Jaringan Teroris Abu Umar Al Wahabi As Salafy dalang BOM BUNUH DiRi POSO !!! PBNU Kecam Bom Bunuh Diri di Poso

Pelaku Bom Poso Terkait Jaringan Teroris Abu Umar

Ciri-ciri Pelaku Bom Bunuh Diri Poso

Kepala Bidang Humas Polda Sulawesi Tengah, AKBP Soemarno menunjukkan foto pelaku bom bunuh diri Mapolres Poso yang terjadi pada Senin (3/6) di Mapolda Sulawesi Tengah, di Palu, Selasa (4/6).

Foto pelaku bom bunuh diri di Markas Polres Poso, Sulawesi Tengah.

Pelaku Bom Bunuh Diri Letakkan Bom di Paha..

“Bisa jadi motor curian, kalau orang sudah kikir nomor sasis mesin itu barang hasil kejahatan, perkiraan seperti itu,” ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigadir Jenderal Boy Rafli Amar di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Jumat (7/6/2013).

Kondisi halaman Mapolres Poso, Sulawesi Tengah, pascaledakkan bom bunuh diri, Senin (3/6/2013) pagi. Tubuh pelaku hancur, yang terlihat jelas hanya potongan kaki kanannya.

|

 Pelaku bom bunuh diri di halaman Markas Polres Poso, Sulawesi Tengah, diduga meletakkan bom di antara kedua pahanya. Hal itu menyebabkan tubuh korban hancur dan bagian kepalanya tetap utuh.

“Ditempatkan di bagian pahanya. Di situlah kerusakan fatal pecahan tubuh korban,” ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigadir Jenderal Boy Rafli Amar di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin (3/6/2013).

Bom itu dimasukan dalam tas dan bom meledak ketika pelaku berada di atas motornya. Bom meledak di antara pos jaga Mapolres Poso dan masjid, sekitar pukul 08.03 WITA.

Ledakan bom terjadi dua kali. Pelaku diduga menggunakan bom tupperware atau bom yang diletakan dalam wadah plastik. Boy mengatakan, saat memasuki Mapolres Poso, pelaku sempat dihentikan petugas dan diminta melapor. Namun, pelaku terus mengendarai sepeda motornya dan meledakkan bom tersebut.

Korban luka satu satu orang yakni buruh bangunan yang sedang bekerja di masjid. Pelaku diduga kelompok teroris Poso pimpinan Santoso yang saat ini masih buron.

Polisi juga mendalami keterkaitan eksekutor bom bunuh diri dengan Basri alias Bagong alias Ayas, narapidana yang melarikan diri dari Lembaga Pemasyarakatan Kelas II Ampana, Kabupaten Tojo Una Una, Sulawesi Tengah, April lalu. Saat ini petugas di lapangan masih melakukan olah tempat kejadian perkara.

Tim Disaster Victim Identification Mabes Polri telah diturunkan untuk identifikasi pelaku bom bunuh diri. Jenazah pelaku akan diidentifikasi lebih lanjut di rumah Sakit Bhayangkara di Palu, Sulawesi Tengah.

Pelaku bom bunuh diri di markas Polres Poso, Senin (3/6) lalu diduga adalah anggota sel baru jaringan teroris yang masih terkait jaringan Abu Umar. Terkait identitas pelaku, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Ansyaad Mbai mengaku masih menunggu hasil final penyelidikan forensik Mabes Polri.

“Yang pasti itu jaringan teroris. Lama atau baru itu relatif. Seperti saya jelaskan jaringan ini putus, cerai, kemudian mereka ini bikin kelompok baru. Tapi dalam kelompok baru ini pasti minimal dua anggota dari kelompok dan jaringan lama,” ungkapnya usai acara sarasehan tentang terorisme di Hotel Horizon, Koya Bandung, Selasa (4/6).

Diungkapkannya, jaringan pelaku terorisme di Indonesia, masih hidup meski sempat diporak-porandakan Detasemen Khusus 88 Anti Teror. Pada 2010, jaringan teroris berbasis di Aceh dihancurkan. Kemudian mereka membangun kelompok baru di Poso.

“Mereka kembali (bangun kelompok, Red) di Poso. Abu Omar, Abu Roban, Sofyan, Jamil membentuk sel, termasuk di Jabar. Dananya itu ditujukan mendanai basis di Poso. Setiap aksi pasti berkaitan,” kata Ansyaad.

Sementara itu, mantan anggota Jam’ah Islamiyah Nasir Abas menduga pelaku bom bunuh diri Poso, juga para terduga teroris yang tertangkap dan tewas tertembak di Jawa Tengah, Bandung dan Tasikmalya masih satu jaringan.

“Mereka masih jaringan Abu Umar atau pendukung Abu Umar. Mereka menganggap bahwa penangkapan Abu Umar itu ketaliman terhadap Abu Umar. Mereka tidak terima penangkapan Abu Umar itu,”kata dia usai acara yang sama.

Sebelumnya, seorang pria yang diduga berumur 33 tahun menerobos masuk ke Markas Polisi Resor Poso, kemudian meledakkan dirinya dengan menggunakan bom yang berdaya ledak tinggi, sekitar pukul 08.05 Wita, Senin, 3 Juni 2013. Dalam peristiwa tersebut tidak ada polisi setempat yang menjadi korban.

Peristiwa terjadi saat polisi menggelar apel pagi. Tiba-tiba seorang pria mengendarai motor bebek menerobos masuk ke dalam markas dan melewati pos penjagaan. Polisi jaga sempat berusaha memberhentikannya. Namun, pria yang kini belum dikenal tersebut tetap menerobos. Tidak berselang lama, terdengar ledakan keras berdaya ledak tinggi.

Diberitakan sebelumnya, aksi bom bunuh diri terjadi di antara pos jaga Mapolres Poso dan masjid pukul 08.03 Wita. Pelaku diduga menggunakan bom di dalam wadah plastik. Pelaku pun diduga sebagai bagian dari kelompok teroris Poso pimpinan Santoso yang saat ini masih buron.

Polisi kemudian mendalami keterkaitan eksekutor bom bunuh diri itu dengan Basri alias Bagong alias Ayas, narapidana yang melarikan diri dari Lembaga Pemasyarakatan Klas II Ampana, Kabupaten Tojo Una Una, Sulawesi Tengah, April lalu.

bom posoLama tak tersiar kabar seputar bom bunuh diri di media, kini peristiwa itu lagi-lagi terjadi. Kali ini bom bunuh diri meledak di Poso. Seorang pengendara motor tiba-tiba mendatangi sebuah kantor polisi di Poso dan meledakkan diri. Kejadian itu berlangsung saat polisi sedang melaksanakan apel pagi. Beruntung tidak ada korban jiwa dari pihak kepolisian. Namun salah seorang pekerja konstruksi yang berada tak jauh di lokasi terkena serpihan ledakan bom

Menurut kapolres Poso, Susnadi, pengendara motor tersebut nekat menuju pintu masuk dan melawan penjaga. Pada posisi 15 m dari pintu masuk, bom yang dibawa oleh sang pengendara motor pun meledak dan menyebabkan efek ledakan yang cukup besar. Menurut informasi di tempat kejadian, serpihan bom yang berupa paku-paku kecil menyebar hingga sejauh radius 30 meter dari lokasi kejadian.

Pelaku adalah seorang lelaki yang berusia sekitar 30-35 tahun. Tubuh pelaku hancur namun bagian kepala dan beberapa anggota tubuhnya masih bisa diidentifikasi. Hingga laporan ini dibuat, belum ada kelompok satu pun di Poso yang mengaku bertanggung jawab atas kejadian bom bunuh diri tersebut. Polisi masih melakukan pemeriksaan secara intensif, termasuk pada kendaraan yang dipakai sang pelaku.

Kejadian bom bunuh diri di Poso ini menargetkan lembaga kepolisian. Menurut juru bicara Polri, Boy Rafli Amar, serangan-serangan teroris saat ini banyak menargetkan polisi sebagai ssaran utamanya. Dalam cataan beberapa tahun ini, bom bunuh diri dan berbagai serangan lebih berfokus pada aparat pemerintah dari pihak kepolisian dan pasukan anti terorisme, bukan pada turis asing seperti yang pernah terjadi pada Bom Bali beberapa tahun silam.

Bulan lalu, Densus 88 menangkap dua terduga teroris yang akan menjadi pelaku bom bunuh diri, terkait plot pengeboman Kedutaan Besar Myanmar di Jakarta. Serangkaian kejadian ini menjadikan pihak kepolisian semakin waspada dengan ulah wahabi

Lokasi bom bunuh diri di Mapolres Poso (foto: Yoanes Lita/Sindo TV)

Lokasi bom bunuh diri di Mapolres Poso

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) Ansyaad Mbai menilai, bom bunuh diri terjadi di halaman Mapolres Poso merupakan rentetan dari aksi-aksi teroris lainnya di Indonesia.

“Kita ambil (contoh) 2010 lalu di Aceh. Sebetulnya di sana organisasinya sudah puing-puing, tapi kemudian berfungsi kembali dan membuat basis baru. Mereka lalu kembali lagi untuk membuat sel baru. Sekarang mereka konsentrasi kembali di Poso, makanya di Poso terjadi itu (bom bunuh diri),” bebernya kepada wartawan, Selasa (4/6/2013).

Sebelum di Poso, lanjut Ansyaad, mereka mengumpulkan dana untuk logistik dengan cara melakukan berbagai macam aksi seperti di Kota Bandung, Kebumen, Kendal, Jakarta, dan Lampung.

Lebih lanjut dia menjelaskan, jaringan Jakarta pimpinan Abu Omar memiliki anak buah yang di antaranya Abu Roban, Qodrat, Sopian, dan Jamil yang membentuk sel-sel baru dan melakukan aksi terorisme.

“Semua dananya itu sebagian besar untuk mendanai basis mereka yang baru di Poso, karena setiap aksi teror tidak berdiri sendiri, pasti berkaitan dengan yang lainnya,” terangnya.

Dia mencontohkan, salah satu aksi yang saling berkaitan adalah aksi teror yang terjadi di Solo tahun lalu. Aksi tersebut menurutnya adalah sebuah rangkaian aksi yang berkaitan di Jakarta, Bandung, Bima, Poso, dan Medan.

Disinggung mengenai hasil penyelidikan sementara mengenai bom bunuh diri kemarin, Ansyaad mengaku jika saat ini masih menunggu hasil penyelidikan mengenai siapa dan jenis bom yang digunakan pelaku.

Dulu Kang Said pernah berkata : “Wahabi, biang dari segala aksi teror Islam garis keras di seluruh dunia”. Gendrang perang itu ditabuh oleh seorang alumnus Perguruan Tinggi Wahabi, Prof, DR. Said Aqil Siroj MA. Nah, kini ketakutan Kang Said terbukti, sejak wahabi masuk Indonesia maka terorisme merajalela

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj mengecam keras tindakan pengeboman yang terjadi di Mapolres Poso, 3 Juni 2013, karena Intihar (bunuh diri) dalam kondisi dan atas nama apapun tidak dapat dibenarkan.

“Sebagai orang Indonesia, saya nyatakan bahwa cara-cara seperti itu bukan Islam ala Indonesia. Maka masyarakat baik muslim maupun non muslim harus bersatu melawan terorisme dan radikalisme. Karena apapun tindakan pengeboman tidak bisa dibenarkan,” kata KH Said Aqil Siroj, Rabu (5/6) di Jakarta.

Kang Said demikian pria ini disapa menyoroti aksi bom bunuh diri ditengarai sebagai dendam terhadap aparat, karena itu diharapkan aparat berwenang lebih persuasif dan professional dalam menangani terorisme. “Maka saya pikir aparat yang berwenang juga harus bisa lebih luwes, bukan dengan cara kekerasan yang membabi buta,” tandasnya.

Meski demikian, dengan adanya insiden ini, lanjutnya, peran Densus 88 harus lebih diperkuat, dengan melakukan evaluasi mendalam sehingga kejadian serupa tidak terjadi kembali. “Jangan lagi terulang kejadian-kejadian seperti salah tangkap dan tindakan lain yang tidak perlu,” tegas Said.

Lebih lanjut, Doktor lulusan Universitas Ummul Qura ini menilai, penanganan yang dilakukan aparatur pemerintah selama ini cenderung reaksioner. Seharusnya dalam persoalan ini lebih mengedepankan pendekatan dengan memberikan pemahaman yang benar.

“Bahwa jika masih terjadi serangkaian kasus seperti ini akan menimbulkan kesan pembiaran.Membiarkan radikalisme agama berkembang sama artinya sengaja membiarkan pelanggaran demi pelanggaran kemanusiaan terjadi di waktu-waktu mendatang,” tegasnya.

Ditambahkan, bahwa pemahaman yang kurang memadai cenderung membuat pemeluk agama menjadi fanatik sempit. Seperti memahami jihad semata sebagai tindakan kekerasan yang dibenarkan agama, sama dengan kesalahan memahami Indonesia hanya sebatas pulau Jawa.

“Kata jihad kini terkesan “angker”, sarat dengan pemahaman yang serba fisik. Tetapi, istilah jihad ini pula yang akhir-akhir ini membuat nama Islam di kancah internasional lebih mendapat sisi peyoratifnya dibanding positifnya. Tak lain, hal ini muncul karena penyempitan makna jihad. Pemahaman seperti ini tidak-bisa-tidak perlu dikoreksi,” pungkas Kang Said.

Tulisan bertitel Pengantar Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi berikut, merupakan Kata Pengantar Prof. Dr. KH. Said Aqil Siraj, MA, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama/PB NU untuk buku karya Syaikh Idahram, Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi: Mereka Membunuh Semuanya, Termasuk Para Ulama. Diterbitkan oleh Pustaka Pesantren, Cetakan VIII: 2011.

Lantaran hanya merupakan pengantar, pembaca yang tertarik dan ingin membaca lebih lanjut kandungan isi buku Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabidimaksud, silakan mencarinya di toko-toko buku terdekat. Pendek kata dengan membaca buku tersebut, pembaca akan mengetahui dan memahami sejarah lahirnya sekte ekstrem dalam sejarah Islam.

——————————————

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin wa bihi nasta’in ‘ala umurid dunya wad-din….

Islam merupakan agama peradaban yang membawa rahmat bagi semesta alam, bukan agama teroris. Dengan misi inilah Allah mengutus Rasul-Nya, Muhammad SAW. Sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya, “Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam. “ (QS. Al-Anbiya’ [21]: 107).

Tiga hal penting yang seharusnya menjadi dasar penghayatan agama oleh setiap orang adalah : toleran, moderat, dan akomodatif. Bagi seorang muslim, keimanan yang hanya dibalut dengan simbol-simbol tidaklah cukup. Orang yang telah beriman harus disempurnakan dengan amal dan ibadah yang baik, serta perilaku yang terpuji (al-akhlaq al-karimah).

Berjenggot panjang, memakai sorban dan bercelana diatas tumit, itu bagus. Tapi hal-hal yang bersifat simbolik itu tidak cukup untuk dinilai bahwa dia telah mengamalkan ajaran Islam. Ulama terdahulu, seperti Imam Syafi’i, al-Ghazali, Ibnu Sina, dan sejumlah tokoh Islam terkemuka lainnya juga punya jenggot panjang dan memakai sorban. Namun, sekali lagi, Islam tidak cukup hanya dengan jenggot dan sorban saja. Sebab, ajaran Islam sangat luas dan tidak bisa diwakili hanya dengan simbol belaka.

Simbol adalah kulit yang siapapun bisa melakukannya, hingga orang jahat sekalipun bisa melakukan itu dengan mudahnya. Jangan sampai dengan simbol kita terpancing untuk menjustifikasi bahwa seseorang itu muslim puritan atau abangan. Sehingga kita terjebak kepada situasi memprihatinkan seperti sekarang ini, dimana Islam diopinikan sebagai agama teroris, atau teroris diidentikkan dengan Islam. Padahal Islam tidak mengajarkan terorisme dan perilaku ekstrem lainnya.

Sebaliknya, agama Islam adalah agama sempurna. Agama kebaikan bukan agama perusak. Demikianlah wasiat sakral yang maha penting dari pencipta alam dunia ini kepada Rasulullah SAW, dan seluruh umatnya, sebagaimana dinyatakan dalam Al-Qur’an, “ Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. “ (QS. Al-Qashash (28): 77).

Entitas kelompok-kelompok ekstrem bukan hanya ada di dalam perjalanan “ sejarah “ Islam, pun demikian dengan agama-agama lainnya, semisal Yahudi, Kristen, Shinto dan lainnya. Bahkan sejarah ekstremisme ada dalam semua agama. Doktrin metafora spasial yang beroposisi biner, seperti mukmin-kafir dalam Islam atau extra exclessia nullasalumdalam tradisi kristiani, merupakan potensi munculnya gejala ekstremisme agama. Padahal agama-agama itu mengajarkan kedamaian, tidak mengajarkan ekstremisme, khususnya Islam yang sangat menjunjung tinggi persaudaraan dan rahmat bagi seluruh umat.

Lahirnya sekte ekstrem dalam sejarah Islam yang mana itu sangat dicela oleh Nabi SAW, sudah ada sejak abad pertama Hijriyah. Kelompok ini mulai berani menunjukkan diri di hadapan Nabi SAW, pada bulan Syawal tahun 8 Hijriyah, saat Beliau SAW, baru saja memenangkan perang Thaif dan Hunain. Dalam perang ini ghanimah yang diperoleh melimpah. Dalam pembagian yang dilakukan di Ja’ranah, tempat miqat umrah, sahabat senior Nabi seperti, Abu Bakar, Usman, Umar, Ali, Sa’ad dan lainnya tidak mendapatkan bagian ghanimah. Tapi sahabat yang baru masuk Islam, mendapat ghanimah meski mereka sudah kaya seperti Abu Sufyan.

Tiba-tiba seseorang yang bernama Dzul Khuwaishirah dari keturunan Bani Tamim maju ke depan dengan sombongnya sambil berkata, “Berlaku adillah, hai Muhammad !“ Nabi SAW pun berkata, “Celakalah kamu, siapa yang akan berbuat adil jika aku saja tidak berbuat adil?“ Lantas Umar berkata, “Wahai Rasulullah, biarkan kupenggal saja lehernya.“ Nabi menjawab, “Biarkan saja!“ Ketika orang itu berlalu Nabi SAW, bersabda “Akan lahir dari keturunan orang ini kaum yang membaca Al-Qur’an, tetapi tidak sampai melewati batas tenggorokannya (tidak memahami substansi misi-misi Al-Qur’an dan hanya hafal di bibir saja). Mereka keluar dari agama Islam seperti anak panah tembus keluar dari (badan) binatang buruannya. Mereka memerangi orang Islam dan membiarkan para penyembah berhala, kalau aku menemui mereka niscaya akan kupenggal lehernya seperti halnya kaum ‘Ad.” (HR. Muslim pada kitab Az-zakah, bab al-Qismah). Dalam riwayat lain Beliau bersabda, “Mereka itu sejelek-jeleknya makhluk bahkan lebih jelek dari binatang. Mereka tidak termasuk dalam golonganku, dan aku tidak termasuk dalam golongan mereka.” (HR. Shahih Muslim).

Prediksi Nabi SAW, terbukti pada Ahad pagi, 17 Ramadhan 40 H. Pagi itu al-Khalifah ar-Rasyid ke-4, Ali bin Abi Thalib, dibunuh di Kufah, Irak. Pembunuhnya adalah Abdurrahman Ibnu Muljam. Sebenarnya yang akan dibunuh ada dua yakni, Gubernur Syam (Syria) Muawiyah bin Abu sufyan dan Gubernur Mesir Amr bin Ash. Yang akan melakukan eksekusi pembunuhan kedua pemimpin Islam ini masing-masing adalah, Abdullah bin Barak dan Bakr At-Tamimi.

Mereka membunuh Sayidina Ali, karena menganggapnya kafir. Dengan alasan, karena Ali bersedia menerima keputusan hasil perundingan tahun 37 H, antara utusan Khalifah Ali yang dipimpin Abu Musa al-Asy’ari dan utusan Muawiyah yang dipimpin Amr Bin Ash. Masing-masing utusan berjumlah 350 orang. Perjanjian ini dilakukan untuk menghentikan perang saudara dalam peperangan Shifin.

Padahal mereka melakukan pembunuhan adalah kelompok yang memaksa Ali r.a untuk menerima perdamaian (perundingan) ketika peperangan hampir saja dimenangkan oleh pasukan Ali. Ketika Amr bin Ash melakukan tipuan dengan mengangkat Mushaf Al-Qur’an sebagai tanda mengajak perdamaian, Ali r.a dan komandan pasukannya, Malik Ibnu Asytar, tidak mempercayainya. Tapi karena didesak oleh sekelompok orang, akhirnya Ali r.a pun menerima perdamaian itu. Namun anehnya, mereka yang sebelumnya mengintervensi Ali bin Abi Thalib untuk menerima perdamaian, akhirnya menganggap Ali kafir karena menerima hasil perundingan dan mereka pun akhirnya membunuh Ali r.a.

Mereka adalah kelompok yang tidak memahami Islam. Mereka rata-rata adalah qa’imu al-lail, shai’mu an-nahar, hafidzu al-qur’an. Mereka hafal Al-Qur’an, setiap malam shalat Tahajud, hampir tiap hari puasa sunnah, jidatnya hitam, dan lututnya kapalan untuk sujud. Gambaran ini diriwayatkan secara detail dalam syarah Shahih Muslim, termasuk sosok Dzul Khuwaisirah. Imam Nawawi menjelaskan, Dzul Khuwaisirah adalah sosok yang berjidat hitam, kepalanya botak tidak berambut, tinggi gamisnya setengah kaki dan jenggotnya panjang.

Ini adalah cikal bakal tumbuhnya kelompok ekstrem di dalam tubuh umat Islam. Dari kelompok yang membunuh Khalifah Ali inilah lahir kelompok yang disebut Khawarij. Kelompok ini memiliki prinsip, orang yang melakukan dosa besar satu kali dianggap kafir. Jadi, Ali, Muawiyah, Amr bin Ash, Aisyah, Thalhah, Zubair dan sahabat Nabi SAW lainnya yang terlibat perang saudara (Jamal dan Shifin) yang membunuh sesama muslim, dianggap kafir.

Kelompok ini berkembang menjadi oposisi pemerintah sepanjang masa. Kelompok ini juga memiliki militansi luar biasa dan cenderung nekat, karena 80 orang berani melawan penguasa Bani Umayyah. Akibatnya mereka pun tidak pernah menang, jika mati dalam peperangan mereka menganggap syahid. Kelompok ini pecah menjadi beberapa kelompok seperti Al-Azariqah, al-Ibadiyah, an-Najdat dan ash-Shufriyah. Yang paling ekstrem yakni al-Azariqah, mengatakan, pokoknya selain Khawarij adalah kafir.

Lalu, apa hubungannya dengan berdirinya dinasti Saud di Arab Saudi? Sampai akhir abad ke-17, Jazirah Arab masih terbagi empat wilayah, bagian utara berpusat di Syam (Syria), timur di Najd, barat di Hijaz, dan selatan di Yaman. Tapi diawal abad ke-18, Gubernur Najd, Muhammad Ibnu Saud, yang didukung seorang ulama bernama Muhammad bin Abdul Wahab memisahkan diri dari Khilafah Utsmani. Pertama kali muncul, gerakan ini langsung dihabisi oleh Khalifah Utsmani yang memerintahkan Gubernur Mesir, Raja Fuad, untuk memeranginya. Dalam pertempuran ini Muhammad Ibnu Saud bisa dikalahkan dan salah satu anaknya, Faisal terbunuh.

Akan tetapi, Abdul Aziz bin Abdurrahman bin Muhammad Saud, cucu Muhammad Saud, melarikan diri ke luar negeri untuk menghimpun kekuatan. Begitu ada kesempatan dengan dukungan pasukan yang sangat militan, Abdul Aziz menyerang Makkah. Begitu masuk Makkah, mereka langsung meratakan semua kuburan, termasuk kuburannya Siti Khadijah, Abdullah bin Zubaer, Asma binti Abu Bakar, kuburan para sahabat, dan semua kuburan ulama.

Situs-situs sejarah perkembangan Islam juga dibongkar; rumah paman Nabi SAW, dijadikan toilet, rumah Siti Khadijah difungsikan sebagai tempat pembuangan, rumah Sayyidina Ali dijadikan kandang keledai, rumah kelahiran Nabi SAW, dibongkar, Bab Bani Syaibah (tempat bersejarah untuk menentukan siapa yang berhak meletakkan Hajar Aswad) dihilangkan jejaknya, Baitul Arqam (tempat pengkaderan as-Sabiqin al-Awwalun) dibongkar, Daran-Nadwah diratakan, dan tempat mengajar Imam Syafi’I juga dibongkar.

Di antara kesimpulannya adalah, Salafi Wahabi bukanlah Khawarij. Karena Khawarij muncul pada tahun ke-37 Hijriyah diawal perkembangan Islam, sedangkan Salafi Wahabi baru hadir diabad ke-18 Masehi, atau 1200 tahun setelah masa Rasulullah SAW, yang ditandai dengan dakwah Syaik Muhammad Ibnu Abdul Wahab (w. 1206 H / 1792 M). Namun demikian, ada beberapa sisi kesamaan.

Saya sangat bergembira dengan adanya karya ilmiah dari Syaikh Idahram ini yang merupakan satu karya penting bagi masyarakat muslim Indonesia. Bisa dikatakan belum ditemukan karya setajam ini sebelumnya dalam mengkritisi Salafi Wahabi. Untuk itu, kehadiran buku ini perlu dibaca oleh segenap umat Islam, meskipun tentunya tidak lepas dari segala kekurangannya.

Wallahul-muwaffiq ila aqwamith-thariq.

Jakarta, 25 Mei 2010

Sumber Gambar: Dokumentasi PP Baitul Muslimin Indonesia.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s