Wahai Ayah Ibu jauhkan anak anda dari wahabi !! Kenapa ?? “Wahabi atau salafi itu gerakan radikal, satu grade lagi itu mereka menjadi teroris,” kata Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj

Ketua PBNU: Waspadai Gerakan Wahabi

Sabtu, 03 Desember 2011, 18:36 WIB
.
Gerakan Wahabi yang berkembang di Indonesia perlu diwaspadai. Hal itu karena tujuan gerakan yang berasal dari Arab Saudi itu adalah ingin mengajarkan pemurnian Islam versi mereka. Adapun ajaran Islam di luar Wahabi, dianggap tidak benar dan harus diperangi
.
“Wahabi atau salafi itu gerakan radikal, satu grade lagi itu mereka menjadi teroris,” kata Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj dalam seminar Deradikalisasi Agama Berbasis Kyai/Nyai dan Pesantren di Jakarta, Sabtu (3/12)
.
Hadir sebagai pembicara adalah Ketua Badan Nasional Penanggulan Teroris (BNPT) Ansyad Mbai dan Pimpinan Muslimat NU Mahfudoh Aly Ubaid.Menurut Said, doktrin gerakan Wahabi itu selalu mencatut nama Islam. Sayangnya, tindakannya kadang tidak islami, sebab sering menganggap umat lain menjalankan tradisi bidah yang tak diajarkan agama. Karena itu, pihaknya menegaskan jika ajaran model seperti itu harus diperangi. “Mereka ngakunya gerakan purifikasi Islam,” kata Said
.
Ketua BNPT Ansyad Mbai mengatakan, radikalisme masih mengancam keamanan NKRI. Pasalnya kader gerakan radikal akibat salah mendapat doktrin ajaran Islam saat ini jumlahnya terus berkembang.Atas dasar itu, pihaknya menegaskan tindakan deradikalisasi sangat mendesak dijalankan oleh para kyai atau nyai kepada umat. Karena posisi BNPT hanya sebagai fasilitator dan yang para ulama yang bisa membendung ajaran Islam menyimpang
.
“Peran kyai dan nyai sangat besar untuk mencegah aksi teror di Indonesia. Peran ini yang harus dilakukan melalui pengajaran di pesantren,” kata Ansyad.Ia menerangkan, perkembangan aksi teror di Tanah Air semakin menonjol sejak peristiwa Bom Bali I pada awal 2000. Pelaku pemboman itu adalah pengikut Jamaah Islamiyah yang mengusung gerakan Wahabi, beraliran radikal
.”Kerasukan paham itu dan merasa diri beragama mereka mewakili Tuhan di muka bumi ini sedang mewabah di kalangan pemuda,” ujarnya

.
Dalam sebuah tulisan di harian Republika edisi 3 Oktober 2011, KH. Agil Siradj menulis sebuah artikel menarik berjudul Radikalisme, Hukum dan Dakwah. Dalam tulisan tersebut ketua PBNU ini mengingatkan bahaya laten dari gerakan Islam radikal di Indonesia. Ciri khas gerakan Islam ekstrim, masih menurut Agil Siradj, adalah “orang Islam yang berpikiran sempit, kaku dalam memahami Islam, serta bersifat eksklusif.”

.

Muslim radikal muncul sejak awal Islam. Yakni, sejak era para Sahabat. Saat itu, kelompok radikal dikenal dengan sebutan kaum khawarij.

Adalah khalifah ke-3 Utsman bin Affan sendiri yang menjadi korban pertama keganasan gerakan ekstrim ini. Beliau terbunuh pada tahun ke-35 hijriah. Peristiwa ini kemudian terulang pada masa Khalifah Ali ibn Abi Thalib yang juga terbunuh oleh kalangan ekstrem dari umat Islam. Komunitas ekstrem tersebut, sungguh pun pada mulanya bernuansa politik, tetapi perkembangan selanjutnya dirajut dalam sebuah ideologi yang dikenal dengan faham Khawarij.

Nama gerakan yang bernama Khawarij saat ini sudah tidak ada. Akan tetapi gerakan Islam yang mirip dengan gerakan Khawarij saat ini tidak saja eksis, tapi juga sedang giat-giatnya mengampanyekan ideologinya melalui berbagai sarana yang tersedia. Sudah bukan rahasia lagi, bahwa Khawarij abad ke-21 ini menjelma dalam gerakan yang dikenal dengan Wahabi Salafi

.

Said mengatakan gerakan Wahabi yang berkembang di Indonesia berasal dari Arab Saudi. Tujuan mereka ingin mengajarkan pemurnian Islam versi mereka, sementara ajaran lain dianggap tidak benar dan harus diperangi.

“Konsep tersebut tidak cocok diterapkan di Indonesia dan harus diwaspadai. Karena dalam perkembangannya Wahabi atau Salafi itu cenderung mengarah gerakan radikal,” katanya.

Ia mengatakan, Wahabi memang bukan teroris, namun ajaran-ajaran yang disampaikan menganggap ajaran lain tidak benar, sehingga harus ditentang dan mereka mengatasnamakan Islam

.
Berbicara mengenai Wahabi, kita berbicara mengenai Saudi. Karena Wahabi dan Saudi bak satu keping mata uang yang saling berkaitan antar sisinya. Hal ini disebabkan karena faktor awal munculnya gerakan Wahabi yang berbasis di Saudi. Dan awal pembentukan negara Saudi sendiri yang tak lepas dari campur tangan Syekh Muhammad Ibn Wahab selaku pendiri aliran Wahabi.

Sebenarnya Wahabi ini bukanlah sebuah madzhab baru. Ia hanya gerakan keagamaan yang berbaur dengan kepentingan politik raja Saud ketika itu. Mengingat bahwa dalam segi fikih, Wahabi merujuk kepada Imam Ibn Hanbal, salah seorang tokoh besar fikih di madzhab Sunni. Dengan demikian Wahabi tak lebih seperti NU di Indonesia. Sama2 gerakan keagamaan yang berafiliasi kepada madzhab tertentu.

Imam Ahmad bin Hanbal sendiri terkenal sebagai Imam mazhab yang cukup ketat berpegang pada nash (cenderung literal). Jarang sekali ia memainkan unsur logika dalam membahas suatu nash. Tak heran banyak kalangan yang mempersoalkan posisi Imam Ahmad. Beliau dianggap bukan ahli fiqih. Beliau hanya menyusun kitab hadis yang sistematika babnya disusun menurut bab dalam ilmu fiqh. Kalaupun ia dianggap ahli hadis, ternyata kitab Musnad-nya tidaklah termasuk dalam “kutubus sittah” (enam kitab hadis terkemuka). Jadi, sebagai ahli fiqih ia diragukan, dan sebagai ahli hadis pun juga layak dipertanyakan.

Pengaruh Madzhab Hambali tidak terlalu kentara. Salah satu sebabnya ialah kurangnya dukungan pemerintah terhadap madzhab ini. Madzhab Hambali baru terdengar gaungnya ketika salah seorang pengikutnya, yaitu Ibn Taimiyyah tampil di panggung dunia dakwah Islam.

Ibn Taimiyyah sendiri terkenal sebagai pribadi yang kontroversial. Cukup banyak karangan2 Beliau yang dituduh mengajarkan ajaran “takfiri” (mengkafirkan) dan mujassimah (menyerupakan Tuhan dengan makhluknya). Hal ini yang menyebabkan mengapa Ibn Taimiyyah kurang mendapat simpati di dunia Islam -umumnya- dan Indonesia -khususnya-. Dan Muhammad Ibn Abd. Wahhab sendiri adalah seorang pengagum dari Ibn Taimiyyah, sebagaimana yang tercermin dari pelbagai perkataan Beliau.

Dari sini kita sudah bisa menangkap bahwa betapa Muhammad bin Abdul wahhab, pendiri Wahabi itu, sudah punya beban sejarah yang kontroversial, karena guru dari gurunya sendiri juga dianggap kontroversial. Belum lagi menimbang faktor politik Wahabi yang mendukung berdirinya kerajaan Saudi, maka terasa makin berat beban yang harus ditanggung oleh Wahabi sedari awal.

Beban itu tak cukup hanya sampai di sana. Wahabi dengan gerakan “tajdid”-nya dianggap melukai banyak kalangan Muslimin. Gerakan pembaharuan yang memberantas seluruh TBC (Takhayul, Bid’ah dan Kurafat) menuai gelombang protes di hampir seluruh dunia Islam. Bahkan kelahiran NU sebagai ormas keagamaan di Indonesia tak lepas dari unsur protes terhadap gerakan pembaharuan yang dilakukan oleh Wahabi.

Wahabi dipandang membabi buta dalam memberantas penyakit TBC. Pohon Hudaibiyyah yang ditebang karena dipandang unsur kemusyrikan, perataan makam syuhada Badar hingga puncaknya ialah keinginan meratakan tempat kelahiran Nabi dengan tanah. Tetapi yang kentara sekali ialah faktor “dosa” politik Wahabi yang dianggap perpanjangan tangan dari Inggris untuk merongrong Daulah Turki Utsmaniyyah (Ottoman).

Tak pelak beberapa faktor inilah yang menyebabkan mengapa gerakan Wahabi cenderung dibenci oleh kebanyakan umat Islam. Dan pada akhirnya melekatlah berbagai stigma buruk terhadap Wahabi, yang salah satunya ialah isu bahwa gerakan Wahabi adalah gerakan yang intoleran. Sehingga menghasilkan hipotesa, setiap orang yang berpaham Wahabi adalah sosok individu yang intoleran.
Dengan semangat puritannya, Abdul Wahhab hendak membebaskan Islam dari semua perusakan yang diyakininya telah menggerogoti Islam seperti tasawuf, tawasul, rasionalisme, ajaran Syiah dan berbagai praktik inovasi bidah. Wahabisme memperlihatkan kebencian yang luar biasa terhadap semua bentuk intelektualisme, mistisisme, dan sektarianisme.‘Abd al-Wahhab sendiri gemar membuat daftar panjang keyakinan dan perbuatan yang dinilainya munafik, yang bila diyakini atau diamalkan akan segera mengantarkan seorang muslim berstatus kafir.

Sejak kelahirannya, aliran wahabi sangat lekat dengan tradisi kekerasan. Bersama Dinasti Saud, kaum wahabi berusaha menundukkan suku-suku di Jazirah Arab di bawah bendera Wahabi/Saudi. Menyamun, menyerang, dan menjarah suku tetangga adalah praktik yang luas dilakukan suku-suku Badui di Jazirah Arab sepanjang sejarahnya. Setiap suku yang belum masuk wahabi diberi dua tawaran jelas: masuk wahabi atau diperangi sebagai orang-orang musyrik dan kafir (hlm. 119).

Dalam doktrinnya, setiap muslim yang tidak mempunyai pemahaman dan praktik agama Islam yang persis seperti wahabi dianggap murtad dan karenanya memerangi mereka diperbolehkan, atau bahkan diwajibkan. Razia, penggerebekan dan perampokan pun dilakukan. Dengan demikian, predikat muslim hanya merujuk secara eksklusif kepada para pengikut wahabi, seperti kata “muslim” yang digunakan dalam buku Unwan al-Majd fi Tarikh al-Najd, salah satu buku sejarah resmi wahabisme.

Gerakan wahabi telah melakukan keganasan dan kekejaman di kota Karbala (1216 H/1802 M) dengan pembunuhan yang tidak mengenal batas perikemanusiaan. Mereka telah membunuh puluhan ribu orang Islam, selama kurun waktu 12 tahun ketika mereka menyerang dan menduduki kota Karbala serta kawasan sekitarnya, termasuk Najaf.

Pada tahun 1803 M, kaum wahabi menyerang dan memberangus kota Thaif. Di kota itu mereka membunuh sibuan penduduk sipil, termasuk wanita dan anak-anak yatim. Bahkan, menurut Muhammad Muhsin al-Amin, mereka turut menyembelih bayi yang masih di pangkuan ibunya dan wanita-wanita hamil, sehingga tiada seorang pun yang terlepas dari kekejaman wahabi (hlm. 77).

Setelah mereka merampas, merusak segala yang ada, membunuh orang-orang tak berdosa, dan melakukan keganasan yang tidak terkira terhadap umat islam, mereka melanjutkan kebrutalannya menuju Makkah. Ibnu Bisyr dalam kitabnya Unwan al-Majd fi Tarikh Najd, menguraikan bahwa pada bulan Muharram 1220 H/1805 M, wahabi di Makkah membunuh ribuan umat islam yang sedang menunaikan ibadah haji. Dalam cacatan lain disebutkan, pembunuhan bukan hanya terjadi pada jamaah haji, melainkan juga pada masyarakat sipil.

Aksi kekerasan wahabi tidak berhenti sampai disitu. Pada tahun 1341 H/1921 M tentara wahabi membantai seribu orang lebih rombongan jamaah haji asal Yaman yang sedang menuju Makkah tanpa sebab yang jelas. Tahun 1408 H/1986 M mereka juga menyerang jamaah haji asal Iran. Peristiwa itu menewaskan 329 orang dan ribuan lainnya luka-luka  (hlm. 99-100).

Selain membunuh masyarakat sipil, tentara wahabi juga melakukan pembakaran terhadap perpustakaan-perpustakaan Islam. Di antara kasus pembakaran buku-buku yang paling fenomenal adalah pembakaran buku-buku yang terdapat di Perpustakaan Arab  (Maktabah Arabiyah) di Makkah al-Mukarramah. Perpurkaan ini termasuk perpustakaan yang paling berharga dan paling bernilai historis. Bagaimana tidak, sedikitnya ada 60.000 buku-buku langka dan sekitar 40.000 masih berupa manuskrip yang sebagiaannya adalah hasil diktean dari Nabi Muhammad kepada para sahabatnya, sebagian lagi dari Khulafaur Rasyidin, dan para sahabat Nabi yang lainnya. Semua buku-buku tersebut dibumi-hanguskan oleh para tentara wahabi.

Itulah sebagian kecil dari sisi gelap perjalanan sekte wahabi yang termuat dalam buku ini. Karya Syaikh Idahram ini cukup kritis dan merupakan suatu karya ilmiah penting  bagi bangsa Indonesia. Bahkan dalam pengantarnya, Prof. Dr. KH. Said Agil Siraj, memuji karya besar ini. menurutnya, belum ditemukan karya setajam ini sebelumnya dalam mengkritisi Gerakan Salafi Wahabi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s