MUI Daerah Diminta Cabut Fatwa Syiah Sesat

foto

Sekertaris Jendral Ahlul Bait Indonesia Ahmad Hidayat (Kedua Kiri) didampingi dua orang anak yang orang tuanya menjadi korban dalam penyerangan Muslim Syiah di Sampang, Muhammad Zaini (Kanan), Muhaimin Hamama (Kedua Kanan) saat memberikan keterangan dalam jumpa pers di gedung Dewan Pers, Jakarta, Jumat (31/08). TEMPO/Dhemas Reviyanto

.

Sabtu, 01 September 2012 | 12:49 WIB

MUI Daerah Diminta Cabut Fatwa Syiah Sesat

Majelis Ulama Indonesia Jawa Timur diminta mencabut fatwa sesat terhadap keberadaan aliran Syiah. Pencabutan fatwa Syiah sesat dinilai bisa menyelesaikan konflik antaraliran di Sampang, Jawa Timur. “Kalau fatwa Syiah dicabut, bisa menyelesaikan 80 persen persoalan,” kata Wakil Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Nurcholis dalam diskusi Polemik di Cikini, Sabtu, 1 September 2012.
Menurut Nurcholis, dalam mengatasi konflik Sampang, kepolisian tidak bisa bergerak sendiri. Penegakan hukum, kata dia, mesti dibarengi proses dialog dengan pihak yang berkonflik, yang dimediasi oleh ulama. “Ada banyak tokoh agama yang akan membantu penyelesaian. Apalagi masyarakat Madura itu selama ini takut pada polisi dan ulama,” ujarnya.

Nurcholis menyayangkan sikap pemerintah yang sedikit mengabaikan pentingnya dialog dalam menyelesaikan konflik antar-keyakinan. Ia mencontohkan, Menteri Dalam Negeri yang mengetahui betul kondisi dan potensi konflik sejak 2004 lalu namun hanya setahun sekali menggelar dialog. Menurutnya, dalam hal ini pemerintah mesti berposisi sebagai penyelesai masalah.

Cendekiawan muslim, Zuhairi Misrawi, menambahkan, hubungan antaragama dan antaraliran di Madura semula sangat baik. Namun belakangan, ada gerakan sistematis yang seolah-olah ingin merusak keharmonisan hubungan antarumat. Hal itu diperkuat fatwa MUI Sampang dan MUI Jawa Timur yang menyebut Syiah sesat.

Zuhairi menyebut kondisi itu menunjukkan ada politisasi keyakinan, yang kemudian memobilisasi gerakan kekerasan. Apalagi, pemerintah daerah setempat kemudian menjadikan fatwa MUI sebagai dasar kebijakan. Kepala daerah pun sempat menyebut Syiah tidak selayaknya tinggal di Sampang.

Ketua Majelis Ulama Indonesia Amidhan sebelumnya mengatakan, sejauh ini hanya MUI Jawa Timur yang meneken fatwa aliran Syiah sesat. MUI Pusat, kata Amidhan, hingga kini belum meneken fatwa terkait aliran tersebut. “Kami tidak mengeluarkan fatwa Syiah sesat,” ujarnya saat dihubungi, Kamis, 30 Agustus 2012.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s