Fikih Salat versi Lima Mazhab

Fikih Salat Lima Mazhab

Fikih sebagai cabang (furuk) dalam agama Islam merupakan bagian yang paling sering diperselisihkan, dan kebanyakan orang menganggapnya sebagai hal yang menarik dan penting (terkadang gerakan salat dianggap lebih penting daripada khusyuknya shalat). Halaman ini ditulis bukan untuk memperkeruh perselisihan antarmazhab juga bukan untuk meningkatkan fanatisme mazhab.

Justru halaman ini ditulissebagai informasi agar kita mengenal “dunia lain” dalam Islam—jika kita hanya mengenal “dunia” dari mazhab kita sendiri. Saya berharap dengan mengenal saudara kita yang berbeda mazhab, tidak ada lagi prasangka dan permusuhan. Insya Allah.

Meskipun Ja’far Ash-Shadiq merupakan guru yang menghasilkan beberapa ulama besar, termasuk Abu Hanifah dan Malik bin Anas, namun penjelasan mengenai fikih salatnya akan ditempatkan diakhir. Diawal akan ditulis fikih salat empat mazhab Ahlussunah yang utama (Hanafi, Maliki, Syafii, Hanbali) secara garis besar karena mayoritas masyarakat Indonesia (seharusnya) sudah mengetahuinya. Diakhir barulah diterangkan mengenai fikih salat mazhab Syiah Ja’fari (Imamiah) yang umumnya belum diketahui.

Imam Abu Hanifah (699-767 M) (Mazhab Hanafi)

  • Takbiratul ihram boleh dengan Allahu Akbar atau Allahu A’zham (Maha Agung) atau Allahu Ajall (Maha Mulia) dan yang sesuai dengan makna lainnya.
  • Al-Fatihah wajib pada 2 rakaat pertama, sedangkan rakaat 3 atau 4 boleh diganti dengan tasbih atau diam. Boleh tidak membaca basmalah karena bukan bagian dari surah. Qunut hanya ada pada shalat witir. Sedekap adalah sunnah bukan wajib di bawah pusar.
  • Saat rukuk disunnahkan membaca

    سُبْحَانَ رَبي العَظِيْمِ

  • Saat sujud yang wajib menyentuh/menempel hanyalah dahi, sedangkan dua telapak tangan, dua lutut, ibu jari kaki hanyalah sunnah.
  • Lafaz tahiyyat:

    التَحِياتُ لله وَالصلَوَاتُ وَالطَيِبَاتُ وَالسَلامُ, عَلَيْكَ اَيُهَا النَبِي وَرَحْمَةُ الله وَبَرَكَاتُه, السَلامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَالِحِيْنَ, اَشْهَدُ اَنْ لا الَهَ اِلا الله, وَاَشْهَدُ اَن مُحَمَدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

  • Lafaz salam:

    السَلامُ عَليْكُمْ وَ رَحْمَة الله

Imam Malik (712-795 M) (Mazhab Maliki)

  • Takbiratul ihram wajib dengan Allahu Akbar.
  • Al-Fatihah wajib setiap rakaat. Basmalah bukan termasuk bagian dari surah, bahkan disunnahkan untuk ditinggalkan. Qunut hanya ada pada shalat subuh. Disunnahkan untuk tidak sedekap.
  • Saat rukuk disunnahkan membaca

    سُبْحَانَ رَبي العَظِيْمِ

  • Saat sujud yang wajib menyentuh/menempel hanyalah dahi, sedangkan dua telapak tangan, dua lutut, ibu jari kaki hanyalah sunnah.
  • Lafaz tahiyyat:

    التَحِيَاتُ لله الزَاكِيَاتُ لله الطَيِبَاتُ لله الصَلَوَاتُ لله, السَلامُ عَلَيْكَ اَيُهَا النَبِي وَرَحْمَةُ الله وَبَرَكَاتُه, السَلامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَالِحِيْنَ, اَشْهَدُ اَنْ لا الَهَ اِلا الله وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَه, وَاَشْهَدُ اَن مُحَمَدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

  • Lafaz salam:

    السَلامُ عَليْكُمْ وَ رَحْمَة الله

Imam Syafi’i (769-820 M) (Mazhab Syafi’i)

  • Takbiratul ihram boleh Allahu Akbar atau Allahu Al-Akbar.
  • Al-Fatihah wajib pada setiap rakaat. Wajib membaca basmalah karena bagian dari surah. Qunut sunnah setelah rukuk pada shalat Subuh. Sedekap adalah sunnah di bawah dada di atas pusar.
  • Saat rukuk disunnahkan membaca

    سُبْحَانَ رَبي العَظِيْمِ

  • Saat sujud yang wajib menyentuh/menempel hanyalah dahi, sedangkan dua telapak tangan, dua lutut, ibu jari kaki hanyalah sunnah.
  • Lafaz tahiyyat:

    التَحِيَاتُ المُبَارَكَاتُ الصَلَوَاتُ الطَيِبَاتُ لله, السَلامُ عَلَيْكَ اَيُهَا النَبِي وَرَحْمَةُ الله وَبَرَكَاتُه, السَلامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَالِحِيْنَ, اَشْهَدُ اَنْ لا الَهَ اِلا الله, وَاَشْهَدُ اَن مُحَمَدًا رَسُوْلَ الله

  • Lafaz salam:

    السَلامُ عَليْكُمْ وَ رَحْمَة الله

Imam Ahmad (780-855 M) (Mazhab Hanbali)

  • Takbiratul ihram wajib dengan Allahu Akbar.
  • Al-Fatihah wajib pada setiap rakaat. Basmalah bagian dari surah, tapi membacanya harus pelan. Qunut hanya ada pada shalat witir. Sedekap adalah sunnah di bawah pusar.
  • Saat rukuk diwajibkan membaca

    سُبْحَانَ رَبي العَظِيْمِ

  • Saat sujud yang wajib menyentuh/menempel adalah dahi, dua telapak tangan, dua lutut, ibu jari kaki ditambah hidung.
  • Lafaz tahiyyat:

    التحيات لله والصلوات والطيبات, السَلامُ عَلَيْكَ اَيُهَا النَبِي وَرَحْمَةُ الله وَبَرَكَاتُه, السَلامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَالِحِيْنَ, اَشْهَدُ اَنْ لا الَهَ اِلا الله وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَه, وَاَشْهَدُ اَن مُحَمَدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ, اللهُم صَلِ عَلَى مُحَمَد

  • Lafaz salam:

    السَلامُ عَليْكُمْ وَ رَحْمَة الله

Imam Ja’far Ash-Shadiq (699-765 M) (Mazhab Syiah Ja’fari)

  • Takbiratul ihram wajib dengan Allahu Akbar.
  • Al-Fatihah wajib pada 2 rakaat pertama, sedangkan rakaat 3 atau 4 boleh diganti dengan tasbih subhanallâh wal hamdulillâh wa lâ ilâha illallâh wallâhu akbar. Basmalah bagian dari surah dan wajib dibaca dengan jahr (nyaring) pada setiap shalat. Qunut adalah sunnah pada setiap shalat. Empat mazhab Ahlus Sunnah menyatakan sunnah membaca âmin, sedangkan Syiah adalah tidak. Tidak bersedekap dalam shalat.
  • Saat rukuk disunnahkan membaca

    سُبْحَانَ رَبي العَظِيْمِ وَبِحَمْدِه

    atau

    سُبْحَانَ الله

    tiga kali ditambah salawat.

  • Saat sujud yang wajib menyentuh/menempel adalah dahi, dua telapak tangan, dua lutut, ibu jari kaki, hidung adalah sunnah.
  • Lafaz tahiyyat/tasyahud:

    بسم الله وبالله والحمد لله وخير الأسماء لله اشهد لا إله إلا الله وحده لا شريك له, وَاَشْهَدُ اَن مُحَمَدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ, اللهم صل على محمد وآل محمد وتقبل شفعته ورفع درجته

  • Lafaz salam:

    السَلامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَالِحِيْنَ, السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Dari sekilas gambaran di atas, telah sepakat bahwa tiga mazhab Ahlus Sunnah (Hanafi, Syafi’i, Hanbali) menyatakan bahwa sedekap dalam shalat hanyalah sunnah, bahkan satu mazhab Ahlus Sunnah (Maliki) menyatakan sunnah untuk tidak sedekap. Karena itu janganlah heran jika Syiah pun tidak bersedekap, karena mazhab Maliki sebagai Ahlus Sunnah pun tidak sedekap. Tema mengenai sedekap dalam shalat akan dilanjutkan lain waktu, Insya Allah. Wallâhua’lâm.

Sumber:
Syekh Jawad Al-Mughniyah
Al-Fiqh ‘alâ Al-Madzâhib Al-Khamsah

Hemat Wudu Mazhab Ahlulbait

Masjid di kampus saya dulu—masjid besar di tengah universitas Islam yang masih berada di daerah ibu kota—kerap kali tidak mengeluarkan air. Dari belasan keran air yang tersedia, sering kali hanya satu keran yang mengeluarkan air. Bahkan kadang dengan aliran yang kecil. Sebagian mahasiswa mencari tempat lain; ke masjid luar kampus atau kembali ke fakultas. Tapi banyak yang rela mengantri.

Saya pernah ikut mengantri; hanya sekali dan tidak tahan. Dengan antrian yang panjang sambil harap-harap cemas, masih saja ada orang yang tanpa sadar dan tidak peduli berwudu dengan boros. Keran dibuka penuh, air mengalir nonstop, padahal sering kali dinasihati untuk membasuh bagian yang wajib saja. Bisa jadi, air yang terbuang jauh lebih banyak daripada air yang terpakai.

Dalam Tafsîr al-Mishbâh karya Quraish Shihab, diriwayatkan sebuah riwayat muttafaq ‘alaih bahwa Rasulullah saw. pernah bertanya pada Jabir sesaat setelah sahabat itu berwudu, “Mengapa engkau berlebih-lebihan?” “Apakah saat berwudu tidak boleh berlebih-lebihan, wahai Rasulullah?” Jabir balik bertanya. Rasulullah menjawab, “Ya, janganlah engkau berlebih-lebihan ketika wudu meski engkau berada pada air sungai yang mengalir.”

Bayangkan bagaimana Rasulullah saw. mengingatkan kita agar hemat menggunakan air meski air dari sungai yang mengalir. Padahal Indonesia, khususnya Jakarta, menghadapi krisis air bersih dan air yang digunakan bayar! Bayar dan dikuasai perusahaan kapitalis!

Wudu bukan sekedar bersih-bersihan secara fisik. Jika memang tujuan awalnya adalah kebersihan fisik, mungkin yang disyariatkan adalah mandi sebelum salat. Tapi lebih dari itu, wudu adalah sebuah proses simbolik. Membersihkan tangan dari mengambil hal-hal yang bukan haknya. Membersihkan wajah dan mata dari hal-hal yang diharamkan. Membersihkan sampai ke lengan dari perilaku saling sikut dan serakah. Hingga membersihkan kaki dari langkah-langkah maksiat.

Inilah nilai utama dari berwudu. Karena itu tidak jarang para ulama fikih (yang mungkin terimbas pemikiran tasawuf) menyatakan bahwa ketika kita berwudu, maka seluruh dosa-dosa kita terbawa mengalir bersama air sisa wudu.

Ahlulbait Mengajari Berwudu

Saya ingin berbagi tentang bagaimana ahlulbait nabi saw. mengajari kita berwudu. Saya tidak akan membahasnya secara detail, tapi hanya bagian-bagian yang terkait dengan bagaimana ahlulbait mengajarkan kita berwudu dengan hemat. Ingat, Rasulullah saw. hanya berwudu dengan satu mud air atau 0,6875 liter. Artinya, seukuran dengan botol pabrikan 600 ml lebih sedikit!

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan salat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan usaplah kepalamu dan kakimu sampai dengan kedua mata kaki… (Q.S. 5: 6)

Itulah ayat Quran yang menjadi landasan perintah wudu. Ayat tersebut menyebut bagian-bagian anggota tubuh yang menjadi wajib untuk dibasuh dan diusap. Perhatikan perbedaan kata membasuh (dengan air) dan mengusap (dengan sisa air).

Dalam Fiqh al-Imam Ja’far al-Shadiq, setelah niat mendekatkan diri kepada Allah Swt., dilanjutkan dengan membasuh muka satu kali, yaitu mengalirkan air wajib dari ujung tumbuhnya rambut kepala sampai janggut/dagu untuk ukuran memanjang dan apa yang dicakup ibu jari dan jari tengah untuk ukuran melebar.

Kemudian membasuh tangan wajib dimulai dari siku sampai ujung jari; tidak boleh sebaliknya. Tangan kanan didahulukan daripada tangan kiri. Imam Jafar al-Shadiq mengatakan bahwa berwudu satu kali adalah fardu, sedangkan dua kali hanya untuk penyempurnaan. Penggunaan air untuk membasuh bagian yang wajib berakhir di sini.

Setelah itu dilanjutkan dengan mengusap kepala. Usapan pada bagian depan kepala ini wajib dengan basahan sisa air wudu, bukan dengan air yang baru. Setelah itu barulah mengusap kedua kaki dari ujung jari sampai mata kaki, dan lebih utama sampai batas betis yang bersambung dengan kaki bagian atas (video tata cara wudu lihat di sini).

Antara mengusap dan membasuh bagian kaki memang menjadi salah satu perbedaan menonjol antara mazhab ahlusunah dan Syiah ahlulbait. Fikih ahlusunah mengembalikan kata “kaki” kepada “tangan” yang diperintahkan untuk dibasuh. Sedangkan fikih ahlulbait tetap pada posisi bahwa kaki setelah kepala haruslah diusap. Uniknya, ikhwan ahlusunah mengharamkan untuk mengusap, sementara lainnya mengatakan bahwa jika memakai sepatu kulit, mengusapnya lebih utama daripada membasuh kaki, dengan tujuan membedakan diri dengan Syiah.

Pembahasan detail mengenai dalil kedua mazhab tersebut bisa dibaca di buku al-I’tishâm bil-Kitâb was-Sunnah. Perbedaan terkadang perlu dihadirkan dan diketahui untuk mengenal beragam pendapat beserta dalilnya yang ada untuk saling mengenal.

Wudu; Nasihat dan Praktik Imam Khomeini

Dr. Mahmud Burujurdi, menantu dari Imam Khomeini, mengisahkan hal ini:

Beberapa kali saya melihat Imam mengambil wudu. Saya memperhatikan beliau menutup keran di antara wudunya dan membuka keran kembali ketika diperlukan, untuk menghindari air yang keluar secara berlebihan. Hal ini dilakukan ketika kebanyakan dari kita tidak memperhatikan hal sekecil ini dari perbuatan isrâf (pemborosan). Misalnya, ketika kita akan berwudu, keran akan terus terbuka sampai wudu kita selesai.

Kapanpun Imam ingin berwudu, beliau sangat berhati-hati dalam menggunakan air. Kewaspadaan selalu diperhatikan dalam setiap perilakunya. Beliau selalu mandi (sunah Jumat) sebelum salat Jumat pada siangnya, dan tidak pernah ditinggalkannya. Kapanpun Imam wudu, beliau selalu berusaha untuk menghadap kiblat. Meski pun tempat air wudu tidak menghadap kiblat, beliau memenuhi tangan dengan air, mematikan keran, menghadap kiblat dan membasuh wajah atau tangannya.

Kisah ini sangat membekas buat saya. Hampir setiap kali hendak ambil air wudu, saya akan ingat selalu contoh dari Imam tersebut. Sebenci apapun Anda kepada Imam Khomeini, pastikan Anda untuk meniru perbuatan baik yang ada padanya; tidak akan ada ruginya. Marilah kita kembali perhatikan wudu kita. Matikan keran disaat kita membasuh/mengusap dan bukalah kembali keran tidak lebih dari satu atau dua putaran. Berikut ini sebuah video singkat pandangan dan ucapan Imam Khomeini tentang air wudu yang disampaikan Sayid Ammar Nakshawani. Sedikit bagiannya saya terjemahkan di bawah. Semoga bermanfaat!

Apakah ketika hendak salat, Anda memperhatikan air yang digunakan untuk wudu? Ketika Anda mengambil air, perhatikanlah, dan pandangi air itu. Lihat betapa jernihnya air itu! Dengan air itu Anda harus jernih di hadapan Allah. Jika air yang kita gunakan harus jernih, mengapa perilaku kita di hadapan Allah tidak jernih? Segala sesuatu di dunia ini berasal dari air, karena itu yakinkan bahwa air wudu ini menjadi tanda awal yang baru antara kita dengan Allah Swt.

Tidakkah kita ingat hadis dari Rasulullah saw. tentang air? “Orang beriman bagaikan air yang menjernihkan segala sesuatu di sekitarnya.” Ketika kita melihat air ucapakanlah “aku ingin mulai menjernihkan teman-teman di sekelilingku.” Lihatlah bagaimana air itu membersihkan anggota tubuh kita. Sekarang katakan “aku akan mulai membersihkan hati dari keburukan.”

Tidak ada gunanya kita membersihkan anggota tubuh sedangkan hati penuh dengan dengki, cemburu, arogan, atau kasar. Ketika Anda melihat air itu, katakan “wahai air, sebagaimana engkau membersihkan anggota tubuhku, aku akan mulai membersihkan hati.”

Lihatlah Amirulmukminin Ali a.s.! Ketika beliau hendak mengambil air, beliau tahu itulah mata air kehidupan, tahu bahwa ia jernih sehingga beliau menjernihkan hati di hadapan Allah. Ketika beliau membasuh wajahnya, beliau mengatakan: “Ya Allah, sinarilah wajahku di hari pengadilan.” Ketika membasuh tangan kanannya, beliau mengucapkan, “Ya Allah, masukan aku ke dalam golongan kanan.” Ketika membasuh tangan kiri, beliau mengucapkan, “Ya Allah, jangan masukkan aku ke dalam golongan kiri.” Ketika mengusap kepalanya, beliau mengatakan, “Ya Allah, kepala ini tertunduk kepada-Mu di hari pengadilan.” Lihatlah Amirulmukminin ketika mengusap kakinya, beliau berkata, “Ya Allah, di hari ketika kaki-kaki tergelincir, jangan biarkan kakiku tergelincir di hari pengadilan.”

Kami, Syiah, Berjemaah dengan Kalian

Dalam perjalanan, saya dan rombongan melakukan salat berjemaah. Ini terjadi di Bali, saat kami salat secara qasar. Secara kebetulan posisi saya berada pada paling kanan saf. Benar-benar kebetulan, tanpa niat untuk salat di posisi paling pinggir. Kemudian salat berjemaah pun berjalan dipimpin dengan imam yang tahu kalau saya mengamalkan fikih Syiah Ahlulbait. Perlu untuk diketahui, bahwa sang imam adalah salah seorang anggota Dewan Syariah Nasional MUI.

Tanpa diduga, beberapa rombongan berkumpul bersama di Tanah Lot. Di sana ada saya dan imam salat tadi. Di sinilah beliau menyebut saya sebagai seorang Syiah dihadapan rekan-rekan yang bermazhab ahlusunah. Ini bukan pertama kalinya beliau memancing saya untuk berbicara mengenai Syiah. Di tempat kerja beliau, saya pernah diminta berbicara mengenai Karbala. Kembali saya menahan diri karena saat itu Isra Mikraj yang mana menurut saya kurang tepat untuk bicara tentang Karbala. Meski saya tahu slogan kullu yaumin ‘âsyûrâ (setiap hari adalah Asyura).

Saat berkumpul itu beliau mulai mengemukakan beberapa hal mengenai Syiah, di antaranya adalah mengenai tanah sebagai tempat sujud dan penetapan waktu Magrib dalam mazhab Syiah ahlulbait. Beliau memang orang yang cukup memiliki pengetahuan, meski menurut saya ada beberapa yang mesti diluruskan. Salah satunya ketika beliau menyinggung saya yang salat diposisi pojok saf. Ucapannya mengejutkan saya. Beliau mengatakan saya sengaja salat dipojok karena saya tidak berjemaah dan kalau saya salat ditengah maka barisan yang lain terputus! Astagfirullah! Beliau beranggapan bahwa saya salat hanya mengikuti gerakan saja. Padahal selama ini saya mengira beliau orang yang cukup “moderat” dan tidak terlalu mempermasalahkan suni-Syiah. Tapi pendapatnya kali ini sangat mengherankan.

Saat itu memang saya sudah mengatakan bahwa saya berjemaah. Tapi, bagaimana dengan rekan yang lain yang mungkin lebih percaya dengan ucapannya? Sungguh akan menjadi fitnah, bukan hanya bagi saya, tapi bagi mazhab ahlulbait. Meski, fitnahan tidak akan pernah terhenti dan terus terjadi bagi mazhab ini.

Padahal jika seandainya saya salat munfarid (sendiri) dan hanya meniru gerakan, artinya saya harus mengamalkan secara penuh fikih yang saya yakini. Mulai dari tidak takattuf (sedekap), memakai turbah, sampai mengeraskan bacaan basmalah. Justru jika saya salat sendiri, maka itu mengganggu kekhusyukan salat dan mungkin saya belum selesai membaca surah pendek, mereka sudah rukuk; yang jelas, sulit untuk melakukan “kepura-puraan”.

Kedua, sebagai seorang muqallid dari Ayatullah Ali Khamenei, saya akan terus mengamalkan pendapatnya dan tidak akan menentang fatwanya. Dalam risalahnya, Ajwibah Al-Istifta’at, kumpulan fatwa beliau disebutkan:

TANYA:
Bolehkah kita melakukan shalat jemaah di belakang muslimin Ahlussunah?

JAWABAN:
Melakukan shalat jemaah di belakang mereka diperbolehkan dengan didasari tujuan memelihara persatuan Islam.

Ya, hal ini karena menurut mazhab Syiah ahlulbait setiap yang telah meyakini Allah Yang Esa dan Muhammad adalah rasul penutup (meyakini syahadatain), maka dia adalah seorang muslim. Begitu pula dalam fatwa nomor 591:

TANYA:
Di tempat kami bergaul dan berbaur dengan para saudara seagama penganut mazhab Suni, saat bergabung dalam jemaah salat-salat harian, kami melakukan hal-hal tertentu seperti mereka, seperti salat dengan bersedekap, tidak menjaga waktu, dan bersujud di atas sajadah. Apakah salat demikian perlu diulang?

JAWABAN:
Bila (tujuan) memelihara persatuan Islam mengharuskan itu semua, maka salat bersama mereka sah dan cukup meskipun dengan sujud di atas sajadah dan sebagainya. Namun, bersedekap dalam salat bersama mereka tidak diperbolehkan kecuali bila keadaan mendesak.

Sekarang akankah saudara ahlusunah siap menjadi makmum dari imam bermazhab Syiah? Wallahualam.

Catatan:
Alasan lain mengapa halaman ini di-posting adalah karena teman saya kaget karena ada “model” shalat dengan tangan lurus 8O Sekali lagi, halaman ini bertujuan untuk saling mengenal antarmazhab ;)

Sudahkah Sujud di Atas Tanah?

mohrturbahAwalnya saya ingin memberi judul tulisan ini  “Pakai Turbah Pertama Kali di Kampus”, karena untuk pertama kalinya saya memakai turbah di kampus pada hari Sabtu. Karena di hari Sabtu pagi masjid kampus relatif sepi.

Apa itu Turbah?

Turbah adalah lempengan tanah (atau tanah liat) yang dipadatkan (dikeringkan dan dibekukan) dan biasanya digunakan oleh pengikut mazhab Syiah ahlulbait ketika sujud saat salat. Turbah berasal dari bahasa Arab yaitu turab, yang berarti debu atau lumpur. Bentuknya bermacam-macam; bulat, kubus, segi delapan atau persegi panjang. Beberapa turbah dihiasi ukiran asma Allah swt., ahlulbait, atau bentuk kubah masjid. Terkadang ada orang yang membalikkan turbah (sisi ukiran berada di bawah) agar lebih nyaman di dahi saat sujud.

Beberapa turbah zaman sekarang bisa menampilkan jumlah sujud dan rakaat yang telah dilakukan. Di dalamnya terdapat gerakan mekanik cakram yang memutar kertas bersimbol ketika seseorang sujud. Cakram akan kembali seperti awal ketika salat selesai. Nampaknya turbah ini dibuat untuk membantu orang yang mudah lupa (was-was) dalam jumlah sujud dan rakaat. Sekedar tambahan, ulama seperti Ayatullah Khamenei sudah memberikan fatwa tentang turbah seperti ini, “Jika ia termasuk benda yang sah dijadikan tempat sujud dan tidak bergerak saat meletakkan dan menekan dahi, maka sujudnya tidak terhalang secara syar’i.”

Mengapa Sujud di Atas Tanah?

Sujud secara bahasa berarti al-khudû’, yakni tunduk atau merendahkan diri. Sedangkan sujud dalam salat bermakna meletakkan dahi di atas tanah. Inilah wujud peribadatan dan “penghinaan” seorang makhluk di hadapan Khalik. Sampai-sampai disebutkan dalam riwayat, “Keadaan paling dekat antara seorang hamba kepada Allah adalah ketika sujud.”

Karenanya menurut saya, salat sejatinya bukanlah bacaan surah yang lama (apalagi dilama-lamain), tapi justru sujud yang lama. Kepala atau dahi dilambangkan sebagai bagian yang dimuliakan. Padahal hakikatnya manusia hanya diciptakan dari tanah (turâb, ardh) bahkan tanah hitam. Kesombongan manusia itu dihancurkan dengan menaruh lambang kemuliaan (dahi) ke tempat aslinya (tanah) di hadapan Sang Pencipta.

Sujud dalam Fikih dan Sejarah

Dalam fikih Syiah ahlulbait, sujud di atas tanah merupakan perintah Rasulullah dan para imam ahlulbait as. Dalam Fiqh Al-Imâm Ja’far diriwayatkan bahwa seseorang bertanya kepada Imam Ja’far tentang tempat yang boleh dijadikan tempat sujud. Lalu dijawab, “Tidak boleh sujud kecuali di atas ardh (tanah, bumi) atau yang tumbuh di bumi, kecuali yang dimakan atau dipakai.”

Orang itu bertanya apa sebabnya, kemudian Imam menjawab, “Sujud merupakan ketundukan kepada Allah, maka tidaklah layak dilakukan di atas apa yang boleh dimakan dan dipakai, karena anak-anak dunia adalah hamba dari apa yang mereka makan dan mereka pakai, sedangkan sujud adalah dalam rangka beribadah kepada Allah…” Hal ini sesuai dengan perintah Nabi Muhammad dalam Shahîh Al-Bukhârî:

جعلت لي الأرض مسجداً وطهوراً

“Dijadikannya tanah bagiku sebagai tempat sujud dan suci.” Artinya tanah bukan saja mensucikan untuk bertayamum tapi juga sebagai tempat sujud. Dalam segala kondisi Nabi selalu sujud di atas tanah. Pernah ketika terjadi hujan di bulan Ramadan, masjid Nabi yang beratapkan pelepah kurma menjadi becek. Abu Said Al-Khudri dalam riwayat Bukhari berkata, “Aku melihat Rasulullah dikening dan hidungnya terdapat bekas lumpur.”

Dalam kondisi panas, beberapa sahabat seperti Jabir bin Abdullah Al-Anshari biasanya  akan menggenggam dan membolak-balikkan kerikil agar dingin sebelum digunakan untuk sujud. Sedangkan beberapa sahabat yang lain mengadu kepada Nabi, tapi tidak ditanggapi.

عن خباب بن الأرت قال شكونا إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم شده الرمضاء في جباهنا وأكفنا فلم يشكنا

Khabab bin Al-Arat berkata, “Kami mengadu kepada Rasulullah saw. tentang sangat panasnya dahi kami (saat sujud), tapi beliau tidak menanggapi pengaduan kami.” (HR. Al-Baihaqi) Tapi ada juga sahabat yang mencari-cari kesempatan untuk sujud di atas kain, tapi ketahuan Rasul, sebagaimana juga diriwayatkan dalam Sunan Al-Baihaqî:

عن عياض بن عبد الله القرشي قال رأى رسول الله صلى الله عليه وسلم رجلا يسجد على كور عمامته فأوما بيده ارفع عمامتك وأومأ إلى جبهته

Iyad bin Abdullah Al-Quraisyi berkata, “Rasulullah saw melihat seseorang sujud di atas lilitan serbannya. Maka beliau memberi isyarat dengan tangannya untuk mengangkat serbannya sambil menunjuk pada dahinya.” Mungkin karena riwayat di atas dan banyak riwayat lainnya sehingga Imam Syafii pun mengatakan bahwa seseorang harus sujud di atas tanah:

وَلَوْ سَجَدَ على رَأْسِهِ ولم يُمِسَّ شيئا من جَبْهَتِهِ الْأَرْضَ لم يَجْزِهِ السُّجُودُ وَإِنْ سَجَدَ على رَأْسِهِ فَمَاسَّ شيئا من جَبْهَتِهِ الْأَرْضَ أَجْزَأَهُ السُّجُودُ إنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى

“Apabila seseorang sujud dan dahinya sama sekali tidak menyentuh tanah, maka sujudnya dianggap tidak sah. Tetapi jika seseorang sujud dan bagian dahinya menyentuh tanah (al-ardh), maka sujudnya dianggap cukup dan sah, insya Allah Taala.” (Al-Umm, 1/114)

Artinya, menurut mazhab Imam Syafii seseorang ketika sujud dahinya harus menyentuh tanah. Tapi apakah orang Syiah protes ketika teman-teman bermazhab Syafii sujud di atas sajadah yang terbuat dari kain sintetis? Lalu kenapa ada yang protes (bahkan menyebutnya musyrik) ketika orang Syiah sujud di atas tanah padahal itu sesuai dengan fikih mereka yang diajarkan ahlulbait?!

Meski demikian Rasulullah saw. memberikan keringanan untuk sujud di atas setiap benda yang tumbuh di atas tanah, jika memang cuaca sangat panas atau sangat dingin. Terkadang Rasul menggunakan khumrah (semacam tikar kecil) dan terkadang karena uzur/darurat beliau mengizinkan sahabat untuk menarik serbannya. Artinya selama bisa sujud di atas tanah, maka Rasul  melarang (seperti dalam riwayat Al-Baihaqi). Wallahualam.

Turbah al-Husain

Sebuah blog menyebut Syiah sebagai penyembah berhala. Hal itu karena mereka tidak memahami dengan benar makna “muslim”. Ketika seseorang bersyahadat dan menjadi muslim, maka yang disembah adalah Allah. Sedangkan syirik adalah menyembah selain Allah. Bagaimana mungkin menjadi musyrik dan menyembah berhala padahal dalam salatnya ia bertakbir, tahmid, tahlil, salawat dan seterusnya? Tentu kalian tidak ingin disebut sebagai penyembah berhala karena sujud di atas kain sajadah, ‘kan?

Turbah hanyalah sebuah lempengan tanah tempat orang-orang Syiah “sujud di atasnya” (masjûd ‘alaih) bukan “sujud kepadanya” (masjûd lahu). Lalu mengapa tanah Karbala atau turbatul Husain yang dipilih?

Pertama, yang diwajibkan adalah sujud di atas tanah atau yang tumbuh dari bumi kecuali yang dapat dimakan atau dipakai. Jadi menurut saya, tidak ada kewajiban untuk sujud di atas tanah Karbala dan sah walau bukan tanah Karbala. Kedua, menjadikan tanah Karbala sebagai turbah tidak berarti tanah Madinah dekat pusara Nabi saw. tidak memiliki keutamaan. Karena masing-masing memiliki keutamaannya sendiri.

Tanah Karbala adalah tempat terbunuhnya cucu Nabi dan keluarganya untuk membela Islam sejati yang hampir musnah. Tanah tersebut telah dibanjiri darah suci para syuhada yang berjuang di jalan Allah.  Kaum Syiah akan terus mengingat perjuangan Imam Husain as. Bukankah segala sesuatu yang berkaitan dengan Allah akan memiliki keutamaan? “Kemuliaan suatu tempat terletak pada siapa yang menempatinya,” kata pepatah. Wallahualam.

Antara Salat Gaib dan Salat Hadiah

Tulisan ini bisa dilihat dari dua sisi; perbedaan atau persamaan. Perbedaan karena dari sisi fikih memang beda, tapi maknanya memiliki kesamaan. Tapi saya ingin mengajak kita semua melihatnya dari sisi persamaan. Bagaimana maksudnya?

Selepas salat Jumat di depan masjid kampus, pengurus masjid biasanya mengajak jemaah untuk melakukan salat gaib. Biasanya salat gaib ini dilakukan karena “pesanan” jemaah masjid atau karena ada anggota pengurus masjid atau keluarga dari pengurus kampus yang meninggal. Sudah jelas dari namanya bahwa salat gaib adalah mensalati jenazah yang tidak ada dihadapannya, artinya memang benar-benar gaib.

Para ulama Ahlussunah berbeda pendapat tentang hukumnya. Ada yang mengatakan salat gaib boleh pada setiap yang meninggal baik sudah disalati langsung atau belum, ada yang mengatakan salat gaib hanya dilakukan oleh Rasulullah, ada yang mengatakan salat gaib hanya untuk tokoh terhormat dalam Islam, ada juga yang mengatakan salat gaib hanya untuk yang tidak disalati secara langsung.

Saya sendiri setelah salat Jumat tidak ikut melaksanakan salat ghaib dengan alasan tidak adanya istilah “salat gaib” dalam fikih Ahlulbait. Tapi saya tidak sendirian karena banyak juga teman-teman dan jemaah lain yang tidak ikut salat gaib meski notabene mereka Ahlussunah (karena memang pada dasarnya hukum salat gaib adalah tidak wajib).

Lalu bagaimana dengan fikih Ahlulbait? Salat gaib memang tidak dikenal dalam fikih Ahlulbait meskipun jenazah berada dalam satu kota/negeri. Tapi ada sebuah salat yang (menurut saya) memiliki persamaan dengan salat ghaib yang dilakukan saudara-saudara Ahlussunah, yakni shalat wahsyah. Salat yang juga disebut sebagai salat hadiah ini dikerjakan pada malam hari setelah jenazah dikubur (dengan waktu afdalnya adalah setelah magrib).

Tata cara salat hadiah ini tentu berbeda dengan salat ghaib. Jumlahnya adalah dua rakaat; setelah Al-Fatihah rakaat pertama dilanjutkan dengan surah Al-Ikhlas dua kali dan rakaat kedua surah Al-Kautsar sepuluh kali. Juga bisa ditambahkan dengan dua rakaat terpisah, yakni setelah Al-Fatihah pada rakaat pertama dilanjutkan dengan Ayat Kursi dan rakaat kedua dengan surah Al-Qadr sepuluh kali.

“Tidak akan datang kepada si mayat satu masa yang lebih dahsyat dan mengerikan daripada awal malam setelah mayat dikuburkan. Maka kasihinilah mayat di antara kamu dengan bersedekah, jika kamu tidak memperolehnya, salatlah dua rakaat…” Wallahualam.

Mengapa Saya Tidak Sedekap?

Mengapa sih saya masih bicara tentang fikih sedekap saat salat? Apa tidak ada lagi yang lebih bermanfaat? Atau mau memperpanjang perdebatan? Alasan awalnya sederhana: teman saya terkejut ketika tahu bahwa ada muslim yang salatnya tidak sedekap. Selain itu, melalui tulisan ini saya juga ingin menjelaskan alasan dibalik mengapa saya memilih untuk tidak sedekap.

Ketika menjelaskan perbedaan antara syariah dan fikih, senior saya mengatakan bahwa bersedekap saat salat itu syariah, tapi letak sedekapnya itu—di perut atau di dada—adalah fikih. Maksudnya bahwa syariah itu sudah kepastian agama dan tidak ada yang berbeda pendapat, sedangkan fikih relatif berbeda pendapat.

Menurut saya, salat adalah syariah sedangkan sedekap atau tidak adalah fikih, dan demikianlah adanya. Faktanya, ada sebagian kaum muslim yang tidak sedekap saat salat baik itu bermazhab ahlusunah (Maliki) atau bermazhab Syiah. Kalau saja memang sedekap itu syariah maka Syiah dan suni Maliki akan menyalahi syariat. Ini yang pertama.

Kedua, mengenai hukum sedekap (taktîf) itu sendiri. Mayoritas mazhab ahlusunah memandangnya sebagai sunah (tidak wajib). Sedangkan mazhab Maliki dari Ibnu Qasim mengatakan, “Saya tidak tahu tentang hal itu (sedekap) dalam salat fardu dan hal itu makruh. Tapi saat salat sunah tidak mengapa, dan hal itu terserah masing-masing untuk menentukan.”

Jadi, mazhab Maliki sendiri bisa dikatakan terpecah ke beberapa pendapat: sunah untuk sedekap, sunah untuk tidak sedekap, makruh jika sedekap. Lalu mengapa mazhab Maliki tidak sedekap? Ada beberapa alasan dari mazhab Maliki seperti yang disampaikan Lumumba Shakur, Imam Masjid & Islamic Center Virginia:[1]

  1. Meluruskan tangan dalam salat bukanlah sebuah perbuatan, tapi justru posisi alami dari tangan ketika berdiri (qiyâm). Ini sifat ashl-nya atau hukum asalnya.
  2. Para ulama berbeda pendapat dalam hal sedekap. Ibnu Rusyd mengatakan, “Perbedaan pendapat itu karena hadis yang meriwayatkan cara nabi salat tidak menyebutkan posisi tangan kanan di atas tangan kiri, tapi hanya orang-orang diperintahkan.” Hal yang paling penting, Sahl bin Saad periwayat hadis itu mengatakan, “Orang-orang diperintahkan agar sedekap dalam salat,” (Ibnu Hajar, Fath Al-Bârî, 2/334), jadi bukan nabi yang memerintah.
  3. Ibnu Abdul Barr dalam kitabnya, At-Tamhîd, menulis bahwa Mujahid berkata, “Jika tangan kanan diletakkan di atas tangan kiri, maka telapak tangan atau pergelangan berada di dada.” Rawi menambahkan dari Mujahid, “…dan dia tidak menyukainya.” Dari riwayat ini terlihat bahwa Mujahid, sebagai murid dari Ibnu Abbas, tidak melihat sahabat melakukannya.
  4. Dalam At-Tamhîd juga disebutkan bahwa Abdullah bin Yazid berkata, “Saya tidak pernah melihat Said bin Al-Musayyib memegang tangan kirinya dengan tangan kanannya saat salat, dia biasa meluruskannya.” Dari sinilah Imam Malik berpendapat karena Said bin Al-Musayyib adalah seorang tabiin dari Madinah.

Itu hanyalah sekilas mengenai pendapat ulama ahlusunah tentang mengapa ada sebagian dari mereka yang tidak sedekap. Teman saya yang ada di daerah Magrib memang mengatakan bahwa mayoritas masyarakat di sana tidak sedekap. Berikut ini sebuah video dari YouTube mengenai tata cara salat mazhab Maliki.

Kembali ke pertanyaan awal mengapa saya tidak sedekap adalah bahwa pertama, fikih Syiah ahlulbait tidak memerintahkan sedekap saat salat. Di kalangan ulama Syiah sendiri ada tiga pendapat: (1) haram dan membatalkan. (2), haram tapi tidak membatalkan. (3), tidak haram dan tidak membatalkan, kecuali jika seseorang melakukannya dengan niat bahwa sedekap itu diperintahkan syariat maka menjadi batal. Imam Jafar as. ditanya tentang sedekap saat salat, “Itu adalah takfîr. Janganlah engkau melakukannya.” (Fiqh Al-Imâm Ja’far).

Kedua, ketika ingin menciptakan persatuan mazhab, maka kita seharusnya memilih tidak sedekap. Kalau misalkan saya sedekap, maka tidak tercipta yang namanya persatuan karena tidak ada perbedaan di dalamnya, yakni semuanya satu; semuanya sedekap. Ketika seseorang tidak sedekap dan bersama-sama salat dengan saudara ahlusunah yang bersedekap, maka inilah yang disebut persatuan.

Ketiga, memperkenalkan bahwa dalam Islam juga ada mereka yang salat tapi tidak sedekap. Mungkin masih ada sebagian umat Islam yang fanatik dan malah menganggap sedekap itu wajib, padahal ulama menghukuminya sunah. Tapi karena dari kecil terbiasa melihat sedekap, lalu mengira hukumnya adalah wajib. Wallahualam.

Jadi, melalui tulisan ini saya bukan mengundang perdebatan dengan menyalahkan pihak manapun, tapi hanya sebatas perkenalan. Imam Khomeini berkata,

Umat muslim pada hari ini berdebat tentang apakah tangan harus sedekap atau tidak dalam salat, sedangkan musuh (Islam) pada hari ini memikirkan cara untuk memotong tangan-tangan itu.

Ada Apa dengan Azan Syiah?

Pembakaran dan penjarahan terhadap madrasah dan rumah kaum Syiah di Madura yang dilakukan sekelompok orang dengan mengatasnamakan Islam suni menjadi salah satu alasan mengapa saya menulis tentang masalah azan. Pasalnya, salah seorang yang disebut ulama setempat mengatakan, “Syiah dan suni di Iran sama-sama besar sehingga sering terjadi konflik… Azan mereka itu ditambahi dengan kalimat hayya ala khairil ‘amal dan asyhadu anna ‘Aliyyan waliullah.”

Pertanyaannya, benarkah Syiah dan suni di Iran sama-sama besar (dalam jumlah), karena menurut data jumlah Syiah di sana bisa mencapai 95%? Benarkah azan Syiah ditambahi dengan tiga syahadat? Apakah setelah mendengar pernyataan so-called ulama tersebut bulat-bulat kemudian otomatis darah dan harta kelompok Syiah menjadi halal?

Mengapa orang Syiah yang katanya musyrik tetap mengucapkan tiada tuhan selain Allah dalam azannya? Mengapa orang Syiah yang katanya meyakini Jibril salah memberi wahyu tetap menyatakan asyhadu anna Muhammad rasulullâh? Apakah hayya ‘alâ khairil ‘amal buatan Syiah? Tulisan yang dibuat sesederhana dan sesingkat mungkin ini dimaksudkan untuk saling mengenal tanpa perasangka, bukan memperkeruh suasana. Semoga bermanfaat.

Sejarah Azan Ahlusunah

Setidaknya lima kali dalam sehari kita mendengar azan. Tapi bagaimana asal-muasal azan menurut mayoritas umat muslim? Ketika kaum muslim secara jumlah semakin banyak, Rasulullah kebingungan[1] tentang bagaimana menyampaikan waktu salat. Maka beliau mengajak para sahabat untuk bermusyawarah.

Ada yang mengusulkan supaya dikibarkan bendera. Ada juga yang mengusulkan supaya ditiup trompet seperti yang biasa dilakukan oleh pemeluk agama Yahudi. Ada lagi yang mengusulkan supaya dibunyikan lonceng seperti yang dilakukan orang Nasrani. Ada juga seorang sahabat yang menyarankan untuk menyalakan api pada tempat yang tinggi agar orang bisa melihat cahaya dan asapnya. Lalu ada usul dari Khalifah Umar bin Khattab untuk menunjuk satu orang sebagai pemanggil kaum muslim untuk salat.[2]

Tapi bagaimana hal itu dilakukan dan apa lafaznya? Dalam riwayat Abu Daud[3], Abdullah bin Zaid dalam mimpinya melihat seseorang datang membawa lonceng. Ia bertanya, “Wahai hamba Allah, apakah engkau menjual lonceng itu?” Orang itu menjawab, “Apa yang akan engkau lakukan dengan lonceng ini?” Aku jawab, “Dengannya kami memanggil orang-orang untuk salat.” Orang itu berkata, “Maukah aku beri tahu cara yang lebih baik dari pada itu?” Abdullah bin Zaid menjawab, “Tentu.” Ia berkata, “Ucapkanlah:

Allâhu Akbar Allâhu Akbar. Asyhadu an-lâ ilâha illallâh (2 kali). Asyhadu anna Muhammada Rasûlullâh (2 kali). Hayya ‘alâ ash-shalâh (2 kali). Hayya ‘ala al-falâh (2 kali). Allâhu Akbar Allâhu Akbar. Lâ ilaha illallâh.

Setelah tiba waktu subuh, Abdullah bin Zaid menemui Rasulullah dan memberitahukan apa yang dilihatnya dalam mimpi. Beliau berkata, “Insya Allah, mimpimu benar.” Maka Rasul perintahkan untuk mengajarkan kepada Bilal. Umar bin Khattab yang sedang berada di rumah ternyata mendengarnya. Ia keluar dan berkata, “Demi Tuhan yang telah mengutusmu dengan kebenaran. Sungguh aku juga memimpikan apa yang dimimpikannya.”[4] Demikianlah secara singkat sejarah mengenai asal-usul pensyariatan azan menurut beberapa riwayat Bukhari, Abu Daud, maupun At-Tirmidzi.

Kita tidak tahu mengapa Rasulullah—pribadi yang diberi karunia besar berupa pengetahuan dari Allah—menjadi tidak tahu bagaimana cara menyeru orang salat. Kita juga tidak tahu mengapa seruan salat—sebagai ibadah utama dan bukan muamalat—disyariatkan melalui mimpi beberapa manusia biasa dan bukan nabi itu sendiri. Kita pun tidak tahu siapa yang mendatangi Abdullah bin Zaid dalam mimpinya. Namun, demikianlah riwayat masyhur tentang awal pensyariatan azan menurut jumhur.

Sejarah Azan Ahlulbait

Menurut mazhab ahlulbait azan disyariatkan pada tahun pertama hijriah, yang terdiri dari dua bagian: pertama, pemberitahuan tentang masuknya waktu; kedua, azan untuk salat wajib yang lima.[5] Jika menurut ahlusunah azan disyariatkan melalui mimpi Ibnu Zaid dan ditetapkan Rasulullah, menurut ahlulbait azan ditetapkan melalui wahyu Allah yang disampaikan kepada nabi melalui Jibril, sama seperti salat dan ibadah lainnya.

Dalam I’tisham bi Al-Kitab wa As-Sunah, Syekh Subhani mengutip riwayat dari Imam Al-Baqir a.s. yang berkata,

لمّا أُسري برسول اللّه (صلى الله عليه وآله وسلم) إلى السماء فبلغ البيت المعمور، وحضرت الصلاة، فأذّن جبرئيل (عليه السلام) وأقام فتقدم رسول اللّه (صلى الله عليه وآله وسلم) وصفَّت الملائكة والنبيون خلف محمّد صلى الله عليه وآله وسلم

Ketika Rasulullah melakukan isra ke langit, beliau sampai ke Baitul Makmur. Lalu tiba waktu salat. Maka Jibril a.s. melantunkan untuk mengerjakan salat dan membaca ikamah. Kemudian Rasulullah saw. maju ke depan, lalu para malaikat dan para nabi berbaris di belakang Muhammad saw.

Seorang ulama ahlusunah, Al-Muttaqi Al-Hindi, dalam Kanz Al-’Ummal meriwayatkan dari Zaid bin Ali:

أنَّ رسول الله عُلِّمَ الأذان ليلة المسرى ، وبه فُرِضَت عليه

Sesungguhnya azan diajarkan kepada Rasulullah pada malam isra, dan difardukan (salat) kepadanya.

Begitu juga di dalam bukunya mengenai fikih Imam Jafar Ash-Shadiq, Syekh Jawad Mughniyah menuliskan bahwa Imam Shadiq berazan sebagai berikut:

Allâhu Akbar Allâhu Akbar (2 kali). Asyhadu an-lâ ilâha illallâh (2 kali). Asyhadu anna Muhammadar Rasûlullâh (2 kali). Hayya ‘alâ ash-shalâh (2 kali). Hayya ‘ala al-falâh (2 kali). Hayya ‘alâ khair al-’amal (2 kali). Allâhu Akbar Allâhu Akbar. Lâ ilaha illallâh (2 kali).

Sumber: withfriendship.com

Apanya yang Berbeda?

Para imam fikih ahlusunah berbeda mengenai jumlah lafaz azan. Azan dengan 15 kalimat dipilih Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad. Azan dengan 17 kalimat dipilih oleh Imam Malik. Azan dengan 19 kalimat dipilih Imam Syafii. Demikian yang disebutkan dalam situs muslim.or.id. Membandingkan dua azan di atas, maka perbedaan sebenarnya hanya ada di kalimat hayya ‘alâ khair al-’amal, yang nanti akan kita singgung sekilas.

Lalu di mana kalimat asyhadu anna ‘Aliyyan waliullah? Sebenarnya kalimat tersebut tidak pernah dan tidak akan menjadi bagian dari azan, demikianlah ijmak ulama Syiah ahlulbait. Barang siapa yang mengucapkannya dengan niat bahwa itu bagian dari azan, berarti ia telah membuat bidah dalam agama dan telah memasukkan sesuatu yang di luar agama ke dalam agama. Mengutip kitab Al-Lum’ah dan syarahnya yang ditulis Syahid Awal dan Syahid Tsani (dua fakih Syiah), Syekh Mughniyah menulis:[6]

Tidak boleh meyakini disyariatkannya selain apa yang telah ditetapkan sebagai lafal-lafal azan dan ikamah, seperti kesaksian bahwa Ali adalah wali Allah dan kesaksian bahwa Muhammad dan keluarganya adalah sebaik-baik manusia, sekalipun kenyataannya memang demikian. Setiap kenyataan tidak berarti boleh dimasukkan dalam ibadah yang terpaku pada ketentuan Allah Swt. Karena itu merupakan bidah dan pembuatan syariat sendiri, sama halnya menambah rakaat atau tasyahud dalam salat…

Jadi, pengucapan itu diniatkan bukan sebagai bagian dari azan. Sebagaimana tidak bolehnya orang Syiah melafazkan syahadat ketiga dalam bacaan tasyahud salat atau tidak bolehnya ahlusunah melantunkan salawat kepada sahabat nabi dalam bacaan tasyahud salat, tetapi cukup kepada nabi dan keluarganya. Saya berharap, sampai di sini, kita masih bisa melanjutkan perkenalannya.

Mari Melakukan Amal Terbaik

Demikianlah terjemahan hayya ‘alâ khair al-’amal. Di antara hadis yang menjelaskan tentang kalimat tersebut dalam azan termuat dalam Sunan Al-Baihaqî (jil. 1, hal. 424), salah satunya:

حاتم بن إسماعيل عن جعفر بن محمد عن أبيه أن علي بن الحسين كان يقول في أذانه إذا قال حي على الفلاح قال حي على خير العمل ويقول هو الأذان الأول

Hatim bin Ismail dari Jafar bin Muhammad dari ayahnya, sesungguhnya Ali bin Husain dalam azannya setelah mengucap hayya ‘ala al-falâh dilanjutkan dengan hayya ‘alâ khair al-’amal. Ia berkata, “Demikianlah al-adzân al-awwal.”

“Azan pada awalnya” yang dimaksud adalah azan pada zaman rasul. Selain dari cucu nabi, Ali bin Husain, hadis juga diriwayatkan berasal dari Ibnu Umar dan Sahal bin Hunaif. Namun satu riwayat di atas saya anggap cukup, karena sepertinya, riwayat tersebut tidak dianggap kuat sehingga tidak menjadi bagian dari azan sekarang.

Berdasarkan beberapa riwayat, Sayid Syarafuddin mengatakan[7] bahwa penghapusan kalimat hayya ala khairil ‘amal terjadi setelah zaman rasul saw. Hal itu dilakukan untuk membangkitkan semangat jihad kaum muslim. Jika diserukan bahwa salat adalah “amal yang paling baik” maka akan menghambat orang awam untuk melaksankan jihad. Terlihat dalam kecenderungan pemerintahan setelah rasul adalah perluasan wilayah ke berbagai penjuru negeri.

Demikianlah pembahasan mengenai azan yang coba disampaikan secara singkat. Tulisan ini bukan bertujuan untuk menyalahkan atau membenarkan pihak mana pun, tetapi—sekali lagi—untuk mengenal pendapat dari berbagai macam mazhab, karena setiap madrasah pemikiran memiliki sumber penyimpulan hukumnya masing-masing. Semoga dengan perkenalan ini tidak lagi terjadi hal-hal yang merusak persatuan umat Islam. Insya Allah.

Karena di bulan Safar ini kita akan memperingat 40 hari wafatnya cucu nabi di Karbala, tulisan tentang azan akan saya tutup dengan sebuah riwayat mengenai Imam Ali Zainal Abidin. Setelah peristiwa Karbala dan rombongan keluarga Rasulullah saw. sampai di Madinah, Ibrahim bin Thalhah bin Ubaidillah mencemooh Imam Ali Zainal Abidin a.s. seraya berkata, “Hai Ali bin Husain, siapakah yang menang di dalam perang ini?!” Imam Ali Zainal Abidin dengan tegas menjawab, “Bila kau ingin tahu siapa yang menang, maka ketika masuk waktu salat, kumandangkanlah azan dan ikamah! (Kau akan mengetahui siapa yang menang dari nama yang disebut).”[8] Wallahualam.

Jabat Tangan Setelah Salat

Saya pernah menulis tentang hal ini pada tahun 2008 yang lalu, tapi kembali memperbaruinya setelah membaca koran Republika beberapa hari yang lalu. Di kolom suarapublika, seorang warga Lenteng Agung menuliskan pengalamannya ditolak salaman setelah salat. Setelah membaca pengalaman bapak itu, yang segera terlintas dipikiran saya: Wahabi. Berikut pengalaman orang tersebut:

Pada Jumat, 11 Juni 2010, saya salat Jumat di Masjid At-Tin. Seperti biasa, setelah azan pertama, saya melakukan salat qabliah Jumat, lalu setelah itu saya bersalaman dengan orang yang duduk di sebelah kanan dan kiri saya. Setelah selesai salat Jumat berjemaah, saya kembali bersalaman dengan orang yang duduk di kanan dan kiri saya, tapi dengan hati setengah kaget dan kecewa saya ditolak bersalaman dengan orang yang sama yang duduk di sebelah kiri saya. Saya berpikir apakah ada doktrin yang melarang bersalaman untuk kedua kalinya dengan orang yang sama terhadap pengikut jemaah tertentu?

Apakah karena saya sudah bersalaman sesudah salat qabliah sehingga yang kedua ditolak? Adakah hadis yang melarang berjabatan tangan kedua dengan orang yang sama pada salat Jumat? Setahu saya, Rasulullah saw. menganjurkan umatnya untuk saling berjabat tangan. Mohon jawaban dari siapa saja yang tahu tentang hal tersebut.

Ini bukan jawaban dari pertanyaan bapak di atas, tapi sekedar opini. Saya, alhamdulillah, belum pernah ditolak saat salaman setelah zikir/doa. Tapi direspon dengan salaman gaya terpaksa atau sambil buang muka, pernah. (Tidak salaman biasanya setelah salat, tanpa zikir, orang di sebelah saya langsung pergi melihat saya tidak sedekap).

Seluruh umat muslim sepakat bahwa mengucapkan salam dan berjabat tangan adalah perilaku yang memiliki nilai keutamaan. “Bahwa dua orang yang bertemu dan bersalaman akan diampuni dosa mereka sebelum berpisah.” (HR. Ibnu Majah). Dalam riwayat ahlulbait, misalnya dari Bihâr al-Anwâr, Rasulullah saw. bersabda, “Bersalamanlah, karena bersalaman itu akan menghilangkan kebencian.”

Keutamaan bersalaman ini segera hilang jika dilakukan setelah salat, menurut ulama Wahabi. Salah satu dalil yang digunakan adalah hadis riwayat Muslim, “Barang siapa yang melakukan pekerjaan (amal) yang tidak ada perintahnya dari kami, maka tertolak.” Jadi, karena nabi atau salaf saleh tidak mencontohkan, pokoknya bidah. Saya pernah membaca buku mengenai “sekian ratus kesalahan dalam salat”. Menurut pengikut Wahabi—yang sekarang mencatut nama salafi, termasuk bidah dalam salat antara lain: mengusap muka setelah salat, doa setelah salat dipimpin imam, zikir dengan (alat) tasbih, mengangkat tangan ketika berdoa setelah salat fardu.

Fatwa Syekh Abdulaziz bin Baz

Tanya
Bagaimana hukum bersalaman setelah salat, dan apakah ada perbedaan antara salat fardu dan salat sunah ?

Jawab
Pada dasarnya disyariatkan bersalaman ketika berjumpanya sesama muslim… Disukai bersalaman ketika berjumpa di masjid atau di dalam barisan, jika keduanya belum bersalaman sebelum salat maka bersalaman setelahnya, hal ini sebagai pelaksanaan sunah yang agung itu disamping karena hal ini bisa menguatkan dan menghilangkan permusuhan.

Kemudian jika belum sempat bersalaman sebelum salat fardu, disyariatkan untuk bersalaman setelahnya, yaitu setelah zikir yang masyru’. Sedangkan yang dilakukan oleh sebagian orang, yaitu langsung bersalaman setelah salat fardu, tepat setelah salam kedua, saya tidak tahu dasarnya. Yang tampak malah itu makruh karena tidak adanya dalil, lagi pula yang disyariatkan bagi orang yang salat pada saat tersebut adalah langsung berzikir, sebagaimana yang biasa dilakukan oleh Nabi saw. setelah salat fardu.

Adapun salat sunah, maka disyariatkan bersalaman setelah salam jika sebelumnya belum sempat bersalaman, karena jika telah bersalaman sebelumnya maka itu sudah cukup. [Group assunnah]

Disadari atau tidak, gencarnya dakwah salafi beberapa tahun terakhir berdampak pada perubahan sebagian masyarakat. Semakin sering kita melihat orang-orang berpakaian a la Taliban atau Pakistan di jalan raya, semakin banyak pula perbuatan atau amalan yang dilabeli bidah. Wajar, karena mereka ingin “memurnikan” ajaran Rasulullah saw. Malah kalau bisa, persis seperti zaman itu.

Syekh Muhammad Jawad Mughniyah pernah berkata, “لكلّ بداية نهاية إلاّ الإفتراء على الشّيعة. Setiap awal tentu berakhir, kecuali fitnahan terhadap Syiah.” Benar saja, fitnah atau tuduhan sampai juga ke Syiah hatta dalam masalah jabat tangan setelah salat. Beberapa situs—yang kemudian di-copy-paste ke situs lain—menulis, “… bersalaman sesudah salat adalah tradisi kaum Syiah yang suka merubah-rubah ajaran Rasulillah shallallahu ‘alaihi wasallam.” [voa-islam.net]

Padahal salaman setelah salat dalam “budaya” mazhab Syiah jarang saya temui. Beberapa kali salat berjemaah dengan ikhwan Syiah (termasuk yang dari Iran) jarang sekali ada yang bersalaman. Tapi ketika berjemaah dengan ikhwan ahlusunah, khususnya yang tradisionil seperti warga NU, hampir seringkali bersalaman. Imam Nawawi mengatakan bahwa salaman setelah salat adalah bidah mubahah (boleh dilakukan boleh tidak) [dnuxminds]. Di Forum Diskusi Nahdlatul Ulama, sempat terjadi dialog ketika seorang salafi memulai pembahasan jabat tangan seusai salat. Ada yang menulis, “Apakah nabi mengajarkan kalau ada orang ngajak salaman setelah salat maka biarkan saja/enggak usah tanggapi salamannya?”

Fatwa Ayatullah Ali Khamenei

Tanya
Apa pendapat (fatwa) Yang Mulia tentang perbuatan saling berjabat tangan antara mushalli seusai salat? Perlu disebutkan bahwa sebagian ulama agung mengatakan, bahwa karena tidak ada keterangan riwayat dari para imam suci ahlulbait as. yang menyebutkan masalah ini, maka tidak ada alasan untuk melakukannya. Namun, kami mengetahui bahwa saling menjabat tangan akan semakin memperat tali persahabatan dan cinta antarsesama jemaah salat?

Jawab
Saling menjabat tangan setelah salam (bagian akhir salat) tidaklah terhalang. Secara umum, menjabat tangan seorang mukmin adalah sesuatu yang dianjurkan (mustahab).

Catatan: Lagi dan lagi. Tulisan ini bukan bertujuan membesarkan masalah kecil, bukan juga memperkeruh, apalagi menciptakan perpecahan. Saling mengenal bisa menghilangkan prasangka. Wallahualam.

Takbir Allahu Akbar yang Dilecehkan

Sewaktu berada di Madinah, Dr. Ali Syariati mendengar sesuatu yang belum pernah ia dengar sekalipun dari mulut seorang Syiah yang bodoh. Ali Syariati mendengar seseorang yang disebut ulama mengatakan, “Orang-orang Syiah jika mereka telah melaksanakan salat, mereka akan menepuk-nepuk pahanya sebanyak tiga kali dan menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri lalu berkata khanal Amin (Jibril telah berkhianat)…”

Mungkin, melalui ‘ulama’ seperti inilah ada orang yang mengatakan bahwa salah satu kemiripan antara Syiah dengan Yahudi [atau Kristen seperti yang dilakukan orang ini] adalah selesai salat mereka memukul paha. Melalui ‘ulama’ seperti ini juga ada seseorang yang setelah melihat saudaranya yang Syi’i salat, lalu berkata, “Syiah kalau salat mukul-mukul paha ya?” Melalui ‘ulama’ semacam ini juga ada orang Kuwait yang tanya ke saya di chat room, “Kenapa selesai salat, orang Syiah memukul-mukul paha?”

Padahal sesungguhnya yang dilakukan oleh orang-orang Syiah adalah selalu mengangkat tangan setiap takbir (Allâhu Akbar) termasuk takbir tiga kali setelah salam. Di saat takbir terakhir itulah ada beberapa muslim Syiah yang juga menengok ke kanan dan kiri—sama seperti ikhwan ahlusunah yang menengok ketika mengucapkan salam. Karena menurut beberapa riwayat (seperti di dalam Musnad Ahmad), Nabi itu selalu mengangkat tangannya ketika takbir.

وكان رسول الله صلى الله عليه وسلم يرفع يديه في كل تكبيرة من الصلاة

Mengenai hakikat dan rahasia dari mengangkat tangan ketika salat, Imam Khomeini mengutip riwayat dari Imam Ali ar-Ridha as (dalam Syarh Al-Arba’în Haditsan), “Diangkatnya kedua tangan dalam takbir untuk memperagakan ketundukan, kerendahan, dan kekhusyukan. Allah menginginkan agar saat mengingat-Nya, seorang hamba bersikap tunduk, merendah, dan khusyuk. Selain itu, mengangkat kedua tangan juga berperan memantapkan dan memusatkan hati.”

Imam Khomeini dalam salah satu karyanya yang monumental, Sirr ash-Shalâh: Mi’râj as-Sâlikîn wa Shalâh al-‘Ârifîn, juga mencoba menafsirkan makna tiga takbir penutup dalam salat. Takbir pertama adalah bukti bahwa sâlik (pesuluk, orang yang melakukan perjalanan spiritual) telah menyaksikan kemunculan Dzât di hadirat nama dan sifat. Takbir kedua, sâlik telah menyaksikan tajallî nama-nama di kehadiran entitas dan tajallî Dzât. Takbir ketiga sâlik menyaksikan sekaligus tajallî dzât, nama, dan af’âl pada cermin entitas luar. Wallahualam.

Catatan: Fanatisme membutakan segalanya!

One comment

  1. artikel bagus,
    bisa membuat ane berfikir jernih tentang bab sholat,
    dan perlunya saling menghormati sesama muslim.
    thanks ya gan.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s