Month: Maret 2013

misi wahabi mengadu domba umat Islam, menuduh bahwa perbuatan yang dilakukan oleh warga NU bid’ah dan syirik

Aqidah sunni aswaja milik NU terus menerus dihantam oleh wahabi berkedok pemurnian islam, padahal faktanya gerakan wahabi di indonesia memiliki misi untuk mengamankan kepentingan Amerika. Faktanya tragedi WTC ternyata penuh rekayasa, Oposisi suriah diback up saudi + AS, penghancuran nuklir iran dilaung laung oleh saudi + AS

Di indonesia ajaran salafi/wahabi sudah menyebar. Roja TV, wesa TV, insan TV nampaknya media dakwah mereka yang setiap hari menyebarkan faham mereka. Banyak orang awam yang akan terpedaya dengan dakwah mereka bahkan akan ikut-ikutan membidahkan bahkan mengkafirkan umat islam lain yang tidak sefaham dengan mereka.

negara Saudi adalah dalang utama di balik menyebarnya Faham Wahabi dan mereka menyatakan, bila saja negara ini tidak membantu secara financial maka pemikiran Wahabi tidak akan menyebar kemana-mana.Amerika dan Saudi yang paling banyak mengambil manfaat dari Wahabi yang menisbatkan kebohongan terhadap Islam.Faham Wahabi sama sekali tidak mengapresiasi kedudukan wanita dan perkembangan ilmu di dunia. Fahami Wahabi sangat tidak menghargai kedudukan wanita, ilmu pengetahuan, music, agama Kristen, dan mazhab Syiah. Pemikiran ini sejatinya adalah usaha kembali ke zaman Jahiliyah yang berlawanan dengan akal dan realita.Pentingnya diambilnya suatu sikap yang besifat Islami, budaya dan politik untuk menghadapi gerakan Wahabisme.

Dengan didirikannya jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU), diantaranya bertujuan untuk memperjuangkan dan membentengi ajaran Ahlussunnah wal-Jama’ah (Aswaja). Ahlussunnah wal-Jama’ah, adalah sebuah aliran atau paham yang berpegang teguh kepada al-Qur’an, hadits, ijma’, dan qiyas. KH Bisri Musthofa mendefinisikan Aswaja yaitu aliran yang menganut madzhab fiqh yang empat, Imam Syafi’I, Hanafi, Maliki, dan Hanbali. Beliau juga menyebutkan, Aswaja merupakan paham yang mengikuti al-Asy’ari dan al-Maturidi  dalam bidang akidah, sementara dalam bidang tasawuf mengikuti Junaid al-Bagdadi dan Imam Ghazali.

Paham Aswaja ini banyak diikuti oleh mayoritas umat Islam di Indonesia khususnya diikuti oleh warga NU, yang di dalamnya mempuyai beragam konsep yang jelas dilandasi dengan dalil-dalil yang qath’i. Adapun salah satu konsep yang terkandung dalam ajaran Aswaja yaitu, tawasut, tasamuh, tawazun, dan amar ma’ruf nahi mungkar.

Yang dimaksud tawasuth (moderat), adalah sebuah sikap keberagamaan yang tidak terjebak terhadap hal-hal yang sifatnya ekstrim. Tasamuh, sebuah sikap keberagamaan dan kemasyarakatan yang menerima kehidupan sebagai sesuatu yang beragam. Tawazun (seimbang), adalah sebuah keseimbangan keberagamaan dan kemasyarakatan yang bersedia menghitungkan berbagai sudut pandang, dan kemudian mengambil posisi yang seimbang proporsional. Amar ma’ruf nahi mungkar, mengajak kepada kebaikan dan mencegah kepada kemungkaran.

Ajaran Ahlussunnah wal-Jama’ah, adalah  sebagai benteng akidah amaliah warga NU. Tantangan besar yang dihadapi warga NU, yaitu mewaspadai beberapa aliran yang akhir-akhir ini mulai berkembang besar di Indonesia. Salah satunya, seperti aliran Salafi Wahabi, Hizbut Tahrir, Majlis Tafsir al-Qur’an (MTA), Syang ajaran ideologinya telah bertentangan dengan Aswaja. Misi mereka adalah mengadu domba umat Islam, menuduh bahwa perbuatan yang dilakukan oleh warga NU bid’ah, syirik, dan tidak ada dalilnya dalam al-Qur’an dan hadits. Tuduhan-tuduhan yang sudah meresahkan masyarakat tersebut sudah bebas di akses dimana-mana, baik melalui media cetak, elektro, buku, bahkan mereka mulai berani berdakwah di masjid, mushalla, majlis ta’lim, dan di komplek-komplek perumahan.

Adapun amaliah dan tradisi islami warga NU, yang diklaim bid’ah dan termasuk perbuatan syirik oleh mereka adalah, tradisi ngapati, mitoni, tingkepan, mengiringi jenazah dengan bacaan tahlil, talqin saat pemakaman jenazah, ziarah kubur, selamatan dalam 7 hari kematian, memberikan jamuan makan kepada para pentakziah, membaca al-Qur’an di kuburan, istghosah, tahlilan, yasinan, dan diba’an.

Sementara di dalam buku yang sederhana ini, dijelaskan bahwa tradisi tersebut tidak termasuk perbuatan bi’ah dan bukan perbuatan yang diharamkan. Dalil-dalilnya shahih, seperti yang telah dijelaskan dalam al-Qur’an, hadist, dan kitab-kitab klasik yang telah muktabar dikalangan para ulama

.
Buku ini penting dibaca oleh siapa saja lebih-lebih dibaca oleh kader-kader muda NU yang masih mempunyai keyakinan bahwa amaliah dan tradisi yang selama ini kita yakini bukanlah perbuatan bid’ah seperti yang dituduhkan oleh kelompok Salafi Wahabi. Amaliah dan tradisi yang kita lakukan selama ini adalah perbuatan disunnahkan, yang tentunya dapat pahala bagi yang melakukannya.

Aqidah Ahlussunnah Waljama’ah

Institusi akidah ( kalam) mengikuti institusi yang dicetuskan oleh : Imam Abu Hasan
Al-Asy’ariy dan Imam Abu Manshur Al-Maturidiy,yang kita kenal dengan : Mu’taqat lima puluh yaitu : 20 sifat wajib bagi Allah, 20 sifat mustahil bagi Allah dan 1 sifat jais bagi Allah. 4 sifat wajib bagi Rasul, 4 sifat mustahil bagi Rasul dan 1 sifat jaiz bagi Rasul

.
Sayid Murtadla dalam kitabnya Ittihadi Sadatil Muttaqin syarah kitab Ihya mnjelaskan yang artinya : Apabila sikatakan Ahlussunnah Wal Jama’ah itu yang dimaksud adalah Imam Abu Hasan Al-Asy’ariy dan Abu Manshur Al-Maturidiy

Bidang Tasawuf ( Akhlaq )

Adapun lingkup kempat dalam faham Aswaja mengikuti wacana Ahlaq (tasawuf)
yang kembangkan oleh Imam Al Gazaliy,Syeh Junaidi Al Bagdadi, Abu Yazid Al Bustami dengan demikian setiap Muslim yang mempunyai faham Aswaja harus Mengaplikasikan secara konferhensif sehingga menjadi muslim yang baik dalm beraqidah,dalam beribadah dan dalam berahlaq.

Fiqh Ahlussah Waljama’ah

Dalam memahami Islam dan menafsirkan dari sumbernya yaitu Al-Quran dan Al-Hadits mengikuti tuntunan empat madzhab besar dalam fiqh Islam ,yakni Hanafi,Maliki,Syafi’I dan Hambali. Dalam hal ini Nabi bersabda :
Artinya : Dan sesungguhnya para Ulama adalah pewaris para Nabi ,sesungguhnya para Nabi itu tidak mewariskan dinar maupun uang dirham,tetapi mewariskan ilmu,barang siapa mengambil ilimu warisan itu ,maka telah mendapat bagian yang banyak dan sempurna (HR.Abu Dawud)

Dengan demikian yang dimaksud Ahlussunnah Waljama’ah ialah :golongan pengikut yang senantiasa mengikituti jalan hidup Rasulullah saw dan jalan hidup sahabatnya atau golongan yanmg berpegang teguh pada Sunnah Rasul dan (tariqab)para sahabat, sedangkan wahabi bukanlah Ahlussunnah Waljama’ah

72 firqah masuk neraka, 1 kesurga ?? Karena ingin “mengkapling” surga maka sebagian pembohong menuduh syi’ah mengkafirkan para sahabat

Stasiun TV & siaran TV Wahabi - Salafy, sungguh kontradiksi dengan ajaran yang mereka anut

Nabi bersabda:

“Bahawasanya Bani Israil telah berfirqah-firqah sebanyak 72 millah (firqah) dan akan berfirqah umatku sebanyak 73 firqah, semuanya masuk nereka keluali satu.”
.
Sahabat-sahabat yang mendengar ucapan ini bertanya:”Siapakah yang satu itu Ya Rasullullah?”
Nabi menjawab:”Yang satu itu ialah orang yang berpegang (beri’tiqad) sebagai peganganku (I’tiqadku) dan  pegangan sahabat-sahabatku.”

Hadith riwayat Imam Tarmidzi. Lihat Sahih Tarmidzi juzu’ X, paginda 109

Tersebut dalam kitab Thabrani, bahawa Nabi bersabda:

“Demi Tuhan yang memegang jiwa Muhammad di tanganNya, akan berfirqah umatku sebanyak 73 firqah; yang satu masuk Syurga dan yang lain masuk neraka.” 
Bertanya para sahabat:”Siapakah firqah (yang tidak masuk neraka) itu Ya Rasulullah?”
Nabi menjawab:”Ahlussunnah wal jama’ah“.  

Hadith ini diriwayatkan oleh Imam Thabrani.

Dalam buku I’tiqad Ahlusunnah Wal Jama’ah karangan KH.Sirajuddin Abbas di klaim oleh KH.Sirajuddin Abbas bahwa Nabi SAW bersabda : “…akan berfirqah umatku sebanyak 73 firqah, semuanya masuk neraka kecuali satu…Yang satu itu ialah orang yang berpegang (beri’tiqad) sebagai peganganku (i’tiqadku) dan pegangan sahabat sahabatku” ( Hr.Tirmidzi)

Sunni dan Syi’ah sama sama berpegang pada sahabat Nabi SAW.Yang menjadi persoalan adalah sahabat sahabat yang mana yang harus kita pedomani ? Mazhab aswaja/sunni menyatakan bahwa semua sahabat bersifat adil dan jadi pedoman agama. Mazhab Syi’ah Imamiyah Itsna ‘Asyariah Ushuliyah intinya menyatakan bahwa sahabat kategori satu (K1) sajalah yang bersifat adil.        

Bagaimana pandangan syi’ah terhadap para sahabat Nabi SAW ?? Syi’ah mengelompok kan para sahabat Nabi SAW kepada 3 kategori yakni :                                                                                                           

 1.     Kategori satu (K1): Para sahabat yang setia dan patuh pada Nabi SAW. Sahabat kategori ini ialah para sahabat yang tiada perselisahan sifat adilnya  antara  pihak sunni maupun syi’ah.   Mazhab Sunni dan Syi’ah bersetuju dengan kemuliaan para sahabat kategori ini.                                       

Dalil : Qs.48:29. Frasa di antara mereka itu pada Qs.48:29 menurut pihak syi’ah jelas sekali ini menunjukkan bahwa bukan semua sahabat Nabi tergolong dalam kategori ini     

Contoh para sahabat yang masuk dalam kategori ini ialah Para syuhada perang semasa Nabi SAW masih hidup (misal:dalam Qs.3:172), Juga para sahabat yang wafat secara alamiah semasa Nabi SAW hidup. Nama-nama yang tetap sebagai Syi’ah dan pengikut Imam Ali As kebanyakan disebutkan pada kitab “Huwiyat Syiah” (Identitas Syiah)1 termasuk Malik Al Asytar                            

Seorang ulama syi’ah berkata : “Bagaimana mungkin Syi’ah mengkafirkan semua sahabat sedangkan lebih 150 orang daripada kalangan mereka itu adalah pengikut Ali  AS. Hendaklah mereka yang membuat tuduhan itu takut kepada Allah dan tidak berdusta lagi.”2                                                                   

….. Salman al-Farisi, Abu Dzarr Al-Ghiffaariy dan Al-Miqdad 3                                                                                                                                

  …..Setelah itu diikuti oleh ‘Ammar, Abu Sasan al-Ansari, Hudhaifah dan Abu ‘Amrah”4    

 …..Abu Sasan Al-Anshari, Abu ‘Amrah, dan Syatirah 5                                                                                                 

….dari kaum Muhajirin adalah Khalid bin Said bin Abi Al’ash, Salman Al-Farisi, Abu Dzar Al-Ghifari, Miqdad bin Al’Aswad, Ammar bin Yasir, Buraidah Al’aslami. Dan dari pihak Anshar adalah Abul Haitsam bin Attihan, Utsman bin Hunaif, Khuzaimah bin Tsabit Dzus-syahadatain, Ubay bin Ka’ab dan Abu Ayyub Al’anshari” 6                                                                                                                          

Di antara pengikut Imam Husain AS terdapat lima orang  sahabat Rasulullah Saw yang tergolong sebagai orang yang gugur dan mati syahid di Padang Karbala. Ke 5 orang ini yakni 7:                              

a.  Anas bin Harits Kahili                                                                                                                                              

b.  Habib bin Muzhahhar                                                                                                                                                                                       

c.  Muslim bin Awsaja

d.  Hani bin Urwah                                                                                                                                                                                      

e.  Abdullah bin Baqthar (Yaqthar) Himyari

2.      Kategori  dua (K2). Murtad atau kafir yang dimaksud dalam hadis hadis syi’ah artinya berbalik arah dan tidak patuh pasca wafat Nabi SAW dengan berbuat bid’ah  dan melanggar janji setia terhadap ikrar wilayah dan pembangkangan terhadap Rasulullah SAW dalam urusan khilafah dan lain lain. Syi’ah tidak pernah menuduh para sahabat murtad tulen/kafir tulen apalagi sampai menuduh sahabat kategori ini telah keluar dari islam.

3.      Kategori  tiga (K3): ialah para munafik, juga golongan yang murtad selepas Nabi wafat     

Catatan kaki :

1  Silahkan lihat, Huwiyat al-Syi’ah, al-Syaikh Ahmad al-Waili, hal. 36.               

2  Pidato Ayatullah Jaafar Subhani (seorang Marji’  terkemuka syi’ah) dalam kuliah tafsir surah Al-Hasyr di Madrasah ‘Ali Fiqh di Qom Republik Islam Iran pada bulan agustus 2010

3  Kitab Al-Kaafiy, 8/245                                                                                                                                                             

4  Al-Kulaini, al-Raudhah, no.356                                                                                                                                                    

5  Kitab Rijaalul-Kisysyi  hal.11-12                                                                                                                                                

Ath-Thabarsi dalam buku Al-lhtijaj membawakan sebuah riwayat dari Ibban bin Taghib. la bertanya kepada Imam Ja’far bin Muhammad ash-Shadiq AS

 7  Muhammad bin Thahir Samawi dalam kitab “Abshâr al-‘Ain fî Anshâr al-Husain”

Imam Bukhari tidak meriwayatkan satu hadits pun dari Ja’far ash-Shadiq. Jadi mazhab mana yang berpegang pada ahlulbait ???

Quraish Shihab penulis  Buku  : “Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah? Kajian atas Konsep Ajaran dan Pemikiran.”

 

Penulis : M. Quraish Shihab
Penerbit : Lentera Hati

Descriptions

Judul: Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?
Penulis: M. Quraish Shihab
Penerbit: Lentera Hati
Halaman: 303
Cetakan: I, Maret 2007

Sebagaimana persamaan, perbedaan adalah sebuah keniscayaan yang tidak dapat dipungkiri dalam kehidupan manusia. Sekecil apapun sebuah komunitas tempat kita bernaung, niscaya akan selalu ditemukan adanya perbedaan. Namun, sebagai manusia berakal, kita dituntut arif dalam menyikapinya. Sikap positif menghadapi perbedaan ini justru akan membawa hasil yang positif pula. Dan sikap positif yang demikian hanya dimiliki oleh seseorang yang luas wawasannya. Semakin luas wawasan seseorang, akan semakin tinggi pula toleransinya, dengan kata lain ia akan semakin arif dalam menyikapi segala perbedaan. Sebaliknya, sempitnya pengetahuan menjadikan seseorang terjebak dalam fanatisme buta, sehingga kerap menggiring perbedaan menuju perselisihan. Inilah sesungguhnya yang terjadi pada orang-orang yang cepat sekali termakan hasutan –karena piciknya pandangan– ketika dihadapkan pada perbedaan madzhab dalam kehidupan keberagamaannya, termasuk di negeri kita sendiri.

Dalam konteks ikhtilaf Sunnah-Syi’ah –yang belakangan marak kita dengar terkait isu pertikaian antara keduanya akibat hembusan fitnah para musuh Islam–, tak diragukan, Prof. DR. M. Quraish Shihab adalah seorang penulis yang paham betul bagaimana mempertemukan titik-titik perbedaan antara keduanya. Dengan membawa semangat persatuan serta at-taqrib baina al-madzahib (pendekatan antar madzhab), penulis sepertinya mengingatkan bahwa pada hakikatnya semua umat Islam mendambakan mengikuti Nabi Muhammad Saw. Namun, sulitnya memperoleh petunjuk yang pasti –menyangkut masalah yang diperselisihkan itu– acapkali menimbulkan interpretasi yang berbeda terhadap sebuah sumber hukum. Sebagaimana yang selalu ditanamkan guru-gurunya di Universitas al-Azhar Mesir (tempat penulis mengenyam pendidikan), penulis menyadari bahwa di antara madzhab yang berbeda pendapat itu, tidak ada satupun yang berhak menjadi juru bicara resmi yang memonopoli kebenaran atas nama Islam seraya memvonis yang lain bathil dan sesat, padahal masih berada dalam koridor Islam.

Diantara Sunnah-Syiah –dalam hal ini Syi’ah Imamiyah Itsna ‘Asyariyah sebagai kelompok mayoritas–, sesungguhnya tidak banyak ditemukan perbedaan yang prinsipil kecuali menyangkut masalah imamah. Sementara kelompok Ahlussunnah menganggap bahwa masalah kepemimpinan diserahkan kepada umat melalui apa yang dinamakan syura (demokrasi), kelompok Syi’ah meyakini bahwa kepemimpinan adalah jabatan ilahiah. Allah telah memilih para imam sebagaimana Dia memilih Nabi. Allah memerintahkan kepada Nabi Saw untuk menunjuk dengan tegas Ali bin Abi Thalib sebagai washi (yang diwasiati), dilanjutkan oleh keturunannya secara turun temurun hingga yang terakhir (imam ke-12), yaitu al-Mahdi, yang diyakini juga kemunculannya kelak oleh kaum Sunni.

Para imam penerus risalah ini merupakan manusia-manusia pilihan yang kekuasaannya bersumber dari Allah Swt, melalui apa yang disampaikan Nabi Saw. Selain memiliki kekuasaan politik, mereka juga berperan sebagai pembimbing spiritual. Hal ini yang menyebabkan tidak dikenalnya pemisahan antara politik dan keagamaan di dunia Syi’ah. Politik adalah agama, agama adalah politik. Maka ketika sebagian orang menyebut bahwa Syi’ah lahir akibat persoalan politik, kaum Syi’ah menampiknya.

Bagi kaum Syi’ah, para imam memiliki kedudukan yang mulia, mereka adalah para pribadi yang memiliki kesucian jiwa. Mereka bersifat maksum (terpelihara dari dosa), seperti terpeliharanya Nabi dari dosa. Bedanya, para imam ini bukanlah Nabi yang mendapatkan wahyu, melainkan penerus risalah yang diangkat oleh Nabi saw setelah mendapat perintah dari Allah SWT. Karena risalah harus disampaikan secara utuh dan sempurna, maka para penyampainya tidak boleh mempunyai kelemahan (seperti keliru atau lupa). Karena itulah mereka dijaga dari dosa.

Jika konsep ‘ishmah (keterpeliharaan dari dosa) untuk Nabi diterima oleh sebagian besar kaum Sunni, maka konsep ‘ishmah bagi para imam ini ditolak, karena dipandang terlalu berlebihan memberikan atribut demikian. Namun bagaimanapun, menurut Syi’ah, kehadiran para imam ini adalah lutfh (karunia) Allah kepada manusia yang tidak berkesempatan menerima risalah langsung dari Nabi Saw.

Sebagaimana Ahlussunnah yang meyakini konsep kepemimpinannya, kaum Syi’ah pun meyakini bahwa pandangannya tentang konsep kepemimpinan didasarkan pada argumen –baik nash maupun akal– yang kuat. Sehingga sulit sekali untuk menggandengkan kedua pandangan yang berseberangan ini. Atau jika ingin dibenturkan, satu sama lain akan sulit saling menggoyahkan. Terlebih, imamah ini termasuk masalah yang prinsipil bagi kaum Syi’ah. Alih-alih dicapai kesepakatan, malah perselisihan yang muncul. Untuk itu, masing-masing pihak dituntut untuk saling memahami dan menghargai pendapat yang lainnya. Meminjam istilah Cak Nun, jangan paksa kambing meringkik dan jangan paksa kuda mengembik, biarlah kambing menjadi kambing dan kuda menjadi kuda. Biarlah Syi’ah tetap Syi’ah dan Sunni tetap Sunni.

Masalah lainnya yang disinggung dalam buku ini adalah, betapa banyak orang (non-Syi’ah) yang mensimplifikasi konsep-konsep ajaran Syi’ah, dengan mengangkat isu-isu yang sejak ratusan tahun lalu muncul. Misalnya, tentang Syi’ah yang mempunyai Qur’an yang berbeda, Syi’ah adalah agama yang dibentuk oleh orang Yahudi bernama Abdullah bin Saba’, Syi’ah menuhankan Ali, serta atribut sesat lainnya. Sebagaimana di tubuh Ahlussunnah, di Syi’ah pun dalam sejarah perkembangannya muncul kelompok-kelompok ghulat (ekstrim) yang keluar jalur, dimana para imam Syi’ah pun berlepas tangan bahkan mengutuk mereka. Kelompok Ahlussunnah dan Syi’ah masing-masing terbagi menjadi beberapa kelompok berikut cabang-cabangnya. Ketika ada beberapa kelompok di Ahlussunnah yang keluar jalur, tidak bisa dikatakan bahwa Ahlussunnah (seluruhnya) sesat. Begitu juga dengan Syi’ah.

Dalam buku ini, selebihnya dibahas perbedaan-perbedaan yang bersifat furu’ (rincian ajaran), sebagaimana ditemukan juga di antara keempat madzhab besar Ahlussunnah (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali). Selain itu, diulas juga secara rinci beberapa poin yang selama ini menjadi sumber tuduhan terhadap Syi’ah, diantaranya: pelaknatan kaum Syi’ah terhadap sahabat Nabi Saw, raj’ah, bada’, taqiyah sampai persoalan seputar ibadah ritual.

Di dalam buku yang ditulis oleh seorang cendekiawan yang paham tentang Syi’ah ini, dipaparkan secara umum bahwa persamaan antara Sunnah-Syi’ah lebih banyak ketimbang perbedaannya. Dan tentu saja keduanya masih bisa digandengkan dalam koridor persatuan. Dan inilah nampaknya tujuan penulisan buku ini. Agar kita umat muslim tidak dengan mudah terprovokasi oleh upaya-upaya keji para musuh Islam yang tidak suka melihat Islam bersatu. Stigma yang selama ini melekat pada Syi’ah tak lain karena kurangnya informasi yang diperoleh. Atau kalaupun ada, hanya bersifat sepihak saja.

Dalam memaparkan sebuah persoalan, penulis selalu mengutip pendapat ulama dari kedua sumber, yang dinukil dari kitab-kitab terpercaya dari keduanya. Sesekali penulis mengutarakan pandangan pribadinya, dimana ketika ada yang tidak disepakati, penulis mengemukakannya dengan bahasa yang santun (seperti yang kita baca di buku-buku Quraish Shihab sebelumnya).

Walhasil, mungkinkah Sunnah-Syiah bergandengan tangan? Tentu saja mungkin, bahkan harus. Terlebih Al-Qur’an sendiri mewajibkan setiap orang yang beragama dan berakal untuk menghindari perselisihan, seperti firman-Nya dalam QS. 3:103. Tentunya kita berharap, apapun madzhab yang kita anut, agar terhimpun di bawah panji tauhid yang dikibarkan junjungan kita, Nabi Muhammad Saw.

Ada hal menarik di bagian penutup buku ini yang ingin saya kutip. Quraish Shihab menulis:

“Ada prinsip, bagi penulis, dalam konteks persatuan umat melalui pendekatan antar mazhab, yaitu mencintai dan mengikuti Rasul Saw dan keluarga beliau, Ahlulbait, yang dilukiskan oleh Nabi Saw sebagai tidak akan berpisah dengan al-Qur’an hingga akhir zaman, sehingga tidak akan tersesat siapapun yang berpegang teguh dengan keduanya. Dalam konteks cinta dan mengikuti itulah penulis menjadikan Imam Ali ra, setelah Rasul Saw, sebagai sosok yang harus dicintai dan diteladani.”

Sama halnya dengan persatuan, perbedaan adalah suatu keniscayaan! Islam sangat menoleransi aneka perbedaan pendapat yang ada di kalangan pemeluknya. Penghargaan Islam terhadap perbedaan lahir dari keyakinan bahwa perbedaan bukanlah penghalang bagi terciptanya persatuan. Perbedaan tidak identik dengan perselisihan. Perbedaan baru menjadi persoalan serius jika disertai dengan fanatisme buta.

Fanatisme semacam inilah yang kerap memicu terjadinya perpecahan. Sunnah dan Syiah adalah dua aliran besar Islam yang lahir dari Islam yang satu. Sebagai dua saudara, masing-masing memiliki persamaan, juga perbedaan, dari mulai persoalan teologis sampai persoalan yang bersifat furuiyah (rincian ajaran). Perbedaan keduanya leibh sering kita dengar ketimbang persamaannya. Betulkah demikian, bahwa perbedaan antara Sunnah dan Syiah itu lebih besar daripada persamaannya sehingga mustahil untuk mendamaikannya? Buku ini mengkaji secara kritis konsep ajaran dan pemikiran antara Sunnah dan Syiah. Di dalamnya dikupas persoalan-persoalan krusial seperti:

* Rukun Iman dan Islam kedua aliran, Sunnah dan Syiah

* Imamah

* Sikap terhadap para sahabat Nabi Saw

* Rajâ’ah,

*  Badaâ

*  Taqiyah

*  Perbedaan dalam Furu’  (rincian ajaran)

Tidak sampai disitu, penulis buku ini, M. Quraish Shihab, juga menguak kemungkinan-kemungkinan yang bisa ditempuh untuk menggandengkan kedua saudara ini, Sunnah dan Syiah, ke dalam koridor persatuan, ISLAM. Mungkinkah? Jawabannya bisa Anda dapatkan setelah membaca buku ini!

SERU juga menyaksikan adu argumentasi di bedah buku Sunnah – Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah? karya Prof Dr Quraish Shihab yang digelar di Pusat Kegiatan Penelitian (PKP) Unhas, tanggal 26/10/2008). bagaimana Quraish Shihab membedah ayat-ayat secara mengagumkan. Ia diserang habis-habisan dengan banyak kutipan ayat, namun ia juga tangkas menjawab dengan kutipan ayat pula. Sangat terlihat kalau ia sangat menguasai apa yang sedang dibahas.

Jika di televisi ia banyak mengupas tafsir kitab-kitab, maka dalam seminar di Unhas, ia membedah bukunya sendiri yang membahas satu isu sensitif dalam Islam dan tekah membelah umat dalam dua kubu besar dalam sejarah. Ia membahas upaya menyatukan dua aliran yakni Sunni dan Syi’ah. Ini memang satu topik yang cukup sensitif sebab sejarah peradaban Islam adalah sejarah konflik yang penuh dengan peperangan dan bersimbah darah. Generasi hari ini mewarisi konflik yang sudah berurat akar sejak masa silam.

Ia menawarkan dialog dan hendak menunjukkan bahwa masing-masing aliran punya kebenaran dan kesalahannya sendiri-sendiri. Ia membahas bagaimana pahaman sejarah telah mengkonstruksi umat ke dalam dua bahagian besar. Mestinya, kita lebih arif dalam melihat sejarah. Kita mesti bisa memeras kebenaran dan kearifan dari kanvas sejarah, dan bukannya terjebak pada fanatisme buta. Sebab melalui kebenaran dan kesalahan itu, kita bisa saling belajar menghormati dan mengapresiasi satu sama lain.

Ia menentang pengkotak-kotakan berpikir. Ia agak heran karena ketika mengkritik prilaku sahabat Rasul, tiba-tiba saja ia dicap sebagai syi’ah. Padahal, semua yang disampaikannya sudah pernah dikemukakan para ulama-ulama besar sunni di masa silam. Ketika sejumlah kolega melarangnya menerbitkan buku itu karena dicap syi’ah, ia menampiknya.

Kata Quraish, ia sudah mencapai semua puncak impiannya baik di karier akademik, maupun rezekinya yang lancar. Olehnya itu, tanpa pretensi apa-apa, ia ingin menunjukkan kebenaran kepada banyak orang. Ia tidak peduli apakah akan dikafirkan atau tidak. “Tak ada yang saya cemaskan menyangkut dunia. Amanah ilmiah menuntut saya agar menyampaikan apa yang diyakini. Saya khawatir, jangan sampai sikap diam diyakini Allah sebagai menyembunyikan kebenaran,“ katanya.

Dalam penjelasannya, saya bisa menangkap kesungguhannya. Ia juga menolak pada anggapan banyak orang tentang kesesatan syi’ah. Untuk itu, ia banyak mengutip ayat-ayat atau kitab yang menunjukkan bagaimana ulama-ulama besar dari dua aliran ini saling mengutip.

“Mestinya dua aliran besar ini bisa saling berdialog. Kita saling belajar sebagaimana pernah dilakukan para ulama terdahulu.“

Pendapat ini bukannya tanpa kritik. Ketika sesi dialog dimulai, bertubi-tubi pertanyaan ditujukan kepadanya. Namun, sebagaimana gayanya yang khas, ia bisa menjawab semua pertanyaan itu dengan jawaban yang cerdas. Bahkan, terhadap pernyataan seorang penanya yang menyatakan bahwa ajaran syi’ah tidak dibahas di Universitas Al Azhar, ia menentangnya habis-habisan. “Saya tantang berdebat siapapun yang menyatakan itu. Saya sejak SMP sudah belajar di Al Azhar, sampai jadi doktor. Saya belajar tentang semua mazhab dalam Islam di Al Azhar. Tidak cuma sunni saja, melainkan ada delapan mazhab yang saya pelajari di kampus,“ katanya yang disambut dengan tepuk tangan.

Di tengah banjir pertanyaan itu, ia mengatakan, “Masalah besar umat Islam sekarang ini adalah masalah kebodohan. Banyak yang sok pintar dan mengkafirkan yang lain. Padahal itu pandangan yang salah,“ katanya.

Saya menikmati diskusi ini. Saya rasa akan sulit mendebat seorang profesor bidang hadis yang sudah menulis banyak buku tentang tafsir. Mendebat Quraish tentang hadis adalah mengajaknya berduel di sebuah arena yang amat dihapalnya. Ia menghabiskan hidupnya untuk menelaah kitab-kitab sehingga pengetahuannya membukit. Makanya, saya tak mau ikut-ikutan latah. Saya lebih memilih belajar kearifan darinya, belajar pada keikhlasannya untuk menyampaikan kebenaran, apapun resikonya.(*)

Buku ini disajikan dengan sistematis, uraian-uraiannya dilakukan secara bertahap dan penuh kehati-hatian. Didahului dengan pendahuluan yang memikat, tentang penekanan-penekanan yang diberikan penulis agar buku ini dapat dipahami dengan lebih baik.

Lalu dilanjutkan dengan pembahasan penulis tentang niscayanya perbedaan dan keharusan mewujudkan persatuan. Perbedaan, menurutnya, bahkan sudah terjadi di masa Rasulullah masih hidup. Namun, perbedaan ini tidak menjadi masalah yang meruncing karena selalu bisa diselesaikan dengan baik oleh Rasulullah. Setelah masa Rasulullah, tepatnya pada masa kekhalifahan Usman bin Affan perbedaan ini menjadi cikal bakal perpecahan Islam, sampai sekarang.

Untuk meletakkan dasar bagi upaya menjembatani Syiah dan Sunni, Quraish Shihab memberikan definisi yang baik tentang Sunni dan Syiah, lalu menguraikan golongan-golongan Syiah yang ada sekarang. Di buku ini, ajaran dan pemikiran Syiah di tahbiskan pada dua golongan Syiah terbesar saat ini, Syiah Zaidiyah dan Syiah Imamiyah. Setelah dasarnya kuat, dimulailah uraian-uraian mengenai perbandingan ajaran dan pemikiran Syiah dengan Sunni. Perbandingan ini dimulai dari tauhid, imamah, Al Quran, sampai pada soal-soal furu’ (cabang/rincian ajaran agama).

Lalu buku ini diakhiri dengan upaya-upaya yang telah dilakukan oleh ulama dari kedua belah pihak untuk menggandengkan Syiah dan Sunni. Kemudian buku ini ditutup dengan kutipan dari Syaikh Sa’id Ramadhan al-Buthi – seorang ulama Sunni terkemuka dari Suriah – dalam Mahrazan al-Imam Ali, tentang pujian dan pernyataan kecintaan serta kekagumannya terhadap Imam Ali.

Buku ini disajikan secara berimbang, pendapat ulama Sunni disandingkan dengan pendapat lainnya dari ulama Syiah. Sehingga pembaca dapat membandingkan dengan baik perbedaan pendapat kedua kubu dan menerima perbedaan ini.

Oleh karena itu setelah membaca buku Quraish Shihab saya sangat bersimpati kepada beliau, yang dengan tulus berusaha menunjukkan seobjektif mungkin dan tidak terpengaruh dengan Syiahpobhia Kelas Berat

Isi  Buku Prof. Dr. Quraish Shihab :

1. Abdullah  bin  Saba’  Tidak  Ada  Kaitannya  Dengan  Syiah

QS: ”Ia adalah tokoh fiktif yang diciptakan para anti-Syiah. Ia (Abdullah bin Saba’) adalah sosok yang tidak pernah wujud dalam kenyataan. Thaha Husain – ilmuwan kenamaan Mesir – adalah salah seorang yang menegaskan ketiadaan Ibnu Saba’ itu dan bahwa ia adalah hasil rekayasa musuh-musuh Syiah.” (hal. 65).

2. Kedudukan Abu Hurairah RA

QS: ”Karena itu, harus diakui bahwa semakin banyak riwayat yang disampaikan seseorang, semakin besar potensi kesalahannya dan karena itu pula kehati-hatian menerima riwayat-riwayat dari Abu Hurairah merupakan satu keharusan. Disamping itu semua, harus diakui juga bahwa tingkat kecerdasan dan kemampuan ilmiah, demikian juga pengenalan Abu Hurairah r.a. menyangkut Nabi saw berada di bawah kemampuan sahabat-sahabat besar Nabi saw, atau istri Nabi, Aisyah r.a.” (hal. 160).

3. Imam Bukhari  tidak meriwayatkan satu hadits pun dari Ja’far ash-Shadiq

QS: “Ulama-ulama Syiah juga berkecil hati karena pakar hadits Ahlusunnah tidak meriwayatkan dari imam-imam mereka.. Imam Bukhari, misalnya, tidak meriwayatkan satu hadits pun dari Ja’far ash-Shadiq, Imam ke-6 Syiah Imamiyah, padahal hadis – hadisnya cukup banyak diriwayatkan oleh kelompok Syiah.” (hal. 150).

bagaimana Quraish Shihab membedah ayat-ayat secara mengagumkan. Ia diserang habis-habisan dengan banyak kutipan ayat, namun ia juga tangkas menjawab dengan kutipan ayat pula. Sangat terlihat kalau ia sangat menguasai apa yang sedang dibahas.

Jika di televisi ia banyak mengupas tafsir kitab-kitab, maka dalam seminar di Unhas, ia membedah bukunya sendiri yang membahas satu isu sensitif dalam Islam dan tekah membelah umat dalam dua kubu besar dalam sejarah. Ia membahas upaya menyatukan dua aliran yakni Sunni dan Syi’ah. Ini memang satu topik yang cukup sensitif sebab sejarah peradaban Islam adalah sejarah konflik yang penuh dengan peperangan dan bersimbah darah. Generasi hari ini mewarisi konflik yang sudah berurat akar sejak masa silam
.
Yang menarik karena Quraish Shihab adalah seorang sunni. Namun ke-sunni-an itu tidak menghalangi pandangannya untuk meneropong isu Islam secara proporsional. Ia tidak mau mengkafirkan para penganut syi’ah. Ia menawarkan dialog dan hendak menunjukkan bahwa masing-masing aliran punya kebenaran dan kesalahannya sendiri-sendiri. Ia membahas bagaimana pahaman sejarah telah mengkonstruksi umat ke dalam dua bahagian besar. Mestinya, kita lebih arif dalam melihat sejarah. Kita mesti bisa memeras kebenaran dan kearifan dari kanvas sejarah, dan bukannya terjebak pada fanatisme buta. Sebab melalui kebenaran dan kesalahan itu, kita bisa saling belajar menghormati dan mengapresiasi satu sama lain
.
Ia menentang pengkotak-kotakan berpikir. Ia agak heran karena ketika mengkritik prilaku sahabat Rasul, tiba-tiba saja ia dicap sebagai syi’ah. Padahal, semua yang disampaikannya sudah pernah dikemukakan para ulama-ulama besar sunni di masa silam. Ketika sejumlah kolega melarangnya menerbitkan buku itu karena dicap syi’ah, ia menampiknya. Kata Quraish, ia sudah mencapai semua puncak impiannya baik di karier akademik, maupun rezekinya yang lancar. Olehnya itu, tanpa pretensi apa-apa, ia ingin menunjukkan kebenaran kepada banyak orang. Ia tidak peduli apakah akan dikafirkan atau tidak. “Tak ada yang saya cemaskan menyangkut dunia. Amanah ilmiah menuntut saya agar menyampaikan apa yang diyakini. Saya khawatir, jangan sampai sikap diam diyakini Allah sebagai menyembunyikan kebenaran,“ katanya
.
Dalam penjelasannya, saya bisa menangkap kesungguhannya. Ia tetap sunni yang mencintai keluarga Rasul dan juga bersikap kritis pada masa silam. Ia menolak disebut syi’ah, sebab ia adalah penganut sunni. Tetapi ia juga menolak pada anggapan banyak orang tentang kesesatan syi’ah. Untuk itu, ia banyak mengutip ayat-ayat atau kitab yang menunjukkan bagaimana ulama-ulama besar dari dua aliran ini saling mengutip. “Mestinya dua aliran besar ini bisa saling berdialog. Kita saling belajar sebagaimana pernah dilakukan para ulama terdahulu.“
.
Sayangnya, kata Quraish, banyak di antara umat yang terjebak pada sikap yang picik, tanpa wawasan akal yang memadai. Tanpa menelaah kitab-kitab secara benar, banyak yang merasa dirinya paling benar dan tiba-tiba saja mengkafirkan yang lain. Ia tidak menampik fakta banyak ulama masa silam yang juga terjebak kebodohan, sehingga mempengaruhi umat di masa kini. Makanya, sikap kritis mesti diperlukan untuk menelaah kembali semua pemikiran di masa silam demi menemukan titik-titik kesamaan di masa kini.
“Kalau kita mau cari perbedaan supaya kita konflik, akan banyak sekali ditemukan. Namun, apa tujuannya kita berkonflik? Kita semakin membatasi diri kita. Lebih baik kita mencari titik kesamaan supaya kita bersatu sebagai sesama umat Islam,“ katanya
.
Pendapat ini bukannya tanpa kritik. Ketika sesi dialog dimulai, bertubi-tubi pertanyaan ditujukan kepadanya. Namun, sebagaimana gayanya yang khas, ia bisa menjawab semua pertanyaan itu dengan jawaban yang cerdas. Bahkan, terhadap pernyataan seorang penanya yang menyatakan bahwa ajaran syi’ah tidak dibahas di Universitas Al Azhar, ia menentangnya habis-habisan. “Saya tantang berdebat siapapun yang menyatakan itu. Saya sejak SMP sudah belajar di Al Azhar, sampai jadi doktor. Saya belajar tentang semua mazhab dalam Islam di Al Azhar. Tidak cuma sunni saja, melainkan ada delapan mazhab yang saya pelajari di kampus,“ katanya yang disambut dengan tepuk tangan.

Di tengah banjir pertanyaan itu, ia mengatakan, “Masalah besar umat Islam sekarang ini adalah masalah kebodohan. Banyak yang sok pintar dan mengkafirkan yang lain. Padahal itu pandangan yang salah,“ katanya.

Penulis : M. Quraish Shihab
Penerbit : Lentera Hati

Descriptions

Judul: Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?
Penulis: M. Quraish Shihab
Penerbit: Lentera Hati
Halaman: 303
Cetakan: I, Maret 2007

Sebagaimana persamaan, perbedaan adalah sebuah keniscayaan yang tidak dapat dipungkiri dalam kehidupan manusia. Sekecil apapun sebuah komunitas tempat kita bernaung, niscaya akan selalu ditemukan adanya perbedaan. Namun, sebagai manusia berakal, kita dituntut arif dalam menyikapinya. Sikap positif menghadapi perbedaan ini justru akan membawa hasil yang positif pula. Dan sikap positif yang demikian hanya dimiliki oleh seseorang yang luas wawasannya. Semakin luas wawasan seseorang, akan semakin tinggi pula toleransinya, dengan kata lain ia akan semakin arif dalam menyikapi segala perbedaan. Sebaliknya, sempitnya pengetahuan menjadikan seseorang terjebak dalam fanatisme buta, sehingga kerap menggiring perbedaan menuju perselisihan. Inilah sesungguhnya yang terjadi pada orang-orang yang cepat sekali termakan hasutan –karena piciknya pandangan– ketika dihadapkan pada perbedaan madzhab dalam kehidupan keberagamaannya, termasuk di negeri kita sendiri.

Dalam konteks ikhtilaf Sunnah-Syi’ah –yang belakangan marak kita dengar terkait isu pertikaian antara keduanya akibat hembusan fitnah para musuh Islam–, tak diragukan, Prof. DR. M. Quraish Shihab adalah seorang penulis yang paham betul bagaimana mempertemukan titik-titik perbedaan antara keduanya. Dengan membawa semangat persatuan serta at-taqrib baina al-madzahib (pendekatan antar madzhab), penulis sepertinya mengingatkan bahwa pada hakikatnya semua umat Islam mendambakan mengikuti Nabi Muhammad Saw. Namun, sulitnya memperoleh petunjuk yang pasti –menyangkut masalah yang diperselisihkan itu– acapkali menimbulkan interpretasi yang berbeda terhadap sebuah sumber hukum. Sebagaimana yang selalu ditanamkan guru-gurunya di Universitas al-Azhar Mesir (tempat penulis mengenyam pendidikan), penulis menyadari bahwa di antara madzhab yang berbeda pendapat itu, tidak ada satupun yang berhak menjadi juru bicara resmi yang memonopoli kebenaran atas nama Islam seraya memvonis yang lain bathil dan sesat, padahal masih berada dalam koridor Islam.

Diantara Sunnah-Syiah –dalam hal ini Syi’ah Imamiyah Itsna ‘Asyariyah sebagai kelompok mayoritas–, sesungguhnya tidak banyak ditemukan perbedaan yang prinsipil kecuali menyangkut masalah imamah. Sementara kelompok Ahlussunnah menganggap bahwa masalah kepemimpinan diserahkan kepada umat melalui apa yang dinamakan syura (demokrasi), kelompok Syi’ah meyakini bahwa kepemimpinan adalah jabatan ilahiah. Allah telah memilih para imam sebagaimana Dia memilih Nabi. Allah memerintahkan kepada Nabi Saw untuk menunjuk dengan tegas Ali bin Abi Thalib sebagai washi (yang diwasiati), dilanjutkan oleh keturunannya secara turun temurun hingga yang terakhir (imam ke-12), yaitu al-Mahdi, yang diyakini juga kemunculannya kelak oleh kaum Sunni.

Para imam penerus risalah ini merupakan manusia-manusia pilihan yang kekuasaannya bersumber dari Allah Swt, melalui apa yang disampaikan Nabi Saw. Selain memiliki kekuasaan politik, mereka juga berperan sebagai pembimbing spiritual. Hal ini yang menyebabkan tidak dikenalnya pemisahan antara politik dan keagamaan di dunia Syi’ah. Politik adalah agama, agama adalah politik. Maka ketika sebagian orang menyebut bahwa Syi’ah lahir akibat persoalan politik, kaum Syi’ah menampiknya.

Bagi kaum Syi’ah, para imam memiliki kedudukan yang mulia, mereka adalah para pribadi yang memiliki kesucian jiwa. Mereka bersifat maksum (terpelihara dari dosa), seperti terpeliharanya Nabi dari dosa. Bedanya, para imam ini bukanlah Nabi yang mendapatkan wahyu, melainkan penerus risalah yang diangkat oleh Nabi saw setelah mendapat perintah dari Allah SWT. Karena risalah harus disampaikan secara utuh dan sempurna, maka para penyampainya tidak boleh mempunyai kelemahan (seperti keliru atau lupa). Karena itulah mereka dijaga dari dosa.

Jika konsep ‘ishmah (keterpeliharaan dari dosa) untuk Nabi diterima oleh sebagian besar kaum Sunni, maka konsep ‘ishmah bagi para imam ini ditolak, karena dipandang terlalu berlebihan memberikan atribut demikian. Namun bagaimanapun, menurut Syi’ah, kehadiran para imam ini adalah lutfh (karunia) Allah kepada manusia yang tidak berkesempatan menerima risalah langsung dari Nabi Saw.

Sebagaimana Ahlussunnah yang meyakini konsep kepemimpinannya, kaum Syi’ah pun meyakini bahwa pandangannya tentang konsep kepemimpinan didasarkan pada argumen –baik nash maupun akal– yang kuat. Sehingga sulit sekali untuk menggandengkan kedua pandangan yang berseberangan ini. Atau jika ingin dibenturkan, satu sama lain akan sulit saling menggoyahkan. Terlebih, imamah ini termasuk masalah yang prinsipil bagi kaum Syi’ah. Alih-alih dicapai kesepakatan, malah perselisihan yang muncul. Untuk itu, masing-masing pihak dituntut untuk saling memahami dan menghargai pendapat yang lainnya. Meminjam istilah Cak Nun, jangan paksa kambing meringkik dan jangan paksa kuda mengembik, biarlah kambing menjadi kambing dan kuda menjadi kuda. Biarlah Syi’ah tetap Syi’ah dan Sunni tetap Sunni.

Masalah lainnya yang disinggung dalam buku ini adalah, betapa banyak orang (non-Syi’ah) yang mensimplifikasi konsep-konsep ajaran Syi’ah, dengan mengangkat isu-isu yang sejak ratusan tahun lalu muncul. Misalnya, tentang Syi’ah yang mempunyai Qur’an yang berbeda, Syi’ah adalah agama yang dibentuk oleh orang Yahudi bernama Abdullah bin Saba’, Syi’ah menuhankan Ali, serta atribut sesat lainnya. Sebagaimana di tubuh Ahlussunnah, di Syi’ah pun dalam sejarah perkembangannya muncul kelompok-kelompok ghulat (ekstrim) yang keluar jalur, dimana para imam Syi’ah pun berlepas tangan bahkan mengutuk mereka. Kelompok Ahlussunnah dan Syi’ah masing-masing terbagi menjadi beberapa kelompok berikut cabang-cabangnya. Ketika ada beberapa kelompok di Ahlussunnah yang keluar jalur, tidak bisa dikatakan bahwa Ahlussunnah (seluruhnya) sesat. Begitu juga dengan Syi’ah.

Dalam buku ini, selebihnya dibahas perbedaan-perbedaan yang bersifat furu’ (rincian ajaran), sebagaimana ditemukan juga di antara keempat madzhab besar Ahlussunnah (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali). Selain itu, diulas juga secara rinci beberapa poin yang selama ini menjadi sumber tuduhan terhadap Syi’ah, diantaranya: pelaknatan kaum Syi’ah terhadap sahabat Nabi Saw, raj’ah, bada’, taqiyah sampai persoalan seputar ibadah ritual.

Di dalam buku yang ditulis oleh seorang cendekiawan yang paham tentang Syi’ah ini, dipaparkan secara umum bahwa persamaan antara Sunnah-Syi’ah lebih banyak ketimbang perbedaannya. Dan tentu saja keduanya masih bisa digandengkan dalam koridor persatuan. Dan inilah nampaknya tujuan penulisan buku ini. Agar kita umat muslim tidak dengan mudah terprovokasi oleh upaya-upaya keji para musuh Islam yang tidak suka melihat Islam bersatu. Stigma yang selama ini melekat pada Syi’ah tak lain karena kurangnya informasi yang diperoleh. Atau kalaupun ada, hanya bersifat sepihak saja.

Dalam memaparkan sebuah persoalan, penulis selalu mengutip pendapat ulama dari kedua sumber, yang dinukil dari kitab-kitab terpercaya dari keduanya. Sesekali penulis mengutarakan pandangan pribadinya, dimana ketika ada yang tidak disepakati, penulis mengemukakannya dengan bahasa yang santun (seperti yang kita baca di buku-buku Quraish Shihab sebelumnya).

Walhasil, mungkinkah Sunnah-Syiah bergandengan tangan? Tentu saja mungkin, bahkan harus. Terlebih Al-Qur’an sendiri mewajibkan setiap orang yang beragama dan berakal untuk menghindari perselisihan, seperti firman-Nya dalam QS. 3:103. Tentunya kita berharap, apapun madzhab yang kita anut, agar terhimpun di bawah panji tauhid yang dikibarkan junjungan kita, Nabi Muhammad Saw.

Ada hal menarik di bagian penutup buku ini yang ingin saya kutip. Quraish Shihab menulis:

“Ada prinsip, bagi penulis, dalam konteks persatuan umat melalui pendekatan antar mazhab, yaitu mencintai dan mengikuti Rasul Saw dan keluarga beliau, Ahlulbait, yang dilukiskan oleh Nabi Saw sebagai tidak akan berpisah dengan al-Qur’an hingga akhir zaman, sehingga tidak akan tersesat siapapun yang berpegang teguh dengan keduanya. Dalam konteks cinta dan mengikuti itulah penulis menjadikan Imam Ali ra, setelah Rasul Saw, sebagai sosok yang harus dicintai dan diteladani.”

Sama halnya dengan persatuan, perbedaan adalah suatu keniscayaan! Islam sangat menoleransi aneka perbedaan pendapat yang ada di kalangan pemeluknya. Penghargaan Islam terhadap perbedaan lahir dari keyakinan bahwa perbedaan bukanlah penghalang bagi terciptanya persatuan. Perbedaan tidak identik dengan perselisihan. Perbedaan baru menjadi persoalan serius jika disertai dengan fanatisme buta.

Fanatisme semacam inilah yang kerap memicu terjadinya perpecahan. Sunnah dan Syiah adalah dua aliran besar Islam yang lahir dari Islam yang satu. Sebagai dua saudara, masing-masing memiliki persamaan, juga perbedaan, dari mulai persoalan teologis sampai persoalan yang bersifat furuiyah (rincian ajaran). Perbedaan keduanya leibh sering kita dengar ketimbang persamaannya. Betulkah demikian, bahwa perbedaan antara Sunnah dan Syiah itu lebih besar daripada persamaannya sehingga mustahil untuk mendamaikannya? Buku ini mengkaji secara kritis konsep ajaran dan pemikiran antara Sunnah dan Syiah. Di dalamnya dikupas persoalan-persoalan krusial seperti:

* Rukun Iman dan Islam kedua aliran, Sunnah dan Syiah

* Imamah

* Sikap terhadap para sahabat Nabi Saw

* Rajâ’ah,

*  Badaâ

*  Taqiyah

*  Perbedaan dalam Furu’  (rincian ajaran)

Tidak sampai disitu, penulis buku ini, M. Quraish Shihab, juga menguak kemungkinan-kemungkinan yang bisa ditempuh untuk menggandengkan kedua saudara ini, Sunnah dan Syiah, ke dalam koridor persatuan, ISLAM. Mungkinkah? Jawabannya bisa Anda dapatkan setelah membaca buku ini!

SERU juga menyaksikan adu argumentasi di bedah buku Sunnah – Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah? karya Prof Dr Quraish Shihab yang digelar di Pusat Kegiatan Penelitian (PKP) Unhas, tanggal 26/10/2008). bagaimana Quraish Shihab membedah ayat-ayat secara mengagumkan. Ia diserang habis-habisan dengan banyak kutipan ayat, namun ia juga tangkas menjawab dengan kutipan ayat pula. Sangat terlihat kalau ia sangat menguasai apa yang sedang dibahas.

Jika di televisi ia banyak mengupas tafsir kitab-kitab, maka dalam seminar di Unhas, ia membedah bukunya sendiri yang membahas satu isu sensitif dalam Islam dan tekah membelah umat dalam dua kubu besar dalam sejarah. Ia membahas upaya menyatukan dua aliran yakni Sunni dan Syi’ah. Ini memang satu topik yang cukup sensitif sebab sejarah peradaban Islam adalah sejarah konflik yang penuh dengan peperangan dan bersimbah darah. Generasi hari ini mewarisi konflik yang sudah berurat akar sejak masa silam.

Ia menawarkan dialog dan hendak menunjukkan bahwa masing-masing aliran punya kebenaran dan kesalahannya sendiri-sendiri. Ia membahas bagaimana pahaman sejarah telah mengkonstruksi umat ke dalam dua bahagian besar. Mestinya, kita lebih arif dalam melihat sejarah. Kita mesti bisa memeras kebenaran dan kearifan dari kanvas sejarah, dan bukannya terjebak pada fanatisme buta. Sebab melalui kebenaran dan kesalahan itu, kita bisa saling belajar menghormati dan mengapresiasi satu sama lain.

Ia menentang pengkotak-kotakan berpikir. Ia agak heran karena ketika mengkritik prilaku sahabat Rasul, tiba-tiba saja ia dicap sebagai syi’ah. Padahal, semua yang disampaikannya sudah pernah dikemukakan para ulama-ulama besar sunni di masa silam. Ketika sejumlah kolega melarangnya menerbitkan buku itu karena dicap syi’ah, ia menampiknya.

Kata Quraish, ia sudah mencapai semua puncak impiannya baik di karier akademik, maupun rezekinya yang lancar. Olehnya itu, tanpa pretensi apa-apa, ia ingin menunjukkan kebenaran kepada banyak orang. Ia tidak peduli apakah akan dikafirkan atau tidak. “Tak ada yang saya cemaskan menyangkut dunia. Amanah ilmiah menuntut saya agar menyampaikan apa yang diyakini. Saya khawatir, jangan sampai sikap diam diyakini Allah sebagai menyembunyikan kebenaran,“ katanya.

Dalam penjelasannya, saya bisa menangkap kesungguhannya. Ia juga menolak pada anggapan banyak orang tentang kesesatan syi’ah. Untuk itu, ia banyak mengutip ayat-ayat atau kitab yang menunjukkan bagaimana ulama-ulama besar dari dua aliran ini saling mengutip.

“Mestinya dua aliran besar ini bisa saling berdialog. Kita saling belajar sebagaimana pernah dilakukan para ulama terdahulu.“

Pendapat ini bukannya tanpa kritik. Ketika sesi dialog dimulai, bertubi-tubi pertanyaan ditujukan kepadanya. Namun, sebagaimana gayanya yang khas, ia bisa menjawab semua pertanyaan itu dengan jawaban yang cerdas. Bahkan, terhadap pernyataan seorang penanya yang menyatakan bahwa ajaran syi’ah tidak dibahas di Universitas Al Azhar, ia menentangnya habis-habisan. “Saya tantang berdebat siapapun yang menyatakan itu. Saya sejak SMP sudah belajar di Al Azhar, sampai jadi doktor. Saya belajar tentang semua mazhab dalam Islam di Al Azhar. Tidak cuma sunni saja, melainkan ada delapan mazhab yang saya pelajari di kampus,“ katanya yang disambut dengan tepuk tangan.

Di tengah banjir pertanyaan itu, ia mengatakan, “Masalah besar umat Islam sekarang ini adalah masalah kebodohan. Banyak yang sok pintar dan mengkafirkan yang lain. Padahal itu pandangan yang salah,“ katanya.

Saya menikmati diskusi ini. Saya rasa akan sulit mendebat seorang profesor bidang hadis yang sudah menulis banyak buku tentang tafsir. Mendebat Quraish tentang hadis adalah mengajaknya berduel di sebuah arena yang amat dihapalnya. Ia menghabiskan hidupnya untuk menelaah kitab-kitab sehingga pengetahuannya membukit. Makanya, saya tak mau ikut-ikutan latah. Saya lebih memilih belajar kearifan darinya, belajar pada keikhlasannya untuk menyampaikan kebenaran, apapun resikonya.(*)

Buku ini disajikan dengan sistematis, uraian-uraiannya dilakukan secara bertahap dan penuh kehati-hatian. Didahului dengan pendahuluan yang memikat, tentang penekanan-penekanan yang diberikan penulis agar buku ini dapat dipahami dengan lebih baik.

Lalu dilanjutkan dengan pembahasan penulis tentang niscayanya perbedaan dan keharusan mewujudkan persatuan. Perbedaan, menurutnya, bahkan sudah terjadi di masa Rasulullah masih hidup. Namun, perbedaan ini tidak menjadi masalah yang meruncing karena selalu bisa diselesaikan dengan baik oleh Rasulullah. Setelah masa Rasulullah, tepatnya pada masa kekhalifahan Usman bin Affan perbedaan ini menjadi cikal bakal perpecahan Islam, sampai sekarang.

Untuk meletakkan dasar bagi upaya menjembatani Syiah dan Sunni, Quraish Shihab memberikan definisi yang baik tentang Sunni dan Syiah, lalu menguraikan golongan-golongan Syiah yang ada sekarang. Di buku ini, ajaran dan pemikiran Syiah di tahbiskan pada dua golongan Syiah terbesar saat ini, Syiah Zaidiyah dan Syiah Imamiyah. Setelah dasarnya kuat, dimulailah uraian-uraian mengenai perbandingan ajaran dan pemikiran Syiah dengan Sunni. Perbandingan ini dimulai dari tauhid, imamah, Al Quran, sampai pada soal-soal furu’ (cabang/rincian ajaran agama).

Lalu buku ini diakhiri dengan upaya-upaya yang telah dilakukan oleh ulama dari kedua belah pihak untuk menggandengkan Syiah dan Sunni. Kemudian buku ini ditutup dengan kutipan dari Syaikh Sa’id Ramadhan al-Buthi – seorang ulama Sunni terkemuka dari Suriah – dalam Mahrazan al-Imam Ali, tentang pujian dan pernyataan kecintaan serta kekagumannya terhadap Imam Ali.

Buku ini disajikan secara berimbang, pendapat ulama Sunni disandingkan dengan pendapat lainnya dari ulama Syiah. Sehingga pembaca dapat membandingkan dengan baik perbedaan pendapat kedua kubu dan menerima perbedaan ini.

Oleh karena itu setelah membaca buku Quraish Shihab saya sangat bersimpati kepada beliau, yang dengan tulus berusaha menunjukkan seobjektif mungkin dan tidak terpengaruh dengan Syiahpobhia Kelas Berat

Isi  Buku Prof. Dr. Quraish Shihab :

1. Abdullah  bin  Saba’  Tidak  Ada  Kaitannya  Dengan  Syiah

QS: ”Ia adalah tokoh fiktif yang diciptakan para anti-Syiah. Ia (Abdullah bin Saba’) adalah sosok yang tidak pernah wujud dalam kenyataan. Thaha Husain – ilmuwan kenamaan Mesir – adalah salah seorang yang menegaskan ketiadaan Ibnu Saba’ itu dan bahwa ia adalah hasil rekayasa musuh-musuh Syiah.” (hal. 65).

2. Kedudukan Abu Hurairah RA

QS: ”Karena itu, harus diakui bahwa semakin banyak riwayat yang disampaikan seseorang, semakin besar potensi kesalahannya dan karena itu pula kehati-hatian menerima riwayat-riwayat dari Abu Hurairah merupakan satu keharusan. Disamping itu semua, harus diakui juga bahwa tingkat kecerdasan dan kemampuan ilmiah, demikian juga pengenalan Abu Hurairah r.a. menyangkut Nabi saw berada di bawah kemampuan sahabat-sahabat besar Nabi saw, atau istri Nabi, Aisyah r.a.” (hal. 160).

3. Imam Bukhari  tidak meriwayatkan satu hadits pun dari Ja’far ash-Shadiq

QS: “Ulama-ulama Syiah juga berkecil hati karena pakar hadits Ahlusunnah tidak meriwayatkan dari imam-imam mereka.. Imam Bukhari, misalnya, tidak meriwayatkan satu hadits pun dari Ja’far ash-Shadiq, Imam ke-6 Syiah Imamiyah, padahal hadis – hadisnya cukup banyak diriwayatkan oleh kelompok Syiah.” (hal. 150).

bagaimana Quraish Shihab membedah ayat-ayat secara mengagumkan. Ia diserang habis-habisan dengan banyak kutipan ayat, namun ia juga tangkas menjawab dengan kutipan ayat pula. Sangat terlihat kalau ia sangat menguasai apa yang sedang dibahas.

Jika di televisi ia banyak mengupas tafsir kitab-kitab, maka dalam seminar di Unhas, ia membedah bukunya sendiri yang membahas satu isu sensitif dalam Islam dan tekah membelah umat dalam dua kubu besar dalam sejarah. Ia membahas upaya menyatukan dua aliran yakni Sunni dan Syi’ah. Ini memang satu topik yang cukup sensitif sebab sejarah peradaban Islam adalah sejarah konflik yang penuh dengan peperangan dan bersimbah darah. Generasi hari ini mewarisi konflik yang sudah berurat akar sejak masa silam
.
Yang menarik karena Quraish Shihab adalah seorang sunni. Namun ke-sunni-an itu tidak menghalangi pandangannya untuk meneropong isu Islam secara proporsional. Ia tidak mau mengkafirkan para penganut syi’ah. Ia menawarkan dialog dan hendak menunjukkan bahwa masing-masing aliran punya kebenaran dan kesalahannya sendiri-sendiri. Ia membahas bagaimana pahaman sejarah telah mengkonstruksi umat ke dalam dua bahagian besar. Mestinya, kita lebih arif dalam melihat sejarah. Kita mesti bisa memeras kebenaran dan kearifan dari kanvas sejarah, dan bukannya terjebak pada fanatisme buta. Sebab melalui kebenaran dan kesalahan itu, kita bisa saling belajar menghormati dan mengapresiasi satu sama lain
.
Ia menentang pengkotak-kotakan berpikir. Ia agak heran karena ketika mengkritik prilaku sahabat Rasul, tiba-tiba saja ia dicap sebagai syi’ah. Padahal, semua yang disampaikannya sudah pernah dikemukakan para ulama-ulama besar sunni di masa silam. Ketika sejumlah kolega melarangnya menerbitkan buku itu karena dicap syi’ah, ia menampiknya. Kata Quraish, ia sudah mencapai semua puncak impiannya baik di karier akademik, maupun rezekinya yang lancar. Olehnya itu, tanpa pretensi apa-apa, ia ingin menunjukkan kebenaran kepada banyak orang. Ia tidak peduli apakah akan dikafirkan atau tidak. “Tak ada yang saya cemaskan menyangkut dunia. Amanah ilmiah menuntut saya agar menyampaikan apa yang diyakini. Saya khawatir, jangan sampai sikap diam diyakini Allah sebagai menyembunyikan kebenaran,“ katanya
.
Dalam penjelasannya, saya bisa menangkap kesungguhannya. Ia tetap sunni yang mencintai keluarga Rasul dan juga bersikap kritis pada masa silam. Ia menolak disebut syi’ah, sebab ia adalah penganut sunni. Tetapi ia juga menolak pada anggapan banyak orang tentang kesesatan syi’ah. Untuk itu, ia banyak mengutip ayat-ayat atau kitab yang menunjukkan bagaimana ulama-ulama besar dari dua aliran ini saling mengutip. “Mestinya dua aliran besar ini bisa saling berdialog. Kita saling belajar sebagaimana pernah dilakukan para ulama terdahulu.“
.
Sayangnya, kata Quraish, banyak di antara umat yang terjebak pada sikap yang picik, tanpa wawasan akal yang memadai. Tanpa menelaah kitab-kitab secara benar, banyak yang merasa dirinya paling benar dan tiba-tiba saja mengkafirkan yang lain. Ia tidak menampik fakta banyak ulama masa silam yang juga terjebak kebodohan, sehingga mempengaruhi umat di masa kini. Makanya, sikap kritis mesti diperlukan untuk menelaah kembali semua pemikiran di masa silam demi menemukan titik-titik kesamaan di masa kini.
“Kalau kita mau cari perbedaan supaya kita konflik, akan banyak sekali ditemukan. Namun, apa tujuannya kita berkonflik? Kita semakin membatasi diri kita. Lebih baik kita mencari titik kesamaan supaya kita bersatu sebagai sesama umat Islam,“ katanya
.
Pendapat ini bukannya tanpa kritik. Ketika sesi dialog dimulai, bertubi-tubi pertanyaan ditujukan kepadanya. Namun, sebagaimana gayanya yang khas, ia bisa menjawab semua pertanyaan itu dengan jawaban yang cerdas. Bahkan, terhadap pernyataan seorang penanya yang menyatakan bahwa ajaran syi’ah tidak dibahas di Universitas Al Azhar, ia menentangnya habis-habisan. “Saya tantang berdebat siapapun yang menyatakan itu. Saya sejak SMP sudah belajar di Al Azhar, sampai jadi doktor. Saya belajar tentang semua mazhab dalam Islam di Al Azhar. Tidak cuma sunni saja, melainkan ada delapan mazhab yang saya pelajari di kampus,“ katanya yang disambut dengan tepuk tangan.

Di tengah banjir pertanyaan itu, ia mengatakan, “Masalah besar umat Islam sekarang ini adalah masalah kebodohan. Banyak yang sok pintar dan mengkafirkan yang lain. Padahal itu pandangan yang salah,“ katanya.

syiah kafirkan sahabat ?? mari pakai Al Quran sebagai hujjah

murtad tulen atau kafir tulen jika pindah agama

.

baca : Mayoritas Umat Mengkhianati Ali Sepeninggal Nabi SAW Diabadikan Tafsir Al Quran

Syi’ah mengkafirkan sahabat ???

selain Ahlulbait Nabi Saw tiada seorang pun sahabat yang maksum dan terjaga dari dosa karena itu terdapat banyak nukilan yang mengisahkan kesalahan-kesalahan kebanyakan sahabat yang sebagian darinya sedemikian masyhur sehingga sampai pada derajat tawatur (baca: hadis-hadis mutawatir).

MURTAD / KAFiR versi syi’ah bermakna berbuat bid’ah sehingga menentang sunnah Nabi SAW, berbalik arah pasca wafat Nabi SAW.. Jadi syi’ah tidak pernah menuduh murtad/kafir nya oknum sahabat sebagai murtad tulen atau kafir tulen ! Perbuatan mereka merubah ajaran Nabi , menolak  ajaran Islam yang dibawa   Itrah Ahlul Bayt nya.

Kemurtadan (dalam arti diatas) para sahabat dalam riwayat-riwayat Ahlusunnah lebih banyak dan riwayat-riwayat yang banyak dan mutawatir, sementara pada literatur-literatur Syiah riwayat-riwayat sahih yang menjelaskan kemurtadan para sahabat tidak lebih dari dua riwayat dan meminjam istilah ilmu hadis, tidak melewati batasan kabar wahid. Karena itu, saudara-saudara Ahlusnnah harus memberikan jawaban terkait dengan kemurtadan para sahabat dalam riwayat-riwayat mutawatir ini apa maksudnya?

Adapun ulama Syiah meyakini bahwa kemurtadan yang disebutkan pada sebagian riwayat disandarkan pada sebagian sahabat dan tidak bermakna kafir dan kembali menyembah berhala, melainkan bermakna melanggar janji wilayah dan membangkang Nabi Saw dalam masalah khilafah. Oleh itu, mereka yang turut serta dalam pelbagai penaklukan Islam seluruhnya adalah muslim dan berupaya dalam menyebarkan Islam. Kendati boleh jadi mereka melakukan dosa dan kesalahan dalam kehidupan mereka.

orang-orang Syiah tidak memaknai kemurtadan (irtidâd) itu sebagai kekafiran dalam artian paganisme atau kembalinya mereka ke masa jahiliyah. Demikian juga, mereka tidak memaknai kemunafikan sebagai penyembahan berhala dan kemusyrikan kepada Allah Swt.

Meski para sahabat memiliki banyak perbedaan namun terdapat banyak common point di antara mereka. Dan kami (Syiah) tidak meyakini bahwa mereka telah kafir dan menjadi penyembah berhala. Hanya saja pada beberapa kejadian, mereka mengabaikan dan membangkang instruksi-instruksi Rasulullah Saw.

contoh perlakuan terhadap  Ahlulbait Nabi Saw:

1.     Tragedi memilukan pasca wafatnya Rasulullah Saw untuk memberikan baiat kepada Baginda Ali As dan sahabat lainnya, yang berkumpul di kediaman beliau.

2.     Perlakuan tidak senonoh yang dilakukan terhadap Fatimah Zahra Sa dalam mengabaikan haknya terkait dengan tanah Fadak.

3. Peristiwa pengambilan baiat dari sahabat yang menentang khilafah Abu Bakar yang berujung pada pembakaran kediaman Ali bin Abi Thalib As.

Boleh jadi perlakuan tidak senonoh yang dilakukan terhadap Ahlulbait Nabi As pasca wafatnya Rasulullah Saw seperti peristiwa-peristiwa pengambilan baiat dari Ali bin Abi Thalib As. Dainawari salah seorang ulama Ahlusunnah mengutip, “Tatkala Abu Bakar mengetahui bahwa sebagian kaum Muslimin menolak untuk memberikan baiat kepadanya dan berkumpul di rumah Ali bin Abi Thalib, ia mengutus Umar bin Khattab kepada mereka. Umar bin Khattab menyeru mereka untuk berbaiat dan karena mereka menolak seruan ini, Umar bin Khattab meminta supaya kayu bakar dikumpulkan. Katanya, “Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya! (Hanya ada dua pilihan) Apakah kalian keluar dari rumah atau aku membakar rumah ini beserta seluruh apa yang ada di dalamnya. Seseorang berkata, “Di dalam rumah ada Fatimah!” Umar menjawab perkataan ini dengan berseru lantang, “Bahkan sekiranya Fatimah berada di dalam rumah ini.”[Ibnu Qutaibah Dainawari, al-Imâmah wa al-Siyâsah, jil. 1, hal. 30, Dar al-Adhwa, Beirut, Cetakan Pertama, 1410 H  

Peristiwa lainnya yang terjadi atas tanah Fadak yang menghadap-hadapkan Fatimah Sa dengan para khalifah. Pada peristiwa ini, terjadi perlakuan-perlakuan yang tidak senonoh terhadap putri Nabi Saw; seorang yang murkanya sama dengan murka Rasulullah Saw dan Allah Swt sebagaimana yang dinukil oleh Ibnu Katsir dari Aisyah bahwa Fatimah murka hingga akhir hayatnya.[Ibnu Katsir, al-Bidâyah wa al-Nihâyah, jil. 5, hal. 285, Dar al-Fikr Beirut, 1407 H. Sesuai nukilan Ibnu Katsir, Bukhari juga menyebutkan riwayat ini dalalm kitab al-Maghâzi dengan sanad sahih.   ]

Perlakuan-perlakuan yang terjadi pada hari-hari pertama pasca wafatnya Rasulullah Saw dalam rangka mengambil baiat dari para penentang. Karena para sahabat lainnya selain Ahlulbait As telah dilecehkan dan direndahkan dalam peristiwa ini.[Ibnu Qutaibah Dainawari, al-Imâmah wa al-Siyâsah, jil. 1, hal. 30 ]

Baladzuri meriwayatkan, “Tatkala Usman memberikan sejumlah besar uang kepada sebagian orang seperti Marwan bin Hakam, Abu Dzar mulai melancarkan protes dengan melontarkan singgungan dan berkata bergembiralah dengan azab jahanam bagi orang yang menyimpan harta benda. Ucapan ini sampai ke telinga Usman dan ia melarangnya. Usman berkata di hadapan Abu Dzar, adapun bahwa Allah Swt ridha dan Usman murka adalah lebih baik daripada Usman ridha dan Allah Swt murka. Karena kediaman Abu Dzar dipindahkan ke Syam (Suriah) Muawiyah juga tidak lolos dari lontaran kritikannya; hingga Muawiyah menulis surat kepada Usman yang isinya menyatakan bahwa Abu Dzar telah merusak Syam dan harus segara diatasi. Usman menjawab, “Kirimlah ia kepadaku dengan paksa!” Tatkala Abu Dzar tiba di Madinah, ia tetap mengkritisi Usman. Usman berkata kepadanya, pilihlah satu negeri yang engkau sukai dan pergilah ke sana! Abu Dzar menimpali, “Mekkah.” Usman menolak pilihan itu. Abu Dzar kembali berkata, “Baitul Muqaddas” Kembali Usman menentang pilihan Abu Dzar. Abu Dzar berkata, “Kufah atau Basrah.” Lagi-lagi Usman menolak dan menukas, “Engkau akan aku kirim ke Rabadzah.”[Al-Baladzuri, Ansâb al-Asyrâf, jil. 5, hal. 541]

Diasingkannya Abu Dzar oleh Usman dan meninggalnya Abu Dzar di tempat itu yang hanya ditemani oleh istri dan putranya merupakan hal-hal yang pasti dalam sejarah.[Silahkan lihat, al-Sam’ani, Al-Ansâb, jil. 10, hal. 65, Majlis Dairat al-Ma’arif al-‘Utsmaniyah, Haidar Abad, Cetakan Pertama, 1382. Baladzuri, Ansâb al-Asyrâf, jil. 5, hal. 541-545. Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, jil. 2, hal. 165, Dar al-Fikr, Beirut, 1407 H.]

Baladzuri dalam kitabnya Ansâb al-Asyrâf menukil bahwa suatu masa Usman mengangkat Walid bin Uqbah sebagai gubernur Kufah. Abdullah bin Mas’ud angkat bicara dan mengecam tindakan Usman ini. “Barang siapa yang membuat perubahan ini semoga Allah Swt mengubahnya dalam (urusan pemerintahan dan khilafah) dan tidak rela kepadanya…” Pungkas Abdullah bin Mas’ud. Walid menyampaikan kecaman Ibnu Mas’ud kepada Usman dan Usman memerintahkan Walid untuk mengirim Ibnu Mas’ud ke Madinah. Abdullah bin Mas’ud dengan dikawal oleh masyarakat Kufah menyampaikan ucapan selamat tinggal kepada mereka dan bertolak menuju Madinah. Tatkala Abdullah bin Mas’ud memasuki kota Madinah, Usman sedang menyampaikan pidato di atas mimbar Rasulullah Saw dan saat itu ia melihat Abdullah bin Mas’ud. Pada saat itu juga Usman berkata, “Ayyuhannas! Telah datang kepada kalian seseorang laksana serangga penganggu yang menghinggapi makanan setiap orang. Orang yang menyantap makanan entah ia menghabisinya atau akan terjangkiti penyakit diare.” Ibnu Mas’ud menimpali bahwa aku tidaklah demikian adanya. Aku adalah orang yang bersama Rasulullah Saw pada perang Badar dan pada hari baiat ridwan. Pada saat itu, Aisyah berseru, “Wahai Usman! Apakah engkau berkata-kata hal ini pada sahabat Rasulullah Saw?” Usman kemudian menitahkan supaya ia dikeluarkan dari masjid dengan paksa dan Abdullah bin Za’mah membantingnya. Juga disebutkan bahwa Yahmum, budak Usman, mengeluarkannya secara paksa dari masjid dan Abdullah bin Mas’ud dalam kondisi yang mengenaskan terjatuh dan giginya copot. Baginda Ali bin Abi Thalib As juga di tempat itu menyampaikan protes kepada Usman dan berkata, “Apakah karena ucapan Walid engkau memperlakukan sahabat Rasulullah Saw seperti ini?” Baginda Ali merawat Abdullah bin Mas’ud dan membawanya ke rumahnya. Hingga akhir hayatnya, Usman tidak memberikan izin bagi Abdullah bin Mas’ud untuk meninggalkan Madinah bahkan ia tidak boleh pergi berperang melawan Syam.[Al-Baladzuri, Ansâb al-Asyrâf, jil. 5, hal. 524, Beirut, Dar al-Fikr, Cetakan Pertama, 1417 H.   ]

Ibnu Abi al-Hadid juga menukil peristiwa ini dari Waqidi dalam Syarh Nahj al-Balaghah-nya.[Ibnu Abi al-Hadid, Syarh Nahj al-Balâghah, jil. 12, hal. 42, Kitabkhane Ayatullah Mar’asyi, Qum, 1404 H.  ]

Harap diperhatikan bahwa perlakuan ini menyisakan pengaruh buruk dalam benak setiap kaum Muslimin terhadap Usman sedemikian sehingga sebagian sejarawan memandang hal tersebut sebagai cikal-bakal pemberontakan rakyat melawan Usman.

Khalifah Pertama dan Kedua sesuai dengan keyakinan Ahlusunnah demikian juga Syiah senantiasa bersama dan seiring sejalan serta membantu satu sama lain. Pada banyak hal mereka juga berselisih dan berbeda pendapat sedemikian sehingga suara dua sahabat Rasulullah Saw ini sedemikian keras sehingga turun ayat al-Qur’an yang menegur orang-orang beriman supaya tidak bersuara keras di hadapan Rasulullah Saw dan dipandang sebagai penyebab terhapusnya perbuatan-perbuatan baik.[ “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak terhapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari.” (Qs. Al-Hujurat [49]: 2)]

Kitab riwayat paling sahih Ahlusunnah yaitu Bukhari dalam hal ini menjelaskan bahwa hampir saja kedua orang baik ini yaitu Abu Bakar dan Umar binasa dengan turunnya ayat-ayat ini! Keduanya, suatu waktu sekelompok orang datang kepada Rasulullah Saw, mereka berbeda pendapat secara tajam tentang kelompok tersebut. Abu Bakar berkata kepada Umar: “Keputusanmu semata-mata untuk menentangku!” Umar juga menjawab, “Tidak benar demikian.” Dan perselisihan mereka berlanjut dan suara mereka terdengar kencang dan keras di hadapan Rasulullah Saw. Sebagai akibatnya, Allah Swt menurunkan ayat-ayat pertama surah al-Hujurat.[Shahih Bukhâri, Abu Abdillah Muhammad bin Ismail Bukhari, jil. 6, hal. 46-47 dan jil. 8, hal. 145, Dar al-Fikr, Beirut, 1401 H.  ]

Contoh Kedua: Ketika Rasulullah Saw meminta pena dan tinta pada detik-detik terakhir kehidupannya supaya beliau menuliskan wasiatnya, Khalifah Kedua menghalangi terpenuhinya permintaan Rasulullah Saw ini.[Shahih Bukhâri, Abu Abdillah Muhammad bin Ismail Bukhari, jil. 5, hal. 137 – 138.  ] Sebagai akibatnya, sebagian sahabat menghendaki supaya permintaan Rasulullah Saw dipenuhi dan sebagian lainnya berdiri menentangnya. Mereka berdalih  bahwa Rasulullah Saw bersabda tidak pantas bertikai di samping Rasulullah Saw.

Contoh Ketiga: Ibnu Mas’ud salah seorang sahabat besar dan penghafal al-Qur’an banyak bertikai dengan Khalifah Ketiga dan setelah wafatnya, ia dikuburkan pada malam hari oleh Zubair dan sebagai akibatnya Zubair dihukum oleh Usman atas perbuatannya ini.[‘Usd al-Ghabah fi Ma’rifat al-Shahâbah, Ibnu Atsir, jil. 3, hal. 260, Intisyarat-e Ismailiyan, Teheran.]

Contoh Keempat: Sahabat berada pada dua kubu yang berperang pada perang Jamal dan Shiffin. Banyak jumlah dari mereka yang gugur pada dua perang ini.

Contoh Kelima: Meski Rasulullah Saw bersabda bahwa tiada yang lebih jujur daripada Abu Dzar di bawah kolong langit, setelah bertikai dengan Muawiyah, ia diasingkan oleh Khalifah Ketiga ke Rabadzah dan meninggal di tempat itu dalam keadaan terasing.[Usd al-Ghabah fi Ma’rifat al-Shahâbah, Ibnu Atsir,jil. 1, hal. 301.  ] Ketiganya adalah sahabat utama dan pertama Rasulullah Saw.

Contoh Keenam: Ammar adalah salah seorang yang bertikai dengan Khalifah Ketiga[Thabaqât al-Kubrâ, Muhammad bin Sa’ad, jil. 3, hal. 260, Dar Shadir, Beirut.  ] dan keduanya adalah sahabat ternama!

Dengan merujuk pada kitab-kitab Ahlusunnah, Anda dapat menjumpai hal-hal seperti ini dan pada kesempatan yang singkat ini kami tidak berada pada tataran menjelaskan seluruh masalah yang menjadi obyek ikhtilaf dan sengketa di antara para sahabat karena hal itu memerlukan buku bervolume besar yang membahas masalah ini secara khusus.

Adapun pertanyaan kami bahwa sejatinya apabila para sahabat sehati lantas mengapa peristiwa Saqifah harus terjadi dan mengapa Sa’ad bin Ubadah yang merupakan salah satu pembesar kaum Anshar dan di antara sahabat yang tidak berbaiat hingga akhir usianya, terbunuh dalam keadaan misterius? Dan mengapa Imam Ali As baru berbaiat setelah enam belas pasca wafatnya Fatimah Sa?[Shahih Bukhâri, jil. 5, hal. 82 – 83.  ]

kami tidak menerima bahwa sahabat Rasulullah Saw telah kafir dan murtad. Namun apabila kekufuran dan kemurtadan bermakna kufur nikmat dan membangkang terhadap sebagian instruksi Rasulullah Saw maka dapat dikatakan bahwa kebanyakan orang di antara sahabat yang telah melakukan hal ini

Dan hal ini juga tidak terkhusus pada masa pasca Rasulullah Saw, melainkan pada masa hidup beliau dan pada masa nabi-nabi lainnya juga terjadi pelbagai pembelotan sedemikian sehingga Allah Swt menghukum kaum Muslimin dan berfirman kepada mereka, Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya apabila kamu diseru, “Berangkatlah (untuk berperang) di jalan Allah”, kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu merasa puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit?” (Qs. Al-Taubah [9]:38)

Atau setelah pembangkangan Bani Israel, Nabi Musa bertutur kata kepada Allah Swt, Musa berkata, “Ya Tuhan-ku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu pisahkanlah antara kami dan orang-orang yang fasik itu.” (Qs. Al-Maidah [5]:25)

Tidak satu pun dari dua ayat ini yang menyatakan para sahabat Rasulullah Saw dan Nabi Musa As telah kafir yang bermakna menyembah berhala namun karena membangkang perintah (baca: kafir terhadap) para rasul mereka mendapatkan hukuman!

Tatkala di antara jumlah besar Bani Israel, kecuali Harun  tiada orang lain lagi yang menaati titah Nabi Musa As, lantas bagaimana Anda memandang ketidaktaatan sahabat Rasulullah Saw kepada beliau dalam beberapa hal tertentu sebagai suatu hal yang mustahil padahal Ahlusunnah sendiri menukil dari Rasulullah Saw bahwa seluruh kejadian yang menimpa Bani Israel juga secara beruntun akan menimpa umat ini[Shahih Tirmidzi, jil. 4, hal. 135, Dar al-Fikr, Beirut, 1403 H.  ]

di antara mereka tidak sehati dan saling mencemburui satu sama lain misalnya saudara-saudara Yusuf yang bersatu dan melemparkannya ke dalam sumur! Apakah ini suatu hal mustahil bahwa sahabat sebagaimana saudara Yusuf, untuk kepentingan tertentu, telah menyimpangkan rel khilâfah dari relnya yang asli?

Nabi Isa mencium gelagat kekufuran dari seluruh sahabatnya kecuali pada segelintir kecil orang (kurang lebih 12 orang) dan mengecualikan kaum Hawariyun,[Qs. Ali Imran [3]:52]

Syiah tidak meyakini kemunafikan dan kekufuran sahabat sebagaimana yang Anda gambarkan, melainkan meyakini bahwa kebanyakan dari mereka menutup mata terhadap wasiat-wasiat Rasulullah saw dan menyimpangkan Islam hingga batasan tertentu dari relnya yang benar, kecuali beberapa gelintir orang dari mereka yang tetap teguh di jalan kebenaran. Dengan memperhatikan sejarah dan kehidupan para nabi sebelumnya dan juga nabi kita Muhammad saw, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa mungkin saja manusia berada pada kelompok minoritas namun tidak terbunuh oleh kelompok penentang mereka. Ideologi dan keyakinan mereka, setelah berlalunya waktu, mengglobal dan mendunia bahkan sebagian besar dari penentang mereka pada periode selanjutnya malah bergabung dengan mereka.

Dalam tafsir Ibnu Abi Hatim kita membaca bahwa pada masa jahiliyah terdapat permusuhan dan pertempuran sengit antara suku Aus dan Khazraj. Suatu hari setelah kedatangan Islam dan pada masa hidup Rasulullah Saw, mereka dengan menukil kenangan-kenangan yang telah lalu menjadi marah dan berang. Kedua suku ini saling menghunus pedang. Setelah kejadian ini, Allah Swt mewahyukan ayat 101 surah Ali Imran (3) yang menyatakan bahwa bagaimana Anda telah kafir sementara ayat-ayat Allah Swt dibacakan pada kalian dan Rasul-Nya berada di tengah-tengah kalian.”[Tafsir al-Qur’ân al-‘Azhim, Ibnu Abi Hatim, jil. 3, hal. 720, Maktabah Nizar Mustafa al-Baz, Arab Saudi, 1419 H.]

Tentu saja, orang-orang Aus dan Khazraj tidak menjadi penyembah berhala, namun dengan demikian Allah Swt menggunakan redaksi kufur (kekufuran) lantaran perbuatan yang tidak patut mereka lakukan! Hal yang serupa dengan hal ini juga dapat disaksikan pada ayat-ayat lain al-Qur’an.[“Ketika Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani Isra’il), berkatalah ia, “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?” Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab, “Kamilah penolong-penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri.” “Dan supaya Allah mengetahui siapa orang-orang yang munafik. Kepada mereka dikatakan, “Marilah berperang di jalan Allah atau pertahankanlah (dirimu).” Mereka berkata, “Sekiranya kami mengetahui akan terjadi peperangan, tentulah kami mengikutimu.” Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran daripada keimanan. Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak terkandung dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan.”   (Qs. Ali Imran [3]:52 & 167);

“Hai rasul, janganlah kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera  (memperlihatkan) kekafirannya, yaitu di antara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka, “Kami telah beriman”, padahal hati mereka belum beriman; dan (juga) di antara orang-orang Yahudi. (Orang-orang Yahudi itu) amat suka mendengarkan (berita-berita) bohong, dan amat suka (juga) mendengarkan dan menaati ucapan-ucapan orang lain yang belum pernah datang kepadamu; mereka suka mengubah ucapan-ucapan dari arti yang sebenarnya.” (Qs. Al-Maidah [5]:41).  ]

Kemurtadan juga digunakan untuk ragam makna. Dengan memandang ayat 21 surah al-Maidah (5)[“Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari ke belakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi.”] dan ayat-ayat setelahnya dapat kita ambil kesimpulan bahwa Bani Israel pada masa hidup Nabi Musa as telah murtad, namun bukan kemurtadan yang bermakna kembali pada kekufuran dan kemusyrikan. Ketahuilah secara global bahwa apa yang disandarkan pada Syiah bahwa mereka meyakini kemurtadan dan kekufuran sahabat, tentu saja tidak bermakna kembalinya mereka kepada syirik dan penyembahan berhala, melainkan sebuah kekufuran sebagaimana yang disandarkan Allah Swt pada dua kelompok kaum Muslimin dari suku Aus dan Khazraj.

Namun amat disayangkan pada umat kita, kaum Muslimin, juga berlaku hal demikian. Para sahabat mulia mengabaikan wasiat Rasulullah saw dan merumahkan seorang saudara beliau, yang sesuai dengan pengakuan seluruh kaum Muslimin baik Syiah maupun Sunni, saudara Rasulullah saw itu adalah laksana Harun bagi Musa.[Shahih Bukhâri, Muhammad bin Ismail Bukhari, jil. 4, hal. 208 dan jil. 5, Dar al-Fikr, 1401 H.  ]

Secara praktik, kondisi yang ditimbulkan bagi umat Islam sama dengan kondisi yang ditimbulkan Bani Israil. Sebagai akibatnya Amirul Mukminin dengan latar belakang yang cemerlang dikesampingkan dan menyebabkan peluang kaum Muslimin untuk memanfaatkan Harun umat ini menjadi sirna. Kesalahan ini telah menjadi celah dan penghalang bagi umat Islam untuk sampai kepada kedudukannya yang ideal.

Apalagi mayoritas kaum Muslimin, meski secara politik telah terbawa arus penguasa dan berpaling dari Ali as, namun mereka mengetahui kedudukan beliau di sisi Rasulullah saw dan pengorbanan beliau yang tanpa tanding demi kemajuan Islam.

Sekarang pertanyaan yang mengemuka adalah mengapa masyarakat yang sedemikian besar, tidak melancarkan protes dan memilih jalan untuk bungkam di hadapan penyelewengan Saqifah!? Bukankah hal ini menegaskan bahwa hadis Ghadir tidak menandaskan dan menunjukkan wilayah Imam Ali As?!

Dalam menjawab pertanyaan ini harus dikatakan bahwa sejatinya secara umum tiadanya protes para sahabat di Saqifah dapat digugurkan dan dibatalkan; karena para sahabat besar seperti Salman, Miqdad, Thalha dan sebagainya melancarkan protes kepada para pembesar Saqifah dan bahkan Zubair menghunuskan pedangnya di hadapan para pembesar Saqifah.

Terlepas dari itu, berkumpulnya manusia sedemikian besar dan banyak di Ghadir Khum ini bukan merupakan sesuatu yang tidak masuk akal, karena peristiwa Ghadir Khum, terjadi di daerah yang bernama Rabigh, sebuah daerah yang letaknya kurang-lebih dua ratus kilometer dari Mekkah. Sebuah persimpangan jalan-jalan menuju Irak, Madinah,Mesir dan Yaman.

Khalil Abdulkarim, salah seorang ulama kiwari Ahlusunnah, dalam pembahasan pengumpulan al-Qur’an, menulis: “Bilangan para sahabat Nabi Saw, pada haji al-Widâ’ (haji perpisahan, dimana peristiwa al-Ghadir terjadi ketika itu) adalah sejumlah seratus dua puluh empat ribu.”[Mujtma’ al-Yatsrib, Khalil Abdulkarim, hal. 20.]

Dalam menjawab pertanyaan ini harus dikatakan bahwa, klaim tiadanya protes para sahabat terkait peristiwa Ghadir Khum merupakan klaim yang tidak benar. Dan tidak sedikit para pengikut sejati yang tetap setia memegang teguh baiat dan ikrar mereka serta melarang para pembesar Saqifah dari tindakan berbahaya mereka.

Imam Ali As yang menjalankan wasiat Nabi Saw untuk tidak membiarkan kaum Muslimin bertikai dan berpecah belah, karena itu beliau hanya melakukan penentangan lisan dan tidak mengangkat senjata untuk melaksanakan titah Ghadir Khum. Beliau tidak membaiat Abu Bakar selama Fatimah As masih hidup. Tatkala Fatimah As syahid, Imam Ali terpaksa dan berdasarkan pada kemaslahatan memberikan baiat kepada Abu Bakar. Namun beliau menyampaikan protes lisannya pada pelbagai kesempatan dengan bersandar pada hadis Ghadir.

Sahabat-sahabat besar seperti Salman, Abu Dzar, Thalha, Zubair[Farâidh al-Simthaîn, Ibrahim bin Muhammad Juwaini Khurasani, jil. 2, hal. 82. ] dan lainnya angkat suara menentang keputusan Saqifah dan tidak memberikan baiat mereka kepada Abu Bakar. Melainkan mereka tidak mencukupkan diri saja dengan protes ini, bahkan mereka menghunus pedang di hadapan para pembesar Saqifah.[Al-Saqifah wa al-Fadak, Abi Bakar Ahmad bin Abdulaziz Jauhari, hal. 50]

Sebagian lainnya seperti Abbas paman Nabi Saw, kendati ia tidak menyatakan penentangan secara terang-terangan, karena ingin menghindar dari pertumpahan darah dan perpecahan. Namun ia juga tidak menyatakan sokongan terhadap pembesar Saqifah dan tidak memberikan baiat kepada mereka.[Syarh Nahj al-Balâgha, Ibn Abi al-Hadid, jil. 1, hal. 73.

Dalam masalah ini, terdapat ragam kelompok sahabat dalam menyikapi hadis al-Ghadir. Ada sekelompok sahabat yang memilih untuk diam; atau demi untuk menjaga kemaslahatan dan menghindar dari perpecahan dan perberaian, seperti yang dilakukan Abbas paman Nabi Saw

Atau di antara mereka banyak mendapatkan keuntungan dengan berkuasanya kelompok Saqifah. Seperti banyak di antara sahabat yang baik atau mereka yang dari golongan Bani Umayyah. Sebagaimana terdapat kelompok lainnya bukan karena ancaman atau larangan, karena mereka mengenal Ali sebagai penguasa yang ingin menyebarkan keadilan, mereka menolak untuk menentang penyimpangan di Saqifah ini.

Dan terakhir,mereka mengetahui bahwa mereka tidak kuasa berada di bawah kekuasaan Ali bin Abi Thalib atau mereka memiliki dendam kepadanya, karena kebanyakan dari kabilah orang-orang Kafir atau Musyrikin yang terbunuh dalam pelbagai medan perang

Imam Ali juga sesuai dengan wasiat Nabi Saw bertugas untuk tidak membiarkan komunitas Muslimin ini bercerai-berai dan terpecah belah, karena itu beliau puluhan kali melancarkan protes pada pelbagai kesempatan dengan bersandar pada hadis al-Ghadir meski protes dan penentangannya ini terbatas pada penentangan lisan saja.

Syiah berpandangan bahwa kita tidak dapat memandang seluruh sahabat itu sebagai orang-orang yang adil karena, pertama, dengan merujuk pada ayat-ayat al-Qur’an kita jumpai bahwa para sahabat memiliki derajat dan tingkatan yang berbeda-beda dan kita tidak dapat menghukumi bahwa mereka itu semua adalah orang-orang yang adil.

Al-Qur’an secara tegas menyebutkan bahwa di antara para sahabat terdapat orang-orang pendusta (kaddzâbin), orang-orang munafik, para pendosa (ushat), berbantahan dengan Rasulullah Saw dalam urusan perang, berat hati untuk berperang (mutsaqilain), dan orang-orang yang mengingkari Rasulullah Saw.

Di samping itu, dokumen-dokumen sejarah melaporkan bahwa di antara para sahabat terdapat orang-orang yang melakukan zina sebagaimana Walid, Mughirah dan yang lainnya seperti kelompok Qâsitin (perang Jamal), Nâkitsin (perang Shiffin), dan Mâriqin (perang Nahrawan). Dari apa yang diuraikan menjadi jelas bahwa apa yang dinegasikan Syiah adalah terkait dengan keadilan seluruh sahabat bukan masalah kemunafikan dalam artian terminologis.

Sebelum menjawab inti persoalan kiranya kita perlu memperhatikan beberapa poin penting.

Masalah penyandaran kemurtadan para sahabat kepada Syiah merupakan satu tudingan yang tidak berdasar terhadap Syiah. Apakah mungkin satu mazhab besar seperti Syiah, mencintai Rasulullah Saw akan tetapi menuding para sahabatnya telah murtad?

Jumlah sahabat Rasulullah Saw melebih ratusan ribu. Para ahli tarajim mencatat dan merekam lima belas ribu dalam kitab-kitab rijal.[1] Ada dari mereka yang tetap sebagai Syiah dan pengikut Ali bin Abi Thalib As. Nama-nama mereka kebanyakan disebutkan pada kitab “Huwiyat Syiah” (Identitas Syiah).[2] Karena itu, apakah layak seorang Muslim yang beriman kepada Allah Swt dan hari Kiamat menuding murtad orang-orang besar ini?

Terlepas dari jumlah bilangan sahabat ini, kehidupan mereka tidak diketahui dalam sejarah dan informasi tentang mereka tidak kita pantau semua. Karena itu, apakah nurani manusia membolehkan orang-orang yang tidak diketahui kita melemparkan tudingan bahwa mereka semua adil ??

Dengan demikian, kita berkata bahwa masalah ini tidak sebagaimana yang disampaikan orang-orang.

Logika Syiah adalah logika imam dan pemimpin mereka Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As yang disebutkan dalam Khutbah 98 Nahj al-Balâgha: “Saya telah melihat para sahabat Nabi, tetapi saya tak menemukan seseorang yang menyerupai mereka. Mereka mengawali hari dengan debu di rambut dan wajah (dalam kesukaran hidup) dan melewatkan malam dalam sujud dan berdiri dalam salat. Kadang-kadang mereka letakkan sujudkan dahi mereka, dan kadang-kadang pipi mereka. Dengan ingatan akan kebangkitan, mereka nampak seakan berdiri di atas bara menyala. Nampak seakan di antara mata mereka ada tanda-tanda seperti lutut kambing, akibat sujud yang lama. Bilamana nama Allah disebutkan, air mata mereka mengalir deras hingga kerah baju mereka basah. Mereka gemetar karena takut akan hukuman dan harapan akan pahala, seperti pohon gemetar pada hari angin topan. Dari hukuman yang mereka takuti atau ganjaran yang mereka harapkan.”

Iya, apa yang diyakini Syiah adalah bahwa sebagian dari sahabat  setelah wafatnya Rasulullah Saw memperlakukan Ahlulbait As dengan buruk. Atas dasar ini (perlakuan buruk ini) Syiah membenci mereka dan hal ini merupakan suatu hal yang wajar. Rasulullah Saw sendiri menyatakan antipati terhadap apa yang dilakukan Khalid bin Walid. Beliau bersabda, “Tuhanku! Aku berlepas dari apa yang dilakukan Khalid.”

Masalah ini juga berlaku pada riwayat-riwayat yang dikenal sebagai riwayat-riwayat “haudh” dan disebutkan pada kitab-kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.[3]

Setelah menyampaikan pendahuluan ini kami meminta Anda memperhatikan beberapa poin di bawah ini:

Pertama, kemurtadan para sahabat dalam riwayat-riwayat Ahlusunnah sangat banyak dan dikemukakan secara mutawatir dimana kami hanya mencukupkan diri dengan menyebut referensinya saja:

1.     Syarh Shahîh Muslim, Nawawi, jil. 15-16, hal. 5 dan 59

2.     ‘Umdat al-Qâri, 23/135.

3.     Syarh Shahîh Bukhâri, Kermani, 23/63.

4.     Al-Tamhid, Ibn ‘Abdilbarr, 2910/2.

5.     Shahîh Bukhâri, Kitâb Riqâq, bab 53, hadis-hadis 6212; 2114.

6.     Shahîh Muslim, Kitâb Fadhâil, bab 9.

7.     Mishbâh al-Sunnah, 5370/3.

8.     Al-Targhib wa al-Tarhib, Mindzari, 4/422.

9.     Al-Nihâyat fii Gharib al-Hadits, Ibnu Atsir, 5/274.

10.  Fath al-Bâri, Ibnu Hajar, 11/475.

11.  Umdat al-Qâri, ‘Aini, 23/142.

12.  Irsyâd al-Sâri, Qasthalani, 9/342.

Di sini kami hanya akan menyebutkan satu riwayat sebagai contoh di antara beberapa riwayat yang terdapat pada literatur-literatur Ahlusunnah dan kami persilahkan kepada ahli makrifat untuk merujuk pada literatur-literatur yang mazhab sunni :

Abu Hurairah menukil dari Rasulullah Saw yang bersabda: “Aku berdiri di atas telaga Kautsar. Pada saat itu, sekelompok orang yang aku kenal datang. (salah seorang petugas dari petugas-petugas Allah yang menjagai mereka) keluar dan berkata kepada mereka: Marilah! Aku bertanya, “Kemana?” Jawabnya, “Demi Allah! Ke neraka. Aku bertanya, “Apa dosa mereka?” Jawabnya, “Mereka kembali kepada pikiran dan keyakinan mereka sebelumnya (jahiliyah). Kemudian ia membawa sekelompok orang lainnya yang aku kenal. (salah seorang petugas dari petugas-petugas Allah yang menjagai mereka) keluar dan berkata kepada mereka, “Marilah kita pergi!” Aku bertanya, “Kemana?” Jawabnya, “Ke neraka.” Aku bertanya, “Apa dosa mereka?” Jawabnya, “Mereka kembali kepada pikiran dan keyakinan mereka sebelumnya (jahiliyah). Aku pikir tidak ada yang dapat menyelamatkan mereka kecuali bilangan kecil unta yang terpisah dari kelompoknya lantaran tiadanya penggembala, hilang dan tak-terurus.[4] (kiasan bahwa orang-orang yang selamat jumlahnya sangat sedikit). [5]

Kedua, makna kemurtadan (irtidâd) yang mengemuka dalam hadis-hadis ini:

Mengingat banyaknya dan mutawatirnya hadis-hadis irtidâd (kemurtadan) para sahabat dalam literatur-literatur Ahlusunnah maka saudara-saudara kita Ahlusunnah harus memberi jawaban apa yang dimaksud dengan irtidâd (kemurtadan) para sahabat dalam riwayat-riwayat ini? Apa pun makna yang mereka sodorkan dan terima maka makna itu pun yang kita akan terima.

Akan tetapi ulama Syiah berpandangan bahwa irtidâd (kemurtadan) yang disandarkan sebagian riwayat kepada para sahabat tidak bermakna kekufuran dan kembalinya mereka kepada penyembahan berhala, melainkan bermakna pelanggaran terhadap ikrar wilayah dan pembangkangan terhadap Rasulullah Saw dalam urusan khilafah.

Ayatullah Subhani berpandangan bahwa kemurtadan ini tidak bermakna kekufuran dan kembalinya mereka kepada jahiliyah, melainkan tidak loyalnya mereka terhadap ikrar yang mereka nyatakan pada hari Ghadir Khum.

Imam Khomeini Ra juga dalam kitab Thahârah-nya pada pembahasan apakah para penentang Syiah itu kafir atau tidak. Beliau berkata, “Orang-orang dikatakan Islam apabila diketahui keyakinannya terhadap uluhiyyah, tauhid, kenabian dan ma’ad (meski terdapat perbedaan ulama dalam hal ini).” Beliau berpandangan bahwa masalah imâmah merupakan prinsip (ushul) mazhab Syiah dan menentang prinsip (ushul) mazhab ini hanya akan mengeluarkan orang dari Syiah bukan Islam. Imam Khomeini dalam hal ini mengkaji riwayat-riwayat yang menyandarkan kekufuran kepada Ahlusunnah dan meyakini bahwa dalam penyandaran-penyandaran kekufuran ini bukan kekufuran dalam artian teknis. Lantaran hal ini berseberangan dengan riwayat-riwayat mustafidha bahkan mutawatir terkait dengan masalah ini dan adanya interaksi orang-orang Syiah dan para imam dengan Ahlusunnah (bahkan tidak dalam konteks taqiyyah).[6]

Karena itu, dalam pandangan Syiah, kemurtadan yang mengemuka dalam riwayat-riwayat ini sama sekali berbeda dengan kemurtadan orang-orang seperti Musailamah, para pengikut Thuliha bin Khuwailid, para pengikut Aswad Ansi, dan Sujjah. Mereka pada hakikatnya telah meminggirkan Islam dan kafir. Sementara sebagian besar sahabat membangkang Rasulullah Saw dan melanggar ikrar wilayah.

Dalam literatur-literatur sejarah dilaporkan bahwa Imam Ali As dalam beberapa hal tertentu bermusyawarah dengan para khalifah dan membimbing mereka sehingga mereka meraih kemenangan dalam pelbagai penaklukan (futuhât).[7] Hal ini merupakan tanda kerelaan beliau terhadap inti penaklukan; kendati apabila pelbagai penaklukan ini dilakukan dengan petunjuk dan kepemimpinan Ali bin Abi Thalib As maka hasilnya tentu akan lebih baik dan dapat mencegah sebagian kesalahan yang dilakukan. Karena itu, mereka yang turut serta dalam pelbagai penaklukan Islam seluruhnya adalah Muslim dan telah berupaya untuk menyebarkan Islam; meski boleh jadi mereka melakukan banyak kesalahan dan dosa dalam hidup mereka.

Saya bawakan Hadis Haudh yg menunjukkan WUJUDNYA sahabat yang merubah ajaran Rasulullah saaw:
1. Narrated by Anas:The Prophet said, “Some of my companions will come to me at my Lake Fount, and after I recognize them, they will then be taken away from me, whereupon I will say, ‘My companions!’ Then it will be said, ‘You do not know what they innovated (new things) in the religion after you.”[Shahih Bukhari, Volume 8, Book 76, Number 584]……………………
.
2. Narrated by Abu Hazim from Sahl bin Sa’d:The Prophet said, “I am your predecessor (forerunner) at the Lake-Fount, and whoever will pass by there, he will drink from it and whoever will drink from it, he will never be thirsty. There will come to me some people whom I will recognize, and they will recognize me, but a barrier will be placed between me and them.” Abu Hazim added: An-Nu’man bin Abi ‘Aiyash, on hearing me, said. “Did you hear this from Sahl?” I said, “Yes.” He said, ” I bear witness that I heard Abu Said Al-Khudri saying the same, adding that the Prophet said: ‘I will say: They are of me (i.e. my followers). It will be said, ‘You do not know what they innovated (new things) in the religion after you left’. I will say, ‘Far removed, far removed (from mercy), those who changed (their religion) after me.” Abu Huraira narrated that the Prophet said, “On the Day of Resurrection a group of companions will come to me, but will be driven away from the Lake-Fount, and I will say, ‘O Lord (those are) my companions!’ It will be said, ‘You have no knowledge as to what they innovated after you left; they turned apostate as renegades (reverted from Islam).”
.
[Shahih Bukhari, Volume 8, Book 76, Number 585]3. Narrated by Abu Hazim from Sahl bin Sa’d:The Prophet said, “I am your predecessor (forerunner) at the Lake-Fount, and whoever will pass by there, he will drink from it and whoever will drink from it, he will never be thirsty. There will come to me some people whom I will recognize, and they will recognize me, but a barrier will be placed between me and them.” Abu Hazim added: An-Nu’man bin Abi ‘Aiyash, on hearing me, said. “Did you hear this from Sahl?” I said, “Yes.” He said, ” I bear witness that I heard Abu Said Al-Khudri saying the same, adding that the Prophet said: ‘I will say: They are of me (i.e. my followers). It will be said, ‘You do not know what they innovated (new things) in the religion after you left’. I will say, ‘Far removed, far removed (from mercy), those who changed (their religion) after me.” Abu Huraira narrated that the Prophet said, “On the Day of Resurrection a group of companions will come to me, but will be driven away from the Lake-Fount, and I will say, ‘O Lord (those are) my companions!’ It will be said, ‘You have no knowledge as to what they innovated after you left; they turned apostate as renegades (reverted from Islam).”[Shahih Bukhari, Volume 8, Book 76, Number 586]
.
Bagaimana dan dengan logika apa kita dapat menyamakan di antara seluruh sahabat dan menyebut keduanya adalah sahabat? Misalnya antara Malik bin Nuwairah dan orang yang membunuhnya dengan keji dan pada malam itu juga seranjang dengan istrinya! Sekali-kali tidak dapat dibenarkan peminum khamar seperti Walid bin Uqbah hanya karena statusnya sebagai sahabat kemudian kita bela. Atau menyokong dan membela yang menjadikan pemerintahan Islam seperti sebuah kekuasaan diktator dan membunuh orang-orang shaleh dalam umat dan mengangkat senjata berperang melawan imam dan khalifah sah (Ali bin Abi Thalib)? Apakah dapat dibenarkan kita memandang sama antara Ammar Yasir dan kepala kelompok pemberontak hanya karena keduanya sahabat padahal Rasulullah Saw bersabda: “Ammar akan dibunuh oleh kelompok tiran dan pemberontak.”[Silahkah lihat, Fushul al-Muhimmah, Abdulhusain Syarafuddin, hal. 189.]
.
Karena itu, dalam pandangan Syiah kriterianya adalah keadilan, berpegang teguh kepada sirah Rasulullah Saw dan menjalankan sunnah beliau semasa hidupnya dan pasca wafatnya. Barang siapa yang berada di jalan ini maka, dalam pandangan Syiah, ia harus dihormati dan jalannya diikuti serta didoakan semoga rahmat Tuhan baginya melimpah dan memohon supaya ditinggikan derajatnya. Namun orang-orang yang tidak berada di jalan ini kami tidak memandangnya sebagai orang adil. Sebagai contoh dua orang sahabat mengusung lasykar disertai dengan salah seorang istri Rasulullah Saw lalu  berhadap-hadapan dengan khalifah legal Rasulullah Saw Ali bin Abi Thalib As menghunus pedang di hadapannya di perang Jamal. Mereka memulai perang yang menelan ribuan korban jiwa kaum Muslimin
.
Izinkan kami bertanya apakah angkat senjata dan menumpahkan darah orang-orang tak berdosa ini dapat dibenarkan? Atau orang lain yang disebut sebagai sahabat Rasulullah Saw dan menghunus pedang pada sebuah peperangan yang disebut sebagai Shiffin. Kami berkata perbuatan ini bertentangan dengan syariat dan memberontak kepada imam dan khalifah legal. Perbuatan-perbuatan ini tidak dapat diterima dengan membuat justifikasi bahwa mereka adalah sahabat. Demikianlah poin asasi perbedaan pandangan antara Syiah dan yang lainnya. Jelas bahwa di sini yang mengemuka bukan pembahasan mencela dan melaknat sahabat.Mungkin ada baiknya menyebutkan hal ini: bahwa kebanyakan sahabat Rasulullah saw pada periode-periode selanjutnya menebus kesalahan ini dengan cara bergabung dan berada pada barisan Imam Ali as dalam peperangan bersama Amirul Mukminin menghadapi para Nakitsin (pada perang Jamal), Qasithin (pada perang Shiffin) dan Mariqin (pada saat perang Nahrawan).
.
Namun terkait dengan apa yang dijelaskan pada ayat-ayat al-Qur’an harus dikatakan bahwa: Allah Swt dalam al-Qur’an berfirman:
A.            Di antara orang-orang Arab Badui yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik; dan (juga) di antara penduduk Madinah ada sekelompok orang yang keterlaluan dalam kemunafikannya. Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, (tetapi) Kami-lah yang mengetahui mereka. Nanti mereka akan Kami siksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar.(Qs. Al-Taubah [9]:101)Apakah ayat al-Qur’an ini tidak menengarai bahwa terdapat orang-orang munafik dari kalangan sahabat bahkan setelah setahun kemunculan Islam yang sebagian dari mereka telah dikenali?
.
B.            Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul; sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika ia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.(Qs. Ali Imran [3]:144)
.
C.            Dan mereka bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa sesungguhnya mereka termasuk golonganmu; padahal mereka bukanlah dari golonganmu. Tetapi mereka adalah kaum yang sangat penakut.”(Qs. Al-Taubah [9]:56)
.
D.            “Dan sesungguhnya mereka sebelum itu telah berjanji kepada Allah untuk tidak akan berbalik ke belakang (mundur). Dan perjanjian dengan Allah itu akan dimintai pertanggunganjawab.(Qs. Al-Ahzab [33]:15)
.
E.            Allah telah memaafkanmu. Mengapa kamu memberi izin kepada mereka (untuk tidak pergi berperang), sebelum jelas bagimu orang-orang yang jujur dan sebelum kamu ketahui orang-orang yang berdusta?(Qs. Al-Taubah [9]:43)
.
F.            Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka (di Mekah), “(Sementara ini), tahanlah tanganmu (dari berjihad), dirikanlah salat, dan tunaikanlah zakat!” (Tetapi mereka marah atas perintah ini). Setelah jihad diwajibkan kepada mereka (di Madinah), tiba-tiba sebagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan ketakutan mereka lebih sangat dari itu. Mereka berkata, “Ya Tuhan kami, mengapa Engkau wajibkan jihad kepada kami? Mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berjihad ini) kepada kami beberapa waktu lagi?” Katakanlah, “Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa dan kamu tidak akan dianiaya sedikit pun.”(Qs. Al-Nisa [4]:77)
.
G.            Mereka membantahmu tentang kebenaran sesudah nyata (bahwa mereka pasti menang), (ketakutan meliputi diri mereka) seolah-olah mereka dihalau kepada kematian, sedang mereka melihat sendiri (sebab-sebab kematian itu). Dan (ingatlah) ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan (kafilah dagang dan bala tentara Quraisy yang kamu hadapi) adalah untukmu, sedang kamu menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekuatan senjatalah untukmu, padahal Allah menghendaki untuk menguatkan kebenaran dengan kalimat-kalimat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir. agar Allah menetapkan yang hak dan membatalkan yang batil walaupun orang-orang yang berdosa itu tidak menyukainya.” (Qs. Al-Anfal [8]:5-8)Dari ayat ini kita jumpai sekelompok orang-orang beriman yang enggan menyertai Rasulullah Saw ke medan perang.
.
H.            Dan (ingatlah) ketika segolongan di antara mereka berkata, “Hai penduduk Yatsrib (Madinah), di sini bukanlah tempatmu (untuk bertinggal), maka kembalilah kamu.” Dan sebagian dari mereka minta izin kepada nabi (untuk kembali pulang) dengan berkata, “Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak ada penjaga).” Dan rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanyalah hendak lari. (Qs. Al-Ahzab [33]:13)
.
I.              Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya apabila kamu diseru, “Berangkatlah (untuk berperang) di jalan Allah”, kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu merasa puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit.” (Qs. Al-Taubah [9]:38Padahal ayat-ayat ini menggunakan seruan “Wahai orang-orang beriman” dan kita ketahui bahwa Allah Swt mengancam orang-orang yang bersikap lemah untuk pergi berperang (karena alasan terik dan panas) dengan berfirman, Orang-orang yang membangkang (tidak ikut perang Tabuk) itu merasa gembira karena menentang (perintah) Rasulullah, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Mereka berkata (kepada sesama mereka dan kepada orang-orang mukmin), “Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini.” Katakanlah, “Api neraka Jahanam itu lebih sangat panas(nya)”, jika mereka mengetahui.(Qs. Al-Taubah [9]:81)
.
J.             Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu-ragu. Karena itu, mereka selalu bimbang dalam keragu-raguan mereka. Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu. Tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka. Maka Allah melemahkan keinginan mereka, dan dikatakan kepada mereka, “Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal (anak-anak kecil, orang-orang tua, dan orang-orang yang sedang menderita penyakit) itu.” Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu. Tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka. Maka Allah melemahkan keinginan mereka, dan dikatakan kepada mereka, “Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal (anak-anak kecil, orang-orang tua, dan orang-orang yang sedang menderita penyakit) itu.”(Qs. Al-Taubah [9]:45-47)
.
Tidak diragukan bahwa pertama dan utama ayat-ayat ini berbicara tentang para sahabat Rasulullah Saw. Apakah dengan ayat-ayat ini kita dapat memandang seluruh sahabat itu adil dan berkata bahwa seseorang yang bertemu dengan Rasulullah Saw dalam hitungan semenit sekali pun maka ia adalah seorang yang adil? Sebenarnya pandangan ini dilontarkan oleh sebagian orang untuk menjustifikasi kezaliman dan kejahatan Bani Umayyah.Dan karena itu kami berkata bahwa apabila kita merujuk pada ayat-ayat al-Qur’an maka akan kita jumpai bahwa para sahabat memiliki tingkatan derajat yang berbeda-beda dan kita tidak dapat menghukumi bahwa mereka semuanya adalah orang adil; lantaran ayat-ayat secara lugas menyatakan bahwa di antara para sahabat Rasulullah Saw terdapat para pendusta, orang-orang munafik, para pendosa (ushat), berbantahan dengan Rasulullah Saw dalam urusan perang, orang-orang takut perang, orang-orang yang mengingkari Rasulullah Saw, berat hati untuk menyertai Rasulullah berperang dan lain sebagainya.[Silahkan lihat, al-Alusi wa al-Tasyayyu’, hal. 69.  ]
.
Sebagaimana yang Anda amati pada sebagian ayat-ayat ini seruan yang digunakan adalah seruan “Wahai orang-orang yang beriman” artinya secara tegas dan keras mengarah kepada orang-orang beriman. Demikian juga menjadi maklum bahwa sesuai dengan ayat-ayat ini pengeksklusifan para sahabat Rasulullah Saw sebagai sahabat adil dan munafik tidak dapat dibenarkan; artinya apabila kita tidak memandang seorang sahabat sebagai seorang yang adil maka kita harus memandangnya sebagai orang munafik. Bahjka para sahabat bisa saja tergolong sebagai pendosa dan jelas bahwa semata-mata melakukan dosa seseorang tidak akan tergolong dalam barisan orang-orang munafik.bukankah Rasulullah Saw pada akhir-akhir hayatnya berulang kali mengungkapkan rasa takutnya dari orang-orang yang berada di sekelilinya? Pada teks-teks dalam literature-literatur Ahlusunnah terdapat nukilan riwayat bahwa tatkala ayat “balligh ma unzila ilaika” diwahyukan Rasulullah Saw bersabda, “Wahai Tuhanku! Aku hanya sendiri apa yang harus aku lakukan? AtU Mereka akan berkumpul melawanku.” Kemudian Ayat “wain lam taf’al fama ballaghta risalatahu” diturunkan.[Tafsir Thabari, jil. 10, hal. 468:, Al-Durr al-Mantsur, jil. 3, hal. 418. Software Maktabat al-Syâmilah:]

Tentu saja takut dan gentar ini bukan takut dan gentar kepada orang-orang kafir; karena peristiwa al-Ghadir terjadi pada tahun kesepuluh Hijriah, dan ketika itu tidak terdapat orang kafir sehingga Rasulullah Saw bertugas untuk menyampaikan hukum Ilahi. Apabila banyak sahabat yang tulus ikhlas di sekeliling Rasulullah Saw, lantas mengapa beliau berkata lirih, “Innama ana wahidun, kaifa asn’a yajtami’u ‘ala al-nas.”[ Silahkan lihat, ‘Abaqât al-Anwâr fi Imâmat al-Aimmah al-Thâhirah, jil. 9, hal. 228-230.]

Dalam al-Qur’an terdapat ayat-ayat seperti ayat ini, Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul; sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika ia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.[Qs. Ali Imran [3]:144]   sebagaimana yang telah dijelaskan bahwa ayat-ayat ini dengan jelas menafikan keadilan seluruh sahabat dan menetapkan adanya kemungkinan kemurtadan sebagian orang.[Dalam hal ini, silahkan lihat riwayat-riwayat haudh (Telaga), No. 1589]

5.    sejarah berkata bahwa di antara para sahabat terdapat orang-orang yang membunuh orang lain atau berzinah seperti Walid dan Mughirah[Futûh al-Buldân, 344; Tarikh Thabari, 2/492-494. Al-Aghani, 16/103-110. Al-Kâmil fi al-Târikh, 2/384-385. Al-Bidâyah wa al-Nihâyah, 7//66-67:] atau Qasithin, Nakitsin, dan Mariqin. Dan persis atas dasar ini Syafi’i berkata, “Syahadah empat orang tidak diterima. Keempat orang ini adalah Muawiyah, Amru bin Ash, Mughirah dan Ziyad.[Al-Mukhtashar fi Akhbâr al-Basyar, 1/186:]

Bukti lain dari ucapan kami adalah bahwa sebagian dari sahabat ini sendiri, tidak memandang adil sebagian lainnya dan bahkan terkadang sesama mereka saling melemparkan tuduhan munafik kepada yang lain.[Shahih Bukhâri, jil. 9, hal. 148]

di antara sahabat Imam Husain As disebutkan lima orang dari sahabat Rasulullah Saw yang tergolong sebagai orang-orang yang gugur dan syahid di Karbala. Kelima orang ini adalah sebagai berikut:

1. Anas bin Harits Kahili:

Samawi dalam “Abshâr al-‘Ain fî Anshâr al-Husain” menyebutkan Anas bin Harits sebagai orang yang gugur sebagai syahid Karbala.[Muhammad bin Thahir Samawi, Abshâr al-Ain fî Anshâr al-Husain, riset oleh Muhamad bin Ja’far Thabasi, hal. 192, Pazyuhesy Kadeh Tahqiqat-e Islami, Qum, 1384 S.]

Syaikh Thusi juga menyebut ia sebagai salah seorang sahabat Rasulullah Saw,[Muhammad bin Hasan Thusi, Kitâb al-Rijâl, hal. 21, Intisyarat-e Haidariyah, Najaf, 1381 H.  ] dan juga di antara orang-orang yang gugur sebagai syahid bersama Imam Husain As.[Muhammad bin Hasan Thusi, Kitâb al-Rijâl, hal. 99, Intisyarat-e Haidariyah, Najaf, 1381 H.  ] Tatkala menyebutkan Anas bin Harits sebagai salah seorang sahabat Rasulullah Saw, Syaikh Thusi mengingatkan bahwa ia menggapai syahid di samping Imam Husain As. Anas bin Harits sedemikian tinggi kedudukannya dan masyhur sehingga sesuai dengan nukilan Allamah Muhsin Amin dalam A’yân al-Syiah,[Muhsin Amin ‘Amili memandang lebih tepat apabila nama Habib bin Mazhahir ditulis dengan Muzhahhar. Silahkan lihat A’yân al-Syiah, jil. 4, hal. 553. ]

Kumait bin Zaid, salah seorang pujangga yang terkenal Ahlulbait As, menyebut Anas bin Harits dalam lirik syairnya. Kumait menggubah sebuah syair yang menyebutkan Anas bin Harits Kahili al-Kahili sebagaimana berikut:

Siwa ‘ushbatun fihim Habib muaffarun

Qadha nahbahu wa al-Kahili Murammalun

Kecuali sekelompok orang di antara mereka yaitu Habib yang berkorban jiwa dan tubuhnya berguling di tanah dan raga al-Kahili bersimbah darah.

2. Habib bin Muzhahhar:[Muhsin Amin ‘Amili, A’yân al-Syiah, jil. 3, hal. 500, Dar al-Ta’arif, Beirut, 1406 H.]

Habib bin Muzhahhar adalah salah seorang sahabat Rasulullah Saw dan merupakan sahabat besar Imam Ali As yang turut serta dalam tiga peperangan, Shiffin, Nahrawan dan Jamal.[Jawad Muhadditsi, Farhangg-e ‘Âsyurâ, hal. 151, Nasyr Ma’ruf, Qum, 1381 S.  ]

Syaikh Thusi tidak menyebutkan ia sebagai salah seorang sahabat Rasulullah Saw, kendati demikian Syaikh Thusi menyebut ia sebagai salah seorang sahabat Imam Ali As dan Imam Husain As.[A’yân al-Syiah, jil. 4, hal. 553]

Sebagian ulama seperti Samawi penulis Abshar al-Ain menyebutkan nama Habib bin Muzhahhar sebagai sahabat Rasulullah Saw yang gugur sebagai syahid di padang Karbala.[bshâr al-‘Ain, hal. 193.]

3. Muslim bin Awsaja:

Samawi dalam kitab Abshâr al-‘Ain menghitungnya sebagai salah seorang sahabat Rasulullah Saw dan Imam Ali As.[bshâr al-‘Ain, hal. 193.] Allamah Muhsin Amin juga dalam kitab A’yân al-Syiah, tatkala menjelaskan sahabat-sahabat Imam Husain As, menyebut Muslim bin Awsaja sebagai sahabat (shahabi) Rasulullah Saw.[A’yân al-Syiah, jil. 1, hal. 612.  ]

4. Hani bin Urwah:

Salah seorang penolong Imam Husain lainnya yang tergolong sebagai sahabat Rasulullah Saw adalah Hani bin Urwah. Ia adalah seorang tua dan pembesar kabilah Muradi yang turut serta dalam tiga peperangan di samping Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As.[Samawi mencatat namanya sebagai sahabat Rasulullah Saw. Dari sisi usia, mengingat bahwa Hani adalah seorang renta dan syaikh (pembesar) kabilahnya serta usianya lebih tua dari Imam Husain As, boleh jadi ia merupakan salah seorang sahabat Rasulullah Saw. Silahkan lihat, Abshâr al-‘Ain, hal. 192.  ]

5. Abdullah bin Baqthar (Yaqthar) Himyari:

Abdullah bin Baqthar (Yaqthar) adalah saudara sesusuan Imam Husain As.[Rijâl Thûsi, hal. 103.] Ayahnya Baqthar (Yaqthar) adalah khadim (pembantu) Rasulullah Saw. Ia membawa surat Imam Husain As untuk Muslim bin Aqil di Kufah kemudian ditangkap (oleh Ibnu Ziyad) dan langsung gugur sebagai syahid.[Farhangg-e ‘Âsyurâ, hal. 322. Meski namanya tidak disebutkan sebagai salah seorang sahabat Rasulllah Saw dalam kitab-kitab Rijal, namun mengingat bahwa ia merupakan saudara sesusuan Imam Husain As, penyandaran seperti ini mungkin saja benar adanya. Karena itu dalam kitab Abshâr al-‘Ain tercatat sebagai salah seorang sahabat Rasulullah Saw.]

Mengapa Imam Ali pada masa kekhalifahannya tidak menunjukkan penentangan terhadap para khalifah dan tidak menguburkan pelbagai bid’ah yang dimunculkan oleh mereka. Apabila para khalifah telah kafir lalu mengapa tatkala menjadi khalifah Imam Ali tidak mengumumkan kekufuran dan bahwa kekhalifahan mereka adalah hasil rampasan?

dikarenakan adanya pelarangan Bani Umayyah untuk menukil pelbagai keutamaan Amirul Mukminin. Hal ini juga disebabkan oleh adanya penyelewengan sejarah yang dilakukan oleh Bani Umayyah dan antek-anteknya yang didorong oleh tujuan-tujuan politis dan amat disayangkan atas dasar ini, hal ini terus berlanjut, seperti di antaranya pertanyaan-pertanyaan yang Anda ajukan. Sebelum menjawab pertanyaan Anda, kami anjurkan bahwa apabila Anda benar-benar ingin mencari dan menemukan kebenaran dan Anda tidak bermaksud untuk menyebarkan benih-benih perpecahan di antara Syiah dan Sunni yang tidak lain hanya akan dimanfaatkan oleh kelompok non-Muslim, Anda dapat merujuk pada kitab-kitab teologis yang ditulis oleh ulama Syiah dan tanpa adanya pra-judis, maka Anda akan sampai pada kenyataan yang sebenarnya. Dan yakinlah “Allah Swt akan memberikan petunjuk kepada orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalannya.” (Qs. Al-Ankabut [29]:69)

Dan tentu saja Anda tahu bahwa riwayat mutâwatir yang dapat dijadikan sebagai sandaran adalah riwayat yang diterima oleh kedua belah pihak, Syiah dan Sunni. Sebagai contoh, hal-hal berikut ini dapat disebut sebagai riwayat mutawatir di antara kedua belah pihak, karena di samping terdapat pada literatur-literatur Ahlusunnah juga dapat dijumpai pada literatur-literatur Syiah. Di sini kami hanya akan menyandarkan hal-hal yang dapat dijadikan contoh sebagai riwayat mutawatir pada literatur-literatur Ahlusunnah di bawah ini:

1.     Bahwa hubungan Amirul Mukminin As bagi Rasulullah Saw adalah laksana hubungan Harun bagi Musa.[Muhammad bin Ismail Bukhari, Shahîh Bukhâri, jil. 4, hal. 208, dan jil. 5, hal. 129, Dar al-Fikr, Beirut, 1401.  ]

2.     Bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Barang siapa yang membuat murka Fatimah As maka sesungguhnya ia telah membuatku murka.”[Shahîh Bukhâri jil. 4, hal. 219.  ]

3.     Bahwa terdapat seseorang mencegah Rasulullah Saw, pada masa hidupnya, untuk menuliskan sesuatu (wasiat) dan orang itu berkata bahwa sesungguhnya Rasulullah Saw sedang meracau.[Shahîh Bukhâri jil. 5, hal. 137-138 . Rasulullah Saw dicegah Untuk Menulis Wasiat.  ]

4.     Bahwa Fatimah tidak ridha kepada Khalifah Pertama dan Khalifah Kedua hingga ajal menjemputnya.[Shahîh Bukhâri jilid 5 hal. 42 dan jil. 5, hal. 82-83.  ]

5.     Bahwa Rasulullah Saw mengutus Ali bin Abi Thalib untuk menyampaikan pesan barâ’at menggantikan posisi Abu Bakar.[Shahîh Bukhâri jil. 5, hal. 202-203 ]

6.     Bahwa Khalifah Pertama dan Kedua sedemikan keras suaranya di hadapan Rasulullah Saw sehingga turun ayat-ayat pertama surah Hujurat yang mencela mereka.[Shahîh Bukhâri jil. 6, hal. 46-47.] Kendati Ahlusunnah berpandangan bahwa Allah Swt setelah itu mengampuni keduanya.

Abu Khalid Kabuli menukil, “Aku berkata kepada Imam Sajjad As bersabda, “Orang-orang[Silahkan cermati dalam riwayat ini disebutkan orang-orang dan bukan Imam Ali As.] berkata bahwa sebaik-baik manusia setelah Rasulullah Saw secara berurutan adalah Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali As. Imam Sajjad dalam menjawab perkataan ini bersabda, “Lalu apa yang akan mereka katakan terhadap sebuah riwayat yang dinukil Sa’id bin Musayyab bin Abi Waqqas dari Rasulullah Saw dimana beliau bersabda kepada Ali bin Abi Thalib As bahwa “Engkau bagiku adalah laksana Harun bagi Musa hanya saja tiada nabi selepasku.”[Sebagaimana yang telah dijelaskan, hadis ini merupakan hadis mutawatir di kalangan Syiah dan Ahlusunnah dan terdapat pada kitab-kitab sahih Ahlusunnah.  ]

Apakah ada orang yang laksana Harun di masa Nabi Musa As (pada masa Rasulullah Saw)?[Muhammad Baqir Majlisi, Bihâr al-Anwâr, jil. 37, hal. 237, Muassasah al-Wafa, Beirut, 1404 H. ]

Imam Sajjad As dengan bersandar pada hadis manzilah yang diterima oleh kedua mazhab, mempertanyakan validitas dan keabsahan hadis yang dilontarkan oleh masyarakat dan Anda memandangnya disandarkan kepada Imam Ali As.  Argumen yang disampaikan oleh Imam Sajjad ini nampak logis terlepas dari siapa pun yang menyampaikanya dan akan dapat diterima.

Adapun pertanyaan bahwa mengapa Amirul Mukminin As setelah memegang tampuk kekuasaan tidak menyatakan penentangan kepada para khalifah sebelumnya? Harus dikatakan bahwa sesuai dengan keyakinan kami (Syiah) dan apa yang terdapat pada kitab-kitab kami, berulang kali Baginda Ali As menyampaikan kritikan dan protes kepada para khalifah sebelumnya. Sebagai contoh kita dapat menyebut Khutbah Syaqsyaqiyyah yang terdapat pada kitab Nahj al-Balâgha.

Namun terkait dengan penyandaran riwayat mutâwatir di kalangan dua belah mazhab kami akan mengajukan beberapa pertanyaan:

1.     Apakah pemakzulan Mu’awiyah (yang telah diangkat oleh Khalifah Kedua sebelumnya) bukan merupakan bentuk penentangan kepadanya?

2.     Apakah pendistribusian bait al-mal dengan model baru yang amat ketat dijalankan oleh Baginda Ali As tidak tergolong sebagai penentangan?

3.     Apakah tiadanya perhatian untuk melanjutkan pelbagai penaklukan negeri-negeri luar dan upaya untuk mensterilkan masyarakat Islam bukan merupakan perubahan kebijakan yang menentang kebijakan para khalifah sebelumnya? Dan lain sebagainya.

Yang kami tahu bahwa Baginda Ali As pada masa kekuasaan kekhalifahan sebelumnya dipandang sebagai seorang pemrotes dan kritikus terhadap sistem yang ada ketika itu. Misalnya salah satu contoh, di antara puluhan contoh, kami bertanya kepada Anda bahwa mengapa beliau tidak membaiat Abu Bakar hingga masa wafatnya Fatimah Sa, dan prosesi pemakamannya yang dilakukan pada malam hari, yang Anda kenal sebagai sebaik-baik manusia setelah Rasulullah Saw? (Silahkan lihat, Shahîh Bukhâri, jil. 5, hal. 82-83.]

Namun bagi Baginda Ali As, dengan alasan menjaga pokok Islam, meski dengan pelbagai kritikan dan protes yang dilontarkan kepada para khalifah, beliau tetap mengurus urusan kaum Muslimin dengan para khalifah  dan sesuai dengan ungkapannya yang indah, “Kami memiliki hak yang alangkah baiknya apabila mereka serahkan (kepada kami sebagai pemilik yang sah) dan kalau tidak kami memilih sebagai orang kedua, menaiki pundak unta meski berujung pada masa yang panjang.”[Nahj al-Balâgha, hal. 472, Intisyarat Dar al-Hijrah, Qum.]

Pada hakikatnya, Baginda Ali As hanya memandang kekuasaan sebagai media bukan sebagai tujuan. Atas dasar itu, baik pada masa para khalifah sebelumnya juga pada masa pemerintahan lahirianya[Setelah 25 tahun Baginda Ali As memilih untuk diam dan masyarakat termasuk para khalifah banyak meminta pendapat kepadanya untuk menyelesaikan pelbagai persoalan keumatan yang dihadapi.   ] Baginda Ali As memilih diam dalam banyak hal dan membiarkan masyarakat sendiri di masa yang akan datang yang kelak menilainya.

Terkait dengan kekufuran orang-orang yang Anda jelaskan harus dikatakan bahwa akidah Syiah menyatakan bahwa setiap orang yang mengucapkan kalimat syahadat melalui lisannya adalah seorang Muslim.

Beberapa hal yang dijelaskan di atas dan terdapat puluhan riwayat lainnya yang dapat disebut sebagai mutâwatir di antara kedua mazhab. Karena di samping bahwa riwayat tersebut dinukil dalam literatur-literatur Syiah, ia juga dikutip dalam literatur-literatur Ahlusunnah yang paling standar. Keenam riwayat di atas kami nukil dari kitab Shahih Bukhâri yang kedudukannya di kalangan Ahlusunnah sebagai saudari al-Qur’an.

Pada dasarnya, tatkala pemerintahan berada di tangannya yang tadinya menjalani masa diam selama 25 tahun, akibat aksi propaganda secara berketerusan telah membuat masyarakat Muslim membenarkan perbuatan-perbuatan para khalifah sebelumnya. Dan pelbagai penetangan Baginda Ali telah menimbulkan permasalahan pada sebagian perkara seperti pengembalian tanah Fadak yang menurut anggapan sebagian orang merupakan sebuah upaya untuk kepentingan pribadi. Pendeknya, masa pemerintahan Baginda Ali sedemikan pendek dan disertai dengan pelbagai peperangan dan banyaknya tindakan menghalang-halangi oleh pihak musuh sehingga tidak memberikan izin dan peluang kepada Amirul Mukminin Ali As untuk melakukan perbaikan asasi dalam banyak bidang.

Apakah sesuai dengan ayat 30 surah Muhammad[Dan kalau Kami menghendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya.   ]

dan ayat 101 surah Taubah,[Di antara orang-orang Arab Badui yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik; dan (juga) di antara penduduk Madinah ada sekelompok orang yang keterlaluan dalam kemunafikannya. Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, (tetapi) Kami-lah yang mengetahui mereka. ]

Allah Swt dapat memperkenalkan orang-orang munafik kepada Rasulullah Saw namun beliau tidak meminta kepada Tuhan untuk hal tersebut dapat disebut sebagai pengkhianatan kepada Islam dan kaum Muslimin?

Apakahnya sikap diam Harun terkat dengan penyembahan Bani Israil terhadap sapi dan pengajuan minta maaf kepada Musa As bahwa Bani Israel memandang saya lemah dan nyaris mereka membunuh saya,[(Qs. Al-A’raf [7]:150)] adalah sebuah pengkhianatan?

Tidak satu pun dari hal ini merupakan pengkhianatan dan diamnya Baginda Ali As (yang kedudukannya laksana Harun As) dengan penjelasan beberapa hal juga dalam kondisi yang sama. Baginda Ali As berperang dengan tiga kelompok kaum Muslimin dan banyak orang lagi yang menentangnya dan sebagai akibatnya mereka mensyahidkan Baginda Ali As. Sekali lagi sikap diam Imam Ali As bukanlah sebuah pengkhianatan, dan hal ini menjadi tugas Anda dan kami untuk melakukan riset imparsial dan fair untuk sampai kepada kebenaran dan hakikat

.

catatan kaki :


[1]. Silahkan lihat kitab-kitab yang membahas tentang ilmu Rijal seperti, ‘Ayan al-Syiah, Rijal al-Thusi dan Mu’jam Rijal al-Hadits.

[2]. Silahkan lihat, Huwiyat al-Syi’ah, al-Syaikh Ahmad al-Waili, hal. 36.

[3]. Jâmi’ al-Ushûl, jil. 11, hal. 119-123.

[4]. Shahîh Bukhâri, Kitâb Riqâq, bab 53, hadis 2115; Lisan al-Arab, Ibnu Manzhur, jil. 15, hal. 135; Al-Targhib wa al-Tarhib, Mindzari, jil. 4, hal. 422; Al-Nihayat fi Gharib al-Hadits, Ibnu Atsir, jil. 5, hal. 274; Fath al-Bari, Ibnu Hajar, jil. 11, hal. 475; ‘Umdat al-Qari, ‘Aini, jil. 23, hal. 142; Irsyad al-Sari, Qasthalani, jil. 9, hal. 342.

«بینا أنا قائم إذا زمرة، حتی إذا عرفتهم خرج رجل من بینی و بینهم، فقال: هلم، فقلت: أین؟ قال: الی النار والله، قلت: و ماشأنهم؟ قال: إنهم ارتدوا بعدک علی أدبارهم القهقری. ثم إذا زمرة، حتی إذا عرفتهم خرج رجل من بینی و بینهم، فقال: هلم، قلت: أین؟ قال: إلی النار والله. قلت: ماشأنهم؟ قال: أنهم ارتدوا بعدک علی أدبارهم القهقری، فلا أراه یخلص منهم الا مثل همل النعم».

[5]. Diadaptasi dari Pertanyaan 1589 (Site:1980), Indeks: Makna Kemurtadan Sahabat dan Dalil-dalilnya.

[6]. Imam Khomeini, Kitâb al-Thahârah, jil. 3, hal. 437, cetakan pertama, Muassasah Tanzhim wa Nasyr Atsar-e Imam Khomeini, 1379 S. Diadaptasi dari Pertanyaan 2808 (Site:3501).

[7]. Wawancara dengan Ayatullah Wa’izh Zadeh Khurasani, Nasyriyeh Hauzah, tahun 24.
 Benarkah Syiah mencela Para Sahabat?

syi’ah kafirkan sahabat yang mulia ?? Bahaya Syiah Kafirkan Sahabat ??

murtad tulen atau kafir tulen jika pindah agama

.

baca : Mayoritas Umat Mengkhianati Ali Sepeninggal Nabi SAW Diabadikan Tafsir Al Quran

Syi’ah mengkafirkan sahabat ???

selain Ahlulbait Nabi Saw tiada seorang pun sahabat yang maksum dan terjaga dari dosa karena itu terdapat banyak nukilan yang mengisahkan kesalahan-kesalahan kebanyakan sahabat yang sebagian darinya sedemikian masyhur sehingga sampai pada derajat tawatur (baca: hadis-hadis mutawatir).

MURTAD / KAFiR versi syi’ah bermakna berbuat bid’ah sehingga menentang sunnah Nabi SAW, berbalik arah pasca wafat Nabi SAW.. Jadi syi’ah tidak pernah menuduh murtad/kafir nya oknum sahabat sebagai murtad tulen atau kafir tulen ! Perbuatan mereka merubah ajaran Nabi , menolak  ajaran Islam yang dibawa   Itrah Ahlul Bayt nya.

Kemurtadan (dalam arti diatas) para sahabat dalam riwayat-riwayat Ahlusunnah lebih banyak dan riwayat-riwayat yang banyak dan mutawatir, sementara pada literatur-literatur Syiah riwayat-riwayat sahih yang menjelaskan kemurtadan para sahabat tidak lebih dari dua riwayat dan meminjam istilah ilmu hadis, tidak melewati batasan kabar wahid. Karena itu, saudara-saudara Ahlusnnah harus memberikan jawaban terkait dengan kemurtadan para sahabat dalam riwayat-riwayat mutawatir ini apa maksudnya?

Adapun ulama Syiah meyakini bahwa kemurtadan yang disebutkan pada sebagian riwayat disandarkan pada sebagian sahabat dan tidak bermakna kafir dan kembali menyembah berhala, melainkan bermakna melanggar janji wilayah dan membangkang Nabi Saw dalam masalah khilafah. Oleh itu, mereka yang turut serta dalam pelbagai penaklukan Islam seluruhnya adalah muslim dan berupaya dalam menyebarkan Islam. Kendati boleh jadi mereka melakukan dosa dan kesalahan dalam kehidupan mereka.

orang-orang Syiah tidak memaknai kemurtadan (irtidâd) itu sebagai kekafiran dalam artian paganisme atau kembalinya mereka ke masa jahiliyah. Demikian juga, mereka tidak memaknai kemunafikan sebagai penyembahan berhala dan kemusyrikan kepada Allah Swt.

Meski para sahabat memiliki banyak perbedaan namun terdapat banyak common point di antara mereka. Dan kami (Syiah) tidak meyakini bahwa mereka telah kafir dan menjadi penyembah berhala. Hanya saja pada beberapa kejadian, mereka mengabaikan dan membangkang instruksi-instruksi Rasulullah Saw.

contoh perlakuan terhadap  Ahlulbait Nabi Saw:

1.     Tragedi memilukan pasca wafatnya Rasulullah Saw untuk memberikan baiat kepada Baginda Ali As dan sahabat lainnya, yang berkumpul di kediaman beliau.

2.     Perlakuan tidak senonoh yang dilakukan terhadap Fatimah Zahra Sa dalam mengabaikan haknya terkait dengan tanah Fadak.

3. Peristiwa pengambilan baiat dari sahabat yang menentang khilafah Abu Bakar yang berujung pada pembakaran kediaman Ali bin Abi Thalib As.

Boleh jadi perlakuan tidak senonoh yang dilakukan terhadap Ahlulbait Nabi As pasca wafatnya Rasulullah Saw seperti peristiwa-peristiwa pengambilan baiat dari Ali bin Abi Thalib As. Dainawari salah seorang ulama Ahlusunnah mengutip, “Tatkala Abu Bakar mengetahui bahwa sebagian kaum Muslimin menolak untuk memberikan baiat kepadanya dan berkumpul di rumah Ali bin Abi Thalib, ia mengutus Umar bin Khattab kepada mereka. Umar bin Khattab menyeru mereka untuk berbaiat dan karena mereka menolak seruan ini, Umar bin Khattab meminta supaya kayu bakar dikumpulkan. Katanya, “Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya! (Hanya ada dua pilihan) Apakah kalian keluar dari rumah atau aku membakar rumah ini beserta seluruh apa yang ada di dalamnya. Seseorang berkata, “Di dalam rumah ada Fatimah!” Umar menjawab perkataan ini dengan berseru lantang, “Bahkan sekiranya Fatimah berada di dalam rumah ini.”[Ibnu Qutaibah Dainawari, al-Imâmah wa al-Siyâsah, jil. 1, hal. 30, Dar al-Adhwa, Beirut, Cetakan Pertama, 1410 H  

Peristiwa lainnya yang terjadi atas tanah Fadak yang menghadap-hadapkan Fatimah Sa dengan para khalifah. Pada peristiwa ini, terjadi perlakuan-perlakuan yang tidak senonoh terhadap putri Nabi Saw; seorang yang murkanya sama dengan murka Rasulullah Saw dan Allah Swt sebagaimana yang dinukil oleh Ibnu Katsir dari Aisyah bahwa Fatimah murka hingga akhir hayatnya.[Ibnu Katsir, al-Bidâyah wa al-Nihâyah, jil. 5, hal. 285, Dar al-Fikr Beirut, 1407 H. Sesuai nukilan Ibnu Katsir, Bukhari juga menyebutkan riwayat ini dalalm kitab al-Maghâzi dengan sanad sahih.   ]

Perlakuan-perlakuan yang terjadi pada hari-hari pertama pasca wafatnya Rasulullah Saw dalam rangka mengambil baiat dari para penentang. Karena para sahabat lainnya selain Ahlulbait As telah dilecehkan dan direndahkan dalam peristiwa ini.[Ibnu Qutaibah Dainawari, al-Imâmah wa al-Siyâsah, jil. 1, hal. 30 ]

Baladzuri meriwayatkan, “Tatkala Usman memberikan sejumlah besar uang kepada sebagian orang seperti Marwan bin Hakam, Abu Dzar mulai melancarkan protes dengan melontarkan singgungan dan berkata bergembiralah dengan azab jahanam bagi orang yang menyimpan harta benda. Ucapan ini sampai ke telinga Usman dan ia melarangnya. Usman berkata di hadapan Abu Dzar, adapun bahwa Allah Swt ridha dan Usman murka adalah lebih baik daripada Usman ridha dan Allah Swt murka. Karena kediaman Abu Dzar dipindahkan ke Syam (Suriah) Muawiyah juga tidak lolos dari lontaran kritikannya; hingga Muawiyah menulis surat kepada Usman yang isinya menyatakan bahwa Abu Dzar telah merusak Syam dan harus segara diatasi. Usman menjawab, “Kirimlah ia kepadaku dengan paksa!” Tatkala Abu Dzar tiba di Madinah, ia tetap mengkritisi Usman. Usman berkata kepadanya, pilihlah satu negeri yang engkau sukai dan pergilah ke sana! Abu Dzar menimpali, “Mekkah.” Usman menolak pilihan itu. Abu Dzar kembali berkata, “Baitul Muqaddas” Kembali Usman menentang pilihan Abu Dzar. Abu Dzar berkata, “Kufah atau Basrah.” Lagi-lagi Usman menolak dan menukas, “Engkau akan aku kirim ke Rabadzah.”[Al-Baladzuri, Ansâb al-Asyrâf, jil. 5, hal. 541]

Diasingkannya Abu Dzar oleh Usman dan meninggalnya Abu Dzar di tempat itu yang hanya ditemani oleh istri dan putranya merupakan hal-hal yang pasti dalam sejarah.[Silahkan lihat, al-Sam’ani, Al-Ansâb, jil. 10, hal. 65, Majlis Dairat al-Ma’arif al-‘Utsmaniyah, Haidar Abad, Cetakan Pertama, 1382. Baladzuri, Ansâb al-Asyrâf, jil. 5, hal. 541-545. Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, jil. 2, hal. 165, Dar al-Fikr, Beirut, 1407 H.]

Baladzuri dalam kitabnya Ansâb al-Asyrâf menukil bahwa suatu masa Usman mengangkat Walid bin Uqbah sebagai gubernur Kufah. Abdullah bin Mas’ud angkat bicara dan mengecam tindakan Usman ini. “Barang siapa yang membuat perubahan ini semoga Allah Swt mengubahnya dalam (urusan pemerintahan dan khilafah) dan tidak rela kepadanya…” Pungkas Abdullah bin Mas’ud. Walid menyampaikan kecaman Ibnu Mas’ud kepada Usman dan Usman memerintahkan Walid untuk mengirim Ibnu Mas’ud ke Madinah. Abdullah bin Mas’ud dengan dikawal oleh masyarakat Kufah menyampaikan ucapan selamat tinggal kepada mereka dan bertolak menuju Madinah. Tatkala Abdullah bin Mas’ud memasuki kota Madinah, Usman sedang menyampaikan pidato di atas mimbar Rasulullah Saw dan saat itu ia melihat Abdullah bin Mas’ud. Pada saat itu juga Usman berkata, “Ayyuhannas! Telah datang kepada kalian seseorang laksana serangga penganggu yang menghinggapi makanan setiap orang. Orang yang menyantap makanan entah ia menghabisinya atau akan terjangkiti penyakit diare.” Ibnu Mas’ud menimpali bahwa aku tidaklah demikian adanya. Aku adalah orang yang bersama Rasulullah Saw pada perang Badar dan pada hari baiat ridwan. Pada saat itu, Aisyah berseru, “Wahai Usman! Apakah engkau berkata-kata hal ini pada sahabat Rasulullah Saw?” Usman kemudian menitahkan supaya ia dikeluarkan dari masjid dengan paksa dan Abdullah bin Za’mah membantingnya. Juga disebutkan bahwa Yahmum, budak Usman, mengeluarkannya secara paksa dari masjid dan Abdullah bin Mas’ud dalam kondisi yang mengenaskan terjatuh dan giginya copot. Baginda Ali bin Abi Thalib As juga di tempat itu menyampaikan protes kepada Usman dan berkata, “Apakah karena ucapan Walid engkau memperlakukan sahabat Rasulullah Saw seperti ini?” Baginda Ali merawat Abdullah bin Mas’ud dan membawanya ke rumahnya. Hingga akhir hayatnya, Usman tidak memberikan izin bagi Abdullah bin Mas’ud untuk meninggalkan Madinah bahkan ia tidak boleh pergi berperang melawan Syam.[Al-Baladzuri, Ansâb al-Asyrâf, jil. 5, hal. 524, Beirut, Dar al-Fikr, Cetakan Pertama, 1417 H.   ]

Ibnu Abi al-Hadid juga menukil peristiwa ini dari Waqidi dalam Syarh Nahj al-Balaghah-nya.[Ibnu Abi al-Hadid, Syarh Nahj al-Balâghah, jil. 12, hal. 42, Kitabkhane Ayatullah Mar’asyi, Qum, 1404 H.  ]

Harap diperhatikan bahwa perlakuan ini menyisakan pengaruh buruk dalam benak setiap kaum Muslimin terhadap Usman sedemikian sehingga sebagian sejarawan memandang hal tersebut sebagai cikal-bakal pemberontakan rakyat melawan Usman.

Khalifah Pertama dan Kedua sesuai dengan keyakinan Ahlusunnah demikian juga Syiah senantiasa bersama dan seiring sejalan serta membantu satu sama lain. Pada banyak hal mereka juga berselisih dan berbeda pendapat sedemikian sehingga suara dua sahabat Rasulullah Saw ini sedemikian keras sehingga turun ayat al-Qur’an yang menegur orang-orang beriman supaya tidak bersuara keras di hadapan Rasulullah Saw dan dipandang sebagai penyebab terhapusnya perbuatan-perbuatan baik.[ “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak terhapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari.” (Qs. Al-Hujurat [49]: 2)]

Kitab riwayat paling sahih Ahlusunnah yaitu Bukhari dalam hal ini menjelaskan bahwa hampir saja kedua orang baik ini yaitu Abu Bakar dan Umar binasa dengan turunnya ayat-ayat ini! Keduanya, suatu waktu sekelompok orang datang kepada Rasulullah Saw, mereka berbeda pendapat secara tajam tentang kelompok tersebut. Abu Bakar berkata kepada Umar: “Keputusanmu semata-mata untuk menentangku!” Umar juga menjawab, “Tidak benar demikian.” Dan perselisihan mereka berlanjut dan suara mereka terdengar kencang dan keras di hadapan Rasulullah Saw. Sebagai akibatnya, Allah Swt menurunkan ayat-ayat pertama surah al-Hujurat.[Shahih Bukhâri, Abu Abdillah Muhammad bin Ismail Bukhari, jil. 6, hal. 46-47 dan jil. 8, hal. 145, Dar al-Fikr, Beirut, 1401 H.  ]

Contoh Kedua: Ketika Rasulullah Saw meminta pena dan tinta pada detik-detik terakhir kehidupannya supaya beliau menuliskan wasiatnya, Khalifah Kedua menghalangi terpenuhinya permintaan Rasulullah Saw ini.[Shahih Bukhâri, Abu Abdillah Muhammad bin Ismail Bukhari, jil. 5, hal. 137 – 138.  ] Sebagai akibatnya, sebagian sahabat menghendaki supaya permintaan Rasulullah Saw dipenuhi dan sebagian lainnya berdiri menentangnya. Mereka berdalih  bahwa Rasulullah Saw bersabda tidak pantas bertikai di samping Rasulullah Saw.

Contoh Ketiga: Ibnu Mas’ud salah seorang sahabat besar dan penghafal al-Qur’an banyak bertikai dengan Khalifah Ketiga dan setelah wafatnya, ia dikuburkan pada malam hari oleh Zubair dan sebagai akibatnya Zubair dihukum oleh Usman atas perbuatannya ini.[‘Usd al-Ghabah fi Ma’rifat al-Shahâbah, Ibnu Atsir, jil. 3, hal. 260, Intisyarat-e Ismailiyan, Teheran.]

Contoh Keempat: Sahabat berada pada dua kubu yang berperang pada perang Jamal dan Shiffin. Banyak jumlah dari mereka yang gugur pada dua perang ini.

Contoh Kelima: Meski Rasulullah Saw bersabda bahwa tiada yang lebih jujur daripada Abu Dzar di bawah kolong langit, setelah bertikai dengan Muawiyah, ia diasingkan oleh Khalifah Ketiga ke Rabadzah dan meninggal di tempat itu dalam keadaan terasing.[Usd al-Ghabah fi Ma’rifat al-Shahâbah, Ibnu Atsir,jil. 1, hal. 301.  ] Ketiganya adalah sahabat utama dan pertama Rasulullah Saw.

Contoh Keenam: Ammar adalah salah seorang yang bertikai dengan Khalifah Ketiga[Thabaqât al-Kubrâ, Muhammad bin Sa’ad, jil. 3, hal. 260, Dar Shadir, Beirut.  ] dan keduanya adalah sahabat ternama!

Dengan merujuk pada kitab-kitab Ahlusunnah, Anda dapat menjumpai hal-hal seperti ini dan pada kesempatan yang singkat ini kami tidak berada pada tataran menjelaskan seluruh masalah yang menjadi obyek ikhtilaf dan sengketa di antara para sahabat karena hal itu memerlukan buku bervolume besar yang membahas masalah ini secara khusus.

Adapun pertanyaan kami bahwa sejatinya apabila para sahabat sehati lantas mengapa peristiwa Saqifah harus terjadi dan mengapa Sa’ad bin Ubadah yang merupakan salah satu pembesar kaum Anshar dan di antara sahabat yang tidak berbaiat hingga akhir usianya, terbunuh dalam keadaan misterius? Dan mengapa Imam Ali As baru berbaiat setelah enam belas pasca wafatnya Fatimah Sa?[Shahih Bukhâri, jil. 5, hal. 82 – 83.  ]

kami tidak menerima bahwa sahabat Rasulullah Saw telah kafir dan murtad. Namun apabila kekufuran dan kemurtadan bermakna kufur nikmat dan membangkang terhadap sebagian instruksi Rasulullah Saw maka dapat dikatakan bahwa kebanyakan orang di antara sahabat yang telah melakukan hal ini

Dan hal ini juga tidak terkhusus pada masa pasca Rasulullah Saw, melainkan pada masa hidup beliau dan pada masa nabi-nabi lainnya juga terjadi pelbagai pembelotan sedemikian sehingga Allah Swt menghukum kaum Muslimin dan berfirman kepada mereka, Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya apabila kamu diseru, “Berangkatlah (untuk berperang) di jalan Allah”, kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu merasa puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit?” (Qs. Al-Taubah [9]:38)

Atau setelah pembangkangan Bani Israel, Nabi Musa bertutur kata kepada Allah Swt, Musa berkata, “Ya Tuhan-ku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu pisahkanlah antara kami dan orang-orang yang fasik itu.” (Qs. Al-Maidah [5]:25)

Tidak satu pun dari dua ayat ini yang menyatakan para sahabat Rasulullah Saw dan Nabi Musa As telah kafir yang bermakna menyembah berhala namun karena membangkang perintah (baca: kafir terhadap) para rasul mereka mendapatkan hukuman!

Tatkala di antara jumlah besar Bani Israel, kecuali Harun  tiada orang lain lagi yang menaati titah Nabi Musa As, lantas bagaimana Anda memandang ketidaktaatan sahabat Rasulullah Saw kepada beliau dalam beberapa hal tertentu sebagai suatu hal yang mustahil padahal Ahlusunnah sendiri menukil dari Rasulullah Saw bahwa seluruh kejadian yang menimpa Bani Israel juga secara beruntun akan menimpa umat ini[Shahih Tirmidzi, jil. 4, hal. 135, Dar al-Fikr, Beirut, 1403 H.  ]

di antara mereka tidak sehati dan saling mencemburui satu sama lain misalnya saudara-saudara Yusuf yang bersatu dan melemparkannya ke dalam sumur! Apakah ini suatu hal mustahil bahwa sahabat sebagaimana saudara Yusuf, untuk kepentingan tertentu, telah menyimpangkan rel khilâfah dari relnya yang asli?

Nabi Isa mencium gelagat kekufuran dari seluruh sahabatnya kecuali pada segelintir kecil orang (kurang lebih 12 orang) dan mengecualikan kaum Hawariyun,[Qs. Ali Imran [3]:52]

Syiah tidak meyakini kemunafikan dan kekufuran sahabat sebagaimana yang Anda gambarkan, melainkan meyakini bahwa kebanyakan dari mereka menutup mata terhadap wasiat-wasiat Rasulullah saw dan menyimpangkan Islam hingga batasan tertentu dari relnya yang benar, kecuali beberapa gelintir orang dari mereka yang tetap teguh di jalan kebenaran. Dengan memperhatikan sejarah dan kehidupan para nabi sebelumnya dan juga nabi kita Muhammad saw, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa mungkin saja manusia berada pada kelompok minoritas namun tidak terbunuh oleh kelompok penentang mereka. Ideologi dan keyakinan mereka, setelah berlalunya waktu, mengglobal dan mendunia bahkan sebagian besar dari penentang mereka pada periode selanjutnya malah bergabung dengan mereka.

Dalam tafsir Ibnu Abi Hatim kita membaca bahwa pada masa jahiliyah terdapat permusuhan dan pertempuran sengit antara suku Aus dan Khazraj. Suatu hari setelah kedatangan Islam dan pada masa hidup Rasulullah Saw, mereka dengan menukil kenangan-kenangan yang telah lalu menjadi marah dan berang. Kedua suku ini saling menghunus pedang. Setelah kejadian ini, Allah Swt mewahyukan ayat 101 surah Ali Imran (3) yang menyatakan bahwa bagaimana Anda telah kafir sementara ayat-ayat Allah Swt dibacakan pada kalian dan Rasul-Nya berada di tengah-tengah kalian.”[Tafsir al-Qur’ân al-‘Azhim, Ibnu Abi Hatim, jil. 3, hal. 720, Maktabah Nizar Mustafa al-Baz, Arab Saudi, 1419 H.]

Tentu saja, orang-orang Aus dan Khazraj tidak menjadi penyembah berhala, namun dengan demikian Allah Swt menggunakan redaksi kufur (kekufuran) lantaran perbuatan yang tidak patut mereka lakukan! Hal yang serupa dengan hal ini juga dapat disaksikan pada ayat-ayat lain al-Qur’an.[“Ketika Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani Isra’il), berkatalah ia, “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?” Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab, “Kamilah penolong-penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri.” “Dan supaya Allah mengetahui siapa orang-orang yang munafik. Kepada mereka dikatakan, “Marilah berperang di jalan Allah atau pertahankanlah (dirimu).” Mereka berkata, “Sekiranya kami mengetahui akan terjadi peperangan, tentulah kami mengikutimu.” Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran daripada keimanan. Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak terkandung dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan.”   (Qs. Ali Imran [3]:52 & 167);

“Hai rasul, janganlah kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera  (memperlihatkan) kekafirannya, yaitu di antara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka, “Kami telah beriman”, padahal hati mereka belum beriman; dan (juga) di antara orang-orang Yahudi. (Orang-orang Yahudi itu) amat suka mendengarkan (berita-berita) bohong, dan amat suka (juga) mendengarkan dan menaati ucapan-ucapan orang lain yang belum pernah datang kepadamu; mereka suka mengubah ucapan-ucapan dari arti yang sebenarnya.” (Qs. Al-Maidah [5]:41).  ]

Kemurtadan juga digunakan untuk ragam makna. Dengan memandang ayat 21 surah al-Maidah (5)[“Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari ke belakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi.”] dan ayat-ayat setelahnya dapat kita ambil kesimpulan bahwa Bani Israel pada masa hidup Nabi Musa as telah murtad, namun bukan kemurtadan yang bermakna kembali pada kekufuran dan kemusyrikan. Ketahuilah secara global bahwa apa yang disandarkan pada Syiah bahwa mereka meyakini kemurtadan dan kekufuran sahabat, tentu saja tidak bermakna kembalinya mereka kepada syirik dan penyembahan berhala, melainkan sebuah kekufuran sebagaimana yang disandarkan Allah Swt pada dua kelompok kaum Muslimin dari suku Aus dan Khazraj.

Namun amat disayangkan pada umat kita, kaum Muslimin, juga berlaku hal demikian. Para sahabat mulia mengabaikan wasiat Rasulullah saw dan merumahkan seorang saudara beliau, yang sesuai dengan pengakuan seluruh kaum Muslimin baik Syiah maupun Sunni, saudara Rasulullah saw itu adalah laksana Harun bagi Musa.[Shahih Bukhâri, Muhammad bin Ismail Bukhari, jil. 4, hal. 208 dan jil. 5, Dar al-Fikr, 1401 H.  ]

Secara praktik, kondisi yang ditimbulkan bagi umat Islam sama dengan kondisi yang ditimbulkan Bani Israil. Sebagai akibatnya Amirul Mukminin dengan latar belakang yang cemerlang dikesampingkan dan menyebabkan peluang kaum Muslimin untuk memanfaatkan Harun umat ini menjadi sirna. Kesalahan ini telah menjadi celah dan penghalang bagi umat Islam untuk sampai kepada kedudukannya yang ideal.

Apalagi mayoritas kaum Muslimin, meski secara politik telah terbawa arus penguasa dan berpaling dari Ali as, namun mereka mengetahui kedudukan beliau di sisi Rasulullah saw dan pengorbanan beliau yang tanpa tanding demi kemajuan Islam.

Sekarang pertanyaan yang mengemuka adalah mengapa masyarakat yang sedemikian besar, tidak melancarkan protes dan memilih jalan untuk bungkam di hadapan penyelewengan Saqifah!? Bukankah hal ini menegaskan bahwa hadis Ghadir tidak menandaskan dan menunjukkan wilayah Imam Ali As?!

Dalam menjawab pertanyaan ini harus dikatakan bahwa sejatinya secara umum tiadanya protes para sahabat di Saqifah dapat digugurkan dan dibatalkan; karena para sahabat besar seperti Salman, Miqdad, Thalha dan sebagainya melancarkan protes kepada para pembesar Saqifah dan bahkan Zubair menghunuskan pedangnya di hadapan para pembesar Saqifah.

Terlepas dari itu, berkumpulnya manusia sedemikian besar dan banyak di Ghadir Khum ini bukan merupakan sesuatu yang tidak masuk akal, karena peristiwa Ghadir Khum, terjadi di daerah yang bernama Rabigh, sebuah daerah yang letaknya kurang-lebih dua ratus kilometer dari Mekkah. Sebuah persimpangan jalan-jalan menuju Irak, Madinah,Mesir dan Yaman.

Khalil Abdulkarim, salah seorang ulama kiwari Ahlusunnah, dalam pembahasan pengumpulan al-Qur’an, menulis: “Bilangan para sahabat Nabi Saw, pada haji al-Widâ’ (haji perpisahan, dimana peristiwa al-Ghadir terjadi ketika itu) adalah sejumlah seratus dua puluh empat ribu.”[Mujtma’ al-Yatsrib, Khalil Abdulkarim, hal. 20.]

Dalam menjawab pertanyaan ini harus dikatakan bahwa, klaim tiadanya protes para sahabat terkait peristiwa Ghadir Khum merupakan klaim yang tidak benar. Dan tidak sedikit para pengikut sejati yang tetap setia memegang teguh baiat dan ikrar mereka serta melarang para pembesar Saqifah dari tindakan berbahaya mereka.

Imam Ali As yang menjalankan wasiat Nabi Saw untuk tidak membiarkan kaum Muslimin bertikai dan berpecah belah, karena itu beliau hanya melakukan penentangan lisan dan tidak mengangkat senjata untuk melaksanakan titah Ghadir Khum. Beliau tidak membaiat Abu Bakar selama Fatimah As masih hidup. Tatkala Fatimah As syahid, Imam Ali terpaksa dan berdasarkan pada kemaslahatan memberikan baiat kepada Abu Bakar. Namun beliau menyampaikan protes lisannya pada pelbagai kesempatan dengan bersandar pada hadis Ghadir.

Sahabat-sahabat besar seperti Salman, Abu Dzar, Thalha, Zubair[Farâidh al-Simthaîn, Ibrahim bin Muhammad Juwaini Khurasani, jil. 2, hal. 82. ] dan lainnya angkat suara menentang keputusan Saqifah dan tidak memberikan baiat mereka kepada Abu Bakar. Melainkan mereka tidak mencukupkan diri saja dengan protes ini, bahkan mereka menghunus pedang di hadapan para pembesar Saqifah.[Al-Saqifah wa al-Fadak, Abi Bakar Ahmad bin Abdulaziz Jauhari, hal. 50]

Sebagian lainnya seperti Abbas paman Nabi Saw, kendati ia tidak menyatakan penentangan secara terang-terangan, karena ingin menghindar dari pertumpahan darah dan perpecahan. Namun ia juga tidak menyatakan sokongan terhadap pembesar Saqifah dan tidak memberikan baiat kepada mereka.[Syarh Nahj al-Balâgha, Ibn Abi al-Hadid, jil. 1, hal. 73.

Dalam masalah ini, terdapat ragam kelompok sahabat dalam menyikapi hadis al-Ghadir. Ada sekelompok sahabat yang memilih untuk diam; atau demi untuk menjaga kemaslahatan dan menghindar dari perpecahan dan perberaian, seperti yang dilakukan Abbas paman Nabi Saw

Atau di antara mereka banyak mendapatkan keuntungan dengan berkuasanya kelompok Saqifah. Seperti banyak di antara sahabat yang baik atau mereka yang dari golongan Bani Umayyah. Sebagaimana terdapat kelompok lainnya bukan karena ancaman atau larangan, karena mereka mengenal Ali sebagai penguasa yang ingin menyebarkan keadilan, mereka menolak untuk menentang penyimpangan di Saqifah ini.

Dan terakhir,mereka mengetahui bahwa mereka tidak kuasa berada di bawah kekuasaan Ali bin Abi Thalib atau mereka memiliki dendam kepadanya, karena kebanyakan dari kabilah orang-orang Kafir atau Musyrikin yang terbunuh dalam pelbagai medan perang

Imam Ali juga sesuai dengan wasiat Nabi Saw bertugas untuk tidak membiarkan komunitas Muslimin ini bercerai-berai dan terpecah belah, karena itu beliau puluhan kali melancarkan protes pada pelbagai kesempatan dengan bersandar pada hadis al-Ghadir meski protes dan penentangannya ini terbatas pada penentangan lisan saja.

Syiah berpandangan bahwa kita tidak dapat memandang seluruh sahabat itu sebagai orang-orang yang adil karena, pertama, dengan merujuk pada ayat-ayat al-Qur’an kita jumpai bahwa para sahabat memiliki derajat dan tingkatan yang berbeda-beda dan kita tidak dapat menghukumi bahwa mereka itu semua adalah orang-orang yang adil.

Al-Qur’an secara tegas menyebutkan bahwa di antara para sahabat terdapat orang-orang pendusta (kaddzâbin), orang-orang munafik, para pendosa (ushat), berbantahan dengan Rasulullah Saw dalam urusan perang, berat hati untuk berperang (mutsaqilain), dan orang-orang yang mengingkari Rasulullah Saw.

Di samping itu, dokumen-dokumen sejarah melaporkan bahwa di antara para sahabat terdapat orang-orang yang melakukan zina sebagaimana Walid, Mughirah dan yang lainnya seperti kelompok Qâsitin (perang Jamal), Nâkitsin (perang Shiffin), dan Mâriqin (perang Nahrawan). Dari apa yang diuraikan menjadi jelas bahwa apa yang dinegasikan Syiah adalah terkait dengan keadilan seluruh sahabat bukan masalah kemunafikan dalam artian terminologis.

Sebelum menjawab inti persoalan kiranya kita perlu memperhatikan beberapa poin penting.

Masalah penyandaran kemurtadan para sahabat kepada Syiah merupakan satu tudingan yang tidak berdasar terhadap Syiah. Apakah mungkin satu mazhab besar seperti Syiah, mencintai Rasulullah Saw akan tetapi menuding para sahabatnya telah murtad?

Jumlah sahabat Rasulullah Saw melebih ratusan ribu. Para ahli tarajim mencatat dan merekam lima belas ribu dalam kitab-kitab rijal.[1] Ada dari mereka yang tetap sebagai Syiah dan pengikut Ali bin Abi Thalib As. Nama-nama mereka kebanyakan disebutkan pada kitab “Huwiyat Syiah” (Identitas Syiah).[2] Karena itu, apakah layak seorang Muslim yang beriman kepada Allah Swt dan hari Kiamat menuding murtad orang-orang besar ini?

Terlepas dari jumlah bilangan sahabat ini, kehidupan mereka tidak diketahui dalam sejarah dan informasi tentang mereka tidak kita pantau semua. Karena itu, apakah nurani manusia membolehkan orang-orang yang tidak diketahui kita melemparkan tudingan bahwa mereka semua adil ??

Dengan demikian, kita berkata bahwa masalah ini tidak sebagaimana yang disampaikan orang-orang.

Logika Syiah adalah logika imam dan pemimpin mereka Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As yang disebutkan dalam Khutbah 98 Nahj al-Balâgha: “Saya telah melihat para sahabat Nabi, tetapi saya tak menemukan seseorang yang menyerupai mereka. Mereka mengawali hari dengan debu di rambut dan wajah (dalam kesukaran hidup) dan melewatkan malam dalam sujud dan berdiri dalam salat. Kadang-kadang mereka letakkan sujudkan dahi mereka, dan kadang-kadang pipi mereka. Dengan ingatan akan kebangkitan, mereka nampak seakan berdiri di atas bara menyala. Nampak seakan di antara mata mereka ada tanda-tanda seperti lutut kambing, akibat sujud yang lama. Bilamana nama Allah disebutkan, air mata mereka mengalir deras hingga kerah baju mereka basah. Mereka gemetar karena takut akan hukuman dan harapan akan pahala, seperti pohon gemetar pada hari angin topan. Dari hukuman yang mereka takuti atau ganjaran yang mereka harapkan.”

Iya, apa yang diyakini Syiah adalah bahwa sebagian dari sahabat  setelah wafatnya Rasulullah Saw memperlakukan Ahlulbait As dengan buruk. Atas dasar ini (perlakuan buruk ini) Syiah membenci mereka dan hal ini merupakan suatu hal yang wajar. Rasulullah Saw sendiri menyatakan antipati terhadap apa yang dilakukan Khalid bin Walid. Beliau bersabda, “Tuhanku! Aku berlepas dari apa yang dilakukan Khalid.”

Masalah ini juga berlaku pada riwayat-riwayat yang dikenal sebagai riwayat-riwayat “haudh” dan disebutkan pada kitab-kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.[3]

Setelah menyampaikan pendahuluan ini kami meminta Anda memperhatikan beberapa poin di bawah ini:

Pertama, kemurtadan para sahabat dalam riwayat-riwayat Ahlusunnah sangat banyak dan dikemukakan secara mutawatir dimana kami hanya mencukupkan diri dengan menyebut referensinya saja:

1.     Syarh Shahîh Muslim, Nawawi, jil. 15-16, hal. 5 dan 59

2.     ‘Umdat al-Qâri, 23/135.

3.     Syarh Shahîh Bukhâri, Kermani, 23/63.

4.     Al-Tamhid, Ibn ‘Abdilbarr, 2910/2.

5.     Shahîh Bukhâri, Kitâb Riqâq, bab 53, hadis-hadis 6212; 2114.

6.     Shahîh Muslim, Kitâb Fadhâil, bab 9.

7.     Mishbâh al-Sunnah, 5370/3.

8.     Al-Targhib wa al-Tarhib, Mindzari, 4/422.

9.     Al-Nihâyat fii Gharib al-Hadits, Ibnu Atsir, 5/274.

10.  Fath al-Bâri, Ibnu Hajar, 11/475.

11.  Umdat al-Qâri, ‘Aini, 23/142.

12.  Irsyâd al-Sâri, Qasthalani, 9/342.

Di sini kami hanya akan menyebutkan satu riwayat sebagai contoh di antara beberapa riwayat yang terdapat pada literatur-literatur Ahlusunnah dan kami persilahkan kepada ahli makrifat untuk merujuk pada literatur-literatur yang mazhab sunni :

Abu Hurairah menukil dari Rasulullah Saw yang bersabda: “Aku berdiri di atas telaga Kautsar. Pada saat itu, sekelompok orang yang aku kenal datang. (salah seorang petugas dari petugas-petugas Allah yang menjagai mereka) keluar dan berkata kepada mereka: Marilah! Aku bertanya, “Kemana?” Jawabnya, “Demi Allah! Ke neraka. Aku bertanya, “Apa dosa mereka?” Jawabnya, “Mereka kembali kepada pikiran dan keyakinan mereka sebelumnya (jahiliyah). Kemudian ia membawa sekelompok orang lainnya yang aku kenal. (salah seorang petugas dari petugas-petugas Allah yang menjagai mereka) keluar dan berkata kepada mereka, “Marilah kita pergi!” Aku bertanya, “Kemana?” Jawabnya, “Ke neraka.” Aku bertanya, “Apa dosa mereka?” Jawabnya, “Mereka kembali kepada pikiran dan keyakinan mereka sebelumnya (jahiliyah). Aku pikir tidak ada yang dapat menyelamatkan mereka kecuali bilangan kecil unta yang terpisah dari kelompoknya lantaran tiadanya penggembala, hilang dan tak-terurus.[4] (kiasan bahwa orang-orang yang selamat jumlahnya sangat sedikit). [5]

Kedua, makna kemurtadan (irtidâd) yang mengemuka dalam hadis-hadis ini:

Mengingat banyaknya dan mutawatirnya hadis-hadis irtidâd (kemurtadan) para sahabat dalam literatur-literatur Ahlusunnah maka saudara-saudara kita Ahlusunnah harus memberi jawaban apa yang dimaksud dengan irtidâd (kemurtadan) para sahabat dalam riwayat-riwayat ini? Apa pun makna yang mereka sodorkan dan terima maka makna itu pun yang kita akan terima.

Akan tetapi ulama Syiah berpandangan bahwa irtidâd (kemurtadan) yang disandarkan sebagian riwayat kepada para sahabat tidak bermakna kekufuran dan kembalinya mereka kepada penyembahan berhala, melainkan bermakna pelanggaran terhadap ikrar wilayah dan pembangkangan terhadap Rasulullah Saw dalam urusan khilafah.

Ayatullah Subhani berpandangan bahwa kemurtadan ini tidak bermakna kekufuran dan kembalinya mereka kepada jahiliyah, melainkan tidak loyalnya mereka terhadap ikrar yang mereka nyatakan pada hari Ghadir Khum.

Imam Khomeini Ra juga dalam kitab Thahârah-nya pada pembahasan apakah para penentang Syiah itu kafir atau tidak. Beliau berkata, “Orang-orang dikatakan Islam apabila diketahui keyakinannya terhadap uluhiyyah, tauhid, kenabian dan ma’ad (meski terdapat perbedaan ulama dalam hal ini).” Beliau berpandangan bahwa masalah imâmah merupakan prinsip (ushul) mazhab Syiah dan menentang prinsip (ushul) mazhab ini hanya akan mengeluarkan orang dari Syiah bukan Islam. Imam Khomeini dalam hal ini mengkaji riwayat-riwayat yang menyandarkan kekufuran kepada Ahlusunnah dan meyakini bahwa dalam penyandaran-penyandaran kekufuran ini bukan kekufuran dalam artian teknis. Lantaran hal ini berseberangan dengan riwayat-riwayat mustafidha bahkan mutawatir terkait dengan masalah ini dan adanya interaksi orang-orang Syiah dan para imam dengan Ahlusunnah (bahkan tidak dalam konteks taqiyyah).[6]

Karena itu, dalam pandangan Syiah, kemurtadan yang mengemuka dalam riwayat-riwayat ini sama sekali berbeda dengan kemurtadan orang-orang seperti Musailamah, para pengikut Thuliha bin Khuwailid, para pengikut Aswad Ansi, dan Sujjah. Mereka pada hakikatnya telah meminggirkan Islam dan kafir. Sementara sebagian besar sahabat membangkang Rasulullah Saw dan melanggar ikrar wilayah.

Dalam literatur-literatur sejarah dilaporkan bahwa Imam Ali As dalam beberapa hal tertentu bermusyawarah dengan para khalifah dan membimbing mereka sehingga mereka meraih kemenangan dalam pelbagai penaklukan (futuhât).[7] Hal ini merupakan tanda kerelaan beliau terhadap inti penaklukan; kendati apabila pelbagai penaklukan ini dilakukan dengan petunjuk dan kepemimpinan Ali bin Abi Thalib As maka hasilnya tentu akan lebih baik dan dapat mencegah sebagian kesalahan yang dilakukan. Karena itu, mereka yang turut serta dalam pelbagai penaklukan Islam seluruhnya adalah Muslim dan telah berupaya untuk menyebarkan Islam; meski boleh jadi mereka melakukan banyak kesalahan dan dosa dalam hidup mereka.

Saya bawakan Hadis Haudh yg menunjukkan WUJUDNYA sahabat yang merubah ajaran Rasulullah saaw:
1. Narrated by Anas:The Prophet said, “Some of my companions will come to me at my Lake Fount, and after I recognize them, they will then be taken away from me, whereupon I will say, ‘My companions!’ Then it will be said, ‘You do not know what they innovated (new things) in the religion after you.”[Shahih Bukhari, Volume 8, Book 76, Number 584]……………………
.
2. Narrated by Abu Hazim from Sahl bin Sa’d:The Prophet said, “I am your predecessor (forerunner) at the Lake-Fount, and whoever will pass by there, he will drink from it and whoever will drink from it, he will never be thirsty. There will come to me some people whom I will recognize, and they will recognize me, but a barrier will be placed between me and them.” Abu Hazim added: An-Nu’man bin Abi ‘Aiyash, on hearing me, said. “Did you hear this from Sahl?” I said, “Yes.” He said, ” I bear witness that I heard Abu Said Al-Khudri saying the same, adding that the Prophet said: ‘I will say: They are of me (i.e. my followers). It will be said, ‘You do not know what they innovated (new things) in the religion after you left’. I will say, ‘Far removed, far removed (from mercy), those who changed (their religion) after me.” Abu Huraira narrated that the Prophet said, “On the Day of Resurrection a group of companions will come to me, but will be driven away from the Lake-Fount, and I will say, ‘O Lord (those are) my companions!’ It will be said, ‘You have no knowledge as to what they innovated after you left; they turned apostate as renegades (reverted from Islam).”
.
[Shahih Bukhari, Volume 8, Book 76, Number 585]3. Narrated by Abu Hazim from Sahl bin Sa’d:The Prophet said, “I am your predecessor (forerunner) at the Lake-Fount, and whoever will pass by there, he will drink from it and whoever will drink from it, he will never be thirsty. There will come to me some people whom I will recognize, and they will recognize me, but a barrier will be placed between me and them.” Abu Hazim added: An-Nu’man bin Abi ‘Aiyash, on hearing me, said. “Did you hear this from Sahl?” I said, “Yes.” He said, ” I bear witness that I heard Abu Said Al-Khudri saying the same, adding that the Prophet said: ‘I will say: They are of me (i.e. my followers). It will be said, ‘You do not know what they innovated (new things) in the religion after you left’. I will say, ‘Far removed, far removed (from mercy), those who changed (their religion) after me.” Abu Huraira narrated that the Prophet said, “On the Day of Resurrection a group of companions will come to me, but will be driven away from the Lake-Fount, and I will say, ‘O Lord (those are) my companions!’ It will be said, ‘You have no knowledge as to what they innovated after you left; they turned apostate as renegades (reverted from Islam).”[Shahih Bukhari, Volume 8, Book 76, Number 586]
.
Bagaimana dan dengan logika apa kita dapat menyamakan di antara seluruh sahabat dan menyebut keduanya adalah sahabat? Misalnya antara Malik bin Nuwairah dan orang yang membunuhnya dengan keji dan pada malam itu juga seranjang dengan istrinya! Sekali-kali tidak dapat dibenarkan peminum khamar seperti Walid bin Uqbah hanya karena statusnya sebagai sahabat kemudian kita bela. Atau menyokong dan membela yang menjadikan pemerintahan Islam seperti sebuah kekuasaan diktator dan membunuh orang-orang shaleh dalam umat dan mengangkat senjata berperang melawan imam dan khalifah sah (Ali bin Abi Thalib)? Apakah dapat dibenarkan kita memandang sama antara Ammar Yasir dan kepala kelompok pemberontak hanya karena keduanya sahabat padahal Rasulullah Saw bersabda: “Ammar akan dibunuh oleh kelompok tiran dan pemberontak.”[Silahkah lihat, Fushul al-Muhimmah, Abdulhusain Syarafuddin, hal. 189.]
.
Karena itu, dalam pandangan Syiah kriterianya adalah keadilan, berpegang teguh kepada sirah Rasulullah Saw dan menjalankan sunnah beliau semasa hidupnya dan pasca wafatnya. Barang siapa yang berada di jalan ini maka, dalam pandangan Syiah, ia harus dihormati dan jalannya diikuti serta didoakan semoga rahmat Tuhan baginya melimpah dan memohon supaya ditinggikan derajatnya. Namun orang-orang yang tidak berada di jalan ini kami tidak memandangnya sebagai orang adil. Sebagai contoh dua orang sahabat mengusung lasykar disertai dengan salah seorang istri Rasulullah Saw lalu  berhadap-hadapan dengan khalifah legal Rasulullah Saw Ali bin Abi Thalib As menghunus pedang di hadapannya di perang Jamal. Mereka memulai perang yang menelan ribuan korban jiwa kaum Muslimin
.
Izinkan kami bertanya apakah angkat senjata dan menumpahkan darah orang-orang tak berdosa ini dapat dibenarkan? Atau orang lain yang disebut sebagai sahabat Rasulullah Saw dan menghunus pedang pada sebuah peperangan yang disebut sebagai Shiffin. Kami berkata perbuatan ini bertentangan dengan syariat dan memberontak kepada imam dan khalifah legal. Perbuatan-perbuatan ini tidak dapat diterima dengan membuat justifikasi bahwa mereka adalah sahabat. Demikianlah poin asasi perbedaan pandangan antara Syiah dan yang lainnya. Jelas bahwa di sini yang mengemuka bukan pembahasan mencela dan melaknat sahabat.Mungkin ada baiknya menyebutkan hal ini: bahwa kebanyakan sahabat Rasulullah saw pada periode-periode selanjutnya menebus kesalahan ini dengan cara bergabung dan berada pada barisan Imam Ali as dalam peperangan bersama Amirul Mukminin menghadapi para Nakitsin (pada perang Jamal), Qasithin (pada perang Shiffin) dan Mariqin (pada saat perang Nahrawan).
.
Namun terkait dengan apa yang dijelaskan pada ayat-ayat al-Qur’an harus dikatakan bahwa: Allah Swt dalam al-Qur’an berfirman:
A.            Di antara orang-orang Arab Badui yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik; dan (juga) di antara penduduk Madinah ada sekelompok orang yang keterlaluan dalam kemunafikannya. Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, (tetapi) Kami-lah yang mengetahui mereka. Nanti mereka akan Kami siksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar.(Qs. Al-Taubah [9]:101)Apakah ayat al-Qur’an ini tidak menengarai bahwa terdapat orang-orang munafik dari kalangan sahabat bahkan setelah setahun kemunculan Islam yang sebagian dari mereka telah dikenali?
.
B.            Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul; sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika ia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.(Qs. Ali Imran [3]:144)
.
C.            Dan mereka bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa sesungguhnya mereka termasuk golonganmu; padahal mereka bukanlah dari golonganmu. Tetapi mereka adalah kaum yang sangat penakut.”(Qs. Al-Taubah [9]:56)
.
D.            “Dan sesungguhnya mereka sebelum itu telah berjanji kepada Allah untuk tidak akan berbalik ke belakang (mundur). Dan perjanjian dengan Allah itu akan dimintai pertanggunganjawab.(Qs. Al-Ahzab [33]:15)
.
E.            Allah telah memaafkanmu. Mengapa kamu memberi izin kepada mereka (untuk tidak pergi berperang), sebelum jelas bagimu orang-orang yang jujur dan sebelum kamu ketahui orang-orang yang berdusta?(Qs. Al-Taubah [9]:43)
.
F.            Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka (di Mekah), “(Sementara ini), tahanlah tanganmu (dari berjihad), dirikanlah salat, dan tunaikanlah zakat!” (Tetapi mereka marah atas perintah ini). Setelah jihad diwajibkan kepada mereka (di Madinah), tiba-tiba sebagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan ketakutan mereka lebih sangat dari itu. Mereka berkata, “Ya Tuhan kami, mengapa Engkau wajibkan jihad kepada kami? Mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berjihad ini) kepada kami beberapa waktu lagi?” Katakanlah, “Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa dan kamu tidak akan dianiaya sedikit pun.”(Qs. Al-Nisa [4]:77)
.
G.            Mereka membantahmu tentang kebenaran sesudah nyata (bahwa mereka pasti menang), (ketakutan meliputi diri mereka) seolah-olah mereka dihalau kepada kematian, sedang mereka melihat sendiri (sebab-sebab kematian itu). Dan (ingatlah) ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan (kafilah dagang dan bala tentara Quraisy yang kamu hadapi) adalah untukmu, sedang kamu menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekuatan senjatalah untukmu, padahal Allah menghendaki untuk menguatkan kebenaran dengan kalimat-kalimat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir. agar Allah menetapkan yang hak dan membatalkan yang batil walaupun orang-orang yang berdosa itu tidak menyukainya.” (Qs. Al-Anfal [8]:5-8)Dari ayat ini kita jumpai sekelompok orang-orang beriman yang enggan menyertai Rasulullah Saw ke medan perang.
.
H.            Dan (ingatlah) ketika segolongan di antara mereka berkata, “Hai penduduk Yatsrib (Madinah), di sini bukanlah tempatmu (untuk bertinggal), maka kembalilah kamu.” Dan sebagian dari mereka minta izin kepada nabi (untuk kembali pulang) dengan berkata, “Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak ada penjaga).” Dan rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanyalah hendak lari. (Qs. Al-Ahzab [33]:13)
.
I.              Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya apabila kamu diseru, “Berangkatlah (untuk berperang) di jalan Allah”, kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu merasa puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit.” (Qs. Al-Taubah [9]:38Padahal ayat-ayat ini menggunakan seruan “Wahai orang-orang beriman” dan kita ketahui bahwa Allah Swt mengancam orang-orang yang bersikap lemah untuk pergi berperang (karena alasan terik dan panas) dengan berfirman, Orang-orang yang membangkang (tidak ikut perang Tabuk) itu merasa gembira karena menentang (perintah) Rasulullah, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Mereka berkata (kepada sesama mereka dan kepada orang-orang mukmin), “Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini.” Katakanlah, “Api neraka Jahanam itu lebih sangat panas(nya)”, jika mereka mengetahui.(Qs. Al-Taubah [9]:81)
.
J.             Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu-ragu. Karena itu, mereka selalu bimbang dalam keragu-raguan mereka. Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu. Tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka. Maka Allah melemahkan keinginan mereka, dan dikatakan kepada mereka, “Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal (anak-anak kecil, orang-orang tua, dan orang-orang yang sedang menderita penyakit) itu.” Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu. Tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka. Maka Allah melemahkan keinginan mereka, dan dikatakan kepada mereka, “Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal (anak-anak kecil, orang-orang tua, dan orang-orang yang sedang menderita penyakit) itu.”(Qs. Al-Taubah [9]:45-47)
.
Tidak diragukan bahwa pertama dan utama ayat-ayat ini berbicara tentang para sahabat Rasulullah Saw. Apakah dengan ayat-ayat ini kita dapat memandang seluruh sahabat itu adil dan berkata bahwa seseorang yang bertemu dengan Rasulullah Saw dalam hitungan semenit sekali pun maka ia adalah seorang yang adil? Sebenarnya pandangan ini dilontarkan oleh sebagian orang untuk menjustifikasi kezaliman dan kejahatan Bani Umayyah.Dan karena itu kami berkata bahwa apabila kita merujuk pada ayat-ayat al-Qur’an maka akan kita jumpai bahwa para sahabat memiliki tingkatan derajat yang berbeda-beda dan kita tidak dapat menghukumi bahwa mereka semuanya adalah orang adil; lantaran ayat-ayat secara lugas menyatakan bahwa di antara para sahabat Rasulullah Saw terdapat para pendusta, orang-orang munafik, para pendosa (ushat), berbantahan dengan Rasulullah Saw dalam urusan perang, orang-orang takut perang, orang-orang yang mengingkari Rasulullah Saw, berat hati untuk menyertai Rasulullah berperang dan lain sebagainya.[Silahkan lihat, al-Alusi wa al-Tasyayyu’, hal. 69.  ]
.
Sebagaimana yang Anda amati pada sebagian ayat-ayat ini seruan yang digunakan adalah seruan “Wahai orang-orang yang beriman” artinya secara tegas dan keras mengarah kepada orang-orang beriman. Demikian juga menjadi maklum bahwa sesuai dengan ayat-ayat ini pengeksklusifan para sahabat Rasulullah Saw sebagai sahabat adil dan munafik tidak dapat dibenarkan; artinya apabila kita tidak memandang seorang sahabat sebagai seorang yang adil maka kita harus memandangnya sebagai orang munafik. Bahjka para sahabat bisa saja tergolong sebagai pendosa dan jelas bahwa semata-mata melakukan dosa seseorang tidak akan tergolong dalam barisan orang-orang munafik.bukankah Rasulullah Saw pada akhir-akhir hayatnya berulang kali mengungkapkan rasa takutnya dari orang-orang yang berada di sekelilinya? Pada teks-teks dalam literature-literatur Ahlusunnah terdapat nukilan riwayat bahwa tatkala ayat “balligh ma unzila ilaika” diwahyukan Rasulullah Saw bersabda, “Wahai Tuhanku! Aku hanya sendiri apa yang harus aku lakukan? AtU Mereka akan berkumpul melawanku.” Kemudian Ayat “wain lam taf’al fama ballaghta risalatahu” diturunkan.[Tafsir Thabari, jil. 10, hal. 468:, Al-Durr al-Mantsur, jil. 3, hal. 418. Software Maktabat al-Syâmilah:]

Tentu saja takut dan gentar ini bukan takut dan gentar kepada orang-orang kafir; karena peristiwa al-Ghadir terjadi pada tahun kesepuluh Hijriah, dan ketika itu tidak terdapat orang kafir sehingga Rasulullah Saw bertugas untuk menyampaikan hukum Ilahi. Apabila banyak sahabat yang tulus ikhlas di sekeliling Rasulullah Saw, lantas mengapa beliau berkata lirih, “Innama ana wahidun, kaifa asn’a yajtami’u ‘ala al-nas.”[ Silahkan lihat, ‘Abaqât al-Anwâr fi Imâmat al-Aimmah al-Thâhirah, jil. 9, hal. 228-230.]

Dalam al-Qur’an terdapat ayat-ayat seperti ayat ini, Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul; sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika ia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.[Qs. Ali Imran [3]:144]   sebagaimana yang telah dijelaskan bahwa ayat-ayat ini dengan jelas menafikan keadilan seluruh sahabat dan menetapkan adanya kemungkinan kemurtadan sebagian orang.[Dalam hal ini, silahkan lihat riwayat-riwayat haudh (Telaga), No. 1589]

5.    sejarah berkata bahwa di antara para sahabat terdapat orang-orang yang membunuh orang lain atau berzinah seperti Walid dan Mughirah[Futûh al-Buldân, 344; Tarikh Thabari, 2/492-494. Al-Aghani, 16/103-110. Al-Kâmil fi al-Târikh, 2/384-385. Al-Bidâyah wa al-Nihâyah, 7//66-67:] atau Qasithin, Nakitsin, dan Mariqin. Dan persis atas dasar ini Syafi’i berkata, “Syahadah empat orang tidak diterima. Keempat orang ini adalah Muawiyah, Amru bin Ash, Mughirah dan Ziyad.[Al-Mukhtashar fi Akhbâr al-Basyar, 1/186:]

Bukti lain dari ucapan kami adalah bahwa sebagian dari sahabat ini sendiri, tidak memandang adil sebagian lainnya dan bahkan terkadang sesama mereka saling melemparkan tuduhan munafik kepada yang lain.[Shahih Bukhâri, jil. 9, hal. 148]

di antara sahabat Imam Husain As disebutkan lima orang dari sahabat Rasulullah Saw yang tergolong sebagai orang-orang yang gugur dan syahid di Karbala. Kelima orang ini adalah sebagai berikut:

1. Anas bin Harits Kahili:

Samawi dalam “Abshâr al-‘Ain fî Anshâr al-Husain” menyebutkan Anas bin Harits sebagai orang yang gugur sebagai syahid Karbala.[Muhammad bin Thahir Samawi, Abshâr al-Ain fî Anshâr al-Husain, riset oleh Muhamad bin Ja’far Thabasi, hal. 192, Pazyuhesy Kadeh Tahqiqat-e Islami, Qum, 1384 S.]

Syaikh Thusi juga menyebut ia sebagai salah seorang sahabat Rasulullah Saw,[Muhammad bin Hasan Thusi, Kitâb al-Rijâl, hal. 21, Intisyarat-e Haidariyah, Najaf, 1381 H.  ] dan juga di antara orang-orang yang gugur sebagai syahid bersama Imam Husain As.[Muhammad bin Hasan Thusi, Kitâb al-Rijâl, hal. 99, Intisyarat-e Haidariyah, Najaf, 1381 H.  ] Tatkala menyebutkan Anas bin Harits sebagai salah seorang sahabat Rasulullah Saw, Syaikh Thusi mengingatkan bahwa ia menggapai syahid di samping Imam Husain As. Anas bin Harits sedemikian tinggi kedudukannya dan masyhur sehingga sesuai dengan nukilan Allamah Muhsin Amin dalam A’yân al-Syiah,[Muhsin Amin ‘Amili memandang lebih tepat apabila nama Habib bin Mazhahir ditulis dengan Muzhahhar. Silahkan lihat A’yân al-Syiah, jil. 4, hal. 553. ]

Kumait bin Zaid, salah seorang pujangga yang terkenal Ahlulbait As, menyebut Anas bin Harits dalam lirik syairnya. Kumait menggubah sebuah syair yang menyebutkan Anas bin Harits Kahili al-Kahili sebagaimana berikut:

Siwa ‘ushbatun fihim Habib muaffarun

Qadha nahbahu wa al-Kahili Murammalun

Kecuali sekelompok orang di antara mereka yaitu Habib yang berkorban jiwa dan tubuhnya berguling di tanah dan raga al-Kahili bersimbah darah.

2. Habib bin Muzhahhar:[Muhsin Amin ‘Amili, A’yân al-Syiah, jil. 3, hal. 500, Dar al-Ta’arif, Beirut, 1406 H.]

Habib bin Muzhahhar adalah salah seorang sahabat Rasulullah Saw dan merupakan sahabat besar Imam Ali As yang turut serta dalam tiga peperangan, Shiffin, Nahrawan dan Jamal.[Jawad Muhadditsi, Farhangg-e ‘Âsyurâ, hal. 151, Nasyr Ma’ruf, Qum, 1381 S.  ]

Syaikh Thusi tidak menyebutkan ia sebagai salah seorang sahabat Rasulullah Saw, kendati demikian Syaikh Thusi menyebut ia sebagai salah seorang sahabat Imam Ali As dan Imam Husain As.[A’yân al-Syiah, jil. 4, hal. 553]

Sebagian ulama seperti Samawi penulis Abshar al-Ain menyebutkan nama Habib bin Muzhahhar sebagai sahabat Rasulullah Saw yang gugur sebagai syahid di padang Karbala.[bshâr al-‘Ain, hal. 193.]

3. Muslim bin Awsaja:

Samawi dalam kitab Abshâr al-‘Ain menghitungnya sebagai salah seorang sahabat Rasulullah Saw dan Imam Ali As.[bshâr al-‘Ain, hal. 193.] Allamah Muhsin Amin juga dalam kitab A’yân al-Syiah, tatkala menjelaskan sahabat-sahabat Imam Husain As, menyebut Muslim bin Awsaja sebagai sahabat (shahabi) Rasulullah Saw.[A’yân al-Syiah, jil. 1, hal. 612.  ]

4. Hani bin Urwah:

Salah seorang penolong Imam Husain lainnya yang tergolong sebagai sahabat Rasulullah Saw adalah Hani bin Urwah. Ia adalah seorang tua dan pembesar kabilah Muradi yang turut serta dalam tiga peperangan di samping Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As.[Samawi mencatat namanya sebagai sahabat Rasulullah Saw. Dari sisi usia, mengingat bahwa Hani adalah seorang renta dan syaikh (pembesar) kabilahnya serta usianya lebih tua dari Imam Husain As, boleh jadi ia merupakan salah seorang sahabat Rasulullah Saw. Silahkan lihat, Abshâr al-‘Ain, hal. 192.  ]

5. Abdullah bin Baqthar (Yaqthar) Himyari:

Abdullah bin Baqthar (Yaqthar) adalah saudara sesusuan Imam Husain As.[Rijâl Thûsi, hal. 103.] Ayahnya Baqthar (Yaqthar) adalah khadim (pembantu) Rasulullah Saw. Ia membawa surat Imam Husain As untuk Muslim bin Aqil di Kufah kemudian ditangkap (oleh Ibnu Ziyad) dan langsung gugur sebagai syahid.[Farhangg-e ‘Âsyurâ, hal. 322. Meski namanya tidak disebutkan sebagai salah seorang sahabat Rasulllah Saw dalam kitab-kitab Rijal, namun mengingat bahwa ia merupakan saudara sesusuan Imam Husain As, penyandaran seperti ini mungkin saja benar adanya. Karena itu dalam kitab Abshâr al-‘Ain tercatat sebagai salah seorang sahabat Rasulullah Saw.]

Mengapa Imam Ali pada masa kekhalifahannya tidak menunjukkan penentangan terhadap para khalifah dan tidak menguburkan pelbagai bid’ah yang dimunculkan oleh mereka. Apabila para khalifah telah kafir lalu mengapa tatkala menjadi khalifah Imam Ali tidak mengumumkan kekufuran dan bahwa kekhalifahan mereka adalah hasil rampasan?

dikarenakan adanya pelarangan Bani Umayyah untuk menukil pelbagai keutamaan Amirul Mukminin. Hal ini juga disebabkan oleh adanya penyelewengan sejarah yang dilakukan oleh Bani Umayyah dan antek-anteknya yang didorong oleh tujuan-tujuan politis dan amat disayangkan atas dasar ini, hal ini terus berlanjut, seperti di antaranya pertanyaan-pertanyaan yang Anda ajukan. Sebelum menjawab pertanyaan Anda, kami anjurkan bahwa apabila Anda benar-benar ingin mencari dan menemukan kebenaran dan Anda tidak bermaksud untuk menyebarkan benih-benih perpecahan di antara Syiah dan Sunni yang tidak lain hanya akan dimanfaatkan oleh kelompok non-Muslim, Anda dapat merujuk pada kitab-kitab teologis yang ditulis oleh ulama Syiah dan tanpa adanya pra-judis, maka Anda akan sampai pada kenyataan yang sebenarnya. Dan yakinlah “Allah Swt akan memberikan petunjuk kepada orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalannya.” (Qs. Al-Ankabut [29]:69)

Dan tentu saja Anda tahu bahwa riwayat mutâwatir yang dapat dijadikan sebagai sandaran adalah riwayat yang diterima oleh kedua belah pihak, Syiah dan Sunni. Sebagai contoh, hal-hal berikut ini dapat disebut sebagai riwayat mutawatir di antara kedua belah pihak, karena di samping terdapat pada literatur-literatur Ahlusunnah juga dapat dijumpai pada literatur-literatur Syiah. Di sini kami hanya akan menyandarkan hal-hal yang dapat dijadikan contoh sebagai riwayat mutawatir pada literatur-literatur Ahlusunnah di bawah ini:

1.     Bahwa hubungan Amirul Mukminin As bagi Rasulullah Saw adalah laksana hubungan Harun bagi Musa.[Muhammad bin Ismail Bukhari, Shahîh Bukhâri, jil. 4, hal. 208, dan jil. 5, hal. 129, Dar al-Fikr, Beirut, 1401.  ]

2.     Bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Barang siapa yang membuat murka Fatimah As maka sesungguhnya ia telah membuatku murka.”[Shahîh Bukhâri jil. 4, hal. 219.  ]

3.     Bahwa terdapat seseorang mencegah Rasulullah Saw, pada masa hidupnya, untuk menuliskan sesuatu (wasiat) dan orang itu berkata bahwa sesungguhnya Rasulullah Saw sedang meracau.[Shahîh Bukhâri jil. 5, hal. 137-138 . Rasulullah Saw dicegah Untuk Menulis Wasiat.  ]

4.     Bahwa Fatimah tidak ridha kepada Khalifah Pertama dan Khalifah Kedua hingga ajal menjemputnya.[Shahîh Bukhâri jilid 5 hal. 42 dan jil. 5, hal. 82-83.  ]

5.     Bahwa Rasulullah Saw mengutus Ali bin Abi Thalib untuk menyampaikan pesan barâ’at menggantikan posisi Abu Bakar.[Shahîh Bukhâri jil. 5, hal. 202-203 ]

6.     Bahwa Khalifah Pertama dan Kedua sedemikan keras suaranya di hadapan Rasulullah Saw sehingga turun ayat-ayat pertama surah Hujurat yang mencela mereka.[Shahîh Bukhâri jil. 6, hal. 46-47.] Kendati Ahlusunnah berpandangan bahwa Allah Swt setelah itu mengampuni keduanya.

Abu Khalid Kabuli menukil, “Aku berkata kepada Imam Sajjad As bersabda, “Orang-orang[Silahkan cermati dalam riwayat ini disebutkan orang-orang dan bukan Imam Ali As.] berkata bahwa sebaik-baik manusia setelah Rasulullah Saw secara berurutan adalah Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali As. Imam Sajjad dalam menjawab perkataan ini bersabda, “Lalu apa yang akan mereka katakan terhadap sebuah riwayat yang dinukil Sa’id bin Musayyab bin Abi Waqqas dari Rasulullah Saw dimana beliau bersabda kepada Ali bin Abi Thalib As bahwa “Engkau bagiku adalah laksana Harun bagi Musa hanya saja tiada nabi selepasku.”[Sebagaimana yang telah dijelaskan, hadis ini merupakan hadis mutawatir di kalangan Syiah dan Ahlusunnah dan terdapat pada kitab-kitab sahih Ahlusunnah.  ]

Apakah ada orang yang laksana Harun di masa Nabi Musa As (pada masa Rasulullah Saw)?[Muhammad Baqir Majlisi, Bihâr al-Anwâr, jil. 37, hal. 237, Muassasah al-Wafa, Beirut, 1404 H. ]

Imam Sajjad As dengan bersandar pada hadis manzilah yang diterima oleh kedua mazhab, mempertanyakan validitas dan keabsahan hadis yang dilontarkan oleh masyarakat dan Anda memandangnya disandarkan kepada Imam Ali As.  Argumen yang disampaikan oleh Imam Sajjad ini nampak logis terlepas dari siapa pun yang menyampaikanya dan akan dapat diterima.

Adapun pertanyaan bahwa mengapa Amirul Mukminin As setelah memegang tampuk kekuasaan tidak menyatakan penentangan kepada para khalifah sebelumnya? Harus dikatakan bahwa sesuai dengan keyakinan kami (Syiah) dan apa yang terdapat pada kitab-kitab kami, berulang kali Baginda Ali As menyampaikan kritikan dan protes kepada para khalifah sebelumnya. Sebagai contoh kita dapat menyebut Khutbah Syaqsyaqiyyah yang terdapat pada kitab Nahj al-Balâgha.

Namun terkait dengan penyandaran riwayat mutâwatir di kalangan dua belah mazhab kami akan mengajukan beberapa pertanyaan:

1.     Apakah pemakzulan Mu’awiyah (yang telah diangkat oleh Khalifah Kedua sebelumnya) bukan merupakan bentuk penentangan kepadanya?

2.     Apakah pendistribusian bait al-mal dengan model baru yang amat ketat dijalankan oleh Baginda Ali As tidak tergolong sebagai penentangan?

3.     Apakah tiadanya perhatian untuk melanjutkan pelbagai penaklukan negeri-negeri luar dan upaya untuk mensterilkan masyarakat Islam bukan merupakan perubahan kebijakan yang menentang kebijakan para khalifah sebelumnya? Dan lain sebagainya.

Yang kami tahu bahwa Baginda Ali As pada masa kekuasaan kekhalifahan sebelumnya dipandang sebagai seorang pemrotes dan kritikus terhadap sistem yang ada ketika itu. Misalnya salah satu contoh, di antara puluhan contoh, kami bertanya kepada Anda bahwa mengapa beliau tidak membaiat Abu Bakar hingga masa wafatnya Fatimah Sa, dan prosesi pemakamannya yang dilakukan pada malam hari, yang Anda kenal sebagai sebaik-baik manusia setelah Rasulullah Saw? (Silahkan lihat, Shahîh Bukhâri, jil. 5, hal. 82-83.]

Namun bagi Baginda Ali As, dengan alasan menjaga pokok Islam, meski dengan pelbagai kritikan dan protes yang dilontarkan kepada para khalifah, beliau tetap mengurus urusan kaum Muslimin dengan para khalifah  dan sesuai dengan ungkapannya yang indah, “Kami memiliki hak yang alangkah baiknya apabila mereka serahkan (kepada kami sebagai pemilik yang sah) dan kalau tidak kami memilih sebagai orang kedua, menaiki pundak unta meski berujung pada masa yang panjang.”[Nahj al-Balâgha, hal. 472, Intisyarat Dar al-Hijrah, Qum.]

Pada hakikatnya, Baginda Ali As hanya memandang kekuasaan sebagai media bukan sebagai tujuan. Atas dasar itu, baik pada masa para khalifah sebelumnya juga pada masa pemerintahan lahirianya[Setelah 25 tahun Baginda Ali As memilih untuk diam dan masyarakat termasuk para khalifah banyak meminta pendapat kepadanya untuk menyelesaikan pelbagai persoalan keumatan yang dihadapi.   ] Baginda Ali As memilih diam dalam banyak hal dan membiarkan masyarakat sendiri di masa yang akan datang yang kelak menilainya.

Terkait dengan kekufuran orang-orang yang Anda jelaskan harus dikatakan bahwa akidah Syiah menyatakan bahwa setiap orang yang mengucapkan kalimat syahadat melalui lisannya adalah seorang Muslim.

Beberapa hal yang dijelaskan di atas dan terdapat puluhan riwayat lainnya yang dapat disebut sebagai mutâwatir di antara kedua mazhab. Karena di samping bahwa riwayat tersebut dinukil dalam literatur-literatur Syiah, ia juga dikutip dalam literatur-literatur Ahlusunnah yang paling standar. Keenam riwayat di atas kami nukil dari kitab Shahih Bukhâri yang kedudukannya di kalangan Ahlusunnah sebagai saudari al-Qur’an.

Pada dasarnya, tatkala pemerintahan berada di tangannya yang tadinya menjalani masa diam selama 25 tahun, akibat aksi propaganda secara berketerusan telah membuat masyarakat Muslim membenarkan perbuatan-perbuatan para khalifah sebelumnya. Dan pelbagai penetangan Baginda Ali telah menimbulkan permasalahan pada sebagian perkara seperti pengembalian tanah Fadak yang menurut anggapan sebagian orang merupakan sebuah upaya untuk kepentingan pribadi. Pendeknya, masa pemerintahan Baginda Ali sedemikan pendek dan disertai dengan pelbagai peperangan dan banyaknya tindakan menghalang-halangi oleh pihak musuh sehingga tidak memberikan izin dan peluang kepada Amirul Mukminin Ali As untuk melakukan perbaikan asasi dalam banyak bidang.

Apakah sesuai dengan ayat 30 surah Muhammad[Dan kalau Kami menghendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya.   ]

dan ayat 101 surah Taubah,[Di antara orang-orang Arab Badui yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik; dan (juga) di antara penduduk Madinah ada sekelompok orang yang keterlaluan dalam kemunafikannya. Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, (tetapi) Kami-lah yang mengetahui mereka. ]

Allah Swt dapat memperkenalkan orang-orang munafik kepada Rasulullah Saw namun beliau tidak meminta kepada Tuhan untuk hal tersebut dapat disebut sebagai pengkhianatan kepada Islam dan kaum Muslimin?

Apakahnya sikap diam Harun terkat dengan penyembahan Bani Israil terhadap sapi dan pengajuan minta maaf kepada Musa As bahwa Bani Israel memandang saya lemah dan nyaris mereka membunuh saya,[(Qs. Al-A’raf [7]:150)] adalah sebuah pengkhianatan?

Tidak satu pun dari hal ini merupakan pengkhianatan dan diamnya Baginda Ali As (yang kedudukannya laksana Harun As) dengan penjelasan beberapa hal juga dalam kondisi yang sama. Baginda Ali As berperang dengan tiga kelompok kaum Muslimin dan banyak orang lagi yang menentangnya dan sebagai akibatnya mereka mensyahidkan Baginda Ali As. Sekali lagi sikap diam Imam Ali As bukanlah sebuah pengkhianatan, dan hal ini menjadi tugas Anda dan kami untuk melakukan riset imparsial dan fair untuk sampai kepada kebenaran dan hakikat

.

catatan kaki :


[1]. Silahkan lihat kitab-kitab yang membahas tentang ilmu Rijal seperti, ‘Ayan al-Syiah, Rijal al-Thusi dan Mu’jam Rijal al-Hadits.

[2]. Silahkan lihat, Huwiyat al-Syi’ah, al-Syaikh Ahmad al-Waili, hal. 36.

[3]. Jâmi’ al-Ushûl, jil. 11, hal. 119-123.

[4]. Shahîh Bukhâri, Kitâb Riqâq, bab 53, hadis 2115; Lisan al-Arab, Ibnu Manzhur, jil. 15, hal. 135; Al-Targhib wa al-Tarhib, Mindzari, jil. 4, hal. 422; Al-Nihayat fi Gharib al-Hadits, Ibnu Atsir, jil. 5, hal. 274; Fath al-Bari, Ibnu Hajar, jil. 11, hal. 475; ‘Umdat al-Qari, ‘Aini, jil. 23, hal. 142; Irsyad al-Sari, Qasthalani, jil. 9, hal. 342.

«بینا أنا قائم إذا زمرة، حتی إذا عرفتهم خرج رجل من بینی و بینهم، فقال: هلم، فقلت: أین؟ قال: الی النار والله، قلت: و ماشأنهم؟ قال: إنهم ارتدوا بعدک علی أدبارهم القهقری. ثم إذا زمرة، حتی إذا عرفتهم خرج رجل من بینی و بینهم، فقال: هلم، قلت: أین؟ قال: إلی النار والله. قلت: ماشأنهم؟ قال: أنهم ارتدوا بعدک علی أدبارهم القهقری، فلا أراه یخلص منهم الا مثل همل النعم».

[5]. Diadaptasi dari Pertanyaan 1589 (Site:1980), Indeks: Makna Kemurtadan Sahabat dan Dalil-dalilnya.

[6]. Imam Khomeini, Kitâb al-Thahârah, jil. 3, hal. 437, cetakan pertama, Muassasah Tanzhim wa Nasyr Atsar-e Imam Khomeini, 1379 S. Diadaptasi dari Pertanyaan 2808 (Site:3501).

[7]. Wawancara dengan Ayatullah Wa’izh Zadeh Khurasani, Nasyriyeh Hauzah, tahun 24.
 Benarkah Syiah mencela Para Sahabat?

MUI Jabar: Syiah Tidak Sesat ! Sikap MUI Jabar terhadap Syiah

MUI Jabar: Syiah Tidak Sesat !

Sikap MUI Jabar terhadap Syiah

OPINI | 28 November 2012 | 14:12

13540866071630889184

Pementasan teater dalam Asyura yang digelar IJABI di Bandung

Pada Rabu, 2 Mei 2012, Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jabar
K.H.Rafani Achyar mengatakan sulit memfatwakan aliran Syiah sebagai
aliran sesat

.
Meski dari Bandung sendiri ada segelintir orang yang menyatakan sesat
dan merekomendasikan untuk dibubarkan lembaga-lembaga Syiah, tetapi
itu membuat MUI Jabar menurut begitu saja.  Rafani mengatakan ada
banyak kesamaan antara mazhab Syiah dengan Sunni.  Dari segi pemahaman
tentang Islam,  Syiah tidak berbeda jauh dengan yang mayoritas Islam
Indonesia. Namun ada beberapa hal yang berbeda.

Menurut Rafani,   Syiah memandang imam Ali bin Abi Thalib sebagai
manusia yang bebas dari dosa.  Meski demikian, MUI tidak mau gegabah
untuk menegaskan Syiah adalah paham sesat.

Pernyataan Rafani ini dibenarkan oleh Ketua MUI Jabar K.H.Hafdz Usman
dalam sebuah wawancara dengan media cetak
.

KH. Hafidz Usman mengakui keberadaan komunitas Syiah di Jawa Barat.
“Kalau kita terbuka saja di Jawa Barat ada bibit-bibit itu tapi kita
bergaul dengan cara bijak,” ujarnya

.
Menurut Kiai Hafidz Usman,  para pemuka agama dan masyarakat harus
memandang perbedaan pemikiran terkait agama itu sebagai hal yang
wajar. Namun, perbedaan itu jangan sampai menjadi alasan pembenar
untuk menyatakan dirinya sebagai pihak yang paling benar.

Kemudian Hafidz juga menyatakan kelompok Syiah tidak bisa disamakan
dengan kelompok agama lain yang sudah dinyatakan sesat lewat fatwa MUI
seperti ajaran Islam Suci di Kabupaten Sukabumi dan kelompok
Ahmadiyah. “Syiah tidak (sesat),” tegas Hafidz.

19 November 2012 kemarin pengurus Majelis Ulama Indonesia Jawa Barat (MUI Jabar) menyampaikan ada 16 aliran agama di Jawa Barat yang dinyatakan sesat dan menyimpang. Pernyataan ini disampaikan Sekretaris MUI Jabar: H.Rafani Achyar yang diwartakan harian Galamedia

Aliran-aliran agama yang dianggap sesat dan menyimpang versi MUI Jabar ini di antaranya: Ahmadiyah, Alqiyadah Al-Islamiyah, aliran agama Salamullah/Lia Eden, kelompok Hidup di Balik Hidup (HDH), ajaran Milah Ibrahim, aliran Surga Adn, Aliran Alquran Suci, Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), Pengamal Salawat Wahidiyah, ajaran Ahmad Sayuti, Komunitas Dayak Losarang, Amanat Keagungan Ilahi (AKI), Ajaran K.H. Ahmad Sulaiman, Ajaran Syaiful Karim, Ajaran Sumarna, dan Aliran Pajajaran Siliwangi Panjalu.

Menurut Rafani Achyar, kesesatan aliran agama di atas didasarkan pada: (1) fatwa MUI Pusat dan (2) hasil kajian Litbang Kementerian Agama Republik Indonesia serta (3) informasi masyarakat yang menyatakan terganggu dengan kehadiran aliran tersebut. Ketiga landasan ini menjadikan MUI Jabar menyatakan sesat terhadap 16 aliran agama yang disebut di atas.

Kalau saya lihat dari masing-masing MUI yang ada di negeri ini tidak ada yang sama. Kemarin kasus Sampang yang mengakibatkan hancurnya harta benda sampai tidak memiliki rumah akibat dari fatwa MUI Jawa Timur (Jatim) yang menyatakan sesat terhadap aliran Syiah di bawah pimpinan Kiai Tajul Muluk. Kalau MUI Jatim menyatakan sesat, justru di Makassar dan Jawa Barat dinyatakan sebagai mazhab yang sah dalam Islam. Begitu juga MUI Pusat melalui pernyataan Ketua MUI Pusat: KH.Umar Shihab bahwa Islam Syiah merupakan mazhab yang sah dalam Islam. Bahkan level internasional pun menyatakan tidak sesat dan bagian dari Islam.

Terbukti dari sejumlah konferensi ulama internasional se-dunia seperti Konferensi Islam Internasional yang kemudian melahirkan Risalah Amman, Deklasari Makkah, Deklarasi Bogor, Deklarasi Depok, Deklarasi MUHSIN (Majelis Ukhuwah Sunni Syiah Indonesia), dan yang terakhir di Universitas Muslim Indonesia. Semua ulama yang hadir menyepakati bahwa Islam Syiah merupakan mazhab yang sah dalam Islam. Mungkin landasan besar dari para ulama dunia itu kemudian pemerintahan Indonesia mensahkan organisasi Islam yang bernama IJABI (Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia) sebagai ormas resmi di Indonesia yang disahkan Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia.

Berkaitan dengan fatwa lokal MUI Jatim yang menyatakan sesat terhadap Syiah telah menuai kontroversi dan dinilai gegabah. Pak Ma’ruf Amin selaku ulama Jakarta menyatakan fatwa MUI Jatim sebagai tindakan yang benar dengan merujuk fatwa terdahulu yang menyatakan Syiah perlu diwaspadai. Kalau dilihat dari teks fatwa MUI tahun 1984 dengan jelas tidak dinyatakan sesat atau menyimpang atau terlarang. Saya kira yang dinyatakan Pak Ma’ruf itu bisa disebut dukungan pribadi karena MUI Pusat sendiri belum mengeluarkan fatwa resmi. Malah awal 2012 oleh Ketua MUI Pusat dinyatakan bahwa Islam merupakan mazhab yang sah dalam Islam.

Legitimasi Pak Ma’ruf itu kemudian direspon oleh Prof.Dr.KH.Jalaluddin Rakhmat, Ketua Dewan Syura IJABI (http://www.majulah-ijabi.org/14/post/2012/11/menyikapi-fatwa-tentang-fatwa.html) yang dimuat dalam Harian Umum Republika. Kemudian muncul dua tanggapan yang membela Pak Ma’ruf Amin. Terakhir (kemarin) muncul tanggapan lagi untuk keduanya dari Dr.Haidar Bagir yang dimuat dalam Republika. Ketika membacanya, saya hanya merasa bangga bahwa ternyata para tokoh Islam atau ulama Indonesia sudah mulai berani berdialog dalam bentuk tulisan. Tinggal dilanjutkan pada ruang yang terbuka dan difasilitasi pemerintah. Saya kira akan lebih bagus kalau dialog dalam bentuk tulisan terus dibuka dalam media massa (cetak atau televisi) sehingga masyarakat Indonesia akan melihat dan menilai sendiri. Mana yang diikuti dan mana yang tidak akan diikuti. Tentunya dengan dialog yang bernuansa ilmiah, bukan cercaan dan caci maki yang tidak bedasarkan pengetahuan dan argumentasi yang kuat.

Berkaitan dengan sikap MUI Jabar terhadap Syiah terbukti dalam acara Asyura (10 Muharram 1434) yang digelar oleh IJABI Jawa Barat pada Sabtu, 24 November 2012.

Pengurus MUI Jawa Barat: KH. Asep Zaenal Mutaqien dalam sambutan menyatakan, pengurus MUI Jabar berkewajiban mengayomi umat Islam sepanjang berpedoman pada Alquran dan sunah serta menyakini Nabi terakhir Muhammad SAW. “Suatu anugerah yang besar bisa berjumpa dan memenuhi undangan dari IJABI,” katanya

“Kalau Ahmadiyah itu jelas mengakui ada nabi lain setelah Nabi Muhammad. Kalau Syiah tidak seperti itu. Makanya lebih sulit untuk menyatakan Syiah itu sesat,” tandas Rafani.

Saya kira MUI Jabar dan MUI Jatim memang beda. Mungkin dari cara berpikirnya pun beda. Ada yang berprinsip senang damai, ada juga yang enggan damai. Mungkin juga karena soal pendapatan yang berbeda sehingga melahirkan pernyataan yang berbeda. Mungkin karena kurang gaul dengan ulama internasional sehingga merasa benar sendiri. Ada yang sudah mengetahui substansi Islam dan memahami Islam lebih luas, ada juga baru ala kadarnya.

Sahabat Ahli Badar dan Sahabat yang bukan Ahli Badar yang ikut Perang Siffin bersama Imam Ali AS

Takrif Sahabat:

Sahabat versi sunni adalah jamak (plural) daripada kalimah ‘sahib’ (صاحب) yang bermaksud: ‘Kawan rapat, teman baik, dan pengikut setia’.

Dalam istilah usuluddin apabila dikatakan Sahabat Rasulullah s.a.w bermaksud:

هو: الذي لقي الرسول وهو مؤمن به ومات على ذلك

Maksudnya: “Adalah orang yang berjumpa dengan Rasulullah s.a.w dan beriman dengan baginda serta mati sebagai seorang muslim”. [Syarah Tahawiah, Soleh al-Fauzan, 1/203].

Maka syarat untuk seseorang diiktiraf sebagai sahabat adalah melihat baginda secara lansung bukan dalam mimpi dan beriman dengan baginda lalu terus dalam iman itu sehinggalah dia meninggal.

Telah masyhur dalam sejarah Islam bahawa selepas kewafatan baginda Rasulullah s.a.w dan selepas terbunuhnya Khalifah al-Rasyidin yang ketiga; Usman bin Affan r.h, umat Islam berada dalam keadaan perpecahan dan perbezaan pendapat yang membawa kepada pertumpahan darah.

persengketaan yang berlaku dalam peperangan Jamal dan Siffin adalah persengketaan antara Sahabat-sahabat Rasulullah  dan mereka ini berperang sesama sendiri.

Ketika berlaku peperangan Jamal ini, Saidina Al-Zubair r.a sebuah hadis Nabi s.a.w kepada beliau ketika Nabi s.a.w menemui beliau sedang duduk bersama Ali r.a lantas Nabi s.a.w bersabda: “Adakah kamu mencintainya wahai Zubair?” Jawab Zubair: “Apakah yang menghalangi aku untuk mencintainya?” Lalu Nabi s.a.w bersabda: “Maka bagaimana pula keadaan kamu nanti ketika kamu memeranginya sedangkan kamu berlaku zalim kepadanya?”

Apabila beliau teringat akan hadis ini, maka Saidina Zubair r.a segera beredar daripada pertempuran dan bersumpah tidak akan memerangi Ali r.a. [al-Bidayah wan Nihayah, 7/268-269].

Berpindah pula kepada fitnah yang kedua iaitu peristiwa Siffin yang berlaku antara Saidina Ali r.a dan Muawiyah

Berkata al-Imam Ahmad bin Hanbal r.h: Menceritakan kepada kami Umayyah bin Khalid, dikatakan kepada Syu’bah: Ibn Abi Syaibah telah meriwayatkan daripada al-Hakam daripada Abdul Rahman bin Abi Laila berkata: “Turut serta dalam peperangan Siffin daripada Ahli Badar 70 (tujuh puluh) orang”. Berkata Syu’bah: “Abu Syaibah salah, kami telah berdiskusi dengan al-Hakam berkenaan perkara ini dan kami tidak dapati Ahli Badar yang menyertai Siffin kecuali Khuzaimah bin Tsabit[1]”. Dikatakan juga turut serta dalam Siffin daripada Ahli Badar, Sahl bin Hunaif r.a dan Abu Ayyub al-Ansari r.a. [al-Bidayah wan Nihayah, 7/281].

Al-Zahabi r.h menukil daripada Khalifah bahawa Sahabat Ahli Badar yang ikut Perang Siffin bersama Imam Ali AS adalah: ‘Ammar bin Yasir, Khawat bin Jabir, Sahl bin Hunaif, Abu Saad al-Sa’idi, Abul Yusr, Abu Rifa’ah al-Ansari dan Abu Ayyub al-Ansari.

Sahabat yang bukan Ahli Badar pula adalah: Khuzaimah bin Tsabit[2], Qais bin Saad bin Ubadah, Abu Qatadah, Sahl bin Saad al-Sa’idi, Qurzah bin Kaab, Jabir bin Abdullah, Ibn Abbas, al-Hasan, al-Husein, Abdullah bin Jaafar bin Abi Talib, Uqbah bin ‘Amir, Abu ‘Ayyash al-Razki, ‘Adi bin Hatim, al-Asy’as bin Qais, Sulaiman bin Surad, Jundub bin Abdullah, dan Jariah bin Qudamah”.

Yang jelas, dalam pandangan mainstream Sunni, seluruh Sahabat adalah pribadi yang baik, adil, dan jujur.

Sepeninggal Nabi, Para Sahabat adalah sumber-rujukan sunni. Sekiranya ada perselisihan di antara para Sahabat, kecenderungan orang Sunni tak mau membicarakannya. Sementara orang Syiah coba bersikap proporsional. Bahwa tak seluruh Sahabat hadir dengan keimanan sempurna kepada Allah dan Rasul-Nya. Tak sedikit di antara mereka yang berperilaku “menyimpang” dengan tak mengikuti Firman dan Sabda. Bahkan, di antara mereka ada yang dirajam karena berzina seperti Ma’iz dan Ghamidiyah. Itu sebabnya, sebagian kelompok Syiah tak memasukkan orang-orang yang berperilaku buruk dalam golongan Sahabat Nabi.

Perbedaan dalam memperlakukan Sahabat ini akan berdampak kepada kedudukan hadits yang diriwayatkan Sahabat itu. Jika di antara Sahabat itu ada yang tak berakhlak baik, masihkah yang bersangkutan bisa menjadi referensi moral?

Syiah tidak pernah mengkafirkan sahabat nabi

.

 150 orang lebih sahabat Nabi SAW adalah pengikut Ali (as) !
.
Syiah menganggap murtad/kafir adalah berpaling dari kepemimpinan, seperti orang yang malas shalat, bukannya keluar dari Islam.
Ayatullah Subhani;
Syiah tidak pernah mengkafirkan sahabat nabi
Ayatullah Jaafar Subhani salah seorang Marji’ Taqlid terkemuka menyatakan, “Syiah tidak pernah mengkafirkan para sahabat, bahkan mencintai dan menghormati mereka. Namun kami tidak menganggap mereka semua adil.”

Syiah tidak pernah mengkafirkan sahabat nabi

Agustus 2010 Ayatullah Jaafar Subhani dalam kuliah tafsir surah al-Hasyr di Madrasah ‘Ali Fiqh mendedahkan, “Hanya orang yang tidak berpelajaran sahaja yang menganggap sahabat nabi bersikap adil dari awal sampai akhir hayat mereka, atau mengatakan riwayat daripada mereka itu muktabar

.

Meskipun Syiah memberi penghormatan kepada mereka, ini bukanlah alasan untuk menutup mata dan memuktabarkan riwayat daripada sahabat.” Beliau menambah, tidak seperti fitnah yang tersebar luas, Syiah juga mengasihi mereka namun sebahagian pembohongan menuduh syiah mengkafirkan sahabat.”

“Kekafiran dan keadilan adalah dua masalah entiti yang berbeza dan tidak boleh kedua-duanya dicampur adukkan. Pada pandangan Syiah dikalangan sahabat lebih dari 70 peratus mereka itu bertaqwa dan berlaku adil, namun sebilangan daripada mereka ada juga bersikap tidak adil. Tidak adil dan kafir sangat jauh bezanya.”

“Bagaimana mungkin Syiah mengkafirkan semua sahabat sedangkan lebih 150 orang daripada kalangan mereka itu adalah pengikut Ali (as). Oleh itu hendaklah mereka yang membuat tuduhan itu takut kepada Allah dan tidak berdusta lagi.” tambah beliau.

Berkenaan riwayat-riwayat Ahlusunnah seperti di dalam Sahih Bukhari beliau mengatakan, “Dalam kitab Sahih Bukhari sebahagian riwayat menunjukkan kemurtadan para sahabat. Syiah menganggap kemurtadan ini adalah berpaling dari kepimpinan, bukannya keluar dari Islam. Oleh itu barangsiapa yang membuat tuduhan liar terhadap Syiah, mereka itu dikira tidak berpelajaran.”

Merujuk kepada beberapa  peristiwa bersejarah tentang ketidak adilan sebahagian para sahabat, ulama tafsir ini menjelaskan, “Sejarah menunjukkan bahawa sahabat Nabi beberapa kali mengingkari baginda dan banyak ayat telah turun untuk memberi hidayat dan menghalang mereka dari kesesatan dan kefasikan yang mana teladan itu dapat disaksikan dalam surah al-Hasyr.”

Ayatullah Subhani menegaskan, “Sebahagian khutbah Nabi dan peperangan setelah wafat baginda seperti perang Jamal, Nahrawan dan….. perkara ini membuktikan sebahagian para sahabat terjebak seperti apa yang dirisaukan baginda dan gugurlah keadilan dari mereka itu.”

Menurut beliau lagi, “Allah (swt) mendifinisikan sifat dan ciri-ciri para sahabat di dalam berbagai ayat, namun jelas sekali definisi itu tidaklah meliputi semua sahabat namun kebanyakan daripada mereka termasuk di dalamnya.”

“Maksud ayat-ayat seperti ini ialah sahabat hakiki yang memiliki sifat dan personaliti seperti ini sahaja, bukan bermaksud pakaian keadilan dan kesucian dibusanakan ke tubuh semua sahabat.” menurut beliau lagi.

Para pembaca…

Kekhalifahan Imam Ali  diteruskan oleh puteranya, Al-Hasan ra., tetapi sisa-sisa kekuatan pendukung mendiang Imam  Ali  sudah banyak mengalami kemerosotan mental dan patah semangat.. Bahkan terjadi penyeberangan ke pihak Mu’wiyah untuk mengejar kepentingan-kepentingan materi, termasuk ‘Ubaidillah bin Al-‘Abbas (saudara misan Imam ‘Ali ra.) yang oleh Al-Hasan ra, diangkat sebagai panglima perangnya !

Hilanglah sudah imbangan kekuatan antara pasukan Al-Hasan ra dan pasukan Mu’awiyah, dan pada akhirnya diadakanlah perundingan secara damai antara kedua belah pihak.

Dengan hilangnya kekhalifahan dari tangan Ahlul-Bait, mulailah masa pembasmian, pengejaran dan pembunuhan terhadap anak-cucu keturunan Ahlul-Bait dan pendukung-pendukungnya, yang dilancarkan oleh Daulat Bani Umayyah. Untuk mempertahankan kekuasaan Daulat Bani Umayyah, Mu’awiyah mengerahkan segala dana dan tenaga untuk mengobarkan semangat kebencian, terhadap Imam ‘Ali ra khususnya dan anak cucu ke turunannya. Semua orang dari ahlul-bait Rasulallah saw. direnggut hak-hak asasinya, direndahkan martabatnya, dilumpuhkan perniagaannya dan di ancam keselamatannya jika mereka berani menyanjung atau memuji Imam ‘Ali ra. dan tidak bersedia tunduk kepada kekuasaan Bani Umayyah.

Perintah dari para penguasa untuk mencaci maki, melaknat Imam ‘Ali ra itu sudah suatu perbuatan yang biasa-biasa saja, misalnya sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Imam Turmudzi dari Sa’ad Ibnu Waqqash yang mengatakan:

“Ketika Mu’awiyah menyuruh aku untuk mencaci maki Abu Thurab (julukan untuk Imam ‘Ali ra), maka aku katakan kepadanya (kepada Mu’awiyah); Ada pun jika aku sebutkan padamu tiga perkara yang pernah diucapkan oleh Rasulallah saw. untuknya (untuk Imam ‘Ali ra), maka sekali-kali aku tidak akan mencacinya. Jika salah satu dari tiga perkara itu aku miliki, maka hal itu lebih aku senangi dari pada unta yang bagus. Ketika Rasulallah saw. meninggalkannya (meninggalkan ‘Ali ra) didalam salah satu peperangannya, maka ia (‘Ali ra) berkata; ‘Wahai Rasulallah, mengapa engkau tinggalkan aku bersama kaum wanita dan anak-anak kecil ?

cikal-bakal keturunan beliau saw. banyak yang telah syahid dimedan perang Karbala.

adanya putera Al-Husain ra, bernama ‘Ali Zainal ‘Abidin, yang luput dari pembantaian pasukan Bani Umayyah di Karbala, berkat ketabahan dan kegigihan bibinya Zainab ra. dalam menentang kebengisan penguasa Kufah, ‘Ubaidillah bin Ziyad. Ketika itu ‘Ali Zainal ‘Abidin masih kanak-kanak berusia kurang dari 13 tahun. ‘Ali Zainal-‘Abidin bin Al-Husain cikal bakal keturunan Rasulallah saw.  itulah yang mereka sembunyikan riwayat hidupnya, dengan maksud hendak  memenggal tunas-tunas keturunan beliau saw.

Dalam kitab yang sama pada halaman 708 dikemukakan sebuah hadits di riwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim dari Sahal Ibnu Sa’ad ra yang mengatakan:

“Ketika kota Madinah dipimpin oleh seorang dari keluarga Marwan (baca:  Marwan Ibnu Hakam), maka sang penguasa memanggil Sahal Ibnu Sa’ad dan menyuruhnya untuk mencaci maki ‘Ali.  Ketika Sahal tidak mau melakukannya, maka sang penguasa berkata kepadanya; ‘Jika engkau tidak mau mencaci-maki ‘Ali, maka katakan semoga Allah swt mengutuk Abu Thurab’. Kata Sahal; ‘Bagi ‘Ali tidak ada suatu nama yang disenangi lebih dari pada nama Abu Thurab (panggilan Rasulallah saw. kepada Imam ‘Ali ra—pen.), dan ia amat bergembira jika dipanggil dengan nama itu’…sampai akhir hadits’ “. Dan masih banyak lagi riwayat  tentang pelaknatan, pencacian terhadap Imam ‘Ali ra dan penyiksaan kepada para pendukung dan pencinta ahlul-Bait yang tidak kami cantumkan disini.

Keadaan seperti itu berlangsung selama masa kekuasaan Daulat Bani Umay yah, kurang lebih satu abad, kecuali beberapa tahun saja selama kekuasaan berada ditangan ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz ra. Kehancuran daulat Bani Umayyah diujung pedang kekuatan orang-orang Bani ‘Abbas, ternyata tidak menghentikan gerakan kampanye ‘anti Ali dan anak-cucu keturunannya’. Demikianlah yang terjadi hampir selama kejayaan Daulat ‘Abassiyyah, lebih dari empat abad !

Dengan adanya perpecahan politik, peperangan-peperangan diantara sesama kaum muslimin yang tersebut diatas hingga runtuhnya daulat ‘Abbasiyyah, tidak hanya memporak-porandakan kesatuan dan persatuan ummat Islam, tetapi juga tidak sedikit merusak ajaran-ajaran Allah dan Rasul-Nya. Berbagai macam pandangan, pemikiran dan aliran serta faham bermunculan. Hampir semuanya tak ada yang bebas dari pengaruh politik yang menguasai penciptanya. Yang satu menciptakan ajaran-ajaran tambahan dalam agama untuk lebih memantapkan tekad para pengikutnya dalam menghadapi lawan. Yang lain pun demikian pula, menafsirkan dan menta’wil kan nash-nash Al-Qur’an dan Sunnah Nabi saw. sampai sesuai dengan prinsip pandangan mereka untuk membakar semangat para pengikutnya dalam menghadapi pihak lain yang dipandang sebagai musuh.

Selama kurun waktu kekuasaan daulat Bani Umayyah dan daulat Bani ‘Abasiyyah khususnya selama kekuasaan daulat bani Umayyah sukar sekali dibayangkan adanya kebebasaan dan keleluasaan menuturkan hadits-hadits Rasulullah saw. tentang ahlul-bait beliau saw, apalagi berbicara tentang kebijakan adil yang dilakukan oleh Amirul Mu’minin ‘Ali bin Abi Thalib ra. dimasa lalu. Itu merupa- kan hal yang tabu.

Banyak tokoh-tokoh masyarakat yang pada masa itu sengaja menyembunyikan hadits-hadits Nabi yang berkaitan dengan ahlul-bait beliau saw., atau tidak meriwayatkan hadits-hadits dari ahlul-bait beliau saw. (yakni Imam ‘Ali, Al-Hasan, Al-Husain [ra] dan anak cucu keturunan mereka). Ada sebagian dari mereka yang sengaja melakukan dengan maksud politik untuk ‘mengubur’ nama-nama keturunan Rasulallah saw., tetapi banyak juga yang menyembunyikan hadits-hadits demikian itu hanya dengan maksud membatasi pembicaraannya secara diam-diam, demi keselamatan dirinya masing-masing.

Sadar atau tidak sadar masing-masing terpengaruh oleh suasana persilangan sikap dan pendapat akibat pertikaian politik masa lalu dan per-musuhan antar golongan diantara sesama ummat Islam. Kenyataan yang memprihatinkan itu mudah dimengerti, karena menurut riwayat pencatatan atau pengkodikasian hadits-hadits baru dimulai orang kurang lebih pada tahun 160 Hijriah, yakni setelah keruntuhan kekuasaan daulat Bani Umayyah dan pada masa pertumbuhan kekuasaan daulat ‘Abbasiyyah.

Masalah hadits merupakan masalah yang sangat pelik dan rumit. Kepelikan dan kerumitannya bukan pada hadits itu sendiri, melainkan pada penelitian tentang kebenarannya. Identitas para perawi sangat menentukan, apakah hadits yang diberitakan itu dapat dipandang benar atau tidak. Untuk meyakini kebenaran hadits-hadits Rasulallah saw., ada sebagian orang-orang dari keturunan ahlul-bait Nabi saw., dan para pengikutnya menempuh jalan yang dipandang termudah yaitu menerima dan meyakini kebenaran hadits-hadits yang diberitakan oleh orang-orang dari kalangan ahlul-bait sendiri.

Cara demikian ini dapat dimengerti, karena bagaimana pun juga orang-orang dari kalangan ahlul-bait pasti lebih mengetahui peri kehidupan Rasulullah saw..

Ketua PP Muhammadiyah Prof H Syafiq A Mughni MA PhD berpendapat masalah Syiah dalam Islam sebenarnya hanya berbeda dalam persoalan kepemimpinan Ali bin Abi Thalib.

“Dari sudut ajaran Islam, saya memang tidak sepakat dengan Syiah, tapi perbedaan itu juga ada dalam paham-paham lain yang ada di dalam Islam. Itu biasa dalam Islam dan justru harus menjadi alasan untuk saling menghormati dan menghargai sesama Islam,” katanya kepada ANTARA di Surabaya (29/8).

Menurut mantan Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur itu, hal yang tidak bisa disepakati terkait Syiah adalah kepemimpinan Ali bin Abi Thalib atau perbedaan politik terkait kekhalifahan pasca-Nabi Muhammad SAW.

“Perbedaan dengan Syiah dalam politik (kepemimpinan) itu memang berdampak pada beberapa amaliah keagamaan. Dalam amaliah keagamaan, Syiah memang lebih cenderung kepada amaliah yang terkait langsung dengan Ali bin Abi Thalib, tapi hal itu bukan berarti sesat, karena itu hanya konsekuensi dari sebuah kultus individu,” kata Guru Besar IAIN Sunan Ampel Surabaya itu.

Jadi, Syiah, Sunni, dan sebagainya adalah bagian dari 73 golongan dalam Islam yang pernah diprediksi Nabi Muhammad SAW ???

 

[1] Kedudukan Khuzaimah bin Tsabit r.a sebagai Ahli Badar terdapat pertikaian.

[2] Atas pendapat beliau bukan Badri

Berapa Jumlah Sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam? Logiskah semua bersifat adil ?

Berapa Jumlah Sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam?

jumlah sahabat nabi

 Perjuangan Nabi Muhammad SAW sentiasa disokong dan didokong para sahabat baginda yang mulia.Tidak boleh tidak,kita sebagai umat Islam perlu mengakui tentang pengorbanan dan kehebatan para sahabat baginda dalam meninggikan Kalimah Tauhid pada sebelum dan selepas kewafatan Nabi.

Takrif dan Jumlah Sahabat Nabi Muhammad SAW

tidak mungkin bisa memastikan berapa jumlah sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena mereka terpencar ke berbagai negeri, daerah, dan penjuru bumi. Bahkan di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri, tidak ada yang mengumpulkan daftar nama-nama orang yang masuk Islam, siapa yang lahir di keluarga muslim, dst.

Al-Hafiz Al-Iraqi[ Al-Hafis Al-Iraqi adalah Muhadis yang berasal dari Iraq dan membesar di Kaherah.] berpendapat bahawa jumlah para sahabat tidak boleh dibataskan dengan jumlahtertentu,kerana jumlah para sahabat terlalu ramai dan tidak ada satu riwayat pun yang menentukan jumlah sahabat.Beliau berkata:

Tidak boleh dibataskan pada jumlah angka tersebut sahaja.Bagaimana boleh timbul sesetengah pihak yang berpendapat begitu dan menuliskannya didalam kitab mereka.Sedangkan masih ramai lagi para sahabat Nabi SAW yang bertebaran di segenap ceruk kota,kampung dan desa.

Oleh itu jumlah sebenar para sahabat tidak dapat ditentukan kerana tidak ada satu sumber sahih yang merekodkannya

al-Hafidz Abu Zur’ah ar-Razi (guru Imam Muslim). Beliau menegaskan bahwa jumlah sahabat ada 114.000 orang. Keterangan beliau ini disebutkan oleh al-Khatib al-Baghdadi dalam kitab al-Jami’ 2:293

As-Safarini dalam Ghizaul Albab mengatakan,Abu Zur’ah Ar-Razi menyebutkan bahwa jumlah sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih dari 100.000… dan diriwayatkan bahwa jumlah mereka 114.000. Yang menegaskan angka ini adalah as-Suyuthi rahimahullah dalam al-Khashais al-Kubro (Ghizaul Albab, 1:37)

As-Saji meriwayatkan dalam al-Manaqib, dengan sanad jayid (bisa diterima), dari ar-Rafi’i, beliau menyatakan,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal, sementara jumlah kaum muslimin ketika itu ada 60 ribu. Yang 30 ribu tinggal di Madinah dan 30 ribu tinggal di berbagai suku arab dan suku lainnya.

Setelah menyebutkan keterangan ini, al-Iraqi berkomentar,Meskipun demikian, semua ulama yang menulis tentang sahabat, daftar nama yang mereka kumpulkan dalam karyanya, belum mencapai angka 10.000. Padahal mereka menyebutkan sahabat yang meninggal di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang sezaman dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan sahabat yang ketemu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika masih kecil

Ibnul Qoyim mengatakan,

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menuju Tabuk, bersama 30.000 pasukan. Diantara mereka, yang 10.000 pasukan berkuda.” (Zadul Ma’ad, 3:462).

Perang Tabuk terjadi pada bulan Rajab, tahun 9 Hijriyah. Itu artinya, perang ini terjadi dua tahun sebelum wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. sementara itu, ketika peristiwa Tabuk, tidak ada sahabat yang mampu jihad yang tidak itut perang, kecuali Ka’ab bin Malik dan dua temannya. Jika kita gabungkan dengan sahabat wanita dan anak-anak, serta mereka yang tidak mampu berperang, tidak menyimpang jauh jika jumlah mereka di sekitar 100.000

Urgensi Historiografi Periode Sahabat

Disebutkan bahwa para Sahabat berjumlah 124 ribu orang. Dan Sahabat yang paling terakhir meninggal dunia adalah Abu at-Thufail Amir bin Waatsilah al-Laitsi. Sebagaimana yang ditegaskan oleh imam Muslim, beliau meninggal pada tahun 100H, dan ada yang mengatakan pada tahun 110 H.(dikutip dari Keutamaan dan Hak-Hak Para Sahabat, Abdullah bin Sholeh Al-Qushair, Cetakan Islamic Da’wah, hal 8-9)

FAKTA  SEJARAH :

  1. Jumlah kaum muhajirin dan anshar pada saat ayat ayat tentang pujian kepada muhajirin dan anshar turun berjumlah paling banter 313 orang muslimin  saja !
  2. Peserta perang  BADAR berjumlah 313 orang muslimin
  3. Peserta perang  UHUD berjumlah 700 orang muslimin
  4. Peserta perang  KHANDAQ berjumlah 3.000 orang muslimin
  5. Peserta ba’at dibawah pohon saat Qs. Al Fath ayat 18 turun  berjumlah 1.500 orang muslimin
  6. Peserta perang  KHAiBAR berjumlah 1.525 orang muslimin
  7. Peserta FATHUL  MAKKAH  berjumlah 10.000 orang muslimin
  8. Peserta perang  HUNAiN berjumlah 12.000 orang muslimin
  9.  Peserta perang  TABUK 30.000 berjumlah  orang muslimin
  10. Peserta  haji wada’ berjumlah 100.000 orang lebih muslimin

Akal dan Tradisi Lokal Banyak Dipakai Sahabat Nabi

Jargon al-ruju’ ila al-Qur’an wa al-Sunnah (kembali pada Alquran dan Sunnah) selalu diikuti dengan idealisasi masa lampau. Masa otentik kenabian memunculkan “mistifikasi” pada figur-figur sahabat di sekeliling Nabi. Ironisnya, kecenderungan sahabat Nabi dahulu dalam memaksimalkan al-ra’yu (akal) dan al-‘urf (tradisi lokal),

Kalau kita menggunakan definisi ahli hadis, yang dibuat setelah abad ketiga ataupun sembilan hijriah, sahabat Nabi adalah kullu man huwa muslim wara’a annabi wa maata ‘alal Islam. Yaitu barangsiapa saja yang pernah melihat Nabi dalam keadaan sudah Islam, dan ketika meninggal pun masih dalam keadaan berislam.

Pokoknya seseorang yang pernah melihat Nabi. Soal Nabi melihat dia ataupun tidak, itu bukan urusan. Misalnya, kalau seseorang melihat fisik Nabi dari belakang, lalu dia menggambarkan bagaimana bentuk rambut Nabi dari belakang, maka dia sudah bisa disebut sahabat, dan kalau dia meriwayatkan hadis, maka bisa masuk di musnad.

Yang jelas, dalam pandangan mainstream Sunni, seluruh Sahabat adalah pribadi yang baik, adil, dan jujur.

Sepeninggal Nabi, Para Sahabat adalah sumber-rujukan sunni. Sekiranya ada perselisihan di antara para Sahabat, kecenderungan orang Sunni tak mau membicarakannya. Sementara orang Syiah coba bersikap proporsional. Bahwa tak seluruh Sahabat hadir dengan keimanan sempurna kepada Allah dan Rasul-Nya. Tak sedikit di antara mereka yang berperilaku “menyimpang” dengan tak mengikuti Firman dan Sabda. Bahkan, di antara mereka ada yang dirajam karena berzina seperti Ma’iz dan Ghamidiyah. Itu sebabnya, sebagian kelompok Syiah tak memasukkan orang-orang yang berperilaku buruk dalam golongan Sahabat Nabi.

Perbedaan dalam memperlakukan Sahabat ini akan berdampak kepada kedudukan hadits yang diriwayatkan Sahabat itu. Jika di antara Sahabat itu ada yang tak berakhlak baik, masihkah yang bersangkutan bisa menjadi referensi moral?

Setelah beliau mangkat, yang tersisa adalah generasi berikutnya (para sahabat) yang jumlahnya cukup banyak.Ketika Nabi wafat, kemudian figur yang dijadikan teladan sudah tidak ada yang sekuat Nabi, maka yang ada hanyalah para sahabat yang relatif sejajar, karena mereka tidak menerima wahyu. Karena tidak ada orang yang bisa dijadikan rujukan yang paling absah, maka terjadilah perbedaan yang nantinya potensial membuahkan konflik.

Pertama, Dengan defenisi itu, sahabat Nabi ketika itu bisa diperkirakan maksimal sekitar 100-150 ribu orang. Itu termasuk orang-orang seperti Hakam bin Al-Ats, misalnya, yang pernah diusir Nabi ke Thaif. Dalam konteks ini, sekalipun Nabi tidak menyukai dia, tapi dia tetap bisa disebut sahabat, dan kalau dia mengeluarkan hadis, hadisnya bisa diterima.. Karena mereka terpencar ke berbagai negeri, daerah, dan penjuru bumi. Bahkan di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri, tidak ada yang mengumpulkan daftar nama-nama orang yang masuk Islam, siapa yang lahir di keluarga muslim, dst. Sebagaimana yang ditegaskan oleh Ka’ab bin Malik radhiyallahu ‘anhu, sebagaimana dinyatakan dalam hadis panjang tentang kisah beliau yang tidak ikut perang tabuk. Ka’ab mengatakan,

وَالْمُسْلِمُونَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَثِيرٌ وَلَا يَجْمَعُهُمْ كِتَابٌ حَافِظٌ

Kaum muslimin yang ikut bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat banyak. Tidak ada kitab yang mampu menuliskan semua nama mereka, demikian pula tidak ada orang yang mampu mengahafalnya. (HR. Bukhari 4418 dan Muslim 2769)

Kedua, ada sebagian ulama yang menegaskan angka tertentu ketika menyebut jumlah sahabat. Namun pendapat semacam ini adalah hasil ijtihad mereka. Diantaranya adalah al-Hafidz Abu Zur’ah ar-Razi (guru Imam Muslim). Beliau menegaskan bahwa jumlah sahabat ada 114.000 orang. Keterangan beliau ini disebutkan oleh al-Khatib al-Baghdadi dalam kitab al-Jami’ 2:293.

As-Safarini dalam Ghizaul Albab mengatakan,

فائدة : ذكر أبو زرعة الرازي أن أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم يزيدون على المائة ألف …..

وروى أنهم مائة ألف وأربعة وعشرون ألفاً ، وجزم بهذا العدد الجلال السيوطي رحمه الله في الخصائص الكبرى

Catatan: Abu Zur’ah Ar-Razi menyebutkan bahwa jumlah sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih dari 100.000… dan diriwayatkan bahwa jumlah mereka 114.000. Yang menegaskan angka ini adalah as-Suyuthi rahimahullah dalam al-Khashais al-Kubro (Ghizaul Albab, 1:37).

Diantara ulama lainnya adalah al-Iraqi. Beliau menyebutkan,

As-Saji meriwayatkan dalam al-Manaqib, dengan sanad jayid (bisa diterima), dari ar-Rafi’i, beliau menyatakan,

قبض رسول الله صلى الله عليه وسلم والمسلمون ستون ألفاً ثلاثون ألفاً بالمدينة، وثلاثون ألفاً في قبائل العرب وغير ذلك

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal, sementara jumlah kaum muslimin ketika itu ada 60 ribu. Yang 30 ribu tinggal di Madinah dan 30 ribu tinggal di berbagai suku arab dan suku lainnya.

Setelah menyebutkan keterangan ini, al-Iraqi berkomentar,

ومع هذا فجميع من صنف في الصحابة لم يبلغ مجموع ما في تصانيفهم عشرة آلاف، مع كونهم يذكرون من توفي في حياته صلى الله عليه وسلم، ومن عاصره أو أدركه صغيراً

Meskipun demikian, semua ulama yang menulis tentang sahabat, daftar nama yang mereka kumpulkan dalam karyanya, belum mencapai angka 10.000. Padahal mereka menyebutkan sahabat yang meninggal di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang sezaman dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan sahabat yang ketemu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika masih kecil.

Dan ternyata, bilangan ini tidak melenceng jauh dari kebenaran. Karena beberapa riwayat menunjukkan bahwa jumlah sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kurang lebih pada angka itu.

Ibnul Qoyim mengatakan,

خرج الرسول صلى الله عليه وسلم ومعه ثلاثون ألف مقاتل ، ومعهم عشرة آلاف فرس

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menuju Tabuk, bersama 30.000 pasukan. Diantara mereka, yang 10.000 pasukan berkuda.” (Zadul Ma’ad, 3:462).

Perang Tabuk terjadi pada bulan Rajab, tahun 9 Hijriyah. Itu artinya, perang ini terjadi dua tahun sebelum wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. sementara itu, ketika peristiwa Tabuk, tidak ada sahabat yang mampu jihad yang tidak itut perang, kecuali Ka’ab bin Malik dan dua temannya. Jika kita gabungkan dengan sahabat wanita dan anak-anak, serta mereka yang tidak mampu berperang, tidak menyimpang jauh jika jumlah mereka di sekitar 100.000.

Kemudian, disebutkan oleh jabir bin Abdillah, ketika beliau menjelaskan prosesi haji wada’. Jabir mengatakan,

فَصَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَسْجِدِ ، ثُمَّ رَكِبَ الْقَصْوَاءَ ، حَتَّى إِذَا اسْتَوَتْ بِهِ نَاقَتُهُ عَلَى الْبَيْدَاءِ نَظَرْتُ إِلَى مَدِّ بَصَرِي بَيْنَ يَدَيْهِ مِنْ رَاكِبٍ وَمَاشٍ ، وَعَنْ يَمِينِهِ مِثْلَ ذَلِكَ ، وَعَنْ يَسَارِهِ مِثْلَ ذَلِكَ ، وَمِنْ خَلْفِهِ مِثْلَ ذَلِكَ

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat di masjid, lalu naik Onta namanya al-Qashwa. Setelah beliau berada di atas dataran tinggi Baida, aku memandang sejauh pandangan mataku di depan penuh mannusia, yang berkendaraan dan yang berjalan kaki, di samping kanan juga sejauh mata memandang, di kiri juga demmikian, dan di belakang juga demikian.’ (HR. Muslim 1218)

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berangkat haji Wada’ dari Madinah ke Mekah, beberapa orang dari berbagai suku ikut bergabung, termasuk penduduk mekah yang belum lama masuk Islam.

Selama ini orang banyak mengidealisasikan kehidupan keagamaan masa para sahabat. Bagaimana mereka dalam berislam?

Harus diingat, bahwa pada masa dulu, kota Madinah itu kecil sekali dan tidak mungkin mengakomodasi banyak orang. Kalau ada orang yang mau masuk Islam, dia mesti datang ke Madinah, menginap dua atau tiga hari bersama Nabi di Madinah. Setelah itu balik ke kampung masing-masing. Keberislaman para sahabat itu kadang-kadang keberislaman dengan pemahaman atas apa yang diajarkan Nabi selama dua atau tiga hari bermukim bersamanya. Setelah balik lagi ke kampung halaman, lalu mereka menyelesaikan persoalan hidup berdasar pengetahuan mereka tentang Islam dan beberapa hadis yang mereka dapat selama dua atau tiga hari itu.

Mungkin mereka hapal satu atau dua hadis Nabi. Kemudian mereka mengetahui Alquran satu atau dua ayat karena Alquran saat itu juga belum tuntas turun semua. Nah, dengan bekal itulah mereka dituntut untuk memecahkan masalah-masalah yang ada di masyarakat mereka. Tentu itu saja tidak cukup. Pertanyaannya, kemana mereka kemudian berpaling? Mereka berpaling pada al-‘urf atau tradisi lokal dan juga penalaran (al-ra’yu). Sekiranya kita ingin kembali mengikuti keberislaman ala sahabat, artinya kita mengikuti cara berislam sahabat yang kadang-kadang hafal beberapa ayat dan beberapa hadis saja. Apakah itu yang kita mau?

Apakah mereka juga menimba pengetahuan tentang Islam yang belum lengkap, lalu pulang kampung sendiri dengan banyak pertanyaan di benak mereka?

Harus diingat juga bahwa waktu itu terjadi banyak sekali peperangan. Di masa Nabi hidup, dan sepeninggalan Nabi, Abu Bakar, Umar dan Usman, politik ekspansi dimulai dengan mengirim sahabat dalam jumlah besar keluar dari Madinah. Dan lagi-lagi, pemahaman Islam yang mereka bawa dari Madinah ke mana-mana adalah pemahaman Islam yang belum “sempurna.” Pada masa Nabi masih hidup, hadis masih terus “diproduksi.” Dengan begitu, tentu konsep tentang Islam belum sempurna.

Saya kira, sekarang kita dalam posisi yang lebih baik dari para sahabat Nabi dalam soal pengetahuan keislaman. Kita paling tidak dapat mengakses baik dari Bukhari ataupun Muslim saja, sekitar 7000 hadis yang sudah dikumpulkan. Saya kira, hanya beberapa orang sahabat saja, yang tahu sampai 7000-an hadis. Sebagian mereka, mungkin hanya tahu beberapa puluh saja. Makanya, kita dalam posisi yang lebih baik dalam hal itu. Tapi, ada satu hal yang membuat dinamika pemahaman keislaman antara kita dan para sahabat itu berbeda, tentu.

Artinya, mazhab-mazhab fikih sudah dibangun sebelum kitab hadis dibukukan. Kira-kira, ketika pendiri mazhab itu berijtihad, apa yang mereka gunakan sebagai dasarnya?

Mereka tetap menggunakan hadis, selain Alquran. Tapi hadis yang masih bercampur antara yang shahih (valid, Red) dan dla’if (kurang valid atau tidak valid, Red), bahkan maudhu’ (palsu, Red). Ketika itu orang diberi kepercayaan untuk memilih mana hadis yang sahih, mana yang dla’if. Sekarang ‘kan tidak. Kita sudah disodorkan hadis-hadis yang dikatakan sahih. Tapi siapa yang mengatakan hadits itu sahih? Yang mengatakan itu Imam Bukhari. Nah, dengan begitu, kita lalu percaya bahwa Bukhari itu pasti benar ????

Yang perlu diingat, Imam Bukhari itu mengumpulkan hadisnya pada abad ketiga Hijriah atau kesembilan Masehi. Bayangkan kondisi abad ke sembilan; belum ada komputer, tidak ada indeks dalam buku, listrik belum ada, peperangan terjadi di mana-mana. Jadi pengumpulan itu dilakukan dalam keadaan yang sangat minimal; transportasi belum seperti sekarang, telepon pun belum ada. Jadi kalau dia mau mengumpulkan hadis, dia harus pergi melacaknya jauh-jauh. Tentu itu repot sekali, dan dalam kondisi yang sangat terbatas, dia juga tentu akan menghasilkan produk yang juga terbatas.

Bagaimana dengan fenomena maraknya kritik Hadis, baik dari segi matan, sanad maupun historisnya?

Yang harus diingat, hadis Nabi yang dikumpulkan Imam Bukhari sebelum dipilah-pilah, ada sekitar 600.000-an hadis. Setelah proses seleksi, tersisa sekitar 7000-an hadis. Itu termasuk hadis yang berulang-ulang. Yang tidak berulang-ulang secara redaksional, hanya sekitar 3000 hadis saja. Nah, ada 3000-an perkataan, perbuatan, dan persetujuan Nabi yang dianggap benar. Apakah kita yakin kalau selama 25 tahun masa kenabian, Nabi hanya berbuat atau mengatakan 3000-an potong hadis saja? Tentu itu terlalu sedikit. Sekarang saja, perkataan kita selama setengah jam saja sudah bisa menghasilkan berapa ribu kata.

Poinnya itu, masih banyak sekali hadis yang belum kita temukan dan memerlukan kajian ulang. Tadi saya berbicara tentang keterbatasan para pendahulu kita dalam mengkaji hadits. Sekarang saya mengatakan bahwa kita sebetulnya berada dalam posisi yang lebih baik untuk mengulas hadis-hadis itu secara kritis. Sebab, bersama kita sekarang, ada buku-buku yang tidak sempat dibaca oleh Imam Bukhari, misalnya. Kitab Fathul Bari, karya Ibnu Hajar Al-Asqalani (hidup pada abad 12 H/15 M) itu: buku itu lengkap sekali. Jadi, kita bisa memakai buku ulama-ulama yang belakangan yang tidak bisa dibaca Imam Bukhari untuk melakukan studi kritis. Sekali lagi, kita berada dalam posisi lebih baik apalagi dibantu oleh teknologi, mesin, telepon dan seterusnya, untuk mengkaji ulang tradisi Islam. Sekian banyak hadis bisa dimasukkan dalam satu-dua VCD.

Di sebagian kalangan, muncul “mistifikasi’ terhadap sahabat Nabi sebagai orang yang ‘udul (jujur, adil dan tak pernah salah).Tanggapan Anda?

Ya. Padahal kita tahu, ketika membaca biografi para sahabat karya Ibn Abdil Bar, misalnya, kita juga menemukan cerita-cerita tentang mereka yang sangat manusiawi. Ada cerita tentang sahabat yang mencuri kantong kulit kepunyaan Nabi, ada sahabat yang berzina dan lain-lain. Ayat tentang zina menjadi ada karena ada sahabat yang melakukan perbuatan itu. Intinya, mereka juga hidup normal seperti kita; dengan banyak kemauan dan juga membuat kesalahan.

Nah, sekarang mengapa tiba-tiba ada generalisasi yang mengatakan kalau semua mereka itu ‘udul. Ada mistifikasi berlebihan. Dengan klaim itu, artinya kita tidak bisa lagi mempertanyakan integritas mereka. Secara historis, doktrin ini muncul pada abad ke sembilan, ketika kelompok Mu’tazilah sebagai gerakan rasional dalam Islam mengritik ahli hadis dalam polemik antarmereka.

Kita tahu, jumlah hadis itu juga bergantung pada jumlah sahabat yang diakui integritasnya. Kalau jumlah sahabat yang bisa dipercaya cuma dua orang, hadis yang sempat diriwayatkan, tentu juga akan sedikit. Nah supaya hadis yang diakui kesahihannya banyak, maka jumlah sahabat yang diakui integritasnya juga harus diperbanyak. Untuk itu, sahabat yang banyak itu juga harus dibentengi dan ditamengi dengan doktirn bahwa kulluhum ‘udul (setiap mereka itu jujur, adil dan tidak bercacat, Red). Sebab apa? Karena kalau semua ‘udul, kata-kata sahabat akan banyak yang bisa dipercaya sebagai hadis. Implikasinya, kalau hadis banyak, peran akal akan berkurang dengan sendirinya. Jadi ini semacam amunisi ahli hadis ketika itu, untuk mengurangi kegiatan rasional kelompok Mu’tazilah

Sahabat Periwayat Hadits Terbanyak

Tahukah anda nama-nama sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam yang paling banyak meriwayatkan hadits? Dan tahukah anda berapa jumlah hadits yang telah mereka riwayatkan?

Asy-Syaikh Muhammad bin Saleh Al-Utsaimin rahimahullah berkata dalam Al-Muntaqa min Fara`id Al-Fawa`id hal. 157-158:

Para sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits:
1. Abu Hurairah radhiallahu anhu, beliau meriwayatkan 5374 hadits.
2. Aisyah radhiallahu anha, beliau meriwayatkan 2210 hadits.
3. Anas bin Malik radhiallahu anhu, beliau meriwayatkan 2286 hadits.
4. Abdullah bin Abbas radhiallahu anhuma, beliau meriwayatkan 6160 hadits[1].
5. Abdullah bin Umar radhiallahu anhuma, beliau meriwayatkan 2630 hadits.
6. Jabir bin Abdillah radhiallahu anhuma, beliau meriwayatkan 1540 hadits.
7. Abu Said Al-Khudri radhiallahu anhu, beliau meriwayatkan 1170 hadits.
8. Abdullah bin Mas’ud radhiallahu anhu, beliau meriwayatkan 848 hadits.
9. Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiallahu anhuma, beliau meriwayatkan 700 hadits.

Dengan ini nampak perbedaan yang mencolk antara jumlah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah dengan Abdullah bin Amr radhiallahu anhum

.
Adapun ucapan Abu Hurairah:
ما كانَ أَحَدٌ مِنْ أَصْحابِ رسولِ اللهِ صلَّى الله عليه وسلم أَكْثَرَ حَدِيْثاً مِنِّي. إلاَّ ما كانَ مِنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو, فَإِنَّهُ كانَ يَكْتُبُ وَلاَ أَكْتُبُ
“Tidak ada seorang pun dari sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang lebih banyak haditsnya daripada saya. Kecuali Abdullah bin Amr, karena dia menulis haditsnya sementara saya tidak menulisnya.”

Syi’ah pecah dengan sunni karena Mencari Kebenaran dan Berpegang Teguh pada al-Quran dan Sunnah

imam ali dan persatuan umat islamArus kejahatan telah menguasai dunia Islam. Kebenaran tidak lagi dapat mengibarkan benderanya, tidak ada tangan yang diulurkan untuk melakukan perbaikan, tidak ada suara yang dapat diteriakkan guna menyingkap kejahatan orang-orang zalim. Kemarin, Abu Sufyan melakukan upaya tipu muslihat untuk membunuh Nabi Muhammad Saw agar risalah ilahiah terkuburkan untuk selama-lamanya. Namun semua usaha tersebut tidak diinginkan oleh Allah bahkan Allah berkehendak untuk menyempurnakan cahaya-Nya.

Sekarang, Muawiyah bin Abu Sufyan dengan memanfaatkan penyimpangan yang terjadi semenjak peristiwa Saqifah berusaha menyempurnakan apa yang telah dimulai oleh ayahnya dalam rangka menghancurkan Islam. Potensi kebodohan, kesesatan yang dimilikinya membantunya untuk menyiapkan rencana untuk membunuh hatinya umat Islam, penyambung lidah kebenaran, pembawa bendera Islam dan yang menghidupkan syariat Islam.

Kesesatan yang telah lama menuntun kaki mereka sekali lagi menyeret merek untuk mematikan cahaya hidayah dan melanggengkan kegelapan demi menyiapkan penyelewengan dan kejahatan. Tangan-tangan setan itu kemudian berjabatan tangan dengan Ibnu Muljam di kegelapan malam. Pedang itu menebas kepala seorang yang telah lama membelakangi dunia dan mengarah ke rumah Allah dalam keadaan sujud. Ia kemudian dibiarkan begitu saja.

Sekelompok orang-orang sesat telah berkumpul untuk membunuh Imam Ali bin Abi Thalib, tidak sulit untuk mengatakan bahwa penggeraknya adalah Muawiyah bin Abu Sufyan. Kesepakatan mereka adalah membunuh Imam Ali bin Abi Thalib ketika ia pergi melaksanakan salat subuh. Hal itu dikarenakan tidak satu pun dari mereka yang berani berhadap-hadapan dengan singa Allah.

Pada waktu itu malam kesembilan belas dari bulan Ramadhan. Imam Ali bin Abi Thalib banyak melakukan perenungan dengan melihat angkasa. Ia senantiasa mengulang-ulang perkataan, ‘Engkau tidak berbohong dan tidak pernah membohongi orang lain. Malam ini adalah waktu yang engkau janjikan’. Imam Ali bin Abi Thalib menghabiskan malamnya dengan berdoa dan bermunajat kepada Allah swt. Setelah itu beliau keluar dari rumah menuju masjid untuk menunaikan salat subuh. Sesampainya di masjid beliau membangunkan orang-orang yang terbiasa beribadah di situ dan kemudian tertidur. Beliau mengucapkan, ‘Salat… salat…’.

Setelah itu Imam Ali bin Abi Thalib menunaikan salatnya. Ketika beliau tengah asyik bermunajat kepada Allah, tiba-tiba seorang penjahat celaka bernama Abdurrahman bin Muljam dengan bersuara lantang mengucapkan semboyan kelompok Khawarij ‘Hukum adalah milik Allah bukan milikmu’, setelah itu ia mengayunkan pedangnya tepat mengenai kepala Imam Ali bin Abi Thalib yang mengakibatkan kepalanya merengkah akibat bacokan tersebut. Merasakan sabetan pedang di kepalanya Imam Ali bin Abi Thalib langsung mengucapkan kata, ‘Aku menang demi Tuhan pemilik Ka’bah’.

Setelah itu terdengar suara riuh di dalam masjid. Orang-orang cepat berlari menuju Imam Ali bin Abi Thalib. Mereka mendapatkannya terjatuh di mihrabnya. Mereka kemudian membawanya pulang ke rumahnya sambil kepalanya diikat sementara masyarakat dari belakang mengikuti sambil menangis. Orang-orang berhasil menangkap Ibnu Muljam. Imam Ali bin Abi Thalib berwasiat kepada anak tertuanya Hasan dan juga kepada anak-anaknya yang lain serta keluarganya agar berlaku baik dengan tawanan. Ia kemudian berkata, ‘Jiwa dibalas dengan jiwa. Oleh karenanya bila aku mati maka kalian harus mengqisasnya dan bila aku hidup maka aku akan mengambil keputusan sesuai dengan pendapatku’.

Wasiat Imam Ali bin Abi Thalib
Imam Ali bin Abi Thalib menasihati kedua anaknya Hasan dan Husein dan seluruh keluarganya dengan wasiat umum. Ia berkata:

‘Aku berwasiat kepada kalian berdua untuk bertakwa kepada Allah. Jangan kalian mengikuti dunia sekali pun dunia menginginkan kalian. Jangan bersedih terhadap sesuatu yang hilang dari tangan kalian. Berkatalah tentang kebenaran dan beramal untuk mendapat balasan dari Allah. Jadilah penolong untuk orang mazlum dan bersikap keras terhadap orang zalim. Berbuatlah sesuai dengan yang diperintahkan dalam Al-Quran. Serta jangan takut di cemooh oleh orang dalam jalan Allah’.

Luka beliau yang parah tidak memberikan waktu lagi untuknya. Imam Ali bin Abi Thalib telah mendekati ajalnya. Akhir ucapan yang keluar dari bibirnya sebelum ajal menjemputnya adalah firman Allah swt, ‘Seperti ini mestinya orang-orang yang beramal baik mesti berbuat’. Kemudian ruhnya yang suci naik menuju surga yang dijanjikan.

Penguburan dan pidato pujian terhadap Imam Ali bin Abi Thalib Imam Hasan dan Husein yang melakukan segala prosesi penguburan ayah mereka Imam Ali bin Abi Thalib mulai dari mandi, pengkafanan dan pengebumian. Setelah itu Imam Hasan melakukan salat terhadap ayahnya diikuti oleh sejumlah keluarga dan sahabat-sahabat. Setelah selesai melakukan salat kemudian mereka membawanya ke tempat peristiwaannya yang terakhir. Imam Ali bin Abi Thalib dimakamkan di kota Najaf dekat kota Kufah. Semua pelaksanaan selesai pada malam hari.

Setelah proses penguburan selesai, Sha’sha’ah bin Shuhan berdiri kemudian berpidato memuji Imam Ali bin Abi Thalib. Ia berkata:

‘Wahai Abu Al-Hasan! Engkau sekarang lebih baik. Engkau lahir dengan baik, kesabaranmu kuat, jihad dan perjuanganmu sungguh agung, engkau berhasil dengan pandanganmu, engkau untung dalam perdaganganmu. Engkau menemui penciptamu dan Ia menerimamu dengan kabar gembira-Nya serta engkau diapit oleh para malaikat. Engkau sekarang berada di samping Musthafa Saw dan semoga Allah memuliakanmu berada di samping Muhammad Saw. Engkau telah bergabung sama dengan derajat saudaramu Muhammad Saw. Engkau minum dari gelasnya. Sekarang kau memohon kepada Allah agar memberikan kepada kami agar dapat mengikuti jejakmu. Berbuat sesuai dengan perilakumu. Mengikuti orang yang engkau ikuti. Memusuhi orang yang memusuhimu. Semoga Allah mengumpulkan kami dalam golongan orang-orang yang mencintaimu. Engkau telah meraih sesuatu yang belum pernah diraih oleh seorang pun. Engkau telah merasakan sesuatu yang belum pernah dirasakan oleh seorang pun. Engkau telah berjuang dengan sungguh-sungguh di samping saudaramu Muhammad Saw. Engkau telah menegakkan agama Allah dengan sunguh-sungguh. Engkau telah menegakkan Sunah Nabi dan menekan dengan keras fitnah sehingga Islam dan iman dapat tegak. Aku mengucapkan salawat dan salam yang paling utama dan terbaik buatmu’.

Ia kemudian melanjutkan, ‘Sesungguhnya Allah telah memuliakan derajatmu. Engkau adalah orang yang paling dekat dengan Rasulullah Saw dari sisi keturunan dan yang paling awal memeluk agama Islam. Orang yang paling dalam keyakinan dan yang hatinya paling kuat imannya. Orang yang paling keras berjuang demi agama Islam. Orang yang paling besar sahamnya dalam kebaikan. Oleh karenanya jangan dicegah pahalanya untuk sampai kepada kami dan kami tidak akan rendah sepeninggalmu. Demi Allah! Kehidupanmu adalah kunci dari pintu-pintu kebaikan dan penutup kejelekan dan kejahatan. Hari ini adalah terbukanya pintu kejelekan dan kejahatan serta tertutupnya pintu-pintu kebaikan. Seandainya manusia sebelumnya menerima pandanganmu niscaya mereka akan cukup segala-galanya. Sayangnya mereka lebih memilih mencintai dunia dari pada akhirat’.

Beberapa kalangan memandang bahwa jalan yang mengarah pada persatuan Islam dan kedekatan di antara mazhab-mazhab dapat dicapai hanya dengan melekatkan diri pada persamaan Islami serta menghilangkan perbedaan sektarian dan asal-usul.

Pada bagian berikutnya, tulisan ini akan menyentuh kemunculan sikap berlebih-lebihan (ghuluw), serta pemalsuan, penyusupan, dan distorsi riwayat (hadis). Artikel ini akan membuahkan kesimpulan yang merujuk pada topik utama dari rangkaian tulisan ini dengan catatan bahwa Ahlul Bait telah memancangkan fondasi yang kokoh untuk membangun persatuan [umat Islam]. Kualitas-kualitas umum dari otoritas spiritual semacam itu dalam perdebatan teologis, sosial, politis, dan hukum mereka merupakan bentuk ketulusan moral dan kasih sayang mereka; sebagaimana tujuan mereka untuk selalu menuntun ke arah kebenaran ultim.

Tulisan ini merupakan bagian dari rangkaian artikel yang akan mengulas sikap para Imam Syiah sekaitan dengan persatuan umat Islam. Artikel ini mengawalinya dengan mendefinisikan makna “Persatuan Umat Islam” dan dilanjutkan dengan menjelaskan sejumlah karakteristik persatuan dimaksud; khususnya sebagaimana dijumpai dalam al-Quran dan Sunah. Kemudian, karya tulis ini memaparkan sejumlah metode praktis untuk mencipta persatuan dan mencegah perpecahan, dengan menyuguhkan teladan dari keluarga suci Nabi Saw.

Makna Persatuan Islam
Dalam penggunaannya secara umum, istilah wahdah dan itihad bermakna “persatuan, kebersamaa, solidaritas, konvergensi, kebulatan suara, unifikasi, satu tujuan, komunitas, dan bersepakat terhadap suatu masalah”. Salah satu karakteristik dari gerakan membangun persatuan adalah bahwa ia bekerja di sepanjang alur atau arah yang tunggal dengan maksud mencapai tujuan yang [juga] tunggal. Kedua istilah tersebut -yakni, wahdah dan itihad- dalam pengertian yang telah disebutkan merupakan antonym (lawan kata) dari istilah semacam “keberagaman”, “penyebaran”, “perselisihan”, “perpecah-belahan”, “sektarianisme”, dan “divergensi”. Karena itu, persatuan mengubah perpecahan menjadi solidaritas, divergensi menjadi konvergensi, penyebaran menjadi pengumpulan, dan opini beragam menjadi opini tunggal; serta spesifikasi dari tujuan umum dan telah disepakati demi menentukan jalan yang membawa ke arahnya.

Seseorang dihadapkan dengan berbagai jalan dan kemungkinan seraya berupaya menggambarkan sebuah model yang dapat diperankan bagi persatuan Islam. Alasannya adalah bahwa kalangan ulama dan reformis modern, serta para pengikutnya dari berbagai mazhab dan teologi keislaman cenderung mengusung pandangan khasnya masing-masing sekaitan dengan konsep ini. Sebagai contoh, banyak ulama pada hari ini yang menganggap persatuan Islam pada satu atau lebih dimensi sosio-politisnya sebagai sebentuk persatuan yang saling menguntungkan satu sama lain. Sebagian lain menekankan pentingnya komunalitas (persamaan) Islami dan mengoreksi kesalahpahaman religius, dan ini disebut dengan “menciptakan kebersamaan di antara mazhab-mazhab pemikiran” (taqrib madhahib), atau dalam istilah yang lebih tepat “menciptakan kebersamaan di antara para pengikut mazhab-mazhab tersebut”.

Pada kenyataannya, jenis persatuan yang benar dan diharapkan adalah yang menerapkan keduanya, baik dimensi sosio-politisnya maupun ideologi keagamaannya. Ini merupakan sebentuk persatuan abadi yang dibangun di atas fondasi yang kokoh berupa pendekatan keimanan dari berbagai mazhab—ini merupakan pendekatan fondasional antara prinsip-prinsip dan pilar-pilar dari mazhab-mazhab tersebut dan bukan sekadar kedangkalan yang melahirkan kebersamaan di antara segelintir ulama dari beberapa mazhab.

Beberapa kalangan memandang bahwa jalan yang mengarah pada persatuan Islam dan kedekatan di antara mazhab-mazhab dapat dicapai hanya dengan melekatkan diri pada persamaan Islami serta menghilangkan perbedaan sektarian dan asal-usul. Sebagian lain berbicara tentang konvergensi mazhab-mazhab atau memilih salah satunya [sebagai titik peleburan]. Namun, sebagian lain menyatakan bahwa satu-satunya jalan untuk mencapai persatuan adalah dengan kembali ke masa khulafa rasyidin dan para penerusnya (kaum salaf) seraya menghidupkan kembali gaya hidup mereka. Adapun sebagian kelompok lainnya mengungkapkan pandangannya, bahwa Islam semestinya menghapus seluruh mazhab pemikiran tersebut, termasuk pihak-pihak yang berupaya membangun persatuan dengan cara menggiring selainnya memeluk mazhabnya.[1]

Masing-masing ulama tersebut, terlepas dari simpati yang mereka miliki terhadap komunitas Islam sebagai suatu keseluruhan, bersandar pada pandangan religius dan politis yang [hanya] berlaku dalam mazhab pemikiran mereka sendiri. Ini dengan sendirinya menjadi bukti tak terbantah bahwa pandangan-pandangan mereka berikutnya bukan hanya mustahil, melainkan bahkan senyatanya kian mempertajam perbedaan. Setiap mazhab pemikiran Islam berdiri tegak di atas serangkaian prinsip dan derivat keyakinannya (ijtihad); hal yang sama juga berlaku pada setiap ulama fikih atau teologi, dan keinginan untuk mempertahankan mazhabnya, tentu saja, merupakan sesuatu yang sangat wajar. Bagaimana pun, campur tangan dari elemen-elemen sektarian tertentu serta melibatkan mereka dalam perbincangan seputar persatuan tidak akan membawa kita ke mana-mana—semua itu hanya menghasilkan definisi yang keliru mengenai persatuan serta dukungan yang tidak layak ke arahnya.

Bentuk persatuan Islam yang efektif dan benar-benar diharapkan adalah yang menekankan pentingnya manfaat dan tujuan pendekatan antar keyakinan religius dan yang berasal dari kalangan yang memiliki banyak kesamaan ketimbang perbedaan mazhab. Kaum Muslim, misalnya, mengimani Tuhan yang Maha Esa, mengakui utusan-Nya, dan mengusung Kitab samawi yang sama, yang disebut dengan al-Quran. Tujuan utama mereka adalah keberhasilan hidup di dunia dan akhirat, juga kedekatan dengan Allah Swt.

Dengan mengikuti metode yang lebih sesuai dan lebih intelek -yang mengakar di jalan Ahlul Bait dan dibangun di atas sumber-sumber keagamaan yang kongkrit- harapan persatuan niscaya dapat diwujudkan. Karakteristik dari persatuan semacam itu mencakup hal-hal berikut:

1. Persatuan Islam yang didambakan menegaskan bahwa kaum Muslim, terlepas dari ragam ideologi politik, fikih, dan teologisnya, merupakan umat yang satu. Elemen-elemen mendasar dari umat semacam ini adalah penerimaan terhadap prinsip-prinsip umum seperti keesaan Allah Swt, kenabian, kebangkitan, serta keyakinan dan komitmen terhadap rangkaian hukum dan praktik keagamaan yang diakui seluruh Muslim. Berkat penerimaan terhadap prinsip-prinsip tersebut, tak satu pun perbedaan-perbedaan sepele serta ragam pandangan fikih, teologis, dan sejarah yang mampu mengancam kesatuan umat.

Kalangan yang menyimpang dan para pelaku bidah, seperti kaum ghulat (ekstrimis) dan nawashib (musuh-musuh Ahlul Bait) -dengan menyertakan sikap cermat terhadap makna dan contoh dari kedua kelompok tersebut- senantiasa ditolak oleh masyarakat Islam. Mereka telah dipandang keluar dari lingkaran Islam oleh kedua mazhab utama (Sunni dan Syiah) serta dipisahkan dari kaum Muslim lainnya. Karena itu, mazhab pemikiran Islam diperbolehkan untuk melindungi dan membela keunikan mazhab mereka -tentunya, ini hanya jika masing-masing memiliki keunikan legitimate yang dapat dipertahankan dengan keyakinan qurani yang kokoh, yang merupakan bagian dari persamaan-persamaan dan prinsip-prinsip pemikiran Islam yang definitif. Kalangan pendamba persatuan yang sebenarnya harus menarik garis antara elemen-elemen fondasional religius dan kualitas-kualitas kemazhaban, tanpa menghiraukan seberapa kuatnya semua itu dapat dipertahankan. Kekhasan teologis dan yurisprudensial yang unik dari mazhab pemikiran mereka, bahkan jika semua itu menyebabkan kesempurnaan, perluasan, dan peningkatan pemahaman, serta kedekatan terhadap kebenaran, seyogianya tidak dimasukkan dalam prinsip-prinsip agama yang definitif. Ini hanya dikhususkan pada kasus keimanan yang tidak terlalu penting, seperti keabadian al-Quran atau kontroversi sejarah lainnya, termasuk isu-isu seputar takdir, keadilan, dan kekudusan. Mereka yang memfokuskan dirinya pada isu-isu minor tersebut dan saling menolak satu sama lain atau menuduh satu sama lain sebagai kafir agaknya tidak mempertimbangkan apakah mereka sendiri adil atau suci.

2. Persatuan Islam meniscayakan bahwa perdebatan intelektual dengan mazhab pemikiran lain harus mengacu pada tolok ukur perdebatan yang etis, sikap toleran, dan nilai-nilai moral. Masing-masing mazhab, seraya tetap bersikukuh dengan keyakinannya, harus memperlakukan dan berbicara dengan selainnya secara santun. Dalam persatuan semacam itu, alih-alih mencap pihak lain sebagai korup, salah paham terhadap pandangan selainnya, saling menghina satu sama lain, dan meributkan detail masalah-masalah minor, justru yang terjadi adalah [muncul dan menguatnya] sikap menghargai pandangan [pihak lain], menghormati perasaan dan agama, serta kemauan untuk memaafkan selainnya. Tidak ada celah untuk melukai perasaan atau kepercayaan religius seseorang; dan tidak ada celah untuk melemahkan mazhab religius tertentu dalam upaya untuk memaksa para pengikutnya berpindah mazhab -semuanya atas nama mencapai persatuan Islam.

3. Tipe persatuan umat Islam yang sesungguhnya dan benar-benar didamba adalah yang berdasarkan pada sumber-sumber dan prinsip-prinsip religius. Ini seyogianya dipandang sebagai kewajiban agama yang mengakar dalam keinginan individu. Persatuan bersyarat -yakni, persatuan sementara yang menekankan kebutuhan-kebutuhan dalam rentang waktu tertentu atau [dikarenakan] ancaman yang ada atau masih bersifat potensial (yang juga dapat disebut dengan ‘persatuan taktis’ atau ‘persatuan politis’)- hanya akan menempatkan api dalam sekam. Sekalipun individu-individu dari sebuah kelompok tertentu -yang dipandang “musyrik”, “murtad”, “kafir”, “penghuni neraka”, “lebih najis dari anjing”- ditolerir dalam jangka waktu tertentu dikarenakan adanya sejumlah manfaat yang bersyarat, dukungan mereka tetap tidak akan dapat diperoleh. Sebaliknya, mengingat kemunafikan inheren dalam bentuk persatuan ini, kebencian terhadap kelompok lain akan semakin meningkat. Apa yang dibutuhkan adalah sebuah persatuan yang kuat dan permanen, yang ketika para ulama dari pelbagai mazhab Islam secara resmi mengakui pihak lain berada dalam lingkaran Islam -terlepas dari perbedaan-perbedaan dalam tingkatan-tingkatan mereka- sebagai “Muslim”, “mukmin”, dan “kalangan yang selamat”. Mereka jangan sampai memandang bahwa merekalah satu-satunya kalangan yang beriman dan bahwa versi sejarah dan ideologi yang mereka anut menjadi tolok ukur yang memisahkan antara keimanan dan kekafiran. Resistensi dan perbedaan di antara mazhab-mazhab Islam tidak selamanya, dan memang tidak, sebanding dengan resistensi dan perbedaan agama dan aturan-aturan praktis. Terbuka kemungkinan secara intelektual untuk bekerjasama dengan selainnya, menyeru mereka pada kebajikan, serta mencegah mereka dari kemungkaran.

4. Dalam persatuan Islam yang didamba-dambakan, kaum beriman dari suatu kelompok seyogianya tidak sampai menyebabkan pihak tertentu menganggap mereka berpura-pura, bersikap jahat, atau tidak dapat diterima. Tolong camkan persoalan penting ini, bahwa kalangan yang meyakini dirinya mampu melihat Allah Swt pada Hari Pembalasan tidak mesti digolongkan ke dalam mazhab Mujassamah (korporealis) atau Mushabbah (antromorfis). Mereka yang meyakini quiditas dari esensi dan sifat Ilahi tidak mesti digolongkan ke dalam mazhab Mu’aththilah (kalangan yang menolak mengimani Nama-nama dan Sifat-sifat Tuhan). Kalangan yang menolak karakter esensial kebajikan dan keburukan tidak sampai menganggap Allah Swt sebagai sosok sewenang-wenang. Demikian pula, tidaklah adil untuk menyatakan bahwa seseorang yang mengungkapkan perasaan cintanya terhadap keluarga Nabi Saw dengan cara mencium dan menunjukkan penghormatan terhadap makam suci mereka atau yang mengecam keras dan menjauhi musuh-musuhnya, adalah musyrik dan halal dibunuh.

5. Para pendamba persatuan (dan bukan semata-mata persatuan yang superfisial) tidak pernah menghentikan upaya mereka sekaitan dengan pelbagai marabahaya dan kesulitan yang terdapat dan terjadi di tengah masyarakat Islam. Mereka tak kunjung menyurutkan langkah sekaitan dengan keragaman pandangan teologis dan fikih. Sebaliknya, mereka memfokuskan diri pada jenis-jenis opini, konfrontasi, kesalahpahaman, dan baru-baru ini, hasutan untuk merangsang sensitifitas religius. Menurut Syahid Muthahhari ra, ancaman terhadap kaum Muslim yang berasal dari kesalahpahaman yang tidak masuk akal di antara kedua belah pihak jauh lebih berbahaya ketimbang yang berasal dari perbedaan-perbedaan religius yang bersifat aktual. Perbedaan-perbedaan religius di antara kaum Muslim bukanlah faktor yang menghambat persatuan; bukan pula faktor yang mengendala terbangunnya persaudaraan di bawah spirit qurani “orang-orang beriman sungguh bersaudara.” (QS. al-Hujurat [49]: 10) Tuhan yang disembah mereka semua adalah esa dan mereka semua menegaskan hal itu: “Tiada Tuhan selain Allah.” Mereka semua mengimani kenabian Muhammad Saw dan bahwa rantai kenabian berakhir bersamanya. Mereka semua meyakini bahwa agamanya adalah agama terakhir. Mereka semua menjadikan al-Quran sebagai kitab samawinya, membacanya, dan menganggapnya sebagai konstitusinya. Mereka mengerjakan shalat dengan menghadap kiblat yang sama dan mengumandangkan azan. Setiap tahun, mereka semua berpuasa dalam satu bulan tertentu, bulan Ramadhan. Mereka merayakan hari Idul Fitri dan Idul Adha. Mereka melaksanakan ibadah haji dengan cara yang sama serta berkumpul bersama di Rumah Allah. Mereka mencintai dan menyanjung keluarga Nabi Saw. Semua itu sudah cukup untuk menciptakan jalinan kalbu di antara mereka dan mengobarkan rasa persaudaraan Islam dalam diri mereka.

Karenanya, lakukanlah upaya untuk mencegah kemungkinan munculnya kesalahpahaman. Lakukanlah upaya untuk mencegah persepsi-persepsi keliru…. Lakukanlah upaya pencegahan terhadap seluruh faktor yang hanya akan memperburuk hubungan di antara kaum Muslim.[2]

Karena itu, kita harus menahan diri dari mengungkit-ungkit masa lalu yang pahit seraya pada saat yang sama, mencegah tersebarluasnya momen-momen kemunduran tersebut. Sebaliknya, kita harus fokus pada pada titik-titik kekuatan dan ranah budaya Islam yang penuh semangat. Imam Khomeini dengan tegas menyatakan:

“Kaum Muslim diwajibkan untuk memperlakukan satu sama lain dengan rasa hormat dan persahabatan; mereka harus memiliki perasaan cinta terhadap satu sama lain sebagaimana saudara kandungnya sendiri. Jelas sudah bahwasanya cinta dan hasrat meningkatkan sentimen-sentimen tersebut. Adapun yang menghancurkan ikatan persaudaraan dan menyebabkan perpecahan suatu kelompok sangat dibenci Sang Pembuat Hukum dan bertentangan dengan hikmah-Nya yang Maha Agung. Dipahami betul bahwa jika dosa paling besar menjadi lazim dalam kehidupan suatu kelompok, niscaya akan tercipta kebencian, kedengkian, perpecahan, dan permusuhan; ia akan menjadi akar korupsi di tengah komunitas. Pohon kemunafikan akan tercipta dan persatuan masyarakat akan tercabik-cabik; fondasi-fondasi agama akan runtuh seiring meningkatnya korupsi dan kesesatan.”[3]

Al-Quran dan Persatuan Islam
Analisis mendetail terhadap apa yang dinyatakan al-Quran mengenai persatuan Islam -seperti menyebutkan faktor-faktor, sumber-sumber, dan metode-metode persatuan serta pentingnya menahan diri dari membesar-besarkan perbedaan- berada di luar cakupan karya tulis ini serta melampaui kemampuan penulisnya. Jelas bahwa mengenal dan mengetengahkan isu penting semacam itu selayaknya menuntut pemahaman yang utuh seputar konsep yang dikemukakan dalam masing-masing ayat yang menyinggung subjek persoalan ini berikut konteks ayat-ayat tersebut diwahyukan. Lebih penting lagi, kita niscaya membutuhkan keistimewaan untuk memperoleh semangat al-Quran yang mendidik.

Pada saat yang sama, bagaimana pun, pintu-pintu penelitian seyogianya ditutup rapat sekaitan dengan keterbatasan ini, khususnya dikarenakan para Imam memandang al-Quran sebagai poros persatuan paling penting, prinsip-prinsip yang digali dari teks-teks suci ini. Karena itu, sekaitan dengannya, upaya pada tingkat yang paling mungkin mesti dilakukan guna mengetengahkan prinsip-prinsip dari sudut pandang Islam. Semua itu terbagi dalam dua kategori.

A. Menyerukan Persatuan dan Mencegah Perpecahan
Kendati berdasarkan perbandingan secara umum, dapat diklaim bahwa tak satu pun mazhab pemikiran atau agama yang menyerukan persatuan, kerjasama, dan cara-cara mewujudkannya, juga tidak menahan diri dari perbedaan, perpecahan, dan hasil negatif dari semua itu, yang lebih dari Islam. Sangat penting dicamkan kata-kata berikut, “Islam dibangun di atas dua basis; penyembahan terhadap Tuhan yag Maha Esa dan persatuan.” Bangunan persatuan dalam kebudayaan Islam sedemikian tinggi yang beberapa pernyataan seputar kebutuhan terhadapnya disokong oleh al-Quran, kehendak Ilahi yang bersifat umum berikut segenap konsekuensinya.[4] Al-Quran memuji umat Islam sebagai umat yang satu[5] dan yang ditegakkan figur-figur luar biasa yang berperan sebagai suri-teladan umat manusia, yang berkumpul bersama di bawah panji keimanan terhadap Allah Swt.[6] Lebih jauh lagi, seluruh umat manusia, dengan seluruh perbedaan yang ada, dipandang memiliki prinsip umum yang satu. Al-Quran, sebagai tambahan untuk memerintahkan orang-orang untuk menjalin persaudaraan, persatuan, dan kerjasama dalam kebajikan dan ketakwaan, menganggap konsep-konsep tersebut sebagai rahmat yang dianugerahkan kepada umat Islam di masa Rasulullah Saw sekaitan dengan penerimaan mereka terhadap Islam dan kenabiannya.[7] Penegasan dan penekanan al-Quran terhadap persatuan religius dan masyarakat Islam tercatat dalam ungkapan-ungkapan berikut: “berpegang teguh”, “memperbaiki hubungan di antara kalian”, “bekerjasama”, “berdamai”, “memperbarui”, “mendamaikan hubungan di antara kalian”, “[celupan] warna Ilahi”, “cinta”, dan “persaudaraan”.

Demikia pula, al-Quran meletakkan di baris terdepan ajarannya cara mencegah permusuhan, kedengkian, dan kebencian di antara individu dan kelompok, juga penolakan terhadap permusuhan, kontroversi, dan kemunafikan intelektual. Di samping berasal dari al-Quran, persoalan penting ini juga dibahas secara serius dalam riwayat-riwayat keislaman yang akan dikemukakan dalam pembahasan berikutnya.[8] Al-Quran sebagai sumber Islam paling otoritatif, memandang perpecahan dan perselisihan di tengah masyarakat sebagai “langkah-langkah setan” dan faktor utama di balik kehancuran.[9] Perpecahan kaum Muslim menjadi kelompok-kelompok terpisah ditempatkan bersamaan dengan hukuman Ilahi; akibat-akibat yang ditimbulkannya berupa kegetiran perang dan kesulitan.[10]

Al-Quran memandang permusuhan dan kebencian sebagai sikap tidak bersyukur kepada Allah Swt; ia memperhitungkan semua itu sebagai dosa dan perbuatan durhaka. Ia menegaskan bahwa semua itu merupakan perbuatan setan dan karenanya melarang keras kedurhakaan dan permusuhan. Upaya menghilangkan permusuhan ini telah dinyatakan sebagai salah satu tugas penting kenabian. Dalam pandangan kitab samawi yang suci ini, salah satu faktor utama di balik kebinasaan bangsa-bangsa terdahulu adalah perpecahan dan perselisihan di tengah masyarakatnya. Faktor terpenting dari perpecahan di tengah masyarakat adalah perbedaan-perbedaan yang berhubungan dengan agama. Perselisihan dan perpecahan hanya mengakibatkan stagnasi, keterpisahan, dan kerapuhan fondasi kehidupan sosial.[11]

Al-quran mengajarkan kita -melalui ayat-ayatnya yang menekankan pemikiran dan perenungan mendalam seputar agama, serta melalui ayat-ayatnya yang memerintahkan kita mempertimbangkan berbagai pandangan untuk kemudian memilih yang terbaik di antaranya- bahwa kita harus menahan diri dari argumen-argumen yang tidak bermanfaat dan dari argumen-argumen yang menggiring pada permusuhan. Menariknya, seraya menyerukan kasih sayang sosial dan pengurangan perdebatan dan perpecahan sosial, al-Quran memerintakan kaum Muslim untuk menahan diri dari mempersengit perdebatan intelektual dengan kalangan Ahlul Kitab. Ia menegaskan untuk menyerahkan masalah mencari kebenaran kepada Allah Swt dan Hari Pembalasan.[12] Dalam seruan yang dialamatkan kepada Ahlul Kitab, disampaikan sebuah ajakan kepada prinsip-prinsip umum dan bersama-sama menghadapi kaum musyrik dan orang-orang kafir.[13] Seraya memberikan perhatian terhadap pentingnya persatuan dan persaudaraan serta sikap tegas al-Quran dalam melarang kaum Muslim mempersengit perdebatan, menyulut perpecahan, terbagi ke dalam kelompok-kelompok, dan menempuh jalan yang berbeda,[14] dasar-dasar perbedaan dan perpecahan dapat dijejaki pada sejumlah sifat buruk tertentu yang bersifat etis-moral, seperti sikap curiga, fitnah, mencari-cari kesalahan, memata-matai kaum yang beriman, tuduhan, penistaan, tutur kata melecehkan, ejekan, egosentrisme, arogansi (kecongkakan), kebencian, dan memutus tali silaturahmi.[15]

Dengan meneliti pelbagai ayat dan riwayat yang berkenaan dengannya, dapat dinyatakan secara umum bahwa tujuan penting yang ingin diraih al-Quran adalah mempersatukan umat di mana debat kusir, perpecahan, peperangan, dan pertumpahan darah tidak akan pernah terjadi. Orang-orang akan berkumpul dalam suasana yang akrab, penuh kerjasama, persaudaraan, cinta, dan keadilan. Sepanjang artikel ini, kita akan mengetengahkan sekitar 50 ayat yang berhubungan dengan persatuan dan metode untuk mencapainya, termasuk perpecahan berikut faktor-faktor yang melatar-belakanginya. Berikut adalah sejumlah contoh dari ayat yang dimaksud:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آَيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (QS. Ali Imran [3]: 103)

Dalam ayat ini, sebagai tambahan dalam mengenalkan poros persatuan sebagai rahmat ilahi, Allah Swt melarang kita dari berpecah belah. Di tempat lain, Dia membenci perbedaan dan perpecahan yang menjadi metode [pergaulan sosial] kaum terdahulu:

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيم

Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. mereka Itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat. (QS. Ali Imran [3]: 105)

أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيه

وَمَا تَفَرَّقُوا إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُم

… Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya… dan mereka (ahli Kitab) tidak berpecah belah, kecuali setelah datang pada mereka ilmu pengetahuan, karena kedengkian di antara mereka…. (QS. asy-Syura [42]: 13-14)

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُون

Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa. (QS. al-An’am [6]: 153)

مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُون

Yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka. (QS. ar-Rum [30]: 32)

Dalam al-Quran, Allah Swt memandang perpecahan bertolak belakang dengan gaya hidup profetik (kenabian) dan Sunah. Dia memfirmankan dalam al-Quran al-Karim:

إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ إِنَّمَا أَمْرُهُمْ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْعَلُون

Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat. (QS. al-An’am [6]: 159)

Kaum Muslim dilarang terlibat dalam debat kusir. Akibat dari debat kusir disebutkan dalam al-Quran lewat pernyataannya:

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِين

Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. al-Anfal [8]: 46)

Sebagaimana terlihat, makna eksplisit dari ayat-ayat tersebut menunjukkan larangan untuk berdebat kusir, mempertajam perbedaan, dan berpecah belah dalam agama. Perintah telah diberikan untuk berpegang teguh pada Tali Allah dan perpecahan digambarkan sebagai kebiasaan kaum musyrik dan kalangan yang telah binasa. Kutukan terhadap kaum musyrik dalam beberapa ayat tersebut bukan dikarenakan kemusyrikan mereka, melainkan dikarenakan perbedaan antara ucapan dan perbuatan mereka yang memecah belah agama.[16]

B. Metode Menciptakan Persatuan dan Mencegah Perpecahan
Berdasarkan penjelasan sebelumnya, dapat dinyatakan bahwa semangat umum dari ajaran sosial Islam adalah sebagai berikut: melarang peperangan, permusuhan, perselisihan, membentuk kelompok-kelompok, memecah belah masyarakat yang beriman, rasisme, bersikap curiga terhadap individu maupun kelompok. Dasar-dasar positif dari ajaran sosial Islam adalah persatuan, kerjasama, saling mencintai, berbuat kebajikan antara satu sama lain. Berkenaan dengan perintah dan seruan Islam untuk berperang, dapat dijelaskan bahwa itu dimaksudkan untuk mencegah bencana sosial serta melindungi hak-hak spiritual dan material masyarakat. Barangkali muncul pertanyaan, bagaimana pun, tidakkah cakupan perintah-perintah dan larangan-larangan tersebut meliputi pula tingkat-tingkat yang berbeda dari pandangan dan pemahaman yang beragam di ranah teologi, fikih dan politik yang telah mengakibatkan terbentuknya mazhab-mazhab pemikiran Islam? Pasalnya, semua itu kiranya mampu mencegah peperangan, debat kusir, dan perselisihan yang tidak bermanfaat, serta mendorong ke arah cinta, kesucian, persaudaraan, dan kerjasama dalam pengertian positif. Namun, apakah aturan-aturan agama menyerukan pula penyeragaman pandangan dan keimanan?

Menjawab pertanyaan ini secara positif akan membawa kita berhadap-hadapan dengan serangkaian pertanyaan lain dan berupaya menjawabnya. Sebagai contoh, mengajak seseorang untuk memikirkan dan merenungkan secara mendalam ihwal agama yang menyatakan secara implisit bahwa berbagai pandangan dan pemahaman secara tak terelakkan bakal terbentuk. Dapatkah dikatakan bahwa Islam memerintahkan sesuatu namun menolak menanggung akibat-akibat alamiahnya dan pada kenyataannya bahkan melarangnya? Jelas terbukti bahwa kita tidak dapat meminta seseorang untuk berpikir mengenai sesuatu dan kemudian melarangnya untuk mengungkapkan kesimpulannya yang berkenaan dengannya.Tentu saja, terdapat kriteria yang diterapkan pada proses menalar. Namun, sekalipun jika dua individu menggunakan kriteria yang sama dalam menalar, tak ada jaminan bahwa kesimpulan-kesimpulan yang mereka hasilkan juga bakal sama.

Perbedaan di antara potensi kognitif seseorang serta kemampuannya untuk memahami dan berintuisi merupakan keniscayaan yang tak dapat disangkal. Pada kenyataannya, sejumlah komentator al-Quran pernah menggunakan ayat-ayat al-Quran untuk membuktikan bahwa keragaman sudut pandang merupakan hikmah penciptaan.[17] Pada gilirannya, perbedaan-perbedaan tersebut menghasilkan pemahaman intelektual yang beragam, yang dibutuhkan untuk menciptakan keyakinan dan pandangan yang bervariasi. Kebutuhan tersebut hanya dapat dihilangkan jika sumber keragaman dan perbedaan itu dihilangkan. Terbukti dengan sendirinya bahwa penghilangan sumber tersebut adalah mustahil; lantas, bagaimana perbedaan-perbedaan tersebut dapat diatasi tanpa menghilangkan sumbernya?

Karena itu, perbedaan pandangan dan sudut pandang di antara berbagai mazhab teologi, politik dan fikih dalam Islam tidak dapat dihakimi tanpa membedakan kasus-kasusnya dan memahami motif-motifnya.[18] Namun demikian, karakteristik-karakteristik dari perbedaan-perbedaan yang tidak diharapkan harus dibedakan secara kontras dengan perbedaan-perbedaan tersebut berdasarkan sejumlah kriteria tertentu. Dalam budaya qurani dan aturan praktis Islam, ihwal yang dipandang lebih penting ketimbang apapun adalah mengobservasi batas-batas, mengungkapkan criteria-kriteria praktis dan teoretis, serta mengemukakan metode-metode untuk mengklarifikasi perbedaan; bukan mengenyahkan sumber-sumbernya. Artikel ini akan mencukupkan dirinya dengan mengemukakan dua kasus penting yang berkenaan dengannya:

1. Perpecahan: Akibat Mencari Kebenaran atau Pembangkangan
Perbedaan-perbedaan dan perpecahan-perpecahan yang bukan berasal dari renungan terhadap persoalan-persoalan keagamaan dan mencari kebenaran, melainkan dari faktor-faktor politik, sosial, dan pribadi—seperti kecintaan, kebencian, atau kecongkakan individu atau kelompok terhadap selainnya—bukan hanya ditolak, melainkan juga mutlak dilarang. Dari sejumlah ayat al-Quran yang terkait, jelas kiranya bahwa beberapa perbedaan dan perpecahan yang tidak diinginkan berasal dari pembangkangan, kedengkian, dan kesombongan orang-orang yang menyebabkan perpecahan. Salah satu faktor yang paling penting di balik peperangan dan pertumpahan darah di tengah masyarakat manusia adalah keinginan untuk berkuasa dan pandangan tentangnya yang diusung sejumlah kelompok. Dalam kategori ayat-ayat al-Quran yang menyinggung masalah perbedaan dan perpecahan, serangkaian ayat al-Quran menyebutkan tentang bagaimana sejumlah pihak terpecah belah setelah datangnya pengetahuan kepada mereka dan kebenaran menjadi jelas bagi mereka. Al-Quran melarang kaum beriman dari perpecahan semacam itu dan menyatakannya dalam sejumlah ayat:

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ

Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka…. (QS. Ali Imran [3]: 105)

أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيه

وَمَا تَفَرَّقُوا إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُم

… Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya… dan mereka tidak berpecah belah (ke dalam mazhab-mazhab), kecuali setelah datang pada mereka ilmu pengetahuan, karena kedengkian di antara mereka…. (QS. asy-Syura [42]: 13-14)

Dalam kesempatan ini, Allah Swt menyatakan bahwa sejumlah bangsa tidak berpecah belah hingga setelah mereka mendapatkan pengetahuan. Dalam ungkapan yang lain, mereka secara sadar dan sengaja berpecah belah, dan ini tidak akan terjadi kecuali dikarenakan adanya elemen-elemen pembangkangan yang mereka perlihatkan satu sama lain. Motif dan semangat yang sama ini juga disebutkan al-Quran dalam kasus-kasus lain.[19] Saat menarasikan perbedaan-perbedaan dan perpecahan-perpecahan tersebut -yang acapkali diatributkan pada bani Israil, khususnya pada kalangan pembesar agamanya- tidak terdapat sebutan yang dikemukakan bahwa mereka mencari kebenaran atau berkeinginan untuk memahaminya, atau sekaitan dengannya, apakah dengannya (perbedaan dan perpecahan) mereka benar-benar menemukan aspek realitas tertentu atau tidak. Alasan di balik semua ini adalah bahwa realitas dari situasi yang ada sudah serba-jelas bagi mereka -setelah pengetahuan datang kepada mereka. Karena itu, dalam terminologi al-Quran, motif di balik perpecahan mereka adalah pembangkangan (pelanggaran, penindasan, atau kedengkian) kalangan pembesar agama mereka. Untuk alasan ini, Allamah Thabathaba’i mengatakan, “Dalam al-Quran, Allah Swt tidak mengutuk perpecahan atau perbedaan kecuali semua itu diiringi hasrat jasmaniah dan bertentangan dengan tuntunan rasional.”[20]

Dalam pelbagai kasus, terlepas dari fakta bahwa al-Quran menegaskan bahwa seseorang tidak akan dikenai hukuman atas kesalahan-kesalahannya dan apa yang telah perbuat jika itu disebabkan kelalaiannya, perhatian yang jauh lebih banyak diarahkan pada kalangan yang menyebabkan perpecahan secara sengaja (ta’ammud) dan yang bersumber dari pembangkangan (bagha). Tindakan-tindakan semacam itu tidak dapat ditoleransi di dunia ini dan akan membuahkan serangkaian akibat yang mengerikan di masa mendatang. Al-Quran membolehkan kita untuk memerangi mereka yang terus menerus memecah belah dan membeda-bedakan serta orang-orang yang berbuat demikian dikarenakan kedurhakaan dan pembangkangan [terhadap kebenaran]. Firman Allah Swt:

وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَى فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّى تَفِيءَ إِلَى أَمْرِ اللَّهِ

Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! Tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah…. (QS. al-Hujurat [49]: 9)

2. Berpegang Teguh pada al-Quran dan Sunah
Merupakan sesuatu yang alamiah jika dalam mencegah perpecahan serta berupaya menciptakan masyarakat yang sama dan sebangun, suatu mazhab pemikiran juga akan mengemukakan metode untuk mencapainya. Karena itu, Allah Swt memperkenalkan dua poros prinsip yang kebal dari serangan: al-Quran dan Sunah. Dia menggambarkan semua itu sebagai fondasi persatuan religius, sarana untuk menuntun umat Islam menempuh jalan yang lurus, dan cara paling efektif untuk menghilangkan atau mengurangi perbedaan-perbedaan dan perpecahan sosial maupun teologis. Al-Quran senantiasa berkorelasi dengan kepatuhan terhadap Allah Swt berikut utusan-Nya. Metode mengatasi perselisihan yang dikemukakan al-Quran adalah berpegang teguh kepada Allah Swt dan Nabi-Nya Saw. Berikut adalah ayat-ayat al-Quran yang berhubungan dengannya:

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُون

Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa. (QS. al-An’am [6]: 153)

Menurut ayat ini, “jalan yang lurus” adalah jalan di mana tidak terdapat perpecahan. Jika seseorang atau kelompok menempuh jalan perpecahan dan pemisahan, yang menjauhkannya dari jalan wahyu yang tidak terdapat perbedaan, maka dia berarti telah melangkah keluar dari “jalan yang lurus”. Makna yang nyata dari ayat tersebut menyataka bahwa “jalan yang lurus” adalah jalan Nabi Islam Saw. Di tempat lain, al-Quran memandang “jalan yang lurus” sebagai jalan para nabi, syuhada, orang-orang saleh, dan shiddiqin.[21] Menarik untuk dicatat bahwa dalam ayat yang telah dikemukakan sebelumnya, al-Quran pertama-tama menyebut “jalan yang lurus” dan kebutuhan untuk menempuhnya sebagai prasyarat untuk menghindari terjadinya perpecahan ke dalam beberapa kelompok yang berbeda.[22]

وَكَيْفَ تَكْفُرُونَ وَأَنْتُمْ تُتْلَى عَلَيْكُمْ آَيَاتُ اللَّهِ وَفِيكُمْ رَسُولُهُ وَمَنْ يَعْتَصِمْ بِاللَّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيم

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

Bagaimanakah kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus…. dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai…. (QS. Ali Imran [3]: 101 dan 103)

Allamah Thabathaba’i menulis sekaitan dengannya:

“‘Berpegang teguh kepada tali Allah’ adalah memegang teguh ayat-ayat Allah dan Rasul-Nya (yakni, al-Quran dan Sunah), di mana tuntunan telah dijamin. Berpegang teguh kepada Rasul-Nya adalah, senyatanya, memegang teguh al-Quran; keduanya berasal dari sumber yang satu. Alasannya adalah bahwa dalam al-Quran, Allah memerintahkan kita untuk menaati Nabi Saw. Secara fundamental, menaati Allah tidak dapat dicapai kecuali melalui Rasul-Nya.”[23]

Tali (habl) Allah Swt adalah al-Quran yang diwahyukan-Nya. Ayat-ayat al-Quran tersebut, ibarat tali atau tambang, terikat dan terhubung dengan Allah Swt.[24]

Rasulullah dan Persatuan Islam
Dengan membaca sekilas ajaran-ajaran Nabi Islam Saw dalam bidang teologi dan praktik-praktiknya, akan menjadi jelas bahwa tegaknya umat Islam dibangun di atas persatuan. Tindakan-tindakan dan tujuan kaum beriman—bahkan termasuk sikap murah hati terhadap non-Muslim—terdiri dari substansi dan hasil dari sekumpulan ajaran dan praktik Nabi Saw. Dalam kesempatan ini, kami akan menyuguhkan beberapa ungkapan dan tindakan Nabi Saw yang benar-benar mengharapkan dan jelas-jelas menyebutkan keharusan tegaknya persatuan Islam.

A. Seruan Umum terhadap Solidaritas
Banyak contoh seputar ucapan Nabi Saw mengenai persatuan sosial, pemahaman bersama, dan persaudaraan dalam keimanan di satu sisi, serta larangan berpecah belah di sisi lain. Beliau juga berbicara mengenai sumber-sumber, faktor-faktor, dan dasar-dasar persatuan maupun perpecahan.

Secara esensial, gagasan tentang akhlak yang mulia (makarim al-akhlaq) -yang dalam ungkapan Nabi Saw sendiri merupakan hikmah dari diutusnya beliau oleh Allah Swt- tak lain dari menciptakan masyarakat yang berdasarkan pada persaudaraan, bahasa bersama, sikap saling mencintai, memaafkan, kesucian, kedermawanan, optimisme, keadilan, kasih sayang, dan kesantunan; itu juga bermakna menjauhi peperangan, saling mencela, pesimisme, fitnah, rasisme, tuduhan palsu terhadap kaum Muslim, serta perlakuan tidak etis lainnya. Nasihat etis Nabi Saw dipenuhi frase seperti saling mencintai, saling menolong, konfrontasi positif, ketakwaan, perdamaian, musyawarah, dan sikap memaafkan. Tentu saja menyajikan daftar dari kasus-kasus tersebut berada di luar cakupan dari artikel ini. Karena itu, kiranya sudah mencukupi jika disebutkan beberapa di antaranya:

Nabi Saw menyabdakan bahwa persatuan umat Islam menyebabkan kebaikan dan rahmat, sementara perpecahan merupakan faktor di balik kebinasaan dan siksa. Beliau bersabda, “Berkumpul bersama (bersatu) itu kebaikan (sebuah rahmat) sedangkan perpecahan adalah siksa.”[25] Dalam pandangan Nabi Saw, berkumpul bersama bersifat positif, dan semakin suatu komunitas berkumpul bersama, maka semakin baik.[26] Imbauan Nabi Saw yang terus menerus untuk shalat berjamaah dan hadir di masjid juga diriwayatkan dalam ratusan hadis.[27]

Rasulullah Saw yang agung menyampaikan sejumlah pernyataan di mana memisahkan diri dari kebersamaan Islami dipandang sebagai bentuk meninggalkan barisan Islam dan kembali ke abad Jahiliyah. Beliau menyabdakan, “Simpul Islam telah ditanggalkan dari leher seseorang yang memisahkan dirinya dari komunitas Muslim.” Beliau juga mengatakan, “Barangsiapa yang memisahkan diri dari komunitas Muslim walaupun sejengkal akan mati dalam keadaan jahiliyah.”[28]

Diriwayatkan pula sabda ringkas Nabi Saw lainnya yang terkait dengannya, “Tangan Allah berada di atas/bersama jamaah.”[29] “Bergabunglah dalam jamaah dan berhati-hatilah dengan perpecahan.” “Janganlah berpecah belah karena orang-orang sebelum kalian yang berpecah belah mengalami kebinasaan.” “Janganlah berpecah belah atau hati kalian akan menjadi bercabang.” Dan, “Mereka yang terpecah ke dalam mazhab-mazhab sebelum kalian telah binasa.”[30]

Tentu saja, seseorang tidak dapat meyakini bahwa masing-masing hadis tersebut memang berasal dari Rasulullah Saw. Demikian pula, motif-motif untuk memalsukan hadis-hadis tersebut—khususnya soal penyalahgunaan ungkapan semacam “kebutuhan terhadap sebuah komunitas” dan “menahan diri dari mematahkan tongkat kaum Muslim” oleh para pemimpin bani Umayyah—tidak dapat diabaikan. Namun demikian, penekanan Rasulullah yang berulang kali terhadap persatuan komunitas Muslim, dan lebih penting lagi, tindakan-tindakan beliau yang terkait dengannya, mendukung makna umum dari hadis-hadis tersebut.

Demi memperkuat manifesto “orang beriman adalah saudara dari orang beriman” (orang beriman saling bersaudara)[31], Nabi Saw menuturkan sejumlah hadis, di antaranya:

“Seorang beriman menolong dan ditolong. Tak ada kebaikan dalam diri seseorang yang menolong dan tidak ditolong. Orang-orang terbaik adalah yang bermanfaat bagi selainnya.”[32]

“Kaum mukmin saling bersaudara… Mereka ibarat satu tangan yang mengepal ke arah orang-orang yang berhadap-hadapan dengan mereka.”[33]

“Kaum beriman ibarat sebuah bangunan; masing-masing bagian saling menguatkan satu sama lain.”[34]

“Kaum beriman dalam hal persahabatan, kasih sayang, dan cinta ibarat satu tubuh; jika salah satu organnya merasakan sakit, maka seluruh organ tubuh lainnya juga akan merasakan sakit bersamanya sepanjang malam dan mengalami demam.”[35]

Beliau juga menyabdakan, “Temuilah saudaramu dengan wajah ceria. Menjadikan saudaramu tersenyum merupakan amal kebajikan bagimu. Ampunan dianugerahkan kepada seseorang yang tidak memendam kebencian terhadap saudaranya. Tidak pantas bagi seorang mukmin untuk mengkhianati saudaranya. Layak bagi Allah untuk menjauhkan api neraka dari setiap Muslim yang membela kehormatan saudaranya.”

Nabi Saw sangat menganjurkan untuk saling memberi salam satu sama lain, seraya menyebutnya sebagai salah satu perbuatan yang disaksikan para malaikat. Beliau melarang keras seorang Muslim tetap marah dan mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari serta memerintahkan untuk mendamaikan mereka. Seseorang yang memberi dan menerima hadiah -tanpa memandang nilai hadiah tersebut- demi mempererat hubungan persahabatan dan memperkuat ikatan persaudaraan serta persatuan (di tengah perpecahan antar kelompok-kelompok dan elemen-elemen egosime dalam masyarakat), akan diberi ganjaran yang sama dengan yang diterima seseorang yang berjihad di jalan Allah Swt. Karena itu, dalam tubuh masyarakat di mana Rasulullah Saw menjadi suri-teladan dan saksinya, manfaat seorang individu menggantikan kecenderungan pada kelompok, serta kasih sayang dan intelektualisme mengatasi kekerasaan dan sensitivitas [emosional].[36]

Sebagai tambahan, Rasulullah Saw menggambarkan kaum Muslim sebagai susunan gigi -semuanya sama dan sederajat. Beliau menyabdakan, “Kaum Muslim sama dengan gigi (dalam mulut seseorang).” Beliau juga bersabda, “Tak satupun dari kalian menjadi bagian dari kaum Muslim kecuali kalian mencintai untuk saudara kalian apa-apa yang kalian cintai untuk diri sendiri.”

Dalam menegaskan kesetaraan dan persaudaraan Islam, Rasulullah Saw bersabda, “Seorang Muslim adalah saudara Muslim lainnya.Mereka tidak saling menzalimi satu sama lain, tidak saling berbohong satu sama lain, tidak menahan diri dari saling menolong satu sama lain, dan tidak saling menista satu sama lain. Tingkat kekuatan yang memadai untuk berbuat kejahatan diciptakan seseorang manakala dirinya mengolok-olok saudaranya sendiri. Seluruh milik seorang Muslim -hidup, harta, dan orang-orang yang dicintainya- haram bagi Muslim lainnya.

Rasulullah Saw memandang hal berikut sebagai salah satu tanda dan karakter seorang Muslim, “Seorang Muslim adalah sosok yang menjadikan Muslim lainnya merasa aman dari ucapan dan perbuatannya. Terdapat tiga hal di mana tak ada apapun selain keikhlasan merasuk ke dalam hati seorang beriman (maksudnya, mustahil baginya untuk mengkhianati mereka)… Ketiga, masalah persatuan di antara kaum Muslim. Ini artinya, ia tidak akan menjadi seorang munafik, tidak akan mematahkan tongkat kaum Muslim, dan tidak akan memecah belah komunitas Muslim.”[37]

B. Gaya Hidup Praktis
Tuntunan universal yang diberikan Rasulullah Saw sepanjang penunaikan tugasnya sebagai seorang nabi adalah membangun masyarakat monoteistik (tauhidi) yang berpijak di atas nilai-nilai adiluhung seperti keimanan, kepemimpinan Ilahi, ketakwaan, persatuan, dan persaudaraan religius. Sangat jelas bahwa mencapai tujuan semacam itu di tengah masyarakat yang seluruh keimanan dan struktur sosialnya dibelenggu nilai-nilai jahiliyah, rasisme, dan tribalisme (semangat kesukuan) bukanlah merupakan pekerjaan yang mudah; sebaliknya, semua itu menuntut kemampuan yang jauh lebih besar dari apa yang dimiliki rata-rata umat manusia. Rasulullah Saw tak punya pilihan lain kecuali memperkokoh ikatan masyarakat Muslim. Melalui pertolongan Ilahi yang bersifat khusus, beliau menggunakan metode terbaik dalam mengelola perselisihan. Terdapat banyak contoh seputar tindakan Rasulullah Saw sekaitan dengannya sepanjang periode beliau tinggal di Mekah; namun contoh-contoh paling menonjol dapat dijumpai pada periode pembentukan pemerintahan Islam pertama di Madinah. Dalam rentang waktu ini, terbuka peluang lebih besar ke arah perpecahan, baik secara internal maupun eksternal.[38]

Rasulullah Saw tidak hanya mencukupkan dirinya dengan menyeru dan berbuat; namun, gayahidup beliau juga dibentuk di atas fondasi untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. Berikut adalah daftar upaya-upaya dan metode-metode Nabi Saw yang mulia dalam menciptakan persatuan di antara para sahabatnya:

1. Mendirikan masjid dan menyerukan kaum Muslim untuk berkumpul di situ demi melaksanakan shalat Jumat dan shalat berjamaah.

2. Membangun persatuan umat yang satu.

3. Menciptakan ikatan persaudaraan religius di antara individu dan kelompok.

4. Menciptakan persatuan nasional dan perjanjian-perjanjian bersama di antara warga.

5. Mengkhususkan Rasulullah Saw yang mulia sebagai pusat rujukan hukum dalam menyelesaikan perselisihan.

6. Peperangan masuk akal melawan kebiasaan dan sikap intoleran abad Jahiliyah.

Menjalankan masing-masing poin tersebut serta menempatkan segenap upaya Rasulullah Saw di balik pembentukan umat yang bersatu, yang berkumpul di dekat Allah Swt dan Rasulullah Saw merupakan keagungan tersendiri. Semua itu dapat menjadi model dan teladan praktis bagi seluruh Muslim. Di sini, kami hanya akan meninjau beberapa di antara kasus-kasus tersebut.

Di antara faktor terpenting di balik perpecahan individual maupun kelompok sosial adalah sikap intoleran (tidak toleran), sektarianisme, dan tribalisme keagamaan. Klaim ini dapat dijelaskan dengan meninjau kembali perpecahan-perpecahan yang ada dalam masyarakat Islam. Salah satu kawasan utama dari upaya Rasulullah Saw adalah pencegahan atau pengaturan bentuk-bentuk intoleransi tersebut. Berkenaan dengannya, beliau bersabda, “Allah akan mengumpulkan seseorang yang di hatinya terdapat setitik intoleransi (‘ashabiyyah)[39] dengan bangsa Arab Jahiliyah.” Beliau juga mengatakan, “Seseorang yang mengajak orang-orang ke arah intoleransi akan memperoleh [hukuman] membunuh sebagaimana pembunuhan-pembunuhan yang terjadi di zaman Jahiliyah.”[40] Beliau memberlakukan pelbagai undang-undang di Madinah dengan tujuan untuk menghilangkan perselisihan dan persaingan antar-suku, sekaligus mengatur dan membimbing mereka. Manakala Rasulullah Saw memasuki kota ini dan mengetahui bahwa dua rival bebuyutan, yakni suku Aus dan Khazraj, saling bersaing untuk mendapat kehormatan menjamu Rasulullah Saw, beliau dengan bijak bersabda, “Aku akan singgah di rumah tempat untaku berhenti [melangkah].” Beliau juga menggunakan taktik menggerakan prajurit-prajuritnya dengan cepat untuk memadamkan perselisihan yang muncul di tengah para sahabatnya dalam peperangan bani Mushthalaq.

Bagaimana pun, dengan [menimbang] terlembaganya sedemikian rupa hubungan antara abad Jahiliyah dengan kecenderungan ke arah tribalisme, kondisi-kondisi semacam itu tidak sepenuhnya tumbang di masa kehidupan Rasulullah Saw. Adakalanya intoleransi dan kebencian internal antara kaum Muhajirin dan Anshar tidak hanya mengakibatkan mereka saling berhadap-hadapan satu sama lain, melainkan juga menyebabkan mereka berhadap-hadapan dengan Rasulullah Saw. Sebagai contoh, Zubair ibn Awwam yang merupakan seorang Muhajirin, terlibat dalam pertikaian dengan seorang Anshar seputar pengairan (irigasi). Rasulullah Saw mengakhiri pertikaian itu dengan menyatakan bahwa orang Anshar tersebut akan mendapat jatah irigasi setelah Zubair. Mendengar itu, orang Anshar tersebut kontan menilai keputusan Rasulullah Saw dengan menggunakan kriteria intoleran dan kesukuan warisan zaman Jahiliyah. Ia berkata pada Rasulullah Saw, “Keputusanmu memihak sepupumu.”[41]

Berkenaan dengan sikap moderat beliau sewaktu berinteraksi dengan kalangan yang menentangnya, terdapat banyak bukti al-Quran, juga yang berasal dari riwayat, yang menunjukkan bahwa beliau senantiasa berusaha mencegah pelbagai kesalahpahaman, tudingan tidak berdasar, dan pandangan menghina terhadap mereka (kalangan penentang beliau -penerj.). Jelas dipahami dari contoh-contoh tersebut, serta ratusan contoh lain yang maktub dalam buku-buku sejarah dan hadis, bahwa Rasulullah Saw, selain menyerukan dan menekankan soal masyarakat yang bersatu, juga menaruh perhatian pada pelbagai metode untuk mencapainya. Rasulullah Saw berupaya keras dengan berbagai cara untuk mengenyahkan sebab-sebab perselisihan yang muncul di tengah umat Islam, bahkan setelah wafatnya. Menentukan karakter paling penting dari al-Quran dan Sunah, termasuk menunjuk Ahlul Bait untuk menempati posisi rujukan politik dan keagamaan, merupakan keseluruhan contoh dari upaya-upaya tersebut. Karena itu, tugas penting yang harus dipikul pemimpin politik, intelektual, dan sosial adalah mengadopsi metode yang sama dengan yang digunakan Rasulullah Saw sekaligus menjadikan beliau sebagai suri-teladan

Saya pernah menonton sebuah film dokumenter tentang Sayyid Musa Sadr di jaringan televisi satelit Al-Manar. Dia ulama besar, pioner pasukan perlawanan Hizbullah di Lebanon di era 70an, di tahun-tahun awal invasi Zionist Israel. Tapi bukan itu yang ingin saya bicarakan.

Ada sesuatu di film dokumenter itu: sebuah gambar yang melekat di benak hingga kini. Sebuah memori sejarah yang bisa jadi oase pelajaran bagi kita yang hidup sekarang. Bahkan di Indonesia.

Di film berdurasi panjang itu, ada foto yang memperlihatkan momen-momen dia tengah berbicara di hadapan jamaah sebuah geraja berarsitektur agung. Dia dengan sorban hitam keulamaanya, dengan wajahnya yang teduh lalu gereja itu, sebuah gereja di Sidon sepertinya, berdiri di sebuah mimbar dengan latar tembok-tembok tinggi dan ornamen kaca gereja yang memukau.

Dua keagungan seperti berkumpul di foto itu. Seperti perasan yang terbaik dari Islam dan Kristen.

Musa Sadr memang menara suar kala itu — sebelum akhirnya hilang misterius. Dia, hingga kini dianggap pahlawan oleh hampir semua kalangan dan agama di Lebanon, diyakini kemungkinan besar diculik saat berkunjung ke Libya. Nasibnya tak jelas sejak itu. Ada yang bilang dia telah mati, meski tak sedikit yang meyakininya masih hidup dan tertawan.

Tapi sebelum kepergiannya, dia telah mewariskan sesuatu yang berharga: fikih persatuan. Secara singkat, dia memfatwakan bahwa di saat persatuan umat beragama dan bangsa dan negara jadi taruhan, urusan fikih harus dimundurkan. Sepenting apapun.

Tak pada tempatnya saya berpanjang-panjang soal tersebut. Tapi satu yang jelas, fikih persatuan itu menghasilkan buah yang segar; sesuatu yang mungkin menjelaskan aliansi super-kuat antara kalangan Kristen dengan pasukan perlawanan Hizbullah dalam kancah politik modern Lebanon dan front bersenjata menghadapi agresor Israel hingga detik ini.

Nah, saya cerita semua itu dengan benak yang masih terendam berita-berita mencemaskan dalam dua bulan terakhir. Di berbagai penjuru dunia orang dengan mudah melihat adanya kekuatan yg seperti hendak membenturkan Islam dan Kristen, Islam dan Islam. Kita lihat ada upaya pembakaran Al Qur’an di Amerika Serikat, ada penghargaan untuk kartunis penghina Nabi di Eropa, dan masih banyak rangkaian peristiwa lain. Termasuk di Indonesia.

Di Bekasi beberapa waktu yang lalu misalnya, televisi seperti ingin kita percaya kalau telah terjadi perselisihan hebat antara Islam dan Kristen di sana. Antara warga Muslim dan warga Kristen dalam soal pendirian rumah peribadatan. Lalu di Cirebon, Bogor, Jakarta dan Nusa Tenggara kita dengar berita yang kurang lebihnya sama: perselisihan besar antara pengikut Ahmadiyah dan mereka yang menolak keberadaan kelompok itu. Darah telah tumpah. Kecemasan timbul-tenggelam.

Tulisan ini tak bermaksud menyajikan jawaban untuk persoalan pelik itu. Meski jelas, kita semua menanti kehadiran pemimpin agama yang visioner. Kita menanti banyak ulama seperti Musa Sadr yang mengajarkan persatuan jauh lebih penting ketimbang apapun. Kita perlu suara ulama yang bisa mengerem dan menghentikan pucuk-pucuk ekstrim yang kadang menyembul dan menciptakan keriuhan besar – untuk tidak mengatakan memprovokasi benturan antar penganut agama.

Kita sudah punya banyak persoalan dan ekstrimisme, baik dalam cara pikir maupun pola tindak, adalah hal terakhir yang ingin kita saksikan.

Dan kabar yang terdengar dari Iran dalam sepekan terakhir sepertinya bisa jadi contoh. Ceritanya ini berawal dari sebuah surat Istiftai (permohonan fatwa) dari kalangan ulama Syiah di Arab Saudi ke Ayatullah Sayyed Ali Khameini, wali faqih sekaligus pemimpin Republik Islam Iran. Secara khusus di surat itu, mereka meminta jawaban tegas atas sejumlah hal yang menurut mereka “sangat mencemaskan”, “sumber bagi kekacauan internal” kalangan Muslim.

Telah terdengar oleh mereka bahwa Yasir al-Habib, seorang yang menyebut dirinya ulama dan berdomisili di London, sering melontarkan hujatan dan penghinaan berupa “kalimat-kalimat tak senonoh dan melecehkan terhadap istri Rasul, Ummul Mu’minin Aisyah”.

Langkah itu, kata mereka dalam surat, telah menghadirkan “sensasi negatif berupa ketegangan di tengah masyarakat Islam”. Sebagian orang, karena minimnya pengatahuan dan pandangan, nampaknya membeli ucapan Yasir itu, kata mereka. Sebagian lagi, meski lebih kecil, mengeksploitasinya “secara sistematis” di sejumlah televisi satelit dan internet demi “mengacaukan dan mengotori dunia Islam dan menyebarkan perpecahan antar muslimin.”

Dari Tehran, Sayyed Ali Khamenei memberikan yang mereka minta. Sebuah fatwa, putusan yang mengikat dan membawa implikasi hukum. Bunyinya singkat: “Diharamkan melakukan penghinaan terhadap (tokoh-tokoh yang diagungkan) Ahlussunnah wal Jamaah apalagi melontarkan tuduhan terhadap istri Nabi dengan perkataan-perkataan yang menodai kehormatannya, bahkan tindakan demikian haram dilakukan terhadap istri-istri para Nabi terutama penghulu mereka Rasul termulia.”

Fatwa itu merupakan yang mutakhir dan menempati posisi terpenting dalam rangkaian kecaman kalangan ulama Syiah atas Yasir al-Habib dan para provokator sebangsanya.

Fatwa Pemimpin Tertinggi Iran ini jelas berbeda dengan fatwa-fatwa yang biasa keluar dari majlis-majlis ulama di dunia Sunni. Pasalnya, fatwa ini membawa solusi kaki tangan pelaksanaan yang didukung segenap aparatur Republik Islam Iran.(syiahali)

Referensi

[1] Merujuk pada Nida-ye Wahdat, hal. 182.

[2] Hajji, Guzideh-i az yaddashtha hal. 10.

[3] Syarh Chehl Hadits, hal. 296.

[4] Al-Mizan fi Tafsir al-Qur’an, vol. 2, hal. 124.

[5] QS. al-Anbiya [21]: 92; an-Nur [24]: 152.

[6] Qs. al-Baqarah [2]: 143; Ali Imran [3]: 10; al-Anbiya [21]: 92.

[7] QS. Ali Imran [3]: 102-103; al-Hujurat [49]: 10; al-Maidah [5]: 2.

[8] Merujuk Mizan al-Hikmah, vol. 2, hal. 456; vol. 3, hal. 43; vol. 6, hal. 65; Tafsir ibn Katsir, vol. 2, hal, 194-195; vol. 1, hal. 396; al-Mizan fi Tafsir al-Qur’an, vol. vol. 3, hal. 374; vol. 7, hal. 393; Tafsir Muhit al-A’dham, vol. 2, hal. 374; Nahj al-Balaghah, khutbah “Qasimah”, 120 dan 147.

[9] Merujuk QS. al-Baqarah [2]: 208 dan 253; Ali Imran [3]: 103; an-Nisa [4]: 157.

[10] QS. al-An’am [6]: 65; al-Maidah [5]: 14, 64, dan 91; al-Baqarah [2]: 213. Untuk informasi lebih jauh, silahkan merujuk al-Mizan fi Tafsir al-Qur’an, vol. 3, hal. 372-375; vol. 11, hal. 60-65.

[11] Merujuk ayat-ayat seperti asy-Syuara [26]: 13; Ali Imran [3]: 64; dan al-A’raf [7]: 46.

[12] Contoh-contoh ayat di mana Allah Swt dipandang sebagai hakim terakhir adalah az-Zumar [39]: 3; al-Hajj [22]: 68-69; al-An’am [6]: 164.

[13] QS. Ali Imran [3]: 64.

[14] QS. al-An’am [6]: 159; ar-Rum [30]: 31-32; az-Zukhruf [43]: 65; QS. al-Anbiya [21]: 37; Ali Imran [3]: 105.

[15] Sebagai contoh, silahkan merujuk QS. al-Hujurat [49]: 11-12; al-Huzamah [104]: 1-2; an-Nisa [4]: 112; an-Nur [24]: 4; al-A’am [6]: 153.

[16][16] Al-Mizan fi Tafsir al-Qur’an, vol. 16, hal. 182.

[17] Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an.

[18] Beberapa komentator al-Quran telah menyatakan bahwa ayat-ayat yang mengutuk perpecahan ke dalam mazhab-mazhab dan perbedaan-perbedaan, sebagaimana telah disebutkan, berkaitan dengan kelompok-kelompok dan kumpulan-kumpulan yang bertolak belakang dengan prinsip-prinsip keagamaan—yakni, mereka merupakan kalangan di luar agama. Lih., Milad, al-Ta’addudiyyah wa al-Hiwarfi al-Khuththab al-Islami, hal. 127.

[19] Merujuk QS. al-Baqarah [2]: 213; Ali Imran [3]: 19; al-Jatsiyah [45]: 16; Yunus [10]: 9.

[20] Al-Mizan fi Tafsir al-Qur’an, vol. 11, hal. 60.

[21] Al-Mizan fi Tafsir al-Qur’an, vol. 7, hal. 378.

[22] Ibid., hal. 381.

[23] Ibid., vol. 4, hal. 389.

[24] Ibid., vol. 3, hal. 369.

[25] Kanz al-Ummal, vol. 7, hal. 557; Nahj al-Fashahah, hal. 1202; juga merujuk riwayat ke-56, 638, 1234, 2769, 2726, 2855, dan 3211.

[26] Kanz al-Ummal, vol. 7, hal. 555.

[27] Sebagai contoh, silahkan merujuk pada ibid., hal. 552-585. Terdapat sekitar 150 hadis Nabi Saw dalam buku rujukan ini yang menyebutkan kewajiban tersebut.

[28] Nahj al-Fashahah, hadis ke-2769; merujuk Bihar al-Anwar, vol. 26, hal. 67-73 untuk kompilasi ini.

[29] Tirmidzi, hadis ke-2166; Nahj al-Fashahah, hal. 615.

[30] Kanz al-Ummal, vol. 1, hal. 177, 182, dan 205-206.

[31] Shahih Muslim, no. 1414.

[32] Kanz al-Ummal, vol. 1, hal. 142 dan 155; terdapat banyak tradisi serupa dalam buku ini, merujuk hal. 140-166.

[33] Bihar al-Anwar, vol. 71, hal. 316.

[34] Kanz al-Ummal, vol. 1, hal. 141.

[35] Shahih Muslim, no. 2585 dan 2586.

[36] Merujuk al-Kafi, kitab “al-Iman wa al-Kufr”, bab “al-Mushafihah”, hal. 179; juga merujuk Pez Huhisi dar Sirah-e Nabawi, hal. 235.

[37][37] Hasil penelitian yang lebih apik dan mendetail seputar masalah ini dapat dijumpai (diriwayatkan kedua mazhab besar Islam) dalam al-Wahdah al-Islamiyahfi al-Hadits al-Mushtarakah, hal. 73-119.

[38] Alasan internal perpecahan adalah adanya perseteruan lama antara kaum Muhajirin dan Anshar (dengan sebutan seperti orang-orang Mekah dan orang-orang Madinah, utara dan selatan, qahthani dan udnani), antara bani Hasyim dan bani Umayyah, serta permusuhan sebelumnya antara kelompok-kelompok internal Anshar (suku Aus dan Khazraj). Adapun alas an eksternal perpecahan berupa rencana jahat kaum Yahudi dan munafikin yang berusaha memecah belah kaum Muslim.

[39] Ushul al-Kafi, vol. 2, bab “al-Ashabiyyah”, hal. 308.

[40] Sunan ibn Majah, vol. 2, kitab “al-Fitan”, bab “al-Ashabiyyah”, hal. 1302, hadis ke-3948.

[41] Shahih Bukhari, vol. 3 dan 4, kitab “al-Masaqat”, hal. 235-237. Untuk informasi lebih jauh, silahkan merujuk Majmu’eh Maqalat Pezhuhishi dar Sirah Nabawi, hal. 284 dan seterusnya.

Muhammadiyah menegaskan keberatannya atas fatwa sesat Syiah yang dikeluarkan MUI Jawa Timur

Din: Muhammadiyah Keberatan Fatwa Sesat Syiah
Ketua PP Muhammadiyah, Din Syamsudin
.
Din: Muhammadiyah Keberatan Fatwa Sesat Syiah
 Jumat, 7 September 2012 | 09:33 WIB
.

 Pengurus Pusat Muhammadiyah menegaskan keberatannya atas fatwa sesat Syiah yang dikeluarkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur. Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsudin mengatakan, fatwa tersebut justru akan memicu tindakan intoleransi yang tidak sesuai dengan semangat Islam.

“Atas dasar apa MUI Jatim mengeluarkan fatwa itu? Baik Sunni maupun Syiah adalah sama-sama Muslim karena masih berada di lingkaran syahadat. Menurut kami, yang mempercayai syahadat itu otomatis Islam, apa pun mazhabnya,” ujar Din, di Gedung PP Muhammadiyah, Jakarta, Kamis (6/9/2012) malam.

Menurutnya, baik Syiah maupun Sunni pasti mempunyai keunggulan dan kekurangan. Kedua hal itu, lanjutnya, harus disikapi dengan mengedepankan rasa saling menghargai dan toleransi satu sama lain. Kemunculan dua mazhab itu, kata Din, setelah Nabi Muhammad SAW sehingga dapat dipandang sebagai pandangan kritis dalam memaknai Islam. Oleh karena itu, menurutnya, hal itu tidak perlu dipertentangkan.

“Hal yang perlu diingat adalah bagimu pendapatmu dan bagiku pendapatku, mari kita bertoleransi,” kata Din.

Buka Acara Syiah, Menko Polhukam Tegaskan Negara Menjamin Kebebasan Beragama

03-11-2012 16:21

Buka Acara Syiah, Menko Polhukam Tegaskan Negara Menjamin Kebebasan Beragama
.
.
Sabtu, 03 November 2012 , 13:23:00 WIB
.
Negara menjamin dan membebaskan seluruh warga negara untuk percaya dan menekuni agama dan keyakinan masing-masing sesuai konstitusi republik Indonesia. Demikian disampaikan Menko Polhukam Djoko Suyanto dalam sambutan tertulis yang dibacakan anak buahnya, Perwira, dalam Seminar Internasional Hari Idul Ghadir di Padepokan Silat TMII, Jakarta, Sabtu (3/11).Acara ini digelar warga Syiah Indonesia yang tergabung dalam organisasi Ikatan Jamaah Ahli Bait Indonesia (Ijabi)
.
“Pemerintah dalam ini harus membina dan mengawal warga negaranya untuk beribadah sepanjang agama yang dianut tidak melanggar UU dan tidak menodai agama lain,” tegas Perwira yang menjabat Deputi VI Bidang Koordinasi Kesatuan Bangsa di Kemenko Polhukam.Menko Polhukam pun mengimbau agar semua sekte dalam agama di Indonesia terutama Islam untuk melakukan partisipasi dan kontribusi aktif demi terciptanya Indonesia yang aman. “Jaga kesatauan bangsa, kampanyekan Islam yang damai sebarkan di seluruh nusantara sifat-sifat Rasulullah,” ungkapnya.
Muktaman IV IJABI
Sabtu, 10 November 2012 06:00
.
.
Kaum Syiah memperingati lebaran terbesar: Idul Ghadir. Di tengah ketegangan Sunni Syiah nusantara, persatuan umat jadi tema hajatan ini. Dialog ditawarkan jadi solusi ketegangan. —”Man kuntu maulahu fa ‘Ali maulahu”. Siapa (menjadikan) aku maula-nya, maka Ali juga maula-nya. Penggalan yang diyakini ucapan Nabi di Ghadir Khumm, daerah antara Makkah dan Madinah, itu terpampang warna hijau di tengah back drop putih besar, di Gelanggang Utama Padepokan Pencak Silat TMII, Jakarta, Sabtu lalu. Sisi kiri back drop terhampar miring bendera besar Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI).Sebelah kanan panggung utama, tergelar baliho besar, ditulis aksara Arab, ‘Idul Ghadir, dan sekali lagi, pajangan penggalan hadis tadi. Sabtu pagi itu, ratusan jamaah IJABI menggelar seminar dan Muktamar IV, bertepatan peringatan lebaran terbesar kaum Syiah: Idul Ghadir, yang dipersepsi lebih agung ketimbang Idul Fitri dan Idul Adha.Ucapan Nabi yang dikenal sebagai Hadis Ghadir Khum di atas merupakan pangkal perselisihan fundamental antara Sunni dan Syiah. Bagi Syiah, itulah momentum bersejarah ketika sepulang haji wada’, Nabi mengangkat Ali bin Abi Thalib sebagai maula, diartikan pemimpin, penerus kepemimpinan Nabi. Karena itu, Ali dimuliakan sebagai Imam pertama dalam doktrin Imamah anutan Syiah.Tapi bagi Sunni, maula diartikan sahabat baik. Konteks hadis itu, untuk meredakan protes tentara muslim pada Ali sepulang perang di Yaman, bukan konteks pelantikan kepemimpinan. Ali juga dimuliakan kaum Sunni, bukan model imam ala Syiah, tapi sebagai khalifah keempat.

Meski peristiwa Ghadir Khumm menyimpan bara sengketa Sunni-Syiah, IJABI hendak membalik peringatan Idul Ghadir sebagai momentum merajut persatuan, dengan mengangkat tema, “Teladan Imam Ali as untuk Persatuan Umat Islam.” Sejumlah tokoh non-Syiah diagendakan hadir. Nama mantan Ketua Pemuda Muhammdiyah, Imam Addaruquthni, dan Pengurus PBNU, Dr. Muhammad Zain, terpajang besar dalam spanduk.

Dari Iran, selain tokoh Syiah, Ayatullah Ali Taskhiri, wakil Imam Ali Khamenei dalam proyek persatuan Sunni-Syiah, ada juga Maulawi Ishaq Madani, ulama Sunni yang menjadi penasehat Presiden Iran, Mahmud Ahmadi Nejad.

Imam Addaraquthni mengaku sudah menyiapkan makalah tentang akar masalah Sunni-Syiah. Tapi batal hadir. “Ada miss informasi. Surat permintaan ternyata tidak ada jadwal jam berapa sayaharus bicara,” kata Pembantu Rektor I PTIQ Jakarta ini. Menkopolhukam dan Mendagri dijadwalkan jadi pembicara kunci, tapi diwakili pejabat eselon II.

Di tengah ketegangan relasi Sunni dan Syiah di Indonesia, khususnya pasca peristiwa Sampang, Madura, saat lebaran ketupat, Agustus 2012, tema persatuan usungan IJABI jadi relevan. Apalagi, di kalangan sebagian tokoh Sunni, momentum Idul Ghadir kerap dipahami sebagai ajang ncaci para khalifah sebelum Ali.

Isu penghinaan, bahkah pengkafiran Sahabat inilah yang jadi pijakan MUI Sampang mengeluarkan fatwa sesat ajaran Tajul Arifin, Ketua IJABI Sampang, namun tanpa menyebut kata “Syiah”. Hal tersebut juga memicu MUI Jawa Timur merilis fatwa sesat, bedanya, dengan menyebut nama Syiah.

MUI Pusat tidak mengeluatkan fatwa sesat Syiah. Hanya saja, tahun 1984, MUI Pusat mengeluarkan fatwa waspada pada Syiah, khususnya terkait perbedaan doktrin Imamah, yang berpangkal dari hadis Ghadir Khumm tadi. Ketua MUI Pusat, Dr. KH. Ma’ruf Amin, dalam diskusi di Puslitbang Agama Jakarta, menyebut fatwa MUI Jatim sesuai kewenanngannya untuk merespon kasus di daerahnya, dan tidak bisa dibatalkan MUI Pusat.

Ketua Dewan Syura IJABI, Jalaluddin Rakhmat menjelaskan, peringatan Idul Ghadir ini dilatarbelakangi munculnya gerakan mengeluarkan Syiah dari Islam. Ia menemukan banyak artikel media, terutama online, yang mendiskreditkan Syiah, termasuk kabar bahwa orang Sunni di Iran dibantai. “Maka kita undang ulama Sunni dari Iran, apakah betul seperti itu,” kata Jalal kepada Taufiqurrohman dari GATRA, di sela perayaan Idul Ghadir di TMII.

Acara ini, kata Jalal, memiliki  pesan khusus untuk membuka dialog dari tingkat nasional hingga ke masjid-masjid. “Dialognya bukan saling menghakimi, tapi masing-masing menceritakan ajarannya,” ujar Jalal. Lewat dialog, mereka dapat saling memahami dan mengedepankan persamaan. IJABI, lanjut Jalal, berusaha menghindari gesekan. Ia menyesalkan, adanya kelompok yang berusaha menggesek antar madzhab dalam Islam.

Ali Taskhiri berulang kali menekankan, bahwa Ali merupakan sosok pemersatu umat. Selama masa kekhalifahan Abu bakar, Umar, dan Usman, Ali membantu ketiga pemimpin itu. Tokoh Sunni Iran, Maulawi, mengingatkan, satu-satunya kendala yang dialami umat Islam saat ini adalah perpecahan.

PBNU : Syiah, Hanya Perbedaan Cara Pandang

- Slamet Effendy Yusuf, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengatakan, kelompok aliran Syiah tidaklah bertentangan dengan Islam. Syiah dalam Islam diakui sebagai bagian aliran beberapa mazhab yang ada. Meskipun kata dia, Syiah memiliki beberapa perbedaan terkait cara pandang
.
“MUI dalam rekomendasi pada 1984 menyatakan Syiah itu bagian dari mazhab dalam Islam, karena itu memang didalam mazhab, ada perbedaan-perbedaan tentang beberapa pandangan,” kata Slamet kepada wartawan

Beberapa perbedaan dalam cara pandang antara lain terkait hadis dan imamah.“Seperti pandangan terhadap hadis, kalau Sunni, semua hadis yang diriwayatkan oleh para sahabat dan tabiin, oke. Sementara Syi’ah tidak. Soal Imamah di Sunni tidak mewajibkan tapi di Syiah mewajibkan, Terjemahan dalam solat antara Sunni dan Syiah ada perbedaan,” ujarnya.