MUI Jabar: Syiah Tidak Sesat ! Sikap MUI Jabar terhadap Syiah

MUI Jabar: Syiah Tidak Sesat !

Sikap MUI Jabar terhadap Syiah

OPINI | 28 November 2012 | 14:12

13540866071630889184

Pementasan teater dalam Asyura yang digelar IJABI di Bandung

Pada Rabu, 2 Mei 2012, Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jabar
K.H.Rafani Achyar mengatakan sulit memfatwakan aliran Syiah sebagai
aliran sesat

.
Meski dari Bandung sendiri ada segelintir orang yang menyatakan sesat
dan merekomendasikan untuk dibubarkan lembaga-lembaga Syiah, tetapi
itu membuat MUI Jabar menurut begitu saja.  Rafani mengatakan ada
banyak kesamaan antara mazhab Syiah dengan Sunni.  Dari segi pemahaman
tentang Islam,  Syiah tidak berbeda jauh dengan yang mayoritas Islam
Indonesia. Namun ada beberapa hal yang berbeda.

Menurut Rafani,   Syiah memandang imam Ali bin Abi Thalib sebagai
manusia yang bebas dari dosa.  Meski demikian, MUI tidak mau gegabah
untuk menegaskan Syiah adalah paham sesat.

Pernyataan Rafani ini dibenarkan oleh Ketua MUI Jabar K.H.Hafdz Usman
dalam sebuah wawancara dengan media cetak
.

KH. Hafidz Usman mengakui keberadaan komunitas Syiah di Jawa Barat.
“Kalau kita terbuka saja di Jawa Barat ada bibit-bibit itu tapi kita
bergaul dengan cara bijak,” ujarnya

.
Menurut Kiai Hafidz Usman,  para pemuka agama dan masyarakat harus
memandang perbedaan pemikiran terkait agama itu sebagai hal yang
wajar. Namun, perbedaan itu jangan sampai menjadi alasan pembenar
untuk menyatakan dirinya sebagai pihak yang paling benar.

Kemudian Hafidz juga menyatakan kelompok Syiah tidak bisa disamakan
dengan kelompok agama lain yang sudah dinyatakan sesat lewat fatwa MUI
seperti ajaran Islam Suci di Kabupaten Sukabumi dan kelompok
Ahmadiyah. “Syiah tidak (sesat),” tegas Hafidz.

19 November 2012 kemarin pengurus Majelis Ulama Indonesia Jawa Barat (MUI Jabar) menyampaikan ada 16 aliran agama di Jawa Barat yang dinyatakan sesat dan menyimpang. Pernyataan ini disampaikan Sekretaris MUI Jabar: H.Rafani Achyar yang diwartakan harian Galamedia

Aliran-aliran agama yang dianggap sesat dan menyimpang versi MUI Jabar ini di antaranya: Ahmadiyah, Alqiyadah Al-Islamiyah, aliran agama Salamullah/Lia Eden, kelompok Hidup di Balik Hidup (HDH), ajaran Milah Ibrahim, aliran Surga Adn, Aliran Alquran Suci, Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), Pengamal Salawat Wahidiyah, ajaran Ahmad Sayuti, Komunitas Dayak Losarang, Amanat Keagungan Ilahi (AKI), Ajaran K.H. Ahmad Sulaiman, Ajaran Syaiful Karim, Ajaran Sumarna, dan Aliran Pajajaran Siliwangi Panjalu.

Menurut Rafani Achyar, kesesatan aliran agama di atas didasarkan pada: (1) fatwa MUI Pusat dan (2) hasil kajian Litbang Kementerian Agama Republik Indonesia serta (3) informasi masyarakat yang menyatakan terganggu dengan kehadiran aliran tersebut. Ketiga landasan ini menjadikan MUI Jabar menyatakan sesat terhadap 16 aliran agama yang disebut di atas.

Kalau saya lihat dari masing-masing MUI yang ada di negeri ini tidak ada yang sama. Kemarin kasus Sampang yang mengakibatkan hancurnya harta benda sampai tidak memiliki rumah akibat dari fatwa MUI Jawa Timur (Jatim) yang menyatakan sesat terhadap aliran Syiah di bawah pimpinan Kiai Tajul Muluk. Kalau MUI Jatim menyatakan sesat, justru di Makassar dan Jawa Barat dinyatakan sebagai mazhab yang sah dalam Islam. Begitu juga MUI Pusat melalui pernyataan Ketua MUI Pusat: KH.Umar Shihab bahwa Islam Syiah merupakan mazhab yang sah dalam Islam. Bahkan level internasional pun menyatakan tidak sesat dan bagian dari Islam.

Terbukti dari sejumlah konferensi ulama internasional se-dunia seperti Konferensi Islam Internasional yang kemudian melahirkan Risalah Amman, Deklasari Makkah, Deklarasi Bogor, Deklarasi Depok, Deklarasi MUHSIN (Majelis Ukhuwah Sunni Syiah Indonesia), dan yang terakhir di Universitas Muslim Indonesia. Semua ulama yang hadir menyepakati bahwa Islam Syiah merupakan mazhab yang sah dalam Islam. Mungkin landasan besar dari para ulama dunia itu kemudian pemerintahan Indonesia mensahkan organisasi Islam yang bernama IJABI (Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia) sebagai ormas resmi di Indonesia yang disahkan Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia.

Berkaitan dengan fatwa lokal MUI Jatim yang menyatakan sesat terhadap Syiah telah menuai kontroversi dan dinilai gegabah. Pak Ma’ruf Amin selaku ulama Jakarta menyatakan fatwa MUI Jatim sebagai tindakan yang benar dengan merujuk fatwa terdahulu yang menyatakan Syiah perlu diwaspadai. Kalau dilihat dari teks fatwa MUI tahun 1984 dengan jelas tidak dinyatakan sesat atau menyimpang atau terlarang. Saya kira yang dinyatakan Pak Ma’ruf itu bisa disebut dukungan pribadi karena MUI Pusat sendiri belum mengeluarkan fatwa resmi. Malah awal 2012 oleh Ketua MUI Pusat dinyatakan bahwa Islam merupakan mazhab yang sah dalam Islam.

Legitimasi Pak Ma’ruf itu kemudian direspon oleh Prof.Dr.KH.Jalaluddin Rakhmat, Ketua Dewan Syura IJABI (http://www.majulah-ijabi.org/14/post/2012/11/menyikapi-fatwa-tentang-fatwa.html) yang dimuat dalam Harian Umum Republika. Kemudian muncul dua tanggapan yang membela Pak Ma’ruf Amin. Terakhir (kemarin) muncul tanggapan lagi untuk keduanya dari Dr.Haidar Bagir yang dimuat dalam Republika. Ketika membacanya, saya hanya merasa bangga bahwa ternyata para tokoh Islam atau ulama Indonesia sudah mulai berani berdialog dalam bentuk tulisan. Tinggal dilanjutkan pada ruang yang terbuka dan difasilitasi pemerintah. Saya kira akan lebih bagus kalau dialog dalam bentuk tulisan terus dibuka dalam media massa (cetak atau televisi) sehingga masyarakat Indonesia akan melihat dan menilai sendiri. Mana yang diikuti dan mana yang tidak akan diikuti. Tentunya dengan dialog yang bernuansa ilmiah, bukan cercaan dan caci maki yang tidak bedasarkan pengetahuan dan argumentasi yang kuat.

Berkaitan dengan sikap MUI Jabar terhadap Syiah terbukti dalam acara Asyura (10 Muharram 1434) yang digelar oleh IJABI Jawa Barat pada Sabtu, 24 November 2012.

Pengurus MUI Jawa Barat: KH. Asep Zaenal Mutaqien dalam sambutan menyatakan, pengurus MUI Jabar berkewajiban mengayomi umat Islam sepanjang berpedoman pada Alquran dan sunah serta menyakini Nabi terakhir Muhammad SAW. “Suatu anugerah yang besar bisa berjumpa dan memenuhi undangan dari IJABI,” katanya

“Kalau Ahmadiyah itu jelas mengakui ada nabi lain setelah Nabi Muhammad. Kalau Syiah tidak seperti itu. Makanya lebih sulit untuk menyatakan Syiah itu sesat,” tandas Rafani.

Saya kira MUI Jabar dan MUI Jatim memang beda. Mungkin dari cara berpikirnya pun beda. Ada yang berprinsip senang damai, ada juga yang enggan damai. Mungkin juga karena soal pendapatan yang berbeda sehingga melahirkan pernyataan yang berbeda. Mungkin karena kurang gaul dengan ulama internasional sehingga merasa benar sendiri. Ada yang sudah mengetahui substansi Islam dan memahami Islam lebih luas, ada juga baru ala kadarnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s