Bulan: November 2012

Menyikapi Fatwa MUI Jatim ! membantah DR (HC) KH MA’RUF AMIN

Wahabi Melecehkan NU. Belajar ke Saudi, Pulangnya Bisa Jadi Teroris !! Gelombang pengiriman pelajar ke Saudi membawa ‘oleh-oleh’ militansi di Indonesia. Di antaranya membenci Ahl al-Sunnah wal Jamaah dengan melecehkan amalan warga NU dan mengadu domba NU – Syiah di Sampang Madura. Apa anda mau warga NU ramai ramai jadi wahabi setelah nonton RODJA TV dan Insan TV ?

Titik problem antara wahabi dan NU bukan terletak pada dimensi ukhuwah, namun prinsip ushul atau pokok dalam ajaran agama Islam. Ketika ajaran wahabi dan NU dibawa ke masalah akidah, maka saat itu pula wahabi dan NUterlihat bagai minyak dan air.

Berbagai upaya mewahabikan NU biasanya dilakukan lewat berbagai cara, namun cara yang cukup ampuh ditempuh lewat jalur pendidikan. Jika seseorang belajar ke Amerika, belum tentu murtad. Akan tetapi, jika kita belajar ke Saudi, pulangnya bisa menjadi seorang wahabi teroris atau melecehkan NU.

Jalaludin Rahmat Ajak kaum Syiah  Bersatu
JALALUDDIN Rahkmat, Ketua Dewan Syura Ikatan Jemaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI), secara tegas mengajak bahwa pihak Syiah akan berusaha bersatu

Opini KH. Ma’ruf Amin Al Wahabi di Harian Nasional Republika tentang pengesahan MUI Pusat terhadap fatwa MUI Jatim kamis, 8 Nov 2012, mendapat balasan yang sangat pedas

Ketua Dewan Syuro Ikatan Ahlu Bait Indonesia, Jalaluddin Rakhmat. Tokoh Syiah Indonesia tersebut menulis opini   pada Harian Republika dengan judul “Menyikapi Fatwa tentang Fatwa” pada hari sabtu, 10 Nov 2012.

“Fatwa salah yang disampaikan oleh lembaga yang mengklaim berhak memberikan fatwa sama seperti obat yang salah yang diberikan kepada pasien. Alih-alih menyembuhkan, ia bisa membunuh. Di antara fatwa yang telah ikut serta atau menyertai terbunuhnya seorang Muslim (Baca: Orang Syiah) di Sampang adalah fatwa MUI Sampang.”

Jalaluddin Rakhmat mempertanyakan strata kelimuan mereka, “Apakah anda lebih berilmu dari mereka?”

 Ia melanjutkan, “Sebelum mengeluarkan fatwa tentang kesesatan Syiah, apakah menurut Bapak-bapak tidak perlu mengkaji fatwa para ulama internasional itu, apalagi menyetujuinya, karena mereka tidak lebih alim dari Bapak-bapak?”

Tokoh Syiah dari Bandung tersebut terus melanjutkan, “Cukupkah bagi Bapak-bapak mengumpulkan anggota-anggota MUI se-Jatim plus beberapa orang ulama dari MUI Pusat, lalu mengeluarkan fatwa bahwa Syiah itu sesat? Apakah para ulama di MUI Sampang dan para ulama MUI Jatim yang berkumpul di Surabaya itu memang lebih berilmu ketimbang ulama internasional yang berkumpul di Amman, Makkah dan Bogor?”

Harian Republika Kamis 8 Nopember 2012 memuat opini bertajuk “Menyikapi fatwa MUI Jatim’. Tanpa bermaksud merendahkan penulisnya, banyak kejanggalan dalam artikel tersebut, yang bila tidak ditanggapi bisa dianggap sebagai pandangan yang menjustifikasi aksi kekerasan terhadap sesama warga negara.

Tulisan ini tidak ditujukan kepada penulis artikel tersebut maupun pihak-pihak yang secara sadar menganggap pensesatan dan pengkafiran Muslim Syiah sebagai cara mengais pahala Amar Makruf dan Nahi Munkar, namun ditulis semata-mata sebagai sebuah pertanggungjawawaban moral menggunakan hak jawab.

Namun karena terbatasnya jumlah karakter dalam kolom, artikel ini hanya menanggapi paragraf pertama dalam opini tersebut.

Artikel yang ditulis DR. (Honoris Causa), Ma’ruf Amin, dibuka dengan paragraf sebagai berikut: “

“Di antara wewenang Majelis Ulama Indonesia (MUI) adalah menetapkan fatwa terkait masalah akidah yang menyangkut kebenaran dan kemurnian keimanan umat Islam Indonesia (lihat Pedoman dan Prosedur Penetapan Fatwa MUI)”

Mari kita urai paragraph tersebut secara silogistik demi mengukur validitasnya.

1. Di antara wewenang Majelis Ulama Indonesia

Bila wewenang tersebut diperoleh dari MUI sendiri, maka itu berarti MUI memberikan wewenang kepada dirinya sendiri. Bila subjek pemberi wewenang adalah objek penerima wewenang itu sendiri, maka hal itu meniscayakan paradoks.

Bila wewenang tersebut diperoleh dari luar MUI, maka wewenang tersbut haruslah diberikan oleh lembaga yang lebih tinggi. Sedangkan MUI bukan bagian dari setruktur negara, sehingga wewenang yang diklaimnya tidak valid.

Bila MUI memperoleh wewenang dari Negara dan menjadi bagian dari strukur negara, maka konskuensinya adalah agama Islam menjadi bagian dari konstitusi negara. Bila agama Islam menjadi bagian dari konstitusi, maka Negara menafikan Pancasila sebagai dasarnya.

2. Menetapkan Fatwa

Dalam konstitusi dan UUD, fatwa adalah produk hukum yurisprudensi yang menjadi wewenang lembaga yudikatif, yaitu Mahkamah Agung dan lembaga-lembaga peradilan di bawahnya, sebagaimana disebutkan dalam undang-undang no 4 tahun 2004 atau yang lebih purba lagi dalam Staatsblad 1847 no 23, pasal 22 AB. Dengan demikian, produk hukum apapun yang tidak dikeluarkan oleh lembaga yudikatif tidak memiliki asas, bahkan bisa dianggap sebagai inkonstitusional.

DR (HC) KH MA’RUF AMIN  menulis artikel “panas” berjudul : “Menyikapi Fatwa MUI Jatim ”  . Penulis tsb adalah Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat Bidang Fatwa. Tulisan ini diambil dari rubrik opini Harian Republika, Kamis, (08/11/2012) juga dari  web http://www.syiahindonesia.com/index.php/sajian-umum/kolom-analisa/984-menyikapi-fatwa-mui-jatim-

.
BAGAiMANA BANTAHAN pihak syi’ah ??

Ocehan kiai Ma’ruf tidak perlu didengar karena dia punya motif politik !!!

Demi Pemilu 2014 maka apapun dilakukan !! Namun dia lupa bahwa 2,5 juta jiwa penganut mazhab syi’ah di Indonesia juga ber KTP merah putih !!!

Apakah mbah kiai mau menyeret nyeret NU kedalam dunia politik ?? Kalau sampeyan mau berpolitik maka lebih baik mbah kiai tidak usah menggunakan syi’ah sebagai alat mencari sensasi !! Cari saja batu loncatan lain agar menang pemilu ya mbah…

baca juga : Ulama Anti Syi’ah di MUI ada yang bermotif politik dan ada yang bermotif separatis ! Fatwa anti syi’ah tidak layak keluar dari orang seperti ini

baca juga : Cholil Ridwan ulama wahabi di MUI ingin dirikan negara Islam dan mengharamkan umat Islam untuk memberi hormat kapada bendera dan lagu kebangsaan
http://forum.tribunnews.com/showthread.php?466353-Ma-ruf-Amin-Ajak-Kaum-Nahdiyyin-ke-PKB

Ma’ruf Amin Ajak Kaum Nahdiyyin ke PKB

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK -

Kiai kharismatik KH Ma’ruf Amin secara terang-terangan mengajak para nahdliyin kembali ke Partai Kebangkitan Bangsa, karena PKB merupakan satu-satunya partai yang dilahirkan oleh Nahdatul Ulama (NU).

“Kini tibalah saatnya bagi kita, kaum nahdliyyin, kaum Ahlussunnah wal Jama’ah, umat Islam dan rakyat Indonesia dari berbagai latar belakang yang berbhineka untuk kembali ke PKB demi mengutamakan kemaslahatan publik yang jauh lebih besar,” ujar KH Ma’ruf Amin dalam siaran persnya, Senin, (6/8/2012), lalu.

Ketua Komisi Fatwa MUI itu menjelaskan, NU dan PKB memiliki hubungan yang tidak hanya bersifat idiologis, namun juga biologis. Hubungan NU dan PKB telah terpatri kuat secara lahir-batin, layaknya orangtua dan anak yang saling membutuhkan, saling menyayangi, dan saling menghargai.

Dalam kaitan ini, warga nahdliyin membutuhkan PKB sebagai wadah penyaluran aspirasi politik dan PKB membutuhkan dukungan dan partisipasi warga nahdliyin untuk bersama-sama memperjuangkan dan mewujudkan aspirasi politik mereka demi tercapainya kemaslahatan publik dalam konteks bernegara, berbangsa dan bermasyarakat.

Secara sederhana, imbauan KH Ma’ruf Amin kepada nahdliyin dan rakyat Indonesia untuk kembali membesarkan PKB dilandasi beberapa alasan. Pertama, PKB merupakan satu-satunya partai yang dilahirkan dari rahim NU.

Bukankah  raja Arab Saudi, Abdullah, memperkenankan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad yang bermadzhab Syiah untuk menunaikan ibadah hajinya ketanah suci Mekkah dan Madinah ??

 Pada tanggal 27/11/2012, Harian Republika memuat artikel Haidar Bagir dengan tema “Proporsional Menyikapi Fatwa”. Pada intinya Haidar menganggap bahwa tulisan KH. Dr. Ma’ruf Amin yang memperkuat fatwa MUI Sampang dan MUI Jatim kurang tepat. Anggapan Haidar ini didasarkan karena fatwa MUI Jatim menyatakan Syiah sebagai aliran sesat seharusnya dibatasi pada kasus Sampang, bukan semua Syiah.

Haidar menyebutkan bahwa mainstream Syiah mengharuskan bersikap hormat terhadap Sahabat Nabi. Bahkan untuk meyakinkan klaimnya ini, ia menyatakan: “Sekadar ilustrasi, dalam buku-buku yang ditulis para ulama Syiah, kita tak dapat menemui periwayatan “peristiwa al-ifk” yang melibatkan dakwaan perselingkuhan kepada Siti Aisyah”. Benarkah demikian? Artikel ini bermaksud menguraikan pandangan beberapa ulama Syiah terkemuka tentang istri-istri dan Sahabat Nabi yang terabadikan dalam kitab-kitab Syiah. Dengan demikian diharapkan artikel ini bisa membantu memahami ajaran Syiah dari sisi yang lebih lengkap, tanpa harus memutuskan hal-hal yang bersifat mu’amalah.

 

Syi’ah Meyakini Sebagian Sahabat Adil dan Sebagian Sahabat Telah Berbalik Arah Pasca Wafat Nabi SAW ! Tidak ada dikotomi antara sahabat yang diabadikan Al Quran dengan syi’ah ! Jadi NU – Syi’ah – Muhammadiyah bisa bersatu

Sebagian diantara mereka naik pitam jika kami menunjukkan kesalahan Abu Bakar dan Umar, padahal sebagai seorang yang mengaku pengikut sunnah maka sudah sewajarnya kalau yang menjadi pegangan adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Seandainya Abu Bakar dan Umar menyalahi ketetapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam maka tidak ada halangan bagi kami menyalahkan mereka dan sangat tidak perlu kami bersusah-susah membela mereka karena mereka berdua bukanlah orang yang selalu dalam kebenaran, mereka berdua bukanlah orang yang menjadi pedoman bagi umat islam. Maka kita dapat lihat sikap ghuluw salafy terhadap Abu Bakar dan Umar dan bersamaan dengan itu mereka malah meninggalkan Ahlul Bait Rasul.

Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah meninggalkan Ahlul Bait sebagai pedoman bagi umat islam. Bukannya mengikuti perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam , mereka salafiyun malah mendustakannya, entahlah sebenarnya siapa yang diteladani oleh salafiyun?. Kami pribadi tidak paham dan tidak berniat memahami sikap mereka.

Rasulullah SAW tidak menjamin surga kepada Abubakar. Setelah beliau bersaksi tentang  para syuhada di perang uhud. Rasul saw kemudian berkata kepada Abubakar : “Sungguh aku   tidak tahu apa yang akan kau lakukan sepeninggalku”. Dan kemudian Abubakar menangis” (Referensi  Ahlusunnah : Imam Malik, dalam “Al-Muwatta’”, kitab “Jihad”)

Lihat juga [Q.S. Ali Imron 153], tentang kejadian perang Uhud dimana sebagian sahabat lari meninggalkan Rasul saww, sebagai berikut : “(Ingatlah) ketika kalian lari dan tidak menoleh kepada seorangpun, sedang Rasul yang berada di antara kawan-kawan kalian yang lain, memanggil kalian…”.

Bahkan termasuk Abubakar dan Umar juga lari dari perang Uhud tersebut. Dan mereka berdua (Abubakar dan Umar) juga lari dari perang Hunain dan Khaibar. Padahal Allah murka kepada mereka yang lari dari perang sebagaimana Firman-Nya pada [ Q.S. Al-Anfaal  15-16 ].

Ref. Ahlusunnah :

  1. Haikal, “Hayat Muhammad”, bab “perang uhud” dan “perang khaibar”.
  2. Al-Waqidi, dalam “Al-Maghazi”.
  3. 3.     Siroh Ibn Hisyam, Jilid 4, bab “Perang Uhud”.
  4. 4.     Ibn Hajar, dalam “Al-Ishobah”, jilid 3, hal. 108, pada muntakhab “Al-Isti’ab”.
  5. 5.     Siroh Al-Halabiyah, pada bab “Perang Hunain” dan “Perang Khaibar”.

dan lain-lain.

Banyak sejarah yang telah dimanipulasi untuk mengangkat derjat dan keutamaan beberapa “sahabat” Nabi. Padahal nyata nyata Allah mengancam menggugurkan amal Abubakar dan Umar. Allah berfirman dalam Q.S. Al-Hujurat  ayat 2,  tentang larangan untuk meninggikan suara melebihi   suara Rasul saw. Tuhan memperingatkan kepada Abubakar dan Umar supaya tidak lagi mengeraskan suaranya melebihi suara Nabi saw.

Asbabun nuzul Ayat ini adalah Abubakar dan Umar yang saling berdebat dengan suara keras dihadapan Rasul saw (Shahih Bukhari, juz 3, kitab “Al-Maghazi”, bab “Waqd Bani Tamim”)

Hasil yang sedemikian besar yang diperoleh dari Fadak jika digunakan oleh kubu Imam Ali maka akan menjadikan mereka sebagai oposisi yang tangguh

Di dalam kitab hadis Ahlus Sunnah, yaitu Sunan Abu Dawud, Jil. 3, hlm. 144, Dzikr Fa’i, tertulis : “Abu Dawud mengatakan bahwa ketika Umar bin Abdul ‘Aziz menjadi khalifah, pendapatan yang diperoleh dari tanah fadak adalah 40.000 Dinar.”

Di dalam Syarah Ibn Abil Hadid, Jil. 4, hlm. 108 tertulis : “Umar  (bin Khaththab) mengeluarkan orang-orang Yahudi dari tanah Fadak. Dan nilai tanah tersebut berikut kurmanya adalah 50.000 Dirham.”

Di antara lembaran hitam sejarah umat Islam yang tak dapat dipungkiri adalah terjadinya sengketa antara Fatimah as. –selaku ahli waris Nabi saw.dan Abu Bakar selaku penguasa terkait dengan tanah Fadak dan beberapa harta waris yang ditinggalkan Nabi saw.

Imam Ali as. menegaskan bahwa Abu Bakar telah berbohong dengan membawa-bawa hadis palsu atas nama Nabi saw tentang perkara kebun FADAK ! Di bawah ini kami sebutkan hadis riwayat Muslim dan Bukhari yang melaporkan pengaduan/sengketa di hadapan Umar –semasa menjabat sebagai Khalifah:

 “… Dan ketika Rasulullah saw. wafat, Abu Bakar berkata, ‘Aku adalah walinya Rasulullah, lalu kalian berdua (Ali dan Abbas) datang menuntut warisanmu dari anak saudaramu dan yang ini menuntut bagian warisan istrinya dari ayahnya. Maka Abu Bakar berkata, ‘Rasulullah saw. bersabda: “Kami tidak diwarisi, apa- apa yang kami tinggalkan adalah shadaqah.”, lalu kalian berdua memandangnya sebagai pembohong (kâdziban)., pendosa (atsiman), penipu (ghadiran) dan pengkhianat (khâinan). Demi Allah ia adalah seorang yang jujur, bakti, terbimbing dan mengikuti kebenaran. Kemudian Abu Bakar wafat dan aku berkata, ‘Akulah walinya Rasulullah saw. dan walinya Abu Bakar, lalu kalian berdua memandangku sebagai pembohong (kâdziban)., pendosa (atsiman), penipu (ghadiran) dan pengkhianat (khâinan)…. “ (HR. Muslim, Kitab al Jihâd wa as Sair, Bab Hukm al Fai’,5/152)

Secara tidak jujur maka Bukhari membuang redaksi tersebut yang merugikan kaum sunni dan menggantinya dengan lafaz: lalu kalian berdua memandangnya sebagai begini dan begitu “(HR. Bukhari,6/191, Kitab an Nafaqât/Nafkah, BabHabsu ar Rajuli Qûta Sanatihi / Seorang menahan kebuhutan pangan setahunya)

Tapi sayangnya, Imam Bukhari masih meninggalkan jejak dan dapat menjadi petunjuk yaitu pembelaan Umar atas dirinya dan juga atas Abu Bakar! Bukhari menyebutkan kata-kata Umar: Allah mengetahui bahwa ia adalah seorang yang jujur, bakti, terbimbing dan mengikuti kebenaran! Dan kata-kata itu dapat menjadi petunjuk awal bahwa apa yang dikatakan Ali dan Abbas paling tidak kebalikan darinya atau yang mendekati kebalikan darinya! Sebab apa latar belakang yang mengharuskan Umar mengatakan kata-kata tersebut andai bukan karena adanya tuduhan Ali dan Abbas ra. atas Abu Bakar dan Umar?!

Maka gugurlah usaha Bukhari agar kaum Muslimin tidak mengetahui kenyataan pahit di atas! Dan ini adalah salah satu bukti bahwa kebenaran/al Haq betapa pun ditutup-tutupi tetap Allah akan membongkarnya ! Maka jika demikian adanya, mungkinkah para imam dan tokoh ulama dari keturunan Imam Ali as. akan menyanjung Abu Bakar dan Umar, meyakininya sebagai dua imam pengemban hidayah, sebagai Shiddîq dan Fârûq dan memandang keduanya dengan pandangan yang berbeda dengan ayah mereka?

Sunni adalah mereka yang telah didoktrinisasikan bahawa semua sahabat adalah jujur dan adil serta Allah dan RasuNya meridhai mereka semua. Kelompok ini dalam rangka mengkultuskan seluruh sahabat, telah terjebak dengan tafsiran-tafsiran al-Quran yang disajikan oleh ulama-ulama mereka, mempedomani  ribuan hadis-hadis palsu keutamaan sejumlah sahabat yang semuanya saling berbenturan dengan al Quran, hadis-hadis sahih yang disepakati, maupun akal yang sihat.

 

Umar bin Khattab Pembuka Jalan Bagi Berkuasanya Bani ‘Umayyah

Sepeninggal Rasul, dari empat khalifah yang empat,  tiga di antaranya dibunuh tatkala sedang dalam tugas, yaitu Umar, Utsman dan Ali. Yang menarik adalah ramalan Umar bin Khaththab bahwa Utsman akan dibunuh kerana membuat pemerintahan yang nepotis sepertiyang dikatakannya.

Umar seperti melibat bahaya munculnya sifat-sifat jahiliah ini sehingga tatkala ia baru ditusuk oleh Abu Lu’lu’ah dan mengetahui bahwa ia akan meninggal pada tahun 24 H-645M, ia memanggil keenam anggota Syura yang ia pilih sendiri.

Umar berkata: “Sesungguhnya Rasul Allah telah wafat dan ia rida akan enam tokoh Quraisy: Ali, Utsman, Thalhah, Zubair, Sa’d dan Abdurrahman bin ‘Auf.”

Kepada Thalhah bin Ubaidillah ia berkata: “Boleh saya bicara atau tidak!”

Thalhah:‘Bicaralah!’.

Umar: “Engkau belum pernah berbicara baik sedikit pun juga. Aku ingat sejak jarimu putus pada perang Uhud, orang bercerita tentang kesombonganmu, dan sesaat sebelum RasulAllah wafat, ia marah kepadamu [34] karena kata-kata yang engkau keluarkan sehingga turun ayat hijab…Bukankah engkau telah berkata: “Bila Nabi saww wafat aku akan menikahi jandanya? “Bukankah Allah SWT lebih berhak terhadap wanita sepupu kita, yang menjadi istrinya, dari diri kita sendiri, sehingga Allah SWT menurunkan ayat:

“Tiadalah pantas bagi kamu untuk mengganggu Rasul Allah, atau menikahi janda-jandanya sesudah ia wafat. Sungguh yang demikian itu suatu dosa besar menurut Allah”.[1]

 Di bagian lain: “Bila engkau jadi khalifah, engkau akan pasang cincin kekhalifahan di jari kelingking istrimu”. Demikian kata-kata Umar terhadap Thalhah.

 Seperti diketahui ayat ini turun berkenaan dengan Thalhah yang mengatakan:“ Muhammad telah membuat pemisah antara kami dan putri-putri paman kami dan telah mengawini para wanita kami. Bila sesuatu terjadi padanya maka pasti kami akan mengawini jandanya”Dan  di bagian lain: “Bila Rasul Allah saw wafat akan aku kawini Aisyah kerana dia adalah

sepupuku.” Dan berita ini sampai kepada Rasul Allah saw, Rasul merasa terganggu dan turunlah ayat hijab’. [2]

Kemudian kepada Zubair, Umar berkata : “Dan engkau, ya Zubair, engkau selalu gelisah dan resah, bila engkau senang engkau Mu’min, bila marah, engkau jadi kafir, satu hari engkau seperti manusia dan pada hari lain seperti setan. Dan andaikata engkau jadi khalifah, engkau akan tersesat dalam peperangan. Bisakah engkau bayangkan, bila engkau jadi khalifah? Aku ingin tahu apa yang akan terjadi pada umat pada hari engkau jadi manusia dan apa yang akan terjadi pada mereka tatkala engkau jadi setan, yaitu tatkala engkau marah. Dan Allah tidak akan menyerahkan kepadamu urusan umat ini selama engkau punya sifat ini” [3]

Di bagian lain: “Dan engkau ya Zubir, demi Allah, hatimu tidak pernah tenang siang maupun malam, dan selalu berwatak kasar sekasar-kasarnya; jilfan jafian”. [4]

 Bersama Aisyah, Thalhah dan Zubair setelah membunuh Utsman memerangi Ali dan menyebabkan paling sedikit 20.000 orang meninggal dalam Perang Jamal. Dan selama puluhan tahun menyusul, beribu-ribu kepala yang dipancung banyak tangan dan kaki yang dipotong, mata yang dicungkil dengan mengatas namakan menuntut darah Utsman.

Kepada Utsman, Umar berkata: “Aku kira kaum Quraisy akan menunjukmu untuk jabatan ini kerana begitu besar cinta mereka kepadamu dan engkau akan mengambil Bani‘Umayyah dan Bani Mu’aith untuk memerintah umat. Engkau akan melindungi mereka dan membagi-bagikan Uang baitul mal kepada mereka dan orang-orang akan membunuhmu, menyembelihmu di tempat tidur”[6]

Atau menurut riwayat dari Ibnu Abbas yang didengarnya sendiri dari Umar “Andaikata aku menyerahkan kekhalifahan kepada Utsman ia akan mengambil Banu Abi Mu’aith untuk memerintah umat. Bila melakukannya mereka akan membunuhnya”.[7]

Di bagian lain, dalam lafal Imam Abu Hanifah: “Andaikata aku menyerah kekhalifahan kepada Utsman, ia akan mengambil keluarga Abi Mu’aith untuk memerintah umat, demi Allah andaikata aku melakukannya, ia akan melakukannya, dan mereka akhirnya akan memotong kepalanya”. [8] Atau di bagian lain: Umar berwasiat kepada Utsman dengan kata-kata: “Bila aku menyerahkan urusan ini kepadamu maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah mengambil keluarga Banu Abi Mu’aith untuk memerintah umat’. [9]

Mari kita lihat ‘ramalan’ Umar bin Khaththab. Tatkala Imam Ali menolak mengikuti peraturan-peraturan dan keputusan-keputusan (Sunnah) Abu Bakar dan Umar, dalam pertemuan anggota Syura,Utsman justru sebaliknya. Ia berjanji menaati peraturan dan keputusan Abu Bakar dan Umar. [10] Ia menjadi khalifah tanggal 1 Muharam tahun 24 H pada umur 79 tahun dan meninggal dibunuh tanggal 18 Dzulhijjah tahun 35 H/ 17 Juni 656 M.

Pemerintahannya dianggap nepotis oleh banyak kalangan. Misalnya, ia mengangkat anggota keluarganya, yang bernama Marwan anak Hakam Ibnu ‘Abi’l Ash yang telah diusir Rasul saww dari Madinah kerana telah bertindak sebagai mata-mata musuh. Utsman membolehkania kembali dan mengangkatnya menjadi Sekretaris Negara.

Utsman juga memperluas wilayah kekuasaan Mu’awiyah, yang mula-mula hanya kota Damaskus, sekarang ditambah dengan Palestina, Yordania dan Libanon. Ia memecat gubernur-gubernur yang ditunjuk Umar dan menggantinya dengan keluarganya yang Thulaqa  [11], ada di antaranya yang pernah murtad dan disuruh bunuh oleh Rasul, dilaknat Rasul, penghina Rasul dan pemabuk. Ia mengganti gubernur Kufah Sa’d bin Abi Waqqash dengan Walid bin ‘Uqbah bin Abi Mu’aith, saudara seibu dengannya. Walid disebut sebagai munafik dalam Al-Qur’an.

Ali, Thalhah dan Zubair, tatkala Utsman mengangkat Walid bin ‘Uqbah jadi gubernur Kufah, menegur Utsman: “Bukankah Umar telah mewasiatkan kepadamu agar jangan sekali-kali mengangkat keluarga Abi Waith dan Banu ‘Umayyah untuk memerintah umat?”  Dan Utsman tidak menjawab sama sekali’. [12]

Walid adalah seorang pemabuk dan penghambur uang negara. Utsman juga mengganti gubernur Mesir ‘Amr bin ‘Ash dengan Abdullah bin Sa’id bin Sarh, seorang yang pernah disuruh bunuh Rasul saww kerana menghujat Rasul. Di Bashrah ia mengangkat Abdullah binAmir, seorang yang terkenal sebagai munafik.

Utsman juga dituduh telah menghambur-hamburkan uang negara kepada keluarga dan paragubernur Banu ‘Umayyah’ yaitu orang-orang yang disebut oleh para sejarahwan sebagai takbermoral(fujur), pemabuk (shahibu‘l-khumur), tersesat(fasiq), malah terlaknat oleh Rasulsaww (la’in) atau tiada berguna(‘abats). Ia menolak kritik-kritik para sahabat yang terkenal jujur. Malah ia membiarkan pegawainya memukul saksi seperti Abdullah bin Mas’ud, pemegang baitul mal di Kufah sehingga menimbulkan kemarahan Banu Hudzail.

Ia juga membiarkan pemukulan ‘Ammir bin Yasir sehingga mematahkan rusuknya dan menimbulkan kemarahan Banu Makhzum dan Banu Zuhrah. Ia juga menulis surat kepada penguasa di Mesir agar membunuh Muhammad bin Abu Bakar. Meskipun tidak sampai terlaksana, tetapi menimbulkan kemarahan Banu Taim.

Ia membuang Abu Dzarr al-Ghifari –pemrotes ketidakadilan dan penyalahgunaan uang negara- ke Rabdzah dan menimbulkan kemarahan keluarga Ghifari. Para demonstran dating dari segala penjuru, seperti Mesir, Kufah, Bashrah dan bergabung dengan yang di Madinahyang mengepung rumahnya selama 40 hari  [13] yang menuntut agar Utsman memecat Marwan

yang tidak hendak dipenuhi Utsman. Tatkala diingatkan bahwa uang Baitul Mal adalahmilik umat yang harus dikeluarkan berdasarkan hukum syariat seperti sebelumnya oleh ‘AbuBakar dan Umar ia mengatakan bahwa ia harus mempererat silaturahmi dengan keluarganya.Ia mengatakan: “Akulah yang memberi dan akulah yang tidak memberi. Akulah yang membagi  uang sesukaku!”.[14]

Utsman memberikan kebun Fadak kepada Marwan, yang telah diambil oleh Abu Bakar dari Fathimah  SA putrid Rasulullah SAWW.

Dirham adalah standar mata uang perak dan dinar adalah standar mata uang emas. Satudinar berharga sekitar 10-12 dirham. Satu dirham sama harganya dengan emas seberat 55butir gandum sedang. Satu dinar seberat 7 mitsqal. Satu mitsqal sama berat dengan 72 butirgandum. Jadi satu dinar sama berat dengan 7 X 72 butir gandum atau dengan ukuransekarang sama dengan 4 grain. Barang dagangan satu kafilah di zaman Rasul yang terdiridari 1.000 unta, dan dikawal oleh sekitar 70 orang berharga 50.000 dinar yang jadi milikseluruh pedagang Makkah. Seorang budak berharga 400 dirham.

Contoh penerima hadiah dari Utsman adalah Zubair bin ‘Awwam. Ia yang hanya kepercikanuang baitul mal itu, seperti disebut dalam shahih Bukhari, memiliki 11 (sebelas) rumah diMadinah, sebuah rumah di Bashrah, sebuah rumah di Kufah, sebuah di Mesir…Jumlahuangnya, menurut Bukhari adalah 50.100.000 dan di lain tempat 59.900.000 dinar, disamping [15] seribu ekor kuda dan seribu budak.  [16]

Aisyah menuduh Utsman telah kafir dengan panggilan Na’tsal [17] dan memerintahkan agar iadibunuh. Zubair menyuruh serbu dan bunuh Utsman. Thalhah menahan air minum untukUtsman. Akhirnya Utsman dibunuh. Siapa yang menusuk Utsman, tidak pernah diketahuidengan pasti. Siapa mereka yang pertama mengepung rumah Utsman selama empat bulandan berapa jumlah mereka dapat dibaca sekilas dalam catatan berikut. Mu’awiyah mengejarmereka satu demi satu.

—————————————————————————————————-

  1.  Sebagaimana biasa, banyak perdebatan telah terjadi mengenai kata-kata ‘Umar ini. Bukankah ‘Umar mengatakan bahwa Rasul Allah saww rida kepada mereka berenam?.
  2.  Al-Qur’an, al-Ahzab (33), ayat 53.
  3.  Lihat Tafsir al-Qurthubi jilid 14, hlm. 228; Faidh al-Qadir, jilid,4, hlm. 290; Tafsir Ibnu Katsir, jilid 3, hlm.506; Tafsir Baqawi jilid 5, hlm. 225; Ibn Abil Hadid, Syarh Nahju’l-Balaghah, jilid 1, hlm. 185, 186, jilid 12, hlm. 259 dan lain-lain.
  4. Ibn Abil-Hadid, Syarh Nahju’l-Balaghah, jilid 1, hlm. 175.
  5. Ibn Abil-Hadid, Syarh Nahju’I-Balaghah, jilid 12, hlm. 259.
  6. Ibn Abil-Hadid, Syarh Nahju’l-Balaghah, jilid 1, hlm. 186.
  7. Baladzuri, Ansab al-Asyraf, jilid 5, hlm. 16.
  8.  Abu uysuf dalamal-Atsar, hlm. 215.
  9. 9.      Ibnu Sa’d,Thabaqat, jilid 3, hlm. 247; Baladzuri, Ansab al-Asyraf, jilid 5, hlm 16; Mithibbuddin Thabari,Ar-Riydah an-Nadhirah, jilid 2, hlm. 76
  10. Lihat Bab 15, ‘Sikap ‘Ali terhadap Peristiwa Saqifah’ dan Bab 14: ‘Pembaiatan ‘Umar dan’Utsman’.
  11. Yang dibebaskan, baru memeluk Islam setelah penaklukan Makkah.
  12. Ba-ladzuri, Ansab al-Asyraf, jilid 5, hlm. 30.
  13. Menurut Mas’udi, ‘Utsman dikepung selama 49 hari, Thabari 40 hari, dan ada yang mengatakan lebih dari itu. Ia dibunuh malam Jumat 3 hari sebelum berakhir bulan Dzul Hijah, tahun 34 H, 8 Juli 655 M. LihatMurujadz-Dzahab, jilid 1, hlm. 431-432
  14. Dengan lafal yang sedikit berbeda lihatlah Shahih Bukhari, jilid 5, hlm. 17; Sunan Abu Dawud, jilid 2, hlm.25.
  15. Shahih Bukhari, Kitab Jihad, jilid 5, hlm. 21 dll.
  16. Lihat Mas’udi, Muruj adz-Dzahab, jilid 1, hlm. 424.
  17. Nama lelaki asal Mesir dan berjanggut panjang menyerupai ‘Utsman. Dalam al-Lisan al-’Arab Abu Ubaid berkata: ‘Orang mencerca ‘Utsman dengan nama Na’tsal ini’. Ada yang mengatakan Na’tsal ini orang Yahudi

.

Syahidnya Fathimah as.

Fatimah Az Zahra Wafat karena Di Pukul Perutnya Hingga Keguguran Lalu Sakit Parah Hingga Wafat !!!
Ya Nabi SAW Puterimu Di Zalimi !

Umar menendang pintu dan pintu, Fatimah jatuh tertimpa pintu, -tanpa patah tulang- Fatimah mendorong pintu agar menghalangi mereka masuk, Umar menendang pintu hingga terlepas dan mengenai perut Fatimah hingga Muhsin gugur dari perut ibunya. (Multaqal Bahrain hal 81, Al Jannah Al Ashimah hal 251)

Umar menggunakan pedang dan cambuk tanpa menyentuh pintu. Fatimah berteriak Wahai Ayahku, Wahai Rasulullah, lalu Umar mengangkat pedang yang masih di sarungnya dan memukul perut Fatimah, lalu Fatimah berteriak lagi, wahai ayahku, lalu Umar mencambuk tangan Fatimah,  Fatimah memanggil Wahai Rasulullah, betapa buruk penggantimu, Abubakar dan Umar. Ali melompat dan mencengkeram baju Umar dan membantingnya, dan memukul hidung serta lehernya. Ali berniat membunuh Umar tetapi dia teringat wasiat Rasulullah Shallallahu Alaihi wasallam. (Kitab Sulaim bin Qais , jilid 3 hal 538)

Fatimah didorong di pintu, tanpa ditendang, tanpa pedang, cambuk atau paku Al Mas’udi, seorang ahli sejarah mengatakan : Amirul Mu’minin Ali tinggal di rumahnya beserta beberapa pengikutnya, seperti yang dipesankan oleh Rasulullah, lalu mereka menuju rumah Ali dan menyerbunya, membakar pintu rumah dan memaksa orang yang di dalamnya untuk keluar, mereka mendorong Fatimah di pintu hingga janinnya gugur, mereka memaksa Ali untuk berbaiat dan Ali menolak, dan mengatakan : aku tidak mau, mereka mengatakan : kalau begitu kami akan membunuhmu, Ali mengatakan: jika kalian membunuhku maka aku adalah Hamba Allah dan saudara RasulNya. Lihat Itsbatul Washiyyah hal 123.   Umar menyerbu rumah Ali bersama tiga ratus orang. Diriwayatkan mengenai penyebab wafatnya Fatimah : Umar bin Khattab menyerang rumah Ali dan Fatimah bersama tiga ratus orang. (Lihat dalam kitab Al Awalim jilid 2 hal 58)

Umar memukul Fatimah di jalan, bukan di rumah Fatimah berhasil meminta surat dari Abubakar yang berisi pengembalian tanah Fadak pada Fatimah, ketika di jalan Fatimah bertemu Umar dan kemudian Umar bertanya: wahai putri Muhammad, surat apa yang ada di tanganmu? Fatimah menjawab: surat dari Abubakar tentang pengembalian tanah Fadak, Umar berkata lagi : bawa sini surat itu, Fatimah menolak menyerahkan surat itu, lalu Umar menendang Fatimah Amali Mufid hal 38, juga kitab Al Ikhtishash   Fatimah dicambuk. Yang disesalkan adalah mereka memukul Fatimah Alaihassalam, telah diriwayatkan bahwa mereka memukulnya dengan cambuk. (Talkhis Syafi jilid 3 hal 156  )

Punggungnya dicambuk dan dipukul dengan pedang. Lalu Miqdad berdiri dan mengatakan : putri Nabi hampir  meninggal dunia, sedang darah mengalir di punggung dan rusuknya karena kalian mencambuknya dan memukulnya dengan pedang, sedangkan di mata kalian aku lebih hina dibanding Ali dan Fatimah. (Ahwal Saqifah/ Kamil Al Baha’I, Hasan bin Ali bin Muhamamd bin Ali bin Hasan At Thabari yang dikenal dengan nama Imadudin At Thabari, jilid 1 hal 312.)

Kebenaran syiah ahlul bait
Syi’ah Meyakini Sebagian Sahabat Adil dan Sebagian Sahabat Telah Berbalik Arah Pasca Wafat Nabi SAW !
.
Tidak ada dikotomi antara sahabat yang diabadikan Al Quran dengan syi’ah !
.
Jadi NU – Syi’ah – Muhammadiyah bisa bersatu

gimana dengan kelakuan sahabat seperti dibawah ini apa perlu di ikuti:

1. Sahabat al walid bin Uqbah yang berbohong kepada Rasulullah saw dan di kecam oleh Allah SWt dan di cap Fasiq baca asbabun-nuzul-nya Surat Al Hujurat:6 (baca tafsir Ibnu Katsir tentang turunnya ayat ini dll)

2. Sahabat yang lari meninggalkan Rasulullah Saw ketika Shalat Jum’at demi dagangan/bisnis, dan tahukah anda berapa jumlah sahabat yang tersisa bershalat jum’at dg Rasul? 14 orang! baca shahih Bukhari kitab Tafsir tentang ayat ini

3. Tahukah anda tentang sahabat besar yang meragukan kenabian Muhammad? baca Shahih Bukhari bab perjanjian Hudaibiah..

dan masih banyak lagi kasus-kasus sahabat yang tidak layak kita teladani..

jangan ghulu dan berlebihan dengan sahabat..

makanya konsep salaf perlu direvisi !!!

bahaya paling mengancam umat Islam sekarang adalah pengafiran sesama muslim oleh wahabi.

pengafiran adalah sikap paling berbahaya yang ditempuh seorang Muslim.

Syi’ah tidak mencaci sahabat-sahabat Nabi SAWA tetapi menunjukkan perbuatan mereka yang menyalahi al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAWA seperti yang tercatat dalam kitab-kitab sejarah dan Hadith. Mereka menilai dan mengkritik perangai sebagian sahabat dengan neraca al-Qur’an dan Hadith Nabi SAWA.]
.
Dan jangan lupa! Nabi Muhammad SAW juga pernah bersabda bahawa terdapat sahabat yang masuk neraka seperti dalam riwayat Sahih Muslim dan Sahih Bukhari [akan dijelaskan di bawah].
.
Apakah kita lupa istilah sahabat juga digunakan dalam al-Qur an untuk teman Nabi Yusuf yang bukan beriman kepada Allah SWT ketika dalam penjara? Sila baca Surah Yusuf untuk memuaskan hati kita (istilah sohibi al-Sijni digunakan=sahabatku dalam penjara[nota:beliau bukan Islam dan bersama Nabi Yusuf AS dalam penjara])
.
Memang Nabi Muhammad SAWA mempunyai sahabat-sahabat yang baik seperti Ammar bin Yasir, Abu Dzar al-Ghifari, Salman al-Farisi dan sebagainya tetapi di Madinah juga ada golongan munafiq yang dipanggil “sahabat” oleh Nabi SAWA seperti Abdullah bin Ubay bin Salool. Dalam Sohih Bukhari juga diriwayatkan bahawa ada segolongan “sahabat” yang bakal masuk neraka ketika berjumpa Nabi Muhammad SAWA di al-Haudh. Nabi SAWA memanggil mereka dengan istilah ‘ashabi’ [sahabatku]. Sila rujuk Sahih Bukhari[Sahih Al-Bukhari, Jilid 4, hlm.94-96];Sahih Muslim, Jilid IV, hadith 2133,2440.]
.
Sahabat yang baik memang kita hormati , sanjungi dan ikuti tetapi sahabat yang jahat seperti Muawiyah yang menentang Imam Ali AS dan mencaci Ali AS di atas mimbar patutkah kita berdiam diri?
.
Bukankah pasukan Muawiyah terlibat membunuh Amar bin Yasir dalam Perang Siffin? Nabi SAWA pernah menyatakan sebuah hadith dalam Sahih Bukhari menyifatkan orang yang terlibat dalam pembunuhan Amar adalah golongan pemberontak dan Rasulullah SAWA bersabda [terjemahan]:…Kamu (Amar) mengajak kelompok itu menuju ke Jannah tetapi kelompok itu mengajak ke neraka.” [Sahih Bukhari, Jilid II,Hadith 462].
.
Al-Qur’an memerintahkan kita taat kepada Ulil Amri – pada ketika itu ialah Imam Ali AS sebagai khalifah yang sah dan wajib ditaati. Adakah tindakan Muawiyah itu selaras dengan ajaran al-Qur’an dan tidak boleh dikritik?Kita ikuti sahabat yang baik dan kita tinggalkan contoh sahabat yang jauh dari ajaran al-Qur’an dan Hadith Nabi SAWA.Sejarah menunjukan bahawa seorang sahabat bernama al-Walid bin Utbah dikaitkan dengan asbabul nuzul ayat 6 Surah al-Hujurat iaitu menyatakan beliau seorang fasiq. Qudamah bin Maz un seorang sahabat Badar dihukum had pada zaman khalifah Umar kerana minum arak seperti dalam riwayat Sahih Bukhari.
.
Jika ada orang yang masih teguh dengan pendirian bahawa semua sahabat adalah ‘adil maka apakah hukumnya Muawiyah mencaci Ali di atas mimbar? Apakah ijtihad Muawiyah boleh sampai mencaci Ali? Sebaliknya orang yang mengkritik Muawiyah dikatakan mencaci sahabat Nabi SAWA? Jika seseorang yang menolak kekhalifahan Abu Bakar dianggap kafir, apakah pula hukumnya orang yang menolak perlantikan Ali setelah ada Hadith al-Ghadir yang menetapkan Ali AS sebagai khalifah selepas Nabi SAWA wafat? Bolehkah umat Islam memilih selain daripada yang telah ditetapkan oleh Rasulnya?
.
Alllah SWT berfirman dalam Surah Hud:113,bermaksud: “Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh oleh api neraka…”
.
Dan banyak lagi ayat-ayat al-Qur’an yang menyuruh manusia berbuat adil, dan melarang mereka dari berbuat zalim [nota: standard “adil”atau sebaliknya adalah berpandukan Kitab Allah Azza Wa-Jalla dan tidak ada sesiapa pun dikecualikan hatta para “sahabat” sekalipun].Balasan Allah SWT di akhirat kelak berasaskan segala amalan manusia ketika hidup di dunia – yang baik ke syurga dan yang buruk ke neraka.
.
Ini bermakna istilah “sahabatku”dalam Hadith Nabi SAWA tidak bermakna merujuk kepada semua sahabat [sekiranya jumlah yang hadir pada Haji Wida’ iaitu seramai 140,000 atau 90,000 orang] adalah adil belaka. Sahabat yang adil memang ada seperti Abu Dzar al-Ghiffari yang dinyatakan sendiri oleh Nabi Muhammad SAWA [terjemahan]:” Tidaklah langit menaungi seseorang dan tidak bumi membawa seseorang yang lebih jujur daripada Abu Dzar RA.”[Sunan al-Tirmidzi, Hadith 3889]
.
Begitu juga terdapat segolongan sahabat yang ingkar mengikut perintah Nabi SAWA terutamanya selepas Nabi SAWA wafat dan menjadi seteru Ahlul Bayt AS [keluarga Nabi SAWA] seperti yang tercatat dalam kitab-kitab sejarah. Nabi SAWA bersabda seperti yang diriwayatkan dalam Sunan al-Tirmidzi, hadith 3878,[terjemahan]: “Cintailah Allah kerana nikmat-nikmatnya yang diberikan kepadamu dan cintailah aku kerana cinta kepada Allah dan cintailah keluargaku kerana cinta kepadaku.”
.
Oleh itu sesiapa yang memusuhi Ahlul Bayt AS memang menjadi musuh Rasulullah SAWA dan Allah SWT. Bukankah Allah SWT telah melaknat golongan yang zalim dalam al-Qur’an?   “Ingatlah, laknat Allah (ditimpakan) ke atas orang-orang yang zalim.”[Qur’an: 11: 18]

Ratusan orang membakar pesantren, mushala, dan rumah warga di Kecamatan Omben, Sampang, Madura. Dosa mereka: karena pesantren yang dipimpin Ustaz Tajul Muluk itu mengajarkan Islam mazhab Syiah yang dianggap sesat.Reaksi pun datang dari berbagai pihak. Ketua Muhammadiyah Din Syamsuddin dan Ketua Majelis Ulama Indonesia Umar Shihab menyusul menegaskan bahwa Syiah tidak sesat.

Syiah Dua Belas Imam (Itsna’asyariyah) memiliki banyak kesamaan dengan mazhab Syafi’i, salah satu mazhab Ahlus-Sunnah (Sunni) yang menjadi panutan mayoritas nahdliyin di Indonesia. Kultur NU juga sangat mencintai Ahlul Bait (keluarga) Nabi Muhammad SAW dan keturunannya.Peringatan haul, acara tahlil orang meninggal tiga hari, 40 hari, dan sebagainya—yang banyak dilakukan warga NU—sesungguhnya serupa dengan upacara-upacara Syiah. Nahdliyin juga pantang menikahkan anak atau berpesta pada hari Asyura, yang merupakan hari kesedihan memperingati syahidnya cucu Nabi, Al-Husain (Imam Syiah ketiga). Di kalangan NU juga sering dibacakan Salawat Dibb, di mana di dalamnya disebutkan nama-nama Imam Syiah dan keistimewaan Ahlul Bait.

Banyak studi menunjukkan bahwa versi Islam yang pertama datang ke Indonesia sesungguhnya adalah Islam Syiah, sebagaimana dibuktikan hadirnya tradisi Syiah di Aceh. Menurut Syafiq Hasyim (mengutip Marcinkowski dalam Irasec’s Discussion Papers, 2011) muslimin di Indonesia berutang kepada para ulama dan pedagang Syiah yang membawa Islam ke Indonesia.

Dari pedang ke pena

Studi lain menyebutkan, pada sekitar 320 H, Ahmad bin Isa ”Al-Muhajir” bin Muhammad bin Ali bin Ja’far As-Shadiq—keturunan kesembilan dari Nabi SAW—hijrah dari Irak ke Hadramaut, Yaman bagian selatan. Pedagang kaya itu menghindari teror penguasa Bani Abbasiyah, saat keturunan Nabi SAW, yang notabene Syiah, dikejar-kejar kaki tangan khalifah di Irak (Walter Dostal dalam The Saints of Hadramawt, 2005).

Cucu Imam Syiah keenam (Ja’far As-Shadiq) itu kemudian mematahkan pedangnya. Sebagai gantinya, Al-Muhajir mengajak para pengikutnya memproklamasikan dakwah secara damai dengan pena. Di Hadramaut itu ia mengajarkan tarekat Al-Alawiy yang sufi. Sebagian sejarawan mengatakan ia bermazhab Syafi’i, tetapi ada pula yang menunjukkan bahwa sebenarnya ia Syiah, tetapi menutupinya demi keselamatan dari kejaran penguasa.

2,5  juta umat Islam di Indonesia yang bermazhab Syiah. Yang kita tahu, dua pokok ajaran kelompok minoritas (sekitar 20 persen dari total umat Islam di dunia) ini adalah keharusan mengikuti Ahlul Bait (keluarga) Nabi SAW—mulai dari khalifah keempat Ali bin Abi thalib hingga ke-11 anak cucunya—dan berdasarkan Al Quran dan hadis serta mengakui kepemimpinan Ali sebagai penerus Nabi SAW.

Ali itulah salah seorang Ahlul Bait Nabi SAW yang utama. Anggota yang lain adalah putri Nabi (yang juga istri Ali), Siti Fatimah Az-Zahra, serta kedua anak mereka, Hasan dan Husain. Sebagai dalil naqli, Syiah merujuk beberapa ayat Al Quran; juga pada hadis Nabi SAW mengenai kata ”Ahlul Bait”’ dalam Surat Asyu’ara 23, yang menyatakan kewajiban mencintai keluarganya. Yang menarik adalah bahwa tidak kurang dari 45 ulama Sunni terdahulu juga meriwayatkan hadis itu, di antaranya Ahmad bin Hanbal, Al-Thabrani, Al-Hakim, Jalaluddin Al-Suyuti, dan Ibnu Katsir.

Itu sebabnya, kecintaan kepada Ahlul Bait Nabi SAW  hanya monopoli kaum Syiah

Toleransi dan persatuan

Walhasil, kini kita bisa membayangkan: apabila Syiah yang secara kultural dekat dengan NU saja diserang, apatah lagi yang akan terjadi pada pengikut ajaran lain yang punya lebih banyak perbedaan?

Melihat beragamnya mazhab itu, sejak lama banyak ulama Sunni dan Syiah menekankan perlunya persatuan ukhuwah Islamiyah. Pada era 2000-an upaya persatuan itu diperkuat dengan hadirnya lembaga Pendekatan Antar-Mazhab Dunia (Al-Majma’ al-Alamy lit-Taqrib baina al-Madzahib), yang banyak sidangnya juga dihadiri ulama-ulama dari Indonesia.

Maka, dalam konteks persatuan, tokoh Sunni, seperti Quraish Shihab, mengingatkan umat Islam tidak boleh main tuduh. Mengutip mantan Guru Besar Universitas Al-Azhar Syaikh Muhammad Abul Azhim az-Zarqany yang mengecam kesalahan kelompok yang saling memaki, Quraisy mengatakan, ”Jangan sampai menuduh seorang Muslim dengan kekufuran, bidah, atau hawa nafsu hanya disebabkan dia berbeda dengan kita dalam pandangan Islam yang bersifat teoritis…” (Shihab, 2007).

Memang orang Syiah, sebagaimana saudaranya yang Sunni, percaya pada hadis tentang pentingnya Al Quran dan Sunnah. Namun, berbeda dengan Sunni, mereka lebih kuat berpegang pada hadis lain (juga diriwayatkan banyak sumber Sunni) yang mengharuskan berpegang kepada Al Quran dan Ahlul Bait—yang mana keduanya tidak akan berpisah hingga akhir zaman sehingga tidak akan tersesat siapa pun yang berpegang pada keduanya.

Namun, sebagian ulama berpendapat bahwa perbedaan itu hanya soal cabang agama (furu’), dan bukan masalah pokok ajaran Islam (ushuluddin). Tak aneh jika tokoh sekaliber Abdurrahman Wahid mengakui bahwa Syiah adalah mazhab kelima dalam Islam (Daniel Dhakidae, 2003).

Dan bila keisalaman dan kekufuran seseorang diukur dengan sahabat? Apakah ini bukan pendewaan terhadap mereka? Apakah segala perubahan yang dilakukan oleh khalifah pertama, kedua, ketiga tidak mengubah hukum Allah? Dan apabila menerima perbuatan mereka dan menolak hukum Allah bukan pendewaan?

Syiah menerima bahwa ahlu sunnah mencintai dan memuliakan ahlu bait, tetapi apakah mereka benar-benar meletakan ahlu bait pada posisi yang Allah SWT telah letakan? Apakah tiada hikmah mengapa mereka disucikan dan diwajibkan kecintaan ke atas mereka dan solat dan selawat tidak diterima tanpa menyebut mereka.  jika ahlu sunnah benar-benar hormati mereka sepatutnya mereka juga perlu menghormati orang-orang yang ikut mereka,bukan menuduh dengan hal-hal tidak benar. Kita diwajibkan untukmengikuti Al Quran, apakah tidak wajib kita mengikuti mereka yang disucikan untuk menjaga Al Quran dan mendampingi Al Quran.

Jadi kita perlu hati-hati….

Al hasil, kita perlu hati-hati, jangan sampai terjebak dalam permainan murahan musuh-musuh Islam, yang sedang kuwalahan menghadapi perjuangan para pejuang Islam di berbagai belahan dunia Islam. Maka senjata paling membuahkan hasil adalah memecah belah kesatuan umat Islam dengan saling mengafirkan satu sama lain!!!

Mari kita wujudkan persatuan dan kesatuan di antara umat Islam dengan kembali kepada prinsip-prinsip dasar yang saling disepakati bersama dan bertolenransi dalam hal-hal khilafiyah yang diperselisihkan para ulama.

f1-75.jpg
Syi’ah Meyakini Sebagian Sahabat Adil dan Sebagian Sahabat Telah Berbalik Arah Pasca Wafat Nabi SAW !
.
Tidak ada dikotomi antara sahabat yang diabadikan Al Quran dengan syi’ah !
.
Jadi NU – Syi’ah – Muhammadiyah bisa bersatu

gimana dengan kelakuan sahabat seperti dibawah ini apa perlu di ikuti:

1. Sahabat al walid bin Uqbah yang berbohong kepada Rasulullah saw dan di kecam oleh Allah SWt dan di cap Fasiq baca asbabun-nuzul-nya Surat Al Hujurat:6 (baca tafsir Ibnu Katsir tentang turunnya ayat ini dll)

2. Sahabat yang lari meninggalkan Rasulullah Saw ketika Shalat Jum’at demi dagangan/bisnis, dan tahukah anda berapa jumlah sahabat yang tersisa bershalat jum’at dg Rasul? 14 orang! baca shahih Bukhari kitab Tafsir tentang ayat ini

3. Tahukah anda tentang sahabat besar yang meragukan kenabian Muhammad? baca Shahih Bukhari bab perjanjian Hudaibiah..

dan masih banyak lagi kasus-kasus sahabat yang tidak layak kita teladani..

jangan ghulu dan berlebihan dengan sahabat..

makanya konsep salaf perlu direvisi !!!

bahaya paling mengancam umat Islam sekarang adalah pengafiran sesama muslim oleh wahabi.

pengafiran adalah sikap paling berbahaya yang ditempuh seorang Muslim.

Syi’ah tidak mencaci sahabat-sahabat Nabi SAWA tetapi menunjukkan perbuatan mereka yang menyalahi al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAWA seperti yang tercatat dalam kitab-kitab sejarah dan Hadith. Mereka menilai dan mengkritik perangai sebagian sahabat dengan neraca al-Qur’an dan Hadith Nabi SAWA.]
.
Dan jangan lupa! Nabi Muhammad SAW juga pernah bersabda bahawa terdapat sahabat yang masuk neraka seperti dalam riwayat Sahih Muslim dan Sahih Bukhari [akan dijelaskan di bawah].
.
Apakah kita lupa istilah sahabat juga digunakan dalam al-Qur an untuk teman Nabi Yusuf yang bukan beriman kepada Allah SWT ketika dalam penjara? Sila baca Surah Yusuf untuk memuaskan hati kita (istilah sohibi al-Sijni digunakan=sahabatku dalam penjara[nota:beliau bukan Islam dan bersama Nabi Yusuf AS dalam penjara])
.
Memang Nabi Muhammad SAWA mempunyai sahabat-sahabat yang baik seperti Ammar bin Yasir, Abu Dzar al-Ghifari, Salman al-Farisi dan sebagainya tetapi di Madinah juga ada golongan munafiq yang dipanggil “sahabat” oleh Nabi SAWA seperti Abdullah bin Ubay bin Salool. Dalam Sohih Bukhari juga diriwayatkan bahawa ada segolongan “sahabat” yang bakal masuk neraka ketika berjumpa Nabi Muhammad SAWA di al-Haudh. Nabi SAWA memanggil mereka dengan istilah ‘ashabi’ [sahabatku]. Sila rujuk Sahih Bukhari[Sahih Al-Bukhari, Jilid 4, hlm.94-96];Sahih Muslim, Jilid IV, hadith 2133,2440.]
.
Sahabat yang baik memang kita hormati , sanjungi dan ikuti tetapi sahabat yang jahat seperti Muawiyah yang menentang Imam Ali AS dan mencaci Ali AS di atas mimbar patutkah kita berdiam diri?
.
Bukankah pasukan Muawiyah terlibat membunuh Amar bin Yasir dalam Perang Siffin? Nabi SAWA pernah menyatakan sebuah hadith dalam Sahih Bukhari menyifatkan orang yang terlibat dalam pembunuhan Amar adalah golongan pemberontak dan Rasulullah SAWA bersabda [terjemahan]:…Kamu (Amar) mengajak kelompok itu menuju ke Jannah tetapi kelompok itu mengajak ke neraka.” [Sahih Bukhari, Jilid II,Hadith 462].
.
Al-Qur’an memerintahkan kita taat kepada Ulil Amri – pada ketika itu ialah Imam Ali AS sebagai khalifah yang sah dan wajib ditaati. Adakah tindakan Muawiyah itu selaras dengan ajaran al-Qur’an dan tidak boleh dikritik?Kita ikuti sahabat yang baik dan kita tinggalkan contoh sahabat yang jauh dari ajaran al-Qur’an dan Hadith Nabi SAWA.Sejarah menunjukan bahawa seorang sahabat bernama al-Walid bin Utbah dikaitkan dengan asbabul nuzul ayat 6 Surah al-Hujurat iaitu menyatakan beliau seorang fasiq. Qudamah bin Maz un seorang sahabat Badar dihukum had pada zaman khalifah Umar kerana minum arak seperti dalam riwayat Sahih Bukhari.
.
Jika ada orang yang masih teguh dengan pendirian bahawa semua sahabat adalah ‘adil maka apakah hukumnya Muawiyah mencaci Ali di atas mimbar? Apakah ijtihad Muawiyah boleh sampai mencaci Ali? Sebaliknya orang yang mengkritik Muawiyah dikatakan mencaci sahabat Nabi SAWA? Jika seseorang yang menolak kekhalifahan Abu Bakar dianggap kafir, apakah pula hukumnya orang yang menolak perlantikan Ali setelah ada Hadith al-Ghadir yang menetapkan Ali AS sebagai khalifah selepas Nabi SAWA wafat? Bolehkah umat Islam memilih selain daripada yang telah ditetapkan oleh Rasulnya?
.
Alllah SWT berfirman dalam Surah Hud:113,bermaksud: “Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh oleh api neraka…”
.
Dan banyak lagi ayat-ayat al-Qur’an yang menyuruh manusia berbuat adil, dan melarang mereka dari berbuat zalim [nota: standard “adil”atau sebaliknya adalah berpandukan Kitab Allah Azza Wa-Jalla dan tidak ada sesiapa pun dikecualikan hatta para “sahabat” sekalipun].Balasan Allah SWT di akhirat kelak berasaskan segala amalan manusia ketika hidup di dunia – yang baik ke syurga dan yang buruk ke neraka.
.
Ini bermakna istilah “sahabatku”dalam Hadith Nabi SAWA tidak bermakna merujuk kepada semua sahabat [sekiranya jumlah yang hadir pada Haji Wida’ iaitu seramai 140,000 atau 90,000 orang] adalah adil belaka. Sahabat yang adil memang ada seperti Abu Dzar al-Ghiffari yang dinyatakan sendiri oleh Nabi Muhammad SAWA [terjemahan]:” Tidaklah langit menaungi seseorang dan tidak bumi membawa seseorang yang lebih jujur daripada Abu Dzar RA.”[Sunan al-Tirmidzi, Hadith 3889]
.
Begitu juga terdapat segolongan sahabat yang ingkar mengikut perintah Nabi SAWA terutamanya selepas Nabi SAWA wafat dan menjadi seteru Ahlul Bayt AS [keluarga Nabi SAWA] seperti yang tercatat dalam kitab-kitab sejarah. Nabi SAWA bersabda seperti yang diriwayatkan dalam Sunan al-Tirmidzi, hadith 3878,[terjemahan]: “Cintailah Allah kerana nikmat-nikmatnya yang diberikan kepadamu dan cintailah aku kerana cinta kepada Allah dan cintailah keluargaku kerana cinta kepadaku.”
.
Oleh itu sesiapa yang memusuhi Ahlul Bayt AS memang menjadi musuh Rasulullah SAWA dan Allah SWT. Bukankah Allah SWT telah melaknat golongan yang zalim dalam al-Qur’an?   “Ingatlah, laknat Allah (ditimpakan) ke atas orang-orang yang zalim.”[Qur’an: 11: 18]

Ratusan orang membakar pesantren, mushala, dan rumah warga di Kecamatan Omben, Sampang, Madura. Dosa mereka: karena pesantren yang dipimpin Ustaz Tajul Muluk itu mengajarkan Islam mazhab Syiah yang dianggap sesat.Reaksi pun datang dari berbagai pihak. Ketua Muhammadiyah Din Syamsuddin dan Ketua Majelis Ulama Indonesia Umar Shihab menyusul menegaskan bahwa Syiah tidak sesat.

Syiah Dua Belas Imam (Itsna’asyariyah) memiliki banyak kesamaan dengan mazhab Syafi’i, salah satu mazhab Ahlus-Sunnah (Sunni) yang menjadi panutan mayoritas nahdliyin di Indonesia. Kultur NU juga sangat mencintai Ahlul Bait (keluarga) Nabi Muhammad SAW dan keturunannya.Peringatan haul, acara tahlil orang meninggal tiga hari, 40 hari, dan sebagainya—yang banyak dilakukan warga NU—sesungguhnya serupa dengan upacara-upacara Syiah. Nahdliyin juga pantang menikahkan anak atau berpesta pada hari Asyura, yang merupakan hari kesedihan memperingati syahidnya cucu Nabi, Al-Husain (Imam Syiah ketiga). Di kalangan NU juga sering dibacakan Salawat Dibb, di mana di dalamnya disebutkan nama-nama Imam Syiah dan keistimewaan Ahlul Bait.

Banyak studi menunjukkan bahwa versi Islam yang pertama datang ke Indonesia sesungguhnya adalah Islam Syiah, sebagaimana dibuktikan hadirnya tradisi Syiah di Aceh. Menurut Syafiq Hasyim (mengutip Marcinkowski dalam Irasec’s Discussion Papers, 2011) muslimin di Indonesia berutang kepada para ulama dan pedagang Syiah yang membawa Islam ke Indonesia.

Dari pedang ke pena

Studi lain menyebutkan, pada sekitar 320 H, Ahmad bin Isa ”Al-Muhajir” bin Muhammad bin Ali bin Ja’far As-Shadiq—keturunan kesembilan dari Nabi SAW—hijrah dari Irak ke Hadramaut, Yaman bagian selatan. Pedagang kaya itu menghindari teror penguasa Bani Abbasiyah, saat keturunan Nabi SAW, yang notabene Syiah, dikejar-kejar kaki tangan khalifah di Irak (Walter Dostal dalam The Saints of Hadramawt, 2005).

Cucu Imam Syiah keenam (Ja’far As-Shadiq) itu kemudian mematahkan pedangnya. Sebagai gantinya, Al-Muhajir mengajak para pengikutnya memproklamasikan dakwah secara damai dengan pena. Di Hadramaut itu ia mengajarkan tarekat Al-Alawiy yang sufi. Sebagian sejarawan mengatakan ia bermazhab Syafi’i, tetapi ada pula yang menunjukkan bahwa sebenarnya ia Syiah, tetapi menutupinya demi keselamatan dari kejaran penguasa.

2,5  juta umat Islam di Indonesia yang bermazhab Syiah. Yang kita tahu, dua pokok ajaran kelompok minoritas (sekitar 20 persen dari total umat Islam di dunia) ini adalah keharusan mengikuti Ahlul Bait (keluarga) Nabi SAW—mulai dari khalifah keempat Ali bin Abi thalib hingga ke-11 anak cucunya—dan berdasarkan Al Quran dan hadis serta mengakui kepemimpinan Ali sebagai penerus Nabi SAW.

Ali itulah salah seorang Ahlul Bait Nabi SAW yang utama. Anggota yang lain adalah putri Nabi (yang juga istri Ali), Siti Fatimah Az-Zahra, serta kedua anak mereka, Hasan dan Husain. Sebagai dalil naqli, Syiah merujuk beberapa ayat Al Quran; juga pada hadis Nabi SAW mengenai kata ”Ahlul Bait”’ dalam Surat Asyu’ara 23, yang menyatakan kewajiban mencintai keluarganya. Yang menarik adalah bahwa tidak kurang dari 45 ulama Sunni terdahulu juga meriwayatkan hadis itu, di antaranya Ahmad bin Hanbal, Al-Thabrani, Al-Hakim, Jalaluddin Al-Suyuti, dan Ibnu Katsir.

Itu sebabnya, kecintaan kepada Ahlul Bait Nabi SAW  hanya monopoli kaum Syiah

Toleransi dan persatuan

Walhasil, kini kita bisa membayangkan: apabila Syiah yang secara kultural dekat dengan NU saja diserang, apatah lagi yang akan terjadi pada pengikut ajaran lain yang punya lebih banyak perbedaan?

Melihat beragamnya mazhab itu, sejak lama banyak ulama Sunni dan Syiah menekankan perlunya persatuan ukhuwah Islamiyah. Pada era 2000-an upaya persatuan itu diperkuat dengan hadirnya lembaga Pendekatan Antar-Mazhab Dunia (Al-Majma’ al-Alamy lit-Taqrib baina al-Madzahib), yang banyak sidangnya juga dihadiri ulama-ulama dari Indonesia.

Maka, dalam konteks persatuan, tokoh Sunni, seperti Quraish Shihab, mengingatkan umat Islam tidak boleh main tuduh. Mengutip mantan Guru Besar Universitas Al-Azhar Syaikh Muhammad Abul Azhim az-Zarqany yang mengecam kesalahan kelompok yang saling memaki, Quraisy mengatakan, ”Jangan sampai menuduh seorang Muslim dengan kekufuran, bidah, atau hawa nafsu hanya disebabkan dia berbeda dengan kita dalam pandangan Islam yang bersifat teoritis…” (Shihab, 2007).

Memang orang Syiah, sebagaimana saudaranya yang Sunni, percaya pada hadis tentang pentingnya Al Quran dan Sunnah. Namun, berbeda dengan Sunni, mereka lebih kuat berpegang pada hadis lain (juga diriwayatkan banyak sumber Sunni) yang mengharuskan berpegang kepada Al Quran dan Ahlul Bait—yang mana keduanya tidak akan berpisah hingga akhir zaman sehingga tidak akan tersesat siapa pun yang berpegang pada keduanya.

Namun, sebagian ulama berpendapat bahwa perbedaan itu hanya soal cabang agama (furu’), dan bukan masalah pokok ajaran Islam (ushuluddin). Tak aneh jika tokoh sekaliber Abdurrahman Wahid mengakui bahwa Syiah adalah mazhab kelima dalam Islam (Daniel Dhakidae, 2003).

Dan bila keisalaman dan kekufuran seseorang diukur dengan sahabat? Apakah ini bukan pendewaan terhadap mereka? Apakah segala perubahan yang dilakukan oleh khalifah pertama, kedua, ketiga tidak mengubah hukum Allah? Dan apabila menerima perbuatan mereka dan menolak hukum Allah bukan pendewaan?

Syiah menerima bahwa ahlu sunnah mencintai dan memuliakan ahlu bait, tetapi apakah mereka benar-benar meletakan ahlu bait pada posisi yang Allah SWT telah letakan? Apakah tiada hikmah mengapa mereka disucikan dan diwajibkan kecintaan ke atas mereka dan solat dan selawat tidak diterima tanpa menyebut mereka.  jika ahlu sunnah benar-benar hormati mereka sepatutnya mereka juga perlu menghormati orang-orang yang ikut mereka,bukan menuduh dengan hal-hal tidak benar. Kita diwajibkan untukmengikuti Al Quran, apakah tidak wajib kita mengikuti mereka yang disucikan untuk menjaga Al Quran dan mendampingi Al Quran.

Jadi kita perlu hati-hati….

Al hasil, kita perlu hati-hati, jangan sampai terjebak dalam permainan murahan musuh-musuh Islam, yang sedang kuwalahan menghadapi perjuangan para pejuang Islam di berbagai belahan dunia Islam. Maka senjata paling membuahkan hasil adalah memecah belah kesatuan umat Islam dengan saling mengafirkan satu sama lain!!!

Mari kita wujudkan persatuan dan kesatuan di antara umat Islam dengan kembali kepada prinsip-prinsip dasar yang saling disepakati bersama dan bertolenransi dalam hal-hal khilafiyah yang diperselisihkan para ulama.

Semoga Umat cepat bersatu.

Amin!

Buku-buku Sesat Buatan Para Aktifis Wahabisme di Indonesia untuk menyerang NU ! Target mereka adalah mewahabikan Nahdiyyin

Isu-isu Dakwah Kaum Sempalan Penyebab Fitnah dan Keresahan Ummat Islam

Yahudi di balik Perpecahan dan Fitnah

Buku-buku Sesat Buatan Para Aktifis Wahabisme di Indonesia untuk menyerang NU :

  • Amaliyah Sesat di Bulan Ramadhan

  •  Bongkar Kesesatan Debat Terbuka Kyai NU di Pasca Sarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya

  • Buku Putih Kyai NU

  •  Mantan Kiai NU Menggugat Sholawat dan Dzikir Syirik

  •   Mantan Kiai NU Menggugat Tahlilan, Istighosahan dan Ziarah Para Wali

  •  Mantan Kyai NU Bongkar Habis Kasidah Syirik yang Bersarang di Lingkungannya

  •   Mantan Kyai NU Meluruskan Ritual-ritual Kiai Ahli Bidah yang Dianggap Sunnah

  •  Mantan Kyai NU Membongkar Praktek Syirik Kiai, Habib dan Gus Ahli Bid’ah

  • Meredam Dahsyatnya Siksa Kubur

  • Mustasyar MWC NU Membedah Kitab Tauhid Kiai Ahli Bid’ah

  • Sesat Tanpa Sadar, Terobsesi Amaliah Bid’ah Hasanah

  • Yasin Fadhilah, Qur’an Kyai Ahli Bid’ah

    Sumber : http://ammanmessage.com/index.php?option=com_content&task=view&id=91&Itemid=74

    Sumber : http://ammanmessage.com/index.php?option=com_content&task=view&id=17&Itemid=31

    wahai wahabi pedomanilah Risalah Amman !!!

    wahabi wahabi berhentilah merekrut pengikut dari kalangan Nahdiyyin !

Buya Hamka, Din Syamsuddin, Ahmad Syafii Maarif dan Syafiq A Mughni sebagai wakil Muhammadiyah nyatakan Syi’ah Tidak Sesat !!!

Alm, Buya Hamka (Mantan Ketua Umum MUI Pusat)

Mengutip pernyataan Imam Syafi’i.Jika saya dituduh Syiah karena mencintai keluarga Muhammad Saw, maka saksikanlah wahai Jin dan Manusia, bahwa saya ini orang Syiah. Jika dituduhkan kepada saya bahwa saya Syiah karena membela Imam Ali, saya bersaksi bahwa saya Syiah”(majalah.tempointeraktif.com)

Pandangan Buya Hamka

Buya Hamka dalam tulisannya yang berjudul “Majelis Ulama Indonesia Bicaralah! ” di sebuah Harian Kompas (11/9/1980), mengulas persoalan politik Iran dan bagaimana terjadinya Revolusi. Menurut Ustadz Fahmi, Buya Hamka menyatakan bahwa “Setelah saya mendapat kesempatan berkunjung ke Iran sendiri, bahwa apa yang dinamakan saudara-saudara kita di Iran sebagai revolusi Islam merupakan Revolusi Islam dalam anggapan Syiah, sedangkan kita sendiri di Indonesia adalah Golongan Sunni.

Buya Hamka juga menyikapi perubahan politik Iran, dengan menyatakan : “Sebagaimana preambule Undang Undang Dasar Republik Indonesia, Saya menghormati Revolusi Iran yang telah berlangsug dinegeri tersebut, melawan feodalisme Kerajaan yang sangata tidak adil, ini sesuai UUD RI teutama paragraf 2″.

“Karena Revolusi didasari mazhab Syiah, maka kita tidak berhak mencampuri urusan negara orang lain. Demikianpun sebaliknya, negara lain tidak boleh mencampuri urusan negara kita. Dan Saya pun, tetap seorang sunni yang tidak perlu berpegang kepada pendapat orang syiah dan ajaran-ajaran Ayatullah”

Saya juga mengajukan data bila Almarhum Buya Hamka atau nama aslinya Haji Abdul Malik Karim Abdullah, salah seorang ulama terbesar dan terbaik yang pernah dimiliki oleh bangsa Indonesia pun dalam menulis bukunya yang berjudul asli “Sedjarah Ummat Islam” khususnya jilid 2 (terbitan Tokobuku Islamyah Medan 1952) justru banyak bercorakkan pemikiran syiah ketika membahas perihal kejadian-kejadian pasca wafatnya Rasulullah SAW sampai masa-masa pembantaian Husain cucu Nabi dipadang Karbala.

Sebelumnya, salah seorang sahabat lain digrup facebook juga menyebutkan bahwa Buya Hamka dalam tafsir Al-Azharnya juga ada merujuk pada literatur Syiah seperti berikut ini :

Prof.Dr.H. Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) dalam majalah tengah bulanan “Panji Masyarakat” No.169/ tahun ke XV11 15 februari 1975 (4 Shafar 1395 H) halaman 37-38 menjelaskan bahwa pengajaran agama Islam di negeri kita diajarkan langsung oleh para ulama keturunan cucu Rasulullah seperti Syarif Hidayatullah atau yang dikenal dengan Sunan Gunung Jati.

Berikut kutipan penjelasan Buya Hamka

***** awal kutipan ****

“Rasulallah shallallahu alaihi wasallam  mempunyai empat anak-anak lelaki yang semuanya wafat waktu kecil dan mempunyai empat anak wanita. Dari empat anak wanita ini hanya satu saja yaitu (Siti) Fathimah yang memberikan beliau shallallahu alaihi wasallam dua cucu lelaki dari perkawinannya dengan Ali bin Abi Thalib. Dua anak ini bernama Al-Hasan dan Al-Husain dan keturunan dari dua anak ini disebut orang Sayyid jamaknya ialah Sadat. Sebab Nabi sendiri mengatakan, ‘kedua anakku ini menjadi Sayyid (Tuan) dari pemuda-pemuda di Syurga’. Dan sebagian negeri lainnya memanggil keturunan Al-Hasan dan Al-Husain Syarif yang berarti orang mulia dan jamaknya adalah Asyraf. Sejak zaman kebesaran Aceh telah banyak keturunan Al-Hasan dan Al-Husain itu datang ketanah air kita ini. Sejak dari semenanjung Tanah Melayu, kepulauan Indonesia dan Pilipina.

Harus diakui banyak jasa mereka dalam penyebaran Islam diseluruh Nusantara ini. Diantaranya Penyebar Islam dan pembangunan kerajaan Banten dan Cirebon adalah Syarif Hidayatullah yang diperanakkan di Aceh. Syarif kebungsuan tercatat sebagai penyebar Islam ke Mindanao dan Sulu. Yang pernah jadi raja di Aceh adalah bangsa Sayid dari keluarga Jamalullail, di Pontianak pernah diperintah bangsa Sayyid Al-Qadri. Di Siak oleh keluaga Sayyid bin Syahab, Perlis (Malaysia) dirajai oleh bangsa Sayyid Jamalullail. Yang dipertuan Agung 111 Malaysia Sayyid Putera adalah Raja Perlis. Gubernur Serawak yang ketiga, Tun Tuanku Haji Bujang dari keluarga Alaydrus.  

Kedudukan mereka dinegeri ini yang turun temurun menyebabkan mereka telah menjadi anak negeri dimana mereka berdiam. Kebanyakan mereka jadi Ulama. Mereka datang dari hadramaut dari keturunan Isa Al-Muhajir dan Fagih Al-Muqaddam. Yang banyak kita kenal dinegeri kita yaitu keluarga Alatas, Assegaf, Alkaff, Bafaqih, Balfaqih, Alaydrus, bin Syekh Abubakar, Alhabsyi, Alhaddad, Al Jufri, Albar, Almusawa, bin Smith, bin Syahab, bin Yahya …..dan seterusnya.

Yang terbanyak dari mereka adalah keturunan dari Al-Husain dari Hadramaut (Yaman selatan), ada juga yang keturunan Al-Hasan yang datang dari Hejaz, keturunan syarif-syarif Makkah Abi Numay, tetapi tidak sebanyak dari Hadramaut. Selain dipanggil Tuan Sayid mereka juga dipanggil Habib. Mereka ini telah tersebar didunia. Di negeri-negeri besar seperti Mesir, Baqdad, Syam dan lain-lain mereka adakan NAQIB, yaitu yang bertugas mencatat dan mendaftarkan keturunan-keturunan Sadat tersebut. Disaat sekarang umum- nya mencapai 36-37-38 silsilah sampai kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan Sayyidati Fathimah Az-Zahra ra.

***** akhir kutipan *****

 

 

Untuk perbandingan,  pendapat Din Syamsuddin dari Muhammadiyah

Sumber : http://jogja.tribunnews.com/2012/08/29/dien-syamsudin-minta-ulama-tak-keluarkan-fatwa-sesat-syiah

Sumber : http://www.antaranews.com/berita/330004/muhammadiyah-syiah-hanya-beda-soal-kepemimpinan

Berita ini saya publish karena grup Muhammadiyah sendiri adalah grup terbuka yang bisa diakses oleh siapa saja. Membernya pun beragam. Semoga menjadi dasar perbaikan kedepannya, demi tujuan dan cita-cita Muhammadiyah itu sendiri. Jangan sampai nanti, para pemimpin Muhammadiyah menyatakan keluar bahwa tidak semua syiah itu sesat dan keluar dari Islam, tetapi dalam grupnya sendiri justru banyak fatwa-fatwa sesatnya semua kelompok syiah bertebaran. Sepertinya ini juga menjadi PR bagi Pak Din Syamsuddin maupun pihak terkait lainnya di Muhammadiyah

tokoh Muhammadiyah nyatakan Syiah tidak sesat

Kamis, 30 Agustus 2012 18:47:13

SURABAYA

Muhammadiyah menyatakan Syiah bukan ajaran sesat tetapi organisasi yang didirikan KH Ahmad Dahlan itu tidak sepakat dengan aliran keagamaan yang berkembang di Iran tersebut, sikap ini berbeda dengan yang dilakukan PW Muhammadiyah Jawa Timur pada Maret lalu.

“Syiah memang lebih cenderung kepada amaliah yang terkait langsung dengan Ali bin Abi Thalib, tapi hal itu bukan berarti sesat, karena itu hanya konsekuensi dari sebuah kultus individu,” Ketua PP Muhammadiyah Syafiq A Mughni di Surabaya sebagaimana dikutip dari Antara, Rabu (29/8).

Menurut Syafiq, perbedaan yang sangat menonjol terkait Syiah itu masalah kepemimpinan setelah Nabi Muhammadiyah harus dijabat Ali bin Abi Thalib.

“Dari sudut ajaran Islam, saya memang tidak sepakat dengan Syiah, tapi perbedaan itu juga ada dalam paham-paham lain yang ada di dalam Islam,” katanya

Ia juga mengatakan kepada Syiah dan aliran keagamaan yang lain untuk saling menghormati dan membangun kehidupan berbangsa lebih baik.

“Kepada Syiah dan aliran atau paham apapun sebaiknya justru saling menghormati dan menghargai untuk membangun kehidupan yang lebih baik,” jelas Guru Besar Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel Surabaya ini.

Lanjutnya Muhammadiyah mengutuk kekerasan yang dilakukan terhadap penganut Syiah di Sampang.  “Sebab mereka juga sama dengan kita sebagai umat Islam dan sebagai warga negara Indonesia,” papar Syafiq

Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif mengutuk keras aksi pembakaran terhadap pondok pesantren Syiah di Kecamatan Karang Penang, Sampang. Terlebih jika aksi pembakaran tersebut dilatarbelakangi oleh perbedaan pandangan keagamaan.

Menurut pria yang lebih akrab dipanggil Buya ini, hal semacam itu harus dihentikan. Sebab kebenaran bukanlah milik individu apalagi kelompok. “Saya rasa sikap yang tidak baik, ada monopoli kebenaran,” ujar Buya kepada okezone, Minggu (1/1/2012).

Buya pun heran terhadap tindakan anarkistis sebagian masyarakat lantaran menganggap Syiah bertentangan dengan Islam. Padahal kata dia, Syiah diakui sebagai mazhab kelima dalam Islam. “Kalau Syiah dikalangan mazhab, dianggap sebagai mazhab kelima,” jelasnya.

Dia pun menyatakan bahwa setiap orang sekalipun atheis berhak hidup. Hal yang terpenting kata dia, bisa hidup rukun dan toleran. “Jadi perbuatan-perbuatan semacam itu harus dihentikkan, apalagi di Sampang itu bersaudara, masak agama memecah belah,” paparnya.

Dia meyakini para pemeluk agama yang melakukan tindakan anarkistis bukanlah penganut agama yang diridhai. “Menurut saya semacam itu bukan agama yang autentik,” pugkasnya.

Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Slamet Effendy Yusuf mengatakan kelompok aliran Syiah tidaklah bertentangan dengan Islam. Syiah dalam Islam diakui sebagai bagian aliran beberapa mazhab yang ada. Meskipun kata dia, Syiah memiliki beberapa perbedaan terkait cara pandang.

“MUI dalam rekomendasi pada 1984 menyatakan Syiah itu bagian dari mazhab dalam Islam, karena itu memang didalam mazhab, ada perbedaan-perbedaan tentang beberapa pandangan,” kata Slamet kepada okezone, Senin (1/1/2012).

Beberapa perbedaan dalam cara pandang antara lain terkait hadis dan imamah. “Seperti pandangan terhadap hadis, kalau Sunni, semua hadis yang diriwayatkan oleh para sahabat dan tabiin, oke. Sementara Syi’ah tidak. Soal Imamah di Sunni tidak mewajibkan tapi di Syiah mewajibkan, Terjemahan dalam solat antara Sunni dan Syiah ada perbedaan,” ujarnya.

Gus Dur, Said Aqil Siroj, dan Hasyim Muzadi sebagai wakil NU nyatakan Syi’ah Tidak Sesat !!!

Pernyataan Hasyim Muzadi dari NU tentang Syiah:

Sumber: http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,44-id,39518-lang,id-c,nasional-t,KH+Hasyim+Muzadi++Syiah+Bagian+dari+Islam-.phpx

Said-Aqil-Siradj-2.jpg
NU Tak Menganggap Syiah Aliran Sesat
Said Aqil Siradj
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siradj menegaskan, NU tidak pernah memandang Syiah sebagai aliran sesat.NU dan Syiah yang selama ini hidup berdampingan di Indonesia, menurut Said adalah bukti tidak adanya konflik NU dan Syiah.”
Apalagi, Syiah merupakan salah satu sekte Islam yang sudah berdiri sejak 14 abad lalu di dunia,” ujarnya saat konferensi pers di Istana Negara, Jakarta, Selasa (28/8/2012).
Dalam kenyataannya, lanjut Said, ada perbedaan mazhab antara NU dengan Syiah. Namun, perbedaan tersebut bagi NU tidak bisa dijadikan alasan untuk saling menyerang.”Bukan aliran sesat, hanya beda dengan kita. Tidak benar jika penyerangan mengatasnamakan NU. NU tidak pernah mentoleransi kekerasan dengan alasan apapun. Itu jelas keluar dari prinsip-prinsip NU dan Ahlussunah Waljamaah,” papar Said.

persamaan antar NU dengan syi’ah lebih banyak ditimbang perbedaannya. dan menurut kaca mata saya yang org awam banyak sekali provakator yang ingin menyudutkan syiah. Di lapangan banyak orang yang melihat “tata sholat” yang sedikit berbeda aja sudah dicap ” sesat” padahal jika kita tanyakan pada sunni di indonesia hanya 30% atau kurang yang mengetahuai bahwa mereka “sunni” dan mereka tidak faham akan mazhab. thats fact in our nation.

menjadi pertanyaan bagi saya ” mengapa media barat , wahabi dan zionis sangat benci dengan pengikut mazhab jakfari tersebut? ada apa ini ?

pendidikan agama di Indonesia yang over dosis pada materi ajar tertentu, yang parahnya kini telah menghasilkan lulusan yang sudah jenuh. Terlalu banyak ahli agama yang dihasilkan dari ‘sistem’ pendidikan yang gagal mengambil angle yang relevan dengan perubahan zaman. Bukankah produk yang sudah jenuh cenderung tidak laku di pasaran. Bangkrut…krut, dan hanya menyisakan kecemberutan budaya, gampang marah, mudah tersinggung, mudah menyalahkan orang dan lain-lain.

Akal sehat manapun menerima bahwa siapapun orangnya yang memimpin sesuatu yang penting, so pasti menyiapkan pengganti yang ditunjuk dengan jelas, apa perusahaan atau apalah. Agama yang sepenting ini ALLAH punya kuasa menunjuk nabi untuk umatnya, pastinya dan sangat pasti ALLAH menunjuk Imam/pemimpin pengganti setelah Nabi agar agamaNYA tegak dalam kebenaran. Gunakan akal sehat

Sebagian besar pengamal thariqat di Madura adalah Thariqat Naqsyabandiyyah. Dalam silsilah thariqat ini, banyak tersebut nama-nama Imam Syi’ah Itsna ‘Asyariyah. Seperti Imam Ja’far ash-Shadi, Imam ‘Ali alKazhim, dll. Karena itu, jika kesamaan tarekat  ini di kedepankan, maka sangat mungkin akan mempererat persaudaraan di antara kedua kubu

Konflik antara Sunni dengan Syiah bisa dicegah dengan mengembangkan nilai-nilai tarekat. Ini pas, karena Sunni di Indonesia suka tarekat, yang juga deket dengan Syiah.

Demikian dinyatakan Wakil Rais Syuriyah PCI NU Mesir Ahmad Syaifuddin

“Syiah dan Sunni yang sufi itu sama-sama mencintai ahli bait, khususnya Sayidina Ali bin Abi Thalib. Semua sanad tarekat bermuara ke Imam Ali, kecuali Naqsyabandiyah yang juga punya sanad ke Abu Bakar. Bedanya kalau sufi itu ta’dhim (penghormatan), kalau syiah itu taqdis (pengkultusan). Nah, di situ kesamaan kita dengan Syiah,” jelasnya.

Dia mencontohkan bahwa Sunni yang sufi dan Syiah bisa saja mengadakan haul Imam Ali, Hasan Husein bersama-sama, dengan catatan pihak Syiah tidak menampakkan ghuluw atau melampaui batas.

“Keduanya sama-sama tanazul. Yang beda dari mereka jangan diperlihatkan, yang beda dari kita jangan diperlihatkan,” ujar mahasiswa program doktor di Universitas Al-Azhar tersebut.

Dia melanjutkan, konflik Sunni-Syiah tidak bisa diselesaikan dengan debat, bahsul masail, atau munazharah. “Ndak mungkin berhasil itu diskusi,” tegasnya.

Syaifuddin berpesan, Syiah di Indonesia jangan seperti Syiah Iran. “Teman-teman Syiah di Indonesia harus melakukan pribumisasi. Kalau di Jawa ya harus njawani, pakai blangkon, pakai bubur abang bubur putih. Kalau di Sumatera yang harus menyesuaikan dengan Sumetera.”

.
Orang NU yang paling pandai membumikan Islam, sesuai dengan pedoman menjaga tradisi yang telah ada yang baik, serta mengambil hal-hal yang baru yang lebih baik.

Demikian pernyataan Yudi Latif, beberapa waktu lalu pada diskusi terbatas yang diselenggarakan Lembaga Bahsul Matsail Nahdalatul Ulama (LBM NU) di gedung PBNU

Pesantren Syiah, Darut Taqrib, berdiri di tengah lingkungan Nahdlatul Ulama, yang merupakan penganut Sunni di Desa Candi Bangsri, Jepara. Meski beberapa praktek peribadatannya berbeda, warga Syiah dan warga NU hidup damai di wilayah ini. Menurut Miqdad Turkan, murid Abdul Ghadir Bafaqih, pendiri aliran Syiah di Jepara, ada beberapa faktor yang menyebabkan kaum Syiah dan Sunni di Jepara bisa hidup damai.

Ada faktor hubungan kekerabatan dan pertemanan sejak lama. “Banyak tokoh kiai di Jepara dan sekitarnya pernah menjadi murid Ghadir,” kata Miqdad. Karena itu, ketika Abdul Ghadir beralih ke Syiah, muridnya tahu bahwa Abdul Ghadir memang berbeda sejak awal, sehingga tak menimbulkan masalah.

Selain itu, para kiai muda di Jepara juga berteman baik sejak di bangku sekolah. Yang tak kalang penting, kata Miqdad, kaum Syiah di sana tak pernah bertindak ekstrem atau berambisi mengajak orang Sunni masuk ke Syiah. “Orang Syiah berkembang secara alamiah dan orang lain melihat Syiah juga secara alamiah pula,” katanya.

Bagi Miqdad, secara naluriah, orang terus berproses dalam pencarian akibat ketidakpuasan spiritual. “Silakan diskusi. Selanjutnya Anda jadi Syiah atau tidak, itu hak anda. Orang yang bijak adalah yang bisa memahami orang lain tanpa harus mengikuti,” kata Miqdad.

Muhammad Ali, salah satu pengasuh pondok Darut Taqrib, menyatakan menjadi penganut Syiah secara alamiah setelah banyak membaca buku. “Saat umur 16 tahun, saya banyak membaca buku tentang Islam dan masyarakat, serta tentang Islam dan tantangan zaman,” katanya. Setelah itu, dia mondok di Pekalongan.

Sebelumnya, Ali adalah penganut Sunni tulen. Keluarganya pun pengikut setia Sunni. Kini, Ali beralih ke Syiah, sedangkan keluarganya masih ikut Sunni. Keluarga Ali juga tak mempersoalkan pilihan keyakinan anaknya. “Perbedaaan dalam hal kehidupan adalah sesuatu yang biasa, yang penting saling menghargai,” katanya.

Miqdad menambahkan, silakan menjadi pengikut Syiah atau Sunni. “Yang penting jangan berhenti belajar dan selalu membela kaum mustad’afin (kaum lemah),” ujarnya. Miqdad mencontohkan, penganut Syiah dan Sunni di Jepara sering melakukan salat berjamaah. Miqdad mengatakan, dalam salat berjamaah itu, tangan penganut Sunni bersedekap, sedangkan tangan penganut Syiah tidak demikian. “Tidak ada masalah. Itu hanya perbedaan yang tak substansial,” katanya.

Miqdad memperkirakan bahwa konflik antara kaum Syiah dan Sunni yang terjadi di beberapa tempat di Indonesia menunjukan ketidakpahaman mereka tentang Syiah. Dia menjamin hubungan Syiah-Sunni di Jepara akan tetap aman. “Kecuali kalau ada provokator dari luar daerah,” kata dia.

Menurut Miqdad, yang menarik perhatian masyarakat lain terhadap Syiah adalah kisah heroisme beberapa tokoh, misalnya pemimpin Hizbullah Lebanon, Syekh Hasan Nasrullah; Presiden Iran Mahmoud Ahmadinnejad, dan pemimpin Revolusi Iran, Ayatullah Khomeini.

Selain di Jepara, jemaah Ahlul Bait ada di Semarang. Sekitar 200 penganut Syiah terpencar di seantero Semarang. Berbeda dari sebelumnya, kini penganut Syiah tak lagi bersembunyi (taqiyah). Di Kampung Bulu, Stalan, misalnya, meski hanya ada tiga keluarga penganut Syiah, mereka sudah secara terbuka menunjukkan keyakinannya sebagai penganut Syiah.

Pengurus Yayasan Nuruts Tsaqalain, Nurkholishm menyatakan penyebaran Syiah tak dilakukan melalui doktrinasi. “Salah besar jika ada anggapan kalau Syiah berkembang di Indonesia karena mobilisasi,” katanya. Beralihnya seseorang menjadi Syiah lebih didasarkan pada pencarian kepuasan keilmuan. Salah satunya melalui buku. Pada 2009, buku tentang Syiah berjumlah sekitar 750 judul.

Pencarian kepuasan ilmu memang menjadi ciri khas penganut Syiah. Berbagai tema kehidupan juga menjadi bahan diskusi mereka. Namun kini komunitas Syiah juga mulai berkonsentrasi pada kegiatan sosial. “Dialog intelektual diminimalkan karena kebutuhan masyarakat luas adalah aksi nyata,” kata Nurkholis.

Jemaah Syiah di Jepara dan Semarang sering menyalurkan beasiswa, membedah rumah, melakukan bakti sosial, mendonorkan darah, dan membantu korban bencana alam. Mereka juga bekerja sama dengan berbagai kelompok penganut agama lain tanpa mengibarkan atribut apa pun.

Pengajar Institut Agama Islam Negeri Walisongo, Semarang, Muhksin Jamil, yang menyusun disertasi tentang Syiah di Jepara, menyatakan komunitas Syiah Jepara terbangun atas dasar persamaan proses pencarian kepuasan keilmuan dan peribadatan. Yang tak kalah penting, kata Muhksin, penganut Syiah tak menutup mata terhadap masalah sosial. “Mereka sering membela kaum mustad’afin (kaum lemah) dengan membedah rumah, memberi beasiswa, dan menyalurkan bantuan,” katanya.

Pesantren Syiah, Darut Taqrib, berdiri di tengah lingkungan Nahdlatul Ulama, yang merupakan penganut Sunni di Desa Candi Bangsri, Jepara. Meski beberapa praktek peribadatannya berbeda, warga Syiah dan warga NU hidup damai di wilayah ini. Menurut Miqdad Turkan, murid Abdul Ghadir Bafaqih, pendiri aliran Syiah di Jepara, ada beberapa faktor yang menyebabkan kaum Syiah dan Sunni di Jepara bisa hidup damai.

Ada faktor hubungan kekerabatan dan pertemanan sejak lama. “Banyak tokoh kiai di Jepara dan sekitarnya pernah menjadi murid Ghadir,” kata Miqdad. Karena itu, ketika Abdul Ghadir beralih ke Syiah, muridnya tahu bahwa Abdul Ghadir memang berbeda sejak awal, sehingga tak menimbulkan masalah.

Selain itu, para kiai muda di Jepara juga berteman baik sejak di bangku sekolah. Yang tak kalang penting, kata Miqdad, kaum Syiah di sana tak pernah bertindak ekstrem atau berambisi mengajak orang Sunni masuk ke Syiah. “Orang Syiah berkembang secara alamiah dan orang lain melihat Syiah juga secara alamiah pula,” katanya.

Bagi Miqdad, secara naluriah, orang terus berproses dalam pencarian akibat ketidakpuasan spiritual. “Silakan diskusi. Selanjutnya Anda jadi Syiah atau tidak, itu hak anda. Orang yang bijak adalah yang bisa memahami orang lain tanpa harus mengikuti,” kata Miqdad.

Muhammad Ali, salah satu pengasuh pondok Darut Taqrib, menyatakan menjadi penganut Syiah secara alamiah setelah banyak membaca buku. “Saat umur 16 tahun, saya banyak membaca buku tentang Islam dan masyarakat, serta tentang Islam dan tantangan zaman,” katanya. Setelah itu, dia mondok di Pekalongan.

Sebelumnya, Ali adalah penganut Sunni tulen. Keluarganya pun pengikut setia Sunni. Kini, Ali beralih ke Syiah, sedangkan keluarganya masih ikut Sunni. Keluarga Ali juga tak mempersoalkan pilihan keyakinan anaknya. “Perbedaaan dalam hal kehidupan adalah sesuatu yang biasa, yang penting saling menghargai,” katanya.

Miqdad menambahkan, silakan menjadi pengikut Syiah atau Sunni. “Yang penting jangan berhenti belajar dan selalu membela kaum mustad’afin (kaum lemah),” ujarnya. Miqdad mencontohkan, penganut Syiah dan Sunni di Jepara sering melakukan salat berjamaah. Miqdad mengatakan, dalam salat berjamaah itu, tangan penganut Sunni bersedekap, sedangkan tangan penganut Syiah tidak demikian. “Tidak ada masalah. Itu hanya perbedaan yang tak substansial,” katanya.

Miqdad memperkirakan bahwa konflik antara kaum Syiah dan Sunni yang terjadi di beberapa tempat di Indonesia menunjukan ketidakpahaman mereka tentang Syiah. Dia menjamin hubungan Syiah-Sunni di Jepara akan tetap aman. “Kecuali kalau ada provokator dari luar daerah,” kata dia.

Menurut Miqdad, yang menarik perhatian masyarakat lain terhadap Syiah adalah kisah heroisme beberapa tokoh, misalnya pemimpin Hizbullah Lebanon, Syekh Hasan Nasrullah; Presiden Iran Mahmoud Ahmadinnejad, dan pemimpin Revolusi Iran, Ayatullah Khomeini.

Selain di Jepara, jemaah Ahlul Bait ada di Semarang. Sekitar 200 penganut Syiah terpencar di seantero Semarang. Berbeda dari sebelumnya, kini penganut Syiah tak lagi bersembunyi (taqiyah). Di Kampung Bulu, Stalan, misalnya, meski hanya ada tiga keluarga penganut Syiah, mereka sudah secara terbuka menunjukkan keyakinannya sebagai penganut Syiah.

Pengurus Yayasan Nuruts Tsaqalain, Nurkholishm menyatakan penyebaran Syiah tak dilakukan melalui doktrinasi. “Salah besar jika ada anggapan kalau Syiah berkembang di Indonesia karena mobilisasi,” katanya. Beralihnya seseorang menjadi Syiah lebih didasarkan pada pencarian kepuasan keilmuan. Salah satunya melalui buku. Pada 2009, buku tentang Syiah berjumlah sekitar 750 judul.

Pencarian kepuasan ilmu memang menjadi ciri khas penganut Syiah. Berbagai tema kehidupan juga menjadi bahan diskusi mereka. Namun kini komunitas Syiah juga mulai berkonsentrasi pada kegiatan sosial. “Dialog intelektual diminimalkan karena kebutuhan masyarakat luas adalah aksi nyata,” kata Nurkholis.

Jemaah Syiah di Jepara dan Semarang sering menyalurkan beasiswa, membedah rumah, melakukan bakti sosial, mendonorkan darah, dan membantu korban bencana alam. Mereka juga bekerja sama dengan berbagai kelompok penganut agama lain tanpa mengibarkan atribut apa pun.

Pengajar Institut Agama Islam Negeri Walisongo, Semarang, Muhksin Jamil, yang menyusun disertasi tentang Syiah di Jepara, menyatakan komunitas Syiah Jepara terbangun atas dasar persamaan proses pencarian kepuasan keilmuan dan peribadatan. Yang tak kalah penting, kata Muhksin, penganut Syiah tak menutup mata terhadap masalah sosial. “Mereka sering membela kaum mustad’afin (kaum lemah) dengan membedah rumah, memberi beasiswa, dan menyalurkan bantuan,” katanya

Wahabi Tasyabbuh (Serupa) Yahudi

Syaikh Wahabi tasyabbuh Rabbi yahudi

Penampilan Syaikh-Syaikh Wahabi Sangat serupa dengan penampilan Rabbi-rabbi YahudiSyaikh Wahabi Mirip Rabbi Yahudi

Gus Dur (1995) menyebut Ayatullah Khomeini sebagai waliyullah atau wali terbesar abad ini

Gus Dur (1993) mempersilahkan warga NU untuk masuk Syi’ah

Menurut Sumber : Majalah Berita Mingguan GATRA Edisi : 25 November 1995 ( No.2/II ) bahwa Kiai Bashori mengatakan pernah mendengar pidato Gus Dur di Bangil, Jawa Timur, menyebut Ayatullah Khomeini sebagai waliyullah atau wali terbesar abad ini. Padahal, menurut pendapat ahlusunah waljamaah, jelas bahwa Syiah itu menyimpang dari Islam. Maka Kiai Bashori bertanya, “Bagaimana sih sebenarnya akidah sampeyan tentang Syiah ini?” . Menurut Effendy Choiri, yang dikenal sebagai pendukung Gus Dur, jawaban Gus Dur sebagai berikut: dari segi akidah, memang beda antara Syiah dan Sunni. Saya melihat Khomeini itu waliyullah bukan dalam konteks akidah, melainkan dalam konteks sosial. Khomeini adalah satu-satunya tokoh Islam yang berhasil menegakkan keadilan, memberantas kezaliman, dan lain-lain. Jadi soal akidah kita tetap beda dengan Syiah.

Ketika terjadi dialog di Genggong, Gus-Dur ditanya oleh K.H. Bashori Alwi  “saya mendengar langsung dari Gus-Dur, Apa alasan Gus-Dur mengatakan Khumaini waliyullah terbesar abad ini ? Gus Dur menjawab bahwa “yang saya maksudkan Khumaini waliyullah terbesar abad ini adalah Khumaini melawan kedloliman Syah Iran”

Almarhum Gus Dur yang sebagai ulama besar sekaligus Ketua Umum NU semasa hidupnya pernah mengatakan bahwa NU adalah golongan Syi’ah yang minus imamah

Gus-Dur meminta berusaha agar peredaran buku-buku dan kitab-kitab Syi’ah tidak perlu disensor oleh pemerintah. Lebih jauh Gus-Dur dalam dialog tersebut mempersilahkan warga NU untuk masuk Syi’ah, sehingga harian Terbit 15 Februari 1993 membuat judul Gus-Dur menyeberang ke Sy’iah.

Melalui majalah Aula (April 1996, halaman 26) Gus-Dur membantah dengan pertanyaan “Syi’ah mana yang saya kembangkan?”

Komentar Ustad Husain Ardilla : “Demikian sebagian kepeloporan Gus-Dur dalam mengembangkan Syi’ah di kalangan NU, sehingga wajar bila Gus-Dur dan Said Aqil saya katakan sebagai pelopor persatuanh NU- Syi’ah di akhir abad kedua puluh ini. Lebih baik NU membela syi’ah daripada wahabi pembunuh para ulama serta umat islam dan mengkafirkan orang tua nabi saw. Wahabi menuduh Tuhan memiliki tangan-wajah-mata-betis yang zahir lalu turun secara zahir ke langit dunia pada 1/3 malam yang akhir. Tuduhan wahabi kepada Tuhan dibantah NU dan syi’ah yang menta’wil ayat mutasyabihat”

ulama NU yang membela syiah bisa di maklumi karna gusdur pemimpin NU membela syiah

itu akan mendarah daging. Pengaruh gusdur sangat kuat di NU. Dan baru-baru ini Ketua Umum NU Said Aqil Siroj juga mengakui bahwa NU banyak kemiripan dan sampai membela mati-matian Syi’ah di Indonesia

Tugas wahabi hanya satu sebagaimana pekerjaannya syetan yaitu menyesatkan umat manusia.Syiah sangat menghormati GusDur, namun wahabi semacam  Ustadz Abu Bakar Ba’asyir malah menuduh Gus Dur telah murtad

Menurut Ba’asyir, Gus Dur itu Murtad

menurut Ba’asyir:“Jadi, mengenai mister Dur, menurut keyakinan saya Mr Dur ini murtad ”.

Ustadz Abu Bakar Ba'asyircPernyataan itu terlontar, saat ustad Abu Bakar Ba’asyir, berkali-kali di tanya oleh jemaah pengajian mengenai pengikut Gus Dur yang begitu mengkultuskannya. Dan ia pun menolak memanggil Abdurrahman Wahid dengan “Gus” karena baginya sebutan itu:

Maaf, saya tidak memanggil Gus, karena panggilan Gus itu hanya digunakan untuk anak kyai mulia di Jawa Timur”, kata ustad Abu. Ustad Abu mengatakan,

Ba’asyir berani mempertanggung jawabkan pernyataannya ini, ia pun menantang tokoh-tokoh NU untuk berdiskusi, bahkan ia pun berani bermubahalah

Farid Okbah memfitnah Ada Gerakan Syiahnisasi Di Indonesia

Farid Bin Ahmad Okbah, pemerhati masalah Syiah di Indonesia menegaskan bahwa keberadaan Islamic Cultural Center (ICC) di daerah Pejaten 2 Jakarta Selatan adalah sumber masalah utama terkait masalah Sampang. Hal ini disebabkan banyak ajaran-ajaran yang menggunakan kata Islam dari ICC namun isinya penuh dengan hal-hal yang berbau Syiah. Fakta-fakta tersebut dipaparkan Farid dalam kegiatan Tabligh Akbar  bertajuk, “Mengokohkan Ahlus Sunnah Wal Jamaah di Indonesia,” di  Masjid Al Furqon, Jakarta,  Ahad (16/09/2012).

“Fitnah terbesar di dalam tubuh umat Islam saat ini adalah Syiah. Dan yang tersebar di Indonesia adalah Syiah Jafariah dari Iran yang disebarkan melalui ICC,” jelas Farid dalam orasinya.

Bahkan Farid menganggap ICC merupakan alat Iran untuk melakukan syiahnisasi di Indonesia.

Padahal faktanya justru wahabi lah sumber teroris di Indonesia, wahabi merampok masjid masjid NU, wahabi melaknat NU. Wahabi berlindung dibalik gerakan anti syi’ah untuk merebut kantong kantong NU. Betapa banyak ma’had wahabi yang mewahabikan pengikut NU

Buya Hamka sebagai wakil Muhammadiyah nyatakan Syi’ah Tidak Sesat !!!

Alm, Buya Hamka (Mantan Ketua Umum MUI Pusat)

Mengutip pernyataan Imam Syafi’i.Jika saya dituduh Syiah karena mencintai keluarga Muhammad Saw, maka saksikanlah wahai Jin dan Manusia, bahwa saya ini orang Syiah. Jika dituduhkan kepada saya bahwa saya Syiah karena membela Imam Ali, saya bersaksi bahwa saya Syiah”(majalah.tempointeraktif.com)

Pandangan Buya Hamka

Buya Hamka dalam tulisannya yang berjudul “Majelis Ulama Indonesia Bicaralah! ” di sebuah Harian Kompas (11/9/1980), mengulas persoalan politik Iran dan bagaimana terjadinya Revolusi. Menurut Ustadz Fahmi, Buya Hamka menyatakan bahwa “Setelah saya mendapat kesempatan berkunjung ke Iran sendiri, bahwa apa yang dinamakan saudara-saudara kita di Iran sebagai revolusi Islam merupakan Revolusi Islam dalam anggapan Syiah, sedangkan kita sendiri di Indonesia adalah Golongan Sunni.

Buya Hamka juga menyikapi perubahan politik Iran, dengan menyatakan : “Sebagaimana preambule Undang Undang Dasar Republik Indonesia, Saya menghormati Revolusi Iran yang telah berlangsug dinegeri tersebut, melawan feodalisme Kerajaan yang sangata tidak adil, ini sesuai UUD RI teutama paragraf 2″.

“Karena Revolusi didasari mazhab Syiah, maka kita tidak berhak mencampuri urusan negara orang lain. Demikianpun sebaliknya, negara lain tidak boleh mencampuri urusan negara kita. Dan Saya pun, tetap seorang sunni yang tidak perlu berpegang kepada pendapat orang syiah dan ajaran-ajaran Ayatullah”

Saya juga mengajukan data bila Almarhum Buya Hamka atau nama aslinya Haji Abdul Malik Karim Abdullah, salah seorang ulama terbesar dan terbaik yang pernah dimiliki oleh bangsa Indonesia pun dalam menulis bukunya yang berjudul asli “Sedjarah Ummat Islam” khususnya jilid 2 (terbitan Tokobuku Islamyah Medan 1952) justru banyak bercorakkan pemikiran syiah ketika membahas perihal kejadian-kejadian pasca wafatnya Rasulullah SAW sampai masa-masa pembantaian Husain cucu Nabi dipadang Karbala.

Sebelumnya, salah seorang sahabat lain digrup facebook juga menyebutkan bahwa Buya Hamka dalam tafsir Al-Azharnya juga ada merujuk pada literatur Syiah seperti berikut ini :

 

Prof.Dr.H. Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) dalam majalah tengah bulanan “Panji Masyarakat” No.169/ tahun ke XV11 15 februari 1975 (4 Shafar 1395 H) halaman 37-38 menjelaskan bahwa pengajaran agama Islam di negeri kita diajarkan langsung oleh para ulama keturunan cucu Rasulullah seperti Syarif Hidayatullah atau yang dikenal dengan Sunan Gunung Jati.

Berikut kutipan penjelasan Buya Hamka

***** awal kutipan ****

“Rasulallah shallallahu alaihi wasallam  mempunyai empat anak-anak lelaki yang semuanya wafat waktu kecil dan mempunyai empat anak wanita. Dari empat anak wanita ini hanya satu saja yaitu (Siti) Fathimah yang memberikan beliau shallallahu alaihi wasallam dua cucu lelaki dari perkawinannya dengan Ali bin Abi Thalib. Dua anak ini bernama Al-Hasan dan Al-Husain dan keturunan dari dua anak ini disebut orang Sayyid jamaknya ialah Sadat. Sebab Nabi sendiri mengatakan, ‘kedua anakku ini menjadi Sayyid (Tuan) dari pemuda-pemuda di Syurga’. Dan sebagian negeri lainnya memanggil keturunan Al-Hasan dan Al-Husain Syarif yang berarti orang mulia dan jamaknya adalah Asyraf. Sejak zaman kebesaran Aceh telah banyak keturunan Al-Hasan dan Al-Husain itu datang ketanah air kita ini. Sejak dari semenanjung Tanah Melayu, kepulauan Indonesia dan Pilipina.

Harus diakui banyak jasa mereka dalam penyebaran Islam diseluruh Nusantara ini. Diantaranya Penyebar Islam dan pembangunan kerajaan Banten dan Cirebon adalah Syarif Hidayatullah yang diperanakkan di Aceh. Syarif kebungsuan tercatat sebagai penyebar Islam ke Mindanao dan Sulu. Yang pernah jadi raja di Aceh adalah bangsa Sayid dari keluarga Jamalullail, di Pontianak pernah diperintah bangsa Sayyid Al-Qadri. Di Siak oleh keluaga Sayyid bin Syahab, Perlis (Malaysia) dirajai oleh bangsa Sayyid Jamalullail. Yang dipertuan Agung 111 Malaysia Sayyid Putera adalah Raja Perlis. Gubernur Serawak yang ketiga, Tun Tuanku Haji Bujang dari keluarga Alaydrus.  

Kedudukan mereka dinegeri ini yang turun temurun menyebabkan mereka telah menjadi anak negeri dimana mereka berdiam. Kebanyakan mereka jadi Ulama. Mereka datang dari hadramaut dari keturunan Isa Al-Muhajir dan Fagih Al-Muqaddam. Yang banyak kita kenal dinegeri kita yaitu keluarga Alatas, Assegaf, Alkaff, Bafaqih, Balfaqih, Alaydrus, bin Syekh Abubakar, Alhabsyi, Alhaddad, Al Jufri, Albar, Almusawa, bin Smith, bin Syahab, bin Yahya …..dan seterusnya.

Yang terbanyak dari mereka adalah keturunan dari Al-Husain dari Hadramaut (Yaman selatan), ada juga yang keturunan Al-Hasan yang datang dari Hejaz, keturunan syarif-syarif Makkah Abi Numay, tetapi tidak sebanyak dari Hadramaut. Selain dipanggil Tuan Sayid mereka juga dipanggil Habib. Mereka ini telah tersebar didunia. Di negeri-negeri besar seperti Mesir, Baqdad, Syam dan lain-lain mereka adakan NAQIB, yaitu yang bertugas mencatat dan mendaftarkan keturunan-keturunan Sadat tersebut. Disaat sekarang umum- nya mencapai 36-37-38 silsilah sampai kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan Sayyidati Fathimah Az-Zahra ra.

***** akhir kutipan *****

 

 

Untuk perbandingan,  pendapat Din Syamsuddin dari Muhammadiyah

Sumber : http://jogja.tribunnews.com/2012/08/29/dien-syamsudin-minta-ulama-tak-keluarkan-fatwa-sesat-syiah

Sumber : http://www.antaranews.com/berita/330004/muhammadiyah-syiah-hanya-beda-soal-kepemimpinan

Berita ini saya publish karena grup Muhammadiyah sendiri adalah grup terbuka yang bisa diakses oleh siapa saja. Membernya pun beragam. Semoga menjadi dasar perbaikan kedepannya, demi tujuan dan cita-cita Muhammadiyah itu sendiri. Jangan sampai nanti, para pemimpin Muhammadiyah menyatakan keluar bahwa tidak semua syiah itu sesat dan keluar dari Islam, tetapi dalam grupnya sendiri justru banyak fatwa-fatwa sesatnya semua kelompok syiah bertebaran. Sepertinya ini juga menjadi PR bagi Pak Din Syamsuddin maupun pihak terkait lainnya di Muhammadiyah

tokoh Muhammadiyah nyatakan Syiah tidak sesat

Kamis, 30 Agustus 2012 18:47:13

SURABAYA

Muhammadiyah menyatakan Syiah bukan ajaran sesat tetapi organisasi yang didirikan KH Ahmad Dahlan itu tidak sepakat dengan aliran keagamaan yang berkembang di Iran tersebut, sikap ini berbeda dengan yang dilakukan PW Muhammadiyah Jawa Timur pada Maret lalu.

“Syiah memang lebih cenderung kepada amaliah yang terkait langsung dengan Ali bin Abi Thalib, tapi hal itu bukan berarti sesat, karena itu hanya konsekuensi dari sebuah kultus individu,” Ketua PP Muhammadiyah Syafiq A Mughni di Surabaya sebagaimana dikutip dari Antara, Rabu (29/8).

Menurut Syafiq, perbedaan yang sangat menonjol terkait Syiah itu masalah kepemimpinan setelah Nabi Muhammadiyah harus dijabat Ali bin Abi Thalib.

“Dari sudut ajaran Islam, saya memang tidak sepakat dengan Syiah, tapi perbedaan itu juga ada dalam paham-paham lain yang ada di dalam Islam,” katanya

Ia juga mengatakan kepada Syiah dan aliran keagamaan yang lain untuk saling menghormati dan membangun kehidupan berbangsa lebih baik.

“Kepada Syiah dan aliran atau paham apapun sebaiknya justru saling menghormati dan menghargai untuk membangun kehidupan yang lebih baik,” jelas Guru Besar Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel Surabaya ini.

Lanjutnya Muhammadiyah mengutuk kekerasan yang dilakukan terhadap penganut Syiah di Sampang.  “Sebab mereka juga sama dengan kita sebagai umat Islam dan sebagai warga negara Indonesia,” papar Syafiq

Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif mengutuk keras aksi pembakaran terhadap pondok pesantren Syiah di Kecamatan Karang Penang, Sampang. Terlebih jika aksi pembakaran tersebut dilatarbelakangi oleh perbedaan pandangan keagamaan.

Menurut pria yang lebih akrab dipanggil Buya ini, hal semacam itu harus dihentikan. Sebab kebenaran bukanlah milik individu apalagi kelompok. “Saya rasa sikap yang tidak baik, ada monopoli kebenaran,” ujar Buya kepada okezone, Minggu (1/1/2012).

Buya pun heran terhadap tindakan anarkistis sebagian masyarakat lantaran menganggap Syiah bertentangan dengan Islam. Padahal kata dia, Syiah diakui sebagai mazhab kelima dalam Islam. “Kalau Syiah dikalangan mazhab, dianggap sebagai mazhab kelima,” jelasnya.

Dia pun menyatakan bahwa setiap orang sekalipun atheis berhak hidup. Hal yang terpenting kata dia, bisa hidup rukun dan toleran. “Jadi perbuatan-perbuatan semacam itu harus dihentikkan, apalagi di Sampang itu bersaudara, masak agama memecah belah,” paparnya.

Dia meyakini para pemeluk agama yang melakukan tindakan anarkistis bukanlah penganut agama yang diridhai. “Menurut saya semacam itu bukan agama yang autentik,” pugkasnya.

Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Slamet Effendy Yusuf mengatakan kelompok aliran Syiah tidaklah bertentangan dengan Islam. Syiah dalam Islam diakui sebagai bagian aliran beberapa mazhab yang ada. Meskipun kata dia, Syiah memiliki beberapa perbedaan terkait cara pandang.

“MUI dalam rekomendasi pada 1984 menyatakan Syiah itu bagian dari mazhab dalam Islam, karena itu memang didalam mazhab, ada perbedaan-perbedaan tentang beberapa pandangan,” kata Slamet kepada okezone, Senin (1/1/2012).

Beberapa perbedaan dalam cara pandang antara lain terkait hadis dan imamah. “Seperti pandangan terhadap hadis, kalau Sunni, semua hadis yang diriwayatkan oleh para sahabat dan tabiin, oke. Sementara Syi’ah tidak. Soal Imamah di Sunni tidak mewajibkan tapi di Syiah mewajibkan, Terjemahan dalam solat antara Sunni dan Syiah ada perbedaan,” ujarnya.

Apakah benar Syi’ah Itu Sesat???

Apakah benar Syi’ah Itu Sesat???

1. Syiah menyelewengkan al-Qur’an.
Ulama Syiah dari dulu hingga sekarang menolak pendapat tentang berlaku penyelewengan dalam bentuk seperti berlaku perubahan/tahrif, lebih atau kurangnya ayat-ayat Qur an sama ada dari kitab-kitab Syiah atau Ahlul Sunnah
.
Mereka berpendapat jika hujah berlakunya perubahan ayat-ayat Qur an diterima maka Hadith sohih Nabi Muhammad SAW yang bermaksud, ” Aku tinggalkan kamu dua perkara supaya kamu tidak akan sesat selama-lamanya iaitu al-Qur an dan Ahl Bayt,” tidak boleh dipakai lagi kerana al-Qur an yang diwasiatkan oleh Nabi SAW untuk umat Islam sudah berubah dari yang asal sedangkan Syiah sangat memberatkan dua wasiat penting itu dalam ajaran mereka
.
Lagi pun Hadith-hadith yang diriwayatkan dalam kitab-kitab Syiah berkaitan dengan tahrif keatas al-Qur an yang berjumlah kira-kira 300 itu adalah Hadith-hadith dhaif. Begitu juga dalam kitab-kitab Sunnah seperti Sahih Bukhari turut menyebut tentang beberapa Hadith tentang perubahan ayat-ayat Qur an misalnya tentang ayat rejam yang dinyatakan oleh Umar al-Khattab, perbezaan ayat dalam Surah al-Lail dan sebagainya. Bukahkah Allah SWT telah berfirman dalam al-Qur’an (Surah 15:9), yang bermaksud:” Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Zikr (al-Qur’an), dan sesungguhnya Kami memeliharanya.” Sekiranya seseorang itu menerima pendapat bahawa al-Qur’an telah diselewengkan oleh sesuatu golongan maka di sisi lain orang ini sebenarnya telah menyangkal kebenaran ayat di atas. Oleh itu semua pendapat tentang kemungkinan berlakunya tahrif dalam ayat-ayat Qur an  sama ada dari Syiah atau Sunnah wajib ditolak sama sekali
.
Imam Ja’far al-Sadiq AS meriwayatkan sebuah Hadith dari datuknya Rasulullah SAWA [bermaksud]:  “Setiap Hadith yang kamu terima dan bersesuaian dengan Kitab Allahtidak diragukan datangnya daripada  aku dan Hadith-hadith yang kamu terima yang bertentangandengan Kitab Allah, sesungguhnya bukan datang daripadaku.”[Al-Kulaini, al-Kafi, Jilid I, Hadith 205-5]
.
2. Nikah Muta’ah.
Berhubung dengan isu hangat iaitu Nikah Muta’h yang dikaitkan dengan zina, pendapat ini menimbulkan kemusykilan yang amat sangat. Ini kerana menyamakan Mut’ah Nikah dengan zina membawa maksud seolah-olah Nabi Muhammad SAWA pernah menghalalkan zina dalam keadaan-keadaan darurat seperti perang Khaibar dan pembukaan kota Mekah. Pendapat ini tidak boleh diterima kerana perzinaan memang telah diharamkan sejak awal Islam lagi dan tidak ada rokhsah dalam isu zina
.
Sejarah menunjukkan bahwa Abdullah bin Abbas diriwayatkan pernah mengharuskan Nikah Muta’ah.  Kalau muta’ah telah diharamkan pada zaman Nabi SAWA adakah mungkin Abdullah bin Abbas mengharuskannya? Sekiranya beliau tidak tahu [mungkinkah beliau tidak tahu?] tentang hukum haramnya muta’ah adakah beliau berani menghalalkannya pada waktu itu? Fatwa Abdullah bin Abbas juga menimbulkan tandatanya kerana tidak mungkin beliau berani mengharuskan zina [mut’ah] dalam keadaan darurat seperti makan bangkai, darah dan daging babi kerana zina [mut’ah] tidak ada rokhsah sama sekali walaupun seseorang itu akan mati jika tidak melakukan jimak. Sebaliknya Abdullah menyandarkan pengharaman muta’ah kepada Umar al-Khattab seperti tercatat dalam tafsir al-Qurtubi meriiwayatkan Abdullah bin Abbas berkata, ” Sekiranya Umar tidak mengharamkan mutaah nescaya tidak akan ada orang yang berzina kecuali orang yang benar-benar jahat.” (Lihat tafsiran surah al-Nisa:24)
.
Begitu juga pengakuan sahabat Nabi SAW iaitu Jabir bin Abdullah dalam riwayat Sohih Muslim, ” Kami para sahabat di zaman Nabi SAW dan di zaman Abu Bakar melakukan muta ah dengan segenggam korma dan tepung sebagai maharnya, kemudian Umar mengharamkannya kerana kes Amr bin khuraits.”
.
Jelaslah mutah telah diamalkan oleh para sahabat Nabi Muhammad SAW selepas zaman Rasulullah SAW wafat. Oleh itu hadith-hadith yang meriwayatkan bahawa Rasulullah SAW telah mengharamkan mutah nikah sebelum baginda wafat adalah hadith-hadith daif.
.
Dua riwayat yang dianggap kuat oleh ulama Ahlul Sunnah iaitu riwayat yang mengatakan nikah muta ah telah dihapuskanpada saat Perang Khaibar dan pembukaan kota Mekah sebenarnya hadith-hadith yang daif. Riwayat yang mengaitkan pengharaman muta ah nikah pada ketika Perang Khaibar lemah kerana seperti menurut Ibn al-Qayyim ketika itu di Khaibar tidak terdapat wanita-wanita muslimah yang dapat dikahwini. Wanita-wanita Yahudi (Ahlul Kitab) ketika itu belum ada izin untuk dikahwini. Izin untuk mengahwini Ahlul Kitab seperti tersebut dalam Surah al-Maidah terjadi selepas Perang Khaibar. Tambahan pula kaum muslimin tidak berminat untuk mengahwini wanita Yahudi ketika itu kerana mereka adalah musuh mereka.
.
Riwayat kedua pula diriwayatkan oleh Sabirah yang menjelaskan bahawa nikah muta ah diharamkan saat dibukanya kota Mekah (Sahih Muslim bab Nikah Muta’ah) hanya diriwayatkan oleh Sabirah dan keluarganya sahaja tetapi kenapa para sahabat yang lain tidak meriwayatkannya seperti Jabir bin Abdullah, Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud?
.
Sekiranya kita menerima pengharaman nikah muta’ah di Khaibar, ini bermakna muta’ah telah diharamkan di Khaibar dan kemudian diharuskan pada peristiwa pembukaan Mekah dan kemudian diharamkan sekali lagi. Ada pendapat mengatakan nikah muta’ah telah diharuskan 7 kali dan diharamkan 7 kali sehingga timbul pula golongan yang berpendapat muta’ah nikah telah di haramkan secara bertahap seperti mana pengharaman arak dalam al-Qur’an tetapi mereka lupa bahawa tidak ada ayat Qur’an yang menyebutkan pengharaman muta’ah secara bertahap seperti itu. Ini hanyalah dugaan semata-mata.
.
Yang jelas nikah muta’ah diharuskan dalam al-Qur an surah al-Nisa:24 dan ayat ini tidak pernah dimansuhkan sama sekali. Al-Bukhari meriwayatkan dari Imran bin Hushain:  “Setelah turunnya ayat muta’ah, tidak ada ayat lain yang menghapuskan ayat itu. Kemudian Rasulullah SAW pernah memerintahkan kita untuk melakukan perkara itu dan kita melakukannya semasa beliau masih hidup. Dan pada saat beliau meninggal, kita tidak pernah mendengar adanya larangan dari beliau SAW tetapi kemudian ada seseorang yang berpendapat menurut kehendaknya sendiri.” Orang yang dimaksudkan ialah Umar. Walau bagaimanapun Bukhari telah memasukkan hadith ini dalam bab haji tamattu
.
Pendapat Imam Ali AS adalah jelas tentang harusnya nikah muta’ah dan pengharaman muta’ah dinisbahkan kepada Umar seperti yang diriwayatkan dalam tafsir al-Tabari: “Kalau bukan kerana Umar melarang nikah muta’ah maka tidak akan ada orangyang berzina kecuali orang yang benar-benar celaka.” Sanadnya sahih. Justeru itu Abdullah bin Abbas telah memasukkan tafsiran (Ila Ajalin Mussama) selepas ayat 24 Surahal-Nisa bagi menjelaskan maksud ayat tersebut adalah ayat muta’ah (lihat juga Syed Sobiq bab nikah muta’ah).
.
Pengakuan Umar yang menisbahkan pengharaman muta’ah kepada dirinya sendiri bukan kepada Nabi SAWA cukup jelas bahawa nikah muta’ah halal pada zaman Nabi SAWA seperti yang tercatat dalam Sunan Baihaqi,  ” Dua jenis muta’ah yang dihalalkan di zaman Nabi SAWA aku haramkan sekarang dan aku akan dera siapa yang melakukan kedua jenis muta’ah tersebut. Pertama nikah muta’ah dan kedua haji tamattu”.
.
Perlulah diingatkan bahawa keharusan nikah mutah yang diamalkan oleh Mazhab Syiah bukan bermaksud semua orang wajib melakukan nikah mutah seperti juga keharusan kawin empat bukan bermaksud semua orang wajib kawin empat. Penyelewengan yang berlaku pada amalan nikah muta’ah dan kawin empat bukan disebabkan hukum Allah SWT itu lemah tetapi disebabkan oleh kejahilan seseorang itu dan tidak dinafikan kelemahan akhlaknya sebagai seorang Islam. Persoalannya jika nikah muta’ah sama dengan zina, apakah bentuk muta’ah yang diamalkan oleh para sahabat pada zaman Nabi Muhammad SAW dan zaman khalifah Abu Bakar?[catatan: Nikah muta’ah memang tidak sama dengan zina]
.
3. Syiah Kafir?
Dakwaan Syiah golongan kafir menimbulkan kemusykilan kerana pada setiap tahun orang-orang Syiah mengerjakan ibadat haji misalnya pada  tahun 1996, seramai 70,000 jemaah haji Iran mengerjakan haji. Oleh itu bagaimanakah boleh terjadi orang kafir (Syiah?) dibenarkan memasuki Masjidil Haram sedangkan al-Qur an mengharamkan orang kafir memasuki Masjidil Haram?
.
4. Syi’ah  Yahudi?
Dakwaan Syiah adalah hasil daripada ajaran Yahudi dan Nasrani juga tidak dapat diterima oleh akal yang sihat. Sebagai contoh, pada masa ini pejuang Hizbollah (Syiah) berperang dengan Yahudi di Lebanon. Ramai yang gugur syahid. Semua orang tahu Israel memang takut dengan pejuang Hizbollah sebab itu mereka sengaja mengebom markas PBB pada tahun 1996 untuk menarik negara-negara barat mencari jalan menghentikan peperangan dengan  Hizbollah itu. Fakta Abdullah bin Sabak yang dikatakan pengasas ajaran Syiah adalah kisah hayalan sahaja
.
Cerita Abdullah bin Sabak hanya dikutip oleh ahli-ahli sejarah seperti al-Tabari dari seorang penulis hayalan yang bernama Saif bin Umar al-Tamimi yang ditulis pada zaman Harun al-Rasyid. Jika seseorang itu meneliti hadith-hadith tentang kelebihan Ali atau hadith tentang Ali sebagai wasyi selepas Rasulullah SAWA yang dikatakan ajaran Abdullah bin Sabak – sebenarnya tidak terdapat riwayat yang mengutip dari Abdullah bin Sabak. Sebaliknya banyak hadith-hadith tentang kelebihan Ali datangnya dari Rasulullah SAWA. Umar bin al-Khattab pula sewaktu mendengar berita kewafatan Rasulullah SAWA enggan mempercayai kewafatan Rasulullah SAWA tetapi Umar percaya Rasulullah SAWA tidak wafat sebaliknya baginda SAWA pergi menemui TuhanNya seperti yang berlaku kepada Nabi Musa AS menghadap Tuhan selama 40 hari dan hidup semula selepas itu. Menurut Umar Rasulullah SAWA hanya naik ke langit.Lihat Tabari, Tarikh al-Muluk wal Umman, Jilid III,halaman 198]
.
Kisah seperti ini tidak ada dalam catatan Hadith-hadith Nabi SAWA tetapi mengapakah kita tidak menuduh Umar terpengaruh dari ajaran Yahudi?
.
5. Syiah memaksumkan imam-imam mereka.
Mereka berhujah dengan ayat Quran 33:33 yang bermaksud:  ” Sesungguhnya Allah hendak mengeluarkan dari kalian  kekotoran [rijsa] wahai Ahlul Baytdan menyucikan kalian sebersih-bersihnya.” Istilah Ahlul Bayt menurut Hadith Rasulullah SAWA merujuk kepada lima orang iaitu Rasulullah SAW, Fatimah, Ali, Hassan dan Husayn seperti yang diriwayatkan dalam Sohih Muslim
.
Perkataan rijsa[kekotoran] sudah tentu bukan kotor dari segi ain seperti najis dan sebagainya tetapi merujuk kepada dosa-dosa dan apabila Allah ‘hendak secara berterusan’ [yuridu] menyucikan mereka sebersih-bersihnya tidak boleh diragukan lagi ia merujuk kepada penyucian total dari sebarang dosa yang dalam istilah lain bermaksud mereka adalah maksum
.
Tambahan pula banyak ayat-ayat Qur an yang menjelaskan perintah Allah SWT supaya manusia berbuat maaruf dan meninggalkan perbuatan dosa.  Apabila Allah SWT memerintah manusia berbuat maaruf dan meninggalkan dosa sudah tentu Allah SWT tahu bahawa manusia itu memang mampu meninggalkan dosa kerana Allah SWT tidak akan membebankan manusia dengan suatu perintah yang manusia tidak mampu buat
.
Oleh itu sekiranya Syiah mengatakan imam mereka maksum iaitu tidak berbuat dosa serta Allah SWT memelihara mereka daripada perbuatan dosa berdasarkan Surah 33:33 itu, adakah ia bercanggah dengan al-Qur an? Adakah  mereka yang  tidak maksum layak menduduki maqam Imam ummah?
.
6. Syiah didakwa mengkafirkan para sahabat Nabi SAWA.
 Syi’ah tidak mencaci sahabat-sahabat Nabi SAWA tetapi menunjukkan perbuatan mereka yang menyalahi al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAWA seperti yang tercatat dalam kitab-kitab sejarah dan Hadith. Mereka menilai dan mengkritik perangai setengah sahabat dengan neraca al-Qur’an dan Hadith Nabi SAWA.]
.
Dan jangan lupa! Nabi Muhammad SAW juga pernah bersabda bahawa terdapat sahabat yang masuk neraka seperti dalam riwayat Sahih Muslim dan Sahih Bukhari [akan dijelaskan di bawah]
.
Apakah kita lupa istilah sahabat juga digunakan dalam al-Qur an untuk teman Nabi Yusuf yang bukan beriman kepada Allah SWT ketika dalam penjara? Sila baca Surah Yusuf untuk memuaskan hati kita (istilah sohibi al-Sijni digunakan=sahabatku dalam penjara[nota:beliau bukan Islam dan bersama Nabi Yusuf AS dalam penjara])
.
Memang Nabi Muhammad SAWA mempunyai sahabat-sahabat yang baik seperti Ammar bin Yasir, Abu Dzar al-Ghifari, Salman al-Farisi dan sebagainya tetapi di Madinah juga ada golongan munafiq yang dipanggil “sahabat” oleh Nabi SAWA seperti Abdullah bin Ubay bin Salool. Dalam Sohih Bukhari juga diriwayatkan bahawa ada segolongan “sahabat” yang bakal masuk neraka ketika berjumpa Nabi Muhammad SAWA di al-Haudh. Nabi SAWA memanggil mereka dengan istilah ‘ashabi’ [sahabatku]. Sila rujuk Sahih Bukhari[Sahih Al-Bukhari, Jilid 4, hlm.94-96];Sahih Muslim, Jilid IV, hadith 2133,2440.]
.
Sahabat yang baik memang kita hormati , sanjungi dan ikuti tetapi sahabat yang jahat seperti Muawiyah yang menentang Imam Ali AS dan mencaci Ali AS di atas mimbar patutkah kita berdiam diri?
.
Bukankah pasukan Muawiyah terlibat membunuh Amar bin Yasir dalam Perang Siffin? Nabi SAWA pernah menyatakan sebuah hadith dalam Sahih Bukhari menyifatkan orang yang terlibat dalam pembunuhan Amar adalah golongan pemberontak dan Rasulullah SAWA bersabda [terjemahan]:…Kamu (Amar) mengajak kelompok itu menuju ke Jannah tetapi kelompok itu mengajak ke neraka.” [Sahih Bukhari, Jilid II,Hadith 462].
.
Al-Qur’an memerintahkan kita taat kepada Ulil Amri – pada ketika itu ialah Imam Ali AS sebagai khalifah yang sah dan wajib ditaati. Adakah tindakan Muawiyah itu selaras dengan ajaran al-Qur’an dan tidak boleh dikritik?Kita ikuti sahabat yang baik dan kita tinggalkan contoh sahabat yang jauh dari ajaran al-Qur’an dan Hadith Nabi SAWA.Sejarah menunjukan bahawa seorang sahabat bernama al-Walid bin Utbah dikaitkan dengan asbabul nuzul ayat 6 Surah al-Hujurat iaitu menyatakan beliau seorang fasiq. Qudamah bin Maz un seorang sahabat Badar dihukum had pada zaman khalifah Umar kerana minum arak seperti dalam riwayat Sahih Bukhari.
.
Jika ada orang yang masih teguh dengan pendirian bahawa semua sahabat adalah ‘adil maka apakah hukumnya Muawiyah mencaci Ali di atas mimbar? Apakah ijtihad Muawiyah boleh sampai mencaci Ali? Sebaliknya orang yang mengkritik Muawiyah dikatakan mencaci sahabat Nabi SAWA? Jika seseorang yang menolak kekhalifahan Abu Bakar dianggap kafir, apakah pula hukumnya orang yang menolak perlantikan Ali setelah ada Hadith al-Ghadir yang menetapkan Ali AS sebagai khalifah selepas Nabi SAWA wafat? Bolehkah umat Islam memilih selain daripada yang telah ditetapkan oleh Rasulnya?
.
Alllah SWT berfirman dalam Surah Hud:113,bermaksud: “Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh oleh api neraka…”
.
Dan banyak lagi ayat-ayat al-Qur’an yang menyuruh manusia berbuat adil, dan melarang mereka dari berbuat zalim [nota: standard “adil”atau sebaliknya adalah berpandukan Kitab Allah Azza Wa-Jalla dan tidak ada sesiapa pun dikecualikan hatta para “sahabat” sekalipun].Balasan Allah SWT di akhirat kelak berasaskan segala amalan manusia ketika hidup di dunia – yang baik ke syurga dan yang buruk ke neraka.
.
Ini bermakna istilah “sahabatku”dalam Hadith Nabi SAWA tidak bermakna merujuk kepada semua sahabat [sekiranya jumlah yang hadir pada Haji Wida’ iaitu seramai 140,000 atau 90,000 orang] adalah adil belaka. Sahabat yang adil memang ada seperti Abu Dzar al-Ghiffari yang dinyatakan sendiri oleh Nabi Muhammad SAWA [terjemahan]:” Tidaklah langit menaungi seseorang dan tidak bumi membawa seseorang yang lebih jujur daripada Abu Dzar RA.”[Sunan al-Tirmidzi, Hadith 3889]
.
Begitu juga terdapat segolongan sahabat yang engkar mengikut perintah Nabi SAWA terutamanya selepas Nabi SAWA wafat dan menjadi seteru Ahlul Bayt AS [keluarga Nabi SAWA] seperti yang tercatat dalam kitab-kitab sejarah. Nabi SAWA bersabda seperti yang diriwayatkan dalam Sunan al-Tirmidzi, hadith 3878,[terjemahan]: “Cintailah Allah kerana nikmat-nikmatnya yang diberikan kepadamu dan cintailah aku kerana cinta kepada Allah dan cintailah keluargaku kerana cinta kepadaku.”  Oleh itu sesiapa yang memusuhi Ahlul Bayt AS memang menjadi musuh Rasulullah SAWA dan Allah SWT. Bukankah Allah SWT telah melaknat golongan yang zalim dalam al-Qur’an?   “Ingatlah, laknat Allah (ditimpakan) ke atas orang-orang yang zalim.”[Qur’an: 11: 18]
.
7. Golongan Syiah sering didakwa bukan mengikuti ajaran Ahlul Bayt Nabi Muhammad SAWAW.
semua sarjana fiqh bersepakat bahawa Jaafar al-Sadiq pengasas fiqh Madzhab Syiah Jaafariyyah. Oleh itu dakwaan di atas dibuat atas dasar emosi dan tidak berasaskan akademik.
.
8. Syiah percaya kepada kepada al-Bada.
Tuduhan: Ilmu Allah Berubah-ubah Mengikut Sesuatu Peristiwa Yang Berlaku Kepada Manusia (al-Bada’). Ulama Syiah tidak pernah menganggap Allah tidak mengetahui seperti tuduhan-tuduhan yang sengaja menyelewengkan maksud sebenar.  Al-Bada’ tidak bermaksud kejelasan yang sebelumnya samar dinisbahkan kepada Allah SWT
.
Al-Bada’ yang difahami oleh ulama Syiah ialah adalah Allah berkuasa mengubah sesuatu kejadian dengan kejadian yang lain seperti nasikh dan mansukh sesuatu hukum syariah yang tercatat dalam al-Qur’an tetapi al-Bada’ menyangkut tentang sesuatu kejadian [takwini] seperti hidup dan mati dan seumpamanya
.
Misalnya kisah penyembelihan Nabi Ismail AS tetapi kemudian Allah Azza Wa-Jalla menggantikannya dengan seekor kibas.  Allah SWT berfirman dalam al-Qur’an 13:39 yang bermaksud: ” Allah menghapus apa yang Ia kehendaki dan menetapkan [apa yang Ia kehendaki].
.
dan  di sisinya terdapat Umm al-Kitab [Lauh al-Mahfuzh]."  
Sebuah hadith yang dipetik dari al-Kulaini dalam Kitabul Tauhid, 
Usul al-Kafi, hadith 373. 
Maksudnya:"Allah tidak menerbitkan [bada']  pada sesuatu 
melainkan ianya berada  dalam 
ilmuNya sebelum [Allah menetapkan] berlakunya [bada' tersebut]."
Hadith 374 menegaskan bahwa:
Maksudnya:" Sesungguhnya Allah tidak menerbitkan Bada'
 dari kejahilan[Nya]".
.
Syeikh al-Mufid menulis dalam bukunya Awail Maqalat: ” Apa yang saya fatwakan tentang masalah al-bada’ ialah sama dengan pendapat yang diakui oleh kaum muslimin dalam menanggapi masalah nasakh [penghapusan] dan sebagainya seperti memiskinkan kemudian membuat kaya, mematikan kemudian menghidupkan dan menambah umur dan rezeki kerana ada sesuatu perbuatan yang dilakukan. Itu semua kami kategorikan sebagai bada’ berdasarkan beberapa ayat dan nas-nas yang kami dapatkan dari para Imam.”
.
9. Syiah mengamalkan taqiyah.
Mereka mendakwa taqiyyah bermaksud berpura-pura dan sinonim dengan perbuatan golongan munafiq. Syeikh Muhammad Ridha al-Muzaffar menulis dalam bukunya Aqidah Syiah Imamiyyah:
"Taqiyah merupkan motto Ahlul Bayt AS bermotifkan 
untuk melindungi agama, diri mereka
 dan pengikut mereka dari bencana dan pertumpahan 
darah, untuk memperbaiki keadaan 
kaum muslimin serta penyelarasan mereka, dan 
memulihkan ketertiban mereka."
Mengikut Alamah Tabatabai' dalam bukunya Islam
 Syiah bahawa sumber amalan taqiyah
 ini merujuk juga kepada al-Qur'an seperti 
Surah 3:28, yang bermaksud: "Jangan 
sampai orang-orang beriman menjadikan orang-
orang kafir sebagai teman-teman mereka 
selain orang-orang beriman. Barang siapa yang
melakukan hal itu maka tidak ada 
pertolongan dari Allah kecuali untuk menjaga
 diri terhadap mereka [orang-orang
 kafir] dengan sebaik-baiknya. Allah memperingatkan
 kalian [agar selalu ingat]
 kepadaNya.  Dan kepada Allahlah kalian kembali."
.
Ungkapan menjaga diri terhadap orang-orang kafir dengan sebaik-baiknya diterjemahkan dari
tattaquu minhum tuqatan dan kata tattaquu dan tuqatan mempunyai akar kata yang sama dengan taqiyah.
.
Ayat al-Qur’an yang berkaitan dengan peristiwa taqiyah Amar bin Yasir yang mencari perlindungan dengan mengaku kafir di hadapan musuh-musuh Islam iaitu dalam Surah 16:106:  Maksudnya:”…..”kecuali orang yang terpaksa, padahal hatinya tetap  tenang dalam beriman…”
.
Jelaslah bahwa taqiyah bukan membawa maksud berpura-pura seperti mana yang sering didakwa oleh orang yang berpura-pura berilmu pengetahuan tetapi sarat dengan kejahilan dan niat yang buruk.
.
10. Mengapa Syi’ah sujud di Tanah Karbala?
Hadith Nabi SAWA yang mulia menjelaskan tentang cara-cara bersujud seperti yang tercatat dalam Sahih Muslim, misalnya hadith nombor 469, [terjemahan]…. Dan di mana saja kamu berada, jika waktu solat telah tiba, maka solatlah, kerana bumi ialah tempat bersujud(masjid) atau hadith nombor 473, [terjemahan] “….Bumi dijadikan suci bagiku [nota: misalnya debu tanah boleh digunakan untuk bertayammum]  dan menjadi tempat sujud [wa ju’ilat ila-l-ardh tuhura wa-masjidan]. Dan memang orang-orang Syi’ah mengikut contoh Imam-imam mereka seperti Imam Ali Zainal Abidin AS dan seterusnya, yang meletakkan tanah Karbala sebagai tempat untuk bersujud
.
Yang patut diingatkan bahawa Syi’ah tidak sujud kepada tanah Karbala. [nota: perbuatan ini tentunya syirik] tetapi di atas tanah Karbala untuk merendahkan diri di hadapan Allah SWT
.
Imam Ja’far al-Sadiq AS ketika ditanya perkara tersebut berkata [bermaksud]: ” ….kerana sujud adalah untuk merendahkan diri di hadapan Allah, oleh itu adalah tidak wajar seseorang itu bersujud di atas benda-benda yang dicintai oleh manusia di dunia ini.” [Wasa’il al-Syi’ah,  Juzuk III, hlm.591] Dalam hadith yang lain Imam Ja’far al-Sadiq AS menjelaskan bahawa: “Sujud di atas tanah lebih utama kerana lebih sempurna dalam merendahkan diri dan penghambaan di hadapan Allah Azza Wa-Jalla.” [Al-Bihar, Juzuk, 85, hlm.154]
.
11. Mengapa Syi’ah tidak boleh menerima Madzhab Ahlul Sunnah Wal-Jama’ah?
As-Sayyid Syarafuddin al-Musawi al-’Amili seorang ulama Syi’ah dengan tegas menjelaskan: “ Bila dalam kenyataannya kami kaum Syi’ah tidak berpegang kepada Madzhab Asy’ari dalam hal usuluddin dan madzhab yang empat dalam cabang syari’at, maka ini sekali-kali bukan kerana kami taksub; bukan pula kerana meragukan usaha ijtihad para tokoh-tokoh madzhab tersebut. Dan juga bukan kerana kami menganggap mereka itu tidak memilikikemampuan, kejujuran, kebersihan jiwa atau ketinggian ilmu dan amal, tetapi sebabnya ialah bahawa dalil-dalil syari’ah telah memaksa kami untuk berpegang hanya kepada madzhab Ahlul Bayt AS, ahli rumah Rasulullah SAWA, pusat Nubuwwah dan Risalah, tempat persinggahan para malaikat, dan tempat turunnya wahyu al-Qur’an
.
Maka hanya dari merekalah kami mengambil cabang-cabang agama dan aqidahnya, usul fiqh dan kaedahnya.Pengetahuan tentang al-Qur’an dan al-Sunnah. Ilmu-ilmu akhlak,etika dan moral.  Hal itu semata-mata kerana tunduk pada hasil kesimpulan dalil-dalil dan bukti-bukti.  Dan sepenuhnya mengikuti petunjuk  dan jejak penghulu para Nabi, Rasulullah SAWA.”[As-Syarafuddin al-Musawi,al-Muruja’at (Dialog Sunnah-Syi’ah, Penerbit Mizan,hlm.17-18]
.
Imam Ja'far al-Sadiq AS berkata:  "Hadith-hadith yang 
aku riwayatkan  adalah 
dari ayahku.  Dan semua hadith tersebut  adalah
 riwayat dari datukku. Dan semua 
riwayat datukku  adalah dari hadith datukku
al-Husayn AS.  Dan semua riwayat 
al-Husayn AS  adalah dari hadith al-Hasan AS. 
 Dan semua hadith al-Hasan AS 
 dari datukku Amirul Mu'minin Ali AS; 
 dan semua hadith Amirul Mu'minin Ali AS 
adalah dari hadith Rasulullah SAWA.  Dan 
hadith-hadith Rasulullah SAWA  adalah 
Qaul Allah Azza Wa-Jalla." 
[Al-Kulaini,al-Kafi, Juzuk I, hadith 154-14]
.
Bagi Syi'ah, tidak ada dalil bagi seseorang itu untuk menerima selain dari 
Mazhab Ahlul Bayt AS kerana perkara itu telah diputuskan oleh Allah SWT.
.
12. Imam Mahdi AS hidup lebih 1000 tahun
Mereka mendakwa kepercayaan bahawa Imam Mahdi AS 
masih hidup sejak peristiwa ghaib kubra pada tahun 329H adalah 
sesuatu kepercayaan yang karut. Mengapakah mereka lupa bahawa 
Allah SWT telah menghidupkan nabi-nabi terdahulu dengan umur yang
 panjang seperti Nabi Nuh AS dan Nabi Adam AS? Malahan umat Islam 
percaya Nabi Isa AS masih hidup hingga kini sejak beliau diangkat 
ke langit oleh Allah SWT dalam peristiwa beliau diselamatkan
 dari pembunuhan pengikut-pengikutnya. Ini bermakna beliau as 
telah hidup lebih seribu tahun. Pemuda-pemuda Ashabul Kahfi di 
bangkitkan oleh Allah SWT setelah ditidurkan dengan begitu lama.
 Begitu juga umat Islam percaya Nabi Khidir as masih hidup hingga
 kini. Malahan syaitan la'natullah alahi masih hidup sejak makhluk
 ini engkar kepada Allah SWT. Ini bermakna syaitan telah hidup
 lebih lama dari 1,000 tahun. Tidakkah kisah-kisah ini 
menunjukkan bahawa umur panjang bagi Imam Mahdi AS bukanlah
 sesuatu yang mustahil kerana Allah SWT Maha Berkuasa 
bagi perkara yang sekecil itu.
.
13. Aqidah Raja'ah (hidup kembali-di dunia)

Al-Allamah al-Safi menjawab tentang masalah
 rajaah seperti berikut: " Qaul tentang raja'ah itu merupakan
 qaul dari itrah Rasulullah SAWA yang suci. Perbahasan tentang 
masalah ini telah beredar dikalangan mereka dan selain dari 
mereka. Pedoman mereka dalam masalah ini adalah ayat-ayat 
Qur'an dan hadith-hadith yang mereka riwayatkan dengan sanad
 yang turun temurun dari datuk-datuk mereka sampai kepada 
datuk Rasulullah SAWA
.
Kenyataan yang tidak mungkin diingkari oleh para peneliti
 masalah-masalah keislaman adalah bahwa sumber aqidah 
raja'ah itu adalah imam-imam Ahlul Bayt AS yang telah 
ditetapkan kewajipan berpegang teguh kepada mereka 
dengan keterangan dari hadith al- tsaqalain dan lain-lainnya
.
Pihak syiah mengatakan tentang raja'ah secara global. Mereka 
membandingkan hal ini dengan kejadian-kejadian para ummah terdahulu 
seperti yang diceritakan oleh Allah Ta'ala dalam firmanNya, yang 
bermaksud:" Apakah kamu tidak memerhatikan orang-orang yang keluar
 dari kampung halaman mereka, sedang mereka beribu-beribu (jumlahnya) 
kerana takut; maka Allah berfirman kepada mereka:" Matilah kamu," 
kemudian Allah menghidupkan mereka (kembali)...(Al-Baqarah:243)
.
 Ayat yang lain, bermaksud:"
Atau apakah (kamu tidak memerhatikan) orang 
yang melalui suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi
 atasnya. Dia berkata:" Bagaimanakah Allah menghidupkan kembali 
negeri ini setelah ia roboh?" Maka Allah mematikan orang itu 
selama seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali....
(Al-Baqarah:259) Dan boleh juga mengambil teladan dari 
firman Allah Ta'ala dalam ayat berikut yang bermaksud:" 
Maka Kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami 
lenyapkan penyakit yang ada pada dirinya dan Kami kembalikan 
keluarganya kepadanya, dan Kami melipatgandakan bilangan mereka, 
sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan 
bagi semua yang menyembah Allah." (Al-Anbiya:84) Mereka golongan 
syiah mengatakan bahawa hal itu tidak mustahil akan terjadi kepada
 umat ini berdasarkan firman Allah Ta'ala:
.
Maksudnya:” Dan (ingatlah) hari (ketika) Kami kumpulkan dari tiap-tiap umat segolongan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, lalu mereka dibahagi-bahagikan (dalam kelompok-kelompok).” (Al-Naml:83) Hari yang disebutkan Allah SWT dalam ayat di atas, tentu bukan Hari Qiamat, kerana pada Hari Qiamat Allah membangkitkan semua umat manusia, sebagaimana yang difirmankanNya dalam ayat berikut:
.
Maksudnya:” Dan Kami kumpulkan seluruh manusia dan tidak Kami tinggalkan seorang pun dari mereka.” (Al-Kahfi:47)
Dalam dua ayat di atas, Allah SWT menyatakan bahawa Hari Kebangkitan itu ada dua. Kebangkitan umum dan kebangkitan khusus. Hari yang dibangkitkannya segolongan orang-orang dari tiap-tiap umat itu bukan Hari Qiamat, jadi ia tidak lain adalah Yaumul Raja’ah.
.
Adapun tentang perincian Yaumul Raja’ah itu tidak ada hadith-hadtih sahih yang menyatakannya. Hadith-hadith yang menyebutkan tentang perincian Yaumul Raja’ah adalah hadith-hadith dhaif sama ada dari segi dalalahnya ataupun sanadnya. Pendapat ini juga dinyatakan oleh Lutfollah Saafi Golpayegani dalam bukunya yang bertajuk “Aqidah Mahdi dalam Syi’ah Imamiyyah” menyatakan bahawa hadith-hadith perincian tentang Yaumul Raja’ah adalah hadith-hadith dhaif dan ditolak oleh ulama hadith syi’ah.
.
Aqidah Raja’ah mempunyai asas ajaran dalam al-Qur’an dan dinyatakan oleh para Imam Ahlul Bayt AS, oleh itu adakah wajar kita menolaknya?
.
14. Isu-isu al-Qur’an, Mushaf, dan Wahyu kepada Fatimah AS
Apabila dibicarakan tentang persamaan antara sunnah dan syiah bererti di situ pasti ada perbedaannya.Permasalahannya apa bila ada perbedaan, apakah pegangan kepada satu mazhab menjadi penilai kebenaran dalam mengukur mazhab yang lain? atau di kembalikan kepada Al Quran dan hadis dan mengukurnya secara rasional yang bebas dari ketasuban bermazhab?
.
Tuduhan terhadap syiah bukan satu yang baru dan sepertinya tidak akan berahkir. Setelah membaca banyak buku-buku yang menyalahkan syiah, kami melihat hal ini disebabkan oleh beberapa perkara.
1-       Menilai kebenaran berdasarkan mazhab tertentu.
2-       Menafsir sendiri riwayat syiah tanpa melihat penfsiran ulama syiah tentang hadis tersebut, sehingga natijah yang diambil berdasarkan selera sendiri.
3-       Mengambil kata-kata ulamak sebagai sandaran tanpa menilai kembali pandangan mereka dan suasana mereka mengeluarkan fatwa.
4-       Menungkilkan hadis separuh separuh hingga menyebabkan maknanya berubah.
Tuduhan liar lain :
1- Al Quran
a- makna mushaf
Kebanyakan umat Islam menanggap bahawa perkataan ‘mushaf’ itu senonim ‘Al Quran’. Sedangkan dalam lisan Al Quran dan hadis Rasul tidak sedemikian. Mushaf itu ertinya kumpulan tulisan dan selepas wafat Rasul digunakan untuk ayat-ayat al quran dikumpulkan oleh para sahabat dan juga tulisan-tulisan hadis.
.
Oleh itu jika ada perkataan mushaf dalam riwayat syiah jangan terus menanggap ia adalah Al Quran. Penulis ABC juga ada menungkilkan riwayat dari Al Kafi yang menunjukan bahawa mushaf Fatimah bukan Al Quran tetapi kumpulan khabar yang di sampaikan oleh Jibril.
.
b- Wahyu untuk Fatimah as.
Persoalannya di sini apakah ia mungkin atau tidak? Pertama, kita perlu mengenal maqam Fatimah as. terlebih dahulu. Tiada siapa yang mengingkari bahwa ia adalah penghulu wanita sekian alam, yang paling mulia antara 4 wanita yang termulia. Kedua, apakah Jibril boleh menurunkan wahyu untuk selain nabi. Yang mengatakan tidak bererti ia jahil tentang Al Quran. Dalam surah Ali Imran ayat 42 hingga 45 menceritakan pembicaraan jibril dengan Mariam. Dan Fatimah as. lebih mulia dari Mariam. Riwayat tentang turunnya Jibril pada  Fatimah banyak dalam kitab-kitab syiah. Sudah tentu mereka yang menjauhinya tidak akan meriwayatkan peristiwa tersebut.
.
15. Mazhab Ahlu Sunnah
a- Seperti penulis wahabi  setuju bahawa mazhab ahlu sunnah terbentuk secara evolusi. Malah pengikutnya hari ini pun tidak mengamalkan fatwa Imam-imam mereka baik dari segi fekah maupun akidah secara tulin. Tetapi permasalahnnya bukan di sini tapi pada sumber hukum. Mereka mengenepikan Imam2 Ahlu Bait as. baik dalam fekah maupun akidah. Bagaimana hati boleh aman dengan apa yang di amalkan sedangkan bahtera penyelamat umat Muhammad SAWA ditinggalkan. Bukankah mereka sebagaimana sabda Ar Rasul SAWA. Umpama ahlu baitku di dalam umatku seperti bahtera Nuh siapa yang menaikinya selamat siapa yang meninggalkannya akan tenggelam.
.
b- Para pemerintah yang zalim ketika itu mengambil kesempatan untuk menyebarkan fatwa para mujtahid tersebut dan menakutkan oprang ramai dari mendekati Imam-imam ahlu bait dan ulamak mereka.
.
c- Penutupan pintu ijtihad oleh khalifah yang zalim bukan satu yang pelik tetapi yang pelik adalah apabila para ulama besar ahlu sunnah juga merelakan hal ini seperti Al Ghazali, Sayuti. Ibnu Hajar dll dan akhirnya percobaan membuka pintu ijtihad dianggap dosa besar sebagaimana penulisan hadis pada kurun pertama hijrah dan tidak melaknat Imam Ali pada hari jumaat pada 80 tahun pertama pemerintahan bani umaiyah. Sedangkan proses ijtihad terus subur dalam azhab syiah dan tidak  imbul kekalutan dalam permasalahan mujtahid palsu. Dan para muqalid sentiasa bertaqlid kepada mujtahid yang hidup pada setiap waktu.
.
16. Ahlul Sunnah Wa l-Jama’ah Dan Ahlu Bait AS
Syiah menerima bahwa ahlu sunnah mencintai dan memuliakan ahlu bait, tetapi apakah mereka benar-benar meletakan ahlu bait pada posisi yang Allah SWT telah letakan? Apakah tiada hikmah mengapa mereka disucikan dan diwajibkan kecintaan ke atas mereka dan solat dan selawat tidak diterima tanpa menyebut mereka.  jika ahlu sunnah benar-benar hormati mereka sepatutnya mereka juga perlu menghormati orang-orang yang ikut mereka,bukan menuduh dengan hal-hal tidak benar. Kita diwajibkan untukmengikuti Al Quran, apakah tidak wajib kita mengikuti mereka yang disucikan untuk menjaga Al Quran dan mendampingi Al Quran.
.
17. Ilmu Para Imam AS
Hadis dari Imam Jaffar as Sadeq itu jelas menunjukkan, ilmu yang mereka miliki adalah kurnia Allah bukan mereka memiliki dengan sendiri, kerana ini akan endatangkan syirik. Di dalam surah yunus ayat 20 dan an An’am jelas menunjukkan bahwa yang mengetahui hal yang gaib itu hanya Allah.
Dan dalam surah az zhuruf ayat 4, al Buruj ayat 22, ar radh ayat 39, menunjuk bahawa ilmu Allah itu terletak di kitab almknun, kitabun mubin, umul kitab, luh mahfuz. Ia juga dipanggil Imamul mubin “kulu sha’ain ahsaina hu fi Imamul mubin” walau namanya berbeza ia memiliki hakikat yang sama yaitukhazahna ilmu Allah yang Allah berikan kepada orang2 yang tertentu (surah aj jin ayat 27) dan tidak akan menyentuhnya kecuali yang disucikan (al waqih’ah ayat 79)
dan kita semua tahu yang disucikan hanya ahlu bait (al ahzab ayat 33) Jadi jika ada yang masih tidak faham yang ahlu bait mengetahui yang ghaib atas izin Allah dengan mengunakan dalil-dalil Al Quran yang jelas bererti orang tersebut mahu meletakan dirinya pada jalan kedegilan dan ketasuban.
.
18. Maqam Para Imam AS
a- Di dalam Al Quran membicarakan tugas para Rasul hanya sebagai hanya untuk menyampaikan sahaja (iblaq) dan tidak lebih dari itu. “ma ala Rasul ilal balagh” dan juga surah An Nissa, ayat 165 dan As Syura, ayat 3 dll. Selain dari itu ada ayat-ayat membicarakan satu lagi maqam selain maqam Rasul dan memiliki tugas yang lain dengan tugas rasul iaitu maqam Imam ‘kami jadikan mereka Imam untuk memberi hidayah dengan urusan kami ketika mereka bersabar dan yakin dengan ayat2 kami’ surah as sajadah ayat 24.
.
Ayat di atas jelas menunjukkan sebahagian Rasul di angkat menjadi Imam, satu maqam yang lebih tinggi dari maqam Rasul. Tugas Imam di sini berbeda dengan tugas Rasul yaitu sebagai pemberi hidayah. Nabi Ibrahim sebagaimana dalam surah al Baqarah ayat 124 diangkat menjadi Imam selepas ia menjadi Rasul.Jelas di sini menunjukan maqam Imam lebih tinggi dari maqam Rasul. Persoalanya sekarang apakah maqam Imam ini berterusan? Sudah tentu selagi manusia wujud di atas muka bumi ini selagi itu manusia perlu kepada hidayah dan ini tugas Imam. Dalam surah di atas Allah juga mengangkat zuriah Ibrahim sebagai Imam sebagimana Ibrahim
.
Dalam surah Ar Radh, ayat tujuh, Allah SWT. berfirman “Sesungguhnya kau (Muhammad) pemberi peringatan dan untuk setiap kaum ada yang memberi hidayah” Kami ulangi lagi bahawa tugas memberi hidayah adalah tugas Imam dan hanya Allah yang melantik Imam bukan manusia. Dan ayat ini jelas menunjukan Imam yang dilantik oleh Allah itu berterusan dan maqamnya lebih tinggi dari maqam Rasul. Apakah kita lupa pada satu hadis yang mahsyur yangbermaksud “ulama umatku lebih afdhal dari para nabi bani israel” atau kita menanggap hadis ini daif. Atau hadis yang mengatakan bahawa Nabi Isa as. akan solat dibelakang Imam Mahdi juga tidak benar.
.
b- Apakah pelik apabila kita mengatakan para Imam itu lebih mulia dari Malaikat sedangkan Abu Basyar Adam as. merupakan khalifah pertama dari sekian kahlifah Allah mendapat didikan langsung dari Allah (syarat khalifah Allah) dan menjadi guru kepada para Malaikat dan menjadi sujudan Malaikat, apakah ini tidak menunjukan bahawa maqam insan lebih mulia dari maqam malaikat? apakan lagi maqam imam. Apakah ini bererti mendewakan mereka atau meletakan mereka pada tempat yang sewajarnya? Apakah menjadikan semua sahabat itu adil dan tidak boleh disentuh dan dikritik bukan pendewaan?
.
Dan bila keisalaman dan kekufuran seseorang diukur dengan sahabat? Apakah ini bukan pendewaan terhadap mereka? Apakah segala perubahan yang dilakukan oleh khalifah pertama, kedua, ketiga tidak mengubah hukum Allah? Dan apabila menerima perbuatan mereka dan menolak hukum Allah bukan pendewaan?

Nikah Mut’ah apa hukumnya ? Mengkritisi Opini dalam Buletin Lazis Al-Ihsan

Nikah Mut’ah: Antara Halal dan Haram

(Mengkritisi Opini dalam Buletin Lazis Al-Ihsan)
.
Suatu saat ketika shalat jum’at, saya membaca sebuah buletin dakwah. Saya tertarik dengan tema yang diangkat buletin tersebut. Temanya mengenai “Nikah Mut’ah”. Membaca paragraf pertama saja saya sudah tersenyum bahkan sampai-sampai ingin tertawa. Betapa tidak, pada paragraf pertama tersebut dikatakan bahwa nikah mut’ah itu disejajarkan dengan perzinahan atau dalam artian lain bahwa nikah mut’ah sama dengan perzinahan, tidak ada beda di antara keduanya
.
Saya yakin orang yang berpikir jernih dan tidak mendahulukan hawa nafsunya akan menganggap bahwa pernyataan seperti itu adalah keliru. Nikah mut’ah adalah ikatan tali pernikahan antara seorang laki-laki dan wanita dengan mahar yang telah disepakati dalam akad, sampai pada batas waktu tertentu. Sedangkan perzinahan adalah hubungan antara laki-laki dan wanita yang bukan muhrim dan merupakan perbuatan dosa besar. Pernah ada teman saya yang bertanya apakah nikah mut’ah itu bisa tanpa wali, saksi, dan pemberian nafkah? Mendengar pertanyaan seperti itu, saya teringat dengan perkataan seorang ustadz yang mengatakan bahwa tidak wajib adanya wali dan saksi, tetapi alangkah baiknya jika ada wali dan saksi. Mengenai pemberian nafkah – masih menurut ustadz itu – tergantung perjanjian ketika akad.
.
Hukum Nikah Mut’ah dalam Al-Qur’an
Allah berfirman, “…Maka istri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka mahar (mas kawin) dengan sempurna…” (Q.S. An-Nisa: 24)
.
Al-Qurthubi, Al-Syaukani dan orang-orang yang sependapat dengan mereka mengatakan bahwa hampir semua ulama menafsirkan ayat tersebut dengan nikah mut’ah yang sudah ditetapkan sejak permulaan Islam. (Tafsir Qurthubi, juz 5, hlm. 130; Ma’a Al-Qur’an karangan Baquri, hlm. 167; Al-Ghadir, juz 6, saduran dari tafsir Syaukani, juz 1, hlm. 144).
Dalam Mustadrak Al-Hakim dan kitab-kitab yang lain disebutkan bahwa Ibnu Abbas bersumpah bahwa Allah menurunkan ayat tersebut untuk pembatasan waktu dalam mut’ah. (Mustadrak Al-Hakim, juz 2, hlm. 305 berikut keterangan Al-Dzahabi yang terdapat di tepi kitab tersebut pada hlm. Yang sama).
.
Ibnu Abbas, Ubai bin Ka’ab, Said bin Zubair, dan Ibnu Mas’ud membaca ayat tersebut dengan menyisipkan tafsirnya dengan bacaan sebagai berikut: “Barangsiapa di antara kalian melakukan perkawinan dengan menggunakan batas waktu maka bayarlah maharnya.”
.
Al-Razi dan Al-Naisaburi setelah meriwayatkan bacaan tesrebut dari Ibnu Abbas dan Ubai bin Ka’ab berkata, bahwa seluruh sahabat tidak ada yang menyalahkan bacaan kedua sahabat itu sehingga dapat dikatakan bahwa bacaan tersebut telah disepakati kebenarannya oleh seluruh umat. (Tafsir Al-Naisaburi yang terdapat di tepi kitab Tafsir Al-Thabari juz 5, hlm. 18 dan dalam Kitab Tafsir Al-Razi, juz 10, hlm. 51, cet. Th. 1357 H).
.
Berdasarkan ayat al-Qur’an di atas dan beberapa tafsirnya diketahui bahwa Islam telah mensyariatkan nikah mut’ah. Namun, ada sebagian orang yang menganggap bahwa nikah mut’ah telah dinasakh oleh ayat al-Qur’an yang lain.
Untuk menjawab pernyataan seperti itu, cukuplah saya mengutip perkataan Al-Zamakhsyari dalam buku tafsirnya A-Kasysyaf “Kalau kalian bertanya kepadaku apakah ayat mut’ah sudah dihapus, maka akan kujawab ‘tidak’, karena seorang wanita yang dinikahi secara mut’ah dapat disebut sebagai istrinya.” (Al-Kasysyaf juz 3, hlm. 177, cet. Beirut).Anehnya lagi, ada beberapa kalangan yang menganggap bahwa nikah mut’ah telah dinasakh (dihapus) oleh hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Aalihi wassalam. Tetapi pendapat kebanyakan sahabat dan pengikut Al-Zhahiri, Syafi’I, dan Ahmad bin Hanbal dalam salah satu riwayatnya mengatakan bahwa hadits tidak dapat menasakh Al-Qur’an. (Al-Mustashfa juz 1, hlm. 124).
.
Hadits-hadits yang mengatakan bahwa nikah mut’ah telah diharamkan – menurut saya – tidak dapat kita ikuti, karena terjadi kontradiksi antara hadits yang satu dengan yang lain mengenai waktu pengharamannya, diantaranya sebagai berikut:
Ø Nikah mut’ah halal pada permulaan Islam, diharamkan pada saat perang Khaibar. (Zad Al-Ma’ad, hlm. 183)
Ø Dihalalkan pada permulaan Islam, diharamkan pada Fath Mekkah.Diharamkan pada hari Haji Wada’ (Al-Sirah Al-Halabiyah, juz 3, hlm. 104)
Ø Diharamkan pada saat perang Tabuk, dll.
Bahkan ada yang mengatakan bahwa nikah mut’ah dibolehkan sebanyak 7 kali dan dilarang 7 kali, yakni pada saat perang Khaibar, Perang Hunain, saat Rasulullah melakukan Umrah Qadha’, Fath Mekkah, Perang Authas, Perang Tabuk, dan Haji Wada’
.
Untuk anggapan yang seperti ini cukuplah kita kutip perkataan Ibnu Qoyyim, “Tidak pernah terjadi dalam syariat penghapusan dua kali dalam satu masalah, dan tidak pernah terjadi penghapusan tentang mut’ah.” (Zad Al-Ma’ad, juz 2, hlm. 183).
.
Siapa yang Mengharamkan Nikah Mutah?
“Kita, para sahabat di zaman Nabi Sawaw dan di zaman Abu Bakar melakukan mut’ah dengan segenggam kurma dan tepung sebagai mas kawinnya, kemudian Umar mengharamkannya karena ulah Amr bin Khuraits.” (Shahih Muslim, juz 4, hlm. 131, cet. Masykul Th. 1334 H).
.
Al-Hakam, Ibnu Juraij dan sesamanya meriwayatkan bahwa Imam Ali kw berkata, “kalau bukan karena Umar melarang nikah mut’ah maka tidak akan ada orang berzina kecuali orang-orang yang benar-benar celaka.”
Dalam riwayat lain Imam Ali berkata, “Kalau pendapatku tentang nikah mut’ah tidak kedahuluan Umar, aku akan perintahkan nikah mut’ah. Setelah itu, jika masih ada orang yang berzina dia memang benar-benar celaka.” (Tafsir Thabari, juz 5, hlm. 9) SANADNYA SHAHIH.
.
Umar adalah yang pertama kali melarang nikah mut’ah. (Tarikh Khulafa’, Imam as-Suyuthi, Bab II, hlm. 158).
Dari riwayat-riwayat di atas menunjukkan bahwa nikah mut’ah halal di zaman Nabi Sawaw dan zaman Abu Bakar, tetapi ketika Umar menjadi khalifah, ia mengharamkan nikah mut’ah hanya karena ulah seseorang. Tentunya pendapat Umar ini tidak pantas kita ikuti, apalagi pengharaman atas nikah mut’ah hanya karena adanya penyelewengan yang dilakukan perorangan. Apakah jika ada orang yang menyalahgunakan nikah da’im kita akan mengharamkan nikah da’im (nikah permanen)?
.
Ada beberapa kawan kita yang ”shaleh” sering kali mengatakan bahwa bukan Umar yang mengharamkan nikah mut’ah. Umar hanya mempertegas apa yang telah diharamkan oleh Rasulullah.
.
Marilah kita menyimak secara seksama apa yang diucapkan oleh Umar, ”Dua mut’ah yang dilakukan pada masa Rasulullah (Saw.) tetapi aku melarang kedua-duanya dan aku akan mengenakan hukuman ke atasnya, iaitu mut’ah perempuan dan mut’ah haji.””
.
Silakan Anda cermati, disitu Umar dalam mengharamkan nikah mut’ah tidak mengatasnamakan Rasulullah, tetapi mengatasnamakan dirinya sendiri (ra’yu), terlihat dalam kalimat, “Dua mut’ah yang dilakukan pada masa Rasulullah (Saw.) tetapi aku melarang kedua-duanya.
.
Umar sendiri dalam suatu riwayat mengakui bahwa ia yakin betul Allah telah mensyariatkan nikah mut’ah di dalam Al-Qur’an.
“Saya melarang nikah mut’ah walaupun nikah itu disebut dalam al-Qur’an dan juga haji tamattu’ walaupun haji itu dikerjakan oleh Nabi Sawaw.” (Sunan An-Nasai juz 5, hlm. 153; Al-Ghadir, juz 6, hlm. 205, di situ disebutkan bahwa keseluruhannya hasil ijtihad Umar).
.
Bahkan, Ibnu Umar ketika di tanya, “Bukankah ayahandamu mengharamkannya (nikah mut’ah)? Ia menjawab, “Benar! Tetapi itu pendapatnya sendiri. (Dalail Al-Shidq, juz 3, hlm. 97)
.
Hadits-hadits Ahlulbayt Tentang Nikah Mut’ah
Imam Ja’far Shadiq meriwayatkan dari ayah-ayahnya bahwa Imam Ali bin Abi Thalib pernah berkata, “Farji-farji wanita bisa menjadi halal dengan tiga cara, yaitu nikah da’im, nikah mut’ah, dan dengan memilikinya sebagai budak.”Diriwayatkan bahwa Imam Ali pernah melakukan mut’ah dengan seorang wanita dari Bani Nasyhal di kota Kufah. (Al-Wasa’il bab Nikah Mut’ah)
.
Abi Bashir berkata dalam shahihnya: Aku bertanya kepada Imam Baqir tentang halalnya nikah mut’ah. Beliau menjawab: Halalnya nikah mut’ah tercantum dalam Al-Qur’an Surat An-Nisa ayat 24. (Al-Wasa’il bab Nikah Mut’ah)
.
Dan masih banyak lagi hadits dari keluarga Rasulullah yang suci mengenai halalnya nikah mut’ah. Untuk mengakhiri tulisan saya kali ini, saya akan mengutip tulisan Prof. Sachiko Murata, “Nikah mut’ah adalah cara yang paling tepat dalam menyelesaikan krisis seksual generasi muda Amerika, saya cukup heran dengan bangsa muslim yang menolak cara paling sehat, aman, dan melindungi hak perempuan. Jika bangsa Islam menolak maka saya menyerukan kepada bangsa eropa dan amerika mengadopsi mut’ah sebagai alternatif paling solusif dan sehat.”[]

Kenapa Fatimah mewasiatkan kepada sang suami agar menguburkannya secara rahasia ? untuk memberikan catatan kepada sejarah akan penuntutan beliau atas hak-haknya yang telah dirampas

Kepergian Sang Ayah

.

Sekembalinya dari Haji Wada‘, Rasulullah saw jatuh sakit, bahkan beliau sempat pingsan akibat panas dan demam keras yang menimpanya. Fatimah as bergegas menghampiri beliau dan berusaha untuk memulihkan kondisinya. Dengan air mata yang luruh berderai, Fatimah berharap agar sang maut memilih dirinya dan merenggut nyawanya sebagai tebusan jiwa ayahandanya

.
Tidak lama kemudian Rasul saw membuka kedua matanya dan mulai memandang putri semata wayang itu dengan penuh perhatian. Lantas beliau meminta kepadanya untuk membacakan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Fatimah pun segera membacakan Al-Qur’an dengan suara yang khusyuk
.
Sementara sang ayah hayut dalam kekhusukan mendengarkan kalimat-kalimat suci Al-Qur’an, Fatimah pun memenuhi suasana rumah Nabi. Beliau ingin menghabiskan detik-detik akhir hayatnya dalam keadaan mendengarkan suara putrinya yang telah menjaganya dari usia yang masih kecil dan berada di samping ayahnya di saat dewasa.
Rasul saw meninggalkan dunia dan ruhnya yang suci mi’raj ke langit
.
Kepergian Rasul saw merupakan musibah yang sangat besar bagi putrinya, sampai hatinya tidak kuasa memikul besarnya beban musibah tersebut. Siang dan malam, beliau selalu menangis
.
Belum lagi usai musibah itu, Fatimah as mendapat pukulan yang lebih berat lagi dari para sahabat yang berebut kekuasaan dan kedudukan
.
Setelah mereka merampas tanah Fadak dan berpura-pura bodoh terhadap hak suaminya dalam perkara khilafah (kepemimpinan), Fatimah Az-Zahra’ as berupaya untuk mempertahankan haknya dan merebutnya dengan keberanian yang luar biasa
.
Imam Ali as melihat bahwa perlawanan terhadap khalifah yang dilakukan Sayidah Fatimah as secara terus menerus bisa menyebabkan negara terancam bahaya besar, hingga dengan begitu seluruh perjuangan Rasul saw akan sirna, dan manusia akan kembali ke dalam masa Jahiliyah
.
Atas dasar itu, Ali as meminta istrinya yang mulia untuk menahan diri dan bersabar demi menjaga risalah Islam yang suci
.
Akhirnya, Sayidah Fatimah as pun berdiam diri dengan menyimpan kemarahan dan mengingatkan kaum muslimin akan sabda Nabi, “Kemarahannya adalah kemarahan Rasulullah, dan kemarahan Rasulullah adalah kemarahan Allah SWT.”
Sayidah Fatimah as diam dan bersabar diri hingga beliau wafat. Bahkan beliau berwasiat agar dikuburkan di tengah malam secara rahasia
.

Kepergian Putri Tercinta Rasul

Bagaikan cahaya lilin yang menyala kemudian perlahan-lahan meredup. Demikianlah ihwal Fatimah Az-Zahra’ as sepeninggal Rasul saw. Ia tidak kuasa lagi hidup lama setelah ditinggal wafat oleh sang ayah tercinta. Kesedihan senantiasa muncul setiap kali azan dikumandangkan, terlebih ketika sampai pada kalimat Asyhadu anna Muhammadan(r) Rasulullah

.
Kerinduan Sayidah Fatimah untuk segera bertemu dengan sang ayah semakin menyesakkan dadanya. Bahkan kian lama, kesedihannya pun makin bertambah. Badannya terasa lemah, tidak lagi sanggup menahan renjana jiwanya kepada ayah tercinta
.
Demikianlah keadaan Sayidah Fatimah as saat meninggalkan dunia. Beliau tinggalkan Hasan yang masih 7 tahun, Husain yang masih 6 tahun, Zainab yang masih 5 tahun, dan Ummi Kultsum yang baru saja memasuki usia 3 tahun.
Yang paling berat dalam perpisahan ini, ia harus meninggalkan suami termulia, Ali as, pelindung ayahnya dalam jihad dan teman hidupnya di segala medan
.
Sayidah Fatimah as memejamkan mata untuk selamanya setelah berwasiatkan kepada suaminya akan anak-anaknya yang masih kecil. Beliau pun mewasiatkan kepada sang suami agar menguburkannya secara rahasia. Hingga sekarang pun makam suci beliau masih misterius. Dengan demikian terukirlah tanda tanya besar dalam sejarah tentang dirinya.
Fatimah Az-Zahra’ as senantiasa memberikan catatan kepada sejarah akan penuntutan beliau atas hak-haknya yang telah dirampas. Sehingga umat Islam pun kian bertanya-tanya terhadap rahasia dan kemisterian kuburan beliau
.
Dengan penuh kesedihan, Imam Ali as duduk di samping kuburannya, diiringi kegelapan yang menyelimuti angkasa. Kemudian Imam as mengucapkan salam, “Salam sejahtera bagimu duhai Rasulullah … dariku dan dari putrimu yang kini berada di sampingmu dan yang paling cepat datang menjumpaimu
.
“Duhai Rasulullah! Telah berkurang kesabaranku atas kepergian putrimu, dan telah berkurang pula kekuatanku … Putrimu akan mengabarkan kepadamu akan umatmu yang telah menghancurkan hidupnya. Pertanyaan yang meliputinya dan keadaan yang akan menjawab. Salam sejahtera untuk kalian berdua!”
.

Riwayat Singkat Sayidah Fatimah as

Nama        : Fatimah.
Julukan    : Az-Zahra’, Al-Batul, At-Thahirah.
Ayah         : Mahammad.
Ibu            : Khadijah binti Khuwailid.
Kelahiran : Jumat 20 Jummadil Akhir.
Tempat     : Makkah Al-Mukarramah.
Wafat       : MadinahAl-Munawarah, Tahun 11 H.
Makam    : Tidak diketahui.

syi’ah lindungi Malaysia dari ajaran sesat wahabi

1328948585682907091

Serang Kedutaan AS, Polisi Tunisia Tangkap Pemimpin Salafi

Rabu, 7 November 2012 07:51 WIB

Tunis:

Juru bicara kelompok Jihad Salafi Bilel Chaouachi, baru-baru ini ditangkap polisi Tunisia, kata laporan Radio FM Mosaique.

Menurut seorang juru bicara kementerian dalam negeri, penangkapan Chaouachi tidak ada hubungan dengan partisipasinya pada Senin untuk satu program televisi Ettounissia, sebuah saluran TV swasta, melainkan karena dituduh terlibat dalam serangan kedutaan AS pada 14 September.

Ia ditangkap dengan tuduhan “menghasut kekerasan”.

Sekitar 150 garis keras agama telah ditangkap sehubungan dengan serangan kedutaan besar AS di Tunis, serta insiden lain, termasuk serangan terhadap satu galeri seni pada Agustus, kata Menteri Kehakiman Tunisia Noureddine Bhiri kepada radio Shems FM, Selasa (6/11).

Bhiri mengabaikan angka yang disiarkan beberapa media Tunisia sebelumnya bahwa sekitar 900 orang telah ditangkap
Malaysia

Sementara itu dari Malaysia diberitakan, secara diam diam kaum syi’ah Malaysia terus melindungi Malaysia dari ajaran sesat wahabi. Rakyat Malaysia boleh berbeda akidah dengan syi’ah namun memiliki musuh yang sama yakni wahabi. Air susu dibalas air tuba ! Syi’ah yang kerap dizalimi di Malaysia justru menghadang perkembangan wahabi di Malaysia

Sambutlah panggilan Husain, walau terus dizalimi namun justru Syi’ah Malaysia melindungi Malaysia dari kesesatan wahabi

Kementerian Dalam Negeri (KDN) Malaysia telah menetapkan perintah larangan terhadap tiga buah buku yang diterbitkan di Indonesia karena menyebarkan doktrin yang bertentangan dengan ajaran Ahlussunnah Wal Jamaah di negara ini.
Sekretaris Bagian Pengendalian Publikasi dan Teks Al-Quran, Abdul Aziz Mohamed Nor menjelaskan, tiga buku yang diharamkan adalah “Pengantar Ilmu-ilmu Islam,” “Dialog Sunnah Syi’ah” dan “Tafsir Sufi Al-Fatihah Mukadimah.”

Buku “Pengantar Ilmu-ilmu Islam” ditulis oleh Murtadha Muthahhari dan diterbitkan Pustaka Zahra dari Jakarta, sedangkan “Dialog Sunnah Syi’ah” ditulis oleh A Syarafuddin Al-Musawi dan diterbitkan Penerbit Mizan Bandung. Sementara “Tafsir Sufi Al-Fatihah Mukadimah” pula ditulis oleh Jalaluddin Rakhmat dan diterbitkan PT Remaja Rosdakarya, juga dari Bandung.

Aparat menangkap kegiatan Syiah di Malaysia dalam acara Asyura tahun 2010.

1328948585682907091

Isu Wahhabi di Malaysia: satu pengenalan (mesti baca!) Jun 24, ’06 11:34 AM
para Todos

Sejak kebelakangan ini, isu Salafi Wahhabi menjadi buah mulut masyarakat di Malaysia, khususnya di kalangan ahli ilmu. Dikatakan bahawa, kefahaman Salafi Wahhabi telah tersebar meluas dalam masyarakat IPTA khususnya di Malaysia. Jadi, apakah gerakan ini dan apakah matlamat mereka dalam menyebarkan ajaran mereka di dalam masyarakat.

 

        Kalau di Mesir khususnya, isu Salafi Wahhabi sememangnya tidak pernah padam dibincangkan. Ini kerana, golongan Salafi Wahhabi di sini sememangnya berkembang secara meluas. Jadi, kebanyakkan ulama’-ulama’ muktabar di Al-Azhar berusaha untuk melawan arus deras Wahhabisme di Mesir. Ulama’-ulama’ seperti Dr. Ali Jum’ah (mufti Al-Azhar), Dr. Omar abu Hasyim (bekas rektor Al-Azhar) dan kebanyakkan ulama’-ulama’ hadis, falsafah dan syariah di Al-Azhar menentang fahaman Wahhabi dalam penulisan mahupun dalam pidato mereka.

 

            Mengapa perlu melawan arus Wahhabisme? Siapakah Wahhabisme? Apakah matlamat mereka?

 

            Secara ringkasnya, kumpulan Salafi Wahhabi diasaskan oleh Muhammad Abdul Wahab. Beliau menganggap umat Islam setelah zaman salaf (zaman Rasulullah s.a.w. sehingga 300 Hijrah) telah mengalami kepincangan khususnya dari sudut aqidah dan terlibat dengan amalan bid’ah.

 

            Beliau beranggapan begitu apabila beliau melihat fenomena umat Islam pada ketika itu yang terlalu mengagungkan para wali, sering menziarahi kubur mereka, dan pelbagai lagi perkara yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah s.a.w., yang dilakukan oleh umat Islam setelah zaman salaf.

 

            Golongan utama yang menjadi sasaran Muhammad ibn Abdul Wahab dan para pengikutnya ialah golongan sufi yang giat mengembangkan ilmu akhlak dan adab dalam bermu’amalah kepada Allah dan makhluk. Mereka menuduh golongan sufi menyembah kubur para wali dan meminta pertolongan dari para wali, dan seterusnya membuktikan golongan sufi ialah golongan yang syirik.

 

            Dari sudut aqidah pula, golongan Wahhabi terpengaruh dengan fahaman Shiekh Ibn Taimiyah dan mereka menyerang mazhab-mazhab asas ahlul sunnah wal jamaah sejak berzaman, iaitu mazhab Imam Al-Asy’ari (mazhab aqidah di Malaysia) dan mazhab Imam Al-Maturidiyah.

 

            Bukan itu sahaja, malah mereka turut menyerang mazhab-mazhab fiqh termasuklah mazhab As-Syafi’e dan mereka menganggap hanya merekalah yang benar dalam memahami Al-Quran dan As-Sunnah, sedangkan perbezaan pendapat yang bercanggah dengan mazhab mereka dianggap sesat dan salah, bahkan sampai ke tahap membid’ahkan pendapat mazhab yang kontra dengan mereka.

 

            Pelopor-pelopor mereka pada zaman ini termasuklah Sheikh al-Albani, Sheikh Ibn Baz, Sheikh Al-Uthaimin, dan Sheikh Abu Bakar al-Jaza’iri. Benteng terbesar golongan tersebut ialah di Arab Saudi, dan mereka bernaung di bawah naungan kerabat kerajaan Bani Sa’ud, kerana unsur-unsur sejarah di mana golongan Wahhabilah yang membantu Bani Sa’ud mendapatkan tahkta kerajaan di Tanah Hijjaz (Arab Saudi kini).

 

            Kini, golongan tersebut terus menebarkan sayapnya ke serata alam dengan pelbagai cara termasuklah dengan menggunakan wang, mengedarkan buku-buku percuma tentang fahaman mereka kepada jemaah haji dan umrah dari seluruh dunia, menanam fahaman Wahhabi kepada para pelajar yang menuntut di Mekkah dan Madinah, khususnya para pelajar yang datang dari negara-negara islam yang lain.

 

            Persoalannya, apakah matlamat sebenar golongan Wahhabi dan benarkah apa yang mereka perjuangkan?

 

            Para ulama’ muktabar telah menyingkap persoalan tersebut secara mendalam, dan kesimpulan yang dapat mereka buat ialah, golongan Wahhabi sebenarnya cuba memecahkan kesatuan umat Islam khususnya dengan menutup pintu perselisihan pendapat dan menuduh golongan yang bercanggah dengan mereka adalah sesat dan bid’ah.

 

            Golongan Wahhabi cuba menegaskan bahawa, perbezaan pendapat tidak dibenarkan dalam memahami Al-Quran dan As-Sunnah, dan hanya ada satu sahaja kefahaman yang benar dan perlu diikut, sedangkan kefahaman yang lain adalah sesat atau bid’ah.

 

            Contohnya, dalam isu doa qunut dalam solat Subuh.Golongan Wahhabi menegah daripada membacanya sedangkan itu merupakan masalah khilafiyah (masalah yang para ulama’ berselisihan pendapat mengenainya), dan Mazhab As-Syafi’e khsusnya, menyatakan bahawa membaca qunut pada Solat Subuh adalah sunat.

 

             Bukan itu sahaja, bahaya yang paling besar yang dibawa oleh Salafi Wahhabi ialah, At-Takfir (mengkafirkan orang lain). Golongan Wahhabi terlalu mudah mengkafirkan orang lain khususnya mereka yang mengikut golongan sufi ataupun golongan yang tidak sependapat dengan mereka. Inilah pintu perpecahan umat Islam yang paling utama. Disamping itu juga, mereka terlalu cepat membid’ahkan orang lain dan menganggap setiap perkara baru dalam agama adalah bid’ah yang sesat, sedangkan kebanyakkan para ulama’ menegaskan bahawa, bid’ah terbahagi kepada bid’ah yang menyesatkan dan bid’ah yang dibenarkan.

 

            Oleh kerana itulah, kebanyakkan ulama’-ulama’ muktabar di serata dunia, menolak fahaman Wahhabi. Ini kerana, golongan Wahhabi membawa kepada perpecahan di dalam umat Islam dan membawa kepada ta’asub dan fanatik terhadap satu pendapat sahaja dan tidak membenarkan perbezaan pendapat. Inilah pintu perpecahan yang perlu ditutup dalam masyarakat Islam.

 

            Persoalan yang lain ialah, adakah fahaman Wahhabi ini merupakan suatu fahaman yang bersesuaian dengan Ahul Sunnah wal Jammah ataupun tidak? Ataupun, persoalannya, adakah Salafi Wahhabi merupakan mazhab dalam Islam, ataupun ianya merupakan sebuah ideologi?

 

            Para ulama’ dan guru-guru kami di Mesir khususnya telah memdedahkan banyak kesalahan para Wahhabi dalam masalah memahami al-Quran dan As-Sunnah khususnya dalam masalah aqidah.

 

            Golongan Wahhabi mempercayai bahawa Allah s.w.t. duduk di atas Arasy dan Allah s.w.t. sedang berada di atas langit. Mereka juge percaya bahwa Allah s.w.t. mempunyai rupa paras dan berjasad. Mereka berpandukan ayat-ayat al-Quran Mutasyabihat (kesamaran maknanya), yang mana ianya tidaklah bermaksud seperti yang mereka sangka.

 

            Ahlul Sunnah wal Jamaah secara mutlak menafikan Allah s.w.t. bertempat dan berjasad. Ini kerana, ianya menyebabkan Allah s.w.t. berhajat kepada tempat sedangkan Allah s.w.t. tidak memerlukan apa-apa pun.

 

            Namun, di Malaysia, segelintir golongan yang terpengaruh dengan kefahaman Wahhabi hanyalah berkaitan dengan masalah fiqh, tidak bersangkutan dengan masalah aqidah. Golongan Salafi Wahhabi di Malaysia nampaknya hanya menyebarkan fahaman Wahhabi dari sudut hukum-hakam semata-mata, seperti berkaitan dengan ibadah dan pergaulan. Mereka membid’ahkan qunut, membid’ahkan tarikat sufi, membid’ahkan majlis sambutan maulid Rasulillah s.a.w. sedangkan perkara-perkara tersebut tidaklah bid’ah yang sesat seperti sangkaan mereka.

 

            Golongan Salafi di Malaysia berkemungkinan tidak sepenuhnya memahami apa itu Wahhabi, mazhab yang mereka pegang secara mendalam. Ini kerana, buku-buku yang mendokong fahaman Wahhabi dalam Bahasa Malaysia kebanyakkannya menyebarkan fahaman Wahhabi dari sudut ibadat, tidak dari sudut Aqidah mereka.

 

            Walaupun hanya masalah ibadah dan fiqh, yang disebarkan oleh golongan Wahhabi di Malaysia, namun bahayanya ialah, pendirian mereka dalam membid’ahkan dan menyesatkan golongan yang tidak sehaluan dengan mereka khususnya golongan sufi dan golongan yang bermazhab As-Syafi’e di Malaysia.

 

            Sebenarnya, golongan salafi tidak sepatutnya menyebarkan fahaman Salafi Wahhabi dalam masyarakat awam di Malaysia, kerana masyarakat awam seharusnya berpegang dengan mazhab mufti dan mazhab negara mereka, di mana kebanyakkan di kalangan para mufti adalah bermazhab syafi’e dan mazhab umat Islam di negara Malaysia secara umumnya ialah mazhab Syafi’e.

 

            Adakah golongan Salafi Wahhabi dianggap sebagain golongan mujaddid (pembaharu) yang membawa arus reformasi dalam masyarakat Islam, khususnya dalam bidang agama mereka?

 

            Jawapannya, tidak. Ini kerana, masyarakat awam Islam di Malaysia hanya perlu mengikut mufti mereka dan mazhab mereka ialah mazhab mufti mereka, seperti yang ditekankan oleh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi. Maka, fahaman-fahaman yang bertentangan dengan mazhab mufti sesebuah masyarakat seharusnya tidak boleh didedahkan dan diperbincangkan di khalayak awam agar mengelakkan perpecahan dalam masyarakat awam dan mengelakkan kekeliruan dalam umat Islam.

 

            Maka, seruan kepada para pendokong Salafi Wahhabi di Malaysia agar tidak memecahbelahkan masyarakat dengan kefahaman Wahhabi dengan membid’ahkan sesuatu perkara sewenang-wenangnya. Boleh jadi, sesuatu yang kita anggap ia merupakan bid’ah ada dalilnya dalam Islam, Cuma kita sahaja yang tidak mengetahuinya. Bukankah lebih baik agar kita tidak memecahkan perpaduan masyarakat Islam di Malaysia yang seharusnya berpegang dengan mufti mereka selagimana para mufti masih berpegang dengan Al-Quran dan As-Sunnah.

 

            Semoga Allah membantu kita dalam mengembalikan kedaulatan Islam dan menegakkan perpaduan dalam umat Islam.

 

Wallahu a’lam….

 

 

Al-Faqir ila Allah:

 

Raja Ahmad Mukhlis bin Raja Jamaludin As-Syazuli

Tahun 4

Fakulti Usuluddin (Tafsir)

Universiti Al-Azhar, Zagzig

Mesir

(rujukan lagi tentang Wahhabi:  http://sufi303.multiply.com    )

WAHABI MEREKAYASA KITAB

Dakwah Salafy Wahaby walaupun kita sering bertanya, Kenapa Marah Di Sebut Wahaby ? yang sulit di terima oleh dunia Islam, kecuali hanya sebagian kecil orang awam, sehingga menghalalkan segala cara demi sebuah faham yang mereka anggap benar, dakwahnya yang lebih pantas di sebut dengan fitnah terhadap Islam, Al-Quran, Hadits dan para Ulama Islam.
.
Karena setiap sisi syari’at Islam yang tidak sepaham dengan pemahaman mereka selalu ada cerita dusta dan fitnah terhadap Ulama, baik Salaf atau Khalaf, ketidaksiapan mereka dalam menyikapi perbedaan atau dengan kata yang lebih jelas WAHABY / SALAFY TIDAK MAMPU MENERIMA PERBEDAAN dan tidak cukupnya pendukung dakwah mereka, hingga memaksa mereka memutarbalikkan fakta dengan cerita dusta terhadap para pakar Ulama Islam separti Imam Mazhab empat, Syaikh Abdul Qadir Al-Jiilani, Ibnu Katsir, Imam Baihaqqi, Imam Asy’ari, Imam Nawawi, Ibnu Hajar al-Ashqalani, Shalahuddin al-Ayyubi dan masih banyak lagi, semoga Allah selalu menjaga Para Ulama Islam dari bermacam fitnah Wahaby.
.
Adapun yang ingin kami sampaikan di sini adalah cerita dusta terhadap Imam Nawawi yang bernama lengkap Muhyiddin Abu Zakaria Yahya bin Syaraf bin Marri asy-Syafi’i al-Asy’ari an-Nawawi, ada dua fitnah Wahabi terhadap Imam Nawawi yang saling bertolak-belakang, yaitu tuduhan sesat dan tuduhan taubat. Dan sudah banyak yang  Membongkar Kitab Rekayasa Wahabi Yang Dinisbahkan Kepada Imam Nawawi Pengarang Kitab Riyadhus Shalihin ini.
.
1. Tuduhan sesat yang masyhur adalah mengenai kitab adzkar, dan tuduhan yang dilakukan oleh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam kitab nya Liqa’ al-Bab al-Maftuh bahwa Imam Nawawi bukan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, tuduhan ini memang sudah lumrah, karena setiap yang tidak sama dengan mereka pasti dituduh sesat, lebih lagi karena Imam Nawawi adalah seorang Ulama Sufi dan beraqidah Asy’ari, fitnah ini telah dilemparkan oleh Wahabi terhadap semua Ulama Sufi dan beraqidah Asy’ari atau Maturidi, semua di cap sebagai ahlu bid’ah sesat, semoga Allah menolong semua penolong Islam.
.
2. Tuduhan bahwa Imam Nawawi telah bertaubat dari aqidah Asy’ari ke aqidah Salafy Wahaby, bukan Salafy murni, karena tidak ada takfiri antara Salaf dan Khalaf, fitnah ini bersumber dari sebuah rekayasa pembenci Imam Nawawi lewat lembaran-lembaran kitab rekayasa yang dinisbahkan kepada Imam Nawawi yang katanya “beliau sempat bertaubat dari aqidah Asy’ari dan kembali ke aqidah Salaf kira-kira dua bulan sebelum beliau wafat, dan sempat menulis kitab tentang aqidah Ulama Salaf serta mencela Asya’irah.
.
Akan tetapi kitabnya hilang dan yang tersisa hanya satu Juzuk/Jilid yang membahas tentang -KALAMULLAH HURUF dan SUARA-” sehingga jilid itu disebut “جزء الحروف والأصوات” -JUZK HURUF WAL ASHWAT- atau -JUZK FIL HURUF WAL ASHWAT- atau جزء فيه ذكر اعتقاد السلف في الحروف و الأصوات -JUZK FI HI DZIKRU I’TIQAD SALAF FIL HURUF WAL ASHWAT- dan kitab rekayasa itu di tahqik oleh pentahkiq Wahabi yaitu Abu Fadhl Ahmad Ibnu Ali ad-Dimyati, agar penyamaran itu sempurna dan terkesan benar adanya, serta menumbuhkan keragu-raguan pada pengikut Ahlu Sunnah Waljama’ah yang beraqidah Asy’ari, Na’uzubillah min dzalik.
.
SEKILAS TENTANG KITAB REKAYASA [JUZK FIL HURUF WAL ASHWAT] YANG DINISBAHKAN KEPADA IMAM NAWAWI 
.
Kitab rekayasa tersebut dibuat seolah-olah Imam Nawawi menulis ringkasan [ikhtishar] dari dua kitab berbeda yakni kitab GHAYATUL MARAM FI MAS-ALATIL KALAM ” غاية المرام في مسألة الكلام” katanya itu kitab Syaikh Fakhruddin Abu Abbas Ahmad Ibn Hasan Ibn Utsman al-Armawi asy-Syafi’i, dan dari kitabnya Imam Nawawi sendiri yakni kitab at-TIBYAN FI ADABI HAMLATIL QURAN “التبيان في آداب حملة القرآن” sehinggah kitab kebohongan itu terdiri dari dua bagian, dan insyaallah akan kami jelaskan nanti mana yang dari kitab GHAYATUL MARAM dan mana yang dari at-TIBYAN
.
Kitab kebohongan tersebut terdiri dari Muqaddimah dan 18 [delapan belas] pasal, yaitu:
  1. PASAL: Tentang huruf dan apakah ia qadim atau hadits.
  2. PASAL: Tentang Kalam Allah.
  3. PASAL: Tentang itsbat harf bagi Allah ta’ala.
  4. PASAL: Tentang itsbat suara bagi Allah ta’ala.
  5. PASAL: Tentang bahwa qiraah itu dibacakan dan bahwa kitabah itu dituliskan.
  6. PASAL: Tentang bahwa Kalam Allah itu didengarkan.
  7. PASAL: Tentang Hadits-hadits yang menguatkan bahwa Kalam Allah itu didengarkan.
  8. PASAL: Tentang wajib hormati Al-Quran.
  9. PASAL: Tentang haram Tafsir Al-Quran tanpa ilmu.
  10. PASAL: Tentang haram ragu dan jidal pada Al-Quran dengan cara yang tidak benar.
  11. PASAL: Tentang tidak dilarang kafir mendengar Al-Quran dan dilarang menyentuhnya.
  12. PASAL: Tentang menulis Al-Quran pada bejana lalu disirami air dan diberikan ke orang sakit.
  13. PASAL: Tentang menghias dinding dan pintu dengan Al-Quran.
  14. PASAL: Tentang sunnah menulis mushaf.
  15. PASAL: Tentang tidak boleh menulis Al-Quran dengan najis.
  16. PASAL: Tentang wajib menjaga mushaf dan menghormatinya.
  17. PASAL: Tentang haram terhadap orang berhadats menyentuh mushaf dan membawanya.
  18. PASAL: Tentang melarang anak-anak dan orang gila membawa mushaf
.
Dari dua bagian kitab rekayasa ini disebutkan bahwa bagian pertama yaitu tujuh Pasal awal mulai dari [PASAL: Tentang huruf dan apakah ia qadim atau hadits.] sampai akhir [PASAL: Tentang Hadits-hadits yang menguatkan bahwa Kalam Allah itu didengarkan.] itu diringkas dari kitab GHAYATUL MARAM FI MAS-ALATIL KALAM karya Syaikh Fakhruddin Abu Abbas Ahmad Ibn Hasan Ibn Utsman al-Armawi asy-Syafi’i, dan bagian kedua yaitu sebelas Pasal selanjutnya mulai dari [PASAL: Tentang wajib hormati Al-Quran.] sampai akhir [PASAL: Tentang melarang anak-anak dan orang gila membawa mushaf.] itu ringkasan dari kitab Imam Nawawi sendiri yakni kitab at-TIBYAN FI ADABI HAMLATIL QURAN.
.
Skenario yang hampir bisa dibilang sempurna, mencampurkan yang haq dengan yang batil, agar yang batil sekilas terlihat haq, tapi Allah akan selalu menolong para penolong Agama, cepat atau lambat rekayasa, fitnah dan cerita dusta itu pasti akan nampak juga pada waktunya.Insyaallah
.
ALASAN MENOLAK DINISBAHKAN KITAB REKAYASA [JUZK FIL HURUF WAL ASHWAT] TERSEBUT KEPADA IMAM NAWAWI
.
1. Bahwa Syaikh Fakhruddin Abu Abbas Ahmad Ibn Hasan Ibn Utsman al-Armawi asy-Syafi’i ini orang tidak dikenal [OTK] bahkan tidak pernah ada sama sekali dalam jajaran Ulama Syafi’iyyah dalam kitab mana pun, bahkan lagi pentahqik kitab itu pun tidak kenal dengan Abu Abbas al-Armawi ini, tidak mungkin orang yang dipuji setinggi langit oleh Imam Nawawi dalam kitab itu tidak tercatat dalam sejarah, apalagi dalam peristiwa sebesar ini [seandainya itu benar adanya], tapi jangankan kehidupannya, kuburnya pun tidak ada, benar-benar ini tokoh fiktif belaka.
.
2. Bahwa kitab rekayasa GHAYATUL MARAM FI MAS-ALATIL KALAM karya Abu Abbas al-Armawi tersebut tidak pernah ada sama sekali, karena orang nya memang tidak pernah ada, bagaimana mungkin Imam Nawawi meringkas kitab yang tidak pernah ada itu.
.
3. Bahwa Imam Nawawi tidak punya guru yang bernama Abu Abbas al-Armawi, bahkan dalam kitab rekayasa itu sendiri, pentahqik lupa menambah Abu Abbas al-Armawi dalam jajaran guru Imam Nawawi.
.
4. Bahwa aqidah Ulama salaf bukan seperti tersebut dalam kitab rekayasa itu, tapi Tafwidh ma’at Tanzih atau Takwil Ijmali tanpa Takyif, Tasybih dan Ta’thil, itu Manhaj Taymiyyin yang belum ada masa Imam Nawawi.
.
5. Bahwa dalam kitab Biografi Imam Nawawi tidak pernah ada sejarah bahwa Imam Nawawi pernah menulis kitab rekayasa tersebut yakni [JUZK FIL HURUF WAL ASHWAT].
.
6. Bahwa tidak disebutkan siapa penemu kitab rekayasa itu dan kapan ditemukannya, tidak ada murid atau keluarga atau Ulama semasa Imam Nawawi yang tau adanya kitab itu, dan baru ketahuan setelah ratusan/ribuan tahun kemudian saat kitab itu ada ditangan pentahqik Wahabi yakni Abu Fadhl Ahmad Ibnu Ali ad-Dimyati, dan kemungkinan besar inilah biang fitnah ini.
.
7. Bahwa banyak pembesar Wahabi juga tidak percaya dengan keberadaan kitab rekayasa itu, hingga Imam Nawawi di cap sesat karena beliau seorang Sufi beraqidah Asy’ari.
.
8. Bahwa Abu Fadhl Ahmad Ibnu Ali ad-Dimyati selaku pentahqik sekaligus “penemu” kitab rekayasa  itu adalah pembenci Imam Nawawi dan anti Sufi juga anti Asy’ari.
.
9. Bahwa Abu Fadhl Ahmad Ibnu Ali ad-Dimyati adalah orang pikun hingga nampak kedustaannya yaitu salah menetapkan tanggal dalam kitab rekayasa itu, dalam Muqaddimah ia sebutkan bahwa kitab itu selesai ditulis oleh Imam Nawawi pada Kamis 3 Rabiul Akhir 676 H [في الخميس الثالث من شهر ربيع الآخر سنة 676 هـ] tapi pada akhir kitab ia sebutkan kitab itu selesai pada Kamis 3 Rabiul Awwal 676 H [الخميس الثالث من شهر ربيع الأول سنة ست وسبعين وستمائة.]
.
10. Bahwa Abu Fadhl Ahmad Ibnu Ali ad-Dimyati juga melakukan kesalahan ketika mentahqik mengubah ibarat dari dasar nya (فرغنا منه صبيحة الخميس) menjadi (فرغنا من نسخه الخميس).
.
Sudah cukup alasan untuk tidak menerima penisbahan kitab rekayasa tersebut kepada Imam Nawawi, tapi lebih layak kitab itu dinisbahkan kepada Abu Fadhl Ahmad Ibnu Ali ad-Dimyati selaku pentahqik sekaligus “penemu” kitab itu.
Semua fitnah Wahabi yang timbul di setiap masa pasti telah dijawab oleh Ulama pada masa itu, karena memang sudah menjadi kewajiban atas Ulama untuk terus menjaga kemurnian Islam, dan kemuliaan Ulama Ahlu Sunnah Waljama’ah, apalagi yang dicela oleh Wahabi adalah Ulama sekelas Imam Nawawi, seorang pendekar Madzhab Syafi’i, kasus dan modus seperti ini bukan pertama kali terjadi tapi sudah terjadi sebelumnya dan akan terjadi setelahnya juga.Semoga Allah selalu menjaga kemurnian Islam dan para pejuang Islam dari fitnah berkedok Islam.