Ratusan Pesantren di Indonesia Terindikasi Radikal karena kesusupan Wahabi Salafi

103 Pesantren di Indonesia Terindikasi Radikal
 
Kamis, 07/03/2013 19:55

Di Indonesia jumlah pesantren mencapai sekitar 24.000, terdiri dari pesantren bergaya tradisional, modern, dan kombinasi keduanya. Namun, akhir-akhir ini terdapat corak lain, yakni pesantren berhaluan keras atau radikal.

”Ada 103 pesantren yang terindentifikasi radikal,” kata koordinator media, data, dan informasi Pengurus Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMINU), Agus Muhammad, Kamis (7/3), di Jakarta.

Agus menjelaskan, indikasi pesantren radikal dapat dilihat dari paham dan sikap keberagamaannya, antara lain, berpaham wahabi, gemar memaksakan pendapat, anti-keragaman, dan mengambil jalan kekerasan. Pesantren garis keras ini tersebar baik di dalam maupun di luar Pulau Jawa dan jumlahnya dimungkinkan akan bertambah.

”Mereka mengklaim sebagai kelompok Islam paling murni sehingga merasa berkewajiban mempurifikasi orang lain. Makanya mereka disebut puritan. Mereka suka memaksakan pendapat, sangat koersif,” ujarnya.

Menurut Agus, kelompok-kelompok yang berseberangan dengan paham ke-NU-an ini mulai tumbuh di Indonesia sekitar tahun 80-an. Mereka berkembang seiring dengan meningkatnya jumlah alumni pendidikan Timur Tengah atau dalam negeri yang mendorong perilaku ekstrem.

”Sebagian dari mereka malah ada yang jelas-jelas melakukan konsolidasi melakukan kekerasan, seperti pesantren Umar bin Khattab di Bima Nusa Tenggara Barat,” imbuhnya.

RMINU memastikan, pesantren berbasis nahdliyin tidak ada yang terlibat dalam radikalisme, apalagi terorisme. Melalui prinsip tasammuh (toleransi), tawasuth (moderasi), tawazun (keseimbangan), dan i’tidal (tegak), lembaga pendidikan Islam tertua di Nusantara ini menolak berbagai bentuk kekerasan dan pembelotan

KH Sya’roni: Sebarkan Islam Seperti Sunan Kalijaga
Selasa, 20/11/2012 13:12

Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Sya’roni Ahmad dari Kudus merasa prihatin dengan munculnya berbagai kelompok Islam garis keras dan radikal. Ia meminta para ulama, kiai dan umaro untuk selalu waspada namun tetap arif dan bijaksana.

Demikian disampaikan KH Sya’roni Ahmad saat menyampaikan mauidhotul hasanah di hadapan ulama, kiai dan umaro sekabupaten Demak dalam rangka pertemuan rutin antara ulama umaro yang diselenggarakan oleh forum komunikasi ulama umaro se Kabupaten Demak di pendopo kabupaaten Demak, Ahad (18/11) lalu.

“Akhir akhir ini ada beberapa orang atau kelompok yang mengatasnamakan mubaligh maupun ulama yang dalam menyampaikan da’wahnya selalu memaksakan pendapatnya agar dianut dan diterima dan ini sangat memprihatinkan bagi umat Islam itu sendiri,” kantanya.

Kiai Sya;roni mengimbau agar para ulama meniru cara dakwah Wali Songo. Ia menyontohkan,Sunan Kalijaga yang selalu menggunakan cara budaya adat yang mudah dan bisa diterima oleh umat itu secara halus dan tidak adanya unsur kekerasan sesuai dengan cara yang dilakukan para Nabi.

“Sunan kali jaga itu punya gong sekaten (syahadatain), beliau berdakwah atau mulai pagelaran wayang kalau gong sudah berbunyi, la gong dipukul kalau semua yang hadir sudah bersahadad,” tambah kiai Sya’roni.

Bupati Demak H Dachirin Sa’id dalam sambutannya memaparkan program pemkab Demak dalam membangun sikap dan mental masyarakat Demak. Diantaranya menjalin kerjasama dan saling dukung antara pemerintah, ulama, kiai dan tokoh masyarakat Demak.
“Masyarakat Demak berniat membangun umat dan mental masyarakatnya dan itu butuh dukungan dan kerja sama para alim, tokoh, kiai dan umaro se kabupaten Demak,” demikian pinta Dachirin dihadapan 600-an ulama dan umaro di pendopo kemaren

Dachirin juga menyampaikan bahwasannya dalam menindaklanjuti program semacam itu juga dilakukan di tingkat kecamatan yang melibatkan kiai desa.

“Silaturrahmi ini akan kami lanjutkan di tingkat kecamatan kalau tahun kemaren hanya sekali dalam setahun maka tahun depan kita lakukan dua kali dalam setahun,” paparnya.

katib Aam: Tantangan Aswaja NU Kian Berat

Ahad, 19/05/2013 14:30

 

Era reformasi yang didalamnya diiringi globalisasi sangat terbuka bagi merebaknya sejumlah isme, khususnya di Indonesia. Pada saat yang bersamaan, di tanah air juga bermunculan sejumlah aliran keislaman produk lokal.

Efek dari kemunculan isme-isme ini mengakibatkan keberadaan Ahlussunnah wal Jamaah ala NU kian terjepit. Baik Islam yang beraliran kanan maupun kiri.

“Gerakan Islam kanan sering diidentifikasikan sebagai gerakan radikal yang biasa mengklaim kebenaran sebagai milik eksklusif mereka dan harus diperjuangkan dan diterima orang lain,” kata Katib Aam PBNU ini (18/5).

“Bila perlu kelompok ini melakukan paksaan bahkan teror untuk memaksakan ide dan gagasannya,” lanjutnya.

Bagi Malik Madani, apa yang dilakukan kalangan kanan ini bertolak belakang dengan gerakan Islam kiri (al-yasari) yang bernuansa liberal.

Pandangan ini disampaikan Malik Madani pada Seminar Keagamaan Pra Konferensi Wilayah NU Jawa Timur yang bertepatan dengan Harlah ke-90 NU. Seminar dengan tema Aswaja NU dan Tantangan Sosial Keagamaan di Tengah Perubahan ini menghadirkan Prof Dr Muhammad Baharun (MUI Pusat) serta Dr Noorhaidi Hasan (UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta) dan dimoderatori H Nur Hidayat (Wakil Sekretaris PWNU Jatim). Kegiatan diselenggarakan di lantai 3 gedung PWNU Jatim.

Di hadapan undangan dari sejumlah PCNU se Jawa Timur ini, Malik menandaskan bahwa gerakan Islam kanan transnasional secara garis besar dapat dibagi menjadi tiga tipe berdasarkan basis perjuangan, yakni gerakan Islam kanan yang berbasis purifikasi.

“Beberapa yang masuk kategori ini adalah Wahabi, Salafi, Taliban serta Jama’ah Tabligh dengan tradisi khurujnya.”

Tipe kedua adalah gerakan Islam kanan berbasis politik diantaranya adalah Al-Ikhwanul Muslimun, Al-Jama’ah Islamiyyah, Hizbut Tahrir al-Islami, Jamaah al-Islami serta Taliban.

“Sedangkan yang ketiga adalah gerakan Islam kanan berbasis kekerasan dan teror,” tandasnya.

“Beberapa yang masuk kategori ini adalah al-Qaidah, al-Jamaah al-Islamiyyah, Taliban, Wahabi Sururi serta Tanzimul Jihad,” tandasnya.

Kondisi ini kian diperparah munculnya gerakan-gerakan Islam kanan produk lokal seperti Majelis Tafsir Al-Qur’an (MTA), Partai Keadilan Sejahtera (PKS) serta Frtont Pembela Islam atau FPI.

Karena itu kalau kemudian di PWNU Jatim telah berdiri Aswaja NU Center, maka hal itu harus diapresiasi. “Rasanya Aswaja NU Center hanya ada  NU Jawa Timur,” katanya.

“Dan ini harus disambut dengan sambutan meriah,” lanjutnya.

Dengan berdirinya Aswaja NU Center ini diharapkan kesadaran warga akan pentingnya melakukan pengkajian bagi Aswaja di segala tingkatan. Demikian juga bagaimana dari pengkajian tersebut dapat ditindaklanjuti dengan kesadaran kolektif seluruh jajaran NU di segala tingkatan.

“Namun demikian, dengan dunia yang kian berubah, harus mulai dipikirkan agar Aswaja NU dapat tetap up to date sehingga tetap dicintai semua kalangan, khususnya anak muda NU,” harapnya

Yahya Staquf: Gerakan Radikal Ingin Ambil Alih Kekuasaan
Senin, 29/04/2013 07:02

Katib Syuriyah PBNU KH Yahya C. Staquf mengatakan, gerakan radikalisme Islam memiliki agenda ingin mengambil alih kekuasaan untuk membentuk negara baru sesuai dengan paham mereka.

“Gerakan lainnya adalah selalu menolak bahkan mengkafirkan orang Islam di luar kelompoknya,” ujarnya dalam acara dialog publik Nation dan carakter building yang diadakan GP Ansor – Fatayat NU bekerjasama dirjen IKP Kementrian Kominfo di Gedung MWCNU Kecamatan Dawe Kudus, Sabtu (27/4).

Gus Yahya menandaskan, radikalisme Islam telah menjadi ancaman yang sangat berbahaya sehingga gerakannya harus dibendung.

“Jika gagal dibendung, NU Islam moderat di Indonesia juga akan hilang,” tegasnya di hadapan ratusan Nahdliyyin.

NU didirikan di Indonesia, tambahnya, untuk mengikat bangsa ini supaya tidak lepas. Hal ini terlihat dari simbol tali yang melingkari bumi (peta) Indonesia pada lambang NU.

“Maksudnya tali itu sebagai pengikat Indonesia, kalau lepas maka negara akan meleleh,” jelas putra almarhum KH Cholil Bisri ini.

Dikatakan, orang berpotensi menjadi radikal bukan disebabkan miskin melainkan merasa terasing dan mempunyai masalah. Sebagaimana orang Badui yang berpenduduk asli Arab tersingkirkan ketika pada masa masuknya Islam, kepemimpinannya jatuh di tangan orang lain.

“Karena merasa tersingkir sehingga mereka melakukan penolakan-penolakan dalam beberapa hal secara radikal. Bahkan mereka menolak kekuasaan pemerintah dalam tanah hijaz.”tambah mantan juru bicara presiden RI KH.Abdurrahman Wahid ini.

Di akhir ceramahnya, Gus Yahya mengajak nahdliyyin merawat tradisi amalan NU dan mengumpulkan jamaah atau komunitas seperti NU. Melalui komunitas itu akan mudah memberi pemahaman yang benar serta memilah-milah aliran  maupun gerakan radikalisme.

“Kalau jamaah NU  kendor maka akibatnya mudah dirusak oleh orang-orang radikal maupun  Wahabi, ” tandasnya.

Selain Gus Yahya, nara sumber lainnya dalam dialog publik bertema peran pemuda Islam moderat dalam  menangkal radikalisasi agama ini adalah ketua Umum PP GP Ansor H. Nusron Wahid, Staf Ahli Menkominfo Suprawoto dan Dirjen IKP Kementrian kominfo Freddy H.Tulung.

 

Munculnya Gerakan Islam Militan Menjadi Tantangan NU
Sabtu, 25/05/2013 09:03

Munculnya gerakan Islam militan yang aktif mendemonstrasikan   dan menggelar aksi kekerasan bahkan jihad adalah tantangan yang nyata bagi Nahdlatul Ulama (NU).

“Dinamika baru gerakan Islam di Indonesia memperlihatkan persinggungan yang semakin kompleks antara agama dengan persoalan sosiologis, politik, geo-strategis, ekonomi dan lainnya yang berkembang sebagai konsekuensi modernisasi dan globalisasi,” kata DR Noorhaidi Hasan saat dihubungi NU Online (25/5). Perbincangan ini sebagai bagian dari refleksi 90 tahun berdirinya NU sesuai dengan kelender hijriyah, yakni 16 Rajab 1344 H.

Dosen Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta ini menandaskan bahwa ideology dan gerakan yang berwajah transnasional semisal Hizbut Tahrir Indonesia, Laskar Jihad dan Jamaah Islamiyah bermunculan menandai dinamika baru gerakan Islam di Indonesia.

“Mereka  aktif mengkampanyekan ekslusivitas, militansi, radikalisme, dan bahkan kekerasan di ruang public yang semakin terbuka,” katanya.

“Tak kalah penting, gerakan-gerakan ini juga mengancam eksistensi gerakan Islam arus utama di tanah air, terutama NU yang terkenal dengan doktrin ahlussunnah wal jamaah atau Aswaja-nya,” lanjutnya.

Melihat tantangan gerakan Islam transnasional terhadap eksistensi gerakan Islam arus utama di Indonesia yang dikenal ramah dan mencintai perdamaian, maka sudah saatnya NU tampil lebih dominan.

“NU harus bisamengkonsolidasikan diri dan jamaahnya dalam upaya mengembangkan syiar Islam sebagai agama pembawa rahmat bagi sekalian alam atau rahmatan lil’alamin,” terangnya.

Disamping itu, NU harus memantapkan pengalaman pilar-pilarajarannya yang terangkum dalam doktri Aswaja sebagai mekanisme kultural dan daya tolak social atau social resilience yang berakar di masyarakat untuk melawan pengaruh gerakan Islam transnasional yangdapat membahayakan keutuhan NKRI.

“Hanya dengan cara inilah NU dapat melindungi jamaah, terutama kaum mudanya dari kesalahan mengambil jalan sebagai akibat persentuhan mereka yang semakin intens dengan perubahan sosial dan globalisasi,” pungkasnya.

2 comments

  1. Lwan Wahabi !!! NU Harus Berani terang terangan melawan gerakan Radikal.

    Inilah Ucapan-ucapan agen-agen Bani Umayyah/Abassiyah ABAD MODERN sedang berlaga dipermukaan Bumi dan mereka merasa paling benar sendiri, sementara Hak-Hak Rosul yang terabaikan dan terinjak-injak tidak mereka raskan dan ini jauh berbahaya dan “Wasiat Rosul yang tak terungkapkan” –Karena Ulah sahabat yang masih picik dalam memahami Al-Qur’an atau ini sebagai bukti Firman-Nya ” Al Arobu assaddu kufron wanifaqo – Bangsa Arab sangat-sangat Kafir dan Munafiq sekali dan jiwa Offensivenya (Gua Jual dan Gua Paksa Lu Beli) – Bukan Defensive (Lu Jual Gua Beli) dan suatu ketika bagi cacing yang terinjakpun pasti menggeliat, hanya bila kita merujuk kepada Ucapan – Ayatullah Ali Sistani – Marja Utama di Irak, bahwa “Hatta Pengikutku banyak terbunuh oleh mereka (Sunni), maka kami tidak akan melakukan balas dendam, karena mereka (Sunni) adalah saudara kami dan bila aku terbunuh maka janganlah kalian melakukan balas dendam. Namun, apakah hal tersebut dengan kondisi Indonesia yang sudah mencekap karena suhu politik dan lainnya, bila mereka melakukan Anarkis, mungkinkah akan tinggal diam saja – Arab adalah tetap Arab -Abu Zein, identik dengan Al-Qaeda – yang sudah teracuni Pola Pikir Ibnu Taimiyah dan Muridnya Ibnu Qayyim Jauziyah – Yang hanya akan menghasilkan Islam Yang Tufsiduuna fi Ardh, – Perusak Alam Semesta-, —Bukan “Rahmatan Lil Aalamiiin”, pelaksana Sunah Khalid bin Walid —Yang membunuh Muslim hanya dorongan Nafsu Syeitannya, bukan Sunnah Rosul dan rendahnya Pengetahuan Abu Bakar dengan al Qur’an dengan mengatakan ke Umar ” Dia sudah punya Takwil sendiri dengan Al Qur-an”, dari sini lihat dalam Umat Ini disini, tanpa Ulama, mereka bisa berbuat hanya berdasar Terjemah, sehingga hasilnya adalah Umat Yang Dzulman Dzahula —Perbuatan Anarkisa itulah yang terbaik baginya, maka Bom Bali, Marriot, Jl. Kuningan dan Penghancuran Tempat Pendidikan yang tidak sealiran dengan mereka, mereka hancurkan, kan sama saja dengan Sahabat tadi. Ingat di Mata Bani Umayyah/Yayasan Al Baynat – An-Nisa 59 dan An-Nisa 93 – Dia merasa sudah membenarkan Kepemimpinan Yajid dan Pembunuhan terhadap Keluarga Rosul Syah-Syah saja, karena ada Hadist ” Ijtihad Salah Pahala Satu dan Ijtihad Benar-Benar” – Benarkah hadist ini dari Rosul – atau ini Produk mereka tapi dinisbatkan kepada Rosul – Atau Mereka belum optimal memahaminya, sehingga salah persepsi — Wallahu a’lam

  2. Ayu kho pola pikirmu memang sudah sinkron, tolong dong dijawab. Aku ingin kenal latar belakangmu, sementara aku tadinya Ahli Sunnah Waljamaah, kemudian nyemplung ke Islam ala Isa Bugis dan sebelumnya sempat ngaji di Muhamadiyah Menteng, kurang dari 1 tahun. Salam hangat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s