IMAM GHAZALI MEMBONGKAR KEJAHATAN SYIAH ? menjawab suaraharamain313 dan sarkub.com

http://suaraharamain313.blogspot.com/2013/03/imam-ghazali-membongkar-kejahatan-syiah.html

mereka menulis sbb :

IMAM GHAZALI MEMBONGKAR KEJAHATAN SYIAH.

“Seseorang yang dengan terus terang mengkafirkan Abu Bakr dan Umar Radhiallah Anhuma, maka bererti dia telah menentang dan membinasakan Ijma kaum Muslimin. Padahal tentang diri mereka (para sahabat) ini terdapat ayat-ayat Al Quran yang Allah menjanjikan syurga kepada mereka dan pujian bagi mereka serta pengukuhan atas kebenaran kehidupan agama mereka, dan keteguhan aqidah mereka serta kelebihan mereka dari manusia-manusia lain”.- Imam Ghazali

“Bilamana riwayat yang begini banyak telah sampai kepadanya, namun dia tetap berkeyakinan bahwa para sahabat itu kafir, maka orang semacam ini adalah kafir. Kerana dia telah mendustakan Rasulullah Sallallahu ‘alaihi Wasallam. Sedangkan orang yang mendustakan satu kata saja dari ucapan baginda Rasul saw maka menurut Ijma’ kaum Muslimin, orang tersebut adalah kafir”.- Imam Ghazali

http://www.sarkub.com/2012/fatwa-para-imam-dan-ulama-tentang-syiah/

menulis sbb :

ABU HAMID AL GHOZALI Imam Ghozali berkata : “Seseorang yang dengan terus terang mengkafirkan Abu Bakar dan Umar Rodhialloh Anhuma, maka berarti ia telah menentang dan membinasakan Ijma kaum Muslimin. Padahal tentang diri mereka (para sahabat) ini terdapat ayat-ayat yang menjanjikan surga kepada mereka dan pujian bagi mereka serta pengukuhan atas kebenaran kehidupan agama mereka, dan keteguhan aqidah mereka serta kelebihan mereka dari manusia-manusia lain”

.

Kemudian kata beliau : “Bilamana riwayat yang begini banyak telah sampai kepadanya, namun ia tetap berkeyakinan bahwa para sahabat itu kafir, maka orang semacam ini adalah kafir. Karena dia telah mendustakan Rasulullah. Sedangkan orang yang mendustakan satu kata saja dari ucapan beliau, maka menurut Ijma’ kaum Muslimin, orang tersebut adalah kafir”. (Fadhoihul Batiniyyah, halaman 149).

Di dalam perkembangan ajaran-ajaran dan ilmu-ilmu Islam di Indonesia, tasawwuf Imam Ghazali dengan Ihya’-nya besar sekali peranannya. Madzhab Sunni yang masuk kemari sejak zaman kera jaan Islam Pasai ialah Madzhab Syafi i. Imam Ghazali adalah seo rang Ulama Muta-akhkhirin dalam madzhab itu..Kitab Ihya’ `Ulumiddin menjadi pegangan ula ma-ulama di tanah air kita   ( Indonesia, Malaysia dan Brunei )

“Ihya’ ‘Ulumiddin” adalah salah satu karya besar, yang diakui besar fikiran yang terkandung di dalamnya. Dr. Zwemmer, to koh sending Kristen yang terkenal, berpendapat bahwa sesudah Nabi Muhammad saw. adalah dua Pribadi yang amat besar jasanya menegakkan Islam, pertama Imam Bukhari karena pengumpulan Haditsnya, kedua Imam Ghazali karena “Ihya’-nya”.

Terdapat kontradiksi dan pertentangan antara pendapat-pendapat Al-Ghazali sendiri, di mana beliau menafikan suatu pendapat yang telah beliau benarkan pada tempat lain.

Ketika berbicara dengan Asy’ariyah tampaklah sebagai seorang Asy’ari tulen. Ketika berbicara tasawuf, dia menjadi sufi. Menunjukkan seringnya beliau berpindah-pindah dan tidak tetap dengan satu mazhab. Oleh karena itu Ibnu Rusyd mencelanya dengan mengatakan, “Beliau tidak berpegang teguh dengan satu mazhab saja dalam buku-bukunya. Akan tetapi beliau menjadi Asy’ari bersama Asy’ariyah, sufi bersama sufiyah dan filosof bersama filsafat.” (Lihat Mukadimah kitab Bughyatul Murtad hal. 110).

Beliau mengingkari filsafat dalam kitab Tahafut, tetapi beliau sendiri menekuni filsafat .. Beliau mengkritik kebanyakan tingkah laku ulama kalam, yang menurut beliau hati mereka menjadi kesat dan jauh dari ajaran agama yang mereka perjuangkan sendiri. Al-Ghazali telah mengambil jalan tasawuf

Fenomena ini menyebabkan beliau dianggap mempunyai dua madzhab. Pertama madzhab untuk orang awam, sebagaimana yang tersebut dalam kitab Tahafut al-Falasifah. Kedua madzhab khusus untuk para ahli filsafat saja, seperti yang terdapat dalam buku beliau Ma’arij al-Quds.

Mayoritas   ulama  sunni  pesantren karena cintanya yang mendalam kepada ajaran dan kebiasaan Al Ghazali, serta ajaran-ajaran sufi. Kemudian mereka pun menulis karangan yang berisi tentang kefanatikan mereka terhadap Abu Hamid (Al Ghazali) Imam  mereka. Lalu dimanakah tanggung jawab Al Ghazali atas para pengikutnya ini dan atas kesesatan ajarannya terhadap agama ini?

Kemunculan Imam Al-Ghazali dalam pertarungan pemikiran di dunia Islam boleh dikatakan kontroversial, di mana tak kurang pula yang mengkritik dan mengecamnya… Tidak sedikit pula pengkritik dan pengecamnya dari dulu hingga sekarang.

Abul Faraj Ibnul Jauzi begitu juga dengan Ibnu Ash Shalah dua ulama sunni telah berulangkali mencela Al Ghazali, bahkan Al Maazari ingin membakar kitab Ihya Ulumuddin tersebut. Begitu juga dengan yang lainnya yang tinggal di belahan bumi bagian barat.

Akidah dan Madzhab  Al Ghazali

al-Ghazali sekalipun tetap mengacu kepada salah satu mazhab yang ada, yaitu mazhab As-Syafi’iyah. Beliau tetap bermazhab meski dianggap  sunni  sudah pandai mengistimbath hukum sendiri.

Dalam masalah fikih, beliau seorang yang bermazhab Syafi’i. Nampak dari karyanya Al Wasith, Al Basith dan Al Wajiz. Bahkan kitab beliau Al Wajiz termasuk buku induk dalam mazhab Syafi’i. Mendapat perhatian khusus dari para ulama Syafi’iyah. Imam Adz Dzahabi menjelaskan mazhab fikih beliau dengan pernyataannya, “Syaikh Imam, Hujjatul Islam, A’jubatuz zaman, Zainuddin Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Ath Thusi Asy Syafi’i.”

.

Sedangkan dalam sisi akidah, beliau sudah terkenal dan masyhur sebagai seorang yang bermazhab Asy’ariyah. Banyak membela Asy’ariyah dalam membantah Bathiniyah, para filosof serta kelompok yang menyelisihi mazhabnya. Bahkan termasuk salah satu pilar dalam mazhab tersebut. Oleh karena itu beliau menamakan kitab aqidahnya yang terkenal dengan judul Al Iqtishad Fil I’tiqad. Tetapi karya beliau dalam aqidah dan cara pengambilan dalilnya, hanyalah merupakan ringkasan dari karya tokoh ulama Asy’ariyah sebelum beliau (pendahulunya). Tidak memberikan sesuatu yang baru dalam mazhab Asy’ariyah. Beliau hanya memaparkan dalam bentuk baru dan cara yang cukup mudah. Keterkenalan Imam Ghazali sebagai tokoh Asy’ariyah juga dibarengi dengan kesufiannya. Beliau menjadi patokan marhalah yang sangat penting menyatunya Sufiyah ke dalam Asy’ariyah

.

Ghazali dipercayai telah menulis sebanyak 400 buah kitab , namun hanya 70 sahaja yang masih ada sampai masa ini. Salah satu karyanya yang hilang itu ialah sebuah tafsir al-Quran 40 jilid dan hanya kitab Jawahir al-Quran yang sampai kepada kita hari ini.

.

Adapun orang yang menelaah kitab dan karya beliau seperti Misykatul Anwar, Al Ma’arif Aqliyah, Mizanul Amal, Ma’arijul Quds, Raudhatuthalibin, Al Maqshad Al Asna, Jawahirul Qur’an dan Al Madmun Bihi Ala Ghairi Ahlihi, akan mengetahui bahwa tasawuf beliau berbeda dengan tasawuf orang sebelumnya. Syaikh Dr. Abdurrahman bin Shalih Ali Mahmud menjelaskan tasawuf Al Ghazali dengan menyatakan, bahwa kunci mengenal kepribadian Al Ghazali ada dua perkara:

.

Pertama, pendapat beliau, bahwa setiap orang memiliki tiga aqidah. Yang pertama, ditampakkan di hadapan orang awam dan yang difanatikinya. Kedua, beredar dalam ta’lim dan ceramah. Ketiga, sesuatu yang dii’tiqadi seseorang dalam dirinya. Tidak ada yang mengetahui kecuali teman yang setara pengetahuannya. Bila demikian, Al Ghazali menyembunyikan sisi khusus dan rahasia dalam aqidahnya.

Kedua, mengumpulkan pendapat dan uraian singkat beliau yang selalu mengisyaratkan kerahasian akidahnya. Kemudian membandingkannya dengan pendapat para filosof saat beliau belum cenderung kepada filsafat Isyraqi dan tasawuf, seperti Ibnu Sina dan yang lainnya. (Mauqif Ibnu Taimiyah Minal Asyariyah 2/628).

.

Beliau (Syeikh Dr. Abdurrahman bin Shalih Ali Mahmud) menyimpulkan hasil penelitian dan pendapat para peneliti pemikiran Al Ghazali, bahwa tasawuf Al Ghazali dilandasi filsafat Isyraqi (Madzhab Isyraqi dalam filsafat ialah mazhab yang menyatukan pemikiran dan ajaran dalam agama-agama kuno, Yunani dan Parsi. Termasuk bagian dari filsafat Yunani dan Neo-Platoisme. Lihat Al Mausu’ah Al Muyassarah Fi Al Adyan Wal Madzahibi Wal Ahzab Al Mu’ashirah, karya Dr. Mani’ bin Hamad Al Juhani 2/928-929)

.

Sebenarnya inilah yang dikembangkan beliau akibat pengaruh karya-karya Ibnu Sina dan Ikhwanush Shafa. Demikian juga dijelaskan pentahqiq kitab Bughyatul Murtad dalam mukadimahnya. Setelah menyimpulkan bantahan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah terhadap beliau dengan mengatakan, “Bantahan Ibnu Taimiyah terhadap Al Ghazali didasarkan kejelasannya mengikuti filsafat dan terpengaruh dengan sekte Bathiniyah dalam menta’wil nash-nash, walaupun beliau membantah habis-habisan mereka, seperti dalam kitab Al Mustadzhiri. Ketika tujuan kitab ini (Bughyatul Murtad, pen) adalah untuk membantah orang yang berusaha menyatukan agama dan filsafat, maka Syaikhul Islam menjelaskan bentuk usaha tersebut pada Al Ghazali. Yang berusaha menafsirkan nash-nash dengan tafsir filsafat Isyraqi yang didasarkan atas ta’wil batin terhadap nash, sesuai dengan pokok-pokok ajaran ahli Isyraq (pengikut filsafat neo-platonisme).” (Lihat Mukadimah kitab Bughyatul Murtad hal. 111).

Abu Hamid condong kepada filsafat. Menampakkannya dalam bentuk tasawuf dan dengan ibarat Islami (ungkapan syar’i). Oleh karena itu para ulama sunni  ada  yang  membantahnya.

Beliau mengingkari filsafat dalam kitab Tahafut, tetapi beliau sendiri menekuni filsafat .. Beliau mengkritik kebanyakan tingkah laku ulama kalam, yang menurut beliau hati mereka menjadi kesat dan jauh dari ajaran agama yang mereka perjuangkan sendiri. Al-Ghazali telah mengambil jalan tasawuf

Demikian juga kitab-kitab karangan Ghazali terutama Ihya’ ‘Ulumiddin ini. Kadang-kadang beliau, lantaran asyiknya memperi ngatkan kesucian hidup, telah jatuh kepada bersangatan mencela dunia. Orang yang terpengaruh oleh ajaran Ghazali tentang cacat dunia, maulah rasanya mengutuk sama sekali dunia itu. Mengutuk dunia bisa menyebabkan dunia itu lepas dari tangan kita, hingga dipungut oleh orang lain, sehingga negara-negara Islam terjajah.

Kadang-kadang beliau menganjurkan hidup membujang, tak usah beristeri. Supaya beban hidup dalam munajat kepada Tuhan menjadi ringan, padahal ajaran asli Islam tidak mengajarkan demikian.

.

Di antara perkara yang menjadi sasaran tudingan Syiah semenjak dahulu hingga kini (sebagaimana yang diklaim oleh musuh-musuh Syiah) adalah bahwa Syiah memendam dendam dan kusumat kepada sahabat. Tatkala kita mengkaji tudingan secara realistis dan jauh dari segala sikap puritan maka kita akan jumpai tudingan ini sama sekali jauh dari kenyataan yang ada. Lantaran Syiah sangat menghormati Rasulullah Saw dan para sahabatnya. Bagaimana mungkin Syiah memendam kusumat kepada sahabat sementara mereka memandang sahabat sebagai penyebar syariat dan cahaya Tuhan untuk kemanusiaan? Mereka adalah sandaran dan pembela Rasulullah Saw. Orang-orang yang berjihad di jalan Allah!

.

Bagaimana mungkin Syiah membenci mereka sementara Allah Swt memuji mereka dan berfirman tentang mereka, Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang terhadap sesama mereka. Kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya. Tanda-tanda mereka tampak pada wajah mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, dan tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar. (Qs. Al-Fath [48]:29)

Mereka adalah orang-orang yang menolong Allah dan Rasul-Nya. Menghidupkan agama-Nya dan membangun dasar pemerintahan Islam serta mengeliminir jahiliyyah.[1]

.

Imam dan pemimpin kaum Syiah, Baginda Ali bersabda ihwal para sahabat Rasulullah Saw: “Aku telah melihat para sahabat Muhammad Saw, tetapi aku tak menemukan seseorang yang menyerupai mereka. Mereka mengawali hari dengan debu di rambut dan wajah (dalam kesukaran hidup) serta melewatkan malam dalam sujud dan berdiri dalam salat. Kadang-kadang mereka letakkan (sujudkan) dahi mereka, dan terkadang pipi mereka. Dengan ingatan akan kebangkitan, mereka nampak seakan berdiri di atas bara menyala. Nampak seakan di antara mata mereka ada tanda-tanda seperti lutut kambing, akibat sujud yang lama. Bilamana nama Allah disebutkan, air mata mereka mengalir deras hingga kerah baju mereka basah. Mereka gemetar karena takut akan hukuman dan harapan akan pahala, seperti pohon gemetar pada hari angin topan.”[2]

.

Demikian juga, Baginda Ali As menandaskan, “Saudara-saudaraku yang mengambil jalan (yang benar) dan melangkah dalam kebenaran? Di manakah ‘Ammar? Di manakah Ibn  at-Tayyihan? Di mana Dzusy-Syahadatain? Dan di manakah yang lain-lain seperti mereka di antara para sahabat tnereka yang telah membaiat sampai mati dan yang kepalanya (yang tertebas) dibawa kepada musuh yang keji? Kemudian Amirul Mukminin menggosokkan tangannya ke janggutnya yang mulia lalu menangis dalam waktu lama, kemudian ia melanjutkan: Wahai! saudara-saudaraku yang membaca Al-Qur’an dan mengeluarkan hukum berdasarkan al-Qur’an, memikirkan kewajiban-kewajiban yang ditetapkan Tuhan kepada mereka dan menunaikannya, menghidupkan sunah dan menghancurkan bidah. Ketika mereka dipanggil untuk berjihad, mereka menyambut dan mempercayai pemimpin mereka lalu mengikutinya.”[3]

.

Imam Sajjad As juga dalam Shahifah Sajjadiyah mendoakan para sahabat Rasulullah Saw, “Ya Allah! di antara penghuni bumi para pengikut rasul dan yang membenarkan mereka secara gaib ketika para pembangkang melawan mereka dengan pembohongan mereka merindukan para rasul dengan hakikat keimanan (tatkala orang-orang mendustakan dan menentangnya). Pada setiap zaman dan masa ketika Engkau mengutus seorang rasul memberikan petunjuk dan jalan kepada manusia sejak Adam sampai Muhammad Saw para imam pembawa petunjuk pemimpin ahli takwa sampaikan shalawat kepada mereka semua. Kenanglah mereka dengan ampunan dan keridhaan! Ya Allah! Khususnya para sahabat Muhammad yang menyertai Nabi dengan persahabatan sejati yang menanggung bala yang baik dalam membelanya menjawab seruannya ketika ia memperdengarkan hujjah risalahnya. Meninggalkan istri dan anak-anak untuk menegakkan kalimahnya. Memerangi bapak-bapak dan anak-anak untuk meneguhkan nubuwahnya dan memperoleh kemenangan karenanya. Mereka yang dipenuhi kecintaan kepadanya mengharapkan perdagangan yang tidak pernah merugi dalam mencintainya. Mereka yang ditinggalkan keluarga karena berpegang kepada talinya. Mereka yang diusir oleh kerabatnya ketika berlindung dalam naungan kekeluargaannya. Ya Allah! Jangan lupakan mereka apa yang telah mereka tinggalkan karena-Mu dan di jalan-Mu. Ridhoilah mereka dengan ridho-Mu. Karena telah mendorong manusia menuju kepada-Mu dan bersama rasul-Mu mereka menjadi para dai yang menyeru kepada-Mu. Balaslah dengan kebaikan pelarian mereka dan kepergian mereka dari kaumnya menuju-Mu. Meninggalkan kesenangan menuju kesempitan. Balaslah dengan kebaikan kepada mereka yang teraniaya karena menegakkan agama-Mu. Ya Allah! Sampaikan pahala terbaik kepada para pengikut mereka dalam kebaikan yang berkata, “Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang mendahului kami dalam iman.” [4]

.

Para Imam Maksum juga menyampaikan puji-pujian terhadap sahabat. Misalnya, Baginda Ali As bersabda, “Aku telah melihat para sahabat Muhammad Saw, tetapi aku tak menemukan seseorang yang menyerupai mereka. Mereka mengawali hari dengan debu di rambut dan wajah (dalam kesukaran hidup) serta melewatkan malam dalam sujud dan berdiri dalam salat. Kadang-kadang mereka letakkan (sujudkan) dahi mereka, dan terkadang pipi mereka. Dengan ingatan akan kebangkitan, mereka nampak seakan berdiri di atas bara menyala. Nampak seakan di antara mata mereka ada tanda-tanda seperti lutut kambing, akibat sujud yang lama. Bilamana nama Allah disebutkan, air mata mereka mengalir deras hingga kerah baju mereka basah. Mereka gemetar karena takut akan hukuman dan harapan akan pahala, seperti pohon gemetar pada hari angin topan.”

Imam Sajjad As juga banyak berdoa untuk mereka. Pendeknya keyakinan mazhab Ahlulbait adalah bahwa kondisi sahabat dari sisi keadilan mereka sebagaimana yang lain. Di antara para sahabat terdapat orang-orang yang adil dan tidak adil. Tidaklah demikian bahwa barang siapa yang menyertai nabi selama beberapa hari maka untuk selamanya ia akan adil! Sejatinya penyertaan, sepanjang perilaku dan tradisi Rasulullah Saw tidak menjelma dalam sikap dan perilakunya maka hal itu tidak memberikan pengaruh pada keadilan mereka. Karena itu, kriteria adalah perilaku dan sikap praktisnya. Siapa pun yang sejalan dengan pakem-pakem Islam maka ia adil dan barang siapa yang tidak sejalan dengannya maka ia bukan adil.

Demikian juga para juris Syiah meyakini kedudukan dan derajat para sahabat. Syahid Shadr berkata, “Sahabat adalah manifestasi iman dan penerang, terbaik dan model orang shaleh terbaik bagi kemajuan umat Islam. Sejarah umat manusia tidak akan mengenang sebuah generasi dengan keyakinan lebih unggul, lebih utama, lebih jenius, lebih suci daripada para penolong yang dididik oleh nabi.”[5]

 

Imam Al Ghazali  Menyeret  Islam Sunni  Masuk Ke Mega Alam Tasawuf  dan  Menghancurkan  Pemikiran Rasional sehingga  Abad 13 Sampai  Abad  19  menjadi  Abad Kegelapan ( Dark Age )

Al-Ghazali membagi ilmu menjadi dua bagian:
a. Ilmu zhahir: ilmu muamalah.
b. Ilmu batin: ilmu kasyaf.
Keyakinan bahwa ilmu kasyaf merupa-kan puncak ilmu merupakan hal yg umum di kalangan para Shufi! Kasyaf menurut keyakinan Shufi adl tersingkap hijab di hadapan para wali Shufi sehingga dia bisa melihat dan mengetahui sesuatu yg ghaib tanpa melalui indera perasa. Namun ilmu kasyaf adl ilmu yg terilhamkan dlm hati.

Pada tahun 1924 Zaki Mubarak di Mesir mencapai gelar Doktornya karena kritiknya yang bernama “Akhlaq menurut Ghazali” yang sebagai seorang sarjana yang masih muda dia menghantam ajaran Ghazali sebagai suatu ajaran yang menyebabkan jiwa melempem.. Setelah dia berusia lebih 40 tahun dikeluarkan nya pula promosinya untuk gelar doktor yang ketiga-kalinya berna ma “Tasawwuf Islam”, yang kalau dibaca, juga pukulannya kepada Ghazali khasnya dan Tasawwuf ‘amnya,. Di tahun 1947 Dr. Sulaiman Dunia Maha Guru Filsafat dan ‘ilmu Kalam di Al-Azhar University mengeluarkan lagi study nya “Hakikat menurut pandangan Ghazali “. Ditahun terakhir sam pai tahun 1963 masih tetap ada sarjana Islam yang meninjaunya kembali.

Demikian lah kitab-kitab karangan Ghazali terutama Ihya’ ‘Ulu middin ini. Kadang-kadang beliau, lantaran asyiknya memperi ngatkan kesucian hidup, telah jatuh kepada bersangatan mencela dunia. Orang yang terpengaruh oleh ajaran Ghazali tentang cacat dunia, maulah rasanya mengutuk sama sekali dunia itu. Mengutuk dunia bisa menyebabkan dunia itu lepas dari tangan kita, hingga dipungut oleh orang lain, sehingga negara-negara Islam terjajah.

Kadang-kadang beliau menganjurkan hidup membujang, tak usah beristeri. Supaya beban hidup dalam munajat kepada Tuhan menjadi ringan, padahal ajaran asli Islam tidak mengajarkan demikian.

Mayoritas   ulama  sunni  pesantren karena cintanya yang mendalam kepada ajaran dan kebiasaan Al Ghazali, serta ajaran-ajaran sufi. Kemudian mereka pun menulis karangan yang berisi tentang kefanatikan mereka terhadap Abu Hamid (Al Ghazali) Imam  mereka. Lalu dimanakah tanggung jawab Al Ghazali atas para pengikutnya ini dan atas kesesatan ajarannya terhadap agama ini?

Kemunculan Imam Al-Ghazali dalam pertarungan pemikiran di dunia Islam boleh dikatakan kontroversial, di mana tak kurang pula yang mengkritik dan mengecamnya… Tidak sedikit pula pengkritik dan pengecamnya dari dulu hingga sekarang.

Abul Faraj Ibnul Jauzi begitu juga dengan Ibnu Ash Shalah dua ulama sunni telah berulangkali mencela Al Ghazali, bahkan Al Maazari ingin membakar kitab Ihya Ulumuddin tersebut. Begitu juga dengan yang lainnya yang tinggal di belahan bumi bagian barat.

Akidah dan Madzhab  Al Ghazali

al-Ghazali sekalipun tetap mengacu kepada salah satu mazhab yang ada, yaitu mazhab As-Syafi’iyah. Beliau tetap bermazhab meski dianggap  sunni  sudah pandai mengistimbath hukum sendiri.

Dalam masalah fikih, beliau seorang yang bermazhab Syafi’i. Nampak dari karyanya Al Wasith, Al Basith dan Al Wajiz. Bahkan kitab beliau Al Wajiz termasuk buku induk dalam mazhab Syafi’i. Mendapat perhatian khusus dari para ulama Syafi’iyah. Imam Adz Dzahabi menjelaskan mazhab fikih beliau dengan pernyataannya, “Syaikh Imam, Hujjatul Islam, A’jubatuz zaman, Zainuddin Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Ath Thusi Asy Syafi’i.”

Sedangkan dalam sisi akidah, beliau sudah terkenal dan masyhur sebagai seorang yang bermazhab Asy’ariyah. Banyak membela Asy’ariyah dalam membantah Bathiniyah, para filosof serta kelompok yang menyelisihi mazhabnya. Bahkan termasuk salah satu pilar dalam mazhab tersebut. Oleh karena itu beliau menamakan kitab aqidahnya yang terkenal dengan judul Al Iqtishad Fil I’tiqad. Tetapi karya beliau dalam aqidah dan cara pengambilan dalilnya, hanyalah merupakan ringkasan dari karya tokoh ulama Asy’ariyah sebelum beliau (pendahulunya). Tidak memberikan sesuatu yang baru dalam mazhab Asy’ariyah. Beliau hanya memaparkan dalam bentuk baru dan cara yang cukup mudah. Keterkenalan Imam Ghazali sebagai tokoh Asy’ariyah juga dibarengi dengan kesufiannya. Beliau menjadi patokan marhalah yang sangat penting menyatunya Sufiyah ke dalam Asy’ariyah.

Ghazali dipercayai telah menulis sebanyak 400 buah kitab , namun hanya 70 sahaja yang masih ada sampai masa ini. Salah satu karyanya yang hilang itu ialah sebuah tafsir al-Quran 40 jilid dan hanya kitab Jawahir al-Quran yang sampai kepada kita hari ini.

Kelemahan Al-Ghazali dalam bidang TASAWUF :

Al-Ghazali ia menekuni (aliran) sufi dan dia berpendapat bahwa keadaan orang-orang sufl itu adalah sebagai tujuan, ia  telah melakukan kesalahan besar terhadap perjalanan sejarah Islam karena dalam memberikan solusi terhadap problematika umat, lebih cenderung mengajak mereka untuk memasuki jalan tasawuf yang mengabaikan kehidupan dunia dan menghambat kemajuan masyarakat karena tenggelam dalam mencari kebahagiaan yang bersifat pribadi dan individualistis.

Allah lebih mengetahui tentang rahasia-Nya. Perintah penguasa berlaku bagi kami di Maroko dan para fuqaha (ahli fiqih) telah ber-fatwa agar membakar kitab tersebut dan menjauhinya, maka (perintah) itupun ditaati. (Siyar A’lamin Nubala XIX/327)

Syaikh Abu Haamid (Al Ghazali) memiliki karangan-karangan yang berlebihan dalam membahas tarekat sufinya dan memuat berita-berita yang keji yang tiada bandingnya dalam rangka membela mazhabnya. Sehingga ia menjadi seorang penyeru kepada jalan tersebut. Beliau telah menyusun karangan yang terkenal sehingga ia harus (menerima celaan) karena beberapa perkara yang ada pada tulisannya itu

Abu Hamid Al Ghazali datang (kepada suatu kaum), kemudian menulis Kitab Al-Ihya bagi mereka berdasarkan metode kaum sufi dan memenuhiniya dengan hadits-hadits yang batil yang ia tidak mengetahui kebatilannya. la juga berbicara tentang ilmu mukasyafah yang telah keluar dari pemahaman yang benar. Dan ia (Al Ghazali) berkata, “Sesungguhnya maksud dari bintang matahari dan bulan yang dilihat oleh Nabi Ibrahim shalawatullah ‘alaihi adalah cahaya-cahaya yang merupakan hijab (tabir) Allah Azza wa Jalla dan bukannya (hakiki) seperti apa yang kita telah ketahui dan ini termasuk dalam bentuk ucapan para pengikut aliran Bathiniyyah.”

Ketahuilah bahwasanya dalam kitab Al Ihya ini terdapat kerusakan-kerusakan yang hanya dapat diketahui oleh para ulama syi’ah. Yang terkecil dari kerusakan tersebut adalah terdapatnya hadits-hadits yang batil, maudlu’ dan mauquf kemudian ia menjadikannya marfu’. Dan ia hanya menukil sebagaimana yang telah ia terima, bukan karena ia (sengaja) berdusta dengannya. Tidak sepantasnya seseorang beribadah dengan hadits maudlu’ (palsu) dan tertipu dengan lafazh yang dibuat-buat.

Bagaimanakah saya bisa ridla terhadapmu yang shalat sepanjang siang dan malam padahal tidak ada satu kata pun dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menerangkan tentang hal itu? Bagaimanakah saya membiarkan telingamu mendengar ucapan orang-orang sufi yang dikumpulkan dan dianjurkan (oleh Al Ghazali) untuk diamalkan sesuatu yang tidak ada manfaatnya, baik berupa perkataan-perkataan mereka tentang kebinasaan, kekekalan, perintah untuk berlapar-lapar, keluar untuk mengembara tanpa keperluan dan masuk ke padang luas tanpa membawa bekal ?

Dia menyangka bahwasanya hal itu termasuk dalam ilmu  yang dapat mengantarkan manusia kepada ilmu mukasyafah (penyingkapan) yang diyakini dapat menyingkap rahasia ketuhanan (rububiyyah) serta membuka semua tabir yang menutupinya. Tidak ada yang dapat menyingkapkan hal tersebut, kecuali orang yang mau ikut tersesat dalam jalan yang ia tentukan dan mengikuti apa yang ia perintahkan. (Siyar A’lamin Nubalaa’ (XIX/332)

dia menyimpang dari jalannya para ulama. Masuk ke dalam debu para ‘ubbad (ahli ibadah) kemudian bertasawwuf. Dia menjauhi ilmu dan para ahlinya, masuk ke ilmu perasaan, dan was‑was setan mengalir dengan cepat. Dia mencela para fuqaha dengan madzhab‑madzhab filsafat dan menjauhi para fuqaha dan mutakallimin.

Ketika dia menulis kitab Ihya’-nya, dia bersandar dan berbicara tentang ilmu‑ilmu ahwal dan rumus‑rumus sufi. Padahal dia juga tidak mengerti tentang itu. Akibatnya, dia tersungkur. Maka dia tidak mendapat tempat di kalangan para ulama kaum Muslimin dan orang‑orang zuhud. Dia pun memenuhi kitabnya dengan kedustaan yang diatasnamakan Rasulullah. Saya tidak mengetahui sebuah kitab pun di dunia ini yang paling banyak berdusta atas nama Nabi kecuali kitab tersebut.

Kemudian dia membawakan ucapan yang mengguncangkan dan mengagetkan, mengharap dan merindukan, hingga bila jiwa-jiwa telah dihiasi dengan itu, ia akan berkata :” ilmu mukasyafah.” Hal itu tidak boleh ditulis dalam buku. Dia menambahkan : “Ini termasuk rahasia hati dan dilarang untuk disebarkan.”

Inilah rekayasa orang‑orang bathiniyah dan para penipu dalam agama, menganggap remeh dengan yang ada, dan menyebut jiwa dengan yang kosong (tidak ada). Inilah godaan kepada keyakinan jiwa atau hati yang menghina.. Jika orang ini (Al Ghazali) meyakini apa yang ia tulis, tidak menutup kemungkinan alangkah hebat kemungkinan untuk dinyatakan sesat.

Adapun tentang pembakaran buku ini (Al Ihya’) yang zaman dulu pernah dilakukan, demi jiwaku, bila dia menyebar di kalangan orang-orang yang tidak mempunyai ilmu, dengan racunnya yang membunuh, dikhawatirkan orang yang membaca akan meyakini bahwa hal itu adalah kebenaran. Membakar kitab itu sama dengan membakar mushaf yang dibakar oleh para shahabat dengan tujuan agar tidak menyelisihi mushaf Utsmani … .

Bahkan menurut  saya, karya Abu Hamid Al Ghazali ini tak pantas disebut Ihya’ Ulumuddin (menghidupkan ilmu-ilmu agama), tetapi lebih pantas disebut dengan Imatatu Ulumuddin (mematikan ilmu‑ilmu agama).

Adapun orang yang menelaah kitab dan karya beliau seperti Misykatul Anwar, Al Ma’arif Aqliyah, Mizanul Amal, Ma’arijul Quds, Raudhatuthalibin, Al Maqshad Al Asna, Jawahirul Qur’an dan Al Madmun Bihi Ala Ghairi Ahlihi, akan mengetahui bahwa tasawuf beliau berbeda dengan tasawuf orang sebelumnya. Syaikh Dr. Abdurrahman bin Shalih Ali Mahmud menjelaskan tasawuf Al Ghazali dengan menyatakan, bahwa kunci mengenal kepribadian Al Ghazali ada dua perkara:

Pertama, pendapat beliau, bahwa setiap orang memiliki tiga aqidah. Yang pertama, ditampakkan di hadapan orang awam dan yang difanatikinya. Kedua, beredar dalam ta’lim dan ceramah. Ketiga, sesuatu yang dii’tiqadi seseorang dalam dirinya. Tidak ada yang mengetahui kecuali teman yang setara pengetahuannya. Bila demikian, Al Ghazali menyembunyikan sisi khusus dan rahasia dalam aqidahnya.

Kedua, mengumpulkan pendapat dan uraian singkat beliau yang selalu mengisyaratkan kerahasian akidahnya. Kemudian membandingkannya dengan pendapat para filosof saat beliau belum cenderung kepada filsafat Isyraqi dan tasawuf, seperti Ibnu Sina dan yang lainnya. (Mauqif Ibnu Taimiyah Minal Asyariyah 2/628).

Beliau (Syeikh Dr. Abdurrahman bin Shalih Ali Mahmud) menyimpulkan hasil penelitian dan pendapat para peneliti pemikiran Al Ghazali, bahwa tasawuf Al Ghazali dilandasi filsafat Isyraqi (Madzhab Isyraqi dalam filsafat ialah mazhab yang menyatukan pemikiran dan ajaran dalam agama-agama kuno, Yunani dan Parsi. Termasuk bagian dari filsafat Yunani dan Neo-Platoisme. Lihat Al Mausu’ah Al Muyassarah Fi Al Adyan Wal Madzahibi Wal Ahzab Al Mu’ashirah, karya Dr. Mani’ bin Hamad Al Juhani 2/928-929). Sebenarnya inilah yang dikembangkan beliau akibat pengaruh karya-karya Ibnu Sina dan Ikhwanush Shafa. Demikian juga dijelaskan pentahqiq kitab Bughyatul Murtad dalam mukadimahnya. Setelah menyimpulkan bantahan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah terhadap beliau dengan mengatakan, “Bantahan Ibnu Taimiyah terhadap Al Ghazali didasarkan kejelasannya mengikuti filsafat dan terpengaruh dengan sekte Bathiniyah dalam menta’wil nash-nash, walaupun beliau membantah habis-habisan mereka, seperti dalam kitab Al Mustadzhiri. Ketika tujuan kitab ini (Bughyatul Murtad, pen) adalah untuk membantah orang yang berusaha menyatukan agama dan filsafat, maka Syaikhul Islam menjelaskan bentuk usaha tersebut pada Al Ghazali. Yang berusaha menafsirkan nash-nash dengan tafsir filsafat Isyraqi yang didasarkan atas ta’wil batin terhadap nash, sesuai dengan pokok-pokok ajaran ahli Isyraq (pengikut filsafat neo-platonisme).” (Lihat Mukadimah kitab Bughyatul Murtad hal. 111).

Abu Hamid condong kepada filsafat. Menampakkannya dalam bentuk tasawuf dan dengan ibarat Islami (ungkapan syar’i). Oleh karena itu para ulama sunni  ada  yang  membantahnya.

Beliau mengingkari filsafat dalam kitab Tahafut, tetapi beliau sendiri menekuni filsafat .. Beliau mengkritik kebanyakan tingkah laku ulama kalam, yang menurut beliau hati mereka menjadi kesat dan jauh dari ajaran agama yang mereka perjuangkan sendiri. Al-Ghazali telah mengambil jalan tasawuf

Di dalam perkembangan ajaran-ajaran dan ilmu-ilmu Islam di Indo nesia, tasawwuf Imam Ghazali dengan Ihya’-nya besar sekali peranannya. Madzhab Sunni yang masuk kemari sejak zaman kera jaan Islam Pasai ialah Madzhab Syafi i. Imam Ghazali adalah seo rang Ulama Muta-akhkhirin dalam madzhab itu..Kitab Ihya’ `Ulumiddin menjadi pegangan ula ma-ulama di tanah air kita   ( Indonesia, Malaysia dan Brunei )

“Ihya’ ‘Ulumiddin” adalah salah satu karya besar, yang diakui besar fikiran yang terkandung di dalamnya. Dr. Zwemmer, to koh sending Kristen yang terkenal, berpendapat bahwa sesudah Nabi Muhammad saw. adalah dua Pribadi yang amat besar jasanya menegakkan Islam, pertama Imam Bukhari karena pengumpulan Haditsnya, kedua Imam Ghazali karena “Ihya’-nya”.

Sains di dunia Islam

Awal kemunculan dan perkembangan sains di dunia Islam tidak dapat dipisahkan dari sejarah ekspansi Islam itu sendiri. Dalam tempo sekitar 25 tahun setelah wafatnya Nabi Muhammad saw (632 M), kaum Muslim telah menaklukkan seluruh jazirah Arab. Ekspansi dakwah yang diistilahkan ‘pembukaan negeri-negeri’ itu berlangsung pesat.

Pelebaran sayap dakwah Islam ini tentu bukan tanpa konsekuensi. Seiring dengan terjadinya konversi massal dari agama asal atau kepercayaan lokal ke dalam Islam, terjadi pula penyerapan terhadap tradisi budaya dan peradaban setempat. Proses interaksi yang berlangsung alami namun intensif ini tidak lain adalah gerakan islamisasi. Unsur-unsur dan nilai-nilai masyarakat lokal ditampung, ditampih, dan disaring dulu sebelum kemudian diserap. Dalam proses interaksi tersebut, kaum Muslim pun terdorong untuk mempelajari dan memahami tradisi intelektual negeri-negeri yang ditaklukkannya.

Melihat prestasi gemilang itu, wajarlah jika kemudian muncul pertanyaan bagaimana semua itu dapat terjadi? Jika dikaji dan ditelusuri dengan teliti, faktor-faktor yang telah memungkinkan dan mendorong kemajuan sains di dunia Islam saat itu ada lima. Pertama, berkat kesungguhan dalam mengimani mempraktikkan ajaran Islam sebagaimana tertuang dalam Alquran dan Sunah itu lahirlah individu-individu unggul. Kedua, adanya motivasi agama. Ketiga adalah faktor sosial politik. Keempat adalah faktor ekonomi. Faktor keempat, yang tak kalah pentingnya adalah dukungan dan perlindungan penguasa saat itu.

Pemicu Kemunduran

Lantas mengapa perjalanan sains di dunia Islam seolah-olah mendadak berhenti?
saya  menghubungkan kemunduran sains dengan sufisme. Memang benar, seiring dengan kemajuan peradaban Islam saat itu, muncul berbagai gerakan moral spiritual yang dipelopori oleh kaum sufi. Intinya, adalah penyucian jiwa dan pembinaan diri secara lebih intensif dan terencana. Pada perkembangannya, gerakan-gerakan tersebut kemudian mengkristal jadi tarekat-tarekat dengan pengikut yang kebanyakannya orang awam.

Popularisasi tasawuf inilah yang bertanggung jawab melahirkan sufi-sufi palsu (pseudo-sufis) dan menumbuhkan sikap irrasional di masyarakat. Tidak sedikit dari mereka yang lebih tertarik pada aspek-aspek mistik supernatural seperti keramat, kesaktian, dan sebagainya ketimbang pada aspek ritual dan moralnya. Obsesi untuk memperoleh kesaktian dan kegandrungan pada hal-hal tersebut pada gilirannya menyuburkan berbagai bentuk bid’ah, takhayyul dan khurafat. Akibatnya yang berkembang bukan sains, tetapi ilmu sihir, pedukunan dan aneka pseudo-sains seperti astrologi, primbon, dan perjimatan.

Sisi Gelap Dunia Sufi

Kehidupan para sufi bukanlah sekedar sebuah dimensi kehidupan orang-orang suci yang begitu cemerlang menghiasi lembar sejarah umat di masa keemasan Islam. Sufisme dan ilmu tasawuf telah mengalami perkembangan, dan juga masa-masa surutnya.

Ajaran sufi dengan berbagai tarekat dan kitab-kitab tasawuf karangan para syekh sufi merupakan salah satu buah karya ilmu Al Ghazali

akidah para sufi pada prakteknya banyak dijumpai berbagai penyimpangan yang bertentangan dengan akidah, syariat, dan akhlak Islam yang sempurna. Sebagian sufi ada yang menempuh cara menghadirkan ruh, dengan keyakinan, bahwa itu dari tasawuf. Sebagian lagi ada yang menempuh cara-cara mistik dan magis

.

Mereka asyik memberi perhatian khusus kepada makam para wali. Makamnya dibangun diberinya lampu, diziarahinya dan dimintanya berkah,

Imam Ghazali mengkritik mereka yang telah diselimuti sifat sombong, antara lain terhadap kelompok-kelompok berikut ini:

-         mereka yang merasa bangga terhadap pakaian, sikap, dan logika

-         mereka yang mengklaim ilmu ma’rifat menyaksikan Yang Haq dan melampui maqam dan ahwal

-         mereka yang terjerumus ke dalam perilaku permisif melipat hamparan syara’ dan menolak ahwal dan menganggap sama antara yang halal dan haram

-         mereka yang berkata: ”beramal secara fisik tidak mempunyai nilai sama sekali. Sebab yang dilihat itu hatinya. Sedangkan hati kami ini sangat rindu mencintai ALLAH sebagai perekat bagi ma’rifat ALLAH. Kami hanya terjun ke dunia ini dengan tangan-tangan kami, sementara hati kami berdiam di dalam rububiyah ALLAH. Karena itu kalaulah kami masih punya keinginan, itu hanyalah di dalam lahir, bukan dalam hati.

Berkaitan dengan keadaan ekstase para sufi itu.. Saya juga menambahkan bahwa dengan mengucapkan kata-kata itu nuraninya hanya kembali kepada apa yang digambarkan oleh kalbu. Sedangkan kalbu itu kadang-kadang mendapat petunjuk dan kadang-kadang tersesat.

Ada sebagian kaum sufi yang mengkaitkan tasawuf dengan melakukan berbagai perbuatan yang aneh dan luar biasa seperti bermain dengan ular, membuka kepala dan menganyam rambut atau justru membiarkannya panjang dan semrawut.. Berpenampilan kusam dan compang camping sehingga auratnya tidak tertutup. Bila memang krn keadaan yang miskin sebagaimana yang diutamakan oleh sufisme namun semestinya para sufi pun harus bekerja keras demi mencukupi kebutuhannya seperti membeli pakaian dan kain sehingga layak dikenakan. Jangan hanya bermalas-malasan atau setiap waktu berdiam di mesjid-mesjid lalu shalat dan puasa tiada henti lalu untuk hidup sekedar makan dan minum yang diperoleh dari mengemis atau meminta-minta.

Mengenai sikap ”fana” yang menjadi trend di kalangan sufi bahwa dalam fana semacam itu seorang sufi kadang-kadang berkata ”aku adalah al-Haq” atau ”Maha suci aku” atau ”di jubahku adalah ALLAH”. Dan sebagainya meski beliau masih bersikap moderat dengan meyakini bahwa memang ada sebagian sufi yang benar-benar mencapai tingkatan ketidaksadaran atau sakar rububiyah akibat begitu masyhuknya berzikir dan taqarrub kepada ALLAH sehingga ucapannya tidak dapat lagi berlaku secara normal.  Kelezatan iman dan kedekatan yang begitu tinggi yang berhasil diraih oleh seorang sufi, maka meski ucapannya dalam sudut pandang syariat dilarang, namun tidaklah berdosa bagi sang sufi karena ia tidak sadar secara harfiah dengan semua ucapannya itu. Meskipun mereka tidaklah berdosa namun haram mengikuti ucapan-ucapan mereka dan tidak boleh pula menganggap bahwa apa yang mereka ucapkan adalah sesuatu yang benar.

Begitu banyaknya persoalan dalam sufisme dan ilmu tasawuf dimana banyak ulama berbedap pendapat mengenai berbagai praktek sufisme yang direalisasikan dalam bentuk tarekat-tarekat yang terikat dengan para syekh/guru sufi masing-masing. Sehingga memunculkan berbagai tindakan kultus individu terhadap banyak ulama sufi yang begitu dimuliakan dan disucikan oleh para pengikutnya.

Bahkan makam-makam mereka dikeramatkan dan diziarahi secara rutin dengan melakukan zikir dan doa. Hal ini menjadi kontra produktif dengan disiplin ilmu tasawuf yang menjadi dasar sufisme. Pada prinsipnya ilmu tasawuf bertujuan mengajarkan setiap muslim agar memiliki ilmu yang memadai berdasarkan petunjuk kitab suci al-Qur’an dan hadist Rasulullah untuk mengenal, mendekatkan diri, dan beribadah/menyembah ALLAH dengan sikap penyerahan diri yang seutuhnya dan dalam kerangka kwalitas keimanan yang sempurna. Sehingga akan tercapai derajat taqwa yang tinggi sebagai puncak kemuliaan yang menjadi parameter penilaian ALLAH kepada para hamba-Nya.

Persoalan-persoalan tersebut tidak dapat terhindarkan karena ruang lingkup pembahasan sufisme dan ilmu tasawuf adalah sifat-sifat ALLAH Yang Maha Suci dan Maha Tinggi. Sedangkan manusia adalah makhluk ALLAH yang memiliki banyak keterbatasan dan kelemahan.


[1]‘Adâlah Shahâbi, hal. 14, Majma’ Jahani Ahlulbait As.

[2]Nahj al-Balâghah, hal. 144, Khutbah 97.

[3]Nahj al-Balâghah, hal. 164, Khutbah 97, riset oleh Subhi Shaleh.

[4]Shahifah Sajjadiyah, hal. 42, Doa Imam untuk Para Pengikut Para Nabi.

[5]Majmu’e Kâmilah, No. 11, Pembahasan ihwal Wilayah, hal. 48.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s