Pandangan Prof. DR. Din Syamsuddin tentang Syiah harus diikuti Muhammadiyah. Kenapa ??

Muhammadiyah Nilai Syiah Tidak Sesat

Rabu, 29 Agustus 2012 13:10
Syafiq Al Mughni

Muhammadiyah mengungkapkan yang membedakan Syiah dengan ajaran Islam lainnya sebenarnya hanyalah dalam persoalan kepemimpinan Ali bin Abi Thalib.

“Dari sudut ajaran Islam, saya memang tidak sepakat dengan Syiah, tapi perbedaan itu juga ada dalam paham-paham lain yang ada di dalam Islam,” kata Ketua PP Muhammadiyah Syafiq A Mughni, di Surabaya, Rabu 29/8/2012), menanggapi konflik Syiah di Sampang, Madura, Jatim.

Menurut dia, hal yang tidak bisa disepakati umat Islam lainnya terkait Syiah adalah kepemimpinan Ali bin Abi Thalib atau perbedaan dalam aspek politik.

“Itu biasa dan nggak mungkin semuanya dijadikan satu pendapat, karena itu kepada Syiah dan aliran atau paham apapun sebaiknya justru saling menghormati dan menghargai untuk membangun kehidupan yang lebih baik,” ungkap dia.

Guru Besar Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel Surabaya itu menjelaskan perbedaan dengan Syiah dalam politik atau kepemimpinan itu memang berdampak pada beberapa amaliah keagamaan.

“Dalam amaliah keagamaan, Syiah memang lebih cenderung kepada amaliah yang terkait langsung dengan Ali bin Abi Thalib, tapi hal itu bukan berarti sesat, karena itu hanya konsekuensi dari sebuah kultus individu,” tutur dia.

 

SUNNI-SYIAH BERSATU ISLAM JAYA

Prof.Dr. Din Syamsudin: Persatuan Sunni-Syiah Untuk Kejayaan Islam

Prof. DR. Din Syamsuddin Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah menegaskan, bahwa persatuan umat Islam khususnya antara Sunni dan kaum Syiah, adalah mutlak perlu sebagai prasyarat kejayaan Islam. Kejayaan umat Islam pada abad-abad pertengahan juga didukung persatuan dan peran serta kedua kelompok umat Islam tersebut.

Pernyataan itu beliau katakan pada Konferensi Islam Sedunia yang berlangsung di Teheran 4 sampai 6 Mei 2008. Konferensi yang dihadiri 400-an ulama dan zuama, baik dari kalangan Sunni maupun Syiah dari berbagai belahan dunia.

Din Syamsuddin yang berbicara pada sesi pertama bersama enam tokoh Islam lainnya menegaskan bahwa antara Sunni dan Syiah ada perbedaan, tapi hanya pada wilayah cabang (furu’iyyat), tidak pada wilayah dasar agama (akidah), karena keduanya berpegang pada akidah Islamiyah yang sama, walau ada perbedaan derajad penghormatan terhadap Ali bin Abi Thalib.

  1. Jika ada sekelompok sempalan Islam mengatakan syiah sesat, maka itu jelas bertentangan dengan pernyataan Prof. DR. Din Syamsuddin ketua umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, organisasi Islam terbesar kedua sesudah NU.
  2. Jika ada kiyai, habib, atau ustadz mengatakan syiah itu sesat, apapun dasarnya  apakah mereka menganggap Prof. DR. Din Syamsuddin tidak paham Al-Qur’an dan hadis? Tentu beliau paham, bahkan mungkin paham ketimbang mereka yang mengatakan sesat. Jika ada orang Muhammadiyah mengatakan syiah sesat, tentu mereka menyalahi pandangan ketua umumnya.
  3. Jika syiah itu sesat, mana mungkin Prof. DR. Din Syamsuddin menyerukan persatuan sunni dan syiah?

KALIMAT YANG SAMA DAN MUSUH BERSAMA

Pada kesempatan yang sama, Konferensi Islam Sedunia yang berlangsung di Teheran, Prof. DR. Din Syamsuddin menegaskan: Sunni-syiah harus melakukan dialog dan pendekatan. Sehingga menurutnya, akan dapat dicapai titik temu. Sehingga perlu dikembangkan tasamuh atau toleransi di antara keduanya. Diakui, elemen umat Islam dalam kemajemukannya perlu menemukan ˜kalimatun sawa`” dalam merealisasikan misi kekhalifahan di muka bumi.

Kemudian dalam menghadapi tantangan terhadap umat Islam dewasa ini menurut Din, umat Islam perlu menemukan dalam dirinya musuh bersama (adduwun sawa). Dua hal ini yakni kalimatun sawa (common platform) dan aduwwun sawa (common enemy) adalah faktor kemajuan umat. Perlu dipahami, musuh bersama dalam Islam adalah kemiskinan dan keterbelakangan, tandasnya. (lintasberita.com/Dunia/Berita-Dunia)

Dari pernyataan Prof. DR. Din Syamsuddin, jelas beliau menginginkan persatuan sunni-syiah. Dengan persatuan sunni-syiah Islam akan jaya, musuh-musuh Islam akan dapat disingkirkan. Yakni, kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan. Ini musuh-musuh kondisional. Tentu, kita harus bertanya:

  1. Apa dan siapa penyebabnya? Itu juga musuh Islam dan umatnya.
  2. Kita lihat buktinya, mengapa Iran mampu mencetak para ahli nuklir?
  3. Mengapa Iran yang moyoritas penduduknya bermazhab syi’ah mencapai kemajuan sains dan teknologi 11 kali lipat disbanding Negara-negara yang lain? Jurnal Newscientist edisi Kamis (18/2) memuat hasil penelitian Science-Metrix, sebuah perusahaan di Motreal, Kanada yang melakukan evaluasi atas perkembangan dan produk ilmu pengetahuan serta teknologi di berbagai negara. Dalam laporan hasil penelitiannya, Science-Metrix menyebutkan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan di negara Iran sebelas kali lebih cepat dibandingkan negara-negara lainnya di dunia. (forum.vivanews.com/politik)
  4. Mengapa Saudi Arabia yang mayoritas penduduknya bermazhab wahabi/salafi tertinggal dalam dunia sains dan teknologi? Yang kerjanya menggolontorkan uang untuk perpecahan umat Islam. Tidak percaya? Searching di Google “Saudi Gelontorkan Dana Besar Dukung Wahabi Lawan Revolusi Mesir”
  5. Bukankah kita semua mengetahui bahwa mufti dan ulama wahabi Saudi berada di bawah kekuasaan raja, patuh pada raja. Sementara rajanya patuh kepada Amerika dan Israel.
  6. Bukankah kita semua tahu bahwa di Iran, semua menteri patuh kepada Presiden, dan presiden patuh kepada ulama khususnya kepada pemimpin tertinggi spiritual, dan bersikap tegas terhadap Amerika dan Israel.
  7. Mana sistem pemerintahan yang lebih Islami, Saudi atau Iran?

Tiga Orientasi Keberagamaan

Selasa, 11 September 2012, 07:17 WIB
Tiga Orientasi Keberagamaan
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin.
.

Oleh: Prof Dr HM Din Syamsudin MA

Ada tiga orientasi keberagamaan: Pertama, Keberagamaan yang dinamis, ayat yang berhubungan dengan ibadah (termasuk ayat tentang puasa), selalu berbentuk dalam kata kerja, seperti: la’allakum tattaqun, illa liya’ budun, dll. Semua itu selalu berada dalam suatu proses yang tiada henti untuk beribadah.

Keunggulan dinamis ini menjadi lebih penting tidak hanya keunggulan komparatif (comparative advantage) atau keunggulan kompetitif (competitive advantage), namun sekarang masyarakat mengenal manajemen internasional sebagai keunggulan dinamis (dynamic advantage). Keberagamaan itu merupakan suatu gerak, oleh karenanya keberagamaan kita harus bergerak.

Sebuah gerakan haruslah memiliki dua dimensi utama, yaitu dinamika sistematika, sebuah proses yang dinamis dan sistematis untuk mencapai tujuan. Dinamika keberagamaan ini harus membawa kita pada orientasi kemajuan dan keunggulan. Perlu dipahami bahwa ibadah bukanlah tujuan dalam hidup kita, jika ibadah menjadi tujuan, maka selesai kita shalat, maka selesai juga segala urusan. Selesai Ramadhan, maka betul-betul “Lebaran” alias bubaran. Ibadah yang kita lakukan haruslah berproses, dan akhir dari ibadah itu sebenarnya merupakan suatu awal. Saat kita Salam ketika shalat, itu adalah awal. Akhir puasa atau Lebaran juga awal bagi kita untuk merealisasikan makna-makna ibadah itu di luar masa ibadah.

Kedua, Keberagamaan yang bersifat efektif (sebagaimana telah diajarkan dalam ibadah puasa Ramadhan), yang berdampak kepada perilaku dan kepribadian, bukan hanya sebagai sebuah ritual rutin. Oleh karenanya spiritualitas yang diharapkan terlahir dari ibadah kita adalah spiritualitas dinamis, bukan spiritualitas pasif atau statis, apalagi yang berorientasi individual (ke-aku-an). Ibadah-ibadah yang kita lakukan memang berorientasi kepada Tuhan, tapi juga harus ada orientasi ke dalam (kepada diri manusia) untuk mengembangkan kepribadian.

Dalam beribadah memang tujuan kita lillahi ta’ala (hanya untuk Allah), tapi bukan berarti kita beribadah hanya demi Tuhan untuk Tuhan, tapi juga dalam niat lillahi ta’ala, terkandung makna di dalamnya li an-nâs (untuk manusia). Bukan hanya lil mu’minin (untuk orang mukmin) atau lil muslimin (untuk orang muslim) saja, tapi untuk seluruh manusia, sebagai reduksi dari kata lil ‘alamin (untuk seluruh alam semesta). Maka, keberagamaan yang efektif adalah yang membawa dampak kepada kepribadian. Indikator ketaqwaan seseorang sangat jelas yaitu terletak paka perilaku yang antara lain cenderung untuk berbagi kepada sesama manusia dalam keadaan lapang maupun sempit.

Oleh karena itu, Islam mendorong peribadatan bukan hanya sekedar mencari ridho Allah semata. Hal tersebut dapat kita lihat dalam konsep penyelamatan. Dalam Islam penyelamatan merupakan keselamatan kolektif bukan hanya keselamatan individual, bahkan alam semesta juga harus dibangun kembali, di-restorasi, dan di-renovasi. Hal ini merupakan sebuah gerakan peradaban yang sangat besar.

Bila kita mengukur ketaqwaan dari sudut kejiwaan, jika kita menganalogkan pemikiran Imam Al-Ghazali dalam tahapan-tahapan dari jiwa; diawali dengan an-nafs al ammarah bi as-syu’, an-nafs al-lawwamah, dan yang tertinggi an-nafs al-muthmainnah. Jika kita lihat secara gradual, maka an-nafs al ammarah bi as-syu’ merupakan kecenderungan an-nafs, jiwa yang mendua atau berdimensi ganda (ambivalen).

Jiwa seperti ini kadang cenderung kepada kebaikan, tapi masih ada juga kecenderungan kepada kejelekan. Hal ini kemudian menjadi problema ambivalensi diri yang harus kita atasi dengan tarqiyatu an-nafs. Kemudian naik kepada tingkatan kedua an-nafs al-lawwamah, di mana dalam tingkatan ini seseorang yang berbuat kesalahan dan dosa masih ada rasa penyesalan dan kesadaran diri untuk segera kembali kepada kebaikan.

Dalam Alquran dijelaskan: “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui”. (Q.S. Ali Imran : 135).

Kemudian masuk kepada tingkatan yang tertinggi yaitu an-nafs al-muthmainnah yaitu jiwa yang penuh ketenangan dan kedamaian. Kita semua dapat menuju ke arah sana dengan sebuah keberagamaan yang dinamis, efektif dan fungsional. An-Nafs bukan hanya bermakna jiwa, tapi juga diri (self). Diri merupakan manifestasi ketika jasad dan ruh bertemu, jadi jasad yg berkembang dalam kandungan ibu kemudian ditiupkan ruh. Dalam ruh juga terdapat dimensi ilahi (divine dimension) dalam kekuatan-kekuatan yang diberikan kepada kita. Jadi dalam diri kita terdapat potensi-potensi insani yang berdimensi ilahi.

Ramadhan memang berdimensi penyucian jiwa (tazkiyatu an-nafs atau self refinement), tapi Ramadhan juga bermakna peningkatan jiwa (tarqiyatu an-nafs atau self empowerment). Maka Idul Fithri merupakan hari raya kesucian sekaligus hari raya kekuatan. Untuk itu perlu disempurnakan dengan saling silaturahim dan saling memohon maaf antar sesama manusia. Silaturahim yang dinamis adalah bagaimana kita menjalin kerjasama, menjalin silatu al-fikri dan silatu al-fi’li.

Ketiga, Keberagamaan yang fungsional, yaitu keberagamaan yang berfungsi bagi kehidupan, kebudayaan, dan peradaban. Hal itu dapat terjadi ketika kita dapat meraih prestasi dan keunggulan. Jadi keberagamaan fungsional memiliki proses yang dinamis, efektif, dan juga membawa dampak yang lebih luas, memiliki fungsi-fungsi sosial, kebudayaan, dan peradaban.

Itulah yang dapat dilakukan oleh umat Islam sebagai umat terbaik (khairu ummah). Dalam Al-Qur’an, kata shirat al-mustaqim (jalan istiqamah) dapat diartikan sebagai jalan lurus, namun juga dapat bermakna jalan tengah. Maka orang beragama perlu keberagamaan yang pertengahan berdasarkan al-aqidah al-wasitiyyah (aqidah pertengahan).

Umat Islam disebut sebagai ummatan wasatho (umat pertengahan), selengkapnya dalam Alquran disebutkan: Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kalian (umat Islam) umat pertengahan agar kalian menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kalian. (QS. Al-Baqarah: 143). Jadi kata shirat al-mustaqim dapat diartikan sebagai jalan lurus, jalan tengah, dan itulah jalan kemajuan yang mendaki.

Shirat al-mustaqim punya pengertian jalan tengah yang mendaki, bukan hanya linear datar saja. Sehingga apabila kita dapat dengan selamat dalam mendaki jalan lurus atau jalan tengah, maka kita akan mencapai keberhasilan. Jadi apa pun posisi kita, maka berbuatlah sesuai kemampuan kalian (i’malu ‘ala syakilatikum), karena hal itulah yang dianjurkan dalam Islam. Dengan tahun demi tahun kita merayakan ‘Idul Fithri, masing-masing kita hendaknya meningkatkan kapasitas diri (capacity building) yang kemudian akan dapat meningkatkan kerja dan kinerja.

Terma Syiah Di Dalam Quran Dan Hadis


Kata “Syiah” bermaksud “pengikut; ahli parti“. Dengan demikian, istilah “Syiah” itu
sendiri tidak mempunyai erti negatif atau positif kecuali jika kami gandingkan bersama pemimpin sesuatu kumpulan.

Jika seseorang itu ialah Syiah (pengikut) kepada hamba Allah yang soleh , maka tidak ada salahnya menjadi Syiah kepada beliau, khususnya jika pemimpin parti tersebut telah
ditetapkan oleh Allah. Di sisi lain, jika kita seseorang menjadi Syiah kepada seorang penindas atau orang yg bersalah, maka beliau akan bertemu dengan nasib yang sama dengan pemimpinnya.  Al Quran telah pun menunjukkan
bahawa pada hari kiamat manusia akan dibangkitkan di dalam kumpulan, dan masing-masing kelompok memiliki pemimpin di depannya. Allah, Yang maha Mulia, berfirman:

Suatu hari Kami akan memanggil setiap kumpulan manusia bersama Imam masing-masing. (Quran 17:71)

Pada hari penghakiman, nasib para “pengikut” dari setiap kumpulan sangat bergantung pada nasib Imam-nya (asalkan mereka benar-benar mengikuti Imam). Allah menyebutkan di dalam Quran bahawa ada dua jenis imam. Ada imam yang menjemput manusia ke api neraka. Mereka adalah para pemimpin yang zalim di setiap era (seperti Firaun, dll):

Dan Kami jadikan mereka ketua-ketua (dalam kesesatan) yang mengajak ke neraka (dengan kekufurannya), dan pada hari kiamat pula mereka tidak mendapat sebarang pertolongan.
Dan Kami iringi mereka dengan laknat di dunia ini, dan pada hari kiamat pula adalah mereka dari orang-orang yang tersingkir (dari rahmat Kami) dengan sehina-hinanya.. (Al-Quran
28:41-42).

Tentu saja, menjadi ahli parti-parti Syaitan seperti di atas
sangat dikecam dalam Al-Quran, dan para pengikut parti-parti tersebut akan mengikuti
nasib pemimpin mereka. Namun, Quran juga mengingatkan bahawa akan ada pula imam yang dilantik oleh Allah sebagai Panduan bagi manusia:

Dan Kami jadikan dari kalangan mereka beberapa pemimpin, yang membimbing kaum masing-masing kepada hukum ugama Kami, selama mereka bersikap sabar (dalam menjalankan tugas itu) serta mereka tetap yakin akan ayat-ayat keterangan Kami.”(Al-Quran 32:24)

Tentu saja, yang sesungguhnya golongan (Syiah) Imam ini akan merasa kemakmuran nyata
pada hari kebangkitan. Jadi menjadi Syiah tidak membawa erti apa-apa, kecuali jika kita
mengetahui kita menjadi Syiah kepada siapa. Allah menyebutkan di dalam Quran yang Sesetengah hambanya yang benar ialah Syiah kepada hamba-hamba-Nya yang lain. Contohnya Nabi
Ibrahim disebutkan dalam Quran secara khusus sebagai Syiah kepada Nuh:

“Dan yang paling pasti Ibrahim ialah di antara Syiah kapadanya-Nya (iaitu, Nabi Nuh)” (Al-Quran (37:83)

(Perhatikan bahawa perkataan “Syiah” secara eksplisit digunakan, huruf demi huruf, di atas
ayat dan juga ayat seterusnya.) Dalam ayat lain, Al-Quran menceritakan tentang
Musa melawan Syiah kepada musuh-musuh Nabi Musa:

Dan masuklah ia ke Kamur (Mesir) dalam masa penduduknya tidak menyedarinya, lalu didapatinya di situ dua orang lelaki sedang berkelahi, – seorang dari Syiahnya sendiri dan yang seorang lagi dari pihak musuhnya. Maka orang yang dari Syiahnya meminta tolong kepadanya melawan orang yang dari pihak musuhnya; Musa pun menumbuknya lalu menyebabkan orang itu mati. (pada saat itu) Musa berkata: “Ini adalah dari kerja Syaitan, sesungguhnya Syaitan itu musuh yang menyesatkan, yang nyata (angkaranya) “. Al-Quran(28:15)

Jadi Syiah ialah perkataan rasmi yang digunakan oleh Allah dalam
Quran-Nya untuk menyatakan pangkat serta kualiti nabi-Nya serta para pengikut mereka. Adakah kamu ingin menuduh Nabi Ibrahim seorang sektarian? Bagaimana dengan Nabi Nuh dan Nabi Musa?

Jika seseorang menggelarkan dirinya seorang Syiah, maka ia bukan kerana ada perasaan sektarianisme, atau apa-apa bida’ah. Itu kerana Al-Quran telah menggunakan frasa ini untuk beberapa hamba terbaik-Nya. Ayat di atas yang saya telah sebutkan dalam membela Syiah, telah menggunakan istilah berbentuk tunggal (iaitu, satu kumpulan pengikut). Ini bererti frasa ini membawa erti khusus, seperti: Syiah Nuh (AS), Syiah Musa (AS). Juga dalam
sejarah Islam, Syiah telah secara khusus digunakan untuk “pengikut Ali”.

Individu pertama yang menggunakan istilah ini ialah Rasulullah sendiri:

Rasulullah berkata kepada Ali: “Berita gembira wahai Ali! Sesungguhnya kamu
dan sahabat kamu dan Syiah (pengikut) akan berada di Syurga. “

Rujukan Sunni:

(1) Fadha’il al-Sahabat, oleh Ahmad Ibn Hanbal, v2, p655
(2) Hilyatul wali-wali, oleh Abu Nu’aym, v4, p329
(3) Tarikh, by al-Khateeb al-Baghdadi, V12, p289
(4) al-Awsat, oleh al-Tabrani
(5) Majma ‘al-Zawa’id, by al-Haythami, V10, hlm 21-22
(6) al-Darqunti, yang mengatakan hadis ini telah disebar melalui pelbagai
perawi.
(7) al-Shawd’iq al-Muhriqah, oleh Ibnu Hajar Haythami, Ch. 11, bahagian 1, p247

Dengan demikian Rasulullah (saw & HF) digunakan untuk mengatakan frasa “Syiah Ali”.
Ungkapan ini bukanlah sesuatu yang diciptakan nanti! Nabi Muhammad (saw & HF) berkata
bahawa pengikut sebenar imam Ali akan pergi ke Syurga, dan ini merupakan
kebahagiaan. Juga Jabir bin Abdillah al-Ansari meriwayatkan bahawa:

Rasulullah (saw) berkata: “Syiah Ali akan merasai kemenangan yang nyata pada hari kebangkitan”

Rujukan Sunni:
– Al-Manaqib Ahmad, sebagaimana disebutkan dalam:
– Yanabi al-Mawaddah, oleh Al-Qundoozi al-Hanafi, p62
– Tafsir al-Durr Al-Manthoor, oleh al-Hafidh Jalaluddin al-Suyuti, yang mengutip
hadis berikut: “Kami dengan Nabi saw ketika Ali datang ke
kami. Nabi berkata: Dia dan Syiahnya akan memperoleh keselamatan pada hari
penghakiman. “

“Hari kebangkitan” boleh juga dirujuk kepada hari kebangkitant al-Mahdi (AS). Tetapi dalam
istilah yang lebih umum, itu berarti hari penghakiman. Juga ada sebuah hadith bahawa:

Rasulullah berkata: “Wahai Ali! Pada hari kiamat aku akan Mengharapkan
kepada Allah dan kamu akan mengharapkan kepadaku dan anak-anak kamu akan mengharapkan kepadamu dan Syiahmu akan mengharapkan kepada mereka. Kemudian kamu akan melihat di mana mereka membawa kami.(iaitu Syurga) “

Rujukan sunni: Rabi al-Abrar, oleh al-Zamakhsyari

Selain itu, diceritakan bahawa:

Rasulullah berkata: “Wahai Ali! (Pada hari kiamat)kamu dan Syiah kamu akan datang kepada Allah dengan senang dan menyenangkan, dan akan ada
datang kepada-Nya musuh-musuh kamu yang marah dan angkuh (yakni, kepala mereka di paksa keatas).

Rujukan sunni:
– Al-Tabrani, berdasarkan kuasa Imam Ali
– Al-Shawd’iq al-Muhriqah, oleh Ibnu Hajar al-Haythami, Ch. 11, bahagian 1, p236

Sebuah versi lebih lengkap daripada hadis yang juga telah dilaporkan oleh
Sunni, adalah sebagai berikut:

Ibnu Abbas (RA) meriwayatkan: Ketika ayat “Orang-orang yang beriman dan
amal soleh adalah yang terbaik daripada penciptaan (Al-Quran 98:7) “diturunkan, Rasulullah (saw) berkata kepada Ali: “Mereka adalah kamu
dan Syiahmu. “Dia melanjutkan:” Wahai Ali! (Pada hari kiamat), kamu dan
Syiah kamu akan datang ke arah Allah dengan senang dan menyenangkan, dan
musuhmu akan dating dengan marah serta kepala mereka dipaksa ke atas. Ali berkata: “Siapakah musuhmu? “Nabi (SAAW) menjawab:” Dia yang menjauhkan dirinya
daripada kamu dan mengutukmu. Dan berita kepada mereka yang pertama mencapai di bawah bayang-bayang al-’Arsh pada hari kebangkitan. “Ali bertanya:” Siapakah
mereka, wahai Rasulullah? “Dia menjawab:” Syiahmu, wahai Ali, dan
orang yang mengasihi kamu. “

Rujukan sunni:
– Al-Hafidh Jamaluddin al-Dharandi, tentang kuasa Ibnu Abbas
– Al-Shawd’iq al-Muhriqah, oleh Ibnu Hajar, Ch. 11, bahagian 1, hal 246-247

Kemudian Ibnu Hajar memberikan komentar aneh untuk hadis pertama, beliau berkata:
Syiah Ali adalah Ahlussunnah kerana mereka adalah orang-orang yang mencintai Ahlul –
Bayt sebagaimana Allah memerintahkannya kepada Nabi. Tetapi orang lain (iaitu, selain
Sunni) adalah musuh-musuh Ahlulbait kerana mencintai mereka di luar
batas hukum adalah permusuhan besar. Juga, musuh-musuh Ahlulbait adalah al-Khawarij dan mereka yang bersama-sama daripada Syria, bukan sahabat Muawiyah dan lain-lain kerana mereka ialah Muteawweloon, dan bagi mereka pahala yang baik, dan untuk Ali dan Syiah adalah sebuah pahala yang baik!

Rujukan sunni: al-Shawd’iq al-Muhriqah, oleh Ibnu Hajar, Ch. 11, bahagian 1,
p236

Dan ini adalah caranya bagaimana ulama Sunni menundukkan hadis nabi yang menyokong
“Syiah Ali”! Mereka mengatakan bahawa mereka adalah Syiah yang sebenar!

Mari kita lihat satu lagi hadis berkenaan hal ini:

Rasulullah berkata kepada Ali: ” empat orang Yang pertama yang akan
masuk Syurga adalah aku, kau, al-Hasan, dan al-Husain, dan keturunan kami
akan berada di belakang kami, dan isteri kita akan berada di belakang keturunan kita, dan Syiah kita akan berada di sekeliling kita. “

Rujukan sunni:
– Al-Manaqib, oleh Ahmad
– Al-Tabrani, seperti dikutip dalam:
– Al-Shawd’iq al-Muhriqah, oleh Ibnu Hajar Haythami, Ch. 11, bahagian 1, p246

Dari keterangan di atas, perkataan “Syiah” digunakan oleh Allah di dalam Quran untuk
Para nabi-Nya serta para pengikut mereka. Lebih lanjut lagi, Nabi Muhammad
(SAAW) telah berulang kali menggunakan kata ini untuk para pengikut Imam Ali (AS) dalam memuji kedudukan dan kualiti mereka.

Namun saya tidak menemukan istilah-istilah seperti “Ahlussunnah wal-Jama’ah”,
“al-Wahhabiyyah”, “al-Salafiyyah” di mana sahaja dalam Al-Quran atau
hadis Nabi. Saya bersetuju bahawa kita harus mengikuti Sunnah Nabi,
tetapi saya ingin mencari asal-usul istilah yang tepat di sini. Kami Syiah
berbangga dalam mengikuti Sunnah Nabi. Namun, persoalannya ialah yang mana satukah Sunnah yang asli dan yang mana yang tidak. Perkataan “Sunnah” dengan sendirinya tidak
memenuhi tujuan pengetahuan. Semua umat Islam dengan penuh keyakinan,
mendakwa bahawa mereka mengikuti Sunnah Nabi (sawa).

Harus ditekankan bahawa Rasulullah tidak pernah menginginkan untuk memecah-belahkan kaum Muslimin dalam berbagai pecahan kumpulan. Nabi telah memerintahkan semua orang untuk mengikuti Imam Ali (AS) sebagai pembantu baginda selama hidupnya Rasulullah, dan sebagai khalifah selepas ketiadaan baginda. Nabi berharap para sahabatnya mengikuti perintahnya. Tapi sayangnya para sahabat baginda, yang disayangi dan dikenali sebagai “Syiah Ali” terpaksa menahan pelbagi jenis diskriminasi dan menderita sejak hari pertama daripada kematian rahmat untuk Manusia, Nabi Muhammad (SAAW), sehinggalah sekarang.

Allah berfirman dalam Quran:
“Peganglah teguh-teguh kepada Tali Allah, kalian semua bersama-sama dan tidak berasingan”
(Al-Quran 3:103) “

Tali Allah yang tidak boleh dipisahkan dengan kita, adalah Ahlulbait. Bahkan, beberapa ulama meriwayatkan daripada Imam Ja’far ash-Shadiq (AS) berkata:
“Kami adalah Tali Allah tentang siapa yang Allah telah berfirman:” Peganglah teguh-teguh untuk yang Tali Allah, kalian semua bersama-sama dan tidak berasingan (3:103) ‘

Rujukan sunni:
– Al-Shawd’iq al-Muhriqah, oleh Ibnu Hajar Haythami, Ch. 11, bahagian 1, p233
– Tafsir al-Kabir, by al-Tha’labi, di bawah komentar dari ayat 3:103

Jadi, jika Allah mencela sektarianisme(sifat kepuakan), maka secara tidak langsung Dia juga mencela mereka yang berpisah daripada Tali-Nya, bukan orang-orang yang berpegang teguh kepadanya(Tali Allah). Juga terdapat beberapa pendapat mengatakan Tali Allah ialah Al-Quran. Pendapat ini juga benar. Mari kita lihat hadis berikut yang diriwayatkan oleh Ummu Salamah yang berkata:

Rasulullah berkata: “Ali bersama dengan Quran, dan Quran bersama dengan Ali.
Mereka tidak akan terpisah daripada satu sama lain sehingga mereka berdua kembali kepada-Ku berhampiran telaga ku (Syurga). “

Rujukan sunni:
– Al-Mustadrak, by al-Hakim, v3, p124 pada kuasa Ummu Salamah
– Al-Shawd’iq al-Muhriqah, oleh Ibnu Hajar, Ch. 9, bahagian 2, hlm 191.194
– Al-Awsat, oleh al-Tabrani, juga dalam al-Saghir
– Tarikh al-Khulafa, oleh Jalaluddin Al-Suyuti, p173

Kemudian kita bolehlah menyimpulkan bahawa Imam Ali ialah Al-Quran yang bercakap. Dari hujah ini, dapatlah disimpulkan juga bahawa Imam Ali ialah tali Allah yang kukuh kerana mereka (Al-Quran dan Ali) adalah tidak dapat dipisahkn. Bahkan, ada sejumlah besar hadis Sunni yang Sahih sumbernya di mana Nabi bersabda, “Al-Quran dan Ahlulbaitku tidak dapat dipisahkan dan jika umat Islam ingin tetap berada di jalan yang benar, mereka harus tetap pada KEDUA mereka.

Oleh kerana itu, kita bolehlah menyimpulkan bahawa mereka yang memisahkan diri mereka daripada Ahlulbait adalah bersifat kepuakan, yang dikecam oleh Allah dan Nabi-Nya kerana perbezaan mereka.

Bahkan, pendapat majoriti bukanlah kriteria yang baik untuk membezakan yang palsu
daripada kebenaran. Jika kamu melihat di dalam Quran, kamu akan melihat bahawa Quran terlampau banyak sekali mencela majoriti dengan sering mengatakan bahawa “majoriti tidak memahami “,” majoriti tidak menggunakan logika mereka “,” majoriti mengikuti hawa nafsu “…

Sebagai kesimpulan, saya telah menunjukkan dalam artikel ini bahawa istilah Syiah telah pun digunakan dalam Quran bagi para pengikut besar hamba-hamba Allah, dan dalam hadis-hadis Nabi bagi para pengikut Imam Ali (AS).
.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s