Author: syiahali

syiah tidak sesat

Shahin Najafi (31), penyanyi rap berkebangsaan Iran, difatwa murtad oleh ulama

E-mail Cetak PDF

Hina Imam Maksum Syiah, Rapper Iran Diburu Pembunuh Bayaran

Rujukan Syi’ah Iran Shafi Kalbikani telah mengeluarkan fatwa murtadnya Syahin Najafi penyanyi rapr Iran yang kini tinggal di Jerman. Fatwa itu juga mengumumkan bahwa siapa saja yang yang berhasil membunuhnya maka hadiah 500 ribu dolar akan menantinya, demikian lansir harian Al Alim (15/5/2012).Rapper itu sendiri dihukumi murtad karena menggunakan An Naqi salah satu julukan imam ke 10 kaum Syi’ah sebagai judul lagu

.

Dalam lagunya juga disebut-sebut bahwa Syahin mengharap imam ke 10 untuk menyelamatkan masyarakat Iran saat ini. Dan hal itu ia lakukan untuk mengkritik pemerintah Iran saat ini

.

Syahin pun mengadukan kepada pemerintah Jerman mengenai fatwa itu. Pihak Jerman juga menyampaikan bahwa siapa saja tidak bisa melaksanakan fatwa itu di Jerman

.

Shahin Najafi, seorang rapper asal Iran, menjadi target pembunuh bayaran, setelah sebuah situs internet kelompok Islam Syiah Iran, menawarkan uang tunai sebesar 100 ribu US Dollar, bagisiapapun yang dapat merenggut kepalanya.

.

Hal itu menyusul kemarahan masyarakat Iran, atas lagu ciptaanya, yang berjudul Naghi, yang dinilai telah menghina Imam Besar Syiah Iran, Imam Hadi.

.

Lagu itu, ditulis Shahin Najafi, dalam bahasa Persia, yang menurutnya tidak dimaksudkan untuk mengolok-olok tokoh agama di Iran, namun mengkritisi kebiasaan masyarakat di Iran.

.

“Bagi saya itu merupakan cara saya berbicara tentang mengkritik masyarakat Iran dalam lagu. Sepertinya orang hanya melihat sepenggal kata Imam dalam lirik lagu,” ujar Najafi dalam sebuah wawancara dengan Qantara, Badan Luar Negeri Jerman untuk mempromosikan dialog dengan dunia Islam, seperti dikutip dari CNN, Jumat (18/5/2012).

.

Namun para tokoh agama di Iran melihatnya berbeda.  “Setelah melakukan penghinaan terhadap Imam Hadi (7 Imam Syiah) dalam lagu berjudul ‘Naghi’, Ayatollah Safi Golpayegani, telah menyatakan oleh penyanyi rap Shahin Najafi, murtad,” ucap seorang pejabat Pemerintah Iran, yang dikutip Kantor Berita Iran, Fars.

.

Golpayegani yang merupakan Imam Besar, memegang kekuasaan tertinggi dalam Islam Syiah. Sementara bagi seseorang yang dinyatakan murtad, terancam hukuman mati menurut hukum Iran.

.

“Jika lagu tersebut mengandung penghinaan atau ketidaksenonohan terhadap Imam Naghi, maka itu adalah penghujatan, dan Tuhan tahu apa yang harus dilakukan,” kata Golpayegani.

Rapper Iran Terancam Hukuman Mati

Seorang penyanyi rap asal Iran dianggap telah menghina ajaran Syiah melalui lagu-lagunya. Fatwa murtad hingga ancaman hukuman mati harus dia hadapi saat ini.
.
Shahin Najafi (31), penyanyi rap berkebangsaan Iran, difatwa murtad oleh ulama negara tersebut, sehingga terancam dihukum mati. Lagunya yang berjudul “Naghi” dianggap menghujat Ali al-Naqi, imam kesepuluh dari duabelas imam yang diteladani dalam ajaran Syiah.
.
Ayatullah Agung Naser Makarem-Shirazi memfatwa Najafi sebagai murtad, Minggu (13/5). Sebelumnya, Ayatullah Agung Lotfollah Safi Golpaygani mengeluarkan pernyataan tertulis untuk merespon pertanyaan tentang lagu tersebut. Di dalamnya tertulis “Bila mereka telah menghina imam, mereka adalah murtad, “ kutip bbc.co.uk.
.
Lagu yang dipublikasikan di Youtube pekan lalu itu menguraikan kronologi kejadian setahun belakangan. Najafi menolak tuduhan menghina agama, karena melalui lagu tersebut, dia bermaksud mengkritik masyarakat Iran.
.
Selain menghujat, sebagian juga menilai Najafi mengasosiasikan budaya Syiah dengan seksualitas. “Islam merupakan agama yang paling transparan tentang seksualitas dan selalu terbuka terhadap konsep-konsep demikian,” kata Najafi, seperti diberitakan bbc.co.uk.
.
Penyanyi yang pindah ke Jerman sejak tahun 2005 itu terkenal dengan lagu-lagunya yang kerap mengangkat isu sosial dan politik di Iran. Salah satu lagunya terkenal berjudul Mahdi, bercerita tentang sang imam terakhir akan muncul kembali untuk membantu pekerja miskin sekaligus keinginan rakyat Iran untuk melawan penguasa. Menurut Najafi, lagu Mahdi “tidak mendapat reaksi semacam ini.”
.
Dalam lagu “Naghi”, Najafi dinyatakan telah memperolok Imam Mahdi karena mengatakan sang Imam sedang tertidur lelap sehingga imam-imam lain harus datang dan menyelamatkan dunia.
.
Dia berpendapat, ini adalah masalah mereka yang memiliki pandangan dogmatik dan ideologis dalam isu ini. “Saya pikir akan ada perdebatan, namun saya tidak menyangka akan menyinggung rezim sedalam itu. Kini mereka mengambil keuntungan dari situasi ini dan menampilkan seolah-olah saya mencoba mengkritik agama dan meremehkan penganutnya,” kata Najafi saat diwawancara stasiun televisi Deutsche Welle, yang dikutip guardian.co.uk.
.
“Bagi saya, ini lebih merupakan sebuah alasan untuk berbicara mengenai hal-hal yang berbeda. Saya juga mengkritik masyarakat Iran di lagu itu. Orang-orang sepertinya hanya berkonsentrasi di kata ‘imam’,” tambahnya.
.
Najafi menyatakan, fatwa itu memancing kekerasan. “Ketika Anda mengumumkan hukuman mati kepada seseorang, bahkan di bawah asumsi bahwa orang itu telah menghina kesucian agama, itu adalah  kekerasan yang menyebar, dan itu tidak dapat diterima,” tuturnya kepada situs Radio Free Europe/Radio Liberty, rferl.org.
.
Situs Shia-Online.ir menjanjikan hadiah bagi siapapun yang bisa membunuh penyanyi tersebut. “Seorang pendiri situs ini yang tinggal di salah satu negara di Teluk Arab telah menjanjikan 100 juta dolar AS atas nama Shia-Online.ir bagi pembunuh penyanyi hina ini,” tulis situs itu.
.

Walau telah difatwa dan terancam terbunuh, Najafi menyatakan tidak menyesal. “Bila dalam satu detik saya menyesali yang saya lakukan, saya akan berpisah dengan musik.”

Keterlibatan Saudi atas Pembunuhan Ulama Sunni di Iran dalam upaya adu domba sunni-syi’ah ! biadab setan nejed

Iran:
Keterlibatan Saudi atas Pembunuhan Ulama Sunni di Iran
Gerakan Wahabi Arab Saudi dilaporkan telah mengelontorkan dana sebanyak 500.000 dolar AS untuk pembunuhan Molavi Jangi Zehi. Dugaan tersebut berdasarkan kesaksian dua orang yang telah diciduk pihak kepolisian Iran dan memberikan pengakuan mengenai adanya kucuran dana tersebut.
Keterlibatan Saudi atas Pembunuhan Ulama Sunni di Iran.
Hakim Pengadilan Zahedan, Mohammad Marzieh menyatakan beberapa orang telah mengaku terlibat dalam kasus pembunuhan ulama Sunni Iran awal tahun lalu.Gerakan Wahabi Arab Saudi dilaporkan telah mengelontorkan dana sebanyak 500.000 dolar AS untuk pembunuhan Molavi Jangi Zehi. Dugaan tersebut berdasarkan kesaksian dua orang yang telah diciduk pihak kepolisian Iran dan memberikan pengakuan mengenai adanya kucuran dana tersebut
.
Jangi Zehi seorang tokoh ulama kharismatik Sunni yang memberikan dukungan dan pernyataan kesetiaannya terhadap Republik Islam Iran. Beliau juga bahkan sering mengecam Wahabi berkenaan permusuhannya terhadap Iran dan Syiah. Beliau menjabat Imam Shalat Jum’at. Awal tahun lalu, sehabis memimpin shalat Ashar di masjid dan dalam perjalanan pulang ke rumahnya, peluru tajam telah merenggut nyawanya. Beliau dibunuh oleh sekelompok teroris di selatan kota Rask
.

Ulama Sunni tersebut dikenal sebagai tokoh yang sering menyuarakan kekesalannya atas keterlibatan Riyadh dan Manama berkenaan dengan kondisi umat Sunni di Iran. Beliau membantah keras bahwa Sunni di Iran dizalimi dan diperlakukan tidak adil oleh pemerintahan Iran yang Syiah.
Sebelum pembunuhan ulama tersebut, Jangi Zeghi telah beberapa kali menerima ancaman dari pihak musuh untuk menghentikan kecaman-kecamannya termasuk anjurannya kepada komunitas Sunni di Iran untuk tetap terlibat dalam Pemilu bahkan menyebutnya keikutsertaan dalam pemilu adalah salah satu kewajiban agama.

Ulama Sunni tersebut juga telah memainkan peranan yang penting dalam memperluaskan ide persatuan Sunni-Syiah di kalangan masyarakat Ahlu Sunnah Wal Jamaah.

Pihak Kepolisian Iran pada 11 April lalu telah berhasil melakukan penangkapan terhadap beberapa orang yang diduga sebagai pelaku pembunuhan. Hasil penyidikan kepolisian pun menyebut bahwa Organisasi Mujahedin-e Khalq (MKO) turut terlibat dalam kasus tersebut dengan bantuan Saudi

.

Arab Saudi:
Raja Saudi Memecat Penasehat Pribadinya
.
Raja Arab Saudi telah mengusir penasehat istana kesultanan negaranya disebabkan terungkapnya beberapa aksi kritik yang ada.
Raja Saudi Memecat Penasehat Pribadinya.
“Abdullah bin Abdul Aziz” raja Arab Saudi berdasarkan rangkaian kegiatan terakhir setelah terbongkarnya konflik dalam keluarga Su’ud, kini melakukan pengusiran terhadap Syekh “Abdul Muhsin al-Abikan” selaku penasehat pribadinya.Media massa Libanon menyebarkan berita tersebut dari agen berita resmi Arab Saudi “WAS” dengan menulis, “Kemarin, Raja Saudi di bawah perintah kerajaan telah memecat penasehatnya Syekh Abdul Muhsin al-Abikan tanpa alasan.”Pengusiran ini terjadi setelah adanya aksi protes terhadap al-Abikan yang melakukan acara bincang-bincang di salah satu stasiun radio dan menyatakan beberapa ketentuan Negara serta politik terkait penggabungan wanita dan pria.

Menurut aturan Abdullah bin Abdul Aziz, “Mengingat apa yang telah disampaikan oleh wali ahd, wakil kepala dewan kementerian syuro dan kementerian Negara dengan ini kami perintahkan Syekh Abdul Muhsin bin Nashir al-Abikan untuk melepaskan jabatan penasehat kerajaan”.
Al-Abikan beberapa hari sebelumnya juga mengkritisi sistem hukum Arab Saudi melalui siaran “Fatwa Kalian” di salah satu stasiun radio serta mengklaim beberapa oknum telah membaratkan masyarakat Arab.

Al-Abikan menyatakan: “Ada rencana memasukan peradaban barat ke masyarakat dan wanita Saudi juga melenyapkan hukum Islam serta menggantinya dengan peraturan yang beberapa oknum memiliki kendali dalam sistem hukum tersebut dan berhak menjalankannya.”
Beliau juga mengumumkan bahwa ada beberapa pihak yang sedang berupaya untuk melepaskan hijab dan menggabungkan wanita dan pria di Negara tersebut. Akan tetapi terhimpit oleh lembaga kehakiman Saudi yang terlampau tegas.

Khalidul Malik pimpinan surat kabar AlJazeera milik keluarga Su’ud mengidentifikasikan perbuatan Al-Abikan tersebut sebagai tindakan yang dungu serta berdalih bahwa syekh tersebut memanfaatkan agama untuk tujuan pribadi.

Kritikan pedas ini menyatakan bahwa pribadi yang seperti ini tidak layak dipekerjakan oleh departemen kerajaan dan tidak berapa lama kemudian Abdullah bin Abdul Aziz pun memecatnya

.

Larijani:
Bahrain Bukan Asupan yang Mudah Ditelan Kerongkongan Arab Saudi
Ketua Majelis Permusyawaratan Islam dalam menanggapi para perwakilan yang menginginkan kesungguhan tindak lanjut pimpinan politik luar negeri terkait rencana Arab Saudi yang ingin menguasai Bahrain menyatakan, “Bahrain bukan asupan sederhana yang mudah ditelan kerongkongan Arab Saudi dan dimanfaatkan begitu saja.”
Bahrain Bukan Asupan yang Mudah Ditelan Kerongkongan Arab Saudi.
Husain Ali Shahriyari perwakilan Zahedan pada sidang terbuka Senin dalam pernyataannya tertuju Larijan, “Seperti yang anda ketahui hingga tahun 1340 (Kalender Iran) dulu Bahrain merupakan provinsi ke 14 Iran tetapi amat disayangkan akibat pengkhianatan SYah dan pengesahan MPR Bahrain menjadi negara mandiri.”Lanjutnya, “Jika ada sesuatu yang terjadi dengan Bahrain, maka yang memiliki hak adalah republik Islam Iran bukan Arab Saudi.”

.
Pimpinan Komisi Kesehatan dan Pengobatan memanaskan sidang, “Konspirasi Ali Khalifah dan Arab Saudi harus diperangi.”
.
Shahriyari menyatakan, “Yang kami nantikan adalah Pimpinan politik luar negeri sepatutnya bersungguh-sungguh menindaklanjuti aksi ini.”
Larijani, ketua majelis memperingatkan, “Bahrain bukan asupan sederhana yang mudah ditelan kerongkongan Arab Saudi dan dimanfaatkan begitu saja.”Beliau mendefinisikan kebangkitan tersebut sebagai pembentukan Bahrain seraya berkata, “Perbuatan bangsa Badui saat ini memberikan pengaruh buruk di negara tersebut dan merasuki berbagai perkara.”

Bukti Bukti Kedustaan kutipan website wahabi yang memalsukan data tentang syi’ah ! wahabi ahlul fitnah

KASYFUL ASRAR KHOMAEINI ANTARA BAHASA ARAB DAN BAHASA PARSI

.
KASYFUL ASRAR KHOMAEINI ANTARA BAHASA ARAB DAN BAHASA PARSI
Prof. Dr Ibrahim Ad Dasuqi Syata
Rektor Bahasa-Bahasa dan Sastra Timur
Fakultas Sastra Univeritas Kairo
Yayasan as-Sajjad.
BISMILLAH
BI MUHAMMAD WA AALI MUHAMMAD…
Imam Khomaini kembali di fitnah, group-group anti syiah di forum jejaring sosial menyajikan postingan yang berisi tulisan Ayatullah Khomeini yang konon kabarnya mengecam habis dan mencaci maki para sahabat. Keberadaan tulisan tersebut telah menyulut kutukan dan cacian yang ditujukan kepada Imam Khomaini. Benarkah Imam Khomaini telah membuat senarai tulisan yang mengutuk para sahabat? syiahnews kali ini membongkar konspirasi kejahatan orang-orang yang mengaku Islam yang telah dengan sengaja memalsukan pernyataan Imam Khomaini. Sebuah kejahatan yang didukung oleh dua agen besar CIA dan MOSAD Israel dan dinegeri ini kembali di edarkan oleh orang-orang yang mengaku Islam sejati.
.
Membaca Postingan Para Pembenci Imam Khomaini
Postingan yang konon di kutip dari Kitab Kasyful Asrar  karya Imam Khomaini dituliskan oleh admin sebuah group jejaring sosial yang menamakan dirinya ANTI SYIAH RAFIDOH, ia bernama Khamid al Khamid yang berasal dari Pasuruan Jawa Timur. Kutipan ini oleh Khamid telah disebarluaskan ke seluruh anggota group itu, berikut kutipan postinganya:
.
Pernyataan Al-Khumaini, terhadap para Sahabat Nabi S.A.W., Al Qur’anul Karim dan terhadap Imam- imam ahlilbait sebagai berikut:
1.      Mereka (para sahabat Nabi) yang tiada lain terkecuali dunia yang mereka cari dan haus kekuasaan yang menjadi incaran mereka dan bukanlah Al Qur’an semata-mata sebagai alat untuk mewujudkan niat-niat mereka yang buruk dan dengan mudah membuat mereka membuang ayat-ayat itu dari Al Qur’an dan juga membuat mereka mengubah-ubah dan mensirnakannya, sehingga kehinaan terhadap Al Qur’an dan kaum Muslimin dapat berkelanjutan sampai Hari Kiamat. Tuduhan (perubahan kitab Taurat dan Injil) yang mereka (kaum Muslimin) tuduhkan kepada Yahudi dan Nasrani, sesungguhnya telah menjadi satu ketetapan atas mereka (kaum Muslimin) sendiri. (Kasyful Asrar, Al-Khumaini, hlm 114)
.
2.      Demikianlah, dengan tegas Khumaini menyatakan kepercayaannya, bahwa sahabat-sahabat Nabi itu durhaka dan jahat, yang bertujuan hanya mencari dunia dan haus kekuasaan serta mengubah-ubah Al Qur’an dan membuang banyak ayatnya, yang berakibat hilangnya Qur’an yang asli untuk selama-lamanya; malah Khumaini membela Yahudi dan Nashara dan mengatakan, justru bukan Taurat dan Injil yang telah berubah, tetapi justru Al Qur’an yang diubah oleh para Sahabat Nabi, demikianlah ocehan-ocehan Al Khumaini. Sesudah meyaksikan tulisannya, adakah sesuatu keraguan lagi bahwa apa yang dikatakan alkhumaini itu adalah “kesesatan dan kekafiran yang nyata ?”
.
3.      Dan selanjutnya dia tidak segan-segan menuduh Rasulullah dengan tuduhan sebagai berikut :
“Dan telah menjadi nyata, sekiranya Nabi benar-benar menyampaikan perintah mengenai “IMAMAH” sesuai dengan apa yang Allah perintahkan dan berdaya upaya untuk hal itu, niscaya tidak akan timbul di negeri-negeri Islam semua perselisihan, pertengkaran dan peperangan itu, dan tidak akan timbul pertentangan dalam pokok agama maupun cabangnya. (Kasyful Asrar, hlm.155).
.
4.      Selanjutnya dia berani berdusta atas nama Allah dengan berkata :
“Dengan Imamah-lah agama menjadi lengkap dan misi menjadi sempurna. (Kasyful Asrar, hlm.145).
.
Padahal Allah berfirman :
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا
Artinya :
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu.” (Al-Maidah, ayat 3).
.
Pemalsuan Kitab Kasyful Asrar Karya Imam Khomaini
Menanggapi tulisan tersebut kami berusaha meminta penjelasan dari saudara Khamid al Khamid, apakah dia sudah membaca dengan sendirinya kitab karya Imam Khomaini ataukah dia hanya mengutip dari suatu tempat, tetapi sayang dia bukannya memberi  jawaban melainkan pernyataan yang menggelikan, katanya “ulama-ulama syiah jawa timur berpegang kepada kitab Kasyful Asrar” kemudian seperti biasa melakukan caci maki kepada syiah.
.
Di tulisan sebelumnya di blog syiahnews.wordpress.com ini, ibnu jawi al jogjakartani pernah menuliskan tentang kejahatan-kejahatan pemalsuan karya-karya ulama syiah oleh kelompok Nawashib, salah satunya adalah pemalsuan terhadap karya Imam Khomaini, ada baiknya kami kutipkan kembali :
.
Kitab Kasyful Asrar karya Imam Khomaini
Kitab ini ditulis untuk menanggapi buku berjudul Asrar Umruha alfu ‘Am, buku ini ditemukan telah dipalsukan oleh kelompok konspirasi (yang sudah saya sebutkan diatas) dan buku palsu ini telah dimanfaatkan secara sempurna oleh kelompok konspirasi untuk menyerang Imam Khomaini dan Syi’ah diantaranya kemudian diterbitkan buku berjudul Ma’al ‘Khomaini fi kasyfi Asrarihi karya Dr Ahmad Kamal, Sa’id Hawwa juga menulis buku berjudul Al Fitnat-ul Khumayniyah (diterbitkan pula ke bahasa Indonesia)
.
Sa’id Hawwa juga bekerjasama dengan Dr Abdul Mun’im Namer beserta organisasi Konferensi Islam Rakyat Iraq menerbitkan buku berjudul Fadhlalh Ul Khumainiyah. Maha suci Allah, konspirasi tersebut akhirnya terbongkar dan yang membongkar justru Ahlu Sunnah sendiri, iaitu Dr Ibrahim Ad Dasuki Syata, seorang professor dan Ketua Bagian Bahasa dan Sastra Timur Universitas Cairo, yang menemukan tindakan jenayah kelompok konspirasi ini.
.
Dr Ibrahim Ad Dasuki Syata kemudian melakukan langkah-langkah hukum untuk memperbaiki nama baik ahlu sunnah. Temuan beliau diantaranya: Kitab Kasyful Asrar dipalsukan di Jordan oleh penerbit bernama Dar Ammar It Thaba’an wa-n ‘Nasr buku ini diterjemahkan oleh Dr. Muhammad al Bandari yang ternyata setelah diteliti nama ini tidak ada. Kemudian tercantum pula nama Sulaim al Hilali (komentator) dan terakhir Prof Dr Muhammad Ahmad al-Khatib.  Buku ini telah dipalsukan dari aslinya dengan sedemikian kasarnya, untuk mengetahui bagaimana kelompok konspirasi ini memalsukan kitab Imam Khomaini tersebut silahkan membaca di Kasyful Asrar Bayna  if shlihi al farisy wt tarjamah al urdaniyah karya Dr Ibrahim Ad Dasuki Syata, dalam kitab itu Dr Dasuki Syata menjelaskan secara detail per kata pemalsuan kelompok ahlu sunnah (Wahabi) pro konspirasi.
.
Pada kesempatan ini, syiahnews.wordpress.com menyajikan tulisan Dr Ibarhim ad Dasuki Syata yang membongkar kejahatan terhadap karya Imam Khomaini Kasyful Asyrar. Tulisan ini diambil seluruhnya dari buku yang sudah dialih bahasakan ke bahasa Indonesia yang berjudl KASYFUL ASRAR KHOMAEINI antara bahasa Arab dan Bahasa Parsi karya Dr Ibrahim Ad Dasuki Syata Diterbitkan oleh Yayasan As Sajjad Jakarta
.
Bantahan Prof. Dr Ibrahim Ad Dasuki Syata Atas Pemalsuan Kasyful Asrar Khomeini
Teks Surat Tuntutan
Kepada
Yth. Al Ustadz Dr Sa’ad Muhammad Al Hajarsy
.
Assalamu’alaikum Wr Wbt.
Saya tidak bermaksud agar anda lebih mengutamakan surat ini saja, saya bermaksud membicarakan tentang buku Kasyful Asrar, karya Ayatullah Khomeini yang diterjemahkan kedalam bahasa Arab di Jordan pada tahun 1987. Untuk pembahasan ini saya mempercayakan kepada anda karena saya tidak yakin bahwa selain anda ada majalah lain, yang saya percaya untuk menerbitkan sebagaimana adanya, tanpa pengurangan atau perubahan, sedikit maupun banyak.
.
Kepada Anda, saya sampaikan terima kasih dan penghargaan sebelumnya atas apa yang saya harapkan dan saya percaya tentang pentingya surat ini…! Barangkali belum ada sebuah buku dalam beberapa tahun terakhir yang begitu membuat heboh sebagaimana buku terakhir yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, buku tersebut adalah “Kasyful Asrar” karya Ayatullah Khomeini yang diterbitkan oleh Dar Ammar Lin Nasyr wat Tauzi’ di Amman tahun 1987.
.
Buku terjemahan itu di mukaddimahi oleh seorang guru besar hukum Islam, ia bernama Ahmad Al-Khathib,  dalam prakatanya ia menuliskan, (bahwa syiah) berdasarkan ucapan Khomeini meyakini tentang langgeng (kekal)nya jiwa setelah kepunahan raga, yang ini merupakan suatu kepercayaan tentang inkarnasi (penitisan/penyusupan) roh, dan menutup akan suatu pengingkaran terhadap hari kebangkitan dan hisab, bahwa ziarah kubur yang dilakukan oleh kaum syiah telah membuat mereka menjadi musyrik dan kecintaanya kepada Ahlul Bayt adalah suatu penghancuran terhadap Tauhid, Bahwa Ayatullah Khomeini yang meninggal pada tahun 1989 itu adalah orang pertama yang berpendapat tentang Al- Bada’.
.
Sesungguhnya permasalahan keyakinan syi’ah itu sudah menjadi pembicaraan tersendiri masing-masing golongan Islam seperti Syiah, Sunni, Mu’tazilah, Murjiah dan Qadariyah sudah banyak diketahui. Siapapun orangnya – tidak harus seorang guru syariah – dapat dengan mudah mengetahui prinsip masing-masing cukup hanya dengan membuka sebuah buku eksiklopedia ilmu kalam karya Syahrastani, atau Ibnu Hazm, atau al Baghdadi atau Al Asy’ari untuk menelaah sejarah permasalahan itu.
.
Sangat di sayangkan Ahmad Al-Khathib telah menafsirkan kata-kata dengan bersandar pada terjemahan yang salah, ia menyandarkan pada terjemahan yang tidak sesuai aslinya, yang menyebutkan bahwa Khomeini telah mencaci maki sahabat dan Rasul. Meski buku terjemahan yang keliru ini diprakatai oleh seorang Ustadz Syari’ah, maka kita harus menyatakan, tidak ikut campur dan mengikuti cara-caranya yang kurang sopan.
.
Substansi persoalanya disini  sebetulnya adalah persoalan ilmiah, yakni pemalsuan penterjemahan, yang sudah barang tentu memerlukan penuntut umum (seorang jaksa), dan persoalan ini bukan masalah perbedaan sejarah, tetapi masalah pemalsuan,  oleh karenanya yang diperlukan adalah seorang jaksa saja, untuk menuntut kasus pemalsuan atas Kasyful Asrar Khomeini. Karena buku terjemahan ini telah menjadi narasumber perpecahan yang menjurus konflik, karena buku terjemahan itu telah memancing orang berteriak-teriak mengutuk Revolusi Islam Iran dan pemimpinya, dan menjadi sumber untuk menghakimi Khomeini, beberapa buku telah diterbitkan untuk merespon buku yang dipalsukan itu, antara lain: Ma’al Khomaini Fi Kasyfi Asrarihi oleh Dr Ahmad Kamal Sya’st, “At Fitnat-ul-Khumainiyah oleh Sa’id Hawwa dan enam artikel yang berbeda-beda yang ditulis oleh pemikir Islam dibawah pimpinan Dr Bisyar Ma’ruf dalam buku yang berjudul Fadhlaih-ul-Khumainiyah,  yang kemudian diterbitkan oleh Organisasi Konfrensi Islam Rakyat Irak.
.
Yang mendorong saya untuk membahas masalah ini adalah artikel yang diterbitkan oleh sebuah surat kabar (edisi Februari 1989) yang ditulis oleh Abdul Mun’im Namer, ketika dunia Islam seluruhnya merasa terhina oleh kekurang ajaran Salman Ruhsdi yang mengigaukan penghinaan terhadap Islam, Qur’an dan Nabi SAWW dalam bukunya (Ayat-Ayat Setan). Tiba-tiba Dr Namer datang sambil menuntut agar kecaman terhadap Salam Rushdi dikurangi, dan ia meminta agar umat Islam mengalihkan sebagian kemarahannya kepada Ayatullah Khomeini,  karena Khumaeni dalam bukunya “Kasyful Asrar” itu  telah mencaci maki sahabat Nabi beberapa kali lipat lebih banyak daripada yang dilakukan Salman Rushdi, dan ia memberikan  gelar kepada Abu Bakar dan Umar dengan sebutan “Dua berhala Qurasy”.
.
Saya berupaya untuk mengingat-ingat, saat saya mempersiapkan buku “Revolusi Iran : Akar-akar dan Ideologinya”, saya membaca buku asli Kasyful Asrar  yang masih dalam bahasa Parsi, saya tak  pernah membaca kebohongan sebagaimana yang disebutkan oleh Dr Abdul Mun’im Namer. Untuk memastikan, saya merujuk kembali pada buku itu, dan ternyata tidak kudapati teks yang telah mengundang kemarahan sang Doktor itu. Akhirnya, dalam hati kukatakan, kalau begitu, sumber permasalahan ini menjadi tanggungjawab penuh penerjemah dari bahasa Parsi ke bahasa Arab.
.
Setelah melakukan penelitian pada buku terjemahan yang berbahasa Arab dan membandingkan dengan buku aslinya yang berbahasa Parsi, saya telah dapat mengungkap rahasia pemalsuan buku terjemahan Arab itu, yakni :
1.      Kudapatkan pada diri sang Profesor syari’ah itu sendiri, yang kata-katanya tidak memiliki keterkaitan sama sekali dengan sejarah  Islam.
2.      Kudapatkan tulisan-tulisan baru, yang tak pernah ada dalam buku-buku dan buku aslinya.
Dalam buku itu, kudapati seorang pemberi catatan pinggir – bernama Sulaim Al-Hilali – ia telah menganggap Abu Ali Ibnu Sina (Ibnu Sina-pen), sebagai bukan seorang muslim,  ia menuduh Ibnu Sina sebagai “Mulhid” (ateis), qaramithah dan kebatinan  (Kasyful Asrar terjemahan Bahasa Arab yang di palsukan halaman 17)… betapa anehnya pernyataan ini, bukankah di zaman kita ini nama-nama perguruan tinggi dan metodologi pendidikan tinggi kita diambil dari beliau? Bukankah ini adalah tuduhan tanpa realitas sejarah ? yang dilakukan oleh seorang Sulaim al-Hilali.
.
Sulaim al-Hilali, ahli imaginasi notes itu telah memberi catatan -Kasyful Asrar terjemahan bahasa Arab  yang dipalsukan itu-  dengan cacian dan kata-kata kotor yang ditujukan kepada pengarang buku itu Ayatullah Khomeini, ia menuliskan Khomeini sebagai Mulhid, kebatinan, pembohong, pendengki dan fanatik Parsi. Padahal Khomaini tidak pernah menuliskan tulisan sebagaimana yang diterjemahkan dalam bahasa Arab, sepenuhnya tulisan bahasa Arab itu menjadi tanggung penerjemah yang telah memalsukanya.
.
Kejahatan penerjemah bahasa Arab tersebut terjadi saat Khomaini menuliskan penjelasan pada pembaca  bahwa bukunya ditulis dalam bahasa Parsi (Farisiyah) – kata Farisiyah jika diterjemahkan berarti Bahasa Parsi –  tetapi oleh penterjemah Arab dirubah menjadi “Furs” yang berarti Bangsa Parsi, lalu ahli imaginasi notes mencacinya sebagai pengobar fanatik persia dan ia menentangnya sambil memberi nama Khomeini sebagai yang punya wahyu-wahyu syetan dan si pandir.
.
Dalam buku Kasyful Asrar terjemahan bahasa Arab  dalam setiap halamanya dipenuhi caci maki semacam itu… itu bukan tanpa kesengajaan, karena dalam setiap lembar buku itu tersedia bahwa terjemahan yang di palsukan sehingga memberikan bahan untuk mencaci maki penulisnya (Ayatullah Khomeini), sebagai contohnya adalah pada halaman 59 (Kasyful Asrar berbahasa Arab yang di palsukan), Khomeini ketika menjelaskan tentang syahid  ia menuliskan “Wa dhaha bi kulli wujudihi fi sabilillahi” (dan ia telah mengorbankan semua yang ada di jalan Allah) kemudian oleh penerjemah berbahasa Arab di palsukan sehingga berbunyi “Wa Khasaro ruhahu min ajlillahi ta’ala” (dan ia telah merugikan rohnya lantaran Allah Ta’ala).  Kemudian komentator menentangnya dengan melancarkan caci maki terhadap Khomeini lantaran beliau memandang syahid itu sebagai merugikan rohnya.
.
Penerjemah Arab dengan jahat menterjemahkan “Markaz Tasyayyu” yang tertera dengan bahasa Parsi yang berarti pusat pengkajian syiah, diputarbalikan artinya dengan kata mamlaka as syi’ah al kubra yang artinya kerajaan syi’ah raya (lihat di halaman 90 Kasyful Asrar terjemahan bahasa Arab yang dipalsukan) kemudian komentator catatan pinggir menantang Khomeini dengan mengatakan: Kaum muslimin seluruh dunia harus mewaspadai Khomeinisme yang tersembunyi di balik baris-baris buku ini”.
.
Penerjemah Arab dengan jahat menciptakan permusuhan dengan cara membelokan artinya, Khomeini menuliskan dalam bukunya “an Thariqi al Umum” yang artinya dengan cara yang umum yakni pada umumnya atau menurut semua muhaddisin, tetapi penerjemah Arab merubah dengan “an Thariqil ahlul ammah” (menurut jalan Ahlu Sunnah) pemberi catatan pinggir mengatakan bahwa yang dimaksud dengan Ammah itu adalah Ahlu sunnah, dan khomeini telah menghina Ahlu Sunnah. Padahal dalam buku aslinya Khomaini tidak pernah menyebut Ahlu Sunnah apalagi menghinanya.
.
Pemberi catatan pinggir itu kadang-kadang menerangkan – sekalipun ia sudah terlalu jelas bodohnya – bahwa ia merasa lebih mampu memahami keterangan-keterangan daripada pengarangnya sendiri, lalu ia mengomentari keterangan pengarangya tentang sebuah hadis syi’ah, dengan mengatakan “riwayat yang sudah gugur ini tidak berarti telah diakui oleh khomeini” (lihat kasyful Asrar terjemahan bahasa arab yang dipalsukan halaman 92).
.
Atau kadang ia mengatakan: Semoga Allah tidak memecahkan giginya dalam mendefinisikan tentang Al Bada’, dan sipenerjemah memalsukan deinisi Al- bada’ dengan arti yang tidak pernah tercantum dalam kitab-kitab ilmu kalam dan kemudian dinyatakan itu sebagai pernyataan Komeini. (Al Bada’ ialah bahwa Allah mengetahui apa yang sebelumnya tidak ia ketahui) halaman 99, dan contoh pemalsuan yang kemudian dinyatakan sebagai pernyataan Khomeini sangat banyak dan tidak mungkin disebutkan semuanya dalam tulisan ini.
.
Kini kita kembali membicarakan penerjemah, yang akan memikul beban besar pekerjaan ini, yakni Dr. Muhammad Al Bandari, dan kemungkinan namanya itu nama alias yang tentu saja menyandang gelar Doktor. Tetapi bukan Doktor dalam bahasa Parsi dan ilmu-ilmu bahasa Parsi, yang pengetahuan si penerjemah itu hanya mengetahui bahasa lisan saja. Nama Al Bandari yang dipakai penerjemah itu saya sebut nama alias, mungkin untuk meyakinkan ke pembacanya, karena nama al Bandari dipinjam dari seorang tokoh besar ahli Bahasa Parsi, Al Fath bin Ali Al Bandari penerjemah Syahnameh Al Firdausi kedalam bahasa Arab pada permulaan abad ke tujuh Hijriah.
.
Saya tidak habis mengerti, mengapa ia meletak nama samaran dengan tokoh besar itu? Bagaimanapun buku ini ditulis oleh seorang alim terkemuka dalam suasana tertentu, buku kasyful Asrar ini ditulis untuk membantah dan menangkis buku-buku tertentu dan menggunakan istilah tertentu pula, yang mengherankan penerjemah  yang bernama hebat itu,tidak mengetahui sedikitpun tentang masalah itu, ini menunjukan sebagai bukti bahwa terjemahan Kashful Asrar itu sebagai terjemahan keterlaluan dan penerjemah tidak memiliki pemahaman terhadap yang diterjemahkan baik dari segi permasalahanya maupun keseluruhan tulisannya. Ada kemungkinan hal ini menjadi penyebab lemah dan bekunya teks bahasa Arab itu sehubungan dengan revolusi yang hebat itu dan dalam segi-segi teks bahasa yang sedang tersiar.
.
Buku Kasyful Arar ini telah ditulis oleh Ayatullah Khomeini pada tahun 1942, ketika ia berusia empat puluh tahun, dan belum mencapai derajad mujtahid dan ketika Reza Syah Pahlevi jatuh, maka mulalah periode keterbukaan di negeri Iran, maka seorang penganjur nasionalisme Iran memanfaatkan masa itu untuk menyerang islam. Maka khomeini menulis bukunya untuk menangkis tulisan-tulisan Ahmad Kisrawi, seorang nasionalis Iran, yang menyerukan secara terbuka  agar bangsa Iran kembali ke bahasa dan agama Iran sebelum Islam. Buku Kasyful Asrar itu juga sebagai tangkisan  tulisan Syai’at Sankalji seorang penganjur pembaruan madzhab, dan  seorang yang bernama Abi al-Fazal Galbaigani al Bahaiy dan pengikutnya  yang menyerang syiah Istna ‘asyariyah.
Oleh karena faham wahabi pada waktu itu merusak peninggalan bersejarah islam, dengan menyerang peninggalan-peninggalan Islam dengan menuduh peninggalan itu sebagai kuburan. Wahabi juga menyerang dan menggoncangkan Al Azhar al-Syarif, ketika rombongan utusan Al Azhar dibawah pimpinan rektornya datang kepada Wahabi di tolak kerana dituduh pemuja kuburan. Kaum Wahabi merasa buku kasyful Asrar yang ditulis Khomaini ditujukan kepada mereka, padahal buku itu sekalipun membahas Ziarah Kubur, Nazar, Istikharah dan syafaat, namun buku itu hanya membahas secara umum sahaja.
.
Badan yang menyelenggarakan pekerjaaan terjemahan ini tidak mengetahui latar belakang teks aslinya oleh karenaya komentator dengan sangat serampangan memberikan alasan untuk mengkafirkan Khomeini. Dan penerjemah itu sendiri yang memikul beban dosa paling banyak. Pernahkan ada dengar tentang seorang penerjemah yang menampilkan terjemahan suatu naskah dalam bidang kelilmuan yang tak dikuasainya, atau melakukan suatu kesalahan kecil dengan mengganti istilah, “riwayah” yaitu istilah fiqh diganti dengan “hikayah”? (halaman 93), atau memutar balik terjemahan suatu teks, yang latar belakangnya sudah diterima dan terpakai dalam masa cukup lama dari budaya syi’ah, filsafat dan tasawuf.
.
Namun tanpa pengetahuan sedikitpun tentang permasalahanya, ia menerjemahkan dengan serampangan dan mengganti tauhid dengan syirik, tanzih yang berarti menyucikan Allah diterjemahkan menjadi tajdif (penghinaan terhadap Allah), Penterjemah mengganti kalimat “turabul ahya wahibun lil hayati (tanah yang akan memberi kehidupan) dengan at turbatu wahbatul lil hayati” (turbah itu memberi kehidupan) penerjemah mengganti ” turabul” menjadi “at turbatu”, mungkin untuk mengejek umat syiah yang kebanyakan mereka sujud dalam salatnya di atas sekeping tanah kering yang disebut turbah (lihat halaman 61).
.
Penerjemah tidak mampu membedakan antara riwayat “sapi betina Bani Israel” yang menghidupkan kembali orang mati, ketika sebagian tubuh sapi-yang sudah dipotong-itu dipukulkan kepada orang mati tersebut (QS Al Baqarah ayat 67-73) dengan Riwayat “anak sapi Samiry” yang telah ia gengam sekepal tanah dari jejak Rasul, kemudian ia masukkan ke dalam mulut sapi, kemudian jadilah patung emas itu anak sapi yang mempunyai suara (QS Thaha ayat 96).
.
Yang dimaksud dengan Rasul di sini ialah Jibril, dan riwayat itu merupakan salah satu dari bab-bab tasawuf bahasa Parsi, tetapi ia menerjemahkan Rasul itu dengan Nabi, sehingga campur aduklah kedua riwayat itu (lihat hal 62).
.
Inilah kejahilan yang parah, yang disandang oleh penerjemah itu tentang semua apa yang bersangkutan dengan keislaman, kemudian katanya, semestinya Ayatullah khomeinilah yang mengatakan kekufuran ini, perbedaan pendapat antara kaum muslimin tentang apabila Allah sudah atau belum mempunyai wujud, kemudian ia melanjutkan (apakah ia mencair dalam zatnya ataukah tidak cair, dan apakah mungkin Allah itu suatu jism atau bukan dan seterusnya) (terjemahan halaman 135). Berdasarkan terjemahan ini, penerjemah hendak menggiring pembacanya bahwa Khomaeini telah membuat pernyataan sia -sia itu. Apakah Khomeini menyatakan itu?
.
Sepotong katapun Khomeini tidak menuliskan hal itu dalam Kasyful Asrar. Dalam buku asli berbahasa Persia Khomaini menulis sebagai berikut “Namun ada suatu contoh tentang khilaf diantara kaum muslimin, yang berkisar apakah Allah mempunyai sifat-sifat atau tidak mempunyai sifat-sifat, kalau ia mempunyai sifat-sifat apakah sifat-sifatnya ialah dzatnya sendiri, apakah mungkin Allah merupakan suatu raga? (Teks Asli bahasa Persi hgal 113) bandingkan antara kedua terjemahan itu.
.
Ketika penterjemah itu kebetulan menghadapi masalah hukum Fiqhiyah bahwa air menjadi najis meskipun seukuran ujung jarum selama airnya kurang dari satu kur, maka ini akan mencampakkan seluruhnya, lantaran si penerjemah tidak memahami arti kata “kur” (atau air yang berukuran satu kur) dan tidak mau membenahi pikiran dengan mencari artinya.  Ia disibukan dengan urusan lebih penting, yaitu pemalsuan teks. (Bandingkan kitab terjemahan yang dipalsukan hal 231 dan teks aslinya hal 218) tentang kaidah fiqhiyah: “Muqadimat’ul wajibi wajibatun (Pengantar sesuatu yang wajib sesuatu yang wajib), penerjemah mencoretnya dua kali (yang pertama pada halaman 244 dan yan kedua di halaman 245) namun saya tidak tahu kenapa penerjemah membuang halaman 265 secara keseluruhan. Khususnya yang menyangkut keterangan bahwa Ayatullah Khomaini mencanangkan langkah-langkah dalam penanaman dan pertanian padi dan kesulitan-kesulitan yang memberatkan petani padi. Namun masalahnya apabila penerjemah itu tidak tahu tentang fiqh, tidakkah ia dalam keluasan ilmunya sebagai ustadz syariah dapat mengalihkan pandangan atau pendapatnya, atau mungkin ia belum membaca teks itu, kemudian melakukan terjemahannya?
.
Antara lain yang memperkuat keraguan, ialah, bahwa penguasaan penerjemah akan bahasa Parsi adalah  khayalan belaka, dan kebodohanya yang sempurna tentang sejarah Iran. Ia lagi-lagi membuang teks yang memuat nama orang kejam  yang bersejarah itu atau peristiwa yang melatari sejarah tersebut, sebagai contohnya ia tidak mau menterjemahkan terjadinya perjanjian kerjasama antara kerajaan Iran dan Inggris yang kemudian menyengsarakan rakyat Iran,  bahkan dua orang algojo kejam Mukhtari dan Ahmadi  yang gemar membunuh rakyat dimasa kekuasaan Reza Khan juga dibuang dan tidak dia terjemahkan, maka  jadilah ia  membuang sebagian besar teks  halaman 283 dari buku yang asli dan ia tidak menerjemahkanya, sepertinya ia mendukung kejahatan Reza Khan dan setuju dengan kerjasama Kerajaan Iran dengan Inggris yang ditentang Khomeini itu.
Tetapi sikap tak konsistennya itu justru membuka kedok kejahatan sang penerjemah, ia telah dengan sengaja mencuri nama besar Al Bandari, penerjemah kata-kata sulit dalam sastra Parsi, tapi ia memalsukan bahkan menghilangkan substansi buku yang ditulis Khomaini tersebut.
.
Bila kita katakan, bahwa penerjemah itu menjunjug kejujuran dalam penerjemahan, maka apakah dapat dibenarkan  ketika ia menerjemahkan ayat  Al Qur’an yang diterjemahkan kedalam bahasa Parsi itu kemudain ia terjemahkan ke dalam bahasa Arab lagi dengan semahunya sendiri tanpa merujuk kepada mushaf Al Qur’an :
.
Perhatikan bagaimana penerjemah Kasyful Asrar memalsukan ayat Al Qur’an, ia menuliskan: “Rab-isyrahli shadri wa yassili amri wahlul uqdatan min lisani yafqahu qauli, waj’al mu’ini Haruna akhi fa sydud sa’di bihi waj’allhu syariki”.
.
(Tuhanku, lapangkanlah dadaku, mudahkan urusanku, bukakan buhul tali yang mengingat lidahku sehingga mereka mengerti perkataanku, jadikanlah penolongku Harun, saudaraku, kuatkan lenganku denganya dan jadikan dia sekutuku) lihat terjemahan bahasa Arab yang dipalsukan halaman 158.
.
Padahal ayat tersebut dalam buku aslinya tertulis sebagaimana termuat dalam QS Thaha yang berbunyi:
.
“Qala Rab isyrahli wa yassirli amri wahlul ‘uqdatan min lisani yafqahu qauli waj’alli waziran min ahli Haruna akhi usydud bihi azri waasyrikhu fi amri “(Q Thaha 25-32)
.
(Ia Musa) berkata “Tuhanku, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah urusanku, bukakan buhul tali yang mengikat lidahku agar mereka mengerti perkataanku, dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, Harun saudaraku, kuatkanlah denganya bebanku dan persekutukanlah dia dalam urusanku).
.
Kalau dia memang tidak bermaksud menerjemahkan suatu nas dari Al Qur’an, mengapa ia meletakanya diantara dua kurung?
.
Dihalaman 160 dari terjemahan itu, kita baca: “Allahumma-b’adni wa auladi ‘an ‘Ibadatil austan (Ya Allah jauhkan daku dan anak-anaku dari penyembahan berhala) dan tentu yang ia maksud adalah ayat:
Rabbi j’nubni wa baniyya an na’budal ashnam (Tuhanku, jauhkanlah aku dan anak-anakku dari menyembah berhala).
Kita dapat membayangkan, seorang penerjemah yang tidak mau membuka mushaf (Qur’an) itu agar kita dapat melihat segi-segi geneusnya yang luarbiasa tetapi ia memalsukan tek-teks, membuang  maksudnya, yang pada akhirnya ia dapat mengeluarkan pernyataan yang mengkafirkan Ayatullah Khomeini, dan setiap orang akan mengikutinya dalam mengkafirkan Khomeini, sungguh kejahatan yang luar biasa.
.
Ya saya merasa berbahagia, wahai tuan-tuan para syeikh yang mulia, dan para ulama terkemuka dengan segala penghormatan dan penghargaanku untuk ikut mendorong dan menjadi mediator saya merasa pula berbahagia, untuk mengingatkan tuan-tuan semua, bahwa tuan-tuan telah tertipu dengan teks yang dipalsukan dan dibohongi, yang serupa dengan bahan-bahan perfileman palsu… ingin tahu buktinya? Marilah kita bersama-sama membuka-buka itu melalui teks Kasyful Asrar yang asli yang berbahasa Parsi :
.
Artikel yang khusus mengenai masalah Akidah, yang oleh pengarangnya dinamakan “Tauhid” ialah, sebagaimana yang saya katakan, memuat sebagian masalah-masalah keislaman dalam catatan pinggirnya, dan di dalamnya tidak ada pengkafiran terhadap siapapun yang berbeda dengan keyakinan penulisnya (khomaini).
.
Maka jadilah permasalahan kita yang paling pokok sekarang, di zaman keterbelakangan, zaman ikut-ikutan dan zaman minyak ini, dan paling wajar pula bagi penerjemah adalah cukup menukil (memindahkan) apa adanya, tetapi niat dan tujuan buruk itulah yang mendorong penerjemah melakukan perubahan dalam sebagain teks itu, kemudian ia buang apa yang ingin ia buang, sehingga muncullah serangan terhadap Khomeini, salah satunya adalah masalah Mukjizat, penerjemah telah dengan sengaja memutar balikan keterangan Khomaini sehingga menjadi keterangan yang tidak logis dan tidak dimengerti (lihat halaman 66 dan 67 dari terjemahan Kasyfula Asrar berbahasa Arab) dimana beberapa baris keteranganya dibuang sehingga terjemahanya tidak bisa dipahami.
.
Demikian pula terjadi pengubahan melalui pembuangan pengurangan, pada halaman 74 dari teks bahasa Arab yang berlawanan dengan halaman 57  dari terjemahanya itu, yang membuat teks bahasa Arab dalam terjemahan itu tidak dapat dimengerti, itu di lakukan dengan tujuan agar dapat diperkirakan oleh para pembacanya bahwa itu adalah ide penulisnya Khomaini.
.
Perhatikan pula, ketika penerjemah itu membuang keterangan di halaman 61 setelah keterangan “Kami persilahkan kalian bertanya kepada siapapun dari orang syiah Istna Asyary, dan keterangan yang dibuang adalah “Kami tidak bertanggungjawab tentang syiah yang lain” (pada tekas asli bahasa Parsi halaman 57), kita tidak mampu mengatakan bahwa pembuangan itu bukan tanpa maksud bahkan cenderung sebagai kesengajaan penterjemah, hal itu tidak lain adalah agar pembaca menyimpulkan bahwa Syi’ah Itsna Asyary  dipersamakan dengan Syi’ah Ghaliyah (ekstrim).
.
Demikian pula halnya, bahwa sebagian isi pemotongan tersebut menunjukan bahwa penerjemah tersebut menunjukan bahwa penerjemah itu menghadapi terjemahan yang berbeda dengan keyakinan yang ia peluk, maka ia dengan sengaja membuang keterangan, sehingga dia tidak memahami taswiyah dan tasnim dalam suatu diskusi tentang masalah bangunan kuburan lalu ia buang seluruhnya (hal 85).
.
Demikian pula kita tidak mengerti, mengapa dia membuang enam baris dalam halaman 96 tidak lain karena baris-baris itu memuat pujian dan sanjuangan terhadap Al Qur’an Karim? anda dapt melihat bahwa penerjemah tidak senang pada penulis Kasyful Asrar yang tampak sangat mencintai Al Qur’an
.
Fakta Kasyful Asrar terjemahan Arab menunjukkan, bahwa hampir setiap halaman dari terjemahan tidak ada yang terbebas dari pembuangan dan pemalsuan. Maksud dan tujuan dari pembuangan itu adalah memalsukan dan memperjauh terjemahan dari teks aslinya, dalam masalah Imamah misalnya  terdapat banyak sekali bahkan dikatakan seluruhnya dipalsukan oleh penerjemah, berikut catatan kami :
.
1. Pandangan pemikiran Khomini tentang Imamah, wilayah, wasiyat dan khilafah dinyatakan sebagai hasil pemikiran dan ijthad Khomaini, padahal pemikiran itu sudah ada sebagai peninggalan syiah seribu tahun silam, karena ada tujuan politik maka Khomainilah yang harus dinyatakan sebagai kreator paham itu.
.
2. Surat saya ini berkisar pada penerjemahan semata dan menilai sedekat apa terjemahan ini dengan teks aslinya yang berbahasa Persia. Ia merupakan diskusi ilmiah yang memuat nurani ilmiah pengetahuan di negeri kita ini, tetapi penerjemahan itu telah menghilangkan nurani keilmiahan.
.
Banyak sekali pemalsuan terhadap Kasyful Asrar-nya Khomaini sehingga nurani keilmiahan hilang, ketika penerjemah menterjemahkan kalimat “arbabul ahwa wa thullab ur ‘riasah (pemimpin hawa nafsu dan pemburu kepemimpinan ) teks asli hal 107 penerjemah mengganti dengan al intihaziyin al mutarabbishin (mereka yang mengambil kesempatan dan mereka yang menunggu-nunggu (hal 123 pada terjemahan yang dipalsukan), atau ia menerjemahkan “Ul ubatun fi yadi hafnatin min akhdzii ma laisa haqqan lahum”(permainan-permainan di telapak tangan orang-orang pengambil yang bukan hak mereka, diganti dengan “Al Qarashinah al waqihin” (pembajak yang tahu malu) ia lakukan penyelewengan penerjemahan itu dengan maksud membuka daun pintu caci maki, kemudian Ahlu Sunnah akan memandang, bahwa kandungan keterangan itu ialah ketiga khalifah pertama (Abu Bakar, Umar dan Utsman), padahal yang dimaksud oleh Khomaini adalah semua orang yang mengambil bagian atau bersekutu di Saqifah setelah Rasululaah saw wafat, atau setelah peristiwa-peristiwa seterusnya, dan telah disetujui atau terdapat dalam sumber-sumber sunnah dan syiah.
.
Ketika penerjemah atau pemberi catatan pinggir  memilih dan memberi catatan pinggir di halaman 126, lalu memutuskan bahwa Khomaini dan pengikutnya menyerupakan Abu Bakar dan Umar dengan Dua Berhala Quraisy, ia juga mengutip sebuah do’a yang salah dan tidak dipakai, yang tidak dibaca kecuali oleh orang fasiq, Sementara itu penerjemah menuliskan “Sesungguhnya do’a ini telah ditandatangani oleh para fuqaha besar syiah, dan diantaranya oleh Khomaini, kemudian penterjemah melanjutkan  sesungguhnya do’a itu terdapat dalam kitab Az Dzariy’ah dan kitab-kitab itu termasuk peninggalan syiah dan lebih dari itu ia dikutip dari sebuah kitab berbahasa urdu bernama Tuhfatul ‘Awam, maka atas setiap orang berlimu atau pelajar harus mengambil doa tersebut dan mneghubungkan dengan Khomaini. Padahal dalam naskah aslinya tidak ditemukan redaksi semacam itu Khomaini tidak pernah menyebut Abu Bakar dan Umar kecuali dengan sebutan “Syaikhain” dan ia menolak secara terbuka pencaci makian kepada mereka berdua setelah ia mencapai kekuasaan.
.
Agaknya – para ulama kita dengan ini – hendak menambahkan hal baru tersebut dalam metode ilmiah, yaitu bahwa catatan pinggir apapun yang ditambahkan kepada sebuah buku terjemahan, tidak boleh tidak – wajib dinisbahkan kepada pengarangya sekalipun itu bukan tulisan pengarangnya,  apakah nurani ilmiah kita pernah mendengar kaidah seperti ini? kemudian dari mana  penerjemah dan komentator itu memperoleh dan meniru tanda tangan syikh-syekh di atas do’a-do’a itu ? dan kapankah orang awam dari firqah apa saja yang mengatakan demikian -kalau mereka mengatakannya- yang dihubungkan kepada para pemikir dan ulamanya ? yang tahu tentang hal itu hanya penerjemah dan pencatat pinggir.
.
Kini kita beralih ke bagian berikutnya yang mengatakan bahwa (mentaati pemerintah Ulil Amri artinya mentaati pemerintah Islam (hal 125). pernyataan tendensius ini yang memutar balikan pikiran Khomaini secara paksa, agaknya merupakan terjemahan untuk keterangan yang mengatakan : “karena Allah swt telah mewajibkan  umat agar menaati ulil Amri, maka pemerintahan Islam pasti tidak boleh lebih dari satu pemerintahan. Kalau tidak, maka akan terjadi kekacauan/ketidak teraturan (hal 109 teks asli).
.
Penterjemah juga memalsukan  Hukmul kalalah wa mirastul jaddah (hukum kalalah -orang meninggal tidak meninggalkan saudara laki-laki dan perempuan dan warisan nenek) yang diterjemahkan menjadi: Ahkamul qashirin wal irsti (hukum-hukum tentang orang-orang yang kekurangan dan warisan). terjemahan ini membabi buta dalam perkara seperti ini, dan telah menciptakan permusuhan antar golongan-golongan yang berbeda dari kaum muslimin dianggap sebagi suatu kejahatan dengan tolak ukur apapun. Dapat dipastikan bahwa terjemahan ini tidak bertujuan lain kecuali menciptakan permusuhan.
.
Ketika pengarang (Khomaini) menjawab pertanyaan: “Kalau Imamah memang penting, mengapa Allah swt tidak memberi nash, dan tidak menyebutkan secara tegas dalam Al Qur’an bahwa Imamah itu untuk Ali dan anak keturunanya sesudah dia? Khomaini menjawab: Pernyataan yang dicari-cari ini hendaklah kalian sendiri yang menjawabnya, tidak lebih dan tidak kurang. Maka apabila Imamah adalah perkara batil, mengapa Allah swt tidak mengumumkan dengan terang-terangan dengan tegas tentang kebatilan imamah agar perselisihan pendapat diantara kaum muslimin dapat dicegah dan supaya tidak terjadi semua pembantaian ini karena isu imamah ini?
.
Adalah lebih utama kalau Allah menurunkan sebuah surat yang menegaskan bahwa Imamah bukan untuk Ali dan anak keturunanya, maka perselisihan akan hilang, sebab Ali tidak pernah mendurhakai perintah Allah sekejap matapun, sebagaimana pula tidak pernah menjadi penuntun risalah. Namun saya akan membuktikan kebenaran anggapan walaupun Allah SWT menyebutkan nama Imam secara tegas maka khilaf, perselisihan pendapat tidak akan hilang bahkan pasti muncul problem-problem yang lebih merugikan (Teks asli hal 113).
.
Bagian ini oleh penerjemah dimanipulasi sehingga berisi demikian: Problem berhubungan dengan kalian, bahwa para agamawan sedapat mungkin mengatakan, bahwa imamah sudah ada, tetapi mengapa Allah tidak memperjelasnya agar perselisihan pendapat antar kaum muslimin mengenai masalah itu lenyap? adalah lebih baik jika ia menurunkan suatu ayat yang menunjuk Ali bin Abi Thalib dan anak keturunanya, karena hal itu menyelesaikan masalah (terjemahan hal 129).
.
Biarlah kita tinggalkan dahulu metode baku itu. Sebaiknya kita lihat adakah sesuatu hubungan antar dua teks tersebut.
.
Tidakkah lebih utama demi rencana yang keji, jika ia menampilkan terjemahan yang dipercaya untuk buku itu lalu memberikan bantahan dari seorang terpercaya, khususnya dalam bidang itu, karena sesungguhnya persoalan-persoalan itu yang diributkan itu menghentikan studi tentang khazanah Islam? namun akan tampak jelas bahwa segi yang menjadi tanggungannya untuk dibantah, membuatnya tidak menemukan cara yang efektif selain memalsukan teks-teks, kemudian membantah dan mencaci maki.
.
Contoh-contoh seperti pencelupan dan terjemahan global tak terhitung banyaknya, sehingga pembaca seakan-akan membaca buku baru bukan terjemahan. Jika tidak maka jumlah para pakar bahasa Parsi selain al Bandari moden itu sungguh banyak. Mereka bisa diundang dan dimintai sarannya tentang masalah ini.
.
Kini giliran catatan-catatn pinggir yang menjadi sasaran manipulasi penerjemah, Ketika pengarang memberikan sebuah catatan pinggir tentang tentang sumber-sumber terpenting, yang ia jadikan pula sebagai alasan atas apa yang ia katakan. Sedangkan nomor-nomor halaman yang dapat menunjukkannya, dibuang seluruhnya oleh penerjemah (hal 115 dari teks asli dan hal 132 dari terjemahan), lalu akan kita namakan apa ini terjemahan atau pemalsuan?
.
Pada akhirnya penerjemah terperosok kedalam suatu kesalahan yang menertawakan dan mengerikan, namun saya berangan-angan mudah-mudahan itu hanya kesalahan cetak semata. Seandainya ia tidak mengulang, perhatikan terjemahan ini: Lalu mengatakan bahwa ahlu sunnah dan syiah sepakat beranggapan bahwa nabi mempunyai saham dari khumus dan Allah mempunyai saham lain (lihat di buku yang dipalsukan hal 132) dan teks dari kandungan buku yang jelas itu menyebutkan  kata yang artinya keluarga dekat (aqarib, ahl dan aal)  (lihat pada buku aslinya halaman 446) apakah penerjemah menghendaki agar keluarga Nabi itu tidak mendapatkan haknya dari Khumus melalui terjemahan itu ?
.
Kemudian kita datangi tempat-tempat penghentian kuda dari terjemahan ini, agar pembaca mengampuniku lantaran aku telah berkepanjangan dalam pembicaraan … maka terjemahan dalam topik ini terutama tentang kelemahan nilai fikirnya, yang memberikan gambaran jelek kepada pembaca  tentang penerimaan Khomeini terhadap pandanganya dan pandangan syi’ah sebelumnya tentang hal yang dibesar-besarkan dan dihubungkan dengan Umar, sedangkan teks yang tercantum di dalam riwayat syi’ah disebut “Raziyyah Yaumal Khamis (bencana hari kamis), yaitu hari wafat Rasulullah saww,  disini Khomeini berkata, “Ketika Rasulullah saw  menjelang wafat dalam keadaan sakit, sejumlah orang berkerumun dihadapan beliau yang diberkahi itu. Kemudian beliau mengangkat suara yang parah, “Bawalah kemari sesuatu untuk kutulis, yang kelak menjaga kalian dari kesesatan sepeninggalku selamanya!”
.
Tiba-tiba Umar bin Khatab berkata: “Rasulullah mengigau”, riwayat ini telah dikutip oleh penulis-penulis sejarah dan para perawi hadis, seperti Bukhori, Muslim dan Ahmad dengan teks berlainan.
.
Secara singkat dapat disimpulkan bahwa ucapan yang telah dilontarkan secara serampangan oleh Umar bin Khatab dan merupakan bujukan atau gurauan ini, cukuplah bagi orang muslim yang memendam kecemburuan keagamaan sebagai suatu kenyataan sampai hari kiamat, bahwa mereka telah memberikan penghargaan yang mulia kepada Rasululah lantaran beliau telah mengorbankan dirinya, menanggung ujian dan musibah demi pembimbingan yang beliau lakukan untuk mereka.
.
Dan bagaimanapun orang-orang terhormat dan pencemburu mengetahui, bahwa kepergian roh suci itu setelah mendengar kata-kata ini dari Umar bin Khatab, kata-kata gurau yang hanya muncul dari prinsip kufur dan zindiq. Karena menyalahi Al Qur’an dan ayat-ayatnya yang dzahir dan mengatakan dalam surah An Najm ayat 3-5 “Dan ia tidak berkata dari keinginan dirinya. Tidak demikian dia, melainkan menurut wahyu yang diwahyukan. Yang diajarkan oleh Malaikat yang sangat kuat”
.
Dalam ayat lain Allah berfirman: “Taatlah kepada Allah dan taat pula kepada Rasul Apa yang Rasul bawa kepadamu ambilah dan apa yang dicegahnya hentikanlah, dan tiada teman kalian itu gila : (Teks asli bahasa Parsi hal 199).
.
Kemudian si penerjemah memalsukan sebagai berikut: Ketika Rasulullah sedang terbaring sakit menjelang wafat, dan sejumlah orang mengerumuninya, maka beliau bersabda kepada hadirin: “Bawalah kemari sesuatu untuk aku tuliskan tentang sesuatu yang menyelamatkan kalian dari kesesatan”. Kemudian Umar bin Khatab berkata, Rasulullah mengigau. Riwayat telah dikutip oleh para sejarawan dan ahli hadis, diantaranya Bukhori, Muslim dan Ahmad dengan perbedaan kata, dan ini menjadi bukti bahwa laporan ini dari Ibnul Khattab yang mengada-ada dan menjadi bukti yang paling baik bagi seorang muslim yang mempunyai semangat, dan kenyataan bahwa mereka telah memberikan penghargaan yang semestinya kepada nabi yang telah bersusah payah dan menanggung beberapa musibah lantaran petunjuk dan bimbingan kepada mereka.
.
Beliau telah menutup kedua matanya, sedangkan dalam telinganya terngiang-ngiang perkataan ibnul khattab  atas dasar kepalsuan kebohongan dan tumbuh dari tindakan kekufuran dan Zindiq, serta menyalahi ayat-ayat Qur’an tersebut… sampai akhir (Terjemahan bahasa arab yang dipalsukan hal 137).
.
Di teks itu berdekatan maknanya, sedekat dua perkataan: “Engkau adalah seorang yang terjangkit kejahilan” dan ”Engkau telah musyrik, demi Tuhan Ka’bah”, padahal di antara kedua ungkapan itu ada perbedaan makna yang mengakar, jika seorang muslim memendam cinta pada Rasululah saww, yang dikatakan bahwa beliau sedang sakit keras dan beliau meracau/mengigau, lalu ia melontarkan suatu ungkapan yang menyalahi sopan santun (adab), maka alangkah kufur dan syiriknya ini, apakah para ulama yang mulia akan menerimanya, bahwa Nabi mengigau, namun mereka tidak akan menerima jika dikatakan, bahwa Umar bin Khattab berkata kasar, sungguh setakar dibanding dengan dua takar.
.
Penerjemah itu tidak mungkin akan berkeras kepala mengubah-ubah dan mengganti apa yang ia sukai. Sekiranya di belakang dia tidak ada suatu lembaga yang mendorong dan melindungi serta menyebarkan omong kosong ini, kemudian perhatikanlah teks yang ada di ujung halaman 123 dari teks bahasa Parsi yang asli ini.
.
Patut disebutkan disini, bahwa nazar bagi Nabi atau Imam atau siapapun saja adalah sah secara syar’i, ketika nadzar itu pada prinsipnya ditujukan kepada Allah dan diniatkan karena Allah, dalam suatu perkara yang dibenarkan serta berlaku ucapan atau pernyataan nadzar. Kalau tidak demikian, maka berarti nabi dan Imamlah yang akan memberi pahala, namun hal ini suatu yang sia-sia dan tertolak, bahkan haram hukumnya menurut syara’.
Kemudian sang penerjemah memalsukan demikian:
.
“Hendaklah kita jangan lupa, bahwa nazar untuk Nabi dan Imam adalah benar dan sah secara syar’i, apabila nazar itu ditunjukan kepada Tuhan, dan pelaksanaanya diletakan pada proporsinya. Pada saat itu Nabi dan Imam itulah yang akan memberinya pahala, jika tidak, maka ia dianggap suatu yang batil dan boleh jadi haram (terjemahan bahasa Arab yang dipalsukan halaman 141).
.
Perhatikan bahwa ia telah memutarbalikan teks secara sempurna, seperti ia memutar balikan perkataan-Imam Ali- diputar balikan kepada perkataan “Keledai liar yang membalik wajahnya yang lebih buruk”.
.
Demikian, dalam banyak bagian dari terjemahan yang mengherankan seperti ini, ia melakukan nafi (peniadaan) dirubah menjadi Istbat (pengiyaan).
.
Demikianlah, dalam banyak bagian dari terjemahan aneh seperti ini ia melakukan pemutar balikan. Sesuatu yang semestinya firmatif (kukuh) dinegatifkan, dan semestinya negatif dipositifkan. Sehingga secara tiba-tiba kita dapati keterangan Khomaini diterjemahkan demikian:
.
“Berperang bersama-sama Imam itu seperti makan daging babi” (halaman238 dari terjemahan bahasa Arab yang dipalsukan).
Padahal Khomaini berkata sebagai berikut (lihat di buklu asli yang berbahasa Parsi halaman 225):
”Berperang tidak bersama Imam itu seperti makan daging babi” (Khomaini berkata “fi ghairi ma’iyyatil Immam) oleh penerjemah perkataan “fi ghairi” di buang dan diganti dengan perkataan “ma’al imam” (tidak bersama Imam menjadi bersama Imam).
.
Kemudian kita masuki kasus lain berkenaan dengan manipulasi yang dilakukan oleh penerjemah ini, yaitu isu bahwa Syi’ah itu mempunyai Mushaf (Qur’an) sendiri, karena mereka beranggapan bahwa wahyu turun atas Fatimah as, sebagai belasungkawa atas kematian nabi Saww, kemudian ia terus membawakan riwayat-riwayat abad-abad terdahulu.
.
Atas dasar inilah syiah menyebutnya “mushaf Fatimah”. Yaitu mushaf khusus bagi syiah yang di duga bukan aslinya, mereka (pembuat tuduhan palsu) melebih-lebihkan, dengan mengutip surah-surah dan ayat-ayat dari mushaf yang dipersangkakan itu, apa saja yang dibicarakan tentang permasalahan tersebut dalam buku ini merupakan bantahan dari khomaini terhadap orang yang mendakwakan dengan tuduhan palsunya, bahwa orang-orang yang bersandar pada gosip-gosip dan ucapan orang awam yang tak berpendidikan dan melekatkan kebohongan demikian pada Syi’ah Istna Asyariyah”.
.
Lalu apa yang dituliskan penerjemah:
.
Seperti biasanya, ia memanipulasi perkataan Khomaini, ia tampilkan bagian ini di bagian akhir tulisan, atas dasar agar tampak bahwa itu adalah pendapat Khomaini (padahal Khomaini membantah tudingan itu di manipulasi menjadi seolah-olah pendapat khomaini), ini terjemahannya :
.
Ketika Khomaini berkata “Janganlah kalian membebani kami untuk menyanggah kalian tanpa sebab, karena urusan penurunan wahyu itu tidak menuntut agar para Nabi itu berjumlah empat belas orang, yang dimaksud Khomaini adalah Rasulullah, Fatimah dan dua belas Imam dengan cara yang mudah dan sederhana ini, penerjemah berusaha mengalihkan tuduhan bohong dari seseorang yang ditujukan kepada syiah, dan sama sekali memutar balikan pernyataan Khomaini yang menolak tahrif Al Qur’an. Inilah kejahatan-kejahatan dari penerjemah, hampir-hampir disetiap kesempatan ia tidak melewatkan pemalsuan untuk menciptakan kesan buruk kepada khomaini.
.
Ketika Khomaini berbicara tentang Rasulullah saww, ia menuliskan: Ia (Rasul) tidak pernah takut karena celaan orang atas perbuatan kebajikan yang rasul kerjakan, karena Allah akan melindungi dirinya. Oleh penerjemah pernyataan itu dipalsukan demikian: “Sesungguhnya perbuatan-perbuatan beliau (Nabi) itu tidak pernah menghadapi kesulitan, perbuatan jelek (Nabi) itu memang mengenai sasarannya”.
Ketikla ia menerjemahkan hadis syiah: “Orang-orang telah murtad sesudah Rasulullah, kecuali tiga Orang (teks asli bahasa Persia hal 133) kemudian dipalsukan : “Orang-orang  telah murtad sesudah tiga orang” (teks terjemahan yuang dipalsukan hal 152) – lafaz “Rasulullah” oleh pemalsu dibuang diganti dengan kata “thalathah= tiga” sehingga kalimat ba’da Rasulillah menjadi Ba’da thalathah kata ’illah thalathah menjadi ba’da thalathah” – bukan hanya itu saja, si penerjemah membuang semua –sebanyak  enam alenia – yang berisi penjelasan Khomaini tentang kata “murtad”, dan berikut kata murtad yang dibuang si penerjemah:
.
“Adapun maksud orang-orang telah murtad sesudah Rasululah itu artinya ialah, bahwa mereka telah menarik diri/mundur dari bai’at  kepada Amirul Mukminin pada hajjatul wada’ dan terhadap para Imam Islam pada umumnya. Pengunduran diri mereka dari ba’iat tersebut merupakan riwayat yang mutawatir menurut pengukuhan riwayat hadis sunni dan syi’ah. Hanya tiga atau tujuh orang yang dapat dipastikan dalam keadaan bagaimanapun, tidak mundur secara lahiriah dan bathiniah, dan menentang orang-orang yang menentang Ali. Jika tidak betul demikian, maka orang-orang yang tidak menarik ba’iatnya kepada Ali –pada kenyataanya- berjumlah 220 orang sebagaimana ditetapkan oleh Sayyid Syarafuddin dalam al-Fushul Muhimmah dalam  Al Isti’ab, Al Ishabah, Usudul Ghabah dan kitab-kitab ahlu sunnah lainya mengakui itu (Teks Asli bahasa Parsi halaman 133).
.
Penjelasan Khomaini tersebut telah dengan sengaja dibuang oleh si penerjemah Kasyful Asrar, jika keterangan dihilangkan apa maksud tujuan penerjemah selain agar Khomaeini dicaci maki.
Mengapa sejak semula ia tidak menerjemahkan buku tersebut dengan cermat, lalu menyodorkan teks yang berbahasa Arab kepada para pakar dan ulama, jika pihak yang menjadi dalangnya ulama sunni sekalipun. Jika tidak demikian, apa tendensinya membuang dan menggantinya  dialog tentang wasiat untuk Ali (halaman 176 dari nakah terjemahan yang dipalsukan).
.
Apakah isu kontroversial ini tidak pernah dibantah di zaman modern kecuali oleh seorang penerjemah bodoh, dan komentator keji dan penulis pengantar yang tidak mumpuni?
Apakah dengan banyaknya pengkhianatan ilmiah dan caci maki ini suatu madzhab aliran tertentu dapat dimenangkan ?
.
Apakah teks yang dipalsukan ini dapat memuaskan seseorang ?
Perhatikan pemalsuan penterjemah atas pernyataan Khomaini: “Saya menantang siapapun terutama  orang berbangsa Arab, memahami sesuatu yang dikutipnya tentang masalah Syafaat, Qurbah, Ta’ziyah dan Rauzah (hal 188-195 dari terjemahan bahasa Arab yang dipalsukan).
Jumlah teks yang dipalsukan oleh penerjemah benar-benar mengerikan, setiap halaman dari buku Kasyful Asrar mengalami manipulasi teks sebanyak antara 4, 10 hingga 14 baris teks.
.
Oleh karena itu, saya pun menantang pula saudara penterjemah, yang ia adalah sorang keturunan Arab dan berbahasa Arab, agar ia membaca tentang apa yang ia perbuat terhadap halaman 192 dan 193, lalu beritahukan kepada saya tentang apa yang telah ia pahami dari pernyataan Khomaeini sesungguhnya, saya akan memberitahukan kepada saudara penterjemah tentang apa yang telah ia lakukan, pemalsuan, pengguntingan dan penterjemahan yang salah dan serampangan.
Inilah salah satu bagian yang menjadi sasaran anak panah para penyerangnya. Apakah kesemuanya ini pantas untuk diserang, ataukah memang sengaja terjemahan itu disodorkan sebagai bahan-bahan penyerangan?
Meskipun bagian-bagian yang tersisa dari buku itu tidak dipergunakan dalam medan pertengkaran yang telah disulut dan dikobarkan oleh penerjemah buku Kasyfurl Asrar, namun justru ini adalah indikasi tentang motif sang penerjemah. Yang puas dan yang senang dengan penggelapan, manipulasi dan pemutar balikan fakta.
.
Yang aneh pula, bahwa buku itu dari halaman 199 sampai halaman 334, yaitu sampai akhir buku itu memuat pendapat-pendapat penulisnya tentang peranan politik  al-faqih (peran politik ulama Islam), pemikiran-pemikiran sosial politiknya tentang pemerintahan Islam  telah dengan sengaja dibuang sebagian dan dimanipulasi sebagian yang lain.
.
Ia membuang semua apa yang memuat kritik (khomaeini) terhadap raja-raja dan pemerintahanya, ia membuang tulisan khomaini yang mengkritik Amerika, dan kadang-kadang ia membuang pendapat penulis  yang menyerang Reza Syah Pahlevi, dan membuang pernyataan Khomaini tentang perlunya pelaksanaan dan keagungan syariat Islam dalam rangka menghadapiu undang-undang konvensional.
.
Contoh-contohnya cukup banyak, sehingga hampir-hampir tidak terdapat satu halamanpun yang selamat dari pembuangan, mulai dari halaman 199 sampai akhir buku itu.
Pembuangan itu terjadi berturut-turut di antara keterangan atau kalimat yang penerjemahnya tidak dapat memahaminya, sampai 15 baris bahkan satu halaman penuh merupakan pemalsuan.
.
Di akhir-akhir tulisan Khomaeini yang mengulas kerjasama keuangan antara para sayyid dari keluarga Rasulullah (aal-ul bayt) si penerjemah membuang penjelasan Khomaini, kemudian menggantinya dengan pernyataan penerjemah sendiri yang tampil bak pahlawan kesiangan. Inilah kalimat yang di hilangkan oleh penterjemah:
.
“Mereka telah menetapkan batas-batas hukum waris  buat orang yang dilahirkan dalam kondisi berkepala dua, hukum mayat sejak kematianya sampai tiupan sangkakala, namun diskusi yang mana saja tentang persoalan pemerintahan islam tidak pernah selesai, padahal ia merupakan langkah pertama dalam hubungan sosial dengan manusia sepanjang zaman (hal 237 teks asli berbahasa Persia).
.
Penerjemah berulangkali menerjemahkan kata mengada-ada dengan kata cara “Kayfiyyah”, menterjemahkan “Tajnid ul ijbariy fil Islam” (wajib militer dalam Islam) diterjemahkan dengan nizham ul qasriy fil Islam (sistem pemalsuan dalam islam), dan ia melakukan terjemahan demikian ini, sepanjang pembicaraanya tentang ketenteraan dalam islam, yang merupakan manipulasi teks dan Islam sekaligus. Ia mengubah pula catatan pinggir halaman 255 dari aslinya kitab al wasail diubah dengan kitab al Farusiyah karya Ibnul Qayyim Al Jauziyah.
Ketika Khomaini menulikan kewajiban atas orang-orang kaya agar mengganti pajak orang fakir yang tidak mampu membayar, si penerjemah sengaja membuangnya (hal 266 dari teks terjemahan berbahasa Arab). Agaknya sipenerjemah tidak mau membuat marah orang-orang kaya dan millioner, dengan cara membiarkan terjemahan bagian ini semua dengan cara di transliterasikan secara ngawur sesuai pemahaman penerjemah.
.
Adalah menjadi keharusan atas kita untuk mengetahui jurang perbedaan antara terjemahan dan teks aslinya, jika kita membandingkan akal penerjemah dan akal penulisnya, mengukur pendidikan penerjemah dan pendidikan penulisnya, untuk dapat mengetahui berapa banyak kesalahan-keasalahan, maka saya harus menterjemahkan kembali buku tersebut, dan kita perlihatkan itu semua kepada orang yang ingin mengetahuinya.
.
Penterjemah dengan sengaja menghilangkan kalimat pada halaman 329 dan hanya meringkas secara serampangan pada halaman 330-332 dari tek asli yang berbahasa Parsi, saya tidak tahu mengapa ia membuangnya, padahal teks yang dibuang itu terdapat penjelasan tentang masalah berpalingnya manusia dari agama dan penyebab-penyebabnya.Saya tidak habis mengerti mengapa orang mau berbuat bodoh dengan memalsukan sebuah karya.
Nah, kemudian: Apa. Bagaimana pendapat tuan-tuan para pembahas, para peneliti dari kalangan Doktor-Doktor, para syaikh, Ustadz dan para pelopor konferensi, yang telah mengutip dari buku yang penuh kebohongan dan kepalsuan ini dan menggembar-gemborkanya? Adakah diantara mereka yang menyanggahnya ?
.

Dr Ibrahim Ad Dasuqi Syata
Rektor Bahasa-Bahasa dan Sastra Timur
Fakultas Sastra Univeritas Kairo

Perkataan Khilafah bermaksud penggantian manakala Khalifah bermaksud pengganti. Dari segi istilah, Khilafah dan Khalifah memberi erti yang sama seperti Imamah dan Imam. Wisayah bermaksud pelaksanaan wasiat dan Wasi bermaksud pelaksana wasiat.

Al-Imamah dari segi bahasa bermaksud kepemimpinan; Imam bermak­sud pemimpin. Dari segi istilah (Islam), al-Imamah bermaksud kekuasaan mutlak ke atas umat Islam dalam semua urusan agama dan duniawi sebagai pengganti nabi. Imam bermaksud seorang lelaki sebagai pengganti nabi yang mempunyai hak – dengan kekuasaan mutlak ke atas umat Islam  dalam semua urusan agama dan duniawi.
 .
Perkataan  lelaki  menunjukkan  bahawa  wanita  tidak  boleh menjadi Imam. Kekuasaan mutlak tidak termasuk orang-orang  yang  memimpin dalam sembahyang; mereka dikenali sebagai Imam sembahyang, tetapi tidak mempunyai kekuasaan mutlak. Sebagai  pengganti nabi memperlihatkan perbezaan  di  antara Nabi  dan  Imam. Imam menikmati kekuasaan tidak  secara langsung tetapi sebagai pengganti nabi.
 .
Perkataan Khilafah bermaksud penggantian manakala Khalifah bermaksud pengganti. Dari segi istilah, Khilafah dan Khalifah memberi erti  yang sama seperti Imamah dan Imam. Wisayah bermaksud  pelaksanaan wasiat  dan  Wasi  bermaksud pelaksana  wasiat.  Kepentingan mereka dalam catatan  umat  Islam adalah  sama  seperti Khilafah dan  Khalifah. Agak  menarik  untuk diterangkan di sini bahawa ramai nabi yang terdahulu adalah  juga menjadi khalifah kepada para nabi yang mendahului mereka sebelum­nya. Oleh itu, mereka ialah Nabi dan Khalifah sekaligus; sedang­kan nabi-nabi lain (yang membawa syariat baru) bukanlah  Khalifah kepada  mana-mana nabi; dan terdapat khalifah-khalifah nabi  yang mereka itu bukannya nabi.
 .
Persoalan al-Imamah  dan al-Khilafah telah  memecahbelahkan  umat Islam dan telah mempengaruhi pemikiran dan falsafah pelbagai puak dengan  begitu kuat sehingga bahkan kepercayaan kepada Allah  dan Rasul tidak terlepas daripada perselisihan pendapat. Subjek  ini merupakan persoalan utama yang dibahaskan  dalam teologi Islam (bidang pemikiran Islam). Orang-orang Islam telah menulis  beribu-ribu buah kitab tentang Khilafah. Persoalan  yang timbul dalam diri saya bukannya mengenai apa yang hendak  ditulis tetapi apa yang tidak perlu ditulis.
.

Syiah adalah Rafidhah?

.
Pada masa kekuasaan kerajaan Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah para pecinta Ahlul-Bait sangat ditekan. Tekanan atas Syiah yang dilancarkan oleh kedua dinasti tadi menggunakan berbagai cara, termasuk propaganda julukan Rafidhah. Tujuan propaganda tersebut adalah untuk mengasingkan para Syiah dari saudara-saudaranya sesama muslim. Namun tidak sepenuhnya propaganda itu terlaksana dengan baik. Terbukti ada beberapa pribadi Syiah –yang diberi gelar Rafidhah– yang terdapat dalam kitab-kitab standar Ahlussunnah. Dr. al-Qoffari dalam kitab tersebut menyatakan: “Ibn Taimiyyah menukil (membenarkan) hadis-hadis Marfu’ah yang menyinggung tentang kata-kata Rafidhah di dalamnya. Padahal, sebutan Rafidhah hingga abad kedua Hijriyah masih belum dikenal”.
.
 Jika pecinta keluarga Muhammad saww disebut Rafidhah maka, saksikanlah wahai Tsaqolain (jin dan manusia) bahwa diriku adalah Rafidhi. (Diwan Imam Syafi’i ra Hal: 55)
.
Prolog:
….. dan Rafidhah, lagi-lagi sebuah julukan yang masih juga diidentikan dengan Syiah Imamiah. Istilah ini baru dikenal semenjak abad kedua Hijriyah. Itupun dipakai untuk para penentang kekuasaan tertentu yang berkuasa pada zaman itu. Para penguasa kala itu ingin menjadikan para penentangnya memiliki kesan buruk di hadapan publik, oleh karenanya melalui beragam propaganda mereka mencari julukan negatif bagi mereka yang tidak sejalan dengan pikirannya. Julukan rafidhah adalah salah satu predikat negatif yang diberikan oleh penguasa kala itu untuk para penentangnya. Mungkin pada masa itu, Rafidhah memiliki kemiripan dengan julukan ekstrimis atau teroris pada zaman sekarang ini. Julukan-julukan miring semacam itu sengaja dibikin oleh yang kuat terhadap yang lemah, yang mayoritas untuk yang minoritas, yang zalim untuk yang teraniaya (mazlum)…dsb.
.
Beberapa pihak yang tidak bertanggungjawab ingin memberikan julukan miring tersebut untuk rival pemikirannya. Akhirnya, julukan Rafidhah diperluas pemakaiannya terhadap aliran pemikiran yang dianggap lemah, minoritas, teraniaya… untuk dijadikan sarana pengelabuan kesadaran publik. Yang lebih fatal dari itu, sang pemakai istilah tersebut justru menyandarkan pemakaian julukan tersebut dengan landasan hadis-hadis da’if yang dinisbatkan kepada Rasulullah saww. Lantas, siapakah gerangan yang dapat menjadi obyek empuk untuk gelar tersebut? Ya…! Siapa lagi kalau bukan Syiah Imamiah Itsna Asyariyah, atau yang lebih dikenal dengan sebutan mazhab al-Ja’fariyah, adalah sasaran empuk untuk mendapat predikat negatif itu.
.
Kenapa mesti Syiah al-Ja’fariyah?
.
Salah satu penyebabnya adalah karena hanya Syiah Ja’fariyah satu-satunya mazhab yang mengajarkan kepada pengikutnya untuk tidak berpangku-tangan atas setiap perbuatan zalim yang dilakukan oleh individu manapun, termasuk para penguasa. Itu terbukti, baik jika dilihat dari teks ajaran mazhabnya, maupun praktikalnya dalam kehidupan mereka. Dalam sejarah didapatkan bagaimana usaha mereka untuk menegakkan keadilan yang dipelopori oleh para imam suci mereka. Para Imam Ahlul Bait (Misalnya, Imam Ali, Hasan, Husain, Ali Zainal Abidin dll) selalui berusaha mengkritisi sepak terjang para penguasa yang selalu cenderung bertentangan dengan ajaran Rasulullah saww, sementara di sisi lain mereka (imam-imam suci) juga menamakan dirinya sebagai khalifah (pengganti) Rasul (berdasarkan hadis-hadis sahih yang diakui oleh Sunni dan Syiah)- melainkan golongan yang ingin mentakwilkannya (silakan!).
.
Hal inilah yang tidak disukai oleh para penguasa zalim –Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah– kala itu. Oleh karenanya, tekanan demi tekanan mereka lakukan untuk membendung tersebarnya ajaran Syiah. Mereka tak segan-segan melakukan pembantaian masal demi tercapainya tujuan mereka, dan kelangsungan dinasti mereka. Dari situlah terjawab sudah pertanyaan, kenapa Syiah selalu teraniaya dan minoritas? Namun, karena kehendak Ilahi, walau tekanan demi tekanan dari pihak musuh-musuh Islam beserta kaki-tangannya dengan gencar terus menghadangnya, mazhab ini tetap eksis di tengah-tengah umat.
.
Terminologi Rafidhah:
Dalam terminologi istilah Rafidhah, kata itu berasal dari kata ra-fa-dha yang berarti menolak dan meninggalkan sesuatu. Istilah ini sering diidentikkan dengan kaum Syiah Imamiah yang menolak akan kepemimpinan tiga khalifah pra-kekhalifahan Ali bin Abi Thalib as, dan hanya mengakui kepemimpinan Ali as pasca wafat Rasulullah saww.[1] Abul-Hasan al-Asy’ary dalam kitab “Maqolat al-Islamiyin” menyatakan, julukan ini pertama kali dilontarkan oleh Zaid bin Ali bin Husein bin Ali bin Abi Thalib atas para Syiah di kota Kufah.
.
Masih menurut al-Asy’ary, pada mulanya, para Syiah di Kufah memberikan baiatnya kepada Zaid, namun mereka tidak konsekwen terhadap baiatnya. Mereka tidak mau mengindahkan perintah Zaid untuk tetap menghormati dan memuliakan Abu Bakar dan Umar.
.
Oleh karena itu, Zaid menjuluki mereka dengan sebutan Rafidhah.[2] Akan tetapi, pendapat ini memiliki banyak sebab untuk dibatalkan, mengingat bahwa banyak pakar sejarah yang menyebutkan secara detail sejarah hidup terkhusus kesyahidan Zaid bin Ali, namun tidak satupun dari mereka yang menyebutkan akan hal pengungkapan Zaid di atas tadi. Selain dari itu, para ahli sejarah hanya menyebutkan bahwa para penghuni kota Kufah tidak mengindahkan kebangkitan Zaid bin Ali, dan membiarkannya bergerak sendiri tanpa bantuan penduduk Kufah.[3]
Hal itu sama persis sebagaimana yang terjadi pada kakek Zaid, Husein bin Ali as, cucu Rasulullah saww. Husein bin Ali dalam tragedi Karbala, tak dapat dukungan dari penduduk kota Kufah. Dengan demikian, penisbatan istilah itu yang bermula dari Zaid bin Ali sama sekali tidak berasas pada bukti sejarah yang kuat.
.
Di sisi lain, telah terbukti bahwa istilah Rafidhah digunakan untuk pribadi-pribadi yang meragukan legalitas kekuasaan suatu rezim dan pemerintahan tertentu. Jadi, istilah ini lebih bermuatan politis ketimbang teologis. Nasr bin Muzahim (Wafat tahun 212 H) dalam salah satu karyanya yang berjudul ‘Waqoatu Shiffin’ menyatakan bahwa Muawiyah dalam suratnya yang ditujukan kepada Amr bin ‘Ash –yang saat itu tinggal di Palestina– menyebutkan:
.
“Perkara tentang Ali, Thalhah dan Zubair telah kamu ketahui, namun (ketahuilah bahwa) Marwan bin Hakam telah bergabung dengan para Rafidhah (penentang) dari penduduk kota Bashrah, dan Jarir bin Abdullah telah melawan kita…”[4] Dari sini ada beberapa poin yang dapat diambil pelajaran; Pertama, awal kemunculan istilah rafidhah sangat bermuatan politis, bahkan sama sekali tidak ada kaitannya dengan ihwal teologis. Muawiyah menyebut Marwan bin Hakam beserta para pendukungnya sebagai Rafidhah, karena ia telah bergabung dengan para penduduk kota Bashrah yang kala itu mayoritas tidak mengakui legalitas pemerintahan Ali as yang berpusat di kota Kufah.
.
Kedua, istilah itu telah ada sebelum kelahiran Zaid bin Ali, bukan sebagaimana yang telah diceritakan oleh Abul Hasan al-Asy’ary di atas.
.
Pribadi-pribadi yang Dinyatakan Rafidhi pada Kitab-kitab Ahlussunnah
Julukan Rafidhah mempunyai konotasi miring. Orang akan enggan untuk dijuluki dengan sebutan itu. Pihak ketiga pun akan menghindar di saat bertemu orang yang dianggap memiliki gelar tadi. Itulah salah satu dampak negatif propaganda yang dilancarkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab. Pada masa kekuasaan kerajaan Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah para pecinta Ahlul-Bait sangat ditekan. Tekanan atas Syiah yang dilancarkan oleh kedua dinasti tadi menggunakan berbagai cara, termasuk propaganda julukan Rafidhah. Tujuan propaganda tersebut adalah untuk mengasingkan para Syiah dari saudara-saudaranya sesama muslim. Namun tidak sepenuhnya propaganda itu terlaksana dengan baik. Terbukti ada beberapa pribadi Syiah –yang diberi gelar Rafidhah– yang terdapat dalam kitab-kitab standar Ahlussunnah. Walau mereka terbukti Syiah namun tetap saja hadis yang mereka bawakan tercantum dalam enam kitab induk Ahlussunnah. Sebagai contoh:
.
1- Kendati Ibn Hajar menyatakan bahwa Ismail bin Musa al-Fazazi sebagai pribadi yang dianggap Syiah, namun Abi Dawud[5] juga Ibn Majah[6] dalam kitab Sunan mereka tetap menukil hadis-hadis yang ia bawakan.
.
2- Meskipun Ibn Hajar menyatakan bahwa Bakir bin Abdullah at-Tha’i sebagai pribadi yang dianggap Syiah, namun Muslim dalam kitab Shohih-nya[7] dan Ibn Majah dalam Sunan-nya[8] menukil hadis-hadis yang ia riwayatkan.
.
3- Begitu juga dengan Talid bin Sulaiman al-Muharibi yang dinyatakan Syiah (Rafidhah) oleh Abu Dawud, dimana ia berkata: “Ia adalah Rafidhi yang keji dan jelek, dan yang memusuhi Abu Bakar serta Umar”[9] Namun, at-Turmuzi dalam kitab Sunan-nya[10] tetap menukil hadis darinya.
.
4- Ibn Hajar menyatakan bahwa Jabir bin Yazid al-Ju’fi adalah pengikut Syiah (Rafidhah)[11], namun Abu Dawud[12], Ibn Majah[13] dan at-Turmuzi[14] dalam kitab Sunan mereka tetap menukil hadis-hadis darinya.
.
5- Dan masih banyak lagi pribadi-pribadi yang dinyatakan Syiah (Rafidhah), namun hadis-hadisnya tetap tercantum dalam kitab-kitab standart Ahlussunnah. Seperti; Jumai’ bin Umair, Haris bin Abdullah al-Hamdani, Hamran bin A’yun, Dinar bin Umar al-Asadi…dsb.[15]
.
Hadis-hadis tentang Rafidhah:
.
Setelah kita mengetahui bahwa istilah Rafidhah dipakai untuk para rival politik sebuah kekuasaan tertentu. Istilah itu mempunyai konotasi negatif bagi khalayak umum, berkat adanya propaganda para penguasa zalim pada abad-abad permulaan awal kemunculan Islam. Namun, lama-kelamaan istilah itu dipakai oleh para musuh Syiah untuk mengganyang Syiah, bahkan tak jarang mereka pun (para musuh Syiah) menyandarkannya pada hadis-hadis yang bermasalah dari sisi sanad hadis, yang berakhir pada peraguan dari sisi kesahihannya. Sebagai contoh, ada empat hadis yang bersumber dari Ibn Abi ‘Ashim tentang pencelaan terhadap Syiah.[16]
.
.
Doktor Nashir bin Abdullah bin Ali al-Qoffary dalam kitab ‘Ushul Mazhab Syi’ah’ menyatakan bahwa Nashiruddin al-Bani[17] sendiri mengemukakan bahwa hadis-hadis yang dibawakan oleh Ibn Abi ‘Ashim tadi jika dilihat dari sanad hadisnya amat lemah. Dr. al-Qoffari dalam kitab tersebut menyatakan: “Ibn Taimiyyah menukil (membenarkan) hadis-hadis Marfu’ah[18] yang menyinggung tentang kata-kata Rafidhah di dalamnya. Padahal, sebutan Rafidhah hingga abad kedua Hijriyah masih belum dikenal”.[19] Ini berarti istilah ini dicipta selepas abad ke-2H oleh musuh-musuh mazhab Ahl Bait.
.
Salah satu riwayat yang dibawakan oleh Ibn Abi ‘Ashim dalam kitab as-Sunnah adalah hadis: “Aku beri kabar gembira kepada engkau wahai Ali, engkau beserta para sahabatmu adalah (calon) penghuni Surga. Namun, ada sekelompok orang yang mengaku sebagai pecinta-mu padahal mereka adalah penentang (penolak) Islam. Mereka disebut ar-Rafidhah. Jika engkau bertemu dengan kelompok tersebut maka perangilah mereka, karena mereka telah musyrik. Aku (Ali) berkata: Wahai Rasulullah, apakah gerangan ciri-ciri mereka? Beliau menjawab: “Mereka tidak menghadiri (shalat) Jum’at dan jama’ah, dan mencela para pendahulu (salaf)” [20] Bagi as-Syaukani, hadis ini dikategorikan sebagai hadis Maudhu’ (buatan).[21]
.
Contoh lain dari hadis tentang Rafidhah adalah hadis yang dinukil oleh at-Tabrani bahwa Rasul bersabda: “Wahai Ali, akan datang pada umat-ku suatu kelompok yang mengaku sebagai pecinta Ahlul-Bait, bagi mereka …., mereka disebut Rafidhah. Bunuhlah mereka, karena mereka telah kafir”. Akan tetapi, dikarenakan sanad hadis ini diriwayatkan oleh orang-orang seperti Hajjaj bin Tamim yang sama sekali tidak dapat dipercaya, maka hadis ini masuk kategori hadis Da’if (lemah).[22]
.
Dalam kitab ad-Dala’il disebutkan bahwa Al-Baihaqi setelah menukil hadis Marfu’ yang bersumber dari Ibn Abbas tentang celaan terhadap Rafidhah, menyatakan: “Banyak sekali hadis-hadis serupa tentang hal yang sama dari sumber-sumber yang berbeda, namun kesemua sanad-nya tergolong lemah”[23]
.
Dan masih banyak lagi beberapa ulama hadis dari Ahlussunnah yang menyatakan kelemahan hadis-hadis berkaitan dengan Rafidhah yang kebohongan itu disandarkan kepada Rasulullah. Bisa dilihat kembali karya-karya ulama Ahlussunnah seperti karya kepunyaan al-‘Aqili yang berjudul ad-Dhu’afa’, Ibn Jauzi dalam al-‘Ilal al-Mutanahiyyah ataupun al-Maudhu’aat.
.
Dari sini jelaslah, bahwa istilah Rafidhah adalah istilah murni politis dan tidak ada kaitannya dengan pembahasan teologis, termasuk masalah kekhilafahan pasca Rasul. Namun istilah itu dinisbatkan untuk para pecinta Ahlul-Bait (Syiah) oleh para pembenci Syiah. Mereka dalam kasus pemaksaan gelar Rafidhah untuk kelompok Syiah, tidak segan-segan menggunakan kebohongan atas nama Rasulullah saww. Bukankah kebohongan atas diri Rasul merupakan bagian dari menyakiti Rasul? Dan menyakiti Rasul termasuk dosa besar, yang pantas dilaknat oleh Allah?[24] Bukankah kebohongan atas Rasul juga berakibat kebohongan atas segenap kaum muslimin? Mengingat kaum muslimin sampai akhir zaman akan selalu mengikuti hadis-hadis Rasulullah. Bukankah pembohong layak untuk dilaknat?[25] Membenarkan, memegang erat dan mengajarkan hadis palsu –atas dasar pengetahuannya– adalah termasuk sesat dan menyesatkan. Oleh karenanya, hendaknya kita berusaha untuk menghindarinya seoptimal mungkin agar tidak termasuk orang yang sesat dan menyesatkan.
.
“Wahai orang-orang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan)…dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”.(al-Hujuraat :11)
.
Catatan Kaki:
[1] Al-Asy’ary, Abul-Hasan, Maqolat al-Islamiyin, Jil:1 Hal:88-89
[2] Ibid, Hal:138
[3] Amin, Muhsin, A’yan as-Syi’ah, Jil:1 Hal:21
[4] Al-Manqory, Nasr bin Muzahim, Waqoatu Shiffin, Hal:29
[5] Sunan Abi Dawud, Jil:4 Hal:165 Hadis ke-4486
[6] Sunan Ibn Majah, Jil:1 Hal:13 Hadis ke-31
[7] Shohih Muslim, Jil:1 Hal:529, Kitab Sholat Musafirin wa Qoshruha
[8] Sunan Ibn Majah, Jil: 1 Hal:170, Kitab at-Thoharoh
[9] Tahdzib al-Kamal, Jil:4 Hal:322
[10] Sunan at-Tirmizi, Jil:5 Hal:616, Kitab al-Manaqib hadis ke-3680
[11] Tahdzib al-Kamal, Jil:4 Hal:468 No:879
[12] Sunan Abu Dawud, Jil:1 Hal: 272, Kitab as-Sholat Hadis ke-1036
[13] Sunan Ibnu Majah, Jil:1 Hal:381 Hadis ke-1208
[14] Sunan at-Turmuzi, Jil:2 Hal:200, Bab: “Maa Jaa’a fi al-Imam yanhadhu fi ar-Rak’atain naasiyan”
[15] Untuk lebih detailnya, lihat kitab “al-Muraaja’aat” karya Syarafuddin al-Musawi.
[16] Lihat: Ibn Abi ‘Ashim, as-Sunnah, Jil:2 Hal:475
[17] Seorang ahli hadis terkemuka dari kalangan salafi (wahabi).
[18] Hadis marfu’ adalah hadis yang tidak jelas sanadnya.
[19] Ushul Mazhab as-Syiah, bagian Sejarah Syiah (Tarikh as-Syiah)
[20] Ibid: Jil: 2 Hal: 475
[21] Al-Ahadist al-Maudhu’ah, Hal:380
[22] Taqrib at-Tazhib, Jil:1 Hal:152
[23] ad-Dala’il, Jil:6 Hal:548
[24] Lihat Q S al-Ahzab :57
[25] Lihat Q S ali-Imran :61
.
Para pembaca …

Al-Quran dalam topik Imamah tidak membawa sebuah nama satupun yang disebut sebagai seorang Imam. Mungkin hal ini sebagai salah satu metode Allah SWT untuk menjaga Al-Quran dari tahrif, atau ada hikmah-hikmah lain yang masih terselubung. Walaupun demikian Al-Quran telah menjelaskan secara global Imamah Ali as  dan putra-putra beliau dalam beberapa ayat, dan hal ini telah dijelaskan oleh rasul sendiri secara gamblang, sehingga tidak ada kesamaran lagi bagi setiap pribadi pencari hakikat dan kebenaran.

Di dalam Al-Quran banyak terdapat Ayat-ayat yang menjelaskan kelayakan Imam Ali as sebagai seorang Imam.

Allamah Hilly dalam kitab Nahj Al Haq wa Kasyf Al Sidq mengatakan ada sekitar 88 ayat yang menetapkan keimamahan Ali as. Ayat-ayat tersebut, berlandaskan hadis-hadis yang termuat dalam kitab-kitab standar Ahli Sunnah yang menggambarkan dimensi-dimensi keagungan pribadi Ali dan keImamahan beliau. [1]

Begitu juga Qody Said Mar’asyi dalam Ihqaq Al haq menyebutkan sekitar 94 ayat lain yang menetapkan Wilayah Imam Ali a.s dengan berdasarkan 37 kitab standar Ahli Sunnah.

Di sini kita hanya ingin membawakan dan membahas satu ayat Al-Quran yang merupakan penjelas keimamahan Ali as.

Ayat Wilayah

“Sesungguhnya Wali kalian hanyalah Allah, RasulNya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dalam keadan ruku’”. (Al Maidah 55).

Berdasarkan hadis-hadis yang dinukil baik dari kalangan ulama’ Syiah maupun Ahli Sunnah, ayat ini turun berkenaan dengan Imam Ali a.s, dan sesuai kajian dan penuturan para ahli tafsir dan ahli hadis  Syiah serta pengakuan sekelompok ulama’ yang tidak sedikit dari kalangan Ahli Sunnah, bahwa pribadi yang menyedekahkan cincinnya pada si faqir dalam keadaan shalat (waktu ruku’) itu adalah pribadi agung Ali as. [2]

Allamah Mar’asyi dalam kitabnya Ihqaqul Haq menuturkan bahwa ada sekitar 85 kitab hadis dan tafsir Ahli Sunnah yang menukil bahwa ayat tersebut turun berkenaan dengan Imam Ali as

Dengan riwayat-riwayat ini jelas bahwa yang dinginkan dari kata jamak pada ayat di atas adalah kata tunggal dan itu Imam Ali as. Akan tetapi yang perlu dicermati di sini adalah apa arti sebenarnya dari kata wali yang terdapat dalam ayat ini.

Arti wali: Kata-kata Wali, Wilayat, Wala, Maula, dan  Awla, berasal dari akar kata yang sama yaitu Wala. Kata ini sangat banyak digunakan oleh Al-Quran; 124 dengan kata benda, dan sekitar 112 tempat dipakai dalam bentuk kata kerja.

Sebagaimana yang termuat dalam kitab Mufradatul Quran, karya Ragib Isfahani, dan kitab Maqayisul Lugah karya Ibn Fars, arti asli dari kata ini adalah kedekatan dua benda, yang seakan-akan tak berjarak sama sekali. Maksudnya jika dua sesuatu sudah sangat berdekatan, sangatlah mustahil jika dibayangkan ada sesuatu ketiga, ketika kita katakan walia zaid Amr artinya zaid di sisi Amr.

Kata ini juga bermakna teman, penolong dan penanggung jawab. Dengan kata lain pada semua arti tadi terdapat semacam kedekatan dan hubungan serta interaksi, dan untuk menentukan arti yang dinginkan dibutuhkan tanda-tanda dan kecermatan untuk memahami kontek kalimatnya.

Dengan memperhatikan poin-poin yang kita sebutkan tadi, kita dapat memahami bahwa maksud dari ayat di atas adalah hanya tuhan, rasul, dan Ali a.s sajalah yang memiliki kedekatan spesial dengan kaum muslim.

Telah jelas arti dekat di sini berkonotasi spiritual / metafisik bukan material. Konsekuensi kedekatan ini adalah wali (pemimpin) dapat mengganti semua hal yang dapat digantikan dari maula alaih (yang dipimpin). Atas dasar ini segala tindakan yang dilakukan oleh seorang muslim yang dapat diganti, wali mampu melakukannya dan mengiterpensi. Dengan pengertian semacam ini Wilayah diartikan penanggung jawab dan pemilik Ikhtiar. [3]

Dari satu sisi telah jelas tuhan wali seluruh hamba dalam urusan duniawi dan akhirat mereka. Dan Ia wali kaum mu’min dalam urusan agama dan penyeruan mereka terhadap kebahagiaan dan kesempurnaan mereka. Rasul dengan izin tuhan merupakan wali bagi kaum mu’minin. wilayah Imam Ali a.s yang dijelaskan dalam ayat ini juga bermaksud sama seperti arti di atas, yang konsekuensinya beliau mampu menginterfensi masalah dan urusan kaum muslim, dan beliau mendapatkan prioritas dalam jiwa, harta, kehormatan dan agama manusia. [4]

Ta’wilan Ahlisunnah

Mayoritas ulama’ Ahli sunnah mengakui bahwa sebab turunya ayat ini adalah Ali as bahkan Zamakhsari mengatakan dalam al Kassyaf, ketika menjawab persoalan kenapa berbentuk jamak bukankah ini ayat tersebut turun berkenaan dengan satu person saja (Imam Ali as):“hal ini supaya manusia mengamalkannya (bersedekah dalam keadaaan ruku’), dan mengindikasikan pribadi mu’min harus berbuat seperti yang demikian.” [5]

Fakhrur Razi dalam tafsirnya juga mengatakan: “ayat ini turun berkaitan dengan Ali a.s, dan sudah menjadi kesepakatan para ulama bahwa bersedekah dalam keadaan shalat (waktu ruku’) tidak pernah dilakukan kecuali oleh seorang pribadi agung Ali as.” [6]

Suyuthi dalam Durur Mansturnya membawakan pelbagai riwayat yang menunjukkan bahwa sebab turunya ayat ini adalah Ali a.s:”

Poin terpenting dan mendasar yang digunakan Ahli Sunnah untuk menjustifkasi ayat ini adalah, maksud dari wali dalam ayat ini adalah teman, bukan penanggung jawab dan pemilik ikhtiar.

Akan tetapi sebagaimana telah dijelaskan di awal-awal tadi –arti semacam ini (teman) tidak akan muncul dengan adanya alat hasr yang berupa Innama. Karena dengan demikian akan muncul konsekuensi pelarangan persahabatan dan berteman dengan selain Allah, Rasul, dan Ali as

 Kepemimpinan Ali as dalam Tinjauan Hadis Dan Sunnah

Dalam kitab-kitab hadis, baik di kalangan Ahlisunnah maupun di kalangan Syiah, terdapat bayak riwayat dari rasul yang menuturkan dan mencatat bahwa Ali as merupakan Imam dan Khalifah setelah beliau.

Riwayat-riwayat ini menunjukkan bahwa semenjak diutus, nabi telah diperintahkan untuk menyampaikan hal penting ini –kepemimpinan Ali as setelah beliau- kepada kaum muslimin, dan beliau juga telah menyampaikannya di berbagai kesempatan.

Mengingat kapasitas kitab ini tidak bisa  membahas riwayat itu secra keseluruhan kita hanya akan membawakan riwayat-riwayat yang berkaitan dengan peristiwa Al Gadir secara terperinci, dan selanjutnya kita akan membawakan riwayat-riwayat lain secara global.

Hadis Gadir

Hadis Gadir berkaitan dengan sebuah momen yang terjadi di penghujung kehidupan nabi SAWW, peristiwa ini terjadi pada waktu beliau kembali dari penunaian haji terkahir yang beliau laksanakan. Peristiwa akbar ini terjadi  di sebuah tempat yang diberi nama Gadir Khum. Tempat ini adalah tempat terpisahnya para jamaah haji dari Mesir, Irak, dan para jamaah haji yang berangkat dari kota Madinah.

Pada tahun kesepuluh hijriyah, Nabi SAWW bersama sekelompok besar dari sahabat pergi ke kota Mekah untuk menunaikan ibdah hajji. Setelah selesai menunaikan ibadah tersebut, beliau memberi titah kepada para sahabat untuk kembali ke kota Madinah. Ketika para rombongan sampai di kawasan Rabig sekitar tiga mil dari Juhfah, Jibril datang dan turun menjumpai rasul di Gadir Khum dengan menyampaikan misi dan wahyu dari tuhan: “Wahai Rasul sampaikan apa yang telah diturunkan kepadamu dari tuhanmu, dan andai kamu tidak melakukannya niscaya kamu tidak menyampaikan risalahNya, dan (ketahuilah) Allah akan menjagamu dari manusia.”(Maidah 67)

Dengan turunnya ayat ini rasul memerintahkan rombongan untuk berhenti, dan menyuruh mereka yang didepan untuk berhenti dan kembali, serta beliau memerintahkan untuk menunggu para rombongan yang masih tertinggal di belakang. Saat itu adalah waktu Dhuhur, cuaca sangat panas sekali, sebuah mimbar pun didirikan. Shalat Duhur didirikan secara berjamaah, kemudian setelah para sahabat berkumpul, beliau berdiri di atas mimbar setinggi 4 onta, dan dengan suara lantang beliau pun berpidato:” segala puji bagi Allah, dariNya kita minta pertolongan, dan kepadaNya kita beriman dan berserah diri, dan kita berlindung kepadaNya dari kejelekan amal perbuatan kita, tuhan yang tiada pembimbig dan pemberi hidayat selainNya. Siapa yang diberi petunjuk olehNya, tidak akan ada seorangpun yang sanggup menyesatkannya, aku bersaksi bahwa tiada yang layak disembah selainNya, dan Muhammad adalah utusan dan HambaNya.

Wahai Manusia sudah dekat rasanya aku akan memenuhi panggilanNya, dan akan meninggalkan kalian. Aku akan dimintai pertanggung jawaban, kalian pun juga demikian.

v Apakah yang kalian pikirkan tentang diriku?.

Ø  Kami bersaksi bahwa anda telah menjalankan dan telah berupaya untuk menyampaikan misi  yang telah anda emban, semoga Allah SWT memberikan pahala kepadamu.

v Apakah kalian bersaksi bahwa tuhan hanya satu dan Muhammad hamba sekaligus nabiNya, Surga, Neraka, dan kehidupan abadi di dunia lain adalah benar dan pasti?

Ø Iya, kami bersaksi.

v wahai manusia aku akan menitipkan dua hal berharga pada kalian supaya kalian beramal sesuai dengan dua hal tersebut.

Ø Pada saat itu berdirilah seorang dari mereka seraya berkata:”apa kedua hal tersebut?”

v Pertama kitab suci tuhan di mana pada satu sisinya berada di tangan tuhan, sedang yang lain berada di tangan kalian, sedang hal lainnya yang akan aku titipkan pada kalian adalah itrah dan ahlul baytku. Tuhan telah mengabariku bahwa kedua hal tadi tidak akan  berpisah sampai kapanpun.

v Wahai manusia janganlah kalian mendahului Al-Quran dan itrahku dan sekali-kali jangan tinggalkan keduanya karena kalian akan binasa dan celaka.

Tak lama kemudian nabi mengangkat tangan Ali as setinggi-tingginya sehingga tampaklah kulit ketiak kedua pribadi agung itu, dan beliau memperkenalkan imam Ali kepada khalayak seraya berkata:”Wahai manusia siapa gerangan yang lebih layak dan lebih berhak terhadap kaum mu’minin dari pada mereka sendiri?

Ø Tuhan dan rasulnya lebih tahu.

v Sesungguhnya Allah maulaku dn aku maula kaum mu’minin, dan aku lebih berhak atas diri mereka ketimbang mereka. Maka barang siapa yang maulanya adalah diriku maka ketahuilah bahwa Ali maulanya.

Sesuai penuturan Ahmad bin Hanbal, nabi mengulang ungkapan ini sebanyak empat kali, kemudian melanjutkan dengan do’a:”ya Allah cintailah mereka yang mencintai Ali, dan musuhilah mereka yang memusuhinya, kasihilah mereka yang mengasihinya, murkailah mereka yang membuat murka dia, tolonglah mereka yang menolongnya, hinakanlah mereka yang menghinanya dan merendahkannya, dan jadikanlah ia sebagai sendi dan poros (mihwar)  kebenaran.

Koreksi Sanad Hadis

Hadis Gadir salah satu hadis yang sangat populer baik dalam Syiah maupun Ahli Sunnah, sebagian mengklaim bahwa hadis ini mutawatir. Selain para ulama’ Syiah, sekelompok dari ulama’ Ahli Sunnah pun secara independen membahas dan menganalisanya, seperti: Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Thabari (W -310 H), dan Abu Abbas Ahmad bin Ahmad bin Said Hamadani (W-333 H), juga Abu Bakar Muhammad bin Umar bin Muhammad bin Salim Tamimi Baghdadi (W- 355 H) Dan masih banyak lagi. [7]

Untuk lebih memperjelas sejauh mana perhatian Tabiin dan Tabiinnya Tabiin dan para ilmuwan dan Fuqaha terhadap penukilan hadis ini dan kesahihan Sanadnya, kita akan bawakan secara singkat sejumlah Perawi hadis ini dari Ahli Sunnah di setiap abad, sedang untuk detailnya bisa dirujuk sendiri pada kitab-kitab yang secara panjang lebar memuat permasalahan ini. Para penukil hadis ini adalah:

1. 110 sahabat.

2. 84 Tabiin.

3. 56 Ulama’ abad kedua.

4. 92 Ulama’ abad ketiga.

5. 43 Ulama’ abad keempat

6. 24 Ulama’ abad kelima.

7. 20 Ulama’ abad keenam.

8. 20 Ulama’ abad ketujuh.

9. 19 Ulama’ abad kedelapan.

10.    16 Ulama’ abad kesembilan.

11.    14 Ulama’ abad kesepuluh.

12.    12 Ulama’ abad kese belas.

13.    13 Ulama’ abad kedua belas.

14.   12 Ulama’ abad keiga belas.

15.   19 Ulama’ abad keempat belas.

Para Muhaddis (ahli hadis) Ahli Sunnah, Yang menukil hadis ini di antaranya; Ahmad bin Hanbal Syibani dengan 40 sanad, Ibn hajar Asqalani dengan 25 sanad, Jazri Syafii 80 sanad, Abu Said Sajistani 120 sanad, Amir Muhammad Yamani 40 sanad, Nisai 250 sanad, Abu Ya’la Hamadani 100 sanad, Abul I’rfan Haban dengan 30 sanad. [8]

Dengan demikian peristiwa Gadir Khum dan pelantikan yang dilakukan oleh nabi SAWW, merupakan salah satu musallamat sejarah, sehingga siapapun yang mengingkarinya, dia tidak akan bisa menerima kejadian dan peristiwa-peristiwa historis lainnya.

 

Arti Hadis

Poin utama dari hadis ini adalah penggalan riwayat yang mengatakan:

من كنت مولاه فهذا علي مولاه “ Barang siapa Aku pemimpinnya, maka Ali juga pemimpinnya.”

Dengan memperhatikan berbagai kontek yang ada, maksud dari kata maula dalam hadis ini berarti aula atau lebih utama. Pada akhirnya hadis ini mengindikasikan bahwa Ali a.s adalah wali setelah nabi dan pengnggung jawab kaum muslimin, dan dia lebih utama dari diri mereka. Qarinah atau kontek-kontek tersebut adalah:

1. Pada permulaan hadis nabi bersabda” tidak kah aku terhadap diri kalian lebih utama dari kalian? ungkapan setelahnya yang mengatakan man kuntu maulahu… berdasarkan pada ungkapan ini, dengan demikian keserasian keduanya memberikan pengertian bahwa maula di situ berarti  awla dalam tashruf.

2. Pada akhir hadis rasul bersabda: ” اللهم وال من والاه وعادمن عاده “ doa ini merupakan penjelas akan maqam imam Ali a.s, dan hal ini dapat bermakna sebagaimana mestinya jika wali itu berarti maqam kepemimpinan dan wilayah.

1. Rasul dari khalayak meminta penyaksian, dan ungkapan man kuntu.., dalam  kontek penyaksian terhadap keesaan tuhan, dan kenabian rasul. Sehingga nilai hal tersebut (kewalian Ali as) dapat dipahami dari konteks tadi (penyaksian dengan keesaan Allah dan kenabian rasul).

2. Setelah nabi selesai dari ucapan beliau, dan sebelum khalayak berpencar dan terpisah-pisah satu sama lain, Jibril datang dengan membawa wahyu:”Hari ini telah Aku sempurnakan bagimu agamamu…” dan waktu itu rasul bersabda:” Maha Besar Allah atas penyempurnaan agama, dan perampungan nikmat, tuhan telah ridha dengan misiku dan kepemimpinan Ali as setelahku.” Atas dasar ini apakah ada satu tafsiran lagi selain Imamah dan kepemimpinan Ali as dari tema penyempurnaan agama dan perampungan nikmat, dan ditambah posisinya disejajarkan dengan sariat?.

Selain kontek dan berbagai qarinah yang telah kita sebutkan tadi, di sana terdapat kontek-kontek lain yang mengindikasikan keagungan misi yang harus disampaikan oleh rasul pada saat itu. Untuk lebih lengkapnya dapat dirujuk dalam kitab Al-Gadir jild pertama, halaman 370-383.

Sekilas Tentang Hadis-Hadis Yang Lain

1. ketika ayat indar [9]  turun, nabi meminta Abu Thalib untuk menyiapkan makanan, dan mengundang semua anak keturunan Abdul Muthalib. Pada waktu itu beliau bersabda:”siapakah dari kalian yang sudi menjadi patner bagiku, dan membantuku, niscaya dia akan menjadi saudara, khalifah, dan wasi setelah aku?.

Pada waktu itu tidak ada satu orang pun yang menjawab panggilan dan seruan nabi selain Ali as, beliau bersabda: “aku siap membaiat dan menolongmu” kemudian Nabi bersabda:” dia adalah saudaraku, wasi, khalifah dan pewaris sepeninggalku maka dengarkanlah dan patuhilah ucapannya!. [10]

2. ketika rasul hijrah ke Madinah, beliau mengikat tali persaudaraan diantara para sahabat kecuali Ali as, Ali as bersabda:”Wahai rasul kamu telah mengikat persaudaraan antara para sahabat, bagaimana dengan diriku?” baginda nabi bersabda:”apakah kamu tidak rela untuk menjadi saudaraku dan khalifah sepeninggalku?. [11]

3. Dalam riwayat yang tak sedikit jumlahnya rasul meminta dari para sahabat untuk memanggil Ali a.s dengan gelar Amirul Mu’minin, kemudian beliau bersabda:” kamu penghulu kaum muslim dan Imam kaum Muttaqin dan pemimpin para pribadi berwajah ceria di surga”.

Beliau juga bersabda:” ia wali setiap mu’min dan mu’minah”. Hadis ini diriwayatkan oleh kedua kelompok baik Syiah maupun Ahli Sunnah, dan kompilasi dari keduanya mencapai pada batas mutawatir. [12]

4. Secara mutawatir berdasarkan penukilan ulama’ Syiah dan Ahli Sunnah rasul bersabda kepada Imam Ali:” posisi dan kedudukanmu di sisiku seperti posisi dan kedudukan Harun disisi Musa as”. [13]  Artinya setiap hal yang dimiliki oleh Harun terhadap Musa as, juga dimiliki oleh Ali as dari rasul. Dan hal terpenting dari semua itu adalah khilafah dan kewasiaan Harun dari Musa as

Imamah / Kepemimpinan Para Imam Yang Lain

Keimamaham Imam yang lain dengan berbagai ungkapan dan penjelasan telah disampaikan pula oleh rasul SAWW. Riwayat-riwayat yang bertalian dengan hal ini dapat kita kategorikan dalam 6 kategori;

1. Kategori pertama riwayat-riwayat yang menyinggung Ahlul bayt, I’trah, durriyah, dan Dul Qurba. Begitu juga telah dijelaskan ciri-ciri umum dan universal para Imam yang berhak, dan keberlangsungannya dari keturunan Az Zahra as, riwayat-riwayat yang memuat permasalahan tersebut sangat banyak kita dapati dalam kitab-kitab sahih dan jami’ Ahli Sunnah. Riwayat tersebut secara luas dan panjang lebar telah termuat dan terkumpul dalam kitab Aqabatul Anwar, Al Gadir, Al Muraja’at, dan Ihqaqul Haq.

2. Kelompok riwayat yang menjelaskan perpindahan / peralihan kepemimpinan (Imamah) atau suksesi dari imam Ali a.s kepada imam Hasan as dan dari beliau kepada Imam Husain. Sebagian dari riayat-riwayat tersebut telah dimuat dalam kitab Ihqaqul Haq jild ke 19.

3. Kelompok riwayat yang yang menyebutkan jumlah Imam sebanyak 12 orang, dengan tanpa penyebutan nama. Riwayat ini mencapai 130 riwayat. Dan sekitar 40 riwayat yang menyebutkan bahwa khalifah dan pengganti setelah nabi SAWW sejumlah Nuqaba nabi Musa As. [14]

4. kurang lebih 91 riwayat menyebutkan jumlah Imam dengan membawakan nama Imam pertama dan terakhir. Dan sejumlah 94 riwayat yang hanya menyebutkan nama Imam yang terakhir. [15]

5. Sekitar 139 hadis yang menyebutkan bahwa Imam berjumlah 12 orang, dan secara gamblang riwayat-riwayat ini mengatakan bahwa 9 orang dari mereka adalah anak keturunan Al-Husain as dan sekitar 107 dari riwayat tadi menyebutkan  nama Imam yang terakkhir. [16]

6. Sekitar 50 hadis menyebutkan nama-nama Imam secara lengkap dari awal sampai akhir. Sebagai contoh berikut ini contoh dari riwayat-riwayat tersebut.

Jabir bin Abdillah berkata:”ketika ayat 55 dari surat Nisa turun yang menegaskan ”taatilah Allah, dan taatilah rasul, dan para pemimin dari kalian”  aku bertanya pada rasul SAWW, “kami telah mengetahui tuhan dan rasulnya, namaun Ulil Amr yang wajib kita taati tersebut belum kami ketahui, siapakah gerangan mereka itu? Beliau bersabda:”mereka penggantiku, para Imam dan pemimpin sepeninggalku, yang pertama Ali, kemudian secara berurutan Hasan pura Ali, Husain putra Ali, Ali putra Al Husain, Muhammad putra Ali yang dalam Taurat dikenal dengan Baqirul Ulum, dan kamu pada suatu saat akan berjumpa dengannya, dan kapanpun kau menjumpainya sampaikanlah salamku padanya. Kemudian setelahnya secara urut Ja’far putra Muhammad, Musa putra Ja’far, Ali putra Musa, Muhammad putra Ali, Ali putra Muhammad, Hasan putra Ali, dan kemudian putranya yang nama dan kunyahnya (panggilan) sama dengan ku. Tuhan akan menjadikannya pemimin bagi dunia, dan ia akan tersembunyi dari pandangan dan penglihatan, dan ia akan gaib lama sekali. Sampai suatu saat di mana hanya ada orang-orang yang memiliki keiman yang  kokoh, yang teruji dan mendalam akan keyakinan terhadap kepemimpinannya. [17]

Riwayat-Riwayat Dari Ahli Sunnah Berkenaan Dengan Ke-Imamahan 12 Orang Imam

Tepat sekali kalau pada kajian ini kita bawakan riwayat- riwayat tentang ke-Imamahan para Imam 12 yang termuat dalam kitab-kitab standar Ahli Sunnah, riwayat- riwayat tersebut diantaranya:

1. Bukhari menukil dari Jabir bin Samarah:”Aku mendengar rasul bersabda:”setelahku 12 orang pemimpin akan datang.” Saat itu beliau melanjutkan ucapannya yang tak terdengar olehku kemudian ayahku berkata bahwa keseluruhan imam tersebut semuanya dari bangsa Quraisy.” [18]

2. Muslin juga menukil dari Jabir bin samarah:”aku mendengar rasul SAWW bersabda:”Islam akan memiliki pemimpin sampai 12 orang. Kemudian beliau bersabda yang tak bisa kupahami. Aku bertanya pada ayahku tentang apa yang tidak aku pahami itu, ia berkata:”beliau bersabda semuanya dari kaum Quraisy. [19]

3. Muslim dari Jabir juga menukil, ia (Jabir) berkata:”aku dan ayahku berjalan bersama rasul SAWW saat itu beliau bersabda:”agama ini akan memiliki 12 pemimpin, yang kesemuanya dari bangsa Quraisy. [20]

4. Muslim juga menukil dari Jabir:”aku mendengar rasul bersabda:”agama Islam akan langgeng sampai hari kiamat nanti, sampai dua belas orang khalifah memerintah yang kesemuanya dari Quraisy. [21]

Imam Ke 12

Sebagaimana kita jelaskan di atas, berdasarkan riwayat yang amat banyak yang diriwayatkan dari rasul SAWW, bahwa jumlah para imam ma’sum yang akan datang silih berganti dan menjadi pelanjut dan penerus jalan dan pembawa lentera hidayah bagi manusia adalah 12 orang, di mana imam kesebelas dari mereka telah melaksanakan tugas dan misi ilahi dalam menjaga agama dalam kondisi tersulit yang ditabur oleh para penguasa penyembah kekuasaan, yang  pada akhirnya mereka korbankan nyawa mereka di jalan agama tuhan.

Keimamahan imam Ke 12 Imam Mahdi as dimulai semenjak sahidnya Imam ke 11 (260 h), dan tetap berlangsung sampai saat ini, dan seterusnya. Hal ini menuntut kita untuk sedikit membahas sebagaian hakikat yang terkait dengan keimamahan  beliau.

Imam dan Hujjah tuhan Ke 12 lahir pada pertengahan bulan Sya’ban tahun 255 hijriyah, di kota Samira. Nama dan kunyah beliau sama dengan rasul M-H-M dan Abul Qasim, kendati ada larangan untuk menyebut nama beliau. [22]Beliau memiliki beberapa gelar di antaranya: Hujjat, Qaim, Wali Ashr, Khalafus Shaleh, Sahibuz Zaman, Baqiytullah dan al-Mahdi yang merupakan gelar termasyhur bagi beliau.

Imam Mahdi memiliki dua gaibah, pertama gaib sugra (kecil) yang berlangsung sangat singkat, dan yang kedua gaibah kubra (besar) gaibah ini berlangsung sangat lama. Gaibah sugra berlangsung dari kelahiran beliau sampai tahun 329 hijriah, sedang gaibah kubra dari tahun 329 tadi sampai masa kemunculan dan bangkitnya beliau nanti.

 Kabar Gembira Akan Munculnya Imam Mahdi as dalam Hadis

Syiah Maupun Ahli Sunnah secara mutawatir menukil riwayat-riwayat yang mengatakan:”pada akhir zaman nanti akan muncul seorang manusia yang bernama Mahdi yang akan melenyapkan kebodohan dan kezaliman, dan akan meyebar luaskan ilmu dan keadilan, dan ia akan menerapkan agama tuhan di atas dunia, kendati para musyrik tidak menyetujui dan membencinya”.

Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa:”jika umur dunia hanya tinggal sehari, tuhan akan memanjangkan hari itu sampai seorang anak manusia muncul yang akan memenuhi alam dengan keadilan, sebagaimana dunia telah dipenuhi oleh kezaliman dan penganiyaan. [23]

Mengingat pentingnya statistik riwayat-riwatyat yang dinukil baik oleh kalangan Syiah maupun Ahli Sunnah, berikut ini kami bawakan riwayat-riwayat tersebut yang kami bagi dalam 11 kategori:

1. sekitar 657 riwayat tentang kabar gembira munculnya Imam Mahdi as

2. 389 riwayat yang menjelaskan tentang Mahdi dari Ahli Bayt rasul.

3. 214 riwayat yang menjelaskan bahwa Mahdi dari keturunan Ali as

4. 192 riwayat yang menjelaskan bahwa Mahdi dari keturunan Fatimah.

5. 148 riwayat yang menjelaskan bahwa Mahdi adalah anak ke-9 dari keturunan Al Husain.

6. 185 riwayat yang menjelaskan bahwa Mahdi dari keturunan Imam Ali Zainal Abidin.

7. 146 riwayat yang menjelaskan bahwa Mahdi putra Imam Hasan Askari.

8. 132 riwayat yang menjelaskan bahwa Mahdi akan memenuhi alam dengan keadilan.

9. 91 riwayat yang menjelaskan bahwa Mahdi akan gaib lama sekali.

10.    318 riwayat yang menjelaskan bahwa Mahdi memiliki umur yang sangat panjang sekali.

11.    136 riwayat yang menjelaskan mahdi adalah Imam ke-12 dari para Imam Ahlul Bayt. [24]

Ahli Sunnah dan Imam Mahdi

Begitu jelasnya kemutawatiran riwayat-riwayat yang menyebutkan kabar gembira akan munculnya Mahdi as, sampai-sampai banyak dari para ulama’ Ahli Sunnah yang mengakui dan menegaskan secara gamblang kemutawatiran riwayat-riwayat tersebut. Berikut ini sebagaian dari mereka:

Allamah Syaukani dalam kitab Attaudhih fi Tawatutri ma jaa fil Muntadhar wad Dajjal wal Masih; Hafid [25] Abu Abdillah Ganji Syafi’i (W 658 H) dalam kitab Al Bayan fi Akhbar Shahibuz Zaman; Hafid ibn Hajar Al Asqalani Syafi’I (W 852 H) dalam Fathul Bari. [26]

Atas dasar ini keyakinan terhadap munculnya Imam Mahdi as bukanlah khusus bagi Syiah saja, akan tetapi Ahli Sunnah juga menyakininya, walaupun menurut keyakinan mereka beliau as sampai sekarang belum terlahirkan ke dunia.

Bahkan Wahabiyah sendiri yang menjadi penentang nomor wahid Syiah, tak mampu mengingkarinya. Dalam stateman / penjelasan yang dikeluarkan Rabithatul Alamil Islami pada tahun 1976 Masehi secara tegas disebutkan [27]:

”…ketika kerusakan, kezaliman dan kekafiran telah menyebar luas di dunia, Allah SWT akan memenuhinya dengan keadilan melalui dia (Mahdi) as, sebagaimana dunia telah dipenuhi oleh kezaliman. Ia merupakan khalifah terakhir dari Khualafaur Rasyidin yang berjumlah 12 sebagaimana dikabarkan oleh rasul SAW yang terdapat dalam kitab-kitab hadis yang sahih. Hadis-hadis yang berkaitan dengan hal ini banyak diriwayatkan dari para sahabat besar seperti Ustman bin Affan; Ali bin Abu Thalib; Thalhah bin Ubaidillah; dan Abdurrahman bin Auf …” [28]

Selain keterangan dan penjelasan yang kita bawakan tadi, para ulama’ non-Syiah juga menulis kitab-kitab yang berkaitan dengan Imam Mahdi as seperti: Abu Nu’aim pengarang kitab Akhbarul Mahdi; Ibn Hajar Haitsami yang menulis sebuah kitab berjudul Al Qaulul Mukhtasar fi Alamatil Mahdi Al Muntadhar; dan Idris yang berkebangsaan Irak dan Maroko yang mengarang kitab dengan judul Al Mahdi.


[1] Nahjul Haq wa Kasyfus Sidq, percetkan darul hijrah, Qom, halaman 172-211.

[2] Ihqaqul haq, jld 2, halaman 399 dan seterusnya.

[3] Ragib dalam Mufradatul Quran halaman 570 mengatakan:”Wilayah berarti kemenangan, penanggung jawab dan pemilik ikhtiar sebuah perbuatan, sebagian berpendapat wilayat dan walayat memiliki satu arti yaitu penanggung jawab dan pemilik ikhtiar. Wali dan maula juga berarti demikian, hanya terkadang berkonotasi subyek (ism fa’il) dan terkadang obyek (ism maf’uli). Thabarsi dalam majmaul bayan setelah ayat 157 Baqarah mengatakan:’wali dari kata wala yang berarti berdekatan tanpa ada penghalang, wali adalah orang yang lebih berhak dan layak untuk melakukan perbuatan orang lain. Pemimpin sebuah kaum dapat dipanggil dengan wali, karena kedekatan dan secara langsung mengurusi dan menyuruh dan melarang semua urusan. Dan kepada majikan dikatakan maula karena secara langsung mengurusi masalah hamba. Ibnu faris juga mengatakan:”barang siapa bertanggung jawab atas urusan seseorang maka ia akan menjadi wali baginya. (Maqayisul Lugah jild 6, halaman 141).

[4] Allamah Sayyid Husain Tehrani, Imam Syenasi (mengenal Imam), jild 5, halaman 199-265; Allamah Sayyid Abdul Husain Syarafuddin, Al Murajaat, muraje-e-ye 38, Ustad Muthahari, Majmue-ye Atsar, jild 3, halaman 268-289.

[5] Ak-KasysYaf, percetakan mesir, tahun 1373 syamsi, jild  1, halaman 505.

[6] Tafsirul Kabir, percetakan mesir, tahun 1357 Syamsi, jild 12,halaman 30.

[7] Allamah Amini dalam jild  pertama kitab Al-Gadir halaman 152-157 telah membawakan nama-nama ulama’ yang telah menulis kitab untuk mengomentari dan menganalisa hadis ini, beliau juga menjelaskan metode yang diperaktekkan para penulis dalam memaparkan keterangannya.

[8] Jumlah ini diambil dari Al-Gadir jild pertama. Sedang pembahsan sanad hadis ini terdapat kitab-kitab tersendiri di antarana; Gayatul maram, karya Allamh sayyid Hasyim Bahrani (w 1390), dan Al-‘Aqabat, karya Sayyid Mir Hamid Husain Hindi. (w 1306)

[9] Syua’ra 214.

[10] Al-‘umdah, Ibnu Bithriq, halaman 121, 122 dan halaman 133, 134; Gayatul Maram, halaman 320; Syawahidul Tanzil, jild 1, halaman 420; Al-Gadir, jild 2, halaman 278-279.

[11] Al-“umdah, halaman 215-223;Al-Gadir, jild 3 halaman 112-125.

[12] Manaqib ibnu Magazali, halaman 65-66.

[13]

Al-‘Umdah, halaman 173-185, Musnad Ahmad, jild 3, halaman 32, Al-Gadir jild 1, halaman 51 dan jild 3, halaman 197-201.

[14] Muntakhabul Atsar, Ayatullah Shafi, halaman 10-58.

[15] Muntakhabul Atsar, Ayatullah Shafi, halaman 58-64.

[16] Muntakhabul Atsar, Ayatullah Shafi, halaman 65-96.

[17] Muntakhabul Atsar, halaman 101.

[18] Sahih Bukhari, jild 9, bab Istikhlaf, halaman 81.

[19] Sahih Muslim, jild 6, kitab Al-Amarah, bab annas taba’un li quraisy, halaman 3.

[20] Sahih Muslim, jild 6, kitab Al-Amarah, bab annas taba’un li quraisy, halaman 3.

[21] Sahih Muslim, jild 6, kitab Al-Amarah, bab annas taba’un li quraisy, halaman 3, sebagai bahan tahqiq pembaca budiman dapat merujuk ada kitab, musnad bin hanbal, jild 5, halaman 86, 89, 97, 107; muntakhabul Atsar, halaman 16  ;Yanabiul Mawaddah, halaman 446.

[22] Terdapat polemic diantara ulama syiah apakah pelarangan menyebut nama Imam zaman bersifat temporal dan hanya khusus pada zaman gaib sugra beliau ataukah pelaranga tersebut permanent sifatnya dan berklaku pada setiap zaman. An-Najmus Tsaqib, Mirza Husain Thabarsi Nuri, tehran, percetakan ilmiye-ye islamiyeh, bab 2, halaman 48-49.

[23] Musnad Ahmad bin Hanbal, jild 1, halaman 99, jild 3, halaman 17 dan 70.

[24] Sesuai penuturan Ayatullah Ja’far Subhani, Muhadharah Ilahiyah,halaman 566.

[25] Hafid adalah orang yang mengetahui sunnah-sunnah nabi yang dia juga mampu membedakan sunnah-sunnah yang telah menjadi kesepakatan dan sunnah yang masih dipertentangkan. Ia pun mengetahui dengan sempurna kondisi para perawi dan tingkatan para guru-guru hadis. (Mudir Syaneh chi, Ilmul Hadis, jild 2, halaman 22).

[26] Untuk mengetahui lebih lanjut lihatlah Nuvid amn va aman, karya Ayatullah Shafi, Tehran, Darul kutubul Islamiyah, menurut tahqiq yang beliau lakukan sekitar 17 orang dari ulama’ Ahli sunnah yang menegaskan kemutawatiran riwayat-riwayat yang berkenaan dengan kemunculan Al-Mahdi as.

[27] Rabitahtul Alamil Islami, merupakan markas terbesar Wahabiyah yang berdomisili di Makah, penjelasan dan jawaban dari soal kemunculan Imam Mahdi as dikeluarkan oleh markas ini dengan tanda tangan KETUMnya.

[28] Dalam penjelasan tersebut ada sekitar 20 nama orang yang sahabat rasul SAWW yang mereka katakan telah menukil dan meriwayatkan hadis-hadis tadi, kita hanya menyebutkan saja sebagian dari mereka. (menurut penuturan Sire-ye Fisywayan, Mahdi Fisywai, Qom, Muasese-ye va ta’limati Imam Shadiq, halaman 701-703).

Diamnya imam Ali AS pada masa 3 Khalifah Sunni Dalam Timbangan Al Quran

Diamnya Imam Ali AS pada masa 3 khalifah dan diamnya Imam Hasan didepan Mu’awiyah memiliki hikmah yang sulit dicerna oleh pemikiran orang yang jauh dari Al Quran

.

Hadits manzilah

Dilihat dari bentuk kata-katanya. Hadits itu mengandung tasybih, yaitu penyamaan kedudukan ‘Ali dengan kedudukan Harun yakni Nabi Harun AS “diam” seperti “diam” nya Imam Ali didepan umat yang membangkang !

PERSAMAAN SAHABAT NABI SAW DAN SAHABAT MUSA AS

Jika sesetengah (bukannya semua) sahabat Nabi Muhammad Saw diterangkan oleh al-Quran sebagai orang yang lari dari medan perang (Uhud dan Hunain), munafik, meninggalkan Nabi ketika khutbah Jumaat dan sebagainya, maka bagaimanakah pula sikap sahabat/kaum Nabi Musa as.? Al-Quran dalam Surah al-Maidah ayat 20-26 menjelaskan sikap mereka seperti berikut:
.
Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Wahai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia mengangkat nabi-nabi di antaramu, dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka (setelah kamu diperhamba oleh Firaun dan orang-orangnya), dan diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorangpun di antara umat-umat yang lain”.QS. al-Mai’dah (5) : 20
.
Wahai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina- Baitul Muqaddis) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari ke belakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi. QS. al-Mai’dah (5) : 21
.
Mereka berkata: “Wahai Musa, sesungguhnya dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka ke luar daripadanya. Jika mereka ke luar daripadanya, pasti kami akan memasukinya.”                      QS. al-Mai’dah (5) : 22
.
Berkatalah dua orang di antara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya: “Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman”.
QS. al-Mai’dah (5) : 23
.
Mereka berkata: “Wahai Musa, kami sekali-sekali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu (berperang) bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja”.
QS. al-Mai’dah (5) : 24
.
Berkata Musa: “Ya Tuhanku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku (Nabi Harun). Sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu”.
QS. al-Mai’dah (5) : 25
.
Allah berfirman: ” (Jika demikian), maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (padang Tiih) itu. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu.” QS. al-Mai’dah (5) : 26
.
Kesimpulannya:
.
1. Sahabat Nabi Musa (Bani Israil) telah ingkar dengan arahan Nabi Musa supaya memasuki tanah suci Palestin kerana takut berperang.
.
2. Mereka yang ingkar itu mengarahkan Nabi Musa agar berperang bersama Tuhan  manakala mereka hanya menunggu sahaja.
.
3. Mereka disifatkan sebagai sahabat/kaum yang fasiq oleh al-Quran.
.
4. Akibat ingkar dengan arahan Nabi Musa mereka disesatkan oleh Allah swt selama 40 tahun di tengah padang pasir Tiih (sekarang terletak di wilayah Mesir).
.
Justeru itu, sahabat Nabi Musa yang ingkar dengan arahannya bukanlah sahabat yang layak dijadikan contoh dan mereka bukalanlah sahabat yang adil.
.
Lalu Nabi lain ??

Dari kisah Nabi Ya’kub AS dapat kita lihat bahwa diam dalam situasi situasi tertentu sangat dianjurkan, dimana jika menentangnya justru akan menimbulkan kekacauan dan kerusakan atau demi untuk memelihara umat manusia

Marilah kita lihat kisah Nabi Ya’kub dan anak anaknya dalam Qs. Yusuf ayat 16, Qs. Yusuf ayat 18, Qs. Yusuf ayat 68 dan Qs. Yusuf ayat 84

Lantas apa tindakan Ya’kub ?? Nabi yang mulia ini ternyata menerima kebohongan cerita mereka seraya memohon kesabaran karena beliau tahu bahwa mereka itu berdusta. Nabi Ya’kub paham ia sedang menghadapi orang orang yang sepakat berdusta ! Anak anaknya sedang mementaskan drama kebohongan bahwa Yusuf telah meninggal

Apakah Ya’kub kemudian lantas membongkar kebohongan mereka dan memberikan ganjaran hukuman yang setimpal ?? Tidak ! Ya’kub memiliki segudang ilmu kebijaksanaan.. Sejarah mencatat, diamnya Nabi Ya’kub kelak justru membawa keberhasilan besar bagi Nabi Yusuf AS..

Kalau kita meneliti sejarah hidup Nabi SAW maka kita akan temukan bahwa Nabi bersikap “diam” dalam situasi situasi dimana kepentingan umat Islam lebih utama. Misalnya ; PADA PERJANJiAN HUDAiBiYAH

Inilah hakikat sebenarnya yang tidak dipahami oleh kebanyakan orang yang selalu berdalih bahwa kekhalifahan Abubakar, Umar dan Usman adalah sah karena Ali diam saja. Bahkan mereka juga mengatakan kalau seandainya Rasul memang telah mengangkat Ali menjadi khalifah tentu Ali tidak akan diam saja

 

Mereka tidak menemukan hikmah dibalik diamnya Rasul pada PERJANJiAN HUDAiBiYAH yang mana Rasulullah menerima syarat syarat kaum musyrikin padahal merugikan kepentingan Islam saat itu. Umar memprotesnya seraya mengatakan : “Bukankah engkau Nabi Allah yang hak ? dan bukankah kita di pihak yang benar sementara mereka dipihak yang salah ? kenapa kita harus merendahkan agama kita ?”

Diamnya Rasul dinilai negatif oleh Umar. Namun faktanya hanya setahun setelah perjanjian hudaibiyah maka  Rasul  kemudian sukses menaklukkan Mekkah tanpa perlawanan dan peperangan sehingga manusia berbondong bondong masuk Islam. Inilah hikmah dibalik diamnya beliau

UMAT  KHiANATi  Ali  PASCA  NABi  SAW WAFAT

Qs. Al An’am ayat 65-67

Qs. 6:65. Katakanlah (Muhammad), “Dialah yang berkuasa mengirimkan azab kepadamu, dari atas atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebagian kamu keganasan sebagian yang lain.” Perhatikanlah bagaimana Kami menjelaskan berulang ulang tanda tanda (kekuasaan Kami) agar mereka memahami (nya)

Qs. 6:66. Dan kaummu mendustakannya (azab) padahal (azab) itu benar adanya. Katakanlah (Muhammad), “Aku ini bukanlah penanggung jawab kamu”

Qs. 6:67. Setiap berita (yang dibawa oleh Rasul) ada (waktu) terjadinya dan kelak kamu akan mengetahui

Dikutip dari  “AL HiDAYAH ALQURAN TAFSiR PERKATA TAJWID KODE ANGKA PENERBIT KALiM”  yang disahkan DEPAG, halaman 136 :

Asbabun Nuzul Qs.6 : 65-67 : Zaid bin Aslam mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda  kepada para sahabat, “Setelah kepergianku, janganlah kalian kembali menjadi kafir dengan saling membunuh diantara kalian”. Mereka berkata, “Kami bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya engkau adalah Rasul Nya. “Sebagian yang lain berkata, “ini tidak akan pernah terjadi untuk selamanya, yaitu saling membunuh diantara kita, sementara kita semua adalah muslim.” Maka turunlah ketiga ayat ini (HR. Ibnu Abi Hatim)

Wahai para pembaca…

Qs. Asy Syu’ara; ayat 205-207

Qs.26 : 205  : Maka bagaimana pendapatmu jika kepada mereka kami berikan kenikmatan hidup beberapa tahun,

Qs.26 : 206  : Kemudian datang kepada mereka azab yang diancamkan kepada mereka,

Qs.26 : 207  : Niscaya tidak berguna bagi mereka kenikmatan yang mereka rasakan

Dikutip dari  “AL HiDAYAH ALQURAN TAFSiR PERKATA TAJWID KODE ANGKA PENERBIT KALiM”  yang disahkan DEPAG, halaman  376 :

Asbabun Nuzul Qs.26 : 205-207 : Menurut Abu Jahdham, ketiga ayat ini diturunkan berkenaan dengan Rasulullah yang suatu ketika terlihat bingung dan gelisah. Para sahabat menanyakan hal itu. “Aku bermimpi, setelah aku wafat kelak, aku melihat musuhku yang ternyata adalah berasal dari umatku sendiri,” jawab Rasulullah (HR.ibnu Abi Hatim)

Wahai para pembaca…

Hadis dari sahabat  Jarir bin ‘Abdillah Al Bajali dari Nabi SAW : “janganlah kalian kembali kafir sepeninggalku, sebagian kalian menebas leher yang lain” (HR. Bukhari no. 7080 dan HR. Muslim no.65)

Hadis Nabi SAW : “Mencaci seorang muslim adalah suatu kefasikan dan membunuhnya adalah suatu kekufuran” (Hr.Bukhari Muslim)

.

Al-Quran dalam topik Imamah tidak membawa sebuah nama satupun yang disebut sebagai seorang Imam. Mungkin hal ini sebagai salah satu metode Allah SWT untuk menjaga Al-Quran dari tahrif, atau ada hikmah-hikmah lain yang masih terselubung. Walaupun demikian Al-Quran telah menjelaskan secara global Imamah Ali as  dan putra-putra beliau dalam beberapa ayat, dan hal ini telah dijelaskan oleh rasul sendiri secara gamblang, sehingga tidak ada kesamaran lagi bagi setiap pribadi pencari hakikat dan kebenaran.

Di dalam Al-Quran banyak terdapat Ayat-ayat yang menjelaskan kelayakan Imam Ali as sebagai seorang Imam.

Allamah Hilly dalam kitab Nahj Al Haq wa Kasyf Al Sidq mengatakan ada sekitar 88 ayat yang menetapkan keimamahan Ali as. Ayat-ayat tersebut, berlandaskan hadis-hadis yang termuat dalam kitab-kitab standar Ahli Sunnah yang menggambarkan dimensi-dimensi keagungan pribadi Ali dan keImamahan beliau. [1]

Begitu juga Qody Said Mar’asyi dalam Ihqaq Al haq menyebutkan sekitar 94 ayat lain yang menetapkan Wilayah Imam Ali a.s dengan berdasarkan 37 kitab standar Ahli Sunnah.

Di sini kita hanya ingin membawakan dan membahas satu ayat Al-Quran yang merupakan penjelas keimamahan Ali as.

Ayat Wilayah

“Sesungguhnya Wali kalian hanyalah Allah, RasulNya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dalam keadan ruku’”. (Al Maidah 55).

Berdasarkan hadis-hadis yang dinukil baik dari kalangan ulama’ Syiah maupun Ahli Sunnah, ayat ini turun berkenaan dengan Imam Ali a.s, dan sesuai kajian dan penuturan para ahli tafsir dan ahli hadis  Syiah serta pengakuan sekelompok ulama’ yang tidak sedikit dari kalangan Ahli Sunnah, bahwa pribadi yang menyedekahkan cincinnya pada si faqir dalam keadaan shalat (waktu ruku’) itu adalah pribadi agung Ali as. [2]

Allamah Mar’asyi dalam kitabnya Ihqaqul Haq menuturkan bahwa ada sekitar 85 kitab hadis dan tafsir Ahli Sunnah yang menukil bahwa ayat tersebut turun berkenaan dengan Imam Ali as

Dengan riwayat-riwayat ini jelas bahwa yang dinginkan dari kata jamak pada ayat di atas adalah kata tunggal dan itu Imam Ali as. Akan tetapi yang perlu dicermati di sini adalah apa arti sebenarnya dari kata wali yang terdapat dalam ayat ini.

Arti wali: Kata-kata Wali, Wilayat, Wala, Maula, dan  Awla, berasal dari akar kata yang sama yaitu Wala. Kata ini sangat banyak digunakan oleh Al-Quran; 124 dengan kata benda, dan sekitar 112 tempat dipakai dalam bentuk kata kerja.

Sebagaimana yang termuat dalam kitab Mufradatul Quran, karya Ragib Isfahani, dan kitab Maqayisul Lugah karya Ibn Fars, arti asli dari kata ini adalah kedekatan dua benda, yang seakan-akan tak berjarak sama sekali. Maksudnya jika dua sesuatu sudah sangat berdekatan, sangatlah mustahil jika dibayangkan ada sesuatu ketiga, ketika kita katakan walia zaid Amr artinya zaid di sisi Amr.

Kata ini juga bermakna teman, penolong dan penanggung jawab. Dengan kata lain pada semua arti tadi terdapat semacam kedekatan dan hubungan serta interaksi, dan untuk menentukan arti yang dinginkan dibutuhkan tanda-tanda dan kecermatan untuk memahami kontek kalimatnya.

Dengan memperhatikan poin-poin yang kita sebutkan tadi, kita dapat memahami bahwa maksud dari ayat di atas adalah hanya tuhan, rasul, dan Ali a.s sajalah yang memiliki kedekatan spesial dengan kaum muslim.

Telah jelas arti dekat di sini berkonotasi spiritual / metafisik bukan material. Konsekuensi kedekatan ini adalah wali (pemimpin) dapat mengganti semua hal yang dapat digantikan dari maula alaih (yang dipimpin). Atas dasar ini segala tindakan yang dilakukan oleh seorang muslim yang dapat diganti, wali mampu melakukannya dan mengiterpensi. Dengan pengertian semacam ini Wilayah diartikan penanggung jawab dan pemilik Ikhtiar. [3]

Dari satu sisi telah jelas tuhan wali seluruh hamba dalam urusan duniawi dan akhirat mereka. Dan Ia wali kaum mu’min dalam urusan agama dan penyeruan mereka terhadap kebahagiaan dan kesempurnaan mereka. Rasul dengan izin tuhan merupakan wali bagi kaum mu’minin. wilayah Imam Ali a.s yang dijelaskan dalam ayat ini juga bermaksud sama seperti arti di atas, yang konsekuensinya beliau mampu menginterfensi masalah dan urusan kaum muslim, dan beliau mendapatkan prioritas dalam jiwa, harta, kehormatan dan agama manusia. [4]

Ta’wilan Ahlisunnah

Mayoritas ulama’ Ahli sunnah mengakui bahwa sebab turunya ayat ini adalah Ali as bahkan Zamakhsari mengatakan dalam al Kassyaf, ketika menjawab persoalan kenapa berbentuk jamak bukankah ini ayat tersebut turun berkenaan dengan satu person saja (Imam Ali as):“hal ini supaya manusia mengamalkannya (bersedekah dalam keadaaan ruku’), dan mengindikasikan pribadi mu’min harus berbuat seperti yang demikian.” [5]

Fakhrur Razi dalam tafsirnya juga mengatakan: “ayat ini turun berkaitan dengan Ali a.s, dan sudah menjadi kesepakatan para ulama bahwa bersedekah dalam keadaan shalat (waktu ruku’) tidak pernah dilakukan kecuali oleh seorang pribadi agung Ali as.” [6]

Suyuthi dalam Durur Mansturnya membawakan pelbagai riwayat yang menunjukkan bahwa sebab turunya ayat ini adalah Ali a.s:”

Poin terpenting dan mendasar yang digunakan Ahli Sunnah untuk menjustifkasi ayat ini adalah, maksud dari wali dalam ayat ini adalah teman, bukan penanggung jawab dan pemilik ikhtiar.

Akan tetapi sebagaimana telah dijelaskan di awal-awal tadi –arti semacam ini (teman) tidak akan muncul dengan adanya alat hasr yang berupa Innama. Karena dengan demikian akan muncul konsekuensi pelarangan persahabatan dan berteman dengan selain Allah, Rasul, dan Ali as

 Kepemimpinan Ali as dalam Tinjauan Hadis Dan Sunnah

Dalam kitab-kitab hadis, baik di kalangan Ahlisunnah maupun di kalangan Syiah, terdapat bayak riwayat dari rasul yang menuturkan dan mencatat bahwa Ali as merupakan Imam dan Khalifah setelah beliau.

Riwayat-riwayat ini menunjukkan bahwa semenjak diutus, nabi telah diperintahkan untuk menyampaikan hal penting ini –kepemimpinan Ali as setelah beliau- kepada kaum muslimin, dan beliau juga telah menyampaikannya di berbagai kesempatan.

Mengingat kapasitas kitab ini tidak bisa  membahas riwayat itu secra keseluruhan kita hanya akan membawakan riwayat-riwayat yang berkaitan dengan peristiwa Al Gadir secara terperinci, dan selanjutnya kita akan membawakan riwayat-riwayat lain secara global.

Hadis Gadir

Hadis Gadir berkaitan dengan sebuah momen yang terjadi di penghujung kehidupan nabi SAWW, peristiwa ini terjadi pada waktu beliau kembali dari penunaian haji terkahir yang beliau laksanakan. Peristiwa akbar ini terjadi  di sebuah tempat yang diberi nama Gadir Khum. Tempat ini adalah tempat terpisahnya para jamaah haji dari Mesir, Irak, dan para jamaah haji yang berangkat dari kota Madinah.

Pada tahun kesepuluh hijriyah, Nabi SAWW bersama sekelompok besar dari sahabat pergi ke kota Mekah untuk menunaikan ibdah hajji. Setelah selesai menunaikan ibadah tersebut, beliau memberi titah kepada para sahabat untuk kembali ke kota Madinah. Ketika para rombongan sampai di kawasan Rabig sekitar tiga mil dari Juhfah, Jibril datang dan turun menjumpai rasul di Gadir Khum dengan menyampaikan misi dan wahyu dari tuhan: “Wahai Rasul sampaikan apa yang telah diturunkan kepadamu dari tuhanmu, dan andai kamu tidak melakukannya niscaya kamu tidak menyampaikan risalahNya, dan (ketahuilah) Allah akan menjagamu dari manusia.”(Maidah 67)

Dengan turunnya ayat ini rasul memerintahkan rombongan untuk berhenti, dan menyuruh mereka yang didepan untuk berhenti dan kembali, serta beliau memerintahkan untuk menunggu para rombongan yang masih tertinggal di belakang. Saat itu adalah waktu Dhuhur, cuaca sangat panas sekali, sebuah mimbar pun didirikan. Shalat Duhur didirikan secara berjamaah, kemudian setelah para sahabat berkumpul, beliau berdiri di atas mimbar setinggi 4 onta, dan dengan suara lantang beliau pun berpidato:” segala puji bagi Allah, dariNya kita minta pertolongan, dan kepadaNya kita beriman dan berserah diri, dan kita berlindung kepadaNya dari kejelekan amal perbuatan kita, tuhan yang tiada pembimbig dan pemberi hidayat selainNya. Siapa yang diberi petunjuk olehNya, tidak akan ada seorangpun yang sanggup menyesatkannya, aku bersaksi bahwa tiada yang layak disembah selainNya, dan Muhammad adalah utusan dan HambaNya.

Wahai Manusia sudah dekat rasanya aku akan memenuhi panggilanNya, dan akan meninggalkan kalian. Aku akan dimintai pertanggung jawaban, kalian pun juga demikian.

v Apakah yang kalian pikirkan tentang diriku?.

Ø  Kami bersaksi bahwa anda telah menjalankan dan telah berupaya untuk menyampaikan misi  yang telah anda emban, semoga Allah SWT memberikan pahala kepadamu.

v Apakah kalian bersaksi bahwa tuhan hanya satu dan Muhammad hamba sekaligus nabiNya, Surga, Neraka, dan kehidupan abadi di dunia lain adalah benar dan pasti?

Ø Iya, kami bersaksi.

v wahai manusia aku akan menitipkan dua hal berharga pada kalian supaya kalian beramal sesuai dengan dua hal tersebut.

Ø Pada saat itu berdirilah seorang dari mereka seraya berkata:”apa kedua hal tersebut?”

v Pertama kitab suci tuhan di mana pada satu sisinya berada di tangan tuhan, sedang yang lain berada di tangan kalian, sedang hal lainnya yang akan aku titipkan pada kalian adalah itrah dan ahlul baytku. Tuhan telah mengabariku bahwa kedua hal tadi tidak akan  berpisah sampai kapanpun.

v Wahai manusia janganlah kalian mendahului Al-Quran dan itrahku dan sekali-kali jangan tinggalkan keduanya karena kalian akan binasa dan celaka.

Tak lama kemudian nabi mengangkat tangan Ali as setinggi-tingginya sehingga tampaklah kulit ketiak kedua pribadi agung itu, dan beliau memperkenalkan imam Ali kepada khalayak seraya berkata:”Wahai manusia siapa gerangan yang lebih layak dan lebih berhak terhadap kaum mu’minin dari pada mereka sendiri?

Ø Tuhan dan rasulnya lebih tahu.

v Sesungguhnya Allah maulaku dn aku maula kaum mu’minin, dan aku lebih berhak atas diri mereka ketimbang mereka. Maka barang siapa yang maulanya adalah diriku maka ketahuilah bahwa Ali maulanya.

Sesuai penuturan Ahmad bin Hanbal, nabi mengulang ungkapan ini sebanyak empat kali, kemudian melanjutkan dengan do’a:”ya Allah cintailah mereka yang mencintai Ali, dan musuhilah mereka yang memusuhinya, kasihilah mereka yang mengasihinya, murkailah mereka yang membuat murka dia, tolonglah mereka yang menolongnya, hinakanlah mereka yang menghinanya dan merendahkannya, dan jadikanlah ia sebagai sendi dan poros (mihwar)  kebenaran.

Koreksi Sanad Hadis

Hadis Gadir salah satu hadis yang sangat populer baik dalam Syiah maupun Ahli Sunnah, sebagian mengklaim bahwa hadis ini mutawatir. Selain para ulama’ Syiah, sekelompok dari ulama’ Ahli Sunnah pun secara independen membahas dan menganalisanya, seperti: Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Thabari (W -310 H), dan Abu Abbas Ahmad bin Ahmad bin Said Hamadani (W-333 H), juga Abu Bakar Muhammad bin Umar bin Muhammad bin Salim Tamimi Baghdadi (W- 355 H) Dan masih banyak lagi. [7]

Untuk lebih memperjelas sejauh mana perhatian Tabiin dan Tabiinnya Tabiin dan para ilmuwan dan Fuqaha terhadap penukilan hadis ini dan kesahihan Sanadnya, kita akan bawakan secara singkat sejumlah Perawi hadis ini dari Ahli Sunnah di setiap abad, sedang untuk detailnya bisa dirujuk sendiri pada kitab-kitab yang secara panjang lebar memuat permasalahan ini. Para penukil hadis ini adalah:

1. 110 sahabat.

2. 84 Tabiin.

3. 56 Ulama’ abad kedua.

4. 92 Ulama’ abad ketiga.

5. 43 Ulama’ abad keempat

6. 24 Ulama’ abad kelima.

7. 20 Ulama’ abad keenam.

8. 20 Ulama’ abad ketujuh.

9. 19 Ulama’ abad kedelapan.

10.    16 Ulama’ abad kesembilan.

11.    14 Ulama’ abad kesepuluh.

12.    12 Ulama’ abad kese belas.

13.    13 Ulama’ abad kedua belas.

14.   12 Ulama’ abad keiga belas.

15.   19 Ulama’ abad keempat belas.

Para Muhaddis (ahli hadis) Ahli Sunnah, Yang menukil hadis ini di antaranya; Ahmad bin Hanbal Syibani dengan 40 sanad, Ibn hajar Asqalani dengan 25 sanad, Jazri Syafii 80 sanad, Abu Said Sajistani 120 sanad, Amir Muhammad Yamani 40 sanad, Nisai 250 sanad, Abu Ya’la Hamadani 100 sanad, Abul I’rfan Haban dengan 30 sanad. [8]

Dengan demikian peristiwa Gadir Khum dan pelantikan yang dilakukan oleh nabi SAWW, merupakan salah satu musallamat sejarah, sehingga siapapun yang mengingkarinya, dia tidak akan bisa menerima kejadian dan peristiwa-peristiwa historis lainnya.

 

Arti Hadis

Poin utama dari hadis ini adalah penggalan riwayat yang mengatakan:

من كنت مولاه فهذا علي مولاه “ Barang siapa Aku pemimpinnya, maka Ali juga pemimpinnya.”

Dengan memperhatikan berbagai kontek yang ada, maksud dari kata maula dalam hadis ini berarti aula atau lebih utama. Pada akhirnya hadis ini mengindikasikan bahwa Ali a.s adalah wali setelah nabi dan pengnggung jawab kaum muslimin, dan dia lebih utama dari diri mereka. Qarinah atau kontek-kontek tersebut adalah:

1. Pada permulaan hadis nabi bersabda” tidak kah aku terhadap diri kalian lebih utama dari kalian? ungkapan setelahnya yang mengatakan man kuntu maulahu… berdasarkan pada ungkapan ini, dengan demikian keserasian keduanya memberikan pengertian bahwa maula di situ berarti  awla dalam tashruf.

2. Pada akhir hadis rasul bersabda: ” اللهم وال من والاه وعادمن عاده “ doa ini merupakan penjelas akan maqam imam Ali a.s, dan hal ini dapat bermakna sebagaimana mestinya jika wali itu berarti maqam kepemimpinan dan wilayah.

1. Rasul dari khalayak meminta penyaksian, dan ungkapan man kuntu.., dalam  kontek penyaksian terhadap keesaan tuhan, dan kenabian rasul. Sehingga nilai hal tersebut (kewalian Ali as) dapat dipahami dari konteks tadi (penyaksian dengan keesaan Allah dan kenabian rasul).

2. Setelah nabi selesai dari ucapan beliau, dan sebelum khalayak berpencar dan terpisah-pisah satu sama lain, Jibril datang dengan membawa wahyu:”Hari ini telah Aku sempurnakan bagimu agamamu…” dan waktu itu rasul bersabda:” Maha Besar Allah atas penyempurnaan agama, dan perampungan nikmat, tuhan telah ridha dengan misiku dan kepemimpinan Ali as setelahku.” Atas dasar ini apakah ada satu tafsiran lagi selain Imamah dan kepemimpinan Ali as dari tema penyempurnaan agama dan perampungan nikmat, dan ditambah posisinya disejajarkan dengan sariat?.

Selain kontek dan berbagai qarinah yang telah kita sebutkan tadi, di sana terdapat kontek-kontek lain yang mengindikasikan keagungan misi yang harus disampaikan oleh rasul pada saat itu. Untuk lebih lengkapnya dapat dirujuk dalam kitab Al-Gadir jild pertama, halaman 370-383.

Sekilas Tentang Hadis-Hadis Yang Lain

1. ketika ayat indar [9]  turun, nabi meminta Abu Thalib untuk menyiapkan makanan, dan mengundang semua anak keturunan Abdul Muthalib. Pada waktu itu beliau bersabda:”siapakah dari kalian yang sudi menjadi patner bagiku, dan membantuku, niscaya dia akan menjadi saudara, khalifah, dan wasi setelah aku?.

Pada waktu itu tidak ada satu orang pun yang menjawab panggilan dan seruan nabi selain Ali as, beliau bersabda: “aku siap membaiat dan menolongmu” kemudian Nabi bersabda:” dia adalah saudaraku, wasi, khalifah dan pewaris sepeninggalku maka dengarkanlah dan patuhilah ucapannya!. [10]

2. ketika rasul hijrah ke Madinah, beliau mengikat tali persaudaraan diantara para sahabat kecuali Ali as, Ali as bersabda:”Wahai rasul kamu telah mengikat persaudaraan antara para sahabat, bagaimana dengan diriku?” baginda nabi bersabda:”apakah kamu tidak rela untuk menjadi saudaraku dan khalifah sepeninggalku?. [11]

3. Dalam riwayat yang tak sedikit jumlahnya rasul meminta dari para sahabat untuk memanggil Ali a.s dengan gelar Amirul Mu’minin, kemudian beliau bersabda:” kamu penghulu kaum muslim dan Imam kaum Muttaqin dan pemimpin para pribadi berwajah ceria di surga”.

Beliau juga bersabda:” ia wali setiap mu’min dan mu’minah”. Hadis ini diriwayatkan oleh kedua kelompok baik Syiah maupun Ahli Sunnah, dan kompilasi dari keduanya mencapai pada batas mutawatir. [12]

4. Secara mutawatir berdasarkan penukilan ulama’ Syiah dan Ahli Sunnah rasul bersabda kepada Imam Ali:” posisi dan kedudukanmu di sisiku seperti posisi dan kedudukan Harun disisi Musa as”. [13]  Artinya setiap hal yang dimiliki oleh Harun terhadap Musa as, juga dimiliki oleh Ali as dari rasul. Dan hal terpenting dari semua itu adalah khilafah dan kewasiaan Harun dari Musa as

Imamah / Kepemimpinan Para Imam Yang Lain

Keimamaham Imam yang lain dengan berbagai ungkapan dan penjelasan telah disampaikan pula oleh rasul SAWW. Riwayat-riwayat yang bertalian dengan hal ini dapat kita kategorikan dalam 6 kategori;

1. Kategori pertama riwayat-riwayat yang menyinggung Ahlul bayt, I’trah, durriyah, dan Dul Qurba. Begitu juga telah dijelaskan ciri-ciri umum dan universal para Imam yang berhak, dan keberlangsungannya dari keturunan Az Zahra as, riwayat-riwayat yang memuat permasalahan tersebut sangat banyak kita dapati dalam kitab-kitab sahih dan jami’ Ahli Sunnah. Riwayat tersebut secara luas dan panjang lebar telah termuat dan terkumpul dalam kitab Aqabatul Anwar, Al Gadir, Al Muraja’at, dan Ihqaqul Haq.

2. Kelompok riwayat yang menjelaskan perpindahan / peralihan kepemimpinan (Imamah) atau suksesi dari imam Ali a.s kepada imam Hasan as dan dari beliau kepada Imam Husain. Sebagian dari riayat-riwayat tersebut telah dimuat dalam kitab Ihqaqul Haq jild ke 19.

3. Kelompok riwayat yang yang menyebutkan jumlah Imam sebanyak 12 orang, dengan tanpa penyebutan nama. Riwayat ini mencapai 130 riwayat. Dan sekitar 40 riwayat yang menyebutkan bahwa khalifah dan pengganti setelah nabi SAWW sejumlah Nuqaba nabi Musa As. [14]

4. kurang lebih 91 riwayat menyebutkan jumlah Imam dengan membawakan nama Imam pertama dan terakhir. Dan sejumlah 94 riwayat yang hanya menyebutkan nama Imam yang terakhir. [15]

5. Sekitar 139 hadis yang menyebutkan bahwa Imam berjumlah 12 orang, dan secara gamblang riwayat-riwayat ini mengatakan bahwa 9 orang dari mereka adalah anak keturunan Al-Husain as dan sekitar 107 dari riwayat tadi menyebutkan  nama Imam yang terakkhir. [16]

6. Sekitar 50 hadis menyebutkan nama-nama Imam secara lengkap dari awal sampai akhir. Sebagai contoh berikut ini contoh dari riwayat-riwayat tersebut.

Jabir bin Abdillah berkata:”ketika ayat 55 dari surat Nisa turun yang menegaskan ”taatilah Allah, dan taatilah rasul, dan para pemimin dari kalian”  aku bertanya pada rasul SAWW, “kami telah mengetahui tuhan dan rasulnya, namaun Ulil Amr yang wajib kita taati tersebut belum kami ketahui, siapakah gerangan mereka itu? Beliau bersabda:”mereka penggantiku, para Imam dan pemimpin sepeninggalku, yang pertama Ali, kemudian secara berurutan Hasan pura Ali, Husain putra Ali, Ali putra Al Husain, Muhammad putra Ali yang dalam Taurat dikenal dengan Baqirul Ulum, dan kamu pada suatu saat akan berjumpa dengannya, dan kapanpun kau menjumpainya sampaikanlah salamku padanya. Kemudian setelahnya secara urut Ja’far putra Muhammad, Musa putra Ja’far, Ali putra Musa, Muhammad putra Ali, Ali putra Muhammad, Hasan putra Ali, dan kemudian putranya yang nama dan kunyahnya (panggilan) sama dengan ku. Tuhan akan menjadikannya pemimin bagi dunia, dan ia akan tersembunyi dari pandangan dan penglihatan, dan ia akan gaib lama sekali. Sampai suatu saat di mana hanya ada orang-orang yang memiliki keiman yang  kokoh, yang teruji dan mendalam akan keyakinan terhadap kepemimpinannya. [17]

Riwayat-Riwayat Dari Ahli Sunnah Berkenaan Dengan Ke-Imamahan 12 Orang Imam

Tepat sekali kalau pada kajian ini kita bawakan riwayat- riwayat tentang ke-Imamahan para Imam 12 yang termuat dalam kitab-kitab standar Ahli Sunnah, riwayat- riwayat tersebut diantaranya:

1. Bukhari menukil dari Jabir bin Samarah:”Aku mendengar rasul bersabda:”setelahku 12 orang pemimpin akan datang.” Saat itu beliau melanjutkan ucapannya yang tak terdengar olehku kemudian ayahku berkata bahwa keseluruhan imam tersebut semuanya dari bangsa Quraisy.” [18]

2. Muslin juga menukil dari Jabir bin samarah:”aku mendengar rasul SAWW bersabda:”Islam akan memiliki pemimpin sampai 12 orang. Kemudian beliau bersabda yang tak bisa kupahami. Aku bertanya pada ayahku tentang apa yang tidak aku pahami itu, ia berkata:”beliau bersabda semuanya dari kaum Quraisy. [19]

3. Muslim dari Jabir juga menukil, ia (Jabir) berkata:”aku dan ayahku berjalan bersama rasul SAWW saat itu beliau bersabda:”agama ini akan memiliki 12 pemimpin, yang kesemuanya dari bangsa Quraisy. [20]

4. Muslim juga menukil dari Jabir:”aku mendengar rasul bersabda:”agama Islam akan langgeng sampai hari kiamat nanti, sampai dua belas orang khalifah memerintah yang kesemuanya dari Quraisy. [21]

Imam Ke 12

Sebagaimana kita jelaskan di atas, berdasarkan riwayat yang amat banyak yang diriwayatkan dari rasul SAWW, bahwa jumlah para imam ma’sum yang akan datang silih berganti dan menjadi pelanjut dan penerus jalan dan pembawa lentera hidayah bagi manusia adalah 12 orang, di mana imam kesebelas dari mereka telah melaksanakan tugas dan misi ilahi dalam menjaga agama dalam kondisi tersulit yang ditabur oleh para penguasa penyembah kekuasaan, yang  pada akhirnya mereka korbankan nyawa mereka di jalan agama tuhan.

Keimamahan imam Ke 12 Imam Mahdi as dimulai semenjak sahidnya Imam ke 11 (260 h), dan tetap berlangsung sampai saat ini, dan seterusnya. Hal ini menuntut kita untuk sedikit membahas sebagaian hakikat yang terkait dengan keimamahan  beliau.

Imam dan Hujjah tuhan Ke 12 lahir pada pertengahan bulan Sya’ban tahun 255 hijriyah, di kota Samira. Nama dan kunyah beliau sama dengan rasul M-H-M dan Abul Qasim, kendati ada larangan untuk menyebut nama beliau. [22]Beliau memiliki beberapa gelar di antaranya: Hujjat, Qaim, Wali Ashr, Khalafus Shaleh, Sahibuz Zaman, Baqiytullah dan al-Mahdi yang merupakan gelar termasyhur bagi beliau.

Imam Mahdi memiliki dua gaibah, pertama gaib sugra (kecil) yang berlangsung sangat singkat, dan yang kedua gaibah kubra (besar) gaibah ini berlangsung sangat lama. Gaibah sugra berlangsung dari kelahiran beliau sampai tahun 329 hijriah, sedang gaibah kubra dari tahun 329 tadi sampai masa kemunculan dan bangkitnya beliau nanti.

 Kabar Gembira Akan Munculnya Imam Mahdi as dalam Hadis

Syiah Maupun Ahli Sunnah secara mutawatir menukil riwayat-riwayat yang mengatakan:”pada akhir zaman nanti akan muncul seorang manusia yang bernama Mahdi yang akan melenyapkan kebodohan dan kezaliman, dan akan meyebar luaskan ilmu dan keadilan, dan ia akan menerapkan agama tuhan di atas dunia, kendati para musyrik tidak menyetujui dan membencinya”.

Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa:”jika umur dunia hanya tinggal sehari, tuhan akan memanjangkan hari itu sampai seorang anak manusia muncul yang akan memenuhi alam dengan keadilan, sebagaimana dunia telah dipenuhi oleh kezaliman dan penganiyaan. [23]

Mengingat pentingnya statistik riwayat-riwatyat yang dinukil baik oleh kalangan Syiah maupun Ahli Sunnah, berikut ini kami bawakan riwayat-riwayat tersebut yang kami bagi dalam 11 kategori:

1. sekitar 657 riwayat tentang kabar gembira munculnya Imam Mahdi as

2. 389 riwayat yang menjelaskan tentang Mahdi dari Ahli Bayt rasul.

3. 214 riwayat yang menjelaskan bahwa Mahdi dari keturunan Ali as

4. 192 riwayat yang menjelaskan bahwa Mahdi dari keturunan Fatimah.

5. 148 riwayat yang menjelaskan bahwa Mahdi adalah anak ke-9 dari keturunan Al Husain.

6. 185 riwayat yang menjelaskan bahwa Mahdi dari keturunan Imam Ali Zainal Abidin.

7. 146 riwayat yang menjelaskan bahwa Mahdi putra Imam Hasan Askari.

8. 132 riwayat yang menjelaskan bahwa Mahdi akan memenuhi alam dengan keadilan.

9. 91 riwayat yang menjelaskan bahwa Mahdi akan gaib lama sekali.

10.    318 riwayat yang menjelaskan bahwa Mahdi memiliki umur yang sangat panjang sekali.

11.    136 riwayat yang menjelaskan mahdi adalah Imam ke-12 dari para Imam Ahlul Bayt. [24]

Ahli Sunnah dan Imam Mahdi

Begitu jelasnya kemutawatiran riwayat-riwayat yang menyebutkan kabar gembira akan munculnya Mahdi as, sampai-sampai banyak dari para ulama’ Ahli Sunnah yang mengakui dan menegaskan secara gamblang kemutawatiran riwayat-riwayat tersebut. Berikut ini sebagaian dari mereka:

Allamah Syaukani dalam kitab Attaudhih fi Tawatutri ma jaa fil Muntadhar wad Dajjal wal Masih; Hafid [25] Abu Abdillah Ganji Syafi’i (W 658 H) dalam kitab Al Bayan fi Akhbar Shahibuz Zaman; Hafid ibn Hajar Al Asqalani Syafi’I (W 852 H) dalam Fathul Bari. [26]

Atas dasar ini keyakinan terhadap munculnya Imam Mahdi as bukanlah khusus bagi Syiah saja, akan tetapi Ahli Sunnah juga menyakininya, walaupun menurut keyakinan mereka beliau as sampai sekarang belum terlahirkan ke dunia.

Bahkan Wahabiyah sendiri yang menjadi penentang nomor wahid Syiah, tak mampu mengingkarinya. Dalam stateman / penjelasan yang dikeluarkan Rabithatul Alamil Islami pada tahun 1976 Masehi secara tegas disebutkan [27]:

”…ketika kerusakan, kezaliman dan kekafiran telah menyebar luas di dunia, Allah SWT akan memenuhinya dengan keadilan melalui dia (Mahdi) as, sebagaimana dunia telah dipenuhi oleh kezaliman. Ia merupakan khalifah terakhir dari Khualafaur Rasyidin yang berjumlah 12 sebagaimana dikabarkan oleh rasul SAW yang terdapat dalam kitab-kitab hadis yang sahih. Hadis-hadis yang berkaitan dengan hal ini banyak diriwayatkan dari para sahabat besar seperti Ustman bin Affan; Ali bin Abu Thalib; Thalhah bin Ubaidillah; dan Abdurrahman bin Auf …” [28]

Selain keterangan dan penjelasan yang kita bawakan tadi, para ulama’ non-Syiah juga menulis kitab-kitab yang berkaitan dengan Imam Mahdi as seperti: Abu Nu’aim pengarang kitab Akhbarul Mahdi; Ibn Hajar Haitsami yang menulis sebuah kitab berjudul Al Qaulul Mukhtasar fi Alamatil Mahdi Al Muntadhar; dan Idris yang berkebangsaan Irak dan Maroko yang mengarang kitab dengan judul Al Mahdi.


[1] Nahjul Haq wa Kasyfus Sidq, percetkan darul hijrah, Qom, halaman 172-211.

[2] Ihqaqul haq, jld 2, halaman 399 dan seterusnya.

[3] Ragib dalam Mufradatul Quran halaman 570 mengatakan:”Wilayah berarti kemenangan, penanggung jawab dan pemilik ikhtiar sebuah perbuatan, sebagian berpendapat wilayat dan walayat memiliki satu arti yaitu penanggung jawab dan pemilik ikhtiar. Wali dan maula juga berarti demikian, hanya terkadang berkonotasi subyek (ism fa’il) dan terkadang obyek (ism maf’uli). Thabarsi dalam majmaul bayan setelah ayat 157 Baqarah mengatakan:’wali dari kata wala yang berarti berdekatan tanpa ada penghalang, wali adalah orang yang lebih berhak dan layak untuk melakukan perbuatan orang lain. Pemimpin sebuah kaum dapat dipanggil dengan wali, karena kedekatan dan secara langsung mengurusi dan menyuruh dan melarang semua urusan. Dan kepada majikan dikatakan maula karena secara langsung mengurusi masalah hamba. Ibnu faris juga mengatakan:”barang siapa bertanggung jawab atas urusan seseorang maka ia akan menjadi wali baginya. (Maqayisul Lugah jild 6, halaman 141).

[4] Allamah Sayyid Husain Tehrani, Imam Syenasi (mengenal Imam), jild 5, halaman 199-265; Allamah Sayyid Abdul Husain Syarafuddin, Al Murajaat, muraje-e-ye 38, Ustad Muthahari, Majmue-ye Atsar, jild 3, halaman 268-289.

[5] Ak-KasysYaf, percetakan mesir, tahun 1373 syamsi, jild  1, halaman 505.

[6] Tafsirul Kabir, percetakan mesir, tahun 1357 Syamsi, jild 12,halaman 30.

[7] Allamah Amini dalam jild  pertama kitab Al-Gadir halaman 152-157 telah membawakan nama-nama ulama’ yang telah menulis kitab untuk mengomentari dan menganalisa hadis ini, beliau juga menjelaskan metode yang diperaktekkan para penulis dalam memaparkan keterangannya.

[8] Jumlah ini diambil dari Al-Gadir jild pertama. Sedang pembahsan sanad hadis ini terdapat kitab-kitab tersendiri di antarana; Gayatul maram, karya Allamh sayyid Hasyim Bahrani (w 1390), dan Al-‘Aqabat, karya Sayyid Mir Hamid Husain Hindi. (w 1306)

[9] Syua’ra 214.

[10] Al-‘umdah, Ibnu Bithriq, halaman 121, 122 dan halaman 133, 134; Gayatul Maram, halaman 320; Syawahidul Tanzil, jild 1, halaman 420; Al-Gadir, jild 2, halaman 278-279.

[11] Al-“umdah, halaman 215-223;Al-Gadir, jild 3 halaman 112-125.

[12] Manaqib ibnu Magazali, halaman 65-66.

[13]

Al-‘Umdah, halaman 173-185, Musnad Ahmad, jild 3, halaman 32, Al-Gadir jild 1, halaman 51 dan jild 3, halaman 197-201.

[14] Muntakhabul Atsar, Ayatullah Shafi, halaman 10-58.

[15] Muntakhabul Atsar, Ayatullah Shafi, halaman 58-64.

[16] Muntakhabul Atsar, Ayatullah Shafi, halaman 65-96.

[17] Muntakhabul Atsar, halaman 101.

[18] Sahih Bukhari, jild 9, bab Istikhlaf, halaman 81.

[19] Sahih Muslim, jild 6, kitab Al-Amarah, bab annas taba’un li quraisy, halaman 3.

[20] Sahih Muslim, jild 6, kitab Al-Amarah, bab annas taba’un li quraisy, halaman 3.

[21] Sahih Muslim, jild 6, kitab Al-Amarah, bab annas taba’un li quraisy, halaman 3, sebagai bahan tahqiq pembaca budiman dapat merujuk ada kitab, musnad bin hanbal, jild 5, halaman 86, 89, 97, 107; muntakhabul Atsar, halaman 16  ;Yanabiul Mawaddah, halaman 446.

[22] Terdapat polemic diantara ulama syiah apakah pelarangan menyebut nama Imam zaman bersifat temporal dan hanya khusus pada zaman gaib sugra beliau ataukah pelaranga tersebut permanent sifatnya dan berklaku pada setiap zaman. An-Najmus Tsaqib, Mirza Husain Thabarsi Nuri, tehran, percetakan ilmiye-ye islamiyeh, bab 2, halaman 48-49.

[23] Musnad Ahmad bin Hanbal, jild 1, halaman 99, jild 3, halaman 17 dan 70.

[24] Sesuai penuturan Ayatullah Ja’far Subhani, Muhadharah Ilahiyah,halaman 566.

[25] Hafid adalah orang yang mengetahui sunnah-sunnah nabi yang dia juga mampu membedakan sunnah-sunnah yang telah menjadi kesepakatan dan sunnah yang masih dipertentangkan. Ia pun mengetahui dengan sempurna kondisi para perawi dan tingkatan para guru-guru hadis. (Mudir Syaneh chi, Ilmul Hadis, jild 2, halaman 22).

[26] Untuk mengetahui lebih lanjut lihatlah Nuvid amn va aman, karya Ayatullah Shafi, Tehran, Darul kutubul Islamiyah, menurut tahqiq yang beliau lakukan sekitar 17 orang dari ulama’ Ahli sunnah yang menegaskan kemutawatiran riwayat-riwayat yang berkenaan dengan kemunculan Al-Mahdi as.

[27] Rabitahtul Alamil Islami, merupakan markas terbesar Wahabiyah yang berdomisili di Makah, penjelasan dan jawaban dari soal kemunculan Imam Mahdi as dikeluarkan oleh markas ini dengan tanda tangan KETUMnya.

[28] Dalam penjelasan tersebut ada sekitar 20 nama orang yang sahabat rasul SAWW yang mereka katakan telah menukil dan meriwayatkan hadis-hadis tadi, kita hanya menyebutkan saja sebagian dari mereka. (menurut penuturan Sire-ye Fisywayan, Mahdi Fisywai, Qom, Muasese-ye va ta’limati Imam Shadiq, halaman 701-703).

ABU HURAiRAH dan BUKHARi membongkar intimidasi dan ketidakjujuran dalam periwayatan hadis sunni

KHALIFAHNYA WAHABI ; MUAWIYAH SEBAGAI AHLI NERAKA…!!

Sunni mencintai dan menghormati musuh musuh ahlulbait dengan alasan semuanya mengambil ajaran dari Rasul SAW. Bahkan sunni menganggap para sahabat seperti malaikat yang tidak pernah salah, tidak punya rasa dengki dan permusuhan kepada sesamanya

Nabi SAW menyebut Mu’awiyah cs sebagai kelompok pemberontak sesat !

Sabda Rasulullah SAW kepada Ammar: “Betapa kasihan Ammar, golongan pembangkang telah membunuhnya, padahal dia menyeru mereka kepada kebenaran (surga) sementara mereka menyeru kepada kesesatan (neraka)” (Hr. Bukhari, Muslim, At Tirmidzi dan Ahmad)

Padahal Allah SWT menyatakan : “Siapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya adalah neraka jahannam, ia kekal didalamnya dan Allah murka kepada, dan mengutuknya serta menyediakan azab yang besar baginya” (Qs. An Nisa ayat 93)

Juga sabda nya : “Anakku Hasan akan mendamaikan dua kelompok besar yang berselisih”. Dan sabdanya pada Abu Dzar bahwa ia akan mati sendirian dan terasing. Demikian pula dengan sabda nya : “Imam imam setelahku ada 12, semuanya dari Quraisy

Bukhari dalam shahih nya meriwayatkan dari Abu Hurairah yang berkata : “Saya menjaga dari Rasul SAW dua kantong, satu kantong saya sebarkan dan satu kantong lagi saya simpan. Kalau kantong yang saya tutupi ini saya buka juga, niscaya saya akan dihabisi oleh orang kejam ini (Mu’awiyah)” (Hr.Bukhari juz 1 halaman 38)

Pada Perang Shiffin, dua orang yang membawa kepala ‘Ammar bin Yasir kepada Mu’awiyah, bertengkar, masing masing mengaku bahwa dialah yang memenggal kepala ‘Ammar yang oleh Rasul dikatakan bahwa ‘Ammar dibunuh  kelompok  pemberontak

Ibnu Qutaibah menceriterakan dalam al Ma’arif bahwa yang mengaku membunuh ‘Ammar yang telah berumur 93 tahun itu adalah Abu alGhadiyah. Ia sendiri yeng mengaku membunuh ‘Ammar: “Sesungguhnya seorang lelaki menikam dan membuka tutup kepala ‘Ammar dan memenggal kepalanya. Kepala ‘Ammar telah berubah rupa”.  ( Ibn Qutaibah, AlMa’arif, hlm. 112 )

Abu Umar menceriterakan ‘Ammar dibunuh oleh Abu alGhadiyah dan yang memenggal kepalanya adalah Ibnu Jaz as Saksaki ( Ibn Abil Hadid, Syarh NahjulBalaghah,jilid 10, hlm. 105. )

.

SHAHIH BUKHARI NO.428 MERIWAYATKAN BAHWA RASUL MENGATAKAN BAHWA AMMAR BIN YASIR AKAN DIBUNUH KELOMPOK PEMBERONTAK AHLI NERAKA
حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مُخْتَارٍ قَالَ حَدَّثَنَا خَالِدٌ الْحَذَّاءُ عَنْ عِكْرِمَةَ قَالَ لِي ابْنُ عَبَّاسٍ وَلِابْنِهِ عَلِيٍّ انْطَلِقَا إِلَى أَبِي سَعِيدٍفَاسْمَعَا مِنْ حَدِيثِهِ فَانْطَلَقْنَا فَإِذَا هُوَ فِي حَائِطٍ يُصْلِحُهُ فَأَخَذَ رِدَاءَهُ فَاحْتَبَى ثُمَّ أَنْشَأَ يُحَدِّثُنَا حَتَّى أَتَى ذِكْرُ بِنَاءِ الْمَسْجِدِ فَقَالَ كُنَّا نَحْمِلُ لَبِنَةً لَبِنَةً وَعَمَّارٌ لَبِنَتَيْنِ لَبِنَتَيْنِ فَرَآهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَنْفُضُ التُّرَابَ عَنْهُ وَيَقُولُ وَيْحَ عَمَّارٍ تَقْتُلُهُ الْفِئَةُ الْبَاغِيَةُ يَدْعُوهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ وَيَدْعُونَهُ إِلَى النَّارِ قَالَ يَقُولُ عَمَّارٌ أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ الْفِتَنِ
Telah menceritakan kepada kami [Musaddad] berkata, telah menceritakan kepada kami ['Abdul 'Aziz bin Mukhtar] berkata, telah menceritakan kepada kami [Khalid Al Hadza'] dari ['Ikrimah], Ibnu ‘Abbas kepadaku dan kepada Ali, anaknya, “Pergilah kalian bedua menemui [Abu Sa'id] dan dengarlah hadits darinya!” Maka kami pun berangkat. Dan kami dapati dia sedang membetulkan dinding miliknya, ia mengambil kain selendangnya dan duduk ihtiba`. Kemudian ia mulai berbicara hingga menyebutkan tentang pembangunan masjid. Ia mengkisahkan, “Masing-masing kami membawa bata satu persatu, sedangkan ‘Ammar membawa dua bata dua bata sekaligus. Saat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melihatnya, beliau berkata sambil meniup debu yang ada padanya: “Kasihan ‘Ammar, dia akan dibunuh oleh golongan durjana. Dia mengajak mereka ke surga sedangkan mereka mengajaknya ke neraka.” Ibnu ‘Abbas berkata, “‘Ammar lantas berkata, “Aku berlindung kepada Allah dari fitnah tersebut.”
.
SIAPAKAH KELOMPOK PEMBERONTAK AHLI NERAKA ITU..??

MASNAD AHMAD NO.17710حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ قَالَ حَدَّثَنَا مَعْمَرٌ عَنْ ابْنِ طَاوُسٍ عَنْ أَبِي بَكْرِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ حَزْمٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَلَمَّا قُتِلَ عَمَّارُ بْنُ يَاسِرٍ دَخَلَ عَمْرُو بْنُ حَزْمٍ عَلَى عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ فَقَالَ قُتِلَ عَمَّارٌ وَقَدْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَقْتُلُهُ الْفِئَةُ الْبَاغِيَةُ فَقَامَ عَمْرُو بْنُ الْعَاصِ فَزِعًا يُرَجِّعُ حَتَّى دَخَلَ عَلَى مُعَاوِيَةَ فَقَالَ لَهُ مُعَاوِيَةُ مَا شَأْنُكَ قَالَ قُتِلَ عَمَّارٌ فَقَالَ مُعَاوِيَةُ قَدْ قُتِلَ عَمَّارٌ فَمَاذَا قَالَ عَمْرٌو سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ تَقْتُلُهُ الْفِئَةُ الْبَاغِيَةُ فَقَالَ لَهُ مُعَاوِيَةُ دُحِضْتَ فِي بَوْلِكَ أَوَنَحْنُ قَتَلْنَاهُ إِنَّمَا قَتَلَهُ عَلِيٌّ وَأَصْحَابُهُ جَاءُوا بِهِ حَتَّى أَلْقَوْهُ بَيْنَ رِمَاحِنَا أَوْ قَالَ بَيْنَ سُيُوفِنَا
.
Telah menceritakan kepada kami [Abdurrazaq] ia berkata, Telah menceritakan kepada kami [Ma'mar] dari [Thawus] dari [Abu Bakar bin Muhammad bin Amru bin Hazm] dari [Bapaknya] ia berkata, “Ketika Ammar bin Yasir di bunuh, [Amru bin Hazm] menemui Amru bin Ash dan berkata, “Ammar telah dibunuh! Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda: ‘Yang akan membunuhnya adalah kelompok pemberontak.'” Amru bin Ash berdiri dengan penuh keterkejutan seraya mengucapkan kalimat tarji’ (Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Raaji’uun), lalu ia mendatangi Mu’awiyah. Mu’awiyah pun bertanya padanya, “Apa yang terjadi denganmu?” [Amru bin Ash] menjawab, “Ammar telah dibunuh!” Maka Mu’awiyah berkata, “Ammar telah dibunuh, lalu apa masalahnya?” Amru bin Ash menjawab, “Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Yang akan membunuhnya adalah kelompok pemberontak.'” Mu’awiyah berkata, “Kamu berpihak pada anakmu! Apakah kami yang membunuhnya? Yang membunuhnya adalah Ali dan para sahabatnya, mereka membawanya lalu melemparkan di tengah-tengah tombak-tombak kami, -atau ia mengatakan, “di antara pedang kami.”
.
JELAS KELOMPOK PEMBERONTAK AHLI NERAKA ITU ADALAH KELOMPOK MUAWIYAH YANG BERUSAHA MENGATAKAN ALI DAN SAHABATNYA YANG MEMBUNUH AMMAR BIN YASIR, PADAHAL IMAM ALI TERPILIH SECARA DEMOKRASI LANGSUNG SAH SECARA DEMOKRASI MAUPUN TEOKRASI
.
KELOMPOK PEMBERONTAK AHLI NERAKA INI HENDAK MENGATAKAN SESUNGGUHNYA RASULULLAH SAWW TELAH MEMBUNUH SAYYIDINA HAMZAH KARENA MENGIKUTSERTAKANNYA KE PERANG UHUD..
NAUDZUBILLAH MIN DZALIK
.
‘Ammar ibn Yasir ibn ‘Amir al-’Ansi al-Madzhiji al-Makhzûmi masuk Islam di masa dini, dan Muslim pertama yang membangun mesjid dalam rumahnya sendiri di mana ia beribadat kepada Allah. (Ibn Sa’d, ath-Thabaqât, III, bagian I, h. 178; Usd al-Ghâbah, IV, h. 46; Ibn Katsir, Târîkh, VII, h. 311).‘Ammar masuk Islam bersama ayahnya Yasir dan ibunya Sumayyah. Mereka mengalami siksaan di tangan kaum Quraisy karena masuk Islam. Ayah dan ibu ‘Ammar syahid dalam siksaan, lelaki dan wanita pertama yang syahid dalam Islam.Banyak hadis diriwayatkan dari Nabi (saw) mengenai kebajikan, perilakunya yang menonjol dan amal perbuatannya yang mulia, seperti hadis yang diriwayatkan dari Nabi oleh ‘A’isyah dan lain-lainnya bahwa Nabi telah bersabda, bahwa ‘Ammar dipenuhi dengan iman dari ubun-ubun kepalanya sampai ke tapak kakinya. (Ibn Majah, as-Sunan, I, h. 65; Abu Nu’aim, Hilyah al-Auliyâ’, I, h. 139; al-Haitsamî, Majma’ az-Zawâ’id, IX, h. 295; al-Istî’âb, III, h. 1137; al-Ishâbah, II, h. 512).Dalam sebuah hadis lain Nabi berkata tentang ‘Ammar,

“‘Ammar bersama kebenaran dan kebenaran bersama ‘Ammar. la berpaling ke mana saja kebenaran berpaling. ‘ Ammar dekat kepadaku seperti dekatnya mata dengan hidung. Sayang, suatu kelompok pendurhaka akan membunuhnya.” (ath-Thabaqât, jilid III, bagian i, h. 187; al-Mustadrak, III, h. 392; Ibn Hisyam, as-Sîrah, II, h. 143; ibn Katsir, Târîkh, VII, h. 268, 270)

Juga dalam hadis mutawatir dan dikenal luas yang telah disalurkan oleh al-Bukhârî (dalam ash-Shahîh, VIII, h. 185-186), Tirmidzi (dalam al-Jami’ ash-Shahîh), Ahmad ibn Hanbal (dalam al-Musnad, II, h. 161, 164, 206; III. h. 5, 22, 28, 91; IV, h. 197, 199; V, h. 215, 306, 307; VI, h. 289, 300, 311, 315), dan semua periwayat hadis dan sejarawan menyalurkan melalui 25 sahabat bahwa Nabi bersabda,

“Sayang! suatu kelompok pendurhaka yang menyeleweng dari kebenaran akan membunuh ‘Ammar. ‘Ammar akan menyeru mereka ke surga dan mereka menyerunya ke neraka. Pembunuhnya dan orang-orang yang merebut senjata dan pakaiannya akan berada di neraka.”

Ibn Hajar al-’Asqalani (dalam Tahdzîb at-Tahdzîb, h. 409; al-Ishâbah, II, h. 512) dan as-Suyûthî (dalam al-Khashâ’ish al-Kubrâ, II, h. 140) mengatakan,

“Riwayat hadis (tersebut di atas) ini adalah mutawâtir.” Yakni, hadis itu diriwayatkan secara berurut-turut oleh sekian banyak orang sehingga tidak ada keraguan mengenai keasliannya.

Ibn ‘Abdul Barr (dalam al-Istî’âb, III, h. 1140) mengatakan,

“Hadis itu mengikuti kesinambungan tanpa putus dari Nabi, bahwa beliau berkata, ‘Suatu kelompok pendurhaka akan membunuh ‘Ammar,’ dan ini adalah suatu ramalan dari pengetahuan rahasia Nabi dan tanda kenabiannya. Hadis ini termasuk yang paling sahih dan yang tercatat secara paling tepat.”

Setelah wafatnya Nabi, ‘Ammar termasuk penganut dan pendukung terbaik Amirul Mukminin dalam masa pemerintahan ketiga khalifah pertama. Dalam masa kekhalifahan ‘Utsman, ketika kaum Muslim memprotes kepada ‘Utsman terhadap kebijakannya dalam pembagian harta baitul mal, ‘Utsman berkata dalam suatu pertemuan umum bahwa uang yang berada dalam perbendaharaan adalah suci dan adalah milik Allah, dan bahwa dia (sebagai khalifah Nabi) berhak untuk membelanjakannya menurut yang dianggapnya pantas. ‘Utsman mengancam dan mengutuk semua yang hendak memprotes atau menggerutu atas apa yang dikatakannya. Atasnya, ‘Ammar ibn Yâsir dengan beraninya menyatakan keberatannya dan mulai menuduh kecondongannya yang telah mendarah daging untuk mengabaikan kepentingan rakyat umum; ia menuduhnya telah menghidupkan adat kebiasaan kaflr yang dihapus oleh Nabi. Atasnya ‘Utsman memerintahkan supaya ia dipukuli, dan beberapa orang dari kalangan Bani Umayyah, kerabat Khalifah, segera menyerang ‘Ammar yang mulia itu, dan khalifah itu sendiri menyepak kemaluan ‘Ammar dengan kaki bersepatu, yang menyebabkan ia menderita hernia. ‘Ammar pingsan selama tiga hari dan dirawat oleh Ummul Mu’minin Umm Salamah di rumahnya (Umm Salamah). (al-Balâdzurî, Ansâb al-Asyrâf, V, h. 48, 54, 88; Ibn Abil Hadid, III, h. 47-52; al-Imâmah was-Siyâsah, I, h. 35-36; al-’lgd al-Farîd, IV, h. 307; ath-Thabaqât, III, bagian i, h. 185; Târîkh al-Khamîs, II, h. 271)

Ketika Amirul Mukminin menjadi khalifah, ‘Ammar adalah salah seorang pendukungnya yang paling setia. la ikut serta dalam semua kegiatan sosial, politik dan militer dalam masa itu, terutama dalam Perang Jamal dan Perang Shiffin.

Namun, ‘Ammar gugur dalam Perang Shiffin pada 9 Safar 37 H. dalam usia lebih sembilan puluh tahun. Pada hari syahidnya, ‘Ammar ibn Yasir menghadap ke langit seraya berkata,

“Ya Allah Tuhanku. Sesungguhnya Engkau tahu bahwa apabila aku mengetahui bahwa kehendak-Mu supaya aku menerjunkan diri ke Sungai (Efrat) dan tenggelam, aku akan melakukannya. Ya Allah Tuhanku, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa apabila Engkau rida sekiranya aku menaruh pedang di dada dan menekannya keras-keras sehingga keluar di punggungku, aku akan melakukannya. Ya Allah Tuhanku! Aku tidak mengira ada sesuatu yang lebih menyenangkan bagi-Mu daripada berjuang melawan kelompok berdosa ini, dan apabila kuketahui bahwa suatu perbuatan lebih Engkau ridai, aku akan melakukannya.”

Abu ‘Abdur-Rahman as-Sulami meriwayatkan,

“Kami hadir bersama Amirul Mukminin di Shiffln di mana saya melihat ‘Ammar ibn Yasir tidak memalingkan wajahnya ke sisi mana pun, atau ke wadi-wadi (lembah) Shiffin melainkan para sahabat Nabi mengikutinya seakan-akan ia merupakan suatu panji bagi mereka. Kemudian saya mendengar ‘Ammar berkata kepada Hasyim ibn ‘Utbah (al-Mirqal), “Wahai Hasyim, menyerbula ke barisan musuh, surga berada di bawah pedang. Hari ini saya menemui kekasih saya, Muhammad dan partainya.”

“Kemudian ia berkata. ‘Demi Allah, sekiranya pun mereka membuat kita lari hingga ke pepohonan kurma Hajar (sebuah kota di Bahrain), namun kita dengan yakin bahwa kita benar dan mereka salah.’

“Kemudian ‘Ammar melajutkan (berkata kepada musuh):

Kami menyerangmu (dahulu) untuk (beriman) pada wahyu

Dan kini kami menyerangmu untuk tafsirnya;

Serangan yang memisahkan kepala dari tumpuannya;

Dan membuat kawan lupa akan sahabat setianya;

Sampai kebenaran kembali kepada jalannya.”‘

Lalu ia (as-Sulami) berkata, “Saya tidak (pernah) melihat para sahabat Nabi terbunuh pada saat mana pun sebanyak terbunuhnya mereka pada hari ini.”

Kemudian ‘Ammar memacu kudanya, memasuki medan pertempuran dan mulai bertempur. la bersikeras memburu musuh, melancarkan serangan demi serangan, dan mengangkat slogan-slogan menantang sampai akhirnya sekelompok orang Suriah yang berjiwa kerdil mengepungnya pada semua sisi, dan seorang lelaki bernama Abu al-Ghadiyah al-Juhari (al-Fazari) menimpakan luka padanya sedemikian rupa sehingga tak dapat ditanggungnya lalu ia kembali ke kemahnya. la meminta air. Semangkuk susu dibawakan kepadanya. Ketika ‘Ammar melihat mangkuk itu ia berkata, ‘Rasulullah telah mengatakan yang sebenarnya.’ Orang bertanya kepadanya apa yang dimaksudnya dengan kata-kata itu. la berkata, ‘Rasulullah telah memberitahukan kepada saya bahwa rezeki terakhir bagi saya di dunia ini adalah susu.’ Kemudian ia mengambil mangkuk susu itu, meminumnya, lalu menyerahkan nyawanya kepada Allah Yang Mahakuasa. Ketika Amirul Mukminin mengetahui kematiannya, ia datang ke sisi ‘Ammar, menaruh kepalanya ke pangkuannya sendiri dan mengucapkan elegi yang berikut,

“Sesungguhnya seorang Muslim yang tidak sedih atas terbunuhnya putra Yasir, dan tidak terpukul oleh petaka sedih ini, tidaklah ia beriman yang sesungguhnya.

“Semoga Allah memberkati ‘Ammar di hari ia masuk Islam, semoga Allah memberkatinya di hari ia terbunuh, dan semoga Allah memberkati ‘Ammar ketika ia dibangkitkan kembali.

“Sesungguhnya saya mendapatkan ‘Ammar (pada tingkat sedemikian) sehingga tiga sahabat Nabi tak dapat disebut tanpa ‘Ammar kecuali dia adalah yang keempat, dan empat nama dari mereka tak dapat disebut kecuali ‘Ammar sebagai yang kelima.

“Tak ada di antara para sahabat Nabi yang meragukan bahwa bukan saja surga sekali atau dua kali dilimpahkan dengan paksa kepada ‘Ammar, melainkan ia mendapatkan haknya atasnya (berkali-kali). Semoga surga memberikan kenikmatan kepada ‘Ammar.

“Sesungguhnya dikatakan (oleh Nabi), ‘Sungguh, ‘Ammar bersama kebenaran dan kebenaran bersama ‘Ammar.”‘

Lalu Amirul Mukminin melangkah maju dan melakukan salat jenazah baginya, dan kemudian dengan tangannya sendiri ia menguburkannya.

Kematian ‘Ammar menyebabkan gejolak besar pada barisan Mu’awiah pula, karena ada sejumlah orang terkemuka yang berperang pada pihaknya berpikiran bahwa peperangan Mu’awiah melawan Amirul Mukminin adalah perjuangan yang benar. Orang-orang itu mengetahui akan ucapan Nabi bahwa ‘Ammar akan dibunuh oleh suatu kelompok yang berada di pihak yang batil. Ketika mereka melihat bahwa ‘Ammar telah terbunuh oleh tentara Mu’awiah mereka menjadi yakin bahwa Amirul Mukminin pastilah di pihak yang benar. Kecemasan di kalangan para pemimpin maupun prajurit tentara Mu’awiah diredakan olehnya dengan argumen bahwa justru Amirul Mukminin yang membawa ‘Ammar ke medan pertempuran dan karena itu ialah yang harus bertanggung jawab atas kematiannya. Ketika argumen Mu’awiah disebutkan kepada Amirul Mukminin, ia mengatakan bahwa seakan-akan Nabi harus bertanggung jawab atas terbunuhnya Hamzah karena beliau yang membawanya ke Pertempuran Uhud. (ath-Thabari, at-Târîkh, I, h. 3316-3322; III, h. 2314-2319; Ibn Sa’d, ath-Thabaqât, III, bagian i, h. 176-189; Ibn Atsîr, al-Kâmil, III, h. 308-312; Ibn Katsir, at-Târîkh, VII, h. 267-272; al-Minqarî, Shiffin, h. 320-345; Ibn ‘Abdil Barr, al-Istî’âb, III, h. 1135-1140; IV, h. 1725; Ibn al-Atsir, Usd al-Ghâbah, IV, h. 43-47; V, h. 267; Ibn Abil Hadid, Syarh Nahjul Balâghah, jilid V, h. 252-258; VIII, h. 10-28; X, h. 102-107; al-Hakim, al-Mustadrak, III, h. 384-394; Ibn ‘Abdi Rabbih, al-’Iqd al-Farîd, IV, h. 340-343; al-Mas’ûdî, Murûj adz-Dzahab, II, h. 381-382; al-Haitsamî, Majma’ az-Zawâ’id, IX, h. 292-298; al-Balâdzurî, Ansâb al-Asyrâf (biografi Amirul Mukminin), h. 310-319.

.

Kalau memang dunia hadis sunni jujur dan tidak ada intimidasi dalam periwayatan hadis, niscaya Abu Hurairah tidak akan menyembunyikan hadis !

Sunni menutupi kesalahan kesalahan para Sahabat dengan menyalahkan tokoh fiksi Abdullah bin Saba’, menyembunyikan hadis dan membuat buat hadis palsu jaminan Surga kepada musuh musuh ahlulbait

Pasca  wafat Nabi SAW, para sahabat banyak mengembangkan ijtihad dari hasil pemikirannya sendiri, walaupun itu harus merubah hukum yang telah ditetapkan Allah dan Rasul sebelumnya !

UMAT  KHiANATi  Ali  PASCA  NABi  SAW WAFAT

Qs. Al An’am ayat 65-67

Qs. 6:65. Katakanlah (Muhammad), “Dialah yang berkuasa mengirimkan azab kepadamu, dari atas atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebagian kamu keganasan sebagian yang lain.” Perhatikanlah bagaimana Kami menjelaskan berulang ulang tanda tanda (kekuasaan Kami) agar mereka memahami (nya)

Qs. 6:66. Dan kaummu mendustakannya (azab) padahal (azab) itu benar adanya. Katakanlah (Muhammad), “Aku ini bukanlah penanggung jawab kamu”

Qs. 6:67. Setiap berita (yang dibawa oleh Rasul) ada (waktu) terjadinya dan kelak kamu akan mengetahui

Dikutip dari  “AL HiDAYAH ALQURAN TAFSiR PERKATA TAJWID KODE ANGKA PENERBIT KALiM”  yang disahkan DEPAG, halaman 136 :

Asbabun Nuzul Qs.6 : 65-67 : Zaid bin Aslam mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda  kepada para sahabat, “Setelah kepergianku, janganlah kalian kembali menjadi kafir dengan saling membunuh diantara kalian”. Mereka berkata, “Kami bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya engkau adalah Rasul Nya. “Sebagian yang lain berkata, “ini tidak akan pernah terjadi untuk selamanya, yaitu saling membunuh diantara kita, sementara kita semua adalah muslim.” Maka turunlah ketiga ayat ini (HR. Ibnu Abi Hatim)

Wahai para pembaca…

Qs. Asy Syu’ara; ayat 205-207

Qs.26 : 205  : Maka bagaimana pendapatmu jika kepada mereka kami berikan kenikmatan hidup beberapa tahun,

Qs.26 : 206  : Kemudian datang kepada mereka azab yang diancamkan kepada mereka,

Qs.26 : 207  : Niscaya tidak berguna bagi mereka kenikmatan yang mereka rasakan

Dikutip dari  “AL HiDAYAH ALQURAN TAFSiR PERKATA TAJWID KODE ANGKA PENERBIT KALiM”  yang disahkan DEPAG, halaman  376 :

Asbabun Nuzul Qs.26 : 205-207 : Menurut Abu Jahdham, ketiga ayat ini diturunkan berkenaan dengan Rasulullah yang suatu ketika terlihat bingung dan gelisah. Para sahabat menanyakan hal itu. “Aku bermimpi, setelah aku wafat kelak, aku melihat musuhku yang ternyata adalah berasal dari umatku sendiri,” jawab Rasulullah (HR.ibnu Abi Hatim)

Wahai para pembaca…

Hadis dari sahabat  Jarir bin ‘Abdillah Al Bajali dari Nabi SAW : “janganlah kalian kembali kafir sepeninggalku, sebagian kalian menebas leher yang lain” (HR. Bukhari no. 7080 dan HR. Muslim no.65)

Hadis Nabi SAW : “Mencaci seorang muslim adalah suatu kefasikan dan membunuhnya adalah suatu kekufuran” (Hr.Bukhari Muslim)

PERSAMAAN SAHABAT NABI SAW DAN SAHABAT MUSA AS

Jika sesetengah (bukannya semua) sahabat Nabi Muhammad Saw diterangkan oleh al-Quran sebagai orang yang lari dari medan perang (Uhud dan Hunain), munafik, meninggalkan Nabi ketika khutbah Jumaat dan sebagainya, maka bagaimanakah pula sikap sahabat/kaum Nabi Musa as.? Al-Quran dalam Surah al-Maidah ayat 20-26 menjelaskan sikap mereka seperti berikut:
.
Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Wahai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia mengangkat nabi-nabi di antaramu, dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka (setelah kamu diperhamba oleh Firaun dan orang-orangnya), dan diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorangpun di antara umat-umat yang lain”.QS. al-Mai’dah (5) : 20
.
Wahai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina- Baitul Muqaddis) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari ke belakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi. QS. al-Mai’dah (5) : 21
.
Mereka berkata: “Wahai Musa, sesungguhnya dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka ke luar daripadanya. Jika mereka ke luar daripadanya, pasti kami akan memasukinya.”                      QS. al-Mai’dah (5) : 22
.
Berkatalah dua orang di antara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya: “Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman”.
QS. al-Mai’dah (5) : 23
.
Mereka berkata: “Wahai Musa, kami sekali-sekali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu (berperang) bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja”.
QS. al-Mai’dah (5) : 24
.
Berkata Musa: “Ya Tuhanku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku (Nabi Harun). Sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu”.
QS. al-Mai’dah (5) : 25
.
Allah berfirman: ” (Jika demikian), maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (padang Tiih) itu. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu.” QS. al-Mai’dah (5) : 26
.
Kesimpulannya:
.
1. Sahabat Nabi Musa (Bani Israil) telah ingkar dengan arahan Nabi Musa supaya memasuki tanah suci Palestin kerana takut berperang.
.
2. Mereka yang ingkar itu mengarahkan Nabi Musa agar berperang bersama Tuhan  manakala mereka hanya menunggu sahaja.
.
3. Mereka disifatkan sebagai sahabat/kaum yang fasiq oleh al-Quran.
.
4. Akibat ingkar dengan arahan Nabi Musa mereka disesatkan oleh Allah swt selama 40 tahun di tengah padang pasir Tiih (sekarang terletak di wilayah Mesir).
.
Justeru itu, sahabat Nabi Musa yang ingkar dengan arahannya bukanlah sahabat yang layak dijadikan contoh dan mereka bukalanlah sahabat yang adil.

Muawiyyah si Pengingkar Hadis Nabi Saaw

Percayakah anda bahwa ada orang yang meninggalkan sunnah karena kebenciannya terhadap Imam Ali. Mau percaya atau tidak semuanya terserah kepada anda sendiri, saya hanya menampilkan riwayat yang memang menyebutkan hal yang demikian.
أخبرنا أبو الحسن محمد بن الحسين العلوي أنبأ عبد الله بن محمد بن الحسن بن الشرقي ثنا علي بن سعيد النسوي ثنا خالد بن مخلد ثنا علي بن صالح عن ميسرة بن حبيب النهدي عن المنهال بن عمرو عن سعيد بن جبير قال كنا عند بن عباس بعرفة فقال يا سعيد ما لي لا أسمع الناس يلبون فقلت يخافون معاوية فخرج بن عباس من فسطاطه فقال لبيك اللهم لبيك وإن رغم أنف معاوية اللهم العنهم فقد تركوا السنة من بغض علي رضي الله عنه
Telah mengabarkan kepada kami Abu Hasan Muhammad bin Husein Al ‘Alawiy yang berkata telah memberitakan kepada kami ‘Abdullah bin Muhammad bin Hasan bin Asy Syarqiy yang berkata:

.
telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin Sa’id A Nasawiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Khalid bin Makhlad yang berkata menceritakan kepada kami ‘Ali bin Shalih dari Maisarah bin Habiib An Nahdiy dari Minhal bin ‘Amru dari Sa’id bin Jubair yang berkata “kami di sisi Ibnu Abbas di ‘Arafah, dan ia berkata “wahai Sa’id kenapa aku tidak mendengar orang-orang bertalbiyah, aku berkata “mereka takut kepada Mu’awiyah”. Maka Ibnu Abbas keluar dari tempatnya dan berkata “labbaikallahumma labbaik, dan celaka [terhinalah] Mu’awiyah, ya Allah laknatlah mereka, mereka meninggalkan sunnah karena kebencian terhadap Ali radiallahu ‘anhu [Sunan Baihaqi 5/113 no 9230]
Hadis ini sanadnya hasan. Para perawinya tsiqat kecuali Khalid bin Makhlad dia salah satu syaikh [guru] Bukhari yang diperbincangkan tetapi perbincangan itu tidak menurunkan hadisnya dari tingkatan hasan. Pendapat yang rajih Khalid bin Makhlad seorang yang shaduq hasanul hadits.
* Abul Hasan Muhammad bin Husein bin Dawud bin ‘Ali Al ‘Alawiy An Naisaburi. Adz Dzahabi menyebutnya Imam Sayyid Muhaddis Shaduq Musnad Khurasan [Siyar ‘Alam An Nubala 17/98 no 60]. Dia adalah guru Baihaqi yang utama dimana Baihaqi telah menshahihkan hadisnya [Sunan Baihaqi 5/142 no 9408]. Pernyataan Baihaqi kalau sanadnya shahih berarti Baihaqi menganggap Abu Hasan Al ‘Alawiy seorang yang tsiqat
.
* ‘Abdullah bin Muhammad bin Hasan bin Asy Syarqiy termasuk seorang yang tsiqat dalam hadis. As Sam’aniy berkata “ia dalam hadis seorang yang tsiqat dan ma’mun” [Al Ansab As Sam’aniy 3/149]. Al Khalili menyatakan ia tidak kuat [Al Irsyad 2/471] tetapi jarh ini tidak memiliki alasan atau jarh mubham apalagi jarh laisa bil qawiy adalah jarh yang ringan dan bisa diartikan sebagai perawi yang hasanul hadits [tidak sampai ke derajat shahih]. Adz Dzahabi mengatakan kalau ia shahih pendengarannya [dalam hal hadis] dari Adz Dzahili dan yang satu thabaqat dengannya dan ia diperbincangkan karena sering meminum minuman yang memabukkan [Mizan Al I’tidal juz 2 no 4664]. Tetapi tuduhan ini masih perlu diteliti kembali karena besar kemungkinan yang diminum adalah nabiidz
.
* Ali bin Sa’id An Nasawiy Abu Hasan dia seorang yang tsiqat dan tinggal di Naisabur ia mendengar hadis dari Abu Dawud, Abdus Shamad bin Abdul Warits dan Abu Ashim, telah mendengar darinya Ibnu Abi Khaitsamah [Al Irsyad Al Khalili 2/443]
.
* Khalid bin Makhlad Al Qazhwaniy adalah perawi Bukhari [termasuk guru Bukhari], Muslim, Abu Dawud dalam Musnad Malik, Tirmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah. Ahmad berkata ia memiliki hadis-hadis mungkar. Abu Hatim berkata “ditulis hadisnya”. Abu Dawud menyatakan ia shaduq tasyayyu’. Ibnu Ma’in menyatakan tidak ada masalah padanya [yang berarti tsiqat]. Ibnu Adiy berkata “ia termasuk yang memiliki banyak riwayat, di sisiku insya Allah tidak ada masalah padanya”. Ibnu Sa’ad menyatakan ia mungkar al hadits dan berlebihan dalam tasyayyu’. Al Ijli berkata “ia tsiqat dan sedikit tasyayyu’ serta banyak meriwayatkan hadis”. Shalih bin Muhammad berkata “ia tsiqat dalam hadis hanya saja dituduh ghuluw”. Al Azdiy berkata “di dalam hadisnya terdapat sebagian yang kami ingkari tetapi di sisi kami ia termasuk orang yang jujur”. Ibnu Syahin memasukkannya dalam Ats Tsiqat dimana Utsman bin Abi Syaibah berkata “tsiqat shaduq”. As Saji dan Al Uqaili memasukkanya dalam Adh Dhu’afa dan Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [At Tahdzib juz 3 no 221]. Ibnu Hajar berkata “dia shaduq tasyayyu’ dan memiliki riwayat afrad” [At Taqrib 1/263]. Adz Dzahabi berkata “Syaikh [guru] Bukhari yang syiah shaduq” [Man Tukullima Fiihi Wa Huwa Muwatstsaq no 100]
.
* ‘Ali bin Shalih bin Shalih bin Hay Al Hamdaniy adalah perawi Muslim dan Ashabus Sunan. Ahmad, Ibnu Ma’in, Nasa’i menyatakan ia tsiqat. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Al Ijli menyatakan ia tsiqat. Utsman Ad Darimi dari Ibnu Ma’in berkata “tsiqat ma’mun”. Ibnu Sa’ad berkata “tsiqat insya Allah hadisnya sedikit” [At Tahdzib juz 7 no 561]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat dan ahli ibadah [At Taqrib 1/696].
.
* Maisarah bin Habib An Nahdiy termasuk perawi Bukhari dalam Adabul Mufrad, Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasa’i. Telah meriwayatkan darinya Syu’bah [itu berarti menurut Syu’bah ia tsiqat]. Ahmad, Ibnu Ma’in, Al Ijli dan Nasa’i menyatakan ia tsiqat. Abu Dawud berkata “ma’ruf [dikenal]”. Abu Hatim berkata “tidak ada masalah padanya”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. [At Tahdzib juz 10 no 691]. Ibnu Hajar menyatakan ia shaduq [At Taqrib 2/232]. Adz Dzahabi menyatakan “tsiqat” [Al Kasyf no 5752]
.
* Minhal bin ‘Amru Al Asdiy termasuk perawi Bukhari dan Ashabus Sunan. Ibnu Ma’in, Nasa’i, Al Ijli menyatakan tsiqat. Daruquthni menyatakan ia shaduq. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Abdullah bin Ahmad berkata aku mendengar ayahku mengatakan Syu’bah meninggalkan Minhal bin ‘Amru. Wahab bin Jarir dari Syu’bah yang berkata “aku datang ke rumah Minhal kemudian aku mendengar suara tambur maka aku kembali tanpa bertanya kepadanya. Wahab bin Jarir berkata “bukankah sebaiknya kau bertanya padanya, bisa saja ia tidak mengetahui hal itu”. [At Tahdzib juz 10 no 556]. Ibnu Hajar menyatakan shaduq dikatakan pernah salah [At Taqrib 2/216]
.
* Sa’id bin Jubair termasuk perawi kutubus sittah yang dikenal tsiqat. Ia adalah tabiin murid Ibnu Abbas yang terkenal. Abu Qasim At Thabari berkata “ia tsiqat imam hujjah kaum muslimin”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat dan berkata “ia seorang yang faqih ahli ibadah memiliki keutamaan dan bersifat wara’. [At Tahdzib juz 4 no 14]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat tsabit faqih” [At Taqrib 1/349]
.
Sudah jelas kalau hadis ini sanadnya hasan. Sebagian orang berusaha melemahkan hadis ini dengan melemahkan Abu Muhammad Asy Syarqi Abdullah bin Muhammad bin Hasan karena ia sering minum minuman yang memabukkan [muskir]. Anehnya jika mereka konsisten maka seharusnya mereka juga melemahkan dan menolak para sahabat yang meminum khamar seperti Mu’awiyah dan Walid bin Uqbah. Kenyataannya mereka tetap menerima riwayat kedua sahabat tersebut.
.
Dan bagi mereka yang akrab dengan kitab rijal maka hal-hal seperti ini cukup ma’ruf [dikenal ] yaitu terdapat beberapa perawi yang tetap dita’dilkan oleh ulama walaupun ia meminum minuman yang memabukkan. Hamzah As Sahmiy mendengar Abu Zur’ah Muhammad bin Yusuf Al Junaidiy pernah berkata tentang perawi yang bernama Ma’bad bin Jum’ah “ia tsiqat hanya saja ia memimum minuman yang memabukkan” [Tarikh Al Jurjani no 951]. Kemudian terkait dengan lafaz yang digunakan dalam kitab rijal, lafaz tersebut bukan “khamar” tetapi “muskir” dimana pada lafaz ini terdapat ulama yang mengatakan kalau yang mereka minum adalah nabiidz. Dan memang nabiidz ini dperselisihkan oleh sebagian ulama kedudukannya. Terdapat para ulama yang menghalalkan nabidz diantaranya An Nakhaiy dan ulama irak lainnya kemudian tetap banyak para ulama yang menta’dil mereka.
.
Hadis Ibnu ‘Abbas di atas juga dikuatkan oleh jalur lain yang tidak melewati Abu Muhammad Asy Syarqiy dari ‘Ali bin Sa’id dari Khalid bin Makhlad. Ali bin Sa’id An Nasawiy dalam periwayatannya dari Khalid bin Makhlad memiliki mutaba’ah yaitu Ahmad bin Utsman bin Hakim Al Kufy sebagaimana yang disebutkan dalam Sunan Nasa’i 2/419 no 3993 dimana Ahmad bin Utsman bin Hakin seorang yang tsiqat [At Taqrib 1/42]. Selain itu Ali bin Sa’id juga memiliki mutaba’ah dari Ali bin Muslim As Sulamiy sebagaimana disebutkan dalam Shahih Ibnu Khuzaimah 4/260 no 2830. Ali bin Muslim As Sulamiy adalah syaikh [guru] dari Ibnu Khuzaimah dimana Ibnu Khuzaimah menyebutnya Syaikh Al Faqih Al Imam dan menyatakan hadisnya shahih. Hadis ini juga disebutkan Al Hakim dalam Al Mustadrak no 1706 dengan jalan sanad dari Ahmad bin Haazim Al Ghifari dan Ali bin Muslim keduanya dari Khalid bin Makhlad dari Ali bin Mushir dari Maisarah bin Habib dari Minhal bin ‘Amru dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas. [mungkin disini terjadi tashif dalam sanad Al Hakim yang benar bukan Ali bin Mushir tetapi Ali bin Shalih]
.
Penjelasan Singkat Hadis
.
Atsar Ibnu Abbas ini mengabarkan kepada kita situasi yang terjadi di zaman pemerintahan Mu’awiyah. Tampak bahwa pada masa itu terdapat orang-orang yang takut kepada Muawiyah sehingga mereka enggan bertalbiyah padahal itu termasuk sunnah Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Dari riwayat ini maka kita dapat memahami bahwa Mu’awiyah telah melarang orang-orang untuk bertalbiyah di arafah dengan maksud menyelisihi Imam Ali yang teguh melaksanakan sunnah Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Jadi wajarlah kalau orang-orang tersebut takut kepada Muawiyah.
.
Sikap Muawiyah dan para pengikutnya inilah yang diingkari oleh Ibnu Abbas dimana Ibnu Abbas menyebutnya sebagai “meninggalkan sunnah karena kebencian terhadap Imam Ali”. Hal yang seperti ini memang patut diingkari dan menunjukkan kepada kita bahwa memang Muawiyah dan pengikutnya konsisten untuk menunjukkan kebencian kepada Ahlul Bait sampai-sampai mereka rela meninggalkan sunnah Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan melarang orang melakukannya.
.
Salam Damai

Syi’ah mencela sahabat ??? Nabi SAW menyebut Mu’awiyah cs sebagai kelompok pemberontak sesat !

Sunni mencintai dan menghormati musuh musuh ahlulbait dengan alasan semuanya mengambil ajaran dari Rasul SAW. Bahkan sunni menganggap para sahabat seperti malaikat yang tidak pernah salah, tidak punya rasa dengki dan permusuhan kepada sesamanya

Nabi SAW menyebut Mu’awiyah cs sebagai kelompok pemberontak sesat !

Sabda Rasulullah SAW kepada Ammar: “Betapa kasihan Ammar, golongan pembangkang telah membunuhnya, padahal dia menyeru mereka kepada kebenaran (surga) sementara mereka menyeru kepada kesesatan (neraka)” (Hr. Bukhari, Muslim, At Tirmidzi dan Ahmad)

Padahal Allah SWT menyatakan : “Siapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya adalah neraka jahannam, ia kekal didalamnya dan Allah murka kepada, dan mengutuknya serta menyediakan azab yang besar baginya” (Qs. An Nisa ayat 93)

Juga sabda nya : “Anakku Hasan akan mendamaikan dua kelompok besar yang berselisih”. Dan sabdanya pada Abu Dzar bahwa ia akan mati sendirian dan terasing. Demikian pula dengan sabda nya : “Imam imam setelahku ada 12, semuanya dari Quraisy

Bukhari dalam shahih nya meriwayatkan dari Abu Hurairah yang berkata : “Saya menjaga dari Rasul SAW dua kantong, satu kantong saya sebarkan dan satu kantong lagi saya simpan. Kalau kantong yang saya tutupi ini saya buka juga, niscaya saya akan dihabisi oleh orang kejam ini (Mu’awiyah)” (Hr.Bukhari juz 1 halaman 38)

Kalau memang dunia hadis sunni jujur dan tidak ada intimidasi dalam periwayatan hadis, niscaya Abu Hurairah tidak akan menyembunyikan hadis !

Sunni menutupi kesalahan kesalahan para Sahabat dengan menyalahkan tokoh fiksi Abdullah bin Saba’, menyembunyikan hadis dan membuat buat hadis palsu jaminan Surga kepada musuh musuh ahlulbait

Pasca  wafat Nabi SAW, para sahabat banyak mengembangkan ijtihad dari hasil pemikirannya sendiri, walaupun itu harus merubah hukum yang telah ditetapkan Allah dan Rasul sebelumnya !

UMAT  KHiANATi  Ali  PASCA  NABi  SAW WAFAT

Qs. Al An’am ayat 65-67

Qs. 6:65. Katakanlah (Muhammad), “Dialah yang berkuasa mengirimkan azab kepadamu, dari atas atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebagian kamu keganasan sebagian yang lain.” Perhatikanlah bagaimana Kami menjelaskan berulang ulang tanda tanda (kekuasaan Kami) agar mereka memahami (nya)

Qs. 6:66. Dan kaummu mendustakannya (azab) padahal (azab) itu benar adanya. Katakanlah (Muhammad), “Aku ini bukanlah penanggung jawab kamu”

Qs. 6:67. Setiap berita (yang dibawa oleh Rasul) ada (waktu) terjadinya dan kelak kamu akan mengetahui

Dikutip dari  “AL HiDAYAH ALQURAN TAFSiR PERKATA TAJWID KODE ANGKA PENERBIT KALiM”  yang disahkan DEPAG, halaman 136 :

Asbabun Nuzul Qs.6 : 65-67 : Zaid bin Aslam mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda  kepada para sahabat, “Setelah kepergianku, janganlah kalian kembali menjadi kafir dengan saling membunuh diantara kalian”. Mereka berkata, “Kami bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya engkau adalah Rasul Nya. “Sebagian yang lain berkata, “ini tidak akan pernah terjadi untuk selamanya, yaitu saling membunuh diantara kita, sementara kita semua adalah muslim.” Maka turunlah ketiga ayat ini (HR. Ibnu Abi Hatim)

Wahai para pembaca…

Qs. Asy Syu’ara; ayat 205-207

Qs.26 : 205  : Maka bagaimana pendapatmu jika kepada mereka kami berikan kenikmatan hidup beberapa tahun,

Qs.26 : 206  : Kemudian datang kepada mereka azab yang diancamkan kepada mereka,

Qs.26 : 207  : Niscaya tidak berguna bagi mereka kenikmatan yang mereka rasakan

Dikutip dari  “AL HiDAYAH ALQURAN TAFSiR PERKATA TAJWID KODE ANGKA PENERBIT KALiM”  yang disahkan DEPAG, halaman  376 :

Asbabun Nuzul Qs.26 : 205-207 : Menurut Abu Jahdham, ketiga ayat ini diturunkan berkenaan dengan Rasulullah yang suatu ketika terlihat bingung dan gelisah. Para sahabat menanyakan hal itu. “Aku bermimpi, setelah aku wafat kelak, aku melihat musuhku yang ternyata adalah berasal dari umatku sendiri,” jawab Rasulullah (HR.ibnu Abi Hatim)

Wahai para pembaca…

Hadis dari sahabat  Jarir bin ‘Abdillah Al Bajali dari Nabi SAW : “janganlah kalian kembali kafir sepeninggalku, sebagian kalian menebas leher yang lain” (HR. Bukhari no. 7080 dan HR. Muslim no.65)

Hadis Nabi SAW : “Mencaci seorang muslim adalah suatu kefasikan dan membunuhnya adalah suatu kekufuran” (Hr.Bukhari Muslim)

PERSAMAAN SAHABAT NABI SAW DAN SAHABAT MUSA AS

Jika sesetengah (bukannya semua) sahabat Nabi Muhammad Saw diterangkan oleh al-Quran sebagai orang yang lari dari medan perang (Uhud dan Hunain), munafik, meninggalkan Nabi ketika khutbah Jumaat dan sebagainya, maka bagaimanakah pula sikap sahabat/kaum Nabi Musa as.? Al-Quran dalam Surah al-Maidah ayat 20-26 menjelaskan sikap mereka seperti berikut:
.
Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Wahai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia mengangkat nabi-nabi di antaramu, dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka (setelah kamu diperhamba oleh Firaun dan orang-orangnya), dan diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorangpun di antara umat-umat yang lain”.QS. al-Mai’dah (5) : 20
.
Wahai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina- Baitul Muqaddis) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari ke belakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi. QS. al-Mai’dah (5) : 21
.
Mereka berkata: “Wahai Musa, sesungguhnya dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka ke luar daripadanya. Jika mereka ke luar daripadanya, pasti kami akan memasukinya.”                      QS. al-Mai’dah (5) : 22
.
Berkatalah dua orang di antara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya: “Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman”.
QS. al-Mai’dah (5) : 23
.
Mereka berkata: “Wahai Musa, kami sekali-sekali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu (berperang) bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja”.
QS. al-Mai’dah (5) : 24
.
Berkata Musa: “Ya Tuhanku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku (Nabi Harun). Sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu”.
QS. al-Mai’dah (5) : 25
.
Allah berfirman: ” (Jika demikian), maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (padang Tiih) itu. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu.” QS. al-Mai’dah (5) : 26
.
Kesimpulannya:
.
1. Sahabat Nabi Musa (Bani Israil) telah ingkar dengan arahan Nabi Musa supaya memasuki tanah suci Palestin kerana takut berperang.
.
2. Mereka yang ingkar itu mengarahkan Nabi Musa agar berperang bersama Tuhan  manakala mereka hanya menunggu sahaja.
.
3. Mereka disifatkan sebagai sahabat/kaum yang fasiq oleh al-Quran.
.
4. Akibat ingkar dengan arahan Nabi Musa mereka disesatkan oleh Allah swt selama 40 tahun di tengah padang pasir Tiih (sekarang terletak di wilayah Mesir).
.
Justeru itu, sahabat Nabi Musa yang ingkar dengan arahannya bukanlah sahabat yang layak dijadikan contoh dan mereka bukalanlah sahabat yang adil.

CARA MENiLAi SHAHiH TiDAKNYA HADiS SYi’AH

Syiah dan Ilmu HadisPada masa khalifah Mutawakkil sedang memuncak periwayatan hadis, tetapi sangat sulit dikenali mana yang asli dan mana yang palsu…Tatkala al-Mutawakil (847-864) berkuasa, ia melihat bahwa posisinya sebagai khalifah perlu mendapatkan dukungan mayoritas. Sementara, setelah peristiwa mihnah terjadi mayoritas masyarakat adalah pendukung dan simpatisan Ibn Hanbal. Oleh karenanya al-Mutawakil membatalkan paham Mu’tazilah sebagai paham negara dan menggantinya dengan paham Sunni. Pada saat itulah Sunni mulai merumuskan ajaran-ajarannya.

Kenapa Syiah menerima sebagian hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari yang nota bene tidak sesuai dengan keyakinan mereka dan menolak sebagian lainnya?

Secara umum, pemikiran kelompok Sunni menekankan pada ketaatan absolut terhadap khalifah yang sedang berkuasa

secara singkat dapat dikatakan bahwa pemikiran politik Sunni pertama kali muncul sebagai respon reaktif terhadap pemikiran-pemikiran Shi’ah dan Khawarij pada masa khalifah ‘Ali ibn Abi Thalib.

Dalam proses pembentukannya, ideologi Sunni ternyata tidak dapat dilepaskan dari pemikiran keagamaan mereka dan adanya ketegangan-ketegangan dengan golongan lain untuk memperoleh pengakuan dari penguasa. Dalam masa formal ideologi Sunni tersebut, misalnya telah terjadi polemik intelektual antara al-Syafi’I dengan ulama-ulama Khawarij dan Mu’tazilah, dan perebutan mencari pengaruh politik dari para khalifah yang sedang berkuasa.

Diperlukan waktu hampir beberapa abad untuk sampai pada proses terbentuknya pemikiran politik Ahl al-Sunnah ini, terhitung sejak mulai diperkenalkannya pada masa awal Islam, sahabat, tabi’in sampai pada pengukuhannya dalam Risalah al-Qadiriyyah.

Istilah ini (ahl al-Sunnah wa-Jama’ah) awalnya merupakan nama bagi aliran Asy’ariyah dan Maturidiah yang timbul karena reaksi terhadap paham Mu’tazilah yang pertama kali disebarkan oleh Wasil bin Ato’ pada tahun 100 H/ 718 M dan mencapai puncaknya pada masa khalifah ‘Abbasiyah, yaitu al-Ma’mun (813-833 M), al-Mu’tasim (833-842 M) dan al-Wasiq (842-847 M). Pengaruh ini semakin kuat ketika paham Mu’tazilah dijadikan sebagai madzab resmi yang di anut negara pada masa al-Ma’mun

Pada masa khalifah Mutawakkil negara berakidah ahlul hadis. Paham ini didukung negara sehingga hadis hadis sunni menjadi mudah di intervensi dengan penambahan penambahan yang di lakukan ULAMA ULAMA BUDAK kerajaan

Ahlul hadis hanya memakai hadis tanpa rasio, padahal hadis hadis yang ada tidak ada jaminan 100% akurat  dari Nabi SAW

Karena fanatisme mazhab, orang orang pada masa tersebut mengarang ngarang hadis agar mazhab nya tetap tegak

Dulu kita tidak tahu, tetapi kini di era informasi semakin mudah didapat bukti bukti…

Kenapa syi’ah imamiyah hanya mau menerima sebagian hadis hadis sunni ???

Jawab :

1. Hadis sunni terkadang satu sama lain saling bertentangan padahal masih dalam satu kitab hadis yang sama

2. Hadis hadis sunni diriwayatkan dengan makna, bukan dengan lafaz

3. Hadis hadis sunni diriwayatkan dengan daya ingat perawi, jadi kata perkata nya belum tentu 100% asli dari Nabi SAW

4. Tidak ada jaminan hadis hadis sunni tidak mengalami perubahan dan pemalsuan, kitab kitab selain Al Quran pasti ada benar dan ada salahnya tanpa kecuali, gawatnya Shahih Bukhari Muslim diklaim benar semua !! wah wah

Syiah dan Ilmu Hadis

.

GUGATAN dari hakekat.com :

Menurut hakekat.com ””mayoritas hadits dalam Al Kafi adalah Ahad yang tidak dapat dijadikan pegangan dalam masalah akidah –menurut syi’ah sendiri.. Jumlah riwayat yang ada dalam empat kitab syi’ah di atas adalah 44 ribu riwayat lebih sedikit, tetapi riwayat yang berasal dari Nabi SAW hanya ada 644, atau hanya sekitar 1.5 % saja. Itu saja banyak yang sanadnya terputus dan tidak shahih.. Yang lebih mengherankan, dalam kitab Al Kafi yang haditsnya berjumlah 16199, hanya ada 92 riwayat dari Nabi SAW, sementara riwayat dari Ja’far As Shadiq berjumlah 9219.. Sementara riwayat dari Ali bin Abi Thalib dalam empat kitab syi’ah di atas hanya berjumlah 690 riwayat, kebanyakan terputus sanadnya dan tidak shahih, sepertinya fungsi pintu ilmu sudah diambil alih oleh orang lain…Sementara riwayat dari Imam Hasan bin Ali bin Abi Thalib yang ada dalam empat literatur utama hadits syi’ah hanya berjumlah 21 riwayat…Empat kitab literatur utama hadits syi’ah tidak memuat riwayat dari Fatimah Az Zahra..Riwayat Imam Husein yang tercantum dalam empat literatur utama hadits syi’ah hanya berjumlah 7 riwayat saja. “”

Jawaban :Jawaban :Jawaban :Jawaban :Jawaban :

Itu akibatnya kalau belajar syiah dari ulama salafy. Sebagusnya meneliti syiah kalau memang mau ya dari orang syiah sendiri. MEREKA BERDUSTA !!!!!!!! MEREKA BERDUSTA !!!!!!!!!!!

Tidak benar apa yang mereka sampaikan !!!!!!!! Sebagai ulama syi’ah yang sudah bertahun tahun belajar syi’ah saya mengatakan bahwa : “YANG MEREKA HiTUNG CUMA YANG DiSEBUT NAMA, SEMENTARA YANG MENYEBUT GELAR TiDAK MEREKA HiTUNG, KALAU CARA BEGiNi MENGHiTUNG HADiS JUSTRU DALAM SELURUH KiTAB ASWAJA TiDAK ADA SATUPUN HADiS MUHAMMAD SAW KARENA TiDAK ADA HADiS YANG DiSEBUT DENGAN NAMA NABi TAPi DiSEBUT DENGAN GELAR ‘

ANGKA YANG MEREKA SEBUTKAN DiATAS CUMA YANG DiSEBUT DENGAN NAMA, PADAHAL MASiH BANYAK YANG DiSEBUT DENGAN GELAR !!!!!!!!!!!!!!!!!!

KENAPA BANYAK HADiS DARi Imam Ja’far Shadiq ????? Itu wajar karena yang menyampaikan hadis dengan mata rantai sampai ke Nabi SAW kan Imam Ja’far !!!!!!!!!! tapi dengan hal ini justru hadis syi’ah lebih terjaga karena disampaikan dari jalur { Nabi SAW- Ali- Hasan- Husain- Zainal- Baqir- Ja’far } mereka adalah keluarga jadi tidak mungkin menipu !!!!!!!!

hadis hadis syi’ah biasanya dengan redaksi misalnya : Dalam Al KAfi ada hadis : Zurarah mendengar Abu Abdillah ( Ja’far Ash Shadiq ) bersabda : Amirul Mu’minin ( Imam Ali ) bersabda “hiburlah hatimu agar ia tidak menjadi keras”

Hadis seperti tadi banyak dalam kitab syi’ah… Yang diteliti adalah sanad dan matannya dari Zurarah sampai dengan Kulayni, sementara dari Imam Ja’far sampai dengan Imam Ali tidak diperiksa lagi karena dari Ja’far sampai dengan Imam Ali sanad nya pasti bersambung oleh tali kekeluargaan dan tidak mungkin Imam Ja’far mendustai ayahnya, kakek, buyut hingga Imam Ali

Sanad hadis kulaini benar benar otentik karena benar benar bersambung pada Imam Imam hingga Nabi SAW..

Yang meriwayatkan hadis bisa keturunan Nabi SAW yaitu ahlul bait, bisa pengikut atau pendukung ahlul bait dan bisa murid murid ahlul bait….

Bisakah rawi rawi sunni diterima riwayatnya ??? ya bisa asal riwayatnya benar dan orangnya jujur ( hanya saja riwayatnya paling tinggi statusnya HASAN )

Adapun hadis hadis dha’if dalam kitab syi’ah bukanlah hadis Nabi SAW tapi ucapan ucapan yang dinisbatkan pada Imam imam… Dalam kitab syi’ah tidak ada hadis Nabi SAW yang dha’if apalagi pemalsuan atas nama Nabi SAW

TAPi hadis sunni disampaikan dengan jalur antara mata rantai satu dengan berikutnya dan seterusnya jarang yang ada ikatan keluarga (itrah) tapi diduga hanya saling bertemu…KALAU MODEL HADiS ASWAJA iNi DALAM METODE Syi’AH DiANGGAP DHAiF ATAU MUWATSTSAQ SAJA KARENA MATA RANTAi SANADNYA HANYA DUGA DUGA !!!!!!!!!!

Hadis Nabi SAW, Imam Ali disampaikan oleh Imam Ja’far secara bersambung seperti :[..dari Abu Abdillah (ja’far) dari Ayahnya ( Al Baqir ) dari kakeknya ( zainal ) dari Husain atau dari Hasan dari Amirul Mu’minin
( Imam Ali ) yang mendengar Nabi SAW bersabda …] ada lebih dari 5.000 hadis

Setahu saya, ulama syiah tidak menjadikan kitab pegangan mereka seperti Al Kafi sebagai kitab yang semuanya shahih oleh karena itu mereka tidak menyebut kitab mereka kitab shahih seperti Sunni menyebut kitab shahih Bukhari dan Muslim. Coba saja hitung hadis yg diriwayatkan oleh Ali misalnya dg hadis yg diriwayatkan oleh Abu Hurairah dalam Sahih Bukhori, pasti lebih banyak Abu Hurairah. Tidak kurang dari 446 hadis yg berasal dari Abu Hurairah yg terdapat dlm Sahih Bukhori. Sementara hadis Ali cuma 50 yg dianggap sahih atau 1.12 % dari jumlah hadis Abu Hurairah. Padahal Aisyah menuduh Abu Hurairah sbg pembohong dan Umar mengancamnya dg mencambuk kalau masih meriwayatkan hadis2..Apanya yg dirujuk ? Wong Sunni lebih banyak ngambil hadis dari Abu Hurairah dan org2 Khawarij atau dari Muqatil bin Sulaiman al-Bakhi? Kalo ngomong jangan asbun.

Al Kulayni tidak pernah menyatakan semua hadits dalam al kahfi shahih, bisa berarti:
bisa maksudnya adalah: ada yang shahih dan tidak shahih.

Di Al Kafi, Al Kulaini menuliskan riwayat apa saja yang dia dapatkan dari orang yang mengaku mengikuti para Imam Ahlul Bait as. Jadi Al Kulaini hanyalah sebagai pengumpul hadis-hadis dari Ahlul Bait as. Tidak ada sedikitpun pernyataan Al Kulaini bahwa semua hadis yang dia kumpulkan adalah otentik.

beliau hanya melakukan koleksi, maka beliau tentunya tidak melakukan penelitian baik sanad ataupun matan dr hadits tsb, krn jika melakukannya maka beliau tentunya akan mengkategorikannya sesuai penelitian beliau (minimal melakukan catatan2).

Jadi 50 % hadis lemah itu bukanlah masalah bagi Syiah, karena mereka memiliki para ulama yang menyaring hadis-hadis tersebut. Kayaknya cuma Mas deh yang menganggap itu masalah.

Saya lebih suka menganalogikan Al Kafi itu dengan kitab Musnad Ahmad atau bisa juga dengan Ashabus Sunan yaitu Sunan Tirmidzi, Nasai Abu dawud dan Ibnu Majah. Tidak ada mereka secara eksplisit menyatakan semua isinya shahih, tetapi kitab mereka menjadi rujukan… metode yang dilakukan

Saya rasa itulah tugas para ulama setelahnya, mereka memberi penjelasan atas kitab Al Kafi, baik menjelaskan sanad hadis Al Kafi … …. Artinya bagi saya adalah bahwa secara implisit mereka sudah mengklaim bhw hadits2 mereka tulis bukan sekedar koleksi tapi melewati filtrasi dg menggunakan metode yang mereka yakini.

setiap pilihan ada resikonya, cara Bukhari bisa dipandang bermasalah ketika diketahui banyak hadis yang menurut orang tertentu tidak layak disandarkan kepada Nabi tetapi dishahihkan Bukhari, kesannya memaksa orang awam untuk percaya “la kan shahih”. Belum lagi beberapa orang yang mengakui perawi-perawi Bukhari yang bermasalah, jadi masalah selalu ada.

tidak ada yg mengatakan alkulayni superman atau ma’shumin, ia hanya orang yang mencatat hadist2 tanpa mengklaim sepihak keshahihan hadist2nya…. ingat, alkafi bukan satu2nya kitab yg dimiliki Syiah mas, itulah bedanya kita…perkembangan zaman selalu menuntut adanya perkembangan pemikiran shg Syiah selalu memiliki marja’ disetiap zaman utk memutuskan suatu hal yg boleh jadi berbeda di setiap zaman, dan kitab rujukan utama Syiah adalah Alquran, belajar lgsg dari orgnya dong mas…

Kulaini tidak mensyaratkan membuat kitab yang 100% shahih ia hanya mengumpulkan hadis. Di sisi Syiah tidak ada kitab hadis 100% shahih. Jadi masalah akurat dan tidak akurat harus melihat dulu apa maksudnya Al Kulaini menulis kitab hadis. Ulama-ulama syiah telah banyak membuat kitab penjelasan Al Kafi dan sanad-sanadnya seperti Al Majlisi dalam Miratul Uqul Syarh Al Kafi, dalam kitab ini Majlisi menyebutkan mana yang shahih dan mana yang tidak.

Secara metodologis ini tdk menjadi masalah, para imam mazhab dan Bukhari serta perawi lain juga hadir jauh setelah kehadiran Rasulullah saw sebagai pembawa risalah. Toh masih dianggap sebagai perwakilan penyambung syareat Nabi saw.

Memang bukan kitab shahih tetapi bukan berarti seluruhnya dhaif. Jumlah hadis yang menurut Syaikh Ali Al Milani shahih dalam Al Kafi jumlahnya hampir sama dengan jumlah seluruh hadis dalam shahih Bukhari. Dengan cara berpikir anda hal yang sama bisa juga dikatakan pada kitab hadis sunni semisal Musnad Ahmad, Sunan Daruquthni, Musnad Al Bazzar, Mu’jam Thabrani Shaghir dan Kabir, Al Awsath Thabrani dan lain-lain yang banyak berisi hadis dhaif. Anehnya kutub as sittah sendiri terdapat hadis-hadis dhaif dan palsu seperti yang ada pada Ashabus Sunan, kalau gak salah Syaikh Albani membuat kitab sendiri tentang itu (Dhaif Sunan Tirmidzi, Ibnu Majah, Nasa’i, Abu Dawud) dan celakanya menurut syaikh Al Albani dan Daruquthni dalam Shahih Bukhari dan Muslim juga terdapat hadis dhaif.

Atau contoh lain adalah kitab Shahih Ibnu Hibban, Shahih Ibnu Khuzaimah dan Mustadrak Shahihain, itu nama kitab yang pakai kata “shahih” dan anehnya banyak hadis-hadis dhaif bahkan palsu. Dengan semua data itu apakah anda juga akan berkata sedangkan kitab-kitab pegangan sunni banyak dinyatakan ulama sunni sendiri gak sahih (banyak diragukan bersumber dari Rasulullah SAW). Silakan direnungkan
Jawabannya sederhana kok, berpegang teguh kepada ahlul bait dalam arti merujuk kepada mereka dalam agama diantaranya akidah dan ibadah

Memang banyak hadits dha’if yang terdapat dalam berbagai kitab, entah dlm kitab sunni maupun syi’ah. Yang penting esensi ajarannya, seperti para Imam Ahlul Bayt yg konsisten mengawasi dan meluruskan terhadap penyimpangan para penguasa yg zalim.

Makanya jangan sok tau. Dalam Syi’ah, fungsi Imam yg 12 adalah BUKAN sbg pembuat hal2 baru dlm agama (bida’ah). Mereka hanyalah pelaksana sekaligus penjaga/pengawal syariat Islam yg dibawa nabi Muhammad saw. Kalau ente menemukan Imam Ja’far bersabda….begini dan begitu.. artinya dia hanya mengutip apa yg disabdakan oleh nabi saw melalui jalur moyangnya spt Ali bin Abi Talib, Hasan, Husein, Ali bin Husein dan Muhammad bin Ali. Dus ucapan para Imam = ucapan Nabi saw.

He he he…dasar sok tau. Kalau para ulama Syi’ah selalu mengatakan bahwa hadis2 yg terdapat dlm Al-Kafi umpamanya masih banyak yg dhaif, itu bukan berarti kebanggaan. Pernyataan mereka itu lebih kpd sikap jujur dan terbuka dan apa adanya. ………Sudah ane jelaskan bahwa Syi’ah tdk membeda-bedakan sumber hadis apakah itu dari Ali, Fatimah, Hasan, Husein atau para Imam yg lainnya. Apa yg diucapkan oleh Imam Ja’far umpamanya, itu juga yg diucapkan oleh Imam Ali bin Muhammad kmdn juga oleh Ali bin Husein, Husein bin Ali, Ali bin Abi Talib, Fatimah dan Nabi saw. Substansinya bukan pada jumlah yg diriwayatkan Fatimah atau Imam Hasan lebih sedikit dibanding Imam Ja’far atau imam yg lainnya tetapi pada kesinambungan periwayatan dari Rasulullah saw smp kpd Imam yg terakhir.

hadis2 Rasulullah saw selalu terjaga dibawah pengawasan langsung para Imam zaman dan para pengikut Ali masih bisa berkomunikasi dg para Imam Zaman.

Syiah dan Ilmu Hadis
…………………………………………………………………………………………………………………………………………….

Syi’ah dan Kehujahan Ucapan Keluarga Suci

Syi ‘ah memandang hadis-hadis dari Keluarga Suci seperti memandang hadis-hadis Nabi saw. Bagaimana hadis-hadis mereka bisa dijadikan hujah?

Jawab: Syi’ah Imamiyah mengambil ucapan-ucapan mereka karena hAl-hAl berikut:

Pertama, Nabi saw memerintahkan kaum Muslim agar berpegang pada ucapan Keluarga Suci itu. Beliau bersabda, ” Aku tinggalkan untuk kalian tsaqAlain (dua hal yang berat). Yaitu Kitab Allah dan keluargaku, ahlulbaitku.”

Berpegang pada hadis-hadis dan ucapan-ucapan mereka merupakan pengamAlan sabda Nabi saw yang tidak bersumber kecuali dari Al-Haqq.  Tsaqalayn, ia telah berpegang pada sesuatu yang akan menyelamatkannya dari kesesatan. SebAliknya, siapa yang hanya mengambil salah satu saja darinya, ia telah menentang Nabi saw.

Para Imam Syi’ah Adalah Para Washi Nabi saw. Para ulama Syi’ah sepakat bahwa para imam dua belas adalah para washi (orang yang menerima wasiat tentang kepemimpinan) Rasulullah saw. Mereka adalah para imam umat ini dan sAlah satu dari tsaqAlayn ( dua hAl yang berat) yang telah diwasiatkan Rasulullah saw di beberapa tempat. Beliau bersabda, ” Aku tinggAlkan untuk kalian TsaqAlayn, yaitu Kitab Allah dan keluargaku.”

Kedua, kami memandang bahwa Nabi saw memerintahkan kepada umat ini agar bersAlawat kcpada keluarga Muhammad dalam salat-salat fardu dan sunnah. Selain itu, kaum Muslim di segAla pen.juru bumi menyebut keluarga itu setelah menyebut nama Nabi saw dalam tasyahud mereka. Kaum Muslim juga bersAlawat kepada mereka seperti bersAlawat kepada Rasulullah saw. Para fukaha, kendati berselisih pendapat tentang redaksi tasyahud itu, mereka sepakat tentang wajibnya bersAlawat kepada Nabi dan keluarganya. Tentang hAl itu, Imam asy-Syifi’i berkata:

Hai ahlulbait Rasulullah,mencintaimu kewajiban dari Allah dalam Al-Quran yang diturunkan. Cukuplah keagungan bagi kalian siapa yang tidak bersAlawat padamu tidaklah sah salatnya.

KAlau keluarga itu tidak memiliki kedudukan dalam memberikan hidayah kepada umat ini dan keharusan mengikuti mereka, lAlu apa artinya menjadikan sAlawat kepada mereka sebagai amAlan wajib dalam tasyahud dan mengulang-ulangnya dalam seluruh salat siang dan mAlam baik fardu maupun sunnah?

keluarga Muhammad itu memiliki kedudukan khusus dalam urusan-urusan duniawi dan terlebih lagi dalam kepemimpinan Islam. Ucapan dan pendapat mereka adalah hujah bagi kaum Muslim. Mereka juga memiliki kedudukan sebagai rujukan utama ( Al-Marja’iyyah Al-Kubra) setelah wafat RasuluIIah saw baik dalam masAlah akidah dan syariat maupun dalam masAlah-masAlah lain.

Ketiga, Rasulullah saw mengibaratkan Keluarga Suci itu dengan bahtera Nuh as. Barangsiapa yang menaikinya, ia selamat. Tetapi siapa yang meninggAlkannya, ia tenggelam. Ini menunjukkan kehujahan ucapan dan perbuatan mereka.

Masih banyak lagi wasiat-wasiat yang berkenaan dengan keluarga itu yang dinukil dalam kitab-kitab Shahih dan Musnadl Siapa yang mau mengkajinya, silakan merujuk para sumber-sumbernya.

Setiap Muslim mengimani kesahihan wasiat-wasiat ini tidak meragukan kehujahan ucapan-ucapan keluarga Nabi, baik ia diberitahu tentang sumber-sumber ilmu mereka maupun tidak diberitahu. AIlah swt berfirman, “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang Mukmin dan tidak pula bagi perempuan yang Mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, sesungguhnya ia telah sesat dengan kesesatan yang nyata. ” (QS. Al-Ahzab [33]: 36)

Di samping itu semua; kami tunjukkan beberapa sumber ilmu mereka sehingga menjadi jelas bahwa kehujahan ucapan mereka tidak menunjukkan bahwa mereka itu nabi atau diserahkan ke- pada urusan pensyariatan.

1. Mendengar dari Rasulullah saw

Para imam memandang bahwa hadis-hadis Rasulullah saw itu didengar dari beliau baik tanpa perantara maupun dengan perantaraan leluhur mereka. Oleh karena itu, dalam banyak pe- riwayatan tampak bahwa Imam ash-shadiq as berkata, “Menyampaikan kepadaku bapakku dari Zain Al-’Abidin dari bapaknya Al- Husain bin’ Ali dari ‘ Ali Amirul Mukminin dari Rasulullah saw. Periwayatan semacam ini banyak terdapat dalam hadis-hadis mereka.

Diriwayatkan dari Imam ash-Shidiq bahwa ia berkata, “Hadisku adalah hadis bapakku. Hadis bapakku adalah hadis kakekku.” Melalui cara ini mereka menerima banyak hadis dari Nabi saw dan menyampaikannya tanpa bersandar kepada para rahib dan pendeta, orang-orang bodoh, atau pribadi-pribadi yang menyembunyikan kemunafikan.

2. Sebagian hadis lain mereka ambil dari kitab Imam Amirul Mukminin yang didiktekan oleh Rasulullah saw dan dicatat oleh ‘Ali as. Para penulis kitab-kitab Shahih dan Musnad telah menunjukkan beberapa kitab ini.

‘Ali as memiliki buku khusus untuk mencatat apa yang didiktekan oleh Rasulullah saw. Para anggota Keluarga Suci telah menghapAlnya, merujuk padanya tentang banyak topik, dan me- nukil teks-teksnya tentang ber.bagai pennasAlahan. Al-Hurr Al-’Amili dalam kitabnya Al-Mawsu’ah Al-Haditsiyyah telah menyebarluaskan hadis-hadis dari kitab tersebut menurut urutan kitab-kitab fiqih dari bab bersuci (thaharah) hingga bab diyat (denda). Barang- siapa yang mau menelaahnya, silakan merujuk pada kitab Al- Mawsu’ah Al-Haditsiyyah.

Imam ash-Shidiq as, ketika ditanya tentang buku catatan itu, berkata, “Di dalamnya terdapat seluruh apa yang dibutuhkan manusia. Tidak ada satu permasAlahan pun melainkan tertulis di dalamnya hingga diyat cakaran.”

Kitab ‘ Ali as merupakan sumber bagi hadis-hadis Keluarga Suci itu yang mereka warisi satu persatu, mereka kutip, dan mereka jadikan dAlil kepada para penanya.

Abu Ja’far Al-Baqir as berkata kepada sAlah seorang sahabatnya-yakni Hamrin bin A’yan-sambil menunjuk pada sebuah rumah besar, “Hai Hamran, di rumah itu terdapat lembaran (shahifah) yang panjangnya tujuh puluh hasta berisi catatan ‘Ali as dan segAla hAl yang didiktekan oleh Rasulullah saw. KAlau orang-orang mengangkat kami sebagai pemimpin, niscaya kami menetapkan hukum berdasarkan apa yang Allah turunkan. Kami tidak akan berpAling dari apa yang terdapat dalam lembaran ini.”

Imam ash-Shadiq as memperkenAlkan kitab ‘ Ali as itu dengan mengatakan, “la adalah kitab yang panjangnya tujuh puluh hasta berisi hAl-hAl yang didiktekan oleh Rasulullah saw dan’ Ali bin Abi ThAlib mencatat dengan tangannya sendiri. Demi Allah, di dalamnya terdapat semua hAl yang diperlukan manusia hingga hari kiamat, bahkan diyat cakaran, cambukan, dan setengah cambukan.”

Sulaiman bin KhAlid berkata: Saya pernah mendengar Ibn ‘Abdillah berkata, “Kami memiliki sebuah lembaran yang panjangnya tujuh puluh hasta berisi hAl-hAl yang didiktekan oleh Rasulullah saw dan dicatat oleh ‘Ali as dengan tangannya sendiri. Tidak ada yang hAlAl dan haram melainkan termuat di dalamnya hingga diyat cakaran.”

Abu Ja.far Al-Baqir as berkata kepada seorang sahabatnya, “Hai Jabir, kAlau kami berbicara kepada kalian menurut pendapat dan hawa nafsu kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang celaka. Melainkan kami berbicara kepada kalian dengan hadis- hadis yang kami warisi dari Rasulullah saw.”

3. Istinbath drin Al-Qur’an dan Sunah

Sumber ketiga bagi ucapan mereka adalah pemahaman dan pengkajian mereka terhadap Al-Qur’an dan sunah. Dari kcdua sumber utama ini mereka menyimpulkan segAla hAl yang khusus berkaitan dengan akidah dan syariat secara mengagumkan yang tidak dapat dilakukan oleh orang lain. Inilah yang menjadikan mereka istimewa di tengah kaum muslim dalam hAl kesadaran, serta kedalaman ilmu dan pemahaman. Para imam fiqih di berbagai tempat tunduk kepada mereka. Sehingga Imam Abu Hanifah setelah berguru kepada Imam ash-shadiq as (selama dua tahun) mengatakan, “KAlau tidak ada dua tahun itu, tentu binasAlah an- Nu’man.” Sebab, dalam banyak hukum, mereka berdAlil dengan Al-Qur’an dan sunah. Mereka mengatakan, “Tidak ada sesuatu apa pun melainkan memiliki landasan dalam Kitab Allah dan sunah Nabi-Nya.”

Al-Kulaini meriwayatkan hadis Melalui sanadnya dari ‘Umar bin Qais dari Abu Ja’far as: Saya pemah mendengar ia berkata, “Sesungguhnya Allah swt tidak membiarkan sesuatu yang diperlukan umat melainkan Dia menurunkannya dalam Kitab-Nya dan menjelaskannya kepada Rasul-Nya, serta memberikan batasan bagi setiap sesuatu. Dia jadikan atasnya dAlil yang menunjukkannya dan menetapkan hukuman bagi siapa saja melanggar batasan itu.”

Al-Kulaini juga meriwayatkan hadis Melalui sanadnya dari Abu ‘Abdillah as: Saya pernah mendengar ia berkata. “Tidak ada bagi setiap sesuatu melainkan di dalamnya ada ketentuan dari Kitab dan sunah”.

Sunnah adalah salah satu sumber tasyri penting dalam Islam. Urgensinya semakin nyata melalui fungsi-fungsi yang dijalankannya sebagai penjelas dan penfasir al-Quran, bahkan juga sebagai penetap hukum yang independen sebagaimana al-Quran sendiri. Itulah sebabnya,di kalangan Ahl al-Sunnah, menjadi sangat penting untukmenjaga dan mengawali pewarisan al-Sunnah ini dari generasi ke generasi. Mereka misalnya- menetapkan berbagai persyaratan yang ketat agar sebuah hadits dapat diterima (dengan derajat shahih ataupunhasan). Setelah meneliti dan membuktikan keabsahan sebuah hadits secara sanad, mereka tidak cukup berhenti hingga di situ. Mereka pun merasa perlu untuk mengkaji matannya; apakah ia tidak syadz atau mansukh misalnya.

Demikianlah seterusnya, hingga mereka dapat menyimpulkan dan mendapatkan hadits yang dapat dijadikan sebagai hujjah.Di samping Ahl al-Sunnah sebagai salah satu kelompok Islam terbesar-, ternyata Syiah Imamiyah sebagai salah satu kelompok Syiah terbesar- juga memiliki perhatian khusus terhadap al-Sunnah. Namun mereka memiliki jalur sanad dan sumber khusus dalam menerima al-Sunnah yang berbeda dengan sanad dan sumber Ahl al-Sunnah. Ini tentu saja tidak mengherankan, sebab Syiah Imamiyah memiliki pengertian tersendiri tentang al-Sunnah. Maka perbedaan ini tidak pelak lagi kemudian memunculkan perbedaan antara Ahl al-Sunnah dengan mereka dalam persoalan keaqidahan maupun kefikihan

Dalam Syi’ah sunnah atau hadis adalah perkataan, perbuatan dan persetujuan atau taqrir Nabi saw, dan para imam ma’sum yang dua belas. Sehingga sumber hadis dikalangan Syi’ah bukan hanya berasal dari Rasulullah alhadis al-nabawi, tetapi juga berasal dari dua belas Imam mereka al-hadis almalawi.

salah seorang pemikir Syi’ah, yaitu Ja’far al-Subhani Ja’far al-Subhani adalah merupakan salah satu ulama Syi’ah yang berkonsentrasi dalam bidang ilmu hadis dengan karyanya kitab Usul al-Hadis wa ahkamuhu fi‘Ilmi al-Dirayah dan Kitab Kulliyat fi ‘Ilmi al-Rijal, dan beliau juga merupakan maraji’ Syi’ah pada masa sekarang ini. Beliau memberikan batasan tentang otentisitas hadis menururt Syi’ah, melalui kaidah-kaidah otentisitasnya. Untuk meneliti beliau ini tentang otentisitas hadis, maka penelitian ini menggunakan pendekatan historis–eksplanatoris (eksplanatory analysis), yaitu suatu analisis yang berfungsi memberi penjelasan yang lebih mendalam dari sekedar mendeskripsikan makna sebuah teks. Sehingga memberi pemahaman mengenai, mengapa dan bagaimana pemikiran itu muncul dan apa saja sebab yang melatar belakanginya.

Dalam hal ini, Ja’far al-Subhani membuat kriteria kesahahihan suatu hadis. Dalam kriteria kesahihan hadisnya, Ja’far al-Subhani tidak menekankan pada sanad saja akan tetapi matnnya juga, hal ini terbukti dengan menambah kriteria harus terhindar dari syaz dan ‘illat yang kurang diperhatikan oleh ulama-ulama mutaqaddimin Syi’ah.

Dalam menilai suatu hadis, Ja’far al-Subhani sangat teliti dan harus melalui metode ilmu Rijal al-Hadis dan Jarh wa Ta’dil. Dengan metode ini, maka akan menghasilkan kualitas hadis yang telah diklasifikasikan olehnya, yaitu; Sahih, Hasan, Muwassaq dan Daif. Sebagai implementasinya, Ja’far al-Subhani berpandangan bahwasanya dalam kitab hadis utama Syi’ah yaitu al-Kafi, menurut kriteria yang telah ditetapkan oleh Ja’far al-Subhani bahwasanya tidak semua hadis yang termuat dalam kitab ini adalah Sahih. Berangkat dari pemahaman Ja’far al-Subhani mengenai Otentisitas hadis menurut Syi’ah ini, memberikan pandangan bahwa setiap mazhab atau golongan dalam Islam mempunyai pandangan masing-masing tentang otentisitas hadis. Sehingga melahirkan sesuatu yang spesifik dan khas.

Baik mengenai sumber periwayatan, jalur periwayatan, kriteria kesahihan hadis maupun mengenai perawi dan standar kualitasnya. Dalam Syi’ah sunnah atau hadis adalah perkataan, perbuatan dan persetujuan atau taqrir Nabi saw, dan para imam ma’sum yang dua belas. Sehingga sumber hadis dikalangan Syi’ah bukan hanya berasal dari Rasulullah alhadis al-nabawi, tetapi juga berasal dari dua belas Imam mereka al-hadis almalawi.

Syiah Imamiyah juga meyakini bahwa tidak ada perbedaan antara perkataan yang diucapkan sang imam Mahdi saat ia masih kanak-kanak . Sebab, -menurut mereka- para imam itu tidak mungkin melakukan kesalahan, sengaja ataupun tidak, sepanjang hayat mereka. Itulah sebabnya, salah seorang ulama kontemporer Syiah mengatakan,Sesungguhnya keyakinan akan kemaâshuman para imam telah membuat hadits-hadits yang berasal dari mereka serta-merta menjadi shahih, tanpa harus mempersyaratkan adanya persambungan sanad sampai Rasulullah saw, sebagaimana yang dipersyaratkan di kalangan Ahl al-Sunnah.

Ini karena perkataan para imam itu adalah perkataan Allah, perintah mereka adalah perintah Allah, ketaatan pada mereka adalah ketaatan pada Allah, kedurhakaan pada mereka adalah kedurhakaan pada Allah. Mereka itu tidak mungkin berbicara kecuali dari Allah dan wahyu-Nya.

Muhammad Ridha al-Muzhaffar salah seorang ulama kontemporer Syiah- menjelaskan, Al-Sunnah menurut kebanyakan fuqahaâ adalah perkataan, perbuatan dan taqrir Nabi¦Akan tetapi menurut (Syiah) Imamiyah setelah meyakini bahwa perkataan al-Maâshum dari kalangan Ahl al-Bait setingkat dengan perkataan Nabi saw sebagai sebuah hujjah yang wajib diikuti oleh para hamba- memperluas batasan al-Sunnah menjadi sesuatu yang mencakup perkataan, perbuatan dan taqrir setiap al-Maâshum (dari Ahl al-Bait). Sehingga al-Sunnah dalam terminologi mereka adalah âperkataan, perbuatan dan taqrir al-Maâshum.

Ja’far al-Subhany mengatakan,Metode-metode seperti ini adalah termasuk metode yang dapat menetapkan kesiqahâan seorang perawi tanpa perlu komentar lagi. Ini adalah metode-metode khusus yang dapat menetapkan ketsiqahâan individu tertentu. Dan ada pula metode-metode umum yang disebut dengan tautsiqat ammah yang dengannya ketsiqahan sekelompok perawi dapat ditetapkan.

Definisi  al- Sunnah  Menurut  Syi’ah  Imamiyah

Sebagaimana telah disinggung, Syiah Imamiyah memiliki batasan dan definisi tersendiri tentang Sunnah.. Intinya, Sunnah menurut mereka adalah “Perkataan, perbuatan dan taqrir dari al-Ma’shum.”  Dan al-Ma’shum dalam pandangan Syiah Imamiyah tidak hanya terbatas di kalangan para nabi dan rasul. Para imam mereka juga termasuk dalam kategori ini ( Bihar al-Anwar al-Jami’ah li Durar Akhbar al-A’immah al-Athhar: Muhammad Baqir al-Majlisy (w. 1111 H), Mua’assasah al-Wafa’ Beirut. Cetakan kedua 1983 M )

Muhammad Ridha al-Muzhaffar –salah seorang ulama kontemporer Syiah- menjelaskan,

Al-Sunnah menurut kebanyakan fuqaha’ adalah “perkataan, perbuatan dan taqrir Nabi”…Akan tetapi menurut (Syiah) Imamiyah –setelah meyakini bahwa perkataan al-Ma’shum dari kalangan Ahl al-Bait setingkat dengan perkataan Nabi saw sebagai sebuah hujjah yang wajib diikuti oleh para hamba- memperluas batasan al-Sunnah menjadi sesuatu yang mencakup perkataan, perbuatan dan taqrir setiap al-Ma’shum (dari Ahl al-Bait). Sehingga al-Sunnah dalam terminologi mereka adalah “perkataan, perbuatan dan taqrir al-Ma’shum.”

Rahasia di balik itu semua adalah karena para imam dari kalangan Ahl al-Bait tidaklah sama dengan para perawi dan ahli hadits yang meriwayatkan dari Nabi –hingga perkataan mereka baru dapat dijadikan hujjah jika mereka ‘tsiqah’ dalam periwayatannya. Mereka adalah orang-orang yang ditunjuk oleh Allah Ta’ala melalui lisan Nabi-Nya untuk menyampaikan hukum-hukum yang bersifat realita. Maka mereka tidak mungkin menetapkan hukum, kecuali jika hukum-hukum realita itu memang berasal dari Allah Ta’ala apa adanya. Dan itu semua (diperoleh) melalui jalur ilham –seperti Nabi melalui jalur wahyu-, atau melalui periwayatan (imam) ma’shum sebelumnya.

Berdasarkan ini, maka penjelasan mereka terhadap hukum bukan termasuk dalam kategori periwayatan al-Sunnah atau ijtihad dalam menggali sumber-sumber tasyri’, akan tetapi karena merekalah sumber hukum (tasyri’) itu sendiri. [ Da’irah al-Ma’arif al-Syi’iyyah: Hasan al-Amin. Dar al-Ta’aruf li al-Mathbu’at, Beirut. Cetakan keempat 1989 M ]

Penjelasan ini menunjukkan bahwa perkataan para imam yang ma’shum, baik yang diperoleh melalui jalur ilham atau jalur lainnya (dikenal dengan istilah ilmu hadits) [ Al-Fahrasat: Muhammad ibn al-Hasan al-Thusy. Al-Mathba’ah al-Haidariyah, Nejef. Cetakan kedua 1960 M), maupun yang diriwayatkan dan diwariskan dari imam ma’shum sebelumnya dari Rasulullah (ilmu mustauda’), termasuk dalam bagian al-Sunnah yang kedudukannya sederajat dengan al-Sunnah yang berasal dari Rasulullah saw.

salah seorang ulama kontemporer Syiah mengatakan,“Sesungguhnya keyakinan akan kema’shuman para imam telah membuat hadits-hadits yang berasal dari mereka serta-merta menjadi shahih, tanpa harus mempersyaratkan adanya persambungan sanad sampai Rasulullah saw, sebagaimana yang dipersyaratkan di kalangan Ahl al-Sunnah.”(Al-Imam al-Shadiq: Muhammad Abu Zahrah. Dar al-Fikr al-‘Araby, Kairo. T.t.)

Mereka juga meyakini bahwa ilmu mustauda’ yang melalui jalur pewarisan dari imam ma’shum sebelumnya itu terbagi menjadi dua: (1) kitab-kitab yang mereka warisi dari Rasulullah, dan (2) ilmu yang mereka terima secara lisan dari beliau saw. (Al-I’tiqadat: Abu Ja’far Muhammad ibn Babawaih al-Qummy (w. 381 H). Cetakan Iran 1320 H.)

‘Ali radhiayyallahu ‘anhu kemudian menitipkannya kepada al-Husain, putranya. Demikianlah seterusnya, setiap imam memperlihatkan sebagian “warisan” itu sesuai kebutuhan zamannya, hingga akhirnya mata rantai keimamahan itu berakhir pada sang imam yang dinanti (al-Muntazhar).( Kulliyat fi ‘Ilm al-Rijal: Ja’far al-Subhany. Dar al-Mizan Beirut. Cetakan pertama 1990 M )

Dengan demikian, pengetahuan tentang keshahihan dan kelemahan sebuah hadits –dalam pandangan Syiah Imamiyah- harus melalui jalur para imam yang ma’shum. Al-Sunnah al-Nabawiyah –bagaimanapun juga- membutuhkan imam yang ma’shum untuk menjelaskan mana yang shahih, dan menyingkirkan yang palsu.( Lu’lu’ah al-Bahrain fi al-Ijazat wa Tarajum Rijal al-Hadits: Yusuf ibn Ahmad al-Bahrany (w. 118 6H). Tahqiq: Muhammad Shadiq Bahr al-Ulum. Dar al-Adhwa’ Beirut. Cetakan kedua 1986 M. )

Imam al-Shadiq dan Imam al-Ridha –dua diantara imam mereka- seringkali mengatakan,

“Sesungguhnya kami tidak pernah berfatwa kepada manusia berdasarkan pendapat kami sendiri. Sesungguhnya jika kami berfatwa kepada manusia dengan pendapat kami sendiri, niscaya kami akan termasuk orang yang binasa. Namun (kami memberi fatwa kepada mereka) berdasarkan atsar-atsar dari Rasulullah saw, yang kami wariskan dari generasi ke generasi. Kami menyimpannya seperti manusia menyimpan emas dan perak mereka.” (Miqyas al-Hidayah fi ‘Ilm al-Dirayah: ‘Abdullah al-Mamqany (1351 H). Tahqiq:  Muhammad Ridha al-Mamqany. Mu’assasah Alu al-Bait, Beirut. Cetakan pertama 1991 M.)

Sikap Syiah Imamiyah Terhadap Teks-teks Hadits Mereka

Sikap para ulama Syiah dalam memandang dan menyikapi teks-teks hadits mereka sendiri :

Al-Ushuliyyun adalah mereka yang memandang perlunya ijtihad, dan bahwa landasan hukum itu terdiri dari al-Qur’an, al-Sunnah, ijma’ dan dalil ‘aqli. Mereka juga meyakini bahwa hadits-hadits yang terdapat dalam keempat kitab pegangan itu, sanadnya ada yang shahih, hasan, dan dha’if. Oleh karena itu, diperlukan sebuah kajian terhadap sanadnya pada saat akan diamalkan atau dijadikan landasan hukum.

Tokoh-tokoh ini antara lain adalah: al-Thusy (w. 460 H), penulis al-Istibshar, al-Murtadha yang dianggap menyusun Nahj al-Balaghah, Muhsin al-Hakim, al-Khu’iy dan al-Khumainy (Khomeni).

KRITIK SANAD DAN MATAN MENURUT SYIAH IMAMIYAHSebagaimana juga Ahl al-Sunnah, Syiah Imamiyah juga memiliki metode kritik sanad dan matan yang khas, meskipun dalam beberapa bagian nampak sama dengan metode kritik sanad dan matan yang dianut oleh Ahl al-Sunnah.

Metode Kritik Sanad Syiah Imamiyah

Dalam hal ini yang akan dipaparkan adalah klasifikasi perawi, kajian al-rijal, serta kajian seputar persambungan dan perputusan sebuah sanad dalam sudut pandang Syiah Imamiyah.

Klasifikasi Perawi di Kalangan Imamiyah

Adapun terkait dengan klasifikasi perawi sebuah hadits yang dapat diterima, dalam pandangan Syiah Imamiyah dapat dikatakan hampir sama dengan klasifikasi yang selama ini dikenal dan dipegangi oleh para ulama hadits Ahl al-Sunnah. Diantara klasifikasi seorang perawi yang maqbul menurut mereka adalah:

  1. Islam
  2. Baligh
  3. Berakal
  4. ‘Adil
  5. Dhabith
  6. Sebagian besar ulama Imamiyah menambahkan syarat “iman”.

Yang dimaksud “iman” di sini adalah bahwa seorang perawi haruslah seorang penganut madzhab Imamiyah Itsna ‘Asyariyyah ( Ushul Fiqih: Muhammad Ridha al-Muzhaffar. Dar al-Nu’man, Nejef. Cetakan kedua 1967 M)

Bahkan tidak hanya sekedar penganut madzhab Imamiyah, sang perawi haruslah menerima riwayat itu dari para imam. Al-Thusy mengatakan,

“Setelah diteliti dengan cermat, jelaslah bahwa tidak semua riwayat yang diriwayatkan oleh seorang ‘imamiyah’ dapat diamalkan secara mutlak. (Sebab yang boleh diamalkan) hanyalah riwayat-riwayat yang diriwayatkan dari para imam –alaihissalam- dan dituliskan oleh murid-muridnya.”( Ushul al-Kafy wa Furu’uh: Muhammad ibn Ya’qub al-Kulainy (w. 329 H). Dar al-Adhwa’, Beirut. Cetakan pertama 1399 H )

Karena itu, jika seorang penganut Imamiyah meriwayatkan hadits dari salah seorang Ahl al-Bait yang tidak termasuk dalam kategori imam, maka haditsnya pun tidak dapat diamalkan. Dengan kata lain, tidak semua Ahl al-Bait dapat dijadikan sebagai jalur periwayatan, sebab tidak semua dari mereka itu berstatus sebagai imam. Itulah sebabnya, riwayat yang disampaikan oleh keturunan Fathimah r.a melalui al-Hasan r.a –misalnya- tidak dapat diterima. Bahkan yang melalui jalur al-Husain r.a sekalipun. Al-Thusy –misalnya- menolak riwayat Zaid ibn Ali Zain al-‘Abidin.( Ushul Madzhab al-Syi’ah al-Imamiyah al-Itsnay ‘Asyariyah: DR. Nashir ibn Abdillah ibn Ali al-Qifary. Jami’ah al-Imam Muhammad ibn Su’ud al-Islamiyah. Cetakan pertama 1993 M.)

Lalu bagaimana sikap mereka terhadap riwayat yang berasal dari Ahl al-Sunnah ? Ulama Syiah membolehkan hal ini dengan beberapa ketentuan:

  1. Hadits itu diriwayatkan dari para imam yang ma’shum.
  2. Tidak menyelisihi riwayat yang dituliskan oleh para ulama Syiah.
  3. Tidak menyelisihi amalan yang selama ini ada di kalangan mereka.

Salah satu yang melandasi pandangan ini adalah apa yang diriwayatkan Ja’far al-Shadiq bahwa ia mengatakan, “Jika kalian mengalami suatu perkara yang tidak kalian temukan hukumnya dalam apa yang diriwayatkan dari kami, maka lihatlah dalam apa yang mereka (sunni) riwayatkan dari Ali a.s, lalu amalkanlah ia.”

Oleh sebab itu, sebagian kelompok Syiah juga mengamalkan apa yang diriwayatkan oleh beberapa perawi Ahl al-Sunnah,-seperti Hafsh ibn Ghiyats, Ghiyats ibn Kallub dan Nuh ibn Darraj- dari para imam madzhab Imamiyah sesuai dengan syarat tersebut di atas.

Satu hal penting lain yang juga perlu disebutkan secara singkat di sini adalah sebab-sebab penetapan al-jarh terhadap seorang perawi. Seperti Ahl al-Sunnah, sebab-sebab al-jarh Syiah Imamiyah diantaranya adalah:

  1. Akidah yang batil. Tentu yang dimaksud adalah jika sang perawi bukanlah pengikut Imamiyah.
  2. Cacatnya ke’adalahan perawi, seperti jika ia melakukan dosa besar dan terus-menerus melakukan dosa kecil.
  3. Hafalan yang buruk.
  4. Jika seorang perawi banyak meriwayatkan dari perawi-perawi yang dhu’afa dan majhulun.
  5. Jika perawi itu berasal dari kalangan Bani Umayyah, kecuali jika ia seorang pengikut Imamiyah.

Kajian ‘al-Rijal’ di Kalangan Imamiyah

Harus diakui bahwa para ulama Imamiyah juga memiliki upaya untuk menjelaskan kondisi semua perawi yang terdapat dalam berbagai referensi hadits mereka dari sisi ketsiqahan dan kedha’ifannya. Kalangan Imamiyah mengaku bahwa awal penyusunan referensi dalam bidang ini di kalangan mereka telah dimulai pada abad 2 H. Mereka beranggapan bahwa kitab ‘Ubaidullah ibn Abi Rafi’sebagai karya pertama mereka dalam bidang ini.

Penulisan ilmu ini menurut mereka terus berlanjut hingga abad 4 H. Karya-karya itulah yang kemudian menjadi rujukan penting mereka selanjutnya. Diantaranya:

  1. Rijal al-Kisysyi, karya Muhammad ibn Umar yang lebih dikenal dengan al-Kisysyi (w. 340H). Ia hidup semasa dengan al-Kulainy (w. 329H), dan termasuk tokoh tsiqah penting di kalangan mereka.
  2. Fihris al-Najasyi, karya Abu al-Abbas Ahmad ibn ‘Ali ibn al-Abbas yang lebih dikenal dengan al-Najasyi (w. 450H)

3. Rijal Ibn al-Ghadhairy, karya Ahmad ibn al-Husain al-Ghadhairy (w. 412). Judul buku ini sebenarnya adalah Kitab al-Dhu’afa’. Isinya memuat perawi-perawi dha’if. Penulisnya bahkan mendha’ifkan banyak ulama dan perawi Imamiyah dengan alasan sikap ghuluw yang ada pada diri mereka. Tidak mengherankan jika kemudian ulama Syiah berbeda pendapat tentang validitas penisbatan buku ini pada Ibn al-Dhafairy setelah mereka sepakat bahwa ia adalah seorang yang tsiqah dalam pandangan mereka. Belakangan, Ja’far al-Subhany membenarkan penisbatan kitab ini kepada Ibn al-Dhafairy. Namun jarh dan tadh’ifnya tidak dapat diterima, dengan alasan kesimpulannya tidak didasarkan pada persaksian dan riwayat, melainkan hanya didasarkan pada ijtihad pribadinya

Masih ada karya lain dalam bidang ini di kalangan Syiah. Namun karya-karya itu dianggap sebagai sumber sekunder. Namun ada satu hal yang penting untuk dicatat, bahwa masih banyak perawi majhul tersebar dalam sanad-sanad referensi Syiah, terutama Ushul al-Kafi karya al-Kulainy.

Al-Bahrany (w. 1186H) –salah seorang ulama Imamiyah- mengakui bahwa jika semua aturan al-jarh wa al-ta’dil diterapkan pada sanad-sanad yang bertebaran dalam kitab-kitab hadits mereka, maka itu akan membatalkan banyak sekali hadits-haditsnya.

Di dalam  Mazhab   Syi’ah   Imamiyah   Itsna   Asyariah ( mazhab   resmi    Iran ), ada  4  kitab   hadis :

a.   Kitab  hadis Al – Kafi,  dikumpulkan   oleh    Syaikh   Kulaini, terdapat sekitar 16000 hadis.. Dengan  perincian sbb :

5.072 hadis shahih,   144   hasan,   1128    hadis  Muwatstsaq  ( hadis yang di riwayatkan  perawi   bukan  syi’ah   tetapi   dipercayai  oleh  syiah), 302  hadis  Qawiy ( kuat ) dan 9.480  hadis  dhaif..

Sangat  sangat   banyak hadis  dhaif dalam Kitab  Al Kafi  ( lebih  separuh  kitab  ini  hadisnya  dha’if )

b. Kitab  hadis   Man la   yahdarul   fiqh  ( 6000  hadis ) …

c. Kitab  hadis   Tazhibul  Ahkam ( 13590  hadis)..

d.   Kitab  hadis  Al-Istibshar fima Ikhtilaf minal Akhbar ( 5511 hadis )

Bersambung dan Terputusnya Sanad Menurut Syiah Imamiyah

Syiah Imamiyah juga menekankan tentang keharusan adanya persambungan sanad kepada imam yang ma’shum. Meski sanad itu kemudian tidak bersambung kepada Nabi saw, sebab perkataan imam itu sendiri adalah hujjah dan sunnah sehingga tidak perlu dipertanyakan dari mana ia mengambilnya.

Tetapi jika sanad itu bersambung kepada Nabi saw tanpa perantaraan seorang imam, maka hadits semacam ini tidak dapat diterima. Ini disebabkan oleh:

Keyakinan Syiah Imamiyah bahwa pengetahuan akan keshahihan sebuah hadits sepenuhnya hanya diketahui melalui jalur para imam.

Syiah Imamiyah juga meyakini bahwa sanad-sanad hadits mereka semuanya bersambung kepada para imam melalui perantara kitab-kitab al-Ushul yang ada pada mereka.

Metode tashhih dan tadh’if yang kemudian digagas oleh al-‘Allamah al-Huliyy jika diterapkan pada hadits-hadits Syiah akan ‘membabat habis’ kebanyakan hadits mereka, dan hanya menyisakan sedikit saja. Ini diakui oleh Syekh Yusuf al-Bahrany, salah seorang ulama mereka.

Kitab  hadis Al – Kafi,  dikumpulkan   oleh    Syaikh   Kulaini, terdapat sekitar 16000 hadis.. Dengan  perincian sbb : 5.072 hadis shahih,   144   hasan,   1128    hadis  Muwatstsaq  ( hadis yang di riwayatkan  perawi   bukan  syi’ah   tetapi   dipercayai  oleh  syiah), 302  hadis  Qawiy ( kuat ) dan 9.480  hadis  dhaif..

Ulama Syiah lain, Syekh Muhammad Baqir al-Majlisy (w. 1111H) telah mendha’ifkan sebagian besar hadits-hadits yang ada dalam kitab al-Kafy dalam kitabnya, Mir’at al-‘Uqul.

Metode Kritik Matan Syiah Imamiyah

Secara umum, dalam hal ini, Syiah Imamiyah melakukan kritik matan dengan 4 cara –yang juga sebenarnya diakui dan digunakan oleh Ahl al-Sunnah-, yaitu:

  1. Menimbang matan hadits dengan al-Qur’an
  2. Menimbangnya dengan al-Sunnah
  3. Menimbangnya dengan ijma’
  4. Menimbangnya dengan akal sehat.

Hal itu akan dijelaskan sebagaimana berikut.

Pertama, menimbangnya matan hadits kepada al-Qur’an.

Para imam Syiah telah menyatakan kewajiban memaparkan hadits-hadits yang diriwayatkan dari mereka kepada al-Qur’an. Maka yang sesuai dengan al-Qur’an, itulah yang benar. Namun jika hadits itu menyelisihi al-Qur’an, maka ia tidak bisa dijadikan pegangan. Imam al-Ridha mengatakan,

“…Maka janganlah kalian menerima (riwayat) dari kami yang menyelisihi al-Qur’an. Sebab jika kami menyampaikan sesuatu pada kalian, kami tidak menyampaikan kecuali yang sesuai dengan al-Qur’an dan al-Sunnah…Maka jika datang kepada kalian orang yang menyampaikan hadits yang menyelisihi itu, maka tolaklah! Sebab setiap perkataan dari kami itu akan disertai dengan hakikat dan cahaya, dan sesuatu yang tidak ada hakikat dan cahayanya, maka itu adalah perkataan syetan.”(58)

Ulama Syiah terdahulu, tidak meyakini tahrif  Al Quran, misalnya : Mereka adalah Ibnu Babawaih al-Qummy (w. 382H), al-Syarif al-Murtadha (w. 436H), al-Thusy (w. 460H), dan al-Fadhl ibn al-Hasan al-Thibrisy (w. 548H).

Dan menurut DR. Nashir al-Qifary, sebagian besar ulama dan pemikir Syiah Imamiyah kontemporer telah mulai meyakini ‘sterilitas’ al-Qur’an dari berbagai tahrif dan bahwa ia adalah sumber tasyri’ pertama. Salah satunya misalnya yang ditunjukkan oleh Sayyid Murtadha al-Radhawy dalam bukunya al-Burhan ‘ala ‘Adam Tahrif al-Qur’an.

Buku ini justru berusaha melekatkan tuduhan tahrif ini melalui jalur Ahl al-Sunnah. Yaitu bahwa Ahl al-Sunnah-lah yang mengada-ada terhadap Syiah dalam hal ini.

Kedua, menimbangnya dengan al-Sunnah.

Syiah Imamiyah memandang bahwa al-Sunnah merupakan sumber tasyri’ kedua setelah Kitabullah, dan hal ini disepakati oleh semua kaum muslimin. Bahwa definisi al-Sunnah menurut Syiah adalah perkataan, perbuatan dan penetapan al-ma’shum.

Ketiga, menimbangnya dengan ijma’.

Syiah –sebagaimana juga Ahl al-Sunnah- memandang ijma’ sebagai salah satu sumber tasyri’ dalam Islam. Hanya saja, terminologi ijma’ dalam pandangan mereka berbeda dengan terminologi ijma’ menurut Ahl al-Sunnah. Ibn al-Muthahhir al-Huliyy mendefinisikan ijma’ menurut Syiah dengan mengatakan,

“Ijma’ itu hanya menjadi hujjah bagi kita jika ia mencakupi perkataan sang (imam) yang ma’shum. Maka jama’ah apapun, sedikit atau banyak, jika perkataan imam termasuk dalam perkataan mereka, maka ijma’nya menjadi hujjah karenanya (perkataan imam –pen), bukan karena kesepakatan mereka.”

Keempat, menimbangnya dengan akal.

Secara umum, Syiah Imamiyah juga mengakui akal sebagai sumber tasyri’ keempat. Dan yang dimaksud dengan akal di sini adalah “hukum-hukum yang digali sendiri oleh akal”, seperti keharusan menolak semua kemudharatan, dan menghukumi jahatnya memberikan hukuman tanpa penjelasan.

Lalu bagaimana sikap mereka terhadap riwayat yang berasal dari Ahl al-Sunnah ? Ulama Syiah membolehkan hal ini dengan beberapa ketentuan:

  1. Hadits itu diriwayatkan dari para imam yang ma’shum.
  2. Tidak menyelisihi riwayat yang dituliskan oleh para ulama Syiah.
  3. Tidak menyelisihi amalan yang selama ini ada di kalangan mereka.

Salah satu yang melandasi pandangan ini adalah apa yang diriwayatkan Ja’far al-Shadiq bahwa ia mengatakan, “Jika kalian mengalami suatu perkara yang tidak kalian temukan hukumnya dalam apa yang diriwayatkan dari kami, maka lihatlah dalam apa yang mereka (sunni) riwayatkan dari Ali a.s, lalu amalkanlah ia.”

Oleh sebab itu, sebagian kelompok Syiah juga mengamalkan apa yang diriwayatkan oleh beberapa perawi Ahl al-Sunnah,-seperti Hafsh ibn Ghiyats, Ghiyats ibn Kallub dan Nuh ibn Darraj- dari para imam madzhab Imamiyah sesuai dengan syarat tersebut di atas.

Bisakah rawi rawi sunni diterima riwayatnya ??? ya bisa asal riwayatnya benar dan orangnya jujur ( hanya saja riwayatnya paling tinggi statusnya HASAN )

Di dalam  Mazhab   Syi’ah   Imamiyah   Itsna   Asyariah ( mazhab   resmi    Iran ), ada  4  kitab   hadis :

a. Kitab  hadis Al – Kafi,  dikumpulkan   oleh    Syaikh   Kulaini, terdapat sekitar 16000 hadis.. Dengan  perincian sbb :5.072 hadis shahih,   144   hasan,   1128    hadis  Muwatstsaq  ( hadis yang di riwayatkan  perawi   bukan  syi’ah   tetapi   dipercayai  oleh  syiah), 302  hadis  Qawiy ( kuat ) dan 9.480  hadis  dhaif.

.

Sangat  sangat   banyak hadis  dhaif dalam Kitab  Al Kafi  ( lebih  separuh  kitab  ini  hadisnya  dha’if ).. Ulama Syiah lain, Syekh Muhammad Baqir al-Majlisy (w. 1111H) telah mendha’ifkan sebagian besar hadits-hadits yang ada dalam kitab al-Kafy dalam kitabnya, Mir’at al-‘Uqul.

SYi’AH iMAMiYAH MENDHA’iFKAN RiBUAN HADiS
KARENA SYi’AH SANGAT KETAT DALAM iLMU HADiS

Dalam Rasa’il fi Dirayat Al Hadits jilid 1 hal 395 disebutkan mengenai syarat hadis dinyatakan shahih di sisi Syiah yaitu apa saja yang diriwayatkan secara bersambung oleh para perawi yang adil dan dhabit dari kalangan Imamiyah dari awal sanad sampai para Imam maksum dan riwayat tersebut tidak memiliki syadz dan illat atau cacat………..

Dalam kitab Masadir Al Hadits Inda As Syi’ah Al Imamiyah yang ditulis oleh Allamah Muhaqqiq Sayid Muhammad Husain Jalali.. Beliau mengklasifikasikan hadis dalam kitab Al Kafi Kulaini dengan perincian sebagai berikut :
Jumlah hadis secara keseluruhan : 1621 ( termasuk riwayat dan cerita )
Hadis lemah / dha’if : 9485
Hadis yang benar / hasan : 114
Hadis yang dapat dipercaya / mawtsuq : 118
Hadis yang kuat / Qawi : 302
Hadis shahih : 5702

Dari hadis-hadis dalam Al Kafi, Sayyid Ali Al Milani menyatakan bahwa 5.072 hadis shahih, 144 hasan, 1128 hadis Muwatstsaq(hadis yang diriwayatkan perawi bukan syiah tetapi dipercayai oleh syiah), 302 hadis Qawiy(kuat) dan 9.480 hadis dhaif. (lihat Al Riwayat Li Al Hadits Al Tahrif oleh Sayyid Ali Al Milani dalam Majalah Turuthuna Bil 2 Ramadhan 1407 H hal 257). Jadi dari keterangan ini saja dapat dinyatakan kira-kira lebih dari 50% hadis dalam Al Kafi itu dhaif. Walaupun begitu jumlah hadis yang dapat dijadikan hujjah(yaitu selain hadis yang dhaif) jumlahnya cukup banyak, kira-kira hampir sama dengan jumlah hadis dalam Shahih Bukhari.

Kitab ini disusun dalam jangka waktu yang cukup panjang, selama 20 tahun yang tidak ada bandingannya. Al-Kulaini meriwayatkan hadis yang sangat banyak jumlahnya dari berbagai ulama ahl al-bait. Hadis-hadis yang termuat dalam al-Kafi berjumlah 16.199 buah hadis, yang mencapai tingkat sahih, berjumlah 5.702 buah hadis, tingkat hasan 144 buah hadis, tingkat muwassaq 1.128 buah hadis, tingkat qawiy 302 buah hadis, dan tingkat dha’if 9.485 buah hadis.[sumber :Ayatullah Ja’far Subhani, “Menimbang Hadis-hadis Mazhab Syi’ah; Studi atas Kitab al-Kafi” dalam al-Huda: Jurnal Kajian Ilmu-ilmu Islam, diterbitkan oleh Islamic Center, Jakarta, vol II, no. 5. 2001, hlm. 36.]

Menurut pengakuan Fakhruddin At Tharihi ada 9845 hadits yang dhaif dalam kitab Al Kafi, dari jumlah 16119 hadits Al Kafi.

Kitab ini disusun dalam jangka waktu yang cukup panjang, selama 20 tahun yang tidak ada bandingannya. Al-Kulaini meriwayatkan hadis yang sangat banyak jumlahnya dari berbagai ulama ahl al-bait. Hadis-hadis yang termuat dalam al-Kafi berjumlah 16.199 buah hadis, yang mencapai tingkat sahih, berjumlah 5.702 buah hadis, tingkat hasan 144 buah hadis, tingkat muwassaq 1.128 buah hadis, tingkat qawiy 302 buah hadis, dan tingkat dha’if 9.485 buah hadis.[sumber :Ayatullah Ja’far Subhani, “Menimbang Hadis-hadis Mazhab Syi’ah; Studi atas Kitab al-Kafi” dalam al-Huda: Jurnal Kajian Ilmu-ilmu Islam, diterbitkan oleh Islamic Center, Jakarta, vol II, no. 5. 2001, hlm. 36.]

hadis-hadis dalam al-Kafi al-Kulaini, khususnya al-Furu’ memang memuat beragam kualitas, dari sahih, hasan, muwassaq, qawiy, bahkan dha’if. Jadi isi keseluruhan al-Furu’ al-Kafi berjumlah 10.474 hadis, dengan perincian jilid III berisi 2049 hadis, jilid IV berisi 2424 hadis, jilid V berisi 2200 hadis, jilid VI berisi 2727 hadis, dan jilid VII berisi 1074 hadis

Dalam kitab Masadir Al Hadits Inda As Syi’ah Al Imamiyah yang ditulis oleh Allamah Muhaqqiq Sayid Muhammad Husain Jalali.. Beliau mengklasifikasikan hadis dalam kitab Al Kafi Kulaini dengan perincian sebagai berikut :
Jumlah hadis secara keseluruhan : 1621 ( termasuk riwayat dan cerita )
Hadis lemah / dha’if : 9485
Hadis yang benar / hasan : 114
Hadis yang dapat dipercaya / mawtsuq : 118
Hadis yang kuat / Qawi : 302
Hadis shahih : 5702

Dari hadis-hadis dalam Al Kafi, Sayyid Ali Al Milani menyatakan bahwa 5.072 hadis shahih, 144 hasan, 1128 hadis Muwatstsaq(hadis yang diriwayatkan perawi bukan syiah tetapi dipercayai oleh syiah), 302 hadis Qawiy(kuat) dan 9.480 hadis dhaif. (lihat Al Riwayat Li Al Hadits Al Tahrif oleh Sayyid Ali Al Milani dalam Majalah Turuthuna Bil 2 Ramadhan 1407 H hal 257). Jadi dari keterangan ini saja dapat dinyatakan kira-kira lebih dari 50% hadis dalam Al Kafi itu dhaif. Walaupun begitu jumlah hadis yang dapat dijadikan hujjah(yaitu selain hadis yang dhaif) jumlahnya cukup banyak, kira-kira hampir sama dengan jumlah hadis dalam Shahih Bukhari.

.

al-Kulaini hidup di zaman sufara’ al-arba’ah (empat wakil Imam al Mahdi). Selain itu tahun wafatnya adalah 328 H / 329 H (939/940). Beliau dikebumikan di pintu masuk Kufah

.

b. Kitab  hadis   Man la   yahdarul   fiqh  Ditulis oleh Syaikh Abu Ja’far Muhammad bin Ali bin Husein Lahir tahun 305 Hijriah dan wafat tahun 381 Hijriah..Terdapat sekitar 6000 hadits tentang Syariah…

c. Kitab  hadis   Tazhibul  Ahkam Ditulis oleh Syaikh Abu Ja’far Muhammad bin Hasan al-Tusi Lahir di Khurasan tahun 385 Hijriah, dan wafat pada tahun 460 Hijriah Terdapat sekitar 13590 Hadits dalam kitab ini.

d. Kitab  hadis  Al-Istibshar fima Ikhtilaf minal Akhbar Ditulis oleh Syakih Abu Ja’far Muhammad bin Hasan al-Tusi..Lahir di Khurasan tahun 385 Hijriah, dan wafat pada tahun 460 Hijriah..Terkumpul sekitar 5511 hadits dalam kitab ini.

Di bawah derajat ke empat kitab ini, terdapat beberapa kitab Jami’ yang besar. Antara lain:

Kitab Bihârul Anwâr. Disusun oleh Baqir al Majlisi. Terdiri dalam 26 jilid.
Kitab al Wafie fi ‘Ilmi al Hadis. Disusun oleh Muhsin al Kasyani. Terdiri dalam 14 juz. Ia merupakan kumpulan dari empat kitab hadis.

Kitab Tafshil Wasail Syi’ah Ila Tahsil Ahadis Syari’ah. Disusun oleh al Hus asy-Syâmi’ al ‘Amili. Disusun berdasarkan urutan tertib kitab-kitab fiqh dan kitab Jami’ Kabir yang dinamakan Asy-Syifa’ fi Ahadis al Mushthafa. Susunan Muhammad Ridla at-Tabrizi.

Kitab Jami’ al Ahkam. Disusun oleh Muhammad ar-Ridla ats-Tsairi al Kâdzimi (w.1242 H). Terdiri dalam 25 jilid. Dan terdapat pula kitab-kitab lainnya yang mempunyai derajat di bawah kitab-kitab yang disebutkan di atas. Kitab-kitab tersebut antara lain: Kitab at-Tauhid, kitab ‘Uyun Akhbâr Ridla dan kitab al ‘Amali.

Kaum Syi’ah, juga mengarang kitab-kitab tentang rijal periwayat hadis. Di antara kitab-kitab tersebut, yang telah dicetak antara lain: Kitab ar-Rijal, karya Ahmad bin ‘Ali an-Najasyi (w.450 H.), Kitab Rijal karya Syaikh al Thusi, kita Ma’alim ‘Ulama karya Muhammad bin ‘Ali bin Syahr Asyub (w.588 H.), kitab Minhâj al Maqâl karya Mirza Muhammad al Astrabady (w.1.020 H.), kitab Itqan al Maqal karya Syaikh Muhammad Thaha Najaf (w.1.323 H.), kitab Rijal al Kabir karya Syaikh Abdullah al Mumaqmiqani, seorang ulama abad ini, dan kitab lainnya.

Kulaini tidak mensyaratkan membuat kitab yang 100% shahih ia hanya mengumpulkan hadis. Di sisi Syiah tidak ada kitab hadis 100% shahih. Jadi masalah akurat dan tidak akurat harus melihat dulu apa maksudnya Al Kulaini menulis kitab hadis. Ulama-ulama syiah telah banyak membuat kitab penjelasan Al Kafi dan sanad-sanadnya seperti Al Majlisi dalam Miratul Uqul Syarh Al Kafi, dalam kitab ini Majlisi menyebutkan mana yang shahih dan mana yang tidak.

Satu yang perlu dicatat: Mayoritas hadis Syi’ah merupakan kumpulan periwayatan dari Abi Abdillah Ja’far ash-Shadiq. Diriwayatkan bahwa sebanyak 4.000 orang, baik orang biasa ataupun kalangan khawas, telah meriwayatkan hadis dari beliau. Oleh karena itu, Imamiah dinamakan pula sebagai Ja’ fariyyah. Mereka berkata bahwa apa yang diriwayatkan dari masa ‘Ali k.w. hingga masa Abi Muhammad al Hasan al ‘Askari mencapai 6.000 kitab, 600 dari kitab-kitab tersebut adalah dalam hadis.

Para imam memandang bahwa hadis-hadis Rasulullah saw itu didengar dari beliau baik tanpa perantara maupun dengan perantaraan leluhur mereka. Oleh karena itu, dalam banyak pe- riwayatan tampak bahwa Imam ash-shadiq as berkata, “Menyampaikan kepadaku bapakku dari Zain Al-’Abidin dari bapaknya Al- Husain bin’ Ali dari ‘ Ali Amirul Mukminin dari Rasulullah saw. Periwayatan semacam ini banyak terdapat dalam hadis-hadis mereka.

Diriwayatkan dari Imam ash-Shidiq bahwa ia berkata, “Hadisku adalah hadis bapakku. Hadis bapakku adalah hadis kakekku.” Melalui cara ini mereka menerima banyak hadis dari Nabi saw dan menyampaikannya tanpa bersandar kepada para rahib dan pendeta, orang-orang bodoh, atau pribadi-pribadi yang menyembunyikan kemunafikan.

Sebagian hadis lain mereka ambil dari kitab Imam Amirul Mukminin yang didiktekan oleh Rasulullah saw dan dicatat oleh ‘Ali as. Para penulis kitab-kitab Shahih dan Musnad telah menunjukkan beberapa kitab ini.

‘Ali as memiliki buku khusus untuk mencatat apa yang didiktekan oleh Rasulullah saw. Para anggota Keluarga Suci telah menghapalnya, merujuk padanya tentang banyak topik, dan me- nukil teks-teksnya tentang ber.bagai pennasAlahan. Al-Hurr Al-’Amili dalam kitabnya Al-Mawsu’ah Al-Haditsiyyah telah menyebarluaskan hadis-hadis dari kitab tersebut menurut urutan kitab-kitab fiqih dari bab bersuci (thaharah) hingga bab diyat (denda). Barang- siapa yang mau menelaahnya, silakan merujuk pada kitab Al- Mawsu’ah Al-Haditsiyyah.

Imam ash-Shidiq as, ketika ditanya tentang buku catatan itu, berkata, “Di dalamnya terdapat seluruh apa yang dibutuhkan manusia. Tidak ada satu permasAlahan pun melainkan tertulis di dalamnya hingga diyat cakaran.”

Kitab ‘ Ali as merupakan sumber bagi hadis-hadis Keluarga Suci itu yang mereka warisi satu persatu, mereka kutip, dan mereka jadikan dAlil kepada para penanya.

Abu Ja’far Al-Baqir as berkata kepada sAlah seorang sahabatnya-yakni Hamrin bin A’yan-sambil menunjuk pada sebuah rumah besar, “Hai Hamran, di rumah itu terdapat lembaran (shahifah) yang panjangnya tujuh puluh hasta berisi catatan ‘Ali as dan segAla hAl yang didiktekan oleh Rasulullah saw. KAlau orang-orang mengangkat kami sebagai pemimpin, niscaya kami menetapkan hukum berdasarkan apa yang Allah turunkan. Kami tidak akan berpAling dari apa yang terdapat dalam lembaran ini.”

Imam ash-Shadiq as memperkenalkan kitab ‘ Ali as itu dengan mengatakan, “la adalah kitab yang panjangnya tujuh puluh hasta berisi hAl-hAl yang didiktekan oleh Rasulullah saw dan’ Ali bin Abi ThAlib mencatat dengan tangannya sendiri. Demi Allah, di dalamnya terdapat semua hAl yang diperlukan manusia hingga hari kiamat, bahkan diyat cakaran, cambukan, dan setengah cambukan.”

Sulaiman bin KhAlid berkata: Saya pernah mendengar Ibn ‘Abdillah berkata, “Kami memiliki sebuah lembaran yang panjangnya tujuh puluh hasta berisi hAl-hAl yang didiktekan oleh Rasulullah saw dan dicatat oleh ‘Ali as dengan tangannya sendiri. Tidak ada yang halal dan haram melainkan termuat di dalamnya hingga diyat cakaran.”

Abu Ja.far Al-Baqir as berkata kepada seorang sahabatnya, “Hai Jabir, kAlau kami berbicara kepada kalian menurut pendapat dan hawa nafsu kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang celaka. Melainkan kami berbicara kepada kalian dengan hadis- hadis yang kami warisi dari Rasulullah saw.”

Imam al-Shadiq dan Imam al-Ridha –dua diantara imam mereka- seringkali mengatakan, “Sesungguhnya kami tidak pernah berfatwa kepada manusia berdasarkan pendapat kami sendiri. Sesungguhnya jika kami berfatwa kepada manusia dengan pendapat kami sendiri, niscaya kami akan termasuk orang yang binasa. Namun (kami memberi fatwa kepada mereka) berdasarkan atsar-atsar dari Rasulullah saw, yang kami wariskan dari generasi ke generasi. Kami menyimpannya seperti manusia menyimpan emas dan perak mereka.” (Miqyas al-Hidayah fi ‘Ilm al-Dirayah: ‘Abdullah al-Mamqany (1351 H). Tahqiq:  Muhammad Ridha al-Mamqany. Mu’assasah Alu al-Bait, Beirut. Cetakan pertama 1991 M.)

Bersambung dan Terputusnya Sanad Menurut Syiah Imamiyah

Syiah Imamiyah juga menekankan tentang keharusan adanya persambungan sanad kepada imam yang ma’shum. Meski sanad itu kemudian tidak bersambung kepada Nabi saw, sebab perkataan imam itu sendiri adalah hujjah dan sunnah sehingga tidak perlu dipertanyakan dari mana ia mengambilnya.

hadis hadis syi’ah biasanya dengan redaksi misalnya : Dalam Al KAfi ada hadis : Zurarah mendengar Abu Abdillah ( Ja’far Ash Shadiq ) bersabda : Amirul Mu’minin ( Imam Ali ) bersabda “hiburlah hatimu agar ia tidak menjadi keras”

Hadis seperti tadi banyak dalam kitab syi’ah… Yang diteliti adalah sanad dan matannya dari Zurarah sampai dengan Kulayni, sementara dari Imam Ja’far sampai dengan Imam Ali tidak diperiksa lagi karena dari Ja’far sampai dengan Imam Ali sanad nya pasti bersambung oleh tali kekeluargaan dan tidak mungkin Imam Ja’far mendustai ayahnya, kakek, buyut hingga Imam Ali

Syiah Imamiyah juga meyakini bahwa sanad-sanad hadits mereka semuanya bersambung kepada para imam melalui perantara kitab-kitab al-Ushul yang ada pada mereka.

Dr. Muhammad At-Tîjâni as-Samâwie –seorang Sunni yang kemudian membelot ke Syi’ah, ketika melakukan kajian komparatif antara Sunnah dan Syi’ah, memberikan judul bukunya tersebut: Asy-Syî’ah Hum Ahlu Sunnah.

Peringatan

Semua keterangan diatas sudah cukup membuktikan perbedaan besar di antara Shahih Bukhari dan Al Kafi. Suatu Hadis jika terdapat dalam Shahih Bukhari maka itu sudah cukup untuk membuktikan keshahihannya. Sedangkan suatu hadis jika terdapat dalam Al Kafi maka tidak bisa langsung dikatakan shahih, hadis itu harus diteliti sanad dan matannya berdasarkan kitab Rijal Syiah atau merujuk kepada Ulama Syiah tentang kedudukan hadis tersebut.

Al Kafi adalah kitab hadis Syiah yang ditulis oleh Syaikh Abu Ja’far Al Kulaini pada abad ke 4 H. Kitab ini ditulis selama 20 tahun yang memuat 16.199 hadis. Al Kulaini tidak seperti Al Bukhari yang menseleksi hadis yang ia tulis. Di Al Kafi, Al Kulaini menuliskan riwayat apa saja yang dia dapatkan dari orang yang mengaku mengikuti para Imam Ahlul Bait as. Jadi Al Kulaini hanyalah sebagai pengumpul hadis-hadis dari Ahlul Bait as.

Tidak ada sedikitpun pernyataan Al Kulaini bahwa semua hadis yang dia kumpulkan adalah otentik. Oleh karena Itulah ulama-ulama sesudah Beliau telah menseleksi hadis ini dan menentukan kedududkan setiap hadisnya.

Oleh karena cukup banyaknya hadis yang dhaif dalam Al Kafi maka seyogyanya orang harus berhati-hati dalam membaca buku-buku yang menyudutkan syiah dengan menggunakan riwayat-riwayat Hadis Syiah seperti dalam Al Kafi. Dalam hal ini bersikap skeptis adalah perlu sampai diketahui dengan pasti kedudukan hadisnya baik dengan menganalisis sendiri berdasarkan Kitab Rijal Syiah atau merujuk langsung ke Ulama Syiah.

Dan Anda bisa lihat di antara buku-buku yang menyudutkan syiah dengan memuat riwayat syiah sendiri seperti dari Al Kafi tidak ada satupun penulisnya yang bersusah payah untuk menganalisis sanad riwayat tersebut atau menunjukkan bukti bahwa riwayat itu dishahihkan oleh ulama syiah. Satu-satunya yang mereka jadikan dalil adalah Fallacy bahwa Al Kafi itu di sisi Syiah sama seperti Shahih Bukhari di Sisi Sunni. Padahal sebenarnya tidak demikian, sungguh dengan fallacy seperti itu mereka telah menyatakan bahwa Syiah itu kafir dan sesat. Sungguh Sayang sekali.

Peringatan ini jelas ditujukan kepada mereka yang akan membaca buku-buku tersebut agar tidak langsung percaya begitu saja. Pikirkan dan analisis riwayat tersebut dengan Kitab Rijal Syiah(Rijal An Najasy atau Rijal Al Thusi). Atau jika terlalu sulit dengarkan pendapat Ulama Syiah perihal riwayat tersebut. Karena pada dasarnya mereka Ulama Syiah lebih mengetahui hadis Syiah ketimbang para penulis buku-buku tersebut.

Jika ada hadis yang bertentangan dengan Al Quran maka kami menilainya tidak shahih maka masalahnya selesai !!!! Kalau ada hadis hadis aneh dalam kitab kitab mu’tabar syi’ah maka setelah meneliti sanad dan matannya maka ulama syi’ah langsung memvonisnya dha’if dan hadis tersebut tidak dipakai !!!!

Yang dimaksud dengan berpedoman pada tsaqalain adalah mengikuti petunjuk Al Quran dan orang orang terpilih dari ahlul bait…SEMENTARA EMPAT KiTAB HADiS TERSEBUT ADALAH CATATAN CATATAN REKAMAN UCAPAN, PERBUATAN, DAN AKHLAK AHLUL BAiT.. YANG NAMANYA CATATAN MEREKA TENTU ADA YANG AKURAT DAN ADA YANG TiDAK AKURAT… YANG AKURAT DiNiLAi SHAHiH DAN YANG TiDAK AKURAT DiNiLAi DHA’iF

Jika seseorang membawa sebuah hadis yang lemah dari USHUL AL KAFi dan kemudian mengarti kan hadis tersebut secara salah sebagai alat propaganda kesesatan syi’ah, maka hal itu tidak menggambarkan keyakinan syi’ah !!!!!

 

Kenapa banyak sekali hadis dha’if ??? Apa kulaini lemah dalam keilmuan ????
Jawab:
Syi’ah imamiyah itsna asyariah sangat ketat dalam ilmu hadis, sehingga ribuan hadis berani kami dha’if kan .. Tindakan pendha’ifan ribuan hadis ini menunjukkan bahwa kami SANGAT SANGAT SERiUS DALAM menilai keshahihan sesuatu yang dinisbatkan pada agama….Tidak ada kompromi dalam hal seleksi hadis… Pertanyaannya adalah Sunnah mana yang asli dan mana yang bukan….. Adapun hadis hadis dha’if dalam kitab syi’ah bukanlah hadis Nabi SAW tapi ucapan ucapan yang dinisbatkan pada Imam imam… Dalam kitab syi’ah tidak ada hadis Nabi SAW yang dha’if apalagi pemalsuan atas nama Nabi SAW

Jadi 50 % hadis lemah itu bukanlah masalah bagi Syiah, karena mereka memiliki para ulama yang menyaring hadis-hadis tersebut. Saya rasa itulah tugas para ulama setelahnya, mereka memberi penjelasan atas kitab Al Kafi, baik menjelaskan sanad hadis Al Kafi … ….

Saya lebih suka menganalogikan Al Kafi itu dengan kitab Musnad Ahmad atau bisa juga dengan Ashabus Sunan yaitu Sunan Tirmidzi, Nasai Abu dawud dan Ibnu Majah. Tidak ada mereka secara eksplisit menyatakan semua isinya shahih, tetapi kitab mereka menjadi rujukan

Apa yang dimaksud dengan hadis lemah/dha’if ????
Jawab :
Jika salah satu seorang dari rantai penulis hadis itu tidak ada, maka hadis itu lemah dalam isnad tanpa melihat isinya… Ada hadis dalam Al Kafi yang salah satu atau beberapa unsur dari rangkaian periwayatnya tidak ada, oleh sebab itu hadis hadis demikian isnad nya dianggap lemah

Dalam Rasa’il fi Dirayat Al Hadits jilid 1 hal 395 disebutkan mengenai syarat hadis dinyatakan shahih di sisi Syiah yaitu apa saja yang diriwayatkan secara bersambung oleh para perawi yang adil dan dhabit dari kalangan Imamiyah dari awal sanad sampai para Imam maksum dan riwayat tersebut tidak memiliki syadz dan illat atau cacat………..

Memang bukan kitab shahih tetapi bukan berarti seluruhnya dhaif. Jumlah hadis yang menurut Syaikh Ali Al Milani shahih dalam Al Kafi jumlahnya hampir sama dengan jumlah seluruh hadis dalam shahih Bukhari. Dengan cara berpikir anda hal yang sama bisa juga dikatakan pada kitab hadis sunni semisal Musnad Ahmad, Sunan Daruquthni, Musnad Al Bazzar, Mu’jam Thabrani Shaghir dan Kabir, Al Awsath Thabrani dan lain-lain yang banyak berisi hadis dhaif. Anehnya kutub as sittah sendiri terdapat hadis-hadis dhaif dan palsu seperti yang ada pada Ashabus Sunan

Kulaini tidak mensyaratkan membuat kitab yang 100% shahih ia hanya mengumpulkan hadis. Di sisi Syiah tidak ada kitab hadis 100% shahih. Jadi masalah akurat dan tidak akurat harus melihat dulu apa maksudnya Al Kulaini menulis kitab hadis. Ulama-ulama syiah telah banyak membuat kitab penjelasan Al Kafi dan sanad-sanadnya seperti Al Majlisi dalam Miratul Uqul Syarh Al Kafi, dalam kitab ini Majlisi menyebutkan mana yang shahih dan mana yang tidak.

Saya rasa itulah tugas para ulama setelahnya, mereka memberi penjelasan atas kitab Al Kafi, baik menjelaskan sanad hadis Al Kafi … …. Artinya bagi saya adalah bahwa secara implisit mereka sudah mengklaim bhw hadits2 mereka tulis bukan sekedar koleksi tapi melewati filtrasi dg menggunakan metode yang mereka yakini.

Jadi 50 % hadis lemah itu bukanlah masalah bagi Syiah, karena mereka memiliki para ulama yang menyaring hadis-hadis tersebut. \

perkembangan zaman selalu menuntut adanya perkembangan pemikiran shg Syiah selalu memiliki marja’ disetiap zaman utk memutuskan suatu hal yg boleh jadi berbeda di setiap zaman, dan kitab rujukan utama Syiah adalah Alquran, Yang penting esensi ajarannya, seperti para Imam Ahlul Bayt yg konsisten mengawasi dan meluruskan terhadap penyimpangan para penguasa yg zalim

Syiah dan Ilmu Hadis

Syi’ah menerima sunnah Nabi SAW yang diwariskan melalui para imam ahlulbait. Hadis syi’ah diterima dan sah untuk diamalkan jika sesuai dengan Al Quran

Rasulullah SAW ketika berkhutbah di Mina menyatakan : “Wahai manusia, apa yang berasal dariku yang sesuai dengan Kitab Allah, itulah yang aku katakan. Apa yang datang kepada kalian tapi bertentangan dengan Kitab Allah maka itu aku tidak pernah mengatakannya” (Ushul  Al Kafi, juz 1 halaman 56 )

Imam Ja’far Shadiq AS berkata, “Segala sesuatu dirujukkan kepada Kitab dan Sunnah, dan setiap hadis yang tidak sesuai dengan kitab Allah adalah mengada ada” ( Ushul  Al Kafi, juz 1 halaman 55 )

Imam Ja’far Shadiq AS berkata, “Kalau ada hadis yang tidak sesuai dengan Al Quran, artinya itu kedustaan” ( Ushul  Al Kafi, juz 1 halaman 56 )

Kalau hadis tersebut sesuai dengan Al Quran maka shahih lah hadis tersebut. Jika tidak maka jelas lah maka hadis itu palsu yang disusun lalu disandarkan pada Nabi SAW

Sikap inilah yang kemudian diakui oleh seorang ulama besar syi’ah yakni Syaikh Mufid dalam kitabnya Tasfih Al i’tiqad yang mana beliau menyatakan : “Quran didahulukan dari hadis Nabi dan riwayat riwayat. Seluruh kebenaran hadis dan riwayat tersebut ditentukan oleh Al Quran”

Rasulullah SAW mewasiatkan bahwa : “saya tinggalkan dua perkara berat (al tsaqalain) untu kalian jaga : Kitabullah dan itrah ahlul baitku” (Hr.Muslim dan Turmudzy)

Syi’ah tidak akan pernah memaksa pihak Sunni untuk merubah pandangannya, mereka bebas untuk memilih keyakinan nya, sebab mereka sendiri nanti yang akan mempertanggung jawabkan semuanya dihadapan Allah SWT

Bagi Imam Ali AS ia berprinsip : “Tidak ada paksaan dalam beragama, tidak ada paksaan dalam berbai’at. Dan Allah beserta Rasul Nya tidak pernah memerintahkan untuk memerangi manusia yang enggan berbaiat”

Syi’ah hanya mengakui Imam Ali sebagai satu satunya khalifah yang sah setelah Rasulullah SAW wafat

Kedudukan Shahih Bukhari Di Sisi Sunni Dan Al-Kafi Di Sisi Syiah

Mereka yang mengkritik Syiah telah membawakan riwayat-riwayat yang ada dalam kitab rujukan Syiah yaitu Al Kafi dalam karya-karya mereka seraya mereka berkata Kitab Al Kafi di sisi Syiah sama seperti Shahih Bukhari di sisi Sunni. Tujuan mereka berkata seperti itu adalah sederhana yaitu untuk mengelabui mereka yang awam yang tidak tahu-menahu tentang Al Kafi.Atau jika memang mereka tidak bertujuan seperti itu berarti Mereka lah yang terkelabui

.
Dengan kata-kata seperti itu maka orang-orang yang membaca karya mereka akan percaya bahwa riwayat apa saja dalam Al Kafi adalah shahih atau benar sama seperti hadis dalam Shahih Bukhari yang semuanya didakwa shahih. Mereka yang mengkritik Syiah atau lebih tepatnya menghakimi Syiah itu adalah Dr Abdul Mun’im Al Nimr dalam karyanya(terjemahan Ali Mustafa Yaqub) Syiah, Imam Mahdi dan Duruz Sejarah dan Fakta, Ihsan Illahi Zahir dalam karyanya Baina Al Sunnah Wal Syiah, Mamduh Farhan Al Buhairi dalam karyanya Gen Syiah dan lain-lain
.
Tidak diragukan lagi bahwa karya-karya mereka memuat riwayat-riwayat dalam kitab rujukan Syiah sendiri seperti Al Kafi tanpa penjelasan pada para pembacanya apakah riwayat tersebut shahih atau tidak di sisi Ulama Syiah. Karya-karya mereka ini jelas menjadi rujukan oleh orang-orang(termasuk oleh mereka yang menamakan dirinya salafi) untuk mengkafirkan atau menyatakan bahwa Syiah sesat
.
Sungguh sangat disayangkan, karena kenyataan yang sebenarnya adalah Al Kafi di sisi Syiah tidak sama kedudukannya dengan Shahih Bukhari di sisi Sunni. Al Kafi memang menjadi rujukan oleh ulama Syiah tetapi tidak ada ulama Syiah yang dapat membuktikan bahwa semua riwayat Al Kafi shahih. Dalam mengambil hadis sebagai rujukan, ulama syiah akan menilai kedudukan hadisnya baru menetapkan fatwa. Hal ini jelas berbeda dengan Shahih Bukhari dimana Bukhari sendiri menyatakan bahwa semua hadisnya adalah shahih, dan sudah menjadi ijma ulama(sunni tentunya) bahwa kitab Shahih Bukhari adalah kitab yang paling shahih setelah Al Quran
.
Syiah dan Ilmu Hadis
Apa yang disebut Sunnah atau Hadis oleh Syiah bukan hanya berupa ucapan, perilaku, sikap, kebiasaan Nabi, tapi juga seluruh ma’shum yang berjumlah 14. Dengan demikian, era wurud Sunnah tidak berhenti dengan wafatnya Nabi Besar Muhammad–seperti kepercayaan Ahlus Sunnah–melainkan berlanjut terus hingga masa kegaiban besar Imam Muhammad bin Hasan Al-Askari pada 941 M atau 329 H
.
 saya juga cemas melihat kesempitan pandangan dan kemiskinan data sebagian saudara Muslim saya terhadap isu-isu seperti ini. Jadi, saya berusaha menanggapi diskusi ini dengan perasaan nano-nano, campur baur tak karuan. Saya mohon maaf bila tulisan saya akhirnya juga terasa aneh: campuran dari beragam rasa yang tak jelas.
.
Sebelum terlalu jauh, mari kita ingat beberapa fakta ini:
1. Syiah adalah mazhab Islam terbesar kedua setelah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
2. Syiah adalah mazhab yang dianut oleh jumlah sangat signifikan penduduk negara-negara Timur Tengah (untuk tidak mengatakan mayoritas penduduk Teluk), tempat asal Islam.
3. Syiah adalah mazhab yang dianut oleh mayoritas dua bangsa pemilik tradisi keilmuan paling kuat dan paling kaya di dunia Islam: Iran (90%) dan Irak (68%).
Kedua bangsa yang kemudian menjadi Muslim Syiah ini bisa dibilang adalah pemilik dua khazanah kultural pra Islam (Persia dan Akkadia, Asyuria & Babilonia di wilayah Mesopotamia) yang berkontribusi paling besar terhadap kemajuan umat manusia. Intinya, Persia + Babilonia memiliki “tradisi ilmiah” di atas kebanyakan penduduk Muslim lain–tanpa mengurangi rasa hormat kepada bangsa lain, karena saya sendiri bukan tergolong dari kedua bangsa tersebut.
.
Ada baiknya kita bertanya: Mungkinkah kedua bangsa pemilik tradisi ilmiah hebat dan kaya itu telah sampai pada tafsir agama yang lebih baik dari kita?
4. Mari kita lihat kembali data populasi Syiah berikut ini: Iran (90%), Iraq (65%–menurut sensus rezim Saddam yang berat sebelah dan tak menunjukkan fakta sebenarnya), Azerbaijan (85%), Lebanon (35-40%), Kuwait (35%–menurut sensus rezim Wahabi yang menyesatkan Syiah), Turkey (25%), Saudi Arabia (10-15%–menurut sensus rezim Wahabi yang mengkafirkan Syiah), Yaman (40%), Uni Emirat Arab (15-20 % –menurut sensus rezim tribal Al-Nahiyan yang anti Iran) dan Bahrain (80%–menurut sensus rezim Wahabi yang menyesatkan Syiah).
Nah, setelah melihat beberapa fakta di atas, marilah kita kembali ke topik hadis Syiah. Berikut saya berikan beberapa tanggapan umum—tanpa merujuk pada poin-poin yang ditulis sebelumnya karena saya takkan terlibat perdebatan:
.
1. Apa yang disebut Sunnah atau Hadis oleh Syiah bukan hanya berupa ucapan, perilaku, sikap, kebiasaan Nabi, tapi juga seluruh ma’shum yang berjumlah 14. Dengan demikian, era wurud Sunnah tidak berhenti dengan wafatnya Nabi Besar Muhammad–seperti kepercayaan Ahlus Sunnah–melainkan berlanjut terus hingga masa kegaiban besar Imam Muhammad bin Hasan Al-Askari pada 941 M atau 329 H. Karena faktor itulah kita-kitab hadis Syiah ditulis dan dikodifikasikan dalam beberapa periode yang berbeda. Tapi itu tidak berarti bahwa kitab hadis Syiah baru ada di abad ke7 seperti diklaim sebagian orang. Jumlah hadis Syiah juga lebih banyak daripada hadis Sunni. Saya tak pernah hitung berapa persis jumlah surplusnya, tapi yg jelas ada defisit  hadis dalam mazhab Sunni.
.
Dilema justru muncul di kalangan mazhab Ahlus Sunnah yang mengakhiri periode Sunnah pada masa Nabi Muhammad tapi penulisannya terjadi jauh setelah beliau wafat. Ada periode kevakuman yang panjang. Banyak peneliti yg mencurigai bahwa dalam periode ini telah terjadi produksi hadis palsu besar-besaran. Kecurigaan ini didukung berbagai fakta. Tapi saya lagi-lagi tak tertarik untuk lari-larian ke topik lain.
Kekayaan Sunnah dalam mazhab Syiah ini beberapa ratus tahun lalu memunculkan dampak negatif berupa fenomena pola pikir Akhbari. Kaum Akhbari percaya bahwa sunnah 14 Ma’shum sudah mencakupi semua sisi kehidupan manusia, sehingga tak perlu ada ijtihad dan sebagainya. Tapi itu juga isu lain lagi.
.
2.  Setiap mujtahid dalam Syiah tidak menyandarkan keabsahan hadis pada si pengumpul hadis, namun mereka harus melakukan verifikasi, investigasi dan riset hadis sendiri untuk menilai kredibilitas perawi dan kebasahan matan hadis yang diriwayatkannya. Untuk itulah, mujtahid dalam mazhab Syiah harus menguasai metode verifikasi hadis dengan handal. Bahkan, banyak di antara mujtahid yang juga sekaligus adalah muhaddits. Misalnya, Ayatullah Khoei yang beberapa saat sebelum meninggal dunia sempat mengarang buku rijal sebanyak 24 jilid besar. Kalo ada yang mau lihat buku itu, bisa download di sini: http://www.shiatc.com/Lib_List/t5.xml
.
3. Karena poin 2 di atas, kalangan Syiah tak mengenal adanya kitab shahih. Pengumpul hadis tak pernah mengklaim hadisnya shahih. Dia hanya mengumpulkan dan menyerahkan penilaian pada masing-masing pakar, terutama yang ingin berijtihad. Allamah Majlisi sampai berhasil menuliskan hadis Syiah dalam 120 jilid.
.
Di bawah, saya copas satu bab penuh dari karya Allamah Hasan Shadr berkenaan dengan kepeloporan Syiah dalam bidang Hadis.
.
Bab Kedua
Kepeloporan Syi’ah dalam Ilmu-ilmu Hadis
Sebelum memasuki serangkaian pasal dari bab ini, kami akan mengajak pembaca untuk mengenal alasan kepeloporan kaum Syi’ah dalam ilmu-ilmu hadis. Di sini, saya hendak menyatakan bahwa di antara para sahabat dan para tabi’in terdapat perselisihan besar tentang penulisan ilmu. Banyak dari mereka enggan melakukan penulisan dan penyusunan ilmu, meski ada sebagian dari mereka yang melakukannya, di antaranya ialah Ali ibn Abi Thalib a.s. dan putra beliau yang pertama; Hasan Al-Mujtaba a.s .
.
Sebagaimana yang dikatakan oleh As-Suyuthi di dalam Tadribur Rawi, bahwa Nabi saw. telah mendiktekan kepada Ali bin Abi Thalib seluruh yang terkumpul di dalam sebuah kitab besar, dan Al-Hakam ibn ‘Uyainah telah melihat kitab tersebut berada di tangan Imam Muhammad Al-Baqir, yaitu ketika di antara mereka berdua terjadi perselisihan pen-dapat tentang suatu masalah, lalu Imam Al-Baqir a.s. mengeluarkan kitab itu dan menjelaskannya lalu menga-takan kepada Al-Hakam: “Ini adalah tulisan tangan Ali ibn Abi Thalib yang didiktekan oleh Rasulullah, dan inilah kitab pertama yang menghimpun ilmu-ilmu pada masa hidup Rasulullah saw.” Maka, kaum Syi’ah mengetahui bagai-mana penyusunan ilmu itu sebegitu rapihnya. Lalu, mereka segera menapaki langkah imam pertama mereka.
.
Sementara itu, terdapat sekelompok dari selain Syi’ah yang justru melarang penyusunan ilmu ke dalam sebuah kitab, sehingga mereka tertinggal. Al-Jahidz As-Suyuthi di dalam Tadribur Rawi mengatakan: “Karya-karya yang mun-cul pada jaman sahabat dan kaum tabi’in belum tersusun secara rapih, mengingat hafalan mereka yang kuat, selain juga sebelum itu mereka melarang upaya penulisan ilmu-ilmu, sebagaimana yang disinyalir di dalam Shahih Muslim, lantaran kekuatiran mereka terhadap pencampuradukan hadis dengan ayat-ayat Al-Quran. Di samping itu juga karena sebagian besar dari mereka tidak mampu menulis.”
.
Saya katakan bahwa hal ini terjadi pada selain sahabat dan tabi’in besar Syi’ah. Adapun sahabat dan tabi’in dari Syi’ah, mereka sudah merumuskan ilmu dan menyusunnya, sebagaimana usaha ini telah dimulai oleh Amiril Mukminin Ali ibn Abi Thalib a.s.
 .
Pasal Pertama
Tentang Orang Pertama yang Mengumpulkan Hadis dan Menyusunnya ke dalam Bab-bab
Di antara orang Syi’ah yang pertama kali melakukan proses pengumpulan dan penyusunan itu ialah Abu Rafi’e; budak Rasulullah saw. An-Najasyi di dalam Asma’ Mushannifisy Syi’ah, mengatakan: “Dan Abu Rafi’e budak Rasulullah saw. mempunyai kitab As-Sunan wal Ahkam wal-Qodhoya”. Lalu ia  menyebutkan sanad-sanadnya sampai periwayatan kitab secara bab per bab;  mulai dari bab shalat, puasa, haji, zakat dan tema-tema muamalah. Kemudian dia menyatakan bahwa Abu Rafi’e telah menjadi Muslim secara lebih dahulu di Mekkah lalu hijrah ke Madinah dan ikut serta bersama Nabi saw. dalam banyak peperangan, dan setelah wafat beliau, ia menjadi pengikut setia Amiril Mukminin Ali ibn Abi Thalib a.s
.
Abu Rafi’e tergolong sebagai orang Syi’ah yang saleh, dan turut terjun di dalam peperangan bersama Ali ibn Abi Thalib a.s. Ia juga dipercayai sebagai pemegang kunci Baitul Mal di masa kekhalifahan Ali ibn Abi Thalib di Kufah.
.
Abu Rafi’e meninggal pada tahun 35 H., sesuai dengan kesaksian Ibnu Hajar di dalam At-Taqrib, di mana ia telah membenarkan tahun wafatnya di awal kekhalifahan Ali ibn Abi Thalib a.s. Atas dasar ini, menurut ijma’ para ulama, tidak ada orang yang lebih dahulu dari Abu Rafi’e dalam upaya mengumpulkan hadis dan menyusunnya secara bab perbab. Karena, nama-nama yang disebutkan mengenai penghimpun hadis, semuanya muncul di pertengahan abad kedua.
.
Sebagaimana yang dicatat di dalam At-Tadrib oleh As-Suyuthi dan dinukil oleh Ibnu Hajar di dalam Fathul Bari, bahwa orang pertama yang mengumpulkan dan menyusun hadis-hadis berdasarkan perintah Umar ibn Abdul Aziz adalah Ibnu Syahab Az-Zuhri. Segera Ibnu Syahab memulai tugasnya di awal abad kedua Hijriyah, lantaran Umar ibn Abdul Aziz menjadi khalifah pada tahun 98 H. atau 99 H., dan meninggal pada tahun 101 H. Di dalam kitab Ta’sisusy Syi’ah li Fununil Islam, kami secara khusus memberikan catatan-catatan kritis terhadap apa yang diterangkan oleh Ibnu Hajar Asqolani.
.
Pasal Kedua
Tentang Orang Pertama dari Kaum Sahabat yang Syi’ah yang Mengumpulkan Hadis dalam Satu Bab dan Satu Judul
Mereka adalah Abu Abdillah Salman Al-Farisi dan Abu Dzar Al-Ghifari. Rasyiduddin ibn Syarhasub di dalam kitab Ma’alim Ulamau Syi’ah, telah memberikan kesaksiannya atas hal ini. Begitu pula Syeikh Abu Ja’far Ath-Thusi, guru besar Syi’ah, dan Syeikh Abu Abbas An-Najasyi di dalam kitab-kitab mereka, yaitu Asma Mushannifis Syi’ah, ketika mengulas ihwal Abu Abdillah Salman Al-Farisi dan Abu Dzar Al-Gifari. Mereka melacak dan mampu menemukan sanad-sanadnya sampai periwayatan kitab Salman dan kitab Abu Dzar
.
Kitab Salman adalah kitab hadis Al-Jatsliq dan kitab Abu Dzar adalah sebuah surat khotbah yang di dalamnya menjelaskan pelbagai perkara dan peristiwa yang terjadi setelah wafat Rasulullah saw.
Sayyid Al-Khunsari di dalam kitab Ar-Raudhah fi Ahwalil ‘Ulama’ wa As-Sadat, menerangkan sebuah kitab yang dinukil dari kitab Az-Zinah karya Abu Hatim di juz ketiga; bahwa kata ‘syi’ah’ pada masa Rasulullah saw. adalah nama untuk empat sahabat, yaitu Salman Al-Farisi, Abu Dzar Al-Ghifari, Miqdad Ibnul Aswad Al-Kindi dan Ammar ibn Yasir. Demikian ini telah disebutkan juga di dalam kitab Kasyful Dzunun dan kitab Az-Zinah karya Abu Hatim Sahal ibn Muhammad As-Sajastani yang wafat pada tahun 205 H.
 .
Pasal Ketiga
Tentang Orang Pertama yang Menyusun Kata-kata Hikmah dari Para Tokoh Tabi’in Syi’ah
Para tokoh tabi’in Syi’ah itu melakukan penyusunan di satu masa, hanya saja saya tidak tahu mana di antara mereka yang melakukan hal ini lebih dahulu. Di antara mereka ialah Ali ibn Abi Rafi’e; sahabat Ali ibn Abi Thalib a.s sekaligus sebagai sekretaris dan pemegang kunci Baitul Mal
.
An-Najasyi di dalam Asma Mushannifisy Syi’ah, pada bab nama-nama generasi pertama Syi’ah yang mengarang  kitab, mengatakan: “Ali ibn Abu Rafi’e adalah seorang tabi’in dari Syi’ah yang soleh yang bersahabat dekat dengan Amiril Mukminin  Ali ibn Abi Thalib a.s. Ia juga sekretaris beliau dan menghafal banyak hal dan menyusun sebuah kitab yang menghimpun pelbagai bab Fiqih, seperti Wudhu, Shalat, dan bab-bab hukum lainnya. Lalu ia menyambungkan sanadnya sampai ke Ali ibn Abi Thalib a.s.
.
Dan saudara Ali ibn Abu Rafi’e bernama Ubaidillah ibn Abu Radfi’e adalah sekretaris Ali ibn Abi Thalib a.s. Ia mengarang kitab Kitabul Qodho Amiril Mu’minin dan kitab Tasmiyatu Man Syahida ma’a Amiril Mu’minin Al-Jamala wash Shiffin wan Nahrawan minal Shohabah (kitab yang mencatat nama-nama para sahabat yang ikut bertempur bersama Imam Ali a.s. di perang Jamal, Shiffin dan Nahrawan, pent.). Sebagaimana disebutkan di dalam kitab Al-Fehrest Syeikh Abu Ja’far Ath-Thusi dan di At-Taqrib karya Ibnu Hajar, bahwa Ubaidillah adalah sekretaris Ali ibn Abi Thalib dan perawi yang terpercaya.
.
Selain dua bersaudara di atas, adalah Ashbagh ibn Nubatah Al-Majasyi’ie. Ia sahabat khusus Amiril Mukminin Ali ibn Abi Thalib a.s. dan berumur panjang hingga masih hidup setelah wafatnya Ali ibn Abi Thalib. Ashbagh telah meriwayatkan surat Ali ibn Abi Thalib tentang pelantikan Malik Al-Asytar sebagai gubernur Mesir. An-Najasyi berkata: “Surat itu adalah surat yang amat masyhur, juga sebagai wasiat Imam Ali ibn Abi Thalib kepada putranya yang bernama Muhammad ibn Hanafiyah.” Syeikh Abu Ja’far Ath-Thusi menambahkan dalam Al-Fehrest, bahwa Ashbagh ibn Nubatah juga mempunyai kitab Maqtalul Husein ibn Ali, yang darinya Ad-Dauri telah meriwayatkan.
.
Lalu di antara mereka ialah Sulaim ibn Qois Al-Hilali Abu Shadiq, sahabat dekat Ali ibn Abi Thalib. Ia menulis kitab yang sangat bagus. Di dalamnya ia meriwayatkan hadis-hadis dari Imam Ali ibn Abi Thalib, Salman Al-Farisi, Abu Dzar Al-Ghifari, Miqdad, Ammar ibn Yasir, dan sekelompok dari sahabat besar Nabi saw.
.
Syeikh Imam Abu Abdillah An-Nu’mani, yang perihal dirinya telah diulas pada pasal tokoh-tokoh tafsir terdahulu, di dalam kitab Al-Ghaibah, tepatnya setelah menukil sebuah hadis dari kitab Sulaim ibn Qois, mengatakan: “Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama dan perawi kaum Syi’ah tentang bahwa kitab Sulaim ibn Qois adalah salah satu kitab induk yang banyak dinukil hadis dan riwayatnya oleh para ulama dan perawi hadis Ahlul Bait. Dan kitab itu merupakan kitab rujukan kaum Syi’ah.” Sulaim ibn Qois wafat di awal pemerintahan Hajjaj ibn Yusuf di kota Kufah.
.
Lalu di antara mereka ialah Maitsam ibn Yahya Abu Soleh At-Tammar. Ia adalah salah satu sahabat dekat Amiril Mukminin Ali ibn Abi Thalib a.s. dan pemegang rahasia-rahasia beliau. Maitsam menulis kitab yang bagus mengenai hadis. Syeikh Abu Ja’far Ath-Thusi, Syeikh Abu Amr Al-Kisyi dan Ath-Thabari di dalam Bisyarotul Musthafa, banyak menukil hadis dari kitab Maitsam ini. Maitsam wafat di Kufah karena dibunuh oleh Ubaidillah ibn Ziyad lantaran kesyi’ahannya.
.
Lalu di antara mereka ialah Muhammad ibn Qois Al-Bajali. Ia mengarang sebuah kitab yang diriwayatkan dari Amiril Mukminin Ali ibn Abi Thalib a.s. Para tokoh tabi’in Syi’ah telah menyebutkan kitab tersebut. Mereka juga banyak meriwayatkan hadis-hadis darinya. Adapun Syeikh Abu Ja’far Ath-Thusi di dalam Al-Fehrest dari Ubaid ibn Muhammad ibn Qois mengatakan: “Saya mengajukan kitab ini kepada Abu Ja’far Imam Muhammad Al-Baqir a.s., lalu beliau berkata: ‘Kitab ini adalah perkataan Ali ibn Abi Thalib a.s.’. Dan di awal-awal kitab itu, diriwayatkan bahwa jika seseorang hendak melakukan shalat, katakanlah di awal shalatnya… Begitu selanjutnya hingga akhir kitab.”
.
Ya’la ibn Murroh mempunyai satu naskah kitab itu yang diriwayat-kannya dari Ali ibn Abi Thalib a.s. An-Najasyi di dalam Al-Fehrest telah membawakan sanad kesaksian atas keberadaan naskah tersebut dari Ya’la.
.
Lalu di antara mereka ialah Ibnul Hurr Al-Ja’fi. Ia seorang tabi’in Kufah dan penyair Persia. Ia memiliki sebuah naskah hadis yang diriwayatkan dari Amiril Mukminin Ali ibn Abi Thalib a.s. Al-Ja’fi wafat di masa kekuasaan Al-Mukhtar. An-Najasyi telah menempatkannya dalam jajaran  pertama dari tokoh-tokoh pengarang Syi’ah.
.
Lalu di antara mereka ialah Tabi’ah ibn Sami’ie. Ia menulis sebuah kitab tentang bab zakat. An-Najasyi menyebutkan nama ini di generasi pertama dari tokoh-tokoh pengarang Syi’ah. Ia termasuk dari kaum tabi’in.
.
Lalu Harts ibn Abdillah Al-A’war, dari kota Hamadan. Ia termasuk sahabat Ali ibn Abi Thalib a.s. Harts meri-wayatkan pelbagai permasalahan yang disampaikan oleh Imam Ali a.s. kepada seorang Yahudi, kemudian Ammar ibn Abil Miqdad meriwayatkannya dari Abi Ishaq As-Sami’ie yang ia sendiri meriwayatkannya dari Harts Al-A’war, dan yang terakhir ini meriwayatkan dari Ali ibn Abi Thalib a.s., sebagaimana yang termaktub di dalam Al-Fehrest karya Syeikh Abu Ja’far Ath-Thusi. Harts wafat pada masa kekuasaan Ibnu Zubeir.
.
Namun, Syeikh Rasyiduddin Ibn Syahrasyub di awal kitabnya, Ma’alimul ‘Ulama’, membawakan sebuah daftar kitab mengenai jawaban yang disampaikan oleh Al-Ghazzali, bahwa kitab pertama yang dikarang di dalam Islam ialah kitab Ibnu Juraij tentang hadis dan tafsir huruf-huruf dari Mujahid dan ‘Atha’ di Mekkah, lalu kitab Mu’ammar ibn Rafi’e Ash-Shan’ani di Yaman, lalu kitab Al-Muwaththa’ karya Malik ibn Anas, lalu kitab Al-Jami’e karya Sufyan Ats-Tsauri.
.
Kemudian Ibnu Syahrasyub mengatakan: “Namun yang benar ialah bahwa orang pertama yang mengarang kitab di bidang ini dalam Islam ialah Amiril Mukiminin Ali ibn Abi Thalib lalu Salman Al-Farisi, lalu Abu Dzar Al-Ghifari, lalu Ashbagh ibn Nubatah, lalu Ubaidillah ibn Abu Ra’fi’e, lalu Shohifah Kamilah Sajjadiyyah dari Imam Ali Zainal Abidin a.s.”
.
Syeikh An-Najasyi menyatakan bahwa generasi pertama adalah para pengarang, sebagaimana telah disebutkan, tanpa menerangkan siapa yang lebih dahulu, juga tidak menjelaskan urutan-urutan mereka. Begitu pula Syeikh Abu Ja’far Ath-Thusi menyebutkan nama-nama mereka tanpa menerangkan urutan yang tegas. Mungkin Ibnu Syahrasyub telah menemukan sesuatu yang tidak mereka temukan.
.
Sebuah catatan di akhir pasal ini ialah bahwa Al-Jahidz Adz-Dzahabi tatkala menyinggung riwayat hidup Aban ibn Taghlab, memberikan kesaksian bahwa mazhab Syi’ah di kalangan tabi’in dan generasi setelah tabi’in amat berkembang dan dikenal dengan ketaatan, warak dan kejujuran. Lalu mengatakan: “Jika ucapan-ucapan mereka itu ditolak, maka akan banyak hadis-hadis Nabi saw. yang tercampakkan. Ini sebuah konsekuensi yang jelas keliru dan merugikan.”
Saya katakan, renungkanlah kesaksian Al-Jahidz ini, dan ketahuilah kemuliaan pada kepeloporan nama-nama mereka yang telah kami bawakan di sini dan nama-nama yang akan kami sebutkan setelah ini, yaitu dari kaum tabi’in Syi’ah dan generasi Syi’ah setelah mereka.
 .
Pasal Keempat
Tentang Orang Pertama Penghimpun Hadis di Pertengahan Abad Kedua
Dari kaum Syi’ah yang menyusun kitab-kitab, pokok-pokok akidah dan perincian hukum-hukum yang diriwayatkan dari jalur Ahlul Bait adalah mereka yang hidup di masa-masa orang yang disebutkan berkenaan dengan orang pertama yang mengumpulkan riwayat dari kalangan Ahli Sunnah. Mereka meriwayatkan hadis-hadis dari Imam Ali Zainal Abidin a.s. dan dari putranya; Imam Muhammad Al-Baqir a.s. Di antara mereka adalah Aban bin Taghlab. Ia telah meriwayatkan tiga puluh ribu hadis dari Imam Ja’far Ash-Shadiq a.s
.
Ada pula Jabir ibn Yazid Al-Ja’fi yang meriwayatkan tujuh puluh ribu hadis dari Imam Muhammad Al-Baqir a.s., dari ayah-ayah beliau hingga Nabi saw. Jabir mengatakan: “Aku memiliki lima puluh ribu hadis yang belum aku sampaikan. Semuanya dari Nabi saw. dari jalur Ahlul Bait a.s.”
.
Terdapat nama-mana lain yang melakukan penghimpunan dan periwayatan hadis sebanyak di atas tadi, seperti Abu Hamzah, Zurarah ibn A’yan, Muhammad ibn Muslim Ath-Thaifi, Abu Bashir Yahya ibn Al-Qosim Al-Asadi, Abdul Mu’min ibn Al-Qosim ibn Qois ibn Muhammad Al-Anshari, Bassam ibn Abdullah Ash-Shairafi, Abu Ubaidah Al-Hidzaie Ziyad ibn Isa Abu Raja’ Al-Kufi, Zakaria ibn Abdullah Al-Fayyad Abu Yahya, Jahdar ibn Al-Mughirah Ath-Thaie, Hajar ibn Zaidah Al-Hadhrami Abu Abdillah, Muawiyah ibn Ammar ibn Abi Muawiyah, Khabbab ibn Abdillah, Al-Mutthalib Az-Zuhri Al-Qurasyi Al-Madani, dan Ab-dullah ibn Maimun ibn Al-Aswad Al-Qoddah. Saya telah singgung kitab dan riwayat hidup mereka masing-masing di dalam Ta’sisusy Sy’ah li Fununil Islam
.
Sementara itu, Tsaur ibn Abu Fakhitah Abu Jaham telah meriwayatkan hadis-hadis dari sekelompok sahabat Nabi saw. Dan ia memiliki sebuah kitab yang masih utuh dari Imam Muhammad Al-Baqir a.s
.
Pasal Kelima
Tentang Orang Pertama dari Kaum Syi’ah yang Menyusun Kitab Hadis Setelah Pertengahan Abad Kedua
Terdapat sekelompok sahabat Imam Ja’far Ash-Shadiq a.s. yang meriwayatkan hadis dari beliau dan menghimpunnya ke dalam empat ratus kitab dengan judul Al-Ushul. Syeikh Imam Abu Ali Al-Fadhl ibn Al-Hasan Ath-Thabarsi dalam kitabnya, A’lamul Wara’, mengatakan: “Dinukil secara hampir mutawatir oleh banyak kalangan, bahwa orang-orang yang meriwayatkan hadis dari Imam Ja’far Ash-Shadiq a.s. adalah mereka yang tergolong dari tokoh-tokoh besar yang jumlah mereka mencapai empat ribu. Lalu, mereka menyusun hadis-hadis tersebut ke dalam empat ratus kitab yang dikenal di tengah kaum Syi’ah dengan nama Al-Ushul. Kemudian, kitab ini diriwayatkan oleh sabahat-sahabat Imam Ash-Shadiq a.s. dan oleh para sahabat putra beliau; Imam Al-Kadzim a.s.”
.
Abul Abbas Ahmad ibn ‘Uqdah telah menulis sebuah buku terpisah dengan judul Kitabu Rijali Man Rowa ‘an Abi Abdillah Ash-Shadiq. Kitab ini secara khusus menghimpun nama-nama mereka yang meriwayatkan hadis dari Imam Ja’far Ash-Shadiq a.s. Bahkan, Syeikh Abu Ja’far Ath-Thusi menyebutkan dan menghitung karangan-karangan mereka masing-masing dalam bab ‘Ashabu Abi Abdillah Ash-Shadiq’ dari kitabnya;  Ar-Rijal, yaitu kitab yang disusun menurut nama-nama sahabat setiap dua belas imam a.s
.
Pasal Keenam
Tentang Jumlah Kitab yang Dikarang oleh Orang Syi’ah tentang Hadis dari Jalur  Ahlul Bait,
Sejak Masa Imam Ali bin Abi Thalib Sampai Masa Imam Hasan Al-Askari a.s.
Ketahuilah bahwa jumlah kitab-kitab itu melampaui angka 6600, sebagaimana yang dicatat oleh Syeikh Al-Jahidz Muhammad ibn Al-Hasan Al-Hurr, penulis Al-Wasail, dan ia menyatakan jumlah tersebut secara tegas pada bab keempat dari kitabnya yang besar tentang hadis, yaitu Wasailusy Syi’ah ila Ahkamisy Syari’ah. Tentang semua ini, saya juga telah membawakan data-data yang menguatkan jumlah di atas tadi dalam kitab saya yang berjudul Nihayatud Dirayah fi Ushuli Ilmil Hadis
.
Pasal Ketujuh
Tentang Generasi Berikut yang Menjadi Tokoh Ilmu Hadis dan Penyusun Kitab-kitab Induk yang Hingga Kini Merupakan Rujukan Hukum-hukum Syar’ie Kaum Syi’ah
.
Ketahuilah bahwa tiga Muhammad pertama adalah tokoh terdepan dalam penyusunan empat kitab induk hadis. Yang   pertama ialah Muhammad ibn Ya’qub Al-Kulaini, penyusun kitab Al-Kafi. Ia wafat pada 328 H. Di dalam kitab tersebut, Al-Kulaini telah mencatat sebanyak 16099 hadis beserta sanad-sanadnya
.
Kedua ialah Muhammad ibn Ali ibn Al-Husein ibn Musa ibn Babaweih Al-Qummi yang wafat pada tahun 381 H. Ia dikenal juga dengan panggilan nasab Abu Ja’far Ash-Shaduq. Ia telah menyusun 1400 kitab tentang ilmu hadis. Yang terbesar di antara kitab-kitab Ash-Shaduq adalah kitab  Man La Yahdhuruhul Faqih yang memuat 9044 hadis menge-nai hukum-hukum syariat dan sunah-sunah
.
Ketiga adalah Muhammad ibn Al-Hasan Ath-Thusi yang terkenal dengan gelar Syeikh Ath-Thoifah. Ia telah menulis kitab Tahdzibul Ahkam, dan menyusunnya ke dalam 393 bab, dan mencatat hadis sebanyak 13590. Kitab Ath-Thusi lainnya adalah Al-Istibshor yang memuat 920 bab sehingga mencakup 5511 hadis. Inilah empat kitab induk yang menjadi rujukan utama kaum Syi’ah
.
Kemudian tibalah peran tiga Muhammad terakhir yang juga tergolong sebagai tokoh kitab induk hadis. Pertama ialah Imam Muhammad Al-Baqir ibn Muhammad At-Taqie. Ia terkenal dengan nama Al-Majlisi. Kitab besar yang ditulis Al-Majlisi adalah kitab Biharul Anwar; fil Ahaditsil Marwiyyah ‘anin Nabi wal Aimmah min Alihil Ath-har. Kitab ini disusun sebanyak 26 jilid tebal. Dapat dikatakan bahwa kitab ini telah menjadi pegangan kaum Syi’ah. Sebab, tidak ada kitab induk hadis yang paling lengkap selain kitab Biharul Anwar
.
Sehingga Tsiqotul Islam Allamah An-Nurie menulis sebuah kitab yang berjudul Al-Faidhul Qudsi fi Ahwalil Al-Majelisi dan dicetak di Iran, yakni sebuah kitab yang secara khusus mengulas ihwal kehidupan Al-Majlisi.
Kedua ialah Muhammad ibn Murtadha ibn Mahmud, seorang tokoh besar ilmu hadis dan guru utama di dua bidang ilmu aqli dan naqli. Ia lebih dikenal dengan nama Muhsin Al-Kasyani dan julukan ‘Al-Faydh’. Kitab hadis yang ditulis olehnya berjudul Al-Wafi fi Ilmil Hadis, yang ketebalannya mencapai 14 jilid, dan setiap jilidnya merupa-kan kitab tersendiri. Kitab Al-Wafi menghimpun hadis-hadis yang tercatat di dalam empat kitab induk terdahulu berke-naan dengan akidah, hukum syariat, akhlak dan sunah-sunah. Usia Muhsin Al-Kasyani mencapai 84 tahun dan wafat pada tahun 1091 H. Dalam usainya yang panjang itu, ia telah mengarang kurang lebih dua ratus kitab dari pelbagai bidang ilmu
.
Ketiga ialah Muhammad ibn Al-Hasan Al-Hurr Asy-Syami Al-‘Amili Al-Masyghari, seorang ulama hadis yang mayshur di kalangan ahli hadis dengan gelar Syeikhusy Syuyukh (guru para guru). Ia menulis kitab Tafshil Wasailsy Syi’ah ila Tahshil Ahadits Asy-Syari’ah, dan penyusunannya mengacu pada kitab-kitab Fiqih
.
Di antara kitab-kitab induk hadis, kitab hadis Al-‘Amili ini tergolong sebagai kitab yang paling  banyak diakses oleh ulama. Di dalamnya telah tercatat hadis-hadis yang dinukil dari 80 kitab induk hadis, 70 dari jumlah itu dinukil dengan perantara, dan dicetak berkali-kali di Iran. Bisa dikatakan bahwa kaum Syi’ah sekarang lebih berkutat pada kitab ini. Muhammad Al-‘Amili dilahirkan pada bulan Rajab 1033 dan wafat pada tahun 1204 H. di Thus-Khurasan (sebuah propinsi di bagian barat Iran)
.
Dan Syeikh Allamah Tsiqotul Islam Al-Husein ibn Allamah An-Nurie telah menghimpun hadis-hadis yang tidak dicatat oleh penulis Wasailusy Syi’ah, dan menyu-sunnya di dalam sebuah kitab berjilid berdasarkan susunan bab-bab kitab Wasailusy Syi’ah, dan meletakkan judul Mustadrokul Wasail wa Mustanbatul Masail padanya. Secara umum, kitab ini bentuk lain dari kitab Wasailusy Syi’ah. Dan dapat dikatakan bahwa kitab Syeikh An-Nurie ini meru-pakan kitab hadis Syi’ah yang paling besar, di mana Syeikh telah menyelesaikannya pada tahun 1319 H. Ia wafat pada 28 Jumadil Akhir 1320 H.
.
Dan masih banyak kitab-kitab induk hadis yang disusun oleh ulam-ulama besar hadis Syi’ah. Di antaranya ialah kitab Al-‘Awalim sebanyak 100 jilid, karya seorang ahli hadis yang tersohor bernama Syeikh Abdullah ibn Nurullah Al-Bahrani. Ia hidup semasa dengan Allamah Al-Majlisi, pengarang kitab Biharul Anwar yang telah kami singgung di atas tadi.
.
Selain Al-‘Awalim adalah kitab Syarhul Istabshor fi Ahaditsul Aimmatil Athhar yang disusun Syeikh Qosim ibn Muham-mad ibn Jawad ke dalam beberapa jilid besar, mirip dengan kitab Biharul Anwar. Syeikh Qosim dikenal dengan panggilan Ibnu Al-Wandi dan panggilan Faqih Al-Kadzimi. Ia hidup semasa dengan Syeikh Muhammad ibn Al-Hasan Al-Hurr; pengarang kitab Wasailusy Syi’ah sebagaimana telah dising-gung. Syeikh Qosim adalah salah seorang murid utama  datuk saya, Allamah Sayyid Nuruddin; saudara Sayyid Muhammad pengarang kitab Al-Madarik.
.
Selain itu adalah kitab Jami’ul Akhbar fi Idhohil Istibshor. Kitab ini tergolong kitab hadis yang besar yang disusun ke dalam banyak jilid oleh Syeikh Allamah Abdullatif ibn Ali ibn Ahmad ibn Abu Jami’ Al-Haritsi Al-Hamadani Asy-Syami Al-‘Amili. Ia menimba ilmu dari Syeikh Al-Hasan ibn Abu Mansur ibn Asy-Syahid Syeikh Zainuddin Al-‘Amili, penulis kitab Al-Ma’alim dan Al-Muntaqo, dan salah seorang ulama abad keepuluh Hijriyah.
Selain itu adalah kitab induk besar yang berjudul Asy-Syifa fi Hadis Alil Mushtafa. Kitab ini mencakup beberapa jilid tebal, disusun oleh seorang ulama peneliti hadis yang ulung, yaitu Syeikh Muhammad Ar-Ridha, putra seorang ahli fiqih; Syeikh Abdullatif At-Tabrizi. Ia telah menuntaskan penulisan kitab tersebut pada tahun 1158 H.
.
Selain itu adalah kitab Jami’ul Ahkam yang tercetak hingga mencapai 25 jilid besar, disusun oleh Allamah Abdullah ibn Sayyid Muhammad Ar-Ridha Asy-Syubbari Al-Kadzimi. Pada masa itu, ia dikenal sebagai guru besar kaum Syi’ah dan penulis unggul. Dapat dikatakan bahwa setelah era Allamah Al-Majlisi, tidak ada ulama yang mengarang kitab lebih banyak daripada karya-karyanya. Sayyid Muhammad Ar-Ridha wafat di Kadzimain pada tahun 1242 H.
.
Pasal Kedelapan
Kepeloporan Kaum Syi’ah dalam Menggagas Ilmu Dirayah dan Membaginya ke Beberapa Cabang Utama
Orang pertama yang memulai perintisan dan penggagasan ilmu ini ialah Abu Abdillah Al-Hakim yang lahir di Naysabur (Khurasan-Iran). Nama lengkapnya adalah Muhammad ibn Abdullah. Ia wafat pada 405 H. Semasa hidupnya, Al-Hakim telah mengarang sebuah kitab yang berjudul Ma’rifatu Ulumil Hadis setebal lima jilid, lalu membagi ilmu-ilmu hadis ke lima puluh cabang.
.
Kitab Kasyful Dzunun telah menyatakan kesaksiannya atas kepeloporannya dalam penggagasan ilmu Dirayah, dan mengatakan: “Orang pertama yang memulai penggagasan dan pembagian ilmu Hadis ialah Muhammad ibn Abdullah dari Naysabur, kemudian diikuti oleh Ibnu Ash-Shalah.”
Sementara itu, Al-Jahidz As-Suyuthi menyebutkan dalam kitab Al-Wasail fil Awail, bahwa orang pertama yang menyu-sun macam-macam ilmu Hadis dan membaginya menjadi beberapa cabang yang masih dikenal sampai sekarang ialah Ibnu Ash-Shalah. Ia wafat pada tahun 643 H.
Data ini tidaklah bertentangan dengan apa yang baru saja kami bawakan. Sebab, Al-Jahidz hendak menyebutkan orang pertama yang mengerjakan hal itu dari kaum Ahli Sunnah, sedangkan Abu Abdillah Al-Hakim adalah seorang Syi’ah berdasarkan kesepakatan para ulama Ahli Sunnah dan Syi’ah. Syeikh As-Sam’ani di dalam Al-Ansab, Syeikh Ahmad ibn Taimiyah dan Al-Jahidz Adz-Dzahabi di dalam Tadzkirotul Huffadz telah menyatakan secara tegas kesyi’ahan Al-Hakim.
.
Bahkan dalam Tadzkirotul Huffadz, misalnya, Adz-Dzahabi menuturkan kesaksian Ibnu Thahir yang mengatakan: “Aku bertanya kepada Abu Ismail Al-Anshari perihal Al-Hakim. Ia berkata: ‘Ia adalah perawi yang terpercaya di bidang hadis dan seorang Syi’ah yang penyimpang’”. Lalu Adz-Dzahabi mengatakan: “Lalu Ibnu Thahir berkata: ‘Abu Abdillah Al-Hakim adalah seorang syi’ah yang fanatik dalam taqiyah-nya, namun ia menampakkan kesunniannya dalam permasalahan khilafah dan khalifah pertama setelah Nabi saw. Ia berseberangan dengan Muawiyah dan sanak keluarganya seraya menampakkan pengakuannya pada mereka; suatu hal yang tidak bisa diterima pendiriannya ini.’”
.
Pada hemat saya, ulama-ulama kami, Syi’ah, juga telah menyatakan kesaksian mereka atas kesyi’ahan Abu Abdillah Al-Hakim, seperti Syeikh Muhammad ibn Al-Hasan Al-Hurr di akhir-akhir kitab Wasailusy Syi’ah. Di dalam Ma’alimul Ulama di bab ‘Al-Kuna’, ia menukil dari Ibnu Syarasyub yang menilai Al-Hakim sebagai salah seorang pengarang Syi’ah, dan ia memiliki kitab tentang keutamaan-keutamaan Ahlul Bait serta sebuah kitab khusus tentang keutamaan-keutamaan Imam Ar-Ridha a.s. Mereka juga menyebutkan sebuah kitabnya khusus berkenaan dengan keutamaan-keutamaan Fatimah Az-Zahra a.s.
.
Bahkan, Abdullah Afandi telah menerangkan riwayat hidup Al-Hakim secara rinci dalam kitabnya; Riyadul ‘Ulama, di bagian pertama yang secara khusus membahas Syi’ah Imamiyah. Begitu juga, Afandi menyebutkan nama-nya dan memberikan kesaksian atas kesyi’ahannya di bab ‘Al-Alqob’ dan di bab ‘Al-Kuna’. Di dalam kitab itu, ia menyebutkan dua kitab Al-Hakim yang berjudul Ushul Ilmil Hadis dan Al-Makhal ila Ilmish Shohih. Afandi mengatakan: “Dan Al-Hakim telah mencatat hadis-hadis tentang Ahlul Bait yang tidak termaktub di dalam Shahih Al-Bukhari, seperti hadis ‘Ath-Thoirul Masywi’ dan hadis ‘Man Kuntu Maulahu.’”
.
Setelah Abu Abillah Al-Hakim, terdapat sekelompok tokoh ilmu Hadis dari kaum Syi’ah yang mengarang di bidang Dirayah. Di antara mereka ialah Sayyid Jamaluddin Ahmad ibn Thawus Abul Fadhail. Dialah peletak istilah-istilah hadis Syi’ah Imamiyah berkenaan dengan pembagian hadis kepada empat macam; shahih, hasan, muwatssaq dan dzaif. Ibnu Tawus wafat pada tahun 673 H
.
Dan di antara mereka ialah Sayyid Allamah Ali ibn Abdul Hamid Al-Hasani. Ia mengarang kitab Syarh Ushul Dirayatul Hadis. Ia juga melaporkan dari Syeikh Allamah Al-Hilli ibn Al-Muthahhar dan Syeikh Zainuddin yang masyhur dengan gelar Syahid Tsani (sang syahid kedua), sebuah kitab bernama Ad-Dirayah fi Ilmid Dirayah dan syarahnya yang berjudul Ad-Dirayah
.
Dan di antara mereka ialah Syeikh Al-Husein ibn Abdul Shomad Al-Haritsi Al-Hamadani; pengarang kitab Wushulul Akhyar ila Ushulil Akhbar, Syeikh Abu Mansur Al-Hasan ibn Zainudin Al-‘Amili; pengarang kitab Muqod-dimatul Muntaqo dan Ushul Ilmil Hadis, dan Syeikh Bahauddin Al-‘Amili pengarang kitab Al-Wajizah fi Ilmi Diroyahtul Hadis. Saya telah menyarahi kitab terakhir ini dalam sebuah kitab yang saya namai dengan judul Syarah Nihayatud Dirayah, dan dicetak di India sampai menjadi kurikulum di sekolah-sekolah pen-didikan agama
.
Pasal Kesembilan
Tentang Orang Pertama yang Menyusun Ilmu Rijal dan Riwayat Hidup Para Perawi
Ketahuilah bahwa Abu Abdillah Muhammad ibn Khalid Al-Barqi Al-Qummi adalah seorang sahabat Imam Musa ibn Ja’far Al-Kadzim a.s., sebagaimana Syeikh Abu Ja’far Ath-Thusi mencatat hal ini di dalam kitab Ar-Rijal. Dan Abul Faraj Ibnu Nadim di dalam Al-Fehrest, di awal bagian kelima pasal keenam mengenai riwayat tokoh-tokoh fiqih Syi’ah menyebutkan karya Al-Barqi di bidang ilmu Rijal. Di sana ia mengatakan: “Dan di antara karya-karya Al-Barqi adalah Al-‘Awidh, At-Tabshiroh dan Ar-Rijal. Di dalam kitab terakhir ini, ia menyebutkan nama-nama yang meriwayatkan hadis-hadis dari Amiril Mukminin Ali bin Abi Thalib a.s.”
.
Setelah Al-Barqi ialah Abu Muhammad Abdullah ibn Jablah ibn Hayyan ibn Abhar Al-Kinani. Ia mengarang kitab Ar-Rijal. Abdullah Al-Kinani berusia panjang dan wafat pada tahun 219 H
.
As-Suyuthi dalam Al-Awail mengatakan: “Orang pertama yang membahas ilmu Rijal ialah Syu’bah.” Jelas, bahwa Syu’bah datang setelah Abdullah ibn Jablah, karena yang pertama wafat pada tahun 260 H. Bahkan setelah Abdullah ibn Jablah dan sebelum Syu’bah, terdapat sahabat Imam Al-Jawad a.s. yang bernama Abu Ja’far Al-Yaqthini. Ia menulis Kitabur Rijal, sebagaimana yang dicatat oleh An-Najasyi di dalam Al-Fehrest dan Ibnu Nadim di dalam Al-Fehrest
.
Saya bubuhkan di sini, bahwa Abu Abdillah Muhammad ibn Khalid Al-Barqi juga seorang sahabat imam Ahlul Bait, yaitu Imam Musa Al-Kadzim a.s. dan Imam Ali Ar-Ridha a.s. Bahkan, ia juga sempat menjumpai Imam Muhammad Al-Jawad a.s. Kitab Al-Barqi masih terjaga utuh dan tersedia sampai sekarang. Di dalamnya disebutkan nama perawi-perawi yang meriwayatkan hadis dari Ali bin Abi Thalib a.s. dan perawi-perawi setelah mereka. Kitab itu juga memuat tema penting Rijal mengenai Al-Jarah wat Ta’dil (penilaian kritis atas ihwal kehidupan para perawi), sebagaimana yang juga dibahas oleh semua kitab Rijal
.
Lalu, Abu Ja’far Ahmad ibn Muhammad ibn Khalid Al-Barqi yang mengarang kitab Ar-Rijal dan kitab Ath-Thabaqot. Abu Ja’far wafat pada tahun 274 H.
Lalu, Syeikh Abul Hasan Muhammad ibn Ahmad ibn Dawud ibn Ali Al-Qummi yang dikenal juga dengan Ibnu Dawud; seorang ulama terkemuka Syi’ah. Ia mengarang kitab Al-Mamduhin wal Madzmumin minar Ruwat, dan wafat pada tahun 368 H
.
Lalu, Syeikh Abu Ja’far Muhammad ibn Babaweih Ash-Shoduq yang mengarang kitab Ma’rifatur Rijal dan Kitabur Rijalil Mukhtarin min Ashabin Nabi saw. Ia wafat pada tahun 381 H
.
Lalu, Syeikh Abu Bakar Al-Ji’ani yang dinyatakan oleh Ibnu Nadim bahwa ia merupakan salah seorang ulama besar Syi’ah. Al-Ji’ani mengarang kitab Asy-Syi’ah min Ashabil Hadits wa Thabaqotuhum. Tentang kitab ini, An-Najasyi mengatakan bahwa kitab itu dikarang dalam ukuran besar.
Lalu, Syeikh Muhammad ibn Baththah yang mengarang kitab Asma’ Mushannifisy Syi’ah, dan wafat pada tahun 274 H.
Lalu, Syeikh Nashr ibn Ash-Shabah Abul Qosim Al-Balkhi; guru Syeikh Abu Amr Al-Kasyi. Ia mengarang kitab Ma’ri-fatun Naqilin min Ahlil Miah Tsalitsah. Ia wafat pada tahun pada abad ketiga Hijriyah
.
Lalu, Ali ibn Al-Hasan ibn Fidhal; pengarang kitab Ar-Rijal. Ia berada di generasi sebelum Syeikh Nashr Al-Balkhi.
Lalu, Sayyid Abu Ya’la Hamzah ibn Al-Qosim ibn Ali ibn Hamzah ibn Al-Hasan ibn Ubaidilah ibn Al-Abbas ibn Ali ibn Abu Thalib a.s., yang mengarang kitab Man Rowa ‘an Ja’far ibn Muhammad minar Rijal. An-Najasyi mengatakan: “Kitab ini bagus, dan At-Tal’akbari meriwayatkan sertifikat pengakuan dan pengesahan darinya”. Hamzah ibn Qosim adalah ulama Syi’ah abad ketiga Hijriyah
.
Lalu, Syeikh Muhammad ibn Al-Hasan ibn Ali Abu Abdillah Al-Maharibi yang menyusun kitab bagus yang berjudul Ar-Rijal min Ulama Tsalitsah.
Lalu, Al-Musta’thof Isa ibn Mehran; pengarang Kitabul Muhadditsin. Isa termasuk ulama terdahulu Syi’ah, demikian dicatat oleh Syeikh Ath-Thusi di dalam Al-Fehrest
.
Berikutnya, di dalam kitab Ta’sisusy Syi’ah li Fununil Islam, saya telah mengulas karangan-karangan Syeikh Ath-Thusi, An-Najasyi, Al-Kasyi, Allamah ibn Al-Muthahhar Al-Hilli, Ibnu Dawud dan generasi-generasi yang mengarang kitab tentang ilmu Rijal. Dan hingga kini, semua karya mereka masih menjadi rujukan dalam upaya menilai kualitas pribadi para perawi (Al-jarah wa Ta’dil)
.
Perlu dibubuhkan di sini, bahwa Abul Faraj Al-Qannani Al-Kufi; guru An-Najasyi, mempunyai karangan di bidang ini, berjudul Kitab Mu’jam Rijalil Mufadhal, dan menyusunnya sesuai dengan urutan huruf Hijaiyah.
.
Kedudukan Shahih Bukhari
Shahih Bukhari adalah kitab hadis Sunni yang ditulis oleh Bukhari yang memuat 7275 hadis. Jumlah ini telah diseleksi sendiri oleh Bukhari dari 600.000 hadis yang diperolehnya dari 90.000 guru. Kitab ini ditulis dalam waktu 16 tahun yang terdiri dari 100 kitab dan 3450 bab. Hasil seleksi Bukhari dalam Shahih Bukhari ini telah Beliau nyatakan sendiri sebagai hadis yang shahih
.
Bukhari berkata “Saya tidak memasukkan ke kitab Jami’ ini kecuali yang shahih dan saya telah meninggalkan hadis-hadis shahih lain karena takut panjang” (Tahdzib Al Kamal 24/442)
.
Bukhari hidup pada abad ke-3 H, karya Beliau Shahih Bukhari pada awalnya mendapat kritikan oleh Abu Ali Al Ghassani dan Ad Daruquthni, bahkan Ad Daruquthni menulis kitab khusus Al Istidrakat Wa Al Tatabbu’ yang mengkritik 200 hadis shahih yang terdapat dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Tetapi karya Ad Daruquthni ini telah dijawab oleh An Nawawi dan Ibnu Hajar dalam Hady Al Sari dan Fath Al Bari.
An Nawawi dan Ibnu Shalah yang hidup pada abad ke-7 adalah ulama yang pertama kali memproklamirkan bahwa Shahih Bukhari adalah kitab yang paling otentik sesudah Al Quran. Tidak ada satupun ulama ahli hadis saat itu yang membantah pernyataan ini. Bahkan 2 abad kemudian pernyataan ini justru dilegalisir oleh Ibnu Hajar Al Asqallani dalam kitabnya Hady Al Sari dan sekali lagi tidak ada yang membantah pernyataan ini. Oleh karenanya adalah wajar kalau dinyatakan bahwa ulama-ulama sunni telah sepakat bahwa semua hadis Bukhari adalah shahih. (lihat Imam Bukhari dan Metodologi Kritik Dalam Ilmu Hadis oleh Ali Mustafa Yaqub hal 41-45)
.
Kedudukan Al Kafi
Al Kafi adalah kitab hadis Syiah yang ditulis oleh Syaikh Abu Ja’far Al Kulaini pada abad ke 4 H. Kitab ini ditulis selama 20 tahun yang memuat 16.199 hadis. Al Kulaini tidak seperti Al Bukhari yang menseleksi hadis yang ia tulis. Di Al Kafi, Al Kulaini menuliskan riwayat apa saja yang dia dapatkan dari orang yang mengaku mengikuti para Imam Ahlul Bait as. Jadi Al Kulaini hanyalah sebagai pengumpul hadis-hadis dari Ahlul Bait as. Tidak ada sedikitpun pernyataan Al Kulaini bahwa semua hadis yang dia kumpulkan adalah otentik. Oleh karena Itulah ulama-ulama sesudah Beliau telah menseleksi hadis ini dan menentukan kedududkan setiap hadisnya
.
Di antara ulama syiah tersebut adalah Allamah Al Hilli yang telah mengelompokkan hadis-hadis Al Kafi menjadi shahih, muwatstsaq, hasan dan dhaif. Pada awalnya usaha ini ditentang oleh sekelompok orang yang disebut kaum Akhbariyah. Kelompok ini yang dipimpin oleh Mulla Amin Astarabadi menentang habis-habisan Allamah Al Hilli karena Mulla Amin beranggapan bahwa setiap hadis dalam Kutub Arba’ah termasuk Al Kafi semuanya otentik. Sayangnya usaha ini tidak memiliki dasar sama sekali. Oleh karena itu banyak ulama-ulama syiah baik sezaman atau setelah Allamah Al Hilli seperti Syaikh At Thusi, Syaikh Mufid, Syaikh Murtadha Al Anshari dan lain-lain lebih sepakat dengan Allamah Al Hilli dan mereka menentang keras pernyataan kelompok Akhbariyah tersebut. (lihat Prinsip-prinsip Ijtihad Antara Sunnah dan Syiah oleh Murtadha Muthahhari hal 23-30)
.
Dari hadis-hadis dalam Al Kafi, Sayyid Ali Al Milani menyatakan bahwa 5.072 hadis shahih, 144 hasan, 1128 hadis Muwatstsaq(hadis yang diriwayatkan perawi bukan syiah tetapi dipercayai oleh syiah), 302 hadis Qawiy (kuat) dan 9.480 hadis dhaif. (lihat Al Riwayat Li Al Hadits Al Tahrif oleh Sayyid Ali Al Milani dalam Majalah Turuthuna Bil 2 Ramadhan 1407 H hal 257). Jadi dari keterangan ini saja dapat dinyatakan kira-kira lebih dari 50% hadis dalam Al Kafi itu dhaif. Walaupun begitu jumlah hadis yang dapat dijadikan hujjah (yaitu selain hadis yang dhaif) jumlahnya cukup banyak, kira-kira hampir sama dengan jumlah hadis dalam Shahih Bukhari
.
Semua keterangan diatas sudah cukup membuktikan perbedaan besar di antara Shahih Bukhari dan Al Kafi. Suatu Hadis jika terdapat dalam Shahih Bukhari maka itu sudah cukup untuk membuktikan keshahihannya. Sedangkan suatu hadis jika terdapat dalam Al Kafi maka tidak bisa langsung dikatakan shahih, hadis itu harus diteliti sanad dan matannya berdasarkan kitab Rijal Syiah atau merujuk kepada Ulama Syiah tentang kedudukan hadis tersebut
.
Peringatan
Oleh karena cukup banyaknya hadis yang dhaif dalam Al-Kafi maka sepatutnya orang harus berhati-hati dalam membaca buku-buku yang menyudutkan syiah dengan menggunakan riwayat-riwayat Hadis Syiah seperti dalam Al-Kafi. Dalam hal ini bersikap skeptis adalah perlu sampai diketahui dengan pasti kedudukan hadisnya baik dengan menganalisis sendiri berdasarkan Kitab Rijal Syiah atau merujuk langsung ke Ulama Syiah
.
Dan Anda bisa lihat di antara buku-buku yang menyudutkan syiah dengan memuat riwayat syiah sendiri seperti dari Al Kafi tidak ada satupun penulisnya yang bersusah payah untuk menganalisis sanad riwayat tersebut atau menunjukkan bukti bahwa riwayat itu dishahihkan oleh ulama syiah. Satu-satunya yang mereka jadikan dalil adalah Fallacy bahwa Al Kafi itu di sisi Syiah sama seperti Shahih Bukhari di Sisi Sunni. Padahal sebenarnya tidak demikian, sungguh dengan fallacy seperti itu mereka telah menyatakan bahwa Syiah itu kafir dan sesat. Sungguh Sayang sekali
.
Peringatan ini jelas ditujukan kepada mereka yang akan membaca buku-buku tersebut agar tidak langsung percaya begitu saja. Pikirkan dan analisis riwayat tersebut dengan Kitab Rijal Syiah (Rijal An Najasy atau Rijal Al Thusi). Atau jika terlalu sulit dengarkan pendapat Ulama Syiah perihal riwayat tersebut. Karena pada dasarnya mereka Ulama Syiah lebih mengetahui hadis Syiah ketimbang para penulis buku-buku tersebut.
Syiah. Setiap mendengar kata syiah, atau membaca tulisan mengenai syiah, apa yang tiba-tiba terlintas dipikiran anda?. Sebuah kelompok yang memiliki pemahaman yang sesat dan kufur kah? Orang-orang yang gemar berdusta, taqiyah atau melakukan hal-hal yang memecah belah umat bahkan dalam segala hal berbahaya bagi umat Islam kah? atau setiap mendengar mengenai syiah, yang terbayang langsung mengenai Mut’ah yang katanya telah diharamkan namun masih dibolehkan oleh orang-orang Syiah kah?
.
atau mungkin mengenai aqidah mereka yang begitu menyimpang dari mainstream keyakinan kaum muslimin kebanyakan, mengenai Zat Allah, kemaksuman Nabi, keimamahan yang hanya menjadi hak Ahlul Bait, ataukah mengenai keyakinan mereka yang katanya telah terjadi perubahan dan pengurangan terhadap Al-Qur’an, ataupun mengenai penghinaan dan kekurang ajaran mereka terhadap sahabat dan istri-istri Nabi?.
.

Apapun itu, adalah tidak fair jika kita memberi vonis dan penghukuman terhadap sesuatu, tanpa bersikap adil. Dalam surah al Maidah ayat 2, Allah SWT berpesan, janganlah kebencian terhadap suatu kaum mendorong kita berbuat aniaya. Kita memang harus menanamkan kebencian terhadap penyimpangan, kesesatan dan apapun anasir-anasir kotor yang berusaha dimasukkan kedalam dien yang suci ini, atau kesesatan didakwahkan sebagai kebenaran dan diakui merupakan bagian dari syiar Islam. Namun kita juga jangan sampai lalai bahkan keluar dari koridor yang telah digariskan ajaran agama ini. Kita bisa saja menaruh rasa curiga terhadap pemahaman Syiah, namun kecurigaan semata tidak pernah cukup untuk dijadikan dasar penilaian terhadap sebuah ajaran. Diperlukan sebuah kajian yang komprehensif dan menyeluruh untuk mencapai sebuah kesimpulan. Fatwa-fatwa ulama terdahulu mengenai kesesatan Syiah bukanlah sebuah hukum yang secara mutlak mengikat pada setiap waktu dan periode, mengingat fatwa adalah produk hukum yang sangat bergantung pada situasi dan kondisi dimana dan kapan sebuah fatwa dikeluarkan. Terlebih lagi jika kita mau menelisik jauh, kepentingan apa yang bermain dan pihak mana yang paling diuntungkan dengan keluarnya sebuah fatwa

.

Kaidah yang terpenting untuk menilai benar tidaknya sebuah ajaran, adalah menelusuri langsung sumber ajarannya, dari manakah ajaran itu berasal, dan bagaimana mereka memahami dan meyakini sumber ajaran tersebut serta bagaimana mereka mengaplikasikannya. Setiap kita membaca artikel atau mendengar ceramah-ceramah yang mengumbar segala kesesatan dan kebusukan-kebusukan aqidah Syiah, senantiasa dilengkapi nukilan riwayat-riwayat yang katanya berasal dari kitab-kitab induk Syiah ataupun nukilan fatwa-fatwa ulama-ulama mereka. Ada beberapa kaidah yang sebelumnya mesti kita lewati untuk kemudian menentukan sikap terhadap Syiah.

.

Pertama, mengecek keberadaan riwayat-riwayat tersebut pada kitab-kitab dari mana ia dinukil. Apakah benar riwayat yang disebutkan tersebut benar keberadaanya pada kitab tersebut?, benarkah nukilannya sesuai dengan matan pada kitab yang mencantumkannya?, apakah tidak ada upaya manipulasi, dengan hanya mengambil sepenggal saja misalnya, dan lain-lain?. Afwan, saya seringkali menemukan adanya teks-teks riwayat yang direkayasa, sebab ketika mengecek keberadaannya sebagaimana alamat riwayat yang telah dituliskan saya tidak menemukan keberadaannya pada kitab yang dimaksud. Saya merasa perlu menceritakan, misalnya beberapa artikel yang menuliskan tentang kesesatan Syiah pada site http://www.hakekat.com ada beberapa riwayat yang saya tidak temukan meskipun telah mencari pada kitab yang dimaksud, saya berprasangka baik bahwa bisa jadi karena kitab yang dimaksud meskipun judul dan isinya sama namun penerbit dan terbitan yang berbeda sehingga juga mengalami perbedaan pada penomoran hadits atau halaman misalnya, sebagaimana shahih Bukhari yang memiliki banyak versi penerbitan. Namun ketika menanyakan ke pengelola site tersebut, penerbit dan terbitan keberapa kitab yang berada di tangan mereka, bukan hanya tidak mendapat jawaban, pertanyaan semacam itu malah tidak ditampilkan dalam kolom tanggapan yang disediakan.

.

Kedua, mencari tahu pendapat ulama Syiah mengenai nukilan riwayat tersebut. Kalaupun ternyata setelah dicek, riwayat yang menyatakan adanya penyimpangan aqidah kaum Syiah benar adanya bersumber dari kitab Syiah tersendiri, tugas selanjutnya adalah mencari tahu bagaimana orang-orang Syiah memahami riwayat atau nash tersebut. Kita mesti merujuk kepada orang-orang alim dikalangan mereka, bagaimana penilaian mereka terhadap riwayat tersebut, apakah kedudukannya shahih, hasan, dhaif atau malah palsu. Kalau ulama Syiah sendiri menghukumi riwayat tersebut dhaif atau palsu, adalah tidak fair menghukumi sesatnya keyakinan Syiah dari riwayat-riwayat yang tidak diakui keshahihannya oleh orang-orang Syiah sendiri meskipun terdapat dan tertulis jelas dalam kitab-kitab mu’tabar mereka. Sebagaimana halnya di kalangan Sunni, keberadaan hadits-hadits atau riwayat-riwayat dhaif dan palsu tidak bisa dinafikan keberadaannya dalam kitab-kitab mu’tabar Sunni sendiri. Dan tentu saja, merekapun tidak ingin dihakimi kelompok lain yang menyandarkan vonisnya pada keberadaan riwayat-riwayat yang lemah tersebut.

.

Ketiga, kalaupun ulama-ulama Syiah telah menyatakan keshahihannya, selanjutnya, apakah tidak ada perselisihan dari kalangan ulama Syiah mengenai keshahihannya?. Sebagaimana halnya ulama-ulama hadits dikalangan Sunni, misalnya Al-Hakim menshahihkannya, Imam Tirmidsi mendhaifkannya, hadits-hadits yang dianggap shahih misalnya oleh ulama-ulama hadits lainnya, namun Imam Bukhari lewat metode penilaiannya sendiri yang ketat, beliau bisa saja menilainya dhaif bahkan palsu. Hal seperti ini pun patut menjadi perhatian, riwayat-riwayat yang digunakan untuk memberi penilaian sesat tidaknya pemahaman Syiah harusnya adalah riwayat-riwayat yang secara ijma diakui keshahihannya oleh ulama-ulama hadits Syiah yang dianggap mumpuni dan kafabel dikalangan mereka.

.

Keempat, kalaupun riwayat-riwayat tersebut dinilai shahih secara ijma dikalangan ulama-ulama Syiah, pertanyaan selanjutnya bagaimana mereka memahami riwayat tersebut. Misalnya mengenai taqiyah atau nikah mut’ah, kalaupun ulama-ulama Syiah meyakini keshahihan riwayat-riwayat yang menegaskan keberadaan taqiyah dan nikah mut’ah untuk dipraktikkan pengikut-pengikutnya, kita mestinya menghukumi mereka dari bagaimana mereka memahami dan mempraktikkan kedua amalan tersebut. Yang berhak memberikan defenisi dan penjelasan adalah mereka, dan kita menghukumi dari apa yang mereka defenisikan dan jelaskan. Jika kita membaca artikel yang membahas mengenai nikah Mut’ah misalnya, yang ditulis oleh mereka yang mengecam Syiah, saya melihatnya terkadang terlalu tendensius dan mencium bau sentimen mazhab yang sangat menyengat. Mereka menggambarkan mut’ah tidak ubahnya dengan zina bahkan menyamakannya dengan praktik pelacuran, sehingga dengan mudahnya mereka menyematkan orang-orang Syiah dengan sebutan-sebutan yang keji, bahkan merasa mendapat pahala dengan itu

.

Kalau mereka mengakui sendiri nikah Mut’ah pernah dihalalkan oleh Rasulullah saww dan dipraktikkan oleh beberapa sahabatnya, maka tentu saja itu bukan zina apalagi pelacuran, karena tidak mungkin Allah SWT lewat Nabi-Nya pernah menghalalkan sesuatu perbuatan yang keji. Kalau dalam surah Al-Isra ayat 32 Allah SWT sendiri memerintahkan untuk jangan mendekati zina, lantas apakah Nabi-Nya malah pernah memerintahkan sahabat-sahabatnya untuk berzina?. Karenanya, hanya Syiah sendirilah yang lebih berhak mengutarakan dan menjelaskan seperti apa nikah Mut’ah yang mereka pahami dan yakini, mengenai syarat-syarat, ketentuan, pemberlakuan masa iddah dan sebagainya, mereka yang tidak sepakat, cukup memberikan tanggapan dan kritikan terhadap yang diyakini Syiah itu, lewat hujjah-hujjah yang diterima oleh kedua kelompok. Bukan sebagaimana yang biasanya terjadi, mereka mengajukan defenisi dan memberikan penjelasan tersendiri mengenai nikah Mut’ah yang didramatisir sedemikian rupa lalu kemudian memberikan vonis penghukuman, yang bisa jadi Mut’ah yang mereka pahami itu bukanlah Mut’ah yang diakui kehalalannya oleh Syiah. Begitu juga misalnya mengenai sahabat-sahabat Nabi.

.

Kelima, berupaya mencari tahu makna yang tersirat terlebih dulu dari apa yang tersurat dari riwayat-riwayat Syiah. Islam biasanya diserang oleh pihak-pihak yang justru tidak memiliki pemahaman yang baik terhadap Islam. Yang biasa mendapat kritikan misalnya rajam dan hukum potong tangan, mereka hanya melihat dari satu sisi (yakni yang tersurat) sehingga memberikan vonis syariat Islam itu kejam dan tidak berprikemanusiaan. Mereka tidak mencari tahu terlebih dahulu hikmah dibalik adanya perintah ataupun larangan. Begitupun dengan doktrin-doktrin Syiah, terkadang secara sekilas bagi kita tidak logis, tidak berkesesuaian dengan Al-Qur’an dan Sunnah, kitapun lalu menghukumi itu bukan hukum Islam, itu di luar dari ajaran Islam. Tentu kita tidak menerima klaim-klaim orientalis yang menyebut-nyebut Islam adalah aturan-aturan yang kuno dan ketinggalan jaman bahkan membahayakan bagi kemanusiaan hanya karena mereka pada dasarnya tidak mengenal dan memahami Islam itu lebih dekat dan memahami Islam dengan perspektif mereka sendiri. Begitupun dengan Syiah, tentu saja mereka tidak bisa menerima disebut sesat bahkan kafir hanya karena yang memberikan tuduhan dan stigma tidak memiliki upaya terlebih dahulu mengenal dan memahami Syiah dari apa yang dipahami dan diyakini oleh orang-orang Syiah, bukan dari tuduhan dan klaim-klaim pihak-pihak yang memusuhi dan membencinya. Biasanya pada bagian ini yang paling sering disalah mengerti adalah konsep kemaksuman Nabi dan para Aimmah as

.

Secara tersurat dalam beberapa ayat-ayat Al-Qur’an tersampaikan, para Anbiyah as juga bisa salah, khilaf bahkan zalim, sementara bagian dari keyakinan Syiah, para Anbiyah bahkan Aimmah adalah orang-orang yang maksum. Sebelum menghukumi Syiah menyimpang pemahamannya dari apa yang disampaikan Allah SWT lewat Al-Qur’an, kita mesti tahu dulu, bagaimana Syiah memahami dan memberikan penafsiran terhadap ayat-ayat yang menceritakan mengenai kekhilafan dan kesalahan beberapa Nabi as, bagaimana mereka mensinkronkan keyakinan mereka dengan ayat-ayat tersebut. Penjelasan mereka tentang itulah yang kemudian mestinya mendapat tanggapan dan kritikan jika tetap tidak sependapat. Bukan menabrakkannya sejak awal, tanpa lebih dahulu berusaha mengenali alur berpikir orang-orang Syiah. Perlu proses pengenalan terlebih dahulu, berusaha memahami sebelum menentukan sikap. Semua ada pertanggungjawabannya di sisi Allah.

.

“Seseorang cenderung memusuhi apa yang tidak dikenalinya…” begitu pesan Imam Ali as.

.
 Syiah dan Ilmu Hadis

Nah, setelah melihat beberapa fakta di atas, marilah kita kembali ke topik hadis Syiah. Berikut saya berikan beberapa tanggapan umum—tanpa merujuk pada poin-poin yang ditulis sebelumnya karena saya takkan terlibat perdebatan:

1. Apa yang disebut Sunnah atau Hadis oleh Syiah bukan hanya berupa ucapan, perilaku, sikap, kebiasaan Nabi, tapi juga seluruh ma’shum yang berjumlah 14. Dengan demikian, era wurud Sunnah tidak berhenti dengan wafatnya Nabi Besar Muhammad–seperti kepercayaan Ahlus Sunnah–melainkan berlanjut terus hingga masa kegaiban besar Imam Muhammad bin Hasan Al-Askari pada 941 M atau 329 H. Karena faktor itulah kita-kitab hadis Syiah ditulis dan dikodifikasikan dalam beberapa periode yang berbeda. Tapi itu tidak berarti bahwa kitab hadis Syiah baru ada di abad ke7 seperti diklaim sebagian orang. Jumlah hadis Syiah juga lebih banyak daripada hadis Sunni. Saya tak pernah hitung berapa persis jumlah surplusnya, tapi yg jelas ada defisit  hadis dalam mazhab Sunni.

Dilema justru muncul di kalangan mazhab Ahlus Sunnah yang mengakhiri periode Sunnah pada masa Nabi Muhammad tapi penulisannya terjadi jauh setelah beliau wafat. Ada periode kevakuman yang panjang. Banyak peneliti yg mencurigai bahwa dalam periode ini telah terjadi produksi hadis palsu besar-besaran. Kecurigaan ini didukung berbagai fakta. Tapi saya lagi-lagi tak tertarik untuk lari-larian ke topik lain.

Kekayaan Sunnah dalam mazhab Syiah ini beberapa ratus tahun lalu memunculkan dampak negatif berupa fenomena pola pikir Akhbari. Kaum Akhbari percaya bahwa sunnah 14 Ma’shum sudah mencakupi semua sisi kehidupan manusia, sehingga tak perlu ada ijtihad dan sebagainya. Tapi itu juga isu lain lagi.

2.  Setiap mujtahid dalam Syiah tidak menyandarkan keabsahan hadis pada si pengumpul hadis, namun mereka harus melakukan verifikasi, investigasi dan riset hadis sendiri untuk menilai kredibilitas perawi dan kebasahan matan hadis yang diriwayatkannya. Untuk itulah, mujtahid dalam mazhab Syiah harus menguasai metode verifikasi hadis dengan handal. Bahkan, banyak di antara mujtahid yang juga sekaligus adalah muhaddits. Misalnya, Ayatullah Khoei yang beberapa saat sebelum meninggal dunia sempat mengarang buku rijal sebanyak 24 jilid besar. Kalo ada yang mau lihat buku itu, bisa download di sini: http://www.shiatc.com/Lib_List/t5.xml

3. Karena poin 2 di atas, kalangan Syiah tak mengenal adanya kitab shahih. Pengumpul hadis tak pernah mengklaim hadisnya shahih. Dia hanya mengumpulkan dan menyerahkan penilaian pada masing-masing pakar, terutama yang ingin berijtihad. Allamah Majlisi sampai berhasil menuliskan hadis Syiah dalam 120 jilid.

Di bawah, saya copas satu bab penuh dari karya Allamah Hasan Shadr berkenaan dengan kepeloporan Syiah dalam bidang Hadis.

Bab Kedua

Kepeloporan Syi’ah dalam Ilmu-ilmu Hadis

Sebelum memasuki serangkaian pasal dari bab ini, kami akan mengajak pembaca untuk mengenal alasan kepeloporan kaum Syi’ah dalam ilmu-ilmu hadis. Di sini, saya hendak menyatakan bahwa di antara para sahabat dan para tabi’in terdapat perselisihan besar tentang penulisan ilmu. Banyak dari mereka enggan melakukan penulisan dan penyusunan ilmu, meski ada sebagian dari mereka yang melakukannya, di antaranya ialah Ali ibn Abi Thalib a.s. dan putra beliau yang pertama; Hasan Al-Mujtaba a.s .

Sebagaimana yang dikatakan oleh As-Suyuthi di dalam Tadribur Rawi, bahwa Nabi saw. telah mendiktekan kepada Ali bin Abi Thalib seluruh yang terkumpul di dalam sebuah kitab besar, dan Al-Hakam ibn ‘Uyainah telah melihat kitab tersebut berada di tangan Imam Muhammad Al-Baqir, yaitu ketika di antara mereka berdua terjadi perselisihan pen-dapat tentang suatu masalah, lalu Imam Al-Baqir a.s. mengeluarkan kitab itu dan menjelaskannya lalu menga-takan kepada Al-Hakam: “Ini adalah tulisan tangan Ali ibn Abi Thalib yang didiktekan oleh Rasulullah, dan inilah kitab pertama yang menghimpun ilmu-ilmu pada masa hidup Rasulullah saw.” Maka, kaum Syi’ah mengetahui bagai-mana penyusunan ilmu itu sebegitu rapihnya. Lalu, mereka segera menapaki langkah imam pertama mereka.

Sementara itu, terdapat sekelompok dari selain Syi’ah yang justru melarang penyusunan ilmu ke dalam sebuah kitab, sehingga mereka tertinggal. Al-Jahidz As-Suyuthi di dalam Tadribur Rawi mengatakan: “Karya-karya yang mun-cul pada jaman sahabat dan kaum tabi’in belum tersusun secara rapih, mengingat hafalan mereka yang kuat, selain juga sebelum itu mereka melarang upaya penulisan ilmu-ilmu, sebagaimana yang disinyalir di dalam Shahih Muslim, lantaran kekuatiran mereka terhadap pencampuradukan hadis dengan ayat-ayat Al-Quran. Di samping itu juga karena sebagian besar dari mereka tidak mampu menulis.”

Saya katakan bahwa hal ini terjadi pada selain sahabat dan tabi’in besar Syi’ah. Adapun sahabat dan tabi’in dari Syi’ah, mereka sudah merumuskan ilmu dan menyusunnya, sebagaimana usaha ini telah dimulai oleh Amiril Mukminin Ali ibn Abi Thalib a.s.

Pasal Pertama

Tentang Orang Pertama yang Mengumpulkan Hadis dan Menyusunnya ke dalam Bab-bab

Di antara orang Syi’ah yang pertama kali melakukan proses pengumpulan dan penyusunan itu ialah Abu Rafi’e; budak Rasulullah saw. An-Najasyi di dalam Asma’ Mushannifisy Syi’ah, mengatakan: “Dan Abu Rafi’e budak Rasulullah saw. mempunyai kitab As-Sunan wal Ahkam wal-Qodhoya”. Lalu ia  menyebutkan sanad-sanadnya sampai periwayatan kitab secara bab per bab;  mulai dari bab shalat, puasa, haji, zakat dan tema-tema muamalah. Kemudian dia menyatakan bahwa Abu Rafi’e telah menjadi Muslim secara lebih dahulu di Mekkah lalu hijrah ke Madinah dan ikut serta bersama Nabi saw. dalam banyak peperangan, dan setelah wafat beliau, ia menjadi pengikut setia Amiril Mukminin Ali ibn Abi Thalib a.s.

Abu Rafi’e tergolong sebagai orang Syi’ah yang saleh, dan turut terjun di dalam peperangan bersama Ali ibn Abi Thalib a.s. Ia juga dipercayai sebagai pemegang kunci Baitul Mal di masa kekhalifahan Ali ibn Abi Thalib di Kufah.

Abu Rafi’e meninggal pada tahun 35 H., sesuai dengan kesaksian Ibnu Hajar di dalam At-Taqrib, di mana ia telah membenarkan tahun wafatnya di awal kekhalifahan Ali ibn Abi Thalib a.s. Atas dasar ini, menurut ijma’ para ulama, tidak ada orang yang lebih dahulu dari Abu Rafi’e dalam upaya mengumpulkan hadis dan menyusunnya secara bab perbab. Karena, nama-nama yang disebutkan mengenai penghimpun hadis, semuanya muncul di pertengahan abad kedua.

Sebagaimana yang dicatat di dalam At-Tadrib oleh As-Suyuthi dan dinukil oleh Ibnu Hajar di dalam Fathul Bari, bahwa orang pertama yang mengumpulkan dan menyusun hadis-hadis berdasarkan perintah Umar ibn Abdul Aziz adalah Ibnu Syahab Az-Zuhri. Segera Ibnu Syahab memulai tugasnya di awal abad kedua Hijriyah, lantaran Umar ibn Abdul Aziz menjadi khalifah pada tahun 98 H. atau 99 H., dan meninggal pada tahun 101 H. Di dalam kitab Ta’sisusy Syi’ah li Fununil Islam, kami secara khusus memberikan catatan-catatan kritis terhadap apa yang diterangkan oleh Ibnu Hajar Asqolani.

Pasal Kedua

Tentang Orang Pertama dari Kaum Sahabat yang Syi’ah yang Mengumpulkan Hadis dalam Satu Bab dan Satu Judul

Mereka adalah Abu Abdillah Salman Al-Farisi dan Abu Dzar Al-Ghifari. Rasyiduddin ibn Syarhasub di dalam kitab Ma’alim Ulamau Syi’ah, telah memberikan kesaksiannya atas hal ini. Begitu pula Syeikh Abu Ja’far Ath-Thusi, guru besar Syi’ah, dan Syeikh Abu Abbas An-Najasyi di dalam kitab-kitab mereka, yaitu Asma Mushannifis Syi’ah, ketika mengulas ihwal Abu Abdillah Salman Al-Farisi dan Abu Dzar Al-Gifari. Mereka melacak dan mampu menemukan sanad-sanadnya sampai periwayatan kitab Salman dan kitab Abu Dzar. Kitab Salman adalah kitab hadis Al-Jatsliq dan kitab Abu Dzar adalah sebuah surat khotbah yang di dalamnya menjelaskan pelbagai perkara dan peristiwa yang terjadi setelah wafat Rasulullah saw.

Sayyid Al-Khunsari di dalam kitab Ar-Raudhah fi Ahwalil ‘Ulama’ wa As-Sadat, menerangkan sebuah kitab yang dinukil dari kitab Az-Zinah karya Abu Hatim di juz ketiga; bahwa kata ‘syi’ah’ pada masa Rasulullah saw. adalah nama untuk empat sahabat, yaitu Salman Al-Farisi, Abu Dzar Al-Ghifari, Miqdad Ibnul Aswad Al-Kindi dan Ammar ibn Yasir. Demikian ini telah disebutkan juga di dalam kitab Kasyful Dzunun dan kitab Az-Zinah karya Abu Hatim Sahal ibn Muhammad As-Sajastani yang wafat pada tahun 205 H.

Pasal Ketiga

Tentang Orang Pertama yang Menyusun Kata-kata Hikmah dari Para Tokoh Tabi’in Syi’ah

Para tokoh tabi’in Syi’ah itu melakukan penyusunan di satu masa, hanya saja saya tidak tahu mana di antara mereka yang melakukan hal ini lebih dahulu. Di antara mereka ialah Ali ibn Abi Rafi’e; sahabat Ali ibn Abi Thalib a.s sekaligus sebagai sekretaris dan pemegang kunci Baitul Mal.

An-Najasyi di dalam Asma Mushannifisy Syi’ah, pada bab nama-nama generasi pertama Syi’ah yang mengarang  kitab, mengatakan: “Ali ibn Abu Rafi’e adalah seorang tabi’in dari Syi’ah yang soleh yang bersahabat dekat dengan Amiril Mukminin  Ali ibn Abi Thalib a.s. Ia juga sekretaris beliau dan menghafal banyak hal dan menyusun sebuah kitab yang menghimpun pelbagai bab Fiqih, seperti Wudhu, Shalat, dan bab-bab hukum lainnya. Lalu ia menyambungkan sanadnya sampai ke Ali ibn Abi Thalib a.s.

Dan saudara Ali ibn Abu Rafi’e bernama Ubaidillah ibn Abu Radfi’e adalah sekretaris Ali ibn Abi Thalib a.s. Ia mengarang kitab Kitabul Qodho Amiril Mu’minin dan kitab Tasmiyatu Man Syahida ma’a Amiril Mu’minin Al-Jamala wash Shiffin wan Nahrawan minal Shohabah (kitab yang mencatat nama-nama para sahabat yang ikut bertempur bersama Imam Ali a.s. di perang Jamal, Shiffin dan Nahrawan, pent.). Sebagaimana disebutkan di dalam kitab Al-Fehrest Syeikh Abu Ja’far Ath-Thusi dan di At-Taqrib karya Ibnu Hajar, bahwa Ubaidillah adalah sekretaris Ali ibn Abi Thalib dan perawi yang terpercaya.

Selain dua bersaudara di atas, adalah Ashbagh ibn Nubatah Al-Majasyi’ie. Ia sahabat khusus Amiril Mukminin Ali ibn Abi Thalib a.s. dan berumur panjang hingga masih hidup setelah wafatnya Ali ibn Abi Thalib. Ashbagh telah meriwayatkan surat Ali ibn Abi Thalib tentang pelantikan Malik Al-Asytar sebagai gubernur Mesir. An-Najasyi berkata: “Surat itu adalah surat yang amat masyhur, juga sebagai wasiat Imam Ali ibn Abi Thalib kepada putranya yang bernama Muhammad ibn Hanafiyah.” Syeikh Abu Ja’far Ath-Thusi menambahkan dalam Al-Fehrest, bahwa Ashbagh ibn Nubatah juga mempunyai kitab Maqtalul Husein ibn Ali, yang darinya Ad-Dauri telah meriwayatkan.

Lalu di antara mereka ialah Sulaim ibn Qois Al-Hilali Abu Shadiq, sahabat dekat Ali ibn Abi Thalib. Ia menulis kitab yang sangat bagus. Di dalamnya ia meriwayatkan hadis-hadis dari Imam Ali ibn Abi Thalib, Salman Al-Farisi, Abu Dzar Al-Ghifari, Miqdad, Ammar ibn Yasir, dan sekelompok dari sahabat besar Nabi saw.

Syeikh Imam Abu Abdillah An-Nu’mani, yang perihal dirinya telah diulas pada pasal tokoh-tokoh tafsir terdahulu, di dalam kitab Al-Ghaibah, tepatnya setelah menukil sebuah hadis dari kitab Sulaim ibn Qois, mengatakan: “Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama dan perawi kaum Syi’ah tentang bahwa kitab Sulaim ibn Qois adalah salah satu kitab induk yang banyak dinukil hadis dan riwayatnya oleh para ulama dan perawi hadis Ahlul Bait. Dan kitab itu merupakan kitab rujukan kaum Syi’ah.” Sulaim ibn Qois wafat di awal pemerintahan Hajjaj ibn Yusuf di kota Kufah.

Lalu di antara mereka ialah Maitsam ibn Yahya Abu Soleh At-Tammar. Ia adalah salah satu sahabat dekat Amiril Mukminin Ali ibn Abi Thalib a.s. dan pemegang rahasia-rahasia beliau. Maitsam menulis kitab yang bagus mengenai hadis. Syeikh Abu Ja’far Ath-Thusi, Syeikh Abu Amr Al-Kisyi dan Ath-Thabari di dalam Bisyarotul Musthafa, banyak menukil hadis dari kitab Maitsam ini. Maitsam wafat di Kufah karena dibunuh oleh Ubaidillah ibn Ziyad lantaran kesyi’ahannya.

Lalu di antara mereka ialah Muhammad ibn Qois Al-Bajali. Ia mengarang sebuah kitab yang diriwayatkan dari Amiril Mukminin Ali ibn Abi Thalib a.s. Para tokoh tabi’in Syi’ah telah menyebutkan kitab tersebut. Mereka juga banyak meriwayatkan hadis-hadis darinya. Adapun Syeikh Abu Ja’far Ath-Thusi di dalam Al-Fehrest dari Ubaid ibn Muhammad ibn Qois mengatakan: “Saya mengajukan kitab ini kepada Abu Ja’far Imam Muhammad Al-Baqir a.s., lalu beliau berkata: ‘Kitab ini adalah perkataan Ali ibn Abi Thalib a.s.’. Dan di awal-awal kitab itu, diriwayatkan bahwa jika seseorang hendak melakukan shalat, katakanlah di awal shalatnya… Begitu selanjutnya hingga akhir kitab.”

Ya’la ibn Murroh mempunyai satu naskah kitab itu yang diriwayat-kannya dari Ali ibn Abi Thalib a.s. An-Najasyi di dalam Al-Fehrest telah membawakan sanad kesaksian atas keberadaan naskah tersebut dari Ya’la.

Lalu di antara mereka ialah Ibnul Hurr Al-Ja’fi. Ia seorang tabi’in Kufah dan penyair Persia. Ia memiliki sebuah naskah hadis yang diriwayatkan dari Amiril Mukminin Ali ibn Abi Thalib a.s. Al-Ja’fi wafat di masa kekuasaan Al-Mukhtar. An-Najasyi telah menempatkannya dalam jajaran  pertama dari tokoh-tokoh pengarang Syi’ah.

Lalu di antara mereka ialah Tabi’ah ibn Sami’ie. Ia menulis sebuah kitab tentang bab zakat. An-Najasyi menyebutkan nama ini di generasi pertama dari tokoh-tokoh pengarang Syi’ah. Ia termasuk dari kaum tabi’in.

Lalu Harts ibn Abdillah Al-A’war, dari kota Hamadan. Ia termasuk sahabat Ali ibn Abi Thalib a.s. Harts meri-wayatkan pelbagai permasalahan yang disampaikan oleh Imam Ali a.s. kepada seorang Yahudi, kemudian Ammar ibn Abil Miqdad meriwayatkannya dari Abi Ishaq As-Sami’ie yang ia sendiri meriwayatkannya dari Harts Al-A’war, dan yang terakhir ini meriwayatkan dari Ali ibn Abi Thalib a.s., sebagaimana yang termaktub di dalam Al-Fehrest karya Syeikh Abu Ja’far Ath-Thusi. Harts wafat pada masa kekuasaan Ibnu Zubeir.

Namun, Syeikh Rasyiduddin Ibn Syahrasyub di awal kitabnya, Ma’alimul ‘Ulama’, membawakan sebuah daftar kitab mengenai jawaban yang disampaikan oleh Al-Ghazzali, bahwa kitab pertama yang dikarang di dalam Islam ialah kitab Ibnu Juraij tentang hadis dan tafsir huruf-huruf dari Mujahid dan ‘Atha’ di Mekkah, lalu kitab Mu’ammar ibn Rafi’e Ash-Shan’ani di Yaman, lalu kitab Al-Muwaththa’ karya Malik ibn Anas, lalu kitab Al-Jami’e karya Sufyan Ats-Tsauri.

Kemudian Ibnu Syahrasyub mengatakan: “Namun yang benar ialah bahwa orang pertama yang mengarang kitab di bidang ini dalam Islam ialah Amiril Mukiminin Ali ibn Abi Thalib lalu Salman Al-Farisi, lalu Abu Dzar Al-Ghifari, lalu Ashbagh ibn Nubatah, lalu Ubaidillah ibn Abu Ra’fi’e, lalu Shohifah Kamilah Sajjadiyyah dari Imam Ali Zainal Abidin a.s.”

Syeikh An-Najasyi menyatakan bahwa generasi pertama adalah para pengarang, sebagaimana telah disebutkan, tanpa menerangkan siapa yang lebih dahulu, juga tidak menjelaskan urutan-urutan mereka. Begitu pula Syeikh Abu Ja’far Ath-Thusi menyebutkan nama-nama mereka tanpa menerangkan urutan yang tegas. Mungkin Ibnu Syahrasyub telah menemukan sesuatu yang tidak mereka temukan.

Sebuah catatan di akhir pasal ini ialah bahwa Al-Jahidz Adz-Dzahabi tatkala menyinggung riwayat hidup Aban ibn Taghlab, memberikan kesaksian bahwa mazhab Syi’ah di kalangan tabi’in dan generasi setelah tabi’in amat berkembang dan dikenal dengan ketaatan, warak dan kejujuran. Lalu mengatakan: “Jika ucapan-ucapan mereka itu ditolak, maka akan banyak hadis-hadis Nabi saw. yang tercampakkan. Ini sebuah konsekuensi yang jelas keliru dan merugikan.”

Saya katakan, renungkanlah kesaksian Al-Jahidz ini, dan ketahuilah kemuliaan pada kepeloporan nama-nama mereka yang telah kami bawakan di sini dan nama-nama yang akan kami sebutkan setelah ini, yaitu dari kaum tabi’in Syi’ah dan generasi Syi’ah setelah mereka.

Pasal Keempat

Tentang Orang Pertama Penghimpun Hadis di Pertengahan Abad Kedua

Dari kaum Syi’ah yang menyusun kitab-kitab, pokok-pokok akidah dan perincian hukum-hukum yang diriwayatkan dari jalur Ahlul Bait adalah mereka yang hidup di masa-masa orang yang disebutkan berkenaan dengan orang pertama yang mengumpulkan riwayat dari kalangan Ahli Sunnah. Mereka meriwayatkan hadis-hadis dari Imam Ali Zainal Abidin a.s. dan dari putranya; Imam Muhammad Al-Baqir a.s. Di antara mereka adalah Aban bin Taghlab. Ia telah meriwayatkan tiga puluh ribu hadis dari Imam Ja’far Ash-Shadiq a.s.

Ada pula Jabir ibn Yazid Al-Ja’fi yang meriwayatkan tujuh puluh ribu hadis dari Imam Muhammad Al-Baqir a.s., dari ayah-ayah beliau hingga Nabi saw. Jabir mengatakan: “Aku memiliki lima puluh ribu hadis yang belum aku sampaikan. Semuanya dari Nabi saw. dari jalur Ahlul Bait a.s.”

Terdapat nama-mana lain yang melakukan penghimpunan dan periwayatan hadis sebanyak di atas tadi, seperti Abu Hamzah, Zurarah ibn A’yan, Muhammad ibn Muslim Ath-Thaifi, Abu Bashir Yahya ibn Al-Qosim Al-Asadi, Abdul Mu’min ibn Al-Qosim ibn Qois ibn Muhammad Al-Anshari, Bassam ibn Abdullah Ash-Shairafi, Abu Ubaidah Al-Hidzaie Ziyad ibn Isa Abu Raja’ Al-Kufi, Zakaria ibn Abdullah Al-Fayyad Abu Yahya, Jahdar ibn Al-Mughirah Ath-Thaie, Hajar ibn Zaidah Al-Hadhrami Abu Abdillah, Muawiyah ibn Ammar ibn Abi Muawiyah, Khabbab ibn Abdillah, Al-Mutthalib Az-Zuhri Al-Qurasyi Al-Madani, dan Ab-dullah ibn Maimun ibn Al-Aswad Al-Qoddah. Saya telah singgung kitab dan riwayat hidup mereka masing-masing di dalam Ta’sisusy Sy’ah li Fununil Islam.

Sementara itu, Tsaur ibn Abu Fakhitah Abu Jaham telah meriwayatkan hadis-hadis dari sekelompok sahabat Nabi saw. Dan ia memiliki sebuah kitab yang masih utuh dari Imam Muhammad Al-Baqir a.s.

Pasal Kelima

Tentang Orang Pertama dari Kaum Syi’ah yang Menyusun Kitab Hadis Setelah Pertengahan Abad Kedua

Terdapat sekelompok sahabat Imam Ja’far Ash-Shadiq a.s. yang meriwayatkan hadis dari beliau dan menghimpunnya ke dalam empat ratus kitab dengan judul Al-Ushul. Syeikh Imam Abu Ali Al-Fadhl ibn Al-Hasan Ath-Thabarsi dalam kitabnya, A’lamul Wara’, mengatakan: “Dinukil secara hampir mutawatir oleh banyak kalangan, bahwa orang-orang yang meriwayatkan hadis dari Imam Ja’far Ash-Shadiq a.s. adalah mereka yang tergolong dari tokoh-tokoh besar yang jumlah mereka mencapai empat ribu. Lalu, mereka menyusun hadis-hadis tersebut ke dalam empat ratus kitab yang dikenal di tengah kaum Syi’ah dengan nama Al-Ushul. Kemudian, kitab ini diriwayatkan oleh sabahat-sahabat Imam Ash-Shadiq a.s. dan oleh para sahabat putra beliau; Imam Al-Kadzim a.s.”

Abul Abbas Ahmad ibn ‘Uqdah telah menulis sebuah buku terpisah dengan judul Kitabu Rijali Man Rowa ‘an Abi Abdillah Ash-Shadiq. Kitab ini secara khusus menghimpun nama-nama mereka yang meriwayatkan hadis dari Imam Ja’far Ash-Shadiq a.s. Bahkan, Syeikh Abu Ja’far Ath-Thusi menyebutkan dan menghitung karangan-karangan mereka masing-masing dalam bab ‘Ashabu Abi Abdillah Ash-Shadiq’ dari kitabnya;  Ar-Rijal, yaitu kitab yang disusun menurut nama-nama sahabat setiap dua belas imam a.s.

Pasal Keenam

Tentang Jumlah Kitab yang Dikarang oleh Orang Syi’ah tentang Hadis dari Jalur  Ahlul Bait,

Sejak Masa Imam Ali bin Abi Thalib Sampai Masa Imam Hasan Al-Askari a.s.

Ketahuilah bahwa jumlah kitab-kitab itu melampaui angka 6600, sebagaimana yang dicatat oleh Syeikh Al-Jahidz Muhammad ibn Al-Hasan Al-Hurr, penulis Al-Wasail, dan ia menyatakan jumlah tersebut secara tegas pada bab keempat dari kitabnya yang besar tentang hadis, yaitu Wasailusy Syi’ah ila Ahkamisy Syari’ah. Tentang semua ini, saya juga telah membawakan data-data yang menguatkan jumlah di atas tadi dalam kitab saya yang berjudul Nihayatud Dirayah fi Ushuli Ilmil Hadis.

Pasal Ketujuh

Tentang Generasi Berikut yang Menjadi Tokoh Ilmu Hadis dan Penyusun Kitab-kitab Induk yang Hingga Kini Merupakan Rujukan Hukum-hukum Syar’ie Kaum Syi’ah

Ketahuilah bahwa tiga Muhammad pertama adalah tokoh terdepan dalam penyusunan empat kitab induk hadis. Yang   pertama ialah Muhammad ibn Ya’qub Al-Kulaini, penyusun kitab Al-Kafi. Ia wafat pada 328 H. Di dalam kitab tersebut, Al-Kulaini telah mencatat sebanyak 16099 hadis beserta sanad-sanadnya.

Kedua ialah Muhammad ibn Ali ibn Al-Husein ibn Musa ibn Babaweih Al-Qummi yang wafat pada tahun 381 H. Ia dikenal juga dengan panggilan nasab Abu Ja’far Ash-Shaduq. Ia telah menyusun 1400 kitab tentang ilmu hadis. Yang terbesar di antara kitab-kitab Ash-Shaduq adalah kitab  Man La Yahdhuruhul Faqih yang memuat 9044 hadis menge-nai hukum-hukum syariat dan sunah-sunah.

Ketiga adalah Muhammad ibn Al-Hasan Ath-Thusi yang terkenal dengan gelar Syeikh Ath-Thoifah. Ia telah menulis kitab Tahdzibul Ahkam, dan menyusunnya ke dalam 393 bab, dan mencatat hadis sebanyak 13590. Kitab Ath-Thusi lainnya adalah Al-Istibshor yang memuat 920 bab sehingga mencakup 5511 hadis. Inilah empat kitab induk yang menjadi rujukan utama kaum Syi’ah.

Kemudian tibalah peran tiga Muhammad terakhir yang juga tergolong sebagai tokoh kitab induk hadis. Pertama ialah Imam Muhammad Al-Baqir ibn Muhammad At-Taqie. Ia terkenal dengan nama Al-Majlisi. Kitab besar yang ditulis Al-Majlisi adalah kitab Biharul Anwar; fil Ahaditsil Marwiyyah ‘anin Nabi wal Aimmah min Alihil Ath-har. Kitab ini disusun sebanyak 26 jilid tebal. Dapat dikatakan bahwa kitab ini telah menjadi pegangan kaum Syi’ah. Sebab, tidak ada kitab induk hadis yang paling lengkap selain kitab Biharul Anwar. Sehingga Tsiqotul Islam Allamah An-Nurie menulis sebuah kitab yang berjudul Al-Faidhul Qudsi fi Ahwalil Al-Majelisi dan dicetak di Iran, yakni sebuah kitab yang secara khusus mengulas ihwal kehidupan Al-Majlisi.

Kedua ialah Muhammad ibn Murtadha ibn Mahmud, seorang tokoh besar ilmu hadis dan guru utama di dua bidang ilmu aqli dan naqli. Ia lebih dikenal dengan nama Muhsin Al-Kasyani dan julukan ‘Al-Faydh’. Kitab hadis yang ditulis olehnya berjudul Al-Wafi fi Ilmil Hadis, yang ketebalannya mencapai 14 jilid, dan setiap jilidnya merupa-kan kitab tersendiri. Kitab Al-Wafi menghimpun hadis-hadis yang tercatat di dalam empat kitab induk terdahulu berke-naan dengan akidah, hukum syariat, akhlak dan sunah-sunah. Usia Muhsin Al-Kasyani mencapai 84 tahun dan wafat pada tahun 1091 H. Dalam usainya yang panjang itu, ia telah mengarang kurang lebih dua ratus kitab dari pelbagai bidang ilmu.

Ketiga ialah Muhammad ibn Al-Hasan Al-Hurr Asy-Syami Al-‘Amili Al-Masyghari, seorang ulama hadis yang mayshur di kalangan ahli hadis dengan gelar Syeikhusy Syuyukh (guru para guru). Ia menulis kitab Tafshil Wasailsy Syi’ah ila Tahshil Ahadits Asy-Syari’ah, dan penyusunannya mengacu pada kitab-kitab Fiqih.

Di antara kitab-kitab induk hadis, kitab hadis Al-‘Amili ini tergolong sebagai kitab yang paling  banyak diakses oleh ulama. Di dalamnya telah tercatat hadis-hadis yang dinukil dari 80 kitab induk hadis, 70 dari jumlah itu dinukil dengan perantara, dan dicetak berkali-kali di Iran. Bisa dikatakan bahwa kaum Syi’ah sekarang lebih berkutat pada kitab ini. Muhammad Al-‘Amili dilahirkan pada bulan Rajab 1033 dan wafat pada tahun 1204 H. di Thus-Khurasan (sebuah propinsi di bagian barat Iran)

Dan Syeikh Allamah Tsiqotul Islam Al-Husein ibn Allamah An-Nurie telah menghimpun hadis-hadis yang tidak dicatat oleh penulis Wasailusy Syi’ah, dan menyu-sunnya di dalam sebuah kitab berjilid berdasarkan susunan bab-bab kitab Wasailusy Syi’ah, dan meletakkan judul Mustadrokul Wasail wa Mustanbatul Masail padanya. Secara umum, kitab ini bentuk lain dari kitab Wasailusy Syi’ah. Dan dapat dikatakan bahwa kitab Syeikh An-Nurie ini meru-pakan kitab hadis Syi’ah yang paling besar, di mana Syeikh telah menyelesaikannya pada tahun 1319 H. Ia wafat pada 28 Jumadil Akhir 1320 H.

Dan masih banyak kitab-kitab induk hadis yang disusun oleh ulam-ulama besar hadis Syi’ah. Di antaranya ialah kitab Al-‘Awalim sebanyak 100 jilid, karya seorang ahli hadis yang tersohor bernama Syeikh Abdullah ibn Nurullah Al-Bahrani. Ia hidup semasa dengan Allamah Al-Majlisi, pengarang kitab Biharul Anwar yang telah kami singgung di atas tadi.

Selain Al-‘Awalim adalah kitab Syarhul Istabshor fi Ahaditsul Aimmatil Athhar yang disusun Syeikh Qosim ibn Muham-mad ibn Jawad ke dalam beberapa jilid besar, mirip dengan kitab Biharul Anwar. Syeikh Qosim dikenal dengan panggilan Ibnu Al-Wandi dan panggilan Faqih Al-Kadzimi. Ia hidup semasa dengan Syeikh Muhammad ibn Al-Hasan Al-Hurr; pengarang kitab Wasailusy Syi’ah sebagaimana telah dising-gung. Syeikh Qosim adalah salah seorang murid utama  datuk saya, Allamah Sayyid Nuruddin; saudara Sayyid Muhammad pengarang kitab Al-Madarik.

Selain itu adalah kitab Jami’ul Akhbar fi Idhohil Istibshor. Kitab ini tergolong kitab hadis yang besar yang disusun ke dalam banyak jilid oleh Syeikh Allamah Abdullatif ibn Ali ibn Ahmad ibn Abu Jami’ Al-Haritsi Al-Hamadani Asy-Syami Al-‘Amili. Ia menimba ilmu dari Syeikh Al-Hasan ibn Abu Mansur ibn Asy-Syahid Syeikh Zainuddin Al-‘Amili, penulis kitab Al-Ma’alim dan Al-Muntaqo, dan salah seorang ulama abad keepuluh Hijriyah.

Selain itu adalah kitab induk besar yang berjudul Asy-Syifa fi Hadis Alil Mushtafa. Kitab ini mencakup beberapa jilid tebal, disusun oleh seorang ulama peneliti hadis yang ulung, yaitu Syeikh Muhammad Ar-Ridha, putra seorang ahli fiqih; Syeikh Abdullatif At-Tabrizi. Ia telah menuntaskan penulisan kitab tersebut pada tahun 1158 H.

Selain itu adalah kitab Jami’ul Ahkam yang tercetak hingga mencapai 25 jilid besar, disusun oleh Allamah Abdullah ibn Sayyid Muhammad Ar-Ridha Asy-Syubbari Al-Kadzimi. Pada masa itu, ia dikenal sebagai guru besar kaum Syi’ah dan penulis unggul. Dapat dikatakan bahwa setelah era Allamah Al-Majlisi, tidak ada ulama yang mengarang kitab lebih banyak daripada karya-karyanya. Sayyid Muhammad Ar-Ridha wafat di Kadzimain pada tahun 1242 H.

Pasal Kedelapan

Kepeloporan Kaum Syi’ah dalam Menggagas Ilmu Dirayah dan Membaginya ke Beberapa Cabang Utama

Orang pertama yang memulai perintisan dan penggagasan ilmu ini ialah Abu Abdillah Al-Hakim yang lahir di Naysabur (Khurasan-Iran). Nama lengkapnya adalah Muhammad ibn Abdullah. Ia wafat pada 405 H. Semasa hidupnya, Al-Hakim telah mengarang sebuah kitab yang berjudul Ma’rifatu Ulumil Hadis setebal lima jilid, lalu membagi ilmu-ilmu hadis ke lima puluh cabang.

Kitab Kasyful Dzunun telah menyatakan kesaksiannya atas kepeloporannya dalam penggagasan ilmu Dirayah, dan mengatakan: “Orang pertama yang memulai penggagasan dan pembagian ilmu Hadis ialah Muhammad ibn Abdullah dari Naysabur, kemudian diikuti oleh Ibnu Ash-Shalah.”

Sementara itu, Al-Jahidz As-Suyuthi menyebutkan dalam kitab Al-Wasail fil Awail, bahwa orang pertama yang menyu-sun macam-macam ilmu Hadis dan membaginya menjadi beberapa cabang yang masih dikenal sampai sekarang ialah Ibnu Ash-Shalah. Ia wafat pada tahun 643 H.

Data ini tidaklah bertentangan dengan apa yang baru saja kami bawakan. Sebab, Al-Jahidz hendak menyebutkan orang pertama yang mengerjakan hal itu dari kaum Ahli Sunnah, sedangkan Abu Abdillah Al-Hakim adalah seorang Syi’ah berdasarkan kesepakatan para ulama Ahli Sunnah dan Syi’ah. Syeikh As-Sam’ani di dalam Al-Ansab, Syeikh Ahmad ibn Taimiyah dan Al-Jahidz Adz-Dzahabi di dalam Tadzkirotul Huffadz telah menyatakan secara tegas kesyi’ahan Al-Hakim.

Bahkan dalam Tadzkirotul Huffadz, misalnya, Adz-Dzahabi menuturkan kesaksian Ibnu Thahir yang mengatakan: “Aku bertanya kepada Abu Ismail Al-Anshari perihal Al-Hakim. Ia berkata: ‘Ia adalah perawi yang terpercaya di bidang hadis dan seorang Syi’ah yang penyimpang’”. Lalu Adz-Dzahabi mengatakan: “Lalu Ibnu Thahir berkata: ‘Abu Abdillah Al-Hakim adalah seorang syi’ah yang fanatik dalam taqiyah-nya, namun ia menampakkan kesunniannya dalam permasalahan khilafah dan khalifah pertama setelah Nabi saw. Ia berseberangan dengan Muawiyah dan sanak keluarganya seraya menampakkan pengakuannya pada mereka; suatu hal yang tidak bisa diterima pendiriannya ini.’”

Pada hemat saya, ulama-ulama kami, Syi’ah, juga telah menyatakan kesaksian mereka atas kesyi’ahan Abu Abdillah Al-Hakim, seperti Syeikh Muhammad ibn Al-Hasan Al-Hurr di akhir-akhir kitab Wasailusy Syi’ah. Di dalam Ma’alimul Ulama di bab ‘Al-Kuna’, ia menukil dari Ibnu Syarasyub yang menilai Al-Hakim sebagai salah seorang pengarang Syi’ah, dan ia memiliki kitab tentang keutamaan-keutamaan Ahlul Bait serta sebuah kitab khusus tentang keutamaan-keutamaan Imam Ar-Ridha a.s. Mereka juga menyebutkan sebuah kitabnya khusus berkenaan dengan keutamaan-keutamaan Fatimah Az-Zahra a.s.

Bahkan, Abdullah Afandi telah menerangkan riwayat hidup Al-Hakim secara rinci dalam kitabnya; Riyadul ‘Ulama, di bagian pertama yang secara khusus membahas Syi’ah Imamiyah. Begitu juga, Afandi menyebutkan nama-nya dan memberikan kesaksian atas kesyi’ahannya di bab ‘Al-Alqob’ dan di bab ‘Al-Kuna’. Di dalam kitab itu, ia menyebutkan dua kitab Al-Hakim yang berjudul Ushul Ilmil Hadis dan Al-Makhal ila Ilmish Shohih. Afandi mengatakan: “Dan Al-Hakim telah mencatat hadis-hadis tentang Ahlul Bait yang tidak termaktub di dalam Shahih Al-Bukhari, seperti hadis ‘Ath-Thoirul Masywi’ dan hadis ‘Man Kuntu Maulahu.’”

Setelah Abu Abillah Al-Hakim, terdapat sekelompok tokoh ilmu Hadis dari kaum Syi’ah yang mengarang di bidang Dirayah. Di antara mereka ialah Sayyid Jamaluddin Ahmad ibn Thawus Abul Fadhail. Dialah peletak istilah-istilah hadis Syi’ah Imamiyah berkenaan dengan pembagian hadis kepada empat macam; shahih, hasan, muwatssaq dan dzaif. Ibnu Tawus wafat pada tahun 673 H.

Dan di antara mereka ialah Sayyid Allamah Ali ibn Abdul Hamid Al-Hasani. Ia mengarang kitab Syarh Ushul Dirayatul Hadis. Ia juga melaporkan dari Syeikh Allamah Al-Hilli ibn Al-Muthahhar dan Syeikh Zainuddin yang masyhur dengan gelar Syahid Tsani (sang syahid kedua), sebuah kitab bernama Ad-Dirayah fi Ilmid Dirayah dan syarahnya yang berjudul Ad-Dirayah.

Dan di antara mereka ialah Syeikh Al-Husein ibn Abdul Shomad Al-Haritsi Al-Hamadani; pengarang kitab Wushulul Akhyar ila Ushulil Akhbar, Syeikh Abu Mansur Al-Hasan ibn Zainudin Al-‘Amili; pengarang kitab Muqod-dimatul Muntaqo dan Ushul Ilmil Hadis, dan Syeikh Bahauddin Al-‘Amili pengarang kitab Al-Wajizah fi Ilmi Diroyahtul Hadis. Saya telah menyarahi kitab terakhir ini dalam sebuah kitab yang saya namai dengan judul Syarah Nihayatud Dirayah, dan dicetak di India sampai menjadi kurikulum di sekolah-sekolah pen-didikan agama.

Pasal Kesembilan

Tentang Orang Pertama yang Menyusun Ilmu Rijal dan Riwayat Hidup Para Perawi

Ketahuilah bahwa Abu Abdillah Muhammad ibn Khalid Al-Barqi Al-Qummi adalah seorang sahabat Imam Musa ibn Ja’far Al-Kadzim a.s., sebagaimana Syeikh Abu Ja’far Ath-Thusi mencatat hal ini di dalam kitab Ar-Rijal. Dan Abul Faraj Ibnu Nadim di dalam Al-Fehrest, di awal bagian kelima pasal keenam mengenai riwayat tokoh-tokoh fiqih Syi’ah menyebutkan karya Al-Barqi di bidang ilmu Rijal. Di sana ia mengatakan: “Dan di antara karya-karya Al-Barqi adalah Al-‘Awidh, At-Tabshiroh dan Ar-Rijal. Di dalam kitab terakhir ini, ia menyebutkan nama-nama yang meriwayatkan hadis-hadis dari Amiril Mukminin Ali bin Abi Thalib a.s.”

Setelah Al-Barqi ialah Abu Muhammad Abdullah ibn Jablah ibn Hayyan ibn Abhar Al-Kinani. Ia mengarang kitab Ar-Rijal. Abdullah Al-Kinani berusia panjang dan wafat pada tahun 219 H.

As-Suyuthi dalam Al-Awail mengatakan: “Orang pertama yang membahas ilmu Rijal ialah Syu’bah.” Jelas, bahwa Syu’bah datang setelah Abdullah ibn Jablah, karena yang pertama wafat pada tahun 260 H. Bahkan setelah Abdullah ibn Jablah dan sebelum Syu’bah, terdapat sahabat Imam Al-Jawad a.s. yang bernama Abu Ja’far Al-Yaqthini. Ia menulis Kitabur Rijal, sebagaimana yang dicatat oleh An-Najasyi di dalam Al-Fehrest dan Ibnu Nadim di dalam Al-Fehrest.

Saya bubuhkan di sini, bahwa Abu Abdillah Muhammad ibn Khalid Al-Barqi juga seorang sahabat imam Ahlul Bait, yaitu Imam Musa Al-Kadzim a.s. dan Imam Ali Ar-Ridha a.s. Bahkan, ia juga sempat menjumpai Imam Muhammad Al-Jawad a.s. Kitab Al-Barqi masih terjaga utuh dan tersedia sampai sekarang. Di dalamnya disebutkan nama perawi-perawi yang meriwayatkan hadis dari Ali bin Abi Thalib a.s. dan perawi-perawi setelah mereka. Kitab itu juga memuat tema penting Rijal mengenai Al-Jarah wat Ta’dil (penilaian kritis atas ihwal kehidupan para perawi), sebagaimana yang juga dibahas oleh semua kitab Rijal.

Lalu, Abu Ja’far Ahmad ibn Muhammad ibn Khalid Al-Barqi yang mengarang kitab Ar-Rijal dan kitab Ath-Thabaqot. Abu Ja’far wafat pada tahun 274 H.

Lalu, Syeikh Abul Hasan Muhammad ibn Ahmad ibn Dawud ibn Ali Al-Qummi yang dikenal juga dengan Ibnu Dawud; seorang ulama terkemuka Syi’ah. Ia mengarang kitab Al-Mamduhin wal Madzmumin minar Ruwat, dan wafat pada tahun 368 H.

Lalu, Syeikh Abu Ja’far Muhammad ibn Babaweih Ash-Shoduq yang mengarang kitab Ma’rifatur Rijal dan Kitabur Rijalil Mukhtarin min Ashabin Nabi saw. Ia wafat pada tahun 381 H.

Lalu, Syeikh Abu Bakar Al-Ji’ani yang dinyatakan oleh Ibnu Nadim bahwa ia merupakan salah seorang ulama besar Syi’ah. Al-Ji’ani mengarang kitab Asy-Syi’ah min Ashabil Hadits wa Thabaqotuhum. Tentang kitab ini, An-Najasyi mengatakan bahwa kitab itu dikarang dalam ukuran besar.

Lalu, Syeikh Muhammad ibn Baththah yang mengarang kitab Asma’ Mushannifisy Syi’ah, dan wafat pada tahun 274 H.

Lalu, Syeikh Nashr ibn Ash-Shabah Abul Qosim Al-Balkhi; guru Syeikh Abu Amr Al-Kasyi. Ia mengarang kitab Ma’ri-fatun Naqilin min Ahlil Miah Tsalitsah. Ia wafat pada tahun pada abad ketiga Hijriyah.

Lalu, Ali ibn Al-Hasan ibn Fidhal; pengarang kitab Ar-Rijal. Ia berada di generasi sebelum Syeikh Nashr Al-Balkhi.

Lalu, Sayyid Abu Ya’la Hamzah ibn Al-Qosim ibn Ali ibn Hamzah ibn Al-Hasan ibn Ubaidilah ibn Al-Abbas ibn Ali ibn Abu Thalib a.s., yang mengarang kitab Man Rowa ‘an Ja’far ibn Muhammad minar Rijal. An-Najasyi mengatakan: “Kitab ini bagus, dan At-Tal’akbari meriwayatkan sertifikat pengakuan dan pengesahan darinya”. Hamzah ibn Qosim adalah ulama Syi’ah abad ketiga Hijriyah.

Lalu, Syeikh Muhammad ibn Al-Hasan ibn Ali Abu Abdillah Al-Maharibi yang menyusun kitab bagus yang berjudul Ar-Rijal min Ulama Tsalitsah.

Lalu, Al-Musta’thof Isa ibn Mehran; pengarang Kitabul Muhadditsin. Isa termasuk ulama terdahulu Syi’ah, demikian dicatat oleh Syeikh Ath-Thusi di dalam Al-Fehrest.

Berikutnya, di dalam kitab Ta’sisusy Syi’ah li Fununil Islam, saya telah mengulas karangan-karangan Syeikh Ath-Thusi, An-Najasyi, Al-Kasyi, Allamah ibn Al-Muthahhar Al-Hilli, Ibnu Dawud dan generasi-generasi yang mengarang kitab tentang ilmu Rijal. Dan hingga kini, semua karya mereka masih menjadi rujukan dalam upaya menilai kualitas pribadi para perawi (Al-jarah wa Ta’dil).

Perlu dibubuhkan di sini, bahwa Abul Faraj Al-Qannani Al-Kufi; guru An-Najasyi, mempunyai karangan di bidang ini, berjudul Kitab Mu’jam Rijalil Mufadhal, dan menyusunnya sesuai dengan urutan huruf Hijaiyah

.

Hadith Dan Kedudukannya Dalam Madzhab Syiah
Para Imam adalah seperti serangkaian cahaya yang memancar dari “Matahari Kenabian” dan tidak pernah terpisah dari Matahari itu. Sedangkan Matahari itu merupakan asal-usul serangkaian cahaya itu. Apa pun yang mereka katakan berasal dari khazanah kearifan itu karena mereka merupakan suatu rantai dari realitas batiniah Rasulullah Saww, maka sebenarnya kata-kata merupakan kata-kata Nabi Saww. Itu sebabnya sabda-sabda mereka dipandang oleh Syiah sebagai suatu kesinambungan dari sabda-sabda Nabi, tepat seperti cahaya kemaujudan mereka dipandang sebagai kelanjutan cahaya kenabian. Dalam pandangan Syiah, keterpisahan sementara para Imam dari Nabi Saww sama sekali tidak mempengaruhi ikatan zat dan batiniah mereka dengan Nabi Saww, ataupun kelanjutan “cahaya kenabian yang merupakan sumber pengetahuan ilhami Nabi sendiri dan para Imam. 

 Hadith Dan Kedudukannya Dalam Madzhab SyiahSungguhpun banyak sekali kajian ilmiah telah dilakukan sejak abad ke-19 lagi, serta analisis-analisis dan penterjemahan-penterjemahan telah dibuat terhadap berbagai sumber keislaman, namun sejauh ini sangat sedikit sekali perhatian diberikan kepada himpunan sabda, khutbah, doa, ungkapan dan pengajaran keagamaan Syiah Imamiyyah. Memang benar, banyak dari kandungan himpunan hadith Syiah sama dengan kandungan dari kandungan himpunan hadith Ahlus Sunnah. Dengan demikian, jika himpunan hadith Ahlus Sunnah dikaji, maka himpunan hadith Syiah pun secara langsung telah tergarap. Mengingat bahwa hadith-hadith syiah memiliki bentuk, gaya, dan bauan khas, maka kajian tidak langsung terhadap kandungannya tidak akan dapat menggantikan kedudukan penterjemahan dan kajian langsung terhadap hadith-hadith itu sendiri.

Memang agak mengherankan, sungguhpun hadith-hadith Syiah mempunyai kedudukan yang penting sekali dalam perkembangan hukum dan ilmu kalam, maka Syiah maupun banyak bidang ilmu keintelektual (al-‘ululmul aqliyyah), belum lagi peranannya dalam ketaqwaan dan kehidupan rohaniah, hingga kini sabda-sabda para Imam Syiah belum diterjemahkan. Sabda-sabda tersebut juga belum dikaji sebagai suatu himpunan khas sumber ilhami keagamaan dalam konteks umum Islam itu sendiri.

Kepustakaan hadith Syiah mencakup semua sabda Rasulullah Saww dan dua belas Imam, dari Ali bin Abi Talib sampai al-Mahdi. Dengan demikian, setelah al-Qur’an, hadith-hadith ini dipandang sebagai himpunan terpenting nash keagamaan bagi kaum Syiah. Seperti halnya dalam Ahlus Sunnah, bersama-sama al-Qur’an, hadith-hadith ini juga membentuk dasar semua ilmu keagamaan dalam segi intelektual mahupun ibadahnya. Tidak satu pun segi kehidupan dan sejarah kaum Syiah yang dapat dimengerti tanpa mempertimbangkan tulisan-tulisan ini.

Yang khas pada himpunan hadith Syiah adalah, sungguhpun merupakan bagian dari asas Islam, “susunannya” merentang selama lebih dari dua abad. Dalam Ahlus Sunnah, hadith merupakan sabda Rasulullah Saww. Menggunakan istilah hadith dalam Ahlus Sunnah berarti merujuk kepada hanya sabda Rasulullah Saww sedangkan dalam Syiah, sungguhpun hadith Nabi dan hadith para Imam dibedakan dengan jelas, keduanya merupakan satu himpunan yang tunggal. Hal ini bermaksud bahwa dari sudut pandangan tertentu, masa kerasulan dilihat oleh Syiah sebagai merentang melebihi kelaziman masa para rasul yang relatif singkat dalam berbagai agama.

Alasan sudut pandangan ini tentu saja terletak pada konsepsi Syiah tentang Imam. Istilah “imam”, sebagaimana digunakan secara teknis dalam Syiah, berbeza dengan penggunaan umum istilah itu dalam bahasa Arab, yang bermaksud “pemimpin”, atau, dalam teori politik Ahlul Sunnah, yang bermaksud khalifah itu sendiri. Digunakan secara teknis dalam Syiah, istilah itu merujuk kepada orang yang memiliki dalam dirinya “cahaya Muhammad” (al-nur al-Muhammadi) yang diturunkan melalui Fatimah, putri Rasulullah Saww, dan Ali, Imam pertama, kepada Imam-imam lainnya sampai al-Mahdi. Akibat adanya “cahaya” ini, Imam dipandang sebagai “suci” (maksum) dan memiliki pengetahunan sempurna tentang tatanan lahiriah maupun batiniah.

Para Imam adalah seperti serangkaian cahaya yang memancar dari “Matahari Kenabian” dan tidak pernah terpisah dari Matahari itu. Sedangkan Matahari itu merupakan asal-usul serangkaian cahaya itu. Apa pun yang mereka katakan berasal dari khazanah kearifan itu karena mereka merupakan suatu rantai dari realitas batiniah Rasulullah Saww, maka sebenarnya kata-kata merupakan kata-kata Nabi Saww. Itu sebabnya sabda-sabda mereka dipandang oleh Syiah sebagai suatu kesinambungan dari sabda-sabda Nabi, tepat seperti cahaya kemaujudan mereka dipandang sebagai kelanjutan cahaya kenabian. Dalam pandangan Syiah, keterpisahan sementara para Imam dari Nabi Saww sama sekali tidak mempengaruhi ikatan zat dan batiniah mereka dengan Nabi Saww, ataupun kelanjutan “cahaya kenabian yang merupakan sumber pengetahuan ilhami Nabi sendiri dan para Imam.

Konsepsi metafizikal ini merupakan alasan mengapa kaum Syiah menjadikan hadith-hadith para Imam, yang terungkap selama lebih dari dua abab, dengan hadith-hadith Nabi Saww itu sendiri sebagai satu keseluruhan tunggal. Hai ini juga membedakan antara konsepsi Syiah dan Ahlus Sunnah tentang hadith. Sebenarnya kandungan hadith dalam himpunan-himpunan Ahlus Sunnah dan Syiah adalah sangat mirip. Namun keduanya menyoroti realitas rohaniah yang sama. Tentu saja rangkaian perawian yang diterima oleh dua madzhab ini tidaklah sama. Sungguhpun para perawi sabda-sabda Nabi SAWA berbeda, sebenarnya hadith-hadith yang dicatat oleh sumber Ahlus Sunnah dan Syiah banyak sekali persamaannya. Perbedaan utamanya adalah karena Syiah berpandangan bahwa para Imam merupakan kelanjutan dari kewujudan Nabi Saww dan kerana itu sabda-sabda para Imam merupakan pelengkap sabda-sabda Nabi Saww.

Dalam banyak hal, hadith-hadith para Imam bukan saja sebagai kelanjutan tetapi juga sebagai pengulas dan penjelas terhadap hadith-hadith Nabi Saww, dan sering bertujuan menyingkapkan ajaran-ajaran mutasyabihah dalam Islam. Banyak dari hadith-hadith ini, seperti hadith-hadith Nabi Saww, membahas segi-segi praktis kehidupan dan syariat. Dan banyak pula yang membahas metafizika-metafzika murni sebagaimana juga dibahas oleh sebahagian hadith Nabi Saww khususnya hadith-hadith qudsi. Di samping itu hadith-hadith lain para Imam juga membahas sudut-sudut ibadah dan mengandungi beberapa do’a termasyhur yang telah diucapkan selama berabad-abad oleh Ahlus Sunnah maupun Syiah. Sebahagian hadith itu membahas berbagai ilmu batiniah. Dengan demikian, hadith-hadith itu meliputi masalah-masalah duniawi dalam kehidupan seharian dan masalah makna kebenaran itu sendiri. Disebabkan oleh sifat hadith-hadith itu dan juga kenyataan bahawa seperti tasawuf, hadith-hadith itu maujud dari dimensi batiniah Islam,maka hadith-hadith itu telah berbaur selama beradab-abad dengan jenis-jenis tertentu tulisan kesufian. Mereka juga telah dipandang sebagai esoterisisme (kebatinan) Islam oleh kaum sufi, kerana para Imam itu dipandang oleh kaum sufi sebagai kutub-kutub rohaniah, pada masa mereka. Mereka wujud dalam silsilah rohaniah berbagai tarekat kesufian dan malah tarekat-tarekat yang telah tersebar hanya di kalangan kaum Ahlul Sunnah.

Disebabkan oleh karakter kandungan-kandungannya, hadith -hadith ini telah mempengarui hampir setiap cabang ilmu dalam Syiah mahupun kehidupan seharian umat. Fiqh Syiah mendasarkan dirinya langsung pada himpunan hadith ini di samping al-Quran Suci. Teologi Syiah tidak akan dapat dimengerti tanpa mengetahui hadith-hadith ini. Ulasan-ulasan Syiah tentang al-Quran banyak tertumpu pada hadith-hadith itu. Begitu juga ilmu-ilmu kealaman seperti sejarah kealaman atau kimia berkembang dari hadith-hadith itu. Hadith-hadith ini telah menjadi sumber renungan tentang tema-tema metafizikal tertinggi selama berabad-abad. Dan beberapa madzhab metafizikal dan falsafah dalam Islam bersumberkan terutamanya dari hadith-hadith ini. Falsafah keislaman Shadruddin Syirazi (Mulla Shadra) sesungguhnya tidak akan dapat dimengeri tanpa merujuk kepada hadith-hadith Syiah. Salah satu karya terbesar metafizikal Shadruddin adalah ulasannya yang belum selesai tentang sebahagian dari empat hadith pokok terpenting Syiah iaitu al-Kafi oleh al-Kulaini.

Didalam himpunan hadith Syiah terdapat karya-karya tertentu yang perlu dipaparkan secara terpisah. Yang pertama adalah Nahjul Balaghah karya Imam Ali bin Abi Talib yang dihimpun dan disusun oleh ulama Syiah pada abad ke-4H/10M iaitu Sayyid Syarif al-Radhi. Mengingat pentingnya karya ini dalam Syiah mahupun bagi para pencinta bahasa Arab, maka amat menghairankan betapa sedikit sekali perhatian telah diberikan kepadanya. Banyak penulis kenamaan dalam bahasa Arab, seperti Taha Husain dan Kurd Ali menyatakan dalam autobiografi-autobiografi mereka bahwa mereka telah menyempurnakan gaya mereka dalam menulis Arab melalui kajian terhadap Nahjul Balaghah, sementara generasi demi generasi para pemikir Syiah telah merenungkan dan mengulas maknanya. Lagi pula, doa-doa dan ungkapan-ungkapan lebih pendek dari karya ini telah menyebar luas di kalangan umat dan telah masuk ke dalam kepustakaan klasik dan rakyat, bukan saja dalam bahasa Arab, tetapi juga Persia dan melalui pengaruh Persia beberapa bahasa masyarakat Islam yang lainnya seperti Urdu.
Selain memuat nasihat rohaniah, ungkapan-ungkapan moral dan petunjuk-petunjuk politik, Nahjul Balaghah juga mengandung beberapa risalah luar biasa mengenai metafizika, khususnya mengenai masalah Tauhid. Ia memiliki metodologi pemaparan dan kosakata teknis tersendiri yang membedakannya dari berbagai madzhab-Islami metafizika.

Dalam jangka waktu yang lama, para sarjana Barat menolak untuk menerima kesahihannya sebagai karya Ali bin Abi Talib, dan menisbahkannya kepada Sayyid Syarif al-Radhi, sungguhpun gaya karya al-Radhi sendiri sangat berbeda dengan gaya Nahjul Balaghah. Namun demikian sejauh menyangkut sudut pandangan Syiah, kedudukan Nahjul Balaghah dan penulisnya dapat dijelaskan dengan sangat baik melalui suatu percakapan yang terjadi delapan belas atau sembilan belas tahun yang silam antara Allamah Thabatabai dan Henry Cobin ,pernah berkata kepada Allamah Thabatabai selama diskusi-diskusi harian mereka di Teheran.”Sarjana-sarjana Barat menyatakan bahwa Ali bukanlah penulis Nahjul Balaghah. Bagaimana pandangan anda, dan siapakah kiranya menurut anda penulis karya ini?” Allamah Thabathabai mengangkat kepalanya dan menjawab dengan lemah lembut dan tenang sebagaimana biasa,”Bagi kami siapa pun yang menulis Nahjul Balaghah, dialah Ali, meskipun dia hidup seabad yang silam.”

Karya penting kedua dalam himpunan hadith Syiah adalah al-Sahifah al-Sajadiyyah karya Imam Keempat Ali Zainal Abidin, yang digelar al-Sajjad. Sebagai saksi tragedi Karbala yang telah meninggalkan pada jiwanya suatu kesan yang tidak terhapuskan. Imam keempat ini menuangkan kehidupan rohaniahnya dalam suatu simfoni doa-doa indah yang telah menyebabkan Sahifah disebut “Mazmur Ahlul Bayt Rasulullah”. Doa-doa ini membentuk suatu bahagian dari kehidupan keagamaan seharian bukan sahaja kaum Syiah tetapi juga kaum Ahlul Sunnah, yang mendapati doa-doa itu dalam banyak buku pedoman doa termasyhur di kalangan Ahlul Sunnah.

Yang juga penting dalam kehidupan hadith Syiah adalah hadith-hadith Imam kelima, keenam, dan ketujuh. Dari merekalah sejumlah terbesar hadith telah dicatat. Imam-imam ini hidup pada akhir Dinasti Umayyah dan awal Dinasti Abbasiyyah.Pada masa-masa ini, akibat perubahan-perubahan dalam kekhalifahan, kuasa pusat menjadi lemah, sehingga para Imam itu dapat berbicara lebih terbuka, dan juga mendidik lebih banyak murid. Jumlah murid. sama ada Syiah ataupun Sunni, yang dididik oleh Imam keenam, Ja’far al-Sadiq, diperkirakan seramai empat ribu orang. Beliau meninggalkan sejumlah besar hadith yang berkisar dari masalah hukum hinggalah ilmu-ilmu batiniah.

Hadith-hadith Rasulullah dan para Imam tentu saja merupakan suatu sumber tetap renungan dan perbahasan oleh ulama-ulama Syiah di sepanjang masa. Namun khususnya dalam jangka masa berikut dari sejarah Syiah yang bermula dengan Sayyid Haidar Amuli , ulama besar pada masa Safawiyah seperti Mir Damad dan Mulla Shadra hingga kini, hadith-hadith ini telah bertindak sebagai sumber aktual bagi metafizika dan filsafat mahupun ilmu-ilmu hukum dan al-Quran. Ulasan-ulasan Mulla Shadra, Qadhi Said al-Qummi dan banyak lagi ulasan atau himpunan-himpunan hadith Syiah ini merupakan di antara karya-karya besar dalam pemikiran Islam. Akhirnya, falsafah dan teosofi keislaman benar-benar tidak akan dapat dimengerti tenpa merujuk kepada hadith-hadith tersebut

PENUTUP

Melalui kajian singkat ini setidaknya kita dapat melihat –meskipun tidak secara terperinci- bahwa secara garis besar memang ada persamaan antara Ahl al-Sunnah dan Syiah Imamiyah secara khusus dalam proses melakukan kritik terhadap sanad dan matan.

Menerima dongeng Abdullah bin Saba’ sama artinya dengan menghina para sahabat.

Saif ibn Umar, Peran Abdullah ibn Saba’ Dan Penghinaan Terhadap Para Sahabat Besar Nabi saw.

Di antara perkara yang sering dilupakan dan tidak dipikirkan dengan seksama adalah bahwa menerima dongeng Saif tentang peran Abdullah ibn Saba’ dalam kaitannya dengan fitnah dan kekacauan politik yang terjadi di masa kekhalifahan Utsman ibn Affan yang berakhir dengan terbunuhnya sang Khalifah di tangan para pemberontak yang mengepung kota Madinah saat itu … menerima paran yang dimainkan Ibnu Saba’ dalam fitnah itu sama artinya kita menghina dan melecehkan para sahabat mulia yang besar jasa, perjuangan dan ketulusan mereka dalam membela Nabi saw. dan agama Islam dan menuduh mereka berblik menjadi orang-orang jahat yang dengan mudahnya pikiran mereka disetani oleh fitnah Abdullah ibn Saba’, sehingga mereka semuanya bangkit mengobarkan perlawanan dan permusuhan terhadap Khalifah Utsman dan menggalang massa untuk menghabisi nyawa sang Khalifah!

Menerima dongen Saif ibn Umar, sama artinya kita menuduh para sahabat besar itu sebagai orang-orang yang lugu lagi dungu …. Sebab si pendatang asing di dunia Islam dan di tengah-tengah masyarakat Muslim itu benar-benar telah memperdaya akal dan pikiran para sahabat itu untuk menerim hasutan murahan yang dilansirkan Abdullah ibn Saba’ dan menelan mentah-mentah doktrin dan ajakan si Yahudi asing tentang bagaimana menggulingkan pemarinthan Islam dewasa itu!

Inilah yang dimaksud oleh para ulama, yang sebagian keterangan mereka talah saya dinukil di atas bahwa Saif ibn Umar adalah seorang Zindiq yang menghina para sahabat.

Dengan menerima dongen Saif ibn Umar tentang latar belakang dan motivasi pemberontakan atas pemerintahan Utsman kita dibawa jauh dari sebab sesungguhnya … Tidak ada kepincangan dan kekurangan sedikit apapun dari kondisi pemerintahan dan sepak terjang aparat Utsman –yang rata-rata adalah dari keluarga bani Umayyah yang tidak memiliki sedikit pun kelaikan dalam menduduki posisi-posisi tersebut dalam pemerintahan-. Semuanya beres… hanya sekedar hasutan dan fitnahan Abdullah ibn Saba’ melalui para sahabat dan kroni-kroninya yang tersebar di berbagai wilayah pemerintahan Islam, khususnya negeri Mesir dan Kufah… hanya karena hasutan mereka berkobarlah api ketidak-puasan dan akhirnya pecahlah pemberontakan dan Utsman pun mereka bunuh dan setelahnya mereka melarangnya untuk dikebumikan di pekuburan kaum Muslim!!

Mungkin di antara mereka yang menerima –dengan keluguan sikap- dongen yang disebarkan Saif ibn Umar tidak terpikir oleh mereka efek tersebut!

Sesungguhnya menetapkan peran besar untuk Abdullah ibn Saba’ dalam kaitannya dengan fitnah, lebih berbahaya terhadap doktrin penghormatan terhadap para sahabat Nabi saw. (yang selama ini sepertinya menjadi lagu wajib bagi kaum Sunni-Wahabi) dari menolak dongen tengtang peran tersebut. Untuk sekedar membuktikan bagi para pembaca saya akan sebutkan beberapa bukti ringkas dari riwayat-riwayat Saif ibn Umar yang menyebut-nyebut peran Ibnu Saba’ dan fitnah/pengaruh buruknya terhadap para sahabat…

A)        Ammar ibn Yâsir –sahabat agung yang begitu terkemuka, digambarkan oleh Saif ibn Umar dalam riwayatnya sebagai kaki tangan Abdullah ibn Saba’ yang paling diandalkan dalam mengobarkan fitnah atas Khalifah Utsman. Ammâr menyurati Ibnu Saba’ dalam perkara ini. Baca Tarikh ath Thabari, 4/353.

Itu artinya bahwa Ammar ibn Yasir (seorang sabahat agung yang ikut serta dalam peperangan Badar) telah benart-benar bersekongkol dengan seorang Yahudi jahat untuk mengobarkan fitnah dan kekacauan demi tergulingnya kekhalifahan Islam! Di sini, dalam riwayat Saif ibn Umar, sahabat Ammâr digambarkan sebagai seorang yang tidak lagi mengindahkan tuntunan Islam dalam permusuhan terhadap kaum Yahudi dan kecintaan serta kedamaian terhadap kaum Muslim.. Kini Ammâr telah bersekongkol dengan gembong gerakan pengacao demi menumbangkan kekhalifahan Islam!

Akankah kita menerima hinaan seperti itu…

B)          Abu Dzarr al Ghiffari seorang sahabat mulia yang begitu tegas sikapnya dalam membela Islam dan sangat nyata kebenciannya terhadap kaum Yahudi, kini oleh Saif ibn Umar digambarkan menjadi boneka Abdullah ibn Saba’ yang  ia kirim untuk menebar kekacauan di wilayah Syam yang dikepalai Mu’awiyah putra Abu Sufyan. Ibnu Saba’ benar-benar telah merusak pikiran dan keimanan Abu Dzarr dengan doktrin pemerataan harta kaum Muslim dan meracuni pikiran kaum miskin agar menuntut pembagian merata harta kaum Muslimin. Baca dongeng tersebut dalam Târîkh ath Thabari!

C)         Adi ibn Hâtim –seorang sahabat agung- kini digambarkan oleh Saif ibn Umar sebagai perusak yang bersekongkol dengan kaum Yahudi, utamanya Abdullah ibn Saba’ dalam menghalang-halangi upaya mediasi antara pihak Imam Ali as. dan pihak pemberontak yang dipimpinn oleh Zubair, Thalhah dan ‘Aisyah, setelah hampir tercapai sebuah kesepakat yang akan menghindarkan pertumpahan darah kaum Muslim! Baca tuduhan palsu ini dalam Târîkh ath Thabari,4/494 dari riwayat Saif ibn Umar!

D)         Saif ibn Umar menggambarkan Imam Ali as. sebagai seorang yang sangat mendukung gerakan Abdullah ibn Saba’ sampai-sampai sebagai sebuah penghormatan atasnya, Imam Ali as. mengangkatnya sebagai komamdan tempur dalam perang Jamal, ketika Aisyah, TThalhah dan Zubair memberontak! Baca Târîkh ath Thabari,4/505! Jadi dalam pandangan Saif ibn Umar, Imam Ali as. –selaku salah seorang Khalifah yang Râsyidîn- adalah pecinta kaum Yahudi yang bermakar atas kaum Muslim! Kaum Wahhâbi sangat menikmati kepalsuan ini, selagi ia menyakitkan hati kaum Syi’ah! Sebab yang penting bagi mereka adalah menghujat kaum Syi’ah walaupun dengan menghina dan melecehkan Imam Ali as.!

E)            Demikian pula, sekali lagi Saif ibn Umar, memastikan bahwa Ammar ibn Yasir termasuk dari mereka yang bangkit membantai Khalifah Utsman ibn Affân! Ia mengakuinya sendiri. Baca Târîkh ath Thabari,4/482.

F)             Lebih dari itu, Saif menggambarkan Ammâr sebagai sabahat yang dungu (bukan lagi lugu, sehingga dengan mudahnya Abdullah ibn Saba’ menjadikannya tangan pelaksana kejahatannnya), sehingga karena kedunguannya itu ia tidak menyadari apakah ia sedang diangkat Imam Ali as. sebagai Gubenur waliyah Madâin atau wilayah Kufah! Baca Târîkh ath Thabari,4/163.

G)         Seorang sahabat mulia bermana Jundub ibn Zuhair juga tidak selamat dari fitnahan dan kepalsuan Saif ibn Umar dalam riwayatnya … Ia digambarkan sebagai pemberi kesaksian palsu! Târîkh ath Thabari,4/273!

H)         Dalam riwayat Saif ibn Umar (yang dibanggakan kaum Wahhâbi untuk menghujat kaum Syi’ah dan ajarannya), kaum Anshar dituduh sebagai kaum murtad.Târîkh ath Thabari,3/242!

I)                Abdullah ibn Mas’ud (seorang sahabat mulia, ahli al Qur’an dan dihormati Nabi saw.) dan Sa’ad ibn Abi Waqqâsh, kini oleh Saif ibn Umar digambarkan sebagai biang kerok kerusakan, dan kemudian pembangkangan masyarakat Muslim wilayah Kufah terhadap Khalifah Utsman ibn Affân! Sebab mereka berdua mencontohkan pertengkaran atas dasar Jahiliah di hadapan masyarakat Kufah. Târîkh ath Thabari,4/251!

Demikianlah dapat Anda saksikan, bahwa Imam Ali as. dan para pendukungnya, seperti Abu Dzarr, Ammâr, Jundub ibn Zuhair, Adi ibn Hâtim dkk. oleh Saif ibn Umar digambarkan sebagai kepanjangan tangan jahat Abdullah ibn Saba’ dalam menabur firnah di tengah-tengah maysrakat Muslim! Sekali lagi saya katakan, dimanakah mereka yang biasaya mencucurkan air mata buaya meratapi para sahabat Nabi saw. ketika (kata mereka) dihujat kaum pendosa?! Dimanakah tangisan mereka yang senantiasa menangisi kaum fasik seperti al Walid ibn ‘Uqbah, Marwan ibn Hakam dkk.?!

Dimanakah konsep rapuh yang selalu mereka jadikan alat intimidasi, bahwa setiap yang menghina seorang sahabat Nabi saw. maka ia adaalah orang Syi’ah Rafidhah yang jahat?! Seorang Zindiq yang tidak beragama?!

Sepertinya kaidah intimidatif ini tidak akan pernah diberlakukan kecuali atas siapa pun yang berani menyalah-nyalahkan Mu’awiyah, Marwan ibn Hakam, al Walîd ibn ‘Uqbah dan kaum zalim lainnya?! Adapun mereka yang menghinakan Imam Ali as. dan para sahabat setinya, dan menuduh mereka dengan berbagai tuduhan palsu, maka kaidah itu tidak perlu diberlakukan…. Justru hadiah pahala ijtihad harus kita berikan untuknya! Mengapa kita harus membela Imam Ali as.?! Bukankah beliau sudah dibela oleh para pecintanya?! Apa urusan kita (kaum Wahhâbi/Salafi/Nashibi) dengan pembelaan terhadap Imam Ali as.? Itu bukan urusan kami! Kami hanya berkepentingan membela kaum pendosa … mebela bani Umayyah dan antek-antek mereka!

Demikianlah kurang lebih pandangan mereka! Dan atas dasar pandangan seperti itu pula-lah, kaum Wahhâbi/Salafi/Nashibi dan kaum lemah yang sedang tertipu oleh propaganda mereka menghujat habis-habisan para sejarawan yang membongkar beberapa sisi hitam sejarah para sahabat dan Salaf yang mereka banggakan! Seperti sikap ganas mereka terhadap al Waqidi, Abu Mihnaf dkk. Mereka segera dituduh sebagai Syi’ah yang berusaha menaburkan benih-benih penghinaan atas para sahabat yang karenanya riwayat sejarah mereka harus diabaikan bahkan harus dimusnahkan! Sementara Saif ibn Umar (yang telah disepakati sebagai seorang pembohong kelas kakap) dibangggakan da diandalkan! Saif ibn Umar yang dengan riwayat-riwayat palsunya telah menghina para sahabat agung Nabi saw…. , menghina Imam Ali as., Ammâr ibn Yasir, Abu Dzarr, Ibnu Ma’sud, Adi ibn Hatim dkk. ra. sebagai pahlawan sejarah! Demikianlah, sebagian ulama dan para penulis kita benar-benar telah menjungkir-balikan nilai-nilai obyektifitas dalam meneliti! Bagi mereka yang penting Syi’ah harus dihujat… masyarakat harus dijauhkan dari mazhab ini!!

Di sini, saya tidak ingin terhanyut dalam membongkar lebih banyak lagi bukti-bukti penghinaan Saif ibn Umar terhadap para sahabat mulia … sebagai mana saya juga tidak bermaksud mebongkar lebih jauh kecurangan dan ketidak konsistenan sebagian penulis anti Syi’ah yang sedang marak beramai-ramai menjalankan profesinya sebagai penulis bayaran yang menulis untuk kepentingan musuh-musuh Islam yang sedang berusaha ngotot memecah belah kesatuan dan persatuan barisan kaum Muslim dengan mengadu-domba antara dua Mazhab Basar dalam Islam; Sunnah dan Syi’ah…

Mereka yang bekerja mengadu domba antara Sunnah dan Syi’ah atas nama Ahul Sunnah jelaslah bukan dari Ahlu Sunnah wal Jama’ah! Dan juga bukan dari Syi’ah! Ia pasti bekerja untuk musuh-musuh Islam…. Karenanya kita semua harus waspada!

Mengapa Harus Abdullah bin Saba’?

Dalam menjawab pertanyaan di atas, akan terlihat inti permasalahan dalam peluncuran serangkaian episode dongeng Abdullah ibn Saba’. Sebab apabila ditelusuri benang merah dan dicari argumentasinya dalam Al Qur’an dan Sunnah, akan tampaklah pemikiran Syi’ah tentang konsep imamah dan seluruh hal yang terkait dengannya, serta polemik yang terjadi antara mereka dan penganut sekte-sekte Islam lain. Konsep Syi’ah tentang wasiat, kemaksuman dan lainnya akan menyingkirkan mereka yang tidak memenuhi syarat di atas dari panggung imamah dan kepemimpinan umat. Dan ini adalah bencana besar bagi pemikiran non-Syi’ah, yang akan menggoyah kemapanan kemapanan keberagamaan mereka. Oleh karenanya, pemikiran mereka harus dikaitkan dengan sumber non-Islam dan  diidentikkan dengan pemikiran Yahudi. Maka diciptakanlah lakon yang mereka sebut dengan nama Ibnu Saba’ untuk menjadi kambing hitam dan agar semua kecaman dialamatkan kepadanya, sebab dialah yang telah merusak kesatuan umat Islam dan mencemari kesucian ajarannya.

Dan selain alasan yang saya sebutkan di atas, ada alasan lain yang mendorong diciptakannya dongeng Abdullah ibn Saba‘, sebagaimana di sebutkan oleh Dr. Ahmad Mahmud Shubhi. Setelah ia menyebutkan analisis Thaha Husain, ia berkata,

“Dan tampaknya di balik semangat berlebihan para ahli sejarah dan penulis sejarah sekte-sekte dalam menyebut peran yang dimainkan Ibnu Saba’ ada sebab lain selain yang telah disebutkan Dr. Thaha Husain. Telah terjadi peristiwa-peristiwa besar dalam tubuh (masyrakat) Islam, seperti terbunuhnya Utsman, kemudian perang Jamal yang terlibat di dalamnya sahabat-sahabat besar dan salah seorang istri Rasul, mereka saling bercerai-berai dan berperang, seluruh peristiwa ini memukul jiwa seorang Muslim yang rajin menelusuri sejarah politik, ia tidak membayangkan kalau sejarah Islam ternyata mengalami hal demikian dan sahabat-sahabat besar yang telah berjasa berperang barsama Rasulullah saw. dan ikut serta dalam meletakkan dasar-dasar Islam juga terlibat di dalamnya. Oleh karenanya, tanggung jawab peristiwa-peristiwa itu harus dibebankan kepada pundak seseorang, dan tidak masuk akal kalau sahabat-sahabat besar yang harus bertanggung jawab. Oleh karenanya, semua itu harus dipikul oleh Ibnu Saba’, dialah yang mengobarkan fitnah kekacauan sehingga Utsman terbunuh, dialah yang membakar semangat antara dua pasukan pada peperangan Jamal ketika Ali, Thalhah dan Zubair lengah. Adapun dalam sejarah pemikiran, dipikulkan di atas pundaknya tanggung jawab perpecahan ideologi terbesar dalam Islam dengan munculnya Syi’ah. Ini adalah analisis asalan mengapa para penulis sejarah sekte-sekte dan mazhab-mazhab –khususnya para salaifiyyîn[1] dan mu’arrikhin berlebihan dalam hakikat peran yang dimainkan Ibnu Saba’. Kalau tidak, bukankah mengherankan ada seoarng asing yang mempermainkan Islam dan menggerakkan sejarah politik dan idiologi Islam seperti itu, sementara para pembesar sahabat menyaksikan (dan diam tidak bertindak?).[2]


[1] Kelompok yang dalam keberagamaan mereka cenderung berkiblat kepada kaum Salaf (para sahabat dan generasi awal Islam).

[2] Dr . A. M. Shubhi, ,Nadhariyah al-Imamahn hal.39-40 .

Sebab Sesungguhnya Pemberontakan Atas Khalifah Utsman ibn Affan ! mentertawai dongeng palsu yang menyebutkan bahwa pemberontakan atas Khalifah Utsman adalah didalangi oleh Abdullah ibn Saba’ dan antek-anteknya

Sebab Sesungguhnya Pemberontakan Atas Khalifah Utsman ibn Affan

Selagi kita sedang membahas dongeng palsu yang menyebutkan bahwa pemberontakan atas Khalifah Utsman adalah didalangi oleh Abdullah ibn Saba’ dan antek-anteknya yang teracuni pikiran jahat lagi sesatnya… Maka pasti kita ingin mengetahui sebab pasti sesungguhnya yang memicu pemberontakan yang berakhir dengan terbunuhnya Khalifah ketiga Utsman ibn Affan.

Seperti telah diisyaratkan dalam lembaran-lembaran sebelumnya bahwa ketidak-puasan dan kemudian pemberontakan kaum Muslim terhadap Khalifah Utsman tidak lain adalah dipicu oleh faktor-faktor eksternal daan penyimpangan-penyimpangan yang terjadi di masa kekhalifahan Utsman. Dan yang demikian itu bukanlah rahasia bagi Anda yang membaca dan meneliti sejarah masa kekhalifahan Utsman, khususnya paruh terakhir masa kekhalifahannya.

Penyimpangan-penyimpangan kebijakan yang diambil oleh Utsman dan tentunya juga para aparatur pemerintahannya, telah mengundang reaksi keras dari banyak kalangan sahabat dan sebagian istri Nabi saw. serta para pembesar tabi’în. Mereka semua bangkit terdorong oleh keprihatinan mereka terhadap nasih kekhalifahan dan masib agama serta nasib masyarakat Muslim…. Tidak ada kaitannya dengan doktrin Abdullah ibn Saba’ seperti yang ingin dipaksakan oleh Saif ibn Umar dan para pengekor yang menelan mentah-mentah dongeng palsu ciptannya!

Dokumen-dokumne sejarah di bawah ini akan membuktikan kebenaran kenyataan tersebut.

  • Abul Fidâ’ melaporkan dalam kitab Mukhtashar-nya tentang pristiwa-pristiwa tahun 34 H:

ثم دخلت سنة أربع وثلاثين فيها قدم سعيد إِلى عثمان، وأخبره بما فعله أهل الكوفة، وأنهم يختارون أبا موسى الأشعري فولى عثمان أبا موسى الكوفة، فخطبهم أبو موسى وأمرهم بطاعة عثمان، فأجابوا إِلى ذلك، وتكاتب نفر من الصحابة بعضهم إِلى بعض، أن أقدموا فالجهاد عندنا، ونال الناس من عثمان، وليس أحد من الصحابة ينهي عن ذلك، ولا يذب إِلا نفر، منهم زيد بن ثابت، وأبو أسيد الساعدي، وكعب بن مالك، وحسان بن ثابت، ومما نقم الناس عليه رده الحكم بن العاص، طريد رسول الله صلى الله عليه وسلم، وطريد أبي بكر وعمر أيضاً، وإعطاء مروان بن الحكم خمس غنائم إِفريقية، وهو خمس مائة ألف دينار… )

“Kemudian masuk tahun 43 H. pada tahun itu Sa’îd[1] datang menemui Utsman, ia mengabarkan kepadanya apa yang dilakukan penduduk kota Kufah. Mereka lebih memilih Abu Musa al Asy’ari, maka Utsman pun mengangkatnya sebagai Gubenur kota Kufah. Abu Musa berpidato di hadapan penduduk kota Kufah dan memerintah mereka agar taat kepada Utsman. Mereka pun menyanggupinya. Para sahabat saling melayangkan surat, mereka berkata, ‘Datanglah ke mari (kota Madinah) untuk berjihad!’ orang-orang mulai mengecam Utsman. Dan tiada seorang pun dari sahabat yang melarang dan membela Utsman selain beberapa orang saja di antaranya adalah Zaid ibn Tsâbit, Abu Usaid as Sâ’idi, Ka’ab ibn Mâlik dan Hassân ibn Tsâbit. Dan di antara yang dikecam orang-orang atas Utsman adalah ia memulangkan kembali al Hakam ibn al ‘Âsh yang telah diusir oleh Rasulullah saw., dan juga oleh Abu Bakar dan Umar (di masa kekhalifahan mereka), ia memberikan untuk Marwan seorang khumus (uang Negara yang dating dari) benua Afrika Yang berjumlah 500.000 dinar (uang emas).”[2]

Abul Fidâ’ juga melaporkan:

وأقطع مروان فدكاً وهي صدقة رسول الله صلى الله عليه وسلم التي طلبتها فاطمة، فروى أبو بكر عن رسول الله صلى الله عليه وسلم ” نحن معاشر الأنبياء لا نورث، ما تركناه صدقة “، ولم تزل فدك في يد مروان وبنيه، إِلى أن تولى عمر بن عبد العزيز فانتزعها من أهله، وردها صدقة

“Dan pada tahun ini pula, Utsman memberikan tanah Fadak untuk Marwan, padahal ia adalah tanah shadaqah Rasulullah saw. yang pernah diminta Fatimah (dari Abu Bakar), maka Abu Bakar meriwayatkan dari Rasulullah saw., “Kami para nabi tidak diwaris. Apa yang kami tinggalkan adalah shhadaqah.” Fadak terus berada di tangan (menjadi milik) Marwan dan anak turunnya sampai ketika Umar ibn Abdul Aziz berkuasa, ia mengambilnya dari keluarga Marwan dan mengembailkannya sebagai shadaqah.”[3]

Dari dokumen di atas, terlihat jelas bahwa yang murka atas Utsman adalah para sahabat, di mana mereka menyurati teman-teman mereka yang berada di luar kota Madinah agar segera datang ke kota Madinah dan berjihad di sana melawan sang Khalifah yang meerka yakini sudah sedikian parah penyimpangannya sehingga harus diperangi! Selain itu jelas disebutkan bahwa yang menyebabkan murka para sahabat adalah kebijakan Utsman yang telah menyimpang dan menentang ketetapan Nabi saw.!

  • Asy Syahrastâni melaporkan:

Dokumen di bawah ini yang dipalorkan oleh asy Syahrastâni dalam al Milal wa an Nihal-nya lebih rinci dalam menyajikan sebab-sebab murka para sahabat dan kaum Muslim atas Utsman. Ia melaporkan:

ووقعت فى زمانه اختلافات كثيرة وأخذوا عليه أحداثا كلها محالة على بنى أمية.

منها: رده الحكم بن أمية إلى المدينة بعد أن طرده رسول الله صلى الله عليه وسلم وكان يسمى طريد رسول الله وبعد أن تشفع إلى أبى بكر وعمر رضى الله عنهما أيام خلافتهما فما أجابا إلى ذلك ونفاه عمر من مقامه باليمن أربعين فرسخا.

ومنها: نفيه أبا ذر إلى الربذة وتزويجه مروان بن الحكم بنته وتسليمه خمس غنائم أفريقية له وقد بلغت مائتى ألف دينار.

ومنها: إيواؤه عبد الله بن سعد بن أبى سرح وكان رضيعه بعد أن أهدر النبى عليه الصلاة والسلام دمه وتوليته إياه مصر بأعمالها وتوليته عبد الله بن عامر البصرة حتى أحدث فيها ما أحدث إلى غير ذلك مما نقموا عليه وكان أمراء جنوده معاوية ابن أبى سفيان عامل الشام وسعد بن أبى وقاص عامل الكوفة وبعده الوليد بن عقبة وسعيد بن العاص وعبد الله بن عامر عامل البصرة وعبد الله بن سعد بن أبى سرح عامل مصر وكلهم خذلوه ورفضوه حتى أتى قدره عليه

“Dan di masa Utsman terjadi banyak perselisihan dan kecaman atasnya karena penyimpangan-penyimpangan yang terkait dengan sikapnya terhadap Bani Umayyah.

Di antaranya: ia memulangkan kepabali al Hakam ibn Umayyah ke kota Madinah setelah dahulu diusir Rasulullah saw.  Ia dikenal dengan nama Usiran Rasulullah. Setelah dahulu Utsman pernah meminta syafa’at (restu) kepada Abu Bakar dan Umar di masa kekhalifahan mereka berdua (agar al Hakam diizinkan pulang) dan mereka pun menolaknya dan bahkan Umar mengusirnya lebih jauh lagi sejauh 40farsakh ke negeri Yaman.

Di antaranya: Ia mengusir Abu Dzarr ke gurun Rabdzah. Dan ia mengawinkan Marwan dengan putrinya dan menyerahkan untuk Marwan rampasan parang dari negeri Afrika yang berjumlah dua ratus ribu dinar.

Di antaranya: Ia melindungi Abdullah ibn Sa’ad ibn Abi Sarah; saudara sesusu Utsman, setelah diperintahkan Nabi saw. agar dibunuh. Dan setelahnya (di masa kekhalifahan Utsman) ia mengangkatnya sebagai gubenur Mesir dan sekitarnya. Dan mengangkat Abdullah ibn Âmir sebagai gubenur kota Bashrah, sehingga ia melakukan kerusakan seperti yang tercantum dalam sejarah yang mengundang murka kaum Muslim. Dan Utsman menjadikan Mu’awiyah ibn Abu Sufyan -gubenur wilayah Syam-, Saad ibn Abi Waqqâsh-gubenur wilayah Kufah-, dan setelahnya al Walîd ibn ‘Uqbah, Sa’îd ibn al Âsh, Abdullah ibn Âmir-gubenur wilayah Bashrah- dan Abdullah ibn Sa’ad ibn Abi Sarah-gubenur wilayah Mesir- mereka semua sebagai panglima parangnya. Dan mereka semua yang justeru menelantarkan Utsman dan menolak memberikan pembelaannya sehingga ajal menjemputnya.”[4]

  • Laporan al Balâdzuri

Al Balâdzuri melaporkan panjang lebar sebab-sebab yang mendorong ketidak puasan yang berakhir dengan pembunuhan Khalifah Utsman ibn Affâqn dari riwayat Sa’îd ibn al Musayyib di bawah saya sebutkan cuplikannya:

لما ولي عثمان كره ولايته نفرٌ من أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم لأن عثمان كان يحب قومه، فولي الناس اثنتي عشرة حجة وكان كثيراً ما يولي من بني أمية من لم يكن له مع النبي صلى الله عليه وسلم صحبه، فكان يجيء من أمرائه ما ينكره أصحاب محمد صلى الله عليه وسلم وكان يستعتب فيهم فلا يعزلهم، فلما كان في الست الأواخر استأثر ببني عمه فولاهم وولى عبد الله بن سعد بن أبي سرح مصر فمكث عليهم سنين فجاء أهل مصر يشكونه ويتظلمون منه، وقد كانت من عثمان قبل هنات إلى عبد الله بن مسعود وأبي ذر وعمار بن ياسر، فكان في قلوب هذيل وبني زهرة وبني غفار وأحلافها من غضب لأبي ذر ما فيها، وحنقت بنو مخزوم لحال عمار بن ياسر…

“Ketika Utsman memimpin sebagian sahabat Rasulullah saw. tidak menyukai kepemimpinannya, sebab Utsman mencintai kaumnya. Ia memimpin selama dua belas tahun, ia banyak mengangkatkan bani Umayyah; kerabatnya yang tidak pernah bersahabat dengan Nabi saw. para gubenur yang ia angkat melakukan hal-hal yang diingkari oleh para sahabat Muhammad saw., Utsman ditegur karena mereka, tetapi Utsman tidak mencopot mereka. Dan ketika memasuki enam tahun terakhir kepmimpinannya, Utsman hanya mengangkat keluarga pamannya (bani Umayyah) sebagai aparat. Ia mengangkat Abdullah ibn Sa’ad ibn Abi Sarah sebagai gubenur Mesir. Beberapa tahun ia berkuasa di sana. Penduduk Mesir mengeluhkannya kepada Utsman akan kezalimannya. Sebelumnya Utsman juga punya masalah besar dengan Abdullah ibn Mas’ûd, Abu Dzar dan Ammâr ibn Yâsir. Di hati anggota kabilah Hudzail, Bani Zuhrah dan Bani Ghiffâr serta sekutu-sekutu mereka terdapat kemurkaan atas Utsman karena sikapnya terhadap  Abu Dzar. Bani Makhzûm murka atas Utsman karena sikapnya terhadap Ammâr.”[5]

  • Laporan adz Dzahabi

Adz Dzahabi menukil sebuah laporan dari az Zuhri –seorang tokoh tabi’în, ia berkata:

ولي عثمان، فعمل ست سنين لا ينقم عليه الناس شيئاً، وإنه لأحب إليهم من عمر، لأن عمر كان شديداً عليهم، فلما وليهم عثمان لان ولهم ووصلهم، ثم إنه توانى في أمرهم، واستعمل أقرباءه وأهل بيته في الست

الأواخر ، وكتب لمروان بخمس مصر أو بخمس إفريقية ، وآثر أقرباءه بالمال ، وتأول في ذلك الصلة التي أمر الله بها . واتخذ الأموال ، واستسلف من بيت المال ، وقال : إن أبا بكر وعمر تركا من ذلك ما هو لهما ، وإني أخذته فقسمته في أقربائي ، فأنكر الناس عليه ذلك

“Utsman memimpin. Pada enam tahun pertama, masyarakat tidak murka atasnya tentang seuatu apapun. Ia disukai lebih dari Umar, sebab Umar keras atas mereka. Ketika Utsman memimpin ia berlemah lembut dan menyanmbung mereka. Kemudian ia teledor dalam urusan mereka. Ia mengangkat kerabat dan keluarga dekatnya pada enam tahun terakhir. Ia menghadiahkan dari uang kas negera untuk Marwan total khums pendapatan negeri Mesir atau khums Afrika. Ia lebih mengutamakan kerabatnya dalam harta. Ia beralasan itu ia lakukan untuk menyambung tali silatur rahim yang diperintahkan Allah. Ia mengambil harta, dan meminjam dari kas Negara/baitul mal. Ia berkata, ‘Abu Bakar dan Umar meninggalkan semua itu, padahal ia adalah milik mereka, dan aku mengambilnya, lau aku bagikan kepada kerabatku.’ Maka orang-orang mengingkari hal itu atasnya.”[6]

Adz Dzahabi juga mengatakan:

ومما نقموا عليه – أي على عثمان – أنه عزل عمير بن سعد عن حمص، وكان صالحاً زاهداً، وجمع الشام لمعاوية، ونزع عمرو بن العاص عن مصر، وأمر ابن أبي سرح عليها، ونزع أبا موسى الأشعري عن البصرة، وأمر عليها عبد الله ن عامر، ونزع المغيرة بن شعبة عن الكوفة وأمر عليها سعيد بن العاص

“Dan termasuk yang mendorong masyarakat murka atas Utsman adalah ia mencopot Umair ibn Sa’ad dari jebatan gubenur Himsh, padahal ia seorang yang shaleh dan zuhud, dan menyatukan seluruh wilayah Syam untuk Mu’awiyah, mencopot ‘Amr ibn al ‘Âsh dari jebatan gubenur Mesir, yang mengangkat Ibnu Abi Sarah sebagai gantinya. Ia mencpot Abu Musa dari jebatan gubenur Bashrah  dan mengangkat Abdullah ibn ‘âmir sebagai gantinya. Mencopot Mughirah ibn Syu’bah dari Kufah dan mengangkat Sa’îd ibn al ‘Âsh sebagai gantinya.”[7]

Kesimpulan

Dari data-data sejarah di atas yang dilaporkan para ahli sejarah Islam, tanpak jelas sebab sesungguhnya yang memicu munculnya ketidak-puasan terhadap kebijakan Khalifah Utsman yang berujung dengan pemberontakan yang merengut jiwa Sang Khalifah! Tidak ada kaitannya dengan peran yang dikait-kaitkan dengan sosok tokoh yang bernama Abdullah bin Saba’!


[1] Sa’îd ibn Abi Sarah mantan penulis wahyu yang kemudian murtad dan mengejek-ngejek Nabi saw., sehingga ketika Fathu Makkah Nabi saw. memerintahkan para sahabatnya untuk membunuhnya, dimanapun ia ditemukan, walaupun ia bertelantung di atas tabir Ka’bah… namun Utsman menyembunyikan dan menyelamatkannya dari pencarian para sahabat, dan setelah beberapa hari, Utsman membawanya menghadap Nabi saw. memohon pembatalan hukuman itu. Nabi saw. diam tidak mengiyakannya, menanti tindakan para sahabatnya untuk menjalankan perintahnya, namun mereka tidak juga melaksakannya. Dan akhirnya Nabi saw. menerima permohonan Utsman! Dan sikap Utsman ini termasuk diantara yang dipertanyakan oleh umat Islam, bagaimana Utsman melindungi seorang musuh Islam dan telah menghina-hina Nabi saw. dan beliau pun telah menjatuhkan hukuman mati atasnya? Bukankah perintah Nabi saw. untuk membunuh Sa’îb juga meliputi Utsman? Mengapakah ia jusrteru melindungi si penjahat? Tetapi perlu kita ketahui di sini, bahwa ini bukan kali pertama Utsman melindungi musuh-musuh Allah dan rasul-Nya. Seusai parang Uhud, Utsman juga melindungi teman lamanya yang baru saja bergabung dengan pasukan kafir Quraisy dalam memerangi Nabi dan kaum Muslim yang sedang cedera dan terdampar di kota Madinah. Utsman menyembunyikannya dan memberikan perlindungan untuknya! Baca kisahnay dalam berbagai kitab sejarah Islam!

[2] Al Mukhtashar Fî Akhbâr al Basyar,1/210. Terbitan Dâr al Ma’ârif dan baca juga Târîkh Ibn al Wardi,1/145.

[3] Ibid.1/211.

[4] Al Milal wa an Nihal,1/32.

[5] Jumal, kutipan dari kitab Ansâb al Asyrâf,6/134. Lihat juga Akhbâr al Madînah; Ibnu Syubbah,2/214, al Iqdu al Farîd; Ibnu Abdi Rabbih,4/270 dan Târîkh Damasqus,39/416.

.
Komentar Doktor Ali al-Wardi dalam Kitab Wu’âdz as-Salâthin 

DR. Ali al-Wardi –dosen Universitas Baghdad- dalam kitabnya Wu’âdh as Salâthînmengawali komentarnya dengan menyebut sebuah peristiwa yang ia alami dengan seorang pendeta, ia mengatakan, “Pada suatu hari saya mendengar seorang pendeta sedang mengolok-olok Islam, ia berkata, “Perhatikan agama ini, di kala ia berada di puncak kejayaan dan kemenangannya, ia terjatuh dalam perangkap seorang asing sejarah tidak mengenal banyak hal tentangnya. Pada saat sahabat-sahabat Muhammad menguasai masyarakat Islam dan menyebarkan ajaran Nabi mereka, kita melihat ada seorang Yahudi masuk ke tengah-tengah masyarakat tersebut dan merobek-robeknya tanpa ada yang mengangkat tangannya untuk mengusir atau menyiksanya.”[1]

Kemudian setelah ia memaparkan pandangan mereka yang mendukung keberadaan pribadi Abdullah bin Saba’ dan menolaknya, ia mengemukakan pertanyaan ini: Di sini kita berdiri kebingungan di antara dua pandangan yang bertolak belakang;  Apakah Ibnu Saba’ memang benar-benar ada atau ia sekedar anggapan?  Pertanyaan ini penting sekali bagi yang ingin mengkaji sejarah masyarakat Islam dan mengambil pelajaran darinya.

Kita dapat mengemas pertanyaan itu dengan bentuk lain: “Apakah masyarakat Islam dewasa itu butuh kepada seoarang yang membangkitkan mereka atau mengobarkan fitnah?

Hanya saja para sejarawan yang menukil kisah Ibnu Saaba’ menggambarkan bahwa masyarakat Islam pada saat itu tenang-tenang saja, puas dan tentram, tidak ada sesuatau yang mengagetkan atau mengelisahkan mereka. Saya membayangkan bahwa mereka (para sejarawan) itu dari tipe para penasehat penguasa yang dalam cara berfikir mereka mengikuti logika klasik Asistoteles. Mereka merasa terheran-heren apabila menyaksikan adanya gerakan\gejolak dalam sebuah masyarakat dan bertanya-tanya; seakan adanya gejolak dalam pandangan mereka adalah sebuah penyimpangan dari watak masyarakat  dan hal asing yang datang kepadanya.

Logika sosial modern yakin bahwa masyrakat itu memiliki watak gerak/dinamika yang asli. Ia selalu bergerak atau yang disebut dalam istilah dengan ‘proses’.

Logika modern tidak akan terheran-heran apabila menyaksikan sebuah masyarakat bergerak, ia justru akan terheran-heran dan bertanya-tanya apabila menyaksiknnya diam . ‘Diam’ dalam pandangan logika modern adalah penyimpangan adapun ‘gerak’ adalah dasar yang tegak di atasnya keberadaan sosial dalam banyak kondisi.

Sesungguhnya masyrakat Islam pada saat kemunculan Abu Dzarr megalami kondisi krisis besar; perbedaan anatara si kaya dan si miskin sangat mencolok sehingga jiwa muak merasakannya … Sesungguhnya pemberontakan adalah sebuah kepastian. Kita tidak butuh untuk mencari-cari sebab kemunculannya, jusrtu kita perlu mencari tahu sebab apabila ketika itu tidak terjadi pergolakan atau kekacauan.”

Kemudian ia menambahkan, “Terbayangkan oleh saya bahwa Ibnu Saba’ adalah sebuah anggapan\ dugaan belaka seperti ditegaskan oleh Thaha Husain.”

Dan tampaknya bahwa pribadi yang unik ini diciptakan sedemikian rupa oleh orang-orang kaya yang mana pergolakan dialamatkan kepada mereka. Dan ini adalah gaya kalangan eristokrat\ kelompok mapan dalam setiap fase sejarah terhadap mereka yang memberontak.

Setiap pergolakan sosial oleh walan-lawan mereka selalu dituduh ada pengaruh bahaya laten di baliknya, hal ini telah disebutkan oleh Prof. Smill –seorang pemikir yang tekenal itu-.

Dan yang perlu disebut dalam hal ini ialah (Nabi Muhammad) sendiri telah dituduh oleh kaum Quraisy pada awal masa dakwah bahwa beliau mengadopsi ajarannya dari seorang pemuda Nasrani bernama Jabr,[2] dan oleh sebagaian dari mereka dituduh mengadopsi dari pendeta Buhaira dan Salman al Farisi dan lain-lain … .”[3]

Sesungguhnya setiap prinsip baru selalu dituding oleh kaum elit sebagai pengaruh asing –dan ini terjadi sebagaimana ditegaskan Prof. Smill – diberbagai fase sejarah.”[4]

Dan setelah bebarapa halaman, beliau mengatakn, “Para sejarawan mengembalikan sebab terbesar terjadinya kekecauan tersebut kepada Abdullah bin Saba’, seorang Yahudi pendatang yang memeluk Islam untuk berbuat makar …

Tampaknya para komlomrat yang ada di masa Utsman terkejut ketika menyaksikan adanya kebencian yang merata di tengah-tengah masyarakat terhadap kekayaan mereka yang berlebihan, maka mereka menuduhkan bahwa kebencian itu disulut oleh seoarang Yahudi pendatang yang ingin merong-rong Islam dan mengacau kaum Muslim. Dengan itu seakan mereka ingin menutupi sebab yang sebenarnya perlawanan kaum lemah terhdap mereka.

Sesungguhnya kerja besar yang dinisbatkan kepada Abdullah bin Saba’ tidak mungkin dapat dilakukan kecuali oleh seorang jenius atau penyihir atau tukang hepnotis kelas satu. Ia mesti mamiliki mata magnitis yang mampu memecah batu besar atau memiliki kekuatan jiwa yang mampu menjadikan manusia di hadapannya seakan sekawanan domba, terpengaruh dengan ucapan-ucapannya tanpa disadari!!

Dan andai orang seperti ini muncul di masa Utsman pasti berita tentangnya akan sampai kepada kita. Akan tetapi anehnya, kita tidak mendapatkan sebutan tentangnya dalam sumber-sumber terpenting yang menceritakan perkara perlawanan  terhadap Utsman.

Saya tidak pernah menyaksikan dalam sejarah sebuah kisak fikitif yang laris dan bertahan dalam kurun waktu yang lama seperti kisah murahan ini.

Oleh kerenanya, kita mendapatkan Ibnu Saba’ akan bertanggung jawab atas dosa semua alam. Dan apabila Ibnu Saba’ benar-benar ada niscaya akan banyak yang meratapinya dan memprotes penuduhan tersebut(!).

Doktor al-Wardi pada pasal lima menyimpulkan sebagai berikut, “Sesungguhnya Abdullah bin Saba’ akan selalu ada di setiap zaman dan di setiap tempat, setiap gerakan baru ada Abdullah ibn Saba’ bersembunyi di belakangnya, apabila ia berhasil, nama Abdullah bin Saba’ akan tersembunyi dan gerakanya menjadi luhur, tapi jika gerakannya gagal maka bencana akan tertuang ke atas kepala Abdullah ibn Saba’ dan tamparan akan datang dari semua penjuru.

Ibnu Saba’ tidak akan pernah tenang pada setiap keadaan, ia senantiasa bergerak memanfaatkan kesempatan dalam semua jalan. Dan selama kezaliman ada maka setiap orang berpotensi menjadi Saba’I (penyandang faham Ibnu Saba’) –semoga Allah menyelamatkan kita –.”[5]

Apakan Ammâr bin Yasir adalah Ibnu Sawda’?

Diriwayatkan dari Nabi saw. bahwa beliau menyebut Ammar bin Yasir –seorang sahabat agung- bahwa ia akan dibunuh oleh kelompok yang baghiyah, dan ia benar-benar terbunuh dalam peperangan Shiffin dalam pihak Imam Ali as., ia dibunuh oleh pasukan Mu’awiyah.

Dan yang direkam oleh sejarah bahwa Ammar berpidato di Shiffin dan berkata, “Bangkitlah –wahai hamba-hamba Allah – kepada kaum yang mengaku menuntut balas atas kematian seoarang yang zalim yang bertahkim atas hamba-hamba Allah kepada selain kitab Allah (Utsman maksudnya)…. Maka berkata orang-orang yang tidak menghiraukan apabila dunia mereka selamat walau agama  harus hancur,‘Mengapakah kalian membunuhnya?’ Kami mengatakan, ‘Karena penyimpangannya.’ Mereka berkata, ‘Ia tidak menyimpang sama sekali; hal itu karena dia menyiapkan untuk mereka dunia, maka mereka makan dan melahapnya dan tidak menghiraukan sedikit pun walau gunung runtuh ke atas mereka. Demi Allah saya tidak yakin mereka menuntut atas kematiannya, meraka mengetahui bahwa ia zalim, akan tetapi mereka telah merasakan manisnya dunia, mencintai dan menikmatinya, mereka tahu bahwa pemilik kebenaran (Ali maksudnya) apabila memimpin akan menghalang-halangi mereka dari apa yang mereka makan dan lahap.”

Ibnu al-Arabi menyebutkan dalam kitabnya bahwa Ammar pada suatu ketika berkata, “Utsman telah kafir dengan terang-terangan.” Dan ketika mendengar Ammar mengkafirkan Utsman, Ali menegurnya atas perkataan itu.

Dan ini yang mendorong para sejarawan mengatakan bahwa kaum Saba’iyyin telah berhubungan dengan Ammar untuk mempengaruhinya.”.

Setelah menukil perkataan Ibnu al-Arabi, DR. Ali al-Wardi kembali  mengatakan, “Akan tetapi para sejarawan itu tidak mengatakan bahwa Ammar adalah dari kelompok Saba’iah. Sepertinya mereka tidak berani menyematkan sebutan tercela itu kepadanya, sebab ia adalah sahabat agung yang banyak mengalami penyiksaan di jalan Allah dan Nabi juga sering menyebut-nyebut keutamaannya.

Sebenarnya Ammar adalah seorang Saba’iy dengan sepenuh arti kata. Ia senantiasa berfahan ‘Saba’iah’ hingga akhir hayatnya. Dan saya membayangkan bahwa dia adalah pimpinan kaum Saba’iah terbesar. Artinya dia adalah sebenarnya Ibnu Saba’ yang dimaksud,”[6]

Doktor al Wardi mengatakan, “Disini mungkin ada yang bertanya, ‘Kemanakah Ibnu Saba’ pergi dalam pertempuran dahsyat itu? Adalah hal mengherankan bahwa kita menemukan Ibnu Saba’ dalam semua peristiwa perlawanan terhadap Utsman dan peristiwa-peristiwa yang terjadi setelahnya kemudian dia menghilang\alpa dalam pertempuran Shiffin, ketika Ammar bin Yasir gugur terbunuh. Mengapakah pendekar jenius (baca: Ibnu Saba’) menghilang dalam pertempuran itu? Dan kemanakah ia bersembunyi?

Sesungguhnya para ahli sejarah tidak memberikan jawaban terhadap pertanyaan yang membingungkan ini, baik singkat maupun rinci. Dan kenyataannya ialah bahwa sesungguhnya Ibnu Saba’ tidak bersembunyi dalam pertempuran Shiffin. Ia memang tidak wujud riil sehingga harus menghilang. Ia sekedar fiksi, seperti telah kami sebutkan dalam pasal yang lalu. Dan fiksi akan datang dan pergi sesuai kehendak dan kepentingan pengarangnya.’

Setelah itu Al-Wardi menambahkan, “Terbayang kepada saya bahwa kisah Ibnu Saba’ dari awal hingga akhir adalah kisah yang rapi dan menarik pemaparannya. Sesungguhnya orang-orang Quraisy tidak hanya mahir dalam bidang politik, tapi juga mahir dalam seni cerita.

Sepertinya orang-orang Quraisy pada masa Utsman menyebut-nybut Ammar bin Yasir dalam pertemuan-pertemuan khusus mereka dan mencacinya secara rahasia, sebab bukan maslahat mereka mengumumkan cercaan terhadap Ammar di hadapan halayak ramai ketika itu. Dan mungkin ada yang mendengar mereka menyebut-nyebut Ammar dengan sebutan Ibnu Sawda’, lalu ia mengiranya orang lain bukan Ammar bin Yasir.

Siapa tahu, jangan-jangan kisah Ibnu Saba’ lahir pertama kali dari sangkaan yang salah itu, kemudian bertumpuklah dongeng-dongeng di sekelilingnya sedikit demi sedikit . Dan adalah hal yang mengherankan bahwa kita melihat banyak kesamaan antara apa yang dituduhkan kepada Ibnu Saba’ dengan prilaku Ammar bin Yasir, ini layak direnungkan.

Saya akan paparkan kepada pembaca beberapa kesamaan antara Ammar dan Ibnu Saba’, agar ia menetapkan pandangannya:

  1. Ibnu Saba’ dikenal dengan sebutan Ibnu Sawda’. Ammar juga disebut Ibnu Sawda’. [7]
  2. Ammar dari ayah berkebangsaan Yaman. Dan itu artinya ia dari keturunan Saba’ (bapak kabilah Yaman), setiap orang Yaman dapat disebut ibnu Saba (anak Saba’). Seluruh penduduk Yaman dari keturunan Saba’ bin Yasyjub bin Ya’rub bin Qahthan.
  3. Ammar sangat cinta kepada Ali bin Abi Thalib, mengajak dan mengarahkan orang-orang dengan berbagai cara agar membaiat Ali ra. Al Alûsi menyebutkan, ‘Bahwa ada seorang bertanya kepada Ammar tentang ayat ‘Wa idza waqa’a al-qaulu akhrajnâ lahum dâbbatan minal ardli tukallimunnâsa…’’ Ammar menjawab yang dimaksud dengan dâbbah ialah Ali bin Abi Thalib.’[8]Dan pendapat yang dinisbatkan kepada Ammar ini dapat kita temukan kesamaannya pada apa yang dinisbatkan kepada Ibnu Saba’, dimana ia –seperti yang mereka katakan– meyakini adanya raj’ah (kembalinya) Ali ke alam kehidupan setelah kematiannya.
  4. Ammar pada masa kekuasaan Utsman pernah pergi ke Mesir dan membangkitkan masyarakat agar melawan Utsman, lalu gubenur Mesir murka dan berkehendak menghukumnya.[9] Berita ini mirip dengan apa yang dinisbatkan kepada Ibnu Saba’ bahwa ia membangun sebuah markas di sana dan memulai menyurati para pendukungnya dari tempat itu.
  5. Dinisbatkan kepada Ibnu Saba’ bahwa ia mengatakan bahwa Utsman mengambil kekuasaan secara illegal, dan pemiliknya yang syar’i adalah Ali bin Abi Thalib. Sebenarnya ini adalah pendapat Ammar. Pada suatu hari ia menjerit di dalam masjid seusai pembaiatan kepada Utsman, ‘Hai orang-orang Quraisy! Kalau kalian palingkan perkara ini (kepemimpinan) dari rumah Nabi kalian ke sana dan ke sini, maka saya tidak merasa aman kalau Allah mencabutnya dari kalian dan meletakannya pada selain kalian, sebagaiaman kalian memencabutnya dari pemiliknya lalu meletekannya bukan pada ahlinya (pemiliknya).’[10]
  6. Dituduhkan kepada Ibnu Saba’ bahwa ia yang mengahangi upaya perdamaian anatara Ali dan A’isyah dalam pertempuran Jamal di Bashrah … Dan yang mengkaji rincian peristiwa peperangan Jamal pasti akan mendapatkan bahwa Ammar memiliki peran besar di dalamnya, ia yang pergi ke kota Kufah bersama Hasan dan Malik al-Asytar untuk membangkitkan masyarakat agar bergabung ke dalam pasukan Ali .
  7. Mereka mengatakan bahwa yang membangkitkan Abu Dzarr untuk menerima ajaran sosialis adalah Ibnu Saba’ dan apabila kita pelejari habungan antara Ammar dan Abu Dzarr kita akan temukan bahwa keduanya adalah dari satumadrasah (aliran pemikiran), yaitu madrasah Ali bin abi Thalib. Sesungguhnya Abu Dzarr tidak butuh kepada Ibnu Saba’ untuk mengajarinya bahwa uang negara adalah harta kaum Muslim dan tidak boleh dinamakan uang Allah. Teman dekatnya; Ammar dan Ali lebih berhak mengajarinya apabila ia sebelumnya tidak mengetahuinya.

Dan akhirnya Doktor al-Wardi sampai pada kesimpulan ini, “Kami berkesimpulan bahwa Ibnu Saba’ tiada lain adalah Ammar bin Yasir. Orang-orang Quraisy menganggapnya sebagai penyulut kekacauan/pemberontakan terhadap Utsman. Namun pada awalnya mereka tidak ingin menyebut dengan terang-terangan namannya, mereka menyebut dengan sebutan Ibnu Saba’ atau Ibnu Sawda’, lalu para periwayat menukil sebutan ini dan mereka tidak mengetehui apa yang sedang terjadi dibalik layar.’[11]

Komentar Jord Zaidan  dalam kitab Ali Suara Keadilan kemanusiaan :

Menanggapi kecenderungan sebagaian penulis yang menutup mata dari kenyataan pahit dan keengganan mereka mencari tahu sebab kejelekan yang berakhir dengan terbunuhnya Khalifah Utsman dan cenderung membebankan kesalahan tersebut kepada asumsi-asumsi tidak berdasar:

Dan di Timur ada penulis-penulis yang tidak menganggap penting realita sejarah dan tidak menganggap penting kondisi kehidupan, mereka menganalisa kebangkitan kaum lemah yang terzalimi pada masa Utsman dan membatasi berbagai peristiwa yang terjadi pada sebuah masa bahkan beberapa masa sebagai digerakkan oleh kehendak seorang yang berkeliling di berbagai kota besar dan menghasut orang agar melawan Khalifah dan pemerintahan!.

Sesungguhnya kesimpulan ilmiah dari anggapan dan tuduhan seperti ini ialah bahwa pemerintahan pada masa Utsman dan Marwan wazir (wakil)nya adalah Negara ideal dan kalangan Bani Umayyah dan para pejabat aristokrat tiada lain mereka adalah utusan keadilan sosial dan persaudaraan manusia di tanah Arab. Akan tetapi seoarang dan hanya seorang yaitu Abdullah bin Saba’ telah merusak atas kaum Umayyah dan para pejabat eristokrat itu kesalihan dan kebaikan mereka, ia berkeliling kota-kota besar menghasut masyarakat atas Utsman dan para pejabat dan emir-nya yang salih dan muslih (peka dan selalu memperbaiki) itu. Dan kalau bukan sebab orang itu dan kampanyenya di berbagai kota niscaya manusia akan hidup dalam kenikmatan yang disajikan Marwan dan keadilan al-Walîd serta kebijakan Mu’awiyah dengan kehidupan yang penuh kenikmatan dan kedamaian.

Dan dalam anggapan seperti ini terdapat kepalsuan atas nama realita dan pemerkosan terhadap manusia serta hanya mengikuti sebagian pendapat yang diselimuti oleh kedangkalan logika dan hujjah palsu yang lemah. Dan selain itu ada yang lebih berbahaya lagi yaitu penggelapan kenyataan dasar dalam bangunan sejarah, sebab ia (yang berpendapat seperti itu) membatasi peristiwa-peristiwa sejarah satu masa bahkan beberapa masa di bawah kendali kehendak seorang yang keliling di berbagai kota menghasut orang agar melawan pemerintahan lalu mereka memberontak terhadap pemerintahan tersebut, bukan karena sesuatu apapun melainkan pengaruh orang yang berkeliling itu!

Adapun kondisi pemerintahan, politik pemerintahan, kebejatan sistem ekonomi, keuangan dan pembangungan, kesemena-menaan para penguasa, monopoli hasilan bumi oleh para pejabat, pengangkatan Bani Umayyah  sebagai pejabat yang berkuasa atas leher-leher (umat), penyimpangan dari politik kerakyatan yang demokratis kepada politik kekeluargaan aristokrat kapitalis dan penghinaan terhadap orang yang dihormati banyak rakyat seperti Abu Dzarr, Ammar ibn Yasir dan kawan –kawan, adapun ini semua dan kondisi kehidupan sosisal yang selainnya, dalam pandangan mereka, tidaklah berperan sedikit pun dalam membangkitkan penduduk berbagai kota untuk melaan keluarga Umayyah dan yang berada di kelompok mereka! Penyebab pemberontakan terhadap Utsman tiada lain hanyalah Abdullah ibn Saba’ yang memalingkan masyarakat dari ketaatan kepada para pemimpin dan menaburkan kejahatan.

Bukankah berbahaya pemikiran, ketika muncul di dunia Timur penulis yang menganalisis peristiwa-peristiwa umum yang besar, yang terkait erat dengan watak jemaah dan dasar-dasar sistem ekonomi dan sosial dengan adanya pengaruh seorang dari kalangan orang biasa yang berkeliling kota menyebar kesesatan dan kejahatan di tengah-tengah masyarakat.

Tidaklah berbahaya pemikiran, kalau kita menganalisis revolusi perbaiakan dalam sejarah dengan analisis kekanak-kanakan, dengan bersandar kepada kecenderungan-kecenderungan sebagian orang yang berkehendak menimbulkan kekecauan lalu berkeliling negeri dan terjadilah kekacauan?[12]


[1] Wu’aadh as-Salathin :96 .

[2] Hayat Muhammad ;M.H. Haikal :136 .

[3] Syakhshiyyaat Qaliqah Fil Islam ;Abdurrahman Badawi :33 .

[4] Wu’aadh a-salathin : 97-98 .

[5] Ibid.111dan115 .

[6] Ibid.172-173 .

[7] Pada awal pasal al-Wardi telah menyebutkan bahwa kalangan Quraisy menyebut Ammar dengan al-Abd (si budak) dan Ibnu Sawda’ (putra wanita hitam), tentunya dengan nada mengejek.

[8] Tafsir Ruhul Ma’ani :6\312 .

[9] Al-Fitnah al-Kubra :1\128 .

[10] Ahlul bait ;Abdulhamiid as-Sahhar :66 .

[11] Wu’aadz as-salathin :176-180.

[12] Al-Imam Ali Shawtul ‘Adalah al-Insaniah :3\894-896 .

[6] Târîkh al Islâm,3/432. Lihat juga Thabaqât; Ibnu Sa’ad,3/64, Ansâb al Asyrâf,2/263, dan Târîkh Damasqus,39/251.

[7] Târîkh al Islâm,3/432.