah SWT akan memperpanjang hari itu sampai diutusnya (anakku) Mahdi, kemudian ia akan disusul Ruhullah Isa bin Maryam (as) yang turun ke bumi dan berdoa di belakangnya (Mahdi). Dunia akan diterangi oleh sinarnya, dan kekuatannya akan mencapai hingga ke timur dan ke barat.”

رسول‌ الله صلّي‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌ أنّه‌ قال‌: أنا، وعلي‌ّ، والحسن‌، والحسين‌، وتسعة‌ من‌ ولد الحسين‌ مطهّرون‌ معصومون‌. الجويني‌ّ، «فرائد السمطين‌» مؤسّسة‌ المحمودي‌ّ للطّباعة‌ والنشر، بيروت‌، 1978، ص‌

 Rasulullah (sawa) mengatakan: ”Aku dan Ali dan Hasan dan Husain dan sembilan anak cucu Husain adalah yang disucikan (dari dosa) dan dalam kebenaran.”  [Al-Juwaini, Fara'id al-Simthain, Mu'assassat al-Mahmudi li-Taba'ah, Beirut 1978, h. 160.]

Di antara semua mazhab Islam, hanya Syiah Imamiyah Itsna ‘Asyariyah yang percaya pada individu-individu sebagai Dua Belas orang dari Ahlul Bait Raulullah saww yang berhak sebagai Penerus Rasulullah saww.

Ulama Sunni Syaikh Sulayman Al-Qunduzi Al-Balkhi Al-Hanafi dan Nama 12 Imam Yang Disebutkan Oleh Rasulullah (saww)

BAGIAN I

Selama ini banyak kalangan yang tidak mengetahui siapa sebenarnya Syaikh Sulaiman Al-Qunduzi Al-Balkhi Al-Hanafi, yang merupakan salah satu Ulama Sunni yang banyak mencatat riwayat-riwayat mengenai keutamaan Rasulullah (saww) dan Ahlul Bait (as). Dan anehnya, oleh kaum Nawashib, Syaikh Sulaiman Al-Hanafi dituduh sebagai Syiah, apa motif dibalik semua itu..? apakah kebiasaan kaum Naswahib yang suka menuduh seseorang yang banyak menulis keagungan Rasulullah (saww) dan Ahlul Bait (as) pada khususnya langsung mereka vonis sebagai Syiah!? hal ini tak jauh beda dengan Ibn Abil Hadid seorang bermazhab Mu’tazilah yang mereka katakan Syiah!

Nawashib harusnya sadar bahwa kedekilan otak mereka sampai detik ini bukanlah suatu yang asing, apakah mereka tidak malu dengan cara mereka yang suka menyembunyikan keterangan yang jelas bahkan terkadang memelintir sebuah riwayat atau membuangnya jika tidak sesuai dengan nafsu mereka..!?

Sayikh Sulaiman Al Hanafi adalah salah satu Mufti Agung Konstantinopel dan Ketua Kekhalifahan Utsmani, pusat islam Sunni pada masanya. Sangat tidak masuk akal jika dikatakan beliau sebagai Syiah dan apakah logis orang syiah menjadi mufti agung dalam kekahlifahan Ustmani tersebut? Sedangkan Ottoman sangat tidak suka dengan Syiah atau siapapun yang cenderung kepada Syiah!

Bahkan sejarah tidak mencatat adanya pengusiran atau tuduhan kepada Syaikh Sulaiman al Hanafi pada saat penulisan kitab beliau yang agung yaitu Yanabiul Mawaddah, jika memang beliau syiah maka pemerintahan Ottoman pasti akan menyingkirkannya.

Pandangan Sunni tentang Syaikh Sulaiman Al Qunduzi Al Balkhi Al Hanafi

Dalam Kitab الأعلام :

“(Al Qunduzi) (1220-1270H) (1805-1863 M) Sualyman putra dari Khuwajah Ibrahim Qubalan Al Husaini Al Hanafi Al Naqshbandi al Qunduzi : Seorang yang shaleh, berasal dari Balakh, wafat di kota Qustantinya, ia memiliki kitab “Yanabiul Mawaddah” yang berisi tentang keutamaan Rasulullah dan Ahlul Baitnya” (الأعلام, j.3, h.125)

.

Umar Ridha Kahalah mencatat dalam معجم المؤلفين :

Sulaiman Al Qunduzi (1220-1294 H) (1805-1877)

Sulaiman bin Ibrahim al Qunduzi al Balkhi al Husaini al Hasymi, seorang Sufi, kitabnya (karyanya) : Ajma al Fawaid, Musyriq al Akwan, Yanabiul Mawaddah….” (Muajam al Mualfiin, oleh Umar Ridha Kahalah, j. 4)

Ulama Sunni Ismail Basya Al Baghdadi (اسماعيل باشا البغدادي) dalam هدية العارفين

Mencatat :

“Al Qunduzi – Sulayman ibn Khuwajah Qalan Ibrahim ibn Baba Khawajah al Qunduzi al Balkhi al Sufi Al Husaini, tinggal di Qustantinya, lahir pada tahun 1220 H dan wafat 1294″ (Hidyat al Arifin, j.1, h. 408)

.

Dalam ايضاح المكنون في الذيل على كشف الظنون Ismail Basya Al Baghdadi juga mencatat :

“Al Qunduzi – Sulayman bin Khawaja Qalan Ibrahim bin baba Khuwaja Al Qunduzi al Balkhi al Sufi al Husaini. Dia tinggal di Qustantiya, lahir pada 1220 H dan wafat tahun 1294 H. Karyanya : Jama’ Al Fawa’id, Masyriq al Akwan, Yanabiul Mawadah mengenai karakteristik Rasulullah (saww) dan hadis dari Ahlul Bait”

.

Yusuf Alyan Sarkys mencatat dalam معجم المطبوعات العربية, j.1 h.586 :

“Sulayman bin Khujah Qublan al Qunduzi al Balkhi. (kitabnya) Yanabiul Mawadah berisi Keutamaan Amirul Mu’minin Ali”

.

Sangat aneh jika dikatakan bahwa Syaikh Sulayman yang bermazhab Hanafi ini di tuduh sebagai Syiah..! Kenyataannya beberapa ulama Sunni (Mazhab Hanafi) seperti :

1. Saim Khisthi al Hanafi dalam Musykil Kushah mengutip banyak Hadis dari Yanabiul Mawaddah yang disusun oleh Syaikh Sulaiman al Hanafi.

2. Dr. Muhamad Tahir ul Qadri (“Hub Ali” hal.28) mengacu pada Yanabiul Mawaddah ketika mengutip Hadis mengenai keutamaan Ahlul Bait (as).

3. Mufti Ghulam Rasul (Hasab aur Nasab, j.1 h.191, London) juga mengacu pada Yanabiul Mawadah ketika mengutip hadis keutamaan Ahlul Bait (as).

Jika memang Syaikh Sulayman Al Hanafi dikatakan Syiah oleh kaum Nawashib lalu apakah beberapa ulama terkemuka Mazhab Hanafi yang disebutkan diatas begitu bodoh atau buta huruf hingga mereka mengutip catatan ulama Syi’ah (yg kata mereka jgn percaya sama syiah) bagi para pembaca Sunni ?

Alasan paling dasar dibalik “pengecapan” dengan menyatakan figur yang sebenarnya Sunni sebagai Syiah oleh kaum Nawashib adalah karena ulama sejati seperti Syaikh Sulayman Al Hanafi dianggap berpihak kepada Syiah hanya karena banyak mencatat hadis Rasulullah (saww) yang mana riwayatnya banyak dianggap sesuai dengan keyakinan Syiah..!

BAGIAN II

Syaikh Sulayman Al Qunduzi Al Hanafi Mencatat Nama-Nama Para Imam Yang Harus Di ikuti Setelah Rasulullah Saww Dalam Kitabnya Yanabiul Mawaddah

Yanabiul Mawaddah (j.3, h.100-101) dan Yanabiul Mawaddah (j.3 h.284, Tahqiq oleh Sayyid Ali Jamali Asyraf Al Husayni), riwayat dari Jabir al-Anshari (ra) berkata :

Jundal bin Janadah berjumpa Rasulullah (saww) dan bertanya kepada beliau beberapa masalah. Kemudian dia berkata :

Riwayat seperti diatas tidak hanya satu dalam kitab Yanabiul Mawaddah, namun ini sudah cukup sebagai bukti bahwa nama para Imam Ahlul Bait telah dijelaskan oleh Rasulullah (saww) dan tercatat dalam Kitab Sunni sendiri.

Beritahukan kepadaku wahai Rasulullah tentang para washi anda setelah anda supaya aku berpegang kepada mereka.

Beliau (saww) menjawab : “Washiku dua belas orang.”

Lalu Jundal berkata : “Begitulah kami dapati di dalam Taurat.”

Kemudian dia berkata : “Namakan mereka kepadaku wahai Rasulullah.”

Maka Beliau (saww) menjawab :

Pertama adalah penghulu dan ayah para washi adalah Ali. Kemudian dua anak lelakinya Hasan dan Husain. Berpeganglah kepada mereka dan janganlah kejahilan orang-orang yang jahil itu memperdayakanmu. Kemudian Ali bin Husain Zainal Abidin, Allah akan mewafatkan (Ali bin Husain) dan menjadikan air susu sebagai minuman terakhir di dunia ini.”

Jundal berkata :

“Kami telah mendapatinya di dalam Taurat dan di dalam kitab-kitab para Nabi (as) seperti Iliya, Syibra dan Syabir. Maka ini adalah nama Ali, Hasan dan Husain, lalu siapa setelah Husain..? siapa nama mereka..?”

Berkata (Rasulullah) saww :

Setelah wafatnya Husain, imam setelahnya adalah putranya Ali dipanggil Zainal Abidin setelahnya adalah anak lelakinya Muhammad, dipanggil al-Baqir. Setelahnya anak lelakinya Ja’far dipanggil al-Shadiq. Setelahnya anak lelakinya Musa dipanggil al-Kadzim. Setelahnya anak lelakinya Ali dipanggil al-Ridha. Setelahnya anak lelakinya Muhammad dipanggil al Taqy Az Zaky. Setelahnya anak lelakinya Ali dipanggil al-Naqiy al-Hadi. Setelahnya anak lelakinya Hasan dipanggil al-Askari. Setelahnya anak lelakinya Muhammad dipanggil al-Mahdi al-Qa’im dan al-Hujjah. Beliau ghaib dan akan keluar memenuhi bumi dengan kejujuran dan keadilan sebagaimana itu dipenuhi dengan kefasadan dan kezaliman. Alangkah beruntungnya bagi orang-orang yang bersabar semasa ghaibnya. Dan alangkah beruntungnya bagi orang-orang yang bertaqwa terhadap Hujjah mereka. Dan mereka itulah orang yang disifatkan oleh Allah di dalam firmanNya “Petunjuk bagi mereka yang bertaqwa yaitu mereka yang beriman kepada yang ghaib.”(1) Kemudian beliau membaca “Maka sesungguhnya partai Allah itulah yang pasti menang.”(2) Beliau bersabda : Mereka adalah dari partai Allah (hizbullah).”

[1]. Surah al-Baqarah (2) : 2-3

[2]. Surah al-Mai’dah (5) :56

Khalifah Rasulullah Yang WAJIB di ikuti sesuai Hadist Rasulullah saww.


Berdasarkan hadith Nabi saaw dalam kitab Ahlul Sunnah antaranya ialah :

Daripada Said bin Jubair daripada Ibn Abbas berkata: Bersabda Rasulullah SAWAW: “Sesungguhnya khalifah-khalifahku dan wasi-wasiku, hujah-hujah Allah di atas makhlukNya selepasku ialah 12 orang; yang pertama Ali dan yang akhirnya cicitku al-Mahdi; maka itulah Isa b. Maryam bersembahyang di belakang al-Mahdi (Yanabi al-Mawaddah, hlm. 447)

.

Hadith yang dikeluarkan oleh Abu al-Mu’ayyid Ibn Ahmad al-Khawarizmi dengan sanadnya dari Abu Sulaiman yang berkata : “Aku mendengar Rasulullah SAWAW dan Ahli Baitnya berkata: Di malam aku dinaikkan ke langit (Mi’raj) Allah SWT berkata kepadaku…lihatlah di kanan Arasy, lalu aku memaling ke arahnya, maka aku dapati Ali, Fatimah, Hasan, Husayn, Ali b. Husayn, Muhammad b. Ali, Ja’far b. Muhammad, Musa b. Ja’far, Ali b. Musa, Muhammad b. Ali, Ali b. Muhammad, Hasan b. Ali, dan Muhammad al-Mahdi b. Hasan; ia seperti cakerawala yang berputar di kalangan mereka. Dan dia berfirman: “Wahai Muhammad, mereka itulah hujah-hujahKu ke atas hamba-hambaKu, merekalah wasi-wasiKu (khalifah-khalifahku).”(Yanabi al-Mawaddah, hlm. 487)

.

Sila teliti dengan sebaik-baiknya hadis-hadis di bawah yang telah diriwayatkan oleh ulama-ulama sunni:

Hadith-hadith yang menghadkan pengganti Nabi SAW kepada dua belas orang.

Hadith-hadith yang menghadkan pengganti-pengganti Nabi SAWW kepada dua belas orang, telah diriwayatkan oleh jumhur ulama Muslimin Sunnah dan Syi’ah di dalam Sahih-sahih dan Musnad-musnad mereka

.

Ahmad bin Hanbal di dalam Musnadnya (al-Musnad, I, hlm 398) meriwayatkan hadith ini daripada Sya’bi daripada Masruq berkata:”Kami berada di sisi ‘Abdullah bin Mas’ud yang sedang memperdengarkan bacaan al-Qur’an kepada kami. Tiba-tiba seorang lelaki bertanya kepadanya: Wahai Abu ‘Abdu r-Rahman! Adakah anda telah bertanya Rasulullah SAWAW berapakah ummat ini memiliki khalifah?” Abdullah bin Mas’ud menjawab:”Tiada seorangpun bertanya kepadaku mengenainya semenjak aku datang ke Iraq sebelum anda.” Kemudian dia berkata:”Ya! Sesungguhnya kami telah bertanya kepada Rasulullah SAWAW mengenainya. Maka beliau menjawab:”Dua belas (khalifah) seperti bilangan naqib Bani Israil.”

.

Di dalam riwayat yang lain Ahmad bin Hanbal meriwayatkan daripada Jabir bin Samurah, sesungguhnya dia berkata:”Aku mendengar Rasulullah SAWAW bersabda semasa Haji Wida’:”Urusan agama ini masih pada zahirnya di tangan penentangannya dan tidak akan dihancurkan oleh orang-orang yang menyalahinya sehingga berlalunya dua belas Amir, semuanya daripada Quraisy.” (al-Musnad, I, hlm 406, dan V, hlm 89)

.

Muslim di dalam Sahihnya ( Sahih, II, hlm 79 )meriwayatkan daripada Jabir bin Samurah sesungguhnya dia berkata:”Aku bersama bapaku berjumpa Nabi SAWAW, Maka aku mendengar Nabi SAWAW bersabda:”Urusan ‘ini’ tidak akan selesai sehingga berlaku pada mereka dua belas khalifah.” Dia berkata: Kemudian beliau bercakap dengan perlahan kepadaku. Akupun bertanya bapaku apakah yang diucapkan oleh beliau? Dia menjawab:”Semuanya daripada Quraisy.”
Muslim juga meriwayatkan di dalam Sahihnya daripada Nabi SAWAW beliau bersabda:”Agama sentiasa teguh sehingga hari kiamat dan dua belas khalifah memimpin mereka, semuanya daripada Quraisy. Di dalam riwayat yang lain “Urusan manusia berlalu dengan perlantikan dua belas lelaki dari Quraisy, ” “Sentiasa Islam itu kuat sehingga kepada dua belas khalifah daripada Quraisy” dan “Sentiasa ugama ini kuat dan kukuh sehingga dua belas khalifah daripada Quraisy”
Al-Turmudzi di dalam al-Sunannya (al-sunan, II, hlm 110 ) mencatat hadith tersebut dengan lafaz amir bukan khalifah.

.

Sementara al-Bukhari di dalam Sahihnya ( Sahih, IV, hlm 120 (Kitab al-Ahkam ) meriwayatkannya daripada Jabir bin Samurah bahawa Nabi SAWAW bersabda:”Selepasku ialah dua belas amir.” Maka beliau berucap dengan perkataan yang aku tidak mendengarnya. Bapaku memberitahuku bahawa beliau bersabda:”Semuanya daripada Quraisy.”

.

Al-Muttaqi al-Hindi di dalam Kanz al-Ummal ( Kanz al-Ummal, VI, hlm 160 ), meriwayatkan bahawa Nabi SAWAW bersabda:”Selepasku akan (diikuti) oleh dua belas khalifah.”

.

Ibn Hajr di dalam al-Sawa’iq al-Muhriqah ( al-Sawa’iq al-Muhriqah, bab XI ) meriwayatkan daripada Jabir bin Samurah bahawa Nabi SAWAW bersabda:”Selepasku akan (dikuti) dua belas amair semuanya daripada Quraisy.”

.

Al-Qunduzi al-Hanafi di dalam Yanabi’ al-Mawaddah (Yanabi’ al-Mawaddah, hlm 444 (bab 7) mencatat riwayat daripada Jabir bin Samurah sesungguhnya dia berkata:”Aku bersama bapaku di sisi Nabi SAWAW beliau bersabda:”Selepasku dua belas khalifah.” Kemudian beliau merendahkan suaranya. Maka akupun bertanya bapaku mengenainya. Dia menjawab: Beliau bersabda: “Semuanya daripada Bani Hasyim.”

Samak bin Harb juga meriwayatkannya dengan lafaz yang sama. Diriwayatkan daripada al-Sya’bi daripada Masruq daripada Ibn Mas’ud bahawa sesungguhnya Nabi SAWAW telah menjanjikan kita bahawa selepasnya dua belas khalifah sama dengan bilangan naqib Bani Isra’il. Dan dia berkata di dalam bab yang sama bahawa Yahya bin al-Hasan telah menyebutkannya di dalam Kitab al-Umdah dengan dua puluh riwayat bahawa khalifah-khalifah selepas Nabi SAWAW adalah dua belas orang. Semuanya daripada Quraisy. Al-Bukhari telah menyebutkannya dengan tiga riwayat, Muslim sembilan riwayat. Abu Daud tiga riwayat, al-Turmudhi satu riwayat dan al-Humaidi tiga riwayat

.

Pengkaji-pengkaji menegaskan bahawa hadith-hadith tersebut menunjukkan bahawa khalifah-khalifah selepas Nabi SAWAW ialah dua belas orang. Dan maksud hadith Nabi SAWAW ialah dua belas orang daripada Ahlu l-Baitnya. Kerana tidak mungkin dikaitkan hadith ini kepada khalifah-khalifah yang terdiri daripada bilangan mereka kurang daripada dua belas orang. Dan tidak mungkin dikaitkan dengan khalifah-khalifah Bani Umaiyyah kerana bilangan mereka melebihi dua belas orang dan kezaliman mereka yang ketara selain daripada ‘Umar bin Abdu l-Aziz. Tambahan pula mereka bukan daripada Bani Hasyim. Di dalam riwayat yang lain beliau memilih Bani Hasyim di kalangan Quraisy dan memilih Ahlu l-Baitnya di kalangan Bani Hasyim (Muslim, Sahih, II, hlm 81 (Fadhl Ahlu l-Bait)
.

Di dalam riwayat ‘Abdu l-Malik daripada Jabir bahawa Nabi SAWAW telah merendahkan suaranya ketika menyebutkan Bani Hasyim kerana ‘mereka’ tidak menyukai Bani Hasyim. Hadith ini juga tidak boleh dikaitkan dengan khalifah-khalifah Bani ‘Abbas kerana bilangan mereka melebihi bilangan tersebut. Dan mereka tidak mengambil berat tentang firmanNya “Katakan!” Aku tidak meminta upah daripada kamu kecuali mencintai keluargaku, ” sebagaimana juga mereka tidak menghormati hadith al-Kisa’. Justeru itu, hadith tersebut mestilah dikaitkan dengan dua belas Ahlu l-Baitnya kerana merekalah orang yang paling alim, warak, takwa, paling tinggi keturunan dan ilmu-ilmu mereka adalah daripada datuk-datuk mereka yang berhubungan dengan datuk mereka Rasulullah SAWAW dari segi “warisan” dan hikmah. Mereka pula dikenali oleh para ilmuan. Oleh itu apa yang dimaksudkan oleh hadith tersebut ialah dua belas Ahlu l-Bait Rasulullah Saww (Yanabi’ al-Mawaddah, hlm 445)

.
Ini juga diperkuatkan oleh hadith thaqalain, hadith al-Safinah, hadith al-Manzilah dan lain-lain

.

Al-Qunduzi al-Hanafi (Yanabi’ al-Mawaddah, hlm 445) juga telah meriwayatkan hadith daripada Jabir dia berkata: Rasulullah SAWAW bersabda:”Akulah penghulu para Nabi dan ‘Ali adalah penghulu para wasi. Dan sesungguhnya para wasi selepasku ialah dua belas orang, pertama ‘Ali dan yang akhirnya Qaim al-Mahdi.”

.

Hadith-hadith yang menerangkan bahawa merekalah para wasi Rasulullah SAWAW di dalam buku-buku Ahlu l-Sunnah adalah banyak, dan ianya melebihi had mutawatir. Ini tidak termasuk hadith-hadith riwayat Syi’ah. Umpamanya hadith daripada Salman RD berkata: Aku berjumpa Nabi SAWAW dan Husain berada di atas dua pahanya. Nabi SAWAW sedang mengucup dahinya sambil berkata:’Anda adalah Sayyid bin Sayyid dan adik Sayyid. Anda adalah imam bin imam dan adik imam. Anda adalah Hujjah bin Hujjah dan adik Hujjah dan bapa hujjah-hujjah yang sembilan. Dan yang kesembilan mereka ialah Mahdi al-Muntazar.”

.

Al-Hamawaini al-Syafi’i di dalam Fara’id al-Simtin (Fara’id al-Simtin, II, hlm 26), meriwayatkan daripada ‘Ibn Abbas berkata: Aku mendengar Rasulullah SAWAW bersabda:”Aku , Ali, Hasan, Husain dan sembilan daripada anak-anak Husain adalah disuci dan dimaksumkan.”

.

Ibn ‘Abbas juga meriwayatkan bahawa Nabi SAWAW bersabda:”Wasi-wasiku, hujjah-hujjah Allah ke atas makhlukNya dua belas orang, pertamanya saudaraku dan akhirnya ialah anak lelakiku (waladi).” Lalu ditanya Rasulullah siapakah saudara anda wahai Rasulullah? Beliau menjawab:’Ali. Dan ditanya lagi siapakah anak lelaki anda? Beliau menjawab: al-Mahdi yang akan memenuhi bumi ini dengan kejujuran dan keadilan sebagaimana ianya dipenuhi dengan kerosakan dan kezaliman. Demi Tuhan yang mengutusku dengan kebenaran sebagai kegembiraan dan peringatan, sekiranya dunia ini tinggal hanya satu hari lagi nescaya Allah akan memanjangkannya sehingga keluar anak lelakiku al-Mahdi. Kemudian diikuti oleh ‘Isa bin Maryam. Beliau akan mengerjakan solat di belakang anak lelakiku. Dunia pada ketika itu berseri dengan cahaya Tuhannya dan pemerintahannya meliputi Timur dan Barat

.

Al-Qunduzi al-Hanafi di dalam Yanabi’ al-Mawaddah bab 95) meriwayatkan bahawa Jabir bin ‘Abdullah berkata: Rasulullah saww bersabda : Wahai Jabir! Sesungguhnya para wasiku dan para imam selepasku pertamanya Ali kemudian Hasan kemudian Husain kemudian Ali bin Husain kemudian Muhammad bin Ali al-Baqir. Anda akan menemuinya wahai Jabir sekiranya anda mendapatinya, maka sampaikanlah salamku kepadanya. Kemudian Ja’far bin Muhammad, kemudian Musa bin Ja’far, kemudian Ali bin Musa, kemudian Muhammad bin Ali, kemudian Ali bin Muhammad, kemudian Hasan bin Ali. Kemudian al-Qa’im namanya sama dengan namaku dan kunyahnya sama dengan kunyahku, anak Hasan bin Ali. Dengan beliaulah Allah akan membuka seluruh pelosok bumi di Timur dan di Barat, dialah yang ghaib dari penglihatan. Tidak akan percaya kepada imamahnya melainkan orang yang telah diuji hatinya oleh Allah SWT. Jabir berkata: Wahai Rasulullah! Apakah orang2 dapat mengambil manfaat darinya ketika ghaibnya ? Beliau menjawab :”Ya..! Demi yang mengutusku dengan kenabian sesungguhnya mereka mengambil cahaya dari wilayahnya ketika ghaibnya, seperti orang mengambil manfaat dari matahari sekalipun ia ditutupi awan.” Ini adalah di antara rahsia-rahsia ilmu Allah yang tersembunyi. Maka rahsiakanlah mengenainya melain kepada orang yang ahli. (Yanabi’ al Mawaddah, hlm 494)

.

daripada Jabir al-Ansari berkata: Junda; bin Janadah berjumpa Rasulullah SAWAW dan bertanya kepada beliau beberapa masalah. Kemudian dia berkata: Beritahukan kepadaku wahai Rasulullah tentang wasi-wasi anda selepas anda supaya aku berpegang kepada mereka. Beliau menjawab: Wasi-wasiku dua belas orang. Lalu Jundal berkata: Begitulah kami dapati di dalam Taurat. Kemudian dia berkata: Namakan mereka kepadaku wahai Rasulullah. Maka beliau menjawab: “Pertama penghulu dan ayah para wasi adalah Ali. Kemudian dua anak laki2nya Hasan dan Husain. Berpegang teguhlah kepada mereka dan janganlah kejahilan orang-orang yang jahil memperdayaimu. Kemudian Ali bin Husain Zainal Abidin Allah akan mematikan anda (‘Ali bin Husain) dan menjadikan air susu sebagai bekalan terakhir di dunia ini.” (Yanabi’ al-Mawaddah Bb 76 hlm 441 – 444 )

.

Jundal berkata: Kami telah mendapatinya di dalam Taurat dan di dalam buku-buku para Nabi AS seperti Iliya, Syibra dan Syabir. Maka ini adalah nama ‘Ali, Hasan dan Husain, maka imam selepasnya dipanggil Zaina l-Abidin selepasnya anak lelakinya Muhammad, dipanggil al-Baqir. Selepasnya anak lelakinya Ja’far dipanggil al-Sadiq. Selepasnya anak lelakinya Musa dipanggil al-Kazim. Selepasnya anak lelakinya ‘Ali dipanggil al-Ridha. Selepasnya anak lelakinya ‘Ali dipanggil al-Naqiyy al-Hadi. Selepasnya anak lelakinya Hasan dipanggil al-Askari. Selepasnya anak lelakinya Muhammad dipanggil al-Mahdi al-Qa’im dan al-Hujjah. Beliau ghaib dan akan keluar memenuhi bumi dengan kejujuran dan keadilan sebagaimana ianya dipenuhi dengan kefasadan dan kezaliman. Alangkah beruntungnya bagi orang-orang yang bersabar semasa ghaibnya. Dan alangkah beruntungnya bagi orang-orang yang bertaqwa terhadap Hujjah mereka. Dan mereka itulah orang yang disifatkan oleh Allah di dalam firmanNya (Surah al-Baqarah(2): 2-3″Petunjuk bagi mereka yang bertaqwa iaitu mereka yang beriman kepada yang ghaib.” Kemudian beliau membaca (Surah al-Mai’dah(5):56)”Sesungguhnya parti Allahlah yang pasti menang.”Beliau bersabda: Mereka itu adalah daripada parti Allah (hizbullah).

Al-Hamawaini di dalam Fara’id al-Simtin (Yanabi’ al-Mawaddah, hlm 446 – 447) telah meriwayatkan hadith ini dan dinukilkan oleh al-Qunduzi al-Hanafi di dalam Yanabi’ al-Mawaddah bab 76 dengan sanad daripada Ibn ‘Abbas dia berkata: Seorang Yahudi bernama Na’thal datang kepada Rasulullah SAWAW dan berkata: Wahai Muhammad! Aku akan bertanya anda beberapa perkara yang tidak menyenangkan hatiku seketika. Sekiranya anda dapat memberi jawapan kepadaku nescaya aku akan memeluk Islam di tangan anda. Beliau SAWAW bersabda:”Tanyalah wahai Abu ‘Ammarah.’ Dia bertanya beberapa perkara sehingga dia berkata: Beritahukan kepadaku tentang wasi anda siapa dia? Tidak ada seorang Nabi melainkan ada baginya seorang wasi. Dan sesungguhnya Nabi kami Musa bin ‘Imran telah berwasiatkan kepada Yusyu’ bin Nun. Maka Nabi SAWAW menjawab”Sesungguhnya wasiku ialah ‘Ali bin Abi Talib, selepasnya dua anak lelakinya Hasan dan Husain kemudian diikuti oleh sembilan imam daripada keturunan Husain.’ Dia berkata: Namakan mereka kepadaku. Beliau menjawab:’Apabila wafatnya Husain, maka anaknya ‘Ali apabila wafatnya ‘Ali, anaknya Muhammad, Dan apabila wafatnya Muhammad, anaknya Ja’far. Apabila wafatnya Ja’far anaknya Musa. Apabila wafatnya Musa, anaknya Ali. Apabila wafatnya Ali, anaknya Muhammad. Apabila wafatnya Muhammad, anaknya ‘Ali. Apabila wafatnya ‘Ali anaknya Hasan. Apabila wafatnya Hasan, anaknya Muhammad al-Mahdi. Mereka semua dua belas orang…..”Akhirnya lelaki Yahudi tadi memeluk Islam dan menceritakan bahawa nama-nama para imam dua belas telah tertulis di dalam buku-buku para Nabi yang terdahulu, dan ia termasuk di antara apa yang telah dijanjikan oleh Musa AS

.
Al-Hamawaini di dalam Fara’id al-Simtin meriwayatkan sanadnya kepada Abu Sulaiman penjaga unta Rasulullah SAWAW, dia berkata:”Aku mendengar Rasulullah SAWAW bersabda:”Di malam aku diperjalankan atau dibawa ke langit, Allah SWT berfirman:”Rasul mempercayai apa yang telah diturunkan kepadanya oleh TuhanNya.”Aku bersabda: Mukminun. Dia menjawab: Benar. Allah SWT berfirman lagi: Wahai Muhammad! Kali pertama Aku memerhatikan ahli bumi, Aku memilih anda. Aku menamakan anda dengan salah satu daripada nama-namaku. Oleh itu dimana sahaja Aku diingati, anda diingati bersama. Akulah al-Mahmud dan andalah Muhammad. Kemudian Aku memerhatikannya kali kedua, maka Aku memilih ‘Ali. Maka Aku menamakannya dengan namaku. Wahai Muhammad! Aku telah menjadikan anda dari Aku dan menjadikan ‘Ali, Fatimah, Hasan, Husain dan imam-imam daripada keturunan Husain daripada cahayaKu. Akupun membentangkan wilayah mereka kepada seluruh ahli langit dan bumi. Sesiapa yang menerimanya akan berada di sisiKu sebagai Mukminin. Dan sesiapa yang mengingkarinya akan berada di sisiKu sebagai kafirin. Wahai Muhammad! Sekiranya seorang daripada hamba-hambaKu beribadat kepadaKu tanpa terhenti-henti kemudian mendatangiKu dalam keadaan mengingkari wilayah kalian, nescaya Aku tidak mengampuninya. Allah SWT berfirman lagi kepada Nabi SAWAW: Adakah anda ingin melihat mereka? Beliau menjawab: Ya! Wahai Tuhanku. Dia berfirman: Lihatlah di kanan ‘Arasy, maka aku dapati ‘Ali, Fatimah, Hasan, Husain, ‘Ali bin Husain, Muhammad bin ‘Ali, Ja’far bin Muhammad, Musa bin Ja’far, ‘Ali bin Musa, Muhammad bin ‘Ali, ‘Ali bin Muhammad, Hasan bin ‘Ali dan Muhammad al-Mahdi bin Hasan. Mereka diibaratkan bintang-bintang yang bersinar di kalangan mereka. Kemudian Dia berfirman lagi: Mereka itulah hujjah-hujjah ke atas hamba-hambaKu, mereka itulah wasi-wasi anda. Dan al-Mahdi adalah daripada ‘itrah anda. Demi kemuliaanKu dan kebesaranKu, dia akan membalas dendam terhadap musuh-musuhKu.”

.

Muwaffaq bin Ahmad al-Hanafi di dalam Manaqibnya meriwayatkan daripada Salman daripada Nabi SAWAW, sesungguhnya beliau bersabda kepada Husain:”Andalah imam anak lelaki seorang imam, saudara kepada imam, bapa kepada sembilan imam. Dan yang kesembilan daripada mereka ialah Qaim mereka (al-Mahdi AS).
Begitulah juga Syahabuddin al-Hindi di dalam Manaqibnya telah menerangkan sanadnya daripada Nabi SAWAW bahawa beliau bersabda:”Sembilan imam adalah daripada anak cucu (keturunan) Husain bin ‘Ali dan yang kesembilan mereka adalah Qaim mereka (imam al-Mahdi al-Muntazar AS).

.

Al-Hamawaini al-Syafi’e meriwayatkan di dalam Fara’id al-Simtin bahawa Nabi SAWAW bersabda:” Siapa yang suka berpegang kepada ugamaku dan menaiki bahtera kejayaan selepasku, maka hendaklah dia mengikuti ‘Ali bin Abi Talib, memusuhi seterunya dan mewalikan walinya kerana beliau adalah wasiku, dan khalifahku ke atas ummatku semasa hidupku dan selepas kewafatanku. Beliau adalah imam setiap muslim dan amir setiap mukmin, perkataannya adalah perkataanku, perintahnya adalah perintahku. Larangannya adalah laranganku. Pengikutnya adalah pengikutku. Penolongnya adalah penolongku. Orang yang menjauhinya adalah menjauhiku.”

.
Kemudian Nabi SAWAW bersabda lagi: Sesiapa yang menjauhi ‘Ali selepasku, dia tidak akan ‘melihatku.’ Dan aku tidak melihatnya di hari kiamat. Dan siapa yang menentang ‘Ali, Allah haramkan ke atasnya syurga dan menjadikan tempat tinggalnya di neraka. Siapa yang menjauhi ‘Ali, Allah akan menjauhinya di hari kiamat. Di hari itu akan didedahkan segala-galanya dan sesiapa yang menolong ‘Ali, nescaya Allah akan menolongnya.

.
Kemudian beliau bersabda lagi: Hasan dan Husain kedua-duanya adalah imam ummatku selepas bapa mereka berdua adalah penghulu-penghulu pemuda syurga. Ibu kedua-duanya adalah penghulu para wasi. Dan sembilan imam adalah daripada anak cucu Husain. Dan yang kesembilan mereka adalah Qaim mereka (imam al-Mahdi). Mentaati mereka adalah ketaatan kepadaku. Mendurhakakan mereka adalah mendurhakaiku. Kepada Allah aku mengadu bagi orang yang menentang kelebihan mereka, dan menghilangkan kehormatan mereka selepasku. Cukuplah bagi Allah sebagai wali dan penghulu kepada ‘itrahku, para imam ummatku. Pasti Allah akan menyiksa orang yang menentang hak mereka.”Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.”(Al-Syuara’(26): 227)

.

Ayatullah al-’Uzma al-Hulli di dalam bukunya Kasyf al-Haq (Kasyf al-Haq, I, hlm 108) telah menerangkan sebahagian daripada hadith dua belas khalifah dengan riwayat yang bermacam-macam. Seorang musuh ketatnya bernama Fadhl bin Ruzbahan al-Nasibi adalah orang yang paling kuat menentang Ahlu l-Bait AS, di dalam jawapan kepadanya mengakui bahawa apa yang disebutkan oleh Allamah al-Hulli mengenai dua belas khalifah adalah Sahih dan telah dicatat di dalam buku-buku Sahih Ahlu s-Sunnah.

.

Aku berkata: Riwayat hadith dua belas imam daripada Nabi SAWAW adalah terlalu banyak. Kami hanya menyebutkan sebahagian kecil daripada buku-buku Ahlu s-Sunnah wa l-Jama’ah yang mencatatkan hadith tersebut. Seperti al-Bayan karangan al-Hafiz al-Khanji, Fasl al-Khittab karangan Khawajah Faris al-Hanafi, Arba’in karangan Syeikh As’ad bin Ibrahim al-Hanbali, Arba’in karangan Ibn Abi l-Fawarith dan lain-lain buku Ahlu s-Sunnah. Adapun riwayat Syi’ah mengenainya adalah tidak terhitung banyaknya.

.

Sayyid Hasyim al-Bahrani di dalam bukunya Ghayah al-Maram (Ghayah al-Maram, I, hlm 309) telah menjelaskan hadith dua belas imam sebanyak enam puluh riwayat dengan sanad-sanadnya menurut metod Ahlu s-Sunnah wa l-Jama’ah. Tujuh riwayat daripada buku Manaqib Amiru l-Mukminin AS karangan Maghazali al-Syafi’i, dua puluh tiga riwayat daripada Fara’id al-Simtin karangan al-Hamawaini, satu riwayat daripada Fusul al-Muhimmah karangan Ibn al-Sibagh al-Maliki dan satu riwayat daripada Syarh Nahj al-Balaghah karangan Ibn Abi l-Hadid.

.

Aku berkata: Sesungguhnya aku telah mengkaji risalah karangan Syaikh Kazim ‘Ali Nuh RH berjudul Turuq Hadith al-A’immah min Quraisy, hlm. 14. Dia berkata bahawa ‘Allamah Sayyid Hasan Sadr al-Din di dalam bukunya al-Durar al-Musawiyyah Fi Syarh al-’Aqa’id al-Ja’fariyyah telah mengeluarkan hadith dua belas khalifah daripada Ahmad bin Hanbal sebanyak tiga puluh empat riwayat. Hadith ini telah dikeluarkan juga oleh al-Bukhari, Muslim, al-Humaidi, beberapa riwayat Razin di dalam Sahih Sittah, riwayat al-Tha’labi, Abu Sa’id al-Khudri, Abu Bardah, Ibn Umar, Abdu r-Rahman Ibn Samurah, Jabir, Anas, Abu Hurairah, Ibn ‘Abbas, ‘Umar bin al-Khattab, ‘Aisyah, Wa’ilah dan Abi Salma al-Ra’i.

Adapun riwayat Umar bin al-Khattab yang telah dikaitkan kepadanya oleh ‘Ali bin al-Musayyab mengenai sabda Nabi SAWAW ialah: Para imam selepasku di antaranya Mahdi ummat ini. Siapa yang berpegang kepada mereka selepasku, maka sesungguhnya dia telah berpegang kepada tali Allah. Hadith ini juga telah dikaitkan dengan al-Durasti dengan Ibn al-Muthanna yang bertanya kepada ‘Aisyah:”Berapakah khalifah Rasulullah SAWAW. ‘Aisyah menjawab:’Beliau (Rasulullah SAW) memberitahuku bahawa selepasnya dua belas khalifah.’ Aku bertanya: Siapakah mereka? Maka ‘Aisyah menjawab:’Nama-nama mereka tertulis di sisiku dengan imla Rasulullah SAWAW.’ Maka aku bertanya kepadanya: Apakah nama-nama mereka? Maka dia enggan memperkenalkannya kepadaku.’

.

Sayyid al-Bahrani juga mencatat sebahagian daripada buku-buku Ahlu s-Sunnah yang menyebutkan dua belas khalifah. Di antaranya Manaqib Ahmad bin Hanbal, Tanzil al-Qur’an fi Manaqib Ahlu l-Bait karangan Ibn Nu’aim al-Isfahani, Faraid al-Simtin karangan al-Hamawaini, Matalib al-Su’ul karangan Muhammad bin Talhah al-Syafi’i, Kitab al-Bayan karangan al-Kanji al-Syafi’i, Musnad al-Fatimah karangan al-Dar al-Qutni, Fadhail Ahlu l-Bait karangan al-Khawarizmi al-Hanafi, al-Manaqib karangan Ibn al-Maghazali al-Syafi’i, al-Fusul al-Muhimmah karangan Ibn al-Sibagh al-Maliki, Jawahir al-’Aqdain karangan al-Samhudi, Dhakha’ir al-’Uqba karangan Muhibbuddin al-Tabari, Mawaddah al-Qurba karangan Syihab al-Hamdani al-Syafi’i, al-Sawa’iq al-Muhriqah karangan Ibn Hajr al-Haithami, al-Isabah karangan Ibn Hajr al-’Asqalani, Musnad Ahmad bin Hanbal, Musnad Abi Ya’la al-Mausuli, Musnad Abi Bakr al-Bazzar, Mu’jam al-Tabrani, Jam’ al-Saghir karangan al-Suyuti, Kunuz al-Daqa’iq karangan al-Munawi dan lain-lain

.

Aku berkata: Sesungguhnya riwayat-riwayat yang berbilang-bilang yang datang kepada kita menurut metod Ahlu s-Sunnah adalah sekuat dalil, dan hujjah yang paling terang bahawa sesungguhnya khalifah selepas Rasulullah SAWAW secara langsung ialah Imam Amiru l-Mukminin ‘Ali bin Abi Talib AS. Dan selepasnya ialah anak-anaknya sebelas imam yang maksum, pengganti Rasul dan para imam Muslimin satu selepas satu sehingga manusia ‘berhadapan’ dengan Tuhan mereka. Tiada seorangpun yang dapat mengingkari hadith-hadith yang sabit yang diriwayatkan menurut riwayat para ulama besar Ahlu s-Sunnah dan pakar-pakar hadith mereka, lebih-lebih lagi menurut riwayat Syi’ah. Kecuali cahaya pemikirannya telah dipadamkan dan dijadikan di hatinya penutup. Justeru itu ia adalah termasuk di dalam firmanNya di dalam (Surah al-Baqarah (2): 171)”Mereka itu bisu dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti.”Dan firmanNya (Surah al-Zukhruf(43): 36) “Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah, Kami akan adakan baginya syaitan (yang menyesatkan), maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.”Dan firmanNya (Surah al-Kahf(18):57)”Kami jadikan di hati mereka tutupan (sehingga mereka tidak) memahaminya dan (Kami letakkan) sumbatan di telinga mereka, sekalipun kamu menyeru mereka kepada petunjuk, nescaya tidak akan mendapat petunjuk selama-lamanya.”

Ini adalah disebabkan penentangan mereka kepada dalil yang terang dan nas yang zahir kerana fanatik, kufur, dan kedegilan mereka

.

Muhammad bin Idris al-Syafi’i memperakui kesahihan apa yang kami telah menyebutkannya dengan syairnya yang masyhur:

Manakala aku melihat manusia telah berpegang
kepada mazhab yang bermacam-macam
di lautan kebodohan dan kejahilan
Aku menaiki dengan nama Allah bahtera kejayaan
mereka itulah Ahlu l-Bait al-Mustaffa
penamat segala Rasul

.

Pengiktirafan Syafi’i bahawa ‘Ali adalah imam dan selepasnya sebelas imam merupakan pengiktirafan yang besar daripada seorang imam mazhab empat. Dan ianya menjadi hujjah keimamahan dua belas imam maksum dari keluarga Rasulullah SAWW

.

Sekarang, persoalannya adalah, sudahkah anda mengenal Imam Zaman anda?


ANALISIS HADIS “BARANGSIAPA MATI TANPA MENGENAL IMAM ZAMANNYA, MATINYA ADALAH MATI JAHILLIYAH”


بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

ya_ali

ada hadis Dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Rasulullah bersabda:
وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً
“Barangsiapa yang mati dan dilehernya tidak ada bai’at maka dia mati dalam keadaan jahiliyah.” (HR. Muslim No. 1851, Ath Thabarani dalam Al Kabir No. 769, dari Muawiyah, Alauddin Al Muttaqi Al Hindi dalam Kanzul ‘Ummal No. 14810, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 16389)
.
Maka, kematian orang yang tidak berbai’at kepada khalifah –jika dia ada- bermakna:
-    Matinya seperti orang yang mati pada zaman jahiliyah
–    Bukan dia-nya yang jahiliyah dan kafir
–    Dihitung sebagai orang yang bermaksiat
.
Para sahabat dan tabi’in ada yang tidak berbai’at
Ada pun tidak berbai’at kepada khalifah al ‘uzhma, telah terjadi pada masa-masa awal Islam. Imam Ath Thabari menceritakan, bahwa Ali Radhiallah ‘Anhu berkata pada Sa’ad bin Abi Waqqash Radhiallahu ‘Anhu: “Berbai’atlah Engkau!” Sa’ad menjawab: “Aku tidak akan berbai’at sebelum orang-orang semua berbai’at. Tapi demi Allah tidak ada persoalan apa-apa bagiku.” Mendengar itu Ali berkata: “Biarkanlah dia.”
.
Lalu Ali menemui Ibnu Umar  dan berkata yang sama, maka jawab Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma: “Aku tidak akan berbai’at sebelum orang-orang semua berbai’at.” Jawab Ali: “Berilah aku jaminan.” Jawab Ibnu Umar : “Aku tidak punya orang yang mampu memberi jaminan.” Lalu Al Asytar berkata: “Biar kupenggal lehernya!” Jawab Ali : “Akulah jaminannya, biarkan dia.” (Imam Ibnu Hazm, Al Fashl fil Milal wal Ahwa’ An Nihal, 4/103)
.
Imam Al Waqidi mencatat ada 7 orang kibarus shahabah   yang tidak memberikan bai’at pada Khalifah Ali Radhiallahu ‘Anhu  yaitu: Sa’ad bin Abi Waqqash, AbdullaH bin Umar, Shuhaib bin Sinan, Zaid bin Tsabbit, Muhammad bin Maslamah, Salamah bin Aqwa’ dan Usamah bin Zaid  Radhiallahu ‘Anhum. (Tarikh Ar Rusul, 4/429)

Satu persoalan utama yang sering terlepas pandang oleh umat Islam adalah sejak dari masa dini Islam lagi adalah kasus penting, perlunya keberadaan ‘Penunjuk Jalan’ atau Imam yang mana telah disabdakan oleh Rasul Junjungan saaw:

Ibn Abu Asim di dalam kitab al-Sunnah, halaman 489 meriwayatkan hadis ini:

من مات وليس عليه إمام مات ميتة جاهلية

Barangsiapa yang mati tanpa memiliki Imam, maka matinya adalah mati Jahiliyyah.

al-Albani di dalam komentarnya tentang hadis ini, menulis:

إسناده حسن ورجاله ثقات

Isnadnya hasan dan semua perawinya Tsiqah.

Ibn Hibban juga meriwayatkan di dalam Sahihnya, jilid 7 hlm 49:

من مات بغير إمام مات ميتة جاهلية

Barangsiapa mati tanpa Imam, matinya adalah mati Jahiliyyah.

Imam Muslim meriwayatkan di dalam sahihnya, kitab al Imarah:

“Barangsiapa mati sedangkan di lehernya tak ada bai’ah (kepada Khalifah) maka dia mati dalam keadaan mati jahiliyah.”

Maka, hadis ini adalah hadis yang sahih dan dipersetujui oleh semua kelompok Islam.

Walaupun terdapat perbedaan pandangan tentang maksudnya, kesahihan dan terkenalnya hadis ini diperakui sedemikian rupa hingga para pemimpin yang zalim pun gagal dalam menafikannya, makanya mereka mencari ulah dalam memutarbelitkan maknanya.

Allamah Amini berkata setelah mengutip hadis ini dari sumber-sumber Sunni yang sahih: Adalah sebuah kenyataan abadi bahawa sumber-sumber Sunni yang sahih telah membuktikannya dan umat tidak memiliki pilihan kecuali tunduk patuh kepadanya, dan keislaman seseorang itu tidak menjadi sempurna kecuali dia menerima konsep dan kandungan hadis ini

.

Konsepnya menjelaskan tentang kesudahan yang dahsyat bagi mereka yang matinya tanpa Imam, dan orang seperti itu adalah jauh dari keselamatan dan rahmat. Kematian zaman Jahiliyyah adalah sebuah kematian yang mengerikan, iaitu kematian atheisme dan tanpa iman.

Bagi menjelaskan hadis ini, maksud kata Jahiliyyah haruslah terlebih dahulu difahami.

Dari sudut pandang Al Quran dan hadis, zaman kenabian Rasul saaw adalah zaman ilmu, manakala zaman sebelum misi kenabian adalah zaman Jahiliyyah, iaitu, sebelum misi kerasulan Baginda saaw, umat tidak mengetahui cara dan jalan untuk mengenali realiti-realiti kewujudan disebabkan oleh penyimpangan pada agama-agama yang diwahyukan dan apa yang jelas pada masyarakat saat itu atas nama agama adalah tidak lebih dari tahyul dan ilusi

.

Bahkan agama-agama yang sudah diselewengkan dan penuh dengan kepercayaan-kepercayaan ilusi ini, telah dijadikan alat oleh segelintir pihak yang kaya dan berkuasa saat itu untuk menguasai dan menekan masyarakat awam, sebuah realiti yang dirakam kemas dalam sejarah.

Misi suci Rasul saaw adalah permulaan bagi era ilmu pengetahuan. Misi dasar dan utama Rasul saaw adalah memerangi kepercayaan tahyul dan penyimpangan dan menjelaskan pada masyarakat tentang kebenaran.

MENGENALI IMAM YANG MANA?

Dengan sedikit pertimbangan terhadap kandungan hadis yang kita bicarakan ini dan atas apa yang kita bicarakan di atas, langsung tidak membuka ruang keraguan buat kita untuk mencari jawaban pada persoalan yang dikemukakan: Imamah Imam yang manakah yang menjamin keberlangsungan Islam yang murni, yang jika diabaikan oleh umat, bisa menjerumuskan mereka pada status Jahiliyyah?

Mungkinkah yang dimaksudkan oleh hadis suci ini adalah mentaati siapapun yang berkuasa untuk mengurus umat yang kita diwajibkan taat dan patuh, jika mana kita ingkar, akan mengakibatkan kita mati Jahiliyyah, tanpa peduli samada pemimpin itu bejat dan menyeleweng, atau sebagaimana yang disebut oleh Al Quran:

“Imam-imam yang mengajak orang ke neraka”. (QS. al-Qashash: 41)

Menjadi bukti bahawa semua pemimpin yang menyeleweng sepanjang sejarah Islam telah menggunakan hadis ini guna melegalisasikan kepemimpinan dan mengukuhkan penguasaan mereka ke atas umat. Bahkan ulama-ulama yang biasa mendatangi istana para Raja dan para pendakwah di istana-istana menterjemahkan hadis Nabi saaw ini lalu mengalungkannya ke leher para pemerintah yang menyeleweng ini. Adalah jelas, perbuatan mereka itu bukanlah disebabkan oleh salahfaham mereka tentang maksud sebenar akan hadis ini, sebaliknya ia adalah mainan kata semata-mata.

Adalah sukar untuk kita percaya, sebagaimana yang dijelaskan di dalam Syarah Nahjul Balaghah oleh Ibn Abi al Hadid, bahawa Abdullah ibn Umar enggan membaiah Amirul Mukminin Ali bin Abi Talib as disebabkan oleh kesalahfahaman dan tidak memiliki pengetahuan mendalam, namun berpegang teguh pada hadis “Barangsiapa mati tanpa Imam…” yang dia riwayatkan sendiri lalu, tanpa membuang waktu telah pergi bertemu dengan Hajjaj bin Yusuf pada malam hari untuk memberikan bai’ahnya kepada Abdul Malik bin Marwan, sang Khalifah…kerana dia tidak mahu melalui malamnya tanpa adanya Imam!

Namun, apakah orang yang zalim dan kejam seperti para pemimpin dari Bani Umayyah dan Bani Abbassiyah layak untuk digelar Imam?

Allah SWT berfirman:

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: ” (Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim”.
QS. al-Baqarah (2) : 124

Dalam ayat yang kami bawakan ini, jelas, Imam tidak bisa disandang oleh mereka yang zalim, itu janji Allah.

Imamah adalah satu janji Allah, dikurniakanNya hanya kepada orang yang adil, zuhud dan suci maksum. Andai para Imam tidak memiliki ciri ciri kemaksuman ini, pastilah mereka terdedah pada kesalahan dan akan menjerumuskan umat pada kesalahan juga. Ini bertentangan dengan firman Allah yang berikut:

a) Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolongpun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.
QS. Hud (11) : 113

b) Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antara mereka.
QS. al-Insan (76) : 24

Dalam kedua dua ayat di atas, Allah telah memerintahkan kita agar jangan cenderung pada orang yang zalim dan jangan mengikuti orang yang berdosa. Maka, tanggapan kelompok jumhur bahawa para Khalifah wajib ditaati tanpa bantahan adalah bertentangan dengan perintah Allah dalam ayat ayat di atas.

Andaikata Imam bisa melakukan kesalahan, umat sendiri akan turut melakukan kesalahan kerana mengikuti Imam yang salah. Hal seperti ini tidak bisa diterima memandangkan kepatuhan dalam dosa adalah suatu dosa, dilarang dan bertentangan dengan syariah. Tambahan pula, Imam akan dipatuhi dan diingkari pada masa yang sama dan ini adalah mustahil.

Kepercayaan kelompok Jumhur bahawa umatlah yang memilih pemimpin atau Imam juga adalah bertentangan dengan firman Allah berikut:

a) Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilih-Nya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia).
QS. al-Qashash (28) : 68

b) Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah.
QS. al-Anbiya (21) : 73

c) Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.
QS. as-Sajdah (32) : 24

Ayat ayat di atas dengan jelas membuktikan bahawa para pemimpin atau Imam adalah dipilih oleh Allah sendiri, dan ini berlawanan dengan kepercayaan jumhur.

Lalu siapakah para Imam yang Allah pilih ini yang jika kita tidak mengenalnya, maka mati kita adalah matinya jahiliyah?

Mari kita telusuri hadis suci Nabi saaw untuk mendapatkan gambaran jelas tentang hal ini.

الْأَئِمَّةُ مِنْ قُرَيْشٍ .
“ Para imam itu dari suku Quraisy.”

Hadits di atas (Al-a`immatu min Quraisy) diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dalam Al-Musnad (11859) dari Anas bin Malik dan Abu Barzah Al-Aslami (18941); An-Nasa`i dalam As-Sunan Al-Kubra (5942); Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf dari Anas (54/8) dan Ali bin Abi Thalib (54/17); Abdurrazaq dalam Al-Mushannaf dari Ali (19903); Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (7061) dari Ali; Ath-Thabarani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir dari Anas (724) dan dalam Ash-Shaghir dari Ali (426); Al-Baihaqi dalam Ma’rifatu As-Sunan wa Al-Atsar dari Anas (1595); Ath-Thayalisi dalam Al-Musnad (957) dari Abu Barzah dan Anas (2325); Al-Khallal dalam As-Sunnah (34) dari Salman Al-Farisi dan Ali (64); Ibnu Abi Ashim dalam As-Sunnah (929) dari Anas dan Abu Barzah (934); Ar-Ruyani dalam Al-Musnad (746, 750) dari Abu Barzah; Abu Ya’la Al-Maushili dalam Al-Mu’jam (155); Ibnul A’rabi dalam Al-Mu’jam (2259) dari Ali; Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq (4635) dari Anas; dan Ibnu Adi dalam Al-Kamil (biografi Ibrahim bin Athiyah Al-Wasithi) dari Anas.

Tentang sanadnya, Imam Al-Haitsami berkata, “Diriwayatkan Ahmad, Abu Ya’la, Ath-Thabarani dalam Al-Awsath, dan Al-Bazzar ( Dalam riwayat Al-Bazzar dengan lafal, “Al-Mulku fi Quraisy.”)

Para perawi Ahmad adalah orang-orang tsiqah (terpercaya)” (Majma’ Az- Zawa`id (8978).

Al-Hafizh Al-Iraqi berkata, “Diriwayatkan An-Nasa`i dan Al-Hakim dari hadits Anas dengan sanad shahih” (Takhrij Ahadits Al-Ihya` (3711).

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata, “Diriwayatkan An-Nasa`i dari Anas, Ath-Thabarani dalam Ad-Du’a`, dan Al-Bazzar serta Al-Baihaqi dengan beberapa jalur periwayatan dari Anas. Saya katakan, sungguh saya telah mengumpulkan jalur-jalur riwayat hadits ini dalam satu juz tersendiri dimana ia diriwayatkan oleh hampir empat puluh orang sahabat. … Dan sanadnya hasan” (At-Talkhish Al-Habir (1987).

Syaikh Syu’aib Al-Arna`uth berkata, “Hadits shahih dengan berbagai jalur periwayatan dan hadits-hadits lain yang menguatkannya” (Musnad Ash-Shahabah fi Al-Kutub At-Tis’ah (527).

Syaikh Al-Albani berkata, “Shahih, diriwayatkan dari sejumlah sahabat, di antaranya yaitu: Anas bin Malik, Ali bin Abi Thalib, dan Abu Barzah Al-Aslami” (Irwa` Al-Ghalil (520). Al-Albani juga menshahihkan hadits ini dalam Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir (4523 dan 4524) dan dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib (2188 dan 2259).

Secara ringkas, demikian para ulama lain yang menshahihkan hadits ini; Imam Al-Munawi ( Faidh Al-Qadir (3108).

Syaikh Muhammad Ja’far Al-Kattani ( Nuzhum Al-Mutanatsir min Al-Hadits Al-Mutawatir (175).

Al-Ajluni (Kasyfu Al-Khafa` (850), Al-Burhanfuri (Kanzu Al-‘Ummal (1649, 14792, 23800) dan lain lain

Maka dari hadis ini kita tahu bahawa para Imam itu adalah dari Quraisy. Namun, berapa ramaikah mereka ini? Hadis berikut menjelaskannya

Jabir bin Samurah berkata: “Aku mendengar Rasulullah saaw bersabda: “Islam akan senantiasa kuat di bawah 12 Khalifah”. Baginda kemudian mengucapkan kata kata yang tidak aku fahami, lalu aku bertanya bapaku apakah yang dikatakan oleh Rasulullah saaw. Beliau menjawab: “Semuanya dari Quraisy” (Muslim. Sahih, jilid VI, hlm 3, Bukhari, Sahih, jilid VIII, hlm 105, 128)

Apakah semua yang berstatus Quraisy layak menyandang gelaran Imam atau Khalifaf ini? Hadis berikut pula merincikan siapakah para Imam atau Khalifah yang berjumlah 12 orang itu

Nabi saaw bersabda: “Setelahku akan ada 12 Khalifah, semuanya dari Bani Hasyim” (Qunduzi Hanafi, Yanabi’ al Mawaddah, jilid III, hlm 104)

Mungkin ada di kalangan yang berpenyakit dalam hati akan menyanggah hadis ini dan mengatakan ianya tidak sahih. Jika demikian, kami persilakan anda teruskan membaca hadis berikutnya pula

Dari Zaid bin Tsabit RA yang berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya Aku telah meninggalkan di tengah-tengah kalian dua Khalifah yaitu Kitab Allah yang merupakan Tali yang terbentang antara bumi dan langit, serta KeturunanKu Ahlul BaitKu. Keduanya tidak akan berpisah sampai menemuiKu di Telaga Surga Al Haudh. (Hadis Ini diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal dalam Musnad Ahmad jilid 5 hal 182, Syaikh Syuaib Al Arnauth dalam Takhrij Musnad Ahmad menyatakan bahwa hadis ini shahih. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Kabir jilid 5 hal 154, Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid jilid 1 hal 170 berkata “para perawi hadis ini tsiqah”. Hadis ini juga disebutkan oleh As Suyuthi dalam Jami’ Ash Shaghir hadis no 2631 dan beliau menyatakan hadis tersebut Shahih.)

Maka, jika kita menyusun kembali semua premis premis yang dibawakan di atas, kita bisa menyimpulkan seperti berikut:

1. Sepeninggalan Rasul saaw, ada pengganti beliau yang dipanggil Imam/ khalifah

2. Imam/Khalifah ini berjumlah 12 orang

3. Kesemua mereka adalah dari Quraisy

4. Kesemua mereka adalah dari Bani Hasyim

5. Kesemua mereka adalah Ahlul Bayt Nabi as

Maka dengan ini, siapapun selain dari Ahlul Bayt as yang mendakwa diri mereka sebagai Khalifah atau Imam umat, dakwaan mereka tertolak. Hujjah yang kami bawakan di atas tidak membuka ruang walau sekecil apapun untuk memberikan jabatan Khalifah/ Imamah pada selain Ahlul Bayt as

Masalah Kekhalifahan adalah masalah yang sangat penting dalam Islam. Masalah ini adalah dasar penting dalam penerapan kehidupan keislaman, setidaknya begitu yang saya tahu :mrgreen: . Kata Khalifah sendiri menyiratkan makna yang beragam, bisa sesuatu dimana yang lain tunduk kepadanya, sesuatu yang menjadi panutan, sesuatu yang layak diikuti, sesuatu yang menjadi pemimpin, sesuatu yang memiliki kekuasaan dan mungkin masih ada banyak lagi ;)

Saat Sang Rasulullah SAW yang mulia masih hidup maka tidak ada alasan untuk Pribadi Selain Beliau SAW untuk menjadi khalifah bagi umat Islam. Hal ini cukup jelas kiranya karena sebagai sang Utusan Tuhan maka Sang Rasul SAW lebih layak menjadi seorang Khalifah. Sang Rasul SAW adalah Pribadi yang Mulia, Pribadi yang selalu dalam kebenaran, dan Pribadi yang selalu dalam keadilan. Semua ini sudah jelas merupakan konsekuensi dasar yang logis bahwa Sang Rasulullah SAW adalah Khalifah bagi umat Islam.

Lantas bagaimana kiranya jika Sang Rasul SAW wafat? siapakah Sang Khalifah pengganti Beliau SAW? Atau justru kekhalifahan itu sendiri menjadi tidak penting. Pembicaraan ini bisa sangat panjang dan bagi sebagian orang akan sangat menjemukan. Dengan asumsi bahwa kekhalifahan akan terus ada maka Sang khalifah setelah Rasulullah SAW bisa berupa

* Khalifah yang ditunjuk oleh Rasulullah SAW
* Khalifah yang diangkat oleh Umat Islam

Kedua Premis di atas masih mungkin terjadi dan tulisan ini belum akan membahas secara rasional premis mana yang benar atau lebih benar. Tulisan kali ini hanya akan menunjukkan adanya suatu riwayat dimana Sang Rasulullah SAW pernah menyatakan bahwa Ahlul Bait adalah Khalifah bagi Umat Islam. Bagaimana sikap orang terhadap riwayat ini maka itu jelas bukan urusan penulis :mrgreen:

.

Dari Zaid bin Tsabit RA yang berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya Aku telah meninggalkan di tengah-tengah kalian dua Khalifah yaitu Kitab Allah yang merupakan Tali yang terbentang antara bumi dan langit, serta KeturunanKu Ahlul BaitKu. Keduanya tidak akan berpisah sampai menemuiKu di Telaga Surga Al Haudh. (Hadis Ini diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal dalam Musnad Ahmad jilid 5 hal 182, Syaikh Syuaib Al Arnauth dalam Takhrij Musnad Ahmad menyatakan bahwa hadis ini shahih. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Kabir jilid 5 hal 154, Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid jilid 1 hal 170 berkata “para perawi hadis ini tsiqah”. Hadis ini juga disebutkan oleh As Suyuthi dalam Jami’ Ash Shaghir hadis no 2631 dan beliau menyatakan hadis tersebut Shahih.)

Hadis di atas adalah Hadis Tsaqalain dengan matan yang khusus menggunakan kata Khalifah. Hadis ini adalah hadis yang Shahih sanadnya dan dengan jelas menyatakan bahwa Al Ithrah Ahlul Bait Nabi SAW adalah Khalifah bagi Umat islam. Oleh karena itu Premis bahwa Sang Khalifah setelah Rasulullah SAW itu ditunjuk dan diangkat oleh Rasulullah SAW adalah sangat beralasan :mrgreen:

KHALIFAH UMAT ISLAM ADALAH AHLUL BAIT

Rasulullah SAW  menegaskan bahwa khalifah umat Islam yang sah sepeninggal beliau adalah dari kalangan Ahlul Bait dan keturunannya. Simak hadis berikut di bawah ini.

  

 

Dari Zaid bin Tsabit RA yang berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda :  “ Sesungguhnya Aku telah meninggalkan di tengah-tengah kalian dua Khalifah yaitu Kitab Allah yang merupakan Tali yang terbentang antara bumi dan langit, serta Keturunanku Ahlul BaitKu. Keduanya tidak akan berpisah sampai menemuiku di Telaga Surga Al Haudh ”.

Hadis Ini diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal dalam Musnad Ahmad jilid 5 hal 182, Syaikh Syuaib Al Arnauth dalam Takhrij Musnad Ahmad menyatakan bahwa hadis ini shahih. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Kabir jilid 5 hal 154, Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid jilid 1 hal 170 berkata “para perawi hadis ini tsiqah”. Hadis ini juga disebutkan oleh As Suyuthi dalam Jami’ Ash Shaghir hadis no 2631 dan beliau menyatakan hadis tersebut Shahih.

Hadis ini adalah hadis yang sahih sanadnya dan dengan jelas menyatakan bahwa Al Ithrah , Ahlul Bait Nabi SAW adalah Khalifah bagi Umat Islam sepeninggal Rasulullah Muhammad SAW. Hal ini juga menegaskan bahwa Khalifah setelah Rasulullah SAW itu ditunjuk dan diangkat oleh Rasulullah SAW  sendiri.

KEHARUSAN BER – IMAMAH

Mazhab Syi’ah Imamiyah Itsna ‘Asyariyah, meyakini dengan seyakin – yakinnya bahwa Kepemimpinan Umat        ( IMAMAH ) dalam urusan agama dan dunia sepeninggal Nabiyullah Muhammad SAW telah ditetapkan oleh Rasulullah Muhammad SAW dan wasiat para Imam sesudah beliau. Kami meyakini dengan seyakin – yakinnya bahwa Pemimpinan Umat , dengan berbagai istilah seperti Imam, Khalifah, Ulil Amri, Wali dan lain – lain – hanya berhak disandang oleh para pemimpin dari kalangan Ahlul Bait Nabi SAW dan keturunannya yang berjumlah 12 orang.

Kenapa kami harus memiliki keyakinan seperti ini ?. Apakah karena kami tertipu oleh ulah si Yahudi Abdullah bin Saba’ , seperti yang sering diembus – embuskan oleh musuh – musuh dan pembenci Syi’ah ?. Absolutely, not !.

Sebabnya ialah – meminjam ungkapan Sayyid Syarafuddin Al Musawi – bahwa dalil – dalil ( petunjuk, nash )  syari’ah telah memaksa kami untuk berpegang teguh hanya kepada para Imam Ahlul Bait Nabi SAW dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam kepemimpinan umat dan rujukan agama. Dalil – dalil yang pasti dan meyakinkan itulah yang telah menghilangkan pilihan lain bagi setiap mukmin dan menghalanginya dari apa yang diinginkannya ( andaikata ia ingin memilih sesuatu yang lain ) !.

Dalil – dalil syari’ah yang kami maksud tidak saja terdapat di dalam kitab – kitab hadis yang berasal dari kalangan ulama kami, tetapi juga termaktub di banyak kitab –hadis dari para ulama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah ( Sunni ). Diantaranya ,misalnya, keharusan berimam atau memiliki Imam dan mengenal Imam zamannya.

Banyak sekali hadis dari kalangan Ahlus Sunnah yang meriwayatkan sabda Nabi SAW tentang keharusan ber- Imam atau memiliki Imam dan mengenal Imam zamannya, diantaranya :

  • “Barangsiapa mati tanpa Imam, maka ia mati dalam keadaan jahiliyah”
  • “Barangsiapa meninggal dan tidak mengetahui Imam zamannya, maka ia meninggal dalam keadaan jahiliyah “

Orang yang tidak berImam dan tidak mengenal Imam zamannya akan mati dalam keadaan jahiliyah. Mati dalam keadaan jahiliyah diartikan sebagai mati tidak dalam keadaan Islam. Jadi,  keharusan ber-Imam dan mengenal Imam zamannya merupakan kewajiban setiap mukmin. Sehingga tidak bisa dipungkiri lagi bahwa  Imamah merupakan salah satu pokok ajaran agama.

 

12 IMAM / KHALIFAH

Mazhab Syi’ah Imamiyah ‘Itsna Asyariyah meyakini bahwa  Kepemimpin Umat  ( Imamah ) sepeninggal Rasulullah Muhammad SAW, dengan berbagai jabatan seperti Imam, Khalifah, Wali dan sebagainya berjumlah 12 orang yang semuanya berada dalam garis keturunan Ahlul Bait Nabi SAW.

Riwayat – riwayat tentang 12 Pemimpin ini dapat kita temukan di dalam kitab – kitab hadis di kalangan ulama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Rasulullah SAW bersabda : “ Agama ( Islam ) akan selalu tegak dan kukuh sampai tiba saatnya atau sampai berlalu dua belas khalifah( pemimpin ), semuanya dari Quraisy “

( Sahih Muslim, jilid 6 halaman 3 – 4 , Bab  “ Manusia Mengikuti Orang Quraisy, Kitab Pemerintahan. Hadis ini juga terdapat di dalam kitab Shahih Tirmidzi, Bab  “ Apa yang terjadi pada para khalifah melalui pintu fitnah “, Sunan Abi Dawud, jilid 3 halaman 106, dll ).

2. Diriwayatkan oleh Bukhari dari Jabir yang berkata : “ Aku mendengar Nabi SAW bersabda : “ Akan ada dua belas amir ( pemimpin ) dan kemudian belia bersabda dengan kalimat yang tidak aku pahami. Dan, ayahku berkata : “ Semuanya dari orang Quraisy “.

Dan, dalam riwayat lain lagi ; “ Kemudian Nabi bersabda dengan kalimat yang sulit aku pahami dan aku bertanya kepada ayahku apa yang disabdakan Rasulullah SAW, maka ( ayahku ) berkata : “ Semuanya orang Quraisy “.

( Fat’l Al Bari, jilid 16, hal. 338, Mustadrak Shahihain, jilid 3, hal. 617 )

3. Rasulullah bersabda : “ Urusan manusia ( amr an nas ) tidak akan berlalu sebelum berlalu dua belas orang yang menjadi wali ( penguasa )”

 

( Shahih Muslim bi Syarh Nawawi, jilid 12 hal. 202, Jalaluddin As Suyuthi, Tarikh Al Khulafa, hal. 10 dll ).

 

4. Rasulullah SAW bersabda : “ Urusan umat ini ( amr hadzihil ummah ) senantiasa akan jaya sampai berlalu dua belas imam ( pemimpin ), semuanya orang Quraisy “ ( Kanzul – ‘Ummal, jilid 13, hal. 27 ).

5. Dan diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Al Hakim dengan lafal  seperti yang pertama, dari Masruq yang berkata : “ Kami sedang duduk suatu malam di rumah ‘Abdillah ( Ibnu Mas’ud ) yang membacakan kepada kami Al Qur’an. Seorang lelaki mengajukan pertanyaan : “ Ya ayah dari ‘Abdurrahman, apakah kamu pernah bertanya kepada Rasul Allah SAW berapa khalifah dari umat    ini ? “. Maka, ‘Abdillah menjawab : “ Tiada seorangpun bertanya tentang masalah ini sampai saya datang dari Iraq sebelum anda !”. Menanyakannya dan beliau SAW bersabda : “ Dua belas seperti jumlah dua belas nuqaba ( pemimpin ) Banu Israil “

 

( Musnad Ahmad, jilid 1, hal. 398, 406 ; Al Hakim, Mustadrak, jilid 4, hal. 501, Fat’h – Al Bari, jilid 16, hal. 339 dll ).

Lantas, siapa 12 Imam / Khalifah yang wajib dikenal dan ditaati itu yang dengannya kita tidak akan mati dalam keadaan jahiliyah ?. Kami, kaum muslimin dari mazhab Syi’ah Imamiyah ‘Itsna ‘Asyariyah ( Syi’ah 12 Imam ) berkeyakinan mereka adalah para Imam / Khalifah dari Ahlul Bait Nabi SAW dan Keturunannya , dimulai dari Imam Ali bin Abi Abi Thalib dan berakhir pada Imam Mahdi afs.

Nah, pertanyaan buat Ustad   Aswaja  Sunni  dan para pengikutnya . Tolong sebutkan siapa saja nama – nama 12 Imam yang wajib kalian kenal dan kalian ta’ati itu ?.

firman Allah SWT di dalam KitabNya yang menjadikan  kontinuitas kepemimpinan di dalam keturunan Nabiyullah Ibrahim AS. Simak Surah Al Baqarah   ( 2 ) ayat 124.

“ Dan ( ingatlah )  ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat            ( perintah dan larangan ), lalu Ibrahim melaksanakannya dengan baik. Allah berfirman : “ Sesungguhnya Aku akan menjadikan engkau pemimpin ( imam ) bagi manusia “. Ibrahim berkata : “ Dan dari keturunanku ( juga ) ! “. Allah berfirman : “ Janjiku ( ini ) tidak akan diperoleh orang – orang yang zalim “.

Ayat di atas menegaskan bahwa Allah SWT akan menjadikan para Imam di dalam garisi keturunan Nabi Ibrahim AS . Di bagian lain Ibrahim AS berdo’a kepada Allah SWT  seperti termaktub di dalam Surah Ibrahim ( 14 )  ayat 37, sbb :

“ Tuhan kami, sesungguhnyab aku telah menempatkan  sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam – tanaman di dekat rumahMu ( baitullah ) yang dihormati. Ya Tuhan kami, ( yang demikian itu ) agar mereka mendirikan sholat, maka jadikanlah hati manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah – buahan, mudah – mudahan mereka bersyukur “

Semua ahli tafsir sependapat bahwa Nabi Muhammad SAW dan Ahlul Bait beliau merupakan keturunan  ( dzurriyah ) dari Nabi Ibrahim AS.

Pendapat Ulama Sunni Tentang 12 Pemimpin

BAGIAN I
Hadis 12 Pemimpin

 

روى‌ جابر بن‌ سَمُرة‌ فقال‌: سمعت‌ُ النبيّ صلّي‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌ يقول‌: يكون‌ اثنا عشر أميراً. فقال‌ كلمة‌ً لم ‌أسمعها، فقال‌ أبي‌: أنّه‌ قال‌: كلّهم‌ من‌ قريش‌.

Jabir bin Samurah meriwayatkan,  “Aku mendengar Nabi (saww) berkata” :”Kelak akan ada Dua Belas Pemimpin.” Ia lalu melanjutkan kalimatnya yang saya tidak mendengarnya secara jelas. Ayah saya mengatakan, bahwa Nabi menambahkan, ”Semuanya berasal dari suku Quraisy.”[Sahih Bukhari (inggris),  Hadits: 9.329, Kitabul Ahkam;  Sahih al-Bukhari (arab) , 4:165, Kitabul Ahkam]

BAGIAN II

Pendapat Para Ulama Sunni

  Ibn Arabi 

…فعددنا بعد رسول‌ الله صلّي‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌ اثني‌ عشر أميرًا، فوجدنا أبابكر، عمر، عثمان‌، عليًّا، الحسن‌، معاوية‌، يزيد، معاوية‌ بن‌ يزيد، مروان‌، عبد الملك‌ بن‌ مروان‌، الوليد، سليمان‌، عمر بن‌ عبد العزيز، يزيد بن‌ عبدالملك ، ‌مروان‌ بن محمد بن مروان، السفّاح‌،… وبعده‌ سبعة‌ وعشرون‌ خليفة‌ بن‌ بني‌ العبّاس‌. وإذا عددنا منهم‌ اثني‌ عشر انتهي‌ العدد بالصّورة‌ إلي‌ سليمان‌ بن‌ عبد الملك‌. وإذا عددناهم‌ بالمعني‌ كان‌ معنا منهم‌ خمسة‌، الخلفاء الاربعة‌، وعمر بن‌ عبد العزيز.

ولم‌ أعلم‌ للحديث‌ معني‌. ابن‌ العربي‌ّ، «شرح‌ سنن‌ التّرمذي‌ّ» 9: 68 ـ 69

Kami telah menghitung pemimpin (Amir-Amir) sesudah Nabi (sawa) ada dua belas. Kami temukan nama-nama mereka itu sebagai berikut: Abubakar, Umar, Usman, Ali, Hasan, Muawiyah, Yazid, Muawiyah bin Yazid, Marwan, Abdul Malik bin Marwan, Yazid bin Abdul Malik, Marwan bin Muhammad bin Marwan, As-Saffah… Sesudah ini ada lagi 27 khalifah Bani Abbas.

Jika kita perhitungkan 12 dari mereka, kita hanya sampai pada Sulaiman. Jika kita ambil apa yang tersurat saja, kita cuma mendapatkan 5 orang di antara mereka dan kepadanya kita tambahkan 4 ‘Khalifah Rasyidin’, dan Umar bin Abdul Aziz….

Saya tidak paham arti hadis ini. [Ibn Arabi, Syarh Sunan Tirmidzi, 9:68-69]

Qadi Iyad Al-Yahsubi  

قال‌: إنّه‌ قد ولي‌ أكثر من‌ هذا العدد. وقال‌: وهذا اعتراض‌ باطل‌ لانّه‌ صلّى‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌ لم‌ يقل‌: لايلي‌ الاّ اثنا عشرخليفة‌؛ وإنّما قال‌: يلي‌. وقد ولي‌ هذا العدد، ولايضرّ كونه‌ وُجد بعدهم‌ غيرهم‌. النووي‌ّ: «شرح‌ صحيح‌ مسلم‌» 12: 201 ـ 202. ابن‌ حجر العسقلاني‌ّ: «فتح‌ الباري‌» 16: 339

Jumlah khalifah yang ada lebih dari itu. Adalah keliru untuk membatasinya hanya sampai angka dua belas. Nabi (saw) tidak mengatakan bahwa jumlahnya hanya dua belas dan bahwa tidak ada tambahan lagi. Maka mungkin saja jumlahnya lebih banyak lagi. [Al-Nawawi, Syarh Shahih Muslim, 12:201-202;  Ibn Hajar al-'Asqalani, Fath al-Bari, 16:339]

Jalaludin as-Suyuti

إن‌ّ المراد وجود اثني‌ عشر خليفة‌ في‌ جميع‌ مدّة‌ الاسلام‌ إلي‌ يوم‌ القيامه‌ يعملون‌ بالحق‌ّ وإن‌ لم‌ تتوال‌ أيّامهم‌…وعلى‌ هذا فقد وُجد من‌ الاثني‌ عشر خليفة‌ الخلفاء الاربعة‌، والحسن‌، ومعاوية‌، وابن‌ الزّبير، وعمر بن‌ عبد العزيز، هؤلاء ثمانية‌. ويحتمل‌ أن‌ يُضم‌ّ إليهم‌ المهتدي‌ من‌ العبّاسيّين‌، لانّه‌ فيهم‌ كعمر بن‌ عبد العزيز في‌ بني‌ أُميّة‌. وكذلك الطاهر لما اوتي‌ من‌ العدل‌، وبقي‌ الاثنان‌ المنتظران‌ أحدهما المهدي‌ لانّه‌ من‌ آل‌ بيت‌ محمّد صلّي‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌. السّيوطي‌: «تاريخ‌ الخلفاء»: 12. ابن‌ حجر الهيثمي‌ّ: الصّواعق‌ المحرقة‌: 19

Hanya ada dua belas Khalifah sampai hari kiamat. Dan mereka akan terus melangkah dalam kebenaran, meski mungkin kedatangan mereka tidak secara berurutan. Kita lihat bahwa dari yang dua belas itu, 4 adalah Khalifah Rasyidin, lalu Hasan, lalu Muawiyah, lalu Ibnu Zubair, dan akhirnya Umar bin Abdul Aziz. Semua ada 8. Masih sisa 4 lagi. Mungkin Mahdi, Bani Abbasiyah bisa dimasukkan ke dalamnya sebab dia seorang Bani Abbasiyah seperti Umar bin Abdul Aziz yang (berasal dari) Bani Umayyah. Dan Tahir Abbasi juga bisa dimasukkan sebab dia pemimpin yang adil. Jadi, masih dua lagi. Salah satu di antaranya adalah Mahdi, sebab ia berasal dari Ahlul Bait Nabi (as).” [Al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa, Halaman 12; Ibn Hajar al-Haytami, Al-Sawa'iq al-Muhriqa Halaman 19]

Ibn Hajar al-’Asqalani 

لم‌ ألق‌ أحدًا يقطع‌ في‌ هذا الحديث‌، يعني‌ بشي‌ء معيّن‌؛ فان‌ّ في‌ وجودهم‌ في‌ عصر واحد يوجد عين‌ الافتراق‌، فلايصح‌ّ أن‌ يكون‌ المراد. ابن‌ حجر العسقلاني‌ّ، «فتح‌ الباري‌» 16: 338 ـ 341

Tidak seorang pun mengerti tentang hadis dari Sahih Bukhari ini.

Adalah tidak benar untuk mengatakan bahwa Imam-imam itu akan hadir sekaligus pada satu saat bersamaan. [Ibn Hajar al-'Asqalani, Fath al-Bari 16:338-341]

 Ibn al-Jawzi  

وأوّل‌ بني‌ أُميّة‌ يزيد بن‌ معاوية‌، وآخرهم‌ مروان‌ الحمار. وعدّتهم‌ ثلاثة‌ عشر. ولايعدّ عثمان‌، و معاوية‌، ولا ابن‌ الزّبير لكونهم‌ صحابة‌. فإذا أسقطناهم‌ منهم‌ مروان‌ بن‌ الحكم‌ للاختلاف‌ في‌ صحبته‌، أو لانّه‌ كان‌ متغلّبًا بعد أن‌ اجتمع‌ النّاس‌على‌ عبد الله بن‌ الزّبير صحّت‌ العدّة‌…وعند خروج‌ الخلافة‌ من‌ بني‌ أُميّة‌ وقعت‌ الفتن‌ العظيمة‌ والملاحم‌ الكثيرة‌ حتّى ‌استقرّت‌ دولة‌ بني‌ العبّاس‌، فتغيّرت‌ الاحوال‌ عمّا كانت‌ عليه‌ تغيّرًا بيّنًا. ابن‌ الجوزي‌ّ ، «كشف‌ المشكل‌» ، نقلاً عن‌ ابن‌ حجر العسقلاني‌ّ في‌ «فتح‌ الباري‌» 16: 340، عن‌ سبط‌ ابن‌ الجوزي‌ّ.

Khalifah pertama Bani Umayyah adalah Yazid bin Muawiyah dan yang terakhir adalah Marwan Al-Himar. Total jumlahnya tiga belas. Usman, Muawiyah dan Ibnu Zubair tidak termasuk karena mereka tergolong Sahabat Nabi (s).  Jika kita kecualikan (keluarkan) Marwan bin Hakam karena adanya kontroversi tentang statusnya sebagai Sahabat atau karena ia berkuasa padahal Abdullah bin Zubair memperoleh dukungan masyarakat, maka kita mendapatkan angka Dua Belas.… Ketika kekhalifahan muncul dari Bani Umayyah, terjadilah kekacauan yang besar sampai kukuhnya (kekuasaan) Bani Abbasiyah. Bagaimana pun, kondisi awal telah berubah total. [Ibn al-Jawzi, Kashf al-Mushkil, sebagaimana dikutip dalam Ibn Hajar al-'Asqalani, Fath al-Bari 16:340 dari Sibt Ibn al-Jawzi]

Al-Nawawi

ويُحتمل‌ أن‌ المراد [بالائمّة‌ الاثني‌ عشر] مَن‌ْ يُعَزُّ الإسلام‌ في‌ زمنه‌ ويجتمع‌ المسلمون‌ عليه‌.

النووي‌ّ، «شرح‌ صحيح‌ مسلم‌» 12: 202 ـ 203

Ia bisa saja berarti bahwa kedua belas Imam berada dalam masa (periode) kejayaan Islam. Yakni ketika Islam (akan) menjadi dominan sebagai agama. Para Khalifah ini, dalam masa kekuasaan mereka, akan menyebabkan agama menjadi mulia.[Al-Nawawi, Sharh Sahih Muslim ,12:202-203]

 Al-Bayhaqi   

وقد وُجد هذا العدد (اثنا عشر) بالصفة‌ المذكورة‌ إلي‌ وقت‌ الوليد بن‌ يزيد بن‌ عبد الملك. ثم‌ّ وقع‌ الهرج‌ والفتنة ‌العظيمة‌…ثم‌ّ ظهر ملك العبّاسيّة‌…وإنّما يزيدون‌ على‌ العدد المذكور في‌ الخبر إذا تركت‌ الصفة‌ المذكورة‌ فيه‌، أو عُدَّ منهم ‌من‌ كان‌ بعد الهرج‌ المذكور فيه‌.

ابن‌ كثير: «البداية‌ والنّهاية‌» 6: 249؛ السّيوطي‌ّ، «تاريخ‌ الخلفاء»:11

Angka (dua belas) ini dihitung hingga periode Walid bin Abdul Malik. Sesudah ini, muncul kerusakan dan kekacauan. Lalu datang masa dinasti Abbasiyah. Laporan ini telah meningkatkan jumlah Imam-imam. Jika kita abaikan karakteristik mereka yang datang sesudah masa kacau-balau itu, maka angka tadi menjadi jauh lebih banyak.” [Ibn Katsir, Ta'rikh, 6:249; Al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa Halaman 11]

 Ibn Katsir

فهذا الّذي‌ سلكه‌ البيهقي‌ّ، وقد وافقه‌ عليه‌ جماعة‌ من‌ أن‌ّ المراد بالخلفاء الاثني‌ عشر المذكورين‌ في‌ هذا الحديث‌ هم ‌المتتابعون‌ إلي‌ زمن‌ الوليد بن‌ يزيد بن عبد الملك‌ الفاسق‌ الّذي‌ قدّمنا الحديث‌ فيه‌ بالذّم‌ّ والوعيد، فانّه‌ مسلك‌ فيه‌ نظر…فان‌ اعتبرنا ولاية‌ ابن‌ الزبير قبل‌ عبد الملك‌ صاروا ستّة‌ عشر، وعلى كلّ تقدير فهم‌ اثنا عشر قبل‌ عمر بن‌ عبد العزيز. فهذا الّذي‌ سلكه‌ على‌ هذا التّقدير يدخل‌ في‌ الاثني‌ عشر يزيد بن‌ معاوية‌، و يخرج‌ منهم‌ عمر بن‌ عبد العزيز الّذي‌ أطبق‌ الائمّة‌ على شكره‌ وعلى مدحه‌، وعدوّه‌ من‌ الخلفاء الرّاشدين‌، وأجمع‌ الناس‌ قاطبة‌ على‌ عدله‌. ابن‌ كثير، «البداية‌ والنّهاية‌» 6: 249 ـ 250

Barang siapa mengikuti Bayhaqi dan setuju dengan pernyataannya bahwa kata ‘Jama’ah’ berarti Khalifah-khalifah yang datang secara tidak berurutan hingga masa Walid bin Yazid bin Abdul Malik yang jahat dan sesat itu, maka berarti ia (orang itu) setuju dengan hadis yang kami kritik dan mengecualikan tokoh-tokoh tadi.

Dan jika kita menerima Kekhalifahan Ibnu Zubair sebelum Abdul Malik, jumlahnya menjadi enam belas. Padahal jumlah seluruhnya seharusnya dua belas sebelum Umar bin Abdul Aziz. Dalam perhitungan ini, Yazid bin Muawiyah termasuk di dalamnya sementara Umar bin Abdul Aziz tidak dimasukkan.  Meski demikian, sudah menjadi pendapat umum bahwa para ulama menerima Umar bin Abdul Aziz sebagai seorang Khalifah yang jujur dan adil. [Ibn Katsir, Ta'rikh, 6:249-250]

MEREKA BINGUNG ?

Kita perlu pendapat seorang ulama Sunni lain yang dapat mengklarifikasi siapa Dua Belas Penerus, Khalifah, para Amir atau Imam-imam sebenarnya.

Al-Dzahabi mengatakan dalam Tadzkirat al-Huffaz , jilid 4, halaman 298, dan Ibn Hajar al-’Asqalani menyatakan dalam al-Durar al Kaminah, jilid 1, hal. 67, bahwa Shadrudin Ibrahim bin Muhammad bin al-Hamawayh al-Juwaini al-Syafi’i  adalah seorang ahli Hadis yang mumpuni.

Lebih lengkap tentang Al-Juwaini, silahkan rujuk catatan Al-Muhadits Al-Juwaini Asy-Syafi’i (ra) dan Hadis Tentang Sayyidah Fathimah sa

BAGIAN III

Al-Juwayni Asy-Syafi’i : 

عن‌ عبد الله بن‌عبّاس‌ رضي‌ الله عنه‌، عن‌ النّبي‌ّ  صلّي‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌ أنّه‌ قال‌: أنا سيّد المُرسَلين‌، وعلي‌ّ بن‌ أبي‌ طالب‌ سيّدالوصيّين‌، وأن‌ّ أوصيائي‌ بعدي‌ اثنا عشر، أوّلهم‌ علي‌ّ بن‌ أبي‌ طالب‌، وآخرهم‌ القائم‌.

 dari Abdullah bin Abbas (ra) bahwa Nabi (sawa) mengatakan,”Saya adalah penghulu para Nabi dan Ali bin Abi Thalib adalah pemimpin para penerus, dan sesudah saya akan ada dua belas penerus. Yang pertama  adalah Ali bin Abi Thalib dan yang terakhir adalah al-Qaim.

عن‌ ابن‌ عبّاس‌ رضي‌ الله عنه‌، عن‌ النبي‌ّ صلّي‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌ أنّه‌ قال‌: أن‌ّ خلفائي‌ وأوصيائي‌وححج‌ الله على‌ الخلق‌ بعدي‌ لاثنا عشر، أوّلهم‌ أخي‌، وآخرهم‌ وَلَدي‌. قيل‌: يا رسول‌ الله، ومن‌ أخوك‌؟ قال‌: علي‌ّ بن‌ أبي‌طالب‌. قيل‌: فمن‌ وَلَدُك‌َ؟ قال‌: المهدي‌ّ الّذي‌ يملاها قسطًا وعدلاً كما مُلئت‌ جورًا وظلمًا. والّذي‌ بعثني‌ بالحق‌ّ بشيرًا لو لم‌ يبق‌ من‌ الدّنيا الاّ يوم‌ واحد لطَوَّل‌ الله ذلك‌ اليوم‌ حتّي‌ يخرج‌ فيه‌ ولدي‌ المهدي‌، فينزل‌روح‌ الله عيسى بن‌ مريم‌ فيُصلّي‌ خلفَه‌ُ، وتُشرق‌ الارض‌ بنور ربّها، ويبلغ‌ سلطانه‌ المشرق‌ والمغرب‌.

Dari Ibnu Abbas (r) bahwa Rasulullah (sawa) berkata: ”Sudah pasti bahwa washi-washiku dan Bukti (hujjah) Allah bagi makhluk sesudahku ada dua belas. Yang pertama di antara mereka adalah saudaraku dan yang terakhir adalah anak (cucu) ku.”  Orang bertanya: “Wahai Rasulullah, siapakah saudaramu itu?”. Beliau menjawab: “Ali bin Abi Thalib.” Lalu beliau ditanyai lagi: “ Dan siapakan anak (cucu) mu itu?” Nabi yang suci (sawa) menjawab: ”Al-Mahdi. Dia akan mengisi bumi dengan keadilan dan persamaan ketika ia (bumi) dipenuhi ketidakadilan dan tirani. Dan demi Yang Mengangatku sebagai pemberi peringatan dan memberiku  kabar gembira, meski seandainya masa berputarnya dunia ini tinggal sehari saja, Allah SWT akan memperpanjang hari itu sampai diutusnya (anakku) Mahdi, kemudian ia akan disusul Ruhullah Isa bin Maryam (as) yang turun ke bumi dan berdoa di belakangnya (Mahdi). Dunia akan diterangi oleh sinarnya, dan kekuatannya akan mencapai hingga ke timur dan ke barat.”

رسول‌ الله صلّي‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌ أنّه‌ قال‌: أنا، وعلي‌ّ، والحسن‌، والحسين‌، وتسعة‌ من‌ ولد الحسين‌ مطهّرون‌ معصومون‌. الجويني‌ّ، «فرائد السمطين‌» مؤسّسة‌ المحمودي‌ّ للطّباعة‌ والنشر، بيروت‌، 1978، ص‌

 Rasulullah (sawa) mengatakan: ”Aku dan Ali dan Hasan dan Husain dan sembilan anak cucu Husain adalah yang disucikan (dari dosa) dan dalam kebenaran.”  [Al-Juwaini, Fara'id al-Simthain, Mu'assassat al-Mahmudi li-Taba'ah, Beirut 1978, h. 160.]

Di antara semua mazhab Islam, hanya Syiah Imamiyah Itsna ‘Asyariyah yang percaya pada individu-individu sebagai Dua Belas orang dari Ahlul Bait Raulullah saww yang berhak sebagai Penerus Rasulullah saww.

Ulama Sunni Syaikh Sulayman Al-Qunduzi Al-Balkhi Al-Hanafi dan Nama 12 Imam Yang Disebutkan Oleh Rasulullah (saww)

BAGIAN I

Selama ini banyak kalangan yang tidak mengetahui siapa sebenarnya Syaikh Sulaiman Al-Qunduzi Al-Balkhi Al-Hanafi, yang merupakan salah satu Ulama Sunni yang banyak mencatat riwayat-riwayat mengenai keutamaan Rasulullah (saww) dan Ahlul Bait (as). Dan anehnya, oleh kaum Nawashib, Syaikh Sulaiman Al-Hanafi dituduh sebagai Syiah, apa motif dibalik semua itu..? apakah kebiasaan kaum Naswahib yang suka menuduh seseorang yang banyak menulis keagungan Rasulullah (saww) dan Ahlul Bait (as) pada khususnya langsung mereka vonis sebagai Syiah!? hal ini tak jauh beda dengan Ibn Abil Hadid seorang bermazhab Mu’tazilah yang mereka katakan Syiah!

Nawashib harusnya sadar bahwa kedekilan otak mereka sampai detik ini bukanlah suatu yang asing, apakah mereka tidak malu dengan cara mereka yang suka menyembunyikan keterangan yang jelas bahkan terkadang memelintir sebuah riwayat atau membuangnya jika tidak sesuai dengan nafsu mereka..!?

Sayikh Sulaiman Al Hanafi adalah salah satu Mufti Agung Konstantinopel dan Ketua Kekhalifahan Utsmani, pusat islam Sunni pada masanya. Sangat tidak masuk akal jika dikatakan beliau sebagai Syiah dan apakah logis orang syiah menjadi mufti agung dalam kekahlifahan Ustmani tersebut? Sedangkan Ottoman sangat tidak suka dengan Syiah atau siapapun yang cenderung kepada Syiah!

Bahkan sejarah tidak mencatat adanya pengusiran atau tuduhan kepada Syaikh Sulaiman al Hanafi pada saat penulisan kitab beliau yang agung yaitu Yanabiul Mawaddah, jika memang beliau syiah maka pemerintahan Ottoman pasti akan menyingkirkannya.

Pandangan Sunni tentang Syaikh Sulaiman Al Qunduzi Al Balkhi Al Hanafi

Dalam Kitab الأعلام :

“(Al Qunduzi) (1220-1270H) (1805-1863 M) Sualyman putra dari Khuwajah Ibrahim Qubalan Al Husaini Al Hanafi Al Naqshbandi al Qunduzi : Seorang yang shaleh, berasal dari Balakh, wafat di kota Qustantinya, ia memiliki kitab “Yanabiul Mawaddah” yang berisi tentang keutamaan Rasulullah dan Ahlul Baitnya” (الأعلام, j.3, h.125)

.

Umar Ridha Kahalah mencatat dalam معجم المؤلفين :

Sulaiman Al Qunduzi (1220-1294 H) (1805-1877)

Sulaiman bin Ibrahim al Qunduzi al Balkhi al Husaini al Hasymi, seorang Sufi, kitabnya (karyanya) : Ajma al Fawaid, Musyriq al Akwan, Yanabiul Mawaddah….” (Muajam al Mualfiin, oleh Umar Ridha Kahalah, j. 4)

Ulama Sunni Ismail Basya Al Baghdadi (اسماعيل باشا البغدادي) dalam هدية العارفين

Mencatat :

“Al Qunduzi – Sulayman ibn Khuwajah Qalan Ibrahim ibn Baba Khawajah al Qunduzi al Balkhi al Sufi Al Husaini, tinggal di Qustantinya, lahir pada tahun 1220 H dan wafat 1294″ (Hidyat al Arifin, j.1, h. 408)

.

Dalam ايضاح المكنون في الذيل على كشف الظنون Ismail Basya Al Baghdadi juga mencatat :

“Al Qunduzi – Sulayman bin Khawaja Qalan Ibrahim bin baba Khuwaja Al Qunduzi al Balkhi al Sufi al Husaini. Dia tinggal di Qustantiya, lahir pada 1220 H dan wafat tahun 1294 H. Karyanya : Jama’ Al Fawa’id, Masyriq al Akwan, Yanabiul Mawadah mengenai karakteristik Rasulullah (saww) dan hadis dari Ahlul Bait”

.

Yusuf Alyan Sarkys mencatat dalam معجم المطبوعات العربية, j.1 h.586 :

“Sulayman bin Khujah Qublan al Qunduzi al Balkhi. (kitabnya) Yanabiul Mawadah berisi Keutamaan Amirul Mu’minin Ali”

.

Sangat aneh jika dikatakan bahwa Syaikh Sulayman yang bermazhab Hanafi ini di tuduh sebagai Syiah..! Kenyataannya beberapa ulama Sunni (Mazhab Hanafi) seperti :

1. Saim Khisthi al Hanafi dalam Musykil Kushah mengutip banyak Hadis dari Yanabiul Mawaddah yang disusun oleh Syaikh Sulaiman al Hanafi.

2. Dr. Muhamad Tahir ul Qadri (“Hub Ali” hal.28) mengacu pada Yanabiul Mawaddah ketika mengutip Hadis mengenai keutamaan Ahlul Bait (as).

3. Mufti Ghulam Rasul (Hasab aur Nasab, j.1 h.191, London) juga mengacu pada Yanabiul Mawadah ketika mengutip hadis keutamaan Ahlul Bait (as).

Jika memang Syaikh Sulayman Al Hanafi dikatakan Syiah oleh kaum Nawashib lalu apakah beberapa ulama terkemuka Mazhab Hanafi yang disebutkan diatas begitu bodoh atau buta huruf hingga mereka mengutip catatan ulama Syi’ah (yg kata mereka jgn percaya sama syiah) bagi para pembaca Sunni ?

Alasan paling dasar dibalik “pengecapan” dengan menyatakan figur yang sebenarnya Sunni sebagai Syiah oleh kaum Nawashib adalah karena ulama sejati seperti Syaikh Sulayman Al Hanafi dianggap berpihak kepada Syiah hanya karena banyak mencatat hadis Rasulullah (saww) yang mana riwayatnya banyak dianggap sesuai dengan keyakinan Syiah..!

BAGIAN II

Syaikh Sulayman Al Qunduzi Al Hanafi Mencatat Nama-Nama Para Imam Yang Harus Di ikuti Setelah Rasulullah Saww Dalam Kitabnya Yanabiul Mawaddah

Yanabiul Mawaddah (j.3, h.100-101) dan Yanabiul Mawaddah (j.3 h.284, Tahqiq oleh Sayyid Ali Jamali Asyraf Al Husayni), riwayat dari Jabir al-Anshari (ra) berkata :

Jundal bin Janadah berjumpa Rasulullah (saww) dan bertanya kepada beliau beberapa masalah. Kemudian dia berkata :

Riwayat seperti diatas tidak hanya satu dalam kitab Yanabiul Mawaddah, namun ini sudah cukup sebagai bukti bahwa nama para Imam Ahlul Bait telah dijelaskan oleh Rasulullah (saww) dan tercatat dalam Kitab Sunni sendiri.

Beritahukan kepadaku wahai Rasulullah tentang para washi anda setelah anda supaya aku berpegang kepada mereka.

Beliau (saww) menjawab : “Washiku dua belas orang.”

Lalu Jundal berkata : “Begitulah kami dapati di dalam Taurat.”

Kemudian dia berkata : “Namakan mereka kepadaku wahai Rasulullah.”

Maka Beliau (saww) menjawab :

Pertama adalah penghulu dan ayah para washi adalah Ali. Kemudian dua anak lelakinya Hasan dan Husain. Berpeganglah kepada mereka dan janganlah kejahilan orang-orang yang jahil itu memperdayakanmu. Kemudian Ali bin Husain Zainal Abidin, Allah akan mewafatkan (Ali bin Husain) dan menjadikan air susu sebagai minuman terakhir di dunia ini.”

Jundal berkata :

“Kami telah mendapatinya di dalam Taurat dan di dalam kitab-kitab para Nabi (as) seperti Iliya, Syibra dan Syabir. Maka ini adalah nama Ali, Hasan dan Husain, lalu siapa setelah Husain..? siapa nama mereka..?”

Berkata (Rasulullah) saww :

Setelah wafatnya Husain, imam setelahnya adalah putranya Ali dipanggil Zainal Abidin setelahnya adalah anak lelakinya Muhammad, dipanggil al-Baqir. Setelahnya anak lelakinya Ja’far dipanggil al-Shadiq. Setelahnya anak lelakinya Musa dipanggil al-Kadzim. Setelahnya anak lelakinya Ali dipanggil al-Ridha. Setelahnya anak lelakinya Muhammad dipanggil al Taqy Az Zaky. Setelahnya anak lelakinya Ali dipanggil al-Naqiy al-Hadi. Setelahnya anak lelakinya Hasan dipanggil al-Askari. Setelahnya anak lelakinya Muhammad dipanggil al-Mahdi al-Qa’im dan al-Hujjah. Beliau ghaib dan akan keluar memenuhi bumi dengan kejujuran dan keadilan sebagaimana itu dipenuhi dengan kefasadan dan kezaliman. Alangkah beruntungnya bagi orang-orang yang bersabar semasa ghaibnya. Dan alangkah beruntungnya bagi orang-orang yang bertaqwa terhadap Hujjah mereka. Dan mereka itulah orang yang disifatkan oleh Allah di dalam firmanNya “Petunjuk bagi mereka yang bertaqwa yaitu mereka yang beriman kepada yang ghaib.”(1) Kemudian beliau membaca “Maka sesungguhnya partai Allah itulah yang pasti menang.”(2) Beliau bersabda : Mereka adalah dari partai Allah (hizbullah).”

[1]. Surah al-Baqarah (2) : 2-3

[2]. Surah al-Mai’dah (5) :56

Khalifah Rasulullah Yang WAJIB di ikuti sesuai Hadist Rasulullah saww.


 

Berdasarkan hadith Nabi saaw dalam kitab Ahlul Sunnah antaranya ialah :

Daripada Said bin Jubair daripada Ibn Abbas berkata: Bersabda Rasulullah SAWAW: “Sesungguhnya khalifah-khalifahku dan wasi-wasiku, hujah-hujah Allah di atas makhlukNya selepasku ialah 12 orang; yang pertama Ali dan yang akhirnya cicitku al-Mahdi; maka itulah Isa b. Maryam bersembahyang di belakang al-Mahdi (Yanabi al-Mawaddah, hlm. 447)

Hadith yang dikeluarkan oleh Abu al-Mu’ayyid Ibn Ahmad al-Khawarizmi dengan sanadnya dari Abu Sulaiman yang berkata : “Aku mendengar Rasulullah SAWAW dan Ahli Baitnya berkata: Di malam aku dinaikkan ke langit (Mi’raj) Allah SWT berkata kepadaku…lihatlah di kanan Arasy, lalu aku memaling ke arahnya, maka aku dapati Ali, Fatimah, Hasan, Husayn, Ali b. Husayn, Muhammad b. Ali, Ja’far b. Muhammad, Musa b. Ja’far, Ali b. Musa, Muhammad b. Ali, Ali b. Muhammad, Hasan b. Ali, dan Muhammad al-Mahdi b. Hasan; ia seperti cakerawala yang berputar di kalangan mereka. Dan dia berfirman: “Wahai Muhammad, mereka itulah hujah-hujahKu ke atas hamba-hambaKu, merekalah wasi-wasiKu (khalifah-khalifahku).”(Ya

nabi al-Mawaddah, hlm. 487)

Sila teliti dengan sebaik-baiknya hadis-hadis di bawah yang telah diriwayatkan oleh ulama-ulama sunni:

Hadith-hadith yang menghadkan pengganti Nabi SAW kepada dua belas orang.

Hadith-hadith yang menghadkan pengganti-pengganti Nabi SAWW kepada dua belas orang, telah diriwayatkan oleh jumhur ulama Muslimin Sunnah dan Syi’ah di dalam Sahih-sahih dan Musnad-musnad mereka.

Ahmad bin Hanbal di dalam Musnadnya (al-Musnad, I, hlm 398) meriwayatkan hadith ini daripada Sya’bi daripada Masruq berkata:”Kami berada di sisi ‘Abdullah bin Mas’ud yang sedang memperdengarkan bacaan al-Qur’an kepada kami. Tiba-tiba seorang lelaki bertanya kepadanya: Wahai Abu ‘Abdu r-Rahman! Adakah anda telah bertanya Rasulullah SAWAW berapakah ummat ini memiliki khalifah?” Abdullah bin Mas’ud menjawab:”Tiada seorangpun bertanya kepadaku mengenainya semenjak aku datang ke Iraq sebelum anda.” Kemudian dia berkata:”Ya! Sesungguhnya kami telah bertanya kepada Rasulullah SAWAW mengenainya. Maka beliau menjawab:”Dua belas (khalifah) seperti bilangan naqib Bani Israil.”

Di dalam riwayat yang lain Ahmad bin Hanbal meriwayatkan daripada Jabir bin Samurah, sesungguhnya dia berkata:”Aku mendengar Rasulullah SAWAW bersabda semasa Haji Wida’:”Urusan agama ini masih pada zahirnya di tangan penentangannya dan tidak akan dihancurkan oleh orang-orang yang menyalahinya sehingga berlalunya dua belas Amir, semuanya daripada Quraisy.” (al-Musnad, I, hlm 406, dan V, hlm 89)

Muslim di dalam Sahihnya ( Sahih, II, hlm 79 )meriwayatkan daripada Jabir bin Samurah sesungguhnya dia berkata:”Aku bersama bapaku berjumpa Nabi SAWAW, Maka aku mendengar Nabi SAWAW bersabda:”Urusan ‘ini’ tidak akan selesai sehingga berlaku pada mereka dua belas khalifah.” Dia berkata: Kemudian beliau bercakap dengan perlahan kepadaku. Akupun bertanya bapaku apakah yang diucapkan oleh beliau? Dia menjawab:”Semuanya daripada Quraisy.”
Muslim juga meriwayatkan di dalam Sahihnya daripada Nabi SAWAW beliau bersabda:”Agama sentiasa teguh sehingga hari kiamat dan dua belas khalifah memimpin mereka, semuanya daripada Quraisy. Di dalam riwayat yang lain “Urusan manusia berlalu dengan perlantikan dua belas lelaki dari Quraisy, ” “Sentiasa Islam itu kuat sehingga kepada dua belas khalifah daripada Quraisy” dan “Sentiasa ugama ini kuat dan kukuh sehingga dua belas khalifah daripada Quraisy”
Al-Turmudzi di dalam al-Sunannya (al-sunan, II, hlm 110 ) mencatat hadith tersebut dengan lafaz amir bukan khalifah.

Sementara al-Bukhari di dalam Sahihnya ( Sahih, IV, hlm 120 (Kitab al-Ahkam ) meriwayatkannya daripada Jabir bin Samurah bahawa Nabi SAWAW bersabda:”Selepasku ialah dua belas amir.” Maka beliau berucap dengan perkataan yang aku tidak mendengarnya. Bapaku memberitahuku bahawa beliau bersabda:”Semuanya daripada Quraisy.”

Al-Muttaqi al-Hindi di dalam Kanz al-Ummal ( Kanz al-Ummal, VI, hlm 160 ), meriwayatkan bahawa Nabi SAWAW bersabda:”Selepasku akan (diikuti) oleh dua belas khalifah.”

Ibn Hajr di dalam al-Sawa’iq al-Muhriqah ( al-Sawa’iq al-Muhriqah, bab XI ) meriwayatkan daripada Jabir bin Samurah bahawa Nabi SAWAW bersabda:”Selepasku akan (dikuti) dua belas amair semuanya daripada Quraisy.”

Al-Qunduzi al-Hanafi di dalam Yanabi’ al-Mawaddah (Yanabi’ al-Mawaddah, hlm 444 (bab 7) mencatat riwayat daripada Jabir bin Samurah sesungguhnya dia berkata:”Aku bersama bapaku di sisi Nabi SAWAW beliau bersabda:”Selepasku dua belas khalifah.” Kemudian beliau merendahkan suaranya. Maka akupun bertanya bapaku mengenainya. Dia menjawab: Beliau bersabda: “Semuanya daripada Bani Hasyim.”

Samak bin Harb juga meriwayatkannya dengan lafaz yang sama. Diriwayatkan daripada al-Sya’bi daripada Masruq daripada Ibn Mas’ud bahawa sesungguhnya Nabi SAWAW telah menjanjikan kita bahawa selepasnya dua belas khalifah sama dengan bilangan naqib Bani Isra’il. Dan dia berkata di dalam bab yang sama bahawa Yahya bin al-Hasan telah menyebutkannya di dalam Kitab al-Umdah dengan dua puluh riwayat bahawa khalifah-khalifah selepas Nabi SAWAW adalah dua belas orang. Semuanya daripada Quraisy. Al-Bukhari telah menyebutkannya dengan tiga riwayat, Muslim sembilan riwayat. Abu Daud tiga riwayat, al-Turmudhi satu riwayat dan al-Humaidi tiga riwayat.

Pengkaji-pengkaji menegaskan bahawa hadith-hadith tersebut menunjukkan bahawa khalifah-khalifah selepas Nabi SAWAW ialah dua belas orang. Dan maksud hadith Nabi SAWAW ialah dua belas orang daripada Ahlu l-Baitnya. Kerana tidak mungkin dikaitkan hadith ini kepada khalifah-khalifah yang terdiri daripada bilangan mereka kurang daripada dua belas orang. Dan tidak mungkin dikaitkan dengan khalifah-khalifah Bani Umaiyyah kerana bilangan mereka melebihi dua belas orang dan kezaliman mereka yang ketara selain daripada ‘Umar bin Abdu l-Aziz. Tambahan pula mereka bukan daripada Bani Hasyim. Di dalam riwayat yang lain beliau memilih Bani Hasyim di kalangan Quraisy dan memilih Ahlu l-Baitnya di kalangan Bani Hasyim (Muslim, Sahih, II, hlm 81 (Fadhl Ahlu l-Bait)
.

Di dalam riwayat ‘Abdu l-Malik daripada Jabir bahawa Nabi SAWAW telah merendahkan suaranya ketika menyebutkan Bani Hasyim kerana ‘mereka’ tidak menyukai Bani Hasyim. Hadith ini juga tidak boleh dikaitkan dengan khalifah-khalifah Bani ‘Abbas kerana bilangan mereka melebihi bilangan tersebut. Dan mereka tidak mengambil berat tentang firmanNya “Katakan!” Aku tidak meminta upah daripada kamu kecuali mencintai keluargaku, ” sebagaimana juga mereka tidak menghormati hadith al-Kisa’. Justeru itu, hadith tersebut mestilah dikaitkan dengan dua belas Ahlu l-Baitnya kerana merekalah orang yang paling alim, warak, takwa, paling tinggi keturunan dan ilmu-ilmu mereka adalah daripada datuk-datuk mereka yang berhubungan dengan datuk mereka Rasulullah SAWAW dari segi “warisan” dan hikmah. Mereka pula dikenali oleh para ilmuan. Oleh itu apa yang dimaksudkan oleh hadith tersebut ialah dua belas Ahlu l-Bait Rasulullah Saww (Yanabi’ al-Mawaddah, hlm 445).
Ini juga diperkuatkan oleh hadith thaqalain, hadith al-Safinah, hadith al-Manzilah dan lain-lain.

Al-Qunduzi al-Hanafi (Yanabi’ al-Mawaddah, hlm 445) juga telah meriwayatkan hadith daripada Jabir dia berkata: Rasulullah SAWAW bersabda:”Akulah penghulu para Nabi dan ‘Ali adalah penghulu para wasi. Dan sesungguhnya para wasi selepasku ialah dua belas orang, pertama ‘Ali dan yang akhirnya Qaim al-Mahdi.”

Hadith-hadith yang menerangkan bahawa merekalah para wasi Rasulullah SAWAW di dalam buku-buku Ahlu l-Sunnah adalah banyak, dan ianya melebihi had mutawatir. Ini tidak termasuk hadith-hadith riwayat Syi’ah. Umpamanya hadith daripada Salman RD berkata: Aku berjumpa Nabi SAWAW dan Husain berada di atas dua pahanya. Nabi SAWAW sedang mengucup dahinya sambil berkata:’Anda adalah Sayyid bin Sayyid dan adik Sayyid. Anda adalah imam bin imam dan adik imam. Anda adalah Hujjah bin Hujjah dan adik Hujjah dan bapa hujjah-hujjah yang sembilan. Dan yang kesembilan mereka ialah Mahdi al-Muntazar.”

Al-Hamawaini al-Syafi’i di dalam Fara’id al-Simtin (Fara’id al-Simtin, II, hlm 26), meriwayatkan daripada ‘Ibn Abbas berkata: Aku mendengar Rasulullah SAWAW bersabda:”Aku , Ali, Hasan, Husain dan sembilan daripada anak-anak Husain adalah disuci dan dimaksumkan.”

Ibn ‘Abbas juga meriwayatkan bahawa Nabi SAWAW bersabda:”Wasi-wasiku, hujjah-hujjah Allah ke atas makhlukNya dua belas orang, pertamanya saudaraku dan akhirnya ialah anak lelakiku (waladi).” Lalu ditanya Rasulullah siapakah saudara anda wahai Rasulullah? Beliau menjawab:’Ali. Dan ditanya lagi siapakah anak lelaki anda? Beliau menjawab: al-Mahdi yang akan memenuhi bumi ini dengan kejujuran dan keadilan sebagaimana ianya dipenuhi dengan kerosakan dan kezaliman. Demi Tuhan yang mengutusku dengan kebenaran sebagai kegembiraan dan peringatan, sekiranya dunia ini tinggal hanya satu hari lagi nescaya Allah akan memanjangkannya sehingga keluar anak lelakiku al-Mahdi. Kemudian diikuti oleh ‘Isa bin Maryam. Beliau akan mengerjakan solat di belakang anak lelakiku. Dunia pada ketika itu berseri dengan cahaya Tuhannya dan pemerintahannya meliputi Timur dan Barat.

Al-Qunduzi al-Hanafi di dalam Yanabi’ al-Mawaddah bab 95) meriwayatkan bahawa Jabir bin ‘Abdullah berkata: Rasulullah saww bersabda : Wahai Jabir! Sesungguhnya para wasiku dan para imam selepasku pertamanya Ali kemudian Hasan kemudian Husain kemudian Ali bin Husain kemudian Muhammad bin Ali al-Baqir. Anda akan menemuinya wahai Jabir sekiranya anda mendapatinya, maka sampaikanlah salamku kepadanya. Kemudian Ja’far bin Muhammad, kemudian Musa bin Ja’far, kemudian Ali bin Musa, kemudian Muhammad bin Ali, kemudian Ali bin Muhammad, kemudian Hasan bin Ali. Kemudian al-Qa’im namanya sama dengan namaku dan kunyahnya sama dengan kunyahku, anak Hasan bin Ali. Dengan beliaulah Allah akan membuka seluruh pelosok bumi di Timur dan di Barat, dialah yang ghaib dari penglihatan. Tidak akan percaya kepada imamahnya melainkan orang yang telah diuji hatinya oleh Allah SWT. Jabir berkata: Wahai Rasulullah! Apakah orang2 dapat mengambil manfaat darinya ketika ghaibnya ? Beliau menjawab :”Ya..! Demi yang mengutusku dengan kenabian sesungguhnya mereka mengambil cahaya dari wilayahnya ketika ghaibnya, seperti orang mengambil manfaat dari matahari sekalipun ia ditutupi awan.” Ini adalah di antara rahsia-rahsia ilmu Allah yang tersembunyi. Maka rahsiakanlah mengenainya melain kepada orang yang ahli. (Yanabi’ al Mawaddah, hlm 494)

daripada Jabir al-Ansari berkata: Junda; bin Janadah berjumpa Rasulullah SAWAW dan bertanya kepada beliau beberapa masalah. Kemudian dia berkata: Beritahukan kepadaku wahai Rasulullah tentang wasi-wasi anda selepas anda supaya aku berpegang kepada mereka. Beliau menjawab: Wasi-wasiku dua belas orang. Lalu Jundal berkata: Begitulah kami dapati di dalam Taurat. Kemudian dia berkata: Namakan mereka kepadaku wahai Rasulullah. Maka beliau menjawab: “Pertama penghulu dan ayah para wasi adalah Ali. Kemudian dua anak laki2nya Hasan dan Husain. Berpegang teguhlah kepada mereka dan janganlah kejahilan orang-orang yang jahil memperdayaimu. Kemudian Ali bin Husain Zainal Abidin Allah akan mematikan anda (‘Ali bin Husain) dan menjadikan air susu sebagai bekalan terakhir di dunia ini.” (Yanabi’ al-Mawaddah Bb 76 hlm 441 – 444 )

Jundal berkata: Kami telah mendapatinya di dalam Taurat dan di dalam buku-buku para Nabi AS seperti Iliya, Syibra dan Syabir. Maka ini adalah nama ‘Ali, Hasan dan Husain, maka imam selepasnya dipanggil Zaina l-Abidin selepasnya anak lelakinya Muhammad, dipanggil al-Baqir. Selepasnya anak lelakinya Ja’far dipanggil al-Sadiq. Selepasnya anak lelakinya Musa dipanggil al-Kazim. Selepasnya anak lelakinya ‘Ali dipanggil al-Ridha. Selepasnya anak lelakinya ‘Ali dipanggil al-Naqiyy al-Hadi. Selepasnya anak lelakinya Hasan dipanggil al-Askari. Selepasnya anak lelakinya Muhammad dipanggil al-Mahdi al-Qa’im dan al-Hujjah. Beliau ghaib dan akan keluar memenuhi bumi dengan kejujuran dan keadilan sebagaimana ianya dipenuhi dengan kefasadan dan kezaliman. Alangkah beruntungnya bagi orang-orang yang bersabar semasa ghaibnya. Dan alangkah beruntungnya bagi orang-orang yang bertaqwa terhadap Hujjah mereka. Dan mereka itulah orang yang disifatkan oleh Allah di dalam firmanNya (Surah al-Baqarah(2): 2-3″Petunjuk bagi mereka yang bertaqwa iaitu mereka yang beriman kepada yang ghaib.” Kemudian beliau membaca (Surah al-Mai’dah(5):56)”Sesungguhnya parti Allahlah yang pasti menang.”Beliau bersabda: Mereka itu adalah daripada parti Allah (hizbullah).

Al-Hamawaini di dalam Fara’id al-Simtin (Yanabi’ al-Mawaddah, hlm 446 – 447) telah meriwayatkan hadith ini dan dinukilkan oleh al-Qunduzi al-Hanafi di dalam Yanabi’ al-Mawaddah bab 76 dengan sanad daripada Ibn ‘Abbas dia berkata: Seorang Yahudi bernama Na’thal datang kepada Rasulullah SAWAW dan berkata: Wahai Muhammad! Aku akan bertanya anda beberapa perkara yang tidak menyenangkan hatiku seketika. Sekiranya anda dapat memberi jawapan kepadaku nescaya aku akan memeluk Islam di tangan anda. Beliau SAWAW bersabda:”Tanyalah wahai Abu ‘Ammarah.’ Dia bertanya beberapa perkara sehingga dia berkata: Beritahukan kepadaku tentang wasi anda siapa dia? Tidak ada seorang Nabi melainkan ada baginya seorang wasi. Dan sesungguhnya Nabi kami Musa bin ‘Imran telah berwasiatkan kepada Yusyu’ bin Nun. Maka Nabi SAWAW menjawab”Sesungguhnya wasiku ialah ‘Ali bin Abi Talib, selepasnya dua anak lelakinya Hasan dan Husain kemudian diikuti oleh sembilan imam daripada keturunan Husain.’ Dia berkata: Namakan mereka kepadaku. Beliau menjawab:’Apabila wafatnya Husain, maka anaknya ‘Ali apabila wafatnya ‘Ali, anaknya Muhammad, Dan apabila wafatnya Muhammad, anaknya Ja’far. Apabila wafatnya Ja’far anaknya Musa. Apabila wafatnya Musa, anaknya Ali. Apabila wafatnya Ali, anaknya Muhammad. Apabila wafatnya Muhammad, anaknya ‘Ali. Apabila wafatnya ‘Ali anaknya Hasan. Apabila wafatnya Hasan, anaknya Muhammad al-Mahdi. Mereka semua dua belas orang…..”Akhirnya lelaki Yahudi tadi memeluk Islam dan menceritakan bahawa nama-nama para imam dua belas telah tertulis di dalam buku-buku para Nabi yang terdahulu, dan ia termasuk di antara apa yang telah dijanjikan oleh Musa AS.
Al-Hamawaini di dalam Fara’id al-Simtin meriwayatkan sanadnya kepada Abu Sulaiman penjaga unta Rasulullah SAWAW, dia berkata:”Aku mendengar Rasulullah SAWAW bersabda:”Di malam aku diperjalankan atau dibawa ke langit, Allah SWT berfirman:”Rasul mempercayai apa yang telah diturunkan kepadanya oleh TuhanNya.”Aku bersabda: Mukminun. Dia menjawab: Benar. Allah SWT berfirman lagi: Wahai Muhammad! Kali pertama Aku memerhatikan ahli bumi, Aku memilih anda. Aku menamakan anda dengan salah satu daripada nama-namaku. Oleh itu dimana sahaja Aku diingati, anda diingati bersama. Akulah al-Mahmud dan andalah Muhammad. Kemudian Aku memerhatikannya kali kedua, maka Aku memilih ‘Ali. Maka Aku menamakannya dengan namaku. Wahai Muhammad! Aku telah menjadikan anda dari Aku dan menjadikan ‘Ali, Fatimah, Hasan, Husain dan imam-imam daripada keturunan Husain daripada cahayaKu. Akupun membentangkan wilayah mereka kepada seluruh ahli langit dan bumi. Sesiapa yang menerimanya akan berada di sisiKu sebagai Mukminin. Dan sesiapa yang mengingkarinya akan berada di sisiKu sebagai kafirin. Wahai Muhammad! Sekiranya seorang daripada hamba-hambaKu beribadat kepadaKu tanpa terhenti-henti kemudian mendatangiKu dalam keadaan mengingkari wilayah kalian, nescaya Aku tidak mengampuninya. Allah SWT berfirman lagi kepada Nabi SAWAW: Adakah anda ingin melihat mereka? Beliau menjawab: Ya! Wahai Tuhanku. Dia berfirman: Lihatlah di kanan ‘Arasy, maka aku dapati ‘Ali, Fatimah, Hasan, Husain, ‘Ali bin Husain, Muhammad bin ‘Ali, Ja’far bin Muhammad, Musa bin Ja’far, ‘Ali bin Musa, Muhammad bin ‘Ali, ‘Ali bin Muhammad, Hasan bin ‘Ali dan Muhammad al-Mahdi bin Hasan. Mereka diibaratkan bintang-bintang yang bersinar di kalangan mereka. Kemudian Dia berfirman lagi: Mereka itulah hujjah-hujjah ke atas hamba-hambaKu, mereka itulah wasi-wasi anda. Dan al-Mahdi adalah daripada ‘itrah anda. Demi kemuliaanKu dan kebesaranKu, dia akan membalas dendam terhadap musuh-musuhKu.”

Muwaffaq bin Ahmad al-Hanafi di dalam Manaqibnya meriwayatkan daripada Salman daripada Nabi SAWAW, sesungguhnya beliau bersabda kepada Husain:”Andalah imam anak lelaki seorang imam, saudara kepada imam, bapa kepada sembilan imam. Dan yang kesembilan daripada mereka ialah Qaim mereka (al-Mahdi AS).
Begitulah juga Syahabuddin al-Hindi di dalam Manaqibnya telah menerangkan sanadnya daripada Nabi SAWAW bahawa beliau bersabda:”Sembilan imam adalah daripada anak cucu (keturunan) Husain bin ‘Ali dan yang kesembilan mereka adalah Qaim mereka (imam al-Mahdi al-Muntazar AS).

Al-Hamawaini al-Syafi’e meriwayatkan di dalam Fara’id al-Simtin bahawa Nabi SAWAW bersabda:” Siapa yang suka berpegang kepada ugamaku dan menaiki bahtera kejayaan selepasku, maka hendaklah dia mengikuti ‘Ali bin Abi Talib, memusuhi seterunya dan mewalikan walinya kerana beliau adalah wasiku, dan khalifahku ke atas ummatku semasa hidupku dan selepas kewafatanku. Beliau adalah imam setiap muslim dan amir setiap mukmin, perkataannya adalah perkataanku, perintahnya adalah perintahku. Larangannya adalah laranganku. Pengikutnya adalah pengikutku. Penolongnya adalah penolongku. Orang yang menjauhinya adalah menjauhiku.”
Kemudian Nabi SAWAW bersabda lagi: Sesiapa yang menjauhi ‘Ali selepasku, dia tidak akan ‘melihatku.’ Dan aku tidak melihatnya di hari kiamat. Dan siapa yang menentang ‘Ali, Allah haramkan ke atasnya syurga dan menjadikan tempat tinggalnya di neraka. Siapa yang menjauhi ‘Ali, Allah akan menjauhinya di hari kiamat. Di hari itu akan didedahkan segala-galanya dan sesiapa yang menolong ‘Ali, nescaya Allah akan menolongnya.
Kemudian beliau bersabda lagi: Hasan dan Husain kedua-duanya adalah imam ummatku selepas bapa mereka berdua adalah penghulu-penghulu pemuda syurga. Ibu kedua-duanya adalah penghulu para wasi. Dan sembilan imam adalah daripada anak cucu Husain. Dan yang kesembilan mereka adalah Qaim mereka (imam al-Mahdi). Mentaati mereka adalah ketaatan kepadaku. Mendurhakakan mereka adalah mendurhakaiku. Kepada Allah aku mengadu bagi orang yang menentang kelebihan mereka, dan menghilangkan kehormatan mereka selepasku. Cukuplah bagi Allah sebagai wali dan penghulu kepada ‘itrahku, para imam ummatku. Pasti Allah akan menyiksa orang yang menentang hak mereka.”Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.”(Al-Syuara’(26): 227)

Ayatullah al-’Uzma al-Hulli di dalam bukunya Kasyf al-Haq (Kasyf al-Haq, I, hlm 108) telah menerangkan sebahagian daripada hadith dua belas khalifah dengan riwayat yang bermacam-macam. Seorang musuh ketatnya bernama Fadhl bin Ruzbahan al-Nasibi adalah orang yang paling kuat menentang Ahlu l-Bait AS, di dalam jawapan kepadanya mengakui bahawa apa yang disebutkan oleh Allamah al-Hulli mengenai dua belas khalifah adalah Sahih dan telah dicatat di dalam buku-buku Sahih Ahlu s-Sunnah.

Aku berkata: Riwayat hadith dua belas imam daripada Nabi SAWAW adalah terlalu banyak. Kami hanya menyebutkan sebahagian kecil daripada buku-buku Ahlu s-Sunnah wa l-Jama’ah yang mencatatkan hadith tersebut. Seperti al-Bayan karangan al-Hafiz al-Khanji, Fasl al-Khittab karangan Khawajah Faris al-Hanafi, Arba’in karangan Syeikh As’ad bin Ibrahim al-Hanbali, Arba’in karangan Ibn Abi l-Fawarith dan lain-lain buku Ahlu s-Sunnah. Adapun riwayat Syi’ah mengenainya adalah tidak terhitung banyaknya.

Sayyid Hasyim al-Bahrani di dalam bukunya Ghayah al-Maram (Ghayah al-Maram, I, hlm 309) telah menjelaskan hadith dua belas imam sebanyak enam puluh riwayat dengan sanad-sanadnya menurut metod Ahlu s-Sunnah wa l-Jama’ah. Tujuh riwayat daripada buku Manaqib Amiru l-Mukminin AS karangan Maghazali al-Syafi’i, dua puluh tiga riwayat daripada Fara’id al-Simtin karangan al-Hamawaini, satu riwayat daripada Fusul al-Muhimmah karangan Ibn al-Sibagh al-Maliki dan satu riwayat daripada Syarh Nahj al-Balaghah karangan Ibn Abi l-Hadid.

Aku berkata: Sesungguhnya aku telah mengkaji risalah karangan Syaikh Kazim ‘Ali Nuh RH berjudul Turuq Hadith al-A’immah min Quraisy, hlm. 14. Dia berkata bahawa ‘Allamah Sayyid Hasan Sadr al-Din di dalam bukunya al-Durar al-Musawiyyah Fi Syarh al-’Aqa’id al-Ja’fariyyah telah mengeluarkan hadith dua belas khalifah daripada Ahmad bin Hanbal sebanyak tiga puluh empat riwayat. Hadith ini telah dikeluarkan juga oleh al-Bukhari, Muslim, al-Humaidi, beberapa riwayat Razin di dalam Sahih Sittah, riwayat al-Tha’labi, Abu Sa’id al-Khudri, Abu Bardah, Ibn Umar, Abdu r-Rahman Ibn Samurah, Jabir, Anas, Abu Hurairah, Ibn ‘Abbas, ‘Umar bin al-Khattab, ‘Aisyah, Wa’ilah dan Abi Salma al-Ra’i.

Adapun riwayat Umar bin al-Khattab yang telah dikaitkan kepadanya oleh ‘Ali bin al-Musayyab mengenai sabda Nabi SAWAW ialah: Para imam selepasku di antaranya Mahdi ummat ini. Siapa yang berpegang kepada mereka selepasku, maka sesungguhnya dia telah berpegang kepada tali Allah. Hadith ini juga telah dikaitkan dengan al-Durasti dengan Ibn al-Muthanna yang bertanya kepada ‘Aisyah:”Berapakah khalifah Rasulullah SAWAW. ‘Aisyah menjawab:’Beliau (Rasulullah SAW) memberitahuku bahawa selepasnya dua belas khalifah.’ Aku bertanya: Siapakah mereka? Maka ‘Aisyah menjawab:’Nama-nama mereka tertulis di sisiku dengan imla Rasulullah SAWAW.’ Maka aku bertanya kepadanya: Apakah nama-nama mereka? Maka dia enggan memperkenalkannya kepadaku.’

Sayyid al-Bahrani juga mencatat sebahagian daripada buku-buku Ahlu s-Sunnah yang menyebutkan dua belas khalifah. Di antaranya Manaqib Ahmad bin Hanbal, Tanzil al-Qur’an fi Manaqib Ahlu l-Bait karangan Ibn Nu’aim al-Isfahani, Faraid al-Simtin karangan al-Hamawaini, Matalib al-Su’ul karangan Muhammad bin Talhah al-Syafi’i, Kitab al-Bayan karangan al-Kanji al-Syafi’i, Musnad al-Fatimah karangan al-Dar al-Qutni, Fadhail Ahlu l-Bait karangan al-Khawarizmi al-Hanafi, al-Manaqib karangan Ibn al-Maghazali al-Syafi’i, al-Fusul al-Muhimmah karangan Ibn al-Sibagh al-Maliki, Jawahir al-’Aqdain karangan al-Samhudi, Dhakha’ir al-’Uqba karangan Muhibbuddin al-Tabari, Mawaddah al-Qurba karangan Syihab al-Hamdani al-Syafi’i, al-Sawa’iq al-Muhriqah karangan Ibn Hajr al-Haithami, al-Isabah karangan Ibn Hajr al-’Asqalani, Musnad Ahmad bin Hanbal, Musnad Abi Ya’la al-Mausuli, Musnad Abi Bakr al-Bazzar, Mu’jam al-Tabrani, Jam’ al-Saghir karangan al-Suyuti, Kunuz al-Daqa’iq karangan al-Munawi dan lain-lain.

Aku berkata: Sesungguhnya riwayat-riwayat yang berbilang-bilang yang datang kepada kita menurut metod Ahlu s-Sunnah adalah sekuat dalil, dan hujjah yang paling terang bahawa sesungguhnya khalifah selepas Rasulullah SAWAW secara langsung ialah Imam Amiru l-Mukminin ‘Ali bin Abi Talib AS. Dan selepasnya ialah anak-anaknya sebelas imam yang maksum, pengganti Rasul dan para imam Muslimin satu selepas satu sehingga manusia ‘berhadapan’ dengan Tuhan mereka. Tiada seorangpun yang dapat mengingkari hadith-hadith yang sabit yang diriwayatkan menurut riwayat para ulama besar Ahlu s-Sunnah dan pakar-pakar hadith mereka, lebih-lebih lagi menurut riwayat Syi’ah. Kecuali cahaya pemikirannya telah dipadamkan dan dijadikan di hatinya penutup. Justeru itu ia adalah termasuk di dalam firmanNya di dalam (Surah al-Baqarah (2): 171)”Mereka itu bisu dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti.”Dan firmanNya (Surah al-Zukhruf(43): 36) “Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah, Kami akan adakan baginya syaitan (yang menyesatkan), maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.”Dan firmanNya (Surah al-Kahf(18):57)”Kami jadikan di hati mereka tutupan (sehingga mereka tidak) memahaminya dan (Kami letakkan) sumbatan di telinga mereka, sekalipun kamu menyeru mereka kepada petunjuk, nescaya tidak akan mendapat petunjuk selama-lamanya.”

Ini adalah disebabkan penentangan mereka kepada dalil yang terang dan nas yang zahir kerana fanatik, kufur, dan kedegilan mereka.

Muhammad bin Idris al-Syafi’i memperakui kesahihan apa yang kami telah menyebutkannya dengan syairnya yang masyhur:

Manakala aku melihat manusia telah berpegang
kepada mazhab yang bermacam-macam
di lautan kebodohan dan kejahilan
Aku menaiki dengan nama Allah bahtera kejayaan
mereka itulah Ahlu l-Bait al-Mustaffa
penamat segala Rasul.

Pengiktirafan Syafi’i bahawa ‘Ali adalah imam dan selepasnya sebelas imam merupakan pengiktirafan yang besar daripada seorang imam mazhab empat. Dan ianya menjadi hujjah keimamahan dua belas imam maksum dari keluarga Rasulullah SAWW.

Sekarang, persoalannya adalah, sudahkah anda mengenal Imam Zaman anda?

Hadis “Siapa yang mati sedang ia tidak mengenal imam zamannya maka ia mati dalam keadaan jahiliyyah” MEMBENARKAN Akidah Syi’ah tentang 12 imam zaman


Kepemimpinan Dalam Perspektif Syi’ah dan Sunnah

Untuk mengetahui konsep Islam tentang Imamah/Khilafah, perlu kiranya kita menganalisa poin-poin penting seputar kepemimpinan (Imamah Kubra).Definisi Imamah:

Sebelum memasuki kajian inti Imamah, perlu bagi kita mengetahui pandangan Al qur’an tentangnya, juga pandangan para teolog Islam, baik Syi’ah maupun Ahlusunnah, agar tidak terjadi kerancuan dalam mengalisa permasalahan.

Imamah Dalam Pandangan Al qur’an

Dari ayat-ayat Al qur’yang berbicara tentang Imamah, kita dapat menyimpulkan adanya tugas-tugas yang menggambarkan hakikat Imamah itu sendiri.

Tugas-tugas tersebut ialah:

Pertama: Seorang Imam adalah panutan dan contoh praktis yang sejati yang akan memperagakan ajaran-ajaran agama, baik dalam sisi akidah, akhlak dan praktik amaliah.

Kedua: Seorang Imam adalah tempat berujuk dalam segala urusan dan masalah keagamaan. Seluruh masalah agama harus diambil darinya. Sebagaimana seluruh arahannya harus ditaati, tidak boleh dibantah dan dilanggar, sebab ia ma’shum.

Ketiga: Seorang Imam memiliki kewenangan dalam memimpin umat dalam sekala sosial, politik dan membimbing ke arah yang serasi dengan kesempurnaan kehidupan ukhrawi-nya di sisi Allah.

Keempat: Imamah ialah kewenangan dan kemampuan untuk berbuat dan memberi pengaruh pada sistem alam dengan izin Allah.

Imamah Dalam Kajian Para Teolog Islam

Untuk mngetahui sejauh mana kesesuaian pendefinisian Imamah oleh para teolog Islam dengan pandangan Al qur’an tentang Imamah, marilah kita simak pernyataan-pernyataan mereka:

Imamah Dalam Pandangan Ahlusunnah

Dalam pandangan Ahlusunnah, Imamah hanyalah lembaga kewenangan dalam sekala sosial politik.

Seorang Imam adalah pemimpin  politik/kepala negara yang bertanggung jawab dalam mengurus umat. Oleh karenanya ia adalah urusan keduniaan dan urusan umat. Dan fungsi posisi khilafah, sebagaimana layaknya dalam masyarakat-masyarakat non Islami, adalah pengaturan politis, tidak ada kaitannya dengan fungsitasyri’iy, pemeliharaan, penafsiran dan penjabaran ajaran agama.

Dan dari sini, datang kesapakatan mereka tentang tidak disyaratkan adanya nash (penunjukan), tidak disyaratkannya kema’shuman, dan hanya cukup dengan syarat ijtihad (jika terpenuhi), dan digugurkannya syarat ini dalam menentukan legelitassyar’iy jika tidak terpenuhi, tidak disyaratkannya afdlaliyah (yang paling mulia) pada sang khalifah bahkan tetap abash kekhilafahan seorang yang mafdluul (tidak mulia) kendati ada yang lebih afdlaf

Dan demikian pula kesepakatan mereka bahwa  jika ditetapkan kekhilafahan bagi  seseorang kemudian muncul seorang yang lebihafdhah, maka kekhilafahannya tetap syah dan tidak dibenarkan berpindah mengangkat yang lebih afdhal  itu… Kesepakan mereka bahwa seorang khalifah tidak gugur kekhilafahannya dengan kefasikan… Kesepakatan mereka bahwa kekhilafahan yang diperoleh dengan jalan kekerasan (memberontak) itu syah, dan begitu pula, jika ada yang memberontak lagi dan ia menang maka ia syah sebagai khalifah dan gugurlah kekhilafan khalifah sebelumnya.

Dan lain sebagainya, berupa pondasi fiqhiyah dan kalamiyah, yang kesemuanya tidak mungkin difahami kecuali atas dasar anggapan bahwa khilafah adalah lembaga yang tidak terkait dengan pembentukan umat atas dasar Islam akan tetapi terkait dengan Negara, masyarakat politis dan kebutuhan politis, pengaturan bagi masyarakat politis.

Dan karenanya, ia adalah  posisi eksekutif murni, tidak terkait dengan Islam sebagai gerakan perkembangan yang dinamis dalam bidang tasyri’, tafsir, penjabaran dan pemeliharaan agama serta pengisian areal tasyri’iy netral yang dimunculkan oleh dinamika kehidupan dan adanya masalah-masalah baru  yang dihadapi seorang Muslim  dan masyarakat Islam dalam kehidupan.

Satu-satunya kaitan khilafah dengan Islam hanyalah bahwa Islam adalah dasar penetapannya dan ia memimpin masyarakat yang meyakini Islam sebagai agama dan ia harus memimpin berdasarkan akidah dan hukum Islam.

Sesungguhnya khilafah terkait dengan urgensi politis pengaturan dan lahir darinya, ia tidak terkait dengan ediologi dan perkembangan dinamika syari’at di tengah-tengah umat dan dunia kecuali secara sekunder atau bahkan sama sekali tidak terkait.

Dan dari sini disimpulkan bahwa legalitas dan peran seorang Khalifah lahir karena ia memegang tampuk kekuasaan, dan jika hal itu hilang darinya maka hilanglah legalitas Syar’inya.

Ibnu Khaldun berkata, “Imamah adalah posisi mengganti/mewakili Nabi dalam memelihara agama dan mengatur urusan dunia/keduniaan.”

Imamah Dalam Pandangan Mazhab Syi’ah

Dalam pandangan Syi’ah, imamah tidak hanya diyakini  sebagai sekedar kekuasaan/kepemimpinan sosial politik seperti dalam keyakinan Ahlusunnah. Mereka meyakini bahwa kepemimpinan politik adalah salah satu dari dimensi imamah, atau justru sebagai konsekuensi logis imamah itu sendiri.

Imamah menurut mereka ialah: mencakup kepemimpinan keagamaan (Marja’iyah Diniyah)  dan kepemimpinan politis (Za’amah Siyasiyah), bahkan lebih dalam lagi mereka meyakini bahwa imamah adalah kewenangan dalam memberikan pengaruh dalam terjadinya fenomena-fenomena alam tertentu (dimensi Takwiniyah).

Imamah adalah Ahdullah (Janji Allah), oleh karenanya harus disandang oleh pribadi yang ma’sum dan harus melalui nash (penunjukan) dari Allah SWT.

Imamah dalam pandanga Syi’ah Imamiyah adalah jabatan keagamaan murni, dan melaluinya akan berlanjut fungsi kenabian dalam bidang tasyri’, pengawalan akidah dan syariat dari penyelewengan, pencemaran dalam penjabaran, penafsiran kaidah-kaidah dasar syari’at dan firman-firman mujmal, global.

Ia adalah jabatan yang menyamai kenabian dalam segala keistimewaan dan fungsinya kecuali dalam keistimewaan menerima wahyu.

Ia adalah jabatan yang –pada dasar dan esensinya- tidak meniscayakan adanya masyarat politis dan insan politis, akan tetapi ia meniscayakan adanya Islam itu sendiri sebagai agama dan meniscayakan adanya umat sebagai eksestensi manusiawi idiologis yang membentuk kehidupannya sesuai dengan Islam dan bukan sebagai masyarakat politis.

Fungsi Imamah Ma’shumah terkait secara mendasar  dengan bidang tasyri’, bukan dengan kondisi penataan politis bagi masyarakat politis.

Oleh karenanya, fungsi Imam ma’shum secara mendasar bukanlah fungsi politis, pengaturan  kedinastian.

Dan bahkan hal ini bukan merupakan esensi Imamah dan fungsinya, akan tetapi secara mendasar esensi dan fungsinya adalah ediologis tasri’iyah, dan secara sekunder adalah politis pengaturan.

Dan dari sini disyaratkannya ishmah (kemaksuman) dan afdlaliyah,  seperti akan dijelaskan nanti.

Dan oleh karenanya, seorang imam ketika ia kehilangan posisi politis (sebagai kepala negara), ia tidak bererti kehilangan fungsi imamahnya dan tidak juga posisinya secara umum tergoyahkan sebab esensi imamahnya  tidak ditentukan oleh kekuasaan dan ruang lingkup fungsinya juga bukan masyarakat politis dan pembuktian fungsinya tidak bergantung kepada kekuasaanya dalam memimpin negara. Akan tetapi fungsi imamahnya ditentukan oleh peran agamis tasyri’iy dan obyek fungsinya adalah umat serta pembuktiannya adalah kepemimpinannya atas umat dalam bidang tabligh dan tasyri’.

Dan dari keterangan di atas dapat dimengerti adanya perbedaan yang mendasar dan bukan hanya pada beberapa syarat saja, dalam pendangan antara Syi’ah dan Ahlusunnah, oleh kerenanya Syahid Muthahari berkata, “Kita harus tidak boleh mencampur adukkan  antara masalah Imamah dan masalah kekuasaan (hukumah), lalu kita mengatakan, ‘Apa pendapat Ahlusunnah? dan apa pendapat kita (Syiah)? Akan tetapi  masalah Imamah adalah masalah lain, pengertiannya menyerupai pengertian kenabian dengan kedudukan tinggi yang disandangnya. Oleh karenanya, kita kaum Syi’ah meyakini imamah sedangkan kaum Ahlusunnah tidak meyakininya sama sekali. Dan tidak dikatakan bahwa mereka meyakininya hanya saja mereka mensyaratkan syarat-syarat lain (selain yang kita syaratkan).”[Bidâyah al Ma’ârif :1\10 menukil dari Imamat Wa Rahbari .]

Maka dengan demikian mengenal pendefinisian masing-masing madzab dalam hal ini adalah sebuah keniscayaan dan hal penting yang akan menghindarkan kita dari kerancuan dalam berdialog dan menentukan kesimpulan-kesimpulan yang tepat.

Dan hal inilah yang sepertinya kurang mendapat perhatian yang proporsional dari para teolog klasik yang terlibat dalam polemik dan perdebatan berkepanjangan tentang Imamah di sepanjang zaman.

Misalnya, seorang teolog syi’ah langsung terjun mengkounter pandangan Sunni yang mengatakan bahwa Imamah dapat ditegakkan lewat sistem syura, dengan sejumlah argumen bahwa Imamah harus dengan nash, tanpa terlebih dahulu menemukan kata sepaham tentang definisi Imamah itu sendiri, akhirnya diskusi itu jadi rancu dan mandul.

Yang harus kita mengerti sekarang ialah bahwa Imamah yang diyakini kaum Sunni berbeda dengan Imamah yang diyakini kaum Syi’ah, baik dalam definisi, syarat-syarat maupun tugasnya.

Apakah Imamah Ushûlddîn/Prinsip agama atau Furû’uddîn?

  • Pendapat Ahlusunnah:

Imamah dalam pandangan madzab Ahlusunnah bukan merupakan Ushuluddin, ia digolongkan furu’uddin dan masalah-masalah fiqih yang harus dipecahkan dengan dalil-dalil naqliah bukan aqliah. Bahkan mereka menganggapnya bukan hal penting yang harus dibicarakan dan di diskusikan.

Demikian dijelaskan oleh tokoh-tokoh teologi Ahlusunnah seperti Imam Ghazali, Al-Amidiy, Al-Taftazani dll.

Al Ghazali berkata, “Ketahuilah, bahwa meneliti masalah Imamah bukanlah hal penting dan bukan permasalahan aqliah, ia adalah masalah fiqhiyah…”.[1]

Al Amidi berkata, “Ketahuilah bahwa persoalan imamah bukanlah termasuk ushuluddin, dan bukan pula perkara yang keharusan di mana seorang mukallaf  tidak dibenarkan berpaling darinya dan tidak mengerti tentangnya… .“[2]

At Taftazani berkata, “Imamah bukan termasuk Ushuluddin dan akidah, berbeda dengan Syi’ah. Akan tetapi ia menurut kita (Ahlusunnah) termasuk furuu’ yang terkait dengan tindakan para mukallaf, sebab pengangkatan imamah menurut kita wajib atas umat berdasarkan dalil naqli… .”[3]

Ibnu Ruzbahan mengatakan dalam bantahannya terhadap Allamah al-Hilli ra.,”Ketahuilah bahwa Imamah menurut kelompok Al Asy’ariyah bukan termasukUshuludiyanaat dan dasar akidah, akan tetapi ia menurut mereka adalah termasukfuruu’ yang berkaitan dengan tindakan kaum mukallaf.”[4]

Dan sepertinya pandangan mereka yang mengatakan bahwa imamah (khilafah) adalah furu’uddin dan bukan ushuluddin adalah tepat dan sesuai dengan pandangan mereka tentang definisi dan fungsi khilafah itu sendiri, sebab seperti sudah kita ketahui bahwa imamah (khilafah) dalam pandangan Ahlusunnah adalah sekedar jabatan kekuasaan (pemerintahan).

Syahid Muthahhari berkata, “Apabila masalah Imamah dalam batasan ini yaitu kekuasaan politis bagi kaum  Muslim sepeninggal Nabi saw. maka jujur saja kita kaum Syi’ah menjadikannya dari bagaian dari furu’uddin dan bukan ushuluddin dan kita mengatakannya ia seperti masalah shalat, akan tetapi kita kaum Syi’ah yang menyakini Imamah tidak hanya memahamimya sebatas itu.”[5]

Dan yang perlu mendapat sorotan di sini bahwa kendati imamah dalam pandangan Ahlusunnah bukan termasuk ushuluddin, namun demikian mereka menekankan pentingnya keimanan terhadap keimamahan (kepemimpinan) para Khulafa’ bahkan terhadap keyakinan urutan keutamaan mereka sesuai dengan urutan masa kepemimpinan mereka, dan mereka menjadikannya sebagai bagian yang sangat penting dalam keyakinan Ahlusunnah.

Imam Ahmad bin Hambal (W:241H) berkata menjelaskan akidah Ahlusunnah,“Sebaik-baik umat ini setelah Nabi kita saw. adalah Abu Bakar,  dan sebaik-baik  setelah Abu Bakar adalah Umar, dan sebaik-baik setekah Umar adalah Utsman, dan sebaik-baik setelah Utsman adalah Ali, semoga Allah meridhai mereka. Mereka adalah para Khulafa’ yang Rasyiduun dan mendapat petunjuk.”[6]

Abu Ja’far Ath Thahawi Al Hanafi (W:321H) berkata, “Dan kami menetapkan Khilafah setelah Nabi saw. untuk Abu Bakar ash Shiddiq –sebagai pengutamaan atas seluruh umat  kemudian untuk Umar ra. kemudian untuk Utsman ra. kemudian untuk Ali ra.”[7]

Abu Al Hasan Al Asy’ariy (W:330H) berkata, “Dan mereka mengakui bahwa mereka (Abu Bakar, Umar,  Utsman dan Ali_ pen.) adalah Khulafa’ Rasyiduun Mahdiyyuun semulia-mulia manusia setelah Nabi saw.”[8]

  • Pendapat Syi’ah Imamiyah :

Dalam pandangan Syi’ah Imamiyah, Imamah -yang kita telah ketahui definisinya menurut mereka- adalah sebuah prinsip agama (Ushulluddin).

Setelah kita ketahui bersama bahwa Imamah adalah Khilafah ketuhanan yang akan menyempurnakan dan melanggengkan fungsi Nabi –selain penerimaan wahyu-, maka semua fungsi dan tugas Rasul saw.; memberikan petunjuk dan membimbing umat manusia, menuntun mereka kepada kebahagiaan dunia-akhirat, mengatur urusan manusia, menegakkan keadilan, menyingkirkan kezaliman dan kesewenang-wenangan, memelihara syari’at, menerangkan al-Kitab, menghilangkan perselisihan, mensucikan jiwa dan mendidik manusia serta lain sebagainya  adalah termasuk juga tugas dan fungsi seorang Imam. Maka alasan yang menetapkan digolongkannya kenabian sebagai Ushuluddin juga alasan digolongkannya imamah sebagai ushuluddin. Dan kalau tidak maka tidak ada alasan  memasukkan kenabian sebagai ushuluddin juga.

Oleh kerenanya Imamah dalam pandangan Syi’ah Imamiyah sebagai  Ushuluddin dan bukan furu’uddin.

Syaikh al-Mudzaffar berkata, “Dan yang membuktikan bahwa Imamah termasuk ushuluddin adalah bahwa kedudukan Imam seperti kedudukan Nabi dalam penjagaan Syari’at, keharusan mengikutinya, dan kepemimpinannya yang umum tanpa perbedaan. Dan telah sependapat dengan kita (Syi’ah Imamiyah) bahwa ia (imamah) adalah termasuk ushuluddin sekelompok  ulama selain kita seperti Qadli Al Baidhawi dalam pembahasan Al Akhbaar (berita\hadis), dan sekelompok  pensyarah ucapannya seperti disebutkan oleh Sayyid yang mulia –Rahimahuallah-.[9]

  • Dalil-dalil Imamah Sebagai Ushuluddin:

Ketahuilah bahwa arti ushuliddin adalah dasar-dasar agama, dan sesuatu dikatagorikan sebagai dasar agama karena ia adalah  pondasi yang di atasnya agama ditegakkan. Asy Syahadatain adalah termasuk ushuluddin karena alasan di atas, sebab seorang tidak dikatakan Muslim kecuali dengannya, demikian juga dengan Imamah.

Dan yang mendasari keyakinan di atas adalah Al qur’an dan Sunnah Nabi saw.

  • Dalil Al qur’an

Ayat al Baalagh:

يا أَيّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ وَ إنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ، وَ اللهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ.

Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti)kamu tidak menyampaikan Risalah-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan)manusia.(QS:5;67).

Ayat di atas –setelah terbukti- turun berkaitan dengan masalah Imamah dan wilayah sepulang Nabi saw. dari haji Wada’  di Ghadir Khum setelah menyampaikan pesan terakhir tentang kepemimpinan Ali as., seperti disebutkan dalam riwayat-riwayat yang sahih yang telah diriwayatkan oleh para ulama Ahlusunnah dan juga Syi’ah, ia menunjukkan  bahwa Imamah adalah dasar agama, sebab Imamah sesuai dengan petunjuk ayat di atas adalah sebuah perkara yang apabila Nabi saw. tidak menyampaikannya, maka seakan beliau tidak pernah menyampaikan agama dan Risalah Allah SWT.

 

Dan ini adalah bukti kuat bahwa Imamah adalah bagian yang urgen dalam kehidupan Risalah dan kenabian, maka bagaimana mungkin ia tidak termasuk Ushuluddin?!

Hadis tentang turunnya ayat di atas tentang wilayah dan Imamah Ali  in Abi Thalib as. telah diriwayatkan oleh tidak kurang dari dua puluh Ulama besar Ahlusunnah, di antara mereka adalah:

Ibnu Abi Hatim ar-Razi.[10]

Ahmad bin Abdur-Rahman asy-Syirazi[11].

Ahmad bin Musa (Ibnu Murdawaih) [12].

Ahmad bin Muhammad ats-Tsa’labi [13].

Abu Nu’aim al-Ishfahani [14].

Abu al-Hasan Ali bin Ahmad al-Wahidi [15].

Mas’ud bin Nashir as-Sijistani [16].

Abdullah bin ‘Ubaidillah al-Hiskani [17].

Ibnu ‘Asakir ad-Dimasyqi[18].

Al-Fakh ar-Razi[19].

Jalaluddin as-Suyuthi[20].

Muhammad bin Thalhah asy-Syafi’i[21].

Ali bin Syihab al-Hamadani [22].

Ibnu Shabbagj al-Maliki [23].

Al-’Aini[24].

Nidzamuddin an-Nisaburi al-Qummi[25].

Di bawah ini akan kami sebutkan beberapa riwayat tentangnya.

Dalam tafsir Al Durr Al Mantsur disebutkan: Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud: Kami di masa Rasulullah saw. membaca ayat ini:

يا أَيّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ  (إن عليا مولى المؤمنين) وَ إنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ، وَ اللهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ.

Dengan tambahan kata: إن عليا مولى المؤمنين” ” (Sesungguhnya Ali adalah pemimpin kaum Mu’min) setelah kata:من ربك “[26].

Dari Ibnu Abbas dan Jabir bin Abdillah, mereka berkata, “Allah memerintah Muhammad saw. untuk mengangkat Ali sebagai panutan bagi umat manusia dan memberitakan kepada mereka tentang wilayah (kepemimpinan)nya, maka Rasulullah saw. khawatir mereka (para sahabat) berkata (menuduh), ‘Ia (Muhammad) berkolusi dengan anak pamannya’, dan khawatir mereka mengkritik beliau dalam hal ini, maka Allah mewahyukan kepada beliau ayat di atas. Lalu beliau saw. bangkit menyampaikan wilayah Ali pada hari Ghadir Khum.”[27]

Dari Ibnu Abbas ra. ia berkata, “Rasulullah saw. diperintah untuk menyampaikan tentang kepemimpinan Ali, lalu Allah -Azza Wa Jalla- menurunkan ayat:

يا أَيّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ وَ إنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ، وَ اللهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ.

Kemudian pada hari Ghadir Khumm beliau bangkit berpidato, setelah menyampaikan puja-puji kepada Allah beliau bersabda, ‘Bukanakah saya lebih berhak atas kalian lebih dari diri kalian sendiri?!’ Mereka menjawab, ‘Benar, wahai Rasulullah.’

Lalu beliau saw. bersabda, “Barang siapa yang aku adalah walinya maka Ali juga walinya. Ya Allah bimibnglah yang mengikuti Ali, musuhilah yang memusuhinya, cintailah yang mencintainya dan bencilah yang membencinya, muliakan yang memuliakanya dan bantulah yang membantunya.”[28]

  • Ayat Ikmaal ad Diin:

اَلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَ أَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَ رَضِيْتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيْنًا.

Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Kuridhai Islam sebagai agama bagimu.(QS:5;3)

Ayat di atas sebagaimana disebutkan dalam banyak riwayat yang sahih menegaskan tentang Imamah dan Wilayah Ali as., dan tidak adanya dasar yang mengatakan sesuatu lain tentang sebab turunnya. Dan ayat ini menegaskan bahwa Imamah adalah penyempurna agama dan pelengkap bagi ni’mat Allah. Jadi bagaimana mungkin sesuatu yang dijadikan penyempurna agama tidak tergolong dasar dan pondasi (ushuul) agama?!

Dan turunnya ayat di atas dalam peristiwa pengangkatan Ali as. telah diriwayatkan oleh banyak kalangan Ulama besar Ahlusunnah, di antaranya:

Ibnu Murdawaih al-Isfahani.

Abu Nu’aim al-Isfahani.

Ibnu al-maghazili.

Al-Muwaffaq bin Ahmad al-Akhthab al-Khawarizmi.

Muhammad bin Ali an-Nathanzi.

Abu hamid mahmud bin Muhammad ash-Shalihani.

Ibrahim  bin Muhammad al-Hamawaini.

Dalam riwayat-riwayat itu disebutkan bahwa setelah Nabi saw. memproklamasikan imamah Ali as. di Ghadir Khum, Allah menurunkan ayat di atas, lalu Nabi saw. bersabda:

الله أكْبَرُ عَلىَ إكْمَالِ الدِّيْنِ وَ إتْمَامِ النِّعْمَةِ وَ رِضَا الرَبِّ بِرِسالَتِيْ وَ الوِلاَيَةِ لِعَلِيِّ بنِ أبِيْ طَالِبٍ.

Maha besar Allah atas penyempurnaan agama dan pelengkapan ni’mat dan kerelaan Tuhan terhadap Risalahku  serta wilayah (kepemimpinan) Ali[29].

Dan selain dua ayat di atas masih banyak ayat lain yang juga menunjukkan bahwa Imamah adalah termasuk dasar agama.

Dalil Sunnah :

Dalam hadis sahih ditegaskan bahwa barang siapa mati dalam keadaan tidak mengenal Imam zamannya maka ia mati jahiliyah. Maka kalau Imamah bukan hal penting dan termasuk Ushuluddin mengapakah keharusan mengenal imam dianggap begitu penting sehingga yang tidak mengenal imam digolongkan mati jahiliyyah.

Nabi saw. bersabda :

َمَنْ مَاتَ وَلَمْ يَعْرِفْ ِامَامَ زَماَنِهِ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيّةً

Siapa yang mati  sedang ia tidak mengenal imam zamannya maka ia mati dalam keadaan jahiliyyah[30].

Hadis di atas telah disepakati kesahihannya, baik oleh Ahlusunnah wal Jama’ah maupun Syi’ah.

Syeikh M. Hasan Al Mudzaffar ra. berkata menjelaskan dalil bahwa Imamah termasuk ushuluddin, “Di antaranya adalah riwayat-riwayat yang banyak yang menunjukkan bahwa barang siapa mati tanpa  Imam maka ia mati jahiliyah dan lain sebagainya, maka berarti ia termasuk ushuluddin, seperti riwayat Muslim  dalam babAl Amr bi Luzuumi Al Jama’ah, pada kitab Al Imaarah dari Ibnu Umar, “Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda:

مَنْ خَلَعَ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ لَقِيَ اللهَ يومَ القِيامَةِ لاَ حُجَّةَ لَهُ, وَ مَن ماتَ وَلَيْسَ فِيْ عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَات مِيْتَةً جاهِلِيَّةً.

Barang siapa melepas tangan dari keta’atan ia berjumpa dengan Allah pada hari kiamat tanpa  memiliki bukti, dan barang siapa mati sedang dilehernya tidak ada ikatan bai’at maka ia mati jahiliyah.

Dan seperti riwayat Muslim juga pada bab yang sama, dan Bukhari dalam bab kedua pada kitab al-Fitan:

مَنْ كَرِهَ مِنْ أَمِيْرِهِ شَيْئًا فَلْيَصْبِرْ عَلَيْهِ , فَإِنَّهُ مَنْ خَرَجَ مِنْ السُّلْطَانِ شِبْرًا مَاتَ مِيْتَتَةً جَاهلِيِةَّ.ً

Barang siapa tidak menyukai dari Amirnya sesuatu hendaknya ia bersabar atasnya, kerena barang siapa keluar (memberontak) dari penguasa barang sejengkal ia mati jahiliyah.

Dan seperti riwayat Ahmad, ia berkata, “Bersabda Rasulullah saw.:

من مات بِغَيْرِ إمامٍ مَاتَ مِيْتَتَةً جَاهلِيِةَّ.ً

Darang siapa mati tanpa  imam ia mati jahiliyah.

Dan lain sebagainya.[31]


[1] Al Mawaqif :395 .

[2] Ghayah al-Maram Fi ‘Ilmi al-kalam :363.

[3] Syarh al-Mawaqif,8\344 .

[4] Ibthaal Nahjil Bathil (lihat: Dala’il ash Shidq,2\8) .

[5]Sayyid Muhsin al Kharrazi, Bidayah Al Ma’arif Al Ilahiyah,2/16 menukil dari Imamat Wa Rahbari: 50-51.

[6] Abhâts Fi al-Milal wa an-Nihal :1\255 menukil dari Kitab as-Sunnah karya Ahmad bin Hambal .

[7] Ibid. Menukil dari Syarah al-Aqidah ath-Thahawiyah :478-488.

[8] Maqalaat al-Islamiyyin :323 .

[9] Dala’il ash-Shidq :2\14 .

[10] Lihat : ad Durr al-Mantsuur :2\298 .

[11] Lihat : al Manaqib dan Bihar al Anwâr :37\155 .

[12] Lihat: ad Durr al Mantsuur :2\198 .

[13] Al Kasyfu wa al Bayaan (Nafahât al Azhâr :8\207-208 ).

[14] Lihat : Ma Nazala Min al-Qur’an Fi Aki as. :86 .

[15] Asbaab an-Nuzûl :135 .

[16] Lihat Nafahât :8\215.

[17] Syawahid at Tanzîl :1\187-188 .

[18] Tarikh Damaskus :2\86 .

[19] Tafsir al-Kabir ;12\49 ,dan ia mengatakan bahwa ini adalah pendapat Ibvnu Abbas ,baraa’  ibn ‘Azib dan Imama Muhammad al-Baqir as.

[20] Tafsir ad-Durr al-mantsur 2\298 .

[21]Mathalib as-Su;ul :44 .

[22] Al-Mawaddah Fi al-Qurbaa (lihat :Yanabi’ al-mawaddah :249).

[23] Al-Fushuul al-Muhimmah :42 .

[24] ‘Umdat al-qaari – Syarah al-Bukhari :18\206 .

[25] Tafsir an-Nisaburi :6\129-130 .

[26] Ad-Durr al-Mantsur :2\298 .Penulis berkata :D an adanya tambahan ini tidak berarti telah terjadi perubahan (tahrif) pada kitab suci Al-Qur’an sebab ia bukan ayat Al-Qur’an ,ia hanya sebagai tafsiran yang mereka dengan dari Nabi saww. atau yang mereka fahami berdasarkan kondisi sebab nuzul ayat ,dan hal seperti itu banyak ditemukan dalam riwayat-riwayat para shahabat .

[27] Syawahid at-Tanzil :1\187.

[28] Hadis riwatar Abu Sa’id as-Sijistani dalam kitab beliau tentang hadis al-Wilayah, lebih lanjut lihat Nafahat al-Azhaar,8\215 .

[29] Manaqib Ali bin Abi Thalib ( al-Khawarizmi):80 dan Faraid as-Simthain (Al-Hamawaini) :1\74

[30] Hadis di atas dan hadis-hadis mengandung makna serupa seperti yang disebut Syeikh Al Mudzaffar dapat Anda jumpai dalam banyak kitab-kitab mu’tabarah para ulama Ahlusunnah, di antaranya:

Shahih Bukhari, bab al Fitan,5/13.

Shahih Muslim,6/21-22 hadis1849.

Musnad Ahmad,2/83, 3/446 dan 4/96.

Shahih Ibn Hibban,6/49 hadis 4554.

Al Mu’jam Al Kabir; Al Thabarani,10/350 hadis 10687.

Mustadrak; Al Hakim,1/77.

Hilyatul Awliyaa’,3/224.

Jaami’ Al Ushuul; Ibn Al Atsiir Al Jazari,4/7.

Musnad Ath Thayalisi:259.

Al Kuna wa Al Alqaab,2/3.

Sunan Al Baihaqi,8/156 dan 157.

Al Mabshuuth; Al Sarkhasi,1/113.

Syarah Nahj Al Balaghah; Ibn Abi Al Hadid,9/155.

Syarah Muslim; Al Nawawi,12/44.

Talkhis Al Mustadrak; Al Dzahabi,1/77 dan177.

Tafsir Ibn Katsir,1/517.

Syarh Al Maqashid,2/275.

Majma’ al Zawaid,5/218,219,223 dan312.

Kanz Al Ummal,3/200.

Taisiir Al Wushuul,2/39.

dll.

[31] Dalail ash-Shidq :2\12.