Month: Maret 2013

Perbedaan NU – Wahabi Bukan Khilafiyah,Tapi Ushul Akidah. Mustahil Disatukan !!

wahabi sering melontarkan tuduhan-tuduhan kepada kelompok muslim yang lain sebagai pelaku TBC (tahayul, bid’ah, churafat), kafir dan musyrik. Bahkan menganggap terhadap orang muslim tertentu, lebih berbahaya daripada orang Yahudi dan orang Kafir. Mereka memang usil, sirik, sok tahu, sok alim, dan suka iri sehingga sering mempermasalahkan tradisi masyarakat muslim di Indonesia, seperti maulid Nabi, haul ulama, tahlilan, dziba’an, ziarah kubur, qunut shubuh, ratiban, tawassul, menghadiahkan pahala kepada orang yang sudah meninggal, do’a berjama’ah, zikir keras berjama’ah, bersalaman sesudah shalat, dan lain sebagainya. Anehnya, mereka lunak, lemah lembut, dan bersahabat karib, bahkan tunduk dan merunduk-runduk kepada Amerika dan Israel.

Sekalipun tidak berbahaya dari aspek kekuatan hujjahnya, akan tetapi dari aspek sosial, para penganut wahabi salafi ini sering membuat statemen yang sangat mudah menyulut dan menyeret konflik masyarakat.

Pakar Syiah : Ustad Husain Ardilla  mengatakan, ia tidak pesimis jika NU – wahabi disatukan, tapi ia ingin mengatakan, tidak mungkin NU – wahabi dapat dipersatukan, sampai kapanpun. Karena hingga saat ini, belum ada contoh di dunia, dimana paham NU – wahabi bisa  saling kompromi dan duduk bersama.

“Kita memang memimpikan ukhuwah itu, tapi kita harus berpegang teguh pada akidah di atas ukhuwah. Ukhuwah penting, tapi akidah lebih penting. Dalam hal bermuamalah, boleh saja saling bekerjasama, tapi tidak sampai menodai akidah kita,” ujar Ustad Husain Ardilla, Sabtu malam (14/1).

Yang jelas, Husain Ardilla merasa gagal  memimpikan bersatunya NU – wahabi. Mengingat, sulit untuk menghapus doktrin yang sudah mendarah daging pada wahabi yakni akidah tajsim, tasybih dan penuduh bid’ah kepada NU

http://rossrightangle.files.wordpress.com/2012/05/nu-nahdlotul-ulama.jpg?w=404&h=279

Wahabi – NU Berbeda Akidah

Menurut Ustad Husain Ardilla, doktrin wahabi  itu sulit dikompromikan dengan NU. Karena perbedaan wahabi – NU, bukan lagi soal perbedaan khilafiyah, tapi sudah menyangkut akidah yang jauh sulit untuk dipertemukan. Sudah pernah dicoba disatukan, tapi memang tak bisa. “Saatnya kita membimbing keluarga kita untuk mengokohkan akidah yang benar, dan terhindar dari api neraka,” tandasnya.

Sebagai wujud yang memahami fenomena di sekitarnya lebih indera dan menetapkan untuknya tempat dan waktu, manusia cenderung menganggap segala sesuatu dalam bentuk wujud yang dapat diindera. Manusia yang akrab dengan materi dan indera bahkan menganggap Tuhan sebagai wujud inderawi dan jisim materi yang dibungkus daging, dialiri darah, terbentuk dalam susunan tulang dan memiliki anggota badan. Dalam termonilogi Islam, kelompok yang menyematkan kriteria jisim kepada Allah disebut dengan nama kelompok Musyabbihah yang berarti kelompok yang menganggap Tuhan seperti makhluk.

Ada pula kelompok yang tidak terang-terangan menyebut Tuhan berjisim namun tidak menafikan kejisiman Tuhan. Mereka secara lahiriyah berpegangan pada lahiriah ayat-ayat suci al-Quran dan riwayat dari Nabi Saw dengan menafikan penalaran dan logika dalam memahami teks agama. Mereka beralasan bahwa al-Quran turun untuk dibaca bukan untuk dinalar. Padahal, banyak sekali ayat al-Quran yang menyeru manusia untuk berpikir dan merenung. Misalnya di ayat 24 surat Muhammad Allah Swt berfirman, “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?” Juga firman Allah Swt di ayat 29 surat Shad yang artinya, “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.

Ibnu Taimiyyah, pendiri aliran Salafi menyebut sifat jisim bagi Allah Swt dengan bersandar pada zahir sejumlah ayat suci al-Quran. Dalam menjelaskan pandangannya secara terang-terangan dia menyebut Allah memiliki kaki, tangan dan lainnya. Akan tetapi untuk menghindari tudingan menyematkan sifat-sifat materi bagi Allah, dia mengatakan bahwa tangan, kaki wajah dan lainnya yang dimiliki Allah berbeda dengan yang ada pada manusia. Meski demikian dia tetap tidak bisa lari dari pandangan penyamaan Allah dengan lahiriyah manusia. dengan kata lain, pandangan Ibnu Taimiyyah hanya menimbulkan kebingungan akan sifat-sifat Allah. Dia mengatakan, “Allah memiliki tangan tapi tidak seperti tangan yang kita fahami, tapi tangan yang layak bagi-Nya.” Jika demikian, berarti tangan yang dia sebut bukanlah anggota tubuh dengan memiliki kriteria yang dipahami dalam makna tangan.

Penyamaan Allah dengan jisim disebutkan oleh Ibnu Taimiyyah dalam bukunya, “Arsyu Rahman wa maa warada fiihi minal Ayat wal Ahadits“. Misalnya ayat 67 surat az-Zumar menyebutkan bahwa seluruh bumi ada dalam genggaman Allah di Hari Kiamat. Makna genggaman bisa difahami dengan kekuasaan penuh atas sesuatu seperti yang biasa diungkapkan dalam percakapan sehari-hari. Permisalan ayat tadi adalah kinayah atau pinjaman kata untuk menunjukkan kekuasaan penuh Allah atas alam semesta. Akan tetapi dalam bukunya, Ibnu Taimiyyah saat menafsirkan ayat tadi hanya memahami makna zahir dari kata genggaman sehingga menyatakan bahwa Allah memiliki tangan yang menggenggam.

Dia mengatakan, di Hari Kiamat bumi beradadi tangan Allah dan dilemparkan seperti seorang anak melemparkan bola ke atas. Sayangnya pemahaman menyimpang dari ayat-ayat al-Quran seperti ini banyak ditemukan dalam pernyataan kelompok Salafi. Dengan menurunkan derajat Ilahiyah ke level alam materi, mereka telah mempermainkan keagungan Allah.

Secara faktual, Ibnu Taimiyyah, Muhammad bin Abdul Wahhab dan para pengikut mereka adalah orang-orang berpemikiran dangkal yang hanya memahami teks agama secara lahiriyah semata. Mereka jauh dari nalar dan tauhid yang murni. Kelompok Wahhabi benar-benar asing dari tauhid murni yang diajarkan Nabi dan para pengikut beliau yang saleh yang menerima penalaran dan argumentasi yang benar. Nabi dan para pengikutnya menerima tauhid ini dengan sepenuh jiwa dan menyesuaikan kehidupan mereka dengan poros tauhid.

Yang menarik, meski hanya berpegangan pada dhahir ayat-ayat al-Quran, kaum Wahhabi menyebut diri mereka sebagai pembela dan pengamal tauhid yang sejati. Untuk itu mereka menganggap kelompok lainnya sebagai kafir yang musyrik. Ibnu Taimiyyah mengakui bahwa di dalam Kitabullah dan Sunnah Nabi tidak ada ungkapan tentang kejisiman Allah. Namun, katanya, tidak ada penafian soal ini. Karena itu, dia mengatakan bahwa Allah adalah wujud yang berjisim.

Mengenai kejisiman Allah, Ibnu Taimiyyah mengatakan bahwa Allah duduk di atas singgasana yang disebut Arasy. Menurutnya, Allah tertawa, berjalan dan bahkan berlari.dalam buku risalah Himawiyyah, Ibnu Taimiyyah menuturkan, “Tuhan bisa tertawa. Dan di Hari Kiamat kelak Dia tertawa dalam keadaan menunjukkan diri-Nya kepada para hamba-Nya.” Padahal di ayat 103 surat al-An’am disebutkan bahwa Allah tidak bisa dilihat oleh siapapun. “Mata tak melihat-Nya dan Dia menyaksikan semua penglihatan dan Dia Maha Lembut lagi Maha Mengetahui.” Dalam sebuah riwayat Imam Ali as berkata, “Allah adalah Sesembahan yang seluruh makhluk tertegun terhadap-Nya dan merindukan-Nya. Allah adalah wujud yang tersembunyi dari semua mata dan terlindung dari pemikiran akan akal manusia.”

Al-Quran al-Karim dengan tegas menafikan kejisiman Allah. Hal ini juga dinyatakan dalam banyak hadis yang diriwayatkan dalam kitab-kitab Ahlussunnah terkait penafsiran surat al-Ikhlas. Hakim Naisyaburi meriwayatkan dari Ubay bin Kaab bahwa suatu hari kaum Musyrik Mekah meminta Rasulullah Saw untuk menyebutkan silsilah nasab Allah Swt. Maka turunlah surat al-Ikhlas yang menyebutkan, “Katakanlah (Wahai Muhammad) Allah Maha Esa. Allah Maha Kaya (yang mutlak tidak memerlukan apapun). Dia tidak melahirkan dan tidak pula diperanakkan dan tidak ada sesuatupun yang menyamaiNya.” Meski ada ayat-ayat seperti ini, orang-orang seperti Ibnu Taimiyyah tetap menyebut kejisiman untuk Allah Swt.

Baihaqi, ulama besar hadis saat menyatakan penolakan terhadap penyematansifat jisim bagi Allah membawakan kata-kata Ahmad bin Hanbal yang mengatakan, “Para ahli bahasa menyebut jisim sebagai ungkapan untuk sesuatu yang memiliki panjang, lebar, ketinggian dan susunan serta bentuk. Sementara Allah Maha Suci dari semua itu. Tidak benar jika kita menyematkan sifat jisim bagi Allah. Sebab Dia terlepas semua kriteria dan pemahaman makna jisim. Dalam syariat juga tidak ada kata yang menunjuk ke arah sana. Karena itu penisbatan jisim bagi Allah adalah pendapat yang salah.” Yang menarik kata-kata itu diucapkan oleh Ahmad bin Hanbal sementara Ibnu Taimiyyah mengaku sebagai pengikut mazhab Hanbali.

Sepanjang hidupnya Ibnu Taimiyyah menulis banyak buku untuk menjelaskan ajaran dan pemikirannya. Banyak pemikiran dan fatwanya yang bertentangan dengan seluruh ulama, khususnya mengenai Allah dan sifat-sifat-Nya. Dia dan para pengikutnya meyakini bahwa Allah bersifat seperti apa yang difirmankan-Nya secara zahir ayat al-Quran. Dia menolak takwil ayat-ayat itu sehingga terjebak dalam pemikiran yang menyamakan Allah dengan jisim dan bersifat terbatas. Dia bahkan mengatakan bahwa Allah bertempat di suatu tempat tertentu.

Ibnu Taimiyyah dan muridnya yang bernama Ibnu Qayyim Jauzi mengatakan, sebelum terciptanya alam semesta Allah berada di antara awan tebal, tanpa ada udara di atas maupun di bawahnya. Sementara saat itu tidak ada satupun makhluk di alam semesta. Menurutnya, ‘Arasy atau singgasana Allah berada di atas air.

Kata-kata itu mengandung kontradiksi yang fatal. Sebab, dari satu sisi dia mengatakan saat itu belum ada satupun makhluk tapi di sisi lain dia mengatakan Allah berada di antara awan yang tebal. Padahal, awan adalah satu makhluk ciptaan Allah. Karena itu sulit untuk memahami bagaimana mungkin awan sudah ada sebelum Allah mencipta? Bagaimana mungkin seorang muslim yang mengerti akan ajaran Islam bisa mempercayai kata-kata yang mengesankan Allah laksana satu makhluk lemah yang terperangkap di antara awan tebal yang menyelimuti-Nya? Islam menyatakan bahwa tidak ada suatu apapun yang meliputi Allah. Dialah yang meliputi segala sesuatu, dan bukan diliputi. Ungkapan pemikiran ini jelas bertentangan dengan ajaran Islam yang hakiki.

Kaum Wahhabi juga meyakini bahwa Allah berada di suatu tempat dan arah tertentu. Selain meyakini Allah sebagai wujud berjisim dengan kriteria perilaku jasmani, mereka juga berbicara tentang tempat Allah di atas langit. Dalam kitabMinhaj al-Sunnah, Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Udara ada di atas bumi. Awan berada di atas udara Langit di atas awan dan bumi. Arasyada di atas semua langit, dan Allah ada di atas semua itu.” Ibnu Taimiyyah dengan esktrim menyatakan, “Siapa saja yang mengatakan bahwa Allah bisa dilihat tapi tak memahami arah ketinggian bagi-Nya berarti secara logika kata-katanya tidak benar.”

Coba perhatikan kata-kata itu dengan firman Allah di dalam al-Quran yang dengan tegas dan jelas menyebutkan, “Timur dan Barat adalah milik Allah. kemana saja engkau menghadap maka di sanalah Allah. Allah Maha Kaya lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. al-Baqarah: 115).

Di surat as-Sajdah ayat 4 Allah Swt juga berfirman,”Lalu Dia bersemayam atas Arasy.” Ayat 5 surat Thaha menyebutkan,”Ar-Rahman berkuasa atas Arsy“. Sedangkan di ayat 4 surat al-Hadid disebutkan,”Lalu dia berada di atas singgasana dan memerintahkan apa yang turun ke bumi.” Ayat-ayat ini dimaknai oleh Wahhabi dengan makna lahiriyahnya sehingga mereka mengatakan bahwa Allah berada di atas singgasana dengan kebesaran dan kelayakan penguasa yang terkadang penyifatan ini lebih mirip dengan lelucon. Mereka mengatakan pula bahwa Allah punya berat yang sangat besar dan duduk di atas singgasana-Nya. Ibnu Taimiyyah yang pemikirannya merupakan rujukan utama ajaran Salafi dan Wahhabi mengklaim bahwa dari semua arah, Allah lebih besar seukuran empat jari-Nya dari singgasana-Nya. Dia mengatakan, “Allah Swt ada di atas singgasana dan ArasyIlahi berbentuk seperti kubah di atas langit. Karena beratnya Allah, ‘Arasyitu mengeluarkan bunyi.”

Ibnu Qayyim dan para ulama Wahhabi tidak pernah merasa sungkan untuk berbicara tentang Allah dengan gambaran yang mengingatkan kita pada khayalan anak-anak. Mereka mengatakan, ‘ArasyIlahi memiliki ketebalan yang ukurannya sama dengan jarak antara dua langit.. Menurut mereka di langit ketujuh terdapat hamparan lautan yang luas. Semua itu mereka ucapkan tanpa ada dasar atau penjelasan dari ayat al-Quran maupun hadis Nabi maupun riwayat dari para sahabat.

Salah satu sifat Allah adalah Maha Kaya dan tidak memerlukan sesuatu apapun. Hal itu ditegaskan dalam banyak ayat suci al-Quran diantaranyasurat al-Baqarahayat 267,”Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji“. Sifat ini dikenalkan sendiri oleh Allah Swt dalam firman-firmannya dan melalui pendekatan logika, kita bisa memahami makna ketidakbutuhan Allah kepada yang lain. kitab suci al-Quran mengajak kita untuk memnggunakan akal dan nalar. Dalam banyak kesempatan kitab suci ini menyeru mereka yang mengingkari kebenaran untuk membawakan bukti yang bisa mendukung klaim mereka.

Bersemayamnya Allah di atas ‘Arasyseperti disebutkan secara harfiyah oleh sejumlah ayat al-Quran adalah kinayah atau kiasan mengenai kekuasaan Allah yang mengatur alam semesta ini. Dengan kata lain, manajerial alam semesta ada di tangan-Nya. Ayat-ayat tadi menyatakan bahwa alam semesta berjalan dengan kehendak Allah dan Dialah yang mengatur segala sesuatunya baik yang ada di langit maupun yang ada di bumi. Semuanya tunduk pada aturan dan ketentuan Ilahi. Karena itulah Allah mengenalkan diri-Nya dengan nama Rabb yang mengandung arti Tuhan yang mengatur alam.

Sayangnya, meski akal bisa menalar dan mencarikan penyelesaian untuk memahami ayat-ayat seperti ini, kaum Salafi dan Wahhabi justeru melangkah di jalan yang lain. Mereka menyebut ‘Arasytak ubahnya bagai singgasana tempat para penguasa duduk dengan kebesarannya. Pengartian ‘Arasyseperti ini jelas bertentangan dengan prinsip-prinsip ajaran Islam dan aturan logika. Mereka mengatakan bahwa Allah duduk di atas singgasana yang sangat besar yang dipikul oleh delapan makhluk dengan tubuh raksasa di lautan yang terhampar di atas langit ketujuh. Mereka juga mengatakan bahwa singgasana Ilahi disangga oleh beberapa pilar yang jika salah satunya tidak ada maka arasy akan ambruk dan jatuh ke bumi.

Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as yang oleh Nabi Saw disebut dengan gelar pintu kota ilmu mengatakan, “Allah menciptakan ‘Arasy untuk menunjukkan kekuasaan-Nya bukan untuk duduk di atasnya.”

Ibnu Taimiyyah, pendiri aliran Salafi memiliki pandangan yang bertentangan dengan keyakinan umat Islam umumnya dalam masalah tauhid. Salah satunya adalah pandangan yang ia paparkan berkenaan dengan naik turunnya Allah di antara di antara tujuh lapis langit. Dalam kitab Minjahus Sunnah, Ibnu Taimiyyah menulis, Setiap malam, Allah turun ke langit bumi dan di malam arafah Dia turun lebih dekat lagi ke bumi untuk mengabulkan permintaan hamba-hamba-Nya. Sesampainya di langit bumi, Allah berfirman, “Adakah orang yang memohon kepadaKu untuk Aku kabulkan permintaannya?”

Kaum Salafi juga membayangkan adanya bermacam kursi dan singgasana milik Allah. dalam kitab Majmu al-Fatawa karya Ibnu Qayyim Jauzi, murid dan pengikut setia Ibnu Taimiyyah disebutkan, “Di setiap langit Allah memiliki kursi. Ketika sampai di langit dunia, Allah duduk di atas kursi yang khusus dan berfirman, “Adakah orang yang memohon ampunan untuk Aku beri ampunan?” Allah berada di sana setiap malam sampai subuh. Ketika fajar tiba, Dia akan meninggalkan langit bumi dan naik ke atas untuk duduk di atas kursi-Nya yang lain.”

Ibnu Batutah, pengembara terkenal Muslim asal negeri Maroko dalam catatan perjalanannya menceritakan satu kisah menarik tentang Ibnu Taimiyyah. Dia bercerita, “Aku pernah melihat Ibnu Taimiyyah di masjid Jami kota Damaskus saat ia memberi wejangan kepada masyarakat. Dia berkata, “Allah Swt turun ke langit bumi seperti saya turun sekarang ini.” Ibnu Taimiyyah lalu turun satu anak tangga dari mimbarnya… Kata-kata itu diprotes oleh Ibnu Zahra, ulama dan faqih mazhab Maliki yang hadir di majlis itu. Akan tetapi kebanyakan masyarakat yang polos dan percaya dengan kata-kata Ibnu Taimiyyah justeru menyerang dan memukuli Ibnu Zahra. Hakim dari mazhab Hanbali juga menghukum Ibnu Zahra. Tindakan hakim tersebut ditentang keras oleh para fukaha dan hakim dari kalangan mazhab Syafi’i dan Maliki di Damaskus. Kasus ini lantas dibawa ke hadapan penguasa Damaskus yang lalu memerintahkan untuk memenjarakan Ibnu Taimiyyah.”

Dengan menetapkan gerak gerik bagi Allah, Ibnu Taimiyyah menyamakan Allah dengan wujud materi yang perlu turun ke langit untuk bisa menjalin hubungan dengan hamba-Nya lalu kembali ke tempat-Nya yang tinggi. Padahal gerakan hanya identik dengan wujud alam materi. Sementara, untuk bisa mendengar doa dan kata-kata hamba-Nya dan menganbulkan permintaan mereka, Allah Swt sama sekali tidak perlu turun ke langit. Ayat 16 surat Qaf menegaskan bahwa Allah lebih dekat kepada hamba-hamba-Nya dari urat nadi mereka. Di surat al-Baqarah ayat 115, ditegaskan bahwa ke manapun kalian menghadap di situlah Allah. Ayat ini menjelaskan bahwa Allah meliputi semua tempat, dan mendengar rintihan dan suara hamba-Nya tanpa perlu bergerak ke sana kemari. Sebab, Allah Maha Kuasa dan Maha Mengetahui. Sifat kekuasaan dan ilmu Allah disebutkan dalam banyak ayat suci al-Quran.

Ibnu Taimiyyah berkhayal bahwa Allah Swt duduk di atas sebuah singgasana megah lalu membayangkan adanya tempat duduk lain di sisi-Nya yang diperuntukkan bagi Nabi Muhammad Saw. Padahal Nabi dengan segala kebesaran dan keagungannya merasa bangga dengan menjadi hamba Allah. Ayat 110 surat al-Kahf menyebutkan, “Katakanlah, sesungguhnya aku adalah manusia seperti kalian (dengan kelebihan) memperoleh wahyu bahwa Tuhan kalian adalah Tuhan yang Maha Esa.

Ibnu Taimiyyah dan Ibnu Qayyim menyamakan Allah dengan raja-raja di bumi. Dalam kitab Majmu al-Fatawa disebutkan, “Di hari Jumat dari hari-hari di akhirat, Allah turun dari ‘Arasy lalu duduk di atas kursi. Kursi Allah berada di antara mimbar-mimbar yang terbuat dari cahaya, tempat para nabi duduk. Mimbar-mimbar itu dikelilingi oleh kursi-kursi yang terbuat dari emas yang diperuntukkan bagi para syuhada dan shiddiqin… Setelah berdialog dan bercengkerama dengan mereka yang hadir di pertemuan itu, Allah meninggalkan tempat tersebut dan naik kembali ke ‘Arasy.”

Yang menarik adalah bahwa seluruh penjelasan itu disampaikan oleh pemuka Salafi tanpa didukung oleh ayat al-Quran maupun hadis Nabi Saw. Semua yang mereka paparkan tak lebih dari bayangan dan khayalan semata yang muncul di benak Ibnu Taimiyyah dan para pengikutnya. Dengan melekatkan sifat-sifat jisim kepada Allah, mereka menurunkan derajat ketuhanan ke level wujud materi layaknya manusia. Ibnu Juhbul salah seorang ulama Ahlussunnah mengatakan, “Ibnu Taimiyyah mengklaim bahwa apa yang dikatakannya bersumber dari Allah, Rasulullah dan para sahabat. Padahal mereka tak pernah mengatakan hal-hal itu.”

Salah satu pandangan aneh Ibnu Taimiyyah adalah apa yang dikatakannya tentang kiblat. Kaum Salafi mengatakan, orang tidak boleh meludah ke arah kiblat sebab perbuatan itu bisa menyakiti Allah karena Allah berada di arah kiblat. Padahal, kiblat tak lebih dari arah yang menyatukan kaum muslimin dalam shalat, bukan tempat Allah berada. Allah adalah wujud yang tak berbatas. Dia meliputi semua tempat. Menyebut tempat khusus bagi Allah sama dengan membatasi wujud-Nya yang Maha Luas dan ini bertentangan dengan akidah Islam yang sebenarnya.

Dalam beberapa kesempatan Ibnu Taimiyyah mengungkapkan pandangannya tentang Allah Swt dengan membawakan ungkapan-ungkapan yang tak mengindahkan keagungan dan kebesaran Allah. Padahal al-Quran telah menyebutkan hakikat sebenarnya dengan jelas kepada mereka yang berakal dan berpikir. “Tidak ada yang menyamai-Nya.” (Q.S. Aa-Syura : 11)

Ayatullah Makarim Shirazi, ulama besar dan mufassir dalam kitab tafsirnya mengenai ayat ini menulis:

“Ungkapan ini adalah hakikat yang menjadi dasar utama untuk mengenal sifat-sifat Allah Swt. Tanpa mengindahkan ayat ini sifat-sifat Allah tak mungkin bisa difahami. Sebab tebing paling curam dan berbahaya berupa tasybih (penyamaan Allah dengan makhluk) akan menghadang orang dalam mengenal-Nya. Orang bisa terjerumus dan jatuh ke dalam jurang kemusyrikan. Dengan kata lain, Allah Swt adalah wujud yang tak terbatas sementara wujudselain Dia adalah wujud yang terbatas dari segala sisi. Misalnya, bagi kita sebagian pekerjaan nampak mudah dan sebagian lainnya sulit sebab kita adalah wujud yang terbatas…Tapi bagi wujud yang tak terbatas, semua itu tak ada artinya.”

Imam Ali as dalam kitab Nahjul Balaghah berulang kali menjelaskann sifat-sifat Allah Swt. Menurut beliau, “Kekuasaan Allah yang tak terbatas meniscayakan bahwa semua makhluk, yang besar dan kecil, yang berat dan ringan maupun yang kuat dan lemah, semuanya sama bagi-Nya dalam penciptaan.”

Ibnu Hajar al-Makki dalam kitab al-Fatwa al-Haditsah mengenai Ibnu Taimiyyah menulis demikian:

Allah Swt telah menghinakan, menyesatkan, membutakan dan membuatnya tuli. Para pemuka Ahlussunnah dan mereka yang hidup sezaman dengannya baik penganut mazhab Syafi’i, Maliki atau Hanafi menegaskan kesesatan pemikiran dan kata-katanya… Kata-kata Ibnu Taimiyyah tidak bernilai. Dia hanyalah pembuat bidah, sesat dan menyesatkan, dan orang yang abnormal. Allah Swt telah memperlakukannya secara adil dan menjaga kita dari keburukan keyakinan dan ajarannya.”

Virus Wahabi sangat berbahaya. Jika anda sudah terkena virus Wahabi, maka anda akan ringan lidah dalam berucap: “Musyrik! Kafir! Bid’ah! TBC! dan ucapan-ucapan lain yang jelek-jelek kepada saudara sendiri sesama Muslim. Nah, jika anda mengenali gejala-gaejala terkena virus Wahabi dalam pikiran anda, segera obati jangan biarkan berlarut-larut

Hal lain yang perlu kita ketahui terkait truth claim (klaim kebenaran) yang dilakukan wahabi salafi seperti dijelaskan di atas (mendaku sebagai pemegang dan pewaris otoritatif terhadap al-Qur’an dan Hadis), adalah realitas para pengikut salafi wahabi ini masih belum puas, sebuah kata pun masih perlu direbut dan diserobot. Kata tersebut adalah SALAF/SALAFI. Kata ini diklaim sebagai hak miliknya –kayak negara Jiran yang suka mengklaim milik Indonesia-. Kata SALAF selalu ditempelkan dalam kajian-kajian mereka dan berupaya diidentikkan sebagai mazhab mereka, mazhab salaf. Padahal salaf atau salafi bukan suatu mazhab tertentu (baca buku Dr. Said Ramadhan al-Buthi yang berjudul As-Salafiyyah)

.
Tidak berhenti sampai disitu “kerakusan” mereka, kelompok ini tidak puas dengan hanya menyerobot kata SALAF/SALAFI. Mereka bergerak lagi dengan merebut, mengambil alih dan mengklaim sebagai pemilik paten yang sah atas Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Orang seperti ini harus kita ingatkan secara halus, tapi kalau tidak bisa, perlu diingatkan dengan “pukulan” yang agak keras dengan diajak berdiskusi dan berdebat secara ilmiah. Makanya, benteng terbaik untuk menghadapi mereka adalah dengan mengkaji secara serius terhadap model berfikir dan argumen mereka. Inilah kewajiban, atau paling tidak, sangat dianjurkan kepada para santri, remaja, dan pemuda, bahkan para tetua NU untuk melakukannya. Sehingga kita tidak mudah gagap atau bingung, rendah diri, dan merasa bodoh ketika berhadapan dengan kelompok wahabi salafi. Tidak ada alasan bagi kita semua untuk malas membaca. Untuk saat ini, buku-buku yang berusaha membedah, membongkar, dan mengkaji secara ilmiah terhadap wahabi salafi sudah sangat banyak dan tersedia di mana-mana.

WAHABi menuduh syi’ah sebagai KAUM PELAKNAT SAHABAT..

Ternyata syi’ah lebih dekat dengan NU daripada dengan wahabi

NU berbeda akidah dengan wahabi ! ini bukti kongkret Akidah Wahabi adalah akidah Yahudi

NU: Nahdliyin Tak Boleh Ikut  Wahabi

“Jangan sampai,” tegas Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, KH Said Aqil Siradj

 

KH. Said Agil Siraj dan KH. Slamet Effendi Yusuf
.
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, KH Said Aqil Siradj, meminta kepada warga Nahdliyin agar tidak terseret gerakan Negara Islam Indonesia dan paham Wahabi.“Anak-anak Muslimat NU jangan sampai terlibat NII dan doktrin Wahabi yang antitahlil, antikubur (memegahkan kuburan). Jangan sampai. Jaga anak-anak, ya,” kata Said Aqil saat memberikan sambutan pada Kongres ke-16 Muslimat NU di Bandar Lampung, Kamis, 14 Juli 2011
.

NU VS SALAFI WAHABI

 Konflik antara salafy dengan NU bukanlah konflik yang baru, namun sudah hampir mendarah daging. Warga NU baik di kota maupun pedesaan, baik yang liberal maupun yang tradisional, sepakat menolak segala bentuk pemahaman salafy, atau yang biasa mereka sebut sebagai “wahabi”.

Bukti kongkret Akidah Salafi – Wahabi adalah akidah Yahudi

Bukti Kongkrit Akidah wahabi-salafi adalah Akidah Yahudi

Para pembaca sekalian, mungkin banyak yang tidak mengetahui apa dan bagaimana sebenarnya akidah wahabi-salafi, orang-orang awam pada umumnya hanya mengetahui bahwa akidah mereka menetapkan sifat-sifat Allah yang ada dalam al-Quran dan menghindari takwil karena takwil bagi mereka adalah perbuatan Yahudi.

Apalagi orang-orang yang telah menjadi doktrin mereka atau tertarik ajaran mereka sebab topeng yang mereka gunakan dengan slogan kembali pada Al-Quran dan Sunnah dan menjauhi segala bentuk kesyirikan, maka sudah pasti akan melihat ajaran dan akidah mereka murni ajaran tauhid yang suci. Usaha keras untuk memberantas segala bentuk kesyirikan yang ada dan telah merata di seluruh permukaan bumi ini.

Tapi tidak bagi kaum muslimin yang memiliki pondasi Tauhid Ahlus sunnah waljama’ah, mereka akan mampu mengetahui dan melihat misi jahat yang diselipkan di belakang slogan itu. Seiring waktu berjalan, semakin terlihat, semakin terbongkar akidah wahabi-salafi yang sesungguhnya, semakin tercium dan tampak persamaan akidah wahabi-salafi dan Yahudi. Mereka secara lahir menampakkan pada kaum muslimin permusuhan pada Yahudi, tapi secara sembunyi berteman akrab dengan Yahudi.

Pada kali ini, saya akan bongkar untuk pembaca akidah wahabi-salafi yang sesungguhnya yaitu “ AKIDAH WAHABI-SALAFI ADALAH AKIDAH YAHUDI “. Tidak perlu saya mengambil sumber dari kitab-kitab para ulama ahlus sunnah yang menceritakan akidah wahabi. Jika saya nukil dari para ulama ahlu sunnah tentang perkataan tasybih dan tajsim mereka, maka mungkin mereka masih bisa menolak dan mengelak, mereka akan mengatakan itu fitnah dan tuduhan yang tak berdasar pada syaikh-syaikh kami, tapi saya akan tampilkan dengan bukti-bukti kuat akurat yang bersumber dari kitab-kitab karya ulama mereka sendiri yang sudah mereka cetak, terutama Ibnu Taimiyyah, Muhammad bin Abdul Wahhab, ad-Darimi (bukan ad-Darimi sunni pengarang kitab sunan), Albani, Ibnu Utsaimin dan yang lainnya, Yang tak akan mampu mereka bantah.

Saya hanya menampilkan bukti-bukti kongkrit ini semata-mata hanya untuk suadara-saudaraku yang telah terpengaruh dengan akidah wahabi. Dan petunjuk hanyalah dari Allah Swt.

Jika masih ada wahabi yang membantah bukti dan penjelasan nyata ini, maka ibarat orang yang berusaha menutupi cahaya matahari yang terang benderang di sinag hari dengan segenggam tangannya.

1. Akidah Yahudi :

Di dalam naskah kitab Taurat yang sudah dirubah yang merupakan asas akidah Yahudi yang mereka namakan “ SAFAR AL-MULUK “ Al-Ishah 22 nomer : 19-20 disebutkan :
و قال فاسمع إذاً كلام الرب قد رأيت الرب جالسا على كرسيه و كل جند السماء وقوف لديه عن يمينه و عن يساره
“ Dan berkata “ Dengarkanlah, ucapan Tuhan..aku telah melihat Tuhanku duduk di atas kursinya dan semua pasukan langit berdiri di hadapannya dari sebelah kanan dan kirinya “.
Dalam kitab mereka yang berjudul “ SAFAR AL-MAZAMIR “ Al-Ishah 47 nomer 8 disebutkan :
الله جلس على كرسي قدسه
“ Allah duduk di atas kursi qudusnya “.

Akidah wahabi-salafi :

Di dalam kitab andalan wahabi-salafi yaitu Majmu’ al-Fatawa Ibnu Taimiyyah al-Harrani imam wahabi juz 4 halaman 374 :

إن محمدا رسول الله يجلسه ربه على العرش معه

“ Sesungguhnya Muhammad Rasulullah didudukkan Allah di atas Arsy bersama Allah “.
Di dalam kitab “ Syarh Hadits an-Nuzul “ halaman 400 cetakan Dar al-‘Ashimah disebutkan bahwasanya Ibnu Taimiyyah berkata :

فما جاءت به الأثار عن النبى من لفظ القعود و الجلوس فى حق الله تعالى كحديث جعفر بن أبى طالب و
حديث عمر أولى أن لا يماثل صفات أجسام العباد

“ Semua hadits yang datang dari Nabi dengan lafadz qu’ud dan julus (duduk) bagi Allah seperti hadits Ja’far bin Abi Thalib dan hadits Umar, lebih utama untuk tidak disamakan dengan anggota tubuh manusia “.

Dalam halaman yang sama Ibnu Taimiyyah berkata :

إذا جلس تبارك و تعالى على الكرسي سمع له أطيط كأطيط الرحل الجديد

“ Jika Allah duduk di atas kursi, maka terdengarlah suara suara saat duduk sebagaimana suara penunggang bintang tunggangan karena beratnya ”

Kitab tersebut dicetak di Riyadh tahun 1993, penerbit Dar al-‘Ashimah yang dita’liq oleh Muhammad al-Khamis.

Di dalam kitab ad-Darimi (bukan ulama sunni al-Hafdiz ad-Darimi pengarang hadits sunan) halaman 73 disebutkan :
هبط الرب عن عرشه إلى كرسيه
“ Allah turun dari Arsy ke kursinya “

Kitab itu terbitan Dar al-Kutub al-Ilmiyyah yang dita’liq oleh Muhamamd Hamid al—Faqiy.

Kitab ad-Darimi (al-wahhabu) ini dipuji-puji oleh Ibnu Taimiyyah dan menganjurkannya untuk dipelajari, sebab inilah wahabi menjadi taqlid buta.

Tapi akidah mereka ini disembunyikan dan tidak pernah dipublikasikan ke khalayak umum.

Sekedar info : Lafadz duduk bagi Allah tidak pernah ada dalam al-Quran dan hadits.

2. Akidah Yahudi :

Di dalam naskah Taurat yang sudah ditahrif yang mereka namakan “ Safar at-Takwin Ishah pertama nomer : 26-28 disebutkan :

و قال الله نعمل الإنسان على صورتنا على شبهنا… فخلق الله الإنسان على صورته على صورة الله خلقه ذكرا و أنثى خلقهم
“ Allah berkata ; “ Kami buat manusia dengan bentuk dan serupa denganku…lalu Allah menciptakan manusia dengan bentuknya, dengan bentuk Allah, dia menciptakan laki-laki dan wanita “.

Akidah wahabi :

Di dalam kitab “ Aqidah ahlu Iman fii Khalqi Adam ‘ala shurati ar-Rahman “ karya Hamud bin Abdullah at-Tuajari syaikh wahabi, yang dicetak di Riyadh oleh penerbit Dar al-Liwa cetakan kedua, disebutkan dalam halama 16 :

قال ابن قتيبة: فرأيت في التوراة: إن الله لما خلق السماء و الأرض قال: نخلق بشرا بصورتنا

“ Berkata Ibnu Qathibah “ Lalu aku melihat di dalam Taurat : “ Sesungguhnya Allah ketika menciptakan langit dan bumi, Dia berkata : “ Kami ciptakan manusia dengan bentukku “.
Pada halaman berikutnya di halaman 17 disebutkan :

و في حديث ابن عباس: إن موسى لما ضرب الحجر لبني إسرائيل فتفجر و قال: اشربوا يا حمير فأوحى الله إليه: عمدت إلى خلق من خلقي خلقتهم على صورتي فتشبههم بالحمير ، فما برح حتى عوتب

“ Di dalam hadits Ibnu Abbas : “ Sesungguhnya Musa ketika memukul batu untuk Bani Israil lalu keluar air dan berkata : “ Minumlah wahai keledai, maka Allah mewahyukan pada Musa “ Engkau telah mencela satu makhluk dari makhlukku yang Aku telah ciptakan mereka dengan rupaku, lalu engkau samakan mereka dengan keledai “ Musa terus ditegor oleh Allah “.

Naudzu billah dari pendustaan pada Allah dan pada para nabi-Nya.

Akidah Yahudi :

Disebutkan dalam kitab Yahudi yang mereka namakan “ Safar Khuruj “ ishah 19 nomer : 3-6 :
فناداه الرب من الجبل … فالآن إن سمعتم لصوتي و حفظتم عهدي

“ Maka Tuhan memanggil kami dari bukit….sekarang jika kalian mendengar suaraku dan menjaga janjiku “.

Akidah wahabi :

Di dalam kitab “ Fatawa al-Aqidah “ karya Muhammad bin Shalih al-Utsaimin yang dicetak Maktabah as-Sunnah cetakan pertama tahun 1992 di Mesir, pada halaman 72 Ibnu Utsaimin berkata :

في هذا إثبات القول لله و أنه بحرف و صوت ، لأن أصل القول لا بد أن يكون بصوت فإذا أطلق القول
فلا بد أن يكون بصوت

“ Dalam hal ini dijelaskan adanya penetapan akan ucapan Allah Swt. Dan sesungguhnya ucapan Allah itu berupa huruf dan suara. Karena asli ucapan itu harus adanya suara. Maka jika dikatakan ucapan, maka sudah pasti ada suara “.

3. Akidah Yahudi :

Di dalam kitab taurat yang sudah ditahrif yang mereka namakan dengan “ SAFAR ISY’IYA “ Ishah 25 nomer 10, Yahudi berkata :

لأن يد الرب تستقر على هذا الجبل

“ Sesungguhnya tangan Tuhan istiqrar / menetap di gunung ini “

Akidah wahabi :

dalam kitab Fatawa al-Aqidah karya Muhammad bin Shalih al-Utsaimin yang diterbitkan oleh Maktabah as-Sunnah cetakan pertama halaman 90, al-Utsaimin berkata :

و على كل فإن يديه سبحانه اثنتان بلا شك ، و كل واحدة غير الأخرى ، و إذا وصفنا اليد الأخرى بالشمال فليس المراد أنها أنقص من اليد اليمنى

“ kesimpulannya, sesungguhnya kedua tangan Allah itu ada dua tanpa ragu lagi. Satu tangannya berlainan dari tangan satunya. Jika kita sifatkan tangan Allah dengan sebelah kiri, maka yang dimaksud bukanlah suatu hal yang kurang dari tangan kanannya “.

4 Akidah Yahudi :

Di dalam kitab Yahud “ Safar Mazamir “ Ishah 2 nomer : 4 disebutkan :
الساكن في السموات يضحك الرب
“ Yang tinggal di langit, Tuhan sedang tertawa “

Akidah wahabi :

Di dalam kitab “ Syarh Hadits an-Nuzul “ cetakan Dar al-’Ashimah halaman 182, Ibnu Taimiyyah berkata :
أن الله فوق السموات بذاته

“ Sesungguhnya Allah itu di atas langit dengan Dzatnya “

Di dalam kitab “ Qurrah Uyun al-Muwahhidin “ karya Abdurrahman bin Hasan bin Muhammad bin Abdul Wahhab (cicit Muhammad bin Abdul wahhab), cetakan Maktabah al-Muayyad tahun 1990 cetakan pertama, halaman 263 disebutkan :

أجمع المسلمون من أهل السنة على أن الله مستو على عرشه بذاته…استوى على عرشه بالحقيقة لا بالمجاز
“ Sepakat kaum muslimin dari Ahlus sunnah bahwa sesungguhnya Allah beristiwa di Arsy dengan dzat-Nya…Allah beristiwa di atas Arsy secara hakekat bukan majaz “.
Dan masih segudang lagi akidah-akidah wahabi-salafi yang meyakiniTuhannya dengan sifat-sifat makhluk-Nya sebagaimana akidah Yahudi.

Dan masih segudang lagi akidah-akidah wahabi-salafi yang meyakiniTuhannya dengan sifat-sifat makhluk-Nya sebagaimana akidah Yahudi. Dan jika saya beberkan semuanya, maka akan menjadi lembaran yang sangat banyak. Cukup yang singkat sedikit ini membuktikan bahwa akidah wahabi-salafi yang sesungguhnya adalah akidah Yahudi

Menelanjangi Kesesatan Salafi Wahabi

Judul: Ulama Sejagad Menggugat Salafi Wahabi
Penulis: Syaikh Idahram
Penerbit: LKiS Yogyakarta
Cetakan: I, 2011 
Tebal: 340 halaman, 13,5 x 20,5 cm 
ISBN: 602-8995-02-3
Peresensi: Hairul Anam

Selama ini, kaum Salafi Wahabi selalu getol menyesatkan umat Islam yang tak selaras dengan ideologinya. Mereka cenderung melakukan beragam cara, terutama melalui tindakan-tindakan anarkis yang meresahkan banyak kalangan

.

Padahal, ketika dilakukan kajian mendalam, justru Salafi Wahabi-lah yang sarat dengan pemahaman menyesatkan. Sesat karena berbanding terbalik dengan ajaran Islam yang terkandung di dalam hadis dan al-Qur’an. Setidaknya, buku ini memberikan gambaran jelas akan hal itu

.

Buku berjudul Ulama Sejagad Menggugat Salafi Wahabi, ini secara komprehensif mengungkap kesesatan pemikiran para ulama yang menjadi panutan utama kaum Salafi Wahabi. Didalamnya dijelaskan betapa para ulama Salafi Wahabi itu menggerus otentisitas ajaran Islam, disesuaikan dengan kepentingan mereka. Terdapat tiga tokoh utama Salafi Wahabi: Ibnu Taimiyah al-Harrani, Muhammad Ibnu Abdul Wahab, dan Muhammad Nashiruddin al-Albani. Pemikiran mereka nyaris tidak membangun jarak dengan kerancuan serta beragam penyimpangan

.

Penyimpangan yang dilakukan Ibnu Taimiyah (soko guru Salafi Wahabi) ialah meliputi spirit menyebarkan paham bahwa zat Allah sama dengan makhluk-Nya, meyakini kemurnian Injil dan Taurat bahkan menjadikannya referensi, alam dunia dan makhluk diyakini kekal abadi, membenci keluarga Nabi, menghina para sahabat utama Nabi, melemahkan hadis yang bertentangan dengan pahamnya, dan masih banyak lagi lainnya

.

Dalam pada itu, wajar manakala ratusan ulama terkemuka dari berbagai mazhab (Hanafi, Maliki, Syafi’i, Ja’fari/Ahlul Bait, dan Syiah Itsna Asyariah) sepakat atas kesesatan Ibnu Taimiyah, juga kesesatan orang-orang yang mengikutinya, kaum Salafi Wahabi. Lihat di antaranya kitab al-Wahhabiyah fi Shuratiha al-Haqiqiyyah karya Sha’ib Abdul Hamid dan kitab ad-Dalil al-Kafi fi ar-Raddi ‘ala al-Wahhabi karya Syaikh Al-Bairuti. (hal. 90).

Sebagai penguat dari fenomena itu, terdapat ratusan tokoh ulama, ahli fikih dan qadhi yang membantah Ibnu Taimiyah. Para ulama Indonesia pun ikut andil dalam menyoroti kesesatan Ibnu Taimiyah ini, seperti  KH Muhammad Hasyim Asy’ari (Rais ‘Am Nahdhatul Ulama dari Jombang Jawa Timur), KH. Abu al-Fadhl (Tuban Jawa Timur), KH. Ahmad Abdul Hamid (Kendal Jawa Tengah), dan ulama-ulama nusantara tersohor lainnya

.

Pendiri Salafi Wahabi, Muhammad Ibnu Abdul Wahab, juga membiaskan pemikiran yang membuat banyak umat Islam galau kehidupannya. Ragam nama dan pemikiran ulama yang menguak penyimpangannya dimunculkan secara terang-terangan dalam buku ini, dilengkapi dengan argumentasi yang nyaris tak bisa terpatahkan

.

Dibanding Ibnu Taimiyah, sikap keberagamaan Abdul Wahab tak kalah memiriskan. Ada sebelas penyimpangan Abdul Wahab yang terbilang amat kentara. Yakni: Mewajibkan umat Islam yang mengikuti mazhabnya hijrah ke Najd, mengharamkan shalawat kepada Nabi, menafsirkan al-Qur’an & berijtihad semaunya, mewajibkan pengikutnya agar bersaksi atas kekafiran umat Islam, merasa lebih baik dari Rasulullah, menyamakan orang-orang kafir dengan orang-orang Islam, mengkafirkan para pengguna kata “sayyid”, mengkafirkan ulama Islam di zamannya secara terang-terangan, mengkafirkan imam Ibnu Arabi, Ibnu Sab’in dan Ibnu Faridh, mengkafirkan umat Islam yang tidak mau mengkafirkan, dan memuji kafir Quraisy-munafik-murtad tapi mencaci kaum Muslimin. (hal. 97-120)

.

Nasib Abdul Wahab tidak jauh beda dengan Ibnu Taimiyah; ratusan tokoh ulama sezaman dan setelahnya menyatakan kesesatannya. Di antara para ulama yang menyatakan hal itu adalah ulama terkenal Ibnu Abidin al-Hanafi di dalam kitab Radd al-Mukhtar ‘ala ad-Durr al-Mukhtar. Juga Syaikh ash-Shawi al-Mishri dalam hasyiah-nya atas kitab Tafsir al-Jalalain ketika membahas pengkafiran Abdul Wahab terhadap umat Islam.

Searah dengan Ibnu Taimiyah dan Abdul Wahab, Muhammad Nashiruddin al-Albani melakukan tindakan yang membentur kemurnian ajaran Islam. Ia telah mengubah hadis-hadis dengan sesuatu yang tidak boleh menurut Ulama Hadis. Sehingga, sebagaimana diakui Prof Dr Muhammad al-Ghazali, al-Albani tidak dapat dipertanggungjawabkan dalam menetapkan nilai suatu hadis, baik shahih maupun dhaif

.

Selain ketiga ulama di atas, ada 18 ulama Salafi Wahabi yang juga diungkap dalam buku ini. Mereka telah menelorkan banyak karya dan memiliki pengaruh besar terhadap konstelasi pemikiran kaum Salafi Wahabi. Di samping itu, Syaikh Idahram juga menghimbau agar umat Islam mewaspadai terhadap tokoh Salafi Wahabi generasi baru. Mereka adalah anak murid para ulama Salafi Wahabi. Secara umum, mereka berdomisili di Saudi Arabia

.

Menariknya, buku ini kaya perspektif. Referensi yang digunakannya langsung merujuk pada sumber utama. Data-datanya terbilang valid. Validitas data tersebut dapat dimaklumi, mengingat karya fenomenal ini berpangkal dari hasil penelitian selama sembilan tahun, mulai 2001 sampai 2010. Selamat membaca!

Ibnu Taimiyyah dan wahabi Menshahihkan Hadis mungkar(“Nabi Melihat Allah SWT Dalam Bentuk Pemuda Amrad”) dan mengunakannya untuk masalah aqidah

Kali ini hadis yang akan dibahas adalah hadis ru’yatullah riwayat Ibnu Abbas. Hadis ini juga tidak lepas dari kemungkaran yang nyata dengan lafaz “Melihat Allah SWT dalam bentuk pemuda amrad (yang belum tumbuh jenggot dan kumisnya)”.Tetapi anehnya hadis dengan lafaz mungkar ini tidak segan-segan dinyatakan shahih oleh syaikh salafy wahabi dan syaikh salafy yang terkenal Ibnu Taimiyyah.

Takhrij Hadis Ibnu Abbas
ثنا حماد بن سلمة عن قتادة عن عكرمة عن بن عباس قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم رأيت ربي جعدا امرد عليه حلة خضراء

Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Qatadah dari Ikrimah dari Ibnu Abbas yang berkata Rasulullah SAW bersabda “Aku melihat Rabbku dalam bentuk pemuda amrad berambut keriting dengan pakaian berwarna hijau”.

Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Asmaa’ was Shifaat no 938, Ibnu Ady dalam Al Kamil 2/260-261, Al Khatib dalam Tarikh Baghdad 13/55 biografi Umar bin Musa bin Fairuz, Adz Dzahabi dalam As Siyaar 10/113 biografi Syadzaan, Abu Ya’la dalam Ibthaalut Ta’wiilat no 122, 123, 125, 126,127 ,129, dan 143 (dengan sedikit perbedaan pada lafaznya), Ibnu Jauzi dalam Al ‘Ilal Al Mutanahiyah no 15. Semuanya dengan jalan sanad yang berujung pada Hammad bin Salamah dari Qatadah dari Ikrimah dari Ibnu Abbas. Sedangkan yang meriwayatkan dari Hammad adalah Aswad bin Amir yakni Syadzaan (tsiqat dalam At Taqrib 1/102), Ibrahim bin Abi Suwaid (tsiqat oleh Abu Hatim dalam Al Jarh wat Ta’dil 2/123 no 377), Abdush Shamad bin Kaisan atau Abdush Shamad bin Hasan (shaduq oleh Abu Hatim dalam Al Jarh Wat Ta’dil 6/51 no 272).

Hadis ini maudhu’ dengan sanad yang dhaif dan matan yang mungkar. Hadis ini mengandung illat

* Hammad bin Salamah, ia tidak tsabit riwayatnya dari Qatadah. Dia walaupun disebutkan sebagai perawi yang tsiqah oleh para ulama, dia juga sering salah karena kekacauan pada hafalannya sebagaimana yang disebutkan dalam At Tahdzib juz 3 no 14 dan At Taqrib 1/238. Disebutkan dalam Syarh Ilal Tirmidzi 2/164 yang dinukil dari Imam Muslim bahwa Hammad bin Salamah banyak melakukan kesalahan dalam riwayatnya dari Qatadah. Oleh karena itu hadis Hammad bin Salamah dari Qatadah ini tidak bisa dijadikan hujjah apalagi jika menyendiri dan lafaznya mungkar.
* Tadlis Qatadah, Ibnu Hajar telah menyebutkannya dalam Thabaqat Al Mudallisin no 92 sebagai mudallis martabat ketiga, dimana Ibnu Hajar mengatakan bahwa pada martabat ketiga hadis perawi mudallis tidak dapat diterima kecuali ia menyebutkan penyimakannya dengan jelas. Dalam Tahrir At Taqrib no 5518 juga disebutkan bahwa hadis Qatadah lemah kecuali ia menyebutkan sama’ nya dengan jelas. Dalam hadis ini Qatadah meriwayatkan dengan ‘an ‘anah sehingga hadis ini lemah.

Kelemahan sanad hadisnya ditambah dengan matan yang mungkar sudah cukup untuk menyatakan hadis ini maudhu’ sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Jauzi dalam Al ‘Ilal no 15. Kemungkaran hadis ini juga tidak diragukan lagi bahkan diakui oleh Baihaqi dan Adz Dzahabi dalam As Siyaar. Bashar Awad Ma’ruf dalam tahqiqnya terhadap kitab Tarikh Baghdad 13/55 menyatakan hadis ini maudhu’.

Ibnu Taimiyyah dan Syaikh wahabi ikut-ikutan menshahihkan hadis Ibnu Abbas ini. Ibnu taymiyah dan wahabi dengan jelas menyatakan shahih marfu’ hadis dengan lafal pemuda amrad dalam kitabnya Bayaan Talbiis Al Jahmiyyah 7/290.

Bayaan Talbiis Al Jahmiyyah

Dan ini penggalan kitab tersebut juz 7 hal 290 dimana Ibnu Taimiyyah menshahihkan hadis Ru’yah dengan lafal pemuda amrad

Bayaan Talbiis Al Jahmiyyah 7/290

Tentu saja fenomena ini adalah keanehan yang luar biasa. Bagaimana mungkin mereka begitu berani menshahihkan hadis tersebut bahkan mengecam orang yang mengingkarinya dan menggunakannya dalam masalah aqidah.

Inilah tuhan kaum hindu (dajjal kriting dari india ‘sami baba’) sama dengan tuhan yang dinanti nantikan oleh kaum mujasimmah wahabi :

tapi sayang sai baba sudah mampus
.

AQIDAH WAHHABI: “ALLAH SERUPA DENGAN NABI ADAM”. (berbukti)
INILAH AKIDAH SESAT WAHHABI YANG DISEBARKAN OLEH WAHHABI SEKARANG :” ALLAH SERUPA, SAMA & SEPERTI NABI ADAM “

DI ATAS ADALAH COVER MUKA DEPAN KITAB WAHHABI YANG BERJUDUL: “AQIDAH AHL IMAN FI KHOLQI ADAM ‘ALA SURATIR RAHMAN”

.
DALAM KITAB WAHHABI TERSEBUT MEREKA MENDAKWA BAHAWA RUPA BENTUK GAYA DAN DIRI ALLAH ITU SAMA DAN SERUPA DENGAN BENTUK RUPA NABI ADAM. NA’UZUBILLAH

.
INILAH BUKTI BAHAWA WAHHABI SEMEMANGNYA MENYAMAKAN ALLAH DENGAN MAKHLUK SEDANGKAN TIADA SATU AYAT ATAU HADITH PUN YANG MENYAMAKAN ALLAH DENGAN MAKHLUK DAN TIADA SATU NAS YANG SAHIH PUN MENYATAKAN “RUPA BENTUK ALLAH SERUPA DENGAN RUPA BENTUK NABI ADAM”.LIHATLAH PADA TAJUK KITAB TERSEBUT IANYA AMAT MENGERIKAN DAN JELAS WAHHABI MENYATAKAN “ALLAH SERUPA DENGAN MAKHLUK”

.

Saya (husain ardilla) menyatakan: Inilah sejenis bukti pengakuan wahhabi sendiri yang diakui oleh pendokongnya bahawa akidah mereka sememangnya adalah Allah serupa dengan makhluk

.
Ketahuilah bahawa akidah Islam sebenar Allah tidak menyerupai makhlukNya dan Allah tidak bersifat rupa paras mahupun rupa bentuk.Dan saya mengatakan akidah tersebut adalah ruh akidah Yahudi sendiri. Ini kerana Yahudi juga mendakwa Allah Berbentuk dan Allah mencipta manusia seperti rupa parasNya.

Lihat akidah yahudi tersebut di : http://www.arabicbible.com/bible/ot/gen/1.htm

.
Dalam kitab orang Yahudi berjudul Muqaddas Awwal Safar Takwin Al-Ishah Awwal 26 Yahudi mendakwa فخلق الله الانسان على صورته
dan Yahudi juga mendakwa على صورة الله خلق

Kedua-dua akidah yahudi itu amat jelas menyatakan Allah mencipta manusia seperti rupa bentuk Allah. Wahhabi juga berakidah sedemikian. Subhanallah.

.

BIN BAZ AL-WAHHABI PADA KITAB TERSEBUT TELAH MEMUJI AKIDAH TAJSIM YANG MENYAMAKAN ALLAH DENGAN MAKHLUK. (1)

BIN BAZ AL-WAHHABI AKIDAH TAJSIM (2)

DI ATAS ADALAH COP DAN PENGAKUAN DARI AL-WAHHABI ABDUL AZIZ BIN BAZ BAHAWA KITAB WAHHABI TADI YANG MENYAMAKAN ALLAH DENGAN MAKHLUK DAN RUPA BENTUK ALLAH ITU SAMA DENGAN RUPA BENTUK NABI ADAM MERUPAKAN AKIDAH YANG DIBAWA OLEH KESEMUA WAHHABI TERMASUK KESEMUA WAHHABI DI MALAYSIA.

INI ISI KANDUNGAN KITAB WAHHABI TERSEBUT YANG JELAS MENYAMAKAN ALLAH DENGAN MAKHLUK

DI ATAS ADALAH ISI KANDUNGAN KITAB WAHHABI TADI YANG DIAKUI OLEH BIN BAZ AL-WAHHABI MENYATAKAN AKIDAH MEREKA BAHAWA ALLAH SERUPA DENGAN MANUSIA DAN SERUPA DENGAN SEGALA MAKHLUK-MAKHLUKNYA SERTA WAHHABI MENGUNAKAN HUJAH DARI YAHUDI KITAB TAURAT (MUHARRAFAH) YANG TELAH DITUKAR DAN DIUBAH. WAHHABI TIDAK MENGUNAKAN ALQURAN DAN HADITH TETAPI MENGUNAKAN KENYATAAN YAHUDI DALAM HAL ASAS AKIDAH. PERHATIKAN PADA LINE YANG TELAH DIMERAHKAN AMAT JELAS KESEMUA WAHHABI MENDAKWA ALLAH MENCIPTA MANUSIA SERUPA DENGAN DIRI ALLAH SENDIRI. INILAH AKIDAH MUJASSIMAH AL-YAHUDIYAH YANG DIHIDUPKAN OLEH AL-WAHHABIYAH.

semoga Allah memberi hidayah iman kepada Wahhabi.

2.  Ibnu Taimiyyah dan wahabi Menshahihkan Hadis mungkar(“Nabi Melihat Allah SWT Dalam Bentuk Pemuda Amrad”) dan mengunakannya untuk masalah aqidah

Kali ini hadis yang akan dibahas adalah hadis ru’yatullah riwayat Ibnu Abbas. Hadis ini juga tidak lepas dari kemungkaran yang nyata dengan lafaz “Melihat Allah SWT dalam bentuk pemuda amrad (yang belum tumbuh jenggot dan kumisnya)”.Tetapi anehnya hadis dengan lafaz mungkar ini tidak segan-segan dinyatakan shahih oleh syaikh salafy wahabi dan syaikh salafy yang terkenal Ibnu Taimiyyah.

Takhrij Hadis Ibnu Abbas
ثنا حماد بن سلمة عن قتادة عن عكرمة عن بن عباس قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم رأيت ربي جعدا امرد عليه حلة خضراء

Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Qatadah dari Ikrimah dari Ibnu Abbas yang berkata Rasulullah SAW bersabda “Aku melihat Rabbku dalam bentuk pemuda amrad berambut keriting dengan pakaian berwarna hijau”.

Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Asmaa’ was Shifaat no 938, Ibnu Ady dalam Al Kamil 2/260-261, Al Khatib dalam Tarikh Baghdad 13/55 biografi Umar bin Musa bin Fairuz, Adz Dzahabi dalam As Siyaar 10/113 biografi Syadzaan, Abu Ya’la dalam Ibthaalut Ta’wiilat no 122, 123, 125, 126,127 ,129, dan 143 (dengan sedikit perbedaan pada lafaznya), Ibnu Jauzi dalam Al ‘Ilal Al Mutanahiyah no 15. Semuanya dengan jalan sanad yang berujung pada Hammad bin Salamah dari Qatadah dari Ikrimah dari Ibnu Abbas. Sedangkan yang meriwayatkan dari Hammad adalah Aswad bin Amir yakni Syadzaan (tsiqat dalam At Taqrib 1/102), Ibrahim bin Abi Suwaid (tsiqat oleh Abu Hatim dalam Al Jarh wat Ta’dil 2/123 no 377), Abdush Shamad bin Kaisan atau Abdush Shamad bin Hasan (shaduq oleh Abu Hatim dalam Al Jarh Wat Ta’dil 6/51 no 272).

Hadis ini maudhu’ dengan sanad yang dhaif dan matan yang mungkar. Hadis ini mengandung illat

* Hammad bin Salamah, ia tidak tsabit riwayatnya dari Qatadah. Dia walaupun disebutkan sebagai perawi yang tsiqah oleh para ulama, dia juga sering salah karena kekacauan pada hafalannya sebagaimana yang disebutkan dalam At Tahdzib juz 3 no 14 dan At Taqrib 1/238. Disebutkan dalam Syarh Ilal Tirmidzi 2/164 yang dinukil dari Imam Muslim bahwa Hammad bin Salamah banyak melakukan kesalahan dalam riwayatnya dari Qatadah. Oleh karena itu hadis Hammad bin Salamah dari Qatadah ini tidak bisa dijadikan hujjah apalagi jika menyendiri dan lafaznya mungkar.
* Tadlis Qatadah, Ibnu Hajar telah menyebutkannya dalam Thabaqat Al Mudallisin no 92 sebagai mudallis martabat ketiga, dimana Ibnu Hajar mengatakan bahwa pada martabat ketiga hadis perawi mudallis tidak dapat diterima kecuali ia menyebutkan penyimakannya dengan jelas. Dalam Tahrir At Taqrib no 5518 juga disebutkan bahwa hadis Qatadah lemah kecuali ia menyebutkan sama’ nya dengan jelas. Dalam hadis ini Qatadah meriwayatkan dengan ‘an ‘anah sehingga hadis ini lemah.

Kelemahan sanad hadisnya ditambah dengan matan yang mungkar sudah cukup untuk menyatakan hadis ini maudhu’ sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Jauzi dalam Al ‘Ilal no 15. Kemungkaran hadis ini juga tidak diragukan lagi bahkan diakui oleh Baihaqi dan Adz Dzahabi dalam As Siyaar. Bashar Awad Ma’ruf dalam tahqiqnya terhadap kitab Tarikh Baghdad 13/55 menyatakan hadis ini maudhu’.

Ibnu Taimiyyah dan Syaikh wahabi ikut-ikutan menshahihkan hadis Ibnu Abbas ini. Ibnu taymiyah dan wahabi dengan jelas menyatakan shahih marfu’ hadis dengan lafal pemuda amrad dalam kitabnya Bayaan Talbiis Al Jahmiyyah 7/290.

Bayaan Talbiis Al Jahmiyyah

Dan ini penggalan kitab tersebut juz 7 hal 290 dimana Ibnu Taimiyyah menshahihkan hadis Ru’yah dengan lafal pemuda amrad

 

Bayaan Talbiis Al Jahmiyyah 7/290

Tentu saja fenomena ini adalah keanehan yang luar biasa. Bagaimana mungkin mereka begitu berani menshahihkan hadis tersebut bahkan mengecam orang yang mengingkarinya dan menggunakannya dalam masalah aqidah.

dudukAnda jangan terperanjat jika kami katakan akidah Salafi Wahabi itu sangat mirip dengan akidah Yahudi dan Nasrani. Benarkah demikian? Mari kita buktikan bersama!

Akidah tajsim dan tasybih telah menggelincirkan Salafi Wahabi hingga pada suatu keyakinan bahwa Allah seperti sosok seorang pemuda , berambut ikal , bergelombang dan mengenakan baju berwarna merah. Klaim ini dikatakan oleh Ibnu Abu Ya’la dalam kitab Thabaqat al-Hanabilah. Abu Ya’la mendasarkan pernyataan itu kepada hadits berikut :

عن عكرمة اَن الرسول صلى الله عليه وسلّم قال: راَيت ربي عزّ وجلّ شَابا امرد جعد قطط عليه حلة حمراء

“Dari Ikrimah: bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Aku telah melihat Tuhanku SWT berupa seorang pemuda berambut ikal bergelombang mengenakan pakaian merah.” (Ibnu Abu Ya’la: Thabaqat al-Hanabilah, jilid 2, halaman 39)

Sungguh keji pengaruh riwayat palsu di atas. Riwayat-riwayat palsu produk pikiran Yahudi itu kini berhasil membodohi akal pikiran para pengikut Salafi Wahabi, sehingga mereka menerima keyakinan seperti itu. Tidak diragukan lagi, hadits semacam ini adalah kisah-kisah Israiliyat yang bersumber dari orang-orang Bani Israil.

Salafi Wahabi memperjelas hadits di atas dengan hadits lain yang bercerita tentang Allah duduk di atas kursi emas, beralaskan permadani yang juga terbuat dari emas, dalam sebuah taman hijau. Singgasana (Arsy) Allah dipikul oleh empat malaikat dalam rupa yang berbeda-beda, yaitu seorang lelaki, singa, banteng dan burung elang. Keyakinan aneh semacam ini dipaparkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Kitab at-Tauhid wa Itsbat Shifat ar-Rab.

Siapakah Ibnu Khuzaimah? Dia adalah salah seorang ulama ahli hadits yang banyak dipakai oleh Salafi Wahabi untuk dijadikan referensi. Namun setelah semakin matang dalam pengembaraan intelektualnya, Ibnu Khuzaimah menyesali diri telah menulis kitab tersebut, seperti dikisahkan oleh al-Hafidz al-Baihaqi dalam kitab al-Asma wa ash-Shifat hal. 267

Walaupun begitu, soko guru Salafi Wahabi, yaitu Ibnu Taimiyah tetap mengatakan bahwa Ibnu Khuzaimah adalah ”Imamnya Para Imam” karena menurutnya telah banyak meriwayatkan hadits-hadits ’shahih’ tetang hakikah Dzat Tuhan (padahal yang sebenarnya hadits-hadits itu kenal dengan nuansa tasybih dan hikayat Israiliyat). Oleh karena itu, ketika mengomentari sebuah hadits yang diriwayatkan Ibnu Khuzaimah, Ibnu Taimiyah berkata :

”Hadits ini telah diriwayatkah oleh ’Imamnya Para Imam’ yaitu Ibnu Khuzaimah dalam Kitab at-Tauhid yang telah ia syaratkan untuk tidak berhujjah di dalamnya melainkan dengan hadits-hadits yang dinukil oleh perawi adil dari perawi adil lainnya, sehingga bersambung kepada Nabi SAW”  (Ibnu Taimiyah: Majmu Fatawa Ibnu Taimiyah, Jilid 3, hal. 192)

Maka tak heran jika Ibnu Taimiyah pun berkeyakinan sama buruknya, seperti dalam Majmu’ Fatawa j. 4, h. 374,  Ibn Taimiyah berkata “Para ulama yang diridlai oleh Allah dan para wali-Nya telah menyatakan bahwa Rasulullah Muhammad didudukan oleh Allah di atas ‘arsy bersama-Nya”.

Awalnya Ibnu Khuzaimah sangat meyakini bahwa seluruh hadits yang ia muat di dalam kitabnya adalah shahih dan dapat dipertanggungjawabkan. Sebab menurut pengakuannya ia telah meriwayatkanya dengan sanad bersambung melalui para periwayat yang adil dan terpercaya. Demikian sebagaimana ia tegaskan di awal kitab tersebut dan juga tertulis di cover depan kitab at-Tauhid tersebut.

Gambar dibawah ini adalah scan teks tentang keyakinan tasybih dari Kitab at-Tauhid karya Ibnu Khuzaimah, tahkik Muhammad Khalil Harras, Dar al-Kutub al-Ilmiah, Beirut, Lebanon 1403 H./1983, halaman 198.

AQIDAH WAHHABI ‘ALLAH DUDUK’ = AQIDAH YAHUDI DAN NASRANI

300245_1991310348436_1413704156_31958477_7826773_n Ketahuilah bahwa aqidah yg dibawa oleh Wahhabi adalah aqidah yang bersumberkan dari Yahudi dan Kristiani yang coba diserapkan dalam masyarakat islam demi memecahbelah umat islam dan bertujuan agar umat islam menjadi Yahudi dan Nasoro, kemudian bersenang-senanglah Iblis bersama mereka di neraka kelak!

Inilah Yahudi dengan kerjasama penuh dari Wahhabiyah dalam menyesatkan umat islam di tanah air kita ini :

- Akidah ” Allah Duduk” Adalah Akidah Yahudi

Dalam kitab Yahudi Safar Al-Muluk Al-Ishah 22 Nomor 19-20, Yahudi menyatakan akidah kufur di dalamnya :

قال فاسمع إذاً كلام الرب قد رأيت الرب جالسًا على كرسيه و كل جند السماء وقوف لديه عنيمينه و عن يساره

“Berkata : Dengarkanlah engkau kata-kata Tuhan,telah ku lihat Tuhan duduk di atas kursi dan ke semua tentera langit berdiri di sekitarnya kanan dan kiri” .

- Ibnu Taimiah ikut Membantu Yahudi Menyebarkan Akidah Yahudi ” Allah Duduk ” :

Dalam kitab Ibnu Taimiah Majmu Fatawa Jilid 4 / 374 :

إن محمدًا رسول الله يجلسه ربه على العرش معه

“Sesungguhnya Muhammad Rasulullah, Tuhannya mendudukkannya diatas arasy bersamaNya”.

Tidak cukup dengan itu Ibnu Taimiah turut mengunakan lafaz kufur Yahudi demi men-yahudikan umat islam :

Dalam Kitab Ibnu Taimiyah berjudul Syarh Hadith Nuzul cetakan Darul Asimah :

إذا جلس تبارك و تعالى على الكرسي سُمِع له أطيط كأطيط الرَّحل الجديد

artinya: ” Apabila Tuhan duduk di atas kursi maka akan terdengarlah bunyi seperti kursi baru diduduki”.

Lihatlah! Yahudi berkata Allah Duduk…Ibnu Taimiyah berkata Allah Duduk.

TAPI AL-QURAN DAN HADIST NABI YANG SHAHIH TIDAK PERNAH MENYATAKAN ALLAH DUDUK.

Kalau kita lihat dalam website Kristiani : http://www.hesenthisword.com/lessons/lesson5.htm

lihat pada :

عاشرا: ذكر عنه ما ورد عن الله في العهد القديم

Kristiani berkata pada nomor 7 :

“الله جالس على الكرسي العالي” (اش 6 :1-10) .

artinya: “Allah Duduk Di atas Kursi Yang Tinggi”.

Wahhabi Turut Membantu Menghidupkan Kekufuran Kristian Dengan Memalsukan Hadith Nabi :

DALAM KITAB WAHHABI : FATHUL MAJID SYARH KITAB AT-TAUHID KARANGAN ABDUR RAHMAN BIN HASAN AAL AS-SYEIKH DISOHIHKAN OLEH ABDUL AZIZ BIN ABDULLAH BIN BAZ CETAKAN PERTAMA TAHUN 1992 BERSAMAAN 1413 MAKTABAH DARUL FAIHA DAN MAKTABAH DARUL SALAM.

Cetakan ini pada hal 356 yg tertera kenyatan kufur yg dianut oleh Wahhabi sebagai hadis ( pd hakikatnya bukan hadis Nabi ) adalah tertera dalam bahasa arabnya berbunyi:

” IZA JALASA AR-ROBBU ‘ALAL KURSI “.

Artinya : ” Apabila Telah Duduk Tuhan Di Atas Kursi “.

TETAPI AL-QURAN DAN HADITH SHAHIH TIDAK PERNAH MENYATAKAN DEMIKIAN !

Perlu diketahui, Imam asy-Syafi’I pun terang-terangan menyatakan kekufuran bagi orang yang meyakini bahwa Allah duduk di atas ‘arsy dan tidak boleh shalat (makmum) di belakangnya.

Ibn al Mu’allim al Qurasyi (W. 725 H) menyebutkan dalam karyanya Najm al Muhtadi menukil perkataan al Imam al Qadli Najm ad-Din dalam kitabnya Kifayah an-Nabih …fi Syarh at-Tanbih bahwa ia menukil dari al Qadli Husayn (W. 462 H) bahwa al Imam asy-Syafi’I menyatakan kekufuran orang yang meyakini bahwa Allah duduk di atas ‘arsy dan tidak boleh shalat (makmum) di belakangnya.

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda: “Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan) dan belum ada sesuatupun selain-Nya”. (H.R. al Bukhari, al Bayhaqi dan Ibn al Jarud).

Makna hadits ini bahwa Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan), tidak ada sesuatu (selain-Nya) bersama-Nya. Pada azal belum ada angin, cahaya, kegelapan, ‘Arsy, langit, manusia, jin, malaikat, waktu, tempat dan arah. Maka berarti Allah ada sebelum terciptanya tempat dan arah, maka Ia tidak membutuhkan kepada keduanya dan Ia tidak berubah dari semula, yakni tetap ada tanpa tempat dan arah, karena berubah adalah ciri dari sesuatu yang baru (makhluk).

Untuk lebih jelasnya kami tuliskan ulang hadits Israiliyat yang sudah menjadi bagian dari keyakinan kaum Salafi Wahabi itu sebagai berikut :

عن عبد الله عمر بن الخطاب بعث الى عبد الله بن العبّاس يساله: هل راى محمّد صلى الله عليه وسلم ربّه؟ فارسل اِليه عبد الله بن العبّاس: ان نعم. فردّ عليه عبدالله بن عمر رسوله: ان كيف راه؟ قال: فارسل انّه راه في روضة خضراء دونه فِراش من ذهب على كرسي من ذهب يحمله اربعة من الملاىكة، ملك في صورة رجل، و ملك في صورة ثور وملك في صورة نسر، وملك في صورة اسد

….. Abdullah ibnu Umar ibnu al-Khaththab mengutus seseorang untuk menemui Ibnu Abbas menanyainya, ”Apakah Muhammad SAW melihat Tuhannya?” Maka Abdullah ibnu Abbas mengutus seseorang kepadanya untuk menjawab, ”Ya, benar. Ia melihatnya.” Abdullah ibnu Umar meminta pesuruhnya kembali kepada Ibnu Abbas untuk menanyakannya, ”Bagaimana ia melihat-Nya?”.  Ibnu Abbas menjawab melalui utusannya itu, ’Da melihat-Nya berada di sebuah taman hijau, dibawah-Nya terdapat hamparan permadani emas , Dia duduk di atas kursi terbuat dari emas yang dipikul oleh empat malaikat; malaikat berupa seorang laki-laki, malaikat berupa banteng, malaikat berupa burung elang, dan malaikat berupa singa.”

(Ibnu Khuzaimah: Kitab at-Tauhid, tahkik Muhammad Khalil Harras, Dar al-Kutub al-Ilmiah, Beirut, Lebanon 1403 H./1983 M, hal. 198)

Pembaca yang budiman, Ketika kami menggabungkan hadits Abu Ya’la yang telah lalu dan hadits Ibnu Khuzaimah ini (dimana keduanya telah menjadi dogma Salafi Wahabi), kami sungguh sangat terperanjat!. Kami menjumpai adanya kesamaan antara dogma Salafi Wahabi itu dengan dogma Nashrani, dalam hal ini gambar Tuhan milik mereka. Sebuah gambar yang mengilustrasikan tentang hakikat Tuhan mereka, Yesus Kristus.

Lukisan itu sama persis dengan apa yang digambarkan oleh Salafi Wahabi, yaitu: seorang pemuda , berambut ikal bergelombang mengenakan pakaian merah, sedang duduk di atas kursi emas di taman hijau dibawah-Nya hamparan permadani emas yang dipikul oleh empat malaikat berupa seorang laki-laki, banteng (sapi hutan), burung elang, dan singa.

Dibawah ini gambaran milik umat Kristiani tentang Yesus Kristus, silahkan Anda bandingkan dengan hadits Ya’la dan Ibnu Khuzaimah yang direkomendasikan oleh Salafi Wahabi untuk diyakini oleh setiap pengikutnya:

Perhatikanlah gambar milik kaum Nashrani di atas, tidak ada bedanya sama sekali dengan apa yang diajarkan oleh Salafi Wahabi tentang jati diri Tuhan. Apakah ajaran Salafi Wahabi tadi (yang mereka klaim berasal dari hadits shahih) adalah hasil copy paste dari ajaran orang-orang Yahudi dan Nashrani ini? Kenapa ini bisa terjadi? Karena akidah Salafi Wahabi berasal dari hadits-hadits palsu Israiliyat, yakni karangan orang-orang Bani Israil yang telah Allah sesatkan.

Oleh karenanya, sudah selayaknya kita meragukan dogma tajsim dan tasybih kaum Salafi Wahabi, sebag tajsim dan tasybih itu sangat diwanti-wanti dan dilarang dalam Islam. Terkadang, kaum Salafi Wahabi masih saja mengelak dan memutar kata dari tuduhan tajsim ini. Namun, jika yang demikian bukan tajsim, lalu yang bagaimana lagi yang dinamakan tajsim? Berhati-hatilah wahai umat Islam dari mengikuti faham mereka ini agar kita tidak terperosok dalam kemusyrikan dan kekafiran.

Namun sayangnya, semakin mereka dikritik, maka akan semakin keras menentang (mungkin karena memang seperti itulah watak asli mereka). Mereka merasa paling benar. Nyata-nyata mereka yang keliru, tetapi malah mereka yang bersikap lebih keras kepada umat Islam yang coba meluruskan, lalu menudingkan tuduhan kafir. Dalam buku mereka, Halaqat Mamnu’ah karangan Hisyam al-Aqqad dinyatakan:

من فسّر اِستوى باستولى فهو كافر

”Barang siapa yang menafsirkan kata istawa dengan istawla (menguasai), maka dia kafir.”

Dari pemaparan ringkas di atas, Anda dapat mengerti bagaimana kualitas akal pikiran sebagian ulama Mujassimah yang menjadi rujukan Salafi Wahabi. Oleh karena itu, tidak berlebihan jika Ibnu al-Jauzi mensifati mereka sebagai para ahli hadits dungu. Adakah kedunguan yang melebihi kedunguan kaum yang sesekali meyakini bahwa Allah SWT duduk di sebuah kursi yang dipikul oleh empat malaikat dalam rupa berbeda-beda, sesekali meyakini bahwa Allah SWT bersemayam di atas Arasy-Nya yang ditegakkan di atas punggung delapan ekor banteng yang mengapung di atas air di sebuah rumah di atas langit ketujuh, dan sesekali meyakini bahwa Allah SWT duduk berselonjor sambil meletakkan salah satu kaki-Nyadi atas kaki-Nya yang lain? Itu semua adalah hadits-hadits palsu buatan Bani Israil yang dikenal riwayat-riwayat Israiliyat. Masihkah Salafi Wahabi tidak menyadarinya, melainkan malah menganggap dirinya yang paling benar?. La haula wa la quwwata ill billah. Semoga Allah mengilhamkan kepada kita kemurnian akidah dan kesucian keyakinan tentang sifat-sifat-Nya yang Maha Suci serta kematangan logika.

Aqidah Wahabi Menyamai Aqidah Yahudi dan Nasrani

Aqidah Wahabi Menyamai Aqidah Yahudi dan Nasrani,
yaitu mereka mengatakan bahwa Allah SWT Duduk seperti Duduknya Makhluq.

Ketahuilah bahwa aqidah yg dibawa oleh Wahhabi adalah aqidah yang bersumberkan dari Yahudi dan Kristiani yang coba diserapkan dalam masyarakat islam demi memecahbelah umat islam dan bertujuan agar umat islam menjadi Yahudi dan Nasoro, kemudian bersenang-senanglah Iblis bersama mereka di neraka kelak!

Inilah Yahudi dengan kerjasama penuh dari Wahhabiyah dalam menyesatkan umat islam di tanah air kita ini :

- Akidah ” Allah Duduk” Adalah Akidah Yahudi

Dalam kitab Yahudi Safar Al-Muluk Al-Ishah 22 Nomor 19-20, Yahudi menyatakan akidah kufur di dalamnya :

قال فاسمع إذاً كلام الرب قد رأيت الرب جالسًا على كرسيه و كل جند السماء وقوف لديه عنيمينه و عن يساره

“Berkata : Dengarkanlah engkau kata-kata Tuhan,telah ku lihat Tuhan duduk di atas kursi dan ke semua tentera langit berdiri di sekitarnya kanan dan kiri” .

- Ibnu Taimiah ikut Membantu Yahudi Menyebarkan Akidah Yahudi ” Allah Duduk ” :

Dalam kitab Ibnu Taimiah Majmu Fatawa Jilid 4 / 374 :

إن محمدًا رسول الله يجلسه ربه على العرش معه

“Sesungguhnya Muhammad Rasulullah, Tuhannya mendudukkannya diatas arasy bersamaNya”.

Tidak cukup dengan itu Ibnu Taimiah turut mengunakan lafaz kufur Yahudi demi men-yahudikan umat islam :

Dalam Kitab Ibnu Taimiyah berjudul Syarh Hadith Nuzul cetakan Darul Asimah :

إذا جلس تبارك و تعالى على الكرسي سُمِع له أطيط كأطيط الرَّحل الجديد

artinya: ” Apabila Tuhan duduk di atas kursi maka akan terdengarlah bunyi seperti kursi baru diduduki”.

Lihatlah! Yahudi berkata Allah Duduk…Ibnu Taimiyah berkata Allah Duduk.

TAPI AL-QURAN DAN HADIST NABI YANG SHAHIH TIDAK PERNAH MENYATAKAN ALLAH DUDUK.

Kalau kita lihat dalam website Kristiani : http://www.hesenthisword.com/lessons/lesson5.htm

lihat pada :

عاشرا: ذكر عنه ما ورد عن الله في العهد القديم

Kristiani berkata pada nomor 7 :

“الله جالس على الكرسي العالي” (اش 6 :1-10) .

artinya: “Allah Duduk Di atas Kursi Yang Tinggi”.

Wahhabi Turut Membantu Menghidupkan Kekufuran Kristian Dengan Memalsukan Hadith Nabi :

DALAM KITAB WAHHABI : FATHUL MAJID SYARH KITAB AT-TAUHID KARANGAN ABDUR RAHMAN BIN HASAN AAL AS-SYEIKH DISOHIHKAN OLEH ABDUL AZIZ BIN ABDULLAH BIN BAZ CETAKAN PERTAMA TAHUN 1992 BERSAMAAN 1413 MAKTABAH DARUL FAIHA DAN MAKTABAH DARUL SALAM.

Cetakan ini pada hal 356 yg tertera kenyatan kufur yg dianut oleh Wahhabi sebagai hadis ( pd hakikatnya bukan hadis Nabi ) adalah tertera dalam bahasa arabnya berbunyi:

” IZA JALASA AR-ROBBU ‘ALAL KURSI “.

Artinya : ” Apabila Telah Duduk Tuhan Di Atas Kursi “.

TETAPI AL-QURAN DAN HADITH SHAHIH TIDAK PERNAH MENYATAKAN DEMIKIAN !

Perlu diketahui, Imam asy-Syafi’I pun terang-terangan menyatakan kekufuran bagi orang yang meyakini bahwa Allah duduk di atas ‘arsy dan tidak boleh shalat (makmum) di belakangnya.

Ibn al Mu’allim al Qurasyi (W. 725 H) menyebutkan dalam karyanya Najm al Muhtadi menukil perkataan al Imam al Qadli Najm ad-Din dalam kitabnya Kifayah an-Nabih …fi Syarh at-Tanbih bahwa ia menukil dari al Qadli Husayn (W. 462 H) bahwa al Imam asy-Syafi’I menyatakan kekufuran orang yang meyakini bahwa Allah duduk di atas ‘arsy dan tidak boleh shalat (makmum) di belakangnya.

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda: “Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan) dan belum ada sesuatupun selain-Nya”. (H.R. al Bukhari, al Bayhaqi dan Ibn al Jarud).

Makna hadits ini bahwa Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan), tidak ada sesuatu (selain-Nya) bersama-Nya. Pada azal belum ada angin, cahaya, kegelapan, ‘Arsy, langit, manusia, jin, malaikat, waktu, tempat dan arah. Maka berarti Allah ada sebelum terciptanya tempat dan arah, maka Ia tidak membutuhkan kepada keduanya dan Ia tidak berubah dari semula, yakni tetap ada tanpa tempat dan arah, karena berubah adalah ciri dari sesuatu yang baru (makhluk).

PBNU : Syiah, Hanya Perbedaan Cara Pandang

- Slamet Effendy Yusuf, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengatakan, kelompok aliran Syiah tidaklah bertentangan dengan Islam. Syiah dalam Islam diakui sebagai bagian aliran beberapa mazhab yang ada. Meskipun kata dia, Syiah memiliki beberapa perbedaan terkait cara pandang
.
“MUI dalam rekomendasi pada 1984 menyatakan Syiah itu bagian dari mazhab dalam Islam, karena itu memang didalam mazhab, ada perbedaan-perbedaan tentang beberapa pandangan,” kata Slamet kepada wartawan, Senin (2/1)
.
Beberapa perbedaan dalam cara pandang antara lain terkait hadis dan imamah.“Seperti pandangan terhadap hadis, kalau Sunni, semua hadis yang diriwayatkan oleh para sahabat dan tabiin, oke. Sementara Syi’ah tidak. Soal Imamah di Sunni tidak mewajibkan tapi di Syiah mewajibkan, Terjemahan dalam solat antara Sunni dan Syiah ada perbedaan,” ujarnya.Slamet yang juga Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI)

Terakhir, mari kita perhatikan sabda Nabi SAW:

سَيَخْرُجُ قَوْمٌ فِي آخِرِ الزَّمَانِ أَحْدَاثُ اْلأَسْنَانِ سُفَهَاءُ اْلأَحْلاَمِ يَقُولُونَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ الْبَرِيَّةِ لاَ يُجَاوِزُ إِيمَانُهُمْ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ فَأَيْنَمَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاقْتُلُوهُمْ فَإِنَّ فِي قَتْلِهِمْ أَجْرًا لِمَنْ قَتَلَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، رواه البخاري

“Akan keluar suatu kaum di akhir zaman, orang-orang muda usia, pendek akal, mereka berkata-kata dengan sebaik-baik perkataan manusia yang tidak melampaui kerongkongan mereka. Mereka keluar dari agama seperti keluarnya anak panah dari busurnya. Maka, di mana saja kamu menjumpai mereka, perangilah, karena di dalam memerangi mereka terdapat pahala di hari Kiamat bagi yang melakukannya.” (HR.Bukhari)

Wahabi mazhab boneka antek antek Amerika !

Ayatullah Jawad Amuli:
Semua Kekacauan Sosial Lahir dari Akhlak yang Buruk
“Semua yang semestinya tidak terjadi kemarin dan hari ini lahir dari akhlak yang buruk umat manusia. Jika umat manusia dalam tingkah laku dan kehidupan kesehariannya meniru akhlak Ilahi maka tidak satupun problema sosial yang akan timbul. Maka satu-satunya cara menyelesaikan semua persoalan yang muncul akibat dari penerapan akhlak yang buruk adalah menerapkan akhlak yang baik dalam semua lini kehidupan.”(Ayatullah al Uzhma Jawadi Amuli)
 

wahabi sering melontarkan tuduhan-tuduhan kepada kelompok muslim yang lain sebagai pelaku TBC (tahayul, bid’ah, churafat), kafir dan musyrik. Bahkan menganggap terhadap orang muslim tertentu, lebih berbahaya daripada orang Yahudi dan orang Kafir. Mereka memang usil, sirik, sok tahu, sok alim, dan suka iri sehingga sering mempermasalahkan tradisi masyarakat muslim di Indonesia, seperti maulid Nabi, haul ulama, tahlilan, dziba’an, ziarah kubur, qunut shubuh, ratiban, tawassul, menghadiahkan pahala kepada orang yang sudah meninggal, do’a berjama’ah, zikir keras berjama’ah, bersalaman sesudah shalat, dan lain sebagainya. Anehnya, mereka lunak, lemah lembut, dan bersahabat karib, bahkan tunduk dan merunduk-runduk kepada Amerika dan Israel.
 Semua Kekacauan Sosial Lahir dari Akhlak yang Buruk
Ayatullah al Uzhma Jawadi Amuli dalam lanjutan kelas akhlak yang diasuhnya di kota suci Qom Republik Islam Iran menyampaikan ucapan bela sungkawa kepada seluruh kaum muslimin berkaitan dengan hari peringatan syahadah Sayyidah Fatimah Ma’sumah sa dan atas  meninggalnya guru akhlak Ayatullah Khusvaqt. Beliau berharap agar ruh ulama besar yang meninggal saat sedang berziarah di Haramain Arab Saudi tersebut dimuliakan dan ditinggikan kedudukannya oleh Allah SWT.

Ayatullah Jawad Amuli dalam pembahasan akhlaknya menyatakan bahwa akhlak sangat berperan penting dalam mewujudkan kehidupan sosial yang bahagia dan sejahtera, tidak hanya berkaitan dengan kebaikan di dunia namun juga kebahagiaan di akhirat kelak. Beliau berkata lebih lanjut, “Jika seseorang beragama tanpa disertai dengan pemahaman dan kaidah ilmu yang memadai, maka  orang itu akan menemui banyak masalah yang membahayakan eksistensinya. Ia akan memusuhi para ilmuan sebagaimana pernah terjadi dimasa kegelapan, dan sebagaimana yang ditunjukkan Taliban dan Al Qaedah masa kini yang hanya akan merusak citra agama dan menebarkan kepahitan karena agama yang dianutnya tanpa ilmu dan pemahaman yang baik. Namun jika seseorang berilmu namun tidak beragama, tinggal menunggu waktu yang tidak lama, perang dunia pertama dan kedua akan kembali terjadi.”

Guru besar Hauzah Ilmiah Qom yang juga salah satu ulama marja taklid tersebut kemudian melanjutkan bahwa semua persoalan yang dihadapi di dunia saat ini bersumber dari penerapan akhlak yang buruk. “Semua yang semestinya tidak terjadi kemarin dan hari ini lahir dari akhlak yang buruk umat manusia. Jika umat manusia dalam tingkah laku dan kehidupan kesehariannya meniru akhlak Ilahi maka tidak satupun problema sosial yang akan timbul. Maka satu-satunya cara menyelesaikan semua persoalan yang muncul akibat dari penerapan akhlak yang buruk adalah menerapkan akhlak yang baik dalam semua lini kehidupan.”

Ayatullah Jawad Amuli kemudian menekankan pentingnya penegakan akhlak yang mulia, sebab akhlak mulia menurutnya adalah diantara tujuan utama diutusnya para Anbiyah dan inti dakwah dari para Aimmah as. “Kalau kita menelaah dengan seksama, khutbah-khutbah, surat-surat dan hikmah-hikmah Imam Ali as yang terangkum dalam Nahjul Balaghah kesemuanya bermuara pada penekanan untuk menegakkan akhlak yang mulia.” Ujar ulama yang juga dikenal sebagai mufassir Al-Qur’an tersebut.

.

Shimon Peres bersama Abdullah Gul dan Erdogan

Shimon Peres bersama Abdullah Gul dan Erdogan

Tentu saja, para pemimpin boneka tidak bisa secara terang-terangan melancarkan perang melawan simbol (keagamaan) seperti hijab (pakaian wanita islami), gaya hidup hidup sederhana, dsb. sebagaimana Syah Reza Pahlavi asal Iran melakukannya namun kemudian kehilangan dukungan publik dan para pelaku Perang Dunia mengasingkannya ke sebuah pulau. Nampaknya, kemasan Barat untuk Islam secara bertahap berubah menjadi gaya hidup Barat, dengan komitmen seremoni keagamaan dan berbaur serta minum-minum bersama. Inilah kemunculan Islam versi Amerika

.

Bukankah pemimpin negeri-negeri Islam seharusnya tampil islami? Mengapa mereka minum, berjabat tangan dengan “orang asing”, dan mendukung rezim tirani seperti Israel? Tulisan di bawah coba memberikan penjelasan pertanyaan tersebutPendiri Republik Islam Iran telah membedakan antara Islam “sejati” dan Islam versi Amerika. Islam versi Amerika didefinisikan sebagai Islam harta dan kekuasaan, penipuan, kompromistis dan diperbudak, serta kapitalis dari kalangan tertindas dan melarat
.
Dalam versi ini, inti dan nilai berharga Islam terlupakan dan yang tersisa hanyalah lapisan. Dengan kata lain, semangat menjalankan keislaman, perintah Tuhan dan praktik keagamaan menjadi rusak dan tinggal kulitnya saja.Mungkin, faktor utama sikap kompromistis pemimpin negeri-negeri Islam itu karena kesalahpahaman atas ajaran Islam.
.
Pemikiran seorang muslim, yang tahu bahwa Tuhan adalah pembuat hukum dan penguasa semesta alam, tidak akan dan tidak bisa harmonis dengan keyakinan materialistis Barat. Usaha seorang kapitalis Barat untuk mengasimilasi simbol-simbol kebudayaan berbagai bangsa merupakan perang psikologis untuk menggambarkan semangat seluruh peradaban yang disatukan dengan gaya hidup modern Barat
.
Jelas sekali, para elit penguasa dan bangsawan akan menentukan gaya hidup kelompok yang lain. Sebuah masyarakat dengan penguasa yang berkesesuaian dengan gaya hidup seperti itu, akan menjadi juru bicara resmi bagi periklanan gaya hidup yang sama.

Hubungan Amerika Serikat dan Arab Saudi

Hubungan Amerika Serikat dan Arab Saudi

Seiring berjalannya waktu, masyarakat menjadi terbiasa dengan tingkah-laku pemimpin politik mereka dan rasa sensitivitas mulai menghilang. Pemimpin politik, selebritis, atlit, dan lainnya yang media puja sebagai orang terhormat, menjadi teladan bagi generasi muda. Teladan seperti ini dan kelaziman gaya hidup Barat menciptakan kesenjangan antara generasi muda dengan rasa kepercayaan terhadap agama dan nasional.

Hijab dan pakaian

Simbol penting dari pergeseran masyarakat Islam terhadap penafsiran Amerika terhadap Islam adalah hijab dan etika berpakaian. Menurut Islam, pentingnya hijab bagi mereka yang beriman akan berpengaruh penting bagi “kesehatan” masyarakat umum.

Emir Qatar dan Bahrain bersama istri bertemu Elizabeth

Emir Qatar dan Bahrain bersama istri bertemu Elizabeth

Di banyak negeri-negeri Islam, etika berpakaian islami secara signifikan berubah ke arah etika berpakai barat, yang paling jelas terlihat dalam pejabat tinggi negara tersebut dan keluarganya. Wanita di Saudi, Qatar, dan negara Teluk Persia lainnya menjadi contoh fakta ini. Meskipun tindakan keras telah diambil oleh pemerintah Saudi dan sanksi Islam bagi wanita muslim sudah jelas, wanita-wanita muda dari keluarga Saud menghindarinya.

Keserakahan dan pencari harta

Salah satu aturan penting Islam sejati bagi seorang muslim adalah gaya hidup sederhana dan menghindari kemewahan. Hal ini semakin ditekankan bagi para pemimpin, karena mereka dilihat oleh rakyat; dan harus memiliki kehidupan kelas terendah untuk memahami penderitan dan kesulitan rakyat.

Relasi Qatar dan Amerika Serikat

Relasi Qatar dan Amerika Serikat

Sayangnya, para penguasa Arab korup dan reaksioner yang memerintah atas nama Islam, memiliki catatan gelap dalam hal ini, sekalipun banyak umat Islam yang berjuang dari kemiskinan dan penderitaan; namun mereka menjalani kehidupan mewah di kerajaan.

Kompromistis

Minum, berpose, ekonomi, keamanan, dan militer berlapis, dsb serta bekerja sama dengan musuh yang diakui Islam merupakan wujud terbesar Islam versi Amerika, terlihat jelas dalam kediktatoran Arab dan negara lain di kawasan; sehingga orang-orang di negara ini kehilangan harapan dari pemimpin mereka dalam menyelamatkan kemerdekaan, harga diri warga, dan mereformasi status quo. Gelombang kebangkitan Islam dipicu oleh fakta pahit ini.

Tzipi Livni dan Emir Qatar yg disebut memiliki skandal

Tzipi Livni dan Emir Qatar yg disebut memiliki skandal

Mencari keadilan dan keberanian

Keberanian di hadapan pemimpin arogan dan kekuatan jahat dunia dan menangis demi keadilan merupakan ciri lain Islam sejati yang tidak ditemukan gemanya di negara-negara tersebut; seolah-olah pemimpin reaksioner Arab dan pemimpin negara muslim yang ditekan tidak memiliki seni lain kecuali menyerah terhadap kekuataan intimadasi Barat. Mungkin karena alasan inilah, Turki, Saudi, Qatar, dan pemimpin Arab lainnya berada di sisi Israel dalam perang melawan Suriah.

Keterasingan dari massa muslim

Ketidakpedulian terhadap negara dan umat muslim merupakan ciri menonjol Islam versi Amerika, dengan contoh di negara-negara yang terkena dampak revolusi atau di ambang revolusi. Penguasa negara-negara ini melanggar hak-hak dasar rakyat dan agama Tuhan untuk kepentingan kalangan mereka sendiri dan orang-orang di Amerika Serikat. Fakta ini juga menjadi penyebab kebangkitan Islam di kawasan.

Hillary dan Menlu Turki, Ahmet Davutoğlu

Hillary dan Menlu Turki, Ahmet Davutoğlu

Pemimpin Revolusi Islam dalam Konferensi Internasional Profesor Universitas Muslim dan Kebangkitan Islam menyatakan, “Musuh takut dengan kebangkitan Islam sejati… mereka tidak takut dengan Islam yang menjadi budak dolar; mereka tidak takut dengan Islam yang tenggelam dalam kemewahan dan kerusakan, sebuah Islam yang tidak mengakar di tengah masyarakat, tapi mereka takut dengan Islam yang disertai dengan tindakan, Islam yang menanamkan kepercayaan kepada Tuhan. Tidak diragukan lagi, musuh-musuh takut kebangkitan Islam dengan ciri-ciri seperti ini. Mereka menolak menggunakan (istilah) Islamic Awakening ‘kebangkitan Islam’ untuk pergerakan yang saat ini terjadi di kawasan.” (SH/EA)

Bangsa Indonesia ini jauh beradab dibanding mereka. bersekutu dengan musuh, padahal tidak jauh dari negeri2 mereka musuh membantai dan menganiyaya saudara se Agama.

Raja Hamad dari Bahrain

Raja Hamad dari Bahrain

***

Kemajuan Iran dan Kebanggaan Sebagai Muslim

Kemajuan Iran dan Kebanggaan Sebagai Muslim
 

Sayang, hanya karena beda mazhab, di antara propaganda miring itu, juga disebar dan gencar dilakukan oleh sebagian kaum muslimin sendiri. Kalau hanya karena mazhabnya berbeda, Syiah dianggap agama lain, dan Iran keluar dari Dunia Islam, kebanggaan apa yang dimiliki Dunia Islam hari ini? Negeri mana-selain Iran-yang dianggap paling mewakili semangat keilmuan dan kedigdayaan Islam?. 

Menceritakan apapun tentang Iran, cenderung dicurigai membawa misi tertentu. Namun saya merasa terpanggil untuk menceritakannya, terutama karena banyaknya hal yang bisa menjadi pelajaran bagi bangsa kita. Iran, sebuah negeri fenomenal yang mendapat simpatik, pujian, pembelaan dan hujatan sekaligus. Negeri yang lewat CNN, Amerika menyebutnya sebagai bangsa yang keras kepala, yang oleh sebagian kaum muslimin menjadikan Iran sebagai kebanggaan baru, kiblat alternatif pergerakan dan perlawanan terhadap hegemoni Amerika namun sebagiannya lagi tetap juga memasang wajah permusuhan dan kecurigaan. Iran dengan mazhab Syiah mayoritas rakyatnya, tetap dinilai sebagai musuh dan diluar Islam. Apapun yang berasal darinya dicurigai sebagai kedok semata untuk memberangus dan menghancurkan Islam dari dalam. Apapun yang berasal darinya, fiqh, hadits, tradisi, teologi, filsafat bahkan penemuan-penemuan mutakhirnya diisolasikan dan dipinggirkan dari dunia Islam. Syiah sering mendapat  tuduhan dan fitnah sebagai agama tersendiri dan bukan bagian dari Islam.

Namun, bagai pepatah, anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu, Iran dengan masyarakatnya yang mayoritas Syiah menjawab segala tuduhan-tuduhan dan berbagai tudingan miring dengan kerja-kerja positif yang nyata. Iran menjadi negara terdepan dan paling aktif memberikan pembelaan atas penindasan yang masih juga dirasakan rakyat Palestina. Tidak sekedar melalui diplomasi politik, Pemerintah Iran  juga memberikan bantuan secara nyata dengan menjadikan Palestina tidak ubahnya salah satu provinsi yang menjadi bagian negaranya,dengan menanggung gaji pegawai di tiga departemen. Menanggung hidup 1.000 pengangguran senilai 100 dolar setiap bulannya. Membiayai total pembangunan gedung kebudayaan, perpustakaan serta renovasi 1.000 rumah yang hancur dengan total biaya 20 juta dolar. Belum lagi bantuan lainnya yang diberikan tanpa persyaratan apapun. Pembelaan dan dukungan Iran atas perlawanan rakyat Gaza menghadapi agresi militer Israel akhir tahun 2012 kemarin, membuat pimpinan HAMAS mewakili rakyat Gaza menyampaikan rasa terimakasihnya secara terbuka kepada Iran.

Dengan keberhasilan meluncurkan roket pembawa satelit “Safir Omid” dan sebuah maket satelit percobaan di orbit bumi, Iran menjadi negara regional pertama yang mandiri tanpa bantuan asing, baik dalam membuat satelit maupun dalam meluncurkan dan mengontrolnya. Semakin diserang dengan propaganda negatif dari berbagai arah, ulama-ulama, ilmuan-ilmuan, olahragawan, sampai seniman mereka seakan berlomba-lomba untuk menunjukkan prestasi dan menampakkan kecemerlangan Islam. Lihat saja apa yang dilakukan ilmuan mereka, hampir dalam hitungan hari, ada yang mematenkan penemuan-penemuan baru mereka. Perkembangan sains di Iran dapat dilihat dari perkembangan publikasi ilmiah yang mereka hasilkan. Dalam penelitian ‘string teory’, kimia dan matematika, Iran merupakan nomor 15 di dunia, bersaing ketat dengan Amerika Serikat dan negara-negara eropa. Dalam artikel D. A. King yang dipublikasikan di Nature (15/7/2004) berjudul ‘The scientific impact of nations’ yang analisisnya menyatakan bahwa Iran merupakan satu-satunya negara Islam yang termasuk ke dalam negara memiliki ‘The scientific impact of nations’ tertinggi di dunia. Bahkan Jurnal Newscientist terbitan Kanada menyebutkan kemajuan ilmu pengetahuan di Negara Iran sebelas kali lebih cepat dibandingkan Negara-negara lainnya didunia.  Daftar 100 orang jenius dunia yang masih hidup yang dikeluarkan oleh firma konsultan global Creators Synectics,  Ali Javan pakar teknik (penemu gas laser) dan Pardis Sabeti ahli biologi anthropologi yang keduanya berkebangsaan Iran termasuk di antaranya.

Kaum perempuan Iran tidak ketinggalan dari  saintis yang umumnya laki-laki. Dalam Festival Internasional Para Penemu Perempuan yang  pertama kali digelar di Korea Selatan tahun 2008, Republik Islam Iran ikut bersaing dalam ajang kompetisi tersebut dan berhasil menggondol 12 medali emas, lima perak dan enam perunggu.  Maryam Islami dari Iran menyandang gelar sebagai penemu perempuan terbaik tahun 2008, padahal saat itu Maryam Islami masih mahasiswa tingkat lima fakultas kedokteran. Lebih dari itu, kita juga mengenal Shirin Ebadi muslimah pertama peraih Nobel juga berasal dari Iran. Hal inilah yang ‘memaksa’ Rektor Universitas al Azhar Mesir, Syaikh Thantawi menyatakan, “Kemajuan ilmiah yang telah dicapai Republik Islam Iran merupakan kemajuan dunia Islam dan kebanggaan bagi seluruh umat muslim.”

Pada bidang seni kaligrafi, kaligrafer Iran Roin Abar Khanzadeh berhasil membuat Al-Qur’an terkecil yang memecahkan rekor dunia. Yang menarik Al Quran terkecil ini ditulis dengan mata telanjang oleh penulisnya dan bila dijejer hanya menempati ukuran kertas A3. Saat ini sudah ada 1000 pusat lembaga kegiatan berbasis Al Quran di seantero kota Iran yang sedang aktif dan ada seribu perpustakan dan Bank CD Qurani di pusat-pusat kegiatan AlQur’an di Iran. Telah berkali-kali Iran menjadi tuan rumah penyelenggaraan Pameran Al-Qur’an Internasional. Dengan tingkat apresiasi yang tinggi terhadap Al-Qur’an wajar jika Iran menghasilkan banyak Mufassir terkemuka dalam dunia Islam, diantaranya Allamah Mohammad Husain Thabatabai, penulis tafsir Al Mizan.

Dalam dunia perbukuan dan penerbitan, dibanding negara-negara Islam lainnya, Republik Islam Iran bisa ditetapkan sebagai yang terdepan. Pameran Buku Internasional Teheran merupakan program pemerintah Iran setiap tahunnya yang mendapat posisi istimewa dalam kalender para penerbit internasional. Berdasarkan data yang dirilis, Pameran Buku Internasional Tehran adalah pameran buku terbesar dunia Islam dan menjadi fenomena budaya terbesar negara-negara di Timur Tengah.

Hasil-hasil karya dan apresiasi mereka menunjukkan minat mereka yang demikian tinggi terhadap ilmu pengetahuan, wajar jika kemudian Iran termasuk dalam deretan negara-negara maju. Inilah yang membuat Amerika gentar dan khawatir, lewat propaganda-propaganda negatif, melalui tekanan dan embargo ekonomi, mereka berusaha menghambat pertumbuhan dan kemajuan Iran. Sayang, hanya karena beda mazhab, di antara propaganda miring itu, juga disebar dan gencar dilakukan oleh sebagian kaum muslimin sendiri. Kalau hanya karena mazhabnya berbeda, Syiah dianggap agama lain, dan Iran keluar dari Dunia Islam, kebanggaan apa yang dimiliki Dunia Islam hari ini? Negeri mana-selain Iran-yang dianggap paling mewakili semangat keilmuan dan kedigdayaan Islam?. Selamat atas dirgahayu kemenangan Revolusi Islam Iran yang ke 34.

Pertikaian NU – Wahabi memanas setelah wahabi memalsu kitab Syaikh ‘Abdul Qadir Al Jailani lalu memfitnah beliau penganut Mujassim

NU – Wahabi berbeda pada ushul agama!

  • Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, Kisah Hidup Sultan Para Wali dan Pesan Yang Menghidupkan Hati
    Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, Kisah Hidup Sultan Para Wali dan Pesan Yang Menghidupkan Hati

Wahabi Memfitnah Syekh Abdul Qadir Al-Jailani penganut Mujassim

Qodiriyah adalah nama sebuah tarekat yang didirikan oleh Syeikh Muhyidin Abu Muhammad Abdul Qodir Jaelani Al Baghdadi QS. Tarekat Qodiriyah berkembang dan berpusat di Iraq dan Syria kemudian diikuti oleh jutaan umat muslim yang tersebar di Yaman, Turki, Mesir, India, Afrika dan Asia. Tarekat ini sudah berkembang sejak abad ke-13. Namun meski sudah berkembang sejak abad ke-13, tarekat ini baru terkenal di dunia pada abad ke 15 M. Di Makkah, tarekat Qodiriyah sudah berdiri sejak 1180 H/1669 M.

Syekh Abdul Qodir Al Jilany adalah adalah ulama besar dan seorang auliya, Syekh Abu al Hasan al Nadwi , dalam Muqoddimah Sirr Al Asror mengatakan beliau bermadzhab Syafi’I dan bermadzhab Hanbali, beliau dalam hidupnya dikenal sebagai ulama yang cakap dalam segala ilmu,mulai fiqih, hadist, tafsir, dan ilmu adab,dan keilmuwan yang lainnya

Sehingga tidak salah apabila kemudian beliau saat ini “di klaim” beberapa pihak, bahkan yang terbaru beliau juga di klaim masuk dalam manhaj Salafy dan terlepas dari tasawwuf, berbagai tinjauan ilmiyah di alamatkan pada beliau sebagai salah satu peletak dasar thoriqoh yang paling berpengaruh didunia Islam  selain Syekh Ahmad Badawi, Syekh Ahmad  al Rifa’I, Syekh Abu Hasan al Syadzili, Syekh Bahauddin al Naqsyabandi, dan beberapa ulama’ yang lain, tercatat beberapa karya beliau seperti Risalah al Ghoutsiyyah, Sirr Al Asror, Fathu Al Rabbany, al Ghunniyah fi al Tashowwuf, Maratib al Wujud, dan beberapa karya yang lain, pendek kata beliau seorang yang termasuk aktif menulis, sehingga pada akhirnya beberapa kalangan ulama besar pengikutnya menulis biografi beliau dalam beberapa Manaqib.

sepulang kerja kusempatkan diri untuk pergi ke gramedia untuk baca-baca buku. setelah kesana kemari melihat2 judul yang menarik akhirnya ku temukan sebuah buku yg dilihat dari judulnya agak menarik. SYEKH ABDUL QADIR AL-JAILANI, Buku Pintar Akidah Ahlussunnah Wal Jama’ah. Terbitan “ZAMAN” bertuliskan serial “Kitab Klasik”. karna tertarik lalu aku mencoba membuka dan membaca buku yang telah terbuka dari kemasannya.Namun baru lihat bab pertama tentang Hakekah Allah SWT, aku sudah bisa mencium aroma tidak sedap dari buku ini. Ya, buku ini telah tertular virus wahabi musyabbihah!


agak aneh memang, karna ini bukunya Syeikh Abdul Qadir Jailani, Tokoh sufi yang mana wahabi sering mencerca kelompok SUFI. tapi agaknya ini propaganda wahabi untuk menarik minat orang awam utk menjadi gembalanya. Buku ini mereka klaim diterjemahkan dari kitab Al-Ghunyah. Kebohongan-kebohongan yang dinisbatkan kepada Syaikh ‘Abd al-Qadir sengaja disisipkan oleh kaum Musyabbihah yang mengaku madzhab Hanbali ke dalam kitab karya beliau.

Sebagai contoh dalam buku ini halaman 14 tertulis bahwa akidah ahlussunnah wal jama’ah mengatakan :
Dia memiliki kedua tangan, dan dua-duanya sama-sama tangan kanan.Na’udzubillah!!Keyakinan semacam ini jelas menyalahi akidah Ahlussunnah namun judul bukunya buku pintar akidah ahlussunnah. aneh!

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَىءٌ
Allah tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya, dan tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya .

Apa yang disisipkan kaum Musyabbihah dalam kitab terjemahan al-Ghunyah ini jelas merupakan kedustaan atas nama Syekh Abdul Qadir Al-Jailani. Seorang awam dari kaum muslimin yang berakidah lurus tidak akan berkeyakinan sesat semacam ini, terlebih Syaikh ‘Abd al-Qadir yang merupakan pemuka kaum sufi dan salah seorang ulama terkemuka. Beliau bukan seorang yang bodoh yang tidak mengenal sifat-sifat Allah SWT.

Namun kenyataannya wahabi meyakini bahwa Allah mempunya Tangan yang benar-benar tangan. mari kita lihat pendapat ulama2 wahabi Mujassimah yg lain:

- ad-Darimi dalam kitab Rad ad-Darimi ala Bisyr al-Marisiy hal. 44 mengatakan “Maksudnya bahwa Allah memiliki Tangan untuk menyentuh dan Allah memiliki mata untuk melihat” , dalam kitab yg sama di halaman 155 ia mengatakan “Dua Tangan ar-Rahman adalah kanan, sebagai bentuk pemuliaan kepada Allah sehingga tidak dikatakan dengan kiri”.

- dalam Hasyiyah Kitab yg dinamakan dengan Kitab at-Tauhid karya Ibn Khuzaimah, Muhammad Khalil Haras penulis catatan kaki kitab tersebut di halaman 64 mengatakan “TanganNya berada di atas tangan2 orang2 yg berbai’at kepada RasulNya dan tidak diragukan lagi bahwa bai’at itu hanya dilakukan dengan tangan tidak dengan nikmat dan tidak dengan kekuasaan.”

- dalam kitab al-Aqidah karya Muhammad Ibn Shalih al-Utsaimin terbitan maktabah alsunnah cetakan pertama hal. 90 dia mengatakan “Jadi sesungguhnya kedua tangan Allah adalah dua, tanpa diragukan lagi.”

Sebenarnya keyakinan bahwa Allah bertangan SAMA PERSIS DENGAN AKIDAH YAHUDI. dalam kitab yahudi bernama Safar Ayyub al-Ishhah 35 nomor 32 kaum Yahudi mengatakan tentang Allah: “Ia menutup kedua telapak tangan-Nya dengan cahaya dan memerintahkannya atas musuh”,.

Lihatlah wahhabiyah yg mengaku muslim tetapi meyakini sama dengan keyakinan kaum Yahudi. Masih saja mereka mengklaim bahwa mereka adalah orang-orang yang menyerukan tauhid dan penjaga aqidah dari syirik?. Mereka benar2 sama dengan Yahudi sampai dalam pokok-pokok akidah mereka.

Bahkan Ulama Ahlussunnah Terkemuka Sekelas Imam Ibn Hajar al-Asqalani Dituduh Sesat Oleh Kaum Wahhabi !!!  Na’udzu Billah !!Masalah yang paling banyak mendapat pengingkaran keras dari kaum Musyabbihah [kaum Wahhabi di masa sekarang] yang sangat benci terhadap Ilmu Kalam adalah pembahasan nama-nama atau sifat-sifat Allah. Mereka seringkali mengatakan bahwa ungkapan istilah-istilah seperti al-jism (benda/tubuh), al-hadaqah (kelopak mata), al-lisan (lidah), al-huruf (huruf), al-qadam (kaki), al-jauhar (benda), al-‘ardl (sifat benda), al-juz’ (bagian), al-kammiyyah (ukuran) dan lain sebagainya, dalam pembahasan tauhid adalah perkara bid’ah. Mereka mengatakan bahwa dalam mentauhidkan Allah tidak perlu mensucikan Allah dari istilah-istilah tersebut. Menurut mereka pembahasan seperti itu bukan ajaran tauhid yang diajarkan Rasulullah, dan karenanya, -menurut mereka-, hal semacam itu bukan merupakan akidah Ahlussunnah Wal Jama’ah.

Sesungguhnya mereka yang mengingkari istilah-istilah yang biasa dipakai oleh Ahli Kalam Ahlussunnah, tidak lain adalah karena mereka sendiri menyembunyikan akidah tasybih (penyerupaan Allah dengan makhluk-Nya) dalam hati mereka. Dan sebenarnya dari semenjak dahulu seperti itulah ungkapan-ungkapan kaum Musyabbihah untuk menyembunyikan keburukan akidah mereka. Karena itu bukan rahasia bahwa kaum Musyabbihah sangat membenci kaum teolog Ahlussunnah, menyesatkan mereka dan bahkan mengkafirkan mereka.

Di antara barisan kaum Musyabbihah sekarang yang sangat apriori terhadap istilah-istilah dalam Ilmu Kalam tersebut adalah kaum Wahhabiyyah. Dalam berbagai masalah akidah, kaum jumud yang sangat keras kepala ini hanya berkiblat kepada Ibn Taimiyyah. Semua akidah Tasybih dan Tajsim yang ada pada Ibn Taimiyyah dengan sangat rapih mereka ikuti setiap jengkalnya, seperti berkeyakinan bahwa Allah bertempat di atas arsy, Allah memiliki bentuk dan ukuran, nereka akan punah, dan lain sebagainya. Anehnya; mereka sangat membenci filsafat, padahal sebenarnya Ibn Taimiyah ini adalah orang yang telah jauh masuk dalam wilayah filsafat yang gelap gulita, sebagaimana diakui oleh muridnya sendiri; Adz-Dzahabi dalam risalah Bayan Zagl al-‘Ilm Wa ath-Thalab dan dalam an-Nashihah adz-Dzahabiyyah.

Simak tulisan salah seorang pimpinan mereka yang bernama ‘Abdullah ibn Baz dalam buku yang ia tulis sebagai bantahan terhadap Syekh Muhammad ‘Ali as-Shabuni, berjudul Tanbihat Hammah ‘Ala Ma Katabahu as-Syaikh Muhammad ‘Ali as-Shabuni Fi Shifatillah. Lihat dalam cetakan Jam’iyyah at-Turats al-Islami, Kuwait, h. 22, Ibn Baz menuliskan sebagai berikut:
“Sesungguhnya mensucikan Allah dari dari al-Jism (bentuk/tubuh), as-Shimakh (gendang telinga), al-Lisan (lidah), al-Hanjarah (tenggorokan) bukanlah model pembicaraan orang-orang Ahlussunnah. Akan tetapi hal semacam itu merupakan bahasan-bahasan para Ahli Kalam yang tercela yang mereka buat-buat saja” (lihat Tanbihat Hammah, h. 22).

Hanya Syekh Ali ash-Shabuni saja yang mendapat serangan keras dari orang-orang semacam Ibn Baz atau orang-orang Wahhabi lainnya, bahkan tanpa sungkan sedikitpun mereka telah menyesatkan para ulama sekelas al-Imam al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalani, al-Imam al-Hafizh an-Nawawi, al-Imam al-Hafizh al-Baihaqi dan para ulama terkemuka lainnya. Namun yang sangat mengherankan; di saat yang sama mereka juga menggunakan karya-karya para ulama Ahlussunnah tersebut sebagai referensi kajian mereka. Hasbunallah.

Simak tulisan salah seorang pemuka kaum Wahhabiyyah; ‘Abd ar-Rahman ibn Hasan, yang merupakan cucu dari Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhab, pendiri gerakan Wahhabi. Dalam tulisannya, setelah ia mengungkapkan kesesatan kaum Jahmiyyah sebagai kaum yang menafikan sifat-sifat Allah (Mu’aththilah), ia kemudian mengatakan:
“Kesesatan kaum Jahmiyyah ini kemudian diikuti oleh kaum Mu’tazilah dan kaum Asya’irah dan beberapa kelompok lainnya. Karena itu mereka semua telah dikafirkan oleh banyak kalangan Ahlussunnah” (Lihat buku mereka berjudul Fath al-Majid, cet. Maktabah Darussalam, Riyadl, 1413-1992, h. 353).

Tulisan ‘Abd ar-Rahman ibn Hasan di atas adalah sikap yang sama sekali tidak apresiatif terhadap ulama Ahlussunnah. Ia menutup matanya sendiri untuk mengelabui orang lain; bahwa sesungguhnya kaum Asy’ariyyah tidak lain adalah kaum Ahlussunnah. Tahukah dia atau memang pura-pura tidak tahu bahwa Ibn Hajar seorang Asy’ari? Adakah orang semacam ‘Abdurrahman ibn Hasan, atau orang-orang Wahhabi lainnya, yang berkeyakinan bahwa Allah bertempat di atas arsy, mansifati-Nya dengan gerak dan diam, atau turun dan naik; pantas di katakan Ahussunnah?!

Demi Allah, mereka sedikitpun tidak layak untuk dikatakan Ahlussunnah. Klaim bahwa hanya kelompok mereka saja yang berhaluan Ahlussunnah adalah bohong besar. Adakah mereka tidak melihat [atau karena memang buta mata hatinya] bahwa barisan ulama Ahlussunnah adalah kaum Asy’ariyyah; para pengikut al-Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari?! Adakah orang semacam Ibn Taimiyah yang berkeyakinan tasybih; mengatakan bahwa Allah memiliki bentuk dan duduk di atas arsy, pantaskah ia untuk dijadikan panutan dalam masalah akidah?

Simak pula tulisan pemuka Wahhabi lainnya, Shalih ibn Fauzan al-Fauzan, dengan tanpa sungkan ia berkata: “Kaum al-Asy’ariyyah dan kaum al-Maturidiyyah adalah kaum yang menyalahi para sahabat dan Tabi’in, juga para Imam madzhab yang empat dalam kebanyakan permasalahan akidah dan dasar-dasar agama. Karenanya mereka tidak layak untuk diberi gelar Ahlussunnah Wal Jama’ah” (Lihat dalam karyanya berjudul “Min Masyahir al-Mujaddidin Fi al-Islam; Ibn Taimiyah, Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhab”. Cet. Dar al-Ifta’, Saudi Arabia, 1408 H, h. 32).

Pemuka wahhabi lainnya bernama Muhammad ibn Shalih al-‘Utsaimin, salah seorang pendakwah ajaran Wahhabi terdepan, dalam salah satu bukunya berjudul Liqa’ al-Bab al-Maftuh menusikan sebagai berikut:

“Soal: “Apakah Ibn Hajar al-‘Asqalani dan an-Nawawi dari golongan Ahlussunnah atau bukan?”.

Jawab (‘Utsaimin): “Dilihat dari metode keduanya dalam menetapkan Nama-Nama dan Sifat-Sifat Allah maka keduanya bukan dari golongan Ahlussunnah”.
Soal: “Apakah kita mengatakan secara mutlak bahwa keduanya bukan dari golongan Ahlussunnah?”.

Jawab: “Kita tidak memutlakan” (Lihat buku dengan judul Liqa al-Bab al-Maftuh, cet. Dar al-Wathan, Riyadl, 1414 H, h. 42).

Saya, Abou Fateh katakan: “Semacam itulah ungkapan-ungkapan yang selalu dibahasakan oleh para pembenci kaum Sunni, dari dahulu hingga sekarang. Dan itulah jalan satu-satunya yang mereka miliki untuk menyembunyikan akidah tasybih yang mereka yakini”.

Berikut ini dari Tulisan al-Imâm al-Hâfizh Ibn Hajar al-Asqalani asy-Syafi’i al-Asy’ari (w 852 H) dalam karyanya sangat mashur Fath al-Bari dalam menjelaskan kesucian Allah dari tempat dan arah, beliau menuliskan:
“Bahwa arah atas dan arah bawah adalah sesuatu yang mustahil atas Allah, hal ini bukan berarti harus menafikan salah satu sifat-Nya, yaitu sifat al-‘Uluww. Karena pengertiannya adalah dari segi maknawi bukan dari segi indrawi. (Dengan demikian makna al-‘Uluww adalah Yang maha tinggi derajat dan keagungan-Nya, bukan dalam pengertian berada di arah atas). Karena mustahil pengertian al-‘Uluww ini secara indrawi. Inilah pengertian dari beberapa sifat-Nya; al-‘Aali, al-‘Alyy dan al-Muta’li. Ini semua bukan dalam pengertian arah dan tempat, namun demikian Dia mengetahui segala sesuatu” (Fath al-Bari, j. 6, h. 136).

Pada bagian lain dalam kitab yang sama tentang pembahasan hadits an-Nuzul beliau menuliskan sebagai berikut: “Hadits ini dijadikan dalil oleh orang yang menetapkan adanya arah bagi Allah, yaitu arah atas. Namun demikian kayakinan mayoritas mengingkari hal itu. Karena menetapkan arah bagi-Nya sama saja dengan menetapkan tempat bagi-Nya. Dan Allah maha suci dari pada itu” (fath al-Bari, j. 3, h. 30).

Pada bagian lain beliau menuliskan: “Keyakinan para Imam salaf dan ulama Ahlussunnah dari Khalaf adalah bahwa Allah maha suci dari gerak, berpindah dari satu keadaan kepada keadaan yang lain, menyatu dengan sesuatu. Dia tidak menyerupai segala apapun” (Fath al-Bari, j. 7, h. 124).

Tarekat Qodiryah didirikan oleh Syeikh Abdul Qodir Jaelani (wafat 561 H/1166M) yang bernama lengkap Muhy al-Din Abu Muhammad Abdul Qodir ibn Abi Shalih Zango Dost al-Jaelani. Lahir di di Jilan tahun 470 H/1077 M dan wafat di Baghdad pada 561 H/1166 M. Dalam usia 8 tahun ia sudah meninggalkan Jilan menuju Baghdad pada tahun 488 H/1095 M. Karena tidak diterima belajar di Madrasah Nizhamiyah Baghdad, yang waktu itu dipimpin Ahmad al-Ghazali, yang menggantikan saudaranya Abu Hamid al-Ghazali. Tapi, al-Ghazali tetap belajar sampai mendapat ijazah dari gurunya yang bernama Abu Yusuf al-Hamadany (440-535 H/1048-1140 M) di kota yang sama itu sampai mendapatkan ijazah.

Pada tahun 521 H/1127 M, dia mengajar dan berfatwa dalam semua madzhab pada masyarakat sampai dikenal masyarakat luas. Selama 25 tahun Abdul Qadir Jaelani menghabiskan waktunya sebagai pengembara sufi di Padang Pasir Iraq dan akhirnya dikenal oleh dunia sebagai tokoh sufi besar dunia Islam. Selain itu dia memimpin madrasah dan ribath di Baggdad yang didirikan sejak 521 H sampai wafatnya di tahun 561 H. Madrasah itu tetap bertahan dengan dipimpin anaknya Abdul Wahab (552-593 H/1151-1196 M), diteruskan anaknya Abdul Salam (611 H/1214 M). Juga dipimpinan anak kedua Abdul Qadir Jaelani, Abdul Razaq (528-603 H/1134-1206 M), sampai hancurnya Bagdad pada tahun 656 H/1258 M.

Sejak itu tarekat Qodiriyah terus berkembang dan berpusat di Iraq dan Syria yang diikuti oleh jutaan umat yang tersebar di Yaman, Turki, Mesir, India, Afrika dan Asia. Namun meski sudah berkembang sejak abad ke-13, tarekat ini baru terkenal di dunia pada abad ke 15 M. Di India misalnya baru berkembang setelah Muhammad Ghawsh (w 1517 M) juga mengaku keturunan Abdul Qodir Jaelani. Di Turki oleh Ismail Rumi (w 1041 H/1631 M) yang diberi gelar (mursyid kedua). Sedangkan di Makkah, tarekat Qodiriyah sudah berdiri sejak 1180 H/1669 M.

Ada Apa Dengan Wahabi?

 Akidah wahabi diambil dari Abu Hurairah

Abu Hurairah: Rasul Allah saw bersabda: ‘Allah ta’ala tiap malam turun ke langit dunia pada sepertiga akhir malam dan berseru: ‘Barangsiapa yang berdoa kepadaKu niscaya akan Kukabulkan, dan barangsiapa yang meminta akan Kuberikan, dan barangsiapa yang memohon pengampunan akan Kuampuni.” (Bukhari dan Muslim).

Karena tiap detik dimuka bumi ini separuh bola bumi melewati malam hari, maka Tuhan selalu berada, di ‘langit dunia’ (asSama’ addunya) dan selalu berfirman seperti dikatakan oleh Abu Hurairah ? Akal idiot yang percaya

Hadis  Isra’iliat  dan  Khurafat  Abu  Hurairah

Abu Hurairah banyak meriwayatkan hadis hadis isra’iliyat, seperti Adam yang diciptakan seperti bentuk Allah, setan lari sambil kentut mendengar suara azan, Nabi Sulaiman yang mengancam akan membelah bayi yang diperebutkan dua orang ibu, Allah menaruh kakinya ke neraka, Nabi Sulaiman yang meniduri 70 wanita dalam semalam tapi hanya melahirkan seorang bayi separuh manusia, Nabi yang membakar sarang semut karena digigit seekor semut. Nabi Isa akan turun membunuh babi (apa salahnya babi?), awan yang bicara, sapi dan serigala berbicara bahasa Arab, Allah yang marah sekali dan tidak akan pernah lebih marah lagi seperti itu, yang diucapkan Adam karena dia melanggar perintah Allah. Sedikit di antaranya yang merupakan cuplikan dari buku Mahmad Abu Rayyah, Syaikh alMudhirah, Abu Hurairah, dan beberapa buku lain perlu dikemukakan disini.

Keutamaan Sahabat, Neraka Berdebat Dengan Surga, Abu Bakar Penghias Surga,Tulisan di Langit: ‘Muhammad Rasul Allah, Abu Bakar Shiddiq’

Abu’lFaraj Ibnu Jauzi meriwayatkan dari Abu Hurairah: ‘Rasul Allah menceritakan kepada saya: Surga dan neraka saling membanggakan diri. Neraka berkata kepada surga: ‘Kedudukanku lebih agung dari kedudukanmu. Di tempatku berdiam. Fir’aun, raja raja dan penguasa yang jahat serta keluarga mereka’. Lalu Allah mewahyukan kepada surga, agar mengatakan kepada neraka: ‘Tetapi keagungan itu ada padaku, karena Allah telah menghiasi aku dengan Abu Bakar”.

Abul Abbas alWalid bin Ahmad alJauzini menyampaikan dari Abu Hurairah: ‘Saya mendengar Rasul Allah bersabda bahwa Abu Bakar memiliki sebuah kubah dari permata putih, berpintu empat. Melalui pintu pintu itu, berhembus angin rahmat. Di luar kubah terdapat pengampunan Allah, dan di dalam kubah terdapat keridaan Allah. Setiap kali Abu Bakar merindukan Allah, maka pintu akan terbuka, dan dia dapat melihat Allah’.

Ibnu Habban meriwayatkan dari Abu Hurairah: ‘Aku mendengar Rasul Allah bersabda: ‘Tatkala aku mikraj ke langit, aku tiada menemui sesuatu di langit, kecuali aku bertemu dengan tulisan: ‘Muhammad Rasul Allah, Abu Bakar Shiddiq’.

Ibnu Katsir berkata dalam alBidayah wanNihayah: ‘Muslim bin alHajjaj mendengar dari Busr bin Sa’id yang berkata: ‘Bertakwalah kepada Allah dan lindungi hadis Nabi, demi Allah kami telah melihat tatkala kami duduk bersama Abu Hurairah dan ia telah menyampaikan hadis tentang Rasul Allah sedangkan sebenarnya ia sedang menyampaikan riwayat yang berasal dari Ka’b alAhbar, kemudian seorang di antara kami berdiri dan mengatakan bahwa apa yang didengar Abu Hurairah dari Ka’b alAhbar dijadikannya hadis Rasul Allah’. Dan dalam riwayat lain: ‘Ia menjadikan apa yang dikatakan Ka’b alAhbar sebagai hadis Rasul Allah dan apa yang dikatakan

Rasul Allah dikatakan dari Ka’b. Maka bertakwalah kepada Allah dan peliharalah hadis hadis’.

Yazid bin Harun berkata: ‘Aku mendengar Syu’bah berkata: ‘Abu Hurairah memperdayakan orang (yudallisu) yaitu dengan mengacaukan apa yang didengarnya dari Ka’b dengan apa yang didengarnya dari Rasul dan ia tidak memisahkan yang satu dengan yang lain’. (Ibnu Katsir: alBidayah wa’nNihayah, jilid 8, hlm. 109.)

Abu Hurairah segera pergi ke Madinah dari Bahrain setelah ia mendapat kabar tentang Ka’b alAhbar sang Yahudi yang kemudian mengajari Abu Hurairah ajaran ajaran Yahudi, isra’iliyat, dan ia memperdaya kaum Muslimin dengan khurafatnya,dan kaum Muslimin yang tidak mengerti mengambil dari Abu Hurairah. Seperti yang dikatakannya kepada Qais bin Ibnu Kharsyah: ‘Tidak ada sesuatu pun di dunia ini yang tidak tertulis dalam Taurat yang diturunkan kepada Musa’.

Ibnu Sa’d meriwayatkan dalam bukunya AthThabaqat alKubra dari Abdullah bin Syaqiq bahwa Abu Hurairah. mencari dan mendatangi Ka’b alAhbar.Ka’b waktu itu berada di tengah sekelompok orang. Ka’b bertanya: ‘Apa yang kau kehendaki dari Ka’b?’ Abu Hurairah menjawab: ‘Aku sesungguhnya tidak mengetahui seorang pun dari Sahabat Rasul Allah yang lebih menghapal hadis Rasul Allah dari diriku! ‘Maka Ka’b menjawab: ‘Engkau sama sekali tidak hendak menjadi murid dengan hanya mengisi perutmu tiap hari dari Ka’b dan tidak belajar; dengan kata lain engkau tidak boleh hanya mengejar dunia’. Dan Abu Hurairah bertanya: ‘Engkaukah Ka’b?’. Ka’b menjawab ‘Ya’. Abu Hurairah berkata: ‘Untuk inilah aku datang kepadamu!’ (Ibnu Sa’d, atThabaqat alKubra, jilid 4, hlm. 58)

Al Hakim Berkata  bahwa riwayat ini shahih menurut syarat BukhariMuslim.( AlHakim, alMustadrak, jilid 1, hlm. 92 )

Ahmad Amin dalam mengulas Thabaqat dari Ibnu Sa’d ini menceritakan dalam Fajar alIslam bahwa Ka’b pada masa itu menyampaikan pelajarannya di dalam masjid. Tentang seorang laki laki tatkala memasuki masjid telah melihat Amir bin Abdullah bin ‘Abdul Qais sedang duduk di samping bukubuku dan di antaranya terdapat Kitab Taurat, dan Ka’b sedang membacanya. (Lihat juga Thabaqat, jilid 7, hlm. 79.)

Para ahli hadis tahu bahwa Abu Hurairah mengambil pelajaran dari  Ka’b alAhbar.

(Suyuhi,  Alfiat, bab “Riwayat Orang orang  Besar dari Orang orang Kecil, atau “Riwayat Sahabat yangberasal dari Tabi’in”, hlm. 237, 238.)

Ahmad Syakir berkata: “Dan dari jenis ini terdapat riwayat para Sahabat yang mereka dengar dari para tabi’in seperti riwayat Abdullah bin Abbas, Abdullah Abdullah yang lain, Abu Hurairah, Anas (bin Malik) dan lain lainnya yang mendengar dari Ka’b alAhbar”.

Dan jelas Abu Hurairah merupakan Sahabat yang paling banyak tertipu oleh dan percaya kepada, serta membuat riwayat dari Ka’b dengan memperdaya orang. Abu Hurairah adalah yang terbanyak meriwayatkan hadis Rasul Allah, padahal riwayatnya terbukti berasal dari apa yang dibacakan kepadanya oleh Ka’b alAhbar.

Dzahabi berkata dalam Thabaqat alHuffazh dan dalam Sair A’lam anNubala’

Dalam membicarakan Abu Hurairah bahwa Ka’b alAhbar telah berkata: ‘Bukan main Abu Hurairah! Aku belum pernah melihat seseorang yang tidak membaca Taurat lebih mengetahui isinya dari Abu Hurairah’. (Sair A’lam anNubala’,jilid 2, hlm. 432.)

Dzahabi berkata di bagian lain: ‘Abu Hurairah mengambil dari Ka’b alAhbar’.

Dan Baihaqi dalam alMadkhal dari jalur Bakar bin Abdullah dari Abi Rafi’ dari Abu Hurairah yang berkata: ‘Bila Abu Hurairah bertemu dengan Ka’b maka ia akan meminta Ka’b menyampaikan riwayat. Dan Ka’b kemudian berkata: “Aku belum pernah melihat seseorang yang tidak membaca Taurat lebih mengetahui isi Taurat dari Abu Hurairah”. (Al  Ishabah, jilid 5, hlm. 205.)

Abu Hurairah adalah seorang buta huruf, bukan hanya tidak membaca bahasa Ibrani, malah ia tidak bisa mengeja huruf Arab. “Ia berkata: ‘Tidak ada seorang sahabat Nabi saw pun yang demikian banyak membawakan hadis Nabi kecuali Ibnu Umar. Hanya saja ia (bisa baca) tulis,sedang saya tidak”. (Shahih Bukhari, jilid 1, hlm. 23.)

Dan pada masa itu tidak ada Muslim yang mengerti Taurat. Ka’b alAhbar adalah orang Yahudi dari Yaman yang baru masuk Islam di zaman para Sahabat dan belum pernah bertemu dengan Rasul Allah, oleh karena itu dia termasuk generasi tabi’in.

Thaha Husain berkata: ‘Ka’b alAhbar adalah seorang eksentrik (gharib alathwar),

Mengetahui bagaimana menipu banyak orang Islam dan di antaranya Umar bin Khaththab, dialah Ka’b alAhbar, seorang Yahudi dari Yaman. Ia menyatakan bahwa ia bertanya kepada Ali, mudah mudahan Allah memberi rahmat kepadanya, yaitu tatkala Ali diutus Rasul Allah ke Yaman dan tatkala Ali mengabarkan kepadanya sifat Nabi, ia mengatakan ia telah mengetahui sifat Nabi yang diceritakan Ali dari dalam Taurat. Dan ia tidak datang ke Madinah pada masa Nabi masih hidup.

Dia tetap dalam agama Yahudinya di Yaman. Tapi ia mengatakan bahwa pada masa itu ia telah masuk Islam dan berdakwah di Yaman. Ia datang ke Madinah pada masa Umar menjadi khalifah. Ia menjadi maula (di bawah perlindungan, pen.) Abbas bin ‘Abdul Muththalib, mudahmudahan Allah memberi rahmat kepadanya, dan Ka’b dengan ahlinya membohongi kaum Muslimin dengan mengatakan bahwa ia menemukan sifat sifat mereka dalam Kitab Taurat. Dan kaum Muslimin mengagumi hal demikian itu dan dengan demikian mengagumi dirinya juga. Dan ia tidak segan segan membohongi Umar bin Khaththab sendiri dengan mengatakan bahwa ia mendapatkan sifat Umar dalam Taurat dan Umar terheran heran.

Umar bertanya: ‘Engkau menemukan namaku dalam Thurat?’. Ka’b menjawab: ‘Aku tidak mendapatkan namamu dalam Taurat, tetapi aku mendapatkan sifatmu!’.

A l Ustadz Sa’id alAfghani menulis dalam majalah Risalah alMishriyah:  ‘Bahwa Wahb bin Munabbih adalah Zionis pertama telah saya koreksi dalam artikel yang dimuat dalam edisi nomor 656 majalah ini, dengan bukti yang kuat bahwa Ka’b al Ahbarlah sebenarnya Zionis yang pertama..’.

Para penulis Muslim di zaman dahulu telah melihat kelemahan kelemahan hadis Abu Hurairah. Para peneliti sudah tahu pasti bahwa Abu Hurairah mendapatkan kisah kisah Perjanjian Lama dari Ka’b alAhbar, sebelum ia menyampaikan hadis hadisnya di zaman Mu’awiyah.

Tentang Sifat Allah..

Abu Hurairah berkata dalam sebuah hadist “shahih” versi dia sendiri..yang dinukil Oleh Bukhari dalam Shahihnya

“Allah turun ke langit dunia pada sepertiga malam..”

Analisis akal:Dalam sebuah kitab kebanggaan Pengikut Ibnu Taymiyah; digambarkan bagaimana Allah turun dengan di contohkan Ibnu taymiyah turun dari Mimbarnya.Masya ALLAH…!!Bagaimana mungkin… Manusia yang diberi keterbatasan akal mampu menjangkau Dzat Pencipta yang Maha Halus Lagi Maha Mulia..

Dengan keterbatasannya pula Manusia melarang dirinya tuk mengambil segala yang baik dalam beragama dan menyingkirkan segala yang buruk.

Kontradiktif. Demikian analisa saya. Keterbatasan akal dipakai untuk menggapai “ketidak terbatas”

Benturkan dengan Al Quran Surah Al An’am Ayat 103:“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.”

Lalu…Abu Hurairah berkata dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim : “Allah menciptakan adam dengan bentuk -Nya sendiri…”

Analisis akal:Dengan Hadist diatas kita “dipaksa” tuk menggambarkan ALLAH sebagaimana bentuk Adam yang dengannya pula Mirip kita..Sebuah Pemasungan logika..!!

Lihat lah Al Quran As Syuura (11) :… Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.

Bagaimana akal antum yang telah dianugrahkan dan menjadikan kita sebagai Khalifah di Muka Bumi bisa meng’amini” Hadist yang bertentangan Al Quran ini…?

Hadis Isra’iliat dan Khurafat Abu Hurairah

Abu Hurairah banyak meriwayatkan hadis hadis isra’iliyat, seperti Adam yang diciptakan seperti bentuk Allah, setan lari sambil kentut mendengar suara azan, Nabi Sulaiman yang mengancam akan membelah bayi yang diperebutkan dua orang ibu, Allah menaruh kakinya ke neraka, Nabi Sulaiman yang meniduri 70 wanita dalam semalam tapi hanya melahirkan seorang bayi separuh manusia, Nabi yang membakar sarang semut karena digigit seekor semut. Nabi Isa akan turun membunuh babi (apa salahnya babi?), awan yang bicara, sapi dan serigala berbicara bahasa Arab, Allah yang marah sekali dan tidak akan pernah lebih marah lagi seperti itu, yang diucapkan Adam karena dia melanggar perintah Allah. Sedikit di antaranya yang merupakan cuplikan dari buku Mahmad Abu Rayyah, Syaikh alMudhirah, Abu Hurairah, dan beberapa buku lain perlu dikemukakan disini.

Bukhari dan Muslim dalam Shahihnya meriwayatkan dari Abu Hurairah: “Allah menciptakan Adam seperti bentuk (shurah) Allah, dengan panjang badan enam puluh hasta (27 meter).” Dan jalur Said bin Musayyib, lebar badan Adam tujuh hasta (dzira), yakni 3,15 meter.” (Bukhari, Shahih, kitab “I’tizam, jilid 4, hlm. 57; Muslim, Shahih, bab “Masuk Surga”, jilid 2, hlm. 481)

Melalui jalur lain, dengan lafal yang lain, “Bila dua orang berkelahi, maka hindarilah memukul wajahnya, karena Allah membentuk Adam menurut bentukNya.” Melalui jalur lain lagi, ada yang berbunyi: “Bila memukul orang, hindarilah menampar wajahnya, dan janganlah berkata, ‘Mudah mudahan Allah memburukkan wajahmu!’ sebab wajah Allah adalah sama dengan wajahmu, sebab sesungguhnya Allah membentuk Adam menurut bentukNya”. (Bandingkan, misalnya, dengan ayat AlQur’an, Tiada sesuatu serupa Ia (AlQur’an, 42:11); Tiada Ia tercapai oleh penglihatan mata (AlQur’an, 6:103); Mahasuci Allah dari apa yang mereka sifatkan. ( AlQur’an, 37:159).)

Semoga kita mendapat perlindungan dari Allah agar terhindar dari rusaknya faham akidah Wahhabi!
Wa shallallahu Ala Sayyidina Muhammad Wa Sallam
Wa al-Hamdu Lillahi Rabbil Alamin.

Dimanakah Allah ? Sunni – Syi’ah Sepakati Ajaran Tauhid IMAM ALi BIN ABI THALiB (MEMBANTAH TERJEMAHAN AL QURAN PADA KATA iSTiWA’ Yang Dicetak Oleh Pemerintah Saudi Arabia )

Stasiun TV & siaran TV Wahabi - Salafy, sungguh kontradiksi dengan ajaran yang mereka anut

Tidak boleh berpegangan kepada Terjemahan Al Quran yang dicetak Pemerintah Saudi Arabia karena di dalamnya terdapat sejumlah penafsiran dan terjemahan yang menyalahi aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah.

 

Artikel kali ini cuma menggugat cara mereka menerjemahkan istiwa’ dengan bersemayam. Maha suci Allah SWT dari akidah Tasybih yang menuduh bahwa Zat Tuhan bersemayam/bertempat di atas ‘Arsy. Padahal Allah SWT tidak diliputi tempat, waktu dan arah      

Seorang  budak  jariyah  bertanya  pada  Nabi SAW : “Dimanakah Allah ??”. Lalu  Nabi  SAW  Menjawab : “( Pusat Pemerintahan Allah ) di langit  !!! Hadis  tersebut  oleh  ulama ulama Arab Saudi secara keliru telah diterjemahkan  secara  zhahir  bahwa  Allah SWT  bertempat  di langit.           

Cukuplah bagi muslim syi’ah dan bagi Ahlus sunnah wal jama’ah apa yang  dikatakan oleh orang yang dijuluki Nabi  SAW sebagai “pintu ilmu”  yakni  Sayidina Ali bin Abi Thalib                                           

Menurut sumber kitab kuning mazhab sunni, Al Imam Ali bin Abi Thalib mengatakan  : “Sesungguhnya Allah menciptakan ‘Arsy (makhluk Allah yang paling besar) untuk menampakkan kekuasaan-Nya bukan untuk menjadikannya tempat bagi Dzat-Nya”1                                                                     

Menurut sumber kitab kuning mazhab sunni, Ibnu al Mu’allim al Qurasyi  (w.725 H) dalam kitabnya meriwayatkan bahwa sayyidina Ali bin Abi Thalib mengatakan:Ketika kiamat telah dekat akan ada sekelompok ummat ini yang kembali menjadi kafir, mereka mengingkari pencipta mereka dan menyifati-Nya dengan jisim dan anggota badan”.2          

Menurut sumber kitab kuning mazhab sunni, Al Imam Sayyidina Ali bin Abi Thalib mengatakan: “Barang siapa beranggapan (berkeyakinan) bahwa Tuhan kita berukuran maka ia jahil terhadap  Tuhan yang wajib disembah” 3                                                                                                                                                                                                                                                      ****                                                                                                    

Mazhab Syi’ah Imamiyah Itsna ‘Asyariah Ushuliyah menerjemahkan  Istiwa’  sebagai  Sempurna  atau  Menyempurnakan. Inilah beberapa terjemahan Al Quran versi syi’ah:

Qs. Thaahaa ayat 5. : “(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang menyempurnakan ( penciptaan )  hingga  ke arsy” Qs. Al Baqarah  ayat  29 : “Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia  menyempurnakan nya  hingga ke langit, lalu sempurnalah menjadi   tujuh langit”                                                                          

QS. Al  A’raf  Ayat  54 : “Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia  menyempurnakan nya hingga  keatas arsyQs. Yunus ayat  3 : “Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia menyempurnakan nya hingga ke arsy untuk mengatur  segala  urusan”  

Qs. Ar Ra’d   ayat  2  : “Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia  menyempurnakan nya hingga ke arsy” 

 Qs. Al Furqaan  ayat  59 : “Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia menyempurnakan nya hingga ke arsy”                                                                       

Qs. As Sajdah  ayat  4  : “Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia menyempurnakan nya hingga ke arsy”                                                                                           

Qs. Fushshilat ayat  11 : “Kemudian Dia menyempurnakan ( penciptaan ) hingga  langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa.” Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati.”                                                                                      

Qs. Al Hadiid  ayat  4 : “Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia menyempurnakan ( penciptaan ) hingga  arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya . Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”

Arsy  merupakan  simbolisasi  eksistensi  Allah. Syi’ah  imamiyah  mengartikan   arsy  sebagai   sentral  pengaturan   alam  semesta  atau  pusat  pengaturan bangunan jagad raya, jadi  BUKAN  TEMPAT  ALLAH  BERSEMAYAM.        

Firman  Allah  SWT : “Allah  meliputi  segala  sesuatu (Qs. Fusshilat  ayat 54)” maknanya Tuhan  menguasai tempat  dengan arti  memelihara  setiap tempat, bukan berarti  Allah  SWT  bertempat.

Baca Qs.  Al Ikhlash ayat  2 : “Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu”… , maka  Allah  independen (ash shamad) dari  jagad  raya, ruang  dan  waktu                                

 Lalu apa maksud Qs. Al Mu’min  ayat  7 dan Qs. Al Haaqqah  ayat  17 ??

Begini…Seluruh galaksi  yang  ada  di jagad  raya  diatur  oleh  Allah  SWT  melalui  pusat  pengaturan  yaitu  arsy dimana  Allah  mengutus  malaikat  malaikat tertentu ( bukan semua malaikat ) untuk  memikul  atau  mengendalikan  arsy. Kata  tahmilu dalam ayat  tersebut bukan hanya  bermakna  memikul, tetapi  salah satunya  bermakna  “mengendalikan  dan  dibebani  tugas”                                                                                      

Catatan kaki : (Sumber ucapan Imam Ali  diambil dari kitab kuning mazhab sunni) :

1 diriwayatkan oleh Abu Manshur al Baghdadi dalam kitab al Farq bayna al Firaq, hal. 333

2  Ibnu al Mu’allim al Qurasyi  (w.725 H)  dalam kitabnya Najm al Muhtadi Wa Rajm al Mu’tadi, hal. 588           

3  diriwayatkan oleh Abu Nu’aym (w. 430 H)  dalam Hilyah al Auliya’, juz I hal. 72

Kang Said: Wahabi Berkembang Karena Uang

Banyak cara dilakukan aliran Wahabi saat memperkenalkan diri. Agar ajakannya bisa mengena kepada warga, tidak jarang mereka mengubah format dan nama agar tidak mudah dikenali.

Hal ini disampaikan oleh Ustadz Idrus Romli ketika menjadi pembicara pada acara Daurah Kader Aswaja di Pondok Pesantren Riyadlul Jannah Pacet Mojokerto, Jawa Timur, Minggu (10/2/2013).

Idrus memaparkan bahwa untuk efektifitas dakwah yang dilakukan Wahabi yakni dengan mengubah format bahkan namanya sendiri. Dengan perubahan ini diharapkan akan banyak pihak yang akhirnya tertarik dan melupakan sama sekali kata “wahabi” yang di tanah air terlanjur dimusuhi.

“Yang mudah dideteksi adalah mereka gemar melakukan dikotomi terhadap kalangan yang tidak sepaham,” katanya seperti dilansir media resmi PBNU.

Di antaranya mengatakan diri mereka sebagai al-muslimun, sedangkan kalangan yang tidak setuju dengan pendapat dan gerakan mereka disebut al-kafirun. “Demikian juga menyebut orang lain dengan al-musyrikun, sedangkan mereka mengklaim dirinya sebagai al-muwahhidun,” lanjutnya.

Aktifis PW Aswaja Center NU Jawa Timur ini juga mengingatkan bahwa sekarang kelompok Wahabi menamakan dirinya dengan Salafi untuk melawan Ahlus Sunnah Wal Jamaah. “Mereka hanya mengubah nama, sedangkan isi, gerakan yang dibawa dan diajarkan sama saja dengan Wahabi jaman dulu,” sergahnya.

“Metamorfosis ini hendaknya dipahami secara baik oleh seluruh warga NU, khususnya mereka yang terlibat aktif di kepengurusan di berbagai tingkatan,” katanya mengingatkan.

said aqil siradj

Kang Said: Wahabi Berkembang Karena Uang
Jumat, 11 September 2009 12:12

Jakarta, NU Online
Berkembangnya ajaran Wahabi ala Saudi Arabia ke seluruh pelosok dunia belakangan ini tak lain dan tak bukan karena dukungan dana yang sangat besar yang dialirkan ke para aktifis pengikut wahabi.

Di Indonesia, kelompok ini mendirikan berbagai yayasan dengan dana sangat besar seperti di Jakarta, Jember, Situbondo, Solo dan lainnya.

KH Said Agil Siradj, menjelaskan Abdul Wahhab, pendiri wahabisme ini bukanlah intelektual muslim yang cemerlang. Tak ada karya besar yang dihasilkannya karena ia hanya mengarang kitab-kitab kecil saja.

Ini tentu berbeda dengan ajaran NU yang mengambil rujukan dari ulama-ulama besar seperti Imam Syafii, al Ghozali, Asy’ari dan lainnya yang keilmuannya telah teruji dalam rentang sejarah panjang.

Abdul Wahhab yang tinggal di Nadj atau wilayah timur Saudi Arabia saat ini yang meliputi Jeddah dan Riyadh, melakukan kolaborasi dengan Ibnu Saud, pendiri kerajaan Saudi Arabia untuk melakukan pemberontakan terhadap kekhalifahan Turki Utsmani.

Setelah melalui perjuangan panjang, upaya pemisahan diri tersebut berhasil menjadikan kerajaan Saudi Arabia seperti saat ini. Kemenangan pengikut Islam konservatif yang didukung oleh tentara badui militan tetapi kurang berpengetahuan ini telah menyebabkan Islam kehilangan banyak situs sejarahnya di Makkah dan Madinah yang telah dipelihara dengan baik sejak zaman Rasulullah.

“Mereka melakukan penghancuran luar biasa terhadap situs peninggalan Islam. Hampir saja makan rasulullah dan khulafaur rasyidien juga dihancurkan,” katanya.

Entah apa jadinya peradaban Indonesia yang sangat kaya dengan tradisi ini jika dana-dana hasil minyak ini digelontorkan untuk kampanye atas nama pemurnian Islam konservatif ala wahabi ini terus berkembang.

Di Akhir Zaman Akan Banyak Orang Menjadi Kafir Karena Menjisimkan Allah

Saya sangat setuju kalau Salafi Wahabi itu digelari juga sbg “KAUM KOTRADIKTIF”. Karena mereka yg pertama memulai “perang” dg menyerang Aswaja sebagai Ahlul bid’ah, tetapi kemudian ketika Aswaja balik merespon “serangan” Wahabi salafi maka terbukti dg sangat gamblang bahwa Wahabi Salafi yg justru terbukti sebagai AHLUL BID’AH yg sebenarnya.

Awas kembali jadi kafirMujassimah adalah kafir

Di antara kita barang kali ada yang tidak mau melakukan hal-hal berikut: ‘’ TALILAN, BARJANJIAN, MAULUDAN, BURDAHAN, MANAQIBAN,   YASINAN DAN AMALAN-AMALAN BERPAHALA YANG LAINYA ’’.  Atau ada yang dalam hatinya mau tapi malas untuk melakukan semua itu, harap ma’lum saja berbuat kebaikan itu memang selalu dihalangi setan dan ahirnya sangat terasa berat, bahkan terkadang kalah dengan hal-hal tak berguna seperti  nonton dagelan di TV.

Apa pun yang anda lakukan walaupun tak berpahala, namun jangan kawatir itu semua tak akan merusak akidah kita. Sangat berbeda sekali jika sudah tidak mau melakukan amalan-amalan tersebut justru malah menghalangi orang-orang  yang akan melakukanya, setan itu namanya

.
Lebih dari itu semua, ada hal sangat penting yang harus benar-benar dihindari dalam akidah ya’ni – akidah kaum mujasimah – yang mengatakan: “Sesungguhnya Allah mempunyai anggota-anggota badan yang tidak seperti anggota-anggota badan kita”

.
Perkataan kaum Mujassimah itu adalah pendustaan terhadap firman Allah ta’ala: [ ليس كمثْله شىءٌ] [سورة الشورى: 11 , maknanya: “Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatu pun dari makhluk-Nya (baik dari satu segi maupun semua segi), dan tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya”. (Q.S. as-Syura: 11)

Mari kita lihat bagaimana pendapat para Ulama’ mengenai ayat tersebut:

1). Ibnu al Mu’allim al Qurasyi dalam kitabnya Najm al Muhtadi Wa Rajm al Mu’tadi, hal. 588 meriwayatkan bahwa sayyidina Ali mengatakan:

سيرجع قوم من هذه الأمة عنداقتراب الساعة كفارا ينكرون خالقهم فيصفونه بالجسم والأعضاء

Maknanya: “Ketika kiamat telah dekat akan ada sekelompok ummat ini yang kembali menjadi kafir, mereka mengingkari pencipta mereka dan menyifati-Nya dengan jisim dan anggota badan”.

2). Al Imam Abu Ja’far ath-Thahawi (W. 321 H) dalam kitab Bayan ‘Aqidah Ahlissunnah Wal Jama’ah mengatakan:

“( تعالَى ( يعِني اللهَ) عنِ الْحدود والْغايات والأركَان والأَعضاءِ والأَدوات لاَتحوِيه الْجِهات الست كَسائرالْمبتدعات

“Maha suci Allah dari batas-batas (bentuk kecil maupun besar, jadi Allah tidak mempunyai ukuran sama sekali), batas akhir, sisi-sisi, anggota badan yang besar (seperti wajah, tangan dan lainnya) maupun anggota badan yang kecil (seperti mulut, lidah, anak lidah, hidung, telinga dan lainnya). Dia tidak diliputi oleh satu maupun enam arah penjuru (atas, bawah, kanan, kiri, depan dan belakang) tidak seperti makhluk-Nya yang diliputi enam arah penjuru tersebut”.

.
Nah, demikianlah sedikit penjelasan dari para Ulama semoga menjadi jelas atas tersebarnya syubhat-syubhat kaum mujassimah yang juga mengatasnamakan dirinya sebagai Ahlussunnah yang akhir-akhir banyak berseliweran di tengah kaum muslimin. Sungguh  masih banyak penjelasan-penjelasan dari para Ulama’ mengenai hal ini

.

Namun cukuplah bagi kita muslim syi’ah dan Ahlus sunnah wal jama’ah apa yang  dikatakan oleh orang yang dijuluki Nabi sebagai “pintu ilmu”  Sayidina Ali karrama Allahu wajhah. Semoga akidah kita tidak menjadi rusak oleh tarikan-tarikan propaganda kaum mujassimah, sehingga kita tetap solid dalam naungan payung aqidah syi’ah dan Ahlussunnah Wal jamaah.

pendiri wahabisme bukanlah intelektual muslim yang cemerlang. Tak ada karya besar yang dihasilkannya karena ia hanya mengarang kitab-kitab kecil saja.

Kang Said: Wahabi Berkembang Karena Uang
Jumat, 11 September 2009 12:12

Jakarta, NU Online

said aqil siradj
Berkembangnya ajaran Wahabi ala Saudi Arabia ke seluruh pelosok dunia belakangan ini tak lain dan tak bukan karena dukungan dana yang sangat besar yang dialirkan ke para aktifis pengikut wahabi.

Di Indonesia, kelompok ini mendirikan berbagai yayasan dengan dana sangat besar seperti di Jakarta, Jember, Situbondo, Solo dan lainnya.

KH Said Agil Siradj, menjelaskan Abdul Wahhab, pendiri wahabisme ini bukanlah intelektual muslim yang cemerlang. Tak ada karya besar yang dihasilkannya karena ia hanya mengarang kitab-kitab kecil saja.

Ini tentu berbeda dengan ajaran NU yang mengambil rujukan dari ulama-ulama besar seperti Imam Syafii, al Ghozali, Asy’ari dan lainnya yang keilmuannya telah teruji dalam rentang sejarah panjang.

Abdul Wahhab yang tinggal di Nadj atau wilayah timur Saudi Arabia saat ini yang meliputi Jeddah dan Riyadh, melakukan kolaborasi dengan Ibnu Saud, pendiri kerajaan Saudi Arabia untuk melakukan pemberontakan terhadap kekhalifahan Turki Utsmani.

Setelah melalui perjuangan panjang, upaya pemisahan diri tersebut berhasil menjadikan kerajaan Saudi Arabia seperti saat ini. Kemenangan pengikut Islam konservatif yang didukung oleh tentara badui militan tetapi kurang berpengetahuan ini telah menyebabkan Islam kehilangan banyak situs sejarahnya di Makkah dan Madinah yang telah dipelihara dengan baik sejak zaman Rasulullah.

“Mereka melakukan penghancuran luar biasa terhadap situs peninggalan Islam. Hampir saja makan rasulullah dan khulafaur rasyidien juga dihancurkan,” katanya.

Entah apa jadinya peradaban Indonesia yang sangat kaya dengan tradisi ini jika dana-dana hasil minyak ini digelontorkan untuk kampanye atas nama pemurnian Islam konservatif ala wahabi ini terus berkembang.

Banyak cara dilakukan aliran Wahabi saat memperkenalkan diri. Agar ajakannya bisa mengena kepada warga, tidak jarang mereka mengubah format dan nama agar tidak mudah dikenali.

Hal ini disampaikan oleh Ustadz Idrus Romli ketika menjadi pembicara pada acara Daurah Kader Aswaja di Pondok Pesantren Riyadlul Jannah Pacet Mojokerto, Jawa Timur, Minggu (10/2/2013).

Idrus memaparkan bahwa untuk efektifitas dakwah yang dilakukan Wahabi yakni dengan mengubah format bahkan namanya sendiri. Dengan perubahan ini diharapkan akan banyak pihak yang akhirnya tertarik dan melupakan sama sekali kata “wahabi” yang di tanah air terlanjur dimusuhi.

“Yang mudah dideteksi adalah mereka gemar melakukan dikotomi terhadap kalangan yang tidak sepaham,” katanya seperti dilansir media resmi PBNU.

Di antaranya mengatakan diri mereka sebagai al-muslimun, sedangkan kalangan yang tidak setuju dengan pendapat dan gerakan mereka disebut al-kafirun. “Demikian juga menyebut orang lain dengan al-musyrikun, sedangkan mereka mengklaim dirinya sebagai al-muwahhidun,” lanjutnya.

Aktifis PW Aswaja Center NU Jawa Timur ini juga mengingatkan bahwa sekarang kelompok Wahabi menamakan dirinya dengan Salafi untuk melawan Ahlus Sunnah Wal Jamaah. “Mereka hanya mengubah nama, sedangkan isi, gerakan yang dibawa dan diajarkan sama saja dengan Wahabi jaman dulu,” sergahnya.

“Metamorfosis ini hendaknya dipahami secara baik oleh seluruh warga NU, khususnya mereka yang terlibat aktif di kepengurusan di berbagai tingkatan,” katanya mengingatkan.

Di Akhir Zaman Akan Banyak Orang Menjadi Kafir Karena Menjisimkan Allah

Saya sangat setuju kalau Salafi Wahabi itu digelari juga sbg “KAUM KOTRADIKTIF”. Karena mereka yg pertama memulai “perang” dg menyerang Aswaja sebagai Ahlul bid’ah, tetapi kemudian ketika Aswaja balik merespon “serangan” Wahabi salafi maka terbukti dg sangat gamblang bahwa Wahabi Salafi yg justru terbukti sebagai AHLUL BID’AH yg sebenarnya.

Awas kembali jadi kafirMujassimah adalah kafir

Di antara kita barang kali ada yang tidak mau melakukan hal-hal berikut: ‘’ TALILAN, BARJANJIAN, MAULUDAN, BURDAHAN, MANAQIBAN,   YASINAN DAN AMALAN-AMALAN BERPAHALA YANG LAINYA ’’.  Atau ada yang dalam hatinya mau tapi malas untuk melakukan semua itu, harap ma’lum saja berbuat kebaikan itu memang selalu dihalangi setan dan ahirnya sangat terasa berat, bahkan terkadang kalah dengan hal-hal tak berguna seperti  nonton dagelan di TV.

Apa pun yang anda lakukan walaupun tak berpahala, namun jangan kawatir itu semua tak akan merusak akidah kita. Sangat berbeda sekali jika sudah tidak mau melakukan amalan-amalan tersebut justru malah menghalangi orang-orang  yang akan melakukanya, setan itu namanya

.
Lebih dari itu semua, ada hal sangat penting yang harus benar-benar dihindari dalam akidah ya’ni – akidah kaum mujasimah – yang mengatakan: “Sesungguhnya Allah mempunyai anggota-anggota badan yang tidak seperti anggota-anggota badan kita”

.
Perkataan kaum Mujassimah itu adalah pendustaan terhadap firman Allah ta’ala: [ ليس كمثْله شىءٌ] [سورة الشورى: 11 , maknanya: “Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatu pun dari makhluk-Nya (baik dari satu segi maupun semua segi), dan tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya”. (Q.S. as-Syura: 11)

Mari kita lihat bagaimana pendapat para Ulama’ mengenai ayat tersebut:

1). Ibnu al Mu’allim al Qurasyi dalam kitabnya Najm al Muhtadi Wa Rajm al Mu’tadi, hal. 588 meriwayatkan bahwa sayyidina Ali mengatakan:

سيرجع قوم من هذه الأمة عنداقتراب الساعة كفارا ينكرون خالقهم فيصفونه بالجسم والأعضاء

Maknanya: “Ketika kiamat telah dekat akan ada sekelompok ummat ini yang kembali menjadi kafir, mereka mengingkari pencipta mereka dan menyifati-Nya dengan jisim dan anggota badan”.

2). Al Imam Abu Ja’far ath-Thahawi (W. 321 H) dalam kitab Bayan ‘Aqidah Ahlissunnah Wal Jama’ah mengatakan:

“( تعالَى ( يعِني اللهَ) عنِ الْحدود والْغايات والأركَان والأَعضاءِ والأَدوات لاَتحوِيه الْجِهات الست كَسائرالْمبتدعات

“Maha suci Allah dari batas-batas (bentuk kecil maupun besar, jadi Allah tidak mempunyai ukuran sama sekali), batas akhir, sisi-sisi, anggota badan yang besar (seperti wajah, tangan dan lainnya) maupun anggota badan yang kecil (seperti mulut, lidah, anak lidah, hidung, telinga dan lainnya). Dia tidak diliputi oleh satu maupun enam arah penjuru (atas, bawah, kanan, kiri, depan dan belakang) tidak seperti makhluk-Nya yang diliputi enam arah penjuru tersebut”.

.
Nah, demikianlah sedikit penjelasan dari para Ulama semoga menjadi jelas atas tersebarnya syubhat-syubhat kaum mujassimah yang juga mengatasnamakan dirinya sebagai Ahlussunnah yang akhir-akhir banyak berseliweran di tengah kaum muslimin. Sungguh  masih banyak penjelasan-penjelasan dari para Ulama’ mengenai hal ini

.

Namun cukuplah bagi kita muslim syi’ah dan Ahlus sunnah wal jama’ah apa yang  dikatakan oleh orang yang dijuluki Nabi sebagai “pintu ilmu”  Sayidina Ali karrama Allahu wajhah. Semoga akidah kita tidak menjadi rusak oleh tarikan-tarikan propaganda kaum mujassimah, sehingga kita tetap solid dalam naungan payung aqidah syi’ah dan Ahlussunnah Wal jamaah.

sunni mengkafir musyrik kan kedua orang tua Nabi dan Abu Thalib

Anak-Anak ahlulbait Nabi SAW pun  Dibunuh!

Setelah pada tanggal 9 Zulhijah, Muslim bin Aqil bin Abi Thalib menjadi syahid, dua anak beliau, Muhammad dan Ibrahim juga ditahan dan dibawa ke sel bawah tanah. Diriwayatkan bahwa Muhammad waktu itu masih berumur sepuluh tahun dan Ibrahim delapan tahun.

Pada tanggal 20 Zulhijah tahun 60 H, ketika sipir penjara datang membawa makan untuk anak-anak itu, ia melihat mereka sedang salat. Sipir pun kemudian menunggu. Ketika anak-anak itu selesai salat, ia menanyakan siapa mereka sesungguhnya. Ketika sipir tahu bahwa mereka adalah anak-anak Muslim bin Aqil sekaligus cucu Imam Ali, ia melepaskannya. Anak-anak pun keluar dari penjara.

Di malam hari, yang pertama ada dipikiran mereka adalah menemui Imam Husain dan mengingatkannya untuk tidak pergi ke Kufah. Tapi kemanapun mereka pergi, mereka melihat jalanan diblokade oleh pasukan Ibnu Ziad. Tidak mungkin untuk keluar dari Kufah. Kondisi pun semakin larut. Kemana anak-anak ini akan pergi?

Mereka sadar berada di sisi sunga Eufrat. Mereka meminum air sungai dan menaiki pohon untuk bersembunyi pada hari itu. Sampai akhirnya seorang wanita datang ke sungai untuk mencari air. Ia melihat dua anak kecil dan bertanya siapa mereka. Ibrahim menjawab, “Kami adalah dua anak yatim, maukah engkau meninggalkan kami dan jangan beri tahu kalau engkau melihat kami?” Wanita itu meminta mereka untuk ikut bersama menemui majikannya yang mungkin bisa membantu.

Majikan wanita itu adalah perempuan yang baik. Setelah berbicara kepada anak-anak itu, ia sadar siapa mereka. Ia pun memberi mereka makan dan berkata, “Kalian bisa menghabiskan waktu di sini dan saya akan coba membantu kalian. Sayangnya, suamiku Harits bekerja untuk Ibnu Ziad. Kalian dapat beristirahat di ruang penyimpan makanan tapi jangan membuat suara karena ia akan segera pulang dan menemukan kalian.”

Anak-anak itu kemudian berdoa dan pergi tidur. Malam harinya Muhammad bangun dan mulai menangis. Ibrahim bertanya mengapa ia menangis, Muhammad menjawab, “Aku melihat ayah dalam mimpi. Ia memanggil kita…” Ibrahim berkata, “Saudaraku, sabarlah. Aku juga melihat ayah dalam mimpi dan memberi isyarat kepada kita.”

Kemudian mereka mulai menangis. Harits yang sudah pulang mendengar suara. Ia membuka pintu dan bertanya siapa kalian. Setelah mengetahui bahwa mereka adalah anak-anak Muslim bin Aqil, ia mengikat anak-anak itu ke tiang. Istri Harits berusaha menghentikannya tapi ia dipukul. Harits ingin mendapatkan hadiah yang Ibnu Ziad tawarkan kepada siapa saja yang bisa menangkap anak-anak itu.

Anak-anak Muslim menghabiskan malam mereka dalam ikatan. Pagi harinya, Harits menyeret mereka ke tepi sungai. Ia mengambil pedangnya. Ibrahim bertanya, “Harits, apakah engkau akan membunuh kami?” Harits menjawab, “Ya!” Ibrahim bertanya, “Kalau begitu, izinkan kami untuk menyelesaikan salat subuh kami.”

Mereka berdua pun melakukan salat dan mengangkat tangan ke atas dan menangis, “Innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji’un! Ya Allah, kami datang kepadamu. Berikan kepada ibu kami kekuatan ketika ia mendengar kematian kami dan adililah antara kami dan pembunuh kami!” Pedang itupun melayang. Mereka dilemparkan ke sungai. Dua tubuh anak-anak Muslim hanyut di sungai Furat.

Catatan: Anak-anak Muslim menjadi syahid pada tanggal 22 Zulhijah kemarin. Inilah awal-awal tragedi Muharam. Selamat datang bulan kedukaan!

Bani Umayyah versus Bani Hasyim

Dengan nama Tuhan yang Mahatinggi, Pembeda antara Hak dan Batil.

Dengan referensi terbatas, saya berusaha mengisahkan tentang dua klan Quraisy ini. Dua klan yang mewakili dua sisi yang berbeda. Jangan mengira bahwa masalah ini hanya masalah keturunan. Karena bagaimana pun juga Nabi Muhammad berasal dari salah satu klan, Bani Hasyim.

Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Qushai bin Kilab berasal dari kaum Quraisy yang merupakan keturunan langsung Nabi Ibrahim melalui Nabi Ismail. Selain Hasyim, Abdu Manaf memiliki tiga putera lainnya; Muthalib, Naufal dan Abdu Syams.

Saat berdagang, Hasyim meninggal dunia. Putranya ditinggalkan bersama kafilah. Muthalib, saudara lelaki Hasyim, pergi menjemput putra mendiang saudara lelakinya itu dan membawanya tinggal bersama anak-anaknya sendiri. Kemudian putra Hasyim ini dikenal dengan nama Abdul Muthalib.

Anak-anak Hasyim melalui putranya Abdul Muthalib disebut Hasyimiah. Abdul Muthalib sendiri memiliki beberapa putra dari istri berbeda, di antaranya: Abdullah (ayah Nabi Muhammad), Abu Thalib (ayah Ali bin Abi Thalib) dan Hamzah (pemimpin para syahid di masanya).

Lain kisah, Abdu Manaf pernah membeli dan memberikan seorang sahaya bernama Umayyah kepada Abdu Syams, saudara Hasyim. Umayyah, yang penyembah berhala sejak lahirnya, menghabiskan masa kecilnya di tengah-tengah orang Kristiani Romawi. Tuannya, Abdu Syams, karena menyukainya, menjadikannya sebagai anak angkat.

Sebelum meninggal, Abdu Manaf, sudah menyerahkan tanggung jawab dan tugas turun-temurunnya yang merupakan hak istimewanya, yaitu mengurus dan memelihara Kakbah Suci, kepada Hasyim putra sulungnya yang sangat mulia karakter dan temperamennya.

Namun putera angkat dari Abdu Syams yang bernama Umayyah (berasal dari Romawi) tidak menyenangi adanya kekuasaan terbagi pada Hasyim. Lalu melalui suatu sidang kekeluargaan, Umayyah mencoba menyingkirkan Hasyim, akan tetapi hal ini tidak mendapatkan persetujuan dari banyak pihak.

Akhirnya masalah itu dibawa oleh Umayyah kehadapan hakim. Sayangnya hakim tersebut justru memutuskan kebenaran berada dipihak Hasyim. Maka jatuhlah keputusan hakim untuk menempatkan Umayyah keluar dari kota Mekkah selama 20 tahun untuk selanjutnya pergi Syam. Inilah awal dari permusuhan klan Bani Umayyah terhadap Bani Hasyim.

Penyeledikan terakhir yang dilakukan oleh ahli sejarah terkenal asal Irak, al-Amini, penulis karya ternama Al-Ghadîr dan peneliti Iran, Imad Zadeh, memaparkan riwayat dari Ibnu Atsir dan lainnya mengenai Abdu Syams dan Hasyim yang merupakan putra kembar Abdu Manaf yang lahir dengan punggung menyatu, kemudian dipisahkan dengan menunggunakan sebilah pisau. Seorang peramal nasib pada masa itu meramalkan permusuhan abadi antara keturunan dua putra kembar ini.

Kebencian dan pemusuhan antara kedua klan ini semakin kuat. Bani Hasyim memegang amanat sebagai pengawas dan pemelihara Rumah Suci Allah, Kakbah, sebuah posisi yang terhormat dan sangat diinginkan orang-orang, tidak terkecuali Bani Umayyah. Karakter murah hati Bani Hasyim tak memungkinkannya menimbun kekayaan, sedangkan egoisme dan kekikiran Bani Umayyah memberikan jalan baginya untuk menimbun kekayaan.

Api kedengkian Umayyah semakin besar ketika Abdul Muthalib, putra Hasyim, secara menakjubkan menemukan sumber air alami Zamzam yang tersembunyi dan tak pernah diketahui oleh siapapun selama berabad-abad. Penemuan ini menambah rasa hormat dan takzim orang di Jazirah Arab kepada Abdul Muthalib sebagai keturunan Ismail dan menambah kebencian Bani Umayyah.

Abdul Muthalib hanya menyembah Allah dan selalu menerima kehendak Allah tanpa protes. Kualitas imannya kepada Allah terlihat dengan segera dikabulkannya doa-doa yang dipanjatkan kepada-Nya, ketika pangeran Kristiani Abissinia sampai di derah pinggiran kota Mekkah bersama pasukan besar berkendara gajah yang hendak menghancurkan Kakbah. Sejarah mencatat peristiwa ini dalam surah al-Fîl.

Perseteruan keduanya belum juga berakhir hingga munculnya Nabi Terakhir, Muhammad bin Abdullah, yang merupakan bagian keluarga Bani Hasyim. Justru, “pengakuan” diri Muhammad sebagai utusan Allah, membuat Bani Umayyah semakin benci, karena hal itu berarti mereka harus tunduk dan mengikuti ajaran Muhammad.

Kisah-kisah teladan Nabi dalam menyampaikan risalah agama sudah sering kita dengar. Namun ada beberapa kejadian lain yang menimpa Nabi dan Bani Hasyim—mulai dari fisik hingga psikis—yang jarang kita dengar. Kita bisa memulainya dari isolasi atau embargo terhadap klan Bani Hasyim di lembah (syi’ib) Abu Thalib. Tidak boleh menikah, tidak boleh jual-beli, juga tidak boleh keluar lembah selama tiga tahun!

Cobaan psikis lain adalah riwayat-riwayat yang menyatakan bahwa Nabi bermuka masam, juga orang tua Nabi dan paman Nabi, yang menjaga dan melindungi Nabi berada di neraka. “Dosa” kedua orang tua Nabi adalah karena mereka orang tua Nabi, dan “dosa” Abu Thalib adalah karena ia ayah dari Ali.

Sebagai tambahan, Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib atau dikenal sebagai Ali Zainal Abidin pernah mendengar orang-orang mengatakan bahwa Abu Thalib adalah kafir. Dalam dadanya terdapat kesedihan dan jeritan bahwa kakeknya dianggap kafir, lalu mengatakan, “Sungguh aneh, sangat aneh. Apakah mereka mencela Abu Thalib ataukah Rasul? Allah telah melarang Rasul membiarkan perempuan mukmin tinggal bersama lelaki kafir dalam banyak ayat Alquran. Tidak seorang pun meragukan bahwa Fatimah binti Asad (istri Abu Thalib) adalah perempuan mukmin terdahulu…”

Imam Zainal Abidin ingin mengatakan bahwa jika Abu Thalib kafir maka tidak mungkin Rasul melawan perintah Allah dengan membiarkan istri Abu Thalib yang mukmin bersama Abu Thalib.

“Dosa” Abu Thalib adalah karena ia ayah dari Ali. Mengapa Ali? Ali, telah membunuh banyak musuh Islam yang terdiri dari pembesar Quraisy di Perang Badr, sekitar 24-36 orang. Di Perang Uhud, ketika para sahabat melarikan diri, Ali tetap setia berada di sisi Nabi. Begitu juga peran Ali di Perang Khandaq dan Perang Ahzab. Di Perang Hunain, ketika sebagian sahabat lari, Ali membunuh sekitar 40 musyrikin. Begitu seterusnya kisah Ali membunuh kaum musyrik.

Setelah apa yang diperbuat Ali, mungkinkah ia menjadi khalifah pengganti Nabi dan “pemimpin” bagi daerah Hijaz? Ali Syariati mengatakan, “Ali adalah ‘korban’ karena kekerabatannya dengan Rasulullah, karena hubungan kesukuan lebih kuat dibanding hubungan keislaman. Mereka masih tetap hidup dalam kesukuan dan tidak mungkin tahan menyaksikan kenabian dan kepemimpinan berada dalam Bani Hasyim.”

Setelah Ali, siapa lagi? Isterinya, Fatimah mengalami ujian berat. Warisan dari ayahnya direbut oleh penguasa dan bahkan rumahnya dikepung hanya agar ia dan keluarganya mengakui penguasa saat itu. Puteranya yang pertama, Hasan menerima stigma buruk oleh musuh Bani Hasyim sebagai orang lemah dan suka berganti istri. Kapan puncak ujian bagi Bani Hasyim?

Karbala; Ajang Balas Dendam

Puncak dari segala kebencian Bani Umayyah kepada Bani Hasyim ditumpahkan pada bulan Muharam. Peristiwa Karbala menjadi ajang balas dendam keluarga Umayyah yang diwakili oleh Yazid bin Muawiyah kepada Imam Husain bin Ali, tidak hanya sebagai cucu Nabi, tapi juga sebagai keturunan Hasyimiah. Salah satu tema besar yang diangkat oleh Yazid adalah dendam atas terbunuhnya leluhur Yazid.

Dendam ini telah tertanam dalam hati para pembesar Umayyah yang tidak bisa ditembus oleh cahaya agama Allah. Imam Husain selalu berusaha mencari jalan agar para musuhnya sadar atas apa yang akan mereka perbuat. Beliau berkata, “Celakalah kalian, atas dasar apa kalian memerangiku? Apakah karena aku mencampakkan kebenaran? Atau karena aku merubah syariat Allah dan meninggalkan sunah?”

Panglima perang Yazid menjawab dengan kalimat yang pasti atas kebenciannya kepada Hasyimiah, “Kami memerangimu karena kebencian kami kepada ayahmu (Ali bin Abi Thalib) dan atas apa yang telah dia perbuat terhadap kakek-kakek kami di Badr dan Hunain!”

Tidak ada jalan lagi. Nasihat sudah tidak mampu merubah niat mereka. Imam pun berteriak, “Aku adalah putra Ali dari keluarga Hasyim. Cukuplah ini sebagai kebanggaanku. Kakekku, Rasulullah, adalah manusia paling mulia di muka bumi. Kami (ahlulbait) adalah pelita Allah di kegelapan dunia. Fatimah ibuku adalah putera Ahmad. Pamanku, Ja’far, dikenal sebagai pemilik sayap di surga. Pada kamilah Alquran diturunkan. Kami adalah sumber kemuliaan wahyu dan petunjuk Ilahi. Kami ahlulbait adalah bahtera keamanan bagi para penduduk bumi. Kami memberitahukan ini kepada umat manusia dalam setiap keadaan. Di hari kiamat, pengikut kami adalah sebaik-baiknya pengikut. Para pembenci kami adalah orang yang paling merugi…”

Panglima perang berusaha membangkitkan semangat anak buahnya dengan berkata, “Celakalah kalian, tahukah kalian siapa yang kalian perangi? Ini adalah anak Ali bin Abi Thalib, pembunuh orang-orang Arab. Serang dia dari berbagai arah!” Pembantaian pun terjadi hingga akhirnya tawanan Bani Hasyim sampai di istana Yazid.

Yazid berdiri di hadapan Zainab binti Ali bin Abi Thalib dan berkata, “Andai nenek moyangku (yang terbunuh) di Badr menyaksikan pembalasan sebagaimana terhadap suku Khazraj dari pukulan-pukulan pedang. Niscaya nenek moyangku akan menyambut peristiwa Karbala dengan gembira sambil berkata, ‘Rahmat atasmu, wahai Yazid.’ Sebab kita telah berhasil membunuh salah satu tokoh dari pemimpin mereka, sehingga kita sandingkan hal itu sebagai bentuk pembalasan atas tragedi di Badr, maka hal itu akan menjadi impas. Sungguh Bani Hasyim telah dipermainkan oleh kekuasaan yang ada, tanpa hadis dari Nabi atau wahyu yang turun. Kemudian engkau berharap agar Husain tak terbunuh?”

Kalimat terakhir yang diucapkan Yazid tersebut menunjukkan bahwa dia tidak meyakini akan wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad dan hadis-hadis yang diucapkan beliau saw. Lalu Sayidah Zainab menimpali, “Bagaimana kami dapat berharap al-Husain tak terbunuh dihadapan cucu seseorang yang telah memakan hati Hamzah? Bagaimana kami dapat menyimpan harapan terhadap seseorang yang kebencian dan kedengkiannya pada kami telah membusuk dan memenuhi hatinya. Mereka yang selalu memandang kami dengan penuh kebencian dan permusuhan.” Sebagaimana kita tahu, pemakin hati dari Sayidina Hamzah bin Abdul Muthalib adalah Hindun isteri Abu Sufyan, nenek daripada Yazid.

Yazid pun menjawab, “Pembantaian di Perang Badr telah terbalas di Karbala.”

Ini merupakan klimaksnya. Tidak cukup Abu Thalib dicap sebagai kafir dengan riwayat murahan, keturunan Abu Thalib juga dibantai. Siapa saja korban Karbala? Beberapa di antaranya; Abu Bakar bin Ali bin Abi Thalib; Ja’far bin Ali bin Abi Thalib; Ja’far bin Aqil bin Abi Thalib; Abbas bin Ali bin Abi Thalib; Abdullah bin Husain bin Ali bin Abi Thalib; Abdullah bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib; Abdullah bin Muslim bin Aqil bin Abi Thalib; Abdurrahman bin Aqil bin Abi Thalib; Utsman bin Ali bin Abi Thalib; dan tentu saja hampir seluruh keluarga Imam Husain dan Bani Hasyim.

Antiklimaksnya, pada zaman dinasti Umayyah, Ali bin Abi Thalib dan isterinya dicaci maki di mimbar ulama murahan. Pecintanya dan pengikutnya dikejar-kejar dan dibunuh. Hingga sekarang, mereka yang menganggap Abu Thalib sebagai mukmin dan menganggap puteranya, Ali, sebagai imam juga dianggap sebagai sesat dan kafir.

Makam Ahlulbait Nabi Dihancurkan karena wahabi memusuhi mazhab keluarga Nabi SAW

Maqbarat Al-Baqi’ (مقبرة البقيع, Pemakaman Al-Baqi’) Jannatul Baqi‘ merupakan sebuah komplek pemakaman di kota Madinah, Arab Saudi, yang letaknya persis melewati Masjid Nabawi, area bagian tenggara dari masjid. Pemakaman ini juga dikenal sebagai Jannatul Baqi’ (جنة البقيع). Nama ini berarti “Taman Surga”. Nama lain yang dikenal adalah Baqi’ Al-Gharqad.

Masjid Nabawi merupakan masjid yang dibangun tepat di mana Nabi Muhammad biasa menjalani kehidupannya dan membangun masjidnya di mana saat ini beliau dimakamkan. Karena itu pemakaman ini memiliki banyak arti penting. Di tempat itu dimakamkan jasad para sahabat dan keluarga Nabi saw. Riwayat menyebutkan bahwa Nabi melakukan doa setiap kali beliau melewati pemakaman.

Pada masa pembangunan Masjid Nabawi, As’ad bin Zararah, salah seorang sahabat Nabi wafat. Nabi Muhammad memilih daerah sebagai pemakaman dan As’ad adalah orang pertama yang dimakamkan di pemakaman Al-Baqi’ dari kalangan Anshar. Riwayat lain menyebutkan sahabat pertama yang dimakamkan di Al-Baqi’ adalah Utsman bin Madhun wafat tahun 3 H.

Makam pada Masa Utsmaniah

Perluasan makam pertama dalam sejarah dilakukan oleh Muawiyah I, pemimpin Umayyah pertama. Dia membeli tanah tetangga yang luas di mana Utsman bin Affan dimakamkan sehingga berada di dalam pemakaman Al-Baqi. Umayyah membangun kubah pertama di Al-Baqi di atas kuburan Ustman bin Affan. Beberapa waktu kemudian dalam sejarah ada begitu banyak kubah dan bangunan yang dibangun di atas kuburan terkenal Al-Baqi’.

Penghancuran Makam

Sejak 1205 H hingga 1217 H kaum Wahabi mencoba menguasai Jazirah Arabia namun gagal. Akhirnya 1217 H mereka berhasil menguasai Thaif dengan menumpahkan darah Muslim yang tak bersalah. Mereka memasuki Mekah tahun 1218 H dan menghancurkan semua bangunan dan kubah suci, termasuk kubah yang menaungi sumur Zamzam. Tahun 1221, kaum Wahabi masuk kota Madinah dan menajiskan Al-Baqi dan semua masjid yang mereka lewati. Usaha menghancurkan makam Rasulullah berhenti karena protes masyarakat Muslim dunia.

Pada hari Rabu 8 Syawal 1345 H bertepatan dengan 21 April 1925, pemakaman Jannatul Baqi’ dihancurkan oleh Raja Abdul Aziz bin Saudi dari Arab Saudi. Pada tahun yang sama, ia juga menghancurkan makam manusia suci di Jannatul Mualla (Makkah) di mana ibunda Nabi Muhammad (Sayyidah Aminah as), istri Nabi, kakek dan leluhur Nabi dikuburkan. Kejadian ini menimbulkan protes dari masyarakat Muslim dunia.

Penghancuran situs suci di Hijaz oleh Saudi, yang diawali oleh Muhammad bin Abdul Wahhab berlanjut hingga sekarang. Keluarga Kerajaan Arab Saudi mempraktikkan bentuk Islam kaku yang disebut Wahhabisme, dan telah melakukan pemusnahan terhadap makam tersebut. Hasilnya, kitab dan peta yang ada di makam disita oleh penguasa. Meski demikian, makam orang-orang suci ini tetap dikunjungi oleh peziarah dan pemakaman juga berlanjut di pemakaman ini.

Banyak kaum Syiah yang melanjutkan untuk mengenang hari itu ketika Dinasti Saud menghancurkan pemakaman Al-Baqi’, semata-mata karena di sanalah dimakamkan keluarga Nabi Muhammad saw. Mereka menyebut hari itu (8 Syawal) sebagai Yaum Al-Gham (Hari Kesedihan). Kaum Syiah terus melakukan protes kepada pemerintah Saudi atas penghancuran ini.

Gambaran Pemakaman Jannatul Baqi’

Umar bin Jubair melukiskan Al-Baqi saat ia berkunjung ke Madinah berkata, “Al-Baqi’ terletak di Timur Madinah. Gerbang Al-Baqi’ akan menyambut Anda saat tiba di Al-Baqi’. Saat Anda masuk kuburan pertama yang Anda lihat di sebelah kiri adalah kuburan Shafiah, bibi Rasulullah. Agak jauh dari situ terletak pusara Malik bin Anas, salah seorang Imam Ahlus Sunnah dari Madinah. Di atas makamnya didirikan sebuah kubah kecil. Di depannya ada kubah putih tempat makam putra Rasulullah, Ibrahim.

Di sebelah kanannya adalah makam Abdurahman bin Umar putra Umar bin Khatab, dikenal sebagai Abu Syahma. Abu Syahma dihukum cambuk oleh ayahnya karena minum khamar. Hukuman cambuk untuk peminum khamar seharusnya tidak hingga mati. Namun Umar mencambuknya hingga ajal merenggutnya. Di hadapan kuburan Abu Syahma adalah makam Aqil bin Abi Thalib dan Abdulah bin Ja’far Ath-Thayyar. Di muka kuburan mereka terbaring pusara istri Rasul dan Abbas bin Abdul Mutalib.

Makam Imam Hasan bin Ali, terletak di sisi kanan dari gerbang Al-Baqi’. Makam ini dilindungi kubah tinggi. Di sebelah atas nisan Imam Hasan adalah makam Abbas bin Abdul Muthalib. Kedua makam diselimuti kubah tinggi. Dindingnya dilapisi bingkai kuning bertahtakan bintang indah. Bentuk serupa juga menghias makam Ibrahim putra Rasulullah. Di belakang makam Abbas berdiri rumah yang biasa digunakan Fatimah binti Rasulullah as. Biasa disebut “Bait al-Ahzân” (Rumah Duka Cita). Di tempat ini putri Rasulullah biasa berkabung mengenang kepergian ayahnya tercinta Rasulullah saw. Di ujung penghabisan Al-Baqi’ berdiri kubah kecil tempat Utsman dimakamkan. Di dekatnya terbaring ibunda Ali bin Abi Thalib, Fatimah binti Asad.”

Satu setengah abad kemudian pengelana terkenal Ibnu Batutah mengunjungi Al-Baqi’ dan menemukan Al-Baqi’ tidaklah berbeda dengan yang dilukiskan Ibnu Jubair. Ia menambahkan, “Al-Baqi’ adalah kuburan sejumlah kaum Muhajirin dan Anshar dan sahabat nabi lainnya. Kebanyakan mereka tidaklah dikenal.” (Hakikat Wahabi)

Atas (Makam Abbas) – Kiri ke Kanan (Makam Imam Hasan, Ali Zainal Abidin, Muhammad Al-Baqir, Ja’far Ash-Shadiq)

Pribadi Penting di Jannatul Baqi’

Di antaranya adalah keluarga langsung Nabi Muhammad saw: Seluruh istri Nabi yang disebut Ummul Mukminin termasuk Aisyah, Hafshah, Zainab, dan lain-lain terkecuali Khadijah binti Khuwailid dan Maimunah binti Al-Harits. Makam Fatimah Az-Zahra, putri Nabi yang tidak diketahui posisinya, begitu juga dengan Ruqayah putri Nabi yang lain.

Kemudian Ibrahim, putra Nabi Muhammad dari Maryam Al-Qibthiah. Abbas bin Abdul Muthalib, paman Nabi saw. Bibi dari Nabi Muhammad seperti Shafiah dan Atikah. Begitu juga dengan bibi Nabi Muhammad yang lain, Fatimah binti Asad, yang juga ibu dari Ali bin Abi Thalib. Dari keluarga Ahlul Bait: Hasan bin Ali, cucu Nabi, putri Fatimah dan Ali (Imam Kedua Ahlul Bait), Ali Zainal Abidin (Imam Keempat), Muhammad Al-Baqir (Imam Kelima), Ja’far Ash-Shadiq (Imam Keenam).

Kerajaan Saud dan diamnya ulama Wahabi, lebih menghendaki dibangunnya jam raksasa disamping Kakbah yang dibawahnya terdapat hotel mewah milik Barat, daripada harus membangun dan memperbaiki makam keluarga dan sahabat Nabi saw.

 

Nabi Muhammad SAW adalah nabi terakhir yang memiliki kemuliaan dan derajat yang tinggi,baik di langit maupun di bumi. Kemuliaannya diakui oleh Alloh SWT dengan pernyataanNya,Innaka la ‘ala khuluqin ‘adhim, sesungguhnya Engkau (ya,Muhammad) berada diatas akhlak yang agung (QS.Al Qolam 4).Jika yang kecil menyifati sesuatu dengan ‘agung’,yang dewasa belum tentu menganggapnya agung.Tetapi jika Yang Maha Besar Alloh yang menyifati sesuatu dengan kata agung,maka tidak dapat terbayangkan betapa besar keagungannya.Dan sudah tentu,makhluk yang agung tidak keluar kecuali dari rahim yang agung pula !
 .
Nabi Muhammad SAW adalah penghuni bumi yang paling baik nasabnya secara mutlak. Nasab beliau dari segi kemuliaan berada di puncaknya. Musuh-musuh beliau memberi pengakuan untuknya atas hal tersebut. Diantara musuh beliau yang memberikan pengakuan akan indahnya nasab beliau adalah Abu Sufyan(sebelum masuk islam), yang dikala itu berhadapan denga penguasa Romawi. Kaum yang paling mulia adalah kaumnya,kabilah yang paling mulia adalah kabilahnya dan marga yang paling mulia adalah marganya (Ibnu Qoyyim al Jauziyah,Zaadul Ma’ad,I/32)
.
Dan Rasulullah pernah bersabda,”Aku selalu berpindah-pindah dari tulang sulbi orang-orang yang suci kedalam rahim-rahim wanita yang suci pula”(Dinukil oleh Al Hamid Al Husaini,dalam bukunya Pembahasan Tuntas Perihal Khilafiyyah,hal.600-601).Itu artinya Nabi saw adalah manusia tersuci yang telah disiapkan kelahirannya dengan membuatnya keluar dari rahim yang suci pula,yaitu Aminah ra
.
Dinukil oleh Ibnul Jauzi,dalam kitab Al Wafa’ (terjemahan),hal.74 :Abdurrahman bin ‘Auf berkata,”Ketika Rasulullah saw dilahirkan,ada jin yang berbicara di bukit Abu Qubais di daerah ‘Ujun- yang pada mulanya tempat itu adalah sebuah kuburan dan orang-orang Quraisy merusakkan pakaian mereka di daerah itu-.Jin itu berkata dengan syair berikut :
“Aku bersumpah tidak seorang pun dari golongan manusia yang telah melahirkan Muhammad selain ia (Aminah).
Seorang wanita dari suku Zuhrah yang memiliki sifat-sifat terpuji dan selamat dari kecelaan para suku-suku, bahkan mereka memujinya
.
Wanita itu telah melahirkan manusia terbaik yaitu Ahmad.
Orang yang terbaik itu dimuliakan
Serta orangtuanya pun dimuliakan juga”…
Bahkan Nabi SAW pernah menjelaskan bahwa nasabnya adalah suci (ayah-ayahnya adalah keturunan manusia yang suci),”Saya Muhammad bin Abdillah bin Abdul Muthollib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushay bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizaar. Tidaklah terpisah manusia menjadi dua kelompok (nasab) kecuali saya berada diantara yang terbaik dari keduanya. Maka saya lahir dari ayah – ibuku dan tidaklah saya terkena ajaran jahiliyyah dan saya terlahir dari pernikahan (yang sah).Tidaklah saya dilahirkan dari orang yang jahat sejak Adam sampai berakhir pada ayah dan ibuku. Maka saya adalah pemilik nasab yang terbaik diantara kalian dan sebaik-baik nasab (dari pihak) ayah” (Baihaqi dalam Dalailun Nubuwwah dan Imam Hakim dari Anas ra.) Hadis ini diriwayatkan pula oleh Ibn Katsir dalam tafsirnya juz 2,hal.404 dan juga oleh Imam Ath Thobari dalam tafsirnya juz 11, hal. 76.
Juga sabda Nabi SAW,”Saya adalah Nabi yang tidak berdusta, Saya adalah putra Abdul Mutholib.”(HR.Bukhori no.2709,2719,2772,Shahih Muslim no.1776)
.
Lihatlah dari hadis-hadis diatas,nampak jelas sekali bahwa tidak mungkin orang tua Nabi adalah orang-orang kafir atau musyrik. Sedangkan Nabi SAW telah membanggakan kedua orang tuanya sebagai nasab yang terbaik.Bagaimana mungkin ada manusia yang tega mengatakan orang tua,bapak atau ibu Nabi saw lagi disiksa di neraka?Sungguh itu sama halnya menyakiti hati Nabi saw
.
Demikian juga ucapan Nabi SAW kepada Sa’ad bin Abi Waqqash di peperangan Uhud ketika beliau SAW melihat seorang kafir membakar seorang muslim,maka Rasulullah SAW bersabda kepada Sa’ad,”Panahlah dia,jaminan keselamatanmu adalah Ayah dan ibuku!’, maka Sa’ad berkata dengan gembira,’Rasulullah SAW mengumpulkan aku dengan nama ayah dan ibunya!’ “(HR Bukhori,Bab. Manaqib Zubair bin Awam no.3442,hadis no.3446, Bab.Manaqib Sa’ad bin Abi Waqqosh Al-Zuhri.)
.
Bagaimana mungkin Sa’ad berbahagia disatukan dengan orang tua Rasulullah,jika keduanya orang-orang musyrik??
Maka apa kata dunia? Jika nabinya ummat Islam lahir dari rahim perempuan musyrik? Padahal Isa as. Lahir dari rahim perempuan yang suci!!.Apa kata dunia jika Nabinya ummat islam lahir dari rahim perempuan kafir?Padahal banyak perempuan yang beriman melahirkan anak-anak yang tidak memiliki keistimewaan,sedangkan Rasul keistimewaannya diakui di dunia langit maupun bumi lahir dari perempuan musrik?. Sungguh tidak logis!!
Sungguh harus dipertimbangkan pendapat tentang kemusyrikan orang tua Nabi !
.
Ahlul Fatrah
Adalah suatu masa dimana terjadi kekosongan nubuwwah dan risalah. Seperti orang-orang jahiliyyah yang belum datang kepada mereka risalah kenabian,maka mereka masuk kategori ahlu fatrah,yang mereka termasuk ahli surga juga. (Prof.DR.Wahbah Zuhaili,tafsir Al Munir,juz 8, hal.42)
.
Hal itu berdasarkan firman Alloh QS. Al Isro’ 15 yang artinya,”Kami tidaklah mengadzab (suatu kaum) hingga kami mengutus (kepada mereka) seorang rasul
.
Dari ayat itu, maka orang-orang yang hidup sebelum Nabi Muhammad SAW diutus, mereka adalahAhlu fatrah yang tidak diadzab atas perbuatannya. Karena sebagai bentuk keadilan Alloh adalah mengadzab suatu kaum setelah jelas risalah datang kepada mereka namun tidak diindahkannya.
.
Dan dari ayat itu pula,dapat dipahami bahwa keluarga nabi saw sebelum dirinya diangkat menjadi Nabi dan Rasul,adalah termasuk ahlu fatrah.Dan karena itu mereka tidak diadzab dan tidak digolongkan kepada orang-orang musrik atau kafir
.
Bagaimana dengan riwayat bahwa Nabi saw menangis dipusara ibunya?. Dan hadis tersebut dikaitkan sebagai asbabun nuzul ayat 113 dari QS .At Taubah; “Tiadalah sepatutnya bagi nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun[kepada Alloh] bagi orang-orang musyrik,walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya),sesudah jelas bagi mereka,bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka Jahanam”.??
Beberapa ulama’ (salah satunya Ibn Katsir,Mukhtashor li Ali as Shobuni,juz 2,hal.173),menyebutkan sebuah riwayat,bahwa rasulullah saw. Suatu ketika berziarah ke kuburan dan menangis tersedu-sedu.Sayidina Umar bertanya tentang sebab tangis beliau.Beliau menjawab,”Aku menangis di kubur ibuku,Aminah. Aku memohon kepada Alloh kiranya beliau diampuni,tetapi alloh tidak memperkenankan dan turun kepadaku firmanNya (At Taubah 113-114). Aku sedih dan kasihan kepada ibuku, dan itulah yang menjadikan aku menangis”(HR.Ibn Hibbah,Abi Alatim dan Al Hakim melalui Ibn Mas’ud)
.
Riwayat ini dinilai dhoif oleh pakar hadis Adz Dzahabi,karena dalam renteten perawinya terdapat nama Ayyub yang berstatus lemah (Prof.DR.Quraish Shihab,Al Misbah ,jilid 5,hal.735).Dan pakar tafsir lainnya seperti DR.Wahbah Zuhaily mengomentari ulama yang menyatakan hadis tersebut sebagai sebab turunnya ayat 113,QS at Taubah,dengan komentar bahwa itu jauh dari fakta sebab orang tua Rasul hidup di masa fatrah,sehingga tidak tepat hadis tentang tangisan nabi saw dipusara ibunya sebagai sebab turunnya ayat tersebut.[lihat tafsir Al Munir ,juz 6,hal 64]
.
Dan banyak lagi hadis yang senada dengan itu,namun dengan redaksi yang berbeda,seperti yang diriwayatakan,Ahmad,Muslim, Abu Dawud dari jalur Abu Hurairoh. Dan jika kita terima kesahihan hadis tangisan Nabi diatas kuburan ibunya tersebut,maka ada beberapa hal harus dipertimbangkan untuk membatalkan hadis tersebut sebagai dalil kemusyrikan Ibu nabi SAW,sebagai berikut:
1. 1. Hadis tersebut secara manthuq (tekstual) tidak menyebut kekafiran atau kemusyrikan ibu Nabi secara tegas dan jelas.Sehingga agak ceroboh kalau dengan ketidak jelasan manthuq hadis tersebut langsung menyatakan kemusrikan ibunda Nabi saw.
2. 2. Hadis-hadis tersebut yang menyatakan bahwa kejadian rasulullah menangis di kuburan ibunya di kota Mekkah,menurut ibnu Sa’ad berita itu salah,sebab makam ibu Nabi itu bukan di Mekkah tapi di ‘Abwa (suatu wilayah yang masih masuk kota Madinah). (Al Wafa’,ibn Al Jauzi,terjemahan hal.96, Lihat juga Zaadul Ma’ad jilid I,hal.36 terkait dalil tempat wafatnya ibunda Nabi saw)
.
3. 3. Hadis-hadis tersebut termasuk hadis ‘Inna Abiy wa abaaka finnar (Sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka” (HR.Muslim) dibatalkan (mansukh) oleh QS.Al Isra’ 15.”Dan Kami tidak mengadzab (suatu kaum) hingga kami mengutus(kepada mereka) seorang rasul”(rujuklah pada Masaalikul Hunafa Fii Hayaati Abawayyil Musthofa,karya Imam As Suyuthi,hal.68).Alasan pembatalannya adalah mereka ayah dan ibunda Nabi saw hidup sebelum ada risalah nubuwwah,karena itu mereka termasuk ahlu fatrah yang terbebas dari syari’at Rasululloh saw
.
4. 4. Khusus hadis riwayat Muslim,Inna Abiy wa Abaaka fin Nar/Sesungguhnya bapakku dan bapakmu di neraka,adalah bahwa yang dimaksud Abi di hadis tersebut adalah paman.Karena kebiasaan Alloh didalam al Quran,sering ketika ada kata-kata Abun,maka yang dimaksud adalah bukan orang tua kandung.Alloh berfirman dalam QS.Al Baqoroh 133,yang artinya ; “Adakah kamu hadir ketika Ya’qub mau meninggal,ketika Ia berkata kepada anak-anaknya;Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab;’Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan bapak-bapakmu,Ibrahim,Isma’il dan Ishaq,yaitu Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepadaNya.” Padahal Ayah Ya’qub adalah Ishaq bukan Ibrahim atau Ismail.Namun Alloh menyebutkan Ibrahim dan Ismail sebagai Aaba’(ayah-ayah) dari Ya’qub,maksudnya adalah kakek atau paman dari Ya’qub.Dan untuk penyebutan orang tua kandung,biasanya Al quran menggunakan kata Waalid.Sebagaimana Alloh berfirman; “Robbanagh Fir Li Wa Li Waliidayya…/Ya Tuhan Kami Ampunilah aku dan ibu bapakku…”.QS.Ibrahim 41
.
5. 5. Hadis-hadis tersebut bertentangan dengan nash hadis lain seperti yang kami tulis diatas,bahwa nabi lahir dari nasab yang suci.
.
6. 6. Dikatakan oleh Al Qadhiy Abu Bakar Al A’raabiy bahwa orang yang mengatakan orang tua Nabi saw di neraka, mereka di laknat oleh Allah swt, sebagaimana FirmanNya: “Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allah akan melaknatinya di dunia dan akhirat, dan disiapkan bagi mereka azab yang menghinakan.” (QS. Al-Ahzab: 57)Berkata Qadhiy Abu Bakar, “Tidak ada hal yang lebih menyakiti Nabi SAW ketika dikatakan bahwa ayahnya atau orang tuanya berada di neraka, dan Nabi saw bersabda : ‘Janganlah kalian menyakiti yang hidup karena sebab yang telah wafat.’ (Masalikul Hunafa’ Fii Hayaati Abawayyil Musthofa, hal. 75 lil Imam Suyuthi)
.
Demikian pendapat ulama bahwa orang tua Nabi SAW bukan orang-orang musyrik, karena wafat sebelum kebangkitan Risalah dan menjadi ahli fatrah, dan tak ada pula nash yg menjelaskan mereka sebagai menyembah berhala. Diantara Ulama yang berpendapat bahwa orang tua Nabi bukan musyrik menurut Al Habib Munzhir bin Fuad Al Musawa adalah :
Hujjatul Islam Al Imam Syafii dan sebagian besar ulama syafii, Al Hafidh Al Muhaddits Al Imam Qurtubi, Al Hafidh Al Imam Assakhawiy, Al hafidh Al Muhaddits Al Imam Jalaluddin Abdurrahman Assuyuthi yg mengarang sebuah buku khusus tentang keselamatan ayah bunda nabi saw, Al hafidh Al Imam Ibn Syaahin, Al Hafidh Al Imam Abubakar Al baghdadiy, Al hafidh Al Imam At thabari, Al hafidh Al Imam Addaruquthniy dan masih banyak lagi yang lainnya
.
Bagaimana dengan Abu Tholib ?
Dalam QS.Al Qoshosh 56,yang artinya:”Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Alloh memberi petunjuk kepada orang yang dikehendakiNya dan Alloh lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk
.
Asbabul nuzul ayat ini menurut Ibn Katsir, yang dinukil dari shohihan (Bukhori dan Muslim) terkait dengan detik-detik wafatnya pamanda Rasulullah saw.
.
Dari Sa’id bin Musayyab ra.,dari bapaknya katanya”Ketika Abu Tholib hampir meninggal dunia Rasulullah saw datang mengunjunginya,didapati beliau disana telah ada Abu Jahl dan Abdullah bin Abi Umayyah bin Mighiroh. Kemudian Rasullah saw bersabda,”wahai paman ,ucapkanlah La ila ha ilaallah,yaitu sebuah kalimat yang aku akan menjadi saksi bagi paman nanti dihadapan Allah”.Kemudian Abu Jahl dan Abdullah bin Abi Umayyah berkata;”Hai abu Tholib! Bencikah anda kepada agama Abdul Mutholib”.Rasulullah terus menerus mengulang-ulang ucapannya itu, tetapi akhirnya Abu Tholib mengatakan”Dia tetap memegang agama Abdul Mutholib dan enggan mengucapkan la ila ha illallah.Kemudian Rasulullah SAW bersabda:”Demi Allah! Akan kumohonkan ampun bagi paman,selama aku tidak dilarang melakukannya”.Kemudian turun QS.al Qoshos 56.(Bukhori dan Muslim,Mukhtashor Ibnu Katsir,juz 3,hal.19 oleh DR.Ali Ashobunny)
.
Dan ada pula anggapan bahwa hadis tersebut sebagai sebab turunnya QS.at Taubah 113,namun hal ini dibantah,karena QS.at Taubah 113 tersebut termasuk madaniyyah(Ayat yang turun di Madinah),sedangkan Abu Tholib meninggal di Mekkah sebelum hijrah,jadi tidak cocok dengan fakta sejarah.(lihat,Tafsir Al Munir,li Wahbah,juz 6,hal.61).
Dari hadis ini ada anggapan bahwa Abu Tholib mati dalam kondisi kafir,Tentu anggapan tersebut belum tentu benar karena argumentasi sebagai berikut:
.
1. Hadis tersebut dan nash lain tidak menyebut secara manthuq (tekstual) yang jelas tentang kekufuran Abu Tholib,sehingga masih ada peluang bagi kita untuk berkhusnudzon dengan beliau. Dan itu jauh lebih selamat dan aman bagi kita
.
2. Justru ada hadis dengan redaksi yang lain yang memperkuat argument pertama tersebut yang diriwayatkan oleh Imam Muslim,Tirmidzi dan Al Baihaqi dari Abu Huroiroh bahwa Rasulullah bersabda kepada pamannya’”Wahai pamanku,ucapkanlah la ilaa ha illallah,niscaya aku akan bersaksi untukmu disisi Alloh pada hari Kiamat”Abu tholib menjawab,”Seandainya kaum Quraisy tidak mencelaku dengan berkata,’Tidak ada yang mendorongnya mengucapkannya kecuali karena kesedihannya menghadapi maut,niscaya aku mengucapkannya untukmu”.Maka turunlah firman Alloh QS.Al Qoshosh 56 itu (DR.Wahbah Zuhaily,juz 10,hal.498 dan Tafsir Ibnu Kastir,Mukhtashor,Ali ash shobuni,juz 3,hal 19)
.
Perhatikanlah! Abu Tholib enggan mengucapkan kalimat syahadat bukan karena tidak beriman dengan kalimat tersebut,namun karena taqqiyah (strategi membela diri dengan menyembunyikan keimanannya) agar terhindar dari celaan orang Quraisy yang menganggapnya masuk Islam karena mau mati saja. Padahal hakekatnya dibatin beliau telah menerima keimanan kepada Alloh dan rasulNya.Ini dibuktikan dalam tarikh/sejarah ketika Abu Tholib mengajak nabi pada saat umur 9 tahun ke Syam dan bertemu pendeta/ rahib Bahira yang melihat tanda kenabiannya dan hal itu disampaikan ke Abu Tholib agar berhati-hati karena orang-orang yahudi tidak menyukai hal itu(Zaadul Maa’ad,juz 1,hal.37)
.
Sejak itu pasti beliu mengimani nubuwat yang dibawa rasul saw,Karena bagaimana mungkin beliau dianggap kafir atau musrik padahal beliau merahasiakan kenabian Muhammad dari musuh-musuhnya??Mungkin ada yang menjawab; ‘Dirahasiakannya karena dia menyayangi keponakannya itu’,namun itu dapat dibantah dengan Abu Lahab yang juga pamannya dan juga menyanginya,kenapa menentangnya? Renungkan wahai manusia yang beriman !!
.
Dan telah berkata al Zajjaj ; “Telah sepakat ummat islam bahwa ayat 56 dari al Qoshosh itu turun terkait pada Abu Tholib.Yang ketika itu beliau berkata disaat jelang kematiannya(kepada orang-orang Quraish) : ‘Wahai masyarakat bani abdi Manaf,ta’atlah kalian dan benarkan (shoddiquuhu) oleh kalian ajaran Muhammad!,maka kalian akan sukses dan mendapatkan petunjuk’.Maka bersabda Nabi saw : “Wahai pamanku,engkau menasehati mereka dan engkau meninggalkan dirimu?”.Berkata abu Tholib :’Maka apa yang kamu inginkan wahai keponakanku?’.Bersabda Nabi saw: “saya menginginkan darimu hanya satu kalimat saja agar di akhir hidupmu ini di dunia hendaknya dengan berkata ‘la ilaaha illalloh’,dan dengan kalimat itu saya akan bersaksi di sisi Alloh swt {kelak dikemudian hari}”.Berkata Abu Tholib:’Wahai keponakanku,sungguh saya tahu kalau [ajaran]mu benar,namun saya enggan dikatakan[kalau mengucapkan kalimat tersebut,]sebagai kesedihan saja dalam menghadapi kematian.Kalau sendainya[setelah mengucapkan kalimat tersebut] tidak terjadi pada dirimu dan bani ayahmu penghinaan dan celaan paska kematianku,sungguh aku akan mengatakan itu dihadapanmu ketika aku berpisah[mati],ketika aku lihat besarnya rasa cintamu dan nasehatmu.Namun sepertinya saya akan mati di atas agama abdul Muthollib,Hasim dan abdu Manaf.[Tafsir Al Munir,Wahbah juz 10 ,hal 499-500].
.
Tidak sulit untuk dibayangkan,seumpama ketika itu Abu Tholib memeluk islam dengan cara seperti yang dilakukan Oleh Hamzah,Abu Bakar,Umar dan Usman radliyallohu ‘anhum,tentu ia tidak akan dapat memberi perlindungan dan pembelaan kepada Rasululloh saw.Karena kaum musyrikin quraish pasti memandangnya sebagai musuh,bukan sebagai pemimpin masyarakat Mekkah yang harus dihormati dan disegani.Jika demikian tentu ia tidak mempunyai lagi kewibawaan untuk menumpulkan atau menekan perlawanan mereka terhadap Rasululloh saw,dan juga tidak dapat membentengi dakwah beliau.Memang benar ,pada lahirnya Abu Tholib nampak seagama dengan mereka,tetapi apa yang ada di dalam batinnya tentu hanya alloh yang tahu.Karena itu jangan ceroboh menuduhnya musyrik
.
3. Bagaimana mungkin beliau dikatakan seorang yang kafir,padahal beliaulah yang membela dakwah Nabi saw dengan jiwa dan hartanya.Dan bagaimana pula beliau disamakan dengan orang kafir quraish yang selalu menentang dan mengintimidasi Nabi saw,padahal Abu Tholib melakukan sebaliknya
.
4. Adapun QS Al Qoshosh 56,itu terkait bahwa nabi saw tidak dapat memaksakan kehendak berhidayahnya seseorang sekalipun kepada yang dicintai.Karena kewenangan memberikan hidayah taufiq hanya Alloh swt.Seolah ayat tersebut menginfokan kepada Nabi saw bahwa hidayah pamannya itu adalah berada dalam urusanNya.Dan tidak ada dari dhohirnya ayat tersebut yang menunjukkan kepada kufurnya Abu Tholib
.
5. Perkara ini adalah khilafiyah atau terjadi perbedaan pendapat dikalangan ahlus sunnah sendiri.Maka seyogjanya kita mengambil pendapat yang tidak berefek madhorrot bagi aqidah kita atau minimal mengambil pendapat yang efek madhorrotnya paling ringan.Dan pendapat yang paling ringan adalah menganggap Abu Tholib seorang paman Nabi yang tidak masuk kafir,karena minimal itu dapat menjadi sikap husnuzhon kita atas beliau.Namun jika kita mengatakan beliau kafir,dan seandainya disisi Alloh beliau ternyata mukmin maka kita sudah terkena dosa fitnah atas tuduhan kekufuran kepadanya dan itu madhorrot yang besar dalam aqidah kita.Oleh karena itu lebih baik bagi kita adalah berhusnuzhon saja karena tidak ada gunanya bagi kita untuk mengkafirkan beliau.
 .
Di sisi lain,kalaupun-seandainya- tidak ada perbedaan pendapat ulama menyangkut keislaman Abu Thalib dan semua sepakat menyatakan keengganannya beriman,namun karena hal tersebut pasti menyedihkan Nabi Muhammad saw,maka demi menjaga perasaan beliauserta mengingat jasa-jasa Abu Thalib kepada Nabi saw,maka hendaknya persoalan itu tidak dibahas secara panjang lebar,apalagi ayat diatas(at taubah 113 dan al Qoshosh 56) berbicara secara umum.dan dapat mencakup siapapun dan kapanpun
.
Sayyid Muhammad Rasyid dalam Tafsir Al Manar menguraikan pendapat sementara ulama tentang hadis Nabi saw. Yang menyatakan :”Seandainya Fathimah putri Muhammad mencuri,niscaya pasti kupotong tangannya”(HR.Bukhari dan Muslim melalui ‘Aisyah ra).Menurutnya ada ulama yang enggan menyebut Fathimah dalam riwayat ini,dan menggantinya dengan kata Fulanah (si A) atas pertimbangan bahwa perasaan Nabi akan tersinggung bila orang lain menyebut nama putri beliau sebagai contoh untuk sesuatu yang buruk. Demikian kesimpulan dari pesan bijak DR.Quraish Shihab dalam tafsir Al Misbah
.
Dan ada kata bijak lainnya yang patut direnungkan ; “Menuduh orang kafir sebagai mukmin tidaklah berdosa,namun menuduh orang mukmin sebagai orang yang kafir dan musyrik adalah dosa besar.”

Benarkah Ayah Nabi Ibrahim Kafir ?

.
 
Masalah di atas merupakan masalah yang kontroversial. Barangkali untuk sebagian orang, masalah ini sudah selesai, dengan pengertian bahwa ayah Nabi Ibrahim adalah kafir, penyembah sekaligus pembuat patung. Dan kebanyakan dari kaum muslimin meyakini seperti itu. Padahal ada sebagian mufassirin dan ulama yang berpendapat bahwa ayah nabi Ibrahim seorang mukmin, paling tidak, ia hidup pada zaman fatrah . Sehingga ia tidak bisa dikatakan kafir dan juga tidak bisa dikatakan beriman, karena misi dan dakwah para nabi tidak sampai kepadanya.
.
Tulisan ini mencoba ingin mendobrak apa yang dianggap pasti kebenarannya oleh mayoritas muslimin. Pertama ingin ditegaskan bahwa kekufuran ayah nabi Ibrahim bukan bagian dari ajaran Islam yang esensial (al ma’lum minaddini bi al dharurah ), sehingga kekufurannya masih bisa dikaji ulang. Dan kalau ada pendapat yang bertentangan dengan pendapat mayoritas dalam masalah ini, maka jangan diartikan sebagai pertentangan terhadap ajaran agama, karena, malah, bisa jadi pendapat mayoritas yang keliru. Kedua bahwa untuk menilai seseorang itu kafir tidak semudah membalik telapak tangan. Penilaian ini sebenarnya hak Allah swt. dan dalam tataran syar’i membutuhkan kehati-hatian. Termasuk diantaranya apakah Abu Thalib kafir atau mukmin ?
.
Dalil yang dijadikan sebagai dasar pengkafiran ayah nabi Ibrahim adalah beberapa ayat yang menyebutkan Azar sebagai “ab ” Ibrahim. Misalnya ayat yang berbunyi, ” Ingatlah      (ketika), Ibrahim berkata kepada “ab “nya Azar, ” Apakah anda menjadikan patung-patung sebagai tuhan ?. Sesungguhnya Aku melihatmu dan kaummu berada pada kesesatan yang nyata “.( al An’am 74 ).
.
Atas dasar ayat ini, ayah Ibrahim yang bernama Azar adalah seorang kafir dan sesat. Kemudian ayat lain yang memuat permohonan ampun Ibrahim untuk ayahnya ditolak oleh Allah dikarenakan dia adalah musuh Allah ( al Taubah 114). Menarik kesimpulan dari ayat di atas dan sejenisnya bahwa ayah nabi Ibrahim seorang kafir terlalu tergesa-gesa, karena kata ” abun ” dalam bahasa Arab tidak hanya berarti ayah kandung saja. Kata ini juga juga berarti, ayah tiri, paman, dan kakek. Misalnya al Qur’an menyebutkan Nabi Ismail sebagai “ab ” Nabi Ya’kub as., padahal beliau adalah paman NabiYa’kub as
.
“Adakah kalian menyaksikan ketika Ya’kub kedatangan (tanda-tanda) kematian, ketika ia bertanya kepada anak-anaknya, ” Apa yang kalian sembah sepeninggalku ? “. Mereka menjawab, ” Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan ayah-ayahmu, Ibrahim, Ismail dan Ishak, Tuhan yang Esa, dan kami hanya kepadaNya kami berserah diri “. ( al Baqarah 133 ) Dalam ayat ini dengan jelas kata “aabaaika ” bentuk jama’ dari ” ab ” berarti kakek     (Ibrahim dan Ishak) dan paman (Ismail).
.
Dan juga kata ” abuya ” atau ” buya ” derivasi dari ” ab ” sering dipakai dalam ungkapan sehari-hari bangsa Arab dengan arti guru, atau orang yang berjasa dalam kehidupan, termasuk panggilan untuk almarhum Buya Hamka, misalnya.
Dari keterangan ringkas ini, kita dapat memahami bahwa kata “ ab ” tidak hanya berarti ayah kandung, lalu bagaimana dengan kata ” ab ” pada surat al An’am 74 dan al Taubah 114 ?. Dengan melihat ayat-ayat yang menjelaskan perjalanan kehidupan Nabi Ibrahim as. akan jelas bahwa seorang yang bernama ” Azar “, penyembah dan pembuat patung, bukanlah ayah kandung Ibrahim, melainkan pamannya atau ayah angkatnya atau orang yang sangat dekat dengannya.
.
Pada permulaan dakwahnya, Nabi Ibrahim as. mengajak Azar sebagai orang yang dekat dengannya, “Wahai ayahku, janganlah kamu menyembah setan, sesungguhnya setan itu durhaka Tuhan yang Maha Pemurah “.( Maryam 44 ).
Namun Azar menolak dan bahkan mengancam akan menyiksa Ibrahim. Kemudian dengan amat menyesal beliau mengatakan selamat jalan kapada Azar, dan berjanji akan memintakan ampun kepada Allah untuk Azar. ” Berkata Ibrahim” Salamun ‘alaika, aku akan memintakan ampun kepada Tuhanku untukmu “.( Maryam 47 ).
.
Kemudian al Qur’an menceritakan bahwa Nabi Ibrahim as. menepati janjinya untuk memintakan ampun untuk Azar seraya berdoa, “ Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan gabungkan aku bersama orang-orang yang saleh. Jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang yang datang kemudian. Jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mewarisi surga yang penuh kenikmatan, dan ampunilah ayahku ( abii ), sesungguhnya ia adalah termasuk golongan yang sesat. Jangnlah Kamu hinakan aku di hari mereka dibangkitkan kembali, hari yang mana harta dan anak tidak memberikan manfaat kecuali orang yang menghadapi Allah dengan hati yang selamat”. (al Syua’ra 83-89 ).
Allamah Thaba’thabai menjelaskan bahwa kata ” kaana ” dalam ayat ke 86 menunjukkan bahwa doa ini diungkapkan oleh Nabi Ibrahim as. setelah kematian Azar dan pengusirannya kepada Nabi Ibrahim as. ( Tafsir al Mizan 7/163).
.
Setelah Nabi Ibrahim as. mengungkapkan doa itu, dan itu sekedar menepati janjinya saja kepada Azar, Allah menyatakan bahwa tidak layak bagi seorang nabi memintakan ampun untuk orang musyrik, maka beliau berlepas tangan (tabarri ) dari Azar setelah jelas bahwa ia adalah musuh Allah swt. (lihat surat al Taubah 114 ) Kemudian pada perjalanan kehidupan Nabi Ibrahim yang terakhir, beliau datang ke tempat suci Mekkah dan mempunyai keturunan, kemudian membangun kembali ka’bah, beliau berdoa, “ Ya Tuhan kami, ampunilah aku, kedua walid- ku dan kaum mukminin di hari tegaknya hisab “.            (Ibrahim 41).
.
Kata “walid ” hanya mempunyai satu makna yaitu yang melahirkan. Dan yang dimaksud dengan “walid ” disini tidak mungkin Azar, karena Nabi Ibrahim telah ber-tabarri dari Azar setelah mengetahui bahwa ia adalah musuh Allah ( al taubah 114 ). Dengan demikian, maka yang dimaksud dengan walid disini adalah orang tua yang melahirkan beliau, dan keduanya adalah orang-orang yang beriman. Selain itu, kata walid disejajarkan dengan dirinya dan kaum mukminin, yang mengindikasikan bahwa walid- beliau bukan kafir. Ini alasan yang pertama.
.
Alasan yang kedua, adalah ayat yang berbunyi, ” Dan perpindahanmu (taqallub) di antara orang-orang yang sujud “.( al Syua’ra 219 ). Sebagian ahli tafsir menafsirkan bahwa yang dimakasud dengan ayat ini adalah bahwa diri nabi Muhammad saww. berpindah-pindah dari sulbi ahli sujud ke sulbi ahli sujud. Artinya ayah-ayah Nabi Muhammad dari Abdullah sampai Nabi Adam adalah orang-orang yang suka bersujud kepada Allah. (lihat tafsir al Shofitulisan al Faidh al Kasyani 4/54 dan Majma’ al Bayan karya al Thabarsi 7/323 ).
.
Nabi Ibrahim as. beserta ayah kandungnya termasuk kakek Nabi Muhammad saww. Dengan demikian, ayah kandung Nabi Ibrahim as. adalah seorang yang ahli sujud kepada Allah swt. Tentu selain alasan-alasan di atas, terdapat bukti-bukti lain dari hadis Nabi yang menunjukkan bahwa ayah kandung Nabi Ibrahim as. bukan orang kafir.

Benarkah Abu Thalib Kafir?

Abu Thalib Ibn Abdul Muthalib (Wafat 3 SH, nama sebenarnya adalah Abdu Manaf bin Abdul Muthalib bin Hasyim, sedang “Abu Thalib” adalah nama Panggilan yang berasal dari putra pertamanya yaitu Thalib. Abu Thalib adalah paman dan ayah asuh dari Nabi Muhammad Saww. Ia juga adalah ayah dari Ali Ibn Abi Thalib
.
Abu Thalib telah menerima amanat dari ayahnya Abdul Mutthalib untuk mengasuh Nabi dan telah dilaksanakan amanat tersebut. Nabi adalah sebaik-baik asuhan dan Abu Thalib adalah sebaik-baik pengasuh. Abu Thalib membela Nabi dengan jiwa raganya dalam berdakwah. Ketika Nabi Shallallahu alaihi wassalam dan pengikutnya di hadang di sebuah lembah. Lalu datanglah Abu Thalib dengan tegar berkata: “Kalian tidak akan dapat menyentuh Muhammad sebelum kalian menguburkanku”. Abu Thalib selalu setia mendampingi Nabi. Beliau adalah orang yang banyak membantu perjuangan dakwah Islam. Abu Thalib ketika mau meninggal dunia berwasiat kepada keluarganya untuk selalu berada di belakang Nabi dan membelanya untuk menenangkan dakwahnya
.
Dengan reputasinya yang demikian membela dan menyayangi Nabi Saww, tak pelak membuat sebagian kalangan yang merasa heran bahwa pada akhirnya Abu Thalib wafat dalam keadaan belum menerima Islam alias kafir. Di kemudian hari keheranan sebagian kalangan ini menimbulkan gugatan2 terhadap hadist2 yang menyatakan kekafiran Abu Thalib dengan kembali melakukan kritik terhadap hadist2 tyang menyatakan kekafiran Abu Thalib. Kritik2 tersebut bertambah kencang takkala mendapati kenyataan bahwa Abu Sufyan yang terkenal sebagai dedengkot kafir Quraisy justru berada di pihak Islam dengan mengucapkan kalimah syahadat ketika peristiwa futuh Makkah
.
Artikel ini bertujuan untuk mendudukan kembali perihal hadist2 tentang kekafiran Abu Thalib dan disertai dengan kritik2 yang menyertai hadist2 tersebut. Adapun percaya atau tidaknya, saya mengembalikan kepada Allah Swt semata dan penilaian objektif dari para pembaca. Berikut di bawah ini hadist2 yang menyatakan kekafiran Abu Thalib beserta kritikan terhadapnya
.
1. Hadist riwayat Bukhari dan Muslim bahwa Abi Thalib menjelang wafatnya disuruh oleh Nabi Saww untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Namun Abu Jahal dan Abdullah Ibn Umayyah memperingatkan Abi Thalib untuk tetap berpegang teguh pada agama Abdul Muthalib. Hingga hembusan nafas terakhir, Abi Thalib tidak mengucapkan kalimat syahadat. Dan Ia wafat sebagai orang yang kafir.
Nabi sangat sediah akan kenyataan tersebut, karenanya Nabi Saww ingin memohon ampunan bagi Abu Thalib, tetapi turunlah QS: At-Taubah 113 yang melarang Nabi untuk memohonkan ampunan bagi orang2 musyrik. Nabi ingin sekali Abu Thalib mendapat petunjuk Allah, tetapi -lagi2- Allah Swt menegurnya melalui QS: Al-Qashash: 56, bahwa “Sesungguhnya Engkau tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang Engkau cintai…….”
.
Jawaban:
a. Hadist riwayat Muslim pada sanad pertamanya ialah sahabat Abu Hurairah Ra. Dari sejarah kita dapat mengetahui bahwa Abu Hurairah masul Islam pada perang Khaibar dan ini disepakati oleh para ahli tarikh (sejarah Islam), yaitu pada tahun ke-7 Hijriyyah. Sedangkan peristiwa Abu Thalib wafat adalah satu atau dua tahun sebelum Rassul Saww hijrah ke Madinah (sebagai awal dari tahun hijriyyah). Yang menjadi pertanyaan ialah bagaimana Abu Hurairah dapat meriwayatkan hadist tentang wafatnya Abu Thalib sementara ia tak hadir di sana?, bahkan jika kita meniilik dari bahasa hadist, seakan Ia -Abu Hurairah- turut hadir dan menyaksikan peristiwa wafatnya Abu Thalib. Bukankah ia belum masuk Islam pada waktu itu?. Dan ini kejanggalan pertama
.
b. Mengenai QS: At-Taubah 113. Para ahli tafsir mengatakan bahwa ayat tersebut termasuk ayat terakhir yang turun di Madinah. Sementara QS: Al-Qashash turun pada waktu perang Uhud. Dari sini kita telah mendapatkan kejanggalan, yaitu jarak bertahun2 yang menjadi selisih antara turunnya kedua ayat tersebut. Jadi ayat tersebut tidak turun pada satu kesempatan untuk menjelaskan peristiwa yang sama, yaitu wafatnya Abu Thalibb
.
Kejanggalan ini belum ditambah dengan fakta bahwa QS; At-Taubah: 113, ialah ayat yang turun di Madinah, sementara Abu Thalib wafat di Makkah (sebelum hijrah). Bukankah suatu kejanggalan bahwa ayat yang turun di Madinah menjadi penjelasan terhadap peristiwa yang turun di Makkah?
.
2. Hadist Ad-Dhahdah dalam riwayat Bukhari dan Muslim:
Bersumber dari Abdullah bin Al Harits, beliau berkata, “Aku mendengar Al Abbas berkata, Aku bertanya kepada Rasullulah saw., ‘Ya Rasulullah! Abu Thalib dulu merawatmu dan menolongmu. Lalu apakah itu ada manfaatnya baginya?” Rasullulah saw. Bersabda: “Ya! Aku menemukannya berada diluapan neraka, lalu aku mengeluarkannya ke kedangkalan.” Bersumber dari Ibnu Abbas, bahwa Rasullulah saw. Bersabda: “Ahli neraka yang paling ringan adalah Abu Thalib. Dia memakai sepasang terompah yang menyebabkan otaknya mendidih.”
.
Jawaban:
Kata “dhahdah diterjemahkan sebagai “kedangkalan”. Dalam kamus bahasa Arab Dhahdhah diartikan sebagai “bagian yang tergenang air di permukaan bumi yang genangannya mencapai mata kaki.”. Kemudian genangan air yang dangkal ini digunakan untuk menggambarkan permukaan neraka. Coba kita telaah hadis-hadis tadi, secara kritis
.
- Jika kita perhatikan orang-orang yang meriwayatkan hadis (rijal), hamper semuanya termasuk rangkaian para pendusta dan mudallis, atau tidak dikenal. Muslim menerima hadis ini dari Ibnu Abi ‘Umar yang dinilai para ahli sebagai majhul. Ibnu Abi ‘Umar menerimanya dari Sufyan al-Tsauri. Syufan disebutkan oleh Al-Dzahabi dalam Mizan al-I’tidal sebagai “innahu yudallis wa yaktubu mi al-kadzdzabin”, ia melakukan tadlis dan meriwayatkan hadis dari para pendusta. Syufan menerimanya dari Abdul Malik bin ‘Umayr, yang panjang usianya dan buruk hafalannya. Kata Abu Hatim: Tidak bisa dipercaya hafalannya. Dengan demikian hadis ini wajib kita pertanyakan kembali kevaliditasannya
.
Dengan mempertimbangkan berbagai kejanggalan2 hadist di seputar wafatnya Abu Thalib dalam keadaan kafir, seyogyanya kita bersikap menahan diri terhadap pengkafiran diri Abu Thalib. Terlebih menimbang pada kenyataan bahwa Abi Thalib adalah termasuk dari sebagian gelintir orang yang membela dakwah Nabi Muhammad Saww pada awal perkembangan Islam di Makkah. Niscaya tanpa perlindungan dari Abu Thalib, Islam tidak akan menyebar hingga kita-pun dapat merasakan nikmatnya hidup di bawah panji2 Islam. Alangkah baiknya bila kita menahan lidah untuk mengkafirkan orang2 yang disayangi oleh Rassulallah Saww. Saya pribadi sebagai muslim Sunni bersikap untuk menahan diri dan menyerahkan vonis mengenai Abu Thalib kepada Allah Swt semata, dan seluruhnya kembali kepada Allah Swt.

NB: Tadlis: istilah dalam ilmu hadist, yaitu perawi meriwayatkan suatu hadits yang hadits tersebut tidak pernah

didengarnya, tanpa menyebutkan bahwa perawi pernah mendengar hadits tersebut darinya.
Keyakinan Syi’ah
Termasuk keyakinan pasti yang disepakati dalam ajaran Syi’ah adalah bahwa ayah bunda mulia Rasulullah Muhammad saw.adalah mu’min/beriman kepada Allah SWT, tidak musyrik/ menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Demikian juga dengan ayah-ayah dan moyang beliau hingga Nabi Adam as. tidak seorang pun dari moyang Nabi saw. yang musyrik… Demikian ditegaskan para tokoh dan pemuka Syi’ah di berbadai masa… keyakinan yang tak bisa ditawar-tawar!
kesempatan ini saya tidak sedang bermaksud membuktikan kebenaran keyakinan kami (Syi’ah) dalam masalah ini, akan tetapi hanya sekedar membandingkan I’tiqâd yang bertolak belakang antara Syi’ah dan Ahlusunnah dalam masalah ini. Karenanya kami tidak akan mengutarakan dalil-dalil kami! Yang akan kami sebutkan hanya komentar ulama dan tokoh mazhab kami
.
Syeikh Shadûq (pemimpin tertinggi Ulama Syi’ah Imamiyyah di masanya) menegaskan keyakinan tersebut dalam kitab al I’tiqadât-nya ketika menerangkan keyakinan Syi’ah tentang ayah-ayah Nabi saw.:
إعتقادُنا فيهِم أنَّهم مسلِمون.
“Keyakinan kami (Syi’ah) tentang mereka (ayah-ayah Nabi saw.) bahwa mereka itu semuanya muslimun.”
Penegasan Syeikh ash Shadûq tersebut diterjelas/disyarakan oleh Syeikh Mufid (pemimpin Ulama Syi’ah setelah ash Shadûq) dalam kitab Tash-hîhul I’tiqâd Bi Shawâbi al intiqâd atau yang juga dikenal dengan nama Syarah ‘Aqâid ash Shadûq:
“Ayah-ayah Nabi saw. hingga Adam as. adalah muwahhid/mengesakan Allah, di atas keimanan kepada Allah sesuai dengan apa yang disebutkan Abu Ja’far/ash Shadûq (Rahimahullah).”[1] Kemudian beliau memaparkan dalil dan bukti atasnya
.
Dalam kitab Awâil al Maqâlât-nya, Syeikh Mufîd kembali mempertegas keyakinan tersebut. Beliau berkata dalam bab al Qaulu Fî Âbâi Rasulillah shallallahu ‘Alaihi wa Âlihi wa ummihi wa ‘Ammihi Abi Thalib (rahmatullahi ta’âlaAlaihim) /pendapat tentang ayah-ayah Rasulullah saw., Ibu dan Paman beliau Abu Thalib semoga -rahmat Allah atas mereka-:
و اتفقت الإمامية على أنَّ آباءَ رسولِ اللهِ (ص) من لدن آدمَ إلى عبد الله بن عبد المطلب مؤمنون بالله عز و جلَّ و موحَّدون له. و احتجوا في ذلكَ بالقرآن و الأخبار….
“Syi’ah Imamiyyah sepakat bahwa ayah-ayah Rasulullah saw. sejak Adam hingga Abdullah ibn Abdul Muththalib adalah orang-oraang yang beriman dan mengesakan Allah. Syi’ah berdalil dengan Al Qur’an dan Hadis-hadis….“[2]
 .
Keyakinan Ahlusunnah
Adapun keyakinan Ahlusunnah dalam masalah ini adalah bertolak belakang total dengan apa yang diyakini kaum Syi’ah. Ahlusunnah meyakini bahwa kedua orang tua mulia Nabi saw.;Sayyiduna Abdullah ibn Abdul Muththalib dan ibunda suci Aminah binti Wahb az Zuhriyah adalah kafir/musyrik menyekutukan Allah dan menyembah berhala dan kelak di hari kiamat nereka tempatnya, wal Iyâdzu billah, semoga Allah melindungi kami dari keyakinan seperti itu
.
Apa yang menjadi keyakinan mereka telah diterangkan dan dikukuhkan para ulama besar dan tokoh terkemuka Ahlusunnah wal Jama’ah serta didukung oleh hadis-hadis shahih dalam kitab-kitab standar utama mereka.
Keyakinan demikian adalah kayakinan yang diwariskan turun temurun dan ditegaskan sebagai keyakinan pasti dalam mazhab Ahlusunnah Wal Jama’ah. Kendati belakangan, Ahhlusunnah “kontemporer” (meminjam istilah sebagian penulis Ahlusunnah) berusaha menghilangkan kesan kental itu dari mazhab dengan mengelindingkan pendapat lain yang menyalahi keyakinan para pendahulu mereka yang dibangun di atas hadis shahih! Tetapi tetap saja usaha itu tidak akan mampu menghilangkan kesan kental keidentikan mazbah Ahlusunnah dengan keyakinan tersebut
.
Di bawah ini akan saya sebutkan beberap kutipan pernyataan ulama besar Ahlusunnah:
Imam an Nawawi:
Ketika menjelaskan hadis Nabi saw.:
إنّ أبي و أباكَ في النار.
“Sesungguhnya ayahku dan ayahmu berada di neraka.”
Imam An Nawawi (yang digelari Muhyi as Sunnah/penyegar Sunnah) menegaskan, “Di dalam hadits ini terdapat faidah bahwa siapa yang mati di atas kekafiran maka dia di neraka dan tidak akan bermanfaat baginya kerabat dekat.”
 .
Al Imam Al Baihaqi:
Dalam kitab Dalâil an Nubuwah, Al Imam Al Baihaqi berkata setelah menyebutkan sejumlah hadits yang menjelaskan bahwa kedua orang tua Nabi di neraka,“Bagaimana mungkin keduanya tidak mendapatkan sifat yang demikian di akhirat, sedang mereka menyembah berhala-berhala sampai mereka mati,dan tidak beragama dengan aagam yang dibawa oleh Nabi Isa as.”.[3]
.
Dan kitab as Sunan al Kubrâ, ia kembali menegaskan keyakinan Ahlusunnah tentang ayah-bunda Nabi saw., ia berkata, “Kedua orang tua beliau adalah Musyrik”[4] Kemudian setelahnya, ia mengobral dalil-dalil yang mendukung keyakian tersebut!
.
Selain mereka tentunya masih banyak keterangan dan pernyataan ulama Ahlusunnah yang secara tegas menyatakan keyakinan tersebut, bahkan Al Imam ‘Ali Al Qâri menukil adanya ijma’/kesepakatan ulama atas keyakinan tersebut.
Menurut sebagian ulama Ahlusunnah, keyakinan bahwa kedua orang tua Nabi saw. mu’min/tidak musyrik adalah keyakinan yang identik dengan mazhab Syi’ah yang dibangun atas dasar kultus Ahlulbait/keluarga dan kerabat Nabi saw.
 .
Dasar Keyakian Ahlusunnah wal Jama’ah
Keyakinan bahwa kedua orang tua Nabi saw. adalah mati dalam keadaan musyrik dan kelak akan ditempatkan dalam neraka telah dibangun di atas pondasi kokoh; hadis-hadis shahih yang diriwayatkan dalam kitab-kitab standar mu’tabarah, seperti Shahih Muslim, as Sunan al Kubrâ, Sunan Abu Daud, Shahih Ibnu Hibban, as Sunan al Kubrâ, Musnad Imam Ahmad, Musnad Abu ‘Awânah, Musnad Abu Ya’lâ Al Mûshili dan lain-lain.
Di bawah ini akan saya sebutkan beberapa hadis darinya:
 .
Hadis Bahwa Ayah Nabi saw. Musyrik Dan ia Di Neraka
Dengan sanad bersambung kepada sahabat Anas ibn Malik, ia berkata:
أن رجلا قال: يا رسول الله! أين أبي؟ قال: “في النار” فلما قفي دعاه فقال: “إن أبي وأباك في النار”.
“Sesungguhnya ada seorang bertanya, ‘Wahai Rasulullah, dimana ayahku?’ Beliau menjawab, ‘Di neraka.’ Lalu ketika orang tersebut berpaling/pergi, beliau memanggilnya dan berkata, ‘Sesungguhnya ayahmu dan ayahku di neraka.’”
 .
Sumber Hadis
Hadis tersebut telah diriwyatkan oleh banyak ulama hadis ternama Ahlusunnah di antaranya adalah:
A) Imam Muslim di dalam Shahih-nya, bab Bayân Anna Man Mâta ‘Ala al Kufri Fahuwa Fî an Nâr, Lâ Tanâluhu Syafâ’atun walâ Ta’fa’uhu Qarâbatul Muqarrabîn/Barang siapa mati dalam keadaan kafir maka ia di neraka, syafa’at tidak akan mengenainya dan juga kekerabatan kaum yang didekatkan (kepada Allah) tidak berguna baginya,3/79 dengan syarah an Nawawwi. Dan kemudian dinukil oleh banyak ulama dalam buku-buku mereka, seperti dalam Shafwah ash Shaffah,1/172 dan al Bidâyah wa an Nihâyah,2/12-15 dll.
B) Abu Daud dalam Sunan-nya.
C) Ibnu Hibban dalam Shahih-nya.
D) Al Baihaqi dalam as Sunan al Kubrâ-nya.
E) Imam Ahmad dalam Musnad-nya.
F) Abu ‘Awânah dalam Musnad-nya.
G) Abu Ya’lâ Al Mûshili dalaam Musnad-nya
.
Hadis Bahwa Bunda Nabi saw. Musyrikah Dan Ia Di Neraka
Para ulama hadis kenamaan Ahlusunah juga meriwayat hadis-hadis yang menegaskan dan mendukung keyakian mereka bahwa bunda Nabi saw. adalah seorang wanita musyrikah yang mati dalam kemusyrikan dan neraka adalah tempatnya. Bahkan ketika Nabi saw. meminta izin dari Allah untuk menziarahi kuburan ibunya dan memohonkan ampunan, istighfâruntuknya, Allah hanya mengizinkan Nabi-nya untuk menziarahi dan tidak mengizinkannya untuk beristighfâr untuk ibunya
.
Hadis tentangnya banyak sekali, dalam kesempatan ini saya akan menyebut satu darinya, yaitu hadis yang bersumber dari sahabat kepercayaan Ahlusunnah, “pewaris Sunnah suci Nabi, wadah ilmu dan kepercayan Nabi saw., beliau adalah “Sayyiduna wa Imamuna” Abu Hurairah. Ia berbagi informasi, dengan mengatakan, “Nabi saw. bersabda:
استأذنت ربي أن أستغفر لأمي فلم يأذن لي واستأذنته أن أزور قبرها فأذن لي.
“Aku meminta ijin kepada Allah untuk memintakan ampunan untuk ibuku, akan tetapi Dia tidak mengizinkanku, dan aku meminta izin untuk menziarahi kuburnya, maka Dia mengizinkanku.”
.
Sumber Hadis
Hadis tersebut telah diriwyatkan oleh banyak ulama hadis ternama Ahlusunnah di antaranya adalah:
A) Imam Muslim di dalam Shahih-nya pada Kitabul Janaiz bab Isti’dzânu an Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam rabbahu ‘Azza waJalla Fî Ziyârati Qabri Ummihi/permohonan izin Nabi saw. untuk menziarahi kuburan ibunya,(dengan syarah an Nawawi,7/45).
B) Ibnu Hibban dalam Shahih-nya.
C) Ibnu Majah dalam Sunan-nya.
D) Al Baihaqi dalam as Sunan al Kubrâ.
E) Abu Bakar bin Abi Syaibah dalam Al Mushannaf-nya.
F) Abu Ya’lâ dalam Al Musnad-nya.
 .
Komentar an Nawawi:
Juru bicara resmi Ahlusunnah, Imam an Nawawi berkata, “Dalam hadis di atas terdapat faedah/kesimpulan dibolehkannya menziarahi orang-orang musyrikin di kala hidup, maupun menziarahi kuburan mereka setelah mati… Di dalamnya juga terdapat faedah dilarangnya memohonkan ampunan buat orang-orang kafir.” (Syarah Shahih Muslim,7/ 45).
.
Dengan demikain jelaslah bagaimana aqidah dan keyakinan Ahlusunnah wal Jama’ah tentang kedua orang tua Nabi saw.
Dan kalaupun ternyata aqidah seperti itu dikemudian hari dirasa memalakuan dan dapat mencoreng nama harum mazhab mereka, lalu ada segelintir orang menyelisihinya, maka sama sekali itu tidak akan mengubah kenyataan akan keyakinan Ahlusunnah yang paten! Apalagi yang disampaikan oleh “Sunni kontemporer” sangat menyalahi hadis-hadis shahih mereka sendiri dan juga menyalahi kesepakatan para pemuka mazhab mereka! Mereka tidak konsisten dengan kayakinan mereka sendiri bahwa kitab Shahih Muslim adalah kitab paling shahih setelah Kitab Allah dan Kitab Shahih Imam Bukhari!
.
Dan kalaupun kalian (sebagian Ahlusunnah) keberatan dengan keyakinan tersebut karena dianggap bertentangan dengan dalil dan dengan sopan santun dan sikap hormat kepada Nabi saw., lalu apa sikap yang harus ditegakkan mazhab Ahlusunnah (yang telah dimodifikasi itu) terhadap mereka yang meyakini kekafiran ayah-bunda Nabi saw.?!
Apakah di keluarkan dari keanggotaan sebagai Ahlusunnah? Sementara pilar-pilar mazhab Ahlusunnah itu, mereka yang meneggakkan?
.
Atau kalian -yang yang berseberangan dengan tokoh-tokoh tersebut- akan keluar dari Ahlusunnah?
Atau kalian mengatakan bahwa pendapat para pemuka mazhab kalian itu tidak mewakili mazhab Ahlusunnah?
Lalu siapa yang mewakili mazhab Ahlusunnah?
Kami menanti jawaban konkretnya kalian.
Walahu A’lam.

[1] Tash-hîhul I’tiqâd:117
[2] Awâil al Maqâlât:51.
[3]Dalâil an Nubuwah,1/192-193.
[4] As Sunan al Kubrâ,7/190.

gerakan kebangkitan keilmuan terus digalakkan di Iran. Program ini kian memacu percepatan kemajuan sains di Iran dan teraktualisasikannya potensi generasi muda

Pondasi yang menjadi landasan struktur kemasyarakatan adalah partisipasi dan kerjasama yang melibatkan semua anggota masyarakat baik laki-laki maupun perempuan. Tak dipungkiri bahwa perempuan adalah setengah dari masyarakat. Tanpa partisipasi komunitas yang besar ini masyarakat tak akan bisa meraih sukses dan kemajuan.

Menyikapi masalah perempuan, Republik Islam Iran membuka peluang bagi mereka untuk terjun ke berbagai bidang. Karena itu, kita menyaksikan kemajuan dan keberhasilan perempuan Iran dalam naungan pemerintahan Republik Islam. Tulisan berseri ini adalah pengantar untuk mengenalkan wanita-wanita berprestasi di Iran dalam berbagai bidang mulai dari bidang keilmuan, sosial, politik sampai olahraga.

Peran kaum perempuan dalam kehidupan dan kemajuan masyarakat tidak bisa dipungkiri. Mereka punya peluang untuk berperan di berbagai bidang seperti budaya, ilmu dan sosial. Sebagai manusia, kaum hawa memiliki hak-hak alamiah dan konstitusional untuk menentukan nasib sendiri dan andil dalam memajukan masyarakat. Karena itu, selain memerankan fungsi sebagai istri dan ibu dalam keluarga, perempuan juga bisa hadir di tengah masyarakat dan mengukir prestasi di bidang keilmuan, penelitian, kebudayaan, kemasyarakatan, ekonomi dan politik. Dengan kata lain, partisipasi kaum Hawa dalam membuat keputusan besar di tengah masyarakat dan sumbangan pemikiran bukan hanya mengeluarkan mereka dari keterkucilan tapi juga membuat mereka menjadi unsur yang aktif dalam masyarakat. Dalam skala nasional, kehadiran mereka juga bisa membantu memajukan negara.

Sebagai agama yang diturunkan untuk membangun manusia, Islam membuka jalan bagi perempuan untuk mengaktualisasi potensi alamiah yang mereka miliki. Tak heran jika dalam sejarah banyak perempuan yang tercatat punya pengaruh besar. Untuk membantu aktualisasi potensi kaum perempuan ke puncak kesempurnaan, al-Quran al-Karim membawakan teladan-teladan yang patut dicontoh supaya perempuan yang menirunya bisa mencapai jalan kebahagiaan hakiki. Dalam metode pendidikan, mengenalkan contoh teladan adalah salah satu cara yang terbaik dan termudah. Islam juga mengenalkan wanita-wanita teladan dan suci seperti Fatimah az-Zahra as, Khadijah binti Khuwailid as dan Zainab binti Ali as.

Dalam perspektif Islam, sebagai manusia perempuan harus dihormati layaknya laki-laki. Penghormatan kepada perempuan muslimah adalah dengan cara memberinya kesempatan untuk mengaktualisasi potensi pemberian Allah yang ada pada diri mereka. Jelas bahwa suatu masyarakat akan bangga jika kaum perempuannya mengukir prestasi gemilang di  bidang keagamaan, keilmuan, politik, budaya dan lainnya.  Revolusi Islam Iran yang lahir dari rahim Islam memandang kaum wanita dengan pandangan penuh hormat. Dalam hal ini, peran Imam Khomeini dalam menghidupkan peran perempuan muslimah di tengah masyarakat sangat menonjol.

Undang-undang Dasar Republik Islam Iran yang dilandasi oleh hukum dan ajaran Islam memberi kesempatan yang besar kepada perempuan untuk berperan aktif dalam segala bidang. Pasal 21 UUD Iran menyatakan bahwa pemerintah harus menjamin hak-hak kaum perempuan dalam semua hal meliputi materi, spiritual, budaya, sosial, dan hukum sesuai dengan ajaran Islam.

Saat ini di tengah masyarakat Iran yang Islami banyak perempuan yang sukses dan ini menunjukkan perhatian besar pemerintahan Islam Iran kepada mereka. sebelum kemenangan revolusi Islam, jumlah perempuan yang sukses sangat kecil. Sebab, di zaman itu peluang untuk bekerja, beraktivitas dan berkarya tidak banyak terbuka bagi kaum Hawa. Situasi zaman itu juga tercemari oleh budaya bejat sementara kebijakan rezim banyak menghalangi masyarakat untuk mengaktualisasi potensi mereka. Keadaan berubah pasca kemenangan revolusi Islam, dan jumlah perempuan yang sukses mengukir prestasi di berbagai bidang meningkat sangat signifikan.

Jika di zaman rezim Pahlevi, tidak banyak perempuan yang mengenyam pendidikan di perguruan tinggi, sekarang kondisi bagi mereka untuk belajar setinggi-tingginya terbuka lebar. Berdasarkan data resmi saat ini yang dibuat oleh pemerintah, hampir 70 persen bangku kuliah diduduki oleh mahasiswi yang belajar di banyak bidang. Keadaan ini semakin menambah jumlah perempuan yang berhasil di berbagai bidang keilmuan. Berkat dorongan dan imbuan dari Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei, gerakan kebangkitan keilmuan terus digalakkan di Iran. Program ini kian memacu percepatan kemajuan sains di Iran dan teraktualisasikannya potensi generasi muda, termasuk dari kaum Hawa.

Di Iran sekarang, kaum perempuan memiliki kemampuan, potensi dan kepandaian yang tinggi untuk ikut membangun negara. Dengan berbekal ilmu pengetahuan yang berhasil dikuasai dan kecakapan dalam bekerja, mereka terjun secara aktif di berbagai bidang. Fakta ini diakui oleh banyak pengamat asing yang obyektif dalam memandang perkembangan di Iran. Sebagian bahkan menyatakan bahwa perempuan Iran tidak kalah dari kaum pria di negara itu dalam hal kepandaian, keilmuan dan kemampuan.

Kondisi itu jelas berbeda jauh dari apa yang terjadi di dunia Barat. Budaya Barat memandang perempuan tak lebih dari alat untuk kepentingan para pemilik modal. Mereka dinilai tak ubahnya seperti barang. Sementara, di tengah masyarakat Islam, kaum perempuan Muslimah terpacu untuk mengukir prestasi di kancah keilmuan dan hal-hal yang positif. Muslimah Iran berhasil menarik perhatian masyarakatnya dan dunia akan kedudukan hakiki perempuan sebagai wujud insani.

Dalam kaitan ini, Ayatullah al-Udzma Khamenei menyatakan bahwa perempuan Iran bisa memasuki arena keilmuan dan mencapai derajat keilmuan yang tinggi. Beliau meyakini bahwa Islam menginginkan supaya kaum perempuan terlibat dalam kegiatan kemasyarakatan dengan menjaga kehormatan, kesusilaan, ketaqwaan, dan jatidirinya sebagai perempuan muslimah sekaligus mempertahankan kedudukannya di tengah keluarga.

Empat Perbuatan yang Dapat Mematikan Hati Manusia!

Hati merupakan anggota badan terbaik yang dimiliki manusia. Dalam Hadis Qudsi disebutkan bahwa hati seorang mukmin merupakan rumah Allah. Dengan demikian, kita dituntut untuk menjaganya dan jangan sampai membuatnya bergetar dan tergelincir, apalagi sampai membuatnya mati.

 

Rasulullah Saw bersabda,

 

“Ada empat hal yang dapat membuat mati hati manusia:

 

1. Berbuat dosa berkali-kali,

 

2. Banyak berbicara dengan perempuan yang non muhrim,

 

3. Berdebat dengan orang bodoh, padahal pembicaraan itu tidak ada kebaikannya,

 

4. Berteman dengan orang-orang mati.”

 

Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah! Siapa yang dimaksud dari orang-orang mati?”

 

Nabi Saw menjawab, “Manusia yang memiliki harta tapi tidak beragama dan tidak bertakwa.”(1)

 

Begitu juga dalam wasiat Rasulullah Saw kepada Imam Ali as, beliau bersabda, “Wahai Ali! Pertemananmu dengan tiga golongan ini akan membuat hatimu mati:

 

1. Berteman dengan orang yang memiliki sifat rendah,

 

2. Berteman dengan orang kaya,

 

3. Berteman dengan orang yang suka bicara dengan perempuan non muhrim.”(2)

 

Dalam buku al-Kafi dinukil sebuah hadis bahwa Allah Swt dalam munajat Nabi Musa as berfirman, “Wahai Musa! Jangan pernah lupakan Aku. Karena melupakan Aku dapat mematikan hati.”(3) (IRIB Indonesia / Saleh Lapadi)

 

Catatan:

1. Majmu’ah Warram, jilid 2, hal 118.

2. Al-Wafi, jilid 26.

3. Al-Kafi, jilid 2, hal 498, al-Khisal, jilid 2, hal 523 dan al-Kafi, jilid 4, hal 478.

Persatuan hadis sunni – syi’ah membuat Islam akan mampu menghadang orientalisme sarjana sarjana barat

Beberapa waktu lalu saya baru selesai membaca buku berjudul : “Menguji Kembali Keakuratan Metode Kritik Hadis karangan Dr. Phil.H.Kamaruddin Amin, MA”, seorang Doktor dengan predikat Summa Cum Laude yang belajar Islam di Rheinischen Friedrich Wilhelms Universitaet Bonn, Jerman  yang aktif di UIN Alauddin Makassar.

..

Dalam buku itu pada halaman 139-140 dinyatakan:” Teori “back projection” Schacht menurut Prof.M.M. Azami tidak logis, mengingat fakta bahwa terdapat sejumlah riwayat yang sama dalam bentuk dan makna dalam literatur para muhaddits dari sekte sekte muslim yang berbeda yang berpecah pecah hanya sekitar tiga puluh tahun setelah wafatnya Nabi. Seandainya semua hadis hukum dipalsukan pada abad kedua dan ketiga hijriah, tidak akan ada hadis yang dimuat bersama dalam sumber sekte sekte yang berbeda”

.

Tuduhan tuduhan sarjana barat terhadap otentisitas hadis kaum muslimin bisa dipecahkan dengan kaidah bahwa “Umat Muhammad SAW tidak mungkin bersepakat diatas kesesatan” . Berpegang pada kaidah itu maka dapat disimpulkan bahwa hadis hadis mazhab aswaja (sunni) yang dishahihkan oleh ulama Mazhab Syi’ah Imamiyah Itsna ‘Asyariah Ushuliyah maka isinya MUTLAK BENAR  

Bagaimana cara termudah melakukan persatuan hadis sunni – syi’ah ?                                                                                

a.  Jika seseorang membawa sebuah hadis yang lemah dari USHUL AL KAFi Syi’ah dan kemudian mengarti kan hadis tersebut secara salah sebagai alat propaganda kesesatan syi’ah, maka hal itu tidak menggambarkan keyakinan syi’ah. Renungkan !      

Hadis-hadis yang termuat dalam kitab hadis syi’ah yakni al-Kafi karya Syaikh Kulaini berjumlah 16.199 buah hadis, yang mencapai tingkat sahih, berjumlah 5.702 buah hadis, tingkat hasan 144 buah hadis, tingkat muwassaq 1.128 buah hadis, tingkat qawiy 302 buah hadis, dan tingkat dha’if 9.485 buah hadis 1                      

Sayyid Ali Al Milani menyatakan bahwa dalam Al Kafi ada 5.072 hadis shahih, 144 hasan, 1128 hadis Muwatstsaq (hadis yang diriwayatkan perawi bukan syiah tetapi dipercayai oleh syiah), 302 hadis Qawiy(kuat)   dan 9.480 hadis dhaif 2                                                                                                          

Menurut Fakhruddin At Tharihi ada 9845 hadits yang dhaif dalam kitab Al Kafi, dari jumlah 16119 hadits Al Kafi. Bahkan ulama Syiah lain, Syekh Muhammad Baqir al-Majlisy (w. 1111H) telah mendha’ifkan sebagian besar hadits-hadits yang ada dalam kitab al-Kafy dalam kitabnya  Mir’at al-‘Uqul.

b.         Ambillah hadis mazhab sunni (aswaja) yang dishahihkan oleh ulama syi’ah, misal hadis ini :

Rasulullah SAW bersabda : “Agama ini akan tetap tegak hingga datangnya hari kiamat sampai datang kepadamu 12 orang khalifah, semuanya berasal dari suku Quraisy”( Hr.Muslim,III,hal.1453. Bukhari,III, hal.101. Turmuzi, IV, hal.501. dan Abu Daud, IV, bab Al Mahdi )

hadis 12 khalifah terdapat di dalam kitab seperti Sahih Muslim, Jami’ Tirmizi, Sunan Abi Daud. Sebelum membincangkan persatuna hadis maka mari kita lihat hadis-hadis tersebut.

حدثنا ابن أبي عمر. حدثنا سفيان عن عبدالملك بن عمير، عن جابر بن سمرة. قال سمعت النبي صلى الله عليه وسلم يقول (لا يزال أمر الناس ماضيا ما وليهم اثنا عشر رجلا. ثم تكلم النبي صلى الله عليه وسلم بكلمة خفيت علي. فسألت أبي: ماذا قال رسول الله صلى الله عليه وسلم؟ فقال كلهم من قريش

حدثنا نصر بن علي الجهضمي. حدثنا يزيد بن زريع. حدثنا ابن عون. ح وحدثنا أحمد بن عثمان النوفلي (واللفظ له). حدثنا أزهر. حدثنا ابن عون عن الشعبي، عن جابر بن سمرة. قال: انطلقت إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم ومعي أبي. فسمعته يقول (لا يزال هذا الدين عزيزا منيعا إلى اثني عشر خليفة) فقال كلمة صمنيها الناس. فقلت لأبي: ما قال؟ قال (كلهم من قريش).

Daripada Jabir bin Samurah r.a. katanya, “Aku pergi kepada Rasulullah s.a.w. dan ayahku bersamaku, lalu aku mendengar Baginda bersabda, “Agama ini akan terus mulia dan teguh sehingga ke dua belas orang khalifah, lalu Baginda berkata dengan kalimah yang orang ramai tidak mendengarnya, maka aku berkata kepada ayahku, “Apakah yang Baginda katakan? Ayahku menjawab, “Semua mereka dari Quraisy”.(Riwayat Muslim)

حدثني محمد بن المثنَّى: حدثناغندر: حدثنا شعبة، عن عبد الملك: سمعت جابر بن سمرة قال: سمعت النبي صلى الله عليه وسلم يقول: (يكون اثنا عشر أميراً فقال كلمة لم أسمعها، فقال أبي: إنه قال: (كلهم من قريش.

Jabir bin Samurah r.a. berkata, Aku mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda, “Akan ada dua belas orang amir, lalu baginda berkata dengan kalimah yang aku tidak dengarinya, ayahku berkata, ”Semuanya mereka dari Quraisy”. (Riwayat Termizi).

ـ حدثنا عمرو بن عثمان، ثنا مروان بن معاوية، عن إسماعيل يعني ابن أبي خالد عن أبيه، عن جابر بن سمرة قال: سمعت رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم يقول: “لايزال هذا الدِّين قائماً حتى يكون عليكم اثنا عشر خليفةً، كلهم تجتمع عليه الأمة” فسمعت كلاماً من النبيِّ صلى اللّه عليه وسلم لم أفهمه، قلت لأبي: ما يقول؟ قال: كلهم من قريش.

Daripada Jabir bin Samurah r.a. katanya, aku mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda, “Agama ini akan terus teguh sehingga memerintah kamu seramai dua belas orang khalifah, semua mereka ini disepakati oleh ummat”. (Riwayat Abi Daud)

Golongan Syi’ah mengatakan 12 khalifah atau amir yang terdapat di dalam hadis tersebut adalah 12 imam maksum di sisi mereka.

Ini diperkuat dengan hadis khalifah umat Islam adalah ahlulbait. Andaikata ianya tidak bertepatan dengan pegangan Syi’ah niscaya Nabi s.a.w. tidak akan menjelaskan dengan sejelas-jelasnya bahwa  “mereka dari kalangan ahlul baitku”.

Dari Zaid bin Tsabit RA yang berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya Aku telah meninggalkan di tengah-tengah kalian dua Khalifah yaitu Kitab Allah yang merupakan Tali yang terbentang antara bumi dan langit, serta KeturunanKu Ahlul BaitKu. Keduanya tidak akan berpisah sampai menemuiKu di Telaga Surga Al Haudh. (Hadis Ini diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal dalam Musnad Ahmad jilid 5 hal 182, Syaikh Syuaib Al Arnauth dalam Takhrij Musnad Ahmad menyatakan bahwa hadis ini shahih. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Kabir jilid 5 hal 154, Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid jilid 1 hal 170 berkata “para perawi hadis ini tsiqah”. Hadis ini juga disebutkan oleh As Suyuthi dalam Jami’ Ash Shaghir hadis no 2631 dan beliau menyatakan hadis tersebut Shahih.)

Maka itulah hadis otentik yang berasal dari Nabi SAW yang dishahihkan sunni – syi’ah !   

Gugatan wahabi: “bukankah imam-imam Syi’ah hanya dua orang sahaja yang menjadi pemerintah ?”

jawaban : Imamah menunjukkan kepemimpinan yang meliputi kepemimpinan dalam syariat, kepemimpinan dalam akhlak, kepemimpinan dalam ilmu dan khilafah. Syi’ah menjadikan Imam sebagai pedoman. Sikap syi’ah selalu berpegang pada Ahlul bait. Imamah dalam Syi’ah adalah jabatan berdasarkan ketetapan Tuhan melalui  Rasul Nya. Imam tetaplah imam meskipun semua orang sunni menolak mereka menjadi pemerintah. Syiah berkeyakinan bahwa Imam yang akan memberi petunjuk bagi manusia agar tidak sesat adalah Imam ahlul bait yang berjumlah dua belas oleh karena itu syiah sering disebut Syi’ah Imamiyah atau Syiah Itsna Asyariyyah atau Syi’ah dua belas Imam.                                                                                          

******

kesimpulan : Persatuan hadis sunni – syi’ah membuat Islam akan mampu menghadang orientalisme sarjana sarjana barat

Catatan kaki :                                                                                                                                                                                                       

1      Ayatullah Ja’far Subhani, “Menimbang Hadis-hadis Mazhab Syi’ah; Studi atas Kitab al-Kafi” dalam al-Huda:          Jurnal Kajian Ilmu-ilmu Islam, diterbitkan Islamic Center, Jakarta, vol II, no. 5.2001, hlm. 36.]

2      lihat Al Riwayat Li Al Hadits Al Tahrif oleh Sayyid Ali Al Milani

Judul Buku       : Menguji Kembali Keakuratan Metode Kritik Hadis

Penulis              : Dr. Phil. H. kamaruddin Amin, M.A.
Penerbit            : Hikmah (PT Mizan Republika) jakarta
Cetakan           : Pertama, April 2009
Tebal                : xiii + 513
Harga               : Rp. 80.000,-
Peresensi          : Ashabul Fadhli

Hadis sebagai salah satu rujukan utama setelah Al Qur’an memiliki pengaruh yang kuat dalam sejarah dan keilmuan Islam. Dalam satu sisi, hadis juga menjadi pedoman dalam hal ubudiah, hal itu tak lepas dari asumsi keabsoloutannya serta memiliki jalur periwayatan yang jelas. Artinya hadis tersebut berada dalam posisi shahih serta mempunyai supremasi hukum yang kuat dalam Hukum Islam. Dalam dunia akademis, kajian hadis juga sangat banyak diminati sebagai suatu keilmuan. Namun, bukan hanya para akademisi dan cendekiawan muslim saja yang serius mengkaji hadis, akan tetapi mereka orang-orang Barat non-Muslim juga menggeluti hadis sebagai obyek penelitian.

.
Berbeda hal nya dengan para sarjana barat yang mengkaji hadis, yang sampai saat ini masih memprtanyakan bukti dan keotentikan hadis secara metodologis. Suatu hal yang tidak mungkin dilakukan oleh para sarjana muslim. Sarjana barat ini tidak percaya sepenuhnya mengenai hadis yang diterima secara verbatim melalui rawi-rawi hadis yang disandarkan pada Nabi Muhammad SAW. Mereka masih mempertanyakan keorisinilan hadis dari sisi metodologis, baik itu isi (matan), penerima hadis (sanad), maupun perawi hadis (rawi)
.
Dalam buku yang berjudul Menguji Kembali Keakuratan Metode Kritik Hadis, yang ditulis oleh Dr. Phil. H. Kamaruddin Amin, M.A. menyajikan secara runtut bagaimana mengkaji hadis dari sisi metodologi, pemikiran dan polemik antara penelitian yang dilakukan sarjana muslim dan sarjana barat yang diakhiri dengan kesimpulan. Buku ini tentunya berbeda dari buku –buku hadis lainnya. Nilai plus dalam tulisan ini adalah dengan disajikannya pendekatan-pendekatan baru secara fokus dalam menyikapi isu-isu penting yang controversial diantara sarjana Muslim dan non muslim.
.
Sajian menarik lainnya dalam buku ini adalah bagaimana sarjana Muslim terdahulu menjustifikasi metode-metode yang mereka gunakan untuk mempertahankan kebenaran hadis. Baik itu berasal dari kritik dan isu-isu perpecahan yang dilemparkan barat serta menolak metode-metode dan kesimpulan-kesimpulan mereka dengan berbagai skeptisme.
.
Studi hadis dalam tulisan ini, juga bersebrangan dengan beberapa studi barat tentang topik yang menolak mentah-mentah metode-metode kritik hadis para sarjana Muslim. Menurut sarjana barat, studi hadis dalam Islam adalah suatu kenaifan dan tidak bisa dipercaya tanpa menelaah dan mengujinya secara mendalam. Maka dalam buku ini penulis mengkaji metode-metode yang diterapkan baik oleh para sarjana muslim maupun konsep-konsep atau metode-metode barat terpenting yang ditujukan untuk menentukan kepercayaan hadis sebagai sumber sejarah. Dia juga memfokuskan pada pendekatan-pendekatan baru baik dari para sarjana muslim maupun sarjana non muslim.
.
Tidak hanya itu, metode pengkodifikasian hadis juga dikupas dalam buku setebal 513 halaman ini. Dalam sebuah literature hadis ditemukan adanya pembukuan hadis yang dilakukan belakangan saat peristiwa hadis diriwayatkan. Kenyataan ini menimbulkan kesenjangan antara literature hadis dan peristiwa hadis yang disampaikan. Persoalan ini menimbulkan berbagai pertanyaan. Tidak hanya itu, kesalahan rawi hadis terdahulu dalam pengkodifikasian hadis, melahirkan premis miring akan keorisinilan hadis. Karena ditakutkan bahwa matan hadis tidak mencerminkan kata-kata nabi dan sahabat yang sesungguhnya, atau hanya merupakan verbalisasi dari masa sesudahnya yang kemudian dianggap sebagai sunah nabi.
.
Berbeda halnya dengan metode pendekatan yang dilakukan oleh sarjana barat seperti Fuat Sezgin, M.M. Azami dan Nabia Abbot adalah dengan menggunakan teori common Link. Teori yang pertama diperkenalkan oleh Joseph Scahct pada tahun 1950-an  ini menjadi sumber inspirasi penelitian hadis dalam keserjanaan barat. Pemikiran Schact ini juga telah diperbaharui oleh sarjana barat lainnya seperti Josef van Ess dan Michael Cook. Hasilnya, banyak kontribusi yang mereka berikan hingga memudahkan mereka untuk memverifikasi sebuah hadis untuk dibedakan yang autentik dan yang tidak. Salah satunya dengan menggunakan penanggalan (dating) atas hadis untuk menilai asal usul atau sumbernya.
.
Untuk menjawab wacana yang dilemparkan sarjana barat melalui metode common link nya itu, dalam buku ini sarjana muslim lebih menitik beratkan metode Al Bani untuk menentukan antentisitas suatu hadis dan kepalsuan suatu hadis. Terutama mengenai hadis-hadis lemah yang terdapat dalam Shahih Muslim
.
Adapun inti pokok buku yang ditulis oleh Rektor UIN Alaudin Makassar ini adalah, tentang “Penanggalan hadis-hadis dengan metode isnad “Cum Matn” yang menelaah baik jalur-jalur periwayatan maupun teks-teks hadis. Dalam metode ini isnad-isnad dari versi-versi tersebut diperiksa dengan membandingkan teks-teks dari versi-versi itu pada level periwayatan yang berbeda. Dia mengkaji secara sistematik 163 versi hadis tentang puasa yang ditemukan dalam 39 sumber. Dia cermat membandingkan varian-varian teks yang dimiliki oleh satu bundel isnad, merekonstruksi elemen-elemen tekstual yang dimiliki bersama dan mencatat perbedaan-perbedaan dari versi-versi tersebut.
.

Dengan membaca buku yang berjudul “Menguji Kembali Keakuratan Metode Kritik Hadis”, para pembaca diajak untuk menyelami urgensi kajian hadis. Dengan mengkaji hadis melalui metode dan pendekatan yang benar, akan mengahasilkan kesimpulan berupa asal-usul sumber informasi hadis. Karena asal-usul ini dianggap sebagai bukti atas kepercayaan dan  keantentisitas sebuah hadis.