NU dan salafi wahabi berbeda pada Ushul !!

Bahaya Aqidah Salafi WahabiRapatkan barisan dan aqidah, waspadai aliran salafi wahabi, Virus Salafi Wahabi Mewabah Indonesia ajarkan tauhid asma’ wa shifat yang berbahaya

Ushul (prinsip) agama NU berbeda dengan salafi wahabi, karena  wahabi pengikut kaum Musyabbihah (kaum yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya), dan kaum mujassimah

NU lebih dekat dengan syi’ah daripada dengan wahabi

sahabatku semua yang dirahmati Allah. Akhir-akhir ini yang menjadi tantangan bagi warga NU adalah maraknya aliran-aliran baru yang menyimpang

Dari beberapa kelompak dan aliran ini, ada ajaran amaliahnya jauh berbeda dengan apa yang selama ini menjadi tradisi di kalangan warga nahdliyin (warga Nu, sebagai ormas islam terbesar di indonesia). Bahkan mereka memvonis akidah amaliah warga NU seperti, tahlilan, yasinan, shalawatan, adalah perbuatan bid’ah, dan diharamkan melakukannya. sahabatku yang baik hatinya, Waspadai Virus Destroyer wahabi

wahabi menjulur-julurkan lidahnya di belakang uang logam dan dolar sebagai penulis bayaran kaum Wahhabi. Ia memulung sisa-sisa makanan di bawah meja orang-orang gendut berperut besar dan berhati keras sekeras batu. Yaitu kaum Musyabbihah (kaum yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya), dan kaum anti tawassul.

Di antara mukjizat Rasulullah, adalah sabda beliau yang memperingatkan umatnya agar berhati-hati dengan kaum Wahhabi sebelum kemunculan mereka. Nabi bersabda, “Kepala kekafiran muncul di arah timur.”

Dalam hadits lain, Rasulullah menunjuk ke arah timur, daerah Najd, dan bersabda: “Fitnah akan muncul dari sana, fitnah akan muncul dari sana, dan diucapkannya sampai tiga kali”. Kedua hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari. Akhirnya semua orang tahu siapa sebenarnya wahabi

Di setiap tempat yang pernah di singgahinya, ia selalu bikin ulah. Lidahnya selalu menghujat umat Islam

sekte Salafi Wahabi bukan saja mengkafirkan golongan Islam lainnya yang tidak sejalan dan sepaham, bahkan membuat tindakan kekerasan sampai membunuhi bagi yang tidak mau mengikutinya. Dengan bukti-bukti sejarah dan kitab-kitab sirah dari sekte Salafi Wahabi sendiri, dengan sangat gamblang sang penulis membeberkannya.

Perpaduan kolaborasi pemangku paham Salafi Wahabi dan pemerintahan Saudi Arabia sebagai pemegang kekuasaan Baitul Makkah, saat ini, menjadi simbol representasi masyarakat Islam di seluruh dunia. Namun demikian, paham atau golongan Islam lainnya menolak sebagian paham Salafi Wahabi sebagai acuan Islam yang kâffah. Termasuk yang menolak tersebut yaitu yang mengaku dirinya Ahlussunah waljama’ah.

Tidak banyak orang yang tahu bahwa keluarga Saud yang kini menjadi “kuncen” Makkah itu adalah masih memiliki hubungan darah dan emosional dengan Yahudi Arab. Jadi, tidak ada sama sekali hubungannya dengan “keturunan” Rasulullah saw. yang di Indonesia dikenal dengan para “Habib”.

Mari sekarang kita teliti lagi riwayat-riwayat berikut ini –jelas mengarah dan menunjukkan tajsim dan tasybih– yang mana golongan Wahabi/Salafi dan pengikutnya menyakini serta mempercayai makna dhohir hadits secara hakiki, hanya manusia tidak boleh membayangkan Tuhannya.

- Berkata Wahab bin Munabbih waktu ditanya oleh Jaad bin Dirham tentang asma wa sifat: Celaka engkau wahai Jaâd karena permasalahan ini. Sungguh aku menduga engkau akan binasa. Wahai Jaâd, kalau saja Allah tidak mengkabarkan dalam kitab-Nya bahwa dia memiliki tangan, mata atau wajah, tentu kamipun tidak akan mengatakannya. Bertakwalah engkau kepada Allah! (Aqidatus Salaf Ashhabul Hadits, hal. 190)

- Abdullah ibn Ahmad rh. meriwayatkan, disertai dengan menyebut sanad-sanadnya. Beliau berkata, “Rasulallah saw. telah bersabda; ’Tuhan kita telah menertawakan keputus-asaan hamba-hamba-Nya dan kedekatan yang lainnya. Perawi berkata; ‘Saya bertanya, ‘Ya Rasulallah, apakah Tuhan tertawa?’ Rasulallah saw. menjawab, ‘Ya.’Saya berkata‘Kita tidak ke hilangan Tuhan yang tertawa dalam kebaikan’ “.  (Kitab as-Sunnah, hal. 54)

- Abdullah ibn Ahmad berkata, “Saya membacakan kepada ayahku. Lalu, dia menyebutkan sanadnya hingga kepada Sa’id bin Jubair yang berkata, Sesungguhnya mereka berkata, ‘Sesungguhnya ruh-ruh berasal dari batu yaqut-Nya. Saya tidak tahu, apakah dia mengatakan merah atau tidak?’ Saya berkata kepada Sa’id bin Jubair, lalu dia berkata, ‘Sesungguhnya ruh-ruh berasal dari batu zamrud dan naskah tulisan emas, yang Tuhan menuliskannya dengan tangan-Nya, sehingga para penduduk langit dapat mendengar suara gerak pena-Nya.”  (Kitab as-Sunnah, hal. 76)

- Abdullah ibn Ahmad berkata, “Ayahku berkata kepadaku dengan sanad dari Abi ‘Ithaq yang berkata, ‘Allah menuliskan Taurat bagi Musa dengan tangan-Nya, dalam keadaan menyandarkan punggungnya kebatu, pada lembaran-lembaran yang terbuat dari mutiara. Musa dapat mendengar bunyi pena Tuhannya, sementara tidak ada penghalang antara dirinya dengan Tuhannya kecuali sebuah tirai.’ (Kitab as-Sunnah, hal. 76) 

Mari kita baca lagi riwayat lainnya dibawah ini yang menetapkan bahwa Allah mempunyai jari, dan mereka juga menetapkan bahwa di antara jari-jari-Nya itu terdapat jari kelingking, serta jari kelingking-Nya mempunyai sendi. Sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Khuzaimah didalam kitab at-Tauhid dengan bersanad dari Anas bin Malik ra yang berkata:

- Rasulallah saw. telah bersabda; ‘Manakala Tuhannya menaiki gunung, Dia mengangkat jari kelingking-Nya, dan mengerutkan sendi jari kelingkingnya itu, sehingga dengan begitu lenyaplah gunungHumaid bertanya kepadanya, ‘Apakah kamu akan menyampaikan hadits ini?’ Dia menjawab, ‘Anas menyampaikan hadits ini kepada kami dari Rasulallah, lalu kamu menyuruh kami untuk tidak menyampaikan hadits ini?’ “  (Kitab at-Tauhid, hal 113; Kitab as-Sunnah, hal. 65)

Hadits ini menunjukkan bahwa Allah swt. mempunyai tangan, tangan-Nya mempunyai jari, dan diantara jari-Nya itu ialah jari kelingking. Kemudian mereka juga mengata- kan jari kelingking itu mempunyai sendi..!!

- Abdullah rh juga berkata, dengan bersanad dari Abu Hurairah, dari Rasulallah saw. yang bersabda;”Sesungguhnya kekasaran kulit orang kafir panjangnya tujuh puluh dua hasta, dengan ukuran panjang tangan Yang Maha Perkasa.” (Kitab at-Tauhid, hal. 190).

Dari hadits ini dapat dipahami, Tuhan mempunyai  dua tangan, juga kedua tangan Tuhan mempunyai ukuran panjang tertentu. Karena jika tidak, maka tidak mungkin kedua tangan tersebut menjadi ukuran bagi satuan panjang.

- Abdullah bin Ahmad bin Hanbal rh, dengan bersanad kepada Anas bin Malik yang berkata, “Rasulallah saw. telah bersabda, ‘Orang-orang kafir dilemparkan kedalam neraka. Lalu neraka berkata, ‘Apakah masih ada tambahan lagi ?, maka Allah pun meletakkan kaki-Nya kedalam neraka, sehingga neraka berkata, ‘Cukup, cukup’  (Kitab at-Tauhid, hal. 184)

- Ibnu Khuzaimah meriwayatkan dari Abu Hurairah, dari Rasulallah saw. yang bersabda; “Neraka tidak menjadi penuh sehingga Allah meletakkan kaki-Nya kedalamnya. Lalu, nerakapun berkata, ‘Cukup cukup.’ Ketika itulah neraka menjadi penuh.” (Kitab at-Tauhid, hal. 184).

Dari riwayat ini dapat dipahami bahwa Allah swt. mempunyai kaki.

Ada riwayat lebih jauh lagi dengan menetapkan bahwa Allah swt. mempunyai nafas. Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata, dengan bersanad kepada Ubay bin Ka’ab yang berkata, “Janganlah kamu melaknat angin, karena sesungguhnya angin berasal dari nafas Tuhan. (Kitab as-Sunnah, hal. 190)

Mereka juga menetapkan dan bahkan menyerupakan  suara Allah dengan suara besi. Abdullah bin Ahmad, dengan sanadnya telah berkata, “Jika Allah berkata-kata menyampaikan wahyu, para penduduk langit mendengar suara bising tidak ubahnya suara bising besi di suasana yang hening. (Kitab as-Sunnah, hal. 71)

Dan Selanjutnya, riwayat berikut ini yang menetapkan bahwa Allah swt. duduk dan mempunyai bobot. Oleh karena itu, terdengar suara derit kursi ketika Allah sedang duduk diatasnya. Jika Allah tidak mempunyai bobot, lantas apa arti dari suara derit?

- Abdullah bin Ahmad bin Hanbal meriwayatkan, dengan bersanad dari Umar ra yang berkata, “Jika Allah duduk di atas kursi, akan terdengar suara derit tidak ubahnya seperti suara deritnya koper besi.” (Kitab as-Sunnah, hal.79) Atau, tidak ubahnya seperti suara kantong pelana unta yang dinaiki oleh penunggang yang berat.

- Beliau juga mengatakan, dengan bersanad kepada Abdullah ibn Khalifah, “Seorang wanita telah datang kepada Nabi saw. lalu berkata, ‘Mohonkanlah kepada Allah supaya Dia memasukkan saya kedalam surga.’ Nabi saw. berkata, Maha Agung Allah.’ Rasulallah saw. kembali berkata, ‘Sungguh luas kursi-Nya yang mencakup langit dan bumi. Dia mendudukinya, sehingga tidak ada ruang yang tersisa darinya kecuali hanya seukuran empat jari. Dan sesungguhnya Dia mempunyai suara tidak ubahnya seperti suara derit pelana tatkala dinaiki’ “. (Kitab as-Sunnah, hal. 81).

Ada riwayat yang mengatakan lebih dari itu umpama didalam sebuah hadits disebutkan, Allah swt. menciptakan Adam berdasarkan wajah-Nya, setinggi tujuh puluh hasta. Dengan demikian manusia akan membayangkan bahwa Allah swt. akan mempunyai wajah yang berukuran tingginya seperti wajah Adam as. Hadits-hadits diatas dan berikut ini juga tidak bisa dipertanggung-jawabkan kebenarannya karena bertentangan dengan  firman Allah Ta’ala dalam QS. As-Syuro ayat 11.

Ada juga hadits yang menetapkan bahwa Allah swt dapat dilihat, mempunyai tangan yang dingin dan sebagainya. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah, dengan bersanad kepada Ibnu Abbas yang berkata: Rasulallah saw. telah bersabda, “Aku melihat Tuhanku dalam bentuk-Nya yang paling bagus. Lalu Tuhanku berkata, ‘Ya Muhammad.’ Aku menjawab, ‘Aku datang memenuhi seruan-Mu.’ Tuhanku berkata lagi, ‘Dalam persoalan apa malaikat tertinggi bertengkar’? Aku menjawab, ‘Aku tidak tahu, wahai Tuhanku.’ Rasulallah saw. melanjutkan sabdanya, ‘Kemudian Allah meletakkan tangan-Nya diantara dua pundak-ku, sehingga aku dapat merasakan dinginnya tangan-Nya diantara kedua tetek-ku, maka akupun mengetahui apa yang ada di antara timur dan barat’ “. (Kitab at-Tauhid, hal. 217)

Riwayat yang lebih aneh lagi, Abdullah bin Ahmad juga berkata, sesungguhnya Abdullah bin Umar bin Khattab ra mengirim surat kepada Abdullah bin Abbas ra., Abdullah bin Umar bertanya, ‘Apakah Muhammad telah melihat Tuhan-nya?’ Maka Abdullah bin Abbas pun mengirim surat jawaban kepadanya. Abdullah bin Abbas menjawab, ‘Benar. Abdullah bin Umar kembali mengirim surat untuk menanyakan bagaimana Rasulallah saw. melihat Tuhan-nya. Abdullah bin Abbas mengirim surat jawaban, ‘Rasulallah saw. melihat Tuhannya di sebuah taman yang hijau, dengan permadani dari emas. Dia tengah duduk di atas kursi yang terbuat dari emas, yang diusung empat orang malaikat. Seorang malaikat dalam rupa seorang laki-lakiseorang lagi dalam rupa seekor sapi jantan, seorang lagi  dalam rupa seekor burung elang dan seorang lagi dalam rupa seekor singa.’ (Kitab at-Tauhid, hal. 194)

Dengan adanya riwayat-riwayat ini semua, jelas Allah swt. menjadi seorang makhluk –na’udzubillahi– yang mempunyai sifat-sifat hakiki/sebenarnya yang dimiliki oleh makhluk-Nya. Para ulama salaf bersepakat bahwa barang siapa yang menyifati Allah dengan salah satu sifat diantara sifat-sifat manusia maka ia telah kafir. Sebagaimana hal ini ditulis oleh Imam al Muhaddits as-Salaf ath-Thahawi (227 – 321 H) dalam kitab aqidahnya yang terkenal dengan nama al Aqidah ath-Thahawiyah, menyatakan, yang artinya: “Barang siapa mensifati Allah dengan salah satu sifat dari sifat-sifat manusia, maka ia telah kafir”.

Semua riwayat hadits tersebut jelas menunjukkan tajsim atau tasybih Allah kepada makhluk-Nya dan hal itu bertentangan dengan firman Allah swt. yang telah dikemukakan tadi. Umpama saja riwayat-riwayat ini shohih, maka makna yang berkaitan dengan shifat Allah swt. harus disesuaikan dengan ke Maha Sucian dan ke Maha Agungan-Nya!! Jika tidak demikian, maka jelas sekali riwayat-riwayat itu mengarah kepada sifat-sifat yang ada kepada Makhluk-Nya secara hakiki. Orang yang mempercayai hadits-hadits itu akan membayangkan Tuhannya –walaupun mereka ini berkata tidak membayangkan-Nya– tentang bentuk jari kelingking Allah swt., kaki-Nya,  wajah-Nya, berat-Nya dan lain sebagainya.

Sejarah Ringkas Kaum Musyabbihah/Mujassimah

“Gambaran tuhan bagi agama yahudi yang duduk di atas arasy”

Kaum musyabbihah ertinya kaum yang menyerupakan. Kaum musyabbihah digelari kaum musybih (menyerupakan) kerana mereka menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya. Mereka mengatakan bahawa Allah bertangan, berkaki, bertubuh seperti manusia.

Ada juga orang yang menamakan kaum ini dengan “kaum mujassimah”, yakni kaum yang mengisbatkan tubuh kerana mereka mengisbatkan tubuh bagi Allah. Mereka mengatakan Allah bertubuh terdiri daripada darah, daging, bermuka, bermata, bertangan, berkaki bahkan ada yang mengatakan bahawa Allah itu mempunyai alat kelamin dan kelaminnya itu laki-laki. (lihat syarah nahjul Balaghah juzuk iii, hal. 255).

Ada juga orang yang menamakan mereka dengan “kaum hasyawiyah”.

Hasyawiyah ertinya percakapan kosong, percakapan di luar batas, percakapan hina-dina. Jadi, mereka itu adalah kaum “bercakap kosong”.

Kebanyakan kaum musyabbihah atau mujassimah ini berasal dari orang-orang yang bermazhab Hanbali, tetapi Imam Ahmad bin Hanbal tidak berkeyakinan dan tidak beraqidah sebagaimana mereka.

Imam-imam dan guru-guru besar kaum musyabbihah di antaranya adalah;

1) Abu Abdillah bin Hamad bin ‘Ali al-Bogdadi al-Warraq (meninggal 403H). beliau ini pengarang kitab usuluddin yang bernama “syarah usluddin”, di mana dihuraikan banyak tentang tashbih, yakni keserupaan Allah dengan makhluk.

2) Qadhi Abu Ja’la Muhammad bin Hussein bin Khalaf bin Farra’ al-Hanbali (meninggal 458H). beliau ini banyak mengarang kitab usuluddin yang banyak memperkatakan tentang tashbih. Ada ulama’ mengatakan bahawa : “aib yang dibuat oleh Abu Ja’la ini tidak dapat dibersihkan dengan air sebanyak air laut sekalipun”.

3) Abu Hassan Ali bin Ubaidillah bin Nashar az-Zugwani al-Hanbali (meninggal 527H). beliau pengarang sebuah buku usuluddin yang bernama “al-Idah”, di mana banyak menerangkan soal tashbih dan taklim.

4) Ja’ad bin Dirhan.

5) Bayan bin Ismail.

6) Muhammad bin Kiram (meninggal 256H).

7) Hisyam al-Juwaliqi.

8) Yunus bin Abdirrahman.

9) ‘Ali bin Mansur.

*Nombor (6) sampai (9) ini memfatwakan bahawa Allah itu bertempat, dan tempatnya di atas, boleh ditunjuk dengan telunjuk ke atas.

10) Muaz al-Anbari yang memfatwakan bahawa Allah lelaki.

11) Daud al-Jawarihi yang memfatwakan bahawa Allah itu mempunyai anggota serupa dengan anggota manusia seluruhnya.

12) Dan ramai lagi.

Seorang ulama’ Islam daripada kaum ahlussunnah wal jamaah bernama Jamaluddin Ibnu al-Jauzi al-Hanbali (ini bukan Ibnul Qayyim al-Jauzi) telah mengarang sebuah kitab untuk menolak fahaman kaum musyabbihah ini yang diberi nama “Daf’u Syubahit Tashbih war Rad ‘alal Mujassimah” (penolak syubhah tashbih dan penentang kaum mujassimah).

Dlm Shahih Muslim NO 1762

http://hadith.al-islam.com/Display/Display.asp?Doc=1&Rec=2314&Tags=&Index=&Search=0&desc=-1&SID=-1&pos=&CurRecPos=&dsd=&ST=&Tag=&SP=
‏حدثنا ‏ ‏هناد بن السري ‏ ‏حدثنا ‏ ‏أبو الأحوص ‏ ‏عن ‏ ‏سعيد بن مسروق ‏ ‏عن ‏ ‏عبد الرحمن بن أبي نعم ‏ ‏عن ‏ ‏أبي سعيد الخدري ‏ ‏قال ‏
‏بعث ‏ ‏علي ‏ ‏رضي الله عنه ‏ ‏وهو ‏ ‏باليمن ‏ ‏بذهبة في تربتها إلى رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏فقسمها رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏بين أربعة نفر ‏ ‏الأقرع بن حابس الحنظلي ‏ ‏وعيينة بن بدر الفزاري ‏ ‏وعلقمة بن علاثة العامري ‏ ‏ثم أحد ‏ ‏بني كلاب ‏ ‏وزيد الخير الطائي ‏ ‏ثم أحد ‏ ‏بني نبهان ‏ ‏قال فغضبت ‏ ‏قريش ‏ ‏فقالوا ‏ ‏أتعطي ‏ ‏صناديد ‏ ‏نجد ‏ ‏وتدعنا فقال رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏إني إنما فعلت ذلك ‏ ‏لأتألفهم ‏ ‏فجاء رجل ‏ ‏كث اللحية ‏ ‏مشرف ‏ ‏الوجنتين ‏ ‏غائر العينين ‏ ‏ناتئ الجبين محلوق الرأس فقال اتق الله يا ‏ ‏محمد ‏ ‏قال فقال رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏فمن يطع الله إن عصيته ‏ ‏أيأمنني على أهل الأرض ولا تأمنوني قال ثم أدبر الرجل فاستأذن رجل من القوم في قتله يرون أنه ‏ ‏خالد بن الوليد ‏ ‏فقال رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏إن من ‏ ‏ضئضئ ‏ ‏هذا قوما يقرءون القرآن ‏ ‏لا يجاوز ‏ ‏حناجرهم يقتلون أهل الإسلام ويدعون أهل الأوثان ‏ ‏يمرقون ‏ ‏من الإسلام كما ‏ ‏يمرق ‏ ‏السهم من ‏ ‏الرمية ‏ ‏لئن أدركتهم لأقتلنهم قتل ‏ ‏عاد ‏

Hadis riwayat Abu Said Al-Khudri ra., ia berkata:
Ali ra. yang sedang berada di Yaman, mengirimkan emas yang masih dalam bijinya kepada Rasulullah saw., kemudian Rasulullah saw. membagikannya kepada beberapa orang, Aqra` bin Habis Al-Hanzhali, Uyainah bin Badr Al-Fazari, Alqamah bin Ulatsah Al-Amiri, seorang dari Bani Kilab, Zaidul Khair At-Thaiy, seorang dari Bani Nabhan. Orang-orang Quraisy marah dan berkata: Apakah baginda memberi para pemimpin Najed, dan tidak memberikan kepada kami? Rasulullah saw. bersabda: Aku melakukan itu adalah untuk mengikat hati mereka. Kemudian datang seorang lelaki yang berjenggot lebat, kedua tulang pipinya menonjol, kedua matanya cekung, jidatnya jenong dan kepalanya botak. Ia berkata: Takutlah kepada Allah, ya Muhammad! Rasulullah saw. bersabda: Siapa lagi yang taat kepada Allah jika aku mendurhakai-Nya? Apakah Dia mempercayai aku atas penduduk bumi, sedangkan kami tidak mempercayai aku? Lalu laki-laki itu pergi. Seseorang di antara para sahabat minta izin untuk membunuh laki-laki itu (diriwayatkan bahwa orang yang ingin membunuh itu adalah Khalid bin Walid), tetapi Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya di antara bangsaku ada orang-orang yang membaca Alquran tapi tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka membunuh orang Islam dan membiarkan penyembah berhala. Mereka keluar dari Islam secepat anak panah melesat dari busurnya. Sungguh, jika aku mendapati mereka, pasti aku akan bunuh mereka seperti terbunuhnya kaum Aad

Nahhh
Coba kita lihat Syarahnya
Syarah Shahih Muslim, Jilid. 17, NO.171.

Dengan sedikit keraguan, Khalid bin Walīd bertanya kepada Rasulullah Saw, “Wahai Rasulullah, orang ini memiliki semua bekas dari ibadah-ibadah sunnahnya: matanya merah karena banyak menangis, wajahnya memiliki dua garis di atas pipinya bekas airmata yang selalu mengalir, kakinya bengkak karena lama berdiri sepanjang malam (tahajjud) dan janggut mereka pun lebat

Rasulullah Saw menjawab : camkan makna ayat ini : qul in’kuntum tuhib’būnallāh fattabi’unī – Katakanlah: “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-osamu. karena Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang

Khalid bin Walid bertanya, “Bagaimana caranya ya Rasulullah ? ” Nabi Saw menjawab,
Jadilah orang yang ramah seperti aku, bersikaplah penuh kasih, cintai orang-orang miskin dan papa, bersikaplah lemah-lembut, penuh perhatian dan cintai saudara-saudaramu dan jadilah pelindung bagi mereka.

*****

dan beberapa riwayat mengatakan lelaki badui botak ini adalah Dzul Khuwaisarah at Tamimi.
dan pada tahun 1115H/1703M, lahirlah seorang laki-laki bernama Muhammad ibn `Abdul Wahhab at-Tamīmī al-Najdi, yang menurut Shaykh Seraj Hendricks, adalah keturunan Dhul-Khuwaisarah at-Tamīmī al-Najdi, gembong kaum Khawarij

——-

Riwayat Ibnu ‘ Umar:

( Nabi) berkata, “ Ya Allah! Bless Sham kami dan Yaman kami. “ Orang-orang
berkata, “ Najd kami juga. “ Nabi berkata lagi, “ Ya Allah! berkahi
Syam dan Yaman kami. “ Mereka berkata lagi, “ Najd kami juga. “ Aktif bahwa
Nabi berkata, “ Tidak akan muncul gempa bumi dan penderitaan, dan dari
akan keluar sisi kepala setan. “
(Sahih Bukhari: 2,147: )

——-

Riwayat Abdullah bin Umar:

Aku melihat Rasul Allah yang ke arah timur berkata, “ Sesungguhnya
Penderitaan akan muncul maka sesungguhnya; penderitaan benar-benar akan muncul
maka di mana (sisi kepala) setan muncul. “

(Sahih Bukhari: 4,499: )

——-

Riwayat Abdullah bin Umar:

Saya mendengar Rasul Allah di mimbar berkata, “ Sesungguhnya, penderitaan
(akan mulai) dari sini, “ yang menunjuk ke arah timur, “ mana sisi
kepala Iblis keluar. “

(Sahih Bukhari: 4,714: )
——-

Salim menceritakan ayah:

Nabi berdiri di samping mimbar (dan yang dengan jari
ke arah Timur) dan berkata, “ Penderitaan ada disana! Penderitaan ada disana, dari mana sisi kepala Iblis keluar, “ atau berkata,
“ .. Sisi matahari .. “
(Sahih Bukhari: 9,212: )

——-

Riwayat Ibnu ‘ Umar:

Saya mendengar Rasul Allah ketika ia menghadapi Timur, katanya: “ Sesungguhnya!
Penderitaan ada, dari mana sisi kepala Iblis datang
keluar. “
(Sahih Bukhari: 9,213: )

( Nabi) berkata, “ Ya Allah, berkahilahilah Syam kami dan Yaman Kami. “ Orang orang
berkata, “ Najd kami juga. “ Nabi lagi berkata, “ Ya Allah! Berkahilahilah Syam kami dan Yaman Kami. “ Kata mereka lagi, “ Najd kami juga. “
Nabi bersabda, “ disana tampak gempa dan Penderitaan, dan dari
di sana akan datang keluar sisi dari kepala syetan. “
( Sahih Bukhari 2 / 147)

Dari Abdullah bin Umar:
Aku melihat Rasulullah menunjuk arah timur dan berkkata:
Awas bencana akan muncul, karenanya; bencana sungguh akan muncul ditempat dimana munculnya (kepala) setan
( Sahih Bukhari 4 / 499)

Dari Abdullah bin Umar:

Saya mendengar Rasulullah dimimbar berkata “ Sungguh bencana akan muncul di situ, “ menunjuk ke timur, dimana kepalasetan muncul
( Sahih Bukhari 4 / 714)

Dari Abu Salim

Nabi berdiri di samping Mimbar (dengan jarinya menunjuk ke timur) dan berkata, “ Bencana akan muncul disana! Di sebelah sana akan muncul kepala setan “
( Sahih Bukhari 9 / 212)

Dari Ibnu Umar:
Saya mendengar Rasulullah saat memandang ke timur berkata “ Sungguh! Bancana di sana, dari sebelah dimana kepala setan muncul
( Sahih Bukhari 9 / 213)

Wahabiyah Mengkafirkan Umat Islam Tanpa Alasan Yang Benar


الوهابية تكفّر كل المسلمين بغير حق والحقّ أنّهم هم الكفارقال مفتي الحنابلة الشيخ محمد بن عبد الله بن حميد النجدي المتوفى سنة 1225 هـ في كتابه “السحب الوابلة على ضرائح الحنابلة” ص 276 عن محمد بن عبد الوهاب :”فإنّه كان إذا باينه أحد وردَّ عليه ولم يقدر على قتله مجاهرةً يرسل إليه من يغتاله في فراشه أو في السوق ليلاً لقوله بتكفير من خالفه واستحلاله قتله” انتهى.وقال مفتي الشافعية ورئيس المدرسين في مكة أيام السلطان عبد الحميد الشيخ أحمد زيني دحلان في كتابه “الدرر السنية في الرد على الوهابية” صحيفة 46 :”وكان محمد بن عبد الوهاب يقول:”إني أدعوكم إلى التوحيد وترك الشرك بالله وجميع ما هو تحت السبع الطباق مشرك على الإطلاق ومن قتل مشركًا فله الجنة” انتهى.وكان محمد بن عبد الوهاب وجماعته يحكمون على الناس (أي المسلمين) بالكفر واستباحوا دماءهم وأموالهم وانتهكوا حرمة النبيّ بارتكابهم أنواع التحقير له وكانوا يصرحون بتكفير الأمة منذ ستمائة سنة وأول من صرَّح بذلك محمد بن عبد الوهاب وكان يقول إني أتيتكم بدين جديد. وكان يعتقد أن الإسلام منحصرٌ فيه وفيمن تبعه وأن الناس سواهم كلهم مشركون (انظر “الدرر السنية” ص 42 وما بعدها).
وذكر المفتي أحمد بن زيني دحلان أيضًا في كتابه “أمراء البلد الحرام” ص 297ـ298 أن الوهابية لما دخلوا الطائف قتلوا الناس قتلاً عامًّا واستوعبوا الكبير والصغير والمأمور والأمير والشريف والوضيع وصاروا يذبحون على صدر الأم الطفل الرضيع ويقتلون الناس في البيوت والحوانيت ووجدوا جماعة يتدارسون القرءان فقتلوهم عن ءاخرهم ثم خرجوا إلى المساجد يقتلون الرجل في المسجد وهو راكع أو ساجد ونهبوا النقود والأموال وصاروا يدوسون بأقدامهم المصاحف ونسخ البخاري ومسلم وبقية كتب الحديث والفقه والنحو بعد أن نشروها في الأزقة والبطائح وأخذوا أموال المسلمين واقتسموها كما تقسم غنائم الكفار.وقال أحمد بن زيني دحلان في “الدرر السنية” صحيفة 57 :”قال السيّد الشيخ علوي ابن أحمد بن حسن الحداد باعلوي في كتابه “جلاء الظلام في الرد على النجدي الذي أضلّ العوام”: والحاصل أن المحقق عندنا من أقواله وأفعاله (أي محمد بن عبد الوهاب) ما يوجب خروجه عن القواعد الإسلامية باستحلاله أمورًا مجمعًا على تحريمها معلومة من الدين بالضرورة مع تنقيصه الأنبياء والمرسلين والأولياء والصالحين، وتنقيصهم كفرٌ بإجماع الأئمة الأربعة” انتهى من كلام أحمد بن زيني دحلان.فبان واتضح أن محمد بن عبد الوهاب هو وأتباعه جاؤوا بدين جديد ليس هو الإسلام، وكان يقول من دخل في دعوتنا فله ما لنا وعليه ما علينا ومن لم يدخل معنا فهو كافر حلال الدم والمال.(Diambil dari kitab فضائح الوهابية Syaikh Fathi Al-Mishri Al-Azhari)
Seorang mufti madzhab Hanbali Syaikh Muhammaad bin Abdullah bin Humaid an-Najdi (w.1225 H) dalam kitabnya al-Suhubu al-Wabilah ‘ala Dhara-ih al-Hanabilah berkata tentang Muhammad bin Abdul Wahhab: “Sesungguhnya dia (Muhammad bin Abdul Wahhab) apabila berselisih dengan seseorang dan tidak bisa membunuhnya terang-terangan maka ia mengutus seseorang untuk membunuhnya ketika dia tidur atau ketika ia berada di pasar pada malam hari. Ini semua dia lakukan karena ia mengkafirkan orang yang menentangnya dan halal untuk dibunuh.” (Muhammad al-Najdi, al-Suhubu al-Wabilah ‘ala Dhara-ih al-Hanabilah, Maktabah al-Imam Ahmad, hal. 276).
.
Mufti madzhab Syafi’i dan kepala dewan pengajar di Makkah pada masa Sultan Abdul Hamid Syekh Ahmad Zaini Dahlan mengatakan bahwa Muhammad ibn Abdul Wahhab pernah mengatakan: “Sesungguhnya aku mengajak kalian pada tauhid dan meninggalkan syirik pada Allah, semua orang yang berada dibawah langit yang tujuh seluruhnya musyrik secara mutlak sedangkan orang yang membunuh seorang musyrik maka ia akan mendapatkan surga”. (Ahmad Zaini Dahlan, al-Duraru al-Sunniyah fi al-Raddi ’ala al-Wahhabiyah, Kairo: Musthafa al-Babi al-Halabi, hal 46)
.
Itulah pernyataan Muhammad ibn Abdul Wahhab dan kelompoknya yang telah menghukumi umat Islam dengan kekufuran, menghalalkan darah dan harta mereka serta mencabik-cabik kemuliaan nabi dengan melakukan bermacam-macam bentuk penghinaan terhadapnya. Mereka juga terang-terangan mengkafirkan umat sejak 600 tahun, dan orang yang pertama kali terang-terangan dengan hal itu adalah Muhammad ibn Abdul Wahhab, ia mengatakan: “Aku telah datang kepada kalian dengan agama yang baru”. Ia meyakini bahwa Islam hanya ada pada dia dan orang-orang yang mengikutinya dan bahwa manusia selain mereka seluruhnya adalah musyrik
.
Mufti Ahmad Zaini Dahlan juga menuturkan dalam kitabnya Umara-u al Balad al Haram bahwa orang-orang Wahabi ketika memasuki Thaif mereka melakukan pembantaian massal terhadap masyarakat dalam rumah-rumah mereka, mereka juga membantai orang-orang tua dan anak-anak, rakyat dan pejabat, orang mulia dan yang hina. Mereka menyembelih bayi yang sedang menyusu di depan ibunya. Mereka juga membunuh manusia di rumah-rumah dan di toko-toko dan ketika mereka menemukan sekelompok orang yang sedang belajar al-Qur’an, mereka membunuh semuanya. Kemudian mereka masuk ke mesjid-mesjid dan membunuh siapapun yang berada di dalam mesjid yang sedang ruku’ atau sujud dan merampas uang dan hartanya. Kemudian mereka menginjak-injak mushaf, naskah kitab al Bukhari dan Muslim dan kitab-kitab hadits, fikih dan nahwu setelah mereka membuangnya di lorong-lorong jalan dan parit-parit serta mengambil harta umat Islam dan membagikannya sesama mereka layaknya membagi harta rampasan (ghanimah) orang kafir. (Ahmad Zaini Dahlan, Umara al-Balad al-Haram, hal. 297-298.
.
Ahmad Zaini Dahlan mengatakan: “Sayyid Syekh Alawi ibn Ahmad ibn Hasan al Haddad Ba’alawi dalam kitabnya Jala-u al Dhalam fi al Raddi ‘ala al Najdi al Ladzi Adhalla al ‘Awam mengatakan: Kesimpulannya bagi orang yang mencermati perkataan dan prilaku Muhammad ibn Abdul Wahhab akan mengatakan bahwa ia (Muhammad ibn Abdul Wahhab) telah menyalahi kaidah-kaidah Islam karena ia menghalalkan perkara-perkara yang disepakati akan keharamannya dan status haram tersebut telah diketahui dalam agama oleh semua umat baik yang alim ataupun yang bodoh sekalipun. Juga pelecehannya terhadap para nabi dan rasul, para wali dan orang-orang yang shalih. Pelecehan seperti ini adalah kekufuran dengan ijma’ para imam yang empat. Demikian pemaparan Ahmad Zaini Dahlan. (Lihat al-Durar al-Sunniyah fi al-Raddi ’ala al-Wahhabiyah hal. 57)
.
Dengan demikian menjadi jelas bahwa Muhammad ibn Abdul Wahhab dan para pengikutnya datang dengan membawa agama baru dan bukan membawa agama Islam. Dia pernah mengatakan: “Barang siapa yang masuk dalam dakwah kita maka baginya hak sebagaimana hak kita dan barang siapa yang tidak masuk dalam dakwah kita maka dia kafir halal darah dan hartanya.” (Muhammad bin Abdul Wahhab, Kasyfu al-Syubuhat, Saudi Arabia: Kementerian Wakaf dan Urusan Islam, hal. 7)
.
*) Keterangan: Kitab ini telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dan dibukukan dalam buku “Radikalisme Sekte Wahabiyah”, silahkan dapatkan di toko buku terdekat di kota anda.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s