PANDANGAN TOKOH-TOKOH AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH TENTANG REVOLUSI ISLAM DI IRAN

Belum lama ini saya membaca sebuah artikel yang dibuat oleh Adian Husaini, berisikan resume tentang buku bantahan yang membantah buku “Sunnah Syi’ah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?yang ditulis oleh Dr. Quraish Shihab. Buku bantahan yang berjudul cukup panjang, “Mungkinkah Sunnah Syi’ah dalam Ukhuwah? Jawaban atas buku Dr. Quraish Shihab (Sunnah Syi’ah bergandengan tangan! Mungkinkah)” itu disusun oleh Tim Penulis Buku Pustaka Sidogiri, Pondok Pesantren Sidogiri yang dipimpin oleh Ahmad Qusyairi Ismail.
 .
Entah apa yang membuat aku ingin mencoba menanggapi tulisan seorang ulama ternama di Indonesia, yang terkenal kecakapannya sekelas Adian Husaini. Mohon kiranya tanggapanku ini tidak dimaknai sebagai bentuk kelancangan sikap seorang anak kecil yang masih bau kencur kepada seorang ustadz sepintar Adian Husaini. Sama halnya dengan apa yang dilakukan oleh Ahmad Qusyairi Ismail, yang katanya masih muda, ketika mengkritisi buku dari seorang ulama yang sudah sepuh dan telah menghasilkan satu buku tafsir Al-Qur’an.
 .
Pada bagian sampul belakang buku terbitan Pesantren Sidogiri tersebut, ada sambutan dari KH. A. Nawawi Abdul Djalil seorang pengasuh Pesantren Sidogiri. Beliau berkata, ”Mungkin saja, Syi’ah tidak akan pernah habis sampai hari kiamat dan menjadi tantangan utama akidah Ahlulsunnah. Oleh karena itu, kajian sungguh-sungguh yang dilakukan anak-anak muda seperti ananda Qusyairi dan kawan-kawannya ini, menurut saya merupakan langkah penting untuk membendung pengaruh aliran sesat semacam Syi’ah.”
 .
Membaca komentar dari ustadz A. Nawawi Abdul Djalil diatas, aku tergoda untuk mengutipkan beberapa perkataan ulama dan tokoh pejuang Islam mengenai Syi’ah, Revolusi Iran, dan Imam Khomeini.
 .
Pandangan Beberapa Ulama Ahlulsunnah
Beberapa tahun silam Iran, negara yang saat itu tengah diperintah oleh seorang raja dzalim, melalui kegigihan dan ketabahan Imam Khomeini beserta para pengikutnya, berhasil melakukan sebuah revolusi Islam yang ditandai dengan digulingkannya raja dzalim yang berkuasa pada saat itu. Sehubungan dengan keberhasilan Revolusi Islam di Iran, ada beberapa pandangan negatif terhadapnya. Pandangan negatif itu muncul hanya karena yang melakukan revolusi ini adalah orang-orang Syi’ah yang, menurut sebagian umat Islam, dihakimi sebagai aliran sesat.
 .
Dari ucapan A. Nawawi Abdul Djalil diatas menunjukkan bahwa sebenarnya ditengah-tengah umat Islam masih ada saja stigma negatif atas syi’ah yang berkembang. Usaha untuk mendiskreditkan Syi’ah nampak sekali tidak pernah berhenti sampai sekarang. Mulai dari dari memanipulasi kutipan-kutipan dari ucapan para ulama Syi’ah ternama, sampai menuduhkan sesuatu hal padahal hal tersebut tidak pernah dilakukan oleh umat Syi’ah. Sering kali juga perilaku salah satu umat Islam Syi’ah yang menyimpang, dijadikan busur panah fitnah yang diarahkan dan siap dilepaskan kepada Syi’ah guna membunuh karakter Syi’ah.
 .
Berangkat dari fenomena tersebut, izinkan aku untuk mengutipkan pandangan para pejuang Islam di luar Syi’ah yang sekiranya dapat dijadikan sebagai indikator (petunjuk) apakah kaum Syi’ah (Imamiyah), yang merupakan mayoritas besar masyarakat Iran, dipandang sebagai sesama saudara Muslimin oleh kaum Muslimin yang bukan Syi’ah.
 .
Dalam bukunya Al-Harakat al-islamiyyah wa al-Tahdits, Rasyid Al-Ghannusyi memandang adanya suatu pendekatan Islam yang baru, yakni sebagai yang telah dijelaskan dan diberi bentuk yang kukuh oleh Imam Hasan Al-Banna, Abul A’la Al-Maududi, Sayyid Quthub dan Imam Khomeini wakil-wakil yang paling penting dari cara pendekatan Islam pada gerakan jaman ini. Beliau juga berkeyakinan bahwa keberhasilan Revolusi Islam di Iran itu akan merupakan permulaan suatu peradaban Islam yang baru
.
Di bawah subjudul Apakah yang kita maksudkan dengan Gerakan Islam?, Al-Ghannusyi mengatakan: ”Yang kami maksudkan ialah pendekatan yang bersumber dari pengertian Negara Islam yang komprehensif (bersifat mampu menerima dengan baik), sesuai dengan tiga cara pendekatan (yang benar) oleh Ikhwanul Muslimin, Jama’at Islami di Pakistan, serta gerakan Imam Khomeini di Iran.” Beliau menuturkan lebih lanjut, ”Suatu operasi, yang mungkin akan merupakan suatu dari peristiwa-peristiwa dalam sejarah gerakan kemerdekaan di seluruh kawasan ini, telah dimulai di Iran, yang akan membebaskan Islam dari kekuasaan pemerintah yang memperalat Islam untuk mencegah gelombang revolusi ke kawasan itu.”
 .
Maulana Abul A’la Al-Maududi, seorang ulama terkemuka yang juga pendiri dan pemimpin Jama’at Islami di Pakistan, mengeluarkan sebuah fatwa tentang Revolusi di Iran: ”Revolusi Khomaini adalah Revolusi Islam. Pesertanya dari kalangan umat Islam dan pemuda-pemuda yang terdidik dalam gerakan-gerakan Islam. Seluruh kaum Muslimin pada umumnya, dan gerakan-gerakan Islam pada khususnya, harus mendukung revolusi itu dan bekerja sama dengannya dalam segala-galanya.” (Majalah Al-Da’wah, Kairo, 29 Agustus 1979)
 .
Rektor Universitas Al-Azhar dalam wawancaranya dengan koran al-Syarq al-Ausath yang diterbitkan di London dan Jeddah, 3 Februari 1979, mengatakan: ”Imam Khomeini adalah saudara kita dalam Islam. Kaum Muslimin, walaupun berbeda mazhab, adalah sesama saudara dalam Islam, dan Imam Khomeini berdiri di bawah panji yang sama dengan saya: Islam.”
 .
Dari beberapa pendapat ulama-ulama tersebut, semuanya mengatakan bahwa Revolusi yang dipimpin oleh Imam Khomeini di Iran bukanlah Revolusi Iran, tetapi Revolusi Islam. Itu berarti Syi’ah itu muslim, dia bersaudara dengan Ahlulsunnah.
 .
Petunjuk Jalan Lurus
Di dalam shalat yang sehari-hari kita lakukan, sebagai hamba Tuhan mengakui ketidakberdayaan di hadapan-Nya untuk mengetahuai secara pasti jalan manakah yang merupakan jalan lurus (kebenaran) dan jalan sesat (kebatilan). Pengakuan diri itu kita ucapkan ketika membaca surat Al-Fatihah ayat 6-7, ”Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”
Maka menurut hematku, kalau masih ada orang Islam yang merasa dirinya paling benar, dirinya paling berhak atas surga Tuhan, maka sebenarnya dia belum sepenuhnya menghayati makna shalat yang lima kali dalam sehari ia lakukan.
Di dalam Surat An-Nahl ayat 125, Tuhan lebih menegaskan lagi, ”Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”
 .
Dengan segala kerendahan hati, aku ingin mengatakan kepada seluruh umat Islam, kita ini adalah makluk yang nisbi. Pengetahuan kita terkadang itu pengetahuan yang nisbi pula. Sudah sepantasnya kita yang nisbi ini merendahkan hati untuk tidak menganggap diri kita paling benar dan paling shaleh diantara yang lain. Bukankah Iblis dilaknat Tuhan ketika Iblis merasa dirinya paling baik dibandingkan manusia. Satu perkataan iblis yang terkenal, ”Ana khairum min hum. Aku lebih baik dari dia.” Perkataan itulah yang mengantarkan iblis pada laknat Tuhan.
 .
Terakhir untuk menutup tulisan ini, aku ingin menyampaikan bahwa dalam Al-Qur’an Tuhan telah memerintahkan umat Islam yang telah terpecah belah, seperti yang disabdakan Rasulullah, untuk bersatu dan tidak berpecah belah. Persatuan Islam, dalam hal ini Ahlulsunnah dan Syi’ah, adalah suatu keniscayaan karena tidak mungkin Allah memerintahkan kita melakukan sesuatu sedangkan kita tidak mampu melakukannya. Tuhan memerintahkan sesuatu sesuai dengan kemampuan hamba-Nya.
 .
Ambillah Hamas dan Hizbullah sebagai contoh. Keduanya menampilkan suatu keharmonisan dan kerjasama dalam melawan Zionis Israel. Ahlulsunnah yang diwakili oleh Hamas dan Syi’ah yang diwakili oleh Hizbullah berjuang melawan agresi militer Zionis Israel yang biadab.
 .
Disaat Zionis Israel menghembuskan propaganda devide et impera, sekelompok umat Islam yang merasa dirinya paling benar dan paling shaleh juga ikut-ikutan menghembuskan nafas permusuhan dikalangan umat Islam. Mengapa sebagian dari kita malah senang melakukan sesuatu yang ujung-ujungnya menguntungkan pihak yang memusuhi Islam?
.
Sehubungan dengan keberhasilan Revolusi Islam di Iran, pandangan para pejuang Islam di luar Syi’ah dapat pula dijadikan indicator (petunjuk) apakah kaum Syi’ah (Imamiyah) yang merupakan mayoritas besar Iran dipandang sebagai sesame saudara Muslimin oleh kaum Muslimin yang bukan Syi’ah.
.
Isam Al-Attar, seorang pemimpin gerakan Ikhwanul Muslimin yang berdomisili di Jerman, menyatakan dukungannya kepada Revolusi Islam di Iran. Bahkan sekarang ia sedang menulis buku dan menamakannya Revolusi Islam.
.
Hasan Al-Turabi, pemimpin Ikhwanul Muslimin di Sudan, menyokong revolusi besar di Iran dan menamakannya Revolusi Islam.
Al-Ma’rifah, majalah gerakan Islam di Tunisia, menyerukan kepada kaum Muslimin untuk membantu gerakan Islam di Iran itu.  
.
Rasyid AL-Ghannusyi, pemuka gerakan Islam di Tunisia, bahkan menyatakan Khomeini sebagai Imam seluruh kaum Muslimin. Karena pernyataannya itu maka Al-Ma’rifah diberangus.
.
Rasyid Al-Ghannusyi, dalam bukunya Al-Harakat al-islamiyyah wa al-Tahdits memandang adanya suatu pendekatan Islam yang baru, yakni sebagai yang telah dijelaskan dan diberi bentuk yang kukuh oleh Imam Hasan Al-Banna, Abul A’la Al-Maududi, Sayyid Quthub dan Imam Khomeini wakil-wakil yang paling penting dari cara pendekatan Islam pada gerakan jaman ini. (hal.16). Ia juga meramalkan bahwa keberhasilan Revolusi Islam di Iran itu akan merupakan permulaan suatu peradaban Islam yang baru. (hal.17). Di bawah subjudul Apakah yang kita maksudkan dengan Gerakan Islam?
.
Al-Ghannusyi mengatakan: ”Yang kami maksudkan ialah pendekatan yang bersumber dari pengertian Negara Islam yang komprehensif (bersifat mampu menerima dengan baik), sesuai dengan tiga cara pendekatan (yang benar) oleh Ikhwanul Muslimin, Jama’at Islami di Pakistan, serta gerakan Imam Khomeini di Iran.” (hal.17). Ia pun mengatakan, ”Suatu operasi, yang mungkin akan merupakan suatu dari peristiwa-peristiwa dalam sejarah gerakan kemerdekaan di seluruh kawasan ini, telah dimulai di Iran, yang akan membebaskan Islam dari kekuasaan pemerintah yang memperalat Islam untuk mencegah gelombang revolusi ke kawasan itu.”
.
Muhammad Abdurrahman Khalifah, Pemimpin Ikhwanul Muslimin di Yordania, menyerukan dukungannya kepada revolusi itu. Lebih lanjut ia sendiri berkunjung ke Iran untuk menyatakan dukungannya.
Di Mesir, majalah-majalah Al-Da’wah, Al-I’tisham, dan Al-Mukhtar berdiri di pihak revolusi di Iran itu dan menekankan watak Islamnya.
.
Jabir Riziq, adalah seorang wartawan Ikhwanul Muslimin terkemuka, menulis dalam al-i’tisham bahwa ”bangsa Iran ini adalah satu-satunya bangsa Muslimin yang mampu berevolusi menentang imperialisme (penjajah) dan salibis-zionis…Para tiran sedang goncang karena khawatir bahwa rakyat mereka sendiri akan berontak, menentang, dan menjungkirkan mereka sebagai yang dilakukan kaum Muslimin di Iran terhadap syah, sang agen…”
.
Dalam penerbitan bulan Shafar 1410 H ( Juni 1981), pada akhir suatu artikel yang ditulis sehubungan dengan peringatan hari ulang tahun kedua Revolusi Islam di Iran, Riziq melanjutkan: ”….Revolusi Iran berhasil setelah gugurnya ribuan Syuhada’, itulah revolusi terbesar dalam sejarah modern, terbesar dalam kegiatan-kegiatannya, hasil-hasilnya yang positif dan efek-efeknya yang membalikkan perhitungan-perhitungan dan mengubah kriteria-kriteria.” (hal.39).
.
Sehubungan dengan watak Islam dan kepemimpinan revolusi itu, organisasi internasional Ikhwanul Muslimin itu menyerukan: ”Kaum Muslimin Iran telah membebaskan diri dari penjajah Amerika Zionis melalui suatu perjuangan heroik yang menakjubkan dan satu Revolusi Islam yang membadai, yang unik di dalam sejarah umat manusia, di bawah pimpinan seorang Imam Muslim yang, tak syak lagi, merupakan kehormatan bagi Islam dan kaum Muslimin…”
.
Maulana Abul A’la Al-Maududi, pendiri dan pemimpin Jama’at Islami di Pakistan, mengeluarkan sebuah fatwa tentang Revolusi di Iran: ”Revolusi Khomaini adalah Revolusi Islam. Pesertanya dari kalangan umat Islam dan pemuda-pemuda yang terdidik dalam gerakan-gerakan Islam. Seluruh kaum Muslimin pada umumnya, dan gerakan-gerakan Islam pada khususnya, harus mendukung revolusi itu dan bekerja sama dengannya dalam segala-galanya.” (Majalah Al-Da’wah, Kairo, 29 Agustus 1979)
.
Rektor Universitas Al-Azhar dalam wawancaranya dengan koran al-Syarq al-Ausath yang diterbitkan di London dan Jeddah, 3 Februari 1979, mengatakan: ”Imam Khomeini adalah saudara kita dalam Islam. Kaum Muslimin, walaupun berbeda mazhab, adalah sesama saudara dalam Islam, dan Imam Khomeini berdiri di bawah panji yang sama dengan saya: Islam.”
.
Fat-hi Yakan, dalam bukunya abjadiyat al-Tathawwur al-Haraki lil Amal al Islam (ABC Pengetahuan Praktis Amal Islam), mengungkapkan persengkongkolan kolonialis dan super power dengan menegaskan: ”Ada suatu contoh yang segar tentang apa yang telah kami katakan itu, yakni pengalaman Revolusi di Iran belakangan ini. Itulah suatu contoh yang menunjukkan betapa seluruh kekuatan kufur di muka bumi telah maju serentak memerangi secara sungguh-sungguh untuk menggagalkan revolusi ini, karena revolusi itu islami dan karena ia tidak Timur dan tidak Barat.” (hal.48).
.
Al-Da’wah, dalam penerbitan bulan Mei 1984, mengatakan: Di dunia sekarang ini, terdapat suatu kesadaran Islam yang sedang meluas. Salah satu isyaratnya ialah Revolusi Islam di Iran yang walaupun menghadapi berbagai halangan, mampu menghancurkan imperium paling tua dan yang merupakan satu di antara rezim anti-Islam yang paling keji.” (hal.20).
.
Masih banyak lagi pemuka Ahlus Sunnah wal Jama’ah dari berbagai negeri, seperti Dr. Kalim Shiddiqui (Direktur Muslim Institut, London dan pendiri Koran Internasional Islam, Crescen Internasional, Kanada), Hamid Algar (Seorang pemikir dan penulis Muslim terkemuka berkebangsaan Inggris), Kaukab Siddiqui (Pimpinan Jama’at Muslimin yang berpusat di Amerika Serikat, pecahan dari partai Jama’at Islamnya Maulana Maududi, Mohammad Habibullah Mahmud (Seorang jurnalis terkemuka dari Malaysia) dan banyak lagi, yang berpendapat sama. Memuatnya satu persatu, tentunya, di luar jangkauan risalah kecil ini.
.
Sebagai penutup, hendak kami ketengahkan ”kesaksian” seorang Kristen, tokoh Marxis berkebangsaan Arab dari Mesir yang dengan nada sumbang dan sarkastik (mengejek) menentang Khomeini dan Revolusi di Iran itu. Ghali Syukri, yang Kristen dan Marxis itu, menulis dalam Dirasat ’Arabiyah (Studi Kearaban), sebagai dikutip oleh Al-Bayadir al-Siyasi (No.2, 1 Februari 1982, halaman 3): ”Para pemikir yang dikenal sebagai berlatar belakang Marxis, hanya dalam sekejap telah berubah menjadi Muslimin yang gigih. Yang lain-lainnya, yang menurut sertifikat kelahirannya adalah orang-orang kristen, dalam sesaat telah menjadi ekstrimis-ekstrimis Muslim. Para pemikir yang menurut pendidikannya tergolong kepada Barat, tanpa cadangan sedikitpun telah berubah menjadi orang-orang Timur yang fanatik. Di bawah panji Khomeini, orang-orang Arab yang terpelajar kembali kepada lingkungan tradisi seperti domba tersesat yang kembali kepada kawannya setelah lama terasing dan terpisah.”
.

Obat Mujarab Fikih Persatuan

.

Saya pernah menonton sebuah film dokumenter tentang Sayyid Musa Sadr di jaringan televisi satelit Al-Manar. Dia ulama besar, pioner pasukan perlawanan Hizbullah Lebanon pada era 70-an, di tahun-tahun awal invasi Zionis Israel. Tapi bukan itu yang ingin saya bicarakan.

.

Ada sesuatu di film dokumenter itu: sebuah gambar yang melekat di benak hingga kini. Sebuah memori sejarah yang bisa jadi oase pelajaran bagi kita yang hidup sekarang. Bahkan di Indonesia. 
Di film berdurasi panjang itu, ada foto yang memperlihatkan momen-momen dia tengah berbicara di hadapan jamaah sebuah geraja berarsitektur agung. Dengan sorban hitam keulamaanya, dengan wajahnya yang teduh lalu gereja itu, sebuah gereja di Sidon sepertinya, berdiri di sebuah mimbar dengan latar tembok-tembok tinggi dan ornamen kaca gereja yang memukau
.
Dua keagungan seperti berkumpul di foto itu. Seperti perasan yang terbaik dari Islam dan Kristen
.
Musa Sadr memang menara suar kala itu — sebelum akhirnya hilang misterius. Dia, hingga kini dianggap pahlawan oleh hampir semua kalangan dan agama di Lebanon, diyakini kemungkinan besar diculik saat berkunjung ke Libya. Nasibnya tak jelas sejak itu. Ada yang bilang dia telah mati, meski tak sedikit yang meyakininya masih hidup dan tertawan
.
Tapi sebelum kepergiannya, dia telah mewariskan sesuatu yang berharga: fikih persatuan. Secara singkat, dia memfatwakan bahwa di saat persatuan umat beragama dan bangsa dan negara jadi taruhan, urusan fikih harus dimundurkan. Sepenting apapun
.
Tak pada tempatnya saya berpanjang-panjang soal tersebut. Tapi satu yang jelas, fikih persatuan itu menghasilkan buah yang segar; sesuatu yang mungkin menjelaskan aliansi super-kuat antara kalangan Kristen dengan pasukan perlawanan Hizbullah dalam kancah politik modern Lebanon dan front bersenjata menghadapi agresor Israel hingga detik ini
.
Nah, saya cerita semua itu dengan benak yang masih terendam berita-berita mencemaskan dalam dua bulan terakhir. Di berbagai penjuru dunia orang dengan mudah melihat adanya kekuatan yg seperti hendak membenturkan Islam dan Kristen, Islam dan Islam. Kita lihat ada upaya pembakaran Al Qur’an di Amerika Serikat, ada penghargaan untuk kartunis penghina Nabi di Eropa, dan masih banyak rangkaian peristiwa lain.
Termasuk di Indonesia.
Di Bekasi beberapa waktu yang lalu misalnya, televisi seperti ingin kita percaya kalau telah terjadi perselisihan hebat antara Islam dan Kristen di sana
.
Antara warga Muslim dan warga Kristen dalam soal pendirian rumah peribadatan. Lalu di Cirebon, Bogor, Jakarta dan Nusa Tenggara kita dengar berita yang kurang lebihnya sama: perselisihan besar antara pengikut Ahmadiyah dan mereka yang menolak keberadaan kelompok itu. Darah telah tumpah. Kecemasan timbul-tenggelam.
Tulisan ini tak bermaksud menyajikan jawaban untuk persoalan pelik itu. Meski jelas, kita semua menanti kehadiran pemimpin agama yang visioner. Kita menanti banyak ulama seperti Musa Sadr yang mengajarkan persatuan jauh lebih penting ketimbang apapun. Kita perlu suara ulama yang bisa mengerem dan menghentikan pucuk-pucuk ekstrim yang kadang menyembul dan menciptakan keriuhan besar – untuk tidak mengatakan memprovokasi benturan antar penganut agama.
Kita sudah punya banyak persoalan dan ekstrimisme, baik dalam cara pikir maupun pola tindak, adalah hal terakhir yang ingin kita saksikan
.
Dan kabar yang terdengar dari Iran dalam sepekan terakhir sepertinya bisa jadi contoh. Ceritanya ini berawal dari sebuah surat Istiftai (permohonan fatwa) dari kalangan ulama Syiah di Arab Saudi ke Ayatullah Sayyed Ali Khameini, wali faqih sekaligus pemimpin Republik Islam Iran. Secara khusus di surat itu, mereka meminta jawaban tegas atas sejumlah hal yang menurut mereka “sangat mencemaskan”, “sumber bagi kekacauan internal” kalangan Muslim
.
Telah terdengar oleh mereka bahwa Yasir al-Habib, seorang yang menyebut dirinya ulama dan berdomisili di London, sering melontarkan hujatan dan penghinaan berupa “kalimat-kalimat tak senonoh dan melecehkan terhadap istri Rasul, Ummul Mu’minin Aisyah”.
Langkah itu, kata mereka dalam surat, telah menghadirkan “sensasi negatif berupa ketegangan di tengah masyarakat Islam”. Sebagian orang, karena minimnya pengatahuan dan pandangan, nampaknya membeli ucapan Yasir itu, kata mereka. Sebagian lagi, meski lebih kecil, mengeksploitasinya “secara sistematis” di sejumlah televisi satelit dan internet demi “mengacaukan dan mengotori dunia Islam dan menyebarkan perpecahan antarmuslimin.”
.
Dari Tehran, Sayyed Ali Khamenei memberikan yang mereka minta. Sebuah fatwa, putusan yang mengikat dan membawa implikasi hukum. Bunyinya singkat: “Diharamkan melakukan penghinaan terhadap (tokoh-tokoh yang diagungkan) Ahlussunnah wal Jamaah apalagi melontarkan tuduhan terhadap istri Nabi dengan perkataan-perkataan yang menodai kehormatannya, bahkan tindakan demikian haram dilakukan terhadap istri-istri para Nabi terutama penghulu mereka Rasul termulia.”
Fatwa itu merupakan yang mutakhir dan menempati posisi terpenting dalam rangkaian kecaman kalangan ulama Syiah atas Yasir al-Habib dan para provokator sebangsanya
.
Fatwa Pemimpin Tertinggi Iran ini jelas berbeda dengan fatwa-fatwa yang biasa keluar dari majlis-majlis ulama di dunia Sunni. Pasalnya, fatwa ini membawa solusi kaki tangan pelaksanaan yang didukung segenap aparatur Republik Islam Iran
.

Dari Kairo, Syaikh Al-Azhar segera menyambut fatwa historis Ayatullah Ali Khamenei ini

.

Iran, Mesir dan Pemikiran Taqrib

Taqrib bermakna ajakan untuk mendekatkan pandangan antar mazhab Islam. Pemikiran ini memiliki sejarah khusus di negara-negara Islam, terutama Mesir. Taqrib juga berarti kerjasama antara ulama untuk menyelesaikan kesalahpahaman yang ada pada mazhab-mazhab Islam terutama mazhab Syiah dan Ahli Sunnah.

 .
Para ulama Taqrib berkeyakinan bahwa untuk mewujudkan tujuan Taqrib, Ahli Sunnah dan Syiah tidak harus meninggalkan ajarannya; akan tetapi, poros Taqrib antar mazhab Islam adalah hidup bersama dengan jiwa bersaudara tanpa ada rasa bermusuhan satu sama lain. Alhasil, tujuan Taqrib adalah mengurangi kekerasan dan permusuhan antara pengikut mazhab-mazhab Islam.
 .

Sejak lama Universitas al-Azhar Mesir sangat mendukung ajakan pada Taqrib hingga pada masa pemerintahan Anwar Sadat. Hasan Ibrahim Hasan dalam kitab “Tarikh al-Daulah al-Fatimiah” menulis:
 .
“Nama al-Azhar berdasarkan nama putri Rasulullah saw, Fatimah Zahra as. karena “Fatimiun” -yang pada tahun 909 M di Mesir sampai pada tanjuk kekuasaan- mengaku sebagai keturunan beliau. Fatimiun mendirikan al-Azhar pada tahun 972 M untuk perluasan mazhab Syiah. Para pemimpin silsilah ini meyakini masa dakwah Syiah dengan memperkenalkan ilmunya sudah sampai dan ajaran-ajaran mazhab ini harus diperluas dengan pendidikan. Fatimiun tidak merasa cukup dengan mendirikan al-Azhar saja, akhirnya pada tahun 1005 M membentuk lembaga pusat kebudayaan “Dar al-Hikmah” yang juga bertujuan untuk dakwah Syiah.”
 .
Dapat dikatakan, berbeda dengan gerakan moderat Fatimiun pada awal pemerintahannya dalam memperluas mazhab Syiah, pada tahun-tahun berikutnya hal ini menjadi ekstrim dan berlebihan. Sebagai contoh, dinsti Fatimiah melarang masyarakat untuk membaca kitab-kitab mazhab lain dan berusaha untuk menghilangkan Ahli Sunnah. Mungkin siasat ini yang menjadi salah satu sebab penggerak Ayyubiun untuk menda’wahkan Ahli Sunnah dan diterimanya silsilah ini (Ayyubiun) oleh pengikut mazhab ini.
 .
Ayyubiun yang memegang kekuasaan setelah tergulingnya dinasti Fatimiun pada tahun 1175 M merubah Mesir menjadi pusat kebudayaan yang kuat untuk memperluas mazhab Ahli Sunnah. Pendiri pemerintahan ini, Salahuddin Ayyubi yang bermazhab Syafi’i, melarang pengajaran fiqih Syiah di Al-Azhar. Siasat ini menyebabkan penurunan intelektual di al-Azhar dan kondisi ini berlangsung salama kurang lebih 80 tahun. Akan tetapi, pada masa pemerintahan “Mamlukian” dan “Utsmanian” di Mesir, meskipun pemerintahan berasaskan Ahli Sunnah, tetapi kondisi orang-orang Syiah lebih baik dari masa pemerintahan Ayyubian. Shalat Jumat di al-Azhar kembali dijalankan dan disamping pelajaran fiqih Syafi’i, beberapa ulama juga ditetapkan untuk mengajar fiqih mazhab lain termasuk mazhab Syiah.
 .
Pada tahun 1789 penyerangan Perancis terhadap Mesir menyebabkan ulama al-Azhar mengangkat bendera perlawanan terhadap Perancis dengan dukungan dari masyarakat dan mewujudkan persatuan muslimin dengan melupakan perbedaan-perbedaan mazhab. Kerjasama ulama al-Azhar dan orang-orang Syiah serta anggota Taqrib yang lain menyebabkan kekalahan Perancis. Pada masa ini hukuman mati ulama Islam oleh kekuatan Perancis menguatkan lingkaran persatuan antarMuslim dalam menghadapi musuh luar.
 .
Muhammad Ali terpilih sebagai wali Mesir pada tahun 1805. Dia, seorang yang mencintai kekuasaan, menganggap wujud ulama-ulama al-Azhar terutama persatuan di antara mereka dan masyarakat Islam sebagai penghalang untuk mengokohkan kekuasaannya. Untuk menghilangkan penghalang-penghalang ini, dengan menggunakan senjata perselisihan ia menimbulkan perpecahan, memerintah dengan sewenang-wenang dan memisahkan antara agama dan politik untuk melemahkan al-Azhar dan ulama Islam.
 .
Politik ini –yang berakhir dengan tidak mampunya al-Azhar untuk mengelola keuangannya- menyebabkan gradasi bertahap universitas tersebut dan memaksanya untuk menggantungkan masalah keuangan pada pihak lain, terutama pemerintah Inggris. Pada tahun 1915 penasehat keuangan pemerintah Mesir –seorang Inggris- menyarankan kepada pemimpin al-Azhar untuk menerima bantuan dari pemerintah Inggris untuk memperbaiki keuangan ulama-ulama al-Azhar (1). Pada masa ini, siasat pemerintah Mesir dan pendatang dari Inggris adalah pemisahan antara agama dan politik serta menghalangi persatuan mazhab yang berbeda-beda dalam satu lingkup Islam. Dengan ini, ulama mazhab-mazhab di al-Azhar tidak dapat menjalankan misi Islami mereka dikarenakan tidak adanya persatuan, fanatisme dan memperhatikan keuntungan pribadi.
 .
Pada tahun 70-an peningkatan hubungan antar ulama dan pusat-pusat lembaga agama yang berbeda-beda, terutama Syiah dan Ahli Sunnah, mendorong terbentuknya “Dar al-Taqrib” di Mesir. Beberapa marja’ faqih Syiah dunia, seperti Ayatullah Uzdma Burujerdi ra. memiliki peran yang sangat penting dalam pembentukan pusat lembaga ini. Beliau memiliki keyakinan kuat akan perlunya pemecahan masalah di antara mazhab-mazhab Islam dan perwujudan hal ini akan meninggikan martabat Islam.
 .
Ayatullah Uzdma Boroujerdi mengetahui dengan kebijaksanaan bahwa jika kesepakatan di antara orang-orang muslim akan dibentuk, harus bersumber dari lembaga keilmuan. Dari sisi lain, beliau juga mengetahui tingkatan keilmuan al-Azhar. Jadi, beliau menggunakan fasilitas dan kesempatan ini secara efisien untuk mengadakan hubungan dengan ulama-ulama Mesir. Untuk memulai hubungan ini beliau mengirim Allamah Syeikh Muhammad Tagi Qumi ke Mesir sebagai perwakilannya. Tugas beliau adalah berusaha untuk mengembangkan kegiatan-kegiatan Taqrib di Mesir dan mendorong ulama Islam untuk mementingkan terwujudnya persatuan umat Islam.
 .
Allamah Syeikh Muhammad Taqi Qumi menyampaikan pesan lisan Ayatullah kepada Syeikh Majid Salim yang menjabat sebagai presiden al-Azhar pada waktu itu. Pesan jawaban Syeikh Salim kepada Ayatullah Burujerdi membuka pintu kerjasama dan surat menyurat dalam hal Taqrib antara hauzah Qom dan al-Azhar. Tidak lama kemudian Syeikh Hasan Baquri, dosen dan seorang alim universitas al-Azhar, dan menteri wakaf Mesir, pergi ke Iran untuk bertemu dengan Ayatullah Boroujerdi. Sebagai balasan, kitab “Mukhtasar al-Manafi’ Allamah Hilli dan kitab tafsir “Majma’ al-Bayan” َAllamah Tabarsi dicetak dan dipelajari di Mesir.
 .
Berdasarkan itu universitas al-Azhar untuk pertama kalinya dalam sejarah pendiriannya, mengadakan majlis Asyura’ (acara peringatan syahadah imam Husein as.) yang sangat besar. Syeikh Syaltut mengemban kepemimpinan universitas al-Azhar setelah meninggalnya Syeikh Majid Salim. Beliau, seorang yang menginginkan persatuan umat Islam dan memiliki pengetahuan yang dalam tentang masalah Taqrib, menjalin hubungan erat dengan Ayatullah Boroujerdi ra dan dalam salah satu suratnya, beliau memanggilnya dengan sebutan “saudara yang agung”.
 .
Pendirian Darul Taqrib Baina Mazahib Al Islami di Mesir berperan penting dalam penyelarasan antara mazhab-mazhab Islam dan pada akhirnya menjadi satu langkah yang penting dan menentukan. Langkah penting ini adalah pengajaran fiqih mazhab-mazhab Islam, Ahli Sunnah maupun Syiah, di universitas al-Azhar. Hal ini ditulis di bab ke tiga undang-undang Dar al-Taqrib seperti berikut:
 .
“Pengajaran fiqih mazhab-mazhab Islam di universitas-universitas Islam dan di pusat-pusat pendidikan lainnya, akan dilaksanakan sebaik mungkin.”
 .
Saran program pengajaran mazhab Ja’fari di al-Azhar meskipun tidak terlaksana akan tetapi berhubungan dengan satu kejadian penting yang lain yaitu fatwa syeikh Syaltut yang berisikan pembolehan menganut fiqih Syiah. Dengan ini, marja’ terbesar Ahli Sunnah Mesir mengatakan bahwa para pengikut mazhab Syiah Itsna Asyariah memiliki hak yang sama sebagai seorang muslim seperti pengikut mazhab-mazhab lain; meskipun selalu ada propaganda-propaganda buruk yang merugikan. Kepada seluruh umat Muslim Ahli Sunnah Wa Jamma’ah juga diperbolehkan untuk mengikuti fatwa-fatwa ulama Syiah.
 .
Ulama-ulama Mesir setelah masa Syeikh Syaltut juga memiliki hubungan erat dengan hauzah-hauzah ilmiah Syiah; ia pun terus melanjutkan kegiatan-kegiatan Taqrib. Hal ini menciptakan hubungan erat antara masyarakat Iran dan Mesir. Dapat dikatakan meskipun fiqih yang dikenalkan di Mesir bukanlah fiqih Syiah, tetapi hati nurani masyarakat Mesir memiliki kecondongan terhadap Syiah. Karena itu, pengikut mazhab Wahabi dengan niat menjauhkan masyarakat Mesir dari garis-garis fiqih dan pemikiran logis mazhab Syiah, melawan tasyayu’ dan berusaha untuk menyimpangkan kecenderungan persatuan ulama dan masyarakat Mesir.
 .
Saat ini ada banyak dalil yang menunjukkan kecenderungan masyarakat Mesir untuk saling memahami dengan saudara-saudara Syiah dan hal ini disebabkan kecintaan mereka pada Ahlul Bait as. Sebagai contoh, masyarakat Mesir suka berziarah ke makam-makam mulia ma’sumin dan membolehkan menciumnya. Nama yang paling banyak dipakai di Mesir setelah nama nabi Muhammad Saw adalah nama Ali (untuk laki-laki) dan Fatimah (untuk perempuan). Dalam banyak syair kanak-kanak Mesir yang paling terkenal, Sayyidah Fatimah as disebut sebagai ibu dan Ali as sebagai ayah. Khususnya pada penyelenggaraan hari-hari Ied dan adat-adat bulan suci Ramadhan, masyarakat Mesir mengikuti adat-adat khusus Fatimiah yang berasal dari budaya Syiah.
 .
Penerbitan kitab “Al-Muraja’at” yang merupakan surat menyurat dari diskusi antara ulama besar Islam, Abdul Husain Syarafuddin Al-Musawi, salah satu dari pembawa bendera Taqrib di Jabal Amil, Lebanon, dan Syeikh Salim, Syeikh al-Azhar, mempunyai peran penting dalam menyelesaikan kesalahpahaman Ahli Sunnah terhadap Syiah. Syeikh Salim dalam pertemuan terakhirnya mengakui bahwa tidak ada perbedaan (yang mendasar-pent.) di antara Ahli Sunnah dan Syiah dan pertentangan yang ada diantara Syiah dan Ahli Sunnah lebih sedikit dari pertentangan antara imam-imam empat mazhab.
 .
Sebenarnya kehidupan kebudayaan Mesir memimiliki kecondongan kuat untuk mewujudkan misi Taqrib. Alasannya adalah sebagai berikut:
1. Adanya makam orang-orang yang dinisbatkan ke Ahllul Bait, seperti Malik Asytar di Mesir, yang menyebabkan masyarakat negara ini menunjukkan kecintaannya pada Ahlul Bait lebih dari masyarakat Negara-negara lain.
2. Masyarakat Mesir secara terbuka memiliki kecenderungan untuk bersatu dan saling memahami antarsaudara Muslim yang lain, termasuk Syiah; dan kecenderungan ini bertambah setelah kemenangan revolusi Islam.
3. Peran al-Azhar yang merupakan basis besar dalam sisi moral dan spiritual, yang pada awalnya didirikan untuk memperluas mazhab Syiah dan pendekatan antarmazhab, tidak dapat dipandang sebelah mata.
4. Dari sisi sejarah, pendirian pemerintahan Fatimiun oleh orang-orang Syiah di Mesir dan permusuhan bersejarah antara masyarakat Mesir dengan Wahabi selalu menjadi penghalang usaha musuh-musuh Islam untuk menebar perpecahan. Tidak mengherankan jika dengan alasan di atas sebagian penetapan undang-undang Mesir dilakukan berasaskan paham mazhab Syiah. Sebagai contoh, dua pasal dari hukum perdata Mesir diambil dari mazhab Syiah. Pada masa Abdul Nasir, al-Azhar menerbitkan sebuah ensiklopdi fiqih yang bernama “Fiqh-e Islam Dar Mazaheb-e Hasytgone” (fiqih Islam dalam 8 mazhab) yaitu 4 mazhab Ahli Sunnah, mazhab Syiah 12 Imam, Zaidi, Ibadhi dan Dhohiri.
 .
Suatu perkumpulan bernama Ahlul Bait dibentuk di Mesir dalam dekade ini dan terdaftar dalam daftar kementrian perkara sosial dengan nomor 1852. Kelompok ini memiliki beberapa karya yang sudah diterbitkan. Namun Ahlul Bait dihentikan oleh Anwar sadat setelah kemenangan revolusi Islam Iran. Kelompok ini juga memiliki peran penting dalam misi Taqrib. Di Mesir para sadah (keturunan nabi) dikenal sebagai “Asyraf” dan kelompok ini bertugas untuk menjaga nasab keturunan Ahlul Bait yang sudah meninggal.
 .
Ada kelompok yang bernama “Ja’afirah” yang nasab mereka sampi pada imam Ja’far as. di daerah Said, terutama di provinsi Qina dan Iswan. Mereka juga menganut faham Taqrib dan hidup bersama secara akur dengan Ahli Sunnah. Jumlah pengikut Ja’afirah di Mesir mencapai 2 juta orang.
 .
“Buhrah” adalah kelompok Syiah Ismailiah Afrika yang hijrah ke Mesir pada masa pemerintahan Anwar Sadat. Mereka menggunakan kemampuannya untuk meyakinkan menteri Wakaf Mesir agar memperbaiki masjid-masjid Syiah Fatimi –dengan kemampuan mereka– seperti masjid al-Anwar yang pada akhirnya menjadi tempat tinggal mereka. Buhrah juga memperbaiki dan membangun ulang masjid al-Husain as dan masjid Zainab as.
 .
Mazhab Sufi di Mesir yang merupakan pengikut imam Ali as juga selalu memiliki kerjasama ilmiah yang baik dengan ulama-ulama Ahli Sunnah. Mereka juga selalu berusaha keras menghadang Wahabi untuk menyebarkan perpecahan antar umat.
 .
Wujud Buhrah, Sufi, Ja’afirah dan kelompok-kelompok pengikut Ahlu Bait lain dari satu sisi, dan dari sisi lain pemikiran cerah sebagian ulama Ahli Sunnah Mesir seperti Syeikh Syaltut dan Kawakibi menyebabkan berkembangnya pemikiran Taqrib di Mesir secara pesat, meskipun usaha-usaha Wahabi yang dimulai pada masa Abdul Nasir sampai sekarang guna menjatuhkan misi ini selalu ada.
 .
Setelah kemenangan revolusi Islam di Iran dan berkibarnya bendera persatuan dari imam Khomeini ra, masyarakat Mesir menyambut persatuan ini dengan semangat dan kegembiraan yang mendalam. Akan tetapi, alat-alat propaganda Barat dan media internasional Wahabi berusaha menghapus wajah tasyayyu’ di kalangan Ahli Sunnah dengan menerbitkan buku-buku “miring”. Dengan ini, kitab-kitab yang menghina dan memojokkan Syiah dan kitab-kitab yang menyerang pemikran Ahli Sunnah dikeluarkan dari gudangnya dan disebarkan kembali. Penerbitan al-Shohwah digunakan kembali untuk menghadang pemikiran Syiah di Mesir. Penerbit ini menerbitkan lebih dari 100 buku terkait dari tahun 1983 sampai 1986. Seluruh biaya penerbitan buku-buku ini dipasok oleh Wahabi.
 .
Meskipun penyerangan ini mengecam mazhab Syiah, tap dari sisi lain menguntungkan dakwah Taqrib, karena masyarakat Mesir menjadi ingin mencari tahu perbedaan Syiah dan Ahlu Sunnah. Munculnya intelek-intelek masa itu membuat isu Taqrib semakin diangkat. Sebagai contoh, marhum Allamah Syeikh Muhammad Ghazali, seorang ulama yang diterima diseluruh kalangan masyarakat Mesir, selalu membantah perselisihan diantara umat Islam dan mendukung pemikiran Taqrib. Beliau berkata:
 .
“Kekhawatiran akan perbedaan dalam fiqih tidak perlu dikhawatirkan. Karena perbedaan Fiqih tidak dapat dipungkiri. Pelarangan taqlid pada mazhab tertentu tidak lebih dari sekedar fanatisme yang tidak berharga”. (Koran al-Zahram, 17/12/1370)
 .
Para pemimpin Ikhwanul Muslimin juga sangat mementingkan masalah pendekatan dan menganggap urgen persatuan umat Islam dalam menghadapi musuh yang bersatu pada zaman ini.
 .
Program Taqrib di Mesir terus berlangsung. Para ulama dan intelek Mesir yang dalam gerakan baru mereka berusaha menghidupkan Islam murni, mengetahui pentingnya persatuan dalam menghadapi musuh bersama. Sejarah dan kebudayaan masyarakat juga membuktikan hal ini. Jadi, dapat dikatakan jika Taqrib di Mesir dibimbing pada jalan yang benar, pada masa yang akan datang dapat menjadi sandaran kuat untuk persatuan politik dan persaudaraan dunia Islam. Jelas, perubahan positif apapun dalam hubungan antara Iran dan Mesir akan memperkuat posisi para pendukung Taqrib di kedua negara.
 .
Sumber
1.Khaterat-e Zendegani-e Hadzrat-e Ayatullah Al-Udzma Aghay-e Boroujerdi, Muhammad husein Tabataba’i.
2.Majalah Taqrib j 1,2 dan 3, bagian konferensi persatuan Islam.
Catatan kaki:
1)Akan tetapi tidak ada catatan mengenai penerimaan hal ini oleh Al-Azhar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s