Din Syamsudin, Umar Syihab, Syafii Maarif dan Said Aqil Siraj: Syiah tidak sesat

Nahdlatul Ulama (NU) 100% Menolak Aliran Salafy Wahabi Teroris

Abu Jibril yang jelas jelas pro teroris wahabi menyatakan bahwa Kita harus sudah mulai mensosialisasikan kembali kesesatan Syiah di Masyarakat

Wakil Amir Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Abu Jibril Abdurrahman

Abu Jibril menekankan agar para ulama, da’i, aktivis dakwah dan pemuda-pemuda Islam bersatu dan mewaspadai Syiah. Terlebih saat ini banyak orang tertipu oleh gemerlap Iran dan Hizbullah yang terus berpura-pura membela umat Islam.

“Padahal dibalik itu mereka (Syiah) memiliki agenda untuk menyesatkan umat dengan ajaran mereka,” jelas Abu Jibril lagi.

Dalam forum ini, Abu Jibril juga meminta agar FPS membuka Media Center (Pusat Informasi) mengenai kondisi Suriah. Di sisi lain ia juga berharap Media Center tersebut bisa menjadi pusat konsolidasi gerakan anti Syiah di Indonesia.

“Dari situ umat Islam bisa mendapatkan informasi mengenai fakta kesesatan Syiah,” tambahnya lagi.

Terorisme Tumbuh Subur di Tengah Ta’lim Salafi Wahabi

buku para teroris

Teroris Jaringan M. Thoriq

Said Aqil Siraj Tuduh Pesantren Salafi Ajarkan Benih-Benih Terorisme

Kesantunan dan kelembutan yang senantiasa melekat pada kyai NU nampaknya terdapat pada diri Kang Said. Ketua umum PBNU ini sering melontarkan kata-kata mulia dan bahkan menuai dukungan  dari internal NU sendiri terkait wahabi setan dari nejed

Terkait  terorisme, kyai lulusan universitas Ummul Quro Makkah  ini seolah menjadi garda terdepan dalam rujukan. Syukurnya apa yang dia paparkan berupa data dan fakta sangat dekat dengan kebenaran

Dilansir merdeka.com, Jumat (28/09) dalam rubrik khas wawancara dengan Said Aqil Siraj dengan tema “Ajaran Wahabi Mendorong Orang Menjadi Teroris” ketua umum PBNU itu menyebut ada kaitan antara ajaran Wahabi dengan jaringan terorisme. Sebab, ajaran ini menyebutkan ziarah kubur, tahlilan, haul, dan istighosah itu musyrik dan bid’ah.

Ditengah-tengah wawancara, Said mengatakan bahwa ajaran Wahabi bisa dan dapat mendorong anak-anak muda menjadi teroris. Karena mereka megatakan tahlilan musyrik, haul dan istighosah bidah, musyrik, dan ini-itu musyrik. Kemudian dia memberikan contoh salah satu pesantren ditanah kelahirannya yang dituduh beraliran Wahabi. “Contoh, di pesantren Assunnah, Kalisari Jonggrang, Cirebon Kota. Pemimpinnya Salim Bajri, sampai sekarang masih ada, punya santri namanya Syarifudin mengebom masjid Polresta Cirebon, punya santri namanya Ahmad Yusuf dari Losari, mengebom gereja kota di Solo. Ajarannya sih tidak pernah memerintahkan mengebom, tapi bisa mengakibatkan,” ujar Said.

Selain menyebutkan pesantren Assunnah Cirebon sebagai radikal dan menanamkan benih-benih terorisme, Said Aqil juga menyebut ada 12 yayasan dan lembaga yang menurut persangkaannya adalah beraliran wahabi dan menanamkan benih-benih teroris seperti Ash-Shofwah, An-Nida dan Al-Fitrah.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur mendesak Gubernur Jawa Timur Soekarwo mengeluarkan SK Gubernur pelarangan ajaran Syiah.”Kalau gubernur berkenan, MUI usulkan agar ajaran Syiah juga dilarang seperti Ahmadiyah di Jatim,” kata Ketua MUI Jatim KH Abdusshomad Buchori kepada wartawan, Selasa (23/10)

Menurut Abdusshomad, Pergub 55/2012 masih mengatur larangan ajaran sesat secara umum. “Pergub itu mengatur secara umum, belum ada kalimat yang langsung menyebut Syiah,” jelasnya.

Kata Abdusshomad, ajaran Syiah mencaci maki sahabat Rasulullah. “Syiah itu kan ajarannya mencaci maki sahabat Rasulullah. Islam di Indonesia mengakui Khulafaur Rasyidin, yakni Abu Bakar, Umar bin Khatab, Usman bin Affan dan Ali bin Abi Tholib,” tuturnya.

Pernyataan beliau ini ditunggangi kepentingan dana wahabi global yang ingin memasukkan paham teroris ke indonesia

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siraj menyatakan bahwa ajaran Salafi Wahabi tidak cocok dengan tradisi dan budaya Islam di Indonesia. Sebab aliran ini mengajarkan kekerasan dan intoleransi.

Hal ini disampaikan Said AqAqilil dalam acara bedah buku Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi: Mereka Membunuh Semuanya, Termasuk Para Ulama yang digelar GP Ansor di Kampus Politeknik Batam, Minggu (5/2). “Wahabi mengajarkan ektrimisme dan kekerasan. Ajaran ini selangkah menuju terorisme,” kata Aqil.

Menurutnya, Islam merupakan agama yang terintegrasi dengan tradisi dan budaya santun dan cinta damai. Sehingga Islam tidak pernah mengajarkan kekerasan, apalagi mengajarkan jalan jihad melalui aksi terorisme.

Dia mengisahkan, dalam sejarah Nabi Muhammad SAW tidak pernah ada perintah menghancurkan berhala. Bahkan Nabi sering sedih ketika mendengar kabar kaum agama lain mengalami kekalahan dalam perang. Atau ketika umat Yahudi mengatakan Yesus merupakan anak haram. “Sehingga kalau saat ini ada kelompok-kelompok yang menggunakan cara-cara kekerasan berarti mereka tidak sedang menjalankan ajaran Islam,” katanya.

Nahdlatul Ulama (NU) 100% Menolak Aliran Salafy Wahabi Teroris

Aqil memang tidak mengatakan aliran Wahabi sesat. Namun dia mengecam sikap aliran Wahabi yang mengharamkan tahlilan dan amalan-amalan dengan bertawasul kepada Nabi Muhammad.

“Silahkan berwahabi, silahkan melarang tahlilan. Tapi jangan di Batam atau di Indonesia. Silahkan pergi ke Afganistan, Pakistan dan negara lainnya,” kata Aqil.

Meski begitu Aqil menilai aliran Wahabi cukup berbahaya dan mengancam kelangsungan hidup Islam. Sebab aliran ini banyak menjalakan amalan-amalan yang justru tidak sejalan dengan ajaran Islam.

“Kalau Islam tetap toleran, maka Islam akan hidup selamanya. Tapi kalau mengedepankan ajaran-ajaran yang ekstrim dan kekerasan, sebentar lagi Islam bisa bubar,” katanya.

Sebelumnya, buku “Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi: Mereka Membunuh Semuanya” mendapat kritik dari berbagai kalangan. Buku karangan Syaikh Idahram ini dituding membela Syi”ah

Teroris Merajalela karena ta’lim salafi wahabi !! Koalisi N.U – Syi’ah diperlukan

Rekrutmen teroris di kalangan masyarakat mulai dari kelas bawah hingga sarjana dan kamerawan semakin merajalela . Fungsi Kementerian Agama terutama dalam melakukan pembinaan masyarakat mendapat kritikan dan dipertanyakan.

“Seharusnya Kementerian Agama melakukan pembinaan. Memberi pembinaan, penyadaran soal agama yang benar. Hal ini diperlukan agar tidak ada orang yang menyebarkan ajaran teroris,” ujar sosiolog Musni Umar, Senin (25/4/2011).

Musni menjelaskan, Kemenag bisa menggandeng ormas-ormas keagamaan, Kementerian Pendidikan Nasional dan unsur-unsur masyarakat untuk pembinaan agama. Sebab tugas Kemenag tidak hanya mengurusi regulasi atau haji saja.

“Saat ini kan PNS dari Kemenag juga pulang kerja, pulang saja. Tidak ada keinginan untuk melakukan pembinaan pada masyarakat,” kata pengajar UIN Syarif Hidayatullah ini.

Musni menerangkan dalam pembinaan, pemerintah tidak bisa hanya melimpahkan tanggung jawab ini kepada ormas. “Dananya ormas kan terbatas. Kalau Kemenag itu dibiayai pemerintah. PNSnya juga digaji,” imbuhnya.

Musni melihat rekrutmen teroris makin luas. Kalau dulu rata-rata hanya lulusan pesantren, kini meluas hingga kampus dan sarjana. Hal ini yang perlu dicegah

.
Terorisme wahabi  telah merobek dan melukai hati seluruh rakyat yang tengah membangun dan berjuang mewujudkan masyarakat yang aman, berkeadilan, dan sejahtera. Terorisme telah merobek rasa aman dan damai yang dibangun dengan susah payah

.
Gambaran psikologis pelaku berserta latar belakang sosial, pendidikan, ekonomi dan budaya membantu kita untuk mengarsir sketsa wajah pelaku. Studi-studi terkini yang menitikberatkan latar belakang pelaku teror di berbagai negara justru menunjukkan bahwa asal pelaku jaringan teroris dari ekonomi bawah dan pendidikan rendah lebih merupakan stereotipe daripada realitas

.

Stereotipe terhadap pelaku ini cenderung berulang dengan akibat penyempitan pandangan terhadap pelaku dan salah arah dalam kebijakan publik. Kehati-hatian hendaknya terjaga terutama saat dalam kasus teror bom kita kebetulan mendapati pelaku memeluk agama Islam dalam kartu tanda penduduknya. Sampai sejauh ini aparat keamanan mensinyalir keterlibatan pelaku dari luar negara Indonesia dalam aksi teror bom.

Informasi ini membantu kita untuk menyadari teror born barangkali memiliki target politik yang melampaui ruang lingkup nasional. Aksi teror mereka boleh jadi berkaitan dengan aksi-aksi teror serupa di wilayah geografi lain dengan agenda menggoncang panggung politik global.

mulai dengan mendengarkan tuturan penderitaan korban teror bom. la mempertanyakan pelabelan politik religius Islam dengan teroris dan Barat dengan kekafiran. Pendefinisian terorisme, teroris, dan korban teroris kemudian membutuhkan kehatian-kehatian agar terhindar dari perangkap pelabelan politik-religius yang dipasang penciptanya. Pendefinisian terorisme, dan pemilahan antara korban dan pelaku teroris berlangsung dengan membedah paham kebertuhanan subyek-subyek yang terlibat dalam wacana. Penderitaan korban dan goncangan ketakutan yang melampaui batas negara yang menjadi lokasi bom menyingkap politik teror pelaku

.

Di mata sosiolog, terorisme tumbuh subur ditengah kemiskinan yang kian merajalela. Peran pemerintah menjamin kesejahteraan dan keadilan bagi rakyat perlu ditingkatkan.

“Akar persoalannya adalah kemiskinan menjadi sumber masalah yang terbesar. Kesenjangan yang makin mencolok perlu diperketat agar kaum kelas bawah tidak terpuruk. Kalangan bawah yang makin terpuruk mudah disisipi ideologi dan gampang diprovokasi,” ujar sosiolog Universitas Sriwijaya, Alfitri, kepada wartawan di Warung Daun Cikini, Jakarta, Sabtu (16/4/2011).

Selain, itu menurut Alfitri, kekecewaan masyarakat kepada institusi penegak hukum juga makin nyata. Ia menduga bom bunuh diri yang dilakukan di Mapolresta Cirebon bermaksud menunjukkan kekecewaan mereka.

“Kekecewaan yang semula diarahkan ke institusi negara saat ini bergeser diarahkan ke institusi formal kepolisian juga penegak hukum yang  dianggap melakukan rekayasa dan keadilan,” ujarnya.

Karena itu, penting sekali peran pemerintah dalam pemberantasan terorisme secara persuasif. Dengan menjamin kesejahteraan rakyat dan menjamin keadilan bagi rakyat, pemerintah telah menutup simpul jaringan teroris berikutnya.

“Artinya adalah refleksi publik yang luar biasa dimana keadilan masyarakat sangat jauh. Tidak ada upaya lain selain melakukan tindakan radikal. Harus diperhatikan akar masyarakat orang mengambil cara radikal. Harus dibenahi posisi keadilan bagi masyarakat harus dikedepankan,” tuturnya.

Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) dan Dewan Pimpinan Pusat Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) sepakat bekerjasama dalam program deradikalisasi. Hal itu diwujudkan dengan dengan penandatangan memorandum of understanding (MoU) di halaman masjid al Wali Jl Fatmawati, Ketileng, Semarang Timur.”Sekuat apapun pemerintah tetap butuh civil soceity. Kami (NU) siap bekerja sama dengan siapapun, TNI, POLRI ataupun ormas lainnya,” kata ketua umum PBNU Said Agil Sirodj usai penandatangan MoU, Minggu (14/10/2012).

Selain deradikalisasi, kerjasama juga meliputi Pendidikan, Lingkungan Hidup, Penanggulangan Bencana, Kedaulatan Pangan, Menjaga tegaknya NKRI. Bagi Said Agil, NU dan LDII memiliki kesepahaman terkait islam radikal. Menurutnya, gerakan radikal bukan budaya Indonesia.

Ia menyebut bahwa sejarah Islam Nusantara yang dibawa wali songo mengajarkan islam melalui jalan damai yaitu seni ataupun budaya. Islam radikal yang beredar di Indonesia menurutnya paham impor.

Ketua DPP LDII Abdullah Syam menuturkan pentingnya sinergitas antar organisasi masyarakat (ormas). Dengan adanya mou ini, pihaknya berjanji akan belajar banyak dari ormas NU yang memang sudah lebih dulu lahir.

“Nanti mungkin perlu forum untuk organisasi besar semisal NU, Muhammadiyah dan kami, untuk kerjasama ke depan,” ucapnya.

http://syiahali.wordpress.com  dibuat oleh Ustad Husain Ardilla demi membela N.U dan rakyat Malaysia dari serangan wahabi


salafi wahabi pecah dua :
a. Salafi dakwah,
ciri cirinya : menganggap NU sebagai ahlul bid’ah sehingga mereka berupaya menghancurkan N.U. Celakanya kini muncul alumni salafi yamani yang membanjiri Indonesia yang doyan membid’ah bid’ah kan N.U
.
b. Salafi jihadi
ciri ciri : gemar ngebom, teroris. Juga kelompok Ustadz Abu Bakar Ba’asir yg sangat mengesankan mengakomodasi tindak kekerasan ketika dulu  berkomentar bahwa (1) teror bom tsb dilakukan oleh Amerika/ musuh Islam dan (2) bila dilakukan oleh orang Indonesia itu adalah peringatan kepada pemerintah karena tidak mau menerapkan hukum Islam. Pernyataan terakhir Ba’asir inilah yg menurut saya perlu dicermati, apa maksudnya Ba’asir bicara seperti itu yach???

Bahasa Indonesia: M. Quraish Shihab dalam reka...Prof. M. Quraish Shihab; salah seorang penganjur persatuan

.

Amien Rais, the initiator of "Axis Force&...Amien Rais dan Gus Dur pro syi’ah

.

Habib Zein: Said Aqil Lebih Jelek dan Lebih Berbahaya daripada Syi’ah

Bela sekte Syi’ah sebagai aliran tak sesat, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj dituding ulama wahabi sebagai makhluk yang lebih jelek dan lebih berbahaya daripada Syi’ah.

Hal itu diungkapkan Ketua bidang Organisasi Albayyinat, Habib Achmad Zein Alkaf, menanggapi pernyataan Said Aqil bahwa Syi’ah bukan aliran sesat.

“Bagi kami Albayyinat kalau ada seorang yang mengaku Sunni tapi dia justru membela Syi’ah, maka bagi kami dia lebih jelek dan lebih berbahaya dari pada Syi’ah,” tegas Habib yang juga A’wan   Syuriyah   Pimpinan Wilayah NU (PWNU)  Jatim itu.

Membantah Habib Zein yang melaknat Said Aqil Lebih Jelek dan Lebih Berbahaya daripada Syi’ah

Pemahaman dangkal terhadap agama seringkali berakibat pada pembenaran atas paham yang dimiliki dan menganggap yang lainnya salah atau bahkan sesat. Ya si habib tua termasuk orang yang botol (bodoh dan tolol)

saat ini banyak tokoh membela wahabi  demi mendapat gelontoran dana dari Saudi. Para tokoh itu mati-matian membela wahabi dari fatwa sesat, karena fatwa sesat ini bisa mengentikan dana upeti dari Saudi.

Bagi orang-orang yang sudah  dibeli oleh wahabi, ‘Fatwa wahabi sesat’ tersebut akan merugikan pribadinya yang biasa menerima upeti dari wahabi .  Apabila wahabi sampai dilarang di Indonesia, maka gelontoran dana dari Saudi akan berhenti. Itulah sebabnya mereka mati matian membela wahabi

Di Indonesia, wajar saja banyak kalangan atau kelompok yang menolak syiah dan menganggapnya sesat sebab, yang mereka baca, dengar dan ketahui sejak kecil hanyalah sunni dan cenderung lebih sempit lagi yakni; NU dan Muhammadiyah.

Ini biasanya didapati di kampung-kampung yang memang pengetahuannya terbatas hanya mendengar ceramah ustadz yang juga pengetahuannya terbatas. Namun masyarakat seperti ini biasanya tidak begitu ekstrem tetapi mudah disulut atau diprovokasi atasnama keyakinan.

Nabi Muhammad SAW, telah wafat kurang-lebih 1500 tahun tahun yang lalu, itu artinya tiadak ada diantara kita yang hidup pada zaman beliau, melainkan kita hanya menerima alqur’an, hadits dan riwayat-riwayat tentang beliau. Hadits dan riwayat sunni tentu bersumber dari berbagai narasumber yang terjadi dari zaman ke zaman yang terbukti bisa dipalsukan. Lalu dengan alasan apa kita begitu mudah men-sesat-kan golongan lain dan dengan dasar apa kit mengklaim diri sebagai golongan yang benar?…

Sunni  Syi’ah   yang ada dalam islam, sepanjang mengakui Muhammad sebagai Nabi dan Rasul ALLAH untuk Islam maka, itu adalah islam dan seharusnya kita punya rasa malu utuk menyebutnya sebagai kafir atu sesat sebab, jangan-jangan kitalah yang sesat.

Perbedaan adalah rahmat, ciptaan Tuhan dan suatu keniscayaan. bahkan yang bukan Islampun wajib kita menghargai sebab kita sama-sama ciptaan Tuhan, soal agama dan tata cara menyembah adalah urusan masing-masing dan Tuhan yang akan menilai sebab, bukan kita pemilik Sorga atau Neraka melainkan Dia. Jadi jika mau berbuat sesuatu sebaiknya kita selalu mengingat Tuhan agar kita tidak malu sendiri, ingat Tuhan tidak perlu diperlu dibela karena kita terlalu sombong bila mau membelaNYA dan sebagai hamba kita hanya berkewajina untuk menyembah, itu saja.

Jadi, biarkan syi’ah hidup tenang tenang dan tentram di Indonesia sebab penganutnya juga adalah warga negara Indonesia dan Indonesia bukan milik orang-orang yang berpaham sunni saja.

Sang Pencinta Ahlul Baitfitnah wahabi

Din Syamsudin dan Said Aqil Siraj: Syiah tidak sesat

 .

Tak seperti Ahmadiyah yang semua ulama hampir menyepakati bahwa ajaran ini sesat dan bukan islam, Syiah justru banyak Ulama yang berpendapat bahwa Syiah tidak sesat. Berikut petikan pendapat beberapa tokoh Islam, diantaranya adalah ketua dua ormas Islam terbesar di Indonesia (NU dan Muhammadiyah) Serta Ketua MUI tentang Syiah dan alasan kenapa ajaran tersebut bukan aliran sesat. (data dari Voa-Islam)
  .
Umar Syihab (Ketua MUI)
.
Menurut Umar Syihab, ia  tak sependapat dengan MUI Jawa Timur yang menyebut aliran Syiah sesat. Umar menegaskan bahwa MUI tidak pernah mengeluarkan fatwa bahwa ajaran Syiah sebagai aliran sesat

.
Mengenai insiden pembakaran pesantren Syiah di Sampang, Madura beberapa waktu lalu, Umar berpendapat insiden hanyalah ditumpangi pihak-pihak yang ingin mengadu domba umat Islam dengan kedok ajaran Syiah yang dituding sesat

.
Kata Umar, MUI tidak pernah menyatakan, bahwa Syiah itu sesat. Syiah dianggap salah satu mazhab yang benar, sama halnya dengan ahli sunnah wal jama’ah. Kendati pun ada perbedaan pandangan, kata dia, Islam tidak pernah menghalalkan kekerasan, apalagi perusakan tempat ibadah dan majelis taklim seperti terjadi di Sampang

.
Ajaran Syiah, kata Umar, sudah diakui di dunia islam sebagai mazhab yang benar sampai saat ini. “Karena itu jangan kita membuat peryataan yang bisa mengeluapkan gejolak di tengah-tengah masyarakat kita dan bisa menyebabkan korban.”
.
Said Aqil Siraj
.
Menurut Ketua Umum PBNU Said Aqil Siraj, ada desain besar di balik aksi pembakaran pesantren penganut Syiah di Sampang,Madura. Tak mungkin peristiwa tersebut terjadi tanpa ada yang membuatnya. Padahal kerukunan hidup beragama di sana sebelumnya baik-baik saja

.
Said meminta pemerintah dan aparat keamanan bekerja lebih keras, mencegah aksi serupa terulang di kemudian hari. “Ini pasti ada big design-nya. Ada pihak-pihak yang ingin merusak suasana damai di Indonesia,” kata Said

.
Menurut Said Aqil, Sunni dan Syiah hanya dijadikan alat seolah-olah memang ada permusuhan. Padahal tidak, mereka dari dulu sampai sekarang hidup damai berdampingan. Ketua Umum PBNU itu meminta semua pihak bisa menahan diri dengan tidak melakukan tindakan-tindakan anarkis. “Pihak ketiga itu selalu melancarkan provokasi supaya konflik terus terjadi. Dan bukan tidak mungkin kasus serupa akan terjadi di kemudian hari,” katanya

.
Prof Dr Said Agil Siraj mengungkapkan, di sejumlah negara Islam maupun Timur Tengah yang hidup faham Suni dan Syiah, dapat hidup rukun dan berdampingan. ”Bahkan Mufti Syria Badruddin Hassun yang berasal dari Suni, fatwa-fatwanya sangat didengar oleh kelompok Syiah,” jelas Kiai Siraj seraya menambahkan kondisi serupa terjadi di Saudi Arabia, Pakistan, maupun Libanon

.
Bahkan di Libanon Selatan, lanjut Said, Hizbullah dari kelompok Syiah didukung juga oleh kelompok Suni. Dikatakan Said, sepanjang sejarah, perbedaan yang terjadi antara Suni dan Syiah sebenarnya, terkait soal kekuasaan atau lazim disebut imamah. Karena itu, kelompok Syiah memasukkan masalah imamah ke dalam rukun agama dan sejak dini anak-anak mereka diajarkan pengetahuan tentang imamah. “Dalam perkembangan Islam, kedua kelompok Suni dan Syiah sama-sama memberikan andil dan peran yang sangat besar dalam peradaban Islam,” tegas kyai Siraj

.
Said menyebut sejumlah tokoh Syiah yang memberikan andil besar bagi kemajuan Islam. Sebut saja misalnya Ibnu Sina, seorang filsuf yang juga dikenal sebagai seorang dokter, Jabir bin Hayyan yang dikenal sebagai penemu ilmu hitung atau aljabbar, dan seorang sufi Abu Yazid al Busthami. Mereka yang beraliran Syiah ini telah menyumbangkan ilmunya bagi kemajuan Islam. “Jadi, kedua kelompok ini adalah aset yang sangat berharga bagi umat Islam.”

.

Syafii Maarif

Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif mengutuk keras aksi pembakaran terhadap pondok pesantren Syiah di Kecamatan Karang Penang, Sampang. Terlebih jika aksi pembakaran tersebut dilatarbelakangi oleh perbedaan pandangan keagamaan.
Menurutnya, kebenaran bukanlah milik individu apalagi kelompok. Syafii mengatakan, Syiah telah diakui sebagai mazhab kelima dalam Islam. Dia pun menyatakan bahwa setiap orang, sekalipun atheis berhak hidup. Terpenting, katanya, bisa hidup rukun dan toleran.
.
Din Syamsudin

Pada Konferensi Persatuan Islam Sedunia yang berlangsung 4-6 Mei 2008 di Teheran, Iran, Din Syamsuddin pernah mengatakan, bahwa Sunni dan Syi’ah ada perbedaan, tapi hanya pada wilayah cabang (furu’yat), tidak pada wilayah dasar agama (akidah). Menurut Din, Sunni dan Syi’ah berpegang pada akidah Islamiyah yang sama, walau ada perbedaan derajat penghormatan terhadap sahabat sekaligus menantu Nabi Muhammad, yakni Ali bin Abi Thalib.

.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah ini juga mengatakan, sewajarnya jika dua kekuatan besar Islam ini (Sunni dan Syi’ah) bersatu melawan dua musuh utama umat saat ini yaitu kemiskinan dan keterbelakangan. (Detikcom 5 Mei 2008)

.
Dikatakan Din, seandainya tidak dicapai titik temu, maka perlu dikembangkan tasamuh atau toleransi. Seluruh elemen umat Islam dalam kemajemukannya perlu menemukan “kalimat sama” (kalimatun sawa) dalam merealisasikan misi kekhalifahan di muka bumi.
.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin menegaskan bahwa persatuan umat Islam khususnya antara kaum Sunni dan kaum Syiah, adalah mutlak perlu sebagai prasyarat kejayaan Islam. Kejayaan umat Islam pada abad-abad pertengahan juga didukung persatuan dan peran serta kedua kelompok umat Islam tersebut

 .

Syeikh Mahmud Syaltut, Penggagas Ide Pendekatan antar Mazhab

Syeikh Mahmud Syaltut adalah seorang ulama, ahli tafsir dan mufti di Kairo. Beliau juga dikenal sebagai penyeru persatuan umat islam. Sebelum dikenal sebagai pemikir dan teolog besar, beliau sudah dikenal sebagai seorang fakih dan pelopor pendekatan antar mazhab Islam.

Beliau telah melakukan langkah-langkah dasar dalam pembenahan pandangan Islam dan pendekatan antar mazhab dengan ide-idenya yang maju. Jasa-jasa beliau dalam hal ini sangatlah besar dan mendasar. Dalam salah satu fatwanya yang paling bersejarah, beliau sebagai ulama besar Ahli Sunah dan mufti al-Azhar mengumumkan diperbolehkannya mengikuti mazhab Syiah.

Syeikh Mahmud Syaltut lahir pada tahun 1310 H di Buhairah, Mesir. Setelah menyelesaikan pendidikannya di universitas Iskandariah Mesir, beliau mengajar di universitas tersebut lalu pindah ke universitas Al-Azhar. Di sana beliau terus berkembang dan maju hingga pada akhirnya pada tahun 1378 H menjadi mufti umum al-Azhar. Beliau terus mengemban tanggung-jawab ini hingga wafat pada tahun 1383 H.

Syeikh Syaltut seorang fakih yang bijak dan tidak fanatik. Beliau telah melakukan usaha-usaha yang sangat berpengaruh dalam upaya pendekatan mazhab-mazhab Islam. Para ulama dan pembesar Ahli sunah dan Syiah juga mendampingi beliau dalam mewujudkan hal ini.
Beliau sempat surat-menyurat dan berdialog dengan tokoh-tokoh besar (Syiah) seperti Muhammad Husein Kasyiful Ghita, sayid Abdul Husein Syarafuddin Amili, dan ayatullah sayyid Husein Borujerdi. Beliau juga telah melakukan banyak hal dalam usaha pendekatan antar mazhab, antara lain:

1. Menyebarkan pemikiran pendekatan antar mazhab Islam untuk menghilangkan pertikaian dan mendirikan yayasan pendekatan antar mazhab Islam di Kairo yang bernama “Dar al-Taqrib wa Nasyri Majallah Risalah al-Islam”.
2. Mengumpulkan dan mengoreksi validitas hadis-hadis yang sama antara Ahli Sunah dan Syiah, yang berhubungan dengan pendekatan antarmazhab.
3. Memasukkan fikih Syiah dalam mata pelajaran fikih Islam komperatif untuk mahasiswa universitas al-Azhar.
4. Yang terpenting adalah fatwa beliau yang telah membenarkan mazhab Syiah sebagai salah satu mazhab yang sah dan boleh diikuti. Padahal, sampai saat itu belum ada ulama besar dari Ahli Sunah maupun mufti al-Azhar yang pernah memberikan fatwa seperti itu.

Dengan fatwa ini beliau telah menunjukkan kebesarannya dan memperkecil jarak antar mazhab. Karena pentingnya fatwa bersejarah Syeikh Syaltut tentang pembenaran mazhab syiah ini, kami akan membawakan teks fatwa tersebut:

Seseorang telah bertanya, “Sebagian masyarakat berpendapat bahwa setiap muslim harus mengikuti salah satu fikih dari empat mazhab agar amal ibadah dan muamalahnya sah. Sedangakan Syiah Imamiyah dan Syiah Zaidiyah tidak termasuk dalam empat mazhab tersebut. Apakah anda sepakat dengan pendapat ini dan mengharamkan mengikuti mazhab Syiah Itsna Asyariyah (Dua Belas Imam atau Imamiah)?

Syeikh Syaltut menjawab,
1) Agama islam tidak memerintahkan umatnya untuk mengikuti mazhab tertentu. Setiap muslim boleh mengikuti mazhab apapun yang benar riwayatnya dan mempunyai kitab fikih khusus. Setiap muslim yang mengikuti mazhab tertentu dapat merujuk ke mazhab lain (mazhab apapun) dan tidak ada masalah.
2) Mazhab Ja’fari yang dikenal sebagai mazhab Syiah Dua Belas Imam adalah mazhab yang secara syariat boleh diikuti seperti mazhab-mazhab Ahli Sunah lainnya.

Oleh karena itu, sudah sepantasnya umat Islam memahami hal ini dan meninggalkan fanatisme buta terhadap mazhabnya, karena agama dan syariat Allah tidak mengikuti mazhab tertentu dan tidak pula terpaku pada mazhab tertentu, akan tetapi semua pemimpin mazhab adalah mujtahid dan ijtihad mereka sah di mata Allah Swt. Setiap muslim yang bukan mujtahid dapat merujuk kepada mazhab yang mereka pilih. Ia boleh mengikuti hukum-hukum fikih dari mazhab yang dipilih itu dan dalam hal ini tidak ada perbedaan antara ibadah dan muamalah.

Dar Al-Taqrib
Syekh Syaltut adalah seorang tokoh besar dan pendiri “Dar al-Taqrib bayna al-Madzahib al-Islamiyah” Mesir. Lembaga ini adalah sebuah institusi yang berusaha mewujudkan pendekatan dan persaudaraan serta menghilangkan perpecahan dan perselisihan yang ada antara Ahli Sunah dan Syiah. Yayasan ini juga memiliki misi memperkuat hubungan antara mazhab-mazhab islam; sebuah pusat pergerakan yang pada akhirnya menjadi dasar pikiran berdirinya “Majma-e Jahani-e Taghrib-e Mazaheb-e Islami” (Forum Internasional Pendekatan Mazhab-mazhab Islam) di Iran.

Pimpinan Universitas Al-Azhar
Beliau menjadi wakil rektor universitas tersebut pada tahun 1957 M. Pada bulan Oktober tahun 1958 beliau diangkat menjadi rektor universitas oleh presiden. Beliau mengemban tanggung-jawab ini hingga akhir hayatnya. Pemimpin besar dan cendekiawan ini wafat pada umurnya yang ke 70 di malam Jumat tanggal 26 Rajab tahun 1383 H., yang bertepatan dengan tanggal 12 September 1963 M.

Hasil karya beliau yang populer antara lain:
Tafsir Al-Quran Al-Karim
Nahju Al-Quran fi Bina Al-mujtama
Al-Islam, Al-Aqidah wa Al-Syariah
Al-Fatawa
Al-Qital fi Al-Islam
Min Tawjihat Al-Islam
Muqaronah Al-Madzahib fi Al-Fiqh
Fiqh Al-Quran

………………………………..
Gerakan Pendekatan Mazhab Islam sangat efektif dalam mendekatkan pemikiran-pemikiran setiap mazhab dan menciptakan unsur kebersamaan di dalamnya. Tak diragukan lagi bahwa gerakan tersebut juga dapat menyingkirkan sikap saling mengkafirkan pada diri setiap Muslim terhadap sesama saudaranya.
 .
Gerakan Pendekatan Mazhab-Mazhab Islam di Mesir merupakan sebuah gerakan budaya yang menunjukkan sejauhmana tingkat keberagaman, intelektual, akidah, sejarah dan fikih umat Islam. Tentu saja usaha tersebut menemui berbagai rintangan sosial-politik dan tipu daya musuh-musuh Islam.
 .
Gerakan Pendekatan Mazhab Islam sangat efektif dalam mendekatkan pemikiran-pemikiran setiap mazhab dan menciptakan unsur kebersamaan di dalamnya. Tak diragukan lagi bahwa gerakan tersebut juga dapat menyingkirkan sikap saling mengkafirkan pada diri setiap Muslim terhadap sesama saudaranya. Tentu saja usaha tersebut menemui berbagai rintangan sosial-politik dan tipu daya musuh-musuh Islam.
 .
Adalah sangat disayangkan bahwa siasat musuh dalam menciptakan perpecahan dan perselisihan antara Muslimin yang tujuannya adalah terwujudnya instabilitas politik dan kerusuhan tampak berjalan dengan lancar. Tipu muslihat ini terfokus pada usaha untuk mengungkit kembali permasalahan-permasalah sejarah yang sensitif, sehingga umat Islam yang seharusnya bekerja sama menghadapi masalah-masalah besar yang sedang menimpa mereka di masa ini, justru saling berkelahi seputar sejarah dan masa lalu.
 .
Permasalahan ini begitu dahsyatnya sampai-sampai satu sama lain dengan mudah membubuhkan stempel “kafir”, padahal perbedaan mereka hanya berkisar pada furu’uddin (cabang-cabang agama). Mereka beranggapan bahwa perbedaan dalam furu’ berkaitan dengan ikhtilaf dalam ushul (prinsip-prinsip agama). Akhirnya, mereka mengeluarkan fatwa kafirnya pengikut mazhab lain dan orang-orang yang tidak sepaham atau berbeda ijtihad dengan mereka. Sebagian dari mufti-mufti (para pemberi fatwa) ini berkeyakinan bahwa orang-orang kafir non-Muslim jauh lebih baik daripada orang-orang Islam yang berbeda pemikiran dengan mereka. Mereka bersikap seperti orang-orang Yahudi Madinah yang menilai kaum Muslimin dengan berkata kepada kaum musyrik: “Kalian lebih mendapatkan hidayah daripada umat Muhammad.”
 .
Semenjak gagalnya gerakan pendekatan ini kondisi Muslimin semakin memburuk. Mereka tidak saling dekat, bahkan hubungan antara satu mazhab dan mazhab yang lain bagaikan hubungan satu agama dan agama lainnya dimana di antara keduanya terletak jurang pemisah yang dalam. Hingga saat ini musuh-musuh Islam sedang melancarkan aksinya untuk menciptakan jurang-jurang pemisah antara umat Islam, bahkan antara penganut satu mazhab sekalipun.
 .
Umat Islam dewasa ini masih juga menyandang predikat obyek penderita/lemah, baik yang di barat maupun di timur, di selatan maupun di utara. Dengan mata telanjang kita dapat menyaksikan pemandangan pahit ini. Umat Islam yang dulunya adalah umat yang paling besar dan berwibawa daripada umat-umat lainnya, kini sedang mengalami kondisi yang tidak sepatutnya dialami.
 .
Mengapa keterpurukan ini begitu mengakar pada diri kita sehingga kita menjadi umat yang lemah, khususnya di hadapan negara-negara adidaya? Mengapa kita tidak saling memahami kondisi internal kita yang runtuh dan berpecah belah? Dan yang lebih utama dari itu semua adalah, mengapa kita tidak bangkit untuk mencari titik keterpurukan—yang membuat kita lemah dan dilemahkan—ini sehingga kita dapat mengatasinya? Memang benar yang melemahkan kita adalah negara-negara adidaya; namun siapa yang membuat diri kita lemah di hadapan mereka?
 .
Masalah berikutnya, apakah diri kita siap untuk mengakui kebenaran segala yang benar, sehingga dengan demikian kita dapat menujukkan keseriusan dalam berusaha keluar dari jeratan malapetaka ini?
 .
Pertanyaan yang lain adalah, rencana dan program apa saja yang harus kita jalankan untuk menyelesaikan masalah ini? Apa yang harus kita lakukan untuk melanjutkan gerakan pendekatan antar-mazhab ini?
 .
Kita harus bersikap transparan dan terus terang. Pertama-tama kita harus membangun kembali jembatan kepercayaan antara satu dan yang lain. Sepanjang sejarah jembatan itu telah dirobohkan berkali-kali oleh para tiran yang memegang tampuk kekuasaan. Para penguasa hanya memiliki hubungan yang baik dengan mazhab- yang mereka akui dan yang menguntungkan mereka. Seharusnya mereka membiarkan penganut mazhab lain berkeyakinan sesuai dengan pemikiran mereka. Tidak seharusnya mereka mengkafirkan, menyebut zindiq (munafik) dan memusuhi penganut mazhab lain. Budaya pengkafiran yang diciptakan penguasa ini mempengaruhi kebanyakan orang dan membuat mereka terbiasa dengannya, meskipun tanpa tahu-menahu asal usul dan sebabnya. Konsekuensi dari tradisi buruk ini adalah para penganut mazhab yang tak dianggap resmi memilih untuk lari dan hidup menyendiri serta jauh dari interaksi sosial yang sehat. Mereka melakukan praktek taqiyah (menutupi keyakinan yang sebenarnya) dan berada dalam ketakutan.
 .
Para penjajah datang ke tanah air kita pada abad ke-20, sedangkan kita masih dalam keadaan lalai dan belum menyadari seperti apakah hubungan ideal antar sesama Muslim, apapun mazhab mereka. Para penjajah kala itu dengan penuh kesadaran menjalankan siasatnya agar kita sama sekali melupakan isu persatuan ini, sehingga kita tidak dapat bangkit dengan kekuatan persatuan.
 .
Melihat realita di atas, dapat kita katakan bahwa saat ini kita sedang menghadapi dua masalah besar dan berbahaya yang sedang mengancam gerakan pendekatan antar mazhab. Masalah petama, masalah perpecahanan kita. Perpecahanan ini memang didasari oleh faktor politik, namun kita sendiri yang tertipu dan justru mengikuti siasat tersebut. Kemudian perpecahan ini telah disusun secara rapi sebelumnya dan diarahkan sedemikian rupa hingga benar-benar merasuk dalam tubuh kaum Muslimin. Masalah kedua, problema yang ditimbulkan oleh para penjajah dan negara-negara adidaya kepada kita. Problema ini hanya dapat diatasi dengan dijalankannya strategi pendekatan antar mazhab Islam, sehingga terciptalah keamanan internal dan solodnya barisan kaum Muslimin saat berhadapan dengan mereka.
 .
Untuk mewujudkan rencana ini, kita perlu memetakan pelbagai perkara dalam timbangan skala prioritas. Sebagian dari perkara tersebut berkaitan dengan akidah umat Islam, dan sebagian lainnya berkaitan dengan kondisi politik mereka. Mengenai perkara-perkara yang berkenaan dengan akidah, kita perlu memperhatikan beberapa masalah di bawah ini:
 .
Pertama, kita perlu meniru al-Quran yang mengajarkan kita cara berdiskusi dan membahas sesuatu. Metode diskusi dan perbincangan yang diajarkan al-Quran akan mengantarkan kita keluar dari lingkaran egoisme dan kesempitan berpikir menuju sikap inklusif dan keterbukaan. Metode inilah yang disebut metode terbaik dalam berkomunikasi, dimana kedua belah pihak benar-benar mendapatkan penghormatan oleh lawan bicaranya.
 .
Kedua, kita harus menjadikan Islam sebagai parameter tertinggi dalam berinteraksi. Seharusnya dua syahadat (bersaksi bahwa Allah Swt sebagai Pencipta alam semesta dan Nabi Muhammad Saw sebagai utusan-Nya) dijadikan sebagai syarat terjaganya setiap Muslim dari kekufuran dan kebebasannya dalam berpendapat sesuai dengan mazhab yang diyakininya, sekaligus menjadi syarat perlindungan terhadap harta dan kekayaan yang dimilikinya.
 .
Ketiga, seharusnya kata “kafir” dihapus dari kamus percakapan dan komunikasi antar Muslim. Seseorang tidak akan pernah keluar dari bingkai keimanan dan masuk dalam jurang kekufuran selama ia tidak bertentangan dengan prinsip dua syahadat tersebut.
 .
Keempat, perbedaan mazhab seharusnya dianggap sebagai variasi dalam kesatuan. Ijtihad setiap mazhab tidak boleh dengan mudah dinilai melenceng dari garis Islam. Mazhab lain tidak boleh dianggap bodoh, bahkan musuh, hanya karena perbedaan cara berpikir dan sumbernya saja. Oleh karenanya, sudah merupakan tugas para pemikir Islam untuk menjadikan budaya komunikasi dan diskusi yang sehat sebagai budaya resmi mereka dimana tak seorang pun yang meragukan dampak positif hal ini.
 .
Kelima, jiwa persahabatan, perdamaian, cinta dan kebebasan harus ditanamkan dalam diri setiap Muslim. Ini adalah tugas utama yang harus diemban oleh setiap cendekiawan dan ulama.
 .
Keenam, pada situasi tertentu, perlu adanya sikap tegas terhadap pihak-pihak garis keras dan yang fanatik agar mereka sadar dan mengikuti aturan yang seharusnya. Sering kali terjadi, misalnya saat diadakan sebuah seminar pendekatan antar-mazhab, kita tidak leluasa mengutarakan pelbagai pendapat kita karena masih tetap ada saja rasa fanatik dalam diri kita, atau mungkin kita tidak menjelaskan kenyataan yang sebenarnya tentang suatu mazhab atau pihak lain karena kita tidak sejalan dengan mereka sehingga lawan bicara kita tidak mengetahui yang sebenarnya.
 .
Ketujuh, menjalankan ajaran al-Quran, yakni saling menghormati dalam berdiskusi dan bertukar pendapat. Meskipun lawan bicara kita non-Muslim sekalipun, tentu ada titik-titik kesamaan yang dapat ditelusuri dalam pemikirannya dan ditanggapi dengan positif.
 .
Adapun hal-hal yang harus diperhatikan berkenaan dengan kondisi politik adalah:
 .
Pertama, harus ada pemisah antara permasalahan primer dan permasalahan sekunder dalam masyarakat-Muslim. Sebagian dari permasalahan yang berkaitan dengan keseluruhan umat Islam tidak dapat dilakukan oleh seseorang atau tokoh tertentu yang mewakili beberapa kalangan atau juga sebuah partai yang semuanya mengatasnamakan umat Islam, karena kesalahan bertindak dalam hal ini akan membawa bahaya dan kerugian yang dampaknya akan menimpa umat Islam secara keseluruhan. Dengan kata lain, permasalahan yang mengyangkut kepentingan seluruh umat Islam hanya diselesaikan secara bersama dengan melalui pertimbangan yang matang. Adapun sebagian permasalah yang lainnya, yang bersifat terbatas pada dataran geografis, seperti permasalahan satu negara, adalah masalah yang tidak pokok. Permasalahan tersebut dapat diselesaikan sesuai dengan kondisi masyarakat Muslim setempat dan dengan memperhatikan mazhab-mazhab yang ada.
 .
Kedua, negara-negara adidaya secara umum, dan Amerika secara khusus, adalah pihak-pihak yang menjadikan Islam dan penganutnya sebagai sasaran utama mereka. Umat Islam harus mengerti tindakan dan usaha kolektif apa yang harus dilakukan guna menghadapi mereka.
 .
Ketiga, kita harus waspada dengan maraknya istilah-istilah seperti teroris, kekerasan, kejahatan dan lain sebagainya, yang mana semua kata-kata itu ditujukan kepada kita, umat Islam.
 .
Keempat, kita harus memiliki sikap bersama dalam hal bagaimana seharusnya kita menghadapi upaya-upaya musuh yang berlawanan dengan persatuan umat Islam, juga dalam menyikapi istilah-istilah baru yang tersebar di tengah-tengah komunitas dunia, agar kesatuan umat Islam tetap terjaga.
 .
Persatuan antar umat Islam bukan sekedar formalitas dan slogan belaka, bahkan berkaitan langsung dengan keberadaan Islam dan kaum Muslimin di panggung dunia yang keadaan mereka saat ini sedang terpuruk. Poin terakhir yang perlu kami ingatkan adalah, jika kita memang benar-benar tidak mampu mencapai persatuan, maka paling tidak kita harus bisa mengatur dan memahami perbedaan-perbedaan antara sesama kita, agar keutuhan kita sesama sebagai ummatan wahidah (umat yang satu) selalu terjaga.
 .
Jalan terjal dan berliku yang kita sedang kita lewati begitu banyak. Kita sedang berada di situasi yang genting. sepanjang sejarah kita belum pernah menemukan keadaan umat Islam seperti saat ini. Karena itu, kita harus waspada dan bersikap bijaksana. Jika kita masih sibuk mengungkit perbedaan dan isu ikhtilaf mazhab, maka kita harus bersiap-siap untuk terus terpuruk dan kemudian mengalami kebinasaan.

.

Risalah Cinta buat Mereka yang Berbeda Mazhab

 .

“Aku mencintaimu, wahai Malik,” kata Imam Ja’far Ash Shadiq setelah tamunya itu duduk di atas permadani seraya bersandar dengan nyaman di bantal yang menempel ke dinding. Sebenarnya, sang tamu, Imam Malik, adalah murid dari Imam Shadiq. Tapi, penghormatan yang sangat besar Imam Shadiq kepada muridnya itu membuatnya memperlakukan sang murid layaknya seorang tamu agung

.

Peristiwa sambutan itu sangat berkesan bagi Imam Malik. Apalagi selama kunjungan ilmiahnya ke Madinah dan Mekah itu, Imam Malik juga menyaksikan hal-hal yang luar biasa dari sang guru. Inilah penuturan Imam Malik
“Demi Allah, aku tidak pernah sekalipun menemuinya kecuali beliau sedang shalat, puasa, atau sedang membaca Al Quran. Suatu hari, aku berhaji bersamanya. Ketika tiba saatnya berihram dan mengucapkan talbiah, bergetarlah seluruh tubuhnya. Lidahnya kelu dan tak mampu mengucapkan kalimat apapun. Aku katakan kepadanya, ‘Ya Aba Abdillah, setelah berihram Anda harus mengatakan ‘Labbayka Allahumma labbayk –kupenuhi panggilan-Mu Ya Allah’. Mendengar kata-kataku, ia menjawab, ‘Wahai Malik, aku sungguh takut, ketika kukatakan ‘Labbayka Allahumma labbayk’, Allah lalu menjawab seruanku dengan jawaban, ‘La labbayka wa la sa’dayka- tak ada sambutan dan tak ada kebahagiaan bagimu-”
.
Itulah sepenggal cerita dari Imam Malik sebagaimana yang tercantum dalam kitab Al Khishal: 167 Kaum Muslimin dunia kemudian mengenal Imam Malik sebagai imam salah satu madzhab besar dunia, yaitu Madzhab Maliki. Sedangkan sang guru, Imam Shadiq, punya pengikut yang dikenal sebagai kelompok Syiah. Keduanya memiliki identitas masing-masing yang berbeda satu sama lain. Berabad-abad kemudian, ada di antara para pengikut kedua madzhab itu yang sedemikian fanatiknya terhadap perbedaan itu, untuk kemudian menjadikannya sebagai sumber perpecahan. Penghormatan Imam Shadiq terhadap Imam Malik, dan juga kekaguman Imam Malik kepada Imam Shadiq tidak pernah lagi diingat apalagi diceritakan.
.
Perpecahan dan pertengkaran (bahkan sering disertai dengan peng-kafiran) yang berasal dari perbedaan pandangan madzhab itu juga terjadi di antara madzhab-madzhab lainnya. Padahal, sebagaimana yang terjadi pada pengikut Syi’i dan Maliki, para pembesar mereka dulunya adalah orang-orang yang saling memuji, saling menghormati, bahkan saling menimba ilmu satu sama lain. Ekstremitas dan fanatisme yang tidak perlu memang seringkali ditunjukkan oleh kalangan awam, padahal para pemimpin mereka mencontohkan hal yang berbeda.
.
Salah satu hambatan terbesar dalam hal persatuan ummat Islam atau pendekatan antarmadzhab Sunni dan Syiah adalah sikap, keyakinan, dan penghormatan yang berbeda yang ditunjukkan masing-masing kelompok terkait dengan imam, ulama rujukan, dan orang-orang tertentu. Ada satu kesan umum yang berlaku di kalangan Sunni bahwa orang-orang Syiah tidak pernah menyembunyikan kebenciannya terhadap para Sahabat, padahal para Sahabat adalah orang-orang yang sangat dimuliakan oleh orang-orang Sunni. Bagaimana mungkin menyatukan dua kelompok, jika yang satu sangat memuliakan Sahabat, sementara yang lain mencercanya? Pada artikel sebelumnya, saya mengemukakan penuturan Dr Al Qarni yang secara tegas meminta agar orang-orang Syiah juga menunjukkan penghormatan kepada para sahabat, sebagaimana orang-orang Sunni sangat memuliakan keluarga Nabi.
.
Seruan Al Qarni memang seharusnya diperhatikan oleh orang-orang Syiah. Bagaimanapun juga, fakta menunjukkan bahwa dalam sistem kepercayaan Ahlu Sunnah, Sahabat adalah simbol kesalehan dan generasi terbaik yang menjadi panutan. Tentu fakta ini difahami dengan baik oleh orang-orang Syiah. Karena itu, akal sehat kita pastilah tidak bisa menerima jika orang-orang Syiah masih sangat suka mempermasalahkan kredibilitas Sahabat dalam forum apapun.
.
Kebiasaan mempermasalahkan kredibilitas para sahabat itu juga bisa jadi malah kontradiktif dengan prinsip dan keyakinan yang ditunjukkan para imam dan ulama Syiah sepanjang sejarah. Imam Ali bin Abi Thalib, misalnya, sering mengenang masa-masa indah manakala beliau hidup bersama Rasulullah dan para sahabatnya yang setia.
.
“Dulu kami hidup di zaman Rasulullah, berjuang bersama-sama sampai-sampai harus membunuh orang-orang terdekat kami demi Islam. Namun hal itu tidaklah menambahkan kepada kami, kecuali kesabaran yang dapat mengurangi penderitaan,” demikian kata Imam Ali. Beliau kemukakan kenangan seperti itu sambil membandingkan generasi para Sahabat dengan generasi yang hidup sezaman dengan beliau. “Kalau kami saat itu berperilaku seperti kondisi kalian saat ini, Islam tidak akan mungkin berdiri tegak dan membuahkan hasil.”
.
Imam Ali Zainal Abidin juga berdoa secara khusus untuk para Sahabat dengan mengatakan, “Ya Allah untuk para Sahabat yang telah menjalin persahabatan baik dengan Nabi-Mu, …. -Imam lalu memanjatkan senarai doa.”
Di awal tulisan ini sudah dikemukakan penghormatan timbal balik antara Imam Shadiq dan Imam Malik. Penghormatan timbal balik yang sama juga ditunjukkan secara tulus antara para imam dan ulama Ahlul Bait dan para imam dan ulama dari kalangan madzhab Sunni lainnya.
.
Imam Abu Hanifah pernah mengungkapkan pernyataan yang terkenal, “Law la sanatani la halaka Nu’man (kalaulah tiada masa dua tahun itu, binasalah Nu’man).” Dua tahun yang dimaksud dalam perkataan itu merujuk kepada masa-masa ketika beliau menimba ilmu kepada Imam Shadiq. Sementara itu Nu’man adalah nama kecil Imam Abu Hanifah
.
Imam Syafi’i malah dikenal sebagai orang yang sangat dekat dengan Ahlul Bait Nabi. Ketika pada saat itu ada upaya politis untuk mendiskreditkan para pecinta Ahlul Bait Nabi, dengan lantang Imam Syafi’i mengatakan bahwa dirinya siap dicap sebagai Rafidhi (sesat), jika kecintaan kepada Ahlul Bait Nabi dianggap sebagai kesesatan.
.
Imam Syafi’i juga pernah menuliskan syair yang isinya kurang lebih seperti ini:
“Wahai keluarga Rasulullah, kecintaan kepada kalian adalah sebuah kewajiban yang disebutkan oleh Allah di dalam Al Quran. Cukuplah itu bagi kalian sebagai kemuliaan, karena shalat yang dilakukan tanpa bershalawat kepada kalian dihukumi sebagai shalat yang tidak sah.”
.
Imam Ahmad bin Hanbal juga demikian. Diriwayatkan bahwa suatu hari ada perdebatan sengit dalam sebuah majelis. Yang diperdebatkan sebenarnya masalah klasik: Imam Ali dan khilafah. Orang-orang berdebat tentang kelayakan Imam Ali menjadi khalifah.  Imam Ahmad saat itu menutup perdebatan sambil dengan tegas menyatakan bahwa kalau yang diperhatikan adalah kapabilitas Imam Ali dari segala segi (kemuliaan, ilmu, jasa, kedekatan dengan Rasulullah, ketakwaan, keberanian, kepahlawanan, dll) segalanya menjadi sangat jelas. “Mengapa kalian memperdebatkan Ali dan khilafah? Sungguh Ali tidak menjadi lebih mulia dengan kursi khilafahnya. Kursi khilafahlah yang mendapatkan kemuliaan dengan duduknya Ali di atasnya.”
.
Hubungan baik dan kecintaan antarmazhab ini terus berlanjut sampai kepada para ulama dan para pengikut di generasi-generasi sesudahnya. Syeikh Al Mufid adalah seorang ulama Syiah terkenal. Salah satu keistimewaan beliau adalah kebiasaannya untuk selalu melakukan kontak dengan para ulama dari berbagai madzhab. Inilah yang menyebabkan kitab-kitab karya Syeikh Al Mufid penuh dengan berbagai pandangan para ulama dari madzhab-madzhab yang berbeda.
.
Begitu pula Syeikh Ath Thusi, ulama besar Syiah lainnya. Setelah menelaah dengan seksama pandangan para ulama dari berbagai madzhab, Ath Thusi menulis buku yang diberi judul Al Khilaf. Sedemikian mendalamnya pemaparan Ath Thusi tentang pemikiran yang ada pada madzhab lain, sampai-sampai As Subki, seorang ulama besar Syafi’i, menyebut Syeikh Ath Thusi sebagai pengikut Syafi’i. Tentu saja As Subki tahu persis bahwa Syeikh Ath Thusi itu adalah ulama Syiah. Namun menurutnya, Ath Thusi sangat menguasai pandangan Imam Syafi’i seakan-akan beliau adalah seorang ulama dari madzhab ini.
.
Contoh lain yang bisa dikemukakan adalah Muhammad Al Makki (lebih dikenal dengan gelar Asy Syahid Al Awwal), seorang ulama besar Syiah lainnya. Sejarah menunjukkan bahwa beliau memang menimba ilmu kepada para ustadz Ahlussunah. Salah seorang murid beliau yang Zainuddin Al ‘Amili (dikenal dengan nama Asy Syahid Ats Tsani), juga berguru kepada 40 orang dari para ulama alumni Al Azhar, Mesir.
.
Ini adalah fakta sejarah. Jadi, jika ada orang Syiah yang sangat membenci saudara-saudaranya dari kalangan Ahlus Sunnah, otentisitas kesyiahannya layak untuk dipertanyakan. Cukuplah di sini ditegaskan sekali lagi bahwa para takoh dan ulama Syiah sejak dulu sampai sekarang selalu punya risalah cinta yang ditujukan kepada saudara-saudara mereka Ahlus Sunnah
.
Sampai sekarang? Mungkin ada yang meragukan pernyataan ini. Mungkin ada yang mengira bahwa risalah cinta tersebut hanya bagian dari sejarah dan kini sudah menjadi cerita-cerita lama. Mungkin ada yang mengira bahwa para ulama dan tokoh Syiah masa kini sudah tidak lagi punya minat dan pandangan terhadap upaya persatuan ummat, terutama yang menyangkut penghormatan terhadap para sahabat.
.
Pesimisme semacam ini agaknya keliru. Sebagian besar riwayat yang dikutipkan di atas merupakan transkrip dari pidato sambutan Sekjen The World Forum for Proximity of Islamic Schools, Ayatullah Ali Taskhiri, pada Konferensi Internasional Persatuan Antarmazhab, di Jakarta Desember 2009 lalu. Taskhiri dikenal sebagai salah seorang ulama Syiah kontemporer, dan nyatanya, ia sangat antusias menngutip riwayat-riwayat tentang penghormatan kepada para sahabat dan tokoh Sunni
.
Tentu saja riwayat-riwayat tersebut dikutip dalam konteks yang sangat jelas. Beliau ingin menyatakan bahwa romantisme persaudaraan dan persatuan itu masih sangat dirindui oleh kalangan internal Syiah sampai sekarang. Taskhiri menyatakan bahwa ada kesenjangan antara kondisi zaman sekarang dan kondisi masa di masa lalu. Simaklah penuturan Taskhiri berikut ini
.
“Inilah kondisi pada zaman dahulu yang berjalan secara alami dan Islam. Sangat disayang bahwa kondisi kita saat ini jauh berbeda. Sekelompok orang karena kepentingan musuh, kepentingan pribadi, kebijakan pemerintah tertentu, karena fanatisme, atau kadangkala karena kepicikan dan sedikitnya ilmu, lalu mengubah kondisi yang seharusnya cair dan alami ini menjadi sektarianisme buta, fanatisme, dan ekstrimisme. Sikap buruk ini lalu berkembang menjadi lebih buruk, yaitu ketika sebagian dari kaum Muslimin memandang yang lainnya sebagai kafir, lalu menganggap bahwa agama yang benar hanyalah monopoli dirinya dan kelompoknya.
.
“Sikap sektarianisme adalah sebuah kemunduran. Penyebabnya adalah fanatisme dan kebodohan. Ketika dibiarkan, lahirlah berbagai tindakan terorisme. Kita harusnya membersihkan diri dari segala tindakan terorisme. Islam sangat menentang tindakan kekerasan dan penganiayaan terhadap orang lain. Karena itu, dalam kesempatan ini, marilah kita serukan ajakan kepada seluruh kaum Muslimin agar mereka kembali kepada kondisi dahulu yang kini telah hilang dan lenyap dari genggaman kita
.
“Marilah kita dekatkan seluruh hati kita. Mari kita tebar kasih sayang di antara kita.  Persatuan dan kasih sayang antar sesama Muslim merupakan rahasia kemenangan di zaman awal Islam. Hal tersebut sampai sekarang tidak berubah. Persatuan dan kasih sayang di antara ummat Islam menjadi faktor penentu kemenangan dan keberhasilan Islam saat ini.”

Al-Qaeda Akui Dalangi Pemboman di Irak

Sebuah kelompok yang berafiliasi dengan al-Qaeda di Irak mengaku bertanggung jawab atas serangkaian penembakan dan pemboman yang menewaskan puluhan orang selama liburan hari raya Idul Adha.

Sebuah pernyataan yang dimuat di situs militan menyebutkan, sebuah jaringan yang disebut dengan jaringan Negara Islam Irak memperingatkan pemerintah Baghdad bahwa Irak tidak akan memiliki perdamaian selama hari raya Idul Adha atau pada waktu lainnya. Demikian kantor berita Aswat al-Iraq melaporkan pada Selasa (30/10).

Al-Qaeda di Irak adalah kelompok bayangan yang diduga dipimpin oleh seorang militan Yordania bernama  Abu Musab al-Zarqawi. Ia dilaporkan tewas pada bulan Juni 2006.

Menurut pemerintah Amerika Serikat dan pejabat militer negara ini, kelompok tersebut kemudian dipimpin oleh Ayyub al-Masri yang tewas bersama dengan pemimpin lainnya bernama Abu Omar al-Baghdadi dalam operasi gabungan Irak-AS di Provinsi Salahuddin pada bulan April 2010.

Al-Qaeda di Irak diduga mendalangi berbagai serangan teroris paling mematikan di negara itu sejak invasi AS pada Maret 2003.

Baru-baru ini, berbagai pemboman dan penembakan meningkat di seluruh Irak yang diyakini sebagai upaya untuk melemahkan pemerintah Baghdad.

Data resmi pemerintah menunjukkan bahwa bulan September adalah bulan paling berdarah di Irak dalam hampir dua tahun dengan korban tewas mencapai 365 orang.

Menurut data yang dilaporkan oleh departemen kesehatan, dalam negeri dan pertahanan, jumlah korban tewas pada bulan September terdiri dari 182 warga sipil, 88 polisi, dan 95 tentara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s