Persamaan Syi’ah dan Muhammadiyah : Sama Sama menghendaki tajdid bidang iptek/sains, rasionalisme dan modernisme

dahlan Doktrin Syiah Bahayakan Ideologi Muhammadiyah

Persamaan Syi’ah dan Muhammadiyah : Sama Sama menghendaki tajdid bidang iptek/sains, rasionalisme dan modernisme

Syi’ah pembawa iptek/sains, rasionalisme dan modernisme ke Indonesia !! Wahabi pembawa terorisme, anarkhisme dan bar barisme

.

Kemajuan Iran Menggetarkan Dunia

 tentang kemajuan Republik Islam Iran dan selamat membaca !!!

Jurnal Newscientist edisi Kamis (18/2) memuat hasil penelitian Science-Metrix, sebuah perusahaan di Motreal, Kanada yang melakukan evaluasi atas perkembangan dan produk ilmu pengetahuan serta teknologi di berbagai negara. Dalam laporan hasil penelitiannya, Science-Metrix menyebutkan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan di negara Iran sebelas kali lebih cepat dibandingkan negara-negara lainnya di dunia.

Perusahaan itu mengamati adanya “pergeseran geopolitis dalam bidang ilmu pengetahuan dan karya” yang dihasilkan negara-negara di dunia. Menurut Science-Metrix, banyaknya karya-karya ilmiah yang dimuat di Web of Science menunjukkan bahwa standar pertumbuhan karya ilmiah di Timur Tengah, khususnya di Iran dan Turki, nyaris mendekati angka empat kali lebih cepat dari rata-rata pertumbuhan di dunia.

“Iran menunjukkan pertumbuhan yang paling cepat di dunia dalam bidang ilmu pengetahuan. Asia terus mengejar, bahkan lebih cepat dari yang kami pekirakan sebelumnya. Eropa mempertahankan posisinya lebih dari yang diharapkan, dan Timur Tengah adalah kawasan yang patut diperhatikan,” kata Eric Archambault yang menulis laporan Science-Metrix.

Ia mengatakan, publikasi karya-karya ilmiah dari Iran kebanyakan tentang kimia nuklir dan tentang fisika partikel. “Iran juga mengalami kemajuan pesat di bidang ilmu kedokteran dan pengembangan pertanian,” tukas Archambault.

Ia menambahkan, perkembangan teknologi di Iran pada tahun ini sangat cepat bahkan melampaui negara China yang oleh dunia diakui cemerlang dalam bidang sains .

Meski lebih dari 30 tahun diembargo Barat, Iran telah melakukan langkah besar di berbagai sektor, termasuk sektor ruang angkasa, nuklir, kedokteran, penelitian tentang sel dan kloning. Tanggal 2 Februari kemarin, Iran berhasil meluncurkan satelit yang diberi nama Kavoshgar 3 ke ruang angkasa. Satelit itu membawa berbagai organisma hidup seperti tikus, dua ekor kura-kura dan cacing untuk keperluan penelitian.

Sebelumnya, di bulan Januari, Iran menjadi negara pertama di Timur Tengah yang mampu mengembangbiakkan hewan ternak transgenik, seperti domba dan kambing. Iran juga tercatat sebagai salah satu negara dari sedikit negara yang berhasil mengembangkan teknologi dan perangkat untuk mengkloning hewan ternak yang bisa digunakan untuk keperluan penelitian di bidang kedokteran dan untuk memproduksi zat antibodi manusia untuk menangkal penyakit.

Anak domba bernama Royana dan dua sapi bernama Bonyana dan Tamina adalah hewa-hewan hasil kloning pertama di Iran. (ln/prtv)

Catatan Redaksi: OKI Nobatkan Iran Sebagai Poros Teknologi Negara-Negara Islam, Di saat negeri-negeri muslim lain mengalami keterbelakangan, bergolak dan mengalami krisis identitas tetapi Iran justru menunjukkan harga diri sebagai negeri muslim yg maju, mandiri, gandrung akan pengetahuan dan teknologi dan senantiasa dalam naungan Ilahi, sesungguhnya pertolongan hanya dari Allah dan kemenangan sudah semakin dekat…

Festival Imam Ali Ridha yang diselenggarakan oleh Ahlulbait Indonesia bekerjasama dengan Islamic Cultural And Religions Organization (22/11) menegaskan kembali peran Nabi Muhammad saw beserta imam suci Ahlulbait sebagai pembebas manusia dari kebodohan.

Festival Imam Ali Ridha merupakan acara yang dibuat untuk mengenang kelahiran imam suci Ahlulbait Ali Ridha.

Acara ini dikemas dalam bentuk seminar sehari yang bertema “Imam Ali Ridha dalam Perspektif Politik, Keilmuan dan Peradaban Islam” juga pemutaran film Imam Ali Ridha.

Dr Mahmoud Farazandeh Dubes Iran dalam pidato pembukaan mengatakan bahwa  Ada dua karunia terbesar umat manusia, pertama Nabi Muhammad saw dan kedua adalah al Quran.

“Kedatangan Nabi Muhammad saw yang kemudian dilanjutkan oleh para imam bertujuan menghapuskan jahiliyah dan kemudian menggantinya dengan rasionalitas,” katanya.

“Kita patut bersyukur sebuah karunia besar telah diturunkan yaitu Allah memasukkan al Quran ke dada Nabi Muhammad saw sebagai akal pertama dan semua artinya akal yang bisa menaungi semua akal manusia,” lanjutnya.

Sepeninggal Nabi Muhammad saw pemberantasan kebodohan terus berlanjut hingga sekarang. Agama Islam yang lurus harus terus melanjutkan misi suci itu.

Ia mengatakan satu-satunya diantara mereka yang direkomendasikan Allah adalah Ahlulbait yaitu keturunan Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Azzahra. Tugasnya adalah melanjutkan risalah agama Islam yang suci.

“Untuk melanjutkan misi suci Nabi Muhammad saw  maka keberadaan manusia suci menjadi keniscayaan,” katanya.

Mengenai Imam Ali Ridha Dubes menyinggung sedikit. Imam Ridha hidup di jaman kekuasaan Ma’mun. Ketika itu Imam Ridha berdiam di Madinah. Ma’mun khawatir bila kegiatan dakwah Islam yang dilakukan Imam Ali Ridha bisa menjatuhkan kekuasaannya. Karena itu Ma’mun mengintimidasi Imam Ali Ridha untuk pindah ke Khurasyan Iran agar bisa diawasi aktivitasnya. Imam Ali Ridha kemudian pindah ke Khurasyan. Ma’mun kemudian meminta ImamAli Ridha menjadi Khalifah tapi tawaran itu ditolak karena Imam Ali Ridha mencium gelagat konspirasi. Dengan berbagai cara Ma’mun mengintimidasi Imam Ali Ridha agar ikut dalam skenario yang dibangunnya tapi Imam Ali Ridha tidak menggubrisnya.

Ada kata-kata Imam Ali Ridha yang sangat tersohor terkait penolakan tawaran Ma’mun, “kalau kekuasaan itu dari Allah maka biarlah Allah yang menentukan dan apabila kekuasaan itu darimu maka kamu juga tidak berhak.”

Karena terus menentang Ma’mun kemudian membunuh Imam Ali Ridha dengan meracunnya.

Selama hidupnya Imam Ali Rida telah mengabdikan diri menjalankan risalah suci. Peninggalannya yang paling berharga adalah tradisi keilmuan islam yang diturunkan hingga ke generasi selanjutnya.

“Perjalanan imam ridho ke Khurasyan menjadi berkah‎ tersendiri bagi Iran. Dan kemudian Imam Khomeini berhasil menggulirkan revolusi itu juga berkah Imam Ali Ridha,” katanya.

Seminar

Sesi seminar diawali  pemaparan ulama dari Iran DR Mowahhedi. Ia mengatakan agama harus berlandaskan rasionalitas. Hal itu sesuai dengan al Quran dan hadis Nabi Muhammad saw.

“Di dalam Quran Allah sering menyinggung kata akal. Itu artinya kita diwajibkan melakukan perenungan. Nabi Muhammad saw mengatakan akal adalah sesuatu yg dengannya orang bisa mendapatkan sorga dan dengannya orang bisa mengenal Allah swt,” katanya.

“Rasionalitas agama adalah segala sesuatu dalam agama harus dilandaskan pada akal tapi tidak semua hal dalam agama mampu dicerap oleh akal,” jelasnya.

“Sebagai contoh kita meyakini adanya Allah, keberadaan Allah bisa dibuktikan dengang akal tapi saat yang sama kita wajib salat subuh dua rakaat, mengapa rakaat itu tidak tiga atau empat? Mengenai jumlah rakaat itu tidak bisa dijelaskan oleh landasan rasional tapi kita tetap menegaskan bahwa hal itu bagian dari rasional karena kita telah membuktikan keberadaan Allah sebagai pembuat aturan itu,” lanjutnya.

Selanjutnya DR Mowahhedi menjelaskan kaitan penggunaan akal dalam beragama dengan Imam Ali Ridha.

“Imam Ali Ridha dengan berbagai argumentasi rasional bisa menjelaskan kepada manusia tentang ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Dengan landasan rasional itu argumentasi imam bisa mematahkan argumentasi pemuda Yahudi.” Paparnya.

“Ilmu Imam Ali Ridha sangat luas, hingga ketika berbicara dengan seorang nasrani ia berkata, dengan injil mana aku berbicara padamu,” lanjutnya.

DR Mowahhedi memberikan kesimpulan bahwa islam agama yang tinggi dan memilki landasan yang kuat dan tidak bisa dipatahkan.

“Kita harus membekali diri dengan pengetahuan yang lebih banyak lagi agar pengetahuan itu menjadi senjata kita bila berargumen,” pesannya.

Ia juga memuji penyelenggaraan Festival Imam Ali Ridha dan berharap agar acara seperti ini lebih sering diadakan dengan berbagai sarana dan media diskusi.

Hadir dalam acara itu Ketua Umum PBNU Said Aqil Siraj,  Ketua Umum Ahlulbait Hassan Alaydrus, Ketua Umum Ikatan Jemaah Ahlulbait Indonesia Jalalludin Rachmad, Sekjen Ahlulbait Ahmad Hidayat, Presiden Partai Demokrasi Kebangsaan Sayuti Asyathri, Guru Besar UIN Jakarta Prof  DR Mulyadhi Kartanegara.

Apa Kata Tokoh Indonesia Tentang Syiah

 Said Agil Siradj (Ketua Umum PB NU):
Ajaran Syiah tidak sesat dan termasuk Islam seperti halnya Sunni. Di universitas di dunia manapun tidak ada yang menganggap Syiah sesat.“ (tempo.co)

Din Syamsuddin (Ketua Umum PP Muhammadiyah):
Tidak ada beda Sunni dan Syiah. Dialog merupakan jalan yang paling baik dan tepat, guna mengatasi perbedaan aliran dalam keluarga besar sesama muslim.” (republika.co.id)

Buya Syafi’i Ma’arif (Cendikiawan Muslim, Mantan Ketua PP Muhammadiyah):
Kalau Syiah di kalangan mazhab, dianggap sebagai mazhab kelima. (okezone.com)

Amin Rais (Mantan Ketua PP Muhammadiyah):
Sunnah dan Syiah adalah mazhab-mazhab yang legitimate dan sah saja dalam Islam.“ (satuislam.wordpress.com)

Marzuki Alie (Ketua DPR RI):
“Syiah itu mazhab yang diterima di negara manapun di seluruh dunia, dan tidak ada satupun negara yang menegaskan bahwa Islam Syiah adalah aliran sesat.“ (okezone.com)

Jusuf Kalla (Mantan Wakil Presiden RI):
Harus ada toleransi terhadap perbedaan karena perbedaan adalah rahmat. (tempo.co)

Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA (Cendikiawan Muslim, Direktur Sekolah Pasca Sarjana UIN Jakarta):
Syiah adalah bagian integral dari umat Islam dan tidak ada perbedaan yang prinsipil dan fundamental dalam Syiah dan Sunni, kecuali masalah kepemimpinan politik.”
Fatwa haram atau sesat Syiah itu tidak diperlukan, baik secara teologis, ibadah dan fiqh karena pertaruhannya Ukhuwah Islamiyah di Indonesia.” (republika.co.id)

Prof. Dr. Komaruddin Hidayat (Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta):
Syiah merupakan bagian dari sejarah Islam dalam perebutan kekuasaan, dari masa sahabat, karenanya akidahnya sama, Alqurannya, dan nabinya juga sama.” (republika.co.id)

KH. Alie Yafie (Ulama Besar Indonesia):
Dengan tergabungnya Iran yang mayoritas bermazhab Syiah sebagai negara Islam dalam wadah OKI tersebut, berarti Iran diakui sebagai bagian dari Islam. Itu sudah cukup. Yang jelas, kenyataannya seluruh dunia Islam, yang tergabung dalam 60 negara menerima Iran sebagai negara Islam.” (tempointeraktif)

Rhoma Irama (Seniman dan Mubaligh):
Tuhan kita sama, nabi kita sama, kiblat kita sama, sholat kita sama, puasa kita sama, zakat kita sama, haji kita sama, kenapa harus saling mengkafirkan.” (tempo.co)

Slamet Effendy Yusuf (Ketua PB NU):
Caranya terus menjaga persamaan sesama Umat Islam, bukan mencari perbedaannya.” (republika.co.id)

Muhammad Mahfud MD (Ketua MK):
Kalau saya mengatakan semua keyakinan itu tidak boleh diintervensi oleh negara. Keyakinan itu tak boleh diganggu orang lain, kecuali dia mengganggu keyakinan orang lain.” (okezone.com)

Prof. Dr. Umar Shihab (Ketua MUI Pusat):
Syiah bukan ajaran sesat, baik Sunni maupun Syiah tetap diakui Konferensi Ulama Islam International sebagai bagian dari Islam.” (rakyatmerdekaonline.com)

Alm. Buya Hamka (Mantan Ketua Umum MUI Pusat) Mengutip pernyataan Imam Syafi’i:
Jika saya dituduh Syiah karena mencintai keluarga Muhammad Saw, maka saksikanlah wahai Jin dan Manusia, bahwa saya ini orang Syiah. Jika dituduhkan kepada saya bahwa saya Syiah karena membela Imam Ali, saya bersaksi bahwa saya Syiah.” (majalah.tempointeraktif.com)

KH Nur Iskandar Sq (Ketua Dewan Syuro PPP):
Kami sangat menghargai kaum Muslimin Syiah.” (inilah.com)

.

Komaruddin Hidayat: Iran dan Syiah Memiliki Kontribusi Besar dalam Peradaban Islam

Prof. DR. Komaruddin Hidayat pemikir dan cendekiawan muslim Indonesia yang juga menjabat sebagai Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sejak tahun 2006 dalam wawancaranya dengan wartawan The Jakarta Post menegaskan, “Siapa saja yang tidak mengakui keberadaan Syiah pada hakikatnya tidak memiliki pengenalan sedikitpun dengan sejarah Islam. Karena tidak satupun ulama Sunni yang mengingkari peran dan kontribusi besar Iran dalam peradaban Islam.”

KH. Said Aqil Siraj Ketua Umum PB Nahdatul Ulama menyatakan hal serupa dengan menyebutkan Syiah tidak bisa dipisahkan dari dunia Islam, Sunni dan Syiah menurutnya dua mazhab besar dalam Islam dan bersaudara sudah selayaknya saling berangkulan bukan bermusuhan, “Sesuai dengan pengajaran Nabi, perbedaan yang terdapat dalam tubuh umat Islam tidak layak dijadikan alasan untuk saling bermusuhan.”

Sementara itu Prof. DR. Nasaruddin Umar, MA wakil Menteri Agama RI menyatakan ketidaksepakatannya atas permintaan sejumlah kelompok umat Islam yang meminta Syiah menjadi mazhab yang haram dan terlarang di Indonesia

.

Dalam sambutannya pada penyelenggaran Seminar “The Role and Contribution of Iranian to Islamic Civilization” awal Maret lalu mengakui peran dan kontribusi Iran dalam peradaban Islam, terutama pasca revolusi Iran tahun 1979, merupakan suatu kenyataan yang dicatat dalam sejarah, seperti aspek keagamaan, budaya, pembaharuan pemikiran, ilmu pengetahuan, dan teknologi

.

“Pembaharuan pemikiran Islam yang dialami Iran menarik kajian berbagai kalangan, terutama para intelektual dan generasi muda, melalui penerjemahan buku-buku yang ditulis oleh para ulama dan cendekiawan muslim Iran sampai hari ini” tegasnya.

Menurut pengakuannya, sebagai paham keagamaan, Sunni dan Syi’i memang terdapat perbedaan di samping persamaan. “Namun untuk membangun hubungan yang harmonis dan kerukunan bersama, sepatutnya persamaan terus dikembangkan dan diperkuat, sementara perbedaan harus terus diminimalisasi dengan semangat ukhuwah Islamiyah” pesannya

.
“Apa yang disebut dengan “Risalah Amman” (The Amman Massage) tanggal 9 November 2004 yang ditandatangani oleh ratusan ulama sedunia, agar dijadikan acuan hidup Sunni-Syi’i”, tegas beliau lebih lanjut

.

Wamenag: Pemerintah Akan Mengawasi Gerakan Anti Syiah

 Pemerintah akan memantau kelompok-kelompok anti-Syiah di daerah Jawa Barat dan Jawa Timur dengan “sangat serius”, Wakil Menteri Agama Prof. DR. Nasaruddin Umar memperingatkan.

Nasaruddin mengatakan bahwa melarang sekte Syiah akan menjadi “masalah yang sangat serius”, dengan alasan bahwa negara-negara Muslim bahkan yang konservatif seperti Arab Saudi tidak melarang perbedaan denominasi/mazhab.

“Kita juga harus berhati-hati dengan masalah ini, karena dapat mengganggu hubungan kita dengan negara-negara seperti Iran, yang mayotitas warganya yang memeluk ajaran Syiah,” katanya dalam menanggapi sentimen anti-Syiah di Jawa Barat dan Jawa Timur.

Di Jawa Timur, beberapa ulama Sunni di Madura dan daerah lainnya di provinsi ini telah meminta pemerintah daerah untuk mengeluarkan peraturan yang membatasi penyebaran Islam Syiah, dengan alasan bahwa sekte tersebut “cocok” dengan kriteria sesat yang dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia pada tahun 2007.

Desember lalu, ratusan orang membakar empat rumah, masjid dan fasilitas lain di sebuah Pondok Pesantren yang dikelola oleh Tajul Muluk, pemimpin Syiah di Sampang. Tajul sendiri sekarang menghadapi persidangan atas tuduhan “penistaan agama”.

Di Jawa Barat, ulama Sunni telah memperingatkan masyarakat untuk “mencegah” penyebaran Syiah di daerah tersebut.

Nasaruddin, dosen tafsir al-Quran, mengatakan bahwa sementara semua warga negara bebas untuk mengusulkan peraturan untuk pemerintah daerah, selama usulan peraturan tidak bertentangan dengan konstitusi.

Menanggapi keluhan dari peraturan yang membatasi ajaran agama, terutama orang-orang dari sekte Ahmadiyah, Kementerian Dalam Negeri telah mengatakan mereka tidak melanggar konstitusi dan undang-undang otonomi daerah.

Dihubungi secara terpisah, akademisi Muslim Komaruddin Hidayat mengatakan bahwa pengikut Syiah selalu menjadi bagian dari sejarah Islam, dan mengatakan bahwa orang yang memperdebatkan keberadaan Syiah sebagai orang yang “tidak pernah belajar sejarah”.

“Pengikut Syiah di masa lalu banyak memberikan kontribusi kepada Islam, terutama dalam hal ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, ulama Sunni, termasuk di Arab Saudi, tidak pernah memperdebatkan keberadaan mereka,” katanya.

Dia mendesak pemerintah untuk melindungi pengikut Syiah dari serangan apapun, dan mengatakan bahwa pemerintah harus menjaga kerukunan antar-iman dengan mencegah peraturan yang bisa menghancurkan persatuan dan kesatuan bangsa.

Sementara itu, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU) Said Aqil Siradj mengatakan bahwa sekalipun ajaran Syiah memiliki beberapa perbedaan dengan arus utama Islam di Indonesia, NU tidak akan pernah meminta pemerintah untuk melarang pengikut Syiah.

“Nabi Muhammad telah memperingatkan kita bahwa bagaimanapun juga kita tidak boleh bertengkar satu sama lain karena perbedaan-perbedaan kita,” kata kang Said kepada The Jakarta Post (Sabtu, 5 Mei 2012)

.

Said Agil Siraj: Ahlulbait Indonesia Harus Memiliki Ketegasan Memerangi Kejahatan Terutama Teroris.

Berbicara sebagai keynote speaker di acara Festival Imam Ali Ridha (22/11) Ketua Umum PBNU Said Aqil Siraj menekankan pentingnya untuk melindungi sesama manusia.

“Tidak peduli dari golongan, ras dan mahzab manapun selama mereka adalah manusia yang baik maka kewajiban umat Islam adalah melindungi kehormatan, harta benda serta nyawa mereka,” kata Said Aqil Siraj.

“Ahlulbait  Indonesia harus memiliki ketegasan memerangi kejahatan terutama teroris.  NU akan bergerak bersama dengan Ahlulbait Indonesia,” lanjutnya.

Ketua Umum PBNU itu percaya bahwa tidak ada agama yang mengajarkan kekerasan. Islam adalah agama yang toleran.  Ia juga mengatakan tidak mungkin semua orang akan menjadi Islam.

“Seperti disebutkan dalam al Qur’an seandainya Allah mau maka Allah akan menjadikan semua orang Islam tapi Allah tidak melakukan itu,” paparnya.

Mengenai Festival Imam Ali Ridha, Said Aqil Siraj sangat gembira acara milad Imam suci semacam ini bisa dilakukan. Ia berpesan agar nantinya semua imam suci Ahlulbait juga harus dibuatkan festival serupa.

“Saya sangat respek dengan acara ini.  Mudah-mudahan nanti ada yang bisa menulis secara sederhana namun berbobot mengenai sepak terjang imam suci Ahlulbait agar  mampu  di pahami oleh seluruh lapisan masyarakat,” katanya.

dahlan Doktrin Syiah Bahayakan Ideologi Muhammadiyah

.

Syi’ah dan Muhammadiyah sama sama melakukan gerakan tajdid memperkuat rasionalisme akal ! Melarang syi’ah bermakna mengajak umat menuju kegelapan akal

Persamaan Syi’ah dan Muhammadiyah : Sama Sama menghendaki tajdid bidang iptek/sains, rasionalisme dan modernisme

Ada semacam pertanyaan yang begini bunyinya : Apa maksud Imam Ali As dalam Nahj al-Balagha yang bersabda bahwa akal dan perasaan kaum lelaki lebih tinggi dari akal dan perasaan perempuan?

Untuk menjawab itu maka perlu pemahaman yang mendalam menganai sabda beliau. Imam Ali As tidak berkata demikian bahwa kaum lelaki lebih tinggi dan lebih unggul dari kaum perempuan baik dari sisi akal juga dari sisi perasaan. Apa yang disebutkan oleh Imam Ali As tentang kurangnya akal perempuan. Apabila penyandaran tuturan Baginda Ali As ini ada benarnya, maka hal itu terkait dengan salah satu peristiwa khusus (perang Jamal) dan bukan merupakan satu hukum universal ihwal seluruh kaum perempuan. Sebagaimana pada sebagian perkara, sekelompok orang dari kaum lelaki juga mendapatkan kritikan. Adanya orang-orang jenius dari kalangan perempuan atau lebih berakal daripada lelaki   pada masanya; seperti Hadhrat Khadijah Khubra Sa, Hadhrat Fatimah Sa dan lain sebagianya merupakan bukti yang baik bagi klaim ini.

Namun terdapat beberapa kemungkinan lainnya sehubungan dengan ucapan Baginda Ali As ini. Misalnya bahwa yang dimaksud Imam Ali As di sini adalah akal kalkulatif atau akal sosial, bukan akal valuatif yang mendekatkan manusia kepada Allah Swt dan meraih pelbagai makam spiritual. Dalam akal valuatif ini, tidak terdapat perbedaan antara perempuan dan lelaki. Atau kemungkinan lainnya adalah bahwa Imam Ali As ingin menyatakan bahwa dari sisi tipologi kejiwaan, perasaan-perasaan perempuan lebih mendominasi atas akalnya sehingga apabila tidak demikian adanya maka perempuan tidak dapat menunaikan tugas-tugas materialnya dan karena itulah kaum lelaki berada pada sisi berlawanan di hadapan kaum perempuan. Artinya akal lelaki lebih mendominasi daripada perasaannya. Dan hal ini merupakan perbedaan-perbedaan pada sistem penciptaan (takwini) yang sesuai dengan hikmah dan kebijaksanaan Ilahi. Adanya perbedaan-perbeaan ini merupakan suatu hal yang mesti ada. Karena itu, Baginda Ali As tidak berada pada tataran ingin memberikan kredit poin dan lebih memilih salah satunya atas yang lain, melainkan pada konteks ingin memberikan laporan sebuah reportase faktual penciptaan (takwini).

»

Sebelum menjawab inti pertanyaan ada baiknya kita memperhatikan beberapa poin berikut ini:

  1. Peran tak terbantahkan dan determinan kaum perempuan dalam mendidik dan membina manusia dalam masyarakat sebagai ibu atau istri dan mitra kehidupan baik dalam suka atau pun dalam duka merupakan sebuah persoalan yang tidak dapat diingkari begitu saja. Sedemikian sehingga al-Qur’an menempatkan ketaatan kepada orang tua setelah ketaatan kepada Allah Swt tanpa membedakan antara pria dan wanita (ayah dan ibu). Rasulullah Saw juga sangat menaruh hormat kepada Hadhrat Khadijah Sa dan Hadhrat Fatimah Sa. Hal ini merupakan sebuah hakikat yang dijelaskan dan ditegaskan oleh Imam Khomeini, bapak pendiri Republik Islam Iran, “Sejarah Islam adalah bukti atas pelbagai penghormatan yang tidak terkira Rasulullah Saw kepada Hadhrat Fatimah untuk menunjukkan bahwa perempuan merupakan sosok besar dan spesial di tengah masyarakat yang perannya sebanding dengan peran kaum lelaki.[1]
  2. Pemikiran sebanding dan sederajatnya kuiditas (esensi) perempuan dan lelaki merupakan pemikiran Qur’ani yang dapat disimpulkan dari ayat-ayat Ilahi. Perempuan dalam pandangan al-Qur’an, pada dimensi spritiual dan fisikal diciptakan dari esensi yang sama dengan esensi lelaki. Keduanya berasal dari jenis esensi dan kuiditas yang sama.

Al-Qur’an menyatakan, Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu.” (Qs. Al-Nisa [4]:1) dan pada ayat lainnya, Dia-lah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu. (Qs. Al-A’raf [7]:189) Pada kedua ayat al-Qur’an ini, perempuan dari sudut pandang nilai kemanusiaan sama, setara dan ekual dengan lelaki. Oleh itu, lelaki sama sekali tidak memiliki keunggulan atas perempuan dalam hal ini. Ruh manusia yang membentuk hakikat kediriannya bukan badannya. Kemanusiaan manusia dicetak oleh jiwanya. Bukan raga juga bukan rangkapan raga dan jiwanya.[2]

Karena itu, Anda tidak boleh mengenal keduanya dari jenis kelamin kelaki-lakiannya dan keperempuanannya, melainkan dari sisi kemanusiaannya. Demikian juga, perempuan dalam pemikiran Qur’ani, sepantaran dengan lelaki, memiliki potensi untuk meraih kesempurnaan. Dalam pancaran pengenalan dan amalan, perempuan dapat mendaki dan melewati tangga-tangga kesempurnaan. Al-Qur’an tatkala bertutur kata ihwal pelbagai kesempurnaan dan nilai-nilai menjulang yang dicapai manusia, memperlakukan kaum perempuan sama dan setara dengan kaum lelaki.[3] Al-Qur’an tidak hanya menegaskan persamaan antara kaum perempuan dan lelaki dalam hakikat kemanusiaan, bahkan pada asasnya memandangnya sebagai salah satu tanda dan ayat Ilahi, dan kesamaan ini yang menjadi benih untuk memperoleh ketenangan, harmoni dan cinta kasih.[4]

Berdasarkan paradigma inilah Imam Khomeini Ra, bapak pendiri Republik Islam Iran, meyakini persamaan hak-hak azasi manusia antara perempuan dan lelaki. Beliau dalam hal ini berujar, “Dari sudut pandang hak-hak kemanusiaan, tidak terdapat perbedaan antara perempuan dan lelaki; karena keduanya adalah manusia. Perempuan juga memilik hak untuk menentukan nasibnya sebagaimana lelaki, bahkan pada sebagian perkara terdapat perbedaan antara perempuan dan lelaki yang tidak ada kaitannya dengan nilai kemanusiaan mereka.”[5]

  1. Tidak satu pun riwayat atau khutbah dari Imam Ali As yang menyebutkan bahwa kaum lelaki lebih tinggi dan unggul atas kaum perempuan baik dari sisi akal atau pun perasaan.

Apa yang disandarkan kepada Imam Ali As adalah bahwa kaum perempuan lebih tinggi dan unggul atas kaum lelaki dari sudut pandang perasaan, emosi dan afeksi.

Adapun yang disampaikan Imam Ali As pada khutbah kedelapan puluh (87) Nahj al-Balâgha, terkait dengan kurangnya akal perempuan dapat dikaji dan ditelusuri dari beberapa sisi:

Pertama, dengan asumsi bahwa penyandaran riwayat kepada Imam Ali As ini ada benarnya maka harus harus dikatakan bahwa hal ini bukan merupakan satu hukum universal dan mencakup seluruh kaum perempuan. Dari dokumen-dokumen sejarah dapat disimpulkan bahwa khutbah ini berkaitan dengan peristiwa pasca perang Jamal dan dalam perang ini, Aisyah adalah salah seorang yang berpengaruh di tengah masyarakat. Sejatinya Thalha dan Zubair memanfaatkan status sosial Aisyah sebagai istri Rasulullah Saw dan mengusung peperangan melawan pemerintahan sah Baginda Ali As di Basrah.

Imam Ali pasca kekalahan musuh dan akhir peperangan, menyampaikan khutbah yang dimaksud dalam mengkritisi perempuan.[6] Karena itu, dengan memperhatikan beberapa indikasi dan bukti-bukti penting yang menyatakan bahwa Imam Ali As di sini tidak mengisahkan sebagian khusus perempuan bukan seluruh kaum perempuan di alam semesta; karena tanpa ragu terdapat perempuan-perempuan teladan dan jenius serta lebih berakal dari kaum lelaki pada masanya. Siapa yang dapat mengingkari akal dan taktik kaum perempuan seperti Hadhrat Khadijah Sa, Hadhrat Fatimah As, Hadhrat Zainab Sa dan para perempuan besar sejarah dalam memajukan Islam dan perlawanan mereka di samping kaum lelaki dalam memajukan dan meninggikan kalimat tauhid. Karena itu, bagaimana dapat dikatakan bahwa maksud Imam Ali As dari khutbah semacam ini adalah mengkritik dan mencela seluruh kaum perempuan (jenis perempuan)?

Di samping itu, Baginda Ali As dalam sebagian masalah mengeluhkan kelemahan akal kaum lelaki Kufah dan Basrah. Beliau menyampaikan beberapa hal dalam mencela dan menyalahkan mereka. Sebagai contoh, Baginda Ali As dalam khutbah empat belas (14) Nahj al-Balâgha bersabda, “Akal kalian telah ringan dan pikiran-pikiran kalian konyol.”[7]

Pada khutbah tiga puluh empat (34), Imam Ali As bersabda, “Celakalah kalian (kaum lelaki)… Kalian tidak menggunakan akal kalian..”[8]

Pada khutbah sembilan puluh tujuh (97), Imam Ali As bersabda, “Wahai orang-orang yang badan-badannya hadir namun akal-akal mereka gaib (tidak memiliki akal)..”[9]

Dalam khutbah seratus tiga puluh satu (131) disebutkan, “Wahai (manusia dengan) pikiran-pikiran yang berbeda dan hati yang terpecah, yang jasadnya hadir, tetapi akalnya tidak…”[10]

Dalam beberapa hal ini, Imam Ali dengan jelas mencela sebagian lelaki dan memperkenalkan mereka sebagai orang yang kurang akal dan ringan pikirannya. Sementara terdapat banyak lelaki dan pria alim dari Kufah dan Basrah serta mempersembahkan banyak ulama kepada dunia Islam.

Dengan kata lain, pelbagai kejadian dan peristiwa sejarah dalam satu tingkatan tertentu tersedia ruang untuk dipuji dan pada tingkatan lainnya tersedia ruang untuk mencela dan mengkritisinya.[11] Setelah berlalunya waktu tidak lagi tersisa ruang untuk memuji juga untuk mencela dan mengkritisi.[12] Karena itu, pelbagai celaan yang disebutkan dalam Nahj al-Balâghatentang perempuan atau lelaki Kufah dan Basrah sebenarnya merupakan satu proposisi personal (qadhiyah syakhshiyah).[13]

Bukti lainnya terdapat riwayat yang disandarkan kepada Imam As terkait dengan kurangnya akal kebanyakan manusia. Dalam sebuah tuturan, Baginda Ali As bersabda, “Rasa takjub manusia (ego sentris) kepada dirinya merupakan pertanda lemah dan kurangnya akalnya.”[14] Dalam hadis ini dan hadis-hadis lainnya,[15] hal-hal seperti ego sentris, syahwat, mengikut hawa nafsu dan sebagainya dipandang sebagai faktor penyebab kurangnya akal. Karena itu, mungkin saja penyandaran kurangnya akal perempuan juga bersumber dari faktor ini. Dan yang dimaksud di sini adalah adanya beberapa faktor yang menyebabkan kurangnya akal mereka khususnya pada masa tersebut. Faktor-faktor seperti ini karena tidak bersifat esensial dan bukan merupakan tabiat wanita maka hal itu dapat dihilangkan dengan pendidikan dan pengelokan jiwa.

Sejatinya celaan-celaan perempuan seperti ini, tidak berpulang pada inti esensi dan kuiditas perempuan, sebagaimana pelbagai celaan kepada lelaki tidak berkaitan dengan inti esensi dan kuiditas mereka. Di samping itu, riwayat-riwayat seperti ini, pada umumnya memiliki sisi edukatif (pendidikan) dan premonitif (peringatan). Artinya peringatan kepada kaum lelaki untuk tidak berkepala besar di hadapan pelbagai instruksi dan keinginan warna-warni perempuan lantaran boleh jadi akan membuat mereka terjerembab dalam pelbagai kerugian dan konsekuensi buruk lainnya serta mengandung pesan hingga batasan tertentu bahwa kaum lelaki harus menjaga mental mandirinya. Terutama pada kondisi-kondisi tertentu, seperti perang dan pelbagai ketidaknyamanan lantaran mengikuti pikiran dan hawa nafsu akan menyebabkan terjungkal dan lemahnya mereka. Hal ini sesuai dengan kondisi-kondisi zaman Amirul Mukminin Ali As.[16]

Kedua, dalam suatu ungkapan dapat dikatakan bahwa akal terdiri dari dua jenis:

  1. Akal kalkulatif atau akal sosial.
  2. Akal valuatif (nilai).

Boleh jadi bahwa yang dimaksud oleh Imam Ali As terkait dengan keunggulan akal kaum lelaki atas kaum perempuan pada akal kalkulatif bukan akal valuatif. Dengan kata lain, keunggulan yang bersumber dari pelbagai perbedaan yang terdapat pada pria dan wanita hanyalah pada akal kalkulatif. Adapun akal valuatif yang menyebabkan kedekatan kepada Allah Swt dan surga dapat diraiih melalui akal valuatif ini.[17] Karena itu, tidak terdapat perbedaan antara pria dan wanita pada akal valuatif.[18]

Ketiga, apa pun yang kita ingkari namun kita tidak dapat mengingkari hakikat ini bahwa antara dua jenis, baik dari sisi ragawi atau pun dari sisi ruhaninya terdapat banyak perbedaan yang telah banyak dibahas dan diulas pada banyak buku dan kita tidak akan mengulangnya di sini. Pendeknya dari semua itu bahwa karena perempuan merupakan basis keberadaan dan kemunculan manusia, perkembangannya juga berada dalam pangkuan perempuan, lantaran secara ragawi, kondisi fisik perempuan lebih cocok dan memang telah diciptakan untuk mengandung (hamil), membina dan mendidik generasi umat manusia selanjutnya. Dari sisi ruhani, perempuan juga memiliki saham yang lebih banyak pada hal-hal yang berkenaan dengan perasaan dan afeksi.

Karena itu, kedudukan ibu, pendidikan anak dan pembagian kasih dan cinta di antara anggota keluarga diserahkan kepada perempuan.[19] Dengan kata lain, sebagaimana yang telah dijelaskan pada pendahuluan bahwa tidak terdapat perbedaan antara pria dan wanita dalam masalah identitas nilai-nilai (values) kemanusian. Namun sesuai dengan tuntutan jenis kelamin mereka beramal secara berbeda-beda. Allah Swt menciptakan pelbagai entitas berdasarkan hikmah dan sesuai dengan situasi dan tanggung jawab yang dipikulnya. Pria dan wanita juga tidak terkecualikan dari kaidah ini.

Pria dan wanita berbeda dari beberapa sisi antara satu dengan yang lain  seperti pada sisi jasmani, psikologi, perasaan dan afeksi. Kecintaan kaum wanita kepada keluarga dan perhatian bawaannya terhadap institusi keluarga lebih banyak daripada kaum pria.

Perempuan hatinya lebih lembut ketimbang laki-laki. Sabda Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As berbicara tentang perbedaan-perbedaan kejiwaan dan ragawi antara pria dan wanita. Sejatinya Imam Ali ingin menyampaikan bahwa perasaan-perasaan perempuan lebih mendominasi ketimbang akalnya yang apabila bukan karena dominasi perasaan ini maka ia tidak dapat menunaikan tugasnya sebagai seorang ibu dan dari sisi ini pria berada pada titik berlawanan wanita. Akal pria lebih mendominasi atas perasaannya dan perbedaan-perbedaan  pada penciptaan berdasarkan hikmah Ilahi. Adanya pelbagai perbedaan ini adalah suatu hal yang mesti. Karena itu, Baginda Ali As tidak berada pada tataran memberikan kredit poin kepada salah satunya, melainkan pada konteks memberikan reportase sebuah fakta penciptaan bahwa perasaan-perasaan dan afeksi-afeksi kendati pada tempatnya merupakan sesuatu yang ideal namun pada pelbagai pengambilan keputusan yang menentukan keduanya tidak boleh didengarkan. [IQuest]


[1]Shahife-ye Nûr, jil. 14, hal. 200.

[2]Zan dar Âiyine Jalâl wa Jamâl, Abdullah Jawadi Amuli, hal. 76.

[3]“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang jujur, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Qs. Al-Ahzab [33]:35); “Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman), “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang, dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka, dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya sebagai pahala di sisi Allah. Dan di sisi Allah terdapat pahala yang baik.” (Qs. Ali Imran [3]:195)

[4]“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (Qs. Rum [30]:21)

[5]Shahife-ye Nûr, jil. 3, hal. 49.

[6]Khursyid bi Ghurub (terjemahan Nahj al-Balâgha), Miadikha,  Khutbah 79.

[7]Nahj al-Balâgha, Khutbah 14.

“خفّت عقولكم و سفهت حلومكم…”.

[8]Nahj al-Balâgha, Khutbah 34.

“افّ لكم… فأنتم لا تعقلون…”.

[9]Nahj al-Balâgha, Khutbah 97.

  ”أيها القوم الشاهدة أبدانهم الغائبة عنهم عقولهم…”

[10]Nahj al-Balâgha, Khutbah 131.

“أيتها النفوس المختلفة و القلوب المتشتته الشاهدة أبدانهم و الغائبة عنهم عقولهم…”

[11]. Artinya pujian-pujian dan celaan-celaan menjadi sebab kondisi-kondisi dan peristiwa-peristiwa tertentu pada sebagian perkara.

[12]Zan dar Âiyine Jalâl wa Jamâl, Abdullah Jawadi Amuli, hal. 368-369.

[13].  Khursyid bi Ghurûb (terjemahan Nahj al-Balâgha), Miadikha,  Khutbah 13 & 14.

 [14]Al-Kâfi, jil. 1, hal. 27, hadis 1, Kitab al-‘Aql wa al-Jahl.

“اعجاب المرء بنفسه  دليل علي ضعف عقله”

[15]Syarh Ghurar al-Hikam wa Durar al-Kilam, jil. 1, hal. 311.

 ”اعجاب المرءِ بنفسه حمق”

[16].  Lihat, Zan dar Âiyine Jalâl wa Jamâl

[17]Ushûl al-Kâfi, jil. 1, Kitab al-‘Aql wa al-Jahl, bab 1, hadis 3, hal. 11.

“العقل ما عبد به الرحمن و الکتب به الجنان”.

[18]Zan dar Âiyine Jalâl wa Jamâl, hal. 268 dan 369.

[19]. Silahkan lihat, Tafsir Nemune, jil. 2, hal. 164.

Syi’ah Melatih Kecerdasan Emosi pada Anak

Cerdas secara emosi menjadi syarat utama untuk keberhasilan seseorang dalam lingkup pergaulan sosial. Seseorang yang mempunyai kecerdasan emosi mempunyai kemampuan lebih untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan secara lugas.

Peran orang tua sebagai figur panutan menjadi sangat penting dalam memperkenalkan konsep kecerdasan emosi pada anak sejak dini.

Menyampaikan hal-hal yang sifatnya abstrak pada anak usia dibawah 5 tahun tidaklah mudah, namun bukan berarti mustahil. Perkembangan jiwa anak di kisaran usia ini dikenal sebagai “The Golden Years” sehingga beberapa ahli tidak berlebihan bila mengatakan bahwa pada rentang usia ini seorang anak merupakan “wujud dari miniatur manusia dewasa”.

Hal-hal berikut adalah beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk melatih anak cerdas secara emosi:

  • Biasakan mengungkapkan perasaan saat berbicara pada anak. Misalnya: “mama suka kalau lihat adik bernyanyi berdua kakak”. Atau “kalau dede sakit, papa sedih sekali”.
  • Bila orang tua melakukan kesalahan jangan ragu meminta maaf, beri contoh pada anak dan lakukan dengan sungguh-sungguh.
  • Usahakan untuk berkomunikasi dengan anak, berikan kesempatan pada mereka untuk menceritakan aktifitasnya sesuai kemampuannya. Jadilah pendengar yang aktif. Anak akan terbiasa berbicara dan memperlihatkan emosinya, serta merasa mendapat perhatian yang tulus dari orang tua.
  • Beri kesempatan anak memahami apa yang dirasakan orang lain. Misalnya saat melihat pengemis, ceritakan bahwa mereka orang tak mampu, yang hidup berkekurangan tidak seperti dirinya. Lakukan dengan bahasa yang dimengerti anak. Anak akan belajar berempati.
  • Latih anak untuk bisa menerima keterbatasan dirinya dan tanamkan perasaan bangga terhadap kelebihannya. Hal ini dapat menanam perasaan percaya diri pada anak.
  • Beri contoh cara mengungkapkan rasa syukur, misalnya pada saat anak mendapat pujian atas keberhasilannya atau saat menerima hadiah ulang tahun. Ajari untuk mengucapkan terima kasih pada pemberi hadiah atau pujian.

Cerdas emosi bukan hanya kewajiban anak seorang diri. Peran aktif orang tua sangat penting dalam proses perkembangan kecerdasan emosi anak. Cerdas emosi merupakan proses timbal balik dengan lingkungannya serta pembelajaran yang diperoleh anak dari aktifitas sehari-hari.

Syi’ah ajarkan Pendidikan Agama pada Anak beserta Ketrampilan

Pendidikan agama, syarat dan formulasinya termasuk bahasan rumit dalam kehidupan manusia. Karena pendidikan agama bertujuan untuk membina dan mencerahkan jiwa manusia. Pendidikan agama merupakan konsep pendidikan yang diturunkan oleh Allah Swt kepada umat manusia melalui Rasul-Nya. Anak-anak dan remaja menjadi perhatian khusus konsep pendidikan agama. Karena untuk memahamkan anak-anak tentang ajaran agama serta tentang hari penciptaan dan hari akhir dibutuhkan kelihaian khusus.

Anak-anak ingin mengetahui beberapa pertanyaan yang berbau filosofis, “Darimana manusia datang? Bagaimana mereka datang? Akan kemana mereka pergi? Dan siapa yang telah membawa mereka ke dunia ini? Pertanyaan-pertanyaan ini dapat menjadi alasan untuk menyiapkan pola pendidikan agama.

Mayoritas para psikolog sepakat bahwa pendidikan harus dimulai sejak usia dini. Dalam sistem pendidikan Islam, masalah ini juga mendapat perhatian khusus. Penelitian para psikolog membuktikan bahwa anak-anak pada usia empat tahun mulai menunjukkan kecenderungan kepada agama. Sebenarnya pada usia tersebut, anak-anak telah memulai ekspedisi mencari Sang Pencipta. Masalah psikologis ini juga banyak ditemukan dalam barbagai hadis Nabi Saw. Imam Muhammad al-Baqir as berkata, “Ajarilah kalimat syahadah kepada anak-anak saat mereka berusia tiga tahun, dan ketika menginjak usia empat tahun, kenalilah mereka dengan kenabian nabi Muhammad Saw, dan ajarilah mereka berwudhu dan shalat saat berusia tujuh tahun.”

Menurut para psikolog, seiring bertambahnya usia seorang anak muncul tiga kecenderungan untuk beragama. Pertama, rasa untuk beragama pada diri anak akan tumbuh dan berkembang. Pada tahap kedua, akan muncul keraguan pada dirinya tentang ajaran agama. Dan tahap berikutnya, ia mulai menemukan berbagai pertanyaan akibat keraguannya tersebut. Pada tahap ini, orang tua harus memperhatikan dengan serius setiap pertanyaan yang diajukan anak-anaknya dan jangan sampai menyinggung perasaan mereka dengan mengabaikannya. Terkadang sikap keliru yang ditunjukkan orang tua atau para pendidik dalam menyikapi pertanyaan ini membuat anak-anak kian menjauhi agama. Hal ini merupakan salah satu kendala dalam pendidikan agama.

Setiap ideologi baik agama maupun tidak, membutuhkan penyampaian khusus. Jika seorang pendidik atau mubaligh tidak memiliki kesadaran dan wawasan penuh maka mereka tidak akan pernah mampu menyampaikan pesannya kepada umatnya. Sejarah telah membuktikan hal ini, para Nabi adalah pribadi yang paling berpengaruh dalam masyarakat, karena mereka mampu menyampaikan ajarannya dengan metode yang tepat. Hal ini juga didorong oleh kehidupan para nabi yang senantiasa melakukan perbuatan terpuji.

Poin penting lainnya dalam pendidikan agama terhadap seorang anak adalah menyiapkan kesempatan dan iklim baik dalam lingkungan keluarga. Rasulullah Saw memberikan empat pesan dalam mendidik anak. Beliau bersabda, “Mintalah anak-anak kalian mengerjakan pekerjaan sesuai dengan kemampuannya dan jangan menuntut lebih dari mereka, jangan paksa mereka melakukan perbuatan maksiat, jangan berbohong kepada mereka dan jangan menghina serta melecehkan mereka.”

Pesan Nabi tersebut membuat kita memahami sejumlah metode untuk mendidik anak. Pertama, memahami dengan benar kriteria serta perasaan anak sangat penting. Kedua, perilaku kasih sayang orang tua sangat mempengaruhi perkembangan anak. Sikap toleran dalam menghadapi prilaku anak dapat memperkokoh hubungan antara orang tua dan anak-anaknya. Jika hubungan antara anak dan orang tuanya harmonis maka ia tidak akan mencari kasih sayang di luar rumah. Dan orang tua menjadi panutan yang baik bagi anak-anaknya. Oleh karena itu, Rasul menganjurkan orang tua untuk tidak membebani anak-anaknya pekerjaan yang di luar kemampuan mereka.

Dr. Abdul Adhim Karemi ketika menyebutkan proses pendidikan agama mengatakan, “Pendidikan agama mengutamakan untuk mempersiapkan audiensnya. Dalam tahap ini kita harus memperhatikan persiapan fisik, mental, perasaan dan pemikiran anak-anak. Langkah pertama adalah kita harus mengupayakan anak-anak untuk siap menerima pendapat dan bimbingan orang lain. Misalnya, jika kita menghidangkan makanan yang lezat di hadapan orang yang kenyang maka pasti ia tidak mempunyai selera untuk memakan hidangan tersebut. Dan jika kita memaksanya untuk makan, maka ia akan berakibat fatal sehingga ia membenci makanan. Hal ini disebabkan karena ia tidak memiliki kesiapan yang cukup untuk memakan hidangan tersebut. Berbeda dengan orang yang lapar, ia tidak membutuhkan paksaan untuk makan. Andaikan kita memberinya makanan yang sederhana sekalipun maka ia akan memakannya.”

Poin penting lainnya dalam pendidikan agama adalah memanfaatkan berbagai metode dan fasilitas khusus. Terkadang kita dapat memanfaatkan cerita agama. Selain mampu meningkatkan daya fikir dan pengetahuan anak, cerita tersebut dapat menumbuhkan rasa beragama dalam diri anak-anak. Selain itu, membawa serta anak-anak dalam ritual keagamaan dan masjid juga berpengaruh besar dalam pendidikan agama. Namun dengan catatan hal ini membawa kesan baik bagi anak.

Membawa anak berziarah ke tempat suci dan mengikutsertakan mereka dalam kelompok-kelompok keagamaan merupakan sarana untuk mengokohkan rasa religius dalam diri anak. Ada kalanya permainan juga dapat dijadikan sarana untuk mengajarkan pelajaran agama kepada anak. Dalam beberapa tahun terakhir pusat-pusat keislaman melakukan terobosan baru untuk mendidik anak dengan merilis permainan komputer yang mendidik.

Akhirnya, pendidikan agama bagi anak-anak berarti menumbuhkan kemampuan terpendam dalam diri mereka. Mengembangkan rasa religius anak dapat membantu orang tua untuk mempersiapkan perspektif agamis anak dalam memandang kehidupan. Perspektif ini memposisikan anak sebagai sumber sejati hakikat dan memberikan ketenangan ruhani pada mereka. Kebutuhan anak akan pemahaman arti kehidupan dapat dipenuhi di lingkungan keluarga. Pemahaman anak akan Tuhan, dunia dan serta kehidupan di dunia serta akhirat tergantung pada pengetahuan agama orang tua dan pendidik. Selain itu, cara penyampaian para orang tua kepada anak-anaknya juga sangat berpengaruh.

Orang tua yang sukses dengan baik memahami cara menumbuhkan rasa religius anak dengan cara menarik kepercayaan dan kasih sayang serta menciptakan keakraban. Orang tua yang baik juga memahami dengan benar bagaimana mereka memenuhi rasa dahaga anak-anaknya tentang pengetahuan agama melalui metode yang benar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s