Pengkhianatan Mu’awiyah terhadap isi perjanjian dengan Imam Hasan memicu pemberontakan Imam Husain dan Abdullah bin Zubair YANG DiCATAT SEJARAH dan mustahil dihapus dengan hadis jaminan surga kepada Muawiyah yang dibuat perawi sunni

Pengkhianatan Mu’awiyah terhadap isi perjanjian dengan Imam Hasan memicu pemberontakan Imam Husain dan Abdullah bin Zubair YANG DiCATAT SEJARAH dan mustahil dihapus dengan hadis jaminan surga kepada Muawiyah yang dibuat perawi sunni

Niat wahabi adalah Membela kesucian sahabat Mu’awiyah, namun kenyataan pahit menunjukkan bahwa membela Mu’awiyah sama saja dengan melaknat Nabi SAW.. Saya tertawa membaca  http://syiahindonesia.com/index.php/kajian-utama/sahabat-nabi/779-muawwiyah-bin-abi-sofyan-20-sh-60-h  MENYATAKAN bahwa Mu’awwiyah di Jamin masuk Surga dengan menggunakan hadis laut !

Hadis hadis laut tentang  keutamaan  Muawiyah PALSU  karena :

1. Nabi SAW difitnah berdua dua an dengan isteri orang (ummu haram) sambil tertidur dalam pangkuan wanita lain

2. Hadis tersebut memfitnah bahwa dikepala NAbi  banyak kutunya …

Mereka salafiyun mengandalkan sejarah bahwa Muawiyah ikut berperang mengarungi lautan dan Yazid orang yang memerangi kota Qaishar. Tetapi tentu saja hujjah seperti ini adalah buntung karena mereka tidak memperhatikan fakta historis lain yang bisa menjungkirbalikkan pendalilan mereka.

Ada lagi hadis andalan wahabi : “…Ya Allah sesungguhnya aku hanyalah manusia, laki-laki mana saja dari kalangan kaum muslimin yang aku caci atau laknat atau cambuk maka jadikanlah itu sebagai pembersih dan rahmat baginya” [Shahih Muslim 4/2007 no 2601]

Berhujjah dengan hadis buatan Abu Hurairah  ini untuk membela Muawiyah jelas tidak mengena [alias gak nyambung].  Hadis itu jelas palsu karena menuduh Nabi SAW tukang pelaknat dan pencaci orang. Ingat ! Abu Hurairah merupakan mufti Muawiyah semasa Muawiyah berkuasa, dia dan pengikutnya memalsu banyak hadis

Profile Picture

tipikal penguasa Bani Umayyah yang Khalifahnya yang tidak suka berbasa-basi, tampil apa adanya dan sanggup berbuat apa saja untuk melindungi kekuasaannya dari ancaman. Berbeda nanti dengan Bani Abbasiyah yang tipikal penguasanya penuh dengan hipokrasi dan kemunafikan. Mereka tampil di depan khalayak dengan tampang khusuk dan penuh iman, tak jarang bercucuran air mata ketika dinasihati oleh para ahli ibadah. Namun pada lain waktu, mereka 360 derajat berbeda dengan melakukan hal-hal yang amat memalukan dan membelalakkan mata. Dalam kealfaan dan kegilaannya itu, mereka justru tidak risih disapa sebagai pemimpin kaum beriman (Amirul Mu’minin) dan Khalifah bagi umat Islam (Khalifah al-Muslimin).

Contoh kevulgaran dan kejujuran Bani Umayyah dapat dilihat dari sikap Abdul Malik bin Marwan. Dalam Tarikh al-Khulafa, al-Suyuti menceritakan kisah dari Ibnu Abi Aisyah mengatakan, Abdul Malik pernah diminta untuk memutuskan suatu perkara sambil diajukan kepadanya sebongkah mushaf al-Qur’an. Akan tetapi, ia justru mencampakkannya seraya berkata: “Ini adalah persentuhanku yang terakhir denganmu!”. Dan kenyataanya, apa yang ia katakan kemudian ia lakukan. Setelah menyatakan talak dengan al-Qur’an, sang ahli fiqih ini kemudian menjalankan roda pemerintahan dengan instingnya.

Bani Umayyah awalnya didirikan oleh Muawiyah bin Abu Sofyan (satu kakek buyut dengan Utsman bin Affan R.A.). Ia menjadi Khalifah setelah wafatnya Ali bin Abu Thalib. Orang-orang Madinah saat itu membaiat Hasan bin Ali, namun Hasan bin Ali menyerahkan jabatan kekhalifahan ini kepada Mu’awiyah bin Abu Sufyan dalam rangka mendamaikan kaum muslimin yang pada masa itu yang sedang dilanda bermacam fitnah yang dimulai sejak terbunuhnya Utsman bin Affan, pertempuran Shiffin, perang Jamal dan penghianatan dari orang-orang Khawarij dan Syi’ah, dan terakhir terbunuhnya Ali bin Abi Thalib.

Namun kemudian Mu’awiyah bin Abu Sufyan mewajibkan seluruh rakyatnya untuk membai’at anaknya, yaitu Yazid bin Mu’awiyah sebagai Khalifah pengganti dirinya. Sekaligus memperkenalkan suksesi secara putra mahkota, seperti layaknya sistem Monarki (Kerajaan). Memang prosesi pengangkatannya menggunakan bai’at sebagai formalisasi pengangkatan Khalifah, akan tetapi bai’at tersebut kemudian hanya menjadi kamuflase saja, karena bai’at dilakukan secara paksa dan ancaman hukuman mati akan diberikan bagi siapa saja yang menentang keputusan itu atau menolak bai’at.

Mu’awiyah bin Abu Sufyan bahkan memberikan interprestasi sendiri dari kata Khalifah, dimana ia menambahkan kata “Allah” dibelakang kata Khalifah, yang dalam pengertiannya penguasa yang diangkat oleh Allah. Sedangkan Abu Bakar R.A. telah melarang penggunaan kata “Khalifah Allah”, ketika ia dipanggil demikian. Ia berkata, “Aku bukan Khalifah Tuhan, tapi aku adalah Khalifah (pengganti, perwakilan) dari utusan Tuhan. Lagipula, seseorang hanya dapat bertindak sebagai “Khalifah” (pengganti, perwakilan) seseorang yang tidak ada, bukan sesuatu yang ada (karena Tuhan selalu ada).

Tindakan pewarisan tahta ini memicu protes dikalangan umat. Ia di anggap tidak mentaati isi perjanjiannya dengan Hasan bin Ali ketika dia naik tahta, yang menyebutkan bahwa persoalan penggantian kepemimpinan diserahkan kepada pilihan umat Islam. Deklarasi pengangkatan anaknya Yazid bin Mu’awiyah sebagai putera mahkota menyebabkan munculnya gerakan-gerakan oposisi di kalangan rakyat yang mengakibatkan terjadinya perang saudara beberapa kali dan berkelanjutan.



Keterangan gambar: Makam Muawiyah bin Abu Sofyan di Syria. Digembok rapat karena orang-orang suka membuang kotoran di makam ini. Konon di sekitarnya juga tumbuh pohon berduri yang tidak tumbuh di tempat lain.

 Kubur Muawiyah Laknatullah

Sejarah kemudian mencatatat munculnya Abdullah bin Zubair yang menyatakan dirinya secara terbuka sebagai Khalifah menggantikan Husain bin Ali yang terbunuh dalam perang Karbala. Terjadi dualisme kepemimpinan dan perpecahan yang hebat di kalangan umat Islam. Perlawanan Abdullah bin Zubair baru dapat dihancurkan pada masa kekhilafahan Abdul Malik bin Marwan (Khalifah ke-5 Bani Umayyah yang juga dikenal ahli fiqih), yang kemudian kembali mengirimkan pasukan Bani Umayyah yang dipimpin oleh Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi dan berhasil membunuh Abdullah bin Zubair pada tahun 73 H/692 M.

Pola pemerintahan tangan besi yang dipraktekkan Dinasti Umayyah berlanjut. Ketika Abdul Malik bin Marwan memimpin, ia menjadikan Hajjaj “si tukang jagal” sebagai tangan kanannya. Kekejaman Hajjaj bin Yusuf begitu terkenal, hingga ada pameo “jika Hajjaj datang, malaikat menyingkir dan setanpun berdansa mendekat”.

Demikian kenyataan sejarahnya, bahwa Dinasti Umayyah dibangun di atas genangan darah sesama Muslim. Pendahulu Abdul Malik bin Marwan seperti Yazid dikenal sebagai monster haus darah dengan tumbal pertamanya Husain bin Ali bin Abu Thalib. Tidak kalah sadisnya, Abdul Malik sang ahli fiqih ini juga telah melakukan pembantaian dengan jubah kebesarannya sekaligus menyatakan talak tiga dengan al-Qur’an, lalu ia memimpin dengan instingnya.

Namun sayangnya, saat itu Ulama-Ulamanya atau sejenis Ulama plat merah saat ini, selalu saja mendoakan Abdul Malik seraya berkata bahwa Abdul Malik sang penjaga amanat umat Islam, dimana saat itu spekulasi hadits bermunculan, salah satunya berbunyi “orang-orang yang sekurang-kurangnya pernah tiga hari memimpin umat Islam akan diampuni dosa-dosanya”. Dan menjelang kematianya, Abdul Malik bin Marwan berwasiat kepada anaknya Walid “Wahai anakku, bertakwalah kepada Allah dengan kekuasaan yang telah diamanatkan padamu dan tetaplah hormati Hajjaj bin Yusuf, serta jangan hiraukan komentar orang tentang Hajaj bin Yusuf”.

Dan ketika anaknya Walid menangis, Abdul Malik berkata “Mental apaan ini, jika aku mati singsingkan lengan bajumu, pakailah sabuk kulit macan dan selipkan pedang, jika ada orang yang berkata lebih berhak atas kekuasaan dari padamu, tebaslah batang lehernya”.

Sejarah mencatat, bahwa kekuasaan Dinasti Bani Umayyah dimarakkan oleh tiga nama orang sebagai sadis, namun merupakan Khalifah yang dikenal populer yakni Yazid bin Muawiyah sang pembantai, Yazid bin Abdul Malik dan Walid bin Yazid. Satu orang yang kemudian dikenal sebagai sangat bijaksana yakni Umar bin Abdul Azis, karena kebijaksanaannya itu ia dijuluki Umar kedua yang memiliki kebijaksanaan yang tinggi setelah Umar bin Khatab. Namun sayang orang baik ini harus mati terminum racun yang diduga diberikan oleh keluarga dekatnya sendiri karena menginginkan kekuasaannya.

Kezaliman Yazid bin Muawiyah tidak cukup ditandai dengan pembantaian atas Husain bin Ali, yakni ketika Yazid bin Muawiyah bersama pasukannya menaklukan Madinah karena masyarakatnya mencabut bai’at atasnya, Yazid memaklumatkan pembantaian dan anarkisme selama tiga hari dalam kota. Ibnu Atsir dalam al-Kamil fi al-Tarikh-nya meriwayatkan, akibat pembantaian itu 4.500 jiwa menjadi tumbal dan sekitar 1.000 perawan muslimah diperkosanya. Dan lebih dahsyatnya Yazid bin Muawiyah sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa al-Nihayah, telah secara ekplisit menyatakan kemurtadan dengan menyebutkan, “Klan Hasyim bermain-main dengan kuasa. Kekuasaan tidak datang wahyupun tidak menjelang”. Disebutkan dalam Tarikh al-Khulafa, Yazid juga dikenal gemar mengumbar nafsu dan minum minuman keras.

Sementara itu Yazid yang lain yakni Yazid bin Abdul Malik, ia adalah Khalifah pengganti Umar bin Abdul Azis. Yazid bin Abdul Malik menjadikan selama kekuasaannya sebagai lautan kebobrokan moral dan kemesuman, namun sebagaimana diriwayatkan oleh al-Suyuti dalam Tarikh al-Khulafa-nya: Ketika Yazid bin Abdul Malik mendapatkan mandat sebagai Khalifah, ia datangkan 40 orang Syeikh (maha guru agama), dan meminta agar 40 Syeikh tersebut berfatwa yang isinya bahwa seorang Khalifah tidak akan dihisab oleh Tuhan, apalagi disiksa.

Keadaan ini menegaskan juga bahwa ternyata kerusakan itu tidak hanya datang dari Khalifah, tetapi juga bisa datang dari Ulama dalam pengertian ahli ilmu agama. Kalau selama kekuasaan Yazid bin Abdul Malik telah menghabiskan masanya dengan bermesum ria dengan perempuan bernama Salamah dan roman cintanya dengan Habbabah. Al-Mas’udi dalam Muruj al-Dzahab-nya meriwayatkan dari jalur Abu Hamzah al-Khariji menyatakan; Yazid mendudukan Hababah di paha kanannya, dan Salamah di sebelah kirinya, lalu secara terbuka dia menyatakan “aku ingin terbang” sambil berkata aku terbang menuju laknat Tuhan dan azabnya yang pedih. Ibnu Katsir juga meriwayatkan, bahwa ia (Yazid bin Abdul Malik) menginginkan agar istana dikosongkan dari manusia, ia menginginkan berdua saja dengan Habbabah untuk mengumbar libidonya, hingga bersenda gurau, yang akhirnya Habbabah harus mati tersedak buah anggur, dan bangkainyapun terus diciumi, dipeluk dengan penuh nafsu, barulah ketika mulai membusuk, mayat Habbabah dikubur dan Yazid bin Abdul Malik menginap dikuburan berhari-hari meratapi kematian kekasihnya.

Cerita lebih gila dari tiga tokoh antik dalam Dinasti Bani Umayyah adalah munculnya anak Yazid bin Abdul Malik, yakni al-Walid bin Yazid, Ia seorang homoseksual yang “overdosis” dan hobinya menjadikan Mushaf Al-Quran sebagai sasaran memanah sambil membaca ‘auzubillahi, laa hawla walaqwata‘. Ketika beberapa orang ulama menyatakan al-Walid bin Yazid sebagai kafir dan zindiq, seorang ulama besar pula yang bernama Al-Zhahabi membelanya, sambil berkata, tidak benar kalau al-Walid kafir dan zindiq, namun memang ia dikenal sebagai pemabuk dan pelaku homoseksual. Bahkan ketika al-Walid pergi kerumah seorang Ulama bernama al-Muhtadi tentang desas desus tuduhan kafir zindik, al-Muhtadi justru membelanya. Layaknya kebanyakan Ulama sekarang yang membela penguasa sekalipun penguasa sudah berlaku yang zalim. Ketika membaca perilaku homoseksualitas Khalifah ini, anda mungkin tersentak sejenak.

Kita mungkin menyangka bahwa gejala LGBT (lesbian, gay, biseksual dan transeksual) hanya ada di zaman kita dimana kebebasan individu begitu didewakan. Kenyataannya, gejala seperti ini sudah ada bahkan sejak awal kekhilafahan. Pelakunya pun tidak tanggung-tanggung, sang Khalifah sendiri. Kita mungkin juga mengira bahwa kebiasaan perselingkuhan antara penguasa dan agamawan hanya ada dalam kisah sejarah Eropa.

Mari kita lihat apa yang dilakukan al-Walid ketika membaca ayat “Mereka melakukan penaklukan dan takluklah setiap tiran yang bebal. Dibelakang mereka sudah menguntit neraka jahannam. Mereka akan disiram air yang menggelegak…” Seketika itu pula ia meletakkan mushaf al-Qur’annya untuk dipanah. Namun, ia berubah pikiran, lalu cukup melemparkannya sambil berkata:

Aku menantang semua tiran yang bebal

Ini, akulah sang tiran bebal

Kalau tuhanku datang di hari kebangkitan

Katakan, Tuhan, aku telah ditaklukkan al-Walid

Muhammad Ibnu Yazid al-Mubarrad mengatakan: “Sesungguhnya al-Walid sudah ateis dalam syairnya yang menyebut-nyebut soal Nabi dan wahyu Tuhan yang tak datang padanya:”

Seorang Hasyimi bermain-main dengan kuasa

Tanpa wahyu turun, tanpa Kitab

Titahkan Tuhan melarangku makan

Suruh Tuhan menghalangiku minum

Al-Walid juga pernah berusaha membuat kubah di atas Ka’bah untuk minum-minum ketika ia melaksanakan haji beserta beberapa kerabatnya. Namun para pemuka sukunya berhasil meyakinkannya untuk mencabut keinginannya. Yang jelas, dari kisah hidupnya ia betul-betul memperturutkan hasratnya. Sampai-sampai kegilaan akan hiburan dan minuman itu mampu menguasai para elit dan masyarakat pada zamannya, sebagaimana diceritakan al-Mas’udi. Karena itu tak heran bila bermunculan bintang-bintang di bidang tarik suara bak American Idol, di antaranya Ibnu Sarih, Ma’bad, al-Gharidh, Ibnu Aisyah, Ibnu Muhriz, Thawis, dan Dahman.

Riwayat al-Walid berakhir dengan pembelotan sepupunya, yaitu Yazid bin al-Walid, yang membunuhnya setelah mencicipi kekuasaan selama satu tahun tiga bulan. Namun, takdir menentukan masa kepemimpinan Yazid pun jauh lebih pendek; tak lebih dari lima bulan. Ia meninggal, lalu digantikan adiknya, Ibrahim, untuk jangka waktu 70 hari saja, karena dikudeta Marwan bin Muhammad sebagai upaya balas dendam terhadap al-Walid bin Yazid. Setelah itu, masa Bani Umayyah berakhir dengan tewasnya Marwan, yang berkuasa sekitar 5 tahun, di tangan orang-orang Abbasiyah.

Terlalu banyak cerita gelap yang dapat diungkap dari Dinasti Bani Umayyah, beberapa kesimpulan yang dapat dipetik adalah pertama, adalah benar bahwa Dinasti ini telah melebarkan wilayah kekuasaan Islam, namun motivasinya lebih banyak untuk kesenangan nafsu sebagai layaknya masyarakat Jahiliyah yang baru berkenalan dengan dunia luar. Kedua, era Umayyah adalah nepostisme ke-Araban yang akut. Ketiga, pada era inilah Ulama-Ulama besar banyak bermunculan, namun seringkali Ulama malah bertindak menjustifikasi kebijakan Khalifah, sekalipun menyimpang dari Islam.

Selanjutnya akan kita dedah pula bagaimana Dinasti Bani Abbasiyah. Yang ternyata tidak kalah sadisnya, sekalipun pada Dinasti ini the Golden Era-nya peradaban Islam tertoreh dalam sejarah. Dinasti ini sebenarnya tidak perlu diperkenalkan lagi, sebab ia telah mempekenalkan diri lewat figur pendirinya yakni Abbul Abbas Al-Saffah (Abbul Abas si tukang jagal). Ada dua dekrit yang dikeluarkan oleh sang tukang jagal ini yakni pertama untuk mencari kuburan dan memburu apa saja yang tersisa dari pimpinan Bani Umayyah, kedua melecut, menyalib, membakar mayatnya dan menghamburkan ke udara abu jenazah para pemimpin Bani Umayyah.

Dinasti Bani Abbasiyah merebut kekuasaan dengan klaim bahwa hak kekuasaannya telah ditentukan dan diberi mandat langsung dari Tuhan. Dalam Musnad-nya, Ibnu Hanbal misalnya menyebutkan hadits berikut: “Akan muncul pemimpin dari sanak keluargaku pada masa terjadinya peralihan zaman dan malapetaka besar. Ia disebut al-Saffah, kedermawanannya sangat melimpah”. Al-Thabari juga menyebutkan: “Rasulullah pernah mewartakan kepada pamannya Abbas, bahwa kepemimpinan Arab kelak akan jatuh ke tangan sanak keluarganya. Sampai-sampai sanak keluarganya itu tidak sabar menantikan kapan saat itu tiba”. Inilah cara Abbasiyah merebut simpati massa untuk membai’at dan loyal terhadap mereka. Bermulalah model kekuasaan berdasarkan klaim palsu agama ini yang didukung dengan ancaman keras bagi mereka yang tidak loyal dan mengancam kekuasaan.

Pasukan tentara Bani Abbas kemudian berhasil menaklukkan kota Damsyik, ibukota Bani Umayyah, dan mereka “memainkan” pedangnya di kalangan penduduk, sehingga membunuh kurang lebih lima puluh ribu orang. Masjid Jami’ milik Bani Umayyah, mereka jadikan kandang kuda-kuda mereka selama tujuh puluh hari, dan mereka menggali kembali kuburan Mu’awiyah serta Bani Umayyah lainnya. Memang benar kemudian mereka bongkar kuburan Muawiyah dan Yazid bin Muawiyah dan hanya menemukan sepotong tulang yang sudah mirip dengan arang lalu mereka angkat dan bakar lalu dilambungkan abunya ke udara. Sementara saat membongkar kuburan Abdul Malik bin Marwan, mereka menemukan tengkorangnya. Dan ketika mendapati jasad Hisyam bin Abdul Malik masih utuh, mereka lalu menderanya dengan cambuk-cambuk dan menggantungkannya di hadapan pandangan orang banyak selama beberapa hari, kemudian membakarnya dan menaburkan abunya. Mereka juga membunuh semua anggota keluarga Bani Umayyah yang ada di kota Basrah dan menggantungkan jasad-jasad mereka dengan lidah-lidah mereka, kemudian membuang mereka di jalan-jalan kota itu untuk makanan anjing-anjing. Demikian pula yang mereka lakukan terhadap Bani Umayyah di Makkah dan Madinah.

Ibnu Atsir dalam al-Kamil fi al-Tarikh mengungkapkan bahwa Al-Saffah juga melakukan pengejaran terhadap seluruh sanak keluarga dan pendukung Bani Umayyah. Ia menghabisi mereka semua, kecuali anak-anak yang masih menyusu dan mereka yang telah melarikan diri ke Andalusia.

Al-Mas’udi pula dalam Muruj al-Dzahab mengungkapkan kisahnya secara lebih terperinci. Haitsam bin Uday at-Tha’i meriwayatkan kisah dari Amru bin Hani. “Kami pergi mencari kuburan pemuka Umayyah pada masa Abu Abbas al-Saffah. Hanya mayat Hisyam yang kami temukan masih utuh, kecuali bagian hidungnya. Abdullah bin Ali mengeluarkannya, menyambuknya 80 kali, lalu membakarnya. Jenazah Sulaiman kami keluarkan dari pekuburan Dabiq. Yang tersisa memang hanya tulang belulang, tulang rusuk, dan tengkoraknya. Tapi kami membakarnya. Kami masih melakukan hal serupa terhadap setiap keluarga Umayyah, terutama di komplek pekuburan Qinasrin. Petualangan kami berakhir di Damaskus. Disana kami menemukan kuburan al-Walid bin Abdul Malik. Tapi kami tak menemukan apa-apa secuil pun. Kami juga menggali kuburan Abdul Malik, tapi tidak menemukan hal lain, kecuali sebagian tengkorak kepalanya. Lalu kami lanjutkan dengan penggalian kuburan Yazid bin Muawiyyah, tapi kami hanya menemukan sepotong tulang. Dan di sepanjang liang lahatnya kami menemukan garis hitam seperti di torehkan arang. Kami masih memburu jenazah-jenazah keluarga Umayyah di seantero negeri dan membakar apa yang terjumpa dari jenazah mereka”.

Farag Fauda dalam bukunya Al-Haqiqah al-Ghaybah, yang banyak menginspirasi dan komentarnya banyak saya kutip dalam tulisan ini mengatakan, ketika ia merenungkan kejadian-kejadian sadis ini, akal sehat bertanya, apa alasan dan justifikasi semua tindakan mereka ini. Pembunuhan terhadap para pembesar dalam konteks perebutan kekuasaan, membunuh sanak keluarga demi menjamin masa depan kekuasaan baru dan menghapuskan sisa-sisa kekuasaan masa lalu memang sudah sering terjadi. Akan tetapi, memburu jenazah, membalas dendam, menggantung dan membakarnya, benar-benar perkara yang sangat berlebihan.

Disamping berbuat bengis diluar kemanusiaan, pemimpin Abbasiah tetap saja berpidato dengan gaya layaknya orang yang sangat saleh dan beradab dengan cara memuji-muji Islam dengan kalimat “Segala puji bagi Allah yang telah memilih Islam, yang memuliakan dan mengagungkannya, yang telah memilihkannya untuk kita dan membuatnya tetap kukuh bersama kita, kita menjadi lurus dan lebur di dalamnya, serta menjadi pemenang karenanya”. Pidato tersebut sepintas mirip dengan pernyataan para pejabat saat ini yang menampakan diri seakan sangat suci dan sedikit-sedikit mengutip kalimat-kalimat suci bertabur ayat, namun membiarkan korupsi terus berlangsung, sehingga benar kemudian sepanjang masa Dinasti Bani Abbasiah, umat benar-benar tertipu dengan muslihat sang Khalifah yang berselingkuh dengan sebahagian besar Ulama dengan tampilan seakan muslim yang baik dan berlidung dibalik jubah agama, namun prilakunya sangat tidak beradab.

Dinasti Bani Umayyah kemudian di habisi sampai ke akar-akarnya oleh Bani Abbasiyah. Mereka yang masih tersisa dari Bani Umayyah menetap di Andalusia dan memerintah secara otonom, yang akhirnya musnah jua ditelan zaman sampai tahun 1031 H.

Kembali ke kisah Al-Saffah, Khalifah ini punya kepandaian dalam bersandiwara, bukan hanya bengis di hadapan lawan politik dan penuh iman di hadapan pendukungnya, ia juga pandai bersandiwara ketika mengeksekusi musuh-musuhnya. Ia mengatur skenario pembantaian sisa-sisa kerabat Bani Umayyah layaknya sebuah drama opera sabun, ada plot, kisahnya berlangsung secara alamiah, mengalir kemudian ada klimaks dan ending-nya yang sudah di set. Kita akan mulai kisah ini dengan babak sebagaimana dituturkan oleh Ibnu Atsir. Ibnu Atsir menuturkan “Di saat al-Saffah sedang melakukan perjamuan yang ramah terhadap Sulaiman bin Hisyam bin Abdul Malik, Sudaif sang penyair datang sembari melantunkan syairnya:

Jangan silau akan tampilan seseorang

Jika sumsum simpan penyakit mematikan

Hunuskan pedang, sediakan lecutan

Sampai tak tersisa keluarga Umayyah pun seorang

Kontan, Sulaiman tertegun seketika, lalu berkata: “Anda benar-benar telah membunuhku, wahai Syekh (Sudaif)!” Al-Saffah pun langsung beranjak masuk ke ruang pribadinya sambil menarik Sulaiman. Ia menghabisi nyawanya.

Suatu ketika Al-Saffah memberikan jaminan keamanan kepada keluarga Umayyah lainnya yang berjumlah 90 orang. Setting peristiwa masih tetap berada di tempat perjamuan makan yang sama. Dan sepanjang pembuat acara adalah Khalifah, kemurahan hati akan dipastikan tetap terjaga. Rasa amanpun tak pantas disangka-sangka. Tapi secara mengejutkan, seorang penyair datang seraya melantunkan syair:

Kekuasaan tidak akan goyah

Di tangan Badut-Badut Bani Abbas

Atas Bani Hasyim ia menuntut balas

Setelah lama terbuang tabah

Jangan lagi tergelincir oleh Abdus Syam

Penggallah tiap tunas yang sedang mengembang

Mendengar syair itu, al-Saffah lalu memerintahkan untuk menghantam kepala mereka semua dengan pentungan besi. Sebagian pecah kepala, tetapi jasadnya tetap bernyawa, dalam kondisi yang mengenaskan. Tatkala al-Saffah menyaksikan sekitar 90 orang yang sedang meregang nyawa, ia meninggikan suara sambil menuturkan titah: ‘Gelar permadaniku untuk bersantap secara lesehan di atas mereka!’ Ia dan orang-orangnya memulai dinner party (santap malam), sementara permadani menari ke kanan dan ke kiri. Tatkala permadani tidak lagi bergerak, mereka pun selesai dari kunyahan mereka sambil mengucap alhamdulillah dan tahniah kepada para tentara dan kerabatnya.

Apabila para Khalifah gemar mendeklarasikan dirinya sebagai “tukang jagal semena-mena” (al-Saffah al-Mubih) untuk menunjukkan kebengisannya, begitu pula tingkah seorang gubernurnya. Dalam Tarikh al-Ya’qubi disebutkan Rayyah bin Utsman selaku gubernur Madinah dimasa al-Mansur menggelari dirinya sebagai “si ular anak si ular”. Kondisi di masa ini menunjukkan pada kita bahwa otoritarianisme yang di balut agama tidak hanya terjadi di barat, dan menyangkal pendapat yang mengatakan bahwa kita tidak perlu mengusulkan adanya pembagian kekuasaan, menciptakan mekanisme kontrol dan Undang-Undang yang menjamin Negara tidak jatuh pada despotisme.

Abul A’la al-Maududi dalam al-Khilafah wa al-Mulk menceritakan kembali berdasarkan riwayat dari Ibnu Atsir dan al-Thabari; tidak lama kemudian timbul pemberontakan di kota Musil melawan al-Saffah yang segera mengutus saudaranya, Yahya, untuk menumpas dan memadamkannya. Yahya kemudian mengumumkan dikalangan rakyat: “Barangsiapa memasuki masjid Jami’, maka ia dijamin keamananya”. Beribu-ribu orang secara berduyun-duyun memasuki masjid, kemudian Yahya menugaskan pengawal-pengawalnya menutup pintu-pintu Masjid dan menghabisi nyawa orang-orang yang berlindung mencari keselamatan itu. Sebanyak sebelas ribu orang meninggal pada peristiwa itu. Dan di malam harinya, Yahya mendengar tangis dan ratapan kaum wanita yang suami-suaminya terbunuh di hari itu, lalu ia pun memerintahkan pembunuhan atas kaum wanita dan anak-anak, sehingga selama tiga hari di kota Musil digenangi oleh darah-darah penduduknya dan berlangsunglah selama itu penangkapan dan penyembelihan yang tidak sedikit pun memiliki belas kasihan terhadap anak kecil, orang tua atau membiarkan seorang laki-laki atau melalaikan seorang wanita.

Seorang ahli fiqih terkenal di Khurasan bernama Ibrahim bin Maimum percaya kepada kaum Abbasiyin yang telah berjanji “akan menegakkan hukum-hukum Allah sesuai dengan al-Qur’an dan Sunnah”. Atas dasar itu ia menunjukkan semangat yang berkobar-kobar dalam mendukung mereka, dan selama pemberontakan itu berlangsung, ia adalah tangan kanan Abu Muslim al-Khurasani (pendiri Negara Khurasan yang kemudian menyerahkannya ke al-Saffah). Namun ketika ia (setelah berhasilnya gerakan kaum Abbasiyin itu) menuntut kepada Abu Muslim agar menegakkan hukum-hukum Allah dan melarang tindakan-tindakan yang melanggar kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya, segera ia dihukum mati oleh Abu Muslim.

Abu Ja’far al-Mansur, Khalifah kedua Bani Abbasiyah naik tahta. Ia melakukan intrik politik agar Abu Muslim al-Khurasani bersedia membunuh Abdullah bin Ali (paman al-Saffah sekaligus panglima pasukan Abbasiyah di peperangan Zab yang menuntaskan kemenangan mereka terhadap orang-orang Umayyah). Setelah misi tuntas, ia sendiri yang turun tangan menghabisi Abu Muslim al-Khurasani. Abu Ja’far tidak peduli ketika Abu Muslim memohon: “Tidakkah lebih baik engkau biarkan aku hidup untuk menyingkirkan musuh-musuhmu?” Tetapi Abu Ja’far menampik: “Siapakah musuh yang lebih mematikan dari dirimu?!”.

Abu Ja’far al-Mansur bersekutu dengan Pepin dan Charlemagne, yang menguasai sebagian besar daratan Eropa pada abad pertengahan, demi menaklukkan Abdur Rahman bin Mu’awiyah bin Hisyam, Khalifah Umayyah di Andalusia. Namun ia gagal menaklukkannya. Kita mungkin berfikir kalau Khalifah tidak sepantasnya bekerjasama dengan kafir harbi fi’lan (Negara kafir yang secara terang-terangan memerangi umat Islam) karena tindakan seperti ini di haramkan syara’, apalagi bekerjasama untuk membantai umat Islam sendiri. Kita juga mungkin berfikir bahwa situasi seperti ini hanya terjadi di zaman kita. Kekuasaan telah menggelapkan mata mereka. Bagi al-Mansur, prinsip politiknya: “Lakukanlah apapun, tempuh jalan manapun, bersekutulah dengan musuhnya musuhmu, demi mencapai tujuanmu dan menang atas musuhmu”. Artinya, ia benar-benar telah melupakan Islam, masa bodoh dengan hukum-hukum al-Qur’an dan Sunnah, serta menjauhkan diri sedapat mungkin dari teladan para Khulafa’ al-Rasyidun. Ia hanya mengingat dirinya sebagai “penguasa Tuhan di muka bumi”, tipikal penguasa Arab-Quraisy. Ia mendasarkan kekuasaannya atas hak Bani Abbas terhadap Khalifah, bukan berdasarkan hak rakyat untuk memilih.

Al-Mansur juga terkenal anti kritik. Suatu ketika Ibnu Muqaffa mengirimkan untuk al-Mansur buku yang berjudul Risalah al-Sahaabah (Risalah tentang Para Sahabat). Buku itu berisi nasihat untuk Khalifah agar pandai-pandai memilih para pembantu dan memperbaiki sistem pengelolaan masyarakatnya. Nasihat itu ia sampaikan dengan sangat santun. Boleh jadi, ia sedang mengharap penghargaan materi yang pantas untuk karyanya dengan mengirimkannya kepada Khalifah. Dan mungkin, ia pun tidak mengira bahwa sekedar memberi nasihat kepada penguasa adalah tindak kriminal. Kaki dan tangan Ibnu Muqaffa dicincang satu per satu. Potongan dagingnya di panggang di atas bara api, tepat di hadapannya. Setelah matang, satu per satu pula daging panggang itu dijejalkan ke mulutnya. Ibnu Muqaffa menjalani penderitaan tiada tara sampai ajal pun menjemputnya.

Mungkin Ibnu Muqaffa pun bertanya tatkala harus mengunyah jasadnya sendiri atas perintah “pemimpin kaum beriman”: pemimpin apa dan beriman seperti apa??? Ia mungkin bertanya, inikah hakikatnya kekuasaan Khilafah yang disebut “Islamiyah” itu? Islamiyah apanya??? Mungkin saat itu ia juga menyadari apa yang sekarang mesti pula disadari oleh para pejuang Khilafah dan sistem syariah, dan mereka yang memandang remeh usulan pembatasan dan pembagian kekuasaan, yang berfantasi tentang nikmatnya Negara despotik yang mengatasnamakan agama.

Namun demikian, walaupun al-Mansur masuk sejarah dari aspek yang paling bejatnya, ia tetaplah tercatat sebagai seorang negarawan besar yang berhasil mengukuhkan kekuasaannya dan mewariskannya kepada keturunan-keturunannya, meskipun dibangun di atas genangan darah. Dan kenyataan bahwa ia semena-mena, sebetulnya juga tidak lepas dari fatwa para fuqaha, ketakutan sebagian, dan bungkamnya sebagian yang lain. Juga yang terpenting tidak jalannya fungsi-fungsi pemerintahan, tidak adanya pembagian kekuasaan dan check and balance.

Era Abbasiyah adalah era pemerintahan paling bergairah dalam kebangkitan akal dan peradaban. Dan paling maju dalam soal fiqih. Dan untuk melengkapi gambarnya, kita dapat pula menyebutnya paling maju dalam soal kenikmatan hidup dan durjananya, ini ditandai dengan maraknya dunia hiburan dan kemaksiatan. Farag Fauda mengatakan, kondisi ini didorong oleh banyak faktor, namun barangkali faktor utamanya adalah apa yang di masa sekarang disebut sebagai “iklim kondusif” yang membuka peluang untuk kemaksiatan. Sudah menjadi rahasia umum bahwa di masa lalu minuman keras, musik dan tarik suara menjadi kegemaran para Khalifah-Arab dalam pesta-fora mereka. Ini karena Ulama juga membolehkannya. Saat itu para fuqaha Irak yang terdiri dari murid-murid Abu Hanifah mempunyai fatwa yang membolehkan minuman keras. Sementara itu ulama Hijaz membolehkan musik dan nyanyian. Itulah iklim atau suasana umum yang mendorong maraknya musik dan minuman keras serta konsekuensi-konsekuensi lain seperti maraknya dunia hiburan, perempuan penghibur, dan penyimpangan perilaku seksual. Dunia hiburan sudah menjadi bagian dari kenikmatan masyarakat kala itu. Untuk soal menikmati perempuan penghibur, al-Mahdi dan putranya, Harun al-Rasyid adalah jagonya. Untuk soal penyimpangan seksual, al-Watsiq adalah bintangnya.

Mengenai maraknya minuman keras itu, “iklim kondusif” bukan hanya datang dari Khalifah, tapi pendapat fuqaha kala itu yang merupakan murid-murid Abu Hanifah yang merujukkan pendapatnya dari Abdullah bin Mas’ud yang kemudian mengambil kesimpulan bahwa kata khamar dalam al-Qur’an adalah air sari buah anggur berdasarkan makna kebahasaan dan dari hadits-hadits nabi lainnya. Pemahaman inilah yang membuat Abu Hanifah berijtihad menyangkut halalnya beberapa jenih khamar seperti sari buah kurma dan kismis. Dengan catatan, bahan-bahan itu diolah sewajarnya dan diminum dengan kadar tidak memabukkan.

Masa Abbasiyah ini diramaikan pula dengan maraknya perbudakan dan pergundikan. Perbudakan dan pergundikan bersumber dari sistem perdagangan budak yang masih ramai di masa itu, dan hasil pampasan perang. Asal mereka pun bermacam-macam, ada gundik Romawi, Persia dan Ethiopia. Terjadinya surplus budak ini menimbulkan fenomena saling menghadiahi selir, yang menjadi kebiasaan umum. Jumlah gundik-gundik yang dimiliki para petinggi Negara semakin berkembang dalam sejarah imperium Islam. Dari belasan di masa sahabat, menjadi puluhan pada masa Umayyah, mencapai ratusan pada masa Yazid bin Abdul Malik, dan menembus angka ribuan pada masa Abbasiyah. Bilangan ini bahkan mencapai angka 4000 (empat ribu) orang di masa al-Mutawakkil. Dalam Tarikh al-Khulafa, al-Suyuti menceritakan Khalifah yang gemar minum-minuman keras ini konon telah meniduri seluruh empat ribu gundiknya selama seperempat abad masa kepemimpinannya. Tentu ini merupakan rekor tertinggi kepemilikan gundik yang pernah tercatatkan dalam sejarah umat manusia yang seharusnya masuk ke dalam catatan Book of Record.

Membaca sejarah kehidupaan Khalifah di masa itu, pembaca mungkin terheran-heran, mengapa masyarakat Islam di masa itu jauh dari kehidupan Islam, padahal masa itu adalah masa kekhilafahan. Kita mungkin berimajinasi bahwa masyarakat Islam dan pemimpin-pemimpinnya di masa kekhilafahan adalah masyarakat yang dekat dengan agama, dan syariat diterapkan secara total dalam semua aspek kehidupan. Namun anggapan itu salah, masyarakat Islam kala itu tidak lebih baik dari masyarakat kita saat ini yang sebagian dari Anda menganggapnya sebagai “masyarakat jahiliah modern” atau jauh dari agama (ideologi) Islam yang sebenarnya. Saat itu, syariat memang diterapkan, tapi diterapkan secara “kreatif” dan tebang pilih.

Pembacaan sejarah akan dilanjutkan pada masa pemerintahan Harun al-Rasyid yang sangat terkenal itu, terlepas dari kekurangan dan kelebihan, tentunya orang sudah kenal dengan siapa Harun al-Rasyid, atau paling tidak dengan al-Ma’mum dan al-Mu’tasim.

Pasca Harun al-Rasyid, putranya al-Amin (Shalih bin Harun) naik tahta. Al-Amin telah dinobatkan sebagai pengganti Harun semasa ia masih anak-anak. Harun al-Rasyid mewasiatkan bahwa setelah al-Amin naik tahta, jabatan Khalifah akan di lanjutkan oleh saudara al-Amin, yakni al-Ma’mun. Sementara al-Amin menjadi Khalifah, al-Ma’mun menjadi gubernur Khurasan di Persia Timur. Namun kemudian, Khalifah al-Amin membatalkan hak Khalifah al-Makmun, dan menggantinya dengan putranya sendiri, Musa bin Muhammad al-Amin. Perebutan kekuasaan ini mengakibatkan perang saudara yang berujung pada dipenggalnya kepala al-Amin oleh panglima Tahir bin Husain yang di utus oleh saudaranya sendiri al-Ma’mun, setelah bala tentaranya berhasil menaklukkan tentara al-Amin dan memasuki Baghdad.

Al-Amin sebagai Khalifah ternyata juga dikenal abnormal dalam perilaku seksualnya. Dia sangat menyukai teman kencan seranjang sejenis dengan meninggalkan istri-istri dan gundik-gundiknya. Pacar yang sangat digandrungi oleh al-Amin bernama Kautsar, sementara Kautsar adalah seorang laki-laki tampan yang dibeli oleh Harun al-Rasyid sebagai hadiah buat al-Amin, karena dia mengetahui prilaku seksual anaknya. Satu peristiwa mencolok yang dilakukan oleh al-Amin terhadap kekasihnya Kautsar, yakni mengangkut dirham sebanyak tiga keledai untuk penyembuhan Kautsar karena cidera ringan, sementara dana tersebut sudah dialokasikan untuk biaya perang. Dan akhirnya al-Amin dihancurkan oleh para menteri dan gubernurnya sendiri karena ia lebih banyak berhura-hura, menghamburkan kas Negara dan asyik bermesraan dengan sesama jenis bernama Kautsar.

Satu Khalifah lagi yang kurang dikenal yang sangat piawai membuka babak baru sejarah dinasti keturunan Abbas bin Abdul Muthalib ini. Dia adalah al-Watsiq. Al-Watsiq adalah Khalifah terakhir Dinasti Abbasiah periode awal. Ia memerintah selama 6 tahun, ia seorang Transeks namun cenderung berperilaku homoseks, selama 6 tahun, nyaris waktunya digunakan dengan berpindah-pindah pelukan dari satu pria ke pria lainnya.

Satu pacar yang paling disukai oleh al-Watsiq adalah Muhaj, cowok keren dan sangat pandai memainkan perasaan al-Watsiq, sebuah pameo menceritakan, bila al-Watsiq sedang nyaman dalam pelukan Muhaj, maka stabilitas pemerintahan akan baik, namun jika al-Watsiq sedang cemburu buta dengan si Muhaj, maka dia akan mencari lawan-lawan politiknya untuk dibunuh. Prilaku homoseksual dua insan sesama jenis ini teruntai dalam syair ala dangdut:

Muhaj menguasai jiwa ini,

Lewat kerlingan mata yang sungguh menawan

Tubuhnya indah mempesona

Amboi manjanya dan penuh gairah

Jika mata tertuju padanya

Ia tak lagi mampu berpindah

Al-Watsiq selama hidupnya tercatat telah menyusun lebih dari 100 syair lagu. Satu riwayat menceritakan, ketika al-Watsiq sedang mengadakan rapat bersama para pembesar istana, kemudian Muhaj yang memang menyadari akan posisinya, tiba-tiba muncul dengan melenggak-lenggokan badanya kemudian mengerlingkan mata kepada al-Watsiq dan membawakannya sekuntum bakung, sehingga al-Watsiq tanpa banyak bicara kemudian dari mulutnya meluncur syair-syair penuh birahi dan menyebabkan rapat penting tentang posisinya sebagai Khalifah menjadi runyam.

Al-Watsiq selain memiliki perilaku seks yang menyimpang, dia juga mempunyai sejarah inkuisisi seperti halnya ayahnya al-Ma’mum, kalau al-Ma’mum meninkuisisi Imam Ahmad bin Hambal dan beberapa ulama lainnya, sementara al-Watsiq melakukan hal yang serupa terhadap Ahmad bin Nasr al-Khaza’i seorang ahli haditst, al-Khaza’i dijemput paksa dan dihadapkan kepada al-Watsiq bersama Ulama-Ulama pelat merah saat itu, dan terjadilah dialog tentang kemahlukan al-Qur’an, namun karena al-Khaza’i tetap teguh dengan pendapatnya, akhirnya al-Watsiq meminta sebilah pedang sambil berkata, jika aku bergerak jangan ada yang ikut bergerak, aku akan menghitung langkahku menuju si kafir yang tidak menyembah Tuhan yang sama dengan Tuhan kita. Lalu ia meminta dibentangkan permadani tempat al-Khaza’i bersimpuh, lalu dipancungnyalah sang ahli hadits itu.

Sampai disini dululah pembacaan sejarah Bani Abbasiyah

19 maret 2011

Komisi Ukhuwah Islamiyah Majelis Ulama Indonesia menggelar diskusi yang bertema “Merajut Ukhuwah Islamiyah Di Tengah Pluralitas Pemikiran dan Gerakan Islam di Indonesia. ” Diskusi bertempat di kantor Pusat Majelis Ulama Indonesia Jl. Proklamasi Jakarta Pusat digelar kemarin (Senin, 14/3/2011).

Diskusi itu melibatkan tokoh-tokoh agama di tingkat nasional seperti Prof. Dr. Azyumardi Azra, Prof. Dr. K. H. Aqiel Siradj, Dr. K.H. Qureisy Shihab dan Dr. Khalid Walid.

Prof. Azyumardi Azra dalam diskusi itu mengulas perspektifnya yang berjudul, “Realitas Pemikiran dan Gerakan Islam di Indonesia dan Tantangannya dari Masa ke Masa.” Prof. Azyumardi mengatakan, “Di Indonesia terdapat upaya aktualisasi Umat Wahdatan yang tidak berada dalam titik ekstrim. Baru belakangan ini muncul gerakan trans-nasional yang mudah mengkafirkan dan mengecam pandangan yang berbeda termasuk menolak maulid. “Menurut Prof Azyumardi, kelompok ini menjadi sumber konflik dan pemecah belah umat Islam di Indonesia. Prof, Azyumardi juga menambahkan, “Kelompok ini juga cenderung menyalahkan semua pandangan dan melakukan tindakan kekerasan seperti yang terjadi terhadap Ahmadiyah.”

Lebih lanjut Prof. Azyumardi Azra, “Syiah adalah sahabat kita. Saya sangat menyesalkan pelarangan Syiah yang terjadi di Malaysia.” Prof. Azyumardi juga menyatakan dirinya sebagai simpatisan Syiah.

Dalam diskusi yang mengangkat tema Ukhuwah Islamiyah itu, Ketua PBNU, Prof. Dr. K.H. Aqiel Siradj juga menjadi salah satu pembicara inti. Dalam diskusi, Prof Aqiel Siradj mengulas pandangannya yang bertema, ‘Menjaga, Memelihara dan Merawat Ukhuwah Islamiyah.”

Dalam kesempatan itu, Prof Aqiel Siradj mencontohkan masa Nabi. Dikatakannya, ” Di masa Nabi ada pluralitas keyakinan, dan tetap dilindungi dan dihormati.” Prof Aqiel Siradj mencontohkan Piagam Madinah sebagai dasar kebersamaan dan apresiasi.

Lebih Lanjut Aqiel Siradj yang juga pimpinan organisasi Islam terbesar di Indonesia, menawarkan empat kiat untuk melangkah seperti yang dilakukan Rasulullah Saw dalam Piagam Madinah. Dikatakannya, “Kiat pertama, memahami orang lain. Kiat kedua, mengembangkan dan melestarikan tradisi. Ketiga, menjaga komitmen kemanusiaan dalam berbangsa dan bernegara. Keempat, memahami ideologi lain.”

Prof Aqiel Siradj dalam pernyataannya di diskusi yang bertema Ukhuwah Islamiyah itu menyayangkan kekerasan yang seringkali dilakukan. Padahal menurut Aqiel Siradj, perbedaan adalah hal yang diciptakan Allah, bahkan bagian dinamika kehidupan. Lebih lanjut Prof Aqiel Siradj mengaku kagum atas mazhab Syiah yang melahirkan intelektual-intelektual luar biasa dan tetap berpegang teguh pada keyakinan agama.

Masih dalam diskusi Ukhuwah Islamiyah, Prof. Dr. K.H. Qureisy Shihab juga ikut menyumbang pandangan yang memilih tema, “Membangun Visi Bersama Umat Islam Indonesia. ” Dikatakannya, “Perbedaan adalah keniscayaan. Perbedaan dalam Islam adalah hal yang alami.”

Prof Qureisy Shihab dalam pernyataannya menegaskan, “Perbedaan antarmazhab hanyalah pada tingkat ushul mazhab dan furu’u-dien semata (baca: prinsip mazhab bukan agama).” Menurut Prof Qureisy Shihab, hal tersebut hampir ditemukan pada seluruh mazhab atau aliran dalam Islam, baik Mu’tazilah, bahkan Wahabiyah.

Dalam penjelasannya, Qureisy Shihab menjelaskan, “Syiah memiliki ushul mazhab imamah atau kepemimpinan. Karena hal tersebut merupakan ushul mazhab, maka mereka yang tidak menerima Imamah tidaklah berarti kafir.” Prof Qureisy Shihab juga menyayangkan kelompok-kelompok yang sering mengkafirkan kelompok lain. Menurut Prof Qureisy Shihab, pengkafiran bermula dari kedangkalan pengetahuan.

Di penghujung acara, Dr.Khalid Walid yang juga penggagas acara tersebut menyatakan bahwa acara seperti ini harus terus digalakkan demi persatuan umat dan kesatuan bangsa Indonesia di nusantara. Diskusi ilmiah yang bertema “Merajut Ukhuwah Islamiyah di tengah Pluralitas Pemikiran dan Gerakan Islam di Indonesia, ” dihadiri sekitar 200 peserta dari kalangan akademisi dan wakil pengurus pusat ormas-ormas Islam Indonesia termasuk Organisasi Ahlul Bait Indonesia atau ABI.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s