Syi’ah, NU dan Muhammadiyah bisa bersatu karena sama sama menghendaki kesejahteraan ekonomi dan kemajuan iptek/sains !! Wahabi asyik debat tanpa hasil nyata

Kemunculan wahabi telah diketahui Rasulullah saw, Muhammadiyah Modern bukanlah wahabi !

Syi’ah, NU dan Muhammadiyah bisa bersatu karena sama sama menghendaki kesejahteraan ekonomi dan kemajuan iptek/sains !! Wahabi asyik debat tanpa hasil nyata
.
baca juga :
.

nu muhammadiyah

JAKARTA, 1/9 – NUZULUL QURAN. Ketua Umum PBNU KH Said Aqiel Siradj (kanan) berbincang bersama Ketua Umum PP Muhammadiyah Dien Syamsudin (kiri) dan ketua GP Ansor Saifullah Yusuf (tengah) saat acara peringatan Nuzulul Qur’an di Jakarta, Rabu (1/9). Pertemuan itu merupakan kesempatan pertama antara kedua pemimpin ormas keagamaan besar NU dan Muhammadiyah dan diharapkan akan memunculkan kerjasama yang lebih erat di masa depan.

indahnya Persatuan Ulama Syiah, NU & Habaib Sunni, Indahnya Ukhuwah Islamiyah.

Indahnya Persatuan Ulama Syiah, NU & Habaib SunniDalam foto ini nampak para Ustadz, Habaib dan Tokoh2 NU, Muhammadiyah, ABI, FPI, Mer-C sedang berfoto bersama Ulama Iran dalam sebuah kunjungan ke Iran beberapa tahun silam, dalam rangka Silaturrahim dan Ukhuwah Islamiyah.

Silaturrahmi antara Ketua Syura tertinggi Majma’ Jahani Taqrib Mazahib Islami dan Penasihat Antar bangsa Urusan Ahlusunnah Iran bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah berlangsung di Jakarta pada Isnin lalu (20-02-2012).

Dalam pertemuan ini, lebih 50 orang ulama dan tokoh Islam hadir yang membincangkan tentang perpaduan umat Islam dan menjawab persoalan tentang isu-isu terkini.

Indahnya Persatuan Ulama Syiah, NU & Habaib SunniDi awal pertemuan ini, ahli jawatan kuasa kepimpinan MUI, Dr. Junaidi berkata, “Konflik sejak akhir-akhir ini tentang Syiah di Indonesia, beberapa permasalahan tentang Ahlusunnah di Iran dan beberapa syubhat mengenai Syiah telah dijelaskan di mana kedutaan Iran di Indonesia mengambil kesempatan yang baik menganjurkan dialog, pendekatan pemikiran dan termasuk pemahaman yang sesuai antara satu sama lain.”

Dalam pertemuan ini, ketua Syura Tertinggi Majma’ Taqrib dan penasihat presiden Iran tentang Ahlusunnah Iran, Syeikh Mawlavi Ishaq Madani menjelaskan tentang kedudukan Ahlusunnah di Iran sambil membandingkan situasi mereka sebelum dan setelah revolusi Islam Iran. Katanya kemajuan prasarana, pusat-pusat agama, masjid dan madrasah Ahlusunnah di Iran berkembang pesat melebihi seratus persen setelah revolusi Islam.

Imam Sunni Iran tersebut, menjelaskan bahwa keadaan Sunni di Iran adalah baik. “Keadaan Ahlussunnah adalah baik, tidak mengalami penindasan,” terangnya di hadapan para ulama.

Mawlavi Ishaq Madani menegaskan bahawa kebebasan Ahlusunnah di Iran adalah berpunca perlembagaan Iran yang membela nasib mereka. Selain itu mereka dapat melibatkan di diri di dalam majlis syura Islami, Majlis Khubregan dan jabatan-jabatan kerajaan sambil bebas mengamalkan kaedah dan akidah mazhab. Selain itu, beberapa pusat pengajian Republik Islam Iran turut mengajar mata pelajaran fikih Ahlusunnah

.

Kemajuan Iran Menggetarkan Dunia

 tentang kemajuan Republik Islam Iran dan selamat membaca !!!

Jurnal Newscientist edisi Kamis (18/2) memuat hasil penelitian Science-Metrix, sebuah perusahaan di Motreal, Kanada yang melakukan evaluasi atas perkembangan dan produk ilmu pengetahuan serta teknologi di berbagai negara. Dalam laporan hasil penelitiannya, Science-Metrix menyebutkan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan di negara Iran sebelas kali lebih cepat dibandingkan negara-negara lainnya di dunia.

Perusahaan itu mengamati adanya “pergeseran geopolitis dalam bidang ilmu pengetahuan dan karya” yang dihasilkan negara-negara di dunia. Menurut Science-Metrix, banyaknya karya-karya ilmiah yang dimuat di Web of Science menunjukkan bahwa standar pertumbuhan karya ilmiah di Timur Tengah, khususnya di Iran dan Turki, nyaris mendekati angka empat kali lebih cepat dari rata-rata pertumbuhan di dunia.

“Iran menunjukkan pertumbuhan yang paling cepat di dunia dalam bidang ilmu pengetahuan. Asia terus mengejar, bahkan lebih cepat dari yang kami pekirakan sebelumnya. Eropa mempertahankan posisinya lebih dari yang diharapkan, dan Timur Tengah adalah kawasan yang patut diperhatikan,” kata Eric Archambault yang menulis laporan Science-Metrix.

Ia mengatakan, publikasi karya-karya ilmiah dari Iran kebanyakan tentang kimia nuklir dan tentang fisika partikel. “Iran juga mengalami kemajuan pesat di bidang ilmu kedokteran dan pengembangan pertanian,” tukas Archambault.

Ia menambahkan, perkembangan teknologi di Iran pada tahun ini sangat cepat bahkan melampaui negara China yang oleh dunia diakui cemerlang dalam bidang sains .

Meski lebih dari 30 tahun diembargo Barat, Iran telah melakukan langkah besar di berbagai sektor, termasuk sektor ruang angkasa, nuklir, kedokteran, penelitian tentang sel dan kloning. Tanggal 2 Februari kemarin, Iran berhasil meluncurkan satelit yang diberi nama Kavoshgar 3 ke ruang angkasa. Satelit itu membawa berbagai organisma hidup seperti tikus, dua ekor kura-kura dan cacing untuk keperluan penelitian.

Sebelumnya, di bulan Januari, Iran menjadi negara pertama di Timur Tengah yang mampu mengembangbiakkan hewan ternak transgenik, seperti domba dan kambing. Iran juga tercatat sebagai salah satu negara dari sedikit negara yang berhasil mengembangkan teknologi dan perangkat untuk mengkloning hewan ternak yang bisa digunakan untuk keperluan penelitian di bidang kedokteran dan untuk memproduksi zat antibodi manusia untuk menangkal penyakit.

Anak domba bernama Royana dan dua sapi bernama Bonyana dan Tamina adalah hewa-hewan hasil kloning pertama di Iran. (ln/prtv)

Catatan Redaksi: OKI Nobatkan Iran Sebagai Poros Teknologi Negara-Negara Islam, Di saat negeri-negeri muslim lain mengalami keterbelakangan, bergolak dan mengalami krisis identitas tetapi Iran justru menunjukkan harga diri sebagai negeri muslim yg maju, mandiri, gandrung akan pengetahuan dan teknologi dan senantiasa dalam naungan Ilahi, sesungguhnya pertolongan hanya dari Allah dan kemenangan sudah semakin dekat…



Sebahagian para pengikut wahabi merasa marah jika kita sebut bahawa Nejd tempat kelahiran Imam mereka adalah tempat keluarnya tanduk Syaitan dan tempat keluarnya khawarij, mereka beralasan bahwa Nedj yang di maksud Rasululah s.a.w adalah Iraq, karena negeri Iraq sumber dari kekacauan dan fitnah.

Mari kita lihat sejauh mana kebenaran yang telah di sampaikan oleh pengikut wahabi yang terlalu fanatik dengan Imamnya Muhammad bin Abdul Wahab sehingga beliau hampir seperti nabi yang tidak salah dan khilaf, selain beliau tergolong salah dan sesat.

Bahayanya daerah Najd berasal dari hadits Rasulullah s.a.w yang menceritakan keberkatan tanah , Yaman, dan Syam sebagaimana didalam hadisnya :

عن ابن عمر قال : ذكر النبي صلى الله عليه وسلم : ” اللهم بارك لنا في شامنا، اللهم بارك لنا في يمننا” . قال

وفي نجدنا ؟ قال : ” اللهم بارك لنا في شأمنا، اللهم بارك لنا في يمننا، قالوا : وفي نجدنا ؟ فأظنه قال في الثالثة : ” هناك الزلازل والفتن وبها يطلع قرن الشيطان ” رواه البخاري كتاب الفتن باب قول النبي صلى الله عليه وسلم :” الفتنة قبل المشرق “رقم 7094

Artinya : Dari Ibnu Umar r.a berkata : Rasulullah s.a.w menyebutkan : ” Ya Allah berilah keberkatan kepada negeri Syam kami, berilah keberkatan kepada negeri Yaman kami, Berkata mereka : ” Pada Najd kami Ya Rasulullah “, berkata Rasulullah : Ya Allah berilah keberkatan kepada negeri Syam kami, berilah keberkatan kepada negeri Yaman kami, Berkata mereka : ” Pada Najd kami Ya Rasulullah “, Berkata Rasulullah : Disana terdapat kegoyangan ( aqidah ) dan fitnah, dan disanalah terbitnya tanduk Syaitan.

( H.R . Bukhari , kitab al-Fitan, bab Qulun Nabi s.a.w. al-Fitnah Min Qibla al-Masyriq, no : 7094 ).

Dari hadis ini kita mengetahui bahwa Rasul telah mendo`akan negeri Syam dan Yaman, sebab itulah para sahabat berlomba-lomba untuk pindah ke negeri Yaman dan Syam.

Kenapa Najd yang terdapat di hadis ini bukan negeri Iraq ? Adapun sebagai Jawabannya sebagai berikut :

1 – Negeri yang dido`akan Rasulullah adalah negeri-negeri yang telah masuk islam sebahagian penduduknya, sebahagian ahli Syam telah mendatangi Nabi s.a.w. dan mengucap kalimat dua Syahadah, penduduk Yaman mendatangi Rasul dan memeluk islam ketika itu, sementara penduduk daerah Iraq tidak ada yang datang ke hadapan Rasul, bahkan mereka masuk islam pada masa pemerintahan Abu Bakar dan Umar bin Khatab ketika penaklukkan negara Farsi, sementra penduduk Najd ( tempat kelahiran pemimpin wahabi ) telah berbondong-bondong pergi ke Madinah untuk memeluk islam, bagaimana boleh didalam hadis menyebutkan kalimat ” di Nejd kami ” sementara Iraq belum jatuh ke tangan umat islam, dan masih di pegang oleh negara Farsi, ungkapan kami di sini memiliki dua makna :

Yang pertama : Para sahabat yang bersama Rasul, dan mereka bermaksud bahwa ungkapan kami adalah makna kepemilikan Iraq, dan ini mustahil sebab Iraq belum jatuh ketangan umat Islam.

Yang kedua : Utusan yang datang dari Najd, jikalau Najd itu Iraq, maka sesuatu yang mustahil sebab tidak ada riwayat yang mengatakan adanya utusan kaum yang datang dari Iraq, maka mestilah Nejd tersebut bahagian negara yang dikenal yaitu Riyahd dan sekelilingnya.

Sementara kalimat ” kami ” pada negeri Syam, karena telah datang sebahagian utusan negeri Syam ke Madinah untuk memeluk islam dan di Syam terdapat Baitul Maqdis, dan tempat para nabi-nabi terdahulu.

2 – Rasul mengatakan bahwa Najd adalah tempat keluarnya tanduk syaiton, terlepas dari hakikat ataupun majaz, tapi yang dimaksud adalah orang yag membawa kesesatan dan fitnah bagi umat islam dan mereka tergolong dari orang – orang kafir, karena Syaitan pemimpin orang-orang kafir dan menyesatkan orang, ini sangat jauh sekali keadaannya dengan fitnah yang berlaku di Iraq, pembunuhan Imam Ali r.a di tangan orang – orang Khawarij suatu fitnah yang lebih kecil di bandingkan dengan fitnahnya Musailamah al-Kadzab yang berasal dari Yamamah Nejd ( Riyadh sekarang ), yang telah mengaku nabi dan membunuh puluhan para sahabat sehingga Umar bin Khatab menjadi sangat takut sekali akan habisnya penghafal al-Qur`an disebabkan serangan Musailamah, Musailamah dan pengikutnya tergolong orang-orang yang kafir dan menyesatkan orang lain, sementara orang-orang Khawarij masih dalam keadaaan islam sebagaimana didalam riwayat Ibnu Abbas dari Imam Ali di dalam Sohih Bukhari, tetapi mereka pelampau yang keluar dari batasan, demikiannya juga pandangan ulama ahlus Sunnah bahwa khawarij telakeluar dari jama`a tetapi tidak keluar dari islam, dengan demikian tahulah kita bahwa fitnah yang terdapat di Yamamah ( Najd ) lebih besar dari fitnah yang berada di Iraq, di Najd juga tedapat khawarij dan golongan Qaramithoh yang kafir.

3 – Kita mengetahui bahwa Iraq adalah negeri yang berkat juga, bukti keberkatan Iraq adalah pindahnya ulama-ulama besar dari golongan sahabat ke Iraq seperti Imam Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Mas`ud, Anas bin Malik, `Ammar bin Yasir, Hudzaifah bin Yaman, Sa`ad bin Abi Waqash, Imran bin Hushain, jikalau negeri Iraq tidak berkat bagaimana boleh para sahabat pindah ke Iraq berbondong-bondong. Di negeri Iraq pula terbitnya banyak ulama hadis dan mazhab ahlussunnah seperti mazhab Imam Hanafi, Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Sufyan ats-Tsauri dan Sufyan bin Uyaynah, timbulnya di baghdad ulama dan fakar-fakar qira`ah dan Nahu, berbeda dengan Najd Yamamah yang tidak terdapat sedikitpun para sahabat yang bermukim di situ bahkan para sahabat datang ke Najd Yamamah untuk memerangi orang kafir dan murtad pengikut Musailamah, bagaimana boleh kita katakan bahwa Iraq tempat yang terkutuk dan tidak berkat, sementara Iraq telah mengeluarkan jutaan ulama, kenapa wahabi mengikuti mazhab Hanbali sementara Imam Ahmad berasal dari Iraq.

4 – Iraq telah masyhur ketika zaman jahiliyah, jikalau Rasul bermaksud Iraq niscaya beliau akan sebutkan secara jelas dengan namanya khusus tetapi Rasul tidak menyebutkan Iraq bahkan menyebutkan Najd yang berarti bukan Iraq. Jiadi jika disebut dengan Najd maka di maksud adalah dalah Najd secara uruf yaitu daerah Yamamah , Dar`ah dan sekitarnya, karena kawasan ini juga dataran tinggi.

5 – Hadis Rasulullah s.a.w. yang berbunyi :

عن ابن عمر رضي لله عنهما أنه سمع رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو مستقبل المشرق يقول : ” ألا إن

الفتنة هاهنا من حيث يطلع قرن الشيطان . رواه البخاري

Artinya : Dari Ibnu Umar r.a. beliau mendengar Rasul bersabda dalam keadaan mengarah ke bahagian arah timur Madinah : ” Ingatlah bahwasanya fitnah datang dari sana dari tempat terbitnya tanduk syaitan

. ( H.R .Bukhari no : 7093 ).

Bahagian timur Madinah adalah Nejd ( bahagian Yamamah, Dir`ah, dll ) bukan Iraq, ini jelas kalau kita melihat peta, adapun para ulama yang menafsirkan timur tersebut ke arah Iraq telah tersalah dengan kenyataan dan ilmu zaman sekarang, karena timurnya Madinah bukan Iraq.

6 – Hadis Rasulullah s.a.w yang menyuruh penduduk Nejd agar berniat ihram dari Qarnu Manazil .

عن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما قال : أمر رسو ل الله صلى الله عليه وسلم أهل المدينة أن يهلوا من ذي

الحليفة، وأهل الشام من الجحفة وأهل النجد من قرن المنازل .رواه مالك ، كتاب الحج باب مواقت الإهلال

Artinya :D ari Abdullah bin Umar r.a. beliau berkata : Rasulullah s.a.w. menyuruh penduduk Madinah berniat ihram dari Dzul- Hulaifah, penduduk Syam dari Juhfah, dan penduduk Nejd dari Qarn, Manazil.

( H.R. Malik , Kitab Hajj, bab Mawaqitu al-Ihlal no : 732 ).

sementara lafaz didalam Sohih Bukhari ialah :

عن ابن عمر : وقّت رسول الله صلى الله عليه وسلم قرنا لأهل نجد ، والجحفة لأهل الشام وذا الحليفة لأهل

المدينة، قال : سمعت هذا من النبي صلى الله عليه وسلم ، وبلغني أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : : و لأهل اليمن يلملم ” وذكر العراق فقال : لم يكن عراق يومئذ ( رواه البخاري . رقم : 7344

Artinya :D ari Ibnu Umar beliau berkata : Rasulullah telah menentukan miqat bagi ahli Najd di Qaran, Juhfah untuk penduduk Syam, Dzul Hulaifah untuk penduduk Madinah, , berkata Ibnu Umar : telah sampai kepadaku bahwa Nabi s.a.w. berkata : ” Bagi penduduk Yaman dari Yalamlam”. kemudian disebutkan Iraq, berkata beliau : Ketika itu belum ada Iraq.

( H.R. Bukhari, no 7344 ).

Dari kedua hadis diatas jelaslah bahwa yang di maksud Najd adalah daerah dataran tinggi yang terdiri dari Yamamah ( Riyadh sekarang ), Dir`ah dan lain-lainnya, bukan Iraq, karena ketika itu orang Iraq belum memeluk islam, sementara Qarnu Manazil berhampiran dengan Yamamah (Riyadh sekarang ).

7 – Adapun riwayat yang menggantikan Masyriq ( arah timur ) kepada Iraq, riwayat ini telah di obah dan tidak soheh, sebab kebanyakkan riwayat mengatakan Masyriq, adapun penafsiran Salim bin Abudullah bin Umar kepda Iraq adalah salah satu ijtihad beliau yang belum boleh dijadikan pegangan, sebab bukan dari penafsiran Rasulullah s.a.w.,sebagaimana beliau pernah berijtihad untuk melarang para wanita pergi shalat ke masjid sehingga ayah beliau Abdullah bin Umar marah tidak bercakapan dengan beliau sampai Abdullah bin Umar meninggal dunia.

Melawan Politik Adu Domba dengan Persatuan Ummat

Menyimak berbagai persilangan pendapat mengenai mazhab-mazhab dalam Islam yang berkembang belakangan ini, khususnya tanda-tanda penggunaan kekerasan yang mengancam keutuhan bukan hanya umat Islam melainkan bangsa Indonesia dan NKRI secara keseluruhan, kami dari Yayasan Muslim Indonesia Bersatu (YMIB) merasa perlu berbagi sejarah pendekatan antarmazhab dalam Islam khususnya antara mazhab Ahlus-Sunnah dan Syi’ah.

Sesungguhnya inisiatif-inisiatif seperti ini sudah terjadi sejak berabad-abad yang lalu, bahkan telah melahirkan karya-karya besar dalam kedua mazhab besar Islam ini. Tapi, yang mungkin belum bvanyak diketahui adalah aktivitas-aktivitas ke arah yang sama di abad 20 dan abad 21 ini. Khususnya terkait dengan upaya-upaya pendekatan mazhab yang dilakukan secar intensif di Mesir, baik di kalangan gerakan Ikhwanul-Muslimin maupun Al-Azhar. Puncaknya adalah deklarasi yang belakangan disebut sebagai Risalah Amman, yang ditandatangai di ibukota Yordania ini

Ceritanya bermula dengan Imam Syahid Hasan al-Banna, pembawa panji gerakan Islam terbesar era modern, Al-Ikhwan al-Muslimun. Dalam kegigihan beliau memperjuangkan Islam, beliau termasuk salah satu tokoh ide pendekatan antarmazhab dan berperan-serta dalam aktivitas Jamaah Taqrib Baina Al-Mazhahib Al-Islamiyah di Kairo. Mengenai hal ini, salah satu pemikir Ikhwanul Muslimin Ustad Salim Bahansawi dalam bukunya berkata: “Sejak Jamaah Taqrib Antarmazhab didirikan, dan Imam Hasan al-Banna dan Ayatullah Qummi berperan dalam pendiriannya, kerja sama antara Ikhwanul Muslimin dan Syiah tercipta ( Limaza Ightala Hasan al-Banna, cetakan pertama, Darul I’tisham, hal. 32, yang dikutip dalam buku Al-Sunnah Al- Muftara ‘Alaiha, karya Ustadz Salim al-Bahansawi, cetakan Kairo, hal. 57).

Dalam hubungan ini, DR. Abdulkarim Zaidan, salah satu pemimpin penting Ikhwanul Muslimin Irak menulis: “Mazhab Ja’fari ada di Iran, Irak, India, Pakistan, Libanon dan Suriah atau negara-negara lainnya. Perbedaan a antara fikih Ja’fari dan mazhab lainnya tidak lebih dari perbedaan antara satu mazhab dengan mazhab lainnya (dalam mazhab Sunni).”(Al-Madkhal li al-Dirasah al-Syariah al-Islamiyyah, hal. 128).

Sementara itu, Ustadz Bahansawi, dalam kitabnya yang sama, membantah bahwa Syiah memiliki Qur’an yang berbeda dengan menyatakan :”Qur’an yang ada di kalangan Ahli Sunnah adalah Qur’an yang ada di masjid dan di rumah-rumah orang Syiah.”Dia juga berkata: “Syiah Ja’fari (12 Imam) meyakini bahwa barang siapa yang men-tahrif Quran … adalah kafir.”

Berpindah ke Al-Azhar, Syaikh Muhammad Abu Zahrah, seorang ulama terkemuka universitas ini,berkata dalam kitab Tarikh al-Madzahib al-Islamiyyah (hal. 52): “Tidak bisa disangkal lagi bahwa Syiah adalah salah satu firqah Islam. Tentu saja kita harus memisahkan firqah Sabaiah yang yang mengakui Ali sebagai Tuhan (yang jelas dalam Syi’ah pun dianggap kafir). Dan tidak bisa diragukan lagi bahwa seluruh akidah Syiah berdasarkan nash al-Qur’an atau hadis-hadis yang dinisbahkan kepada Nabi.”

Sekarang, saatnya kita mendengar pandangan Mahmud Syaltut, Syaikh Al-Azhar yang paling terkemuka dalam sejarah-modern institusi ini. Setelah “menganalisa fikih mazhab-mazhab Islami dari Sunni sampai Syiah, berlandaskan dalil dan argumentasi serta tanpa mengedepankan fanatisme kepada ini dan itu”, beliau memfatwakan : “Mazhab Ja’fari yang terkenal dengan mazhab Syiah 12 Imam, adalah mazhab yang sama seperti mazhab Ahlus-Sunnah, beribadah dengan mazhab tersebut dibolehkan dalam syariat. Kaum muslimin harus mengetahui hal ini dan terbebas dari fanatisme yang salah berkaitan dengan mazhab tertentu, sebab agama dan syariat Allah tidak tergantung pada satu mazhab khusus atau terbatas pada satu mazhab saja. Karena semua telah berjtihad dan, karena itu, mereka diterima di sisi Allah.”. Belaiau melanjutkan : “… (kita) melihat bahwa jarak antara Syiah dan Sunni sama seperti jarak antara fikih mazhab Abu Hanifah, Maliki atau Syafii.”

Di masa belakangan ini kita juga dapat menemukan berlimpah kesaksian dari para ulama Sunni tentang keabsahan berbagai mazhab dalam Islam. Yang paling penting di antaranya adalah kesaksian sedikitnya 146 ulama besar, cendekiawan Muslim, dan otoritas-keagamaan lainnya – termasuk para mufti dan pejabat resmi keagamaan – dari sedikitnya 48 negara, yang diberi nama Risalah ‘Amman. Di antara pokok isinya adalah : “Siapa saja yang mengikuti dan menganut  salah satu dari empat mazhab Ahlus Sunnah  (Syafi’i, Hanafi, Maliki, Hanbali), dua mazhab Syiah (Ja’fari dan Zaydi), mazhab Ibadhi dan mazhab Zhahiri adalah Muslim. Tidak  diperbolehkan mengkafirkan salah seorang dari pengikut/penganut mazhab-mazhab  yang disebut di atas. Darah, kehormatan dan harta benda salah seorang dari  pengiku t/penganut mazhab-mazhab yang disebut di atas tidak boleh dihalalkan.

Lebih  lanjut, tidak diperbolehkan mengkafirkan siapa saja yang mengikuti akidah Asy’ari atau siapa saja yang  mengamalkan tasawuf (sufisme). Demikian pula, tidak diperbolehkan  mengkafirkan siapa saja yang mengikuti pemikiran Salafi yang sejati. Sejalan dengan itu, tidak  diperbolehkan mengkafirkan kelompok Muslim manapun yang percaya pada Allah, mengagungkan  dan mensucikan-Nya, meyakini Rasulullah (saw) dan rukun-rukun iman, mengakui  lima rukun Islam, serta tidak mengingkari ajaran-ajaran yang sudah pasti dan  disepakati dalam agama Islam. Ada jauh lebih banyak kesamaan dalam  mazhab-mazhab Islam dibandingkan dengan perbedaan-perbedaan di antara mereka.

Para pengikut/penganut kedelapan mazhab Islam yang telah disebutkan di atas  semuanya sepakat dalam prinsip prinsip utama Islam (Ushuluddin). Semua mazhab yang disebut di atas percaya pada satu Allah  yang Mahaesa dan Mahakuasa; percaya pada al-Qur’an sebagai wahyu Allah; dan  bahwa Baginda Muhammad Saw adalah Nabi dan Rasul untuk seluruh manusia. Semua  sepakat pada lima rukun Islam: dua kalimat syahadat; kewajiban shalat; zakat; puasa di bulan Ramadhan, dan Haji ke Baitullah di Mekkah.

Semua percaya pada dasar-dasar akidah  Islam: kepercayaan pada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitabNya, para  rasul-Nya, hari akhir, dan takdir baik dan buruk dari sisi Allah. Perbedaan  di antara  ulama kedelapan  mazhab Islam tersebut hanya menyangkut masalah-masalah cabang  agama (furu’) dan tidak menyangkut  prinsip-prinsip dasar (ushul) Islam. Perbedaan pada masalah-masalah cabang agama tersebut adalah rahmat  Ilahi. Sejak dahulu dikatakan bahwa keragaman pendapat di antara ‘ulama adalah hal yang baik.

Di antara para penandatangan risalah yang bertarikh 27-29 Jumadil Ula 1426 H./ 4-6 Juli 2005 M adalah : Prof. Dr. Ali Jumu’a (Mufti Besar Mesir), Prof. Dr. Ahmad Muhammad Al-Tayyib (Rektor Universitas Al-Azhar), Prof. Dr. Mahmud Hamdi Zaqzuq (Menteri Agama Mesir), Dr. Yusuf Qardhawi (Ketua Persatuan Ulama Islam Internasional, Qatar), Dr. Muhammad Sa’id Ramadan Al-Buti (Dai, Pemikir dan Penulis Islam, Syria), Prof. Dr. Syaikh Wahbah Mustafa Al-Zuhayli (Ketua Departemen Fiqih, Damascus University), Shaykh Dr. Ikrimah Sabri (Mufti Besar Al-Quds dan Imam Besar Masjid al-Aqsha), Syaikh Habib ‘Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafiz (Ketua Madrasah Dar al-Mustafa, Tarim, Yaman), dan lain-lain. (Untuk daftar penandatangan selengkapnya, lihat website kami : www. muslim unity.com).

Tentu saja mudah diduga bahwa para ulama terkemuka ini tak akan begitu gegabah mengeluarkan pernyataan-pernyataan mereka tanpa terlebih dulu mempelajari dengan teliti seluruh dasar dan rincian mazhab-mazhab tersebut, termasuk tuduhan-tuduhan yang dilontarkan orang kepada mereka. Namun, yang tak kalah pentingnya, semua pernyataan  bijak di atas tidak akan banyak manfaatnya kecuali jika para pengikut mazhab-mazhab dalam Islam benar-benar dapat bersikap dan membawa diri sesuai dengan prinsip-prinsip persaudaraan Islam.

Termasuk di dalamnya sikap menghormati keyakinan mazhab yang berbeda, mendahulukan persangkaan baik (husnuzh-zhan), juga kesediaan melakukan verifikasi (tabayun) dalam hal adanya tuduhan-tuduhan terhadap mazhab tertentu. Yang terpenting di antaranya adalah tidak merasa benar sendiri dan menganggap keyakinan mazhab lain sebagai salah, apalagi kemudian merasa perlu mendakwahan mazhabnya serta berupaya mengubah keyakinan para pengikut mazhab lainnya.

Akhirnya, marilah kita tutup seruan kerukunan ummat ini dengan mendengar peringatan dari 2 tokoh besar dalam kedua mazhab Islam ini. Ustad Anwar Jundi dan kitabnya Al-Islam wa Harikah al-Tarikh berkata: “Sejarah Islam penuh dengan pertentangan dan perseteruan pikiran serta pertikaian politik antara Ahli Sunnah dan Syiah.

Para agressor asing sejak Perang Salib sampai sekarang selalu berusaha memanfaatkan pertentangan ini dan memperdalam pengaruhnya agar persatuan dunia Islam tidak terwujud”. Sementara itu, Imam Khomeini dalam salah satu khutbahnya menyatakan : “Tangan-tangan kotor yang telah menciptakan pertentangan di dunia Islam antara Sunni dan Syiah bukan Sunni dan Syiah. Mereka adalah perpanjangan tangan imperialis yang ingin berkuasa di negara-negara Islam. Mereka adalah pemerintahan-pemerintahan yang ingin merampok kekayaan rakyat kita dengan berbagai tipuan dan alat dan menciptakan pertentangan dengan nama Syiah dan Sunni.”

Inilah juga pesan Risalah Amman : “…kita mengajak seluruh Muslim untuk tidak membiarkan pertikaian di antara  sesama Muslim dan tidak membiarkan pihak-pihak asing mengganggu hubungan di  antara mereka.” Semoga Allah Swt. selalu memberikan hidayah dan ‘inayah-Nya kepada ummat Islam di seluruh dunia.

Menghidupkan Budaya Persatuan

Memahami dan mengelaborasi prinsip-prinsip teoritis persatuan Islam, tak diragukan lagi, merupakan tugas yang sangat penting. Namun, secara praktis, perwujudan akibat-akibat dari rangkaian prinsip tersebut, bagaimana pun, acapkali diabaikan.

Makalah ringkas berikut ini menyuguhkan daftar yang memuat sepuluh cara praktis untuk menghidupkan dan mengembangkan budaya persatuan. Semua itu meliputi perluasan batas-batas toleransi, tidak memfokuskan diri pada perincian poin-poin yang diperselisihkan, serta melampaui batas-batas kesukuan (etnis). Melalui upaya praktis dalam arah ini, diharapkan seruan al-Quran untuk membangun persatuan Islam dapat diwujudkan.

Panorama yang terhampar senantiasa mengundang rasa takjub: orang-orang yang beribadah haji, yang berasal dari latar belakang dan suku yang berbeda-beda, saling berdiri bahu membahu dalam balutan selembar kain putih bersahaja seraya menanggalkan seluruh jenis penghalang duniawi -seperti kekayaan, profesi, asal-usul geografis, kelas sosial, pendidikan, atau apapun yang sejenisnya. Gambaran abadi seputar ibadah haji ini telah menjadi perlambang dari persatuan umat [Islam] dalam keragamannya ini.

Namun, sekalipun kita mengarah pada perjalanan ini seumur hidup, tetap saja muncul tantangan: bagaimana kita mempertahankan budaya persatuan yang begitu mencolok dalam ibadah haji ini? Bagaimana kita menjaga keutuhan ikatan persaudaran laki-laki dan perempuan untuk mencapai tujuan-tujuan kita sebagai umat (ummah), khususnya di Amerika Utara, di mana keragaman kita bahkan jauh lebih mencolok ketimbang di kawasan manapun di dunia?

1. Memahami persatuan kaum Muslim bukan sebagai sebuah pilihan
Ungkapan yang menyatakan bahwa kaum Muslim telah mereduksi Islam menjadi serangkaian ritual belaka serta mengabaikan ajaran-ajaran pentingnya barangkali sudah menjadi klise. Kendati memang penting untuk melaksanakan lima rukun Islam, misalnya, namun kita juga tidak dapat mengabaikan aspek-aspek dasar keimanan lainnya yang menekankan persaudaran (brotherhood/sisterhood).

Menurut al-Quran dan hadis nabi Muhammad Saw, persatuan kaum Muslim merupakan sebuah kewajiban (fardh). Perhatikanlah rujukan-rujukan di bawah ini:

Al-Quran menyatakan:
Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. (QS. al-Hujurat [49]: 10)

Juga menyatakan:
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (QS. Ali Imran [3]: 103)

Dalam sebuah hadis, diriwayatkan, “Dalam kecintaan, kebaikan, dan kasih sayang antara satu sama lain, orang-orang yang beriman ibarat anggota tubuh manusia; manakala salah satu anggota tubuh terluka, maka anggota tubuh lainnya akan ikut merasakannya dengan mengalami demam.”

2. Merefleksikan ibadah haji sebagai momen persatuan kaum Muslim
Manfaatkanlah momen ini secara personal, juga dalam kehidupan keluarga dan komunitas Anda, untuk mengingatkan kaum Muslim tentang bagaimana ibadah haji menjadi faktor pemersatu kaum Muslim. Adakanlah pertemuan keluarga untuk membicarakan topik ini. Selenggarakanlah seminar di masjid Anda untuk membahas tentang bagaimana ibadah haji menjadi simbol yang sangat indah bagi persatuan kaum Muslim. Pastikan para pembicara dalam seminar yang Anda selenggarakan itu terdiri dari kalangan yang pernah menunaikan ibadah haji dan dapat membuktikan fakta ini. Juga, bincangkan tentang bagaimana mempraktikkan pelajaran-pelajaran seputar persatuan yang tercermin dari ibadah haji di tengah komunitas Anda sepanjang tahun, yang diakhiri dengan merumuskan sebuah rencana-aksi yang dapat diimplementasikan.

3. Belajar Bertoleransi terhadap Sudut Pandang Lain
Bukankah menarik kala kita dapat menghadiri kelas-kelas di kampus atau berbicara dengan para rekan kerja serta mendiskusikan sejumlah isu seraya siap untuk berbeda pendapat dengan mereka? Namun, sewaktu sebagian dari kita melangkah memasuki masjid atau sarana komunitas Muslim, seluruh toleransi semacam itu tampaknya telah dicampakkan jauh-jauh.

Bertolak belakang dengan kepercayaan umum, Islam merupakan keimanan yang ekstensif dan luas, dan Anda dapat menjumpai sebentang ranah pandangan ilmiah seputar beragam isu, mulai dari bagaimana menempatkan tangan kita dalam shalat hingga apakah kaum Muslim seyogianya berpartisipasi dalam proses politik di Amerika atau tidak. Jika para ulama kita, baik di masa lalu maupun pada masa sekarang, telah memperlihatkan toleransi semacam itu terhadap perbedaan pandangan seputar berbagai isu, lantas siapakah kita -sebagai Muslim rata-rata yang tidak memiliki tingkat pengetahuan yang sama dengan mereka- sehingga cenderung mengekspresikan sikap intoleran terhadap sudut pandang lain?
Untuk memahami poin ini secara mendalam, saya rekomendasikan untuk membaca buku karya Dr. Yusuf al-Qardhawi yang berjudul Islamic Awakening Between Rejection and Extremism.

4. Belajar Mengritik tanpa Melukai Perasaan
Cara sejumlah Muslim mengritik satu sama lain mengesankan bahwa mereka sedang membicarakan musuh Islam ketimbang saudara seagama mereka sendiri. Jenis perilaku bebal ini merupakan sebuah cara yang niscaya akan menciptakan kemarahan, rasa sakit hati, dan perselisihan. Ini bukanlah rute perjalanan menuju persatuan.

Kita harus mempelajari adab (etiket) mengritik yang santun, apakah itu ditujukan pada individu Muslim ataupun para pemimpin kita. Memahami dan mengimplementasikan hal ini tidak hanya akan membantu memecahkan masalah secara praktis, tapi juga akan memunculkan kepekaan yang lebih besar terhadap [pentingnya] persaudaraan di tengah komunitas.

Jika Anda merasa bahwa sikap kritis Anda terhadap seseorang di masa lalu tergolong kasar atau melukai perasaan, doakanlah saudara Anda itu -karena Rasulullah saw mengatakan bahwa doa menambah kecintaan di antara manusia- serta temuilah dirinya untuk meminta maaf.

4. Terdapat apa yang disebut dengan “fikih prioritas”
Fikih prioritas secara esensial bermakna bahwa terdapat sejumlah aspek dalam Islam yang lebih penting ketimbang yang lain. Sebagai contoh, tentunya lebih penting bagi kaum Muslim untuk mendirikan shalat ketimbang apakah di dalam masjid harus ada tirai pemisah antara laki-laki dan perempuan atau tidak.

Mengetahui apa yang seharusnya menjadi prioritas akan membantu kita terhindar dari menjadikan isu-isu keimanan sekunder sebagai faktor perpecahan di tengah komunitas. Para pemimpin umat Islam pada khususnya, seyogianya tidak hanya memahami hal ini melainkan juga menjelmakannya di tengah komunitas mereka di belahan Amerika Utara, sehingga perbedaan-perbedaan kecil tidak sampai menghancurkan gagasan persatuan umat Islam.

5. Jangan Menuduh Kafir Siapapun
Fenomena menuduh saudara seimannya sebagai kafir yang benar-benar mengerikan ini harus diakhiri sekarang juga jika kita ingin menciptakan iklim yang kondusif bagi persatuan. Tuduhan kafir merupakan cara yang meyakinkan untuk mengucilkan individu dari komunitas Muslim. Kita harus ingat bahwa kaum Muslim di Amerika Utara berasal dari berbagai latar belakang sosio-ekonomi dan budaya, entah mereka dilahirkan dan dibesarkan dalam lingkungan Islam ataupun dikarenakan pindah agama (menjadi Muslim). Jika seseorang mengungkapkan sejumlah gagasan yang tidak sejalan dengan nilai-nilai Islam, maka koreksilah dirinya dengan cara lembut. Tuduhan kafir hanya akan menyulut kebebalan, kegusaran, dan kekeraskepalaan, sekaligus menghina dan mempermalukan mereka.

Rasulullah Saw mengingatkan bahwa jika seseorang menuduh selainnya sebagai kafir dan orang yang dicap semacam itu bukanlah seorang kafir, maka individu yang melontarkan tuduhan itu dianggap kafir. Berdasarkan peringatan ini, tidakkah menyedihkan bahwa sekarang ini terdapat sebuah organisasi di Mesir yang menyebut dirinya “Kelompok yang Mengkafirkan Selainnya” (Jamaa’ah al-Takfir wa al-Hijrah).

6. Merangkul Semua Kalangan dengan Melintasi Batas-batas Kesukuan
Alhamdulillah, praktik jahiliyah berupa upaya mendirikan masjid-masjid yang bernuansa kesukuan di Amerika Utara, perlahan tapi pasti, mulai lenyap. Kendati demikian, jalan yang harus ditempuh masih cukup panjang. Seluruh institusi, fungsi, dan komunitas pada umumnya harus menjadi lebih beragam secara etnis dan terbuka terhadap kalangan yang membutuhkan serta memperhatikan seluruh Muslim tanpa melihat latar belakangnya. Para pemimpin dan individu Muslim memiliki kewajiban untuk meyakinkan bahwa tak seorang Muslim pun, tanpa menghiraukan latar belakang kesukuannya, merasa disisihkan dari komunitas, tidak dipedulikan, atau diabaikan.

Ini hanya dapat dilakukan oleh para pemimpin dan individu Muslim dengan menempuh langkah pertama dan merangkul kaum Muslim yang barangkali secara tradisional dikucilkan lantaran adanya semangat kesukuan dalam masjid atau institusi lain. Tentunya itu tidak cukup dilakukan hanya dengan membuka pintu bagi semua kalangan. Sebuah ikhtiar langsung harus dilakukan untuk mendapatlan umpan balik, masukkan, dan dukungan dari seluruh kaum Muslim sehingga mereka merasa menjadi bagian dari komunitas.

Selain itu, cara yang lebih personal dalam merangkul semua pihak adalah dengan mengundang kaum Muslim dari berbagai latar belakang [kesukuan] untuk sama-sama menyantap hidangan di rumah Anda. Bila memungkinkan, perluaslah pula undangan makan bersama Anda ke kalangan non-Muslim guna mengenyahkan aral yang melintang serta berbagi [nilai-nilai] Islam.

7. Mencamkan Nasihat yang Maktub dalam Surah al-Hujurat
Surah ke-49 dalam al-Quran al-Karim menyuguhkan tuntunan yang agung seputar jenis perilaku yang seyogianya dihindari kaum Muslim demi tegaknya persatuan Umat Islam. Sebagai contoh, Allah mengimbau kita semua untuk menjauhi perbuatan saling ejek, sikap melecehkan, dan berburuk sangka. Semua itu merupakan ihwal yang cenderung memecah belah umat serta menciptakan kebencian, melukai perasaan, dan perselisihan.

Diskusikanlah tema-tema yang maktub dalam surah al-Hujurat sekaitan dengan perilaku seorang Muslim dalam pertemuan keluarga, ceramah-ceramah, obrolan, lingkaran studi, dan kelas-kelas, baik dengan kawula muda maupun tua di tengah komunitas Anda demi berbagi kearifan Ilahi ini dengan semua kalangan.

Kapan pun Anda ingat bahwa Anda telah melakukan ghibah (membicarakan keburukan) seorang Muslim maupun non-Muslim, camkanlah bahwa Anda mesti meminta maaf kepadanya. Melakukan hal ini merupakan prasyarat untuk menghapus dosa tersebut.

8. Berbagi Kiat-kiat tersebut dengan Audiens yang Lebih Luas
Bagilah kiat-kiat yang disebutkan di atas dengan saudara sesama Muslim di tengah komunitas Anda. Hal ini dapat ditempuh dengan menyarankan kepada khatib (penceramah) shalat Jumat dan Ied untuk memanfaatkan topik dalam artikel ini sebagai bahan ceramahnya. Atau, Anda dapat mencetak dan membagi-bagikannya kepada para jamaah shalat, atau menerbitkannya dalam buletin berkala masjid setempat. Penting pula untuk mendiskusikannya di kalangan Muslim dari berbagai latar belakang guna menghidupkan proses berpikir dan merenung di tengah kaum Muslim.

9. Panjatkanlah Doa Persatuan
Mintalah imam Anda untuk menekankan persatuan sebagai suatu kewajiban Islami dalam khutbahnya serta menyarankan cara-cara praktis yang dapat ditempuh di negeri atau dalam organisasi keislaman Anda. Juga, imbaulah kaum Muslim untuk beribadah haji serta memanjatkan doa khusus bagi persatuan umat Islam. Manakala orang-orang yang berhaji kembali dari ibadahnya di tanah suci, Nabi Saw mengimbau kita untuk menyambut mereka dan meminta mereka untuk memanjatkan doa. Ini merupakan kesempatan lain untuk meminta [dipanjatkannya] doa bagi persatuan umat Islam.

Akhirnya, pastikan bahwa Anda sebagai individu tidak hanya mengupayakan persatuan melainkan juga memanjatkan doa untuknya. Karena, hasil akhir dari seluruh upaya berada di Tangan Allah Swt

.

Persamaan Syi’ah dan Muhammadiyah : Sama Sama menghendaki tajdid bidang iptek/sains, rasionalisme dan modernisme

Syi’ah pembawa iptek/sains, rasionalisme dan modernisme ke Indonesia !! Wahabi pembawa terorisme, anarkhisme dan bar barisme

.


Festival Imam Ali Ridha yang diselenggarakan oleh Ahlulbait Indonesia bekerjasama dengan Islamic Cultural And Religions Organization (22/11) menegaskan kembali peran Nabi Muhammad saw beserta imam suci Ahlulbait sebagai pembebas manusia dari kebodohan.

Festival Imam Ali Ridha merupakan acara yang dibuat untuk mengenang kelahiran imam suci Ahlulbait Ali Ridha.

Acara ini dikemas dalam bentuk seminar sehari yang bertema “Imam Ali Ridha dalam Perspektif Politik, Keilmuan dan Peradaban Islam” juga pemutaran film Imam Ali Ridha.

Dr Mahmoud Farazandeh Dubes Iran dalam pidato pembukaan mengatakan bahwa  Ada dua karunia terbesar umat manusia, pertama Nabi Muhammad saw dan kedua adalah al Quran.

“Kedatangan Nabi Muhammad saw yang kemudian dilanjutkan oleh para imam bertujuan menghapuskan jahiliyah dan kemudian menggantinya dengan rasionalitas,” katanya.

“Kita patut bersyukur sebuah karunia besar telah diturunkan yaitu Allah memasukkan al Quran ke dada Nabi Muhammad saw sebagai akal pertama dan semua artinya akal yang bisa menaungi semua akal manusia,” lanjutnya.

Sepeninggal Nabi Muhammad saw pemberantasan kebodohan terus berlanjut hingga sekarang. Agama Islam yang lurus harus terus melanjutkan misi suci itu.

Ia mengatakan satu-satunya diantara mereka yang direkomendasikan Allah adalah Ahlulbait yaitu keturunan Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Azzahra. Tugasnya adalah melanjutkan risalah agama Islam yang suci.

“Untuk melanjutkan misi suci Nabi Muhammad saw  maka keberadaan manusia suci menjadi keniscayaan,” katanya.

Mengenai Imam Ali Ridha Dubes menyinggung sedikit. Imam Ridha hidup di jaman kekuasaan Ma’mun. Ketika itu Imam Ridha berdiam di Madinah. Ma’mun khawatir bila kegiatan dakwah Islam yang dilakukan Imam Ali Ridha bisa menjatuhkan kekuasaannya. Karena itu Ma’mun mengintimidasi Imam Ali Ridha untuk pindah ke Khurasyan Iran agar bisa diawasi aktivitasnya. Imam Ali Ridha kemudian pindah ke Khurasyan. Ma’mun kemudian meminta ImamAli Ridha menjadi Khalifah tapi tawaran itu ditolak karena Imam Ali Ridha mencium gelagat konspirasi. Dengan berbagai cara Ma’mun mengintimidasi Imam Ali Ridha agar ikut dalam skenario yang dibangunnya tapi Imam Ali Ridha tidak menggubrisnya.

Ada kata-kata Imam Ali Ridha yang sangat tersohor terkait penolakan tawaran Ma’mun, “kalau kekuasaan itu dari Allah maka biarlah Allah yang menentukan dan apabila kekuasaan itu darimu maka kamu juga tidak berhak.”

Karena terus menentang Ma’mun kemudian membunuh Imam Ali Ridha dengan meracunnya.

Selama hidupnya Imam Ali Rida telah mengabdikan diri menjalankan risalah suci. Peninggalannya yang paling berharga adalah tradisi keilmuan islam yang diturunkan hingga ke generasi selanjutnya.

“Perjalanan imam ridho ke Khurasyan menjadi berkah‎ tersendiri bagi Iran. Dan kemudian Imam Khomeini berhasil menggulirkan revolusi itu juga berkah Imam Ali Ridha,” katanya.

Seminar

Sesi seminar diawali  pemaparan ulama dari Iran DR Mowahhedi. Ia mengatakan agama harus berlandaskan rasionalitas. Hal itu sesuai dengan al Quran dan hadis Nabi Muhammad saw.

“Di dalam Quran Allah sering menyinggung kata akal. Itu artinya kita diwajibkan melakukan perenungan. Nabi Muhammad saw mengatakan akal adalah sesuatu yg dengannya orang bisa mendapatkan sorga dan dengannya orang bisa mengenal Allah swt,” katanya.

“Rasionalitas agama adalah segala sesuatu dalam agama harus dilandaskan pada akal tapi tidak semua hal dalam agama mampu dicerap oleh akal,” jelasnya.

“Sebagai contoh kita meyakini adanya Allah, keberadaan Allah bisa dibuktikan dengang akal tapi saat yang sama kita wajib salat subuh dua rakaat, mengapa rakaat itu tidak tiga atau empat? Mengenai jumlah rakaat itu tidak bisa dijelaskan oleh landasan rasional tapi kita tetap menegaskan bahwa hal itu bagian dari rasional karena kita telah membuktikan keberadaan Allah sebagai pembuat aturan itu,” lanjutnya.

Selanjutnya DR Mowahhedi menjelaskan kaitan penggunaan akal dalam beragama dengan Imam Ali Ridha.

“Imam Ali Ridha dengan berbagai argumentasi rasional bisa menjelaskan kepada manusia tentang ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Dengan landasan rasional itu argumentasi imam bisa mematahkan argumentasi pemuda Yahudi.” Paparnya.

“Ilmu Imam Ali Ridha sangat luas, hingga ketika berbicara dengan seorang nasrani ia berkata, dengan injil mana aku berbicara padamu,” lanjutnya.

DR Mowahhedi memberikan kesimpulan bahwa islam agama yang tinggi dan memilki landasan yang kuat dan tidak bisa dipatahkan.

“Kita harus membekali diri dengan pengetahuan yang lebih banyak lagi agar pengetahuan itu menjadi senjata kita bila berargumen,” pesannya.

Ia juga memuji penyelenggaraan Festival Imam Ali Ridha dan berharap agar acara seperti ini lebih sering diadakan dengan berbagai sarana dan media diskusi.

Hadir dalam acara itu Ketua Umum PBNU Said Aqil Siraj,  Ketua Umum Ahlulbait Hassan Alaydrus, Ketua Umum Ikatan Jemaah Ahlulbait Indonesia Jalalludin Rachmad, Sekjen Ahlulbait Ahmad Hidayat, Presiden Partai Demokrasi Kebangsaan Sayuti Asyathri, Guru Besar UIN Jakarta Prof  DR Mulyadhi Kartanegara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s