Aisyah memerangi Ali dalam PERANG JAMAL dianggap sama sama benar ?? Bagaimana bisa perkara seperti ini masuk akal ??


Aisyah memerangi  Ali dalam PERANG JAMAL dianggap sama sama benar ??

Bagaimana bisa perkara seperti ini masuk akal ??

Sejarah mencatat selama perang Shiffin dan Jamal, 70.800 kaum muslim telah terbunuh. Dimana posisi pembunuh saat itu? apakah ayat tersebut berlaku bagi mereka? Jika kaum muslim melawan khalifah yang sah dan menyebabkan kekacauan dan terbunuhnya ribuan nyawa kaum muslim, dimana posisi mereka saat Hari Pembalasan? Neraka karena Pembunuh atau Surga karena “Mujtahid Teroris”? … Yang pasti salah satunya salah, bukan benar semuanya. Jika anda jawab benar semuanya, APA KATA DUNIA!!!

Tentang Istri Rasulullah SAWW ?

1. Apa hukum bagi Istri Rasulullah SAWW yang tidak mengikuti Kitabullah ? Mana mungkin Aisyah Maksum ?? Lihat Perang Jamal !! Lihat Qs. Al Ahzab 33 :  “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu……”

2. Apa Hukum seorang Ibu , yang menyebabkan 20 ribu kaum Muslimin terbunuh di Jamal ?

3. Apa alasan Ummul Mukminin Aisyah mengijinkan Umar untuk dikuburkan disisi Rasulullah SAWW dan beliau mengijinkan nya

4. apakah Ummul Mukminin hendak mengatakan kalo Abu Bakar berbohong bahwa Rasulullah SAWW tidak meninggalkan Warisan ?

4. Dan apa Hak Ummul Mukminin Aisyah mengijinkan bukankah dia itu hanya punya 1/9 dari saham Istri ?

5. Apa yang ada dibenak kalian jika ada Istri Nabiyullah SAWW sampai ditegur Allah Ta’ala dan diancam cerai ?Allah mengancam Aisyah dalam Quran dengan penceraian, ini bukti Aisyah tidak terjaga dari dosa

Syi’ah tidak mencaci sahabat-sahabat Nabi SAW dan Aisyah , tetapi menunjukkan perbuatan mereka yang menyalahi al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAWA seperti yang tercatat dalam kitab-kitab sejarah dan Hadith. Mereka menilai dan mengkritik perangai setengah sahabat dan Aisyah dengan neraca al-Qur’an dan Hadith Nabi SAWA.]

Dan jangan lupa! Nabi Muhammad SAW juga pernah bersabda bahwa terdapat sahabat yang masuk neraka seperti dalam riwayat Sahih Muslim dan Sahih Bukhari

Padahal, al-Quran sendiri menjelaskan ada sahabat setia (golongan yang masuk surga) :

مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاء عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاء بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعاً سُجَّداً يَبْتَغُونَ فَضْلاً مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَاناً

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaannya…” (QS al-Fath: 29).

Kebijakan pertama yang dilakukan Ali adalah mencopot para pejabat yang tidak layak lalu mengganti mereka dengan orang-orang yang cakap dan adil. Imam Ali yang dikenal dengan keadilannya juga mencabut undang-undang yang diskriminatif. Beliau memutuskan untuk membatalkan segala konsesi yang sebelumnya diberikan kepada orang-orang Quresy dan menyamaratakan hak umat atas kekayaan baitul mal.

Perang Jamal

Sikap inilah yang mendapat penentangan sejumlah orang yang selama bertahun-tahun menikmati keistimewaan yang dibuat oleh khalifah sebelumnya. Ketidakpuasan itu kian meningkat sampai akhirnya mendorong sekelompok orang untuk menyusun kekuatan melawan beliau. Thalhah, Zubair dan Aisyah berhasil mngumpulkan pasukan yang cukup besar di Basrah untuk bertempur melawan khalifah Ali bin Abi Thalib.

Mendengar adanya pemberontakan itu, Imam Ali mengerahkan pasukannya. Kedua pasukan saling berhadapan. Ali terus berusaha membujuk Thalhah dan Zubair agar mengurungkan rencana berperang. Beliau mengingatkan keduanya akan hari-hari manis saat bersama Rasulullah SAW dan berperang melawan pasukan kafir.

Meski ada riwayat yang menyebutkan bahwa himbauan Imam Ali itu tidak berhasil menyadarkan kedua sahabat Nabi itu, tetapi sebagian sejarawan menceritakan bahwa Thalhah dan Zubair saat mendengar teguran Ali, bergegas meninggalkan medan perang.

Perang tak terhindarkan. 20 ribu nyawa melayang sia-sia, hanya karena ketidakpuasan sebagian orang terhadap keadilan yang ditegakkan oleh Imam Ali as. Pasukan Ali berhasil memukul mundur pasukan yang dikomandoi Aisyah, yang saat itu menunggang unta. Perang Jamal atau Perang Unta berakhir setelah unta yang dinaiki oleh Aisyah tertusuk tombak dan jatuh terkapar.

Sebagai khalifah yang bijak, Ali memaafkan mereka yang sebelum ini menghunus pedang untuk memeranginya. Aisyah juga dikirim kembali ke Madinah dengan dikawal oleh sepasukan wanita bersenjata lengkap. Fitnah pertama yang terjadi pada masa kekhalifahan Imam Ali as berhasil dipadamkan. Namun masih ada kelompok-kelompok lain yang menghunus pedang melawan Ali yang oleh Rasulullah SAW disebut sebagai poros kebenaran.

Begitu  kronis  sakit  mental  oknum  sahabat  Nabi  setelah  wafat  Nabi …. Aisyah  mendapat  simpati  dari  orang orang yang  kecewa  pada Imam Ali… Aisyah  benci  pada  Imam  Ali  sehingga  tewaslah  20.000  kaum  muslimin  dalam  PERANG  JAMAL (onta)

Apabila sesuatu masalah telah ditetapkan Allah SWT dan RasulNya secara jelas, maka memilih yang lain dari itu tidaklah dibolehkan.. Dengan kata lain, apabila telah ada nas (nash), maka orang tidak boleh berusaha mencari hukum yang lain daripada yang telah ditetapkan nas.. Apabila telah ada nas tentang sesuatu, maka tidaklah boleh melakukan ijtihad mengenai masalah tersebut…Manusia tidak boleh memilih selain apa yang telah dipilih oleh Allah SWT

Orang menghubungkan tindakan  Mu’awiyah  dan  Aisyah   dengan ayat AlQur’an:

“Bila ada orang yang membunuh seseorang, bukan karena ( orang itu membunuh ) seorang (lain), atau membawa kerusakan di atas bumi, maka ( pembunuh itu ) seolah membunuh manusia seluruhnya”. ( AlQur’an, al Ma’idah  ayat  32. )

“Dan barang siapa membunuh seorang Mu’min dengan sengaja, balasannya ialah neraka. ( Ia ) tinggal di dalamnya selama lamanya. Allah murka kepadanya dan melaknatinya, dan menyediakan baginya azab yang dahsyat”. ( Al Qur’an, an Nisa’ ayat  93 )

Sejarah telah menyaksikan bahawa Aisyah telah melancarkan peperangan terhadap Imam Ali, khalifah yang sah di zamannya, dan telah menyebabkan ribuan para sahabat dan kaum Muslimin terbunuh. Namun, apakah pendapat Imam Ali terhadap Aisyah? Saksikan

Saksikan komentar Ayatollah al Uzma Sayyid Kamal Haidari tentang tajuk ini.

Ayatollah Qaziwini menerangkan pegangan dan sikap kami terhadap Ahlul Sunnah. Walaupun dimusuhi beratus kali, tangan persahabatan dan persaudaraan tetap kami hulurkan, kerana ini adalah firman Allah swt untuk berpegang kepada tali Allah.

Sayyid Kamal Haidari menerangkan dari sudut aqli, mengapa isteri Nabi tidak termasuk Ahlulbait.

Perang Jamal, Aisyah Memerangi Imam Ali, Dua Puluh Ribu Muslim Mati !!

Aisyah berangkat ke Makkah. Ia berhenti di depan pintu masjid menuju ke alHajar

Kemudian mengumpul orang dan berkata: ‘Hai manusia. Utsman telah dibunuh secara zalim! Demi Allah kita harus menuntut darahnya’. Dia dilaporkan juga telah berkata: ‘Hai kaum Quraisy! Utsman telah dibunuh. Dibunuh oleh Ali bin Abi Thalib. Demi Allah seujung kuku atau satu malam kehidupan Utsman, lebih baik dari seluruh hidup Ali.’ (Lihat Baladzuri, Ansab alAsyraf, jilid 5, hlm. 71.)

Ummu Salamah Menasihati Ummu’lmu’minin

Ummu Salamah menasihati Aisyah agar ia tidak meninggalkan rumahnya: “Ya Aisyah, engkau telah menjadi penghalang antara Rasul Allah saw dan umatnya. Hijabmu menentukan kehormatan Rasul Allah saw, AlQur’an telah menetapkan hijab untukmu.

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan RasulNya”. (Qs. Al Ahzab:33)

Dan jangan engkau membukanya. Tempatmu telah pula ditentukan Allah SWT dan janganlah engkau keluar. Allahlah yang akan melindungi umatnya. Rasul Allah saw mengetahui tempatmu. Kalau Rasul Allah saw ingin memberimu tugas tentu telah beliau sabdakan”

( Aisyah Ibnu Thaifur, Baldghat anNisa’, hlm. 8; Mengenai nasihat Ummu Salamah kepada ‘A’isyah, lihat juga Zamakhsyari, alFa’iq, jilid 1, hlm. 290; Ibnu ‘Abd Rabbih, Iqd alFarid, jilid 3, hlm. 69; Syarh NahjulBalaghah, jilid 2, hlm. 79 ).

Aisyah tidak peduli dan orang orang merasa heran. Ayat AlQur’anyang memerintahkan para istri Rasul agar tinggal di rumah tidak dapat lagi menahannya.

Aisyah tidak menghiraukannya. Thalhah, Zubair dan Abdullah bin Zubair pergi bergabung dengan Aisyah di Makkah. Demikian pula Banu ‘Umayyah serta penguasa penguasa Utsman yang diberhentikan Ali dengan membawa harta baitul mal.

Diriwayatkan bahwa sekali seorang wanita bertanya kepada Aisyah tentang hukumnya seorang ibu yang membunuh anak bayinya. Aisyah menjawab: ‘Neraka tempatnya bagi ibu yang durhaka itu!’. ‘Kalau demikian’, tanyanya: ‘bagaimana hukum seorang ibu yang membunuh dua puluh ribu anaknya yang telah dewasa?’. Aisyah berteriak dan menyuruh orang melempar keluar wanita tersebut.

Thalhah misan Aisyah, yang diharapkan Aisyah akan menjadi khalifah, meninggal dalam Perang Jamal. Ia dibunuh oleh Marwan bin Hakam anggota pasukannya sendiri, karena keterlibatannya dalam pembunuhan Utsman. Setelah memanah Thalhah, Marwan berkata: “Aku puas! Sekarang aku tidak akan menuntut lagi darah Utsman!” Zubair bin ‘Awwam, iparnya, suami kakaknya Asma binti Abu Bakar meninggalkan pasukan setelah mendengar nasihat Ali. Ia dibunuh dari belakang oleh seorang yang bernama ‘Amr bin Jurmuz.

Aisyah punya kelebihan. Setelah menentang dua khalifah ia bisa berubah menjadi orang yang tidak berdosa.. Dan peran Aisyah dalam menentukan aqidah umat berlanjut sampai sekarang dengan hadis hadisnya yang banyak.

Ummu Salamah, misalnya, yang juga ummu’lmu’minin tidaklah mendapat tempat yang terhormat seperti Aisyah. Hal ini disebabkan karena Ummu Salamah berpihakkepada ahlu’lbait’ dengan sering meriwayatkan hadis hadis yang mengutamakan Ali, seperti hadis Kisa’.

Abu Bakar, ayah Aisyah, maupun Umar bin Khaththab menyadari kemampuan Aisyah, dan sejak awal mereka menjadikan Aisyah sebagai tempat bertanya. Ibnu Sa’d, misalnya, meriwayatkan dari alQasim: “Aisyah sering diminta memberikan fatwa di zaman Abu Bakar. Umar dan Utsman dan Aisyah terus memberi fatwa sampai mereka meninggal”. (Ibnu Sa’d, Thabaqat, jilid 3 hlm.3370.)

Dari Mahmud bin Labid: Aisyah memberi fatwa di zaman Umar dan Utsman sampai keduanya meninggal’. Dan sahabat sahabat Rasul Allah saw yang besar, yaitu Umar dan Utsman sering mengirim orang menemui Aisyah untuk menanyakan Sunnah’. Malah Umar memberikan uang tahunan untuk Aisyah lebih besar 20% dari istri Rasul yang lain. Tiap istri Rasul mendapat sepuluh ribu dinar sedang Aisyah dua belas ribu. Pernah Umar menerima satu kereta dari Irak yang di dalamnya terdapat mutiara (jauhar) dan Umar memberikan seluruhnya pada Aisyah.

Di samping pengutamaan Umar kepada Aisyah dalam fatwa maupun hadiah, Umar juga menahannya di Madinah dan hanya membolehkan Aisyah melakukan sekali naik haji pada akhir kekhalifahan Umar dengan pengawalan yang ketat. Umar menyadari betul peran Aisyah yang tahu memanfaatkan kedudukannya yang mulia di mata umat sebagai ibu kaum mu’minin dan memiliki kemampuan yang tinggi untuk mempengaruhi orang. Dengan demikian mereka saling membagikeutamaan.Sedangkan Utsman, terutama pada akhir kekhalifahannya, melalaikan hal ini.

Dan di pihak lain, Ali seperti juga Fathimah sejak awal menjadi bulan bulanan ummu’lmu’minin Aisyah. Kalau Mu’awiyah bersujud dan diikuti orang orang yang menemaninya, dan shalat dhuha enam raka’at saat mendengar Ali meninggal dunia di kemudian hari, sedangkan Aisyah melakukan sujud syukur ketika mendengar berita gembira ini seperti dilaporkan oleh Abu’lFaraj atIshfahani. (AbuFaraj alIshfahani, Maqatil athThalibiyin,hlm. 43.)

Thabari, Abu’lFaraj alIshfahani, Ibnu Sa’d dan Ibnu alAtsir melaporkan bahwa tatkala seorang menyampaikan berita kematian Ali, ummu’lmu’minin Aisyah bersyair: ‘Tongkat dilepas, tujuan tercapai sudah’ ‘Seperti musafir gembira pulang ke rumah!’

.
Melihat tajuk di atas, sudah pasti meromangkan bulu roma para pencinta Nabi. tetapi bertenang, saya hanya membincangkan perkara ini, secara ilmiah, berdasarkan hadis-hadis dari sumber Ahlulsunnah wal Jamaah. Kesimpulan yang dapat diambil adalah terpulang kepada masing-masing
.
Kecemburuan Aisyah kepada Fatimah(sa) dan suaminya adalah sangat berkaitan dengan cemburunya kepada Khadijah al Kubra, yang telah lama meninggal dunia. Ini dapat difahami dari kata-kata beliau sendiri yang diriwayatkan di dalam Qutub Sunni, seperti berikut:
.

Aisyah berkata: “Cemburuku terhadap istri-istri Rasul tidak seperti cemburuku kepada Khadijah karena Rasul sering menyebut dan memujinya, dan Allah SWT telah mewahyukan kepada Rasul saww agar menyampaikan kabar gembira kepada Khadijah bahwa Allah SWTakan memberinya rumah dari Permata di surga”. Al-Bukhari, jilid 2, hlm. 277 dalam Bab Kecemburuan Wanita, Kitab Nikah

Dan di bahagian lain: “Aku tidak cemburu terhadap seorang dari istri-istrinya seperti aku cemburu kepada Khadijah, meski aku tidak mengenalnya. Tetapi Nabi sering mengingatinya dan kadang-kadang ia menyembelih kambing, memotong-motongnya dan membagi-bagikannya kepada teman-teman Khadijah”. Al-Bukhari, jilid 2, hlm. 210, pada Bab Manaqib Khadijah.

Di bahagian yang lain: “Suatu ketika Halah binti Khuwailid, saudari Khadijah, minta izin menemui Rasul dan Rasul mendengar suaranya seperti suara Khadijah”. Rasulullah terkejut dan berkata : Allahumma Halah!’. Dan aku cemburu. Aku berkata:‘Apa yang kau ingat dari perempuan tua di antara perempuan-perempuan tua Qurais dan Allah telah menggantinya dengan yang lebih baik’.

Apakah reaksi Rasulullah(sawa)?: ‘Dan wajah Rasul Allah saww berubah, belum pernah aku melihat ia demikian, kecuali pada saat turun wahyu’. Musnad Ahmad, jilid 6, hlm. 150, 154

Rasulullah lalu bersabda: ‘Allah tidak akan mengganti seorang pun yang lebih baik dari beliau. Dia beriman kepada ku tatkala orang lain mengingkariku. Dia membenarkan ku ketika orang lain mendustakanku. Dan dia membantuku dengan hartanya tatkala orang lain enggan membantuku. Allah SWT memberi anak-anak kepadaku melaluinya dan tidak melalui yang lain’. Musnad Ahmad, jilid 6, hlm. 117;Sunan Tirmidzi, jilid 1, hlm. 247;.Shahih Bukhari, jilid 2, hlm. 177, jilid 4, hlm. 36, 195;Musnad Ahmad jilid 6, hlm. 58, 102, 202, 279; Ibnu Katsir,Tarik h, jilid 3, hlm. 128;al-Kanzu’l-’Ummal, jilid 6, hlm. 224.

Dari sisi riwayat Ahlul Sunnah turut menukilkan bahawa Aisyah mempunyai rasa tidak senang akan sifat cintanya Rasulullah(sawa) kepada Imam Ali(as) melebihi cinta kepada dirinya sendiri dan bapanya
.
Imam Ahmad menukilkan di dalam kitabnya Musnad Ahmad, jilid 4, hlm. 275, yang berasal dari Nu’man bin Basyir: ‘Abu Bakar memohon izin menemui Rasul Allah(sawa) dan ia mendengar suara keras Aisyah yang berkata: ‘Demi Allah, aku telah tahu bahwa engkau lebih mencintai Ali dari ayahku dan diriku!, dan ia mengulanginya dua atau tiga kali’
.
Ijtihad beliau bertentangan dengan firman Allah swt:

‘Dan ia tiada berkata menurut keinginannya sendiri. Perkataannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya’. Al-Qur’an, an-Najm (53:3)

Ibn Abil-Hadid menceritakan: ‘Aku membacakan pidato Ali mengenai Aisyah dari Nahju’l-Balighah [7], kepada Syaikh Abu’ Ayyub Yusuf bin Isma’il tatkala aku berguru ilmu kalam kepadanya. Aku bertanya bagaimana pendapatnya tentang pidato Ali tersebut.

Ia memberi jawaban yang panjang. Aku akan menyampaikannya secara singkat, sebahagian dengan lafaznya sebahagian lagi dengan lafazku sendiri.(Abu ‘Ayyub melihat dari kacamata yang umum terjadi. Penulis menerjemahkannya agak bebas).

“Abu ‘Ayyub berkata: ‘Kebencian Aisyah kepada Fathimah timbul karena Rasul Allah(sawa) mengawini Aisyah setelah meninggalnya Khadijah. Sedang Fathimah adalah putri Khadijah.Secara umum antara anak dan ibu tiri akal timbul ketegangan dan kebencian. Isteri akan mendekati ayahnya dan bukan suaminya, dan anak perempuan tidak akan senang melihat ayahnya akrab dengai ibu tirinya. Dia akan menganggap ibu tirinya merebut tempat ibunya.Sebaliknya anak perempuan pula menjadi tumpuan kecemburuan dari pihak ibu tiri. Beban cemburu Aisyah kepada almarhumah Khadijah, berpindah kepada Fathimah.”

Nota: Maksud Ibn Abin Hadid adalah Khotbah 155 dalam Nahjul Balaghah tatkala ‘Ali berkata tentang Aisyah: ‘Kebencian mendidih dalam dadanya, sepanas tungku pandai besi. Bila ia diajak melakukan kepada orang lain seperti yang ia lakukan kepadaku, ia akan menolak. Tetapi hormatku kepadanya, setelah kejadian ini pun, tetap seperti semula.

Besarnya kebencian kepada anak tirinya berbanding dengan kebencian pada madu beliau yang telah meninggal. Ini ditambah lagi apabila suaminya sering mengingati isterinya yang telah meninggal itu.

Kemudian semua bersepakat bahawa Fathimah mendapat kedudukan mulia di sisi Allah SWT melalui hadis Rasul, yang juga ayahnya, sebagai Penghulu Wanita Kaum Mu’minin yang kedudukannya sejajar dengan Asyiah, Mariam binti ‘Imran dan Khadijah al-Kubra seperti yang tertera dalam hadis shahih Bukhari dan Muslim.

Sebagai tambahan, telah menjadi satu pengetahuan yang umum bahawa Rasulullah memuliakan anak perempuannya dengan kemuliaan yang lebih dari apa yang disangka oleh orang ramai, malah melewati kasih sayang yang biasanya diberikan oleh seorang bapa kepada seorang anak.

Dan Rasulullah(sawa) telah menyampaikannya terang-terangan kepada para sahabat baginda secara berulang di tempat dan kalangan yang berbeza, bahawa Fathimah adalah penghulu kaum wanita sekalian alam’. Melalui hadis yang berasal dari Ali, Umar bin Khaththab, Hudzaifah Ibnu Yaman,Abu Said al-Khudri, Abu Hurairah dan lain-lain Rasul bersabda: ‘Sesungguhnya, Fathimah adalah penghulu para wanita di syurga, dan Hasan serta Husain adalah Penghulu Pemuda di surga. Namun ayah mereka berdua (Ali) lebih mulia dari mereka berdua’
 
Rujukan Hadis: Tirmidzi,al-Jami’ash-Shahih, jilid 5, hlm. 656, 661; Ahmad bin Hanbal,al-Musnad, jilid 3, hlm. 62, 64, 82, jilid 5, hlm. 391, 392; Ibnu Majah,as- Sunan, jilid 1, hlm. 56; Al Hakim An-Nisaburi, A-Mustadrak ash-Shahihain, jilid 3, hlm. 167;Majma’ az-Zawa’id, jilid 9, hlm. 183; al-Muttaqi, Kanz al-Ummal, jilid 13, hlm. 127,128;al- I sti’ ab, jilid4, hlm. 1495;Usdu’l-Ghabah, jilid 5, hlm. 574; Tarikh Baghdad, jilid 1, hlm. 140, jilid 6, hlm. 372 jilid 10, hlm. 230; Ibnu ‘Asakir,at-Tarikh, jilid 7, hlm. 362.

Atau hadis yang diriwayatkan Aisyah sendiri bahwa Rasul telah bersabda: ‘Wahai Fathimah, apakah engkau tidak puas menjadi penghulu para wanita sejagat atau penghulu wanita umat ini atau penghulu kaum mu’minat?’. Rujukan: Shahih Bukhari, jilid 8, hlm. 79; Shahih Muslim, jilid 7, hlm. 142-144; Ibnu Majah, as-Sunan, jilid 1, hlm. 518; Ahmad bin Hanbal,al-Musnad, jilid 6, hlm. 282; al-Hakim an-Nisaburi, al-Mustadrak ‘ala ash-Shahihain, jilid 3, hlm. 136.

Rasul bersabda bahwa kedudukan Fathimah sama dengan kedudukan Mariam binti ‘Imran dan bila Fathimah melewati di tempat wuquf, para penyeru berteriak dari arah ‘arsy, ‘Hai penghuni tempat wuquf, turunkan pandanganmu karena Fathimah binti Muhammad akan lewat . Hadis ini merupakan hadis shahih dan bukan hadis lemah.(al-Mustadrak, jilid 3, hlm. 153, 156; Kanzu’l-’Ummal, jilid 6, hlm. 218.)

Ali menikahi Fatimah setelah dinikahkan Allah SWT di langit dan disaksikan para malaikat. [al-Mustadrak, jilid 3, hlm. 153, 156;Kanzu’l-’Ummal, jilid 6, hlm. 218.]

Betapa kerapnya Rasulullah(sawa) bersabda: ‘Barangsiapa menyakiti Fathimah, maka ia telah menyakitiku’, ‘Membencinya berarti membenciku’ , Beliau adalah sebagian dari diriku’, Meraguinya bererti meraguiku’ [Kanzu’l-’Ummal, jilid 6, hlm. 220]

Dan semua kemuliaan dan penghormatan ini tentu menambah kecemburuan Aisyah yang tidak berusaha sungguh-sungguh untuk melihat konteks ini dengan kenabian Rasul saww.

Sifat beliau jauh sekali berbeza dengan Ummu Salamah(rh), yang juga merupakan seorang isteri Rasulullah(sawa), Ummul Mukminin, yang mencintai Ahlul Kisa bukan sahaja sebagai ahli keluarga tetapi juga sebagai orang yang disucikan di dalam Ayatul Tathir. (Al-Qur’an 33:33)

Biasanya bila seorang isteri merasa diperlakukan kurang baik oleh sesama wanita maka berita ini akan sampai kepada suami. Dan lumrah apabila isteri menceritakan perkara ini pada suaminya dimalam hari. Tetapi Aisyah tidak dapat melakukan perkara ini, keranana Fathimah adalah anak suaminya. Ia hanya dapat mengadu pada wanita-wanita Madinah dan tetangga yang bertamu ke rumahnya.

Kemudian wanita-wanita ini akan menyampaikan berita kepada Fathimah, barangkali begitu pula sebaliknya. Dan yang jelas ia akan menyampaikannya kepada ayahnya, Abu Bakar.

Kemampuan Aisyah untuk mempengaruhi orang sangatlah terkenal dan hal ini akan membekas pada diri Abu Bakar. Kemudian Rasulullah(sawa) melalui hadis yang demikian banyak, telah memuliakan dan mengkhususkan Ali dari sahabat-sahabat lain.

Berita ini tentu menambah kepedihan Abu Bakar, kerana Abu Bakar adalah ayahnya Aisyah. Pada kesempatan lain sering terlihat Aisyah duduk bersama Abu Bakar dan Thalhah sepupunya dan mendengar kata-kata mereka berdua. Yang jelas pembicaraan mereka mempengaruhi Aisyah sebagaimana mereka juga terpengaruh oleh Aisyah’.

Kemudian ia (Abu Ayyub) melanjutkan: ‘Saya tidak mengatakan bahwa Ali bebas dari ulah Aisyah. Telah sering timbul ketegangan antara Aisyah dan Ali di zaman Rasulullah(sawa)’.

Misalnya telah diriwayatkan bahawa suatu ketika Rasul dan Ali sedang berbicara. Aisyah datang menyela antara keduanya dan berkata : ‘Kamu berdua berbicara terlalu lama!’Rasul marah sekali.Dan, di ketika lain tatkala terjadi peristiwa Ifk, menurut Aisyah, Ali mengusulkan Rasulullah(sawa) agar menceraikan Aisyah dan mengatakan bahawa Aisyah tidak lebih dari tali sebuah sandal. (Tapi ramai orang meragukan peristiwa Ifk yang diriwayatkan Aisyah ini. Dari mana misalnya orang ini mengetahui usul Ali kepada Rasul? Siapa yang membocorkannya?),.

Di pihak lain Fathimah melahirkan ramai anak lelaki dan perempuan, sedang Aisyah tidak melahirkan seorang anak pun. Malah Rasulullah(sawa) menyebut kedua anak lelaki Fathimah, Hasan dan Husain sebagai anak-anaknya sendiri. Hal ini terbukti tatkala turun ayat mubahal ah [ Ali Imran : 61].

Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu),Maka Katakanlah (kepadanya): “Marilah kita memanggil anak-anak Kami dan anak-anakkamu, isteri-isteri Kami dan isteri-isteri kamu, diri Kami dan diri kamu; kemudian Marilahkita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya la’nat Allah ditimpakan kepadaorang-orang yang dusta”.

Bagaimana perasaan seorang isteri, yang tidak dapat melihat bahawa suaminya adalah seorang Rasul Allah, bila suaminya memperlakukan cucu tirinya sebagai anaknya sedangkan ia sendiri tidak punya anak?.

Kemudian Rasul menutup pintu yang biasa digunakan ayahnya ke masjid dan membuka pintu untuk Ali. Begitu pula tatkala Surat Bara’ah turun, Rasul Allah(sawa) menyuruh Ali,yang disebutnya sebagai dari dirinya sendiri, untuk menyusul Abu Bakar dalam perjalanan haji pertama. Dan agar Ali sendiri membacakan surat Bara’ah atau Surat Taubah kepada jemaah dan kaum musyrikin di Mina.

Kemudian Mariah, isteri Rasul, melahirkan Ibrahim dan Ali menunjukkan kegembiraannya, hal ini tentu menyakitkan hati Aisyah.

Yang jelas Ali sama sekali tidak ragu lagi, sebagaimana kebanyakan kaum Muhajirin dan Anshar, bahawa Ali akan menjadi khalifah sesudah Rasul meninggal dan yakin tidak akan ada orang yang menentangnya.

Tatkala pamannya Abbas berkata, kepadanya:Ulurkan tanganmu, aku akan membaiatmu dan orang akan berkata Paman Rasul membaiat sepupu Rasul, dan tidak akan ada yang berselisih denganmu!”Ali menjawab:Wahai paman,apakah ada orang lain yang menginginkannya?’. Abbas menjawab:Kau akan tahu nanti! ,Ali menjawab: ‘Sedang saya tidak menginginkan jabatan ini melalui pintu belakang. Saya ingin semua dilakukan secara terbuka’. Abbas lalu diam.

Tatkala penyakit Rasulullah(sawa) semakin berat Rasul berseru agar mempercepat pasukan Usamah. Abu Bakar beserta tokoh-tokoh Muhajirin dan Anshar lainnya diarahkan oleh Rasul untuk turut serta di dalam pasukan itu. Maka Ali -yang tidak diikutkan Rasul dalam pasukan Usamah- dengan sendirinya akan menduduki jabatan khalifah itu -bila saat Rasulullah(sawa) tiba, – karena Madinah akan bebas dari orang-orang yang akan menentang Ali. Dan ia akan menerimaj abatan itu secara mulus dan bersih. Maka akan lengkaplah pembaiatan, dan tidak akan ada lawan yang menentangnya.

Itulah sebabnya Aisyah memanggil Abu Bakar dari pasukan Usamah yang sedang berkemah di Jurf -pada pagi hari Isnin, hari wafatnya Rasul dan bukan pada siang hari- dan memberitahu bahawa Rasulullah(sawa) sedang nazak.

Dan tentang mengimami shalat, Ali menyampaikan bahwa Aisyahlah yang memerintahkan Bilal, maula ayahnya, untuk memanggil ayahnya mengimami shalat, kerana Rasul(sawa) sebagaimana diriwayatkan telah bersabda: ‘Agar orang-orang shalat sendiri-sendiri’, dan Rasul tidak menunjuk seseorang untuk mengimami shalat. Shalat itu adalah shalat subuh. Karena ulah Aisyah itu maka Rasul memerlukan keluar, pada akhir hayatnya, dituntun oleh Ali dan Fadhl bin Abbas sampai ia berdiri di mihrab seperti diriwayatkan…’.

Setelah Abu Bakar dibaiat, Fathimah datang menuntut Fadak milik pribadi ayahnya tetapi Abu Bakar menolaknya dan mengatakan bahwa Nabi tidak mewariskan. Aisyah membantu ayahnya dengan membenarkan hadis tunggal yang disampaikan ayahnya bahwa ‘Nabi tidak mewariskan dan apa yang ia tinggalkan adalah sedekah’.

Ketika Fathimah meninggal dunia dan semua wanita melawat ke rumah Banu Hasyim kecuali Aisyah. Ia tidak datang dan menyatakan bahwa ia sakit. Dan sampai berita kepada Ali bahwa Aisyah menunjukkan kegembiraan.

Kemudian Ali membaiat Abu Bakar dan Aisyah gembira. Sampai tiba berita Utsman dibunuh dan Aisyah orang yang paling kental menyuruh bunuh Utsman dengan mengatakan Utsman telah kafir. Mendengar demikian ia berseru: ‘Mampuslah ia!’Dan ia mengharap Thalhah akan jadi khalifah. Setelah mengetahui Ali telah dibaiat dan bukan Thalhah, ia berteriak:Utsman telah dibunuh secara kejam dan menuduh Ali sebagai pembunuh dan meletuslah perang Jamal’. [ Ibn Abil Hadid , Nahjul Balaghah Jil. 2 hal. 192 -197] Demikian penjelasan Ibn Abil-Hadid.

Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan sebuah peristiwa secara rahasia kepada salah seorang istrinya (yakni Hafsah) dan dia (Hafsah) kemudian membeberkan pembicaraan itu (kepada A’isyah) dan Allah memberitahukan hal itu kepadanya (Muhammad),lalu dia (Muhammad) memberitahukan sebagian dan merahasiakan sebagian. Tatkala dia (Muhammad) memberitahukan yang sebagian itu (pembicarann antara Hafsalt dan A’isyah), maka dia (Hafsah) bertanya,”Siapakah yang telah memberitahukan hal itu kepadamu?” Nabi menjawab, “Yang Maha Mengetahui dan Maha Mengenal telah memberitahukannya kepadaku.” (QS. at-Tahrim : 3)

.
Jika kalian berdua (yakni Hafsah dan A’isyah) bertobat kepada Allah, maka hati kalian memang telah condong (untuk mematuhi perintah Rasul), dan jika kalian berdua bantu membantu dalam menentang Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah perlindungannya dan begitu pula Jibril dan orang – orang yang saleh di antara kaum mukmin dan selain itu malaikat juga adalah penolongnya.. (QS. al-Tahrim : 4)Jika dia menceraikan kalian, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik dari kalian, yang patuh, beriman, taat, yang bertaubat, yang beribadah, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan. (QS. at-Tahrim : 5)
.
Pada jilid 6 kitab Shahh Bukhari edisi Arab-Inggris, di bab yang berjudul Boleh jadi, jika dia menceeraikan kalian, Tuhannya akan …” (at-Tahrim : 5), dapat ditemukan hadis-hadis sebagai berikut: Diriwayatkan dari Umar bin Khattab, “Istri-istri Nabi karena kecemburuan mereka, saling membantu untuk melawan Nabi, sehingga aku berkata kepada mereka, ‘Boleh jadi, jika dia menceraikan kalian, Allah akan memberinya istri-istri pengganti yang lebih baik dari kalian!’ Maka demikianlah ayat ini (QS. 66:5) diturunkan.” (Shahih Bukhari, hadis 6.438, jilid 6 hadis ke 438)Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, “Saya bermaksud bertanya kepada Umar, maka saya katakan, ‘Siapakah dua orang perempuan yang mencoba saling membantu dalam menentang Rasululllah?’ Saya hampir tidak melanjutkan perkataan saya ketika dia berkata, ‘Mereka adalah Aisyah dan Hafsah.”‘ (Shahih Bukhari, hadis 6.436)
.

Jika Allah Ta’ala sampai mengancam kedua istri Nabi itu dengan perceraian, disebabkan mereka saling membantu dalam menentang Nabi, lalu bagaimana bisa kita menyatakan bahwa mereka adalah suci dan bebas dosa (maksum)?

Hadits-Hadits lainnya mencatat bahwa Rasulullah SAWW meninggalkan istri-Istrinya selama sebulan

Umar kemudian menceritakan sebuah hadis dan berkata, ‘…Aku berteriak kepada istriku dan dia menjawabnya dengan pedas, dan aku tidak suka kalau dia membantahku. Dia berkata kepadaku, “Mengapa engkau begitu terkejut dengan bantahanku? Demi Allah, istri-istri Nabi membantah beliau dan beberapa di antara mereka meninggalkan beliau (tidak berbicara dengan beliau) selama seharian penuh hingga malam tiba.”‘

.

Pembicaraan itu demikian menakutkanku, dan aku berkata kepadanya, `Siapapun yang melakukan hal itu akan binasa!’ Kemudian aku melangkah setelah merapikan pakaian, dan masuk ke (rumah) Hafsah dan berkata kepadanya, ‘Adakah di antara kalian yang membuat Nabi marah hingga malam?’ Dia menjawab, ‘Ya, ada.’ Aku lalu berkata, ‘Kalian orang yang binasa! Tidakkah kalian takut bahwa Allah akan marah karena marahnya Rasulullah dan karena itu kalian akan binasa? Maka janganlah meminta yang lebih banyak dari Nabi dan jangan membantah beliau dan jangan memutuskan pembicaraan dengan beliau! Mintalah kepadaku apapun yang kamu butuhkan dan jangan berusaha meniru tetanggamu (yaitu Aisyah) dalam kelakuannya, karena dia lebih menarik daripada kamu dan lebih dicintai oleh Nabi!’

.

Kemudian Umar menambahkan, ‘Suatu saat, ketika aku sedang berpikir tentang suatu masalah, istriku berkata, “Aku sarankan agar engkau melakukan ini dan itu.” Aku bertanya kepadanya, “Apa yang telah kau dapatkan untuk mengerjakan hal itu? Mengapa engkau menonjok hidungmu dalam suatu masalah yang aku ingin melihatnya selesai?” Dia kemudian berkata, “Betapa anehnya engkau ini, hai Ibnu Khattab! Engkau tidak ingin berdebat dengan cara (yang digunakan) putrimu mendebat Rasulullah begitu hebat sehingga beliau menjadi marah selama sehari penuh!”‘

.

Umar kemudian melaporkan bahwa dia seketika mengenakan pakaian luarnya dan pergi ke tempat Hafsah dan berkata kepadanya, ‘Wahai putriku! Apakah engkau mendebat Rasulullah sehingga beliau menjadi marah selama sehari penuh?’ Hafsah berkata, ‘Demi Allah, kami berdebat dengan beliau.’ Umar berkata, ‘Aku peringatkan engkau akan hukuman Allah dan kemarahan Rasulullah Wahai putriku! Janganlah engkau tertipu oleh orang yang membanggakan kecantikannya karena cinta Rasulullah kepadanya (yakni Aisyah).’

Umar menambahkan, ‘(Suatu hari) Temanku orang Anshar dengan tak disangka-sangka mengetuk pintuku dan berkata, “Buka! Buka!’ Aku bertanya, “Apakah Raja Ghassan telah datang?” Dia berkata, “Tidak, tetapi sesuatu yang lebih buruk. Rasulullah telah mengasingkan diri beliau dari istri-istri beliau.” Aku berkata, “Biarlah hidung Aisyah dan Hafsah tertempel pada debu (yaitu binasa)!”“‘ (Shahih Bukhari, hadis 6.435)

.

Dalam hadis di atas, Hafsah bersumpah demi Allah bahwa dia berbantahan dengan Rasulullah SAW dan membuat beliau menjauhinya selama sehari penuh! Seperti inikah bukti kesucian dan kesalehan? Menurut Quran Surah al-Ahzab 33, kesucian yang sempurna dan keterjagaan penuh dari dosa adalah ciri khas Ahlulbait. Ayat-ayat Quran di atas dan hadis-­hadis dalam Shahih Bukhari tersebut memberikan bukti bahwa Aisyah dan Hafsah tidaklah suci dan saleh, sebab kalau tidak tentu Allah tidak akan mengancam mereka dalam Quran dengan penceraian..

Salah satu situs yang mengaku salafy pernah membawakan pembahasan istri-istri Nabi sebagai Ahlul Bait. Situs tersebut berhujjah dengan hadis shalawat yang ditujukan kepada Nabi, Istri-istrinya dan keturunannya. Ternyata banyak pula orang yang ikut-ikutan alias taklid kepada situs tersebut padahal hujjah seperti itu tidak ada nilainya di sisi orang yang memang mengenal ilmu hadis. Silakan perhatikan hujjah yang dimaksud. Situs itu membawakan riwayat Al Bukhari tentang shalawat
اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد

“Ya Allah, berikanlah kebahagiaan kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberikan kebahagiaan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Dan berikanlah barakah kepada Muhammad, dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberikan barakah kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia” [Shahih Bukhari no. 3370].
اللهم صل على محمد وعلى أزواجه وذريته. كما صليت على آل إبراهيم. وبارك على محمدوعلى أزواجه وذريته. كما باركت على آل إبراهيم. إنك حميد مجيد

“Ya Allah, berikanlah kebahagiaan kepada Muhammad dan kepada istri-istrinya serta keturunannya, sebagaimana Engkau telah memberikan kebahagiaan kepada keluarga Ibrahim. Dan berikanlah barakah kepada Muhammad, dan kepada istri-istrinya serta keturunannya, sebagaimana Engkau telah memberikan barakah kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia”[Shahih Bukhari no. 3369 dan Shahih Muslim no. 407].

Dengan kedua hadis ini mereka berpendapat bahwa Lafaz “wa ‘alaa azwaajihi wa dzurriyyaatihi” (dan kepada istri-istrinya serta keturunannya) merupakan penafsir dari lafaz “wa ‘alaa aali Muhammad” (dan kepada keluarga Muhammad). Kemudian mereka menyimpulkan bahwa Ahlul Bait adalah istri-istri dan keturunan Nabi SAW.

Hujjah mereka ini keliru, entah mengapa mereka tidak menyadari lompatan kesimpulan mereka yang seenaknya. Silahkan perhatikan hadis shalawat dalam Musnad Ahmad berikut

اللهم صل على محمد وعلى أهل بيته وعلى أزواجه وذريته كما صليت على آل إبراهيم إنك حميد مجيد وبارك على محمد وعلى أهل بيته وعلى أزواجه وذريته كما باركت على آل إبراهيم إنك حميد مجيد

Ya Allah, berilah kebahagiaan kepada Muhammad dan kepada Ahlul baitnya dan kepada istri-istrinya serta keturunannya sebagaimana Engkau telah memberikan kebahagiaan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Dan berikanlah barakah kepada Muhammad dan kepada Ahli Baitnya, istri-istrinya, serta keturunannya, sebagaimana Engkau telah memberikan barakah kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.”[Hadis Musnad Ahmad 5/374 no 23221 dishahihkan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth].

Dengan memperhatikan ketiga hadis tersebut maka yang dimaksud Aali Muhammad [keluarga Muhammad] adalah

•Ahlul Bait Muhammad SAW

•Istri-istri Muhammad SAW

•Keturunan Muhammad SAW

Bukankah ini justru menunjukkan kalau Ahlu Bait dan Istri-istri Nabi adalah dua entitas yang berbeda walaupun keduanya termasuk “keluarga Muhammad”.Ditambah lagi terdapat hadis shahih lain yang menunjukkan dengan jelas kalau Istri-istri Nabi SAW bukan Ahlul Bait yaitu riwayat Zaid bin Arqam. Tetapi anehnya salafiyun ketika berhujjah mereka hanya membawakan hadis Zaid bin Arqam yang berikut

عن يزيد بن حيان قال قال زيد بن أرقم قام رسول الله صلى الله عليه وسلم يوما فينا خطيبا بماء يدعى خما بين مكة والمدينة. فحمد الله وأثنى عليه ووعظ وذكر ثم قال “أما بعد ألا أيها الناس فإنما أنا بشر يوشك أن يأتي رسول ربي فأجيب وأنا تارك فيكم ثقلين أولهما كتاب الله فيه الهدى والنور فخذوا بكتاب الله واستمسكوا به” فحث على كتاب الله ورغب فيه ثم قال “وأهل بيتي أذكركم الله في أهل بيتي أذكركم الله في أهل بيتي أذكركم الله في أهل بيتي” فقال له حصين ومن أهل بيته؟ يا زيد أليس نساؤه من أهل بيته؟ قال نساؤه من أهل بيته ولكن أهل بيته من حرم الصدقة بعده قال وهم؟ قال هم آل علي، وآل عقيل وآل جعفروآل عباس قال كل هؤلاء حرم الصدقة؟ قال نعم


Dari Yaziid bin Hayyaan ia berkata Telah berkata Zaid bin Arqam “Pada satu hari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah berdiri dan berkhutbah di sebuah mata air yang disebut Khumm. Beliau memuji Allah, kemudian menyampaikan nasihat dan peringatan kepada kami “Amma ba’du, ketahuilah wahai sekalian manusia, bahwasannya aku hanyalah seorang manusia sama seperti kalian. Sebentar lagi utusan Rabb-ku (yaitu malaikat maut) akan datang dan dia diperkenankan. Aku akan meninggalkan kepada kalian dua hal yang berat, yaitu Al-Qur’an yang berisi petunjuk dan cahaya, karena itu laksanakanlah isi Al-Qur’an itu dan berpegangteguhlah kepadanya – beliau mendorong dan menghimbau pengamalan Al-Qur’an – dan Ahlul-Baitku (keluargaku). Aku ingatkan kalian kepada Allah tentang Ahlul-Bait-ku (beliau mengucapkan tiga kali)”. Hushain berkata kepada Zaid “Wahai Zaid, siapakah ahlul-bait Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam ? Bukankah istri-istri beliau adalah ahlul-baitnya ?”. Zaid bin Arqam menjawab “Istri-istri beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam memang ahlul-baitnya. Namun ahlul-bait beliau adalah orang-orang yang diharamkan menerima zakat sepeninggal beliau”. Hushain berkata “Siapakah mereka itu ?”. Zaid menjawab “Mereka adalah keluarga ‘Ali, keluarga ‘Aqil, keluarga Ja’far, dan keluarga ‘Abbas”. Hushain berkata “Apakah mereka semua itu diharamkan menerima zakat ?”. Zaid menjawab “Ya” [Shahih Muslim no. 2408 dan Shahih Ibnu Khuzaimah no. 2357].

Mereka salafiyun patut disayangkan seolah-olah tidak pernah membaca hadis riwayat Muslim lain [yang berada tepat di bawah hadis di atas dalam Shahih Muslim] yang bertentangan dengan hujjah mereka [dimana dalam hadis ini Zaid bin Arqam bersumpah “Demi Allah”]
فقلنا من أهل بيته ؟ نساؤه ؟ قال لا وايم الله إن المرأة تكون مع الرجل العصر من الدهر ثم يطلقها فترجع إلى أبيها وقومها أهل بيته أصله وعصبته الذين حرموا الصدقة بعده

“Kami berkata “Siapa Ahlul Bait? Apakah istri-istri Nabi? . Kemudian Zaid menjawab ” Tidak, Demi Allah seorang wanita(istri) hidup dengan suaminya dalam masa tertentu jika suaminya menceraikannya dia akan kembali ke orang tua dan kaumnya. Ahlul Bait Nabi adalah keturunannya yang diharamkan untuk menerima sedekah”. [Shahih Muslim no 2408]

Tulisan ini hanya ingin menunjukkan betapa cara pendalilan mereka yang ngakunya salafiyun itu terkesan seenaknya. Terdapat dalil shahih yang menunjukkan bahwaAhlul Bait Nabi SAW bukanlah istri-istri Nabi sebagaimana terdapat pula dalil shahih dimana Nabi SAW terkadang memanggil istrinya dengan sebutan Ahlul Bait. Kami telah membahas tentang ini dalam pembahasan tersendiri. Sebutan Ahlul Bait bisa memiliki makna umum maupun khusus. Secara umum baik istri Nabi ataupun kerabat Nabi lainnya [keluarga Aqil, keluarga Ja’far dan keluarga Abbas] bisa saja disebut sebagai Ahlul Bait tetapi secara khusus Nabi SAW pernah mengkhususkansiapa yang dimaksud Ahlul Bait terkait dengan keutamaan dan kemuliaan khusus yang mereka sandang seperti Ahlul Bait dalam Ayat Tathir yang dikhususkan oleh Nabi SAW untuk Sayyidah Fathimah AS, Imam Ali AS, Imam Hasan AS dan Imam Husain AS.

4 comments

  1. subhkanalloh syiah ali adalah kebenaran islam yang sesungguhnya semoga alloh selalu bersama orang orang yang mencari kebenaran islam yang sesungguhnya allohuma sholi alla muhamad wa ali muhammad

  2. Knp kita tdk bersatu saja melawan musuh2 islam! Bukankah Rosul SAW sudah memperingatkan tentang fitnah di akhir jaman! Biarlah Allah SWT yg membenarkan islam sunni atau syi’ah yg benar ketika kita sudah menghadap-Nya!

  3. Yang pasti Islam tidak pernah di ajarkan untuk saling membenci, juga tidak mengajarkan untuk mengkultuskan/memuja seseorang…..

  4. Tiada manusia yg sempurna. Bahkan Nabi Muhammad Saw pernah berbuat salah dan mendapat teguran dari Allah SWT. apa apa yg terjadi dalam rumah tangga Rashulullah adalah sebagian dari petunjuk Allah. untuk masalah peperangan JAMAL, Bukan Aisyah r.ah yg menyebabkan peperangan! tapi ada pihak ke tiga! bila anda mempelajari dari semua sumber yg ada dengan itikad baik (tak ada rasa benci) saya jamin anda bisa melihat siapa pihak ketiga itu!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s