Bulan: Maret 2013

Dimanakah Allah ? Sunni – Syi’ah Sepakati Ajaran Tauhid IMAM ALi BIN ABI THALiB (MEMBANTAH TERJEMAHAN AL QURAN PADA KATA iSTiWA’ Yang Dicetak Oleh Pemerintah Saudi Arabia )

Stasiun TV & siaran TV Wahabi - Salafy, sungguh kontradiksi dengan ajaran yang mereka anut

Tidak boleh berpegangan kepada Terjemahan Al Quran yang dicetak Pemerintah Saudi Arabia karena di dalamnya terdapat sejumlah penafsiran dan terjemahan yang menyalahi aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah.

 

Artikel kali ini cuma menggugat cara mereka menerjemahkan istiwa’ dengan bersemayam. Maha suci Allah SWT dari akidah Tasybih yang menuduh bahwa Zat Tuhan bersemayam/bertempat di atas ‘Arsy. Padahal Allah SWT tidak diliputi tempat, waktu dan arah      

Seorang  budak  jariyah  bertanya  pada  Nabi SAW : “Dimanakah Allah ??”. Lalu  Nabi  SAW  Menjawab : “( Pusat Pemerintahan Allah ) di langit  !!! Hadis  tersebut  oleh  ulama ulama Arab Saudi secara keliru telah diterjemahkan  secara  zhahir  bahwa  Allah SWT  bertempat  di langit.           

Cukuplah bagi muslim syi’ah dan bagi Ahlus sunnah wal jama’ah apa yang  dikatakan oleh orang yang dijuluki Nabi  SAW sebagai “pintu ilmu”  yakni  Sayidina Ali bin Abi Thalib                                           

Menurut sumber kitab kuning mazhab sunni, Al Imam Ali bin Abi Thalib mengatakan  : “Sesungguhnya Allah menciptakan ‘Arsy (makhluk Allah yang paling besar) untuk menampakkan kekuasaan-Nya bukan untuk menjadikannya tempat bagi Dzat-Nya”1                                                                     

Menurut sumber kitab kuning mazhab sunni, Ibnu al Mu’allim al Qurasyi  (w.725 H) dalam kitabnya meriwayatkan bahwa sayyidina Ali bin Abi Thalib mengatakan:Ketika kiamat telah dekat akan ada sekelompok ummat ini yang kembali menjadi kafir, mereka mengingkari pencipta mereka dan menyifati-Nya dengan jisim dan anggota badan”.2          

Menurut sumber kitab kuning mazhab sunni, Al Imam Sayyidina Ali bin Abi Thalib mengatakan: “Barang siapa beranggapan (berkeyakinan) bahwa Tuhan kita berukuran maka ia jahil terhadap  Tuhan yang wajib disembah” 3                                                                                                                                                                                                                                                      ****                                                                                                    

Mazhab Syi’ah Imamiyah Itsna ‘Asyariah Ushuliyah menerjemahkan  Istiwa’  sebagai  Sempurna  atau  Menyempurnakan. Inilah beberapa terjemahan Al Quran versi syi’ah:

Qs. Thaahaa ayat 5. : “(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang menyempurnakan ( penciptaan )  hingga  ke arsy” Qs. Al Baqarah  ayat  29 : “Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia  menyempurnakan nya  hingga ke langit, lalu sempurnalah menjadi   tujuh langit”                                                                          

QS. Al  A’raf  Ayat  54 : “Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia  menyempurnakan nya hingga  keatas arsyQs. Yunus ayat  3 : “Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia menyempurnakan nya hingga ke arsy untuk mengatur  segala  urusan”  

Qs. Ar Ra’d   ayat  2  : “Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia  menyempurnakan nya hingga ke arsy” 

 Qs. Al Furqaan  ayat  59 : “Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia menyempurnakan nya hingga ke arsy”                                                                       

Qs. As Sajdah  ayat  4  : “Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia menyempurnakan nya hingga ke arsy”                                                                                           

Qs. Fushshilat ayat  11 : “Kemudian Dia menyempurnakan ( penciptaan ) hingga  langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa.” Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati.”                                                                                      

Qs. Al Hadiid  ayat  4 : “Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia menyempurnakan ( penciptaan ) hingga  arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya . Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”

Arsy  merupakan  simbolisasi  eksistensi  Allah. Syi’ah  imamiyah  mengartikan   arsy  sebagai   sentral  pengaturan   alam  semesta  atau  pusat  pengaturan bangunan jagad raya, jadi  BUKAN  TEMPAT  ALLAH  BERSEMAYAM.        

Firman  Allah  SWT : “Allah  meliputi  segala  sesuatu (Qs. Fusshilat  ayat 54)” maknanya Tuhan  menguasai tempat  dengan arti  memelihara  setiap tempat, bukan berarti  Allah  SWT  bertempat.

Baca Qs.  Al Ikhlash ayat  2 : “Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu”… , maka  Allah  independen (ash shamad) dari  jagad  raya, ruang  dan  waktu                                

 Lalu apa maksud Qs. Al Mu’min  ayat  7 dan Qs. Al Haaqqah  ayat  17 ??

Begini…Seluruh galaksi  yang  ada  di jagad  raya  diatur  oleh  Allah  SWT  melalui  pusat  pengaturan  yaitu  arsy dimana  Allah  mengutus  malaikat  malaikat tertentu ( bukan semua malaikat ) untuk  memikul  atau  mengendalikan  arsy. Kata  tahmilu dalam ayat  tersebut bukan hanya  bermakna  memikul, tetapi  salah satunya  bermakna  “mengendalikan  dan  dibebani  tugas”                                                                                      

Catatan kaki : (Sumber ucapan Imam Ali  diambil dari kitab kuning mazhab sunni) :

1 diriwayatkan oleh Abu Manshur al Baghdadi dalam kitab al Farq bayna al Firaq, hal. 333

2  Ibnu al Mu’allim al Qurasyi  (w.725 H)  dalam kitabnya Najm al Muhtadi Wa Rajm al Mu’tadi, hal. 588           

3  diriwayatkan oleh Abu Nu’aym (w. 430 H)  dalam Hilyah al Auliya’, juz I hal. 72

Kang Said: Wahabi Berkembang Karena Uang

Banyak cara dilakukan aliran Wahabi saat memperkenalkan diri. Agar ajakannya bisa mengena kepada warga, tidak jarang mereka mengubah format dan nama agar tidak mudah dikenali.

Hal ini disampaikan oleh Ustadz Idrus Romli ketika menjadi pembicara pada acara Daurah Kader Aswaja di Pondok Pesantren Riyadlul Jannah Pacet Mojokerto, Jawa Timur, Minggu (10/2/2013).

Idrus memaparkan bahwa untuk efektifitas dakwah yang dilakukan Wahabi yakni dengan mengubah format bahkan namanya sendiri. Dengan perubahan ini diharapkan akan banyak pihak yang akhirnya tertarik dan melupakan sama sekali kata “wahabi” yang di tanah air terlanjur dimusuhi.

“Yang mudah dideteksi adalah mereka gemar melakukan dikotomi terhadap kalangan yang tidak sepaham,” katanya seperti dilansir media resmi PBNU.

Di antaranya mengatakan diri mereka sebagai al-muslimun, sedangkan kalangan yang tidak setuju dengan pendapat dan gerakan mereka disebut al-kafirun. “Demikian juga menyebut orang lain dengan al-musyrikun, sedangkan mereka mengklaim dirinya sebagai al-muwahhidun,” lanjutnya.

Aktifis PW Aswaja Center NU Jawa Timur ini juga mengingatkan bahwa sekarang kelompok Wahabi menamakan dirinya dengan Salafi untuk melawan Ahlus Sunnah Wal Jamaah. “Mereka hanya mengubah nama, sedangkan isi, gerakan yang dibawa dan diajarkan sama saja dengan Wahabi jaman dulu,” sergahnya.

“Metamorfosis ini hendaknya dipahami secara baik oleh seluruh warga NU, khususnya mereka yang terlibat aktif di kepengurusan di berbagai tingkatan,” katanya mengingatkan.

said aqil siradj

Kang Said: Wahabi Berkembang Karena Uang
Jumat, 11 September 2009 12:12

Jakarta, NU Online
Berkembangnya ajaran Wahabi ala Saudi Arabia ke seluruh pelosok dunia belakangan ini tak lain dan tak bukan karena dukungan dana yang sangat besar yang dialirkan ke para aktifis pengikut wahabi.

Di Indonesia, kelompok ini mendirikan berbagai yayasan dengan dana sangat besar seperti di Jakarta, Jember, Situbondo, Solo dan lainnya.

KH Said Agil Siradj, menjelaskan Abdul Wahhab, pendiri wahabisme ini bukanlah intelektual muslim yang cemerlang. Tak ada karya besar yang dihasilkannya karena ia hanya mengarang kitab-kitab kecil saja.

Ini tentu berbeda dengan ajaran NU yang mengambil rujukan dari ulama-ulama besar seperti Imam Syafii, al Ghozali, Asy’ari dan lainnya yang keilmuannya telah teruji dalam rentang sejarah panjang.

Abdul Wahhab yang tinggal di Nadj atau wilayah timur Saudi Arabia saat ini yang meliputi Jeddah dan Riyadh, melakukan kolaborasi dengan Ibnu Saud, pendiri kerajaan Saudi Arabia untuk melakukan pemberontakan terhadap kekhalifahan Turki Utsmani.

Setelah melalui perjuangan panjang, upaya pemisahan diri tersebut berhasil menjadikan kerajaan Saudi Arabia seperti saat ini. Kemenangan pengikut Islam konservatif yang didukung oleh tentara badui militan tetapi kurang berpengetahuan ini telah menyebabkan Islam kehilangan banyak situs sejarahnya di Makkah dan Madinah yang telah dipelihara dengan baik sejak zaman Rasulullah.

“Mereka melakukan penghancuran luar biasa terhadap situs peninggalan Islam. Hampir saja makan rasulullah dan khulafaur rasyidien juga dihancurkan,” katanya.

Entah apa jadinya peradaban Indonesia yang sangat kaya dengan tradisi ini jika dana-dana hasil minyak ini digelontorkan untuk kampanye atas nama pemurnian Islam konservatif ala wahabi ini terus berkembang.

Di Akhir Zaman Akan Banyak Orang Menjadi Kafir Karena Menjisimkan Allah

Saya sangat setuju kalau Salafi Wahabi itu digelari juga sbg “KAUM KOTRADIKTIF”. Karena mereka yg pertama memulai “perang” dg menyerang Aswaja sebagai Ahlul bid’ah, tetapi kemudian ketika Aswaja balik merespon “serangan” Wahabi salafi maka terbukti dg sangat gamblang bahwa Wahabi Salafi yg justru terbukti sebagai AHLUL BID’AH yg sebenarnya.

Awas kembali jadi kafirMujassimah adalah kafir

Di antara kita barang kali ada yang tidak mau melakukan hal-hal berikut: ‘’ TALILAN, BARJANJIAN, MAULUDAN, BURDAHAN, MANAQIBAN,   YASINAN DAN AMALAN-AMALAN BERPAHALA YANG LAINYA ’’.  Atau ada yang dalam hatinya mau tapi malas untuk melakukan semua itu, harap ma’lum saja berbuat kebaikan itu memang selalu dihalangi setan dan ahirnya sangat terasa berat, bahkan terkadang kalah dengan hal-hal tak berguna seperti  nonton dagelan di TV.

Apa pun yang anda lakukan walaupun tak berpahala, namun jangan kawatir itu semua tak akan merusak akidah kita. Sangat berbeda sekali jika sudah tidak mau melakukan amalan-amalan tersebut justru malah menghalangi orang-orang  yang akan melakukanya, setan itu namanya

.
Lebih dari itu semua, ada hal sangat penting yang harus benar-benar dihindari dalam akidah ya’ni – akidah kaum mujasimah – yang mengatakan: “Sesungguhnya Allah mempunyai anggota-anggota badan yang tidak seperti anggota-anggota badan kita”

.
Perkataan kaum Mujassimah itu adalah pendustaan terhadap firman Allah ta’ala: [ ليس كمثْله شىءٌ] [سورة الشورى: 11 , maknanya: “Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatu pun dari makhluk-Nya (baik dari satu segi maupun semua segi), dan tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya”. (Q.S. as-Syura: 11)

Mari kita lihat bagaimana pendapat para Ulama’ mengenai ayat tersebut:

1). Ibnu al Mu’allim al Qurasyi dalam kitabnya Najm al Muhtadi Wa Rajm al Mu’tadi, hal. 588 meriwayatkan bahwa sayyidina Ali mengatakan:

سيرجع قوم من هذه الأمة عنداقتراب الساعة كفارا ينكرون خالقهم فيصفونه بالجسم والأعضاء

Maknanya: “Ketika kiamat telah dekat akan ada sekelompok ummat ini yang kembali menjadi kafir, mereka mengingkari pencipta mereka dan menyifati-Nya dengan jisim dan anggota badan”.

2). Al Imam Abu Ja’far ath-Thahawi (W. 321 H) dalam kitab Bayan ‘Aqidah Ahlissunnah Wal Jama’ah mengatakan:

“( تعالَى ( يعِني اللهَ) عنِ الْحدود والْغايات والأركَان والأَعضاءِ والأَدوات لاَتحوِيه الْجِهات الست كَسائرالْمبتدعات

“Maha suci Allah dari batas-batas (bentuk kecil maupun besar, jadi Allah tidak mempunyai ukuran sama sekali), batas akhir, sisi-sisi, anggota badan yang besar (seperti wajah, tangan dan lainnya) maupun anggota badan yang kecil (seperti mulut, lidah, anak lidah, hidung, telinga dan lainnya). Dia tidak diliputi oleh satu maupun enam arah penjuru (atas, bawah, kanan, kiri, depan dan belakang) tidak seperti makhluk-Nya yang diliputi enam arah penjuru tersebut”.

.
Nah, demikianlah sedikit penjelasan dari para Ulama semoga menjadi jelas atas tersebarnya syubhat-syubhat kaum mujassimah yang juga mengatasnamakan dirinya sebagai Ahlussunnah yang akhir-akhir banyak berseliweran di tengah kaum muslimin. Sungguh  masih banyak penjelasan-penjelasan dari para Ulama’ mengenai hal ini

.

Namun cukuplah bagi kita muslim syi’ah dan Ahlus sunnah wal jama’ah apa yang  dikatakan oleh orang yang dijuluki Nabi sebagai “pintu ilmu”  Sayidina Ali karrama Allahu wajhah. Semoga akidah kita tidak menjadi rusak oleh tarikan-tarikan propaganda kaum mujassimah, sehingga kita tetap solid dalam naungan payung aqidah syi’ah dan Ahlussunnah Wal jamaah.

pendiri wahabisme bukanlah intelektual muslim yang cemerlang. Tak ada karya besar yang dihasilkannya karena ia hanya mengarang kitab-kitab kecil saja.

Kang Said: Wahabi Berkembang Karena Uang
Jumat, 11 September 2009 12:12

Jakarta, NU Online

said aqil siradj
Berkembangnya ajaran Wahabi ala Saudi Arabia ke seluruh pelosok dunia belakangan ini tak lain dan tak bukan karena dukungan dana yang sangat besar yang dialirkan ke para aktifis pengikut wahabi.

Di Indonesia, kelompok ini mendirikan berbagai yayasan dengan dana sangat besar seperti di Jakarta, Jember, Situbondo, Solo dan lainnya.

KH Said Agil Siradj, menjelaskan Abdul Wahhab, pendiri wahabisme ini bukanlah intelektual muslim yang cemerlang. Tak ada karya besar yang dihasilkannya karena ia hanya mengarang kitab-kitab kecil saja.

Ini tentu berbeda dengan ajaran NU yang mengambil rujukan dari ulama-ulama besar seperti Imam Syafii, al Ghozali, Asy’ari dan lainnya yang keilmuannya telah teruji dalam rentang sejarah panjang.

Abdul Wahhab yang tinggal di Nadj atau wilayah timur Saudi Arabia saat ini yang meliputi Jeddah dan Riyadh, melakukan kolaborasi dengan Ibnu Saud, pendiri kerajaan Saudi Arabia untuk melakukan pemberontakan terhadap kekhalifahan Turki Utsmani.

Setelah melalui perjuangan panjang, upaya pemisahan diri tersebut berhasil menjadikan kerajaan Saudi Arabia seperti saat ini. Kemenangan pengikut Islam konservatif yang didukung oleh tentara badui militan tetapi kurang berpengetahuan ini telah menyebabkan Islam kehilangan banyak situs sejarahnya di Makkah dan Madinah yang telah dipelihara dengan baik sejak zaman Rasulullah.

“Mereka melakukan penghancuran luar biasa terhadap situs peninggalan Islam. Hampir saja makan rasulullah dan khulafaur rasyidien juga dihancurkan,” katanya.

Entah apa jadinya peradaban Indonesia yang sangat kaya dengan tradisi ini jika dana-dana hasil minyak ini digelontorkan untuk kampanye atas nama pemurnian Islam konservatif ala wahabi ini terus berkembang.

Banyak cara dilakukan aliran Wahabi saat memperkenalkan diri. Agar ajakannya bisa mengena kepada warga, tidak jarang mereka mengubah format dan nama agar tidak mudah dikenali.

Hal ini disampaikan oleh Ustadz Idrus Romli ketika menjadi pembicara pada acara Daurah Kader Aswaja di Pondok Pesantren Riyadlul Jannah Pacet Mojokerto, Jawa Timur, Minggu (10/2/2013).

Idrus memaparkan bahwa untuk efektifitas dakwah yang dilakukan Wahabi yakni dengan mengubah format bahkan namanya sendiri. Dengan perubahan ini diharapkan akan banyak pihak yang akhirnya tertarik dan melupakan sama sekali kata “wahabi” yang di tanah air terlanjur dimusuhi.

“Yang mudah dideteksi adalah mereka gemar melakukan dikotomi terhadap kalangan yang tidak sepaham,” katanya seperti dilansir media resmi PBNU.

Di antaranya mengatakan diri mereka sebagai al-muslimun, sedangkan kalangan yang tidak setuju dengan pendapat dan gerakan mereka disebut al-kafirun. “Demikian juga menyebut orang lain dengan al-musyrikun, sedangkan mereka mengklaim dirinya sebagai al-muwahhidun,” lanjutnya.

Aktifis PW Aswaja Center NU Jawa Timur ini juga mengingatkan bahwa sekarang kelompok Wahabi menamakan dirinya dengan Salafi untuk melawan Ahlus Sunnah Wal Jamaah. “Mereka hanya mengubah nama, sedangkan isi, gerakan yang dibawa dan diajarkan sama saja dengan Wahabi jaman dulu,” sergahnya.

“Metamorfosis ini hendaknya dipahami secara baik oleh seluruh warga NU, khususnya mereka yang terlibat aktif di kepengurusan di berbagai tingkatan,” katanya mengingatkan.

Di Akhir Zaman Akan Banyak Orang Menjadi Kafir Karena Menjisimkan Allah

Saya sangat setuju kalau Salafi Wahabi itu digelari juga sbg “KAUM KOTRADIKTIF”. Karena mereka yg pertama memulai “perang” dg menyerang Aswaja sebagai Ahlul bid’ah, tetapi kemudian ketika Aswaja balik merespon “serangan” Wahabi salafi maka terbukti dg sangat gamblang bahwa Wahabi Salafi yg justru terbukti sebagai AHLUL BID’AH yg sebenarnya.

Awas kembali jadi kafirMujassimah adalah kafir

Di antara kita barang kali ada yang tidak mau melakukan hal-hal berikut: ‘’ TALILAN, BARJANJIAN, MAULUDAN, BURDAHAN, MANAQIBAN,   YASINAN DAN AMALAN-AMALAN BERPAHALA YANG LAINYA ’’.  Atau ada yang dalam hatinya mau tapi malas untuk melakukan semua itu, harap ma’lum saja berbuat kebaikan itu memang selalu dihalangi setan dan ahirnya sangat terasa berat, bahkan terkadang kalah dengan hal-hal tak berguna seperti  nonton dagelan di TV.

Apa pun yang anda lakukan walaupun tak berpahala, namun jangan kawatir itu semua tak akan merusak akidah kita. Sangat berbeda sekali jika sudah tidak mau melakukan amalan-amalan tersebut justru malah menghalangi orang-orang  yang akan melakukanya, setan itu namanya

.
Lebih dari itu semua, ada hal sangat penting yang harus benar-benar dihindari dalam akidah ya’ni – akidah kaum mujasimah – yang mengatakan: “Sesungguhnya Allah mempunyai anggota-anggota badan yang tidak seperti anggota-anggota badan kita”

.
Perkataan kaum Mujassimah itu adalah pendustaan terhadap firman Allah ta’ala: [ ليس كمثْله شىءٌ] [سورة الشورى: 11 , maknanya: “Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatu pun dari makhluk-Nya (baik dari satu segi maupun semua segi), dan tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya”. (Q.S. as-Syura: 11)

Mari kita lihat bagaimana pendapat para Ulama’ mengenai ayat tersebut:

1). Ibnu al Mu’allim al Qurasyi dalam kitabnya Najm al Muhtadi Wa Rajm al Mu’tadi, hal. 588 meriwayatkan bahwa sayyidina Ali mengatakan:

سيرجع قوم من هذه الأمة عنداقتراب الساعة كفارا ينكرون خالقهم فيصفونه بالجسم والأعضاء

Maknanya: “Ketika kiamat telah dekat akan ada sekelompok ummat ini yang kembali menjadi kafir, mereka mengingkari pencipta mereka dan menyifati-Nya dengan jisim dan anggota badan”.

2). Al Imam Abu Ja’far ath-Thahawi (W. 321 H) dalam kitab Bayan ‘Aqidah Ahlissunnah Wal Jama’ah mengatakan:

“( تعالَى ( يعِني اللهَ) عنِ الْحدود والْغايات والأركَان والأَعضاءِ والأَدوات لاَتحوِيه الْجِهات الست كَسائرالْمبتدعات

“Maha suci Allah dari batas-batas (bentuk kecil maupun besar, jadi Allah tidak mempunyai ukuran sama sekali), batas akhir, sisi-sisi, anggota badan yang besar (seperti wajah, tangan dan lainnya) maupun anggota badan yang kecil (seperti mulut, lidah, anak lidah, hidung, telinga dan lainnya). Dia tidak diliputi oleh satu maupun enam arah penjuru (atas, bawah, kanan, kiri, depan dan belakang) tidak seperti makhluk-Nya yang diliputi enam arah penjuru tersebut”.

.
Nah, demikianlah sedikit penjelasan dari para Ulama semoga menjadi jelas atas tersebarnya syubhat-syubhat kaum mujassimah yang juga mengatasnamakan dirinya sebagai Ahlussunnah yang akhir-akhir banyak berseliweran di tengah kaum muslimin. Sungguh  masih banyak penjelasan-penjelasan dari para Ulama’ mengenai hal ini

.

Namun cukuplah bagi kita muslim syi’ah dan Ahlus sunnah wal jama’ah apa yang  dikatakan oleh orang yang dijuluki Nabi sebagai “pintu ilmu”  Sayidina Ali karrama Allahu wajhah. Semoga akidah kita tidak menjadi rusak oleh tarikan-tarikan propaganda kaum mujassimah, sehingga kita tetap solid dalam naungan payung aqidah syi’ah dan Ahlussunnah Wal jamaah.

sunni mengkafir musyrik kan kedua orang tua Nabi dan Abu Thalib

Anak-Anak ahlulbait Nabi SAW pun  Dibunuh!

Setelah pada tanggal 9 Zulhijah, Muslim bin Aqil bin Abi Thalib menjadi syahid, dua anak beliau, Muhammad dan Ibrahim juga ditahan dan dibawa ke sel bawah tanah. Diriwayatkan bahwa Muhammad waktu itu masih berumur sepuluh tahun dan Ibrahim delapan tahun.

Pada tanggal 20 Zulhijah tahun 60 H, ketika sipir penjara datang membawa makan untuk anak-anak itu, ia melihat mereka sedang salat. Sipir pun kemudian menunggu. Ketika anak-anak itu selesai salat, ia menanyakan siapa mereka sesungguhnya. Ketika sipir tahu bahwa mereka adalah anak-anak Muslim bin Aqil sekaligus cucu Imam Ali, ia melepaskannya. Anak-anak pun keluar dari penjara.

Di malam hari, yang pertama ada dipikiran mereka adalah menemui Imam Husain dan mengingatkannya untuk tidak pergi ke Kufah. Tapi kemanapun mereka pergi, mereka melihat jalanan diblokade oleh pasukan Ibnu Ziad. Tidak mungkin untuk keluar dari Kufah. Kondisi pun semakin larut. Kemana anak-anak ini akan pergi?

Mereka sadar berada di sisi sunga Eufrat. Mereka meminum air sungai dan menaiki pohon untuk bersembunyi pada hari itu. Sampai akhirnya seorang wanita datang ke sungai untuk mencari air. Ia melihat dua anak kecil dan bertanya siapa mereka. Ibrahim menjawab, “Kami adalah dua anak yatim, maukah engkau meninggalkan kami dan jangan beri tahu kalau engkau melihat kami?” Wanita itu meminta mereka untuk ikut bersama menemui majikannya yang mungkin bisa membantu.

Majikan wanita itu adalah perempuan yang baik. Setelah berbicara kepada anak-anak itu, ia sadar siapa mereka. Ia pun memberi mereka makan dan berkata, “Kalian bisa menghabiskan waktu di sini dan saya akan coba membantu kalian. Sayangnya, suamiku Harits bekerja untuk Ibnu Ziad. Kalian dapat beristirahat di ruang penyimpan makanan tapi jangan membuat suara karena ia akan segera pulang dan menemukan kalian.”

Anak-anak itu kemudian berdoa dan pergi tidur. Malam harinya Muhammad bangun dan mulai menangis. Ibrahim bertanya mengapa ia menangis, Muhammad menjawab, “Aku melihat ayah dalam mimpi. Ia memanggil kita…” Ibrahim berkata, “Saudaraku, sabarlah. Aku juga melihat ayah dalam mimpi dan memberi isyarat kepada kita.”

Kemudian mereka mulai menangis. Harits yang sudah pulang mendengar suara. Ia membuka pintu dan bertanya siapa kalian. Setelah mengetahui bahwa mereka adalah anak-anak Muslim bin Aqil, ia mengikat anak-anak itu ke tiang. Istri Harits berusaha menghentikannya tapi ia dipukul. Harits ingin mendapatkan hadiah yang Ibnu Ziad tawarkan kepada siapa saja yang bisa menangkap anak-anak itu.

Anak-anak Muslim menghabiskan malam mereka dalam ikatan. Pagi harinya, Harits menyeret mereka ke tepi sungai. Ia mengambil pedangnya. Ibrahim bertanya, “Harits, apakah engkau akan membunuh kami?” Harits menjawab, “Ya!” Ibrahim bertanya, “Kalau begitu, izinkan kami untuk menyelesaikan salat subuh kami.”

Mereka berdua pun melakukan salat dan mengangkat tangan ke atas dan menangis, “Innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji’un! Ya Allah, kami datang kepadamu. Berikan kepada ibu kami kekuatan ketika ia mendengar kematian kami dan adililah antara kami dan pembunuh kami!” Pedang itupun melayang. Mereka dilemparkan ke sungai. Dua tubuh anak-anak Muslim hanyut di sungai Furat.

Catatan: Anak-anak Muslim menjadi syahid pada tanggal 22 Zulhijah kemarin. Inilah awal-awal tragedi Muharam. Selamat datang bulan kedukaan!

Bani Umayyah versus Bani Hasyim

Dengan nama Tuhan yang Mahatinggi, Pembeda antara Hak dan Batil.

Dengan referensi terbatas, saya berusaha mengisahkan tentang dua klan Quraisy ini. Dua klan yang mewakili dua sisi yang berbeda. Jangan mengira bahwa masalah ini hanya masalah keturunan. Karena bagaimana pun juga Nabi Muhammad berasal dari salah satu klan, Bani Hasyim.

Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Qushai bin Kilab berasal dari kaum Quraisy yang merupakan keturunan langsung Nabi Ibrahim melalui Nabi Ismail. Selain Hasyim, Abdu Manaf memiliki tiga putera lainnya; Muthalib, Naufal dan Abdu Syams.

Saat berdagang, Hasyim meninggal dunia. Putranya ditinggalkan bersama kafilah. Muthalib, saudara lelaki Hasyim, pergi menjemput putra mendiang saudara lelakinya itu dan membawanya tinggal bersama anak-anaknya sendiri. Kemudian putra Hasyim ini dikenal dengan nama Abdul Muthalib.

Anak-anak Hasyim melalui putranya Abdul Muthalib disebut Hasyimiah. Abdul Muthalib sendiri memiliki beberapa putra dari istri berbeda, di antaranya: Abdullah (ayah Nabi Muhammad), Abu Thalib (ayah Ali bin Abi Thalib) dan Hamzah (pemimpin para syahid di masanya).

Lain kisah, Abdu Manaf pernah membeli dan memberikan seorang sahaya bernama Umayyah kepada Abdu Syams, saudara Hasyim. Umayyah, yang penyembah berhala sejak lahirnya, menghabiskan masa kecilnya di tengah-tengah orang Kristiani Romawi. Tuannya, Abdu Syams, karena menyukainya, menjadikannya sebagai anak angkat.

Sebelum meninggal, Abdu Manaf, sudah menyerahkan tanggung jawab dan tugas turun-temurunnya yang merupakan hak istimewanya, yaitu mengurus dan memelihara Kakbah Suci, kepada Hasyim putra sulungnya yang sangat mulia karakter dan temperamennya.

Namun putera angkat dari Abdu Syams yang bernama Umayyah (berasal dari Romawi) tidak menyenangi adanya kekuasaan terbagi pada Hasyim. Lalu melalui suatu sidang kekeluargaan, Umayyah mencoba menyingkirkan Hasyim, akan tetapi hal ini tidak mendapatkan persetujuan dari banyak pihak.

Akhirnya masalah itu dibawa oleh Umayyah kehadapan hakim. Sayangnya hakim tersebut justru memutuskan kebenaran berada dipihak Hasyim. Maka jatuhlah keputusan hakim untuk menempatkan Umayyah keluar dari kota Mekkah selama 20 tahun untuk selanjutnya pergi Syam. Inilah awal dari permusuhan klan Bani Umayyah terhadap Bani Hasyim.

Penyeledikan terakhir yang dilakukan oleh ahli sejarah terkenal asal Irak, al-Amini, penulis karya ternama Al-Ghadîr dan peneliti Iran, Imad Zadeh, memaparkan riwayat dari Ibnu Atsir dan lainnya mengenai Abdu Syams dan Hasyim yang merupakan putra kembar Abdu Manaf yang lahir dengan punggung menyatu, kemudian dipisahkan dengan menunggunakan sebilah pisau. Seorang peramal nasib pada masa itu meramalkan permusuhan abadi antara keturunan dua putra kembar ini.

Kebencian dan pemusuhan antara kedua klan ini semakin kuat. Bani Hasyim memegang amanat sebagai pengawas dan pemelihara Rumah Suci Allah, Kakbah, sebuah posisi yang terhormat dan sangat diinginkan orang-orang, tidak terkecuali Bani Umayyah. Karakter murah hati Bani Hasyim tak memungkinkannya menimbun kekayaan, sedangkan egoisme dan kekikiran Bani Umayyah memberikan jalan baginya untuk menimbun kekayaan.

Api kedengkian Umayyah semakin besar ketika Abdul Muthalib, putra Hasyim, secara menakjubkan menemukan sumber air alami Zamzam yang tersembunyi dan tak pernah diketahui oleh siapapun selama berabad-abad. Penemuan ini menambah rasa hormat dan takzim orang di Jazirah Arab kepada Abdul Muthalib sebagai keturunan Ismail dan menambah kebencian Bani Umayyah.

Abdul Muthalib hanya menyembah Allah dan selalu menerima kehendak Allah tanpa protes. Kualitas imannya kepada Allah terlihat dengan segera dikabulkannya doa-doa yang dipanjatkan kepada-Nya, ketika pangeran Kristiani Abissinia sampai di derah pinggiran kota Mekkah bersama pasukan besar berkendara gajah yang hendak menghancurkan Kakbah. Sejarah mencatat peristiwa ini dalam surah al-Fîl.

Perseteruan keduanya belum juga berakhir hingga munculnya Nabi Terakhir, Muhammad bin Abdullah, yang merupakan bagian keluarga Bani Hasyim. Justru, “pengakuan” diri Muhammad sebagai utusan Allah, membuat Bani Umayyah semakin benci, karena hal itu berarti mereka harus tunduk dan mengikuti ajaran Muhammad.

Kisah-kisah teladan Nabi dalam menyampaikan risalah agama sudah sering kita dengar. Namun ada beberapa kejadian lain yang menimpa Nabi dan Bani Hasyim—mulai dari fisik hingga psikis—yang jarang kita dengar. Kita bisa memulainya dari isolasi atau embargo terhadap klan Bani Hasyim di lembah (syi’ib) Abu Thalib. Tidak boleh menikah, tidak boleh jual-beli, juga tidak boleh keluar lembah selama tiga tahun!

Cobaan psikis lain adalah riwayat-riwayat yang menyatakan bahwa Nabi bermuka masam, juga orang tua Nabi dan paman Nabi, yang menjaga dan melindungi Nabi berada di neraka. “Dosa” kedua orang tua Nabi adalah karena mereka orang tua Nabi, dan “dosa” Abu Thalib adalah karena ia ayah dari Ali.

Sebagai tambahan, Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib atau dikenal sebagai Ali Zainal Abidin pernah mendengar orang-orang mengatakan bahwa Abu Thalib adalah kafir. Dalam dadanya terdapat kesedihan dan jeritan bahwa kakeknya dianggap kafir, lalu mengatakan, “Sungguh aneh, sangat aneh. Apakah mereka mencela Abu Thalib ataukah Rasul? Allah telah melarang Rasul membiarkan perempuan mukmin tinggal bersama lelaki kafir dalam banyak ayat Alquran. Tidak seorang pun meragukan bahwa Fatimah binti Asad (istri Abu Thalib) adalah perempuan mukmin terdahulu…”

Imam Zainal Abidin ingin mengatakan bahwa jika Abu Thalib kafir maka tidak mungkin Rasul melawan perintah Allah dengan membiarkan istri Abu Thalib yang mukmin bersama Abu Thalib.

“Dosa” Abu Thalib adalah karena ia ayah dari Ali. Mengapa Ali? Ali, telah membunuh banyak musuh Islam yang terdiri dari pembesar Quraisy di Perang Badr, sekitar 24-36 orang. Di Perang Uhud, ketika para sahabat melarikan diri, Ali tetap setia berada di sisi Nabi. Begitu juga peran Ali di Perang Khandaq dan Perang Ahzab. Di Perang Hunain, ketika sebagian sahabat lari, Ali membunuh sekitar 40 musyrikin. Begitu seterusnya kisah Ali membunuh kaum musyrik.

Setelah apa yang diperbuat Ali, mungkinkah ia menjadi khalifah pengganti Nabi dan “pemimpin” bagi daerah Hijaz? Ali Syariati mengatakan, “Ali adalah ‘korban’ karena kekerabatannya dengan Rasulullah, karena hubungan kesukuan lebih kuat dibanding hubungan keislaman. Mereka masih tetap hidup dalam kesukuan dan tidak mungkin tahan menyaksikan kenabian dan kepemimpinan berada dalam Bani Hasyim.”

Setelah Ali, siapa lagi? Isterinya, Fatimah mengalami ujian berat. Warisan dari ayahnya direbut oleh penguasa dan bahkan rumahnya dikepung hanya agar ia dan keluarganya mengakui penguasa saat itu. Puteranya yang pertama, Hasan menerima stigma buruk oleh musuh Bani Hasyim sebagai orang lemah dan suka berganti istri. Kapan puncak ujian bagi Bani Hasyim?

Karbala; Ajang Balas Dendam

Puncak dari segala kebencian Bani Umayyah kepada Bani Hasyim ditumpahkan pada bulan Muharam. Peristiwa Karbala menjadi ajang balas dendam keluarga Umayyah yang diwakili oleh Yazid bin Muawiyah kepada Imam Husain bin Ali, tidak hanya sebagai cucu Nabi, tapi juga sebagai keturunan Hasyimiah. Salah satu tema besar yang diangkat oleh Yazid adalah dendam atas terbunuhnya leluhur Yazid.

Dendam ini telah tertanam dalam hati para pembesar Umayyah yang tidak bisa ditembus oleh cahaya agama Allah. Imam Husain selalu berusaha mencari jalan agar para musuhnya sadar atas apa yang akan mereka perbuat. Beliau berkata, “Celakalah kalian, atas dasar apa kalian memerangiku? Apakah karena aku mencampakkan kebenaran? Atau karena aku merubah syariat Allah dan meninggalkan sunah?”

Panglima perang Yazid menjawab dengan kalimat yang pasti atas kebenciannya kepada Hasyimiah, “Kami memerangimu karena kebencian kami kepada ayahmu (Ali bin Abi Thalib) dan atas apa yang telah dia perbuat terhadap kakek-kakek kami di Badr dan Hunain!”

Tidak ada jalan lagi. Nasihat sudah tidak mampu merubah niat mereka. Imam pun berteriak, “Aku adalah putra Ali dari keluarga Hasyim. Cukuplah ini sebagai kebanggaanku. Kakekku, Rasulullah, adalah manusia paling mulia di muka bumi. Kami (ahlulbait) adalah pelita Allah di kegelapan dunia. Fatimah ibuku adalah putera Ahmad. Pamanku, Ja’far, dikenal sebagai pemilik sayap di surga. Pada kamilah Alquran diturunkan. Kami adalah sumber kemuliaan wahyu dan petunjuk Ilahi. Kami ahlulbait adalah bahtera keamanan bagi para penduduk bumi. Kami memberitahukan ini kepada umat manusia dalam setiap keadaan. Di hari kiamat, pengikut kami adalah sebaik-baiknya pengikut. Para pembenci kami adalah orang yang paling merugi…”

Panglima perang berusaha membangkitkan semangat anak buahnya dengan berkata, “Celakalah kalian, tahukah kalian siapa yang kalian perangi? Ini adalah anak Ali bin Abi Thalib, pembunuh orang-orang Arab. Serang dia dari berbagai arah!” Pembantaian pun terjadi hingga akhirnya tawanan Bani Hasyim sampai di istana Yazid.

Yazid berdiri di hadapan Zainab binti Ali bin Abi Thalib dan berkata, “Andai nenek moyangku (yang terbunuh) di Badr menyaksikan pembalasan sebagaimana terhadap suku Khazraj dari pukulan-pukulan pedang. Niscaya nenek moyangku akan menyambut peristiwa Karbala dengan gembira sambil berkata, ‘Rahmat atasmu, wahai Yazid.’ Sebab kita telah berhasil membunuh salah satu tokoh dari pemimpin mereka, sehingga kita sandingkan hal itu sebagai bentuk pembalasan atas tragedi di Badr, maka hal itu akan menjadi impas. Sungguh Bani Hasyim telah dipermainkan oleh kekuasaan yang ada, tanpa hadis dari Nabi atau wahyu yang turun. Kemudian engkau berharap agar Husain tak terbunuh?”

Kalimat terakhir yang diucapkan Yazid tersebut menunjukkan bahwa dia tidak meyakini akan wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad dan hadis-hadis yang diucapkan beliau saw. Lalu Sayidah Zainab menimpali, “Bagaimana kami dapat berharap al-Husain tak terbunuh dihadapan cucu seseorang yang telah memakan hati Hamzah? Bagaimana kami dapat menyimpan harapan terhadap seseorang yang kebencian dan kedengkiannya pada kami telah membusuk dan memenuhi hatinya. Mereka yang selalu memandang kami dengan penuh kebencian dan permusuhan.” Sebagaimana kita tahu, pemakin hati dari Sayidina Hamzah bin Abdul Muthalib adalah Hindun isteri Abu Sufyan, nenek daripada Yazid.

Yazid pun menjawab, “Pembantaian di Perang Badr telah terbalas di Karbala.”

Ini merupakan klimaksnya. Tidak cukup Abu Thalib dicap sebagai kafir dengan riwayat murahan, keturunan Abu Thalib juga dibantai. Siapa saja korban Karbala? Beberapa di antaranya; Abu Bakar bin Ali bin Abi Thalib; Ja’far bin Ali bin Abi Thalib; Ja’far bin Aqil bin Abi Thalib; Abbas bin Ali bin Abi Thalib; Abdullah bin Husain bin Ali bin Abi Thalib; Abdullah bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib; Abdullah bin Muslim bin Aqil bin Abi Thalib; Abdurrahman bin Aqil bin Abi Thalib; Utsman bin Ali bin Abi Thalib; dan tentu saja hampir seluruh keluarga Imam Husain dan Bani Hasyim.

Antiklimaksnya, pada zaman dinasti Umayyah, Ali bin Abi Thalib dan isterinya dicaci maki di mimbar ulama murahan. Pecintanya dan pengikutnya dikejar-kejar dan dibunuh. Hingga sekarang, mereka yang menganggap Abu Thalib sebagai mukmin dan menganggap puteranya, Ali, sebagai imam juga dianggap sebagai sesat dan kafir.

Makam Ahlulbait Nabi Dihancurkan karena wahabi memusuhi mazhab keluarga Nabi SAW

Maqbarat Al-Baqi’ (مقبرة البقيع, Pemakaman Al-Baqi’) Jannatul Baqi‘ merupakan sebuah komplek pemakaman di kota Madinah, Arab Saudi, yang letaknya persis melewati Masjid Nabawi, area bagian tenggara dari masjid. Pemakaman ini juga dikenal sebagai Jannatul Baqi’ (جنة البقيع). Nama ini berarti “Taman Surga”. Nama lain yang dikenal adalah Baqi’ Al-Gharqad.

Masjid Nabawi merupakan masjid yang dibangun tepat di mana Nabi Muhammad biasa menjalani kehidupannya dan membangun masjidnya di mana saat ini beliau dimakamkan. Karena itu pemakaman ini memiliki banyak arti penting. Di tempat itu dimakamkan jasad para sahabat dan keluarga Nabi saw. Riwayat menyebutkan bahwa Nabi melakukan doa setiap kali beliau melewati pemakaman.

Pada masa pembangunan Masjid Nabawi, As’ad bin Zararah, salah seorang sahabat Nabi wafat. Nabi Muhammad memilih daerah sebagai pemakaman dan As’ad adalah orang pertama yang dimakamkan di pemakaman Al-Baqi’ dari kalangan Anshar. Riwayat lain menyebutkan sahabat pertama yang dimakamkan di Al-Baqi’ adalah Utsman bin Madhun wafat tahun 3 H.

Makam pada Masa Utsmaniah

Perluasan makam pertama dalam sejarah dilakukan oleh Muawiyah I, pemimpin Umayyah pertama. Dia membeli tanah tetangga yang luas di mana Utsman bin Affan dimakamkan sehingga berada di dalam pemakaman Al-Baqi. Umayyah membangun kubah pertama di Al-Baqi di atas kuburan Ustman bin Affan. Beberapa waktu kemudian dalam sejarah ada begitu banyak kubah dan bangunan yang dibangun di atas kuburan terkenal Al-Baqi’.

Penghancuran Makam

Sejak 1205 H hingga 1217 H kaum Wahabi mencoba menguasai Jazirah Arabia namun gagal. Akhirnya 1217 H mereka berhasil menguasai Thaif dengan menumpahkan darah Muslim yang tak bersalah. Mereka memasuki Mekah tahun 1218 H dan menghancurkan semua bangunan dan kubah suci, termasuk kubah yang menaungi sumur Zamzam. Tahun 1221, kaum Wahabi masuk kota Madinah dan menajiskan Al-Baqi dan semua masjid yang mereka lewati. Usaha menghancurkan makam Rasulullah berhenti karena protes masyarakat Muslim dunia.

Pada hari Rabu 8 Syawal 1345 H bertepatan dengan 21 April 1925, pemakaman Jannatul Baqi’ dihancurkan oleh Raja Abdul Aziz bin Saudi dari Arab Saudi. Pada tahun yang sama, ia juga menghancurkan makam manusia suci di Jannatul Mualla (Makkah) di mana ibunda Nabi Muhammad (Sayyidah Aminah as), istri Nabi, kakek dan leluhur Nabi dikuburkan. Kejadian ini menimbulkan protes dari masyarakat Muslim dunia.

Penghancuran situs suci di Hijaz oleh Saudi, yang diawali oleh Muhammad bin Abdul Wahhab berlanjut hingga sekarang. Keluarga Kerajaan Arab Saudi mempraktikkan bentuk Islam kaku yang disebut Wahhabisme, dan telah melakukan pemusnahan terhadap makam tersebut. Hasilnya, kitab dan peta yang ada di makam disita oleh penguasa. Meski demikian, makam orang-orang suci ini tetap dikunjungi oleh peziarah dan pemakaman juga berlanjut di pemakaman ini.

Banyak kaum Syiah yang melanjutkan untuk mengenang hari itu ketika Dinasti Saud menghancurkan pemakaman Al-Baqi’, semata-mata karena di sanalah dimakamkan keluarga Nabi Muhammad saw. Mereka menyebut hari itu (8 Syawal) sebagai Yaum Al-Gham (Hari Kesedihan). Kaum Syiah terus melakukan protes kepada pemerintah Saudi atas penghancuran ini.

Gambaran Pemakaman Jannatul Baqi’

Umar bin Jubair melukiskan Al-Baqi saat ia berkunjung ke Madinah berkata, “Al-Baqi’ terletak di Timur Madinah. Gerbang Al-Baqi’ akan menyambut Anda saat tiba di Al-Baqi’. Saat Anda masuk kuburan pertama yang Anda lihat di sebelah kiri adalah kuburan Shafiah, bibi Rasulullah. Agak jauh dari situ terletak pusara Malik bin Anas, salah seorang Imam Ahlus Sunnah dari Madinah. Di atas makamnya didirikan sebuah kubah kecil. Di depannya ada kubah putih tempat makam putra Rasulullah, Ibrahim.

Di sebelah kanannya adalah makam Abdurahman bin Umar putra Umar bin Khatab, dikenal sebagai Abu Syahma. Abu Syahma dihukum cambuk oleh ayahnya karena minum khamar. Hukuman cambuk untuk peminum khamar seharusnya tidak hingga mati. Namun Umar mencambuknya hingga ajal merenggutnya. Di hadapan kuburan Abu Syahma adalah makam Aqil bin Abi Thalib dan Abdulah bin Ja’far Ath-Thayyar. Di muka kuburan mereka terbaring pusara istri Rasul dan Abbas bin Abdul Mutalib.

Makam Imam Hasan bin Ali, terletak di sisi kanan dari gerbang Al-Baqi’. Makam ini dilindungi kubah tinggi. Di sebelah atas nisan Imam Hasan adalah makam Abbas bin Abdul Muthalib. Kedua makam diselimuti kubah tinggi. Dindingnya dilapisi bingkai kuning bertahtakan bintang indah. Bentuk serupa juga menghias makam Ibrahim putra Rasulullah. Di belakang makam Abbas berdiri rumah yang biasa digunakan Fatimah binti Rasulullah as. Biasa disebut “Bait al-Ahzân” (Rumah Duka Cita). Di tempat ini putri Rasulullah biasa berkabung mengenang kepergian ayahnya tercinta Rasulullah saw. Di ujung penghabisan Al-Baqi’ berdiri kubah kecil tempat Utsman dimakamkan. Di dekatnya terbaring ibunda Ali bin Abi Thalib, Fatimah binti Asad.”

Satu setengah abad kemudian pengelana terkenal Ibnu Batutah mengunjungi Al-Baqi’ dan menemukan Al-Baqi’ tidaklah berbeda dengan yang dilukiskan Ibnu Jubair. Ia menambahkan, “Al-Baqi’ adalah kuburan sejumlah kaum Muhajirin dan Anshar dan sahabat nabi lainnya. Kebanyakan mereka tidaklah dikenal.” (Hakikat Wahabi)

Atas (Makam Abbas) – Kiri ke Kanan (Makam Imam Hasan, Ali Zainal Abidin, Muhammad Al-Baqir, Ja’far Ash-Shadiq)

Pribadi Penting di Jannatul Baqi’

Di antaranya adalah keluarga langsung Nabi Muhammad saw: Seluruh istri Nabi yang disebut Ummul Mukminin termasuk Aisyah, Hafshah, Zainab, dan lain-lain terkecuali Khadijah binti Khuwailid dan Maimunah binti Al-Harits. Makam Fatimah Az-Zahra, putri Nabi yang tidak diketahui posisinya, begitu juga dengan Ruqayah putri Nabi yang lain.

Kemudian Ibrahim, putra Nabi Muhammad dari Maryam Al-Qibthiah. Abbas bin Abdul Muthalib, paman Nabi saw. Bibi dari Nabi Muhammad seperti Shafiah dan Atikah. Begitu juga dengan bibi Nabi Muhammad yang lain, Fatimah binti Asad, yang juga ibu dari Ali bin Abi Thalib. Dari keluarga Ahlul Bait: Hasan bin Ali, cucu Nabi, putri Fatimah dan Ali (Imam Kedua Ahlul Bait), Ali Zainal Abidin (Imam Keempat), Muhammad Al-Baqir (Imam Kelima), Ja’far Ash-Shadiq (Imam Keenam).

Kerajaan Saud dan diamnya ulama Wahabi, lebih menghendaki dibangunnya jam raksasa disamping Kakbah yang dibawahnya terdapat hotel mewah milik Barat, daripada harus membangun dan memperbaiki makam keluarga dan sahabat Nabi saw.

 

Nabi Muhammad SAW adalah nabi terakhir yang memiliki kemuliaan dan derajat yang tinggi,baik di langit maupun di bumi. Kemuliaannya diakui oleh Alloh SWT dengan pernyataanNya,Innaka la ‘ala khuluqin ‘adhim, sesungguhnya Engkau (ya,Muhammad) berada diatas akhlak yang agung (QS.Al Qolam 4).Jika yang kecil menyifati sesuatu dengan ‘agung’,yang dewasa belum tentu menganggapnya agung.Tetapi jika Yang Maha Besar Alloh yang menyifati sesuatu dengan kata agung,maka tidak dapat terbayangkan betapa besar keagungannya.Dan sudah tentu,makhluk yang agung tidak keluar kecuali dari rahim yang agung pula !
 .
Nabi Muhammad SAW adalah penghuni bumi yang paling baik nasabnya secara mutlak. Nasab beliau dari segi kemuliaan berada di puncaknya. Musuh-musuh beliau memberi pengakuan untuknya atas hal tersebut. Diantara musuh beliau yang memberikan pengakuan akan indahnya nasab beliau adalah Abu Sufyan(sebelum masuk islam), yang dikala itu berhadapan denga penguasa Romawi. Kaum yang paling mulia adalah kaumnya,kabilah yang paling mulia adalah kabilahnya dan marga yang paling mulia adalah marganya (Ibnu Qoyyim al Jauziyah,Zaadul Ma’ad,I/32)
.
Dan Rasulullah pernah bersabda,”Aku selalu berpindah-pindah dari tulang sulbi orang-orang yang suci kedalam rahim-rahim wanita yang suci pula”(Dinukil oleh Al Hamid Al Husaini,dalam bukunya Pembahasan Tuntas Perihal Khilafiyyah,hal.600-601).Itu artinya Nabi saw adalah manusia tersuci yang telah disiapkan kelahirannya dengan membuatnya keluar dari rahim yang suci pula,yaitu Aminah ra
.
Dinukil oleh Ibnul Jauzi,dalam kitab Al Wafa’ (terjemahan),hal.74 :Abdurrahman bin ‘Auf berkata,”Ketika Rasulullah saw dilahirkan,ada jin yang berbicara di bukit Abu Qubais di daerah ‘Ujun- yang pada mulanya tempat itu adalah sebuah kuburan dan orang-orang Quraisy merusakkan pakaian mereka di daerah itu-.Jin itu berkata dengan syair berikut :
“Aku bersumpah tidak seorang pun dari golongan manusia yang telah melahirkan Muhammad selain ia (Aminah).
Seorang wanita dari suku Zuhrah yang memiliki sifat-sifat terpuji dan selamat dari kecelaan para suku-suku, bahkan mereka memujinya
.
Wanita itu telah melahirkan manusia terbaik yaitu Ahmad.
Orang yang terbaik itu dimuliakan
Serta orangtuanya pun dimuliakan juga”…
Bahkan Nabi SAW pernah menjelaskan bahwa nasabnya adalah suci (ayah-ayahnya adalah keturunan manusia yang suci),”Saya Muhammad bin Abdillah bin Abdul Muthollib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushay bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizaar. Tidaklah terpisah manusia menjadi dua kelompok (nasab) kecuali saya berada diantara yang terbaik dari keduanya. Maka saya lahir dari ayah – ibuku dan tidaklah saya terkena ajaran jahiliyyah dan saya terlahir dari pernikahan (yang sah).Tidaklah saya dilahirkan dari orang yang jahat sejak Adam sampai berakhir pada ayah dan ibuku. Maka saya adalah pemilik nasab yang terbaik diantara kalian dan sebaik-baik nasab (dari pihak) ayah” (Baihaqi dalam Dalailun Nubuwwah dan Imam Hakim dari Anas ra.) Hadis ini diriwayatkan pula oleh Ibn Katsir dalam tafsirnya juz 2,hal.404 dan juga oleh Imam Ath Thobari dalam tafsirnya juz 11, hal. 76.
Juga sabda Nabi SAW,”Saya adalah Nabi yang tidak berdusta, Saya adalah putra Abdul Mutholib.”(HR.Bukhori no.2709,2719,2772,Shahih Muslim no.1776)
.
Lihatlah dari hadis-hadis diatas,nampak jelas sekali bahwa tidak mungkin orang tua Nabi adalah orang-orang kafir atau musyrik. Sedangkan Nabi SAW telah membanggakan kedua orang tuanya sebagai nasab yang terbaik.Bagaimana mungkin ada manusia yang tega mengatakan orang tua,bapak atau ibu Nabi saw lagi disiksa di neraka?Sungguh itu sama halnya menyakiti hati Nabi saw
.
Demikian juga ucapan Nabi SAW kepada Sa’ad bin Abi Waqqash di peperangan Uhud ketika beliau SAW melihat seorang kafir membakar seorang muslim,maka Rasulullah SAW bersabda kepada Sa’ad,”Panahlah dia,jaminan keselamatanmu adalah Ayah dan ibuku!’, maka Sa’ad berkata dengan gembira,’Rasulullah SAW mengumpulkan aku dengan nama ayah dan ibunya!’ “(HR Bukhori,Bab. Manaqib Zubair bin Awam no.3442,hadis no.3446, Bab.Manaqib Sa’ad bin Abi Waqqosh Al-Zuhri.)
.
Bagaimana mungkin Sa’ad berbahagia disatukan dengan orang tua Rasulullah,jika keduanya orang-orang musyrik??
Maka apa kata dunia? Jika nabinya ummat Islam lahir dari rahim perempuan musyrik? Padahal Isa as. Lahir dari rahim perempuan yang suci!!.Apa kata dunia jika Nabinya ummat islam lahir dari rahim perempuan kafir?Padahal banyak perempuan yang beriman melahirkan anak-anak yang tidak memiliki keistimewaan,sedangkan Rasul keistimewaannya diakui di dunia langit maupun bumi lahir dari perempuan musrik?. Sungguh tidak logis!!
Sungguh harus dipertimbangkan pendapat tentang kemusyrikan orang tua Nabi !
.
Ahlul Fatrah
Adalah suatu masa dimana terjadi kekosongan nubuwwah dan risalah. Seperti orang-orang jahiliyyah yang belum datang kepada mereka risalah kenabian,maka mereka masuk kategori ahlu fatrah,yang mereka termasuk ahli surga juga. (Prof.DR.Wahbah Zuhaili,tafsir Al Munir,juz 8, hal.42)
.
Hal itu berdasarkan firman Alloh QS. Al Isro’ 15 yang artinya,”Kami tidaklah mengadzab (suatu kaum) hingga kami mengutus (kepada mereka) seorang rasul
.
Dari ayat itu, maka orang-orang yang hidup sebelum Nabi Muhammad SAW diutus, mereka adalahAhlu fatrah yang tidak diadzab atas perbuatannya. Karena sebagai bentuk keadilan Alloh adalah mengadzab suatu kaum setelah jelas risalah datang kepada mereka namun tidak diindahkannya.
.
Dan dari ayat itu pula,dapat dipahami bahwa keluarga nabi saw sebelum dirinya diangkat menjadi Nabi dan Rasul,adalah termasuk ahlu fatrah.Dan karena itu mereka tidak diadzab dan tidak digolongkan kepada orang-orang musrik atau kafir
.
Bagaimana dengan riwayat bahwa Nabi saw menangis dipusara ibunya?. Dan hadis tersebut dikaitkan sebagai asbabun nuzul ayat 113 dari QS .At Taubah; “Tiadalah sepatutnya bagi nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun[kepada Alloh] bagi orang-orang musyrik,walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya),sesudah jelas bagi mereka,bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka Jahanam”.??
Beberapa ulama’ (salah satunya Ibn Katsir,Mukhtashor li Ali as Shobuni,juz 2,hal.173),menyebutkan sebuah riwayat,bahwa rasulullah saw. Suatu ketika berziarah ke kuburan dan menangis tersedu-sedu.Sayidina Umar bertanya tentang sebab tangis beliau.Beliau menjawab,”Aku menangis di kubur ibuku,Aminah. Aku memohon kepada Alloh kiranya beliau diampuni,tetapi alloh tidak memperkenankan dan turun kepadaku firmanNya (At Taubah 113-114). Aku sedih dan kasihan kepada ibuku, dan itulah yang menjadikan aku menangis”(HR.Ibn Hibbah,Abi Alatim dan Al Hakim melalui Ibn Mas’ud)
.
Riwayat ini dinilai dhoif oleh pakar hadis Adz Dzahabi,karena dalam renteten perawinya terdapat nama Ayyub yang berstatus lemah (Prof.DR.Quraish Shihab,Al Misbah ,jilid 5,hal.735).Dan pakar tafsir lainnya seperti DR.Wahbah Zuhaily mengomentari ulama yang menyatakan hadis tersebut sebagai sebab turunnya ayat 113,QS at Taubah,dengan komentar bahwa itu jauh dari fakta sebab orang tua Rasul hidup di masa fatrah,sehingga tidak tepat hadis tentang tangisan nabi saw dipusara ibunya sebagai sebab turunnya ayat tersebut.[lihat tafsir Al Munir ,juz 6,hal 64]
.
Dan banyak lagi hadis yang senada dengan itu,namun dengan redaksi yang berbeda,seperti yang diriwayatakan,Ahmad,Muslim, Abu Dawud dari jalur Abu Hurairoh. Dan jika kita terima kesahihan hadis tangisan Nabi diatas kuburan ibunya tersebut,maka ada beberapa hal harus dipertimbangkan untuk membatalkan hadis tersebut sebagai dalil kemusyrikan Ibu nabi SAW,sebagai berikut:
1. 1. Hadis tersebut secara manthuq (tekstual) tidak menyebut kekafiran atau kemusyrikan ibu Nabi secara tegas dan jelas.Sehingga agak ceroboh kalau dengan ketidak jelasan manthuq hadis tersebut langsung menyatakan kemusrikan ibunda Nabi saw.
2. 2. Hadis-hadis tersebut yang menyatakan bahwa kejadian rasulullah menangis di kuburan ibunya di kota Mekkah,menurut ibnu Sa’ad berita itu salah,sebab makam ibu Nabi itu bukan di Mekkah tapi di ‘Abwa (suatu wilayah yang masih masuk kota Madinah). (Al Wafa’,ibn Al Jauzi,terjemahan hal.96, Lihat juga Zaadul Ma’ad jilid I,hal.36 terkait dalil tempat wafatnya ibunda Nabi saw)
.
3. 3. Hadis-hadis tersebut termasuk hadis ‘Inna Abiy wa abaaka finnar (Sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka” (HR.Muslim) dibatalkan (mansukh) oleh QS.Al Isra’ 15.”Dan Kami tidak mengadzab (suatu kaum) hingga kami mengutus(kepada mereka) seorang rasul”(rujuklah pada Masaalikul Hunafa Fii Hayaati Abawayyil Musthofa,karya Imam As Suyuthi,hal.68).Alasan pembatalannya adalah mereka ayah dan ibunda Nabi saw hidup sebelum ada risalah nubuwwah,karena itu mereka termasuk ahlu fatrah yang terbebas dari syari’at Rasululloh saw
.
4. 4. Khusus hadis riwayat Muslim,Inna Abiy wa Abaaka fin Nar/Sesungguhnya bapakku dan bapakmu di neraka,adalah bahwa yang dimaksud Abi di hadis tersebut adalah paman.Karena kebiasaan Alloh didalam al Quran,sering ketika ada kata-kata Abun,maka yang dimaksud adalah bukan orang tua kandung.Alloh berfirman dalam QS.Al Baqoroh 133,yang artinya ; “Adakah kamu hadir ketika Ya’qub mau meninggal,ketika Ia berkata kepada anak-anaknya;Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab;’Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan bapak-bapakmu,Ibrahim,Isma’il dan Ishaq,yaitu Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepadaNya.” Padahal Ayah Ya’qub adalah Ishaq bukan Ibrahim atau Ismail.Namun Alloh menyebutkan Ibrahim dan Ismail sebagai Aaba’(ayah-ayah) dari Ya’qub,maksudnya adalah kakek atau paman dari Ya’qub.Dan untuk penyebutan orang tua kandung,biasanya Al quran menggunakan kata Waalid.Sebagaimana Alloh berfirman; “Robbanagh Fir Li Wa Li Waliidayya…/Ya Tuhan Kami Ampunilah aku dan ibu bapakku…”.QS.Ibrahim 41
.
5. 5. Hadis-hadis tersebut bertentangan dengan nash hadis lain seperti yang kami tulis diatas,bahwa nabi lahir dari nasab yang suci.
.
6. 6. Dikatakan oleh Al Qadhiy Abu Bakar Al A’raabiy bahwa orang yang mengatakan orang tua Nabi saw di neraka, mereka di laknat oleh Allah swt, sebagaimana FirmanNya: “Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allah akan melaknatinya di dunia dan akhirat, dan disiapkan bagi mereka azab yang menghinakan.” (QS. Al-Ahzab: 57)Berkata Qadhiy Abu Bakar, “Tidak ada hal yang lebih menyakiti Nabi SAW ketika dikatakan bahwa ayahnya atau orang tuanya berada di neraka, dan Nabi saw bersabda : ‘Janganlah kalian menyakiti yang hidup karena sebab yang telah wafat.’ (Masalikul Hunafa’ Fii Hayaati Abawayyil Musthofa, hal. 75 lil Imam Suyuthi)
.
Demikian pendapat ulama bahwa orang tua Nabi SAW bukan orang-orang musyrik, karena wafat sebelum kebangkitan Risalah dan menjadi ahli fatrah, dan tak ada pula nash yg menjelaskan mereka sebagai menyembah berhala. Diantara Ulama yang berpendapat bahwa orang tua Nabi bukan musyrik menurut Al Habib Munzhir bin Fuad Al Musawa adalah :
Hujjatul Islam Al Imam Syafii dan sebagian besar ulama syafii, Al Hafidh Al Muhaddits Al Imam Qurtubi, Al Hafidh Al Imam Assakhawiy, Al hafidh Al Muhaddits Al Imam Jalaluddin Abdurrahman Assuyuthi yg mengarang sebuah buku khusus tentang keselamatan ayah bunda nabi saw, Al hafidh Al Imam Ibn Syaahin, Al Hafidh Al Imam Abubakar Al baghdadiy, Al hafidh Al Imam At thabari, Al hafidh Al Imam Addaruquthniy dan masih banyak lagi yang lainnya
.
Bagaimana dengan Abu Tholib ?
Dalam QS.Al Qoshosh 56,yang artinya:”Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Alloh memberi petunjuk kepada orang yang dikehendakiNya dan Alloh lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk
.
Asbabul nuzul ayat ini menurut Ibn Katsir, yang dinukil dari shohihan (Bukhori dan Muslim) terkait dengan detik-detik wafatnya pamanda Rasulullah saw.
.
Dari Sa’id bin Musayyab ra.,dari bapaknya katanya”Ketika Abu Tholib hampir meninggal dunia Rasulullah saw datang mengunjunginya,didapati beliau disana telah ada Abu Jahl dan Abdullah bin Abi Umayyah bin Mighiroh. Kemudian Rasullah saw bersabda,”wahai paman ,ucapkanlah La ila ha ilaallah,yaitu sebuah kalimat yang aku akan menjadi saksi bagi paman nanti dihadapan Allah”.Kemudian Abu Jahl dan Abdullah bin Abi Umayyah berkata;”Hai abu Tholib! Bencikah anda kepada agama Abdul Mutholib”.Rasulullah terus menerus mengulang-ulang ucapannya itu, tetapi akhirnya Abu Tholib mengatakan”Dia tetap memegang agama Abdul Mutholib dan enggan mengucapkan la ila ha illallah.Kemudian Rasulullah SAW bersabda:”Demi Allah! Akan kumohonkan ampun bagi paman,selama aku tidak dilarang melakukannya”.Kemudian turun QS.al Qoshos 56.(Bukhori dan Muslim,Mukhtashor Ibnu Katsir,juz 3,hal.19 oleh DR.Ali Ashobunny)
.
Dan ada pula anggapan bahwa hadis tersebut sebagai sebab turunnya QS.at Taubah 113,namun hal ini dibantah,karena QS.at Taubah 113 tersebut termasuk madaniyyah(Ayat yang turun di Madinah),sedangkan Abu Tholib meninggal di Mekkah sebelum hijrah,jadi tidak cocok dengan fakta sejarah.(lihat,Tafsir Al Munir,li Wahbah,juz 6,hal.61).
Dari hadis ini ada anggapan bahwa Abu Tholib mati dalam kondisi kafir,Tentu anggapan tersebut belum tentu benar karena argumentasi sebagai berikut:
.
1. Hadis tersebut dan nash lain tidak menyebut secara manthuq (tekstual) yang jelas tentang kekufuran Abu Tholib,sehingga masih ada peluang bagi kita untuk berkhusnudzon dengan beliau. Dan itu jauh lebih selamat dan aman bagi kita
.
2. Justru ada hadis dengan redaksi yang lain yang memperkuat argument pertama tersebut yang diriwayatkan oleh Imam Muslim,Tirmidzi dan Al Baihaqi dari Abu Huroiroh bahwa Rasulullah bersabda kepada pamannya’”Wahai pamanku,ucapkanlah la ilaa ha illallah,niscaya aku akan bersaksi untukmu disisi Alloh pada hari Kiamat”Abu tholib menjawab,”Seandainya kaum Quraisy tidak mencelaku dengan berkata,’Tidak ada yang mendorongnya mengucapkannya kecuali karena kesedihannya menghadapi maut,niscaya aku mengucapkannya untukmu”.Maka turunlah firman Alloh QS.Al Qoshosh 56 itu (DR.Wahbah Zuhaily,juz 10,hal.498 dan Tafsir Ibnu Kastir,Mukhtashor,Ali ash shobuni,juz 3,hal 19)
.
Perhatikanlah! Abu Tholib enggan mengucapkan kalimat syahadat bukan karena tidak beriman dengan kalimat tersebut,namun karena taqqiyah (strategi membela diri dengan menyembunyikan keimanannya) agar terhindar dari celaan orang Quraisy yang menganggapnya masuk Islam karena mau mati saja. Padahal hakekatnya dibatin beliau telah menerima keimanan kepada Alloh dan rasulNya.Ini dibuktikan dalam tarikh/sejarah ketika Abu Tholib mengajak nabi pada saat umur 9 tahun ke Syam dan bertemu pendeta/ rahib Bahira yang melihat tanda kenabiannya dan hal itu disampaikan ke Abu Tholib agar berhati-hati karena orang-orang yahudi tidak menyukai hal itu(Zaadul Maa’ad,juz 1,hal.37)
.
Sejak itu pasti beliu mengimani nubuwat yang dibawa rasul saw,Karena bagaimana mungkin beliau dianggap kafir atau musrik padahal beliau merahasiakan kenabian Muhammad dari musuh-musuhnya??Mungkin ada yang menjawab; ‘Dirahasiakannya karena dia menyayangi keponakannya itu’,namun itu dapat dibantah dengan Abu Lahab yang juga pamannya dan juga menyanginya,kenapa menentangnya? Renungkan wahai manusia yang beriman !!
.
Dan telah berkata al Zajjaj ; “Telah sepakat ummat islam bahwa ayat 56 dari al Qoshosh itu turun terkait pada Abu Tholib.Yang ketika itu beliau berkata disaat jelang kematiannya(kepada orang-orang Quraish) : ‘Wahai masyarakat bani abdi Manaf,ta’atlah kalian dan benarkan (shoddiquuhu) oleh kalian ajaran Muhammad!,maka kalian akan sukses dan mendapatkan petunjuk’.Maka bersabda Nabi saw : “Wahai pamanku,engkau menasehati mereka dan engkau meninggalkan dirimu?”.Berkata abu Tholib :’Maka apa yang kamu inginkan wahai keponakanku?’.Bersabda Nabi saw: “saya menginginkan darimu hanya satu kalimat saja agar di akhir hidupmu ini di dunia hendaknya dengan berkata ‘la ilaaha illalloh’,dan dengan kalimat itu saya akan bersaksi di sisi Alloh swt {kelak dikemudian hari}”.Berkata Abu Tholib:’Wahai keponakanku,sungguh saya tahu kalau [ajaran]mu benar,namun saya enggan dikatakan[kalau mengucapkan kalimat tersebut,]sebagai kesedihan saja dalam menghadapi kematian.Kalau sendainya[setelah mengucapkan kalimat tersebut] tidak terjadi pada dirimu dan bani ayahmu penghinaan dan celaan paska kematianku,sungguh aku akan mengatakan itu dihadapanmu ketika aku berpisah[mati],ketika aku lihat besarnya rasa cintamu dan nasehatmu.Namun sepertinya saya akan mati di atas agama abdul Muthollib,Hasim dan abdu Manaf.[Tafsir Al Munir,Wahbah juz 10 ,hal 499-500].
.
Tidak sulit untuk dibayangkan,seumpama ketika itu Abu Tholib memeluk islam dengan cara seperti yang dilakukan Oleh Hamzah,Abu Bakar,Umar dan Usman radliyallohu ‘anhum,tentu ia tidak akan dapat memberi perlindungan dan pembelaan kepada Rasululloh saw.Karena kaum musyrikin quraish pasti memandangnya sebagai musuh,bukan sebagai pemimpin masyarakat Mekkah yang harus dihormati dan disegani.Jika demikian tentu ia tidak mempunyai lagi kewibawaan untuk menumpulkan atau menekan perlawanan mereka terhadap Rasululloh saw,dan juga tidak dapat membentengi dakwah beliau.Memang benar ,pada lahirnya Abu Tholib nampak seagama dengan mereka,tetapi apa yang ada di dalam batinnya tentu hanya alloh yang tahu.Karena itu jangan ceroboh menuduhnya musyrik
.
3. Bagaimana mungkin beliau dikatakan seorang yang kafir,padahal beliaulah yang membela dakwah Nabi saw dengan jiwa dan hartanya.Dan bagaimana pula beliau disamakan dengan orang kafir quraish yang selalu menentang dan mengintimidasi Nabi saw,padahal Abu Tholib melakukan sebaliknya
.
4. Adapun QS Al Qoshosh 56,itu terkait bahwa nabi saw tidak dapat memaksakan kehendak berhidayahnya seseorang sekalipun kepada yang dicintai.Karena kewenangan memberikan hidayah taufiq hanya Alloh swt.Seolah ayat tersebut menginfokan kepada Nabi saw bahwa hidayah pamannya itu adalah berada dalam urusanNya.Dan tidak ada dari dhohirnya ayat tersebut yang menunjukkan kepada kufurnya Abu Tholib
.
5. Perkara ini adalah khilafiyah atau terjadi perbedaan pendapat dikalangan ahlus sunnah sendiri.Maka seyogjanya kita mengambil pendapat yang tidak berefek madhorrot bagi aqidah kita atau minimal mengambil pendapat yang efek madhorrotnya paling ringan.Dan pendapat yang paling ringan adalah menganggap Abu Tholib seorang paman Nabi yang tidak masuk kafir,karena minimal itu dapat menjadi sikap husnuzhon kita atas beliau.Namun jika kita mengatakan beliau kafir,dan seandainya disisi Alloh beliau ternyata mukmin maka kita sudah terkena dosa fitnah atas tuduhan kekufuran kepadanya dan itu madhorrot yang besar dalam aqidah kita.Oleh karena itu lebih baik bagi kita adalah berhusnuzhon saja karena tidak ada gunanya bagi kita untuk mengkafirkan beliau.
 .
Di sisi lain,kalaupun-seandainya- tidak ada perbedaan pendapat ulama menyangkut keislaman Abu Thalib dan semua sepakat menyatakan keengganannya beriman,namun karena hal tersebut pasti menyedihkan Nabi Muhammad saw,maka demi menjaga perasaan beliauserta mengingat jasa-jasa Abu Thalib kepada Nabi saw,maka hendaknya persoalan itu tidak dibahas secara panjang lebar,apalagi ayat diatas(at taubah 113 dan al Qoshosh 56) berbicara secara umum.dan dapat mencakup siapapun dan kapanpun
.
Sayyid Muhammad Rasyid dalam Tafsir Al Manar menguraikan pendapat sementara ulama tentang hadis Nabi saw. Yang menyatakan :”Seandainya Fathimah putri Muhammad mencuri,niscaya pasti kupotong tangannya”(HR.Bukhari dan Muslim melalui ‘Aisyah ra).Menurutnya ada ulama yang enggan menyebut Fathimah dalam riwayat ini,dan menggantinya dengan kata Fulanah (si A) atas pertimbangan bahwa perasaan Nabi akan tersinggung bila orang lain menyebut nama putri beliau sebagai contoh untuk sesuatu yang buruk. Demikian kesimpulan dari pesan bijak DR.Quraish Shihab dalam tafsir Al Misbah
.
Dan ada kata bijak lainnya yang patut direnungkan ; “Menuduh orang kafir sebagai mukmin tidaklah berdosa,namun menuduh orang mukmin sebagai orang yang kafir dan musyrik adalah dosa besar.”

Benarkah Ayah Nabi Ibrahim Kafir ?

.
 
Masalah di atas merupakan masalah yang kontroversial. Barangkali untuk sebagian orang, masalah ini sudah selesai, dengan pengertian bahwa ayah Nabi Ibrahim adalah kafir, penyembah sekaligus pembuat patung. Dan kebanyakan dari kaum muslimin meyakini seperti itu. Padahal ada sebagian mufassirin dan ulama yang berpendapat bahwa ayah nabi Ibrahim seorang mukmin, paling tidak, ia hidup pada zaman fatrah . Sehingga ia tidak bisa dikatakan kafir dan juga tidak bisa dikatakan beriman, karena misi dan dakwah para nabi tidak sampai kepadanya.
.
Tulisan ini mencoba ingin mendobrak apa yang dianggap pasti kebenarannya oleh mayoritas muslimin. Pertama ingin ditegaskan bahwa kekufuran ayah nabi Ibrahim bukan bagian dari ajaran Islam yang esensial (al ma’lum minaddini bi al dharurah ), sehingga kekufurannya masih bisa dikaji ulang. Dan kalau ada pendapat yang bertentangan dengan pendapat mayoritas dalam masalah ini, maka jangan diartikan sebagai pertentangan terhadap ajaran agama, karena, malah, bisa jadi pendapat mayoritas yang keliru. Kedua bahwa untuk menilai seseorang itu kafir tidak semudah membalik telapak tangan. Penilaian ini sebenarnya hak Allah swt. dan dalam tataran syar’i membutuhkan kehati-hatian. Termasuk diantaranya apakah Abu Thalib kafir atau mukmin ?
.
Dalil yang dijadikan sebagai dasar pengkafiran ayah nabi Ibrahim adalah beberapa ayat yang menyebutkan Azar sebagai “ab ” Ibrahim. Misalnya ayat yang berbunyi, ” Ingatlah      (ketika), Ibrahim berkata kepada “ab “nya Azar, ” Apakah anda menjadikan patung-patung sebagai tuhan ?. Sesungguhnya Aku melihatmu dan kaummu berada pada kesesatan yang nyata “.( al An’am 74 ).
.
Atas dasar ayat ini, ayah Ibrahim yang bernama Azar adalah seorang kafir dan sesat. Kemudian ayat lain yang memuat permohonan ampun Ibrahim untuk ayahnya ditolak oleh Allah dikarenakan dia adalah musuh Allah ( al Taubah 114). Menarik kesimpulan dari ayat di atas dan sejenisnya bahwa ayah nabi Ibrahim seorang kafir terlalu tergesa-gesa, karena kata ” abun ” dalam bahasa Arab tidak hanya berarti ayah kandung saja. Kata ini juga juga berarti, ayah tiri, paman, dan kakek. Misalnya al Qur’an menyebutkan Nabi Ismail sebagai “ab ” Nabi Ya’kub as., padahal beliau adalah paman NabiYa’kub as
.
“Adakah kalian menyaksikan ketika Ya’kub kedatangan (tanda-tanda) kematian, ketika ia bertanya kepada anak-anaknya, ” Apa yang kalian sembah sepeninggalku ? “. Mereka menjawab, ” Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan ayah-ayahmu, Ibrahim, Ismail dan Ishak, Tuhan yang Esa, dan kami hanya kepadaNya kami berserah diri “. ( al Baqarah 133 ) Dalam ayat ini dengan jelas kata “aabaaika ” bentuk jama’ dari ” ab ” berarti kakek     (Ibrahim dan Ishak) dan paman (Ismail).
.
Dan juga kata ” abuya ” atau ” buya ” derivasi dari ” ab ” sering dipakai dalam ungkapan sehari-hari bangsa Arab dengan arti guru, atau orang yang berjasa dalam kehidupan, termasuk panggilan untuk almarhum Buya Hamka, misalnya.
Dari keterangan ringkas ini, kita dapat memahami bahwa kata “ ab ” tidak hanya berarti ayah kandung, lalu bagaimana dengan kata ” ab ” pada surat al An’am 74 dan al Taubah 114 ?. Dengan melihat ayat-ayat yang menjelaskan perjalanan kehidupan Nabi Ibrahim as. akan jelas bahwa seorang yang bernama ” Azar “, penyembah dan pembuat patung, bukanlah ayah kandung Ibrahim, melainkan pamannya atau ayah angkatnya atau orang yang sangat dekat dengannya.
.
Pada permulaan dakwahnya, Nabi Ibrahim as. mengajak Azar sebagai orang yang dekat dengannya, “Wahai ayahku, janganlah kamu menyembah setan, sesungguhnya setan itu durhaka Tuhan yang Maha Pemurah “.( Maryam 44 ).
Namun Azar menolak dan bahkan mengancam akan menyiksa Ibrahim. Kemudian dengan amat menyesal beliau mengatakan selamat jalan kapada Azar, dan berjanji akan memintakan ampun kepada Allah untuk Azar. ” Berkata Ibrahim” Salamun ‘alaika, aku akan memintakan ampun kepada Tuhanku untukmu “.( Maryam 47 ).
.
Kemudian al Qur’an menceritakan bahwa Nabi Ibrahim as. menepati janjinya untuk memintakan ampun untuk Azar seraya berdoa, “ Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan gabungkan aku bersama orang-orang yang saleh. Jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang yang datang kemudian. Jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mewarisi surga yang penuh kenikmatan, dan ampunilah ayahku ( abii ), sesungguhnya ia adalah termasuk golongan yang sesat. Jangnlah Kamu hinakan aku di hari mereka dibangkitkan kembali, hari yang mana harta dan anak tidak memberikan manfaat kecuali orang yang menghadapi Allah dengan hati yang selamat”. (al Syua’ra 83-89 ).
Allamah Thaba’thabai menjelaskan bahwa kata ” kaana ” dalam ayat ke 86 menunjukkan bahwa doa ini diungkapkan oleh Nabi Ibrahim as. setelah kematian Azar dan pengusirannya kepada Nabi Ibrahim as. ( Tafsir al Mizan 7/163).
.
Setelah Nabi Ibrahim as. mengungkapkan doa itu, dan itu sekedar menepati janjinya saja kepada Azar, Allah menyatakan bahwa tidak layak bagi seorang nabi memintakan ampun untuk orang musyrik, maka beliau berlepas tangan (tabarri ) dari Azar setelah jelas bahwa ia adalah musuh Allah swt. (lihat surat al Taubah 114 ) Kemudian pada perjalanan kehidupan Nabi Ibrahim yang terakhir, beliau datang ke tempat suci Mekkah dan mempunyai keturunan, kemudian membangun kembali ka’bah, beliau berdoa, “ Ya Tuhan kami, ampunilah aku, kedua walid- ku dan kaum mukminin di hari tegaknya hisab “.            (Ibrahim 41).
.
Kata “walid ” hanya mempunyai satu makna yaitu yang melahirkan. Dan yang dimaksud dengan “walid ” disini tidak mungkin Azar, karena Nabi Ibrahim telah ber-tabarri dari Azar setelah mengetahui bahwa ia adalah musuh Allah ( al taubah 114 ). Dengan demikian, maka yang dimaksud dengan walid disini adalah orang tua yang melahirkan beliau, dan keduanya adalah orang-orang yang beriman. Selain itu, kata walid disejajarkan dengan dirinya dan kaum mukminin, yang mengindikasikan bahwa walid- beliau bukan kafir. Ini alasan yang pertama.
.
Alasan yang kedua, adalah ayat yang berbunyi, ” Dan perpindahanmu (taqallub) di antara orang-orang yang sujud “.( al Syua’ra 219 ). Sebagian ahli tafsir menafsirkan bahwa yang dimakasud dengan ayat ini adalah bahwa diri nabi Muhammad saww. berpindah-pindah dari sulbi ahli sujud ke sulbi ahli sujud. Artinya ayah-ayah Nabi Muhammad dari Abdullah sampai Nabi Adam adalah orang-orang yang suka bersujud kepada Allah. (lihat tafsir al Shofitulisan al Faidh al Kasyani 4/54 dan Majma’ al Bayan karya al Thabarsi 7/323 ).
.
Nabi Ibrahim as. beserta ayah kandungnya termasuk kakek Nabi Muhammad saww. Dengan demikian, ayah kandung Nabi Ibrahim as. adalah seorang yang ahli sujud kepada Allah swt. Tentu selain alasan-alasan di atas, terdapat bukti-bukti lain dari hadis Nabi yang menunjukkan bahwa ayah kandung Nabi Ibrahim as. bukan orang kafir.

Benarkah Abu Thalib Kafir?

Abu Thalib Ibn Abdul Muthalib (Wafat 3 SH, nama sebenarnya adalah Abdu Manaf bin Abdul Muthalib bin Hasyim, sedang “Abu Thalib” adalah nama Panggilan yang berasal dari putra pertamanya yaitu Thalib. Abu Thalib adalah paman dan ayah asuh dari Nabi Muhammad Saww. Ia juga adalah ayah dari Ali Ibn Abi Thalib
.
Abu Thalib telah menerima amanat dari ayahnya Abdul Mutthalib untuk mengasuh Nabi dan telah dilaksanakan amanat tersebut. Nabi adalah sebaik-baik asuhan dan Abu Thalib adalah sebaik-baik pengasuh. Abu Thalib membela Nabi dengan jiwa raganya dalam berdakwah. Ketika Nabi Shallallahu alaihi wassalam dan pengikutnya di hadang di sebuah lembah. Lalu datanglah Abu Thalib dengan tegar berkata: “Kalian tidak akan dapat menyentuh Muhammad sebelum kalian menguburkanku”. Abu Thalib selalu setia mendampingi Nabi. Beliau adalah orang yang banyak membantu perjuangan dakwah Islam. Abu Thalib ketika mau meninggal dunia berwasiat kepada keluarganya untuk selalu berada di belakang Nabi dan membelanya untuk menenangkan dakwahnya
.
Dengan reputasinya yang demikian membela dan menyayangi Nabi Saww, tak pelak membuat sebagian kalangan yang merasa heran bahwa pada akhirnya Abu Thalib wafat dalam keadaan belum menerima Islam alias kafir. Di kemudian hari keheranan sebagian kalangan ini menimbulkan gugatan2 terhadap hadist2 yang menyatakan kekafiran Abu Thalib dengan kembali melakukan kritik terhadap hadist2 tyang menyatakan kekafiran Abu Thalib. Kritik2 tersebut bertambah kencang takkala mendapati kenyataan bahwa Abu Sufyan yang terkenal sebagai dedengkot kafir Quraisy justru berada di pihak Islam dengan mengucapkan kalimah syahadat ketika peristiwa futuh Makkah
.
Artikel ini bertujuan untuk mendudukan kembali perihal hadist2 tentang kekafiran Abu Thalib dan disertai dengan kritik2 yang menyertai hadist2 tersebut. Adapun percaya atau tidaknya, saya mengembalikan kepada Allah Swt semata dan penilaian objektif dari para pembaca. Berikut di bawah ini hadist2 yang menyatakan kekafiran Abu Thalib beserta kritikan terhadapnya
.
1. Hadist riwayat Bukhari dan Muslim bahwa Abi Thalib menjelang wafatnya disuruh oleh Nabi Saww untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Namun Abu Jahal dan Abdullah Ibn Umayyah memperingatkan Abi Thalib untuk tetap berpegang teguh pada agama Abdul Muthalib. Hingga hembusan nafas terakhir, Abi Thalib tidak mengucapkan kalimat syahadat. Dan Ia wafat sebagai orang yang kafir.
Nabi sangat sediah akan kenyataan tersebut, karenanya Nabi Saww ingin memohon ampunan bagi Abu Thalib, tetapi turunlah QS: At-Taubah 113 yang melarang Nabi untuk memohonkan ampunan bagi orang2 musyrik. Nabi ingin sekali Abu Thalib mendapat petunjuk Allah, tetapi -lagi2- Allah Swt menegurnya melalui QS: Al-Qashash: 56, bahwa “Sesungguhnya Engkau tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang Engkau cintai…….”
.
Jawaban:
a. Hadist riwayat Muslim pada sanad pertamanya ialah sahabat Abu Hurairah Ra. Dari sejarah kita dapat mengetahui bahwa Abu Hurairah masul Islam pada perang Khaibar dan ini disepakati oleh para ahli tarikh (sejarah Islam), yaitu pada tahun ke-7 Hijriyyah. Sedangkan peristiwa Abu Thalib wafat adalah satu atau dua tahun sebelum Rassul Saww hijrah ke Madinah (sebagai awal dari tahun hijriyyah). Yang menjadi pertanyaan ialah bagaimana Abu Hurairah dapat meriwayatkan hadist tentang wafatnya Abu Thalib sementara ia tak hadir di sana?, bahkan jika kita meniilik dari bahasa hadist, seakan Ia -Abu Hurairah- turut hadir dan menyaksikan peristiwa wafatnya Abu Thalib. Bukankah ia belum masuk Islam pada waktu itu?. Dan ini kejanggalan pertama
.
b. Mengenai QS: At-Taubah 113. Para ahli tafsir mengatakan bahwa ayat tersebut termasuk ayat terakhir yang turun di Madinah. Sementara QS: Al-Qashash turun pada waktu perang Uhud. Dari sini kita telah mendapatkan kejanggalan, yaitu jarak bertahun2 yang menjadi selisih antara turunnya kedua ayat tersebut. Jadi ayat tersebut tidak turun pada satu kesempatan untuk menjelaskan peristiwa yang sama, yaitu wafatnya Abu Thalibb
.
Kejanggalan ini belum ditambah dengan fakta bahwa QS; At-Taubah: 113, ialah ayat yang turun di Madinah, sementara Abu Thalib wafat di Makkah (sebelum hijrah). Bukankah suatu kejanggalan bahwa ayat yang turun di Madinah menjadi penjelasan terhadap peristiwa yang turun di Makkah?
.
2. Hadist Ad-Dhahdah dalam riwayat Bukhari dan Muslim:
Bersumber dari Abdullah bin Al Harits, beliau berkata, “Aku mendengar Al Abbas berkata, Aku bertanya kepada Rasullulah saw., ‘Ya Rasulullah! Abu Thalib dulu merawatmu dan menolongmu. Lalu apakah itu ada manfaatnya baginya?” Rasullulah saw. Bersabda: “Ya! Aku menemukannya berada diluapan neraka, lalu aku mengeluarkannya ke kedangkalan.” Bersumber dari Ibnu Abbas, bahwa Rasullulah saw. Bersabda: “Ahli neraka yang paling ringan adalah Abu Thalib. Dia memakai sepasang terompah yang menyebabkan otaknya mendidih.”
.
Jawaban:
Kata “dhahdah diterjemahkan sebagai “kedangkalan”. Dalam kamus bahasa Arab Dhahdhah diartikan sebagai “bagian yang tergenang air di permukaan bumi yang genangannya mencapai mata kaki.”. Kemudian genangan air yang dangkal ini digunakan untuk menggambarkan permukaan neraka. Coba kita telaah hadis-hadis tadi, secara kritis
.
- Jika kita perhatikan orang-orang yang meriwayatkan hadis (rijal), hamper semuanya termasuk rangkaian para pendusta dan mudallis, atau tidak dikenal. Muslim menerima hadis ini dari Ibnu Abi ‘Umar yang dinilai para ahli sebagai majhul. Ibnu Abi ‘Umar menerimanya dari Sufyan al-Tsauri. Syufan disebutkan oleh Al-Dzahabi dalam Mizan al-I’tidal sebagai “innahu yudallis wa yaktubu mi al-kadzdzabin”, ia melakukan tadlis dan meriwayatkan hadis dari para pendusta. Syufan menerimanya dari Abdul Malik bin ‘Umayr, yang panjang usianya dan buruk hafalannya. Kata Abu Hatim: Tidak bisa dipercaya hafalannya. Dengan demikian hadis ini wajib kita pertanyakan kembali kevaliditasannya
.
Dengan mempertimbangkan berbagai kejanggalan2 hadist di seputar wafatnya Abu Thalib dalam keadaan kafir, seyogyanya kita bersikap menahan diri terhadap pengkafiran diri Abu Thalib. Terlebih menimbang pada kenyataan bahwa Abi Thalib adalah termasuk dari sebagian gelintir orang yang membela dakwah Nabi Muhammad Saww pada awal perkembangan Islam di Makkah. Niscaya tanpa perlindungan dari Abu Thalib, Islam tidak akan menyebar hingga kita-pun dapat merasakan nikmatnya hidup di bawah panji2 Islam. Alangkah baiknya bila kita menahan lidah untuk mengkafirkan orang2 yang disayangi oleh Rassulallah Saww. Saya pribadi sebagai muslim Sunni bersikap untuk menahan diri dan menyerahkan vonis mengenai Abu Thalib kepada Allah Swt semata, dan seluruhnya kembali kepada Allah Swt.

NB: Tadlis: istilah dalam ilmu hadist, yaitu perawi meriwayatkan suatu hadits yang hadits tersebut tidak pernah

didengarnya, tanpa menyebutkan bahwa perawi pernah mendengar hadits tersebut darinya.
Keyakinan Syi’ah
Termasuk keyakinan pasti yang disepakati dalam ajaran Syi’ah adalah bahwa ayah bunda mulia Rasulullah Muhammad saw.adalah mu’min/beriman kepada Allah SWT, tidak musyrik/ menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Demikian juga dengan ayah-ayah dan moyang beliau hingga Nabi Adam as. tidak seorang pun dari moyang Nabi saw. yang musyrik… Demikian ditegaskan para tokoh dan pemuka Syi’ah di berbadai masa… keyakinan yang tak bisa ditawar-tawar!
kesempatan ini saya tidak sedang bermaksud membuktikan kebenaran keyakinan kami (Syi’ah) dalam masalah ini, akan tetapi hanya sekedar membandingkan I’tiqâd yang bertolak belakang antara Syi’ah dan Ahlusunnah dalam masalah ini. Karenanya kami tidak akan mengutarakan dalil-dalil kami! Yang akan kami sebutkan hanya komentar ulama dan tokoh mazhab kami
.
Syeikh Shadûq (pemimpin tertinggi Ulama Syi’ah Imamiyyah di masanya) menegaskan keyakinan tersebut dalam kitab al I’tiqadât-nya ketika menerangkan keyakinan Syi’ah tentang ayah-ayah Nabi saw.:
إعتقادُنا فيهِم أنَّهم مسلِمون.
“Keyakinan kami (Syi’ah) tentang mereka (ayah-ayah Nabi saw.) bahwa mereka itu semuanya muslimun.”
Penegasan Syeikh ash Shadûq tersebut diterjelas/disyarakan oleh Syeikh Mufid (pemimpin Ulama Syi’ah setelah ash Shadûq) dalam kitab Tash-hîhul I’tiqâd Bi Shawâbi al intiqâd atau yang juga dikenal dengan nama Syarah ‘Aqâid ash Shadûq:
“Ayah-ayah Nabi saw. hingga Adam as. adalah muwahhid/mengesakan Allah, di atas keimanan kepada Allah sesuai dengan apa yang disebutkan Abu Ja’far/ash Shadûq (Rahimahullah).”[1] Kemudian beliau memaparkan dalil dan bukti atasnya
.
Dalam kitab Awâil al Maqâlât-nya, Syeikh Mufîd kembali mempertegas keyakinan tersebut. Beliau berkata dalam bab al Qaulu Fî Âbâi Rasulillah shallallahu ‘Alaihi wa Âlihi wa ummihi wa ‘Ammihi Abi Thalib (rahmatullahi ta’âlaAlaihim) /pendapat tentang ayah-ayah Rasulullah saw., Ibu dan Paman beliau Abu Thalib semoga -rahmat Allah atas mereka-:
و اتفقت الإمامية على أنَّ آباءَ رسولِ اللهِ (ص) من لدن آدمَ إلى عبد الله بن عبد المطلب مؤمنون بالله عز و جلَّ و موحَّدون له. و احتجوا في ذلكَ بالقرآن و الأخبار….
“Syi’ah Imamiyyah sepakat bahwa ayah-ayah Rasulullah saw. sejak Adam hingga Abdullah ibn Abdul Muththalib adalah orang-oraang yang beriman dan mengesakan Allah. Syi’ah berdalil dengan Al Qur’an dan Hadis-hadis….“[2]
 .
Keyakinan Ahlusunnah
Adapun keyakinan Ahlusunnah dalam masalah ini adalah bertolak belakang total dengan apa yang diyakini kaum Syi’ah. Ahlusunnah meyakini bahwa kedua orang tua mulia Nabi saw.;Sayyiduna Abdullah ibn Abdul Muththalib dan ibunda suci Aminah binti Wahb az Zuhriyah adalah kafir/musyrik menyekutukan Allah dan menyembah berhala dan kelak di hari kiamat nereka tempatnya, wal Iyâdzu billah, semoga Allah melindungi kami dari keyakinan seperti itu
.
Apa yang menjadi keyakinan mereka telah diterangkan dan dikukuhkan para ulama besar dan tokoh terkemuka Ahlusunnah wal Jama’ah serta didukung oleh hadis-hadis shahih dalam kitab-kitab standar utama mereka.
Keyakinan demikian adalah kayakinan yang diwariskan turun temurun dan ditegaskan sebagai keyakinan pasti dalam mazhab Ahlusunnah Wal Jama’ah. Kendati belakangan, Ahhlusunnah “kontemporer” (meminjam istilah sebagian penulis Ahlusunnah) berusaha menghilangkan kesan kental itu dari mazhab dengan mengelindingkan pendapat lain yang menyalahi keyakinan para pendahulu mereka yang dibangun di atas hadis shahih! Tetapi tetap saja usaha itu tidak akan mampu menghilangkan kesan kental keidentikan mazbah Ahlusunnah dengan keyakinan tersebut
.
Di bawah ini akan saya sebutkan beberap kutipan pernyataan ulama besar Ahlusunnah:
Imam an Nawawi:
Ketika menjelaskan hadis Nabi saw.:
إنّ أبي و أباكَ في النار.
“Sesungguhnya ayahku dan ayahmu berada di neraka.”
Imam An Nawawi (yang digelari Muhyi as Sunnah/penyegar Sunnah) menegaskan, “Di dalam hadits ini terdapat faidah bahwa siapa yang mati di atas kekafiran maka dia di neraka dan tidak akan bermanfaat baginya kerabat dekat.”
 .
Al Imam Al Baihaqi:
Dalam kitab Dalâil an Nubuwah, Al Imam Al Baihaqi berkata setelah menyebutkan sejumlah hadits yang menjelaskan bahwa kedua orang tua Nabi di neraka,“Bagaimana mungkin keduanya tidak mendapatkan sifat yang demikian di akhirat, sedang mereka menyembah berhala-berhala sampai mereka mati,dan tidak beragama dengan aagam yang dibawa oleh Nabi Isa as.”.[3]
.
Dan kitab as Sunan al Kubrâ, ia kembali menegaskan keyakinan Ahlusunnah tentang ayah-bunda Nabi saw., ia berkata, “Kedua orang tua beliau adalah Musyrik”[4] Kemudian setelahnya, ia mengobral dalil-dalil yang mendukung keyakian tersebut!
.
Selain mereka tentunya masih banyak keterangan dan pernyataan ulama Ahlusunnah yang secara tegas menyatakan keyakinan tersebut, bahkan Al Imam ‘Ali Al Qâri menukil adanya ijma’/kesepakatan ulama atas keyakinan tersebut.
Menurut sebagian ulama Ahlusunnah, keyakinan bahwa kedua orang tua Nabi saw. mu’min/tidak musyrik adalah keyakinan yang identik dengan mazhab Syi’ah yang dibangun atas dasar kultus Ahlulbait/keluarga dan kerabat Nabi saw.
 .
Dasar Keyakian Ahlusunnah wal Jama’ah
Keyakinan bahwa kedua orang tua Nabi saw. adalah mati dalam keadaan musyrik dan kelak akan ditempatkan dalam neraka telah dibangun di atas pondasi kokoh; hadis-hadis shahih yang diriwayatkan dalam kitab-kitab standar mu’tabarah, seperti Shahih Muslim, as Sunan al Kubrâ, Sunan Abu Daud, Shahih Ibnu Hibban, as Sunan al Kubrâ, Musnad Imam Ahmad, Musnad Abu ‘Awânah, Musnad Abu Ya’lâ Al Mûshili dan lain-lain.
Di bawah ini akan saya sebutkan beberapa hadis darinya:
 .
Hadis Bahwa Ayah Nabi saw. Musyrik Dan ia Di Neraka
Dengan sanad bersambung kepada sahabat Anas ibn Malik, ia berkata:
أن رجلا قال: يا رسول الله! أين أبي؟ قال: “في النار” فلما قفي دعاه فقال: “إن أبي وأباك في النار”.
“Sesungguhnya ada seorang bertanya, ‘Wahai Rasulullah, dimana ayahku?’ Beliau menjawab, ‘Di neraka.’ Lalu ketika orang tersebut berpaling/pergi, beliau memanggilnya dan berkata, ‘Sesungguhnya ayahmu dan ayahku di neraka.’”
 .
Sumber Hadis
Hadis tersebut telah diriwyatkan oleh banyak ulama hadis ternama Ahlusunnah di antaranya adalah:
A) Imam Muslim di dalam Shahih-nya, bab Bayân Anna Man Mâta ‘Ala al Kufri Fahuwa Fî an Nâr, Lâ Tanâluhu Syafâ’atun walâ Ta’fa’uhu Qarâbatul Muqarrabîn/Barang siapa mati dalam keadaan kafir maka ia di neraka, syafa’at tidak akan mengenainya dan juga kekerabatan kaum yang didekatkan (kepada Allah) tidak berguna baginya,3/79 dengan syarah an Nawawwi. Dan kemudian dinukil oleh banyak ulama dalam buku-buku mereka, seperti dalam Shafwah ash Shaffah,1/172 dan al Bidâyah wa an Nihâyah,2/12-15 dll.
B) Abu Daud dalam Sunan-nya.
C) Ibnu Hibban dalam Shahih-nya.
D) Al Baihaqi dalam as Sunan al Kubrâ-nya.
E) Imam Ahmad dalam Musnad-nya.
F) Abu ‘Awânah dalam Musnad-nya.
G) Abu Ya’lâ Al Mûshili dalaam Musnad-nya
.
Hadis Bahwa Bunda Nabi saw. Musyrikah Dan Ia Di Neraka
Para ulama hadis kenamaan Ahlusunah juga meriwayat hadis-hadis yang menegaskan dan mendukung keyakian mereka bahwa bunda Nabi saw. adalah seorang wanita musyrikah yang mati dalam kemusyrikan dan neraka adalah tempatnya. Bahkan ketika Nabi saw. meminta izin dari Allah untuk menziarahi kuburan ibunya dan memohonkan ampunan, istighfâruntuknya, Allah hanya mengizinkan Nabi-nya untuk menziarahi dan tidak mengizinkannya untuk beristighfâr untuk ibunya
.
Hadis tentangnya banyak sekali, dalam kesempatan ini saya akan menyebut satu darinya, yaitu hadis yang bersumber dari sahabat kepercayaan Ahlusunnah, “pewaris Sunnah suci Nabi, wadah ilmu dan kepercayan Nabi saw., beliau adalah “Sayyiduna wa Imamuna” Abu Hurairah. Ia berbagi informasi, dengan mengatakan, “Nabi saw. bersabda:
استأذنت ربي أن أستغفر لأمي فلم يأذن لي واستأذنته أن أزور قبرها فأذن لي.
“Aku meminta ijin kepada Allah untuk memintakan ampunan untuk ibuku, akan tetapi Dia tidak mengizinkanku, dan aku meminta izin untuk menziarahi kuburnya, maka Dia mengizinkanku.”
.
Sumber Hadis
Hadis tersebut telah diriwyatkan oleh banyak ulama hadis ternama Ahlusunnah di antaranya adalah:
A) Imam Muslim di dalam Shahih-nya pada Kitabul Janaiz bab Isti’dzânu an Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam rabbahu ‘Azza waJalla Fî Ziyârati Qabri Ummihi/permohonan izin Nabi saw. untuk menziarahi kuburan ibunya,(dengan syarah an Nawawi,7/45).
B) Ibnu Hibban dalam Shahih-nya.
C) Ibnu Majah dalam Sunan-nya.
D) Al Baihaqi dalam as Sunan al Kubrâ.
E) Abu Bakar bin Abi Syaibah dalam Al Mushannaf-nya.
F) Abu Ya’lâ dalam Al Musnad-nya.
 .
Komentar an Nawawi:
Juru bicara resmi Ahlusunnah, Imam an Nawawi berkata, “Dalam hadis di atas terdapat faedah/kesimpulan dibolehkannya menziarahi orang-orang musyrikin di kala hidup, maupun menziarahi kuburan mereka setelah mati… Di dalamnya juga terdapat faedah dilarangnya memohonkan ampunan buat orang-orang kafir.” (Syarah Shahih Muslim,7/ 45).
.
Dengan demikain jelaslah bagaimana aqidah dan keyakinan Ahlusunnah wal Jama’ah tentang kedua orang tua Nabi saw.
Dan kalaupun ternyata aqidah seperti itu dikemudian hari dirasa memalakuan dan dapat mencoreng nama harum mazhab mereka, lalu ada segelintir orang menyelisihinya, maka sama sekali itu tidak akan mengubah kenyataan akan keyakinan Ahlusunnah yang paten! Apalagi yang disampaikan oleh “Sunni kontemporer” sangat menyalahi hadis-hadis shahih mereka sendiri dan juga menyalahi kesepakatan para pemuka mazhab mereka! Mereka tidak konsisten dengan kayakinan mereka sendiri bahwa kitab Shahih Muslim adalah kitab paling shahih setelah Kitab Allah dan Kitab Shahih Imam Bukhari!
.
Dan kalaupun kalian (sebagian Ahlusunnah) keberatan dengan keyakinan tersebut karena dianggap bertentangan dengan dalil dan dengan sopan santun dan sikap hormat kepada Nabi saw., lalu apa sikap yang harus ditegakkan mazhab Ahlusunnah (yang telah dimodifikasi itu) terhadap mereka yang meyakini kekafiran ayah-bunda Nabi saw.?!
Apakah di keluarkan dari keanggotaan sebagai Ahlusunnah? Sementara pilar-pilar mazhab Ahlusunnah itu, mereka yang meneggakkan?
.
Atau kalian -yang yang berseberangan dengan tokoh-tokoh tersebut- akan keluar dari Ahlusunnah?
Atau kalian mengatakan bahwa pendapat para pemuka mazhab kalian itu tidak mewakili mazhab Ahlusunnah?
Lalu siapa yang mewakili mazhab Ahlusunnah?
Kami menanti jawaban konkretnya kalian.
Walahu A’lam.

[1] Tash-hîhul I’tiqâd:117
[2] Awâil al Maqâlât:51.
[3]Dalâil an Nubuwah,1/192-193.
[4] As Sunan al Kubrâ,7/190.

gerakan kebangkitan keilmuan terus digalakkan di Iran. Program ini kian memacu percepatan kemajuan sains di Iran dan teraktualisasikannya potensi generasi muda

Pondasi yang menjadi landasan struktur kemasyarakatan adalah partisipasi dan kerjasama yang melibatkan semua anggota masyarakat baik laki-laki maupun perempuan. Tak dipungkiri bahwa perempuan adalah setengah dari masyarakat. Tanpa partisipasi komunitas yang besar ini masyarakat tak akan bisa meraih sukses dan kemajuan.

Menyikapi masalah perempuan, Republik Islam Iran membuka peluang bagi mereka untuk terjun ke berbagai bidang. Karena itu, kita menyaksikan kemajuan dan keberhasilan perempuan Iran dalam naungan pemerintahan Republik Islam. Tulisan berseri ini adalah pengantar untuk mengenalkan wanita-wanita berprestasi di Iran dalam berbagai bidang mulai dari bidang keilmuan, sosial, politik sampai olahraga.

Peran kaum perempuan dalam kehidupan dan kemajuan masyarakat tidak bisa dipungkiri. Mereka punya peluang untuk berperan di berbagai bidang seperti budaya, ilmu dan sosial. Sebagai manusia, kaum hawa memiliki hak-hak alamiah dan konstitusional untuk menentukan nasib sendiri dan andil dalam memajukan masyarakat. Karena itu, selain memerankan fungsi sebagai istri dan ibu dalam keluarga, perempuan juga bisa hadir di tengah masyarakat dan mengukir prestasi di bidang keilmuan, penelitian, kebudayaan, kemasyarakatan, ekonomi dan politik. Dengan kata lain, partisipasi kaum Hawa dalam membuat keputusan besar di tengah masyarakat dan sumbangan pemikiran bukan hanya mengeluarkan mereka dari keterkucilan tapi juga membuat mereka menjadi unsur yang aktif dalam masyarakat. Dalam skala nasional, kehadiran mereka juga bisa membantu memajukan negara.

Sebagai agama yang diturunkan untuk membangun manusia, Islam membuka jalan bagi perempuan untuk mengaktualisasi potensi alamiah yang mereka miliki. Tak heran jika dalam sejarah banyak perempuan yang tercatat punya pengaruh besar. Untuk membantu aktualisasi potensi kaum perempuan ke puncak kesempurnaan, al-Quran al-Karim membawakan teladan-teladan yang patut dicontoh supaya perempuan yang menirunya bisa mencapai jalan kebahagiaan hakiki. Dalam metode pendidikan, mengenalkan contoh teladan adalah salah satu cara yang terbaik dan termudah. Islam juga mengenalkan wanita-wanita teladan dan suci seperti Fatimah az-Zahra as, Khadijah binti Khuwailid as dan Zainab binti Ali as.

Dalam perspektif Islam, sebagai manusia perempuan harus dihormati layaknya laki-laki. Penghormatan kepada perempuan muslimah adalah dengan cara memberinya kesempatan untuk mengaktualisasi potensi pemberian Allah yang ada pada diri mereka. Jelas bahwa suatu masyarakat akan bangga jika kaum perempuannya mengukir prestasi gemilang di  bidang keagamaan, keilmuan, politik, budaya dan lainnya.  Revolusi Islam Iran yang lahir dari rahim Islam memandang kaum wanita dengan pandangan penuh hormat. Dalam hal ini, peran Imam Khomeini dalam menghidupkan peran perempuan muslimah di tengah masyarakat sangat menonjol.

Undang-undang Dasar Republik Islam Iran yang dilandasi oleh hukum dan ajaran Islam memberi kesempatan yang besar kepada perempuan untuk berperan aktif dalam segala bidang. Pasal 21 UUD Iran menyatakan bahwa pemerintah harus menjamin hak-hak kaum perempuan dalam semua hal meliputi materi, spiritual, budaya, sosial, dan hukum sesuai dengan ajaran Islam.

Saat ini di tengah masyarakat Iran yang Islami banyak perempuan yang sukses dan ini menunjukkan perhatian besar pemerintahan Islam Iran kepada mereka. sebelum kemenangan revolusi Islam, jumlah perempuan yang sukses sangat kecil. Sebab, di zaman itu peluang untuk bekerja, beraktivitas dan berkarya tidak banyak terbuka bagi kaum Hawa. Situasi zaman itu juga tercemari oleh budaya bejat sementara kebijakan rezim banyak menghalangi masyarakat untuk mengaktualisasi potensi mereka. Keadaan berubah pasca kemenangan revolusi Islam, dan jumlah perempuan yang sukses mengukir prestasi di berbagai bidang meningkat sangat signifikan.

Jika di zaman rezim Pahlevi, tidak banyak perempuan yang mengenyam pendidikan di perguruan tinggi, sekarang kondisi bagi mereka untuk belajar setinggi-tingginya terbuka lebar. Berdasarkan data resmi saat ini yang dibuat oleh pemerintah, hampir 70 persen bangku kuliah diduduki oleh mahasiswi yang belajar di banyak bidang. Keadaan ini semakin menambah jumlah perempuan yang berhasil di berbagai bidang keilmuan. Berkat dorongan dan imbuan dari Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei, gerakan kebangkitan keilmuan terus digalakkan di Iran. Program ini kian memacu percepatan kemajuan sains di Iran dan teraktualisasikannya potensi generasi muda, termasuk dari kaum Hawa.

Di Iran sekarang, kaum perempuan memiliki kemampuan, potensi dan kepandaian yang tinggi untuk ikut membangun negara. Dengan berbekal ilmu pengetahuan yang berhasil dikuasai dan kecakapan dalam bekerja, mereka terjun secara aktif di berbagai bidang. Fakta ini diakui oleh banyak pengamat asing yang obyektif dalam memandang perkembangan di Iran. Sebagian bahkan menyatakan bahwa perempuan Iran tidak kalah dari kaum pria di negara itu dalam hal kepandaian, keilmuan dan kemampuan.

Kondisi itu jelas berbeda jauh dari apa yang terjadi di dunia Barat. Budaya Barat memandang perempuan tak lebih dari alat untuk kepentingan para pemilik modal. Mereka dinilai tak ubahnya seperti barang. Sementara, di tengah masyarakat Islam, kaum perempuan Muslimah terpacu untuk mengukir prestasi di kancah keilmuan dan hal-hal yang positif. Muslimah Iran berhasil menarik perhatian masyarakatnya dan dunia akan kedudukan hakiki perempuan sebagai wujud insani.

Dalam kaitan ini, Ayatullah al-Udzma Khamenei menyatakan bahwa perempuan Iran bisa memasuki arena keilmuan dan mencapai derajat keilmuan yang tinggi. Beliau meyakini bahwa Islam menginginkan supaya kaum perempuan terlibat dalam kegiatan kemasyarakatan dengan menjaga kehormatan, kesusilaan, ketaqwaan, dan jatidirinya sebagai perempuan muslimah sekaligus mempertahankan kedudukannya di tengah keluarga.

Empat Perbuatan yang Dapat Mematikan Hati Manusia!

Hati merupakan anggota badan terbaik yang dimiliki manusia. Dalam Hadis Qudsi disebutkan bahwa hati seorang mukmin merupakan rumah Allah. Dengan demikian, kita dituntut untuk menjaganya dan jangan sampai membuatnya bergetar dan tergelincir, apalagi sampai membuatnya mati.

 

Rasulullah Saw bersabda,

 

“Ada empat hal yang dapat membuat mati hati manusia:

 

1. Berbuat dosa berkali-kali,

 

2. Banyak berbicara dengan perempuan yang non muhrim,

 

3. Berdebat dengan orang bodoh, padahal pembicaraan itu tidak ada kebaikannya,

 

4. Berteman dengan orang-orang mati.”

 

Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah! Siapa yang dimaksud dari orang-orang mati?”

 

Nabi Saw menjawab, “Manusia yang memiliki harta tapi tidak beragama dan tidak bertakwa.”(1)

 

Begitu juga dalam wasiat Rasulullah Saw kepada Imam Ali as, beliau bersabda, “Wahai Ali! Pertemananmu dengan tiga golongan ini akan membuat hatimu mati:

 

1. Berteman dengan orang yang memiliki sifat rendah,

 

2. Berteman dengan orang kaya,

 

3. Berteman dengan orang yang suka bicara dengan perempuan non muhrim.”(2)

 

Dalam buku al-Kafi dinukil sebuah hadis bahwa Allah Swt dalam munajat Nabi Musa as berfirman, “Wahai Musa! Jangan pernah lupakan Aku. Karena melupakan Aku dapat mematikan hati.”(3) (IRIB Indonesia / Saleh Lapadi)

 

Catatan:

1. Majmu’ah Warram, jilid 2, hal 118.

2. Al-Wafi, jilid 26.

3. Al-Kafi, jilid 2, hal 498, al-Khisal, jilid 2, hal 523 dan al-Kafi, jilid 4, hal 478.

Persatuan hadis sunni – syi’ah membuat Islam akan mampu menghadang orientalisme sarjana sarjana barat

Beberapa waktu lalu saya baru selesai membaca buku berjudul : “Menguji Kembali Keakuratan Metode Kritik Hadis karangan Dr. Phil.H.Kamaruddin Amin, MA”, seorang Doktor dengan predikat Summa Cum Laude yang belajar Islam di Rheinischen Friedrich Wilhelms Universitaet Bonn, Jerman  yang aktif di UIN Alauddin Makassar.

..

Dalam buku itu pada halaman 139-140 dinyatakan:” Teori “back projection” Schacht menurut Prof.M.M. Azami tidak logis, mengingat fakta bahwa terdapat sejumlah riwayat yang sama dalam bentuk dan makna dalam literatur para muhaddits dari sekte sekte muslim yang berbeda yang berpecah pecah hanya sekitar tiga puluh tahun setelah wafatnya Nabi. Seandainya semua hadis hukum dipalsukan pada abad kedua dan ketiga hijriah, tidak akan ada hadis yang dimuat bersama dalam sumber sekte sekte yang berbeda”

.

Tuduhan tuduhan sarjana barat terhadap otentisitas hadis kaum muslimin bisa dipecahkan dengan kaidah bahwa “Umat Muhammad SAW tidak mungkin bersepakat diatas kesesatan” . Berpegang pada kaidah itu maka dapat disimpulkan bahwa hadis hadis mazhab aswaja (sunni) yang dishahihkan oleh ulama Mazhab Syi’ah Imamiyah Itsna ‘Asyariah Ushuliyah maka isinya MUTLAK BENAR  

Bagaimana cara termudah melakukan persatuan hadis sunni – syi’ah ?                                                                                

a.  Jika seseorang membawa sebuah hadis yang lemah dari USHUL AL KAFi Syi’ah dan kemudian mengarti kan hadis tersebut secara salah sebagai alat propaganda kesesatan syi’ah, maka hal itu tidak menggambarkan keyakinan syi’ah. Renungkan !      

Hadis-hadis yang termuat dalam kitab hadis syi’ah yakni al-Kafi karya Syaikh Kulaini berjumlah 16.199 buah hadis, yang mencapai tingkat sahih, berjumlah 5.702 buah hadis, tingkat hasan 144 buah hadis, tingkat muwassaq 1.128 buah hadis, tingkat qawiy 302 buah hadis, dan tingkat dha’if 9.485 buah hadis 1                      

Sayyid Ali Al Milani menyatakan bahwa dalam Al Kafi ada 5.072 hadis shahih, 144 hasan, 1128 hadis Muwatstsaq (hadis yang diriwayatkan perawi bukan syiah tetapi dipercayai oleh syiah), 302 hadis Qawiy(kuat)   dan 9.480 hadis dhaif 2                                                                                                          

Menurut Fakhruddin At Tharihi ada 9845 hadits yang dhaif dalam kitab Al Kafi, dari jumlah 16119 hadits Al Kafi. Bahkan ulama Syiah lain, Syekh Muhammad Baqir al-Majlisy (w. 1111H) telah mendha’ifkan sebagian besar hadits-hadits yang ada dalam kitab al-Kafy dalam kitabnya  Mir’at al-‘Uqul.

b.         Ambillah hadis mazhab sunni (aswaja) yang dishahihkan oleh ulama syi’ah, misal hadis ini :

Rasulullah SAW bersabda : “Agama ini akan tetap tegak hingga datangnya hari kiamat sampai datang kepadamu 12 orang khalifah, semuanya berasal dari suku Quraisy”( Hr.Muslim,III,hal.1453. Bukhari,III, hal.101. Turmuzi, IV, hal.501. dan Abu Daud, IV, bab Al Mahdi )

hadis 12 khalifah terdapat di dalam kitab seperti Sahih Muslim, Jami’ Tirmizi, Sunan Abi Daud. Sebelum membincangkan persatuna hadis maka mari kita lihat hadis-hadis tersebut.

حدثنا ابن أبي عمر. حدثنا سفيان عن عبدالملك بن عمير، عن جابر بن سمرة. قال سمعت النبي صلى الله عليه وسلم يقول (لا يزال أمر الناس ماضيا ما وليهم اثنا عشر رجلا. ثم تكلم النبي صلى الله عليه وسلم بكلمة خفيت علي. فسألت أبي: ماذا قال رسول الله صلى الله عليه وسلم؟ فقال كلهم من قريش

حدثنا نصر بن علي الجهضمي. حدثنا يزيد بن زريع. حدثنا ابن عون. ح وحدثنا أحمد بن عثمان النوفلي (واللفظ له). حدثنا أزهر. حدثنا ابن عون عن الشعبي، عن جابر بن سمرة. قال: انطلقت إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم ومعي أبي. فسمعته يقول (لا يزال هذا الدين عزيزا منيعا إلى اثني عشر خليفة) فقال كلمة صمنيها الناس. فقلت لأبي: ما قال؟ قال (كلهم من قريش).

Daripada Jabir bin Samurah r.a. katanya, “Aku pergi kepada Rasulullah s.a.w. dan ayahku bersamaku, lalu aku mendengar Baginda bersabda, “Agama ini akan terus mulia dan teguh sehingga ke dua belas orang khalifah, lalu Baginda berkata dengan kalimah yang orang ramai tidak mendengarnya, maka aku berkata kepada ayahku, “Apakah yang Baginda katakan? Ayahku menjawab, “Semua mereka dari Quraisy”.(Riwayat Muslim)

حدثني محمد بن المثنَّى: حدثناغندر: حدثنا شعبة، عن عبد الملك: سمعت جابر بن سمرة قال: سمعت النبي صلى الله عليه وسلم يقول: (يكون اثنا عشر أميراً فقال كلمة لم أسمعها، فقال أبي: إنه قال: (كلهم من قريش.

Jabir bin Samurah r.a. berkata, Aku mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda, “Akan ada dua belas orang amir, lalu baginda berkata dengan kalimah yang aku tidak dengarinya, ayahku berkata, ”Semuanya mereka dari Quraisy”. (Riwayat Termizi).

ـ حدثنا عمرو بن عثمان، ثنا مروان بن معاوية، عن إسماعيل يعني ابن أبي خالد عن أبيه، عن جابر بن سمرة قال: سمعت رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم يقول: “لايزال هذا الدِّين قائماً حتى يكون عليكم اثنا عشر خليفةً، كلهم تجتمع عليه الأمة” فسمعت كلاماً من النبيِّ صلى اللّه عليه وسلم لم أفهمه، قلت لأبي: ما يقول؟ قال: كلهم من قريش.

Daripada Jabir bin Samurah r.a. katanya, aku mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda, “Agama ini akan terus teguh sehingga memerintah kamu seramai dua belas orang khalifah, semua mereka ini disepakati oleh ummat”. (Riwayat Abi Daud)

Golongan Syi’ah mengatakan 12 khalifah atau amir yang terdapat di dalam hadis tersebut adalah 12 imam maksum di sisi mereka.

Ini diperkuat dengan hadis khalifah umat Islam adalah ahlulbait. Andaikata ianya tidak bertepatan dengan pegangan Syi’ah niscaya Nabi s.a.w. tidak akan menjelaskan dengan sejelas-jelasnya bahwa  “mereka dari kalangan ahlul baitku”.

Dari Zaid bin Tsabit RA yang berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya Aku telah meninggalkan di tengah-tengah kalian dua Khalifah yaitu Kitab Allah yang merupakan Tali yang terbentang antara bumi dan langit, serta KeturunanKu Ahlul BaitKu. Keduanya tidak akan berpisah sampai menemuiKu di Telaga Surga Al Haudh. (Hadis Ini diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal dalam Musnad Ahmad jilid 5 hal 182, Syaikh Syuaib Al Arnauth dalam Takhrij Musnad Ahmad menyatakan bahwa hadis ini shahih. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Kabir jilid 5 hal 154, Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid jilid 1 hal 170 berkata “para perawi hadis ini tsiqah”. Hadis ini juga disebutkan oleh As Suyuthi dalam Jami’ Ash Shaghir hadis no 2631 dan beliau menyatakan hadis tersebut Shahih.)

Maka itulah hadis otentik yang berasal dari Nabi SAW yang dishahihkan sunni – syi’ah !   

Gugatan wahabi: “bukankah imam-imam Syi’ah hanya dua orang sahaja yang menjadi pemerintah ?”

jawaban : Imamah menunjukkan kepemimpinan yang meliputi kepemimpinan dalam syariat, kepemimpinan dalam akhlak, kepemimpinan dalam ilmu dan khilafah. Syi’ah menjadikan Imam sebagai pedoman. Sikap syi’ah selalu berpegang pada Ahlul bait. Imamah dalam Syi’ah adalah jabatan berdasarkan ketetapan Tuhan melalui  Rasul Nya. Imam tetaplah imam meskipun semua orang sunni menolak mereka menjadi pemerintah. Syiah berkeyakinan bahwa Imam yang akan memberi petunjuk bagi manusia agar tidak sesat adalah Imam ahlul bait yang berjumlah dua belas oleh karena itu syiah sering disebut Syi’ah Imamiyah atau Syiah Itsna Asyariyyah atau Syi’ah dua belas Imam.                                                                                          

******

kesimpulan : Persatuan hadis sunni – syi’ah membuat Islam akan mampu menghadang orientalisme sarjana sarjana barat

Catatan kaki :                                                                                                                                                                                                       

1      Ayatullah Ja’far Subhani, “Menimbang Hadis-hadis Mazhab Syi’ah; Studi atas Kitab al-Kafi” dalam al-Huda:          Jurnal Kajian Ilmu-ilmu Islam, diterbitkan Islamic Center, Jakarta, vol II, no. 5.2001, hlm. 36.]

2      lihat Al Riwayat Li Al Hadits Al Tahrif oleh Sayyid Ali Al Milani

Judul Buku       : Menguji Kembali Keakuratan Metode Kritik Hadis

Penulis              : Dr. Phil. H. kamaruddin Amin, M.A.
Penerbit            : Hikmah (PT Mizan Republika) jakarta
Cetakan           : Pertama, April 2009
Tebal                : xiii + 513
Harga               : Rp. 80.000,-
Peresensi          : Ashabul Fadhli

Hadis sebagai salah satu rujukan utama setelah Al Qur’an memiliki pengaruh yang kuat dalam sejarah dan keilmuan Islam. Dalam satu sisi, hadis juga menjadi pedoman dalam hal ubudiah, hal itu tak lepas dari asumsi keabsoloutannya serta memiliki jalur periwayatan yang jelas. Artinya hadis tersebut berada dalam posisi shahih serta mempunyai supremasi hukum yang kuat dalam Hukum Islam. Dalam dunia akademis, kajian hadis juga sangat banyak diminati sebagai suatu keilmuan. Namun, bukan hanya para akademisi dan cendekiawan muslim saja yang serius mengkaji hadis, akan tetapi mereka orang-orang Barat non-Muslim juga menggeluti hadis sebagai obyek penelitian.

.
Berbeda hal nya dengan para sarjana barat yang mengkaji hadis, yang sampai saat ini masih memprtanyakan bukti dan keotentikan hadis secara metodologis. Suatu hal yang tidak mungkin dilakukan oleh para sarjana muslim. Sarjana barat ini tidak percaya sepenuhnya mengenai hadis yang diterima secara verbatim melalui rawi-rawi hadis yang disandarkan pada Nabi Muhammad SAW. Mereka masih mempertanyakan keorisinilan hadis dari sisi metodologis, baik itu isi (matan), penerima hadis (sanad), maupun perawi hadis (rawi)
.
Dalam buku yang berjudul Menguji Kembali Keakuratan Metode Kritik Hadis, yang ditulis oleh Dr. Phil. H. Kamaruddin Amin, M.A. menyajikan secara runtut bagaimana mengkaji hadis dari sisi metodologi, pemikiran dan polemik antara penelitian yang dilakukan sarjana muslim dan sarjana barat yang diakhiri dengan kesimpulan. Buku ini tentunya berbeda dari buku –buku hadis lainnya. Nilai plus dalam tulisan ini adalah dengan disajikannya pendekatan-pendekatan baru secara fokus dalam menyikapi isu-isu penting yang controversial diantara sarjana Muslim dan non muslim.
.
Sajian menarik lainnya dalam buku ini adalah bagaimana sarjana Muslim terdahulu menjustifikasi metode-metode yang mereka gunakan untuk mempertahankan kebenaran hadis. Baik itu berasal dari kritik dan isu-isu perpecahan yang dilemparkan barat serta menolak metode-metode dan kesimpulan-kesimpulan mereka dengan berbagai skeptisme.
.
Studi hadis dalam tulisan ini, juga bersebrangan dengan beberapa studi barat tentang topik yang menolak mentah-mentah metode-metode kritik hadis para sarjana Muslim. Menurut sarjana barat, studi hadis dalam Islam adalah suatu kenaifan dan tidak bisa dipercaya tanpa menelaah dan mengujinya secara mendalam. Maka dalam buku ini penulis mengkaji metode-metode yang diterapkan baik oleh para sarjana muslim maupun konsep-konsep atau metode-metode barat terpenting yang ditujukan untuk menentukan kepercayaan hadis sebagai sumber sejarah. Dia juga memfokuskan pada pendekatan-pendekatan baru baik dari para sarjana muslim maupun sarjana non muslim.
.
Tidak hanya itu, metode pengkodifikasian hadis juga dikupas dalam buku setebal 513 halaman ini. Dalam sebuah literature hadis ditemukan adanya pembukuan hadis yang dilakukan belakangan saat peristiwa hadis diriwayatkan. Kenyataan ini menimbulkan kesenjangan antara literature hadis dan peristiwa hadis yang disampaikan. Persoalan ini menimbulkan berbagai pertanyaan. Tidak hanya itu, kesalahan rawi hadis terdahulu dalam pengkodifikasian hadis, melahirkan premis miring akan keorisinilan hadis. Karena ditakutkan bahwa matan hadis tidak mencerminkan kata-kata nabi dan sahabat yang sesungguhnya, atau hanya merupakan verbalisasi dari masa sesudahnya yang kemudian dianggap sebagai sunah nabi.
.
Berbeda halnya dengan metode pendekatan yang dilakukan oleh sarjana barat seperti Fuat Sezgin, M.M. Azami dan Nabia Abbot adalah dengan menggunakan teori common Link. Teori yang pertama diperkenalkan oleh Joseph Scahct pada tahun 1950-an  ini menjadi sumber inspirasi penelitian hadis dalam keserjanaan barat. Pemikiran Schact ini juga telah diperbaharui oleh sarjana barat lainnya seperti Josef van Ess dan Michael Cook. Hasilnya, banyak kontribusi yang mereka berikan hingga memudahkan mereka untuk memverifikasi sebuah hadis untuk dibedakan yang autentik dan yang tidak. Salah satunya dengan menggunakan penanggalan (dating) atas hadis untuk menilai asal usul atau sumbernya.
.
Untuk menjawab wacana yang dilemparkan sarjana barat melalui metode common link nya itu, dalam buku ini sarjana muslim lebih menitik beratkan metode Al Bani untuk menentukan antentisitas suatu hadis dan kepalsuan suatu hadis. Terutama mengenai hadis-hadis lemah yang terdapat dalam Shahih Muslim
.
Adapun inti pokok buku yang ditulis oleh Rektor UIN Alaudin Makassar ini adalah, tentang “Penanggalan hadis-hadis dengan metode isnad “Cum Matn” yang menelaah baik jalur-jalur periwayatan maupun teks-teks hadis. Dalam metode ini isnad-isnad dari versi-versi tersebut diperiksa dengan membandingkan teks-teks dari versi-versi itu pada level periwayatan yang berbeda. Dia mengkaji secara sistematik 163 versi hadis tentang puasa yang ditemukan dalam 39 sumber. Dia cermat membandingkan varian-varian teks yang dimiliki oleh satu bundel isnad, merekonstruksi elemen-elemen tekstual yang dimiliki bersama dan mencatat perbedaan-perbedaan dari versi-versi tersebut.
.

Dengan membaca buku yang berjudul “Menguji Kembali Keakuratan Metode Kritik Hadis”, para pembaca diajak untuk menyelami urgensi kajian hadis. Dengan mengkaji hadis melalui metode dan pendekatan yang benar, akan mengahasilkan kesimpulan berupa asal-usul sumber informasi hadis. Karena asal-usul ini dianggap sebagai bukti atas kepercayaan dan  keantentisitas sebuah hadis.