Author: syiahali

syiah tidak sesat

AL QURAN menyatakan keutamaan sahabat secara umum tetapi bukan berarti itu berlaku untuk seluruh sahabat, melainkan untuk sahabat yang tidak berbalik arah setelah wafat Nabi SAW. Itulah makna Qs. Ali Imran Ayat 144

oleh : Ustad Husain Ardilla

Sunni mencintai dan menghormati musuh musuh ahlulbait dengan alasan semuanya mengambil ajaran dari Rasul SAW. Bahkan sunni menganggap para sahabat seperti malaikat yang tidak pernah salah, tidak punya rasa dengki dan permusuhan kepada sesamanya

Nabi SAW menyebut Mu’awiyah cs sebagai kelompok pemberontak sesat !

Sabda Rasulullah SAW kepada Ammar: “Betapa kasihan Ammar, golongan pembangkang telah membunuhnya, padahal dia menyeru mereka kepada kebenaran (surga) sementara mereka menyeru kepada kesesatan (neraka)” (Hr. Bukhari, Muslim, At Tirmidzi dan Ahmad)

Padahal Allah SWT menyatakan : “Siapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya adalah neraka jahannam, ia kekal didalamnya dan Allah murka kepada, dan mengutuknya serta menyediakan azab yang besar baginya” (Qs. An Nisa ayat 93)

Juga sabda nya : “Anakku Hasan akan mendamaikan dua kelompok besar yang berselisih”. Dan sabdanya pada Abu Dzar bahwa ia akan mati sendirian dan terasing. Demikian pula dengan sabda nya : “Imam imam setelahku ada 12, semuanya dari Quraisy”

Bukhari dalam shahih nya meriwayatkan dari Abu Hurairah yang berkata : “Saya menjaga dari Rasul SAW dua kantong, satu kantong saya sebarkan dan satu kantong lagi saya simpan. Kalau kantong yang saya tutupi ini saya buka juga, niscaya saya akan dihabisi oleh orang kejam ini (Mu’awiyah)” (Hr.Bukhari juz 1 halaman 38)

Kalau memang dunia hadis sunni jujur dan tidak ada intimidasi dalam periwayatan hadis, niscaya Abu Hurairah tidak akan menyembunyikan hadis !

Sunni menutupi kesalahan kesalahan para Sahabat dengan menyalahkan tokoh fiksi Abdullah bin Saba’, menyembunyikan hadis dan membuat buat hadis palsu jaminan Surga kepada musuh musuh ahlulbait

Pasca  wafat Nabi SAW, para sahabat banyak mengembangkan ijtihad dari hasil pemikirannya sendiri, walaupun itu harus merubah hukum yang telah ditetapkan Allah dan Rasul sebelumnya !

UMAT  KHiANATi  Ali  PASCA  NABi  SAW WAFAT

Qs. Al An’am ayat 65-67

Qs. 6:65. Katakanlah (Muhammad), “Dialah yang berkuasa mengirimkan azab kepadamu, dari atas atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebagian kamu keganasan sebagian yang lain.” Perhatikanlah bagaimana Kami menjelaskan berulang ulang tanda tanda (kekuasaan Kami) agar mereka memahami (nya)

Qs. 6:66. Dan kaummu mendustakannya (azab) padahal (azab) itu benar adanya. Katakanlah (Muhammad), “Aku ini bukanlah penanggung jawab kamu”

Qs. 6:67. Setiap berita (yang dibawa oleh Rasul) ada (waktu) terjadinya dan kelak kamu akan mengetahui

Dikutip dari  “AL HiDAYAH ALQURAN TAFSiR PERKATA TAJWID KODE ANGKA PENERBIT KALiM”  yang disahkan DEPAG, halaman 136 :

Asbabun Nuzul Qs.6 : 65-67 : Zaid bin Aslam mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda  kepada para sahabat, “Setelah kepergianku, janganlah kalian kembali menjadi kafir dengan saling membunuh diantara kalian”. Mereka berkata, “Kami bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya engkau adalah Rasul Nya. “Sebagian yang lain berkata, “ini tidak akan pernah terjadi untuk selamanya, yaitu saling membunuh diantara kita, sementara kita semua adalah muslim.” Maka turunlah ketiga ayat ini (HR. Ibnu Abi Hatim)

Wahai para pembaca…

Qs. Asy Syu’ara; ayat 205-207

Qs.26 : 205  : Maka bagaimana pendapatmu jika kepada mereka kami berikan kenikmatan hidup beberapa tahun,

Qs.26 : 206  : Kemudian datang kepada mereka azab yang diancamkan kepada mereka,

Qs.26 : 207  : Niscaya tidak berguna bagi mereka kenikmatan yang mereka rasakan

Dikutip dari  “AL HiDAYAH ALQURAN TAFSiR PERKATA TAJWID KODE ANGKA PENERBIT KALiM”  yang disahkan DEPAG, halaman  376 :

Asbabun Nuzul Qs.26 : 205-207 : Menurut Abu Jahdham, ketiga ayat ini diturunkan berkenaan dengan Rasulullah yang suatu ketika terlihat bingung dan gelisah. Para sahabat menanyakan hal itu. “Aku bermimpi, setelah aku wafat kelak, aku melihat musuhku yang ternyata adalah berasal dari umatku sendiri,” jawab Rasulullah (HR.ibnu Abi Hatim)

Wahai para pembaca…

Hadis dari sahabat  Jarir bin ‘Abdillah Al Bajali dari Nabi SAW : “janganlah kalian kembali kafir sepeninggalku, sebagian kalian menebas leher yang lain” (HR. Bukhari no. 7080 dan HR. Muslim no.65)

Hadis Nabi SAW : “Mencaci seorang muslim adalah suatu kefasikan dan membunuhnya adalah suatu kekufuran” (Hr.Bukhari Muslim)

PERSAMAAN SAHABAT NABI SAW DAN SAHABAT MUSA AS

Jika sesetengah (bukannya semua) sahabat Nabi Muhammad Saw diterangkan oleh al-Quran sebagai orang yang lari dari medan perang (Uhud dan Hunain), munafik, meninggalkan Nabi ketika khutbah Jumaat dan sebagainya, maka bagaimanakah pula sikap sahabat/kaum Nabi Musa as.? Al-Quran dalam Surah al-Maidah ayat 20-26 menjelaskan sikap mereka seperti berikut:
.
Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Wahai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia mengangkat nabi-nabi di antaramu, dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka (setelah kamu diperhamba oleh Firaun dan orang-orangnya), dan diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorangpun di antara umat-umat yang lain”.QS. al-Mai’dah (5) : 20
.
Wahai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina- Baitul Muqaddis) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari ke belakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi. QS. al-Mai’dah (5) : 21
.
Mereka berkata: “Wahai Musa, sesungguhnya dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka ke luar daripadanya. Jika mereka ke luar daripadanya, pasti kami akan memasukinya.”                      QS. al-Mai’dah (5) : 22
.
Berkatalah dua orang di antara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya: “Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman”.
QS. al-Mai’dah (5) : 23
.
Mereka berkata: “Wahai Musa, kami sekali-sekali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu (berperang) bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja”.
QS. al-Mai’dah (5) : 24
.
Berkata Musa: “Ya Tuhanku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku (Nabi Harun). Sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu”.
QS. al-Mai’dah (5) : 25
.
Allah berfirman: ” (Jika demikian), maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (padang Tiih) itu. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu.” QS. al-Mai’dah (5) : 26
.
Kesimpulannya:
.
1. Sahabat Nabi Musa (Bani Israil) telah ingkar dengan arahan Nabi Musa supaya memasuki tanah suci Palestin kerana takut berperang.
.
2. Mereka yang ingkar itu mengarahkan Nabi Musa agar berperang bersama Tuhan  manakala mereka hanya menunggu sahaja.
.
3. Mereka disifatkan sebagai sahabat/kaum yang fasiq oleh al-Quran.
.
4. Akibat ingkar dengan arahan Nabi Musa mereka disesatkan oleh Allah swt selama 40 tahun di tengah padang pasir Tiih (sekarang terletak di wilayah Mesir).
.
Justeru itu, sahabat Nabi Musa yang ingkar dengan arahannya bukanlah sahabat yang layak dijadikan contoh dan mereka bukalanlah sahabat yang adil.

Al-Qur’an adalah seluruh kumpulan wahyu dari Tuhan, yang diturunkan secara bertahap selama 22 tahun lebih pada berbagai situasi dan peristiwa.AL QURAN menyatakan keutamaan sahabat secara umum tetapi bukan berarti itu berlaku untuk seluruh sahabat, melainkan untuk sahabat yang tidak berbalik arah setelah wafat Nabi SAW. Itulah makna Qs. Ali Imran Ayat 144

Pada situasi penting atau kapan pun Allah ingin memberikan wahyu kepada Muhammad, maka turunlah wahyu itu disampaikan oleh malaikat Jibril / Roh Qudus. Nabi Muhammad lalu menyampaikan kepada sahabatnya, bahwa ada wahyu dari Allah

.

Memang ada ayat AL QURAN yang menyatakan keutamaan sahabat secara umum tetapi bukan berarti itu berlaku untuk seluruh sahabat, melainkan untuk sahabat yang tidak berbalik arah setelah wafat Nabi SAW. Itulah makna Qs. Ali Imran Ayat 144

.

Qs. Ali Imran ayat 152 : “Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada sa’at kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu[x] dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai[xx]. Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan diantara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka[xxx] untuk menguji kamu, dan sesunguhnya Allah telah mema’afkan kamu. Dan Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas orang orang yang beriman””

x]. Yakni: urusan pelaksanaan perintah Nabi Muhammad s.a.w. karena beliau telah memerintahkan agar regu pemanah tetap bertahan pada tempat yang telah ditunjukkan oleh beliau dalam keadaan bagaimanapun

xx]. Yakni: kemenangan dan harta rampasan

xxx]. Maksudnya: kaum muslimin tidak berhasil mengalahkan mereka.


Ayat tersebut menceritakan Sebab-sebab kekalahan umat Islam dalam perang Uhud

Tidak ada jaminan alumni perang badar dan alumni perang uhud di ampuni hingga mereka wafat.. Mereka memang diampuni pada Perang Badar dan Perang uhud TETAPi JiKA KEMUDiAN MEREKA MENENTANG LAGi NABi DAN MURTAD TERHADAP WASiAT NABi MAKA TiDAK ADA JAMiNAN MEREKA TETAP DiAMPUNi

Perhatikan dengan detil ayat yang menyatakan ahlul uhud diampuni (qs. 3 :152) kata AMPUNAN dalam ayat tersebut “”Wa Laqad ‘Afaa ‘Ankum”” itu berbentuk fi’il madhi

Ini bermakna pengampunan hanya berlaku untuk kesalahan mereka di PERANG UHUD saja, tidak berlaku untuk kesalahan sesudah itu

Seandainya ampunan berlaku untuk selamanya maka ayat itu pasti menggunakan fi’il mudhari’ dengan kalimat WA Yu’FAA ‘ANKUM

Satu kata atau satu huruf saja berbeda baik fi’il madhi maupun fi’il mudhari’ maka akan merubah maksud tafsir


Bandingkan dengan :

Qs. Al Ahzab ayat 33 : “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sesuci sucinya ”

Innama yuridullahu li yudzhiba ‘ankum adalah fi’il mudhari’ ( kata kerja yang berlaku dari masa pengucapan, masa kini dan masa yang akan datang )… Artinya ayat tathir menyatakan Ahlul Bait disucikan sejak SAAT iTU SAMPAi MEREKA WAFAT ( jaminan syurga )

Kalau kalimat itu di jadikan fi’il madhi akan berbentuk innama aradallahu lidzahaba ‘ankum… Ternyata ayat tathir bukan fi’il madhi… Artinya ahlul kisa diampuni untuk selama selamanya


Potensi OKNUM SAHABAT berbalik arah pasca wafat Nabi SAW diakui Al Quran dan Hadis ( misal : hadis haudh riwayat Bukhari Muslim ) … Ada kemungkinan mereka berbalik arah bila Nabi SAW wafat

Qs. Ali ‘Imran ayat 144 : “” Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul[x]. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur””

x]. Maksudnya: Nabi Muhammad s.a.w. ialah seorang manusia yang diangkat Allah menjadi rasul. Rasul-rasul sebelumnya telah wafat. Ada yang wafat karena terbunuh ada pula yang karena sakit biasa. Karena itu Nabi Muhammad s.a.w. juga akan wafat seperti halnya rasul-rasul yang terdahulu itu. Di waktu berkecamuknya perang Uhud tersiarlah berita bahwa Nabi Muhammad s.a.w. mati terbunuh. Berita ini mengacaukan kaum muslimin, sehingga ada yang bermaksud meminta perlindungan kepada Abu Sufyan (pemimpin kaum Quraisy). Sementara itu orang-orang munafik mengatakan bahwa kalau Nabi Muhammad itu seorang Nabi tentulah dia tidak akan mati terbunuh


Coba anda perhatikan ayat ayat pujian dan ridha Allah untuk PARA SAHABAT, tidak ada satupun ayat yang menyatakan pujian dan ridha Allah untuk semua sahabat… Tapi semua ayatnya menyatakan hanya sebahagian sahabat saja….

Itupun ada syarat nya yaitu mereka harus ihsan (baik) dan mereka harus ridha terhadap ketetapan Allah.. Bila ada sahabat yang tidak memenuhi syarat ini maka ia dikecualikan

Jaminan SURGA hanya diberikan jika seseorang memenuhi syarat syarat seperti tidak mendurhakai Rasulullah setelah wafatnya

Perhatikan Qs. 56. Qs. Al Waaqi’ah

77. Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia,
78. pada kitab yang terpelihara ( Lauhul Mahfuzh ),
79. tidak menyentuhnya kecuali orang – orang yang disucikan.

Jadi jelaslah yang disucikan adalah ahlul kisa dan para Imam Ahlul Bait


Hanya syi’ah Imamiah lah yang menjadikan Imam Ali sebagai pemimpin dalam hal Imamah pasca wafat Nabi SAW !!!!!!!!!

Perhatikan Qs. 5. Qs. Al Maa’idah

55. Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat ketika mereka berada dalam keadaan ruku’

56. Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.

Yang shalat sambil berzakat hanya khusus untuk Imam Ali, haram orang lain melakukan hal tersebut… Adapun lafaz jamak ( orang orang ) untuk menyebut pelaku tunggal merupakan hal biasa dalam Al Quran, contoh

a. Qs. 63. Qs. Al Munaafiquun ayat 8.
Mereka berkata: “Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah dari padanya.” Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui.

FAKTANYA : Yang mengucapkan kalimat tersebut hanya satu orang yakni Abdullah Bin Ubay Bin Salul

b. Allah berfirman : “ Dan orang orang Yahudi berkata : ‘Tangan Allah terbelenggu’ “
FAKTANYA : Yang berkata Cuma 1 yahudi ( tunggal ) yang berkata bahwa Allah kikir / pelit

Jadi jelaslah Syi’ah Imamiah adalah ahlusunnah yang sesungguhnya !!!

Kalau mengacu kpd Surat Al Imran 144 :”……….apakah kalau engkau (Nabi saw) meninggal atau terbunuh kamu berbalik ke belakang (murtad/balik kepd nilai2 jahiliyyah)….” ternyata Al-Quran jauh2 hari sdh mengingatkan Nabi saw dan umat Islam akan adanya konspirasi sebagian sahabat yg tdk menginginkan Islam tegak diatas nilai2 jahiliyyah yg telah disingkirkan oleh Nabi saw

Bahwa Umar telah menggagalkan wasiat Nabi saw
adalah fakta/bukti yg mendukung pernyataan QS Ali Imran 144 tsb. Begitu pula peristiwa Saqifah dst.nya adalah fakta2 sejarah yg mengungkapkan adanya komplotan yg menggagalkan naiknya kepemimpinan ilahiyah (Washi nabi) menaiki panggung sejarah

.

Kalau kita membaca bukunya Max Idomont, Jew, God and History, maka terbukti bahwa setiap misi nabi/rasul, disamping ada yg mendukung pasti ada sekelompok sahabatnya yg menggagalkan tercapainya misi yg diembannya. Contohnya Nabi Isa as setelah wafatnya dikhianati oleh para sahabatnya dan memalsukan kitab suci-Nya, tapi diberi label “asli”. Begitu juga misi yg diemban Nabi Muhammad saw tidak terlepas dari konspirasi para “sahabatnya”. Hanya saja Al-Quran-Nya masih tetap otentik, tetapi Sunnah Rasul-Nya (hadis) sdh diacak-acak bercampur dg yg palsu. Itulah makna ucapan Umar :”…..cukuplah Kitabullah di sisi kita….Dan hadis2 palsu dicampur dg yg asli yg juga diberi label asli atau “SAHIH”

.

Fakta adanya hadis palsu yg melarang penulisan sunnah Rasul dan pembakaran hadis asli oleh Abu Bakar, Umar dan Usman yg diikuti oleh penguasa Umayyah d an Abbasiyah adalah fakta yg mendukung statement Ali Imran 144

.
Masalahnya kita sering mengabaikan statement Ali Imran 144 ini dan menganggapnya hanya konstatasi Allah yg tdk ada buktinya dlm sejarah

.

Tidak hanya Yahudi yg pandai memalsukan Kitab Suci dan mengatakan :”hadza min indillah”, org Arabpun tdk kalah brilyannya. Supaya Islamnya terlihat masih “asli” tetapi juga nilai2 jahiliyyahnya terakomodir, maka harus dilakukan kompromi antara nilai2 Islam dan nilai2 jahiliyyah, karena engga mungkin mereka mengawinkan kedua nilai yg saling bertolak belakang itu. Kira2 “deal”-nya : biarlah Al-Quran tdk diotak-atik tapi penafsiran/penjelasannya/rinciannya (sunnah Rasul/hadis) harus menurut gua (perhatikan rangkaian peristiwa2 Hari Kamis kelabu, Saqifah, Perang Shiffin/Tahkim, Karbala dst.) semuanya tdk memberi kesempatan sedikitpun kpd Ahlul Bait untuk melaksanakan misinya.

AL-QUR’AN BICARA TENTANG “SAHABAT”

(1) ADA YANG MENINGGALKAN NABI KETIKA SEDANG KHOTBAH JUM’AT, HANYA UNTUK MELIHAT PERNIAGAAN DAN PERMAINAN

Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah: “Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan”, dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezeki. (Al Jumuah : 11)

(2) ADA YANG MENYAKITI NABIT DENGAN MEMBUAT GOSIP MURAHAN

Di antara mereka  ada yang menyakiti Nabi dan mengatakan: “Nabi mempercayai semua apa yang didengarnya”. Katakanlah: “Ia mempercayai semua yang baik bagi kamu, ia beriman kepada Allah, mempercayai orang-orang mukmin, dan menjadi rahmat bagi orang-orang yang beriman di antara kamu”. Dan orang-orang yang menyakiti Rasulullah itu, bagi mereka azab yang pedih. (At Taubah : 61)

(3) ADA YANG BERSUMPAH PALSU

Mereka bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, dan telah menjadi kafir sesudah Islam dan mengingini apa yang mereka tidak dapat mencapainya, dan mereka tidak mencela (Allah dan Rasul-Nya), kecuali karena Allah dan Rasul-Nya telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka. Maka jika mereka bertaubat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih di dunia dan akhirat; dan mereka sekali-kali tidaklah mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di muka bumi. (At Taubah : 74)

(4) ADA YANG KIKIR DAN ENGGANG BERSEDEKAH

Dan diantara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah: “Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh. Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran).(At Taubah : 75-76)

(5) ADA YANG MENINGGIKAN SUARA DIHADAPAN NABI DAN BERKATA DENGAN SUARA KASAR (KERAS)

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari. (Al Hujuraat : 2)

(6) ADA YANG MENCAMPUR ADUKKAN KEBAIKAN DAN KEBURUKAN

“Dan ada pula yang lain, yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka mencampuradukkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima tobat mereka. Sesungguhnya Allah Maha pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. At-Taubah: 102).    

(7) ADA YANG BERPRASANGKA SEPERTI PRASANGKA JAHILIYA KEPADA ALLAH – KETIKA RASULULLAH MENYERUKAN UNTUK BERPERANG

Kemudian setelah kamu berdukacita, Allah menurunkan kepada kamu keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan dari pada kamu, sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri, mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah. Mereka berkata: “Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?”. Katakanlah: “Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah”. Mereka menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu; mereka berkata: “Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini”. Katakanlah: “Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh”. Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati.(Ali Imran : 154)

(8) ADA YANG MENGANGGAP JANJI ALLAH DAN RASULULLAH SEBAGAI TIPU DAYA

“Dan (ingatlah) ketika orang- orang munafik DAN orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata:” Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya.” (QS. Al Ahzâb ;12)

(9) ADA YANG ENGGAN UNTUK IKUT DALAM BERPERANG

“Wahai orang-orang yang beriman! Bersiap siagalah kamu dan majulah (ke medan pertempuran) secara berkelompok atau majulah bersama-sama (serentak). Dan sesungguhnya di antara kamu pasti ada orang yang sangat enggan (ke medan pertempuran). Lalu jika kamu ditimpa musibah dia berkata, “Sungguh, Allah telah memberikan nikmat kepadaku, karena aku tidak ikut berperang bersama mereka.”(Qs. An-Nisa’: 71-72).

(10) JIKA MEREKA IKUT PERANG, MALAH MEMBUAT KEKACAUAN DAN MELEMAHKAN”

Jika (mereka berangkat bersamamu), niscaya mereka tidak akan menambah (kekuatan)mu, malah hanya akan membuat kekacauan, dan mereka tentu bergegas maju kedepan di celah-celah barisanmu untuk mengadakan kekacauan (dibarisanmu); sedang diantara kamu ada orang-orang yang sangat suka mendengarkan (perkataan) mereka. Allah mengetahui orang-orang yang dzalim.”(Qs. At-Taubah: 47).    

(11) LARI DARI MEDAN PERANG

Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah(mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai.(At Taubah : 25)

(12) TIDAK MEMATUHI PERINTAH NABI, HANYA DEMI BEREBUT RAMPASAN PERANG

(Ingatlah) ketika kamu lari dan tidak menoleh kepada seseorangpun, sedang Rasul yang berada di antara kawan-kawanmu yang lain memanggil kamu, karena itu Allah menimpakan atas kamu kesedihan atas kesedihan, supaya kamu jangan bersedih hati terhadap apa yang luput dari pada kamu dan terhadap apa yang menimpa kamu. Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Ali Imran : 153)

AKHIRNYA ALLAH TELAH MERUBAH HATI MEREKA DAN MENJADIKAN MEREKA SEBAGAI ORANG MUNAFIK KARENA KALAKUAN DAN PERBUATAN MEREKA YANG SEPERTI DIATAS

Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan juga karena mereka selalu berdusta. (At Taubah : 77)

SEHINGGA KARENANYA ALLAH MENGATAKAN BAHWA BANYAK ORANG MUNAFIK DISEKITAR RASULULLAH“Dan diantara orang-orang Arab yang (tinggal) di sekitarmu, ada orang-orang munafik. Dan di antara penduduk Madinah (ada juga orang-orang munafik), mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. Engkau (Muhammad) tidak mengetahui mereka, tetapi Kami mengetahuinya. Nanti mereka akan Kami siksa dua kali, kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar.” (Qs. At-Taubah: 101)

.

Maka kami berpandangan bahwa wasiat tersebut adalah hadis Tsaqalain yaitu perintah agar umat berpegang teguh pada Kitabullah dan Itrah Ahlul Bait Rasul SAW.

يا أيها الناس ! إني قد تركت فيكم ما إن أخذتم به لن تضلوا , كتاب الله وعترتي أهل بيتي

Wahai manusia, sungguh aku tinggalkan bagi kalian apa yang jika kalian berpegang teguh dengannya maka kalian tidak akan tersesat yaitu Kitab Allah dan Itrah-ku Ahlul Bait-ku [Silsilah Ahadits Ash Shahihah no 1761]

Begitu beratnya wasiat ini hingga sekarang kita melihat ada orang-orang yang mengaku umatnya Rasulullah SAW tetapi menolak Ahlul Bait sebagai pedoman bagi umat islam. Kami menyebut mereka ini sebagai orang-orang yang terpengaruh dengan virus nashibi. Kami melihat mereka mengaku-ngaku mencintai Ahlul Bait tetapi aneh bin ajaib mereka menolak keutamaan Ahlul Bait sebagai pedoman umat islam, mereka membela bahkan menyanjung orang-orang yang menyakiti Ahlul bait dan mereka menuduh dusta kepada pengikut Syiah yang sangat mencintai Ahlul Bait. Tidak hanya itu mereka bahkan dengan mudah menuduh orang yang mencintai Ahlul Bait sebagai Syiah Rafidhah. Anehnya dengan sikap-sikap seperti itu mereka mengklaim [dengan tidak tahu malu] kalau merekalah yang benar-benar mencintai Ahlul Bait. Sungguh cinta yang aneh kalau tidak mau dikatakan penuh kepalsuan

.

Termasuk perkara di Hari Kiamat yang wajib diimani dan dipercayai oleh setiap muslim adalah haudh. Haudh yang berarti telaga adalah salah bentuk penghargaan dan penghormatan dari Allah kepada hamba dan rasulNya yang mulia Muhammad saw. Sifat haudh ini sebagaimana yang tercantum di dalam hadits-hadits shahih dari beliau, luasnya sejauh perjalanan satu bulan, airnya lebih putih dari susu, lebih manis dari madu, aromanya lebih harum daripada minyak wangi miski, cerek-cereknya sebanyak bintang-bintang di langit, airnya bersumber dari sungai Kautsar yang Allah berikan kepada Nabi saw di surga, siapa yang minum darinya seteguk, tidak akan haus selamanya.

Para ulama berbeda pendapat tentang tempatnya, sebagian dari mereka berpendapat bahwa ia di arashat Kiamat sebelum manusia melewati shirath, sebagian yang lain berpendapat bahwa ia setelah manusia melewati shirath

.

Hadits-hadits tentang haudh

Hadits-hadits tentang haudh mencapai derajat mutawatir, para ulama hadits menyatakannya demikian, yang meriwayatkan dari Rasulullah saw dalam perkara ini lebih dari lima puluh orang sahabat, Hafizh Ibnu Hajar telah menyebutkan nama-nama sahabat yang meriwayatkannya di dalam Fath al-Bari 11/468.

Dalam Syarah al-Aqidah ath-Thahawiyah 1/277-278 ditulis, “Hadits-hadits yang tercantum dalam perkara haudh mencapai batasan mutawatir, sahabat yang meriwayatkan mencapai tiga puluh lebih, syaikh kami Syaikh Imaduddin Ibnu Katsir, semoga Allah merahmatinya, telah menyebutkan jalan-jalan periwayatannya secara terperinci di akhir tarikhnya yang besar yang bernama al-Bidayah wa an-Nihayah.”

Sebagian dari hadits-hadits tersebut

1- Dari Abdullah bin Amru berkata, Rasulullah saw bersabda, “Haudhku seluas perjalanan satu bulan, sudut-sudutnya sama –yakni panjang dan lebarnya sama-airnya lebih putih dari susu, aromanya lebih harum dari minyak wangi miski, cerek-cereknya sebanyak bintang-bintang di langit, barangsiapa minum darinya maka dia tidak haus selamanya.” (Muttafaq alaihi).

2- Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya telagaku lebih jauh daripada jarak antara Ailah dengan Adn, airnya lebih putih dari salju, lebih manis dari madu, bejana-bejananya lebih banyak dari jumlah bintang di langit, sesungguhnya aku menghalangi manusia darinya seperti seorang laki-laki menghalangi unta orang-orang dari telaganya.” Mereka bertanya, “Ya Rasulullah, engkau mengetahui kami pada saat itu?” Beliau menjawab, “Ya, kalian mempunyai tanda yang tidak dimiliki oleh umat mana pun, kalian datang kepadaku dengan tangan dan wajah berkilau bekas wudhu.”(HR. Muslim).

Orang-orang yang terhalang dari haudh

Terdapat banyak hadits di dalamnya Rasulullah saw menjelaskan tentang orang-orang yang datang ke haudh tetapi mereka ditolak dan tidak dizinkan, hal itu karena semasa di dunia mereka melakukan sesuatu yang membuat mereka terhalangi untuk mencapai haudh.

Di antara hadits-hadits tersebut adalah sebagai berikut,

1- Dari Ibnu Mas’ud berkata, Rasulullah saw bersabda, “Aku mendahului kalian ke haudh, ada beberapa orang dari kalian diangkat kepadaku, sehingga ketika aku mengulurkan tangan kepada mereka untuk memberi mereka minum, mereka terhalang dariku, maka aku berkata, ‘Ya Rabbi, sahabat-sahabatku,’ maka dikatakan, ‘Sesungguhnya kamu tidak mengetahui apa yang mereka perbuat setelahmu?” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

2- Dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah saw bersabda, “Orang-orang yang menyertaiku akan datang ke haudh, ketika aku melihat mereka dan mereka diangkat kepadaku, mereka terhalang dariku, maka aku berkata, ‘Ya rabbi, ushaihabi, ushaihabi’ maka dikatakan kepadaku, ‘Sesungguhnya kamu tidak mengetahui apa yang mereka perbuat setelahmu.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Hadits-hadits senada berjumlah banyak, al-Qurthubi di dalam at-Tadzkirah hal. 306 berkata setelah memaparkan hadits-hadits tentang terhalanginya sebagian orang dari haudh Nabi saw, “Para ulama kita -semoga Allah merahmati mereka semua- berkata, siapa pun yang murtad dari agama Allah atau membuat sesuatu di dalamnya yang tidak Allah ridhai dan tidak izinkan maka dia termasuk orang-orang yang terusir dari haudh beliau, yang dijauhkan darinya, dan yang paling keras diusir adalah orang-orang yang menyelisihi jamaah kaum muslimin dan menyimpang dari jalan mereka seperti Khawarij dengan berbagai macam alirannya, Rawafidh dengan beragam kesesatannya dan Mu’tazilah dengan beragam hawa nafsunya, mereka semua adalah orang-orang yang mengganti. Begitu pula orang-orang zhalim yang berlebih-lebihan di dalam kezhaliman, menghapus kebenaran, membunuh pengikutnya dan menghinakan mereka, yang melakukan dosa-dosa besar secara terang-terangan dan kemaksiatan secara sembunyi-sembunyi, jamaah pengikut kesesatan, hawa nafsu dan bid’ah, (mereka semua akan terusir dari haudh).”

.

Qs. Ali ‘Imran  144 : “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur”

Rasulullah  bersabda : “Ketika aku sedang berdiri, terlihat olehku sekelompok orang. Setelah aku kenali mereka, ada seorang di antara mereka keluar dan mengajak kawan-kawannya, ‘Ayo, mari’ Aku bertanya, ke mana? ia menjawab, ‘ke neraka,’ Lalu aku bertanya lagi, mengapa nasib mereka sampai demikian? Kemudian dijawab: ‘Sesungguhnya mereka telah murtad sejak kau tinggalkan dan berbalik ke belakang (kepada kekafiran). Kemudian terlihat sekelompok lain lagi. Ketika aku kenali mereka, ada seorang di antara mereka keluar dan menyeru kawan-kawannya: ‘Ayo, mari’ Aku bertanya, ke mana? Ia menjawab: ‘Ke neraka’ Lalu aku bertanya lagi, mengapa mereka? dijawab: ‘Sesungguhnya mereka telah murtad sepeninggalmu dan kembali ke belakang. Kulihat tidak ada yang selamat dan lolos kecuali beberapa orang saja yang jumlahnya cukup sedikit, seperti jumlah onta yang tersesat dari rombongannya.[ Shahih Bukhari,8/150. Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Musyaiyib dari banyak sahabat Nabi.]


Sahabat Murtad dan Kafir secara mayoritas pasca Nabi wafat BUKAN BERMAKNA KELUAR DARi KEiMANAN, AKAN TETAPi MEREKA MENENTANG PERiNTAH PERiNTAH YANG TELAH DiTETAPKAN NABi SAW

oleh : Ustad Husain Ardilla

http://www.gensyiah.com/waspada-buku-putih-mazdhab-syiah-yang-tidak-putih-bag-1.html?utm_source=rss&utm_medium menuduh  Syi’ah dalam kitab mereka mengkafirkan para shahabat yang meriwayatkan hadits-hadits Nabi   kepada kita :

عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ ( عليه السلام ) قَالَ كَانَ النَّاسُ أَهْلَ رِدَّةٍ بَعْدَ النَّبِيِّ ( صلى الله عليه وآله ) إِلَّا ثَلَاثَةً فَقُلْتُ وَ مَنِ الثَّلَاثَةُ فَقَالَ الْمِقْدَادُ بْنُ الْأَسْوَدِ وَ أَبُو ذَرٍّ الْغِفَارِيُّ وَ سَلْمَانُ الْفَارِسِيُّ رَحْمَةُ اللَّهِ وَ بَرَكَاتُهُ عَلَيْهِمْ

Dari Abu Ja’far ‘alaihis-salaam, ia berkata : “Orang-orang (yaitu para shahabat) menjadi murtad sepeninggal Nabi shallallaahu ‘alaihi wa aalihi kecuali tiga orang”. Aku (perawi) berkata : “Siapakah tiga orang tersebut ?”. Abu Ja’far menjawab : “Al-Miqdaad, Abu Dzarr Al-Ghiffaariy, dan Salmaan Al-Faarisiy rahimahullah wa barakaatuhu ‘alaihim…” [Al-Kaafiy, 8/245; Al-Majlisiy berkata : “hasan atau muwatstsaq”]. Al-Ayyasyi meriwayatkan hal yang sama (perhatikan yang diblok):

jawaban syi’ah :

Para imam maksum syi’ah tidak berada pada tataran menyebutkan jumlah bilangan tertentu, melainkan ingin menjelaskan bahwa orang-orang yang tetap loyal dan setia pada nilai-nilai Islam pasca Rasulullah adalah sedikit jumlahnya.

Ahmad bin Muhammad bin Yahya  daripada bapaknya daripada Muhammad bin al-Husain daripada al-Hasan bin Mahbub daripada al-Harith beliau berkata: Aku telah mendengar Abd al-Malik bin A‘yan bertanya kepada Abu Abdullah a.s.  Abd al-Malik bertanya kepada Abu Abdullah a.s. sehingga dia berkata: Jika begitu, maka binasalah semua manusia? (halaka al-Nasu idhan?) Maka Abu Abdullah a.s berkata: Ya! Demi Allah, wahai Ibn A‘yan! semua manusia binasa (halaka al-Nasu ajma‘un). Abd al-Malik berkata: Semua penduduk Timur dan Barat? Beliau a.s menjawab: Ia telah terbuka kepada kesesatan. Demi Allah, mereka telah binasa (halaku) melainkan tiga orang iaitu (illa thalathata nafarin): Salman al-Farisi, Abu Dhar dan al-Miqdad. Setelah itu diikuti oleh ‘Ammar, Abu Sasan al-Ansari, Hudhaifah dan Abu ‘Amrah. Maka bilangan mereka bertambah menjadi tujuh orang”[Al-Kulaini, al-Raudhah, no.356, al-Kasyi,  al-Rijal, hal. 5,]

Dalam kitab Rijaalul-Kisysyi diriwayatkan dari Abu Ja’far bahwa ia berkata :… Kemudian orang-orang bertaubat setelah itu, orang pertama yang bertaubat adalah Abu Sasan Al-Anshari, Abu ‘Amrah, dan Syatirah. Total jumlahnya tujuh orang, tidak ada yang mengetahui hak Amirul-Mukminin kecuali tujuh orang tadi” (Rijaalul-Kisysyi 11-12).

Literatur Syiah Imamiyah yang dinukil dari para imam Ahlulbait As riwayat-riwayat semacam ini juga dapat dijumpai. Di antaranya dalam kitab Bihar al-Anwar yang dinukil dari Abu Bashir. Abu Bashir berkata, “Aku berkata kepada Imam Shadiq As: Apakah orang-orang setelah Rasulullah Saw, selain tiga orang, Abu Dzar, Salman dan Miqdad, telah murtad? Imam Shadiq As bersabda, “Lantas Abu Sasan dan Abu Umrah Anshari dimana?”[Bihâr al-Anwâr, jil. 23, hal. 352]

Sebagaimana yang Anda lihat, Imam Shadiq menolak perkiraan Abu Bashir yang mengira hanya tiga orang dan selebihnya orang-orang yang lain telah murtad semuanya. Imam Shadiq As menyebut nama orang lain yang tetap berada pada jalan petunjuk dan kebenaran.

Muhammad bin al-Hasan, daripada Muhammad bin al-Hasan al-Saffar daripada Muhammad bin al-Husain daripada Musa bin Sa‘dan daripada Abdullah bin al-Qasim al-Hadhrami daripada ‘Umru bin Thabit berkata: Aku telah mendengar Abu Abdullah a.s berkata: Sesungguhnya selepas Nabi s.a.w wafat, maka orang ramai telah menjadi murtad melainkan tiga orang: Salman, al-Miqdad dan Abu Dhar. (Inna al-Nabi s.a.w lamma qubidha irtadda al-Nasu ‘ala a‘qabi-him kuffaran illa thalathan).Sesungguhnya apabila Rasulullah s.a.w wafat, maka empat puluh orang lelaki datang kepada Ali  bin Abu Talib a.s, Mereka berkata: Tidak, demi Allah! Kami tidak akan memberi ketaatan kepada sesiapapun melainkan anda. (la wallahi, la na‘ti ahadan ta‘atan ba‘da-ka abadan). Beliau a.s berkata: Kenapa? Mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengar  Rasulullah s.a.w mengenai hak anda di hari Ghadir Khum. Beliau a.s berkata: Kamu semua akan melakukannya?. Mereka berkata: Ya. Beliau a.s berkata: Datang kepada aku esok dalam keadaan bercukur kepala (fa’tuuni ghadan muhalliqin). ‘Umru berkata: Tidak datang kepada Ali a.s. melainkan mereka bertiga. ‘Umru berkata: ‘Ammar bin Yasir datang kepada Ali a.s. selepas waktu Zuhur. Beliau a.s. memukul tangan  ke atas dadanya dan berkata kepada Ammar: Kenapa anda tidak bangkit daripada tidur kelalaian? Kembalilah kamu, kerana aku tidak memerlukan kamu yang tidak mentaati aku di dalam pencukuran  kepala. Bagaimana kamu mentaati aku untuk memerangi bukit besi!. Justeru kembalilah kamu, aku tidak memerlukan kamu (Irji‘u fa-la hajata li fi-kum antum lam tuti‘uni fi-halqi al-Ra’si fa-kaifa tuti‘uni fi qitali jibali  l-hadid)[Al-Majlisi,  Bihar al-Anwar, viii, 47, 51(Dikutip dari al-Ikhtisas, Syaikh Mufid)]

Khusus terkait dengan tuduhan bahwa Syi’ah mengafirkan seluruh sahabat Nabi saw. kecuali tiga atau lima orang saja, padahal hadis tersebut hanya terkait dengan SAHABAT Nabi yang berada di dalam Rumah Fatimah ketika Abubakar – Umar menyerbu rumah Fatimah !!

Kronologis Asbabul Wurud hadis diatas dan maksud yang terkandung di dalamnya :

  1. Jenazah suci Rasulullah SAW belum dikebumikan, kaum Anshar suku Aus dan Khazraj berkumpul di Saqifah bani Sa’idah, info ini bocor kepada trio Abubakar – Umar dan Abu Ubaidah sehingga mereka bergerak cepat ke lokasi PERTEMUAN. Abubakar terpilih jadi Khalifah di Saqifah                                                                                                                                            .
  2. Setelah Imam Ali AS mengurus pemakaman Rasulullah, mengafani dan mengebumikannya maka malam harinya 40 orang berkumpul di rumah Imam Ali AS antara lain : Abbas bin Abdul Muthalib, Fadhl bin Abbas, Zubair bin Awwam, Khalid bin Sa’id, Miqdad Al Aswad, Salman Al Farisi, Abu Dzar Al Ghifari, ‘Ammar bin Yasir, Bara’ bin Anzib, Ubay bin Ka’ab dan lain lain BERTEKAD membai’at Imam Ali AS menjadi khalifah                                                                       .
  3. Umar bin Khattab mencium gerakan ini sehingga menyerbu rumah Fatimah untuk membakarnya jika kubu Imam Ali   tidak mau membai’at Abubakar. Abubakar  dan Umar  menyerbu rumah  Fatimah  dengan kekerasan  dengan tujuan  agar loyalis pendukung  Imam Ali  segera  membai’at  Abubakar secara paksa.. Sesuai dengan nukilan lugas dari Ahmad bin Hanbal dalam Musnad 1/55 dan Thabari 2/466 sebagian  kecil  sahabat  ini berkumpul di rumah Fatimah Zahra As dan menolak memberikan baiat kepada Abu Bakar                                                         .
  4. Imam Ali AS diseret seret ke Masjid secara paksa, tetapi dihadang oleh Fatimah sehingga Abubakar meminta Umar menghentikan aksinya

5.  Umar bin Khattab memukul  perut Fatimah Az Zahra hingga keguguran dan sakit sakitan. Enam          bulan kemudian puteri Nabi SAW ini wafat karena sakit akibat luka di penyerbuan tersebut

6. Setelah aksi penyerbuan bar bar ini selesai maka malam itu juga Imam Ali AS meminta kepada 40 orang yang berniat membai’at nya agar besok pagi datang lagi dengan BERCUKUR    RAMBUT

Setelah  aksi  penyerbuan bar bar selesai, maka MALAM  iTU  JUGA Disebutkan dalam kitab sejarah bahwa Baginda Ali As dalam menjawab mereka yang berkumpul di rumahnya dan permintaan mereka untuk memberikan baiat kepadanya, “Besok pagi datanglah (kemari) dan cukurlah rambut kalian!”

7. Akan tetapi keesokan harinya hanya 3 orang yang datang BERCUKUR RAMBUT, yaitu

Salman Al Farisi (muhajirin)

Abu Dzar Al Ghifari (muhajirin)

Al Miqdad bin Aswad (muhajirin)

Adapun ‘Ammar bin Yasir telat datang sehingga ditegur keras oleh Imam Ali

Akan tetapi setelah itu dukungan kepada Imam Ali AS di ikuti susul menyusul oleh :

  1. ‘Ammar bin Yasir (muhajirin, diramalkan oleh Nabi SAW akan dibunuh oleh kelompok pemberontak)
  2. Abu Sasan Al Ansari
  3. Abu ‘Amrah
  4. Syatirah
  5. Hudzaifah

Inilah  maksud  hadis hadis diatas !!!

Munculnya penyimpangan, seperti bid’ah dan kemurtadan, di kalangan sebagian sahabat setelah wafatnya Rasulullah, pertama; dalam perspektif sumber-sumber pertama umat Islam, merupakan perkara yang disepakati secara umum (musallam) dan tidak diragukan lagi serta tidak terkhusus pada sumber-sumber mazhab Syiah saja.

Riwayat-riwayat mutawatir yang datang dari Rasulullah Saw di dalam Shihah Sittah Ahlusunnah, dan sumber-sumber lain pada mazhab Ahlusunnah, dengan bilangan sanad sahih yang banyak, merupakan penjelas bahwa sebagian besar sahabat, pasca wafatnya Rasulullah Saw, telah meninggalkan jalan dan sunnah Rasulullah Saw

kemurtadan yang mengemuka pada riwayat-riwayat seperti ini, tidak bermakna kemurtadan secara teknis teologis yang menyebabkankafir tulen atau murtad tulen melainkan bermakna  berpaling dari jalan dan sunnah Rasulullah Saw.

Pada sebagian literatur Syiah Imamiyah yang dinukil dari para imam Ahlulbait As riwayat-riwayat semacam ini juga dapat dijumpai. Di antaranya dalam kitab Bihar al-Anwar yang dinukil dari Abu Bashir. Abu Bashir berkata, “Aku berkata kepada Imam Shadiq As: Apakah orang-orang setelah Rasulullah Saw, selain tiga orang, Abu Dzar, Salman dan Miqdad, telah murtad? Imam Shadiq As bersabda, “Lantas Abu Sasan dan Abu Umrah Anshari dimana?”[Bihâr al-Anwâr, jil. 23, hal. 352)

Sebagaimana yang Anda lihat, Imam Shadiq menolak perkiraan Abu Bashir yang mengira hanya tiga orang dan selebihnya orang-orang yang lain telah murtad semuanya. Imam Shadiq As menyebut nama orang lain yang tetap berada pada jalan petunjuk dan kebenaran.

Terkait dengan hadis di atas harus diperhatikan bahwa:

Pertama: Hadis tersebut tidak disebutkan pada sumber-sumber riwayat standar Syiah.

Kedua: Redaksi kalimat “nas” (orang-orang) pada hadis yang disebutkan di atas bermakna sahabat bukan seluruh kaum Muslimin yang hidup pada abad yang berbeda pasca Rasulullah Saw. Dalil atas klaim ini adalah bahwa orang-orang yang disebutkan pada hadis di atas dan berada pada jalan petunjuk, seluruhnya adalah para sahabat Rasulullah Saw. Dengan demikian, orang-orang yang tidak berada pada jalan petunjuk juga adalah para sahabat Rasulullah Saw.

Ketiga: Secara lahir, riwayat di atas dan riwayat-riwayat lainya yang menyebutkan jumlah orang-orang yang mendapatkan petunjuk, lebih banyak. Karena itu, dengan jelas dapat disimpulkan bahwa para imam maksum As pada riwayat ini, tidak berada pada tataran menyebutkan jumlah bilangan tertentu, melainkan ingin menjelaskan bahwa orang-orang yang tetap loyal dan setia pada nilai-nilai Islam pasca Rasulullah adalah sedikit jumlahnya. Dan mayoritas telah berpaling dari nilai-nilai Islam dan kembali kepada nilai-nilai jahiliyah. Dan sebagaimana yang telah disinggung bahwa makna kemurtadan (irtidâd) pada hadis di atas adalah kembalinya kepada nilai-nilai jahiliyah bukan kemurtadan dalam artian teknis teologis.

Bid’ah bermakna pikiran dan keyakinan yang baru yang tidak memiliki akar pada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Saw. Bid’ah, termasuk perbuatan dosa sesuai dengan penegasan hadis-hadis sahih Rasulullah Saw, dapat menghapus seluruh perbuatan baik pembuat bid’ah dan mengeluarkannya dari nilai-nilai Islam

bid’ah, seseorang tidak meninggalkan agama melainkan ia merasa telah menjaga agama. Namun karena hawa nafsu, segala sesuatu yang bukan bagian dari agama ia jadikan sebagai bagian dari agama. Dan kemurtadan yang juga disinggung dalam hadis-hadis telaga adalah kemurtadan yang bersumber dari bid’ah.

Jadi hadis tentang murtadnya para sahabat kecuali 3, 4 atau 7 hanyalah hadis yang bersifat situasional saja, bukan bersifat menyeluruh (fi’il madhi) .

Penyebutan nama sahabat yang tidak murtad berjumlah 3, 4 atau 7 tidaklah dimaksudkan bahwa yang selain nama nama tersebut bukanlah Syi’ah Ali. Buktinya Nabi SAW memuji Hujr bin Adi, Zaid bin Arqam  dan Jabir bin Abdullah Al Ansari . Jadi membaca hadis syi’ah jangan sepotong sepotong.

 Syi’ah bukan golongan pen takfir seperti Khawarij. Syi’ah Ali memang hanya segelintir orang namun nama namanya  TiDAK TERBATAS UNTUK Di SEBUTKAN, bukan 3 – 4 atau 7. Jika ada orang yang beranggapan bahwa syi’ah Ali hanya berjumlah 7 orang maka orang tersebut SESAT MENYESATKAN karena menentang hadis hadis Nabi SAW

misal : Ayah anda wafat, lalu  adik kandung anda yang CEWEK  sedang  hamil , lalu datang  orang orang kampung  menyerbu rumah anda karena iri hati dengki  sehingga  adik  anda sakit lalu  keguguran.  Didalam  rumah  itu  ada  kawan  kawan  akrab  anda.. Lalu malam itu anda berkata  kepada kawan kawan  akrab  anda bahwa : “BESOK  BERKUMPULLAH disini, kita buat  PEMBALASAN”.. Nah, keesokan harinya yang datang  kerumah  anda  cuma  7  orang.. Salahkah jika anda berkata : “Yang patuh (tidak kafir) pada perintahku  cuma  7 orang saja ya, yang lain berbalik (murtad) dari perintahku” …

PERTANYAAN : Apakah kawan kawan  anda yang tidak berada  dalam rumah  tersebut juga bisa divonis  kafir dan  murtad  juga jika mendukung Imam Ali setelah peristiwa cukur rambut tersebut ???  YA  NGGAK LAH  akhi/ukhti  !!!

Hadis-hadis haudh  tidak dapat diterapkan atas ahli riddah, yaitu orang-orang yang baru memeluk Islam pada akhir-akhir usia Rasulullah Saw, atau tidak lama setelah Rasulullah Saw wafat yang tinggal di daerah-daerah jauh dalam negeri Islam. Ahli riddah ini adalah orang-orang yang telah keluar dari Islam. Dan sesuai dengan definisi yang paling sahih tentang sahabat, ahli riddah tidak termasuk dalam golongan sahabat.

Ibnu Hajar ‘Asqalani menulis, “Definisi yang paling benar yang aku temukan ihwal sahabat, bahwa sahabat adalah orang yang bertemu dengan Rasulullah Saw dan beriman kepadanya dan meninggal dunia dalam keadaan beriman kepada Islam.

sebagian sahabat besar Rasulullah Saw mengakui bahwa setelah wafatnya beliau mereka menciptakan bid’ah.[Al-Ma’ârif, Ibnu Qutaibah, hal. 134; Shahîh Bukhâri, Kitab Maghazi, bab 33]

Pengakuan-pengakuan ini dengan jelas menunjukkan bahwa bid’ah dan kemurtadan (irtidâd) yang disebutkan pada hadis-hadis telaga (haudh), bukan kemurtadan sejumlah orang yang baru memeluk Islam seperti ahli riddah.

Di dalam hadis-hadis telaga (haudh) terdapat redaksi “merubah” (tagyiir) dan mengganti” (tabdil) . “Suhqân suhqân liman gayyara ba’di.”, “Suhqan suhqân liman baddala ba’di.”

Redaksi hadis di atas dengan tegas menunjukkan bahwa kelompok-kelompok dari kalangan sahabat setelah wafatnya Rasulullah Saw mengganti dan merubah hakikat-hakikat penting Islam. Tindakan mereka ini telah mengundang kemurkaan Allah Swt dan Rasul-Nya. Sedemikian sehingga Rasulullah Saw mencela dan mengusir mereka dengan menggunakan kalimat “suhqân.

Pihak  syi’ah  tidak  pernah  membuat  i’tiqad  bahwa  hanya  3,4 atau 7  sahabat  yang  TiDAK  MURTAD.. Pihak  syi’ah  tidak  pernah  mengajarkan  i’tiqad  bahwa  hanya  3,4 atau 7  sahabat  yang  TiDAK  KAFiR..

Selama  40  hari  setelah  Nabi  SAW  wafat, Imam Ali AS dan Fatimah Az Zahra menghubungi pemuka pemuka di malam hari untuk mengingatkan mereka tentang perintah Nabi Muhammad SAW mengenai haknya atas kekhalifahan, mengajak mereka untuk bergabung dengannya menggalang kekuatan

Tetapi hanya segelintir orang yang memberi tanggapan, selain nama nama diatas ada tambahan dukungan dari beberapa orang lainnya seperti :

  1. Khalid bin Sa’id bin Abil Ash (muhajirin, beliau menentang kepemimpinan Abubakar)
  2. Buraidah al Aslami (muhajirin, beliau menentang kepemimpinan Abubakar)
  3. Abul Haitsam bin Taihan (anshar, beliau menentang kepemimpinan Abubakar)
  4. Usman bin Hunaif (anshar, beliau menentang kepemimpinan Abubakar)
  5. Khuzaimah ibn Tsabit Al Anshari  (anshar, dikenal sebagai dzusy syahadatain karena kesaksian nya dianggap Nabi SAW sama dengan kesaksian dua orang, beliau menentang kepemimpinan Abubakar)
  6. Ubay bin Ka’ab (ANSHAR, beliau menentang kepemimpinan Abubakar)
  7. Abu Ayub Al Anshari (ANSHAR, beliau menentang kepemimpinan Abubakar)
  8. Jabir bin Abdillah Al Anshari (termasuk syi’ah Ali yang utama)

Syi’ah Ali memang hanya segelintir orang namun nama namanya TiDAK TERBATAS UNTUK Di SEBUTKAN, Syi’ah Ali juga termasuk :

  1.  Hujr bin Adi dan sahabat sahabatnya yang berjumlah tujuh orang (yang dibunuh   di ADZRA, mereka sudah diramalkan akan mati syahid oleh Nabi SAW jauh sebelumnya)
  2.  Zaid bin Arqam (sahabat yang dikatakan Nabi akan masuk surga tanpa hisab,  juga diramalkan Nabi akan buta di masa tuanya)
  3.  Malik al Asytar
  4.  Hasyim Al Mirqal
  5.  Sha’sha’ah bin Shuhan
  6.  Qais bin Sa’ad bin ‘Ubadah
  7.  Muhammad bin Abubakar
  8.  ‘Addi bin Hatim Al Tha’i
  9.  Uwais Al Qarni
  10. dan lain lain. Syi’ah Ali memang hanya segelintir orang namun nama namanya TiDAK TERBATAS UNTUK Di SEBUTKAN

Adapun Imam Ali, Fatimah, Hasan, Husain dan Bani Hasyim merupakan KERABAT NABi SAW dan bukan sahabat Nabi SAW.. Jadi Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud merupakan kerabat dalam makna hadis diatas dan bukan sahabat !!! Ummu  Salamah  isteri  Nabi SAW merupakan isteri, bukan SAHABAT yang dimaksud hadis tersebut

Pascawafatnya Rasulullah Saw, sebagian sahabat dalam banyak kasus telah mengusik dan menyakiti Fatimah Zahra As sehingga telah menyebabkan kekecewaan dan ketidakrelaan beliau. Sebagian dari kasus ini disebutkan dalam literatur-literatur Ahlusunnah

Adapun dari PiHAK KERABAT yang tergolong yang tergolong syi’ah Ali antara lain adalah :

  1. Fatimah sang isteri tercinta
  2. Ibnu Abbas
  3. Abbas bin Abdul Muthalib
  4. Fadhl bin Abbas
  5. Hasan
  6. Husain
  7. Dll dari Bani Hasyim
  8. Ummu Salamah (janda Nabi SAW)

http://www.gensyiah.com/waspada-buku-putih-mazdhab-syiah-yang-tidak-putih-bag-1.html?utm_source=rss&utm_medium  menuduh sbb :

عَنْ أَبِي عبد الله عليه السلام قال: …….والله هلكوا إلا ثلاثة نفر: سلمان الفارسي، وأبو ذر، والمقداد ولحقهم عمار، وأبو ساسان الانصاري، وحذيفة، وأبو عمرة فصاروا سبعة

Dari Abu ‘Abdillah ‘alaihis-salaam, ia berkata : “…….Demi Allah, mereka (para shahabat) telah binasa kecuali tiga orang : Salmaan Al-Faarisiy, Abu Dzarr, dan Al-Miqdaad. Dan kemudian menyusul mereka ‘Ammaar, Abu Saasaan, Hudzaifah, dan Abu ‘Amarah sehingga jumlah mereka menjadi tujuh orang [Al-Ikhtishaash oleh Al-Mufiid, hal. 5; lihat : http://www.al-shia.org/html/ara/books/lib-hadis/ekhtesas/a1.html%5D

.
Al-Kulaini meriwayatkan dalam ushul al-Kafi:

عَنْ أَبِي بَصِيرٍ عَنْ أَحَدِهِمَا عليهما السلامقَالَ إِنَّ أَهْلَ مَكَّةَ لَيَكْفُرُونَ بِاللَّهِ جَهْرَةً وَ إِنَّ أَهْلَ الْمَدِينَةِ أَخْبَثُ مِنْ أَهْلِ مَكَّةَ أَخْبَثُ مِنْهُمْ سَبْعِينَ ضِعْفاً .

Dari Abu Bashiir, dari salah seorang dari dua imam ‘alaihimas-salaam, ia berkata : “Sesungguhnya penduduk Makkah kafir kepada Allah secara terang-terangan. Dan penduduk Madinah lebih busuk/jelek daripada penduduk Makkah 70 kali lipatnya” [Al-Kaafiy, 2/410; Al-Majlisiy berkata : Muwatstsaq]. Perhatikan scan kitabnya:

jawaban pihak syi’ah :

Para imam maksum syi’ah tidak berada pada tataran menyebutkan jumlah bilangan tertentu, melainkan ingin menjelaskan bahwa orang-orang yang tetap loyal dan setia pada nilai-nilai Islam pasca Rasulullah adalah sedikit jumlahnya.

.
Ath-Thabarsi dalam buku Al-lhtijaj membawakan sebuah riwayat dari Ibban bin Taghib. la bertanya kepada Imam Ja’far bin Muhammad ash-Shadiq:
“Kujadikan diriku tebusan darimu. Apakah ada orang yang menolak kepemimpinan Abu Bakar di antara para sahabat Rasullah?” Imam menjawab:”Ya. Dua belas orang, dari kaum Muhajirin yang menolak; mereka itu adalah Khalid bin Said bin Abi Al’ash, Salman AI-Farisi, Abu Dzar AI-Ghifari, Miqdad bin AI’aswad, Ammar bin Yasir, Buraidah Al’aslami. Dan dari pihak Anshar adalah Abul Haitsam bin Attihan, Utsman bin Hunaif, Khuzaimah bin Tsabit Dzus-syahadatain, Ubay bin Ka’ab dan Abu Ayyub AI’anshari”
.

Ummul Mukminin Aisyah telah berkata:“Sekalian orang Arab telah murtad setelah wafatnya Rasulullah” (Al-Bidayah wa al-Nihayah: 6/336; Tarikh Madinah Dimasyq: 30/316)

Ummul Mukminin Aisyah mengatakan semua orang Islam itu murtad, tentunya dalam pandangan Syiah yang dimaksud dengan murtad bukanlah murtad daripada keimanan, akan tetapi menentang perintah-perintah yang telah ditetapkan oleh Rasulullah.

Dari segi tata bahasa Arab, murtad banyak maknanya tergantung apa kalimat setelah kata “murtadad/yartadid/murtadin”. Contoh :“MURTADDiNA ‘ALA A’QAABiHiM” artinya membelot dari janji mereka

Syi’ah menganggap mayoritas sahabat pasca wafat Nabi SAW tidak patuh pada wasiat), karena  mereka telah mengubah atau membatalkan hukum Allah dan Sunnah Rasulullah (Saw), KAFIR atau MURTAD disini bukan kafir tulen dan bukan murtad tulen melainkan kafir kecil seperti kafirnya orang yang malas shalat !!

Kafir dan Murtad yang dimaksudkan syi’ah bukan seperti kafirnya Abu Thalib versi Sunni, sama sekali tidak..  Bukhari dan Muslim telah mencatat di dalam Sahih Sahih mereka mengenai perkara tersebut

Murtad atau kafir  bermakna : mengkhianati janji setia atau meninggalkan wasiat atau membelot dari kesetiaan dan tidak di artikan keluar dari agama islam, melainkan berpaling dari jalan sunnah dengan MENENTANG PERiNTAH PERiNTAH YANG TELAH DiTETAPKAN NABi SAW. Syiah meski memiliki beberapa kritikan terhadap para khalifah namun tidak dianggap sebagai kemurtadan dalam pengertian teknis teologis

Ayatullah Subhani berpandangan bahwa kemurtadan ini tidak bermakna kekufuran dan kembalinya mereka kepada jahiliyah, melainkan tidak loyalnya mereka terhadap ikrar yang mereka nyatakan pada hari Ghadir Khum. Sebagian besar sahabat membangkang Rasulullah Saw dan melanggar ikrar wilayah.Dalam pandangan Syiah, kemurtadan yang mengemuka dalam riwayat-riwayat ini sama sekali berbeda dengan kemurtadan orang-orang seperti Musailamah, para pengikut Aswad Ansi, dan Sujjah.

.

Syiah didakwa mengkafirkan para sahabat Nabi SAW 

SYi’AH  MENUDUH  SAHABAT  PASCA  NABi  KAFiR  ATAU  MURTAD ?

Sunni dan Syi’ah sepakat bahwa sahabat Nabi SAW yang wafat pada masa Nabi SAW hidup mayoritas masuk surga.. Yang menjadi perdebatan sunni – syi’ah adalah status para sahabat Nabi SAW pasca Nabi wafat. Bila saudara-saudara menganggap cerita-cerita yang membuka ‘aib’ para sahabat sebagai kufur, maka tidak akan ada lagi ahli sejarah dan ahli hadits yang tidak kafir.

Riwayat-riwayat Ahlusunnah dengan taraf mutawatir tentang kemurtadan para sahabat pasca Nabi SAW wafat jauh lebih banyak  dibandingkan apa yang dituliskan syi’ah, pada literatur-literatur Syiah riwayat-riwayat sahih yang menjelaskan kemurtadan para sahabat tidak lebih dari dua riwayat dan meminjam istilah ilmu hadis, tidak melewati batasan kabar wahid. Karena itu, saudara-saudara Ahlusnnah harus memberikan jawaban terkait dengan kemurtadan para sahabat dalam riwayat-riwayat mutawatir ini apa maksudnya?

Hadis-hadis tentang kemurtadan para sahabat juga banyak diriwayatkan para ulama ahli hadis Ahlusunnah wal jama’ah. Lalu bagaimana para ahli hadis Sunni dapat dibebaskan dari vonis itu sementara muhaddis dan kaum Syi’ah divonis kafir?

Munculnya penyimpangan, seperti bid’ah dan kemurtadan, di kalangan sebagian sahabat setelah wafatnya Rasulullah, pertama; dalam perspektif sumber-sumber pertama umat Islam, merupakan perkara yang disepakati secara umum (musallam) dan tidak diragukan lagi serta tidak terkhusus pada sumber-sumber mazhab Syiah saja. Pada sebagian riwayat Ahlusunnah terdapat penyandaran kemurtadan terhadap para sahabat Rasulullah Saw

Banyak sekali hadits-hadits seperti hadits Al-Haudh, diantaranya tercatat dalam Shahih Bukhari dan Muslim. Mereka menceritakan adanya sekelompok sahabat digiring ke neraka dan tatkala ditanya Rasul, ada suara yang menjawab “Engkau tidak mengetahui apa yang mereka lakukan sesudahmu”. Apakah pandangan Syi;ah tersebut ‘kufur’ atau ‘sesat’? Apakah mereka harus dikafirkan karena keyakinan mereka itu? Kita boleh menyesali perbedaan itu, tetapi perbedaan ini menyangkut masalah cabang agama bukan pokok, bukan ushuluddin

Kesemua hadis-hadis haudh sunni adalah menepati ayat al-Inqilab, firman-Nya di dalam Surah Ali Imran (3): 144: “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang (murtad), maka ia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikitpun dan Allah akan memberi balasan kepada mereka yang bersyukur.”

Dan bilangan yang sedikit sahaja yang “terselamat” adalah menepati firman-Nya di dalam Surah Saba’ (34): 13: “Dan sedikit sekali dari hamba-hambaku yang berterima kasih.”

Musuh-musuh Ahlulbait as. dan Syi’ah (pengikut setia) mereka tak henti-hentinya menaburkan fitnah beracun untuk memecah belah wahdatul Islam wal Muslimin / keutuhan Islam dan kesatuan barisan kaum Muslimin. Demi menyukseskan proyek besar musuh-musuh Islam, berbagai cara licik mereka tempuh agar terjadi benturan antara dua puak besar kaum Muslimin yaitu Ahlusunnah dan Syi’ah!

Tuduhan demi tuduhan palsu tak henti-hentinya mereka sebar-luaskan. Untuk melengkapi tuduhan palsu semacam itu tidak jarang riwayat-riwayat tertentu mereka pelintir kandungannya atau bahkan teksnya mereka modifikasi agar mendukung kesimpulan mereka.

Padahal dalam literatur-literatur sejarah dilaporkan bahwa Imam Ali As dalam beberapa hal tertentu bermusyawarah dengan para khalifah dan membimbing mereka sehingga mereka meraih kemenangan dalam pelbagai penaklukan (futuhât).

Dalam hadis sahih Bukhari Muslim terdapat hadis yang bernama Hadis Haudh, yang mana tidak ada jalan lagi untuk Ahlussunnah mengelak dari hal tersebut. Di hari kiamat sebilangan para sahabat akan dibawa ke api neraka. Rasulullah bertanya ke mana dibawa sahabat-sahabat baginda. Lantas dijawab ke neraka. Ditanya kenapa, lantas dijawab lagi, kerana mereka murtad dan kembali ke masa jahiliyah sepeninggalan baginda. Yang lebih menarik, Bukhari mengatakan hanya sedikit daripada mereka yang selamat.

Untuk menyingkat waktu kami akan sebutkan beberapa contoh hadis-hadis kemurtadan sahabat dalam riwayat Ahlusunnah dengan harapan mendapat jawaban dan arahan yang proporsional dan ilmiah tentangnya.

Artinya :

Dari Abdullah  dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Aku adalah orang yang  mendahului kamu di telaga (haudh), maka sungguh orang-orang laki-laki diantaramu dinaikkan bersamaku, kemudian sungguh mereka dipisahkan dari aku, lalu aku berkata : “Wahai Tuhanku, Mereka itu adalah para sahabatku (ashabi) ). Maka dijawab: Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka (inna-ka la tadri ma ahdathu ba‘da-ka) (Musnad Ahmad,1/402, 406, 407, 384, 425 dan 453. Shahih Muslim, 7/68. Sahih al-Bukhari Hadis no. 578)

Artinya :
Dari Anas  dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Sungguh orang-orang dari sahabatku akan datang kepadaku di Haudh (Sungai atau Kolam Susu) sehingga apabila aku mengetahui mereka, mereka dipisahkan dariku, maka aku berkata : “Sahabat-sahabatku” (ashabi)!. Maka dia (Malaikat) berkata: Anda tidak mengetahui apa yang lakukan oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka (inna-ka la adri ma ahdathu ba‘da-ka) (Hadits ditakhrij oleh Bukhari  no. 584)

.Artinya :

Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw. bersabda: “Ketika aku sedang berdiri, terlihat olehku sekelompok orang. Setelah aku kenali mereka, ada seorang di antara mereka keluar dan mengajak kawan-kawannya, ‘Ayo, mari’ Aku bertanya, ke mana? ia menjawab, ‘ke neraka,’ Lalu aku bertanya lagi, mengapa nasib mereka sampai demikian? Kemudian dijawab: ‘Sesungguhnya mereka telah murtad sejak kau tinggalkan dan berbalik ke belakang (innahum irtaddu ba‘da-ka ‘ala Adbari-himi l-Qahqariyy). Kemudian terlihat sekelompok lain lagi. Ketika aku kenali mereka, ada seorang di antara mereka keluar dan menyeru kawan-kawannya: ‘Ayo, mari’ Aku bertanya, ke mana? Ia menjawab: ‘Ke neraka’ Lalu aku bertanya lagi, mengapa mereka? dijawab: ‘Sesungguhnya mereka telah murtad sepeninggalmu dan kembali ke belakang. Kulihat tidak ada yang selamat dan lolos kecuali beberapa orang saja yang jumlahnya cukup sedikit, seperti jumlah onta yang tersesat dari rombongannya (fala ara-hu yakhlusu minhum illa mithlu hamali n-Na‘ am) (Shahih Bukhari,8/150. Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Musyaiyib dari banyak sahabat Nabi).

Artinya :
Dari Asma’ binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya aku akan berada di Haudh sehingga aku melihat mereka yang datang kepadaku dikalangan kamu (man yaridu ‘alayya min-kum). Dan mereka akan ditarik dengan pantas (daripadaku), maka aku akan bersabda: Wahai Tuhanku! Mereka itu daripada (para sahabat)ku dan daripada umatku. Dijawab: Lalu dikatakan : “Apakah kamu mengetahui sesuatu yang telah diperbuat mereka sesudahmu ? (amma sya‘arta ma ‘amilu ba‘da-ka)? Demi Allah, mereka senantiasa mengundur ke belakang (kembali kepada kekafiran) selepas anda meninggalkan mereka (Wa Llahi!Ma barihu ba‘da-ka yarji‘un ‘ala a‘qabi-him). Ibn Abi Mulaikah berkata: “Wahai Tuhanku! Sesungguhnya kami memohon perlindungan daripadaMu supaya kami tidak mengundur ke belakang (kembali kepada kekafiran) atau kami difitnahkan tentang agama kami”. (Hadits ditakhrij oleh Bukhari, Sahih Muslim Hadis No. 27 (2293)

Bukhari dan Muslim meriwayatkan banyak sahabat Nabi dimasukkan ke dalam neraka dan tertolak dari kelompok Nabi SAW.

Abu Hazim daripada Sahl bin Sa‘d daripada Nabi (Saw.) Nabi (Saw.) bersabda: Aku akan mendahului kamu di Haudh. Dan siapa yang akan melaluinya akan meminumnya. Dan siapa yang meminumnya tidak akan dahaga selama-lamanya.Akan datang kepadaku beberapa orang yang aku kenali,dan mereka juga mengenaliku.Kemudian dihalang di antaraku dan mereka. Abu Hazim berkata : Nu‘man bin Abi ‘Iyasy berkata selepas mendengarku: Adakah anda telah mendengar sedemikian daripada Sahl? Aku menjawab: Aku naik saksi bahawa aku telah mendengar Abu Sa‘id al-Khudri berkata perkara yang sama, malah dia menambah: Nabi (Saw.) bersabda: Aku akan bersabda: mereka itu adalah daripadaku (ashabi). Maka dijawab: “Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka (inna-ka la tadri ma ahdathu ba‘da-ka). Maka aku (Nabi (Saw.) bersabda: Jauh ! Jauh ! (daripada rahmat Allah) atau ke Neraka mereka yang telah mengubah atau menukarkan (hukum Allah dan Sunnahku) selepasku (Suhqan suhqan li-man baddala ba‘di). ” (Shahih Bukhari,9/58-59, kitabul-fitan dan 8/150, Shahih Muslim,7/96,Musnad Ahmad, 5/33 dan 3/28, Al Isti’âb (di pinggir Al-Ishâbah),1/159)

Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah (Saw.) bersabda: Sekumpulan daripada para sahabatku akan datang kepadaku di Hari Kiamat. Kemudian mereka akan diusir jauh dari Haudh.Maka aku akan bersabda: Wahai Tuhanku!mereka itu adalah para sahabatku (ashabi). Dijawab: Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang mereka lakukan selepas anda meninggalkan mereka (inna-ka la ‘ilma la-ka bima ahdathu ba‘da-ka) Sesungguhnya mereka telah menjadi kafir-murtad kebelakang (irtaddu ‘ala a‘qabi-bi-himu l-Qahqariyy) (Shahih Bukhari, 8/150)

Memang ada ayat AL QURAN yang menyatakan keutamaan sahabat secara umum tetapi bukan berarti itu berlaku untuk seluruh sahabat, melainkan untuk sahabat yang tidak berbalik arah setelah wafat Nabi SAW. Itulah makna Qs. Ali Imran Ayat 144. Karena penyebab kemurtadan seperti yang disinyalir dalam hadis di atas itu muncul di saat Nabi saw. tidak berada di tengah-tengah para sahabat!

Semua yang kami paparkan di sini sekedar renungan yang menuntut kita untuk merenung dan memikirkan kenyataan tersebut dan mencari tau apa penyebab sebenarnya kemurtadan itu? Dan apa maksud dari kata kemurtadan itu? Semua itu agar kita terhindar dari kesalahan fatal dalam menilai para sahabat dan juga agar tidak gegebah menuduh serampangan mazhab lain yang tidak kita sukai!

Kaum mu’tazilah tidak begitu banyak berpegang pada sunnah atau tradisi ahlul hadis sunni, bukan karena mereka tidak percaya pada tradisi Nabi SAW, tetapi karena mereka ragu akan keoriginalan hadis hadis sunni. Syi’ah menyortir hadis sunni, karena syi’ah hanya mamu memakai sunnah yang betul betul asli (orisinal) dan bukan hadis hadis buatan yang bukan dari Nabi SAW

Penolakan terhadap wasiat Nabi SAW tentang imamah wa khilafah sangat mengerikan karena kelak di kemudian hari mengakibatkan terjadinya PENYESATAN UMAT Muhammad SAW sepanjang masa, apalagi sunni mengedarkan doktrin politik nya dengan gaya gaya absolutistik dan merasa “pasti benar”.

PERiSTiWA Saqifah menimbulkan DAMPAK BERANTAi di kemudian hari yakni UMAT MENJADi SESAT karena mendustakan, meninggalkan dan memusuhi ajaran ahlulbait. Teraniaya nya puteri Nabi dan tertahan haknya. Thaghut Umayyah Abbasiyah menindas para imam maksum lalu MERUBAH Hadis Hadis NABi, terampasnya warisan kepemimpinan ahlulbait penerus Nabi, Berkuasanya tiran fasik yang berlaku sewenang wenang kepada Ahlulbait dan syi’ah Ali sehingga mengalami ujian dan bencana tiada tara karena kezaliman pembangkang

Allah SWT berfirman : “Wahai orang orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul Nya. Bertakwalah kepada Allah” (Qs. Al Hujurat ayat 1)

Perpecahan, berbagai perselisihan, pertikaian dan propaganda yang tidak pada tempatnya mengakibatkan seseorang bisa menjadi MUSYRiK. Permusuhan membawa kepada kelemahan umat dan hilangnya wibawa !

Janganlah wahabi mengira definisi musyrik hanya dengan menyembah berhala, akan tetapi musyrik juga mencakup MEMECAH BELAH AGAMA dengan menjejalkan secara paksa berbagai kepentingan dan pandangan raja raja zalim kedalam agama  yang akhirnya melunturkan nilai keotentikan dan kesucian agama. Akibat nya hukum Allah menjadi keruh bercampur baur dengan tangan tangan kotor penguasa tiran.

Firman Allah SWT : “… janganlah kamu termasuk orang orang yang mempersekutukan Allah , yaitu orang orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka” (QS. Ar Rum ayat 31-32 )

Firman Allah SWT : “Apakah mereka mempunyai semabahan sembahan selain Allah yang mensyari’atkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah. Sekiranya tidak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan . Dan sesungguhnya orang orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih” (Qs. Asy Syuraa ayat 21)

Perebutan kekuasaan menjadikan umat Islam terpecah belah. Syi’ah memerangi sektarianisme. Firman Allah SWT : “Sesungguhnya mereka yang memecah belah agama mereka kemudian menjadi bersekte sekte, engkau (Muhammad) tidak sedikitpun termasuk mereka” ( QS. Al An’am 169 ))

Syi’ah tidak gentar karena kami berpedoman pada surat Ali Imran ayat 103 yang isi nya agar UMAT berpegang teguh kepada AGAMA ALLAH.

Adapun semua penindasan terhadap Fatimah, 12 imam maksum dan kaum syi’ah kami anggap sebagai cobaan dari Allah SWT. Firman Allah SWT : “Jika seandainya Allah menghendaki, maka pastilah Dia menjadikan kamu sekalian umat yang tunggal. Tetapi (Dia tidak menghendakinya) karena Dia hendak menguji kamu semua berkenaan dengan sesuatu yang diberikan Nya kepada mu” (Qs. Al Maidah ayat 51)

Firman Allah SWT : “Kalau seandainya Tuhan mu menghendaki, maka tentunya Dia jadikan manusia umat yang tunggal. Tetapi mereka itu akan tetap selalu berselisih, kecuali mereka yang mendapatkan rahmat dari Tuhanmu, dan untuk itulah Dia menciptakan mereka” (Qs. Huud 118-119)

Firman Allah : “Manusia tidak lain kecuali umat yang tunggal, kemudian mereka berselisih. Jika seandainya tidak karena adanya SABDA (kalimah) yang telah lewat dari Tuhan mu, maka tentulah diputuskan (sekarang juga) antara mereka berkenaan dengan perkara yang mereka perselisihkan itu” (Qs. Yunus 19)

Firman Allah : “Pada mulanya manusia adalah umat yang tunggal. Kemudian Allah mengutus para Nabi membawa berita gembira dan peringatan, dan Dia menurunkan bersama para Nabi itu Kitab suci dengan sebenarnya untuk memutuskan perkara antara umat manusia berkenaan dengan masalah yang mereka perselsihkan. Dan mereka yang menerima kitab suci itu tidaklah berselisih mengenai sesuatu kecuali setelah datang berbagai penjelasan, karena rasa permusuhan antara sesama mereka. Maka Allah pun dengan izin Nya memberi petunjuk tentang kebenaran yang mereka perselisihkan itu kepada mereka yang beriman. Allah memberi petunjuk kearah jalan yang lurus kepada siapa yang menghendakinya” (Qs. Al Baqarah 213)

Mazhab Sunni menghindari pembicaraan tentang tingkah laku negatif para SAHABAT sehingga mazhab syi’ah menjadi terpojok dituding sebagai pencela/pelaknat. Namun dalam hal ini syi’ah siap menyerahkan perselisihan ini di MAHKAMAH AKHiRAT kelak

Allah (swt) berfirman kepada Rasulullah (s):
“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) sebelummu ‘jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalanmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” Surah az-Zummar ayat 65.

Kita menerima bahwasanya ada ayat-ayat diturunkan tentang sahabat. Akan tetapi berapa ramai antara sahabat-sahabat yang mampu menjaga makam tersebut. Perlulah adanya pembahasan dan penelitian

Para Syuhada Uhud lebih utama dari Abu Bakar karena Beliau SAW telah memberikan kesaksian kepada mereka. Dijelaskan dalam suatu hadits shahih : Yahya menyampaikan kepadaku (hadis) dari Malik dari Abu’n Nadr mawla Umar bin Ubaidillah bahwa Rasulullah SAW berkata mengenai para Syuhada Uhud “Aku bersaksi untuk mereka”. Abu Bakar As Shiddiq berkata “Wahai Rasulullah, Apakah kami bukan saudara-saudara mereka? Kami masuk Islam sebagaimana mereka masuk islam dan kami berjihad sebagaimana mereka berjihad”. Rasulullah SAW berkata “Ya, tapi Aku tidak tahu Apa yang akan kamu lakukan sepeninggalku”. Abu Bakar menangis sejadi-jadinya dan berkata “Apakah kami akan benar-benar hidup lebih lama daripada Engkau!”. (Hadis Dalam Al Muwatha’ Imam Malik Kitab Jihad Bab Para Syuhada di Jalan Allah hadis no 987)

Di zaman perjanjian Hudaibiyah, sekumpulan orang Islam telah membai’at Nabi di bawah pohon. Pembai’atan ini masyhur dengan Bai’atul Ridwan yang membawa kepada turunnya ayat berikut: “Mereka yang membai’at dikau hakikatnya mereka membai’at Allah, sesungguhnya Allah ridha dengan Mukminin jikalau mereka membai’at engkau di bawah pohon.”

ayat itu sendiri menggunakan kalimah ‘iz zarfiah muqayyad‘. Ketika itu Allah meridhai engkau yang memberi Bai’at. Tuhan meridhai mereka sebelum dan selepas pembai’atan dengan syarat selagi individu itu mampu tetap menjaga janjinya ini

Ahlusunnah tidak dapat menerima bahawa apabila seseorang itu yang telah diredhai tuhannya boleh atau mampu untuk menyimpang dari jalan kebenaran. Antara yang terlibat dalam pembai’atan ini ialah para sahabat besar seperti Umar, Abu Bakar, Uthman, Khalid dan beberapa orang lagi telah hadir.

Kebenaran syi’ah terlihat ketika sejumlah sahabat bersaksi bahwa dirinya dan para sahabat yang lain telah bid’ah  sepeninggal Nabi

Telah menceritakan kepadaku [Ahmad bin Isykab] telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Fudlail] dari [Al 'Ala` bin Al Musayyab] dari [Bapaknya] ia berkata; Aku bertemu [Al Bara' bin 'Azib] seraya berkata: Alangkah beruntungnya anda kerana anda telah bersahabat (Sahabta) dengan Nabi (saw.) dan membaiahnya di bawah pohon. Lantas dia menjawab: Wahai anak saudaraku !  Sebenarnya anda tidak mengetahui apa yang kami lakukan (Ahdathna-hu) selepasnya (Shahih Bukhari jil.3 hal. 32)

Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bahwa beliau SAW pernah bersabda kepada kaum Anshar: “Suatu hari kalian akan menyaksikan sifat tamak yang dahsyat sepeninggal ku. Karena itu bersabarlah sehingga kalian menemui Allah dan Rasul-Nya di telaga haudh.” Anas berkata, “Kami tidak sabar.”(Shahih Bukhari jil. 2 hal. 135)

Kesimpulannya dengan pengajaran peristiwa ini, jikalau Tuhan meridhai seseorang, maka Dia akan menyatakan keridhaanNya dengan bentuk yang sangat berharga selama seseorang itu menjaga keistiqamahan prinsip itu. Jika tidak, begitu banyak orang yang memiliki makam yang sangat tinggi namun setelah itu mereka tersesat.

Shahih Bukhari,Hadits No.3100 :

3100. Telah bercerita kepada kami Muhammad bin Katsir telah mengabarkan kepada kami Sufyan telah bercerita kepada kami Al Mughirah bin an-Nu’man berkata telah bercerita kepadaku Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya kalian akan dikumpulkan (pada hari qiyamat) dalam keadaan telanjang dan tidak dikhitan. Lalu Beliau membaca firman Allah QS al-Anbiya’ ayat 104 yang artinya (Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan yang pertama, begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti dari Kami. Sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya). Dan orang yang pertama kali diberikan pakaian pada hari qiyamat adalah Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam dan ada segolongan orang dari sahabatku yang akan diculik dari arah kiri lalu aku katakan: Itu Sahabatku, Itu sahabatku. Maka Allah Ta’ala berfirman: Sesungguhnya mereka menjadi murtad sepeninggal kamu. Aku katakan sebagaimana ucapan hamba yang shalih (firman Allah dalam QS al-Maidah ayat 117 – 118 yang artinya (Dan aku menjadi saksi atas mereka selagi aku bersama mereka. Namun setelah Engkau mewafatkan aku…) hingga firman-Nya (….Engkau Maha Perkasa lagi Maha bijaksana).

khalifah yang 12 artinya wakil (pengganti) Nabi Muhammad saw setelah Nabi wafat (dl urusan negara dan agama) yg melaksanakan syariat (hukum) Islam dl kehidupan negara;


Bukhari dan Muslim meriwayatkan
 bahwa Rasulullah SAWW berwasiat akan tiga hal saat menjelang wafatnya:

Pertama, keluarkan kaum musyrikin dari Jazirah Arab.

Kedua, berikan hadiah kepada delegasi seperti yang biasa kulakukan.

Kemudian si perawi berkata, “aku lupa isi wasiat yang ketiga.”[1]

Akankah akal sehat kita dapat menerima dan percaya bahwa para sahabat yang hadir dan mendengar tiga wasiat Nabi itu tiba-tiba lupa pada apa isi wasiat yang ketiga ?, apa hukumnya bagi orang pelupa dan menjadi Perawi ?

Politiklah yang memaksa mereka melupakan isi wasiat itu dan tidak menyebutnya. Hal ini merupakan rangkaian musibah lain yang kita saksikan dari para sahabat seperti itu. Tidak mungkin tidak bahwa isi wasiat yang “terlupa” itu adalah wasiat Nabi akan pelantikan Ali (AS) sebagai khalifah dan imam sepeninggal beliau SAWWNamun si perawi enggan menyebutkannya.

Orang yang meneliti sejarah dan masalah-masalah seperti ini akan merasakan bahwaisi wasiat yang diabaikan itu sebenarnya adalah pesan Nabi akan kepemimpinan Ali bin Abi Thalib AS, walau diupayakan dengan sistematik untuk disembunyikan.

Bukhari dalam kitab Shahihnya bab al-Washaya, dan Muslim dalam bab Al-Wasiyah meriwayatkan bahwa Nabi pernah berwasiat pada Ali di tengah kehadiran Aisyah[2].

Ingatlah ketika Ummul Mukminin Aisyah, tidak senang mendengar nama Ali disebut-sebut, seperti yang laporkan oleh Ibnu Sa’ad dalam Thabaqatnya[3], dan Bukhari dalam kitab Shahihnya Bab Nabi Sakit Dan Wafat; dan kita tahu bahwa Aisyah melakukan sujud syukur saat mendengar kematian Imam Ali KW,

Lalu harapan apa yang masih tersisa dari Ummul Mukminin ini untuk mau meriwayatkan hadis wasiat Nabi untuk Ali bin Abi Thalib? . Ummul MukmininAisyah ini sangat dikenal oleh kalangan khusus dan umum akan sikap permusuhan dan kebenciannya pada Imam Ali, putera-puteranya serta itrah Ahlu Bait Nabi SAWW.

Masih ada cara-cara kotor mereka yang kadang-kadang menakwilkan hadis-hadis shahih dan menafsirkannya dengan makna yang tidak tepat; atau mendustakan hadis-hadis yang tidak sejalan dengan mazhab mereka walau hadits itu tertulis dalam kitab-kitab shahih dan diriwayatkan dengan sanad-sanad yang bisa dipercaya. Mereka juga kadangkala menghapus setengah atau dua pertiga dari isi hadis lalu menggantinya dengan kalimat begini dan begitu; atau meragukan para perawi yang tsiqah lantaran ia meriwayatkan hadis-hadis yang tidak sejalan dengan kehendak mereka; atau mengutip suatu hadis pada edisi pertama dari buku terbitannya, kemudian menghapusnya pada cetak-ulang berikutnya tanpa memberi sedikitpun alasan betapapun para pemerhati mengetahui sebab musababnya.

Usaha mereka itu adalah dengan sengaja hendak mengaburkan kebenaran dan mencari pembenaran sebanyak-banyaknya mereka mampu melaksanakannya, tetapi akan selalu terbongkar.

  1. Shahih Bukhori jil. 7 hal. 121; Shahih Muslim jil. 5 hal. 75.
  2. Shahih Bukhori jil. 3 hal. 68; Shahih Muslim jil. 2 hal. 14.
  3. 3. Thabaqat Ibnu Saad Bag. 2 hal. 29.

Definisi Khilafah/Khalifah

Pengertian Bahasa Khilafah

Khilafah menurut makna bahasa merupakan mashdar dari fi’il madhi khalafa, berarti : menggantikan atau menempati tempatnya (Munawwir, 1984:390). Makna khilafah menurut Ibrahim Anis (1972) adalah orang yang datang setelah orang lain lalu menggantikan tempatnya (jaa`a ba’dahu fa-shaara makaanahu) (Al-Mu’jam Al-Wasith, I/251)

.

Dalam kitab Mu’jam Maqayis Al-Lughah (II/210) dinyatakan, khilafah dikaitkan dengan penggantian karena orang yang kedua datang setelah orang yang pertama dan menggantikan kedudukannya. Menurut Imam Ath-Thabari, makna bahasa inilah yang menjadi alasan mengapa as-sulthan al-a’zham (penguasa besar umat Islam) disebut sebagai khalifah, karena dia menggantikan penguasa sebelumnya, lalu menggantikan posisinya (Tafsir Ath-Thabari, I/199).

.

Imam Al-Qalqasyandi mengatakan, menurut tradisi umum istilah khilafah kemudian digunakan untuk menyebut kepemimpinan agung (az-za’amah al-uzhma), yaitu kekuasaan umum atas seluruh umat, pelaksanaan urusan-urusan umat, dan pemikulan tugas-tugas mereka (Al-Qalqasyandi, Ma`atsir Al-Inafah fi Ma’alim Al-Khilafah, I/8-9).

.

Pengertian Syar’i Khilafah Dalam pengertian syariah, Khilafah digunakan untuk menyebut orang yang menggantikan Nabi SAW dalam kepemimpinan Negara Islam (ad-dawlah al-islamiyah) (Al-Baghdadi, 1995:20). Inilah pengertiannya pada masa awal Islam. Kemudian, dalam perkembangan selanjutnya, istilah Khilafah digunakan untuk menyebut Negara Islam itu sendiri (Al-Khalidi, 1980:226).Pemahaman ini telah menjadi dasar pembahasan seluruh ulama fiqih siyasah ketika mereka berbicara tentang “Khilafah” atau “Imamah”. Dengan demikian, walaupun secara literal tak ada satu pun ayat Al-Qur`an yang menyebut kata “ad-dawlah al-islamiyah” (negara Islam), bukan berarti dalam Islam tidak ada konsep negara. Atau tidak mewajibkan adanya Negara Islam. Para ulama terdahulu telah membahas konsep negara Islam atau sistem pemerintahan Islam dengan istilah lain yang lebih spesifik, yaitu istilah Khilafah/Imamah atau istilah Darul Islam (Lihat Dr. Sulaiman Ath-Thamawi, As-Sulthat Ats-Tsalats, hal. 245; Dr. Wahbah Az-Zuhaili, Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu, IX/823)
.
Hanya saja, para ulama mempunyai sudut pandang yang berbeda-beda ketika memandang kedudukan Khilafah (manshib Al-Khilafah). Sebagian ulama memandang Khilafah sebagai penampakan politik (al-mazh-har as-siyasi), yakni sebagai institusi yang menjalankan urusan politik atau yang berkaitan dengan kekuasaan (as-sulthan) dan sistem pemerintahan (nizham al-hukm). Sementara sebagian lainnya memandang Khilafah sebagai penampakan agama (al-mazh-har ad-dini), yakni institusi yang menjalankan urusan agama. Maksudnya, menjalankan urusan di luar bidang kekuasaan atau sistem pemerintahan, misalnya pelaksanaan mu’amalah (seperti perdagangan), al-ahwal asy-syakhshiyyah (hukum keluarga, seperti nikah), dan ibadah-ibadah mahdhah. Ada pula yang berusaha menghimpun dua penampakan ini. Adanya perbedaan sudut pandang inilah yang menyebabkan mengapa para ulama tidak menyepakati satu definisi untuk Khilafah (Al-Khalidi, 1980:227)
.

Dalam artikel yang lepas, saya telah pun memberikan sedikit mukadimah tentang konsep Imamah dari pandangan Syiah. Saya telah menerangkan bahawa Imamah ialah satu jabatan lantikan Allah swt, untuk memimpin umat Muhammad(sawa) setelah ketiadaan baginda(sawa), untuk menggantikan seluruh tugas baginda dalam segala hal kecuali kenabian

.

Saya juga telah menerangkan tentang tugas seorang Imam, yang mana bukan sahaja bersifat politikal, malah juga merangkumi spritual, juga sebagai sumber ilmu bagi semua bidang yang luar dari ilmu agama. Mengikut kami, Syiah kepada Ahlulbait Nabi, semua tugasan ini, di tanggung  oleh Ahlulbait Rasulullah, sebagai Pemimpin Ummah, yang telah dilantik oleh Allah swt sendiri, melalui pengisytiharan Rasulullah(sawa) di banyak tempat dan peristiwa dalam hidup baginda

.

Sekarang ini saya akan bawakan perbahasan tentang Ahlulbait, yang mana menjadi sumber dan pegangan akidah bagi kami Syiah, yang mana dari mereka kami mengambil ilmu, dari mereka kami mencontohi sifat mulia dan dari mereka kami mendekatkan diri kepada Allah swt

.

Pesan Rasulullah(sawa):

“Wahai manusia! Sesungguhnya aku tinggalkan kalian sesuatu yang jika kalian berpegang kepadanya tidak akan sesat selamanya: Kitab Allah dan itrah, Ahlulbaitku.”

.

Hadis ini, yang dinamakan sebagai Hadis Tsaqalain, iaitu dua perkara berharga, berat atau penting. Hadis ini diriwayatkan dalam pelbagai versi, tetapi masih mengekalkan matan yang sama, iaitu pesan Rasulullah agar kita berpegang kepada Quran dan Ahlulbait(as), yang mana keduanya digandingkan bersama. Hadis ini juga telah mencapai tingkatan mutawattir dan sahih, dan diriwayatkan dari berbagai sumber Sunni

.

  1. Muslim: Sahih Hadis no. 6175-6177
  2. Tarmizi: Sahih Hadis 3786 dan 3788
  3. An Nisai: Khasais Amirul Mukminin Ali No.79
  4. Ahmad: Musnad: 5/181&182 dan 3/26 dan 5/189
  5. Ibnu Abi ‘Asim: As Sunnah no 754
  6. Nuruddin al Haitsami: Majma al Zawaid  Juz 5 hal 166
  7. Ibnu Hajar al Haitsami: Al Sawaiq Al Muhriqah hal 223. 229-230
  8. Al Khateeb al Tabrizi: Misykatul Masabih
  9. Al Hakim: Al mustadrak
  10. At Thabrani: Al Mu’jamul kabir
  11. Al Muttaqi al Hindi: Kanz al Ummal
  12. As Suyuthi: Ihya ul Mayyit bi Fadhail Ahlulbait, Jamius Saghir, Ad Durr al mansur
  13. Ibnu Kasir: Tafsir
  14. Ibnu Saad: Thabaqat Al Kubra
  15. Ibnu Atsir: Jami’ul Usul & Ususdul Ghabah
  16. Ibnu Asakir: Tarikh
  17. An Nabhani:Al Fathul Kabir
  18. Al Khawarizmi: Al Manaqib
  19. Ibnu Hbban: Sahih
  20. Sulaiman Al Bakhi al Hanafi: Al Baihaqi:As Sunan Yanabi Al Mawaddah
  21. Mir Sayyid Ali Hamadani: Mawaddatul Qurba
  22. Hafiz Abu Nuaim Al Isfahani: HIlayatul Awliya

Senarai di atas bukanlah senarai keseluruhan para ulama yang meriwayatkannya, masih banyak lagi yang belum disebutkan. Perlu juga untuk saya sebut bahawa, saya sengaja tidak meletakkan rujukan muka surat kerana buku-buku ini akan berbeza mengikut cetakannya dan pencetaknya.

Hadis Tsaqalain ini diriwayatkan dengan begitu banyak sekali, dengan sanad yang berbeza, membuktikan ramai para sahabat meriwayatkannya. Diantaranya ialah:

  1. Ali Ibn Abi Thalib
  2. Zaid ibn Arqam
  3. Zaid Ibn Tsabit
  4. Abu Said al Khudri
  5. Abu Hurairah
  6. Abdullah Ibn Hanthab
  7. Jabir ibn Abdullah al Ansari
  8. Huzaifah ibn Usaid al Ghifari
  9. Abu Dzar al Ghifari
  10. Anas ibn Malik
  11. Al Bara’ ibn Azib
  12. Huzaifah ibn Yaman
  13. Abu Haitsam ibn at Tihan
  14. Abu Rafi’
  15. Ibnu Abbas
  16. Salman al Farisi
  17. Sa’ad ibn Abi Waqas
  18. Amru ibn al ‘As
  19. Ummu Salamah

Berikut ialah beberapa versi hadis Tsaqalain.

Dari Zaid Ibn Arqam, “Beberapa hari selepas haji terakhir baginda, Rasulullah berhenti untuk memberi khutbah kepada kami di pinggir tempat yang dipanggil Ghadir khum yang terletak diantara Makkah dan Madinah. Beliau memuji Allah dan mengingati Allah, seraya berkata,”Wahai umat ku, bersaksilah! Ku rasakan waktu ku untuku dipanggil telah hampir tiba, dan sungguh,akan ku sahut panggilan itu. Bersaksilah,aku akan meninggalkan pada kamu semua dua benda berharga, yang pertama adalah kitab Allah, yang ada padanya cahaya dan pedoman,yang kedua adalah Ahlul baytku. Dengan nama Allah,aku mengingatkan kamu ttg Ahlul Bayt ku. Dengan nama Allah,aku mengingatkan kamu ttg Ahlul Bayt ku. Dengan nama Allah,aku mengingatkan kamu ttg Ahlul Bayt ku.(3 kali).

Dari Zaid ibn Tsabit, “Sesungguhnya aku meninggalkan buat kamu 2 pemimpin sesudah pemergianku, iaitu Kitab Allah dan keluargaku iaitu Ahlulbait. Keduanya tidak akan terpisah sehingga menemui ku di Al Haudh

Dari Jabir al Ansari, “Wahai manusia! Sesungguhnya aku telah meninggalkan kepada kamu sesuatu yang jika kamu berpegang kepadanya, nescaya kamu tidak akan sesat selamanya, kitab Allah dan Ahlulbaitku.”

Dari Said al Khudri,  dengan pertambahan, “Lihatlah bagaimana kamu memperlakukan keduanya.”

Dari Abdullah ibn Hanthab, dengan ayat Rasulullah(sawa), “Aku akan menyoal kamu tentang dua perkara ini: Al Quran dan itrat ku.”

Inilah serba sedikit yang dapat saya nukilkan versi-versi hadis Tsaqalain. Hadis-hadis ini diisytiharkan sahih oleh ulama-ulama Sunni sendiri, jadi tidak ada keraguan lagi berkaitan kesahihannya. Seorang ulama silam yang memang terkenal sebagai anti Syiah nya, Ibnu Hajar al Haithamidilaporkan menyebut:

“Ketahuilah, bahawa hadis berpegang kepada Ahlulbait telah disampaikan dengan banyak cara. Penyampai hadis ini berjumlah lebih dari 20 orang sahabat Nabi(sawa).”

Beliau juga menambah:

“Terdapat sedikit perbezaan dalam cara hadis ini diriwayatkan. Sebahagian ulama menyatakan bahawa ia telah disampaikan sewaktu Nabi menjalankan haji Wada’ di Arafah. Sebahagian lagi mengatakan ketika di Madinah manakala yang lain dilafazkan di Thaif.” Al Sawaiq al Muhriqah

Ibnu Hajar mengulas, tidak ada perbezaan ketara dalam mengulas hadis ini, kerana dilafazkan di dalam keadaan berbeza. Besar kemungkinan Rasulullah(sawa) telah menyampaikannya secara berulang-ulang agar dapat menampakkan betapa pentingnya kedua-dua gandingan ini kepada para sahabat dan ummah baginda setelah ketiadaan baginda.

Apabila saya mencantumkan semua versi-versi ini, berikut ialah kesimpulan yang dapat saya nukilkan.

  1. Rasulullah(sawa) menggandingkan Al Quran(petunjuk) dengan Ahlulbait baginda, sebagai pengulas kepada petunjuk itu. Kedua-dua ini tidak akan terpisah sehinggalah di akhirat nanti, bermakna gandingan ini akan sentiasa wujud, sebagai pasangan.
  2. Mengikut Ahlulbait tidak akan sesat selamanya, menunjukkan bahawa merekalah penunjuk jalan kebenaran. Merekalah sumber ilmu yang sejati, penerus Sunnah baginda, dan penjaga kepada agama Islam dari segala penambahan dan pengurangan.
  3. Rasulullah(sawa) memberi penekanan Al Quran dan Ahlulbait sebagai gandingan, bukan salah satu dari mereka kerana baginda menggunakan perkataan “dan”. Lihat sahaja bagaimana bodohnya puak nasibi apabila dalam keadaan terdesak mengatakan tafsiran untuk hadis ini ialah  ”taatlah al Quran dan jagalah Ahlulbait ku”

Inilah pegangan Syiah Imamiah. Inilah akidah kami. Kami mempercayai bahawa Rasulullah(sawa) telah meninggalkan Ahlulbait(as) sebagai gandingan kepada Al Quran, agar keduanya menjadi rujukan kepada umatnya sepeninggalan baginda(sawa). Saya telah membincangkan dalam artikel sebelum initentang siapa Ahlulbait, tetapi apakah tanggungjawab kita kepada mereka? Seorang sahabat saya dari Ahlulsunnah mengatakan bahawa:

“Kami seperti Syiah juga menghormati Ahlulbait(as), kami menyayangi mereka dan taat kepada mereka.”

Benar, kami mempercayai bahawa saudara dari Sunni juga menghormati Ahlulbait, tetapi cukupkah sekadar itu? Cukupkah semata-mata bagi kita menghormati Al Quran? Sudah pasti jawapannya tidak mencukupi. Al Quran adalah untuk dibaca, difahami dan dipatuhi segala perintahnya. Dan begitu jugalah tanggungjawab kami kepada Ahlulbait. Konsep ini di namakan Tawalla dan Tabbarra, yang telah saya bincangkan.

Kami mempercayai bahawa Ahlulbait, jika diikuti seratus peratus, maka tidak akan wujud mazhab-mazhab sebagaimana hari ini. Tidak timbul perselisihan yang terlampau ketara. Rujuklah mereka.

Kini timbul satu persoalan baru apabila kita bawakan hadis ini kepada saudara Sunni.

“Yang kami selalu dengan ialah hadis Aku tinggalkan kalian Al Quran dan Sunnah ku.

Ya, ini adalah balasan yang selalu saya dengari dari mereka. Untuk tajuk hadis Al Quran dan Sunnah ku ini, akan saya bincang di satu artikel yang khas untuknya kerana saya tidak mahu memanjangkan artikel ini dengan topik luaran, bagaimanapun saya akan ceritakan secara simple di sini.

  1. Hadis itu dhaif dari sanad dan matannya.
  2. Hadis itu juga tidak diriwayatkan di dalam Sihah Sittah Ahlulsunnah wal Jamaah.
  3. Jika pun boleh mahu dipakai, hadis ini hanya boleh digunakan untuk Sunnah asli yang diambil dari para Imam Ahlulbait(as).

Petunjuk dari Quran tentang kepimpinan Ahlulbait(as)

“Jikalau Allah swt memang memerintahkan agar kita mentaati Ahlulbait, mengapa tak letak sahaja dalam Al Quran terang-terang, kan senang? Kan tak jadi perselisihan?

Ayat seperti ini selalu didengari dari orang-orang yang sudah mula memahami sedikit sebanyak tentang tanggungjawab kita terhadap Tsaqalain. Mereka berasa hairan dan takjub, tentang sebab Allah swt tidak meletakkan perkara yang begitu penting ini di dalam kitab agung, rujukan utama seorang Muslim. Saya katakan kepada mereka:

Cara solat pun Allah swt tidak ceritakan secara detail dalam Quran, cuma beberapa hint tentang pergerakannya sahaja, seperti rukuk dan sujud.

Jika semuanya disuapkan kepada kita, maka tidak terjadilah dunia ini sebagai tempat ujian kepada kita. Allah swt mahu kita mengkaji kebenaran, mahu kita berusaha dan struggle dalam mencari jalannya. Barulah Allah swt berikan jawapannya. Firman Allah swt:

Dan orang-orang yang berjihad dalam mencari kebenaran itu, pasti Allah akan tunjukkan kepada jalan kami, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang berbuat kebenaran. Al Quran(29:69)

Di dalam artikel saya, Mencapai kebenaran, saya telah menyebutkan beberapa ciri yang perlu ada pada seseorang sebagai persediaan dalam mengkaji dan memahami kebenaran serta menerimanya. Bagi orang-orang seperti ini, sudah tentu tiada masalah bagi mereka untuk memahami dan menerima Tsaqalain.

Walaupun tidak disebutkan secara jelas, tetapi Allah swt ada memberi petanda di banyak tempat di dalam Quran dalam mengikuti Ahlulbait(as), serta kewajibannya.

Lihatlah sahaja bagaimana Allah swt telah meninggikan kedudukan mereka dengan menyucikan mereka dengan sesuci-suci pembersihan(33:33), dan memerintahkan kepada kita untuk menyayangi mereka, mencintai mereka sebagai upah kenabian(42:23), dan kemuliaan siapakah yang ditinggikan di dalam ayat Mubahalah?(3:61)

1. Allah swt Berfirman:

“Dan berpegang teguhlah kamu sekalian kepada tali Allah (ugama Islam), dan janganlah kamu bercerai-berai” Al Quran (3:103)

Tafsir Al Kabir, Al Thalabi dengan sanad Aban Bin Taghlab dari Imam Jaafar as Sadiq: “kamilah tali Allah yang dimaksudkan di dalam ayat tersebut.”

  • Al Sawaiq al Muhriqah: Ibnu Hajar al Haithami hal 223
  • Yanabi Al Mawaddah: Al Qunduzi al hanafi hal 139, 328, 356
  • Syawahidul Tanzil: Al Huskaninal Hanafi Hadis bil 177-180

Imam Syafi’i dilaporkan di dalam Rashfatul Sadi, tulisan Imam Abu Bakar Ibn Shihabuddin, sebagai berkata:

“Apabila aku melihat manusia hanyut di dalam lautan kesesatan dan kejahilan akibat dari mazhab mereka, aku menaiki, dengan nama Allah, Bahtera Keselamatan, iaitu, Keluarga Yang Terpilih, Penutup segala Nabi. dan aku memegang keras Tali Allah, iaitu ketaatan kepada mereka, kerana Tuhan telah memerintahkan untuk berpegang kepada Tali itu.”

Lihatlah bagaimana Allah swt mengibaratkan Ahlulbait sebagai Tali Allah, serta memerintahkan agar memegang tali itu sekuat hati. Inilah yang dilakukan oleh kami Syiah kepada Tali Allah.
2. Firman Allah swt:

Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kamu kepada Allah, dan hendaklah kamu berada bersama-sama orang-orang yang benar.Al Quran(9:119)

Ayyuhal ikhwan, siapakah orang-orang yang benar ini, yang  kita harus bersama mereka? Pastilah satu golongan suci yang Allah swt angkat melebihi dari yang lain.

Ibnu Syahri dan Tsa’labi dalam Tafsirnya, meriwayatkan dari Jabir dan Abu Jaafar dari Kalbi dan Abu Soleh dari Ibnu Abbas, As Su’udi dan Ja’far bin Muhammad Al Baqir(as) dan beliau meriwayatkan dari Malik bin Anas yang berasal dari ibnu Umar berkata: Allah swt memerintahkan para sahabat dan semua golongan beriman agar takut kepada Allah. Kemudian beliau berkata “…dan hendaklah kamu bersama orang2 yang benar” bermaksud Muhammad dan Ahlulbait baginda.

  • Syawahidul tanzil:al Hakim al Huskani al Hanafi. Hadis bil. 350-356
  • Kifayatuth Thalib: Al Kanji as Syafii Hal 236. Cetakan Al Haidhariyah
  • Tarikh Dimasyq: Ibnu asakir. Bahagian Terjemahan Ali Ibnu Abi Thalib 2/241. Hadis Bilangan 923
  • Tazkiratul Khawas: Sibt Ibnu Jauzi al Hanafi. Hal 16
  • Al Manaqib:Al Khawarizmi al Hanafi hal 198
  • Yanabi al Mawaddah: Al Qanduzi al Hanafi hal 136 dan 140
  • Ad Dur al mantsur: As Suyuti as Syafi’i 3/390

3. Allah swt turut menyebutkan:

Dan bahawa sesungguhnya inilah jalanKu yang betul lurus, maka hendaklah kamu menurutnya; dan janganlah kamu menurut menurut jalan-jalan lain, kerana jalan-jalan (yang lain itu) mencerai-beraikan kamu dari jalan Allah, Dengan yang demikian itulah Allah perintahkan kamu, supaya kamu bertaqwa. Al Quran(6:153)

Imam al Baqir dan Imam al Sadiq selalu menyebutkan bahawa: Jalan yang lurus ini ialah bersama Imam, dan janganlah mengikuti jalan yang lain(imam-imam lain) kerana mereka akan mengalihkan kamu dari jalan Allah. Jika bukan jalan Ahlulbait, imam mana lagi yang boleh kita katakan sebagai jalan yang lurus? Imam Syafi’i, Hanbali? Mereka saling bercanggah antara satu sama lain dan tiada dalil dari Quran atau hadis yang mengwajibkan kita untuk mengikuti mereka, sedangkan Ahlulbait ialah sebahagian peninggalan Nabi(sawa).

4. Di tempat lain, Allah swt mengarahkan kita:

“Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasulullah dan kepada “Ulil-Amri” (orang-orang yang berkuasa) dari kalangan kamu.” Al Quran(4:59)

Ulil Amri yang dimaksudkan ialah Ali dan para Imam dari Ahlulbait.

Dalam Ikmal al-Din terdapat sebuah hadis melalui Jabir al-Jufri yang diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah yang berkata: “Ya Rasulullah kami telah mengetahui Allah dan Rasul-Nya, lalu siapakah ulil amri yang Allah jadikan ketaatan kepada mereka sama dengan ketaatan kepadamu?”

Lalu Nabi SAW bersabda: “Wahai Jabir, mereka adalah penerusku dan para pemimpin muslimin. Yang pertama dari mereka adalah ‘Ali bin Abi Thalib, kemudian (Imam) Hasan dan (Imam) Husain, kemudian ‘Ali bin Husain, kemudian Muhammad bin ‘Ali, yang dikenal dalam taurat dengan nama al-Baqir, yang engkau akan jumpai kelak. Wahai jabir! Apabila engkau menjumpainya, sampaikanlah salamku padanya. Setelahnya adalah ash-Shadiq, Ja’far bin Muhammad; kemudian Musa bin Ja’far, kemudian ‘Ali bin Musa, kemudian Muhammad bin ‘Ali, kemudian ‘Ali bin Muhammad, kemudian Hasan bin ‘Ali, setelahnya adalah al-Qa’im yang nama asli dan gelarnya sama denganku. Dia adalah hujjah Allah di bumi dan pengingat hamba-hamba-Nya. Dia anak (Imam) Hasan bin ‘Ali (al-’Askari). Peribadi inilah yang menyebabkan tangan Allah akan membukakan arah Timur dan Barat dunia dan peribadi ini jugalah yang akan digaibkan dari para pengikut dan pencintanya. karena inilah (kegaiban -penerj) keimamahannya tidak dapat dibuktikan oleh pernyataan siapapun kecuali oleh orang yang keimanannya telah Allah uji.”
Jabir berkata: “Aku bertanya padanya: ‘Wahai Rasulullah! Apakah para pengikut (syi’ah)-nya akan mendapatkan manfaat dari kegaibannya?’ Dia menjawab: ‘Ya. Demi Zat yang mengutusku dengan kenabian, mereka akan mencari cahaya dan taat kepadanya pada masa gaibnya sebagaimana manusia mendapat manfaat dari (cahaya) matahari ketika awan menutupnya’ …”
(Ikmal al-Din, jilid 1, hal. 253, dengan makna yang hampir sama dalam Yanabi’ al-Mawaddah, hal.117)

  • Yanabi al Mawaddah : hal 134 dan 137
  • Syawahidul Tanzil:1/48  hadis 202-204
  • Tafsir Razi:3/375

5. Allah swt berfirman:

“Oleh itu bertanyalah kamu kepada Ahlil Zikir jika kamu tidak mengetahui”.Al Quran(16:43) dan (21:7)

Ahlul Zikir yang dimaksudkan ialah asas Ahlulbait iaitu, Imam Ali, Fatimah, Hassan dan Hussain. Dari Jabir, meriwayatkan setelah turun ayat ini Imam Ali berkata:” Kamilah yang diimaksudkan sebagai Ahlil Zikir”

  • Yanabi al Mawaddah : hal 51 dan 140
  • Syawahidul Tanzil:1/334 hadis 459-466
  • Tafsir Qurtubi: 11/272
  • Tafsir Tabari: 14/109
  • Tafsir Ibnu Katsir2/570

6. Setiap hari, dalam solat, kita membaca:

Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus, iaitu jalan orang-orang yang Kau berikan nikmat ke atas mereka

Imam Tsalabi di dalam Tafsir Al Kabir menafsirkan ayat ini bahawa ayat ini juga merujuk kepada Muhammad dan keluarga Muhammad

7. Akhir sekali, suka saya ingin memberikan hint-hint terakhir dari Allah swt dalam Quran yang berbunyi:

Dan sesiapa yang taat kepada Allah dan RasulNya, maka mereka akan (ditempatkan di syurga) bersama-sama orang-orang yang telah dikurniakan nikmat oleh Allah kepada mereka, iaitu Nabi-nabi, dan orang-orang Siddiqiin, dan orang-orang yang Syahid, serta orang-orang yang soleh.Al Quran(4:69)

Imam dari Ahlulbait, tanpa keraguan dan sebarang bantahan, ialah ketua bagi para Sadiqin, Syuhada dan Solihin. Cukuplah kiranya setakat ini saya sertakan hujah dari Al Quran, yang memberi petunjuk kepada kepimpinan Ahlulbait(as) dan tugas kita adalah untuk mentaati mereka to the letters, tanpa sebarang bantahan dan keraguan sebagaimana haknya, kita mentaati Rasulullah(sawa). Jikalau kamu tidak bersetuju dengan hujah-hujah yang saya bawakkan ini, maka bersaksilah kami tidak memaksa kamu menerima kepercayaan kami, tetapi hormatilah tafsiran ini, dan bukalah hati kamu agar bolehnya kita bersatu tanpa perlu mengorbankan kepercayaan masing-masing. Jikalau kami salah, maka cukuplah kiranya Allah swt menjadi hakim kami, kerana Dia yang maha adil telah meninggalkan kita Al Quran, maka segata tafsiran dalam Quran yang logik dan tidak batil boleh diterima, seperti yang dilakukan oleh para ulama mujtahid Sunni, seperti Maliki dll. Mereka semua menafsirkan sesuatu dengan cara yang berbeza, dan semuanya kalian boleh terima, maka terimalaha tafsiran kami ini.

Kata-kata Rasulullah(sawa) tentang Ahlulbait

Bagaimanapun wahai Ikhwan sekalian, hujah saya masih belum mati setakat ini, ingin sekali, InsyaAllah, saya bawakan apa pula yang dikatakan oleh Rasulullah(sawa) tentang Ahlulbait baginda. Banyak sekali, tetapi cukup la sikit-sikit, nanti tepu pulak akal yang membaca.

1. Lihat sahaja betapa pentingnya penekanan kepada Ahlulbait apabila Rasulullah(sawa) bersabda:

“Sesungguhnya perumpamaan Ahlulbait disisi kamu laksana bahtera Nuh. Barangsiapa yang menaikinya akan selamat dan siapa yang meninggalkannya akan binasa.”

  • As Sawariq Al Muhriqah hal 282
  • Al Mustadrak 3/151
  • Yanabi Al Mawaddah : Hal 30 &370
  • Al Mu’jam as Saghir: 1/139
  • Majma ul zawaid 9/168

Wahai saudaraku sekalian, lihat sahaja apa yang Rasul kita gambarkan tentang Ahlulbait baginda, seperti bahtera Nuh. Tentu sahaja kita selalu mendengar kisah Nabi Nuh(as), di mana Allah swt mendatangkan kepada kaumnya banjir besar, yang mana sayu-satunya jalan keselamatan hanyalah bahtera Nabi Nuh(as). Sesiapa sahaja yang menaikinya, selamat dari azab Allah, dan bagi siapa yang enggan, setinggi mana pun gunung yang di daki, tidak berupaya menyelamatkan mereka dari banjir itu.

Suka juga untuk saya kaitkan, di mana Nabi Nuh dan pengikutnya di cela dan diejek oleh kaumnya, kerana idea beliau tentang bahtera ini. Secara kebetulan(atau memang seperti yang Allah mahu tunjukkan) kami Syiah, yang memilih menaiki bahtera ini juga dicela dan diejek serta dimusuhi dengan pelbagai cara. Maka ini, semakin menambahkan keyakinan kami tentang jalan yang kami pilih ini.

2. Ibnu Hajar al Haithami mensahihkan: Sesungguhnya aku tinggalkan kalian 2 perkara yang kalian tidak akan sesat buat selamanya selagi kalian mengikut keduanya. Keduanya adalah Kitab Allah dan Ahlulbaitku. Dari itu, jangan kalian mendahului keduanya kerana kalian akan binasa, dan jangan kalian memperkecilkan keduanya kerana kalian akan binasa. Dan jangan kalian mengajar mereka kerana mereka lebih mengetahui dari kalian.”

  • As Sawaiq Al Muhriqah hal 230
  • Majma uz Zawaid 9/163
  • Yanabi Al Mawaddah  Hal 41 dan 355
  • Ad Durr al Mantsur 2/60
  • Kanz al Ummal Bil Hadis 958

Perhatikan betul-betul hadis di atas. Itulah selayaknya Ahlulbait yang menjadi gandingan Al Quran, di mana Rasulullah melarang kita mendahului atau ditinggalkan oleh mereka, ini bermakna agar tetap utuh bersama mereka, dalam apa jua keadaan. Apabila Rasulullah(sawa) berkata jangan perkecilkan mereka, itu tandanya Rasulullah mahukan segala keutamaan diberikan kepada keduanya. Yang paling best, ialah ayat terakhir baginda, bahawa jangan mengajar mereka kerana mereka lebih mengetahui. Ini ialah tanda ketinggian ilmu mereka, yang menyebabkan bukti Imamah mereka ke atas kita, sumber ilmu yang benar dan tiada yang lain. Celakalah mereka yang belajar dari orang yang bukan ahlinya.

3. At Thabrani meriwayatkan dari Abu Dzar dan Abu Said Al Khudri, Rasulullah(sawa) bersabda: “Sesungguhnya perumpamaan Ahlulbait ku itu disisi kalian umpama “pintu pengampunan” bani Israel. Sesiapa yang masuk ke dalamnya akan di ampunkan.”

  • Ihya ul Mayyit: Bil 26&27
  • Majma uz Zawaid: 9/168
  • Ibnu Hajar menjelaskan : Allah swt menetapkan bahawa memasuki pintu tersebut ialah pintu Ariha atau Baitulmaqdis dengan rasa hina dan memohon keampunan menjadi sebab kepada pengampunan. Dia telah menjadikan kecintaan kepada Ahlulbait sebagai sebab kepada pengampunan.

4. Al Hakim menerusi Al Mustadrak telah meriwayatkan hadis yang beliau sahihkan berdasarkan syarat Bukhari dan Muslim, dari Ibnu Abbas, Rasul bersabda: Bintang-bintang adalah penyelamat bagi makhluk bumi dari kesesatan. Dan Ahlulbaitku adalah penyelamat untuk umatku dari perselisihan. Apabila kaum-kaum telah berselisih, maka mereka berpecah menjadi pengikut iblis.

  • Ihya Ul Mayyit: As Suyuthi no 21
  • Sawaiq Al muhriqah: hal 138

Penggunaan bintang sebagai medium penunjuk arah samada bagi para pelayar ataupun para musafir memang tidak dapat diragukan lagi. Sekali lagi di sini, Rasulullah(sawa) dengan indahnya menyamakan Ahlulbait baginda dengan bintang-bintang, sebagai panduan kepada umat baginda, dari ancaman kesesatan. Amat malang sekali, jika umat beliau dari dahulu lagi berpandukan kepada “bintang-bintang” ini. maka tidak akan wujud masalah kesatuan seperti sekarang, yang mana ramai dari kita menjadi pengikut iblis.

5. At Tabrani menukilkan riwayat dari Hassan bin Ali, Rasul bersabda: Kekalkanlah kecintaan terhadap kami Ahlulbait. Kerana sesiapa yang menghadap Allah dengan mencintai kami akan masuk syurga melalui syafaat kami. Demi Dia yang jiwa ku di genggamannya, bahawa sesungguhnya tidak bermanfaat satu amalan seorang hamba melainkan dengan mengenali hak kami.

  • Ihya ul Mayyit: as Suyuthi no 18
  • As sawaiq al Muhriqah hal 198
  • Yanabi Al Mawaddah: hal 293.323.326 dan 364
  • Majma uz Zawaid: 9/172

Dalam artikel Tawalla dan Tabbara, saya ada ceritakan tentang hak Ahlulbait(as) ke atas kita. Betapa beratnya hak ini, sehinggakan Rasulullah mengatakan amalan seorang hamba hanya diterima jika hak Ahlulbait dikenali. Apakah hak Ahlulbait, secara ringkasnya, dan mengikut pamahanam saya yang jahil ini, hak Ahlulbait ialah:

  • Hak untuk memimpin kita
  • Hak untuk ditaati oleh kita
  • Hak untuk dicintai oleh kita(tawalla)
  • Hak untuk membenci musuh mereka oleh kita(Tabbarra)
  • dan banyak lagi, hehe

Saya juga ingin menerangkan, adakah cukup kita dikatakan mencintai Ahlulbait(as) hanya dengan sekadar menyatakan, meluahkan dan memberitahu di mulut bahawa kita mencintai mereka? Tidak..oh tidak!!

Apabila saya katakan saya mencintai ibu saya maka

  • saya akan ikut cakap beliau
  • tidak menderhaka
  • menunaikan hak kita kepada mereka
  • tidak menyakiti beliau dengan kata-kata kasar
  • tidak bersahabat dengan orang yang memusuhi atau menyakiti beliau
  • mencintai atau menyukai orang yang beliau sukai

Begitu jugalah dengan rasa cinta kita kepada Ahlulbait. Pengucapan rasa cinta bukan sekadar dimulut, tetapi harus dibuktikan dengan perbuatan dan perlakuan. Malangnya inilah yang dilakukan oleh pelakon-pelakon handalan dari puak nasibi yang menentang Ahlulbait. Bolehkah..layakkah kita dikatakan mencintai Ahlulbait jika dalam masa yang sama kita:

  • Tidak mengenali mereka?(Duh!! Bodoh betul bercinta dengan stranger)
  • Redha akan musuh-musuh yang menyakiti dan membunuh mereka( Radhiallahu anhu kepada Muawiyah? oh no..Yazid..lebih lagi la)
  • Tidak mencintai orang-orang yang  mereka cintai.(kenal tak kalian siapa Miqdad(ra)? Salman(ra)? Abu Dzar(ra)?)
  • Menconteng arang ke muka mereka.(Mengaku sebagai Syiah, tetapi bertenggek sana sini dengan perempuan, berkelakuan tidak senonoh, sehingga orang mengata kepada ajaran Para Imam(as).
  • Tidak mengikut ajaran mereka.(Kamu solat ikut cara siapa, hukum-hukum fiqh berdasarkan ajaran siapa? Diorang kata jangan makan sotong, makan jugak)

Fikirkan sendiri.

6. Sesiapa yang berhasrat mahu hidup dan matinya seperti ku, dan memasuki syurga yang dijanjikan tuhanku iaitu syurga abadi, maka hendaklah ia mengambil Ali dan zuriatnya sebagai pemimpinnya, Sesungguhnya mereka tidak akan mengeluarkan kalian dari pintu hidayah dan tidak juga memasukkan kalian ke dalam pintu kesesatan.

  • Sahih Bukhari 5/65
  • Sahih Muslim 2/51
  • Kanz al Ummal: Hadis no 2578

Tidak perlu komen dengan dalil yang begitu jelas ini.

7. Letakkanlah Ahlulbait ku disisi kalian seperti kedudukan kepala pada jasad dan kedudukan 2 biji mata pada kepala. Kepala tidak bermanfaat menunjuk jalan jika tanpa 2 biji mata.

  • Majma ul Zawaid 9/172

Segala puji bagi Allah swt yang meletakkan hujah kami di buku pihak lawan. Syukur kepada Allah, inilah yang kami pegang. Lihatlah wahai ikhwan, nas dan dalil untuk berpegang teguh kepada Ahlulbait cukup banyak sekali. Tetapi adakah kalian cukup berani untuk menerimanya, dan menolak amalan nenek moyang kamu?

Cukuplah setakat ini bagi orang-orang yang berfikir. Salam alaikum dan solawat

.

Abu Bakar dan Umar ibn Khattab sangat berambisi menggantikan Rasulullah. Mereka melakukan Kolusi, Konspirasi, Kecurangan dengan semua cara; termasuk tidak mentaati Rasulullah; ketika Rasulullah hendak membuat surat wasiat. Kaum Syiah menolak BIDAH yang bernama Khalifah Islamiyyah (Kerajaan Islam); sehingga Kaum Syiah tidak mengakui Abu Bakr, Umar ibn Khattab dan Uthman ibn Affan sebagai Khalifah (raja yang beragama Islam); karena Kaum Syiah memperjuangkan negara IMAMAH

Golongan Suni sama sekali tidak mengakui kedudukan Ali Bin Abi Thalib sebagai Wasiy Nabi SAW, bahkan menurut mereka Wasiy Nabi SAW adalah seseorang yang dipilih/diangkat atas kesepakatan umat, dan yang pertama adalah Abu Bakar yang dipilih/diangkat di Balai Pertemuan Bani Saidah di Saqifah.

Khalifah artinya pengganti Nabi yang harus muncul segera setelah wafatnya Nabi tanpa jeda apapun. Nabi menyatakan bahwa 12 khalifah tersebut mencakup sampai hari kebangkitan ! Kaum muslimin, di dalam kitab shahih mereka, telah sepakat (ijma’) bahwa Rasulullah saw. telah menyebutkan bahwa jumlah khalifah sesudahnya sebanyak 12 orang  pemimpin / Imam. Menurut syi’ah mereka berasal dari keturunan Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra Binti Muhammad SAW.

Menurut sejarah selama pemerintahan dinasti Umayah dan Abasiyah, kesemua Imam 12 dan pengikut-pengikutnya diburu untuk dibunuh. Dalam suasana genting ini ramai ulama syi’ah terpaksa menyembunyikan keimanan mereka.

Bahwasanya Golongan Suni tidak mengakui pengangkatan Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah pengganti Nabi SAW tidaklah menjadikan pengangkatan itu menjadi tidak ada. Karena bukti hadist dan sejarah tetap menunjukkan Nabi Muhammad SAW telah mengangkat anggota keluarga-nya sebagai Penerus/Pengganti/Wasiy bagi umatnya.

Baginda Ali As menjelaskan mengapa dirinya tidak angkat senjata. Hal itu disebabkan karena beliau sendiri, sebagaimana yang dijelaskan, “Saya melihat dan mendapatkan bahwa tidak ada pendukung bagi aku kecuali keluarga saya; maka aku hindarkan mereka dari terjerumus ke dalam kematian. Aku terus menutup mata saya walaupun kelilipan. Aku minum walaupun kerongkongan terteguk. Aku bersabar walaupun susah bernapas dan walaupun harus menelan jadam sebagai makanan.”[ Nahj al-Balâgha, Khutbah 36, hal. 73.]

Akan tetapi Baginda Ali As sendiri senantiasa menyampaikan keluhan dan protes (terhadap proses perampasan khilafah ini) pada masa Abu Bakar dan setelahnya.

Peristiwa Imam Ali membai’at Abubakar secara terpaksa, dan Imam Hasan berdamai dengan Mu’awiyah secara terpaksa tidaklah menjadikan pengangkatan 12 imam ahlulbait  menjadi Penerus/Pengganti (wasiy) Beliau SAW untuk memimpin umat menjadi tidak ada karena Imam Ali dan Imam Hasan tetap berkeyakinan bahwa Imamah adalah haknya.

Ali tetap berkeyakinan bahwa jabatan kekhalifahan adalah haknya. Hal ini dapat dilihat setelah ia dibaiat 25 tahun kemudian dalam sebuah pidatonya yang terkenal dengan asySyiqsyiqiyyah: “Demi Allah, putra Abu Quhafah (Abu Bakar) telah mengenakan busana (kekhalifahan) itu, padahal ia mengetahui dengan yakinnya bahwa kedudukan saya sehubungan (kekhalifahan) itu sama seperti hubungan sumbu dengan roda ..Saya menyaksikan perampasan akan warisan saya. Tatkala yang pertama (Abu Bakar) meninggal ia menyodorkan kekhalifahan itu kepada Ibnu Khaththab sendiri.”

Ia juga mengingatkan para sahabat, yang ia kumpulkan di pekarangan mesjid, akan pidato Rasulullah di Ghadir Khumm yang berbunyi: ‘Barangsiapa menganggap aku sebagai pemimpinnya maka ‘Ali juga adalah pemimpinnya. Ya Allah cintailah siapa yang mencintainya dan musuhilah siapa yang memusuhinya’. Abu Bakar dan ‘Umar pada waktu itu datang memberi selamat kepadanya.

Riwayat yang menyatakan Imam Ali membaiat Abu Bakar setelah enam bulan adalah riwayat shahih dan tsabit dari kitab yang mu’tabar di sisi para ulama yaitu Shahih Bukhari. Tidak ada keraguan akan keshahihan riwayat ini. Dalam riwayat shahih dan tsabit dari Aisyah sebelumnya bahwa baiat Imam Ali kepada Abu Bakar terjadi setelah kematian Sayyidah Fathimah [‘alaihis salam] yaitu setelah enam bulan

Ada  dua  pilihan  bagi  Imam Ali :

1. Memerangi Abubakar cs dengan resiko ISLAM  hancur  binasa karena MUSUH  MUSUH  Imam Ali  dan  MUSUH MUSUH  ABUBAKAR  Cs telah mengepung mereka !! Pada peristiwa penyerangan Musailamah, Imam Ali as membaiat Abu Bakar untuk langgengnya Islam.

Beladzuri dalam menjelaskan sebab mengapa Imam Ali memberikan baiat berkata, “Pasca wafatnya Rasulullah Saw dimana sebagian suku Arab telah murtad, Usman datang ke hadapan Ali dan berkata, “Wahai Putra Paman! Selama Anda tidak memberikan baiat tiada seorang pun yang akan pergi berperang melawan musuh.” Usman senantiasa membicarakan hal ini dengan Ali hingga pada akhirnya Baginda Ali As memberikan baiat kepada Abu Bakar.”

kondisi masyarakat Islam pasca wafatnya Rasulullah menuntut kesabaran lebih tinggi nilainya ketimbang keberanian. Beliau mengetahui bahwa dalam kondisi seperti ini bahwa menghunus pedang akan lebih banyak dimanfaatkan oleh musuh-musuh Islam untuk melenyapkan dan mencerabut Islam hingga ke akar-akarnya. Karena itu, kemaslahatan pribadi dikorbankan untuk kemaslahatan yang lebih penting yaitu asas Islam.

Mengingat maslahat umat Islam menuntut agar beliau mengalah demi meraih maslahat Islam yang lebih abadi. Sebab eksistensi Islam sedang terancam dengan maraknya kaum murtad yang meninggalkan agama Islam dan berniat untuk menyerang kota suci Madinah dan memerangi kaum Muslim!

2. Membai’at Abubakar  secara the facto (taqiyah terpaksa)  agar  Islam tetap hidup dimuka bumi ini… Tanpa membai’at  secara THE JURE

‘Ali membaiat Abu Bakar adalah untuk membesarkan hati kaum Muslimin dan menyelesaikan keresahan kaum Muslimin yang sedang menghadapi musibah murtadnya sebagian kabilah Arab namun ‘Ali tetap berkeyakinan bahwa Imamah adalah haknya

Hadis riwayat Bukhari no. 4240-4241  dibawah ini juga disebutkan dalam Shahih Muslim 3/1380 no 1759 dan Shahih Ibnu Hibban 11/152 no 4823. Dari hadis yang panjang di atas terdapat bukti nyata kalau Imam Ali membaiat Abu Bakar setelah enam bulan yaitu setelah wafatnya Sayyidah Fathimah [‘alaihis salam] :

Telah menceritakan kepada kami Yahyaa bin Bukair yang berkata telah menceritakan kepada kami Al-Laits dari ‘Uqail dari Ibnu Syihaab dari ‘Urwah dari ‘Aaisyah Bahwasannya Faathimah [‘alaihis-salaam] binti Nabi [shallallaahu ‘alaihi wa sallam] mengutus utusan kepada Abu Bakr meminta warisannya dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dari harta fa’i yang Allah berikan kepada beliau di Madinah dan Fadak, serta sisa seperlima ghanimah Khaibar. Abu Bakr berkata ‘Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda ‘Kami tidak diwarisi, segala yang kami tinggalkan hanya sebagai sedekah”. Hanya saja, keluarga Muhammad [shallallahu 'alaihi wasallam] makan dari harta ini’. Dan demi Allah, aku tidak akan merubah sedikitpun shadaqah Rasulullah [shallallaahu 'alaihi wa sallam] dari keadaannya semula sebagaimana harta itu dikelola semasa Rasulullah [shallallaahu 'alaihi wa sallam], dan akan aku kelola sebagaimana Rasulullah mengelola. Maka Abu Bakr enggan menyerahkan sedikitpun kepada Fathimah sehingga Fathimah marah kepada Abu Bakr dalam masalah ini. Fathimah akhirnya mengabaikan Abu Bakr dan tak pernah mengajaknya bicara hingga ia meninggal. Dan ia hidup enam bulan sepeninggal Nabi [shallallaahu 'alaihi wa sallam]. Ketika wafat, ia dimandikan oleh suaminya, Aliy, ketika malam hari, dan ‘Aliy tidak memberitahukan perihal meninggalnya kepada Abu Bakr.

Padahal semasa Faathimah hidup, Aliy dituakan oleh masyarakat tetapi, ketika Faathimah wafat, ‘Aliy memungkiri penghormatan orang-orang kepadanya, dan ia lebih cenderung berdamai dengan Abu Bakr dan berbaiat kepadanya, meskipun ia sendiri tidak berbaiat di bulan-bulan itu. ‘Aliy kemudian mengutus seorang utusan kepada Abu Bakar yang inti pesannya  ‘Tolong datang kepada kami, dan jangan seorangpun bersamamu!’. Ucapan ‘Aliy ini karena ia tidak suka jika Umar turut hadir. Namun ‘Umar berkata ‘Tidak, demi Allah, jangan engkau temui mereka sendirian’. Abu Bakr berkata ‘Kalian tidak tahu apa yang akan mereka lakukan terhadapku. Demi Allah, aku sajalah yang menemui mereka.’ Abu Bakr lantas menemui mereka.

‘Aliy mengucapkan syahadat dan berkata ”Kami tahu keutamaanmu dan apa yang telah Allah kurniakan kepadamu. Kami tidak mendengki kebaikan yang telah Allah berikan padamu, namun engkau telah sewenang-wenang dalam memperlakukan kami. Kami berpandangan, kami lebih berhak karena kedekatan kekerabatan kami dari Rasulullah [shallallaahu 'alaihi wa sallam’].

 Hingga kemudian kedua mata Abu Bakr menangis. Ketika Abu Bakr bicara, ia berkata “Demi Yang jiwaku ada di tangan-Nya, kekerabatan Rasulullah lebih aku cintai daripada aku menyambung kekerabatanku sendiri. Adapun perselisihan antara aku dan kalian dalam perkara ini, sebenarnya aku selalu berusaha berbuat kebaikan. Tidaklah kutinggalkan sebuah perkara yang kulihat Rasulullah [shallallahu 'alaihi wa sallam] melakukannya, melainkan aku melakukannya juga’.

Kemudian ‘Aliy berkata kepada Abu Bakr ‘Waktu baiat kepadamu adalah nanti sore’. Ketika Abu Bakr telah shalat Dhuhur, ia naik mimbar. Ia ucapkan syahadat, lalu ia menjelaskan permasalahan ‘Aliy dan ketidakikutsertaannya dari bai’at serta alasannya. ‘Aliy kemudian beristighfar dan mengucapkan syahadat, lalu mengemukakan keagungan hak Abu Bakar, dan ia menceritakan bahwa apa yang ia lakukan tidak sampai membuatnya dengki kepada Abu Bakar. Tidak pula sampai mengingkari keutamaan yang telah Allah berikan kepada Abu Bakr. Ia berkata “Hanya saja, kami berpandangan bahwa kami lebih berhak  dalam masalah ini namun Abu Bakr telah bertindak sewenang-wenang terhadap kami sehingga kami pun merasa marah terhadapnya”.

Kaum muslimin pun bergembira atas pernyataan ‘Aliy dan berkata “Engkau benar”. Sehingga kaum muslimin semakin dekat dengan ‘Aliy ketika ‘Aliy mengembalikan keadaan menjadi baik” [Shahih Bukhaari no. 4240-4241].

Hadis yang dijadikan hujjah oleh penyebar syubhat ini adalah hadis Buraidah ketika ia menceritakan soal para sahabat yang merendahkan Imam Ali. Hadis tersebut bukan diucapkan di Ghadir Khum dan tentu saja Rasulullah SAW akan marah kepada sahabat yang menjelekkan Imam Ali karena Imam Ali adalah pemimpin setiap mukmin (semua sahabat Nabi) sepeninggal Nabi SAW . Disini Rasulullah SAW mengingatkan Buraidah dan sahabat lain yang ikut di Yaman agar berhenti dari sikap mereka karena Imam Ali adalah pemimpin bagi setiap mukmin sepeninggal Nabi SAW.

Dari Abdullah bin Buraidah dari ayahnya Buraidah yang berkata “Rasulullah SAW mengirim dua utusan ke Yaman, salah satunya dipimpin Ali bin Abi Thalib dan yang lainnya dipimpin Khalid bin Walid. Beliau SAW bersabda “bila kalian bertemu maka yang jadi pemimpin adalah Ali dan bila kalian berpisah maka masing-masing dari kalian memimpin pasukannya. Buraidah berkata “kami bertemu dengan bani Zaid dari penduduk Yaman kami berperang dan kaum muslimin menang dari kaum musyrikin. Kami membunuh banyak orang dan menawan banyak orang kemudian Ali memilih seorang wanita diantara para tawanan untuk dirinya. Buraidah berkata “Khalid bin Walid mengirim surat kepada Rasulullah SAW memberitahukan hal itu. Ketika aku datang kepada Rasulullah SAW, aku serahkan surat itu, surat itu dibacakan lalu aku melihat wajah Rasulullah SAW yang marah kemudian aku berkata “Wahai Rasulullah SAW, aku meminta perlindungan kepadamu sebab Engkau sendiri yang mengutusku bersama seorang laki-laki dan memerintahkan untuk mentaatinya dan aku hanya melaksanakan tugasku karena diutus. Rasulullah SAW bersabda “Jangan membenci Ali, karena ia bagian dariKu dan Aku bagian darinya dan Ia adalah pemimpin kalian sepeninggalKu, ia bagian dariKu dan Aku bagian darinya dan Ia adalah pemimpin kalian sepeninggalKu. [Musnad Ahmad tahqiq Syaikh Ahmad Syakir dan Hamzah Zain hadis no 22908 dan dinyatakan shahih].

hadis Buraidah menjadi penguat bahwa Imam Ali adalah pemimpin bagi setiap mukmin (semua sahabat Nabi)  sepeninggal Nabi SAW dan sungguh tidak berguna syubhat dari para pengingkar.

Para sahabat Nabi memberikan ucapan selamat kepada Ali dengan mengatakan “Amirul Mukminin (Pemimpin Orang Beriman) kepadanya “. Sehingga tidak ada ruang lagi untuk ragu berkenaan dengan arti kata “mawla “. Meskipun penduduk Madinah berdiam diri selama peristiwa yang menahan Ali dari kekhalifahan, masih banyak yang menyaksikan peristiwa ini,

Hassan bin Tsabit, pujangga masyhur Nabi, menggubah sebuah syair berkenaan dengan peristiwa al-Ghadir pada hari itu. Ia bersenandung: “Lalu ia bersabda kepadanya: “Berdirilah, Wahai Ali, karena aku rela menjadikanmu sebagai Imam dan Penunjuk Jalan selepasku.”

Dalam bait syairnya ini, Hassan bin Tsabit telah memahami istilah “mawla” sebagai arti dari “Imam dan Penunjuk Jalan” yang secara jelas membuktikan bahwa Nabi Saw berbicara tentang penggantinya, dan ia sama sekali tidak memperkenalkan Ali sebagai “temannya” melainkan sebagai seorang “pemimpin.”

kaum tradisional Arab segan mempercayakan ali yang  muda dan belia yang belum berpengalaman untuk memikul tanggung jawab yang besar..

Imam Ali merasa dirinya yang paling berhak tetapi orang-orang malah membaiat Abu Bakar. Hal ini telah diisyaratkan oleh Rasulullah SAW

Telah menceritakan kepada kami Abu Hafsh Umar bin Ahmad Al Jumahi di Makkah yang berkata telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdul Aziz yang berkata telah menceritakan kepada kami Amru bin ‘Aun yang berkata telah menceritakan kepada kami Husyaim dari Ismail bin Salim dari Abi Idris Al Awdi dari Ali Radhiyallahu ‘anhu yang berkata “Diantara yang dijanjikan Nabi SAW kepadaku bahwa Umat akan mengkhianatiku sepeninggal Beliau”. [Al Mustadrak 3/150 no 4676 dishahihkan oleh Al Hakim dan Adz Dzahabi]

Selama masa 6 bulan itu ternyata pemerintahan Abu Bakar mengalami berbagai masalah seperti adanya “kaum yang murtad” dan adanya Nabi palsu Musailamah Al Kadzdzab beserta pengikutnya. Berbagai masalah ini dapat dimanfaatkan oleh orang-orang munafik untuk memecah belah umat. Merekapun juga melihat tindakan memisahkan diri yang dilakukan Imam Ali dan hal ini bisa saja dimanfaatkan oleh mereka untuk menyebarkan fitnah perpecahan.

Oleh karena itulah setelah 6 bulan Imam Ali memutuskan memberikan baiat untuk menutup celah yang akan dimanfaatkan oleh kaum munafik dan baiat ini adalah demi keutuhan umat islam. Inilah yang dimaksud Imam Ali bahwa ia mengalami penderitaan dan kesulitan sepeninggal Nabi SAW [hal ini telah diberitakan oleh Nabi SAW kepada Imam Ali]. Di satu sisi Beliaulah yang paling berhak tetapi beliau tetap memberikan baiat demi keutuhan umat islam.

Telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin Sahl seorang faqih dari Bukhara yang berkata telah menceritakan kepada kami Sahl bin Mutawwakil yang berkata telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yunus yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudhail dari Abi Hayyan At Taimi dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas RA yang berkata Nabi SAW berkata kepada Ali “Sesungguhnya kamu akan mengalami kesukaran [bersusah payah] sepeninggalKu”. Ali bertanya “apakah dalam keselamatan agamaku?”. Nabi SAW menjawab “dalam keselamatan agamamu” [Mustadrak Ash Shahihain 3/151 no 4677 dishahihkan oleh Al Hakim dan Adz Dzahabi]

Pernyataan Imam Ali kalau Beliau adalah yang paling berhak sepeninggal Nabi SAW jelas berdasarkan apa yang telah dikatakan oleh Nabi SAW sendiri, diantaranya

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya bin Hamad dari Abi ‘Awanah dari Yahya bin Sulaim Abi Balj dari ‘Amr bin Maimun dari Ibnu Abbas yang berkata Rasulullah SAW bersabda kepada Ali “KedudukanMu di sisiKu sama seperti kedudukan Harun di sisi Musa hanya saja Engkau bukan seorang Nabi. Sesungguhnya tidak sepatutnya Aku pergi kecuali Engkau sebagai KhalifahKu untuk setiap mukmin sepeninggalKu” [As Sunnah Ibnu Abi Ashim no 1188 dengan sanad yang shahih]

Sepeninggal Abu Bakar, Umar ditunjuk Abu Bakar untuk menggantikannya dan orang-orangpun membaiat Umar. Disini Imam Ali melihat betapa orang-orang menerima keputusan Abu Bakar dan membaiat Umar padahal Imam Ali merasa bahwa Beliau adalah yang paling berhak. Hal inilah yang dinyatakan oleh Beliau sebagai penderitaan dan kesulitan tetapi beliau tetap bersabar dan ikut memberikan baiat pula kepada Umar agar tidak menimbulkan perpecahan di kalangan kaum muslimin.

Sepeninggal Umar, beliau memerintahkan pemilihan khalifah melalui Majelis syura yang ia bentuk. Terdapat berbagai riwayat seputar masalah ini yang terkadang “agak kontroversi” tetapi singkat cerita majelis tersebut mengangkat Utsman sebagai khalifah. Sekali lagi Imam Ali melihat orang-orang memilih Utsman padahal Imam Ali merasa yang paling berhak. Hal inilah yang dinyatakan Imam Ali sebagai penderitaan dan kesulitan yang beliau alami. Tidak ada satupun dikalangan umat yang mengalami penderitaan dan kesulitan seperti itu. Beliau yang berhak tetapi beliau tetap bersabar dan menerima. Tentu saja akhlak seperti ini hanya dimiliki orang-orang khusus.

Walaupun Imam  Ali membai’at ABUBAKAR SECARA THE FACTO, Bukan berarti menyetujui SECARA YURiDIS kekhalifahan non ahlul bait. Pembaiatan ‘Ali bukanlah pengakuan akan keabsahan kekhalifahan Abu Bakar, hal itu dilakukan semata-mata untuk menjaga Islam dan kemaslahatan Islam.

Khalifah = Pengganti.

Khalifah Rasulullah = Pengganti Utusan Tuhan, ini hak yuridis Imam Ali.

Imam Ali As memberikan baiat kepada beberapa orang tertentu lantaran kemaslahatan yang bernilai seperti menjaga agama Tuhan dan segala jerih payah Rasulullah.

Imam Ali bahwa berulang kali menyampaikan protes terhadap situasi dan kondisi di masa tiga khalifah namun upaya maksimal beliau dikerahkan untuk menjaga dan menguatkan pemerintahan Islam di hadapan musuh-musuhnya.

Yang benar adalah bahwa kapan saja ada kesempatan, Imam Ali selalu membicarakan haknya sebagai Khalifah Rasulullah Saw.Sunni mencatat peristiwa 25 tahun setelah hari Ghadir Kum

Tidak seorang pun yang menyalahkan Ali karena klaim atau menyodorkan bukti-buktinya hingga hari ini. Ia sendiri berkata: “Tidak seorang pun yang dapat disalahkan atas terlambatnya (menjaga) ia meraih haknya, namun kesalahan terletak pada orang yang mengambil sesuatu yang bukan haknya.”Nahj al-Balaghah, ucapan # 166.]

Pada tahun 35 H, sewaktu Imam berada di Kufah, ia mendengar bahwa orang-orang sangsi atas klaimnya sebagai lebih utama dan lebih prioritas atas ketiga khalifah sebelumnya. Oleh karena itu, ia mendatangi majelis di Masjid dan memohon kepada saksi-saksi yang hadir di Ghadir Khum  untuk menyatakan kebenaran deklarasi Nabi Saw tentang dirinya sebagai “mawla (tuan, pemimpin, junjungan) bagi mereka yang menjadikan Nabi sebagai mawlanya sendiri. Dalam banyak kitab, kita mempunyai dua puluh empat sahabat Nabi yang menyatakan kesaksian akan kebenaran klaim Imam Ali ini. Sumber-sumber lain seperti Musnad Ahmad bin Hanbal dan Majmâ az-Zawâid karya al-Haytami menyebutkan sebanyak tiga puluh.[ Peristiwa Kufa ini telah diriwayatkan oleh empat sahabat Nabi Saw dan empat belas thabi’in, dan telah tercatat pada kebanyakan buku-buku sunan dan sejarah. Lihat al-Amini, al-Ghadir, vol. 1 (Tehran: Muassasat al-Muwahidi, 1976) hal-hal. 166-186.]

Dalam beberapa kesempatan, Imam Ali memohon kepada para sahabat Nabi untuk bersaksi atas deklarasi al-Ghadir ini. Di sini saya akan menyebutkan satu contoh perisitiwa yang terjadi di Kufah selama masa kekhalifaan Ali, sekitar dua puluh lima tahun setelah Nabi Saw wafat.

Imam Ali mendengar bahwa beberapa orang meragukan klaimnya atas keutamaan khalifah-khalifah sebelumnya, oleh karena itu, ia datang pada sebuah perhelatan yang berlangsung di masjid dan memohon para saksi yang hadir dalam acara Ghadir Khum untuk membenarkan apa yang disampaikan oleh Nabi ihwal Nabi sebagai mawla mereka dan seluruh kaum mukmin. Beberapa orang sahabat berdiri dan membenarkan klaim Ali ini. Kami akan menyebutkan dua puluh empat nama sahabat yang membuat kesaksian atas klaim Imam Ali, meskipun sumber-sumber yang lain seperti Musnad Ahmad dan Majma’ az-Zawaid milik Hafidh al-Haytami malah menyebutkan sebanyak tiga puluh orang. Perlu untuk diingat bahwa kejadian ini berlangsung 25 tahun setelah peristiwa GhadirKhum, dan selama masa ini, ratusan saksi telah wafat atau gugur di medang perang selama masa dua khalifah yang pertama. Sebagai tambahan atas kenyataan ini bahwa kejadian ini berlangsung di Kufah yang jauh dari pusat tempat sahabat bermukim, Madinah. Kejadian ini beralngsung di Kufah pada tahun 35 H yang riwayatnya sendiri dinukil oleh 4 orang sahabat dan 14 tabii’in dan telah tercatat dalam sebagian besar kitab-kitab sejarah dan hadis.[ Untuk referensi lebih lengkap, lihat al-Amini, al-Ghadir, jilid. 1 (Tehran: Muassasatul Muwahhidi, 1976) hal. 166-168.]

Imam Ali Mengakui Kepemimpinannya : Hujjah Hadis Ghadir Khum

Hadis Ghadir Khum yang menunjukkan kepemimpinan Imam Ali adalah salah satu hadis shahih yang sering dijadikan hujjah oleh kaum Syiah dan ditolak oleh kaum Sunni. Kebanyakan mereka yang mengingkari hadis ini membuat takwilan-takwilan agar bisa disesuaikan dengan keyakinan mahzabnya. Padahal Imam Ali sendiri mengakui kalau hadis ini adalah hujjah bagi kepemimpinan Beliau. Hal ini terbukti dalam riwayat-riwayat yang shahih dimana Imam Ali ketika menjadi khalifah mengumpulkan orang-orang di tanah lapang dan berbicara meminta kesaksian soal hadis Ghadir Khum.

Dari Sa’id bin Wahb dan Zaid bin Yutsai’ keduanya berkata “Ali pernah meminta kesaksian orang-orang di tanah lapang “Siapa yang telah mendengar Rasulullah SAW bersabda pada hari Ghadir Khum maka berdirilah?. Enam orang dari arah Sa’id pun berdiri dan enam orang lainnya dari arah Za’id juga berdiri. Mereka bersaksi bahwa sesungguhnya mereka pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda kepada Ali di Ghadir Khum “Bukankah Allah lebih berhak terhadap kaum mukminin”. Mereka menjawab “benar”. Beliau bersabda “Ya Allah barangsiapa yang aku menjadi pemimpinnya maka Ali pun menjadi pemimpinnya, dukunglah orang yang mendukung Ali dan musuhilah orang yang memusuhinya”. [Musnad Ahmad 1/118 no 950 dinyatakan shahih oleh Syaikh Ahmad Syakir]

Sebagian orang membuat takwilan batil bahwa kata mawla dalam hadis Ghadir Khum bukan menunjukkan kepemimpinan tetapi menunjukkan persahabatan atauyang dicintai, takwilan ini hanyalah dibuat-buat. Jika memang menunjukkanpersahabatan atau yang dicintai maka mengapa ada sahabat Nabi yang merasa ada sesuatu yang mengganjal di hatinya ketika mendengar kata-kata Imam Ali di atas.

Adanya keraguan di hati seorang sahabat Nabi menyiratkan bahwa Imam Ali mengakui hadis ini sebagai hujjah kepemimpinan. Maka dari itu sahabat tersebut merasakan sesuatu yang mengganjal di hatinya karena hujjah hadis tersebut memberatkan kepemimpinan ketiga khalifah sebelumnya. Sungguh tidak mungkin ada keraguan di hati sahabat Nabi kalau hadis tersebut menunjukkan persahabatan atau yang dicintai.

Dari Abu Thufail yang berkata “Ali mengumpulkan orang-orang di tanah lapang dan berkata “Aku meminta dengan nama Allah agar setiap muslim yang mendengar Rasulullah SAW bersabda di Ghadir khum terhadap apa yang telah didengarnya. Ketika ia berdiri maka berdirilah tigapuluh orang dari mereka. Abu Nu’aim berkata “kemudian berdirilah banyak orang dan memberi kesaksian yaitu ketika Rasulullah SAW memegang tangannya (Ali) dan bersabda kepada manusia “Bukankah kalian mengetahui bahwa saya lebih berhak atas kaum mu’min lebih dari diri mereka sendiri”. Para sahabat menjawab “benar ya Rasulullah”. Beliau bersabda “barang siapa yang menjadikan Aku sebagai pemimpinnya maka Ali pun adalah pemimpinnya dukunglah orang yang mendukungnya dan musuhilah orang yang memusuhinya. Abu Thufail berkata “ketika itu muncul sesuatu yang mengganjal dalam hatiku maka aku pun menemui Zaid bin Arqam dan berkata kepadanya “sesungguhnya aku mendengar Ali RA berkata begini begitu, Zaid berkata “Apa yang patut diingkari, aku mendengar Rasulullah SAW berkata seperti itu tentangnya”.[Musnad Ahmad 4/370 no 19321 dengan sanad yang shahih seperti yang dikatakan Syaikh Syu’aib Al Arnauth dan Tahdzib Khasa’is An Nasa’i no 88 dishahihkan oleh Syaikh Abu Ishaq Al Huwaini]

Kata mawla dalam hadis ini sama halnya dengan kata waliy yang berarti pemimpin, kata waly biasa dipakai oleh sahabat untuk menunjukkan kepemimpinan seperti yang dikatakan Abu Bakar dalam khutbahnya. Inilah salah satu hadis Ghadir Khum dengan lafaz Waly.

Sebagai kesimpulannya, perilaku penduduk Madinah selepas wafatnya Rasulullah tidak secara langsung menghapus kisah al-Ghadir.

Peristiwa Imam Ali membai’at Abubakar dan Imam Hasan berdamai dengan Mu’awiyah tidaklah menjadikan pengangkatan 12 imam ahlulbait menjadi tidak ada karena Imam Ali dan Imam Hasan tetap berkeyakinan bahwa Imamah adalah haknya.

Menurut berbagai penelaahan sejarah, keturunan Hasan bin Ali banyak yang selamat dengan melarikan diri ke arah Barat hingga mencapai Maroko. Sampai sekarang, keluarga kerajaan Marokomengklaim keturunan dari Hasan melalui cucu beliau Idris bin Abdullah, karena itu keluarga mereka dinamakan dinasti Idrissiyyah.[6] Selain itu pula, ulama-ulama besar seperti Syekh Abu Hasan Syadzili Maroko (pendiri Tarekat Syadziliyah) yang nasabnya sampai kepada Hasan melalui cucunya Isa bin Muhammad.

Mesir dan Iraq adalah negeri yang ulama Ahlul Baitnya banyak dari keturunan Hasan dan HusainAbdul Qadir Jaelani seorang ulama yang dianggap sebagai Sufi terbesar dengan julukan ‘Mawar kota Baghdad’ adalah keturunan Hasan melalui cucunya Abdullah bin Hasan al-Muthanna.

Persia hingga ke arah Timur seperti India sampai Asia Tenggara (termasuk Indonesia) didominasi para ulama dari keturunan Husain bin Ali. Bedanya, ulama Ahlul Bait di tanah Parsi banyak dari keturunan Musa al-Kadzim bin Ja’far ash-Shadiq seperti Ayatullah Ruhollah Khomeini karena itu ia juga bergelar Al-Musawi karena keturunan dari Imam Musa al-Kadzim, sedangkan di Hadramaut(Yaman), Gujarat dan Malabar (India) hingga Indonesia ulama Ahlul Baitnya banyak dari keturunan Ali Uraidhi bin Jafar ash-Shadiq terutama melalui jalur Syekh Muhammad Shahib Mirbath dan Imam Muhammad Faqih Muqaddam ulama dan sufi terbesar Hadramaut di zamannya (abad 12-13M).

Walaupun sebagian besar keturunan Ahlul Bait yang ada di Nusantara termasuk Indonesia adalah dari Keturunan Husain bin Ali namun terdapat juga yang merupakan Keturunan dari Hasan bin Ali, bahkan Keturunan Hasan bin Ali yang ada di Nusantara ini sempat memegang pemerintahan secara turun temurun di beberapa Kesultanan di Nusantara ini, yaitu Kesultanan Brunei,Kesultanan Sambas dan Kesultanan Sulu sebagaimana yang tercantum dalam Batu Tarsilah / Prasasti dan beberapa Makam dan juga Manuskrip yang tersebar di Brunei, Sambas (Kalimantan Barat) dan Sulu (Selatan Filipina), yaitu melalui jalur Sultan Syarif Ali (Sultan Brunei ke-3) yang merupakan keturunan dari Syarif Abu Nu’may Al Awwal. Sementara dari keturunan Husain bin Alimemegang kesultan di Jawa bagian barat, yang berasal dari Syarif Hidayatulah, yaitu Kesultanan Cirebon (yang kemudian pecah menjadi tiga kerajaan, Kesultanan Kasepuhan, Kanoman dan Kacirebonan) dan Kesultanan Banten. Sebagai kerurunan Syarif Hidayatulah keturunan merekapun berhak menyandang gelar Syarif/Syarifah, namun dari keturunan Syarif Hidayatullah gelar tersebut akhirnya dilokalisasi menjadi Pangeran, Tubagus/Ratu (Banten) dan Raden (Sukabumi, Bogor).

Abu Bakar dan Umar ibn Khattab sangat berambisi menggantikan Rasulullah. Mereka melakukan Kolusi, Konspirasi, Kecurangan dengan semua cara; termasuk tidak mentaati Rasulullah; ketika Rasulullah hendak membuat surat wasiat. Kaum Syiah menolak BIDAH yang bernama Khalifah Islamiyyah (Kerajaan Islam); sehingga Kaum Syiah tidak mengakui Abu Bakr, Umar ibn Khattab dan Uthman ibn Affan sebagai Khalifah (raja yang beragama Islam); karena Kaum Syiah memperjuangkan negara IMAMAH

Golongan Suni sama sekali tidak mengakui kedudukan Ali Bin Abi Thalib sebagai Wasiy Nabi SAW, bahkan menurut mereka Wasiy Nabi SAW adalah seseorang yang dipilih/diangkat atas kesepakatan umat, dan yang pertama adalah Abu Bakar yang dipilih/diangkat di Balai Pertemuan Bani Saidah di Saqifah.

Khalifah artinya pengganti Nabi yang harus muncul segera setelah wafatnya Nabi tanpa jeda apapun. Nabi menyatakan bahwa 12 khalifah tersebut mencakup sampai hari kebangkitan ! Kaum muslimin, di dalam kitab shahih mereka, telah sepakat (ijma’) bahwa Rasulullah saw. telah menyebutkan bahwa jumlah khalifah sesudahnya sebanyak 12 orang  pemimpin / Imam. Menurut syi’ah mereka berasal dari keturunan Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra Binti Muhammad SAW.

Menurut sejarah selama pemerintahan dinasti Umayah dan Abasiyah, kesemua Imam 12 dan pengikut-pengikutnya diburu untuk dibunuh. Dalam suasana genting ini ramai ulama syi’ah terpaksa menyembunyikan keimanan mereka.

Bahwasanya Golongan Suni tidak mengakui pengangkatan Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah pengganti Nabi SAW tidaklah menjadikan pengangkatan itu menjadi tidak ada. Karena bukti hadist dan sejarah tetap menunjukkan Nabi Muhammad SAW telah mengangkat anggota keluarga-nya sebagai Penerus/Pengganti/Wasiy bagi umatnya.

Baginda Ali As menjelaskan mengapa dirinya tidak angkat senjata. Hal itu disebabkan karena beliau sendiri, sebagaimana yang dijelaskan, “Saya melihat dan mendapatkan bahwa tidak ada pendukung bagi aku kecuali keluarga saya; maka aku hindarkan mereka dari terjerumus ke dalam kematian. Aku terus menutup mata saya walaupun kelilipan. Aku minum walaupun kerongkongan terteguk. Aku bersabar walaupun susah bernapas dan walaupun harus menelan jadam sebagai makanan.”[ Nahj al-Balâgha, Khutbah 36, hal. 73.]

Akan tetapi Baginda Ali As sendiri senantiasa menyampaikan keluhan dan protes (terhadap proses perampasan khilafah ini) pada masa Abu Bakar dan setelahnya.

Peristiwa Imam Ali membai’at Abubakar secara terpaksa, dan Imam Hasan berdamai dengan Mu’awiyah secara terpaksa tidaklah menjadikan pengangkatan 12 imam ahlulbait  menjadi Penerus/Pengganti (wasiy) Beliau SAW untuk memimpin umat menjadi tidak ada karena Imam Ali dan Imam Hasan tetap berkeyakinan bahwa Imamah adalah haknya.

Ali tetap berkeyakinan bahwa jabatan kekhalifahan adalah haknya. Hal ini dapat dilihat setelah ia dibaiat 25 tahun kemudian dalam sebuah pidatonya yang terkenal dengan asySyiqsyiqiyyah: “Demi Allah, putra Abu Quhafah (Abu Bakar) telah mengenakan busana (kekhalifahan) itu, padahal ia mengetahui dengan yakinnya bahwa kedudukan saya sehubungan (kekhalifahan) itu sama seperti hubungan sumbu dengan roda ..Saya menyaksikan perampasan akan warisan saya. Tatkala yang pertama (Abu Bakar) meninggal ia menyodorkan kekhalifahan itu kepada Ibnu Khaththab sendiri.”

Ia juga mengingatkan para sahabat, yang ia kumpulkan di pekarangan mesjid, akan pidato Rasulullah di Ghadir Khumm yang berbunyi: ‘Barangsiapa menganggap aku sebagai pemimpinnya maka ‘Ali juga adalah pemimpinnya. Ya Allah cintailah siapa yang mencintainya dan musuhilah siapa yang memusuhinya’. Abu Bakar dan ‘Umar pada waktu itu datang memberi selamat kepadanya.

Riwayat yang menyatakan Imam Ali membaiat Abu Bakar setelah enam bulan adalah riwayat shahih dan tsabit dari kitab yang mu’tabar di sisi para ulama yaitu Shahih Bukhari. Tidak ada keraguan akan keshahihan riwayat ini. Dalam riwayat shahih dan tsabit dari Aisyah sebelumnya bahwa baiat Imam Ali kepada Abu Bakar terjadi setelah kematian Sayyidah Fathimah [‘alaihis salam] yaitu setelah enam bulan

Ada  dua  pilihan  bagi  Imam Ali :

1. Memerangi Abubakar cs dengan resiko ISLAM  hancur  binasa karena MUSUH  MUSUH  Imam Ali  dan  MUSUH MUSUH  ABUBAKAR  Cs telah mengepung mereka !! Pada peristiwa penyerangan Musailamah, Imam Ali as membaiat Abu Bakar untuk langgengnya Islam.

Beladzuri dalam menjelaskan sebab mengapa Imam Ali memberikan baiat berkata, “Pasca wafatnya Rasulullah Saw dimana sebagian suku Arab telah murtad, Usman datang ke hadapan Ali dan berkata, “Wahai Putra Paman! Selama Anda tidak memberikan baiat tiada seorang pun yang akan pergi berperang melawan musuh.” Usman senantiasa membicarakan hal ini dengan Ali hingga pada akhirnya Baginda Ali As memberikan baiat kepada Abu Bakar.”

kondisi masyarakat Islam pasca wafatnya Rasulullah menuntut kesabaran lebih tinggi nilainya ketimbang keberanian. Beliau mengetahui bahwa dalam kondisi seperti ini bahwa menghunus pedang akan lebih banyak dimanfaatkan oleh musuh-musuh Islam untuk melenyapkan dan mencerabut Islam hingga ke akar-akarnya. Karena itu, kemaslahatan pribadi dikorbankan untuk kemaslahatan yang lebih penting yaitu asas Islam.

Mengingat maslahat umat Islam menuntut agar beliau mengalah demi meraih maslahat Islam yang lebih abadi. Sebab eksistensi Islam sedang terancam dengan maraknya kaum murtad yang meninggalkan agama Islam dan berniat untuk menyerang kota suci Madinah dan memerangi kaum Muslim!

2. Membai’at Abubakar  secara the facto (taqiyah terpaksa)  agar  Islam tetap hidup dimuka bumi ini… Tanpa membai’at  secara THE JURE

‘Ali membaiat Abu Bakar adalah untuk membesarkan hati kaum Muslimin dan menyelesaikan keresahan kaum Muslimin yang sedang menghadapi musibah murtadnya sebagian kabilah Arab namun ‘Ali tetap berkeyakinan bahwa Imamah adalah haknya

Hadis riwayat Bukhari no. 4240-4241  dibawah ini juga disebutkan dalam Shahih Muslim 3/1380 no 1759 dan Shahih Ibnu Hibban 11/152 no 4823. Dari hadis yang panjang di atas terdapat bukti nyata kalau Imam Ali membaiat Abu Bakar setelah enam bulan yaitu setelah wafatnya Sayyidah Fathimah [‘alaihis salam] :

Telah menceritakan kepada kami Yahyaa bin Bukair yang berkata telah menceritakan kepada kami Al-Laits dari ‘Uqail dari Ibnu Syihaab dari ‘Urwah dari ‘Aaisyah Bahwasannya Faathimah [‘alaihis-salaam] binti Nabi [shallallaahu ‘alaihi wa sallam] mengutus utusan kepada Abu Bakr meminta warisannya dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dari harta fa’i yang Allah berikan kepada beliau di Madinah dan Fadak, serta sisa seperlima ghanimah Khaibar. Abu Bakr berkata ‘Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda ‘Kami tidak diwarisi, segala yang kami tinggalkan hanya sebagai sedekah”. Hanya saja, keluarga Muhammad [shallallahu 'alaihi wasallam] makan dari harta ini’. Dan demi Allah, aku tidak akan merubah sedikitpun shadaqah Rasulullah [shallallaahu 'alaihi wa sallam] dari keadaannya semula sebagaimana harta itu dikelola semasa Rasulullah [shallallaahu 'alaihi wa sallam], dan akan aku kelola sebagaimana Rasulullah mengelola. Maka Abu Bakr enggan menyerahkan sedikitpun kepada Fathimah sehingga Fathimah marah kepada Abu Bakr dalam masalah ini. Fathimah akhirnya mengabaikan Abu Bakr dan tak pernah mengajaknya bicara hingga ia meninggal. Dan ia hidup enam bulan sepeninggal Nabi [shallallaahu 'alaihi wa sallam]. Ketika wafat, ia dimandikan oleh suaminya, Aliy, ketika malam hari, dan ‘Aliy tidak memberitahukan perihal meninggalnya kepada Abu Bakr.

Padahal semasa Faathimah hidup, Aliy dituakan oleh masyarakat tetapi, ketika Faathimah wafat, ‘Aliy memungkiri penghormatan orang-orang kepadanya, dan ia lebih cenderung berdamai dengan Abu Bakr dan berbaiat kepadanya, meskipun ia sendiri tidak berbaiat di bulan-bulan itu. ‘Aliy kemudian mengutus seorang utusan kepada Abu Bakar yang inti pesannya  ‘Tolong datang kepada kami, dan jangan seorangpun bersamamu!’. Ucapan ‘Aliy ini karena ia tidak suka jika Umar turut hadir. Namun ‘Umar berkata ‘Tidak, demi Allah, jangan engkau temui mereka sendirian’. Abu Bakr berkata ‘Kalian tidak tahu apa yang akan mereka lakukan terhadapku. Demi Allah, aku sajalah yang menemui mereka.’ Abu Bakr lantas menemui mereka.

‘Aliy mengucapkan syahadat dan berkata ”Kami tahu keutamaanmu dan apa yang telah Allah kurniakan kepadamu. Kami tidak mendengki kebaikan yang telah Allah berikan padamu, namun engkau telah sewenang-wenang dalam memperlakukan kami. Kami berpandangan, kami lebih berhak karena kedekatan kekerabatan kami dari Rasulullah [shallallaahu 'alaihi wa sallam’].

 Hingga kemudian kedua mata Abu Bakr menangis. Ketika Abu Bakr bicara, ia berkata “Demi Yang jiwaku ada di tangan-Nya, kekerabatan Rasulullah lebih aku cintai daripada aku menyambung kekerabatanku sendiri. Adapun perselisihan antara aku dan kalian dalam perkara ini, sebenarnya aku selalu berusaha berbuat kebaikan. Tidaklah kutinggalkan sebuah perkara yang kulihat Rasulullah [shallallahu 'alaihi wa sallam] melakukannya, melainkan aku melakukannya juga’.

Kemudian ‘Aliy berkata kepada Abu Bakr ‘Waktu baiat kepadamu adalah nanti sore’. Ketika Abu Bakr telah shalat Dhuhur, ia naik mimbar. Ia ucapkan syahadat, lalu ia menjelaskan permasalahan ‘Aliy dan ketidakikutsertaannya dari bai’at serta alasannya. ‘Aliy kemudian beristighfar dan mengucapkan syahadat, lalu mengemukakan keagungan hak Abu Bakar, dan ia menceritakan bahwa apa yang ia lakukan tidak sampai membuatnya dengki kepada Abu Bakar. Tidak pula sampai mengingkari keutamaan yang telah Allah berikan kepada Abu Bakr. Ia berkata “Hanya saja, kami berpandangan bahwa kami lebih berhak  dalam masalah ini namun Abu Bakr telah bertindak sewenang-wenang terhadap kami sehingga kami pun merasa marah terhadapnya”.

Kaum muslimin pun bergembira atas pernyataan ‘Aliy dan berkata “Engkau benar”. Sehingga kaum muslimin semakin dekat dengan ‘Aliy ketika ‘Aliy mengembalikan keadaan menjadi baik” [Shahih Bukhaari no. 4240-4241].

Hadis yang dijadikan hujjah oleh penyebar syubhat ini adalah hadis Buraidah ketika ia menceritakan soal para sahabat yang merendahkan Imam Ali. Hadis tersebut bukan diucapkan di Ghadir Khum dan tentu saja Rasulullah SAW akan marah kepada sahabat yang menjelekkan Imam Ali karena Imam Ali adalah pemimpin setiap mukmin (semua sahabat Nabi) sepeninggal Nabi SAW . Disini Rasulullah SAW mengingatkan Buraidah dan sahabat lain yang ikut di Yaman agar berhenti dari sikap mereka karena Imam Ali adalah pemimpin bagi setiap mukmin sepeninggal Nabi SAW.

Dari Abdullah bin Buraidah dari ayahnya Buraidah yang berkata “Rasulullah SAW mengirim dua utusan ke Yaman, salah satunya dipimpin Ali bin Abi Thalib dan yang lainnya dipimpin Khalid bin Walid. Beliau SAW bersabda “bila kalian bertemu maka yang jadi pemimpin adalah Ali dan bila kalian berpisah maka masing-masing dari kalian memimpin pasukannya. Buraidah berkata “kami bertemu dengan bani Zaid dari penduduk Yaman kami berperang dan kaum muslimin menang dari kaum musyrikin. Kami membunuh banyak orang dan menawan banyak orang kemudian Ali memilih seorang wanita diantara para tawanan untuk dirinya. Buraidah berkata “Khalid bin Walid mengirim surat kepada Rasulullah SAW memberitahukan hal itu. Ketika aku datang kepada Rasulullah SAW, aku serahkan surat itu, surat itu dibacakan lalu aku melihat wajah Rasulullah SAW yang marah kemudian aku berkata “Wahai Rasulullah SAW, aku meminta perlindungan kepadamu sebab Engkau sendiri yang mengutusku bersama seorang laki-laki dan memerintahkan untuk mentaatinya dan aku hanya melaksanakan tugasku karena diutus. Rasulullah SAW bersabda “Jangan membenci Ali, karena ia bagian dariKu dan Aku bagian darinya dan Ia adalah pemimpin kalian sepeninggalKu, ia bagian dariKu dan Aku bagian darinya dan Ia adalah pemimpin kalian sepeninggalKu. [Musnad Ahmad tahqiq Syaikh Ahmad Syakir dan Hamzah Zain hadis no 22908 dan dinyatakan shahih].

hadis Buraidah menjadi penguat bahwa Imam Ali adalah pemimpin bagi setiap mukmin (semua sahabat Nabi)  sepeninggal Nabi SAW dan sungguh tidak berguna syubhat dari para pengingkar.

Para sahabat Nabi memberikan ucapan selamat kepada Ali dengan mengatakan “Amirul Mukminin (Pemimpin Orang Beriman) kepadanya “. Sehingga tidak ada ruang lagi untuk ragu berkenaan dengan arti kata “mawla “. Meskipun penduduk Madinah berdiam diri selama peristiwa yang menahan Ali dari kekhalifahan, masih banyak yang menyaksikan peristiwa ini,

Hassan bin Tsabit, pujangga masyhur Nabi, menggubah sebuah syair berkenaan dengan peristiwa al-Ghadir pada hari itu. Ia bersenandung: “Lalu ia bersabda kepadanya: “Berdirilah, Wahai Ali, karena aku rela menjadikanmu sebagai Imam dan Penunjuk Jalan selepasku.”

Dalam bait syairnya ini, Hassan bin Tsabit telah memahami istilah “mawla” sebagai arti dari “Imam dan Penunjuk Jalan” yang secara jelas membuktikan bahwa Nabi Saw berbicara tentang penggantinya, dan ia sama sekali tidak memperkenalkan Ali sebagai “temannya” melainkan sebagai seorang “pemimpin.”

kaum tradisional Arab segan mempercayakan ali yang  muda dan belia yang belum berpengalaman untuk memikul tanggung jawab yang besar..

Imam Ali merasa dirinya yang paling berhak tetapi orang-orang malah membaiat Abu Bakar. Hal ini telah diisyaratkan oleh Rasulullah SAW

Telah menceritakan kepada kami Abu Hafsh Umar bin Ahmad Al Jumahi di Makkah yang berkata telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdul Aziz yang berkata telah menceritakan kepada kami Amru bin ‘Aun yang berkata telah menceritakan kepada kami Husyaim dari Ismail bin Salim dari Abi Idris Al Awdi dari Ali Radhiyallahu ‘anhu yang berkata “Diantara yang dijanjikan Nabi SAW kepadaku bahwa Umat akan mengkhianatiku sepeninggal Beliau”. [Al Mustadrak 3/150 no 4676 dishahihkan oleh Al Hakim dan Adz Dzahabi]

Selama masa 6 bulan itu ternyata pemerintahan Abu Bakar mengalami berbagai masalah seperti adanya “kaum yang murtad” dan adanya Nabi palsu Musailamah Al Kadzdzab beserta pengikutnya. Berbagai masalah ini dapat dimanfaatkan oleh orang-orang munafik untuk memecah belah umat. Merekapun juga melihat tindakan memisahkan diri yang dilakukan Imam Ali dan hal ini bisa saja dimanfaatkan oleh mereka untuk menyebarkan fitnah perpecahan.

Oleh karena itulah setelah 6 bulan Imam Ali memutuskan memberikan baiat untuk menutup celah yang akan dimanfaatkan oleh kaum munafik dan baiat ini adalah demi keutuhan umat islam. Inilah yang dimaksud Imam Ali bahwa ia mengalami penderitaan dan kesulitan sepeninggal Nabi SAW [hal ini telah diberitakan oleh Nabi SAW kepada Imam Ali]. Di satu sisi Beliaulah yang paling berhak tetapi beliau tetap memberikan baiat demi keutuhan umat islam.

Telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin Sahl seorang faqih dari Bukhara yang berkata telah menceritakan kepada kami Sahl bin Mutawwakil yang berkata telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yunus yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudhail dari Abi Hayyan At Taimi dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas RA yang berkata Nabi SAW berkata kepada Ali “Sesungguhnya kamu akan mengalami kesukaran [bersusah payah] sepeninggalKu”. Ali bertanya “apakah dalam keselamatan agamaku?”. Nabi SAW menjawab “dalam keselamatan agamamu” [Mustadrak Ash Shahihain 3/151 no 4677 dishahihkan oleh Al Hakim dan Adz Dzahabi]

Pernyataan Imam Ali kalau Beliau adalah yang paling berhak sepeninggal Nabi SAW jelas berdasarkan apa yang telah dikatakan oleh Nabi SAW sendiri, diantaranya

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya bin Hamad dari Abi ‘Awanah dari Yahya bin Sulaim Abi Balj dari ‘Amr bin Maimun dari Ibnu Abbas yang berkata Rasulullah SAW bersabda kepada Ali “KedudukanMu di sisiKu sama seperti kedudukan Harun di sisi Musa hanya saja Engkau bukan seorang Nabi. Sesungguhnya tidak sepatutnya Aku pergi kecuali Engkau sebagai KhalifahKu untuk setiap mukmin sepeninggalKu” [As Sunnah Ibnu Abi Ashim no 1188 dengan sanad yang shahih]

Sepeninggal Abu Bakar, Umar ditunjuk Abu Bakar untuk menggantikannya dan orang-orangpun membaiat Umar. Disini Imam Ali melihat betapa orang-orang menerima keputusan Abu Bakar dan membaiat Umar padahal Imam Ali merasa bahwa Beliau adalah yang paling berhak. Hal inilah yang dinyatakan oleh Beliau sebagai penderitaan dan kesulitan tetapi beliau tetap bersabar dan ikut memberikan baiat pula kepada Umar agar tidak menimbulkan perpecahan di kalangan kaum muslimin.

Sepeninggal Umar, beliau memerintahkan pemilihan khalifah melalui Majelis syura yang ia bentuk. Terdapat berbagai riwayat seputar masalah ini yang terkadang “agak kontroversi” tetapi singkat cerita majelis tersebut mengangkat Utsman sebagai khalifah. Sekali lagi Imam Ali melihat orang-orang memilih Utsman padahal Imam Ali merasa yang paling berhak. Hal inilah yang dinyatakan Imam Ali sebagai penderitaan dan kesulitan yang beliau alami. Tidak ada satupun dikalangan umat yang mengalami penderitaan dan kesulitan seperti itu. Beliau yang berhak tetapi beliau tetap bersabar dan menerima. Tentu saja akhlak seperti ini hanya dimiliki orang-orang khusus.

Walaupun Imam  Ali membai’at ABUBAKAR SECARA THE FACTO, Bukan berarti menyetujui SECARA YURiDIS kekhalifahan non ahlul bait. Pembaiatan ‘Ali bukanlah pengakuan akan keabsahan kekhalifahan Abu Bakar, hal itu dilakukan semata-mata untuk menjaga Islam dan kemaslahatan Islam.

Khalifah = Pengganti.

Khalifah Rasulullah = Pengganti Utusan Tuhan, ini hak yuridis Imam Ali.

Imam Ali As memberikan baiat kepada beberapa orang tertentu lantaran kemaslahatan yang bernilai seperti menjaga agama Tuhan dan segala jerih payah Rasulullah.

Imam Ali bahwa berulang kali menyampaikan protes terhadap situasi dan kondisi di masa tiga khalifah namun upaya maksimal beliau dikerahkan untuk menjaga dan menguatkan pemerintahan Islam di hadapan musuh-musuhnya.

Yang benar adalah bahwa kapan saja ada kesempatan, Imam Ali selalu membicarakan haknya sebagai Khalifah Rasulullah Saw.Sunni mencatat peristiwa 25 tahun setelah hari Ghadir Kum

Tidak seorang pun yang menyalahkan Ali karena klaim atau menyodorkan bukti-buktinya hingga hari ini. Ia sendiri berkata: “Tidak seorang pun yang dapat disalahkan atas terlambatnya (menjaga) ia meraih haknya, namun kesalahan terletak pada orang yang mengambil sesuatu yang bukan haknya.”Nahj al-Balaghah, ucapan # 166.]

Pada tahun 35 H, sewaktu Imam berada di Kufah, ia mendengar bahwa orang-orang sangsi atas klaimnya sebagai lebih utama dan lebih prioritas atas ketiga khalifah sebelumnya. Oleh karena itu, ia mendatangi majelis di Masjid dan memohon kepada saksi-saksi yang hadir di Ghadir Khum  untuk menyatakan kebenaran deklarasi Nabi Saw tentang dirinya sebagai “mawla (tuan, pemimpin, junjungan) bagi mereka yang menjadikan Nabi sebagai mawlanya sendiri. Dalam banyak kitab, kita mempunyai dua puluh empat sahabat Nabi yang menyatakan kesaksian akan kebenaran klaim Imam Ali ini. Sumber-sumber lain seperti Musnad Ahmad bin Hanbal dan Majmâ az-Zawâid karya al-Haytami menyebutkan sebanyak tiga puluh.[ Peristiwa Kufa ini telah diriwayatkan oleh empat sahabat Nabi Saw dan empat belas thabi’in, dan telah tercatat pada kebanyakan buku-buku sunan dan sejarah. Lihat al-Amini, al-Ghadir, vol. 1 (Tehran: Muassasat al-Muwahidi, 1976) hal-hal. 166-186.]

Dalam beberapa kesempatan, Imam Ali memohon kepada para sahabat Nabi untuk bersaksi atas deklarasi al-Ghadir ini. Di sini saya akan menyebutkan satu contoh perisitiwa yang terjadi di Kufah selama masa kekhalifaan Ali, sekitar dua puluh lima tahun setelah Nabi Saw wafat.

Imam Ali mendengar bahwa beberapa orang meragukan klaimnya atas keutamaan khalifah-khalifah sebelumnya, oleh karena itu, ia datang pada sebuah perhelatan yang berlangsung di masjid dan memohon para saksi yang hadir dalam acara Ghadir Khum untuk membenarkan apa yang disampaikan oleh Nabi ihwal Nabi sebagai mawla mereka dan seluruh kaum mukmin. Beberapa orang sahabat berdiri dan membenarkan klaim Ali ini. Kami akan menyebutkan dua puluh empat nama sahabat yang membuat kesaksian atas klaim Imam Ali, meskipun sumber-sumber yang lain seperti Musnad Ahmad dan Majma’ az-Zawaid milik Hafidh al-Haytami malah menyebutkan sebanyak tiga puluh orang. Perlu untuk diingat bahwa kejadian ini berlangsung 25 tahun setelah peristiwa GhadirKhum, dan selama masa ini, ratusan saksi telah wafat atau gugur di medang perang selama masa dua khalifah yang pertama. Sebagai tambahan atas kenyataan ini bahwa kejadian ini berlangsung di Kufah yang jauh dari pusat tempat sahabat bermukim, Madinah. Kejadian ini beralngsung di Kufah pada tahun 35 H yang riwayatnya sendiri dinukil oleh 4 orang sahabat dan 14 tabii’in dan telah tercatat dalam sebagian besar kitab-kitab sejarah dan hadis.[ Untuk referensi lebih lengkap, lihat al-Amini, al-Ghadir, jilid. 1 (Tehran: Muassasatul Muwahhidi, 1976) hal. 166-168.]

Imam Ali Mengakui Kepemimpinannya : Hujjah Hadis Ghadir Khum

Hadis Ghadir Khum yang menunjukkan kepemimpinan Imam Ali adalah salah satu hadis shahih yang sering dijadikan hujjah oleh kaum Syiah dan ditolak oleh kaum Sunni. Kebanyakan mereka yang mengingkari hadis ini membuat takwilan-takwilan agar bisa disesuaikan dengan keyakinan mahzabnya. Padahal Imam Ali sendiri mengakui kalau hadis ini adalah hujjah bagi kepemimpinan Beliau. Hal ini terbukti dalam riwayat-riwayat yang shahih dimana Imam Ali ketika menjadi khalifah mengumpulkan orang-orang di tanah lapang dan berbicara meminta kesaksian soal hadis Ghadir Khum.

Dari Sa’id bin Wahb dan Zaid bin Yutsai’ keduanya berkata “Ali pernah meminta kesaksian orang-orang di tanah lapang “Siapa yang telah mendengar Rasulullah SAW bersabda pada hari Ghadir Khum maka berdirilah?. Enam orang dari arah Sa’id pun berdiri dan enam orang lainnya dari arah Za’id juga berdiri. Mereka bersaksi bahwa sesungguhnya mereka pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda kepada Ali di Ghadir Khum “Bukankah Allah lebih berhak terhadap kaum mukminin”. Mereka menjawab “benar”. Beliau bersabda “Ya Allah barangsiapa yang aku menjadi pemimpinnya maka Ali pun menjadi pemimpinnya, dukunglah orang yang mendukung Ali dan musuhilah orang yang memusuhinya”. [Musnad Ahmad 1/118 no 950 dinyatakan shahih oleh Syaikh Ahmad Syakir]

Sebagian orang membuat takwilan batil bahwa kata mawla dalam hadis Ghadir Khum bukan menunjukkan kepemimpinan tetapi menunjukkan persahabatan atau yang dicintai, takwilan ini hanyalah dibuat-buat. Jika memang menunjukkan persahabatan atau yang dicintai maka mengapa ada sahabat Nabi yang merasa ada sesuatu yang mengganjal di hatinya ketika mendengar kata-kata Imam Ali di atas.

Adanya keraguan di hati seorang sahabat Nabi menyiratkan bahwa Imam Ali mengakui hadis ini sebagai hujjah kepemimpinan. Maka dari itu sahabat tersebut merasakan sesuatu yang mengganjal di hatinya karena hujjah hadis tersebut memberatkan kepemimpinan ketiga khalifah sebelumnya. Sungguh tidak mungkin ada keraguan di hati sahabat Nabi kalau hadis tersebut menunjukkan persahabatan atau yang dicintai.

Dari Abu Thufail yang berkata “Ali mengumpulkan orang-orang di tanah lapang dan berkata “Aku meminta dengan nama Allah agar setiap muslim yang mendengar Rasulullah SAW bersabda di Ghadir khum terhadap apa yang telah didengarnya. Ketika ia berdiri maka berdirilah tigapuluh orang dari mereka. Abu Nu’aim berkata “kemudian berdirilah banyak orang dan memberi kesaksian yaitu ketika Rasulullah SAW memegang tangannya (Ali) dan bersabda kepada manusia “Bukankah kalian mengetahui bahwa saya lebih berhak atas kaum mu’min lebih dari diri mereka sendiri”. Para sahabat menjawab “benar ya Rasulullah”. Beliau bersabda “barang siapa yang menjadikan Aku sebagai pemimpinnya maka Ali pun adalah pemimpinnya dukunglah orang yang mendukungnya dan musuhilah orang yang memusuhinya. Abu Thufail berkata “ketika itu muncul sesuatu yang mengganjal dalam hatiku maka aku pun menemui Zaid bin Arqam dan berkata kepadanya “sesungguhnya aku mendengar Ali RA berkata begini begitu, Zaid berkata “Apa yang patut diingkari, aku mendengar Rasulullah SAW berkata seperti itu tentangnya”.[Musnad Ahmad 4/370 no 19321 dengan sanad yang shahih seperti yang dikatakan Syaikh Syu’aib Al Arnauth dan Tahdzib Khasa’is An Nasa’i no 88 dishahihkan oleh Syaikh Abu Ishaq Al Huwaini]

Kata mawla dalam hadis ini sama halnya dengan kata waliy yang berarti pemimpin, kata waly biasa dipakai oleh sahabat untuk menunjukkan kepemimpinan seperti yang dikatakan Abu Bakar dalam khutbahnya. Inilah salah satu hadis Ghadir Khum dengan lafaz Waly.

Sebagai kesimpulannya, perilaku penduduk Madinah selepas wafatnya Rasulullah tidak secara langsung menghapus kisah al-Ghadir.

Definisi ‘khalifah’
English to English
noun
1. the civil and religious leader of a Muslim state considered to be a representative of Allah on earth Terjemahkan

Indonesian to Indonesian

wakil (pengganti) Nabi Muhammad saw. setelah Nabi wafat (dl urusan negara dan agama) yg melaksanakan syariat (hukum) Islam dl kehidupan negara;

Definisi Khilafah/Khalifah

Pengertian Bahasa Khilafah

Khilafah menurut makna bahasa merupakan mashdar dari fi’il madhi khalafa, berarti : menggantikan atau menempati tempatnya (Munawwir, 1984:390). Makna khilafah menurut Ibrahim Anis (1972) adalah orang yang datang setelah orang lain lalu menggantikan tempatnya (jaa`a ba’dahu fa-shaara makaanahu) (Al-Mu’jam Al-Wasith, I/251).

Dalam kitab Mu’jam Maqayis Al-Lughah (II/210) dinyatakan, khilafah dikaitkan dengan penggantian karena orang yang kedua datang setelah orang yang pertama dan menggantikan kedudukannya. Menurut Imam Ath-Thabari, makna bahasa inilah yang menjadi alasan mengapa as-sulthan al-a’zham (penguasa besar umat Islam) disebut sebagai khalifah, karena dia menggantikan penguasa sebelumnya, lalu menggantikan posisinya (Tafsir Ath-Thabari, I/199).

Imam Al-Qalqasyandi mengatakan, menurut tradisi umum istilah khilafah kemudian digunakan untuk menyebut kepemimpinan agung (az-za’amah al-uzhma), yaitu kekuasaan umum atas seluruh umat, pelaksanaan urusan-urusan umat, dan pemikulan tugas-tugas mereka (Al-Qalqasyandi, Ma`atsir Al-Inafah fi Ma’alim Al-Khilafah, I/8-9).

Pengertian Syar’i Khilafah Dalam pengertian syariah, Khilafah digunakan untuk menyebut orang yang menggantikan Nabi SAW dalam kepemimpinan Negara Islam (ad-dawlah al-islamiyah) (Al-Baghdadi, 1995:20). Inilah pengertiannya pada masa awal Islam. Kemudian, dalam perkembangan selanjutnya, istilah Khilafah digunakan untuk menyebut Negara Islam itu sendiri (Al-Khalidi, 1980:226). 

Pemahaman ini telah menjadi dasar pembahasan seluruh ulama fiqih siyasah ketika mereka berbicara tentang “Khilafah” atau “Imamah”. Dengan demikian, walaupun secara literal tak ada satu pun ayat Al-Qur`an yang menyebut kata “ad-dawlah al-islamiyah” (negara Islam), bukan berarti dalam Islam tidak ada konsep negara. Atau tidak mewajibkan adanya Negara Islam. Para ulama terdahulu telah membahas konsep negara Islam atau sistem pemerintahan Islam dengan istilah lain yang lebih spesifik, yaitu istilah Khilafah/Imamah atau istilah Darul Islam (Lihat Dr. Sulaiman Ath-Thamawi, As-Sulthat Ats-Tsalats, hal. 245; Dr. Wahbah Az-Zuhaili, Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu, IX/823).

Hanya saja, para ulama mempunyai sudut pandang yang berbeda-beda ketika memandang kedudukan Khilafah (manshib Al-Khilafah). Sebagian ulama memandang Khilafah sebagai penampakan politik (al-mazh-har as-siyasi), yakni sebagai institusi yang menjalankan urusan politik atau yang berkaitan dengan kekuasaan (as-sulthan) dan sistem pemerintahan (nizham al-hukm). Sementara sebagian lainnya memandang Khilafah sebagai penampakan agama (al-mazh-har ad-dini), yakni institusi yang menjalankan urusan agama. Maksudnya, menjalankan urusan di luar bidang kekuasaan atau sistem pemerintahan, misalnya pelaksanaan mu’amalah (seperti perdagangan), al-ahwal asy-syakhshiyyah (hukum keluarga, seperti nikah), dan ibadah-ibadah mahdhah. Ada pula yang berusaha menghimpun dua penampakan ini. Adanya perbedaan sudut pandang inilah yang menyebabkan mengapa para ulama tidak menyepakati satu definisi untuk Khilafah (Al-Khalidi, 1980:227).

Dalam artikel yang lepas, saya telah pun memberikan sedikit mukadimah tentang konsep Imamah dari pandangan Syiah. Saya telah menerangkan bahawa Imamah ialah satu jabatan lantikan Allah swt, untuk memimpin umat Muhammad(sawa) setelah ketiadaan baginda(sawa), untuk menggantikan seluruh tugas baginda dalam segala hal kecuali kenabian.

Saya juga telah menerangkan tentang tugas seorang Imam, yang mana bukan sahaja bersifat politikal, malah juga merangkumi spritual, juga sebagai sumber ilmu bagi semua bidang yang luar dari ilmu agama. Mengikut kami, Syiah kepada Ahlulbait Nabi, semua tugasan ini, di tanggung  oleh Ahlulbait Rasulullah, sebagai Pemimpin Ummah, yang telah dilantik oleh Allah swt sendiri, melalui pengisytiharan Rasulullah(sawa) di banyak tempat dan peristiwa dalam hidup baginda.

Sekarang ini saya akan bawakan perbahasan tentang Ahlulbait, yang mana menjadi sumber dan pegangan akidah bagi kami Syiah, yang mana dari mereka kami mengambil ilmu, dari mereka kami mencontohi sifat mulia dan dari mereka kami mendekatkan diri kepada Allah swt.

Pesan Rasulullah(sawa):

“Wahai manusia! Sesungguhnya aku tinggalkan kalian sesuatu yang jika kalian berpegang kepadanya tidak akan sesat selamanya: Kitab Allah dan itrah, Ahlulbaitku.”

Hadis ini, yang dinamakan sebagai Hadis Tsaqalain, iaitu dua perkara berharga, berat atau penting. Hadis ini diriwayatkan dalam pelbagai versi, tetapi masih mengekalkan matan yang sama, iaitu pesan Rasulullah agar kita berpegang kepada Quran dan Ahlulbait(as), yang mana keduanya digandingkan bersama. Hadis ini juga telah mencapai tingkatan mutawattir dan sahih, dan diriwayatkan dari berbagai sumber Sunni.

  1. Muslim: Sahih Hadis no. 6175-6177
  2. Tarmizi: Sahih Hadis 3786 dan 3788
  3. An Nisai: Khasais Amirul Mukminin Ali No.79
  4. Ahmad: Musnad: 5/181&182 dan 3/26 dan 5/189
  5. Ibnu Abi ‘Asim: As Sunnah no 754
  6. Nuruddin al Haitsami: Majma al Zawaid  Juz 5 hal 166
  7. Ibnu Hajar al Haitsami: Al Sawaiq Al Muhriqah hal 223. 229-230
  8. Al Khateeb al Tabrizi: Misykatul Masabih
  9. Al Hakim: Al mustadrak
  10. At Thabrani: Al Mu’jamul kabir
  11. Al Muttaqi al Hindi: Kanz al Ummal
  12. As Suyuthi: Ihya ul Mayyit bi Fadhail Ahlulbait, Jamius Saghir, Ad Durr al mansur
  13. Ibnu Kasir: Tafsir
  14. Ibnu Saad: Thabaqat Al Kubra
  15. Ibnu Atsir: Jami’ul Usul & Ususdul Ghabah
  16. Ibnu Asakir: Tarikh
  17. An Nabhani:Al Fathul Kabir
  18. Al Khawarizmi: Al Manaqib
  19. Ibnu Hbban: Sahih
  20. Sulaiman Al Bakhi al Hanafi: Al Baihaqi:As Sunan Yanabi Al Mawaddah
  21. Mir Sayyid Ali Hamadani: Mawaddatul Qurba
  22. Hafiz Abu Nuaim Al Isfahani: HIlayatul Awliya

Senarai di atas bukanlah senarai keseluruhan para ulama yang meriwayatkannya, masih banyak lagi yang belum disebutkan. Perlu juga untuk saya sebut bahawa, saya sengaja tidak meletakkan rujukan muka surat kerana buku-buku ini akan berbeza mengikut cetakannya dan pencetaknya.

Hadis Tsaqalain ini diriwayatkan dengan begitu banyak sekali, dengan sanad yang berbeza, membuktikan ramai para sahabat meriwayatkannya. Diantaranya ialah:

  1. Ali Ibn Abi Thalib
  2. Zaid ibn Arqam
  3. Zaid Ibn Tsabit
  4. Abu Said al Khudri
  5. Abu Hurairah
  6. Abdullah Ibn Hanthab
  7. Jabir ibn Abdullah al Ansari
  8. Huzaifah ibn Usaid al Ghifari
  9. Abu Dzar al Ghifari
  10. Anas ibn Malik
  11. Al Bara’ ibn Azib
  12. Huzaifah ibn Yaman
  13. Abu Haitsam ibn at Tihan
  14. Abu Rafi’
  15. Ibnu Abbas
  16. Salman al Farisi
  17. Sa’ad ibn Abi Waqas
  18. Amru ibn al ‘As
  19. Ummu Salamah

Berikut ialah beberapa versi hadis Tsaqalain.

Dari Zaid Ibn Arqam, “Beberapa hari selepas haji terakhir baginda, Rasulullah berhenti untuk memberi khutbah kepada kami di pinggir tempat yang dipanggil Ghadir khum yang terletak diantara Makkah dan Madinah. Beliau memuji Allah dan mengingati Allah, seraya berkata,”Wahai umat ku, bersaksilah! Ku rasakan waktu ku untuku dipanggil telah hampir tiba, dan sungguh,akan ku sahut panggilan itu. Bersaksilah,aku akan meninggalkan pada kamu semua dua benda berharga, yang pertama adalah kitab Allah, yang ada padanya cahaya dan pedoman,yang kedua adalah Ahlul baytku. Dengan nama Allah,aku mengingatkan kamu ttg Ahlul Bayt ku. Dengan nama Allah,aku mengingatkan kamu ttg Ahlul Bayt ku. Dengan nama Allah,aku mengingatkan kamu ttg Ahlul Bayt ku.(3 kali).

Dari Zaid ibn Tsabit, “Sesungguhnya aku meninggalkan buat kamu 2 pemimpin sesudah pemergianku, iaitu Kitab Allah dan keluargaku iaitu Ahlulbait. Keduanya tidak akan terpisah sehingga menemui ku di Al Haudh

Dari Jabir al Ansari, “Wahai manusia! Sesungguhnya aku telah meninggalkan kepada kamu sesuatu yang jika kamu berpegang kepadanya, nescaya kamu tidak akan sesat selamanya, kitab Allah dan Ahlulbaitku.”

Dari Said al Khudri,  dengan pertambahan, “Lihatlah bagaimana kamu memperlakukan keduanya.”

Dari Abdullah ibn Hanthab, dengan ayat Rasulullah(sawa), “Aku akan menyoal kamu tentang dua perkara ini: Al Quran dan itrat ku.”

Inilah serba sedikit yang dapat saya nukilkan versi-versi hadis Tsaqalain. Hadis-hadis ini diisytiharkan sahih oleh ulama-ulama Sunni sendiri, jadi tidak ada keraguan lagi berkaitan kesahihannya. Seorang ulama silam yang memang terkenal sebagai anti Syiah nya, Ibnu Hajar al Haithamidilaporkan menyebut:

“Ketahuilah, bahawa hadis berpegang kepada Ahlulbait telah disampaikan dengan banyak cara. Penyampai hadis ini berjumlah lebih dari 20 orang sahabat Nabi(sawa).”

Beliau juga menambah:

“Terdapat sedikit perbezaan dalam cara hadis ini diriwayatkan. Sebahagian ulama menyatakan bahawa ia telah disampaikan sewaktu Nabi menjalankan haji Wada’ di Arafah. Sebahagian lagi mengatakan ketika di Madinah manakala yang lain dilafazkan di Thaif.” Al Sawaiq al Muhriqah

Ibnu Hajar mengulas, tidak ada perbezaan ketara dalam mengulas hadis ini, kerana dilafazkan di dalam keadaan berbeza. Besar kemungkinan Rasulullah(sawa) telah menyampaikannya secara berulang-ulang agar dapat menampakkan betapa pentingnya kedua-dua gandingan ini kepada para sahabat dan ummah baginda setelah ketiadaan baginda.

Apabila saya mencantumkan semua versi-versi ini, berikut ialah kesimpulan yang dapat saya nukilkan.

  1. Rasulullah(sawa) menggandingkan Al Quran(petunjuk) dengan Ahlulbait baginda, sebagai pengulas kepada petunjuk itu. Kedua-dua ini tidak akan terpisah sehinggalah di akhirat nanti, bermakna gandingan ini akan sentiasa wujud, sebagai pasangan.
  2. Mengikut Ahlulbait tidak akan sesat selamanya, menunjukkan bahawa merekalah penunjuk jalan kebenaran. Merekalah sumber ilmu yang sejati, penerus Sunnah baginda, dan penjaga kepada agama Islam dari segala penambahan dan pengurangan.
  3. Rasulullah(sawa) memberi penekanan Al Quran dan Ahlulbait sebagai gandingan, bukan salah satu dari mereka kerana baginda menggunakan perkataan “dan”. Lihat sahaja bagaimana bodohnya puak nasibi apabila dalam keadaan terdesak mengatakan tafsiran untuk hadis ini ialah  ”taatlah al Quran dan jagalah Ahlulbait ku”

Inilah pegangan Syiah Imamiah. Inilah akidah kami. Kami mempercayai bahawa Rasulullah(sawa) telah meninggalkan Ahlulbait(as) sebagai gandingan kepada Al Quran, agar keduanya menjadi rujukan kepada umatnya sepeninggalan baginda(sawa). Saya telah membincangkan dalam artikel sebelum initentang siapa Ahlulbait, tetapi apakah tanggungjawab kita kepada mereka? Seorang sahabat saya dari Ahlulsunnah mengatakan bahawa:

“Kami seperti Syiah juga menghormati Ahlulbait(as), kami menyayangi mereka dan taat kepada mereka.”

Benar, kami mempercayai bahawa saudara dari Sunni juga menghormati Ahlulbait, tetapi cukupkah sekadar itu? Cukupkah semata-mata bagi kita menghormati Al Quran? Sudah pasti jawapannya tidak mencukupi. Al Quran adalah untuk dibaca, difahami dan dipatuhi segala perintahnya. Dan begitu jugalah tanggungjawab kami kepada Ahlulbait. Konsep ini di namakan Tawalla dan Tabbarra, yang telah saya bincangkan.

Kami mempercayai bahawa Ahlulbait, jika diikuti seratus peratus, maka tidak akan wujud mazhab-mazhab sebagaimana hari ini. Tidak timbul perselisihan yang terlampau ketara. Rujuklah mereka.

Kini timbul satu persoalan baru apabila kita bawakan hadis ini kepada saudara Sunni.

“Yang kami selalu dengan ialah hadis Aku tinggalkan kalian Al Quran dan Sunnah ku.

Ya, ini adalah balasan yang selalu saya dengari dari mereka. Untuk tajuk hadis Al Quran dan Sunnah ku ini, akan saya bincang di satu artikel yang khas untuknya kerana saya tidak mahu memanjangkan artikel ini dengan topik luaran, bagaimanapun saya akan ceritakan secara simple di sini.

  1. Hadis itu dhaif dari sanad dan matannya.
  2. Hadis itu juga tidak diriwayatkan di dalam Sihah Sittah Ahlulsunnah wal Jamaah.
  3. Jika pun boleh mahu dipakai, hadis ini hanya boleh digunakan untuk Sunnah asli yang diambil dari para Imam Ahlulbait(as).

Petunjuk dari Quran tentang kepimpinan Ahlulbait(as)

“Jikalau Allah swt memang memerintahkan agar kita mentaati Ahlulbait, mengapa tak letak sahaja dalam Al Quran terang-terang, kan senang? Kan tak jadi perselisihan?

Ayat seperti ini selalu didengari dari orang-orang yang sudah mula memahami sedikit sebanyak tentang tanggungjawab kita terhadap Tsaqalain. Mereka berasa hairan dan takjub, tentang sebab Allah swt tidak meletakkan perkara yang begitu penting ini di dalam kitab agung, rujukan utama seorang Muslim. Saya katakan kepada mereka:

Cara solat pun Allah swt tidak ceritakan secara detail dalam Quran, cuma beberapa hint tentang pergerakannya sahaja, seperti rukuk dan sujud.

Jika semuanya disuapkan kepada kita, maka tidak terjadilah dunia ini sebagai tempat ujian kepada kita. Allah swt mahu kita mengkaji kebenaran, mahu kita berusaha dan struggle dalam mencari jalannya. Barulah Allah swt berikan jawapannya. Firman Allah swt:

Dan orang-orang yang berjihad dalam mencari kebenaran itu, pasti Allah akan tunjukkan kepada jalan kami, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang berbuat kebenaran. Al Quran(29:69)

Di dalam artikel saya, Mencapai kebenaran, saya telah menyebutkan beberapa ciri yang perlu ada pada seseorang sebagai persediaan dalam mengkaji dan memahami kebenaran serta menerimanya. Bagi orang-orang seperti ini, sudah tentu tiada masalah bagi mereka untuk memahami dan menerima Tsaqalain.

Walaupun tidak disebutkan secara jelas, tetapi Allah swt ada memberi petanda di banyak tempat di dalam Quran dalam mengikuti Ahlulbait(as), serta kewajibannya.

Lihatlah sahaja bagaimana Allah swt telah meninggikan kedudukan mereka dengan menyucikan mereka dengan sesuci-suci pembersihan(33:33), dan memerintahkan kepada kita untuk menyayangi mereka, mencintai mereka sebagai upah kenabian(42:23), dan kemuliaan siapakah yang ditinggikan di dalam ayat Mubahalah?(3:61)

1. Allah swt Berfirman:

“Dan berpegang teguhlah kamu sekalian kepada tali Allah (ugama Islam), dan janganlah kamu bercerai-berai” Al Quran (3:103)

Tafsir Al Kabir, Al Thalabi dengan sanad Aban Bin Taghlab dari Imam Jaafar as Sadiq: “kamilah tali Allah yang dimaksudkan di dalam ayat tersebut.”

  • Al Sawaiq al Muhriqah: Ibnu Hajar al Haithami hal 223
  • Yanabi Al Mawaddah: Al Qunduzi al hanafi hal 139, 328, 356
  • Syawahidul Tanzil: Al Huskaninal Hanafi Hadis bil 177-180

Imam Syafi’i dilaporkan di dalam Rashfatul Sadi, tulisan Imam Abu Bakar Ibn Shihabuddin, sebagai berkata:

“Apabila aku melihat manusia hanyut di dalam lautan kesesatan dan kejahilan akibat dari mazhab mereka, aku menaiki, dengan nama Allah, Bahtera Keselamatan, iaitu, Keluarga Yang Terpilih, Penutup segala Nabi. dan aku memegang keras Tali Allah, iaitu ketaatan kepada mereka, kerana Tuhan telah memerintahkan untuk berpegang kepada Tali itu.”

Lihatlah bagaimana Allah swt mengibaratkan Ahlulbait sebagai Tali Allah, serta memerintahkan agar memegang tali itu sekuat hati. Inilah yang dilakukan oleh kami Syiah kepada Tali Allah.
2. Firman Allah swt:

Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kamu kepada Allah, dan hendaklah kamu berada bersama-sama orang-orang yang benar.Al Quran(9:119)

Ayyuhal ikhwan, siapakah orang-orang yang benar ini, yang  kita harus bersama mereka? Pastilah satu golongan suci yang Allah swt angkat melebihi dari yang lain.

Ibnu Syahri dan Tsa’labi dalam Tafsirnya, meriwayatkan dari Jabir dan Abu Jaafar dari Kalbi dan Abu Soleh dari Ibnu Abbas, As Su’udi dan Ja’far bin Muhammad Al Baqir(as) dan beliau meriwayatkan dari Malik bin Anas yang berasal dari ibnu Umar berkata: Allah swt memerintahkan para sahabat dan semua golongan beriman agar takut kepada Allah. Kemudian beliau berkata “…dan hendaklah kamu bersama orang2 yang benar” bermaksud Muhammad dan Ahlulbait baginda.

  • Syawahidul tanzil:al Hakim al Huskani al Hanafi. Hadis bil. 350-356
  • Kifayatuth Thalib: Al Kanji as Syafii Hal 236. Cetakan Al Haidhariyah
  • Tarikh Dimasyq: Ibnu asakir. Bahagian Terjemahan Ali Ibnu Abi Thalib 2/241. Hadis Bilangan 923
  • Tazkiratul Khawas: Sibt Ibnu Jauzi al Hanafi. Hal 16
  • Al Manaqib:Al Khawarizmi al Hanafi hal 198
  • Yanabi al Mawaddah: Al Qanduzi al Hanafi hal 136 dan 140
  • Ad Dur al mantsur: As Suyuti as Syafi’i 3/390

3. Allah swt turut menyebutkan:

Dan bahawa sesungguhnya inilah jalanKu yang betul lurus, maka hendaklah kamu menurutnya; dan janganlah kamu menurut menurut jalan-jalan lain, kerana jalan-jalan (yang lain itu) mencerai-beraikan kamu dari jalan Allah, Dengan yang demikian itulah Allah perintahkan kamu, supaya kamu bertaqwa. Al Quran(6:153)

Imam al Baqir dan Imam al Sadiq selalu menyebutkan bahawa: Jalan yang lurus ini ialah bersama Imam, dan janganlah mengikuti jalan yang lain(imam-imam lain) kerana mereka akan mengalihkan kamu dari jalan Allah. Jika bukan jalan Ahlulbait, imam mana lagi yang boleh kita katakan sebagai jalan yang lurus? Imam Syafi’i, Hanbali? Mereka saling bercanggah antara satu sama lain dan tiada dalil dari Quran atau hadis yang mengwajibkan kita untuk mengikuti mereka, sedangkan Ahlulbait ialah sebahagian peninggalan Nabi(sawa).

4. Di tempat lain, Allah swt mengarahkan kita:

“Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasulullah dan kepada “Ulil-Amri” (orang-orang yang berkuasa) dari kalangan kamu.” Al Quran(4:59)

Ulil Amri yang dimaksudkan ialah Ali dan para Imam dari Ahlulbait.

Dalam Ikmal al-Din terdapat sebuah hadis melalui Jabir al-Jufri yang diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah yang berkata: “Ya Rasulullah kami telah mengetahui Allah dan Rasul-Nya, lalu siapakah ulil amri yang Allah jadikan ketaatan kepada mereka sama dengan ketaatan kepadamu?”

Lalu Nabi SAW bersabda: “Wahai Jabir, mereka adalah penerusku dan para pemimpin muslimin. Yang pertama dari mereka adalah ‘Ali bin Abi Thalib, kemudian (Imam) Hasan dan (Imam) Husain, kemudian ‘Ali bin Husain, kemudian Muhammad bin ‘Ali, yang dikenal dalam taurat dengan nama al-Baqir, yang engkau akan jumpai kelak. Wahai jabir! Apabila engkau menjumpainya, sampaikanlah salamku padanya. Setelahnya adalah ash-Shadiq, Ja’far bin Muhammad; kemudian Musa bin Ja’far, kemudian ‘Ali bin Musa, kemudian Muhammad bin ‘Ali, kemudian ‘Ali bin Muhammad, kemudian Hasan bin ‘Ali, setelahnya adalah al-Qa’im yang nama asli dan gelarnya sama denganku. Dia adalah hujjah Allah di bumi dan pengingat hamba-hamba-Nya. Dia anak (Imam) Hasan bin ‘Ali (al-’Askari). Peribadi inilah yang menyebabkan tangan Allah akan membukakan arah Timur dan Barat dunia dan peribadi ini jugalah yang akan digaibkan dari para pengikut dan pencintanya. karena inilah (kegaiban -penerj) keimamahannya tidak dapat dibuktikan oleh pernyataan siapapun kecuali oleh orang yang keimanannya telah Allah uji.”
Jabir berkata: “Aku bertanya padanya: ‘Wahai Rasulullah! Apakah para pengikut (syi’ah)-nya akan mendapatkan manfaat dari kegaibannya?’ Dia menjawab: ‘Ya. Demi Zat yang mengutusku dengan kenabian, mereka akan mencari cahaya dan taat kepadanya pada masa gaibnya sebagaimana manusia mendapat manfaat dari (cahaya) matahari ketika awan menutupnya’ …”
(Ikmal al-Din, jilid 1, hal. 253, dengan makna yang hampir sama dalam Yanabi’ al-Mawaddah, hal.117)

  • Yanabi al Mawaddah : hal 134 dan 137
  • Syawahidul Tanzil:1/48  hadis 202-204
  • Tafsir Razi:3/375

5. Allah swt berfirman:

“Oleh itu bertanyalah kamu kepada Ahlil Zikir jika kamu tidak mengetahui”.Al Quran(16:43) dan (21:7)

Ahlul Zikir yang dimaksudkan ialah asas Ahlulbait iaitu, Imam Ali, Fatimah, Hassan dan Hussain. Dari Jabir, meriwayatkan setelah turun ayat ini Imam Ali berkata:” Kamilah yang diimaksudkan sebagai Ahlil Zikir”

  • Yanabi al Mawaddah : hal 51 dan 140
  • Syawahidul Tanzil:1/334 hadis 459-466
  • Tafsir Qurtubi: 11/272
  • Tafsir Tabari: 14/109
  • Tafsir Ibnu Katsir2/570

6. Setiap hari, dalam solat, kita membaca:

Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus, iaitu jalan orang-orang yang Kau berikan nikmat ke atas mereka

Imam Tsalabi di dalam Tafsir Al Kabir menafsirkan ayat ini bahawa ayat ini juga merujuk kepada Muhammad dan keluarga Muhammad

7. Akhir sekali, suka saya ingin memberikan hint-hint terakhir dari Allah swt dalam Quran yang berbunyi:

Dan sesiapa yang taat kepada Allah dan RasulNya, maka mereka akan (ditempatkan di syurga) bersama-sama orang-orang yang telah dikurniakan nikmat oleh Allah kepada mereka, iaitu Nabi-nabi, dan orang-orang Siddiqiin, dan orang-orang yang Syahid, serta orang-orang yang soleh.Al Quran(4:69)

Imam dari Ahlulbait, tanpa keraguan dan sebarang bantahan, ialah ketua bagi para Sadiqin, Syuhada dan Solihin. Cukuplah kiranya setakat ini saya sertakan hujah dari Al Quran, yang memberi petunjuk kepada kepimpinan Ahlulbait(as) dan tugas kita adalah untuk mentaati mereka to the letters, tanpa sebarang bantahan dan keraguan sebagaimana haknya, kita mentaati Rasulullah(sawa). Jikalau kamu tidak bersetuju dengan hujah-hujah yang saya bawakkan ini, maka bersaksilah kami tidak memaksa kamu menerima kepercayaan kami, tetapi hormatilah tafsiran ini, dan bukalah hati kamu agar bolehnya kita bersatu tanpa perlu mengorbankan kepercayaan masing-masing. Jikalau kami salah, maka cukuplah kiranya Allah swt menjadi hakim kami, kerana Dia yang maha adil telah meninggalkan kita Al Quran, maka segata tafsiran dalam Quran yang logik dan tidak batil boleh diterima, seperti yang dilakukan oleh para ulama mujtahid Sunni, seperti Maliki dll. Mereka semua menafsirkan sesuatu dengan cara yang berbeza, dan semuanya kalian boleh terima, maka terimalaha tafsiran kami ini.

Kata-kata Rasulullah(sawa) tentang Ahlulbait

Bagaimanapun wahai Ikhwan sekalian, hujah saya masih belum mati setakat ini, ingin sekali, InsyaAllah, saya bawakan apa pula yang dikatakan oleh Rasulullah(sawa) tentang Ahlulbait baginda. Banyak sekali, tetapi cukup la sikit-sikit, nanti tepu pulak akal yang membaca.

1. Lihat sahaja betapa pentingnya penekanan kepada Ahlulbait apabila Rasulullah(sawa) bersabda:

“Sesungguhnya perumpamaan Ahlulbait disisi kamu laksana bahtera Nuh. Barangsiapa yang menaikinya akan selamat dan siapa yang meninggalkannya akan binasa.”

  • As Sawariq Al Muhriqah hal 282
  • Al Mustadrak 3/151
  • Yanabi Al Mawaddah : Hal 30 &370
  • Al Mu’jam as Saghir: 1/139
  • Majma ul zawaid 9/168

Wahai saudaraku sekalian, lihat sahaja apa yang Rasul kita gambarkan tentang Ahlulbait baginda, seperti bahtera Nuh. Tentu sahaja kita selalu mendengar kisah Nabi Nuh(as), di mana Allah swt mendatangkan kepada kaumnya banjir besar, yang mana sayu-satunya jalan keselamatan hanyalah bahtera Nabi Nuh(as). Sesiapa sahaja yang menaikinya, selamat dari azab Allah, dan bagi siapa yang enggan, setinggi mana pun gunung yang di daki, tidak berupaya menyelamatkan mereka dari banjir itu.

Suka juga untuk saya kaitkan, di mana Nabi Nuh dan pengikutnya di cela dan diejek oleh kaumnya, kerana idea beliau tentang bahtera ini. Secara kebetulan(atau memang seperti yang Allah mahu tunjukkan) kami Syiah, yang memilih menaiki bahtera ini juga dicela dan diejek serta dimusuhi dengan pelbagai cara. Maka ini, semakin menambahkan keyakinan kami tentang jalan yang kami pilih ini.

2. Ibnu Hajar al Haithami mensahihkan: Sesungguhnya aku tinggalkan kalian 2 perkara yang kalian tidak akan sesat buat selamanya selagi kalian mengikut keduanya. Keduanya adalah Kitab Allah dan Ahlulbaitku. Dari itu, jangan kalian mendahului keduanya kerana kalian akan binasa, dan jangan kalian memperkecilkan keduanya kerana kalian akan binasa. Dan jangan kalian mengajar mereka kerana mereka lebih mengetahui dari kalian.”

  • As Sawaiq Al Muhriqah hal 230
  • Majma uz Zawaid 9/163
  • Yanabi Al Mawaddah  Hal 41 dan 355
  • Ad Durr al Mantsur 2/60
  • Kanz al Ummal Bil Hadis 958

Perhatikan betul-betul hadis di atas. Itulah selayaknya Ahlulbait yang menjadi gandingan Al Quran, di mana Rasulullah melarang kita mendahului atau ditinggalkan oleh mereka, ini bermakna agar tetap utuh bersama mereka, dalam apa jua keadaan. Apabila Rasulullah(sawa) berkata jangan perkecilkan mereka, itu tandanya Rasulullah mahukan segala keutamaan diberikan kepada keduanya. Yang paling best, ialah ayat terakhir baginda, bahawa jangan mengajar mereka kerana mereka lebih mengetahui. Ini ialah tanda ketinggian ilmu mereka, yang menyebabkan bukti Imamah mereka ke atas kita, sumber ilmu yang benar dan tiada yang lain. Celakalah mereka yang belajar dari orang yang bukan ahlinya.

3. At Thabrani meriwayatkan dari Abu Dzar dan Abu Said Al Khudri, Rasulullah(sawa) bersabda: “Sesungguhnya perumpamaan Ahlulbait ku itu disisi kalian umpama “pintu pengampunan” bani Israel. Sesiapa yang masuk ke dalamnya akan di ampunkan.”

  • Ihya ul Mayyit: Bil 26&27
  • Majma uz Zawaid: 9/168
  • Ibnu Hajar menjelaskan : Allah swt menetapkan bahawa memasuki pintu tersebut ialah pintu Ariha atau Baitulmaqdis dengan rasa hina dan memohon keampunan menjadi sebab kepada pengampunan. Dia telah menjadikan kecintaan kepada Ahlulbait sebagai sebab kepada pengampunan.

4. Al Hakim menerusi Al Mustadrak telah meriwayatkan hadis yang beliau sahihkan berdasarkan syarat Bukhari dan Muslim, dari Ibnu Abbas, Rasul bersabda: Bintang-bintang adalah penyelamat bagi makhluk bumi dari kesesatan. Dan Ahlulbaitku adalah penyelamat untuk umatku dari perselisihan. Apabila kaum-kaum telah berselisih, maka mereka berpecah menjadi pengikut iblis.

  • Ihya Ul Mayyit: As Suyuthi no 21
  • Sawaiq Al muhriqah: hal 138

Penggunaan bintang sebagai medium penunjuk arah samada bagi para pelayar ataupun para musafir memang tidak dapat diragukan lagi. Sekali lagi di sini, Rasulullah(sawa) dengan indahnya menyamakan Ahlulbait baginda dengan bintang-bintang, sebagai panduan kepada umat baginda, dari ancaman kesesatan. Amat malang sekali, jika umat beliau dari dahulu lagi berpandukan kepada “bintang-bintang” ini. maka tidak akan wujud masalah kesatuan seperti sekarang, yang mana ramai dari kita menjadi pengikut iblis.

5. At Tabrani menukilkan riwayat dari Hassan bin Ali, Rasul bersabda: Kekalkanlah kecintaan terhadap kami Ahlulbait. Kerana sesiapa yang menghadap Allah dengan mencintai kami akan masuk syurga melalui syafaat kami. Demi Dia yang jiwa ku di genggamannya, bahawa sesungguhnya tidak bermanfaat satu amalan seorang hamba melainkan dengan mengenali hak kami.

  • Ihya ul Mayyit: as Suyuthi no 18
  • As sawaiq al Muhriqah hal 198
  • Yanabi Al Mawaddah: hal 293.323.326 dan 364
  • Majma uz Zawaid: 9/172

Dalam artikel Tawalla dan Tabbara, saya ada ceritakan tentang hak Ahlulbait(as) ke atas kita. Betapa beratnya hak ini, sehinggakan Rasulullah mengatakan amalan seorang hamba hanya diterima jika hak Ahlulbait dikenali. Apakah hak Ahlulbait, secara ringkasnya, dan mengikut pamahanam saya yang jahil ini, hak Ahlulbait ialah:

  • Hak untuk memimpin kita
  • Hak untuk ditaati oleh kita
  • Hak untuk dicintai oleh kita(tawalla)
  • Hak untuk membenci musuh mereka oleh kita(Tabbarra)
  • dan banyak lagi, hehe

Saya juga ingin menerangkan, adakah cukup kita dikatakan mencintai Ahlulbait(as) hanya dengan sekadar menyatakan, meluahkan dan memberitahu di mulut bahawa kita mencintai mereka? Tidak..oh tidak!!

Apabila saya katakan saya mencintai ibu saya maka

  • saya akan ikut cakap beliau
  • tidak menderhaka
  • menunaikan hak kita kepada mereka
  • tidak menyakiti beliau dengan kata-kata kasar
  • tidak bersahabat dengan orang yang memusuhi atau menyakiti beliau
  • mencintai atau menyukai orang yang beliau sukai

Begitu jugalah dengan rasa cinta kita kepada Ahlulbait. Pengucapan rasa cinta bukan sekadar dimulut, tetapi harus dibuktikan dengan perbuatan dan perlakuan. Malangnya inilah yang dilakukan oleh pelakon-pelakon handalan dari puak nasibi yang menentang Ahlulbait. Bolehkah..layakkah kita dikatakan mencintai Ahlulbait jika dalam masa yang sama kita:

  • Tidak mengenali mereka?(Duh!! Bodoh betul bercinta dengan stranger)
  • Redha akan musuh-musuh yang menyakiti dan membunuh mereka( Radhiallahu anhu kepada Muawiyah? oh no..Yazid..lebih lagi la)
  • Tidak mencintai orang-orang yang  mereka cintai.(kenal tak kalian siapa Miqdad(ra)? Salman(ra)? Abu Dzar(ra)?)
  • Menconteng arang ke muka mereka.(Mengaku sebagai Syiah, tetapi bertenggek sana sini dengan perempuan, berkelakuan tidak senonoh, sehingga orang mengata kepada ajaran Para Imam(as).
  • Tidak mengikut ajaran mereka.(Kamu solat ikut cara siapa, hukum-hukum fiqh berdasarkan ajaran siapa? Diorang kata jangan makan sotong, makan jugak)

Fikirkan sendiri.

6. Sesiapa yang berhasrat mahu hidup dan matinya seperti ku, dan memasuki syurga yang dijanjikan tuhanku iaitu syurga abadi, maka hendaklah ia mengambil Ali dan zuriatnya sebagai pemimpinnya, Sesungguhnya mereka tidak akan mengeluarkan kalian dari pintu hidayah dan tidak juga memasukkan kalian ke dalam pintu kesesatan.

  • Sahih Bukhari 5/65
  • Sahih Muslim 2/51
  • Kanz al Ummal: Hadis no 2578

Tidak perlu komen dengan dalil yang begitu jelas ini.

7. Letakkanlah Ahlulbait ku disisi kalian seperti kedudukan kepala pada jasad dan kedudukan 2 biji mata pada kepala. Kepala tidak bermanfaat menunjuk jalan jika tanpa 2 biji mata.

  • Majma ul Zawaid 9/172

Segala puji bagi Allah swt yang meletakkan hujah kami di buku pihak lawan. Syukur kepada Allah, inilah yang kami pegang. Lihatlah wahai ikhwan, nas dan dalil untuk berpegang teguh kepada Ahlulbait cukup banyak sekali. Tetapi adakah kalian cukup berani untuk menerimanya, dan menolak amalan nenek moyang kamu?

Cukuplah setakat ini bagi orang-orang yang berfikir. Salam alaikum dan solawat

Khalifah artinya pengganti Nabi yang harus muncul segera setelah wafatnya Nabi tanpa jeda apapun. Nabi menyatakan bahwa 12 khalifah tersebut mencakup sampai hari kebangkitan !

Ketika Begitu Cepat wasiat dan Ucapan Nabi Diabaikan

Picture from Mr. Google

Beberapa hari sebelum meninggal, Nabi diliputi oleh kegelisahan. Nabi menjromadi jarang tidur. Beliau merasa bahwa ajalnya sudah dekat. Sementara beliau melihat adanya awan tebal yang menggelayuti masa depan kaum muslimin. Kegelisahan dan kekhawatiran menerpa jiwa Nabi yang amat kuat, yang selama ini tak pernah gentar menjalani seluruh perjalanan hidupnya yang sarat dengan bahaya.

Setelah Nabi wafat Ali dan Fathimah tidak bisa memejamkan mata. Mereka begitu terpukul dengan peristiwa tadi pagi. Jasad Nabi belum dimakamkan, Abu Bakar sudah menjadi khalifah meski tidak sesuai dengan wasiat Rasulullah. Rumah Fathimah dikepung dan akan dibakar oleh pendukung khalifah. Ali dipaksa berbaiat kepada Abu Bakar.Fathimah hanya bisa menangis dan berdoa di depan jasad ayahnya.

Ali mempunyai alasan sama untuk tidak memerangi mereka; demi masa depan Islam yang usianya masih muda. Ali tidak mungkin menggunakan kekuatan pedangnya untuk memerangi sesama muslim.

Sedangkan Fathimah benar-benar letih setelah sekian lama bersabar memikul beratnya misi Rasulullah, Fathimah begitu menderita merasakan nasib Ali yang sepanjang hidupnya berjuang melawan musuh, kini dipaksa menyerah tanpa perlawanan, bukan oleh musuh tapi justru oleh sahabatnya. Ali rela tidak melawan karena keyakinan, keberanian, pengorbanan, kejujuran dan kesetiaannya untuk tegaknya Islam di muka bumi.

Dalam Islam, memperjuangkan kebenaran wajib dilaksanankan, meski dimulai dari yang paling mungkin, yaitu diri sendiri. Bukan hanya lewat kata, tetapi perlu bukti lewat tindakan nyata. Itulah sebabnya mengapa Madinah masih menyimpan catatan rapi perjalanan sejarah yang indah namun haru biru,

the_clothers__staff_of_prophet_muhammad
Jubah atau pakaian Rasulullah serta barang-barang lainnya yang pernah ia bawa selama masa hidupnya. Seandainya kita punya kesempatan untuk menciumi barang-barang yang pernah bersentuhan dengan kulitnya yang suci itu, maka itu akan menjadi kesempatan terindah seumur hidup kita
.
Dalam Sahih Muslm, ada sebuah hadits yang sangat terkenal yang diceritakan oleh Ibn Abbas. Hadits itu berbunyi:
“Tiga hari sebelum Rasulullah meninggal, Umar bin Khattab dan para sahabat lainnya berdiri di samping tubuh Rasulullah yang terbaring. Rasulullah bersabda, ‘Sekaran aku akan tuliskan bagi kalian sehingga kalian tidak akan tersesat setelahku.’ Umar bin Khattab menimpali, ‘Rasulullah telah dikuasai oleh penyakitnya; kalian sudah memiliki Qur’an, Kitabullah. Itu cukup bagi kita semua.’ Pernyataan Umar mengundang kemarahan dari semua orang yang hadir. Beberapa mengatakan bahwa perintah Rasulullah itu harus segera dipatuhi supaya ia bisa menuliskan apa yang ingin ia tuliskan untuk menuntun umat semua. Sedangkan sebagian lain sepakat dengan Umar. Ketika ketegangan sudah memuncak, Rasulullah berkata dengan marah, ‘Pergilah kalian semua dariku!’

Seandainya Umar bin Khattab mau bersabar dan tidak mencegah Rasulullah menuliskan surat wasiatnya, maka umat Muhammad tidak akan mungkin berpecah belah selamanya. Mereka akan berpedoman pada selembar tulisan dari Muhammad al-Mustafa itu yang akan menjadi pemersatu umat Muslim sedunia.

Oleh karena itu, Ibn Abbas seringkali berkata setelah kejadian itu: “Malang sekali, sungguh malang sekali. Kejadian dulu itu dimana pertentangan dan keributan terjadi, telah membuat Rasulullah murka dan tidak jadi menuliskan wasiatnya dan oleh karena itu, Rasulullah tidak meninggalkan apa yang ia ingin tuliskan dalam selembar kertas.”
muhammad
Riwayat dari Sa’id Ibn Jubayr dituliskan dalam Sahih Bukhari. Ia meriwayatkan sebagai berikut:
Ibnu Abbas pernah berkata, “Duhai hari Kamis, malang nian hari Kamis!,” kemudian Ibnu Abbas menangis dengan keras sehingga bebatuan kecil yang ada di sekitar dirinya basah karena tangisannya. Kemudian ia melanjutkan, “Ketika itu hari Kamis. Penyakit Rasulullah sedang menghebat, kemudian ia berkata, ‘Bawakan untukku kertas dan pena supaya aku bisa menuliskan sesuatu yang dengannya kalian tidak akan lagi tersesat sepeninggalku.’ Orang-orang mulai ribut dan bertengkar satu sama lainnya dan mereka melakukan hal itu di depan Rasulullah yang masih hidup bersama mereka. Seseorang mengatakan bahwa Rasulullah telah meracau. Rasulullah berteriak akhirnya, ‘Pergilah kalian semua dariku! Aku lebih berakal daripada kalian semua.”
imam_hasan_2-other
Diriwayatkan dalam kitab Raudatul-ahbab bahwa Rasulullah telah berkata kepada Fathimah, “Bawalah kedua anakmu kepadaku.”
.
Kemudian Fathimah membawa Hasan dan Husein ke hadapan Rasulullah. Keduanya kemudian memberi salam kepada Rasulullah, kemudian duduk di tepi pembaringannya dan kemudian menangis ketika melihat kakeknya sedang menderita seperti itu. Keduanya menangis pilu sehingga orang-orang yang hadir di situ ikut menangis keras. Hasan meletakkan wajahnya di wajah Rasulullah, sedangkan adiknya, Husein, meletakkan wajahnya di dada Rasulullah
.
Rasulullah membuka matanya, kemudian ia menciumi kedua cucunya itu dengan penuh kasih sayang. Itu juga sekaligus untuk memberikan orang-orang pelajaran bahwa mereka harus mencintai dan menghormati kedua cucunya itu. Dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa para sahabat yang kebetulan hadir di sana pada saat itu, demi melihat Hasan dan Husein menangis mereka juga ikut menangis keras. Di tengah-tengah suasan haru itu Rasulullah berseru, “Panggilah saudaraku Ali dan bawalah kepadaku.”. ‘Ali datang dan berdiri di sisi pembaringan sambil memegang kepala Rasulullah. Ali kemudian mengangkat kepala Rasulullah dan meletakkannya di pangkuannya. Rasulullah berkata:
“Ya, Ali! Aku telah meminjam sejumlah uang dari seorang Yahudi untuk keperluan tentara ekspedisi Usamah. Tolonglah bayarkan hutangku itu. Dan, Ali. Engkau akan menjadi orang pertama yang akan menemuiku di mata air al-Kautsar. Engkau juga akan mendapatkan banyak sekali masalah sepeninggalku. Engkau harus bersabar menghadapinya dan apabila engkau lihat orang-orang lebih mencintai dunia, maka engkau harus lebih memilih akhirat.”
muhammad-saw-3-copy
Yang berikut ini diambil dari Khasa’is dari Nasa’i dari Ummu Salamah:
“Demi Allah, orang yang paling dekat dengan Rasulullah ketika Rasulullah meninggal itu adalah Ali. Pada pagi hari ketika Rasulullah hendak meninggal. Rasulullah memanggil Ali yang sedang disuruh untuk melakukan sebuah tugas. Rasulullah memanggil-manggil Ali sebanyak tiga kali sebelum akhirnya Ali datang. Ali datang sebelum matahari terbit. Karena kami tahu Rasulullah ingin meluangkan waktunya sendirian bersama Ali, maka akhirnya kami membiarkan mereka berdua. Aku yang terakhir keluar; oleh karena itu aku berdiri dekat sekali ke pintu kamar—lebih dekat daripada para wanita yang lain. Aku melihat Ali mendekatkan kepalanya kepada Rasulullah dan Rasulullah tampaknya membisikkan sesuatu ke telinganya selama beberapa saat lamanya. Oleh karena itu, Ali adalah orang yang paling dekat dengan Rasulullah disaat-saat kematiannya.”
Al-Hakim memberikan catatan dalam kitab Mustadrak-nya:
“Rasulullah terus menerus menaruh kepercayaan kepada Ali hingga ajal menjemputnya. Dan Rasulullah menghembuskan nafasnya yang terakhir di dekat Ali.”
.
Ibn al-Wardi menyatakan bahwa orang-orang yang memandikan jenazah Rasulullah ialah:
“Ali, Abbas, Fadl Qutham, Usamah, dan Shaqran. Abbas, Fadhl dan Qutham membolak-balikkan jenazah Rasulullah. Usamah dan Shaqran menyirami tubuh Rasulullah dengan air, dan Ali yang membersihkan jenazah Rasulullah.”
.
Dalam Tarikh al-Khamis ada tambahannya:
“Abbas, Fadhl, dan Qutham membolak-balik jenazah Nabi sementara Usamah dan Shaqran yang menyiramkan airnya. Semuanya matanya ditutup kain.”
.
Ibn Sa’d menceritakan kejadian ini dalam kitab Tabaqat-nya:
“Ali meriwayatkan bahwa Rasulullah melarang siapapun memandikan jenazahnya kecuali Ali sendiri dan apabila orang lain yang melakukannya maka kedua matanya akan buta.”
.
Sementara itu ‘Abdul Barr dalam kitabnya Al-Isti’ab, mengutip dari Abdullah bin Abbas yang berkata: “Ali memiliki empat keutamaan yang tidak mungkin dimiliki oleh orang lain. Keutamaannya itu ialah:
  • Diantara semua orang Arab dan non-Arab (‘Ajam), Ali adalah orang yang pertama kali shalat bersama Rasulullah
  • Di dalam semua peperangan yang ia ikuti, Ali pastilah menjadi pemegang panji (bendera perang) di tangannya
  • Ketika semua orang kabur dari peperangan meninggalkan Rasulullah sendirian, Ali bin Abi Thalib tetap berada di samping Rasulullah tak bergeming
  • Ali adalah satu-satunya manusia yang memandikan jenazah Rasulullah dan memasukkan jenazahnya ke liang lahat.”
Baik Abul-Fida’ maupun Ibn al-Wardi menunjukkan bahwa Rasulullah itu meninggal pada hari Senin dan kemudian dikebumikan keesokan harinya yaitu pada hari Selasa. Akan tetapi di dalam hadits lain disebutkan bahwa Rasulullah itu dikebumikan pada malam hari antara malam Selasa dan Rabu. Ini mungkin kelihatannya lebih faktual mendekati sumber yang disebutkan pertama. Akan tetapi ada juga sumber lain yang mengatakan bahwa Rasulullah tidak dikebumikan hingga 3 hari setelah hari meninggalnya
.
Dalam kitab Tarikh-al-Khamis, disebutkan bahwa Muhammad ibn Ishaq mengatakan sebagai berikut:
“Rasulullah itu meninggal pada hari Senin dan kemudian dikebumikan pada malam hari Rabu”
.
Sedangkan mengenai usianya ketika Rasulullah meninggal, Abul-Fida’ menuliskan:
“Ada perbedaan pendapat mengenai usia Rasulullah ketika ia meninggal dunia. Akan tetapi apabila kita menghitungnya dengan menggunakan hadits-hadits yang terkenal, maka kemungkinan Rasulullah itu hidup hingga usia 63 tahun”
—————————————————————————————-
Rasulullah meninggal pada tanggal 28 Safar tahun 11H. Dengan itu kehidupan dari Nabi terakhir itu berakhir di dunia ini.
“Hai Nabi sesungguhnya kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan untuk jadi penyeru kepada Agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi.” (QS. Al-Ahzab: 45—46)
.
Rasulullah telah meninggalkan dunia fana ini…………akan tetapi pesan-pesan yang ia bawa untuk umat manusia tetap abadi bersama kita………………..
“Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (QS. Al-Maa’idah: 16)
.
“Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.” (QS. Ibrahim: 1)
“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus: 57)
.
“…………… Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.” (QS.  Al-Hasyr: 7)

Pembangkangan Shahabat Terhadap Perintah Penyerangan ke Romawi

.
Walaupun Rasulullah saww sudah memerintahkan shahabat (kecuali beberapa orang seperti imam Ali as), akan tetapi mereka (muhajirin dan anshar) banyak yang keberatan pergi dan bahkan tidak taat kepada Nabi saww dengan dua alasan: Pertama, karena Nabi saww dalam keadaan sakit
.
Alasan ini sebenarnya untuk golongan yang keberatan pergi. Utsamah sendiri semacam memohon kepada Nabi saww untuk tidak meninggalkan beliau saww dalam keadaan sakit. Ke dua, karena Nabi saww memilih Utsamah sebagai panglima dan pemimpin. Alasan ini dijadikan alasan oleh orang-orang yang tidak taat kepada Nabi saww, seperti Abu Bakar dan Umar.
.
- Untuk alasan pertama ini, maka Nabi saww tetap menekankan kepada Utsaamah untuk pergi memimpin pasaukan, beliau saww bersabda:
.
“Pergilah ke tempat terbunuhanyaa ayahmu dan kuasailah dengan pasukan kudamu. Aku telah mengangkatmu menjadi pemimpin pasukan ini…….dst.” (Syarhu Nahji al-Balaaghah, karya Ibnu Abi al-Hadiid, 1/53; al-Maghaazii, karya al-Waaqidii, 3/1117; al-Siiratu al-Halabiyyah, 3/207; al-Siiratu al-Nabawiyyah, karya Zaini Dahlaan, bihaamisyi al-Siirati al-Halabiyyati, 2/339; Thabaqaatu al-Kubraa, 2/190; …dll yang banyak sekali di kitab-kitab Sunni).
.
- Untuk alasan ke dua, yaitu tidak perginya para shahabat bersama Utsaamah, maka Rasulullah saww dengan badan yang gemetaran karena sakit, keluar rumah dan memasuki masjid lalu menaiki mimbar dan bersabda:
.
“Wahai hadirin, apa yang telah sampai kepadaku dari perkataan sebagian kalian tentang penunjukanku kepada Utsamah? Kalau kalian mencela penunjukanku kepada Utsaamah hari ini, sesungguhanyaa kalian sebelum itu telah mencela penunjukanku kepada ayahanyaa …..”
.
Paling kerasnya penentang keputusan Nabi saww adalah Umar dan Abu Bakar. Karena mereka tidak mau pergi, dan setelah Nabi saww marah dan naik mimbar itu, baru mereka pergi, akan tetapi sesampai di daerah Jurf (di luar Madinah) mereka kembali ke Madinah dan membuat pertemuan Saqifah setelah wafatnya Nabi saww yang kemudian dengan baiatnya Umar, Abu Bakar menjadi khalifah (lihat semua kitab-kitab sejarah Sunni berkenaan dengan pembaiatan Abu Bakar ini).
.
Dalam beberapa riwayat juga dikatakan bahwa Nabi saww bersabda:
.
“Ikutlah tentara Utsamah, laknat Allah bagi yang memboikotnya.” (al-Milal wa al-Nihal, karya Syahristaani al-Syafi’ii, 1/23)
.
Dalam riwayat lain juga dikatakan bahwa Umar mengecam keras Utsamah ketika itu dengan berkata:
“Kalau Rasulullah mati, kamu akan menjadi pemimpinku?!” (al-siiratu al-Halabiyyah, 3/209; Kanzu al-‘Ummaal, 15/241, hadits ke: 710; al-Siiratu al-Nabawiyyah, karya Zaini Dahlaan, bihaamisy al-Siiartu al-Halabiyyah, 2/341)
.
Dan ketika Abu Bakar menjadi khalifah, dan ingin mengirim pasukan ke Romawi, Umar tetap ngotot meminta Abu Bakar untuk mencabut kepemimpinan Utsaamah (Taariikhu al-Thabari, 3/226; al-Kaamil, 2/335; al-Siiratu al-Halabiyyati, 3/209; al-Siiratu al-Nabawaiyyah, 2/340.).
.
Petaka Hari Kamis

.
Peristiwa ini, dikenal dalam kitab-kitab hadits dan sejarah sebagai Petaka Hari Kamis atau “Raziyyatu Yaumi al-Khamiis”. Yaitu ketika Rasulullah saww sudah sakit dan menjelang wafat beliau saww, pada hari kamis, beliau saww meminta sekitarannya menyiapkan kertas dan pena untuk menuliskan wasiat beliau saww
.
Beliau saww besabda:
“Aku akan menuliskan sebuah tulisan –wasiat- buat kalian sehingga kalian tidak akan pernah sesat setelahanyaa.”
Akan tetapi Umar melarang memberikannya dan berkata:
“Sesungguhanyaa Rasulullah saww telah dilampaui sakitnya, sementara kita sudah punya Qur an, cukuplah Qur an bagi kita.” (Shahih Bukhari, 7/156; Shahih Muslim, 5/75; Musnad Ahad bin Hanbal, 4/356; ….dll yang banyak sekali).
.
Maksud Umar adalah mengigau, meracau, ngaco dan semacamnya, seperti yang diriwayatkan di hadits-hadits lainnya yang mengatakan bahwa beberapa shahabat Nabi saww mengatakan bahwa beliau saww telah “Mengigau/meracau” (Shahih Bukhari, 2/118 atau hadits ke: 3053; Shahih Muslim, hadits ke: 3090; ..dll yang banyak sekali di Sunni)
.
Akhirnya Rasulullah saww mengusir mereka dari hadapan beliau saww. (Shahih Bukhari, hadits ke: 114, 3053, 4432; Shahih Muslim hadits ke: 3091, 4322; dll yang banyak sekali di kitab-kitab sunni).

Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah SAWW berwasiat akan tiga hal saat menjelang wafatnya:

Pertama, keluarkan kaum musyrikin dari Jazirah Arab.
Kedua, berikan hadiah kepada delegasi seperti yang biasa kulakukan.
Kemudian si perawi berkata, “aku lupa isi wasiat yang ketiga.”[1]
Akankah akal sehat kita dapat menerima dan percaya bahwa para sahabat yang hadir dan mendengar tiga wasiat Nabi itu tiba-tiba lupa pada apa isi wasiat yang ketiga ?, apa hukumnya bagi orang pelupa dan menjadi Perawi ?
.
Politiklah yang memaksa mereka melupakan isi wasiat itu dan tidak menyebutnya. Hal ini merupakan rangkaian musibah lain yang kita saksikan dari para sahabat seperti itu. Tidak mungkin tidak bahwa isi wasiat yang “terlupa” itu adalah wasiat Nabi akan pelantikan Ali (AS) sebagai khalifah dan imam sepeninggal beliau SAWWNamun si perawi enggan menyebutkannya
.
Orang yang meneliti sejarah dan masalah-masalah seperti ini akan merasakan bahwa isi wasiat yang diabaikan itu sebenarnya adalah pesan Nabi akan kepemimpinan Ali bin Abi Thalib AS, walau diupayakan dengan sistematik untuk disembunyikan.
Bukhari dalam kitab Shahihnya bab al-Washaya, dan Muslim dalam bab Al-Wasiyah meriwayatkan bahwa Nabi pernah berwasiat pada Ali di tengah kehadiran Aisyah[2]
.
Ingatlah ketika Ummul Mukminin Aisyah, tidak senang mendengar nama Ali disebut-sebut, seperti yang laporkan oleh Ibnu Sa’ad dalam Thabaqatnya[3], dan Bukhari dalam kitab Shahihnya Bab Nabi Sakit Dan Wafat; dan kita tahu bahwa Aisyah melakukan sujud syukur saat mendengar kematian Imam Ali KW, Lalu harapan apa yang masih tersisa dari Ummul Mukminin ini untuk mau meriwayatkan hadis wasiat Nabi untuk Ali bin Abi Thalib? . Ummul Mukminin Aisyah ini sangat dikenal oleh kalangan khusus dan umum akan sikap permusuhan dan kebenciannya pada Imam Ali, putera-puteranya serta itrah Ahlu Bait Nabi SAWW
.
Masih ada cara-cara kotor mereka yang kadang-kadang menakwilkan hadis-hadis shahih dan menafsirkannya dengan makna yang tidak tepat; atau mendustakan hadis-hadis yang tidak sejalan dengan mazhab mereka walau hadits itu tertulis dalam kitab-kitab shahih dan diriwayatkan dengan sanad-sanad yang bisa dipercaya. Mereka juga kadangkala menghapus setengah atau dua pertiga dari isi hadis lalu menggantinya dengan kalimat begini dan begitu; atau meragukan para perawi yang tsiqah lantaran ia meriwayatkan hadis-hadis yang tidak sejalan dengan kehendak mereka; atau mengutip suatu hadis pada edisi pertama dari buku terbitannya, kemudian menghapusnya pada cetak-ulang berikutnya tanpa memberi sedikitpun alasan betapapun para pemerhati mengetahui sebab musababnya
.
Usaha mereka itu adalah dengan sengaja hendak mengaburkan kebenaran dan mencari pembenaran sebanyak-banyaknya mereka mampu melaksanakannya, tetapi akan selalu terbongkar.
sumber :
  1. Shahih Bukhori jil. 7 hal. 121; Shahih Muslim jil. 5 hal. 75.
  2. Shahih Bukhori jil. 3 hal. 68; Shahih Muslim jil. 2 hal. 14.
  3. 3. Thabaqat Ibnu Saad Bag. 2 hal. 29.


Bukhari dan Muslim meriwayatkan
 bahwa Rasulullah SAWW berwasiat akan tiga hal saat menjelang wafatnya:

Pertama, keluarkan kaum musyrikin dari Jazirah Arab.

Kedua, berikan hadiah kepada delegasi seperti yang biasa kulakukan.

Kemudian si perawi berkata, “aku lupa isi wasiat yang ketiga.”[1]

Akankah akal sehat kita dapat menerima dan percaya bahwa para sahabat yang hadir dan mendengar tiga wasiat Nabi itu tiba-tiba lupa pada apa isi wasiat yang ketiga ?, apa hukumnya bagi orang pelupa dan menjadi Perawi ?

Politiklah yang memaksa mereka melupakan isi wasiat itu dan tidak menyebutnya. Hal ini merupakan rangkaian musibah lain yang kita saksikan dari para sahabat seperti itu. Tidak mungkin tidak bahwa isi wasiat yang “terlupa” itu adalah wasiat Nabi akan pelantikan Ali (AS) sebagai khalifah dan imam sepeninggal beliau SAWWNamun si perawi enggan menyebutkannya.

Orang yang meneliti sejarah dan masalah-masalah seperti ini akan merasakan bahwaisi wasiat yang diabaikan itu sebenarnya adalah pesan Nabi akan kepemimpinan Ali bin Abi Thalib AS, walau diupayakan dengan sistematik untuk disembunyikan.

Bukhari dalam kitab Shahihnya bab al-Washaya, dan Muslim dalam bab Al-Wasiyah meriwayatkan bahwa Nabi pernah berwasiat pada Ali di tengah kehadiran Aisyah[2].

Ingatlah ketika Ummul Mukminin Aisyah, tidak senang mendengar nama Ali disebut-sebut, seperti yang laporkan oleh Ibnu Sa’ad dalam Thabaqatnya[3], dan Bukhari dalam kitab Shahihnya Bab Nabi Sakit Dan Wafat; dan kita tahu bahwa Aisyah melakukan sujud syukur saat mendengar kematian Imam Ali KW

,

Lalu harapan apa yang masih tersisa dari Ummul Mukminin ini untuk mau meriwayatkan hadis wasiat Nabi untuk Ali bin Abi Thalib? . Ummul MukmininAisyah ini sangat dikenal oleh kalangan khusus dan umum akan sikap permusuhan dan kebenciannya pada Imam Ali, putera-puteranya serta itrah Ahlu Bait Nabi SAWW.

Masih ada cara-cara kotor mereka yang kadang-kadang menakwilkan hadis-hadis shahih dan menafsirkannya dengan makna yang tidak tepat; atau mendustakan hadis-hadis yang tidak sejalan dengan mazhab mereka walau hadits itu tertulis dalam kitab-kitab shahih dan diriwayatkan dengan sanad-sanad yang bisa dipercaya. Mereka juga kadangkala menghapus setengah atau dua pertiga dari isi hadis lalu menggantinya dengan kalimat begini dan begitu; atau meragukan para perawi yang tsiqah lantaran ia meriwayatkan hadis-hadis yang tidak sejalan dengan kehendak mereka; atau mengutip suatu hadis pada edisi pertama dari buku terbitannya, kemudian menghapusnya pada cetak-ulang berikutnya tanpa memberi sedikitpun alasan betapapun para pemerhati mengetahui sebab musababnya.

Usaha mereka itu adalah dengan sengaja hendak mengaburkan kebenaran dan mencari pembenaran sebanyak-banyaknya mereka mampu melaksanakannya, tetapi akan selalu terbongkar.

  1. Shahih Bukhori jil. 7 hal. 121; Shahih Muslim jil. 5 hal. 75.
  2. Shahih Bukhori jil. 3 hal. 68; Shahih Muslim jil. 2 hal. 14.
  3. 3. Thabaqat Ibnu Saad Bag. 2 hal. 29.

.

Definisi ‘khalifah’
English to English
noun
1. the civil and religious leader of a Muslim state considered to be a representative of Allah on earth Terjemahkan

Indonesian to Indonesian

wakil (pengganti) Nabi Muhammad saw. setelah Nabi wafat (dl urusan negara dan agama) yg melaksanakan syariat (hukum) Islam dl kehidupan negara;


Definisi Khilafah/Khalifah

Pengertian Bahasa Khilafah

Khilafah menurut makna bahasa merupakan mashdar dari fi’il madhi khalafa, berarti : menggantikan atau menempati tempatnya (Munawwir, 1984:390). Makna khilafah menurut Ibrahim Anis (1972) adalah orang yang datang setelah orang lain lalu menggantikan tempatnya (jaa`a ba’dahu fa-shaara makaanahu) (Al-Mu’jam Al-Wasith, I/251).

Dalam kitab Mu’jam Maqayis Al-Lughah (II/210) dinyatakan, khilafah dikaitkan dengan penggantian karena orang yang kedua datang setelah orang yang pertama dan menggantikan kedudukannya. Menurut Imam Ath-Thabari, makna bahasa inilah yang menjadi alasan mengapa as-sulthan al-a’zham (penguasa besar umat Islam) disebut sebagai khalifah, karena dia menggantikan penguasa sebelumnya, lalu menggantikan posisinya (Tafsir Ath-Thabari, I/199)

.

Imam Al-Qalqasyandi mengatakan, menurut tradisi umum istilah khilafah kemudian digunakan untuk menyebut kepemimpinan agung (az-za’amah al-uzhma), yaitu kekuasaan umum atas seluruh umat, pelaksanaan urusan-urusan umat, dan pemikulan tugas-tugas mereka (Al-Qalqasyandi, Ma`atsir Al-Inafah fi Ma’alim Al-Khilafah, I/8-9)

.

Pengertian Syar’i Khilafah Dalam pengertian syariah, Khilafah digunakan untuk menyebut orang yang menggantikan Nabi SAW dalam kepemimpinan Negara Islam (ad-dawlah al-islamiyah) (Al-Baghdadi, 1995:20). Inilah pengertiannya pada masa awal Islam. Kemudian, dalam perkembangan selanjutnya, istilah Khilafah digunakan untuk menyebut Negara Islam itu sendiri (Al-Khalidi, 1980:226).Pemahaman ini telah menjadi dasar pembahasan seluruh ulama fiqih siyasah ketika mereka berbicara tentang “Khilafah” atau “Imamah”
.
Dengan demikian, walaupun secara literal tak ada satu pun ayat Al-Qur`an yang menyebut kata “ad-dawlah al-islamiyah” (negara Islam), bukan berarti dalam Islam tidak ada konsep negara. Atau tidak mewajibkan adanya Negara Islam. Para ulama terdahulu telah membahas konsep negara Islam atau sistem pemerintahan Islam dengan istilah lain yang lebih spesifik, yaitu istilah Khilafah/Imamah atau istilah Darul Islam (Lihat Dr. Sulaiman Ath-Thamawi, As-Sulthat Ats-Tsalats, hal. 245; Dr. Wahbah Az-Zuhaili, Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu, IX/823).Hanya saja, para ulama mempunyai sudut pandang yang berbeda-beda ketika memandang kedudukan Khilafah (manshib Al-Khilafah)
.
Sebagian ulama memandang Khilafah sebagai penampakan politik (al-mazh-har as-siyasi), yakni sebagai institusi yang menjalankan urusan politik atau yang berkaitan dengan kekuasaan (as-sulthan) dan sistem pemerintahan (nizham al-hukm). Sementara sebagian lainnya memandang Khilafah sebagai penampakan agama (al-mazh-har ad-dini), yakni institusi yang menjalankan urusan agama. Maksudnya, menjalankan urusan di luar bidang kekuasaan atau sistem pemerintahan, misalnya pelaksanaan mu’amalah (seperti perdagangan), al-ahwal asy-syakhshiyyah (hukum keluarga, seperti nikah), dan ibadah-ibadah mahdhah. Ada pula yang berusaha menghimpun dua penampakan ini. Adanya perbedaan sudut pandang inilah yang menyebabkan mengapa para ulama tidak menyepakati satu definisi untuk Khilafah (Al-Khalidi, 1980:227)
.

Dalam artikel yang lepas, saya telah pun memberikan sedikit mukadimah tentang konsep Imamah dari pandangan Syiah. Saya telah menerangkan bahawa Imamah ialah satu jabatan lantikan Allah swt, untuk memimpin umat Muhammad(sawa) setelah ketiadaan baginda(sawa), untuk menggantikan seluruh tugas baginda dalam segala hal kecuali kenabian

.

Saya juga telah menerangkan tentang tugas seorang Imam, yang mana bukan sahaja bersifat politikal, malah juga merangkumi spritual, juga sebagai sumber ilmu bagi semua bidang yang luar dari ilmu agama. Mengikut kami, Syiah kepada Ahlulbait Nabi, semua tugasan ini, di tanggung  oleh Ahlulbait Rasulullah, sebagai Pemimpin Ummah, yang telah dilantik oleh Allah swt sendiri, melalui pengisytiharan Rasulullah(sawa) di banyak tempat dan peristiwa dalam hidup baginda.

Sekarang ini saya akan bawakan perbahasan tentang Ahlulbait, yang mana menjadi sumber dan pegangan akidah bagi kami Syiah, yang mana dari mereka kami mengambil ilmu, dari mereka kami mencontohi sifat mulia dan dari mereka kami mendekatkan diri kepada Allah swt.

Pesan Rasulullah(sawa):

“Wahai manusia! Sesungguhnya aku tinggalkan kalian sesuatu yang jika kalian berpegang kepadanya tidak akan sesat selamanya: Kitab Allah dan itrah, Ahlulbaitku.”

Hadis ini, yang dinamakan sebagai Hadis Tsaqalain, iaitu dua perkara berharga, berat atau penting. Hadis ini diriwayatkan dalam pelbagai versi, tetapi masih mengekalkan matan yang sama, iaitu pesan Rasulullah agar kita berpegang kepada Quran dan Ahlulbait(as), yang mana keduanya digandingkan bersama. Hadis ini juga telah mencapai tingkatan mutawattir dan sahih, dan diriwayatkan dari berbagai sumber Sunni.

  1. Muslim: Sahih Hadis no. 6175-6177
  2. Tarmizi: Sahih Hadis 3786 dan 3788
  3. An Nisai: Khasais Amirul Mukminin Ali No.79
  4. Ahmad: Musnad: 5/181&182 dan 3/26 dan 5/189
  5. Ibnu Abi ‘Asim: As Sunnah no 754
  6. Nuruddin al Haitsami: Majma al Zawaid  Juz 5 hal 166
  7. Ibnu Hajar al Haitsami: Al Sawaiq Al Muhriqah hal 223. 229-230
  8. Al Khateeb al Tabrizi: Misykatul Masabih
  9. Al Hakim: Al mustadrak
  10. At Thabrani: Al Mu’jamul kabir
  11. Al Muttaqi al Hindi: Kanz al Ummal
  12. As Suyuthi: Ihya ul Mayyit bi Fadhail Ahlulbait, Jamius Saghir, Ad Durr al mansur
  13. Ibnu Kasir: Tafsir
  14. Ibnu Saad: Thabaqat Al Kubra
  15. Ibnu Atsir: Jami’ul Usul & Ususdul Ghabah
  16. Ibnu Asakir: Tarikh
  17. An Nabhani:Al Fathul Kabir
  18. Al Khawarizmi: Al Manaqib
  19. Ibnu Hbban: Sahih
  20. Sulaiman Al Bakhi al Hanafi: Al Baihaqi:As Sunan Yanabi Al Mawaddah
  21. Mir Sayyid Ali Hamadani: Mawaddatul Qurba
  22. Hafiz Abu Nuaim Al Isfahani: HIlayatul Awliya

Senarai di atas bukanlah senarai keseluruhan para ulama yang meriwayatkannya, masih banyak lagi yang belum disebutkan. Perlu juga untuk saya sebut bahawa, saya sengaja tidak meletakkan rujukan muka surat kerana buku-buku ini akan berbeza mengikut cetakannya dan pencetaknya.

Hadis Tsaqalain ini diriwayatkan dengan begitu banyak sekali, dengan sanad yang berbeza, membuktikan ramai para sahabat meriwayatkannya. Diantaranya ialah:

  1. Ali Ibn Abi Thalib
  2. Zaid ibn Arqam
  3. Zaid Ibn Tsabit
  4. Abu Said al Khudri
  5. Abu Hurairah
  6. Abdullah Ibn Hanthab
  7. Jabir ibn Abdullah al Ansari
  8. Huzaifah ibn Usaid al Ghifari
  9. Abu Dzar al Ghifari
  10. Anas ibn Malik
  11. Al Bara’ ibn Azib
  12. Huzaifah ibn Yaman
  13. Abu Haitsam ibn at Tihan
  14. Abu Rafi’
  15. Ibnu Abbas
  16. Salman al Farisi
  17. Sa’ad ibn Abi Waqas
  18. Amru ibn al ‘As
  19. Ummu Salamah

Berikut ialah beberapa versi hadis Tsaqalain.

Dari Zaid Ibn Arqam, “Beberapa hari selepas haji terakhir baginda, Rasulullah berhenti untuk memberi khutbah kepada kami di pinggir tempat yang dipanggil Ghadir khum yang terletak diantara Makkah dan Madinah. Beliau memuji Allah dan mengingati Allah, seraya berkata,”Wahai umat ku, bersaksilah! Ku rasakan waktu ku untuku dipanggil telah hampir tiba, dan sungguh,akan ku sahut panggilan itu. Bersaksilah,aku akan meninggalkan pada kamu semua dua benda berharga, yang pertama adalah kitab Allah, yang ada padanya cahaya dan pedoman,yang kedua adalah Ahlul baytku. Dengan nama Allah,aku mengingatkan kamu ttg Ahlul Bayt ku. Dengan nama Allah,aku mengingatkan kamu ttg Ahlul Bayt ku. Dengan nama Allah,aku mengingatkan kamu ttg Ahlul Bayt ku.(3 kali).

Dari Zaid ibn Tsabit, “Sesungguhnya aku meninggalkan buat kamu 2 pemimpin sesudah pemergianku, iaitu Kitab Allah dan keluargaku iaitu Ahlulbait. Keduanya tidak akan terpisah sehingga menemui ku di Al Haudh

Dari Jabir al Ansari, “Wahai manusia! Sesungguhnya aku telah meninggalkan kepada kamu sesuatu yang jika kamu berpegang kepadanya, nescaya kamu tidak akan sesat selamanya, kitab Allah dan Ahlulbaitku.”

Dari Said al Khudri,  dengan pertambahan, “Lihatlah bagaimana kamu memperlakukan keduanya.”

Dari Abdullah ibn Hanthab, dengan ayat Rasulullah(sawa), “Aku akan menyoal kamu tentang dua perkara ini: Al Quran dan itrat ku.”

Inilah serba sedikit yang dapat saya nukilkan versi-versi hadis Tsaqalain. Hadis-hadis ini diisytiharkan sahih oleh ulama-ulama Sunni sendiri, jadi tidak ada keraguan lagi berkaitan kesahihannya. Seorang ulama silam yang memang terkenal sebagai anti Syiah nya, Ibnu Hajar al Haithamidilaporkan menyebut:

“Ketahuilah, bahawa hadis berpegang kepada Ahlulbait telah disampaikan dengan banyak cara. Penyampai hadis ini berjumlah lebih dari 20 orang sahabat Nabi(sawa).”

Beliau juga menambah:

“Terdapat sedikit perbezaan dalam cara hadis ini diriwayatkan. Sebahagian ulama menyatakan bahawa ia telah disampaikan sewaktu Nabi menjalankan haji Wada’ di Arafah. Sebahagian lagi mengatakan ketika di Madinah manakala yang lain dilafazkan di Thaif.” Al Sawaiq al Muhriqah

Ibnu Hajar mengulas, tidak ada perbezaan ketara dalam mengulas hadis ini, kerana dilafazkan di dalam keadaan berbeza. Besar kemungkinan Rasulullah(sawa) telah menyampaikannya secara berulang-ulang agar dapat menampakkan betapa pentingnya kedua-dua gandingan ini kepada para sahabat dan ummah baginda setelah ketiadaan baginda.

Apabila saya mencantumkan semua versi-versi ini, berikut ialah kesimpulan yang dapat saya nukilkan.

  1. Rasulullah(sawa) menggandingkan Al Quran(petunjuk) dengan Ahlulbait baginda, sebagai pengulas kepada petunjuk itu. Kedua-dua ini tidak akan terpisah sehinggalah di akhirat nanti, bermakna gandingan ini akan sentiasa wujud, sebagai pasangan.
  2. Mengikut Ahlulbait tidak akan sesat selamanya, menunjukkan bahawa merekalah penunjuk jalan kebenaran. Merekalah sumber ilmu yang sejati, penerus Sunnah baginda, dan penjaga kepada agama Islam dari segala penambahan dan pengurangan.
  3. Rasulullah(sawa) memberi penekanan Al Quran dan Ahlulbait sebagai gandingan, bukan salah satu dari mereka kerana baginda menggunakan perkataan “dan”. Lihat sahaja bagaimana bodohnya puak nasibi apabila dalam keadaan terdesak mengatakan tafsiran untuk hadis ini ialah  ”taatlah al Quran dan jagalah Ahlulbait ku”

Inilah pegangan Syiah Imamiah. Inilah akidah kami. Kami mempercayai bahawa Rasulullah(sawa) telah meninggalkan Ahlulbait(as) sebagai gandingan kepada Al Quran, agar keduanya menjadi rujukan kepada umatnya sepeninggalan baginda(sawa). Saya telah membincangkan dalam artikel sebelum initentang siapa Ahlulbait, tetapi apakah tanggungjawab kita kepada mereka? Seorang sahabat saya dari Ahlulsunnah mengatakan bahawa:

“Kami seperti Syiah juga menghormati Ahlulbait(as), kami menyayangi mereka dan taat kepada mereka.”

Benar, kami mempercayai bahawa saudara dari Sunni juga menghormati Ahlulbait, tetapi cukupkah sekadar itu? Cukupkah semata-mata bagi kita menghormati Al Quran? Sudah pasti jawapannya tidak mencukupi. Al Quran adalah untuk dibaca, difahami dan dipatuhi segala perintahnya. Dan begitu jugalah tanggungjawab kami kepada Ahlulbait. Konsep ini di namakan Tawalla dan Tabbarra, yang telah saya bincangkan.

Kami mempercayai bahawa Ahlulbait, jika diikuti seratus peratus, maka tidak akan wujud mazhab-mazhab sebagaimana hari ini. Tidak timbul perselisihan yang terlampau ketara. Rujuklah mereka.

Kini timbul satu persoalan baru apabila kita bawakan hadis ini kepada saudara Sunni.

“Yang kami selalu dengan ialah hadis Aku tinggalkan kalian Al Quran dan Sunnah ku.

Ya, ini adalah balasan yang selalu saya dengari dari mereka. Untuk tajuk hadis Al Quran dan Sunnah ku ini, akan saya bincang di satu artikel yang khas untuknya kerana saya tidak mahu memanjangkan artikel ini dengan topik luaran, bagaimanapun saya akan ceritakan secara simple di sini.

  1. Hadis itu dhaif dari sanad dan matannya.
  2. Hadis itu juga tidak diriwayatkan di dalam Sihah Sittah Ahlulsunnah wal Jamaah.
  3. Jika pun boleh mahu dipakai, hadis ini hanya boleh digunakan untuk Sunnah asli yang diambil dari para Imam Ahlulbait(as).

Petunjuk dari Quran tentang kepimpinan Ahlulbait(as)

“Jikalau Allah swt memang memerintahkan agar kita mentaati Ahlulbait, mengapa tak letak sahaja dalam Al Quran terang-terang, kan senang? Kan tak jadi perselisihan?

Ayat seperti ini selalu didengari dari orang-orang yang sudah mula memahami sedikit sebanyak tentang tanggungjawab kita terhadap Tsaqalain. Mereka berasa hairan dan takjub, tentang sebab Allah swt tidak meletakkan perkara yang begitu penting ini di dalam kitab agung, rujukan utama seorang Muslim. Saya katakan kepada mereka:

Cara solat pun Allah swt tidak ceritakan secara detail dalam Quran, cuma beberapa hint tentang pergerakannya sahaja, seperti rukuk dan sujud.

Jika semuanya disuapkan kepada kita, maka tidak terjadilah dunia ini sebagai tempat ujian kepada kita. Allah swt mahu kita mengkaji kebenaran, mahu kita berusaha dan struggle dalam mencari jalannya. Barulah Allah swt berikan jawapannya. Firman Allah swt:

Dan orang-orang yang berjihad dalam mencari kebenaran itu, pasti Allah akan tunjukkan kepada jalan kami, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang berbuat kebenaran. Al Quran(29:69)

Di dalam artikel saya, Mencapai kebenaran, saya telah menyebutkan beberapa ciri yang perlu ada pada seseorang sebagai persediaan dalam mengkaji dan memahami kebenaran serta menerimanya. Bagi orang-orang seperti ini, sudah tentu tiada masalah bagi mereka untuk memahami dan menerima Tsaqalain.

Walaupun tidak disebutkan secara jelas, tetapi Allah swt ada memberi petanda di banyak tempat di dalam Quran dalam mengikuti Ahlulbait(as), serta kewajibannya.

Lihatlah sahaja bagaimana Allah swt telah meninggikan kedudukan mereka dengan menyucikan mereka dengan sesuci-suci pembersihan(33:33), dan memerintahkan kepada kita untuk menyayangi mereka, mencintai mereka sebagai upah kenabian(42:23), dan kemuliaan siapakah yang ditinggikan di dalam ayat Mubahalah?(3:61)

1. Allah swt Berfirman:

“Dan berpegang teguhlah kamu sekalian kepada tali Allah (ugama Islam), dan janganlah kamu bercerai-berai” Al Quran (3:103)

Tafsir Al Kabir, Al Thalabi dengan sanad Aban Bin Taghlab dari Imam Jaafar as Sadiq: “kamilah tali Allah yang dimaksudkan di dalam ayat tersebut.”

  • Al Sawaiq al Muhriqah: Ibnu Hajar al Haithami hal 223
  • Yanabi Al Mawaddah: Al Qunduzi al hanafi hal 139, 328, 356
  • Syawahidul Tanzil: Al Huskaninal Hanafi Hadis bil 177-180

Imam Syafi’i dilaporkan di dalam Rashfatul Sadi, tulisan Imam Abu Bakar Ibn Shihabuddin, sebagai berkata:

“Apabila aku melihat manusia hanyut di dalam lautan kesesatan dan kejahilan akibat dari mazhab mereka, aku menaiki, dengan nama Allah, Bahtera Keselamatan, iaitu, Keluarga Yang Terpilih, Penutup segala Nabi. dan aku memegang keras Tali Allah, iaitu ketaatan kepada mereka, kerana Tuhan telah memerintahkan untuk berpegang kepada Tali itu.”

Lihatlah bagaimana Allah swt mengibaratkan Ahlulbait sebagai Tali Allah, serta memerintahkan agar memegang tali itu sekuat hati. Inilah yang dilakukan oleh kami Syiah kepada Tali Allah.
2. Firman Allah swt:

Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kamu kepada Allah, dan hendaklah kamu berada bersama-sama orang-orang yang benar.Al Quran(9:119)

Ayyuhal ikhwan, siapakah orang-orang yang benar ini, yang  kita harus bersama mereka? Pastilah satu golongan suci yang Allah swt angkat melebihi dari yang lain.

Ibnu Syahri dan Tsa’labi dalam Tafsirnya, meriwayatkan dari Jabir dan Abu Jaafar dari Kalbi dan Abu Soleh dari Ibnu Abbas, As Su’udi dan Ja’far bin Muhammad Al Baqir(as) dan beliau meriwayatkan dari Malik bin Anas yang berasal dari ibnu Umar berkata: Allah swt memerintahkan para sahabat dan semua golongan beriman agar takut kepada Allah. Kemudian beliau berkata “…dan hendaklah kamu bersama orang2 yang benar” bermaksud Muhammad dan Ahlulbait baginda.

  • Syawahidul tanzil:al Hakim al Huskani al Hanafi. Hadis bil. 350-356
  • Kifayatuth Thalib: Al Kanji as Syafii Hal 236. Cetakan Al Haidhariyah
  • Tarikh Dimasyq: Ibnu asakir. Bahagian Terjemahan Ali Ibnu Abi Thalib 2/241. Hadis Bilangan 923
  • Tazkiratul Khawas: Sibt Ibnu Jauzi al Hanafi. Hal 16
  • Al Manaqib:Al Khawarizmi al Hanafi hal 198
  • Yanabi al Mawaddah: Al Qanduzi al Hanafi hal 136 dan 140
  • Ad Dur al mantsur: As Suyuti as Syafi’i 3/390

3. Allah swt turut menyebutkan:

Dan bahawa sesungguhnya inilah jalanKu yang betul lurus, maka hendaklah kamu menurutnya; dan janganlah kamu menurut menurut jalan-jalan lain, kerana jalan-jalan (yang lain itu) mencerai-beraikan kamu dari jalan Allah, Dengan yang demikian itulah Allah perintahkan kamu, supaya kamu bertaqwa. Al Quran(6:153)

Imam al Baqir dan Imam al Sadiq selalu menyebutkan bahawa: Jalan yang lurus ini ialah bersama Imam, dan janganlah mengikuti jalan yang lain(imam-imam lain) kerana mereka akan mengalihkan kamu dari jalan Allah. Jika bukan jalan Ahlulbait, imam mana lagi yang boleh kita katakan sebagai jalan yang lurus? Imam Syafi’i, Hanbali? Mereka saling bercanggah antara satu sama lain dan tiada dalil dari Quran atau hadis yang mengwajibkan kita untuk mengikuti mereka, sedangkan Ahlulbait ialah sebahagian peninggalan Nabi(sawa).

4. Di tempat lain, Allah swt mengarahkan kita:

“Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasulullah dan kepada “Ulil-Amri” (orang-orang yang berkuasa) dari kalangan kamu.” Al Quran(4:59)

Ulil Amri yang dimaksudkan ialah Ali dan para Imam dari Ahlulbait.

Dalam Ikmal al-Din terdapat sebuah hadis melalui Jabir al-Jufri yang diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah yang berkata: “Ya Rasulullah kami telah mengetahui Allah dan Rasul-Nya, lalu siapakah ulil amri yang Allah jadikan ketaatan kepada mereka sama dengan ketaatan kepadamu?”

Lalu Nabi SAW bersabda: “Wahai Jabir, mereka adalah penerusku dan para pemimpin muslimin. Yang pertama dari mereka adalah ‘Ali bin Abi Thalib, kemudian (Imam) Hasan dan (Imam) Husain, kemudian ‘Ali bin Husain, kemudian Muhammad bin ‘Ali, yang dikenal dalam taurat dengan nama al-Baqir, yang engkau akan jumpai kelak. Wahai jabir! Apabila engkau menjumpainya, sampaikanlah salamku padanya. Setelahnya adalah ash-Shadiq, Ja’far bin Muhammad; kemudian Musa bin Ja’far, kemudian ‘Ali bin Musa, kemudian Muhammad bin ‘Ali, kemudian ‘Ali bin Muhammad, kemudian Hasan bin ‘Ali, setelahnya adalah al-Qa’im yang nama asli dan gelarnya sama denganku. Dia adalah hujjah Allah di bumi dan pengingat hamba-hamba-Nya. Dia anak (Imam) Hasan bin ‘Ali (al-’Askari). Peribadi inilah yang menyebabkan tangan Allah akan membukakan arah Timur dan Barat dunia dan peribadi ini jugalah yang akan digaibkan dari para pengikut dan pencintanya. karena inilah (kegaiban -penerj) keimamahannya tidak dapat dibuktikan oleh pernyataan siapapun kecuali oleh orang yang keimanannya telah Allah uji.”
Jabir berkata: “Aku bertanya padanya: ‘Wahai Rasulullah! Apakah para pengikut (syi’ah)-nya akan mendapatkan manfaat dari kegaibannya?’ Dia menjawab: ‘Ya. Demi Zat yang mengutusku dengan kenabian, mereka akan mencari cahaya dan taat kepadanya pada masa gaibnya sebagaimana manusia mendapat manfaat dari (cahaya) matahari ketika awan menutupnya’ …”
(Ikmal al-Din, jilid 1, hal. 253, dengan makna yang hampir sama dalam Yanabi’ al-Mawaddah, hal.117)

  • Yanabi al Mawaddah : hal 134 dan 137
  • Syawahidul Tanzil:1/48  hadis 202-204
  • Tafsir Razi:3/375

5. Allah swt berfirman:

“Oleh itu bertanyalah kamu kepada Ahlil Zikir jika kamu tidak mengetahui”.Al Quran(16:43) dan (21:7)

Ahlul Zikir yang dimaksudkan ialah asas Ahlulbait iaitu, Imam Ali, Fatimah, Hassan dan Hussain. Dari Jabir, meriwayatkan setelah turun ayat ini Imam Ali berkata:” Kamilah yang diimaksudkan sebagai Ahlil Zikir”

  • Yanabi al Mawaddah : hal 51 dan 140
  • Syawahidul Tanzil:1/334 hadis 459-466
  • Tafsir Qurtubi: 11/272
  • Tafsir Tabari: 14/109
  • Tafsir Ibnu Katsir2/570

6. Setiap hari, dalam solat, kita membaca:

Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus, iaitu jalan orang-orang yang Kau berikan nikmat ke atas mereka

Imam Tsalabi di dalam Tafsir Al Kabir menafsirkan ayat ini bahawa ayat ini juga merujuk kepada Muhammad dan keluarga Muhammad

7. Akhir sekali, suka saya ingin memberikan hint-hint terakhir dari Allah swt dalam Quran yang berbunyi:

Dan sesiapa yang taat kepada Allah dan RasulNya, maka mereka akan (ditempatkan di syurga) bersama-sama orang-orang yang telah dikurniakan nikmat oleh Allah kepada mereka, iaitu Nabi-nabi, dan orang-orang Siddiqiin, dan orang-orang yang Syahid, serta orang-orang yang soleh.Al Quran(4:69)

Imam dari Ahlulbait, tanpa keraguan dan sebarang bantahan, ialah ketua bagi para Sadiqin, Syuhada dan Solihin. Cukuplah kiranya setakat ini saya sertakan hujah dari Al Quran, yang memberi petunjuk kepada kepimpinan Ahlulbait(as) dan tugas kita adalah untuk mentaati mereka to the letters, tanpa sebarang bantahan dan keraguan sebagaimana haknya, kita mentaati Rasulullah(sawa). Jikalau kamu tidak bersetuju dengan hujah-hujah yang saya bawakkan ini, maka bersaksilah kami tidak memaksa kamu menerima kepercayaan kami, tetapi hormatilah tafsiran ini, dan bukalah hati kamu agar bolehnya kita bersatu tanpa perlu mengorbankan kepercayaan masing-masing. Jikalau kami salah, maka cukuplah kiranya Allah swt menjadi hakim kami, kerana Dia yang maha adil telah meninggalkan kita Al Quran, maka segata tafsiran dalam Quran yang logik dan tidak batil boleh diterima, seperti yang dilakukan oleh para ulama mujtahid Sunni, seperti Maliki dll. Mereka semua menafsirkan sesuatu dengan cara yang berbeza, dan semuanya kalian boleh terima, maka terimalaha tafsiran kami ini.

Kata-kata Rasulullah(sawa) tentang Ahlulbait

Bagaimanapun wahai Ikhwan sekalian, hujah saya masih belum mati setakat ini, ingin sekali, InsyaAllah, saya bawakan apa pula yang dikatakan oleh Rasulullah(sawa) tentang Ahlulbait baginda. Banyak sekali, tetapi cukup la sikit-sikit, nanti tepu pulak akal yang membaca.

1. Lihat sahaja betapa pentingnya penekanan kepada Ahlulbait apabila Rasulullah(sawa) bersabda:

“Sesungguhnya perumpamaan Ahlulbait disisi kamu laksana bahtera Nuh. Barangsiapa yang menaikinya akan selamat dan siapa yang meninggalkannya akan binasa.”

  • As Sawariq Al Muhriqah hal 282
  • Al Mustadrak 3/151
  • Yanabi Al Mawaddah : Hal 30 &370
  • Al Mu’jam as Saghir: 1/139
  • Majma ul zawaid 9/168

Wahai saudaraku sekalian, lihat sahaja apa yang Rasul kita gambarkan tentang Ahlulbait baginda, seperti bahtera Nuh. Tentu sahaja kita selalu mendengar kisah Nabi Nuh(as), di mana Allah swt mendatangkan kepada kaumnya banjir besar, yang mana sayu-satunya jalan keselamatan hanyalah bahtera Nabi Nuh(as). Sesiapa sahaja yang menaikinya, selamat dari azab Allah, dan bagi siapa yang enggan, setinggi mana pun gunung yang di daki, tidak berupaya menyelamatkan mereka dari banjir itu.

Suka juga untuk saya kaitkan, di mana Nabi Nuh dan pengikutnya di cela dan diejek oleh kaumnya, kerana idea beliau tentang bahtera ini. Secara kebetulan(atau memang seperti yang Allah mahu tunjukkan) kami Syiah, yang memilih menaiki bahtera ini juga dicela dan diejek serta dimusuhi dengan pelbagai cara. Maka ini, semakin menambahkan keyakinan kami tentang jalan yang kami pilih ini.

2. Ibnu Hajar al Haithami mensahihkan: Sesungguhnya aku tinggalkan kalian 2 perkara yang kalian tidak akan sesat buat selamanya selagi kalian mengikut keduanya. Keduanya adalah Kitab Allah dan Ahlulbaitku. Dari itu, jangan kalian mendahului keduanya kerana kalian akan binasa, dan jangan kalian memperkecilkan keduanya kerana kalian akan binasa. Dan jangan kalian mengajar mereka kerana mereka lebih mengetahui dari kalian.”

  • As Sawaiq Al Muhriqah hal 230
  • Majma uz Zawaid 9/163
  • Yanabi Al Mawaddah  Hal 41 dan 355
  • Ad Durr al Mantsur 2/60
  • Kanz al Ummal Bil Hadis 958

Perhatikan betul-betul hadis di atas. Itulah selayaknya Ahlulbait yang menjadi gandingan Al Quran, di mana Rasulullah melarang kita mendahului atau ditinggalkan oleh mereka, ini bermakna agar tetap utuh bersama mereka, dalam apa jua keadaan. Apabila Rasulullah(sawa) berkata jangan perkecilkan mereka, itu tandanya Rasulullah mahukan segala keutamaan diberikan kepada keduanya. Yang paling best, ialah ayat terakhir baginda, bahawa jangan mengajar mereka kerana mereka lebih mengetahui. Ini ialah tanda ketinggian ilmu mereka, yang menyebabkan bukti Imamah mereka ke atas kita, sumber ilmu yang benar dan tiada yang lain. Celakalah mereka yang belajar dari orang yang bukan ahlinya.

3. At Thabrani meriwayatkan dari Abu Dzar dan Abu Said Al Khudri, Rasulullah(sawa) bersabda: “Sesungguhnya perumpamaan Ahlulbait ku itu disisi kalian umpama “pintu pengampunan” bani Israel. Sesiapa yang masuk ke dalamnya akan di ampunkan.”

  • Ihya ul Mayyit: Bil 26&27
  • Majma uz Zawaid: 9/168
  • Ibnu Hajar menjelaskan : Allah swt menetapkan bahawa memasuki pintu tersebut ialah pintu Ariha atau Baitulmaqdis dengan rasa hina dan memohon keampunan menjadi sebab kepada pengampunan. Dia telah menjadikan kecintaan kepada Ahlulbait sebagai sebab kepada pengampunan.

4. Al Hakim menerusi Al Mustadrak telah meriwayatkan hadis yang beliau sahihkan berdasarkan syarat Bukhari dan Muslim, dari Ibnu Abbas, Rasul bersabda: Bintang-bintang adalah penyelamat bagi makhluk bumi dari kesesatan. Dan Ahlulbaitku adalah penyelamat untuk umatku dari perselisihan. Apabila kaum-kaum telah berselisih, maka mereka berpecah menjadi pengikut iblis.

  • Ihya Ul Mayyit: As Suyuthi no 21
  • Sawaiq Al muhriqah: hal 138

Penggunaan bintang sebagai medium penunjuk arah samada bagi para pelayar ataupun para musafir memang tidak dapat diragukan lagi. Sekali lagi di sini, Rasulullah(sawa) dengan indahnya menyamakan Ahlulbait baginda dengan bintang-bintang, sebagai panduan kepada umat baginda, dari ancaman kesesatan. Amat malang sekali, jika umat beliau dari dahulu lagi berpandukan kepada “bintang-bintang” ini. maka tidak akan wujud masalah kesatuan seperti sekarang, yang mana ramai dari kita menjadi pengikut iblis.

5. At Tabrani menukilkan riwayat dari Hassan bin Ali, Rasul bersabda: Kekalkanlah kecintaan terhadap kami Ahlulbait. Kerana sesiapa yang menghadap Allah dengan mencintai kami akan masuk syurga melalui syafaat kami. Demi Dia yang jiwa ku di genggamannya, bahawa sesungguhnya tidak bermanfaat satu amalan seorang hamba melainkan dengan mengenali hak kami.

  • Ihya ul Mayyit: as Suyuthi no 18
  • As sawaiq al Muhriqah hal 198
  • Yanabi Al Mawaddah: hal 293.323.326 dan 364
  • Majma uz Zawaid: 9/172

Dalam artikel Tawalla dan Tabbara, saya ada ceritakan tentang hak Ahlulbait(as) ke atas kita. Betapa beratnya hak ini, sehinggakan Rasulullah mengatakan amalan seorang hamba hanya diterima jika hak Ahlulbait dikenali. Apakah hak Ahlulbait, secara ringkasnya, dan mengikut pamahanam saya yang jahil ini, hak Ahlulbait ialah:

  • Hak untuk memimpin kita
  • Hak untuk ditaati oleh kita
  • Hak untuk dicintai oleh kita(tawalla)
  • Hak untuk membenci musuh mereka oleh kita(Tabbarra)
  • dan banyak lagi, hehe

Saya juga ingin menerangkan, adakah cukup kita dikatakan mencintai Ahlulbait(as) hanya dengan sekadar menyatakan, meluahkan dan memberitahu di mulut bahawa kita mencintai mereka? Tidak..oh tidak!!

Apabila saya katakan saya mencintai ibu saya maka

  • saya akan ikut cakap beliau
  • tidak menderhaka
  • menunaikan hak kita kepada mereka
  • tidak menyakiti beliau dengan kata-kata kasar
  • tidak bersahabat dengan orang yang memusuhi atau menyakiti beliau
  • mencintai atau menyukai orang yang beliau sukai

Begitu jugalah dengan rasa cinta kita kepada Ahlulbait. Pengucapan rasa cinta bukan sekadar dimulut, tetapi harus dibuktikan dengan perbuatan dan perlakuan. Malangnya inilah yang dilakukan oleh pelakon-pelakon handalan dari puak nasibi yang menentang Ahlulbait. Bolehkah..layakkah kita dikatakan mencintai Ahlulbait jika dalam masa yang sama kita:

  • Tidak mengenali mereka?(Duh!! Bodoh betul bercinta dengan stranger)
  • Redha akan musuh-musuh yang menyakiti dan membunuh mereka( Radhiallahu anhu kepada Muawiyah? oh no..Yazid..lebih lagi la)
  • Tidak mencintai orang-orang yang  mereka cintai.(kenal tak kalian siapa Miqdad(ra)? Salman(ra)? Abu Dzar(ra)?)
  • Menconteng arang ke muka mereka.(Mengaku sebagai Syiah, tetapi bertenggek sana sini dengan perempuan, berkelakuan tidak senonoh, sehingga orang mengata kepada ajaran Para Imam(as).
  • Tidak mengikut ajaran mereka.(Kamu solat ikut cara siapa, hukum-hukum fiqh berdasarkan ajaran siapa? Diorang kata jangan makan sotong, makan jugak)

Fikirkan sendiri.

6. Sesiapa yang berhasrat mahu hidup dan matinya seperti ku, dan memasuki syurga yang dijanjikan tuhanku iaitu syurga abadi, maka hendaklah ia mengambil Ali dan zuriatnya sebagai pemimpinnya, Sesungguhnya mereka tidak akan mengeluarkan kalian dari pintu hidayah dan tidak juga memasukkan kalian ke dalam pintu kesesatan.

  • Sahih Bukhari 5/65
  • Sahih Muslim 2/51
  • Kanz al Ummal: Hadis no 2578

Tidak perlu komen dengan dalil yang begitu jelas ini.

7. Letakkanlah Ahlulbait ku disisi kalian seperti kedudukan kepala pada jasad dan kedudukan 2 biji mata pada kepala. Kepala tidak bermanfaat menunjuk jalan jika tanpa 2 biji mata.

  • Majma ul Zawaid 9/172

Segala puji bagi Allah swt yang meletakkan hujah kami di buku pihak lawan. Syukur kepada Allah, inilah yang kami pegang. Lihatlah wahai ikhwan, nas dan dalil untuk berpegang teguh kepada Ahlulbait cukup banyak sekali. Tetapi adakah kalian cukup berani untuk menerimanya, dan menolak amalan nenek moyang kamu?

Cukuplah setakat ini bagi orang-orang yang berfikir. Salam alaikum dan solawat

.

Abu Bakar dan Umar ibn Khattab sangat berambisi menggantikan Rasulullah. Mereka melakukan Kolusi, Konspirasi, Kecurangan dengan semua cara; termasuk tidak mentaati Rasulullah; ketika Rasulullah hendak membuat surat wasiat. Kaum Syiah menolak BIDAH yang bernama Khalifah Islamiyyah (Kerajaan Islam); sehingga Kaum Syiah tidak mengakui Abu Bakr, Umar ibn Khattab dan Uthman ibn Affan sebagai Khalifah (raja yang beragama Islam); karena Kaum Syiah memperjuangkan negara IMAMAH

Golongan Suni sama sekali tidak mengakui kedudukan Ali Bin Abi Thalib sebagai Wasiy Nabi SAW, bahkan menurut mereka Wasiy Nabi SAW adalah seseorang yang dipilih/diangkat atas kesepakatan umat, dan yang pertama adalah Abu Bakar yang dipilih/diangkat di Balai Pertemuan Bani Saidah di Saqifah.

Khalifah artinya pengganti Nabi yang harus muncul segera setelah wafatnya Nabi tanpa jeda apapun. Nabi menyatakan bahwa 12 khalifah tersebut mencakup sampai hari kebangkitan ! Kaum muslimin, di dalam kitab shahih mereka, telah sepakat (ijma’) bahwa Rasulullah saw. telah menyebutkan bahwa jumlah khalifah sesudahnya sebanyak 12 orang  pemimpin / Imam. Menurut syi’ah mereka berasal dari keturunan Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra Binti Muhammad SAW.

Menurut sejarah selama pemerintahan dinasti Umayah dan Abasiyah, kesemua Imam 12 dan pengikut-pengikutnya diburu untuk dibunuh. Dalam suasana genting ini ramai ulama syi’ah terpaksa menyembunyikan keimanan mereka.

Bahwasanya Golongan Suni tidak mengakui pengangkatan Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah pengganti Nabi SAW tidaklah menjadikan pengangkatan itu menjadi tidak ada. Karena bukti hadist dan sejarah tetap menunjukkan Nabi Muhammad SAW telah mengangkat anggota keluarga-nya sebagai Penerus/Pengganti/Wasiy bagi umatnya.

Baginda Ali As menjelaskan mengapa dirinya tidak angkat senjata. Hal itu disebabkan karena beliau sendiri, sebagaimana yang dijelaskan, “Saya melihat dan mendapatkan bahwa tidak ada pendukung bagi aku kecuali keluarga saya; maka aku hindarkan mereka dari terjerumus ke dalam kematian. Aku terus menutup mata saya walaupun kelilipan. Aku minum walaupun kerongkongan terteguk. Aku bersabar walaupun susah bernapas dan walaupun harus menelan jadam sebagai makanan.”[ Nahj al-Balâgha, Khutbah 36, hal. 73.]

Akan tetapi Baginda Ali As sendiri senantiasa menyampaikan keluhan dan protes (terhadap proses perampasan khilafah ini) pada masa Abu Bakar dan setelahnya.

Peristiwa Imam Ali membai’at Abubakar secara terpaksa, dan Imam Hasan berdamai dengan Mu’awiyah secara terpaksa tidaklah menjadikan pengangkatan 12 imam ahlulbait  menjadi Penerus/Pengganti (wasiy) Beliau SAW untuk memimpin umat menjadi tidak ada karena Imam Ali dan Imam Hasan tetap berkeyakinan bahwa Imamah adalah haknya.

Ali tetap berkeyakinan bahwa jabatan kekhalifahan adalah haknya. Hal ini dapat dilihat setelah ia dibaiat 25 tahun kemudian dalam sebuah pidatonya yang terkenal dengan asySyiqsyiqiyyah: “Demi Allah, putra Abu Quhafah (Abu Bakar) telah mengenakan busana (kekhalifahan) itu, padahal ia mengetahui dengan yakinnya bahwa kedudukan saya sehubungan (kekhalifahan) itu sama seperti hubungan sumbu dengan roda ..Saya menyaksikan perampasan akan warisan saya. Tatkala yang pertama (Abu Bakar) meninggal ia menyodorkan kekhalifahan itu kepada Ibnu Khaththab sendiri.”

Ia juga mengingatkan para sahabat, yang ia kumpulkan di pekarangan mesjid, akan pidato Rasulullah di Ghadir Khumm yang berbunyi: ‘Barangsiapa menganggap aku sebagai pemimpinnya maka ‘Ali juga adalah pemimpinnya. Ya Allah cintailah siapa yang mencintainya dan musuhilah siapa yang memusuhinya’. Abu Bakar dan ‘Umar pada waktu itu datang memberi selamat kepadanya.

Riwayat yang menyatakan Imam Ali membaiat Abu Bakar setelah enam bulan adalah riwayat shahih dan tsabit dari kitab yang mu’tabar di sisi para ulama yaitu Shahih Bukhari. Tidak ada keraguan akan keshahihan riwayat ini. Dalam riwayat shahih dan tsabit dari Aisyah sebelumnya bahwa baiat Imam Ali kepada Abu Bakar terjadi setelah kematian Sayyidah Fathimah [‘alaihis salam] yaitu setelah enam bulan

Ada  dua  pilihan  bagi  Imam Ali :

1. Memerangi Abubakar cs dengan resiko ISLAM  hancur  binasa karena MUSUH  MUSUH  Imam Ali  dan  MUSUH MUSUH  ABUBAKAR  Cs telah mengepung mereka !! Pada peristiwa penyerangan Musailamah, Imam Ali as membaiat Abu Bakar untuk langgengnya Islam.

Beladzuri dalam menjelaskan sebab mengapa Imam Ali memberikan baiat berkata, “Pasca wafatnya Rasulullah Saw dimana sebagian suku Arab telah murtad, Usman datang ke hadapan Ali dan berkata, “Wahai Putra Paman! Selama Anda tidak memberikan baiat tiada seorang pun yang akan pergi berperang melawan musuh.” Usman senantiasa membicarakan hal ini dengan Ali hingga pada akhirnya Baginda Ali As memberikan baiat kepada Abu Bakar.”

kondisi masyarakat Islam pasca wafatnya Rasulullah menuntut kesabaran lebih tinggi nilainya ketimbang keberanian. Beliau mengetahui bahwa dalam kondisi seperti ini bahwa menghunus pedang akan lebih banyak dimanfaatkan oleh musuh-musuh Islam untuk melenyapkan dan mencerabut Islam hingga ke akar-akarnya. Karena itu, kemaslahatan pribadi dikorbankan untuk kemaslahatan yang lebih penting yaitu asas Islam.

Mengingat maslahat umat Islam menuntut agar beliau mengalah demi meraih maslahat Islam yang lebih abadi. Sebab eksistensi Islam sedang terancam dengan maraknya kaum murtad yang meninggalkan agama Islam dan berniat untuk menyerang kota suci Madinah dan memerangi kaum Muslim!

2. Membai’at Abubakar  secara the facto (taqiyah terpaksa)  agar  Islam tetap hidup dimuka bumi ini… Tanpa membai’at  secara THE JURE

‘Ali membaiat Abu Bakar adalah untuk membesarkan hati kaum Muslimin dan menyelesaikan keresahan kaum Muslimin yang sedang menghadapi musibah murtadnya sebagian kabilah Arab namun ‘Ali tetap berkeyakinan bahwa Imamah adalah haknya

Hadis riwayat Bukhari no. 4240-4241 dibawah ini juga disebutkan dalam Shahih Muslim 3/1380 no 1759 dan Shahih Ibnu Hibban 11/152 no 4823. Dari hadis yang panjang di atas terdapat bukti nyata kalau Imam Ali membaiat Abu Bakar setelah enam bulan yaitu setelah wafatnya Sayyidah Fathimah [‘alaihis salam] :

Telah menceritakan kepada kami Yahyaa bin Bukair yang berkata telah menceritakan kepada kami Al-Laits dari ‘Uqail dari Ibnu Syihaab dari ‘Urwah dari ‘Aaisyah Bahwasannya Faathimah [‘alaihis-salaam] binti Nabi [shallallaahu ‘alaihi wa sallam] mengutus utusan kepada Abu Bakr meminta warisannya dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dari harta fa’i yang Allah berikan kepada beliau di Madinah dan Fadak, serta sisa seperlima ghanimah Khaibar. Abu Bakr berkata ‘Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda ‘Kami tidak diwarisi, segala yang kami tinggalkan hanya sebagai sedekah”. Hanya saja, keluarga Muhammad [shallallahu 'alaihi wasallam] makan dari harta ini’. Dan demi Allah, aku tidak akan merubah sedikitpun shadaqah Rasulullah [shallallaahu 'alaihi wa sallam] dari keadaannya semula sebagaimana harta itu dikelola semasa Rasulullah [shallallaahu 'alaihi wa sallam], dan akan aku kelola sebagaimana Rasulullah mengelola. Maka Abu Bakr enggan menyerahkan sedikitpun kepada Fathimah sehingga Fathimah marah kepada Abu Bakr dalam masalah ini. Fathimah akhirnya mengabaikan Abu Bakr dan tak pernah mengajaknya bicara hingga ia meninggal. Dan ia hidup enam bulan sepeninggal Nabi [shallallaahu 'alaihi wa sallam]. Ketika wafat, ia dimandikan oleh suaminya, Aliy, ketika malam hari, dan ‘Aliy tidak memberitahukan perihal meninggalnya kepada Abu Bakr.

Padahal semasa Faathimah hidup, Aliy dituakan oleh masyarakat tetapi, ketika Faathimah wafat, ‘Aliy memungkiri penghormatan orang-orang kepadanya, dan ia lebih cenderung berdamai dengan Abu Bakr dan berbaiat kepadanya, meskipun ia sendiri tidak berbaiat di bulan-bulan itu. ‘Aliy kemudian mengutus seorang utusan kepada Abu Bakar yang inti pesannya  ‘Tolong datang kepada kami, dan jangan seorangpun bersamamu!’. Ucapan ‘Aliy ini karena ia tidak suka jika Umar turut hadir. Namun ‘Umar berkata ‘Tidak, demi Allah, jangan engkau temui mereka sendirian’. Abu Bakr berkata ‘Kalian tidak tahu apa yang akan mereka lakukan terhadapku. Demi Allah, aku sajalah yang menemui mereka.’ Abu Bakr lantas menemui mereka.

‘Aliy mengucapkan syahadat dan berkata ”Kami tahu keutamaanmu dan apa yang telah Allah kurniakan kepadamu. Kami tidak mendengki kebaikan yang telah Allah berikan padamu, namun engkau telah sewenang-wenang dalam memperlakukan kami. Kami berpandangan, kami lebih berhak karena kedekatan kekerabatan kami dari Rasulullah [shallallaahu 'alaihi wa sallam’].

 Hingga kemudian kedua mata Abu Bakr menangis. Ketika Abu Bakr bicara, ia berkata “Demi Yang jiwaku ada di tangan-Nya, kekerabatan Rasulullah lebih aku cintai daripada aku menyambung kekerabatanku sendiri. Adapun perselisihan antara aku dan kalian dalam perkara ini, sebenarnya aku selalu berusaha berbuat kebaikan. Tidaklah kutinggalkan sebuah perkara yang kulihat Rasulullah [shallallahu 'alaihi wa sallam] melakukannya, melainkan aku melakukannya juga’.

Kemudian ‘Aliy berkata kepada Abu Bakr ‘Waktu baiat kepadamu adalah nanti sore’. Ketika Abu Bakr telah shalat Dhuhur, ia naik mimbar. Ia ucapkan syahadat, lalu ia menjelaskan permasalahan ‘Aliy dan ketidakikutsertaannya dari bai’at serta alasannya. ‘Aliy kemudian beristighfar dan mengucapkan syahadat, lalu mengemukakan keagungan hak Abu Bakar, dan ia menceritakan bahwa apa yang ia lakukan tidak sampai membuatnya dengki kepada Abu Bakar. Tidak pula sampai mengingkari keutamaan yang telah Allah berikan kepada Abu Bakr. Ia berkata “Hanya saja, kami berpandangan bahwa kami lebih berhak  dalam masalah ini namun Abu Bakr telah bertindak sewenang-wenang terhadap kami sehingga kami pun merasa marah terhadapnya”.

Kaum muslimin pun bergembira atas pernyataan ‘Aliy dan berkata “Engkau benar”. Sehingga kaum muslimin semakin dekat dengan ‘Aliy ketika ‘Aliy mengembalikan keadaan menjadi baik” [Shahih Bukhaari no. 4240-4241].

Hadis yang dijadikan hujjah oleh penyebar syubhat ini adalah hadis Buraidah ketika ia menceritakan soal para sahabat yang merendahkan Imam Ali. Hadis tersebut bukan diucapkan di Ghadir Khum dan tentu saja Rasulullah SAW akan marah kepada sahabat yang menjelekkan Imam Ali karena Imam Ali adalah pemimpin setiap mukmin (semua sahabat Nabi) sepeninggal Nabi SAW . Disini Rasulullah SAW mengingatkan Buraidah dan sahabat lain yang ikut di Yaman agar berhenti dari sikap mereka karena Imam Ali adalah pemimpin bagi setiap mukmin sepeninggal Nabi SAW.

Dari Abdullah bin Buraidah dari ayahnya Buraidah yang berkata “Rasulullah SAW mengirim dua utusan ke Yaman, salah satunya dipimpin Ali bin Abi Thalib dan yang lainnya dipimpin Khalid bin Walid. Beliau SAW bersabda “bila kalian bertemu maka yang jadi pemimpin adalah Ali dan bila kalian berpisah maka masing-masing dari kalian memimpin pasukannya. Buraidah berkata “kami bertemu dengan bani Zaid dari penduduk Yaman kami berperang dan kaum muslimin menang dari kaum musyrikin. Kami membunuh banyak orang dan menawan banyak orang kemudian Ali memilih seorang wanita diantara para tawanan untuk dirinya. Buraidah berkata “Khalid bin Walid mengirim surat kepada Rasulullah SAW memberitahukan hal itu. Ketika aku datang kepada Rasulullah SAW, aku serahkan surat itu, surat itu dibacakan lalu aku melihat wajah Rasulullah SAW yang marah kemudian aku berkata “Wahai Rasulullah SAW, aku meminta perlindungan kepadamu sebab Engkau sendiri yang mengutusku bersama seorang laki-laki dan memerintahkan untuk mentaatinya dan aku hanya melaksanakan tugasku karena diutus. Rasulullah SAW bersabda “Jangan membenci Ali, karena ia bagian dariKu dan Aku bagian darinya dan Ia adalah pemimpin kalian sepeninggalKu, ia bagian dariKu dan Aku bagian darinya dan Ia adalah pemimpin kalian sepeninggalKu. [Musnad Ahmad tahqiq Syaikh Ahmad Syakir dan Hamzah Zain hadis no 22908 dan dinyatakan shahih].

hadis Buraidah menjadi penguat bahwa Imam Ali adalah pemimpin bagi setiap mukmin (semua sahabat Nabi)  sepeninggal Nabi SAW dan sungguh tidak berguna syubhat dari para pengingkar.

Para sahabat Nabi memberikan ucapan selamat kepada Ali dengan mengatakan “Amirul Mukminin (Pemimpin Orang Beriman) kepadanya “. Sehingga tidak ada ruang lagi untuk ragu berkenaan dengan arti kata “mawla “. Meskipun penduduk Madinah berdiam diri selama peristiwa yang menahan Ali dari kekhalifahan, masih banyak yang menyaksikan peristiwa ini,

Hassan bin Tsabit, pujangga masyhur Nabi, menggubah sebuah syair berkenaan dengan peristiwa al-Ghadir pada hari itu. Ia bersenandung: “Lalu ia bersabda kepadanya: “Berdirilah, Wahai Ali, karena aku rela menjadikanmu sebagai Imam dan Penunjuk Jalan selepasku.”

Dalam bait syairnya ini, Hassan bin Tsabit telah memahami istilah “mawla” sebagai arti dari “Imam dan Penunjuk Jalan” yang secara jelas membuktikan bahwa Nabi Saw berbicara tentang penggantinya, dan ia sama sekali tidak memperkenalkan Ali sebagai “temannya” melainkan sebagai seorang “pemimpin.”

kaum tradisional Arab segan mempercayakan ali yang  muda dan belia yang belum berpengalaman untuk memikul tanggung jawab yang besar..

Imam Ali merasa dirinya yang paling berhak tetapi orang-orang malah membaiat Abu Bakar. Hal ini telah diisyaratkan oleh Rasulullah SAW

Telah menceritakan kepada kami Abu Hafsh Umar bin Ahmad Al Jumahi di Makkah yang berkata telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdul Aziz yang berkata telah menceritakan kepada kami Amru bin ‘Aun yang berkata telah menceritakan kepada kami Husyaim dari Ismail bin Salim dari Abi Idris Al Awdi dari Ali Radhiyallahu ‘anhu yang berkata “Diantara yang dijanjikan Nabi SAW kepadaku bahwa Umat akan mengkhianatiku sepeninggal Beliau”. [Al Mustadrak 3/150 no 4676 dishahihkan oleh Al Hakim dan Adz Dzahabi]

Selama masa 6 bulan itu ternyata pemerintahan Abu Bakar mengalami berbagai masalah seperti adanya “kaum yang murtad” dan adanya Nabi palsu Musailamah Al Kadzdzab beserta pengikutnya. Berbagai masalah ini dapat dimanfaatkan oleh orang-orang munafik untuk memecah belah umat. Merekapun juga melihat tindakan memisahkan diri yang dilakukan Imam Ali dan hal ini bisa saja dimanfaatkan oleh mereka untuk menyebarkan fitnah perpecahan.

Oleh karena itulah setelah 6 bulan Imam Ali memutuskan memberikan baiat untuk menutup celah yang akan dimanfaatkan oleh kaum munafik dan baiat ini adalah demi keutuhan umat islam. Inilah yang dimaksud Imam Ali bahwa ia mengalami penderitaan dan kesulitan sepeninggal Nabi SAW [hal ini telah diberitakan oleh Nabi SAW kepada Imam Ali]. Di satu sisi Beliaulah yang paling berhak tetapi beliau tetap memberikan baiat demi keutuhan umat islam.

Telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin Sahl seorang faqih dari Bukhara yang berkata telah menceritakan kepada kami Sahl bin Mutawwakil yang berkata telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yunus yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudhail dari Abi Hayyan At Taimi dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas RA yang berkata Nabi SAW berkata kepada Ali “Sesungguhnya kamu akan mengalami kesukaran [bersusah payah] sepeninggalKu”. Ali bertanya “apakah dalam keselamatan agamaku?”. Nabi SAW menjawab “dalam keselamatan agamamu” [Mustadrak Ash Shahihain 3/151 no 4677 dishahihkan oleh Al Hakim dan Adz Dzahabi]

Pernyataan Imam Ali kalau Beliau adalah yang paling berhak sepeninggal Nabi SAW jelas berdasarkan apa yang telah dikatakan oleh Nabi SAW sendiri, diantaranya

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya bin Hamad dari Abi ‘Awanah dari Yahya bin Sulaim Abi Balj dari ‘Amr bin Maimun dari Ibnu Abbas yang berkata Rasulullah SAW bersabda kepada Ali “KedudukanMu di sisiKu sama seperti kedudukan Harun di sisi Musa hanya saja Engkau bukan seorang Nabi. Sesungguhnya tidak sepatutnya Aku pergi kecuali Engkau sebagai KhalifahKu untuk setiap mukmin sepeninggalKu” [As Sunnah Ibnu Abi Ashim no 1188 dengan sanad yang shahih]

Sepeninggal Abu Bakar, Umar ditunjuk Abu Bakar untuk menggantikannya dan orang-orangpun membaiat Umar. Disini Imam Ali melihat betapa orang-orang menerima keputusan Abu Bakar dan membaiat Umar padahal Imam Ali merasa bahwa Beliau adalah yang paling berhak. Hal inilah yang dinyatakan oleh Beliau sebagai penderitaan dan kesulitan tetapi beliau tetap bersabar dan ikut memberikan baiat pula kepada Umar agar tidak menimbulkan perpecahan di kalangan kaum muslimin.

Sepeninggal Umar, beliau memerintahkan pemilihan khalifah melalui Majelis syura yang ia bentuk. Terdapat berbagai riwayat seputar masalah ini yang terkadang “agak kontroversi” tetapi singkat cerita majelis tersebut mengangkat Utsman sebagai khalifah. Sekali lagi Imam Ali melihat orang-orang memilih Utsman padahal Imam Ali merasa yang paling berhak. Hal inilah yang dinyatakan Imam Ali sebagai penderitaan dan kesulitan yang beliau alami. Tidak ada satupun dikalangan umat yang mengalami penderitaan dan kesulitan seperti itu. Beliau yang berhak tetapi beliau tetap bersabar dan menerima. Tentu saja akhlak seperti ini hanya dimiliki orang-orang khusus.

Walaupun Imam  Ali membai’at ABUBAKAR SECARA THE FACTO, Bukan berarti menyetujui SECARA YURiDIS kekhalifahan non ahlul bait. Pembaiatan ‘Ali bukanlah pengakuan akan keabsahan kekhalifahan Abu Bakar, hal itu dilakukan semata-mata untuk menjaga Islam dan kemaslahatan Islam.

Khalifah = Pengganti.

Khalifah Rasulullah = Pengganti Utusan Tuhan, ini hak yuridis Imam Ali.

Imam Ali As memberikan baiat kepada beberapa orang tertentu lantaran kemaslahatan yang bernilai seperti menjaga agama Tuhan dan segala jerih payah Rasulullah.

Imam Ali bahwa berulang kali menyampaikan protes terhadap situasi dan kondisi di masa tiga khalifah namun upaya maksimal beliau dikerahkan untuk menjaga dan menguatkan pemerintahan Islam di hadapan musuh-musuhnya.

Yang benar adalah bahwa kapan saja ada kesempatan, Imam Ali selalu membicarakan haknya sebagai Khalifah Rasulullah Saw.Sunni mencatat peristiwa 25 tahun setelah hari Ghadir Kum

Tidak seorang pun yang menyalahkan Ali karena klaim atau menyodorkan bukti-buktinya hingga hari ini. Ia sendiri berkata: “Tidak seorang pun yang dapat disalahkan atas terlambatnya (menjaga) ia meraih haknya, namun kesalahan terletak pada orang yang mengambil sesuatu yang bukan haknya.”[ Nahj al-Balaghah, ucapan # 166.]

Pada tahun 35 H, sewaktu Imam berada di Kufah, ia mendengar bahwa orang-orang sangsi atas klaimnya sebagai lebih utama dan lebih prioritas atas ketiga khalifah sebelumnya. Oleh karena itu, ia mendatangi majelis di Masjid dan memohon kepada saksi-saksi yang hadir di Ghadir Khum  untuk menyatakan kebenaran deklarasi Nabi Saw tentang dirinya sebagai “mawla (tuan, pemimpin, junjungan) bagi mereka yang menjadikanNabi sebagai mawlanya sendiri. Dalam banyak kitab, kita mempunyai dua puluh empat sahabat Nabi yang menyatakan kesaksian akan kebenaran klaim Imam Ali ini. Sumber-sumber lain seperti Musnad Ahmad bin Hanbal dan Majmâ az-Zawâid karya al-Haytami menyebutkan sebanyak tiga puluh.[ Peristiwa Kufa ini telah diriwayatkan oleh empat sahabat Nabi Saw dan empat belas thabi’in, dan telah tercatat pada kebanyakan buku-buku sunan dan sejarah. Lihat al-Amini, al-Ghadir, vol. 1 (Tehran: Muassasat al-Muwahidi, 1976) hal-hal. 166-186.]

Dalam beberapa kesempatan, Imam Ali memohon kepada para sahabat Nabi untuk bersaksi atas deklarasi al-Ghadir ini. Di sini saya akan menyebutkan satu contoh perisitiwa yang terjadi di Kufah selama masa kekhalifaan Ali, sekitar dua puluh lima tahun setelah Nabi Saw wafat.

Imam Ali mendengar bahwa beberapa orang meragukan klaimnya atas keutamaan khalifah-khalifah sebelumnya, oleh karena itu, ia datang pada sebuah perhelatan yang berlangsung di masjid dan memohon para saksi yang hadir dalam acara Ghadir Khum untuk membenarkan apa yang disampaikan oleh Nabi ihwal Nabi sebagai mawla mereka dan seluruh kaum mukmin. Beberapa orang sahabat berdiri dan membenarkan klaim Ali ini. Kami akan menyebutkan dua puluh empat nama sahabat yang membuat kesaksian atas klaim Imam Ali, meskipun sumber-sumber yang lain seperti Musnad Ahmad dan Majma’ az-Zawaid milik Hafidh al-Haytami malah menyebutkan sebanyak tiga puluh orang. Perlu untuk diingat bahwa kejadian ini berlangsung 25 tahun setelah peristiwa GhadirKhum, dan selama masa ini, ratusan saksi telah wafat atau gugur di medang perang selama masa dua khalifah yang pertama. Sebagai tambahan atas kenyataan ini bahwa kejadian ini berlangsung di Kufah yang jauh dari pusat tempat sahabat bermukim, Madinah. Kejadian ini beralngsung di Kufah pada tahun 35 H yang riwayatnya sendiri dinukil oleh 4 orang sahabat dan 14 tabii’in dan telah tercatat dalam sebagian besar kitab-kitab sejarah dan hadis.[ Untuk referensi lebih lengkap, lihat al-Amini, al-Ghadir, jilid. 1 (Tehran: Muassasatul Muwahhidi, 1976) hal. 166-168.]

Imam Ali Mengakui Kepemimpinannya : Hujjah Hadis Ghadir Khum

Hadis Ghadir Khum yang menunjukkan kepemimpinan Imam Ali adalah salah satu hadis shahih yang sering dijadikan hujjah oleh kaum Syiah dan ditolak oleh kaum Sunni. Kebanyakan mereka yang mengingkari hadis ini membuat takwilan-takwilan agar bisa disesuaikan dengan keyakinan mahzabnya. Padahal Imam Ali sendiri mengakui kalau hadis ini adalah hujjah bagi kepemimpinan Beliau. Hal ini terbukti dalam riwayat-riwayat yang shahih dimana Imam Ali ketika menjadi khalifah mengumpulkan orang-orang di tanah lapang dan berbicara meminta kesaksian soal hadis Ghadir Khum.

Dari Sa’id bin Wahb dan Zaid bin Yutsai’ keduanya berkata “Ali pernah meminta kesaksian orang-orang di tanah lapang “Siapa yang telah mendengar Rasulullah SAW bersabda pada hari Ghadir Khum maka berdirilah?. Enam orang dari arah Sa’id pun berdiri dan enam orang lainnya dari arah Za’id juga berdiri. Mereka bersaksi bahwa sesungguhnya mereka pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda kepada Ali di Ghadir Khum “Bukankah Allah lebih berhak terhadap kaum mukminin”. Mereka menjawab “benar”. Beliau bersabda “Ya Allah barangsiapa yang aku menjadi pemimpinnya maka Ali pun menjadi pemimpinnya, dukunglah orang yang mendukung Ali dan musuhilah orang yang memusuhinya”. [Musnad Ahmad 1/118 no 950 dinyatakan shahih oleh Syaikh Ahmad Syakir]

Sebagian orang membuat takwilan batil bahwa kata mawla dalam hadis Ghadir Khum bukan menunjukkan kepemimpinan tetapi menunjukkan persahabatan atau yang dicintai, takwilan ini hanyalah dibuat-buat. Jika memang menunjukkan persahabatan atau yang dicintai maka mengapa ada sahabat Nabi yang merasa ada sesuatu yang mengganjal di hatinya ketika mendengar kata-kata Imam Ali di atas.

Adanya keraguan di hati seorang sahabat Nabi menyiratkan bahwa Imam Ali mengakui hadis ini sebagai hujjah kepemimpinan. Maka dari itu sahabat tersebut merasakan sesuatu yang mengganjal di hatinya karena hujjah hadis tersebut memberatkan kepemimpinan ketiga khalifah sebelumnya. Sungguh tidak mungkin ada keraguan di hati sahabat Nabi kalau hadis tersebut menunjukkan persahabatan atau yang dicintai.

Dari Abu Thufail yang berkata “Ali mengumpulkan orang-orang di tanah lapang dan berkata “Aku meminta dengan nama Allah agar setiap muslim yang mendengar Rasulullah SAW bersabda di Ghadir khum terhadap apa yang telah didengarnya. Ketika ia berdiri maka berdirilah tigapuluh orang dari mereka. Abu Nu’aim berkata “kemudian berdirilah banyak orang dan memberi kesaksian yaitu ketika Rasulullah SAW memegang tangannya (Ali) dan bersabda kepada manusia “Bukankah kalian mengetahui bahwa saya lebih berhak atas kaum mu’min lebih dari diri mereka sendiri”. Para sahabat menjawab “benar ya Rasulullah”. Beliau bersabda “barang siapa yang menjadikan Aku sebagai pemimpinnya maka Ali pun adalah pemimpinnya dukunglah orang yang mendukungnya dan musuhilah orang yang memusuhinya. Abu Thufail berkata “ketika itu muncul sesuatu yang mengganjal dalam hatiku maka aku pun menemui Zaid bin Arqam dan berkata kepadanya “sesungguhnya aku mendengar Ali RA berkata begini begitu, Zaid berkata “Apa yang patut diingkari, aku mendengar Rasulullah SAW berkata seperti itu tentangnya”.[Musnad Ahmad 4/370 no 19321 dengan sanad yang shahih seperti yang dikatakan Syaikh Syu’aib Al Arnauth dan Tahdzib Khasa’is An Nasa’i no 88 dishahihkan oleh Syaikh Abu Ishaq Al Huwaini]

Kata mawla dalam hadis ini sama halnya dengan kata waliy yang berarti pemimpin, kata waly biasa dipakai oleh sahabat untuk menunjukkan kepemimpinan seperti yang dikatakan Abu Bakar dalam khutbahnya. Inilah salah satu hadis Ghadir Khum dengan lafaz Waly.

Sebagai kesimpulannya, perilaku penduduk Madinah selepas wafatnya Rasulullah tidak secara langsung menghapus kisah al-Ghadir.

Pesan Terakhir Rasulullah saww di Ghadir Khum

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Segala Puji bagi Allah yang tinggi dalam keesaan¬-Nya, dekat dalam ketunggalan-Nya, perkasa dalam kekuatan-Nya, agung dalam keberadaan pembantu¬-pembantu utama-Nya, Maha Tahu akan segala sesuatu, sementara Dia tetap ditempat-Nya; rnenundukkan seluruh makhluk dengan kekuasaan¬Nya dan (kekuatan) bukti-bukti-Nya.

Dialah Tuhan yang kesucian-Nya abadi dan pujian bagi-Nya tak pernah terhenti. Pencipta langit-langit yang menjulang dan lapisan bumi yang membentang. Penguasa bumi dan langit, Maha Kudus dan Maha Suci. Tuhan para Malaikat dan al-Ruh yang kepada seluruh ciptaan-Nya bersifat sangat pemurah, dan kepada seluruh makhluk-Nya bersifat Maha Derma.
Dia melihat setiap pandangan, tanpa pandangan¬-pandangan itu rnelihat-Nya, Dialah Maha Pemurah, Maha Tabah dan Maha Kasih.

(Dialah) Penabur rahmat yang meliputi segala sesuatu, Pelimpah nikmat yang memberkati seluruh rnakhluk, tidak mempercepat siksa-Nya dan tidak segera menimpakan azab kcpada mereka yang berhak rnendapatkannya. Dia tahu setiap rahasia yang tersembunyi dan segala apa yang tersimpan dalarn hati. Tiada rahasia yang luput dari-Nya. dan tiada misteri yang rnengelirukan-Nya.

Dia Maha Tahu akan segala sesuatu, menundukkan segala sesuatu, perkasa atas segala sesuatu, berkuasa atas segala sesuatu, tiada sesuatu yang rnenyerupai-Nya.

Dialah yang menciptakan sesuatu ketika belum ada yang disebut sesuatu. Dialab yang Maha Abadi, yang berkuasa atas dasar keadilan. Tiada Tuhan melainkan Dia, yang Maha Mulia dan Maha Bijaksana, Maha Suci Tuhan dan dilihat oleh pandangan mata, dan Dialah yang meliputi pandangan mata. Dia yang Maha Kasih dan Maha Mengetahui.

Tiada siapa yang menceritakan Sifat-Nya lantaran (pernah) melihat-Nya, tiada siapa yang mengetahui bagaimana Dia secara lahir dan batin, melainkan apa yang dikatakan oleh Allah yang Maha Mulia dan Maha Agung itu sendri.

Aku bersaksi bahwa Dia Allah yang kudus-Nya memenuhi masa, cahaya-Nya meliputi alpha dan omega, perintah-Nya terlaksana tanpa musyawarah, takdir-Nya ditentukan tanpa bersama-Nya mitra.

Tiada cela dalam pengaturan-Nya, tiada contoh dan ciptaan yang dibentuk-Nya, tiada bantuan dari setiap apapun, tiada kerja keras dan tiada tipuan atas apa yang diciptakan-Nya, Dia ciptakan makhluk-Nya dan jadilah ia, dan karena cahaya wujud-Nya maka tampaklah semua.

Dialah Allah yang tiada Tuhan melainkan Dia, Maha Rapi dan Maha lndah dalam mencipta, maha Adil yang tidak menganiaya, dan Maha Pemurah yang kepada-Nya kembali seluruh hajat dan perkara.

Aku bersaksi bahwa Dialah Tuhan yang kepada kekuasaan-Nya segala sesuatu tunduk, dan kepada keagungan-Nya segala sesuatu membungkuk. Dialah Empunya seluruh kekayaan, Raja dari seluruh kerajaan, Pencipta planet-planet senta bintang gemintang di langit, pengendali matahari dan bulan, di mana kesemuanya mengorbit untuk batas waktu yang telah ditentukan. Dialah yang menggilirkan malam setelah siang, dan siang setelah malam saling berganti. Dialah penghancur para tiran yang membangkang dan pemusnah setan-setan yang terkutuk yang menentang.

Tiada bersama-Nya lawan dan kawan, Dia Maha Esa, Tunggal. Satu dan tempat bertumpu segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tiada sesuatupun yang setara dengan-Nya. Dialah Tuhan yang Satu, Pemelihara yang Agung dan Pemurah. (Bila) berkehendak ia akan terlaksana, (bila) berkeinginan ia akan terwujud. Dia mengetahui segala sesuatu dengan rinci. Dia yang mematikan dan menghidupkan, membuat orang menjadi fakir dan kaya, tertawa dan menangis, menyimpan dan memberi.

Di tangan-Nyalah kerajaan; bagi-Nya segala pujian, di tangan-Nya semua kebaikan dan Dia-lah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Malam dimasukkan-Nya ke dalarn siang, dan siang ke malarn. Tiada Tuhan melainkan Dia. Maha Perkasa dan Maha Pengampun, Pengijabah do’a, Pemberi yang tulus, Maha Tahu secara rinci segala hembusan nafas, Tuhan seluruh makhluk, baik dan golongan jin maupun golongan nas (manusia). Tiada perkara sulit di hadapan-Nya; tiada gemuruh suara orang-orang yang berteriak mengganggu-Nya atau desakan orang-orang yang mendesak rnencemaskan¬Nya. Dialah Pemelihara orang-orang yang saleh, Penyebab berjayanya orang-orang yang sukses, Pelindung penghuni alam semesta, dan Yang paling berhak untuk disyukuri dan dipuji oleh setiap makhluk ciptaan-Nya. Aku memuji-Nya pada saat suka dan duka, juga pada saat sempit dan lapang. Aku beriman kepada-Nya, kepada para malaikat-Nya, Kitab-kitab¬Nya dan Rasul-rasul-Nya. Aku mendengar perintah¬Nya, patuh dan segera bangkit melaksanakan segala yang diridhai-Nya, menerima total ketentuan-Nya, semangat dalam mematuhi-Nya dan takut akan siksa¬Nya. Sebab Dialah Tuhan yang tiada seorangpun akan merasa aman dari makar-Nya atau khawatir dan kezaliman-Nya. Aku ikrarkan pada diriku akan kehambaanku dihadapan-Nya, dan juga bersaksi akan ketuhanan-Nya (untuk diriku). Kini akan aku sampaikan (kepada kalian) apa yang Tuhan wahyukan kepadaku, sebab bila tidak kulakukan itu, niscaya azab-Nya akan mengenaiku, sedemikian sehingga tiada siapapun yang akan dapat menolak¬Nya dariku, (sebesar apapun kekuatannya). Tiada Tuhan melainkan Dia. Dia telah memberitahuku, apabila tidak kusampaikan apa yang diturunkan-Nya kepadaku, itu berarti sama dengan aku tidak menyarnpaikan seluruh risalah (pesan)-Nya; dan Dia juga telah menjamin untuk memeliharaku (dan upaya orang-orang yang menentang). Bagiku cukuplah Allah Yang Maha Pemurah sebagal penjamin.

Firman-Nya untukku:

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang
“Wahai Rasul (Muhammad), sainpaikan apa yang diturunkan kepadamu dan Tuhanmu. Apabila tidak kau lakukan itu, berarti sama dengan engkau tidak menyampaikan s eluruh risalah (pesan) -Nya, dan Allah (akan) memeliharamu dari (gangguan) manusia-manusia lain.” (Q.S. 5:67)

Wahai umat manusia! aku tidak pernah salah, alpa atau lalai dalam menyampaikan segala sesuatu yang diturunkan Allah kepadaku. Kini aku jelaskan kepada anda semua sebab turunnya ayat ini: Malaikat Jibril (as) turun menjumpaiku sebanyak tiga kali, memerintah aku–berdasarkan perintah Tuhanku— untuk berdiri di tempat keramaian ini dan menyatakan kepada (bangsa) putih dan hitam bahwa Ali bin Abi Thalib (as) adalah saudaraku, Washi-ku (penerima wasiatku) penggantiku dan imam setelahku, yang kedudukannya di sisiku sama dengan kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tiada nabi selepasku. Dia adalah wali (pemimpin) kamu setelah Allah dan Rasul-Nya. Allah (SWT) juga telah menurunkan kepadaku sebuah ayat dalam kitab-Nya berkenaan dengan itu:

“Sungguh wali (pemimpin) kamu adalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman yang mendirikan shalat, dan menunaikan zakat sementara mereka dalam keadaan ruku” (Q.S. 5:55)

Ali bin Abi Thalib (as) adalah orang yang mendirikan shalat dan mengeluarkan zakatnya dalain keadaan ruku’ seperti yang dirnaksud oleh Allah (SWT) itu.

(Pada rnulanya) Aku mernohon kepada Malaikat Jibnil agar dia mernintakan kepada Allah untuk membehaskan aku dan menyampaikan penintah mi kepada kamu, kanena aku tahu betapa sedikitnya orang-orang yang bertakwa, dan hetapa banyaknya orang yang niunafik, penebar fitnah dan mengolok¬olok agama Islam sebagaimana yang disifatkan oleh Allah karakten-kanakter mereka dalarn Al-Qur’an, “… kamu katakan dengan multi/mu apa yang tidak kamu ketahui sedikit pun juga. clan kamu menganggapnya sesua/u yang ningan, padaha/ di sisi A//a/i ia ada/a/i besan. “ (24:15)

Masih segar dalam ingatanku bagaimana mereka menyebutku sebagal udzun (orang yang tidak teliti dan cepat percaya pada setiap berita yang didengarnya). Mereka mendugaku demikian lantaran seringnya mereka mendapati dia (Ali) duduk bersamaku dan besarnya penghormatanku kepadanya sehingga untuk itu Allah ‘Azza wa jalla menurunkan firman-Nya:
Di antara mereka (orang-orang munafìk) ada yang menyakiti nabi dan mengatakan: “Nabi mempercayai semua apa yang didengarnya.” Kalakanlah: “Ia mempercayai semua yang balk bagi kamu, ia beriman kepada Allah dan mempercayai orang-orang mukmin.” (Q.S. 9:61)

Seandainya aku mau sebutkan nama-nama mereka niscaya akan kusebutkan, atau seandainya aku mau tunjuk wajah-wajah mereka niscaya akan kutunjukkan. Namun —demi Allah— aku telah dan terus akan bersikap sangat bersahabat dan dewasa terhadap mereka. Bagaimanapun, Allah tetap mendesakkan dan tidak akan rela padaku melainkan aku sampaikan apa yang diturunkan-Nya padaku tentang maksud ayat: “Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu, apabila kamu tidak mengerjakan apa yang diperintahkan itu, berarti kamu tidak menyampaikan seluruh risalahmu. Allah akan memelihara kamu dan gangguan manusia” (Q.S. 5:67)

Ketahuilah —wahai umat manusia— sesungguhnya Allah telah menetapkannya (Ali) sebagai wali, pemimpin dan imam bagi kalian. Mematuhinya adalah wajib, baik bagi kalangan Muhajirin, Anshar, generasi-generasi yang baik yang datang setelahnya, orang-orang desa, kota, Ajam (Non Arab), Arab, orang yang merdeka, hamba sahaya, kecil, besar. putih, hitam, dan bagi setiap orang yang menyatakan tauhid kepada Allah (SWT). Keputusan hukum yang diambilnya (All) adalalah sah. Kata-katanya wajib didengar dan perintahnya wajib dipatuhi. Orang yang menentangnya akan terkutuk, yang rnengikutinya akan mernperoleh rahmat, dan yang mernpercayainya adalah orang beriman. Allah telah mengampuni orang yang mendengarnya dan yang mematuhinya.

Wahai umat manusia ini adalah kali terakhir aku berdiri di tempat keramaian ini.
Dengarlah, patuhilah dan ikutilah perintah Tuhan kamu, karena Allah ‘Azza wa Jalla adalah Tuan, Pelindung, dan Tuhan kamu. Berikutnya adalah Muhammad (saw), yang sekarang tengah berdiri dan berbicara dihadapan kamu sebagai wali dan pemimpin kamu. Setelah aku, Ali adalah Wali dan imam kamu berdasarkan perintah Tuhanmu. Kemudian imamah dan kepemimpinan (berikutnya) ada pada zuriat keturunanku dari putra-putranya sehinggalah tiba suatu hari di mana kamu akan berjumpa dengan Allah dan Rasul-Nya.

Sungguh tiada suatu yang halal melainkan apa yang dihalalkan oleh Allah, dan tiada yang haram melainkan apa yang diharamkan oleh-Nya. Dialah yang telah mengajariku mana yang halal dan mana yang haram. Kemudian aku mengajarkannya kepada Ali apa yang diajarkan oleh Tuhanku padaku dari kitab-Nya dan hukum halal dan haram-Nya.

Wahai umat manusia! seluruh ilmu yang diajarkan-Nya kepadaku adalah ilmu-ilmu yang rinci.

Dan dari setiap ilmu yang kuketahui itu, telah kuajarkan pula secara rinci pada imam orang-orang yang bertakwa ini. Sungguh tiada ilmu melainkan telah aku sampaikan kepada Ali, sang Imam yang agung.

Wahai umat manusia! Jangan kalian tersesat karena meninggalkannya; jangan kalian berpaling darinya; dan jangan kalian takabur dan enggan untuk menerima kepemimpinannya. Karena dia akan mem bawa kepada kebenaran dan mengamalkannya, serta menghancurkan kebatilan dan mencegahnya, tanpa dia peduli pada celaan para pencela dalam menjalankan perintah Tuhannya. Dialah orang pertama yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya; dialah orang yang mengorbankan jiwanya demi Rasul-Nya; dialah satu-satunya dari kaum lelaki yang pertama kali menyembah Allah bersama Rasul utusan-Nya.

Wahai umat manusia! Utamakanlah dia. Karena Allah telah mengutamakannya.

Terimalah dia, karena Allah yang telah mengangkatnya.

Wahai umat manusia! Dialah Imam yang ditunjuk oleh Allah. Allah tidak akan mengampuni orang¬-orang yang ingkar terhadap wilayah dan kepemimpinannya dan tidak akan pernah memaafkannya sekali-kali. Sungguh, Allah telah memastikan diri-Nya untuk melakukan itu bagi mereka yang menentang perintah-Nya dalam perkara ini, dan akan menimpakan kepadanya azab yang
pedih, maha dahsyat dan selama-lamanya. Awas! jangan kalian mengingkarinya karena itu akan menghantar kalian ke dalam api neraka, yang bara apinya terdiri dan manusia dan batu-batuan yang telah disiapkan bagi orang-orang kafir.

Wahai umat manusia! Demi Allah, para nabi dan rasul terdahulu telah memberitakan kepada kaumnya akan kedatanganku. Aku adalah akhir dan penutup seluruh nabi dan rasul. Aku adalah bukti Allah (hujjah) bagi segenap makhluk-Nya. di langit dan di bumi.

Barangsiapa ragu-ragu tentang itu, maka dia adalah orang kafir sekafirnya orang jahiliyah terdahulu. Barangsiapa meragukan sebagian ucapanku, itu berarti meragukan keseluruhannya. Orang yang ragu-ragu seperti itu baginya adalah api neraka.
Wahai umat manusia! Anugerah Allah kepadaku akan keutamaan-keutamaan ini adalah karena kasih sayang-Nya dan ihsan-Nya yang agung kepadaku. Tiada tuhan melainkan Dia. BagiNya pujian dariku pada setiap keadaan sepanjang masa dan selama¬-lamanya.

Wahai umat manusia! Utamakanlah Ali, sebab dia adalah manusia yang paling utama setelahku, baik dari kalangan laki-laki ataupun perempuan. Karena kamilah kemudian Allah menurunkan rezeki-Nya (kepada kalian) dan (karena kami jugalah maka) seluruh makhluk memperoleh kehidupan. Terkutuk dan sungguh terkutuk; dimurkai dan sungguh dimurkailah mereka yang menolak ucapanku ini dan merasa tidak berkenan di dalam hatinya. Ketahuilah bahwa Jibril telah memberitahuku tentang itu berdasarkan firman Allah (SWT) kepadanya:

“Barangsiapa memusuhi .4li dan tidak mewila’nya (menjadikannya sebagai wali) niscaya dia akan memperoleh laknat-Ku dan murka-Ku “. Karena itu hendaklah setiap jiwa melihat apa yang akan disiapkannya untuk hari esok. Takutlah kamu kepada Allah, dan hindarilah dari menentang-Nya. karena akibatnya kalian akan tergelincir, padahal sebelumnya kalian berada pada jalan yang lurus. Sungguh Allah Maha Tahu atas apa yang kamu kerjakan.
Wahai umat manusia! Sungguh Alilah yang dimaksudkan sebagai hak Allah (yang harus dipenuhi haknya) seperti yang disebutkan dalarn kitab suci¬Nya. Allah berfirman: (kelak di hari kiamat) setiap jiwa berkata : “amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam menunaikan hak-hak Allah…”
(Q.S. 39:56)

Wahai umat manusia! Tadabburlah (renungkanlah) kitab suci AlQuran, pahamilah ayat-ayatnya. perhatikanlah ayat-ayat muhkamatnya dan jangan kalian ikuti (secara lahiriah) makna ayat-ayat Mutasyabihat-nya. Demi Allah, tidak ada yang bisa menjelaskan batas-batasnya atau menerangkan tafsirnya kepada kalian melainkan orang yang kupegang tangannya ini; yang kunaikkan dia ke sisiku ini dan yang kuangkat lengannya ini. Kini aku umumkan kepada kalian, barangsiapa menjadikan aku sebagai maula atau pemimpin, maka inilah Ali sehagai maula dan pemimpinnya. Dia—Ali bin .Abii Thalib— adalah saudaraku dan washiku. Perintah untuk mengangkatnya sebagai maula inl turun dari Allah ‘azza wa jalla kepadaku.

Wahai umat manusia! Sungguh Ali dan putra-putraku yang suci adalah peninggalan beratku yang besar. Masing-masing mereka akan memberitakan satu sama lain dan saling membenarkan. Keduanya (AlQuran dan keluarga Nabi) tidak akan pernah berpisah sehingga mereka menjumpaiku di telaga (syurga) kelak. Mereka (para Imam, penerj.) ini adalah orang-orang kepercayaan Allah yang ada di antara makhlukNya dan para pemimpin bijaksana yang ada di bumiNya. Sungguh telah kutunaikan (perintah ini). Sungguh telah kusampaikan; sungguh telah kuperdengarkan; sungguh telah kujelaskan.

Ketahuilah bahwa Allah ‘azza wa jalla telah memfirmankannya dan aku telah mengucapkannya dari sisiNya. Ketahuilah, sungguh tidak ada orang yang disebut sebagai Amir alMukminin (Pemimpin orang-orang yang beriman) melainkan saudaraku ini. Siapapun tidak diperkenankan untuk menyandang gelar dan status ini melainkan dia semata-mata.

(Kemudian Nabi saw mengambil lengan Ali yang sejak tadi berdiri bersama Nabi di atas mimbar dan mengangkatnya tinggi-tinggi, sebegitu dekatnya sehingga kakinya sejajar persis dengan lutul Rasulullah saw. Nabi kemudian berkata:)
Wahai umat manusia! Ini adalah Ali, saudaraku dan washiku, pemelihara ilmuku, khilafahku bagi umatku dan wakilku dalam menafsirkan kitab Allah ‘azza wa jalla.

Dialah penyeru kepada Allah, melaksanakan segala apa yang diridhoiNya, memerangi musuh-musuhNya, penganjur pada ketaatan, pencegah maksiat, khalifah Nabi utusan Allah, Amir alMukminin, Imam yang memberi petunjuk, yang memerangi—berdasarkan perintah Allah—kelompok Nakitsin, Qosithin dan Mariqin.

Kini kusampaikan pada kalian—berdasarkan perintah Tuhanku, sesuatu yang tidak dapat kuubah. Aku nyatakan, “Allahumma, ya Allah berilah dukungan dan wila’Mu kepada orang yang mewila’ Ali, musuhilah orang yang memusuhinya, kutuklah orang yang mengingkarinya dan murkailah orang yang mengabaikan haknya. Ya Allah, Engkaulah yang telah menurunkan firmanMu kepadaku bahwa imamah setelahku adalah milik Ali kekasihMu, di saat kujelaskan perkara itu(kepada mereka) dan kuangkat dia (sebagai pemimpin) yang dengannya Engkau sempurnakan untuk hamba-hambaMu agama mereka dan Engkau sempurnakan untuk mereka nikmatMu, dan Engkau ridhoi bagi mereka Islam sebagai agamanya. Engkau telah berfirman : “Barangsiapa menjadikan selain Islam sebagai agamanya, niscaya ia tidak akan diterima dan kelak di akhirat ia termasuk orang-orang yang rugi.” (Q.S. 3:89). Ya Allah, kumohon kesaksianMu dan cukup bagiku Engkau sebagai saksi—bahwa aku telah sampaikan (perintahMu ini).

Wahai umat manusia! Sesungguhnya Allah telah menyempurnakan agama kalian ini dengan imamah Ali. Barangsiapa tidak mengikutinya atau tidak mengikuti pengganti-penggantinya—putra-putraku yang datang dari slbinya yang tetap ada sampai hari kiamat dan hari perjumpaan dengan Allah swt, niscaya amal-amal baik mereka akan gugur dan mereka akan kekal dalam api neraka, tanpa keringanan dan tanpa harapan (untuk bebas darinya).

Wahai umat manusia! Inilah Ali, seorang yang paling banyak membelaku di antara kalian, yang paling berhak atasku, yang paling dekat denganku dan yang paling mulia di sisiku. Allah swt dan aku ridho padanya. Tiada ayat tentang ridho Allah yang turun melainkan ia berkaitan dengan Ali, tiada ayat di mana Allah berbicara dengan orang-orang beriman melainkan Dia memulainya dengan Ali; tiada ayat pujian dalam AlQuran yang turun melainkan berkaitan dengan Ali; tiada kesaksian akan surga (seperti) dalam ayat “hal ata’alal insani” melainkan Alilah yang dimaksudkannya; ayat tersebut tidak turun untuk selain Ali.
Wahai umat manusia! Ali adalah pembela agama Allah dan pelindung Rasul utusan Allah. Dialah orang bertakwa, suci, petunjuk jalan Allah dan memperoleh petunjuk dariNya. (Aku) Nabi kalian adalah sebaik-baik nabi, dan (Ali) washi kalian adalah sebaik-baik washi, sementara putra-putranya juga adalah sebaik-baik washi.

Wahai umat manusia! Sungguh zuriat setiap nabi berasal dari tulang sulbinya, tetapi zuriat keturunanku adalah berasal dari sulbi Ali.

Wahai umat manusia! Sungguh karena dengkilah maka Iblis mengeluarkan Adam dari surga. Oleh karena itu hindarilah dari mendengki Ali, karena ia akan menyebabkan amal-amal kalian gugur dan kaki-kaki kalian tergelincir. Ingat bahwa Nabi Adam telah diturunkan (oleh Allah) ke bumi ini hanya lantaran satu kesalahan, padahal ia adalah manusia pilihanNya. Apalagi kalian, manusia biasa, di mana di antara kalian ada juga musuh-musuh Allah. (Wahai umat manusia!) Hanya orang-orang yang durhaka sajalah yang membenci Ali, sementara orang-orang yang takwa akan mendukungnya dan menjadikannya sebagai wali dan orang-orang yang beriman yang tulus akan beriman kepadanya.

Demi Allah! Berkenaan dengan Alilah surat al¬‘Asr berikut turun “Bismillaahir Rahmaanir Rahiim, Demi Masa. Sesungguhnya manusia dalam keaduan rugi, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh…”

Wahai umat manusia! Biarlah Allah sebagai saksiku bahwa aku telah sampaikan tugas risalahini. Sungguh tugas Rasul hanya menyampaikan firman Tuhan semata-mata.

Wahai umat manusia! Bertakwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, dan jangan (sampai) kamu mati melainkan kamu benar-benar sebagai orang muslim.

Wahai umat manusia! Berimanlah kamu kepada Allah, Rasul-Nya dan cahaya (Al-Qur’an) yang diturunkan bersamanya, sebelum kami mengubah mukamu lalu kami putarkan ke belakang (yakni mati).

Wahai umat manusia! Telah mengalir dalam jiwaku ini cahaya dari sisi Allah. Kemudian (ia mengalir juga) ke dalam (tanah) Ali, dan berikutnya ke dalam zuriat keturunannya sehinggalah ke (lmam) al-Qoim al-Mahdi, yang akan mengembalikan hak Allah dan seluruh hak-hak kami ke tempatnya sernula. Sebab Allah ‘azza wa jalla telah menjadikan kamu sebagai hujjah dan bukti-Nya terhadap orang-orang yang ingkar, penentang, pembangkang, pengkhianat, pendosa dan penzalim dari seluruh makhluk jagad raya ini.

Wahai umat manusia! Kuingatkan kalian bahwa aku ini adalah Rasul utusan Allah. Sebelumku telah ada rasul-rasul yang lain. Apakah kalian akan berpaling dariku (dan tidak bersabar) setelah aku mati atau terbunuh? Sungguh barangsiapa berpaling, maka dia tidak akan merugikan Allah sedikitpun; dan Allah akan membalas orang-orang yang bersyukur. Ketahuilah bahwa yang dimaksudkan dengan mereka yang menyandang sifat sabar dan syukur di atas adalah Ali dan putra-putranya yang datang dari sulbinya.

Wahai umat manusia! Janganlah kalian rnengungkit-ungkit dan membusungkan dada di hadapan Allah akan keislaman kalian, sebab itu akan mendatangkan murka Allah dan azab-Nya. Sungguh Dia benar-benar mengawasi kamu.
Wahai umat manusia! Akan datang setelahku para pemimpin yang menyeru kepada api neraka, dan mereka tidak akan memperoleh pembelaan kelak pada hari kiamat.

Wahai urnat manusia! Sungguh Allah (SWT) dan aku tidak bertanggung jawab atas nasib mereka dan tidak akan sekali-kali melindungi mereka.

Wahai umat manusia! Sungguh mereka dan pembela-pembelanya serta para pengikutnya akan berada di tingkat terendah dari api neraka, sebuah tempat yang paling hina bagi orang-orang yang takabur (akan kebenaran). Sungguh rnerekalah Ashabus Shahifah. Dengan demikian, hendaklah kalian melihat buku amalnya masing-masing meskipun yang benar-benar peduli terhadapnya hanya segelintir orang saja.

Wahai umat manusia! Sungguh, aku serahkan masalah imamah (umat ini) dan pewarisan (nya) dalam zuriat keturunanku sampai hari kiamat. Sungguh telah kusampaikan kepada kalian kewajiban yang diperintahkan kepadaku ini, menjadi hujjah atau bukti Tuhan bagi setiap orang, baik yang hadir ataupun yang gaib (tidak hadir), yang menyaksikan perhelatan ini ataupun yang tidak menyaksikannya, yang sudah lahir atau yang belum lahir. Hendaklah mereka yang hadir menyampaikan pesanku ini kepada yang tidak hadir, si ayah menyampaikannya kepada anaknya, demikian seterusnya sampai hari kiamat, meskipun—tidak lama berselang——sejumlah orang akan merampasnya dan menjadikannya sebagai dinasti kerajaan. Ketahuilah bahwa laknat Allah pasti ditimpakan kepada perampas itu. Di saat itu “Karni akari perhatikan sepenuhnya terhadap kamu wahai makhluk manusia dan jin…, di mana (akan) dilepaskan nyala api dun cairan tembaga (kepadu kalian) sedemikian sehingga kamu tidak dapal ,menyelamatkan diri darinya (Q.S. 55:31,35)

Wahai umat manusia! Sungguh Allah ‘ala wa jalla tidak akan membiarkan kamu berada dalam keadaan seperti ini sampai dia akan membedakan (untuk kamu) mana yang buruk (munafik) dan yang baik (mukmin) dan Allah sekali-kali tidak memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang ghaib.

Wahai umat manusia! Tiada desa yang selamat dan murka Allah dan penduduknya dibinasakan kecuali karena pendustaan mereka terhadap kebenaran. Demikianlah Tuhan yang membinasakan penduduk sebuah tempat lantaran perlakuan mereka yang zalim, seperti yang disebut-sebut oleh Allah (SWT). lnilah Ali, imam kalian dan wali kalian.

Dialah orang di mana seluruh janji atau ancaman Allah turun karenanya; dan Allah pasti menepati seluruh janjiNya.
Wahai umat manusia! Telah banyak orang-orang terdahulu sebelum kamu jatuh sesat. Allahlah yang membinasakan orang-orang terdahulu itu sebagaimana Dia jugalah yang akan membinasakan orang-orang yang akan datang kemudian. Allah berfirman : “Bukankah Kami telah membinasakan orang-orang yang terdahulu, lalu Kami sertakan (juga) mereka yang datang kemudian. Demikianlah Kami berbuat terhadap orang-orang yang berdosa, dan celakalah pada hari itu bagi orang-orang pendusta.” (Q.S. 77:16-19).

Wahai umat manusia! Allah telah menurunkan perintahNya dan laranganNya untukku; dan aku (kemudian) menyampaikan perintah dan larangan itu kepada Ali. Dengan demikian dia mengetahui perintah dan larangan (Allah) dari Tuhannya yang Maha Suci dan Maha Perkasa. Oleh karena itu hendaklah kalian mendengar perintahnya niscaya kalian akan selamat; patuhilah dia niscaya kalian akan memperoleh petunjuk; ikutilah apa yang dilarangnya, niscaya kalian akan memperoleh bimbingan; bersikaplah seperti yang diinginkannya, dan jangan kalian berpisah dari jalannya lantaran banyaknya jalan lain.
Wahai umat manusia! Aku adalah Shiratal Mustaqim (jalan lurus) yang kalian diperintahkan untuk mengikutinya. Setelahku adalah Ali, kemudian dilanjutkan oleh putra-putraku yang datang dari sulbinya. Mereka adalah para imam yang membimbing kepada kebenaran dan dengan kebenaran itulah mereka menjalankan keadilan.

(Kemudian Nabi membaca surat AlFatihah sampai akhir, dan melanjutkan khotbahnya berikut).

Ayat-ayat ini diturunkan oleh Allah berkenaan denganku dan mereka (Ali dan putra-putranya). Ia meliputi seluruh mereka dan khusus untuk mereka. Merekalah kekasih-kekasih Allah yang tidak pernah merasa takut dan sedih. Sungguh mereka yang berada dalam partai Allahlah yang menang. Dan sungguh, musuh-musuh Alilah sebagai kelompok pendurhaka, munafik, licik, pelampau batas, dan saudara-saudara setan yang saling membisikkan perkataan yang indah-indah untuk menipu manusia. Sungguh, para kekasih dan pendukung Ali dan putra-putranya adalah mereka yang disebutkan oleh Allah dalam kitabNya berikut : “Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat saling kasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya…” (Q.S. 58:22). Sungguh, mereka juga adalah orang-orang yang disifatkan oleh Allah swt : “orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman, mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Q.S. 6:82). Sungguh, mereka juaga adalah orang-orang yang disifatkan oleh Allah berikut : Yang masuk ke dalam surga dengan penuh keamanan, dan disambut oleh para malaikat dengan salam sambil berkata, kalian adalah orang-orang suci, maka masuklah ke dalam surga untuk selama-lamanya.
Sungguh, para kekasih dan pendukung mereka adalah orang-orang yang difirmankan oleh Allah ‘azza wa jalla berikut, mereka masuk ke dalam surga tanpa hisab…

Dan sungguh, musuh-musuh mereka akan masuk ke dalam api neraka. Sungguh musuh-musuh mereka adalah orang-orang yang mendengar suara neraka yang mengerikan; (suara) api yang menggelegak dan yang dikelilingi oleh algojo-algojonya. Sungguh musuh-musuh mereka adalah orang-orang yang disifatkan oleh Allah sebagai umat yang saling mengutuk saudaranya ketika masuk ke dalam api neraka. Sungguh musuh-musuh mereka adalah orang-orang yang seperti difirmankan oleh Allah berikut : “Setiap kali dilemparkan ke dalam api neraka satu kumpulan, maka penjaga-penjaga neraka itu bertanya kepada mereka, apakah belum pernah datang kepada kamu seorang pemberi peringatan. Mereka menjawab : “benar ada”, telah datang kepada kami seorang yang memberikan peringatan, namun kami telah mendustakannya dan kami katakan : “Allah tidak menurunkan suatu apapun. Kamu tidak lain hanyalah di dalam kesesatan yang besar.” (Q.S. 67:8,9).

Sungguh para kekasih mereka adalah orang-orang yang takut akan Tuhannya secara ghaib; bagi mereka ampunan dan ganjaran yang besar.

Wahai umat manusia! Sungguh jauh perbedaan antara neraka dan surga. Musuh kami adalah orang-orang yang dicela dan dikutuk oleh Allah; dan kekasih kami adalah orang-orang yang dipuji dan dicintai oleh Allah.

Wahai umat manusia! Sungguh, aku adalah (Nabi) yang memberi peringatan, sementara Ali adalah pembimbing.

Wahai umat manusia! Sungguh aku adalah Nabi dan Ali adalah washi (penerima wasiat)ku. Sungguh, penutup para imam adalah dari kami, (bergelar) alQoim alMahdi, yang akan menegakkan keadilan dan memperoleh petunjuk Allah swt.

Sungguh, dia adalah pembela agama. Sungguh, dialah yang akan membalas kezaliman orang-orag yang zalim. Sungguh dialah yang akan membebaskan benteng-benteng yang kuat dan akan menghancurkannya. Sungguh, dialahpenghancur kelompok-kelompok kemusyrikan. Sungguh dialah yang akan membalas darah-darah kekasih Allah yang tumpah. Sungguh, dialah pembela agama Allah. Sungguh dialah penegak air lautan (makrifat dan hakikat) yang dalam.

Sungguh, dialah yang menunjukkan keutamaan orang-orang yang mempunyai keutamaan dan kebodohan orang-orang yang bodoh. Sungguh dialah manusia pilihan Allah dan kekasihNya. Sungguh, dialah pewaris semua ilmu dan menguasai segala ilmu.
Sungguh, dia adalah pembawa berita dari Tuhan ‘azza wa jalla, dan yang memberi tahu tentang perkara iman. Sungguh, dia adalah manusia yang senantiasa memperoleh petunjuk (Allah) dan selalu dijayakanNya.

Sungguh, dialah manusia yang diserahkan oleh Allah urusan makhluk ciptaanNya. Sungguh dia adalah manusia yang kedatangannya telah diberitakan oleh para imam sebelumnya. Sungguh, dia adalah hujjah Allah terakhir yang masih hidup, di mana tiada hujjah lain setelahnya; tiada kebenaran melainkan bersamanya dan tiada cahaya melainkan ada di sisinya.

Sungguh, dia adalah wali Allah yang ada di bumiNya, penguasa yang haq dan benar di sekitar makhluk ciptaanNya, dan manusia kepercayaanNya (pada martabat) zahir dan batinNya.

Wahai umat manusia! Aku telah jelaskan kepada kalian sejelas-jelasnya (tentang perkara ini), dan inilah Ali yang akan menjelaskan kepada kalian setelahku.

Usai khotbahku ini, aku menyeru kalian untuk pertama-tama mengulurkan tangannya kepadaku, kemudian kepada Ali sebagai tanda bai’at dan pernyataan setia.

Ketahuilah bahwa aku telah memberikan bai’atku kepada Allah, dan Ali telah memberikan bai’atnya kepadaku. Kini berdasarkan perintah dari Allah ‘azza wa jalla, aku mengajak kalian untuk membai’at. Barangsiapa mengingkari bai’atnya, berarti dia telah membinasakan dirinya sendiri.

Wahai umat manusia! Sungguh haji, shafa, marwah dan umroh adalah bagian dari syi’ar Allah. “Barangsiapa menunaikan ibadah haji atau umrah ke rumah Allah, maka hendaklah ia mengerjakan sai’ di antara keduanya.” (Q.S. 2:158).

Wahai umat manusia! Tunaikan ibadah haji ke rumah Allah. Tiada suatu keluarga yang datang ke rumah Allah ini melainkan ia akan dicukupkan olehNya; dan tiada suatu keluarga yang berpaling meninggalkannya melainkan ia akan mengalami kefakiran.
Wahai umat manusia! Tiada seorang yang mukmin yang wukuf atau berdiri di tempat-tempat mulia tersebut melainkan Allah akan ampunkan seluruh dosa-dosanya yang lalu maupun yang baru. Demikianlah sehingga apabila ibadah hajinya selesai maka (perhitungan) amalnya dimulai lagi dari awal.

Wahai umat manusia! Para jamaah haji memperoleh bantuan dari Allah, dan ongkos perjalanan mereka terhitung sebagai simpanan (untuk hari akhirat kelak). Sungguh Allah tidak menyia-nyiakan ganjaranNya bagi orang-orang yang berbuat kebaikan.
Wahai umat manusia! Tunaikanlah ibadah haji ke rumah Allah dengan pemahaman yang sempurna akan ajaran-ajaran agama ini. Jangan kalian meninggalkan tempat-tempat mulia itu melainkan setelah kalian benar-benar taubat dan menyesali dosa-dosa kalian.

Wahai umat manusia! Dirikanlah sholat dan tunaikanlah zakat, seperti diperintahkan oleh Allah ‘azza wa jalla atas kalian. Apabila dikarenakan lamanya waktu berlalu kemudian kalian menjadi jahil atau lupa, maka Alilah—sebagai pemimpin kalian yang telah ditunjuk oleh Allah setelahku, yang akan menjelaskan (seluruh hukum-hukum itu) kepada kalian. Dia adalah orang yang dijadikan oleh Allah sebagai penggantiku; menjawab pertanyaan-¬pertanyaan kalian dan menjelaskan kepada kalian segala apa yang kalian tidak ketahui.

Sungguh, perkara-perkara yang halal dan yang haram adalah lebih banyak dan yang dapat kuhitung satu per satu dan kuberitahukan (kepada kalian). Untuk itu secara singkat kukatakan bahwa apa yang kuperintahkan pasti adalah perkara yang halal, dan yang kularang pasti adalah sesuatu yang haram. Kemudian aku diperintahkan untuk niengambil bai’ai dan janji setia dari kalian agar menerima segala apa yang kubawa dari Allah ‘Azza wa Jalla berkenaan dengan Ali selaku Amirul Mukminin dan para Imam yang datang setelahriya. Mereka adalah putra-putraku dan putra-putra Ali; para imam yang menegakkan kebenaran sampai hari kiamat, yang di antaranya adalah al-Mahdi, yang akan memerintah (dunia ini) dengan kebenaran.

Wahai umat manusia! setiap perkara halal yang kuajarkan kepada kalian, atau perkara haram yang kucegah kalian darinya, adalah sesuatu yang tidak mungkin kuubah atau kucabut. Karena itu hendaknya kalian mengingatnya, memeliharanya dan saling mengajarkannya. Jangan sekali-kali kalian mengubahnya atau menggantinya.

Kini kuulangi lagi perkataanku: hendaklah kalian mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh yang ma’ruf (dan mencegah yang mungkar. Ketahuilah balwa pangkal amar ma’ruf dan nahi mungkar adalah penerimaan kalian akan kata-kataku sebagai sesuatu yang final, di mana kalian yang hadir menyampaikannya kepada yang tidak hadir serta memerintahkan mereka untuk menerimanya dan mencegah mereka dari menentangnya. Sebab ini adalah perintah dan Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung, dan dariku. (Ketahuilah) bahwa upaya melakukan yang ma’ruf dan rnencegah yang mungkar tidak akan berarti melainkan sepengetahuan atau bersama Imam yang maksum (terpelihara dari dosa).

Wahai umat manusia kitab suci Alqur’an telah menyatakan bahwa para imam setelah Ali adalah putra-putranya. Aku juga telah mengatakan kepada kalian bahwa Ali adalah bagian dariku dan aku adalah bagian darinya, seperti yang difirmankan oleh Allah dalam kitab Nya: “(bahwa Ibrahim) telah menjadikan kalimat tauhid sebagai kalimat yang kekal pada keturunannya.. “, (Q.S. 43:28). Aku juga berkata: “Selagi kalian berpegang teguh pada keduanya: (Alqur ‘an dan itrah keluanga Nabi), niscaya kalian tidak akan tersesat selama-lamanya.

Wahai umat manusia Bentakwalah, sekali lagi bertakwalah kalian kepada Allah, lngatlah akan dahsyatnya hari kiamat, sepenti yang ditafsirkan oleh Allah dalam firman-Nya: “Sungguh gempa hari kiamat adalah sesuatu yang maha dahsyat “lngatlah saat-saat mati, hisab, timbangan dan pengadilan Allah terhadap kalian;(demikian juga) pahala dan dosa. Barangsiapa melakukan amal kebajikan, maka ia akan mendapatkan pahalanya, sementara mereka yang melakukan perbuatan buruk maka sedikitpun dia tidak akan memperoleh syurga.

Wahai umat nianusia! Jumlah kalian sedemikian banyaknya sehingga tidak mungkin kalian bisa mengulurkan tangan bai’atnya kepadaku satu persatu. Namun demikian, Allah ‘Azza wa jalla telah memerintahkan aku untuk mengambil ikrar dan lisan kalian tentang pengangkatan Ali sebagai Amirul Mukminin, dan para imam dari keturunanku dan keturunannya yang datang setelahnya, seperti yang pernah kuberitahukan kepada kalian bahwa Zuriat keturunanku adalah berasal dan sulbinya (Ali).

Katakan secara serentak: “Karni telah mendengar, akan patuh, rela dan ikut secara penuh atas apa yang telah engkau sampaikan dari Tuhan kami dan Tuhanmu berkaitan dengan kepemimpinan Ali dan kepemimpinan putra-putranya yang datang dari sulbinya. Untuk itu kami membai’atmu dengan hati, jiwa, lisan dan tangan kami. Berdasarkan itu pula kami hidup, mati dan dibangkitkan tanpa kami mengubah, mengganti, ragu mencabut janji atau membatalkan ikrar dan pernyataan kami. Kami mematuhi Allah dan mematuhi engkau (nabi, serta mematuhi Ali sebagai Amirul Mukminin). Demikian juga putra-putranya, para imam yang kau katakan berasal dan zuriat keturunanmu, yang datang dari sulbi Ali, Hasan dan Husain.”

Tentang Hasan dan Husain ini, telah kukenalkan kepada kalian kedudukan mereka di sisiku, tempat mereka dihadapanku dan martabat mereka di haribaan Tuhanku yang Maha Mulia dan Maha Agung. Semua itu telah kusampaikan kepada kalian.
Sungguh, mereka berdua adalah penghulu pemuda-pemuda surga, imam-imam pasca ayahnya, Ali; dan aku adalah ayah mereka sebelum Ali menjadi ayahnya.

Katakan secara serentak:”Kami mematuhi perintah Allah, mematuhimu, Ali, Hasan dan Husain serta para irnarn setelahnya. Mereka adalah orang¬-orang yang kau ikat hati, jiwa dan lisan kami untuk berjanji setia, berikrar dan berbai’at lewat tangan Amirul Mukminin (Ali). Sebagian dari kami membai’atnya dengan tangannya dan sebagian yang lain dengan pernyataan lisannya. Sungguh kami tidak ingin berpaling darinya selama-lamanya. Kami jadikan Allah sebagai saksi dan cukuplah Allah sebagai saksi. Demikian juga engkau (Nabi), semua orang yang patuh pada Allah, yang hadir dan yang tidak hadir, para malaikat Allah, tentara-tentara-Nya dan hamba-hamba-Nya, semua adalah saksi-saksi kami. Namun Allah adalah lebih besar dari semua saksi.”

Wahai umat manusia! Apa yang kalian katakan? Sungguh Allah Maha Mendengar setiap suara dan Maha Tahu akan setiap jiwa yang tersembunyi. Barangsiapa memperoleh petunjuk, maka itu adalah keberuntungan bagi dirinya, dan barangsiapa yang tersesat, maka itu adalah kemalangan bagi dirinya. Mereka yang berbai ‘at, sebenarnya telah memberikan bai’atnya kepada Allah; dan tangan Allah berada di atas tangan mereka semua. (48:10)

Wahal umat manusia! Bertakwalah kalian kepada Allah. Berbai’atlah kalian kepada Ali Amirul Mukminin, kepada Hasan dan Husain serta para Imam (keturunannya). Mereka adalah kalimat Thayyibah yang masih sisa di atas muka bumi ini. Kelak Allah akan membinasakan orang-orang yang mengkhianati mereka, dan merahmati orang-orang yang setia kepada mereka. “Barangsiapa melanggar janji dan bai ‘atnya, niscaya itu akan menimpa dirinya sendiri.” (48:10)

Wahai umat manusia! Ucapkanlah apa yang telah kukatakan kepada kalian. Salamilah Ali selaku Arnirul Mukminin. Katakanlah: “(Tuhan kami)! Kami ielah dengar dan akan patuh (pada perintah-Mu). Ampunilah karni wahai Tuhan karni. Sungguh kepada-Mulah segala sesuatu akan kernbali. Katakanlah:” Segala puji bagi Allah yang telah membimbing kalian ke jalan ini. Sungguh, karni tidak akan memperoleh bimbingan tanpa bimbingan dari Allah.” (7:43)

Wahai umat manusia! Sungguh keutamaan Ali bin Abi Thalib (a.s) di sisi Allah dan yang ada dalarn Al-
Qur’an adalah lebih banyak dari pada yang bisa kusebutkan secara rinci di tempat ini. Siapapun yang meriwayatkannya dan memberitahukannya kepada kalian, maka percayailah dan terimalah ia.

Wahai umat manusia! barangsiapa patuh pada Allah, Rasul-Nya, Ali dan para Imam yang telah kusebutkan itu niscaya dia akan lulus dengan hasil yang amat sangat gemilang.

Wahai umat manusia! Mereka yang segera berangkat memberikan bai’at kepadanya dan menjadikannya sebagai walinya serta menerirnanya sebagai Amirul Mukminin, mereka adalah orang-¬orang yang selamat, dan kelak akan berada di dalam syurga yang penuh nikmat.

Wahai umat manusia! Ucapkanlah kata-kata yang menyebabkan Allah rela tenhadap kalian. Seandainya kalian dan semua penghuni bumi ini kufur kepadaNya, niscaya itu tidak akan merugikan-Nya sedikitpun. (3:144)
Yaa Allah! Berikanlah ampunan-Mu kepada orang-orang mukmin, dan murka-Mu kepada orang–orang kafir. Dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Kemudian khalayak menyahut seruan Nabi dan berkata:”Kami telah dengar dan akan patuh pada perintah Allah dan Rasul-Nya dengan sepenuh hati, lidah dan kekuatan kami.”

Mereka kemudian berhimpit-himpitan mengelilingi Nabi dan Ali untuk bersalaman dan mengulurkan tangan bai ‘atnya kepada Rasulullah (SAW). Abubakar, kemudian Umar, lalu Usman. Berikutnya adalah orang-orang Muhajirin, Anshar dan seterusnya sesuai dengan tingkatan martabat mereka sehinggalah tiba waktu Maghrib. Setelah shalat Maghrib dan lsya’ yang di jamak dalam satu waktu, mereka kemudian meneruskan ikrar bai’atnya. Setiap kali orang datang berbai’at, Nabi kemudian berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah mengutamakan kami di atas seluruh penghuni alam semesta.”

——————————————————————————–
Di sini kami petik nama-nama perawi hadits al-Ghadir di kalangan para sahabat tentang perlantikan ‘Ali AS sebagai khalifah secara langsung selepas Rasulullah SAWW. Sebagaimana sabdanya:’Siapa yang telah menjadikan aku maulanya, maka ‘Ali adalah maulanya.’ Dan semua nama-nama perawi tersebut telah diriwayatkan oleh para ulama Ahlus-Sunnah di dalam buku-buku mereka seperti berikut:
1. Abu Hurairah al-Dausi (w.57/58H). Diriwayatkan oleh al-Khatib al-Baghdadi di dalam Tarikh Baghdad, VII, hlm. 290. Al-Khawarizmi di dalam Manaqibnya, hlm. 130. Ibn Hajr di dalam Tahdhib al-Tahdhib, VII, hlm. 327.
2. Abu Laila al-Ansari (w. 37H). Diriwayatkan oleh al-Hawarizmi, di dalam Manaqibnya, hlm. 35. Al-Suyuti di dalam Tarikh al-Khulafa’, hlm. 14.
3. Abu Zainab bin ‘Auf al-Ansari. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, III, hlm. 307. Ibn Hajr di dalam al-Isabah, III, hlm. 408.
4. Abu Fadhalah al-Ansari, sahabat Nabi SAWAW di dalam peperangan Badr. Di antara orang yang memberi penyaksian kepada ‘Ali AS dengan hadith al-Ghadir di hari Rahbah. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, III, hlm. 307.
5. Abu Qudamah al-Ansari. Di antara orang yang menyahut seruan ‘Ali AS di hari Rahbah. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, V, hlm. 276.
6. Abu ‘Umrah bin ‘Umru bin Muhsin al-Ansari. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, III, hlm. 307. Di antara yang menjadi saksi kepada ‘Ali AS di hari Rahbah dengan hadith al-Ghadir.
7. Abu l-Haitham bin al-Taihan meninggal dunia di dalam peperangan al-Siffin tahun 37H. Diriwayatkan oleh al-Qadhi di dalam Tarikh Ali Muhammad, hlm. 62.
8. Abu Rafi’ al-Qibti, hamba Rasulullah SAWAW. Diriwayatkan oleh al-Khawarizmi di dalam Maqtal dan Abu Bakr al-Ja’abi di dalam Nakhbnya.
9. Abu Dhuwaib Khuwalid atau Khalid bin Khalid bin Muhrith al-Hazali wafat di dalam pemerintahan Khalifah ‘Uthman. Diriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah, al-Khawarizmi di dalam Maqtal.
10. Abu Bakr bin Abi Qahafah al-Taimi (w.13H). Diriwayatkan oleh Ibn Uqdah dengan sanad-sanadnya di dalam Hadith al-Wilayah, Abu Bakr al-Ja’abi di dalam al-Nakhb, al-Mansur al-Razi di dalam kitabnya Hadith al-Ghadir, Syamsuddin al-Jazari al-Syafi’i di dalam Asna al-Matalib, hlm. 3 di antara perawi-perawi hadith al-Ghadir.
11. Usamah bin Zaid bin al-Harithah al-Kalbi (w.54H). Diriwayatkan di dalam Hadith al-Wilayah dan Nakhb al-Manaqib.
12. Ubayy bin Ka’ab al-Ansari al-Khazraji (w. 30/32H). Diriwayatkan oleh Abu Bakr al-Ja’abi dengan sanad-sanadnya di dalam Nakhb al-Manaqib.
13. As’ad bin Zararah al-Ansari. Diriwayatkan oleh Syamsuddin al-Jazari di dalam Asna al-Matalib, hlm. 4.
14. Asma’ binti Umais al-Khath’amiyyah. Diriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah dengan sanad-sanadnya di dalam Hadith al-Wilayah.
15. Umm Salmah isteri Nabi SAWAW. Diriwayatkan oleh al-Qunduzi l-Hanafi di dalam Yanabi al-Mawaddah, hlm. 40.
16. Umm Hani’ binti Abi Talib. Diriwayatkan oleh al-Qunduzi l-Hanafi di dalam Yanabi’ al-Mawaddah, hlm. 40 dan Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah dengan sanad-sanadnya.
17. Abu Hamzah Anas bin Malik al-Ansari al-Khazraji hamba Rasulullah SAWAW (w. 93H). Diriwayatkan oleh al-Khatib al-Baghdadi di dalam Tarikhnya, VII, hlm. 377; Ibn Qutaibah di dalam al-Ma’arif, hlm. 291; al-Suyuti di dalam Tarikh al-Khulafa’, hlm. 114.
18. Al-Barra’ bin ‘Azib al-Ansari al-Ausi (w. 72H). Diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal di dalam Musnadnya, IV, hlm. 281; Ibn Majah di dalam Sunan, I, hlm. 28-29.
19. Baridah bin al-Hasib Abu Sahl al-Aslami (w. 63H). Diriwayatkan oleh al-Hakim di dalam al-Mustadrak, III, hlm. 110; al-Suyuti di dalam Tarikh al-Khulafa’, hlm. 114.
20. Abu Sa’id Thabit bin Wadi’ah al-Ansari al-Khazraji al-Madani. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, III, hlm. 307.
21. Jabir bin Samurah bin Janadah Abu Sulaiman al-Sawa’i (w. 70H). Diriwayatkan oleh al-Muttaqi al-Hindi di dalam Kanz al-Ummal, VI, hlm. 398.
22. Jabir bin Abdullah al-Ansari (w. 73/74H). Diriwayatkan oleh Ibn ‘Abd al-Birr di dalam al-Isti’ab, II, hlm. 473; Ibn Hajr di dalam Tahdhib al-Tadhib, V, hlm. 337.
23. Jabalah bin ‘Umru al-Ansari. Diriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah dengan sanad-sanadnya di dalam Hadith al-Wilayah.
24. Jubair bin Mut’am bin ‘Adi al-Qurasyi al-Naufali (w. 57/58/59 H). Diriwayatkan oleh al-Qunduzi l-Hanafi di dalam Yanabi’ al-Mawaddah, hlm. 31, 336.
25. Jarir bin ‘Abdullah bin Jabir al-Bajali (w. 51/54 H). Diriwayatkan oleh al-Haithami di dalam Majma’ al-Zawa’id, IX, hlm. 106.
26. Abu Dhar Janadah al-Ghaffari (w.31 H). Diriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah; Syamsuddin al-Jazari al-Syafi’i di dalam Asna l-Matalib, hlm. 4.
27. Abu Junaidah Janda’ bin ‘Umru bin Mazin al-Ansari. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, I, hlm. 308.
28. Hubbah bin Juwain Abu Qadamah al-’Arani (w. 76-79H). Diriwayatkan oleh al-Haithami di dalam Majma’ al-Zawa’id, IX, hlm. 103; al-Khatib al-Baghdadi di dalam Tarikh Baghdad, VIII, hlm. 276.
29. Hubsyi bin Janadah al-Jaluli. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, III, hlm. 307, V, hlm. 203; Ibn Kathir di dalam al-Bidayah wa Nihayah, VI, hlm. 211.
30. Habib bin Badil bin Waraqa’ al-Khaza’i. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, I, hlm. 368; Ibn Hajr di dalam al-Isabah, I, hlm. 304.
31. Huzaifah bin Usyad Abu Sarihah al-Ghaffari. (w.40/42 H). Diriwayatkan oleh al-Qunduzi al-Hanafi di dalam Yanabi’ al-Mawaddah, hlm. 38.
32. Huzaifah al-Yamani (w.36 H). Diriwayatkan oleh Syamsuddin al-Jazari al-Syafi’i di dalam Asna al-Matalib, hlm. 40.
33. Hasan bin Tsabit. Salah seorang penyair al-Ghadir pada abad pertama Hijrah.
34. Imam Mujtaba Hasan bin ‘Ali AS. Diriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah dan Abu Bakr al-Ja’abi di dalam al-Nakhb.
35. Imam Husain bin ‘Ali AS. Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim di dalam Hilyah al-Auliya’, IX, hlm.9.
36. Abu Ayyub Khalid bin Zaid al-Ansari (w.50/51H). Diriwayatkan oleh Muhibuddin al-Tabari di dalam al-Riyadh al-Nadhirah, I, hlm. 169; Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabbah, V, hlm. 6 dan lain-lain.
37. Abu Sulaiman Khalid bin al-Walid al-Mughirah al-Makhzumi (w. 21/22H). Diriwayatkan oleh Abu Bakr al-Ja’abi di dalam al-Nakhb.
38. Khuzaimah bin Thabit al-Ansari Dhu al-Syahadataini (w. 37 H). Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah,III, him. 307 dan lain-lain.
39. Abu Syuraih Khuwailid Ibn Umru al-Khaza’i (w. 68 H). Di antara orang yang menyaksikan Amiru l-Mukminin dengan hadith alGhadir.
40. Rifalah bin Abd aI-Mundhir al-Ansari. Dirlwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah dengan sanad-sanadnya di dalam Hadith al-Wilayah.
41. Zubair bin al-Awwam al-Qurasyi (w. 36 H). Diriwayatkan oieh Syamsuddln al-Jazari ai-Syafi’i di dalam Asna l-Matalib. him.3.
42. Zaid bin Arqam al-Ansari al-Khazraji (w. 66/68 H). Diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal di dalam Musnadnya. IV. hIm. 368 dan lain-lain.
43. Abu Sa’ld Zaid bin Thabit (w. 45/48 H). Diriwayatkan oleh Syamsuddin al-Jazari al-Syafi’i di dalam Asna l-Matalib him. 4 dan lain-lain.
44. Zaid Yazid bin Syarahil al-Ansari Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah,, II. hIm. 233; Ibn Hajr di dalam al-Isabah. I. him. 567 dan lain-lain.
45. Zaid bin Abdullah al-Ansari. Diriwayatkan oleh lbn ‘Uqdah dengan sanad-sanadnya di dalam Hadith al-Wilayah.
46. Abu Ishak Sa’d bin Abi Waqqas (w. 54/56/58 h). Diriwayatkan oleh al-Hakim di dalam al-Mustadrak, III, hlm. 116 dan lain-lain.
47. Sa’d bin Janadah al-’Aufi bapa kepada ‘Atiyyah al-’Aufi. Diriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah dan lain-lain.
48. Sad bin Ubadah al-Ansari al-Khazraji (w. 14/15 H). Diriwayatkan oleh Abu Bakr al-Ja’abi di dalam Nakhb.
49. Abu Sa’id Sad bin Malik al-Ansari al-Khudri (w. 63/64/65 H). Diriwayatkan oleh al-Khawarizmi di dalam Manaqibnya, hlm. 8; Ibn Kathir di dalam Tafsirnya, II, hlm. 14 dan lain-lain.
50. Sa’id bin Zald al-Qurasyi ‘Adwi (w. 50/5 1 H). Diriwayatkan oleh Ibn al-Maghazili di dalam Manaqibnya.
51. Sa’id bin Sa’d bin ‘Ubadah al-Ansari. Dlriwayatkan oleh Ibn‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah.
52. Abu ‘Abdullah Salman al-Farisi (w. 36/37 H). Diriwayatkan oleh Syamsuddln al-Jazari al-Syafl’i di dalam Asna l-Matallb, hlm. 4 dan lain-lain.
53. Abu Muslim Salmah bin ‘Umru bin al-Akwa’ al-Aslami (w.74 H). Diriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah dengan sanad-sanadnya dl dalam Hadith aI-Wilayah.
54. Abu Sulaiman Samurah bin Jundab al-Fazari (w. 58/59/60 H). Diriwayatkan oleh Syamsuddin al-Jazari al-Syafi’i di dalam Asna l-Matalib, hlm. 4 dan lain-lain.
55. Sahal bin Hanifal-Ansari al-Awsi (w. 38 H). Diriwayatkan oleh Syamsuddin al-Jazari al-Syafi’i di dalam Asna l-Matalib, him. 4 dan lain-lain.
56. Abu ‘Abbas Sahal bin Sa’d al-Ansari al-Khazraji al-Sa’idi (w.
91 H). Diriwayatkan oieh al-Qunduzi 1-Hanafi di dalam Yanabi’ al-Mawaddah, hlm. 38 dan lain-lain.
57. Abu Imamah al-Sadiq Ibn ‘Ajalan al-Bahili (w. 86 H). Diriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalain Hadith al-Wilayah.
58. Dhamirah al-Asadi. Dlriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di daiam Hadith al-Wilayah.
59. Talhah bin ‘Ubaidillah al-Tamimi wafat pada tahun 35 Hijrah di dalam Perang Jamal. Dirlwayatkan oleh al-Mas’udi di dalam Muruj al-Dhahab, II, hlm. 11; al-Hakim didalam al-Mustadrak,III, hlm. 171 dan lain-lain.
60. Amlr bin ‘Umair al-Namiri Diriwayatkan oleh Ibn Hajr di dalam al-Isabah II, hlm. 255.
61. AmIr bin Laila bin Dhumrah. Dirlwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, III, hln. 92, dan lain-lain.
62. ‘Amir bin Laila a1-Gbaffari Diriwayatkan oleh Ibn Hajr di dalam al-Isabah, II, hIm. 257 dan lain-lain.
63. Abu Tupail ‘Amir bin Wathilah. Diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal di dalam Musnadnya, I. hlm. 118; al-Turmudhi di dalam Sahihnya, II, hlm. 298 dan lain-lain.
64. ‘Alsyah binti Abu Bakr bin Abi Qahafah, Isteri Nabi Sawaw Diriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah.
65. ‘Abbas bin ‘Abdu l-Muttallib bin Hasyim bapa saudara Nabi Sawaw. Diriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah.
66. ‘Abdu r-Ráhman bin ‘Abd Rabb al-Ansari. Dirlwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd ai-Ghabah, III, hIm. 307; Ibn Hajr di dalam al-Isabah, II, him. 408 dan lain-lain.
67. Abu Muhammad bin ‘Abdu r-Rahman bin Auf al-Qurasyi al-Zuhri (w. 31 H), Diriwayatkan oieh Syamsuddin al-Jazari a!Syafi’i di dalam Asna al-Matalib, hlm. 3 dan lain-lain.
68. ‘Abdu r-Rahman bin Ya’mur al-Daili Diriwayatkan oleb Ibn ‘Uqdah dl dalam Hadith al-Wilayah dan lain-lain.
69. ‘Abdullah bin Abi ‘Abd al-Asad al-Makhzumi. Di riwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah.
70. ‘Abdullah bin Badil bin Warqa’ Sayyid Khuza’ah. Diriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah.
71. ‘Abdullah bin Basyir al-Mazini. Dlrlwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Had ith al-Wilayah.
72, ‘Abduilah bin Thabit al-Ansari. Dlriwayatkan oleh al-Qadhi didalam Tarikh Ali Muhammad, him. 67.
73. ‘Abdullah bin Ja’far bin Abi Talib al-Hasyimi (w, 80 H). Diriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah
74. ‘Abdullah bin Hantab al-Qurasyi al-Makhzumi. Dlrlwayatkanoleh al-Suyuti di dalam Ihya’ al-Mayyit.
75. ‘Abdullah bin Rabi’ah. Dlrlwayatkan oleh al-Khawarizmi didalam Maqtalnya.
76. ‘Abdullah bin ‘Abbas (w. 68 H). Diriwayatkan oleh al-Nasa’i di dalam al-Khasa’is, hlm. 7 dan lain-lain.
77. ‘Abdullah bin Ubayy Aufa ‘Alqamah al-Aslami (w. 86/87 H).
Dlriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah hal.78. Abu ‘Abdu r-Rahman ‘Abdullah bin ‘Umar bin al-Khattab al-’Adawi (w. 72/73 H), Dlrlwayatkan oleh al-Haithami di dalam Majma’ al-Zawa’ld, IX, hIm. 106 dan lain-lain,
79. Abu ‘Abdu r-Rahman ‘Abdullah bin Mas’ud al-Hazali (w. 32 /
33 H). Dlriwayatkan oleh al-Suyuti di dalam al-Durr al-Manthur, II, hlm. 298 dan lain-lain.
80. ‘Abdullah bin Yamil. Dlriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd ol-Ghabah,III, him. 274; Ibn Hajr di dalam al-Isabah, II,hlm. 382 dan lain-lain.
81. ‘Uthman bin ‘Affan (w. 35 H). Dirilwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah dan lain-lain.
82. ‘Ubaid bin ‘Azib al-Ansari, saudara al-Bara’ bin ‘Azib. Di antara orang yang membuat penyaksian kepada ‘Ali A.S. di Rahbah. Dirlwayatkan oleh Ibn al-AthIr di dalam Usd al-Ghabah, III, him.
307.
83. Abu Tarif Adi bin Hatim (w. 68 H). Diriwayatkan oieh al-Qunduzi al-Hanafi di dalam Yanabi’ al-Mawaddah, him. 38
dan lain-lain.
84. ‘Atiyyah bin Basr al-Mazini. Diriwayatkan oleh lbn ‘Uqdah di dalam Had ith al-Wilayah.
85. ‘Uqbah bin Amir al-Jauhani. Diriwayatkan al-Qadh di dalam
Tarikh Ali Muhammad, him. 68.
86. Amiru l-Mukminin ‘Ali bin Abi Talib A.S. Diriwayatkan oieh Ahmad bin Hanbal di dalam Musnadnya, I, hlm. 152: al-Haithami di dalam Majma’ al-Zawa’id, IX. him. 107; al-Suyuti di dalam Tarlkh al-Khulafa’ , him. 114; Ibn Hajr di dalam Tahdhlb al-Tahdhlb, VII, him. 337; Ibn Kathir dl dalain al-Bidayah wa al-Nihayah. V. him. 211 dan lain-lain.
87. Abu Yaqzan ‘Ammar bin Yasir (w. 37 H). Diriwayatkan oleh Syamsuddin al-Jazari al-Syafi’i di dalain Asna al-Matalib, hlm. 4 dan lain-lain.
88. ‘Ammarah al-Khazraji al-Ansari. Dlrlwayatkan oieh al-Halthami dl dalam MaJma’ al-Zawa’ld, IX, him. 107 dan lain-lain.
89. ‘Umar bin Abi Salmah bin ‘Abd al-Asad al-Makhzumi (w. 83 H).
Dlriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah.
90. ‘Umar bin al-Khattab (w. 23 H). Diriwayatkan oleh Muhibbuddin al-Tabari dl dalam al-Rlyadh aI-Nadhirah, H, him. 161; Ibn Kathir di dalam al-Bidayah wa al-Nihayah. VII. Mm. 349 dan lain-lain.
91. Abu Najid ‘Umran bin Hasin al-Khuza’i (w. 52 H). Diriwayatkan oleh Syamsuddin ai-Jazari al-Syafi’i di dalam Asna al-Matalib. him. 4 dan lain-lain.
92. Umru bin al-Humq al-Khuza’i al-Kufi (w. 50 H). Diriwayatkan oieh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah.
93. ‘Umru bin Syarhabil. Dlrlwayatkan oleh aI-Khawarizmi di dalain Maqtalnya.
94. ‘Umru bin al-Asi Diriwayatkan oleh Ibn Qutaibah di dalam al-Imamah wa al-Slyasah, him. 93 dan lain-lain.
95. ‘Umru bin Murrah al-Juhani Abu Talhah atau Abu Maryam. Diriwayatkan oleh al-Muttaqi al-Hindi di dalam Kanz al-’Ummal, VI, him. 154 dan lain-lain.
96. Al.Siddiqah Fatimah binti Nabi Sawaw. Dlriwayatkan oieh Ibn
‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah dan lain-lain.
97. Fatimah binti Hamzah bin ‘Abdu l-Muttalib. Dlriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah.
98. Qais bin Thabit bin Syamas al-Ansari Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, I, hIm. 368; lbn Hajr di dalam al-Isabah, I. him. 305 dan lain-lain.
99. Qais bin Sa’d bin ‘Ubadah al-Ansari al-Khazraji. Dlrlwayatkan oleh Ibn Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah.
100. Abu Muhammad Ka’ab bin ‘Ajrah al-Ansari al-Madani (w.5 1 H). Dlrlwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah.
101. Abu Sulaiman Malik bin al-Huwairath al-Laithi (w. 84 H) Dirtwayatkan oleh al-Suyutl di dalam Tarikh al -Khulafa’ , hlm. 114 dan lain-lain.
102. A1-Miqdad bin ‘Umry al-Kindi al-Zuhrl (w. 33 H). Dirlwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah dan lain-lain.
103. Najiah bin ‘Umru al-Khuzai. Dlrlwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, V. him. 6; Ibn Hajr di dalain al-Isabah,III, hlm. 542 dan lain-lain.
104. Abu Barzah Fadhiah bin ‘Utbah al-Aslami (w. 65 H). Diriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah.
105. Na’mar bin ‘Ajalan al-Ansari. Diriwayatkan oleh al-Qadhi di
daiam Tarikh Ali Muhammad, him. 68 dan lain-lain.
106. Hasyim al-Mirqal Ibn ‘Utbah bin Abi Waqqas al-Zuhrl (w. 37 H). Dlrlwayatkan oieh Ibn al-Athir dl dalam Usd al-Ghabah, I, him. 366; Ibn Hajr di dalam aI-Isabah, 1, hlm. 305.
107. Abu Wasmah Wahsyiy bin Harb al-Habsyl al-Hamsi. Diriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah dl dalam Hadith al-Wilayah.
108. Wahab bin Hamzah. Diriwayatkan oieh al-Khawarizmi pada Fasal Keempat di dalam Maqtalnya.
109. Abu Juhallah Wahab bin Abdullah al-Suwa’i(w. 74 H). Dinwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah.
110. Abu Murazim Ya’li bin Murrah bin Wahab al-Thaqali. Diniwayatkan oleh Ibn al-Athir dl dalam Usd aI-Ghabah. II. him. 233; Ibn Hair di dalam aI-Isabah, Ill, him. 542

.
Demikian dikemukakan kepada kalian 110 perawi-perawl hadits al-Ghadir dikalangan para sahabat mengenal perlantikan ‘Ali A.S. sebagai khalifah secara langsung selepas Rasulullah Saww, oleh ularna-ulama Ahlus-Sunnah di dalam buku-buku mereka. Oleh karena Itu hadits ini sudah mencapai ke peringkat mutawatir. Kemudian diikuti pula oleh 84 perawl-perawi dari golongan para Tabi’in yang merlwayatkan hadits al-Ghadir serta 360 perawl-perawi di kalangan para ulama Sunnah yang meriwayatkan hadits tersebut di dalam buku-buku mereka. Malah terdapat 26 pengarang dari kalangan para ulama Ahlus-Sunnah yang mengarang buku-buku tentang hadis al-Ghadir. Untuk keterangan lebih lanjut silakan rujuk al-Amini, al-Ghadlr, I. hlm. 14 – 158.

kapan saja ada kesempatan, Imam Ali selalu membicarakan haknya sebagai Khalifah Rasulullah Saw

Kaum Syi’ah, khususnya Mazhab Dua Belas Imam menafsirkan bahwa Ahlul Bait adalah “anggota rumah tangga” Muhammad dan mempercayai bahwa mereka terdiri dari: MuhammadAli bin Abi ThalibFatimah az-ZahraHasan bin Ali, dan Husain bin Ali.

Kaum Syi’ah percaya bahwa yang dimaksud dengan Ahlul Bait yang disucikan sesuai dengan ayat tathîr (penyucian) (QS. Al-Ahzab [33]:33), adalah mereka yang termasuk dalam Ahlul-Kisayaitu MuhammadAliFatimahHasan dan Husain serta 9 imam berikutnya yang merupakan keturunan dari Husain.

Sesuai dengan hadits di atas, Syi’ah berpendapat bahwa istri-istri Muhammad tidak termasuk dalam Ahlul Bait, sebagaimana pendapat Sunni yang memasukkan istri-istri Muhammad.

Setelah wafatnya Muhammad

Berkembangnya Ahlul-Bait walaupun sepanjang sejarah kekuasaan Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah mengalami penindasan luar biasa, adalah berkah dari do’a Muhammad kepada mempelai pengantin Fatimah putri beliau dan Ali di dalam pernikahan yang sangat sederhana.

Doa Nabi SAW adalah,”Semoga Allah memberkahi kalian berdua, memberkahi apa yang ada pada kalian berdua, membuat kalian berbahagia dan mengeluarkan dari kalian keturunan yang banyak dan baik”

Setelah mengalami titik noda paling kelam dalam sejarah Bani Umayyah, dimana cucu Nabi SAW, al-Husain bersama keluarga dibantai di Karbala, pemerintahan berikutnya dari Bani Abbasiyahyang sebetulnya masih kerabat (diturunkan melalui Abbas bin Abdul-Muththalib) tampaknya juga tak mau kalah dalam membantai keturunan Nabi SAW yang saat itu sudah berkembang banyak baik melalui jalur Ali Zainal Abidin satu-satunya putra Husain bin Ali yang selamat dari pembantaian di Karbala, juga melalui jalur putra-putra Hasan bin Ali.

Abu Bakar dan Umar ibn Khattab sangat berambisi menggantikan Rasulullah. Mereka melakukan Kolusi, Konspirasi, Kecurangan dengan semua cara; termasuk tidak mentaati Rasulullah; ketika Rasulullah hendak membuat surat wasiat. Kaum Syiah menolak BIDAH yang bernama Khalifah Islamiyyah (Kerajaan Islam); sehingga Kaum Syiah tidak mengakui Abu Bakr, Umar ibn Khattab dan Uthman ibn Affan sebagai Khalifah (raja yang beragama Islam); karena Kaum Syiah memperjuangkan negara IMAMAH

Golongan Suni sama sekali tidak mengakui kedudukan Ali Bin Abi Thalib sebagai Wasiy Nabi SAW, bahkan menurut mereka Wasiy Nabi SAW adalah seseorang yang dipilih/diangkat atas kesepakatan umat, dan yang pertama adalah Abu Bakar yang dipilih/diangkat di Balai Pertemuan Bani Saidah di Saqifah.

Khalifah artinya pengganti Nabi yang harus muncul segera setelah wafatnya Nabi tanpa jeda apapun. Nabi menyatakan bahwa 12 khalifah tersebut mencakup sampai hari kebangkitan ! Kaum muslimin, di dalam kitab shahih mereka, telah sepakat (ijma’) bahwa Rasulullah saw. telah menyebutkan bahwa jumlah khalifah sesudahnya sebanyak 12 orang  pemimpin / Imam. Menurut syi’ah mereka berasal dari keturunan Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra Binti Muhammad SAW.

Menurut sejarah selama pemerintahan dinasti Umayah dan Abasiyah, kesemua Imam 12 dan pengikut-pengikutnya diburu untuk dibunuh. Dalam suasana genting ini ramai ulama syi’ah terpaksa menyembunyikan keimanan mereka.

Bahwasanya Golongan Suni tidak mengakui pengangkatan Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah pengganti Nabi SAW tidaklah menjadikan pengangkatan itu menjadi tidak ada. Karena bukti hadist dan sejarah tetap menunjukkan Nabi Muhammad SAW telah mengangkat anggota keluarga-nya sebagai Penerus/Pengganti/Wasiy bagi umatnya.

Baginda Ali As menjelaskan mengapa dirinya tidak angkat senjata. Hal itu disebabkan karena beliau sendiri, sebagaimana yang dijelaskan, “Saya melihat dan mendapatkan bahwa tidak ada pendukung bagi aku kecuali keluarga saya; maka aku hindarkan mereka dari terjerumus ke dalam kematian. Aku terus menutup mata saya walaupun kelilipan. Aku minum walaupun kerongkongan terteguk. Aku bersabar walaupun susah bernapas dan walaupun harus menelan jadam sebagai makanan.”[ Nahj al-Balâgha, Khutbah 36, hal. 73.]

Akan tetapi Baginda Ali As sendiri senantiasa menyampaikan keluhan dan protes (terhadap proses perampasan khilafah ini) pada masa Abu Bakar dan setelahnya.

Peristiwa Imam Ali membai’at Abubakar secara terpaksa, dan Imam Hasan berdamai dengan Mu’awiyah secara terpaksa tidaklah menjadikan pengangkatan 12 imam ahlulbait  menjadi Penerus/Pengganti (wasiy) Beliau SAW untuk memimpin umat menjadi tidak ada karena Imam Ali dan Imam Hasan tetap berkeyakinan bahwa Imamah adalah haknya.

Ali tetap berkeyakinan bahwa jabatan kekhalifahan adalah haknya. Hal ini dapat dilihat setelah ia dibaiat 25 tahun kemudian dalam sebuah pidatonya yang terkenal dengan asySyiqsyiqiyyah: “Demi Allah, putra Abu Quhafah (Abu Bakar) telah mengenakan busana (kekhalifahan) itu, padahal ia mengetahui dengan yakinnya bahwa kedudukan saya sehubungan (kekhalifahan) itu sama seperti hubungan sumbu dengan roda ..Saya menyaksikan perampasan akan warisan saya. Tatkala yang pertama (Abu Bakar) meninggal ia menyodorkan kekhalifahan itu kepada Ibnu Khaththab sendiri.”

Ia juga mengingatkan para sahabat, yang ia kumpulkan di pekarangan mesjid, akan pidato Rasulullah di Ghadir Khumm yang berbunyi: ‘Barangsiapa menganggap aku sebagai pemimpinnya maka ‘Ali juga adalah pemimpinnya. Ya Allah cintailah siapa yang mencintainya dan musuhilah siapa yang memusuhinya’. Abu Bakar dan ‘Umar pada waktu itu datang memberi selamat kepadanya.

Riwayat yang menyatakan Imam Ali membaiat Abu Bakar setelah enam bulan adalah riwayat shahih dan tsabit dari kitab yang mu’tabar di sisi para ulama yaitu Shahih Bukhari. Tidak ada keraguan akan keshahihan riwayat ini. Dalam riwayat shahih dan tsabit dari Aisyah sebelumnya bahwa baiat Imam Ali kepada Abu Bakar terjadi setelah kematian Sayyidah Fathimah [‘alaihis salam] yaitu setelah enam bulan

Ada  dua  pilihan  bagi  Imam Ali :

1. Memerangi Abubakar cs dengan resiko ISLAM  hancur  binasa karena MUSUH  MUSUH  Imam Ali  dan  MUSUH MUSUH  ABUBAKAR  Cs telah mengepung mereka !! Pada peristiwa penyerangan Musailamah, Imam Ali as membaiat Abu Bakar untuk langgengnya Islam.

Beladzuri dalam menjelaskan sebab mengapa Imam Ali memberikan baiat berkata, “Pasca wafatnya Rasulullah Saw dimana sebagian suku Arab telah murtad, Usman datang ke hadapan Ali dan berkata, “Wahai Putra Paman! Selama Anda tidak memberikan baiat tiada seorang pun yang akan pergi berperang melawan musuh.” Usman senantiasa membicarakan hal ini dengan Ali hingga pada akhirnya Baginda Ali As memberikan baiat kepada Abu Bakar.”

kondisi masyarakat Islam pasca wafatnya Rasulullah menuntut kesabaran lebih tinggi nilainya ketimbang keberanian. Beliau mengetahui bahwa dalam kondisi seperti ini bahwa menghunus pedang akan lebih banyak dimanfaatkan oleh musuh-musuh Islam untuk melenyapkan dan mencerabut Islam hingga ke akar-akarnya. Karena itu, kemaslahatan pribadi dikorbankan untuk kemaslahatan yang lebih penting yaitu asas Islam.

Mengingat maslahat umat Islam menuntut agar beliau mengalah demi meraih maslahat Islam yang lebih abadi. Sebab eksistensi Islam sedang terancam dengan maraknya kaum murtad yang meninggalkan agama Islam dan berniat untuk menyerang kota suci Madinah dan memerangi kaum Muslim!

2. Membai’at Abubakar  secara the facto (taqiyah terpaksa)  agar  Islam tetap hidup dimuka bumi ini… Tanpa membai’at  secara THE JURE

‘Ali membaiat Abu Bakar adalah untuk membesarkan hati kaum Muslimin dan menyelesaikan keresahan kaum Muslimin yang sedang menghadapi musibah murtadnya sebagian kabilah Arab namun ‘Ali tetap berkeyakinan bahwa Imamah adalah haknya

Hadis riwayat Bukhari no. 4240-4241  dibawah ini juga disebutkan dalam Shahih Muslim 3/1380 no 1759 dan Shahih Ibnu Hibban 11/152 no 4823. Dari hadis yang panjang di atas terdapat bukti nyata kalau Imam Ali membaiat Abu Bakar setelah enam bulan yaitu setelah wafatnya Sayyidah Fathimah [‘alaihis salam] :

Telah menceritakan kepada kami Yahyaa bin Bukair yang berkata telah menceritakan kepada kami Al-Laits dari ‘Uqail dari Ibnu Syihaab dari ‘Urwah dari ‘Aaisyah Bahwasannya Faathimah [‘alaihis-salaam] binti Nabi [shallallaahu ‘alaihi wa sallam] mengutus utusan kepada Abu Bakr meminta warisannya dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dari harta fa’i yang Allah berikan kepada beliau di Madinah dan Fadak, serta sisa seperlima ghanimah Khaibar. Abu Bakr berkata ‘Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda ‘Kami tidak diwarisi, segala yang kami tinggalkan hanya sebagai sedekah”. Hanya saja, keluarga Muhammad [shallallahu 'alaihi wasallam] makan dari harta ini’. Dan demi Allah, aku tidak akan merubah sedikitpun shadaqah Rasulullah [shallallaahu 'alaihi wa sallam] dari keadaannya semula sebagaimana harta itu dikelola semasa Rasulullah [shallallaahu 'alaihi wa sallam], dan akan aku kelola sebagaimana Rasulullah mengelola. Maka Abu Bakr enggan menyerahkan sedikitpun kepada Fathimah sehingga Fathimah marah kepada Abu Bakr dalam masalah ini. Fathimah akhirnya mengabaikan Abu Bakr dan tak pernah mengajaknya bicara hingga ia meninggal. Dan ia hidup enam bulan sepeninggal Nabi [shallallaahu 'alaihi wa sallam]. Ketika wafat, ia dimandikan oleh suaminya, Aliy, ketika malam hari, dan ‘Aliy tidak memberitahukan perihal meninggalnya kepada Abu Bakr.

Padahal semasa Faathimah hidup, Aliy dituakan oleh masyarakat tetapi, ketika Faathimah wafat, ‘Aliy memungkiri penghormatan orang-orang kepadanya, dan ia lebih cenderung berdamai dengan Abu Bakr dan berbaiat kepadanya, meskipun ia sendiri tidak berbaiat di bulan-bulan itu. ‘Aliy kemudian mengutus seorang utusan kepada Abu Bakar yang inti pesannya  ‘Tolong datang kepada kami, dan jangan seorangpun bersamamu!’. Ucapan ‘Aliy ini karena ia tidak suka jika Umar turut hadir. Namun ‘Umar berkata ‘Tidak, demi Allah, jangan engkau temui mereka sendirian’. Abu Bakr berkata ‘Kalian tidak tahu apa yang akan mereka lakukan terhadapku. Demi Allah, aku sajalah yang menemui mereka.’ Abu Bakr lantas menemui mereka.

‘Aliy mengucapkan syahadat dan berkata ”Kami tahu keutamaanmu dan apa yang telah Allah kurniakan kepadamu. Kami tidak mendengki kebaikan yang telah Allah berikan padamu, namun engkau telah sewenang-wenang dalam memperlakukan kami. Kami berpandangan, kami lebih berhak karena kedekatan kekerabatan kami dari Rasulullah [shallallaahu 'alaihi wa sallam’].

 Hingga kemudian kedua mata Abu Bakr menangis. Ketika Abu Bakr bicara, ia berkata “Demi Yang jiwaku ada di tangan-Nya, kekerabatan Rasulullah lebih aku cintai daripada aku menyambung kekerabatanku sendiri. Adapun perselisihan antara aku dan kalian dalam perkara ini, sebenarnya aku selalu berusaha berbuat kebaikan. Tidaklah kutinggalkan sebuah perkara yang kulihat Rasulullah [shallallahu 'alaihi wa sallam] melakukannya, melainkan aku melakukannya juga’.

Kemudian ‘Aliy berkata kepada Abu Bakr ‘Waktu baiat kepadamu adalah nanti sore’. Ketika Abu Bakr telah shalat Dhuhur, ia naik mimbar. Ia ucapkan syahadat, lalu ia menjelaskan permasalahan ‘Aliy dan ketidakikutsertaannya dari bai’at serta alasannya. ‘Aliy kemudian beristighfar dan mengucapkan syahadat, lalu mengemukakan keagungan hak Abu Bakar, dan ia menceritakan bahwa apa yang ia lakukan tidak sampai membuatnya dengki kepada Abu Bakar. Tidak pula sampai mengingkari keutamaan yang telah Allah berikan kepada Abu Bakr. Ia berkata “Hanya saja, kami berpandangan bahwa kami lebih berhak  dalam masalah ini namun Abu Bakr telah bertindak sewenang-wenang terhadap kami sehingga kami pun merasa marah terhadapnya”.

Kaum muslimin pun bergembira atas pernyataan ‘Aliy dan berkata “Engkau benar”. Sehingga kaum muslimin semakin dekat dengan ‘Aliy ketika ‘Aliy mengembalikan keadaan menjadi baik” [Shahih Bukhaari no. 4240-4241].

Hadis yang dijadikan hujjah oleh penyebar syubhat ini adalah hadis Buraidah ketika ia menceritakan soal para sahabat yang merendahkan Imam Ali. Hadis tersebut bukan diucapkan di Ghadir Khum dan tentu saja Rasulullah SAW akan marah kepada sahabat yang menjelekkan Imam Ali karena Imam Ali adalah pemimpin setiap mukmin (semua sahabat Nabi) sepeninggal Nabi SAW . Disini Rasulullah SAW mengingatkan Buraidah dan sahabat lain yang ikut di Yaman agar berhenti dari sikap mereka karena Imam Ali adalah pemimpin bagi setiap mukmin sepeninggal Nabi SAW.

Dari Abdullah bin Buraidah dari ayahnya Buraidah yang berkata “Rasulullah SAW mengirim dua utusan ke Yaman, salah satunya dipimpin Ali bin Abi Thalib dan yang lainnya dipimpin Khalid bin Walid. Beliau SAW bersabda “bila kalian bertemu maka yang jadi pemimpin adalah Ali dan bila kalian berpisah maka masing-masing dari kalian memimpin pasukannya. Buraidah berkata “kami bertemu dengan bani Zaid dari penduduk Yaman kami berperang dan kaum muslimin menang dari kaum musyrikin. Kami membunuh banyak orang dan menawan banyak orang kemudian Ali memilih seorang wanita diantara para tawanan untuk dirinya. Buraidah berkata “Khalid bin Walid mengirim surat kepada Rasulullah SAW memberitahukan hal itu. Ketika aku datang kepada Rasulullah SAW, aku serahkan surat itu, surat itu dibacakan lalu aku melihat wajah Rasulullah SAW yang marah kemudian aku berkata “Wahai Rasulullah SAW, aku meminta perlindungan kepadamu sebab Engkau sendiri yang mengutusku bersama seorang laki-laki dan memerintahkan untuk mentaatinya dan aku hanya melaksanakan tugasku karena diutus. Rasulullah SAW bersabda “Jangan membenci Ali, karena ia bagian dariKu dan Aku bagian darinya dan Ia adalah pemimpin kalian sepeninggalKu, ia bagian dariKu dan Aku bagian darinya dan Ia adalah pemimpin kalian sepeninggalKu. [Musnad Ahmad tahqiq Syaikh Ahmad Syakir dan Hamzah Zain hadis no 22908 dan dinyatakan shahih].

hadis Buraidah menjadi penguat bahwa Imam Ali adalah pemimpin bagi setiap mukmin (semua sahabat Nabi)  sepeninggal Nabi SAW dan sungguh tidak berguna syubhat dari para pengingkar.

Para sahabat Nabi memberikan ucapan selamat kepada Ali dengan mengatakan “Amirul Mukminin (Pemimpin Orang Beriman) kepadanya “. Sehingga tidak ada ruang lagi untuk ragu berkenaan dengan arti kata “mawla “. Meskipun penduduk Madinah berdiam diri selama peristiwa yang menahan Ali dari kekhalifahan, masih banyak yang menyaksikan peristiwa ini,

Hassan bin Tsabit, pujangga masyhur Nabi, menggubah sebuah syair berkenaan dengan peristiwa al-Ghadir pada hari itu. Ia bersenandung: “Lalu ia bersabda kepadanya: “Berdirilah, Wahai Ali, karena aku rela menjadikanmu sebagai Imam dan Penunjuk Jalan selepasku.”

Dalam bait syairnya ini, Hassan bin Tsabit telah memahami istilah “mawla” sebagai arti dari “Imam dan Penunjuk Jalan” yang secara jelas membuktikan bahwa Nabi Saw berbicara tentang penggantinya, dan ia sama sekali tidak memperkenalkan Ali sebagai “temannya” melainkan sebagai seorang “pemimpin.”

kaum tradisional Arab segan mempercayakan ali yang  muda dan belia yang belum berpengalaman untuk memikul tanggung jawab yang besar..

Imam Ali merasa dirinya yang paling berhak tetapi orang-orang malah membaiat Abu Bakar. Hal ini telah diisyaratkan oleh Rasulullah SAW

Telah menceritakan kepada kami Abu Hafsh Umar bin Ahmad Al Jumahi di Makkah yang berkata telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdul Aziz yang berkata telah menceritakan kepada kami Amru bin ‘Aun yang berkata telah menceritakan kepada kami Husyaim dari Ismail bin Salim dari Abi Idris Al Awdi dari Ali Radhiyallahu ‘anhu yang berkata “Diantara yang dijanjikan Nabi SAW kepadaku bahwa Umat akan mengkhianatiku sepeninggal Beliau”. [Al Mustadrak 3/150 no 4676 dishahihkan oleh Al Hakim dan Adz Dzahabi]

Selama masa 6 bulan itu ternyata pemerintahan Abu Bakar mengalami berbagai masalah seperti adanya “kaum yang murtad” dan adanya Nabi palsu Musailamah Al Kadzdzab beserta pengikutnya. Berbagai masalah ini dapat dimanfaatkan oleh orang-orang munafik untuk memecah belah umat. Merekapun juga melihat tindakan memisahkan diri yang dilakukan Imam Ali dan hal ini bisa saja dimanfaatkan oleh mereka untuk menyebarkan fitnah perpecahan.

Oleh karena itulah setelah 6 bulan Imam Ali memutuskan memberikan baiat untuk menutup celah yang akan dimanfaatkan oleh kaum munafik dan baiat ini adalah demi keutuhan umat islam. Inilah yang dimaksud Imam Ali bahwa ia mengalami penderitaan dan kesulitan sepeninggal Nabi SAW [hal ini telah diberitakan oleh Nabi SAW kepada Imam Ali]. Di satu sisi Beliaulah yang paling berhak tetapi beliau tetap memberikan baiat demi keutuhan umat islam.

Telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin Sahl seorang faqih dari Bukhara yang berkata telah menceritakan kepada kami Sahl bin Mutawwakil yang berkata telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yunus yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudhail dari Abi Hayyan At Taimi dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas RA yang berkata Nabi SAW berkata kepada Ali “Sesungguhnya kamu akan mengalami kesukaran [bersusah payah] sepeninggalKu”. Ali bertanya “apakah dalam keselamatan agamaku?”. Nabi SAW menjawab “dalam keselamatan agamamu” [Mustadrak Ash Shahihain 3/151 no 4677 dishahihkan oleh Al Hakim dan Adz Dzahabi]

Pernyataan Imam Ali kalau Beliau adalah yang paling berhak sepeninggal Nabi SAW jelas berdasarkan apa yang telah dikatakan oleh Nabi SAW sendiri, diantaranya

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya bin Hamad dari Abi ‘Awanah dari Yahya bin Sulaim Abi Balj dari ‘Amr bin Maimun dari Ibnu Abbas yang berkata Rasulullah SAW bersabda kepada Ali “KedudukanMu di sisiKu sama seperti kedudukan Harun di sisi Musa hanya saja Engkau bukan seorang Nabi. Sesungguhnya tidak sepatutnya Aku pergi kecuali Engkau sebagai KhalifahKu untuk setiap mukmin sepeninggalKu” [As Sunnah Ibnu Abi Ashim no 1188 dengan sanad yang shahih]

Sepeninggal Abu Bakar, Umar ditunjuk Abu Bakar untuk menggantikannya dan orang-orangpun membaiat Umar. Disini Imam Ali melihat betapa orang-orang menerima keputusan Abu Bakar dan membaiat Umar padahal Imam Ali merasa bahwa Beliau adalah yang paling berhak. Hal inilah yang dinyatakan oleh Beliau sebagai penderitaan dan kesulitan tetapi beliau tetap bersabar dan ikut memberikan baiat pula kepada Umar agar tidak menimbulkan perpecahan di kalangan kaum muslimin.

Sepeninggal Umar, beliau memerintahkan pemilihan khalifah melalui Majelis syura yang ia bentuk. Terdapat berbagai riwayat seputar masalah ini yang terkadang “agak kontroversi” tetapi singkat cerita majelis tersebut mengangkat Utsman sebagai khalifah. Sekali lagi Imam Ali melihat orang-orang memilih Utsman padahal Imam Ali merasa yang paling berhak. Hal inilah yang dinyatakan Imam Ali sebagai penderitaan dan kesulitan yang beliau alami. Tidak ada satupun dikalangan umat yang mengalami penderitaan dan kesulitan seperti itu. Beliau yang berhak tetapi beliau tetap bersabar dan menerima. Tentu saja akhlak seperti ini hanya dimiliki orang-orang khusus.

Walaupun Imam  Ali membai’at ABUBAKAR SECARA THE FACTO, Bukan berarti menyetujui SECARA YURiDIS kekhalifahan non ahlul bait. Pembaiatan ‘Ali bukanlah pengakuan akan keabsahan kekhalifahan Abu Bakar, hal itu dilakukan semata-mata untuk menjaga Islam dan kemaslahatan Islam.

Khalifah = Pengganti.

Khalifah Rasulullah = Pengganti Utusan Tuhan, ini hak yuridis Imam Ali.

Imam Ali As memberikan baiat kepada beberapa orang tertentu lantaran kemaslahatan yang bernilai seperti menjaga agama Tuhan dan segala jerih payah Rasulullah.

Imam Ali bahwa berulang kali menyampaikan protes terhadap situasi dan kondisi di masa tiga khalifah namun upaya maksimal beliau dikerahkan untuk menjaga dan menguatkan pemerintahan Islam di hadapan musuh-musuhnya.

Yang benar adalah bahwa kapan saja ada kesempatan, Imam Ali selalu membicarakan haknya sebagai Khalifah Rasulullah Saw.Sunni mencatat peristiwa 25 tahun setelah hari Ghadir Kum

Tidak seorang pun yang menyalahkan Ali karena klaim atau menyodorkan bukti-buktinya hingga hari ini. Ia sendiri berkata: “Tidak seorang pun yang dapat disalahkan atas terlambatnya (menjaga) ia meraih haknya, namun kesalahan terletak pada orang yang mengambil sesuatu yang bukan haknya.”[ Nahj al-Balaghah, ucapan # 166.]

Pada tahun 35 H, sewaktu Imam berada di Kufah, ia mendengar bahwa orang-orang sangsi atas klaimnya sebagai lebih utama dan lebih prioritas atas ketiga khalifah sebelumnya. Oleh karena itu, ia mendatangi majelis di Masjid dan memohon kepada saksi-saksi yang hadir di Ghadir Khum  untuk menyatakan kebenaran deklarasi Nabi Saw tentang dirinya sebagai “mawla (tuan, pemimpin, junjungan) bagi mereka yang menjadikan Nabi sebagai mawlanya sendiri. Dalam banyak kitab, kita mempunyai dua puluh empat sahabat Nabi yang menyatakan kesaksian akan kebenaran klaim Imam Ali ini. Sumber-sumber lain seperti Musnad Ahmad bin Hanbal dan Majmâ az-Zawâid karya al-Haytami menyebutkan sebanyak tiga puluh.[ Peristiwa Kufa ini telah diriwayatkan oleh empat sahabat Nabi Saw dan empat belas thabi’in, dan telah tercatat pada kebanyakan buku-buku sunan dan sejarah. Lihat al-Amini, al-Ghadir, vol. 1 (Tehran: Muassasat al-Muwahidi, 1976) hal-hal. 166-186.]

Dalam beberapa kesempatan, Imam Ali memohon kepada para sahabat Nabi untuk bersaksi atas deklarasi al-Ghadir ini. Di sini saya akan menyebutkan satu contoh perisitiwa yang terjadi di Kufah selama masa kekhalifaan Ali, sekitar dua puluh lima tahun setelah Nabi Saw wafat.

Imam Ali mendengar bahwa beberapa orang meragukan klaimnya atas keutamaan khalifah-khalifah sebelumnya, oleh karena itu, ia datang pada sebuah perhelatan yang berlangsung di masjid dan memohon para saksi yang hadir dalam acara Ghadir Khum untuk membenarkan apa yang disampaikan oleh Nabi ihwal Nabi sebagai mawla mereka dan seluruh kaum mukmin. Beberapa orang sahabat berdiri dan membenarkan klaim Ali ini. Kami akan menyebutkan dua puluh empat nama sahabat yang membuat kesaksian atas klaim Imam Ali, meskipun sumber-sumber yang lain seperti Musnad Ahmad dan Majma’ az-Zawaid milik Hafidh al-Haytami malah menyebutkan sebanyak tiga puluh orang. Perlu untuk diingat bahwa kejadian ini berlangsung 25 tahun setelah peristiwa GhadirKhum, dan selama masa ini, ratusan saksi telah wafat atau gugur di medang perang selama masa dua khalifah yang pertama. Sebagai tambahan atas kenyataan ini bahwa kejadian ini berlangsung di Kufah yang jauh dari pusat tempat sahabat bermukim, Madinah. Kejadian ini beralngsung di Kufah pada tahun 35 H yang riwayatnya sendiri dinukil oleh 4 orang sahabat dan 14 tabii’in dan telah tercatat dalam sebagian besar kitab-kitab sejarah dan hadis.[ Untuk referensi lebih lengkap, lihat al-Amini, al-Ghadir, jilid. 1 (Tehran: Muassasatul Muwahhidi, 1976) hal. 166-168.]

Imam Ali Mengakui Kepemimpinannya : Hujjah Hadis Ghadir Khum

Hadis Ghadir Khum yang menunjukkan kepemimpinan Imam Ali adalah salah satu hadis shahih yang sering dijadikan hujjah oleh kaum Syiah dan ditolak oleh kaum Sunni. Kebanyakan mereka yang mengingkari hadis ini membuat takwilan-takwilan agar bisa disesuaikan dengan keyakinan mahzabnya. Padahal Imam Ali sendiri mengakui kalau hadis ini adalah hujjah bagi kepemimpinan Beliau. Hal ini terbukti dalam riwayat-riwayat yang shahih dimana Imam Ali ketika menjadi khalifah mengumpulkan orang-orang di tanah lapang dan berbicara meminta kesaksian soal hadis Ghadir Khum.

Dari Sa’id bin Wahb dan Zaid bin Yutsai’ keduanya berkata “Ali pernah meminta kesaksian orang-orang di tanah lapang “Siapa yang telah mendengar Rasulullah SAW bersabda pada hari Ghadir Khum maka berdirilah?. Enam orang dari arah Sa’id pun berdiri dan enam orang lainnya dari arah Za’id juga berdiri. Mereka bersaksi bahwa sesungguhnya mereka pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda kepada Ali di Ghadir Khum “Bukankah Allah lebih berhak terhadap kaum mukminin”. Mereka menjawab “benar”. Beliau bersabda “Ya Allah barangsiapa yang aku menjadi pemimpinnya maka Ali pun menjadi pemimpinnya, dukunglah orang yang mendukung Ali dan musuhilah orang yang memusuhinya”. [Musnad Ahmad 1/118 no 950 dinyatakan shahih oleh Syaikh Ahmad Syakir]

Sebagian orang membuat takwilan batil bahwa kata mawla dalam hadis Ghadir Khum bukan menunjukkan kepemimpinan tetapi menunjukkan persahabatan atau yang dicintai, takwilan ini hanyalah dibuat-buat. Jika memang menunjukkan persahabatan atau yang dicintai maka mengapa ada sahabat Nabi yang merasa ada sesuatu yang mengganjal di hatinya ketika mendengar kata-kata Imam Ali di atas.

Adanya keraguan di hati seorang sahabat Nabi menyiratkan bahwa Imam Ali mengakui hadis ini sebagai hujjah kepemimpinan. Maka dari itu sahabat tersebut merasakan sesuatu yang mengganjal di hatinya karena hujjah hadis tersebut memberatkan kepemimpinan ketiga khalifah sebelumnya. Sungguh tidak mungkin ada keraguan di hati sahabat Nabi kalau hadis tersebut menunjukkan persahabatan atau yang dicintai.

Dari Abu Thufail yang berkata “Ali mengumpulkan orang-orang di tanah lapang dan berkata “Aku meminta dengan nama Allah agar setiap muslim yang mendengar Rasulullah SAW bersabda di Ghadir khum terhadap apa yang telah didengarnya. Ketika ia berdiri maka berdirilah tigapuluh orang dari mereka. Abu Nu’aim berkata “kemudian berdirilah banyak orang dan memberi kesaksian yaitu ketika Rasulullah SAW memegang tangannya (Ali) dan bersabda kepada manusia “Bukankah kalian mengetahui bahwa saya lebih berhak atas kaum mu’min lebih dari diri mereka sendiri”. Para sahabat menjawab “benar ya Rasulullah”. Beliau bersabda “barang siapa yang menjadikan Aku sebagai pemimpinnya maka Ali pun adalah pemimpinnya dukunglah orang yang mendukungnya dan musuhilah orang yang memusuhinya. Abu Thufail berkata “ketika itu muncul sesuatu yang mengganjal dalam hatiku maka aku pun menemui Zaid bin Arqam dan berkata kepadanya “sesungguhnya aku mendengar Ali RA berkata begini begitu, Zaid berkata “Apa yang patut diingkari, aku mendengar Rasulullah SAW berkata seperti itu tentangnya”.[Musnad Ahmad 4/370 no 19321 dengan sanad yang shahih seperti yang dikatakan Syaikh Syu’aib Al Arnauth dan Tahdzib Khasa’is An Nasa’i no 88 dishahihkan oleh Syaikh Abu Ishaq Al Huwaini]

Kata mawla dalam hadis ini sama halnya dengan kata waliy yang berarti pemimpin, kata waly biasa dipakai oleh sahabat untuk menunjukkan kepemimpinan seperti yang dikatakan Abu Bakar dalam khutbahnya. Inilah salah satu hadis Ghadir Khum dengan lafaz Waly.

Sebagai kesimpulannya, perilaku penduduk Madinah selepas wafatnya Rasulullah tidak secara langsung menghapus kisah al-Ghadir.

Bahwasanya Golongan Suni tidak mengakui pengangkatan Ali sebagai khalifah pengganti Nabi SAW tidaklah menjadikan pengangkatan itu menjadi tidak ada.

Kaum Syi’ah lebih mengkhususkan istilah Ahlul Bait Muhammad yang hanya mencakup Ali dan istrinya Fatimah, putri Muhammad beserta putra-putra mereka yaitu al-Hasan dan al-Husain (4 orang ini bersama Muhammad juga disebut Ahlul Kisa atau yang berada dalam satu selimut) dan keturunan mereka.

Hal ini diperkuat pula dengan hadits-hadits seperti contoh berikut:

Aisyah menyatakan bahwa pada suatu pagi, Rasulullah keluar dengan mengenakan kain bulu hitam yang berhias. Lalu, datanglah Hasan bin Ali, maka Rasulullah menyuruhnya masuk. Kemudian datang pula Husain lalu beliau masuk bersamanya. Datang juga Fathimah, kemudian beliau menyuruhnya masuk. Kemudian datang pula Ali, maka beliau menyuruhnya masuk, lalu beliau membaca ayat 33 surah al-Ahzab, “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.[ AL-ALBANI, M. Nashiruddin; Ringkasan Shahih MuslimJakarta: Gema Insani Press, 2005ISBN 979-561-967-5. Hadist no. 1656]

Hadist Shahīh Ahlul Kisa

Shahīh Muslim, vol. 7, hal. 130

Aisyah berkata, “Pada suatu pagi, Rasulullah saw keluar rumah menggunakan jubah (kisa) yang terbuat dari bulu domba. Hasan datang dan kemudian Rasulullah menempatkannya di bawah kisa tersebut. Kemudian Husain datang dan masuk ke dalamnya. Kemudian Fatimah ditempatkan oleh Rasulullah di sana. Kemudian Ali datang dan Rasulullah mengajaknya di bawah kisa dan berkata,
“Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab [33]:33)[Syi'ah dalam Sunnah, Mencari Titik Temu yang terabaikan; Mudarrisi Yazdi; hal. 28]

Sunan at-Turmudzi, Kitab al-Manâqib

Ummu Salamah mengutip bahwa Rasulullah saw menutupi HasanHusainAli dan Fatimah dengan kisa-nya, dan menyatakan, “Wahai Allah! Mereka Ahlul Baitku dan yang terpilih. Hilangkan dosa dari mereka dan sucikanlah mereka!”
Ummu Salamah berkata, “Aku bertanya pada Rasulullah saw, Wahai Rasul Allah! Apakah aku termasuk di dalamnya?” Beliau menjawab, “Engkau berada dalam kebaikan (tetapi tidak termasuk golongan mereka).”

Imam Turmudzi menulis di bawah hadits ini, “Hadits ini shahīh dan bersanad baik, serta merupakan hadits terbaik yang pernah dikutip mengenai hal ini.”[Syi'ah dalam Sunnah, Mencari Titik Temu yang terabaikan; Mudarrisi Yazdi; hal. 29]

.

Abu Bakar dan Umar ibn Khattab sangat berambisi menggantikan Rasulullah. Mereka melakukan Kolusi, Konspirasi, Kecurangan dengan semua cara; termasuk tidak mentaati Rasulullah; ketika Rasulullah hendak membuat surat wasiat. Kaum Syiah menolak BIDAH yang bernama Khalifah Islamiyyah (Kerajaan Islam); sehingga Kaum Syiah tidak mengakui Abu Bakr, Umar ibn Khattab dan Uthman ibn Affan sebagai Khalifah (raja yang beragama Islam); karena Kaum Syiah memperjuangkan negara IMAMAH

Golongan Suni sama sekali tidak mengakui kedudukan Ali Bin Abi Thalib sebagai Wasiy Nabi SAW, bahkan menurut mereka Wasiy Nabi SAW adalah seseorang yang dipilih/diangkat atas kesepakatan umat, dan yang pertama adalah Abu Bakar yang dipilih/diangkat di Balai Pertemuan Bani Saidah di Saqifah.

Khalifah artinya pengganti Nabi yang harus muncul segera setelah wafatnya Nabi tanpa jeda apapun. Nabi menyatakan bahwa 12 khalifah tersebut mencakup sampai hari kebangkitan ! Kaum muslimin, di dalam kitab shahih mereka, telah sepakat (ijma’) bahwa Rasulullah saw. telah menyebutkan bahwa jumlah khalifah sesudahnya sebanyak 12 orang  pemimpin / Imam. Menurut syi’ah mereka berasal dari keturunan Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra Binti Muhammad SAW.

Menurut sejarah selama pemerintahan dinasti Umayah dan Abasiyah, kesemua Imam 12 dan pengikut-pengikutnya diburu untuk dibunuh. Dalam suasana genting ini ramai ulama syi’ah terpaksa menyembunyikan keimanan mereka.

Bahwasanya Golongan Suni tidak mengakui pengangkatan Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah pengganti Nabi SAW tidaklah menjadikan pengangkatan itu menjadi tidak ada. Karena bukti hadist dan sejarah tetap menunjukkan Nabi Muhammad SAW telah mengangkat anggota keluarga-nya sebagai Penerus/Pengganti/Wasiy bagi umatnya.

Baginda Ali As menjelaskan mengapa dirinya tidak angkat senjata. Hal itu disebabkan karena beliau sendiri, sebagaimana yang dijelaskan, “Saya melihat dan mendapatkan bahwa tidak ada pendukung bagi aku kecuali keluarga saya; maka aku hindarkan mereka dari terjerumus ke dalam kematian. Aku terus menutup mata saya walaupun kelilipan. Aku minum walaupun kerongkongan terteguk. Aku bersabar walaupun susah bernapas dan walaupun harus menelan jadam sebagai makanan.”[ Nahj al-Balâgha, Khutbah 36, hal. 73.]

Akan tetapi Baginda Ali As sendiri senantiasa menyampaikan keluhan dan protes (terhadap proses perampasan khilafah ini) pada masa Abu Bakar dan setelahnya.

Peristiwa Imam Ali membai’at Abubakar secara terpaksa, dan Imam Hasan berdamai dengan Mu’awiyah secara terpaksa tidaklah menjadikan pengangkatan 12 imam ahlulbait  menjadi Penerus/Pengganti (wasiy) Beliau SAW untuk memimpin umat menjadi tidak ada karena Imam Ali dan Imam Hasan tetap berkeyakinan bahwa Imamah adalah haknya.

Ali tetap berkeyakinan bahwa jabatan kekhalifahan adalah haknya. Hal ini dapat dilihat setelah ia dibaiat 25 tahun kemudian dalam sebuah pidatonya yang terkenal dengan asySyiqsyiqiyyah: “Demi Allah, putra Abu Quhafah (Abu Bakar) telah mengenakan busana (kekhalifahan) itu, padahal ia mengetahui dengan yakinnya bahwa kedudukan saya sehubungan (kekhalifahan) itu sama seperti hubungan sumbu dengan roda ..Saya menyaksikan perampasan akan warisan saya. Tatkala yang pertama (Abu Bakar) meninggal ia menyodorkan kekhalifahan itu kepada Ibnu Khaththab sendiri.”

Ia juga mengingatkan para sahabat, yang ia kumpulkan di pekarangan mesjid, akan pidato Rasulullah di Ghadir Khumm yang berbunyi: ‘Barangsiapa menganggap aku sebagai pemimpinnya maka ‘Ali juga adalah pemimpinnya. Ya Allah cintailah siapa yang mencintainya dan musuhilah siapa yang memusuhinya’. Abu Bakar dan ‘Umar pada waktu itu datang memberi selamat kepadanya.

Riwayat yang menyatakan Imam Ali membaiat Abu Bakar setelah enam bulan adalah riwayat shahih dan tsabit dari kitab yang mu’tabar di sisi para ulama yaitu Shahih Bukhari. Tidak ada keraguan akan keshahihan riwayat ini. Dalam riwayat shahih dan tsabit dari Aisyah sebelumnya bahwa baiat Imam Ali kepada Abu Bakar terjadi setelah kematian Sayyidah Fathimah [‘alaihis salam] yaitu setelah enam bulan

Ada  dua  pilihan  bagi  Imam Ali :

1. Memerangi Abubakar cs dengan resiko ISLAM  hancur  binasa karena MUSUH  MUSUH  Imam Ali  dan  MUSUH MUSUH  ABUBAKAR  Cs telah mengepung mereka !! Pada peristiwa penyerangan Musailamah, Imam Ali as membaiat Abu Bakar untuk langgengnya Islam.

Beladzuri dalam menjelaskan sebab mengapa Imam Ali memberikan baiat berkata, “Pasca wafatnya Rasulullah Saw dimana sebagian suku Arab telah murtad, Usman datang ke hadapan Ali dan berkata, “Wahai Putra Paman! Selama Anda tidak memberikan baiat tiada seorang pun yang akan pergi berperang melawan musuh.” Usman senantiasa membicarakan hal ini dengan Ali hingga pada akhirnya Baginda Ali As memberikan baiat kepada Abu Bakar.”

kondisi masyarakat Islam pasca wafatnya Rasulullah menuntut kesabaran lebih tinggi nilainya ketimbang keberanian. Beliau mengetahui bahwa dalam kondisi seperti ini bahwa menghunus pedang akan lebih banyak dimanfaatkan oleh musuh-musuh Islam untuk melenyapkan dan mencerabut Islam hingga ke akar-akarnya. Karena itu, kemaslahatan pribadi dikorbankan untuk kemaslahatan yang lebih penting yaitu asas Islam.

Mengingat maslahat umat Islam menuntut agar beliau mengalah demi meraih maslahat Islam yang lebih abadi. Sebab eksistensi Islam sedang terancam dengan maraknya kaum murtad yang meninggalkan agama Islam dan berniat untuk menyerang kota suci Madinah dan memerangi kaum Muslim!

2. Membai’at Abubakar  secara the facto (taqiyah terpaksa)  agar  Islam tetap hidup dimuka bumi ini… Tanpa membai’at  secara THE JURE

‘Ali membaiat Abu Bakar adalah untuk membesarkan hati kaum Muslimin dan menyelesaikan keresahan kaum Muslimin yang sedang menghadapi musibah murtadnya sebagian kabilah Arab namun ‘Ali tetap berkeyakinan bahwa Imamah adalah haknya

Hadis riwayat Bukhari no. 4240-4241  dibawah ini juga disebutkan dalam Shahih Muslim 3/1380 no 1759 dan Shahih Ibnu Hibban 11/152 no 4823. Dari hadis yang panjang di atas terdapat bukti nyata kalau Imam Ali membaiat Abu Bakar setelah enam bulan yaitu setelah wafatnya Sayyidah Fathimah [‘alaihis salam] :

Telah menceritakan kepada kami Yahyaa bin Bukair yang berkata telah menceritakan kepada kami Al-Laits dari ‘Uqail dari Ibnu Syihaab dari ‘Urwah dari ‘Aaisyah Bahwasannya Faathimah [‘alaihis-salaam] binti Nabi [shallallaahu ‘alaihi wa sallam] mengutus utusan kepada Abu Bakr meminta warisannya dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dari harta fa’i yang Allah berikan kepada beliau di Madinah dan Fadak, serta sisa seperlima ghanimah Khaibar. Abu Bakr berkata ‘Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda ‘Kami tidak diwarisi, segala yang kami tinggalkan hanya sebagai sedekah”. Hanya saja, keluarga Muhammad [shallallahu 'alaihi wasallam] makan dari harta ini’. Dan demi Allah, aku tidak akan merubah sedikitpun shadaqah Rasulullah [shallallaahu 'alaihi wa sallam] dari keadaannya semula sebagaimana harta itu dikelola semasa Rasulullah [shallallaahu 'alaihi wa sallam], dan akan aku kelola sebagaimana Rasulullah mengelola. Maka Abu Bakr enggan menyerahkan sedikitpun kepada Fathimah sehingga Fathimah marah kepada Abu Bakr dalam masalah ini. Fathimah akhirnya mengabaikan Abu Bakr dan tak pernah mengajaknya bicara hingga ia meninggal. Dan ia hidup enam bulan sepeninggal Nabi [shallallaahu 'alaihi wa sallam]. Ketika wafat, ia dimandikan oleh suaminya, Aliy, ketika malam hari, dan ‘Aliy tidak memberitahukan perihal meninggalnya kepada Abu Bakr.

Padahal semasa Faathimah hidup, Aliy dituakan oleh masyarakat tetapi, ketika Faathimah wafat, ‘Aliy memungkiri penghormatan orang-orang kepadanya, dan ia lebih cenderung berdamai dengan Abu Bakr dan berbaiat kepadanya, meskipun ia sendiri tidak berbaiat di bulan-bulan itu. ‘Aliy kemudian mengutus seorang utusan kepada Abu Bakar yang inti pesannya  ‘Tolong datang kepada kami, dan jangan seorangpun bersamamu!’. Ucapan ‘Aliy ini karena ia tidak suka jika Umar turut hadir. Namun ‘Umar berkata ‘Tidak, demi Allah, jangan engkau temui mereka sendirian’. Abu Bakr berkata ‘Kalian tidak tahu apa yang akan mereka lakukan terhadapku. Demi Allah, aku sajalah yang menemui mereka.’ Abu Bakr lantas menemui mereka.

‘Aliy mengucapkan syahadat dan berkata ”Kami tahu keutamaanmu dan apa yang telah Allah kurniakan kepadamu. Kami tidak mendengki kebaikan yang telah Allah berikan padamu, namun engkau telah sewenang-wenang dalam memperlakukan kami. Kami berpandangan, kami lebih berhak karena kedekatan kekerabatan kami dari Rasulullah [shallallaahu 'alaihi wa sallam’].

 Hingga kemudian kedua mata Abu Bakr menangis. Ketika Abu Bakr bicara, ia berkata “Demi Yang jiwaku ada di tangan-Nya, kekerabatan Rasulullah lebih aku cintai daripada aku menyambung kekerabatanku sendiri. Adapun perselisihan antara aku dan kalian dalam perkara ini, sebenarnya aku selalu berusaha berbuat kebaikan. Tidaklah kutinggalkan sebuah perkara yang kulihat Rasulullah [shallallahu 'alaihi wa sallam] melakukannya, melainkan aku melakukannya juga’.

Kemudian ‘Aliy berkata kepada Abu Bakr ‘Waktu baiat kepadamu adalah nanti sore’. Ketika Abu Bakr telah shalat Dhuhur, ia naik mimbar. Ia ucapkan syahadat, lalu ia menjelaskan permasalahan ‘Aliy dan ketidakikutsertaannya dari bai’at serta alasannya. ‘Aliy kemudian beristighfar dan mengucapkan syahadat, lalu mengemukakan keagungan hak Abu Bakar, dan ia menceritakan bahwa apa yang ia lakukan tidak sampai membuatnya dengki kepada Abu Bakar. Tidak pula sampai mengingkari keutamaan yang telah Allah berikan kepada Abu Bakr. Ia berkata “Hanya saja, kami berpandangan bahwa kami lebih berhak  dalam masalah ini namun Abu Bakr telah bertindak sewenang-wenang terhadap kami sehingga kami pun merasa marah terhadapnya”.

Kaum muslimin pun bergembira atas pernyataan ‘Aliy dan berkata “Engkau benar”. Sehingga kaum muslimin semakin dekat dengan ‘Aliy ketika ‘Aliy mengembalikan keadaan menjadi baik” [Shahih Bukhaari no. 4240-4241].

Hadis yang dijadikan hujjah oleh penyebar syubhat ini adalah hadis Buraidah ketika ia menceritakan soal para sahabat yang merendahkan Imam Ali. Hadis tersebut bukan diucapkan di Ghadir Khum dan tentu saja Rasulullah SAW akan marah kepada sahabat yang menjelekkan Imam Ali karena Imam Ali adalah pemimpin setiap mukmin (semua sahabat Nabi) sepeninggal Nabi SAW . Disini Rasulullah SAW mengingatkan Buraidah dan sahabat lain yang ikut di Yaman agar berhenti dari sikap mereka karena Imam Ali adalah pemimpin bagi setiap mukmin sepeninggal Nabi SAW.

Dari Abdullah bin Buraidah dari ayahnya Buraidah yang berkata “Rasulullah SAW mengirim dua utusan ke Yaman, salah satunya dipimpin Ali bin Abi Thalib dan yang lainnya dipimpin Khalid bin Walid. Beliau SAW bersabda “bila kalian bertemu maka yang jadi pemimpin adalah Ali dan bila kalian berpisah maka masing-masing dari kalian memimpin pasukannya. Buraidah berkata “kami bertemu dengan bani Zaid dari penduduk Yaman kami berperang dan kaum muslimin menang dari kaum musyrikin. Kami membunuh banyak orang dan menawan banyak orang kemudian Ali memilih seorang wanita diantara para tawanan untuk dirinya. Buraidah berkata “Khalid bin Walid mengirim surat kepada Rasulullah SAW memberitahukan hal itu. Ketika aku datang kepada Rasulullah SAW, aku serahkan surat itu, surat itu dibacakan lalu aku melihat wajah Rasulullah SAW yang marah kemudian aku berkata “Wahai Rasulullah SAW, aku meminta perlindungan kepadamu sebab Engkau sendiri yang mengutusku bersama seorang laki-laki dan memerintahkan untuk mentaatinya dan aku hanya melaksanakan tugasku karena diutus. Rasulullah SAW bersabda “Jangan membenci Ali, karena ia bagian dariKu dan Aku bagian darinya dan Ia adalah pemimpin kalian sepeninggalKu, ia bagian dariKu dan Aku bagian darinya dan Ia adalah pemimpin kalian sepeninggalKu. [Musnad Ahmad tahqiq Syaikh Ahmad Syakir dan Hamzah Zain hadis no 22908 dan dinyatakan shahih].

hadis Buraidah menjadi penguat bahwa Imam Ali adalah pemimpin bagi setiap mukmin (semua sahabat Nabi)  sepeninggal Nabi SAW dan sungguh tidak berguna syubhat dari para pengingkar.

Para sahabat Nabi memberikan ucapan selamat kepada Ali dengan mengatakan “Amirul Mukminin (Pemimpin Orang Beriman) kepadanya “. Sehingga tidak ada ruang lagi untuk ragu berkenaan dengan arti kata “mawla “. Meskipun penduduk Madinah berdiam diri selama peristiwa yang menahan Ali dari kekhalifahan, masih banyak yang menyaksikan peristiwa ini,

Hassan bin Tsabit, pujangga masyhur Nabi, menggubah sebuah syair berkenaan dengan peristiwa al-Ghadir pada hari itu. Ia bersenandung: “Lalu ia bersabda kepadanya: “Berdirilah, Wahai Ali, karena aku rela menjadikanmu sebagai Imam dan Penunjuk Jalan selepasku.”

Dalam bait syairnya ini, Hassan bin Tsabit telah memahami istilah “mawla” sebagai arti dari “Imam dan Penunjuk Jalan” yang secara jelas membuktikan bahwa Nabi Saw berbicara tentang penggantinya, dan ia sama sekali tidak memperkenalkan Ali sebagai “temannya” melainkan sebagai seorang “pemimpin.”

kaum tradisional Arab segan mempercayakan ali yang  muda dan belia yang belum berpengalaman untuk memikul tanggung jawab yang besar..

Imam Ali merasa dirinya yang paling berhak tetapi orang-orang malah membaiat Abu Bakar. Hal ini telah diisyaratkan oleh Rasulullah SAW

Telah menceritakan kepada kami Abu Hafsh Umar bin Ahmad Al Jumahi di Makkah yang berkata telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdul Aziz yang berkata telah menceritakan kepada kami Amru bin ‘Aun yang berkata telah menceritakan kepada kami Husyaim dari Ismail bin Salim dari Abi Idris Al Awdi dari Ali Radhiyallahu ‘anhu yang berkata “Diantara yang dijanjikan Nabi SAW kepadaku bahwa Umat akan mengkhianatiku sepeninggal Beliau”. [Al Mustadrak 3/150 no 4676 dishahihkan oleh Al Hakim dan Adz Dzahabi]

Selama masa 6 bulan itu ternyata pemerintahan Abu Bakar mengalami berbagai masalah seperti adanya “kaum yang murtad” dan adanya Nabi palsu Musailamah Al Kadzdzab beserta pengikutnya. Berbagai masalah ini dapat dimanfaatkan oleh orang-orang munafik untuk memecah belah umat. Merekapun juga melihat tindakan memisahkan diri yang dilakukan Imam Ali dan hal ini bisa saja dimanfaatkan oleh mereka untuk menyebarkan fitnah perpecahan.

Oleh karena itulah setelah 6 bulan Imam Ali memutuskan memberikan baiat untuk menutup celah yang akan dimanfaatkan oleh kaum munafik dan baiat ini adalah demi keutuhan umat islam. Inilah yang dimaksud Imam Ali bahwa ia mengalami penderitaan dan kesulitan sepeninggal Nabi SAW [hal ini telah diberitakan oleh Nabi SAW kepada Imam Ali]. Di satu sisi Beliaulah yang paling berhak tetapi beliau tetap memberikan baiat demi keutuhan umat islam.

Telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin Sahl seorang faqih dari Bukhara yang berkata telah menceritakan kepada kami Sahl bin Mutawwakil yang berkata telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yunus yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudhail dari Abi Hayyan At Taimi dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas RA yang berkata Nabi SAW berkata kepada Ali “Sesungguhnya kamu akan mengalami kesukaran [bersusah payah] sepeninggalKu”. Ali bertanya “apakah dalam keselamatan agamaku?”. Nabi SAW menjawab “dalam keselamatan agamamu” [Mustadrak Ash Shahihain 3/151 no 4677 dishahihkan oleh Al Hakim dan Adz Dzahabi]

Pernyataan Imam Ali kalau Beliau adalah yang paling berhak sepeninggal Nabi SAW jelas berdasarkan apa yang telah dikatakan oleh Nabi SAW sendiri, diantaranya

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya bin Hamad dari Abi ‘Awanah dari Yahya bin Sulaim Abi Balj dari ‘Amr bin Maimun dari Ibnu Abbas yang berkata Rasulullah SAW bersabda kepada Ali “KedudukanMu di sisiKu sama seperti kedudukan Harun di sisi Musa hanya saja Engkau bukan seorang Nabi. Sesungguhnya tidak sepatutnya Aku pergi kecuali Engkau sebagai KhalifahKu untuk setiap mukmin sepeninggalKu” [As Sunnah Ibnu Abi Ashim no 1188 dengan sanad yang shahih]

Sepeninggal Abu Bakar, Umar ditunjuk Abu Bakar untuk menggantikannya dan orang-orangpun membaiat Umar. Disini Imam Ali melihat betapa orang-orang menerima keputusan Abu Bakar dan membaiat Umar padahal Imam Ali merasa bahwa Beliau adalah yang paling berhak. Hal inilah yang dinyatakan oleh Beliau sebagai penderitaan dan kesulitan tetapi beliau tetap bersabar dan ikut memberikan baiat pula kepada Umar agar tidak menimbulkan perpecahan di kalangan kaum muslimin.

Sepeninggal Umar, beliau memerintahkan pemilihan khalifah melalui Majelis syura yang ia bentuk. Terdapat berbagai riwayat seputar masalah ini yang terkadang “agak kontroversi” tetapi singkat cerita majelis tersebut mengangkat Utsman sebagai khalifah. Sekali lagi Imam Ali melihat orang-orang memilih Utsman padahal Imam Ali merasa yang paling berhak. Hal inilah yang dinyatakan Imam Ali sebagai penderitaan dan kesulitan yang beliau alami. Tidak ada satupun dikalangan umat yang mengalami penderitaan dan kesulitan seperti itu. Beliau yang berhak tetapi beliau tetap bersabar dan menerima. Tentu saja akhlak seperti ini hanya dimiliki orang-orang khusus.

Walaupun Imam  Ali membai’at ABUBAKAR SECARA THE FACTO, Bukan berarti menyetujui SECARA YURiDIS kekhalifahan non ahlul bait. Pembaiatan ‘Ali bukanlah pengakuan akan keabsahan kekhalifahan Abu Bakar, hal itu dilakukan semata-mata untuk menjaga Islam dan kemaslahatan Islam.

Khalifah = Pengganti.

Khalifah Rasulullah = Pengganti Utusan Tuhan, ini hak yuridis Imam Ali.

Imam Ali As memberikan baiat kepada beberapa orang tertentu lantaran kemaslahatan yang bernilai seperti menjaga agama Tuhan dan segala jerih payah Rasulullah.

Imam Ali bahwa berulang kali menyampaikan protes terhadap situasi dan kondisi di masa tiga khalifah namun upaya maksimal beliau dikerahkan untuk menjaga dan menguatkan pemerintahan Islam di hadapan musuh-musuhnya.

Yang benar adalah bahwa kapan saja ada kesempatan, Imam Ali selalu membicarakan haknya sebagai Khalifah Rasulullah Saw.Sunni mencatat peristiwa 25 tahun setelah hari Ghadir Kum

Tidak seorang pun yang menyalahkan Ali karena klaim atau menyodorkan bukti-buktinya hingga hari ini. Ia sendiri berkata: “Tidak seorang pun yang dapat disalahkan atas terlambatnya (menjaga) ia meraih haknya, namun kesalahan terletak pada orang yang mengambil sesuatu yang bukan haknya.”[ Nahj al-Balaghah, ucapan # 166.]

Pada tahun 35 H, sewaktu Imam berada di Kufah, ia mendengar bahwa orang-orang sangsi atas klaimnya sebagai lebih utama dan lebih prioritas atas ketiga khalifah sebelumnya. Oleh karena itu, ia mendatangi majelis di Masjid dan memohon kepada saksi-saksi yang hadir di Ghadir Khum  untuk menyatakan kebenaran deklarasi Nabi Saw tentang dirinya sebagai “mawla (tuan, pemimpin, junjungan) bagi mereka yang menjadikan Nabi sebagai mawlanya sendiri. Dalam banyak kitab, kita mempunyai dua puluh empat sahabat Nabi yang menyatakan kesaksian akan kebenaran klaim Imam Ali ini. Sumber-sumber lain seperti Musnad Ahmad bin Hanbal dan Majmâ az-Zawâid karya al-Haytami menyebutkan sebanyak tiga puluh.[ Peristiwa Kufa ini telah diriwayatkan oleh empat sahabat Nabi Saw dan empat belas thabi’in, dan telah tercatat pada kebanyakan buku-buku sunan dan sejarah. Lihat al-Amini, al-Ghadir, vol. 1 (Tehran: Muassasat al-Muwahidi, 1976) hal-hal. 166-186.]

Dalam beberapa kesempatan, Imam Ali memohon kepada para sahabat Nabi untuk bersaksi atas deklarasi al-Ghadir ini. Di sini saya akan menyebutkan satu contoh perisitiwa yang terjadi di Kufah selama masa kekhalifaan Ali, sekitar dua puluh lima tahun setelah Nabi Saw wafat.

Imam Ali mendengar bahwa beberapa orang meragukan klaimnya atas keutamaan khalifah-khalifah sebelumnya, oleh karena itu, ia datang pada sebuah perhelatan yang berlangsung di masjid dan memohon para saksi yang hadir dalam acara Ghadir Khum untuk membenarkan apa yang disampaikan oleh Nabi ihwal Nabi sebagai mawla mereka dan seluruh kaum mukmin. Beberapa orang sahabat berdiri dan membenarkan klaim Ali ini. Kami akan menyebutkan dua puluh empat nama sahabat yang membuat kesaksian atas klaim Imam Ali, meskipun sumber-sumber yang lain seperti Musnad Ahmad dan Majma’ az-Zawaid milik Hafidh al-Haytami malah menyebutkan sebanyak tiga puluh orang. Perlu untuk diingat bahwa kejadian ini berlangsung 25 tahun setelah peristiwa GhadirKhum, dan selama masa ini, ratusan saksi telah wafat atau gugur di medang perang selama masa dua khalifah yang pertama. Sebagai tambahan atas kenyataan ini bahwa kejadian ini berlangsung di Kufah yang jauh dari pusat tempat sahabat bermukim, Madinah. Kejadian ini beralngsung di Kufah pada tahun 35 H yang riwayatnya sendiri dinukil oleh 4 orang sahabat dan 14 tabii’in dan telah tercatat dalam sebagian besar kitab-kitab sejarah dan hadis.[ Untuk referensi lebih lengkap, lihat al-Amini, al-Ghadir, jilid. 1 (Tehran: Muassasatul Muwahhidi, 1976) hal. 166-168.]

Imam Ali Mengakui Kepemimpinannya : Hujjah Hadis Ghadir Khum

Hadis Ghadir Khum yang menunjukkan kepemimpinan Imam Ali adalah salah satu hadis shahih yang sering dijadikan hujjah oleh kaum Syiah dan ditolak oleh kaum Sunni. Kebanyakan mereka yang mengingkari hadis ini membuat takwilan-takwilan agar bisa disesuaikan dengan keyakinan mahzabnya. Padahal Imam Ali sendiri mengakui kalau hadis ini adalah hujjah bagi kepemimpinan Beliau. Hal ini terbukti dalam riwayat-riwayat yang shahih dimana Imam Ali ketika menjadi khalifah mengumpulkan orang-orang di tanah lapang dan berbicara meminta kesaksian soal hadis Ghadir Khum.

Dari Sa’id bin Wahb dan Zaid bin Yutsai’ keduanya berkata “Ali pernah meminta kesaksian orang-orang di tanah lapang “Siapa yang telah mendengar Rasulullah SAW bersabda pada hari Ghadir Khum maka berdirilah?. Enam orang dari arah Sa’id pun berdiri dan enam orang lainnya dari arah Za’id juga berdiri. Mereka bersaksi bahwa sesungguhnya mereka pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda kepada Ali di Ghadir Khum “Bukankah Allah lebih berhak terhadap kaum mukminin”. Mereka menjawab “benar”. Beliau bersabda “Ya Allah barangsiapa yang aku menjadi pemimpinnya maka Ali pun menjadi pemimpinnya, dukunglah orang yang mendukung Ali dan musuhilah orang yang memusuhinya”. [Musnad Ahmad 1/118 no 950 dinyatakan shahih oleh Syaikh Ahmad Syakir]

Sebagian orang membuat takwilan batil bahwa kata mawla dalam hadis Ghadir Khum bukan menunjukkan kepemimpinan tetapi menunjukkan persahabatan atau yang dicintai, takwilan ini hanyalah dibuat-buat. Jika memang menunjukkan persahabatan atau yang dicintai maka mengapa ada sahabat Nabi yang merasa ada sesuatu yang mengganjal di hatinya ketika mendengar kata-kata Imam Ali di atas.

Adanya keraguan di hati seorang sahabat Nabi menyiratkan bahwa Imam Ali mengakui hadis ini sebagai hujjah kepemimpinan. Maka dari itu sahabat tersebut merasakan sesuatu yang mengganjal di hatinya karena hujjah hadis tersebut memberatkan kepemimpinan ketiga khalifah sebelumnya. Sungguh tidak mungkin ada keraguan di hati sahabat Nabi kalau hadis tersebut menunjukkan persahabatan atau yang dicintai.

Dari Abu Thufail yang berkata “Ali mengumpulkan orang-orang di tanah lapang dan berkata “Aku meminta dengan nama Allah agar setiap muslim yang mendengar Rasulullah SAW bersabda di Ghadir khum terhadap apa yang telah didengarnya. Ketika ia berdiri maka berdirilah tigapuluh orang dari mereka. Abu Nu’aim berkata “kemudian berdirilah banyak orang dan memberi kesaksian yaitu ketika Rasulullah SAW memegang tangannya (Ali) dan bersabda kepada manusia “Bukankah kalian mengetahui bahwa saya lebih berhak atas kaum mu’min lebih dari diri mereka sendiri”. Para sahabat menjawab “benar ya Rasulullah”. Beliau bersabda “barang siapa yang menjadikan Aku sebagai pemimpinnya maka Ali pun adalah pemimpinnya dukunglah orang yang mendukungnya dan musuhilah orang yang memusuhinya. Abu Thufail berkata “ketika itu muncul sesuatu yang mengganjal dalam hatiku maka aku pun menemui Zaid bin Arqam dan berkata kepadanya “sesungguhnya aku mendengar Ali RA berkata begini begitu, Zaid berkata “Apa yang patut diingkari, aku mendengar Rasulullah SAW berkata seperti itu tentangnya”.[Musnad Ahmad 4/370 no 19321 dengan sanad yang shahih seperti yang dikatakan Syaikh Syu’aib Al Arnauth dan Tahdzib Khasa’is An Nasa’i no 88 dishahihkan oleh Syaikh Abu Ishaq Al Huwaini]

Kata mawla dalam hadis ini sama halnya dengan kata waliy yang berarti pemimpin, kata waly biasa dipakai oleh sahabat untuk menunjukkan kepemimpinan seperti yang dikatakan Abu Bakar dalam khutbahnya. Inilah salah satu hadis Ghadir Khum dengan lafaz Waly.

Sebagai kesimpulannya, perilaku penduduk Madinah selepas wafatnya Rasulullah tidak secara langsung menghapus kisah al-Ghadir.

Definisi ‘khalifah’
English to English
noun
1. the civil and religious leader of a Muslim state considered to be a representative of Allah on earth Terjemahkan

Indonesian to Indonesian

wakil (pengganti) Nabi Muhammad saw. setelah Nabi wafat (dl urusan negara dan agama) yg melaksanakan syariat (hukum) Islam dl kehidupan negara;

Definisi Khilafah/Khalifah

Pengertian Bahasa Khilafah

Khilafah menurut makna bahasa merupakan mashdar dari fi’il madhi khalafa, berarti : menggantikan atau menempati tempatnya (Munawwir, 1984:390). Makna khilafah menurut Ibrahim Anis (1972) adalah orang yang datang setelah orang lain lalu menggantikan tempatnya (jaa`a ba’dahu fa-shaara makaanahu) (Al-Mu’jam Al-Wasith, I/251).

Dalam kitab Mu’jam Maqayis Al-Lughah (II/210) dinyatakan, khilafah dikaitkan dengan penggantian karena orang yang kedua datang setelah orang yang pertama dan menggantikan kedudukannya. Menurut Imam Ath-Thabari, makna bahasa inilah yang menjadi alasan mengapa as-sulthan al-a’zham (penguasa besar umat Islam) disebut sebagai khalifah, karena dia menggantikan penguasa sebelumnya, lalu menggantikan posisinya (Tafsir Ath-Thabari, I/199).

Imam Al-Qalqasyandi mengatakan, menurut tradisi umum istilah khilafah kemudian digunakan untuk menyebut kepemimpinan agung (az-za’amah al-uzhma), yaitu kekuasaan umum atas seluruh umat, pelaksanaan urusan-urusan umat, dan pemikulan tugas-tugas mereka (Al-Qalqasyandi, Ma`atsir Al-Inafah fi Ma’alim Al-Khilafah, I/8-9).

Pengertian Syar’i Khilafah Dalam pengertian syariah, Khilafah digunakan untuk menyebut orang yang menggantikan Nabi SAW dalam kepemimpinan Negara Islam (ad-dawlah al-islamiyah) (Al-Baghdadi, 1995:20). Inilah pengertiannya pada masa awal Islam. Kemudian, dalam perkembangan selanjutnya, istilah Khilafah digunakan untuk menyebut Negara Islam itu sendiri (Al-Khalidi, 1980:226). 

Pemahaman ini telah menjadi dasar pembahasan seluruh ulama fiqih siyasah ketika mereka berbicara tentang “Khilafah” atau “Imamah”. Dengan demikian, walaupun secara literal tak ada satu pun ayat Al-Qur`an yang menyebut kata “ad-dawlah al-islamiyah” (negara Islam), bukan berarti dalam Islam tidak ada konsep negara. Atau tidak mewajibkan adanya Negara Islam. Para ulama terdahulu telah membahas konsep negara Islam atau sistem pemerintahan Islam dengan istilah lain yang lebih spesifik, yaitu istilah Khilafah/Imamah atau istilah Darul Islam (Lihat Dr. Sulaiman Ath-Thamawi, As-Sulthat Ats-Tsalats, hal. 245; Dr. Wahbah Az-Zuhaili, Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu, IX/823).

Hanya saja, para ulama mempunyai sudut pandang yang berbeda-beda ketika memandang kedudukan Khilafah (manshib Al-Khilafah). Sebagian ulama memandang Khilafah sebagai penampakan politik (al-mazh-har as-siyasi), yakni sebagai institusi yang menjalankan urusan politik atau yang berkaitan dengan kekuasaan (as-sulthan) dan sistem pemerintahan (nizham al-hukm). Sementara sebagian lainnya memandang Khilafah sebagai penampakan agama (al-mazh-har ad-dini), yakni institusi yang menjalankan urusan agama. Maksudnya, menjalankan urusan di luar bidang kekuasaan atau sistem pemerintahan, misalnya pelaksanaan mu’amalah (seperti perdagangan), al-ahwal asy-syakhshiyyah (hukum keluarga, seperti nikah), dan ibadah-ibadah mahdhah. Ada pula yang berusaha menghimpun dua penampakan ini. Adanya perbedaan sudut pandang inilah yang menyebabkan mengapa para ulama tidak menyepakati satu definisi untuk Khilafah (Al-Khalidi, 1980:227).

Dalam artikel yang lepas, saya telah pun memberikan sedikit mukadimah tentang konsep Imamah dari pandangan Syiah. Saya telah menerangkan bahawa Imamah ialah satu jabatan lantikan Allah swt, untuk memimpin umat Muhammad(sawa) setelah ketiadaan baginda(sawa), untuk menggantikan seluruh tugas baginda dalam segala hal kecuali kenabian.

Saya juga telah menerangkan tentang tugas seorang Imam, yang mana bukan sahaja bersifat politikal, malah juga merangkumi spritual, juga sebagai sumber ilmu bagi semua bidang yang luar dari ilmu agama. Mengikut kami, Syiah kepada Ahlulbait Nabi, semua tugasan ini, di tanggung  oleh Ahlulbait Rasulullah, sebagai Pemimpin Ummah, yang telah dilantik oleh Allah swt sendiri, melalui pengisytiharan Rasulullah(sawa) di banyak tempat dan peristiwa dalam hidup baginda.

Sekarang ini saya akan bawakan perbahasan tentang Ahlulbait, yang mana menjadi sumber dan pegangan akidah bagi kami Syiah, yang mana dari mereka kami mengambil ilmu, dari mereka kami mencontohi sifat mulia dan dari mereka kami mendekatkan diri kepada Allah swt.

Pesan Rasulullah(sawa):

“Wahai manusia! Sesungguhnya aku tinggalkan kalian sesuatu yang jika kalian berpegang kepadanya tidak akan sesat selamanya: Kitab Allah dan itrah, Ahlulbaitku.”

Hadis ini, yang dinamakan sebagai Hadis Tsaqalain, iaitu dua perkara berharga, berat atau penting. Hadis ini diriwayatkan dalam pelbagai versi, tetapi masih mengekalkan matan yang sama, iaitu pesan Rasulullah agar kita berpegang kepada Quran dan Ahlulbait(as), yang mana keduanya digandingkan bersama. Hadis ini juga telah mencapai tingkatan mutawattir dan sahih, dan diriwayatkan dari berbagai sumber Sunni.

  1. Muslim: Sahih Hadis no. 6175-6177
  2. Tarmizi: Sahih Hadis 3786 dan 3788
  3. An Nisai: Khasais Amirul Mukminin Ali No.79
  4. Ahmad: Musnad: 5/181&182 dan 3/26 dan 5/189
  5. Ibnu Abi ‘Asim: As Sunnah no 754
  6. Nuruddin al Haitsami: Majma al Zawaid  Juz 5 hal 166
  7. Ibnu Hajar al Haitsami: Al Sawaiq Al Muhriqah hal 223. 229-230
  8. Al Khateeb al Tabrizi: Misykatul Masabih
  9. Al Hakim: Al mustadrak
  10. At Thabrani: Al Mu’jamul kabir
  11. Al Muttaqi al Hindi: Kanz al Ummal
  12. As Suyuthi: Ihya ul Mayyit bi Fadhail Ahlulbait, Jamius Saghir, Ad Durr al mansur
  13. Ibnu Kasir: Tafsir
  14. Ibnu Saad: Thabaqat Al Kubra
  15. Ibnu Atsir: Jami’ul Usul & Ususdul Ghabah
  16. Ibnu Asakir: Tarikh
  17. An Nabhani:Al Fathul Kabir
  18. Al Khawarizmi: Al Manaqib
  19. Ibnu Hbban: Sahih
  20. Sulaiman Al Bakhi al Hanafi: Al Baihaqi:As Sunan Yanabi Al Mawaddah
  21. Mir Sayyid Ali Hamadani: Mawaddatul Qurba
  22. Hafiz Abu Nuaim Al Isfahani: HIlayatul Awliya

Senarai di atas bukanlah senarai keseluruhan para ulama yang meriwayatkannya, masih banyak lagi yang belum disebutkan. Perlu juga untuk saya sebut bahawa, saya sengaja tidak meletakkan rujukan muka surat kerana buku-buku ini akan berbeza mengikut cetakannya dan pencetaknya.

Hadis Tsaqalain ini diriwayatkan dengan begitu banyak sekali, dengan sanad yang berbeza, membuktikan ramai para sahabat meriwayatkannya. Diantaranya ialah:

  1. Ali Ibn Abi Thalib
  2. Zaid ibn Arqam
  3. Zaid Ibn Tsabit
  4. Abu Said al Khudri
  5. Abu Hurairah
  6. Abdullah Ibn Hanthab
  7. Jabir ibn Abdullah al Ansari
  8. Huzaifah ibn Usaid al Ghifari
  9. Abu Dzar al Ghifari
  10. Anas ibn Malik
  11. Al Bara’ ibn Azib
  12. Huzaifah ibn Yaman
  13. Abu Haitsam ibn at Tihan
  14. Abu Rafi’
  15. Ibnu Abbas
  16. Salman al Farisi
  17. Sa’ad ibn Abi Waqas
  18. Amru ibn al ‘As
  19. Ummu Salamah

Berikut ialah beberapa versi hadis Tsaqalain.

Dari Zaid Ibn Arqam, “Beberapa hari selepas haji terakhir baginda, Rasulullah berhenti untuk memberi khutbah kepada kami di pinggir tempat yang dipanggil Ghadir khum yang terletak diantara Makkah dan Madinah. Beliau memuji Allah dan mengingati Allah, seraya berkata,”Wahai umat ku, bersaksilah! Ku rasakan waktu ku untuku dipanggil telah hampir tiba, dan sungguh,akan ku sahut panggilan itu. Bersaksilah,aku akan meninggalkan pada kamu semua dua benda berharga, yang pertama adalah kitab Allah, yang ada padanya cahaya dan pedoman,yang kedua adalah Ahlul baytku. Dengan nama Allah,aku mengingatkan kamu ttg Ahlul Bayt ku. Dengan nama Allah,aku mengingatkan kamu ttg Ahlul Bayt ku. Dengan nama Allah,aku mengingatkan kamu ttg Ahlul Bayt ku.(3 kali).

Dari Zaid ibn Tsabit, “Sesungguhnya aku meninggalkan buat kamu 2 pemimpin sesudah pemergianku, iaitu Kitab Allah dan keluargaku iaitu Ahlulbait. Keduanya tidak akan terpisah sehingga menemui ku di Al Haudh

Dari Jabir al Ansari, “Wahai manusia! Sesungguhnya aku telah meninggalkan kepada kamu sesuatu yang jika kamu berpegang kepadanya, nescaya kamu tidak akan sesat selamanya, kitab Allah dan Ahlulbaitku.”

Dari Said al Khudri,  dengan pertambahan, “Lihatlah bagaimana kamu memperlakukan keduanya.”

Dari Abdullah ibn Hanthab, dengan ayat Rasulullah(sawa), “Aku akan menyoal kamu tentang dua perkara ini: Al Quran dan itrat ku.”

Inilah serba sedikit yang dapat saya nukilkan versi-versi hadis Tsaqalain. Hadis-hadis ini diisytiharkan sahih oleh ulama-ulama Sunni sendiri, jadi tidak ada keraguan lagi berkaitan kesahihannya. Seorang ulama silam yang memang terkenal sebagai anti Syiah nya, Ibnu Hajar al Haithamidilaporkan menyebut:

“Ketahuilah, bahawa hadis berpegang kepada Ahlulbait telah disampaikan dengan banyak cara. Penyampai hadis ini berjumlah lebih dari 20 orang sahabat Nabi(sawa).”

Beliau juga menambah:

“Terdapat sedikit perbezaan dalam cara hadis ini diriwayatkan. Sebahagian ulama menyatakan bahawa ia telah disampaikan sewaktu Nabi menjalankan haji Wada’ di Arafah. Sebahagian lagi mengatakan ketika di Madinah manakala yang lain dilafazkan di Thaif.” Al Sawaiq al Muhriqah

Ibnu Hajar mengulas, tidak ada perbezaan ketara dalam mengulas hadis ini, kerana dilafazkan di dalam keadaan berbeza. Besar kemungkinan Rasulullah(sawa) telah menyampaikannya secara berulang-ulang agar dapat menampakkan betapa pentingnya kedua-dua gandingan ini kepada para sahabat dan ummah baginda setelah ketiadaan baginda.

Apabila saya mencantumkan semua versi-versi ini, berikut ialah kesimpulan yang dapat saya nukilkan.

  1. Rasulullah(sawa) menggandingkan Al Quran(petunjuk) dengan Ahlulbait baginda, sebagai pengulas kepada petunjuk itu. Kedua-dua ini tidak akan terpisah sehinggalah di akhirat nanti, bermakna gandingan ini akan sentiasa wujud, sebagai pasangan.
  2. Mengikut Ahlulbait tidak akan sesat selamanya, menunjukkan bahawa merekalah penunjuk jalan kebenaran. Merekalah sumber ilmu yang sejati, penerus Sunnah baginda, dan penjaga kepada agama Islam dari segala penambahan dan pengurangan.
  3. Rasulullah(sawa) memberi penekanan Al Quran dan Ahlulbait sebagai gandingan, bukan salah satu dari mereka kerana baginda menggunakan perkataan “dan”. Lihat sahaja bagaimana bodohnya puak nasibi apabila dalam keadaan terdesak mengatakan tafsiran untuk hadis ini ialah  ”taatlah al Quran dan jagalah Ahlulbait ku”

Inilah pegangan Syiah Imamiah. Inilah akidah kami. Kami mempercayai bahawa Rasulullah(sawa) telah meninggalkan Ahlulbait(as) sebagai gandingan kepada Al Quran, agar keduanya menjadi rujukan kepada umatnya sepeninggalan baginda(sawa). Saya telah membincangkan dalam artikel sebelum initentang siapa Ahlulbait, tetapi apakah tanggungjawab kita kepada mereka? Seorang sahabat saya dari Ahlulsunnah mengatakan bahawa:

“Kami seperti Syiah juga menghormati Ahlulbait(as), kami menyayangi mereka dan taat kepada mereka.”

Benar, kami mempercayai bahawa saudara dari Sunni juga menghormati Ahlulbait, tetapi cukupkah sekadar itu? Cukupkah semata-mata bagi kita menghormati Al Quran? Sudah pasti jawapannya tidak mencukupi. Al Quran adalah untuk dibaca, difahami dan dipatuhi segala perintahnya. Dan begitu jugalah tanggungjawab kami kepada Ahlulbait. Konsep ini di namakan Tawalla dan Tabbarra, yang telah saya bincangkan.

Kami mempercayai bahawa Ahlulbait, jika diikuti seratus peratus, maka tidak akan wujud mazhab-mazhab sebagaimana hari ini. Tidak timbul perselisihan yang terlampau ketara. Rujuklah mereka.

Kini timbul satu persoalan baru apabila kita bawakan hadis ini kepada saudara Sunni.

“Yang kami selalu dengan ialah hadis Aku tinggalkan kalian Al Quran dan Sunnah ku.

Ya, ini adalah balasan yang selalu saya dengari dari mereka. Untuk tajuk hadis Al Quran dan Sunnah ku ini, akan saya bincang di satu artikel yang khas untuknya kerana saya tidak mahu memanjangkan artikel ini dengan topik luaran, bagaimanapun saya akan ceritakan secara simple di sini.

  1. Hadis itu dhaif dari sanad dan matannya.
  2. Hadis itu juga tidak diriwayatkan di dalam Sihah Sittah Ahlulsunnah wal Jamaah.
  3. Jika pun boleh mahu dipakai, hadis ini hanya boleh digunakan untuk Sunnah asli yang diambil dari para Imam Ahlulbait(as).

Petunjuk dari Quran tentang kepimpinan Ahlulbait(as)

“Jikalau Allah swt memang memerintahkan agar kita mentaati Ahlulbait, mengapa tak letak sahaja dalam Al Quran terang-terang, kan senang? Kan tak jadi perselisihan?

Ayat seperti ini selalu didengari dari orang-orang yang sudah mula memahami sedikit sebanyak tentang tanggungjawab kita terhadap Tsaqalain. Mereka berasa hairan dan takjub, tentang sebab Allah swt tidak meletakkan perkara yang begitu penting ini di dalam kitab agung, rujukan utama seorang Muslim. Saya katakan kepada mereka:

Cara solat pun Allah swt tidak ceritakan secara detail dalam Quran, cuma beberapa hint tentang pergerakannya sahaja, seperti rukuk dan sujud.

Jika semuanya disuapkan kepada kita, maka tidak terjadilah dunia ini sebagai tempat ujian kepada kita. Allah swt mahu kita mengkaji kebenaran, mahu kita berusaha dan struggle dalam mencari jalannya. Barulah Allah swt berikan jawapannya. Firman Allah swt:

Dan orang-orang yang berjihad dalam mencari kebenaran itu, pasti Allah akan tunjukkan kepada jalan kami, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang berbuat kebenaran. Al Quran(29:69)

Di dalam artikel saya, Mencapai kebenaran, saya telah menyebutkan beberapa ciri yang perlu ada pada seseorang sebagai persediaan dalam mengkaji dan memahami kebenaran serta menerimanya. Bagi orang-orang seperti ini, sudah tentu tiada masalah bagi mereka untuk memahami dan menerima Tsaqalain.

Walaupun tidak disebutkan secara jelas, tetapi Allah swt ada memberi petanda di banyak tempat di dalam Quran dalam mengikuti Ahlulbait(as), serta kewajibannya.

Lihatlah sahaja bagaimana Allah swt telah meninggikan kedudukan mereka dengan menyucikan mereka dengan sesuci-suci pembersihan(33:33), dan memerintahkan kepada kita untuk menyayangi mereka, mencintai mereka sebagai upah kenabian(42:23), dan kemuliaan siapakah yang ditinggikan di dalam ayat Mubahalah?(3:61)

1. Allah swt Berfirman:

“Dan berpegang teguhlah kamu sekalian kepada tali Allah (ugama Islam), dan janganlah kamu bercerai-berai” Al Quran (3:103)

Tafsir Al Kabir, Al Thalabi dengan sanad Aban Bin Taghlab dari Imam Jaafar as Sadiq: “kamilah tali Allah yang dimaksudkan di dalam ayat tersebut.”

  • Al Sawaiq al Muhriqah: Ibnu Hajar al Haithami hal 223
  • Yanabi Al Mawaddah: Al Qunduzi al hanafi hal 139, 328, 356
  • Syawahidul Tanzil: Al Huskaninal Hanafi Hadis bil 177-180

Imam Syafi’i dilaporkan di dalam Rashfatul Sadi, tulisan Imam Abu Bakar Ibn Shihabuddin, sebagai berkata:

“Apabila aku melihat manusia hanyut di dalam lautan kesesatan dan kejahilan akibat dari mazhab mereka, aku menaiki, dengan nama Allah, Bahtera Keselamatan, iaitu, Keluarga Yang Terpilih, Penutup segala Nabi. dan aku memegang keras Tali Allah, iaitu ketaatan kepada mereka, kerana Tuhan telah memerintahkan untuk berpegang kepada Tali itu.”

Lihatlah bagaimana Allah swt mengibaratkan Ahlulbait sebagai Tali Allah, serta memerintahkan agar memegang tali itu sekuat hati. Inilah yang dilakukan oleh kami Syiah kepada Tali Allah.
2. Firman Allah swt:

Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kamu kepada Allah, dan hendaklah kamu berada bersama-sama orang-orang yang benar.Al Quran(9:119)

Ayyuhal ikhwan, siapakah orang-orang yang benar ini, yang  kita harus bersama mereka? Pastilah satu golongan suci yang Allah swt angkat melebihi dari yang lain.

Ibnu Syahri dan Tsa’labi dalam Tafsirnya, meriwayatkan dari Jabir dan Abu Jaafar dari Kalbi dan Abu Soleh dari Ibnu Abbas, As Su’udi dan Ja’far bin Muhammad Al Baqir(as) dan beliau meriwayatkan dari Malik bin Anas yang berasal dari ibnu Umar berkata: Allah swt memerintahkan para sahabat dan semua golongan beriman agar takut kepada Allah. Kemudian beliau berkata “…dan hendaklah kamu bersama orang2 yang benar” bermaksud Muhammad dan Ahlulbait baginda.

  • Syawahidul tanzil:al Hakim al Huskani al Hanafi. Hadis bil. 350-356
  • Kifayatuth Thalib: Al Kanji as Syafii Hal 236. Cetakan Al Haidhariyah
  • Tarikh Dimasyq: Ibnu asakir. Bahagian Terjemahan Ali Ibnu Abi Thalib 2/241. Hadis Bilangan 923
  • Tazkiratul Khawas: Sibt Ibnu Jauzi al Hanafi. Hal 16
  • Al Manaqib:Al Khawarizmi al Hanafi hal 198
  • Yanabi al Mawaddah: Al Qanduzi al Hanafi hal 136 dan 140
  • Ad Dur al mantsur: As Suyuti as Syafi’i 3/390

3. Allah swt turut menyebutkan:

Dan bahawa sesungguhnya inilah jalanKu yang betul lurus, maka hendaklah kamu menurutnya; dan janganlah kamu menurut menurut jalan-jalan lain, kerana jalan-jalan (yang lain itu) mencerai-beraikan kamu dari jalan Allah, Dengan yang demikian itulah Allah perintahkan kamu, supaya kamu bertaqwa. Al Quran(6:153)

Imam al Baqir dan Imam al Sadiq selalu menyebutkan bahawa: Jalan yang lurus ini ialah bersama Imam, dan janganlah mengikuti jalan yang lain(imam-imam lain) kerana mereka akan mengalihkan kamu dari jalan Allah. Jika bukan jalan Ahlulbait, imam mana lagi yang boleh kita katakan sebagai jalan yang lurus? Imam Syafi’i, Hanbali? Mereka saling bercanggah antara satu sama lain dan tiada dalil dari Quran atau hadis yang mengwajibkan kita untuk mengikuti mereka, sedangkan Ahlulbait ialah sebahagian peninggalan Nabi(sawa).

4. Di tempat lain, Allah swt mengarahkan kita:

“Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasulullah dan kepada “Ulil-Amri” (orang-orang yang berkuasa) dari kalangan kamu.” Al Quran(4:59)

Ulil Amri yang dimaksudkan ialah Ali dan para Imam dari Ahlulbait.

Dalam Ikmal al-Din terdapat sebuah hadis melalui Jabir al-Jufri yang diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah yang berkata: “Ya Rasulullah kami telah mengetahui Allah dan Rasul-Nya, lalu siapakah ulil amri yang Allah jadikan ketaatan kepada mereka sama dengan ketaatan kepadamu?”

Lalu Nabi SAW bersabda: “Wahai Jabir, mereka adalah penerusku dan para pemimpin muslimin. Yang pertama dari mereka adalah ‘Ali bin Abi Thalib, kemudian (Imam) Hasan dan (Imam) Husain, kemudian ‘Ali bin Husain, kemudian Muhammad bin ‘Ali, yang dikenal dalam taurat dengan nama al-Baqir, yang engkau akan jumpai kelak. Wahai jabir! Apabila engkau menjumpainya, sampaikanlah salamku padanya. Setelahnya adalah ash-Shadiq, Ja’far bin Muhammad; kemudian Musa bin Ja’far, kemudian ‘Ali bin Musa, kemudian Muhammad bin ‘Ali, kemudian ‘Ali bin Muhammad, kemudian Hasan bin ‘Ali, setelahnya adalah al-Qa’im yang nama asli dan gelarnya sama denganku. Dia adalah hujjah Allah di bumi dan pengingat hamba-hamba-Nya. Dia anak (Imam) Hasan bin ‘Ali (al-’Askari). Peribadi inilah yang menyebabkan tangan Allah akan membukakan arah Timur dan Barat dunia dan peribadi ini jugalah yang akan digaibkan dari para pengikut dan pencintanya. karena inilah (kegaiban -penerj) keimamahannya tidak dapat dibuktikan oleh pernyataan siapapun kecuali oleh orang yang keimanannya telah Allah uji.”
Jabir berkata: “Aku bertanya padanya: ‘Wahai Rasulullah! Apakah para pengikut (syi’ah)-nya akan mendapatkan manfaat dari kegaibannya?’ Dia menjawab: ‘Ya. Demi Zat yang mengutusku dengan kenabian, mereka akan mencari cahaya dan taat kepadanya pada masa gaibnya sebagaimana manusia mendapat manfaat dari (cahaya) matahari ketika awan menutupnya’ …”
(Ikmal al-Din, jilid 1, hal. 253, dengan makna yang hampir sama dalam Yanabi’ al-Mawaddah, hal.117)

  • Yanabi al Mawaddah : hal 134 dan 137
  • Syawahidul Tanzil:1/48  hadis 202-204
  • Tafsir Razi:3/375

5. Allah swt berfirman:

“Oleh itu bertanyalah kamu kepada Ahlil Zikir jika kamu tidak mengetahui”.Al Quran(16:43) dan (21:7)

Ahlul Zikir yang dimaksudkan ialah asas Ahlulbait iaitu, Imam Ali, Fatimah, Hassan dan Hussain. Dari Jabir, meriwayatkan setelah turun ayat ini Imam Ali berkata:” Kamilah yang diimaksudkan sebagai Ahlil Zikir”

  • Yanabi al Mawaddah : hal 51 dan 140
  • Syawahidul Tanzil:1/334 hadis 459-466
  • Tafsir Qurtubi: 11/272
  • Tafsir Tabari: 14/109
  • Tafsir Ibnu Katsir2/570

6. Setiap hari, dalam solat, kita membaca:

Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus, iaitu jalan orang-orang yang Kau berikan nikmat ke atas mereka

Imam Tsalabi di dalam Tafsir Al Kabir menafsirkan ayat ini bahawa ayat ini juga merujuk kepada Muhammad dan keluarga Muhammad

7. Akhir sekali, suka saya ingin memberikan hint-hint terakhir dari Allah swt dalam Quran yang berbunyi:

Dan sesiapa yang taat kepada Allah dan RasulNya, maka mereka akan (ditempatkan di syurga) bersama-sama orang-orang yang telah dikurniakan nikmat oleh Allah kepada mereka, iaitu Nabi-nabi, dan orang-orang Siddiqiin, dan orang-orang yang Syahid, serta orang-orang yang soleh.Al Quran(4:69)

Imam dari Ahlulbait, tanpa keraguan dan sebarang bantahan, ialah ketua bagi para Sadiqin, Syuhada dan Solihin. Cukuplah kiranya setakat ini saya sertakan hujah dari Al Quran, yang memberi petunjuk kepada kepimpinan Ahlulbait(as) dan tugas kita adalah untuk mentaati mereka to the letters, tanpa sebarang bantahan dan keraguan sebagaimana haknya, kita mentaati Rasulullah(sawa). Jikalau kamu tidak bersetuju dengan hujah-hujah yang saya bawakkan ini, maka bersaksilah kami tidak memaksa kamu menerima kepercayaan kami, tetapi hormatilah tafsiran ini, dan bukalah hati kamu agar bolehnya kita bersatu tanpa perlu mengorbankan kepercayaan masing-masing. Jikalau kami salah, maka cukuplah kiranya Allah swt menjadi hakim kami, kerana Dia yang maha adil telah meninggalkan kita Al Quran, maka segata tafsiran dalam Quran yang logik dan tidak batil boleh diterima, seperti yang dilakukan oleh para ulama mujtahid Sunni, seperti Maliki dll. Mereka semua menafsirkan sesuatu dengan cara yang berbeza, dan semuanya kalian boleh terima, maka terimalaha tafsiran kami ini.

Kata-kata Rasulullah(sawa) tentang Ahlulbait

Bagaimanapun wahai Ikhwan sekalian, hujah saya masih belum mati setakat ini, ingin sekali, InsyaAllah, saya bawakan apa pula yang dikatakan oleh Rasulullah(sawa) tentang Ahlulbait baginda. Banyak sekali, tetapi cukup la sikit-sikit, nanti tepu pulak akal yang membaca.

1. Lihat sahaja betapa pentingnya penekanan kepada Ahlulbait apabila Rasulullah(sawa) bersabda:

“Sesungguhnya perumpamaan Ahlulbait disisi kamu laksana bahtera Nuh. Barangsiapa yang menaikinya akan selamat dan siapa yang meninggalkannya akan binasa.”

  • As Sawariq Al Muhriqah hal 282
  • Al Mustadrak 3/151
  • Yanabi Al Mawaddah : Hal 30 &370
  • Al Mu’jam as Saghir: 1/139
  • Majma ul zawaid 9/168

Wahai saudaraku sekalian, lihat sahaja apa yang Rasul kita gambarkan tentang Ahlulbait baginda, seperti bahtera Nuh. Tentu sahaja kita selalu mendengar kisah Nabi Nuh(as), di mana Allah swt mendatangkan kepada kaumnya banjir besar, yang mana sayu-satunya jalan keselamatan hanyalah bahtera Nabi Nuh(as). Sesiapa sahaja yang menaikinya, selamat dari azab Allah, dan bagi siapa yang enggan, setinggi mana pun gunung yang di daki, tidak berupaya menyelamatkan mereka dari banjir itu.

Suka juga untuk saya kaitkan, di mana Nabi Nuh dan pengikutnya di cela dan diejek oleh kaumnya, kerana idea beliau tentang bahtera ini. Secara kebetulan(atau memang seperti yang Allah mahu tunjukkan) kami Syiah, yang memilih menaiki bahtera ini juga dicela dan diejek serta dimusuhi dengan pelbagai cara. Maka ini, semakin menambahkan keyakinan kami tentang jalan yang kami pilih ini.

2. Ibnu Hajar al Haithami mensahihkan: Sesungguhnya aku tinggalkan kalian 2 perkara yang kalian tidak akan sesat buat selamanya selagi kalian mengikut keduanya. Keduanya adalah Kitab Allah dan Ahlulbaitku. Dari itu, jangan kalian mendahului keduanya kerana kalian akan binasa, dan jangan kalian memperkecilkan keduanya kerana kalian akan binasa. Dan jangan kalian mengajar mereka kerana mereka lebih mengetahui dari kalian.”

  • As Sawaiq Al Muhriqah hal 230
  • Majma uz Zawaid 9/163
  • Yanabi Al Mawaddah  Hal 41 dan 355
  • Ad Durr al Mantsur 2/60
  • Kanz al Ummal Bil Hadis 958

Perhatikan betul-betul hadis di atas. Itulah selayaknya Ahlulbait yang menjadi gandingan Al Quran, di mana Rasulullah melarang kita mendahului atau ditinggalkan oleh mereka, ini bermakna agar tetap utuh bersama mereka, dalam apa jua keadaan. Apabila Rasulullah(sawa) berkata jangan perkecilkan mereka, itu tandanya Rasulullah mahukan segala keutamaan diberikan kepada keduanya. Yang paling best, ialah ayat terakhir baginda, bahawa jangan mengajar mereka kerana mereka lebih mengetahui. Ini ialah tanda ketinggian ilmu mereka, yang menyebabkan bukti Imamah mereka ke atas kita, sumber ilmu yang benar dan tiada yang lain. Celakalah mereka yang belajar dari orang yang bukan ahlinya.

3. At Thabrani meriwayatkan dari Abu Dzar dan Abu Said Al Khudri, Rasulullah(sawa) bersabda: “Sesungguhnya perumpamaan Ahlulbait ku itu disisi kalian umpama “pintu pengampunan” bani Israel. Sesiapa yang masuk ke dalamnya akan di ampunkan.”

  • Ihya ul Mayyit: Bil 26&27
  • Majma uz Zawaid: 9/168
  • Ibnu Hajar menjelaskan : Allah swt menetapkan bahawa memasuki pintu tersebut ialah pintu Ariha atau Baitulmaqdis dengan rasa hina dan memohon keampunan menjadi sebab kepada pengampunan. Dia telah menjadikan kecintaan kepada Ahlulbait sebagai sebab kepada pengampunan.

4. Al Hakim menerusi Al Mustadrak telah meriwayatkan hadis yang beliau sahihkan berdasarkan syarat Bukhari dan Muslim, dari Ibnu Abbas, Rasul bersabda: Bintang-bintang adalah penyelamat bagi makhluk bumi dari kesesatan. Dan Ahlulbaitku adalah penyelamat untuk umatku dari perselisihan. Apabila kaum-kaum telah berselisih, maka mereka berpecah menjadi pengikut iblis.

  • Ihya Ul Mayyit: As Suyuthi no 21
  • Sawaiq Al muhriqah: hal 138

Penggunaan bintang sebagai medium penunjuk arah samada bagi para pelayar ataupun para musafir memang tidak dapat diragukan lagi. Sekali lagi di sini, Rasulullah(sawa) dengan indahnya menyamakan Ahlulbait baginda dengan bintang-bintang, sebagai panduan kepada umat baginda, dari ancaman kesesatan. Amat malang sekali, jika umat beliau dari dahulu lagi berpandukan kepada “bintang-bintang” ini. maka tidak akan wujud masalah kesatuan seperti sekarang, yang mana ramai dari kita menjadi pengikut iblis.

5. At Tabrani menukilkan riwayat dari Hassan bin Ali, Rasul bersabda: Kekalkanlah kecintaan terhadap kami Ahlulbait. Kerana sesiapa yang menghadap Allah dengan mencintai kami akan masuk syurga melalui syafaat kami. Demi Dia yang jiwa ku di genggamannya, bahawa sesungguhnya tidak bermanfaat satu amalan seorang hamba melainkan dengan mengenali hak kami.

  • Ihya ul Mayyit: as Suyuthi no 18
  • As sawaiq al Muhriqah hal 198
  • Yanabi Al Mawaddah: hal 293.323.326 dan 364
  • Majma uz Zawaid: 9/172

Dalam artikel Tawalla dan Tabbara, saya ada ceritakan tentang hak Ahlulbait(as) ke atas kita. Betapa beratnya hak ini, sehinggakan Rasulullah mengatakan amalan seorang hamba hanya diterima jika hak Ahlulbait dikenali. Apakah hak Ahlulbait, secara ringkasnya, dan mengikut pamahanam saya yang jahil ini, hak Ahlulbait ialah:

  • Hak untuk memimpin kita
  • Hak untuk ditaati oleh kita
  • Hak untuk dicintai oleh kita(tawalla)
  • Hak untuk membenci musuh mereka oleh kita(Tabbarra)
  • dan banyak lagi, hehe

Saya juga ingin menerangkan, adakah cukup kita dikatakan mencintai Ahlulbait(as) hanya dengan sekadar menyatakan, meluahkan dan memberitahu di mulut bahawa kita mencintai mereka? Tidak..oh tidak!!

Apabila saya katakan saya mencintai ibu saya maka

  • saya akan ikut cakap beliau
  • tidak menderhaka
  • menunaikan hak kita kepada mereka
  • tidak menyakiti beliau dengan kata-kata kasar
  • tidak bersahabat dengan orang yang memusuhi atau menyakiti beliau
  • mencintai atau menyukai orang yang beliau sukai

Begitu jugalah dengan rasa cinta kita kepada Ahlulbait. Pengucapan rasa cinta bukan sekadar dimulut, tetapi harus dibuktikan dengan perbuatan dan perlakuan. Malangnya inilah yang dilakukan oleh pelakon-pelakon handalan dari puak nasibi yang menentang Ahlulbait. Bolehkah..layakkah kita dikatakan mencintai Ahlulbait jika dalam masa yang sama kita:

  • Tidak mengenali mereka?(Duh!! Bodoh betul bercinta dengan stranger)
  • Redha akan musuh-musuh yang menyakiti dan membunuh mereka( Radhiallahu anhu kepada Muawiyah? oh no..Yazid..lebih lagi la)
  • Tidak mencintai orang-orang yang  mereka cintai.(kenal tak kalian siapa Miqdad(ra)? Salman(ra)? Abu Dzar(ra)?)
  • Menconteng arang ke muka mereka.(Mengaku sebagai Syiah, tetapi bertenggek sana sini dengan perempuan, berkelakuan tidak senonoh, sehingga orang mengata kepada ajaran Para Imam(as).
  • Tidak mengikut ajaran mereka.(Kamu solat ikut cara siapa, hukum-hukum fiqh berdasarkan ajaran siapa? Diorang kata jangan makan sotong, makan jugak)

Fikirkan sendiri.

6. Sesiapa yang berhasrat mahu hidup dan matinya seperti ku, dan memasuki syurga yang dijanjikan tuhanku iaitu syurga abadi, maka hendaklah ia mengambil Ali dan zuriatnya sebagai pemimpinnya, Sesungguhnya mereka tidak akan mengeluarkan kalian dari pintu hidayah dan tidak juga memasukkan kalian ke dalam pintu kesesatan.

  • Sahih Bukhari 5/65
  • Sahih Muslim 2/51
  • Kanz al Ummal: Hadis no 2578

Tidak perlu komen dengan dalil yang begitu jelas ini.

7. Letakkanlah Ahlulbait ku disisi kalian seperti kedudukan kepala pada jasad dan kedudukan 2 biji mata pada kepala. Kepala tidak bermanfaat menunjuk jalan jika tanpa 2 biji mata.

  • Majma ul Zawaid 9/172

Segala puji bagi Allah swt yang meletakkan hujah kami di buku pihak lawan. Syukur kepada Allah, inilah yang kami pegang. Lihatlah wahai ikhwan, nas dan dalil untuk berpegang teguh kepada Ahlulbait cukup banyak sekali. Tetapi adakah kalian cukup berani untuk menerimanya, dan menolak amalan nenek moyang kamu?

Cukuplah setakat ini bagi orang-orang yang berfikir. Salam alaikum dan solawat

Sikap Imam Ali terhadap 3 Khalifah mengambil suri tauladan dari 7 nabi !

Perangko Iran bertuliskan Hadits Gadir Kum. Ketika itu Muhammad menyebut Ali sebagai mawla.
.

Muslim Syi’ah percaya bahwa Keluarga Muhammad (yaitu para Imam Syi’ah) adalah sumber pengetahuan terbaik tentang Qur’an dan Islam, guru terbaik tentang Islam setelah Nabi Muhammad, dan pembawa serta penjaga tepercaya dari tradisiSunnah.

Secara khusus, Muslim Syi’ah berpendapat bahwa Ali bin Abi Thalib, yaitu sepupu dan menantu Muhammad dan kepala keluarga Ahlul Bait, adalah penerus kekhalifahan setelah Nabi Muhammad, yang berbeda dengan khalifah lainnya yang diakui oleh Muslim Sunni. Muslim Syi’ah percaya bahwa Ali dipilih melalui perintah langsung oleh Nabi Muhammad, dan perintah Nabi berarti wahyu dari Allah.

Perbedaan antara pengikut Ahlul Bait dan Abu Bakar menjadikan perbedaan pandangan yang tajam antara Syi’ah dan Sunni dalam penafsiran Al-Qur’anHadits, mengenai Sahabat, dan hal-hal lainnya. Sebagai contoh perawi Hadits dari Muslim Syi’ah berpusat pada perawi dari Ahlul Bait, sementara yang lainnya sepertiAbu Hurairah tidak dipergunakan.

Tanpa memperhatikan perbedaan tentang khalifah, Syi’ah mengakui otoritas Imam Syi’ah (juga dikenal dengan Khalifah Ilahi) sebagai pemegang otoritas agama, walaupun sekte-sekte dalam Syi’ah berbeda dalam siapa pengganti para Imam dan Imam saat ini.

Dengan menyimak sejarah masa awal-awal kemunculan Islam maka menjadi jelas bahwa Pertama, Rasulullah Saw belum lagi dikebumikan orang-orang berkumpul di Saqifah Bani Sa’idah dan sebagian orang memberikan baiat kepada orang selain Ali As sementara Ali As sedang sibuk mengurus pemakaman Rasulullah Saw, mengafani dan mengebumikan Rasulullah Saw.[ Kanz al-‘Ummâl, 5/652.]

Sebagian kecil sahabat beserta pemuka kabilah seperti Abbas bin Abdul Muththalib, Fadhl bin Abbas, Zubair bin Awwam, Khalid bin Sa’id, Miqdad bin Amr, Salman Parsi, Abu Dzar Ghiffari, Ammar bin Yasir, Bara’a bin ‘Azib, Ubay bin Ka’ab tidak memberikan baiat kepada segelintir orang yang berkumpul di Saqifah dan berpihak pada Imam Ali As.[ Suyuthi, Târikh al-Khulâfah, hal. 62, Dar al-Fikr, Libanon. Târikh Ya’qubi, 124/125-2. Thabari, Târikh al-Umam wa al-Muluk, jil. 2, hal. 443, Istiqamat, Kairo. Musnad Ahmad, jil. 3, hal. 165, Dar al-Shadir.]

Sesuai dengan nukilan lugas dari Ahmad bin Hanbal dalam Musnad 1/55 dan Thabari 2/466 sebagian orang ini berkumpul di rumah Fatimah Zahra As dan menolak memberikan baiat kepada Abu Bakar.[ Suyuthi, Târikh al-Khulâfah, hal. 62, Dar al-Fikr, Libanon. Târikh Ya’qubi, 124/125-2. Thabari, Târikh al-Umam wa al-Muluk, jil. 2, hal. 443, Istiqamat, Kairo. Musnad Ahmad, jil. 3, hal. 165, Dar al-Shadir.]

Disebutkan dalam kitab sejarah bahwa Baginda Ali As dalam menjawab mereka yang berkumpul di rumahnya dan permintaan mereka untuk memberikan baiat kepadanya, “Besok pagi datanglah (kemari) dan cukurlah rambut kalian!” Akan tetapi keesokan harinya hanya tiga orang yang datang.[ Ma’âlim al-Madrasatain, Allamah ‘Askari, jil. 1, hal. 162.]

Disebut juga Imamiah atau Itsna ‘Asyariah (Dua Belas Imam); dinamakan demikian sebab mereka percaya yang berhak memimpin muslimin hanya imam, dan mereka yakin ada dua belas imam. Aliran ini adalah yang terbesar di dalam Syiah. Urutan imam mereka yaitu:

  1. Ali bin Abi Thalib (600661), juga dikenal dengan Amirul Mukminin
  2. Hasan bin Ali (625669), juga dikenal dengan Hasan al-Mujtaba
  3. Husain bin Ali (626680), juga dikenal dengan Husain asy-Syahid
  4. Ali bin Husain (658713), juga dikenal dengan Ali Zainal Abidin
  5. Muhammad bin Ali (676743), juga dikenal dengan Muhammad al-Baqir
  6. Jafar bin Muhammad (703765), juga dikenal dengan Ja’far ash-Shadiq
  7. Musa bin Ja’far (745799), juga dikenal dengan Musa al-Kadzim
  8. Ali bin Musa (765818), juga dikenal dengan Ali ar-Ridha
  9. Muhammad bin Ali (810835), juga dikenal dengan Muhammad al-Jawad atau Muhammad at Taqi
  10. Ali bin Muhammad (827868), juga dikenal dengan Ali al-Hadi
  11. Hasan bin Ali (846874), juga dikenal dengan Hasan al-Asykari
  12. Muhammad bin Hasan (868—), juga dikenal dengan Muhammad al-Mahdi

Dalam Syi’ah terdapat apa yang namanya ushuluddin (pokok-pokok agama) dan furu’uddin {masalah penerapan agama). Syi’ah memiliki Lima Ushuluddin:

  1. Tauhid, bahwa Allah SWT adalah Maha Esa.
  2. Al-‘Adl, bahwa Allah SWT adalah Maha Adil.
  3. An-Nubuwwah, bahwa kepercayaan Syi’ah meyakini keberadaan para nabi sebagai pembawa berita dari Tuhan kepada umat manusia
  4. Al-Imamah, bahwa Syiah meyakini adanya imam-imam yang senantiasa memimpin umat sebagai penerus risalah kenabian.
  5. Al-Ma’ad, bahwa akan terjadinya hari kebangkitan.

Dimensi ini merupakan sekumpulan ayat-ayat dalam Al-Quran yang menginformasikan bahwa Allah maha kuasa menciptakan segala sesuatu termasuk menciptakan Takdir.

Dialah Yang Awal dan Yang Akhir ,Yang Zhahir dan Yang Bathin (Al Hadid / QS. 57:3). Allah tidak terikat ruang dan waktu, bagi-Nya tidak memerlukan apakah itu masa lalu, kini atau akan datang).Dimensi ketuhanan ini merupakan sekumpulan ayat-ayat dalam Al-Quran yang menginformasikan bahwa Allah maha kuasa menciptakan segala sesuatu termasuk menciptakan Takdir.

Dialah Yang Awal dan Yang Akhir ,Yang Zhahir dan Yang Bathin (Al Hadid / QS. 57:3). Allah tidak terikat ruang dan waktu, bagi-Nya tidak memerlukan apakah itu masa lalu, kini atau akan datang). Dia (Allah) telah menciptakan segala sesuatu dan sungguh telah menetapkannya (takdirnya) (Al-Furqaan / QS. 25:2) Apakah kamu tidak tahu bahwa Allah mengetahui segala sesuatu yang ada di langit dan bumi. Sesungguhnya itu semua telah ada dalam kitab, sesungguhnya itu sangat mudah bagi Allah (Al-Hajj / QS. 22:70) Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya (Al-Maa’idah / QS. 5:17) Kalau Dia (Allah) menghendaki maka Dia memberi petunjuk kepadamu semuanya (Al-An’am / QS 6:149) Allah menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat (As-Safat / 37:96) Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan (Luqman / QS. 31:22). Allah yang menentukan segala akibat. Dia (Allah) telah menciptakan segala sesuatu dan sungguh telah menetapkannya (takdirnya) (Al-Furqaan / QS. 25:2) Apakah kamu tidak tahu bahwa Allah mengetahui segala sesuatu yang ada di langit dan bumi. Sesungguhnya itu semua telah ada dalam kitab, sesungguhnya itu sangat mudah bagi Allah (Al-Hajj / QS. 22:70) Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya (Al-Maa’idah / QS. 5:17) Kalau Dia (Allah) menghendaki maka Dia memberi petunjuk kepadamu semuanya (Al-An’am / QS 6:149) Allah menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat (As-Safat / 37:96) Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan (Luqman / QS. 31:22). Allah yang menentukan segala akibat. nabi sama seperti muslimin lain.

 

I’tikadnya tentang kenabian ialah:

  1. Jumlah nabi dan rasul Allah ada 124.000.
  2. Nabi dan rasul terakhir ialah Nabi Muhammad SAW.
  3. Nabi Muhammad SAW suci dari segala aib dan tiada cacat apa pun. Ialah nabi paling utama dari seluruh Nabi yang ada.
  4. Ahlul Baitnya, yaitu Ali, Fatimah, Hasan, Husain dan 9 Imam dari keturunan Husain adalah manusia-manusia suci.
  5. Al-Qur’an ialah mukjizat kekal Nabi Muhammad SAW.

Sesungguhnya Imam Ali mengambil suri tauladan dari para nabi.

Yang pertama, adalah Nabi Nuh as yang ketika mengadu kepada Tuhannya :“Maka dia (Nuh) mengadu kepada Tuhannya: “Bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu menangkanlah.” (QS Al-Qamar [54] ayat 10)

Dan yang kedua, adalah Nabi Ibrahim al-Khalil as yang berkata, “Dan Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu seru selain Allah,” (QS Maryam [19] ayat 48). Ihwal Nabi Ibrahim, al-Qur’an memberitakan bahwa Nabi Ibrahim menjauhkan diri dari penyembah berhala, “Maka ketika Ibrahim sudah menjauhkan diri dari mereka” (Qs. Maryam [19]:49)

Dan yang ketiga adalah Nabi Luth as yang mengatakan, “Seandainya aku ada mempunyai kekuatan atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat.” (QS Hud [11] ayat 80)

Dan yang keempat, adalah Nabi Yusuf as yang mengatakan : “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.” (QS Yusuf [12] ayat 33)

Dan yang kelima, Nabi Musa as yang berkata, “Lalu aku lari meninggalkan kamu ketika aku takut kepadamu,” (QS Al-Syu’ara [26] ayat 21)

Dan yang keenam, adalah Nabi Harun as yang berkata kepada Nabi Musa as, “Sesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah dan hampir-hampir mereka membunuhku,” (QS Al-A’raf [7] ayat 150). Imam Ali as. mengalami kondisi serupa dengan parnah dialami oleh Nabi Harun as. ketika kaumnya membangkang dengan kesesatan akibat provokasi Samiri. Sebagaimana Nabi Harun As tatkala melihat kaum Musa berpaling menjadi penyembah sapi meski beliau adalah seorang elokuen (fasih) dan merupakan washi (penyampai wasiat) Nabi Musa As akan tetapi beliau tidak melakukan apa pun kecuali menyampaikan kebenaran dan peringatan kepada mereka

Dan yang ketujuh terkait dengan tindakan para pemuda Ashabul Kahf yang menarik diri dari kaum zalim, “(Kami berkata kepada mereka), “Apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Tuhanmu akan melimpahkan rahmat-Nya kepadamu dan menghamparkan ketenangan bagimu dalam urusan kamu ini.” (Qs. Al-Kahf [18]:16) Apakah benar kita memandang mereka dalam proses toleransi dan menahan diri ini atau takut atau pengkhianat? Padahal dalam kondisi seperti ini jalan toleransi dan menahan diri merupakan jalan terbaik.

Al-Qur’an menandaskan tuturan Harun sebagai jawaban dari protes keras Nabi Musa As atas sikapnya yang berdiam diri tidak mencegah penyembahan sapi Bani Israil, “Harun menjawab, “Hai putra ibuku, janganlah kamu pegang janggutku dan jangan (pula) kepalaku; sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata (kepadaku), “Kamu telah memecah antara Bani Isra’il dan kamu tidak memelihara amanahku.” (Qs. Thaha [20]:94)

Adapun yang ke delapan  adalah Rasulullah Saw yang ketika melarikan diri dari kaum Musyrik Quraisy menuju sebuah gua (Tsur). Tindakan yang dilakukan Ali mencontoh Rasulullah Saw sendiri, dimana lantaran kurangnya pendukung dan untuk menjaga pendukung yang sedikit itu dan menjaga kemaslahatan Islam, terpaksa menarik diri dari kaumnya dan berhijrah ke Madinah hingga beliau mendapatkan banyak pengikut yang berujung pada peristiwa Fathu Makkah

Atau pada masa lainnya, Rasulullah Saw terpaksa memilih berdamai dengan orang-orang Musyrik. Apakah tindakan seperti ini dapat disebut sebagai tindakan pengecut bahwa apabila Rasulullah Saw memandang dirinya sebagai Rasululullah lantas mengapa berdamai dengan orang-orang musyrik?

Ali mengikuti jejak langkah Rasulullah Saw yang membiarkan kaum musyrikin dan tidak memerangi mereka di Makkah selama 13 tahun setelah kenabiannya. Dan itu beliau lakukan dikarenakan jumlah pendukung beliau masih teramat sedikit. Begitu pulalah yang dilakukan Imam Ali as.

Karena itu, Baginda Ali As, meski beliau adalah khalifah Rasulullah Saw, lebih memilih bersabar dan menahan diri. Hal itu didorong oleh keinginan yang luhur untuk menjaga kemaslahatan masyarakat Islam. Karena beliau dengan baik memahami bahwa bukan tempatnya untuk angkat senjata, menghunus pedang dan memamerkan keberanian dan adu otot di jalan Allah.

Dan apabila kita mengikuti Al-Quran yang mulia, kita akan menemukan 2 macam argumen yang sangat kuat. Yang pertama adalah al-Quran yang menyuruh beliau bersabar atas gangguan kaum musyrikin :

“Bersabarlah dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan.”(QS Al-Nahl [16] ayat 126)

“Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik.” (QS Al-Muzzamil [73] ayat 10)

“Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar.” (QS Al-Ahqaaf [46] ayat 35)

“Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu bangun berdiri.” (QS 52 : 48)

Dan satu macam lagi al-Quran yang mulia menyuruh beliau berperang :“Janganlah kamu lemah dan minta damai padahal kamulah yang di atas.” (QS Muhammad [47] ayat 35)

“Perangilah mereka, niscaya Allah akan menghancurkan mereka dengan tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman.” (QS Al-Taubah [9] ayat 14)

“Apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang ingkar maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka.” (QS Muhammad [47] ayat 4)

Allah telah menyampaikan kepada Nabi-Nya ayat-ayat agar beliau bersabar ketika jumlah sahabat-sahabat beliau belum memadai, namun Dia juga memerintahkan Nabi-Nya menggunakan kekerasan ketika Nabi Saw telah memiliki kekuatan yang seimbang dengan musuh dan menghancurkan para mufsidin sampai ke akar-akarnya. Dan dengan hujjah-hujjah ini, jelaslah bahwa sesungguhnya sabar itu baik dalam beberapa keadaan tertentu, tapi tidak seluruhnya.

Sikap Imam Ali terhadap 3 Khalifah sesuai perintah Al Quran

Disebut juga Imamiah atau Itsna ‘Asyariah (Dua Belas Imam); dinamakan demikian sebab mereka percaya yang berhak memimpin muslimin hanya imam, dan mereka yakin ada dua belas imam. Aliran ini adalah yang terbesar di dalam Syiah. Urutan imam mereka yaitu:

  1. Ali bin Abi Thalib (600661), juga dikenal dengan Amirul Mukminin
  2. Hasan bin Ali (625669), juga dikenal dengan Hasan al-Mujtaba
  3. Husain bin Ali (626680), juga dikenal dengan Husain asy-Syahid
  4. Ali bin Husain (658713), juga dikenal dengan Ali Zainal Abidin
  5. Muhammad bin Ali (676743), juga dikenal dengan Muhammad al-Baqir
  6. Jafar bin Muhammad (703765), juga dikenal dengan Ja’far ash-Shadiq
  7. Musa bin Ja’far (745799), juga dikenal dengan Musa al-Kadzim
  8. Ali bin Musa (765818), juga dikenal dengan Ali ar-Ridha
  9. Muhammad bin Ali (810835), juga dikenal dengan Muhammad al-Jawad atau Muhammad at Taqi
  10. Ali bin Muhammad (827868), juga dikenal dengan Ali al-Hadi
  11. Hasan bin Ali (846874), juga dikenal dengan Hasan al-Asykari
  12. Muhammad bin Hasan (868—), juga dikenal dengan Muhammad al-Mahdi

Perangko Iran bertuliskan Hadits Gadir Kum. Ketika itu Muhammad menyebut Ali sebagai mawla
.

Dalam Syi’ah terdapat apa yang namanya ushuluddin (pokok-pokok agama) dan furu’uddin {masalah penerapan agama). Syi’ah memiliki Lima Ushuluddin:

  1. Tauhid, bahwa Allah SWT adalah Maha Esa.
  2. Al-‘Adl, bahwa Allah SWT adalah Maha Adil.
  3. An-Nubuwwah, bahwa kepercayaan Syi’ah meyakini keberadaan para nabi sebagai pembawa berita dari Tuhan kepada umat manusia
  4. Al-Imamah, bahwa Syiah meyakini adanya imam-imam yang senantiasa memimpin umat sebagai penerus risalah kenabian.
  5. Al-Ma’ad, bahwa akan terjadinya hari kebangkitan.

Dimensi ini merupakan sekumpulan ayat-ayat dalam Al-Quran yang menginformasikan bahwa Allah maha kuasa menciptakan segala sesuatu termasuk menciptakan Takdir.

Dialah Yang Awal dan Yang Akhir ,Yang Zhahir dan Yang Bathin (Al Hadid / QS. 57:3). Allah tidak terikat ruang dan waktu, bagi-Nya tidak memerlukan apakah itu masa lalu, kini atau akan datang).Dimensi ketuhanan ini merupakan sekumpulan ayat-ayat dalam Al-Quran yang menginformasikan bahwa Allah maha kuasa menciptakan segala sesuatu termasuk menciptakan Takdir.

Dialah Yang Awal dan Yang Akhir ,Yang Zhahir dan Yang Bathin (Al Hadid / QS. 57:3). Allah tidak terikat ruang dan waktu, bagi-Nya tidak memerlukan apakah itu masa lalu, kini atau akan datang). Dia (Allah) telah menciptakan segala sesuatu dan sungguh telah menetapkannya (takdirnya) (Al-Furqaan / QS. 25:2) Apakah kamu tidak tahu bahwa Allah mengetahui segala sesuatu yang ada di langit dan bumi. Sesungguhnya itu semua telah ada dalam kitab, sesungguhnya itu sangat mudah bagi Allah (Al-Hajj / QS. 22:70) Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya (Al-Maa’idah / QS. 5:17) Kalau Dia (Allah) menghendaki maka Dia memberi petunjuk kepadamu semuanya (Al-An’am / QS 6:149) Allah menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat (As-Safat / 37:96) Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan (Luqman / QS. 31:22). Allah yang menentukan segala akibat. Dia (Allah) telah menciptakan segala sesuatu dan sungguh telah menetapkannya (takdirnya) (Al-Furqaan / QS. 25:2) Apakah kamu tidak tahu bahwa Allah mengetahui segala sesuatu yang ada di langit dan bumi. Sesungguhnya itu semua telah ada dalam kitab, sesungguhnya itu sangat mudah bagi Allah (Al-Hajj / QS. 22:70) Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya (Al-Maa’idah / QS. 5:17) Kalau Dia (Allah) menghendaki maka Dia memberi petunjuk kepadamu semuanya (Al-An’am / QS 6:149) Allah menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat (As-Safat / 37:96) Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan (Luqman / QS. 31:22). Allah yang menentukan segala akibat. nabi sama seperti muslimin lain.

 

I’tikadnya tentang kenabian ialah:

  1. Jumlah nabi dan rasul Allah ada 124.000.
  2. Nabi dan rasul terakhir ialah Nabi Muhammad SAW.
  3. Nabi Muhammad SAW suci dari segala aib dan tiada cacat apa pun. Ialah nabi paling utama dari seluruh Nabi yang ada.
  4. Ahlul Baitnya, yaitu Ali, Fatimah, Hasan, Husain dan 9 Imam dari keturunan Husain adalah manusia-manusia suci.
  5. Al-Qur’an ialah mukjizat kekal Nabi Muhammad SAW.

Dengan menyimak sejarah masa awal-awal kemunculan Islam maka menjadi jelas bahwa Pertama, Rasulullah Saw belum lagi dikebumikan orang-orang berkumpul di Saqifah Bani Sa’idah dan sebagian orang memberikan baiat kepada orang selain Ali As sementara Ali As sedang sibuk mengurus pemakaman Rasulullah Saw, mengafani dan mengebumikan Rasulullah Saw.[ Kanz al-‘Ummâl, 5/652.]

Muslim Syi’ah percaya bahwa Keluarga Muhammad (yaitu para Imam Syi’ah) adalah sumber pengetahuan terbaik tentang Qur’an dan Islam, guru terbaik tentang Islam setelah Nabi Muhammad, dan pembawa serta penjaga tepercaya dari tradisiSunnah.

Secara khusus, Muslim Syi’ah berpendapat bahwa Ali bin Abi Thalib, yaitu sepupu dan menantu Muhammad dan kepala keluarga Ahlul Bait, adalah penerus kekhalifahan setelah Nabi Muhammad, yang berbeda dengan khalifah lainnya yang diakui oleh Muslim Sunni. Muslim Syi’ah percaya bahwa Ali dipilih melalui perintah langsung oleh Nabi Muhammad, dan perintah Nabi berarti wahyu dari Allah.

Perbedaan antara pengikut Ahlul Bait dan Abu Bakar menjadikan perbedaan pandangan yang tajam antara Syi’ah dan Sunni dalam penafsiran Al-Qur’anHadits, mengenai Sahabat, dan hal-hal lainnya. Sebagai contoh perawi Hadits dari Muslim Syi’ah berpusat pada perawi dari Ahlul Bait, sementara yang lainnya sepertiAbu Hurairah tidak dipergunakan.

Tanpa memperhatikan perbedaan tentang khalifah, Syi’ah mengakui otoritas Imam Syi’ah (juga dikenal dengan Khalifah Ilahi) sebagai pemegang otoritas agama, walaupun sekte-sekte dalam Syi’ah berbeda dalam siapa pengganti para Imam dan Imam saat ini.

Sebagian kecil sahabat beserta pemuka kabilah seperti Abbas bin Abdul Muththalib, Fadhl bin Abbas, Zubair bin Awwam, Khalid bin Sa’id, Miqdad bin Amr, Salman Parsi, Abu Dzar Ghiffari, Ammar bin Yasir, Bara’a bin ‘Azib, Ubay bin Ka’ab tidak memberikan baiat kepada segelintir orang yang berkumpul di Saqifah dan berpihak pada Imam Ali As.[ Suyuthi, Târikh al-Khulâfah, hal. 62, Dar al-Fikr, Libanon. Târikh Ya’qubi, 124/125-2. Thabari, Târikh al-Umam wa al-Muluk, jil. 2, hal. 443, Istiqamat, Kairo. Musnad Ahmad, jil. 3, hal. 165, Dar al-Shadir.]

Sesuai dengan nukilan lugas dari Ahmad bin Hanbal dalam Musnad 1/55 dan Thabari 2/466 sebagian orang ini berkumpul di rumah Fatimah Zahra As dan menolak memberikan baiat kepada Abu Bakar.[ Suyuthi, Târikh al-Khulâfah, hal. 62, Dar al-Fikr, Libanon. Târikh Ya’qubi, 124/125-2. Thabari, Târikh al-Umam wa al-Muluk, jil. 2, hal. 443, Istiqamat, Kairo. Musnad Ahmad, jil. 3, hal. 165, Dar al-Shadir.]

Disebutkan dalam kitab sejarah bahwa Baginda Ali As dalam menjawab mereka yang berkumpul di rumahnya dan permintaan mereka untuk memberikan baiat kepadanya, “Besok pagi datanglah (kemari) dan cukurlah rambut kalian!” Akan tetapi keesokan harinya hanya tiga orang yang datang.[ Ma’âlim al-Madrasatain, Allamah ‘Askari, jil. 1, hal. 162.]

Sesungguhnya Imam Ali mengambil suri tauladan dari para nabi.

Yang pertama, adalah Nabi Nuh as yang ketika mengadu kepada Tuhannya :“Maka dia (Nuh) mengadu kepada Tuhannya: “Bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu menangkanlah.” (QS Al-Qamar [54] ayat 10)

Dan yang kedua, adalah Nabi Ibrahim al-Khalil as yang berkata, “Dan Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu seru selain Allah,” (QS Maryam [19] ayat 48). Ihwal Nabi Ibrahim, al-Qur’an memberitakan bahwa Nabi Ibrahim menjauhkan diri dari penyembah berhala, “Maka ketika Ibrahim sudah menjauhkan diri dari mereka” (Qs. Maryam [19]:49)

Dan yang ketiga adalah Nabi Luth as yang mengatakan, “Seandainya aku ada mempunyai kekuatan atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat.” (QS Hud [11] ayat 80)

Dan yang keempat, adalah Nabi Yusuf as yang mengatakan : “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.” (QS Yusuf [12] ayat 33)

Dan yang kelima, Nabi Musa as yang berkata, “Lalu aku lari meninggalkan kamu ketika aku takut kepadamu,” (QS Al-Syu’ara [26] ayat 21)

Dan yang keenam, adalah Nabi Harun as yang berkata kepada Nabi Musa as, “Sesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah dan hampir-hampir mereka membunuhku,” (QS Al-A’raf [7] ayat 150). Imam Ali as. mengalami kondisi serupa dengan parnah dialami oleh Nabi Harun as. ketika kaumnya membangkang dengan kesesatan akibat provokasi Samiri. Sebagaimana Nabi Harun As tatkala melihat kaum Musa berpaling menjadi penyembah sapi meski beliau adalah seorang elokuen (fasih) dan merupakan washi (penyampai wasiat) Nabi Musa As akan tetapi beliau tidak melakukan apa pun kecuali menyampaikan kebenaran dan peringatan kepada mereka

Dan yang ketujuh terkait dengan tindakan para pemuda Ashabul Kahf yang menarik diri dari kaum zalim, “(Kami berkata kepada mereka), “Apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Tuhanmu akan melimpahkan rahmat-Nya kepadamu dan menghamparkan ketenangan bagimu dalam urusan kamu ini.” (Qs. Al-Kahf [18]:16) Apakah benar kita memandang mereka dalam proses toleransi dan menahan diri ini atau takut atau pengkhianat? Padahal dalam kondisi seperti ini jalan toleransi dan menahan diri merupakan jalan terbaik.

Al-Qur’an menandaskan tuturan Harun sebagai jawaban dari protes keras Nabi Musa As atas sikapnya yang berdiam diri tidak mencegah penyembahan sapi Bani Israil, “Harun menjawab, “Hai putra ibuku, janganlah kamu pegang janggutku dan jangan (pula) kepalaku; sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata (kepadaku), “Kamu telah memecah antara Bani Isra’il dan kamu tidak memelihara amanahku.” (Qs. Thaha [20]:94)

Adapun yang ke delapan  adalah Rasulullah Saw yang ketika melarikan diri dari kaum Musyrik Quraisy menuju sebuah gua (Tsur). Tindakan yang dilakukan Ali mencontoh Rasulullah Saw sendiri, dimana lantaran kurangnya pendukung dan untuk menjaga pendukung yang sedikit itu dan menjaga kemaslahatan Islam, terpaksa menarik diri dari kaumnya dan berhijrah ke Madinah hingga beliau mendapatkan banyak pengikut yang berujung pada peristiwa Fathu Makkah

Atau pada masa lainnya, Rasulullah Saw terpaksa memilih berdamai dengan orang-orang Musyrik. Apakah tindakan seperti ini dapat disebut sebagai tindakan pengecut bahwa apabila Rasulullah Saw memandang dirinya sebagai Rasululullah lantas mengapa berdamai dengan orang-orang musyrik?

Ali mengikuti jejak langkah Rasulullah Saw yang membiarkan kaum musyrikin dan tidak memerangi mereka di Makkah selama 13 tahun setelah kenabiannya. Dan itu beliau lakukan dikarenakan jumlah pendukung beliau masih teramat sedikit. Begitu pulalah yang dilakukan Imam Ali as.

Karena itu, Baginda Ali As, meski beliau adalah khalifah Rasulullah Saw, lebih memilih bersabar dan menahan diri. Hal itu didorong oleh keinginan yang luhur untuk menjaga kemaslahatan masyarakat Islam. Karena beliau dengan baik memahami bahwa bukan tempatnya untuk angkat senjata, menghunus pedang dan memamerkan keberanian dan adu otot di jalan Allah.

Dan apabila kita mengikuti Al-Quran yang mulia, kita akan menemukan 2 macam argumen yang sangat kuat. Yang pertama adalah al-Quran yang menyuruh beliau bersabar atas gangguan kaum musyrikin :

“Bersabarlah dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan.”(QS Al-Nahl [16] ayat 126)

“Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik.” (QS Al-Muzzamil [73] ayat 10)

“Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar.” (QS Al-Ahqaaf [46] ayat 35)

“Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu bangun berdiri.” (QS 52 : 48)

Dan satu macam lagi al-Quran yang mulia menyuruh beliau berperang :“Janganlah kamu lemah dan minta damai padahal kamulah yang di atas.” (QS Muhammad [47] ayat 35)

“Perangilah mereka, niscaya Allah akan menghancurkan mereka dengan tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman.” (QS Al-Taubah [9] ayat 14)

“Apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang ingkar maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka.” (QS Muhammad [47] ayat 4)

Allah telah menyampaikan kepada Nabi-Nya ayat-ayat agar beliau bersabar ketika jumlah sahabat-sahabat beliau belum memadai, namun Dia juga memerintahkan Nabi-Nya menggunakan kekerasan ketika Nabi Saw telah memiliki kekuatan yang seimbang dengan musuh dan menghancurkan para mufsidin sampai ke akar-akarnya. Dan dengan hujjah-hujjah ini, jelaslah bahwa sesungguhnya sabar itu baik dalam beberapa keadaan tertentu, tapi tidak seluruhnya.

kalau Imamah bukan hal penting dan bukan Ushuluddin, mengapakah keharusan mengenal imam dianggap begitu penting sehingga yang tidak mengenal imam digolongkan mati jahiliyyah.

Bersabda Rasulullahshallallahu ‘alayhi wa sallam:

وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

Barangsiapa yang mati dan dilehernya tidak ada bai’at maka dia mati dalam keadaan jahiliyah. [HR. Muslim No. 1851, Ath Thabarani dalam Al Kabir No. 769, dari Muawiyah, Alauddin Al Muttaqi Al Hindi dalam Kanzul ‘Ummal No. 14810, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 1638

Apakah Hakikat Bai’at itu?

Bai’at adalah satu jenis perjanjian dan kontrak antara pemberi bai’at dari satu sisi, dan penerima bai’at dari sisi lain. Muatan bai’at ini adalah ketaatan, mengikuti, menolong, dan membela orang yang dibai’at. Dan sesuai dengan syarat yang disebutkan dalam bai’at, bai’at memiliki tingkatan.Contohnya Bai’at al ‘Aqabah Al Ulaa berbeda isi dengan Bai’at Al Ridhwan. Begitu pun dengan bentuk bai’at terhadap jama’ah minal jama’ah muslimin

.

Berdasarkan ayat Al-Qur’an dan hadis, bai’at merupakan sejenis kontrak yang mengikat (‘aqd lâzim) dari sisi pemberi bai’at. Ia wajib mengamalkan apa yang telah diikrarkannya dalam bai’at tersebut. Dengan demikian, hal ini termasuk bagian dari kaidah umum; “Aufû bil ‘Uqûd (Penuhilah akad-akad itu).” (QS.Al-Maidah [5]: 1)

Oleh karena itu, orang yang memberikan bai’at tidak berhak untuk meninggal kan bai’at-nya. Akan tetapi, apabila menurut penerima bai’at tidak baik, ia dapat mencabut dan meninggalkan bai’at tersebut. Ketika itulah pemberi bai’at baru terbebas dari keharusan menaati janji yang diikrarkannya

Maka, dalam masalah bai’at, pemberi bai’at tidak dapat untuk meninggalkan bai’at-nya

Apakah Bai’at Memiliki Peran dalam Legitimasi Kepemimpinan Seorang Nabi atau Imam?

Nabi saw. dan para imam maksum a.s. yang ditunjuk oleh Allah swt. secara langsung tidak pernah memerlukan bai’at. Maksudnya, ketaatan kepada Nabi saw. dan para imam maksum a.s. dan penunjukkan dari sisi Tuhan bersifat niscaya dan mesti, baik atas mereka yang berbai’at atau mereka yang tidak.

Dengan kata lain, kedudukan kenabian dan imâmah adalah wajib untuk ditaati. Sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an, “Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amr di antara Kamu.” (QS. An-Nisa’ [4]: 59)

Dari sini mucsul satu pertanyaan, yaitu mengapa Nabi saw. berulang kali mengambil bai’at dari para sahabat dan orang-orang yang baru memeluk Islam?, sebagaimana tersebut di dalam Al-Qur’an secara jelas: bai’at Ridhwân dalam surat Al-Fath [48], ayat 18, dan bai’at dengan penduduk Makkah dalam surat Al-Mumtahanah [60].

Untuk menjawab pertanyaan ini, perlu kita tekankan bahwa seluruh bai’at itu merupakan satu jenis pengukuhan atas loyalitas yang diambil pada kondisi-kondisi tertentu, dan digunakan khususnya dalam menghadapi keadaan kritis. Hal ini dilakukan supaya di bawah siluetnya, bai’at ini dapat menghembuskan berkahnya kepada setiap orang.

Akan tetapi, bai’at yang dilakukan oleh para khalifah adalah sebagai penerimaan kedudukan khilafah (pemerintahan). Betapapun demikian, kami meyakini bahwa khilafah Nabi saw. bukan sebuah kedudukan yang diperoleh melalui bai’at, melainkan semata-mata dari sisi Allah swt. dan terwujud melalui persona Nabi saw. dan para imam maksum a.s.

Dalam hadis sahih ditegaskan bahwa barang siapa mati dalam keadaan tidak mengenal Imam zamannya maka ia mati jahiliyah. Maka kalau Imamah bukan hal penting dan termasuk Ushuluddin mengapakah keharusan mengenal imam dianggap begitu penting sehingga yang tidak mengenal imam digolongkan mati jahiliyyah.

Nabi saw. bersabda :

Siapa mati yang sedang ia tidak mengenal imam zamannya maka ia mati dalam keadaan jahiliyyah

Hadis di atas dan hadis-hadis mengandung makna serupa seperti yang disebut Syeikh Al Mudzaffar dapat Anda jumpai dalam banyak kitab-kitab mu’tabarah para ulama Ahlusunnah, di antaranya:

Shahih Bukhari, bab al Fitan,5/13.

Shahih Muslim,6/21-22 hadis1849.

Musnad Ahmad,2/83, 3/446 dan 4/96.

Shahih Ibn Hibban,6/49 hadis 4554.

Al Mu’jam Al Kabir; Al Thabarani,10/350 hadis 10687.

Mustadrak; Al Hakim,1/77.

Hilyatul Awliyaa’,3/224.

Jaami’ Al Ushuul; Ibn Al Atsiir Al Jazari,4/7.

Musnad Ath Thayalisi:259.

Al Kuna wa Al Alqaab,2/3.

Sunan Al Baihaqi,8/156 dan 157.

Al Mabshuuth; Al Sarkhasi,1/113.

Syarah Nahj Al Balaghah; Ibn Abi Al Hadid,9/155.

Syarah Muslim; Al Nawawi,12/44.

Talkhis Al Mustadrak; Al Dzahabi,1/77 dan177.

Tafsir Ibn Katsir,1/517.

Syarh Al Maqashid,2/275.

Majma’ al Zawaid,5/218,219,223 dan312.

Kanz Al Ummal,3/200.

Tafsiir Al Wushuul,2/39.

dll.

Hadis di atas telah disepakati kesahihannya, baik oleh Ahlusunnah wal Jama’ah maupun Syi’ah.

Imamah termasuk ushuluddin, “Di antaranya adalah riwayat-riwayat yang banyak yang menunjukkan bahwa barang siapa mati tanpa  Imam maka ia mati jahiliyah dan lain sebagainya, maka berarti ia termasuk ushuluddin, seperti riwayat Muslim  dalam bab Al Amr bi Luzuumi Al Jama’ah, pada kitab Al Imaarah dari Ibnu Umar, “Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda:

Barang siapa melepas tangan dari keta’atan ia berjumpa dengan Allah pada hari kiamat tanpa  memiliki bukti, dan barang siapa mati sedang dilehernya tidak ada ikatan bai’at maka ia mati jahiliyah.

Para pengikut ajaran Syi’ah Itsna Asyariyyah mendasarkan hukum mereka (Syariah) pada al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Perbedaan antara hukum syariah Sunni dan Syiah terletak pada keyakinan bahwa Nabi Muhammad memberikan Ali ra. sebagai pemimpin pertama setelah Nabi Muhammad saw. Lebih lanjut, menurut pengikut Syi’ah Itsna Asyariyyah, bahwa Imam atau pemimpin umat tidaklah dapat dipilih oleh manusia secara demokrasi (pemilu).

Imam adalah jabatan langsung dari Allah swt. Sedangkan pengikut Sunni percaya bahwa pemimpin umat dipilih dengan pemilu dan yang memiliki suara terbanyaklah yang menjadi pemimpin (khalifah). Perbedaan inilah yang membuat Syi’ah dan Sunni menjadi terpecah.

Imam Ali merasa dirinya yang paling berhak tetapi orang-orang malah membaiat Abu Bakar. Hal ini telah diisyaratkan oleh Rasulullah SAW

Telah menceritakan kepada kami Abu Hafsh Umar bin Ahmad Al Jumahi di Makkah yang berkata telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdul Aziz yang berkata telah menceritakan kepada kami Amru bin ‘Aun yang berkata telah menceritakan kepada kami Husyaim dari Ismail bin Salim dari Abi Idris Al Awdi dari Ali Radhiyallahu ‘anhu yang berkata “Diantara yang dijanjikan Nabi SAW kepadaku bahwa Umat akan mengkhianatiku sepeninggal Beliau”. [Al Mustadrak 3/150 no 4676 dishahihkan oleh Al Hakim dan Adz Dzahabi]

Selama masa 6 bulan itu ternyata pemerintahan Abu Bakar mengalami berbagai masalah seperti adanya “kaum yang murtad” dan adanya Nabi palsu Musailamah Al Kadzdzab beserta pengikutnya. Berbagai masalah ini dapat dimanfaatkan oleh orang-orang munafik untuk memecah belah umat. Merekapun juga melihat tindakan memisahkan diri yang dilakukan Imam Ali dan hal ini bisa saja dimanfaatkan oleh mereka untuk menyebarkan fitnah perpecahan.

Oleh karena itulah setelah 6 bulan Imam Ali memutuskan memberikan baiat untuk menutup celah yang akan dimanfaatkan oleh kaum munafik dan baiat ini adalah demi keutuhan umat islam. Inilah yang dimaksud Imam Ali bahwa ia mengalami penderitaan dan kesulitan sepeninggal Nabi SAW [hal ini telah diberitakan oleh Nabi SAW kepada Imam Ali]. Di satu sisi Beliaulah yang paling berhak tetapi beliau tetap memberikan baiat demi keutuhan umat islam.

Telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin Sahl seorang faqih dari Bukhara yang berkata telah menceritakan kepada kami Sahl bin Mutawwakil yang berkata telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yunus yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudhail dari Abi Hayyan At Taimi dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas RA yang berkata Nabi SAW berkata kepada Ali “Sesungguhnya kamu akan mengalami kesukaran [bersusah payah] sepeninggalKu”. Ali bertanya “apakah dalam keselamatan agamaku?”. Nabi SAW menjawab “dalam keselamatan agamamu” [Mustadrak Ash Shahihain 3/151 no 4677 dishahihkan oleh Al Hakim dan Adz Dzahabi]

Pernyataan Imam Ali kalau Beliau adalah yang paling berhak sepeninggal Nabi SAW jelas berdasarkan apa yang telah dikatakan oleh Nabi SAW sendiri, diantaranya

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya bin Hamad dari Abi ‘Awanah dari Yahya bin Sulaim Abi Balj dari ‘Amr bin Maimun dari Ibnu Abbas yang berkata Rasulullah SAW bersabda kepada Ali “KedudukanMu di sisiKu sama seperti kedudukan Harun di sisi Musa hanya saja Engkau bukan seorang Nabi. Sesungguhnya tidak sepatutnya Aku pergi kecuali Engkau sebagai KhalifahKu untuk setiap mukmin sepeninggalKu” [As Sunnah Ibnu Abi Ashim no 1188 dengan sanad yang shahih]

Sepeninggal Abu Bakar, Umar ditunjuk Abu Bakar untuk menggantikannya dan orang-orangpun membaiat Umar. Disini Imam Ali melihat betapa orang-orang menerima keputusan Abu Bakar dan membaiat Umar padahal Imam Ali merasa bahwa Beliau adalah yang paling berhak. Hal inilah yang dinyatakan oleh Beliau sebagai penderitaan dan kesulitan tetapi beliau tetap bersabar dan ikut memberikan baiat pula kepada Umar agar tidak menimbulkan perpecahan di kalangan kaum muslimin.

Sepeninggal Umar, beliau memerintahkan pemilihan khalifah melalui Majelis syura yang ia bentuk. Terdapat berbagai riwayat seputar masalah ini yang terkadang “agak kontroversi” tetapi singkat cerita majelis tersebut mengangkat Utsman sebagai khalifah. Sekali lagi Imam Ali melihat orang-orang memilih Utsman padahal Imam Ali merasa yang paling berhak. Hal inilah yang dinyatakan Imam Ali sebagai penderitaan dan kesulitan yang beliau alami. Tidak ada satupun dikalangan umat yang mengalami penderitaan dan kesulitan seperti itu. Beliau yang berhak tetapi beliau tetap bersabar dan menerima. Tentu saja akhlak seperti ini hanya dimiliki orang-orang khusus

.

Para sahabat dan tabi’in ada yang tidak berbai’at

Imam Ath Thabari menceritakan, bahwa Imam Ali radhiyallah ‘anhu berkata pada Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallah ‘anhu: “Berbai’atlah Engkau!” Sa’ad menjawab: “Aku tidak akan berbai’at sebelum orang-orang semua berbai’at. Tapi demi Allah tidak ada persoalan apa-apa bagiku.” Mendengar itu Ali berkata: “Biarkanlah dia.”

Lalu Ali menemui Ibnu Umar  dan berkata yang sama, maka jawab Ibnu Umarradhiyallah ‘anhuma: “Aku tidak akan berbai’at sebelum orang-orang semua berbai’at.” Jawab Ali: “Berilah aku jaminan.” Jawab Ibnu Umar : “Aku tidak punya orang yang mampu memberi jaminan.” Lalu Al Asytar berkata: “Biar kupenggal lehernya!” Jawab Ali : “Akulah jaminannya, biarkan dia.” [Imam Ibnu Hazm, Al Fashl fil Milal wal Ahwa’ An Nihal, 4/103]

Imam Al Waqidi mencatat ada 7 orang kibarus shahabah yang tidak memberikan bai’at pada Khalifah Ali radhiyallah ‘anhu  yaitu: Sa’ad bin Abi Waqqash, Abdullah bin Umar, Shuhaib bin Sinan, Zaid bin Tsabbit, Muhammad bin Maslamah, Salamah bin Aqwa’ dan Usamah bin Zaid  radhiyallah ‘anhum. [Tarikh Ar Rusul, 4/429]


بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

ya_ali

ada hadis Dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Rasulullah bersabda:
وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً
“Barangsiapa yang mati dan dilehernya tidak ada bai’at maka dia mati dalam keadaan jahiliyah.” (HR. Muslim No. 1851, Ath Thabarani dalam Al Kabir No. 769, dari Muawiyah, Alauddin Al Muttaqi Al Hindi dalam Kanzul ‘Ummal No. 14810, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 16389)
.
Maka, kematian orang yang tidak berbai’at kepada khalifah –jika dia ada- bermakna:
-    Matinya seperti orang yang mati pada zaman jahiliyah
–    Bukan dia-nya yang jahiliyah dan kafir
–    Dihitung sebagai orang yang bermaksiat
.
Para sahabat dan tabi’in ada yang tidak berbai’at
Ada pun tidak berbai’at kepada khalifah al ‘uzhma, telah terjadi pada masa-masa awal Islam. Imam Ath Thabari menceritakan, bahwa Ali Radhiallah ‘Anhu berkata pada Sa’ad bin Abi Waqqash Radhiallahu ‘Anhu: “Berbai’atlah Engkau!” Sa’ad menjawab: “Aku tidak akan berbai’at sebelum orang-orang semua berbai’at. Tapi demi Allah tidak ada persoalan apa-apa bagiku.” Mendengar itu Ali berkata: “Biarkanlah dia.”
.
Lalu Ali menemui Ibnu Umar  dan berkata yang sama, maka jawab Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma: “Aku tidak akan berbai’at sebelum orang-orang semua berbai’at.” Jawab Ali: “Berilah aku jaminan.” Jawab Ibnu Umar : “Aku tidak punya orang yang mampu memberi jaminan.” Lalu Al Asytar berkata: “Biar kupenggal lehernya!” Jawab Ali : “Akulah jaminannya, biarkan dia.” (Imam Ibnu Hazm, Al Fashl fil Milal wal Ahwa’ An Nihal, 4/103)
.
Imam Al Waqidi mencatat ada 7 orang kibarus shahabah   yang tidak memberikan bai’at pada Khalifah Ali Radhiallahu ‘Anhu  yaitu: Sa’ad bin Abi Waqqash, AbdullaH bin Umar, Shuhaib bin Sinan, Zaid bin Tsabbit, Muhammad bin Maslamah, Salamah bin Aqwa’ dan Usamah bin Zaid  Radhiallahu ‘Anhum. (Tarikh Ar Rusul, 4/429)
.

Satu persoalan utama yang sering terlepas pandang oleh umat Islam adalah sejak dari masa dini Islam lagi adalah kasus penting, perlunya keberadaan ‘Penunjuk Jalan’ atau Imam yang mana telah disabdakan oleh Rasul Junjungan saaw:

Ibn Abu Asim di dalam kitab al-Sunnah, halaman 489 meriwayatkan hadis ini:

من مات وليس عليه إمام مات ميتة جاهلية

Barangsiapa yang mati tanpa memiliki Imam, maka matinya adalah mati Jahiliyyah.

al-Albani di dalam komentarnya tentang hadis ini, menulis:

إسناده حسن ورجاله ثقات

Isnadnya hasan dan semua perawinya Tsiqah.

Ibn Hibban juga meriwayatkan di dalam Sahihnya, jilid 7 hlm 49:

من مات بغير إمام مات ميتة جاهلية

Barangsiapa mati tanpa Imam, matinya adalah mati Jahiliyyah.

Imam Muslim meriwayatkan di dalam sahihnya, kitab al Imarah:

“Barangsiapa mati sedangkan di lehernya tak ada bai’ah (kepada Khalifah) maka dia mati dalam keadaan mati jahiliyah.”

Maka, hadis ini adalah hadis yang sahih dan dipersetujui oleh semua kelompok Islam.

Walaupun terdapat perbedaan pandangan tentang maksudnya, kesahihan dan terkenalnya hadis ini diperakui sedemikian rupa hingga para pemimpin yang zalim pun gagal dalam menafikannya, makanya mereka mencari ulah dalam memutarbelitkan maknanya.

Allamah Amini berkata setelah mengutip hadis ini dari sumber-sumber Sunni yang sahih: Adalah sebuah kenyataan abadi bahawa sumber-sumber Sunni yang sahih telah membuktikannya dan umat tidak memiliki pilihan kecuali tunduk patuh kepadanya, dan keislaman seseorang itu tidak menjadi sempurna kecuali dia menerima konsep dan kandungan hadis ini

.

Konsepnya menjelaskan tentang kesudahan yang dahsyat bagi mereka yang matinya tanpa Imam, dan orang seperti itu adalah jauh dari keselamatan dan rahmat. Kematian zaman Jahiliyyah adalah sebuah kematian yang mengerikan, iaitu kematian atheisme dan tanpa iman.

Bagi menjelaskan hadis ini, maksud kata Jahiliyyah haruslah terlebih dahulu difahami.

Dari sudut pandang Al Quran dan hadis, zaman kenabian Rasul saaw adalah zaman ilmu, manakala zaman sebelum misi kenabian adalah zaman Jahiliyyah, iaitu, sebelum misi kerasulan Baginda saaw, umat tidak mengetahui cara dan jalan untuk mengenali realiti-realiti kewujudan disebabkan oleh penyimpangan pada agama-agama yang diwahyukan dan apa yang jelas pada masyarakat saat itu atas nama agama adalah tidak lebih dari tahyul dan ilusi

.

Bahkan agama-agama yang sudah diselewengkan dan penuh dengan kepercayaan-kepercayaan ilusi ini, telah dijadikan alat oleh segelintir pihak yang kaya dan berkuasa saat itu untuk menguasai dan menekan masyarakat awam, sebuah realiti yang dirakam kemas dalam sejarah.

Misi suci Rasul saaw adalah permulaan bagi era ilmu pengetahuan. Misi dasar dan utama Rasul saaw adalah memerangi kepercayaan tahyul dan penyimpangan dan menjelaskan pada masyarakat tentang kebenaran.

MENGENALI IMAM YANG MANA?

Dengan sedikit pertimbangan terhadap kandungan hadis yang kita bicarakan ini dan atas apa yang kita bicarakan di atas, langsung tidak membuka ruang keraguan buat kita untuk mencari jawaban pada persoalan yang dikemukakan: Imamah Imam yang manakah yang menjamin keberlangsungan Islam yang murni, yang jika diabaikan oleh umat, bisa menjerumuskan mereka pada status Jahiliyyah?

Mungkinkah yang dimaksudkan oleh hadis suci ini adalah mentaati siapapun yang berkuasa untuk mengurus umat yang kita diwajibkan taat dan patuh, jika mana kita ingkar, akan mengakibatkan kita mati Jahiliyyah, tanpa peduli samada pemimpin itu bejat dan menyeleweng, atau sebagaimana yang disebut oleh Al Quran:

“Imam-imam yang mengajak orang ke neraka”. (QS. al-Qashash: 41)

Menjadi bukti bahawa semua pemimpin yang menyeleweng sepanjang sejarah Islam telah menggunakan hadis ini guna melegalisasikan kepemimpinan dan mengukuhkan penguasaan mereka ke atas umat. Bahkan ulama-ulama yang biasa mendatangi istana para Raja dan para pendakwah di istana-istana menterjemahkan hadis Nabi saaw ini lalu mengalungkannya ke leher para pemerintah yang menyeleweng ini. Adalah jelas, perbuatan mereka itu bukanlah disebabkan oleh salahfaham mereka tentang maksud sebenar akan hadis ini, sebaliknya ia adalah mainan kata semata-mata.

Adalah sukar untuk kita percaya, sebagaimana yang dijelaskan di dalam Syarah Nahjul Balaghah oleh Ibn Abi al Hadid, bahawa Abdullah ibn Umar enggan membaiah Amirul Mukminin Ali bin Abi Talib as disebabkan oleh kesalahfahaman dan tidak memiliki pengetahuan mendalam, namun berpegang teguh pada hadis “Barangsiapa mati tanpa Imam…” yang dia riwayatkan sendiri lalu, tanpa membuang waktu telah pergi bertemu dengan Hajjaj bin Yusuf pada malam hari untuk memberikan bai’ahnya kepada Abdul Malik bin Marwan, sang Khalifah…kerana dia tidak mahu melalui malamnya tanpa adanya Imam!

Namun, apakah orang yang zalim dan kejam seperti para pemimpin dari Bani Umayyah dan Bani Abbassiyah layak untuk digelar Imam?

Allah SWT berfirman:

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: ” (Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim”.
QS. al-Baqarah (2) : 124

Dalam ayat yang kami bawakan ini, jelas, Imam tidak bisa disandang oleh mereka yang zalim, itu janji Allah.

Imamah adalah satu janji Allah, dikurniakanNya hanya kepada orang yang adil, zuhud dan suci maksum. Andai para Imam tidak memiliki ciri ciri kemaksuman ini, pastilah mereka terdedah pada kesalahan dan akan menjerumuskan umat pada kesalahan juga. Ini bertentangan dengan firman Allah yang berikut:

a) Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolongpun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.
QS. Hud (11) : 113

b) Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antara mereka.
QS. al-Insan (76) : 24

Dalam kedua dua ayat di atas, Allah telah memerintahkan kita agar jangan cenderung pada orang yang zalim dan jangan mengikuti orang yang berdosa. Maka, tanggapan kelompok jumhur bahawa para Khalifah wajib ditaati tanpa bantahan adalah bertentangan dengan perintah Allah dalam ayat ayat di atas.

Andaikata Imam bisa melakukan kesalahan, umat sendiri akan turut melakukan kesalahan kerana mengikuti Imam yang salah. Hal seperti ini tidak bisa diterima memandangkan kepatuhan dalam dosa adalah suatu dosa, dilarang dan bertentangan dengan syariah. Tambahan pula, Imam akan dipatuhi dan diingkari pada masa yang sama dan ini adalah mustahil.

Kepercayaan kelompok Jumhur bahawa umatlah yang memilih pemimpin atau Imam juga adalah bertentangan dengan firman Allah berikut:

a) Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilih-Nya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia).
QS. al-Qashash (28) : 68

b) Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah.
QS. al-Anbiya (21) : 73

c) Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.
QS. as-Sajdah (32) : 24

Ayat ayat di atas dengan jelas membuktikan bahawa para pemimpin atau Imam adalah dipilih oleh Allah sendiri, dan ini berlawanan dengan kepercayaan jumhur.

Lalu siapakah para Imam yang Allah pilih ini yang jika kita tidak mengenalnya, maka mati kita adalah matinya jahiliyah?

Mari kita telusuri hadis suci Nabi saaw untuk mendapatkan gambaran jelas tentang hal ini.

الْأَئِمَّةُ مِنْ قُرَيْشٍ .
“ Para imam itu dari suku Quraisy.”

Hadits di atas (Al-a`immatu min Quraisy) diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dalam Al-Musnad (11859) dari Anas bin Malik dan Abu Barzah Al-Aslami (18941); An-Nasa`i dalam As-Sunan Al-Kubra (5942); Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf dari Anas (54/8) dan Ali bin Abi Thalib (54/17); Abdurrazaq dalam Al-Mushannaf dari Ali (19903); Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (7061) dari Ali; Ath-Thabarani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir dari Anas (724) dan dalam Ash-Shaghir dari Ali (426); Al-Baihaqi dalam Ma’rifatu As-Sunan wa Al-Atsar dari Anas (1595); Ath-Thayalisi dalam Al-Musnad (957) dari Abu Barzah dan Anas (2325); Al-Khallal dalam As-Sunnah (34) dari Salman Al-Farisi dan Ali (64); Ibnu Abi Ashim dalam As-Sunnah (929) dari Anas dan Abu Barzah (934); Ar-Ruyani dalam Al-Musnad (746, 750) dari Abu Barzah; Abu Ya’la Al-Maushili dalam Al-Mu’jam (155); Ibnul A’rabi dalam Al-Mu’jam (2259) dari Ali; Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq (4635) dari Anas; dan Ibnu Adi dalam Al-Kamil (biografi Ibrahim bin Athiyah Al-Wasithi) dari Anas.

Tentang sanadnya, Imam Al-Haitsami berkata, “Diriwayatkan Ahmad, Abu Ya’la, Ath-Thabarani dalam Al-Awsath, dan Al-Bazzar ( Dalam riwayat Al-Bazzar dengan lafal, “Al-Mulku fi Quraisy.”)

Para perawi Ahmad adalah orang-orang tsiqah (terpercaya)” (Majma’ Az- Zawa`id (8978).

Al-Hafizh Al-Iraqi berkata, “Diriwayatkan An-Nasa`i dan Al-Hakim dari hadits Anas dengan sanad shahih” (Takhrij Ahadits Al-Ihya` (3711).

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata, “Diriwayatkan An-Nasa`i dari Anas, Ath-Thabarani dalam Ad-Du’a`, dan Al-Bazzar serta Al-Baihaqi dengan beberapa jalur periwayatan dari Anas. Saya katakan, sungguh saya telah mengumpulkan jalur-jalur riwayat hadits ini dalam satu juz tersendiri dimana ia diriwayatkan oleh hampir empat puluh orang sahabat. … Dan sanadnya hasan” (At-Talkhish Al-Habir (1987).

Syaikh Syu’aib Al-Arna`uth berkata, “Hadits shahih dengan berbagai jalur periwayatan dan hadits-hadits lain yang menguatkannya” (Musnad Ash-Shahabah fi Al-Kutub At-Tis’ah (527).

Syaikh Al-Albani berkata, “Shahih, diriwayatkan dari sejumlah sahabat, di antaranya yaitu: Anas bin Malik, Ali bin Abi Thalib, dan Abu Barzah Al-Aslami” (Irwa` Al-Ghalil (520). Al-Albani juga menshahihkan hadits ini dalam Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir (4523 dan 4524) dan dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib (2188 dan 2259).

Secara ringkas, demikian para ulama lain yang menshahihkan hadits ini; Imam Al-Munawi ( Faidh Al-Qadir (3108).

Syaikh Muhammad Ja’far Al-Kattani ( Nuzhum Al-Mutanatsir min Al-Hadits Al-Mutawatir (175).

Al-Ajluni (Kasyfu Al-Khafa` (850), Al-Burhanfuri (Kanzu Al-‘Ummal (1649, 14792, 23800) dan lain lain

Maka dari hadis ini kita tahu bahawa para Imam itu adalah dari Quraisy. Namun, berapa ramaikah mereka ini? Hadis berikut menjelaskannya

Jabir bin Samurah berkata: “Aku mendengar Rasulullah saaw bersabda: “Islam akan senantiasa kuat di bawah 12 Khalifah”. Baginda kemudian mengucapkan kata kata yang tidak aku fahami, lalu aku bertanya bapaku apakah yang dikatakan oleh Rasulullah saaw. Beliau menjawab: “Semuanya dari Quraisy” (Muslim. Sahih, jilid VI, hlm 3, Bukhari, Sahih, jilid VIII, hlm 105, 128)

Apakah semua yang berstatus Quraisy layak menyandang gelaran Imam atau Khalifaf ini? Hadis berikut pula merincikan siapakah para Imam atau Khalifah yang berjumlah 12 orang itu

Nabi saaw bersabda: “Setelahku akan ada 12 Khalifah, semuanya dari Bani Hasyim” (Qunduzi Hanafi, Yanabi’ al Mawaddah, jilid III, hlm 104)

Mungkin ada di kalangan yang berpenyakit dalam hati akan menyanggah hadis ini dan mengatakan ianya tidak sahih. Jika demikian, kami persilakan anda teruskan membaca hadis berikutnya pula

Dari Zaid bin Tsabit RA yang berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya Aku telah meninggalkan di tengah-tengah kalian dua Khalifah yaitu Kitab Allah yang merupakan Tali yang terbentang antara bumi dan langit, serta KeturunanKu Ahlul BaitKu. Keduanya tidak akan berpisah sampai menemuiKu di Telaga Surga Al Haudh. (Hadis Ini diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal dalam Musnad Ahmad jilid 5 hal 182, Syaikh Syuaib Al Arnauth dalam Takhrij Musnad Ahmad menyatakan bahwa hadis ini shahih. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Kabir jilid 5 hal 154, Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid jilid 1 hal 170 berkata “para perawi hadis ini tsiqah”. Hadis ini juga disebutkan oleh As Suyuthi dalam Jami’ Ash Shaghir hadis no 2631 dan beliau menyatakan hadis tersebut Shahih.)

Maka, jika kita menyusun kembali semua premis premis yang dibawakan di atas, kita bisa menyimpulkan seperti berikut:

1. Sepeninggalan Rasul saaw, ada pengganti beliau yang dipanggil Imam/ khalifah

2. Imam/Khalifah ini berjumlah 12 orang

3. Kesemua mereka adalah dari Quraisy

4. Kesemua mereka adalah dari Bani Hasyim

5. Kesemua mereka adalah Ahlul Bayt Nabi as

Maka dengan ini, siapapun selain dari Ahlul Bayt as yang mendakwa diri mereka sebagai Khalifah atau Imam umat, dakwaan mereka tertolak. Hujjah yang kami bawakan di atas tidak membuka ruang walau sekecil apapun untuk memberikan jabatan Khalifah/ Imamah pada selain Ahlul Bayt as

Masalah Kekhalifahan adalah masalah yang sangat penting dalam Islam. Masalah ini adalah dasar penting dalam penerapan kehidupan keislaman, setidaknya begitu yang saya tahu :mrgreen: . Kata Khalifah sendiri menyiratkan makna yang beragam, bisa sesuatu dimana yang lain tunduk kepadanya, sesuatu yang menjadi panutan, sesuatu yang layak diikuti, sesuatu yang menjadi pemimpin, sesuatu yang memiliki kekuasaan dan mungkin masih ada banyak lagi ;)

Saat Sang Rasulullah SAW yang mulia masih hidup maka tidak ada alasan untuk Pribadi Selain Beliau SAW untuk menjadi khalifah bagi umat Islam. Hal ini cukup jelas kiranya karena sebagai sang Utusan Tuhan maka Sang Rasul SAW lebih layak menjadi seorang Khalifah. Sang Rasul SAW adalah Pribadi yang Mulia, Pribadi yang selalu dalam kebenaran, dan Pribadi yang selalu dalam keadilan. Semua ini sudah jelas merupakan konsekuensi dasar yang logis bahwa Sang Rasulullah SAW adalah Khalifah bagi umat Islam.

Lantas bagaimana kiranya jika Sang Rasul SAW wafat? siapakah Sang Khalifah pengganti Beliau SAW? Atau justru kekhalifahan itu sendiri menjadi tidak penting. Pembicaraan ini bisa sangat panjang dan bagi sebagian orang akan sangat menjemukan. Dengan asumsi bahwa kekhalifahan akan terus ada maka Sang khalifah setelah Rasulullah SAW bisa berupa

* Khalifah yang ditunjuk oleh Rasulullah SAW
* Khalifah yang diangkat oleh Umat Islam

Kedua Premis di atas masih mungkin terjadi dan tulisan ini belum akan membahas secara rasional premis mana yang benar atau lebih benar. Tulisan kali ini hanya akan menunjukkan adanya suatu riwayat dimana Sang Rasulullah SAW pernah menyatakan bahwa Ahlul Bait adalah Khalifah bagi Umat Islam. Bagaimana sikap orang terhadap riwayat ini maka itu jelas bukan urusan penulis :mrgreen:

.

Dari Zaid bin Tsabit RA yang berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya Aku telah meninggalkan di tengah-tengah kalian dua Khalifah yaitu Kitab Allah yang merupakan Tali yang terbentang antara bumi dan langit, serta KeturunanKu Ahlul BaitKu. Keduanya tidak akan berpisah sampai menemuiKu di Telaga Surga Al Haudh. (Hadis Ini diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal dalam Musnad Ahmad jilid 5 hal 182, Syaikh Syuaib Al Arnauth dalam Takhrij Musnad Ahmad menyatakan bahwa hadis ini shahih. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Kabir jilid 5 hal 154, Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid jilid 1 hal 170 berkata “para perawi hadis ini tsiqah”. Hadis ini juga disebutkan oleh As Suyuthi dalam Jami’ Ash Shaghir hadis no 2631 dan beliau menyatakan hadis tersebut Shahih.)

Hadis di atas adalah Hadis Tsaqalain dengan matan yang khusus menggunakan kata Khalifah. Hadis ini adalah hadis yang Shahih sanadnya dan dengan jelas menyatakan bahwa Al Ithrah Ahlul Bait Nabi SAW adalah Khalifah bagi Umat islam. Oleh karena itu Premis bahwa Sang Khalifah setelah Rasulullah SAW itu ditunjuk dan diangkat oleh Rasulullah SAW adalah sangat beralasan :mrgreen:

KHALIFAH UMAT ISLAM ADALAH AHLUL BAIT

Rasulullah SAW  menegaskan bahwa khalifah umat Islam yang sah sepeninggal beliau adalah dari kalangan Ahlul Bait dan keturunannya. Simak hadis berikut di bawah ini.

  

 

Dari Zaid bin Tsabit RA yang berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda :  “ Sesungguhnya Aku telah meninggalkan di tengah-tengah kalian dua Khalifah yaitu Kitab Allah yang merupakan Tali yang terbentang antara bumi dan langit, serta Keturunanku Ahlul BaitKu. Keduanya tidak akan berpisah sampai menemuiku di Telaga Surga Al Haudh ”.

Hadis Ini diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal dalam Musnad Ahmad jilid 5 hal 182, Syaikh Syuaib Al Arnauth dalam Takhrij Musnad Ahmad menyatakan bahwa hadis ini shahih. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Kabir jilid 5 hal 154, Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid jilid 1 hal 170 berkata “para perawi hadis ini tsiqah”. Hadis ini juga disebutkan oleh As Suyuthi dalam Jami’ Ash Shaghir hadis no 2631 dan beliau menyatakan hadis tersebut Shahih.

Hadis ini adalah hadis yang sahih sanadnya dan dengan jelas menyatakan bahwa Al Ithrah , Ahlul Bait Nabi SAW adalah Khalifah bagi Umat Islam sepeninggal Rasulullah Muhammad SAW. Hal ini juga menegaskan bahwa Khalifah setelah Rasulullah SAW itu ditunjuk dan diangkat oleh Rasulullah SAW  sendiri.

KEHARUSAN BER – IMAMAH

Mazhab Syi’ah Imamiyah Itsna ‘Asyariyah, meyakini dengan seyakin – yakinnya bahwa Kepemimpinan Umat        ( IMAMAH ) dalam urusan agama dan dunia sepeninggal Nabiyullah Muhammad SAW telah ditetapkan oleh Rasulullah Muhammad SAW dan wasiat para Imam sesudah beliau. Kami meyakini dengan seyakin – yakinnya bahwa Pemimpinan Umat , dengan berbagai istilah seperti Imam, Khalifah, Ulil Amri, Wali dan lain – lain – hanya berhak disandang oleh para pemimpin dari kalangan Ahlul Bait Nabi SAW dan keturunannya yang berjumlah 12 orang.

Kenapa kami harus memiliki keyakinan seperti ini ?. Apakah karena kami tertipu oleh ulah si Yahudi Abdullah bin Saba’ , seperti yang sering diembus – embuskan oleh musuh – musuh dan pembenci Syi’ah ?. Absolutely, not !.

Sebabnya ialah – meminjam ungkapan Sayyid Syarafuddin Al Musawi – bahwa dalil – dalil ( petunjuk, nash )  syari’ah telah memaksa kami untuk berpegang teguh hanya kepada para Imam Ahlul Bait Nabi SAW dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam kepemimpinan umat dan rujukan agama. Dalil – dalil yang pasti dan meyakinkan itulah yang telah menghilangkan pilihan lain bagi setiap mukmin dan menghalanginya dari apa yang diinginkannya ( andaikata ia ingin memilih sesuatu yang lain ) !.

Dalil – dalil syari’ah yang kami maksud tidak saja terdapat di dalam kitab – kitab hadis yang berasal dari kalangan ulama kami, tetapi juga termaktub di banyak kitab –hadis dari para ulama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah ( Sunni ). Diantaranya ,misalnya, keharusan berimam atau memiliki Imam dan mengenal Imam zamannya.

Banyak sekali hadis dari kalangan Ahlus Sunnah yang meriwayatkan sabda Nabi SAW tentang keharusan ber- Imam atau memiliki Imam dan mengenal Imam zamannya, diantaranya :

  • “Barangsiapa mati tanpa Imam, maka ia mati dalam keadaan jahiliyah”
  • “Barangsiapa meninggal dan tidak mengetahui Imam zamannya, maka ia meninggal dalam keadaan jahiliyah “

Orang yang tidak berImam dan tidak mengenal Imam zamannya akan mati dalam keadaan jahiliyah. Mati dalam keadaan jahiliyah diartikan sebagai mati tidak dalam keadaan Islam. Jadi,  keharusan ber-Imam dan mengenal Imam zamannya merupakan kewajiban setiap mukmin. Sehingga tidak bisa dipungkiri lagi bahwa  Imamah merupakan salah satu pokok ajaran agama.

 

12 IMAM / KHALIFAH

Mazhab Syi’ah Imamiyah ‘Itsna Asyariyah meyakini bahwa  Kepemimpin Umat  ( Imamah ) sepeninggal Rasulullah Muhammad SAW, dengan berbagai jabatan seperti Imam, Khalifah, Wali dan sebagainya berjumlah 12 orang yang semuanya berada dalam garis keturunan Ahlul Bait Nabi SAW.

Riwayat – riwayat tentang 12 Pemimpin ini dapat kita temukan di dalam kitab – kitab hadis di kalangan ulama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Rasulullah SAW bersabda : “ Agama ( Islam ) akan selalu tegak dan kukuh sampai tiba saatnya atau sampai berlalu dua belas khalifah( pemimpin ), semuanya dari Quraisy “

( Sahih Muslim, jilid 6 halaman 3 – 4 , Bab  “ Manusia Mengikuti Orang Quraisy, Kitab Pemerintahan. Hadis ini juga terdapat di dalam kitab Shahih Tirmidzi, Bab  “ Apa yang terjadi pada para khalifah melalui pintu fitnah “, Sunan Abi Dawud, jilid 3 halaman 106, dll ).

2. Diriwayatkan oleh Bukhari dari Jabir yang berkata : “ Aku mendengar Nabi SAW bersabda : “ Akan ada dua belas amir ( pemimpin ) dan kemudian belia bersabda dengan kalimat yang tidak aku pahami. Dan, ayahku berkata : “ Semuanya dari orang Quraisy “.

Dan, dalam riwayat lain lagi ; “ Kemudian Nabi bersabda dengan kalimat yang sulit aku pahami dan aku bertanya kepada ayahku apa yang disabdakan Rasulullah SAW, maka ( ayahku ) berkata : “ Semuanya orang Quraisy “.

Fat’l Al Bari, jilid 16, hal. 338, Mustadrak Shahihain, jilid 3, hal. 617 )

3. Rasulullah bersabda : “ Urusan manusia ( amr an nas ) tidak akan berlalu sebelum berlalu dua belas orang yang menjadi wali ( penguasa )”

 

Shahih Muslim bi Syarh Nawawi, jilid 12 hal. 202, Jalaluddin As Suyuthi, Tarikh Al Khulafa, hal. 10 dll ).

 

4. Rasulullah SAW bersabda : “ Urusan umat ini ( amr hadzihil ummah ) senantiasa akan jaya sampai berlalu dua belas imam ( pemimpin ), semuanya orang Quraisy “ ( Kanzul – ‘Ummal, jilid 13, hal. 27 ).

5. Dan diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Al Hakim dengan lafal  seperti yang pertama, dari Masruq yang berkata : “ Kami sedang duduk suatu malam di rumah ‘Abdillah ( Ibnu Mas’ud ) yang membacakan kepada kami Al Qur’an. Seorang lelaki mengajukan pertanyaan : “ Ya ayah dari ‘Abdurrahman, apakah kamu pernah bertanya kepada Rasul Allah SAW berapa khalifah dari umat    ini ? “. Maka, ‘Abdillah menjawab : “ Tiada seorangpun bertanya tentang masalah ini sampai saya datang dari Iraq sebelum anda !”. Menanyakannya dan beliau SAW bersabda : “ Dua belas seperti jumlah dua belas nuqaba ( pemimpin ) Banu Israil “

 

Musnad Ahmad, jilid 1, hal. 398, 406 ; Al Hakim, Mustadrak, jilid 4, hal. 501, Fat’h – Al Bari, jilid 16, hal. 339 dll ).

Lantas, siapa 12 Imam / Khalifah yang wajib dikenal dan ditaati itu yang dengannya kita tidak akan mati dalam keadaan jahiliyah ?. Kami, kaum muslimin dari mazhab Syi’ah Imamiyah ‘Itsna ‘Asyariyah ( Syi’ah 12 Imam ) berkeyakinan mereka adalah para Imam / Khalifah dari Ahlul Bait Nabi SAW dan Keturunannya , dimulai dari Imam Ali bin Abi Abi Thalib dan berakhir pada Imam Mahdi afs.

Nah, pertanyaan buat Ustad   Aswaja  Sunni  dan para pengikutnya . Tolong sebutkan siapa saja nama – nama 12 Imam yang wajib kalian kenal dan kalian ta’ati itu ?.

firman Allah SWT di dalam KitabNya yang menjadikan  kontinuitas kepemimpinan di dalam keturunan Nabiyullah Ibrahim AS. Simak Surah Al Baqarah   ( 2 ) ayat 124.

“ Dan ( ingatlah )  ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat            ( perintah dan larangan ), lalu Ibrahim melaksanakannya dengan baik. Allah berfirman : “ Sesungguhnya Aku akan menjadikan engkau pemimpin ( imam ) bagi manusia “. Ibrahim berkata : “ Dan dari keturunanku ( juga ) ! “. Allah berfirman : “ Janjiku ( ini ) tidak akan diperoleh orang – orang yang zalim “.

Ayat di atas menegaskan bahwa Allah SWT akan menjadikan para Imam di dalam garisi keturunan Nabi Ibrahim AS . Di bagian lain Ibrahim AS berdo’a kepada Allah SWT  seperti termaktub di dalam Surah Ibrahim ( 14 )  ayat 37, sbb :

“ Tuhan kami, sesungguhnyab aku telah menempatkan  sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam – tanaman di dekat rumahMu ( baitullah ) yang dihormati. Ya Tuhan kami, ( yang demikian itu ) agar mereka mendirikan sholat, maka jadikanlah hati manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah – buahan, mudah – mudahan mereka bersyukur “

Semua ahli tafsir sependapat bahwa Nabi Muhammad SAW dan Ahlul Bait beliau merupakan keturunan  ( dzurriyah ) dari Nabi Ibrahim AS.

Pendapat Ulama Sunni Tentang 12 Pemimpin

BAGIAN I
Hadis 12 Pemimpin

 

روى‌ جابر بن‌ سَمُرة‌ فقال‌: سمعت‌ُ النبيّ صلّي‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌ يقول‌: يكون‌ اثنا عشر أميراً. فقال‌ كلمة‌ً لم ‌أسمعها، فقال‌ أبي‌: أنّه‌ قال‌: كلّهم‌ من‌ قريش‌.

Jabir bin Samurah meriwayatkan,  “Aku mendengar Nabi (saww) berkata” :”Kelak akan ada Dua Belas Pemimpin.” Ia lalu melanjutkan kalimatnya yang saya tidak mendengarnya secara jelas. Ayah saya mengatakan, bahwa Nabi menambahkan, ”Semuanya berasal dari suku Quraisy.”[Sahih Bukhari (inggris),  Hadits: 9.329, Kitabul Ahkam;  Sahih al-Bukhari (arab) , 4:165, Kitabul Ahkam]

BAGIAN II

Pendapat Para Ulama Sunni

  Ibn Arabi 

…فعددنا بعد رسول‌ الله صلّي‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌ اثني‌ عشر أميرًا، فوجدنا أبابكر، عمر، عثمان‌، عليًّا، الحسن‌، معاوية‌، يزيد، معاوية‌ بن‌ يزيد، مروان‌، عبد الملك‌ بن‌ مروان‌، الوليد، سليمان‌، عمر بن‌ عبد العزيز، يزيد بن‌ عبدالملك ، ‌مروان‌ بن محمد بن مروان، السفّاح‌،… وبعده‌ سبعة‌ وعشرون‌ خليفة‌ بن‌ بني‌ العبّاس‌. وإذا عددنا منهم‌ اثني‌ عشر انتهي‌ العدد بالصّورة‌ إلي‌ سليمان‌ بن‌ عبد الملك‌. وإذا عددناهم‌ بالمعني‌ كان‌ معنا منهم‌ خمسة‌، الخلفاء الاربعة‌، وعمر بن‌ عبد العزيز.

ولم‌ أعلم‌ للحديث‌ معني‌. ابن‌ العربي‌ّ، «شرح‌ سنن‌ التّرمذي‌ّ» 9: 68 ـ 69

Kami telah menghitung pemimpin (Amir-Amir) sesudah Nabi (sawa) ada dua belas. Kami temukan nama-nama mereka itu sebagai berikut: Abubakar, Umar, Usman, Ali, Hasan, Muawiyah, Yazid, Muawiyah bin Yazid, Marwan, Abdul Malik bin Marwan, Yazid bin Abdul Malik, Marwan bin Muhammad bin Marwan, As-Saffah… Sesudah ini ada lagi 27 khalifah Bani Abbas.

Jika kita perhitungkan 12 dari mereka, kita hanya sampai pada Sulaiman. Jika kita ambil apa yang tersurat saja, kita cuma mendapatkan 5 orang di antara mereka dan kepadanya kita tambahkan 4 ‘Khalifah Rasyidin’, dan Umar bin Abdul Aziz….

Saya tidak paham arti hadis ini. [Ibn Arabi, Syarh Sunan Tirmidzi, 9:68-69]

Qadi Iyad Al-Yahsubi  

قال‌: إنّه‌ قد ولي‌ أكثر من‌ هذا العدد. وقال‌: وهذا اعتراض‌ باطل‌ لانّه‌ صلّى‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌ لم‌ يقل‌: لايلي‌ الاّ اثنا عشرخليفة‌؛ وإنّما قال‌: يلي‌. وقد ولي‌ هذا العدد، ولايضرّ كونه‌ وُجد بعدهم‌ غيرهم‌. النووي‌ّ: «شرح‌ صحيح‌ مسلم‌» 12: 201 ـ 202. ابن‌ حجر العسقلاني‌ّ: «فتح‌ الباري‌» 16: 339

Jumlah khalifah yang ada lebih dari itu. Adalah keliru untuk membatasinya hanya sampai angka dua belas. Nabi (saw) tidak mengatakan bahwa jumlahnya hanya dua belas dan bahwa tidak ada tambahan lagi. Maka mungkin saja jumlahnya lebih banyak lagi. [Al-Nawawi, Syarh Shahih Muslim, 12:201-202;  Ibn Hajar al-'Asqalani, Fath al-Bari, 16:339]

Jalaludin as-Suyuti

إن‌ّ المراد وجود اثني‌ عشر خليفة‌ في‌ جميع‌ مدّة‌ الاسلام‌ إلي‌ يوم‌ القيامه‌ يعملون‌ بالحق‌ّ وإن‌ لم‌ تتوال‌ أيّامهم‌…وعلى‌ هذا فقد وُجد من‌ الاثني‌ عشر خليفة‌ الخلفاء الاربعة‌، والحسن‌، ومعاوية‌، وابن‌ الزّبير، وعمر بن‌ عبد العزيز، هؤلاء ثمانية‌. ويحتمل‌ أن‌ يُضم‌ّ إليهم‌ المهتدي‌ من‌ العبّاسيّين‌، لانّه‌ فيهم‌ كعمر بن‌ عبد العزيز في‌ بني‌ أُميّة‌. وكذلك الطاهر لما اوتي‌ من‌ العدل‌، وبقي‌ الاثنان‌ المنتظران‌ أحدهما المهدي‌ لانّه‌ من‌ آل‌ بيت‌ محمّد صلّي‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌. السّيوطي‌: «تاريخ‌ الخلفاء»: 12. ابن‌ حجر الهيثمي‌ّ: الصّواعق‌ المحرقة‌: 19

Hanya ada dua belas Khalifah sampai hari kiamat. Dan mereka akan terus melangkah dalam kebenaran, meski mungkin kedatangan mereka tidak secara berurutan. Kita lihat bahwa dari yang dua belas itu, 4 adalah Khalifah Rasyidin, lalu Hasan, lalu Muawiyah, lalu Ibnu Zubair, dan akhirnya Umar bin Abdul Aziz. Semua ada 8. Masih sisa 4 lagi. Mungkin Mahdi, Bani Abbasiyah bisa dimasukkan ke dalamnya sebab dia seorang Bani Abbasiyah seperti Umar bin Abdul Aziz yang (berasal dari) Bani Umayyah. Dan Tahir Abbasi juga bisa dimasukkan sebab dia pemimpin yang adil. Jadi, masih dua lagi. Salah satu di antaranya adalah Mahdi, sebab ia berasal dari Ahlul Bait Nabi (as).” [Al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa, Halaman 12; Ibn Hajar al-Haytami, Al-Sawa'iq al-Muhriqa Halaman 19]

Ibn Hajar al-’Asqalani 

لم‌ ألق‌ أحدًا يقطع‌ في‌ هذا الحديث‌، يعني‌ بشي‌ء معيّن‌؛ فان‌ّ في‌ وجودهم‌ في‌ عصر واحد يوجد عين‌ الافتراق‌، فلايصح‌ّ أن‌ يكون‌ المراد. ابن‌ حجر العسقلاني‌ّ، «فتح‌ الباري‌» 16: 338 ـ 341

Tidak seorang pun mengerti tentang hadis dari Sahih Bukhari ini.

Adalah tidak benar untuk mengatakan bahwa Imam-imam itu akan hadir sekaligus pada satu saat bersamaan. [Ibn Hajar al-'Asqalani, Fath al-Bari 16:338-341]

 Ibn al-Jawzi  

وأوّل‌ بني‌ أُميّة‌ يزيد بن‌ معاوية‌، وآخرهم‌ مروان‌ الحمار. وعدّتهم‌ ثلاثة‌ عشر. ولايعدّ عثمان‌، و معاوية‌، ولا ابن‌ الزّبير لكونهم‌ صحابة‌. فإذا أسقطناهم‌ منهم‌ مروان‌ بن‌ الحكم‌ للاختلاف‌ في‌ صحبته‌، أو لانّه‌ كان‌ متغلّبًا بعد أن‌ اجتمع‌ النّاس‌على‌ عبد الله بن‌ الزّبير صحّت‌ العدّة‌…وعند خروج‌ الخلافة‌ من‌ بني‌ أُميّة‌ وقعت‌ الفتن‌ العظيمة‌ والملاحم‌ الكثيرة‌ حتّى ‌استقرّت‌ دولة‌ بني‌ العبّاس‌، فتغيّرت‌ الاحوال‌ عمّا كانت‌ عليه‌ تغيّرًا بيّنًا. ابن‌ الجوزي‌ّ ، «كشف‌ المشكل‌» ، نقلاً عن‌ ابن‌ حجر العسقلاني‌ّ في‌ «فتح‌ الباري‌» 16: 340، عن‌ سبط‌ ابن‌ الجوزي‌ّ.

Khalifah pertama Bani Umayyah adalah Yazid bin Muawiyah dan yang terakhir adalah Marwan Al-Himar. Total jumlahnya tiga belasUsman, Muawiyah dan Ibnu Zubair tidak termasuk karena mereka tergolong Sahabat Nabi (s).  Jika kita kecualikan (keluarkan) Marwan bin Hakam karena adanya kontroversi tentang statusnya sebagai Sahabat atau karena ia berkuasa padahal Abdullah bin Zubair memperoleh dukungan masyarakat, maka kita mendapatkan angka Dua Belas.… Ketika kekhalifahan muncul dari Bani Umayyah, terjadilah kekacauan yang besar sampai kukuhnya (kekuasaan) Bani Abbasiyah. Bagaimana pun, kondisi awal telah berubah total. [Ibn al-Jawzi, Kashf al-Mushkil, sebagaimana dikutip dalam Ibn Hajar al-'Asqalani, Fath al-Bari 16:340 dari Sibt Ibn al-Jawzi]

Al-Nawawi

ويُحتمل‌ أن‌ المراد [بالائمّة‌ الاثني‌ عشر] مَن‌ْ يُعَزُّ الإسلام‌ في‌ زمنه‌ ويجتمع‌ المسلمون‌ عليه‌.

النووي‌ّ، «شرح‌ صحيح‌ مسلم‌» 12: 202 ـ 203

Ia bisa saja berarti bahwa kedua belas Imam berada dalam masa (periode) kejayaan Islam. Yakni ketika Islam (akan) menjadi dominan sebagai agama. Para Khalifah ini, dalam masa kekuasaan mereka, akan menyebabkan agama menjadi mulia.[Al-Nawawi, Sharh Sahih Muslim ,12:202-203]

 Al-Bayhaqi   

وقد وُجد هذا العدد (اثنا عشر) بالصفة‌ المذكورة‌ إلي‌ وقت‌ الوليد بن‌ يزيد بن‌ عبد الملك. ثم‌ّ وقع‌ الهرج‌ والفتنة ‌العظيمة‌…ثم‌ّ ظهر ملك العبّاسيّة‌…وإنّما يزيدون‌ على‌ العدد المذكور في‌ الخبر إذا تركت‌ الصفة‌ المذكورة‌ فيه‌، أو عُدَّ منهم ‌من‌ كان‌ بعد الهرج‌ المذكور فيه‌.

ابن‌ كثير: «البداية‌ والنّهاية‌» 6: 249؛ السّيوطي‌ّ، «تاريخ‌ الخلفاء»:11

Angka (dua belas) ini dihitung hingga periode Walid bin Abdul Malik. Sesudah ini, muncul kerusakan dan kekacauan. Lalu datang masa dinasti Abbasiyah. Laporan ini telah meningkatkan jumlah Imam-imam. Jika kita abaikan karakteristik mereka yang datang sesudah masa kacau-balau itu, maka angka tadi menjadi jauh lebih banyak.” [Ibn Katsir, Ta'rikh, 6:249; Al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa Halaman 11]

 Ibn Katsir

فهذا الّذي‌ سلكه‌ البيهقي‌ّ، وقد وافقه‌ عليه‌ جماعة‌ من‌ أن‌ّ المراد بالخلفاء الاثني‌ عشر المذكورين‌ في‌ هذا الحديث‌ هم ‌المتتابعون‌ إلي‌ زمن‌ الوليد بن‌ يزيد بن عبد الملك‌ الفاسق‌ الّذي‌ قدّمنا الحديث‌ فيه‌ بالذّم‌ّ والوعيد، فانّه‌ مسلك‌ فيه‌ نظر…فان‌ اعتبرنا ولاية‌ ابن‌ الزبير قبل‌ عبد الملك‌ صاروا ستّة‌ عشر، وعلى كلّ تقدير فهم‌ اثنا عشر قبل‌ عمر بن‌ عبد العزيز. فهذا الّذي‌ سلكه‌ على‌ هذا التّقدير يدخل‌ في‌ الاثني‌ عشر يزيد بن‌ معاوية‌، و يخرج‌ منهم‌ عمر بن‌ عبد العزيز الّذي‌ أطبق‌ الائمّة‌ على شكره‌ وعلى مدحه‌، وعدوّه‌ من‌ الخلفاء الرّاشدين‌، وأجمع‌ الناس‌ قاطبة‌ على‌ عدله‌. ابن‌ كثير، «البداية‌ والنّهاية‌» 6: 249 ـ 250

Barang siapa mengikuti Bayhaqi dan setuju dengan pernyataannya bahwa kata ‘Jama’ah’ berarti Khalifah-khalifah yang datang secara tidak berurutan hingga masa Walid bin Yazid bin Abdul Malik yang jahat dan sesat itu, maka berarti ia (orang itu) setuju dengan hadis yang kami kritik dan mengecualikan tokoh-tokoh tadi.

Dan jika kita menerima Kekhalifahan Ibnu Zubair sebelum Abdul Malik, jumlahnya menjadi enam belas. Padahal jumlah seluruhnya seharusnya dua belas sebelum Umar bin Abdul Aziz. Dalam perhitungan ini, Yazid bin Muawiyah termasuk di dalamnya sementara Umar bin Abdul Aziz tidak dimasukkan.  Meski demikian, sudah menjadi pendapat umum bahwa para ulama menerima Umar bin Abdul Aziz sebagai seorang Khalifah yang jujur dan adil. [Ibn Katsir, Ta'rikh, 6:249-250]

MEREKA BINGUNG ?

Kita perlu pendapat seorang ulama Sunni lain yang dapat mengklarifikasi siapa Dua Belas Penerus, Khalifah, para Amir atau Imam-imam sebenarnya.

Al-Dzahabi mengatakan dalam Tadzkirat al-Huffaz , jilid 4, halaman 298, dan Ibn Hajar al-’Asqalani menyatakan dalam al-Durar al Kaminah, jilid 1, hal. 67, bahwa Shadrudin Ibrahim bin Muhammad bin al-Hamawayh al-Juwaini al-Syafi’i  adalah seorang ahli Hadis yang mumpuni.

Lebih lengkap tentang Al-Juwaini, silahkan rujuk catatan Al-Muhadits Al-Juwaini Asy-Syafi’i (ra) dan Hadis Tentang Sayyidah Fathimah sa

BAGIAN III

Al-Juwayni Asy-Syafi’i : 

عن‌ عبد الله بن‌عبّاس‌ رضي‌ الله عنه‌، عن‌ النّبي‌ّ  صلّي‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌ أنّه‌ قال‌: أنا سيّد المُرسَلين‌، وعلي‌ّ بن‌ أبي‌ طالب‌ سيّدالوصيّين‌، وأن‌ّ أوصيائي‌ بعدي‌ اثنا عشر، أوّلهم‌ علي‌ّ بن‌ أبي‌ طالب‌، وآخرهم‌ القائم‌.

 dari Abdullah bin Abbas (ra) bahwa Nabi (sawa) mengatakan,”Saya adalah penghulu para Nabi dan Ali bin Abi Thalib adalah pemimpin para penerus, dan sesudah saya akan ada dua belas penerus. Yang pertama  adalah Ali bin Abi Thalib dan yang terakhir adalah al-Qaim.

عن‌ ابن‌ عبّاس‌ رضي‌ الله عنه‌، عن‌ النبي‌ّ صلّي‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌ أنّه‌ قال‌: أن‌ّ خلفائي‌ وأوصيائي‌وححج‌ الله على‌ الخلق‌ بعدي‌ لاثنا عشر، أوّلهم‌ أخي‌، وآخرهم‌ وَلَدي‌. قيل‌: يا رسول‌ الله، ومن‌ أخوك‌؟ قال‌: علي‌ّ بن‌ أبي‌طالب‌. قيل‌: فمن‌ وَلَدُك‌َ؟ قال‌: المهدي‌ّ الّذي‌ يملاها قسطًا وعدلاً كما مُلئت‌ جورًا وظلمًا. والّذي‌ بعثني‌ بالحق‌ّ بشيرًا لو لم‌ يبق‌ من‌ الدّنيا الاّ يوم‌ واحد لطَوَّل‌ الله ذلك‌ اليوم‌ حتّي‌ يخرج‌ فيه‌ ولدي‌ المهدي‌، فينزل‌روح‌ الله عيسى بن‌ مريم‌ فيُصلّي‌ خلفَه‌ُ، وتُشرق‌ الارض‌ بنور ربّها، ويبلغ‌ سلطانه‌ المشرق‌ والمغرب‌.

Dari Ibnu Abbas (r) bahwa Rasulullah (sawa) berkata: ”Sudah pasti bahwa washi-washiku dan Bukti (hujjah) Allah bagi makhluk sesudahku ada dua belas. Yang pertama di antara mereka adalah saudaraku dan yang terakhir adalah anak (cucu) ku.”  Orang bertanya: “Wahai Rasulullah, siapakah saudaramu itu?”. Beliau menjawab: “Ali bin Abi Thalib.” Lalu beliau ditanyai lagi: “ Dan siapakan anak (cucu) mu itu?” Nabi yang suci (sawa) menjawab: ”Al-Mahdi. Dia akan mengisi bumi dengan keadilan dan persamaan ketika ia (bumi) dipenuhi ketidakadilan dan tirani. Dan demi Yang Mengangatku sebagai pemberi peringatan dan memberiku  kabar gembira, meski seandainya masa berputarnya dunia ini tinggal sehari saja, Allah SWT akan memperpanjang hari itu sampai diutusnya (anakku) Mahdi, kemudian ia akan disusul Ruhullah Isa bin Maryam (as) yang turun ke bumi dan berdoa di belakangnya (Mahdi). Dunia akan diterangi oleh sinarnya, dan kekuatannya akan mencapai hingga ke timur dan ke barat.”

رسول‌ الله صلّي‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌ أنّه‌ قال‌: أنا، وعلي‌ّ، والحسن‌، والحسين‌، وتسعة‌ من‌ ولد الحسين‌ مطهّرون‌ معصومون‌. الجويني‌ّ، «فرائد السمطين‌» مؤسّسة‌ المحمودي‌ّ للطّباعة‌ والنشر، بيروت‌، 1978، ص‌

 Rasulullah (sawa) mengatakan: ”Aku dan Ali dan Hasan dan Husain dan sembilan anak cucu Husain adalah yang disucikan (dari dosa) dan dalam kebenaran.”  [Al-Juwaini, Fara'id al-Simthain, Mu'assassat al-Mahmudi li-Taba'ah, Beirut 1978, h. 160.]

Di antara semua mazhab Islam, hanya Syiah Imamiyah Itsna ‘Asyariyah yang percaya pada individu-individu sebagai Dua Belas orang dari Ahlul Bait Raulullah saww yang berhak sebagai Penerus Rasulullah saww.

Ulama Sunni Syaikh Sulayman Al-Qunduzi Al-Balkhi Al-Hanafi dan Nama 12 Imam Yang Disebutkan Oleh Rasulullah (saww)

BAGIAN I

Selama ini banyak kalangan yang tidak mengetahui siapa sebenarnya Syaikh Sulaiman Al-Qunduzi Al-Balkhi Al-Hanafi, yang merupakan salah satu Ulama Sunni yang banyak mencatat riwayat-riwayat mengenai keutamaan Rasulullah (saww) dan Ahlul Bait (as). Dan anehnya, oleh kaum Nawashib, Syaikh Sulaiman Al-Hanafi dituduh sebagai Syiah, apa motif dibalik semua itu..? apakah kebiasaan kaum Naswahib yang suka menuduh seseorang yang banyak menulis keagungan Rasulullah (saww) dan Ahlul Bait (as) pada khususnya langsung mereka vonis sebagai Syiah!? hal ini tak jauh beda dengan Ibn Abil Hadid seorang bermazhab Mu’tazilah yang mereka katakan Syiah!

Nawashib harusnya sadar bahwa kedekilan otak mereka sampai detik ini bukanlah suatu yang asing, apakah mereka tidak malu dengan cara mereka yang suka menyembunyikan keterangan yang jelas bahkan terkadang memelintir sebuah riwayat atau membuangnya jika tidak sesuai dengan nafsu mereka..!?

Sayikh Sulaiman Al Hanafi adalah salah satu Mufti Agung Konstantinopel dan Ketua Kekhalifahan Utsmani, pusat islam Sunni pada masanya. Sangat tidak masuk akal jika dikatakan beliau sebagai Syiah dan apakah logis orang syiah menjadi mufti agung dalam kekahlifahan Ustmani tersebut? Sedangkan Ottoman sangat tidak suka dengan Syiah atau siapapun yang cenderung kepada Syiah!

Bahkan sejarah tidak mencatat adanya pengusiran atau tuduhan kepada Syaikh Sulaiman al Hanafi pada saat penulisan kitab beliau yang agung yaitu Yanabiul Mawaddah, jika memang beliau syiah maka pemerintahan Ottoman pasti akan menyingkirkannya.

Pandangan Sunni tentang Syaikh Sulaiman Al Qunduzi Al Balkhi Al Hanafi

Dalam Kitab الأعلام :

“(Al Qunduzi) (1220-1270H) (1805-1863 M) Sualyman putra dari Khuwajah Ibrahim Qubalan Al Husaini Al Hanafi Al Naqshbandi al Qunduzi : Seorang yang shaleh, berasal dari Balakh, wafat di kota Qustantinya, ia memiliki kitab “Yanabiul Mawaddah” yang berisi tentang keutamaan Rasulullah dan Ahlul Baitnya” (الأعلام, j.3, h.125)

.

Umar Ridha Kahalah mencatat dalam معجم المؤلفين :

Sulaiman Al Qunduzi (1220-1294 H) (1805-1877)

Sulaiman bin Ibrahim al Qunduzi al Balkhi al Husaini al Hasymi, seorang Sufi, kitabnya (karyanya) : Ajma al Fawaid, Musyriq al Akwan, Yanabiul Mawaddah….” (Muajam al Mualfiin, oleh Umar Ridha Kahalah, j. 4)

Ulama Sunni Ismail Basya Al Baghdadi (اسماعيل باشا البغدادي) dalam هدية العارفين

Mencatat :

“Al Qunduzi – Sulayman ibn Khuwajah Qalan Ibrahim ibn Baba Khawajah al Qunduzi al Balkhi al Sufi Al Husaini, tinggal di Qustantinya, lahir pada tahun 1220 H dan wafat 1294″ (Hidyat al Arifin, j.1, h. 408)

.

Dalam ايضاح المكنون في الذيل على كشف الظنون Ismail Basya Al Baghdadi juga mencatat :

“Al Qunduzi – Sulayman bin Khawaja Qalan Ibrahim bin baba Khuwaja Al Qunduzi al Balkhi al Sufi al Husaini. Dia tinggal di Qustantiya, lahir pada 1220 H dan wafat tahun 1294 H. Karyanya : Jama’ Al Fawa’id, Masyriq al Akwan, Yanabiul Mawadah mengenai karakteristik Rasulullah (saww) dan hadis dari Ahlul Bait”

.

Yusuf Alyan Sarkys mencatat dalam معجم المطبوعات العربية, j.1 h.586 :

“Sulayman bin Khujah Qublan al Qunduzi al Balkhi. (kitabnya) Yanabiul Mawadah berisi Keutamaan Amirul Mu’minin Ali”

.

Sangat aneh jika dikatakan bahwa Syaikh Sulayman yang bermazhab Hanafi ini di tuduh sebagai Syiah..! Kenyataannya beberapa ulama Sunni (Mazhab Hanafi) seperti :

1. Saim Khisthi al Hanafi dalam Musykil Kushah mengutip banyak Hadis dari Yanabiul Mawaddah yang disusun oleh Syaikh Sulaiman al Hanafi.

2. Dr. Muhamad Tahir ul Qadri (“Hub Ali” hal.28) mengacu pada Yanabiul Mawaddah ketika mengutip Hadis mengenai keutamaan Ahlul Bait (as).

3. Mufti Ghulam Rasul (Hasab aur Nasab, j.1 h.191, London) juga mengacu pada Yanabiul Mawadah ketika mengutip hadis keutamaan Ahlul Bait (as).

Jika memang Syaikh Sulayman Al Hanafi dikatakan Syiah oleh kaum Nawashib lalu apakah beberapa ulama terkemuka Mazhab Hanafi yang disebutkan diatas begitu bodoh atau buta huruf hingga mereka mengutip catatan ulama Syi’ah (yg kata mereka jgn percaya sama syiah) bagi para pembaca Sunni ?

Alasan paling dasar dibalik “pengecapan” dengan menyatakan figur yang sebenarnya Sunni sebagai Syiah oleh kaum Nawashib adalah karena ulama sejati seperti Syaikh Sulayman Al Hanafi dianggap berpihak kepada Syiah hanya karena banyak mencatat hadis Rasulullah (saww) yang mana riwayatnya banyak dianggap sesuai dengan keyakinan Syiah..!

BAGIAN II

Syaikh Sulayman Al Qunduzi Al Hanafi Mencatat Nama-Nama Para Imam Yang Harus Di ikuti Setelah Rasulullah Saww Dalam Kitabnya Yanabiul Mawaddah

Yanabiul Mawaddah (j.3, h.100-101) dan Yanabiul Mawaddah (j.3 h.284, Tahqiq oleh Sayyid Ali Jamali Asyraf Al Husayni), riwayat dari Jabir al-Anshari (ra) berkata :

Jundal bin Janadah berjumpa Rasulullah (saww) dan bertanya kepada beliau beberapa masalah. Kemudian dia berkata :

Riwayat seperti diatas tidak hanya satu dalam kitab Yanabiul Mawaddah, namun ini sudah cukup sebagai bukti bahwa nama para Imam Ahlul Bait telah dijelaskan oleh Rasulullah (saww) dan tercatat dalam Kitab Sunni sendiri.

Beritahukan kepadaku wahai Rasulullah tentang para washi anda setelah anda supaya aku berpegang kepada mereka.

Beliau (saww) menjawab : “Washiku dua belas orang.”

Lalu Jundal berkata : “Begitulah kami dapati di dalam Taurat.”

Kemudian dia berkata : “Namakan mereka kepadaku wahai Rasulullah.”

Maka Beliau (saww) menjawab :

Pertama adalah penghulu dan ayah para washi adalah Ali. Kemudian dua anak lelakinya Hasan dan Husain. Berpeganglah kepada mereka dan janganlah kejahilan orang-orang yang jahil itu memperdayakanmu. Kemudian Ali bin Husain Zainal Abidin, Allah akan mewafatkan (Ali bin Husain) dan menjadikan air susu sebagai minuman terakhir di dunia ini.”

Jundal berkata :

“Kami telah mendapatinya di dalam Taurat dan di dalam kitab-kitab para Nabi (as) seperti Iliya, Syibra dan Syabir. Maka ini adalah nama Ali, Hasan dan Husain, lalu siapa setelah Husain..? siapa nama mereka..?”

Berkata (Rasulullah) saww :

Setelah wafatnya Husain, imam setelahnya adalah putranya Ali dipanggil Zainal Abidin setelahnya adalah anak lelakinya Muhammad, dipanggil al-Baqir. Setelahnya anak lelakinya Ja’far dipanggil al-Shadiq. Setelahnya anak lelakinya Musa dipanggil al-Kadzim. Setelahnya anak lelakinya Ali dipanggil al-Ridha. Setelahnya anak lelakinya Muhammad dipanggil al Taqy Az Zaky. Setelahnya anak lelakinya Ali dipanggil al-Naqiy al-Hadi. Setelahnya anak lelakinya Hasan dipanggil al-Askari. Setelahnya anak lelakinya Muhammad dipanggil al-Mahdi al-Qa’im dan al-Hujjah. Beliau ghaib dan akan keluar memenuhi bumi dengan kejujuran dan keadilan sebagaimana itu dipenuhi dengan kefasadan dan kezaliman. Alangkah beruntungnya bagi orang-orang yang bersabar semasa ghaibnya. Dan alangkah beruntungnya bagi orang-orang yang bertaqwa terhadap Hujjah mereka. Dan mereka itulah orang yang disifatkan oleh Allah di dalam firmanNya “Petunjuk bagi mereka yang bertaqwa yaitu mereka yang beriman kepada yang ghaib.”(1) Kemudian beliau membaca “Maka sesungguhnya partai Allah itulah yang pasti menang.”(2) Beliau bersabda : Mereka adalah dari partai Allah (hizbullah).”

[1]. Surah al-Baqarah (2) : 2-3

[2]. Surah al-Mai’dah (5) :56

Khalifah Rasulullah Yang WAJIB di ikuti sesuai Hadist Rasulullah saww.


Berdasarkan hadith Nabi saaw dalam kitab Ahlul Sunnah antaranya ialah :

Daripada Said bin Jubair daripada Ibn Abbas berkata: Bersabda Rasulullah SAWAW: “Sesungguhnya khalifah-khalifahku dan wasi-wasiku, hujah-hujah Allah di atas makhlukNya selepasku ialah 12 orang; yang pertama Ali dan yang akhirnya cicitku al-Mahdi; maka itulah Isa b. Maryam bersembahyang di belakang al-Mahdi (Yanabi al-Mawaddah, hlm. 447)

.

Hadith yang dikeluarkan oleh Abu al-Mu’ayyid Ibn Ahmad al-Khawarizmi dengan sanadnya dari Abu Sulaiman yang berkata : “Aku mendengar Rasulullah SAWAW dan Ahli Baitnya berkata: Di malam aku dinaikkan ke langit (Mi’raj) Allah SWT berkata kepadaku…lihatlah di kanan Arasy, lalu aku memaling ke arahnya, maka aku dapati Ali, Fatimah, Hasan, Husayn, Ali b. Husayn, Muhammad b. Ali, Ja’far b. Muhammad, Musa b. Ja’far, Ali b. Musa, Muhammad b. Ali, Ali b. Muhammad, Hasan b. Ali, dan Muhammad al-Mahdi b. Hasan; ia seperti cakerawala yang berputar di kalangan mereka. Dan dia berfirman: “Wahai Muhammad, mereka itulah hujah-hujahKu ke atas hamba-hambaKu, merekalah wasi-wasiKu (khalifah-khalifahku).”(Yanabi al-Mawaddah, hlm. 487)

.

Sila teliti dengan sebaik-baiknya hadis-hadis di bawah yang telah diriwayatkan oleh ulama-ulama sunni:

Hadith-hadith yang menghadkan pengganti Nabi SAW kepada dua belas orang.

Hadith-hadith yang menghadkan pengganti-pengganti Nabi SAWW kepada dua belas orang, telah diriwayatkan oleh jumhur ulama Muslimin Sunnah dan Syi’ah di dalam Sahih-sahih dan Musnad-musnad mereka

.

Ahmad bin Hanbal di dalam Musnadnya (al-Musnad, I, hlm 398) meriwayatkan hadith ini daripada Sya’bi daripada Masruq berkata:”Kami berada di sisi ‘Abdullah bin Mas’ud yang sedang memperdengarkan bacaan al-Qur’an kepada kami. Tiba-tiba seorang lelaki bertanya kepadanya: Wahai Abu ‘Abdu r-Rahman! Adakah anda telah bertanya Rasulullah SAWAW berapakah ummat ini memiliki khalifah?” Abdullah bin Mas’ud menjawab:”Tiada seorangpun bertanya kepadaku mengenainya semenjak aku datang ke Iraq sebelum anda.” Kemudian dia berkata:”Ya! Sesungguhnya kami telah bertanya kepada Rasulullah SAWAW mengenainya. Maka beliau menjawab:”Dua belas (khalifah) seperti bilangan naqib Bani Israil.”

.

Di dalam riwayat yang lain Ahmad bin Hanbal meriwayatkan daripada Jabir bin Samurah, sesungguhnya dia berkata:”Aku mendengar Rasulullah SAWAW bersabda semasa Haji Wida’:”Urusan agama ini masih pada zahirnya di tangan penentangannya dan tidak akan dihancurkan oleh orang-orang yang menyalahinya sehingga berlalunya dua belas Amir, semuanya daripada Quraisy.” (al-Musnad, I, hlm 406, dan V, hlm 89)

.

Muslim di dalam Sahihnya ( Sahih, II, hlm 79 )meriwayatkan daripada Jabir bin Samurah sesungguhnya dia berkata:”Aku bersama bapaku berjumpa Nabi SAWAW, Maka aku mendengar Nabi SAWAW bersabda:”Urusan ‘ini’ tidak akan selesai sehingga berlaku pada mereka dua belas khalifah.” Dia berkata: Kemudian beliau bercakap dengan perlahan kepadaku. Akupun bertanya bapaku apakah yang diucapkan oleh beliau? Dia menjawab:”Semuanya daripada Quraisy.”
Muslim juga meriwayatkan di dalam Sahihnya daripada Nabi SAWAW beliau bersabda:”Agama sentiasa teguh sehingga hari kiamat dan dua belas khalifah memimpin mereka, semuanya daripada Quraisy. Di dalam riwayat yang lain “Urusan manusia berlalu dengan perlantikan dua belas lelaki dari Quraisy, ” “Sentiasa Islam itu kuat sehingga kepada dua belas khalifah daripada Quraisy” dan “Sentiasa ugama ini kuat dan kukuh sehingga dua belas khalifah daripada Quraisy”
Al-Turmudzi di dalam al-Sunannya (al-sunan, II, hlm 110 ) mencatat hadith tersebut dengan lafaz amir bukan khalifah.

.

Sementara al-Bukhari di dalam Sahihnya ( Sahih, IV, hlm 120 (Kitab al-Ahkam ) meriwayatkannya daripada Jabir bin Samurah bahawa Nabi SAWAW bersabda:”Selepasku ialah dua belas amir.” Maka beliau berucap dengan perkataan yang aku tidak mendengarnya. Bapaku memberitahuku bahawa beliau bersabda:”Semuanya daripada Quraisy.”

.

Al-Muttaqi al-Hindi di dalam Kanz al-Ummal ( Kanz al-Ummal, VI, hlm 160 ), meriwayatkan bahawa Nabi SAWAW bersabda:”Selepasku akan (diikuti) oleh dua belas khalifah.”

.

Ibn Hajr di dalam al-Sawa’iq al-Muhriqah ( al-Sawa’iq al-Muhriqah, bab XI ) meriwayatkan daripada Jabir bin Samurah bahawa Nabi SAWAW bersabda:”Selepasku akan (dikuti) dua belas amair semuanya daripada Quraisy.”

.

Al-Qunduzi al-Hanafi di dalam Yanabi’ al-Mawaddah (Yanabi’ al-Mawaddah, hlm 444 (bab 7) mencatat riwayat daripada Jabir bin Samurah sesungguhnya dia berkata:”Aku bersama bapaku di sisi Nabi SAWAW beliau bersabda:”Selepasku dua belas khalifah.” Kemudian beliau merendahkan suaranya. Maka akupun bertanya bapaku mengenainya. Dia menjawab: Beliau bersabda: “Semuanya daripada Bani Hasyim.”

Samak bin Harb juga meriwayatkannya dengan lafaz yang sama. Diriwayatkan daripada al-Sya’bi daripada Masruq daripada Ibn Mas’ud bahawa sesungguhnya Nabi SAWAW telah menjanjikan kita bahawa selepasnya dua belas khalifah sama dengan bilangan naqib Bani Isra’il. Dan dia berkata di dalam bab yang sama bahawa Yahya bin al-Hasan telah menyebutkannya di dalam Kitab al-Umdah dengan dua puluh riwayat bahawa khalifah-khalifah selepas Nabi SAWAW adalah dua belas orang. Semuanya daripada Quraisy. Al-Bukhari telah menyebutkannya dengan tiga riwayat, Muslim sembilan riwayat. Abu Daud tiga riwayat, al-Turmudhi satu riwayat dan al-Humaidi tiga riwayat

.

Pengkaji-pengkaji menegaskan bahawa hadith-hadith tersebut menunjukkan bahawa khalifah-khalifah selepas Nabi SAWAW ialah dua belas orang. Dan maksud hadith Nabi SAWAW ialah dua belas orang daripada Ahlu l-Baitnya. Kerana tidak mungkin dikaitkan hadith ini kepada khalifah-khalifah yang terdiri daripada bilangan mereka kurang daripada dua belas orang. Dan tidak mungkin dikaitkan dengan khalifah-khalifah Bani Umaiyyah kerana bilangan mereka melebihi dua belas orang dan kezaliman mereka yang ketara selain daripada ‘Umar bin Abdu l-Aziz. Tambahan pula mereka bukan daripada Bani Hasyim. Di dalam riwayat yang lain beliau memilih Bani Hasyim di kalangan Quraisy dan memilih Ahlu l-Baitnya di kalangan Bani Hasyim (Muslim, Sahih, II, hlm 81 (Fadhl Ahlu l-Bait)
.

Di dalam riwayat ‘Abdu l-Malik daripada Jabir bahawa Nabi SAWAW telah merendahkan suaranya ketika menyebutkan Bani Hasyim kerana ‘mereka’ tidak menyukai Bani Hasyim. Hadith ini juga tidak boleh dikaitkan dengan khalifah-khalifah Bani ‘Abbas kerana bilangan mereka melebihi bilangan tersebut. Dan mereka tidak mengambil berat tentang firmanNya “Katakan!” Aku tidak meminta upah daripada kamu kecuali mencintai keluargaku, ” sebagaimana juga mereka tidak menghormati hadith al-Kisa’. Justeru itu, hadith tersebut mestilah dikaitkan dengan dua belas Ahlu l-Baitnya kerana merekalah orang yang paling alim, warak, takwa, paling tinggi keturunan dan ilmu-ilmu mereka adalah daripada datuk-datuk mereka yang berhubungan dengan datuk mereka Rasulullah SAWAW dari segi “warisan” dan hikmah. Mereka pula dikenali oleh para ilmuan. Oleh itu apa yang dimaksudkan oleh hadith tersebut ialah dua belas Ahlu l-Bait Rasulullah Saww (Yanabi’ al-Mawaddah, hlm 445)

.
Ini juga diperkuatkan oleh hadith thaqalain, hadith al-Safinah, hadith al-Manzilah dan lain-lain

.

Al-Qunduzi al-Hanafi (Yanabi’ al-Mawaddah, hlm 445) juga telah meriwayatkan hadith daripada Jabir dia berkata: Rasulullah SAWAW bersabda:”Akulah penghulu para Nabi dan ‘Ali adalah penghulu para wasi. Dan sesungguhnya para wasi selepasku ialah dua belas orang, pertama ‘Ali dan yang akhirnya Qaim al-Mahdi.”

.

Hadith-hadith yang menerangkan bahawa merekalah para wasi Rasulullah SAWAW di dalam buku-buku Ahlu l-Sunnah adalah banyak, dan ianya melebihi had mutawatir. Ini tidak termasuk hadith-hadith riwayat Syi’ah. Umpamanya hadith daripada Salman RD berkata: Aku berjumpa Nabi SAWAW dan Husain berada di atas dua pahanya. Nabi SAWAW sedang mengucup dahinya sambil berkata:’Anda adalah Sayyid bin Sayyid dan adik Sayyid. Anda adalah imam bin imam dan adik imam. Anda adalah Hujjah bin Hujjah dan adik Hujjah dan bapa hujjah-hujjah yang sembilan. Dan yang kesembilan mereka ialah Mahdi al-Muntazar.”

.

Al-Hamawaini al-Syafi’i di dalam Fara’id al-Simtin (Fara’id al-Simtin, II, hlm 26), meriwayatkan daripada ‘Ibn Abbas berkata: Aku mendengar Rasulullah SAWAW bersabda:”Aku , Ali, Hasan, Husain dan sembilan daripada anak-anak Husain adalah disuci dan dimaksumkan.”

.

Ibn ‘Abbas juga meriwayatkan bahawa Nabi SAWAW bersabda:”Wasi-wasiku, hujjah-hujjah Allah ke atas makhlukNya dua belas orang, pertamanya saudaraku dan akhirnya ialah anak lelakiku (waladi).” Lalu ditanya Rasulullah siapakah saudara anda wahai Rasulullah? Beliau menjawab:’Ali. Dan ditanya lagi siapakah anak lelaki anda? Beliau menjawab: al-Mahdi yang akan memenuhi bumi ini dengan kejujuran dan keadilan sebagaimana ianya dipenuhi dengan kerosakan dan kezaliman. Demi Tuhan yang mengutusku dengan kebenaran sebagai kegembiraan dan peringatan, sekiranya dunia ini tinggal hanya satu hari lagi nescaya Allah akan memanjangkannya sehingga keluar anak lelakiku al-Mahdi. Kemudian diikuti oleh ‘Isa bin Maryam. Beliau akan mengerjakan solat di belakang anak lelakiku. Dunia pada ketika itu berseri dengan cahaya Tuhannya dan pemerintahannya meliputi Timur dan Barat

.

Al-Qunduzi al-Hanafi di dalam Yanabi’ al-Mawaddah bab 95) meriwayatkan bahawa Jabir bin ‘Abdullah berkata: Rasulullah saww bersabda : Wahai Jabir! Sesungguhnya para wasiku dan para imam selepasku pertamanya Ali kemudian Hasan kemudian Husain kemudian Ali bin Husain kemudian Muhammad bin Ali al-Baqir. Anda akan menemuinya wahai Jabir sekiranya anda mendapatinya, maka sampaikanlah salamku kepadanya. Kemudian Ja’far bin Muhammad, kemudian Musa bin Ja’far, kemudian Ali bin Musa, kemudian Muhammad bin Ali, kemudian Ali bin Muhammad, kemudian Hasan bin Ali. Kemudian al-Qa’im namanya sama dengan namaku dan kunyahnya sama dengan kunyahku, anak Hasan bin Ali. Dengan beliaulah Allah akan membuka seluruh pelosok bumi di Timur dan di Barat, dialah yang ghaib dari penglihatan. Tidak akan percaya kepada imamahnya melainkan orang yang telah diuji hatinya oleh Allah SWT. Jabir berkata: Wahai Rasulullah! Apakah orang2 dapat mengambil manfaat darinya ketika ghaibnya ? Beliau menjawab :”Ya..! Demi yang mengutusku dengan kenabian sesungguhnya mereka mengambil cahaya dari wilayahnya ketika ghaibnya, seperti orang mengambil manfaat dari matahari sekalipun ia ditutupi awan.” Ini adalah di antara rahsia-rahsia ilmu Allah yang tersembunyi. Maka rahsiakanlah mengenainya melain kepada orang yang ahli. (Yanabi’ al Mawaddah, hlm 494)

.

daripada Jabir al-Ansari berkata: Junda; bin Janadah berjumpa Rasulullah SAWAW dan bertanya kepada beliau beberapa masalah. Kemudian dia berkata: Beritahukan kepadaku wahai Rasulullah tentang wasi-wasi anda selepas anda supaya aku berpegang kepada mereka. Beliau menjawab: Wasi-wasiku dua belas orang. Lalu Jundal berkata: Begitulah kami dapati di dalam Taurat. Kemudian dia berkata: Namakan mereka kepadaku wahai Rasulullah. Maka beliau menjawab: “Pertama penghulu dan ayah para wasi adalah Ali. Kemudian dua anak laki2nya Hasan dan Husain. Berpegang teguhlah kepada mereka dan janganlah kejahilan orang-orang yang jahil memperdayaimu. Kemudian Ali bin Husain Zainal Abidin Allah akan mematikan anda (‘Ali bin Husain) dan menjadikan air susu sebagai bekalan terakhir di dunia ini.” (Yanabi’ al-Mawaddah Bb 76 hlm 441 – 444 )

.

Jundal berkata: Kami telah mendapatinya di dalam Taurat dan di dalam buku-buku para Nabi AS seperti Iliya, Syibra dan Syabir. Maka ini adalah nama ‘Ali, Hasan dan Husain, maka imam selepasnya dipanggil Zaina l-Abidin selepasnya anak lelakinya Muhammad, dipanggil al-Baqir. Selepasnya anak lelakinya Ja’far dipanggil al-Sadiq. Selepasnya anak lelakinya Musa dipanggil al-Kazim. Selepasnya anak lelakinya ‘Ali dipanggil al-Ridha. Selepasnya anak lelakinya ‘Ali dipanggil al-Naqiyy al-Hadi. Selepasnya anak lelakinya Hasan dipanggil al-Askari. Selepasnya anak lelakinya Muhammad dipanggil al-Mahdi al-Qa’im dan al-Hujjah. Beliau ghaib dan akan keluar memenuhi bumi dengan kejujuran dan keadilan sebagaimana ianya dipenuhi dengan kefasadan dan kezaliman. Alangkah beruntungnya bagi orang-orang yang bersabar semasa ghaibnya. Dan alangkah beruntungnya bagi orang-orang yang bertaqwa terhadap Hujjah mereka. Dan mereka itulah orang yang disifatkan oleh Allah di dalam firmanNya (Surah al-Baqarah(2): 2-3″Petunjuk bagi mereka yang bertaqwa iaitu mereka yang beriman kepada yang ghaib.” Kemudian beliau membaca (Surah al-Mai’dah(5):56)”Sesungguhnya parti Allahlah yang pasti menang.”Beliau bersabda: Mereka itu adalah daripada parti Allah (hizbullah).

Al-Hamawaini di dalam Fara’id al-Simtin (Yanabi’ al-Mawaddah, hlm 446 – 447) telah meriwayatkan hadith ini dan dinukilkan oleh al-Qunduzi al-Hanafi di dalam Yanabi’ al-Mawaddah bab 76 dengan sanad daripada Ibn ‘Abbas dia berkata: Seorang Yahudi bernama Na’thal datang kepada Rasulullah SAWAW dan berkata: Wahai Muhammad! Aku akan bertanya anda beberapa perkara yang tidak menyenangkan hatiku seketika. Sekiranya anda dapat memberi jawapan kepadaku nescaya aku akan memeluk Islam di tangan anda. Beliau SAWAW bersabda:”Tanyalah wahai Abu ‘Ammarah.’ Dia bertanya beberapa perkara sehingga dia berkata: Beritahukan kepadaku tentang wasi anda siapa dia? Tidak ada seorang Nabi melainkan ada baginya seorang wasi. Dan sesungguhnya Nabi kami Musa bin ‘Imran telah berwasiatkan kepada Yusyu’ bin Nun. Maka Nabi SAWAW menjawab”Sesungguhnya wasiku ialah ‘Ali bin Abi Talib, selepasnya dua anak lelakinya Hasan dan Husain kemudian diikuti oleh sembilan imam daripada keturunan Husain.’ Dia berkata: Namakan mereka kepadaku. Beliau menjawab:’Apabila wafatnya Husain, maka anaknya ‘Ali apabila wafatnya ‘Ali, anaknya Muhammad, Dan apabila wafatnya Muhammad, anaknya Ja’far. Apabila wafatnya Ja’far anaknya Musa. Apabila wafatnya Musa, anaknya Ali. Apabila wafatnya Ali, anaknya Muhammad. Apabila wafatnya Muhammad, anaknya ‘Ali. Apabila wafatnya ‘Ali anaknya Hasan. Apabila wafatnya Hasan, anaknya Muhammad al-Mahdi. Mereka semua dua belas orang…..”Akhirnya lelaki Yahudi tadi memeluk Islam dan menceritakan bahawa nama-nama para imam dua belas telah tertulis di dalam buku-buku para Nabi yang terdahulu, dan ia termasuk di antara apa yang telah dijanjikan oleh Musa AS

.
Al-Hamawaini di dalam Fara’id al-Simtin meriwayatkan sanadnya kepada Abu Sulaiman penjaga unta Rasulullah SAWAW, dia berkata:”Aku mendengar Rasulullah SAWAW bersabda:”Di malam aku diperjalankan atau dibawa ke langit, Allah SWT berfirman:”Rasul mempercayai apa yang telah diturunkan kepadanya oleh TuhanNya.”Aku bersabda: Mukminun. Dia menjawab: Benar. Allah SWT berfirman lagi: Wahai Muhammad! Kali pertama Aku memerhatikan ahli bumi, Aku memilih anda. Aku menamakan anda dengan salah satu daripada nama-namaku. Oleh itu dimana sahaja Aku diingati, anda diingati bersama. Akulah al-Mahmud dan andalah Muhammad. Kemudian Aku memerhatikannya kali kedua, maka Aku memilih ‘Ali. Maka Aku menamakannya dengan namaku. Wahai Muhammad! Aku telah menjadikan anda dari Aku dan menjadikan ‘Ali, Fatimah, Hasan, Husain dan imam-imam daripada keturunan Husain daripada cahayaKu. Akupun membentangkan wilayah mereka kepada seluruh ahli langit dan bumi. Sesiapa yang menerimanya akan berada di sisiKu sebagai Mukminin. Dan sesiapa yang mengingkarinya akan berada di sisiKu sebagai kafirin. Wahai Muhammad! Sekiranya seorang daripada hamba-hambaKu beribadat kepadaKu tanpa terhenti-henti kemudian mendatangiKu dalam keadaan mengingkari wilayah kalian, nescaya Aku tidak mengampuninya. Allah SWT berfirman lagi kepada Nabi SAWAW: Adakah anda ingin melihat mereka? Beliau menjawab: Ya! Wahai Tuhanku. Dia berfirman: Lihatlah di kanan ‘Arasy, maka aku dapati ‘Ali, Fatimah, Hasan, Husain, ‘Ali bin Husain, Muhammad bin ‘Ali, Ja’far bin Muhammad, Musa bin Ja’far, ‘Ali bin Musa, Muhammad bin ‘Ali, ‘Ali bin Muhammad, Hasan bin ‘Ali dan Muhammad al-Mahdi bin Hasan. Mereka diibaratkan bintang-bintang yang bersinar di kalangan mereka. Kemudian Dia berfirman lagi: Mereka itulah hujjah-hujjah ke atas hamba-hambaKu, mereka itulah wasi-wasi anda. Dan al-Mahdi adalah daripada ‘itrah anda. Demi kemuliaanKu dan kebesaranKu, dia akan membalas dendam terhadap musuh-musuhKu.”

.

Muwaffaq bin Ahmad al-Hanafi di dalam Manaqibnya meriwayatkan daripada Salman daripada Nabi SAWAW, sesungguhnya beliau bersabda kepada Husain:”Andalah imam anak lelaki seorang imam, saudara kepada imam, bapa kepada sembilan imam. Dan yang kesembilan daripada mereka ialah Qaim mereka (al-Mahdi AS).
Begitulah juga Syahabuddin al-Hindi di dalam Manaqibnya telah menerangkan sanadnya daripada Nabi SAWAW bahawa beliau bersabda:”Sembilan imam adalah daripada anak cucu (keturunan) Husain bin ‘Ali dan yang kesembilan mereka adalah Qaim mereka (imam al-Mahdi al-Muntazar AS).

.

Al-Hamawaini al-Syafi’e meriwayatkan di dalam Fara’id al-Simtin bahawa Nabi SAWAW bersabda:” Siapa yang suka berpegang kepada ugamaku dan menaiki bahtera kejayaan selepasku, maka hendaklah dia mengikuti ‘Ali bin Abi Talib, memusuhi seterunya dan mewalikan walinya kerana beliau adalah wasiku, dan khalifahku ke atas ummatku semasa hidupku dan selepas kewafatanku. Beliau adalah imam setiap muslim dan amir setiap mukmin, perkataannya adalah perkataanku, perintahnya adalah perintahku. Larangannya adalah laranganku. Pengikutnya adalah pengikutku. Penolongnya adalah penolongku. Orang yang menjauhinya adalah menjauhiku.”

.
Kemudian Nabi SAWAW bersabda lagi: Sesiapa yang menjauhi ‘Ali selepasku, dia tidak akan ‘melihatku.’ Dan aku tidak melihatnya di hari kiamat. Dan siapa yang menentang ‘Ali, Allah haramkan ke atasnya syurga dan menjadikan tempat tinggalnya di neraka. Siapa yang menjauhi ‘Ali, Allah akan menjauhinya di hari kiamat. Di hari itu akan didedahkan segala-galanya dan sesiapa yang menolong ‘Ali, nescaya Allah akan menolongnya.

.
Kemudian beliau bersabda lagi: Hasan dan Husain kedua-duanya adalah imam ummatku selepas bapa mereka berdua adalah penghulu-penghulu pemuda syurga. Ibu kedua-duanya adalah penghulu para wasi. Dan sembilan imam adalah daripada anak cucu Husain. Dan yang kesembilan mereka adalah Qaim mereka (imam al-Mahdi). Mentaati mereka adalah ketaatan kepadaku. Mendurhakakan mereka adalah mendurhakaiku. Kepada Allah aku mengadu bagi orang yang menentang kelebihan mereka, dan menghilangkan kehormatan mereka selepasku. Cukuplah bagi Allah sebagai wali dan penghulu kepada ‘itrahku, para imam ummatku. Pasti Allah akan menyiksa orang yang menentang hak mereka.”Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.”(Al-Syuara’(26): 227)

.

Ayatullah al-’Uzma al-Hulli di dalam bukunya Kasyf al-Haq (Kasyf al-Haq, I, hlm 108) telah menerangkan sebahagian daripada hadith dua belas khalifah dengan riwayat yang bermacam-macam. Seorang musuh ketatnya bernama Fadhl bin Ruzbahan al-Nasibi adalah orang yang paling kuat menentang Ahlu l-Bait AS, di dalam jawapan kepadanya mengakui bahawa apa yang disebutkan oleh Allamah al-Hulli mengenai dua belas khalifah adalah Sahih dan telah dicatat di dalam buku-buku Sahih Ahlu s-Sunnah.

.

Aku berkata: Riwayat hadith dua belas imam daripada Nabi SAWAW adalah terlalu banyak. Kami hanya menyebutkan sebahagian kecil daripada buku-buku Ahlu s-Sunnah wa l-Jama’ah yang mencatatkan hadith tersebut. Seperti al-Bayan karangan al-Hafiz al-Khanji, Fasl al-Khittab karangan Khawajah Faris al-Hanafi, Arba’in karangan Syeikh As’ad bin Ibrahim al-Hanbali, Arba’in karangan Ibn Abi l-Fawarith dan lain-lain buku Ahlu s-Sunnah. Adapun riwayat Syi’ah mengenainya adalah tidak terhitung banyaknya.

.

Sayyid Hasyim al-Bahrani di dalam bukunya Ghayah al-Maram (Ghayah al-Maram, I, hlm 309) telah menjelaskan hadith dua belas imam sebanyak enam puluh riwayat dengan sanad-sanadnya menurut metod Ahlu s-Sunnah wa l-Jama’ah. Tujuh riwayat daripada buku Manaqib Amiru l-Mukminin AS karangan Maghazali al-Syafi’i, dua puluh tiga riwayat daripada Fara’id al-Simtin karangan al-Hamawaini, satu riwayat daripada Fusul al-Muhimmah karangan Ibn al-Sibagh al-Maliki dan satu riwayat daripada Syarh Nahj al-Balaghah karangan Ibn Abi l-Hadid.

.

Aku berkata: Sesungguhnya aku telah mengkaji risalah karangan Syaikh Kazim ‘Ali Nuh RH berjudul Turuq Hadith al-A’immah min Quraisy, hlm. 14. Dia berkata bahawa ‘Allamah Sayyid Hasan Sadr al-Din di dalam bukunya al-Durar al-Musawiyyah Fi Syarh al-’Aqa’id al-Ja’fariyyah telah mengeluarkan hadith dua belas khalifah daripada Ahmad bin Hanbal sebanyak tiga puluh empat riwayat. Hadith ini telah dikeluarkan juga oleh al-Bukhari, Muslim, al-Humaidi, beberapa riwayat Razin di dalam Sahih Sittah, riwayat al-Tha’labi, Abu Sa’id al-Khudri, Abu Bardah, Ibn Umar, Abdu r-Rahman Ibn Samurah, Jabir, Anas, Abu Hurairah, Ibn ‘Abbas, ‘Umar bin al-Khattab, ‘Aisyah, Wa’ilah dan Abi Salma al-Ra’i.

Adapun riwayat Umar bin al-Khattab yang telah dikaitkan kepadanya oleh ‘Ali bin al-Musayyab mengenai sabda Nabi SAWAW ialah: Para imam selepasku di antaranya Mahdi ummat ini. Siapa yang berpegang kepada mereka selepasku, maka sesungguhnya dia telah berpegang kepada tali Allah. Hadith ini juga telah dikaitkan dengan al-Durasti dengan Ibn al-Muthanna yang bertanya kepada ‘Aisyah:”Berapakah khalifah Rasulullah SAWAW. ‘Aisyah menjawab:’Beliau (Rasulullah SAW) memberitahuku bahawa selepasnya dua belas khalifah.’ Aku bertanya: Siapakah mereka? Maka ‘Aisyah menjawab:’Nama-nama mereka tertulis di sisiku dengan imla Rasulullah SAWAW.’ Maka aku bertanya kepadanya: Apakah nama-nama mereka? Maka dia enggan memperkenalkannya kepadaku.’

.

Sayyid al-Bahrani juga mencatat sebahagian daripada buku-buku Ahlu s-Sunnah yang menyebutkan dua belas khalifah. Di antaranya Manaqib Ahmad bin Hanbal, Tanzil al-Qur’an fi Manaqib Ahlu l-Bait karangan Ibn Nu’aim al-Isfahani, Faraid al-Simtin karangan al-Hamawaini, Matalib al-Su’ul karangan Muhammad bin Talhah al-Syafi’i, Kitab al-Bayan karangan al-Kanji al-Syafi’i, Musnad al-Fatimah karangan al-Dar al-Qutni, Fadhail Ahlu l-Bait karangan al-Khawarizmi al-Hanafi, al-Manaqib karangan Ibn al-Maghazali al-Syafi’i, al-Fusul al-Muhimmah karangan Ibn al-Sibagh al-Maliki, Jawahir al-’Aqdain karangan al-Samhudi, Dhakha’ir al-’Uqba karangan Muhibbuddin al-Tabari, Mawaddah al-Qurba karangan Syihab al-Hamdani al-Syafi’i, al-Sawa’iq al-Muhriqah karangan Ibn Hajr al-Haithami, al-Isabah karangan Ibn Hajr al-’Asqalani, Musnad Ahmad bin Hanbal, Musnad Abi Ya’la al-Mausuli, Musnad Abi Bakr al-Bazzar, Mu’jam al-Tabrani, Jam’ al-Saghir karangan al-Suyuti, Kunuz al-Daqa’iq karangan al-Munawi dan lain-lain

.

Aku berkata: Sesungguhnya riwayat-riwayat yang berbilang-bilang yang datang kepada kita menurut metod Ahlu s-Sunnah adalah sekuat dalil, dan hujjah yang paling terang bahawa sesungguhnya khalifah selepas Rasulullah SAWAW secara langsung ialah Imam Amiru l-Mukminin ‘Ali bin Abi Talib AS. Dan selepasnya ialah anak-anaknya sebelas imam yang maksum, pengganti Rasul dan para imam Muslimin satu selepas satu sehingga manusia ‘berhadapan’ dengan Tuhan mereka. Tiada seorangpun yang dapat mengingkari hadith-hadith yang sabit yang diriwayatkan menurut riwayat para ulama besar Ahlu s-Sunnah dan pakar-pakar hadith mereka, lebih-lebih lagi menurut riwayat Syi’ah. Kecuali cahaya pemikirannya telah dipadamkan dan dijadikan di hatinya penutup. Justeru itu ia adalah termasuk di dalam firmanNya di dalam (Surah al-Baqarah (2): 171)”Mereka itu bisu dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti.”Dan firmanNya (Surah al-Zukhruf(43): 36) “Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah, Kami akan adakan baginya syaitan (yang menyesatkan), maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.”Dan firmanNya (Surah al-Kahf(18):57)”Kami jadikan di hati mereka tutupan (sehingga mereka tidak) memahaminya dan (Kami letakkan) sumbatan di telinga mereka, sekalipun kamu menyeru mereka kepada petunjuk, nescaya tidak akan mendapat petunjuk selama-lamanya.”

Ini adalah disebabkan penentangan mereka kepada dalil yang terang dan nas yang zahir kerana fanatik, kufur, dan kedegilan mereka

.

Muhammad bin Idris al-Syafi’i memperakui kesahihan apa yang kami telah menyebutkannya dengan syairnya yang masyhur:

Manakala aku melihat manusia telah berpegang
kepada mazhab yang bermacam-macam
di lautan kebodohan dan kejahilan
Aku menaiki dengan nama Allah bahtera kejayaan
mereka itulah Ahlu l-Bait al-Mustaffa
penamat segala Rasul

.

Pengiktirafan Syafi’i bahawa ‘Ali adalah imam dan selepasnya sebelas imam merupakan pengiktirafan yang besar daripada seorang imam mazhab empat. Dan ianya menjadi hujjah keimamahan dua belas imam maksum dari keluarga Rasulullah SAWW

.

Sekarang, persoalannya adalah, sudahkah anda mengenal Imam Zaman anda?