Hari: 14 Mei 2013

wahabi salafi aliran sesat menyesatkan yang dipelopori ulama setan nejed

Kaum Wahabi salafi aliran sesat menyesatkan yang dipelopori ulama setan nejed. kaum Wahabi atau Salafi adalah aliran keagamaan abad ke-18, yang dipelopori Muhammad bin Abdul Wahhab, yang bertekad bulat memurnikan ajaran agama kapan perlu dengan cara-cara kekerasan, peperangan, dan pembunuhan. Gerakan pemurnian ajaran agama demikian di abad modern disebut sebagai Wahabi Modern.

Jangan salah. Bila faham Wahabi kian menguat di Indonesia, bisa-bisa NU pun akan dilibas. Tanya kenapa? Karena ritual agama yang dijalankan Nahdlatul Ulama ‘kan bid’ah di mata faham Wahabi.Sekarang gejala itu sudah terlihat. NU, terutama Ketumnya KH Said Aqil Siradj, sudah dijelek-jelekan sbg liberal-sekuler, antek barat, dll. Ini fase awal sblm represi

.

Salafy Wahabi Anggap Ulama Beraqidah Asy’ariyyah seperti NU Sebagai Musuh Abadi. Saat memberikan taushiyah, seorang kiai sesepuh NU mendapatkan keluhan dari para santri tentang ”serangan-serangan” kelompok Wahabi terhadap tradisi keagaamaan warga NU. Dengan enteng, kiai tersebut mengatakan, ”Ah Wahabi itu kan Badui.” Katanya, aliran Wahabi itu dipelopori oleh Muhammad bin Abdul Wahab dari Nejd, keturunan orang Badui.

.
Sejak dulu, bangsa Badui dikenal tidak terlalu pintar. ”Maka kalau diserang orang Badui ya tidak usah membalas. Kalau kita balas berarti kita sama seperti mereka. Dibikin santai saja. kalau orang Badui menafsirkan Al-Qur’an, ya tidak usah ditanggapi serius.” kata kiai.
.
Selanjutnya, ia bercerita tentang cara orang Badui mengecat, sekedar menunjukkan kualitas mereka. ”Di Indonesia, hanya butuh dua orang saja untuk mengecat seluruh rumah. Tapi bagi orang Badui, butuh seratus orang untuk mengecat satu rumah saja.” ”Untuk apa membawa orang sebanyak itu?” tanya para santri. ”Lha iya, satu orang memegang kuas cat. Sementara 99 wahabi lainnya membolak-balik rumah biar merata catnya.” Para santri tertawa. Kiai bercerita lagi, tentang orang Badui mengecat trotoar jalan.
.
”Hari pertama mereka bisa mengecat sepanjang 500 meter. Hari kedua mereka hanya mampu mengecat 50 meter. Dan hari ketiga mereka mengecat lebih pendek lagi, hanya 5 meter.” ”Kenapa bisa begitu?” tanya santri. Kata kiai, sang Badui mengeluh: ”Jangan salahkan saya dong! Semakin ke sini kan pot catnya semakin jauh di sana.” Jadi di hari ketiga Badui cuma bisa mengecat 5 meter saja.
.

Salafy Wahabi Anggap Ulama Beraqidah Asy’ariyyah Sebagai Musuh Abadi

fitnah wahabiDi forum-forum offline maupun online, para penganut Wahabisme itu adalah kaum yang sangat benci dengan muslimin yang mengikuti aqidah Asy’ariyah. Mereka mengatakan Asy’ariyah itu sesat, tahukah anda bahwa imam-imam ulama yang punya nama besar semacam Ibnu Hajar Atsqolani, Imam Nawawi, Imam Baihaqy adalah para penganut Aqidah Asy’ariyah yang notabene adalah kaum Ahlussunnah Wal Jamaah. Pertanyaannya, lalu kenapa Para Wahabiyyun itu sangat benci dengan kaum Asy’ariyyah dan menganggapnya sebagai musuh abadi? Lalu serta merta dengan itu kaum Wahabi membajak nama besar Ahlussunnah Wal Jamaah sebaga label baru Wahabi/Salafi?

Salafi menganggap Para Ulama yang Mengikuti Imam Abul Hasan Al-Asy’ari dalam Masalah Aqidah Adalah Musuh Abadi.

Bahkan seorang tokoh salafi bernama Zainal Abidin, menukil sejumlah pendapat ulama termasuk Ibn Hazm (walaupun nukilan seperti ini harus diteliti lebih lanjut, sayang kitab-kitab yang disebutkan belum kami miliki -pent) yang berisi kritik, celaan dan ‘vonis’ kafir kepada para Ulama Pengikut Imam Abul Hasan Asy-Asy’ari dalam masalah aqidah atau lebih dikenal dengan Asy’ariyah (Lihat majalah As-Sunnah hal. 38 edisi khususVIII1425 H2004 M).

Padahal hampir seluruh ulama yg namanya dtulis dengan “tinta emas”dalam sejarah Islam dan menjadi pelita umat sepanjang umur umat Islam dengan ilmu yang mereka miliki adalah mengikuti Imam Abul Hasan Al-Asy’ari dalam masalah aqidah.

Hal ini bisa kita lihat nama-nama besar seperti: Imam Abu Hasan Al-Bahilii,Imam Abu ishaq Al-Isfarainii, Al-Hafidz Abu Nu’aim AL-Asbahani, Qadhi Abdul Wahab Al-Maliki. Imam Abu Muhammad Al-Juwaini, dan outranya Abu Ma’alii Imam haramain AL-Juwaini, Abu Manshur At-Tamimi Al-Baghdadi, Al- Hafidz Al-Isma’ili, Al-Hafidz Al-Baihaqi, AL-Hafidz Al-Daruqutni, Al-Hafidz AL-Khatib AL-Baghdadi, Imam Abul Qosim AL-Qusyairi,dan putranya Abu Nashr,Imam Abu Ishaq Asy- Syairazi, Nasr Al-Maqdisi, Al-Farawi, Imam Abul Wafa’ ibn Uqil Al-Hambali,  Qadhi Qudhat Ad-Damaghani Al-Hanafi, Abul Walid Al-baji Al-Malik, Imam Ass-Sayid Ahmad Ar-Rifa’I,Al-Hafidz Abul Qasim Ibn Asakir, Ibn Sam’ani, Al- hafidz As-Salafi, Qadhi Iyadh, Imam An-Nawawi, Imam Fakhrudin Ar-Razi, Imam Iz Ibn Abdis Salam, Abu Umar, Imam Ibn Hajib Al-Maliki, Al-Hafidz Ibn Daqiqil ied, Imam llaudin Al-Baji, Qadhi Qudhat As- Subki, Al-Hafidz Alaai, AL-Hafidz Zainudin AL-Iraqi,dan putranya Al-Hafidz Waliyudin, Khatimatul Hufadz Ibn Hajar Al-Asqolani, Khatimatul LughawiyinAl-hafidz murtadha Az-Zubaidi Al-Hanafi, Imam Zakariya AL-Anshori, Imam Bahaudin Ar-Ruwas, Mufti makah Ahmad Zaini Dahlan, Musnadul Hindi Waliyullah Ad-Dahlawi, Mufti Mesir Imam Muhammad Ulaisyi Al-Maliki, SyaikhAl-Jami’ Al-Azhar Abdullah Az-Zarqawi, Imam Abdul Fatih Fathullah mufti Beirut,Imam Abdul basist Al-fakhuri Mufti Beirut, Imam Mustafa Naja Mufti Beirut, Imam Abu Muhammad Al-Malaibari Al-Hindi, Qadhi Abu bakar Al-baqilani, AL-Hafidz IbnFaruk, Imam Al-Ghozali, Imam Abul fatah Asy-Syahrantani, Imam Abu Bakar Asy-Syasyi Al-Qofal,Abu Ali Ad-Diqaqi An-Naisaburi, Al-Hakim An- Naisaburi Sohibul Mustadrak, Imam Ibn Alan As-Shadiqi Asy-Syafi’I, Imam Abu Abdullah Muhammad As-Sanusi dll. Semua pemilik nama-nama besar di atas adalah para pengikutImam Abul Hasan Al-Asy’ari dalam aqidahnya, yang para ulama menyebut aqidah Asy’ariyah dengan Ahlussunnah Wal Jama’ah.

Kalau menurut kalian Wahabiyyun bahwa Al-Hafidz Ibnul Jauzi, Imam Ibn Hibban, Al-Hafidz Ibn Rajab Al-Hambali, Al-Hafidz Al-Isma’ili, Al-Hafidz Al-Baihaqi, Al-Hafidz Al- Daruqutni, Al-Hafidz Al-Khatib Al-Baghdadi, Al-Hafidz As-Salafi, Qadhi Iyadh, Imam An-Nawawi,Al-Hafidz Alaai, Al Hafidz Zainudin Al-Iraqi, dan putranya Al-Hafidz Waliyudin, Khatimatul Hufadz Ibn Hajar Al-Asqolani dll, bukan termasul ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah, maka siapakah yang kalian maksud dengan Ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah itu?

Mungkin kalian akan mengatakan bahwa Albani, Utsaimin, Ibn Baz, Al-Jazairi, Al-Fauzan,Rabi Ibn Hadi dll dari kalangan ulama Neo Salafi adalah Ahli Hadis dan merekalah yg paling layak untuk menyandang gelar pewaris satu-satunya ahlus sunnah wal jama’ah !

Kami ingin bertanya apakah ada di antara ulama kalian seperti Albani, Utsaimin, Ibn Baz, Al-Jazairi, Al-fauzan, Rabi Ibn Hadi dll  yang punya karya yang lebih baik dari kitab Fathul Bari-nya Ibn Hajar, atau kitab sunan-nya Imam Al-Hafidz Al-Baihaqi, Al-Hafidz Al-Daruqutni, atau karya-karya lain dari para Hufadz Hadis yang sebenarnya (bukan seperti yang sering diaku-aku oleh Salafi) seperti  Al-Hafidz Al-Khatib Al-Baghdadi, Al-Hafidz As-Salafi, Qadhi Iyadh, Imam An-Nawawi dengan Syarh Shohih Muslim-nya, Al-Hafidz Alaai, Al-Hafidz Zainudin Al-Iraqi dll !?

Tidak, sekali-kali tidak, karya-karya kalian dipenuhi dengan nukilan dari para Ulama ini !!! Entah bagaimana kualitas buku atau kitab yang ditulis oleh ulama- ulama kalian, jika tidak mengutip dari ucapan dan pendapat mereka dari kitab-kitab dan karya tulis mereka (yaitu para hufadz Ahli hadis ini) yang tidak terhitung nilainya itu?! Tapi bagaimana bisa kalian mengambil pendapat mereka dan mengklaim mereka berada di pihakmu, sementara itu kalian tidak memasukkan mereka dalam daftar Ulama Ahus Sunnah, bahkan kalian mencap mereka sesat dan menyimpang aqidahnya  lalu menyamakan mereka dengan firqoh-firqoh sesat lainnya seperti mu’tazilah, jabariyah dll !?

Lalu yang lebih mengherankan lagi kalian masih berani mengklaim mengikuti manhaj para Ahli Hadis, sedangkan pada saat yang bersamaan kalian memvonis aqidah mereka adalah salah dan sesat’ (menurut anggapan kalian), bahkan kalian mengingatkan umat dari penyimpangan aqidah yg terdapat dalam kitab-kitab mereka ! Adakah orang yang akan percaya dengan ucapan sekelompok orang yang mengaku-aku mengikuti manhaj para imam ahli hadis dan ahlus sunnah tapi aqidahnya sesat atau kalian berkata : Manhaj kami diatas manhaj Para Ahli Hadis seperti Al-Hafidz Ibn Hajar, Imam Al-Hafidz Al-Baihaqi, Al-Hafidz Al-Daruqutni, Al-Hafidz Al-Khatib Al-Baghdadi, Al-Hafidz As-Salafi, Qadhi Iyadh, Imam An-Nawawi, Al-Hafidz ‘Alaai, Al-Hafidz Zainudin Al-Iraqi , tapi aqidah kami berbeda -kami memegangi aqidah yang shohih sedang mereka (para ahli hadis tsb) aqidahnya menyimpang dan sesat !?

Ajib Kulu Ajib hadzal qaul min rajol Al-Ghulat Al-Mudzabdzib As-Salafi (sungguh sangat mengherankan ucapan yang aneh yang berasal dari Al- Ghulat Al-Mudzabdzib As-Salafi ini) !!!

Seandainya para Ulama seperti Al-Hafidz Ibn Hajar, Imam Al-Hafidz Al-Baihaqi, Al-Hafidz Al-Daruqutni, Al-Hafidz Al-Khatib Al-Baghdadi, Al-Hafidz As-Salafi, Qadhi Iyadh, Imam An-Nawawi, Al-Hafidz Alaai, Al-Hafidz Zainudin Al-Iraqi dll masih hidup, pastilah mereka akan melarang kalian untuk menggunakan karya mereka untuk menjadi bahan bagi tulisan dan kitab kalian. Kenapa, karena jelas kalian telah menganggap mereka sesat  bahkan kafir !? Lalu mana ada seorang Ulama yang bersedia karyanya dinukil oleh orang atau kelompok yang telah mencemarkan nama baiknya dengan vonis sesat dan kafir !? Tapi yang aneh bahwa pendapat-pendapat para ahli hadis yang beraqidahkan asy’ariah  ini seperti : Al-Hafidz Ibn Hajar, Imam Al-Hafidz Al- Baihaqi, Al-Hafidz Al-Daruqutni, Al-Hafidz Al-Khatib Al-Baghdadi, Al-Hafidz As-Salafi, Qadhi Iyadh, Imam An-Nawawi, Al-Hafidz Alaai, Al-Hafidz Zainudin Al-Iraqi dll khususnya dalam masalah aqidah, senatiasa kalian nukil didalam berbagai kitab dan makalah yang kalian buat !?

Kalau mau konsisten dengan pendapat kalian bahwa mereka telah menyimpang dan memasukkan sesuatu yang sesat dalam aqidah Islam, maka jangan lagi gunakan kitab dan karya mereka apalagi menukil pendapat mereka dalam masalah aqidah untuk mendukung pendapat kalian dalam masalah aqidah pula. Sungguh aneh !? Tapi ternyata hal itu tidak terjadi bahkan dalam majalah edisi khusus  yang mereka tulis dalam masalah hadis, pertama kali mereka menunjukkan apa yang mereka anggap sesat dan menyimpang dari aqidah kaum asy’ariyah lalu diberilah vonis sesat bahkan kafir. Tapi yang aneh setelah itu pendapat-pendapat dari para Ulama Hadis Asy’ariyah seperti Al-Hafidz Ibn Hajar, Imam Nawawi, Al-Khatib Al-Baghdadi, Al-Iraqi, Ibn Shalah dll menjadi rujukan utama unutk memberi justifikasi dalam masalah aqidah versi mereka, bukankan ini sebuah keanehan yang menggelikan ?!

Lalu kalian berkata lagi: Ulama kan bukan hanya mereka! Tapi ingat bukankan Salafi telah mengadopsi pendapat sebagian Ulama’ yang menyatakan bahwa Ahlus sunnah wal jama’ah adalah
Ulama ahli hadis seperti perkataan Imam Ahmad yang mengatakan Kalau bukan ahli hadis, aku tidak tahu lagi siapa mereka ? dll! Biasanya kalian akan berkelit dengan mengatakan : Ulama Ahli Hadis-kan tidak terbatas pada mereka !!? Lalu apakah Al- Hafidz Al-Isma’ili, Al-Hafidz Al-Baihaqi, Al-Hafidz Al-Daruqutni, Al-Hafidz Al-Khatib Al-Baghdadi, Al-Hafidz As-Salafi, Qadhi Iyadh, Imam An-Nawawi, Al-Hafidz Alaai, Al-Hafidz Zainudin Al-Iraqi, dan putranya Al-Hafidz Waliyudin, Khatimatul Hufadz Ibn Hajar Al-Asqolani dll, bukan termasuk ahli hadis !?

Lalu siapa Ahli hadis yang kalian maksud ?! Lalu manhaj ahli hadis mana yang kalian ikuti !!? Kalau ternyata sebagian besar Para Hufadz Ahli Hadis berada dalam posisi yang berlawanan dengan posisi kalian !? Hendaknya ini menjadi bahan renungan bagi orang-orang mampu berpikir dengan jujur!

Selasa, 06 Dec 2011

Said Agil Siraj Bilang Syiah di Indonesia Tidak Berbahaya

Said Agil Siraj begitu khawatir dengan Salafi Wahabi –

Ada pernyataan yang dikeluarkan dari mulut seorang Ketua Umum PBNU  ini. Konflik Sunni-Syiah dikatakan, hanyalah persoalan politik semata, bukan permasalahan akidah.

Ulama Wahabi Itu Cocoknya Jadi Pimpinan Ranting NU

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dibilang hanya pantas duduk sebagai Pimpinan Ranting Nahdhatul Ulama (NU). Bahkan, ulama itu jika ikut Muktamar NU pasti kalah suara. Naudzubillah min dzalik.Guyon yang bukan pada tempatnya itu tak pantas keluar dari seorang Ketua Umum PBNU Said Agil Siraj.

“Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab ingin disejajarkan dengan empat Imam Madzhab, seperti Hanafi, Maliki, Syafi’I dan Hambali. Padahal, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab hanya pantas duduk pada posisi Pimpinan Ranting NU. Kalau beliau ikut Muktamar NU sudah pasti kalah,” ejek Said Agil dalam sebuah workshop Deradikalisasi Deradikalisasi Agama Berbasis Kyai/Nyai dan Pesantren di Park Hotel, Jakarta, Sabtu (3/11).

Said Agil menuduh Wahabi memisahkan diri dan punya andil dalam meruntuhkan Khilafah Utsmani di Turki. Sampai akhir abad ke-17, Jazirah Arab masih terbagi empat wilayah: bagian utara berpusat di Syam (Syria), timur di Najd, barat di Hijaz, dan selatan di Yaman. Tapi awal abad ke-18, Gubernur Najd Muhammad Ibnu Saud, yang didukung seorang ulama bernama Muhammad bin Abdul Wahab memisahkan diri dari Khilafah Utsmani. Pertama kali muncul, gerakan ini langsung dihabisi oleh Khalifah Utsmani yang memerintahkan Gubernur Mesir Raja Fuad, untuk memeranginya. Dalam pertempuran ini, Muhammad bin Saud bisa dikalahkan dan salahsatu anaknya, Faisal terbunuh.

Kemudian, kelompok ini pecah menjadi beberapa kelompok, seperti al-Azariqah, al-Ibadiyah, an-Najdad dan ash-Shufriyah. Yang paling ekstrem adalah al-Azariqah yang mengatakan, pokoknya selain orang Khawarij adalah kafir.

Tapi kemudian, Abdul Aziz bin Abdurrahman bin Muhammad Saud, cucu Muhammad Saud, melarikan diri ke luar negeri (Bahrain) untuk menghimpun kekuatan.

“Abdul Aziz bin Abdurrahman bin Muhammad Saud lari ke Bahrain, lalu bertemu dengan Inggris yang sedang ngebor minyak. Mereka buat kesepakatan, lalu dikirim lah  Lawrence Arabia, agen Inggris yang cakap berbahasa Arab. Lawrence lalu menggiring dan memprovokasi suku Arab.Singkatnya Abdul Aziz pulang ke Najd, Saudi Timur dengan  membawa 400 pasukan berkuda. Singkatnya, Penguasa Najd kalah, maka gemparlah dunia Islam. Muhammad Saud lalu melalukan ekspansi dengan menyerang Makkah,Thoif dan Madinah. Ketika itu penguasa Syafif Husain menyerah kalah,” jelas Said,

Begitu ada kesempatan, lanjut Said Agil, dengan dukungan pasukan yang sangat militant, Abdul Aziz menyerang Makkah. Tatkala masuk Makkah, mereka langsung meratakan semua kuburan, termasuk kuburannya Siti Khadijah (istri Nabi pertama), Abdullah bin Zubeir, Asma binti Abu Bakar, kuburan para sahabat, dan semua kuburan ulama.

Said Agil Siraj juga mengatakan, situs-situs sejarah perkembangan Islam dibongkar. Sebut saja seperti rumah kakek Nabi dijadikan toilet, rumah Siti Khadijah dijadikan tempat pembuangan bahkan pasar, rumah Ali ra dijadikan kandang keledaim rumah kelahiran Nabi saw dibongkar, Bab Bani Syaibah (tempat bersejarah untuk menentukan siapa yang berhak meletakkan Hajar Aswad) dihilangkan jejaknya, Baitul Arqam (tempat pengaderan as-Sabiqun al-Awwalun) dibongkar, Dar an-Nadwah diratakan, dan tempat mengajar Imam Syafi’I juga dibongkar.

“Kuburan di Ma’la rata dengan tanah.  Kenapa nggak sekalian Ka’bah dibongkar, lagipula kita kesana bukan menyembah Kabah kok. Kini, tinggal Ka’bah dan Makam Nabi Ibrahim as yang ada. Sekitar 15 ribu di Baqi, makam sahabat rata sudah tidak ada. Ironisnya, kuburan Nabi Muhammad, Abu Bakar, dan Umar akan dibongkar,” kata Said.

Komite Hijaz

KH. Hasyim Asy’ari lalu mendengar kabar itu. Lalu dibentuklah Komite Hijaz, yang yang dipimpin oleh KH. Abdul Wahab dan KH Zainul Arifin.  Saat berangkat ke Jeddah dan berjumpa Raja Abdul Aziz, ulama NU itu meminta agar Raja Abdul Aziz menggilir imam Masjidil Haram dengan 4 madzhab, mulai dari Imam Syafi’i, Hambali, Hanafi, Maliki, hingga Wahabi. Atas nama umat Islam Negeri Jawi, kedua Kiai NU tadi memohon agar kuburan Muhammad  saw, Abu Bakar dan Umar tidak  dibongkar. Berkat lobi Komite Hijaz NU, kuburan tersebut masih ada. “Bayangkan, kuburan Nabi Saw tidak boleh dikasih lampu, kelambu tidak diganti, pekarangannya tidak disapu,” kata Said.

Ketika itu ulama yang  melawan pasti dibunuh, terutama ulama syiah. Ada ulama dari madzhab Syafii,  Syaikh Hasan Yamani lari, lalu tinggal di Surabaya, kemudian nikah punya anak Fauzi Yamani.

“Walhasil, Wahabi adalah gerakan radikal akidah, maunya purifikasi akidah dari kemusyrikan, tapi satu langkah lagi mereka akan jadi teroris. Ceramahnya, yang  ziarah kubur dan adakan maulid itu musyrik. Kalau orang NU dianggap musyrik berarti boleh dibunuh donk.  Saya yakin ada big desain, dimulai tahun 80-an muncul gerakan radikal, seperti yang terjadi di al-Jazair, Somalia, Kenya, Afghanistan.”

Ketika Soviet menyerang Afghan, Ronald Reagen membentuk mujahidin dari negara-negara Islam. Dari Saudi, Usamah bin Laden dan Abdullah Azzam dilatih AS untuk melawan tentara Soviet. “Setelah Soviet angkat kaki, Raja Fahd memanggil mujahidin asal Saudi untuk pulang. Hanya dua orang yang tidak pulang, yaitu Mbah Usamah dan Abdullah azzam. Mereka mendirikan al Qaidah,” kata Said mengejek Usamah.

Menurut Wahabi, ormas, LSM adalah bid’ah. Ketika itulah, ulama Saudi mencabut kewarganegaraa Usamah dan Azzam karena mendirikan al Qaidah. “Benar saja, kalau keduanya pulang bisa jadi penyakit. Tak beda dengan Imam Samudra dan Mukhlas Ali Ghufron, pulang ke Tanah Air jadi penyakit.”

Dikatakan Said Agil, seorang Abdullah Sungkar, semua gereja harus dibom. Tapi Ustadz Abu agak shaleh sedikit, hanya gereja yang illegal saja yang dibom.

Said Agil meyakini, tidak ada satupun warga NU yang terlibat teroris. Di NU, ada  400 ribu madrasah, 800 ribu masjid, 21.600 pesantren . “Kalau ada yang terlibat teroris ya bukan NU. Saya berharap, kaum ibu menjaga anak-anaknya dari paham radikal. Saat ini, anak kita sudah bosan dengan NU, HMI, PMII, Muhammadiyah, mereka ingin yang kelihatan heroik, dan bisa bertemu bidadari di Surga,” imbuh Said kepada wartawan.

Imam Baqir as meninggal karena diracun atas perintah Hasyim bin Abdul Malik, khalifah dari Bani Umayyah

Mengenang Imam Baqir as:
 Peran Imam Baqir as dalam Penyebaran Ilmu
Dengan seluruh daya upayanya, Imam Baqir berusaha menyelamatkan umat dari kesesatan dan kegelapan. Beliau juga menjelaskan bagaimana posisi Imamah dan Ahli Bait yang sebenarnya dalam masalah kepemimpinan umat. Imam Baqir mengingatkan bahwa tolak ukur kebenaran adalah al-Quran dan Sunnah Nabi.
 

Peran Imam Baqir as dalam Penyebaran Ilmu

Kelahiran Imam Baqir as

 

Hadhrat Imam Muhammad Baqir as adalah Imam kelima pengikut Syiah Itsna Asyari yang oleh lisan Rasulullah Saw beliau diberi gelar, Baqir al ‘Ulum (yang mengungkap dan menyebarkan ilmu).

Dalam tulisan singkat ini, kami paparkan secara umum mengenai perjalanan kehidupan beliau semenjak lahir sampai beliau mencapai kesyahidan. Semoga bermanfaat.

Kelahiran Imam Baqir as

Imam Muhammad Baqir as lahir pada awal bulan Rajab tahun 57 H, dan sebagian kecil sejarahwan menyebutkan beliau lahir pada hari ketiga bulan Shafar tahun 58 H. Ayah beliau bernama, Imam Ali bin al Husain bin Ali bin Abi Thalib as yang dikenal dengan nama Imam As Sajjad as dan ibu beliau bernama Fatimah yang lebih dikenal dengan sebutan Ummu Abdillah, putri Imam Hasan al Mujtaba as. Jadi imam Baqir as memiliki nasab yang mulia karena berasal dari keturunan Imam Hasan as sekaligus dari garis keturunan Imam Husain as.

Saksi Mata Tragedi Karbala

Imam Baqir disaat masih kanak-kanak diusia belum mencapai lima tahun telah merasakan beratnya kepedihan dengan menyaksikan langsung kakeknya yang mulia Imam Husain as terbantai dan syahid di Karbala. Ya’qubi meriwayatkan Imam Baqir as pernah berkata, “Ketika kakek saya Imam Husain bin Ali mencapai syahadahnya, saya berusia 4 tahun, dan meskipun telah lama berlalu, saya tidak akan pernah lupa detik demi detik kejadian tersebut.”

Menjadi Imam dan Pemimpin Ummat

Imam Baqir as sebagai putra dari Imam Ali Zainal Abidin as, pasca kesyahidan ayahnya, segera memegang amanah sebagai imam ummat. Tampuk keimamahan berada dipundaknya, melanjutkan peran dan tugas sebagai pembimbing dan pemberi petunjuk pada ummat sebagaimana yang pernah diemban oleh ayah, kakek dan buyutnya.

Jabir bin Abdullah al Anshari, salah seorang sahabat mulia Nabi Muhamamd Saw pernah berkata, “Rasulullah Saw pernah bersabda yang ditujukan kepada saya dengan berkata, “Kamu kelak akan mencapai umur yang panjang, sampai kamu akan bertemu dengan salah seorang keturunanku dari Husain. Namanya Muhammad, dan dia memahami ilmu dengan sempurna, jika kamu bertemu dengannnya, sampaikan salamku kepadanya.”

Para ulama yang hidup sezaman dengan Imam Baqir as memberikan kesaksian dan pengakuan atas keluasan dan kedalaman ilmu beliau. Hal tersebut tertulis dan terekam dalam kitab-kitab hadits dan kitab Tarikh Islam.

Kehidupan Sosial dan Politik Umat Syiah di Masa Imam Baqir as

Dengan makin dekatnya masa-masa akhir abad pertama hijriah, kezaliman dan kesewenang-wenangan pemerintah Dinasti Umayah makin memuncak. Di sisi lain, aksi perlawanan para penentang dinasti Umayah juga semakin meningkat. Konflik politik di masa itu, membuat kehidupan ekonomi masyarakat makin memburuk. Sehingga kegiatan ilmiah dan studi agama di tengah masyarakat pun makin terpinggirkan. Sampai-sampai banyak di antara umat Islam yang tak lagi mengenal cara-cara ibadah dan hukum agama, seperti shalat dan ritus haji.

Di masa itu, pemerintah dinasti Umayah makin lemah karena terus mendapat tekanan dan perlawanan lawan-lawan politiknya. Meski Rasulullah di masa hidupnya telah menetapkan bahwa Ahli Bait as merupakan kalangan yang paling pantas memegang tampuk kepemimpinan umat, namun masyarakat Muslim di zaman itu terpecah dalam berbagai kelompok mengenai isu kepemimpinan umat. Sebagian kelompok mengklaim bahwa Bani Umayah yang paling berhak memimpin, dan sebagian lagi menganggap Ahli Bait as sebagai pihak yang paling layak memimpin. Namun ada juga yang terlalu ekstrim dalam melihat posisi Ahli Bait as.

Dalam suasana yang sangat kelam semacam itu, Imam Baqir bangkit laksana mentari menyibak tirai-tirai kebodohan dan kegelapan. Pada masa itu, Imam Baqir as menerapkan strategi kultural, lewat penyebaran dan pengembangan ilmu pengetahuan Islam. Umat di zaman itu memerlukan transformasi pemikiran. Dengan seluruh daya upayanya, Imam Baqir berusaha menyelamatkan umat dari kesesatan dan kegelapan. Beliau juga menjelaskan bagaimana posisi Imamah dan Ahli Bait yang sebenarnya dalam masalah kepemimpinan umat. Imam Baqir mengingatkan bahwa tolak ukur kebenaran adalah al-Quran dan Sunnah Nabi.

Ia juga menegaskan bahwa pasca masa kenabian, Ahli Bait as merupakan otoritas yang paling layak dan terbaik untuk kebahagiaan dan keselamatan umat. Ia menilai, Ahli Bait Nabi as merupakan satu-satunya otoritas agama yang paling meyakinkan rujukan dalam masalah keyakinan dan pemikiran Islam. Imam Baqir as berkata, “Putra-putra keturunan Rasulullah Saw adalah pintu-pintu ilmu ilahi untuk menuju keridhaan Allah Swt. Mereka adalah pengajak ke surga”.

Guna mengembangkan ilmu pengetahuan dan mendidik para ulama dan cendikiawan muslim, Imam Baqir membangun pondasi madrasah keilmuan dan budaya. Kelak, pondasi itu terus dilanjutkan pembangunannya oleh putra beliau, Imam Jakfar Shadiq as. Perjuangan ilmiah dan reformasi kebudayaan yang dijalankan Imam Baqir as di masa-masa akhir abad pertama hijriah, sejatinya merupakan pengantar untuk merevitalisasi pemikiran dan nilai-nilai Islam serta meningkatkan kecerdasan umat.

Jabir bin Yazid Ju’fi adalah salah seorang murid Imam Baqir as dan penukil 70 ribu hadis dari beliau. Jabir menuturkan, “17 tahun aku berada di sisi Imam Baqir. Ketika aku ingin berpisah dengan beliau, aku berkata padanya,‘Wahai Putra Rasulullah saw, penuhi aku dengan ilmu pengetahuan.’ Imam Baqir as berkata, ‘Wahai Jabir, setelah 17 tahun engkau belum juga puas dengan ilmu?’ Aku berkata, ‘Engkau adalah mata air yang tak terbatas dengan air segarnya yang tak pernah habis.”

Bagi para ilmuwan Muslim dan non-Muslim sekalipun, keberadaan Imam Baqir as bagaikan air mata yang begitu jernih dan bening yang menyegarkan dahaga setiap pencari makrifat. Begitu agungnya khazanah keilmuan yang beliau miliki, membuat siapapun yang haus akan pengetahuan datang kepadanya. Keagungan dan kedalaman ilmu pengetahuan Imam Baqir menjadi buah bibir dan pujian para sejarawan dan ulama Islam. Ibnu Hajar Haitsami, sejarawanAhlusunnah menyatakan, “Imam Baqir adalah penyibak ilmu pengetahuan dan penghimpunnya. Perilakunya menunjukkan kepribadian beliau. Ia memiliki hati yang suci dan akhlak yang mulia. Masa-masa hidupnya ia baktikan untuk mengabdi kepada Allah. Ia memiliki derajat yang begitu tinggi yang tak bisa dijelaskan oleh siapapun”.

Mengomentari peran pemimpin dalam menentukan nasib umatnya, Imam Baqir berkata, “Allah Swt berfirman, setiap komunitas yang berada di bawah kekuasaan Islam yang menjadikan para pemimpin yang zalim dan kufur sebagai pemimpinnya, niscaya mereka bakal mendapat kesengsaraan, walaupun dalam tindakan personalnya mereka terbilang bertakwa. Sebaliknya, setiap komunitas yang berada di bawah kekuasaan Islam menjadikan pemimpin yang adil sebagai pemimpinnya, maka mereka akan memperoleh ampunan dosa dan rahmat ilahi, meskipun mereka memiliki kesalahan dalam tindakan pribadinya”.

Dalam perkataannya yang lain mengenai kecamannya terhadap penguasa yang zalim dan para pendukungnya, Imam Baqir as menuturkan, “Para pemimpin yang zalim dan para pendukungnya, jauh dari agama ilahi”.

Selama sebelas tahun Imam Baqir as hidup sezaman dengan masa kekuasaan khalifah dinasti Umayah, Hisyam bin Abdul Malik. Hisyam dikenal sebagai pemimpin yang kikir, brutal, dan zalim. Di masa itu, kehidupan masyarakat sangat sulit. Sementara Imam Baqir sebagai tokoh utama Ahli Nabi memperoleh simpati dan dukungan umat yang begitu luas. Tentu saja, Hisyam sangat khawatir dengan posisi Imam Baqir yang kian hari hari kian kuat itu. Karenanya, ia berusaha mencegah sebisa mungkin pengaruh spiritual Imam Baqir as terhadap umat Islam.

Suatu ketika dalam perjalanan hajinya, Hisyam begitu kaget dan marah melihat kecintaan masyarakat Muslim terhadap Imam Baqir as dan putranya, Imam Shadiq as. Sekembalinya ke Syam, ia pun memerintahkan supaya kedua tokoh Ahli Bait as itu dibawa secara paksa dari Madinah ke Syam. Namun upaya itu, bukannya malah menurunkan kecintaan umat kepada Ahli Bait Nabi as, tapi justu membuat masyarakat semakin mengenal siapa gerangan mereka itu, khususnya masyarakat Muslim di Syam. Karenanya, Hisyam pun terpaksa memulangkan mereka berdua ke Madinah.

Kesyahidan Imam Baqir as

Imam Baqir as selama 18 tahun keimamahannya menggunakan kesempatan tersebut untuk membimbing umat. Selama 18 tahun Imam mengerahkan upayanya untuk memperkuat sendi-sendi ideologi dan pemikiran masyarakat. Selain itu, sejarah kehidupan beliau penuh dengan teladan bagi umat. Keagungan dan kepiawian Imam Baqir as diakui oleh seluruh umat, bahkan ulama Sunni pun mengakuinya. Beliau selama hidupnya menjadi rujukan umat untuk menyelesaikan segala kesulitan mereka.

Imam Baqir as mencapai syahadahnya pada hari ketujuh  bulan Dzulhijjah tahun 114 H dalam usia 57 tahun di kota Madinah. Beliau meninggal karena diracun atas perintah Hasyim bin Abdul Malik, khalifah dari Bani Umayyah masa itu. Jenazah beliau dimakamkan di pemakaman Baqi di sisi makam ayahnya, Imam Ali Zainal Abidin as.

Diantara kata mutiara dari Imam Baqir as. Beliau berkata, “Sebaik-baik modal adalah percaya dan yakin kepada Allah Swt”.

Dalam tuturan sucinya yang lain, beliau menandaskan, “Kesempurnaan yang paling utama adalah mengenal agama, sabar dan tabah dalam menghadapi kesulitan, serta mengatur urusan hidup.”

Saya kumpulkan beberapa petuah dan nasehatnya Imam Baqir as, seorang imam yang memiliki ilmu yang tinggi yang banyak disegani oleh banyak kalangan. Inilah kata-kata mutiara beliau, semoga dapat bermanfaat.

Kesempurnaan yang paling sempurna adalah tafakkuh (mendalami) agama, sabar menghadapi musibah dan ekonomis dalam mengeluarkan biaya hidup.

———————————————————————————–

Kuwasiatkan lima hal kepadamu:
1. jika engkau dizalimi, jangan berbuat zalim,
2. jika mereka mengkhianatimu, janganlah engkau berkhianat,
3. jika engkau dianggap pembohong, janganlah marah,
4. jika engkau dipuji, janganlah gembira, dan
5. jika engkau dicela, kontrollah dirimu

————————————————————————————–

Ambillah nasihat baik dari orang yang mengucapkannya meskipun ia tidak mengamalkannya

————————————————————————————-

Sesungguhnya Allah membenci seseorang yang meminta-minta kepada orang lain berkenaan dengan kebutuhannya, dan menyukai hal itu (jika ia meminta kepada)-Nya. Sesungguhnya Ia suka untuk diminta setiap yang dimiliki-Nya

—————————————————————————————

Alangkah mungkin orang yang tamak kepada dunia akan mendapatkannya di dunia. Akan tetapi, ketika ia mendapatkan seluruhnya, dunia itu akan menjadi bala` baginya dan ia menjadi sengsara karenanya. Dan alangkah mungkin seorang membenci urusan akhirat. Akan tetapi, ia dapat menggapainya kemudian dan ia hidup bahagia karenanya.

————————————————————————————-

Jika sesuatu digabung dengan yang lain, tidak ada gabungan yang lebih indah dari kesabaran yang digabung dengan ilmu.

————————————————————————————-

Tiga hal adalah kemuliaan dunia dan akhirat: memaafkan orang yang menzalimimu, menyambung tali persaudaraan terhadap orang yang memutuskannya, dan sabar ketika engkau diperlakukan sebagai orang bodoh.

———————————————————————————-

“Seorang alim yang dapat dimanfaatkan ilmunya lebih utama dari tujuh puluh ribu abid.

————————————————————————————

“Jika mulut seseorang berkata jujur, maka perilakunya akan bersih, jika niatnya baik, maka rezekinya akan ditambah, dan jika ia berbuat baik kepada keluarganya, maka umurnya akan ditambah.

———————————————————————

Alangkah mungkin orang yang tamak kepada dunia akan mendapatkannya di dunia. Akan tetapi, ketika ia mendapatkan seluruhnya, dunia itu akan menjadi bala` baginya dan ia menjadi sengsara karenanya. Dan alangkah mungkin seorang membenci urusan akhirat. Akan tetapi, ia dapat menggapainya kemudian dan ia hidup bahagia karenanya.

————————————————————————

Janganlah malas dan suka marah, karena keduanya adalah kunci segala keburukan. Barang siapa yang malas, ia tidak akan dapat melaksanakan hak (orang lain), dan barang siapa yang suka marah, maka ia tidak akan sabar mengemban kebenaran

————————————————————————-

Silaturahmi dapat membersihkan amalan, memperbanyak harta, menghindarkan bala`, mempermudah hisab (di hari kiamat) dan menunda ajal tiba.

—————————————————————————–

Tiada keutamaan seperti jihad dan tiada jihad seperti menentang hawa nafsu.

——————————————————————————-

Bersikaplah wara, berusahalah selalu, jujurlah, dan berikanlah amanat kepada orangnya, baik ia adalah orang baik maupun orang fasik. Seandainya pembunuh Ali bin Abi Thalib a.s. menitipkan amanat kepadaku, niscaya akan kuberikan kepadanya.

———————————————————————————-

Ucapkanlah kepada orang lain kata-kata terbaik yang kalian senang jika mereka mengatakan itu kepadamu.

—————————————————————————–

Hamba yang paling celaka adalah hamba yang berwajah dan bermulut dua; ia memuji saudaranya di hadapannya dan menghibahnya di belakangnya, jika saudaranya itu dianugerahi nikmat, ia iri dan jika ia ditimpa musibah, ia menghinanya.

———————————————————————————

Semua mata pasti akan menangis pada hari kiamat kecuali tiga mata: mata yang bangun malam di jalan Allah, mata yang menangis karena takut kepada-Nya dan mata yang tidak pernah melihat hal-hal yang diharamkan oleh Allah.

————————————————————————————–

Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang banyak berdoa. Oleh karena itu, berdoalah pada waktu ashar hingga matahari terbit, karena pada waktu itu pintu-pintu langit terbuka, rezeki-rezeki dibagikan dan hajat-hajat penting dikabulkan

———————————————————————————-

Sesuatu yang paling utama di sisi Allah adalah engkau meminta segala yang dimiliki-Nya.

——————————————————————————————

Doa yang paling cepat dikabulkan adalah doa seorang hamba untuk saudaranya tanpa sepengetahuannya.

—————————————————————————————

Perumpamaan orang yang tamak bagaikan ulat sutra. Ketika sutra yang melilitnya bertambah banyak, sangat jauh kemungkinan baginya untuk bisa keluar sehingga ia akan mati kesedihan di dalam sarangnya sendiri.

————————————————————————————–

Tiga kriteria yang penyandangnya tidak akan meninggal dunia kecuali ia telah merasakan siksanya: kezaliman, memutuskan tali silaturahmi dan bersumpah bohong, yang dengan sumpah tersebut berarti ia telah berperang melawan Allah.

—————————————————————————————–

“Orang yang mencari ilmu dengan tujuan mendebat ulama (lain), mempermalukan orang-orang bodoh atau mencari perhatian manusia, maka bersiap-siaplah untuk menempati neraka. Kepemimpinan tidak berhak dimiliki kecuali oleh ahlinya.

————————————————————————————

Sesungguhnya pahala orang yang mengajarkan ilmu adalah seperti pahala orang yang belajar darinya, dan ia masih memiliki kelebihan darinya. Oleh karena itu, pelajarilah ilmu dari ahlinya dan ajarkanlah kepada saudara-saudaramu sebagaimana ulama telah mengajarkannya kepadamu.

——————————————————————————————————-

Ketika Allah menciptakan akal, Ia berfirman kepadanya: Kemarilah! Ia pun menghadap. Ia berfirman kembali: Mundurlah! Ia pun mundur. Kemudian Ia berfirman: Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, Aku tidak pernah menciptakan makhluk yang lebih Kucintai darimu, dan Aku tidak akan menyempurnakanmu kecuali bagi orang yang Kucintai. Semua perintah, larangan, siksa dan pahala-Ku tertuju kepadamu.

——————————————————————————————-

Engkau dapat dikatakan rendah hati jika, engkau rela duduk di sebuah majelis yang lebih rendah dari kedudukanmu, mengucapkan salam kepada orang yang kau jumpai, dan menghindari debat meskipun engkau benar.

——————————————————————————————-

Ghibah adalah engkau membicarakan aib yang dimiliki oleh saudaramu yang Allah telah menutupnya sehingga tidak diketahui oleh orang lain, dan menuduh adalah engkau membicarakan aib yang tidak dimiliki olehnya.

—————————————————————————————–

Allah akan memberikan hadiah bala` kepada hamba-Nya yang mukmin sebagaimana orang yang bepergian akan selalu membawa hadiah bagi keluarganya, dan menjaganya dari (godaan) dunia sebagaimana seorang dokter menjaga orang yang sakit.

—————————————————————————————-

Orang yang paling menyesal di hari kiamat adalah orang yang berbicara keadilan dan ia sendiri tidak melaksanakannya.

————————————————————————————

Seorang hamba bisa dikatakan alim jika ia tidak iri kepada orang yang berada di atasnya dan tidak menghina orang yang berada di bawahnya.

————————————————————————————

Tidak akan bermaksiat kepada Allah orang yang mengenal-Nya.

——————————————————————————————–

Sesungguhnya Allah akan menghisab hamba-hamba-Nya pada hari kiamat sesuai dengan kadar akal yang telah dianugerahkan kepada mereka di dunia.

—————————————————————————————-

Orang-orang membinasakan diri mereka sendiri jika dalam diri mereka terdapat kebiasaan buruk, sombong, tamak dan hasud

————————————————————————————–

Faqih yang sebenarnya adalah orang yang zahid terhadap dunia, rindu akhirat dan berpegang teguh kepada sunnah Rasulullah SAW”

—————————————————————————————–

Allah membenci pencela yang tidak memiliki harga diri.

————————————————————————————–

Barang siapa yang mengeluarkan fatwa tanpa ilmu yang cukup, maka ia akan dilaknat oleh malaikat rahmat dan azab serta dosa orang yang mengamalkan fatwanya akan dipikul olehnya.

—————————————————————————————–

Ibadah yang terbaik adalah menjaga perut dan kemaluan.

—————————————————————————————-

Sesungguhnya Allah azza wa jalla menyukai orang-orang yang suka bergurau dengan orang lain dengan syarat tanpa cela-mencela

——————————————————————————————

Mengenang Imam Baqir As; Sang Penyingkap Tirai Ilmu

Imam Muhammad al-Baqir adalah Imam Kelima. Panggilannya adalah Abu Ja’far dan ia terkenal dengan gelar “al-Bâqir“. Ibunya adalah putri Imam Hasan. Oleh karena itu, ia merupakan satu-satunya Imam yang berhubungan dengan Hadrat Fatimah az-Zahra dari pihak ayah dan pihak ibu.  Imam Muhammad al-Baqir dibesarkan dalam pangkuan datuknya Imam Husain, selama tiga tahun. Selama tiga puluh tiga tahun di bawah pengawasan kasih ayahandanya Imam ‘Ali Zainal ‘Abidin.

Imam Suci ini turut serta dalam tragedi Karbala, saat tragis pembunuhan berdarah datuknya Imam Husain dan para sahabatnya. Dia juga menderita dengan ayahandanya dan wanita-wanita Ahlulbait Nabi As yang mendapatkan perlakuan kejam dan penawanan di tangan kekuatan lasykar setan di bawah komando Yazid bin Mu’awiyah. Setelah tragedi Karbala, Imam melalui masa hidupnya dengan damai di Madinah, beribadah kepada Allah dan menuntun orang-orang ke jalan yang benar.

Kejatuhan Dinasti Bani Umayyah bermula sejak masa pemerintahan Yazid bin Mu’awiyah, yang telah membantai Imam Husain. Yazid sendiri telah sepenuhnya menyadari akibat-akibat buruk dari perbuatannya bahkan sejak masa pemerintahannya yang singkat. Putranya Mu’awiyah Kedua (dikenal sebagai Mu’awiyah ats-Tsani) menolak untuk menerima khilâfah, dia berkata:

“Aku tidak dapat menerima mahkota yang telah dibangun dengan dasar penindasan dan kezaliman.”

Ibn Hajar al-Haitami, seorang ulama Sunni yang terkenal berkata: “Imam Muhammad al-Baqir telah menyingkap rahasia-rahasia ilmu pengetahuan, hikmah dan menyibak prinsip-prinsip spiritual dan bimbingan agama. Tidak ada yang dapat mengingkari keunggulan pribadinya, ilmu yang diberikan Tuhan kepadanya, hikmah Ilahiyahnya dan kewajiban serta baktinya dalam menyebarkan ilmu. Dia merupakan seorang pemimpin spiritual yang agung dan suci dan atas kemuliaan ini dia digelari dengan “al-Baqir” yang berarti “Penyingkap Tirai Ilmu”. Ia adalah seorang yang pemurah, pribadi tanpa-noda, berjiwa kudus dan mulia, dia mencurahkan segala waktunya untuk tunduk kepada Allah (dan dalam menyampaikan ajaran-ajaran suci Nabi Saw dan Ahlulbaitnya As). Berada di luar kekuatan manusia untuk mengukur kedalaman ilmu pengetahuan dan bimbingan yang ditinggalkan oleh Imam di hati kaum Mukmin. Hadis-hadis tentang takwa, zuhud, ilmu, hikmah, dan amal serta tunduk taslim kepada Allah Swt sedemikian banyaknya sehingga buku ini tidak memadai untuk menceritakan keutamaannya.” (as-Sawâiqul Muhriqah, hal. 120).

Imam Baqir berupaya untuk mengumpulkan hadis-hadis dan ajaran-ajaran Nabi Saw dan Ahlulbaitnya dalam bentuk buku-buku. Murid-muridnya menkompilasi buku-buku tersebut dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan dan seni di bawah perintah dan bimbingannya.

Dalam kepribadian yang suci dan Ilahi, Imam Muhammad Baqir As merupakan sebuah contoh dari Rasulullah Saw dan datuknya, ‘Ali bin Abi Thalib. Pelajaran-pelajarannya menciptakan sensasi ruhani di antara kaum Muslimin. Dia tidak hanya ramah kepada musuh-musuhnya tapi juga ia terkadang menasihatkan mereka ke jalan yang benar. Dia mendesak kepada orang-orang untuk menjalani hidup mereka dengan hasil keringat sendiri dan kerja keras.

Imam Baqir As sangat menaruh perhatian terhadap majelis yang memperingati syahadah Imam Husain As. Kumait bin Zaid al-Asadi, salah seorang pujangga masyhur dan tersohor kala itu, biasa membacakan elegi (kidung sedih) untuk Imam Husain pada majlis-majlis duka. Majlis-majlis seperti ini juga sangat dianjurkan oleh Imam Ja’far Shadiq dan Imam ‘Ali Ridha’, Imam Keenam dan Kedelapan.

Imam Muhammad Baqir melanjutkan ajaran-ajarannya dengan damai hingga tahun 114 H. Pada tanggal 7 Dzulhijjah ketika ia berusia lima puluh tujuh tahun, Hisyam bin ‘Abdul Malik bin Marwan, penguasa selanjutnya, mensyahidkannya dengan meracuninya. Upacara shalat jenazah Imam Baqir dilaksanakan oleh putranya Imam Shadiq, Imam Keenam, dan jasadnya dikebumikan di Jannatul Baqi Madinah.

Allamah Tabataba’i menulis:

Imam Muhammad Baqir (kata baqir bermakna orang yang memotong dan menyingkap, gelar yang diberikan oleh Nabi Saw kepadanya) merupakan putra Imam Keempat dan lahir pada tahun 65 H/ 675 M. Ia hadir pada masa Tragedi Karbala terjadi. Kala itu, Imam Baqir berusia empat tahun. Setelah ayahnya, melalui perintah Ilahi dan keputusan para Imam yang pergi sebelumnya, ia menjadi Imam. Pada tahun 114 H/732 M ia syahid, menurut sumber-sumber Syiah, ia diracun oleh Ibrahim bin Walid bin Abdillah, kemenakan Hisyam, Khalifah Bani Umayyah.

Selama masa Imâmah Imam Kelima, setiap hari pemberontakan dan peperangan di berbagai penjuru dunia Islam terjadi, sebagai hasil dari kezaliman Bani Umayyah. Terlebih, pertikaian yang terjadi di kalangan keluarga Bani Umayyah sendiri menyebabkan Khalifah sibuk dan pada tingkatan tertentu meninggalkan Ahlulbait Nabi As sendiri tanpa kontrol, di mana Imam Keempat merupakan perwujudan dari kesibukan ini yang telah menarik perhatian banyak kaum Muslimin terhadap Imam.

Faktor-faktor ini memungkinkan orang-orang dan khususnya Syiah bertambah banyak jumlahnya di Madinah dan mereka hadir dalam pelajaran-pelajaran yang disampaikan oleh Imam Kelima. Kesempatan untuk menyebarkan ajaran Hak tentang Islam dan ilmu Ahlulbait Nabi Saw, yang tidak pernah hadir sebelumnya bagi para Imam sebelumnya, kini hadir di hadapan Imam Kelima. Bukti dari kenyataan ini terhitung  dari hadis dan riwayat yang tak terbilang banyaknya dari Imam Kelima dan ulama-ulama cemerlang Syiah yang terlatih di bawah bimbingan Imam Kelima dalam berbagai disiplin ilmu. Nama-nama ulama ini terdapat dalam buku-buku biografi orang-orang terkenal dalam Islam.

Imam Muhammad Baqir pimpinan para Arif dan Ahli Salik

Riwayat Hidup Imam Baqir as
 Imam Muhammad Baqir pimpinan para Arif dan Ahli Salik
Ibnu Hajar seorang ulama sunni berkata,” Muhammad Baqir merupakan pembedah harta keilmuan yang tersimpan, dia memaparkan hakikat-hakikat tersembunyi hukum-hukum, hikmah dan rahasia keilmuan. Berbagai rahasia keilmuan yang tidak ada kemungkinan untuk dibeber masa-masa sebelumnya telah dipaparkan pada masa beliau dengan jelas, karena alasan-alasan itu maka dia disebut sebagai Baqirul Ulum (sang pembedah ilmu) dan sang pionir pengetahuan. Abdullah bin Atha, seorang pembesar ulama sunni lainnya berkata, ” Aku tidak pernah melihat para ulama terlihat kecil dalam sebuah pertemuan
kecuali ketika mereka bersama Muhammad bin Ali Al Baqir”
 

Imam Muhammad AlBaqir lahir pada awal bulan Rajab di kota Madinah tahun 57 HQ. Orang tua beliau adalah Husain bin Ali sedang ibu beliau adalah Fathimah yang lebih dikenal sebagai Umi Abdillah salah seorang putri dari Imam Hasan AlMujtaba. Jadi beliau memiliki dua orang tua yang berasal dari Bani Hasyim. Imam Baqir shahid pada hari senin tanggal 7 dzulhijjah tahun 114 HQ pada umur 57 tahun, atas perintah Hisyam bin Abdul Malik seorang penguasa Umawiyah ahirnya beliau merengkuh syahadah karena diracuni. Beliau  dimakamkan di Madinah di pekuburan Baqi.

Imam Baqir adalah  salah seorang anak kecil yang ditahan pada peristiwa yang menimpa kakeknya di Karbala, pada waktu itu beliau masih berusia tiga tahun lebih tiga bulan. Semasa hidup beliau terkenal dengan keilmuan, ketaqwaan dan kesucian batinnya. Beliau terhitung sebagai tempat rujukan untuk memecahkan masalah keilmuan bagi umat Islam. Keberadaan Imam Muhammad Baqir merupakan pioner penabuh genderang yang membangunkan umat dari tidur panjang kelalaian. Karena beliau dikenal masyarakat sebagai tanda-tanda anak dari orang yang telah mempersembahkan jiwa raga demi utuhnya agama Islam disaat terjadi puncaknya penyimpangan atas nama agama Islam, penyimpangan yang hampir saja memusnahkan agama Islam. Imam Baqir juga berupaya menyampaikan dakwah yang berpusat di medan Karbala, sehingga masyarakat menjadi tahu atas apa yang sebenarnya terjadi.

Pada musim haji ribuan umat Islam baik dari Irak maupun Khurosan, berbondong minta fatwa beliau  dan menanyakan berbagai masalah yang mereka miliki. Hisyam bin Abdul Malik ketika dia memandang Imam Baqir dan bertanya siapakah dia, pada dia  orang-orang berkata dia adalah orang yang telah membuat masyarakat Kufah takjub, dia adalah Imam dari Irak. Para fukaha besar hauzah pusat pemikiran dan keilmuan menjadikan dia sebagai tempat merujuk ketika mereka menemui permasalahan yang sulit dipecahkan. Sudah begitu banyak dialog dialog dilakukan dengan Imam Baqir dan beliau dipojokkan dengan pertanyaan yang sulit dan dalam keadaan genting dihadapan pandangan masyarakat yang turut hadir, bukannya kalah dalam dialog  melainkan justru beliau malah berhasil membuat mereka terkesima. Beliau mampu memberikan jawaban cerdas, ilmiah, dengan dalil jelas, kuat  dan bisa diterima para penanya yang berusaha memojokkan beliau.

Hauzah ilmiah beliau merupakan tempat mendidik ratusan ilmuwan dan ahli hadis, hauzah itu merupakan tempat yang penting (dalam dunia Islam). Jabir Ja’fi berkata,” Abu Ja’far telah meriwayatkan tujuh puluh ribu hadis padaku” Muhammad bin Muslim berkata,” ketika ada suatu masalah yang terasa sulit dipecahkan aku tanyakan hal itu pada Abu Ja’far, hingga aku dapatkan tiga puluh ribu hadis dari pertanyaan-pertanyaanku itu.” Imam Muhammad Baqir ketika menyifati syiahnya berkata,” Begitulah Syiah kami dan syiah Ali, mereka mengikuti kami dengan totalitas jiwa dan raga tanpa ada riya sedikitpun, dan demi menjaga dan menghidupkan agama mereka selalu melindungi kami, ketika mereka marah tidak ada kerugian yang timbul darinya dan  ketika mereka sedih  mereka tidak berlarut-larut dalam kesedihannya itu. Siapapun yang menjadi tetangga mereka akan mendapat berkah, ketika ada yang bermasalah dengan mereka, mereka berupaya mencari jalan pemecahan damai. Dan syiah kami adalah orang yang taat pada Allah swt.”

Imam Baqir as dihadapan Penguasa Zalim

Imam Baqir hidup semasa dengan lima orang khalifah bani Umayah yaitu Walid bin Abdul Malik, Sulaiman bin Abdul Malik, Sulaiman bin abdul Aziz, Yazid bin abdul Malik, dan Hisyam bin Abdul Malik. Semua khalifah ini adalah orang sombong dan takabur kecuali khalifah Umar bin Abdul Aziz, mereka senantiasa mengganggu dan mempersulit Imam Baqir as. Pada masa-masa itu beliau memiliki kesempatan untuk menyebarkan ilmu yang lebih luas, lebih dari itu beliau juga telah meletakkan pondasi awal pembentukkan universitas Islam pada masa keimamahan beliau, usaha yang kemudian dilanjutkan dan diselesaikan pada zaman putra beliau yang bernama Ja’far As Shodiq as. Metodologi dakwah yang diaplikasikan oleh Imam pendahulu beliau yaitu Imam Baqir dan Imam Sajad as dilakukan secara sembunyi-sembunyi dengan metodologi dakwah bawah tanah, karena menggunakan metode ini maka tidak ada yang mengetahui dakwah yang mereka lancarkan. Namun, walau sudah dilakukan dengan sembunyi-sembunyi tetap saja bisa bocor, mengetahui itu khalifah menjadi marah besar dan akhirnya mereka dibuang dan diasingkan agar tidak bisa berhubungan dengan masyarakat.

Pada ahirnya tahun 114 H Imam Baqir  as yang menjadi sumber kemarahan khalifah Hisyam bin Abdul Malik diracuni dan beliau merengkuh syahadah dengan perantara pembantu yang berkhianat pada beliau. Jenazah orang besar ini dimakamkan dekat dengan kuburan orang tua beliau di pekuburan Baqi.

Keutamaan dan Keilmuan Imam Muhammad Baqir As

Semasa hidup beliau mengabdikan diri dengan menyebarkan ilmu Islam dan mendidik para murid beliau, beliau mengajarkan masalah pengenalan agama Islam, fikih, dan hukum Islam. Selain itu beliau juga menyiapkan diri untuk menjadi tempat rujukan masyarakat dalam mencari pemecahan masalah dalam berbagai hal. Beberapa murid beliau diantaranya : Muhammad bin muslim, Zurarah bin Ain, Abu Nashir, Hisyam bin Salim, Jabir bin yazid, Hamron bin Ain, dan Barid bin Muawiyah Al Ajali. Berkat beliau terjadi capaian keilmuan sebegitu rupa sehingga beliau pun disebut sebagai Baqirul Ulum ( pemecah keilmuan).

Seorang ulama besar sunni Ibnu Hajar Al Haitami terkait Imam Baqir menulis, ”Muhammad Baqir merupakan pembedah harta keilmuan yang tersimpan dia memaparkan hakikat-hakikat tersembunyi hukum-hukum, hikmah dan rahasia keilmuan. Berbagai rahasia keilmuan yang tidak ada kemungkinan untuk dibeber pada masa-masa sebelumnya telah dipaparkan pada masa beliau dengan jelas, karena alasan-alasan itu maka dia disebut sebagai Baqirul Ulum (sang pembedah ilmu) dan sang pionir pengetahuan” Abdullah bin Atha, seorang pembesar ulama suni lainnya berkata,” Aku tidak pernah melihat para ulama terlihat kecil dalam sebuah pertemuan kecuali ketika mereka bersama Muhammad bin Ali AlBaqir”. Dalam ceramahnya Imam Baqir lebih sering mengungkapkan dalil atas ucapannya dari Qur’an dan menyatakan diri sebagai saksi(hujjah) atas kalam Allah swt. Beliau berkata, “ Atas semua yang aku sampaikan tanyakanlah padaku dimana pembahasan itu ada dalam Qur’an, aku akan jelaskan ayat yang berhubungan dengannya.”

Sembilan Panah pada Jantung Hisyam

Terjadi peristiwa menarik yang penuh hikmah. Peristiwa lomba memanah ditempat yang dipersiapkan Hisyam bin Abdul Malik dimana Imam baqir diundang untuk dibuat runtuh wibawanya dengan mengalahkan beliau dalam pertandingan memanah itu. Khalifah berharap Imam akan menjadi hina dimata masyarakat. Tidak seperti yang Hisyam harapkan ternyata lomba itu malah menjadi sejarah keemasan dari Imam baqir dalam dunia permainan panah. Hisyam dengan perinci telah mempersiapkan perlombaan panah itu, dan sebelum Imam masuk Hisyam menyuruh para ahli panahnya untuk unjuk kebolehan.

Setelah Imam masuk dan baru saja duduk Hisyam menghadapkan wajahnya pada Imam dan berkata,” Apakah kamu berminat untuk ikut lomba memanah?” Imam berkata, “ Sekarang aku sudah begitu tua dan waktu bermain panah sudah lama berlalu, jadi mohon maaf karena itu.” Hisyam sangat bahagia mendengar itu dan merasa kesempatan emas untuk mengalahkan imam sudah dihadapan mata, dia memaksa dan meminta agar imam ikut serta dalam lomba itu dengan memberikan busur dan anak panah pada Imam. Ahirnya Imam mengambil panah itu dan segera meletakkan panah pada  busur serta mengarahkan panah pada sasaran. Anak panah meluncur dan menancap tepat di tengah, kemudian beliau kirim panah berikutnya tepat di anak panah yang sudah menancap sebelumnya hingga anak panah pertama pecah menjadi dua, begitu berulang ulang hingga panah kesembilan, peristiwa ini sangat mengejutkan penonton yang datang pada waktu itu, mereka sangat takjub dan terkesima, peristiwa itu meninggalkan dampak besar dihati mereka yang menyaksikanna.

Tanpa disadari Hisyam berkata,” Ya Aba Ja’far kamu adalah pemanah terbaik diantara orang Arab maupun Ajam (non Arab), bagaimana kamu bisa berkata “ Aku sudah tua”? seketika dia menundukkan kepala dan sibuk dengan pikirannya. Setelah itu Imam Baqir dan putranya as diajak duduk di kursi khusus dan  diperlakukan dengan begitu istimewa. Hisyam kembali berkata,” Kaum Quraiys dari penutup keberadaan kemampuanmu untuk menjadi seorang pemimpin atas bangsa Arab dan Ajam, siapa yang mengajarkanmu keahlian memanah ini? Dan berapa lama kamu mempelajarinya? Imam berkata,” Kamu tahu bahwa orang Madinah biasa melakukan hal ini, aku pun sama, ketika masih muda aku sering melatih kemampuan ini, namun kemudian tidak aku lanjutkan lagi, namun karena kamu memaksaku akhirnya aku lakukan lagi. Hisyam bertanya lagi,” Apakah Ja’far juga memiliki keahlian seperti kamu? Imam menjawab,” Kami adalah keluarga penyempurna agama dan nikmat” pada hari ini telah kami sempurnakan untuk kalian agama kalian” kami saling mewariskan satu dengan yang lain dan bumi ini tidak akan pernah kosong dari orang-orang seperti kami walaupun sebentar saja.

Ucapan Pencerah Imam Baqir berkata:

“Aku nasihatkan padamu lima perkara, jika orang didzalimi kamu jangan berbuat dzalim, jika ada yang berkhianat padamu kamu jangan mengkhianati, jika ada yang membohongimu kamu jangan  marah, jika ada yang memujimu kamu jangan berbahagia, jika mereka berbuat baik padamu jangan terlalu merasa gembira.”(*)

Imam Muhammad Baqir pimpinan para Arif dan Ahli Salik

Imam Muhammad Al-Baqir as

Nama : MuhammadGelar : Al-BaqirJulukan : Abu Ja’farAyah : Ali Zainal Abidinlbu : Fatimah binti HasanTempat/Tgl Lahir : Madinah, 1 Rajab 57 H.Hari/Tgl Wafat : Senin, 7 Dzulhijjah 114 H.Umur : 57 TahunSebab Kematian : Diracun Hisyam bin Abdul MalikMakam : Baqi’, MadinahJumlah Anak : 8 orang; 6 laki-laki dan 2 perempuanAnak Laki-laki : Ja’far Shodiq, Abdullah, Ibrahi, Ubaidillah, Reza, AliAnak Perempuan : Zainab, Ummu Salamah

Riwayat Hidup

Keimamahan Muhammad Al-Baqir, dimulai sejak terbunuhnya Ali Zainal Abidin a.s. melalui racun yang mematikan. Beliau merupakan orang pertama yang nasabnya bertemu antara Imam Hasan dan Imam Husein yang berarti beliau orang pertama yang bernasab kepada Fatimah Az-Zahra’, sekaligus dan pihak ayah dan ibu.

Selama 34 Tahun beliau berada dalam perlindungan dan didikan ayahnya, Ali Zainal Abidin a.s. Selama hidupnya beliau tinggal di kota Madinah dan menggunakan sebagian besar waktunya untuk beribadah guna mendekatkan diri kepada Allah SWT serta membimbing masyarakat ke jalan yang lurus.

Mengenal keilmuan dan ketaatannya, kita semak kata-kata lbnu Hajar al-Haitami, seorang ulama sunni yang mengatakan: “Imam Muhammad AL-Baqir telah menyingkapkan rahasia-rahasia pengetahuan dan kebijaksanaan, serta membentangkan prinsip-prinsip spiritual dan agama. Tak seorangpun dapat menyangkal keperibadiannya yang mulia, pengetahuan yang diberikan Allah, kearifan yang dikaruniakan oleh Allah dan tanggung jawab serta rasa syukurnya terhadap penyebaran pengetahuan. Beliau adalah seorang yang suci dan pemimpin spiritual yang sangat berbakat. Dan atas dasar inilah beliau terkenal dengan gelar al-baqir yang berarti pengurai ilmu. Beliau baik hati, bersih dalam keperibadian, suci jiwa, dan bersifat mulia. Imam mencurahkan seluruh waktunya dalam ketaatan kepada Allah (dan mempertahankan ajaran-ajaran nabi suci dan keturunannya). Adalah di luar kekuasaan manusia untuk menghitung pengaruh yang mendalam dan ilmu dan bimbingan yang diwariskan oleh Imam pada hati orang-orang beriman. Ucapan-ucapan beliau tentang kesalehan, pengetahuan dan kebijaksanaan, amalan dan ketaatan kepada Allah, begitu banyak sehingga isi buku ini sungguh tidak cukup untuk meliput semuanya itu”.

Beliau menipakan salah seorang imam yang bidup di zaman yang bukan zaman Rasullah s.a.w, namun jauhnya jarak waktu antara beliau dan Rasulullah bukan merupakan atasan untuk merasa jauh dengan beliau s.a.w. Diriwayatkan: “Suatu kali Jabir bin Abdullah al-Anshori bertanya kepada Rasulullah s.a.w: Ya Rasulullah, siapakah imam-imam yang dilahirkan dan Ali bin Abi Thalib? Rasulullah s.a.w menjawab, Al-Hasan dan Al-Husein, junjungan para pemuda ahli surga, kemudian junjungan orang-orang yang sabar pada zamannya, Ali ibn al-Husein, lalu al-Baqir Muhammad bin Alî, yang kelak engkau ketahui kelahirannya, Wahai Jabir. Karena itu, bila engkau nanti bertemu dengannnya, sampaikanlah salamku kepadanya”.

Mengenai situasi pemerintahan yang terjadi di zaman beliau, dua tahun pertama dipimpin oleh Al-Walid bin Abdul Malik yang sangat memusuhi keluarga nabi dan dialah yang memprakarsAl pembunuhan Ali Zainal Abidin a.s. Dua tahun berikutnya beliau juga hidup bersama raja Sulaiman bin Abdul Malik yang sama jahat dan durjananya dengan selainnya, yang seandainya dibandingkan maka dia jauh lebih bejat dari penguasa Bani Umayyah yang sebelumnya. Kemudian tampuk kepemimpinan berpindah ke tangan Umar bin Abdul Aziz, seorang penguasa Bani Umayyah yang bijaksana dan lain dari selainnya. Beliaulah yang menghapus kebiasaan melaknat Imam Ali bin Abi Thalib di setiap mimbar Jum’at, yang diprakarsai oleh Muawiyah bin Abi Sufyan dan telah berjalan kurang lebih 70 tahun. Beliau pula yang mengembalikan tanah Fadak kepada Ahlu Bait Nabi yang pada waktu itu diwakili Imam Muhammad aL-Baqir (AL-Khishal. Jilid 3. Najf Al-Asyraf). Namun sayang beliau tidak berumur panjang dan pemerintahannya hanya berjalan tidak lebih dari dua tahun lima bulan. Pemerintahan kemudian beralih ke tangan seorang pemimpin yang laim yaitu Hisyam bin Abdul Malik bin Marwan.

Pemerintahan Hisyam diwarnai dengan kebejatan moral serta pengejaran dan pembunuhan terhadap para pengikut Ahlu Bait. Zaid bin Ali seorang keluarga rasul yang Alim dan syahid gugur di zaman ini. Hisyam kemudian memerintahkan pasukannya untuk menghancurkan markas-markas Islam yang dipimpin oleh Imam Baqir a.s. Salah seorang murid Imam al-Baqir yang bernama Jabir al-Ja’fi juga tidak luput dari sasaran pembunuhan. Namun, demi keselamatannya Imam Muhammad al-Baqir menyuruhnya agar pura-pura gila. Beliau pun menerima saran dari Imam dan selamat dari ancaman pembunuhan, karena penguasa setempat mengurungkan niatnya setelah yakin bahwa Jabir benar-henar gila.

Ketika semua makar dan kejahatan yang telah ditempuh untuk menjatuhkan Imam Muhammad AL-Baqir tidak berhasil, sementara orang-orang semakin yakin akan keimamahannya, maka Bani Umayyah tidak punya alternatif lain kecuali pada tanggal 7 Zulhijjah 114 H, ketika Imam Baqir berusia 57 tahun, Hisyam bin Abdul Malik bin Marwan si penguasa yang zalim, menjadikan imam syahid dengan meracuninya, dan jenazahnya dibaringkan di Jannatul Baqi’ Madinah.

Ahlul Bait Nabi s.a.w berguguran satu demi satu demi mengharap ridha dari Allah SWT. Semoga salam dilimpahkan kepada mereka ketika mereka dilahirkan, di saat mereka berangkat menghadap Tuhannya, dan saat dibangkitkan kelak.

KH. Said Agil Siradj ngaji pada wahabi dan menerima beasiswa wahabi tidak berarti mesti jadi wahabi

23/10/2012

Picture

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siroj mengatakan ajaran syiah tidak sesat dan termasuk Islam seperti halnya Sunni. Imam Baqir as dan KH. Said Aqil Siroj (ketua umum PBNU) sama sama sabar dan tabah dalam menghadapi kesulitan, walau dihujat dan dilaknat tetap berjuang menegakkan keyakinan ! Said Aqil dicaci maki wahabi yang berambisi mendudukkan tokoh anti syi’ah menjadi ketua umum PBNU

.

ketua umum PBNU. Said Aqil Siraj membela Syi’ah mati-matian. Sa’id mengatakan ajaran Syi’ah tidak sesat dan termasuk Islam seperti halnya Sunni. (katanya saat dihubungi Tempo Kamis malam 26 Januari 2012, Dikutip dari situs resmi Syi’ah).Kontan saja pernyataan Said ini membuat gembira kelompok Syi’ah. Sehingga dalam situs resmi mereka diberitakan penuh kebanggan, dengan judul: “Ketua Umum PB NU: Syiah Tidak Sesat”.

Nah, Said Aqil Siradj tertangkap basah kerjasama dengan Syiah

Sebelumnya mari kita mengenal KH Said Aqil Siradj lebih dekat dengan membaca sedikit curiculum vitaenya.

  • Nama : Prof Dr KH Said Agil Siradj
  • Nama lengkap : Said Aqil Siradj
  • Tempat dan tanggal lahir: Cirebon, 03 Juli 1953
  • Nama istri : Nur Hayati Abdul Qodir
  • Nama Anak: 1. Muhammad Said Aqil, Nisrin Said Aqil, Rihab Said Aqil, Aqil Said Aqil

Pendidikan Formal

  1. S1 Universitas King Abdul Aziz, jurusan Ushuluddin dan Dakwah, lulus 1982.
  2. S2 Universitas Umm al-Qura, jurusan Perbandingan Agama, lulus 1987.
  3. S3 University of Umm al-Qura, jurusan Aqidah / Filsafat Islam, lulus 1994

Pendidikan Non-Formal

  1. Madrasah Tarbiyatul Mubtadi’ien Kempek Cirebon
  2. Hidayatul Mubtadi’en Pesantren Lirboyo Kediri (1965-1970)
  3. Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta (1972-1975)

Pengalaman Organisasi

  1. Sekertaris PMII Rayon Krapyak Yogyakarta (1972-1974)
  2. Ketua Keluarga Mahasiswa NU (KMNU) Mekkah (1983-1987)
  3. Wakil Katib ‘aam PBNU (1994-1998)
  4. Katib ‘aam PBNU (1998-1999)
  5. Penasihat Gerakan Anti Diskriminasi Indonesia (Gandi) (1998)
  6. Ketua Forum Komunikasi Kesatuan Bangsa (FKKB) (1998-sekarang)
  7. Penasehat Pusat Kajian Timur Tengah dan Islam UI (1998-sekarang)
  8. Wakil Ketua Tim Gabungan Pencari fakta (TGPF) Kerusuhan Mei 1998 (1998)
  9. Ketua TGPF Kasus pembantaian Dukun Santet Banyuwangi (1998)
  10. Penasehat PMKRI (1999-sekarang)
  11. Ketua Panitia Muktamar NU XXX di Lirboyo Kediri (1999)
  12. Anggota Kehormatan MATAKIN (1999-2002)
  13. Rais Syuriah PBNU (1999-2004)
  14. Ketua PBNU (2004-sekarang)

Profesional Kegiatan

  1. Tim ahli bahasa indonesia dalam surat kabar harian Al-Nadwah Mekkah (1991)
  2. Dosen di Institut Pendidikan Tinggi Ilmu Alquran (PTIQ) (1995-1997)
  3. Dosen pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (1995-sekarang)
  4. Wakil Direktur Universitas Islam Malang (Unisma) (1997-1999)
  5. MKDU penasihat fakultas di Universitas Surabaya (Ubaya) (1998-sekarang)
  6. Wakil ketua dari lima tim penyusun rancangan AD / ART PKB (1998)
  7. Komisi member (1998-1999)
  8. Dosen luar biasa Institut Islam Tribakti Lirboyo Kediri (1999 – sekarang)
  9. Majelis Permusyawaratan Rakyat anggota fraksi yang mewakili NU (1999-2004)
  10. Lulusan Unisma direktur (1999-2003)
  11. Penasehat Masyarakat Pariwisata Indonesia (MPI) (2001-sekarang)
  12. Dosen pascasarjana ST Ibrahim Maqdum Tuban (2003-sekarang)
  13. UNU Dosen lulusan Universitas NU Solo (2003-sekarang)
  14. Lulusan Unisma dosen (2003-sekarang)
  15. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) 2010-2015

    Said Agil Siradj Tokoh Perubahan Republika 2012, ngaji pada wahabi dan menerima beasiswa wahabi tidak berarti mesti jadi wahabi

    Said Agil Siradj Tokoh Perubahan Republika 2012?

meyakini hadis Bukhari Muslim shahih semua sama dengan meyakini NABI SULAIMAN MENGILIR ISTRINYA S/D 100 ORG DLM SEMALAM, NABI KENCING BERDIRI, MUSA LARI TELANJANG, MUSA MENAMPAR MALAiKAT MAUT, SHALAT NABi TIDAK KHUSYU’.. Syi’ah menolak melecehkan Para Rasul !!!

kita lihat bersama kitab hadist bukhari dan muslim:

1. FITNAH THD NABI SULAIMAN MENGILIR ISTRINYA S/D 100 ORG DLM SEMALAM

Shahih Muslim 3124: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abbad dan Ibnu Abu Umar dan ini adalah lafadz Ibnu Abu Umar, keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Hisyam bin Hujair dari Thawus dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Nabi Allah Sulaiman bin Daud pernah berkata, ‘Sungguh aku akan menggilir tujuh puluh isteriku dalam satu malam, yang nantinya masing-masing mereka akan melahirkan seorang anak laki-laki yang akan berjuang di jalan Allah’, lantas sahabatnya -atau Malaikat- memberi saran, ‘Ucapkanlah ‘Insya Allah’.’ Namun dia lupa mengucapkannya. Ternyata tidak seorang pun dari isterinya yang melahirkan kecuali hanya seorang isteri yang melahirkan seorang anak yang cacat.” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seandainya dia mengucapkan ‘Insya Allah’, tentu dia tidak akan melanggar sumpahnya, dan apa yang dihajatkannya akan terkabul.”

dari Abu Az Zannad dari Al A’raj dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seperti hadits di atas.”

Shahih Bukhari 6225: Telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin Abdullah telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Hisyam bin Hujair dari Thawus ia mendengar Abu Hurairah menuturkan; ‘Sulaiman berkata; ‘Aku akan menggilir Sembilan puluh Sembilan isteriku semalaman, yang kesemuanya akan melahirkan anak laki-laki yang berperang fii sabiilillah.’ Maka seorang kawannya berujar kepadanya -Sufyan menyatakan bahwa kawannya bernama Malak-; ‘Ucapkan insyaa-allah! ‘ Namun Sulaiman melupakan nasehat ini, sehingga Sulaiman menggilir kesembilan puluh Sembilan isterinya namun tak seorangpun melahirkan anak selain hanya seorang, itupun melahirkan setengah bayi.’ Abu Hurairah mengatakan ketika meriwayatkannya ; ‘Kalaulah Sulaiman mengucapkan; insyaa-allah, niscaya tercapailah keinginanya dan terwujud impiannya.’ Sedang pada kesempatan lain Abu Hurairah mengatakan dengan redaksi; Rasulullah Shallallahu’ala ihiwasallam bersabda: “lau istatsna (Sekiranya Sulaiman mengucapkan insyaa-Allah).” Dan telah menceritakan kepada kami Abu Az Zanad dari Al A’raj semisal hadits Abu Hurairah.

Shahih Bukhari 6148: Telah menceritakan kepada kami Abul yaman telah memberitakan kepada kami Syu’aib telah menceritakan kepada kami Abu Az Zanad dari Abdurrahman Al A’raj dari Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu’ala ihi wa sallam bersabda: “Sulaiman bin dawud pernah mengatakan; ‘Sungguh malam ini aku akan menggilir Sembilan puluh Sembilan isteriku, yang kesemuanya akan melahirkan laki-laki penunggang kuda yang berjihad fi sabilillah.’ Salah satu kawannya berujar; ‘ucapkan insyaa-allah.’ Namun Sulaiman tidak juga mengucapkannya. Akhirnya Sulaiman menggilir mereka semua namun tak satupun pun hamil selain satu isterinya yang melahirkan setengah manusia, demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya, kalaulah ia mengucapkan insyaa-allah, niscaya kesemuanya menjadi prajurit yang berjihad fii sabilillah.”

BANTAHANNYA
Dan Kami karuniakan kepada Daud, Sulaiman, dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya). (QS.Shad:30)

.
2. FITNAH THD NABI KENCING BERDIRI

Shahih Bukhari 2291: Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Harb dari Syu’bah dari Manshur dari Abu Wa’il dari Hudzaifah radliallahu ‘anhu berkata: “Aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ” atau katanya “Sungguh aku pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kencing di tempat pembuangan kotoran sambil berdiri”.

BANTAHAN NABI KENCING BERDIRI

SEBELUMNYA SAYA MAU TANYA BAGAIMANA JIKA IBU KITA DIKHABARKAN KENCING BERDIRI DIDEPAN UMUM ATAU DITEMPAT UMUM ? DAN APA YG ANDA KATAKAN KEPADA ORANG TUA YG KENCING BERDIRI DIDEPAN UMUM ? SEDANGKAN NABI ADALAH CONTOH TAULADAN KITA. SAYA MAU TANYA CONTOH TELADAN APA YG DIAMBIL DARI ORANG YG KENCING BERDIRI DIDEPAN UMUM

Sunan Nasa’i 29: Telah mengabarkan kepada kami Ali bin Hujr dia berkata; Telah memberitakan kepada kami Syarik dari Miqdam bin Syuraih dari Ayahnya dari Aisyah dia berkata: “Barangsiapa mengabarkan kepadamu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam buang air kecil sambil berdiri, jangan kamu mempercayainya, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak buang air kecil kecuali sambil duduk.”

Sunan Tirmidzi 12: telah menceritakan kepada kami Ali Bin Hujr berkata, telah mengabarkan kepada kami Syarik dari Al Miqdam bin Syuraih dari Bapaknya dari Aisyah ia berkata; ” Barangsiapa menceritakan kepada kalian bahwa Nabi Shallahu ‘alaihi wa Sallam buang air kecil dengan berdiri maka janganlah kalian percayai, karena beliau tidaklah buang air kecil kecuali dengan duduk.” Dia berkata; “Dalam bab ini ada juga hadits dari sahabat Umar, Buraidah dan Abdurrahman bin Hasanah.” Abu Isa berkata; “Hadits Aisyah adalah yang paling baik dan paling shahih dalam bab ini, sedangkan hadits Umar diriwayatkan dari hadits Abdul Karim bin Abul Mukhariq, dari Nafi’, dari Ibnu Umar, dari Umar, ia berkata; “Nabi Shallahu ‘alaihi wa Sallam pernah melihatku kencing dalam keadaan berdiri, kemudian beliau bersabda: “Wahai Umar, janganlah kamu kencing dengan berdiri, ” maka setelah itu aku tidak pernah lagi kencing dengan berdiri.” Abu Isa berkata; “Hanyasanya yang memarfu’kan hadits ini adalah Abdul Karim bin Abul Mukhariq, dan dia adalah seorang yang lemah menurut para ahli hadits. Abu Ayyub As Sikhtiyani juga telah melemahkan dan memperbincangka nnya.” Ubaidullah telah meriwayatkan dari Nafi’, dari Ibnu Umar, ia berkata; Umar Radliaallahu ‘anhu berkata; “Aku tidak pernah kencing dengan berdiri sejak aku masuk Islam.” Dan hadits ini lebih shahih ketimbang hadits Abdul Karim, sedangkan hadits Buraidah dalam bab ini tidaklah mahfudz (terjaga).” Sedangkan makna larangan kencing berdiri adalah berkaitan dengan tatakrama, bukan larangan yang bersifat pengharaman. Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata; “Sesungguhnya termasuk perangai buruk apabila kamu kencing dengan berdiri.”

Sunan Ibnu Majah 305: Telah menceritakan kepada kami Yahya Ibnul Fadll berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Amir berkata, telah menceritakan kepada kami ‘Adi Ibnul Fadll dari Ali bin Al Hakam dari Abu Nadlrah dari Jabir bin Abdullah ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang kencing sambil berdiri.” Aku mendengar Muhammad bin Yazid Abu Abdullah berkata; aku mendengar Ahmad bin Abdurrahman Al Mahzumi berkata; Sufyan Ats Tsauri berkata tentang hadits Aisyah, “Aku melihat beliau kencing dengan duduk”, laki-laki itu lebih tahu darinya tentang hal ini. Ahmad bin Abdurrahman berkata; “Kebiasaan orang-orang Arab adalah kencing dengan berdiri. Apakah kamu tidak memperhatikan di dalam hadits Abdurrahman bin Hasanah, dia berkata; “Beliau kencing sebagaimana seorang perempuan kencing.”

Allah Ta’ala berfirman :
“Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat)
Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS al-Ahzaab : 21)

.
3. HADIST DALAM BUKHORI-KERA BERZINA

Shahih Bukhari 3560: Telah menceritakan kepada kami Nu’aim bin Hammad telah menceritakan kepada kami Husyaim dari Hushain dari ‘Amru bin Maimun berkata; “Aku pernah melihat di zaman jahiliyyah seekor monyet sedang dikerumuni oleh monyet-monyet lainnya. Monyet itu telah berzina lalu monyet-monyet lain merajamnya (melempari dengan batu) dan aku ikut merajamnya bersama mereka”.

KETERANGAN
Hadis Bukhari: Tentang Kera Berzina Yang Dirajam Ramai-ramai Oleh Teman-temannya!!

Imam Bukhari mendongengkan kepada kita sebuah kisah melalui sebuah riwayat (yang tentunya sangat shahih dan dosa ditolak atau ditakwil!!!) tentang perselingkuhan seekor kera dengan lawan jenisnya (tentunya tanpa ada ikatan nikah yang disahkan dengan ijab dan qabul di hadapan penghulu yang tentunya juga dari kalangan kera tapi yang sarjana lulusan fakultas Syari’at).. dan untuk mempertangung jawabkan perbuatannya itu, si kera malang itu dirajam rame-rame oleh sekawanan kera (entah waktu itu Amirul Kera-nya siapa namanya, Imam Bukhari tidak memberitahukan dalam riwayat itu)

A) Apakah dalam masyarakat kera dan binatang sejenisnya ada syari’at? lalu siapa nabinya? apa juga dari bangsa kera ada yang lulus sensor “langit”, atau siapa?

B) Apakah hukuman yang berlaku untuk masyarakt kera jika berzina itu juga Rajam? sama seperti syari’atnya Nabi Muhammad saw.?

C) Apa pembuktian perzinahan itu juga diharuskan ada empat saksi?

D) Dari manakah ‘Amr ibn Maimun tahu bahwa kera itu telah berzina dan kawan-kawannya yang marajamnya itu segadai hukum had? Apakah ‘Amr mengerti bahawa kera? Sekolah di LIPIA, atau fakultas sastra Lughatul Qiradah mana?

Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya pada Kitab Fadhâil ash Shahabah, Bab Fadhâil Sufyân, hadis no 2501 dari jalur Ikrimah ibn Ammar dari Abu Zamîl dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Dahulu kaum Muslimin tidak memandang dan mengajak duduk bersama Abu Sufyan, maka ia berkata kepada Nabi saw., ’Wahai Nabi, tiga perkara aku meminta agar engkau memberikannya kepadaku.’ Nabi saw. menjawab, ’Ya.’ Abu Sufyan berkata, ’Aku punya anak perempuan paling cantiknya wanita-wanita Arab; Ummu Habibah, maukanh aku nikahkan denganmu? Nabi saw. menjawab, ’Ya.’ Abu Sufyan berkata lagi, ’Kedua, Mu’awiyah maukan engkau menjadikan ia penulis/sekreta ris pribadimu? Nabi saw. menajwab, ’Ya.’ [14] Abu Sufyan melanjutkan, ’Sudikah engkau menjadikanku penglima pasukanmu untuk memerangi kaum Musyrikin, sebagaiamana dahulu aku memerangi kaum Muslimin? Nabi saw. pun menjawab, ’Ya.’”

Tidak diragukan lagi bahwa hadis di atas termasuk di antara hadis palsu/mawdhû’ yang lolos sensor sehingga masuk dalam koleksi Shahih Muslim. Di antara bukti kepalsuannya adalah bahwa sejarah otentik –semua mengetahuinya, termasuk santri-santri ibitidaiah sekalipun- bahwa Ummu Habibah telah dinikahi Rasululllah saw. sebelum Fathu Mekkah sementara Abu Sufyan masih musyrik. Dan ketika Abu Suyfan mengunjunginya di kota suci Madinah dalam keadaan musyrik, Ummu Habibah menarik tikar yang diduduki ayahnya dengan alasan bahwa ia masih musyrik yang najis.

Adz Dzahabi berkomentar dalam Siyar A’lâm-nya7/137 tentang hadis di atas yang Ikrimah ibn Ammar adalah salah satu perawinya, “Aku (adz Dzahabi) berkata, ’Muslim telah menyebutkan sebuah hadis munkar dalam buku induknya, yaitu yang ia riwayatkan dari Sammâk al Hanafi dari Ibnu Abbas tentang tiga perkara yang diminta Abu Sufyan dari Nabi saw.”

.

4. HADIST BUKHARI . MUSA LARI TELANJANG
Shahih Bukhari 3152: Telah bercerita kepadaku Ishaq bin Ibrahim telah bercerita kepada kami Rauh bin ‘Ubadah telah bercerita kepada kami ‘Auf dari Al Hasan, Muhammad dan Khilas dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Nabi Musa ‘Alaihissalam adalah seorang pemuda yang sangat pemalu dan senantiasa badannya tertutup sehingga tidak ada satu pun dari bagian badannya yang terbuka karena sangat pemalunya. Pada suatu hari ada orang-orang dari Bani Isra’il yang mengolok-oloknya. Mereka berkata; “Sesungguhnya tidaklah dia ini menutupi tubuhnya melainkan karena kulit tubuhnya sangat jelek, bisa jadi karena menderita sakit kusta, bisul atau penyakit-penyak it lainnya”. Sungguh Allah ingin membebaskan Nabi Musa dari apa yang mereka katakan terhadap Musa, sehingga pada suatu hari dia mandi sendirian dengan talanjang dan meletakkan pakaiannya di atas batu. Maka mandilah dia dan ketika telah selesai dia beranjak untuk mengambil pakaiannya namun batu itu telah melarikan pakaiannya. Maka Musa mengambil tongkatnya dan mengejar batu tersebut sambil memanggil-mangg il; “Pakaianku, wahai batu. Pakaianku, wahai batu”. Hingga akhirnya dia sampai ke tempat kerumunan para pembesar Bani Isra’il dan mereka melihat Musa dalam keadaan telanjang yang merupakan sebaik-baiknya ciptaan Allah. Dengan kejadian itu Allah membebaskan Musa dari apa yang mereka katakan selama ini. Akhirnya batu itu berhenti lalu Musa mengambil pakaiannya dan memakainya. Kemudian Musa memukuli batu tersebut dengan tongkatnya. Sungguh demi Allah, batu tersebut masih tampak bekas pukulan Musa, tiga, empat atau lima pukulan. Inilah di antara kisah Nabi Musa ‘Alaihissalam seperti difirmankan Allah Ta’ala: (“Wahai orang-orang beriman janganlah kalian menjadi seperti orang-orang yang mengolok-olok (menyakiti) Musa lalu Allah membersihkannya dari tuduhan-tuduhan yang mereka katakan”) (QS al-Ahzab ayat 69)..

.
Shahih Muslim 4373: Dan telah menceritakan kepada kami Yahya bin Habib Al Harits; Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Zura’i; Telah menceritakan kepada kami Khalid Al Hadzdza’ dari ‘Abdillah bin Syaqiq dia berkata; Telah memberitakan kepada kami Abu Hurairah dia berkata; Nabi Musa adalah orang yang pemalu dan tidak pernah terlihat auratnya. Orang-orang bani Israil menuduhnya bahwa terdapat cacat pada auratnya. Abu Hurairah berkata; Pada suatu ketika, Nabi Musa mandi di sebuah sungai. Ia letakkan pakaiannya di atas sebuah batu. Tetapi batu itu hanyut dibawa air. Lalu Musa mengejarnya untuk menggapainya dengan menggunakan tongkat seraya berkata; Pakaianku hanyut terbawa batu! Pakaianku hanyut terbawa batu! Hingga akhirnya dia berhenti di sekelompok orang-orang Bani Israil. Lalu turunlah ayat Al Qur’an yang berbunyi: Hai orang-orang yang beriman, Janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang menyakiti Musa, maka Allah membersihkannya dari tuduhan-tuduhan yang mereka katakan. Sesungguhnya Musa adalah orang yang mempunyai kedudukan yang terhormat dan mulia di sisi Allah. (QS Al Ahzab: 69).
.

Shahih Muslim 4372: Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Rafi’ Telah menceritakan kepada kami Abdur Razaq Telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Hammam bin Munabih dia berkata; ‘Inilah yang telah di ceritakan oleh Abu Hurairah kepada kami dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, -kemudian dia menyebutkan beberapa Hadits yang di antaranya-; dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: “Dahulu orang-orang bani Isra`il mandi dengan telanjang sehingga sebagian dapat melihat aurat sebagaian yang lain, sedangkan Musa ‘Alaihis Salam selalu mandi sendirian, lalu orang-orang berkata; ‘Demi Allah tidaklah ada yang menghalangi Musa untuk mandi bersama kita kecuali karena dia memiliki cacat pada auratnya.’” Rasulullah Bersabda: “Suatu kali Musa pergi untuk mandi, lalu ia meletakkan pakaiannya di atas sebuah batu, namun batu tersebut hanyut membawa pakaiannya, ” Rasulullah Bersabda lagi: “Lalu Musa segera mengejar batu tersebut untuk mengambilnya, ia berkata; ‘Wahai batu kembalikanlah pakaianku, wahai batu kembalikanlah pakaianku.’ Sehingga orang-orang bani Isra`il bisa melihat aurat Musa, lalu mereka berkata; ‘Demi Allah, ternyata pada aurat Musa tidak ada kejanggalan, ‘ kemudian setelah itu batu tersebut bangun sehingga bisa terlihat oleh Musa. Lalu Musa mengambil pakaiannya dan memukul batu tersebut, ” Abu Hurairah berkata; “Demi Allah, pada batu tersebut masih ada bekas pukulan Musa enam atau tujuh tempat.”

5. HADiS MUSA MENAMPAR MALAiKAT MAUT

HR.muslim HADIST NO – 4375 (musa menampar malaikat maut)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Rafi’; Telah menceritakan kepada kami ‘Abdur Razzaq; Telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Hamam bin Munabbih dia berkata; ‘Inilah yang telah di ceritakan oleh Abu Hurairah kepada kami dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, -kemudian dia menyebutkan beberapa Hadits yang di antaranya-; dan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: “Malaikat maut datang menemui Musa ‘Alaihis Salam, lalu ia berkata kepadanya; ‘Penuhilah panggilan Rabbmu, ‘ Rasulullah Bersabda: “Lalu Musa menampar mata malaikat maut dan mencukilnya, ” Rasulullah Bersabda: “Lalu malaikat maut pulang menemui Allah ‘azza wajalla seraya berkata; ‘Engkau telah mengutusku kepada seorang hamba-Mu yang tidak memenginginkan kematian, dan sungguh ia telah mencukil mataku.’” Rasulullah Bersabda: “Lalu Allah mengembalikan matanya, dan Allah berfirman: ‘Kembalilah kepada hamba-Ku dan katakan kepadanya; ‘Apakah kehidupan yang engkau inginkan? Jika engkau menginginkan kehidupan maka letakkanlah tanganmu di atas bulu sapi, maka setiap bulu yang tertutup oleh tanganmu, dengannya engkau akan mendapatkan tambahan satu tahun.’ Musa berkata; ‘Lalu apa setelah itu? ‘ malaikat maut berkata; ‘Kematian.’ Musa berkata; ‘Maka segerakanlah, ‘ lalu ia berdoa; ‘Ya Allah, dekatkanlah kuburku dengan tanah suci sejauh lemparan batu.’” Abu Hurairah berkata; dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Bersabda: “Jika aku ada di sana sungguh akan aku tunjukkan kepada kalian, yaitu di sisi jalan dekat pasir merah.” Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahya; Telah menceritakan kepada kami ‘Abdur Razzaq; Telah mengabarkan kepada kami Ma’mar melalui jalur ini dengan Hadits yang
serupa.
.
6. HADIST BUKHARI  MELECEHKAN NABI SAW yakni Shalat Nabi tidak khusyuk

Shahih Bukhari 1153 ( kitab jumat bab bertaqbir ketika melakukan sujud sahwi)

:
Telah menceritakan kepada kami Hafsh bin ‘Umar telah menceritakan kepada kami Yazid bin Ibrahim dari Muhammad dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shalat bersama kami dalam suatu shalat malam, Berkata Muhammad; Kecenderungan dugaanku adalah shalat ‘Ashar, yaitu sebanyak dua raka’at lalu memberi salam. Setelah itu Beliau mendatangi kayu yang tergeletak di masjid, Beliau berbaring dengan meletakkan kedua tangannya pada kayu tersebut. Diantara mereka yang ikut shalat ada Abu Bakar dan ‘Umar radliallahu ‘anhuma. Namun keduanya sungkan untuk berbicara dengan Beliau lalu keluar mendahului orang banyak. Sementara orang-orang berkata; “Shalat diringkas (qashar) “. Tiba-tiba ada seorang yang dipanggil oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan panggilan Dzul Yadain, dan ia berkata: “Apakah anda lupa atau shalat diqashar?” Beliau berkata: “Aku tidak lupa dan shalat juga tidak diqashar”. Beliau berkata: “Aku tidak lupa dan juga shalat tidak diqashar!”. (Dzul Yadain) berkata: “Benar, sebenarnya anda telah lupa”. Maka Beliau shalat dua raka’at kemudian memberi salam. Kemudian Beliau bertakbir lalu sujud seperti sujudnya (yang biasa) atau lebih lama lagi kemudian mengangkat kepalanya lalu bertakbir lagi kemudian meletakkan kepalanya lalu bertakbir kemudian sujud seperti sujudnya atau lebih lama lagi, kemudian mengangkat kepalanya dan takbir.

coment:
MASUK DIAKAL ANDAKAH SEBAGIAN SAHABAT YG JUMLAHNYA MUNGKIN RATUSAN ORANG DALAM SHOLAT JEMAAH TERSEBUT TIDAK LUPA ATAU KHUSU’ TETAPI NABI ALLAH YG MAKSUM TIDAK KHUSU’

MASUK DALAM NALAR ANDAKAH SAHABAT MELECEHKAN RASULULLAH SAW DIDEPAN SAHABAT2NYA LAIN DAN BAGAIMANA SIKAP SAHABT UMAR DAN ABU BAKAR YG KATANYA ……BAHWA UMAR DAN ABU BAKAR YG KERAS THD ORANG YG MELECEHKAN NABI TSB DENGAN BERTERIAK “Shalat diringkas (qashar)” HANYA DIAM ?

DIMANA NILAI KEBENARANNYA RASULULLAH “NGEYEL” (NAUZUBILLAH) SETELAH DIPROTES SHOLAT TELAH DIQASHAR DENGAN BERKATA : ” “Aku tidak lupa dan juga shalat tidak diqashar!”.

LALU DIMANA JIBRIL YG SELALU SIAP BERADA DIDEKAT NABI YG BIASA MEMBERITAHU BELIAU SAW JIKA BELIAU TIDAK TAHU ATAU LUPA SEHINGGA TERPAKSA SAHABAT2 BELIAU SAW MEMPROSTES ATAU MELECEHKAN BELIAU SEPERTI ITU ?

ANDAIKATA RIWAYAT INI BENAR , APAKAH KAUM NASHIBI AKAN MENGATAKAN ALLAH LUPA MEMERINTAHKAN JIBRIL PADA SAAT ITU SEHINGGA KEDELUAN SAHABT TSB MENGINGATKAN NABI SAW (NAUZUBILLAH)?

Ini saja dulu ttg hadist bukhari muslim yg paling shahih didunia setelah Al-quran (kata salafi-wahabi) yg diimani oleh kaum nashibi tersebut. Makanya tidak heran kita melihat kengototan mrk mempertahankan hadist muslim. karena kalo tidak dibela mati-matian pudarlah keshahihannya.

Dan mereka rela membela habis-habisan ttg riwayat bukhari-muslim dengan apa saja.Bahkan rela menghina ahlul bait (BACA: TUDUHAN MRK KEPADA AYAH BUNDA NABI SAW ADALAH KAFIR ATAU BERADA DINERAKA ATAU TUDUHAN DUSTA MEREKA BAHWA ABU THALIB MATI DALAM KEADAAN KAFIR KARENA TDK MAU MENGUCAPKAN SYAHADAT) SEMUA ITU demi membela DOKTRIN mereka tentang “MITOS” hadist bukhari muslim adalah hadist tershahih didunia setelah Al-Quran.

Tapi anehnya jika hadist-hadist bukhari-muslim menjungkir balikan keyakinan mereka tentang sahabat, Allah tidak berada diatas langit, kebohongan tauhid dibagi 3 maka mereka akan mati-matian mendhoifkannya atau mentakwilkannya . SUNGGUH SUATU KAUM YG AMAT MENYEDIHKAN….

tidak semua sahabat nabi itu adil dan bisa di percaya menurut hadis sunni

Pernyataan semua sahabat adil, jujur dan paling taat kepda Allah dan rasulNYA bertentangan dengan Al-Quran dan al-hadist. Pernyataan tersebut digembar-gemborkan oleh sebagian ulama saja

Ulama sunni tentang keadilan sahabat nabi, berasal dari dalil-dalil al-Quran diantarnya adalah; Surah al-Baqarah,Surah ali Imran, Surah al-Fath ayat, Surah at-Taubat ayat 100, Surah al-Fath ayat 29.

Diantara hadis nabi versi sunni tentang keadilan sahabat nabi yaitu:
“Hadis dari Abi Sa’id al-Khuduri ra;Janganlah kalian mencari salah seseorang antara sahabatku. Karena salah seorang diantara kalian, seandainya menginfaqkan emas sebesar gunung Uhud, maka tidak akan dapat menyamai satu mud (yang dinafkahkan) oleh salah seorang diantara mereka dan tidak pula separuhnya (HR. Bukhori, Muslim, Abu Daud, dan Tirmidzi dari Abu Sa ’ad al-Khuduri).
“Bertaqwalah kalian kepada Allah dalam masalah sahabat-sahabatku. Jangan kalian menjadikan mereka sasaran (kritik) sesudah aku (wafat). Barang siapa mencintai mereka, maka dengan kecintaanku aku mencintai mereka. Dan barang siapa membenci mereka, maka dengan segenap kebencianku aku akan membenci mereka. Barang siapa menyakiti mereka, maka berarti telah menyakiti aku. Barang siapa menyakiti aku maka berarti telah menyakiti Allah. Dan barang siapa menyakiti Allah, maka kemungkinan besar dia akan menyiksanya”. (HR. Tirmidzi dan Ahmad bin Hanbal dari Abdullah bin Mughaffal).
“Hadis dari Abdillah ra. Sebaik-baiknya generasi adalah generasiku, kemudian generasi sesudah mereka, kemudian generasi sesudah mereka lagi kemudian kaum yang mendatangkan saksi salahsatu diantara mereka dari arah kanan dengan arah kanan juga”. (HR. Bukhari dan Muslim dan lainnya dari Abdullah bin Mas’ud dan Imran bin Husain dan lainnya).

Hadis-hadis tersebut digunakan oleh ulama sunni tersebut sebagai argumen keadilan sahabat nabi, mereka mengangap sahabat nabi adalah generasi yang paling baik, sehingga mereka tidak mempunyai cacat atau kesalahan sama sekali. Karena itulah dilarang mencela atau mengkritik mereka.

TIDAK SEMUA SAHABAT NABI ITU ADIL DAN BISA DI PERCAYA.

Islam Umawy yang dipaksakan oleh para tiran Bani Umayyah, mulai Mu’awiyah bin Abu Sufyan (Gembong Penganjur Kepada Api Neraka, seperti disabdakan Nabi dalam hadis shahih riwayat Imam Bukhari) ingin memaksa kita agar menanggalkan baju kecintaan kepada Ahlulbait ra. dengan berbagai cara dan rayuan -serta tidak jarang juga dengan intimidasi- mereka hendak mempengaruhi kita agar tidak lagi mencinta dan menghormati keluarga Nabi

.

PARA SAHABAT BANYAK  DILEMPAR KEDALAM NERAKA

Shahih Bukhari,Hadits No.3100 :Telah bercerita kepada kami Muhammad bin Katsir telah mengabarkan kepada kami Sufyan telah bercerita kepada kami Al Mughirah bin an-Nu’man berkata telah bercerita kepadaku Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma dari NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM BERSABDA: Sesungguhnya kalian akan dikumpulkan (pada hari qiyamat) dalam keadaan telanjang dan tidak dikhitan. Lalu Beliau membaca firman Allah QS al-Anbiya’ ayat 104 yang artinya (Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan yang pertama, begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti dari Kami. Sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya ). Dan orang yang pertama kali diberikan pakaian pada hari qiyamat adalah Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam dan ada segolongan orang dari sahabatku yang akan diculik dari arah kiri lalu aku katakan: Itu Sahabatku, Itu sahabatku. Maka Allah Ta’ala berfirman: Sesungguhnya mereka menjadi murtad sepeninggal kamu. Aku katakan sebagaimana ucapan hamba yang shalih (firman Allah dalam QS al-Maidah ayat 117 – 118 yang artinya (Dan aku menjadi saksi atas mereka selagi aku bersama mereka. Namun setelah Engkau mewafatkan aku…) hingga firman-Nya (….Engkau Maha Perkasa lagi Maha bijaksana).

B. Dari Abdullah dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Aku adalah orang yang mendahului kamu di telaga (haudh), maka sungguh orang-orang laki-laki diantaramu dinaikkan bersamaku, kemudian sungguh mereka dipisahkan dari aku, lalu aku berkata : “Wahai Tuhanku, Mereka itu adalah para sahabatku (ashabi) ). Maka dijawab: Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka (inna-ka la tadri ma ahdathu ba‘da-ka) (Musnad Ahmad,1/402, 406, 407, 384, 425 dan 453. Shahih Muslim, 7/68. Sahih al-Bukhari Hadis no. 578)

C. Dari Anas dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Sungguh orang-orang dari sahabatku akan datang kepadaku di Haudh (Sungai atau Kolam Susu) sehingga apabila aku mengetahui mereka, mereka dipisahkan dariku, maka aku berkata : “Sahabat-sahaba tku” (ashabi)!. Maka dia (Malaikat) berkata: Anda tidak mengetahui apa yang lakukan oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka (inna-ka la adri ma ahdathu ba‘da-ka) (Hadits ditakhrij oleh Bukhari no. 584)

D. Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw. bersabda: “Ketika aku sedang berdiri, terlihat olehku sekelompok orang. Setelah aku kenali mereka, ada seorang di antara mereka keluar dan mengajak kawan-kawannya, ‘Ayo, mari’ Aku bertanya, ke mana? ia menjawab, ‘ke neraka,’ Lalu aku bertanya lagi, mengapa nasib mereka sampai demikian? Kemudian dijawab: ‘Sesungguhnya mereka telah murtad sejak kau tinggalkan dan berbalik ke belakang (innahum irtaddu ba‘da-ka ‘ala Adbari-himi l-Qahqariyy). Kemudian terlihat sekelompok lain lagi. Ketika aku kenali mereka, ada seorang di antara mereka keluar dan menyeru kawan-kawannya: ‘Ayo, mari’ Aku bertanya, ke mana? Ia menjawab: ‘Ke neraka’ Lalu aku bertanya lagi, mengapa mereka? dijawab: ‘Sesungguhnya mereka telah murtad sepeninggalmu dan kembali ke belakang. Kulihat tidak ada yang selamat dan lolos kecuali beberapa orang saja yang jumlahnya cukup sedikit, seperti jumlah onta yang tersesat dari rombongannya (fala ara-hu yakhlusu minhum illa mithlu hamali n-Na‘ am)” (Shahih Bukhari,8/150. Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Musyaiyib dari banyak sahabat Nabi).

E. Dari Asma’ binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya aku akan berada di Haudh sehingga aku melihat mereka yang datang kepadaku dikalangan kamu (man yaridu ‘alayya min-kum). Dan mereka akan ditarik dengan pantas (daripadaku), maka aku akan bersabda: Wahai Tuhanku! Mereka itu daripada (para sahabat)ku dan daripada umatku. Dijawab: Lalu dikatakan : “Apakah kamu mengetahui sesuatu yang telah diperbuat mereka sesudahmu ? (amma sya‘arta ma ‘amilu ba‘da-ka)? Demi Allah, mereka senantiasa mengundur ke belakang (kembali kepada kekafiran) selepas anda meninggalkan mereka (Wa Llahi!Ma barihu ba‘da-ka yarji‘un ‘ala a‘qabi-him). Ibn Abi Mulaikah berkata: “Wahai Tuhanku! Sesungguhnya kami memohon perlindungan daripadaMu supaya kami tidak mengundur ke belakang (kembali kepada kekafiran) atau kami difitnahkan tentang agama kami”. (Hadits ditakhrij oleh Bukhari, Sahih Muslim Hadis No. 27 (2293)

F. Abu Hazim daripada Sahl bin Sa‘d daripada Nabi (Saw.) Nabi (Saw.) bersabda: Aku akan mendahului kamu di Haudh. Dan siapa yang akan melaluinya akan meminumnya. Dan siapa yang meminumnya tidak akan dahaga selama-lamanya.Akan datang kepadaku beberapa orang yang aku kenali,dan mereka juga mengenaliku.Kem udian dihalang di antaraku dan mereka. Abu Hazim berkata : Nu‘man bin Abi ‘Iyasy berkata selepas mendengarku: Adakah anda telah mendengar sedemikian daripada Sahl? Aku menjawab: Aku naik saksi bahawa aku telah mendengar Abu Sa‘id al-Khudri berkata perkara yang sama, malah dia menambah: Nabi (Saw.) bersabda: Aku akan bersabda: mereka itu adalah daripadaku (ashabi). Maka dijawab: “Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka (inna-ka la tadri ma ahdathu ba‘da-ka). Maka aku (Nabi (Saw.) bersabda: Jauh ! Jauh ! (daripada rahmat Allah) atau ke Neraka mereka yang telah mengubah atau menukarkan (hukum Allah dan Sunnahku) selepasku (Suhqan suhqan li-man baddala ba‘di). ” (Shahih Bukhari,9/58-59 , kitabul-fitan dan 8/150, Shahih Muslim,7/96,Mus nad Ahmad, 5/33 dan 3/28, Al Isti’âb (di pinggir Al-Ishâbah),1/1 59

G. Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah (Saw.) bersabda: Sekumpulan daripada para sahabatku akan datang kepadaku di Hari Kiamat. Kemudian mereka akan diusir jauh dari Haudh.Maka aku akan bersabda: Wahai Tuhanku!mereka itu adalah para sahabatku (ashabi). Dijawab: Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang mereka lakukan selepas anda meninggalkan mereka (inna-ka la ‘ilma la-ka bima ahdathu ba‘da-ka) Sesungguhnya mereka telah menjadi kafir-murtad kebelakang (irtaddu ‘ala a‘qabi-bi-himu l-Qahqariyy) (Shahih Bukhari, 8/150)

H. Telah menceritakan kepadaku [Ahmad bin Isykab] telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Fudlail] dari [Al ‘Ala` bin Al Musayyab] dari [Bapaknya] ia berkata; Aku bertemu [Al Bara’ bin ‘Azib] seraya berkata: Alangkah beruntungnya anda kerana anda telah bersahabat (Sahabta) dengan Nabi (saw.) dan membaiahnya di bawah pohon. Lantas dia menjawab: Wahai anak saudaraku ! Sebenarnya anda tidak mengetahui apa yang kami lakukan (Ahdathna-hu) selepasnya (Shahih Bukhari jil.3 hal. 32)

I. Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bahwa beliau SAW pernah bersabda kepada kaum Anshar: “Suatu hari kalian akan menyaksikan sifat tamak yang dahsyat sepeninggal ku. Karena itu bersabarlah sehingga kalian menemui Allah dan Rasul-Nya di telaga haudh.” Anas berkata, “Kami tidak sabar.”(Shahih Bukhari jil. 2 hal. 135)

J. Memang ada ayat AL QURAN yang menyatakan keutamaan sahabat secara umum tetapi bukan berarti itu berlaku untuk seluruh sahabat, melainkan untuk sahabat yang tidak berbalik arah setelah wafat Nabi SAW. Karena penyebab kemurtadan seperti yang disinyalir dalam hadis di atas itu muncul di saat Nabi saw tidak berada di tengah-tengah para sahabat (WAFAT)

setelah mengetahui para sahabat ada yg ingkar, mengancam mau menikahi istri nabi saw, lari dari medan perang, lari hanya mengejar makanan dan meninggalkan nabi sedang berkhutbah jum’at serta banyak yg dilempar kedalam neraka. masihkah kita akan berpegang teguh bahwa semua sahabat adil,jujur taat kepada Allah dan rasulNYA seperti digembar-gembor kan oleh sekte salafi-wahabi itu ? silahkan mbak ana merenunginya

Sahabat Nabi Yang Dikatakan Munafik Dalam Shahih Muslim?
Judul yang sensasional, mungkin ya tapi silakan dibaca dulu dengan seksama dan berikan penilaian yang objektif. Pembicaraan seputar sahabat Nabi memang sangat sensitif, setidaknya bagi kalangan tertentu. Kenapa? Karena sahabat Nabi lebih dikenal sebagai orang-orang yang mulia, suri tauladan yang agung dan orang yang berjasa besar bagi umat Islam. Saya tidak menyangkal hal itu, tetapi seperti biasacara berpikir fallacyus ala generalisasi yang menjangkiti sebagian orang terkadang mengundang tanda tanya bagi orang  yang mau menggunakan akalnya. Mereka beranggapan bahwa sahabat Nabi tidak boleh dikritik, barang siapa yang berani mengkritik sahabat Nabi maka tak peduli kritikannya benar atau tidak, ia akan dianggap telah mencela sahabat Nabi.
Singkat cerita mencela sahabat Nabi akan dianggap zindiq minimal sesat. Apa jadinya jika mereka menemukan dalam kitab-kitab shahih terdapat kritikan terhadap Sahabat Nabi?. Mereka akan menolak, menakwilkan, berdalih atau apapun, intinyaanda salah mereka benar dan Sahabat Nabi selalu mulia. Bagaimana jika ada yang mengatakan bahwa diantara Sahabat Nabi terdapat orang-orang munafik?. Oooh sudah pasti orang tersebut pasti akan mendapat cap sesat dhalalah bin dhalalah.
.
Dalam kitab Shahih Muslim 4/2143 no 2779 (9) tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi disebutkan bahwa diantara sahabat Nabi terdapat orang munafik

حدثنا أبو بكر بن أبي شيبة حدثنا أسود بن عامر حدثنا شعبة بن الحجاج عن قتادة عن أبي نضرة عن قيس قال قلت لعمار أرأيتم صنيعكم هذا الذي صنعتم في أمر علي أرأيا رأيتموه أو شيئا عهده إليكم رسول الله صلى الله عليه و سلم ؟ فقال ما عهد إلينا رسول الله صلى الله عليه و سلم شيئا لم يعهده إلى الناس كافة ولكن حذيفة أخبرني عن النبي صلى الله عليه و سلم قال قال النبي صلى الله عليه و سلم في أصحابي اثنا عشر منافقا فيهم ثمانية لا يدخلون الجنة حتى يلج الجمل في سم الخياط ثمانية منهم تكفيكهم الدبيلة وأربعة لم أحفظ ما قال شعبة فيهم

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah yang berkata telah menceritakan kepada kami Aswad bin Amir yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah bin Hajjaj dari Qatadah dari Abi Nadhrah dari Qais yang berkata “saya pernah bertanya kepada Ammar, bagaimana pendapatmu tentang perang terhadap Ali? Atau bagaimana pesan yang disampaikan Rasulullah SAW kepadamu?. Ammar menjawab “Rasulullah SAW tidak pernah menyampaikan pesan kepada kami suatu pesan yang tidak Beliau sampaikan juga kepada orang-orang”. Saya diberitahu oleh Huzaifah dari Nabi SAW yang bersabda “Di antara SahabatKu ada dua belas orang munafik. Di antara mereka ada delapan orang yang tidak akan masuk surga sampai unta masuk ke lubang jarum”. Delapan orang diantara mereka akan mendapat Dubailah, sedangkan empat lainnya aku tidak hafal yang dikatakan Syu’bah tentang mereka

.
Matan hadis Shahih Muslim di atas menyatakan bahwa Rasulullah SAW sendiri yang menyebutkan ada sahabat Beliau yang munafik. Sudah menjadi kenyataan bahwa dalil sejelas apapun selalu bisa dicari-cari penolakannya. Mereka yang menolak ada sahabat Nabi munafik mengatakan bahwa hadis Shahih Muslim di atas menceritakan bahwa ada dua belas orang munafik dari Umat Nabi SAW dan mereka bukanlah sahabat Nabi SAW. Mereka berdalih dengan hadis berikutnya dalamShahih Muslim 4/2143 no 2779 (10) tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi

حدثنا محمد بن المثنى ومحمد بن بشار ( واللفظ لابن المثنى ) قالا حدثنا محمد بن جعفر حدثنا شعبة عن قتادة عن أبي نضرة عن قيس بن عباد قال قلنا لعمار أرأيت قتالكم أرأيا رأيتموه ؟ فإن الرأي يخطئ ويصيب أو عهدا عهده إليكم رسول الله صلى الله عليه و سلم ؟ فقال ما عهد إلينا رسول الله صلى الله عليه و سلم شيئا لم يعهده إلى الناس كافة وقال إن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال إن في أمتي قال شعبة وأحسبه قال حدثني حذيفة وقال غندر أراه قال في أمتي اثنا عشر منافقا لا يدخلون الجنة ولا يجدون ريحها حتى يلج الجمل في سم الخياط ثمانية منهم تكفيكهم الدبيلة سراج من النار يظهر في أكتافهم حتى ينجم من صدورهم

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna dan Muhammad bin Bisyr (lafaz ini lafaz Al Mutsanna) yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Qatadah dari Abi Nadhrah dari Qais bin Abad yang berkata “saya bertanya kepada Ammar, bagaimana pendapatmu tentang perang yang kamu lakukan? Karena pendapat itu bisa benar dan bisa salah. Atau bagaimana pesan yang disampaikan Rasulullah SAW kepadamu?. Ammar menjawab “ Rasulullah SAW tidak pernah menyampaikan pesan kepada kami yang tidak Beliau sampaikan pula kepada orang-orang. Ammar berkata “Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda “bahwa diantara umatku”. Syu’bah berkata Ammar berkata telah diberitahu Huzaifah dan Ghundar berkata “saya melihat Rasulullah SAW bersabda “Diantara umatKu ada dua belas orang munafik yang tidak akan masuk surga bahkan mereka tidak mencium bau surga hingga unta masuk ke lubang jarum. Delapan orang diantara mereka akan mendapat Dubailah yaitu api yang menyengat punggung mereka hingga tembus ke dada

.
Kedua hadis Shahih Muslim diatas adalah Shahih, tetapi dalih sebagian orangbahwa dua belas orang munafik itu bukan sahabat Nabi tetapi Umat Nabi tidak bisa diterima begitu saja. Justru jika kita menerima keshahihan kedua hadis ini maka tidak ada pertentangan antara hadis yang satu dengan yang lain hingga kita harus menolak salah satunya

  • Hadis yang satu menyatakan Di antara SahabatKu ada dua belas orang munafik
  • Hadis yang lain menyatakan Diantara UmatKu ada dua belas orang munafik

Coba pikirkan dengan baik, mengapa harus dikatakan bahwa orang munafik itu ada di antara Umat Nabi tetapi bukan Sahabat Nabi. Apakah sahabat Nabi bukan termasuk Umat Nabi?. Kalau bukan lantas umat siapa, kalau iya maka penyelesaiannya mudah. Hadis yang menyebutkan kata SahabatKu adalah penjelasan yang mengkhususkan dari hadis dengan kata UmatKu. Sehingga makna hadis tersebut adalah diantara Umat Nabi SAW yaitu dari kalangan Sahabat Nabi ada dua belas orang munafik


Makna ini sesuai dengan kedua hadis di atas dan tidak menolak atau menyangkal salah satu hadis. Berbeda dengan penakwilanbahwa dua belas orang munafik itu diantara Umat Nabi tetapi bukan sahabat Nabi, karena penakwilan ini dengan terpaksa telah menentang hadis yang shahih dan jelas yaitu hadis dengan lafaz SahabatKu. Begitulah adanya, dan silakan direnungkan

Terkait dengan hadis dua belas orang munafik terdapat salafy nashibi yang membuat tulisan khusus dengan tujuan membela doktrin mereka dan mencela orang yang ia tuduh Syiah. Kami ingatkan wahai pembaca budiman, hadis ini tidak ada kaitannya dengan Syiah. Kami akan membahas tulisan mereka secara objektif dan menunjukkan apapun tafsiran yang mereka perbuat mereka tidak akan bisa mempertahankan doktrin “keadilan sahabat ala nashibi”.

حدثنا أبو بكر بن أبي شيبة حدثنا أسود بن عامر حدثنا شعبة بن الحجاج عن قتادة عن أبي نضرة عن قيس قال قلت لعمار أرأيتم صنيعكم هذا الذي صنعتم في أمر علي أرأيا رأيتموه أو شيئا عهده إليكم رسول الله صلى الله عليه و سلم ؟ فقال ما عهد إلينا رسول الله صلى الله عليه و سلم شيئا لم يعهده إلى الناس كافة ولكن حذيفة أخبرني عن النبي صلى الله عليه و سلم قال قال النبي صلى الله عليه و سلم في أصحابي اثنا عشر منافقا فيهم ثمانية لا يدخلون الجنة حتى يلج الجمل في سم الخياط ثمانية منهم تكفيكهم الدبيلة وأربعة لم أحفظ ما قال شعبة فيهم

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah yang berkata telah menceritakan kepada kami Aswad bin Amir yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah bin Hajjaj dari Qatadah dari Abi Nadhrah dari Qais yang berkata “saya pernah bertanya kepada Ammar, bagaimana pendapatmu tentang perang terhadap Ali? Atau bagaimana pesan yang disampaikan Rasulullah SAW kepadamu?. Ammar menjawab “Rasulullah SAW tidak pernah menyampaikan pesan kepada kami suatu pesan yang tidak Beliau sampaikan juga kepada orang-orang”. Saya diberitahu oleh Huzaifah dari Nabi SAW yang bersabda “Di kalangan SahabatKu ada dua belas orang munafik. Di antara mereka ada delapan orang yang tidak akan masuk surga sampai unta masuk ke lubang jarum”. Delapan orang diantara mereka akan mendapat Dubailah, sedangkan empat lainnya aku tidak hafal yang dikatakan Syu’bah tentang mereka. [Shahih Muslim 4/2143 no 2779 (9) tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi]

حدثنا محمد بن المثنى ومحمد بن بشار ( واللفظ لابن المثنى ) قالا حدثنا محمد بن جعفر حدثنا شعبة عن قتادة عن أبي نضرة عن قيس بن عباد قال قلنا لعمار أرأيت قتالكم أرأيا رأيتموه ؟ فإن الرأي يخطئ ويصيب أو عهدا عهده إليكم رسول الله صلى الله عليه و سلم ؟ فقال ما عهد إلينا رسول الله صلى الله عليه و سلم شيئا لم يعهده إلى الناس كافة وقال إن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال إن في أمتي قال شعبة وأحسبه قال حدثني حذيفة وقال غندر أراه قال في أمتي اثنا عشر منافقا لا يدخلون الجنة ولا يجدون ريحها حتى يلج الجمل في سم الخياط ثمانية منهم تكفيكهم الدبيلة سراج من النار يظهر في أكتافهم حتى ينجم من صدورهم

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna dan Muhammad bin Basyaar [dan lafaz ini adalah lafaz Ibnu Mutsanna] keduanya berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Qatadah dari Abu Nadhrah dari Qais bin ‘Abbad yang berkata saya pernah bertanya kepada ‘Ammar, bagaimana pendapatmu tentang peperperanganmu? Sesungguhnya pendapat itu bisa salah dan bisa pula benar atau bagaimana pesan yang disampaikan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] kepadamu?. ‘Ammar berkata “Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak pernah menyampaikan pesan kepada kami yang tidak Beliau sampaikan kepada orang-orang. ‘Ammar berkata sesungguhnya Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “sesungguhnya di kalangan umatku. [Syu’bah berkata menurut saya] ‘Ammar berkata “Huzaifah telah menceritakan kepadaku” dan [Ghundar berkata] aku melihat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “di kalangan umatku ada dua belas orang munafik yang tidak akan masuk surga, bahkan mereka tidak akan dapat mencium harumnya surga sampai unta masuk ke lubang jarum. Delapan orang diantara mereka pasti akan tertimpa Dubailah yaitu pijaran api yang menyengat bagian belakang pundak sehingga tembus ke dada mereka [Shahih Muslim 4/2143 no 2779-(10) tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi]

.

Kedua hadis ini adalah hadis yang sama, perbedaan lafaz yang ada tidaklah bertentangan melainkan saling melengkapi. Lafaz “ada dua belas orang munafik di kalangan sahabat” dan lafaz “ada dua belas orang munafik di kalangan umatku” tidak bertentangan karena sahabat adalah umat Nabi juga.
  1. Pada hadis pertama riwayat ‘Aswad bin ‘Aamir dari Syu’bah disebutkan bahwa dari dua belas orang munafik delapan diantaranya tidak akan masuk surga dan akan terkena dubailah
  2. Pada hadis kedua riwayat Ghundar dari Syu’bah disebutkan bahwa dari dua belas orang munafik semuanya tidak akan masuk surga dan delapan terkena dubailah.
Perbedaan lafaz ini pun tidak bertentangan melainkan saling melengkapi riwayat Ghundar juga menyebutkan bahwa empat orang yang tidak disebutkan dalam riwayat ‘Aswad juga tidak akan masuk surga. Riwayat Ghundar melengkapi riwayat ‘Aswad karena pada hadis ‘Aswad ia berkata “tidak hafal apa yang dikatakan Syu’bah tentang empat lainnya”. Yang hafal menjadi hujjah bagi yang tidak hafal.

Maka sangat salah sekali pernyataan salafy nashibi yang berkata “maka mafhum mukhalafah-nya adalah empat orang sisanya masuk surga-dimana hal ini menunjukkan taubat”. Empat orang sisanya berdasarkan riwayat shahih juga tidak akan masuk surga. Sangat jelas penarikan kesimpulan nashibi itu ngawur, ‘Aswad sendiri mengatakan ia tidak hafal apa yang dikatakan Syu’bah tentang empat orang lainnya sedangkan riwayat Ghundar menyebutkan bahwa empat sisanya juga tidak akan masuk surga. Pendalilan nashibi itu yang menyatakan empat orang munafik itu akan masuk surga adalah dalil kosong tanpa faedah yang berasal dari orang yang patut diduga punya penyakit kronis kenifakan dalam hatinya

.

Tidak hanya itu, salafy nashibi juga menunjukkan kelemahan akalnya dalam menarik kesimpulan. Ia membawakan hadis Hudzaifah kemudian menafsirkan sekehendak hatinya yaitu hadis berikut

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى ، حَدَّثَنَا يَحْيَى ، حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ ، حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ وَهْبٍ ، قَالَ : كُنَّا عِنْدَ حُذَيْفَةَ ، فَقَالَ : ” مَا بَقِيَ مِنْ أَصْحَابِ هَذِهِ الْآيَةِ إِلَّا ثَلَاثَةٌ ، وَلَا مِنَ الْمُنَافِقِينَ إِلَّا أَرْبَعَةٌ ، فَقَالَ أَعْرَابِيٌّ : إِنَّكُمْ أَصْحَابَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تُخْبِرُونَا فَلَا نَدْرِي ، فَمَا بَالُ هَؤُلَاءِ الَّذِينَ يَبْقُرُونَ بُيُوتَنَا ، وَيَسْرِقُونَ أَعْلَاقَنَا ، قَالَ أُولَئِكَ الْفُسَّاقُ ، أَجَلْ لَمْ يَبْقَ مِنْهُمْ إِلَّا أَرْبَعَةٌ ، أَحَدُهُمْ شَيْخٌ كَبِيرٌ ، لَوْ شَرِبَ الْمَاءَ الْبَارِدَ لَمَا وَجَدَ بَرْدَهُ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Mutsannaa yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahyaa yang berkata telah menceritakan kepada kami Ismaa’iil yang berkata telah menceritakan kepada kami Zaid bin Wahb, ia berkata Kami pernah berada di sisi Hudzaifah, lalu ia berkata “Tidaklah tersisa orang yang dimaksud dalam ayat ini [yaitu QS. At-Taubah : 12] kecuali tiga orang, dan tidak pula tersisa orang-orang munafik kecuali hanya empat orang saja”. Seorang A’rabiy berkata “Sesungguhnya kalian adalah shahabat-shahabat Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Kalian mengkhabarkan kepada kami, lalu kami tidak mengetahuinya. Lantas, bagaimana dengan mereka yang telah merusak rumah-rumah kami dan mencuri perhiasan-perhiasan kami ?”. Hudzaifah menjawab “Mereka itu orang-orang fasik. Ya, tidaklah tersisa dari mereka [kaum munafik] kecuali empat orang, yang salah seorang dari mereka adalah seorang yang telah tua. Seandainya ia meminum air yang dingin, tentu ia tidak akan mendapati rasa dingin air itu” [Shahih Bukhari no 4658]

KINI KITA BERTANYA SIAPA YG HARUS DIIKUTI SETELAH NABI SAW WAFAT, ? JAWABNYA ADALAH AHLUL BAIT KARENA MEREKA ADALAH PEWARIS DAKWAH NABI SAW. DAN MEREKA TELAH DISUCIKAN OLEH ALLAH SWT :
.
ALLAH BERFIRMAN :
Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersih nya ( QS: 33:33

SIAPAKAH AHLUL BAIT TERSEBUT SILAHKAN DILIHAT PENJELASAN HADIST TENTANG SURAH 33:33

Diriwayatkan dengan sanad yang shahih kalau Ahlul Bait dalam Al Ahzab 33 adalah ahlul kisa’ yaitu Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam], Sayyidah Fathimah, Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husein. Ummu Salamah sendiri sebagai salah satu istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengakui kalau ayat tathiir turun di rumahnya dan dirinya bukan termasuk dalam ayat tersbut.

.
Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Dawud yang berkata telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Dawud Al Mahriy yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Wahb yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Shakhr dari Abu Muawiyah Al Bajaliy dari Sa’id bin Jubair dari Abi Shahba’ dari ‘Amrah Al Hamdaniyah yang berkata Ummu Salamah berkata kepadaku “engkau ‘Amrah?”. Aku berkata “ya, wahai Ibu kabarkanlah kepadaku tentang laki-laki yang gugur di tengah-tengah kita, ia dicintai sebagian orang dan tidak dicintai oleh yang lain. Ummu Salamah berkata “Allah SWT menurunkan ayat Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya, dan ketika itu tidak ada di rumahku selain Jibril, Rasulullah, Ali, Fathimah, Hasan, Husein dan aku, aku berkata “wahai Rasulullah apakah aku termasuk Ahlul Bait?”. Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “engkau termasuk istriku yang shalih”. Ummu Salamah berkata “wahai ‘Amrah sekiranya Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] menjawab iya niscaya jawaban itu lebih aku sukai daripada semua yang terbentang antara timur dan barat [dunia dan seisinya] [Asy Syari’ah Al Ajjuri 4/248 no 1542]

.
Hadis ini sanadnya shahih. Diriwayatkan oleh para perawi yang terpercaya, ‘Amrah Al Hamdaniyah adalah tabiin wanita di kufah yang tsiqat dikenal meriwayatkan dari Ummu Salamah

.

Berikut ini adalah tambahan riwayat yang semakna dengan hadis di atas. Riwayat ini menjadi penguat bagi riwayat di atas bahwa Ummu Salamah bukanlah ahlul bait bersama ahlul kisa’

.
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Isma’il bin Abi Samiinah yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Dawud dari Fudhail dari ‘Athiyah dari Abu Sa’id dari Ummu Salamah bahwa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] menutupi Ali, Fathimah, Hasan dan Husain dengan kain kemudian berkata “mereka adalah ahlul baitku, kepadamu [ya Allah] jangan masukkan ke dalam neraka”. Ummu Salamah berkata “wahai Rasulullah, apakah aku bersama mereka?. Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] menjawab “tidak dan engkau di atas kebaikan” [Musnad Abu Ya’la 12/313 no 6888]

Pengakuan Ummu Salamah : Ahlul Bait Dalam Al Ahzab 33 Adalah Ahlul Kisa’
Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan sebelumnya soal Al Ahzab 33 atau ayat tathiir. Jika sebelumnya Ummu Salamah mengakui kalau dirinya sebagai istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] bukan sebagai ahlul bait yang dimaksud maka kali ini Ummu Salamah mengakui kalau ahlul bait dalam Al Ahzab 33 ditujukan untuk Ahlul Kisa’ yaitu Rasulullah [shallallahu ‘alihi wasallam], Imam Ali, Sayyidah Fathimah, Imam Hasan dan Imam Husain

.

Telah memberitakan kepada kami Abu Muhammad ‘Abdullah bin Shalih Al Bukhari yang berkata telah menceritakan kepada kami Hasan bin ‘Ali Al Hulwaaniy yang berkata telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Malik bin Abi Sulaiman dari Atha’ dari Ummu Salamah dan dari Dawud bin Abi ‘Auf dari Syahr bin Hawsyaab dari Ummu Salamah dan dari Abu Laila Al Kindiy dari Ummu Salamah “sesungguhnya Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] berada di rumahku di atas tempat tidur yang beralaskan kain buatan Khaibar. Kemudian datanglah Fathimah dengan membawa bubur, maka Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “panggillah suamimu dan kedua putramu”. [Ummu Salamah] berkata “kemudian ia memanggil mereka dan ketika mereka berkumpul makan bubur tersebut turunlah ayat Sesungguhnya Allah SWT berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya, maka Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengambil sisa kain tersebut dan menutupi mereka dengannya, kemudian Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengulurkan tangannya dan berkata sembari menghadap langit “ya Allah mereka adalah ahlul baitku dan kekhususanku maka hilangkanlah dosa dari mereka dan sucikanlah sesuci-sucinya. [Ummu Salamah] berkata “aku memasukkan kepalaku kedalam kain dan berkata “Rasulullah, apakah aku bersama kalian?. Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “kamu menuju kebaikan kamu menuju kebaikan. [Ummu Salamah] berkata “mereka adalah lima orang yaitu Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam], Ali, Fathimah, Hasan dan Husein raidallahu ‘anhum” [Asy Syari’ah Al Ajjuri 4/383 no 1650]
.
Hadis ini sanadnya shahih. Diriwayatkan oleh para perawi tsiqat kecuali Syahr bin Hausab, ia perawi yang hadisnya hasan dengan penguat dari yang lain. Disini ia telah dikuatkan oleh riwayat Atha’ dari Ummu Salamah dan riwayat Abu Laila Al Kindiy dari Ummu Salamah

HADIST TSAQALAIN

Kemuliaan Ahlul Bait Dalam Al Quran
Al Quran dalam Surah Al Ahzab 33 telah menyatakan kedudukan Ahlul Bait bahwa Mereka adalah Pribadi-pribadi yang disucikan oleh Allah SWT.
Mari kita lihat Al Ahzab ayat 33 yang berbunyi
….Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai Ahlul Bait dan mensucikanmu sesuci-sucinya

Kemuliaan Ahlul Bait Dalam Hadis Rasulullah SAW
Rasulullah SAW bersabda. “Kutinggalkan kepadamu dua peninggalan (Ats Tsaqalain), kitab Allah dan Ahlul BaitKu. Sesungguhnya keduanya tak akan berpisah, sampai keduanya kembali kepadaKu di Al Haudh“ (Mustadrak As Shahihain Al Hakim juz III hal 148 Al Hakim menyatakan dalam Al Mustadrak As Shahihain bahwa sanad hadis ini shahih berdasarkan syarat Bukhari dan Muslim).

Hadis-hadis Shahih dari Rasulullah SAW menjelaskan bahwa mereka Ahlul Bait AS adalah pedoman bagi umat Islam selain Al Quranul Karim. Mereka Ahlul Bait senantiasa bersama Al Quran dan senantiasa bersama kebenaran.
Bahwa Rasulullah SAW bersabda “Wahai manusia sesungguhnya Aku meninggalkan untuk kalian apa yang jika kalian berpegang kepadanya niscaya kalian tidak akan sesat ,Kitab Allah dan Itrati Ahlul BaitKu”.(Hadis riwayat Tirmidzi,Ahmad, Thabrani,Thahaw i dan dishahihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albany dalam kitabnya Silsilah Al Hadits Al Shahihah no 1761)

Hadis ini menjelaskan bahwa manusia termasuk sahabat Nabi diharuskan berpegang teguh kepada Al Quran dan Ahlul Bait. Ahlul Bait yang dimaksud dijelaskan sendiri dalam Hadis Sunan Tirmidzi di atas atau Hadis Kisa’ yaitu Sayyidah Fathimah AS, Imam Ali AS, Imam Hasan AS dan Imam Husain AS.

Selain itu ada juga hadis
Hanash Kanani meriwayatkan “aku melihat Abu Dzar memegang pintu ka’bah (baitullah)dan berkata”wahai manusia jika engkau mengenalku aku adalah yang engkau kenal,jika tidak maka aku adalah Abu Dzar.Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda “Ahlul BaitKu seperti perahu Nabi Nuh, barangsiapa menaikinya mereka akan selamat dan barangsiapa yang tidak mengikutinya maka mereka akan tenggelam”.(Had is riwayat Hakim dalam Mustadrak Ash Shahihain jilid 2 hal 343 dan Al Hakim menyatakan bahwa hadis ini shahih).

Hadis ini menjelaskan bahwa Ahlul Bait seperti bahtera Nuh dimana yang menaikinya akan selamat dan yang tidak mengikutinya akan tenggelam. Mereka Ahlul Bait Rasulullah SAW adalah pemberi petunjuk keselamatan dari perpecahan.
Ibnu Abbas berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda”Bintan g-bintang adalah petunjuk keselamatan penghuni bumi dari bahaya tenggelam di tengah lautan.Adapun Ahlul BaitKu adalah petunjuk keselamatan bagi umatKu dari perpecahan.Maka apabila ada kabilah arab yang berlawanan jalan dengan Mereka niscaya akan berpecah belah dan menjadi partai iblis”.
(Hadis riwayat Al Hakim dalam Mustadrak Ash Shahihain jilid 3 hal 149, Al Hakim menyatakan bahwa hadis ini shahih sesuai persyaratan Bukhari Muslim).

Begitu besarnya kemuliaan Ahlul Bait Rasulullah SAW ini membuat mereka jelas tidak bisa dibandingkan dengan sahabat-sahabat Nabi ra. Tidak benar jika dikatakan bahwa Ahlul Bait sama halnya sahabat-sahabat Nabi ra sama-sama memiliki keutamaan yang besar karena jelas sekali berdasarkan dalil shahih di atas bahwa Ahlul Bait kedudukannya lebih tinggi karena Mereka adalah tempat rujukan bagi para sahabat Nabi setelah Rasulullah SAW meninggal. Jadi tidak tepat kalau dikatakan Ahlul Bait juga bisa salah, atau sahabat Nabi bisa mengajari Ahlul Bait atau Menyalahkan Ahlul Bait. Sekali lagi, Al Quran dan Hadis di atas sangat jelas menunjukkan bahwa mereka Ahlul Bait akan selalu bersama kebenaran oleh karenanya Rasulullah SAW memerintahkan umatnya(termasu k sahabat-sahabat Beliau SAW) untuk berpegang teguh dengan Mereka Ahlul Bait

Al Quran dalam Surah Al Ahzab 33 telah menyatakan kedudukan Ahlul Bait bahwa Mereka adalah Pribadi-pribadi yang disucikan oleh Allah SWT.

.
Mari kita lihat Al Ahzab ayat 33 yang berbunyi
….Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai Ahlul Bait dan mensucikanmu sesuci-sucinya

Kemuliaan Ahlul Bait Dalam Hadis Rasulullah SAW
Rasulullah SAW bersabda. “Kutinggalkan kepadamu dua peninggalan (Ats Tsaqalain), kitab Allah dan Ahlul BaitKu. Sesungguhnya keduanya tak akan berpisah, sampai keduanya kembali kepadaKu di Al Haudh“ (Mustadrak As Shahihain Al Hakim juz III hal 148 Al Hakim menyatakan dalam Al Mustadrak As Shahihain bahwa sanad hadis ini shahih berdasarkan syarat Bukhari dan Muslim).

SEKARANG SIAPA YG WAJIB KITA IKUTI JIKA KITA MENCINTAI ALLAH DAN RASULNYA ?.

Sahabat Nabi Tidak Semuanya Adil
 

2011/08/29 t
Ayatullah al Uzhma Makarim Syirazi:
 Sahabat Nabi Tidak Semuanya Adil
“Kaum munafikin di zaman Nabi saww sebagaimana penjelasan Al_qur’an sangat keterlaluan dalam kemunafikan mereka. Mereka sangat bersungguh-sungguh menampakkan diri sebagai bagian dari umat Islam. Mereka juga turut shalat di belakang Nabi, mereka juga duduk di setiap majelis-majelis Nabi bahkan mereka juga turut meriwayatkan hadits-hadits Nabi saww. Karenanya sangat memungkinkan bagi orang-orang setelahnya, orang-orang munafik ini juga terkategorikan sebagai sahabat-sahabat Nabi”
 
Ayatullah Al Uzhma Nashir Makarim Syirazi setelah pelaksanaan shalat Dhuhur secara berjama’ah di hadapan para jama’ah shalat di Haram Hadhrat Fatimah Maksumah di kota suci Qom Iran menyatakan bahwa saudara muslim dari kalangan Ahlus Sunnah berkeyakinan semua sahabat Nabi itu adil tanpa terkecuali dan tidak satupun dari mereka boleh dikecam.

Ulama yang juga merupakan salah satu marja taklid bagi umat Syiah ini mengkritisi keyakinan tersebut dengan mengatakan, “Muawiyah adalah juga diantara sahabat Nabi, tetapi apakah beliau termasuk sahabat Nabi yang adil?”

Beliau kemudian lebih lanjut mengaitkannya dengan penyimpangan putra nabi Nuh as yang membuat hubungan maknawi dengan bapaknya menjadi terputus. Beliau berkata, “Kita bisa mengambil hikmah dari kisah nabi Nuh as, bahwa seberapa akrab dan erat hubungan seseorang dengan Nabi bukanlah menjadi jaminan bahwa hubungan erat itu akan menjadikannya sebagai pengikut setia Nabi sampai akhir hayatnya. Hubungan Nabi Nuh dengan putranya adalah hubungan sedarah, hubungan keluarga yang lebih dekat dan erat dari hubungan persahabatan ataupun kekerabatan secara luas, namun meskipun demikian, sejarah memperlihatkan bahwa sebagai anakpun, putra Nabi Nuh as membangkang dan mendurhakai Nabi Nuh as apalagi kalau hanya sekedar hubungan persahabatan yang baru terjalin dalam beberapa tahun.”

Ayatullah Makarim Syirazi kemudian menjelaskan mengenai keyakinan dan pendapat Syiah yang membagi sahabat menjadi 3 golongan. Beliau berkata, “Syiah membagi sahabat menjadi 3 golongan besar. Kelompok pertama adalah sahabat-sahabat Nabi yang terdiri dari pibadi-pribadi yang baik yang hidup di zaman Nabi saww seperti Salman dan Abu Dzar. Yang kemudian sepeninggal Nabi mereka tetap istiqamah di jalan yang telah digariskan Nabi saww.”

“Sementara kelompok yang kedua, adalah sahabat-sahabat Nabi yang meskipun bersama Nabi namun pada dasarnya merupakan orang-orang munafik. Kelompok inilah yang disinggung oleh Allah pada ayat-ayat awal surah Al-Baqarah. Karenannya saya hendak bertanya kepada ulama-ulama Ahlus Sunnah, apakah kalian tetap menganggap bahwa kaum munafikin itu adalah orang-orang yang adil?” lanjut beliau.

Ayatullah al Uzhma Makarim Syirazi kemudian menegaskan, “Kaum munafikin di zaman Nabi saww sebagaimana penjelasan Al_qur’an sangat keterlaluan dalam kemunafikan mereka. Mereka sangat bersungguh-sungguh menampakkan diri sebagai bagian dari umat Islam. Mereka juga turut shalat di belakang Nabi, mereka juga duduk di setiap majelis-majelis Nabi bahkan mereka juga turut meriwayatkan hadits-hadits Nabi saww. Karenanya sangat memungkinkan orang-orang munafik ini juga terkategorikan sebagai sahabat-sahabat Nabi”

“Kemudian kelompok yang ketiga adalah sahabat-sahabat Nabi yang terdiri dari pribadi-pribadi yang baik semasa nabi masih hidup namun kemudian sepeninggal Nabi menjadi orang-orang yang menyimpang dan mengubah-ubah sunnah-sunnah Nabi saww. Dalam kitab-kitab ahlus sunnah sendiri diriwayatkan sepeninggal Nabi tidak sedikit sabahat nabi yang kembali murtad ataupun kembali kepada tradisi-tradisi jahiliyah seperti meminum minuman keras. Lantas kepada mereka ini, apakah logis jika atas nama mereka sahabat Nabi kitapun tetap menetapkan bahwa mereka adalah orang-orang yang adil?” tegas ulama marja ini.

Ulama yang merupakan guru besar di Hauzah Ilmiyah Qom ini dipenghujung ceramahnya mengatakan, “Kami umat Syiah mengatakan bahwa kami memberikan penghormatan kepada sahabat-sahabat Nabi yang tercatat dalam literatur sejarah sebagai sahabat-sahabat setia Nabi dan bagi sahabat-sahabat yang tercatat melakukan penyimpangan yang penyimpangan itu menodai kesucian dan kemuliaan Islam maka kami tidak mempunyai alasan untuk memberikan penghormatan kepada mereka. Dan keyakinan kami ini bukanlah berarti tidak menghormati keyakinan Ahlus Sunnah. Tidak ada pengecaman yang boleh dilakukan kepada siapapun, kecuali jika ada dalil dan keterangan-keterangan yang jelas.”

Al Quran menyatakan Tidak Semua Sahabat Rasulullah Adalah Adil (3)

Yg mengatakan sebagian sahabat itu ingkar, lari dari medan perang, meninggalkan rasulullah sedang khutbah jumat dan mereka keluar mengejar pedagag makanan, sahabat yg mengancam mengawini istri nabi saw. dll. ITU SEMUA ALLAH YG MENGATAKANNYA. KALO ANTUM TIDAK PERCAYA SILAHKAN SURAT DAN AYAT YG SAYA KEMUKAKAN ANTUM CEK BENAR APA SALAH.

RATUSAN SAHABAT LARI DARI PERANG UHUD INIKAH BUKTI SAHABAT CINTA PADA ALLAH DAN RASULNYA ?

PERANG UHUD
Perang uhud adalah perang antara kaum muslimin yg dipimpin oleh Rasulullah sendiri melawan kaum kafir. Terjadinya perang uhud adalah pertengahan bulan Syawal 3 H pasukan muslimin berjumlah 700 orang dipimpin oleh Nabi saw VS 3000 org kaum musryikin mekah pimpinan Abu sofyan bin harb( baca: Sirah nabawiyah HMH.AL-HAMID AL HUSAINI hal.565-569 ).
.
dimana abu sofyan bin harb (pemimpin kaum kafir) dan hindun (keduanya adalah orang tua muawiyah bin abu sofyan) yg masih kafir ikut serta memerangi nabi saw. perang ini dicatat oleh sejarah. Perang ini yg membuat nabi saw menangis dan sedih tiada tara karena melihat kondisi paman beliau wafat dimedan perang uhud . Bukan krn kematian paman nabi saw. (yaitu hamzah bin abdul muthalib) yg membuat hati nabi saw yg mulia itu begitu sedih tapi karena perlakukan thd jenazah paman beliau saw

.
Perlakuan atas jenazah paman beliau saw yg tidak manusiawi itu yg dilakukan seorang manusia TERKUTUK YG BERNAMA HINDUN (istri abu sofyan , ibu muawiyah bin abu sofyan dan nenek dari yazid bin muawiyah.) semoga Allah melaknat hindun yg bersikap DZHOLIM dan MELAMPAUI BATAS KEMANUSIAAN (baca : Allah tdk akan memberi petunjuk bagi manusia yg DZALIM DAN MELAMPAUI BATAS) yaitu bukan sekedar merobek perut jenazah yg mulia yaitu hamzah ra. tetapi juga memakan hati dan jantung paman nabi saw seperti MANUSIA KANIBAL

.
( dari rahim perempuan dzalim inilah lahir seorang anak bernama Muawiyah bin abu sofyan yg melakukan pemberontakan kpd Ali ra. yg pada saat itu menjadi khalifah yg sah, yg kita kenal dgn perang shiffin, 70 ribu kaum muslimin gugur akibat ambisi muawiyah yg ingin menjadi khalifah )
.
QS. 3:140. Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada'[231]. DAN ALLAH TIDAK MENYUKAI ORANG-ORANG YANG DZALIM
.
Seteleh selasai perang uhud lalu nabi saw melihat jenazah hamzah ra, ketika Rasulullah menyaksikan kondisi jenazah paman beliau , Rasulullah bersabda “ PAMAN, BELUM PERNAH ADA ORANG MENGALAMI KEADAAN SEPERTI ANDA. AKUPUN BELUM PERNAH MELIHAT PERISTIWA YG MEMBANGKITKAN KEMARAHANKU SEPERTI KEJADIAN YG ANDA ALAMI INI “ sambil menahan gejolak hati dan perasaan beliau berucap “ : Demi Allah pada suatu ketika, bila Allah memenangkan kami dalam peperangan melawan mereka , mereka akan menyaksikan sendiri apa yg hendak kami lakukan terhadap mereka . ( baca: Sirah nabawiyah HMH.AL-HAMID AL HUSAINI hal.575, SIRAH NABAWIYAH IBNU HISYAM JILID 2)
.
setelah itu turunlah ayat An-nahl 126 :
Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu[846]. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar
.
Kekalahan peperangan ini diabadikan oleh Al-Quran disurat Ali imran 121-179 ( baca sirah nabawiyah ibnu hisyam jilid 2 bab 146 “ Ayat-ayat Al-Quran yg diturunkan Allah tentang perang Uhud hal 72-98 ).

untuk meringkas tulisan saya akan pilih point2 penting saja sebagai kronologis kejadian perang uhud hingga kaum muslimin menderita kekalahan.
1. Pasukan panah ditempatkan Rasulullah diatas bukit selain untuk menyerang musuh juga berfungsi melindungi pasukan kaum muslimin didataran.
2. Awalnya kaum kafir quraisy banyak terbunuh oleh pasukan pemanah sehingga mereka kucar kacir.
3. kaum quraisy lari dan meninggalkan harta rampasan perang
4. pasukan (sahabat nabi saw) pemanah turun karena tergiur dengan harta rampasan perang. satu riwayat mereka sudah diingat kembali agar jangan turun sebelum nabi saw memerintahkan tp mereka tidak menghiraukan seruan tersebut dan tetap turun mengambil harta rampasan perang, mereka tidak taat atas perintah nabi saw
5. pasukan berkuda khalid bin walid (masih kafir) yg bersembunyi dibalik bukit uhud menyerang balik pasukan Rasulullah yg lengah.
6. Pasukan Rasulullah (terdiri dari sahabat2 nabi saw) yg tidak siap dengan serangan dadakan dari khalid bin walid dll menjadi kocar kacir dan sebagian besar melarikan diri.
7. Rasulullah memanggil dan memperingati sahabat2nya yg lari untuk kembali tp sahabat2 tersebut tidak menghiraukannya n ( mungkin jg mrk tidak dengar). hal ini diabadikan oleh Al-Quran disurat Ali imran ayat 153 :

(INGATLAH) KETIKA KAMU LARI DAN TIDAK MENOLEH KEPADA SESEORANGPUN, SEDANG RASUL YANG BERADA DI ANTARA KAWAN-KAWANMU YANG LAIN MEMANGGIL KAMU, KARENA ITU ALLAH MENIMPAKAN ATAS KAMU KESEDIHAN ATAS KESEDIHAN[240], SUPAYA KAMU JANGAN BERSEDIH HATI TERHADAP APA YANG LUPUT DARI PADA KAMU DAN TERHADAP APA YANG MENIMPA KAMU. ALLAH MAHA MENGETAHUI APA YANG KAMU KERJAKAN.
[240]. Kesedihan kaum muslimin disebabkan mereka tidak mentaati perintah Rasul yang mengakibatkan kekalahan bagi mereka.

ada yg orang pandir yang menulis bahwa yg lari dari medan uhud bukan sahabat tapi orang munafik dari kalangan kaum muslimin.

Hal ini tidak beralasan sama sekali sebab sebelum perang nabi mengumpulkan para sahabatnya untuk berperang. dan banyak defenisi sahabat yg dikemukakan oleh ulama hampir semuanya menyatakan syarat sahabat nabi saw adalah yg ikut berperang.

sehingga jelas bahwa sahabat2 tersebut pada lari ketika perang uhud. Hal ini diperjelas lagi dengan ayat Al-quran tentang kekalahan sahabt2 dalam perang uhud : (Tidak mungkin ayat ini diturunkan kepada orang munafik.

QS.3:165. Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata: “Darimana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah: “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.” Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu

QS. 3:166. Dan apa yang menimpa kamu pada hari bertemunya dua pasukan, maka (kekalahan) itu adalah dengan izin (takdir) Allah, dan agar Allah mengetahui siapa orang-orang yang beriman

QS. 3: 167. Dan supaya Allah mengetahui siapa orang-orang yang munafik…..
Ibnu hisyam memberi coment QS 3:167 : “maksudnya agar Allah menampakan apa saja yang ada pada orang-orang munafik diantara kalian”

.

8. Kekalahan pada perang uhud diderita oleh sahabat-sahabat nabi (kaum muslimin) pada saat itu
QS. 3:140. Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada'[231]. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang DZALIM

PERANG HUNAIN
Perang hunain terjadi tidak lama setelah penaklukan kota mekah tanpa adanya perlawanan. pasukan pada saat yg dipimpin langsung oleh Rasulullah berjumlah 12 ribu ( 10 ribu dari Madinah dan 2 ribu org yg terdiri dari penduduk makkah yg baru memeluk islam ) diantara 2 ribu pasukan tersebut ada yg masuk islam secara sukarela dan ada yg terpaksa. pasukan kaum muslimin berangkat kehunain melawan kaum kafir HAWAZIN yg dipimpin oleh malik bin auf yg memobilisasi anak suku kabilahnya seperti tsaqif, nashr, jusyam dan sa’ad bin bakar. semua suku kabilah HAWAZIN turut serta kecuali bani ka’ab dan bani kilab.
.
RINGKAS PERISTIWA
1. Pasukan Rasulullah tiba dihunain menjelang malam dan pada pagi harinya,ketika fajar mulai menyingsing mereka mulai bergerak menyusuri lembah TIHAMAH tetapi tiba-tiba kaum muslimin diserang dengan hujan panah oleh pasukan hawazin.
2. Dalam keadaan kalang kabut tersebut mereka mundur dan lari kocar – kacir untuk menyelamatkan diri dari lembah maut (lari dari medan perang hunain) sehingga sejarah mencatat sangking ketakutannya para sahabat2 tersebut diantara mereka terjadi saling bentur dan tabrakan sesama pasukan kaum muslimin.
3. Dalam keadaan genting tersebut orang-orang yg baru memeluk islam bukannya membantu kaum muslimin malah senyum tanda puas atas kondisi pasukan kaum muslimin pada saat itu. diantara mereka adalah ABU SOFYAN BIN HARB, DAN SYAIBAH BIN USMAN BIN ABI THALHAH.

ABU SOFYAN BIN HARB dengan gembira dan sambil tersenyum berkata kepada konco2nya : “MEREKA (sahabat2 nabi yg lari dari medan perang hunain) AKAN TERUS LARI SAMAPAI TERJUN KELAUT”. dan SYAIBAH BIN USMAN BIN ABI THALHAH berkata : SEKARANG INILAH AKU DAPAT ,MENGALAHKAN MUHAMMAD.

mendengar hal itu khaladah bin hanbal dengan nada mengejek ( kepada abu sofyan dan syaibah) berkata : TUTUP MULUTMU AKU LEBIH SUKA BERADA DIBAWAH QURAISY DARIPADA DIBAWAH HAWAZIN. ( baca : sirah nabawiyah HMH. Al-hamid al-husaini hal 691)

4. Raulullah ingin terjun sendiri ketengah medan perang tapi dihalangi oleh abu sofyan bin al-harist bin abdul mutholib. nabi saw bersabda : aku seorang nabi dan aku putra abdulmuthalib…d st (hadist ini diabadikan oleh bukhari dan muslim) walau pada akhirnya nabi menerima pendapat abu sofyan bin al-harist.

5. Al abbas dikala itu yg dekat dgn Rasulullah berteriak dengan keras memanggil sahabat2 yg lari kocar kacir agar kembali : HAI KAUM ANSHAR YG BERJANJI DIAQABAH !!! HAI KAUM MUHAJIRIN YG TELAH MENYATAKAN BAIT DIPOHON!!

6. sahabat yg lari sadar dan kembali berperang bersama Rasulullah menghadapi pasukan hawazin dan akhirnya menang

Kesimpulan:
1. Pasukan kaum muslimin pada saat itu yg banyak 12 ribu tidak menjamin mereka bisa menang dan terbukti mereka pada awalnya kalah hal ini terlihat pasukan kaum muslimin yg terdiri 10 ribu sahabat NABI SAW sebagian dari mereka lari dari medan perang untuk menyelamatkan diri peristiwa ini diabadikan oleh Allah SWT dalam kalamNYA :

Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan HUNAIN, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah (mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu LARI KEBELAKANG DENGAN BERCERAI BERAI. ( QS. At taubah:25)

Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada RasulNya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir ( QS. At taubah:26)

Sesudah itu Allah menerima taubat dari orang-orang yang dikehendakiNya. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang ( QS. At taubah:26)

2. ALLAH menunjukkan kepada kaum muslimin bahwa orang2 yg baru masuk islam sebagian masih memiliki sifat dengki dan hasut kepada nabi saw seperti yg terlukis dalam kalimat ABU SOFYAN BIN HARB, DAN SYAIBAH BIN USMAN BIN ABI THALHAH. bukannya membantu malah mereka mengejek sahabat2 yg lari dari perang hunain.

3. APA KIRA-KIRA YG TERJADI JIKA AL-ABBAS TIDAK BERTERIAK MENGINGATKAN PARA SAHABAT YG LARI TERSEBUT ? BUKANKAH KAUM MUSLIMIN AKAN KALAH.

KESIMPULAN DARI 2 PEPERANGAN KAUM MUSLIMIN YG MELIBATKAN SAHABAT2 NABI PADA SAAT ITU TERBUKTI BAHWA MEREKA (SEBAGIAN SAHABAT) LARI DARI MEDAN PERANG.

PERTANYAANNYA MENGAPA PARA SAHABAT LARI DARI MEDAN PERANG ? JAWABNYA BANYAK TAPI CUKUP SATU SAJA SAYA SIMPULKAN MEREKA LARI KARENA INGIN MENYELAMATKAN JIWANYA ATAU TAKUT MATI

Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bahwa beliau SAWW pernah bersabda kepada kaum Anshar: “Suatu hari kalian akan menyaksikan sifat tamak yang dahsyat sepeninggalku. Karena itu bersabarlah sehingga kalian menemui Allah dan Rasul-Nya di telaga haudh.” Anas berkata, “Kami tidak sabar.“(1)

Ala’ bin Musayyab dari ayahnya pernah berkata: “Aku berjumpa dengan Barra’ bin A’zib ra. Kukatakan padanya, “berbahagialah Anda karena dapat bersahabat dengan Nabi SAWW dan membai’atnya di bawah pohon (bai’ah tahta syajarah). Barra’ menjawab, “wahai putera saudaraku, engkau tidak tahu apa yang telah kami lakukan sepeninggalnya.”(2)

Jika sahabat utama yang tergolong di antara as-Sabiqin al-Awwalin dan pernah membai’at Nabi di bawah pohon, serta Allah rela kepada mereka dan Maha Tahu apa yang ada dalam hati mereka sehingga diberinya ganjaran yang besar;  apakah mereka yang menghianati Bai’ah itu tetap diridhoi Allah ? apalagi  sahabat-sahabat ini kemudian bersaksi bahwa dirinya dan para sahabat yang lain telah melakukan “sesuatu yang berbeda (baca bid’ah)” sepeninggal  Nabi, pengakuan mereka ini adalah bukti kebenaran yang disabdakan oleh Nabi SAW bahwa sebagian dari sahabatnya akan berpaling darinya sepeninggalnya.

Rasululah SAW juga  telah bersabda: “Siapa yang mencaci Ali maka dia telah mencaciku; dan siapa yang mencaciku maka dia telah mencaci Allah; dan siapa yang mencaci Allah maka Allah akan menjatuhkannya ke dalam api neraka.“(3)

Sangat jelas hukuman bagi orang yang mencaci Imam Ali AS.  Lalu apa hukuman bagi mereka yang melaknatnya dan memeranginya., sementara sejarah mengabarkan bahwa Muawiyah melaknati Imam Ali AS selama 70 tahun lebih , dan juga beliau AS telah diperangi oleh 3 kelompok dalam 3 Perang Besar.

1. Shahih Bukhari jil. 2 hal. 135

2. Shahih Bukhari jil.3 hal. 32.

3. Mustadrak al-Hakim jil. 3 hal. 121; Khasais an-Nasai hal. 24; Musnad Ahmad Bin Hanbal jil. 6 hal. 33; Manaqib al-Khawarizmi

Syi’ah Mencela Sahabat Nabi ?? Syi’ah Hina Sahabat Nabi ?? Syi’ah Mencaci Sahabat Nabi ?? Syi’ah mengkafirkan para Sahabat ??

(1) ADA YANG MENINGGALKAN NABI KETIKA SEDANG KHOTBAH JUM’AT, HANYA UNTUK MELIHAT PERNIAGAAN DAN PERMAINAN

Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah: “Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan”, dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezeki. (Al Jumuah : 11)

(2) ADA YANG MENYAKITI NABIT DENGAN MEMBUAT GOSIP MURAHAN

Di antara mereka  ada yang menyakiti Nabi dan mengatakan: “Nabi mempercayai semua apa yang didengarnya”. Katakanlah: “Ia mempercayai semua yang baik bagi kamu, ia beriman kepada Allah, mempercayai orang-orang mukmin, dan menjadi rahmat bagi orang-orang yang beriman di antara kamu”. Dan orang-orang yang menyakiti Rasulullah itu, bagi mereka azab yang pedih. (At Taubah : 61)

(3) ADA YANG BERSUMPAH PALSU

Mereka bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, dan telah menjadi kafir sesudah Islam dan mengingini apa yang mereka tidak dapat mencapainya, dan mereka tidak mencela (Allah dan Rasul-Nya), kecuali karena Allah dan Rasul-Nya telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka. Maka jika mereka bertaubat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih di dunia dan akhirat; dan mereka sekali-kali tidaklah mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di muka bumi. (At Taubah : 74)

(4) ADA YANG KIKIR DAN ENGGANG BERSEDEKAH

Dan diantara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah: “Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh. Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran).(At Taubah : 75-76)

(5) ADA YANG MENINGGIKAN SUARA DIHADAPAN NABI DAN BERKATA DENGAN SUARA KASAR (KERAS)

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari. (Al Hujuraat : 2)

(6) ADA YANG MENCAMPUR ADUKKAN KEBAIKAN DAN KEBURUKAN

“Dan ada pula yang lain, yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka mencampuradukkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima tobat mereka. Sesungguhnya Allah Maha pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. At-Taubah: 102).

(7) ADA YANG BERPRASANGKA SEPERTI PRASANGKA JAHILIYA KEPADA ALLAH – KETIKA RASULULLAH MENYERUKAN UNTUK BERPERANG

Kemudian setelah kamu berdukacita, Allah menurunkan kepada kamu keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan dari pada kamu, sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri, mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah. Mereka berkata: “Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?”. Katakanlah: “Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah”. Mereka menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu; mereka berkata: “Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini”. Katakanlah: “Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh”. Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati.(Ali Imran : 154)

(8) ADA YANG MENGANGGAP JANJI ALLAH DAN RASULULLAH SEBAGAI TIPU DAYA

“Dan (ingatlah) ketika orang- orang munafik DAN orang-orang yang berpenyakit dalam hatinyaberkata:” Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya.” (QS. Al Ahzâb ;12)

(9) ADA YANG ENGGAN UNTUK IKUT DALAM BERPERANG

“Wahai orang-orang yang beriman! Bersiap siagalah kamu dan majulah (ke medan pertempuran) secara berkelompok atau majulah bersama-sama (serentak). Dan sesungguhnya di antara kamu pasti ada orang yang sangat enggan (ke medan pertempuran). Lalu jika kamu ditimpa musibah dia berkata, “Sungguh, Allah telah memberikan nikmat kepadaku, karena aku tidak ikut berperang bersama mereka.” (Qs. An-Nisa’: 71-72).

(10) JIKA MEREKA IKUT PERANG, MALAH MEMBUAT KEKACAUAN DAN MELEMAHKAN”

Jika (mereka berangkat bersamamu), niscaya mereka tidak akan menambah (kekuatan)mu, malah hanya akan membuat kekacauan, dan mereka tentu bergegas maju kedepan di celah-celah barisanmu untuk mengadakan kekacauan (dibarisanmu); sedang diantara kamu ada orang-orang yang sangat suka mendengarkan (perkataan) mereka. Allah mengetahui orang-orang yang dzalim.”(Qs. At-Taubah: 47).

(11) LARI DARI MEDAN PERANG

Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah(mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai.(At Taubah : 25)

(12) TIDAK MEMATUHI PERINTAH NABI, HANYA DEMI BEREBUT RAMPASAN PERANG

(Ingatlah) ketika kamu lari dan tidak menoleh kepada seseorangpun, sedang Rasul yang berada di antara kawan-kawanmu yang lain memanggil kamu, karena itu Allah menimpakan atas kamu kesedihan atas kesedihan, supaya kamu jangan bersedih hati terhadap apa yang luput dari pada kamu dan terhadap apa yang menimpa kamu. Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Ali Imran : 153)

Mengenai sikap terhadap sahabat, kaum Syi’ah berpegang pada Al-Quran dan Sunnah serta catatan sejarah. Bahwa diantara para sahabat ada juga yang lalim 

Lihat buku-buku sejarah Islam, seperti “Riwayat Hidup Rasulullah SAW” karangan Abul Hasan Ali Al-Hasany an-Nadwy, terjemahan Bey Arifin dan Yunus Ali Muhdhar, hal. 213 atau Ibnu Hisyam, “Sirah Nabawiyah” jilid II, hal. 213. Atau Mu’awiyah dan para jendralnya yang melakukan pembersihan etnis dengan membunuh kaum Syi’ah secara berdarah dingin, shabran, menyembelih bayi-bayi Syi’ah, memperbudak para muslimah dan membakar kebun dan membakar manusia hidup-hidup, mengarak kepala dari kota ke kota, minum arak, berzina dan sengaja merencanakan dan membuat hadits hadits palsu yang bertentangan dengan hukum syar’i. Mengapa saudara tidak membaca sejarah dan hadits-hadits kita sendiri?
.
Bila saudara-saudara menganggap cerita-cerita yang membuka ‘aib’ para sahabat sebagai kufur, maka tidak akan ada lagi ahli sejarah dan ahli hadits yang tidak kafir. Syi’ah menolak hadits yang diriwayatkan oleh para sahabat lalim. Mereka heran mengapa kaum Sunnah keberatan bila mereka meriwayatkan hadits-hadits dari keluarga Rasulullah sebab ayat-ayat Al-Qur’an turun dirumah mereka
.
Dan Rasulullah tinggal serumah dan mengajari mereka? Mengapa mereka harus mencari hadits-hadits Abu Hurairah misalnya, yang meriwayatkan bahwa Allah menciptakan Adam seperti wajah Allah dengan panjang 60 hasta (sittuna dzira), sedang Al-Qur’an mengatakan bahwa tiada sesuatu pun yang menyerupaiNya, laisa kamitslihi syai’un, atau Nabi Musa lari telanjang bulat karena bajunya dibawa lari oleh batu, atau sapi berbahasa Arab, atau hadits yang menyatakan kalu lalat masuk ke dalam kuah, maka seluruh lalat harus dimasukkan kedalamnya sehingga menimbulkan ‘perang lalat’ di koran-koran Mesir karena dokter-dokter muda menolak hadits yang ‘berbahaya’ tersebut? Dan Allah yang turun ke langit bumi, sepertiga malam, sehingga Allah tidak punya kesempatan untuk kembali karena kesiangan?
.
Mengapa mereka harus berpegang pada Abu Hurairah yang oleh sahabat-sahabat besar seperti ummul mu’minin Aisyah dan Umar bin Khattab dan ulama-ulama besar seperti Ibnu Qutaibah menganggapnya sebagai pembohong? Bukankah Ibnu Qutaibah disebut sejarawan sebagai nashibi atau pembenci Ahlul Bait dan bukan Syi’ah? Baca sejarah dan hadits-hadits shahih Bukhari Muslim! Haruslah diakui bahwa pandangan Syi’ah ini berbeda dengan kaum Sunni yang menganggap semua sahabat itu adil, ‘udul, dan bila mereka membunuh atau memerangi sesama muslim, mereka akan tetap mendapat pahala. Bila tindakan mereka salah, mereka akan mendapat satu pahala dan kalau benar mendapat dua pahala.
.
Malah ada ulama Sunni, seperti Ibnu Katsir, Ibnu Hazm dan Ibnu Taymiyyah menganggap ‘Abudrrahman bin Muljam yang membacok Imam ‘Ali bin Abi Thalib yang sedang shalat shubuh sebagai mujtahid. Demikian pula pembantai Husain dan keluarganya di Karbala. Pembunuh-pembunuh cucu Rasulullah ini dianggap mendapat pahala, satu bila salah dan dua bila benar! Suatu hari, saya kedatangan tiga orang Afghanistan. Saya tanyakan, mengapa kaum muslimin di Afghanistan saling berperang? Mereka menjawab: mereka berperang karena berijtihad seperti ummul mu’minin ‘Aisyah yang memerangi ‘Ali dalam perang Jamal. Kalau benar dapat dua pahala dan kalau salah dapat satu.
.
Dan saya dengar, koran-koran Jakarta pun telah memuat keyakinan mereka ini. Kaum Thaliban di Afghanistan, yang punya pendapat seperti ini, yang mengurung dan tidak membolehkan wanita bekerja atau sekolah bukanlah Syi’ah, tetapi kaum Wahabi! Sebaliknya kaum Syi’ah juga berpendapat bahwa banyak pula sahabat yang mulia, yang harus diteladani kaum muslimin. Al-Qur’an juga menyebutkan bahwa diantara para sahabat ada yang ‘kufur’ dan ‘munafik’. (Termasuk ayat-ayat terakhir bacalah At-Taubah ayat 48, 97)
.

Banyak sekali hadits-hadits seperti hadits Al-Haudh, diantaranya tercatat dalam Shahih Bukhari dan Muslim. Mereka membenarkan ayat Al-Qur’an tersebut dan menceritakan adanya sekelompok sahabat digiring ke neraka dan tatkala ditanya Rasul, ada suara yang menjawab “Engkau tidak mengetahui apa yang mereka lakukan sesudahmu”. Ahli-ahli sejarah kita dengan gamblang menggambarkan ulah beberapa sahabat tersebut. Apakah pandangan Syi;ah tersebut ‘kufur’ atau ‘sesat’? Apakah mereka harus dikafirkan karena keyakinan mereka itu? Kita boleh menyesali perbedaan itu, tetapi perbedaan ini menyangkut masalah cabang agama bukan pokok, bukan ushuluddin

.

Mengenai mencela dan melaknat sahabat, saya belum pernah membaca fatwa ulama yang mengkafirkan mereka. Misalnya, selama 80 tahun dinasti ‘Umayyah, kecuali di zaman khalifah ‘Umar bin ‘Abdul ‘Azis yang hanya dua setengah tahun
.
Muawiyyah dan para pejabatnya serta para ulamanya melaknat dan mencaci Ali bin Abu Thalib dan keluarga beserta pengikutnya diatas mimbar diseluruh dunia Islam termasuk di Makkah dan Madinah, kecuali di Sijistan
.
Di Sijistan, sebuah kota yang sekarang terletak antara Afghanistan dan Iran, hanya sekali melakukan pelaknatan diatas mimbar.  Ali dilaknat dan dicaci atas perintah sahabat dan ipar Rasulullah SAWW, Mu’awiyyah, serta khalifah-khalifah Bani Umayyah lainnya. Pada masa itu, misalnya, Ali tidak dianggap khalifah yang lurus
.
Abdullah bin Umar tidak mau membai’at Ali malahan membai’at Mu’awiyyah, Yazid bin Mu’awiyyah dan gubernur Hajjaj bin Yusuf yang terkenal sebagai penjahat yang mebunuh 120 ribu kaum muslimin dan muslimat secara berdarah dingin, shabran. Umar bin Abul Azis mengatakan bahwa Hajjaj pasti akan menjadi juara dunia bila para penjahat dikumpulkan dan ‘diperlombakan’
.
Ibnu Umar juga mengeluarkan hadits-hadits yang menyingkirkan Ali sebagai salah satu khalifah yang lurus. Kita tahu, Mu’awiyyah membunuh para sahabat seperti, Hujur bin ‘Adi, Syarik bin Syaddad, Shaifi bin Fasil, Asy-Syabani, Qabisyah bin Dhabi’ah Al-Abbasi, Mahraz bin Syahhab Al- Munqari, Kadam bin Hayyan Al-Anzi dan Abdurrahman bin Hassan Al-Anzi hanya karena tidak mau melaknat Ali. Abdurrahman Al-Anzi dikirim kepada Ziyad bin Abih dan dikuburkan hidup-hidup di Nathif dekat kuffah, ditepi sungai Efrat
.
Beranikah saudara-saudara peserta menganggap Mu’awiyyah dan seluruh pejabat, sahabat Rasulullah SAWW yang mendukungnya, serta para ulama telah kafir karena bukan saja memerintahkan kaum muslimin, termasuk para sahabat agar melaknat Ali, tetapi juga membunuh mereka yang menolak untuk melaknat? Pada masa itu tidak ada yang berani menamakan anaknya Ali. Sampai-sampai pernah seorang ayah melaporkan kepada penguasa karena merasa terhina oleh istrinya karena memanggilnya Ali!

Al Quran menyatakan Tidak Semua Sahabat Rasulullah Adalah Adil (2)

AL QURAN MENYATAKAN ADA SAHABAT YANG MENYAKITI (HATI) RASULULLAH DENGAN ANCAMAN MENGAWINI ISTRI-ISTRINYA SESUDAH IA WAFAT

Yg mengatakan sebagian sahabat itu ingkar, lari dari medan perang, meninggalkan rasulullah sedang khutbah jumat dan mereka keluar mengejar pedagag makanan, sahabat yg mengancam mengawini istri nabi saw. dll. ITU SEMUA ALLAH YG MENGATAKANNYA. KALO ANTUM TIDAK PERCAYA SILAHKAN SURAT DAN AYAT YG SAYA KEMUKAKAN ANTUM CEK BENAR APA SALAH.

sahabat Nabi SAW. telah menyakiti Rasulullah SAW. sesuai dengan ayat dalam Al Qur`an surah al Ahzab 33: 53 berikut ini:.

Terjemahnya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak (makanannya), tetapi jika kamu diundang maka masuklah dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi lalu Nabi malu kepadamu (untuk menyuruh kamu keluar), dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar. Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini istri-istrinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allah.” (Qs. Al-Ahzab 33: 53)
.
Dan bentuk tindakan sahabat menyakiti Rasulullah SAW., menurut Dr. Jalaluddin Rakhmat adalah seperti hadits yang diriwayatkan oleh Baihaqi berikut ini yang ia kutip dari tafsir ad-Durr al Mantsur karya Jalaluddin as Suyuthi, yaitu:
“Al-Baihaqi dalam sunannya dari Ibn Abbas: Salah seorang sahabat Nabi SAW berkata: Apakah Muhammad (SAW) menghalangi kami untuk menikahi saudara-saudara sepupu kami, sementara ia boleh menikahi mantan istri-istri kami sepeninggal kami. Jika sesuatu terjadi kepadanya, kami akan kawini istri-istrinya sepeninggalnya. Makan turunlah ayat ini. Perkataan ini menyakiti hati Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (al-Durr al-Mantsur 5:404)

.

Tiada seorang nabi yang diganggu kaumnya seperti Nabi Muhammad saw. diganggu kaumnya!
Dan tiada nabi yang lebih sabar dari Nabi Muhammad saw. dalam menghadapi gangguan kaumnya, baik yang kafir maupun yang munafik atau yang lemah imannya!

.
Serta tiada dosa melebihi dosa mengganggu Allah dan Rasul-Nya! Allah melaknat dan mencampakkan ke dalam siksa pedih-Nya sesiapa yangberani-bera ni mengganggu rasul-Nya!

.
Allah SWT. berfirman:
إِ“Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan.” (QS. al Ahzâb[33] ;57)

.
Keterangan:
Tentang ayat di atas, Ibnu Katsir berkata, “Allah berfirman sembari mengancam dan manjanjikan siksaan atas sesiapa yang mengganggu-Nya dengan melanggar perintah-perint ah-Nya dan menerjang larangan-larang an-Nya serta berterus-terus dalam melanggar. Allah juga mengancam sesiapa yang mengganggu Rasul-Nya dengan menisbatkan aib atau cacat –kami berlindung kepada Allah darinya-…. .” Dan setelah menyebutkan perselisihat pendapat para ahli tafsir tentang siapa atau kelompok mana yang dimaksud dengannya, di antaranya adalah pendapat Ibnu Abbas ra. bahwa yang dimaksud dengannya adalah para sahabat yang mengganggu Nabi saw. terkait dengan pernikahan beliau saw. dengan Shaifyah binti Huyai ibn Akhthab, ia melanjutkan, “Yang zahir bahwa ayat itu bersifat umum untuk siapapun yang mengganggu beliau dengan bentuk gangguan apapun. Maka barang siapa mengganggu beliau berarti ia benar-benar telah mengganggu Allah. Sebagaimana ta’at kepada beliau adalah ta’at kepada Allah
(Tafsir al Qur’an al Adzîm; Ibnu Katsir,4/517)

.

Dalam ayat di atas Allah menegaskan bahwa siapapun yang mengganggu Rasulullah saw. berarti ia menganggu Allah, sebab seorang rasul selaku rasul tidak lain adalah utusan Allah, maka siapapun yang mengganggunya berarti sebenarnya ia sedang bermaksud mengganngu Allah. Dan Allah mencancam bagi yang mengganngu-Nya dan mengganggu Rasul-Nya dengan kutukan/ laknatan yang akan mengena dan menyertainya di sepanjang kehidupan dunia dan akhiratnya, selain Allah siapkan siksa yang menghinakan kelak di hari kiamat ketika mereka dicampakkan ke dalam api neraka!

.

Allah mengancamnya dengan laknat yang artinya –seperti telah disebutkan- adalah diusir dan dijauhkan dari rahmat Allah SWT. Dan rahmat Allah yang khusus bagi kaum Mukmin adalah berbentuk bimbingan kepada keyakinan yang benar/haq dan hakikat keimanan yang akan diikuti dengan amal shaleh. Jadi dijauhkan dari rahmat di dunia berkonsekuensi terhalanginya orang tersebut dari mendapatkan rahmat tersebut di atas sebagai balasan atas kejahatannya. Dan ia akan menyebabkan terkuncinya hati dari menerima kebenaran, seperti ditegaskan dalam firman-Nya:

“Kami laknati mereka dan Kami jadikan hati mereka keras membatu.” (QS. Al Mâidah [5];13)

.
Sebagaimana mata hati mereka menjadi buta dan telinga battin mereka menjadi tuli. Allah SWT berfirman:“Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan penglihatan mereka.” (QS. Muhammad [47];23)

.

Inilah ganjaran mereka yang menggangggu Rasulullah saw. di dunia. Adaapun ganjarang atas mereka di akhirat nanti adalah dijauhkan dari rahmat kedekatan Allah. Mereka dihalau dari mendapat anugrah-Nya. Dan setelah itu Allah menambahkan lagi dengan firman-Nya: “dan (Allah) menyediakan baginya siksa yang menghinakan.”

.

Allah menyiksa mereka dengan siksaan yang menghinakan mereka, karena daahulu di dunia mereka mengganggu Rasulullah saw. sebagai bentuk kecongkakan mereka terhadap Allah dan Rasul-Nya, maka sekarang mereka dibalas dengan kehinaan abadi.

.

SIAPA YANG MENGANCAM AKAN MENGAWINI ISTRI-ISTRI NABI SAW ?

Para ulama ahli tafsir kita menyebutkan bahwa di antara sikap yang mengganggu dan menyakitkan hati Nabbi saw. adalah ucapan sebagian sahabat bahwa ia akan menikahi seorang dari istri beliau saw. jika nanti beliau mati. Maka Allah merekam sikap tidak senonoh tersebut dalam firman-Nya:

..
“….Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini istri-istrinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allah.” (QS. al Ahzâb[33];53)

.

Keterangan:
Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah (dengan melanggar perintahnya baik yang terkait dengan sikap kalian terhadap istri-istri beliau atau dalam masalah-masalah lain) dan tidak (pula) mengawini istri-istrinya selama-lamanya sesudah ia wafat

.

Sesungguhnya perbuatan itu ( menikahi istri-iastri beliau sepeninggal beliau)adalah (dosa yang) amat besar (dosanya) di sisi Allah.

Ayat ini mengesankan secara kuat bahwa sebagian sahabat telah menyebut-nyebut niatan/ucapan yang disebut di dalamnya bahwa ada di antara mereka yang berniat menikahi istri-istri Nabi saw. sepeninggal beliau saw.

Beberapa riwayat telah direkan para Ahli Hadis bahwa yang berbicara tidak sononoh itu adalah salah seorang sahabat Nabi saw. Sementara beberapa riwayat lainnya menegaskan bahwa sahabat yang dimaksud adalah Thalhal ibn Ubaidillah.

Jalaluddin as Suyuthi menyebutkan dalam kitab tafsir ad Durr al Mantsûr-nya delapan riwayat dalam masalah ini dari para muhaddis kenamaan Ahlusunnah, di antaranya adalah:

(1) Ibnu Jarir ath Thabari meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra., ia berkata, “Ada seorang datang menemui salah seorang istri Nabi saw. lalu berbincang-binc ang dengannya, ia adalah anak pamannya. Maka Nabi saw. bersabda, ‘Jangan kamu ulang lagi perbuatan ini setelah hari ini!’ Ia menjawab, ‘Wahai Rasulullah! Dia adalah anak pamanku dan aku tidak berbincang-binc ang yang munkar kepadanya dan dia pun tidak berbicara yang munkar kepadaku.’ Nabi saw. bersabda, ‘Aku mengerti itu. Tiada yang lebih cemburu dibanding Allah dan tiada seorang yang lebih pecemburu dibanding aku.’ Lalu ia meninggalkan Nabi kemudian berkata, ‘Dia melarangku berbincang-binc ang dengan anak pamanku, jika ia mati aku benar-benar akan menikahinya.’ Maka turunlah ayat itu. …. “

(2) Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari as Siddi ra., ia berkata, “Telah samapai kepada kami berita bahwa Thalhah berkata, ‘Apakah Muhammad menghalang-hala ngi kami dari menikahi wanita-wanita suku kami, sementara ia menihaki wanita-wanita kami setelah kematian kami? Jika terjadi sesuatu atasnya (mati_maksudnya ) aku akan nikahi istri-istrinya. ” Maka turunlah ayat ini.

(3) Abdurrazzâq, Abdu ibn Humaid dan Ibnu Mundzir meriwayatkan dari Qatadah ra., ia baerkata, “Thahlah berkata, ‘Jika Nabi wafat aku akan nikahi ‘Aisyah ra.” maka turunlah ayat: Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini istri- istrinya selama-lamanya sesudah ia wafat… “

(4) Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Abu Bakar ibn Muhammad ibn ‘Amr ibn Hazm tentang firman Allah: Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini istri- istrinya selama-lamanya sesudah ia wafat….”, ia berkata, “Ayat ini turun untuk Thalhah ibn Ubaidillah, sebab dia berkata, ‘Jika Rasulullah saw. aku akan nikahi Aisyah ra.’”[Baca ad Durr al Mantsûr,5/403-4 04, Tafsir Fathul Qadîr,4/298-300 , tafsir Ibnu Katsir,3/506, Tafsir Ma’âlim at Tanzîl,5/273, dll.)

Khulashah:
Dari keterangan di atas dimengerti bahwa karenan Allah SWT. tidak mungkin menimpa-Nya gangguan apapun baik secara fisik maupun non fisik karena Dzat Allah Maha suci dari mengalami itu semua. Maka Allah menetapkan manusia-manusia suci pilihan-Nya sebagai barometer gangguan kepada Allah. Nabi Muhammad saw. adalah barometer tersebut! Sesiapa yang mengganggu Nabi Muhammad saw. maka berarti ia benar-benar telah mengganggu Allah SWT. Sebab beliau adalah duta Allah dan hamba pilihan-Nya!

Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bahwa beliau SAWW pernah bersabda kepada kaum Anshar: “Suatu hari kalian akan menyaksikan sifat tamak yang dahsyat sepeninggalku. Karena itu bersabarlah sehingga kalian menemui Allah dan Rasul-Nya di telaga haudh.” Anas berkata, “Kami tidak sabar.“(1)

Ala’ bin Musayyab dari ayahnya pernah berkata: “Aku berjumpa dengan Barra’ bin A’zib ra. Kukatakan padanya, “berbahagialah Anda karena dapat bersahabat dengan Nabi SAWW dan membai’atnya di bawah pohon (bai’ah tahta syajarah). Barra’ menjawab, “wahai putera saudaraku, engkau tidak tahu apa yang telah kami lakukan sepeninggalnya.”(2)

Jika sahabat utama yang tergolong di antara as-Sabiqin al-Awwalin dan pernah membai’at Nabi di bawah pohon, serta Allah rela kepada mereka dan Maha Tahu apa yang ada dalam hati mereka sehingga diberinya ganjaran yang besar;  apakah mereka yang menghianati Bai’ah itu tetap diridhoi Allah ? apalagi  sahabat-sahabat ini kemudian bersaksi bahwa dirinya dan para sahabat yang lain telah melakukan “sesuatu yang berbeda (baca bid’ah)” sepeninggal  Nabi, pengakuan mereka ini adalah bukti kebenaran yang disabdakan oleh Nabi SAW bahwa sebagian dari sahabatnya akan berpaling darinya sepeninggalnya.

Rasululah SAW juga  telah bersabda: “Siapa yang mencaci Ali maka dia telah mencaciku; dan siapa yang mencaciku maka dia telah mencaci Allah; dan siapa yang mencaci Allah maka Allah akan menjatuhkannya ke dalam api neraka.“(3)

Sangat jelas hukuman bagi orang yang mencaci Imam Ali AS.  Lalu apa hukuman bagi mereka yang melaknatnya dan memeranginya., sementara sejarah mengabarkan bahwa Muawiyah melaknati Imam Ali AS selama 70 tahun lebih , dan juga beliau AS telah diperangi oleh 3 kelompok dalam 3 Perang Besar.

1. Shahih Bukhari jil. 2 hal. 135

2. Shahih Bukhari jil.3 hal. 32.

3. Mustadrak al-Hakim jil. 3 hal. 121; Khasais an-Nasai hal. 24; Musnad Ahmad Bin Hanbal jil. 6 hal. 33; Manaqib al-Khawarizmi

Syi’ah Mencela Sahabat Nabi ?? Syi’ah Hina Sahabat Nabi ?? Syi’ah Mencaci Sahabat Nabi ?? Syi’ah mengkafirkan para Sahabat ??

(1) ADA YANG MENINGGALKAN NABI KETIKA SEDANG KHOTBAH JUM’AT, HANYA UNTUK MELIHAT PERNIAGAAN DAN PERMAINAN

Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah: “Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan”, dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezeki. (Al Jumuah : 11)

(2) ADA YANG MENYAKITI NABIT DENGAN MEMBUAT GOSIP MURAHAN

Di antara mereka  ada yang menyakiti Nabi dan mengatakan: “Nabi mempercayai semua apa yang didengarnya”. Katakanlah: “Ia mempercayai semua yang baik bagi kamu, ia beriman kepada Allah, mempercayai orang-orang mukmin, dan menjadi rahmat bagi orang-orang yang beriman di antara kamu”. Dan orang-orang yang menyakiti Rasulullah itu, bagi mereka azab yang pedih. (At Taubah : 61)

(3) ADA YANG BERSUMPAH PALSU

Mereka bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, dan telah menjadi kafir sesudah Islam dan mengingini apa yang mereka tidak dapat mencapainya, dan mereka tidak mencela (Allah dan Rasul-Nya), kecuali karena Allah dan Rasul-Nya telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka. Maka jika mereka bertaubat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih di dunia dan akhirat; dan mereka sekali-kali tidaklah mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di muka bumi. (At Taubah : 74)

(4) ADA YANG KIKIR DAN ENGGANG BERSEDEKAH

Dan diantara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah: “Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh. Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran).(At Taubah : 75-76)

(5) ADA YANG MENINGGIKAN SUARA DIHADAPAN NABI DAN BERKATA DENGAN SUARA KASAR (KERAS)

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari. (Al Hujuraat : 2)

(6) ADA YANG MENCAMPUR ADUKKAN KEBAIKAN DAN KEBURUKAN

“Dan ada pula yang lain, yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka mencampuradukkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima tobat mereka. Sesungguhnya Allah Maha pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. At-Taubah: 102).

(7) ADA YANG BERPRASANGKA SEPERTI PRASANGKA JAHILIYA KEPADA ALLAH – KETIKA RASULULLAH MENYERUKAN UNTUK BERPERANG

Kemudian setelah kamu berdukacita, Allah menurunkan kepada kamu keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan dari pada kamu, sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri, mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah. Mereka berkata: “Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?”. Katakanlah: “Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah”. Mereka menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu; mereka berkata: “Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini”. Katakanlah: “Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh”. Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati.(Ali Imran : 154)

(8) ADA YANG MENGANGGAP JANJI ALLAH DAN RASULULLAH SEBAGAI TIPU DAYA

“Dan (ingatlah) ketika orang- orang munafik DAN orang-orang yang berpenyakit dalam hatinyaberkata:” Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya.” (QS. Al Ahzâb ;12)

(9) ADA YANG ENGGAN UNTUK IKUT DALAM BERPERANG

“Wahai orang-orang yang beriman! Bersiap siagalah kamu dan majulah (ke medan pertempuran) secara berkelompok atau majulah bersama-sama (serentak). Dan sesungguhnya di antara kamu pasti ada orang yang sangat enggan (ke medan pertempuran). Lalu jika kamu ditimpa musibah dia berkata, “Sungguh, Allah telah memberikan nikmat kepadaku, karena aku tidak ikut berperang bersama mereka.” (Qs. An-Nisa’: 71-72).

(10) JIKA MEREKA IKUT PERANG, MALAH MEMBUAT KEKACAUAN DAN MELEMAHKAN”

Jika (mereka berangkat bersamamu), niscaya mereka tidak akan menambah (kekuatan)mu, malah hanya akan membuat kekacauan, dan mereka tentu bergegas maju kedepan di celah-celah barisanmu untuk mengadakan kekacauan (dibarisanmu); sedang diantara kamu ada orang-orang yang sangat suka mendengarkan (perkataan) mereka. Allah mengetahui orang-orang yang dzalim.”(Qs. At-Taubah: 47).

(11) LARI DARI MEDAN PERANG

Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah(mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai.(At Taubah : 25)

(12) TIDAK MEMATUHI PERINTAH NABI, HANYA DEMI BEREBUT RAMPASAN PERANG

(Ingatlah) ketika kamu lari dan tidak menoleh kepada seseorangpun, sedang Rasul yang berada di antara kawan-kawanmu yang lain memanggil kamu, karena itu Allah menimpakan atas kamu kesedihan atas kesedihan, supaya kamu jangan bersedih hati terhadap apa yang luput dari pada kamu dan terhadap apa yang menimpa kamu. Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Ali Imran : 153)

Mengenai sikap terhadap sahabat, kaum Syi’ah berpegang pada Al-Quran dan Sunnah serta catatan sejarah. Bahwa diantara para sahabat ada juga yang lalim 

Lihat buku-buku sejarah Islam, seperti “Riwayat Hidup Rasulullah SAW” karangan Abul Hasan Ali Al-Hasany an-Nadwy, terjemahan Bey Arifin dan Yunus Ali Muhdhar, hal. 213 atau Ibnu Hisyam, “Sirah Nabawiyah” jilid II, hal. 213. Atau Mu’awiyah dan para jendralnya yang melakukan pembersihan etnis dengan membunuh kaum Syi’ah secara berdarah dingin, shabran, menyembelih bayi-bayi Syi’ah, memperbudak para muslimah dan membakar kebun dan membakar manusia hidup-hidup, mengarak kepala dari kota ke kota, minum arak, berzina dan sengaja merencanakan dan membuat hadits hadits palsu yang bertentangan dengan hukum syar’i. Mengapa saudara tidak membaca sejarah dan hadits-hadits kita sendiri?
.
Bila saudara-saudara menganggap cerita-cerita yang membuka ‘aib’ para sahabat sebagai kufur, maka tidak akan ada lagi ahli sejarah dan ahli hadits yang tidak kafir. Syi’ah menolak hadits yang diriwayatkan oleh para sahabat lalim. Mereka heran mengapa kaum Sunnah keberatan bila mereka meriwayatkan hadits-hadits dari keluarga Rasulullah sebab ayat-ayat Al-Qur’an turun dirumah mereka
.
Dan Rasulullah tinggal serumah dan mengajari mereka? Mengapa mereka harus mencari hadits-hadits Abu Hurairah misalnya, yang meriwayatkan bahwa Allah menciptakan Adam seperti wajah Allah dengan panjang 60 hasta (sittuna dzira), sedang Al-Qur’an mengatakan bahwa tiada sesuatu pun yang menyerupaiNya, laisa kamitslihi syai’un, atau Nabi Musa lari telanjang bulat karena bajunya dibawa lari oleh batu, atau sapi berbahasa Arab, atau hadits yang menyatakan kalu lalat masuk ke dalam kuah, maka seluruh lalat harus dimasukkan kedalamnya sehingga menimbulkan ‘perang lalat’ di koran-koran Mesir karena dokter-dokter muda menolak hadits yang ‘berbahaya’ tersebut? Dan Allah yang turun ke langit bumi, sepertiga malam, sehingga Allah tidak punya kesempatan untuk kembali karena kesiangan?
.
Mengapa mereka harus berpegang pada Abu Hurairah yang oleh sahabat-sahabat besar seperti ummul mu’minin Aisyah dan Umar bin Khattab dan ulama-ulama besar seperti Ibnu Qutaibah menganggapnya sebagai pembohong? Bukankah Ibnu Qutaibah disebut sejarawan sebagai nashibi atau pembenci Ahlul Bait dan bukan Syi’ah? Baca sejarah dan hadits-hadits shahih Bukhari Muslim! Haruslah diakui bahwa pandangan Syi’ah ini berbeda dengan kaum Sunni yang menganggap semua sahabat itu adil, ‘udul, dan bila mereka membunuh atau memerangi sesama muslim, mereka akan tetap mendapat pahala. Bila tindakan mereka salah, mereka akan mendapat satu pahala dan kalau benar mendapat dua pahala.
.
Malah ada ulama Sunni, seperti Ibnu Katsir, Ibnu Hazm dan Ibnu Taymiyyah menganggap ‘Abudrrahman bin Muljam yang membacok Imam ‘Ali bin Abi Thalib yang sedang shalat shubuh sebagai mujtahid. Demikian pula pembantai Husain dan keluarganya di Karbala. Pembunuh-pembunuh cucu Rasulullah ini dianggap mendapat pahala, satu bila salah dan dua bila benar! Suatu hari, saya kedatangan tiga orang Afghanistan. Saya tanyakan, mengapa kaum muslimin di Afghanistan saling berperang? Mereka menjawab: mereka berperang karena berijtihad seperti ummul mu’minin ‘Aisyah yang memerangi ‘Ali dalam perang Jamal. Kalau benar dapat dua pahala dan kalau salah dapat satu.
.
Dan saya dengar, koran-koran Jakarta pun telah memuat keyakinan mereka ini. Kaum Thaliban di Afghanistan, yang punya pendapat seperti ini, yang mengurung dan tidak membolehkan wanita bekerja atau sekolah bukanlah Syi’ah, tetapi kaum Wahabi! Sebaliknya kaum Syi’ah juga berpendapat bahwa banyak pula sahabat yang mulia, yang harus diteladani kaum muslimin. Al-Qur’an juga menyebutkan bahwa diantara para sahabat ada yang ‘kufur’ dan ‘munafik’. (Termasuk ayat-ayat terakhir bacalah At-Taubah ayat 48, 97)
.

Banyak sekali hadits-hadits seperti hadits Al-Haudh, diantaranya tercatat dalam Shahih Bukhari dan Muslim. Mereka membenarkan ayat Al-Qur’an tersebut dan menceritakan adanya sekelompok sahabat digiring ke neraka dan tatkala ditanya Rasul, ada suara yang menjawab “Engkau tidak mengetahui apa yang mereka lakukan sesudahmu”. Ahli-ahli sejarah kita dengan gamblang menggambarkan ulah beberapa sahabat tersebut. Apakah pandangan Syi;ah tersebut ‘kufur’ atau ‘sesat’? Apakah mereka harus dikafirkan karena keyakinan mereka itu? Kita boleh menyesali perbedaan itu, tetapi perbedaan ini menyangkut masalah cabang agama bukan pokok, bukan ushuluddin

.

Mengenai mencela dan melaknat sahabat, saya belum pernah membaca fatwa ulama yang mengkafirkan mereka. Misalnya, selama 80 tahun dinasti ‘Umayyah, kecuali di zaman khalifah ‘Umar bin ‘Abdul ‘Azis yang hanya dua setengah tahun
.
Muawiyyah dan para pejabatnya serta para ulamanya melaknat dan mencaci Ali bin Abu Thalib dan keluarga beserta pengikutnya diatas mimbar diseluruh dunia Islam termasuk di Makkah dan Madinah, kecuali di Sijistan
.
Di Sijistan, sebuah kota yang sekarang terletak antara Afghanistan dan Iran, hanya sekali melakukan pelaknatan diatas mimbar.  Ali dilaknat dan dicaci atas perintah sahabat dan ipar Rasulullah SAWW, Mu’awiyyah, serta khalifah-khalifah Bani Umayyah lainnya. Pada masa itu, misalnya, Ali tidak dianggap khalifah yang lurus
.
Abdullah bin Umar tidak mau membai’at Ali malahan membai’at Mu’awiyyah, Yazid bin Mu’awiyyah dan gubernur Hajjaj bin Yusuf yang terkenal sebagai penjahat yang mebunuh 120 ribu kaum muslimin dan muslimat secara berdarah dingin, shabran. Umar bin Abul Azis mengatakan bahwa Hajjaj pasti akan menjadi juara dunia bila para penjahat dikumpulkan dan ‘diperlombakan’
.
Ibnu Umar juga mengeluarkan hadits-hadits yang menyingkirkan Ali sebagai salah satu khalifah yang lurus. Kita tahu, Mu’awiyyah membunuh para sahabat seperti, Hujur bin ‘Adi, Syarik bin Syaddad, Shaifi bin Fasil, Asy-Syabani, Qabisyah bin Dhabi’ah Al-Abbasi, Mahraz bin Syahhab Al- Munqari, Kadam bin Hayyan Al-Anzi dan Abdurrahman bin Hassan Al-Anzi hanya karena tidak mau melaknat Ali. Abdurrahman Al-Anzi dikirim kepada Ziyad bin Abih dan dikuburkan hidup-hidup di Nathif dekat kuffah, ditepi sungai Efrat
.
Beranikah saudara-saudara peserta menganggap Mu’awiyyah dan seluruh pejabat, sahabat Rasulullah SAWW yang mendukungnya, serta para ulama telah kafir karena bukan saja memerintahkan kaum muslimin, termasuk para sahabat agar melaknat Ali, tetapi juga membunuh mereka yang menolak untuk melaknat? Pada masa itu tidak ada yang berani menamakan anaknya Ali. Sampai-sampai pernah seorang ayah melaporkan kepada penguasa karena merasa terhina oleh istrinya karena memanggilnya Ali!

Al Quran menyatakan Tidak Semua Sahabat Rasulullah Adalah Adil (1)

Syi’ah Mencela Sahabat Nabi ?? Syi’ah Hina Sahabat Nabi ?? Syi’ah Mencaci Sahabat Nabi ?? Syi’ah mengkafirkan para Sahabat ??

Yg mengatakan sebagian sahabat itu ingkar, lari dari medan perang, meninggalkan rasulullah sedang khutbah jumat dan mereka keluar mengejar pedagag makanan, sahabat yg mengancam mengawini istri nabi saw. dll. ITU SEMUA ALLAH YG MENGATAKANNYA. KALO ANTUM TIDAK PERCAYA SILAHKAN SURAT DAN AYAT YG SAYA KEMUKAKAN ANTUM CEK BENAR APA SALAH.

ADA YANG MENINGGALKAN NABI KETIKA SEDANG KHOTBAH JUM’AT, HANYA UNTUK MELIHAT PERNIAGAAN DAN PERMAINAN

Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah: “Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan”, dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezeki. (Al Jumuah : 11)

sangat kasiahan melihat keyakinan  yg telah didoktrin oleh salafi-wahabi yang mengatakan bahwa semua sahabat baik, jujur, adil dan sebanding. INI ADALAH PENDAPAT YG MENYIMPANG DARI KEBENARAN. BAIK ITU DARI HADIST SHOHIH MAUPUN AYAT-AYAT AL-QURAN.

BAGAIMANA ANTUM BISA MEMBENARKAN PENDAPAT SALAFI-WAHABI TERSEBUT DAN MEMBUANG HADIST SHAHIH DAN FIRMAN ALLAH YG MENGECAM MEREKA ? BAHKAN BANYAK HADIST YG MENCERITAKAN BAHWA NANTI PARA SAHABAT BANYAK DICAMPAKAN KEDALAM NERAKA. APAKAH SAHABAT SEPERTI ITU YG ANTUM TIRU ?

PENDAPAT YG BENAR ADALAH SAHABAT ADA YANG SHOLEH DAN ADA YG SALAH, ADA YG TAAT KEPADA ALLAH DAN JUGA ADA YG INGKAR PADA ALLAH.

saya akan mulai satu persatu tentang sahabat2 yg ingkar pada Allah dan rasulNYA. tujuannya adalah untuk membuka mata kita agar jangan mudah dicekoki dgn org2 yg hanya copy paste dan dengan sengaja menutup kebenaran dgn tujuan tertentu dan kebencian mereka kepada ahlul bait. Dampaknya sekarang umat tidak tahu siapa yg diikuti setelah rasulullah saw. dan mereka mendoktrin dgn hal-hal bodoh seperti sahabt semua adil, kita harus memahami Al-quran dan hadist berdasarkamn pemahaman sahabat dll.

pertanyaannya adalah dimana posisi ahlul bait nabi saw yg telah ditetapi oleh nabi saw menjadi panutan umat dan dan umat islam wajib mengikuti mereka (ahlul bait tersebut telah disucikan oleh Allah)bukan mengikuti yg serba tidak jelas, tanpa dalil yg qothi seperti mengikuti semua sahabat.

tapi dalil-dalil yg kita terima adalah bahwa ahlul bait menurut salafi seperti ortu nabi saw, kakek beliau abdul muthalib dan pamannya yg memberi segalanya pada nabi saw mulai dari makan, minum, rumah utk berteduh, menjadi penolong disaat satu orgpun sahabat tidak menolong nabi saw dari kafir quraisy abu thalib tampil walaupun darah, air mata, kelaparan bahkan nyawa anak, istri dan dirinya beliau pertaruhkan demi tegaknya Agama islam ini divonis oleh kaum salafi-wahabi yg menyimpang ini bahwa abu thalib mati dalam keadaan kafir artau musryik lewat hadist2 palsu, dimana tidak mungkin hadist tersebut keluar dari mulut yg mulia yaitu rasulullah saw. ITULAH FITNAH MEREKA UNTUK MEMBERANGUS AHLUL BAIT

.

baik saya akan mulai dan anda jangan terkejut. semoga bermanfaat:
DEMI PERUT (BACA:MENGEJAR PEDAGANG MAKANAN)

SAHABAT MENINGGALKAN NABI SAW YG SEDANG KHUTBAH JUM’AT

Qs. 62 ayat 11
Qs. Al Jumuah ayat 11 : Dan apabila mereka melihat perdagangan atau permainan, mereka segera menuju kepadanya dan mereka tinggalkan engkau (Muhammad) sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah, “Apa yang ada disisi Allah lebih baik daripada permainan dan perdagangan,” dan Allah pemberi rezeki yang terbaik

.
Asbabun Nuzul ayat 11
Jabir mengatakan bahwa saat Rasulullah menyampaikan khotbah pada hari jum’at, tiba tiba rombongan kafilah datang membawa dagangan dari Syam, kaum muslimin mendatangi rombongan itu, hingga hanya tersisa 12 orang yang mendengarkan Rasulullah berkhotbah. Atas peristiwa itu, turunlah ayat ini” (Hr.Bukhari dan Muslim)
.
Ibnu Katsir menulis tentang sahabat yang meninggalkan Rasul yang sedang khutbah Jum’at hanya karena perdagangan. Dia berkata bahwa Imam Ahmad berkata: Berkata kepada Ibnu Idris dari Hushain bin Salim dari Jabir, ia berkata: Aku sering masuk ke Madinah dan ketika RasuluLLAAH SAW. sedang berkhutbah orang-orang meninggalkan beliau dan tersisa hanya dua belas orang saja,kemudian turunlah ayat “Dan apabila mereka melihat perdagangan (yang menguntungkan) ataupermainan (yang menyenangkan) mereka bubar dan pergi ke sana meninggalkan engkau berdiri (berkutbah)(al- Jumu’ah ayat 11).
.
Kejadian ini juga termuat dalam Shahihain. (lih. Tafsir Ibnu Katsir 4/378, ad-Durrul Mantsur Suyuthi hal.220-223, Shahih Bukhari 1/316, Shahih Muslim, 2/590)

Untuk penelitian dan eksplorasi yang mendalam tentang naqd al-Qur’an terhadap sahabat, silahkan anda buka kitab-kitab berikut:
– Tafsir Ibn Katsir 1/421 dan Tafsir at-Tabari 4/155, tafsir surah al-Imran ayat 161

Mereka berhamburan keluar masjid sementara Nabi saw. sedang berkhutbah di atas Mimbar… mereka tega meninggalkan Nabi saw. berdiri di atas mimbar hanya kerena ada seorang pedagang makanan datang dengan menabuh genderang sebagai alat memanggil para pelanggan! Dari ribuan sahabat yang hadir shalat Jum’at hanya tersisa belasan sahabat saja yang masih setia duduk mendengar pidato Nabi saw

.
Sungguh luar biasa!!

Para Ulama Ahluusunnah Mengaitkan Penghinaan Itu Dengan Sebuah Ayat Al Qur’an!
Tidak cukup sampai di sini, para ulama Ahlusunnah sepakat mempertegas tuduhan menghinakan itu dengan mengaitkannya dengan sebuah ayat Al Qur’an

.

Allah SWT berfirman:

“Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhutbah). Katakanlah:” Apa yang di sisi Allah adalah lebih baik daripada permainan dan perniagaan”, dan Allah Sebaik- baik Pemberi rezeki.” (QS. Jumu’ah [62];11)

.
Keterangan Para Ulama Ahlusunnah Tentang Ayat di Atas
Tentang ayat di atas, para ulama Ahlusunnnah mengaitkannnya dengan sebuah peristiwa yang menggemparkan penghuni langit sebelum menggemparkan penduduk bumi, sehingga Allah SWT langsung menurunkan ayat teguran bahkan ancaman keras dan Nabi pun tidak ketinggalan menampakkan murkanya atas para pelaku tindakan hina yang biadab itu

.
Untuk menyingkat waktu mari kita dengar langsung penghinaan ulama Ahlusunnah terhadap para sahabat Nabi mulia saw.
Setelah menerangkan makna ayat bahwa para sahabat itu meninggalkan Nabi saw. berpidato di atas mimbar, Ibnu Jarir ath Thabari (mufassir tertua Ahlusunnah) mengutip berbagai riwayat, di antaranya:
.
“…. dari Abu Mâlik, ia berkata, ‘Dihyah datang dengan membawa dagangan (berupa minyak) dari negeri Syam. Saat itu Nabi saw. sedang berkhutbah Jum’at, sepontan ketika melihat itu, para sahabat berdiri menujunya di tanah Baqi’. Mereka takut kedahuluan orang lain. Ia berkata, ‘Lalu turunlah ayat “Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhutbah).”

.
“… dari as Suddi dari Qarrah, ‘Tentang ayat {.. apabila diseru untuk menunaikan sembahyang pada hari Jumat} ia berkata, “Dihyah al kalbi datang membawa dagangan sementara Nabi saw. berdiri (berkhutbah) dalam shalat Jum’at, maka mereka serempak meninggalkan Nabi saw. dan keluar menghampiri Dihyah. Lalu turunlah ayat: “Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhutbah).” hingga akhir surah.
“… (sahabat) Jabir bin Abdillah berkata, ‘Kami bersama Rasulullah saw. di hari Jum’at, lalu lewatah kafilah dagang membawa makanan. Ia (Jabir) berkata, ‘Maka manusia keluar kecuali dua belas orang saja, lalu turunlah ayat surah Jum’at”
.

“ … Hasan berkata, ‘Penduduk kota Madinah mengalami kelaparan dan mahalnya bahan makanan, lalu datanglah kafilah dagang sementara Nabi saw. sedang berkhutbah shalat Jum’at, ketika mendengar kedatangan kafilah itu mereka bergegas keluar dan meninggalkan Nabi saw. yang sedang berdiri seperti yang difirmankan Allah.”
.
“… dari Qatadah, ia berkata, ‘Ketika Rasulullah saw. berkhutbah di hadapan manusia pada hari Jum’at, tiba-tiba mereka berangsur-angsu r bangun dan keluar sehingga tidak tersisa kecuali sekelompok kecil.’ Maka beliau bertanya, ‘Berapa jumlah kalian?’ Para sahabat itu kemudian menghitung jumlah mereka, maka hanya dua belas orang laki-laki dan satu perempuan

.
Kemudian di hari jum’at berikutnya beliau berkhutbah di hadapan mereka … Sufyan berkata, ‘Aku tidak mengetahui dari hadisnya melainkan beliau menasihati dan mengingatkan mereka, lalu mereka berangsur-angsu r meninggalkan beliau sehingga tidak tersisa kecuali sekelompok kecil.’ Maka beliau bertanya, ‘Berapa jumlah kalian?’ Para sahabat itu kemudian menghitung jumlah mereka, maka hanya dua belas orang laki-laki dan satu perempuan

.
Kemudian pada hari jum’at ketiga beliau berkhutbah lalu mereka berangsur-angsu r meninggalkan beliau sehingga tidak tersisa kecuali sekelompok kecil.’ Maka beliau bertanya, ‘Berapa jumlah kalian?’ Para sahabat itu kemudian menghitung jumlah mereka, maka hanya dua belas orang laki-laki dan satu perempuan. Setelah itu beliau bersabda (mengancam) ;“Demi Zat yang jiwaku di tangan-Nya, andai orang terakhir kamu mengikuti orang pertama kamu (yang keluar) pastilah lembah ini akan dilahab api membakar kalian!.”
.
Lalu turunlah ayat: “Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhutbah).”
.
Ibnu Katsir meyakinkan kita dengan kata-katanya:
“Allah –Yang Maha Berkah dan Maha Tinggi- telah menegur (para sahabat) atas apa yang terjadi iaitu meninggalkan Nabi (sawa) ketika khutbah Juma’at menuju kafilah dagang yang datang ke kota Madinah pada hari itu. Allah -Ta’ala- berfiman: “Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri.” berkhutbah di atas mimbar. Demikian telah disebutkan oleh para ulama tabi’în seperti Abul ‘Âliyah, al Hasan, Zaid bin Aslam dan Qatadah. Dan Muqatil bin Hayyân berpendapat bahwa kafilah dagang itu milik Dihyah sebelum ia memeluk Islam. Ia membawa genderang (dan memukulnya) lalu orang-orang -kecuali beberapa orang saja- keluar menujunya dan meninggalkan Rasulullah (sawa) berdiri di atas mimbar. Dan telah shahih berita tentang kejadian ini.”
.
Kemudian ia menyebutkan beberapa riwayat tentangnya, di antaranya adalah:
Imam Ahmad(Musnad Ahmad 3-313) telah meriwayatkan dari … Jabir, ia berkata, “Pada suatu hari ada kafilah dagang datang ke kota Madinah ketika Rasulullah (sawa) sedang berkhutbah, maka orang ramai keluar (dari masjid) kecuali dua belas orang saja, lalu turunlah ayat: “Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri.” Dan hadis ini juga diriwayatkan Bukhari dan Muslim dalam kedua kitab Sahahih mereka dari hadis Salim dengan sanad di atas.

Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bahwa beliau SAWW pernah bersabda kepada kaum Anshar: “Suatu hari kalian akan menyaksikan sifat tamak yang dahsyat sepeninggalku. Karena itu bersabarlah sehingga kalian menemui Allah dan Rasul-Nya di telaga haudh.” Anas berkata, “Kami tidak sabar.“(1)

Ala’ bin Musayyab dari ayahnya pernah berkata: “Aku berjumpa dengan Barra’ bin A’zib ra. Kukatakan padanya, “berbahagialah Anda karena dapat bersahabat dengan Nabi SAWW dan membai’atnya di bawah pohon (bai’ah tahta syajarah). Barra’ menjawab, “wahai putera saudaraku, engkau tidak tahu apa yang telah kami lakukan sepeninggalnya.”(2)

Jika sahabat utama yang tergolong di antara as-Sabiqin al-Awwalin dan pernah membai’at Nabi di bawah pohon, serta Allah rela kepada mereka dan Maha Tahu apa yang ada dalam hati mereka sehingga diberinya ganjaran yang besar;  apakah mereka yang menghianati Bai’ah itu tetap diridhoi Allah ? apalagi  sahabat-sahabat ini kemudian bersaksi bahwa dirinya dan para sahabat yang lain telah melakukan “sesuatu yang berbeda (baca bid’ah)” sepeninggal  Nabi, pengakuan mereka ini adalah bukti kebenaran yang disabdakan oleh Nabi SAW bahwa sebagian dari sahabatnya akan berpaling darinya sepeninggalnya.

Rasululah SAW juga  telah bersabda: “Siapa yang mencaci Ali maka dia telah mencaciku; dan siapa yang mencaciku maka dia telah mencaci Allah; dan siapa yang mencaci Allah maka Allah akan menjatuhkannya ke dalam api neraka.“(3)

Sangat jelas hukuman bagi orang yang mencaci Imam Ali AS.  Lalu apa hukuman bagi mereka yang melaknatnya dan memeranginya., sementara sejarah mengabarkan bahwa Muawiyah melaknati Imam Ali AS selama 70 tahun lebih , dan juga beliau AS telah diperangi oleh 3 kelompok dalam 3 Perang Besar.

1. Shahih Bukhari jil. 2 hal. 135

2. Shahih Bukhari jil.3 hal. 32.

3. Mustadrak al-Hakim jil. 3 hal. 121; Khasais an-Nasai hal. 24; Musnad Ahmad Bin Hanbal jil. 6 hal. 33; Manaqib al-Khawarizmi

Syi’ah Mencela Sahabat Nabi ?? Syi’ah Hina Sahabat Nabi ?? Syi’ah Mencaci Sahabat Nabi ?? Syi’ah mengkafirkan para Sahabat ??

(1) ADA YANG MENINGGALKAN NABI KETIKA SEDANG KHOTBAH JUM’AT, HANYA UNTUK MELIHAT PERNIAGAAN DAN PERMAINAN

Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah: “Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan”, dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezeki. (Al Jumuah : 11)

(2) ADA YANG MENYAKITI NABIT DENGAN MEMBUAT GOSIP MURAHAN

Di antara mereka  ada yang menyakiti Nabi dan mengatakan: “Nabi mempercayai semua apa yang didengarnya”. Katakanlah: “Ia mempercayai semua yang baik bagi kamu, ia beriman kepada Allah, mempercayai orang-orang mukmin, dan menjadi rahmat bagi orang-orang yang beriman di antara kamu”. Dan orang-orang yang menyakiti Rasulullah itu, bagi mereka azab yang pedih. (At Taubah : 61)

(3) ADA YANG BERSUMPAH PALSU

Mereka bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, dan telah menjadi kafir sesudah Islam dan mengingini apa yang mereka tidak dapat mencapainya, dan mereka tidak mencela (Allah dan Rasul-Nya), kecuali karena Allah dan Rasul-Nya telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka. Maka jika mereka bertaubat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih di dunia dan akhirat; dan mereka sekali-kali tidaklah mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di muka bumi. (At Taubah : 74)

(4) ADA YANG KIKIR DAN ENGGANG BERSEDEKAH

Dan diantara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah: “Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh. Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran).(At Taubah : 75-76)

(5) ADA YANG MENINGGIKAN SUARA DIHADAPAN NABI DAN BERKATA DENGAN SUARA KASAR (KERAS)

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari. (Al Hujuraat : 2)

(6) ADA YANG MENCAMPUR ADUKKAN KEBAIKAN DAN KEBURUKAN

“Dan ada pula yang lain, yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka mencampuradukkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima tobat mereka. Sesungguhnya Allah Maha pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. At-Taubah: 102).

(7) ADA YANG BERPRASANGKA SEPERTI PRASANGKA JAHILIYA KEPADA ALLAH – KETIKA RASULULLAH MENYERUKAN UNTUK BERPERANG

Kemudian setelah kamu berdukacita, Allah menurunkan kepada kamu keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan dari pada kamu, sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri, mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah. Mereka berkata: “Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?”. Katakanlah: “Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah”. Mereka menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu; mereka berkata: “Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini”. Katakanlah: “Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh”. Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati.(Ali Imran : 154)

(8) ADA YANG MENGANGGAP JANJI ALLAH DAN RASULULLAH SEBAGAI TIPU DAYA

“Dan (ingatlah) ketika orang- orang munafik DAN orang-orang yang berpenyakit dalam hatinyaberkata:” Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya.” (QS. Al Ahzâb ;12)

(9) ADA YANG ENGGAN UNTUK IKUT DALAM BERPERANG

“Wahai orang-orang yang beriman! Bersiap siagalah kamu dan majulah (ke medan pertempuran) secara berkelompok atau majulah bersama-sama (serentak). Dan sesungguhnya di antara kamu pasti ada orang yang sangat enggan (ke medan pertempuran). Lalu jika kamu ditimpa musibah dia berkata, “Sungguh, Allah telah memberikan nikmat kepadaku, karena aku tidak ikut berperang bersama mereka.” (Qs. An-Nisa’: 71-72).

(10) JIKA MEREKA IKUT PERANG, MALAH MEMBUAT KEKACAUAN DAN MELEMAHKAN”

Jika (mereka berangkat bersamamu), niscaya mereka tidak akan menambah (kekuatan)mu, malah hanya akan membuat kekacauan, dan mereka tentu bergegas maju kedepan di celah-celah barisanmu untuk mengadakan kekacauan (dibarisanmu); sedang diantara kamu ada orang-orang yang sangat suka mendengarkan (perkataan) mereka. Allah mengetahui orang-orang yang dzalim.”(Qs. At-Taubah: 47).

(11) LARI DARI MEDAN PERANG

Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah(mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai.(At Taubah : 25)

(12) TIDAK MEMATUHI PERINTAH NABI, HANYA DEMI BEREBUT RAMPASAN PERANG

(Ingatlah) ketika kamu lari dan tidak menoleh kepada seseorangpun, sedang Rasul yang berada di antara kawan-kawanmu yang lain memanggil kamu, karena itu Allah menimpakan atas kamu kesedihan atas kesedihan, supaya kamu jangan bersedih hati terhadap apa yang luput dari pada kamu dan terhadap apa yang menimpa kamu. Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Ali Imran : 153)

Mengenai sikap terhadap sahabat, kaum Syi’ah berpegang pada Al-Quran dan Sunnah serta catatan sejarah. Bahwa diantara para sahabat ada juga yang lalim 

Lihat buku-buku sejarah Islam, seperti “Riwayat Hidup Rasulullah SAW” karangan Abul Hasan Ali Al-Hasany an-Nadwy, terjemahan Bey Arifin dan Yunus Ali Muhdhar, hal. 213 atau Ibnu Hisyam, “Sirah Nabawiyah” jilid II, hal. 213. Atau Mu’awiyah dan para jendralnya yang melakukan pembersihan etnis dengan membunuh kaum Syi’ah secara berdarah dingin, shabran, menyembelih bayi-bayi Syi’ah, memperbudak para muslimah dan membakar kebun dan membakar manusia hidup-hidup, mengarak kepala dari kota ke kota, minum arak, berzina dan sengaja merencanakan dan membuat hadits hadits palsu yang bertentangan dengan hukum syar’i. Mengapa saudara tidak membaca sejarah dan hadits-hadits kita sendiri?
.
Bila saudara-saudara menganggap cerita-cerita yang membuka ‘aib’ para sahabat sebagai kufur, maka tidak akan ada lagi ahli sejarah dan ahli hadits yang tidak kafir. Syi’ah menolak hadits yang diriwayatkan oleh para sahabat lalim. Mereka heran mengapa kaum Sunnah keberatan bila mereka meriwayatkan hadits-hadits dari keluarga Rasulullah sebab ayat-ayat Al-Qur’an turun dirumah mereka
.
Dan Rasulullah tinggal serumah dan mengajari mereka? Mengapa mereka harus mencari hadits-hadits Abu Hurairah misalnya, yang meriwayatkan bahwa Allah menciptakan Adam seperti wajah Allah dengan panjang 60 hasta (sittuna dzira), sedang Al-Qur’an mengatakan bahwa tiada sesuatu pun yang menyerupaiNya, laisa kamitslihi syai’un, atau Nabi Musa lari telanjang bulat karena bajunya dibawa lari oleh batu, atau sapi berbahasa Arab, atau hadits yang menyatakan kalu lalat masuk ke dalam kuah, maka seluruh lalat harus dimasukkan kedalamnya sehingga menimbulkan ‘perang lalat’ di koran-koran Mesir karena dokter-dokter muda menolak hadits yang ‘berbahaya’ tersebut? Dan Allah yang turun ke langit bumi, sepertiga malam, sehingga Allah tidak punya kesempatan untuk kembali karena kesiangan?
.
Mengapa mereka harus berpegang pada Abu Hurairah yang oleh sahabat-sahabat besar seperti ummul mu’minin Aisyah dan Umar bin Khattab dan ulama-ulama besar seperti Ibnu Qutaibah menganggapnya sebagai pembohong? Bukankah Ibnu Qutaibah disebut sejarawan sebagai nashibi atau pembenci Ahlul Bait dan bukan Syi’ah? Baca sejarah dan hadits-hadits shahih Bukhari Muslim! Haruslah diakui bahwa pandangan Syi’ah ini berbeda dengan kaum Sunni yang menganggap semua sahabat itu adil, ‘udul, dan bila mereka membunuh atau memerangi sesama muslim, mereka akan tetap mendapat pahala. Bila tindakan mereka salah, mereka akan mendapat satu pahala dan kalau benar mendapat dua pahala.
.
Malah ada ulama Sunni, seperti Ibnu Katsir, Ibnu Hazm dan Ibnu Taymiyyah menganggap ‘Abudrrahman bin Muljam yang membacok Imam ‘Ali bin Abi Thalib yang sedang shalat shubuh sebagai mujtahid. Demikian pula pembantai Husain dan keluarganya di Karbala. Pembunuh-pembunuh cucu Rasulullah ini dianggap mendapat pahala, satu bila salah dan dua bila benar! Suatu hari, saya kedatangan tiga orang Afghanistan. Saya tanyakan, mengapa kaum muslimin di Afghanistan saling berperang? Mereka menjawab: mereka berperang karena berijtihad seperti ummul mu’minin ‘Aisyah yang memerangi ‘Ali dalam perang Jamal. Kalau benar dapat dua pahala dan kalau salah dapat satu.
.
Dan saya dengar, koran-koran Jakarta pun telah memuat keyakinan mereka ini. Kaum Thaliban di Afghanistan, yang punya pendapat seperti ini, yang mengurung dan tidak membolehkan wanita bekerja atau sekolah bukanlah Syi’ah, tetapi kaum Wahabi! Sebaliknya kaum Syi’ah juga berpendapat bahwa banyak pula sahabat yang mulia, yang harus diteladani kaum muslimin. Al-Qur’an juga menyebutkan bahwa diantara para sahabat ada yang ‘kufur’ dan ‘munafik’. (Termasuk ayat-ayat terakhir bacalah At-Taubah ayat 48, 97)
.

Banyak sekali hadits-hadits seperti hadits Al-Haudh, diantaranya tercatat dalam Shahih Bukhari dan Muslim. Mereka membenarkan ayat Al-Qur’an tersebut dan menceritakan adanya sekelompok sahabat digiring ke neraka dan tatkala ditanya Rasul, ada suara yang menjawab “Engkau tidak mengetahui apa yang mereka lakukan sesudahmu”. Ahli-ahli sejarah kita dengan gamblang menggambarkan ulah beberapa sahabat tersebut. Apakah pandangan Syi;ah tersebut ‘kufur’ atau ‘sesat’? Apakah mereka harus dikafirkan karena keyakinan mereka itu? Kita boleh menyesali perbedaan itu, tetapi perbedaan ini menyangkut masalah cabang agama bukan pokok, bukan ushuluddin

.

Mengenai mencela dan melaknat sahabat, saya belum pernah membaca fatwa ulama yang mengkafirkan mereka. Misalnya, selama 80 tahun dinasti ‘Umayyah, kecuali di zaman khalifah ‘Umar bin ‘Abdul ‘Azis yang hanya dua setengah tahun
.
Muawiyyah dan para pejabatnya serta para ulamanya melaknat dan mencaci Ali bin Abu Thalib dan keluarga beserta pengikutnya diatas mimbar diseluruh dunia Islam termasuk di Makkah dan Madinah, kecuali di Sijistan
.
Di Sijistan, sebuah kota yang sekarang terletak antara Afghanistan dan Iran, hanya sekali melakukan pelaknatan diatas mimbar.  Ali dilaknat dan dicaci atas perintah sahabat dan ipar Rasulullah SAWW, Mu’awiyyah, serta khalifah-khalifah Bani Umayyah lainnya. Pada masa itu, misalnya, Ali tidak dianggap khalifah yang lurus
.
Abdullah bin Umar tidak mau membai’at Ali malahan membai’at Mu’awiyyah, Yazid bin Mu’awiyyah dan gubernur Hajjaj bin Yusuf yang terkenal sebagai penjahat yang mebunuh 120 ribu kaum muslimin dan muslimat secara berdarah dingin, shabran. Umar bin Abul Azis mengatakan bahwa Hajjaj pasti akan menjadi juara dunia bila para penjahat dikumpulkan dan ‘diperlombakan’
.
Ibnu Umar juga mengeluarkan hadits-hadits yang menyingkirkan Ali sebagai salah satu khalifah yang lurus. Kita tahu, Mu’awiyyah membunuh para sahabat seperti, Hujur bin ‘Adi, Syarik bin Syaddad, Shaifi bin Fasil, Asy-Syabani, Qabisyah bin Dhabi’ah Al-Abbasi, Mahraz bin Syahhab Al- Munqari, Kadam bin Hayyan Al-Anzi dan Abdurrahman bin Hassan Al-Anzi hanya karena tidak mau melaknat Ali. Abdurrahman Al-Anzi dikirim kepada Ziyad bin Abih dan dikuburkan hidup-hidup di Nathif dekat kuffah, ditepi sungai Efrat
.
Beranikah saudara-saudara peserta menganggap Mu’awiyyah dan seluruh pejabat, sahabat Rasulullah SAWW yang mendukungnya, serta para ulama telah kafir karena bukan saja memerintahkan kaum muslimin, termasuk para sahabat agar melaknat Ali, tetapi juga membunuh mereka yang menolak untuk melaknat? Pada masa itu tidak ada yang berani menamakan anaknya Ali. Sampai-sampai pernah seorang ayah melaporkan kepada penguasa karena merasa terhina oleh istrinya karena memanggilnya Ali!

jamaah tabligh membongkar kedok salafi wahabi

Jamaah Tabligh, Bophal

Markas Jamaah Tabligh

Markas besar mereka berada di Delhi, tepatnya di daerah Nizhamuddin. Markas kedua berada di Raywind, sebuah desa di kota Lahore (Pakistan). Markas ketiga berada di kota Dakka (Bangladesh).

jamaah tabligh berdoa

Jamaah Tabligh tentu bukan nama yang asing lagi bagi masyarakat kita, terlebih bagi mereka yang menggeluti dunia dakwah. Dengan menghindari ilmu-ilmu fiqh dan aqidah yang sering dituding sebagai ‘biang pemecah belah umat’, membuat dakwah mereka sangat populer dan mudah diterima masyarakat berbagai lapisan.

Bahkan saking populernya, bila ada seseorang yang berpenampilan mirip mereka atau kebetulan mempunyai ciri-ciri yang sama dengan mereka, biasanya akan ditanya; “Mas, Jamaah Tabligh, ya?” atau “Mas, karkun, ya?” Yang lebih tragis jika ada yang berpenampilan serupa meski bukan dari kalangan mereka, kemudian langsung dihukumi sebagai Jamaah Tabligh.

Pro dan kontra tentang mereka pun meruak. Lalu bagaimanakah hakikat jamaah yang berkiblat ke India ini?

Jamaah Tabligh lebih solid dari salafi wahabi. Karakter salafi berupa “Merasa dirinya paling benar”  dan kebiasaan “mencela golongan/ulama lain”yang berseberangan pendapat dengan mereka bukanlah issu semata, tetapi dapat dibuktikan melalui fakta yang terjadi diinternal salafi sendiri.

Meskipun tidak memiliki nama resmi, symbol dan cirri-ciri sebagaimana lazimnya organisasi. Tapi sistem didalam jamaah tabligh sangat solid, efisien, dinamis dan accountable.

Saya yakin, tidak ada satu pun lembaga atau bahkan organisasi di tanah Jawa yang mengetahui dengan pasti jumlah masjid di Pulau Jawa. Tapi Jamaah Tabligh, mereka tidak hanya tahu berapa jumlahnya, tapi bahkan mendata dengan detil berapa jumlah orang yang sholat dan tidak sholat disekitar masjid. Mana yang pro dan kontra. Pokoknya data mengenai bagaimana kondisi dan situasi umat Islam setempat komplit sekomplitnya.

Jamah Tabligh dicela sesat dan bid’ah oleh wahabi : 

Ajaklah kaum salafi untuk diskusi dengan ilmu dan akhlak, karena tidak ada gunanya berdiskusi dengan orang mengabaikan akhlak dan merasa paling benar sendiri dan golongan lain selalu salah. Diskusi yang sehat adalah untuk “mencari kebenaran bukan kemenangan”, mencari hujjah yang paling kuat (quwwatut dalil). Jika meyakini hujjah lawan diskusi lebih kuat maka dengan lapang hati menerimanya, tetapi jika tidak ada titik temu dalam diskusi maka masing-masing harus menghargai perbedaan ijtihadnya.

joord jamaah tabligh

08/08/2008 17:18 WIB

Pertemuan 300 Ribu anggota Jamaah Tabligh

Pertemuan Ribuan Jamaah Tabligh
Silaturrahmi puluhan orang yang berjanggut dan berpakaian celana setumit kaki ini pun dihadiri sekitar 300 ribu orang.
icon_star_off icon_star_off icon_star_off icon_star_off icon_star_off

Foto Lain

  • Slide
  • Slide
  • Slide
  • Slide
  • Slide
  • Slide300 Ribu anggota Jamaah Tabligh berkumpuldi Kecamatan Serpong, Tangerang. Acara silaturahmi di antara para anggota dalam dan luar negeri ini digelar tiga hari. Mereka menginap di tenda-tenda.

    Perpecahan salafi menjadi beberapa kelompok antara lain: kelompok Al-Sofwah & Al-Haramain Jakarta; Imam Bukhari Solo, Al-Furqan Gresik, Islamic Center Bin Baaz & Jamilurahman As-Salafy Jogya; FKAWJ & Lasykar Jihad Jakarta; Dhiyaus Sunnah Cirebon. Ini belum termasuk kelompok salafi yang telah ditahdzir dan kemudian taubat, tetapi tidak bergabung dengan salafi “asli” dan membentuk kelompok sendiri.

    Orang awam yang baru mengenal salafi menjadi kebingungan, bagaimana mungkin satu golongan yang meyakini selamat dan masuk syurga, tetapi secara internal mereka sendiri berpecah-belah. Lantas mana golongan salafi yang asli, yang selamat dan masuk syurga itu?. Kembali kepada kaidah yang diyakini salafi: “Kebenaran hanya satu sedangkan kesesatan jumlahnya banyak sekali”, maka berarti salah satu salafi saja yang asli dan yang lain sesat dan bid’ah, atau bisa jadi semuanya salafi palsu!

    Jamaah Tabligh, siapa yang tak kenal dengan kelompok ini. Ciri mereka mudah dikenali, pakaian gamis/jubah, kepala bersorban, mata bercelak, dan seringnya bergerombol di masjid, pasar, dan tempat-tempat umum lainnya untuk mengajak orang shalat. Sepintas, memang tampilan mereka tampak islami dan nyunnah sehingga banyak banyak orang terpesona dengan tampang dan keramahan mereka dan tidak sedikit kaum muslimin yang menyambut ajaran mereka. Selain itu Jamaah Tabligh sangat kental dengan ajaran sufi.

    Daurah kitab salafy, daurah masyayikh timur tengah, daurah kitab slafay utsaimin, daurah salafy malaysia, syaikh utsaimin kafirkan imam ibnu hajar dan imam nawawi

     

    SS SYEIKH MUHAMMAD SOLEH AL-UTHAIMIN


    Kitab Syeikh Liqa’ Bab al-Maftuh 8,
    yang diselia Dr Abdullah bin Muhammad bin Ahmad al-Thayyar,
    Cetakan Dar al-Wathan, Riyadh

    Garisan kuning: Soalan penanya : “Sbgmana kita menjadikan al-Nawawi dan Ibn Hajar al-Asqalani kedua-duanya bukan dari Ahli Sunnah Wal Jamaah?

    .

    Jawapan : “Berdasarkan kepada apa yang dimazhabkan (diputuskan) pendapat mereka di dalam isu-isu perbahasan Nama-nama dan Sifat-Sifat Allah, kedua-dua mereka bukan dari Ahli Sunnah Wal Jamaah (kafir).”

    .

    Soalan susulan : “Secara mutlak, mereka bukan dari Ahli Sunnah Wal Jamaah?

    Jawapan : “Kita tidak menjadikannya secara mutlak. Saya beritahu anda bahawa barangsiapa yang menyanggahi golongan al-Salaf dalam memahami Sifat Allah tidak diberi gelaran mutlak bahawa ia bukan dari Ahli Sunnah Wal Jamaah. Bahkan ditaqyidkan…hingga bila dikatakan dia (seseorang itu) Ahli Sunnah Wal Jamaah (mungkin) dari sudut feqhiyyah contohnya. Adapun jika tareqat (metodologinya) itu bid’ah..ia bukan dari Ahli Sunnah Wal Jamaah.”

    .

    Dengan memahami karakter asli salafi, kita bisa berlapang dada jika dicela sesat dan bid’ah oleh salafi, karena jangankan kelompok non salafi sesama salafi sendiri saja saling mencela sebagai sesat dan bid’ah.

    Sudahkah Anda Mengenal Jama'ah Tabligh
    GO  TABLIGH
     
    Jamaah Tabligh termasuk ASWAJA , mereka berupaya mengislamkan orang Nasrani dan Hindu tetapi malah dilaknat oleh wahabi
    Jamaah Tabligh Versus Wahabi !! Siapa kuat ?? Entahlah, yang jelas JT yang berdakwah bagai merayap diatas bumi masih terlalu bersabar terhadap keganasan wahabi.  TERKESAN JT lemah pada wahabi !
    Jamaah Tabligh didirikan oleh syeikh Muhammad Ilyas bin Syeikh Muhammad Ismail, bermazhab Hanafi, Dyupandi, al-Jisyti, Kandahlawi (1303-1364 H). Syeikh Ilyas dilahirkan di Kandahlah sebuah desa di Saharnapur, India. Ilyas sebelumnya seorang pimpinan militer Pakistan yang belajar ilmu agama, menuntut ilmu di desanya, kemudian pindah ke Delhi sampai berhasil menyelesaikan pelajarannya di sekolah Dioband, kemudian diterima di Jam’iyah Islamiyah fakultas syari’ah selesai tahun 1398 H. Sekolah Dioband ini merupakan sekolah terbesar untuk pengikut Imam Hanafi di anak benua India yang didirikan pada tahun 1283H/1867M.Di Indonesia, hanya membutuhkan waktu dua dekade, Jamaah Tabligh (JT) sudah menggurita. Hampir tidak ada kota di Indonesia yang belum tersentuh oleh model dakwah mereka. Tanda kebesaran dan keluasan pengaruhnya sudah ditunjukkan pada saat mengadakan “pertemuan nasional” di Pesantren Al-Fatah Desa Temboro, Magetan, Jawa Timur pada tahun 2004. Kenyataan ini sungguh di luar dugaan untuk sebuah organisasi yang relatif baru dan tidak mempunyai akar di Indonesia.Merebaknya JT sebenarnya hanyalah salah satu sekuen dari perkembangan serupa di banyak negara. Kelompok ini sekarang sedang mewabah di seluruh dunia, dan menjadi ujung tombak gerakan islamisasi di negara-negara atau daerah-daerah non-muslim. Mereka bisa karena menawarkan format Islam yang lebih ramah, sederhana, sentuhan personal serta tekanan pengayaan spritualitas personal. Format semacam ini bagaimanapun mengisi ruang kosong yang ditinggakan oleh kapitalisme dan modernisme.

    kesesatan jama'ah tabligh

    Mengenal Lebih Dekat Jamaah Tabligh

    http://www.griyasunnah.com/wp-content/uploads/2010/07/jamaah-tabligh-kenyataan-pengakuan.jpg

    Sebuah hadis masyhur yang diriwayatkan oleh Sunnah dan Syi’ah dalam 92 kitab yang berbeda menyatakan, “Barang siapa yang mati tanpa mengenal Imam Zaman as, ia akan mati dalam keadaan jahiliah.” Kata “mati” dalam hadis ini ditafsirkan oleh ulama sebagai tujuan kehidupan duniawi ini.

    Al-Quran menyatakan, “Setiap jiwa akan merasakan kematian”. Dalam berbagai tempat dalam kitab-Nya, Allah menerangkan bahwa tujuan kehidupan duniawi ini tidak berarti berakhirnya (perjalanan) jiwa. Sebaliknya, kematian semata-mata merupakan perpindahan dari kefanaan pada keabadian.

    Suatu saat, Jabir meminta Imam Shadiq as untuk menerangkan filsafat kematian. Imam as menerangkan, “Kematian bukan kehancuran sebagaimana orang kira melainkan perubahan bentuk dalam kehidupan. Jika seorang Muslim memiliki keimanan dan kearifan, ia tidak akan takut akan transformasinya. Namun, jika saya berdebat dengan seorang non-Muslim dan ia menanyakan kepadaku mengapa Allah menjadikan manusia mati yang ia ciptakan dan ia beri kehidupan? Aku akan menjawabnya bahwa kematian merupakan suatu pasase ke kehidupan lain dan bahwa dalam fase berikutnya, ia diberi kehidupan lagi.

    Dalam Surah al-Hadid ayat 19, Allah Swt menjanjikan pahala bagi mereka “yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya”. “Mereka, kata Allah, “orang yang adil dan para syuhada dalam pandangan Tuhan mereka.”

    Betapa agungnya penghormatan Allah kepada mereka yang beriman kepada para rasul-Nya! Mereka dipandang sebagai “para syuhada dalam pandangan Tuhan mereka”. Dengan penuh kasih, Allah menjamin, “mereka mendapatkan upah mereka dan cahaya mereka.” Namun, di sisi lain, mereka yang mengingkari para utusan Tuhan dan menolak untuk mengakui mereka dipastikan sebagai penghuni neraka. Allah Swt berfirman, “Kecuali orang-orang kafir, yang telah mendustakan ayat-ayat Kami, mereka adalah para penghuni neraka.”

    Arti penting mengenal Imam Zaman as ditekankan oleh kenyataan bahwa para maksum menjamin kematian jahiliah bagi siapa saja yang lalai menunaikan kewajiban ini, kita diperintahkan bahwa, “…barangsiapa yang mati tanpa mengenal Imam Zaman as, matinya adalah matinya jahiliah.” Apakah yang diisyaratkan dengan kata “mengenal” dalam hadis yang disebutkan tadi? Bagaimana seharusnya kita mengenal imam kita? Apakah ini berarti kita harus bertemunya secara pribadi, mendengarnya, dan memandangnya ataukah apakah itu hanya menuntut kita untuk mendapatkan pengetahuan tentangnya dan mengetahui siapa sebenarnya ia?

    Nabi saw bersabda, “Barangsiapa yang meninggal dengan kecintaan kepada Muhammad dan keluarganya, ia termasuk golongan syuhada.”

    Hadis ini dibenarkan oleh ayat dari Surah Hadid yang dinukil di atas. Allah berfirman, Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka itu orang-orang Shiddiqien dan para syuhada di sisi Tuhan mereka. (57:19) Mengenal dan menghormati para nabi dan para imam secara berkali-kali ditekankan dalam agama kita karena dalam kitab-Nya, Allah mengandarkan mereka sebagai orang-orang “mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya.”

    Dalam surah an-Nisa ayat 59, Dia berfirman, Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Hadis-hadis menerangkan bahwa “ulil amri” yang ditaati bukanlah para khalifah, presiden, raja, ataupun penguasa yang dipilih oleh mereka sendiri melainkan orang-orang yang telah diberi otoritas oleh sang Pencipta sendiri. Al-Khaliq memilih Nabi saw dan Ahlulbaitnya sebagai model dan guru bagi umat manusia. Dia menganugerahkan kepada mereka ilmu dan otoritas khusus dan disebutkan dalam surah al-Ahzab ayat 33, Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlulbait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.

    Karena itu, kita harus mengenal dan mengikuti para imam yang telah disucikan dan dibersihkan oleh Allah sendiri sebagai guru dan teladan bagi manusia