Persamaan Antara Ajaran Sufi dan Syi’ah di Iran ( Negeri Mazhab Sunni Aswaja Yang Hilang )

Menyelami Samudera Tasawuf

 

Iran baru memeluk Mazhab Syi’ah Imamiyah Itsna ‘Asyariah Ushuliyah pada abad 15 M   ( tepatnya mulai tahun 1501 M ) pada masa berdirinya Dinasti Safawi di Iran.            

Sebelum tanah Persia dikuasai Dinasti Safawi, penduduk Persia menganut mazhab sunni1. Padahal sebelumnya Iran adalah  pusat perkembangan Mazhab Ahlusunnah Wal Jama’ah.                     

Ternyata Syi’ah dianut oleh suku suku Arab jauh sebelum bangsa Iran menganutnya. Pengikut syi’ah yang paling awal adalah kelompok Arab Irak yang tinggal di Kufah dan Bahrain                     

Uniknya Dinasti Safawi tidaklah didirikan oleh elit berdarah Persia melainkan oleh sekelompok keluarga yang memiliki darah Turki Azeri. Kerajaan Safawi menyatakan diri sebagai penganut syi’ah dan mazhab syi’ah dijadikan sebagai mazhab resmi negara. Penguasa Safawi mampu merubah paham rakyat Iran dari mazhab sunni aswaja menjadi syi’ah secara perlahan lahan. Safawi pada masa itu merupakan salah satu dari tiga kerajaan terbesar Islam pada masanya selain Kerajaan Turki Usmani (ottoman) dan Kerajaan Moghul (di India)                                             

Meskipun Dinasti Safawi runtuh pada tahun 1736 M akan tetapi sejak abad ke 18 M mayoritas masyarakat Persia sudah memeluk Mazhab Syi’ah Imamiyah Itsna ‘Asyariah Ushuliyah sedangkan pengikut mazhab sunni aswaja semakin menghilang. Dinasti Safawi merupakan peletak pertama dasar terbentuknya negara Iran modern                                                                                     

Banyak persamaan antara ajaran sufi dan syi’ah, terutama dalam lingkup tata nilai individual dan moral 2                                                                                                                                           

1. Seperti syi’ah, orang orang sufi juga percaya bahwa Al Quran memiliki makna keluar dan kedalam

2. Penghormatan kepada orang yang dipercaya mengerti lebih pada kedalaman makna batin.                    Seperti  kebanyakan imam syi’ah, ulama sufi memperoleh status istimewa yang datang dari pengetahuan esoteris dan kedekatannya dengan Tuhan. Esensi spiritual orang orang suci tersebut, sama seperti para imam merupakan mata air yang terus mengalir memberkati bahkan sampai setelah orang suci itu meninggal.. berkunjung ke tempat tempat suci adalah jantung keimanan                       

3.  Baik imam syi’ah dan ulama sufi tetap dihargai sebagai para penghubung antara manusia dengan Tuhan nya                                                                                                                                                  

4.   Orang orang sufi mengikuti orang syi’ah dalam memberi penghormatan yang begitu mendalam kepada Ali dan cintanya kepada keturunan Nabi. Bagi sebagian besar kaum sufi, Ali merupakan sumber utama dalam pengetahuan spiritual. Dia merupakan sufi dan sumber dari semua kebajikan esoterik yang merupakan  dasar ajaran sufi                                                                           

Faktanya, sebagian besar tradisi Nahdlatul Ulama (NU) seperti ziarah kubur, tahlil, peringatan 4-7-10 dan haul, penghormatan terhadap ulama, tawassul, tabaruk dan sebagainya merupakan tradisi tradisi khas syi’ah yang tidak terdapat dalam referensi referensi klasik mazhab Ahlusunnah Wal Jama’ah melainkan semata mata ada dalam kitab kitab klasik syi’ah seperti kitab Mafatih Al Jinan karya Abbas Al Qummi, Al Iqbal karya al Kaf’ami, Al Balad Al Amin karya Sayyid Ibn Thawus. Maulid Nabi di percaya dicetuskan pertama kali oleh Dinasti Fathimiyyah                  

Dalam buku I’tiqad Ahlusunnah Wal Jama’ah karangan KH.Sirajuddin Abbas di klaim oleh KH.Sirajuddin Abbas bahwa Nabi SAW bersabda : “…akan berfirqah umatku sebanyak 73 firqah, semuanya masuk neraka kecuali satu…Yang satu itu ialah orang yang berpegang (beri’tiqad) sebagai peganganku (i’tiqadku) dan pegangan sahabat sahabatku” ( Hr.Tirmidzi )     

 72 firqah masuk neraka, 1 kesurga ?? Karena ingin “mengkapling” surga maka sebagian pembohong  menuduh syi’ah mengkafirkan para sahabat      

 Sunni dan Syi’ah sama sama berpegang pada sahabat Nabi SAW.Yang menjadi persoalan adalah sahabat sahabat yang mana yang harus kita pedomani ? Mazhab aswaja/sunni menyatakan bahwa semua sahabat bersifat adil dan jadi pedoman agama. Mazhab Syi’ah Imamiyah Itsna ‘Asyariah Ushuliyah intinya menyatakan bahwa hanya sebagian sahabat Nabi sajalah yang bersifat adil. Syi’ah mengelompokkan para sahabat Nabi SAW kepada 3 kategori

Catatan kaki :                                                                                                                                                             

1     Dilip Hiro. Iran Under the Ayatullahs. London : Routledge & Kegan Paul, 1987                             

2    Vali Nashr, Kebangkitan Syi’ah, hal. 63-64. Diwan Publisihing. Jakarta, 2007

One comment

  1. Menarik, btw saya pernah baca mengenai keluarga kerajaan dinasti safavid yang pendirinya Shah Ismail, mengenai keturunan kerajaan ini masih debatable, karena sebetulnya keluarga dinasti safavid berketurunan darah campuran berhubung daerah setempatny memang terdiri dari banyak suku antara Iranic dan Turkic.
    menurut sejarahwan, keluarga Safavid msh pribumi berdarah “Iranian” yg berasal dari Persian Kurdistan dan setelahnya pindah ke Azerbaijan lalu akhirnya menetap di northwestern Iran (ardabil) di masa kependudukan Oghuz Turkmen (kaum Turkic) di area tsb yang tatkala itu kaum ini merupakan penginvasi bangsa altaic (sepupuan mongol) dari timur, maka dari itu keluarga safavid multi-bilingual, berbahasa persia dan oghuz turkic.
    perlu di ingat Kekhaganan Oghuz Turkmen yg menduduki Turkmenistan, Azerbaijan dan sebagian area Iran Utara ini “menturkifikasi” daerah kekuasaannya terhadap pribumi setempat yg merupakan suku-suku Iranic (kurdish, persian, dahae, azari, tat, dll), saat berlangsungnya invasi semakin banyak orang-orang yg sebetulnya “tidak berdarah turk” namun memakai bahasa turkic sbg bahasanya karena diasimilasi, seiring itu antara orang turk dan non-turk menjadi sangat samar modern ini, itulah mengapa azerbaijan dan sebagian northwestern Iran hingga kini berbahasa bahasa dialek oghuz turkic walaupun sebetulnya sejarahwan sepakat bahwa mereka ada keturunan Rumpun Iran serta minoritas suku Indo-European setempat lainnya yang berbahasa Oghuz Turkic akibat Turkifikasi dari kedudukan Oghuz Turk (conquest and mass migration).

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s