Daftar Hadis Aisyah Dengan Lafaz Qaala Sebagai Perkataan Aisyah

Daftar Hadis Aisyah Dengan Lafaz Qaala Sebagai Perkataan Aisyah

Masih seputar syubhat nashibi tentang idraaj hadis Aisyah, dulu kami menampilkan beberapa contoh tentang hadis Aisyah dengan lafaz qaala yang menunjukkan bahwa itu adalah lafaz Aisyah. Kali ini kami akan menambahkan lagi pada para pembaca bahwa lafaz qaala dalam hadis-hadis Aisyah menunjukkan perkataan Aisyah bukan perkataan perawi hadis laki-laki.

.

.

Hadis Pertama

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا عبد الملك بن عمرو وقال ثنا بن أبي ذئب عن الزهري عن عروة عن عائشة أن النبي صلى الله عليه و سلم أعتم بصلاة العشاء ذات ليلة فقال عمر يا رسول الله نام النساء والصبيان فخرج النبي صلى الله عليه و سلم فقال ما من الناس من أحد ينتظر هذه الصلاة غيركم قال وذاك قبل أن يفشو الإسلام في الناس

Telah mengabarkan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah mengabarkan kepada kami ayahku yang berkata telah mengabarkan kepada kami ‘Abdul Malik bin ‘Amru dan berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Dzi’b dari Az Zuhriy dari Urwah dari Aisyah bahwa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] pernah mengakhirkan shalat isyaa’ sampai larut malam maka Umar berkata “wahai Rasulullah wanita dan anak-anak telah tidur” maka Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] keluar dan berkata “tidak ada manusia yang menunggu shalat ini selain kalian”. [qaala] dan itu terjadi sebelum islam menyebar luas dikalangan manusia [Musnad Ahmad 6/215 no 25849, Syaikh Al Arnauth berkata ”sanadnya shahih dengan syarat Bukhari Muslim”]

Perhatikan lafaz “wadzaaka qabla an yafsuwal islaam fii naas” [dan itu terjadi sebelum islam menyebar luas di kalangan manusia]. Lafaz ini diawali dengan kata [qaala] yang jika diartikan adalah perawi laki-laki berkata. Tetapi lafaz ini sebenarnya adalah perkataan Aisyah bukan perkataan perawi laki-laki sebagaimana nampak dalam riwayat berikut

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ قَالَ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ عُقَيْلٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُرْوَةَ أَنَّ عَائِشَةَ أَخْبَرَتْهُ قَالَتْ أَعْتَمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةً بِالْعِشَاءِ وَذَلِكَ قَبْلَ أَنْ يَفْشُوَ الْإِسْلَامُ فَلَمْ يَخْرُجْ حَتَّى قَالَ عُمَرُ نَامَ النِّسَاءُ وَالصِّبْيَانُ فَخَرَجَ فَقَالَ لِأَهْلِ الْمَسْجِدِ مَا يَنْتَظِرُهَا أَحَدٌ مِنْ أَهْلِ الْأَرْضِ غَيْرَكُمْ

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair yang berkata telah menceritakan kepada kami Laits dari Uqail dari Ibnu Syihaab dari Urwah bahwa Aisyah mengabarkan kepadanya dan berkata “Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengakhirkan shalat isya’ sampai larut malam dan itu terjadi sebelum islam menyebar luas, Beliau tidak keluar sampai Umar berkata “wanita dan anak-anak sudah tidur”. Maka Beliau keluar dan berkata kepada orang-orang di masjid “tidak ada seorangpun dari penduduk bumi yang menunggu shalat ini selain kalian” [Shahih Bukhari 1/118 no 566]

Faedah yang dapat diambil disini adalah lafaz qaala pada riwayat Ahmad diartikan sebagai perawi [laki-laki] berkata melanjutkan hadis Aisyah bahwa itu terjadi sebelum islam menyebar luas di kalangan manusia. Hal ini sesuai dengan riwayat Bukhari yang mengatakan bahwa Aisyah berkata “dan itu terjadi sebelum islam menyebar luas”. Hadis ini menjadi bukti bahwa lafaz qaala dalam hadis Aisyah tidak semata-mata dikatakan sebagai idraaj [sisipan perawi]. Masih hadis yang sama dengan matan yang sedikit berbeda yaitu riwayat Bukhari berikut

حَدَّثَنَا أَيُّوبُ بْنُ سُلَيْمَانَ قَالَ حَدَّثَنِي أَبُو بَكْرٍ عَنْ سُلَيْمَانَ قَالَ صَالِحُ بْنُ كَيْسَانَ أَخْبَرَنِي ابْنُ شِهَابٍ عَنْ عُرْوَةَ أَنَّ عَائِشَةَ قَالَتْ أَعْتَمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْعِشَاءِ حَتَّى نَادَاهُ عُمَرُ الصَّلَاةَ نَامَ النِّسَاءُ وَالصِّبْيَانُ فَخَرَجَ فَقَالَ مَا يَنْتَظِرُهَا أَحَدٌ مِنْ أَهْلِ الْأَرْضِ غَيْرُكُمْ قَالَ وَلَا يُصَلَّى يَوْمَئِذٍ إِلَّا بِالْمَدِينَةِ وَكَانُوا يُصَلُّونَ فِيمَا بَيْنَ أَنْ يَغِيبَ الشَّفَقُ إِلَى ثُلُثِ اللَّيْلِ الْأَوَّلِ

Telah menceritakan kepada kami Ayuub bin Sulaiman yang berkata telah menceritakan kepadaku Abu Bakar dari Sulaiman yang berkata Shalih bin Kaysaan berkata telah mengabarkan kepadaku Ibnu Syihaab dari Urwah bahwa Aisyah berkata Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengakhirkan shalat isyaa’ sampai larut malam hingga Umar menyeru kepada Beliau “shalat, wanita dan anak-anak sudah tidur”. Maka Beliau keluar dan berkata “tidak ada seorangpun dari penduduk bumi yang menunggu shalat ini selain kalian”. [qaala] “tidaklah dilaksanakan shalat pada hari itu kecuali di Madinah dan mereka menunaikan shalat tersebut antara hilangnya syafaq hingga sepertiga awal malam” [Shahih Bukhari 1/118 no 569]

Perhatikan lafaz “wa kaanu yushalluuna fiima baina…” yang terletak setelah lafaz [qaala]. Apakah lafaz tersebut idraaj dari perawi laki-laki atau bukan perkataan Aisyah?. Tidak, lafaz tersebut adalah perkataan Aisyah sebagaimana yang tampak dalam riwayat Thahawiy berikut

حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي دَاوُدَ، قَالَ: ثنا أَبُو الْيَمَانِ، قَالَ: أَخْبَرَنَا شُعَيْبُ بْنُ أَبِي حَمْزَةَ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ عُرْوَةَ، أَنَّ عَائِشَةَ، قَالَتْ: ” أَعْتَمَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةً بِالْعَتَمَةِ , حَتَّى نَادَاهُ عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فَقَالَ: نَامَ النَّاسُ وَالصِّبْيَانُ. فَخَرَجَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: «مَا يَنْتَظِرُهَا أَحَدٌ مِنْ أَهْلِ الْأَرْضِ غَيْرُكُمْ , وَلَا يُصَلِّي يَوْمَئِذٍ إِلَّا بِالْمَدِينَةِ. قَالَتْ وَكَانُوا يُصَلُّونَ الْعَتَمَةَ , فِيمَا بَيْنَ أَنْ يَغِيبَ غَسَقُ اللَّيْلِ إِلَى ثُلُثِ اللَّيْلِ

Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Dawud yang berkata telah menceritakan kepada kami Abul Yamaan yang berkata telah mengabarkan kepada kami Syu’aib bin Abi Hamzah dari Az Zuhriy dari Urwah bahwa Aisyah berkata “Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengakhirkan shalat sampai larut malam sehingga Umar menyeru Beliau “wanita dan anak-anak sudah tidur”. Maka Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] keluar dan berkata “tidak ada seorangpun dari penduduk bumi yang menunggu shalat ini selain kalian” dan tidaklah dilaksanakan shalat pada hari itu kecuali di Madinah. Aisyah berkata “dan mereka menunaikan shalat tersebut antara gelap malam hingga sepertiga malam” [Syarh Ma’aanil Atsaar Ath Thahawiy 1/157 no 946, sanadnya shahih]

Maka sekali lagi, lafaz qaala dalam riwayat Bukhari diartikan bahwa perawi laki-laki berkata melanjutkan hadis Aisyah bahwa mereka menunaikan shalat tersebut antara hilangnya syafaaq hingga sepertiga malam. Hal ini sesuai dengan riwayat Thahawiy yang menjadikan lafaz tersebut sebagai lafaz Aisyah.

.

.

.

Hadis Kedua

حدثنا عبد الله حدثني أبى ثنا أبو كامل ثنا إبراهيم ثنا بن شهاب عن عروة قال قلت لعائشة أرأيت قول الله عز و جل { إن الصفا والمروة من شعائر الله فمن حج البيت أو اعتمر فلا جناح عليه أن يطوف بهما } والله ما على أحد جناح ان لا يطوف بهما قالت بئسما قلت يا بن أختي انها لو كانت كما أولتها عليه كانت فلا جناح عليه ان لا يطوف بهما إنما أنزلت ان هذا الحي من الأنصار كانوا قبل ان يسلموا يهلوا لمناة الطاغية التي كانوا يعبدون عند المشلل وكان من أهل لها يتحرج ان يطوف بالصفا والمروة فسألوا رسول الله صلى الله عليه و سلم عن ذلك فأنزل الله عز و جل { إن الصفا والمروة من شعائر الله فمن حج البيت أو اعتمر فلا جناح عليه أن يطوف بهما } قال ثم قد سن رسول الله صلى الله عليه و سلم الطواف بهما فليس ينبغي لأحد ان يدع الطواف بهما

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Kaamil yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibrahiim yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Syihaab dari Urwah yang berkata Aku berkata kepada Aisyah bagaimana menurutmu tentang ayat ini “sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebahagian dari syi’ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau berumrah maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya”. Demi Allah, seorangpun tidak berdosa jika tidak mengerjakan sa’i antara keduanya. Aisyah berkata “alangkah buruknya apa yang kamu katakan, bila penafsirannya seperti yang kamu katakan maka tentulah ayatnya “maka tidak ada dosa baginya bila dia tidak mengerjakan sa’i antara keduanya”. Ayat tersebut diturunkan berkenaan dengan perkampungan Anshar yang sebelum masuk islam membaca talbiyah untuk manat ath thaghiyah yang mereka sembah di al musyallal. Orang yang membaca talbiyah untuknya merasa keberatan mengerjakan sa’i antara Shafa dan Marwah. Lalu mereka menanyakannya kepada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Maka Allah SWT menurunkan ayat ini “Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebahagian dari syi’ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya” [QS Al Baqarah 2 ; 158]. [qaala] “sungguh Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] telah mencontohkan agar mengerjakan sa’i antara keduanya oleh karena itu tidak layak bagi seorangpun untuk meninggalkannya” [Musnad Ahmad 6/227 no 25947, Syaikh Al Arnauth berkata “sanadnya shahih”]

Perhatikan lafaz “tsumma qad sanna Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] thawaafa bihima…” yang dalam riwayat Ahmad di atas diucapkan setelah lafaz [qaala]. Apakah lafaz itu bermakna idraaj [sisipan] dari perawinya?. Jawabannya tidak, lafaz tersebut adalah milik Aisyah sebagaimana yang tampak dalam riwayat Bukhari-hadis yang sama- dengan lafaz

قَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا وَقَدْ سَنَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الطَّوَافَ بَيْنَهُمَا فَلَيْسَ لِأَحَدٍ أَنْ يَتْرُكَ الطَّوَافَ بَيْنَهُمَا

Aisyah [radiallahu ‘anha] berkata “dan sungguh Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] telah mencontohkan agar mengerjakan sa’i antara keduanya oleh karena itu tidak layak bagi seorangpun untuk meninggalkannya” [Shahih Bukhari 2/158 no 1643]

.

.

.

Hadis Ketiga

حدثنا عبد الله حدثني أبي قال ثنا بهز قال ثنا شعبة قال ثنا أشعث بن سليم إنه سمع أباه يحدث عن مسروق عن عائشة أن رسول الله صلى الله عليه و سلم دخل عليها وعندها رجل قال فتغير وجه رسول الله صلى الله عليه و سلم كأنه شق عليه فقالت يا رسول الله أخي فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم انظرن ما إخوانكن فإنما الرضاعة من المجاعة

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada Bahz yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah yang berkata telah menceritakan kepada kami Asy’ats bin Sulaim yang menceritakan kepada kami bahwa ia mendengar ayahnya menceritakan hadis dari Masruuq dari Aisyah bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] masuk menemuinya dan disisinya ada seorang laki-laki. [qaala] maka wajah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berubah seolah-olah ia keberatan dengannya. Maka Aisyah berkata “wahai Rasulullah dia adalah saudaraku”. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “perhatikanlah siapa saudara-saudaramu sesungguhnya dinamakan persusuan itu terjadi hanya karena rasa lapar” [Musnad Ahmad 6/94 no 24676, Syaikh Al Arnauth berkata “sanadnya shahih dengan syarat Bukhari Muslim”]

Apakah lafaz [qaala] diatas bermakna idraaj [sisipan perawinya]. Apakah keterangan tentang berubahnya wajah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dalam hadis di atas adalah dhaif karena itu bukan perkataan Aisyah melainkan sisipan perawi laki-laki?. Jawabannya tidak, karena terbukti dalam riwayat lain bahwa itu adalah perkataan Aisyah

حدثنا هناد بن السري حدثنا أبو الأحوص عن أشعث بن أبي الشعثاء عن أبيه عن مسروق قال قالت عائشةدخل رسول الله صلى الله عليه و سلم وعندي رجل قاعد فاشتد ذلك عليه ورأيت الغضب في وجهه قالت فقلت يا رسول الله إنه أخي من الرضاعة قالت فقال انظرن إخوتكن من الرضاعة فإنما الرضاعة من المجاعة

Telah menceritakan kepada kami Hanaad bin As Sariy yang berkata telah menceritakan kepada kami Abul Ahwash dari Asy’ats bin Abi Asy Sya’tsaa’ dari ayahnya dari Masruuq yang berkata Aisyah berkata “Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] masuk dan disisiku ada seorang laki-laki, Beliau keberatan atas hal itu dan aku melihat kemarahan di wajahnya maka aku berkata “wahai Rasulullah, ia adalah saudara sepersusuanku”. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “perhatikanlah saudara-saudara sepersusuanmu, sesungguhnya yang dinamakan persusuan itu hanya karena rasa lapar” [Shahih Muslim 2/1078 no 1455]

Dalam riwayat Muslim terlihat jelas bahwa berubahnya wajah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] karena marah adalah perkataan Aisyah yang melihat langsung wajah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Maka lafaz [qaala] dalam riwayat Ahmad sebelumnya bukanlah idraaj [sisipan] dari perawi melainkan perkataan Aisyah.

.

.

.
Hadis Keempat

Ada contoh hadis lain dimana lafaz qaala bermakna qaalat. Sebenarnya Aisyah yang berkata tetapi digunakan lafaz qaala.

حدثنا عبد الله حدثني أبى ثنا عبد الصمد ثنا همام ثنا قتادة عن مطرف عن عائشة انها صنعت لرسول الله صلى الله عليه و سلم حلة من صوف سوداء فلبسها فلما عرق وجد ريح الصوف فقذفها قال وأحسبه قال وكانت تعجبه الريح الطيبة

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepada kami Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdush Shamad yang berkata telah menceritakan kepada kami Hamaam yang berkata telah menceritakan kepada kami Qatadah dari Mutharrif dari Aisyah bahwa ia membuat baju hitam untuk Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] lalu Beliau memakainya. Ketika Beliau berkeringat, Beliau mencium bau wol maka Beliau melepasnya. [qaala]  aku menduganya berkata [qaala] “Beliau menyukai bau yang wangi” [Musnad Ahmad 6/249 no 26160, Syaikh Al Arnauth berkata “sanadnya shahih”]

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا يزيد انا همام عن قتادة عن مطرف عن عائشة قالت جعل للنبي صلى الله عليه و سلم بردة سوداء من صوف فذكر بياض النبي صلى الله عليه و سلم وسوادها فلما عرق وجد منها ريح الصوف فقذفها قال وأحسبه قد قالت كان يعجبه الريح الطيبة

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Yaziid yang berkata telah menceritakan kepada kami Hammaam dari Qatadah dari Mutharrif dari Aisyah yang berkata “Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] pernah dibuatkan selimut yang terbuat dari wol sehingga Beliau teringat putihnya kulit Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan hitamnya selimut tersebut. Ketika Beliau berkeringat tercium bau wol maka Beliau membuangnya. [qaala] aku menduganya sungguh telah berkata [qaalat] “Beliau menyukai bau yang wangi” [Musnad Ahmad 6/144 no 25160, Syaikh Al Arnauth berkata “sanadnya shahih”]

Perhatikan lafaz “Beliau menyukai bau yang wangi”. Dalam riwayat Ahmad pertama lafaz tersebut diucapkan dengan lafaz [qaala] tetapi dalam riwayat Ahmad kedua lafaz tersebut diucapkan dengan lafaz [qaalat]. Dari sini dapat diambil faedah bahwa terkadang perawi menggunakan lafaz [qaala] untuk menyatakan perkataan Aisyah.

.

.

.

Hadis Kelima

Jika sebelumnya kami menunjukkan hal itu dengan membawakan hadis-hadis lain yang semisal tetapi menggunakan lafaz qaalat maka ada contoh lain dimana lafaz qaala adalah perkataan Aisyah dan buktinya terletak pada riwayat itu sendiri

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا وكيع عن إسماعيل بن أبي خالد عن قيس بن أبي حازم عن عائشة قالت قال رسول الله صلى الله عليه و سلم في مرضه الذي مات فيه وددت أن عندي بعض أصحابي قلنا يا رسول الله ألا ندعو لك أبا بكر فسكت قلنا يا رسول الله ألا ندعو لك عمر فسكت قلنا يا رسول الله ألا ندعو لك عليا فسكت قلنا ألا ندعو لك عثمان قال بلى قال أرسلنا إلى عثمان فجاء فخلا به فجعل يكلمه ووجه عثمان يتغير

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Wakii’ dari Isma’iil bin Abi Khaalid dari Qais bin Abi Haazim dari Aisyah yang berkata Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda saat sakit yang menyebabkan Beliau wafat “aku ingin sekali jika disisiku ada sebagian sahabatku”. Kami berkata “wahai Rasulullah maukah kami panggilkan untukmu Abu Bakar?. Beliau diam. Kami berkata “wahai Rasulullah maukah kami panggilkan untukmu Umar?”. Beliau diam. Kami berkata “wahai Rasulullah maukah kami panggilkan untukmu Aliy?. Beliau diam. Kami berkata “wahai Rasulullah maukah kami panggilkan untukmu Utsman?. Beliau menjawab “ya”. [Qaala] “kami mengutus seseorang menemui Utsman, kemudian ia datang dan menemani Beliau, Beliau berbicara dengannya dan wajah Utsman berubah [Musnad Ahmad 6/214 no 25839, sanadnya shahih]

Riwayat Ahmad diatas sanadnya shahih para perawinya tsiqat perawi Bukhari Muslim. Silakan pembaca perhatikan lafaz “qaala arsalnaa ilaa ‘Utsman” yang jika diterjemahkan adalah “qaala kami mengutus kepada Utsman”. Siapakah yang mengucapkan lafaz [qaala] tersebut?. Apakah lafaz tersebut diartikan perawi hadis laki-laki berkata “kami mengutus kepada Utsman”?. Kami jawab hal ini tidak mungkin, karena perawi laki-laki dalam sanad di atas bukanlah sahabat Nabi yang pada saat itu ada di sisi Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Lafaz [qaala] disana tidak lain berarti Aisyah berkata “kami mengutus seseorang menemui Utsman”.

.

.

Contoh-contoh di atas sudah cukup sebagai bantahan untuk syubhat nashibi yang menyedihkan. Mereka sok berbicara atas nama ilmu hadis padahal hanya menyebarkan syubhat murahan demi membela hawa nafsu mereka. Kasus hadis Aisyah tentang kemarahan Sayyidah Fathimah kepada Abu Bakar hingga wafat tidaklah berbeda dengan kasus hadis-hadis di atas. Dimana lafaz [qaala] dalam hadis Aisyah tersebut bukan bermakna idraaj [sisipan] perawi melainkan itu adalah perkataan Aisyah.

Fenomena Idraaj dalam ilmu hadis bukan perkara yang bisa ditetapkan dengan syubhat tetapi atas dasar bukti dalam riwayat bukan sekedar persangkaan atau anda-andai dengan bukti palsu. Kami sarankan pada para nashibi agar belajar ilmu hadis dengan benar. Menyedihkan sekali kalau hal yang sederhana seperti ini harus dibahas dengan berpanjang-panjang. Semoga bermanfaat bagi sebagian pembaca.

Daftar Hadis Aisyah Yang Mengandung Lafaz Qaala [Bagian Kedua]

Tulisan ini kami lanjutkan hanya sebagai tambahan dari apa yang pernah kami katakan sebelumnya bahwa dalam hadis-hadis Aisyah sering terdapat lafaz qaala yang terselip diantara perkataan Aisyah. Pada dasarnya lafaz qaala berarti perawi [laki-laki] berkata, maka seorang nashibi [yang bisa dikatakan lemah pemahamannya] beranggapan bahwa setiap ada lafaz qaala dalam hadis Aisyah bermakna idraaj [sisipan] dari perawi laki-laki sebelum Aisyah.

Anggapan ini keliru, Lafaz qaala dalam hadis Aisyah tidak selalu bermakna idraaj [sisipan]. Lafaz qaala bisa dikatakan sebagai idraaj jika terbukti dalam riwayat lain bahwa lafaz tersebut memang sisipan dari perawi laki-laki sebelum Aisyah. Misalnya dalam riwayat lain tertera bukti jelas idraaj yaitu lafaz “qaala fulan”. Dan seandainya dalam riwayat shahih lain terbukti pula bahwa lafaz tersebut adalah perkataan Aisyah yaitu dinyatakan dengan lafaz qaalat maka gugurlah klaim idraaj atas lafaz tersebut.

Lafaz qaala dalam hadis Aisyah tidak selalu bermakna idraaj, ia bisa juga bermakna perawi laki-laki berkata melanjutkan hadis Aisyah tersebut. Sehingga disini qaala itu statusnya muttashil [bersambung sanadnya] berbeda dengan idraaj yang tidak muttashil sanadnya sampai Aisyah. Makna qaala sebagai perawi melanjutkan hadis Aisyah telah ma’ruf di sisi para ulama hadis seperti Bukhari, Ahmad bin Hanbal dan yang lainnya sehingga dapat dimaklumi ada sebagian hadis Aisyah yang mereka tulis mengandung lafaz qaala sebagai perkataan Aisyah. Hal ini terbukti dengan qarinah berikut

  1. Dalam lafaz tersebut mengandung makna bahwa Aisyah sebagai pelaku atau subjek seperti lafaz “kami mengutus” atau “kami shalat” atau “kami melihat” yang mengisyaratkan bahwa itu terjadi di masa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] maka lafaz qaala itu bermakna perawi melanjutkan perkataan Aisyah
  2. Dalam riwayat lain lafaz qaala itu dibawakan dengan lafaz qaalat maka lafaz qaala itu sebenarnya bermakna perawi laki-laki melanjutkan hadis [perkataan] Aisyah

Dengan adanya kemungkinan lafaz qaala bermakna perawi melanjutkan hadis Aisyah maka tidak seharusnya setiap lafaz qaala dikatakan sebagai idraaj [sisipan] perawi laki-laki sebelum Aisyah. Idraaj harus ditetapkan dengan bukti sharih [tegas] dengan lafaz “qaala fulan” dalam riwayat Aisyah tersebut yang membuktikan bahwa lafaz qaala itu memang sisipan dari fulan [perawi laki-laki]. Dibawah ini akan kami tunjukkan hadis-hadis Aisyah yang mengandung lafaz qaala

.

.

.

Hadis Pertama

ثنا يزيد قال انا بن أبي ذئب عن الزهري عن عروة وعمرة بنت عبد الرحمن عن عائشة ان أم حبيبة بنت جحش استحيضت سبع سنين وكانت امرأة عبد الرحمن بن عوف فسألت رسول الله صلى الله عليه و سلم عن ذلك فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم إنما هذا عرق وليست بحيضة فاغتسلي وصلى قال فكانت تغتسل عند كل صلاة

Telah menceritakan kepada kami Yazid yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Dzi’b dari Az Zuhriy dari Urwah dan ‘Amrah binti ‘Abdurrahman dari Aisyah bahwa Ummu Habibah binti Jahsy sedang dalam keadaan istihadhah selama tujuh tahun  dan ia adalah istri ‘Abdurrahaman bin ‘Auf maka ia bertanya kepada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] akan hal itu. Kemudian Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “Sesungguhnya ini hanyalah darah penyakit dan bukan haidh maka mandilah dan shalatlah”.  [qaala] “maka Ummu Habibab mandi setiap kali mau shalat” [Musnad Ahmad 6/141 no 25138, Syaikh Al Arnauth berkata “sanadnya shahih dengan syarat Bukhari Muslim”]

Lafaz qaala fakaanat taghtasilu ‘inda kulli shalati jika menuruti anggapan nashibi adalah idraaj dari perawi laki-laki sebelum Aisyah. Karena dalam sanad ini terdapat Az Zuhriy yang sering melakukan idraaj maka lafaz tersebut dikatakan idraaj Az Zuhriy. Nashibi berkata[qaala] berarti perawi laki-laki berkata dan tidak mungkin dhamir ini kembali pada Aisyah. Dikenal dalam ilmu nahwu bahwa lafaz qaala itu bersifat mudzakkar untuk laki-laki maka sudah jelas itu bukan perkataan Aisyah.

Qaala memang bersifat mudzakkar makanya kita artikan sebagai perawi laki-laki berkata. Yang jadi permasalahan disini adalah apakah perkataan perawi laki-laki itu adalah sisipan dari dirinya sendiri [idraaj] ataukah sebenarnya ia melanjutkan hadis [perkataan] Aisyah. Lafaz qaala pada hadis Musnad Ahmad di atas ternyata diriwayatkan oleh ulama lain diantaranya Ibnu Sa’ad dan Ad Darimiy dengan lafaz qaalat

أخبرنا يزيد بن هارون أخبرنا بن أبي ذئب عن الزهري عن عروة عن عمرة بنت عبد الرحمن عن عائشة أن أم حبيبة بنت جحش استحيضت سبع سنين وكانت تحت عبد الرحمن بن عوف فسألت رسول الله عن ذلك فقال رسول الله إنما هذا عرق وليست بحيضة فاغتسلي وصلي قالت فكانت تغتسل عند كل صلاة

Telah mengabarkan kepada kami Yazid bin Haruun yang berkata telah mengabarkan kepada kami Ibnu Abi Dzi’b dari Az Zuhriy dari ‘Urwah dari ‘Amrah binti ‘Abdurrahman dari Aisyah bahwa Ummu Habibah binti Jahsy sedang dalam keadaan istihadhah selama tujuh tahun  ketika ia menjadi istri ‘Abdurrahaman bin ‘Auf maka ia bertanya kepada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] akan hal itu. Kemudian Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “Sesungguhnya ini hanyalah darah penyakit dan bukan haidh maka mandilah dan shalatlah”.  Aisyah berkata “maka Ummu Habibab mandi setiap kali mau shalat” [Thabaqat Ibnu Sa’ad 8/242]

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ، حَدَّثَنَا الْأَوْزَاعِيُّ، حَدَّثَنِي الزُّهْرِيُّ، عَنْ عُرْوَةَ، عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ اسْتُحِيضَتْ أُمُّ حَبِيبَةَ بِنْتُ جَحْشٍ سَبْعَ سِنِينَ وَهِيَ تَحْتَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ فَاشْتَكَتْ ذَلِكَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّهَا لَيْسَتْ بِحِيضَةٍ إِنَّمَا هُوَ عِرْقٌ فَإِذَا أَقْبَلَتْ الْحَيْضَةُ فَدَعِي الصَّلَاةَ وَإِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْتَسِلِي وَصَلِّي قَالَتْ عَائِشَةُ فَكَانَتْ تَغْتَسِلُ لِكُلِّ صَلَاةٍ ثُمَّ تُصَلِّي

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yusuf yang berkata telah menceritakan kepada kami Al Awza’iy yang berkata telah menceritakan kepada kami Az Zuhriy dari Urwah dari Aisyah berkata Ummu Habibah binti Jahsy mengalami istihadhah selama tujuh tahun ketika ia menjadi istri ‘Abdurrahman bin ‘Auf. Maka ia mengadukan hal itu kepada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasalam]. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata kepadanya “sesungguhnya itu bukan haidh itu hanyalah penyakit, jika haidh datang maka tinggalkanlah shalat jika selesai maka mandilah dan shalatlah”. Aisyah berkata “maka ia mandi setiap akan shalat kemudian shalat”…[Sunan Darimi no 771 dengan sanad shahih]

Maka lafaz qaala pada riwayat Ahmad sebenarnya bermakna perawi laki-laki berkata melanjutkan hadis [perkataan] Aisyah. Inilah yang benar dan bukan seperti anggapan yang terjadi jika kita menuruti kekacauan akal nashibi. Jika dituliskan maka terjemahan riwayat Ahmad yang tepat

عن عائشة ان أم حبيبة بنت جحش استحيضت سبع سنين وكانت امرأة عبد الرحمن بن عوف فسألت رسول الله صلى الله عليه و سلم عن ذلك فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم إنما هذا عرق وليست بحيضة فاغتسلي وصلى قال فكانت تغتسل عند كل صلاة

Dari Aisyah bahwa Ummu Habibah binti Jahsy sedang dalam keadaan istihadhah selama tujuh tahun  dan ia adalah istri ‘Abdurrahaman bin ‘Auf maka ia bertanya kepada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] akan hal itu. Kemudian Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “Sesungguhnya ini hanyalah darah penyakit dan bukan haidh maka mandilah dan shalatlah”.  Perawi laki-laki berkata melanjutkan [perkataan Aisyah] “maka Ummu Habibab mandi setiap kali mau shalat” [Musnad Ahmad 6/141 no 25138]

Atau ada nashibi yang mengatakan bahwa ini hanya pengecualian dari kaidah nahwu dalam bahasa Arab. Mungkin yang ingin dikatakan nashibi itu Ahmad bin Hanbal yang menuliskan lafaz qaala dalam hadis Aisyah tersebut sedang mengantuk ketika menuliskan hadis sehingga ia salah dalam menuliskan lafaz yang seharusnya qaalat menjadi qaala.

Hal ini sangat jauh sekali, Ahmad bin Hanbal jelas ulama yang sangat paham kaidah nahwu dalam bahasa Arab maka penulisan lafaz qaala dalam hadis Aisyah tidaklah bertentangan sedikitpun dengan bahasa Arab. Hal ini ma’ruf di sisi para ulama, tidak hanya Ahmad bin Hanbal, bahkan Bukhari, Muslim, Baihaqiy dan yang lainnya dalam kitab hadis mereka ketika menuliskan sebagian hadis Aisyah mereka menuliskan dengan lafaz qaala. Mungkinkah mereka semua tidak paham kaidah bahasa Arab atau nashibi itu yang sebenarnya berlagak pintar padahal tong kosong nyaring bunyinya.

.

.

Hadis Kedua

أخبرنا إسحاق بن منصور قال حدثنا يحيى بن سعيد عن بن جريج قال سمعت بن أبي مليكة يحدث عن ذكوان أبي عمرو عن عائشة عن النبي صلى الله عليه وسلم قال استأمروا النساء في أبضاعهن قيل فإن البكر تستحي وتسكت قال هو إذنها

Telah mengabarkan kepada kami Ishaaq bin Manshuur yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id dari Ibnu Juraij yang berkata aku mendengar Ibnu Abi Mulaikah menceritakan hadis dari Dzakwaan Abi ‘Amru dari Aisyah dari Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang berkata “mintalah pendapat kaum wanita berkenaan dengan kehormatannya”. Dikatakan bahwa anak gadis malu sehingga diam, Beliau bersabda “itu adalah izinnya” [Sunan Nasa’i Al Kubra 3/281 no 5376]

Perhatikan lafaz “qiila fainnal bikra tastahiiy fataskutu”, diriwayatkan dalam Musnad Ahmad bahwa lafaz itu diawali dengan lafaz qaala

ثنا يحيى عن بن جريج قال سمعت بن أبي مليكة يحدث عن ذكوان أبي عمرو عن عائشة عن النبي صلى الله عليه و سلم قال أستأمروا النساء في أبضاعهن قال قيل فإن البكر تستحي فتسكت قال فهو إذنها

Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ibnu Juraij yang berkata aku mendengar Ibnu Abi Mulaikah menceritakan hadis dari dzakwaan Abi’ Amru dari Aisyah dari Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang berkata “mintalah pendapat kaum wanita berkenaan dengan kehormatannya”. [qaala] Dikatakan bahwa anak gadis malu sehingga diam, Beliau bersabda “itu adalah izinnya” [Musnad Ahmad 6/203 no 25713]

Tentu dengan logika ala nashibi maka lafaz qaala qiila fainnal bikra… dan seterusnya adalah idraj [sisipan] dari perawi laki-laki sebelum Aisyah. Kenyataannya tidak seperti itu, dalam riwayat lain lafaz itu disebutkan dengan lafaz qaalat

نا عَلِيُّ بْنُ إِشْكَابَ نا مُعَاذُ بْنُ مُعَاذٍ نا ابْنُ جُرَيْجٍ عَنِ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ عَنْ ذَكْوَانَ أَبِي عَمْرٍو مَوْلَى عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ  قَالَ رَسُولُ اللَّهِ عَلَيْهِ الصَّلاةُ وَالسَّلامُ ” اسْتَأْمِرُوا النِّسَاءَ فِي أَبْضَاعِهِنَّ ” . قَالَتْ قِيلَ فَإِنَّ الْبِكْرَ تَسْتَحْيِ أَنْ تَكَلَّمَ  قَالَ : ” سُكُوتُهَا إِذْنُهَا

Telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin Isykaab yang berkata telah menceritakan kepada kami Mu’adz bin Mu’adz yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij dari Ibnu Abi Mulaikah dari Dzakwaan Abi ‘Amru mawla Aisyah [radiallahu ‘anha] yang berkata Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “mintalah pendapat kaum wanita berkenaan dengan kehormatannya”. Aisyah berkata dikatakan bahwa anak gadis malu untuk berbicara, Beliau bersabda “diamnya adalah izinnya” [Ziyadaah Ala Kitab Al Muzanniy no 409, Ibnu Ziyaad An Naisabury]

.

.

Hadis Ketiga

ثنا علي بن عياش قال ثنا محمد بن مطرف أبو غسان قال ثنا أبو حازم عن أبي سلمة بن عبد الرحمن عن عائشة قالت أمرني نبي الله صلى الله عليه و سلم أن أتصدق بذهب كانت عندنا في مرضه قالت فأفاق فقال ما فعلت قالت لقد شغلني ما رأيت منك قال فهلميها قال فجاءت بها إليه سبعة أو تسعة أبو حازم يشك دنانير فقال حين جاءت بها ما ظن محمد أن لو لقي الله عز و جل وهذه عنده وما تبقى هذه من محمد لو لقي الله عز و جل وهذه عنده

Telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin ‘Ayyasy yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Mutharrif Abu Ghassaan yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Haazim dari Abu Salamah bin ‘Abdurrahman dari Aisyah yang berkata Nabi Allah [shallallahu ‘alaihi wasallam] memerintahkanku untuk menyedekahkan emas yang kami miliki ketika ia sakit. Aisyah berkata “maka Beliau bangun dan berkata apa yang telah kamu lakukan. Aisyah berkata “sungguh aku telah disibukkan dengan melihat kondisimu”. Beliau berkata “berikan itu”. [qaala] maka aku membawa kepadanya tujuh atau sembilan dinar [syaak dari Abu Haazim]. Maka Beliau berkata ketika aku memberikannya “bagaimana persangkaan Muhammad jika ia bertemu Allah ‘azza wajalla benda ini masih ada di sisinya, jangan tinggalkan ini dari Muhammad ketika ia bertemu Allah ‘azzawajalla dan ini masih ada di sisinya” [Musnad Ahmad 6/86 no 24604]

Ibnu Jarir Ath Thabariy membawakan hadis serupa dalam kitabnya Tahdzib Al Atsar dengan jalan sanad dari Bakr bin Mudhar dari Musa bin Jubair dari Abu Umamah bin Sahl dari Aisyah dengan lafaz berikut

قَالَ: فَدَعَا بِهَا، ثُمَّ صَبَّهَا فِي كَفِّهِ، فَقَالَ: «مَا ظَنُّ نَبِيِّ اللَّهِ لَوْ لَقِيَ اللَّهَ وَعِنْدَهُ هَذِهِ

[qaala] maka aku membawanya kemudian memberikan ke tangannya, maka Beliau bersabda “bagaimana persangkaan Nabi Allah seandainya bertemu Allah dan disisinya masih ada benda ini” [Tahdzib Al Atsar 1/252 no 419]

Hadis dengan sanad yang sama [dengan riwayat Thabariy] juga disebutkan Ibnu Hibban dalam kitab Shahih-nya yaitu dengan lafaz berikut

قالت : فدعا بها فوضعها في كفه ثم قال ما ظن نبي الله لو لقي الله وهو عنده ؟

Aisyah berkata maka aku membawanya dan meletakkan di tangannya kemudian Beliau bersabda “bagaimana persangkaan Nabi Allah seandainya bertemu Allah dan ini masih di sisinya?” [Shahih Ibnu Hibban no 3213]

Ibnu Hibban dalam Shahih-nya juga membawakan hadis dengan sanad yang sama dengan riwayat Ahmad yaitu dari Abu Haazim dari Abu Salamah dari Aisyah dengan lafaz

قالت : فجئت بها فوضعها في كفه ثم قال ما ظن محمد أن لو لقي الله وهذه عنده ؟ ما ظن محمد أن لو لقي الله وهذه عنده ؟

Aisyah berkata “maka aku membawanya dan meletakkan di tangannya kemudian Beliau berkata “bagaimana persangkaan Muhammad jika ia bertemu Allah ‘azza wajalla benda ini masih ada di sisinya?, bagaimana persangkaan Muhammad jika ia bertemu Allah ‘azza wajalla benda ini masih ada di sisinya?” [Shahih Ibnu Hibban no 715]

Disini terdapat faedah bahwa lafaz qaala dalam riwayat Ahmad dan Thabariy bermakna perawi laki-laki berkata melanjutkan perkataan Aisyah bahwa ia membawanya dan meletakkannya di tangan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Makna qaala disini bermakna sama dengan qaalat.

.

.

Hadis Keempat

ثنا أبو النضر ثنا أبو معاوية عن يحيى يعنى بن أبى كثير عن أبى حفصة مولى عائشة ان عائشة أخبرته لما كسفت الشمس على عهد رسول الله صلى الله عليه و سلم توضأ وأمر فنودي ان الصلاة جامعة فقام فأطال القيام في صلاته قال فاحسبه قرأ سورة البقرة ثم ركع فأطال الركوع ثم قال سمع الله لمن حمده ثم قام مثل ما قام ولم يسجد ثم ركع فسجد ثم قام فصنع مثل ما صنع ثم ركع ركعتين في سجدة ثم جلس وجلى عن الشمس

Telah menceritakan kepada kami Abu Nadhrah yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah dari Yahya yakni bin Abi Katsir dari Abi Hafshah bahwa Aisyah mengabarkan kepadanya ketika terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] Beliau berwudhu’ dan memerintahkan untuk adzan shalat berjama’ah. Kemudian Beliau berdiri dan memanjangkan berdiri dalam shalatnya. [qaala] aku mengira Beliau membaca surat Al Baqarah kemudian ruku’ dan memanjangkan ruku’nya. Kemudian membaca “sami’ Allahu liman hamidah” Kemudian Beliau berdiri seperti berdiri sebelumnya, Beliau belum sujud. Kemudian ruku’ dan sujud kemudian berdiri dan melakukan apa yang Beliau lakukan sebelumnya. Beliau ruku’ dua kali dang satu sujud kemudian duduk dan matahari telah nampak kembali [Musnad Ahmad 6/158 no 25287]

Perhatikan lafaz qaala faahsabuhu qara’a suratal baqarat… dan seterusnya. Jika lafaz qaala ini dikatakan idraaj maka semua lafaz tersebut setelah lafaz qaala adalah idraaj dari perawi laki-laki. Kenyataannya tidaklah demikian karena terbukti dalam riwayat lain bahwa lafaz qaala tersebut adalah perkataan Aisyah, yaitu riwayat berikut

ثنا حسن بن موسى ثنا شيبان عن يحيى عن أبي حفصة مولى عائشة أن عائشة أخبرته أنه لما كسفت الشمس على عهد رسول الله صلى الله عليه و سلم وتوضأ وأمر فنودي أن الصلاة جامعة فقام فأطال القيام في صلاته قالت فأحسبه قرأ سورة البقرة ثم ركع فأطال الركوع ثم قال سمع الله لمن حمده ثم قام مثل ما قام ولم يسجد ثم ركع فسجد ثم قام فصنع مثل ما صنع ثم ركع ركعتين في سجدة ثم جلس وجلى عن الشمس

Telah menceritakan kepada kami Hasan bin Musa yang berkata telah menceritakan kepada kami Syaiban dari Yahya dari Abi Hafshah maula Aisyah bahwa Aisyah mengabarkan kepadanya ketika terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] Beliau berwudhu’ dan memerintahkan untuk adzan shalat berjama’ah. Kemudian Beliau berdiri dan memanjangkan berdiri dalam shalatnya. Aisyah berkata aku mengira Beliau membaca surat Al Baqarah kemudian ruku’ dan memanjangkan ruku’nya. Kemudian membaca “sami’ Allahu liman hamidah” Kemudian Beliau berdiri seperti berdiri sebelumnya, Beliau belum sujud. Kemudian ruku’ dan sujud kemudian berdiri dan melakukan apa yang Beliau lakukan sebelumnya. Beliau ruku’ dua kali dang satu sujud kemudian duduk dan matahari telah nampak kembali [Musnad Ahmad 6/98 no 24714]

.

.

Hadis Kelima

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ قَالَ سَمِعْتُ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ قَالَ أَخْبَرَتْنِي عَمْرَةُ قَالَتْ سَمِعْتُ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا تَقُولُ لَمَّا جَاءَ قَتْلُ ابْنِ حَارِثَةَ وَجَعْفَرِ بْنِ أَبِي طَالِبٍ وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ رَوَاحَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ جَلَسَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعْرَفُ فِيهِ الْحُزْنُ قَالَتْ عَائِشَةُ وَأَنَا أَطَّلِعُ مِنْ صَائِرِ الْبَابِ تَعْنِي مِنْ شَقِّ الْبَابِ فَأَتَاهُ رَجُلٌ فَقَالَ أَيْ رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ نِسَاءَ جَعْفَرٍ قَالَ وَذَكَرَ بُكَاءَهُنَّ فَأَمَرَهُ أَنْ يَنْهَاهُنَّ قَالَ فَذَهَبَ الرَّجُلُ ثُمَّ أَتَى فَقَالَ قَدْ نَهَيْتُهُنَّ وَذَكَرَ أَنَّهُ لَمْ يُطِعْنَهُ قَالَ فَأَمَرَ أَيْضًا فَذَهَبَ ثُمَّ أَتَى فَقَالَ وَاللَّهِ لَقَدْ غَلَبْنَنَا فَزَعَمَتْ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَاحْثُ فِي أَفْوَاهِهِنَّ مِنْ التُّرَابِ قَالَتْ عَائِشَةُ فَقُلْتُ أَرْغَمَ اللَّهُ أَنْفَكَ فَوَاللَّهِ مَا أَنْتَ تَفْعَلُ وَمَا تَرَكْتَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْعَنَاءِ

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Wahab yang berkata aku mendengar Yahya bin Sa’id yang berkata telah mengabarkan kepadaku ‘Amrah yang berkata aku mendengar ‘Aisyah radiallahu ‘anha berkata ketika datang berita kematian Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abu Thalib dan Abdullah bin Rawahah radliallahu ‘anhum, Rasulullah [shallallahu 'alaihi wasallam] duduk dan tampak tanda kesedihan. Aisyah berkata dan aku mengintip dari lubang pintu, kemudian ada seseorang laki-laki datang berkata “wahai Rasulullah, isteri-isteri Ja’far, laki-laki tersebut menceritakan tangis mereka maka beliau memerintahkan orang tersebut untuk melarang mereka. [qaala] laki-laki tersebut pergi, kemudian datang lagi dengan mengatakan “telah kularang mereka”, lalu ia ceritakan kepada beliau bahwa mereka tidak menaatinya. [qaala] maka Rasulullah memerintahkannya kembali maka ia pergi dan kembali dengan berkata “demi Allah, wanita-wanita itu keras kepala wahai Rasulullah”. Aku [Aisyah] mengira bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “Pergilah dan jejalkanlah debu tanah ke mulut mereka!” Aisyah berkata maka aku berkata semoga Allah menghinakanmu, kamu tidak melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]  dan kamu tidak  meninggalkan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bebas dari kesulitan [Shahih Bukhari no 4263]

Perhatikan lafaz yang kami cetak biru, lafaz itu diawali dengan kata qaala, maka menurut logika ngawur ala nashibi maka lafaz tersebut adalah perkataan perawi laki-laki sebelum Aisyah dan dinyatakan idraaj. Apakah benar demikian? Tentu saja tidak, itu hanya waham yang muncul dari logika ngawur nashibi. Ibnu Hibban menyebutkan lafaz tersebut dengan lafaz qaalat

قالت عائشة : وأنا أطلع من شق الباب فأتاه رجل فقال : يا رسول الله إن نساء جعفر قد كثر بكاؤهن فأمره رسول الله صلى الله عليه و سلم أن ينهاهن قالت عائشة : فذهب الرجل ثم جاء فقال : قد نهيتهن وإنهن لم يطعنني

Aisyah berkata dan aku mengintip dari lubang pintu, kemudian ada seseorang laki-laki datang berkata “wahai Rasulullah, isteri-isteri Ja’far, laki-laki tersebut menceritakan tangis mereka maka beliau memerintahkan orang tersebut untuk melarang mereka. Aisyah berkata”maka laki-laki tersebut pergi, kemudian datang dan berkata “telah kularang mereka dan mereka tidak mentaatiku” [Shahih Ibnu Hibban no 3155]

Maka lafaz qaala dalam riwayat Bukhari sebelumnya bermakna perawi laki-laki berkata melanjutkan perkataan Aisyah. Terjemahan yang benar lafaz qaala dalam riwayat Bukhari tersebut adalah

عَائِشَةُ وَأَنَا أَطَّلِعُ مِنْ صَائِرِ الْبَابِ تَعْنِي مِنْ شَقِّ الْبَابِ فَأَتَاهُ رَجُلٌ فَقَالَ أَيْ رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ نِسَاءَ جَعْفَرٍ قَالَ وَذَكَرَ بُكَاءَهُنَّ فَأَمَرَهُ أَنْ يَنْهَاهُنَّ قَالَ فَذَهَبَ الرَّجُلُ ثُمَّ أَتَى فَقَالَ قَدْ نَهَيْتُهُنَّ وَذَكَرَ أَنَّهُ لَمْ يُطِعْنَهُ قَالَ فَأَمَرَ أَيْضًا فَذَهَبَ ثُمَّ أَتَى فَقَالَ وَاللَّهِ لَقَدْ غَلَبْنَنَا

Aisyah berkata dan aku mengintip dari lubang pintu, kemudian ada seseorang laki-laki datang berkata “wahai Rasulullah, isteri-isteri Ja’far, laki-laki tersebut menceritakan tangis mereka maka beliau memerintahkan orang tersebut untuk melarang mereka. Perawi laki-laki berkata melanjutkan [perkataan Aisyah] maka laki-laki tersebut pergi, kemudian datang dengan mengatakan “telah kularang mereka”, lalu ia ceritakan kepada beliau bahwa mereka tidak menaatinya. Perawi laki-laki berkata melanjutkan [perkataan Aisyah] maka Rasulullah memerintahkannya kembali maka ia pergi dan kembali dengan berkata “demi Allah, wanita-wanita itu keras kepala wahai Rasulullah”.

.

.

Hadis Keenam

ثنا يعقوب قال ثنا أبي عن بن إسحاق قال حدثني هشام بن عروة عن أبيه عن عائشة زوج النبي صلى الله عليه و سلم قالت مرت برسول الله صلى الله عليه و سلم الحولاء بنت تويت فقيل له يا رسول الله إنها تصلى بالليل صلاة كثيرة فإذا غلبها النوم ارتبطت بحبل فتعلقت به قال فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم فلتصل ما قويت على الصلاة فإذا نعست فلتنم

Telah menceritakan kepada kami Ya’qub yang berkata telah menceritakan kepada kami ayahku dari Ibnu Ishaaq yang berkata telah menceritakan kepadaku Hisyaam bin Urwah dari Ayahnya dari Aisyah istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang berkata “Haulaa’ binti Tuwait melewati Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam], lalu dikatakan kepada Beliau “wahai Rasulullah sesungguhnya dia banyak shalat malam, bila dia mengantuk dia mengikat tali lalu bergelantungan padanya”. [qaala] maka Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “Hendaklah dia shalat semampunya jika dia mengantuk hendaknya dia tidur” [Musnad Ahmad 6/268 no 26352]

Jika kita memakai logika ngawur ala nashibi yaitu lafaz qaala dalam hadis di atas adalah milik perawi laki-laki sebelum Aisyah maka jika diterjemahkan adalah sebagai berikut

قال فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم فلتصل ما قويت على الصلاة فإذا نعست فلتنم

Perawi laki-laki berkata “maka Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “Hendaklah dia shalat semampunya jika dia mengantuk hendaknya dia tidur”

Oleh karena perawi laki-laki tersebut tidak bertemu dengan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] maka bisa dipastikan hadis tersebut mursal sehingga kedudukannya dhaif. Jadi tidak perlu ilmu hadis yang canggih canggih, cukup dengan melihat ada lafaz qaala saja maka hadis itu sudah jelas mursalnya. Tetapi benarkah demikian, lantas apa kata para muhaqqiq soal hadis ini. Syaikh Al Arnauth berkata

إسناده حسن من أجل محمد بن إسحاق

Sanadnya hasan dengan adanya Muhammad bin Ishaaq [Musnad Ahmad 6/268 no 26352]

Hamzah Zain berkata dalam tahqiq-nya terhadap Musnad Ahmad “sanadnya shahih”. Sepertinya Syaikh Al Arnauth dan Hamzah Zain ini tidak paham kaidah bahasa Arab [nahwu] yang sederhana bahwa qaala itu lafaz mudzakkar jadi ia milik perawi laki-laki bukan milik Aisyah. Nah itulah wahamnya nashibi, ia merasa lebih pintar dari syaikh Al Arnauth dan Hamzah Zain perihal ilmu nahwu yang sederhana.

Fakta sebenarnya tidaklah seperti itu, lafaz qaala itu bermakna perawi laki-laki berkata melanjutkan hadis Aisyah, maka terjemahan yang benar adalah

قال فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم فلتصل ما قويت على الصلاة فإذا نعست فلتنم

Perawi laki-laki berkata melanjutkan [perkataan Aisyah] “maka Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “Hendaklah dia shalat semampunya jika dia mengantuk hendaknya dia tidur”

Makna seperti inilah yang dipahami oleh Syaikh Al Arnauth dan Hamzah Zain sehingga mereka tidak ragu menguatkan hadis Aisyah tersebut bukan seperti nashibi yang sok pintar padahal ia hanya menunjukkan kejahilan.

.

.

Kesimpulan

Periwayatan hadis Aisyah dengan lafaz qaala ma’ruf di sisi para ulama hadis dan mereka tidak menganggapnya sebagai idraaj. Jika ada lafaz yang dianggap sebagai idraaj [sisipan] maka harus ada riwayat shahih yang menyebutkan “qaala fulan” sebagai bukti bahwa lafaz tersebut adalah idraaj. Lafaz “qaala” saja dalam hadis Aisyah tidak bisa langsung dinyatakan idraaj karena ia bisa saja bermakna perawi laki-laki berkata melanjutkan hadis [perkataan] Aisyah sebagaimana yang telah kami bawakan contoh-contohnya.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s