Author: syiahali

syiah tidak sesat

ANALISIS HADIS “BARANGSIAPA MATI TANPA MENGENAL IMAM ZAMANNYA, MATINYA ADALAH MATI JAHILLIYAH”


بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

ya_ali

ada hadis Dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Rasulullah bersabda:
وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً
“Barangsiapa yang mati dan dilehernya tidak ada bai’at maka dia mati dalam keadaan jahiliyah.” (HR. Muslim No. 1851, Ath Thabarani dalam Al Kabir No. 769, dari Muawiyah, Alauddin Al Muttaqi Al Hindi dalam Kanzul ‘Ummal No. 14810, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 16389)
.
Maka, kematian orang yang tidak berbai’at kepada khalifah –jika dia ada- bermakna:
-    Matinya seperti orang yang mati pada zaman jahiliyah
–    Bukan dia-nya yang jahiliyah dan kafir
–    Dihitung sebagai orang yang bermaksiat
.
Para sahabat dan tabi’in ada yang tidak berbai’at
Ada pun tidak berbai’at kepada khalifah al ‘uzhma, telah terjadi pada masa-masa awal Islam. Imam Ath Thabari menceritakan, bahwa Ali Radhiallah ‘Anhu berkata pada Sa’ad bin Abi Waqqash Radhiallahu ‘Anhu: “Berbai’atlah Engkau!” Sa’ad menjawab: “Aku tidak akan berbai’at sebelum orang-orang semua berbai’at. Tapi demi Allah tidak ada persoalan apa-apa bagiku.” Mendengar itu Ali berkata: “Biarkanlah dia.”
.
Lalu Ali menemui Ibnu Umar  dan berkata yang sama, maka jawab Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma: “Aku tidak akan berbai’at sebelum orang-orang semua berbai’at.” Jawab Ali: “Berilah aku jaminan.” Jawab Ibnu Umar : “Aku tidak punya orang yang mampu memberi jaminan.” Lalu Al Asytar berkata: “Biar kupenggal lehernya!” Jawab Ali : “Akulah jaminannya, biarkan dia.” (Imam Ibnu Hazm, Al Fashl fil Milal wal Ahwa’ An Nihal, 4/103)
.
Imam Al Waqidi mencatat ada 7 orang kibarus shahabah   yang tidak memberikan bai’at pada Khalifah Ali Radhiallahu ‘Anhu  yaitu: Sa’ad bin Abi Waqqash, AbdullaH bin Umar, Shuhaib bin Sinan, Zaid bin Tsabbit, Muhammad bin Maslamah, Salamah bin Aqwa’ dan Usamah bin Zaid  Radhiallahu ‘Anhum. (Tarikh Ar Rusul, 4/429)

Satu persoalan utama yang sering terlepas pandang oleh umat Islam adalah sejak dari masa dini Islam lagi adalah kasus penting, perlunya keberadaan ‘Penunjuk Jalan’ atau Imam yang mana telah disabdakan oleh Rasul Junjungan saaw:

Ibn Abu Asim di dalam kitab al-Sunnah, halaman 489 meriwayatkan hadis ini:

من مات وليس عليه إمام مات ميتة جاهلية

Barangsiapa yang mati tanpa memiliki Imam, maka matinya adalah mati Jahiliyyah.

al-Albani di dalam komentarnya tentang hadis ini, menulis:

إسناده حسن ورجاله ثقات

Isnadnya hasan dan semua perawinya Tsiqah.

Ibn Hibban juga meriwayatkan di dalam Sahihnya, jilid 7 hlm 49:

من مات بغير إمام مات ميتة جاهلية

Barangsiapa mati tanpa Imam, matinya adalah mati Jahiliyyah.

Imam Muslim meriwayatkan di dalam sahihnya, kitab al Imarah:

“Barangsiapa mati sedangkan di lehernya tak ada bai’ah (kepada Khalifah) maka dia mati dalam keadaan mati jahiliyah.”

Maka, hadis ini adalah hadis yang sahih dan dipersetujui oleh semua kelompok Islam.

Walaupun terdapat perbedaan pandangan tentang maksudnya, kesahihan dan terkenalnya hadis ini diperakui sedemikian rupa hingga para pemimpin yang zalim pun gagal dalam menafikannya, makanya mereka mencari ulah dalam memutarbelitkan maknanya.

Allamah Amini berkata setelah mengutip hadis ini dari sumber-sumber Sunni yang sahih: Adalah sebuah kenyataan abadi bahawa sumber-sumber Sunni yang sahih telah membuktikannya dan umat tidak memiliki pilihan kecuali tunduk patuh kepadanya, dan keislaman seseorang itu tidak menjadi sempurna kecuali dia menerima konsep dan kandungan hadis ini

.

Konsepnya menjelaskan tentang kesudahan yang dahsyat bagi mereka yang matinya tanpa Imam, dan orang seperti itu adalah jauh dari keselamatan dan rahmat. Kematian zaman Jahiliyyah adalah sebuah kematian yang mengerikan, iaitu kematian atheisme dan tanpa iman.

Bagi menjelaskan hadis ini, maksud kata Jahiliyyah haruslah terlebih dahulu difahami.

Dari sudut pandang Al Quran dan hadis, zaman kenabian Rasul saaw adalah zaman ilmu, manakala zaman sebelum misi kenabian adalah zaman Jahiliyyah, iaitu, sebelum misi kerasulan Baginda saaw, umat tidak mengetahui cara dan jalan untuk mengenali realiti-realiti kewujudan disebabkan oleh penyimpangan pada agama-agama yang diwahyukan dan apa yang jelas pada masyarakat saat itu atas nama agama adalah tidak lebih dari tahyul dan ilusi

.

Bahkan agama-agama yang sudah diselewengkan dan penuh dengan kepercayaan-kepercayaan ilusi ini, telah dijadikan alat oleh segelintir pihak yang kaya dan berkuasa saat itu untuk menguasai dan menekan masyarakat awam, sebuah realiti yang dirakam kemas dalam sejarah.

Misi suci Rasul saaw adalah permulaan bagi era ilmu pengetahuan. Misi dasar dan utama Rasul saaw adalah memerangi kepercayaan tahyul dan penyimpangan dan menjelaskan pada masyarakat tentang kebenaran.

MENGENALI IMAM YANG MANA?

Dengan sedikit pertimbangan terhadap kandungan hadis yang kita bicarakan ini dan atas apa yang kita bicarakan di atas, langsung tidak membuka ruang keraguan buat kita untuk mencari jawaban pada persoalan yang dikemukakan: Imamah Imam yang manakah yang menjamin keberlangsungan Islam yang murni, yang jika diabaikan oleh umat, bisa menjerumuskan mereka pada status Jahiliyyah?

Mungkinkah yang dimaksudkan oleh hadis suci ini adalah mentaati siapapun yang berkuasa untuk mengurus umat yang kita diwajibkan taat dan patuh, jika mana kita ingkar, akan mengakibatkan kita mati Jahiliyyah, tanpa peduli samada pemimpin itu bejat dan menyeleweng, atau sebagaimana yang disebut oleh Al Quran:

“Imam-imam yang mengajak orang ke neraka”. (QS. al-Qashash: 41)

Menjadi bukti bahawa semua pemimpin yang menyeleweng sepanjang sejarah Islam telah menggunakan hadis ini guna melegalisasikan kepemimpinan dan mengukuhkan penguasaan mereka ke atas umat. Bahkan ulama-ulama yang biasa mendatangi istana para Raja dan para pendakwah di istana-istana menterjemahkan hadis Nabi saaw ini lalu mengalungkannya ke leher para pemerintah yang menyeleweng ini. Adalah jelas, perbuatan mereka itu bukanlah disebabkan oleh salahfaham mereka tentang maksud sebenar akan hadis ini, sebaliknya ia adalah mainan kata semata-mata.

Adalah sukar untuk kita percaya, sebagaimana yang dijelaskan di dalam Syarah Nahjul Balaghah oleh Ibn Abi al Hadid, bahawa Abdullah ibn Umar enggan membaiah Amirul Mukminin Ali bin Abi Talib as disebabkan oleh kesalahfahaman dan tidak memiliki pengetahuan mendalam, namun berpegang teguh pada hadis “Barangsiapa mati tanpa Imam…” yang dia riwayatkan sendiri lalu, tanpa membuang waktu telah pergi bertemu dengan Hajjaj bin Yusuf pada malam hari untuk memberikan bai’ahnya kepada Abdul Malik bin Marwan, sang Khalifah…kerana dia tidak mahu melalui malamnya tanpa adanya Imam!

Namun, apakah orang yang zalim dan kejam seperti para pemimpin dari Bani Umayyah dan Bani Abbassiyah layak untuk digelar Imam?

Allah SWT berfirman:

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: ” (Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim”.
QS. al-Baqarah (2) : 124

Dalam ayat yang kami bawakan ini, jelas, Imam tidak bisa disandang oleh mereka yang zalim, itu janji Allah.

Imamah adalah satu janji Allah, dikurniakanNya hanya kepada orang yang adil, zuhud dan suci maksum. Andai para Imam tidak memiliki ciri ciri kemaksuman ini, pastilah mereka terdedah pada kesalahan dan akan menjerumuskan umat pada kesalahan juga. Ini bertentangan dengan firman Allah yang berikut:

a) Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolongpun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.
QS. Hud (11) : 113

b) Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antara mereka.
QS. al-Insan (76) : 24

Dalam kedua dua ayat di atas, Allah telah memerintahkan kita agar jangan cenderung pada orang yang zalim dan jangan mengikuti orang yang berdosa. Maka, tanggapan kelompok jumhur bahawa para Khalifah wajib ditaati tanpa bantahan adalah bertentangan dengan perintah Allah dalam ayat ayat di atas.

Andaikata Imam bisa melakukan kesalahan, umat sendiri akan turut melakukan kesalahan kerana mengikuti Imam yang salah. Hal seperti ini tidak bisa diterima memandangkan kepatuhan dalam dosa adalah suatu dosa, dilarang dan bertentangan dengan syariah. Tambahan pula, Imam akan dipatuhi dan diingkari pada masa yang sama dan ini adalah mustahil.

Kepercayaan kelompok Jumhur bahawa umatlah yang memilih pemimpin atau Imam juga adalah bertentangan dengan firman Allah berikut:

a) Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilih-Nya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia).
QS. al-Qashash (28) : 68

b) Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah.
QS. al-Anbiya (21) : 73

c) Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.
QS. as-Sajdah (32) : 24

Ayat ayat di atas dengan jelas membuktikan bahawa para pemimpin atau Imam adalah dipilih oleh Allah sendiri, dan ini berlawanan dengan kepercayaan jumhur.

Lalu siapakah para Imam yang Allah pilih ini yang jika kita tidak mengenalnya, maka mati kita adalah matinya jahiliyah?

Mari kita telusuri hadis suci Nabi saaw untuk mendapatkan gambaran jelas tentang hal ini.

الْأَئِمَّةُ مِنْ قُرَيْشٍ .
“ Para imam itu dari suku Quraisy.”

Hadits di atas (Al-a`immatu min Quraisy) diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dalam Al-Musnad (11859) dari Anas bin Malik dan Abu Barzah Al-Aslami (18941); An-Nasa`i dalam As-Sunan Al-Kubra (5942); Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf dari Anas (54/8) dan Ali bin Abi Thalib (54/17); Abdurrazaq dalam Al-Mushannaf dari Ali (19903); Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (7061) dari Ali; Ath-Thabarani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir dari Anas (724) dan dalam Ash-Shaghir dari Ali (426); Al-Baihaqi dalam Ma’rifatu As-Sunan wa Al-Atsar dari Anas (1595); Ath-Thayalisi dalam Al-Musnad (957) dari Abu Barzah dan Anas (2325); Al-Khallal dalam As-Sunnah (34) dari Salman Al-Farisi dan Ali (64); Ibnu Abi Ashim dalam As-Sunnah (929) dari Anas dan Abu Barzah (934); Ar-Ruyani dalam Al-Musnad (746, 750) dari Abu Barzah; Abu Ya’la Al-Maushili dalam Al-Mu’jam (155); Ibnul A’rabi dalam Al-Mu’jam (2259) dari Ali; Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq (4635) dari Anas; dan Ibnu Adi dalam Al-Kamil (biografi Ibrahim bin Athiyah Al-Wasithi) dari Anas.

Tentang sanadnya, Imam Al-Haitsami berkata, “Diriwayatkan Ahmad, Abu Ya’la, Ath-Thabarani dalam Al-Awsath, dan Al-Bazzar ( Dalam riwayat Al-Bazzar dengan lafal, “Al-Mulku fi Quraisy.”)

Para perawi Ahmad adalah orang-orang tsiqah (terpercaya)” (Majma’ Az- Zawa`id (8978).

Al-Hafizh Al-Iraqi berkata, “Diriwayatkan An-Nasa`i dan Al-Hakim dari hadits Anas dengan sanad shahih” (Takhrij Ahadits Al-Ihya` (3711).

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata, “Diriwayatkan An-Nasa`i dari Anas, Ath-Thabarani dalam Ad-Du’a`, dan Al-Bazzar serta Al-Baihaqi dengan beberapa jalur periwayatan dari Anas. Saya katakan, sungguh saya telah mengumpulkan jalur-jalur riwayat hadits ini dalam satu juz tersendiri dimana ia diriwayatkan oleh hampir empat puluh orang sahabat. … Dan sanadnya hasan” (At-Talkhish Al-Habir (1987).

Syaikh Syu’aib Al-Arna`uth berkata, “Hadits shahih dengan berbagai jalur periwayatan dan hadits-hadits lain yang menguatkannya” (Musnad Ash-Shahabah fi Al-Kutub At-Tis’ah (527).

Syaikh Al-Albani berkata, “Shahih, diriwayatkan dari sejumlah sahabat, di antaranya yaitu: Anas bin Malik, Ali bin Abi Thalib, dan Abu Barzah Al-Aslami” (Irwa` Al-Ghalil (520). Al-Albani juga menshahihkan hadits ini dalam Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir (4523 dan 4524) dan dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib (2188 dan 2259).

Secara ringkas, demikian para ulama lain yang menshahihkan hadits ini; Imam Al-Munawi ( Faidh Al-Qadir (3108).

Syaikh Muhammad Ja’far Al-Kattani ( Nuzhum Al-Mutanatsir min Al-Hadits Al-Mutawatir (175).

Al-Ajluni (Kasyfu Al-Khafa` (850), Al-Burhanfuri (Kanzu Al-‘Ummal (1649, 14792, 23800) dan lain lain

Maka dari hadis ini kita tahu bahawa para Imam itu adalah dari Quraisy. Namun, berapa ramaikah mereka ini? Hadis berikut menjelaskannya

Jabir bin Samurah berkata: “Aku mendengar Rasulullah saaw bersabda: “Islam akan senantiasa kuat di bawah 12 Khalifah”. Baginda kemudian mengucapkan kata kata yang tidak aku fahami, lalu aku bertanya bapaku apakah yang dikatakan oleh Rasulullah saaw. Beliau menjawab: “Semuanya dari Quraisy” (Muslim. Sahih, jilid VI, hlm 3, Bukhari, Sahih, jilid VIII, hlm 105, 128)

Apakah semua yang berstatus Quraisy layak menyandang gelaran Imam atau Khalifaf ini? Hadis berikut pula merincikan siapakah para Imam atau Khalifah yang berjumlah 12 orang itu

Nabi saaw bersabda: “Setelahku akan ada 12 Khalifah, semuanya dari Bani Hasyim” (Qunduzi Hanafi, Yanabi’ al Mawaddah, jilid III, hlm 104)

Mungkin ada di kalangan yang berpenyakit dalam hati akan menyanggah hadis ini dan mengatakan ianya tidak sahih. Jika demikian, kami persilakan anda teruskan membaca hadis berikutnya pula

Dari Zaid bin Tsabit RA yang berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya Aku telah meninggalkan di tengah-tengah kalian dua Khalifah yaitu Kitab Allah yang merupakan Tali yang terbentang antara bumi dan langit, serta KeturunanKu Ahlul BaitKu. Keduanya tidak akan berpisah sampai menemuiKu di Telaga Surga Al Haudh. (Hadis Ini diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal dalam Musnad Ahmad jilid 5 hal 182, Syaikh Syuaib Al Arnauth dalam Takhrij Musnad Ahmad menyatakan bahwa hadis ini shahih. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Kabir jilid 5 hal 154, Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid jilid 1 hal 170 berkata “para perawi hadis ini tsiqah”. Hadis ini juga disebutkan oleh As Suyuthi dalam Jami’ Ash Shaghir hadis no 2631 dan beliau menyatakan hadis tersebut Shahih.)

Maka, jika kita menyusun kembali semua premis premis yang dibawakan di atas, kita bisa menyimpulkan seperti berikut:

1. Sepeninggalan Rasul saaw, ada pengganti beliau yang dipanggil Imam/ khalifah

2. Imam/Khalifah ini berjumlah 12 orang

3. Kesemua mereka adalah dari Quraisy

4. Kesemua mereka adalah dari Bani Hasyim

5. Kesemua mereka adalah Ahlul Bayt Nabi as

Maka dengan ini, siapapun selain dari Ahlul Bayt as yang mendakwa diri mereka sebagai Khalifah atau Imam umat, dakwaan mereka tertolak. Hujjah yang kami bawakan di atas tidak membuka ruang walau sekecil apapun untuk memberikan jabatan Khalifah/ Imamah pada selain Ahlul Bayt as

Masalah Kekhalifahan adalah masalah yang sangat penting dalam Islam. Masalah ini adalah dasar penting dalam penerapan kehidupan keislaman, setidaknya begitu yang saya tahu :mrgreen: . Kata Khalifah sendiri menyiratkan makna yang beragam, bisa sesuatu dimana yang lain tunduk kepadanya, sesuatu yang menjadi panutan, sesuatu yang layak diikuti, sesuatu yang menjadi pemimpin, sesuatu yang memiliki kekuasaan dan mungkin masih ada banyak lagi ;)

Saat Sang Rasulullah SAW yang mulia masih hidup maka tidak ada alasan untuk Pribadi Selain Beliau SAW untuk menjadi khalifah bagi umat Islam. Hal ini cukup jelas kiranya karena sebagai sang Utusan Tuhan maka Sang Rasul SAW lebih layak menjadi seorang Khalifah. Sang Rasul SAW adalah Pribadi yang Mulia, Pribadi yang selalu dalam kebenaran, dan Pribadi yang selalu dalam keadilan. Semua ini sudah jelas merupakan konsekuensi dasar yang logis bahwa Sang Rasulullah SAW adalah Khalifah bagi umat Islam.

Lantas bagaimana kiranya jika Sang Rasul SAW wafat? siapakah Sang Khalifah pengganti Beliau SAW? Atau justru kekhalifahan itu sendiri menjadi tidak penting. Pembicaraan ini bisa sangat panjang dan bagi sebagian orang akan sangat menjemukan. Dengan asumsi bahwa kekhalifahan akan terus ada maka Sang khalifah setelah Rasulullah SAW bisa berupa

* Khalifah yang ditunjuk oleh Rasulullah SAW
* Khalifah yang diangkat oleh Umat Islam

Kedua Premis di atas masih mungkin terjadi dan tulisan ini belum akan membahas secara rasional premis mana yang benar atau lebih benar. Tulisan kali ini hanya akan menunjukkan adanya suatu riwayat dimana Sang Rasulullah SAW pernah menyatakan bahwa Ahlul Bait adalah Khalifah bagi Umat Islam. Bagaimana sikap orang terhadap riwayat ini maka itu jelas bukan urusan penulis :mrgreen:

.

Dari Zaid bin Tsabit RA yang berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya Aku telah meninggalkan di tengah-tengah kalian dua Khalifah yaitu Kitab Allah yang merupakan Tali yang terbentang antara bumi dan langit, serta KeturunanKu Ahlul BaitKu. Keduanya tidak akan berpisah sampai menemuiKu di Telaga Surga Al Haudh. (Hadis Ini diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal dalam Musnad Ahmad jilid 5 hal 182, Syaikh Syuaib Al Arnauth dalam Takhrij Musnad Ahmad menyatakan bahwa hadis ini shahih. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Kabir jilid 5 hal 154, Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid jilid 1 hal 170 berkata “para perawi hadis ini tsiqah”. Hadis ini juga disebutkan oleh As Suyuthi dalam Jami’ Ash Shaghir hadis no 2631 dan beliau menyatakan hadis tersebut Shahih.)

Hadis di atas adalah Hadis Tsaqalain dengan matan yang khusus menggunakan kata Khalifah. Hadis ini adalah hadis yang Shahih sanadnya dan dengan jelas menyatakan bahwa Al Ithrah Ahlul Bait Nabi SAW adalah Khalifah bagi Umat islam. Oleh karena itu Premis bahwa Sang Khalifah setelah Rasulullah SAW itu ditunjuk dan diangkat oleh Rasulullah SAW adalah sangat beralasan :mrgreen:

KHALIFAH UMAT ISLAM ADALAH AHLUL BAIT

Rasulullah SAW  menegaskan bahwa khalifah umat Islam yang sah sepeninggal beliau adalah dari kalangan Ahlul Bait dan keturunannya. Simak hadis berikut di bawah ini.

  

 

Dari Zaid bin Tsabit RA yang berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda :  “ Sesungguhnya Aku telah meninggalkan di tengah-tengah kalian dua Khalifah yaitu Kitab Allah yang merupakan Tali yang terbentang antara bumi dan langit, serta Keturunanku Ahlul BaitKu. Keduanya tidak akan berpisah sampai menemuiku di Telaga Surga Al Haudh ”.

Hadis Ini diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal dalam Musnad Ahmad jilid 5 hal 182, Syaikh Syuaib Al Arnauth dalam Takhrij Musnad Ahmad menyatakan bahwa hadis ini shahih. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Kabir jilid 5 hal 154, Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid jilid 1 hal 170 berkata “para perawi hadis ini tsiqah”. Hadis ini juga disebutkan oleh As Suyuthi dalam Jami’ Ash Shaghir hadis no 2631 dan beliau menyatakan hadis tersebut Shahih.

Hadis ini adalah hadis yang sahih sanadnya dan dengan jelas menyatakan bahwa Al Ithrah , Ahlul Bait Nabi SAW adalah Khalifah bagi Umat Islam sepeninggal Rasulullah Muhammad SAW. Hal ini juga menegaskan bahwa Khalifah setelah Rasulullah SAW itu ditunjuk dan diangkat oleh Rasulullah SAW  sendiri.

KEHARUSAN BER – IMAMAH

Mazhab Syi’ah Imamiyah Itsna ‘Asyariyah, meyakini dengan seyakin – yakinnya bahwa Kepemimpinan Umat        ( IMAMAH ) dalam urusan agama dan dunia sepeninggal Nabiyullah Muhammad SAW telah ditetapkan oleh Rasulullah Muhammad SAW dan wasiat para Imam sesudah beliau. Kami meyakini dengan seyakin – yakinnya bahwa Pemimpinan Umat , dengan berbagai istilah seperti Imam, Khalifah, Ulil Amri, Wali dan lain – lain – hanya berhak disandang oleh para pemimpin dari kalangan Ahlul Bait Nabi SAW dan keturunannya yang berjumlah 12 orang.

Kenapa kami harus memiliki keyakinan seperti ini ?. Apakah karena kami tertipu oleh ulah si Yahudi Abdullah bin Saba’ , seperti yang sering diembus – embuskan oleh musuh – musuh dan pembenci Syi’ah ?. Absolutely, not !.

Sebabnya ialah – meminjam ungkapan Sayyid Syarafuddin Al Musawi – bahwa dalil – dalil ( petunjuk, nash )  syari’ah telah memaksa kami untuk berpegang teguh hanya kepada para Imam Ahlul Bait Nabi SAW dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam kepemimpinan umat dan rujukan agama. Dalil – dalil yang pasti dan meyakinkan itulah yang telah menghilangkan pilihan lain bagi setiap mukmin dan menghalanginya dari apa yang diinginkannya ( andaikata ia ingin memilih sesuatu yang lain ) !.

Dalil – dalil syari’ah yang kami maksud tidak saja terdapat di dalam kitab – kitab hadis yang berasal dari kalangan ulama kami, tetapi juga termaktub di banyak kitab –hadis dari para ulama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah ( Sunni ). Diantaranya ,misalnya, keharusan berimam atau memiliki Imam dan mengenal Imam zamannya.

Banyak sekali hadis dari kalangan Ahlus Sunnah yang meriwayatkan sabda Nabi SAW tentang keharusan ber- Imam atau memiliki Imam dan mengenal Imam zamannya, diantaranya :

  • “Barangsiapa mati tanpa Imam, maka ia mati dalam keadaan jahiliyah”
  • “Barangsiapa meninggal dan tidak mengetahui Imam zamannya, maka ia meninggal dalam keadaan jahiliyah “

Orang yang tidak berImam dan tidak mengenal Imam zamannya akan mati dalam keadaan jahiliyah. Mati dalam keadaan jahiliyah diartikan sebagai mati tidak dalam keadaan Islam. Jadi,  keharusan ber-Imam dan mengenal Imam zamannya merupakan kewajiban setiap mukmin. Sehingga tidak bisa dipungkiri lagi bahwa  Imamah merupakan salah satu pokok ajaran agama.

 

12 IMAM / KHALIFAH

Mazhab Syi’ah Imamiyah ‘Itsna Asyariyah meyakini bahwa  Kepemimpin Umat  ( Imamah ) sepeninggal Rasulullah Muhammad SAW, dengan berbagai jabatan seperti Imam, Khalifah, Wali dan sebagainya berjumlah 12 orang yang semuanya berada dalam garis keturunan Ahlul Bait Nabi SAW.

Riwayat – riwayat tentang 12 Pemimpin ini dapat kita temukan di dalam kitab – kitab hadis di kalangan ulama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Rasulullah SAW bersabda : “ Agama ( Islam ) akan selalu tegak dan kukuh sampai tiba saatnya atau sampai berlalu dua belas khalifah( pemimpin ), semuanya dari Quraisy “

( Sahih Muslim, jilid 6 halaman 3 – 4 , Bab  “ Manusia Mengikuti Orang Quraisy, Kitab Pemerintahan. Hadis ini juga terdapat di dalam kitab Shahih Tirmidzi, Bab  “ Apa yang terjadi pada para khalifah melalui pintu fitnah “, Sunan Abi Dawud, jilid 3 halaman 106, dll ).

2. Diriwayatkan oleh Bukhari dari Jabir yang berkata : “ Aku mendengar Nabi SAW bersabda : “ Akan ada dua belas amir ( pemimpin ) dan kemudian belia bersabda dengan kalimat yang tidak aku pahami. Dan, ayahku berkata : “ Semuanya dari orang Quraisy “.

Dan, dalam riwayat lain lagi ; “ Kemudian Nabi bersabda dengan kalimat yang sulit aku pahami dan aku bertanya kepada ayahku apa yang disabdakan Rasulullah SAW, maka ( ayahku ) berkata : “ Semuanya orang Quraisy “.

( Fat’l Al Bari, jilid 16, hal. 338, Mustadrak Shahihain, jilid 3, hal. 617 )

3. Rasulullah bersabda : “ Urusan manusia ( amr an nas ) tidak akan berlalu sebelum berlalu dua belas orang yang menjadi wali ( penguasa )”

 

( Shahih Muslim bi Syarh Nawawi, jilid 12 hal. 202, Jalaluddin As Suyuthi, Tarikh Al Khulafa, hal. 10 dll ).

 

4. Rasulullah SAW bersabda : “ Urusan umat ini ( amr hadzihil ummah ) senantiasa akan jaya sampai berlalu dua belas imam ( pemimpin ), semuanya orang Quraisy “ ( Kanzul – ‘Ummal, jilid 13, hal. 27 ).

5. Dan diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Al Hakim dengan lafal  seperti yang pertama, dari Masruq yang berkata : “ Kami sedang duduk suatu malam di rumah ‘Abdillah ( Ibnu Mas’ud ) yang membacakan kepada kami Al Qur’an. Seorang lelaki mengajukan pertanyaan : “ Ya ayah dari ‘Abdurrahman, apakah kamu pernah bertanya kepada Rasul Allah SAW berapa khalifah dari umat    ini ? “. Maka, ‘Abdillah menjawab : “ Tiada seorangpun bertanya tentang masalah ini sampai saya datang dari Iraq sebelum anda !”. Menanyakannya dan beliau SAW bersabda : “ Dua belas seperti jumlah dua belas nuqaba ( pemimpin ) Banu Israil “

 

( Musnad Ahmad, jilid 1, hal. 398, 406 ; Al Hakim, Mustadrak, jilid 4, hal. 501, Fat’h – Al Bari, jilid 16, hal. 339 dll ).

Lantas, siapa 12 Imam / Khalifah yang wajib dikenal dan ditaati itu yang dengannya kita tidak akan mati dalam keadaan jahiliyah ?. Kami, kaum muslimin dari mazhab Syi’ah Imamiyah ‘Itsna ‘Asyariyah ( Syi’ah 12 Imam ) berkeyakinan mereka adalah para Imam / Khalifah dari Ahlul Bait Nabi SAW dan Keturunannya , dimulai dari Imam Ali bin Abi Abi Thalib dan berakhir pada Imam Mahdi afs.

Nah, pertanyaan buat Ustad   Aswaja  Sunni  dan para pengikutnya . Tolong sebutkan siapa saja nama – nama 12 Imam yang wajib kalian kenal dan kalian ta’ati itu ?.

firman Allah SWT di dalam KitabNya yang menjadikan  kontinuitas kepemimpinan di dalam keturunan Nabiyullah Ibrahim AS. Simak Surah Al Baqarah   ( 2 ) ayat 124.

“ Dan ( ingatlah )  ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat            ( perintah dan larangan ), lalu Ibrahim melaksanakannya dengan baik. Allah berfirman : “ Sesungguhnya Aku akan menjadikan engkau pemimpin ( imam ) bagi manusia “. Ibrahim berkata : “ Dan dari keturunanku ( juga ) ! “. Allah berfirman : “ Janjiku ( ini ) tidak akan diperoleh orang – orang yang zalim “.

Ayat di atas menegaskan bahwa Allah SWT akan menjadikan para Imam di dalam garisi keturunan Nabi Ibrahim AS . Di bagian lain Ibrahim AS berdo’a kepada Allah SWT  seperti termaktub di dalam Surah Ibrahim ( 14 )  ayat 37, sbb :

“ Tuhan kami, sesungguhnyab aku telah menempatkan  sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam – tanaman di dekat rumahMu ( baitullah ) yang dihormati. Ya Tuhan kami, ( yang demikian itu ) agar mereka mendirikan sholat, maka jadikanlah hati manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah – buahan, mudah – mudahan mereka bersyukur “

Semua ahli tafsir sependapat bahwa Nabi Muhammad SAW dan Ahlul Bait beliau merupakan keturunan  ( dzurriyah ) dari Nabi Ibrahim AS.

Pendapat Ulama Sunni Tentang 12 Pemimpin

BAGIAN I
Hadis 12 Pemimpin

 

روى‌ جابر بن‌ سَمُرة‌ فقال‌: سمعت‌ُ النبيّ صلّي‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌ يقول‌: يكون‌ اثنا عشر أميراً. فقال‌ كلمة‌ً لم ‌أسمعها، فقال‌ أبي‌: أنّه‌ قال‌: كلّهم‌ من‌ قريش‌.

Jabir bin Samurah meriwayatkan,  “Aku mendengar Nabi (saww) berkata” :”Kelak akan ada Dua Belas Pemimpin.” Ia lalu melanjutkan kalimatnya yang saya tidak mendengarnya secara jelas. Ayah saya mengatakan, bahwa Nabi menambahkan, ”Semuanya berasal dari suku Quraisy.”[Sahih Bukhari (inggris),  Hadits: 9.329, Kitabul Ahkam;  Sahih al-Bukhari (arab) , 4:165, Kitabul Ahkam]

BAGIAN II

Pendapat Para Ulama Sunni

  Ibn Arabi 

…فعددنا بعد رسول‌ الله صلّي‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌ اثني‌ عشر أميرًا، فوجدنا أبابكر، عمر، عثمان‌، عليًّا، الحسن‌، معاوية‌، يزيد، معاوية‌ بن‌ يزيد، مروان‌، عبد الملك‌ بن‌ مروان‌، الوليد، سليمان‌، عمر بن‌ عبد العزيز، يزيد بن‌ عبدالملك ، ‌مروان‌ بن محمد بن مروان، السفّاح‌،… وبعده‌ سبعة‌ وعشرون‌ خليفة‌ بن‌ بني‌ العبّاس‌. وإذا عددنا منهم‌ اثني‌ عشر انتهي‌ العدد بالصّورة‌ إلي‌ سليمان‌ بن‌ عبد الملك‌. وإذا عددناهم‌ بالمعني‌ كان‌ معنا منهم‌ خمسة‌، الخلفاء الاربعة‌، وعمر بن‌ عبد العزيز.

ولم‌ أعلم‌ للحديث‌ معني‌. ابن‌ العربي‌ّ، «شرح‌ سنن‌ التّرمذي‌ّ» 9: 68 ـ 69

Kami telah menghitung pemimpin (Amir-Amir) sesudah Nabi (sawa) ada dua belas. Kami temukan nama-nama mereka itu sebagai berikut: Abubakar, Umar, Usman, Ali, Hasan, Muawiyah, Yazid, Muawiyah bin Yazid, Marwan, Abdul Malik bin Marwan, Yazid bin Abdul Malik, Marwan bin Muhammad bin Marwan, As-Saffah… Sesudah ini ada lagi 27 khalifah Bani Abbas.

Jika kita perhitungkan 12 dari mereka, kita hanya sampai pada Sulaiman. Jika kita ambil apa yang tersurat saja, kita cuma mendapatkan 5 orang di antara mereka dan kepadanya kita tambahkan 4 ‘Khalifah Rasyidin’, dan Umar bin Abdul Aziz….

Saya tidak paham arti hadis ini. [Ibn Arabi, Syarh Sunan Tirmidzi, 9:68-69]

Qadi Iyad Al-Yahsubi  

قال‌: إنّه‌ قد ولي‌ أكثر من‌ هذا العدد. وقال‌: وهذا اعتراض‌ باطل‌ لانّه‌ صلّى‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌ لم‌ يقل‌: لايلي‌ الاّ اثنا عشرخليفة‌؛ وإنّما قال‌: يلي‌. وقد ولي‌ هذا العدد، ولايضرّ كونه‌ وُجد بعدهم‌ غيرهم‌. النووي‌ّ: «شرح‌ صحيح‌ مسلم‌» 12: 201 ـ 202. ابن‌ حجر العسقلاني‌ّ: «فتح‌ الباري‌» 16: 339

Jumlah khalifah yang ada lebih dari itu. Adalah keliru untuk membatasinya hanya sampai angka dua belas. Nabi (saw) tidak mengatakan bahwa jumlahnya hanya dua belas dan bahwa tidak ada tambahan lagi. Maka mungkin saja jumlahnya lebih banyak lagi. [Al-Nawawi, Syarh Shahih Muslim, 12:201-202;  Ibn Hajar al-'Asqalani, Fath al-Bari, 16:339]

Jalaludin as-Suyuti

إن‌ّ المراد وجود اثني‌ عشر خليفة‌ في‌ جميع‌ مدّة‌ الاسلام‌ إلي‌ يوم‌ القيامه‌ يعملون‌ بالحق‌ّ وإن‌ لم‌ تتوال‌ أيّامهم‌…وعلى‌ هذا فقد وُجد من‌ الاثني‌ عشر خليفة‌ الخلفاء الاربعة‌، والحسن‌، ومعاوية‌، وابن‌ الزّبير، وعمر بن‌ عبد العزيز، هؤلاء ثمانية‌. ويحتمل‌ أن‌ يُضم‌ّ إليهم‌ المهتدي‌ من‌ العبّاسيّين‌، لانّه‌ فيهم‌ كعمر بن‌ عبد العزيز في‌ بني‌ أُميّة‌. وكذلك الطاهر لما اوتي‌ من‌ العدل‌، وبقي‌ الاثنان‌ المنتظران‌ أحدهما المهدي‌ لانّه‌ من‌ آل‌ بيت‌ محمّد صلّي‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌. السّيوطي‌: «تاريخ‌ الخلفاء»: 12. ابن‌ حجر الهيثمي‌ّ: الصّواعق‌ المحرقة‌: 19

Hanya ada dua belas Khalifah sampai hari kiamat. Dan mereka akan terus melangkah dalam kebenaran, meski mungkin kedatangan mereka tidak secara berurutan. Kita lihat bahwa dari yang dua belas itu, 4 adalah Khalifah Rasyidin, lalu Hasan, lalu Muawiyah, lalu Ibnu Zubair, dan akhirnya Umar bin Abdul Aziz. Semua ada 8. Masih sisa 4 lagi. Mungkin Mahdi, Bani Abbasiyah bisa dimasukkan ke dalamnya sebab dia seorang Bani Abbasiyah seperti Umar bin Abdul Aziz yang (berasal dari) Bani Umayyah. Dan Tahir Abbasi juga bisa dimasukkan sebab dia pemimpin yang adil. Jadi, masih dua lagi. Salah satu di antaranya adalah Mahdi, sebab ia berasal dari Ahlul Bait Nabi (as).” [Al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa, Halaman 12; Ibn Hajar al-Haytami, Al-Sawa'iq al-Muhriqa Halaman 19]

Ibn Hajar al-’Asqalani 

لم‌ ألق‌ أحدًا يقطع‌ في‌ هذا الحديث‌، يعني‌ بشي‌ء معيّن‌؛ فان‌ّ في‌ وجودهم‌ في‌ عصر واحد يوجد عين‌ الافتراق‌، فلايصح‌ّ أن‌ يكون‌ المراد. ابن‌ حجر العسقلاني‌ّ، «فتح‌ الباري‌» 16: 338 ـ 341

Tidak seorang pun mengerti tentang hadis dari Sahih Bukhari ini.

Adalah tidak benar untuk mengatakan bahwa Imam-imam itu akan hadir sekaligus pada satu saat bersamaan. [Ibn Hajar al-'Asqalani, Fath al-Bari 16:338-341]

 Ibn al-Jawzi  

وأوّل‌ بني‌ أُميّة‌ يزيد بن‌ معاوية‌، وآخرهم‌ مروان‌ الحمار. وعدّتهم‌ ثلاثة‌ عشر. ولايعدّ عثمان‌، و معاوية‌، ولا ابن‌ الزّبير لكونهم‌ صحابة‌. فإذا أسقطناهم‌ منهم‌ مروان‌ بن‌ الحكم‌ للاختلاف‌ في‌ صحبته‌، أو لانّه‌ كان‌ متغلّبًا بعد أن‌ اجتمع‌ النّاس‌على‌ عبد الله بن‌ الزّبير صحّت‌ العدّة‌…وعند خروج‌ الخلافة‌ من‌ بني‌ أُميّة‌ وقعت‌ الفتن‌ العظيمة‌ والملاحم‌ الكثيرة‌ حتّى ‌استقرّت‌ دولة‌ بني‌ العبّاس‌، فتغيّرت‌ الاحوال‌ عمّا كانت‌ عليه‌ تغيّرًا بيّنًا. ابن‌ الجوزي‌ّ ، «كشف‌ المشكل‌» ، نقلاً عن‌ ابن‌ حجر العسقلاني‌ّ في‌ «فتح‌ الباري‌» 16: 340، عن‌ سبط‌ ابن‌ الجوزي‌ّ.

Khalifah pertama Bani Umayyah adalah Yazid bin Muawiyah dan yang terakhir adalah Marwan Al-Himar. Total jumlahnya tiga belas. Usman, Muawiyah dan Ibnu Zubair tidak termasuk karena mereka tergolong Sahabat Nabi (s).  Jika kita kecualikan (keluarkan) Marwan bin Hakam karena adanya kontroversi tentang statusnya sebagai Sahabat atau karena ia berkuasa padahal Abdullah bin Zubair memperoleh dukungan masyarakat, maka kita mendapatkan angka Dua Belas.… Ketika kekhalifahan muncul dari Bani Umayyah, terjadilah kekacauan yang besar sampai kukuhnya (kekuasaan) Bani Abbasiyah. Bagaimana pun, kondisi awal telah berubah total. [Ibn al-Jawzi, Kashf al-Mushkil, sebagaimana dikutip dalam Ibn Hajar al-'Asqalani, Fath al-Bari 16:340 dari Sibt Ibn al-Jawzi]

Al-Nawawi

ويُحتمل‌ أن‌ المراد [بالائمّة‌ الاثني‌ عشر] مَن‌ْ يُعَزُّ الإسلام‌ في‌ زمنه‌ ويجتمع‌ المسلمون‌ عليه‌.

النووي‌ّ، «شرح‌ صحيح‌ مسلم‌» 12: 202 ـ 203

Ia bisa saja berarti bahwa kedua belas Imam berada dalam masa (periode) kejayaan Islam. Yakni ketika Islam (akan) menjadi dominan sebagai agama. Para Khalifah ini, dalam masa kekuasaan mereka, akan menyebabkan agama menjadi mulia.[Al-Nawawi, Sharh Sahih Muslim ,12:202-203]

 Al-Bayhaqi   

وقد وُجد هذا العدد (اثنا عشر) بالصفة‌ المذكورة‌ إلي‌ وقت‌ الوليد بن‌ يزيد بن‌ عبد الملك. ثم‌ّ وقع‌ الهرج‌ والفتنة ‌العظيمة‌…ثم‌ّ ظهر ملك العبّاسيّة‌…وإنّما يزيدون‌ على‌ العدد المذكور في‌ الخبر إذا تركت‌ الصفة‌ المذكورة‌ فيه‌، أو عُدَّ منهم ‌من‌ كان‌ بعد الهرج‌ المذكور فيه‌.

ابن‌ كثير: «البداية‌ والنّهاية‌» 6: 249؛ السّيوطي‌ّ، «تاريخ‌ الخلفاء»:11

Angka (dua belas) ini dihitung hingga periode Walid bin Abdul Malik. Sesudah ini, muncul kerusakan dan kekacauan. Lalu datang masa dinasti Abbasiyah. Laporan ini telah meningkatkan jumlah Imam-imam. Jika kita abaikan karakteristik mereka yang datang sesudah masa kacau-balau itu, maka angka tadi menjadi jauh lebih banyak.” [Ibn Katsir, Ta'rikh, 6:249; Al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa Halaman 11]

 Ibn Katsir

فهذا الّذي‌ سلكه‌ البيهقي‌ّ، وقد وافقه‌ عليه‌ جماعة‌ من‌ أن‌ّ المراد بالخلفاء الاثني‌ عشر المذكورين‌ في‌ هذا الحديث‌ هم ‌المتتابعون‌ إلي‌ زمن‌ الوليد بن‌ يزيد بن عبد الملك‌ الفاسق‌ الّذي‌ قدّمنا الحديث‌ فيه‌ بالذّم‌ّ والوعيد، فانّه‌ مسلك‌ فيه‌ نظر…فان‌ اعتبرنا ولاية‌ ابن‌ الزبير قبل‌ عبد الملك‌ صاروا ستّة‌ عشر، وعلى كلّ تقدير فهم‌ اثنا عشر قبل‌ عمر بن‌ عبد العزيز. فهذا الّذي‌ سلكه‌ على‌ هذا التّقدير يدخل‌ في‌ الاثني‌ عشر يزيد بن‌ معاوية‌، و يخرج‌ منهم‌ عمر بن‌ عبد العزيز الّذي‌ أطبق‌ الائمّة‌ على شكره‌ وعلى مدحه‌، وعدوّه‌ من‌ الخلفاء الرّاشدين‌، وأجمع‌ الناس‌ قاطبة‌ على‌ عدله‌. ابن‌ كثير، «البداية‌ والنّهاية‌» 6: 249 ـ 250

Barang siapa mengikuti Bayhaqi dan setuju dengan pernyataannya bahwa kata ‘Jama’ah’ berarti Khalifah-khalifah yang datang secara tidak berurutan hingga masa Walid bin Yazid bin Abdul Malik yang jahat dan sesat itu, maka berarti ia (orang itu) setuju dengan hadis yang kami kritik dan mengecualikan tokoh-tokoh tadi.

Dan jika kita menerima Kekhalifahan Ibnu Zubair sebelum Abdul Malik, jumlahnya menjadi enam belas. Padahal jumlah seluruhnya seharusnya dua belas sebelum Umar bin Abdul Aziz. Dalam perhitungan ini, Yazid bin Muawiyah termasuk di dalamnya sementara Umar bin Abdul Aziz tidak dimasukkan.  Meski demikian, sudah menjadi pendapat umum bahwa para ulama menerima Umar bin Abdul Aziz sebagai seorang Khalifah yang jujur dan adil. [Ibn Katsir, Ta'rikh, 6:249-250]

MEREKA BINGUNG ?

Kita perlu pendapat seorang ulama Sunni lain yang dapat mengklarifikasi siapa Dua Belas Penerus, Khalifah, para Amir atau Imam-imam sebenarnya.

Al-Dzahabi mengatakan dalam Tadzkirat al-Huffaz , jilid 4, halaman 298, dan Ibn Hajar al-’Asqalani menyatakan dalam al-Durar al Kaminah, jilid 1, hal. 67, bahwa Shadrudin Ibrahim bin Muhammad bin al-Hamawayh al-Juwaini al-Syafi’i  adalah seorang ahli Hadis yang mumpuni.

Lebih lengkap tentang Al-Juwaini, silahkan rujuk catatan Al-Muhadits Al-Juwaini Asy-Syafi’i (ra) dan Hadis Tentang Sayyidah Fathimah sa

BAGIAN III

Al-Juwayni Asy-Syafi’i : 

عن‌ عبد الله بن‌عبّاس‌ رضي‌ الله عنه‌، عن‌ النّبي‌ّ  صلّي‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌ أنّه‌ قال‌: أنا سيّد المُرسَلين‌، وعلي‌ّ بن‌ أبي‌ طالب‌ سيّدالوصيّين‌، وأن‌ّ أوصيائي‌ بعدي‌ اثنا عشر، أوّلهم‌ علي‌ّ بن‌ أبي‌ طالب‌، وآخرهم‌ القائم‌.

 dari Abdullah bin Abbas (ra) bahwa Nabi (sawa) mengatakan,”Saya adalah penghulu para Nabi dan Ali bin Abi Thalib adalah pemimpin para penerus, dan sesudah saya akan ada dua belas penerus. Yang pertama  adalah Ali bin Abi Thalib dan yang terakhir adalah al-Qaim.

عن‌ ابن‌ عبّاس‌ رضي‌ الله عنه‌، عن‌ النبي‌ّ صلّي‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌ أنّه‌ قال‌: أن‌ّ خلفائي‌ وأوصيائي‌وححج‌ الله على‌ الخلق‌ بعدي‌ لاثنا عشر، أوّلهم‌ أخي‌، وآخرهم‌ وَلَدي‌. قيل‌: يا رسول‌ الله، ومن‌ أخوك‌؟ قال‌: علي‌ّ بن‌ أبي‌طالب‌. قيل‌: فمن‌ وَلَدُك‌َ؟ قال‌: المهدي‌ّ الّذي‌ يملاها قسطًا وعدلاً كما مُلئت‌ جورًا وظلمًا. والّذي‌ بعثني‌ بالحق‌ّ بشيرًا لو لم‌ يبق‌ من‌ الدّنيا الاّ يوم‌ واحد لطَوَّل‌ الله ذلك‌ اليوم‌ حتّي‌ يخرج‌ فيه‌ ولدي‌ المهدي‌، فينزل‌روح‌ الله عيسى بن‌ مريم‌ فيُصلّي‌ خلفَه‌ُ، وتُشرق‌ الارض‌ بنور ربّها، ويبلغ‌ سلطانه‌ المشرق‌ والمغرب‌.

Dari Ibnu Abbas (r) bahwa Rasulullah (sawa) berkata: ”Sudah pasti bahwa washi-washiku dan Bukti (hujjah) Allah bagi makhluk sesudahku ada dua belas. Yang pertama di antara mereka adalah saudaraku dan yang terakhir adalah anak (cucu) ku.”  Orang bertanya: “Wahai Rasulullah, siapakah saudaramu itu?”. Beliau menjawab: “Ali bin Abi Thalib.” Lalu beliau ditanyai lagi: “ Dan siapakan anak (cucu) mu itu?” Nabi yang suci (sawa) menjawab: ”Al-Mahdi. Dia akan mengisi bumi dengan keadilan dan persamaan ketika ia (bumi) dipenuhi ketidakadilan dan tirani. Dan demi Yang Mengangatku sebagai pemberi peringatan dan memberiku  kabar gembira, meski seandainya masa berputarnya dunia ini tinggal sehari saja, Allah SWT akan memperpanjang hari itu sampai diutusnya (anakku) Mahdi, kemudian ia akan disusul Ruhullah Isa bin Maryam (as) yang turun ke bumi dan berdoa di belakangnya (Mahdi). Dunia akan diterangi oleh sinarnya, dan kekuatannya akan mencapai hingga ke timur dan ke barat.”

رسول‌ الله صلّي‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌ أنّه‌ قال‌: أنا، وعلي‌ّ، والحسن‌، والحسين‌، وتسعة‌ من‌ ولد الحسين‌ مطهّرون‌ معصومون‌. الجويني‌ّ، «فرائد السمطين‌» مؤسّسة‌ المحمودي‌ّ للطّباعة‌ والنشر، بيروت‌، 1978، ص‌

 Rasulullah (sawa) mengatakan: ”Aku dan Ali dan Hasan dan Husain dan sembilan anak cucu Husain adalah yang disucikan (dari dosa) dan dalam kebenaran.”  [Al-Juwaini, Fara'id al-Simthain, Mu'assassat al-Mahmudi li-Taba'ah, Beirut 1978, h. 160.]

Di antara semua mazhab Islam, hanya Syiah Imamiyah Itsna ‘Asyariyah yang percaya pada individu-individu sebagai Dua Belas orang dari Ahlul Bait Raulullah saww yang berhak sebagai Penerus Rasulullah saww.

Ulama Sunni Syaikh Sulayman Al-Qunduzi Al-Balkhi Al-Hanafi dan Nama 12 Imam Yang Disebutkan Oleh Rasulullah (saww)

BAGIAN I

Selama ini banyak kalangan yang tidak mengetahui siapa sebenarnya Syaikh Sulaiman Al-Qunduzi Al-Balkhi Al-Hanafi, yang merupakan salah satu Ulama Sunni yang banyak mencatat riwayat-riwayat mengenai keutamaan Rasulullah (saww) dan Ahlul Bait (as). Dan anehnya, oleh kaum Nawashib, Syaikh Sulaiman Al-Hanafi dituduh sebagai Syiah, apa motif dibalik semua itu..? apakah kebiasaan kaum Naswahib yang suka menuduh seseorang yang banyak menulis keagungan Rasulullah (saww) dan Ahlul Bait (as) pada khususnya langsung mereka vonis sebagai Syiah!? hal ini tak jauh beda dengan Ibn Abil Hadid seorang bermazhab Mu’tazilah yang mereka katakan Syiah!

Nawashib harusnya sadar bahwa kedekilan otak mereka sampai detik ini bukanlah suatu yang asing, apakah mereka tidak malu dengan cara mereka yang suka menyembunyikan keterangan yang jelas bahkan terkadang memelintir sebuah riwayat atau membuangnya jika tidak sesuai dengan nafsu mereka..!?

Sayikh Sulaiman Al Hanafi adalah salah satu Mufti Agung Konstantinopel dan Ketua Kekhalifahan Utsmani, pusat islam Sunni pada masanya. Sangat tidak masuk akal jika dikatakan beliau sebagai Syiah dan apakah logis orang syiah menjadi mufti agung dalam kekahlifahan Ustmani tersebut? Sedangkan Ottoman sangat tidak suka dengan Syiah atau siapapun yang cenderung kepada Syiah!

Bahkan sejarah tidak mencatat adanya pengusiran atau tuduhan kepada Syaikh Sulaiman al Hanafi pada saat penulisan kitab beliau yang agung yaitu Yanabiul Mawaddah, jika memang beliau syiah maka pemerintahan Ottoman pasti akan menyingkirkannya.

Pandangan Sunni tentang Syaikh Sulaiman Al Qunduzi Al Balkhi Al Hanafi

Dalam Kitab الأعلام :

“(Al Qunduzi) (1220-1270H) (1805-1863 M) Sualyman putra dari Khuwajah Ibrahim Qubalan Al Husaini Al Hanafi Al Naqshbandi al Qunduzi : Seorang yang shaleh, berasal dari Balakh, wafat di kota Qustantinya, ia memiliki kitab “Yanabiul Mawaddah” yang berisi tentang keutamaan Rasulullah dan Ahlul Baitnya” (الأعلام, j.3, h.125)

.

Umar Ridha Kahalah mencatat dalam معجم المؤلفين :

Sulaiman Al Qunduzi (1220-1294 H) (1805-1877)

Sulaiman bin Ibrahim al Qunduzi al Balkhi al Husaini al Hasymi, seorang Sufi, kitabnya (karyanya) : Ajma al Fawaid, Musyriq al Akwan, Yanabiul Mawaddah….” (Muajam al Mualfiin, oleh Umar Ridha Kahalah, j. 4)

Ulama Sunni Ismail Basya Al Baghdadi (اسماعيل باشا البغدادي) dalam هدية العارفين

Mencatat :

“Al Qunduzi – Sulayman ibn Khuwajah Qalan Ibrahim ibn Baba Khawajah al Qunduzi al Balkhi al Sufi Al Husaini, tinggal di Qustantinya, lahir pada tahun 1220 H dan wafat 1294″ (Hidyat al Arifin, j.1, h. 408)

.

Dalam ايضاح المكنون في الذيل على كشف الظنون Ismail Basya Al Baghdadi juga mencatat :

“Al Qunduzi – Sulayman bin Khawaja Qalan Ibrahim bin baba Khuwaja Al Qunduzi al Balkhi al Sufi al Husaini. Dia tinggal di Qustantiya, lahir pada 1220 H dan wafat tahun 1294 H. Karyanya : Jama’ Al Fawa’id, Masyriq al Akwan, Yanabiul Mawadah mengenai karakteristik Rasulullah (saww) dan hadis dari Ahlul Bait”

.

Yusuf Alyan Sarkys mencatat dalam معجم المطبوعات العربية, j.1 h.586 :

“Sulayman bin Khujah Qublan al Qunduzi al Balkhi. (kitabnya) Yanabiul Mawadah berisi Keutamaan Amirul Mu’minin Ali”

.

Sangat aneh jika dikatakan bahwa Syaikh Sulayman yang bermazhab Hanafi ini di tuduh sebagai Syiah..! Kenyataannya beberapa ulama Sunni (Mazhab Hanafi) seperti :

1. Saim Khisthi al Hanafi dalam Musykil Kushah mengutip banyak Hadis dari Yanabiul Mawaddah yang disusun oleh Syaikh Sulaiman al Hanafi.

2. Dr. Muhamad Tahir ul Qadri (“Hub Ali” hal.28) mengacu pada Yanabiul Mawaddah ketika mengutip Hadis mengenai keutamaan Ahlul Bait (as).

3. Mufti Ghulam Rasul (Hasab aur Nasab, j.1 h.191, London) juga mengacu pada Yanabiul Mawadah ketika mengutip hadis keutamaan Ahlul Bait (as).

Jika memang Syaikh Sulayman Al Hanafi dikatakan Syiah oleh kaum Nawashib lalu apakah beberapa ulama terkemuka Mazhab Hanafi yang disebutkan diatas begitu bodoh atau buta huruf hingga mereka mengutip catatan ulama Syi’ah (yg kata mereka jgn percaya sama syiah) bagi para pembaca Sunni ?

Alasan paling dasar dibalik “pengecapan” dengan menyatakan figur yang sebenarnya Sunni sebagai Syiah oleh kaum Nawashib adalah karena ulama sejati seperti Syaikh Sulayman Al Hanafi dianggap berpihak kepada Syiah hanya karena banyak mencatat hadis Rasulullah (saww) yang mana riwayatnya banyak dianggap sesuai dengan keyakinan Syiah..!

BAGIAN II

Syaikh Sulayman Al Qunduzi Al Hanafi Mencatat Nama-Nama Para Imam Yang Harus Di ikuti Setelah Rasulullah Saww Dalam Kitabnya Yanabiul Mawaddah

Yanabiul Mawaddah (j.3, h.100-101) dan Yanabiul Mawaddah (j.3 h.284, Tahqiq oleh Sayyid Ali Jamali Asyraf Al Husayni), riwayat dari Jabir al-Anshari (ra) berkata :

Jundal bin Janadah berjumpa Rasulullah (saww) dan bertanya kepada beliau beberapa masalah. Kemudian dia berkata :

Riwayat seperti diatas tidak hanya satu dalam kitab Yanabiul Mawaddah, namun ini sudah cukup sebagai bukti bahwa nama para Imam Ahlul Bait telah dijelaskan oleh Rasulullah (saww) dan tercatat dalam Kitab Sunni sendiri.

Beritahukan kepadaku wahai Rasulullah tentang para washi anda setelah anda supaya aku berpegang kepada mereka.

Beliau (saww) menjawab : “Washiku dua belas orang.”

Lalu Jundal berkata : “Begitulah kami dapati di dalam Taurat.”

Kemudian dia berkata : “Namakan mereka kepadaku wahai Rasulullah.”

Maka Beliau (saww) menjawab :

Pertama adalah penghulu dan ayah para washi adalah Ali. Kemudian dua anak lelakinya Hasan dan Husain. Berpeganglah kepada mereka dan janganlah kejahilan orang-orang yang jahil itu memperdayakanmu. Kemudian Ali bin Husain Zainal Abidin, Allah akan mewafatkan (Ali bin Husain) dan menjadikan air susu sebagai minuman terakhir di dunia ini.”

Jundal berkata :

“Kami telah mendapatinya di dalam Taurat dan di dalam kitab-kitab para Nabi (as) seperti Iliya, Syibra dan Syabir. Maka ini adalah nama Ali, Hasan dan Husain, lalu siapa setelah Husain..? siapa nama mereka..?”

Berkata (Rasulullah) saww :

Setelah wafatnya Husain, imam setelahnya adalah putranya Ali dipanggil Zainal Abidin setelahnya adalah anak lelakinya Muhammad, dipanggil al-Baqir. Setelahnya anak lelakinya Ja’far dipanggil al-Shadiq. Setelahnya anak lelakinya Musa dipanggil al-Kadzim. Setelahnya anak lelakinya Ali dipanggil al-Ridha. Setelahnya anak lelakinya Muhammad dipanggil al Taqy Az Zaky. Setelahnya anak lelakinya Ali dipanggil al-Naqiy al-Hadi. Setelahnya anak lelakinya Hasan dipanggil al-Askari. Setelahnya anak lelakinya Muhammad dipanggil al-Mahdi al-Qa’im dan al-Hujjah. Beliau ghaib dan akan keluar memenuhi bumi dengan kejujuran dan keadilan sebagaimana itu dipenuhi dengan kefasadan dan kezaliman. Alangkah beruntungnya bagi orang-orang yang bersabar semasa ghaibnya. Dan alangkah beruntungnya bagi orang-orang yang bertaqwa terhadap Hujjah mereka. Dan mereka itulah orang yang disifatkan oleh Allah di dalam firmanNya “Petunjuk bagi mereka yang bertaqwa yaitu mereka yang beriman kepada yang ghaib.”(1) Kemudian beliau membaca “Maka sesungguhnya partai Allah itulah yang pasti menang.”(2) Beliau bersabda : Mereka adalah dari partai Allah (hizbullah).”

[1]. Surah al-Baqarah (2) : 2-3

[2]. Surah al-Mai’dah (5) :56

Khalifah Rasulullah Yang WAJIB di ikuti sesuai Hadist Rasulullah saww.


 

Berdasarkan hadith Nabi saaw dalam kitab Ahlul Sunnah antaranya ialah :

Daripada Said bin Jubair daripada Ibn Abbas berkata: Bersabda Rasulullah SAWAW: “Sesungguhnya khalifah-khalifahku dan wasi-wasiku, hujah-hujah Allah di atas makhlukNya selepasku ialah 12 orang; yang pertama Ali dan yang akhirnya cicitku al-Mahdi; maka itulah Isa b. Maryam bersembahyang di belakang al-Mahdi (Yanabi al-Mawaddah, hlm. 447)

Hadith yang dikeluarkan oleh Abu al-Mu’ayyid Ibn Ahmad al-Khawarizmi dengan sanadnya dari Abu Sulaiman yang berkata : “Aku mendengar Rasulullah SAWAW dan Ahli Baitnya berkata: Di malam aku dinaikkan ke langit (Mi’raj) Allah SWT berkata kepadaku…lihatlah di kanan Arasy, lalu aku memaling ke arahnya, maka aku dapati Ali, Fatimah, Hasan, Husayn, Ali b. Husayn, Muhammad b. Ali, Ja’far b. Muhammad, Musa b. Ja’far, Ali b. Musa, Muhammad b. Ali, Ali b. Muhammad, Hasan b. Ali, dan Muhammad al-Mahdi b. Hasan; ia seperti cakerawala yang berputar di kalangan mereka. Dan dia berfirman: “Wahai Muhammad, mereka itulah hujah-hujahKu ke atas hamba-hambaKu, merekalah wasi-wasiKu (khalifah-khalifahku).”(Ya

nabi al-Mawaddah, hlm. 487)

Sila teliti dengan sebaik-baiknya hadis-hadis di bawah yang telah diriwayatkan oleh ulama-ulama sunni:

Hadith-hadith yang menghadkan pengganti Nabi SAW kepada dua belas orang.

Hadith-hadith yang menghadkan pengganti-pengganti Nabi SAWW kepada dua belas orang, telah diriwayatkan oleh jumhur ulama Muslimin Sunnah dan Syi’ah di dalam Sahih-sahih dan Musnad-musnad mereka.

Ahmad bin Hanbal di dalam Musnadnya (al-Musnad, I, hlm 398) meriwayatkan hadith ini daripada Sya’bi daripada Masruq berkata:”Kami berada di sisi ‘Abdullah bin Mas’ud yang sedang memperdengarkan bacaan al-Qur’an kepada kami. Tiba-tiba seorang lelaki bertanya kepadanya: Wahai Abu ‘Abdu r-Rahman! Adakah anda telah bertanya Rasulullah SAWAW berapakah ummat ini memiliki khalifah?” Abdullah bin Mas’ud menjawab:”Tiada seorangpun bertanya kepadaku mengenainya semenjak aku datang ke Iraq sebelum anda.” Kemudian dia berkata:”Ya! Sesungguhnya kami telah bertanya kepada Rasulullah SAWAW mengenainya. Maka beliau menjawab:”Dua belas (khalifah) seperti bilangan naqib Bani Israil.”

Di dalam riwayat yang lain Ahmad bin Hanbal meriwayatkan daripada Jabir bin Samurah, sesungguhnya dia berkata:”Aku mendengar Rasulullah SAWAW bersabda semasa Haji Wida’:”Urusan agama ini masih pada zahirnya di tangan penentangannya dan tidak akan dihancurkan oleh orang-orang yang menyalahinya sehingga berlalunya dua belas Amir, semuanya daripada Quraisy.” (al-Musnad, I, hlm 406, dan V, hlm 89)

Muslim di dalam Sahihnya ( Sahih, II, hlm 79 )meriwayatkan daripada Jabir bin Samurah sesungguhnya dia berkata:”Aku bersama bapaku berjumpa Nabi SAWAW, Maka aku mendengar Nabi SAWAW bersabda:”Urusan ‘ini’ tidak akan selesai sehingga berlaku pada mereka dua belas khalifah.” Dia berkata: Kemudian beliau bercakap dengan perlahan kepadaku. Akupun bertanya bapaku apakah yang diucapkan oleh beliau? Dia menjawab:”Semuanya daripada Quraisy.”
Muslim juga meriwayatkan di dalam Sahihnya daripada Nabi SAWAW beliau bersabda:”Agama sentiasa teguh sehingga hari kiamat dan dua belas khalifah memimpin mereka, semuanya daripada Quraisy. Di dalam riwayat yang lain “Urusan manusia berlalu dengan perlantikan dua belas lelaki dari Quraisy, ” “Sentiasa Islam itu kuat sehingga kepada dua belas khalifah daripada Quraisy” dan “Sentiasa ugama ini kuat dan kukuh sehingga dua belas khalifah daripada Quraisy”
Al-Turmudzi di dalam al-Sunannya (al-sunan, II, hlm 110 ) mencatat hadith tersebut dengan lafaz amir bukan khalifah.

Sementara al-Bukhari di dalam Sahihnya ( Sahih, IV, hlm 120 (Kitab al-Ahkam ) meriwayatkannya daripada Jabir bin Samurah bahawa Nabi SAWAW bersabda:”Selepasku ialah dua belas amir.” Maka beliau berucap dengan perkataan yang aku tidak mendengarnya. Bapaku memberitahuku bahawa beliau bersabda:”Semuanya daripada Quraisy.”

Al-Muttaqi al-Hindi di dalam Kanz al-Ummal ( Kanz al-Ummal, VI, hlm 160 ), meriwayatkan bahawa Nabi SAWAW bersabda:”Selepasku akan (diikuti) oleh dua belas khalifah.”

Ibn Hajr di dalam al-Sawa’iq al-Muhriqah ( al-Sawa’iq al-Muhriqah, bab XI ) meriwayatkan daripada Jabir bin Samurah bahawa Nabi SAWAW bersabda:”Selepasku akan (dikuti) dua belas amair semuanya daripada Quraisy.”

Al-Qunduzi al-Hanafi di dalam Yanabi’ al-Mawaddah (Yanabi’ al-Mawaddah, hlm 444 (bab 7) mencatat riwayat daripada Jabir bin Samurah sesungguhnya dia berkata:”Aku bersama bapaku di sisi Nabi SAWAW beliau bersabda:”Selepasku dua belas khalifah.” Kemudian beliau merendahkan suaranya. Maka akupun bertanya bapaku mengenainya. Dia menjawab: Beliau bersabda: “Semuanya daripada Bani Hasyim.”

Samak bin Harb juga meriwayatkannya dengan lafaz yang sama. Diriwayatkan daripada al-Sya’bi daripada Masruq daripada Ibn Mas’ud bahawa sesungguhnya Nabi SAWAW telah menjanjikan kita bahawa selepasnya dua belas khalifah sama dengan bilangan naqib Bani Isra’il. Dan dia berkata di dalam bab yang sama bahawa Yahya bin al-Hasan telah menyebutkannya di dalam Kitab al-Umdah dengan dua puluh riwayat bahawa khalifah-khalifah selepas Nabi SAWAW adalah dua belas orang. Semuanya daripada Quraisy. Al-Bukhari telah menyebutkannya dengan tiga riwayat, Muslim sembilan riwayat. Abu Daud tiga riwayat, al-Turmudhi satu riwayat dan al-Humaidi tiga riwayat.

Pengkaji-pengkaji menegaskan bahawa hadith-hadith tersebut menunjukkan bahawa khalifah-khalifah selepas Nabi SAWAW ialah dua belas orang. Dan maksud hadith Nabi SAWAW ialah dua belas orang daripada Ahlu l-Baitnya. Kerana tidak mungkin dikaitkan hadith ini kepada khalifah-khalifah yang terdiri daripada bilangan mereka kurang daripada dua belas orang. Dan tidak mungkin dikaitkan dengan khalifah-khalifah Bani Umaiyyah kerana bilangan mereka melebihi dua belas orang dan kezaliman mereka yang ketara selain daripada ‘Umar bin Abdu l-Aziz. Tambahan pula mereka bukan daripada Bani Hasyim. Di dalam riwayat yang lain beliau memilih Bani Hasyim di kalangan Quraisy dan memilih Ahlu l-Baitnya di kalangan Bani Hasyim (Muslim, Sahih, II, hlm 81 (Fadhl Ahlu l-Bait)
.

Di dalam riwayat ‘Abdu l-Malik daripada Jabir bahawa Nabi SAWAW telah merendahkan suaranya ketika menyebutkan Bani Hasyim kerana ‘mereka’ tidak menyukai Bani Hasyim. Hadith ini juga tidak boleh dikaitkan dengan khalifah-khalifah Bani ‘Abbas kerana bilangan mereka melebihi bilangan tersebut. Dan mereka tidak mengambil berat tentang firmanNya “Katakan!” Aku tidak meminta upah daripada kamu kecuali mencintai keluargaku, ” sebagaimana juga mereka tidak menghormati hadith al-Kisa’. Justeru itu, hadith tersebut mestilah dikaitkan dengan dua belas Ahlu l-Baitnya kerana merekalah orang yang paling alim, warak, takwa, paling tinggi keturunan dan ilmu-ilmu mereka adalah daripada datuk-datuk mereka yang berhubungan dengan datuk mereka Rasulullah SAWAW dari segi “warisan” dan hikmah. Mereka pula dikenali oleh para ilmuan. Oleh itu apa yang dimaksudkan oleh hadith tersebut ialah dua belas Ahlu l-Bait Rasulullah Saww (Yanabi’ al-Mawaddah, hlm 445).
Ini juga diperkuatkan oleh hadith thaqalain, hadith al-Safinah, hadith al-Manzilah dan lain-lain.

Al-Qunduzi al-Hanafi (Yanabi’ al-Mawaddah, hlm 445) juga telah meriwayatkan hadith daripada Jabir dia berkata: Rasulullah SAWAW bersabda:”Akulah penghulu para Nabi dan ‘Ali adalah penghulu para wasi. Dan sesungguhnya para wasi selepasku ialah dua belas orang, pertama ‘Ali dan yang akhirnya Qaim al-Mahdi.”

Hadith-hadith yang menerangkan bahawa merekalah para wasi Rasulullah SAWAW di dalam buku-buku Ahlu l-Sunnah adalah banyak, dan ianya melebihi had mutawatir. Ini tidak termasuk hadith-hadith riwayat Syi’ah. Umpamanya hadith daripada Salman RD berkata: Aku berjumpa Nabi SAWAW dan Husain berada di atas dua pahanya. Nabi SAWAW sedang mengucup dahinya sambil berkata:’Anda adalah Sayyid bin Sayyid dan adik Sayyid. Anda adalah imam bin imam dan adik imam. Anda adalah Hujjah bin Hujjah dan adik Hujjah dan bapa hujjah-hujjah yang sembilan. Dan yang kesembilan mereka ialah Mahdi al-Muntazar.”

Al-Hamawaini al-Syafi’i di dalam Fara’id al-Simtin (Fara’id al-Simtin, II, hlm 26), meriwayatkan daripada ‘Ibn Abbas berkata: Aku mendengar Rasulullah SAWAW bersabda:”Aku , Ali, Hasan, Husain dan sembilan daripada anak-anak Husain adalah disuci dan dimaksumkan.”

Ibn ‘Abbas juga meriwayatkan bahawa Nabi SAWAW bersabda:”Wasi-wasiku, hujjah-hujjah Allah ke atas makhlukNya dua belas orang, pertamanya saudaraku dan akhirnya ialah anak lelakiku (waladi).” Lalu ditanya Rasulullah siapakah saudara anda wahai Rasulullah? Beliau menjawab:’Ali. Dan ditanya lagi siapakah anak lelaki anda? Beliau menjawab: al-Mahdi yang akan memenuhi bumi ini dengan kejujuran dan keadilan sebagaimana ianya dipenuhi dengan kerosakan dan kezaliman. Demi Tuhan yang mengutusku dengan kebenaran sebagai kegembiraan dan peringatan, sekiranya dunia ini tinggal hanya satu hari lagi nescaya Allah akan memanjangkannya sehingga keluar anak lelakiku al-Mahdi. Kemudian diikuti oleh ‘Isa bin Maryam. Beliau akan mengerjakan solat di belakang anak lelakiku. Dunia pada ketika itu berseri dengan cahaya Tuhannya dan pemerintahannya meliputi Timur dan Barat.

Al-Qunduzi al-Hanafi di dalam Yanabi’ al-Mawaddah bab 95) meriwayatkan bahawa Jabir bin ‘Abdullah berkata: Rasulullah saww bersabda : Wahai Jabir! Sesungguhnya para wasiku dan para imam selepasku pertamanya Ali kemudian Hasan kemudian Husain kemudian Ali bin Husain kemudian Muhammad bin Ali al-Baqir. Anda akan menemuinya wahai Jabir sekiranya anda mendapatinya, maka sampaikanlah salamku kepadanya. Kemudian Ja’far bin Muhammad, kemudian Musa bin Ja’far, kemudian Ali bin Musa, kemudian Muhammad bin Ali, kemudian Ali bin Muhammad, kemudian Hasan bin Ali. Kemudian al-Qa’im namanya sama dengan namaku dan kunyahnya sama dengan kunyahku, anak Hasan bin Ali. Dengan beliaulah Allah akan membuka seluruh pelosok bumi di Timur dan di Barat, dialah yang ghaib dari penglihatan. Tidak akan percaya kepada imamahnya melainkan orang yang telah diuji hatinya oleh Allah SWT. Jabir berkata: Wahai Rasulullah! Apakah orang2 dapat mengambil manfaat darinya ketika ghaibnya ? Beliau menjawab :”Ya..! Demi yang mengutusku dengan kenabian sesungguhnya mereka mengambil cahaya dari wilayahnya ketika ghaibnya, seperti orang mengambil manfaat dari matahari sekalipun ia ditutupi awan.” Ini adalah di antara rahsia-rahsia ilmu Allah yang tersembunyi. Maka rahsiakanlah mengenainya melain kepada orang yang ahli. (Yanabi’ al Mawaddah, hlm 494)

daripada Jabir al-Ansari berkata: Junda; bin Janadah berjumpa Rasulullah SAWAW dan bertanya kepada beliau beberapa masalah. Kemudian dia berkata: Beritahukan kepadaku wahai Rasulullah tentang wasi-wasi anda selepas anda supaya aku berpegang kepada mereka. Beliau menjawab: Wasi-wasiku dua belas orang. Lalu Jundal berkata: Begitulah kami dapati di dalam Taurat. Kemudian dia berkata: Namakan mereka kepadaku wahai Rasulullah. Maka beliau menjawab: “Pertama penghulu dan ayah para wasi adalah Ali. Kemudian dua anak laki2nya Hasan dan Husain. Berpegang teguhlah kepada mereka dan janganlah kejahilan orang-orang yang jahil memperdayaimu. Kemudian Ali bin Husain Zainal Abidin Allah akan mematikan anda (‘Ali bin Husain) dan menjadikan air susu sebagai bekalan terakhir di dunia ini.” (Yanabi’ al-Mawaddah Bb 76 hlm 441 – 444 )

Jundal berkata: Kami telah mendapatinya di dalam Taurat dan di dalam buku-buku para Nabi AS seperti Iliya, Syibra dan Syabir. Maka ini adalah nama ‘Ali, Hasan dan Husain, maka imam selepasnya dipanggil Zaina l-Abidin selepasnya anak lelakinya Muhammad, dipanggil al-Baqir. Selepasnya anak lelakinya Ja’far dipanggil al-Sadiq. Selepasnya anak lelakinya Musa dipanggil al-Kazim. Selepasnya anak lelakinya ‘Ali dipanggil al-Ridha. Selepasnya anak lelakinya ‘Ali dipanggil al-Naqiyy al-Hadi. Selepasnya anak lelakinya Hasan dipanggil al-Askari. Selepasnya anak lelakinya Muhammad dipanggil al-Mahdi al-Qa’im dan al-Hujjah. Beliau ghaib dan akan keluar memenuhi bumi dengan kejujuran dan keadilan sebagaimana ianya dipenuhi dengan kefasadan dan kezaliman. Alangkah beruntungnya bagi orang-orang yang bersabar semasa ghaibnya. Dan alangkah beruntungnya bagi orang-orang yang bertaqwa terhadap Hujjah mereka. Dan mereka itulah orang yang disifatkan oleh Allah di dalam firmanNya (Surah al-Baqarah(2): 2-3″Petunjuk bagi mereka yang bertaqwa iaitu mereka yang beriman kepada yang ghaib.” Kemudian beliau membaca (Surah al-Mai’dah(5):56)”Sesungguhnya parti Allahlah yang pasti menang.”Beliau bersabda: Mereka itu adalah daripada parti Allah (hizbullah).

Al-Hamawaini di dalam Fara’id al-Simtin (Yanabi’ al-Mawaddah, hlm 446 – 447) telah meriwayatkan hadith ini dan dinukilkan oleh al-Qunduzi al-Hanafi di dalam Yanabi’ al-Mawaddah bab 76 dengan sanad daripada Ibn ‘Abbas dia berkata: Seorang Yahudi bernama Na’thal datang kepada Rasulullah SAWAW dan berkata: Wahai Muhammad! Aku akan bertanya anda beberapa perkara yang tidak menyenangkan hatiku seketika. Sekiranya anda dapat memberi jawapan kepadaku nescaya aku akan memeluk Islam di tangan anda. Beliau SAWAW bersabda:”Tanyalah wahai Abu ‘Ammarah.’ Dia bertanya beberapa perkara sehingga dia berkata: Beritahukan kepadaku tentang wasi anda siapa dia? Tidak ada seorang Nabi melainkan ada baginya seorang wasi. Dan sesungguhnya Nabi kami Musa bin ‘Imran telah berwasiatkan kepada Yusyu’ bin Nun. Maka Nabi SAWAW menjawab”Sesungguhnya wasiku ialah ‘Ali bin Abi Talib, selepasnya dua anak lelakinya Hasan dan Husain kemudian diikuti oleh sembilan imam daripada keturunan Husain.’ Dia berkata: Namakan mereka kepadaku. Beliau menjawab:’Apabila wafatnya Husain, maka anaknya ‘Ali apabila wafatnya ‘Ali, anaknya Muhammad, Dan apabila wafatnya Muhammad, anaknya Ja’far. Apabila wafatnya Ja’far anaknya Musa. Apabila wafatnya Musa, anaknya Ali. Apabila wafatnya Ali, anaknya Muhammad. Apabila wafatnya Muhammad, anaknya ‘Ali. Apabila wafatnya ‘Ali anaknya Hasan. Apabila wafatnya Hasan, anaknya Muhammad al-Mahdi. Mereka semua dua belas orang…..”Akhirnya lelaki Yahudi tadi memeluk Islam dan menceritakan bahawa nama-nama para imam dua belas telah tertulis di dalam buku-buku para Nabi yang terdahulu, dan ia termasuk di antara apa yang telah dijanjikan oleh Musa AS.
Al-Hamawaini di dalam Fara’id al-Simtin meriwayatkan sanadnya kepada Abu Sulaiman penjaga unta Rasulullah SAWAW, dia berkata:”Aku mendengar Rasulullah SAWAW bersabda:”Di malam aku diperjalankan atau dibawa ke langit, Allah SWT berfirman:”Rasul mempercayai apa yang telah diturunkan kepadanya oleh TuhanNya.”Aku bersabda: Mukminun. Dia menjawab: Benar. Allah SWT berfirman lagi: Wahai Muhammad! Kali pertama Aku memerhatikan ahli bumi, Aku memilih anda. Aku menamakan anda dengan salah satu daripada nama-namaku. Oleh itu dimana sahaja Aku diingati, anda diingati bersama. Akulah al-Mahmud dan andalah Muhammad. Kemudian Aku memerhatikannya kali kedua, maka Aku memilih ‘Ali. Maka Aku menamakannya dengan namaku. Wahai Muhammad! Aku telah menjadikan anda dari Aku dan menjadikan ‘Ali, Fatimah, Hasan, Husain dan imam-imam daripada keturunan Husain daripada cahayaKu. Akupun membentangkan wilayah mereka kepada seluruh ahli langit dan bumi. Sesiapa yang menerimanya akan berada di sisiKu sebagai Mukminin. Dan sesiapa yang mengingkarinya akan berada di sisiKu sebagai kafirin. Wahai Muhammad! Sekiranya seorang daripada hamba-hambaKu beribadat kepadaKu tanpa terhenti-henti kemudian mendatangiKu dalam keadaan mengingkari wilayah kalian, nescaya Aku tidak mengampuninya. Allah SWT berfirman lagi kepada Nabi SAWAW: Adakah anda ingin melihat mereka? Beliau menjawab: Ya! Wahai Tuhanku. Dia berfirman: Lihatlah di kanan ‘Arasy, maka aku dapati ‘Ali, Fatimah, Hasan, Husain, ‘Ali bin Husain, Muhammad bin ‘Ali, Ja’far bin Muhammad, Musa bin Ja’far, ‘Ali bin Musa, Muhammad bin ‘Ali, ‘Ali bin Muhammad, Hasan bin ‘Ali dan Muhammad al-Mahdi bin Hasan. Mereka diibaratkan bintang-bintang yang bersinar di kalangan mereka. Kemudian Dia berfirman lagi: Mereka itulah hujjah-hujjah ke atas hamba-hambaKu, mereka itulah wasi-wasi anda. Dan al-Mahdi adalah daripada ‘itrah anda. Demi kemuliaanKu dan kebesaranKu, dia akan membalas dendam terhadap musuh-musuhKu.”

Muwaffaq bin Ahmad al-Hanafi di dalam Manaqibnya meriwayatkan daripada Salman daripada Nabi SAWAW, sesungguhnya beliau bersabda kepada Husain:”Andalah imam anak lelaki seorang imam, saudara kepada imam, bapa kepada sembilan imam. Dan yang kesembilan daripada mereka ialah Qaim mereka (al-Mahdi AS).
Begitulah juga Syahabuddin al-Hindi di dalam Manaqibnya telah menerangkan sanadnya daripada Nabi SAWAW bahawa beliau bersabda:”Sembilan imam adalah daripada anak cucu (keturunan) Husain bin ‘Ali dan yang kesembilan mereka adalah Qaim mereka (imam al-Mahdi al-Muntazar AS).

Al-Hamawaini al-Syafi’e meriwayatkan di dalam Fara’id al-Simtin bahawa Nabi SAWAW bersabda:” Siapa yang suka berpegang kepada ugamaku dan menaiki bahtera kejayaan selepasku, maka hendaklah dia mengikuti ‘Ali bin Abi Talib, memusuhi seterunya dan mewalikan walinya kerana beliau adalah wasiku, dan khalifahku ke atas ummatku semasa hidupku dan selepas kewafatanku. Beliau adalah imam setiap muslim dan amir setiap mukmin, perkataannya adalah perkataanku, perintahnya adalah perintahku. Larangannya adalah laranganku. Pengikutnya adalah pengikutku. Penolongnya adalah penolongku. Orang yang menjauhinya adalah menjauhiku.”
Kemudian Nabi SAWAW bersabda lagi: Sesiapa yang menjauhi ‘Ali selepasku, dia tidak akan ‘melihatku.’ Dan aku tidak melihatnya di hari kiamat. Dan siapa yang menentang ‘Ali, Allah haramkan ke atasnya syurga dan menjadikan tempat tinggalnya di neraka. Siapa yang menjauhi ‘Ali, Allah akan menjauhinya di hari kiamat. Di hari itu akan didedahkan segala-galanya dan sesiapa yang menolong ‘Ali, nescaya Allah akan menolongnya.
Kemudian beliau bersabda lagi: Hasan dan Husain kedua-duanya adalah imam ummatku selepas bapa mereka berdua adalah penghulu-penghulu pemuda syurga. Ibu kedua-duanya adalah penghulu para wasi. Dan sembilan imam adalah daripada anak cucu Husain. Dan yang kesembilan mereka adalah Qaim mereka (imam al-Mahdi). Mentaati mereka adalah ketaatan kepadaku. Mendurhakakan mereka adalah mendurhakaiku. Kepada Allah aku mengadu bagi orang yang menentang kelebihan mereka, dan menghilangkan kehormatan mereka selepasku. Cukuplah bagi Allah sebagai wali dan penghulu kepada ‘itrahku, para imam ummatku. Pasti Allah akan menyiksa orang yang menentang hak mereka.”Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.”(Al-Syuara’(26): 227)

Ayatullah al-’Uzma al-Hulli di dalam bukunya Kasyf al-Haq (Kasyf al-Haq, I, hlm 108) telah menerangkan sebahagian daripada hadith dua belas khalifah dengan riwayat yang bermacam-macam. Seorang musuh ketatnya bernama Fadhl bin Ruzbahan al-Nasibi adalah orang yang paling kuat menentang Ahlu l-Bait AS, di dalam jawapan kepadanya mengakui bahawa apa yang disebutkan oleh Allamah al-Hulli mengenai dua belas khalifah adalah Sahih dan telah dicatat di dalam buku-buku Sahih Ahlu s-Sunnah.

Aku berkata: Riwayat hadith dua belas imam daripada Nabi SAWAW adalah terlalu banyak. Kami hanya menyebutkan sebahagian kecil daripada buku-buku Ahlu s-Sunnah wa l-Jama’ah yang mencatatkan hadith tersebut. Seperti al-Bayan karangan al-Hafiz al-Khanji, Fasl al-Khittab karangan Khawajah Faris al-Hanafi, Arba’in karangan Syeikh As’ad bin Ibrahim al-Hanbali, Arba’in karangan Ibn Abi l-Fawarith dan lain-lain buku Ahlu s-Sunnah. Adapun riwayat Syi’ah mengenainya adalah tidak terhitung banyaknya.

Sayyid Hasyim al-Bahrani di dalam bukunya Ghayah al-Maram (Ghayah al-Maram, I, hlm 309) telah menjelaskan hadith dua belas imam sebanyak enam puluh riwayat dengan sanad-sanadnya menurut metod Ahlu s-Sunnah wa l-Jama’ah. Tujuh riwayat daripada buku Manaqib Amiru l-Mukminin AS karangan Maghazali al-Syafi’i, dua puluh tiga riwayat daripada Fara’id al-Simtin karangan al-Hamawaini, satu riwayat daripada Fusul al-Muhimmah karangan Ibn al-Sibagh al-Maliki dan satu riwayat daripada Syarh Nahj al-Balaghah karangan Ibn Abi l-Hadid.

Aku berkata: Sesungguhnya aku telah mengkaji risalah karangan Syaikh Kazim ‘Ali Nuh RH berjudul Turuq Hadith al-A’immah min Quraisy, hlm. 14. Dia berkata bahawa ‘Allamah Sayyid Hasan Sadr al-Din di dalam bukunya al-Durar al-Musawiyyah Fi Syarh al-’Aqa’id al-Ja’fariyyah telah mengeluarkan hadith dua belas khalifah daripada Ahmad bin Hanbal sebanyak tiga puluh empat riwayat. Hadith ini telah dikeluarkan juga oleh al-Bukhari, Muslim, al-Humaidi, beberapa riwayat Razin di dalam Sahih Sittah, riwayat al-Tha’labi, Abu Sa’id al-Khudri, Abu Bardah, Ibn Umar, Abdu r-Rahman Ibn Samurah, Jabir, Anas, Abu Hurairah, Ibn ‘Abbas, ‘Umar bin al-Khattab, ‘Aisyah, Wa’ilah dan Abi Salma al-Ra’i.

Adapun riwayat Umar bin al-Khattab yang telah dikaitkan kepadanya oleh ‘Ali bin al-Musayyab mengenai sabda Nabi SAWAW ialah: Para imam selepasku di antaranya Mahdi ummat ini. Siapa yang berpegang kepada mereka selepasku, maka sesungguhnya dia telah berpegang kepada tali Allah. Hadith ini juga telah dikaitkan dengan al-Durasti dengan Ibn al-Muthanna yang bertanya kepada ‘Aisyah:”Berapakah khalifah Rasulullah SAWAW. ‘Aisyah menjawab:’Beliau (Rasulullah SAW) memberitahuku bahawa selepasnya dua belas khalifah.’ Aku bertanya: Siapakah mereka? Maka ‘Aisyah menjawab:’Nama-nama mereka tertulis di sisiku dengan imla Rasulullah SAWAW.’ Maka aku bertanya kepadanya: Apakah nama-nama mereka? Maka dia enggan memperkenalkannya kepadaku.’

Sayyid al-Bahrani juga mencatat sebahagian daripada buku-buku Ahlu s-Sunnah yang menyebutkan dua belas khalifah. Di antaranya Manaqib Ahmad bin Hanbal, Tanzil al-Qur’an fi Manaqib Ahlu l-Bait karangan Ibn Nu’aim al-Isfahani, Faraid al-Simtin karangan al-Hamawaini, Matalib al-Su’ul karangan Muhammad bin Talhah al-Syafi’i, Kitab al-Bayan karangan al-Kanji al-Syafi’i, Musnad al-Fatimah karangan al-Dar al-Qutni, Fadhail Ahlu l-Bait karangan al-Khawarizmi al-Hanafi, al-Manaqib karangan Ibn al-Maghazali al-Syafi’i, al-Fusul al-Muhimmah karangan Ibn al-Sibagh al-Maliki, Jawahir al-’Aqdain karangan al-Samhudi, Dhakha’ir al-’Uqba karangan Muhibbuddin al-Tabari, Mawaddah al-Qurba karangan Syihab al-Hamdani al-Syafi’i, al-Sawa’iq al-Muhriqah karangan Ibn Hajr al-Haithami, al-Isabah karangan Ibn Hajr al-’Asqalani, Musnad Ahmad bin Hanbal, Musnad Abi Ya’la al-Mausuli, Musnad Abi Bakr al-Bazzar, Mu’jam al-Tabrani, Jam’ al-Saghir karangan al-Suyuti, Kunuz al-Daqa’iq karangan al-Munawi dan lain-lain.

Aku berkata: Sesungguhnya riwayat-riwayat yang berbilang-bilang yang datang kepada kita menurut metod Ahlu s-Sunnah adalah sekuat dalil, dan hujjah yang paling terang bahawa sesungguhnya khalifah selepas Rasulullah SAWAW secara langsung ialah Imam Amiru l-Mukminin ‘Ali bin Abi Talib AS. Dan selepasnya ialah anak-anaknya sebelas imam yang maksum, pengganti Rasul dan para imam Muslimin satu selepas satu sehingga manusia ‘berhadapan’ dengan Tuhan mereka. Tiada seorangpun yang dapat mengingkari hadith-hadith yang sabit yang diriwayatkan menurut riwayat para ulama besar Ahlu s-Sunnah dan pakar-pakar hadith mereka, lebih-lebih lagi menurut riwayat Syi’ah. Kecuali cahaya pemikirannya telah dipadamkan dan dijadikan di hatinya penutup. Justeru itu ia adalah termasuk di dalam firmanNya di dalam (Surah al-Baqarah (2): 171)”Mereka itu bisu dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti.”Dan firmanNya (Surah al-Zukhruf(43): 36) “Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah, Kami akan adakan baginya syaitan (yang menyesatkan), maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.”Dan firmanNya (Surah al-Kahf(18):57)”Kami jadikan di hati mereka tutupan (sehingga mereka tidak) memahaminya dan (Kami letakkan) sumbatan di telinga mereka, sekalipun kamu menyeru mereka kepada petunjuk, nescaya tidak akan mendapat petunjuk selama-lamanya.”

Ini adalah disebabkan penentangan mereka kepada dalil yang terang dan nas yang zahir kerana fanatik, kufur, dan kedegilan mereka.

Muhammad bin Idris al-Syafi’i memperakui kesahihan apa yang kami telah menyebutkannya dengan syairnya yang masyhur:

Manakala aku melihat manusia telah berpegang
kepada mazhab yang bermacam-macam
di lautan kebodohan dan kejahilan
Aku menaiki dengan nama Allah bahtera kejayaan
mereka itulah Ahlu l-Bait al-Mustaffa
penamat segala Rasul.

Pengiktirafan Syafi’i bahawa ‘Ali adalah imam dan selepasnya sebelas imam merupakan pengiktirafan yang besar daripada seorang imam mazhab empat. Dan ianya menjadi hujjah keimamahan dua belas imam maksum dari keluarga Rasulullah SAWW.

Sekarang, persoalannya adalah, sudahkah anda mengenal Imam Zaman anda?

Hadis “Siapa yang mati sedang ia tidak mengenal imam zamannya maka ia mati dalam keadaan jahiliyyah” MEMBENARKAN Akidah Syi’ah tentang 12 imam zaman


Kepemimpinan Dalam Perspektif Syi’ah dan Sunnah

Untuk mengetahui konsep Islam tentang Imamah/Khilafah, perlu kiranya kita menganalisa poin-poin penting seputar kepemimpinan (Imamah Kubra).Definisi Imamah:

Sebelum memasuki kajian inti Imamah, perlu bagi kita mengetahui pandangan Al qur’an tentangnya, juga pandangan para teolog Islam, baik Syi’ah maupun Ahlusunnah, agar tidak terjadi kerancuan dalam mengalisa permasalahan.

Imamah Dalam Pandangan Al qur’an

Dari ayat-ayat Al qur’yang berbicara tentang Imamah, kita dapat menyimpulkan adanya tugas-tugas yang menggambarkan hakikat Imamah itu sendiri.

Tugas-tugas tersebut ialah:

Pertama: Seorang Imam adalah panutan dan contoh praktis yang sejati yang akan memperagakan ajaran-ajaran agama, baik dalam sisi akidah, akhlak dan praktik amaliah.

Kedua: Seorang Imam adalah tempat berujuk dalam segala urusan dan masalah keagamaan. Seluruh masalah agama harus diambil darinya. Sebagaimana seluruh arahannya harus ditaati, tidak boleh dibantah dan dilanggar, sebab ia ma’shum.

Ketiga: Seorang Imam memiliki kewenangan dalam memimpin umat dalam sekala sosial, politik dan membimbing ke arah yang serasi dengan kesempurnaan kehidupan ukhrawi-nya di sisi Allah.

Keempat: Imamah ialah kewenangan dan kemampuan untuk berbuat dan memberi pengaruh pada sistem alam dengan izin Allah.

Imamah Dalam Kajian Para Teolog Islam

Untuk mngetahui sejauh mana kesesuaian pendefinisian Imamah oleh para teolog Islam dengan pandangan Al qur’an tentang Imamah, marilah kita simak pernyataan-pernyataan mereka:

Imamah Dalam Pandangan Ahlusunnah

Dalam pandangan Ahlusunnah, Imamah hanyalah lembaga kewenangan dalam sekala sosial politik.

Seorang Imam adalah pemimpin  politik/kepala negara yang bertanggung jawab dalam mengurus umat. Oleh karenanya ia adalah urusan keduniaan dan urusan umat. Dan fungsi posisi khilafah, sebagaimana layaknya dalam masyarakat-masyarakat non Islami, adalah pengaturan politis, tidak ada kaitannya dengan fungsitasyri’iy, pemeliharaan, penafsiran dan penjabaran ajaran agama.

Dan dari sini, datang kesapakatan mereka tentang tidak disyaratkan adanya nash (penunjukan), tidak disyaratkannya kema’shuman, dan hanya cukup dengan syarat ijtihad (jika terpenuhi), dan digugurkannya syarat ini dalam menentukan legelitassyar’iy jika tidak terpenuhi, tidak disyaratkannya afdlaliyah (yang paling mulia) pada sang khalifah bahkan tetap abash kekhilafahan seorang yang mafdluul (tidak mulia) kendati ada yang lebih afdlaf

Dan demikian pula kesepakatan mereka bahwa  jika ditetapkan kekhilafahan bagi  seseorang kemudian muncul seorang yang lebihafdhah, maka kekhilafahannya tetap syah dan tidak dibenarkan berpindah mengangkat yang lebih afdhal  itu… Kesepakan mereka bahwa seorang khalifah tidak gugur kekhilafahannya dengan kefasikan… Kesepakatan mereka bahwa kekhilafahan yang diperoleh dengan jalan kekerasan (memberontak) itu syah, dan begitu pula, jika ada yang memberontak lagi dan ia menang maka ia syah sebagai khalifah dan gugurlah kekhilafan khalifah sebelumnya.

Dan lain sebagainya, berupa pondasi fiqhiyah dan kalamiyah, yang kesemuanya tidak mungkin difahami kecuali atas dasar anggapan bahwa khilafah adalah lembaga yang tidak terkait dengan pembentukan umat atas dasar Islam akan tetapi terkait dengan Negara, masyarakat politis dan kebutuhan politis, pengaturan bagi masyarakat politis.

Dan karenanya, ia adalah  posisi eksekutif murni, tidak terkait dengan Islam sebagai gerakan perkembangan yang dinamis dalam bidang tasyri’, tafsir, penjabaran dan pemeliharaan agama serta pengisian areal tasyri’iy netral yang dimunculkan oleh dinamika kehidupan dan adanya masalah-masalah baru  yang dihadapi seorang Muslim  dan masyarakat Islam dalam kehidupan.

Satu-satunya kaitan khilafah dengan Islam hanyalah bahwa Islam adalah dasar penetapannya dan ia memimpin masyarakat yang meyakini Islam sebagai agama dan ia harus memimpin berdasarkan akidah dan hukum Islam.

Sesungguhnya khilafah terkait dengan urgensi politis pengaturan dan lahir darinya, ia tidak terkait dengan ediologi dan perkembangan dinamika syari’at di tengah-tengah umat dan dunia kecuali secara sekunder atau bahkan sama sekali tidak terkait.

Dan dari sini disimpulkan bahwa legalitas dan peran seorang Khalifah lahir karena ia memegang tampuk kekuasaan, dan jika hal itu hilang darinya maka hilanglah legalitas Syar’inya.

Ibnu Khaldun berkata, “Imamah adalah posisi mengganti/mewakili Nabi dalam memelihara agama dan mengatur urusan dunia/keduniaan.”

Imamah Dalam Pandangan Mazhab Syi’ah

Dalam pandangan Syi’ah, imamah tidak hanya diyakini  sebagai sekedar kekuasaan/kepemimpinan sosial politik seperti dalam keyakinan Ahlusunnah. Mereka meyakini bahwa kepemimpinan politik adalah salah satu dari dimensi imamah, atau justru sebagai konsekuensi logis imamah itu sendiri.

Imamah menurut mereka ialah: mencakup kepemimpinan keagamaan (Marja’iyah Diniyah)  dan kepemimpinan politis (Za’amah Siyasiyah), bahkan lebih dalam lagi mereka meyakini bahwa imamah adalah kewenangan dalam memberikan pengaruh dalam terjadinya fenomena-fenomena alam tertentu (dimensi Takwiniyah).

Imamah adalah Ahdullah (Janji Allah), oleh karenanya harus disandang oleh pribadi yang ma’sum dan harus melalui nash (penunjukan) dari Allah SWT.

Imamah dalam pandanga Syi’ah Imamiyah adalah jabatan keagamaan murni, dan melaluinya akan berlanjut fungsi kenabian dalam bidang tasyri’, pengawalan akidah dan syariat dari penyelewengan, pencemaran dalam penjabaran, penafsiran kaidah-kaidah dasar syari’at dan firman-firman mujmal, global.

Ia adalah jabatan yang menyamai kenabian dalam segala keistimewaan dan fungsinya kecuali dalam keistimewaan menerima wahyu.

Ia adalah jabatan yang –pada dasar dan esensinya- tidak meniscayakan adanya masyarat politis dan insan politis, akan tetapi ia meniscayakan adanya Islam itu sendiri sebagai agama dan meniscayakan adanya umat sebagai eksestensi manusiawi idiologis yang membentuk kehidupannya sesuai dengan Islam dan bukan sebagai masyarakat politis.

Fungsi Imamah Ma’shumah terkait secara mendasar  dengan bidang tasyri’, bukan dengan kondisi penataan politis bagi masyarakat politis.

Oleh karenanya, fungsi Imam ma’shum secara mendasar bukanlah fungsi politis, pengaturan  kedinastian.

Dan bahkan hal ini bukan merupakan esensi Imamah dan fungsinya, akan tetapi secara mendasar esensi dan fungsinya adalah ediologis tasri’iyah, dan secara sekunder adalah politis pengaturan.

Dan dari sini disyaratkannya ishmah (kemaksuman) dan afdlaliyah,  seperti akan dijelaskan nanti.

Dan oleh karenanya, seorang imam ketika ia kehilangan posisi politis (sebagai kepala negara), ia tidak bererti kehilangan fungsi imamahnya dan tidak juga posisinya secara umum tergoyahkan sebab esensi imamahnya  tidak ditentukan oleh kekuasaan dan ruang lingkup fungsinya juga bukan masyarakat politis dan pembuktian fungsinya tidak bergantung kepada kekuasaanya dalam memimpin negara. Akan tetapi fungsi imamahnya ditentukan oleh peran agamis tasyri’iy dan obyek fungsinya adalah umat serta pembuktiannya adalah kepemimpinannya atas umat dalam bidang tabligh dan tasyri’.

Dan dari keterangan di atas dapat dimengerti adanya perbedaan yang mendasar dan bukan hanya pada beberapa syarat saja, dalam pendangan antara Syi’ah dan Ahlusunnah, oleh kerenanya Syahid Muthahari berkata, “Kita harus tidak boleh mencampur adukkan  antara masalah Imamah dan masalah kekuasaan (hukumah), lalu kita mengatakan, ‘Apa pendapat Ahlusunnah? dan apa pendapat kita (Syiah)? Akan tetapi  masalah Imamah adalah masalah lain, pengertiannya menyerupai pengertian kenabian dengan kedudukan tinggi yang disandangnya. Oleh karenanya, kita kaum Syi’ah meyakini imamah sedangkan kaum Ahlusunnah tidak meyakininya sama sekali. Dan tidak dikatakan bahwa mereka meyakininya hanya saja mereka mensyaratkan syarat-syarat lain (selain yang kita syaratkan).”[Bidâyah al Ma’ârif :1\10 menukil dari Imamat Wa Rahbari .]

Maka dengan demikian mengenal pendefinisian masing-masing madzab dalam hal ini adalah sebuah keniscayaan dan hal penting yang akan menghindarkan kita dari kerancuan dalam berdialog dan menentukan kesimpulan-kesimpulan yang tepat.

Dan hal inilah yang sepertinya kurang mendapat perhatian yang proporsional dari para teolog klasik yang terlibat dalam polemik dan perdebatan berkepanjangan tentang Imamah di sepanjang zaman.

Misalnya, seorang teolog syi’ah langsung terjun mengkounter pandangan Sunni yang mengatakan bahwa Imamah dapat ditegakkan lewat sistem syura, dengan sejumlah argumen bahwa Imamah harus dengan nash, tanpa terlebih dahulu menemukan kata sepaham tentang definisi Imamah itu sendiri, akhirnya diskusi itu jadi rancu dan mandul.

Yang harus kita mengerti sekarang ialah bahwa Imamah yang diyakini kaum Sunni berbeda dengan Imamah yang diyakini kaum Syi’ah, baik dalam definisi, syarat-syarat maupun tugasnya.

Apakah Imamah Ushûlddîn/Prinsip agama atau Furû’uddîn?

  • Pendapat Ahlusunnah:

Imamah dalam pandangan madzab Ahlusunnah bukan merupakan Ushuluddin, ia digolongkan furu’uddin dan masalah-masalah fiqih yang harus dipecahkan dengan dalil-dalil naqliah bukan aqliah. Bahkan mereka menganggapnya bukan hal penting yang harus dibicarakan dan di diskusikan.

Demikian dijelaskan oleh tokoh-tokoh teologi Ahlusunnah seperti Imam Ghazali, Al-Amidiy, Al-Taftazani dll.

Al Ghazali berkata, “Ketahuilah, bahwa meneliti masalah Imamah bukanlah hal penting dan bukan permasalahan aqliah, ia adalah masalah fiqhiyah…”.[1]

Al Amidi berkata, “Ketahuilah bahwa persoalan imamah bukanlah termasuk ushuluddin, dan bukan pula perkara yang keharusan di mana seorang mukallaf  tidak dibenarkan berpaling darinya dan tidak mengerti tentangnya… .“[2]

At Taftazani berkata, “Imamah bukan termasuk Ushuluddin dan akidah, berbeda dengan Syi’ah. Akan tetapi ia menurut kita (Ahlusunnah) termasuk furuu’ yang terkait dengan tindakan para mukallaf, sebab pengangkatan imamah menurut kita wajib atas umat berdasarkan dalil naqli… .”[3]

Ibnu Ruzbahan mengatakan dalam bantahannya terhadap Allamah al-Hilli ra.,”Ketahuilah bahwa Imamah menurut kelompok Al Asy’ariyah bukan termasukUshuludiyanaat dan dasar akidah, akan tetapi ia menurut mereka adalah termasukfuruu’ yang berkaitan dengan tindakan kaum mukallaf.”[4]

Dan sepertinya pandangan mereka yang mengatakan bahwa imamah (khilafah) adalah furu’uddin dan bukan ushuluddin adalah tepat dan sesuai dengan pandangan mereka tentang definisi dan fungsi khilafah itu sendiri, sebab seperti sudah kita ketahui bahwa imamah (khilafah) dalam pandangan Ahlusunnah adalah sekedar jabatan kekuasaan (pemerintahan).

Syahid Muthahhari berkata, “Apabila masalah Imamah dalam batasan ini yaitu kekuasaan politis bagi kaum  Muslim sepeninggal Nabi saw. maka jujur saja kita kaum Syi’ah menjadikannya dari bagaian dari furu’uddin dan bukan ushuluddin dan kita mengatakannya ia seperti masalah shalat, akan tetapi kita kaum Syi’ah yang menyakini Imamah tidak hanya memahamimya sebatas itu.”[5]

Dan yang perlu mendapat sorotan di sini bahwa kendati imamah dalam pandangan Ahlusunnah bukan termasuk ushuluddin, namun demikian mereka menekankan pentingnya keimanan terhadap keimamahan (kepemimpinan) para Khulafa’ bahkan terhadap keyakinan urutan keutamaan mereka sesuai dengan urutan masa kepemimpinan mereka, dan mereka menjadikannya sebagai bagian yang sangat penting dalam keyakinan Ahlusunnah.

Imam Ahmad bin Hambal (W:241H) berkata menjelaskan akidah Ahlusunnah,“Sebaik-baik umat ini setelah Nabi kita saw. adalah Abu Bakar,  dan sebaik-baik  setelah Abu Bakar adalah Umar, dan sebaik-baik setekah Umar adalah Utsman, dan sebaik-baik setelah Utsman adalah Ali, semoga Allah meridhai mereka. Mereka adalah para Khulafa’ yang Rasyiduun dan mendapat petunjuk.”[6]

Abu Ja’far Ath Thahawi Al Hanafi (W:321H) berkata, “Dan kami menetapkan Khilafah setelah Nabi saw. untuk Abu Bakar ash Shiddiq –sebagai pengutamaan atas seluruh umat  kemudian untuk Umar ra. kemudian untuk Utsman ra. kemudian untuk Ali ra.”[7]

Abu Al Hasan Al Asy’ariy (W:330H) berkata, “Dan mereka mengakui bahwa mereka (Abu Bakar, Umar,  Utsman dan Ali_ pen.) adalah Khulafa’ Rasyiduun Mahdiyyuun semulia-mulia manusia setelah Nabi saw.”[8]

  • Pendapat Syi’ah Imamiyah :

Dalam pandangan Syi’ah Imamiyah, Imamah -yang kita telah ketahui definisinya menurut mereka- adalah sebuah prinsip agama (Ushulluddin).

Setelah kita ketahui bersama bahwa Imamah adalah Khilafah ketuhanan yang akan menyempurnakan dan melanggengkan fungsi Nabi –selain penerimaan wahyu-, maka semua fungsi dan tugas Rasul saw.; memberikan petunjuk dan membimbing umat manusia, menuntun mereka kepada kebahagiaan dunia-akhirat, mengatur urusan manusia, menegakkan keadilan, menyingkirkan kezaliman dan kesewenang-wenangan, memelihara syari’at, menerangkan al-Kitab, menghilangkan perselisihan, mensucikan jiwa dan mendidik manusia serta lain sebagainya  adalah termasuk juga tugas dan fungsi seorang Imam. Maka alasan yang menetapkan digolongkannya kenabian sebagai Ushuluddin juga alasan digolongkannya imamah sebagai ushuluddin. Dan kalau tidak maka tidak ada alasan  memasukkan kenabian sebagai ushuluddin juga.

Oleh kerenanya Imamah dalam pandangan Syi’ah Imamiyah sebagai  Ushuluddin dan bukan furu’uddin.

Syaikh al-Mudzaffar berkata, “Dan yang membuktikan bahwa Imamah termasuk ushuluddin adalah bahwa kedudukan Imam seperti kedudukan Nabi dalam penjagaan Syari’at, keharusan mengikutinya, dan kepemimpinannya yang umum tanpa perbedaan. Dan telah sependapat dengan kita (Syi’ah Imamiyah) bahwa ia (imamah) adalah termasuk ushuluddin sekelompok  ulama selain kita seperti Qadli Al Baidhawi dalam pembahasan Al Akhbaar (berita\hadis), dan sekelompok  pensyarah ucapannya seperti disebutkan oleh Sayyid yang mulia –Rahimahuallah-.[9]

  • Dalil-dalil Imamah Sebagai Ushuluddin:

Ketahuilah bahwa arti ushuliddin adalah dasar-dasar agama, dan sesuatu dikatagorikan sebagai dasar agama karena ia adalah  pondasi yang di atasnya agama ditegakkan. Asy Syahadatain adalah termasuk ushuluddin karena alasan di atas, sebab seorang tidak dikatakan Muslim kecuali dengannya, demikian juga dengan Imamah.

Dan yang mendasari keyakinan di atas adalah Al qur’an dan Sunnah Nabi saw.

  • Dalil Al qur’an

Ayat al Baalagh:

يا أَيّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ وَ إنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ، وَ اللهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ.

Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti)kamu tidak menyampaikan Risalah-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan)manusia.(QS:5;67).

Ayat di atas –setelah terbukti- turun berkaitan dengan masalah Imamah dan wilayah sepulang Nabi saw. dari haji Wada’  di Ghadir Khum setelah menyampaikan pesan terakhir tentang kepemimpinan Ali as., seperti disebutkan dalam riwayat-riwayat yang sahih yang telah diriwayatkan oleh para ulama Ahlusunnah dan juga Syi’ah, ia menunjukkan  bahwa Imamah adalah dasar agama, sebab Imamah sesuai dengan petunjuk ayat di atas adalah sebuah perkara yang apabila Nabi saw. tidak menyampaikannya, maka seakan beliau tidak pernah menyampaikan agama dan Risalah Allah SWT.

 

Dan ini adalah bukti kuat bahwa Imamah adalah bagian yang urgen dalam kehidupan Risalah dan kenabian, maka bagaimana mungkin ia tidak termasuk Ushuluddin?!

Hadis tentang turunnya ayat di atas tentang wilayah dan Imamah Ali  in Abi Thalib as. telah diriwayatkan oleh tidak kurang dari dua puluh Ulama besar Ahlusunnah, di antara mereka adalah:

Ibnu Abi Hatim ar-Razi.[10]

Ahmad bin Abdur-Rahman asy-Syirazi[11].

Ahmad bin Musa (Ibnu Murdawaih) [12].

Ahmad bin Muhammad ats-Tsa’labi [13].

Abu Nu’aim al-Ishfahani [14].

Abu al-Hasan Ali bin Ahmad al-Wahidi [15].

Mas’ud bin Nashir as-Sijistani [16].

Abdullah bin ‘Ubaidillah al-Hiskani [17].

Ibnu ‘Asakir ad-Dimasyqi[18].

Al-Fakh ar-Razi[19].

Jalaluddin as-Suyuthi[20].

Muhammad bin Thalhah asy-Syafi’i[21].

Ali bin Syihab al-Hamadani [22].

Ibnu Shabbagj al-Maliki [23].

Al-’Aini[24].

Nidzamuddin an-Nisaburi al-Qummi[25].

Di bawah ini akan kami sebutkan beberapa riwayat tentangnya.

Dalam tafsir Al Durr Al Mantsur disebutkan: Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud: Kami di masa Rasulullah saw. membaca ayat ini:

يا أَيّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ  (إن عليا مولى المؤمنين) وَ إنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ، وَ اللهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ.

Dengan tambahan kata: إن عليا مولى المؤمنين” ” (Sesungguhnya Ali adalah pemimpin kaum Mu’min) setelah kata:من ربك “[26].

Dari Ibnu Abbas dan Jabir bin Abdillah, mereka berkata, “Allah memerintah Muhammad saw. untuk mengangkat Ali sebagai panutan bagi umat manusia dan memberitakan kepada mereka tentang wilayah (kepemimpinan)nya, maka Rasulullah saw. khawatir mereka (para sahabat) berkata (menuduh), ‘Ia (Muhammad) berkolusi dengan anak pamannya’, dan khawatir mereka mengkritik beliau dalam hal ini, maka Allah mewahyukan kepada beliau ayat di atas. Lalu beliau saw. bangkit menyampaikan wilayah Ali pada hari Ghadir Khum.”[27]

Dari Ibnu Abbas ra. ia berkata, “Rasulullah saw. diperintah untuk menyampaikan tentang kepemimpinan Ali, lalu Allah -Azza Wa Jalla- menurunkan ayat:

يا أَيّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ وَ إنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ، وَ اللهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ.

Kemudian pada hari Ghadir Khumm beliau bangkit berpidato, setelah menyampaikan puja-puji kepada Allah beliau bersabda, ‘Bukanakah saya lebih berhak atas kalian lebih dari diri kalian sendiri?!’ Mereka menjawab, ‘Benar, wahai Rasulullah.’

Lalu beliau saw. bersabda, “Barang siapa yang aku adalah walinya maka Ali juga walinya. Ya Allah bimibnglah yang mengikuti Ali, musuhilah yang memusuhinya, cintailah yang mencintainya dan bencilah yang membencinya, muliakan yang memuliakanya dan bantulah yang membantunya.”[28]

  • Ayat Ikmaal ad Diin:

اَلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَ أَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَ رَضِيْتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيْنًا.

Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Kuridhai Islam sebagai agama bagimu.(QS:5;3)

Ayat di atas sebagaimana disebutkan dalam banyak riwayat yang sahih menegaskan tentang Imamah dan Wilayah Ali as., dan tidak adanya dasar yang mengatakan sesuatu lain tentang sebab turunnya. Dan ayat ini menegaskan bahwa Imamah adalah penyempurna agama dan pelengkap bagi ni’mat Allah. Jadi bagaimana mungkin sesuatu yang dijadikan penyempurna agama tidak tergolong dasar dan pondasi (ushuul) agama?!

Dan turunnya ayat di atas dalam peristiwa pengangkatan Ali as. telah diriwayatkan oleh banyak kalangan Ulama besar Ahlusunnah, di antaranya:

Ibnu Murdawaih al-Isfahani.

Abu Nu’aim al-Isfahani.

Ibnu al-maghazili.

Al-Muwaffaq bin Ahmad al-Akhthab al-Khawarizmi.

Muhammad bin Ali an-Nathanzi.

Abu hamid mahmud bin Muhammad ash-Shalihani.

Ibrahim  bin Muhammad al-Hamawaini.

Dalam riwayat-riwayat itu disebutkan bahwa setelah Nabi saw. memproklamasikan imamah Ali as. di Ghadir Khum, Allah menurunkan ayat di atas, lalu Nabi saw. bersabda:

الله أكْبَرُ عَلىَ إكْمَالِ الدِّيْنِ وَ إتْمَامِ النِّعْمَةِ وَ رِضَا الرَبِّ بِرِسالَتِيْ وَ الوِلاَيَةِ لِعَلِيِّ بنِ أبِيْ طَالِبٍ.

Maha besar Allah atas penyempurnaan agama dan pelengkapan ni’mat dan kerelaan Tuhan terhadap Risalahku  serta wilayah (kepemimpinan) Ali[29].

Dan selain dua ayat di atas masih banyak ayat lain yang juga menunjukkan bahwa Imamah adalah termasuk dasar agama.

Dalil Sunnah :

Dalam hadis sahih ditegaskan bahwa barang siapa mati dalam keadaan tidak mengenal Imam zamannya maka ia mati jahiliyah. Maka kalau Imamah bukan hal penting dan termasuk Ushuluddin mengapakah keharusan mengenal imam dianggap begitu penting sehingga yang tidak mengenal imam digolongkan mati jahiliyyah.

Nabi saw. bersabda :

َمَنْ مَاتَ وَلَمْ يَعْرِفْ ِامَامَ زَماَنِهِ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيّةً

Siapa yang mati  sedang ia tidak mengenal imam zamannya maka ia mati dalam keadaan jahiliyyah[30].

Hadis di atas telah disepakati kesahihannya, baik oleh Ahlusunnah wal Jama’ah maupun Syi’ah.

Syeikh M. Hasan Al Mudzaffar ra. berkata menjelaskan dalil bahwa Imamah termasuk ushuluddin, “Di antaranya adalah riwayat-riwayat yang banyak yang menunjukkan bahwa barang siapa mati tanpa  Imam maka ia mati jahiliyah dan lain sebagainya, maka berarti ia termasuk ushuluddin, seperti riwayat Muslim  dalam babAl Amr bi Luzuumi Al Jama’ah, pada kitab Al Imaarah dari Ibnu Umar, “Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda:

مَنْ خَلَعَ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ لَقِيَ اللهَ يومَ القِيامَةِ لاَ حُجَّةَ لَهُ, وَ مَن ماتَ وَلَيْسَ فِيْ عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَات مِيْتَةً جاهِلِيَّةً.

Barang siapa melepas tangan dari keta’atan ia berjumpa dengan Allah pada hari kiamat tanpa  memiliki bukti, dan barang siapa mati sedang dilehernya tidak ada ikatan bai’at maka ia mati jahiliyah.

Dan seperti riwayat Muslim juga pada bab yang sama, dan Bukhari dalam bab kedua pada kitab al-Fitan:

مَنْ كَرِهَ مِنْ أَمِيْرِهِ شَيْئًا فَلْيَصْبِرْ عَلَيْهِ , فَإِنَّهُ مَنْ خَرَجَ مِنْ السُّلْطَانِ شِبْرًا مَاتَ مِيْتَتَةً جَاهلِيِةَّ.ً

Barang siapa tidak menyukai dari Amirnya sesuatu hendaknya ia bersabar atasnya, kerena barang siapa keluar (memberontak) dari penguasa barang sejengkal ia mati jahiliyah.

Dan seperti riwayat Ahmad, ia berkata, “Bersabda Rasulullah saw.:

من مات بِغَيْرِ إمامٍ مَاتَ مِيْتَتَةً جَاهلِيِةَّ.ً

Darang siapa mati tanpa  imam ia mati jahiliyah.

Dan lain sebagainya.[31]


[1] Al Mawaqif :395 .

[2] Ghayah al-Maram Fi ‘Ilmi al-kalam :363.

[3] Syarh al-Mawaqif,8\344 .

[4] Ibthaal Nahjil Bathil (lihat: Dala’il ash Shidq,2\8) .

[5]Sayyid Muhsin al Kharrazi, Bidayah Al Ma’arif Al Ilahiyah,2/16 menukil dari Imamat Wa Rahbari: 50-51.

[6] Abhâts Fi al-Milal wa an-Nihal :1\255 menukil dari Kitab as-Sunnah karya Ahmad bin Hambal .

[7] Ibid. Menukil dari Syarah al-Aqidah ath-Thahawiyah :478-488.

[8] Maqalaat al-Islamiyyin :323 .

[9] Dala’il ash-Shidq :2\14 .

[10] Lihat : ad Durr al-Mantsuur :2\298 .

[11] Lihat : al Manaqib dan Bihar al Anwâr :37\155 .

[12] Lihat: ad Durr al Mantsuur :2\198 .

[13] Al Kasyfu wa al Bayaan (Nafahât al Azhâr :8\207-208 ).

[14] Lihat : Ma Nazala Min al-Qur’an Fi Aki as. :86 .

[15] Asbaab an-Nuzûl :135 .

[16] Lihat Nafahât :8\215.

[17] Syawahid at Tanzîl :1\187-188 .

[18] Tarikh Damaskus :2\86 .

[19] Tafsir al-Kabir ;12\49 ,dan ia mengatakan bahwa ini adalah pendapat Ibvnu Abbas ,baraa’  ibn ‘Azib dan Imama Muhammad al-Baqir as.

[20] Tafsir ad-Durr al-mantsur 2\298 .

[21]Mathalib as-Su;ul :44 .

[22] Al-Mawaddah Fi al-Qurbaa (lihat :Yanabi’ al-mawaddah :249).

[23] Al-Fushuul al-Muhimmah :42 .

[24] ‘Umdat al-qaari – Syarah al-Bukhari :18\206 .

[25] Tafsir an-Nisaburi :6\129-130 .

[26] Ad-Durr al-Mantsur :2\298 .Penulis berkata :D an adanya tambahan ini tidak berarti telah terjadi perubahan (tahrif) pada kitab suci Al-Qur’an sebab ia bukan ayat Al-Qur’an ,ia hanya sebagai tafsiran yang mereka dengan dari Nabi saww. atau yang mereka fahami berdasarkan kondisi sebab nuzul ayat ,dan hal seperti itu banyak ditemukan dalam riwayat-riwayat para shahabat .

[27] Syawahid at-Tanzil :1\187.

[28] Hadis riwatar Abu Sa’id as-Sijistani dalam kitab beliau tentang hadis al-Wilayah, lebih lanjut lihat Nafahat al-Azhaar,8\215 .

[29] Manaqib Ali bin Abi Thalib ( al-Khawarizmi):80 dan Faraid as-Simthain (Al-Hamawaini) :1\74

[30] Hadis di atas dan hadis-hadis mengandung makna serupa seperti yang disebut Syeikh Al Mudzaffar dapat Anda jumpai dalam banyak kitab-kitab mu’tabarah para ulama Ahlusunnah, di antaranya:

Shahih Bukhari, bab al Fitan,5/13.

Shahih Muslim,6/21-22 hadis1849.

Musnad Ahmad,2/83, 3/446 dan 4/96.

Shahih Ibn Hibban,6/49 hadis 4554.

Al Mu’jam Al Kabir; Al Thabarani,10/350 hadis 10687.

Mustadrak; Al Hakim,1/77.

Hilyatul Awliyaa’,3/224.

Jaami’ Al Ushuul; Ibn Al Atsiir Al Jazari,4/7.

Musnad Ath Thayalisi:259.

Al Kuna wa Al Alqaab,2/3.

Sunan Al Baihaqi,8/156 dan 157.

Al Mabshuuth; Al Sarkhasi,1/113.

Syarah Nahj Al Balaghah; Ibn Abi Al Hadid,9/155.

Syarah Muslim; Al Nawawi,12/44.

Talkhis Al Mustadrak; Al Dzahabi,1/77 dan177.

Tafsir Ibn Katsir,1/517.

Syarh Al Maqashid,2/275.

Majma’ al Zawaid,5/218,219,223 dan312.

Kanz Al Ummal,3/200.

Taisiir Al Wushuul,2/39.

dll.

[31] Dalail ash-Shidq :2\12.


rasul bersabda:”setelahku 12 orang pemimpin akan datang.” ! Kata al-khilafah bermakna al-niyabah ‘an al-ghayr atau pengggantian

Maksud “Ihdinassirotalmustaqim” (tunjuki kami Jalan yang lurus)

.
Jalan yang Benar
Allah swt berfiman:
اهْدِنَا الصرَط الْمُستَقِيمَ صِرَط الَّذِينَ أَنْعَمْت عَلَيْهِمْ غَيرِ الْمَغْضوبِ عَلَيْهِمْ وَ لا الضالِّينَ
“Tunjukilah kami ke jalan yang lurus, jalannya orang-orang yang telah Kau beri nikmat. “Yaitu jalan orang-orang yang Kau beri nikmat, bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan bukan jalan orang-orang yang tersesat.”
Shirathal mustaqim, jalan yang lurus dan benar, memiliki dua makna: makna lahir dan makna batin.
.
Dalam beberapa riwayat hadis disebutkan bahwa yang dimaksud dengan “Shirathal mustaqîm” adalah jalan Rasulullah saw dan Ahlul baitnya. Riwayat ini terdapat di dalam:
.
1. Syawahidut Tanzil, Al-Hakim Al-Haskani, jilid 1, halaman 57, hadis ke:
86,87,88,89,90,91,92,93,94,95,101,102,103,104 dan 105.
2. Al-Ittihaf Bihubbil Asyraf, Asy-syahrawi, halaman 76.
3. Kifayah Ath-Thalib, Al-Kanji Asy-Syafi’i, halaman 162 cet. Al-Ihqaqul Haqq, At-Tustari, jilid 3, halaman 534.
.
Rasulullah saw bersabda tentang firman Allah “‘Tunjukilah kami ke jalan yang lurus’: Jalannya para Nabi yang telah dikaruniai nikmat oleh Allah.” (Tafsir Nur Ats-Tsaqalayn 1, hadis ke 86)
.
Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata tentang firman Allah “‘Tunjukilah kami ke jalan yang lurus’: Jalan dan mengenal Imam.” (Tafsir Nur Ats-Tsaqalayn 1, hadis ke 88)
.
Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata: “Demi Allah, kami adalah jalan yang lurus.” (Tafsir Nur Ats-Tsaqalayn 1, hadis ke 89)
.
Mufadhdhal bin Umar berkata, aku pernah bertanya kepada Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) tentang “Ash-Shirath”. Beliau berkata: “Ash-Shirath” adalah jalan untuk mengenal Allah Azza wa Jalla. Shirath itu ada dua: Shirath di dunia dan shirath di akhirat. Shirath di dunia adalah Imam yang wajib ditaati, orang yang mengenalnya di dunia dan memperoleh keteladanan dengan petunjuknya ia akan selamat dalam melintasi shirath di atas jurang neraka Jahamman di akhirat. Dan orang yang tidak mengenalnya di dunia ia akan tergelincir kakinya dari shirath di akhirat sehingga ia tersungkur ke dalam neraka Jahannam.” (Tafsir Nur Ats-Tsaqalayn 1, hadis ke 92)
.
Sa’dan bin Muslim berkata, aku pernah bertanya kepada Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) tentang “Shirath”. Beliau berkata: “lebih halus dari rambut dan lebih tajam dari pedang. Di antara mereka ada orang yang melintasinya seperti kilat, ada yang melintasinya seperti musuh berkuda, ada yang melintasinya dengan berjalan kaki, ada yang melintasinya dengan merangkak, dan ada yang melintasinya dengan bergelantung sehingga terjilat oleh api neraka.” (Tafsir Nur Ats-Tsaqalayn 1, hadis ke 93)
.
Imam Zainal Abidin (sa) berkata: “Kami adalah pintu Allah dan kami adalah jalan yang lurus.” (Tafsir Nur Ats-Tsaqalayn 1, hadis ke 97)
.
Imam Muhammad Al-Baqir (sa) berkata bahwa Rasulullah saw bersabda: “Wahai Ali, pada hari kiamat aku, kamu dan Jibril duduk di atas shirath, sehingga tidak ada seorang pun yang boleh melintasi kecuali orang yang tercatat kesetiaannya terhadap wilayahmu.” (Tafsir Nur Ats-Tsaqalayn 1, hadis ke 98)
.
Imam Muhammad Al-Baqir (sa) berkata dari ayahnya dan dari kakeknya bahwa Rasulullah saw bersabda tentang ayat ini: “Pengikut Ali (sa) yang Kau beri nikmat dengan wilayah Ali bin Abi Thalib (sa), mereka yang tidak dimurkai dan tidak tersesat.” (Tafsir Nur Ats-Tsaqalayn 1, hadis ke 104)
.
Imam Muhammad Al-Baqir (sa): “Kami adalah jalan yang jelas dan lurus menuju kepada Allah Azza wa Jalla, dan kami adalah nikmat untuk makhluk-Nya.” (Tafsir Nur Ats-Tsaqalayn 1, hadis ke 105)
.
Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa): “Orang yang dimukai” adalah kaum nashibi, sedangkan “Orang-orang yang tersesat” adalah yahudi dan nasrani. (Tafsir Nur Ats-Tsaqalayn 1, hadis ke 106)
.
Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata: “Orang-orang yang dimurkai” adalah kaum nashibi, sedangkan “Orang-orang yang tersesat” adalah orang-orang yang ragu dan tidak mengenal Imamnya. (Tafsir Nur Ats-Tsaqalayn 1, hadis ke 107)

Kitab al-Hujjah (ttg imamah) Oleh al-Kulaini Wafat 328/329 Hijrah (Bab 8-14)

                                                                                Bab 8
Fardu Mentaati Para Imam A.S (Fardh ta‘at al-A’immah)
       (49)-1. Ali bin Ibrahim, daripada bapanya, daripada Hammad bin Isa, dariapda Huraiz, daripada Zurarah, daripada Abu Ja‘far a.s telah berkata: Puncak segala perkara, ketinggiannya, kuncinya, pintunya dan keredaan Yang Maha Pemurah adalah ketaatan kepada Imam selepas mengetahuinya (Dhirwat al-Amr wa sinamu-hu wa miftahu-hu wa bab al-Asyya’ wa Ridha al-Rahman tabaraka wa ta‘ala al-Ta‘at li-l-Imam ba‘da ma‘rifati-hi). Kemudian beliau a.s telah berkata: Sesungguhnya Allah telah berfirman: “Sesiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan sesiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka”[1]
.
       (50)-2. Al-Husain bin Muhammad al-Asy‘ari, daripada Mu‘alla bin Muhammad, daripada al-Hasan bin Ali al-Wasya’, daripada Abban bin Uthman, daripada Abu al-Sabaah berkata: Aku naik saksi bahawa aku telah mendengar Abu Abdillah a.s berkata: Aku naik saksi bahawa Ali adalah seorang imam yang mana ketaatan kepadanya difardukan oleh Allah (Imam farada llahu ta‘ata-hu). Sesungguhnya al-Hasan adalah seorang imam yang mana ketaatan kepadanya difardukan oleh Allah. Sesungguhnya al-Husain adalah seorang imam yang mana ketaatan kepadanya difardukan oleh Allah. Sesungguhnya Ali bin al-Husain adalah seorang imam yang mana ketaatan kepadanya difardukan oleh Allah dan sesungguhnya al-Husain bin Ali adalah seorang imam yang mana ketaatan kepadanya difardukan oleh Allah”.
.
       (51)-3. Daripada sanad-sanad yang sama, daripada Mu‘alla bin Muhammad, daripada al-Hasan bin Ali berkata: Hammad Ibn Uthman telah memberitahu kami, daripada Basyir bin al-‘Atar berkata: Aku telah mendengar Abu Abdillah a.s telah berkata: Kami adalah golongan yang mana Allah memfardukan ketaatan kami [kepada makhluk] sedangkan kamu mengikuti seorang yang mana orang ramai tidak dimaafkan tanpa mengetahuinya” (nahnu qaum farada llahu ta‘ata-na wa antum ta’tammun bi-man la ya‘dhur al-Nas bi-jahalati-hi).
.
       (52)-4. Muhammad bin Yahya, daripada Ahmad bin Muahammad, Daripada al-Husain bin Sa‘id, daripada Hammad bin Isa, daripada al-Husain bin al-Mukhtar, daripada sebahagian daripada sahabat kami, daripada Abu Ja‘far a.s tentang firman Allah “Dan kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar”[2] Beliau a.s telah berkata: Ketaatan yang difardukan (al-Ta‘at al-Mafrudah).
.
       (53)-5. Daripada beberapa orang daripada sahabat kami, daripada Ahmad bin Muhammad, daripada Muhammad bin Sinan, daripada Abu Khalid al-Qammat, daripada Abu al-Hasan al-‘Atar berkata: Aku telah mendengar Abu Abdillah a.s telah berkata: Para wasi dan para rasul bersyarikat di dalam ketaatan”[3]
.
       (54)-6. Ahmad bin Muhammad, daripada Muhammad bin Abu ‘Umair, daripada Saif bin ‘Umairah, daripada Abu al-Sabah al-Kinani, berkata: Abu Abdillah a.s telah berkata: Kamilah golongan yang mana Allah a.w memfardukan ketaatan kami. Al-Anfaal adalah untuk kami,  harta yang bersih adalah untuk kami. Kamilah yang teguh dengan ilmu dan kamilah yang didengki sebagaimana firman-Nya “Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran kelebihan yang Allah berikan kepada manusia itu”[4]
.
       (55)-7. Ahmad bin Muhammad, daripada Ali bin al-Hakam, daripada al-Husain bin Abu al-‘Ala’ berkata: Aku telah menyebut kepada Abu Abdillah a.s pendapat kami tentang para wasi bahawa ketaatan mereka adalah difardukan, maka beliau a.s telah berkata:Ya, merekalah yang difirmankan oleh Allah “Wahai mereka yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya) dan Uli Amri di kalangan kamu”[5] Dan merekalah yang difirmankan oleh Allah “Sesungguhnya wali kamu adalah Allah dan Rasul dan mereka yang beriman”[6]
.
       (56)-8. Daripada sanad-sanad yang sama, daripada Ahmad bin Muhammad, daripada Mu‘ammar bin Khallad, berkata: Seorang Farsi telah bertanya Abu al-Hasan a.s, maka beliau telah berkata: Ketaatan kepada anda difardukan? Beliau a.s telah berkata: Ya, beliau telah berkata lagi: Seperti ketaatan kepada Ali bin Abu Talib a.s? Maka beliau a.s telah berkata: Ya.
.
       (57)-9. Daripada sanad-sanad yang sama, daripada Ahmad bin Muhammad, daripada Ali bin al-Hakam, daripada Ali bin Abu Hamzah, daripada Abu Basir, daripada Abu Abdillah a.s telah berkata: Aku telah bertanya kepadanya tentang para imam adakah kedudukan mereka  sama di dalam melaksanakan perintah dan ketaatan? Beliau a.s telah berkata: Ya.
.
       (58)-10. Daripada sanad-sanad yang sama, daripada Marwak bin ‘Ubaid, daripada Muhammad bin Zaid al-Tabari, berkata: Aku telah berkhidmat dengan al-Ridha a.s di Khurasan dan di sisinya beberapa orang daripada Bani Hasyim. Antaranya Ishaq bin Musa bin Isa al-‘Abbasi, maka beliau a.s telah berkata: Wahai Ishaq, berita telah sampai kepadaku bahawa kami mendakwa bahawa semua orang adalah hamba kami, tidak,  dengan kekerabatanku dengan Rasulullah s.a.w, aku tidak pernah berkata sedemikian dan aku tidak pernah mendengarnya daripada bapa-bapaku telah berkata sedemikian, tetapi aku telah berkata: Orang ramai adalah hamba-hamba kami dari segi ketaatan (al-Naas ‘abidun la-na fi al-Ta‘ah) dan mewalikan kami dari segi keagamaan. Lantaran itu, orang yang hadir hendaklah memberitahu kepada orang yang tidak hadir.
.
       (59)-11. Ali bin Ibrahim, daripada al-Salih al-Sanadiy, daripada Ja‘far al-Basyir, daripada Abu Salmah, daripada Abu Abdillah a.s telah berkata: Aku telah mendengarnya berkata: Kamilah yang mana Allah telah memfardukan ketaatan kami [ke atas orang lain]. Orang ramai wajib mengetahui kami. Orang ramai tidak dapat mengilak dari tidak mengetahui kami. Sesiapa yang mengetahu kami, maka beliau adalah seorang muslim (man ‘arafa-na kana mu’minan). Sesiapa yang mengingkari kami, maka beliau adalah seorang kafir (man Ankara-na kana kafiran). Sesiapa yang tidak mengingkari kami, maka beliau adalah seorang yang sesat (kana dallan) sehingga beliau kembali kepada pertunjuk yang mana Allah mewajibkan ke atasnya mentaati kami. Sekiranya beliau mati di atas kesesatannya, maka Allah akan melakukan [kepadanya] apa yang Dia mahu”
.
       (60)-12. Ali, daripada Muhammad bin Isa, daripada Yunus, daripada Muhammad bin al-Fudhail berkata: Aku telah bertanya beliau a.s tentang perkara yang paling baik yang mana hamba-hamba-Nya dapat menghampiri diri mereka kepada Allah a.w? Beliau a.s telah berkata: Perkara yang paling baik yang mana hamba-hamba-Nya dapat menghampiri diri mereka kepada Allah adalah mentaati Allah, mentaati Rasul-Nya dan mentaati Uli Amri-Nya. Abu Ja‘far a.s telah berkata: Kecintaan kepada kami adalah keimanan dan kebencian kepada kami adalah kekufuran (hubbub-na iman wa baghdu-na kufr).
.
       (61)-13. Muhammad bin al-Hasan, daripada Sahal bin Ziyad, daripada Muhammad bin Isa, daripada Fadhalah bin Ayyub, daripada Abban, daripada Abdullah bin Sinan, daripada Ismail bin Jabir berkata: Aku telah berkata kepada Abu Ja‘far a.s: Bolehkah aku membentangkan kepada anda agamaku yang mana aku mempecayai Allah dengannya? Maka beliau a.s telah berkata: Beritahulah kepadaku, maka aku telah berkata: Aku naik saksi bahawa tiada tuhan melainkan Allah sahaja, tiada bagi-Nya sekutu dan sesungguhnya Muhammad adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya. Mengakui apa yang dibawa oleh Muhammad s.a.w dari sisi-Nya. Sesungguhnya Ali adalah seorang imam yang difardukan Allah ketaatan kepadanya. Kemudian al-Hasan adalah seorang imam yang difardukan Allah ketaatannya. Kemudian al-Husain sebagai seorang imam yang difardukan Allah ketaatannya. Kemudian selepasnya Ali bin al-Husain seorang imam yang difardukan Allah  ketaatannya sehingga urusan berakhir kepadanya. Kemudian aku telah berkata: Anda mudah-mudahan dihormati Allah? Beliau a.s telah berkata: Inilah agama Allah dan agama para malaikat-Nya”
.
       (62)-14. Ali bin Ibrahim, daripada bapanya, daripada Ibn Mahbub, daripada Hisyam bin Salim, daripada Abu Hamzah, daripada Abu Ishaq, daripada beberapa sahabat Amir al-Mukminin a.s telah berkata: Amir al-Muminin a.s telah berkata: Ketahuilah bahawa bersahabat dengan orang alim[7] dan pengikut-pengikutnya merupakan agama Allah yang dipercayai, ketaatan kepadanya menambahkan kebaikan, menghilangkan kejahatan, [beliau adalah] simpanan mukminin, dapat meninggikan kedudukan dan kebaikan mereka selepas kematian”.
.
       (63)-15. Muhammad bin Ismail, daripada al-Fadhl bin Syadhan, daripada Safwan bin Yahya, daripada Mansur Ibn Hazim berkata: Aku telah berkata kepada Abu Abdillah a.s: Sesungguhynya Allah adalah lebih dihormati dan lebih mulia dari memperkenalkan diri-Nya kepada makhluk-Nya, malah makhluk-Nya mengenaliNya, beliau a.s telah berkata: Apa yang anda telah katakan itu adalah benar. Maka aku telah berkata: Sesiapa yang telah mengetahui bahawa baginya Tuhan, maka sayugia baginya mengetahui bahawa Allah mempunyai keredaan dan kemurkaan dan sesungguhnya beliau tidak mengetahui keredaan-Nya dan kemurkaan-Nya melainkan dengan wahyu atau rasul.
       Justeru, sesiapa yang tidak didatangi wahyu, maka beliau harus mendapatkan para rasul dan apabila beliau bertemu dengan mereka, maka beliau mengetahui bahawa mereka adalah al-Hujjah dan mereka pula wajib ditaati. Aku telah berkata kepada orang ramai: Adakah kamu mengetahui bahawa Rasullah s.a.w adalah seorangHujjah daripada Allah ke atas makhluk-Nya? Mereka telah berkata: Ya, aku telah berkata: Apabila Rasulullah s.a.w mati, maka siapakah al-Hujjah ke atas makhluk-Nya? Mereka telah berkata: Al-Qur’an, lalu aku telah melihat kepada al-Qur’an, maka aku telah dapati Murjiah, Qadariyah dan Zindiq menggunakan hujah  daripada al-Qur’an meskipun mereka tidak mempercayainya. Lantaran itu, aku dapati al-Qur’an tidak menjadi Hujjah kecuali dengan wujud penjaganya. Justeru apa yang dikatakannya itu adalah benar
.
       Aku telah berkata kepada mereka: Siapakah penjaga al-Qur’an? Mereka telah berkata: Ibn Mas‘ud telah mengetahuinya, ‘Umar telah mengetahuinya dan Huzaifah telah mengetahuinya, aku telah berkata: Semuanya? Mereka telah berkata: Tidak, maka aku tidak mendapati seorangpun yang berkata bahawa beliau mengetahui semuanya kecuali Ali a.s. Apabila persoalan mengenai al-Qur’an timbul di kalangan orang ramai, Ibn Mas‘ud telah berkata: Aku tidak mengetahuinya. Sementara seorang lain (‘Umar) telah berkata: Aku tidak mengetahuinya dan seorang lagi (Huzaifah) telah berkata: Aku tidak mengetahuinya. Dan Ini (Ali a.s) telah berkata: Aku mengetahuinya. Lantaran itu, aku naik saksi bahawa Ali a.s adalah penjaga al-Qur’an. Dan Ketaatan kepadanya adalah difardukan (kanat ta‘atu-hu muftaradah). Justeru beliau  adalah al-Hujjah ke atas manusia selepas Rasulullah s.a.w
.
       Dan apa yang dikatakan olehnya tentang al-Qur’an adalah benar. Imam Ja‘afar a.s telah berkata: Semoga Allah merahmati anda. Lalu aku telah berkata: Sesungguhnya Ali a.s tidak tidak mati melainkan beliau a.s telah meninggalkan seorang Hujjah selepasnya sebagaimana dilakukan oleh Rasulullah s.a.w. Sesungguhnya al-Hujjah selepas Ali adalah al-Hasan bin Ali. Aku naik saksi bahawa di atas al-Hasan bahawa beliau tidak pergi melainkan beliau a.s telah meninggalkan seorang Hujjah selepasnya sebagaimana telah dilakukan oleh bapanya dan datuknya. Sesungguhnya al-Hujjah selepas al-Hasan adalah al-Husain dan ketaatan kepadanya adalah difardukan. Lalu beliau a.s telah berkata: Mudah-mudahan Allah merahmati anda
.
       Kemudian aku telah mengucup kepalanya sambil berkata: Aku naik saksi ke atas al-Husain a.s bahawa beliau a.s tidak pergi sehingga beliau meninggalkan seorang Hujjah selepasnya Ali bin al-Husain dan ketaatan kepadanya adalah fardu, maka beliau a.s telah berkata: Mudah-mudahan Allah merahmati anda. Maka aku mengucup kepalanya sambil berkata: Aku naik saksi ke atas Ali bin al-Husain bahawa beliau tidak pergi melainkan beliau a.s telah meninggalkan seorang Hujjah selepasnya Muhammad bin Ali Abu Ja‘far a.s dan ketaatan kepadanya adalah difardukan
.
       Lalu beliau a.s telah berkata: Mudah-mudahan Allah merahmati anda, aku telah berkata: Berilah kepala anda sehingga aku mengucupnya, lalu beliau a.s tersenyum. Aku telah berkata: Aslahaka-llah, sesungguhnya aku telah mengetahui bahawa bapa anda tidak pergi sehingga beliau meninggalkan seorang Hujjah selepasnya sebagaimana dilakukan oleh bapanya. Aku naik saksi bahawa anda adalah Hujjah dan ketaatan kepada anda adalah difardukan, lalu beliau a.s telah berkata: Cukuplah, Mudah-mudahan Allah merahmati anda, aku telah berkata: Berilah kepala anda supaya aku mengucupnya, maka aku pun mengucup kepalanya, maka beliau a.s telah tersenyum sambil berkata: Tanyalah kepadaku apa yang anda mahu, aku tidak akan menentang anda selepas hari ini untuk selama-lamanya”
.
       (64)-16. Muhammad bin Yahya, daripada Ahmad bin Muhammad bin Isa, daripada Muhammad bin Khalid al-Barqiy, daripada al-Qasim bin Muhammad al-Jauhariy, dariapada al-Husain bin Abu al-‘Ala’ berkata: Aku telah berkata kepada Abu Abdillah a.s: Adakah ketaatan kepada para wasi difardukan? Beliau a.s telah berkata: Ya, merekalah yang difirmankan oleh Allah “Taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul dan Uli al-Amri daripada kamu”[8]. Dan merekalah yang difirmankan oleh Allah “Sesungguhnya wali kamu adalah Allah dan Rasul-Nya dan mereka yang beriman yang mendirikan sembahyang dan mengeluarkan zakat di dalam keadaan rukuk”[9]
.
       (65)-17. Ali bin Ibrahim, daripada Muhammad bin Isa, daripada Yunus bin Abd al-Rahman, daripada Hammad, daripada Abd al-A‘la berkata: Aku telah mendengar Abu Abdillah a.s telah berkata: Mendengar dan mentaati adalah pintu-pintu kebaikan, orang yang mendengar lagi mentaati tidak ada hujah bagi menentangnya. Tiada hujah ke atas orang yang mendengar dan menderhakai. Dan hujah Imam muslimin akan sempurna pada hari beliau berjumpa dengan Allah “Pada hari itu, kami akan menyeru orang ramai dengan imam mereka”[10]
.
                                   
                                                                          Bab 9
Sesungguhnya Para Imam Adalah Saksi-Saksi Allah Ke Atas Makhluk-Nya. (fi anna al-A’immah Syuhadaa’ Allah a.w ‘ala khalqi-hi)
.
       (66)-1. Ali bin Muhammad, daripada Sahal bin Ziyad, daripada Ya‘qub bin Yazid, daripada Ziyad al-Qandiy daripada Sama‘ah berkata: Abu Abdillah a.s telah berkata tentang firman Allah a.w “Maka bagaimanakah apabila Kami mendatangkan seorang saksi bagi setiap umat dan Kami mendatangkan kamu sebagai saksi di atas mereka?”[11] Beliau a.s telah berkata: Ayat ini telah diturunkan kepada umat Muhammad s.a.w secara khusus, pada setiap kurun seorang imam daripada kami akan menjadi saksi ke atas mereka dan Muhammad s.a.w adalah menjadi saksi ke atas kami pula”
       (67)-2. Al-Husain bin Muhammad, daripada Mu‘alla bin Muhammad, daripada al-Hasan bin Ali al-Wasyaa’, daripada Muhammad bin ‘A’idh, daripada ‘Umar bin Udhinah, daripada Buraid al-‘Ajaliy berkata: Aku telah bertanya Abu Abdillah a.s tentang firman Allah a.w “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu umat yang adil agar kamu menjadi saksi atas manusia”[12] Beliau a.s telah berkata: Kamilah umat yang adil (ummatan wasatan) dan kamilah saksi-saksi Allah ke atas makhluk-Nya danHujjah-Hujjah-Nya di bumi-Nya (nahnu al-Ummat al-Wusta wa nahnu syuhadaa’ llahi wa hujaji-hi fi ardi-hi). Aku telah bertanya tentang firman Allah a.w “Agama bapa kamu Ibrahim
.
       Beliau a.s telah berkata: Kamilah yang dimaksudkan dengan ayat ini secara khusus “Dialah yang telah menamakan kamu Muslimin sebelumnya” di dalam kitab-kitab yang terdahulu (dan pada ini) al-Qur’an (Supaya Rasul menjadi saksi ke atas kamu)[13]Justeru Rasul adalah saksi ke atas kami di atas apa yang telah kami sampaikan daripada Allah a.w dan kamilah saksi-saksi di atas manusia. Lantaran itu, sesiapa yang membenarkan kami, maka kami akan membenarkan mereka pada hari Kiamat. Dan sesiapa yang membohongi kami, maka kami akan membohongi mereka pada hari Kiamat”
.
       (68)-3. Daripada sanad-sanad yang sama, daripada Mu‘alla bin Muhammad, daripada al-Hasan bin Ali, daripada Ahmad bin ‘Umar al-Halal berkata: Aku telah bertanya Abu al-Hasan a.s tentang firman Allah a.w “Apakah orang yang mempunyai bukti yang nyata daripada Tuhannya dan diikuti pula oleh seorang saksi daripada-Nya”[14] Maka  beliau a.s telah berkata: Amir al-Mukminin a.s adalah saksi ke atas Rasulullah s.a.w dan Rasulullah s.a.w adalah bukti daripada Tuhan-Nya”
.
       (69)-4. Ali bin Ibrahim, daripada bapanya, daripada Muhammad bin Abu ‘Umair, daripada Ibn Udhinah, daripada Buraid al-‘Ajaliy berkata: Aku telah bertanya kepada Abu Ja‘far a.s mengenai firman Allah a.w “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu umat yang adil agar kamu menjadi saksi atas manusia”[15] Beliau a.s telah berkata: Kamilah umat yang adil (wasatan), kamilah saksi-saksi Allah ke atas makhluk-Nya dan Hujjah-Hujjah-Nya di bumi-Nya. Aku bertanya mengenai firman-Nya “Wahai mereka yang beriman, rukuklah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan. Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu”[16]
.
       Beliau a.s telah berkata: Ianya dimaksudkan kepada kami dan kamilah yang terpilih. “Dan Dia tidak menjadikan untuk kami di dalam agama suatu kesempitan” Kesempitan itu adalah lebih teruk daripada kesesakan. “Agama bapa kami Ibrahim” Ianya dimaksudkan kepada kami secara khusus.
“(Dia) telah menamakan kamu Muslimin” Allah telah menamakan kami Muslimin “sebelumnya” di dalam kitab-kitab yang terdahulu (dan pada ini) al-Qur’an (Supaya Rasul menjadi saksi ke atas kamu)[17]Justeru Rasul adalah saksi ke atas kami di atas apa yang telah kami sampaikan daripada Allah a.w dan kamilah saksi-saksi atas manusia. Lantaran itu, sesiapa yang membenarkan kami, maka kami akan membenarkan mereka pada hari Kiamat. Dan sesiapa yang membohongi kami, maka kami akan membohongi mereka pada hari Kiamat”
      .
       (70)-5. Ali bin Ibrahim, daripada bapanya, daripada Hammad bin Isa, daripada Ibrahim bin ‘Umar al-Yamaniy, daripada Sulaim bin Qais al-Hilali, daripada Amir al-Mukminin a.s telah berkata: Sesungguhnya Allah telah membersihkan kami, menjaga kami dan telah menjadikan kami saksi-saksi ke atas makhluk-Nya. Kamilah Hujjah-Hujjah-Nya di bumi-Nya. Dia telah menjadikan kami bersama al-Qur’an dan al-Qur’an bersama kami, kami tidak berpisah dengannya dan ia tidak berpisah dengan kami”
.
Bab 10
Sesungguhnya Para Imam A.S Adalah Penunjuk (anna al-A’immah A.S Hum al-Hudaat)
       (71-1. Daripada beberapa orang sahabat kami, daripada Ahmad bin Muhammad, daripada al-Husain bin Sa‘id, daripada al-Nadhar Ibn Suwaid dan Fadhalah bin Ayyub, daripada Musa bin Bakr, daripada al-Fudhail berkata: Aku telah bertanya Abu Abdillah a.s mengenai firman Allah a.w “Dan setiap kaum itu ada orang yang memberi petunjuk”[18] Beliau a.s telah berkata: Setiap Imam adalah petunjuk kepada kaum pada kurun yang mana beliau berada padanya”
.
       (72)-2. Ali bin Ibrahim, daripada bapanya, daripada Muhammad bin Abu ‘Umair, daripada Ibn Udhinah, daripada Buraid al-‘Ajaliy, daripada Abu Ja‘far a.s tentang firman Allah a.w “Sesungguhnya kamu hanya seorang yang memberi peringatan dan setiap kaum ada orang yang memberi petunjuk”[19] Beliau a.s telah berkata: Rasulullah s.a.w adalah orang yang memberi peringatan dan setiap zaman ada seorang petunjuk daripada kami yang menunjukkan mereka kepada apa yang dibawa oleh nabi Allah s.a.w. Kemudian penunjuk-penunjuk selepasnya adalah Ali, kemudian para wasi seorang selepas seorang”
.
       (73)-3. Al-Husain bin Muhammad al-Asy‘ari, daripada Mu‘alla bin Muhammad, daripada Muhammad bin Jumhur, daripada Muhammad bin Ismail, daripada Sa‘daan daripada Abu Basir berkata: Aku telah berkata kepada Abu Abdillah a.s “Sesungguhnya kamu hanya seorang yang memberi peringatan dan setiap kaum ada orang yang memberi petunjuk”[20] Beliau a.s telah berkata: Rasulullah s.a.w adalah orang yang memberi peringatan (al-Mundhir) dan Ali adalah orang yang memberi petunjuk (al-Haadi). Wahai Abu Muhammad, adakah orang yang memberi petunjuk pada hari ini? Aku telah berkata: Ya, aku telah menjadikan diriku tebusan anda, sentiasa ada orang yang memberi petunjuk selepasnya sehingga ia diberikan kepada anda, maka beliau a.s telah berkata: Allah memberi rahmat kepada anda, wahai Abu Muhammad, sekiranya satu ayat itu diturunkan atas seorang lelaki, kemudian lelaki itu mati, maka matilah ayat itu dan matilah al-Kitab, tetapi ia (hidayah) masih hidup dan berlaku kepada orang yang masih hidup sebagaimana ia telah berlaku kepada orang yang terdahulu”
.
       (74)-4. Muhammad bin Yahya, daripada Ahmad bin Muhammad, daripada al-Husain bin Sa‘id, daripada Safwan, daripada Mansur, daripada ‘Abd al-Rahim al-Qasir, daripada Abu Ja‘far a.s mengenai firman Allah “Sesungguhnya kamu hanya seorang yang memberi peringatan dan setiap kaum ada orang yang memberi petunjuk”[21] Beliau a.s telah berkata: Rasulullah adalah orang yang memberi peringatan (al-Mundhir) dan Ali adalah orang yang memberi petunjuk. Demi Allah, ia (hidayah) tidak pergi daripada kami dan ia sentiasa pada kami”
.
                                                                         Bab 11
 
Sesungguhnya Para Imam A.S Adalah Uli Amri LLahiDan Penyimpan Ilmu-Nya (anna al-A’immah a.s wulaat amri llahi wa khazanat ‘ilmi-hi
      
       (75)-1. Muhamad bin Yahya al-‘Attar, daripada Ahmad bin Abu Zahir, daripada al-Hasan bin Musa, daripada Ali bin Hassan, daripada Abd al-Rahman bin Kathir berkata: Aku telah mendengar Abu Abdillah a.s telah berkata: Kamilah wulaat amri llah, penyimpan ilmu Allah dan bekas wahyu Allah”
.
       (76)-2. Daripada beberapa orang daripada sahabat kami, daripada Ahmad bin Muhammad, daripada al-Husain bin Sa‘id, daripada Ali bin Asbaat, daripada bapanya Asbat, daripada Surat bin Kulaib berkata: Abu Ja‘far a.s telah berkata kepadaku: Demi Allah, sesungguhnya kami adalah penyimpan khazanah Allah di langit-Nya dan di bumi-Nya, bukan di atas emas dan perak, tetapi di atas ilmu-Nya”
.
       (77)-3. Ali bin Musa, daripada Ahmad bin Muhammad, daripada al-Husain bin Sa‘id dan Muhammad bin Khalid al-Barqiy, daripada al-Nadhar bin Suwaid secara marfu’, daripada Abu Ja‘far a.s telah berkata: Aku telah berkata kepadanya: Aku telah menjadikan diriku tebusan anda, apakah kedudukan kamu semua?[22] Beliau a.s telah berkata: Kamilah penyimpan ilmu Allah (nahnu Khazzan ‘ilmi llahi), kamilah terjemahan wahyu Allah [23](nahnu taraajumati wahyi llahi) dan kamilahHujjah Allah yang menyampaikan (hujah) kepada orang yang berada di langit dan di bumi”
.
       (78)-4. Muhammad bin Yahya, daripada Muhammad bin al-Husain, daripada al-Nadhar bin Syu‘aib, daripada Muhammad bin Fudhail daripada Abu Hamzah berkata: Aku telah mendengar Abu Ja‘far a.s telah berkata: Rasulullah s.a.w telah bersabda: Allah telah berfirman[24]: Kesempurnaan hujahku adalah di atas mereka yang celaka daripada umatmu yang telah menjauhkan wilayah Ali dan [wilayah] para wasi selepasmu kerana pada merekalah sunnahmu dan sunnah para nabi sebelum daripadamu. Mereka adalah penyimpan ilmu-Ku selepas kamu” Kemudian Rasulullah s.a.w telah bersabda: Sesungguhnya Jibrail a.s telah menceritakan kepadaku nama-nama mereka dan nama-nama bapa mereka”
.
       (79)-5. Ahmad bin Idris, daripada Muhammad bin Abd al-Jabbar, daripada Muhammad bin Khalid, daripada Fadhalah bin Ayyub, daripada Abdullah bin Abu Ya‘fur berkata: Abu Abdillah a.s telah berkata: Wahai Ibn Abu Ya‘fur, sesungguhnya Allah adalah Satu di dalam kesatuan, Tunggal di dalam perintah-Nya, maka Dia telah menciptakan makhluk, lalu Dia menetapkan perintah untuk mereka. Maka kamilah mereka itu, wahai Ibn Abi Ya‘fur, Kamilah Hujjah-Hujjah Allah pada hamba-hamba-Nya, [kamilah] penyimpan ilmu-Nya dan kamilah yang menjalankan perintah-Nya”
.
       (80)-6. Ali bin Muhammad, daripada Sahal bin Ziyad, daripada Musa bin al-Qasim bin Mu‘awiyah dan Muhammad bin Yahya, daripada  ‘Umar Kiyy bin Ali, daripada Ali bin Ja‘far, daripada Abu al-Hasan Musa a.s telah berkata: Abu Abdillah a.s telah berkata: Sesungguhnya Allah telah menciptakan kami, lalu Dia menciptakan kami dengan baik. Dia telah membentukkan kami (sawwara-na), lalu Dia telah membentuk kami dengan baik. Kemudian Dia telah menjadikan kami bendahari-bendahari-Nya di langit-Nya dan di bumi-Nya. Pokok-pokok bercakap untuk kami dan melalui cara ibadah kami, Allah a.w disembah (bi ‘ibadati-na ‘ubida llahu). Sekiranya kami tidak ada, nescaya Allah tidak disembah (laula-na ma ‘ubida llahu)”[25]
                           .          
  Bab 12
Sesungguhnya Para Imam A.S Adalah Khalifah Allah A.W Di Bumi-Nya Dan Pintu-Pintu-Nya Yang Di Datangi (anna al-A’immah a.s khulafa’ Allah fi ardhi-hi wa abwabu-hu al-Lati min-ha yu’ta
       (81)-1. Al-Husain bin Muhammad al-Asy‘ari, daripada Mu‘alla bin Muhammad, daripada Ahmad bin Muhammad, daripada Abu Mas‘ud, daripada al-Ja‘fari berkata: Aku telah mendengar Abu al-Hasan al-Ridha a.s telah berkata: Para imam a.s adalah khalifah Allah a.w di bumi-Nya”.
.
       (82)-2. Daripadanya, daripada Mu‘alla, daripada Muhammad bin Jumhur, daripada Sulaiman bin Samaa‘ah, daripada Abdullah bin al-Qasim, daripada Abu Basir berkata: Abu Abdillah a.s telah berkata: Para wasi adalah pintu-pintu Allah a.w yang di datangi. Jika mereka tidak ada, nescaya Allah tidak diketahui dan dengan merekalah Allah telah berhujah ke atas makhluk-Nya”
.
       (83)-3. Al-Husain bin Muhammad, daripada Mu‘alla bin Muhammad, daripada al-Wasyaa’, daripada Abdullah bin Sinan berkata: Aku telah bertanya Abu Abdillah a.s mengenai firman Allah Jalla Jalalah “Allah telah berjanji kepada mereka yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahawa Dia akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan mereka sebelum mereka berkuasa”[26] Beliau a.s telah berkata: Mereka itu adalah para imam a.s.”
                                     
.
                                                                               Bab 13
Sesungguhnya Para Imam A.S Adalah Cahaya Allah A.W (anna al-A’immah a.s nuru llah a.w)
       (84)-1. Al-Husain bin Muhammad, daripada Mu‘alla bin Muhammad, daripada Ali bin Mirdas berkata: Safwan bin Yahya dan al-Hasan bin Mahbub telah meriwayatkan kami daripada Abu Ayyub, daripada Abu Khalid al-Kaabili berkata: Aku telah bertanya Abu Abdillah a.s tentang firman Allah a.w “Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada cahaya yang telah kami turunkan”[27]Maka beliau a.s telah berkata: Wahai Abu Khalid, cahaya, demi Allah, adalah cahaya para imam daripada keluarga Muhammad  s.a.w sehingga hari Kiamat. Mereka, demi Allah, adalah cahaya Allah yang Dia telah menurunkannya dan mereka, demi Allah, adalah cahaya Allah di langit dan di bumi
.
       Demi Allah, wahai Abu Khalid, cahaya Imam pada hati mukminin adalah lebih bercahaya daripada matahari yang bersinar di siang hari (la-nur al-Imam fi qulub al-Mu’minin anwar min al-Syams al-Mudhi’ah bi al-Nahar). Mereka, demi Allah, menyinari hati mukminin. Allah menghalang cahaya mereka daripada sesiapa yang Dia kehendaki, lalu hati mereka menjadi gelap. Demi Allah, wahai Abu Khalid, seorang hamba tidak mencintai kami dan mewalikan kami (wa llahi, ya Aba Khalid, la yuhibbu-na ‘abdun wa yatawallaa-na) sehingga Allah membersihkan hatinya (hatta yutahhira llahu qalba-hu) dan Allah tidak membersihkan hati seorang hamba sehingga beliau menyerahkan dirinya kepada kami (wa la yutahirru llahu qalba ‘abdin hatta yusallima la-na) serta berdamai dengan kami [28](wa yakun silman la-na). Apabila beliau berdamai dengan kami, maka Allah melindunginya dari ketakutan Hisab dan menyelamatkannya dari ketakutan yang lebih besar pada hari Kiamat”
.
       (85)-2. Ali bin Ibrahim dengan sanad-sanadnya, daripada Abu Abdillah a.s tentang firman Allah “Mereka yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang mereka mendapatinya tertulis di dalam Turat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang makruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka mereka yang beriman kepada-nya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang diturunkan kepadanya, maka itulah mereka yang beruntung”[29] Beliau a.s telah berkata: Cahaya pada ayat ini adalah [Ali] Amir al-Mukminin a.s dan para imam a.s.
.
       (86)-3. Ahmad bin Idris, daripada Muhammad bin Abd al-Jabbar, daripada Ibn Fadhdhal, daripada Tha‘labah bin Maimun, daripada Abu Jarud berkata: Aku telah berkata kepada Abu Ja‘far a.s: Allah telah kurniakan kepada Ahlu l-Kitab kebaikan yang banyak. Beliau a.s telah berkata: Apakah itu? Aku telah berkata: Firman Allah “Golongan yang telah Kami datangkan kepada mereka al-Kitab sebelumnya al-Qur’an, mereka beriman dengan al-Qur’an itu. Apabila dibacakan kepada mereka, mereka telah berkata: Kami beriman kepadanya; sesungguhnya al-Qur’an itu suatu kebenaran dari Tuhan kami sesungguhnya kami sebelumnya adalah mereka yang membenarkan(nya). Mereka itu diberi pahala dua kali disebabkan kesabaran mereka”[30]
.
       Beliau a.s telah berkata: Sesungguhnya Allah telah kurniakan kepada kamu sebagaimana Dia telah kurniakan kepada mereka. Kemudian beliau a.s telah membaca firman-Nya: “Wahai mereka yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, nescaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bahagian dan menjadikan untukmu cahaya dan dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dengannya”[31] Iaitu Imam yang kamu ikutinya”
.
       (87)-4. Ahmad bin Mihran, daripada Abd al-‘Azim bin Abdullah al-Hasani, daripada Ali bin Asbaat dan al-Hasan bin Mahbub, daripada Ayyub, daripada Abu Khalid al-Kabiliy berkata: Aku telah bertanya Abu Abdillah mengenai firman Allah “Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada cahaya yang telah kami turunkan”[32]Maka beliau a.s telah berkata: Wahai Abu Khalid, cahaya, demi Allah, adalah cahaya para imam daripada keluarga Muhammad  s.a.w sehingga hari Kiamat. Mereka, demi Allah, adalah cahaya Allah yang mana Dia telah menurunkannya dan mereka, demi Allah, adalah cahaya Allah di langit dan di bumi. Demi Allah, wahai Abu Khalid, cahaya Imam pada hati mukminin adalah lebih bercahaya daripada matahari yang bersinar di siang hari (la-nur al-Imam fi qulub al-Mu’minin anwar min al-Syams al-Mudhi’ah bi al-Nahar). Mereka, demi Allah, menyinari hati mukminin. Allah menghalang cahaya mereka daripada sesiapa yang Dia kehendaki, lalu hati mereka menjadi gelap dan Dia menutup mereka dengannya”
.
       (88)-5. Ali bin Muhammad, dan Muhammad bin al-Hasan, daripada Sahal bin Ziyad, daripada Muhammad bin al-Hasan bin Syammun, daripada Abdullah bin Abd al-Rahman al-Assam, daripada Abdullah bin al-Qasim, daripada Salih bin Sahal al-Hamdani berkata: Abu Abdillah a.s telah berkata mengenai firman Allah “Allah adalah cahaya langit dan bumi perumpamaan cahaya-Nya adalah sebuah lubang yang tak tembus (Fatimah a.s) yang di dalamnya ada pelita besar (al-Hasan). Dan pelita itu di dalam kaca (al-Husain), kaca itu seakan-akan bintang yang bercahaya seperti mutiara (Fatimah a.s adalah bintang yang bercahaya di antara wanita dunia) yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkatnya (Ibrahim a.s), pohon zaiton yang tumbuh tidak di sebelah timur dan tidak pula di sebelah barat (bukan yahudi dan bukan pula kristian) minyaknya hampir-hampir menerangi (hampir-hampir ilmunya terpancar) walaupun tidak disentuh api, cahaya di atas cahaya (Imam daripadanya selepas Imam). Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki (Allah membimbing kepada para imam a.s mereka yang Dia kehendaki) Dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan kepada manusia”[33]
.
       Aku telah bertanya kepadanya mengenai firman Allah “Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam yang diliputi oleh ombak” Beliau a.s telah berkata: Orang yang pertama (al-Awwal)[34] dan sahabatnya (wa sahibu-hu)[35] “gelap gulita yang ditutupi oleh ombak” Orang yang ketiga (al-Thalith)[36] di atasnya awan yang gelap gulita(orang yang kedua)[37] yang bertindih-tindih (Mu‘awiyahla‘ana-hu llahu dan fitnah Bani Umayyah) apabila dia mengeluarkan tangannya (mukmin di dalam kegelapan fitnah mereka) dia tidak dapat melihatnya dan sesiapa yang  Allah tidak menjadikan cahaya untuknya (Imam daripada anak lelaki Fatimah a.s) tidak ada baginya cahaya[38] (Imam pada hari Kiamat)
.
       Dan beliau a.s telah berkata mengenai firman Allah “Pada hari ketika kamu melihat orang mukmin lelaki dan perempuan sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka”[39]: Pada hari Kiamat para imam mukminin berjalan di hadapan mukminin dan di kanan mereka sehingga mereka ditempatkan bersama penghuni syurga”
.
       Ali bin Muhammad dan Muhammad bin al-Hasan, daripada Sahal bin Ziyad, daripada Musa bin al-Qasim al-Bajaliy dan Muhammad bin Yahya, daripada Umar Kiyy bin Ali, daripada Ali bin Ja‘far a.s, daripada saudara lelakinya Musa a.s seumpamanya.
.
       (89)-6. Ahmad bin Idris, daripada al-Husain bin Abdullah, daripada Muhammad bin al-Hasan dan Musa bin Umar, daripada al-Hasan bin Mahbub, daripada Muhammad bin Fudhail, daripada Abu al-Hasan a.s telah berkata: Aku telah bertanya beliau a.s mengenai firman Allah t.w “Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut-mulut mereka”[40] Beliau a.s telah berkata: Mereka ingin memadamkan wilayah Amir al-Mukminin a.s dengan mulut-mulut mereka”. Aku telah berkata: Firman-Nya “Dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya”[41] Beliau a.s telah berkata: Allah akan menyempurnakanimamah dan imamah adalah cahaya sebagaimana firman-Nya “Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada cahaya yang telah kami turunkan”[42] Beliau a.s telah berkata: Cahaya itu adalah Imam (al-Nur huwa al-Imam)”
.
                                                                                   Bab 14
Sesungguhnya Para Imam A.S Adalah Tiang-Tiang Bumi (anna al-A’immah hum arkaan al-Ardh)☼
      
       (90)-1. Ahmad bin Mihran, daripada Muhammad bin Ali dan Muhammad bin Yahya, daripada Ahmad bin Muhammad, daripada Muhammad bin Sinan, daripada al-Mufadhdhal bin Umar, daripada Abu Abdillah a.s telah berkata: Apa yang dibawa oleh Ali, maka aku menerimanya dan apa yang beliau a.s menegahnya, maka aku meninggalkannya. Kelebihan yang dikurniakan kepadanya adalah seperti kelebihan Muhammad s.a.w, tetapi kelebihan Muhammad s.a.w adalah di atas semua makhluk Allah a.w. Sesiapa yang mengambil pengecualian daripada hukum-hukumnya, maka beliau sepertilah mengambil pengecualian daripada Allah dan Rasul-Nya. Sesiapa yang menolak mana-mana hukumnya sama ada kecil atau besar, maka beliau berada di atas batasan syirik kepada Allah (wa al-Raadd ‘alai-hi fi saghirah au kabirah ‘ala hadd al-Syirk bi-llah)
.
       Amir al-Mukminin a.s adalah pintu Allah yang tidak dimasuki kecuali menerusinya (baab Allah al-Ladhi la yu’ta illa min-hu), jalan-Nya yang mana orang yang berjalan selain daripada jalannya akan binasa (sabilu-hu al-ladhi man salaka bi-ghairi-hi halaka). Demikianlah ia berlaku kepada para imam petunjuk seorang selepas seorang (waahid ba‘d waahid), Allah telah menjadikan mereka tiang-tiang bumi yang kukuh bersama penghuninya danHujjah-Nya yang sampai kepada mereka yang berada di bumi dan di bawah bumi. Amir al-Mukminin a.s pernah berkata beberapa kali: Akulah pembahagi [yang dilantik oleh] Allah di antara syurga dan neraka (ana qasiim Allah bain al-Jannah wa al-Nar)
.
       Akulah al-Faaruq yang paling besar (ana al-Faruq al-Akbar)[43], akulah sahabat tongkat dan tanda[44] (ana sahib al-‘Asa wa Misam) yang mana semua para malaikat, Roh dan para rasul telah mengakuiku sebagaimana mereka telah mengakui Muhammad s.a.w[45] (wa laqad aqarrat li jami‘ al-malaikat wa al-Ruh wa al-Rusul bi-mithli ma aqarru bi-hi Muhammad s.a.w). Sesungguhnya aku telah dibebankan sebagaimana baginda s.a.w dibebankan oleh Tuhan. Sesungguhnya Rasulullah s.a.w dipanggil dan dipakaikan kepadanya, maka begitu juga aku akan dipanggil dan akan dipakaikan untukku
.
       Baginda s.a.w akan disoal, maka aku juga akan disoal dan aku akan menjawab sebagaimana jawapannya. Aku telah dikurniakan beberapa sifat keistimewaan yang mana tiada seorangpun yang telah mendahuluiku kepadanya sebelumku. Aku telah diajar ilmu kematian (al-Manaaya), ilmu bala (al-Balaaya), dan ilmu keturunan (al-Ansaab) serta kefasihan bercakap (fasl al-Khitab). Tidak ada perkara yang telah berlaku, hilang dari ilmuku dan tidak ada perkara yang jauh dariku akan terlepas dariku. Aku memberi khabar gembira dengan izin Allah, aku melaksanakan [apa] yang datang daripadaNya. Semua ini adalah daripada Allah dan Dia telah kurniakan kuasa kepadaku mengenainya menurut ilmu-Nya”
.
       Al-Hasan bin Muhammad al-Asy‘ari, daripada Mu‘alla bin Muhammad, daripada Muhammad bin Jumhur al-‘Amiy, daripada Muhammad bin Sinan berkata: Al-Mufadhdhal telah meriwayatkannya kepada kami, berkata: Aku telah mendengar Abu Abdillah a.s telah berkata, kemudian beliau a.s telah menyebut hadis yang pertama.
.
       (91)-2. Ali bin Muhammad, dan Muhammad bin al-Hasan, daripada Sahal bin Ziyad, daripada Muhammad bin al-Walid Syabab al-Sairafi berkata: Sa‘id al-A‘raj telah memberitahu kepada kami, lalu berkata: Aku dan Sulaiman bin Khalid telah berjumpa dengan Abu Abdillah a.s, lalu beliau a.s telah mula bercakap dengan kami: Wahai Sulaiman, apa yang datang daripada Amir al-Mukminin a.s, mestilah diterima dan apa yang ditegah olehnya, mestilah dihentikan
.
       Kelebihan yang dikurniakan kepadanya adalah seperti kelebihan Muhammad s.a.w, tetapi kelebihan Muhammad s.a.w adalah di atas semua makhluk Allah a.w. Sesiapa yang mengambil pengecualian daripada hukum-hukumnya, maka beliau sepertilah mengambil pengecualian daripada [hukum-hukum] Allah dan Rasul-Nya. Sesiapa yang menolak mana-mana hukumnya sama ada kecil atau besar, maka beliau berada di atas batasan syirik kepada Allah (wa al-Raadd ‘alai-hi fi saghirah au kabirah ‘ala hadd al-Syirk bi-llah)
.
       Amir al-Mukminin a.s adalah pintu Allah yang tidak dimasuki kecuali menerusinya (baab Allah al-Ladhi la yu’ta illa min-hu), jalan-Nya yang mana orang yang berjalan selain daripada jalannya akan binasa (sabilu-hu al-ladhi man salaka bi-ghairi-hi halaka). Demikianlah ia berlaku kepada para imam petunjuk seorang selepas seorang (waahid ba‘d waahid), Allah telah menjadikan mereka tiang-tiang bumi yang kukuh bersama penghuninya dan Hujjah-Nya yang sampai kepada mereka yang berada di bumi dan di bawah bumi
.
       Amir al-Mukminin a.s pernah berkata beberapa kali: Akulah pembahagi [yang dilantik oleh] Allah di antara syurga dan neraka (ana qasiim Allah bain al-Jannah wa al-Nar). Akulah al-Faaruq yang paling besar (ana al-Faruq al-Akbar), akulah sahabat tongkat dan tanda (ana sahib al-‘Asa wa Misam) yang mana semua para malaikat, Roh dan para rasul telah mengakuiku sebagaimana mereka telah mengakui  Muhammad s.a.w (wa laqad aqarrat li jami‘ al-malaikat wa al-Ruh wa al-Rusul bi-mithli ma aqarru bi-hi Muhammad s.a.w). Sesungguhnya aku telah dibebankan sebagaimana beliau s.a.w dibebankan oleh Tuhan. Sesungguhnya Rasulullah s.a.w dipanggil dan dipakaikan kepadanya, maka begitu juga aku akan dipanggil dan akan dipakaikan untukku. Beliau s.a.w akan disoal, maka aku juga akan disoal dan aku akan menjawab sebagaimana jawapannya
.
       Aku telah dikurniakan beberapa sifat keistimewaan yang mana tiada seorangpun yang telah mendahuluiku kepadanya sebelumku. Aku telah diajar ilmu kematian (al-Manaaya), ilmu bala (al-Balaaya), dan ilmu keturunan (al-Ansaab) serta kefasihan bercakap (fasl al-Khitab). Tidak ada perkara yang telah berlaku, hilang dari ilmuku dan tidak ada perkara yang jauh dariku akan terlepas dariku. Aku memberi khabar gembira dengan izin Allah, aku melaksanakan [apa] yang datang daripadaNya. Semua ini adalah daripada Allah dan Dia telah kurniakan kuasa kepadaku mengenainya menurut ilmu-Nya”
.
       (92)-3. Muhammad bin Yahya dan Ahmad bin Muhammad, daripada Muhammad bin al-Hasan, daripada Ali bin al-Hassan berkata: Abu Abdillah al-Riyaahi telah meriwayatkan kepadaku, daripada Abu al-Samit al-Hilwaani, daripada Abu Ja‘far a.s telah berkata: Kelebihan Amir al-Mukminin a.s adalah: Aku menerima apa yang dibawa olehnya dan aku menghentikan apa yang dilarang olehnya. Kewajiban mentaatinya adalah selepas Rasulullah s.a.w seperti ketaatan kepada Rasulullah s.a.w, tetapi kelebihan adalah kepada Muhammad s.a.w
.
       Orang yang mendahuluinya adalah seperti orang yang mendahului Allah dan Rasul-Nya (al-Mutaqaddim baina yadai-hi ka al-Mutaqaddim ‘ala Allah wa Rasuli-hi). Orang yang memikirkan sesuatu melebihi Ali a.s adalah seperti orang yang memikir sesuatu melebihi Rasulullah s.a.w. (al-Mutafadhdhil ‘alai-hi ka al-Mutafadhdhil ‘ala Rasulillah s.a.w) Orang yang menentangnya sama ada kecil atau besar adalah di atas batas syirik dengan Allah. Kerana Rasulullah s.a.w adalah pintu Allah yang tidak boleh dimasuki melainkan menerusinya dan jalan-Nya yang mana sesiapa yang berjalan akan sampai kepada Allah a.w. Demikianlah keadaan Amir al-Mukminin a.s dan para imam a.s selepasnya, seorang selepas seorang. Allah telah menjadikan mereka tiang-tiang bumi yang kukuh bersama penghuninya, penolong Islam dan ikatannya menurut jalan petunjuk
.
       Seorang tidak mendapat hidayah kecuali dengan hidayah mereka dan tidak tersesat orang yang keluar daripada petunjuk kecuali dengan mengabaikan hak mereka. Mereka adalah penjaga ilmu Allah, kemaafan dan peringantan-Nya yang diturunkan. Hujah yang sampai kepada penghuni bumi. Ia akan berlaku kepada yang akhir mereka sebagaimana telah berlaku kepada yang pertama mereka
.
       Tidak ada seorangpun akan sampai ke peringkat itu melainkan dengan pertolongan Allah. Amir al-Mukminin a.s telah berkata: Akulah pembahagi di antara syurga dan neraka (ana qasiin baina al-Jannah wa  al-Nar), akulah al-Faruq yang paling besar, akulah Imam bagi mereka selepasku (al-Imam li-man ba‘di) dan pelaksana bagi mereka sebelumku. Tidak seorangpun yang akan mendahuluiku kecuali Ahmad s.a.w[46]. Sesungguhnya aku dan beliau s.a.w di atas jalan yang satu selain beliau s.a.w dipanggil dengan namanya dan aku dikurniakan dengan enam perkara[47]: Ilmu tentang kematian, ilmu tentang bala, ilmu wasiat, ilmu kefasihan bercakap. Sesungguhnya aku adalah sahabat al-Karraat [48]dan pusingan. Akulah sahabat tongkat dan tanda serta al-Daabah[49] yang bertutur dengan manusia”
.
[1] Surah al-Nisaa’ (4): 80
[2] Surah al-Nisaa’ (4):54
[3] Mereka wajib ditaati.
[4] Surah al-Nisaa’ (4): 54
[5] Surah al-Nisaa’ (4):56
[6] Surah al-Maidah (5): 55
[7] Imam Ahlu l-Bait a.s
[8] Surah al-Nisaa’ (4): 59
[9] Surah al-Ma’idah (5): 55
[10] Surah al-Israa’ (17): 71
[11] Surah al-Nisaa’ (4):41
[12] Surah al-Baqarah (2): 143
[13] Surah al-Hajj( 22): 78
[14] Surah Hud (11): 17
[15] Surah al-Baqarah (2): 143
[16] Surah al-Hajj (22): 77-76
[17] Surah al-Hajj (22): 78
[18] Surah al-Ra‘d (13): 7
[19] Ibid
[20] Surah al-Ra‘d (13):7
[21] Surah al-Ra‘d (13):7
[22] Kedudukan kamu para imam a.s
[23] Kamilah penterjemah kepada wahyu-Nya.
[24] Di dalam hadis kudsi.
[25] Wajib mengikuti cara ibadat para imam a.s bagi mendapatkan keredaan Allah.
[26] Surah al-Nuur (24): 55
[27] Surah al-Taghaabun (64: 8
[28] Rasulullah s.a.w telah bersabda: Aku berperang dengan orang yang memerangi mereka (Ahlu l-Bait a.s) dan aku berdamai dengan orang yang berdamai dengan mereka”
[29] Surah al-A ‘raaf (7): 157
[30] Surah al-Qasas (28):52-54
[31] Surah al-Hadiid (57):28
[32] Surah al-Taghaabun (64: 8
[33] Surah al-Nuur (24):40
[34] Abu Bakr
[35] Umar
[36] Uthman
[37] Umar
[38] Surah al-Nuur (24: 40
[39] Surah al-Hadiid (57):12
[40] Surah al-Saf (61): 8
[41] Ibid
[42] Surah al-Taghaabun (64: 8
[43] Orang dapat membezakan di antara kebenaran dan kebatilan yang paling besar.
[44] Dapat membezakan kafir dan muslim dengan tanda di muka mereka.
[45] Mereka berdua adalah satu cahaya yang dibahagikan kepada dua. Lantaran itu, Rasulullah s.a.w telah bersabda: Aku daripada Ali dan Ali daripadaku”
[46] Muhammad s.a.w
[47] Kelebihan Imam Ali a.s tidak terkira banyaknya, tetapi kelebihan Rasulullah s.a.w mengatasi kelebihan Ali a.s.
[48] Peredaran masa. Di dalam ertikata yang lain, Imam Ali a.s adalah sahabat raj‘ah yang kembali lagi ke dunia apabila Allah kehendaki.
[49] Asal pengertiannya adalah binatang berkaki empat. Manusia adalah separuh binatang di dalam ilmu mantik.
[50] Surah al-An‘aam (6): 38
[51] Surah al-Ma’idah (5): 3
[52] Surah al-Anbiyaa’ (21): 72-73
[53] Surah Ali Imraan (3): 68
[54] Melainkan beliau seorang Imam
[55] Surah al-Taubah (9): 30
[56] Surah al-‘Ankabuut (29): 38
[57] Surah al-Qasas (28): 68
[58] Surah al-Ahzab (33): 36
[59] Surah al-Qalam (68): 36-41
[60] Surah Muhammad (47): 24
[61] Surah al-Taubah (9):87
[62] Surah al-Anfaal (8):21-23
[63] Surah al-Baqarah (2): 93
[64] Surah al-Hadiid (57: 21, Surah al-Jumu‘ah (62): 4
[65] Surah Yunus (10): 35
[66] Surah al-Baqarah (2): 269
[67] Surah al-Baqarah (2): 247
[68] Surah al-Nisaa’ (4):113
[69] Surah al-Nisaa’ (4): 54-55
[70] Surah al-Hadiid (57): 21 dan Surah al-Qasas (28): 50
[71] Surah al-Qasas (28): 50
[72] Surah Muhammad (47): 8
[73] Surah al-Mu’min (40): 35
[74] Para imam a.s
[75] Imam a.s
[76] Surah al-A‘raaf (7): 159
[77] Penciptaan para imam a.s adalah lebih awal daripada penciptaan makhluk-Nya yang lain.
[78] Tentang imamah.
[79] Imam a.s

Umpama ilmu Ahlu l-Bait a.s, hukum mengingkari imam daripada Allah daripada Kitab al-Ikhtisas oleh Syeikh al-Mufid w.413 H

       Ishaq bin ‘Ammar daripada Abu Abdullah a.s: Sesungguhnya umpama Ali bin Abu Talib a.s, dan umpama kami selepasnya pada umat ini sepertilah Nabi Musa, dan Nabi Khidir a.s, Nabi Musa a.s telah memohon untuk bercakap dengan Nabi Khidir a.s, dan meminta persahabatan dengannya, kisah mereka berdua telah diceritakan oleh Allah di dalam Surah al-A‘raf (7) :144 “bahawa Allah telah berkata kepada Musa  wahai Musa sesungguhnya Aku telah memilih kamu dari manusia yang lain untuk membawa risalah-Ku dan untuk berbicara langsung dengan-Ku, sebab itu berpegang teguhlah kepada apa yang Aku telah berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur”
      
Kemudian Dia berfirman di dalam Surah yang sama:145 “Dan telah kami tuliskan untuk Musa pada Lauh-lauh segala sesuatu sebagai pelajaran dan penjelasan bagi segala sesuatu”
.
Nabi Khidir a.s telah memiliki ilmu yang tidak ditulis di lauh-lauh (alwah) Musa, tetapi Musa a.s telah menyangka bahawa semua perkara yang beliau perlukan di dalam kenabiannya, dan semua ilmu telah ditulis untuknya di lauh-lauh sebagaimana mereka yang mendakwa  bahawa mereka adalah ulama dan fuqaha’, diberi semua kefahaman, dan ilmu di dalam agama yang diperlukan umat kepadanya.
.
Mereka  mengesahkan bahawa ia adalah daripada Rasulullah s.a.w, lalu mereka mempelajari dan menghafaznya. Sebenarnya bukan semua ilmu Rasulullah s.a.w mereka telah mempelajarinya, dan bukan semuanya daripada Rasulullah s.a.w, malah mereka tidak mengetahuinya. Suatu perkara sama ada yang halal atau yang haram ditanya kepada mereka, tetapi mereka tidak mempunyai hadis Rasulullah s.a.w tentang perkara tersebut, dan mereka pula menjadi malu apabila  kejahilan dikaitkan kepada mereka, mereka tidak suka mereka ditanya, kerana mereka tidak dapat menjawabnya, lantas orang ramai menuntut ilmu dari galiannya. Justeru itu, mereka telah mengguna pendapat (al-Ra‘yu)dan kias di dalam agama Allah, dan meninggalkan hadis Rasulullah s.a.w.
.
Mereka mendekati Allah dengan berbagai bid‘ah, Rasulullah s.a.w bersabda: Setiap bid‘ah adalah sesat. Jika mereka bertanya sesuatu tentang agama Allah, dan mereka tidak mengetahui hadis Rasulullah s.a.w, maka hendaklah mereka kembalikan kepada Allah, kepada Rasulullah s.a.w, dan kepada Uli l-Amri daripada mereka, nescaya ali Muhammad akan memberitahu kepada mereka, tetapi permusuhan (al-‘adawah) dan hasad telah menghalang mereka dari menuntut ilmu daripada kami, tetapi Nabi Musa a.s tidak pernah mempunyai perasaan hasad kepada Nabi Khidir a.s, beliau telah mengetahui keilmuan Nabi Khidir a.s, lalu beliau telah mengakuinya, dan tidak berhasad dengki kepadanya sebagaimana umat ini telah berhasad dengki kepada kami selepas Rasulullah s.a.w akan keilmuan kami, dan apa yang telah kami warisi daripada Rasulullah s.a.w. Mereka tidak gemar kepada keilmuan kami, tidak sebagaimana Musa a.s yang telah gemar kepada Khidir a.s,lalu menjalinkan persahabatan dengannya, mempelajari keilmuannya, manakala beliau telah bertanya Nabi Khidir a.s, maka beliau mengetahui bahawa Musa tidak mampu untuk meneruskan persahabatan dengannya, dan tidak boleh menanggung keilmuannya, serta tidak boleh bersabar dengannya  pada masa itu, Nabi Khidir a.s berkata kepadanya: Sesungguhnya anda tidak mampu bersabar bersama aku. Musa berkata kepadanya: Kenapa aku tidak bersabar? Maka Khidir berkata: Bagaimana anda boleh bersabar di atas perkara yang anda tidak mengetahui beritanya, Musa berkata kepadanya dengan rendah diri supaya Khidir menerimanya: Anda akan mendapati aku seorang yang bersabar dan aku tidak akan menderhaka anda walau sedikit.
.
Khidir telah mengetahui bahawa Musa tidak bersabar di atas keilmuannya, begitulah, demi Tuhan, wahai Ishaq, keadaan kadi-kadi mereka, fuqaha’ mereka, dan kumpulan mereka hari ini, mereka tidak mampu menanggung, demi Tuhan, keilmuan kami, mereka tidak boleh menerimanya, mereka tidak mampu, dan mereka tidak akan menerimanya, mereka tidak akan bersabar sebagaimana Musa tidak bersabar di atas keilmuan Khidir ketika beliau bersahabat dengannya, dan melihat apa yang beliau telah melihat tentang keilmuannya. Demikianlah ia di sisi Musa merupakan perkara yang dibencinya (makruhan), dan ia di sisi Allah adalah suatu keredaan iaitu kebenaran, begitulah keadaan ilmu kami di sisi orang-orang jahil merupakan ilmu yang dibenci (makruhan), dan tidak diambil-kira sedangkan ia di sisi Allah adalah kebenaran[1].
.
Abu Ayyub, daripada Muhammad bin Muslim daripada Abu Ja‘far a.s berkata: Aurat mukmin ke atas mukmin itu adalah haram,dan berkata: Barangsiapa yang telah mengintai mukmin di rumahnya, maka dua matanya adalah mubah bagi mukmin pada masa itu. Barangsiapa yang memasuki rumah mukmin tanpa izinnya, maka darahnya adalah mubah bagi mukmin pada masa itu. Barangsiapa yang telah mengingkari seorang nabi yang diutus akan kenabiannya, dan membohonginya, maka darahnya adalah mubah
.

Hukum Mengingkari Imam Daripada Allah            

.
       Beliau berkata: Maka aku berkata:Apa pendapat anda bagi mereka yang telah mengingkari seorang imam daripada kamu apakah keadaannya? Beliau berkata: Barangsiapa yang telah mengingkari seorang imam daripada Allah, membebaskan diri daripadanya, dan daripada agamanya, maka beliau adalah seorang kafir, terkeluar dari Islam, kerana imamah adalah daripada Allah, agamanya adalah agama Allah. Barangsiapa yang telah bebas daripada agama Allah, maka beliau adalah seorang yang kafir, darahnya adalah mubah pada masa itu melainkan beliau kembali bertaubat kepada Allah dari apa yang dikatakannya, beliau berkata: Barangsiapa yang telah memusnahkan seorang mukmin kerana mahukan hartanya, dan dirinya, maka darahnya adalah mubah bagi mukmin pada masa itu
.
Muhammad bin al-Husain daripada Ibn Mahbub daripada Hisyam bin Salim daripada Habib al-Sajistani daripada Abu Ja‘far a.s berkata: Allah berfirman: Aku akan mengazabkan setiap rakyat di dalam Islam yang telah mentaati seorang imam yang bukan daripada Allah sekalipun rakyat baik dan  bertakwa, dan Aku akan mengampuni setiap rakyat di dalam Islam yang telah mentaati seorang imam yang adil daripada Allah sekalipun rakyat itu zalim dan jahat.
.
[1] Al-Majlisi,  Bihar al-Anwar,  I,  134

Bangsiapa yg menginkari hak para imam A.S dan mutiara kata daripada Kitab al-Ikhtisas oleh Syeikh al-Mufid w.413 H

Barangsiapa Yang Mengingkari Hak Para Imam A.S  Maka Kedudukannya seperti Iblis
.
       ‘Umru bin Thabit berkata: Aku telah bertanya Abu Ja‘far a.s  tentang firman Allah s.w.t Surah al-Baqarah (2): 165 “ Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan (andadan) selain daripada Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah ” Beliau berkata: Maka beliau berkata:Mereka, demi Allah, adalah pemimpin-pemimpin; polan dan polan, dan polan (Abu Bakr, Umar, dan Uthman). Mereka telah mengambil mereka bertiga sebagai para imam, tetapi bukan imam yang telah dijadikan oleh Allah untuk manusia sebagai imam. Justeru itu, Allah berfirman di dalam Surah al-Baqarah (2): 165-167 “ Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat seksa, bahawa kekuatan itu adalah kepunyaan Allah semuanya bahawa Allah amat berat seksa-Nya.Iaitu ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya; dan segala hubungan antara mereka terputus sama sekali. Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti:” Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami. Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatan mereka menjadi sesalan bagi  mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka”.Kemudian Abu Ja‘far a.s berkata: Mereka, demi Allah, wahai Jabir, para imam yang zalim dan pengikut-pengikut mereka
.
       Abu al-Qasim al-Sya‘rani secara marfu‘, daripada Yunus bin Zabyan, daripada Abd al-Rahman bin al-Hajjaj, daripada al-Sadiq a.s berkata: Apabila al-Qaim menjalankan tugasnya, beliau akan datang ke dataran Kufah, dan memberi isyarat dengan tangannya kepada suatu tempat, kemudian berkata: Kamu gali dari sini, lalu mereka menggali, dan mengeluarkan dua belas ribu baju besi, dua belas ribu pedang, dan dua belas ribu topi besi. Setiap topi besi mempunyai dua muka. Kemudian beliau menyeru dua belas ribu lelaki daripada hamba-hamba Arab dan bukan Arab, lalu beliau memakaikan mereka pakaian seragam. Kemudian berkata: Barangsiapa yang tidak mempunyai pakaian seragam seperti kamu, maka bunuhlah ia (man lam yakun ‘alai-hi mithlu ma ‘alai-kum fa-qtulu-hu)
.
       Al-Sadiq a.s berkata: Sesungguhnya Allah telah menjadikan kami hujah-hujah-Nya di atas makhluk-Nya, dan penyimpan amanah ilmu-Nya, maka barangsiapa yang mengingkari kami, maka kedudukannya seperti kedudukan Iblis (fa-man jahada-na kana bi-manzilati Iblis) di dalam kedegilannya kepada Allah ketika Dia telah memerintahnya supaya sujud kepada Adam, dan barangsiapa yang mengenali kami, dan mengikuti kami, maka kedudukannya seperti kedudukan para malaikat (wa man ‘arafa-na wa ittaba‘a-na kana bi-manzilati al-Malaikati) yang diperintahkan oleh Allah supaya sujud kepada Adam, maka mereka telah mentaati-Nya
.                                                     
Mutiara Kata Dan Nasihat
       Rasulullah s.a.w bersabda: Janganlah kamu duduk di sisi setiap orang alim yang menyeru kamu melainkan orang alim yang menyeru kamu daripada lima kepada lima: Daripada syak kepada yakin, daripada sombong kepada tawaduk, daripada riyak kepada ikhlas, daripada permusuhan kepada nasihat, dan daripada keinginan hawa nafsu kepada zuhud
.
       Musa bin Ja‘far a.s berkata: Bercakap dengan seorang yang alim di atas timbunan tahi binatang di kawasan ternakan (al-Mazbalah) itu  adalah lebih baik daripada bercakap dengan orang jahil di atas permaidani (al-Zarabi)
.
       Seorang ahli falsafah berkata: Barangsiapa yang tidak memanfaatkan hikmat yang sedikit, maka hikmat yang banyak akan merosakkannya. Sesungguhnya kedudukan orang yang mendengar dengan dua telinganya apa yang tidak disedari oleh hatinya seperti kedudukan orang yang mencampakkan api di dalam air, lantaran itu, ia tidak akan mendapat hajatnya daripadanya
.
       Dan beliau berkata: Penyuburan jasad adalah makanan, dan penyuburan akal adalah kata-kata hikmat, apabila akal tidak ada penyuburnya, maka ia binasa seperti binasanya jasad ketika tidak ada makanan
.
       Beliau s.a.w bersabda: Perkukuhkan harta kamu dengan zakat, ubatilah kesakitan kamu dengan sedekah, hadapilah bala dengan doa, kerana harta tidak akan rosak sama ada di darat atau di laut melainkan dengan tidak mengeluarkan zakat
.
       Sebahagian para falsafah berkata: Sesungguhnya badan apabila ia sakit, maka makanan, minuman dan kerehatan tidak berguna lagi, demikian juga hati apabila cinta kepada dunia dikaitkan dengannya, maka sebarang nasihat tidak berguna lagi.
       Allah berfirman kepada Daud: Wahai Daud, berwaspadalah dengan hati yang terpauk dengan syahwat dunia, akalnya terlindung daripada-Ku.
       Salman r.a berkata: Sesungguhnya aku khuatir di atas kamu tiga perkara: Tergelincirnya seorang alim, perbahasan seorang munafik, dan dunia yang zalim
.
       Sebahagian para falsafah berkata: Di antara akhlak ahli syurga adalah empat: Muka yang tersenyum, lidah yang lembut, hati yang pemurah dan tangan yang memberi.

Pimpinan Imam Dua Belas A.S

.
       Abu Ja‘far Muhammad bin Ahmad al-‘Alawi berkata: Ahmad bin Ali bin Ibrahim bin Hasyim telah memberitahu aku daripada bapanya daripada datuknya Ibrahim bin Hasyim daripada Hammad bin Isa daripada bapanya daripada al-Sadiq a.s berkata: Salman al-Farisi-rahmatu l-Lahi  ‘alai-hi-berkata: Aku telah melihat al-Husain bin Ali a.s di bilik Nabi s.a.w  di dalam keadaan beliau s.a.w sedang mengucup dua matanya, dan dua bibir mulutnya sambil bersabda: Anda adalah sayyid bin sayyid bapa kepada  sayyid-sayyid, anda adalah Hujjah bin hujjah bapa kepada hujjah-hujjah, anda adalah imam bin imam, dan bapa kepada sembilan imam daripada keturunan anda, dan yang kesembilan mereka adalah qaim mereka (anta sayyid bin sayyid abu sadah, anta hujjah ibn hujjah abu hujajin, anta al-Imam ibn al-Imam abu al-Aimmah al-Tis‘ah min salbi-ka, tasi ‘u-hum qaimu-hum )[1]
.
       Beliau berkata: Abu al-Hasan Muhammad bin Ma‘qal al-Qarmisini telah memberitahu kami, berkata: Muhammad bin Abdullah al-Misri telah memberitahu kami, berkata: Ibrahim bin Mahzam telah memberitahu kami daripada bapanya daripada Abu Abdullah a.s daripada bapa-bapanya a.s berkata: Rasulullah s.a.w bersabda: Dua belas orang daripada keluarga aku adalah mereka yang telah dikurniakan Allah kefahamanku, dan ilmuku, mereka telah diciptakan daripada tanahku  (tinat-i). Maka neraka wail bagi mereka yang mengingkari hak mereka selepasku, mereka yang memutuskan  pada mereka perhubungan aku (silat-i), Allah tidak akan memberi mereka syafaat aku[2].
.
       Abu al-Hasan Muhammad bin Ma‘qal telah memberitahu kami berkata: Muhammad bin ‘Asim telah memberitahu kami, berkata: Ali bin al-Husain telah memberitahu kami daripada Muhammad bin Marzuq daripada ‘Amir al-Sarraj daripada Sufyan al-Thauri daripada Qais bin Muslim daripada Tariq bin Syihab berkata: Aku telah mendengar Huzaifah berkata: Aku telah mendengar Rasulullah s.a.w bersabda: Ketika keluarnya al-Qaim seorang penyeru dari langit menyeru: Wahai manusia, diputuskan daripada kamu masa penguasa-penguasa zalim, dan urusan pemerintahan akan dipimpin oleh sebaik-baik umat Muhammad s.a.w. Justeru sertailah beliau di Makkah, kemudian al-Nujaba’ (mereka cerdik) dari Mesir, dan al-Abdal (perkasa) dari Syamdan al- ‘Asaib  (cekal) dari Iraq.
.
       Di waktu malam seperti rahib, dan di waktu siang seperti singa jantan. Hati mereka seperti besi. Maka mereka akan memberi baiah kepadanya di antara Rukn dan Maqam, Umar bin al-Hasin berkata: Wahai Rasulullah s.a.w, beritahukan kami tentang lelaki ini? Beliau s.a.w bersabda: Beliau adalah seorang lelaki daripada anak al-Husain seolah-olah beliau di kalangan lelaki Syanwah di Yaman, memakai dua kain daripada kapas, namanya sepertilah nama aku, dan pada masa itu, burung-burung akan menetas di sangkar-sangkarnya, dan ikan-ikan paus di laut-lautnya, sungai-sungai akan mengalirkan air yang banyak, mengeluarkan mata air, bumi akan menjadi subur, pendapatan yang berganda, kemudian Jibrail akan berjalan di hadapannya, dan di belakangnya Israfil. Bumi akan dipenuhi keadilan dan saksama sebagaimana ia dipenuhi penindasan dan kezaliman[3].
.
       Beliau berkata: Muhammad bin Quluwaih telah memberitahu kami berkata: Sa‘d bin Abdullah telah memberitahu kami daripada Muhammad bin Khalid al-Tayalasi daripada al-Mundhir bin Muhammad daripada al-Nasr bin al-Sanadi daripada Abu Daud Sulaiman bin Sufyan al-Mustariq daripada Tha‘labah bin Maimun daripada Malik bin al-Jahani daripada al-Harith bin al-Mughirah daripada al-Asbagh bin Nabatah. Sa‘d bin Abdullah berkata: Muhammad bin al-Husain bin Abu al-Khattab al-Kufi telah memberitahu kami, berkata: Al-Hasan bin Ali bin Fadhdhal telah memberitahu kami daripada Tha‘labah bin Maimun daripada Malik al-Jahani daripada al-Harith bin al-Mughirah daripada al-Asbagh bin Nabatah berkata: Aku telah datang kepada Amir al-Mukminin a.s, maka aku telah mendapati beliau sedang mengetukkan  tanah dengan kayu (yankutu).
.
       Aku berkata : Wahai Amir al-Mukminin, aku melihat anda sedang berfikir mengetukkan tanah, adakah kehendak anda sendiri melakukannya? Beliau berkata: Tidak, demi Tuhan, aku tidak menghendakinya, mahu pun dunia ini walaupun satu hari, tetapi aku telah memikir tentang maulud (anak kelahiran) daripada zuriat kesebelas daripada anak lelaki aku iaitu al-Mahdi yang akan memenuhi bumi dengan  keadilan dan saksama sebagaimana ia dipenuhi penindasan dan kezaliman, akan dipenuhi kehairanan  dan ghaib, akan sesat sebahagian kaum dan akan mendapat  hidayat sebahagian yang lain, aku berkata: Adakah ini akan terjadi? Beliau berkata: Ya, sebagaimana ia dijadikan. Maka  di manakah  kedudukan anda di dalam perkara ini wahai Asbagh? Mereka itu adalah pilihan umat ini bersama-sama pilihan terbaik keluarga ini, aku berkata: Apakah akan berlaku selepas itu? Beliau berkata: Allah akan melakukan apa yang Dia kehendaki, kerana bagi Allah  iradat, permulaan dan matlamat yang banyak[4].

[1] Ibid,  ix,  158
[2] Al-Saduq, Kamal al-Din, hlm.164
[3] Al-Majlisi,  Bihar al-Anwar,  xiii,  179
[4] Al-Kulaini,  al-Kafi, I,  337

PERINTAH MENTAATI ULIL AMRI DAN 12 IMAM DALAM AHLU SUNNAH WAL JAMA’AH

Nabi saaw bersabda:

“Setelahku akan ada 12 Khalifah, semuanya dari Bani Hasyim”

(Qunduzi Hanafi, Yanabi’ al Mawaddah, jilid III, hlm 104)

Jabir bin Samurah berkata: “Aku mendengar Rasulullah saaw bersabda:

“Islam akan senantiasa kuat di bawah 12 Khalifah”. Baginda kemudian mengucapkan kata kata yang tidak aku fahami, lalu aku bertanya bapaku apakah yang dikatakan oleh Rasulullah saaw. Beliau menjawab: “Semuanya dari Quraisy”

(Muslim. Sahih, jilid VI, hlm 3, Bukhari, Sahih, jilid VIII, hlm 105, 128)

FIRMAN Allah SWT:

“Taatilah kamu kepada Allah dan taatlah kepada Rasul dan Ulil Amri di kalangan kamu.”

(An-Nisa: 49)

Ulil amri adalah para Imam dari Ahlul bait (as)

FIRMANNYA SWT :

يَأَيهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَ أَطِيعُوا الرَّسولَ وَ أُولى الأَمْرِ مِنكمْ

“Hai orang-orang yang beriman taatlah kamu kepada Allah, dan taatlah kamu kepada Rasul-Nya dan Ulil amri kamu.”

Yang dimaksud “Ulil-amri” dalam ayat ini adalah Ali bin Abi Thalib (as) dan Ahlul bait Nabi saw.

Dalam Tafsir Al-Burhan tentang ayat ini disebutkan suatu riwayat yang bersumber dari Jabir Al-Anshari (ra), ia berkata:

Ketika Allah menurunkan ayat ini aku bertanya:

Ya Rasulallah, kami telah mengetahui Allah dan Rasul-Nya, tetapi siapakah yang dimaksud dengan Ulil-amri yang ketaatannya kepada mereka Allah kaitkan dengan ketaatan kepada-Nya dan Rasul-Nya?

Rasulullah saw menjawab:
Wahai Jabir, mereka itu adalah para penggantiku: Pertama, Ali bin Abi Thalib, kemudian Al-Hasan, kemudian Al-Husein, kemudian Ali bin Al-Husein, kemudian Muhammad bin Ali, kemudian Muhammad bin Ali yang dalam Taurat gelarnya masyhur Al-Baqir. Wahai Jabir, kamu akan menjumpai dia, sampaikan salamku kepadanya. Kemudian Ash-Shadiq Ja’far bin Muhammad, kemudian Musa bin Ja’far, kemudian Ali bin Musa, kemudian Muhammad bin Ali, kemudian Al-Hasan bin Muhammad, kemudian dua nama Muhammad dan yang punya dua gelar Hujjatullah di bumi-Nya dan Baqiyatullah bagi hamba-hamba-Nya yaitu Ibnul Hasan, dialah yang Allah perkenalkan sebutan namanya di seluruh belahan bumi bagian barat dan timur, dialah yang ghaib dari para pengikutnya dan kekasihnya, yang keghaibannya menggoyahkan keimamahannya kecuali bagi orang-orang yang Allah kokohkan keimanan dalam hatinya.”

Allah SWT mewajibkan semua orang-orang yang beriman untuk mentaati “Ulil Amri” secara mutlak. Dan, menaati mereka sama dengan mentaati Rasulullah saw.

Sekaitan dengan ayat di atas, Jabir bin Abdillah bertanya, “Ya Rasulullah, siapakah orang-orang yang wajib ditaati seperti yang diisyaratkan dalam ayat ini?”

Rasulullah saw menjawab, “Yang wajib ditaati adalah para khalifahku wahai Jabir, yaitu para imam kaum muslimin sepeninggalku nanti. Imam pertama mereka adalah Ali bin Abi Thalib, kemudian Hasan, kemudian Husein, kemudian Ali bin Husein, kemudian Muhammad bin Ali yang telah dikenal di dalam kitab Taurat dengan nama “Al-Baqir” dan engkau akan berjumpa dengannya wahai Jabir. Apabila engkau nanti berjumpa dengannya, maka sampaikanlah salamku kepadanya. Kemudian setelah itu As-Shadiq Ja’far bin Muhammad, kemudian Musa bin Ja’far, kemudian Ali bin Musa, kemudian Muhammad bin Ali, kemudian Ali bin Muhammad, kemudian Hasan bin Ali, kemudian yang terakhir ialah Al-Mahdi bin Hasan bin Ali sebagai Hujjatullah di muka bumi ini dan Khalifatullah yang terakhir.

{ Ghayah al-Maram, jilid 10, hal. 267, Itsbat al-Hudat, jilid 3/123 dan Yanabi’ al-Mawaddah, hal. 494, 443-Qundusi al hanafi}

Surah An Nisa ayat 59 – Perintah Mentaati Ulil Amri

“Hai orang-orang yang beriman taatlah kamu kepada Allah, dan taatlah kamu kepada Rasul-Nya dan Ulil Amri kamu.”

Yang dimaksud “Ulil Amri” dalam ayat ini adalah Ali dan para Imam dari keturunannya.

-Imam Ali bin Abi Tholib AS (40 H)
-Imam Hasan bin Ali al-Mujtaba AS ( 50 H)
-Imam Husein bin Ali asy-Syahid AS (61 H)
-Imam Ali Bin Husein Zainal Abidin as-Sajjad AS (95 H)
-Imam Muhammad bin Ali al-Baqir AS (114 H)
-Imam Ja’far bin Muhammad ash-Shodiq AS (148 H)
-Imam Musa bin Ja’far al-Kadhim AS (183)
-Imam Ali bin Musa ar-Ridho AS (203)
-Imam Muhammad bin Ali al-Jawad AS (220 H)
-Imam Ali bin Muhammad al-Hadi AS (254 H)
-Imam Hasan bin Ali al-Askari AS (260 H)
-Imam Abul Qasim Muhammad bin Hasan al-Mahdi AFS (lahir 15 Sya’ban 255 H dan masih hidup)

LIHAT REFERENSI KITAB SEBAGAI RUJUKAN DARI AHLU SUNNAH WAL JAMA’AH :
Yanabi’ul Mawaddah, oleh Syaikh Sulaiman Al-Qundusi Al-Hanafi, halaman 134 dan 137, cet,. Al-Haidariyah; halaman 114 dan 117, cet. Islambul. Syawahidut Tanzil, oleh Al-Hakim Al-Haskani Al-Hanafi, jilid 1, halaman 148, hadis ke 202, 203 dan 204. Tafsir Ar-Razi, jilid 3, halaman 357. Ihqaqul Haqq, oleh At-Tastari, jilid 3, halaman 424, cet. Pertama, Teheran. Faraid As-Samthin, jilid 1, halaman 314, hadis ke 250.

Nabi SAWW bersabda :

“Sesiapa yang ingin hidup dan mati seperti aku, dan masuk surga (setelah mati) yang telah dijanjikan oleh Tuhanku kepadaku, yakni surga yang tak pernah habis, haruslah mengakui Ali sebagai pemimpinnya setelahku, dan setelah dia (Ali) harus mengakui anak-anak Ali, sebab mereka adalah orang-orang yang tidak akan pernah membiarkanmu keluar dari pintu petunjuk, tidak pula mereka akan memasukkanmu ke pintu kesesatan!

1) Hilyatul Awliya', by Abu Nu'aym, v1, pp 84,86
(2) al-Mustadrak, by al-Hakim, v3, p128
(3) al-Jamiul Kabir, by al-Tabarani
(4) al-Isabah, by Ibn Hajar al-Asqalani
(5) Kanzul Ummal, v6, p155
(6) al-Manaqib, by al-Khawarizmi, p34
(7) Yanabi' al-Mawaddah, by al-Qunduzi al-Hanafi, p149
(8) History of Ibn Asakir, v2, p95

إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَ رَسُولُهُ وَ الَّذِينَ ءَامَنُواْ الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَوةَ وَ يُؤْتُونَ الزَّكَوةَ وَ هُمْ رَاكِعُونَ وَ مَن يَتَوَلَّ اللَّهَ وَ رَسُولَهُ وَ الَّذِينَ ءَامَنُواْ فَإِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْغَلِبُون

“Sesungguhnya wali kamu hanyalah Allah, RasulNya dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan solat dan menunaikan zakat dan mereka tunduk (kepada Allah) dan barangsiapa yang menjadikan Allah, RasulNya dan orang-orang yang beriman sebagai penolongnya maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.”

.

NABI SAWW BERSABDA :

” Siapa yang ingin berpegang kepada agamaku dan menaiki bahtera kejayaan selepasku, maka hendaklah dia mengikuti Ali bin Abi Talib, memusuhi lawan2nya dan mewalikan walinya karena dia adalah wasiku, dan khalifahku ke atas ummatku semasa hidupku dan setelah kewafatanku. Dia adalah IMAM setiap muslim dan AMIR setiap mukmin, perkataannya adalah perkataanku, perintahnya adalah perintahku. Larangannya adalah laranganku. Pengikutnya adalah pengikutku. Penolongnya adalah penolongku. Orang yang menjauhinya adalah menjauhiku.”

Kemudian Nabi Saww bersabda lagi:

“Siapa yang menjauhi Ali selepasku dia tidak akan ‘melihatku.’ Dan aku tidak melihatnya di hari kiamat. Dan siapa yang menentang ‘Ali, Allah haramkan ke atasnya syurga dan menjadikan tempat tinggalnya di neraka. Siapa yang menjauhi ‘Ali, Allah akan menjauhinya di hari kiamat. Di hari itu akan dizahirkan segala-galanya dan sesiapa yang menolong ‘Ali, niscaya Allah akan menolongnya.”

{Al-Hamawaini al-Syafi’i meriwayatkan di dalam Fara’id al-Simtain}

RUJUKAN LAIN TTG 12 IMAM DALAM AHLUSUNNAH WAL JAMA’AH
=======================================

Musnad Ahmad No. 3593حَدَّثَنَا حَسَنُ بْنُ مُوسَى حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ عَنِ الْمُجَالِدِ عَنِ الشَّعْبِيِّ عَنْ مَسْرُوقٍ قَالَكُنَّا جُلُوسًا عِنْدَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ وَهُوَ يُقْرِئُنَا الْقُرْآنَ فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ هَلْ سَأَلْتُمْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمْ تَمْلِكُ هَذِهِ الْأُمَّةُ مِنْ خَلِيفَةٍ فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْعُودٍ مَا سَأَلَنِي عَنْهَا أَحَدٌ مُنْذُ قَدِمْتُ الْعِرَاقَ قَبْلَكَ ثُمَّ قَالَ نَعَمْ وَلَقَدْ سَأَلْنَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ اثْنَا عَشَرَ كَعِدَّةِ نُقَبَاءِ بَنِي إِسْرَائِي

َTelah menceritakan kepada kami [Hasan bin Musa] telah menceritakan kepada kami [Hammad bin Zaid] dari [Al Mujalid] dari [Asy Sya'bi] dari [Masruq] ia berkata; Tatkala kami duduk-duduk bersama Abdullah bin Mas’ud, saat itu ia sedang membacakan Al Qur`an kepada kami, lalu seorang laki-laki berkata kepadanya; Wahai Abu Abdurrahman, apakah kalian pernah menanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam BERAPAKAH UMAT INI MEMILIKI KHALIFAH? [Abdullah bin Mas'ud] berkata; Tidak ada seorang pun yang menanyakan hal itu kepadaku sejak aku datang ke Iraq sebelum engkau, kemudian ia melanjutkan; Ya, kami pernah menanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam, lalu beliau menjawab: “Sebanyak DUA BELAS orang seperti jumlah pemimpin bani Israil.”

Bukhari menukil dari Jabir bin Samarah:”Aku mendengar rasul bersabda:”setelahku 12 orang pemimpin akan datang.” Saat itu beliau melanjutkan ucapannya yang tak terdengar olehku kemudian ayahku berkata bahwa keseluruhan imam tersebut semuanya dari bangsa Quraisy.”

[Sahih Bukhari, jild 9, bab Istikhlaf, halaman 81.]

Kata al-khilafah bermakna al-niyabah ‘an al-ghayr atau pengggantian juga berarti : al-imamah al-‘uzhma atau kekhalifahan atau kepemimpinan yang agung. Lihat Kamus al-Munawwir hlm. 393, Catakan th. 1984. Contoh faktualnya adalah Sayyidina Ali bin Abi Thalib yang diangkat sebagai khalifah. Dan di dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Rasulullah Saw bersabda : “Inilah dia saudaraku, penerima wasiatku (al-washî) dan khalifahku (khalîfatî)…” Rujukan :

LIHAT :

- Târikh al-Thabarî Jil. 2, hlm. 319, dan
– al-Kâmil fî al-Târikh li Ibni al-Atsîr Jil. 2 hlm. 63.

Dari Jabir bin Samurah, ia berkata, “Saya masuk bersama ayah saya kepada Nabi SAW. maka saya mendengar beliau berkata, ‘Sesungguhnya urusan ini tidak akan habis sampai melewati dua belas khalifah.’ Jabir berkata, ‘Kemudian beliau berbicara dengan suara pelan. Maka saya bertanya kepada ayah saya, ‘Apakah yang dikatakannya?’ Ia berkata, ‘Semuanya dari suku Quraisy.’ Dalam riwayat yang lain disebutkan, ‘Urusan manusia akan tetap berjalan selama dimpimpin oleh dua belas orang.’ Dalam satu riwayat disebutkan. ‘Agama ini akan senantiasa jaya dan terlindungi sampai dua belas khalifah.

(H.R.Shahih Muslim, kitab “kepemimpinan”, bab”manusia pengikut bagi Quraisy dan khalifah dalam kelompok Quraisy”)

Muslim juga menukil dari Jabir bin samarah:”aku mendengar rasul SAWW bersabda:”Islam akan memiliki pemimpin sampai 12 orang. Kemudian beliau bersabda yang tak bisa kupahami. Aku bertanya pada ayahku tentang apa yang tidak aku pahami itu, ia berkata:”beliau bersabda semuanya dari kaum Quraisy.

[Sahih Muslim, jild 6, kitab Al-Amarah, bab annas taba’un li quraisy, halaman 3.]

Muslim dari Jabir juga menukil, ia (Jabir) berkata:”aku dan ayahku berjalan bersama rasul SAWW saat itu beliau bersabda:”agama ini akan memiliki 12 pemimpin, yang kesemuanya dari bangsa Quraisy.

[Sahih Muslim, jild 6, kitab Al-Amarah, bab annas taba’un li quraisy, halaman 3.]

KAITAN DENGAN PERINTAH MENGIKUTI AHLALBAIT NABI SAWW

Hadis Tsaqalain maka kelihatan jelas bahwa 12 Imam adalalah dari Ithrahti Ahlulbait.
Ulama terkenal Al-Dhahabi mengatakan dalam bukunya Tadzkirat al-Huffaz , jilid 4, halaman 298, dan Ibn Hajar al-’Asqalani menyatakan dalam al-Durar al-Kaminah, jilid 1, hal. 67 bahwa Sadruddin Ibrahim bin Muhammad bin al-Hamawayh al-Juwayni al-Shafi’i (disingkat Al-Juwayni) adalah seorang ahli Hadis yang mumpuni. Al-Juwayni menyampaikan dari Abdullah bin Abbas (ra) bahwa Nabi (sawa) mengatakan,

”Saya adalah penghulu para Nabi dan Ali bin Abi Thalib adalah pemimpin para penerus, dan sesudah saya akan ada dua belas penerus. Yang pertama adalah Ali bin Abi Thalib dan yang terakhir adalah Al-Mahdi.”

Al-Juwayni juga meriwayatkan dari Ibnu Abbas (r) bahwa Rasulullah (sawa) berkata: ”Sudah pasti bahwa wakil-wakilku dan Bukti Allah bagi makhluk sesudahku ada dua belas. Yang pertama di antara mereka adalah saudaraku dan yang terakhir adalah anak (cucu) ku.” Orang bertanya: “Wahai Rasulullah, siapakah saudaramu itu?”. Beliau menjawab: “Ali bin Abi Thalib.” Lalu beliau ditanyai lagi: “ Dan siapakan anak (cucu) mu itu?” Nabi yang suci (sawa) menjawab: ”Al-Mahdi. Dia akan mengisi bumi dengan keadilan dan persamaan ketika ia (bumi) dipenuhi ketidakadilan dan tirani. Dan demi Yang Mengangkatku sebagai pemberi peringatan dan memberiku kabar gembira, meski seandainya masa berputarnya dunia ini tinggal sehari saja, Allah SWT akan memperpanjang hari itu sampai diutusnya (anakku) Mahdi, kemudian ia akan disusul Ruhullah Isa bin Maryam (a.s.) yang turun ke bumi dan berdoa di belakangnya (Mahdi). Dunia akan diterangi oleh sinarnya, dan kekuatannya akan mencapai hingga ke timur dan ke barat.”

Al-Juwayni juga meriwayatkan bahwa Rasulullah (saw) mengatakan: ”Aku dan Ali dan Hasan dan Husain dan sembilan anak cucu Husain adalah yang disucikan (dari dosa) dan dalam kebenaran.” [Al-Juwayni, Fara'id al-Simtayn, Mu'assassat al-Mahmudi li-Taba'ah, Beirut 1978, p. 160.] Sekaitan dengan ayat di atas, Jabir bin Abdillah bertanya, “Ya Rasulullah, Siapa kah orang-orang yang wajib ditaati seperti yang diisyaratkan dalam ayat ini?” Rasulullah saaw menjawab, “Yang wajib ditaati adalah para khalifahku wahai Jabir, yaitu para Imam kaum Muslimin sepeninggalku nanti. Imam pertama mereka adalah Ali bin Abi Thalib, kemudian Hasan, kemudian Husein, kemudian Ali bin Husein, kemudian Muhammad bin Ali yang telah dikenal di dalam kitab Taurat dengan nama “Al-Baqir” dan engkau akan berjumpa dengannya wahai Jabir. Apabila engkau nanti berjumpa dengannya, maka sampaikanlah salamku kepadanya. Kemudian setelah itu As-Shadiq Ja’far bin Muhammad, kemudian Musa bin Ja’far, kemudian Ali bin Musa, kemudian Muhammad bin Ali, kemudian Ali bin Muhammad, kemudian Hasan bin Ali,kemudian yang terakhir ialah Al-Mahdi bin Hasan bin Ali sebagai Hujjatullah di muka bumi ini dan Khalifatullah yang terakhir.

( Rujuk ke Ghayah al-Maram, jilid 10, hal. 267, Itsbat al-Hudat, jilid 3/123 dan Yanabi’ al-Mawaddah, hal. 494, 443-Qundusi al hanafi )

Seorang ulama Ahlusunah terkemuka bernama Al-Juwaini menukil sebuah riwayat, “Ketika ayat tersebut turun, Abu Bakar dan Umar berkata, ‘Ya Rasul Allah, apakah kepemimpinan ini dikhususkan untuk Ali?’

Rasul menjawab, ‘Ya, wilayah (kepemimipinan) ini diturunkan untuknya dan untuk para washi-ku sampai Hari Kiamat.’

Lalu kedua orang itu berkata lagi, ‘Ya Rasul Allah, jelaskanlah kepada kami siapa sajakah mereka itu?’

Beliau menjawab, ‘Mereka itu adalah Ali, ia adalah saudaraku, wazirku, pewarisku, washiku dan khalifahku bagi umatku, dan dialah wali (pemimpin) setiap mukmin sepeninggalku, kemudian setelahnya adalah cucuku Al-Hasan, kemudian cucuku Al-Husein dan kemudian sembilan orang dari putra-putra keturunan Al-Husein secara berurutan. Al-Qur’an senantiasa bersama mereka, sebagaimana mereka selalu bersama Al-Qur’an, keduanya itu tidak akan pernah berpisah hingga mereka menjumpaiku di telaga Surga.

[ Ghayatul Maram, bab 58, hadis ke-4.]

Rasul Allah SAWW yang menegaskan:

“Aku ini adalah kotanya ilmu atau kotanya hikmah, sedangkan Ali adalah pintu gerbangnya. Barang siapa ingin memperoleh ilmu hendaknya ia mengambil lewat pintunya.”

Mu’adz bin Jabal mengatakan bahwa Rasul Allah s.a.w. berkata kepada Imam Ali as.:

“Engkau mengungguli orang lain dalam tujuh perkara. Tak ada seorang Qureisy pun yang dapat menyangkalnya. Yaitu:

-Engkau adalah orang pertama yang beriman kepada Allah,

-Engkau orang yang terdekat dengan janji Allah,

-Engkau orang yang termampu menegakkan perintah Allah,

-Engkau orang yang paling adil mengatur pembagian (ghanimah),

-Engkau orang yang paling berlaku adil terhadap rakyat,

-Engkau paling banyak mengetahui semua persoalan,

-dan Engkau orang yang paling tinggi nilai kebaikan sifatnya di sisi Allah.

Sesiapa Yang Telah Mati Tanpa Imam, Maka Beliau Telah Mati Sebagai Seorang Jahiliah                             

       Daripada  ‘Umar bin Yazid, daripada Abu al-Hasan yang pertama a.s berkata: Aku telah mendengarnya berkata:  Sesiapa yang telah mati tanpa imam, maka beliau telah mati  sebagai seorang jahiliah; imam hidup yang beliau mengetahuinya. Maka aku berkata: Aku tidak mendengar bapa anda menyebutnya, iaitu imam yang hidup. Beliau berkata: Demi Allah, Rasulullah s.a.w telah bersabda sedemikian. Rasulullah s.a.w bersabda: Sesiapa yang telah mati, tanpa mentaati imam hidup yang zahir, maka beliau mati sebagai seorang jahiliah(man mata wa-laisa la-hu imam yasma‘u la-hu wa yuti‘u mata maitatan jahiliyyatan)[1].
.
       Daripada Abu Jarud berkata: Aku telah mendengar Abu Abdullah a.s berkata: Sesiapa yang telah mati, tanpa mentaati imam hidup yang zahir, maka beliau mati sebagai seorang jahiliah[2]. Beliau berkata: Aku berkata: Imam yang hidup, aku telah menjadikan diriku tebusan anda?  Beliau berkata: Imam yang hidup (imam hayyun).
.
       Daripada Daud al-Raqiy daripada hamba yang soleh(Khidir a.s)  berkata: Sesungguhnya hujah tidak berdiri bagi Allah ke atas makhluk-Nya melainkan dengan imam hidup yang dikenali[3].

[1] Al-Majlisi,  Bihar al-Anwar,  vii,  20
[2] Ibid
[3] Al-Kulaini, al-Kafi,  I , 177

WILAYAH AHLUL BAIT

1. Ibadat Tidak Diterima Melainkan Mengakui Wilayah Mereka A.S.

Abu Ali al-Asy‘ari, daripada Muhammad bin Abd al-Jabbar, daripada Ibn Fadhdhal daripada Ibrahim anak saudara lelaki kepada Abu Syabl berkata: Abu Abdullah a.s mulai berkata kepadaku: Kamu telah mencintai kami sedangkan orang ramai telah membenci kami. Kamu telah membenarkan kami sedangkan orang ramai telah membohongi kami. Kamu telah mengadakan silaturahim dengan kami sedangkan orang ramai memandang sepi kepada kami. Justeru Allah menjadikan kehidupan kamu kehidupan kami, kematian kamu kematian kami
.
Demi Allah, antara lelaki dan ketenangan yang akan didapatinya adalah apabila nyawanya sampai ke tempat ini-Beliau a.s telah memberi isyarat dengan tangannnya kepada halkumnya. Kemudian beliau a.s mengulangainya. Beliau a.s tidak reda sehingga beliau a.s bersumpah kepadaku dan berkata: Demi Allah, tiada tuhan melainkan Dia bahawa bapaku Muhammad bin Ali a.s telah memberitahuku mengenai perkara itu, wahai Abu Syabl, tidakkah kamu reda bahawa kamu mengerjakan solat dan mereka mengerjakan solat, maka Dia menerima solat kamu dan tidak menerima solat mereka. Tidakkah kamu reda bahawa kamu menunaikan zakat dan mereka menunaikan zakat, maka Dia menerima zakat kamu dan menolak zakat mereka. Tidakkah kamu reda bahawa kamu mengerjakan haji dan mereka mengerjakan haji, maka Allah menerima haji kamu dan tidak menerima haji mereka. Demi Allah, solat tidak akan diterima melainkan daripada kamu (ma tuqbalu al-salatu illa min-kum), zakat tidak akan diterima melainkan daripada kamu ( wala al-zakaatu illa min-kum), haji tidak akan diterima melainkan daripada kamu (wala al-Hajj illa minkum). Maka bertakwalah kamu kepada Allah, kerana kamu di dalam gencatan senjata (hudnah) dan tunailah amanah. Apabila orang ramai dinilai, maka setiap kaum mengikut hawa nafsu mereka, tetapi kamu mengikut kebenaran selama kamu mentaati kami. Tidakkah para hakim, pemerintah dan golongan yang mempunyai masalah daripada mereka?
.
Aku berkata: Ya, beliau a.s berkata: Kamu tidak mampu mengikut semua manusia, kerana mereka mengambil (pendapat) di sana sini sedangkan kamu mengambil (hukum) daripada Allah. Sesungguhnya Allah telah memilih daripada hamba-hamba-Nya Muhammad (s.a.w), maka kamu telah memilih orang yang telah dipilih oleh Allah. Bertakwalah kepada Allah, tunailah amanah kepada yang berkulit hitam atau yang berkulit putih sama ada dia seorang dari Haruriyyah atau seorang dari Syam. (RAUDHAT AL KAFI, MS 261)
.
2. Allah Tidak Menerima Amalan Melainkan Dengan Mewalikan Ahlu l-
Bait A.S.
Ali bin Ibrahim, daripada bapanya, daripada al-Qasim bin Muhammad daripada Sulaiman bin Daud al-Munqari, daripada Hafs bin Ghiyath, daripada… Abu Abdullah a.s berkata: Jika anda mampu tidak mengenali sesiapa, maka lakukanlah. Tidak mengapa jika orang ramai tidak memuji anda. Tidak mengapa jika anda dicela (mazmuuman) di sisi orang ramai sekiranya anda dipuji (mahmuudan) di sisi Allah, sesungguhnya Amir al-Mukminin a.s berkata: Tiada kebaikan di dunia ini melainkan pada salah seorang daripada dua lelaki: Seorang lelaki yang bertambah ihsannya pada setiap hari dan seorang lelaki yang mencapai angan-angannya dengan taubat. Demi Allah, sekiranya diasujud sehingga terputus tengkuknya, nescaya Allah tidak menerimaamalannya melainkan dengan wilayah kami Ahlu l-Bait (fa wallahi lau sajada hatta yanqati‘u ‘unqu-hu ma qabila l-Lahu a.w ‘an-hu ‘amalan illa bi-wilayati-na ahl l-Bait)43.
.
Sesungguhnya sesiapa yang mengetahui hak kami atau mengharapkan pahala dengan kami, meredai makanannya (quti-hi) sebanyak setengah cupak pada setiap hari, meredai pakaian yang menutupi auratnya, meredai tempat letak kepalanya, takut kepada Allah dan itulah yang dia mahukan habuannya di dunia sebagaimana firman- Nya di dalam Surah al-Mu’minuun (23): 60 “Dan golongan yang memberikan apa yang mereka telah berikan dengan hati yang takut” Apa yang diberikan kepada mereka, demi Allah, adalah dengan ketaatan, kasih sayang dan wilayah Ahlu l-Bait a.s. Mereka di dalam keadaansedemikian masih takut bahawa Allah tidak menerima amalan mereka.Ketakutan mereka, demi Allah, bukanlah ketakutan syak pada agama yang mereka lakukan, tetapi mereka takut bahawa mereka termasuk di kalangan golongan yang mengabaikan kasih sayang dan ketaatan kepada kami.
.
Kemudian beliau a.s berkata: Sekiranya anda mampu tidak keluar dari rumah anda, maka lakukanlah. Sekiranya anda keluar, maka janganlah anda mengumpat, berbohong, hasad, memuji diri anda sendiri, berpura-pura dan menipu. Kemudian be…liau a.s berkata: Sebaik baik biara (sauma‘ah) seorang muslim adalah rumahnya. Dia dapat menegah matanya, lidahnya dan kemaluannya di rumahnya. Sesiapa yang mengetahui nikmat Allah dengan hatinya, maka dia berhak tambahan daripada Allah a.w sebelum dia menzahirkan kesyukurannya di lidahnya.
.
Sesiapa yang memperlihatkan kelebihannya ke atas orang lain, maka dia adalah daripada golongan yang sombong. Aku berkata: Jika diamemperlihatkan kesihatannya melebihi orang lain khususnya apabila dia melihatnya (orang lain) melakukan maksiat? Beliau a.s berkata:
Kemungkinan Allah telah mengampuni dosanya sedangkan anda akan dihisab. Tidakkah anda membaca kisah tukang-tukang sihir Musa a.s, kemudian beliau a.s berkata: Berapa ramai orang yang terpedaya dengan nikmat-Nya ke atasnya, berapa ramai orang yang diuji (mustadrij) dengan penutupan Allah ke atasnya dan berapa ramai orang yang diuji dengan pujian orang ramai terhadapnya.
.
Kemudian Beliau a.s berkata: Sesungguhnya aku mengharap kejayaan bagi orang yang mengetahui hak kami daripada umat ini melainkan salah satu daripada tiga: Pemerintah yang zalim, orang yang mengikut hawa nafsu dan orang fasik secara terang-terangan. Kemudian beliau a.s membaca Surah Ali Imran ( 3): 31 “Katakanlah
“Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutlah aku, nescaya Allahmengasihimu”. Kemudian beliau a.s berkata: Wahai Hafs, cinta itu (al- Hubb) adalah lebih baik daripada takut (al-Khauf), kemudian beliau a.s berkata: Demi Allah, Allah tidak mencintai orang yang mencintai dunia dan mewalikan selain daripada kami. Sesiapa yang mengetahui hak kami (man ‘arafa haqqa-na) dan mencintai kami (ahabba-na), sesungguhnya dia mencintai Allah. Lantas lelaki itu menangis dan berkata: Adakah anda menangis jika semua ahli langit dan bumi berkumpul, lalu berdoa kepada Allah supaya Dia menyelamatkan andadari neraka dan memasukkan anda syurga, tidak memberi syafaat kepada anda (sekiranya anda mempunyai hati yang hidup, nescaya anda
adalah orang yang paling takut kepada Allah pada masa itu).
.
Kemudian beliau a.s berkata kepadanya: Wahai Hafs, jadilah anda orang yang bertaubat daripada dosa anda. Wahai Hafs, Rasulullah s.a.w bersabda: Orang yang takutkan Allah sepenuh lidahnya. Kemudian beliau a.s berkata: Manakala Musa bi…n Imran a.s menasihati para sahabatnya, tiba-tiba seorang lelaki berdiri dan mengoyakkan bajunya, lalu Allah memberitahu Musa, wahai Musa, katakanlah kepadanya:
.
Janganlah anda mengoyakkan baju anda, tetapi lapanglah dada anda untuk-Ku. Kemudian beliau a.s berkata: Musa a.s telah melalui seorang lelaki daripada para sahabatnya yang sedang sujud, kemudian Musa a.s pulang dari melakukan hajatnya mendapati lelaki itu masih sujud didalam keadaan sebelumnya, lalu Musa a.s berkata kepadanya:
Sekiranya hajat anda ditanganku, nescaya aku menunaikannya untuk anda. Kemudian Allah memberitahu Musa: Wahai Musa, sekiranya dia sujud sehingga terputus tengkuknya, nescaya Aku tidak menerimanya
sehingga dia berubah dari apa yang Aku benci kepada apa yang Aku cintai. (RAUDHAT AL KAAFI)
.
3. PETIKAN AL IKHTISAS: Hukum Mengingkari Imam Daripada Allah
Beliau berkata: Maka aku berkata:Apa pendapat anda bagi mereka yang telah mengingkari seorang imam daripada kamu apakah keadaannya? Beliau berkata: …Sesiapa yang telah mengingkari seorang imam daripada Allah, membebaskan diri daripadanya dan daripada agamanya, maka beliau adalah seorang kafir, terkeluar dari Islam, kerana imamah adalah daripada Allah, agamanya adalah agama Allah. Sesiapa yang telah bebas daripada agama Allah, maka beliau adalah seorang yang kafir, … beliau berkata: Sesiapa yang telah memusnahkan seorang mukmin kerana mahukan hartanya dan dirinya, maka darahnya adalah mubah bagi mukmin pada masa itu.
.
Muhammad bin al-Husain daripada Ibn Mahbub daripada Hisyam bin Salim daripada Habib al-Sajistani daripada Abu Ja‘far a.s berkata: Allah berfirman: Aku akan mengazabkan setiap rakyat di dalam Islam yang telah mentaati seorang imam yang bukan daripada Allah sekalipun rakyat baik dan bertakwa dan Aku akan mengampuni setiap rakyat di dalam Islam yang telah mentaati seorang imam yang adil daripada Allah sekalipun rakyat itu zalim dan jahat.
.
4. PETIKAN AL IKHTISAS: Sesiapa Yang Mengingkari Hak Para Imam A.S Maka Kedudukannya seperti Iblis
‘Umru bin Thabit berkata: Aku telah bertanya Abu Ja‘far a.s tentang firman Allah s.w.t Surah al-Baqarah (2): 165 “Dan di an…tara manusia ada mereka yang menyembah tandingan-tandingan (andadan) selain daripada Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah” Beliau berkata: Maka beliau berkata: Mereka, demi Allah, adalah pemimpin-pemimpin; polan dan polan dan polan (Abu Bakr, Umar dan Uthman). Mereka telah mengambil mereka bertiga sebagai para imam, tetapi bukan imam yang telah dijadikan oleh Allah untuk manusia sebagai imam. Justeru Allah berfirman di dalam Surah al-Baqarah (2): 165-167 “Dan jika seandainya mereka yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat seksa, bahawa kekuatan itu adalah kepunyaan Allah semuanya bahawa Allah amat berat seksa-Nya.Iaitu ketika mereka yang diikuti itu berlepas diri dari mereka yang mengikutinya; dan segala hubungan antara mereka terputus sama sekali. Dan berkatalah mereka yang mengikuti:” Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami. Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatan mereka menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka”. Kemudian Abu Ja‘far a.s berkata: Mereka, demi Allah, wahai Jabir, para imam yang zalim dan pengikut-pengikut mereka
.
Abu al-Qasim al-Sya‘rani secara marfu‘, daripada Yunus bin Zabyan, daripada Abd al-Rahman bin al-Hajjaj, daripada al-Sadiq a.s berkata: Apabila al-Qaim menjalankan tugasnya, beliau akan datang ke dataran Kufah dan memberi isyarat dengan tangannya kepada suatu tempat, kemudian berkata: Kamu gali dari sini, lalu mereka menggali, dan mengeluarkan dua belas ribu baju besi, dua belas ribu pedang dan dua belas ribu topi besi. Setiap topi besi mempunyai dua muka. Kemudian beliau menyeru dua belas ribu lelaki daripada hamba-hamba Arab dan bukan Arab, lalu beliau memakaikan mereka pakaian seragam. Kemudian berkata: Sesiapa yang tidak mempunyai pakaian seragam seperti kamu, maka bunuhlah ia (man lam yakun ‘alai-hi mithlu ma ‘alai-kum fa-qtulu-hu)
.
Al-Sadiq a.s berkata: Sesungguhnya Allah telah menjadikan kami hujah-hujah-Nya di atas makhluk-Nya, dan penyimpan amanah ilmu-Nya, maka sesiapa yang mengingkari kami, maka kedudukannya seperti kedudukan Iblis (fa-man jahada-na kana bi-manzilati Iblis) di dalam kedegilannya kepada Allah ketika Dia telah memerintahkannya supaya sujud kepada Adam, dan sesiapa yang mengenali kami, dan mengikuti kami, maka kedudukannya seperti kedudukan para malaikat (wa man ‘arafa-na wa ittaba‘a-na kana bi-manzilati al-Malaikati) yang diperintahkan oleh Allah supaya sujud kepada Adam, maka mereka telah mentaati-Nya.
.
5. petikan kitab al haftu: Makrifat tentang keturunan kafir dan apa yang menimpanya daripada kebaikan, kejahatan, kefakiran, penyakit, bala, bahaya pada hartanya dan apakah sebabnya (fi ma‘rifati nasl al-Kafir wa ma yusiibu-hu min khairin… wa syarrin wa faqrin wa suqmin wa balaa’ wa aafati fi maali-hi wa ma al-‘illatu fi dhalika)
.
 Sesiapa yang mana amalan-amalannya yang baik seperti tasbih, sembahyang dan zakat mendahuluinya, sesungguhnya Dia menunaikan pahalanya mengikut kadar ihsan dan kejahatannya. Demikianlah pada dunia ini.
Al-Mufadhdhal telah berkata: Wahai Maulaaya, adakah bagi kafir sembahyang, zakat, puasa dan haji? Al-Sadiq a.s telah berkata: Wahai Mufadhdhal, tidakkah anda melihat sembahyang kumpulan Nasrani, puasa dan haji mereka? Demikian juga kumpulan Yahudi, semua penganut-penganut agama dan syariat yang bermacam-macam serta amalan agama mereka yang terkenal? Sebahagian mereka cenderung kepada amalan-amalan yang baik dan sebahagian mereka pula cenderung kepada amalan-amalan yang jahat.Adapun yang cenderung kepada amalan yang baik, maka dia adalah berbeza dengan yang lain. Kemudian beliau a.s membaca firman-Nya: “Sesiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah sekalipun, nescaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan sesiapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarrah sekalipun, nescaya dia akan melihat (balasan)nya.”Al-Mufadhdhal telah berkata: Wahai Maulaaya, ayat ini khusus untuk mukminin bukan untuk mereka yang kafir, tidakkah dikhususkan mukmin daripada kafir dalam amalan-amalan yang tertentu dan apakah balasan mereka yang kafir? Al-Sadiq a.s telah berkata: Diringankan azab daripada kafir dalam masukhiyyah dan sesungguhnya Dialah Maha Penyayang di antara para penyayang.
.
6. Petikan raudhah al Kaafi
Ali bin Muhammad, daripada Ahmad bin Abu Abdullah, daripada ‘Uthman bin Isa daripada Maisar berkata: Aku telah berjumpa Abu Abdullah a.s berkata: Bagaimana dengan para sahabat anda? Aku berkata: Aku jadikan diriku tebusan anda, kami di sisi me…reka adalah lebih jahat (Laa-nahnu ‘inda-hum asyarru min al-Yahud) daripada Yahudi, Nasara, Majusi dan Musyrikin, lantas beliau a.s terus duduk, kemudian berkata: Bagaimana anda berkata? Demi Allah, kami di sisi mereka adalah lebih jahat daripada Yahudi, Nasara, Majusi, dan Musyrikin. Beliau a.s berkata: Demi Allah, kamu berdua tidak akan memasuki neraka, demi Allah, sesungguhnya kamulah orang yang difirmankanoleh Allah di Surah Sad (38): 62-4 “Dan (golongan durhaka) berkata:“Mengapa kami tidak melihat golongan yang dahulu (di-dunia) kami anggap sebagai golongan yang jahat (hina). Apakah kami dahulu menjadikan mereka olok-olokan, ataukah kerana mata kami tidak melihat mereka? Sesungguhnya yang demikian itu pasti terjadi, (iaitu) pertengkaran penghuni neraka”.(raudhah al Kaafi, ms 100)
.
7. Nasibi Terhadap Ahlu l-Bait A.S Adalah Lebih Jahat Daripada Orang
Yang Meninggalkan Sembahyang.
.
Muhammad bin Yahya, daripada Ahmad bin Muhammad bin Isa, daripada al-Hasan bin Ali bin Fadhdhal daripada Ali bin ‘Uqbah, daripada Umar bin Abban…, daripada Abd al-Hamid al-Wabisyi, daripada Abu Ja‘far a.s, berkata: Aku telah berkata kepadanya bahawa bagi kami jiran yang mencabuli semua perkara yang haram sehingga dia meninggalkan solat lebih daripada yang lain? Maka beliau a.s berkata:
Subhanallah, aku akan memberitahu kepada kamu yang lebih besar daripada itu; orang yang lebih jahat daripadanya, aku berkata: Ya, beliau a.s berkata: Orang yang menentang kami (nasibi) adalah lebih jahat daripadanya (al-Naasibu la-naa syarrun min-hu). Kerana tiada seorang hamba yang menyebutkan di sisinya Ahlu l- Bait Rasulullah s.a.w, lalu hatinya menjadi lembut, lantas malaikat menyapukan belakangnya dan mengampuni segala dosa-dosanya untuknya melainkan dia melakukan dosa yang mengeluarkannya daripada iman. Sesungguhnya syafaat akan diterima, tetapi syafaat nasibi tidak akan diterima (wa ma tuqbalu fi naasibin). Sesungguhnya seorang mukmin akan memberi syafaat kepada jirannya yang tidak mempunyai kebaikan. Dia berkata: Wahai Tuhanku, jiranku telah menahan kesakitan daripadaku, lalu dia memberi syafaat kepadanya. Maka Allah berfirman: Aku adalah Tuhan kamu dan Aku adalah lebih berhak memberi syafaat kepada orang yang mempertahankan kamu, lalu Dia memasukkannya ke syurga tanpa kebaikan yang dilakukannya. Seorang mukmin sekurang-kurangnya dapat memberi syafaat kepada tiga puluh orang, maka ketika itu ahli neraka berkata di dalam Surah al-Syu‘araa’ (26): 100-1 “Maka kami tidak mempunyai pemberi syafaatseorangpun dan tidak pula mempunyai teman yang akrab”.(raudhah kafi m/s 126)

Kepemimpinan Ali bin Abi Thalib (AS)

ِ
إِنَّمَا وَلِيُّكُم اللهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ
“Sesungguhnya tiada lain pemimpin kalian adalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman, yang menegakkan shalat dan menunaikan zakat ketika sedang ruku’.”(al Maidah:55)
Para ulama dari kalangan mazhab Ahlul bait (sa) sepakat bahwa ayat ini turun ketika Imam Ali (sa) bersedekah, memberikan cicinnya kepada peminta-minta saat beliau sedang ruku’ dalam shalat.
.
Pendapat para mufassir
Pertama: Al-Qadhi Al-Iji (wafat tahun 756 H) mengakui dalam kitabnya Al-Mawaqif fi ilmil kalam bahwa mufassir sepakat ayat ini turun berkaitan dengan Amirul mukminin Ali bin Abi Thalib (sa). (Al-Mawaqif fi ilmil kalam, halaman 405).
Kedua: Al-Jurjani (wafat tahun 816 H) juga mengakui dalam kitabnya Syarah Al-Mawaqif fi ilmil kalam bahwa para mufassir sepakat ayat ini turun berkaitan dengan Imam Ali (sa). (Syarah Al-Mawaqif, jilid 8, halaman 360).
Ketiga: Alauddin Al-Qasyaji As-Samarqandi mengakui bahwa para mufassir dari Ahlussunnah sepakat, ayat ini turun sehubungan dengan Imam Ali bin Abi Thalib (sa). (Syarah Tajrid, Al-Qasyaji, halaman 368).
Silahkan rujuk kitab-kitab tafsir berikut:
1. Ad-Durrul Mantsur, As-Suyuthi, jilid 2, halaman 293.
2. Fathhul Qadir, Asy-Syaukani, jilid 2, halaman 53.
3. Al-Kasysyaf, Zamakhsyari, jilid 1, halaman 649.
4. Tafsir Al-Munir, Al-Jawi, jilid 1, halaman 210.
5. Fathhul Bayan, jilid 3, halaman 51.
6. Zadul Masir fi ilm At-Tafsir, Ibnu Jauzi, jilid 2, halaman 383.
7. Tafsir Fakhrur Razi, jilid 12, halaman 26 dan 20.
8. Tafsir Ibnu Katsir, jilid 2, halaman 71.
9. Ahkamul Qur’an, Al-Jashshash, jilid 4, halaman 102.
10. Tafsir An-Nasafi, jilid 1, halaman 289.
11. Kanzul Ummal, jilid 45, halaman 146, hadis ke 416.
12. Tafsir Jalayn, halaman 213.
Pendapat ahli hadis
Para ulama ahli hadis meriwayatkan hadis-hadis bahwa ayat ini turun sehubungan dengan Imam Ali bin Abi Thalib (sa). Mereka tersebut adalah:
1. Al-Hafizh Abdurrazzaq Ash-Shan’ani, penulis kitab Al-Mushannif, beliau guru Bukhari.
2. Al-Hafizh Abd bin Hamid, penulis kitab Musnad.
3. Al-Hafizh Razin bin Muawiyah Al-Andalusi, penulis kitab Al-Jam’u bayna Ash-
4. Shahhah As-sittah.
5. Al-Hafizh An-Nasa’i, penulis Shahih An-Nasa’i.
6. Al-Hafizh Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath-Thabari, penulis kitab Tarikh yang masyhur.
7. Ibnu Abi Hatim Al-Hafizh Ar-Razi, Muhaddist dan mufassir yang terkenal, yang diyakini oleh Ibnu Taimiyah dalam kitabnya Minhajus sunnah bahwa dalam tafsir Ibnu Abi Hatim tidak ada hadis-hadis yang maudhu’.
8. Al-Hafizh Abu Syeikh Al-Ishfahani.
9. Al-Hafizh Ibnu Asakir Ad-Damsyiqi.
10. Al-Hafizh Abu Qasim Ath-Thabrani.
11. Al-Hafizh Al-Khathib Al-Baghdadi.
12. Al-Hafizh Abul Farj Ibnu Al-Jauzi Al-Hanbali.
13. Al-Hafizh Muhibuddin Ath-Thabari, guru besar di Mekkah.
14. Al-Hafizh Jalaluddin As-Suyuthi, pembaharu di kalangan Ahlussunnah abad kesepuluh.
15. Al-Hafizh Syeikh Ali Al-Muttaqi Al-Hindi, penulis Kanzul ummal.
Mereka adalah ulama Ahli hadis dari kalangan Ahlussunnah dari berbagai abad, mereka meriwayatkan hadis bahwa ayat ini turun ketika Imam Ali bin Abi Thalib (sa) mensedekahkan cincinnya ketika ruku’ dalam shalat.
Al-Alusi, penulis tafsir Ruhul Ma’ani berkata: Umumnya ahli hadis mengatakan bahwa ayat ini turun untuk Ali (karramallahu wajhah). (Tafsir Ruhul Ma’ani, Al-Alusi, 6/168).
Umumnya para mufassir dan ahli hadis sejak masa Bukhari hingga abad kesebelas, menetapkan hadis tersebut dan berkata bahwa ayat ini turun untuk Imam Ali bin Abi Thalib (sa).
Jika kita membaca tafsir Ibnu Kasir, tentang tafsir ayat ini, kita akan dapati bahwa ia mengakui keshahihan sebagian sanad riwayat ini. Tetapi, walaupun Ibnu Katsir mengakui keshahihannya, kami tetap memandangnya sebagai tokoh yang ta’ashshub dalam tafsir dan tarikhnya. Padahal para ulama peliti hadis ini menyatakan bahwa hadis ini adalah shahih. Para ulama ahli hadis dari Ahlul bait (sa) telah meneliti pernyataan ulama-ulama tersebut, dan menyatakan sanad-sanad hadis tersebut shahih.
Antara lain hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dalam tafsirnya (tafsir Ibnu Abi Hatim 4/162). Ia meriwayatkan dari Abu Said Al-Asyaj dari Fadhl bin Dakkin, dari Musa bin Qays Al-Hadhrami, dari Salamah bin Kuhail, ia berkata: Ali mensedekahkan cincinnya ketika ia sedang ruku’, kemudian turunlah ayat ini Al-Maidah: 55.
Al-Alusi mengatakan umumnya ahli hadis menyatakan hadis ini shahih.
Hassan bin Tsabit, seorang sahabat terkenal, mengatakan dalam syairnya:
زكاةً فدتك النفس يا خيرَ راكعِ فأنت الذي أعطيت إذ كنت راكعاً
وأثبتها أثنى كتاب الشرايع فأنزل فيك الله خيرَ ولاية
Zakat telah menjadi tebusan dirimu wahai sebaik-baik orang yang ruku’
Engkaulah yang memberikan saat engkau sedang ruku’
Syariat menetapkan dan memujinya
sehingga Allah menurunkan padamu sebaik-baik wilayah.

(Ruhul Ma’ani, Al-Alusi, 6/168)
Disarikan dari kitab:
1. Fadhâil Al-Khamsah min Ash-Shihhah As-Sittah, Allamah Sayyid Murtadha Al-Firuz Abadi
2. Al-Mujâja’ât, Allamah Sayyid Syarafuddin Al-Musawi
3. Al-Mizâb fi Tafsîr Al-Qur’ân, Allamah Muhammad Husein Thabathaba’i

Ali bin Abi Thalib (sa) adalah washi dan khalifah Rasulullah saw


وَ أَنذِرْ عَشِيرَتَك الأَقْرَبِينَ
“Berilah peringatan keluargamu yang terdekat.”(as Syura: 214)
Ketika ayat ini turun Rasulullah saw bersabda: “Wahai Bani Abdul Muthallib, demi Allah tidak pernah aku ketahui di seluruh bangsa Arab sesuatu yang lebih utama dari apa yang aku bawa untukmu. Aku datang kepadamu untuk kebaikan di dunia dan akhirat. Allah telah menyuruhku mengajakmu kepada-Nya. Maka, siapakah di antara kamu yang bersedia membantuku dalam urusan ini untuk menjadi saudaraku, washiku dan khalifahku?” Mereka semua tidak bersedia kecuali Ali bin Abi Thalib yang saat itu paling muda. Ali berdiri seraya berkata: “Aku ya Nabiyallah, aku (bersedia menjadi) wazir (pembantu)mu dalam urusan ini.” Kemudian Rasulullah saw memegang bahu Ali seraya bersabda: “Sesungguhnya Ali ini adalah saudaraku, washiku, dan khalifahku terhadap kalian, maka dengarlah dia dan taatilah dia.” Mereka tertawa sambil berkata kepada Abu Thalib: Kamu disuruh mendengar dan mentaati anakmu. (Lebih rinci, baca hadis Indzar).
Hadis ini dan yang semakna terdapat dalam:
1. Syawahid Tanzil, Al-Haskani Al-Hanafi, jilid 1, halaman 372, hadis ke 514, halaman 420, hadis ke 580, cet. pertama, Bairut.
2. Tafsir Ath-Thabari, jilid 19, halaman 74, cet. Bulaq; jilid 19, halaman 68, cet. Al-Maimaniyah; jilid 19, halaman 121, cetakan kedua Mesir.
3. Tarikh Ath-Thabari, jilid 2, halaman 319, cet. Mesir; jilid 2, halaman 216, cetakan yang lain.
4. Musnad Ahmad bin Hambal, jilid 1, halaman 111, cet. Al-Maimaniyah, Mesir.
5. Kifayah Ath- Thalib, Al-Kanji Asy-Syafi’i, halaman 204-205,. cet. Al-Haidariyah; halaman 89, cet. Al-Ghira.
6. Tadzikrah Al-Khawwash, As-Sibth bin Al-Jauzi Al-Hanafi, halaman 38, cet. Al-Haidariyah; halaman 44, cet. Najef.
7. Muntakhab Kanzul ‘Ummal (catatan pinggir) Musnad Ahmad, jilid 5, halaman 41, 42 dan 43.
8. Yanabi’ul Mawaddah, Al-Qundusi Al-Hanafi, halaman 105, cet. Istambul; halaman 122, cet. Al-Haidariyah.
9. SyarhNahjul Balaghah, Ibnu Abil Hadid, jilid 13, halaman 210, cet. Mesir, dengan Tahqiq Muhammad Abul Fadhl.
10. Al-Kamil, Ibnu Atsir, jilid 2, Halaman 62, cet. Dar-Shadir; jilid 2, halaman 216, cetakan yang lain, Mesir.
11. Tarikh Abil Fida’, jilid 1, halaman 119, cet. Al-Qastantiniyah.
12. Ad-Durrul Mantsur, As-Suyuthi, jilid 5, halaman 97.
13. Tarjamah Al-Imam Ali bin Abi Thalib, dalam Tarikh Damsyiq, oleh Ibnu Asakir Asy-Syafi’i jilid 85, hadis ke 138, 130 dan 140.
14. Tafsir Ibnu Katsir, jilid 3, halaman 351.
15. Kanzul ‘Ummal, jilid 15, halaman 113, hadis ke: 323, 324, 380, dan 381, cet. Kedua Haidar Abad; jilid 6, halaman 396, cet pertama.
16. Tafsir Al-Khazin, jilid 3, halaman 371.
17. As-Sirah Al-Halabiyah, jilid 1, halaman 286.
18. Tafsir Al-Munir Lima’alimuz Tanzil, Al-Jawi, jilid 2, halaman 118, cet. ketiga Mushthafa Al-Halabi.

TAAT KEPADA ULIL AMRI


Surat An Nisa': 59
Ulil amri adalah para Imam dari Ahlul bait (as)
يَأَيهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَ أَطِيعُوا الرَّسولَ وَ أُولى الأَمْرِ مِنكمْ
Yang dimaksud “Ulil-amri” dalam ayat ini adalah Ali bin Abi Thalib (as) dan Ahlul bait Nabi saw
.
Dalam Tafsir Al-Burhan tentang ayat ini disebutkan suatu riwayat yang bersumber dari Jabir Al-Anshari (ra), ia berkata: Ketika Allah menurunkan ayat ini aku bertanya: Ya Rasulallah, kami telah mengetahui Allah dan Rasul-Nya, tetapi siapakah yang dimaksud dengan Ulil-amri yang ketaatannya kepada mereka Allah kaitkan dengan ketaatan kepada-Nya dan Rasul-Nya? Rasulullah saw menjawab:
Wahai Jabir, mereka itu adalah para penggantiku: Pertama, Ali bin Abi Thalib, kemudian Al-Hasan, kemudian Al-Husein, kemudian Ali bin Al-Husein, kemudian Muhammad bin Ali, kemudian Muhammad bin Ali yang dalam Taurat gelarnya masyhur Al-Baqir. Wahai Jabir, kamu akan menjumpai dia, sampaikan salamku kepadanya. Kemudian Ash-Shadiq Ja’far bin Muhammad, kemudian Musa bin Ja’far, kemudian Ali bin Musa, kemudian Muhammad bin Ali, kemudian Al-Hasan bin Muhammad, kemudian dua nama Muhammad dan yang punya dua gelar Hujjatullah di bumi-Nya dan Baqiyatullah bagi hamba-hamba-Nya yaitu Ibnul Hasan, dialah yang Allah perkenalkan sebutan namanya di seluruh belahan bumi bagian barat dan timur, dialah yang ghaib dari para pengikutnya dan kekasihnya, yang keghaibannya menggoyahkan keimamahannya kecuali bagi orang-orang yang Allah kokohkan keimanan dalam hatinya.”
.
Ringkasan Kritik Allamah Thabathaba’i terhadap Fakhrur Razi
Fakhrur Razi mengatakan: Pembatasan kata Ulil-amri dengan kata minkum menunjukkan salah seorang dari mereka yakni manusia biasa seperti kita, yaitu orang yang beriman yang tidak mempunyai keistimewaan Ishmah Ilahiyah (jaminan kesucian dari Allah). Yang perlu diragukan adalah pendapat yang mengatakan: Mereka (Ulil-amri) adalah satu kesatuan pemimpin, yang ketaatan kepada masing-masing mereka hukumnya wajib.
Ar-Razi lupa bahwa makna ini sudah masyhur digunakan dalam bahasa Al-Qur’an, misalnya: “janganlah kamu mentaati orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah)” (Al-Qalam: 8), “Janganlah kamu mentaati orang-orang kafir.” (Al-Furqan: 52), dan ayat-ayat yang lain dalam bentuknya yang bermacam-macam: kalimat positif, kalimat negatif, kalimat berita, kalimat perintah dan larangan.
.
Ringkasan Kritik Allamah Thabathaba’i terhadap Tafsir Al-Manar
Syeikh Rasyid Ridha mengatakan: Ulil-amri adalah Ahlul hilli wal-Aqdi yaitu orang-orang yang mendapat kepercayaan ummat. Mereka itu bisa terdiri dari ulama, panglima perang, dan para pemimpin kemaslatan umum seperti pemimpin perdagangan, perindustrian, pertanian. Termasuk juga para pemimpin buruh, partai, para pemimpin redaksi surat kabar yang Islami dan para pelopor kemerdekaan.
.
Inikah maksud dari Ulil-amri? Pendapat ini dan yang punya pandangan seperti ini telah menutupi makna Al-Qur’an yang sempurna dengan makna yang tidak jelas. Ayat ini mengandung makna yang jelas yaitu Ismah Ilahiyah (jaminan kesucian dari Allah) bagi Ulil-amri. Karena ketaatan kepada Ulil-amri bersifat mutlak, dikaitkan dengan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.
Apakah yang mempunyai sifat kesucian (‘ishmah) adalah para pemimpin lembaga-lembaga itu sehingga mereka dikatagorikan sebagai orang-orang yang ma’shum? Yang jelas tidak pernah terjadi para Ahlul hilli wal-‘Iqdi yang mengatur urusan ummat, mereka semuanya ma’shum. Mustahil Allah swt memerintahkan sesuatu yang penting tanpa mishdaq (ekstensi) yang jelas. Dan mustahil sifat ‘ishmah dimiliki oleh lembaga yang orang-orangnya tidak ma’shum, bahkan yang sangat memungkinkan mereka berbuat kezaliman dan kemaksiatan. Pendapat mereka ini jelas salah dan mengajak pada kesesatan dan kemaksiatan. Mungkinkah Allah mewajibkan kita taat kepada orang-orang seperti mereka?
.
Pendapat Ahlul Bait (as)

Ulil-amri adalah Ali bin Abi Thalib dan para Imam suci (as).

Dalam Tafsir Al-‘Ayyasyi tetang ayat ini menyebutkan bahwa:
Imam Muhammad Al-Baqir (as) berkata tentang ayat ini: “Mereka itu adalah para washi Nabi saw.”
Tentang ayat ini Imam Ja’far Ash-Shadiq (as) berkata: “Mereka adalah para Imam dari Ahlul bait Rasulullah saw.”
Tentang ayat ini Imam Muhammad Al-Baqir (as) berkata: “Mereka adalah para Imam dari keturunan Ali dan Fatimah hingga hari kiamat.”
Dalam kitab Yanabi’ul Mawaddah disebutkan suatu riwayat dari Salim bin Qais Al-Hilali, ia berkata bahwa Imam Ali bin Abi Thalib (as) berkata: “Yang paling dekat bagi seorang hamba terhadap kesesatan adalah ia yang tidak mengenal Hujjatullah Tabaraka wa Ta’ala. Karena Allah telah menjadikannya sebagai hujjah bagi hamba-hamba-Nya, dia adalah orang yang kepadanya Allah perintahkan hamba-hamba-Nya untuk mentaatinya dan mewajibkan untuk berwilayah kepadanya.
Salim berkata: Wahai Amirul mukmin, jelaskan kepadaku tentang mereka (Ulil-amri) itu.
Amirul mukminin (as) berkata: “Mereka adalah orang-orang yang ketaataannya kepada mereka Allah kaitkan pada diri-Nya dan Nabi-Nya.” Kemudian ia berkata: “Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kalian kepada Allah, Rasul-Nya, dan kepada Ulil-amri kalian.”
Salim bin Qais berkata: Wahai Amirul mukminin, jadikan aku tebusanmu, jelaskan lagi kepadaku tentang mereka itu.
Amirul mukminin (as) berkata: “Mereka adalah orang-orang yang oleh Rasulullah saw disampaikan di berbagai tempat dalam sabda dan khutbahnya, Rasulullah saw bersabda: ‘Sungguh aku tinggalkan pada kalian dua perkara, jika kalian berpegang teguh dengan keduanya kalian tidak akan tersesat sesudahku: Kitab Allah dan ‘itrahku, Ahlul baitku’.”
Riwayat hadis ini dan yang semakna dengan hadis tersebut terdapat dalam:
1. Tafsir Ad-Durrul Mantsur tentang ayat ini.
2. Tafsir Ath-Thabari tentang ayat ini.
3. Tafsir Fakhrur Razi, jilid 3 halaman 357, tentang ayat ini.
4. Yanabi’ul Mawaddah, oleh Syaikh Sulaiman Al-Qundusi Al-Hanafi, halaman 134, cet. Al-Haidariyah; halaman 114 dan 117, cet. Islambul.
5. Syawahidut Tanzil, oleh Al-Hakim Al-Haskani Al-Hanafi, jilid 1, halaman 148, hadis ke 202, 203 dan 204.
6. Ihqaqul Haqq, oleh At-Tustari, jilid 3, halaman 424, cet. pertama, Teheran.
7. Faraid As-Samthin, jilid 1, halaman 314, hadis ke 250.

Ajaran Sunni Mengingkari Kepemimpinan Ali bin Abi Thalib (AS)

Maksud “Ihdinassirotalmustaqim” (tunjuki kami Jalan yang lurus)

.
Jalan yang Benar
Allah swt berfiman:
اهْدِنَا الصرَط الْمُستَقِيمَ صِرَط الَّذِينَ أَنْعَمْت عَلَيْهِمْ غَيرِ الْمَغْضوبِ عَلَيْهِمْ وَ لا الضالِّينَ
“Tunjukilah kami ke jalan yang lurus, jalannya orang-orang yang telah Kau beri nikmat. “Yaitu jalan orang-orang yang Kau beri nikmat, bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan bukan jalan orang-orang yang tersesat.”
Shirathal mustaqim, jalan yang lurus dan benar, memiliki dua makna: makna lahir dan makna batin.
.
Dalam beberapa riwayat hadis disebutkan bahwa yang dimaksud dengan “Shirathal mustaqîm” adalah jalan Rasulullah saw dan Ahlul baitnya. Riwayat ini terdapat di dalam:
.
1. Syawahidut Tanzil, Al-Hakim Al-Haskani, jilid 1, halaman 57, hadis ke:
86,87,88,89,90,91,92,93,94,95,101,102,103,104 dan 105.
2. Al-Ittihaf Bihubbil Asyraf, Asy-syahrawi, halaman 76.
3. Kifayah Ath-Thalib, Al-Kanji Asy-Syafi’i, halaman 162 cet. Al-Ihqaqul Haqq, At-Tustari, jilid 3, halaman 534.
.
Rasulullah saw bersabda tentang firman Allah “‘Tunjukilah kami ke jalan yang lurus’: Jalannya para Nabi yang telah dikaruniai nikmat oleh Allah.” (Tafsir Nur Ats-Tsaqalayn 1, hadis ke 86)
.
Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata tentang firman Allah “‘Tunjukilah kami ke jalan yang lurus’: Jalan dan mengenal Imam.” (Tafsir Nur Ats-Tsaqalayn 1, hadis ke 88)
.
Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata: “Demi Allah, kami adalah jalan yang lurus.” (Tafsir Nur Ats-Tsaqalayn 1, hadis ke 89)
.
Mufadhdhal bin Umar berkata, aku pernah bertanya kepada Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) tentang “Ash-Shirath”. Beliau berkata: “Ash-Shirath” adalah jalan untuk mengenal Allah Azza wa Jalla. Shirath itu ada dua: Shirath di dunia dan shirath di akhirat. Shirath di dunia adalah Imam yang wajib ditaati, orang yang mengenalnya di dunia dan memperoleh keteladanan dengan petunjuknya ia akan selamat dalam melintasi shirath di atas jurang neraka Jahamman di akhirat. Dan orang yang tidak mengenalnya di dunia ia akan tergelincir kakinya dari shirath di akhirat sehingga ia tersungkur ke dalam neraka Jahannam.” (Tafsir Nur Ats-Tsaqalayn 1, hadis ke 92)
.
Sa’dan bin Muslim berkata, aku pernah bertanya kepada Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) tentang “Shirath”. Beliau berkata: “lebih halus dari rambut dan lebih tajam dari pedang. Di antara mereka ada orang yang melintasinya seperti kilat, ada yang melintasinya seperti musuh berkuda, ada yang melintasinya dengan berjalan kaki, ada yang melintasinya dengan merangkak, dan ada yang melintasinya dengan bergelantung sehingga terjilat oleh api neraka.” (Tafsir Nur Ats-Tsaqalayn 1, hadis ke 93)
.
Imam Zainal Abidin (sa) berkata: “Kami adalah pintu Allah dan kami adalah jalan yang lurus.” (Tafsir Nur Ats-Tsaqalayn 1, hadis ke 97)
.
Imam Muhammad Al-Baqir (sa) berkata bahwa Rasulullah saw bersabda: “Wahai Ali, pada hari kiamat aku, kamu dan Jibril duduk di atas shirath, sehingga tidak ada seorang pun yang boleh melintasi kecuali orang yang tercatat kesetiaannya terhadap wilayahmu.” (Tafsir Nur Ats-Tsaqalayn 1, hadis ke 98)
.
Imam Muhammad Al-Baqir (sa) berkata dari ayahnya dan dari kakeknya bahwa Rasulullah saw bersabda tentang ayat ini: “Pengikut Ali (sa) yang Kau beri nikmat dengan wilayah Ali bin Abi Thalib (sa), mereka yang tidak dimurkai dan tidak tersesat.” (Tafsir Nur Ats-Tsaqalayn 1, hadis ke 104)
.
Imam Muhammad Al-Baqir (sa): “Kami adalah jalan yang jelas dan lurus menuju kepada Allah Azza wa Jalla, dan kami adalah nikmat untuk makhluk-Nya.” (Tafsir Nur Ats-Tsaqalayn 1, hadis ke 105)
.
Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa): “Orang yang dimukai” adalah kaum nashibi, sedangkan “Orang-orang yang tersesat” adalah yahudi dan nasrani. (Tafsir Nur Ats-Tsaqalayn 1, hadis ke 106)
.
Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata: “Orang-orang yang dimurkai” adalah kaum nashibi, sedangkan “Orang-orang yang tersesat” adalah orang-orang yang ragu dan tidak mengenal Imamnya. (Tafsir Nur Ats-Tsaqalayn 1, hadis ke 107)

Kitab al-Hujjah (ttg imamah) Oleh al-Kulaini Wafat 328/329 Hijrah (Bab 8-14)

                                                                                Bab 8
Fardu Mentaati Para Imam A.S (Fardh ta‘at al-A’immah)
       (49)-1. Ali bin Ibrahim, daripada bapanya, daripada Hammad bin Isa, dariapda Huraiz, daripada Zurarah, daripada Abu Ja‘far a.s telah berkata: Puncak segala perkara, ketinggiannya, kuncinya, pintunya dan keredaan Yang Maha Pemurah adalah ketaatan kepada Imam selepas mengetahuinya (Dhirwat al-Amr wa sinamu-hu wa miftahu-hu wa bab al-Asyya’ wa Ridha al-Rahman tabaraka wa ta‘ala al-Ta‘at li-l-Imam ba‘da ma‘rifati-hi). Kemudian beliau a.s telah berkata: Sesungguhnya Allah telah berfirman: “Sesiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan sesiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka”[1]
.
       (50)-2. Al-Husain bin Muhammad al-Asy‘ari, daripada Mu‘alla bin Muhammad, daripada al-Hasan bin Ali al-Wasya’, daripada Abban bin Uthman, daripada Abu al-Sabaah berkata: Aku naik saksi bahawa aku telah mendengar Abu Abdillah a.s berkata: Aku naik saksi bahawa Ali adalah seorang imam yang mana ketaatan kepadanya difardukan oleh Allah (Imam farada llahu ta‘ata-hu). Sesungguhnya al-Hasan adalah seorang imam yang mana ketaatan kepadanya difardukan oleh Allah. Sesungguhnya al-Husain adalah seorang imam yang mana ketaatan kepadanya difardukan oleh Allah. Sesungguhnya Ali bin al-Husain adalah seorang imam yang mana ketaatan kepadanya difardukan oleh Allah dan sesungguhnya al-Husain bin Ali adalah seorang imam yang mana ketaatan kepadanya difardukan oleh Allah”.
.
       (51)-3. Daripada sanad-sanad yang sama, daripada Mu‘alla bin Muhammad, daripada al-Hasan bin Ali berkata: Hammad Ibn Uthman telah memberitahu kami, daripada Basyir bin al-‘Atar berkata: Aku telah mendengar Abu Abdillah a.s telah berkata: Kami adalah golongan yang mana Allah memfardukan ketaatan kami [kepada makhluk] sedangkan kamu mengikuti seorang yang mana orang ramai tidak dimaafkan tanpa mengetahuinya” (nahnu qaum farada llahu ta‘ata-na wa antum ta’tammun bi-man la ya‘dhur al-Nas bi-jahalati-hi).
.
       (52)-4. Muhammad bin Yahya, daripada Ahmad bin Muahammad, Daripada al-Husain bin Sa‘id, daripada Hammad bin Isa, daripada al-Husain bin al-Mukhtar, daripada sebahagian daripada sahabat kami, daripada Abu Ja‘far a.s tentang firman Allah “Dan kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar”[2] Beliau a.s telah berkata: Ketaatan yang difardukan (al-Ta‘at al-Mafrudah).
.
       (53)-5. Daripada beberapa orang daripada sahabat kami, daripada Ahmad bin Muhammad, daripada Muhammad bin Sinan, daripada Abu Khalid al-Qammat, daripada Abu al-Hasan al-‘Atar berkata: Aku telah mendengar Abu Abdillah a.s telah berkata: Para wasi dan para rasul bersyarikat di dalam ketaatan”[3]
.
       (54)-6. Ahmad bin Muhammad, daripada Muhammad bin Abu ‘Umair, daripada Saif bin ‘Umairah, daripada Abu al-Sabah al-Kinani, berkata: Abu Abdillah a.s telah berkata: Kamilah golongan yang mana Allah a.w memfardukan ketaatan kami. Al-Anfaal adalah untuk kami,  harta yang bersih adalah untuk kami. Kamilah yang teguh dengan ilmu dan kamilah yang didengki sebagaimana firman-Nya “Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran kelebihan yang Allah berikan kepada manusia itu”[4]
.
       (55)-7. Ahmad bin Muhammad, daripada Ali bin al-Hakam, daripada al-Husain bin Abu al-‘Ala’ berkata: Aku telah menyebut kepada Abu Abdillah a.s pendapat kami tentang para wasi bahawa ketaatan mereka adalah difardukan, maka beliau a.s telah berkata:Ya, merekalah yang difirmankan oleh Allah “Wahai mereka yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya) dan Uli Amri di kalangan kamu”[5] Dan merekalah yang difirmankan oleh Allah “Sesungguhnya wali kamu adalah Allah dan Rasul dan mereka yang beriman”[6]
.
       (56)-8. Daripada sanad-sanad yang sama, daripada Ahmad bin Muhammad, daripada Mu‘ammar bin Khallad, berkata: Seorang Farsi telah bertanya Abu al-Hasan a.s, maka beliau telah berkata: Ketaatan kepada anda difardukan? Beliau a.s telah berkata: Ya, beliau telah berkata lagi: Seperti ketaatan kepada Ali bin Abu Talib a.s? Maka beliau a.s telah berkata: Ya.
.
       (57)-9. Daripada sanad-sanad yang sama, daripada Ahmad bin Muhammad, daripada Ali bin al-Hakam, daripada Ali bin Abu Hamzah, daripada Abu Basir, daripada Abu Abdillah a.s telah berkata: Aku telah bertanya kepadanya tentang para imam adakah kedudukan mereka  sama di dalam melaksanakan perintah dan ketaatan? Beliau a.s telah berkata: Ya.
.
       (58)-10. Daripada sanad-sanad yang sama, daripada Marwak bin ‘Ubaid, daripada Muhammad bin Zaid al-Tabari, berkata: Aku telah berkhidmat dengan al-Ridha a.s di Khurasan dan di sisinya beberapa orang daripada Bani Hasyim. Antaranya Ishaq bin Musa bin Isa al-‘Abbasi, maka beliau a.s telah berkata: Wahai Ishaq, berita telah sampai kepadaku bahawa kami mendakwa bahawa semua orang adalah hamba kami, tidak,  dengan kekerabatanku dengan Rasulullah s.a.w, aku tidak pernah berkata sedemikian dan aku tidak pernah mendengarnya daripada bapa-bapaku telah berkata sedemikian, tetapi aku telah berkata: Orang ramai adalah hamba-hamba kami dari segi ketaatan (al-Naas ‘abidun la-na fi al-Ta‘ah) dan mewalikan kami dari segi keagamaan. Lantaran itu, orang yang hadir hendaklah memberitahu kepada orang yang tidak hadir.
.
       (59)-11. Ali bin Ibrahim, daripada al-Salih al-Sanadiy, daripada Ja‘far al-Basyir, daripada Abu Salmah, daripada Abu Abdillah a.s telah berkata: Aku telah mendengarnya berkata: Kamilah yang mana Allah telah memfardukan ketaatan kami [ke atas orang lain]. Orang ramai wajib mengetahui kami. Orang ramai tidak dapat mengilak dari tidak mengetahui kami. Sesiapa yang mengetahu kami, maka beliau adalah seorang muslim (man ‘arafa-na kana mu’minan). Sesiapa yang mengingkari kami, maka beliau adalah seorang kafir (man Ankara-na kana kafiran). Sesiapa yang tidak mengingkari kami, maka beliau adalah seorang yang sesat (kana dallan) sehingga beliau kembali kepada pertunjuk yang mana Allah mewajibkan ke atasnya mentaati kami. Sekiranya beliau mati di atas kesesatannya, maka Allah akan melakukan [kepadanya] apa yang Dia mahu”
.
       (60)-12. Ali, daripada Muhammad bin Isa, daripada Yunus, daripada Muhammad bin al-Fudhail berkata: Aku telah bertanya beliau a.s tentang perkara yang paling baik yang mana hamba-hamba-Nya dapat menghampiri diri mereka kepada Allah a.w? Beliau a.s telah berkata: Perkara yang paling baik yang mana hamba-hamba-Nya dapat menghampiri diri mereka kepada Allah adalah mentaati Allah, mentaati Rasul-Nya dan mentaati Uli Amri-Nya. Abu Ja‘far a.s telah berkata: Kecintaan kepada kami adalah keimanan dan kebencian kepada kami adalah kekufuran (hubbub-na iman wa baghdu-na kufr).
.
       (61)-13. Muhammad bin al-Hasan, daripada Sahal bin Ziyad, daripada Muhammad bin Isa, daripada Fadhalah bin Ayyub, daripada Abban, daripada Abdullah bin Sinan, daripada Ismail bin Jabir berkata: Aku telah berkata kepada Abu Ja‘far a.s: Bolehkah aku membentangkan kepada anda agamaku yang mana aku mempecayai Allah dengannya? Maka beliau a.s telah berkata: Beritahulah kepadaku, maka aku telah berkata: Aku naik saksi bahawa tiada tuhan melainkan Allah sahaja, tiada bagi-Nya sekutu dan sesungguhnya Muhammad adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya. Mengakui apa yang dibawa oleh Muhammad s.a.w dari sisi-Nya. Sesungguhnya Ali adalah seorang imam yang difardukan Allah ketaatan kepadanya. Kemudian al-Hasan adalah seorang imam yang difardukan Allah ketaatannya. Kemudian al-Husain sebagai seorang imam yang difardukan Allah ketaatannya. Kemudian selepasnya Ali bin al-Husain seorang imam yang difardukan Allah  ketaatannya sehingga urusan berakhir kepadanya. Kemudian aku telah berkata: Anda mudah-mudahan dihormati Allah? Beliau a.s telah berkata: Inilah agama Allah dan agama para malaikat-Nya”
.
       (62)-14. Ali bin Ibrahim, daripada bapanya, daripada Ibn Mahbub, daripada Hisyam bin Salim, daripada Abu Hamzah, daripada Abu Ishaq, daripada beberapa sahabat Amir al-Mukminin a.s telah berkata: Amir al-Muminin a.s telah berkata: Ketahuilah bahawa bersahabat dengan orang alim[7] dan pengikut-pengikutnya merupakan agama Allah yang dipercayai, ketaatan kepadanya menambahkan kebaikan, menghilangkan kejahatan, [beliau adalah] simpanan mukminin, dapat meninggikan kedudukan dan kebaikan mereka selepas kematian”.
.
       (63)-15. Muhammad bin Ismail, daripada al-Fadhl bin Syadhan, daripada Safwan bin Yahya, daripada Mansur Ibn Hazim berkata: Aku telah berkata kepada Abu Abdillah a.s: Sesungguhynya Allah adalah lebih dihormati dan lebih mulia dari memperkenalkan diri-Nya kepada makhluk-Nya, malah makhluk-Nya mengenaliNya, beliau a.s telah berkata: Apa yang anda telah katakan itu adalah benar. Maka aku telah berkata: Sesiapa yang telah mengetahui bahawa baginya Tuhan, maka sayugia baginya mengetahui bahawa Allah mempunyai keredaan dan kemurkaan dan sesungguhnya beliau tidak mengetahui keredaan-Nya dan kemurkaan-Nya melainkan dengan wahyu atau rasul.
       Justeru, sesiapa yang tidak didatangi wahyu, maka beliau harus mendapatkan para rasul dan apabila beliau bertemu dengan mereka, maka beliau mengetahui bahawa mereka adalah al-Hujjah dan mereka pula wajib ditaati. Aku telah berkata kepada orang ramai: Adakah kamu mengetahui bahawa Rasullah s.a.w adalah seorangHujjah daripada Allah ke atas makhluk-Nya? Mereka telah berkata: Ya, aku telah berkata: Apabila Rasulullah s.a.w mati, maka siapakah al-Hujjah ke atas makhluk-Nya? Mereka telah berkata: Al-Qur’an, lalu aku telah melihat kepada al-Qur’an, maka aku telah dapati Murjiah, Qadariyah dan Zindiq menggunakan hujah  daripada al-Qur’an meskipun mereka tidak mempercayainya. Lantaran itu, aku dapati al-Qur’an tidak menjadi Hujjah kecuali dengan wujud penjaganya. Justeru apa yang dikatakannya itu adalah benar
.
       Aku telah berkata kepada mereka: Siapakah penjaga al-Qur’an? Mereka telah berkata: Ibn Mas‘ud telah mengetahuinya, ‘Umar telah mengetahuinya dan Huzaifah telah mengetahuinya, aku telah berkata: Semuanya? Mereka telah berkata: Tidak, maka aku tidak mendapati seorangpun yang berkata bahawa beliau mengetahui semuanya kecuali Ali a.s. Apabila persoalan mengenai al-Qur’an timbul di kalangan orang ramai, Ibn Mas‘ud telah berkata: Aku tidak mengetahuinya. Sementara seorang lain (‘Umar) telah berkata: Aku tidak mengetahuinya dan seorang lagi (Huzaifah) telah berkata: Aku tidak mengetahuinya. Dan Ini (Ali a.s) telah berkata: Aku mengetahuinya. Lantaran itu, aku naik saksi bahawa Ali a.s adalah penjaga al-Qur’an. Dan Ketaatan kepadanya adalah difardukan (kanat ta‘atu-hu muftaradah). Justeru beliau  adalah al-Hujjah ke atas manusia selepas Rasulullah s.a.w
.
       Dan apa yang dikatakan olehnya tentang al-Qur’an adalah benar. Imam Ja‘afar a.s telah berkata: Semoga Allah merahmati anda. Lalu aku telah berkata: Sesungguhnya Ali a.s tidak tidak mati melainkan beliau a.s telah meninggalkan seorang Hujjah selepasnya sebagaimana dilakukan oleh Rasulullah s.a.w. Sesungguhnya al-Hujjah selepas Ali adalah al-Hasan bin Ali. Aku naik saksi bahawa di atas al-Hasan bahawa beliau tidak pergi melainkan beliau a.s telah meninggalkan seorang Hujjah selepasnya sebagaimana telah dilakukan oleh bapanya dan datuknya. Sesungguhnya al-Hujjah selepas al-Hasan adalah al-Husain dan ketaatan kepadanya adalah difardukan. Lalu beliau a.s telah berkata: Mudah-mudahan Allah merahmati anda
.
       Kemudian aku telah mengucup kepalanya sambil berkata: Aku naik saksi ke atas al-Husain a.s bahawa beliau a.s tidak pergi sehingga beliau meninggalkan seorang Hujjah selepasnya Ali bin al-Husain dan ketaatan kepadanya adalah fardu, maka beliau a.s telah berkata: Mudah-mudahan Allah merahmati anda. Maka aku mengucup kepalanya sambil berkata: Aku naik saksi ke atas Ali bin al-Husain bahawa beliau tidak pergi melainkan beliau a.s telah meninggalkan seorang Hujjah selepasnya Muhammad bin Ali Abu Ja‘far a.s dan ketaatan kepadanya adalah difardukan
.
       Lalu beliau a.s telah berkata: Mudah-mudahan Allah merahmati anda, aku telah berkata: Berilah kepala anda sehingga aku mengucupnya, lalu beliau a.s tersenyum. Aku telah berkata: Aslahaka-llah, sesungguhnya aku telah mengetahui bahawa bapa anda tidak pergi sehingga beliau meninggalkan seorang Hujjah selepasnya sebagaimana dilakukan oleh bapanya. Aku naik saksi bahawa anda adalah Hujjah dan ketaatan kepada anda adalah difardukan, lalu beliau a.s telah berkata: Cukuplah, Mudah-mudahan Allah merahmati anda, aku telah berkata: Berilah kepala anda supaya aku mengucupnya, maka aku pun mengucup kepalanya, maka beliau a.s telah tersenyum sambil berkata: Tanyalah kepadaku apa yang anda mahu, aku tidak akan menentang anda selepas hari ini untuk selama-lamanya”
.
       (64)-16. Muhammad bin Yahya, daripada Ahmad bin Muhammad bin Isa, daripada Muhammad bin Khalid al-Barqiy, daripada al-Qasim bin Muhammad al-Jauhariy, dariapada al-Husain bin Abu al-‘Ala’ berkata: Aku telah berkata kepada Abu Abdillah a.s: Adakah ketaatan kepada para wasi difardukan? Beliau a.s telah berkata: Ya, merekalah yang difirmankan oleh Allah “Taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul dan Uli al-Amri daripada kamu”[8]. Dan merekalah yang difirmankan oleh Allah “Sesungguhnya wali kamu adalah Allah dan Rasul-Nya dan mereka yang beriman yang mendirikan sembahyang dan mengeluarkan zakat di dalam keadaan rukuk”[9]
.
       (65)-17. Ali bin Ibrahim, daripada Muhammad bin Isa, daripada Yunus bin Abd al-Rahman, daripada Hammad, daripada Abd al-A‘la berkata: Aku telah mendengar Abu Abdillah a.s telah berkata: Mendengar dan mentaati adalah pintu-pintu kebaikan, orang yang mendengar lagi mentaati tidak ada hujah bagi menentangnya. Tiada hujah ke atas orang yang mendengar dan menderhakai. Dan hujah Imam muslimin akan sempurna pada hari beliau berjumpa dengan Allah “Pada hari itu, kami akan menyeru orang ramai dengan imam mereka”[10]
.
                                   
                                                                          Bab 9
Sesungguhnya Para Imam Adalah Saksi-Saksi Allah Ke Atas Makhluk-Nya. (fi anna al-A’immah Syuhadaa’ Allah a.w ‘ala khalqi-hi)
.
       (66)-1. Ali bin Muhammad, daripada Sahal bin Ziyad, daripada Ya‘qub bin Yazid, daripada Ziyad al-Qandiy daripada Sama‘ah berkata: Abu Abdillah a.s telah berkata tentang firman Allah a.w “Maka bagaimanakah apabila Kami mendatangkan seorang saksi bagi setiap umat dan Kami mendatangkan kamu sebagai saksi di atas mereka?”[11] Beliau a.s telah berkata: Ayat ini telah diturunkan kepada umat Muhammad s.a.w secara khusus, pada setiap kurun seorang imam daripada kami akan menjadi saksi ke atas mereka dan Muhammad s.a.w adalah menjadi saksi ke atas kami pula”
       (67)-2. Al-Husain bin Muhammad, daripada Mu‘alla bin Muhammad, daripada al-Hasan bin Ali al-Wasyaa’, daripada Muhammad bin ‘A’idh, daripada ‘Umar bin Udhinah, daripada Buraid al-‘Ajaliy berkata: Aku telah bertanya Abu Abdillah a.s tentang firman Allah a.w “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu umat yang adil agar kamu menjadi saksi atas manusia”[12] Beliau a.s telah berkata: Kamilah umat yang adil (ummatan wasatan) dan kamilah saksi-saksi Allah ke atas makhluk-Nya danHujjah-Hujjah-Nya di bumi-Nya (nahnu al-Ummat al-Wusta wa nahnu syuhadaa’ llahi wa hujaji-hi fi ardi-hi). Aku telah bertanya tentang firman Allah a.w “Agama bapa kamu Ibrahim
.
       Beliau a.s telah berkata: Kamilah yang dimaksudkan dengan ayat ini secara khusus “Dialah yang telah menamakan kamu Muslimin sebelumnya” di dalam kitab-kitab yang terdahulu (dan pada ini) al-Qur’an (Supaya Rasul menjadi saksi ke atas kamu)[13]Justeru Rasul adalah saksi ke atas kami di atas apa yang telah kami sampaikan daripada Allah a.w dan kamilah saksi-saksi di atas manusia. Lantaran itu, sesiapa yang membenarkan kami, maka kami akan membenarkan mereka pada hari Kiamat. Dan sesiapa yang membohongi kami, maka kami akan membohongi mereka pada hari Kiamat”
.
       (68)-3. Daripada sanad-sanad yang sama, daripada Mu‘alla bin Muhammad, daripada al-Hasan bin Ali, daripada Ahmad bin ‘Umar al-Halal berkata: Aku telah bertanya Abu al-Hasan a.s tentang firman Allah a.w “Apakah orang yang mempunyai bukti yang nyata daripada Tuhannya dan diikuti pula oleh seorang saksi daripada-Nya”[14] Maka  beliau a.s telah berkata: Amir al-Mukminin a.s adalah saksi ke atas Rasulullah s.a.w dan Rasulullah s.a.w adalah bukti daripada Tuhan-Nya”
.
       (69)-4. Ali bin Ibrahim, daripada bapanya, daripada Muhammad bin Abu ‘Umair, daripada Ibn Udhinah, daripada Buraid al-‘Ajaliy berkata: Aku telah bertanya kepada Abu Ja‘far a.s mengenai firman Allah a.w “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu umat yang adil agar kamu menjadi saksi atas manusia”[15] Beliau a.s telah berkata: Kamilah umat yang adil (wasatan), kamilah saksi-saksi Allah ke atas makhluk-Nya dan Hujjah-Hujjah-Nya di bumi-Nya. Aku bertanya mengenai firman-Nya “Wahai mereka yang beriman, rukuklah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan. Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu”[16]
.
       Beliau a.s telah berkata: Ianya dimaksudkan kepada kami dan kamilah yang terpilih. “Dan Dia tidak menjadikan untuk kami di dalam agama suatu kesempitan” Kesempitan itu adalah lebih teruk daripada kesesakan. “Agama bapa kami Ibrahim” Ianya dimaksudkan kepada kami secara khusus.
“(Dia) telah menamakan kamu Muslimin” Allah telah menamakan kami Muslimin “sebelumnya” di dalam kitab-kitab yang terdahulu (dan pada ini) al-Qur’an (Supaya Rasul menjadi saksi ke atas kamu)[17]Justeru Rasul adalah saksi ke atas kami di atas apa yang telah kami sampaikan daripada Allah a.w dan kamilah saksi-saksi atas manusia. Lantaran itu, sesiapa yang membenarkan kami, maka kami akan membenarkan mereka pada hari Kiamat. Dan sesiapa yang membohongi kami, maka kami akan membohongi mereka pada hari Kiamat”
      .
       (70)-5. Ali bin Ibrahim, daripada bapanya, daripada Hammad bin Isa, daripada Ibrahim bin ‘Umar al-Yamaniy, daripada Sulaim bin Qais al-Hilali, daripada Amir al-Mukminin a.s telah berkata: Sesungguhnya Allah telah membersihkan kami, menjaga kami dan telah menjadikan kami saksi-saksi ke atas makhluk-Nya. Kamilah Hujjah-Hujjah-Nya di bumi-Nya. Dia telah menjadikan kami bersama al-Qur’an dan al-Qur’an bersama kami, kami tidak berpisah dengannya dan ia tidak berpisah dengan kami”
.
Bab 10
Sesungguhnya Para Imam A.S Adalah Penunjuk (anna al-A’immah A.S Hum al-Hudaat)
       (71-1. Daripada beberapa orang sahabat kami, daripada Ahmad bin Muhammad, daripada al-Husain bin Sa‘id, daripada al-Nadhar Ibn Suwaid dan Fadhalah bin Ayyub, daripada Musa bin Bakr, daripada al-Fudhail berkata: Aku telah bertanya Abu Abdillah a.s mengenai firman Allah a.w “Dan setiap kaum itu ada orang yang memberi petunjuk”[18] Beliau a.s telah berkata: Setiap Imam adalah petunjuk kepada kaum pada kurun yang mana beliau berada padanya”
.
       (72)-2. Ali bin Ibrahim, daripada bapanya, daripada Muhammad bin Abu ‘Umair, daripada Ibn Udhinah, daripada Buraid al-‘Ajaliy, daripada Abu Ja‘far a.s tentang firman Allah a.w “Sesungguhnya kamu hanya seorang yang memberi peringatan dan setiap kaum ada orang yang memberi petunjuk”[19] Beliau a.s telah berkata: Rasulullah s.a.w adalah orang yang memberi peringatan dan setiap zaman ada seorang petunjuk daripada kami yang menunjukkan mereka kepada apa yang dibawa oleh nabi Allah s.a.w. Kemudian penunjuk-penunjuk selepasnya adalah Ali, kemudian para wasi seorang selepas seorang”
.
       (73)-3. Al-Husain bin Muhammad al-Asy‘ari, daripada Mu‘alla bin Muhammad, daripada Muhammad bin Jumhur, daripada Muhammad bin Ismail, daripada Sa‘daan daripada Abu Basir berkata: Aku telah berkata kepada Abu Abdillah a.s “Sesungguhnya kamu hanya seorang yang memberi peringatan dan setiap kaum ada orang yang memberi petunjuk”[20] Beliau a.s telah berkata: Rasulullah s.a.w adalah orang yang memberi peringatan (al-Mundhir) dan Ali adalah orang yang memberi petunjuk (al-Haadi). Wahai Abu Muhammad, adakah orang yang memberi petunjuk pada hari ini? Aku telah berkata: Ya, aku telah menjadikan diriku tebusan anda, sentiasa ada orang yang memberi petunjuk selepasnya sehingga ia diberikan kepada anda, maka beliau a.s telah berkata: Allah memberi rahmat kepada anda, wahai Abu Muhammad, sekiranya satu ayat itu diturunkan atas seorang lelaki, kemudian lelaki itu mati, maka matilah ayat itu dan matilah al-Kitab, tetapi ia (hidayah) masih hidup dan berlaku kepada orang yang masih hidup sebagaimana ia telah berlaku kepada orang yang terdahulu”
.
       (74)-4. Muhammad bin Yahya, daripada Ahmad bin Muhammad, daripada al-Husain bin Sa‘id, daripada Safwan, daripada Mansur, daripada ‘Abd al-Rahim al-Qasir, daripada Abu Ja‘far a.s mengenai firman Allah “Sesungguhnya kamu hanya seorang yang memberi peringatan dan setiap kaum ada orang yang memberi petunjuk”[21] Beliau a.s telah berkata: Rasulullah adalah orang yang memberi peringatan (al-Mundhir) dan Ali adalah orang yang memberi petunjuk. Demi Allah, ia (hidayah) tidak pergi daripada kami dan ia sentiasa pada kami”
.
                                                                         Bab 11
 
Sesungguhnya Para Imam A.S Adalah Uli Amri LLahiDan Penyimpan Ilmu-Nya (anna al-A’immah a.s wulaat amri llahi wa khazanat ‘ilmi-hi
      
       (75)-1. Muhamad bin Yahya al-‘Attar, daripada Ahmad bin Abu Zahir, daripada al-Hasan bin Musa, daripada Ali bin Hassan, daripada Abd al-Rahman bin Kathir berkata: Aku telah mendengar Abu Abdillah a.s telah berkata: Kamilah wulaat amri llah, penyimpan ilmu Allah dan bekas wahyu Allah”
.
       (76)-2. Daripada beberapa orang daripada sahabat kami, daripada Ahmad bin Muhammad, daripada al-Husain bin Sa‘id, daripada Ali bin Asbaat, daripada bapanya Asbat, daripada Surat bin Kulaib berkata: Abu Ja‘far a.s telah berkata kepadaku: Demi Allah, sesungguhnya kami adalah penyimpan khazanah Allah di langit-Nya dan di bumi-Nya, bukan di atas emas dan perak, tetapi di atas ilmu-Nya”
.
       (77)-3. Ali bin Musa, daripada Ahmad bin Muhammad, daripada al-Husain bin Sa‘id dan Muhammad bin Khalid al-Barqiy, daripada al-Nadhar bin Suwaid secara marfu’, daripada Abu Ja‘far a.s telah berkata: Aku telah berkata kepadanya: Aku telah menjadikan diriku tebusan anda, apakah kedudukan kamu semua?[22] Beliau a.s telah berkata: Kamilah penyimpan ilmu Allah (nahnu Khazzan ‘ilmi llahi), kamilah terjemahan wahyu Allah [23](nahnu taraajumati wahyi llahi) dan kamilahHujjah Allah yang menyampaikan (hujah) kepada orang yang berada di langit dan di bumi”
.
       (78)-4. Muhammad bin Yahya, daripada Muhammad bin al-Husain, daripada al-Nadhar bin Syu‘aib, daripada Muhammad bin Fudhail daripada Abu Hamzah berkata: Aku telah mendengar Abu Ja‘far a.s telah berkata: Rasulullah s.a.w telah bersabda: Allah telah berfirman[24]: Kesempurnaan hujahku adalah di atas mereka yang celaka daripada umatmu yang telah menjauhkan wilayah Ali dan [wilayah] para wasi selepasmu kerana pada merekalah sunnahmu dan sunnah para nabi sebelum daripadamu. Mereka adalah penyimpan ilmu-Ku selepas kamu” Kemudian Rasulullah s.a.w telah bersabda: Sesungguhnya Jibrail a.s telah menceritakan kepadaku nama-nama mereka dan nama-nama bapa mereka”
.
       (79)-5. Ahmad bin Idris, daripada Muhammad bin Abd al-Jabbar, daripada Muhammad bin Khalid, daripada Fadhalah bin Ayyub, daripada Abdullah bin Abu Ya‘fur berkata: Abu Abdillah a.s telah berkata: Wahai Ibn Abu Ya‘fur, sesungguhnya Allah adalah Satu di dalam kesatuan, Tunggal di dalam perintah-Nya, maka Dia telah menciptakan makhluk, lalu Dia menetapkan perintah untuk mereka. Maka kamilah mereka itu, wahai Ibn Abi Ya‘fur, Kamilah Hujjah-Hujjah Allah pada hamba-hamba-Nya, [kamilah] penyimpan ilmu-Nya dan kamilah yang menjalankan perintah-Nya”
.
       (80)-6. Ali bin Muhammad, daripada Sahal bin Ziyad, daripada Musa bin al-Qasim bin Mu‘awiyah dan Muhammad bin Yahya, daripada  ‘Umar Kiyy bin Ali, daripada Ali bin Ja‘far, daripada Abu al-Hasan Musa a.s telah berkata: Abu Abdillah a.s telah berkata: Sesungguhnya Allah telah menciptakan kami, lalu Dia menciptakan kami dengan baik. Dia telah membentukkan kami (sawwara-na), lalu Dia telah membentuk kami dengan baik. Kemudian Dia telah menjadikan kami bendahari-bendahari-Nya di langit-Nya dan di bumi-Nya. Pokok-pokok bercakap untuk kami dan melalui cara ibadah kami, Allah a.w disembah (bi ‘ibadati-na ‘ubida llahu). Sekiranya kami tidak ada, nescaya Allah tidak disembah (laula-na ma ‘ubida llahu)”[25]
                           .          
  Bab 12
Sesungguhnya Para Imam A.S Adalah Khalifah Allah A.W Di Bumi-Nya Dan Pintu-Pintu-Nya Yang Di Datangi (anna al-A’immah a.s khulafa’ Allah fi ardhi-hi wa abwabu-hu al-Lati min-ha yu’ta
       (81)-1. Al-Husain bin Muhammad al-Asy‘ari, daripada Mu‘alla bin Muhammad, daripada Ahmad bin Muhammad, daripada Abu Mas‘ud, daripada al-Ja‘fari berkata: Aku telah mendengar Abu al-Hasan al-Ridha a.s telah berkata: Para imam a.s adalah khalifah Allah a.w di bumi-Nya”.
.
       (82)-2. Daripadanya, daripada Mu‘alla, daripada Muhammad bin Jumhur, daripada Sulaiman bin Samaa‘ah, daripada Abdullah bin al-Qasim, daripada Abu Basir berkata: Abu Abdillah a.s telah berkata: Para wasi adalah pintu-pintu Allah a.w yang di datangi. Jika mereka tidak ada, nescaya Allah tidak diketahui dan dengan merekalah Allah telah berhujah ke atas makhluk-Nya”
.
       (83)-3. Al-Husain bin Muhammad, daripada Mu‘alla bin Muhammad, daripada al-Wasyaa’, daripada Abdullah bin Sinan berkata: Aku telah bertanya Abu Abdillah a.s mengenai firman Allah Jalla Jalalah “Allah telah berjanji kepada mereka yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahawa Dia akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan mereka sebelum mereka berkuasa”[26] Beliau a.s telah berkata: Mereka itu adalah para imam a.s.”
                                     
.
                                                                               Bab 13
Sesungguhnya Para Imam A.S Adalah Cahaya Allah A.W (anna al-A’immah a.s nuru llah a.w)
       (84)-1. Al-Husain bin Muhammad, daripada Mu‘alla bin Muhammad, daripada Ali bin Mirdas berkata: Safwan bin Yahya dan al-Hasan bin Mahbub telah meriwayatkan kami daripada Abu Ayyub, daripada Abu Khalid al-Kaabili berkata: Aku telah bertanya Abu Abdillah a.s tentang firman Allah a.w “Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada cahaya yang telah kami turunkan”[27]Maka beliau a.s telah berkata: Wahai Abu Khalid, cahaya, demi Allah, adalah cahaya para imam daripada keluarga Muhammad  s.a.w sehingga hari Kiamat. Mereka, demi Allah, adalah cahaya Allah yang Dia telah menurunkannya dan mereka, demi Allah, adalah cahaya Allah di langit dan di bumi
.
       Demi Allah, wahai Abu Khalid, cahaya Imam pada hati mukminin adalah lebih bercahaya daripada matahari yang bersinar di siang hari (la-nur al-Imam fi qulub al-Mu’minin anwar min al-Syams al-Mudhi’ah bi al-Nahar). Mereka, demi Allah, menyinari hati mukminin. Allah menghalang cahaya mereka daripada sesiapa yang Dia kehendaki, lalu hati mereka menjadi gelap. Demi Allah, wahai Abu Khalid, seorang hamba tidak mencintai kami dan mewalikan kami (wa llahi, ya Aba Khalid, la yuhibbu-na ‘abdun wa yatawallaa-na) sehingga Allah membersihkan hatinya (hatta yutahhira llahu qalba-hu) dan Allah tidak membersihkan hati seorang hamba sehingga beliau menyerahkan dirinya kepada kami (wa la yutahirru llahu qalba ‘abdin hatta yusallima la-na) serta berdamai dengan kami [28](wa yakun silman la-na). Apabila beliau berdamai dengan kami, maka Allah melindunginya dari ketakutan Hisab dan menyelamatkannya dari ketakutan yang lebih besar pada hari Kiamat”
.
       (85)-2. Ali bin Ibrahim dengan sanad-sanadnya, daripada Abu Abdillah a.s tentang firman Allah “Mereka yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang mereka mendapatinya tertulis di dalam Turat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang makruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka mereka yang beriman kepada-nya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang diturunkan kepadanya, maka itulah mereka yang beruntung”[29] Beliau a.s telah berkata: Cahaya pada ayat ini adalah [Ali] Amir al-Mukminin a.s dan para imam a.s.
.
       (86)-3. Ahmad bin Idris, daripada Muhammad bin Abd al-Jabbar, daripada Ibn Fadhdhal, daripada Tha‘labah bin Maimun, daripada Abu Jarud berkata: Aku telah berkata kepada Abu Ja‘far a.s: Allah telah kurniakan kepada Ahlu l-Kitab kebaikan yang banyak. Beliau a.s telah berkata: Apakah itu? Aku telah berkata: Firman Allah “Golongan yang telah Kami datangkan kepada mereka al-Kitab sebelumnya al-Qur’an, mereka beriman dengan al-Qur’an itu. Apabila dibacakan kepada mereka, mereka telah berkata: Kami beriman kepadanya; sesungguhnya al-Qur’an itu suatu kebenaran dari Tuhan kami sesungguhnya kami sebelumnya adalah mereka yang membenarkan(nya). Mereka itu diberi pahala dua kali disebabkan kesabaran mereka”[30]
.
       Beliau a.s telah berkata: Sesungguhnya Allah telah kurniakan kepada kamu sebagaimana Dia telah kurniakan kepada mereka. Kemudian beliau a.s telah membaca firman-Nya: “Wahai mereka yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, nescaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bahagian dan menjadikan untukmu cahaya dan dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dengannya”[31] Iaitu Imam yang kamu ikutinya”
.
       (87)-4. Ahmad bin Mihran, daripada Abd al-‘Azim bin Abdullah al-Hasani, daripada Ali bin Asbaat dan al-Hasan bin Mahbub, daripada Ayyub, daripada Abu Khalid al-Kabiliy berkata: Aku telah bertanya Abu Abdillah mengenai firman Allah “Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada cahaya yang telah kami turunkan”[32]Maka beliau a.s telah berkata: Wahai Abu Khalid, cahaya, demi Allah, adalah cahaya para imam daripada keluarga Muhammad  s.a.w sehingga hari Kiamat. Mereka, demi Allah, adalah cahaya Allah yang mana Dia telah menurunkannya dan mereka, demi Allah, adalah cahaya Allah di langit dan di bumi. Demi Allah, wahai Abu Khalid, cahaya Imam pada hati mukminin adalah lebih bercahaya daripada matahari yang bersinar di siang hari (la-nur al-Imam fi qulub al-Mu’minin anwar min al-Syams al-Mudhi’ah bi al-Nahar). Mereka, demi Allah, menyinari hati mukminin. Allah menghalang cahaya mereka daripada sesiapa yang Dia kehendaki, lalu hati mereka menjadi gelap dan Dia menutup mereka dengannya”
.
       (88)-5. Ali bin Muhammad, dan Muhammad bin al-Hasan, daripada Sahal bin Ziyad, daripada Muhammad bin al-Hasan bin Syammun, daripada Abdullah bin Abd al-Rahman al-Assam, daripada Abdullah bin al-Qasim, daripada Salih bin Sahal al-Hamdani berkata: Abu Abdillah a.s telah berkata mengenai firman Allah “Allah adalah cahaya langit dan bumi perumpamaan cahaya-Nya adalah sebuah lubang yang tak tembus (Fatimah a.s) yang di dalamnya ada pelita besar (al-Hasan). Dan pelita itu di dalam kaca (al-Husain), kaca itu seakan-akan bintang yang bercahaya seperti mutiara (Fatimah a.s adalah bintang yang bercahaya di antara wanita dunia) yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkatnya (Ibrahim a.s), pohon zaiton yang tumbuh tidak di sebelah timur dan tidak pula di sebelah barat (bukan yahudi dan bukan pula kristian) minyaknya hampir-hampir menerangi (hampir-hampir ilmunya terpancar) walaupun tidak disentuh api, cahaya di atas cahaya (Imam daripadanya selepas Imam). Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki (Allah membimbing kepada para imam a.s mereka yang Dia kehendaki) Dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan kepada manusia”[33]
.
       Aku telah bertanya kepadanya mengenai firman Allah “Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam yang diliputi oleh ombak” Beliau a.s telah berkata: Orang yang pertama (al-Awwal)[34] dan sahabatnya (wa sahibu-hu)[35] “gelap gulita yang ditutupi oleh ombak” Orang yang ketiga (al-Thalith)[36] di atasnya awan yang gelap gulita(orang yang kedua)[37] yang bertindih-tindih (Mu‘awiyahla‘ana-hu llahu dan fitnah Bani Umayyah) apabila dia mengeluarkan tangannya (mukmin di dalam kegelapan fitnah mereka) dia tidak dapat melihatnya dan sesiapa yang  Allah tidak menjadikan cahaya untuknya (Imam daripada anak lelaki Fatimah a.s) tidak ada baginya cahaya[38] (Imam pada hari Kiamat)
.
       Dan beliau a.s telah berkata mengenai firman Allah “Pada hari ketika kamu melihat orang mukmin lelaki dan perempuan sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka”[39]: Pada hari Kiamat para imam mukminin berjalan di hadapan mukminin dan di kanan mereka sehingga mereka ditempatkan bersama penghuni syurga”
.
       Ali bin Muhammad dan Muhammad bin al-Hasan, daripada Sahal bin Ziyad, daripada Musa bin al-Qasim al-Bajaliy dan Muhammad bin Yahya, daripada Umar Kiyy bin Ali, daripada Ali bin Ja‘far a.s, daripada saudara lelakinya Musa a.s seumpamanya.
.
       (89)-6. Ahmad bin Idris, daripada al-Husain bin Abdullah, daripada Muhammad bin al-Hasan dan Musa bin Umar, daripada al-Hasan bin Mahbub, daripada Muhammad bin Fudhail, daripada Abu al-Hasan a.s telah berkata: Aku telah bertanya beliau a.s mengenai firman Allah t.w “Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut-mulut mereka”[40] Beliau a.s telah berkata: Mereka ingin memadamkan wilayah Amir al-Mukminin a.s dengan mulut-mulut mereka”. Aku telah berkata: Firman-Nya “Dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya”[41] Beliau a.s telah berkata: Allah akan menyempurnakanimamah dan imamah adalah cahaya sebagaimana firman-Nya “Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada cahaya yang telah kami turunkan”[42] Beliau a.s telah berkata: Cahaya itu adalah Imam (al-Nur huwa al-Imam)”
.
                                                                                   Bab 14
Sesungguhnya Para Imam A.S Adalah Tiang-Tiang Bumi (anna al-A’immah hum arkaan al-Ardh)☼
      
       (90)-1. Ahmad bin Mihran, daripada Muhammad bin Ali dan Muhammad bin Yahya, daripada Ahmad bin Muhammad, daripada Muhammad bin Sinan, daripada al-Mufadhdhal bin Umar, daripada Abu Abdillah a.s telah berkata: Apa yang dibawa oleh Ali, maka aku menerimanya dan apa yang beliau a.s menegahnya, maka aku meninggalkannya. Kelebihan yang dikurniakan kepadanya adalah seperti kelebihan Muhammad s.a.w, tetapi kelebihan Muhammad s.a.w adalah di atas semua makhluk Allah a.w. Sesiapa yang mengambil pengecualian daripada hukum-hukumnya, maka beliau sepertilah mengambil pengecualian daripada Allah dan Rasul-Nya. Sesiapa yang menolak mana-mana hukumnya sama ada kecil atau besar, maka beliau berada di atas batasan syirik kepada Allah (wa al-Raadd ‘alai-hi fi saghirah au kabirah ‘ala hadd al-Syirk bi-llah)
.
       Amir al-Mukminin a.s adalah pintu Allah yang tidak dimasuki kecuali menerusinya (baab Allah al-Ladhi la yu’ta illa min-hu), jalan-Nya yang mana orang yang berjalan selain daripada jalannya akan binasa (sabilu-hu al-ladhi man salaka bi-ghairi-hi halaka). Demikianlah ia berlaku kepada para imam petunjuk seorang selepas seorang (waahid ba‘d waahid), Allah telah menjadikan mereka tiang-tiang bumi yang kukuh bersama penghuninya danHujjah-Nya yang sampai kepada mereka yang berada di bumi dan di bawah bumi. Amir al-Mukminin a.s pernah berkata beberapa kali: Akulah pembahagi [yang dilantik oleh] Allah di antara syurga dan neraka (ana qasiim Allah bain al-Jannah wa al-Nar)
.
       Akulah al-Faaruq yang paling besar (ana al-Faruq al-Akbar)[43], akulah sahabat tongkat dan tanda[44] (ana sahib al-‘Asa wa Misam) yang mana semua para malaikat, Roh dan para rasul telah mengakuiku sebagaimana mereka telah mengakui Muhammad s.a.w[45] (wa laqad aqarrat li jami‘ al-malaikat wa al-Ruh wa al-Rusul bi-mithli ma aqarru bi-hi Muhammad s.a.w). Sesungguhnya aku telah dibebankan sebagaimana baginda s.a.w dibebankan oleh Tuhan. Sesungguhnya Rasulullah s.a.w dipanggil dan dipakaikan kepadanya, maka begitu juga aku akan dipanggil dan akan dipakaikan untukku
.
       Baginda s.a.w akan disoal, maka aku juga akan disoal dan aku akan menjawab sebagaimana jawapannya. Aku telah dikurniakan beberapa sifat keistimewaan yang mana tiada seorangpun yang telah mendahuluiku kepadanya sebelumku. Aku telah diajar ilmu kematian (al-Manaaya), ilmu bala (al-Balaaya), dan ilmu keturunan (al-Ansaab) serta kefasihan bercakap (fasl al-Khitab). Tidak ada perkara yang telah berlaku, hilang dari ilmuku dan tidak ada perkara yang jauh dariku akan terlepas dariku. Aku memberi khabar gembira dengan izin Allah, aku melaksanakan [apa] yang datang daripadaNya. Semua ini adalah daripada Allah dan Dia telah kurniakan kuasa kepadaku mengenainya menurut ilmu-Nya”
.
       Al-Hasan bin Muhammad al-Asy‘ari, daripada Mu‘alla bin Muhammad, daripada Muhammad bin Jumhur al-‘Amiy, daripada Muhammad bin Sinan berkata: Al-Mufadhdhal telah meriwayatkannya kepada kami, berkata: Aku telah mendengar Abu Abdillah a.s telah berkata, kemudian beliau a.s telah menyebut hadis yang pertama.
.
       (91)-2. Ali bin Muhammad, dan Muhammad bin al-Hasan, daripada Sahal bin Ziyad, daripada Muhammad bin al-Walid Syabab al-Sairafi berkata: Sa‘id al-A‘raj telah memberitahu kepada kami, lalu berkata: Aku dan Sulaiman bin Khalid telah berjumpa dengan Abu Abdillah a.s, lalu beliau a.s telah mula bercakap dengan kami: Wahai Sulaiman, apa yang datang daripada Amir al-Mukminin a.s, mestilah diterima dan apa yang ditegah olehnya, mestilah dihentikan
.
       Kelebihan yang dikurniakan kepadanya adalah seperti kelebihan Muhammad s.a.w, tetapi kelebihan Muhammad s.a.w adalah di atas semua makhluk Allah a.w. Sesiapa yang mengambil pengecualian daripada hukum-hukumnya, maka beliau sepertilah mengambil pengecualian daripada [hukum-hukum] Allah dan Rasul-Nya. Sesiapa yang menolak mana-mana hukumnya sama ada kecil atau besar, maka beliau berada di atas batasan syirik kepada Allah (wa al-Raadd ‘alai-hi fi saghirah au kabirah ‘ala hadd al-Syirk bi-llah)
.
       Amir al-Mukminin a.s adalah pintu Allah yang tidak dimasuki kecuali menerusinya (baab Allah al-Ladhi la yu’ta illa min-hu), jalan-Nya yang mana orang yang berjalan selain daripada jalannya akan binasa (sabilu-hu al-ladhi man salaka bi-ghairi-hi halaka). Demikianlah ia berlaku kepada para imam petunjuk seorang selepas seorang (waahid ba‘d waahid), Allah telah menjadikan mereka tiang-tiang bumi yang kukuh bersama penghuninya dan Hujjah-Nya yang sampai kepada mereka yang berada di bumi dan di bawah bumi
.
       Amir al-Mukminin a.s pernah berkata beberapa kali: Akulah pembahagi [yang dilantik oleh] Allah di antara syurga dan neraka (ana qasiim Allah bain al-Jannah wa al-Nar). Akulah al-Faaruq yang paling besar (ana al-Faruq al-Akbar), akulah sahabat tongkat dan tanda (ana sahib al-‘Asa wa Misam) yang mana semua para malaikat, Roh dan para rasul telah mengakuiku sebagaimana mereka telah mengakui  Muhammad s.a.w (wa laqad aqarrat li jami‘ al-malaikat wa al-Ruh wa al-Rusul bi-mithli ma aqarru bi-hi Muhammad s.a.w). Sesungguhnya aku telah dibebankan sebagaimana beliau s.a.w dibebankan oleh Tuhan. Sesungguhnya Rasulullah s.a.w dipanggil dan dipakaikan kepadanya, maka begitu juga aku akan dipanggil dan akan dipakaikan untukku. Beliau s.a.w akan disoal, maka aku juga akan disoal dan aku akan menjawab sebagaimana jawapannya
.
       Aku telah dikurniakan beberapa sifat keistimewaan yang mana tiada seorangpun yang telah mendahuluiku kepadanya sebelumku. Aku telah diajar ilmu kematian (al-Manaaya), ilmu bala (al-Balaaya), dan ilmu keturunan (al-Ansaab) serta kefasihan bercakap (fasl al-Khitab). Tidak ada perkara yang telah berlaku, hilang dari ilmuku dan tidak ada perkara yang jauh dariku akan terlepas dariku. Aku memberi khabar gembira dengan izin Allah, aku melaksanakan [apa] yang datang daripadaNya. Semua ini adalah daripada Allah dan Dia telah kurniakan kuasa kepadaku mengenainya menurut ilmu-Nya”
.
       (92)-3. Muhammad bin Yahya dan Ahmad bin Muhammad, daripada Muhammad bin al-Hasan, daripada Ali bin al-Hassan berkata: Abu Abdillah al-Riyaahi telah meriwayatkan kepadaku, daripada Abu al-Samit al-Hilwaani, daripada Abu Ja‘far a.s telah berkata: Kelebihan Amir al-Mukminin a.s adalah: Aku menerima apa yang dibawa olehnya dan aku menghentikan apa yang dilarang olehnya. Kewajiban mentaatinya adalah selepas Rasulullah s.a.w seperti ketaatan kepada Rasulullah s.a.w, tetapi kelebihan adalah kepada Muhammad s.a.w
.
       Orang yang mendahuluinya adalah seperti orang yang mendahului Allah dan Rasul-Nya (al-Mutaqaddim baina yadai-hi ka al-Mutaqaddim ‘ala Allah wa Rasuli-hi). Orang yang memikirkan sesuatu melebihi Ali a.s adalah seperti orang yang memikir sesuatu melebihi Rasulullah s.a.w. (al-Mutafadhdhil ‘alai-hi ka al-Mutafadhdhil ‘ala Rasulillah s.a.w) Orang yang menentangnya sama ada kecil atau besar adalah di atas batas syirik dengan Allah. Kerana Rasulullah s.a.w adalah pintu Allah yang tidak boleh dimasuki melainkan menerusinya dan jalan-Nya yang mana sesiapa yang berjalan akan sampai kepada Allah a.w. Demikianlah keadaan Amir al-Mukminin a.s dan para imam a.s selepasnya, seorang selepas seorang. Allah telah menjadikan mereka tiang-tiang bumi yang kukuh bersama penghuninya, penolong Islam dan ikatannya menurut jalan petunjuk
.
       Seorang tidak mendapat hidayah kecuali dengan hidayah mereka dan tidak tersesat orang yang keluar daripada petunjuk kecuali dengan mengabaikan hak mereka. Mereka adalah penjaga ilmu Allah, kemaafan dan peringantan-Nya yang diturunkan. Hujah yang sampai kepada penghuni bumi. Ia akan berlaku kepada yang akhir mereka sebagaimana telah berlaku kepada yang pertama mereka
.
       Tidak ada seorangpun akan sampai ke peringkat itu melainkan dengan pertolongan Allah. Amir al-Mukminin a.s telah berkata: Akulah pembahagi di antara syurga dan neraka (ana qasiin baina al-Jannah wa  al-Nar), akulah al-Faruq yang paling besar, akulah Imam bagi mereka selepasku (al-Imam li-man ba‘di) dan pelaksana bagi mereka sebelumku. Tidak seorangpun yang akan mendahuluiku kecuali Ahmad s.a.w[46]. Sesungguhnya aku dan beliau s.a.w di atas jalan yang satu selain beliau s.a.w dipanggil dengan namanya dan aku dikurniakan dengan enam perkara[47]: Ilmu tentang kematian, ilmu tentang bala, ilmu wasiat, ilmu kefasihan bercakap. Sesungguhnya aku adalah sahabat al-Karraat [48]dan pusingan. Akulah sahabat tongkat dan tanda serta al-Daabah[49] yang bertutur dengan manusia”
.
[1] Surah al-Nisaa’ (4): 80
[2] Surah al-Nisaa’ (4):54
[3] Mereka wajib ditaati.
[4] Surah al-Nisaa’ (4): 54
[5] Surah al-Nisaa’ (4):56
[6] Surah al-Maidah (5): 55
[7] Imam Ahlu l-Bait a.s
[8] Surah al-Nisaa’ (4): 59
[9] Surah al-Ma’idah (5): 55
[10] Surah al-Israa’ (17): 71
[11] Surah al-Nisaa’ (4):41
[12] Surah al-Baqarah (2): 143
[13] Surah al-Hajj( 22): 78
[14] Surah Hud (11): 17
[15] Surah al-Baqarah (2): 143
[16] Surah al-Hajj (22): 77-76
[17] Surah al-Hajj (22): 78
[18] Surah al-Ra‘d (13): 7
[19] Ibid
[20] Surah al-Ra‘d (13):7
[21] Surah al-Ra‘d (13):7
[22] Kedudukan kamu para imam a.s
[23] Kamilah penterjemah kepada wahyu-Nya.
[24] Di dalam hadis kudsi.
[25] Wajib mengikuti cara ibadat para imam a.s bagi mendapatkan keredaan Allah.
[26] Surah al-Nuur (24): 55
[27] Surah al-Taghaabun (64: 8
[28] Rasulullah s.a.w telah bersabda: Aku berperang dengan orang yang memerangi mereka (Ahlu l-Bait a.s) dan aku berdamai dengan orang yang berdamai dengan mereka”
[29] Surah al-A ‘raaf (7): 157
[30] Surah al-Qasas (28):52-54
[31] Surah al-Hadiid (57):28
[32] Surah al-Taghaabun (64: 8
[33] Surah al-Nuur (24):40
[34] Abu Bakr
[35] Umar
[36] Uthman
[37] Umar
[38] Surah al-Nuur (24: 40
[39] Surah al-Hadiid (57):12
[40] Surah al-Saf (61): 8
[41] Ibid
[42] Surah al-Taghaabun (64: 8
[43] Orang dapat membezakan di antara kebenaran dan kebatilan yang paling besar.
[44] Dapat membezakan kafir dan muslim dengan tanda di muka mereka.
[45] Mereka berdua adalah satu cahaya yang dibahagikan kepada dua. Lantaran itu, Rasulullah s.a.w telah bersabda: Aku daripada Ali dan Ali daripadaku”
[46] Muhammad s.a.w
[47] Kelebihan Imam Ali a.s tidak terkira banyaknya, tetapi kelebihan Rasulullah s.a.w mengatasi kelebihan Ali a.s.
[48] Peredaran masa. Di dalam ertikata yang lain, Imam Ali a.s adalah sahabat raj‘ah yang kembali lagi ke dunia apabila Allah kehendaki.
[49] Asal pengertiannya adalah binatang berkaki empat. Manusia adalah separuh binatang di dalam ilmu mantik.
[50] Surah al-An‘aam (6): 38
[51] Surah al-Ma’idah (5): 3
[52] Surah al-Anbiyaa’ (21): 72-73
[53] Surah Ali Imraan (3): 68
[54] Melainkan beliau seorang Imam
[55] Surah al-Taubah (9): 30
[56] Surah al-‘Ankabuut (29): 38
[57] Surah al-Qasas (28): 68
[58] Surah al-Ahzab (33): 36
[59] Surah al-Qalam (68): 36-41
[60] Surah Muhammad (47): 24
[61] Surah al-Taubah (9):87
[62] Surah al-Anfaal (8):21-23
[63] Surah al-Baqarah (2): 93
[64] Surah al-Hadiid (57: 21, Surah al-Jumu‘ah (62): 4
[65] Surah Yunus (10): 35
[66] Surah al-Baqarah (2): 269
[67] Surah al-Baqarah (2): 247
[68] Surah al-Nisaa’ (4):113
[69] Surah al-Nisaa’ (4): 54-55
[70] Surah al-Hadiid (57): 21 dan Surah al-Qasas (28): 50
[71] Surah al-Qasas (28): 50
[72] Surah Muhammad (47): 8
[73] Surah al-Mu’min (40): 35
[74] Para imam a.s
[75] Imam a.s
[76] Surah al-A‘raaf (7): 159
[77] Penciptaan para imam a.s adalah lebih awal daripada penciptaan makhluk-Nya yang lain.
[78] Tentang imamah.
[79] Imam a.s

Umpama ilmu Ahlu l-Bait a.s, hukum mengingkari imam daripada Allah daripada Kitab al-Ikhtisas oleh Syeikh al-Mufid w.413 H

       Ishaq bin ‘Ammar daripada Abu Abdullah a.s: Sesungguhnya umpama Ali bin Abu Talib a.s, dan umpama kami selepasnya pada umat ini sepertilah Nabi Musa, dan Nabi Khidir a.s, Nabi Musa a.s telah memohon untuk bercakap dengan Nabi Khidir a.s, dan meminta persahabatan dengannya, kisah mereka berdua telah diceritakan oleh Allah di dalam Surah al-A‘raf (7) :144 “bahawa Allah telah berkata kepada Musa  wahai Musa sesungguhnya Aku telah memilih kamu dari manusia yang lain untuk membawa risalah-Ku dan untuk berbicara langsung dengan-Ku, sebab itu berpegang teguhlah kepada apa yang Aku telah berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur”
      
Kemudian Dia berfirman di dalam Surah yang sama:145 “Dan telah kami tuliskan untuk Musa pada Lauh-lauh segala sesuatu sebagai pelajaran dan penjelasan bagi segala sesuatu”
.
Nabi Khidir a.s telah memiliki ilmu yang tidak ditulis di lauh-lauh (alwah) Musa, tetapi Musa a.s telah menyangka bahawa semua perkara yang beliau perlukan di dalam kenabiannya, dan semua ilmu telah ditulis untuknya di lauh-lauh sebagaimana mereka yang mendakwa  bahawa mereka adalah ulama dan fuqaha’, diberi semua kefahaman, dan ilmu di dalam agama yang diperlukan umat kepadanya.
.
Mereka  mengesahkan bahawa ia adalah daripada Rasulullah s.a.w, lalu mereka mempelajari dan menghafaznya. Sebenarnya bukan semua ilmu Rasulullah s.a.w mereka telah mempelajarinya, dan bukan semuanya daripada Rasulullah s.a.w, malah mereka tidak mengetahuinya. Suatu perkara sama ada yang halal atau yang haram ditanya kepada mereka, tetapi mereka tidak mempunyai hadis Rasulullah s.a.w tentang perkara tersebut, dan mereka pula menjadi malu apabila  kejahilan dikaitkan kepada mereka, mereka tidak suka mereka ditanya, kerana mereka tidak dapat menjawabnya, lantas orang ramai menuntut ilmu dari galiannya. Justeru itu, mereka telah mengguna pendapat (al-Ra‘yu)dan kias di dalam agama Allah, dan meninggalkan hadis Rasulullah s.a.w.
.
Mereka mendekati Allah dengan berbagai bid‘ah, Rasulullah s.a.w bersabda: Setiap bid‘ah adalah sesat. Jika mereka bertanya sesuatu tentang agama Allah, dan mereka tidak mengetahui hadis Rasulullah s.a.w, maka hendaklah mereka kembalikan kepada Allah, kepada Rasulullah s.a.w, dan kepada Uli l-Amri daripada mereka, nescaya ali Muhammad akan memberitahu kepada mereka, tetapi permusuhan (al-‘adawah) dan hasad telah menghalang mereka dari menuntut ilmu daripada kami, tetapi Nabi Musa a.s tidak pernah mempunyai perasaan hasad kepada Nabi Khidir a.s, beliau telah mengetahui keilmuan Nabi Khidir a.s, lalu beliau telah mengakuinya, dan tidak berhasad dengki kepadanya sebagaimana umat ini telah berhasad dengki kepada kami selepas Rasulullah s.a.w akan keilmuan kami, dan apa yang telah kami warisi daripada Rasulullah s.a.w. Mereka tidak gemar kepada keilmuan kami, tidak sebagaimana Musa a.s yang telah gemar kepada Khidir a.s,lalu menjalinkan persahabatan dengannya, mempelajari keilmuannya, manakala beliau telah bertanya Nabi Khidir a.s, maka beliau mengetahui bahawa Musa tidak mampu untuk meneruskan persahabatan dengannya, dan tidak boleh menanggung keilmuannya, serta tidak boleh bersabar dengannya  pada masa itu, Nabi Khidir a.s berkata kepadanya: Sesungguhnya anda tidak mampu bersabar bersama aku. Musa berkata kepadanya: Kenapa aku tidak bersabar? Maka Khidir berkata: Bagaimana anda boleh bersabar di atas perkara yang anda tidak mengetahui beritanya, Musa berkata kepadanya dengan rendah diri supaya Khidir menerimanya: Anda akan mendapati aku seorang yang bersabar dan aku tidak akan menderhaka anda walau sedikit.
.
Khidir telah mengetahui bahawa Musa tidak bersabar di atas keilmuannya, begitulah, demi Tuhan, wahai Ishaq, keadaan kadi-kadi mereka, fuqaha’ mereka, dan kumpulan mereka hari ini, mereka tidak mampu menanggung, demi Tuhan, keilmuan kami, mereka tidak boleh menerimanya, mereka tidak mampu, dan mereka tidak akan menerimanya, mereka tidak akan bersabar sebagaimana Musa tidak bersabar di atas keilmuan Khidir ketika beliau bersahabat dengannya, dan melihat apa yang beliau telah melihat tentang keilmuannya. Demikianlah ia di sisi Musa merupakan perkara yang dibencinya (makruhan), dan ia di sisi Allah adalah suatu keredaan iaitu kebenaran, begitulah keadaan ilmu kami di sisi orang-orang jahil merupakan ilmu yang dibenci (makruhan), dan tidak diambil-kira sedangkan ia di sisi Allah adalah kebenaran[1].
.
Abu Ayyub, daripada Muhammad bin Muslim daripada Abu Ja‘far a.s berkata: Aurat mukmin ke atas mukmin itu adalah haram,dan berkata: Barangsiapa yang telah mengintai mukmin di rumahnya, maka dua matanya adalah mubah bagi mukmin pada masa itu. Barangsiapa yang memasuki rumah mukmin tanpa izinnya, maka darahnya adalah mubah bagi mukmin pada masa itu. Barangsiapa yang telah mengingkari seorang nabi yang diutus akan kenabiannya, dan membohonginya, maka darahnya adalah mubah
.

Hukum Mengingkari Imam Daripada Allah            

.
       Beliau berkata: Maka aku berkata:Apa pendapat anda bagi mereka yang telah mengingkari seorang imam daripada kamu apakah keadaannya? Beliau berkata: Barangsiapa yang telah mengingkari seorang imam daripada Allah, membebaskan diri daripadanya, dan daripada agamanya, maka beliau adalah seorang kafir, terkeluar dari Islam, kerana imamah adalah daripada Allah, agamanya adalah agama Allah. Barangsiapa yang telah bebas daripada agama Allah, maka beliau adalah seorang yang kafir, darahnya adalah mubah pada masa itu melainkan beliau kembali bertaubat kepada Allah dari apa yang dikatakannya, beliau berkata: Barangsiapa yang telah memusnahkan seorang mukmin kerana mahukan hartanya, dan dirinya, maka darahnya adalah mubah bagi mukmin pada masa itu
.
Muhammad bin al-Husain daripada Ibn Mahbub daripada Hisyam bin Salim daripada Habib al-Sajistani daripada Abu Ja‘far a.s berkata: Allah berfirman: Aku akan mengazabkan setiap rakyat di dalam Islam yang telah mentaati seorang imam yang bukan daripada Allah sekalipun rakyat baik dan  bertakwa, dan Aku akan mengampuni setiap rakyat di dalam Islam yang telah mentaati seorang imam yang adil daripada Allah sekalipun rakyat itu zalim dan jahat.
.
[1] Al-Majlisi,  Bihar al-Anwar,  I,  134

Bangsiapa yg menginkari hak para imam A.S dan mutiara kata daripada Kitab al-Ikhtisas oleh Syeikh al-Mufid w.413 H

Barangsiapa Yang Mengingkari Hak Para Imam A.S  Maka Kedudukannya seperti Iblis
.
       ‘Umru bin Thabit berkata: Aku telah bertanya Abu Ja‘far a.s  tentang firman Allah s.w.t Surah al-Baqarah (2): 165 “ Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan (andadan) selain daripada Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah ” Beliau berkata: Maka beliau berkata:Mereka, demi Allah, adalah pemimpin-pemimpin; polan dan polan, dan polan (Abu Bakr, Umar, dan Uthman). Mereka telah mengambil mereka bertiga sebagai para imam, tetapi bukan imam yang telah dijadikan oleh Allah untuk manusia sebagai imam. Justeru itu, Allah berfirman di dalam Surah al-Baqarah (2): 165-167 “ Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat seksa, bahawa kekuatan itu adalah kepunyaan Allah semuanya bahawa Allah amat berat seksa-Nya.Iaitu ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya; dan segala hubungan antara mereka terputus sama sekali. Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti:” Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami. Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatan mereka menjadi sesalan bagi  mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka”.Kemudian Abu Ja‘far a.s berkata: Mereka, demi Allah, wahai Jabir, para imam yang zalim dan pengikut-pengikut mereka
.
       Abu al-Qasim al-Sya‘rani secara marfu‘, daripada Yunus bin Zabyan, daripada Abd al-Rahman bin al-Hajjaj, daripada al-Sadiq a.s berkata: Apabila al-Qaim menjalankan tugasnya, beliau akan datang ke dataran Kufah, dan memberi isyarat dengan tangannya kepada suatu tempat, kemudian berkata: Kamu gali dari sini, lalu mereka menggali, dan mengeluarkan dua belas ribu baju besi, dua belas ribu pedang, dan dua belas ribu topi besi. Setiap topi besi mempunyai dua muka. Kemudian beliau menyeru dua belas ribu lelaki daripada hamba-hamba Arab dan bukan Arab, lalu beliau memakaikan mereka pakaian seragam. Kemudian berkata: Barangsiapa yang tidak mempunyai pakaian seragam seperti kamu, maka bunuhlah ia (man lam yakun ‘alai-hi mithlu ma ‘alai-kum fa-qtulu-hu)
.
       Al-Sadiq a.s berkata: Sesungguhnya Allah telah menjadikan kami hujah-hujah-Nya di atas makhluk-Nya, dan penyimpan amanah ilmu-Nya, maka barangsiapa yang mengingkari kami, maka kedudukannya seperti kedudukan Iblis (fa-man jahada-na kana bi-manzilati Iblis) di dalam kedegilannya kepada Allah ketika Dia telah memerintahnya supaya sujud kepada Adam, dan barangsiapa yang mengenali kami, dan mengikuti kami, maka kedudukannya seperti kedudukan para malaikat (wa man ‘arafa-na wa ittaba‘a-na kana bi-manzilati al-Malaikati) yang diperintahkan oleh Allah supaya sujud kepada Adam, maka mereka telah mentaati-Nya
.                                                     
Mutiara Kata Dan Nasihat
       Rasulullah s.a.w bersabda: Janganlah kamu duduk di sisi setiap orang alim yang menyeru kamu melainkan orang alim yang menyeru kamu daripada lima kepada lima: Daripada syak kepada yakin, daripada sombong kepada tawaduk, daripada riyak kepada ikhlas, daripada permusuhan kepada nasihat, dan daripada keinginan hawa nafsu kepada zuhud
.
       Musa bin Ja‘far a.s berkata: Bercakap dengan seorang yang alim di atas timbunan tahi binatang di kawasan ternakan (al-Mazbalah) itu  adalah lebih baik daripada bercakap dengan orang jahil di atas permaidani (al-Zarabi)
.
       Seorang ahli falsafah berkata: Barangsiapa yang tidak memanfaatkan hikmat yang sedikit, maka hikmat yang banyak akan merosakkannya. Sesungguhnya kedudukan orang yang mendengar dengan dua telinganya apa yang tidak disedari oleh hatinya seperti kedudukan orang yang mencampakkan api di dalam air, lantaran itu, ia tidak akan mendapat hajatnya daripadanya
.
       Dan beliau berkata: Penyuburan jasad adalah makanan, dan penyuburan akal adalah kata-kata hikmat, apabila akal tidak ada penyuburnya, maka ia binasa seperti binasanya jasad ketika tidak ada makanan
.
       Beliau s.a.w bersabda: Perkukuhkan harta kamu dengan zakat, ubatilah kesakitan kamu dengan sedekah, hadapilah bala dengan doa, kerana harta tidak akan rosak sama ada di darat atau di laut melainkan dengan tidak mengeluarkan zakat
.
       Sebahagian para falsafah berkata: Sesungguhnya badan apabila ia sakit, maka makanan, minuman dan kerehatan tidak berguna lagi, demikian juga hati apabila cinta kepada dunia dikaitkan dengannya, maka sebarang nasihat tidak berguna lagi.
       Allah berfirman kepada Daud: Wahai Daud, berwaspadalah dengan hati yang terpauk dengan syahwat dunia, akalnya terlindung daripada-Ku.
       Salman r.a berkata: Sesungguhnya aku khuatir di atas kamu tiga perkara: Tergelincirnya seorang alim, perbahasan seorang munafik, dan dunia yang zalim
.
       Sebahagian para falsafah berkata: Di antara akhlak ahli syurga adalah empat: Muka yang tersenyum, lidah yang lembut, hati yang pemurah dan tangan yang memberi.

Pimpinan Imam Dua Belas A.S

.
       Abu Ja‘far Muhammad bin Ahmad al-‘Alawi berkata: Ahmad bin Ali bin Ibrahim bin Hasyim telah memberitahu aku daripada bapanya daripada datuknya Ibrahim bin Hasyim daripada Hammad bin Isa daripada bapanya daripada al-Sadiq a.s berkata: Salman al-Farisi-rahmatu l-Lahi  ‘alai-hi-berkata: Aku telah melihat al-Husain bin Ali a.s di bilik Nabi s.a.w  di dalam keadaan beliau s.a.w sedang mengucup dua matanya, dan dua bibir mulutnya sambil bersabda: Anda adalah sayyid bin sayyid bapa kepada  sayyid-sayyid, anda adalah Hujjah bin hujjah bapa kepada hujjah-hujjah, anda adalah imam bin imam, dan bapa kepada sembilan imam daripada keturunan anda, dan yang kesembilan mereka adalah qaim mereka (anta sayyid bin sayyid abu sadah, anta hujjah ibn hujjah abu hujajin, anta al-Imam ibn al-Imam abu al-Aimmah al-Tis‘ah min salbi-ka, tasi ‘u-hum qaimu-hum )[1]
.
       Beliau berkata: Abu al-Hasan Muhammad bin Ma‘qal al-Qarmisini telah memberitahu kami, berkata: Muhammad bin Abdullah al-Misri telah memberitahu kami, berkata: Ibrahim bin Mahzam telah memberitahu kami daripada bapanya daripada Abu Abdullah a.s daripada bapa-bapanya a.s berkata: Rasulullah s.a.w bersabda: Dua belas orang daripada keluarga aku adalah mereka yang telah dikurniakan Allah kefahamanku, dan ilmuku, mereka telah diciptakan daripada tanahku  (tinat-i). Maka neraka wail bagi mereka yang mengingkari hak mereka selepasku, mereka yang memutuskan  pada mereka perhubungan aku (silat-i), Allah tidak akan memberi mereka syafaat aku[2].
.
       Abu al-Hasan Muhammad bin Ma‘qal telah memberitahu kami berkata: Muhammad bin ‘Asim telah memberitahu kami, berkata: Ali bin al-Husain telah memberitahu kami daripada Muhammad bin Marzuq daripada ‘Amir al-Sarraj daripada Sufyan al-Thauri daripada Qais bin Muslim daripada Tariq bin Syihab berkata: Aku telah mendengar Huzaifah berkata: Aku telah mendengar Rasulullah s.a.w bersabda: Ketika keluarnya al-Qaim seorang penyeru dari langit menyeru: Wahai manusia, diputuskan daripada kamu masa penguasa-penguasa zalim, dan urusan pemerintahan akan dipimpin oleh sebaik-baik umat Muhammad s.a.w. Justeru sertailah beliau di Makkah, kemudian al-Nujaba’ (mereka cerdik) dari Mesir, dan al-Abdal (perkasa) dari Syamdan al- ‘Asaib  (cekal) dari Iraq.
.
       Di waktu malam seperti rahib, dan di waktu siang seperti singa jantan. Hati mereka seperti besi. Maka mereka akan memberi baiah kepadanya di antara Rukn dan Maqam, Umar bin al-Hasin berkata: Wahai Rasulullah s.a.w, beritahukan kami tentang lelaki ini? Beliau s.a.w bersabda: Beliau adalah seorang lelaki daripada anak al-Husain seolah-olah beliau di kalangan lelaki Syanwah di Yaman, memakai dua kain daripada kapas, namanya sepertilah nama aku, dan pada masa itu, burung-burung akan menetas di sangkar-sangkarnya, dan ikan-ikan paus di laut-lautnya, sungai-sungai akan mengalirkan air yang banyak, mengeluarkan mata air, bumi akan menjadi subur, pendapatan yang berganda, kemudian Jibrail akan berjalan di hadapannya, dan di belakangnya Israfil. Bumi akan dipenuhi keadilan dan saksama sebagaimana ia dipenuhi penindasan dan kezaliman[3].
.
       Beliau berkata: Muhammad bin Quluwaih telah memberitahu kami berkata: Sa‘d bin Abdullah telah memberitahu kami daripada Muhammad bin Khalid al-Tayalasi daripada al-Mundhir bin Muhammad daripada al-Nasr bin al-Sanadi daripada Abu Daud Sulaiman bin Sufyan al-Mustariq daripada Tha‘labah bin Maimun daripada Malik bin al-Jahani daripada al-Harith bin al-Mughirah daripada al-Asbagh bin Nabatah. Sa‘d bin Abdullah berkata: Muhammad bin al-Husain bin Abu al-Khattab al-Kufi telah memberitahu kami, berkata: Al-Hasan bin Ali bin Fadhdhal telah memberitahu kami daripada Tha‘labah bin Maimun daripada Malik al-Jahani daripada al-Harith bin al-Mughirah daripada al-Asbagh bin Nabatah berkata: Aku telah datang kepada Amir al-Mukminin a.s, maka aku telah mendapati beliau sedang mengetukkan  tanah dengan kayu (yankutu).
.
       Aku berkata : Wahai Amir al-Mukminin, aku melihat anda sedang berfikir mengetukkan tanah, adakah kehendak anda sendiri melakukannya? Beliau berkata: Tidak, demi Tuhan, aku tidak menghendakinya, mahu pun dunia ini walaupun satu hari, tetapi aku telah memikir tentang maulud (anak kelahiran) daripada zuriat kesebelas daripada anak lelaki aku iaitu al-Mahdi yang akan memenuhi bumi dengan  keadilan dan saksama sebagaimana ia dipenuhi penindasan dan kezaliman, akan dipenuhi kehairanan  dan ghaib, akan sesat sebahagian kaum dan akan mendapat  hidayat sebahagian yang lain, aku berkata: Adakah ini akan terjadi? Beliau berkata: Ya, sebagaimana ia dijadikan. Maka  di manakah  kedudukan anda di dalam perkara ini wahai Asbagh? Mereka itu adalah pilihan umat ini bersama-sama pilihan terbaik keluarga ini, aku berkata: Apakah akan berlaku selepas itu? Beliau berkata: Allah akan melakukan apa yang Dia kehendaki, kerana bagi Allah  iradat, permulaan dan matlamat yang banyak[4].

[1] Ibid,  ix,  158
[2] Al-Saduq, Kamal al-Din, hlm.164
[3] Al-Majlisi,  Bihar al-Anwar,  xiii,  179
[4] Al-Kulaini,  al-Kafi, I,  337

PERINTAH MENTAATI ULIL AMRI DAN 12 IMAM DALAM AHLU SUNNAH WAL JAMA’AH

Nabi saaw bersabda:

“Setelahku akan ada 12 Khalifah, semuanya dari Bani Hasyim”

(Qunduzi Hanafi, Yanabi’ al Mawaddah, jilid III, hlm 104)

Jabir bin Samurah berkata: “Aku mendengar Rasulullah saaw bersabda:

“Islam akan senantiasa kuat di bawah 12 Khalifah”. Baginda kemudian mengucapkan kata kata yang tidak aku fahami, lalu aku bertanya bapaku apakah yang dikatakan oleh Rasulullah saaw. Beliau menjawab: “Semuanya dari Quraisy”

(Muslim. Sahih, jilid VI, hlm 3, Bukhari, Sahih, jilid VIII, hlm 105, 128)

FIRMAN Allah SWT:

“Taatilah kamu kepada Allah dan taatlah kepada Rasul dan Ulil Amri di kalangan kamu.”

(An-Nisa: 49)

Ulil amri adalah para Imam dari Ahlul bait (as)

FIRMANNYA SWT :

يَأَيهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَ أَطِيعُوا الرَّسولَ وَ أُولى الأَمْرِ مِنكمْ

“Hai orang-orang yang beriman taatlah kamu kepada Allah, dan taatlah kamu kepada Rasul-Nya dan Ulil amri kamu.”

Yang dimaksud “Ulil-amri” dalam ayat ini adalah Ali bin Abi Thalib (as) dan Ahlul bait Nabi saw.

Dalam Tafsir Al-Burhan tentang ayat ini disebutkan suatu riwayat yang bersumber dari Jabir Al-Anshari (ra), ia berkata:

Ketika Allah menurunkan ayat ini aku bertanya:

Ya Rasulallah, kami telah mengetahui Allah dan Rasul-Nya, tetapi siapakah yang dimaksud dengan Ulil-amri yang ketaatannya kepada mereka Allah kaitkan dengan ketaatan kepada-Nya dan Rasul-Nya?

Rasulullah saw menjawab:
Wahai Jabir, mereka itu adalah para penggantiku: Pertama, Ali bin Abi Thalib, kemudian Al-Hasan, kemudian Al-Husein, kemudian Ali bin Al-Husein, kemudian Muhammad bin Ali, kemudian Muhammad bin Ali yang dalam Taurat gelarnya masyhur Al-Baqir. Wahai Jabir, kamu akan menjumpai dia, sampaikan salamku kepadanya. Kemudian Ash-Shadiq Ja’far bin Muhammad, kemudian Musa bin Ja’far, kemudian Ali bin Musa, kemudian Muhammad bin Ali, kemudian Al-Hasan bin Muhammad, kemudian dua nama Muhammad dan yang punya dua gelar Hujjatullah di bumi-Nya dan Baqiyatullah bagi hamba-hamba-Nya yaitu Ibnul Hasan, dialah yang Allah perkenalkan sebutan namanya di seluruh belahan bumi bagian barat dan timur, dialah yang ghaib dari para pengikutnya dan kekasihnya, yang keghaibannya menggoyahkan keimamahannya kecuali bagi orang-orang yang Allah kokohkan keimanan dalam hatinya.”

Allah SWT mewajibkan semua orang-orang yang beriman untuk mentaati “Ulil Amri” secara mutlak. Dan, menaati mereka sama dengan mentaati Rasulullah saw.

Sekaitan dengan ayat di atas, Jabir bin Abdillah bertanya, “Ya Rasulullah, siapakah orang-orang yang wajib ditaati seperti yang diisyaratkan dalam ayat ini?”

Rasulullah saw menjawab, “Yang wajib ditaati adalah para khalifahku wahai Jabir, yaitu para imam kaum muslimin sepeninggalku nanti. Imam pertama mereka adalah Ali bin Abi Thalib, kemudian Hasan, kemudian Husein, kemudian Ali bin Husein, kemudian Muhammad bin Ali yang telah dikenal di dalam kitab Taurat dengan nama “Al-Baqir” dan engkau akan berjumpa dengannya wahai Jabir. Apabila engkau nanti berjumpa dengannya, maka sampaikanlah salamku kepadanya. Kemudian setelah itu As-Shadiq Ja’far bin Muhammad, kemudian Musa bin Ja’far, kemudian Ali bin Musa, kemudian Muhammad bin Ali, kemudian Ali bin Muhammad, kemudian Hasan bin Ali, kemudian yang terakhir ialah Al-Mahdi bin Hasan bin Ali sebagai Hujjatullah di muka bumi ini dan Khalifatullah yang terakhir.

{ Ghayah al-Maram, jilid 10, hal. 267, Itsbat al-Hudat, jilid 3/123 dan Yanabi’ al-Mawaddah, hal. 494, 443-Qundusi al hanafi}

Surah An Nisa ayat 59 – Perintah Mentaati Ulil Amri

“Hai orang-orang yang beriman taatlah kamu kepada Allah, dan taatlah kamu kepada Rasul-Nya dan Ulil Amri kamu.”

Yang dimaksud “Ulil Amri” dalam ayat ini adalah Ali dan para Imam dari keturunannya.

-Imam Ali bin Abi Tholib AS (40 H)
-Imam Hasan bin Ali al-Mujtaba AS ( 50 H)
-Imam Husein bin Ali asy-Syahid AS (61 H)
-Imam Ali Bin Husein Zainal Abidin as-Sajjad AS (95 H)
-Imam Muhammad bin Ali al-Baqir AS (114 H)
-Imam Ja’far bin Muhammad ash-Shodiq AS (148 H)
-Imam Musa bin Ja’far al-Kadhim AS (183)
-Imam Ali bin Musa ar-Ridho AS (203)
-Imam Muhammad bin Ali al-Jawad AS (220 H)
-Imam Ali bin Muhammad al-Hadi AS (254 H)
-Imam Hasan bin Ali al-Askari AS (260 H)
-Imam Abul Qasim Muhammad bin Hasan al-Mahdi AFS (lahir 15 Sya’ban 255 H dan masih hidup)

LIHAT REFERENSI KITAB SEBAGAI RUJUKAN DARI AHLU SUNNAH WAL JAMA’AH :
Yanabi’ul Mawaddah, oleh Syaikh Sulaiman Al-Qundusi Al-Hanafi, halaman 134 dan 137, cet,. Al-Haidariyah; halaman 114 dan 117, cet. Islambul. Syawahidut Tanzil, oleh Al-Hakim Al-Haskani Al-Hanafi, jilid 1, halaman 148, hadis ke 202, 203 dan 204. Tafsir Ar-Razi, jilid 3, halaman 357. Ihqaqul Haqq, oleh At-Tastari, jilid 3, halaman 424, cet. Pertama, Teheran. Faraid As-Samthin, jilid 1, halaman 314, hadis ke 250.

Nabi SAWW bersabda :

“Sesiapa yang ingin hidup dan mati seperti aku, dan masuk surga (setelah mati) yang telah dijanjikan oleh Tuhanku kepadaku, yakni surga yang tak pernah habis, haruslah mengakui Ali sebagai pemimpinnya setelahku, dan setelah dia (Ali) harus mengakui anak-anak Ali, sebab mereka adalah orang-orang yang tidak akan pernah membiarkanmu keluar dari pintu petunjuk, tidak pula mereka akan memasukkanmu ke pintu kesesatan!

1) Hilyatul Awliya', by Abu Nu'aym, v1, pp 84,86
(2) al-Mustadrak, by al-Hakim, v3, p128
(3) al-Jamiul Kabir, by al-Tabarani
(4) al-Isabah, by Ibn Hajar al-Asqalani
(5) Kanzul Ummal, v6, p155
(6) al-Manaqib, by al-Khawarizmi, p34
(7) Yanabi' al-Mawaddah, by al-Qunduzi al-Hanafi, p149
(8) History of Ibn Asakir, v2, p95

إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَ رَسُولُهُ وَ الَّذِينَ ءَامَنُواْ الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَوةَ وَ يُؤْتُونَ الزَّكَوةَ وَ هُمْ رَاكِعُونَ وَ مَن يَتَوَلَّ اللَّهَ وَ رَسُولَهُ وَ الَّذِينَ ءَامَنُواْ فَإِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْغَلِبُون

“Sesungguhnya wali kamu hanyalah Allah, RasulNya dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan solat dan menunaikan zakat dan mereka tunduk (kepada Allah) dan barangsiapa yang menjadikan Allah, RasulNya dan orang-orang yang beriman sebagai penolongnya maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.”

.

NABI SAWW BERSABDA :

” Siapa yang ingin berpegang kepada agamaku dan menaiki bahtera kejayaan selepasku, maka hendaklah dia mengikuti Ali bin Abi Talib, memusuhi lawan2nya dan mewalikan walinya karena dia adalah wasiku, dan khalifahku ke atas ummatku semasa hidupku dan setelah kewafatanku. Dia adalah IMAM setiap muslim dan AMIR setiap mukmin, perkataannya adalah perkataanku, perintahnya adalah perintahku. Larangannya adalah laranganku. Pengikutnya adalah pengikutku. Penolongnya adalah penolongku. Orang yang menjauhinya adalah menjauhiku.”

Kemudian Nabi Saww bersabda lagi:

“Siapa yang menjauhi Ali selepasku dia tidak akan ‘melihatku.’ Dan aku tidak melihatnya di hari kiamat. Dan siapa yang menentang ‘Ali, Allah haramkan ke atasnya syurga dan menjadikan tempat tinggalnya di neraka. Siapa yang menjauhi ‘Ali, Allah akan menjauhinya di hari kiamat. Di hari itu akan dizahirkan segala-galanya dan sesiapa yang menolong ‘Ali, niscaya Allah akan menolongnya.”

{Al-Hamawaini al-Syafi’i meriwayatkan di dalam Fara’id al-Simtain}

RUJUKAN LAIN TTG 12 IMAM DALAM AHLUSUNNAH WAL JAMA’AH
=======================================

Musnad Ahmad No. 3593حَدَّثَنَا حَسَنُ بْنُ مُوسَى حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ عَنِ الْمُجَالِدِ عَنِ الشَّعْبِيِّ عَنْ مَسْرُوقٍ قَالَكُنَّا جُلُوسًا عِنْدَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ وَهُوَ يُقْرِئُنَا الْقُرْآنَ فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ هَلْ سَأَلْتُمْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمْ تَمْلِكُ هَذِهِ الْأُمَّةُ مِنْ خَلِيفَةٍ فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْعُودٍ مَا سَأَلَنِي عَنْهَا أَحَدٌ مُنْذُ قَدِمْتُ الْعِرَاقَ قَبْلَكَ ثُمَّ قَالَ نَعَمْ وَلَقَدْ سَأَلْنَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ اثْنَا عَشَرَ كَعِدَّةِ نُقَبَاءِ بَنِي إِسْرَائِي

َTelah menceritakan kepada kami [Hasan bin Musa] telah menceritakan kepada kami [Hammad bin Zaid] dari [Al Mujalid] dari [Asy Sya'bi] dari [Masruq] ia berkata; Tatkala kami duduk-duduk bersama Abdullah bin Mas’ud, saat itu ia sedang membacakan Al Qur`an kepada kami, lalu seorang laki-laki berkata kepadanya; Wahai Abu Abdurrahman, apakah kalian pernah menanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam BERAPAKAH UMAT INI MEMILIKI KHALIFAH? [Abdullah bin Mas'ud] berkata; Tidak ada seorang pun yang menanyakan hal itu kepadaku sejak aku datang ke Iraq sebelum engkau, kemudian ia melanjutkan; Ya, kami pernah menanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam, lalu beliau menjawab: “Sebanyak DUA BELAS orang seperti jumlah pemimpin bani Israil.”

Bukhari menukil dari Jabir bin Samarah:”Aku mendengar rasul bersabda:”setelahku 12 orang pemimpin akan datang.” Saat itu beliau melanjutkan ucapannya yang tak terdengar olehku kemudian ayahku berkata bahwa keseluruhan imam tersebut semuanya dari bangsa Quraisy.”

[Sahih Bukhari, jild 9, bab Istikhlaf, halaman 81.]

Kata al-khilafah bermakna al-niyabah ‘an al-ghayr atau pengggantian juga berarti : al-imamah al-‘uzhma atau kekhalifahan atau kepemimpinan yang agung. Lihat Kamus al-Munawwir hlm. 393, Catakan th. 1984. Contoh faktualnya adalah Sayyidina Ali bin Abi Thalib yang diangkat sebagai khalifah. Dan di dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Rasulullah Saw bersabda : “Inilah dia saudaraku, penerima wasiatku (al-washî) dan khalifahku (khalîfatî)…” Rujukan :

LIHAT :

- Târikh al-Thabarî Jil. 2, hlm. 319, dan
– al-Kâmil fî al-Târikh li Ibni al-Atsîr Jil. 2 hlm. 63.

Dari Jabir bin Samurah, ia berkata, “Saya masuk bersama ayah saya kepada Nabi SAW. maka saya mendengar beliau berkata, ‘Sesungguhnya urusan ini tidak akan habis sampai melewati dua belas khalifah.’ Jabir berkata, ‘Kemudian beliau berbicara dengan suara pelan. Maka saya bertanya kepada ayah saya, ‘Apakah yang dikatakannya?’ Ia berkata, ‘Semuanya dari suku Quraisy.’ Dalam riwayat yang lain disebutkan, ‘Urusan manusia akan tetap berjalan selama dimpimpin oleh dua belas orang.’ Dalam satu riwayat disebutkan. ‘Agama ini akan senantiasa jaya dan terlindungi sampai dua belas khalifah.

(H.R.Shahih Muslim, kitab “kepemimpinan”, bab”manusia pengikut bagi Quraisy dan khalifah dalam kelompok Quraisy”)

Muslim juga menukil dari Jabir bin samarah:”aku mendengar rasul SAWW bersabda:”Islam akan memiliki pemimpin sampai 12 orang. Kemudian beliau bersabda yang tak bisa kupahami. Aku bertanya pada ayahku tentang apa yang tidak aku pahami itu, ia berkata:”beliau bersabda semuanya dari kaum Quraisy.

[Sahih Muslim, jild 6, kitab Al-Amarah, bab annas taba’un li quraisy, halaman 3.]

Muslim dari Jabir juga menukil, ia (Jabir) berkata:”aku dan ayahku berjalan bersama rasul SAWW saat itu beliau bersabda:”agama ini akan memiliki 12 pemimpin, yang kesemuanya dari bangsa Quraisy.

[Sahih Muslim, jild 6, kitab Al-Amarah, bab annas taba’un li quraisy, halaman 3.]

KAITAN DENGAN PERINTAH MENGIKUTI AHLALBAIT NABI SAWW

Hadis Tsaqalain maka kelihatan jelas bahwa 12 Imam adalalah dari Ithrahti Ahlulbait.
Ulama terkenal Al-Dhahabi mengatakan dalam bukunya Tadzkirat al-Huffaz , jilid 4, halaman 298, dan Ibn Hajar al-’Asqalani menyatakan dalam al-Durar al-Kaminah, jilid 1, hal. 67 bahwa Sadruddin Ibrahim bin Muhammad bin al-Hamawayh al-Juwayni al-Shafi’i (disingkat Al-Juwayni) adalah seorang ahli Hadis yang mumpuni. Al-Juwayni menyampaikan dari Abdullah bin Abbas (ra) bahwa Nabi (sawa) mengatakan,

”Saya adalah penghulu para Nabi dan Ali bin Abi Thalib adalah pemimpin para penerus, dan sesudah saya akan ada dua belas penerus. Yang pertama adalah Ali bin Abi Thalib dan yang terakhir adalah Al-Mahdi.”

Al-Juwayni juga meriwayatkan dari Ibnu Abbas (r) bahwa Rasulullah (sawa) berkata: ”Sudah pasti bahwa wakil-wakilku dan Bukti Allah bagi makhluk sesudahku ada dua belas. Yang pertama di antara mereka adalah saudaraku dan yang terakhir adalah anak (cucu) ku.” Orang bertanya: “Wahai Rasulullah, siapakah saudaramu itu?”. Beliau menjawab: “Ali bin Abi Thalib.” Lalu beliau ditanyai lagi: “ Dan siapakan anak (cucu) mu itu?” Nabi yang suci (sawa) menjawab: ”Al-Mahdi. Dia akan mengisi bumi dengan keadilan dan persamaan ketika ia (bumi) dipenuhi ketidakadilan dan tirani. Dan demi Yang Mengangkatku sebagai pemberi peringatan dan memberiku kabar gembira, meski seandainya masa berputarnya dunia ini tinggal sehari saja, Allah SWT akan memperpanjang hari itu sampai diutusnya (anakku) Mahdi, kemudian ia akan disusul Ruhullah Isa bin Maryam (a.s.) yang turun ke bumi dan berdoa di belakangnya (Mahdi). Dunia akan diterangi oleh sinarnya, dan kekuatannya akan mencapai hingga ke timur dan ke barat.”

Al-Juwayni juga meriwayatkan bahwa Rasulullah (saw) mengatakan: ”Aku dan Ali dan Hasan dan Husain dan sembilan anak cucu Husain adalah yang disucikan (dari dosa) dan dalam kebenaran.” [Al-Juwayni, Fara'id al-Simtayn, Mu'assassat al-Mahmudi li-Taba'ah, Beirut 1978, p. 160.] Sekaitan dengan ayat di atas, Jabir bin Abdillah bertanya, “Ya Rasulullah, Siapa kah orang-orang yang wajib ditaati seperti yang diisyaratkan dalam ayat ini?” Rasulullah saaw menjawab, “Yang wajib ditaati adalah para khalifahku wahai Jabir, yaitu para Imam kaum Muslimin sepeninggalku nanti. Imam pertama mereka adalah Ali bin Abi Thalib, kemudian Hasan, kemudian Husein, kemudian Ali bin Husein, kemudian Muhammad bin Ali yang telah dikenal di dalam kitab Taurat dengan nama “Al-Baqir” dan engkau akan berjumpa dengannya wahai Jabir. Apabila engkau nanti berjumpa dengannya, maka sampaikanlah salamku kepadanya. Kemudian setelah itu As-Shadiq Ja’far bin Muhammad, kemudian Musa bin Ja’far, kemudian Ali bin Musa, kemudian Muhammad bin Ali, kemudian Ali bin Muhammad, kemudian Hasan bin Ali,kemudian yang terakhir ialah Al-Mahdi bin Hasan bin Ali sebagai Hujjatullah di muka bumi ini dan Khalifatullah yang terakhir.

( Rujuk ke Ghayah al-Maram, jilid 10, hal. 267, Itsbat al-Hudat, jilid 3/123 dan Yanabi’ al-Mawaddah, hal. 494, 443-Qundusi al hanafi )

Seorang ulama Ahlusunah terkemuka bernama Al-Juwaini menukil sebuah riwayat, “Ketika ayat tersebut turun, Abu Bakar dan Umar berkata, ‘Ya Rasul Allah, apakah kepemimpinan ini dikhususkan untuk Ali?’

Rasul menjawab, ‘Ya, wilayah (kepemimipinan) ini diturunkan untuknya dan untuk para washi-ku sampai Hari Kiamat.’

Lalu kedua orang itu berkata lagi, ‘Ya Rasul Allah, jelaskanlah kepada kami siapa sajakah mereka itu?’

Beliau menjawab, ‘Mereka itu adalah Ali, ia adalah saudaraku, wazirku, pewarisku, washiku dan khalifahku bagi umatku, dan dialah wali (pemimpin) setiap mukmin sepeninggalku, kemudian setelahnya adalah cucuku Al-Hasan, kemudian cucuku Al-Husein dan kemudian sembilan orang dari putra-putra keturunan Al-Husein secara berurutan. Al-Qur’an senantiasa bersama mereka, sebagaimana mereka selalu bersama Al-Qur’an, keduanya itu tidak akan pernah berpisah hingga mereka menjumpaiku di telaga Surga.

[ Ghayatul Maram, bab 58, hadis ke-4.]

Rasul Allah SAWW yang menegaskan:

“Aku ini adalah kotanya ilmu atau kotanya hikmah, sedangkan Ali adalah pintu gerbangnya. Barang siapa ingin memperoleh ilmu hendaknya ia mengambil lewat pintunya.”

Mu’adz bin Jabal mengatakan bahwa Rasul Allah s.a.w. berkata kepada Imam Ali as.:

“Engkau mengungguli orang lain dalam tujuh perkara. Tak ada seorang Qureisy pun yang dapat menyangkalnya. Yaitu:

-Engkau adalah orang pertama yang beriman kepada Allah,

-Engkau orang yang terdekat dengan janji Allah,

-Engkau orang yang termampu menegakkan perintah Allah,

-Engkau orang yang paling adil mengatur pembagian (ghanimah),

-Engkau orang yang paling berlaku adil terhadap rakyat,

-Engkau paling banyak mengetahui semua persoalan,

-dan Engkau orang yang paling tinggi nilai kebaikan sifatnya di sisi Allah.

Sesiapa Yang Telah Mati Tanpa Imam, Maka Beliau Telah Mati Sebagai Seorang Jahiliah                             

       Daripada  ‘Umar bin Yazid, daripada Abu al-Hasan yang pertama a.s berkata: Aku telah mendengarnya berkata:  Sesiapa yang telah mati tanpa imam, maka beliau telah mati  sebagai seorang jahiliah; imam hidup yang beliau mengetahuinya. Maka aku berkata: Aku tidak mendengar bapa anda menyebutnya, iaitu imam yang hidup. Beliau berkata: Demi Allah, Rasulullah s.a.w telah bersabda sedemikian. Rasulullah s.a.w bersabda: Sesiapa yang telah mati, tanpa mentaati imam hidup yang zahir, maka beliau mati sebagai seorang jahiliah(man mata wa-laisa la-hu imam yasma‘u la-hu wa yuti‘u mata maitatan jahiliyyatan)[1].
.
       Daripada Abu Jarud berkata: Aku telah mendengar Abu Abdullah a.s berkata: Sesiapa yang telah mati, tanpa mentaati imam hidup yang zahir, maka beliau mati sebagai seorang jahiliah[2]. Beliau berkata: Aku berkata: Imam yang hidup, aku telah menjadikan diriku tebusan anda?  Beliau berkata: Imam yang hidup (imam hayyun).
.
       Daripada Daud al-Raqiy daripada hamba yang soleh(Khidir a.s)  berkata: Sesungguhnya hujah tidak berdiri bagi Allah ke atas makhluk-Nya melainkan dengan imam hidup yang dikenali[3].

[1] Al-Majlisi,  Bihar al-Anwar,  vii,  20
[2] Ibid
[3] Al-Kulaini, al-Kafi,  I , 177

WILAYAH AHLUL BAIT

1. Ibadat Tidak Diterima Melainkan Mengakui Wilayah Mereka A.S.

Abu Ali al-Asy‘ari, daripada Muhammad bin Abd al-Jabbar, daripada Ibn Fadhdhal daripada Ibrahim anak saudara lelaki kepada Abu Syabl berkata: Abu Abdullah a.s mulai berkata kepadaku: Kamu telah mencintai kami sedangkan orang ramai telah membenci kami. Kamu telah membenarkan kami sedangkan orang ramai telah membohongi kami. Kamu telah mengadakan silaturahim dengan kami sedangkan orang ramai memandang sepi kepada kami. Justeru Allah menjadikan kehidupan kamu kehidupan kami, kematian kamu kematian kami
.
Demi Allah, antara lelaki dan ketenangan yang akan didapatinya adalah apabila nyawanya sampai ke tempat ini-Beliau a.s telah memberi isyarat dengan tangannnya kepada halkumnya. Kemudian beliau a.s mengulangainya. Beliau a.s tidak reda sehingga beliau a.s bersumpah kepadaku dan berkata: Demi Allah, tiada tuhan melainkan Dia bahawa bapaku Muhammad bin Ali a.s telah memberitahuku mengenai perkara itu, wahai Abu Syabl, tidakkah kamu reda bahawa kamu mengerjakan solat dan mereka mengerjakan solat, maka Dia menerima solat kamu dan tidak menerima solat mereka. Tidakkah kamu reda bahawa kamu menunaikan zakat dan mereka menunaikan zakat, maka Dia menerima zakat kamu dan menolak zakat mereka. Tidakkah kamu reda bahawa kamu mengerjakan haji dan mereka mengerjakan haji, maka Allah menerima haji kamu dan tidak menerima haji mereka. Demi Allah, solat tidak akan diterima melainkan daripada kamu (ma tuqbalu al-salatu illa min-kum), zakat tidak akan diterima melainkan daripada kamu ( wala al-zakaatu illa min-kum), haji tidak akan diterima melainkan daripada kamu (wala al-Hajj illa minkum). Maka bertakwalah kamu kepada Allah, kerana kamu di dalam gencatan senjata (hudnah) dan tunailah amanah. Apabila orang ramai dinilai, maka setiap kaum mengikut hawa nafsu mereka, tetapi kamu mengikut kebenaran selama kamu mentaati kami. Tidakkah para hakim, pemerintah dan golongan yang mempunyai masalah daripada mereka?
.
Aku berkata: Ya, beliau a.s berkata: Kamu tidak mampu mengikut semua manusia, kerana mereka mengambil (pendapat) di sana sini sedangkan kamu mengambil (hukum) daripada Allah. Sesungguhnya Allah telah memilih daripada hamba-hamba-Nya Muhammad (s.a.w), maka kamu telah memilih orang yang telah dipilih oleh Allah. Bertakwalah kepada Allah, tunailah amanah kepada yang berkulit hitam atau yang berkulit putih sama ada dia seorang dari Haruriyyah atau seorang dari Syam. (RAUDHAT AL KAFI, MS 261)
.
2. Allah Tidak Menerima Amalan Melainkan Dengan Mewalikan Ahlu l-
Bait A.S.
Ali bin Ibrahim, daripada bapanya, daripada al-Qasim bin Muhammad daripada Sulaiman bin Daud al-Munqari, daripada Hafs bin Ghiyath, daripada… Abu Abdullah a.s berkata: Jika anda mampu tidak mengenali sesiapa, maka lakukanlah. Tidak mengapa jika orang ramai tidak memuji anda. Tidak mengapa jika anda dicela (mazmuuman) di sisi orang ramai sekiranya anda dipuji (mahmuudan) di sisi Allah, sesungguhnya Amir al-Mukminin a.s berkata: Tiada kebaikan di dunia ini melainkan pada salah seorang daripada dua lelaki: Seorang lelaki yang bertambah ihsannya pada setiap hari dan seorang lelaki yang mencapai angan-angannya dengan taubat. Demi Allah, sekiranya diasujud sehingga terputus tengkuknya, nescaya Allah tidak menerimaamalannya melainkan dengan wilayah kami Ahlu l-Bait (fa wallahi lau sajada hatta yanqati‘u ‘unqu-hu ma qabila l-Lahu a.w ‘an-hu ‘amalan illa bi-wilayati-na ahl l-Bait)43.
.
Sesungguhnya sesiapa yang mengetahui hak kami atau mengharapkan pahala dengan kami, meredai makanannya (quti-hi) sebanyak setengah cupak pada setiap hari, meredai pakaian yang menutupi auratnya, meredai tempat letak kepalanya, takut kepada Allah dan itulah yang dia mahukan habuannya di dunia sebagaimana firman- Nya di dalam Surah al-Mu’minuun (23): 60 “Dan golongan yang memberikan apa yang mereka telah berikan dengan hati yang takut” Apa yang diberikan kepada mereka, demi Allah, adalah dengan ketaatan, kasih sayang dan wilayah Ahlu l-Bait a.s. Mereka di dalam keadaansedemikian masih takut bahawa Allah tidak menerima amalan mereka.Ketakutan mereka, demi Allah, bukanlah ketakutan syak pada agama yang mereka lakukan, tetapi mereka takut bahawa mereka termasuk di kalangan golongan yang mengabaikan kasih sayang dan ketaatan kepada kami.
.
Kemudian beliau a.s berkata: Sekiranya anda mampu tidak keluar dari rumah anda, maka lakukanlah. Sekiranya anda keluar, maka janganlah anda mengumpat, berbohong, hasad, memuji diri anda sendiri, berpura-pura dan menipu. Kemudian be…liau a.s berkata: Sebaik baik biara (sauma‘ah) seorang muslim adalah rumahnya. Dia dapat menegah matanya, lidahnya dan kemaluannya di rumahnya. Sesiapa yang mengetahui nikmat Allah dengan hatinya, maka dia berhak tambahan daripada Allah a.w sebelum dia menzahirkan kesyukurannya di lidahnya.
.
Sesiapa yang memperlihatkan kelebihannya ke atas orang lain, maka dia adalah daripada golongan yang sombong. Aku berkata: Jika diamemperlihatkan kesihatannya melebihi orang lain khususnya apabila dia melihatnya (orang lain) melakukan maksiat? Beliau a.s berkata:
Kemungkinan Allah telah mengampuni dosanya sedangkan anda akan dihisab. Tidakkah anda membaca kisah tukang-tukang sihir Musa a.s, kemudian beliau a.s berkata: Berapa ramai orang yang terpedaya dengan nikmat-Nya ke atasnya, berapa ramai orang yang diuji (mustadrij) dengan penutupan Allah ke atasnya dan berapa ramai orang yang diuji dengan pujian orang ramai terhadapnya.
.
Kemudian Beliau a.s berkata: Sesungguhnya aku mengharap kejayaan bagi orang yang mengetahui hak kami daripada umat ini melainkan salah satu daripada tiga: Pemerintah yang zalim, orang yang mengikut hawa nafsu dan orang fasik secara terang-terangan. Kemudian beliau a.s membaca Surah Ali Imran ( 3): 31 “Katakanlah
“Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutlah aku, nescaya Allahmengasihimu”. Kemudian beliau a.s berkata: Wahai Hafs, cinta itu (al- Hubb) adalah lebih baik daripada takut (al-Khauf), kemudian beliau a.s berkata: Demi Allah, Allah tidak mencintai orang yang mencintai dunia dan mewalikan selain daripada kami. Sesiapa yang mengetahui hak kami (man ‘arafa haqqa-na) dan mencintai kami (ahabba-na), sesungguhnya dia mencintai Allah. Lantas lelaki itu menangis dan berkata: Adakah anda menangis jika semua ahli langit dan bumi berkumpul, lalu berdoa kepada Allah supaya Dia menyelamatkan andadari neraka dan memasukkan anda syurga, tidak memberi syafaat kepada anda (sekiranya anda mempunyai hati yang hidup, nescaya anda
adalah orang yang paling takut kepada Allah pada masa itu).
.
Kemudian beliau a.s berkata kepadanya: Wahai Hafs, jadilah anda orang yang bertaubat daripada dosa anda. Wahai Hafs, Rasulullah s.a.w bersabda: Orang yang takutkan Allah sepenuh lidahnya. Kemudian beliau a.s berkata: Manakala Musa bi…n Imran a.s menasihati para sahabatnya, tiba-tiba seorang lelaki berdiri dan mengoyakkan bajunya, lalu Allah memberitahu Musa, wahai Musa, katakanlah kepadanya:
.
Janganlah anda mengoyakkan baju anda, tetapi lapanglah dada anda untuk-Ku. Kemudian beliau a.s berkata: Musa a.s telah melalui seorang lelaki daripada para sahabatnya yang sedang sujud, kemudian Musa a.s pulang dari melakukan hajatnya mendapati lelaki itu masih sujud didalam keadaan sebelumnya, lalu Musa a.s berkata kepadanya:
Sekiranya hajat anda ditanganku, nescaya aku menunaikannya untuk anda. Kemudian Allah memberitahu Musa: Wahai Musa, sekiranya dia sujud sehingga terputus tengkuknya, nescaya Aku tidak menerimanya
sehingga dia berubah dari apa yang Aku benci kepada apa yang Aku cintai. (RAUDHAT AL KAAFI)
.
3. PETIKAN AL IKHTISAS: Hukum Mengingkari Imam Daripada Allah
Beliau berkata: Maka aku berkata:Apa pendapat anda bagi mereka yang telah mengingkari seorang imam daripada kamu apakah keadaannya? Beliau berkata: …Sesiapa yang telah mengingkari seorang imam daripada Allah, membebaskan diri daripadanya dan daripada agamanya, maka beliau adalah seorang kafir, terkeluar dari Islam, kerana imamah adalah daripada Allah, agamanya adalah agama Allah. Sesiapa yang telah bebas daripada agama Allah, maka beliau adalah seorang yang kafir, … beliau berkata: Sesiapa yang telah memusnahkan seorang mukmin kerana mahukan hartanya dan dirinya, maka darahnya adalah mubah bagi mukmin pada masa itu.
.
Muhammad bin al-Husain daripada Ibn Mahbub daripada Hisyam bin Salim daripada Habib al-Sajistani daripada Abu Ja‘far a.s berkata: Allah berfirman: Aku akan mengazabkan setiap rakyat di dalam Islam yang telah mentaati seorang imam yang bukan daripada Allah sekalipun rakyat baik dan bertakwa dan Aku akan mengampuni setiap rakyat di dalam Islam yang telah mentaati seorang imam yang adil daripada Allah sekalipun rakyat itu zalim dan jahat.
.
4. PETIKAN AL IKHTISAS: Sesiapa Yang Mengingkari Hak Para Imam A.S Maka Kedudukannya seperti Iblis
‘Umru bin Thabit berkata: Aku telah bertanya Abu Ja‘far a.s tentang firman Allah s.w.t Surah al-Baqarah (2): 165 “Dan di an…tara manusia ada mereka yang menyembah tandingan-tandingan (andadan) selain daripada Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah” Beliau berkata: Maka beliau berkata: Mereka, demi Allah, adalah pemimpin-pemimpin; polan dan polan dan polan (Abu Bakr, Umar dan Uthman). Mereka telah mengambil mereka bertiga sebagai para imam, tetapi bukan imam yang telah dijadikan oleh Allah untuk manusia sebagai imam. Justeru Allah berfirman di dalam Surah al-Baqarah (2): 165-167 “Dan jika seandainya mereka yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat seksa, bahawa kekuatan itu adalah kepunyaan Allah semuanya bahawa Allah amat berat seksa-Nya.Iaitu ketika mereka yang diikuti itu berlepas diri dari mereka yang mengikutinya; dan segala hubungan antara mereka terputus sama sekali. Dan berkatalah mereka yang mengikuti:” Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami. Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatan mereka menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka”. Kemudian Abu Ja‘far a.s berkata: Mereka, demi Allah, wahai Jabir, para imam yang zalim dan pengikut-pengikut mereka
.
Abu al-Qasim al-Sya‘rani secara marfu‘, daripada Yunus bin Zabyan, daripada Abd al-Rahman bin al-Hajjaj, daripada al-Sadiq a.s berkata: Apabila al-Qaim menjalankan tugasnya, beliau akan datang ke dataran Kufah dan memberi isyarat dengan tangannya kepada suatu tempat, kemudian berkata: Kamu gali dari sini, lalu mereka menggali, dan mengeluarkan dua belas ribu baju besi, dua belas ribu pedang dan dua belas ribu topi besi. Setiap topi besi mempunyai dua muka. Kemudian beliau menyeru dua belas ribu lelaki daripada hamba-hamba Arab dan bukan Arab, lalu beliau memakaikan mereka pakaian seragam. Kemudian berkata: Sesiapa yang tidak mempunyai pakaian seragam seperti kamu, maka bunuhlah ia (man lam yakun ‘alai-hi mithlu ma ‘alai-kum fa-qtulu-hu)
.
Al-Sadiq a.s berkata: Sesungguhnya Allah telah menjadikan kami hujah-hujah-Nya di atas makhluk-Nya, dan penyimpan amanah ilmu-Nya, maka sesiapa yang mengingkari kami, maka kedudukannya seperti kedudukan Iblis (fa-man jahada-na kana bi-manzilati Iblis) di dalam kedegilannya kepada Allah ketika Dia telah memerintahkannya supaya sujud kepada Adam, dan sesiapa yang mengenali kami, dan mengikuti kami, maka kedudukannya seperti kedudukan para malaikat (wa man ‘arafa-na wa ittaba‘a-na kana bi-manzilati al-Malaikati) yang diperintahkan oleh Allah supaya sujud kepada Adam, maka mereka telah mentaati-Nya.
.
5. petikan kitab al haftu: Makrifat tentang keturunan kafir dan apa yang menimpanya daripada kebaikan, kejahatan, kefakiran, penyakit, bala, bahaya pada hartanya dan apakah sebabnya (fi ma‘rifati nasl al-Kafir wa ma yusiibu-hu min khairin… wa syarrin wa faqrin wa suqmin wa balaa’ wa aafati fi maali-hi wa ma al-‘illatu fi dhalika)
.
 Sesiapa yang mana amalan-amalannya yang baik seperti tasbih, sembahyang dan zakat mendahuluinya, sesungguhnya Dia menunaikan pahalanya mengikut kadar ihsan dan kejahatannya. Demikianlah pada dunia ini.
Al-Mufadhdhal telah berkata: Wahai Maulaaya, adakah bagi kafir sembahyang, zakat, puasa dan haji? Al-Sadiq a.s telah berkata: Wahai Mufadhdhal, tidakkah anda melihat sembahyang kumpulan Nasrani, puasa dan haji mereka? Demikian juga kumpulan Yahudi, semua penganut-penganut agama dan syariat yang bermacam-macam serta amalan agama mereka yang terkenal? Sebahagian mereka cenderung kepada amalan-amalan yang baik dan sebahagian mereka pula cenderung kepada amalan-amalan yang jahat.Adapun yang cenderung kepada amalan yang baik, maka dia adalah berbeza dengan yang lain. Kemudian beliau a.s membaca firman-Nya: “Sesiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah sekalipun, nescaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan sesiapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarrah sekalipun, nescaya dia akan melihat (balasan)nya.”Al-Mufadhdhal telah berkata: Wahai Maulaaya, ayat ini khusus untuk mukminin bukan untuk mereka yang kafir, tidakkah dikhususkan mukmin daripada kafir dalam amalan-amalan yang tertentu dan apakah balasan mereka yang kafir? Al-Sadiq a.s telah berkata: Diringankan azab daripada kafir dalam masukhiyyah dan sesungguhnya Dialah Maha Penyayang di antara para penyayang.
.
6. Petikan raudhah al Kaafi
Ali bin Muhammad, daripada Ahmad bin Abu Abdullah, daripada ‘Uthman bin Isa daripada Maisar berkata: Aku telah berjumpa Abu Abdullah a.s berkata: Bagaimana dengan para sahabat anda? Aku berkata: Aku jadikan diriku tebusan anda, kami di sisi me…reka adalah lebih jahat (Laa-nahnu ‘inda-hum asyarru min al-Yahud) daripada Yahudi, Nasara, Majusi dan Musyrikin, lantas beliau a.s terus duduk, kemudian berkata: Bagaimana anda berkata? Demi Allah, kami di sisi mereka adalah lebih jahat daripada Yahudi, Nasara, Majusi, dan Musyrikin. Beliau a.s berkata: Demi Allah, kamu berdua tidak akan memasuki neraka, demi Allah, sesungguhnya kamulah orang yang difirmankanoleh Allah di Surah Sad (38): 62-4 “Dan (golongan durhaka) berkata:“Mengapa kami tidak melihat golongan yang dahulu (di-dunia) kami anggap sebagai golongan yang jahat (hina). Apakah kami dahulu menjadikan mereka olok-olokan, ataukah kerana mata kami tidak melihat mereka? Sesungguhnya yang demikian itu pasti terjadi, (iaitu) pertengkaran penghuni neraka”.(raudhah al Kaafi, ms 100)
.
7. Nasibi Terhadap Ahlu l-Bait A.S Adalah Lebih Jahat Daripada Orang
Yang Meninggalkan Sembahyang.
.
Muhammad bin Yahya, daripada Ahmad bin Muhammad bin Isa, daripada al-Hasan bin Ali bin Fadhdhal daripada Ali bin ‘Uqbah, daripada Umar bin Abban…, daripada Abd al-Hamid al-Wabisyi, daripada Abu Ja‘far a.s, berkata: Aku telah berkata kepadanya bahawa bagi kami jiran yang mencabuli semua perkara yang haram sehingga dia meninggalkan solat lebih daripada yang lain? Maka beliau a.s berkata:
Subhanallah, aku akan memberitahu kepada kamu yang lebih besar daripada itu; orang yang lebih jahat daripadanya, aku berkata: Ya, beliau a.s berkata: Orang yang menentang kami (nasibi) adalah lebih jahat daripadanya (al-Naasibu la-naa syarrun min-hu). Kerana tiada seorang hamba yang menyebutkan di sisinya Ahlu l- Bait Rasulullah s.a.w, lalu hatinya menjadi lembut, lantas malaikat menyapukan belakangnya dan mengampuni segala dosa-dosanya untuknya melainkan dia melakukan dosa yang mengeluarkannya daripada iman. Sesungguhnya syafaat akan diterima, tetapi syafaat nasibi tidak akan diterima (wa ma tuqbalu fi naasibin). Sesungguhnya seorang mukmin akan memberi syafaat kepada jirannya yang tidak mempunyai kebaikan. Dia berkata: Wahai Tuhanku, jiranku telah menahan kesakitan daripadaku, lalu dia memberi syafaat kepadanya. Maka Allah berfirman: Aku adalah Tuhan kamu dan Aku adalah lebih berhak memberi syafaat kepada orang yang mempertahankan kamu, lalu Dia memasukkannya ke syurga tanpa kebaikan yang dilakukannya. Seorang mukmin sekurang-kurangnya dapat memberi syafaat kepada tiga puluh orang, maka ketika itu ahli neraka berkata di dalam Surah al-Syu‘araa’ (26): 100-1 “Maka kami tidak mempunyai pemberi syafaatseorangpun dan tidak pula mempunyai teman yang akrab”.(raudhah kafi m/s 126)

Kepemimpinan Ali bin Abi Thalib (AS)

ِ
إِنَّمَا وَلِيُّكُم اللهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ
“Sesungguhnya tiada lain pemimpin kalian adalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman, yang menegakkan shalat dan menunaikan zakat ketika sedang ruku’.”(al Maidah:55)
Para ulama dari kalangan mazhab Ahlul bait (sa) sepakat bahwa ayat ini turun ketika Imam Ali (sa) bersedekah, memberikan cicinnya kepada peminta-minta saat beliau sedang ruku’ dalam shalat.
.
Pendapat para mufassir
Pertama: Al-Qadhi Al-Iji (wafat tahun 756 H) mengakui dalam kitabnya Al-Mawaqif fi ilmil kalam bahwa mufassir sepakat ayat ini turun berkaitan dengan Amirul mukminin Ali bin Abi Thalib (sa). (Al-Mawaqif fi ilmil kalam, halaman 405).
Kedua: Al-Jurjani (wafat tahun 816 H) juga mengakui dalam kitabnya Syarah Al-Mawaqif fi ilmil kalam bahwa para mufassir sepakat ayat ini turun berkaitan dengan Imam Ali (sa). (Syarah Al-Mawaqif, jilid 8, halaman 360).
Ketiga: Alauddin Al-Qasyaji As-Samarqandi mengakui bahwa para mufassir dari Ahlussunnah sepakat, ayat ini turun sehubungan dengan Imam Ali bin Abi Thalib (sa). (Syarah Tajrid, Al-Qasyaji, halaman 368).
Silahkan rujuk kitab-kitab tafsir berikut:
1. Ad-Durrul Mantsur, As-Suyuthi, jilid 2, halaman 293.
2. Fathhul Qadir, Asy-Syaukani, jilid 2, halaman 53.
3. Al-Kasysyaf, Zamakhsyari, jilid 1, halaman 649.
4. Tafsir Al-Munir, Al-Jawi, jilid 1, halaman 210.
5. Fathhul Bayan, jilid 3, halaman 51.
6. Zadul Masir fi ilm At-Tafsir, Ibnu Jauzi, jilid 2, halaman 383.
7. Tafsir Fakhrur Razi, jilid 12, halaman 26 dan 20.
8. Tafsir Ibnu Katsir, jilid 2, halaman 71.
9. Ahkamul Qur’an, Al-Jashshash, jilid 4, halaman 102.
10. Tafsir An-Nasafi, jilid 1, halaman 289.
11. Kanzul Ummal, jilid 45, halaman 146, hadis ke 416.
12. Tafsir Jalayn, halaman 213.
Pendapat ahli hadis
Para ulama ahli hadis meriwayatkan hadis-hadis bahwa ayat ini turun sehubungan dengan Imam Ali bin Abi Thalib (sa). Mereka tersebut adalah:
1. Al-Hafizh Abdurrazzaq Ash-Shan’ani, penulis kitab Al-Mushannif, beliau guru Bukhari.
2. Al-Hafizh Abd bin Hamid, penulis kitab Musnad.
3. Al-Hafizh Razin bin Muawiyah Al-Andalusi, penulis kitab Al-Jam’u bayna Ash-
4. Shahhah As-sittah.
5. Al-Hafizh An-Nasa’i, penulis Shahih An-Nasa’i.
6. Al-Hafizh Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath-Thabari, penulis kitab Tarikh yang masyhur.
7. Ibnu Abi Hatim Al-Hafizh Ar-Razi, Muhaddist dan mufassir yang terkenal, yang diyakini oleh Ibnu Taimiyah dalam kitabnya Minhajus sunnah bahwa dalam tafsir Ibnu Abi Hatim tidak ada hadis-hadis yang maudhu’.
8. Al-Hafizh Abu Syeikh Al-Ishfahani.
9. Al-Hafizh Ibnu Asakir Ad-Damsyiqi.
10. Al-Hafizh Abu Qasim Ath-Thabrani.
11. Al-Hafizh Al-Khathib Al-Baghdadi.
12. Al-Hafizh Abul Farj Ibnu Al-Jauzi Al-Hanbali.
13. Al-Hafizh Muhibuddin Ath-Thabari, guru besar di Mekkah.
14. Al-Hafizh Jalaluddin As-Suyuthi, pembaharu di kalangan Ahlussunnah abad kesepuluh.
15. Al-Hafizh Syeikh Ali Al-Muttaqi Al-Hindi, penulis Kanzul ummal.
Mereka adalah ulama Ahli hadis dari kalangan Ahlussunnah dari berbagai abad, mereka meriwayatkan hadis bahwa ayat ini turun ketika Imam Ali bin Abi Thalib (sa) mensedekahkan cincinnya ketika ruku’ dalam shalat.
Al-Alusi, penulis tafsir Ruhul Ma’ani berkata: Umumnya ahli hadis mengatakan bahwa ayat ini turun untuk Ali (karramallahu wajhah). (Tafsir Ruhul Ma’ani, Al-Alusi, 6/168).
Umumnya para mufassir dan ahli hadis sejak masa Bukhari hingga abad kesebelas, menetapkan hadis tersebut dan berkata bahwa ayat ini turun untuk Imam Ali bin Abi Thalib (sa).
Jika kita membaca tafsir Ibnu Kasir, tentang tafsir ayat ini, kita akan dapati bahwa ia mengakui keshahihan sebagian sanad riwayat ini. Tetapi, walaupun Ibnu Katsir mengakui keshahihannya, kami tetap memandangnya sebagai tokoh yang ta’ashshub dalam tafsir dan tarikhnya. Padahal para ulama peliti hadis ini menyatakan bahwa hadis ini adalah shahih. Para ulama ahli hadis dari Ahlul bait (sa) telah meneliti pernyataan ulama-ulama tersebut, dan menyatakan sanad-sanad hadis tersebut shahih.
Antara lain hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dalam tafsirnya (tafsir Ibnu Abi Hatim 4/162). Ia meriwayatkan dari Abu Said Al-Asyaj dari Fadhl bin Dakkin, dari Musa bin Qays Al-Hadhrami, dari Salamah bin Kuhail, ia berkata: Ali mensedekahkan cincinnya ketika ia sedang ruku’, kemudian turunlah ayat ini Al-Maidah: 55.
Al-Alusi mengatakan umumnya ahli hadis menyatakan hadis ini shahih.
Hassan bin Tsabit, seorang sahabat terkenal, mengatakan dalam syairnya:
زكاةً فدتك النفس يا خيرَ راكعِ فأنت الذي أعطيت إذ كنت راكعاً
وأثبتها أثنى كتاب الشرايع فأنزل فيك الله خيرَ ولاية
Zakat telah menjadi tebusan dirimu wahai sebaik-baik orang yang ruku’
Engkaulah yang memberikan saat engkau sedang ruku’
Syariat menetapkan dan memujinya
sehingga Allah menurunkan padamu sebaik-baik wilayah.

(Ruhul Ma’ani, Al-Alusi, 6/168)
Disarikan dari kitab:
1. Fadhâil Al-Khamsah min Ash-Shihhah As-Sittah, Allamah Sayyid Murtadha Al-Firuz Abadi
2. Al-Mujâja’ât, Allamah Sayyid Syarafuddin Al-Musawi
3. Al-Mizâb fi Tafsîr Al-Qur’ân, Allamah Muhammad Husein Thabathaba’i

Ali bin Abi Thalib (sa) adalah washi dan khalifah Rasulullah saw


وَ أَنذِرْ عَشِيرَتَك الأَقْرَبِينَ
“Berilah peringatan keluargamu yang terdekat.”(as Syura: 214)
Ketika ayat ini turun Rasulullah saw bersabda: “Wahai Bani Abdul Muthallib, demi Allah tidak pernah aku ketahui di seluruh bangsa Arab sesuatu yang lebih utama dari apa yang aku bawa untukmu. Aku datang kepadamu untuk kebaikan di dunia dan akhirat. Allah telah menyuruhku mengajakmu kepada-Nya. Maka, siapakah di antara kamu yang bersedia membantuku dalam urusan ini untuk menjadi saudaraku, washiku dan khalifahku?” Mereka semua tidak bersedia kecuali Ali bin Abi Thalib yang saat itu paling muda. Ali berdiri seraya berkata: “Aku ya Nabiyallah, aku (bersedia menjadi) wazir (pembantu)mu dalam urusan ini.” Kemudian Rasulullah saw memegang bahu Ali seraya bersabda: “Sesungguhnya Ali ini adalah saudaraku, washiku, dan khalifahku terhadap kalian, maka dengarlah dia dan taatilah dia.” Mereka tertawa sambil berkata kepada Abu Thalib: Kamu disuruh mendengar dan mentaati anakmu. (Lebih rinci, baca hadis Indzar).
Hadis ini dan yang semakna terdapat dalam:
1. Syawahid Tanzil, Al-Haskani Al-Hanafi, jilid 1, halaman 372, hadis ke 514, halaman 420, hadis ke 580, cet. pertama, Bairut.
2. Tafsir Ath-Thabari, jilid 19, halaman 74, cet. Bulaq; jilid 19, halaman 68, cet. Al-Maimaniyah; jilid 19, halaman 121, cetakan kedua Mesir.
3. Tarikh Ath-Thabari, jilid 2, halaman 319, cet. Mesir; jilid 2, halaman 216, cetakan yang lain.
4. Musnad Ahmad bin Hambal, jilid 1, halaman 111, cet. Al-Maimaniyah, Mesir.
5. Kifayah Ath- Thalib, Al-Kanji Asy-Syafi’i, halaman 204-205,. cet. Al-Haidariyah; halaman 89, cet. Al-Ghira.
6. Tadzikrah Al-Khawwash, As-Sibth bin Al-Jauzi Al-Hanafi, halaman 38, cet. Al-Haidariyah; halaman 44, cet. Najef.
7. Muntakhab Kanzul ‘Ummal (catatan pinggir) Musnad Ahmad, jilid 5, halaman 41, 42 dan 43.
8. Yanabi’ul Mawaddah, Al-Qundusi Al-Hanafi, halaman 105, cet. Istambul; halaman 122, cet. Al-Haidariyah.
9. SyarhNahjul Balaghah, Ibnu Abil Hadid, jilid 13, halaman 210, cet. Mesir, dengan Tahqiq Muhammad Abul Fadhl.
10. Al-Kamil, Ibnu Atsir, jilid 2, Halaman 62, cet. Dar-Shadir; jilid 2, halaman 216, cetakan yang lain, Mesir.
11. Tarikh Abil Fida’, jilid 1, halaman 119, cet. Al-Qastantiniyah.
12. Ad-Durrul Mantsur, As-Suyuthi, jilid 5, halaman 97.
13. Tarjamah Al-Imam Ali bin Abi Thalib, dalam Tarikh Damsyiq, oleh Ibnu Asakir Asy-Syafi’i jilid 85, hadis ke 138, 130 dan 140.
14. Tafsir Ibnu Katsir, jilid 3, halaman 351.
15. Kanzul ‘Ummal, jilid 15, halaman 113, hadis ke: 323, 324, 380, dan 381, cet. Kedua Haidar Abad; jilid 6, halaman 396, cet pertama.
16. Tafsir Al-Khazin, jilid 3, halaman 371.
17. As-Sirah Al-Halabiyah, jilid 1, halaman 286.
18. Tafsir Al-Munir Lima’alimuz Tanzil, Al-Jawi, jilid 2, halaman 118, cet. ketiga Mushthafa Al-Halabi.

TAAT KEPADA ULIL AMRI


Surat An Nisa': 59
Ulil amri adalah para Imam dari Ahlul bait (as)
يَأَيهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَ أَطِيعُوا الرَّسولَ وَ أُولى الأَمْرِ مِنكمْ
Yang dimaksud “Ulil-amri” dalam ayat ini adalah Ali bin Abi Thalib (as) dan Ahlul bait Nabi saw
.
Dalam Tafsir Al-Burhan tentang ayat ini disebutkan suatu riwayat yang bersumber dari Jabir Al-Anshari (ra), ia berkata: Ketika Allah menurunkan ayat ini aku bertanya: Ya Rasulallah, kami telah mengetahui Allah dan Rasul-Nya, tetapi siapakah yang dimaksud dengan Ulil-amri yang ketaatannya kepada mereka Allah kaitkan dengan ketaatan kepada-Nya dan Rasul-Nya? Rasulullah saw menjawab:
Wahai Jabir, mereka itu adalah para penggantiku: Pertama, Ali bin Abi Thalib, kemudian Al-Hasan, kemudian Al-Husein, kemudian Ali bin Al-Husein, kemudian Muhammad bin Ali, kemudian Muhammad bin Ali yang dalam Taurat gelarnya masyhur Al-Baqir. Wahai Jabir, kamu akan menjumpai dia, sampaikan salamku kepadanya. Kemudian Ash-Shadiq Ja’far bin Muhammad, kemudian Musa bin Ja’far, kemudian Ali bin Musa, kemudian Muhammad bin Ali, kemudian Al-Hasan bin Muhammad, kemudian dua nama Muhammad dan yang punya dua gelar Hujjatullah di bumi-Nya dan Baqiyatullah bagi hamba-hamba-Nya yaitu Ibnul Hasan, dialah yang Allah perkenalkan sebutan namanya di seluruh belahan bumi bagian barat dan timur, dialah yang ghaib dari para pengikutnya dan kekasihnya, yang keghaibannya menggoyahkan keimamahannya kecuali bagi orang-orang yang Allah kokohkan keimanan dalam hatinya.”
.
Ringkasan Kritik Allamah Thabathaba’i terhadap Fakhrur Razi
Fakhrur Razi mengatakan: Pembatasan kata Ulil-amri dengan kata minkum menunjukkan salah seorang dari mereka yakni manusia biasa seperti kita, yaitu orang yang beriman yang tidak mempunyai keistimewaan Ishmah Ilahiyah (jaminan kesucian dari Allah). Yang perlu diragukan adalah pendapat yang mengatakan: Mereka (Ulil-amri) adalah satu kesatuan pemimpin, yang ketaatan kepada masing-masing mereka hukumnya wajib.
Ar-Razi lupa bahwa makna ini sudah masyhur digunakan dalam bahasa Al-Qur’an, misalnya: “janganlah kamu mentaati orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah)” (Al-Qalam: 8), “Janganlah kamu mentaati orang-orang kafir.” (Al-Furqan: 52), dan ayat-ayat yang lain dalam bentuknya yang bermacam-macam: kalimat positif, kalimat negatif, kalimat berita, kalimat perintah dan larangan.
.
Ringkasan Kritik Allamah Thabathaba’i terhadap Tafsir Al-Manar
Syeikh Rasyid Ridha mengatakan: Ulil-amri adalah Ahlul hilli wal-Aqdi yaitu orang-orang yang mendapat kepercayaan ummat. Mereka itu bisa terdiri dari ulama, panglima perang, dan para pemimpin kemaslatan umum seperti pemimpin perdagangan, perindustrian, pertanian. Termasuk juga para pemimpin buruh, partai, para pemimpin redaksi surat kabar yang Islami dan para pelopor kemerdekaan.
.
Inikah maksud dari Ulil-amri? Pendapat ini dan yang punya pandangan seperti ini telah menutupi makna Al-Qur’an yang sempurna dengan makna yang tidak jelas. Ayat ini mengandung makna yang jelas yaitu Ismah Ilahiyah (jaminan kesucian dari Allah) bagi Ulil-amri. Karena ketaatan kepada Ulil-amri bersifat mutlak, dikaitkan dengan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.
Apakah yang mempunyai sifat kesucian (‘ishmah) adalah para pemimpin lembaga-lembaga itu sehingga mereka dikatagorikan sebagai orang-orang yang ma’shum? Yang jelas tidak pernah terjadi para Ahlul hilli wal-‘Iqdi yang mengatur urusan ummat, mereka semuanya ma’shum. Mustahil Allah swt memerintahkan sesuatu yang penting tanpa mishdaq (ekstensi) yang jelas. Dan mustahil sifat ‘ishmah dimiliki oleh lembaga yang orang-orangnya tidak ma’shum, bahkan yang sangat memungkinkan mereka berbuat kezaliman dan kemaksiatan. Pendapat mereka ini jelas salah dan mengajak pada kesesatan dan kemaksiatan. Mungkinkah Allah mewajibkan kita taat kepada orang-orang seperti mereka?
.
Pendapat Ahlul Bait (as)

Ulil-amri adalah Ali bin Abi Thalib dan para Imam suci (as).

Dalam Tafsir Al-‘Ayyasyi tetang ayat ini menyebutkan bahwa:
Imam Muhammad Al-Baqir (as) berkata tentang ayat ini: “Mereka itu adalah para washi Nabi saw.”
Tentang ayat ini Imam Ja’far Ash-Shadiq (as) berkata: “Mereka adalah para Imam dari Ahlul bait Rasulullah saw.”
Tentang ayat ini Imam Muhammad Al-Baqir (as) berkata: “Mereka adalah para Imam dari keturunan Ali dan Fatimah hingga hari kiamat.”
Dalam kitab Yanabi’ul Mawaddah disebutkan suatu riwayat dari Salim bin Qais Al-Hilali, ia berkata bahwa Imam Ali bin Abi Thalib (as) berkata: “Yang paling dekat bagi seorang hamba terhadap kesesatan adalah ia yang tidak mengenal Hujjatullah Tabaraka wa Ta’ala. Karena Allah telah menjadikannya sebagai hujjah bagi hamba-hamba-Nya, dia adalah orang yang kepadanya Allah perintahkan hamba-hamba-Nya untuk mentaatinya dan mewajibkan untuk berwilayah kepadanya.
Salim berkata: Wahai Amirul mukmin, jelaskan kepadaku tentang mereka (Ulil-amri) itu.
Amirul mukminin (as) berkata: “Mereka adalah orang-orang yang ketaataannya kepada mereka Allah kaitkan pada diri-Nya dan Nabi-Nya.” Kemudian ia berkata: “Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kalian kepada Allah, Rasul-Nya, dan kepada Ulil-amri kalian.”
Salim bin Qais berkata: Wahai Amirul mukminin, jadikan aku tebusanmu, jelaskan lagi kepadaku tentang mereka itu.
Amirul mukminin (as) berkata: “Mereka adalah orang-orang yang oleh Rasulullah saw disampaikan di berbagai tempat dalam sabda dan khutbahnya, Rasulullah saw bersabda: ‘Sungguh aku tinggalkan pada kalian dua perkara, jika kalian berpegang teguh dengan keduanya kalian tidak akan tersesat sesudahku: Kitab Allah dan ‘itrahku, Ahlul baitku’.”
Riwayat hadis ini dan yang semakna dengan hadis tersebut terdapat dalam:
1. Tafsir Ad-Durrul Mantsur tentang ayat ini.
2. Tafsir Ath-Thabari tentang ayat ini.
3. Tafsir Fakhrur Razi, jilid 3 halaman 357, tentang ayat ini.
4. Yanabi’ul Mawaddah, oleh Syaikh Sulaiman Al-Qundusi Al-Hanafi, halaman 134, cet. Al-Haidariyah; halaman 114 dan 117, cet. Islambul.
5. Syawahidut Tanzil, oleh Al-Hakim Al-Haskani Al-Hanafi, jilid 1, halaman 148, hadis ke 202, 203 dan 204.
6. Ihqaqul Haqq, oleh At-Tustari, jilid 3, halaman 424, cet. pertama, Teheran.
7. Faraid As-Samthin, jilid 1, halaman 314, hadis ke 250.

Syi’ah tidak menganggap al-Kafi dll kitab hadis sebagai kitab suci yang tidak mungkin salah ! Jadi kutipan sunni dari kitab kitab syi’ah bukan bermakna itu semua i’tiqad syi’ah

Kamis, 04 Oktober 2012 13:41 Redaksi

Oleh: Ustad Husain Ardilla*

Syi’ah tidak menganggap al-Kafi dll kitab hadis sebagai kitab suci yang tidak mungkin salah ! Jadi kutipan sunni dari kitab kitab syi’ah bukan bermakna itu semua i’tiqad syi’ah

kenyataan yang sebenarnya adalah Al Kafi di sisi Syiah tidak sama kedudukannya dengan Shahih Bukhari di sisi Sunni. Al Kafi memang menjadi rujukan oleh ulama Syiah tetapi tidak ada ulama Syiah yang dapat membuktikan bahwa semua riwayat Al Kafi shahih.

Dalam mengambil hadis sebagai rujukan, ulama syiah akan menilai kedudukan hadisnya baru menetapkan fatwa. Hal ini jelas berbeda dengan Shahih Bukhari dimana Bukhari sendiri menyatakan bahwa semua hadisnya adalah shahih, dan sudah menjadi ijma ulama(sunni tentunya) bahwa kitab Shahih Bukhari adalah kitab yang paling shahih setelah Al Quran.

cendekiawan Syiah menolak menyamakan kitab hadits al-Kafi dengan Shahih Bukhari. Mereka tidak setuju jika ada orang menilai kedudukan Al Kafi di sisi Syiah sama dengan Shahih Bukhari di sisi Sunni. Bahkan mereka menuduh orang yang melakukan hal itu bertujuan untuk mengelabui orang  awam yang tidak tahu-menahu tentang Al Kafi.

Mereka mengakui bahwa Al Kafi, karya al-Kulaini memang menjadi rujukan Syiah tetapi tidak ada ulama Syiah yang dapat membuktikan bahwa semua riwayat Al Kafi shahih. Karena itu, dalam mengambil hadits sebagai rujukan, ulama Syiah akan menilai kedudukan haditsnya, baru menetapkan fatwa. Hal ini jelas berbeda dengan Shahih Bukhari dimana Bukhari sendiri menyatakan bahwa semua hadisnya adalah shahih, dan sudah menjadi ijma ulama Sunni bahwa kitab tersebut paling shahih setelah Al Quran.

Mereka mengatakan bahwa Al Kulaini menuliskan riwayat apa saja yang dia dapatkan dari orang yang mengaku mengikuti para Imam Ahlul Bait as. Ia hanyalah mengumpulkan hadis-hadis dari Ahlul Bait. Menurut mereka tidak ada sedikitpun pernyataan Al Kulaini bahwa semua hadis yang dia kumpulkan otentik. Oleh karena Itulah ulama-ulama sesudahnya telah menseleksi hadits dalam kitab tersebut dan menentukan kedudukan setiap haditsnya. Allamah Al Hilli misalkan, yang telah mengelompokkan hadis-hadis Al Kafi menjadi shahih, muwatstsaq, hasan dan dhaif. Sayyid Ali Al Milani menyatakan bahwa 5.072 hadis shahih, 144 hasan, 1128 hadis muwatstsaq (hadis yang diriwayatkan perawi bukan Syiah tetapi dipercayai oleh Syiah), 302 hadis Qawiy (kuat) dan 9.480 hadis dhaif.

Al-Sayyid Muhammad al-Mujahid al-Tabataba’i (1242H) juga mengemukakan hujah bahwa tidak semua riwayat al-Kafi sahih. Hal ini diungkapkan oleh Hasyim Ma’ruf Husyein dalam kitabnya,  Dirasat Hadits. (hal.135-136)

Hal yang sama juga dikatakan oleh Ayatullah Husayn `Ali al-Muntazari mengenai ketidaksahihan riwayat dalam al-Kafi dalam kitabnya Dirasah  fi Makasib al Muharomah, juz III, hal. 123. Ia mengatakan: “Kepercayaan al-Kulaini akan kesahihan riwayat (di dalam kitabnya) tidak termasuk dalam hujah syar’iah karena dia bukanlah ma’sum di sisi kami.”

Sudah jelas siapapun orangnya apakah Sunni atau Syiah, berhujjah dengan hadis dhaif adalah keliru. Kalau ia menganggap metode dirinya benar maka Syiahpun juga benar. Jika Syiah berdusta maka apa ia akan ikut berdusta pula. Bagaimana mungkin dikatakan dibolehkan berdusta asalkan digunakan untuk membantah kedustaan Syiah?

.

Kami tekankan bahwa kami tidak ada masalah dengan siapapun yang mau membela Ahlus Sunnah dan membantah Syiah ataupun sebaliknya tetapi harus diingat bahwa jangan sampai kebablasan dalam membantah sehingga memakai akhlak yang buruk dan lisan yang kotor. Apalagi jika lisan kotor tersebut diimbaskan juga pada orang lain yang bukan Syiah.  Dan yang paling menjijikkan adalah menjustifikasi lisan kotor-nya dengan mengatasnamakan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Semoga Allah SWT melindungi kita dari keburukan yang seperti ini

.

Ketika Sunni dan Syiah mengakui tuhan yang sama, nabi yang sama, Alquran yang sama, kiblat yang sama, syahadat yang sama, mengapa perbedaan harus dibesar-besarkan?
.
Tentu jika membahas masalah Al Kafi membuat sebagian kalangan marah karena banyak riwayat-riwayat yang terdapat di dalamnya yang bertentangan dengan pemikiran Ahlusunnah. Namun saya sdikit memberikan gambaran tentang Al Kafi agar tidak terjadi perselisihan di tengah masyarakat Muslim yang di inginkan oleh musuh Islam
.
Mereka yang mengkritik Syiah telah membawakan riwayat-riwayat yang ada dalam kitab rujukan Syiah yaitu Al Kafi dalam karya-karya mereka seraya mereka berkata Kitab Al Kafi di sisi Syiah sama seperti Shahih Bukhari di sisi Sunni. Tujuan mereka berkata seperti itu adalah sederhana yaitu untuk mengelabui mereka yang awam yang tidak tahu-menahu tentang Al Kafi. Atau jika memang mereka tidak bertujuan seperti itu berarti Mereka lah yang terkelabui
.
Dengan kata-kata seperti itu maka orang-orang yang membaca karya mereka akan percaya bahwa riwayat apa saja dalam Al Kafi adalah shahih atau benar sama seperti hadis dalam Shahih Bukhari yang semuanya didakwa shahih.  Sungguh sangat disayangkan, karena kenyataan yang sebenarnya adalah Al Kafi di sisi Syiah tidak sama kedudukannya dengan Shahih Bukhari di sisi Sunni
.
Al Kafi memang menjadi rujukan oleh ulama Syiah tetapi tidak ada ulama Syiah yang dapat membuktikan bahwa semua riwayat Al Kafi shahih. Dalam mengambil hadis sebagai rujukan, ulama syiah akan menilai kedudukan hadisnya baru menetapkan fatwa. Hal ini jelas berbeda dengan Shahih Bukhari dimana Bukhari sendiri menyatakan bahwa semua hadisnya adalah shahih, dan sudah menjadi ijma ulama(sunni tentunya) bahwa kitab Shahih Bukhari adalah kitab yang paling shahih setelah Al Quran
.
Kedudukan Al Kafi
Al Kafi adalah kitab hadis Syiah yang ditulis oleh Syaikh Abu Ja’far Al Kulaini pada abad ke 4 H. Kitab ini ditulis selama 20 tahun yang memuat 16.199 hadis. Al Kulaini tidak seperti Al Bukhari yang menseleksi hadis yang ia tulis. Di Al Kafi, Al Kulaini menuliskan riwayat apa saja yang dia dapatkan dari orang yang mengaku mengikuti para Imam Ahlul Bait as. Jadi Al Kulaini hanyalah sebagai pengumpul hadis-hadis dari Ahlul Bait as. Tidak ada sedikitpun pernyataan Al Kulaini bahwa semua hadis yang dia kumpulkan adalah otentik. Oleh karena Itulah ulama-ulama sesudah Beliau telah menseleksi hadis ini dan menentukan kedududkan setiap hadisnya
.
Di antara ulama syiah tersebut adalah Allamah Al Hilli yang telah mengelompokkan hadis-hadis Al Kafi menjadi shahih, muwatstsaq, hasan dan dhaif. Pada awalnya usaha ini ditentang oleh sekelompok orang yang disebut kaum Akhbariyah. Kelompok ini yang dipimpin oleh Mulla Amin Astarabadi menentang habis-habisan Allamah Al Hilli karena Mulla Amin beranggapan bahwa setiap hadis dalam Kutub Arba’ah termasuk Al Kafi semuanya otentik. Sayangnya usaha ini tidak memiliki dasar sama sekali. Oleh karena itu banyak ulama-ulama syiah baik sezaman atau setelah Allamah Al Hilli seperti Syaikh At Thusi, Syaikh Mufid, Syaikh Murtadha Al Anshari dan lain-lain lebih sepakat dengan Allamah Al Hilli dan mereka menentang keras pernyataan kelompok Akhbariyah tersebut. (lihat Prinsip-prinsip Ijtihad Antara Sunnah dan Syiah oleh Murtadha Muthahhari hal 23-30)
.
Dari hadis-hadis dalam Al Kafi, Sayyid Ali Al Milani menyatakan bahwa 5.072 hadis shahih, 144 hasan, 1128 hadis Muwatstsaq(hadis yang diriwayatkan perawi bukan syiah tetapi dipercayai oleh syiah), 302 hadis Qawiy (kuat) dan 9.480 hadis dhaif. (lihat Al Riwayat Li Al Hadits Al Tahrif oleh Sayyid Ali Al Milani dalam Majalah Turuthuna Bil 2 Ramadhan 1407 H hal 257). Jadi dari keterangan ini saja dapat dinyatakan kira-kira lebih dari 50% hadis dalam Al Kafi itu dhaif. Walaupun begitu jumlah hadis yang dapat dijadikan hujjah (yaitu selain hadis yang dhaif) jumlahnya cukup banyak, kira-kira hampir sama dengan jumlah hadis dalam Shahih Bukhari
.
Semua keterangan diatas sudah cukup membuktikan perbedaan besar di antara Shahih Bukhari dan Al Kafi. Suatu Hadis jika terdapat dalam Shahih Bukhari maka itu sudah cukup untuk membuktikan keshahihannya. Sedangkan suatu hadis jika terdapat dalam Al Kafi maka tidak bisa langsung dikatakan shahih, hadis itu harus diteliti sanad dan matannya berdasarkan kitab Rijal Syiah atau merujuk kepada Ulama Syiah tentang kedudukan hadis tersebut
.
Catatan
Oleh karena cukup banyaknya hadis yang dhaif dalam Al-Kafi maka sepatutnya orang harus berhati-hati dalam membaca buku-buku yang menyudutkan syiah dengan menggunakan riwayat-riwayat Hadis Syiah seperti dalam Al-Kafi. Dalam hal ini bersikap skeptis adalah perlu sampai diketahui dengan pasti kedudukan hadisnya baik dengan menganalisis sendiri berdasarkan Kitab Rijal Syiah atau merujuk langsung ke Ulama Syiah
.
Dan Anda bisa lihat di antara buku-buku yang menyudutkan syiah dengan memuat riwayat syiah sendiri seperti dari Al Kafi tidak ada satupun penulisnya yang bersusah payah untuk menganalisis sanad riwayat tersebut atau menunjukkan bukti bahwa riwayat itu dishahihkan oleh ulama syiah. Satu-satunya yang mereka jadikan dalil adalah Fallacy bahwa Al Kafi itu di sisi Syiah sama seperti Shahih Bukhari di Sisi Sunni. Padahal sebenarnya tidak demikian, sungguh dengan fallacy seperti itu mereka telah menyatakan bahwa Syiah itu kafir dan sesat. Sungguh Sayang sekali
.
Peringatan ini jelas ditujukan kepada mereka yang akan membaca buku-buku tersebut agar tidak langsung percaya begitu saja. Pikirkan dan analisis riwayat tersebut dengan Kitab Rijal Syiah (Rijal An Najasy atau Rijal Al Thusi). Atau jika terlalu sulit dengarkan pendapat Ulama Syiah perihal riwayat tersebut. Karena pada dasarnya mereka Ulama Syiah lebih mengetahui hadis Syiah ketimbang para penulis buku-buku tersebut
.
Politik Adu Domba Zionis
Sebenarnya perbedaan pemahaman dalam masalah hadis diatas merupakan hal yang sepele yang tidak menimbulkan perpecahan umat, namun selalu dalam hal ini oleh musuh-musuh islam di gunakan sebagai politik adu domba di tengah masyarakat Islam. Menurut Prof Dr Musthafa ar-Rifa’i lewat kitab bertajuk Islamuna fi at-Taufiq Baina as-Sunni wa asy-Syi’ah, perbedaan antara Sunni-Syiah yang selama ini kerap muncul di permukaan, hakikatnya bukan perbedaan yang prinsipil
.
Perbedaan hanya terletak pada persoalan non-prinsipil furuiyyah yang dapat ditoleransi.  Dalam konteks masa kini, ar-Rafa’i meyakini, faktor lain yang amat kuat memengaruhi dan memanaskan konflik antara Sunni dan Syiah adalah kekuatan eksternal yang datang dari imperalis Barat.
Terutama politik dan konspirasi devide et impera (politik memecah belah) yang diterapkan oleh protokol kaum Zionis yang hendak memecah belah umat. Perpecahan faksi dan sekte yang tumbuh berkembang di internal Muslim, digunakan sebagai momen membenturkan dan mengadu domba berbagai kelompok itu.

Sunni menuduh hadis syi’ah penuh kebohongan, lalu Mengapa perawi hadis sunni (seperti Bukhari dll) tidak merujuk kepada Imam Ahlulbait As ?

Kenapa Bukhari tidak mengumpulkan hadis dari jalur Imam Ja’far Shadiq ??

Jika wahabi menuduh bahwa YANG SESAT BUKAN 12 iMAM, tetapi PENGiKUT nya, maka tanyakan kepada wahabi : “Mengapa perawi hadis sunni (seperti Bukhari dll) tidak merujuk kepada Imam Ahlulbait As ?”

Sebelum terlalu jauh, mari kita ingat beberapa fakta ini:

1. Syiah adalah mazhab Islam terbesar kedua setelah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

2. Syiah adalah mazhab yang dianut oleh jumlah sangat signifikan penduduk negara-negara Timur Tengah (untuk tidak mengatakan mayoritas penduduk Teluk), tempat asal Islam.

3. Syiah adalah mazhab yang dianut oleh mayoritas dua bangsa pemilik tradisi keilmuan paling kuat dan paling kaya di dunia Islam: Iran (90%) dan Irak (68%).

Kedua bangsa yang kemudian menjadi Muslim Syiah ini bisa dibilang adalah pemilik dua khazanah kultural pra Islam (Persia dan Akkadia, Asyuria & Babilonia di wilayah Mesopotamia) yang berkontribusi paling besar terhadap kemajuan umat manusia. Intinya, Persia + Babilonia memiliki “tradisi ilmiah” di atas kebanyakan penduduk Muslim lain–tanpa mengurangi rasa hormat kepada bangsa lain, karena saya sendiri bukan tergolong dari kedua bangsa tersebut.

Ada baiknya kita bertanya: Mungkinkah kedua bangsa pemilik tradisi ilmiah hebat dan kaya itu telah sampai pada tafsir agama yang lebih baik dari kita?

4. Mari kita lihat kembali data populasi Syiah berikut ini: Iran (90%), Iraq (65%–menurut sensus rezim Saddam yang berat sebelah dan tak menunjukkan fakta sebenarnya), Azerbaijan (85%), Lebanon (35-40%), Kuwait (35%–menurut sensus rezim Wahabi yang menyesatkan Syiah), Turkey (25%), Saudi Arabia (10-15%–menurut sensus rezim Wahabi yang mengkafirkan Syiah), Yaman (40%), Uni Emirat Arab (15-20 % –menurut sensus rezim tribal Al-Nahiyan yang anti Iran) dan Bahrain (80%–menurut sensus rezim Wahabi yang menyesatkan Syiah).

Nah, setelah melihat beberapa fakta di atas, marilah kita kembali ke topik hadis Syiah. Berikut saya berikan beberapa tanggapan umum—tanpa merujuk pada poin-poin yang ditulis sebelumnya karena saya takkan terlibat perdebatan:

1. Apa yang disebut Sunnah atau Hadis oleh Syiah bukan hanya berupa ucapan, perilaku, sikap, kebiasaan Nabi, tapi juga seluruh ma’shum yang berjumlah 14. Dengan demikian, era wurud Sunnah tidak berhenti dengan wafatnya Nabi Besar Muhammad–seperti kepercayaan Ahlus Sunnah–melainkan berlanjut terus hingga masa kegaiban besar Imam Muhammad bin Hasan Al-Askari pada 941 M atau 329 H. Karena faktor itulah kita-kitab hadis Syiah ditulis dan dikodifikasikan dalam beberapa periode yang berbeda. Tapi itu tidak berarti bahwa kitab hadis Syiah baru ada di abad ke7 seperti diklaim sebagian orang. Jumlah hadis Syiah juga lebih banyak daripada hadis Sunni. Saya tak pernah hitung berapa persis jumlah surplusnya, tapi yg jelas ada defisit  hadis dalam mazhab Sunni :-)

Dilema justru muncul di kalangan mazhab Ahlus Sunnah yang mengakhiri periode Sunnah pada masa Nabi Muhammad tapi penulisannya terjadi jauh setelah beliau wafat. Ada periode kevakuman yang panjang. Banyak peneliti yg mencurigai bahwa dalam periode ini telah terjadi produksi hadis palsu besar-besaran. Kecurigaan ini didukung berbagai fakta. Tapi saya lagi2 tak tertarik untuk lari2an ke topik lain.

Kekayaan Sunnah dalam mazhab Syiah ini beberapa ratus tahun lalu memunculkan dampak negatif berupa fenomena pola pikir Akhbari. Kaum Akhbari percaya bahwa sunnah 14 Ma’shum sudah mencakupi semua sisi kehidupan manusia, sehingga tak perlu ada ijtihad dan sebagainya. Tapi itu juga isu lain lagi.

2.  Setiap mujtahid dalam Syiah tidak menyandarkan keabsahan hadis pada si pengumpul hadis, namun mereka harus melakukan verifikasi, investigasi dan riset hadis sendiri untuk menilai kredibilitas perawi dan kebasahan matan hadis yang diriwayatkannya. Untuk itulah, mujtahid dalam mazhab Syiah harus menguasai metode verifikasi hadis dengan handal. Bahkan, banyak di antara mujtahid yang juga sekaligus adalah muhaddits. Misalnya, Ayatullah Khoei yang beberapa saat sebelum meninggal dunia sempat mengarang buku rijal sebanyak 24 jilid besar. Kalo ada yang mau lihat buku itu, bisa download di sini: http://www.shiatc.com/Lib_List/t5.xml

3. Karena poin 2 di atas, kalangan Syiah tak mengenal adanya kitab shahih. Pengumpul hadis tak pernah mengklaim hadisnya shahih. Dia hanya mengumpulkan dan menyerahkan penilaian pada masing-masing pakar, terutama yang ingin berijtihad. Allamah Majlisi sampai berhasil menuliskan hadis Syiah dalam 120 jilid.

Di bawah, saya copas satu bab penuh dari karya Allamah Hasan Shadr berkenaan dengan kepeloporan Syiah dalam bidang Hadis.

Bab Kedua

Kepeloporan Syi’ah dalam Ilmu-ilmu Hadis

Sebelum memasuki serangkaian pasal dari bab ini, kami akan mengajak pembaca untuk mengenal alasan kepeloporan kaum Syi’ah dalam ilmu-ilmu hadis. Di sini, saya hendak menyatakan bahwa di antara para sahabat dan para tabi’in terdapat perselisihan besar tentang penulisan ilmu. Banyak dari mereka enggan melakukan penulisan dan penyusunan ilmu, meski ada sebagian dari mereka yang melakukannya, di antaranya ialah Ali ibn Abi Thalib a.s. dan putra beliau yang pertama; Hasan Al-Mujtaba a.s .

Sebagaimana yang dikatakan oleh As-Suyuthi di dalam Tadribur Rawi, bahwa Nabi saw. telah mendiktekan kepada Ali bin Abi Thalib seluruh yang terkumpul di dalam sebuah kitab besar, dan Al-Hakam ibn ‘Uyainah telah melihat kitab tersebut berada di tangan Imam Muhammad Al-Baqir, yaitu ketika di antara mereka berdua terjadi perselisihan pen-dapat tentang suatu masalah, lalu Imam Al-Baqir a.s. mengeluarkan kitab itu dan menjelaskannya lalu menga-takan kepada Al-Hakam: “Ini adalah tulisan tangan Ali ibn Abi Thalib yang didiktekan oleh Rasulullah, dan inilah kitab pertama yang menghimpun ilmu-ilmu pada masa hidup Rasulullah saw.” Maka, kaum Syi’ah mengetahui bagai-mana penyusunan ilmu itu sebegitu rapihnya. Lalu, mereka segera menapaki langkah imam pertama mereka.

Sementara itu, terdapat sekelompok dari selain Syi’ah yang justru melarang penyusunan ilmu ke dalam sebuah kitab, sehingga mereka tertinggal. Al-Jahidz As-Suyuthi di dalam Tadribur Rawi mengatakan: “Karya-karya yang mun-cul pada jaman sahabat dan kaum tabi’in belum tersusun secara rapih, mengingat hafalan mereka yang kuat, selain juga sebelum itu mereka melarang upaya penulisan ilmu-ilmu, sebagaimana yang disinyalir di dalam Shahih Muslim, lantaran kekuatiran mereka terhadap pencampuradukan hadis dengan ayat-ayat Al-Quran. Di samping itu juga karena sebagian besar dari mereka tidak mampu menulis.”

Saya katakan bahwa hal ini terjadi pada selain sahabat dan tabi’in besar Syi’ah. Adapun sahabat dan tabi’in dari Syi’ah, mereka sudah merumuskan ilmu dan menyusunnya, sebagaimana usaha ini telah dimulai oleh Amiril Mukminin Ali ibn Abi Thalib a.s.

Pasal Pertama

Tentang Orang Pertama yang Mengumpulkan Hadis dan Menyusunnya ke dalam Bab-bab

Di antara orang Syi’ah yang pertama kali melakukan proses pengumpulan dan penyusunan itu ialah Abu Rafi’e; budak Rasulullah saw. An-Najasyi di dalam Asma’ Mushannifisy Syi’ah, mengatakan: “Dan Abu Rafi’e budak Rasulullah saw. mempunyai kitab As-Sunan wal Ahkam wal-Qodhoya”. Lalu ia  menyebutkan sanad-sanadnya sampai periwayatan kitab secara bab per bab;  mulai dari bab shalat, puasa, haji, zakat dan tema-tema muamalah. Kemudian dia menyatakan bahwa Abu Rafi’e telah menjadi Muslim secara lebih dahulu di Mekkah lalu hijrah ke Madinah dan ikut serta bersama Nabi saw. dalam banyak peperangan, dan setelah wafat beliau, ia menjadi pengikut setia Amiril Mukminin Ali ibn Abi Thalib a.s.

Abu Rafi’e tergolong sebagai orang Syi’ah yang saleh, dan turut terjun di dalam peperangan bersama Ali ibn Abi Thalib a.s. Ia juga dipercayai sebagai pemegang kunci Baitul Mal di masa kekhalifahan Ali ibn Abi Thalib di Kufah.

Abu Rafi’e meninggal pada tahun 35 H., sesuai dengan kesaksian Ibnu Hajar di dalam At-Taqrib, di mana ia telah membenarkan tahun wafatnya di awal kekhalifahan Ali ibn Abi Thalib a.s. Atas dasar ini, menurut ijma’ para ulama, tidak ada orang yang lebih dahulu dari Abu Rafi’e dalam upaya mengumpulkan hadis dan menyusunnya secara bab perbab. Karena, nama-nama yang disebutkan mengenai penghimpun hadis, semuanya muncul di pertengahan abad kedua.

Sebagaimana yang dicatat di dalam At-Tadrib oleh As-Suyuthi dan dinukil oleh Ibnu Hajar di dalam Fathul Bari, bahwa orang pertama yang mengumpulkan dan menyusun hadis-hadis berdasarkan perintah Umar ibn Abdul Aziz adalah Ibnu Syahab Az-Zuhri. Segera Ibnu Syahab memulai tugasnya di awal abad kedua Hijriyah, lantaran Umar ibn Abdul Aziz menjadi khalifah pada tahun 98 H. atau 99 H., dan meninggal pada tahun 101 H. Di dalam kitab Ta’sisusy Syi’ah li Fununil Islam, kami secara khusus memberikan catatan-catatan kritis terhadap apa yang diterangkan oleh Ibnu Hajar Asqolani.

Pasal Kedua

Tentang Orang Pertama dari Kaum Sahabat yang Syi’ah yang Mengumpulkan Hadis dalam Satu Bab dan Satu Judul

Mereka adalah Abu Abdillah Salman Al-Farisi dan Abu Dzar Al-Ghifari. Rasyiduddin ibn Syarhasub di dalam kitab Ma’alim Ulamau Syi’ah, telah memberikan kesaksiannya atas hal ini. Begitu pula Syeikh Abu Ja’far Ath-Thusi, guru besar Syi’ah, dan Syeikh Abu Abbas An-Najasyi di dalam kitab-kitab mereka, yaitu Asma Mushannifis Syi’ah, ketika mengulas ihwal Abu Abdillah Salman Al-Farisi dan Abu Dzar Al-Gifari. Mereka melacak dan mampu menemukan sanad-sanadnya sampai periwayatan kitab Salman dan kitab Abu Dzar. Kitab Salman adalah kitab hadis Al-Jatsliq dan kitab Abu Dzar adalah sebuah surat khotbah yang di dalamnya menjelaskan pelbagai perkara dan peristiwa yang terjadi setelah wafat Rasulullah saw.

Sayyid Al-Khunsari di dalam kitab Ar-Raudhah fi Ahwalil ‘Ulama’ wa As-Sadat, menerangkan sebuah kitab yang dinukil dari kitab Az-Zinah karya Abu Hatim di juz ketiga; bahwa kata ‘syi’ah’ pada masa Rasulullah saw. adalah nama untuk empat sahabat, yaitu Salman Al-Farisi, Abu Dzar Al-Ghifari, Miqdad Ibnul Aswad Al-Kindi dan Ammar ibn Yasir. Demikian ini telah disebutkan juga di dalam kitab Kasyful Dzunun dan kitab Az-Zinah karya Abu Hatim Sahal ibn Muhammad As-Sajastani yang wafat pada tahun 205 H.

Pasal Ketiga

Tentang Orang Pertama yang Menyusun Kata-kata Hikmah dari Para Tokoh Tabi’in Syi’ah

Para tokoh tabi’in Syi’ah itu melakukan penyusunan di satu masa, hanya saja saya tidak tahu mana di antara mereka yang melakukan hal ini lebih dahulu. Di antara mereka ialah Ali ibn Abi Rafi’e; sahabat Ali ibn Abi Thalib a.s sekaligus sebagai sekretaris dan pemegang kunci Baitul Mal.

An-Najasyi di dalam Asma Mushannifisy Syi’ah, pada bab nama-nama generasi pertama Syi’ah yang mengarang  kitab, mengatakan: “Ali ibn Abu Rafi’e adalah seorang tabi’in dari Syi’ah yang soleh yang bersahabat dekat dengan Amiril Mukminin  Ali ibn Abi Thalib a.s. Ia juga sekretaris beliau dan menghafal banyak hal dan menyusun sebuah kitab yang menghimpun pelbagai bab Fiqih, seperti Wudhu, Shalat, dan bab-bab hukum lainnya. Lalu ia menyambungkan sanadnya sampai ke Ali ibn Abi Thalib a.s.

Dan saudara Ali ibn Abu Rafi’e bernama Ubaidillah ibn Abu Radfi’e adalah sekretaris Ali ibn Abi Thalib a.s. Ia mengarang kitab Kitabul Qodho Amiril Mu’minin dan kitab Tasmiyatu Man Syahida ma’a Amiril Mu’minin Al-Jamala wash Shiffin wan Nahrawan minal Shohabah (kitab yang mencatat nama-nama para sahabat yang ikut bertempur bersama Imam Ali a.s. di perang Jamal, Shiffin dan Nahrawan, pent.). Sebagaimana disebutkan di dalam kitab Al-Fehrest Syeikh Abu Ja’far Ath-Thusi dan di At-Taqrib karya Ibnu Hajar, bahwa Ubaidillah adalah sekretaris Ali ibn Abi Thalib dan perawi yang terpercaya.

Selain dua bersaudara di atas, adalah Ashbagh ibn Nubatah Al-Majasyi’ie. Ia sahabat khusus Amiril Mukminin Ali ibn Abi Thalib a.s. dan berumur panjang hingga masih hidup setelah wafatnya Ali ibn Abi Thalib. Ashbagh telah meriwayatkan surat Ali ibn Abi Thalib tentang pelantikan Malik Al-Asytar sebagai gubernur Mesir. An-Najasyi berkata: “Surat itu adalah surat yang amat masyhur, juga sebagai wasiat Imam Ali ibn Abi Thalib kepada putranya yang bernama Muhammad ibn Hanafiyah.” Syeikh Abu Ja’far Ath-Thusi menambahkan dalam Al-Fehrest, bahwa Ashbagh ibn Nubatah juga mempunyai kitab Maqtalul Husein ibn Ali, yang darinya Ad-Dauri telah meriwayatkan.

Lalu di antara mereka ialah Sulaim ibn Qois Al-Hilali Abu Shadiq, sahabat dekat Ali ibn Abi Thalib. Ia menulis kitab yang sangat bagus. Di dalamnya ia meriwayatkan hadis-hadis dari Imam Ali ibn Abi Thalib, Salman Al-Farisi, Abu Dzar Al-Ghifari, Miqdad, Ammar ibn Yasir, dan sekelompok dari sahabat besar Nabi saw.

Syeikh Imam Abu Abdillah An-Nu’mani, yang perihal dirinya telah diulas pada pasal tokoh-tokoh tafsir terdahulu, di dalam kitab Al-Ghaibah, tepatnya setelah menukil sebuah hadis dari kitab Sulaim ibn Qois, mengatakan: “Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama dan perawi kaum Syi’ah tentang bahwa kitab Sulaim ibn Qois adalah salah satu kitab induk yang banyak dinukil hadis dan riwayatnya oleh para ulama dan perawi hadis Ahlul Bait. Dan kitab itu merupakan kitab rujukan kaum Syi’ah.” Sulaim ibn Qois wafat di awal pemerintahan Hajjaj ibn Yusuf di kota Kufah.

Lalu di antara mereka ialah Maitsam ibn Yahya Abu Soleh At-Tammar. Ia adalah salah satu sahabat dekat Amiril Mukminin Ali ibn Abi Thalib a.s. dan pemegang rahasia-rahasia beliau. Maitsam menulis kitab yang bagus mengenai hadis. Syeikh Abu Ja’far Ath-Thusi, Syeikh Abu Amr Al-Kisyi dan Ath-Thabari di dalam Bisyarotul Musthafa, banyak menukil hadis dari kitab Maitsam ini. Maitsam wafat di Kufah karena dibunuh oleh Ubaidillah ibn Ziyad lantaran kesyi’ahannya.

Lalu di antara mereka ialah Muhammad ibn Qois Al-Bajali. Ia mengarang sebuah kitab yang diriwayatkan dari Amiril Mukminin Ali ibn Abi Thalib a.s. Para tokoh tabi’in Syi’ah telah menyebutkan kitab tersebut. Mereka juga banyak meriwayatkan hadis-hadis darinya. Adapun Syeikh Abu Ja’far Ath-Thusi di dalam Al-Fehrest dari Ubaid ibn Muhammad ibn Qois mengatakan: “Saya mengajukan kitab ini kepada Abu Ja’far Imam Muhammad Al-Baqir a.s., lalu beliau berkata: ‘Kitab ini adalah perkataan Ali ibn Abi Thalib a.s.’. Dan di awal-awal kitab itu, diriwayatkan bahwa jika seseorang hendak melakukan shalat, katakanlah di awal shalatnya… Begitu selanjutnya hingga akhir kitab.”

Ya’la ibn Murroh mempunyai satu naskah kitab itu yang diriwayat-kannya dari Ali ibn Abi Thalib a.s. An-Najasyi di dalam Al-Fehrest telah membawakan sanad kesaksian atas keberadaan naskah tersebut dari Ya’la.

Lalu di antara mereka ialah Ibnul Hurr Al-Ja’fi. Ia seorang tabi’in Kufah dan penyair Persia. Ia memiliki sebuah naskah hadis yang diriwayatkan dari Amiril Mukminin Ali ibn Abi Thalib a.s. Al-Ja’fi wafat di masa kekuasaan Al-Mukhtar. An-Najasyi telah menempatkannya dalam jajaran  pertama dari tokoh-tokoh pengarang Syi’ah.

Lalu di antara mereka ialah Tabi’ah ibn Sami’ie. Ia menulis sebuah kitab tentang bab zakat. An-Najasyi menyebutkan nama ini di generasi pertama dari tokoh-tokoh pengarang Syi’ah. Ia termasuk dari kaum tabi’in.

Lalu Harts ibn Abdillah Al-A’war, dari kota Hamadan. Ia termasuk sahabat Ali ibn Abi Thalib a.s. Harts meri-wayatkan pelbagai permasalahan yang disampaikan oleh Imam Ali a.s. kepada seorang Yahudi, kemudian Ammar ibn Abil Miqdad meriwayatkannya dari Abi Ishaq As-Sami’ie yang ia sendiri meriwayatkannya dari Harts Al-A’war, dan yang terakhir ini meriwayatkan dari Ali ibn Abi Thalib a.s., sebagaimana yang termaktub di dalam Al-Fehrest karya Syeikh Abu Ja’far Ath-Thusi. Harts wafat pada masa kekuasaan Ibnu Zubeir.

Namun, Syeikh Rasyiduddin Ibn Syahrasyub di awal kitabnya, Ma’alimul ‘Ulama’, membawakan sebuah daftar kitab mengenai jawaban yang disampaikan oleh Al-Ghazzali, bahwa kitab pertama yang dikarang di dalam Islam ialah kitab Ibnu Juraij tentang hadis dan tafsir huruf-huruf dari Mujahid dan ‘Atha’ di Mekkah, lalu kitab Mu’ammar ibn Rafi’e Ash-Shan’ani di Yaman, lalu kitab Al-Muwaththa’ karya Malik ibn Anas, lalu kitab Al-Jami’e karya Sufyan Ats-Tsauri.

Kemudian Ibnu Syahrasyub mengatakan: “Namun yang benar ialah bahwa orang pertama yang mengarang kitab di bidang ini dalam Islam ialah Amiril Mukiminin Ali ibn Abi Thalib lalu Salman Al-Farisi, lalu Abu Dzar Al-Ghifari, lalu Ashbagh ibn Nubatah, lalu Ubaidillah ibn Abu Ra’fi’e, lalu Shohifah Kamilah Sajjadiyyah dari Imam Ali Zainal Abidin a.s.”

Syeikh An-Najasyi menyatakan bahwa generasi pertama adalah para pengarang, sebagaimana telah disebutkan, tanpa menerangkan siapa yang lebih dahulu, juga tidak menjelaskan urutan-urutan mereka. Begitu pula Syeikh Abu Ja’far Ath-Thusi menyebutkan nama-nama mereka tanpa menerangkan urutan yang tegas. Mungkin Ibnu Syahrasyub telah menemukan sesuatu yang tidak mereka temukan.

Sebuah catatan di akhir pasal ini ialah bahwa Al-Jahidz Adz-Dzahabi tatkala menyinggung riwayat hidup Aban ibn Taghlab, memberikan kesaksian bahwa mazhab Syi’ah di kalangan tabi’in dan generasi setelah tabi’in amat berkembang dan dikenal dengan ketaatan, warak dan kejujuran. Lalu mengatakan: “Jika ucapan-ucapan mereka itu ditolak, maka akan banyak hadis-hadis Nabi saw. yang tercampakkan. Ini sebuah konsekuensi yang jelas keliru dan merugikan.”

Saya katakan, renungkanlah kesaksian Al-Jahidz ini, dan ketahuilah kemuliaan pada kepeloporan nama-nama mereka yang telah kami bawakan di sini dan nama-nama yang akan kami sebutkan setelah ini, yaitu dari kaum tabi’in Syi’ah dan generasi Syi’ah setelah mereka.

Pasal Keempat

Tentang Orang Pertama Penghimpun Hadis di Pertengahan Abad Kedua

Dari kaum Syi’ah yang menyusun kitab-kitab, pokok-pokok akidah dan perincian hukum-hukum yang diriwayatkan dari jalur Ahlul Bait adalah mereka yang hidup di masa-masa orang yang disebutkan berkenaan dengan orang pertama yang mengumpulkan riwayat dari kalangan Ahli Sunnah. Mereka meriwayatkan hadis-hadis dari Imam Ali Zainal Abidin a.s. dan dari putranya; Imam Muhammad Al-Baqir a.s. Di antara mereka adalah Aban bin Taghlab. Ia telah meriwayatkan tiga puluh ribu hadis dari Imam Ja’far Ash-Shadiq a.s.

Ada pula Jabir ibn Yazid Al-Ja’fi yang meriwayatkan tujuh puluh ribu hadis dari Imam Muhammad Al-Baqir a.s., dari ayah-ayah beliau hingga Nabi saw. Jabir mengatakan: “Aku memiliki lima puluh ribu hadis yang belum aku sampaikan. Semuanya dari Nabi saw. dari jalur Ahlul Bait a.s.”

Terdapat nama-mana lain yang melakukan penghimpunan dan periwayatan hadis sebanyak di atas tadi, seperti Abu Hamzah, Zurarah ibn A’yan, Muhammad ibn Muslim Ath-Thaifi, Abu Bashir Yahya ibn Al-Qosim Al-Asadi, Abdul Mu’min ibn Al-Qosim ibn Qois ibn Muhammad Al-Anshari, Bassam ibn Abdullah Ash-Shairafi, Abu Ubaidah Al-Hidzaie Ziyad ibn Isa Abu Raja’ Al-Kufi, Zakaria ibn Abdullah Al-Fayyad Abu Yahya, Jahdar ibn Al-Mughirah Ath-Thaie, Hajar ibn Zaidah Al-Hadhrami Abu Abdillah, Muawiyah ibn Ammar ibn Abi Muawiyah, Khabbab ibn Abdillah, Al-Mutthalib Az-Zuhri Al-Qurasyi Al-Madani, dan Ab-dullah ibn Maimun ibn Al-Aswad Al-Qoddah. Saya telah singgung kitab dan riwayat hidup mereka masing-masing di dalam Ta’sisusy Sy’ah li Fununil Islam.

Sementara itu, Tsaur ibn Abu Fakhitah Abu Jaham telah meriwayatkan hadis-hadis dari sekelompok sahabat Nabi saw. Dan ia memiliki sebuah kitab yang masih utuh dari Imam Muhammad Al-Baqir a.s.

Pasal Kelima

Tentang Orang Pertama dari Kaum Syi’ah yang Menyusun Kitab Hadis Setelah Pertengahan Abad Kedua

Terdapat sekelompok sahabat Imam Ja’far Ash-Shadiq a.s. yang meriwayatkan hadis dari beliau dan menghimpunnya ke dalam empat ratus kitab dengan judul Al-Ushul. Syeikh Imam Abu Ali Al-Fadhl ibn Al-Hasan Ath-Thabarsi dalam kitabnya, A’lamul Wara’, mengatakan: “Dinukil secara hampir mutawatir oleh banyak kalangan, bahwa orang-orang yang meriwayatkan hadis dari Imam Ja’far Ash-Shadiq a.s. adalah mereka yang tergolong dari tokoh-tokoh besar yang jumlah mereka mencapai empat ribu. Lalu, mereka menyusun hadis-hadis tersebut ke dalam empat ratus kitab yang dikenal di tengah kaum Syi’ah dengan nama Al-Ushul. Kemudian, kitab ini diriwayatkan oleh sabahat-sahabat Imam Ash-Shadiq a.s. dan oleh para sahabat putra beliau; Imam Al-Kadzim a.s.”

Abul Abbas Ahmad ibn ‘Uqdah telah menulis sebuah buku terpisah dengan judul Kitabu Rijali Man Rowa ‘an Abi Abdillah Ash-Shadiq. Kitab ini secara khusus menghimpun nama-nama mereka yang meriwayatkan hadis dari Imam Ja’far Ash-Shadiq a.s. Bahkan, Syeikh Abu Ja’far Ath-Thusi menyebutkan dan menghitung karangan-karangan mereka masing-masing dalam bab ‘Ashabu Abi Abdillah Ash-Shadiq’ dari kitabnya;  Ar-Rijal, yaitu kitab yang disusun menurut nama-nama sahabat setiap dua belas imam a.s.

Pasal Keenam

Tentang Jumlah Kitab yang Dikarang oleh Orang Syi’ah tentang Hadis dari Jalur  Ahlul Bait,

Sejak Masa Imam Ali bin Abi Thalib Sampai Masa Imam Hasan Al-Askari a.s.

Ketahuilah bahwa jumlah kitab-kitab itu melampaui angka 6600, sebagaimana yang dicatat oleh Syeikh Al-Jahidz Muhammad ibn Al-Hasan Al-Hurr, penulis Al-Wasail, dan ia menyatakan jumlah tersebut secara tegas pada bab keempat dari kitabnya yang besar tentang hadis, yaitu Wasailusy Syi’ah ila Ahkamisy Syari’ah. Tentang semua ini, saya juga telah membawakan data-data yang menguatkan jumlah di atas tadi dalam kitab saya yang berjudul Nihayatud Dirayah fi Ushuli Ilmil Hadis.

Pasal Ketujuh

Tentang Generasi Berikut yang Menjadi Tokoh Ilmu Hadis dan Penyusun Kitab-kitab Induk yang Hingga Kini Merupakan Rujukan Hukum-hukum Syar’ie Kaum Syi’ah

Ketahuilah bahwa tiga Muhammad pertama adalah tokoh terdepan dalam penyusunan empat kitab induk hadis. Yang   pertama ialah Muhammad ibn Ya’qub Al-Kulaini, penyusun kitab Al-Kafi. Ia wafat pada 328 H. Di dalam kitab tersebut, Al-Kulaini telah mencatat sebanyak 16099 hadis beserta sanad-sanadnya.

Kedua ialah Muhammad ibn Ali ibn Al-Husein ibn Musa ibn Babaweih Al-Qummi yang wafat pada tahun 381 H. Ia dikenal juga dengan panggilan nasab Abu Ja’far Ash-Shaduq. Ia telah menyusun 1400 kitab tentang ilmu hadis. Yang terbesar di antara kitab-kitab Ash-Shaduq adalah kitab  Man La Yahdhuruhul Faqih yang memuat 9044 hadis menge-nai hukum-hukum syariat dan sunah-sunah.

Ketiga adalah Muhammad ibn Al-Hasan Ath-Thusi yang terkenal dengan gelar Syeikh Ath-Thoifah. Ia telah menulis kitab Tahdzibul Ahkam, dan menyusunnya ke dalam 393 bab, dan mencatat hadis sebanyak 13590. Kitab Ath-Thusi lainnya adalah Al-Istibshor yang memuat 920 bab sehingga mencakup 5511 hadis. Inilah empat kitab induk yang menjadi rujukan utama kaum Syi’ah.

Kemudian tibalah peran tiga Muhammad terakhir yang juga tergolong sebagai tokoh kitab induk hadis. Pertama ialah Imam Muhammad Al-Baqir ibn Muhammad At-Taqie. Ia terkenal dengan nama Al-Majlisi. Kitab besar yang ditulis Al-Majlisi adalah kitab Biharul Anwar; fil Ahaditsil Marwiyyah ‘anin Nabi wal Aimmah min Alihil Ath-har. Kitab ini disusun sebanyak 26 jilid tebal. Dapat dikatakan bahwa kitab ini telah menjadi pegangan kaum Syi’ah. Sebab, tidak ada kitab induk hadis yang paling lengkap selain kitab Biharul Anwar. Sehingga Tsiqotul Islam Allamah An-Nurie menulis sebuah kitab yang berjudul Al-Faidhul Qudsi fi Ahwalil Al-Majelisi dan dicetak di Iran, yakni sebuah kitab yang secara khusus mengulas ihwal kehidupan Al-Majlisi.

Kedua ialah Muhammad ibn Murtadha ibn Mahmud, seorang tokoh besar ilmu hadis dan guru utama di dua bidang ilmu aqli dan naqli. Ia lebih dikenal dengan nama Muhsin Al-Kasyani dan julukan ‘Al-Faydh’. Kitab hadis yang ditulis olehnya berjudul Al-Wafi fi Ilmil Hadis, yang ketebalannya mencapai 14 jilid, dan setiap jilidnya merupa-kan kitab tersendiri. Kitab Al-Wafi menghimpun hadis-hadis yang tercatat di dalam empat kitab induk terdahulu berke-naan dengan akidah, hukum syariat, akhlak dan sunah-sunah. Usia Muhsin Al-Kasyani mencapai 84 tahun dan wafat pada tahun 1091 H. Dalam usainya yang panjang itu, ia telah mengarang kurang lebih dua ratus kitab dari pelbagai bidang ilmu.

Ketiga ialah Muhammad ibn Al-Hasan Al-Hurr Asy-Syami Al-‘Amili Al-Masyghari, seorang ulama hadis yang mayshur di kalangan ahli hadis dengan gelar Syeikhusy Syuyukh (guru para guru). Ia menulis kitab Tafshil Wasailsy Syi’ah ila Tahshil Ahadits Asy-Syari’ah, dan penyusunannya mengacu pada kitab-kitab Fiqih.

Di antara kitab-kitab induk hadis, kitab hadis Al-‘Amili ini tergolong sebagai kitab yang paling  banyak diakses oleh ulama. Di dalamnya telah tercatat hadis-hadis yang dinukil dari 80 kitab induk hadis, 70 dari jumlah itu dinukil dengan perantara, dan dicetak berkali-kali di Iran. Bisa dikatakan bahwa kaum Syi’ah sekarang lebih berkutat pada kitab ini. Muhammad Al-‘Amili dilahirkan pada bulan Rajab 1033 dan wafat pada tahun 1204 H. di Thus-Khurasan (sebuah propinsi di bagian barat Iran)

Dan Syeikh Allamah Tsiqotul Islam Al-Husein ibn Allamah An-Nurie telah menghimpun hadis-hadis yang tidak dicatat oleh penulis Wasailusy Syi’ah, dan menyu-sunnya di dalam sebuah kitab berjilid berdasarkan susunan bab-bab kitab Wasailusy Syi’ah, dan meletakkan judul Mustadrokul Wasail wa Mustanbatul Masail padanya. Secara umum, kitab ini bentuk lain dari kitab Wasailusy Syi’ah. Dan dapat dikatakan bahwa kitab Syeikh An-Nurie ini meru-pakan kitab hadis Syi’ah yang paling besar, di mana Syeikh telah menyelesaikannya pada tahun 1319 H. Ia wafat pada 28 Jumadil Akhir 1320 H.

Dan masih banyak kitab-kitab induk hadis yang disusun oleh ulam-ulama besar hadis Syi’ah. Di antaranya ialah kitab Al-‘Awalim sebanyak 100 jilid, karya seorang ahli hadis yang tersohor bernama Syeikh Abdullah ibn Nurullah Al-Bahrani. Ia hidup semasa dengan Allamah Al-Majlisi, pengarang kitab Biharul Anwar yang telah kami singgung di atas tadi.

Selain Al-‘Awalim adalah kitab Syarhul Istabshor fi Ahaditsul Aimmatil Athhar yang disusun Syeikh Qosim ibn Muham-mad ibn Jawad ke dalam beberapa jilid besar, mirip dengan kitab Biharul Anwar. Syeikh Qosim dikenal dengan panggilan Ibnu Al-Wandi dan panggilan Faqih Al-Kadzimi. Ia hidup semasa dengan Syeikh Muhammad ibn Al-Hasan Al-Hurr; pengarang kitab Wasailusy Syi’ah sebagaimana telah dising-gung. Syeikh Qosim adalah salah seorang murid utama  datuk saya, Allamah Sayyid Nuruddin; saudara Sayyid Muhammad pengarang kitab Al-Madarik.

Selain itu adalah kitab Jami’ul Akhbar fi Idhohil Istibshor. Kitab ini tergolong kitab hadis yang besar yang disusun ke dalam banyak jilid oleh Syeikh Allamah Abdullatif ibn Ali ibn Ahmad ibn Abu Jami’ Al-Haritsi Al-Hamadani Asy-Syami Al-‘Amili. Ia menimba ilmu dari Syeikh Al-Hasan ibn Abu Mansur ibn Asy-Syahid Syeikh Zainuddin Al-‘Amili, penulis kitab Al-Ma’alim dan Al-Muntaqo, dan salah seorang ulama abad keepuluh Hijriyah.

Selain itu adalah kitab induk besar yang berjudul Asy-Syifa fi Hadis Alil Mushtafa. Kitab ini mencakup beberapa jilid tebal, disusun oleh seorang ulama peneliti hadis yang ulung, yaitu Syeikh Muhammad Ar-Ridha, putra seorang ahli fiqih; Syeikh Abdullatif At-Tabrizi. Ia telah menuntaskan penulisan kitab tersebut pada tahun 1158 H.

Selain itu adalah kitab Jami’ul Ahkam yang tercetak hingga mencapai 25 jilid besar, disusun oleh Allamah Abdullah ibn Sayyid Muhammad Ar-Ridha Asy-Syubbari Al-Kadzimi. Pada masa itu, ia dikenal sebagai guru besar kaum Syi’ah dan penulis unggul. Dapat dikatakan bahwa setelah era Allamah Al-Majlisi, tidak ada ulama yang mengarang kitab lebih banyak daripada karya-karyanya. Sayyid Muhammad Ar-Ridha wafat di Kadzimain pada tahun 1242 H.

Pasal Kedelapan

Kepeloporan Kaum Syi’ah dalam Menggagas Ilmu Dirayah dan Membaginya ke Beberapa Cabang Utama

Orang pertama yang memulai perintisan dan penggagasan ilmu ini ialah Abu Abdillah Al-Hakim yang lahir di Naysabur (Khurasan-Iran). Nama lengkapnya adalah Muhammad ibn Abdullah. Ia wafat pada 405 H. Semasa hidupnya, Al-Hakim telah mengarang sebuah kitab yang berjudul Ma’rifatu Ulumil Hadis setebal lima jilid, lalu membagi ilmu-ilmu hadis ke lima puluh cabang.

Kitab Kasyful Dzunun telah menyatakan kesaksiannya atas kepeloporannya dalam penggagasan ilmu Dirayah, dan mengatakan: “Orang pertama yang memulai penggagasan dan pembagian ilmu Hadis ialah Muhammad ibn Abdullah dari Naysabur, kemudian diikuti oleh Ibnu Ash-Shalah.”

Sementara itu, Al-Jahidz As-Suyuthi menyebutkan dalam kitab Al-Wasail fil Awail, bahwa orang pertama yang menyu-sun macam-macam ilmu Hadis dan membaginya menjadi beberapa cabang yang masih dikenal sampai sekarang ialah Ibnu Ash-Shalah. Ia wafat pada tahun 643 H.

Data ini tidaklah bertentangan dengan apa yang baru saja kami bawakan. Sebab, Al-Jahidz hendak menyebutkan orang pertama yang mengerjakan hal itu dari kaum Ahli Sunnah, sedangkan Abu Abdillah Al-Hakim adalah seorang Syi’ah berdasarkan kesepakatan para ulama Ahli Sunnah dan Syi’ah. Syeikh As-Sam’ani di dalam Al-Ansab, Syeikh Ahmad ibn Taimiyah dan Al-Jahidz Adz-Dzahabi di dalam Tadzkirotul Huffadz telah menyatakan secara tegas kesyi’ahan Al-Hakim.

Bahkan dalam Tadzkirotul Huffadz, misalnya, Adz-Dzahabi menuturkan kesaksian Ibnu Thahir yang mengatakan: “Aku bertanya kepada Abu Ismail Al-Anshari perihal Al-Hakim. Ia berkata: ‘Ia adalah perawi yang terpercaya di bidang hadis dan seorang Syi’ah yang penyimpang’”. Lalu Adz-Dzahabi mengatakan: “Lalu Ibnu Thahir berkata: ‘Abu Abdillah Al-Hakim adalah seorang syi’ah yang fanatik dalam taqiyah-nya, namun ia menampakkan kesunniannya dalam permasalahan khilafah dan khalifah pertama setelah Nabi saw. Ia berseberangan dengan Muawiyah dan sanak keluarganya seraya menampakkan pengakuannya pada mereka; suatu hal yang tidak bisa diterima pendiriannya ini.’”

Pada hemat saya, ulama-ulama kami, Syi’ah, juga telah menyatakan kesaksian mereka atas kesyi’ahan Abu Abdillah Al-Hakim, seperti Syeikh Muhammad ibn Al-Hasan Al-Hurr di akhir-akhir kitab Wasailusy Syi’ah. Di dalam Ma’alimul Ulama di bab ‘Al-Kuna’, ia menukil dari Ibnu Syarasyub yang menilai Al-Hakim sebagai salah seorang pengarang Syi’ah, dan ia memiliki kitab tentang keutamaan-keutamaan Ahlul Bait serta sebuah kitab khusus tentang keutamaan-keutamaan Imam Ar-Ridha a.s. Mereka juga menyebutkan sebuah kitabnya khusus berkenaan dengan keutamaan-keutamaan Fatimah Az-Zahra a.s.

Bahkan, Abdullah Afandi telah menerangkan riwayat hidup Al-Hakim secara rinci dalam kitabnya; Riyadul ‘Ulama, di bagian pertama yang secara khusus membahas Syi’ah Imamiyah. Begitu juga, Afandi menyebutkan nama-nya dan memberikan kesaksian atas kesyi’ahannya di bab ‘Al-Alqob’ dan di bab ‘Al-Kuna’. Di dalam kitab itu, ia menyebutkan dua kitab Al-Hakim yang berjudul Ushul Ilmil Hadis dan Al-Makhal ila Ilmish Shohih. Afandi mengatakan: “Dan Al-Hakim telah mencatat hadis-hadis tentang Ahlul Bait yang tidak termaktub di dalam Shahih Al-Bukhari, seperti hadis ‘Ath-Thoirul Masywi’ dan hadis ‘Man Kuntu Maulahu.’”

Setelah Abu Abillah Al-Hakim, terdapat sekelompok tokoh ilmu Hadis dari kaum Syi’ah yang mengarang di bidang Dirayah. Di antara mereka ialah Sayyid Jamaluddin Ahmad ibn Thawus Abul Fadhail. Dialah peletak istilah-istilah hadis Syi’ah Imamiyah berkenaan dengan pembagian hadis kepada empat macam; shahih, hasan, muwatssaq dan dzaif. Ibnu Tawus wafat pada tahun 673 H.

Dan di antara mereka ialah Sayyid Allamah Ali ibn Abdul Hamid Al-Hasani. Ia mengarang kitab Syarh Ushul Dirayatul Hadis. Ia juga melaporkan dari Syeikh Allamah Al-Hilli ibn Al-Muthahhar dan Syeikh Zainuddin yang masyhur dengan gelar Syahid Tsani (sang syahid kedua), sebuah kitab bernama Ad-Dirayah fi Ilmid Dirayah dan syarahnya yang berjudul Ad-Dirayah.

Dan di antara mereka ialah Syeikh Al-Husein ibn Abdul Shomad Al-Haritsi Al-Hamadani; pengarang kitab Wushulul Akhyar ila Ushulil Akhbar, Syeikh Abu Mansur Al-Hasan ibn Zainudin Al-‘Amili; pengarang kitab Muqod-dimatul Muntaqo dan Ushul Ilmil Hadis, dan Syeikh Bahauddin Al-‘Amili pengarang kitab Al-Wajizah fi Ilmi Diroyahtul Hadis. Saya telah menyarahi kitab terakhir ini dalam sebuah kitab yang saya namai dengan judul Syarah Nihayatud Dirayah, dan dicetak di India sampai menjadi kurikulum di sekolah-sekolah pen-didikan agama.

Pasal Kesembilan

Tentang Orang Pertama yang Menyusun Ilmu Rijal dan Riwayat Hidup Para Perawi

Ketahuilah bahwa Abu Abdillah Muhammad ibn Khalid Al-Barqi Al-Qummi adalah seorang sahabat Imam Musa ibn Ja’far Al-Kadzim a.s., sebagaimana Syeikh Abu Ja’far Ath-Thusi mencatat hal ini di dalam kitab Ar-Rijal. Dan Abul Faraj Ibnu Nadim di dalam Al-Fehrest, di awal bagian kelima pasal keenam mengenai riwayat tokoh-tokoh fiqih Syi’ah menyebutkan karya Al-Barqi di bidang ilmu Rijal. Di sana ia mengatakan: “Dan di antara karya-karya Al-Barqi adalah Al-‘Awidh, At-Tabshiroh dan Ar-Rijal. Di dalam kitab terakhir ini, ia menyebutkan nama-nama yang meriwayatkan hadis-hadis dari Amiril Mukminin Ali bin Abi Thalib a.s.”

Setelah Al-Barqi ialah Abu Muhammad Abdullah ibn Jablah ibn Hayyan ibn Abhar Al-Kinani. Ia mengarang kitab Ar-Rijal. Abdullah Al-Kinani berusia panjang dan wafat pada tahun 219 H.

As-Suyuthi dalam Al-Awail mengatakan: “Orang pertama yang membahas ilmu Rijal ialah Syu’bah.” Jelas, bahwa Syu’bah datang setelah Abdullah ibn Jablah, karena yang pertama wafat pada tahun 260 H. Bahkan setelah Abdullah ibn Jablah dan sebelum Syu’bah, terdapat sahabat Imam Al-Jawad a.s. yang bernama Abu Ja’far Al-Yaqthini. Ia menulis Kitabur Rijal, sebagaimana yang dicatat oleh An-Najasyi di dalam Al-Fehrest dan Ibnu Nadim di dalam Al-Fehrest.

Saya bubuhkan di sini, bahwa Abu Abdillah Muhammad ibn Khalid Al-Barqi juga seorang sahabat imam Ahlul Bait, yaitu Imam Musa Al-Kadzim a.s. dan Imam Ali Ar-Ridha a.s. Bahkan, ia juga sempat menjumpai Imam Muhammad Al-Jawad a.s. Kitab Al-Barqi masih terjaga utuh dan tersedia sampai sekarang. Di dalamnya disebutkan nama perawi-perawi yang meriwayatkan hadis dari Ali bin Abi Thalib a.s. dan perawi-perawi setelah mereka. Kitab itu juga memuat tema penting Rijal mengenai Al-Jarah wat Ta’dil (penilaian kritis atas ihwal kehidupan para perawi), sebagaimana yang juga dibahas oleh semua kitab Rijal.

Lalu, Abu Ja’far Ahmad ibn Muhammad ibn Khalid Al-Barqi yang mengarang kitab Ar-Rijal dan kitab Ath-Thabaqot. Abu Ja’far wafat pada tahun 274 H.

Lalu, Syeikh Abul Hasan Muhammad ibn Ahmad ibn Dawud ibn Ali Al-Qummi yang dikenal juga dengan Ibnu Dawud; seorang ulama terkemuka Syi’ah. Ia mengarang kitab Al-Mamduhin wal Madzmumin minar Ruwat, dan wafat pada tahun 368 H.

Lalu, Syeikh Abu Ja’far Muhammad ibn Babaweih Ash-Shoduq yang mengarang kitab Ma’rifatur Rijal dan Kitabur Rijalil Mukhtarin min Ashabin Nabi saw. Ia wafat pada tahun 381 H.

Lalu, Syeikh Abu Bakar Al-Ji’ani yang dinyatakan oleh Ibnu Nadim bahwa ia merupakan salah seorang ulama besar Syi’ah. Al-Ji’ani mengarang kitab Asy-Syi’ah min Ashabil Hadits wa Thabaqotuhum. Tentang kitab ini, An-Najasyi mengatakan bahwa kitab itu dikarang dalam ukuran besar.

Lalu, Syeikh Muhammad ibn Baththah yang mengarang kitab Asma’ Mushannifisy Syi’ah, dan wafat pada tahun 274 H.

Lalu, Syeikh Nashr ibn Ash-Shabah Abul Qosim Al-Balkhi; guru Syeikh Abu Amr Al-Kasyi. Ia mengarang kitab Ma’ri-fatun Naqilin min Ahlil Miah Tsalitsah. Ia wafat pada tahun pada abad ketiga Hijriyah.

Lalu, Ali ibn Al-Hasan ibn Fidhal; pengarang kitab Ar-Rijal. Ia berada di generasi sebelum Syeikh Nashr Al-Balkhi.

Lalu, Sayyid Abu Ya’la Hamzah ibn Al-Qosim ibn Ali ibn Hamzah ibn Al-Hasan ibn Ubaidilah ibn Al-Abbas ibn Ali ibn Abu Thalib a.s., yang mengarang kitab Man Rowa ‘an Ja’far ibn Muhammad minar Rijal. An-Najasyi mengatakan: “Kitab ini bagus, dan At-Tal’akbari meriwayatkan sertifikat pengakuan dan pengesahan darinya”. Hamzah ibn Qosim adalah ulama Syi’ah abad ketiga Hijriyah.

Lalu, Syeikh Muhammad ibn Al-Hasan ibn Ali Abu Abdillah Al-Maharibi yang menyusun kitab bagus yang berjudul Ar-Rijal min Ulama Tsalitsah.

Lalu, Al-Musta’thof Isa ibn Mehran; pengarang Kitabul Muhadditsin. Isa termasuk ulama terdahulu Syi’ah, demikian dicatat oleh Syeikh Ath-Thusi di dalam Al-Fehrest.

Berikutnya, di dalam kitab Ta’sisusy Syi’ah li Fununil Islam, saya telah mengulas karangan-karangan Syeikh Ath-Thusi, An-Najasyi, Al-Kasyi, Allamah ibn Al-Muthahhar Al-Hilli, Ibnu Dawud dan generasi-generasi yang mengarang kitab tentang ilmu Rijal. Dan hingga kini, semua karya mereka masih menjadi rujukan dalam upaya menilai kualitas pribadi para perawi (Al-jarah wa Ta’dil).

Perlu dibubuhkan di sini, bahwa Abul Faraj Al-Qannani Al-Kufi; guru An-Najasyi, mempunyai karangan di bidang ini, berjudul Kitab Mu’jam Rijalil Mufadhal, dan menyusunnya sesuai dengan urutan huruf Hijaiyah.

*Peneliti Pemikiran dan Peradaban Islam

pengertian bid’ah menurut syi’ah imamiyah

Kupas Tuntas Masalah Bid'ah

jaman sekarang ngomongin bid’ah, berarti orang kalau pergi harus dengan kuda/onta? Apakah dizaman Nabi ada facebook…Apakah kehidupan kita sehari hari ini tidak diliputi bidah? sekarang sebutkan dalil berdakwah via internet. Internet ini menggunakan software komputer. Software ini dibuat oleh ahli komputer dari Amerika. Kita bahkan mungkin menggunakan sofware windows bajakan, tidak membeli. Pemiliknya seorang nasrani atau yahudi. Berdakwah adalah ibadah dan perintah jelas dalam Al Qur’an.Rasulullah juga tidak pernah berdakwah via internet . Khulafaur Rasyidin juga tidak pernah SMS-an tausiyah via Handphone…


Sungguh sayang sungguh malang, umat Islam di masa ini bak buih di lautan, banyak jumlahnya namun tercerai-berai. Heran bukan kepalang melihat fenomena ini, kita semua tahu bahwa Islam yang dibawa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam hanya 1 macam, sebagaimana firman Allah Ta’ala yang artinya: “Sesungguhnya kalian adalah umat yang satu dan Aku adalah Rabb kalian, maka beribadahlah kepada-Ku” [Al-Anbiyaa : 92].

Namun mengapa hari ini Islam menjadi bermacam-macam? Aneh bukan?setelah  Rasulullah SAW. wafat, benih-benih perpecahan mulai tampak

Para ulama Ahlus Sunnah dan Syi’ah tidak mencatat hukum-hukum dan perbuatan-perbuatan Khalifah Ali AS yang bertentangan dengan al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAW. Ini jelas bertepatan dengan sabda Nabi SAWA:”Ali bersama al-Qur’an dan al-Qur’an bersama Ali.”

Dan di dalam hadith yang lain,“Aku tinggalkan kepada kalian Thaqalain; Kitab Allah dan Ahlul Baitku.Kalian tidak akan sesat selama-lamanya jika kalian berpegang kepada kedua duanya.Dan kedua-duanya tidak akan berpisah sampai bersama-sama mengunjungiku di Haudh.”{Muslim, Sahih, VII, hlm. 122]

Dan ianya menunjukkan bahwa khalifah Ali adalah maksum. Jika tidak, niscaya hukum-hukum dan perbuatan-perbuatan beliau yang menyalahi nas dicatat oleh Ahlul Sunnah dan Syi’ah.

Kontradiksi Syaikh Al-Utsaimin Dalam Konsep Bid’ah

Syaikh Utsaimin Al Wahabi Al Setan Nejed menyatakan:

“Hukum asal perbuatan baru dalam urusan-urusan dunia adalah halal. Jadi, bid’ah dalam urusan-urusan dunia itu halal, kecuali ada dalil yang menunjukkan keharamannya. Tetapi hukum asal perbuatan Baru dalam urusan-urusan agama adalah dilarang. Jadi, berbuat bid’ah dalam urusan-urusan agama adalah haram dan bid’ah, kecuali ada dalil dari al-Kitab dan Sunnah yang  menunjukkan keberlakuannva.” (Al-Utsaimin, Syarh al-Aqidah al Wasithiyyah, hal. 639-640).

Tentu saja pemyataan Mbah Utsaimin ini membatalkan tesis sebelumnya, bahwa semua bid’ah secara keseluruhan itu sesat, dan sesat itu tempatnya di neraka. Narnun kernudian, di sini al-Utsaimin membatalkannya dengan menyatakan bahwa bid’ah dalam urusan dunia, halal semua, kecuali ada dalil yang melarangnya. Bid’ah dalam urusan agama haram dan bid’ah semua, kecuali ada dalil yang membenarkannya.  Dengan klasifikasi bid’ah menjadi dua (versi al-Utsaimin), yaitu bid’ah dalam hal dunia dan bid’ah dalam hal agama, dan memberi pengecualian dalam masing-masing bagian, menjadi bukti bahwa al-Utsaimin tidak konsisten dengan pemyataan awalnya (tidak ada pembagian dalam bid’ah). Selain itu, pembagian bid’ah menjadi dua versi ini, tidak memiliki dasar yang dapat dipertanggung jawabkan, dan hanya retorika Wahhabisme saja dalam mencari mangsa untuk menjadi pengikutnya.

Dalam bagian lain, al-Utsaimin juga menyatakan:

“Di antara kaedah yang ditetapkan adalah bahwa perantara itu mengikuti hukum tujuannya. Jadi perantara tujuan yang disyariatkan, juga disyariatkan. Perantara tujuan yang tidak disyariatkan, juga tidak disyariatkan. Bahkan perantara tujuan yang diharamkan juga diharamkan. Karena itu, pembangunan rnadrasah-rnadrasah, penyusunan ilmu pengetahuan dan kitab-kitab, meskipun bid’ah yang belum pernah ada pada masa Rasulullah dalam bentuk seperti ini, namun ia bukan tujuan, melainkan hanya perantara, sedangkan hukum perantara mengikuti hukum tujuannya. Oleh karena itu, bila seseorang rnembangun madrasah untuk mengajarkan ilmu yang diharamkan, rnaka membangunnya dihukumi haram. Bila ia membangun madrasah untuk rnengajarkan syariat, maka membangunnya disyariatkan.” (Al-Utsaimin, al-Ibda’ fi Kamal Syar’i wa Khathar al-Ibtida’, hal. 18-1 9).

Dalam pernyataan ini Al-Utsaimin juga membatalkan tesis yang diambil sebelumnya. Pada awalnya dia mengatakan, bahwa semua bid’ah secara keseluruhan, tanpa terkecuali adalah sesat, dan sesat tempatnya di neraka, dan tidak akan pemah benar membagi bid’ah menjadi tiga apalagi menjadi lima. Kini, al-Utsaimin telah menyatakan, bahwa membangun madrasah, menyusun ilmu dan mengarang kitab itu bid’ah yang belum pernah ada pada masa Rasulullah namun hal ini bid’ah yang belum tentu sesat, belum tentu ke neraka, bahkan hukum bid’ah dalam soal ini terbagi menjadi beberapa bagian sesuai dengan hukum tujuannya.

Begitulah, al-’Utsaimin yang sangat dikagumi oleh Salafy Wahhabi akhirnya jatuh ke dalam lumpur tanaqudh (kontradiksi). Pada awalnya dia mengeluarkan tesis bahwa semua bid’ah itu sesat, tanpa terkecuali. Namun kemudian, dalam buku yang sama, ia tidak dapat mengelak dari realita yang ada, sehingga membagi bid’ah menjadi beberapa bagian sebagaimana pandangan mayoritas ulama.

Para ulama menyatakan:

“Orang yang memiliki ajaran batil pasti kontradiksi dengan dirinya sendiri. Karena Allah SWT telah berfirman: “Kalau kiranya al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS. al-Nisa’ 82).

Bid’ah adalah segala sesuatu yang bertentangan dengan sumber hukum ( kitabullah , sunnah Nabinya dan Imam maksum as )..

Syi’ah imamiyah  meyakini bahwa semua bid’ah adalah sesat ( Al-Maktabah Al-Shamilah, Tahzibul Ahkam, juz 61 halaman 14 )

Hal yang serupa juga terdapat dalam kitab lainnya semisal Nahjul Balaghah : “Bid’ah itu adalah membuat sesuatu yang baru berdasar hawa nafsunya, dan tidak bersandar kepada sumber-sumber yang haq (yakni Quran dan sunnah)”.( Al-Maktabah Al-Shamilah hal 50 juz 1)
.
Alamah Majlisi : Bid’ah dalam syariat adalah apa-apa yang baru setelah Rasulullah Saw. dan tak terdapat secara khusus pada nash, dan bukan termasuk sesuatu yang “umum”, atau terdapat larangan padanya secara khusus atau umum ( Biharul Anwar, jilid 71 halaman 202-203 )
.

Wahabi berkembang dan bisa mencetak buku, majalah, radio, dsb karena gelontoran dana dari Pemerintah Arab Saudi, bukan karena mencintai ahlulbait. Wahabi ahlul bid’ah

 

Bid’ah adalah mengubah ketetapan syari’at !! Hukumnya HARAM !

.
Qs.33. Qs.Al Ahzab ayat 36. : “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata”

Contoh bid’ah misalnya :
1. Nabi SAW menetapkan bahwa Imam Ali adalah khalifah pengganti beliau, tetapi Sunni menetapkan bahwa Nabi SAW tidak menunjuk pengganti sehingga pengangkatan khalifah cukup melalui musyawarah !!!

 

 

2. Nabi bilang khalifah ada 12, semua dari ahlulbait lalu orang awam bilang khalifah cuma 4 dan tidak mesti dari ahlulbait

.

 

3. hadis “Berpeganglah kamu sekalian dengan sunnahku dan sunnah para Khulafa’ Rasyidin setelahku” adalah hadis PALSU yang bisa menjerumuskan seseorang kedalam bid’ah !!!
.
kalau hadis tersebut di artikan memberi kewenangan kepada 4 khalifah untuk membuat hukum baru ( sunnah khulafa rasyidin), maka jelas bertentangan dengan QS. AN Nisa’ ayat 59.

 

.
Pada QS. An Nisa’ ayat 59 jelas bahwa setiap ada perselisihan antara kaum mukminin maka harus dikembalikan kepada Allah (Al-Quran ) dan Rasul-Nya ( Sunnah Rasul ). Artinya hanya Allah dan Rasul-Nya yang berhak membuat hukum. Sementara Ulil Amri bukan pembuat hukum tetapi hanya sebagai PELAKSANA hukum. Kalau memang Ulil Amri punya hak untuk membuat hukum pasti ayatnya berbunyi “…kembalikanlah kepada Allah, Rasul-Nya dan Ulil Amri”.

4.  PAHAMAN ANEH DAN KEJI : Mengakui Para Pemimpin Zalim sebagai Pemimpin yang Sah …

AJARAN / PAHAMAN YANG ANEH DAN KEJI : “Siapa saja bisa menjadi Imam (Pemimpin) apakah dia itu orang yang zalim, fasiq, bodoh, pembohong, perampas, pembunuh dan lain-lain”.

Tidakah hal ini bertentangan dan menyeleweng dari firman Tuhan “ Sesungguhnya Aku menjadikan engkau sebagai Imam kepada manusia. Dia(Ibrahim) berkata: Semua zuriyatku?Dia berfirman: Janjiku tidak termasuk orang-orang yang zalim” (al-Baqarah(2):124).

Sesuai dengan ayat diatas orang yang zalim jelas tidak boleh menjadi Imam jadi Imam itu harus maksum. Tetapi Ahlus Sunnah wal Jama‘ah mendukung orang-orang yang zalim menjadi pemimpin mereka dan kemaksuman para pemimpin itu tidak diperlukan.

Kemudian mereka juag mewajibkan ummat supaya mentaati pemimpin-pemimpin zalim tersebut. Itulah mengapa mereka layak disebut telah menyeleweng dari ajaran Islam yang benar dan bertentangan dengan al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah (Saw.).

Dengan alasan Sabda Rasulullah SAWW “Kalian lebih mengetahui urusan duniamu” (antum a‘lamu bi-umuri dunya-kum) (Muslim, Sahih , ii, hlm. 875). Mereka telah dengan beraninya memisahkan agama dengan politik , dan ini adalah bid’ah yang besar.

Sungguh, jika memiliki pahaman seperti ‘sebelah’ , bahwa ayat dapat dihapus oleh Hadits, itu jelas adalah pahaman tercela dan tidak masuk akal , maka bertobatlah dari pahaman semacam ini.

ahli-bid'ah-dan-khurofat-islam

Hanya karena membongkar sejarah  maka syiah dituduh sebagai ahlul bid’ah, padahal mengkritisi sejarah bukan sesuatu yang tabu, apalagi diharamkan. Sudah sejak dulu kala, sejarah tergantung dari siapa yang menuliskannya. Selama penulisnya bukan Tuhan atau orang suci seperti Nabi, maka sejarah terbuka untuk dikritik, dibongkar habis, atau malah dihapus sama sekali. Apalagi kalau penulisnya seorang penguasa tiran.

 

Demikian juga dengan sejarah di dunia Islam. Mengingat sejarah hanyalah konstruksi ingatan, dokumen, dan monumen, maka belum tentu, bahkan mustahil, akan sama persis dengan faktanya di masa lampau. Syiah  berupaya mempreteli sejarah Islam versi mayoritas yang cenderung diposisikan sebagai untouchable narration, perlu  melancarkan kritik sejarah Islam, ini banyak bergantung pada perspektif dan sejarah Ahlul Bait Rasulullah saw.

Syiah menganggap penyelenggaraan acara mengenang kelahiran Nabi maupun perayaan ASYURA (dalam batas batas tertentu) adalah sebuah amalan yang bernilai pahala selain dapat menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah saw.

Menurut ulama  Syiah, mengenang hari-hari penting yang pernah dilalui Rasulullah saw dapat menumbuhkan kecintaan dan kerinduan kepada Nabi saw selain dapat lebih mengenal sejarah perjalanan dan kepribadian Nabi saw. Perintah mencintai Nabi dan keluarganya adalah perintah yang tidak bisa ditawar-tawar lagi dalam Islam. Sementara menyelenggarakan maulid Nabi hanyalah sekedar wasilah untuk lebih mencintai Nabi dan merupakan syiar Islam.

Dengan kedudukannya sebagai wasilah, tentu saja tidak bisa dihukumi bid’ah, bahwa menyelenggarakan maulid Nabi tidak pernah dianjurkan Nabi dan dicontohkan orang-orang saleh terdahulu. Sama halnya perintah menuntut ilmu. Belajar di sekolah, mulai dari tingkatan dasar sampai perguruan tinggi dengan fasilitas gedung tetap, persyaratan-persyaratan tertentu sampai pemberian ijazah dan gelar tentu tidak pernah dianjurkan Nabi atau dilakukan ulama-ulama saleh terdahulu, namun dengan melakukannya bukan berarti amalan tersebut adalah amalan bid’ah, sebab sekolah hanyalah wasilah dari pelaksanaan atas perintah menuntut ilmu. Begitu pula jika dikaitkan dengan perintah mencintai Nabi dan keluarganya.

Sejak kanak-kanak aku sudah dikelilingi oleh buku-buku.  Tetapi, tidak pernah ada cerita yang begitu menyakitkan, membekas, dan membayang-bayangiku dengan banyak pertanyaan, kemarahan, serta kepedihan selain cerita tentang Imam Hussein. Tidak ada cerita yang sudah kubaca ratusan kali tetapi tetap menangis dan menyesakkan dada selain cerita tentang Imam Hussein.

Aku terlahir sebagai Muslim, terdidik sebagai Muslim, dari keluarga Muslim yang taat, tetapi baru ketika SMA, aku menemukan dan membaca cerita Imam Hussein. Aku sering didongengkan oleh ustaz dan ustazah di sekolahku tentang kasih sayang Nabi Muhammad kepada kedua cucunya Hasan dan Hussein. Tetapi, rupanya, mereka yang mengklaim sebagai umat Muhammad sendirilah yang membantai Imam Hussein dan anak-anaknya sedemikian rupa, memenggal kepalanya, mengaraknya selama 40 hari, dan sampai hari ini dicitrakan sebagai PEMBANGKANG!

Aku sudah membaca banyak sekali artikel yang menuduh pengikut Imam Husein sendirilah yang membunuhnya, bukan suruhan Yazid, dan juga bukan salah Yazid karena Yazid berhak berijtihad begitu pun Hussain. Aku sudah banyak membaca semua artikel yang menentang, yang menuduh ini pemujaan terhadap Imam Hussein, ini adalah khas Syiah, ini Syiah adalah sesat, ini adalah Judaisme-isasi baru yang dicangkokkan kepada Islam oleh Syiah, dan seterusnya…

Silakan engkau berikan ratusan ribu hadist kepadaku, dan segala macam tafsir al-Quran untuk menentangku menangis, menghayati dan merenungi kesyahidan Imam Hussein, silakan engkau mengkafirkan aku, silakan engkau mengeluarkan aku dari pertemanan karena aku mencintainya dengan caraku. Aku hanya menggunakan hati, tak perlu rasionalisasi berlebihan untuk hal ini.

Bagi mereka umat Islam yang belum tahu cerita tentang Imam Husein, aku masih bisa memaafkan, jika masih bersukacita dan berpesta pora pada 10 Muharram, tetapi bagi mereka yang mengetahui ceritanya dan memilih merasionalisasi atau memberikan 1001 alasan bahwa Hussain harus dibunuh atau layak dibunuh oleh siapapun sedemikian rupa: MAAF!! maaf seribu maaf, kalau aku kehilangan hormat kepada engkau sebagai Muslim, dan tak tahu lagi bagaimana hendak menyematkan engkau sebagai pengikut Umat Muhammad. Aku hanya berhenti kepada bahwa engkau juga manusia.  Dan, menyayangkannya.

Aku tak peduli apakah engkau Sunni, Syiah, Ahmadiyah, Sikh, Bahai, Kristen, Atheist,  Sufi, Buddhist, Hindu, Kejawen, Agnostik, atau Yahudi, jika engkau bisa menangis membaca cerita Imam Hussein, jika engkau bisa memberi apresiasi kepada perjuangan Imam Hussein tanpa ‘meributkan detail siapa yang membunuhnya,” ya aku akan menghormati kalian, menghormati kalian lebih daripada ulama-ulama yang bahkan mentertawakan orang-orang yang menangisi Imam Husein, ulama-ulama yang mengatakan ini sesat dan itu kafir dengan mudah hanya karena cerita Karbala didengung-dengungkan kembali dan kepahlawanan Imam Hussein diangkat kembali, atau malah menyangkutpautkannya dengan ritual-ritual tertentu kaum Syiah sebagai kebodohan dan kesesatan hanya untuk mengalihkan isu sebenarnya: Syahidnya Hussein!…

Jika anak kalian dibantai, jika bapak kalian dibantai, jika ibu kalian dibantai, dibantai…dan kalian malah merayakannya secara pesta pora, bahagia pula menjadi anak yatim piatu dan tertawa memuji pembunuhnya, aku yakin bahwa kalian menderita sakit jiwa akut.

Aku malu menjadi Muslim jika aku gembira dengan Tragedi Karbala, aku malu menjadi Muslim jika aku mencari pahala di tengah dahaga dan airmata Imam Hussein dan keluarganya di Padang Karbala pada hari Asyura, aku malu menjadi Muslim jika aku membiarkan pembantai Imam Hussein diangkat sebagai pahlawan, aku malu menjadi Muslim jika aku dianggap memuja Imam Hussein hanya karena dia putra Nabi Muhammad dan melakukan syirik karena itu – pertanyaanku, apakah kausenang jika putramu digorok dan disembelih seperti itu?

Aku tak perlu menjadi orang Syiah untuk meratap di Hari Asyura. Aku sudah menangisi meratapi Imam Hussein. Tetapi, dalam sekejap jika aku membekukan hatiku aku bisa saja menjadi seorang yang mengaku-aku sebagai umat Muhammad dan menunjuk-nunjuk, Kau Syiah telah sesat, memuja Ali dan Husein, ini kan hanya soal politik, ini kan hanya ini dan itu…

Renungkanlah, mengapa Imam Hussein harus dibunuh, putranya yang masih bayi harus dibunuh???

Karena Imam Hussein, aku belajar mengenal siapa yang benar-benar Muslim siapa yang benar-benar bukan. Tak peduli apakah mereka Sunni, Syiah, Sufi, Ahmadiyah, Abangan atau Liberal. Aku tak peduli. Karena Imam Hussein, aku senantiasa diingatkan untuk mengukur diriku sendiri apakah aku telah menjadi Muslim atau belum…Karena Imam Hussein jugalah aku belajar mencintai, belajar hanya membenci kepada kezaliman dan ketidakadilan…Masihkah engkau mau membenciku, menuduhku, menghinaku? Silakan.

Dengan cara begitu aku malah berterimakasih karena engkau telah mengajariku cara menjadi pengikut rombongan kecil Imam Hussein yang kelaparan, kehausan, di tengah padang pasir panas, berhari-hari, lalu gugur di tangan kezaliman dan sampai hari ini ada di antara umat kakek mereka malah mencap mereka sebagai pembangkang.

Makna Bid’ah dan ciri-cirinya

Di dalam Kitab Sunan karya al-Imam at-Tirmidzi no.3788 disebutkan :
Rasulullah Shollallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Aku tinggalkan padamu sesuatu yang jika kamu berpegang teguh kepadanya niscaya kamu tidak akan tersesat sepeninggalku, yang mana yang satunya lebih besar dari yang lainnya, yaitu Kitab Allah, yang merupakan tali penghubung antara langit dan bumi, dan ‘itrah Ahlul Baitku. Keduanya tidak akan pernah berpisah sehingga datang menemuiku di telaga. Maka perhatikanlah aku dengan apa yang kamu laksanakan kepadaku dalam keduanya”

Jadi, mengikuti Sunnah Rasul dan berpegang dengan itrah keturunan Rasul juga merupakan perintah dari Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wa sallam.

‘itrah Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam akan ada terus hingga tiba saatnya mereka semuanya nanti akan berkumpul dan mendatangi Rasulullah di telaga Haudh pada hari kiamat.
Tulisan pada gambar ini adalah pemahaman bid'ah menurut Wahhabi, benarkah pemahaman mereka?
Definisi Bid’ah adalah merubah ketetapan syari’at, hukum nya HARAM ( dalil : Qs. Al Ahzab ayat 36 )

Lalu apa sebenarnya definisi bid’ah? Ini penting diketahui, agar kita bisa menghindari.

Asy Syarif Al Murtadha, ulama syiah terkemuka, saudara kandung penyusun Nahjul Balaghah , As Syarif Ar Radhi, dalam Ar Rasa’il jilid 2 hal 264 mengatakan:

Bid’ah : menambah atau mengurangi ajaran agama, dengan mengatas namakan ajaran agama.
Artinya, ajaran hasil modifikasi itu dianggap sebagai ajaran agama. Padahal ajaran agama yang sudah dimodifikasi sejatinya bukan ajaran agama, tapi ajaran hasil modifikasi. Ketika ajaran modifikasi dianggap sebagai ajaran agama, maka itulah bid’ah

Pengertian Bid'ah

Sementara Ibnu Muthahhar Al Hilli, ulama syiah penulis kitab minhajul karamah, fi ma’rifatil imamah, dalam Al Mukhtalaf jilid 2 hal 131 mengatakan :Adzan adalah ibadah yang harus diambil dari syareat, menambah adzan adalah bid’ah, sama seperti mengurangi, dan segala macam bid’ah hukumnya haram
.
At Thuraihi, seorang ulama syiah, dalam kitabnya yang berjudul Majma’ul Bahrain jilid 1, kata bada’a /Bid’ah : penambahan dalam agama, yang tidak ada dasarnya dari Al Qur’an maupun sunnah
.
Seorang pakar hadits syiah, Yusuf Al Bahrani, dalam kitabnya yang berjudul Al Hadaiq An Nadhirah jilid 10 hal 180 menyatakan:
Yang nampak jelas dari bid’ah, apalagi dalam masalah ibadah adalah haram, dengan dalil riwayat At Thusi dari Zurarah dan Muhammad bin Muslim dan Al Fudhail, dari As Shadiqain (2 imam) : ketahuilah, seluruh bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan tempatnya di neraka
.
Al Muhaqqiq Al Asytayani dalam Bahrul Fawaid hal 80 mengatakan:
Bid’ah, memasukkan sesuatu yang bukan ajaran agama, ke dalam ajaran agama, dilakukan dengan keyakinan bahwa perbuatan itu termasuk ajaran agama.
.
Syi’ah imamiyah meyakini bahwa semua bid’ah adalah sesat… Bid’ah adalah segala sesuatu yang bertentangan dengan sumber hukum ( kitabullah , sunnah Nabinya dan Imam maksum as )

Dalam syari’at : ada hal hal yang tidak ada pada zaman Nabi SAW tapi bukan bid’ah, misal :  ma’had-ma’had (di zaman Rasul tidak ada ma’had). Acara-acara tanpa ada keyakinan apapun seperti halnya penertiban/ pengkhususan waktu di PESANTREN, pengkhususan kelas dan tingkatan DAYAH yang semuanya tidak pernah dikhususkan oleh syari’at, Belajar tajwid Metode Iqra’ : bukankah hal semacam ini tidak termasuk bid’ah ????

.
Satu lagi contoh, Al Quran yang antum baca tiap hari, itu khan ada tanda harokatnya, di zaman Nabi harokat itu belum ada dan Nabi tidak memerintahkan memberi harokat di dalam Al Quran
.
“Mencintai dan mengagungkan Nabi adalah perintah tegas dari Allah SWT. Mengenang segala peristiwa penting yang berkaitan dengan Nabi adalah dalam rangka menumbuhkan kecintaan kepada Nabi sebagaimana yang diperintahkan Allah SWT. Karenanya memperingati maulid Nabi tidak bisa dikatakan sebagai amalan bid’ah sebab ada landasannya dalam Al-Qur’an dan Hadits.”
MELURUSKAN PEMAHAMAN TENTANG BID’AH

Alamah Majlisi : Bid’ah dalam syariat adalah apa-apa yang baru setelah Rasulullah Saw. dan tak terdapat secara khusus pada nash, dan bukan termasuk sesuatu yang “umum”, atau terdapat larangan padanya secara khusus atau umum.(Biharul Anwar, jilid 71 halaman 202-203)
.

maka bid’ah disini adalah yang bertentangan dengan sumber hukum tersebut. Seperti halnya pendapat masyhur ulama yang mengatakan bahwa dalam masalah bid’ah kita harus melihat kaidah umum dan khusus, karena ada sebagian hukum yang bersifat umum dan belum ada khususnya di zaman Nabi saw. dan Imam maksum as., di sisi lain ada sebagian hukum yang khusus di zaman Nabi dan Imam maksum as. Baik berupa perkataan, perbuatan, maupun takrirnya. Jika bertentangan dengan ushul Syariah dan sunnah (Nabi Saw. maupun Imam maksum as.) maka hal tersebut dikatakan bid’ah, artinya jika perkara yang tidak bercabang dan bertentangan dengan yang umum maka hal tersebut dikatakan bid’ah, seperti yang telah dijelaskan oleh Alamah Majlisi, tanpa membagi bid’ah hasanah ataupun dalalah, karena di satu sisi Syiah juga meyakini bahwa semua bid’ah adalah sesat (Al-Maktabah Al-Shamilah, Tahzibul Ahkam, juz 61 halaman 14)

Oleh sebab itu dalam mencari hukum sesuatu yang seakan-akan baru di zaman sekarang pada masa ghaibnya Imam Zaman maka harus merujuk kepada sumber nashnya, dan hal ini memerlukan upaya istinbath hukum oleh orang-orang yang paham dibidangnya. []

Halaman makam Muawiyah bin Abu Sofyan berpagar dan terkunci rapat, sehingga tidak seorang pun bisa masuk, dulu makam ini terbuka tetapi menjadi sangat kotor dan penuh sampah karena semua orang Damaskus membenci Muawiyah dan sebagai bentuk rasa tidak hormat orang-orang syiria kepada muawiyah, mereka sering membuang sampah ke makam ini sambil mengutuk dirinya.Menurut guide disekitar makam Muawiyah tumbuh tanaman berduri yang tidak diketemukan di daerah manapun kecuali disekitar makamnya…”

Rasulullah SAW bahwa menyatakan bahwa tidak mengenal Imam Zaman (Afs) akan mati dengan Jahil

Ayatullah Jawadi Amuli:
Wajib Bagi Setiap Muslim Mengenal Imam Zamannya

 

Jika ada yang tidak mengenal Imam Zamannya sendiri intisari yang akan ia reguk akan berupa intisari yang sangat pahit, pastinya intisari tersebut tidak akan menyerupai sirup pahit di dunia yang mana setelah direguk akan hilang pahitnya. Akan tetapi hal ini akan memiliki makna barang siapa usianya hanya dihabiskan untuk hal-hal yang buruk maka selamanya ia akan terperangkap dalam belenggu tersebut.”

 

Menurut Kantor Berita ABNA, Ayatullah Jawadi Amuli di upacara pembukaan workshop upgrading iman Mahdisme dengan tema Mengenal pengaruh Mahdisme dan menanti kedatangan Imam Mahdi (Afs) (khusus mahasiswa provinsi Qom). Beliau membawakan Hadits:

 “من مات و لم یعرف امام زمانه مات میتة جاهلیة” seraya menegaskan dampak negatif tidak mengenal Imam Zamannya (Afs): Rasulullah Saww dalam hadits ini mengisyaratkan bahwa tidak mengenal Imam Zaman (Afs) dan mati dengan Jahil adalah di saat seseorang hidup dalam keadaan Jahil.

Beliau pada workshop yang digelar di “ Lembaga Internasional Ilmu-ilmu kewahyuan Isra’ ” menambahkan, “Kematian adalah intisari dari kehidupan, ketika seseorang mati berarti ia sedang mencicipi intisari kehidupannya. Pohon yang berbuah memiliki makna bahwa apapun yang ia kandung dalam dirinya semisal air dan intisari tanah telah diwujudkan dalam bentuk buah.”

Ayatullah Jawadi Amuli dalam kelanjutan kata-katanya menekankan, “Telah difirmankan

کل نفس ذائقة الموت dan bukannya کل نفس یذوق عن الموت menunjukkan makna kematian tidak mematikan kita melainkan kita mencicipi kematian, akan tetapi kitalah yang mematikan kematian.”

Guru besar Hawzah Ilmu Qom ini menambahkan, “Jika ada yang tidak mengenal Imam Zamannya sendiri intisari yang akan ia reguk akan berupa intisari yang sangat pahit, pastinya intisari tersebut tidak akan menyerupai sirup pahit di dunia yang mana setelah direguk akan hilang pahitnya. Akan tetapi hal ini akan memiliki makna barang siapa usianya hanya dihabiskan untuk hal-hal yang buruk maka selamanya ia akan terperangkap dalam belenggu tersebut.”

Ayatullah Jawadi Amuli membuat para audiens fokus dalam wacana dampak positif dari mengenal keberadaan mulia kehadirat Baqiyatullah (Afs) dengan merujuk pada Qs. Al-Anfal:24  beliau berkata, “Barangsiapa yang mengenal Imam Zamannya sudah pasti ia pun telah mengenal Allah Swt dan Nabi-Nya.”

Beliau melanjutkan lagi, “Imam Shadiq as dalam jawabannya atas pertanyaan Zurarah, apa yang harus kita lakukan? Dibacakanlah doa ini:

اَللّهُمَّ عَرِّفْني نَفْسَکَ فَاِنَّکَ اِنْ لَمْ تُعَرِّفْني نَفْسَک لَمْ اَعْرِفْ رَسُولَک، اَللّهُمَّ عَرِّفْني رَسُولَکَ فَاِنَّکَ اِنْ لَمْ تُعَرِّفْني رَسُولَکَ لَمْ اَعْرِفْ حُجَّتَک، اَللّهُمَّ عَرِّفْني حُجَّتَکَ فَاِنَّکَ اِنْ لَمْ تُعَرِّفْني حُجَّتَکَ ضَلَلْتُ عَنْ ديني

Artinya: Ya Allah Swt,  perkenalkanlah diri-Mu padaku. Jika tidak Kau perkenalkan diri-Mu, maka aku tidak dapat mengenal Rasul-Mu. Ya Allah Swt,  perkenalkanlah Rasul-Mu padaku. Jika tidak Kau perkenalkan Rasul-Mu, maka aku tidak dapat mengenal Hujjah-Mu. Ya Allah Swt,  perkenalkanlah Hujjah-Mu padaku. Jika tidak Kau perkenalkan Hujjah-Mu maka aku telah tersesat dari agamaku.

Guru besar Tafsir Qur’an ini menekankan perihal mengenal Imam Zaman (Afs) dan seraya berkata, “Rasul adalah Khalifah Allah Swt dan Imam Zaman (Afs) adalah Khalifah Rasul. Jika kita tidak mengenal sejatinya sesuatu maka utusannya pun tidak akan kita kenali. Inilah argument Lammi dalam Logika.”

 

 

Ulama marja’ ini pun kembali menegaskan, “Barang siapa tidak mengetahui konsep ini maka tidak dapat membedakan antara Saqifah dan Ghadir. Imam bukanlah utusan dari masyarakat melainkan utusan Rasulullah Saww. Barang siapa tidak mengenali Rasulnya maka ia tidak mengenali Imamnya.”

.

Ayatullah Jawadi Amuli melanjutkan lagi, “Rasulullah Saww adalah  Khalifatullah, barang siapa tidak mengenali Rasulullah Saww maka tidaklah mengenal Alam semestanya, Tuhannya dan ketauhidan. Itulah doa yang diajarkan Imam Shadiq as, pada hakikatnya merupakan ajaran ketauhidan dan keimamahan.”

Beliau memaparkan, “Konsep tidak mengenali Imam Zaman secara kaidahnya tidak mengenal sang Rasul dan menjurus dalam Saqifah.”

Ayatullah Jawadi Amuli dalam konteks lainnya dikemukakan  bahwa beberapa dari gelar Imam Zaman (Afs) telah kita ketahui dari para muridnya dan kita kenali.

Beliau menambahkan, “Pada jilid 1 dari Kitab Ushul Kafi Syeikh Kulaini ra menjelaskan bahwa jalan terbaik dari mengenal ketuhanan adalah dengan mengenal Tuhan itu sendiri. Jika seseorang mengenal ketuhanan maka berarti ia telah mengenal dengan baik Tuhan tersebut. Jika seseorang telah mengenal kenabian maka ia telah mengenal sang nabi dan begitu pula seseorang yang telah mengenal keimamahan maka ia telah mengenal sang imam.”

Ayatullah Jawadi Amuli menganggap sosok imam sebagai pribadi pokok dan keimamahan sebagai pribadi essensi. Beliau mengingatkan, “Barang siapa yang mengenal imam berarti ia mengetahui bahwa satu-satunya sosok yang memiliki hak keimamahan adalah sang Waliyul ‘Ashr (Afs).”

Mufasir Al-Qur’anul Karim ini melanjutkan, perbedaan yang mendasar antara alumni hawzah dan Universitas dengan orang-orang biasa,”Para mahasiswa dan akademis hawzah berada di atas kema’rifatan dan khalayak umum berada di bawah kema’rifatan. Tentunya segala sesuatu akan jelas di akherat kelak. Namun siapakah yang akan menang di hari kiamat dapat dipahami dari perkataan Imam Ali as, bisa saja 2 rakaat shalat seorang buruh sangat bernilai di sisi Allah Swt daripada shalat seorang ulama.”

Beliau menegaskan, “Kita telah diperintahkan untuk meneladani imam yaitu apapun yang imam lakukan harus kita terima. Ini adalah dasar ma’rifat, akan tetapi kita jangan hanya mencukupkan pada dasar ma’rifat saja.”

Ayatullah Jawadi Amuli menjelaskan perihal tingkatan ma’rifat terhadap imam as: terkait kenalilah Imam dan mendekatkan diri pada imam perbuatan ini termasuk dalam tingkatan ma’rifat kepada imam as.

Marja’ kaum Syiah ini sembari mengisyaratkan pada ayat وجعلنا للمتقین اماما berkata:, “Akademis Hawzah dan mahasiswa selayaknya pertama-tama berpengaruh dalam kehidupan sosial. Kemudian,  mereka yang sholeh, beragama dan cakap dari khalayak tersebut akan mengambil teladan darinya.”

Ayatullah Jawadi Amuli menegaskan dan menggarisbawahi pembahasan hidayah kehidupan sosial, “Jangan katakan, ya Allah Swt janganlah memasukan aku ke dalam neraka, doa ini tidak benar. Tetapi katakan, ya Allah Swt kumpulkanlah aku bersama para Auliya dan para Nabi as.”

Beliau memperingatkan terkait khalayak sosial harus mengambil teladan dari kita dengan mengisyaratkan gelar Imam Zaman (Afs): Gelar tersohor Imam Zaman adalah ‘Baqiyatullah’. Kitapun dapat meniti sang imam dan menjadi Baqiyatullah sesuai kadar kita sendiri. Para ulama, yaitu mereka yang senantiasa hidup dapat mencapai tingkatan Baqiyatullah sesuai kadar kemampuan dalam dirinya.

.

Ayatullah Jawadi Amuli dalam ceramahnya sembari mengisyaratkan masa muda sebagai masa pembentukkan karakter, beliau  memfokuskan kepada para generasi muda seraya berkata: Hati-hatilah untuk tidak melangkah tanpa landasan dan tidak menyeret seseorang dalam ketidak berlandasan. Hati-hatilah untuk tidak bermain-main dan tidak mengajak seseorang untuk bermain-main.

Beliau melanjutkan: Jika saudara dan saudari melakukan hal sedemikian rupa maka jadilah seorang ‘Ulul Baqiyah’ dan dapat terselamatkan dari kematian Jahiliyyah.  Sistem ini akan terus ada hingga masa kebangkitan sang Hujjah (Afs).

Workshop upgrading iman Mahdisme dengan tema Mengenal pengaruh Mahdisme dan menanti kedatangan Imam Mahdi (Afs) khusus mahasiswa provinsi Qom ini bekerja sama dengan Fakultas Ushuluddin Qom, direktorat kemahasiswaan agama, lembaga tabligh Islam dan Duta asosiasi masyarakat diselenggarakan sejak 20 Urdibehesyt (kalender Iran) selama 3 hari. Tujuan dari terselenggaranya workshop ini adalah pengenalan secara ilmiah bagi para

mahasiswa unggulan seprovinsi melalui pembahasan Mahdisme struktural dan irfan-irfan kontemporer serta pembekalan para mahasiswa luar kota Qom supaya dapat dengan lugas menjawab isu-isu penyimpangan perihal Mahdisme pada komunitas mereka masing-masing(*)

.

Pohon Tauhid

Oleh karena itu, mempersiapkan, menyuburkan, dan mengolah lahan bagi pertumbuhan tanaman tauhid merupakan sebuah kemestian. Bagi orang yang memang lahannya sudah kering bak padang pasir, janganlah ia berkhayal untuk dapat menumbuhkan tanaman apapun, sebelum mengolah dan memupuknya agar menjadi subur. Artinya, meskipun tanah itu kering, itu bukan berarti tanaman tauhid tidak akan bisa tumbuh (karena masih bisa diolah lagi).

 

Pohon TauhidTidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu mengingatnya. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tegak barang sedikitpun. (Ibrahim: 24-26)

Dan tanah yang baik tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah, dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur. (al-A’râf: 58)

Negeri yang baik (subur) akan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan yang baik, kokoh, dan subur pula, dengan izin Allah Swt. Begitu juga, negeri yang buruk tentunya tidak akan menumbuhkan kecuali tumbuhan yang buruk, kering, dan lemah.

Di hari kelahiran Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib, Rasulullah saww berkata kepadanya, “Engkau adalah pembagi surga dan neraka.” Rasulullah saww kemudian menambahkan, “Siapa saja yang menempatkan cinta(nya) kepada Amirul Mukminin, maka ia mukmin. Dan tidak ada orang yang menempatkan kebencian kepadanya, kecuali ia munafik.”

Begitulah kelahiran salah seorang di antara Ahlul Bait yang disucikan oleh Allah Swt dengan firman-Nya: Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan membersihkan kamu sesuci-sucinya. (al-Ahzâb: 33) Ya, kelahiran seseorang yang Allah Swt mengatakan tentangnya: Sesungguhnya wali kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat seraya mereka rukuk. (al-Mâidah: 55)

Dalam sebuah hadis qudsi dikatakan, “Wilayahnya Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib adalah benteng penjagaan-Ku, dan siapa saja yang masuk ke dalam benteng penjagaan-Ku, maka mereka akan selamat dari siksa-Ku.”

Firman Allah Swt sebelumnya memiliki hubungan yang sangat erat dengan firman Allah Swt yang menceritakan tentang tumbuhan yang baik. Pada ayat tersebut, Allah Swt mengawalinya dengan kata-kata: Bumi yang baik…(dan seterusnya sampai akhir ayat). Apa sebenarnya yang dimaksud oleh Allah Swt dengan tumbuhan yang baik itu?

Allah Swt menjelaskan bahwa tumbuhan yang baik adalah tumbuhan kokoh, yang akarnya menghunjam ke bumi dan cabangnya menjulang tinggi ke langit, dan dari pohon ini merebak buah-buahan yang banyak sekali manfaatnya. Tumbuhan yang baik (sajarah al-thayyibah) adalah sajarah al-tauhid (pohon tauhid). Yakni, adanya kekuatan tauhid pada diri manusia. Ya, tauhid ibarat pohon dan manusia adalah bumi (tanah, negeri) di mana pohon ini tumbuh.

Apabila pohon tersebut tumbuh pada tempat atau tanah yang baik, maka ia akan berdiri dengan tegak dan kokoh pada diri manusia dan menghasilkan buah yang banyak sekali manfaatnya. Pohon tauhid akarnya berada di hati manusia dan cabangnya muncul pada amal dan perbuatannya. Ketika akarnya mulai menghunjam dan berpegang kuat pada tanah yang kokoh dan baik, maka batangnya akan bertumbuh merambat ke langit dan “bertemu” dengan Allah Swt setelah sebelumnya menyingkirkan segala hal yang menghalangi kehidupannya.

Sama halnya, ketika manusia tidak berhubungan dengan Allah Swt; ketika berbagai permasalahan, problem, dan tuntutan kehidupan mendominasi manusia itu sendiri; ketika manusia mulai meracuni dirinya dengan berbagai pelanggaran dan kemaksiatan, maka yang pertama kali dirusak adalah akar dari pohon tauhid tersebut. Akar di mana batang dan buah berasal daripadanya. Lemah dan busuknya akar akan menumbangkan batang dan pohon yang menjulang tinggi dan “menemui” Allah Swt. Rusak dan keringnya akar akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan batang dan buah yang ada, sehingga pohon tersebut tidak hidup dengan baik dan tidak menghasilkan buah yang ranum.

Setiap manusia bisa saja memiliki nilai tauhid, namun tidak setiap orang akan “bertauhid”. Ia, pada taraf tertentu, dapat meraih manfaat dari nilai tauhid yang dimilikinya, namun ia tidak akan selalu dapat memperoleh manfaat dari tauhid yang ada pada dirinya.

Mungkin saja ia memiliki kesadaran untuk menghamba kepada Allah Swt, memiliki kesadaran untuk hanya tunduk dan takut kepada Allah Swt, tetapi apabila kesadaran ini tumbuh di lahan yang buruk atau penuh dengan racun kemaksiatan, maka perjalanan menuju Allah Swt tidak akan pernah terjadi. Sebab, ketika kesadaran bahwa ia harus tunduk kepada Allah Swt tertanam di hatinya, maka sebagai konsekuensinya ia harus menyingkirkan ketundukan kepada selain Allah. Akibatnya, mungkin secara fisik ia akan menderita. Sebab, ketundukan kepada Allah Swt melazimkan seseorang untuk memiliki ketegasan pada setiap persoalan, pada setiap nilai keyakinannya.

Ketika manusia memenuhi jiwanya dengan kemaksiatan, maka akar kesadaran tauhid yang tumbuh dalam dirinya akan sangat kecil, sehingga tidak memiliki kekuatan untuk menumbuhkan dan menegakkan batang yang besar. Kalaupun batang tersebut muncul ke permukaan, ia tidak memiliki kekuatan untuk bertahan dan menyingkirkan segala sesuatu yang menghalanginya.

Kita dapat bayangkan itu dalam kehidupan kita kini yang didera oleh konflik antara satu pihak dengan pihak lainnya, didera oleh kemiskinan dan kekurangan, sementara tuntutan konsumtif selalu ditumbuhkan di tengah masyarakat. Media massa selalu mendidik kita untuk mengejar dan mengejar kebutuhan sekunder atau bahkan kebutuhan tersier. Dari sisi ini saja, kita benar-benar mengalami kesulitan untuk mengatasinya, kita sulit untuk tidak bermaksiat. Islam tidak melarang kita untuk memenuhi kebutuhan sekunder atau bahkan kebutuhan tersier kita, namun Islam melarang kita bila kebutuhan itu dipenuhi dengan cara bermaksiat kepada Allah Swt.

Ada istilah konyol yang sering diungkapkan orang, “Mencari (nafkah) yang haram saja sulit, apalagi mencari yang halal.” Kata-kata ini dan angan-angan panjang kita atas kehidupan dunia ini telah membuat ruang yang semakin lebar bagi kita untuk bermaksiat kepada Allah Swt. Ini seperti yang dikatakan oleh Amirul Mukminin, “Harapan saya dan dunia ini bersekutu, ya Allah; bekerja sama untuk menumbangkan saya dalam kemaksiatan (dalam tindakan yang melanggar keinginan-Mu).”

Dalam wasiatnya, Rasulullah saww berkata, “Berhati-hatilah kalian dengan hijau-hijauan.” “Apa yang dimaksud dengan hijau-hijauan itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Wanita yang elok (cantik) tetapi ia berasal dari sumber yang buruk.” Maksudnya, setiap manba’ (tempat bertumbuh) yang buruk—meskipun pohon yang ditanam baik mutunya—tidak akan dapat menghasilkan kebaikan apapun. Manakala hati dan jiwa ini kotor, maka tauhid, kalimat lâ ilâha illallâh, menjadi tidak berguna.

Manakala benak manusia hanya tertuju pada dunia, maka memori yang ada di kepalanya hanyalah mobil, rumah, televisi, atau segala hal yang berhubungan dengan dunia, dan tidak tersisa sedikit pun laci untuk memikirkan masalah ketidakadilan, misalnya. Ia hanya akan berpikir bagaimana caranya untuk mengganti barang-barang yang dimilikinya dengan model terbaru; hanya itulah isi kepalanya.

Karena itu, apa artinya tauhid yang tumbuh dalam pikiran manusia dan tidak lebih dari sebesar jari kelingking kita, sementara ia harus menanggung pertumbuhan batang yang digambarkan luar biasa oleh Allah Swt. Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib mengatakan bahwa betapa panjangnya perjalanan untuk sampai kepada Allah Swt dan alangkah sempitnya waktu yang kita sediakan.

Allah menyatakan dalam firmannya: Yâ ayyuhal insân kadihun ilâ rabbik. Kadih adalah perjalanan sangat sulit dan panjang yang harus ditempuh manusia. Dalam pada itu, tajuk pohon yang harus sampai kepada Allah Swt adalah berupa amal perbuatan manusia; bagaimana mengatasi problem, merengkuh kebenaran, meraih ridha Allah Swt. Ini adalah batang dan tajuk yang besar. Kalau akarnya tidak besar, maka bagaimana mungkin ia dapat menjulang tinggi. Mungkin, dengan ketinggian satu meter meter saja, ia akan sudah tumbang. Sementara, Allah Swt mengatakan bahwa ia menjulang tinggi, kokoh, kuat, dan tidak goyah dalam hati kita.
Karena itu, kita sering menemukan orang yang mengucapkan kalimat tauhid, mengatakan tiada tuhan selain Allah Swt, namun itu bertumbuh di comberan hatinya yang sakit atau di lahan batinnya yang kering dan tandus.

Oleh karena itu, mempersiapkan, menyuburkan, dan mengolah lahan bagi pertumbuhan tanaman tauhid merupakan sebuah kemestian. Bagi orang yang memang lahannya sudah kering bak padang pasir, janganlah ia berkhayal untuk dapat menumbuhkan tanaman apapun, sebelum mengolah dan memupuknya agar menjadi subur. Artinya, meskipun tanah itu kering, itu bukan berarti tanaman tauhid tidak akan bisa tumbuh (karena masih bisa diolah lagi).

Kalau kita tengok lintasan sejarah Islam, maka kita akan mengenal seorang budak hitam yang dilahirkan dari hasil perzinahan. Budak tersebut bernama Haitsam. Lahan dirinya memang kering untuk menumbuhkan pohon tauhid, namun lantaran lahan kritis itu diolah dengan sungguh-sungguh, tanaman itu pun dapat bertunas dan bertumbuh dengan baik. Apa yang akhirnya terjadi? Haitsam ditahan dan disalib oleh penguasa zalim bani Umayah (Marwan bin Hakam) di lapangan. Apa buah pohon tauhid itu? Selama penyaliban, dari mulutnya senantiasa terlontar kata-kata hikmah dan kisah tentang berbagai kejadian di alam ini. Setiap hari orang berkumpul dan mendengarkan apa yang disampaikan Haitsam. Setiap mengakhiri pidatonya, ia selalu berkata, “Saya mengetahui semuanya ini hanya lantaran lima tahun saya bersama Ali bin Abi Thalib.”

Mempersiapkan lahan merupakan hal yang sangat penting dan menjadi tugas manusia, yaitu mengikuti panggilan fitrah untuk bertahan dan menahan diri atas hal-hal yang haram dan halal, mulai dari perut, penglihatan, pendengaran, lisan, tangan, pada batasan fiqh saja. Janganlah kita terlampau bingung dengan masalah, misalnya, “Saya ini shalat dalam keadaan suci atau belum?” Semestinya kita bingung dengan masalah, “Apakah telinga saya ini sudah suci dari mendengarkan ghibah, lisan ini sudah suci dari melontarkan fitnah?” Sebab, kalau nilai-nilai ini selalu kita usahakan agar tetap terjaga, maka demi sedikit berbagai macam penyakit dalam diri kita akan terkikis.

Semua itu adalah upaya kita untuk menghindar dari murka Allah Swt. Ya, berhenti dari perbuatan haram adalah pupuk paling istimewa untuk menyuburkan tanah tauhid dalam diri manusia. Kita tidak perlu bercerita tentang bagaimana berbuat baik dulu, tetapi bagaimana menghidupkan diri kita dengan membuat tanah tersebut subur lantaran tauhid, sehingga pohon tauhid yang ada dalam diri kita ini tumbuh semakin kokoh dan kuat.

Dalam lintas sejarah disebutkan bahwa ketika Abdullah bin Umar bin Khattab menghadap Hajjaj bin Yusuf (algojo Yazid paling garang), dari rumah pakaiannya telah basah dengan kencing lantaran ketakutan. Sesampainya di hadapan Hajjaj, ia menyatakan baiatnya (kepada Yazid) melalui sang algojo ini. Ia melakukan itu dengan tangan kanannya dan kaki ditekuk, sementara Hajjaj menyambutnya dengan salah satu kakinya. Padahal kita mengetahui bahwa Abdullah bin Umar adalah salah seorang tokoh sufi, namun, apa yang telah dilakukannya?

Hal itu kontras dengan yang dilakukan oleh Said bin Jubair, ketika ia dihadapkan kepada orang yang sama, Hajjaj bin Yusuf. Ketika Said ditanya yang mana yang lebih dicintainya, Abu Bakar, Umar, Utsman, atau Ali bin Abi Thalib, ia menjawab, “Siapa yang paling dicintai Allah, maka saya cinta kepadanya.” Maksudnya, “Cinta saya mengikuti cintanya Allah Swt; yang paling utama dalam pandangan Allah Swt, itulah yang paling utama dalam pandangan kami.”

Segala yang disampaikan Said bin Jubair di hadapan Hajjaj bin Yusuf, si terkutuk, tidak lain hanyalah tauhid yang dimilikinya. Apa yang terjadi ketika Hajjaj bin Yusuf memerintahkan agar Said bin Jubair dibunuh (dipenggal) dengan dihadapkan ke Kiblat? Ia malah membaca ayat: innî wahjahtu wajhiya lilladzî fatharas samâwâti wal ard (saya menghadapkan wajah saya pada yang menciptakan langit dan bumi).

Hajjaj memerintahkan agar ia dipalingkan dari Kiblat. Said bin Jubair menjawabnya dengan membaca ayat: kemanapun engkau berpaling, di situlah wajah (berhadapan dengan) Allah Swt. Hajjaj kemudian menyuruh agar menelungkupkan wajahnya ke tanah. Di tanah ia berkata (membaca ayat): darinya Engkau ciptakan (aku) dan darinya pula aku Engkau bangkitkan dan (darinya pula aku) dikembalikan.

Ya, semuanya ia kembalikan kepada Allah Swt. Dalam sebagian riwayat disebutkan bahwa Hajjaj memerintahkan untuk memotong lidah Said bin Jubair terlebih dahulu. Kemudian mereka menggergaji bagian punggungnya. Darah yang mengalir dari tubuh Said bin Jubair menjadi saksi atas ketauhidannya. Darah itu membentuk tulisan: lâ ilâha illallâh Muhammad al-Rasûlullâh.

Begitulah, Allah Swt telah mengatakan bahwa wilayah (kepemimpinan) Ahlul Bait adalah benteng pertahanan Allah Swt. Benteng Allah Swt inilah yang menjadikan manusia selamat dari azab Allah Swt, di dunia maupun akhirat.

Setiap tindakan manusia di dunia akan mendatangkan balasan, entah balasan baik atau buruk. Bahkan perbuatan baik kita bisa berakibat negatif pada diri kita, sebagaimana perbuatan buruk akan berakibat negatif pada diri kita. Ketika kita berbicara tentang kehidupan di dunia, maka tidak semua perbuatan baik mengakibatkan dampak positif bagi diri kita. Sebagai contoh adalah upaya yang dilakukan oleh Imam Khomeini dengan revolusinya. Dari satu sisi, itu buruk, sebab, berakibat pada embargo ekonomi dan senjata yang dilakukan musuh-musuh Islam, sehingga perekonomian bangsa Iran menjadi terpuruk.

Apa yang didakwahkan oleh Rasulullah saww telah menjadikan beliau diasingkan (diblokade) selama tiga tahun, sehingga untuk makan saja beliau harus mengumpulkan pucuk dedaunan atau terpaksa mengganjal perut beliau dengan batu. Inilah penderitaan duniawi yang merupakan konsekuensi dari perjuangan yang beliau lakukan.

Ya, kalau kita berbicara pada takaran dunia, perbuatan baik yang kita lakukan dapat berakibat negatif. Meskipun, dari sisi pandang yang lain, ia merupakan hal yang positif. Nabi Musa as mengatakan bahwa azab Allah Swt itu bisa terjadi di dunia ini. Setiap tindakan kita dapat mendatangkan atau melahirkan azab bagi kita.

Sebagaimana, yang terjadi pada Firaun dan Nabi Musa as. Beliau as berkata, “Sesungguhnya saya memiliki dosa terhadap Firaun (innalî ‘alaihi dzanbun).” Maksudnya, Nabi Musa as memiliki dosa terhadap Firaun, sehingga Penguasa Mesir ini harus mengejar, menyakiti, atau membunuh beliau. Dengan demikian, dakwah Nabi Musa as, dari satu sisi pandang tertentu, telah mendatangkan azab pada diri Nabi Musa as.

Meskipun demikian, apa pendapat Amirul Mukminin Ali bin Abi Tahlib? Beliau berkata, “Aku dapat bersabar atas azab-Mu, namun bagaimana mungkin aku dapat bersabar dari berpisah dengan-Mu (shabartu alâ adzâbik fa kaifa ashbirû alâ firâqik).” Maksudnya, “Ya Allah, atas siksa-siksa-Mu yang lain, aku akan bersabar. Meskipun wanita yang paling kukasihi, puteri Nabi-Mu (Fathimah), disakiti sedemikian rupa—sementara aku memiliki emosi, kekuatan, dan pedang; aku mampu memenggal kepala penguasa zalim yang menyakiti puteri Nabi-Mu itu—namun aku dapat bersabar akan hal itu. Sebaliknya, untuk berpisah dari ridha-Mu, menderita siksaan berpisah dengan-Mu, aku tidak akan mampu sabar menanggungnya.

Ya, keberadaan manusia dalam benteng Allah Swt (wilayah) akan menjadikannya semakin kuat menghadapi segala musibah yang mendera. Sebab, Rasulullah saww bersabda, “Siapa saja yang menempatkan cintanya pada Ahlul Bait, maka saat itu ia mengenakan jubahnya musibah.” Begitulah, musibah adalah sesuatu yang akan selalu berjalan bersama orang yang berada dalam wilayah Ahlul Bait. Dengan demikian, mereka akan banyak memperoleh pelajaran dari kehidupan ini. Namun, musuh paling utama bagi mereka adalah keinginan-keinginan pribadi yang melambungkan angan-angan dalam diri mereka, sehingga menjadi abai terhadap kewajiban-kewajibannya.

Syi’ah itu adalah Ahlussunnah Nabi saww,tidak ada kebutuhan bagi ‘Ali dalam kekhalifahan jika dengan mengabaikan sunah Nabi saww, kecuali jika untuk menegakkan hukum Allah Swt

Ahlussunnah wal Jama’ah dalam Pandangan Syi’ah
Syi’ah itu adalah Ahlussunnah Nabi saww, karena Imam mereka yang pertama setelah Nabi saww adalah Imam ‘Ali bin Abi Thalib yang hidup dan bernapas dengan sunah Nabi saww. Perhatikanlah sikapnya, ketika mereka (para sahabat) mendatanginya untuk membaiat dirinya sebagai khalifah dengan syarat mengikuti sunah Syaikhan (yakni Abu Bakar dan Umar) maka ia menjawab, “Aku tidak mau memerintah kecuali dengan Kitabullah dan sunah Rasulullah saww,” tidak ada kebutuhan bagi ‘Ali dalam kekhalifahan jika dengan mengabaikan sunah Nabi saww, ia telah berkata, ”Sesungguhnya kekhalifahan kalian menurutku, bagaikan kotoran kambing, kecuali jika untuk menegakkan hukum Allah Swt.”

Ahlussunnah wal Jama’ah dalam Pandangan Syi’ah

.

Apabila kita kecualikan sebagian orang yang fanatik dari awamnya Syi’ah, yang menganggap seluruh Ahlussunnah wal Jama’ah sebagai golongan Nawashib, maka kebanyakan ulama mereka yang dahulu dan sekarang adalah tetap meyakini bahwa saudara mereka dari Ahlussunnah wal Jama’ah itu adalah merupakan korban kedustaan dan tipu daya orang-orang Umawiyah

.

Sebab mereka berbaik sangka terhadap para pendahulu yang dianggap saleh dan mengikuti tanpa penelitian dan pertimbangan, sehingga mereka sesat dari jalan yang lurus dan dijauhkan dari Tsaqalain (dua peninggalan berharga)–yakni Kitabullah dan keluraga yang suci– yang keduanya dapat memelihara orang yang berpegang padanya dari kesesatan dan menjamin mereka terbimbing ke jalan yang benar

.

Maka Anda lihat kebanyakan yang mereka tulis untuk mempertahankan diri dan memperkenalkan akidah mereka adalah dengan menyerukan kejujuran dan kesatuan dengan saudara mereka dari Ahlussunnah wal Jama’ah. Sebagian ulama Syi’ah di beberapa negara dan kota-kota telah mempersiapkan para pembahas tentang metode yang tepat guna dalam rangka membentuk satu pengaturan dan lembaga pengajaran Islam untuk pendekatan antara mazhab-mazhab dan usaha membentuk persatuan

.

Sebagian mereka, telah menaruh perhatian serius terhadap pelurusan al-Azhar asy-Syarif, menara Ilmu dan pengetahuan bagi Ahlussunnah, dan mereka telah menemui para ulamanya dan mengadakan diskusi dengan mereka secara baik, seperti yang telah dilakukan oleh Imam Syarafuddin al-Musawi ketika ia bertemu dengan Imam Salimuddin al-Bisyri. Dari hasil pertemuan dan surat menyurat itu lahirlah satu kitab yang bagus yang dinamakan al-Muraja’at (Dialog Sunnah–Syi’ah-red), yang memiliki peranan besar dalam pendekatan pandangan di kalangan umat Islam. Sebagaimana kesungguhan para ulama Syi’ah telah berhasil di Mesir, maka Imam Mahmud Syaltut, Mufti negara Mesir di saat itu mengeluarkan fatwanya yang sangat mengesankan dalam pembolehan ibadah dengan mazhab Syi’ah Ja’fari dan fiqih Syi’ah Ja’fari dijadikan materi pelajaran yang diajarkan di al-Azhar asy-Syarif

.

Demikian itulah, kebiasaan Syi’ah dan Ulamanya, khususnya dalam memperkenalkan para imam Ahlulbait yang suci dan mazhab Ja’far yang merupakan Islam dengan seluruh maknanya. Mereka telah menulis dalam masalah tersebut berjilid-jilid dan beberapa keterangan, dan mereka telah menyelenggarakan untuk itu banyak penerbitan-penerbitan khususnya setelah revolusi Islam di Iran, telah diadakan muktamar-muktamar di Teheran dengan mengatasnamakan presatuan Islam, dan mengatasnamakan pendekatan antara mazhab-mazhab. Semuanya merupakan seruan yang sesungguhnya untuk menghilangkan permusuhan dan kedengian serta untuk menambahkan ruh persaudaraan Islam dan penghormatan terhadap sesama umat Islam

.

Setiap tahun muktamar petsatuan Islam itu mengundang para ulama dan pemikir dari golongan Syi’ah dan sunah, dan mereka hidup berminggu-minggu secara penuh dibawah naungan persaudaraan yang sebenarnya, mereka makan dan minum, mengerjakan shalat, berdoa dan saling tukar pandangan dan pemikiran, dan mereka saling memberi dan menerima. Seandainya muktamar itu tidak berperan selain melunakkan hati dan pendekatan sesama umat Islam, agar saling mengenal dan melenyapkan kedengian, niscaya hal itu mengandung kebaikan yang banyak dan keutamaan yang menyeluruh serta akan datang masanya memetik hasilnya, insya Allah.

Dan Anda bila memasuki satu rumah dari rumah orang-orang Syi’ah yang biasa, lebih-lebih rumah para ulama dan para pelajar, pasti Anda mendapati di dalamnya susunan kitab-kitab yang mencakup kitab tuilsan Syi’ah berdampingan dengan kitab-kitab tulisan Ahlussunnah wal Jama’ah. Tapi sebaliknya, ahlussunnah wal Jama’ah jarang Anda dapati disisi ulama mereka kitab Syi’ah satu pun, kecuali hanya beberapa orang saja. Oleh sebab itu, mereka tidak mengetahui hakikat Syi’ah dan tidak mengetahui selain hanyalah yang dusta yang ditulis oleh para musuhnya

.

Sebagaimana orang Syi’ah biasa, Anda dapati kebanyakannya, mengetahui sejarah Islam dengan seluruh perputarannya dan sering ia berkumpul untuk menghidupkan peringatannya. Adapun orang Alim Sunni, Anda dapati sedikit saja yang memperhatikan sejarah, dan ia menganggapnya termasuk sumber keburukan yang tidak ia kehendaki mengungkitnya dan menampakkannya bahkan wajib mengabaikannya dan tidak mengambil perhatian padanya, karena hal itu dapat menimbulkan buruk sangka terhadap para pendahulu yang saleh. Dikarenakan ia telah memantapkan diri atau anggapannya dengan keadilan seluruh sahabat dan kesucian mereka, maka ia tidak mau menerima apa yang telah ditulis oleh sejarah tentang mereka

.

Karena itu semua, Anda lihat ia tidak mau bersandar pada pembicara yang berdasarkan dalil dan bukti, Anda lihat ia, baik berusaha lari dari pembahasan karena ia lebih dahulu tahu akan kalah, atau ia akan mengalahkan perasaannya dan kecondongannya dan mendorong dirinya dalam pembahasan, lalu ia terpengaruh untuk protes terhadap akidahnya dan akhirnya mengikuti Ahlulbait Nabi saww.

Syi’ah itu adalah Ahlussunnah Nabi saww, karena Imam mereka yang pertama setelah Nabi saww adalah Imam ‘Ali bin Abi Thalib yang hidup dan bernapas dengan sunah Nabi saww. Perhatikanlah sikapnya, ketika mereka (para sahabat) mendatanginya untuk membaiat dirinya sebagai khalifah dengan syarat mengikuti sunah Syaikhan (yakni Abu Bakar dan Umar) maka ia menjawab, “Aku tidak mau memerintah kecuali dengan Kitabullah dan sunah Rasulullah saww,” tidak ada kebutuhan bagi ‘Ali dalam kekhalifahan jika dengan mengabaikan sunah Nabi saww, ia telah berkata, ”Sesungguhnya kekhalifahan kalian menurutku, bagaikan kotoran kambing, kecuali jika untuk menegakkan hukum Allah Swt.”

.

Dan putranya yakni Imam Husein as, telah berkata dengan ucapannya yang masyhur, yang tetap bergema dalam pendengaran sepanjang zaman yakni,”Jika agama Nabi Muhammad saww, tidak akan tegak kecuali dengan kematianku, maka ambillah diriku wahai pedang-pedang!” Oleh karena itu, maka Syi’ah memandang saudara-saudaranya dari Ahlussunnah wal Jama’ah dengan pandangan simpatik dan kasihan, sepertinya mereka itu menginginkan baginya agar mendapat petunjuk dan keselamatan, sebab menurut mereka nilai petunjuk sesuai dengan yang telah diriwayatkan secara saleh itu adalah lebih baik dari pada dunia beserta apa yang ada di dalamnya

.

Rasulullah telah bersabda kepada Imam ‘Ali ketika beliau mengutusnya untuk membuka benteng khaibar, “Perangilah mereka sehingga mereka mengucapkan, ‘Tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Nabi Muhammad saww adalah Rasulullah saww, apabila mereka telah mengucapkan itu, berarti telah terlindungi darimu diri dan hartanya dan perhitungan selanjutnya pada Allah SWT. Jika Allah SWT, memberi petunjuk satu orang dengan perantaraanmu, niscaya hal itu lebih baik bagimu dari pada engkau memiliki kuda yang terbagus.”

.

Sebagaimana yang menjadikan keinginan Imam ‘Ali bin Aabi Thalib hanyalah satu yakni, membimbing umat manusia dan mengembalikannya kepada Kitabullah dan sunah Rasul-Nya, maka demikian pula Syi’ahnya sekarang ini, keinginan mereka adalah untuk mempertahankan diri mereka dari segala tuduhan-tuduhan dan kedustaan, serta ingin memperkenalkan pada saudaranya Ahlussunnah tentang hakikat Ahlulbait as danselanjutnya membimbing mereka ke jalan yang lurus.

.

Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal, Al-Qur’an itu bukanlah bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. (QS. Yusuf:111)

.

Hadith Dan Kedudukannya Dalam Madzhab Syiah

Para Imam adalah seperti serangkaian cahaya yang memancar dari “Matahari Kenabian” dan tidak pernah terpisah dari Matahari itu. Sedangkan Matahari itu merupakan asal-usul serangkaian cahaya itu. Apa pun yang mereka katakan berasal dari khazanah kearifan itu karena mereka merupakan suatu rantai dari realitas batiniah Rasulullah Saww, maka sebenarnya kata-kata merupakan kata-kata Nabi Saww. Itu sebabnya sabda-sabda mereka dipandang oleh Syiah sebagai suatu kesinambungan dari sabda-sabda Nabi, tepat seperti cahaya kemaujudan mereka dipandang sebagai kelanjutan cahaya kenabian. Dalam pandangan Syiah, keterpisahan sementara para Imam dari Nabi Saww sama sekali tidak mempengaruhi ikatan zat dan batiniah mereka dengan Nabi Saww, ataupun kelanjutan “cahaya kenabian yang merupakan sumber pengetahuan ilhami Nabi sendiri dan para Imam.

.

Hadith Dan Kedudukannya Dalam Madzhab SyiahSungguhpun banyak sekali kajian ilmiah telah dilakukan sejak abad ke-19 lagi, serta analisis-analisis dan penterjemahan-penterjemahan telah dibuat terhadap berbagai sumber keislaman, namun sejauh ini sangat sedikit sekali perhatian diberikan kepada himpunan sabda, khutbah, doa, ungkapan dan pengajaran keagamaan Syiah Imamiyyah. Memang benar, banyak dari kandungan himpunan hadith Syiah sama dengan kandungan dari kandungan himpunan hadith Ahlus Sunnah. Dengan demikian, jika himpunan hadith Ahlus Sunnah dikaji, maka himpunan hadith Syiah pun secara langsung telah tergarap
.
Mengingat bahwa hadith-hadith syiah memiliki bentuk, gaya, dan bauan khas, maka kajian tidak langsung terhadap kandungannya tidak akan dapat menggantikan kedudukan penterjemahan dan kajian langsung terhadap hadith-hadith itu sendiri
.
Memang agak mengherankan, sungguhpun hadith-hadith Syiah mempunyai kedudukan yang penting sekali dalam perkembangan hukum dan ilmu kalam, maka Syiah maupun banyak bidang ilmu keintelektual (al-‘ululmul aqliyyah), belum lagi peranannya dalam ketaqwaan dan kehidupan rohaniah, hingga kini sabda-sabda para Imam Syiah belum diterjemahkan. Sabda-sabda tersebut juga belum dikaji sebagai suatu himpunan khas sumber ilhami keagamaan dalam konteks umum Islam itu sendiri
.
Kepustakaan hadith Syiah mencakup semua sabda Rasulullah Saww dan dua belas Imam, dari Ali bin Abi Talib sampai al-Mahdi. Dengan demikian, setelah al-Qur’an, hadith-hadith ini dipandang sebagai himpunan terpenting nash keagamaan bagi kaum Syiah. Seperti halnya dalam Ahlus Sunnah, bersama-sama al-Qur’an, hadith-hadith ini juga membentuk dasar semua ilmu keagamaan dalam segi intelektual mahupun ibadahnya. Tidak satu pun segi kehidupan dan sejarah kaum Syiah yang dapat dimengerti tanpa mempertimbangkan tulisan-tulisan ini
.
Yang khas pada himpunan hadith Syiah adalah, sungguhpun merupakan bagian dari asas Islam, “susunannya” merentang selama lebih dari dua abad. Dalam Ahlus Sunnah, hadith merupakan sabda Rasulullah Saww. Menggunakan istilah hadith dalam Ahlus Sunnah berarti merujuk kepada hanya sabda Rasulullah Saww sedangkan dalam Syiah, sungguhpun hadith Nabi dan hadith para Imam dibedakan dengan jelas, keduanya merupakan satu himpunan yang tunggal. Hal ini bermaksud bahwa dari sudut pandangan tertentu, masa kerasulan dilihat oleh Syiah sebagai merentang melebihi kelaziman masa para rasul yang relatif singkat dalam berbagai agama
.
Alasan sudut pandangan ini tentu saja terletak pada konsepsi Syiah tentang Imam. Istilah “imam”, sebagaimana digunakan secara teknis dalam Syiah, berbeza dengan penggunaan umum istilah itu dalam bahasa Arab, yang bermaksud “pemimpin”, atau, dalam teori politik Ahlul Sunnah, yang bermaksud khalifah itu sendiri. Digunakan secara teknis dalam Syiah, istilah itu merujuk kepada orang yang memiliki dalam dirinya “cahaya Muhammad” (al-nur al-Muhammadi) yang diturunkan melalui Fatimah, putri Rasulullah Saww, dan Ali, Imam pertama, kepada Imam-imam lainnya sampai al-Mahdi. Akibat adanya “cahaya” ini, Imam dipandang sebagai “suci” (maksum) dan memiliki pengetahunan sempurna tentang tatanan lahiriah maupun batiniah
.Para Imam adalah seperti serangkaian cahaya yang memancar dari “Matahari Kenabian” dan tidak pernah terpisah dari Matahari itu
.
Sedangkan Matahari itu merupakan asal-usul serangkaian cahaya itu. Apa pun yang mereka katakan berasal dari khazanah kearifan itu karena mereka merupakan suatu rantai dari realitas batiniah Rasulullah Saww, maka sebenarnya kata-kata merupakan kata-kata Nabi Saww. Itu sebabnya sabda-sabda mereka dipandang oleh Syiah sebagai suatu kesinambungan dari sabda-sabda Nabi, tepat seperti cahaya kemaujudan mereka dipandang sebagai kelanjutan cahaya kenabian. Dalam pandangan Syiah, keterpisahan sementara para Imam dari Nabi Saww sama sekali tidak mempengaruhi ikatan zat dan batiniah mereka dengan Nabi Saww, ataupun kelanjutan “cahaya kenabian yang merupakan sumber pengetahuan ilhami Nabi sendiri dan para Imam
.
Konsepsi metafizikal ini merupakan alasan mengapa kaum Syiah menjadikan hadith-hadith para Imam, yang terungkap selama lebih dari dua abab, dengan hadith-hadith Nabi Saww itu sendiri sebagai satu keseluruhan tunggal. Hai ini juga membedakan antara konsepsi Syiah dan Ahlus Sunnah tentang hadith. Sebenarnya kandungan hadith dalam himpunan-himpunan Ahlus Sunnah dan Syiah adalah sangat mirip. Namun keduanya menyoroti realitas rohaniah yang sama. Tentu saja rangkaian perawian yang diterima oleh dua madzhab ini tidaklah sama. Sungguhpun para perawi sabda-sabda Nabi SAWA berbeda, sebenarnya hadith-hadith yang dicatat oleh sumber Ahlus Sunnah dan Syiah banyak sekali persamaannya. Perbedaan utamanya adalah karena Syiah berpandangan bahwa para Imam merupakan kelanjutan dari kewujudan Nabi Saww dan kerana itu sabda-sabda para Imam merupakan pelengkap sabda-sabda Nabi Saww
.
Dalam banyak hal, hadith-hadith para Imam bukan saja sebagai kelanjutan tetapi juga sebagai pengulas dan penjelas terhadap hadith-hadith Nabi Saww, dan sering bertujuan menyingkapkan ajaran-ajaran mutasyabihah dalam Islam. Banyak dari hadith-hadith ini, seperti hadith-hadith Nabi Saww, membahas segi-segi praktis kehidupan dan syariat. Dan banyak pula yang membahas metafizika-metafzika murni sebagaimana juga dibahas oleh sebahagian hadith Nabi Saww khususnya hadith-hadith qudsi. Di samping itu hadith-hadith lain para Imam juga membahas sudut-sudut ibadah dan mengandungi beberapa do’a termasyhur yang telah diucapkan selama berabad-abad oleh Ahlus Sunnah maupun Syiah
.
Sebahagian hadith itu membahas berbagai ilmu batiniah. Dengan demikian, hadith-hadith itu meliputi masalah-masalah duniawi dalam kehidupan seharian dan masalah makna kebenaran itu sendiri. Disebabkan oleh sifat hadith-hadith itu dan juga kenyataan bahawa seperti tasawuf, hadith-hadith itu maujud dari dimensi batiniah Islam,maka hadith-hadith itu telah berbaur selama beradab-abad dengan jenis-jenis tertentu tulisan kesufian. Mereka juga telah dipandang sebagai esoterisisme (kebatinan) Islam oleh kaum sufi, kerana para Imam itu dipandang oleh kaum sufi sebagai kutub-kutub rohaniah, pada masa mereka. Mereka wujud dalam silsilah rohaniah berbagai tarekat kesufian dan malah tarekat-tarekat yang telah tersebar hanya di kalangan kaum Ahlul Sunnah
.
Disebabkan oleh karakter kandungan-kandungannya, hadith -hadith ini telah mempengarui hampir setiap cabang ilmu dalam Syiah mahupun kehidupan seharian umat. Fiqh Syiah mendasarkan dirinya langsung pada himpunan hadith ini di samping al-Quran Suci. Teologi Syiah tidak akan dapat dimengerti tanpa mengetahui hadith-hadith ini. Ulasan-ulasan Syiah tentang al-Quran banyak tertumpu pada hadith-hadith itu. Begitu juga ilmu-ilmu kealaman seperti sejarah kealaman atau kimia berkembang dari hadith-hadith itu. Hadith-hadith ini telah menjadi sumber renungan tentang tema-tema metafizikal tertinggi selama berabad-abad. Dan beberapa madzhab metafizikal dan falsafah dalam Islam bersumberkan terutamanya dari hadith-hadith ini. Falsafah keislaman Shadruddin Syirazi (Mulla Shadra) sesungguhnya tidak akan dapat dimengeri tanpa merujuk kepada hadith-hadith Syiah. Salah satu karya terbesar metafizikal Shadruddin adalah ulasannya yang belum selesai tentang sebahagian dari empat hadith pokok terpenting Syiah iaitu al-Kafi oleh al-Kulaini
.
Didalam himpunan hadith Syiah terdapat karya-karya tertentu yang perlu dipaparkan secara terpisah. Yang pertama adalah Nahjul Balaghah karya Imam Ali bin Abi Talib yang dihimpun dan disusun oleh ulama Syiah pada abad ke-4H/10M iaitu Sayyid Syarif al-Radhi. Mengingat pentingnya karya ini dalam Syiah mahupun bagi para pencinta bahasa Arab, maka amat menghairankan betapa sedikit sekali perhatian telah diberikan kepadanya. Banyak penulis kenamaan dalam bahasa Arab, seperti Taha Husain dan Kurd Ali menyatakan dalam autobiografi-autobiografi mereka bahwa mereka telah menyempurnakan gaya mereka dalam menulis Arab melalui kajian terhadap Nahjul Balaghah, sementara generasi demi generasi para pemikir Syiah telah merenungkan dan mengulas maknanya. Lagi pula, doa-doa dan ungkapan-ungkapan lebih pendek dari karya ini telah menyebar luas di kalangan umat dan telah masuk ke dalam kepustakaan klasik dan rakyat, bukan saja dalam bahasa Arab, tetapi juga Persia dan melalui pengaruh Persia beberapa bahasa masyarakat Islam yang lainnya seperti Urdu
.
Selain memuat nasihat rohaniah, ungkapan-ungkapan moral dan petunjuk-petunjuk politik, Nahjul Balaghah juga mengandung beberapa risalah luar biasa mengenai metafizika, khususnya mengenai masalah Tauhid. Ia memiliki metodologi pemaparan dan kosakata teknis tersendiri yang membedakannya dari berbagai madzhab-Islami metafizika.Dalam jangka waktu yang lama, para sarjana Barat menolak untuk menerima kesahihannya sebagai karya Ali bin Abi Talib, dan menisbahkannya kepada Sayyid Syarif al-Radhi, sungguhpun gaya karya al-Radhi sendiri sangat berbeda dengan gaya Nahjul Balaghah. Namun demikian sejauh menyangkut sudut pandangan Syiah, kedudukan Nahjul Balaghah dan penulisnya dapat dijelaskan dengan sangat baik melalui suatu percakapan yang terjadi delapan belas atau sembilan belas tahun yang silam antara Allamah Thabatabai dan Henry Cobin ,pernah berkata kepada Allamah Thabatabai selama diskusi-diskusi harian mereka di Teheran
.
“Sarjana-sarjana Barat menyatakan bahwa Ali bukanlah penulis Nahjul Balaghah. Bagaimana pandangan anda, dan siapakah kiranya menurut anda penulis karya ini?” Allamah Thabathabai mengangkat kepalanya dan menjawab dengan lemah lembut dan tenang sebagaimana biasa,”Bagi kami siapa pun yang menulis Nahjul Balaghah, dialah Ali, meskipun dia hidup seabad yang silam.”Karya penting kedua dalam himpunan hadith Syiah adalah al-Sahifah al-Sajadiyyah karya Imam Keempat Ali Zainal Abidin, yang digelar al-Sajjad. Sebagai saksi tragedi Karbala yang telah meninggalkan pada jiwanya suatu kesan yang tidak terhapuskan. Imam keempat ini menuangkan kehidupan rohaniahnya dalam suatu simfoni doa-doa indah yang telah menyebabkan Sahifah disebut “Mazmur Ahlul Bayt Rasulullah”. Doa-doa ini membentuk suatu bahagian dari kehidupan keagamaan seharian bukan sahaja kaum Syiah tetapi juga kaum Ahlul Sunnah, yang mendapati doa-doa itu dalam banyak buku pedoman doa termasyhur di kalangan Ahlul Sunnah.

Yang juga penting dalam kehidupan hadith Syiah adalah hadith-hadith Imam kelima, keenam, dan ketujuh. Dari merekalah sejumlah terbesar hadith telah dicatat. Imam-imam ini hidup pada akhir Dinasti Umayyah dan awal Dinasti Abbasiyyah.Pada masa-masa ini, akibat perubahan-perubahan dalam kekhalifahan, kuasa pusat menjadi lemah, sehingga para Imam itu dapat berbicara lebih terbuka, dan juga mendidik lebih banyak murid. Jumlah murid. sama ada Syiah ataupun Sunni, yang dididik oleh Imam keenam, Ja’far al-Sadiq, diperkirakan seramai empat ribu orang. Beliau meninggalkan sejumlah besar hadith yang berkisar dari masalah hukum hinggalah ilmu-ilmu batiniah

.

Hadith-hadith Rasulullah dan para Imam tentu saja merupakan suatu sumber tetap renungan dan perbahasan oleh ulama-ulama Syiah di sepanjang masa. Namun khususnya dalam jangka masa berikut dari sejarah Syiah yang bermula dengan Sayyid Haidar Amuli , ulama besar pada masa Safawiyah seperti Mir Damad dan Mulla Shadra hingga kini, hadith-hadith ini telah bertindak sebagai sumber aktual bagi metafizika dan filsafat mahupun ilmu-ilmu hukum dan al-Quran. Ulasan-ulasan Mulla Shadra, Qadhi Said al-Qummi dan banyak lagi ulasan atau himpunan-himpunan hadith Syiah ini merupakan di antara karya-karya besar dalam pemikiran Islam. Akhirnya, falsafah dan teosofi keislaman benar-benar tidak akan dapat dimengerti tenpa merujuk kepada hadith-hadith tersebut

Syi’ah memperkuat AKAL yang merupakan juga hujjah TUHAN

Akal (juga) Hujjah Tuhan
Akal dan agama memiliki hubungan yang sangat erat dan keduanya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan demi meraih keselamatan dan kebahagiaan yang hakiki dan sejati, baik di dunia maupun di akhirat kelak

Akal (juga) Hujjah TuhanAjaran yang benar adalah ajaran yang menekankan setiap pemeluknya agar selalu berpikir dan menggunakan akalnya. Karena akal merupakan mahkluk yang paling dicintai Tuhan dan merupakan rasul batin bagi setiap insan. Oleh karena itu, akal memiliki kedudukan yang sangat mulia dan tinggi dalam ajaran yang benar. Di samping itu, akal merupakan hujjah Tuhan bagi setiap insan atas ideologi, keyakinan, pandangan dunia dan berbagai amal perbuatan yang mereka lakukan selama hidupnya di alam dunia ini.

Akal dan agama memiliki hubungan yang sangat erat dan keduanya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan demi meraih keselamatan dan kebahagiaan yang hakiki dan sejati, baik di dunia maupun di akhirat kelak (Sehubungan dengan masalah hubungan akal dan agama, diperlukan pembahasan tersendiri yang pada kesempatan lain akan kami singgung). Tetapi bagi sebagian umat manusia yang hidupnya terisolasi dari kemajuan, sementara agama yang benar tidak dapat menyentuh mereka dan informasi tentang adanya agama tidak sampai kepada mereka, maka agama mereka adalah akal mereka itu sendiri. Dengan kata lain, ketika tidak seorang nabi atau propagator pun -sebagai rasul lahir dan utusan Tuhan- yang datang kepada mereka, maka rasul batin dan utusan Tuhan yang berupa akal itu, sudah cukup menjadi hujjah Tuhan buat mereka untuk mempertanggung jawabkan segala tingkah laku dan amal perbuatan yang telah mereka lakukan. Dengan demikian, akal sebagai hujjah Tuhan ini akan menjadi dasar pertanyaan-Nya kelak di hari akhirat dalam meminta pertanggung jawaban umat manusia atas segala amal perbuatannya.

Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa sebagian umat manusia yang tidak diturunkan agama dan tidak pula datang utusan Tuhan kepada mereka, baik yang berupa nabi ataupun muballigh (propagator), mereka tidak bebas berbuat apa saja yang mereka kehendaki dengan mengikuti hawa nafsu mereka, seperti melakukan pembunuhan, berbuat tiran, menindas kaum lemah, merampok, memperkosa wanita, dan lain-lain. Apabila mereka menggunakan akalnya dengan baik, pasti mereka akan menerima ganjaran surga yang abadi. Dan sebaliknya, jika mereka mengabaikan bimbingan dan petunjuk akalnya, sehingga mendahulukan hawa nafsu setannya atas akalnya, maka tentunya mereka akan dimasukkan ke neraka jahanam. Karena akal -sekalipun tanpa bimbingan agama- dapat mengenal dan mengetahui hal-hal yang baik dan mampu pula membedakannya dengan yang tidak baik.

Akal setiap insan mengetahui bahwa membunuh, berbuat zalim, merampas harta orang lain, mencuri dan menyakiti orang lain itu adalah perbuatan buruk dan terkutuk. Sebagaimana akal juga mengetahui bahwa menolong sesama, membantu oang lain, berbuat adil dan mengasihi kaum lemah itu adalah perbuatan yang terpuji. Dengan demikian dapat dipahami, bahwa Tuhan Pencipta, Mahabijaksana dan segala penciptaan-Nya mengandung banyak hikmah. Bahkan Dia Mahaadil terhadap semua makhluk ciptaan-Nya.

Oleh karena itu tidak mungkin dan mustahil orang yang mengabaikan akalnya dimasukkan ke dalam surga, sementara orang-orang yang menggunakan akalnya dengan baik dimasukkan ke dalam neraka.

Proses kesempurnaan Akal

Manusia terdiri dan terrangkap dari ruh yang bersifat non-materi dan jasad yang besifat materi. Sebagaimana fisik mengalami perkembangan dan pertumbuhan, demikian halnya dengan ruh. Fisik dapat tumbuh dan berkembang dengan makanan dan minuman. Ketika makanan dan minuman fisik itu baik dan menyehatkan, maka fisiknya akan tumbuh dan berkembang dengan sehat dan baik. Apabila makanan dan minuman fisik itu tidak baik dan tidak menyehatkan, maka fisik akan sakit dan mengalami kerusakan pada organ-organ tubuhnya. Ruh pun perlu kepada makanan yang menyehatkan dan menyegarkan, sehingga ia akan tumbuh dan berkembang dengan baik. Akal manusia merupakan bagian dari ruh. Ia bersifat non-materi dan perlu kepada makanan dan minuman yang menyehatkan dan menyegarkan yang bersifat non-materi pula, agar tidak rusak dan senantiasa dapat menuntun dan mengarahkan seseorang dalam sikap dan perbuatannya dengan baik. Dengan kata lain bahwa akal manusia memiliki potensi untuk maju dan berkembang. Dan hal itu melalui proses sebagaimana manusia berproses dari sejak bayi hingga dewasa. Ada hubungan yang erat antara proses perkembangan fisik seseorang dengan proses perkembangan akalnya. Artinya, jika fisiknya itu berkembang dengan baik, maka akalnya pun demikian pula. Di samping itu akal memiliki potensi lainnya yang berupa mencerap berbagai ilmu penghetahuan, yaitu dengan jalan mendengar, melihat, belajar, membaca, berpikir, dan lain sebagainya. Oleh karena itu akal seseorang yang tidak pernah dipakai untuk mencerap ilmu pengetahuan dengan cara-cara tersebut, ia akan tetap bodoh dan tidak memiliki ilmu pengetahuan apa-apa meskipun fisiknya tumbuh berkembang dan dewasa.

Akal dan ilmu pengetahuan

Di atas, telah kami singgung bahwa akal manusia itu bersifat non-materi. Artinya ia tidak dapat dilihat secara kasat mata, tidak dapat dianalisa di laboratorium secara empiris dan dengan sarana materi, tetapi dapat dirasakan efek dan pengaruhnya. Demikian halnya dengan ilmu pengetahuan, ia bersifat non-materi dan non- inderawi. Pendek kata, akal manusia dan ilmu pengetahuan yang dicerap olehnya, keduanya merupakan wujud non-materi. Jika akal seseorang yang ada di kepalanya itu bersifat materi, dan ilmu pengetahuan pun bersifat materi, maka tidak mungkin ia akan dapat menampung berbagai pengetahuan, bahkan tidak sebuah pengetahuan pun di dalam kepalanya. Jika pengetahuan Anda tentang bentuk sebuah rumah yang akan Anda beli itu merupakan materi, mungkinkah pengetahuan tersebut anda masukkan ke dalam akal Anda yang terletak di sudut kepala Anda? Bahkan jika akal Anda itu materi, maka ketika Anda mengetahui panasnya api, maka akal dan kepala Anda akan terbakar.

Dari uraian singkat ini dapat dipahami, bahwa akal manusia, ilmu-ilmu yang decerap dan dimilikinya dan bahkan pemilik asli ilmu-ilmu tersebut, yaitu ruh manusia, semuanya bersifat non-materi dan non-inderawi. Karena otak manusia hanyalah merupakan alat yang fungsinya tidak lebih hanya sebagai pengumpul ilmu-ilmu dan berbagai informasi. Otak tidak berbeda dengan alat perekam dan komputer, ia tidak dapat berfungsi untuk mencerap dan mengembangkan ilmu pengetahuan, tetapi sebagai pengumpul belaka

.

Tidak bedanya dengan mata, telinga dan panca indera lainnya yang merupakan sarana untuk memperoleh ilmu pengetahaun dan berbagai informasai. Sementara akal, sebagaimana telah kami singgung di atas, ia merupakan bagian dan salah satu kekuatan ruh manusia. Dengan ungkapan lain, bahwa ruh manusia itu memiliki berbagai kekuatan, keunikan dan keajaiban. Salah satunya adalah kekuatan berpikir dan mencerap ilmu pengetahuan yang dilakukan oleh akal melalui panca inderanya yang kemudian dikumpulkan oleh otaknya yang terletak di bagian kepalanya. Pembahasan mengenai kenon-materian ruh dan ilmu pengetahuan akan dibahas secara mendetail dalam kajian filsafat ilmu.

Hubungan akal dengan kebaikan dan keburukan

Para ilmuan Asy’ariyah (baca:jabriyyah, determinisme) berpandangan bahwa akal manusia sebenarnya tidak dapat menilai dan menghukumi suatu perbuatan itu baik atau buruk. Akal manusia, ketika menghadapi suatu perbuatan dan tindakan bersikap netral. Kelompok ini berpendapat bahwa akal manusia tidak memiliki hak untuk menilai baik dan buruk segala perbuatan dan tindakan apa pun. Wewenang penilaian baik dan buruk diserahkan hanya kepada Tuhan dengan syariat dan ajaran-Nya. Perbuatan apapun, jika Tuhan atau syariat iu menilainya baik, maka manusia harus tunduk dan patuh kepda penilaian tersebut, meskipun akal pikirannya tidak dapat menerimanya. Begitu pula, setiap perbuatan yang dinilai oleh Tuhan buruk, maka akal manusia harus mengikutinya. Dengan demikian, ketika seseorang berhadapan dengan suatu perbuatan dan tindakan yang belum diketahui baik dan buruknya melalui syariat Tuhan, maka ia harus bersikap netral hingga datang penilaian syariat Tuhan tersebut.

Sebenarnya persoalan kemampuan akal manusia untuk dapat menilai dan menghukumi suatu perbuatan itu baik atau buruk, adalah merupakan persoalan yang gamblang dan tidak serumit yang dibayangkan. Bahkan hal itu merupakan sesuatu yang disepakati oleh setiap manusia yang berakal sehat. Anak kecil sekalipun dapat memahami dan menilai bahwa menolong orang itu adalah perbuatan terpuji dan menyakiti orang itu adalah perbuatan tercela. Dan hal ini sama sekali tidak memerlukan bantuan syariat Tuhan untuk menilainya dan kemudian melakukannya.

Manusia, ketika mengetahui bahwa sesuatu itu layak untuk dilakukan, maka ia akan mendapatkan pujian ketika melakukannya. Ketika mengetahui bahwa sesuatu itu tidak layak untuk dikerjakan, maka ia akan mendapatkan kecaman jika mengerjakannya. Dan hal itu tidak terjadi begitu saja, atau tanpa adanya alasan dan sebab-sebab tertentu yang mendasarinya. Hal itu merupakan tabiat dan naluri manusia yang terjai dengan sebab-sebab tertentu. Dapat dikatakan, bahwa sebab-sebab utamanya adalah istiqrâ’ (induksi, analisa secara menyeluruh dari yang bersifat partikular kepada yang universal) yang terjadi secara berulang-ulang dalam kehidupan manusia. Berikut ini kami sebutkan beberapa sebab istiqra’ mengenai terjadinya penilaian atas suatu perbuatan tersebut:

Pertama: Manusia mengetahui bahwa suatu perbuatan itu merupakan kesempurnaan atau kekurangan bagi dirinya. Ketika akalnya mengetahui bahwa perbuatan tersebut merupakan kesempurnaan dirinya, maka akalnya akan menilai bahwa melakukan perbuatan itu merupakan kebaikan baginya dan akan mendapatkan pujian. Pada saat itu, ia merasa terdorong untuk melakukannya. Sebaliknya, ketika ia mengetahui bahwa suatu tindakan itu sebagai kekurangan bagi dirinya, maka akalnya menilai tidak layak untuk melakukannya dan akan tercela. Dengan demikian, ia merasa terdorong untuk meninggalkannya. Dengan demikian, bahwa sebab dan landasan melakukan atau meninggalkan perbuatan tersebut adalah karena kesempurnaan atau kekurangan diri.

Kedua: Manusia mengetahui bahwa suatu perbuatan itu sesuai dengan selera hatinya atau tidak, baik hal itu karena faktor interen dirinya atau karena faktor eksteren, yaitu berupa manfaat dan maslahat baginya, baik manfaat umum maupun khusus. Ketika ia mengetahui bahwa perbuatan tertentu itu sesuai dengan selera hatinya, maka ia menilainya baik, dan dengan itu ia merasa terdorong untuk melakukannya agar memperoleh maslahat dan manfaat darinya. Ketika ia tahu bahwa hal itu tidak sesuai dengan selera hatinya, maka akalnya menilai bahwa hal itu tidak layak dilakukan. Dengan itu ia terdorong untuk meninggalkan perbuatan tersebut agar tidak terkena bahaya dan bencana yang akan menimpa dirinya. Dengan demikian, bahwa sebab dan landasan melakukan atau meninggalkan perbuatan tersebut adalah karena motivasi selera hatinya.

Pengetahuan manusia terhadap dua masalah tersebut, yaitu pengetahuannya terhadap kesempurnaan atau kekurangan dan selera hatinya atau tidak, ada dua macam:

1. Manusia dapat mencerap realitas partikular tertentu saja. Ketika itu, ia menghukumi dan menilai baik dan buruk suatu perbuatan, karena dorongan maslahat dan keuntungan peribadi semata. Pencerapan dan pengetahuan ini diperoleh bukan dengan kekuatan akalnya. Karena natural akal manusia hanya mampu mencerap dan menangkap hal-hal yang bersifat global dan universal, bukan hal-hal yang bersifat partikular. Hal-hal yang bersifat partikular itu dicerap dan ditangkap oleh kekuatan indera, wahmi (dugaan) dan daya khayal. Meskipun seseorang yang melakukan pencerapan semacam itu terkadang mendapat pujian atau celaan, tetapi pujian atau celaan tersebut, tidak selayaknya dinamakan “aqly” (rasional). Tetapi lebih tepat jika dinamakan “athify” (perasaan, afeksi). Karena dasarnya adalah dominasi perasaan dan emosional pribadi.

2. Manusia hanya mencerap realitas global dan universal. Ketika itu, ia menghukumi dan menilai baiknya perbuatan tersebut karena ia merupakan kesempurnaan bagi dirinya. Misalnya seperti ilmu pengetahuan dan keberanian. Atau karena terdapat maslahat dan keuntungan dalam melakukannya, seperti maslahat keadilan untuk memelihara undang-undang dan kesinambungan umat manusia. Pencerapan ini dilakukan dengan kekuatan akal semata. Oleh karena itu, perbuatan yang didasari atas kekuatan ini berhak mendapat pujian oleh semua orang yang berakal sehat di sepanjang masa.

Demikian pula dalam hal mencerap dan menangkap buruknya suatu perbuatan, karena ia merupakan kekurangan diri,seperti kebodohan. Atau karena ia dapat merusak, seperti kezaliman. Pencerapan ini pun dilakukan oleh kekuatan akal semata. Oleh karena itu, pelaku perbuatan yang dinilai buruk oleh akalnya berhak mendapat cercaan dan kecaman oleh semua orang yang berakal sehat. Pujian dan kecaman ini, merupakan kesepakatan pandangan di antara uqala’ (orang-orang yang berakal sehat.

Mereka menilai dan menghukumi terdapat maslahat (keuntungan dan kebaikan) atau mafsadah (kerusakan dan kerugian) dalam perbuatan yang didasari akal tersebut. Jika demikian, maka hal itu dapat dikategorikan sebagai hukum-hukum akal. Inilah yang dimaksud dengan makna “husn wa qubh aqli” (baik dan buruk yang dihukumi oleh akal). Hukum-hukum akal umum ini dinamakan “pandangan-pandangan terpuji”, dan hal ini tidak terhingga banyaknya.

Dari uraian tersebut, jelslah bahwa ‘Adliyah (baca:freewill) -ketika mereka mengatakan baik dan buruk secara akal- maksudnya adalah baik dan buruk yang termasuk pandangan-pandangan yang terpuji dan merupakan qadhâya masyhurah (proposisi-proposisi populer) yang sejalan dengan pandangan orang-orang yang berakal sehat. Dan hal ini merupakan suatu realitas yang tidak seorang pun mengingkarinya. Dengan demikian, makna keadilan atau ilmu pengetahuan itu adalah baik -menurut ‘Adliyah- artinya bahwa pelakunya terpuji di kalangan orang-orang yang berakal. Dan makna kezaliman dan kebodohan itu buruk, artinya bahwa pelakunya tercela di kalangan mereka. Dan hal ini tidak menafikan bahwa ilmu pengetahuan itu baik dari dimensi lainnya, yaitu bahwa ilmu pengetahuan tersebut merupakan kesempurnaan jiwa, sementara kebodohan merupakan kekurangan jiwa.

Ketiga: Hal lainnya yang merupakan dasar dan sebab-sebab timbulnya penilaian baik dan buruk suatu perbuatan adalah: khuluq insani (budi luhur manusia). Budi luhur ini terdapat dalam jiwa setiap manusia, meskipun mereka berlainan suku dan bangsanya. Misalnya seperti budi luhur menghormati dan memuliakan orang lain dan keberanian. Budi luhur inilah yang dapat mencerap,menangkap dan menilai bahwa menghormati orang lain itu suatu perbuatan yang layak untuk dilakukan dan pelakunya berhak mendapat pujian. Sementara bakhil (kikir, pelit) merupakan perbuatan yang seharusnya ditinggalkan dan pelakunya berhak mendapat cercaan dan kecaman. Penilaian dan penghukuman akal atas perbuatan seperti itu -terkadang- tidak melihat dari sisi maslahat atau mafsadah umum, dan tidak pula dari sisi kesempurnaan atau kekurangan jiwa. Tetapi karena dorongan budi luhur tersebut. Dan apabila budi luhur ini merupakan suatu realitas di kalangan orang-orang yang berakal sehat, maka baik dan buruk perbuatan tersebut merupakan hal yang masyhur dan sejalan dengan pandangan mereka.

Keempat: Hal lainnya yang merupakan sebab-sebab timbulnya penilaian baik dan buruk suatu perbuatan adalah: infi’al nafsâni (refleksi jiwa). Misalnya seperti belas kasih, malu, kekerasan, pemeliharan, girah, dan lain sebagainya. Sifat-sifat jiwa tersebut terdapat pada semua manusia di belahan dunia manapun, sekalipun mereka yang tinggal di bawah kaki gunung atau di tengah hutan belantara. Atas dasar itu kita lihat, manusia menilai bahwa menyiksa binatang itu merupakan perbuatan buruk, karena sejalan dengan insting dan naluri belas kasih. Mereka menilai bahwa menolong orang lemah dan sakit, merawat anak-anak yatim dan orang-orang gila, bahkan juga merawat binatang, merupakan perbuatan yang terpuji. Karena hal itu sesuai dengan naluri belas kasih manusia. Mereka juga menilai bahwa membuka aurat dan berbicara cabul, merupakan perbuatan yang buruk, karena sejalan dengan naluri malu. Mereka memuji orang-orang yang membela anak-isteri, keluarga, suku, negara dan umat, karena hal itu sesuai dengan naluri girah dan pemeliharaan. Contoh-contoh ini dan lainnya yang merupakan hukum-hukum umum di antara manusia, sangat banyak sekali. Baik dan buruk semacam ini, tidak termasuk “husn wa qubh aqli” (baik dan buruk yang dihukumi secara rasional). Melainkan athîfi (emosi, afeksi) dan inffi’ali (refleksi jiwa). Dan masalah ini tidak terdapat perbedan pandangan antara Asy’ariyah dan ‘Adliyah.

Kelima: Hal lainnya yang merupakan sebab-sebab timbulnya penilaian baik dan buruk suatu perbuatan adalah: Al-‘Adah (adat kebiasaan). Misalnya seperti kebiasaan sebagian manusia menghormati orang yang datang dengan cara berdiri dan menghormati tamu dengan jamuan makanan. Mereka menilai bahwa perbuatan semacam itu, adalah baik dan terpuji. Adat dan kebiasaan-kebiasaan umum ini banyak sekali terdapat di masyarakat. Sebagian adat, hanya berlaku khusus untuk suatu negara atau daerah tertentu saja, dan terkadang -sebagian adat lainnya- berlaku umum untuk semua manusia pada setiap masa atau pada masa tertentu. Dengan demikian, hal itu berbeda-beda antara satu masyarakat dengan masyarakat lainnya. Terkadang hal itu populer di satu tempat, tetapi tidak populer di tempat lainnya.
Masyarakat yang memelihara adat kebiasaan ini akan memuji pelakunya dan mengecam orang-orang yang meremehkannya, baik adat tersebut baik menurut akal atau emosional atau syariat, ataupun buruk dan tercela. Baik dan buruk seperti ini pun tidak dapat dihukumi secara rasional. Tetapi lebih tepat dinamakan adat kebiasaan, karena sumber dan sebabnya adalah adat-kebiasaan. Dan masalah inipun tidak ada perbedaan pandangan antara Asy’ariyah dengan ‘Adliyah. Pembahasan ini secara rinci di jelaskan dalam ilmu Ushul Fiqih.

Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat diambil dari uraian di atas sebagai berikut:

1. Manusia terdiri dari ruh dan jasad (fisik). Ruh bersifat non-materi dan non-inderawi. Karenanya, ia tidak dapat dianalisa dengan alat-alat materi dan eksperimen. Sementara jasad dan fisiknya bersifat materi dan dapat dianalisa secara empiris di laboratorium.

2. Manusia, agar dapat mencapai dan meraih kebahagiaan dan kedamaian sejati, baik dalam kehidupan di dunia ini, maupun setelah kematiannya, dibekali dengan hati nurani dan akal pikiran. Pendek kata, setiap manusia memiliki akal dan hati nurani, tanpa kecuali dan di sepanjang sejarah kehidupan.

3. Sebagaimana fisik, akal manusiapun butuh kepada makanan dan minuman yang bergizi dan sesuai dengan kondisinya masing-masing, agar dapat tumbuh dan berkembang dengan baik dan berfungsi dengan semestinya.

4. Akal manusia bersifat non-materi dan non-inderawi. Dia memiliki potensi dan kekuatan (power) untuk meraih dan menampung berbagai pengetahuan dan informasi. Bahkan ia mampu menilai, menghukumi, memilah dan memilih mana perbuatan baik dan terpuji untuk dilakukan dan mana perbuatan buruk dan terhina untuk ditinggalkannya.

5. Setiap orang yang dengan serius dan sungguh-sungguh memikirkan penciptaan, keajaiban, keunikan dan kekuatan akalnya, pasti akan sampai pada satu titik kesimpulan bahwa ia tidak muncul begitu saja. Tetapi ada Penciptanya. Penciptanya bukanlah manusia, melainkan Tuhan Yang Mahaindah dan Mahaagung.

6. Setinggi dan sehebat apapun kekuatan akal manusia, ia terbatas dan menyandang sifat kekurangan. Karenanya, untuk meraih kebahagian dan kedamaian sejati, Tuhan melengkapinya dengan rasul lahir yang berupa syariat, ajaran agama dan bimbingan para nabi dan rasul-Nya.

7. Tuhan menurunkan dan menganugerahkan kepada segenap umat manusia dua rasul dan hujjah; rasul lahir yang berupa syariat dan ajaran agama yang dibawa oleh para nabi utusan-Nya. Dan rasul batin yang berupa akal dan hati nuraninya.

8. Setiap manusia yang memanfaatkan kedua anugerah Tuhan itu pasti dapat meraih kebahagiaan dan kedamaian sejati, baik dalam hidupnya di dunia fana ini, maupun setelah kematiannya di alam akhirat kelak. Dan Tuhan akan memintakan pertanggung jawaban dari seluruh umat manusia atas dua anugerah-Nya itu.

10.Setiap manusia yang tidak sampai kepadanya risalah dan dakwah para nabi dan rasul Tuhan, seperti orang-orang yang tinggal di tengah-tengah hutan belantara atau di tempat terpencil lainnya, memiliki hujah Tuhan yang berupa akal. Dan mereka akan dimintakan pertanggung jawaban oleh Tuhan pada hari perhitungan amal kelak atas hujjah batin tersebut.

11.Apabila mereka yang hanya memiliki hujjah batin, betul-betul memanfatkan dan mentaatinya dengan serius, pasti dapat meraih kebahagiaan dan kedamaian sejati, baik dalam kehidupan mereka di dunia fana ini, maupun dalam kehidupan mereka di hari akhirat kelak.

12.Sekiranya komunitas masyarakat di sebuah kampung, di sebuah pulau, di sebuah negara dan di atas muka bumi ini, masing-masing menggunakan dan mentaati akal dan rasul batin tersebut, pasti hidup mereka dipenuhi dengan kebahagiaan, kedamaian dan ketenangan. Dan banyak problematika hidup yang dapat diselesaikan dengan baik dan lancar. Bahkan tidak ada lagi pertikaian, kekerasan, kezaliman, penindasan, pembunuhan dan peperangan. serta sejuta macam kerusakan, baik di lautan maupun di daratan, akibat ulah jahil tangan-tangan mereka sendiri.

Semoga makalah sederhana ini ada manfaatnya bagisiapa saja yang mau menggunakan akal pikirannya yang sehat

.

Hadith Dan Kedudukannya Dalam Madzhab Syiah

Para Imam adalah seperti serangkaian cahaya yang memancar dari “Matahari Kenabian” dan tidak pernah terpisah dari Matahari itu. Sedangkan Matahari itu merupakan asal-usul serangkaian cahaya itu. Apa pun yang mereka katakan berasal dari khazanah kearifan itu karena mereka merupakan suatu rantai dari realitas batiniah Rasulullah Saww, maka sebenarnya kata-kata merupakan kata-kata Nabi Saww. Itu sebabnya sabda-sabda mereka dipandang oleh Syiah sebagai suatu kesinambungan dari sabda-sabda Nabi, tepat seperti cahaya kemaujudan mereka dipandang sebagai kelanjutan cahaya kenabian. Dalam pandangan Syiah, keterpisahan sementara para Imam dari Nabi Saww sama sekali tidak mempengaruhi ikatan zat dan batiniah mereka dengan Nabi Saww, ataupun kelanjutan “cahaya kenabian yang merupakan sumber pengetahuan ilhami Nabi sendiri dan para Imam.

.

Hadith Dan Kedudukannya Dalam Madzhab SyiahSungguhpun banyak sekali kajian ilmiah telah dilakukan sejak abad ke-19 lagi, serta analisis-analisis dan penterjemahan-penterjemahan telah dibuat terhadap berbagai sumber keislaman, namun sejauh ini sangat sedikit sekali perhatian diberikan kepada himpunan sabda, khutbah, doa, ungkapan dan pengajaran keagamaan Syiah Imamiyyah. Memang benar, banyak dari kandungan himpunan hadith Syiah sama dengan kandungan dari kandungan himpunan hadith Ahlus Sunnah. Dengan demikian, jika himpunan hadith Ahlus Sunnah dikaji, maka himpunan hadith Syiah pun secara langsung telah tergarap
.
Mengingat bahwa hadith-hadith syiah memiliki bentuk, gaya, dan bauan khas, maka kajian tidak langsung terhadap kandungannya tidak akan dapat menggantikan kedudukan penterjemahan dan kajian langsung terhadap hadith-hadith itu sendiri
.
Memang agak mengherankan, sungguhpun hadith-hadith Syiah mempunyai kedudukan yang penting sekali dalam perkembangan hukum dan ilmu kalam, maka Syiah maupun banyak bidang ilmu keintelektual (al-‘ululmul aqliyyah), belum lagi peranannya dalam ketaqwaan dan kehidupan rohaniah, hingga kini sabda-sabda para Imam Syiah belum diterjemahkan. Sabda-sabda tersebut juga belum dikaji sebagai suatu himpunan khas sumber ilhami keagamaan dalam konteks umum Islam itu sendiri
.
Kepustakaan hadith Syiah mencakup semua sabda Rasulullah Saww dan dua belas Imam, dari Ali bin Abi Talib sampai al-Mahdi. Dengan demikian, setelah al-Qur’an, hadith-hadith ini dipandang sebagai himpunan terpenting nash keagamaan bagi kaum Syiah. Seperti halnya dalam Ahlus Sunnah, bersama-sama al-Qur’an, hadith-hadith ini juga membentuk dasar semua ilmu keagamaan dalam segi intelektual mahupun ibadahnya. Tidak satu pun segi kehidupan dan sejarah kaum Syiah yang dapat dimengerti tanpa mempertimbangkan tulisan-tulisan ini
.
Yang khas pada himpunan hadith Syiah adalah, sungguhpun merupakan bagian dari asas Islam, “susunannya” merentang selama lebih dari dua abad. Dalam Ahlus Sunnah, hadith merupakan sabda Rasulullah Saww. Menggunakan istilah hadith dalam Ahlus Sunnah berarti merujuk kepada hanya sabda Rasulullah Saww sedangkan dalam Syiah, sungguhpun hadith Nabi dan hadith para Imam dibedakan dengan jelas, keduanya merupakan satu himpunan yang tunggal. Hal ini bermaksud bahwa dari sudut pandangan tertentu, masa kerasulan dilihat oleh Syiah sebagai merentang melebihi kelaziman masa para rasul yang relatif singkat dalam berbagai agama
.
Alasan sudut pandangan ini tentu saja terletak pada konsepsi Syiah tentang Imam. Istilah “imam”, sebagaimana digunakan secara teknis dalam Syiah, berbeza dengan penggunaan umum istilah itu dalam bahasa Arab, yang bermaksud “pemimpin”, atau, dalam teori politik Ahlul Sunnah, yang bermaksud khalifah itu sendiri. Digunakan secara teknis dalam Syiah, istilah itu merujuk kepada orang yang memiliki dalam dirinya “cahaya Muhammad” (al-nur al-Muhammadi) yang diturunkan melalui Fatimah, putri Rasulullah Saww, dan Ali, Imam pertama, kepada Imam-imam lainnya sampai al-Mahdi. Akibat adanya “cahaya” ini, Imam dipandang sebagai “suci” (maksum) dan memiliki pengetahunan sempurna tentang tatanan lahiriah maupun batiniah
.Para Imam adalah seperti serangkaian cahaya yang memancar dari “Matahari Kenabian” dan tidak pernah terpisah dari Matahari itu
.
Sedangkan Matahari itu merupakan asal-usul serangkaian cahaya itu. Apa pun yang mereka katakan berasal dari khazanah kearifan itu karena mereka merupakan suatu rantai dari realitas batiniah Rasulullah Saww, maka sebenarnya kata-kata merupakan kata-kata Nabi Saww. Itu sebabnya sabda-sabda mereka dipandang oleh Syiah sebagai suatu kesinambungan dari sabda-sabda Nabi, tepat seperti cahaya kemaujudan mereka dipandang sebagai kelanjutan cahaya kenabian. Dalam pandangan Syiah, keterpisahan sementara para Imam dari Nabi Saww sama sekali tidak mempengaruhi ikatan zat dan batiniah mereka dengan Nabi Saww, ataupun kelanjutan “cahaya kenabian yang merupakan sumber pengetahuan ilhami Nabi sendiri dan para Imam
.
Konsepsi metafizikal ini merupakan alasan mengapa kaum Syiah menjadikan hadith-hadith para Imam, yang terungkap selama lebih dari dua abab, dengan hadith-hadith Nabi Saww itu sendiri sebagai satu keseluruhan tunggal. Hai ini juga membedakan antara konsepsi Syiah dan Ahlus Sunnah tentang hadith. Sebenarnya kandungan hadith dalam himpunan-himpunan Ahlus Sunnah dan Syiah adalah sangat mirip. Namun keduanya menyoroti realitas rohaniah yang sama. Tentu saja rangkaian perawian yang diterima oleh dua madzhab ini tidaklah sama. Sungguhpun para perawi sabda-sabda Nabi SAWA berbeda, sebenarnya hadith-hadith yang dicatat oleh sumber Ahlus Sunnah dan Syiah banyak sekali persamaannya. Perbedaan utamanya adalah karena Syiah berpandangan bahwa para Imam merupakan kelanjutan dari kewujudan Nabi Saww dan kerana itu sabda-sabda para Imam merupakan pelengkap sabda-sabda Nabi Saww
.
Dalam banyak hal, hadith-hadith para Imam bukan saja sebagai kelanjutan tetapi juga sebagai pengulas dan penjelas terhadap hadith-hadith Nabi Saww, dan sering bertujuan menyingkapkan ajaran-ajaran mutasyabihah dalam Islam. Banyak dari hadith-hadith ini, seperti hadith-hadith Nabi Saww, membahas segi-segi praktis kehidupan dan syariat. Dan banyak pula yang membahas metafizika-metafzika murni sebagaimana juga dibahas oleh sebahagian hadith Nabi Saww khususnya hadith-hadith qudsi. Di samping itu hadith-hadith lain para Imam juga membahas sudut-sudut ibadah dan mengandungi beberapa do’a termasyhur yang telah diucapkan selama berabad-abad oleh Ahlus Sunnah maupun Syiah
.
Sebahagian hadith itu membahas berbagai ilmu batiniah. Dengan demikian, hadith-hadith itu meliputi masalah-masalah duniawi dalam kehidupan seharian dan masalah makna kebenaran itu sendiri. Disebabkan oleh sifat hadith-hadith itu dan juga kenyataan bahawa seperti tasawuf, hadith-hadith itu maujud dari dimensi batiniah Islam,maka hadith-hadith itu telah berbaur selama beradab-abad dengan jenis-jenis tertentu tulisan kesufian. Mereka juga telah dipandang sebagai esoterisisme (kebatinan) Islam oleh kaum sufi, kerana para Imam itu dipandang oleh kaum sufi sebagai kutub-kutub rohaniah, pada masa mereka. Mereka wujud dalam silsilah rohaniah berbagai tarekat kesufian dan malah tarekat-tarekat yang telah tersebar hanya di kalangan kaum Ahlul Sunnah
.
Disebabkan oleh karakter kandungan-kandungannya, hadith -hadith ini telah mempengarui hampir setiap cabang ilmu dalam Syiah mahupun kehidupan seharian umat. Fiqh Syiah mendasarkan dirinya langsung pada himpunan hadith ini di samping al-Quran Suci. Teologi Syiah tidak akan dapat dimengerti tanpa mengetahui hadith-hadith ini. Ulasan-ulasan Syiah tentang al-Quran banyak tertumpu pada hadith-hadith itu. Begitu juga ilmu-ilmu kealaman seperti sejarah kealaman atau kimia berkembang dari hadith-hadith itu. Hadith-hadith ini telah menjadi sumber renungan tentang tema-tema metafizikal tertinggi selama berabad-abad. Dan beberapa madzhab metafizikal dan falsafah dalam Islam bersumberkan terutamanya dari hadith-hadith ini. Falsafah keislaman Shadruddin Syirazi (Mulla Shadra) sesungguhnya tidak akan dapat dimengeri tanpa merujuk kepada hadith-hadith Syiah. Salah satu karya terbesar metafizikal Shadruddin adalah ulasannya yang belum selesai tentang sebahagian dari empat hadith pokok terpenting Syiah iaitu al-Kafi oleh al-Kulaini
.
Didalam himpunan hadith Syiah terdapat karya-karya tertentu yang perlu dipaparkan secara terpisah. Yang pertama adalah Nahjul Balaghah karya Imam Ali bin Abi Talib yang dihimpun dan disusun oleh ulama Syiah pada abad ke-4H/10M iaitu Sayyid Syarif al-Radhi. Mengingat pentingnya karya ini dalam Syiah mahupun bagi para pencinta bahasa Arab, maka amat menghairankan betapa sedikit sekali perhatian telah diberikan kepadanya. Banyak penulis kenamaan dalam bahasa Arab, seperti Taha Husain dan Kurd Ali menyatakan dalam autobiografi-autobiografi mereka bahwa mereka telah menyempurnakan gaya mereka dalam menulis Arab melalui kajian terhadap Nahjul Balaghah, sementara generasi demi generasi para pemikir Syiah telah merenungkan dan mengulas maknanya. Lagi pula, doa-doa dan ungkapan-ungkapan lebih pendek dari karya ini telah menyebar luas di kalangan umat dan telah masuk ke dalam kepustakaan klasik dan rakyat, bukan saja dalam bahasa Arab, tetapi juga Persia dan melalui pengaruh Persia beberapa bahasa masyarakat Islam yang lainnya seperti Urdu
.
Selain memuat nasihat rohaniah, ungkapan-ungkapan moral dan petunjuk-petunjuk politik, Nahjul Balaghah juga mengandung beberapa risalah luar biasa mengenai metafizika, khususnya mengenai masalah Tauhid. Ia memiliki metodologi pemaparan dan kosakata teknis tersendiri yang membedakannya dari berbagai madzhab-Islami metafizika.Dalam jangka waktu yang lama, para sarjana Barat menolak untuk menerima kesahihannya sebagai karya Ali bin Abi Talib, dan menisbahkannya kepada Sayyid Syarif al-Radhi, sungguhpun gaya karya al-Radhi sendiri sangat berbeda dengan gaya Nahjul Balaghah. Namun demikian sejauh menyangkut sudut pandangan Syiah, kedudukan Nahjul Balaghah dan penulisnya dapat dijelaskan dengan sangat baik melalui suatu percakapan yang terjadi delapan belas atau sembilan belas tahun yang silam antara Allamah Thabatabai dan Henry Cobin ,pernah berkata kepada Allamah Thabatabai selama diskusi-diskusi harian mereka di Teheran
.
“Sarjana-sarjana Barat menyatakan bahwa Ali bukanlah penulis Nahjul Balaghah. Bagaimana pandangan anda, dan siapakah kiranya menurut anda penulis karya ini?” Allamah Thabathabai mengangkat kepalanya dan menjawab dengan lemah lembut dan tenang sebagaimana biasa,”Bagi kami siapa pun yang menulis Nahjul Balaghah, dialah Ali, meskipun dia hidup seabad yang silam.”Karya penting kedua dalam himpunan hadith Syiah adalah al-Sahifah al-Sajadiyyah karya Imam Keempat Ali Zainal Abidin, yang digelar al-Sajjad. Sebagai saksi tragedi Karbala yang telah meninggalkan pada jiwanya suatu kesan yang tidak terhapuskan. Imam keempat ini menuangkan kehidupan rohaniahnya dalam suatu simfoni doa-doa indah yang telah menyebabkan Sahifah disebut “Mazmur Ahlul Bayt Rasulullah”. Doa-doa ini membentuk suatu bahagian dari kehidupan keagamaan seharian bukan sahaja kaum Syiah tetapi juga kaum Ahlul Sunnah, yang mendapati doa-doa itu dalam banyak buku pedoman doa termasyhur di kalangan Ahlul Sunnah.

Yang juga penting dalam kehidupan hadith Syiah adalah hadith-hadith Imam kelima, keenam, dan ketujuh. Dari merekalah sejumlah terbesar hadith telah dicatat. Imam-imam ini hidup pada akhir Dinasti Umayyah dan awal Dinasti Abbasiyyah.Pada masa-masa ini, akibat perubahan-perubahan dalam kekhalifahan, kuasa pusat menjadi lemah, sehingga para Imam itu dapat berbicara lebih terbuka, dan juga mendidik lebih banyak murid. Jumlah murid. sama ada Syiah ataupun Sunni, yang dididik oleh Imam keenam, Ja’far al-Sadiq, diperkirakan seramai empat ribu orang. Beliau meninggalkan sejumlah besar hadith yang berkisar dari masalah hukum hinggalah ilmu-ilmu batiniah

.

Hadith-hadith Rasulullah dan para Imam tentu saja merupakan suatu sumber tetap renungan dan perbahasan oleh ulama-ulama Syiah di sepanjang masa. Namun khususnya dalam jangka masa berikut dari sejarah Syiah yang bermula dengan Sayyid Haidar Amuli , ulama besar pada masa Safawiyah seperti Mir Damad dan Mulla Shadra hingga kini, hadith-hadith ini telah bertindak sebagai sumber aktual bagi metafizika dan filsafat mahupun ilmu-ilmu hukum dan al-Quran. Ulasan-ulasan Mulla Shadra, Qadhi Said al-Qummi dan banyak lagi ulasan atau himpunan-himpunan hadith Syiah ini merupakan di antara karya-karya besar dalam pemikiran Islam. Akhirnya, falsafah dan teosofi keislaman benar-benar tidak akan dapat dimengerti tenpa merujuk kepada hadith-hadith tersebut

 

Bid’ah menurut Syi’ah Imamiyah

Kupas Tuntas Masalah Bid'ah

jaman sekarang ngomongin bid’ah, berarti orang kalau pergi harus dengan kuda/onta? Apakah dizaman Nabi ada facebook…Apakah kehidupan kita sehari hari ini tidak diliputi bidah? sekarang sebutkan dalil berdakwah via internet. Internet ini menggunakan software komputer. Software ini dibuat oleh ahli komputer dari Amerika. Kita bahkan mungkin menggunakan sofware windows bajakan, tidak membeli. Pemiliknya seorang nasrani atau yahudi. Berdakwah adalah ibadah dan perintah jelas dalam Al Qur’an.Rasulullah juga tidak pernah berdakwah via internet . Khulafaur Rasyidin juga tidak pernah SMS-an tausiyah via Handphone…


Sungguh sayang sungguh malang, umat Islam di masa ini bak buih di lautan, banyak jumlahnya namun tercerai-berai. Heran bukan kepalang melihat fenomena ini, kita semua tahu bahwa Islam yang dibawa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam hanya 1 macam, sebagaimana firman Allah Ta’ala yang artinya: “Sesungguhnya kalian adalah umat yang satu dan Aku adalah Rabb kalian, maka beribadahlah kepada-Ku” [Al-Anbiyaa : 92].

Namun mengapa hari ini Islam menjadi bermacam-macam? Aneh bukan?setelah  Rasulullah SAW. wafat, benih-benih perpecahan mulai tampak

Para ulama Ahlus Sunnah dan Syi’ah tidak mencatat hukum-hukum dan perbuatan-perbuatan Khalifah Ali AS yang bertentangan dengan al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAW. Ini jelas bertepatan dengan sabda Nabi SAWA:”Ali bersama al-Qur’an dan al-Qur’an bersama Ali.”

Dan di dalam hadith yang lain,“Aku tinggalkan kepada kalian Thaqalain; Kitab Allah dan Ahlul Baitku.Kalian tidak akan sesat selama-lamanya jika kalian berpegang kepada kedua duanya.Dan kedua-duanya tidak akan berpisah sampai bersama-sama mengunjungiku di Haudh.”{Muslim, Sahih, VII, hlm. 122]

Dan ianya menunjukkan bahwa khalifah Ali adalah maksum. Jika tidak, niscaya hukum-hukum dan perbuatan-perbuatan beliau yang menyalahi nas dicatat oleh Ahlul Sunnah dan Syi’ah.

Kontradiksi Syaikh Al-Utsaimin Dalam Konsep Bid’ah

Syaikh Utsaimin Al Wahabi Al Setan Nejed menyatakan:

“Hukum asal perbuatan baru dalam urusan-urusan dunia adalah halal. Jadi, bid’ah dalam urusan-urusan dunia itu halal, kecuali ada dalil yang menunjukkan keharamannya. Tetapi hukum asal perbuatan Baru dalam urusan-urusan agama adalah dilarang. Jadi, berbuat bid’ah dalam urusan-urusan agama adalah haram dan bid’ah, kecuali ada dalil dari al-Kitab dan Sunnah yang  menunjukkan keberlakuannva.” (Al-Utsaimin, Syarh al-Aqidah al Wasithiyyah, hal. 639-640).

Tentu saja pemyataan Mbah Utsaimin ini membatalkan tesis sebelumnya, bahwa semua bid’ah secara keseluruhan itu sesat, dan sesat itu tempatnya di neraka. Narnun kernudian, di sini al-Utsaimin membatalkannya dengan menyatakan bahwa bid’ah dalam urusan dunia, halal semua, kecuali ada dalil yang melarangnya. Bid’ah dalam urusan agama haram dan bid’ah semua, kecuali ada dalil yang membenarkannya.  Dengan klasifikasi bid’ah menjadi dua (versi al-Utsaimin), yaitu bid’ah dalam hal dunia dan bid’ah dalam hal agama, dan memberi pengecualian dalam masing-masing bagian, menjadi bukti bahwa al-Utsaimin tidak konsisten dengan pemyataan awalnya (tidak ada pembagian dalam bid’ah). Selain itu, pembagian bid’ah menjadi dua versi ini, tidak memiliki dasar yang dapat dipertanggung jawabkan, dan hanya retorika Wahhabisme saja dalam mencari mangsa untuk menjadi pengikutnya.

Dalam bagian lain, al-Utsaimin juga menyatakan:

“Di antara kaedah yang ditetapkan adalah bahwa perantara itu mengikuti hukum tujuannya. Jadi perantara tujuan yang disyariatkan, juga disyariatkan. Perantara tujuan yang tidak disyariatkan, juga tidak disyariatkan. Bahkan perantara tujuan yang diharamkan juga diharamkan. Karena itu, pembangunan rnadrasah-rnadrasah, penyusunan ilmu pengetahuan dan kitab-kitab, meskipun bid’ah yang belum pernah ada pada masa Rasulullah dalam bentuk seperti ini, namun ia bukan tujuan, melainkan hanya perantara, sedangkan hukum perantara mengikuti hukum tujuannya. Oleh karena itu, bila seseorang rnembangun madrasah untuk mengajarkan ilmu yang diharamkan, rnaka membangunnya dihukumi haram. Bila ia membangun madrasah untuk rnengajarkan syariat, maka membangunnya disyariatkan.” (Al-Utsaimin, al-Ibda’ fi Kamal Syar’i wa Khathar al-Ibtida’, hal. 18-1 9).

Dalam pernyataan ini Al-Utsaimin juga membatalkan tesis yang diambil sebelumnya. Pada awalnya dia mengatakan, bahwa semua bid’ah secara keseluruhan, tanpa terkecuali adalah sesat, dan sesat tempatnya di neraka, dan tidak akan pemah benar membagi bid’ah menjadi tiga apalagi menjadi lima. Kini, al-Utsaimin telah menyatakan, bahwa membangun madrasah, menyusun ilmu dan mengarang kitab itu bid’ah yang belum pernah ada pada masa Rasulullah namun hal ini bid’ah yang belum tentu sesat, belum tentu ke neraka, bahkan hukum bid’ah dalam soal ini terbagi menjadi beberapa bagian sesuai dengan hukum tujuannya.

Begitulah, al-’Utsaimin yang sangat dikagumi oleh Salafy Wahhabi akhirnya jatuh ke dalam lumpur tanaqudh (kontradiksi). Pada awalnya dia mengeluarkan tesis bahwa semua bid’ah itu sesat, tanpa terkecuali. Namun kemudian, dalam buku yang sama, ia tidak dapat mengelak dari realita yang ada, sehingga membagi bid’ah menjadi beberapa bagian sebagaimana pandangan mayoritas ulama.

Para ulama menyatakan:

“Orang yang memiliki ajaran batil pasti kontradiksi dengan dirinya sendiri. Karena Allah SWT telah berfirman: “Kalau kiranya al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS. al-Nisa’ 82).

Bid’ah adalah segala sesuatu yang bertentangan dengan sumber hukum ( kitabullah , sunnah Nabinya dan Imam maksum as )..

Syi’ah imamiyah  meyakini bahwa semua bid’ah adalah sesat ( Al-Maktabah Al-Shamilah, Tahzibul Ahkam, juz 61 halaman 14 )

Hal yang serupa juga terdapat dalam kitab lainnya semisal Nahjul Balaghah : “Bid’ah itu adalah membuat sesuatu yang baru berdasar hawa nafsunya, dan tidak bersandar kepada sumber-sumber yang haq (yakni Quran dan sunnah)”.( Al-Maktabah Al-Shamilah hal 50 juz 1)
.
Alamah Majlisi : Bid’ah dalam syariat adalah apa-apa yang baru setelah Rasulullah Saw. dan tak terdapat secara khusus pada nash, dan bukan termasuk sesuatu yang “umum”, atau terdapat larangan padanya secara khusus atau umum ( Biharul Anwar, jilid 71 halaman 202-203 )
.

Wahabi berkembang dan bisa mencetak buku, majalah, radio, dsb karena gelontoran dana dari Pemerintah Arab Saudi, bukan karena mencintai ahlulbait. Wahabi ahlul bid’ah

 

Bid’ah adalah mengubah ketetapan syari’at !! Hukumnya HARAM !

.
Qs.33. Qs.Al Ahzab ayat 36. : “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata”

Contoh bid’ah misalnya :
1. Nabi SAW menetapkan bahwa Imam Ali adalah khalifah pengganti beliau, tetapi Sunni menetapkan bahwa Nabi SAW tidak menunjuk pengganti sehingga pengangkatan khalifah cukup melalui musyawarah !!!

 

 

2. Nabi bilang khalifah ada 12, semua dari ahlulbait lalu orang awam bilang khalifah cuma 4 dan tidak mesti dari ahlulbait

.

 

3. hadis “Berpeganglah kamu sekalian dengan sunnahku dan sunnah para Khulafa’ Rasyidin setelahku” adalah hadis PALSU yang bisa menjerumuskan seseorang kedalam bid’ah !!!
.
kalau hadis tersebut di artikan memberi kewenangan kepada 4 khalifah untuk membuat hukum baru ( sunnah khulafa rasyidin), maka jelas bertentangan dengan QS. AN Nisa’ ayat 59.

 

.
Pada QS. An Nisa’ ayat 59 jelas bahwa setiap ada perselisihan antara kaum mukminin maka harus dikembalikan kepada Allah (Al-Quran ) dan Rasul-Nya ( Sunnah Rasul ). Artinya hanya Allah dan Rasul-Nya yang berhak membuat hukum. Sementara Ulil Amri bukan pembuat hukum tetapi hanya sebagai PELAKSANA hukum. Kalau memang Ulil Amri punya hak untuk membuat hukum pasti ayatnya berbunyi “…kembalikanlah kepada Allah, Rasul-Nya dan Ulil Amri”.

4.  PAHAMAN ANEH DAN KEJI : Mengakui Para Pemimpin Zalim sebagai Pemimpin yang Sah …

AJARAN / PAHAMAN YANG ANEH DAN KEJI : “Siapa saja bisa menjadi Imam (Pemimpin) apakah dia itu orang yang zalim, fasiq, bodoh, pembohong, perampas, pembunuh dan lain-lain”.

Tidakah hal ini bertentangan dan menyeleweng dari firman Tuhan “ Sesungguhnya Aku menjadikan engkau sebagai Imam kepada manusia. Dia(Ibrahim) berkata: Semua zuriyatku?Dia berfirman: Janjiku tidak termasuk orang-orang yang zalim” (al-Baqarah(2):124).

Sesuai dengan ayat diatas orang yang zalim jelas tidak boleh menjadi Imam jadi Imam itu harus maksum. Tetapi Ahlus Sunnah wal Jama‘ah mendukung orang-orang yang zalim menjadi pemimpin mereka dan kemaksuman para pemimpin itu tidak diperlukan.

Kemudian mereka juag mewajibkan ummat supaya mentaati pemimpin-pemimpin zalim tersebut. Itulah mengapa mereka layak disebut telah menyeleweng dari ajaran Islam yang benar dan bertentangan dengan al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah (Saw.).

Dengan alasan Sabda Rasulullah SAWW “Kalian lebih mengetahui urusan duniamu” (antum a‘lamu bi-umuri dunya-kum) (Muslim, Sahih , ii, hlm. 875). Mereka telah dengan beraninya memisahkan agama dengan politik , dan ini adalah bid’ah yang besar.

Sungguh, jika memiliki pahaman seperti ‘sebelah’ , bahwa ayat dapat dihapus oleh Hadits, itu jelas adalah pahaman tercela dan tidak masuk akal , maka bertobatlah dari pahaman semacam ini.

ahli-bid'ah-dan-khurofat-islam

Hanya karena membongkar sejarah  maka syiah dituduh sebagai ahlul bid’ah, padahal mengkritisi sejarah bukan sesuatu yang tabu, apalagi diharamkan. Sudah sejak dulu kala, sejarah tergantung dari siapa yang menuliskannya. Selama penulisnya bukan Tuhan atau orang suci seperti Nabi, maka sejarah terbuka untuk dikritik, dibongkar habis, atau malah dihapus sama sekali. Apalagi kalau penulisnya seorang penguasa tiran.

 

Demikian juga dengan sejarah di dunia Islam. Mengingat sejarah hanyalah konstruksi ingatan, dokumen, dan monumen, maka belum tentu, bahkan mustahil, akan sama persis dengan faktanya di masa lampau. Syiah  berupaya mempreteli sejarah Islam versi mayoritas yang cenderung diposisikan sebagai untouchable narration, perlu  melancarkan kritik sejarah Islam, ini banyak bergantung pada perspektif dan sejarah Ahlul Bait Rasulullah saw.

Syiah menganggap penyelenggaraan acara mengenang kelahiran Nabi maupun perayaan ASYURA (dalam batas batas tertentu) adalah sebuah amalan yang bernilai pahala selain dapat menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah saw.

Menurut ulama  Syiah, mengenang hari-hari penting yang pernah dilalui Rasulullah saw dapat menumbuhkan kecintaan dan kerinduan kepada Nabi saw selain dapat lebih mengenal sejarah perjalanan dan kepribadian Nabi saw. Perintah mencintai Nabi dan keluarganya adalah perintah yang tidak bisa ditawar-tawar lagi dalam Islam. Sementara menyelenggarakan maulid Nabi hanyalah sekedar wasilah untuk lebih mencintai Nabi dan merupakan syiar Islam.

Dengan kedudukannya sebagai wasilah, tentu saja tidak bisa dihukumi bid’ah, bahwa menyelenggarakan maulid Nabi tidak pernah dianjurkan Nabi dan dicontohkan orang-orang saleh terdahulu. Sama halnya perintah menuntut ilmu. Belajar di sekolah, mulai dari tingkatan dasar sampai perguruan tinggi dengan fasilitas gedung tetap, persyaratan-persyaratan tertentu sampai pemberian ijazah dan gelar tentu tidak pernah dianjurkan Nabi atau dilakukan ulama-ulama saleh terdahulu, namun dengan melakukannya bukan berarti amalan tersebut adalah amalan bid’ah, sebab sekolah hanyalah wasilah dari pelaksanaan atas perintah menuntut ilmu. Begitu pula jika dikaitkan dengan perintah mencintai Nabi dan keluarganya.

Sejak kanak-kanak aku sudah dikelilingi oleh buku-buku.  Tetapi, tidak pernah ada cerita yang begitu menyakitkan, membekas, dan membayang-bayangiku dengan banyak pertanyaan, kemarahan, serta kepedihan selain cerita tentang Imam Hussein. Tidak ada cerita yang sudah kubaca ratusan kali tetapi tetap menangis dan menyesakkan dada selain cerita tentang Imam Hussein.

Aku terlahir sebagai Muslim, terdidik sebagai Muslim, dari keluarga Muslim yang taat, tetapi baru ketika SMA, aku menemukan dan membaca cerita Imam Hussein. Aku sering didongengkan oleh ustaz dan ustazah di sekolahku tentang kasih sayang Nabi Muhammad kepada kedua cucunya Hasan dan Hussein. Tetapi, rupanya, mereka yang mengklaim sebagai umat Muhammad sendirilah yang membantai Imam Hussein dan anak-anaknya sedemikian rupa, memenggal kepalanya, mengaraknya selama 40 hari, dan sampai hari ini dicitrakan sebagai PEMBANGKANG!

Aku sudah membaca banyak sekali artikel yang menuduh pengikut Imam Husein sendirilah yang membunuhnya, bukan suruhan Yazid, dan juga bukan salah Yazid karena Yazid berhak berijtihad begitu pun Hussain. Aku sudah banyak membaca semua artikel yang menentang, yang menuduh ini pemujaan terhadap Imam Hussein, ini adalah khas Syiah, ini Syiah adalah sesat, ini adalah Judaisme-isasi baru yang dicangkokkan kepada Islam oleh Syiah, dan seterusnya…

Silakan engkau berikan ratusan ribu hadist kepadaku, dan segala macam tafsir al-Quran untuk menentangku menangis, menghayati dan merenungi kesyahidan Imam Hussein, silakan engkau mengkafirkan aku, silakan engkau mengeluarkan aku dari pertemanan karena aku mencintainya dengan caraku. Aku hanya menggunakan hati, tak perlu rasionalisasi berlebihan untuk hal ini.

Bagi mereka umat Islam yang belum tahu cerita tentang Imam Husein, aku masih bisa memaafkan, jika masih bersukacita dan berpesta pora pada 10 Muharram, tetapi bagi mereka yang mengetahui ceritanya dan memilih merasionalisasi atau memberikan 1001 alasan bahwa Hussain harus dibunuh atau layak dibunuh oleh siapapun sedemikian rupa: MAAF!! maaf seribu maaf, kalau aku kehilangan hormat kepada engkau sebagai Muslim, dan tak tahu lagi bagaimana hendak menyematkan engkau sebagai pengikut Umat Muhammad. Aku hanya berhenti kepada bahwa engkau juga manusia.  Dan, menyayangkannya.

Aku tak peduli apakah engkau Sunni, Syiah, Ahmadiyah, Sikh, Bahai, Kristen, Atheist,  Sufi, Buddhist, Hindu, Kejawen, Agnostik, atau Yahudi, jika engkau bisa menangis membaca cerita Imam Hussein, jika engkau bisa memberi apresiasi kepada perjuangan Imam Hussein tanpa ‘meributkan detail siapa yang membunuhnya,” ya aku akan menghormati kalian, menghormati kalian lebih daripada ulama-ulama yang bahkan mentertawakan orang-orang yang menangisi Imam Husein, ulama-ulama yang mengatakan ini sesat dan itu kafir dengan mudah hanya karena cerita Karbala didengung-dengungkan kembali dan kepahlawanan Imam Hussein diangkat kembali, atau malah menyangkutpautkannya dengan ritual-ritual tertentu kaum Syiah sebagai kebodohan dan kesesatan hanya untuk mengalihkan isu sebenarnya: Syahidnya Hussein!…

Jika anak kalian dibantai, jika bapak kalian dibantai, jika ibu kalian dibantai, dibantai…dan kalian malah merayakannya secara pesta pora, bahagia pula menjadi anak yatim piatu dan tertawa memuji pembunuhnya, aku yakin bahwa kalian menderita sakit jiwa akut.

Aku malu menjadi Muslim jika aku gembira dengan Tragedi Karbala, aku malu menjadi Muslim jika aku mencari pahala di tengah dahaga dan airmata Imam Hussein dan keluarganya di Padang Karbala pada hari Asyura, aku malu menjadi Muslim jika aku membiarkan pembantai Imam Hussein diangkat sebagai pahlawan, aku malu menjadi Muslim jika aku dianggap memuja Imam Hussein hanya karena dia putra Nabi Muhammad dan melakukan syirik karena itu – pertanyaanku, apakah kausenang jika putramu digorok dan disembelih seperti itu?

Aku tak perlu menjadi orang Syiah untuk meratap di Hari Asyura. Aku sudah menangisi meratapi Imam Hussein. Tetapi, dalam sekejap jika aku membekukan hatiku aku bisa saja menjadi seorang yang mengaku-aku sebagai umat Muhammad dan menunjuk-nunjuk, Kau Syiah telah sesat, memuja Ali dan Husein, ini kan hanya soal politik, ini kan hanya ini dan itu…

Renungkanlah, mengapa Imam Hussein harus dibunuh, putranya yang masih bayi harus dibunuh???

Karena Imam Hussein, aku belajar mengenal siapa yang benar-benar Muslim siapa yang benar-benar bukan. Tak peduli apakah mereka Sunni, Syiah, Sufi, Ahmadiyah, Abangan atau Liberal. Aku tak peduli. Karena Imam Hussein, aku senantiasa diingatkan untuk mengukur diriku sendiri apakah aku telah menjadi Muslim atau belum…Karena Imam Hussein jugalah aku belajar mencintai, belajar hanya membenci kepada kezaliman dan ketidakadilan…Masihkah engkau mau membenciku, menuduhku, menghinaku? Silakan.

Dengan cara begitu aku malah berterimakasih karena engkau telah mengajariku cara menjadi pengikut rombongan kecil Imam Hussein yang kelaparan, kehausan, di tengah padang pasir panas, berhari-hari, lalu gugur di tangan kezaliman dan sampai hari ini ada di antara umat kakek mereka malah mencap mereka sebagai pembangkang.

Makna Bid’ah dan ciri-cirinya

Di dalam Kitab Sunan karya al-Imam at-Tirmidzi no.3788 disebutkan :
Rasulullah Shollallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Aku tinggalkan padamu sesuatu yang jika kamu berpegang teguh kepadanya niscaya kamu tidak akan tersesat sepeninggalku, yang mana yang satunya lebih besar dari yang lainnya, yaitu Kitab Allah, yang merupakan tali penghubung antara langit dan bumi, dan ‘itrah Ahlul Baitku. Keduanya tidak akan pernah berpisah sehingga datang menemuiku di telaga. Maka perhatikanlah aku dengan apa yang kamu laksanakan kepadaku dalam keduanya”

Jadi, mengikuti Sunnah Rasul dan berpegang dengan itrah keturunan Rasul juga merupakan perintah dari Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wa sallam.

‘itrah Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam akan ada terus hingga tiba saatnya mereka semuanya nanti akan berkumpul dan mendatangi Rasulullah di telaga Haudh pada hari kiamat.
Tulisan pada gambar ini adalah pemahaman bid'ah menurut Wahhabi, benarkah pemahaman mereka?
Definisi Bid’ah adalah merubah ketetapan syari’at, hukum nya HARAM ( dalil : Qs. Al Ahzab ayat 36 )

Lalu apa sebenarnya definisi bid’ah? Ini penting diketahui, agar kita bisa menghindari.

Asy Syarif Al Murtadha, ulama syiah terkemuka, saudara kandung penyusun Nahjul Balaghah , As Syarif Ar Radhi, dalam Ar Rasa’il jilid 2 hal 264 mengatakan:

Bid’ah : menambah atau mengurangi ajaran agama, dengan mengatas namakan ajaran agama.
Artinya, ajaran hasil modifikasi itu dianggap sebagai ajaran agama. Padahal ajaran agama yang sudah dimodifikasi sejatinya bukan ajaran agama, tapi ajaran hasil modifikasi. Ketika ajaran modifikasi dianggap sebagai ajaran agama, maka itulah bid’ah

Pengertian Bid'ah

Sementara Ibnu Muthahhar Al Hilli, ulama syiah penulis kitab minhajul karamah, fi ma’rifatil imamah, dalam Al Mukhtalaf jilid 2 hal 131 mengatakan :Adzan adalah ibadah yang harus diambil dari syareat, menambah adzan adalah bid’ah, sama seperti mengurangi, dan segala macam bid’ah hukumnya haram
.
At Thuraihi, seorang ulama syiah, dalam kitabnya yang berjudul Majma’ul Bahrain jilid 1, kata bada’a /Bid’ah : penambahan dalam agama, yang tidak ada dasarnya dari Al Qur’an maupun sunnah
.
Seorang pakar hadits syiah, Yusuf Al Bahrani, dalam kitabnya yang berjudul Al Hadaiq An Nadhirah jilid 10 hal 180 menyatakan:
Yang nampak jelas dari bid’ah, apalagi dalam masalah ibadah adalah haram, dengan dalil riwayat At Thusi dari Zurarah dan Muhammad bin Muslim dan Al Fudhail, dari As Shadiqain (2 imam) : ketahuilah, seluruh bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan tempatnya di neraka
.
Al Muhaqqiq Al Asytayani dalam Bahrul Fawaid hal 80 mengatakan:
Bid’ah, memasukkan sesuatu yang bukan ajaran agama, ke dalam ajaran agama, dilakukan dengan keyakinan bahwa perbuatan itu termasuk ajaran agama.
.
Syi’ah imamiyah meyakini bahwa semua bid’ah adalah sesat… Bid’ah adalah segala sesuatu yang bertentangan dengan sumber hukum ( kitabullah , sunnah Nabinya dan Imam maksum as )

Dalam syari’at : ada hal hal yang tidak ada pada zaman Nabi SAW tapi bukan bid’ah, misal :  ma’had-ma’had (di zaman Rasul tidak ada ma’had). Acara-acara tanpa ada keyakinan apapun seperti halnya penertiban/ pengkhususan waktu di PESANTREN, pengkhususan kelas dan tingkatan DAYAH yang semuanya tidak pernah dikhususkan oleh syari’at, Belajar tajwid Metode Iqra’ : bukankah hal semacam ini tidak termasuk bid’ah ????

.
Satu lagi contoh, Al Quran yang antum baca tiap hari, itu khan ada tanda harokatnya, di zaman Nabi harokat itu belum ada dan Nabi tidak memerintahkan memberi harokat di dalam Al Quran
.
“Mencintai dan mengagungkan Nabi adalah perintah tegas dari Allah SWT. Mengenang segala peristiwa penting yang berkaitan dengan Nabi adalah dalam rangka menumbuhkan kecintaan kepada Nabi sebagaimana yang diperintahkan Allah SWT. Karenanya memperingati maulid Nabi tidak bisa dikatakan sebagai amalan bid’ah sebab ada landasannya dalam Al-Qur’an dan Hadits.”
MELURUSKAN PEMAHAMAN TENTANG BID’AH

Alamah Majlisi : Bid’ah dalam syariat adalah apa-apa yang baru setelah Rasulullah Saw. dan tak terdapat secara khusus pada nash, dan bukan termasuk sesuatu yang “umum”, atau terdapat larangan padanya secara khusus atau umum.(Biharul Anwar, jilid 71 halaman 202-203)
.

maka bid’ah disini adalah yang bertentangan dengan sumber hukum tersebut. Seperti halnya pendapat masyhur ulama yang mengatakan bahwa dalam masalah bid’ah kita harus melihat kaidah umum dan khusus, karena ada sebagian hukum yang bersifat umum dan belum ada khususnya di zaman Nabi saw. dan Imam maksum as., di sisi lain ada sebagian hukum yang khusus di zaman Nabi dan Imam maksum as. Baik berupa perkataan, perbuatan, maupun takrirnya. Jika bertentangan dengan ushul Syariah dan sunnah (Nabi Saw. maupun Imam maksum as.) maka hal tersebut dikatakan bid’ah, artinya jika perkara yang tidak bercabang dan bertentangan dengan yang umum maka hal tersebut dikatakan bid’ah, seperti yang telah dijelaskan oleh Alamah Majlisi, tanpa membagi bid’ah hasanah ataupun dalalah, karena di satu sisi Syiah juga meyakini bahwa semua bid’ah adalah sesat (Al-Maktabah Al-Shamilah, Tahzibul Ahkam, juz 61 halaman 14)

Oleh sebab itu dalam mencari hukum sesuatu yang seakan-akan baru di zaman sekarang pada masa ghaibnya Imam Zaman maka harus merujuk kepada sumber nashnya, dan hal ini memerlukan upaya istinbath hukum oleh orang-orang yang paham dibidangnya. []

Halaman makam Muawiyah bin Abu Sofyan berpagar dan terkunci rapat, sehingga tidak seorang pun bisa masuk, dulu makam ini terbuka tetapi menjadi sangat kotor dan penuh sampah karena semua orang Damaskus membenci Muawiyah dan sebagai bentuk rasa tidak hormat orang-orang syiria kepada muawiyah, mereka sering membuang sampah ke makam ini sambil mengutuk dirinya.Menurut guide disekitar makam Muawiyah tumbuh tanaman berduri yang tidak diketemukan di daerah manapun kecuali disekitar makamnya…”