Bulan: Mei 2012

kaum sunni di Negeri ini mempelajari Syi’ah dari orang2 yg bukan Syi’ah atau dari para pembenci Syi’ah seperti dari ulama wahabi garis keras yg menerangkan melalui buku2 dan media Elektronik dgn propaganda yg menjijikan tentang Syiah sehingga orang tahunya Syiah ajaran yg melenceng

03/22/2012

Wawancara Duber RI untuk Iran dengn Situs IRIB

.

IRIB Indonesia: Pak Dubes, sekarang kita akan coba mengulas tujuan kedua penugasan Bapak di Tehran tentang people to people. Untuk memperkenalkan Indonesia secara luas kepada rakyat Iran, tentu saja pihak KBRI Tehran tidak dapat melakukannya sendiri. KBRI Tehran membutuhkan bantuan dan sosialisasi dari warga Indonesia dari berbagai kalangan yang tinggal di Iran. Nah, kira-kira apa program dan harapan Bapak dari warga Indonesia yang ada ini untuk menyukseskan program ini, yang pada intinya merupakan amanat dari NKRI di pundak seluruh bangsa Indonesia di manapun saja berada?

Dubes RI: Benar. Seperti yang sudah saya katakan tadi, people to people contact ini sangat luas mencakup sosial, budaya, pendidikan dan olahraga semua masuk dalam cakupan people to people contact. Saya melihat semua itu peluang. Coba sekarang kita melihat bidang pendidikan. Marilah kita belajar dari negara lain, khususnya negara tetangga kita. Kalau negara Malaysia bisa mendatangkan 140 ribu turis ke Malaysia, mengapa kita hanya 20 ribu, atau kurang dari itu? Bila Malaysia mampu mendatangkan 15 ribu mahasiswa Iran, mengapa kita hanya segelintir? Padahal Islam kita diakui sebagai Islam yang lebih berwarna, lebih beragam, lebih moderat dan Islam yang penuh senyum.

Kenyataan ini sebenarnya menjadi tantangan buat kita mengapa mereka berhenti di Malaysia? Pasti ada sesuatu.

Beberapa waktu belakangan ini kami berusaha mencari tahu ketika saya ke Jakarta. Karena itu saya bertemu juga dengan pelbagai pihak di Jakarta, khususnya di kalangan pendidikan tinggi, termasuk universitas Islam kita. Dalam hal ini universitas Islam yang ada di Jakarta.

Sebetulnya kita bisa berbuat banyak juga. Coba perhatikan! Malaysia memberikan sarana yang lebih lengkap. Sebagai contoh, masalah visa. Malaysia berani memberikan visa yang multiple entry untuk jangka 10 tahun.

Masalah-masalah pengembangan budaya ini tidak hanya terkait dengan bidang bersangkutan, tapi terkait dengan bidang-bidang lainnya. Jadi kitapun harus mulai menyiapkan diri untuk melakukan koordinasi antarlembaga di Indonesia. Koordinasi ini harus ditingkatkan dan bukan hanya terfokus pada departemen pendidikan, tapi juga harus terkait dengan Bappenas. Terkait juga dengan bidang hukum, karena menyangkut masalah keimigrasian dan sebagainya.

Di bidang pendidikan juga masih bisa dikembangkan. Bila mahasiswa Indonesia diberi beasiswa dari pemerintah Iran atau kalangan non-pemerintah, kita juga punya program-program yang bisa dikembangkan untuk merangkul mahasiswa Iran datang ke Indonesia.

Tapi selama ini rupanya ada persepsi yang salah. Ada berbagai kasus yang sangat tidak kondusif untuk hubungan ini. Misalnya, masalah di Madura. Kelompok kecil Syiah yang katanya diserang oleh kelompok yang lebih besar. Nah, hal-hal yang seperti ini menciptakan persepsi yang salah dari masyarakat Iran untuk datang ke Indonesia. Padahal yang terjadi di lapangan adalah bukan pertentangan antara Syiah dan Sunni, tapi lebih ke masalah-masalah yang sebenarnya tidak ada kaitannya dengan pemerintah Iran dan Indonesia. Karena itu sebenarnya masalah keluarga yang kemudian dieksploitir dan dikembangkan sehingga memunculkan persepsi yang sala

Hal-hal yang seperti ini tidak dapat diselesaikan sendiri oleh KBRI atau departeman agama, tapi harus menyangkut bidang-bidang lain seperti departemen dalam negeri, pemerintah daerah dan sebagainya.

Selama persepsi-persepsi yang seperti ini masih ada memang akan menjadi ekstra sulit bagi kami untuk bisa mengembangkan people to people. Tapi bagaimanapun juga kita harus memulai langkah ini. Kalau tidak, kapan lagi akan kita lakukan? Oleh karena itu, ke depannya salah satu bentuk yang akan kita lakukan, program yang akan dilakukan oleh KBRI antara lain; memajukan upaya dialog antarkepercayaan dan antaragama. Buat saya, dialog semacam ini sangat penting. Karena untuk memberikan keyakinan di masyarakat kedua belah pihak, bahwa namanya Syiah-Sunni itu bukan satu pertentangan. Bukan sesuatu yang harus dipertentangkan. Apalagi yang bisa dimanfaatkan oleh pihak-pihak lain untuk dipertentangkan. Justru kalau kita bisa merangkul, saling berjabat tangan untuk bekerjasama, Islam akan menjadi kekuatan besar. Yang tadi saya katakan, bukan hanya secara bilateral, tapi di kawasan dan juga di dunia.

Banyak tantangan, termasuk juga olahraga. Indonesia adalah negara yang masih jauh tertinggal dalam cabang olahraga. Di lain pihak, Iran punya cabang olahraga yang dominan seperti bola voli, angkat besi dan gulat. Ketika saya di Jakarta, saya sudah bertemu dengan ketua KONI yang baru. Mereka sangat berminat untuk mengembangkan hubungan olahraga ini. Selama ini badminton sudah jalan. Tapi mengapa hanya badminton? Kita perlu mengembangkan cabang olahraga yang lain. Langkah ke arah sana sudah mulai kita lakukan.

Banyak hal yang bisa digarap.

IRIB Indonesia: Pak Dubes, Iran baru-baru ini menyelenggarakan Pekan Budaya di Indonesia pada 7-13 Maret. Masih dalam kerangka people to people contact, apakah ada rencana Indonesia akan menyelenggarakan Pekan Budaya di Iran, apa lagi Menteri Kebudayaan dan Bimbingan Islam Iran telah menawarkan bahwa Tehran siap menjadi tuan rumah bagi Pekan Budaya Indonesia di Tehran?

Dubes RI: Betul, betul sekali. Minggu lalu ada Iran Week di Indonesia. Kegiatannya kultur dan kebudayaan mencakup berbagai bidang termasuk film dan pameran yang dibuka secara resmi di Museum Nasional. Sebagai informasi, tahun ini kita juga akan mengadakan Pekan Budaya di Tehran sekitar bulan September. Kita akan mengadakan Indonesian Week dan dalam kaitan ini, saya sudah bicara dengan departemen pariwisata dan ekonomi kreatif dan mereka mendukung sepenuhnya acara ini yang akan diselenggarakan di bulan September nanti. Temanya Indonesian Week dan kita akan memperkenalkan kebudayaan Indonesia bukan hanya musik, tapi juga, insya Allah, tari-tarian dan juga kita akan coba seperti yang dilakukan Iran di Indonesia yaitu mengenalkan film-film Indonesia yang mulai berprestasi di tingkat internasional

Pekan Budaya ini sudah masuk dalam program kita dan akan dilaksanakan pada bulan September

IRIB Indonesia: Terima kasih atas kesediaan Bapak Dubes berbincang-bincang dengan kami. Sebagai penutup, karena Iran saat ini tengah memasuki tahun baru Hijriah Syamsiah yang dikenal dengan tradisi Nouruz. Mungkin Bapak Dubes punya pesan kepada bangsa Iran, ataukah punya kesan tersendiri mengenai tradisi Nouruz ini, silahkan

Dubes RI: Tadi pagi ketika saya menyerahkan Credential kepada Bapak Presiden Mahmoud Ahmadinejad, pesan pertama yang saya ucapkan adalah ucapan selamat tahun baru buat Presiden Iran, baik dari saya selaku Duta Besar yang baru dan ucapan yang sama dari Bapak Presiden Indonesia kepada Presiden Republik Islam Iran. Selamat Tahun Baru.

Harapan kami dan juga harapan Bapak Presiden Indonesia serta harapan KBRI Tehran, semoga tahun baru buat masyarakat Iran ini dapat menambah kesejahteraan dan kebahagiaan bagi rakyat Iran. Saya percaya bahwa tahun baru selalu membawa hal-hal yang baru. Mudah-mudahan dengan doa kita bersama, Iran juga akan menghadapi masa depan baru yang lebih baik dari yang sebelumnya. Kami bangsa Indonesia sebagaimana yang saya sampaikan kepada Bapak Mahmoud Ahmadinejad senantiasa akan bekerjasama bersama rakyat Iran membawa kemakmuran bersama bagi kedua negara. Itulah yang saya sampaikan kepada beliau dan lewat beliau kepada seluruh rakyat Iran

Pejabat Iran Desak Muslim Sunni dan Syiah Bersatu

Selasa, 22 Mei 2012, 21:25 WIB
Pejabat Iran Desak Muslim Sunni dan Syiah Bersatu
Sunni-syiah bersatu
.
Kepala Bagian Kepentingan Iran di Kairo, Mojtaba Amani menekankan pentingnya persatuan antara Muslim Syiah dan Sunni. Hal itu disampaikan saat bertemu Sheik Besar Al-Azhar, Ahmed Mohamed el-Tayeb.Dalam pertemuan tersebut, Amani mengatakan, tangan-tangan kotor terlibat dalam menyebarkan pikiran yang salah dan keputusan keagamaan yang tidak benar untuk menabur perselisihan antara umat Muslim Syiah dan Sunni
.
Ia merujuk pada keputusan agama yang dikeluarkan Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei yang melarang penistaan terhadap para sahabat dekat Nabi Muhammad SAW serta tanda-tanda keagamaan milik umat Islam Sunni.Lebih jauh Amani mendesak, agar hubungan langsung antara para ulama senior Sunni dan Syiah bisa diperbaiki. Tak lupa, Amani memuji peran Al-Azhar dalam mempromosikan kedekatan dan saling pengertian antara Muslim Syiah dan Sunni untuk menghadapi musuh-musuh Islam.
.
Ketika Sunni dan Syiah mengakui
tuhan yang sama, nabi yang sama, Alquran yang sama, kiblat yang sama,
syahadat yang sama, mengapa perbedaan harus dibesar-besarkan?
.
Ketika Sunni dan Syiah mengakui tuhan yang sama, nabi yang sama, Alquran yang sama, kiblat yang sama, syahadat yang sama, mengapa perbedaan harus dibesar-besarkan?
.
Sunni dan Syiah adalah dua mainstream Islam yang sama-sama post-quranic. Keduanya terbentuk setelah wahyu berhenti diturunkan dan setelah nabi Muhammad saw wafat. Perselisihan paham antarkeduanya berlangsung sejak terbentuknya aliran tersebut di masa-masa awal Islam sampai hari ini. Keduanya saling perang ayat dan riwayat, bahkan tidak jarang keduanya saling mengafirkan. Kontestasi perebutan pengaruh juga berlangsung dari dulu hingga sekarang dan kontak fisik sering tidak terhindarkan. Begitu parahkah perbedaan antarkeduanya sehingga tak ada secercah harapan mendekatkan kedua kekuatan dahsyat Islam ini?
Hasil diskusi intensif penulis (bersama dengan beberapa doktor dan guru besar UIN Alauddin) dengan beberapa Ayatullah (ulama otoritatif) Syiah di Hawza Ilmiah Syiah di jantung peradaban Syiah di Qum, Iran, mengungkap sejumlah fakta menarik yang dipatut dipertimbangkan dalam rangka mendekatkan kedua mainstream besar Islam ini.

Sejumlah isu-isu kritis kami diskusikan secara akademik dan kepala dingin. Kami ke Iran mengikuti workshop ilmiah dengan membawa sejumlah pemahaman apriori tentang Syiah. Di antaranya adalah asumsi bahwa kitab suci Syiah (Alquran) berbeda dengan kitab suci (Alruran) Sunni. Asumsi ini bukan tanpa dasar karena disebutkan dalam ratusan riwayat dalam kitab al-Kafi karya al-Kulayni (salah satu dari empat kitab yang dianggap oleh Syiah sebagai kitab suci kedua setelah Alquran, kurang lebih sama dengan Sahih Bukhari dan Sahih Muslim yang diyakini oleh Sunni sebagai kitab kedua setelah Alquran) bahwa terdapat manipulasi atau perubahan (tahrif) terhadap Alquran yang ada sekarang.

Menurut al-Kulayni penulis kitab otoritatif tersebut, Alquran yang ada di tangan kaum muslimin Sunni sekarang sebagian telah diubah. Inilah salah satu penyebab mengapa kaum muslimin Sunni di dunia termasuk di Indonesia, memandang Syiah sesat karena meyakini ketidakaslian Alquran.

Begitu kami sampai di Iran kami langsung memeriksa Alquran Syiah. Bahkan kami dibawa ke tempat percetakan Alquran dan diberi hadiah Alquran. Ternyata, Alquran Syiah dengan Alquran Sunni tidak ada bedanya sama sekali. Ketika penulis menanyakan hal ini kepada salah seorang Ayatullah di Hawza, beliaupun menjawab tak ada perbedaan.

Yang menarik adalah informasi dari kitab al-Kafi berbeda dengan kenyataan di lapangan. Ketika kami menanyakan hal tersebut, Ayatullah menjawab kami tidak menganggap al-Kafi sebagai kitab suci yang tidak mungkin salah. Di situ banyak kesalahan yang kami kritisi, berbeda dengan kalian di Sunni yang menjadikan Sahih al-Bukhari sebagai kitab suci yang tidak boleh dikritisi. Saya sempat sedikit tersindir dengan jawaban tersebut.

Menurut Ayatullah yang lain, sudah terbit banyak buku yang mengkritik al-Kafi karya al-Kulayni. Poin ini penting karena kitab ini sering dijadikan sumber oleh Sunni untuk menyerang kaum Syiah, sementara kitab ini sendiri sudah dikritik oleh Syiah.

Poin selanjutnya tentang sahabat. Dalam literatur-literatur yang ditulis kaum Sunni disampaikan bahwa Syiah hanya menerima hadis-hadis yang diriwayatkan oleh ahlul bait atau keluarga nabi, sementara hadis yang diriwatkan oleh sahabat-sahabat yang lain mereka tolak mentah-mentah, bahkan mereka, kaum Syiah mencerca sahabat.

Para Ayatullah yang sempat kami ajak diskusi mengingkari hal itu. Mereka mengatakan bahwa sepanjang hadis tersebut bisa dibuktikan otentisitasnya dari nabi, siapapun sahabat yang meriwayatkan kami terima. Abu Bakar, Umar dan Usman adalah sahabat nabi yang mereka hormati. Poin ini sangat substantif karena pendapat tentang sahabat nabi telah dan sedang menjadi sumber konflik antara kedua mainstream Islam ini.

Bahkan, ada di antara Ayatullah yang menjelaskan bahwa sedang ada konspirasi besar untuk mendiskreditkan Iran (Syiah) yang bertujuan untuk memecah-belah umat Islam. Iran adalah negara Islam terbesar dan terkuat, baik secara ekonomi, karakter, budaya dan politik dan paling resisten terhadap pengaruh hegemoni Barat yang sama sekali tidak bisa didikte oleh Amerika.

Terdapat tidak kurang dari 200 chanel televisi di luar negri, terutama di Amerika, yang dibuat dalam bahasa Parsi untuk mendiskreditkan Iran, untuk menyerang budayanya. Stasiun televisi inilah yang sering memunculkan padangan-pandangan miring yang berpotensi menimbulkan kesalahpahaman terhadap Iran secara khusus dan Syiah secara umum, agar Syiah dan saudaranya Sunni tidak bisa bersatu menurut Ayatullah tersebut.

Tentang nikah mut’a (kawin kontrak), sungguh berbeda dengan apa yang kami pahami sebelumnya. Nikah mut’a memang dibenarkan oleh ulama Syiah dengan riwayat-riwayat yang menurut mereka dapat dipertanggungjawabkan kesahihannya. Bahkan argumentasi quranipun dapat mereka tunjukkan. Menurut mereka, nikah mut’a dipraktikkan pada masa nabi. Banyak sahabat yang telah mempraktikkannya. Nanti pada masa Umar bin Khattab, khalifah kedua, Nikah mut’a dilarang. Mengapa sesuatu di masa nabi dibolehkan kemudian dilarang oleh Umar? Riwayat-riwayat tersebut tentu bisa diperdebatkan, tetapi bukan tempatnya di sini mendiskusikannya. Tetapi, meskipun demikian nikah mut’a di kalangan Syiah tidak semudah dan semurah yang dibayangkan.

Nikah mut’a memang masih ada di Iran, tetapi sangat terbatas. Di samping harus tercatat di catatan sipil, juga bukanlah trend terhormat di masyarakat. Praktik nikah mut’a sangat jarang dan hanya dalam kasus tertentu. Di tempat lain, praktik nikah mut’a sering dieksploitasi dan dijadikan sebagai instrumen mengumbar nafsu. Nikah mut’a tentu tidak dimaksudkan untuk tujuan-tujuan tersebut.

Perbedaan yang paling mendasar yang diakui oleh mereka adalah tentang khilafah. Mereka meyakini bahwa yang berhak menjadi khalifah setelah nabi adalah Ali, bukan Abu Bakar, Umar dan Usman. Keyakinan tersebut tentu di-back up oleh riwayat-riwayat yang mereka yakini kesahihannya. Konsep imamah dan wilayatul faqih adalah tema yang juga menarik dan sangat panas dalam diskusi kami, tetapi keterbatasan halaman ini menyebabkan penulis tidak mengurainya di sini.

Poin yang penulis ingin sampaikan adalah baik Sunni maupun Syiah memiliki argumennya masing-masing, memiliki dasar-dasar dari Alquran dan hadis masing-masing. Sunni dan Syiah berbeda dalam memahami teks, berbeda dalam menilai keabsahan sumber atau riwayat-riwayat. Tetapi, ketika Sunni dan Syiah mengakui tuhan yang sama, nabi yang sama, Alquran yang sama, kiblat yang sama, syahadat yang sama, mengapa perbedaan harus dibesar-besarkan. Apatah lagi kalau perbedaan-perbedaan itu dipahami dari sumber yang tidak tepat.

Bagi Sunni yang ingin mengetahui substansi pemikiran dan hakikat ajaran Syiah sebaiknya membaca dari literatur Syiah, bukan dari sumber yang tidak suka kepada Syiah. Begitu pula sebaliknya, kelompok Syiah harus fair membaca literatur otoritatif Sunni untuk mengetahui esensi pemahaman Sunni. Mungkin dengan cara itu, Sunni dan Syiah dapat bersinergi membangun peradaban Islam di masa yang akan datang/ Amien.

Selama berabad-abad lamanya, hubungan antara Sunni dan Syiah terus diwarnai perselisihan. Berbagai dialog untuk mempertemukan kedua aliran dalam Islam itu kerap dilakukan. Namun, ketegangan di antara kedua kubu itu tak juga kunjung mereda.

Akankah kedua aliran besar dalam Islam itu bersatu? Prof Dr Musthafa ar-Rifa’i lewat kitab bertajuk Islamuna fi at-Taufiq Baina as-Sunni wa asy-Syi’ah, berupaya mencari benang merah yang bisa menautkan antara Sunni dan Syiah. Tokoh kelahiran Troblus, Lebanon pada 1924 itu mencoba menghadirkan perspektif yang berbeda dan mengkaji kedua aliran itu secara fair, tanpa menghilangkan bobot dan nilai akademik.

Kitab ini mengkaji tentang kemungkinan mempersatukan antara dua kubu Sunni dan Syiah. Ar-Rifa’i menyertakan beberapa kajian penting dalam kitabnya. Ia mengupas bahasan tentang sebab kemunculan faham keagamaan Syiah, alasan penting bersatu, varian sekte yang ada dalam Syiah, serta prinsip-prinsip dan faham keagamaan mereka.

Bebarapa hal penting menjadi perhatian ar-Rifa’i, di antaranya perbedaan hukum nikah mut’ah, konsep imamah, dan kemunculan Imam al-Mahdi. Ulasan tentang persoalan itu diuraikan dengan mengomparasikan pandangan kedua belah pihak. Kesimpulannya, diarahkan untuk mencari persamaan yang mempertemukan Sunni dan Syiah.

Ar-Rifa’i menegaskan, mempertemukan kedua kubu itu bukanlah hal yang mustahil. Perbedaan yang selama ini mencuat, kata dia, pada hakikatnya bukan persoalan prinsip, melainkan masalah khilafiah yang dapat ditoleransi. Pada tataran ijtihad dan tradisi ilmiah lain, misalnya, terbuka peluang Sunni-Syiah bertemu.

Setidaknya, menurut dia, pemandangan tentang sikap saling menghormati dan toleransi diteladankan oleh para ulama Salaf. Imam Abu Hanifah mewakili Sunni dan Imam Ja’far bin ash-Shadiq mewakili Syiah. Meski berbeda mazhab dan cara pandang, kedua tokoh tak saling bermusuhan dan tidak saling menafikan.

Menurut ar-Rifa’i, keduanya justru saling meningkatkan sikap hormat dan menghormati. Dalam sebuah kisah dijelaskan bagaimana kedua pemimpin yang berbeda aliran itu hidup berdampingan dalam ukhuwah Islamiah.

Dikisahkan, Zaid bin Ali seorang pemimpin kelompok Syiah Zaidiyyah—menerima pelajaran fikih dan dasar akidah dari Abu Hanifah yang notabene tersohor sebagai imam di kalangan Sunni. Demikian sebaliknya, Abu Hanifah mempelajari hadis dan disiplin ilmu lainnya dari Imam Ja’far ash-Shadiq.

Bahkan, Abu Hanifah berguru langsung ke tokoh Syiah tersebut selama dua tahun penuh. Pujian pun kerap dilontarkan Abu Hanifah ke gurunya itu. Tak pernah bertemu guru lebih fakih dibanding Ja’far bin Muhammad.”

Waspadalah, Zionis Hendak Memecah Belah Umat

Menurut Prof Dr Musthafa ar-Rifa’i lewat kitab bertajuk Islamuna fi at-Taufiq Baina as-Sunni wa asy-Syi’ah, perbedaan antara Sunni-Syiah yang selama ini kerap muncul di permukaan, hakikatnya bukan perbedaan yang prinsipil.

Perbedaan hanya terletak pada persoalan non-prinsipil furuiyyah yang dapat ditoleransi. Hal itu didasari kuat oleh pemahaman terhadap ijtihad sebagai upaya memahami teks-teks agama. Ijtihad tersebut menggunakan berbagai dasar dan sumber hukum, antara lain, Alquran, hadis, ijma (konsensus), dan qiyas (analogi).

Tak jauh berbeda dengan metode yang akrab di kalangan Syiah. Tradisi ijtihad tersebut populer di kalangan umat hingga akhirnya luntur seiring lemahnya pemerintahan Dinasti Abbasiyah di pertengahan abad ke-4 Hijriah, ketika dinasti tersebut dikuasai oleh dinasti-dinasti yang terpecah dan tersebar di sejumlah wilayah.

Bersamaan dengan itu pula, ruh ijtihad mulai melemah. Sebagian umat kala itu, kembali memilih taklid dibandingkan mengembangkan budaya ijtihad. Kondisi ini menjadi satu dari sekian faktor yang mengakibatkan perbedaan antardua kubu tersebut kian memanas.

Dalam konteks masa kini, ar-Rafa’i meyakini, faktor lain yang amat kuat memengaruhi dan memanaskan konflik antara Sunni dan Syiah adalah kekuatan eksternal yang datang dari imperalis Barat.

Terutama politik dan konspirasi devide et impera (politik memecah belah) yang diterapkan oleh protokol kaum Zionis yang hendak memecah belah umat. Perpecahan faksi dan sekte yang tumbuh berkembang di internal Muslim, digunakan sebagai momen membenturkan dan mengadu domba berbagai kelompok itu.

Wallahu a’lam. (*)

Sahabat Nabi MURTAD hanya bermakna pelanggaran terhadap ikrar wilayah dan pembangkangan terhadap Rasulullah Saw dalam urusan khilafah, karena tidak loyalnya mereka terhadap ikrar yang mereka nyatakan pada hari Ghadir Khum.

oleh : Ustad Husain Ardilla

http://www.gensyiah.com/waspada-buku-putih-mazdhab-syiah-yang-tidak-putih-bag-1.html?utm_source=rss&utm_medium menuduh  Syi’ah dalam kitab mereka mengkafirkan para shahabat yang meriwayatkan hadits-hadits Nabi   kepada kita :

عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ ( عليه السلام ) قَالَ كَانَ النَّاسُ أَهْلَ رِدَّةٍ بَعْدَ النَّبِيِّ ( صلى الله عليه وآله ) إِلَّا ثَلَاثَةً فَقُلْتُ وَ مَنِ الثَّلَاثَةُ فَقَالَ الْمِقْدَادُ بْنُ الْأَسْوَدِ وَ أَبُو ذَرٍّ الْغِفَارِيُّ وَ سَلْمَانُ الْفَارِسِيُّ رَحْمَةُ اللَّهِ وَ بَرَكَاتُهُ عَلَيْهِمْ

Dari Abu Ja’far ‘alaihis-salaam, ia berkata : “Orang-orang (yaitu para shahabat) menjadi murtad sepeninggal Nabi shallallaahu ‘alaihi wa aalihi kecuali tiga orang”. Aku (perawi) berkata : “Siapakah tiga orang tersebut ?”. Abu Ja’far menjawab : “Al-Miqdaad, Abu Dzarr Al-Ghiffaariy, dan Salmaan Al-Faarisiy rahimahullah wa barakaatuhu ‘alaihim…” [Al-Kaafiy, 8/245; Al-Majlisiy berkata : “hasan atau muwatstsaq”]. Al-Ayyasyi meriwayatkan hal yang sama (perhatikan yang diblok):

jawaban syi’ah :

Para imam maksum syi’ah tidak berada pada tataran menyebutkan jumlah bilangan tertentu, melainkan ingin menjelaskan bahwa orang-orang yang tetap loyal dan setia pada nilai-nilai Islam pasca Rasulullah adalah sedikit jumlahnya.

Ahmad bin Muhammad bin Yahya  daripada bapaknya daripada Muhammad bin al-Husain daripada al-Hasan bin Mahbub daripada al-Harith beliau berkata: Aku telah mendengar Abd al-Malik bin A‘yan bertanya kepada Abu Abdullah a.s.  Abd al-Malik bertanya kepada Abu Abdullah a.s. sehingga dia berkata: Jika begitu, maka binasalah semua manusia? (halaka al-Nasu idhan?) Maka Abu Abdullah a.s berkata: Ya! Demi Allah, wahai Ibn A‘yan! semua manusia binasa (halaka al-Nasu ajma‘un). Abd al-Malik berkata: Semua penduduk Timur dan Barat? Beliau a.s menjawab: Ia telah terbuka kepada kesesatan. Demi Allah, mereka telah binasa (halaku) melainkan tiga orang iaitu (illa thalathata nafarin): Salman al-Farisi, Abu Dhar dan al-Miqdad. Setelah itu diikuti oleh ‘Ammar, Abu Sasan al-Ansari, Hudhaifah dan Abu ‘Amrah. Maka bilangan mereka bertambah menjadi tujuh orang”[Al-Kulaini, al-Raudhah, no.356, al-Kasyi,  al-Rijal, hal. 5,]

Dalam kitab Rijaalul-Kisysyi diriwayatkan dari Abu Ja’far bahwa ia berkata :… Kemudian orang-orang bertaubat setelah itu, orang pertama yang bertaubat adalah Abu Sasan Al-Anshari, Abu ‘Amrah, dan Syatirah. Total jumlahnya tujuh orang, tidak ada yang mengetahui hak Amirul-Mukminin kecuali tujuh orang tadi” (Rijaalul-Kisysyi 11-12).

Literatur Syiah Imamiyah yang dinukil dari para imam Ahlulbait As riwayat-riwayat semacam ini juga dapat dijumpai. Di antaranya dalam kitab Bihar al-Anwar yang dinukil dari Abu Bashir. Abu Bashir berkata, “Aku berkata kepada Imam Shadiq As: Apakah orang-orang setelah Rasulullah Saw, selain tiga orang, Abu Dzar, Salman dan Miqdad, telah murtad? Imam Shadiq As bersabda, “Lantas Abu Sasan dan Abu Umrah Anshari dimana?”[Bihâr al-Anwâr, jil. 23, hal. 352]

Sebagaimana yang Anda lihat, Imam Shadiq menolak perkiraan Abu Bashir yang mengira hanya tiga orang dan selebihnya orang-orang yang lain telah murtad semuanya. Imam Shadiq As menyebut nama orang lain yang tetap berada pada jalan petunjuk dan kebenaran.

Muhammad bin al-Hasan, daripada Muhammad bin al-Hasan al-Saffar daripada Muhammad bin al-Husain daripada Musa bin Sa‘dan daripada Abdullah bin al-Qasim al-Hadhrami daripada ‘Umru bin Thabit berkata: Aku telah mendengar Abu Abdullah a.s berkata: Sesungguhnya selepas Nabi s.a.w wafat, maka orang ramai telah menjadi murtad melainkan tiga orang: Salman, al-Miqdad dan Abu Dhar. (Inna al-Nabi s.a.w lamma qubidha irtadda al-Nasu ‘ala a‘qabi-him kuffaran illa thalathan).Sesungguhnya apabila Rasulullah s.a.w wafat, maka empat puluh orang lelaki datang kepada Ali  bin Abu Talib a.s, Mereka berkata: Tidak, demi Allah! Kami tidak akan memberi ketaatan kepada sesiapapun melainkan anda. (la wallahi, la na‘ti ahadan ta‘atan ba‘da-ka abadan). Beliau a.s berkata: Kenapa? Mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengar  Rasulullah s.a.w mengenai hak anda di hari Ghadir Khum. Beliau a.s berkata: Kamu semua akan melakukannya?. Mereka berkata: Ya. Beliau a.s berkata: Datang kepada aku esok dalam keadaan bercukur kepala (fa’tuuni ghadan muhalliqin). ‘Umru berkata: Tidak datang kepada Ali a.s. melainkan mereka bertiga. ‘Umru berkata: ‘Ammar bin Yasir datang kepada Ali a.s. selepas waktu Zuhur. Beliau a.s. memukul tangan  ke atas dadanya dan berkata kepada Ammar: Kenapa anda tidak bangkit daripada tidur kelalaian? Kembalilah kamu, kerana aku tidak memerlukan kamu yang tidak mentaati aku di dalam pencukuran  kepala. Bagaimana kamu mentaati aku untuk memerangi bukit besi!. Justeru kembalilah kamu, aku tidak memerlukan kamu (Irji‘u fa-la hajata li fi-kum antum lam tuti‘uni fi-halqi al-Ra’si fa-kaifa tuti‘uni fi qitali jibali  l-hadid)[Al-Majlisi,  Bihar al-Anwar, viii, 47, 51(Dikutip dari al-Ikhtisas, Syaikh Mufid)]

Khusus terkait dengan tuduhan bahwa Syi’ah mengafirkan seluruh sahabat Nabi saw. kecuali tiga atau lima orang saja, padahal hadis tersebut hanya terkait dengan SAHABAT Nabi yang berada di dalam Rumah Fatimah ketika Abubakar – Umar menyerbu rumah Fatimah !!

Kronologis Asbabul Wurud hadis diatas dan maksud yang terkandung di dalamnya :

  1. Jenazah suci Rasulullah SAW belum dikebumikan, kaum Anshar suku Aus dan Khazraj berkumpul di Saqifah bani Sa’idah, info ini bocor kepada trio Abubakar – Umar dan Abu Ubaidah sehingga mereka bergerak cepat ke lokasi PERTEMUAN. Abubakar terpilih jadi Khalifah di Saqifah                                                                                                                                            .
  2. Setelah Imam Ali AS mengurus pemakaman Rasulullah, mengafani dan mengebumikannya maka malam harinya 40 orang berkumpul di rumah Imam Ali AS antara lain : Abbas bin Abdul Muthalib, Fadhl bin Abbas, Zubair bin Awwam, Khalid bin Sa’id, Miqdad Al Aswad, Salman Al Farisi, Abu Dzar Al Ghifari, ‘Ammar bin Yasir, Bara’ bin Anzib, Ubay bin Ka’ab dan lain lain BERTEKAD membai’at Imam Ali AS menjadi khalifah                                                                       .
  3. Umar bin Khattab mencium gerakan ini sehingga menyerbu rumah Fatimah untuk membakarnya jika kubu Imam Ali   tidak mau membai’at Abubakar. Abubakar  dan Umar  menyerbu rumah  Fatimah  dengan kekerasan  dengan tujuan  agar loyalis pendukung  Imam Ali  segera  membai’at  Abubakar secara paksa.. Sesuai dengan nukilan lugas dari Ahmad bin Hanbal dalam Musnad 1/55 dan Thabari 2/466 sebagian  kecil  sahabat  ini berkumpul di rumah Fatimah Zahra As dan menolak memberikan baiat kepada Abu Bakar                                                         .
  4. Imam Ali AS diseret seret ke Masjid secara paksa, tetapi dihadang oleh Fatimah sehingga Abubakar meminta Umar menghentikan aksinya

5.  Umar bin Khattab memukul  perut Fatimah Az Zahra hingga keguguran dan sakit sakitan. Enam          bulan kemudian puteri Nabi SAW ini wafat karena sakit akibat luka di penyerbuan tersebut

6. Setelah aksi penyerbuan bar bar ini selesai maka malam itu juga Imam Ali AS meminta kepada 40 orang yang berniat membai’at nya agar besok pagi datang lagi dengan BERCUKUR    RAMBUT

Setelah  aksi  penyerbuan bar bar selesai, maka MALAM  iTU  JUGA Disebutkan dalam kitab sejarah bahwa Baginda Ali As dalam menjawab mereka yang berkumpul di rumahnya dan permintaan mereka untuk memberikan baiat kepadanya, “Besok pagi datanglah (kemari) dan cukurlah rambut kalian!”

7. Akan tetapi keesokan harinya hanya 3 orang yang datang BERCUKUR RAMBUT, yaitu

Salman Al Farisi (muhajirin)

Abu Dzar Al Ghifari (muhajirin)

Al Miqdad bin Aswad (muhajirin)

Adapun ‘Ammar bin Yasir telat datang sehingga ditegur keras oleh Imam Ali

Akan tetapi setelah itu dukungan kepada Imam Ali AS di ikuti susul menyusul oleh :

  1. ‘Ammar bin Yasir (muhajirin, diramalkan oleh Nabi SAW akan dibunuh oleh kelompok pemberontak)
  2. Abu Sasan Al Ansari
  3. Abu ‘Amrah
  4. Syatirah
  5. Hudzaifah

Inilah  maksud  hadis hadis diatas !!!

Munculnya penyimpangan, seperti bid’ah dan kemurtadan, di kalangan sebagian sahabat setelah wafatnya Rasulullah, pertama; dalam perspektif sumber-sumber pertama umat Islam, merupakan perkara yang disepakati secara umum (musallam) dan tidak diragukan lagi serta tidak terkhusus pada sumber-sumber mazhab Syiah saja.

Riwayat-riwayat mutawatir yang datang dari Rasulullah Saw di dalam Shihah Sittah Ahlusunnah, dan sumber-sumber lain pada mazhab Ahlusunnah, dengan bilangan sanad sahih yang banyak, merupakan penjelas bahwa sebagian besar sahabat, pasca wafatnya Rasulullah Saw, telah meninggalkan jalan dan sunnah Rasulullah Saw

kemurtadan yang mengemuka pada riwayat-riwayat seperti ini, tidak bermakna kemurtadan secara teknis teologis yang menyebabkankafir tulen atau murtad tulen melainkan bermakna  berpaling dari jalan dan sunnah Rasulullah Saw.

Pada sebagian literatur Syiah Imamiyah yang dinukil dari para imam Ahlulbait As riwayat-riwayat semacam ini juga dapat dijumpai. Di antaranya dalam kitab Bihar al-Anwar yang dinukil dari Abu Bashir. Abu Bashir berkata, “Aku berkata kepada Imam Shadiq As: Apakah orang-orang setelah Rasulullah Saw, selain tiga orang, Abu Dzar, Salman dan Miqdad, telah murtad? Imam Shadiq As bersabda, “Lantas Abu Sasan dan Abu Umrah Anshari dimana?”[Bihâr al-Anwâr, jil. 23, hal. 352)

Sebagaimana yang Anda lihat, Imam Shadiq menolak perkiraan Abu Bashir yang mengira hanya tiga orang dan selebihnya orang-orang yang lain telah murtad semuanya. Imam Shadiq As menyebut nama orang lain yang tetap berada pada jalan petunjuk dan kebenaran.

Terkait dengan hadis di atas harus diperhatikan bahwa:

Pertama: Hadis tersebut tidak disebutkan pada sumber-sumber riwayat standar Syiah.

Kedua: Redaksi kalimat “nas” (orang-orang) pada hadis yang disebutkan di atas bermakna sahabat bukan seluruh kaum Muslimin yang hidup pada abad yang berbeda pasca Rasulullah Saw. Dalil atas klaim ini adalah bahwa orang-orang yang disebutkan pada hadis di atas dan berada pada jalan petunjuk, seluruhnya adalah para sahabat Rasulullah Saw. Dengan demikian, orang-orang yang tidak berada pada jalan petunjuk juga adalah para sahabat Rasulullah Saw.

Ketiga: Secara lahir, riwayat di atas dan riwayat-riwayat lainya yang menyebutkan jumlah orang-orang yang mendapatkan petunjuk, lebih banyak. Karena itu, dengan jelas dapat disimpulkan bahwa para imam maksum As pada riwayat ini, tidak berada pada tataran menyebutkan jumlah bilangan tertentu, melainkan ingin menjelaskan bahwa orang-orang yang tetap loyal dan setia pada nilai-nilai Islam pasca Rasulullah adalah sedikit jumlahnya. Dan mayoritas telah berpaling dari nilai-nilai Islam dan kembali kepada nilai-nilai jahiliyah. Dan sebagaimana yang telah disinggung bahwa makna kemurtadan (irtidâd) pada hadis di atas adalah kembalinya kepada nilai-nilai jahiliyah bukan kemurtadan dalam artian teknis teologis.

Bid’ah bermakna pikiran dan keyakinan yang baru yang tidak memiliki akar pada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Saw. Bid’ah, termasuk perbuatan dosa sesuai dengan penegasan hadis-hadis sahih Rasulullah Saw, dapat menghapus seluruh perbuatan baik pembuat bid’ah dan mengeluarkannya dari nilai-nilai Islam

bid’ah, seseorang tidak meninggalkan agama melainkan ia merasa telah menjaga agama. Namun karena hawa nafsu, segala sesuatu yang bukan bagian dari agama ia jadikan sebagai bagian dari agama. Dan kemurtadan yang juga disinggung dalam hadis-hadis telaga adalah kemurtadan yang bersumber dari bid’ah.

Jadi hadis tentang murtadnya para sahabat kecuali 3, 4 atau 7 hanyalah hadis yang bersifat situasional saja, bukan bersifat menyeluruh (fi’il madhi) .

Penyebutan nama sahabat yang tidak murtad berjumlah 3, 4 atau 7 tidaklah dimaksudkan bahwa yang selain nama nama tersebut bukanlah Syi’ah Ali. Buktinya Nabi SAW memuji Hujr bin Adi, Zaid bin Arqam  dan Jabir bin Abdullah Al Ansari . Jadi membaca hadis syi’ah jangan sepotong sepotong.

 Syi’ah bukan golongan pen takfir seperti Khawarij. Syi’ah Ali memang hanya segelintir orang namun nama namanya  TiDAK TERBATAS UNTUK Di SEBUTKAN, bukan 3 – 4 atau 7. Jika ada orang yang beranggapan bahwa syi’ah Ali hanya berjumlah 7 orang maka orang tersebut SESAT MENYESATKAN karena menentang hadis hadis Nabi SAW

misal : Ayah anda wafat, lalu  adik kandung anda yang CEWEK  sedang  hamil , lalu datang  orang orang kampung  menyerbu rumah anda karena iri hati dengki  sehingga  adik  anda sakit lalu  keguguran.  Didalam  rumah  itu  ada  kawan  kawan  akrab  anda.. Lalu malam itu anda berkata  kepada kawan kawan  akrab  anda bahwa : “BESOK  BERKUMPULLAH disini, kita buat  PEMBALASAN”.. Nah, keesokan harinya yang datang  kerumah  anda  cuma  7  orang.. Salahkah jika anda berkata : “Yang patuh (tidak kafir) pada perintahku  cuma  7 orang saja ya, yang lain berbalik (murtad) dari perintahku” …

PERTANYAAN : Apakah kawan kawan  anda yang tidak berada  dalam rumah  tersebut juga bisa divonis  kafir dan  murtad  juga jika mendukung Imam Ali setelah peristiwa cukur rambut tersebut ???  YA  NGGAK LAH  akhi/ukhti  !!!

Hadis-hadis haudh  tidak dapat diterapkan atas ahli riddah, yaitu orang-orang yang baru memeluk Islam pada akhir-akhir usia Rasulullah Saw, atau tidak lama setelah Rasulullah Saw wafat yang tinggal di daerah-daerah jauh dalam negeri Islam. Ahli riddah ini adalah orang-orang yang telah keluar dari Islam. Dan sesuai dengan definisi yang paling sahih tentang sahabat, ahli riddah tidak termasuk dalam golongan sahabat.

Ibnu Hajar ‘Asqalani menulis, “Definisi yang paling benar yang aku temukan ihwal sahabat, bahwa sahabat adalah orang yang bertemu dengan Rasulullah Saw dan beriman kepadanya dan meninggal dunia dalam keadaan beriman kepada Islam.

sebagian sahabat besar Rasulullah Saw mengakui bahwa setelah wafatnya beliau mereka menciptakan bid’ah.[Al-Ma’ârif, Ibnu Qutaibah, hal. 134; Shahîh Bukhâri, Kitab Maghazi, bab 33]

Pengakuan-pengakuan ini dengan jelas menunjukkan bahwa bid’ah dan kemurtadan (irtidâd) yang disebutkan pada hadis-hadis telaga (haudh), bukan kemurtadan sejumlah orang yang baru memeluk Islam seperti ahli riddah.

Di dalam hadis-hadis telaga (haudh) terdapat redaksi “merubah” (tagyiir) dan mengganti” (tabdil) . “Suhqân suhqân liman gayyara ba’di.”, “Suhqan suhqân liman baddala ba’di.”

Redaksi hadis di atas dengan tegas menunjukkan bahwa kelompok-kelompok dari kalangan sahabat setelah wafatnya Rasulullah Saw mengganti dan merubah hakikat-hakikat penting Islam. Tindakan mereka ini telah mengundang kemurkaan Allah Swt dan Rasul-Nya. Sedemikian sehingga Rasulullah Saw mencela dan mengusir mereka dengan menggunakan kalimat “suhqân.

Pihak  syi’ah  tidak  pernah  membuat  i’tiqad  bahwa  hanya  3,4 atau 7  sahabat  yang  TiDAK  MURTAD.. Pihak  syi’ah  tidak  pernah  mengajarkan  i’tiqad  bahwa  hanya  3,4 atau 7  sahabat  yang  TiDAK  KAFiR..

Selama  40  hari  setelah  Nabi  SAW  wafat, Imam Ali AS dan Fatimah Az Zahra menghubungi pemuka pemuka di malam hari untuk mengingatkan mereka tentang perintah Nabi Muhammad SAW mengenai haknya atas kekhalifahan, mengajak mereka untuk bergabung dengannya menggalang kekuatan

Tetapi hanya segelintir orang yang memberi tanggapan, selain nama nama diatas ada tambahan dukungan dari beberapa orang lainnya seperti :

  1. Khalid bin Sa’id bin Abil Ash (muhajirin, beliau menentang kepemimpinan Abubakar)
  2. Buraidah al Aslami (muhajirin, beliau menentang kepemimpinan Abubakar)
  3. Abul Haitsam bin Taihan (anshar, beliau menentang kepemimpinan Abubakar)
  4. Usman bin Hunaif (anshar, beliau menentang kepemimpinan Abubakar)
  5. Khuzaimah ibn Tsabit Al Anshari  (anshar, dikenal sebagai dzusy syahadatain karena kesaksian nya dianggap Nabi SAW sama dengan kesaksian dua orang, beliau menentang kepemimpinan Abubakar)
  6. Ubay bin Ka’ab (ANSHAR, beliau menentang kepemimpinan Abubakar)
  7. Abu Ayub Al Anshari (ANSHAR, beliau menentang kepemimpinan Abubakar)
  8. Jabir bin Abdillah Al Anshari (termasuk syi’ah Ali yang utama)

Syi’ah Ali memang hanya segelintir orang namun nama namanya TiDAK TERBATAS UNTUK Di SEBUTKAN, Syi’ah Ali juga termasuk :

  1.  Hujr bin Adi dan sahabat sahabatnya yang berjumlah tujuh orang (yang dibunuh   di ADZRA, mereka sudah diramalkan akan mati syahid oleh Nabi SAW jauh sebelumnya)
  2.  Zaid bin Arqam (sahabat yang dikatakan Nabi akan masuk surga tanpa hisab,  juga diramalkan Nabi akan buta di masa tuanya)
  3.  Malik al Asytar
  4.  Hasyim Al Mirqal
  5.  Sha’sha’ah bin Shuhan
  6.  Qais bin Sa’ad bin ‘Ubadah
  7.  Muhammad bin Abubakar
  8.  ‘Addi bin Hatim Al Tha’i
  9.  Uwais Al Qarni
  10. dan lain lain. Syi’ah Ali memang hanya segelintir orang namun nama namanya TiDAK TERBATAS UNTUK Di SEBUTKAN

Adapun Imam Ali, Fatimah, Hasan, Husain dan Bani Hasyim merupakan KERABAT NABi SAW dan bukan sahabat Nabi SAW.. Jadi Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud merupakan kerabat dalam makna hadis diatas dan bukan sahabat !!! Ummu  Salamah  isteri  Nabi SAW merupakan isteri, bukan SAHABAT yang dimaksud hadis tersebut

Pascawafatnya Rasulullah Saw, sebagian sahabat dalam banyak kasus telah mengusik dan menyakiti Fatimah Zahra As sehingga telah menyebabkan kekecewaan dan ketidakrelaan beliau. Sebagian dari kasus ini disebutkan dalam literatur-literatur Ahlusunnah

Adapun dari PiHAK KERABAT yang tergolong yang tergolong syi’ah Ali antara lain adalah :

  1. Fatimah sang isteri tercinta
  2. Ibnu Abbas
  3. Abbas bin Abdul Muthalib
  4. Fadhl bin Abbas
  5. Hasan
  6. Husain
  7. Dll dari Bani Hasyim
  8. Ummu Salamah (janda Nabi SAW)

http://www.gensyiah.com/waspada-buku-putih-mazdhab-syiah-yang-tidak-putih-bag-1.html?utm_source=rss&utm_medium  menuduh sbb :

عَنْ أَبِي عبد الله عليه السلام قال: …….والله هلكوا إلا ثلاثة نفر: سلمان الفارسي، وأبو ذر، والمقداد ولحقهم عمار، وأبو ساسان الانصاري، وحذيفة، وأبو عمرة فصاروا سبعة

Dari Abu ‘Abdillah ‘alaihis-salaam, ia berkata : “…….Demi Allah, mereka (para shahabat) telah binasa kecuali tiga orang : Salmaan Al-Faarisiy, Abu Dzarr, dan Al-Miqdaad. Dan kemudian menyusul mereka ‘Ammaar, Abu Saasaan, Hudzaifah, dan Abu ‘Amarah sehingga jumlah mereka menjadi tujuh orang [Al-Ikhtishaash oleh Al-Mufiid, hal. 5; lihat : http://www.al-shia.org/html/ara/books/lib-hadis/ekhtesas/a1.html%5D

.
Al-Kulaini meriwayatkan dalam ushul al-Kafi:

عَنْ أَبِي بَصِيرٍ عَنْ أَحَدِهِمَا عليهما السلامقَالَ إِنَّ أَهْلَ مَكَّةَ لَيَكْفُرُونَ بِاللَّهِ جَهْرَةً وَ إِنَّ أَهْلَ الْمَدِينَةِ أَخْبَثُ مِنْ أَهْلِ مَكَّةَ أَخْبَثُ مِنْهُمْ سَبْعِينَ ضِعْفاً .

Dari Abu Bashiir, dari salah seorang dari dua imam ‘alaihimas-salaam, ia berkata : “Sesungguhnya penduduk Makkah kafir kepada Allah secara terang-terangan. Dan penduduk Madinah lebih busuk/jelek daripada penduduk Makkah 70 kali lipatnya” [Al-Kaafiy, 2/410; Al-Majlisiy berkata : Muwatstsaq]. Perhatikan scan kitabnya:

jawaban pihak syi’ah :

Para imam maksum syi’ah tidak berada pada tataran menyebutkan jumlah bilangan tertentu, melainkan ingin menjelaskan bahwa orang-orang yang tetap loyal dan setia pada nilai-nilai Islam pasca Rasulullah adalah sedikit jumlahnya.

.
Ath-Thabarsi dalam buku Al-lhtijaj membawakan sebuah riwayat dari Ibban bin Taghib. la bertanya kepada Imam Ja’far bin Muhammad ash-Shadiq:
“Kujadikan diriku tebusan darimu. Apakah ada orang yang menolak kepemimpinan Abu Bakar di antara para sahabat Rasullah?” Imam menjawab:”Ya. Dua belas orang, dari kaum Muhajirin yang menolak; mereka itu adalah Khalid bin Said bin Abi Al’ash, Salman AI-Farisi, Abu Dzar AI-Ghifari, Miqdad bin AI’aswad, Ammar bin Yasir, Buraidah Al’aslami. Dan dari pihak Anshar adalah Abul Haitsam bin Attihan, Utsman bin Hunaif, Khuzaimah bin Tsabit Dzus-syahadatain, Ubay bin Ka’ab dan Abu Ayyub AI’anshari”
.

Ummul Mukminin Aisyah telah berkata:“Sekalian orang Arab telah murtad setelah wafatnya Rasulullah” (Al-Bidayah wa al-Nihayah: 6/336; Tarikh Madinah Dimasyq: 30/316)

Ummul Mukminin Aisyah mengatakan semua orang Islam itu murtad, tentunya dalam pandangan Syiah yang dimaksud dengan murtad bukanlah murtad daripada keimanan, akan tetapi menentang perintah-perintah yang telah ditetapkan oleh Rasulullah.

Dari segi tata bahasa Arab, murtad banyak maknanya tergantung apa kalimat setelah kata “murtadad/yartadid/murtadin”. Contoh :“MURTADDiNA ‘ALA A’QAABiHiM” artinya membelot dari janji mereka

Syi’ah menganggap mayoritas sahabat pasca wafat Nabi SAW tidak patuh pada wasiat), karena  mereka telah mengubah atau membatalkan hukum Allah dan Sunnah Rasulullah (Saw), KAFIR atau MURTAD disini bukan kafir tulen dan bukan murtad tulen melainkan kafir kecil seperti kafirnya orang yang malas shalat !!

Kafir dan Murtad yang dimaksudkan syi’ah bukan seperti kafirnya Abu Thalib versi Sunni, sama sekali tidak..  Bukhari dan Muslim telah mencatat di dalam Sahih Sahih mereka mengenai perkara tersebut

Murtad atau kafir  bermakna : mengkhianati janji setia atau meninggalkan wasiat atau membelot dari kesetiaan dan tidak di artikan keluar dari agama islam, melainkan berpaling dari jalan sunnah dengan MENENTANG PERiNTAH PERiNTAH YANG TELAH DiTETAPKAN NABi SAW. Syiah meski memiliki beberapa kritikan terhadap para khalifah namun tidak dianggap sebagai kemurtadan dalam pengertian teknis teologis

Ayatullah Subhani berpandangan bahwa kemurtadan ini tidak bermakna kekufuran dan kembalinya mereka kepada jahiliyah, melainkan tidak loyalnya mereka terhadap ikrar yang mereka nyatakan pada hari Ghadir Khum. Sebagian besar sahabat membangkang Rasulullah Saw dan melanggar ikrar wilayah.Dalam pandangan Syiah, kemurtadan yang mengemuka dalam riwayat-riwayat ini sama sekali berbeda dengan kemurtadan orang-orang seperti Musailamah, para pengikut Aswad Ansi, dan Sujjah.

.

Syiah didakwa mengkafirkan para sahabat Nabi SAW 

SYi’AH  MENUDUH  SAHABAT  PASCA  NABi  KAFiR  ATAU  MURTAD ?

Sunni dan Syi’ah sepakat bahwa sahabat Nabi SAW yang wafat pada masa Nabi SAW hidup mayoritas masuk surga.. Yang menjadi perdebatan sunni – syi’ah adalah status para sahabat Nabi SAW pasca Nabi wafat. Bila saudara-saudara menganggap cerita-cerita yang membuka ‘aib’ para sahabat sebagai kufur, maka tidak akan ada lagi ahli sejarah dan ahli hadits yang tidak kafir.

Riwayat-riwayat Ahlusunnah dengan taraf mutawatir tentang kemurtadan para sahabat pasca Nabi SAW wafat jauh lebih banyak  dibandingkan apa yang dituliskan syi’ah, pada literatur-literatur Syiah riwayat-riwayat sahih yang menjelaskan kemurtadan para sahabat tidak lebih dari dua riwayat dan meminjam istilah ilmu hadis, tidak melewati batasan kabar wahid. Karena itu, saudara-saudara Ahlusnnah harus memberikan jawaban terkait dengan kemurtadan para sahabat dalam riwayat-riwayat mutawatir ini apa maksudnya?

Hadis-hadis tentang kemurtadan para sahabat juga banyak diriwayatkan para ulama ahli hadis Ahlusunnah wal jama’ah. Lalu bagaimana para ahli hadis Sunni dapat dibebaskan dari vonis itu sementara muhaddis dan kaum Syi’ah divonis kafir?

Munculnya penyimpangan, seperti bid’ah dan kemurtadan, di kalangan sebagian sahabat setelah wafatnya Rasulullah, pertama; dalam perspektif sumber-sumber pertama umat Islam, merupakan perkara yang disepakati secara umum (musallam) dan tidak diragukan lagi serta tidak terkhusus pada sumber-sumber mazhab Syiah saja. Pada sebagian riwayat Ahlusunnah terdapat penyandaran kemurtadan terhadap para sahabat Rasulullah Saw

Banyak sekali hadits-hadits seperti hadits Al-Haudh, diantaranya tercatat dalam Shahih Bukhari dan Muslim. Mereka menceritakan adanya sekelompok sahabat digiring ke neraka dan tatkala ditanya Rasul, ada suara yang menjawab “Engkau tidak mengetahui apa yang mereka lakukan sesudahmu”. Apakah pandangan Syi;ah tersebut ‘kufur’ atau ‘sesat’? Apakah mereka harus dikafirkan karena keyakinan mereka itu? Kita boleh menyesali perbedaan itu, tetapi perbedaan ini menyangkut masalah cabang agama bukan pokok, bukan ushuluddin

Kesemua hadis-hadis haudh sunni adalah menepati ayat al-Inqilab, firman-Nya di dalam Surah Ali Imran (3): 144: “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang (murtad), maka ia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikitpun dan Allah akan memberi balasan kepada mereka yang bersyukur.”

Dan bilangan yang sedikit sahaja yang “terselamat” adalah menepati firman-Nya di dalam Surah Saba’ (34): 13: “Dan sedikit sekali dari hamba-hambaku yang berterima kasih.”

Musuh-musuh Ahlulbait as. dan Syi’ah (pengikut setia) mereka tak henti-hentinya menaburkan fitnah beracun untuk memecah belah wahdatul Islam wal Muslimin / keutuhan Islam dan kesatuan barisan kaum Muslimin. Demi menyukseskan proyek besar musuh-musuh Islam, berbagai cara licik mereka tempuh agar terjadi benturan antara dua puak besar kaum Muslimin yaitu Ahlusunnah dan Syi’ah!

Tuduhan demi tuduhan palsu tak henti-hentinya mereka sebar-luaskan. Untuk melengkapi tuduhan palsu semacam itu tidak jarang riwayat-riwayat tertentu mereka pelintir kandungannya atau bahkan teksnya mereka modifikasi agar mendukung kesimpulan mereka.

Padahal dalam literatur-literatur sejarah dilaporkan bahwa Imam Ali As dalam beberapa hal tertentu bermusyawarah dengan para khalifah dan membimbing mereka sehingga mereka meraih kemenangan dalam pelbagai penaklukan (futuhât).

Dalam hadis sahih Bukhari Muslim terdapat hadis yang bernama Hadis Haudh, yang mana tidak ada jalan lagi untuk Ahlussunnah mengelak dari hal tersebut. Di hari kiamat sebilangan para sahabat akan dibawa ke api neraka. Rasulullah bertanya ke mana dibawa sahabat-sahabat baginda. Lantas dijawab ke neraka. Ditanya kenapa, lantas dijawab lagi, kerana mereka murtad dan kembali ke masa jahiliyah sepeninggalan baginda. Yang lebih menarik, Bukhari mengatakan hanya sedikit daripada mereka yang selamat.

Untuk menyingkat waktu kami akan sebutkan beberapa contoh hadis-hadis kemurtadan sahabat dalam riwayat Ahlusunnah dengan harapan mendapat jawaban dan arahan yang proporsional dan ilmiah tentangnya.

Artinya :

Dari Abdullah  dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Aku adalah orang yang  mendahului kamu di telaga (haudh), maka sungguh orang-orang laki-laki diantaramu dinaikkan bersamaku, kemudian sungguh mereka dipisahkan dari aku, lalu aku berkata : “Wahai Tuhanku, Mereka itu adalah para sahabatku (ashabi) ). Maka dijawab: Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka (inna-ka la tadri ma ahdathu ba‘da-ka) (Musnad Ahmad,1/402, 406, 407, 384, 425 dan 453. Shahih Muslim, 7/68. Sahih al-Bukhari Hadis no. 578)

Artinya :
Dari Anas  dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Sungguh orang-orang dari sahabatku akan datang kepadaku di Haudh (Sungai atau Kolam Susu) sehingga apabila aku mengetahui mereka, mereka dipisahkan dariku, maka aku berkata : “Sahabat-sahabatku” (ashabi)!. Maka dia (Malaikat) berkata: Anda tidak mengetahui apa yang lakukan oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka (inna-ka la adri ma ahdathu ba‘da-ka) (Hadits ditakhrij oleh Bukhari  no. 584)

.Artinya :

Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw. bersabda: “Ketika aku sedang berdiri, terlihat olehku sekelompok orang. Setelah aku kenali mereka, ada seorang di antara mereka keluar dan mengajak kawan-kawannya, ‘Ayo, mari’ Aku bertanya, ke mana? ia menjawab, ‘ke neraka,’ Lalu aku bertanya lagi, mengapa nasib mereka sampai demikian? Kemudian dijawab: ‘Sesungguhnya mereka telah murtad sejak kau tinggalkan dan berbalik ke belakang (innahum irtaddu ba‘da-ka ‘ala Adbari-himi l-Qahqariyy). Kemudian terlihat sekelompok lain lagi. Ketika aku kenali mereka, ada seorang di antara mereka keluar dan menyeru kawan-kawannya: ‘Ayo, mari’ Aku bertanya, ke mana? Ia menjawab: ‘Ke neraka’ Lalu aku bertanya lagi, mengapa mereka? dijawab: ‘Sesungguhnya mereka telah murtad sepeninggalmu dan kembali ke belakang. Kulihat tidak ada yang selamat dan lolos kecuali beberapa orang saja yang jumlahnya cukup sedikit, seperti jumlah onta yang tersesat dari rombongannya (fala ara-hu yakhlusu minhum illa mithlu hamali n-Na‘ am) (Shahih Bukhari,8/150. Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Musyaiyib dari banyak sahabat Nabi).

Artinya :
Dari Asma’ binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya aku akan berada di Haudh sehingga aku melihat mereka yang datang kepadaku dikalangan kamu (man yaridu ‘alayya min-kum). Dan mereka akan ditarik dengan pantas (daripadaku), maka aku akan bersabda: Wahai Tuhanku! Mereka itu daripada (para sahabat)ku dan daripada umatku. Dijawab: Lalu dikatakan : “Apakah kamu mengetahui sesuatu yang telah diperbuat mereka sesudahmu ? (amma sya‘arta ma ‘amilu ba‘da-ka)? Demi Allah, mereka senantiasa mengundur ke belakang (kembali kepada kekafiran) selepas anda meninggalkan mereka (Wa Llahi!Ma barihu ba‘da-ka yarji‘un ‘ala a‘qabi-him). Ibn Abi Mulaikah berkata: “Wahai Tuhanku! Sesungguhnya kami memohon perlindungan daripadaMu supaya kami tidak mengundur ke belakang (kembali kepada kekafiran) atau kami difitnahkan tentang agama kami”. (Hadits ditakhrij oleh Bukhari, Sahih Muslim Hadis No. 27 (2293)

Bukhari dan Muslim meriwayatkan banyak sahabat Nabi dimasukkan ke dalam neraka dan tertolak dari kelompok Nabi SAW.

Abu Hazim daripada Sahl bin Sa‘d daripada Nabi (Saw.) Nabi (Saw.) bersabda: Aku akan mendahului kamu di Haudh. Dan siapa yang akan melaluinya akan meminumnya. Dan siapa yang meminumnya tidak akan dahaga selama-lamanya.Akan datang kepadaku beberapa orang yang aku kenali,dan mereka juga mengenaliku.Kemudian dihalang di antaraku dan mereka. Abu Hazim berkata : Nu‘man bin Abi ‘Iyasy berkata selepas mendengarku: Adakah anda telah mendengar sedemikian daripada Sahl? Aku menjawab: Aku naik saksi bahawa aku telah mendengar Abu Sa‘id al-Khudri berkata perkara yang sama, malah dia menambah: Nabi (Saw.) bersabda: Aku akan bersabda: mereka itu adalah daripadaku (ashabi). Maka dijawab: “Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka (inna-ka la tadri ma ahdathu ba‘da-ka). Maka aku (Nabi (Saw.) bersabda: Jauh ! Jauh ! (daripada rahmat Allah) atau ke Neraka mereka yang telah mengubah atau menukarkan (hukum Allah dan Sunnahku) selepasku (Suhqan suhqan li-man baddala ba‘di). ” (Shahih Bukhari,9/58-59, kitabul-fitan dan 8/150, Shahih Muslim,7/96,Musnad Ahmad, 5/33 dan 3/28, Al Isti’âb (di pinggir Al-Ishâbah),1/159)

Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah (Saw.) bersabda: Sekumpulan daripada para sahabatku akan datang kepadaku di Hari Kiamat. Kemudian mereka akan diusir jauh dari Haudh.Maka aku akan bersabda: Wahai Tuhanku!mereka itu adalah para sahabatku (ashabi). Dijawab: Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang mereka lakukan selepas anda meninggalkan mereka (inna-ka la ‘ilma la-ka bima ahdathu ba‘da-ka) Sesungguhnya mereka telah menjadi kafir-murtad kebelakang (irtaddu ‘ala a‘qabi-bi-himu l-Qahqariyy) (Shahih Bukhari, 8/150)

Memang ada ayat AL QURAN yang menyatakan keutamaan sahabat secara umum tetapi bukan berarti itu berlaku untuk seluruh sahabat, melainkan untuk sahabat yang tidak berbalik arah setelah wafat Nabi SAW. Itulah makna Qs. Ali Imran Ayat 144. Karena penyebab kemurtadan seperti yang disinyalir dalam hadis di atas itu muncul di saat Nabi saw. tidak berada di tengah-tengah para sahabat!

Semua yang kami paparkan di sini sekedar renungan yang menuntut kita untuk merenung dan memikirkan kenyataan tersebut dan mencari tau apa penyebab sebenarnya kemurtadan itu? Dan apa maksud dari kata kemurtadan itu? Semua itu agar kita terhindar dari kesalahan fatal dalam menilai para sahabat dan juga agar tidak gegebah menuduh serampangan mazhab lain yang tidak kita sukai!

Kaum mu’tazilah tidak begitu banyak berpegang pada sunnah atau tradisi ahlul hadis sunni, bukan karena mereka tidak percaya pada tradisi Nabi SAW, tetapi karena mereka ragu akan keoriginalan hadis hadis sunni. Syi’ah menyortir hadis sunni, karena syi’ah hanya mamu memakai sunnah yang betul betul asli (orisinal) dan bukan hadis hadis buatan yang bukan dari Nabi SAW

Penolakan terhadap wasiat Nabi SAW tentang imamah wa khilafah sangat mengerikan karena kelak di kemudian hari mengakibatkan terjadinya PENYESATAN UMAT Muhammad SAW sepanjang masa, apalagi sunni mengedarkan doktrin politik nya dengan gaya gaya absolutistik dan merasa “pasti benar”.

PERiSTiWA Saqifah menimbulkan DAMPAK BERANTAi di kemudian hari yakni UMAT MENJADi SESAT karena mendustakan, meninggalkan dan memusuhi ajaran ahlulbait. Teraniaya nya puteri Nabi dan tertahan haknya. Thaghut Umayyah Abbasiyah menindas para imam maksum lalu MERUBAH Hadis Hadis NABi, terampasnya warisan kepemimpinan ahlulbait penerus Nabi, Berkuasanya tiran fasik yang berlaku sewenang wenang kepada Ahlulbait dan syi’ah Ali sehingga mengalami ujian dan bencana tiada tara karena kezaliman pembangkang

Allah SWT berfirman : “Wahai orang orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul Nya. Bertakwalah kepada Allah” (Qs. Al Hujurat ayat 1)

Perpecahan, berbagai perselisihan, pertikaian dan propaganda yang tidak pada tempatnya mengakibatkan seseorang bisa menjadi MUSYRiK. Permusuhan membawa kepada kelemahan umat dan hilangnya wibawa !

Janganlah wahabi mengira definisi musyrik hanya dengan menyembah berhala, akan tetapi musyrik juga mencakup MEMECAH BELAH AGAMA dengan menjejalkan secara paksa berbagai kepentingan dan pandangan raja raja zalim kedalam agama  yang akhirnya melunturkan nilai keotentikan dan kesucian agama. Akibat nya hukum Allah menjadi keruh bercampur baur dengan tangan tangan kotor penguasa tiran.

Firman Allah SWT : “… janganlah kamu termasuk orang orang yang mempersekutukan Allah , yaitu orang orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka” (QS. Ar Rum ayat 31-32 )

Firman Allah SWT : “Apakah mereka mempunyai semabahan sembahan selain Allah yang mensyari’atkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah. Sekiranya tidak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan . Dan sesungguhnya orang orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih” (Qs. Asy Syuraa ayat 21)

Perebutan kekuasaan menjadikan umat Islam terpecah belah. Syi’ah memerangi sektarianisme. Firman Allah SWT : “Sesungguhnya mereka yang memecah belah agama mereka kemudian menjadi bersekte sekte, engkau (Muhammad) tidak sedikitpun termasuk mereka” ( QS. Al An’am 169 ))

Syi’ah tidak gentar karena kami berpedoman pada surat Ali Imran ayat 103 yang isi nya agar UMAT berpegang teguh kepada AGAMA ALLAH.

Adapun semua penindasan terhadap Fatimah, 12 imam maksum dan kaum syi’ah kami anggap sebagai cobaan dari Allah SWT. Firman Allah SWT : “Jika seandainya Allah menghendaki, maka pastilah Dia menjadikan kamu sekalian umat yang tunggal. Tetapi (Dia tidak menghendakinya) karena Dia hendak menguji kamu semua berkenaan dengan sesuatu yang diberikan Nya kepada mu” (Qs. Al Maidah ayat 51)

Firman Allah SWT : “Kalau seandainya Tuhan mu menghendaki, maka tentunya Dia jadikan manusia umat yang tunggal. Tetapi mereka itu akan tetap selalu berselisih, kecuali mereka yang mendapatkan rahmat dari Tuhanmu, dan untuk itulah Dia menciptakan mereka” (Qs. Huud 118-119)

Firman Allah : “Manusia tidak lain kecuali umat yang tunggal, kemudian mereka berselisih. Jika seandainya tidak karena adanya SABDA (kalimah) yang telah lewat dari Tuhan mu, maka tentulah diputuskan (sekarang juga) antara mereka berkenaan dengan perkara yang mereka perselisihkan itu” (Qs. Yunus 19)

Firman Allah : “Pada mulanya manusia adalah umat yang tunggal. Kemudian Allah mengutus para Nabi membawa berita gembira dan peringatan, dan Dia menurunkan bersama para Nabi itu Kitab suci dengan sebenarnya untuk memutuskan perkara antara umat manusia berkenaan dengan masalah yang mereka perselsihkan. Dan mereka yang menerima kitab suci itu tidaklah berselisih mengenai sesuatu kecuali setelah datang berbagai penjelasan, karena rasa permusuhan antara sesama mereka. Maka Allah pun dengan izin Nya memberi petunjuk tentang kebenaran yang mereka perselisihkan itu kepada mereka yang beriman. Allah memberi petunjuk kearah jalan yang lurus kepada siapa yang menghendakinya” (Qs. Al Baqarah 213)

Mazhab Sunni menghindari pembicaraan tentang tingkah laku negatif para SAHABAT sehingga mazhab syi’ah menjadi terpojok dituding sebagai pencela/pelaknat. Namun dalam hal ini syi’ah siap menyerahkan perselisihan ini di MAHKAMAH AKHiRAT kelak

Allah (swt) berfirman kepada Rasulullah (s):
“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) sebelummu ‘jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalanmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” Surah az-Zummar ayat 65.

Kita menerima bahwasanya ada ayat-ayat diturunkan tentang sahabat. Akan tetapi berapa ramai antara sahabat-sahabat yang mampu menjaga makam tersebut. Perlulah adanya pembahasan dan penelitian

Para Syuhada Uhud lebih utama dari Abu Bakar karena Beliau SAW telah memberikan kesaksian kepada mereka. Dijelaskan dalam suatu hadits shahih : Yahya menyampaikan kepadaku (hadis) dari Malik dari Abu’n Nadr mawla Umar bin Ubaidillah bahwa Rasulullah SAW berkata mengenai para Syuhada Uhud “Aku bersaksi untuk mereka”. Abu Bakar As Shiddiq berkata “Wahai Rasulullah, Apakah kami bukan saudara-saudara mereka? Kami masuk Islam sebagaimana mereka masuk islam dan kami berjihad sebagaimana mereka berjihad”. Rasulullah SAW berkata “Ya, tapi Aku tidak tahu Apa yang akan kamu lakukan sepeninggalku”. Abu Bakar menangis sejadi-jadinya dan berkata “Apakah kami akan benar-benar hidup lebih lama daripada Engkau!”. (Hadis Dalam Al Muwatha’ Imam Malik Kitab Jihad Bab Para Syuhada di Jalan Allah hadis no 987)

Di zaman perjanjian Hudaibiyah, sekumpulan orang Islam telah membai’at Nabi di bawah pohon. Pembai’atan ini masyhur dengan Bai’atul Ridwan yang membawa kepada turunnya ayat berikut: “Mereka yang membai’at dikau hakikatnya mereka membai’at Allah, sesungguhnya Allah ridha dengan Mukminin jikalau mereka membai’at engkau di bawah pohon.”

ayat itu sendiri menggunakan kalimah ‘iz zarfiah muqayyad‘. Ketika itu Allah meridhai engkau yang memberi Bai’at. Tuhan meridhai mereka sebelum dan selepas pembai’atan dengan syarat selagi individu itu mampu tetap menjaga janjinya ini

Ahlusunnah tidak dapat menerima bahawa apabila seseorang itu yang telah diredhai tuhannya boleh atau mampu untuk menyimpang dari jalan kebenaran. Antara yang terlibat dalam pembai’atan ini ialah para sahabat besar seperti Umar, Abu Bakar, Uthman, Khalid dan beberapa orang lagi telah hadir.

Kebenaran syi’ah terlihat ketika sejumlah sahabat bersaksi bahwa dirinya dan para sahabat yang lain telah bid’ah  sepeninggal Nabi

Telah menceritakan kepadaku [Ahmad bin Isykab] telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Fudlail] dari [Al 'Ala` bin Al Musayyab] dari [Bapaknya] ia berkata; Aku bertemu [Al Bara' bin 'Azib] seraya berkata: Alangkah beruntungnya anda kerana anda telah bersahabat (Sahabta) dengan Nabi (saw.) dan membaiahnya di bawah pohon. Lantas dia menjawab: Wahai anak saudaraku !  Sebenarnya anda tidak mengetahui apa yang kami lakukan (Ahdathna-hu) selepasnya (Shahih Bukhari jil.3 hal. 32)

Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bahwa beliau SAW pernah bersabda kepada kaum Anshar: “Suatu hari kalian akan menyaksikan sifat tamak yang dahsyat sepeninggal ku. Karena itu bersabarlah sehingga kalian menemui Allah dan Rasul-Nya di telaga haudh.” Anas berkata, “Kami tidak sabar.”(Shahih Bukhari jil. 2 hal. 135)

Kesimpulannya dengan pengajaran peristiwa ini, jikalau Tuhan meridhai seseorang, maka Dia akan menyatakan keridhaanNya dengan bentuk yang sangat berharga selama seseorang itu menjaga keistiqamahan prinsip itu. Jika tidak, begitu banyak orang yang memiliki makam yang sangat tinggi namun setelah itu mereka tersesat.

Shahih Bukhari,Hadits No.3100 :

3100. Telah bercerita kepada kami Muhammad bin Katsir telah mengabarkan kepada kami Sufyan telah bercerita kepada kami Al Mughirah bin an-Nu’man berkata telah bercerita kepadaku Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya kalian akan dikumpulkan (pada hari qiyamat) dalam keadaan telanjang dan tidak dikhitan. Lalu Beliau membaca firman Allah QS al-Anbiya’ ayat 104 yang artinya (Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan yang pertama, begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti dari Kami. Sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya). Dan orang yang pertama kali diberikan pakaian pada hari qiyamat adalah Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam dan ada segolongan orang dari sahabatku yang akan diculik dari arah kiri lalu aku katakan: Itu Sahabatku, Itu sahabatku. Maka Allah Ta’ala berfirman: Sesungguhnya mereka menjadi murtad sepeninggal kamu. Aku katakan sebagaimana ucapan hamba yang shalih (firman Allah dalam QS al-Maidah ayat 117 – 118 yang artinya (Dan aku menjadi saksi atas mereka selagi aku bersama mereka. Namun setelah Engkau mewafatkan aku…) hingga firman-Nya (….Engkau Maha Perkasa lagi Maha bijaksana).

Shalat Jum’at Wajib Menurut Syi’ah

Sholat Jum’at Jemaah Syiah di Pengungsian Berlangsung Hikmat

Jum’at, 06 Januari 2012 14:52:02 WIB

Proses sholat jum’at yang dilakukan oleh jemaah Syiah di penampungan pengungsi berjalan hikmat, seluruh jemaah khusuk mengikuti sholat Jum’at tersebut.

Dalam khutbahnya KH Tajul Muluk menyampaikan beberapa hadis tentang perbedaan umat, namun yang lebih mendasar pihaknya lebih menekankan kesamaan pandangan yang membuat Islam lebih indah.

“Islam itu indah, saya harap kita bisa mengesampingkan perbedaan dan satukan persamaan karena bukan hanya Islam saja yang ada perbedaan di dalam kehidupan berumah tanggapun kita sering kali menemukan perbedaan, namun kita tepis dahulu perbedaan itu kita selaraskan persamaan untuk membuat Islam lebih indah, kebenaran sejati hanya ada di mata Allah,”ujarnya di hadapan para santri jemaah sholat jum’at.

Pantauan beritajatim.com pelaksanaan ibadah sholat jum’at yang di lakukan jemaah syiah rata – rata hampir sama, namun di rokaat yang ke dua mereka mengunakan doa dan mengangkat tangan seperti saat qunut sholat shubuh

Jemaah Syiah Sampang Gelar Sholat Jumat

.
KH Tajul Muluk gelar sholat jum’at di lokasi penampungan GOR Sampang. Sekitar 109 jemaah ikut menjadi makmum pelaksanaan sholat tersebut. Pantauan beritajatim.com isu tentang jemaah Syiah yang tidak melakukan sholat jum’at, ternyata bertolak belakang dengan realita yang ada.

Namun dalam tata cara sholat jemaah Syiah tersebut melakukan sholat dengan tanpa melipat tangan usai melakukan takbir. Dan di tengah – tegah sholat mereka berdoa atau menyerupai kunut sholat subuh atau berdoa sambil berdiri

SHALAT JUM’AT ITU PENUH BERKAH

“Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui” (QS. Al-Jumu’ah: 9)
.
Tidak ada keraguan sama sekali bahwa shalat Jum’at itu wajib hukumnya seperti yang telah disuratkan dalam al-Qur’an ayat di atas. Semua madzhab sepakat atas kewajiban dari melakukan shalat Jum’at. Tak ada satupun yang berbeda pendapat.
.
Hari Jum’at itu adalah hari yang paling penuh dengan keberkahan dalam satu minggu. Banyak sekali kejadian yang telah terjadi atau akan terjadi yang dikaitkan langsung dengan hari Jum’at ini. Memulai hari Jum’at dengan mandi dan mengenakan pakaian yang bersih dan baik adalah disunnahkan. Khutbah Jum’at disebut-sebut sebagai salah satu sumber ilmu pengetahuan; sumber bimbingan; dan sumber keshalehan. Khutbah Jum’at itu adalah bagian yang tidak terpisahkan dari keseluruhan acara shalat Jum’at yang harus disimak dan didengarkan sepenuh hati
.
Urusan-urusan kemasyarakatan dan kabar-kabar dari dunia Islam atau dunia secara keseluruhan jadi topik yang seringkali dibahas dalam khutbah itu.Aspek yang sangat penting untuk diperhatikan dalam acara shalat Jum’at ini ialah setiap anggota masyarakat akan bertemu bersama; saling berkenalan dan saling menjalin persahabatan
.
Kekuatan dari umat akan terbentuk dengan sendirinya. Perasaan persaudaraan akan terjalin dengan eratnya. Dan jelas ini akan mendatangkan rahmat Tuhan kepada setiap insan yang hadir yang merayakan kebersamaan dalam shalat mingguan. Kaum miskin dan papa bersanding dengan kaum berada dan kaya. Setiap bahu mereka saling bersentuhan bersatu padu membentuk barisan. Tidak ada perbedaan yang harus ditonjolkan………….semua dianggap setara di depan Tuhan.

BERIKUT ADALAH HADITS-HADITS NABI DAN SABDA-SABDA IMAM SUCI AHLUL BAYT TENTANG SHALAT BERJAMAAH:

  1. Rasulullah bersabda: “Apabila ada 2 orang (satu imam dan satu makmum) shalat berjama’ah, maka setiap raka’atnya akan dihitung dengan 50 kali pahala shalat. Pahala itu akan bertambah apabila ada 10 orang yang melakukan shalat. Setiap raka’atnya akan dihitung lebih banyak dari pada pahala shalat 76,000 kali. Apabila lebih dari 10 orang maka pahalanya hanya Allah saja yang tahu.”

  2. Hadits yang lain dari Rasulullah adalah sebagai berikut: “Apabila ada dua orang (satu imam dan satu makmum) mendirikan shalat berjama’ah, pahala untuk setiap raka’at shalat mereka ialah sama dengan 150 kali shalat. Apabila ada 3 orang yang shalat, maka pahala untuk setiap raka’atnya ialah sebanding dengan 600 kali shalat. Apabila ada 4 orang yang berjama’ah, maka pahalanya untuk setiap raka’at sama dengan 1200 kali shalat. Apabila ada 5 orang yang shalat, maka pahala untuk setiap raka’atnya ialah sama dengan 2400 kali shalat. Apabila ada lebih 10 orang yang shalat berjama’ah, maka apabila langit itu dijadikan kertas semua dan laut dijadikan tinta, dan semua pohon dijadikan pena, dan seluruh manusia, jin, para malaikat bersama-sama disuruh untuk menuliskan jumlah pahala yang didapat, maka niscaya mereka takkan mampu untuk menuliskannya.

  3. Rasulullah (saaw) bersabda: “Sesungguhnya, ketika salah seorang hamba Allah ikut mendirikan shalat berjama’ah dan dia berdo’a kepada Allah meminta sesuatu, yang mana permintaan itu tidak dikabulkan Allah, maka Allah merasa malu sampai Ia memenuhi permintaan itu.”

  4. Imam Ali bin Musa al-Ridha (as) bersabda: “Keutamaan dari shalat berjama’ah dibandingkan dengan shalat sendirian ialah ibarat satu raka’at dibandingkan dengan 2000 raka’at.”

  5. Imam Muhammad al-Baqir (as): “Orang yang meninggalkan shalat berjama’ah tanpa ada alasan yang jelas, hanya untuk sekedar menghindari kaum Muslimin, maka ia dihitung tidak pernah shalat sama sekali (shalatnya tidak diterima).”

  6. Dalam hadits yang lain, disebutkan bahwa Takbir (Allahu Akbar) yang diucapkan oleh orang-orang yang beriman ketika shalat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada 60,000 kali haji dan umrah, dan lebih baik daripada dunia ini beserta isinya, 60 kali lebih baik. Tiap raka’at yang dilakukan oleh seorang beriman di dalam shalat berjama’ah itu lebih baik daripada bersedekah 100,000 dinar kepada orang miskin, dan sajadah yang ia pakai itu lebih baik daripada ia membebaskan 100 orang budak.”

PENTINGNYA SHALAT JUM’AT MENURUT PARA ULAMA TERKEMUKA

Almarhum Ayatullah Shaykh Muhammad Hasan Najafi, seorang ulama Syi’ah terkemuka dari India, seringkali mengeluhkan para pengikut Syi’ah yang malas untuk shalat Jum’at. Pada tahun 1950-an, ia menerbitkan sebuah selembaran yang diberijudul “PAYGHANIE NAJAFI” dimana di dalamnya ia mengingatkan betapa pentingnya shalat Jum’at itu. Dalam sebuah pesan yang panjang (Paygham #94, tanggal 29 Januari 1954) yang diberijudul “Meninggalkan Shalat Jum’at itu sama saja dengan meninggalkan al-Qur’an dan Ahlul Bayt (as),” Ayatullah Najafi memulai dengan mengatakan bahwa Rasulullah telah menekankan bahwa mendirikan shalat Jum’at sebegitu rupa hingga shalat Jum’at itu benar-benar berbeda dengan shalat-shalat harian yang biasa.
.
Nabi Muhammad (saaw) telah bersabda: “Shalat Jum’at itu seperti melaksanakan ibadah bagi orang-orang miskin; setiap kali hari Jum’at ada haji dan umrah untuk kalian dan menunggu shalat Ashar ialah seperti umrah. Bagi setiap orang mukmin yang pergi shalat Jum’at, Allah akan meringankan baginya ketakutan yang akan dihadapinya kelak di hari penghisaban, dan orang mukmin itu akan dimasukkan ke dalam surga. Dan barangsiapa yang tidak peduli, tanpa alasan sama sekali, dan meninggalkan shalat Jum’at sebanyak tiga kali berturut-turut, maka Allah akan menutup hatinya rapat sebagai orang munafik.”
.
Imam Ali (as) bersabda: “Aku menjamin bahwa Allah akan memasukkan 6 jenis manusia kedalam surga—salah satunya ialah mereka yang suka pergi menunaikan shalat Jum’at; ketika ia meninggal, ia akan masuk ke surga.”
.
Imam al-Sadiq (as) telah bersabda, “Untuk setiap langkah yang engkau lakukan menuju tempat shalat Jum’at, Allah sudah mengharamkan api neraka darinya.”
.
Dalam madzhab Syi’ah, dalam keadaan ketidak-hadiran Imam yang disucikan pada waktu ini, shalat Jum’at itu hukumnya “wajib takhiri” yang artinya kalau semua persyaratan dari wajibnya shalat itu sudah terpenuhi maka seseorang wajib untuk melakukannya; dimana shalat itu menggantikan kedudukan shalat dzhuhur. Kalau persyaratan dari shalat Jum’at itu tidak terpenuhi maka ia harus melakukan shalat dzhuhur sebagai gantinya.
.
Kesimpulan yang bisa kita ambil dari uraian di atas ialah:
.
“Karena shalat Jum’at itu (yang dilakukan secara berjama’ah) penuh dengan keberkahan dan kebaikan seperti yang dijelaskan dalam Al-Qur’an, Hadits dan perkataan para Imam maka kalau kita tidak melaksanakannya itu adalah sebuah kerugian yang amat sangat bagi kaum beriman.”

DAFTAR KOTA TEMPAT SHALAT JUM’AT DILANGSUNGKAN DAN NAMA KHATIB SEKALIGUS IMAM SHALATNYA

Berikut adalah nama-nama kota di negara Iran—yang notabene mayoritas penduduknya bermadzhab Syi’ah 12 Imam (lebih dari 90% penduduk)—tempat berlangsungnya shalat Jum’at berikut nama-nama dari para Imam Shalat Jum’at. Nama-nama ini ditunjuk oleh pemimpin ruhani tertinggi di Iran (Sayyid Ali Khamenei) dengan persyaratan keilmuan dari para Imam Shalat (sekaligus Khatib) yang harus mencapai tingkatan tertentu supaya ilmu yang diberikan lewat khutbah Jum’at bisa dipertanggung-jawabkan. Jadi tidak asal bisa shalat dan bisa berkhutbah saja untuk menjadi Imam Shalat dan Khatib Jum’at (seperti yang lumrah terjadi di Indonesia). Seorang Khatib dan Imam Shalat Jum’at harus memiliki ilmu yang tinggi untuk bisa menjawab semua pertanyaan yang bisa saja ditanyakan kepadanya setelah selesai shalat Jum’at.
.
Sebagian dari Imam Shalat Jum’at yang ditunjuk oleh Pemimpin Ruhani Tertintinggi Iran itu malah bermadzhab Sunni sebagai perwujudan persatuan dan persaudaraan Islam senantiasa dipelihara dan dihembuskan di Iran. Tidak ada rasa alergi sedikitpun untuk itu. Seharusnya hal yang sama kita lakukan di tanah air. Sekat-sekat madzhab seharusnya cair dan kita bisa saja shalat bersama berjamaah dalam satu barisan karena yang kita sembah itu Tuhan yang sama—Tuhan yang menciptakan kita semua.
.

DAFTAR KOTA DAN IMAM JUM’AT DI IRAN

catatan: DAFTAR INI BELUM LENGKAP DAN MASIH BISA DITAMBAH LAGI……………..

Salat Jumat berjumlah dua rakaat. Tata caranya adalah seperti tata cara salat Shubuh. Dalam salat Jumat, sunah kita membaca qirâ’ah dengan suara keras, membaca surah Al-Jumu‘ah pada rakaat pertama, dan surah Al-Munâfiqûn pada rakaat kedua. Salat Jumat memiliki dua qunut: pertama, sebelum rukuk rakaat pertama dan kedua, setelah rukuk rakaat kedua.

Pada saat imam maksum as. berkuasa, salat Jumat memiliki hukum wajib ta‘yînî. Akan tetapi, pada masa kegaiban beliau, salat Jumat memiliki hukum wajib takhyîrî; yaitu kita bisa memiliki antara mengerjakan salat Jumat atau salat Zhuhur. Akan tetapi, mengerjakan salat Jumat adalah afhdal (lebih utama), dan mengerjakan salat Zhuhur adalah ahwath (lebih hati-hati). Dan lebih ihtiyâth lagi adalah kita mengumpulkan antara mengerjakan salat Jumat dan salat Zhuhur.
Syarat-Syarat Salat Jumat

Salat Jumat harus memenuhi beberapa syarat berikut ini:

a. Jumlah peserta; minimal jumlah peserta salat Jumat yang diperlukan adalah 5 orang dan salah seorang dari mereka bertindak sebagai imam. Salat Jumat tidak bisa terlaksana dengan jumlah peserta kurang dari 5 orang.

b. Dua khutbah; dua khutbah adalah wajib dan salat Jumat tidak bisa terbentuk tanpa kedua khutbah ini.

c.Berjamaah; salat Jumat tidak bisa terbentuk dengan salat furâdâ.

d. Tidak ada salat Jumat lain yang didirikan dalam jarak yang kurang dari 3 mil. Jika jarak antara kedua salat Jumat itu adalah 3 mil atau lebih, maka kedua salat Jumat itu sah. Jika terdapat sebuah kota besar yang berukuran beberapa farsakh, maka beberapa salat Jumat boleh didirikan pada setiap batas 3 mil.

Ada beberapa hal yang diwajibkan dalam kedua khutbah tersebut berikut ini:

a. At-Tahmîd (memuji Allah) dan—berdasarkan ihtiyâth wajib[1]—lantas diikuti dengan Ats-Tsanâ’ (menjunjung dan memuja-Nya).

b. Kemudian, mengirimkan salawat kepada Rasulullah saw. berdasarkan ihtiyâth wajib[2] pada khutbah pertama dan berdasarkan pendapat yang lebih kuat pada khutbah kedua.

c. Kemudian, berwasiat untuk bertakwa kepada Allah berdasarkan pendapat yang lebih kuat pada khutbah pertama dan berdasarkan ihtiyâth wajib[3] pada khutbah kedua.

d. Kemudian, membaca satu surah Al-Qur’an yang pendek berdasarkan pendapat yang lebih kuat pada khutbah pertama dan berdasarkan ihtiyâth wajib pada khutbah kedua.

e.Berdasarkan ihtiyâth mustahab,[4] mengirimkan salawat kepada para imam maksum as. setelah mengirimkan salawat kepada Rasulullah saw. dan memintakan ampun untuk mukminin dan mukminat pada khutbah kedua.

Yang paling utama adalah kita membaca khutbah yang telah diriwayatkan dari para maksum as.

Imam salat Jumat yang juga bertindak sebagai khatib harus menyebutkan hal-hal berikut ini dalam khutbahnya:

a. Seluruh kemaslahatan muslimin yang berhubungan dengan agama dan dunia mereka.

b. Memberitahukan kepada mereka segala peristiwa yang terjadi di negara-negara Islam dan non-Islam dan memiliki hubungan dengan mereka dalam agama dan dunia mereka, seperti masalah politik dan ekonomi yang memiliki peran penting dalam mewujudkan kemerdekaan dan tata cara hubungan mereka dengan negara-negara lain.

c. Memperingatkan mereka akan bahaya campur tangan negara-negara kolonialis asing dalam urusan politik dan ekonomi mereka.

d. Seluruh kemasalahatan muslimin yang lain.

Kedua khutbah Jumat boleh dibaca sebelum matahari tergelincir (zawâl). Akan tetapi, pembacaan khutbah ini harus diatur sedemikian rupa sehingga matahari tergelincir pada saat khatib usai membaca kedua khutbah tersebut. Dan ahwath[5] adalah kedua khutbah itu dibaca pada saat matahari tergelincir.[6]

Kedua khutbah Jumat harus dibaca sebelum salat Jumat didirikan. Jika imam salat Jumat mengerjakan salat Jumat terlebih dahulu, maka salat Jumat itu batal, dan ia harus mengulangi salat Jumat setelah membaca kedua khutbah Jumat.

Menurut pendapat yang zhâhir, imam salat Jumat tidak wajib mengulangi salat Jumat apabila ia lebih dahulu mengerjakan salat Jumat itu sebelum membaca kedua khutbah karena tidak tahu hukum atau lupa. Bahkan, ketidakwajiban mengulangi salat Jumat itu apabila ia mengerjakannya terlebih dahulu karena tidak sengaja dan tanpa pengetahuan adalah sebuah pendapat yang memiliki dalil (kâna lahu wajh).

Khatib harus berdiri pada saat membaca khutbah Jumat. Khatib dan imam salat Jumat harus satu orang; (yaitu orang yang bertindak sebagai khatib Jumat juga harus bertindak sebagai imam salat Jumat—pen.).

Berdasarkan ihtiyâth, bila bukan berdasarkan pendapat yang lebih kuat, khatib harus mengeraskan suaranya sehingga jumlah minimal peserta salat Jumat dapat mendengar suaranya. Bahkan menurut pendapat yang zhâhir, ia tidak boleh memelankan suaranya. Khatib selayaknya mengeraskan suaranya sehingga seluruh hadirin dapat mendengar suaranya, dan bahkan hal ini adalah ahwath.[7]

Jika peserta salat Jumat sangat banyak, maka ia selayaknya membaca khutbah dengan menggunakan pengeras suara untuk menyampaikan nasihat dan tablig agama, khususnya tentang masalah-masalah yang sangat penting, kepada mereka.

Berdasarkan ihtiyâth,[8] bahkan menurut pendapat yang awjah (lebih jitu), para peserta salat Jumat harus mendengarkan khutbah Jumat. Bahkan, berdasarkan ihtiyâth, mereka harus diam dan tidak berbicara apapun pada saat pembacaan khutbah Jumat berlangsung. Meskipun demikian, menurut pendapat yang lebih kuat, makruh mereka berbicara pada saat itu. Jika berbicara menyebabkan fungsi khutbah Jumat hilang dan mereka tidak dapat mendengarkan khutbah, maka mereka wajib tidak berbicara.
Orang yang Wajib Mengerjakan Salat Jumat

Salat Jumat adalah wajib atas mereka yang memenuhi syarat-syarat berikut ini:

a.Berusia taklif (berusia balig dan berakal).

b.Laki-laki.

c. Merdeka, (bukan budak).

d. Tidak buta dan tidak terjangkit penyakit.

e. Bukan orang yang sudah tua bangka.

f. Jarak antara tempat tinggal mereka dan tempat salat Jumat didirikan tidak lebih dari 2 farsakh.

Mereka yang tidak memenuhi syarat-syarat di atas tidak wajib menghadiri salat Jumat, meskipun kita berpendapat bahwa salat Jumat adalah wajib ta‘yînî.

Jika mereka yang tidak memenuhi persyaratan di atas secara kebetulan menghadiri salat Jumat atau memaksakan diri untuk menghadirinya, maka salat Jumat mereka sah dan mencukupi dari salat Zhuhur. Begitu juga halnya berkenaan dengan mereka yang diizinkan untuk tidak menghadiri salat Jumat lantaran hujan atau hawa dingin yang menyengat, dan juga berkenaan dengan mereka yang menghadiri salat Jumat menyulitkan mereka.

Ya, salat Jumat orang yang gila tidak sah. Akan tetapi, salat Jumat yang dikerjakan oleh anak kecil adalah sah. Hanya saja, jumlah minimal salat Jumat tidak boleh disempurnakan dengan menggunakan anak kecil dan salat Jumat juga tidak bisa terwujud bila hanya dihadiri oleh anak-anak kecil saja.

Musafir boleh[9] menghadiri salat Jumat; salat Jumatnya adalah sah dan mencukupi salat Zhuhur. Akan tetapi, salat Jumat yang hanya didirikan oleh para musafir tanpa mengikuti orang-orang yang tidak musafir adalah tidak sah. Musafir juga tidak boleh menjadi penyempurna jumlah minimal peserta salat Jumat.

Orang perempuan juga boleh menghadiri salat Jumat dan salatnya ini mencukupi salat Zhuhur, asalkan minimal jumlah peserta salat Jumat telah sempurna oleh kalangan kaum laki-laki.
Waktu Salat Jumat[10]

Waktu salat Jumat tiba pada saat matahari tergelincir. Jika imam salat Jumat telah usai membaca kedua khutbah pada saat matahari tergelincir, maka ia boleh memulai salat Jumat. Berdasarkan pendapat yang aqrab (lebih dekat), akhir waktu salat Jumat adalah bila ukuran bayangan orang yang memiliki tinggi tubuh normal telah berukuran dua langkah.

Jika kita telah memulai salat Jumat, lalu waktunya habis, maka salat Jumat kita adalah sah, asalkan kita telah mengerjakan satu rakaat dari salat Jumat itu pada waktunya. Jika tidak, maka salat Jumat kita adalah batal. Dan dalam kondisi ini, ihtiyâth dengan memilih salat Zhuhur—berdasarkan pendapat bahwa salat Jumat adalah wajib takhyîrî, sebagaimana hal ini adalah pendapat yang lebih kuat—jangan kita tinggalkan.[11]

Jika waktu salat Jumat telah habis, maka kita harus mengerjakan salat Zhuhur. Salat Jumat tidak memiliki qadha.
Beberapa Poin Penting

Pertama, seluruh persyaratan yang harus terpenuhi dalam salat jamaah juga harus terpenuhi dalam salat Jumat; yaitu tidak boleh ada penghalang, tempat imam berdiri tidak boleh lebih tinggi dari tempat makmum berdiri, jarak antara imam dan antara saf-saf salat harus terjaga, dan lain sebagainya. Begitu juga, seluruh persyaratan yang harus terpenuhi dalam diri imam salat jamaah juga harus terpenuhi dalam diri imam salat Jumat; yaitu berakal, bermazhab Syi‘ah Imamiah, adil, dan syarat-syarat yang lain.[12] Ya, salat Jumat tidak sah bila anak kecil atau orang perempuan bertindak sebagai imam salat Jumat, meskipun kita memperbolehkan mereka berdua menjadi imam bagi sejenis kelamin mereka dalam selain salat Jumat.

Kedua, azan kedua pada hari Jumat adalah sebuah bid‘ah yang haram. Azan ini dikumandangkan setelah azan asli (pertanda salat Zhuhur sudah masuk). Azan ini juga disebut dengan “azan ketiga”.
[1] Syaikh Behjat: Kedua khutbah Jumat tidak boleh kosong dari nasihat dan bacaan Al-Qur’an.

[2] Syaikh Behjat: Berdasarkan pendapat yang azhhar, salawat ini harus dibaca pada setiap khutbah.

[3] Syaikh Behjat: Berdasarkan ihtiyâth wajib, setiap khutbah harus berisi nasihat dan bacaan Al-Qur’an.

[4] Syaikh Behjat: Berdasarkan ihtiyâth wajib, khutbah kedua harus berisi salawat atas seluruh maksum as., satu per satu.

[5] Imam Khamenei: Berdasarkan ihtiyâth mustahab, sebagian dari kedua khutbah itu harus dibaca setelah matahari tergelincir.

Syaikh Behjat: Berdasarkan pendapat yang azhhar, kadar yang wajib dari kedua khutbah itu harus dibaca setelah matahari tergelincir.

[6] Sayyid Khu’i: Kedua khutbah itu harus dibaca setelah matahari tergelincir.

[7] Syaikh Behjat: Berdasarkan ihtiyâth wajib, kedua khutbah Jumat harus dibaca sedemikian rupa sehingga para hadirin dapat memahami artinya, sekalipun dengan menggunakan selain bahasa Arab. Meskipun demikian, kesahan salat Jumat bergantung pada memperdengarkan khutbah pada jumlah minimal peserta salat Jumat.

[8] Syaikh Behjat: Mereka wajib diam dan haram berbicara di pertengahan khutbah, apabila hal itu menyebabkan fungsi khutbah Jumat hilang.

[9]
Sayyid Khu’i: Berdasarkan ihtiyâth, setelah matahari tergelincir, kita jangan bepergian dari kota tempat didirikan salat Jumat yang memenuhi persyaratan.

[10] Masalah: Waktu salat Jumat dimulai dari awal waktu Zhuhur. Berdasarkan ihtiyâth, salat Jumat jangan ditunda hingga melebihi permulaan ‘urfi waktu salat Zhuhur (± 1 atau 2 jam dari awal waktu Zhuhur). Jika salat Jumat tidak didirikan hingga saat itu, maka berdasarkan ihtiyâth kita harus mengerjakan salat Zhuhur sebagai ganti dari salat Jumat itu.

[11] Syaikh Behjat: Jika kita menunda salat Jumat dari awal waktu, maka berdasarkan ihtiyâth wajib kita harus mengumpulkan antara salat Jumat dan salat Zhuhur.

[12] Imam Khamenei: Imam salat Jumat disyaratkan harus ditunjuk oleh pemimpin negara Islam (Al-Hâkim Asy-Syar‘i) yang adil. Akan tetapi, syarat ini hanya diperlukan berkenaan dengan aktualisasi efek-efek yang hanya khusus dimiliki oleh imam salat Jumat yang ditunjuk secara langsung, bukan berkenaan dengan pendirian salat Jumat itu sendiri.

Dunia Soroti Intoleransi Di Indonesia

Email Cetak PDF

Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa menyatakan masyarakat internasional mulai menyoroti intoleransi yang terjadi di Indonesia. Sejumlah negara, kata Marty, bahkan telah meminta penjelasan langsung dari pemerintah. “Kami sampaikan dalam konteks yang tepat. Jangan sampai aksi dan ulah sekelompok orang mendefinisikan keseluruhan Indonesia tidak toleran,” kata Marty di kantornya, Senin, 21 Mei 2012.

Negara-negara itu di antaranya Denmark, Jerman, Norwegia, Slovenia, dan Britania Raya. Mereka mempertanyakan laporan HAM Indonesia yang dikirimkan ke Dewan HAM PBB pada Februari lalu. Negara-negara itu juga secara spesifik mempertanyakan penyerangan terhadap pemeluk agama minoritas dan penyerangan gereja sejak 2009.

Menurut Marty, pertanyaan mereka kadang didasarkan pada keterangan yang belum utuh. “Untuk itu, perwakilan Indonesia di luar negeri, juga di New York (markas Perserikatan Bangsa-Bangsa) dan Jenewa (kantor Dewan HAM PBB), bertugas menyampaikan fakta dan isu secara utuh,” kata dia.

Marty mengatakan, di luar sejumlah insiden intoleransi, demokrasi di Indonesia mengalami kemajuan yang pesat pasca reformasi 1998. “Itu yang yang terpenting. Adanya konsolidasi demokrasi bukan sesuatu yang bisa dianggap remeh,” kata dia.

Selain itu, kredibilitas Indonesia dalam mempromosikan HAM masih diakui dunia. Indonesia mendorong sejumlah negara tetangga, seperti Myanmar, untuk turut menghormati hak asasi manusia. “Kalau tidak dianggap kredibel, tahun lalu Indonesia tidak akan dipilih menjadi anggota Dewan HAM dengan suara terbanyak,” kata dia.

Pada Rabu, 23 Mei 2012 besok, Dewan HAM PBB akan menggelar sidang. Sejumlah pihak menyebut kedudukan Indonesia di Dewan HAM rawan setelah terjadinya insiden intoleransi secara bertubi-tubi dalam beberapa tahun terakhir.

Marty tidak cemas menghadapi sidang tersebut. “Bagaimanapun ini tetap momen yang berharga. Kami akan mempresentasikan segala sesuatu (tentang HAM) sesuai apa yang ada, perkembangan dan tantangannya,” kata dia

 


Fundamentalisme, radikalisme, ekstremisme dan terorisme di Timur Tengah menjadi sangat rumit karena perbedaan definisi dan penggunaan yang (sengaja ataupun tidak) menimbulkan tumpang tindih dan penerapan yang sembarangan. Ketiadaan kriteria dan standar tunggal telah menjadikan tema-tema ini lebih sering “diatur” oleh media ketimbang “didefinisikan” secara ilmiah. Kontroversi seputar tema-tema ini makin keruh dengan munculnya stereotip seputar Islam sebagai agama yang mengajarkan jihad, dan asosiasi jihad dengan kekerasan. Akibatnya, gerakan-gerakan Islam fundamentalis dengan mudah dituduh sebagai kelompok ekstremis yang mendorong aksi-aksi teroris pada pihak-pihak lain, terutama AS dan Barat. Tuduhan seperti ini tentu memperunyam masalah. Selain dapat dianggap sebagai mengungkapkan tuduhan tak berdasar, juga dapat memperkuat praduga yang ada di kalangan gerakan Islam sendiri bahwa Barat memiliki apa yang disebut sebagai Islamofobia.

Upaya Mencari Beberapa Definisi

Fundamentalisme sebenarnya merupakan istilah yang tumbuh dalam sejarah pemikiran Barat. Ia merujuk pada sikap sebagian kaum Kristen yang berpegang teguh pada doktrin-doktrin teologis yang biasanya dipahami sebagai reaksi terhadap gerakan liberalis yang mengajak setiap orang untuk bersikap longgar terhadap doktrin-doktrin teologisnya.[i] Istilah “fundamentalisme” dipakai oleh para pendukungnya untuk menjelaskan seperangkat ajaran teologis yang dikembangkan menjadi gerakan dalam komunitas Protestan Amerika Serikat pada paruh awal abad 20.[ii] Singkatnya, istilah ini umumnya memiliki konotasi religius yang menunjukkan ikatan yang kokoh pada sejumlah ajaran agama secara menyeluruh. Namun demikian, istilah fundamentalis kini juga dipakai dalam terminologi politik dengan makna yang peyoratif, terutama ketika dipakai sebagai kata sifat seperti dalam ungkapan “Islam fundamentalis”.

Istilah lain yang sering menimbulkan kebingungan adalah radikalisme. Radikal secara bahasa berasal dari kata Latin radix yang berarti akar. Dalam terminologi politik, radikalisme dipakai untuk menunjukkan prinsip-prinsip politik yang bertujuan mengubah struktur politik dengan cara-cara revolusioner dan mengubah sistem nilai sosial secara fundamental. Secara historis, radikalisme kerap dipakai untuk mengacu pada “kelompok kiri radikal”. Namun, sama seperti istilah “kelompok fundamentalis”, gerakan radikalis sering digunakan oleh kalangan status-quo dalam makna yang tidak baik, dan dikaitkan dengan kekerasan. Dalam penggunaannya, radikalisme sering dikaitkan dengan ideologi fundamentalis dan revolusioner, sehingga ketiga istilah ini memiliki penggunaan yang berdekatan.

Berbeda dengan kedua istilah di atas, ekstremisme dipakai untuk mengacu pada ideologi atau aksi politik yang keluar dari poros atau pusat, yang sering dipersepsi sebagai standar moral umum. Dalam masyarakat Barat, ekstremisme sering dikaitkan dengan individu atau kelompok yang mendorong penggantian demokrasi dengan otoritarianisme. Demikian pula sebaliknya, di negara-negara otoritarian, individu atau kelompok yang ingin mengganti rezim secara total dicap sebagai ekstremis. Bahkan, para pejuang kemerdekaan di negara-negara yang dijajah juga sering disebut sebagai ekstremis.[iii] Karena itu, dalam konotasi keagamaan, ekstremisme (tatharruf) lebih dekat dengan makna fanatisme (ta’ashshub) ketimbang fundamentalisme.

Dalam diskursus Islam, individu atau kelompok ekstremis biasanya dikaitkan dengan pola pikir keagamaan yang kaku, jumud, menolak rasionalitas dan menolak pihak lain baik melalui cap sesat ataupun kafir. Kelompok-kelompok Islam yang berafiliasi dengan mazhab Salafi-Wahabbi paling sering dianggap sebagai ekstremis yang menolak segala rupa peluang kompromi atau jalan tengah dengan pihak mana pun, termasuk dengan pihak-pihak internal Islam sendiri.

 

Konteks Timur Tengah

Mungkin tak ada wilayah di dunia ini yang lebih dinamis dengan situasi yang lebih kompleks daripada Timur Tengah. Kompleksitas ini menyebabkan tumpang-tindihnya kategorisasi dan penggunaan masing-masing istilah di atas. Tentu campur-tangan dan kepentingan asing adalah penyumbang terbesar munculnya kompleksitas bahkan kontradiksi dalam berbagai persoalan di Timur Tengah. Namun demikian, faktor-faktor eksternal itu tidak tidak akan efektif tanpa kehadiran faktor-faktor internal dalam masyarakat Timur Tengah itu sendiri, terutama di tengah umat Islam.

Diakui atau tidak, Islam adalah kekuatan tunggal paling potensial untuk mempersatukan seluruh elemen gerakan di Timur Tengah. Selama berpuluh-puluh tahun, Islam menjadi sumber inspirasi berbagai gerakan Islam, baik gerakan kemerdekaan maupun gerakan kebangkitan. Tapi, sayangnya, antara pemahaman Islam dan pengalaman dalam mempraktikkannya terbentang jurang yang sangat lebar. Kita dapat mempersempit pembahasan dengan menelisik pemahaman tentang konsep jihad dan penerapannya secara objektif. Melalui jendela ini kita dapat melihat mana gerakan Islam yang bergeser ke arah ekstrem sampai menjadi “teroris” dan mana yang masih bergerak di sisi “fundamentalis”.

Semua persoalan di atas masih harus ditambah dengan upaya media arus utama yang dikuasai oleh klik adidaya untuk terus-menerus menghembuskan tuduhan dan menciptakan labelisasi dan stereotip terhadap aspirasi umat Muslim Timur Tengah. Melalui labelisasi dan stereotyping itulah aspirasi ini ingin direduksi menjadi sekadar kemarahan tanpa makna, dan akhirnya dicap sebagai terorisme semata-mata.

 

Ketegangan antara Teori dan Praktik

Salah satu masalah besar yang sering dihadapi umat Islam ialah kesenjangan antara pemahaman tentang teori dan pengalaman dalam praktik. Dalam bukunya yang berjudul Khathawat ‘ala Thariq Al-Islam, M. H. Fadhlallah menunjukkan bahwa masalah ini merupakan sebab timbulnya ketegangan yang serius dalam tubuh gerakan-gerakan Islam. Demikian besarnya ketegangan itu sampai satu gerakan Islam dapat menafikan gerakan lain hanya karena perbedaan dalam penerapan konsep Islam yang telah disepakati bersama.[iv]

Akibat ketegangan ini, berbagai gerakan Islam memiliki cara yang berbeda-beda dalam merespons situasi objektif yang terjadi. Bahkan, satu gerakan dapat mengutuk aksi dari gerakan lain yang sebenarnya bersumber dari konsep yang disepakati bersama. Untuk memperjelas masalah, kita dapat melihat respons terhadap satu peristiwa yang sama dari berbagai gerakan yang mengatasnamakan Jihad yang diperintahkan oleh Islam tersebut. Ambil contoh respons terhadap pengeboman dua menara kembar WTC di awal milenium lalu. Meski polemik soal jihad telah ada sejak lama dalam khazanah pemikiran Islam, tapi serangkaian peristiwa pasca 11 September mengantarkan polemik ini dalam konteks yang lebih luas dan lebih serius.

Osama bin Laden, pucuk pimpinan dan ikon al-Qaedah yang menjadi organisasi induk dari berbagai gerakan Islam berbasis ideologi Wahabi, mengakui keterlibatannya dalam peristwa 11 September.[v] Dalam rekaman video lain yang ditayangkan sejumlah jaringan televisi internasional pada tanggal 27 Desember 2001, Osama bin Laden menyatakan bahwa, “terorisme atas Amerika layak untuk disanjung karena ia merupakan respons terhadap ketidakadilan, bertujuan untuk memaksa Amerika menghentikan dukungannya atas Israel, yang membunuh umat kita.”[vi]

Namun demikian, di sisi lain, kita menyaksikan sejumlah ulama Islam menentang jihad model Al-Qaidah atau Jamaah Islamiyah ini. Syaikh Yusuf al-Qardhawi, Muhammad al-Sayyid Thanthawi[vii] dan Pemimpin tertinggi Republik Islam Iran, Ayatullah Ali Khamenei,[viii] dan Ayatullah Ali al-Sistani sama-sama mengutuk aksi tersebut. Al-Sistani bahkan mengeluarkan fatwa yang memerintahkan seluruh Muslim untuk mematuhi hukum yang berlaku di tiap negara yang ditinggalinya. “Setiap Muslim dan Muslimah harus bertindak demi kepentingan tertinggi negara tempat tinggalnya dan menjaganya dari segala tindakan yang membahayakan.”[ix] Yang lebih menarik, dalam hampir semua peristiwa di atas maupun aksi-aksi serupa yang menyasar warga atau sarana sipil, Hizbullah Lebanon, selalu memberikan pernyataan kutukan. [x]

Nawaf al-Musawi, ketua departemen luar negeri Hizbullah, Lebanon, secara tegas menolak serangan terhadap warga sipil World Trade Center. Dia mengecam tindakan itu sebagai aksi terorisme. Pernyataan resmi Hizbullah mengutuk aksi Al-Qaeda yang menyasar masyarakat sipil New York, tapi tidak memberikan pernyataan soal serangan ke Pentagon. Hizbullah juga mengutuk rangkaian aksi pembantaian di Aljazair oleh kelompok bersenjata Islam GIA, serangan-serangan Al-Jama’ah Al-Islamiyyah, serangan pada para wisatawan di Mesir, pembunuhan Nick Berg,[xi] pengeboman Gereja Koptik di Aleksandria[xii] dan yang terakhir pengeboman Bandara Moskow.[xiii]

 

Beberapa Usulan

Melihat kompleksitas yang ada, maka beberapa usulan berikut dapat dipertimbangkan:

  1. Perlu perumusan definisi yang ilmiah dan komprehensif terhadap istilah fundamentalisme, radikalisme, ekstremisme dan terorisme.
  2. Kalangan tokoh gerakan Islam perlu segera merumuskan definisi dan batasan istilah-istilah kunci dalam Islam yang sering dikaitkan dengan terorisme dan aksi kekerasan, seperti amar makruf nahi munkar, jihad dan sebagainya.
  3. Hasil-hasil rumusan tersebut harus disosialisasikan secara luas dan dijadikan sebagai standar bersama.
  4. Gerakan-gerakan Islam perlu menutup ketegangan antara teori dan praktik dengan menghidupkan eksperimen-eksperimen yang beragam dan mencari pengalaman-pengalaman dari sebanyak mungkin kalangan lain.

 

 


[i] George M. Marsden, “Fundamentalism and American Culture”, (1980)pp 4-5, dikutip kembali dari http://en.wikipedia.org/wiki/Fundamentalism.

[ii] David Stricklin, http://www.tshaonline.org/handbook/online/articles/itf01

[iii] http://en.wikipedia.org/wiki/Extremism

[iv] M. H. Fadhlallah, Khathawat ‘ala Thariq Al-Islam, Dar Al-Milak, Beirut (1987), hal. 51.

[v] http://www.cbc.ca/news/world/story/2004/10/29/binladen_message041029.html

[vi] Ibid.

[vii][vii]http://theamericanmuslim.org/tam.php/features/articles/muslim_voices_against_extremism_and_terrorism_part_i_fatwas/0012209

[viii]http://news.bbc.co.uk/2/hi/middle_east/1549573.stm

[ix]http://theamericanmuslim.org/tam.php/features/articles/muslim_voices_against_extremism_and_terrorism_part_i_fatwas/0012209

[x] Amal Saad- Ghorayeb, Hizbullah: Politics and Religion, Pluto Press, 2002, hal. 101.

[xi] Ibid.

[xii] http://www.english.moqawama.org/essaydetails.php?eid=13076&cid=265

[xiii] http://www.english.moqawama.org/essaydetails.php?eid=13282&cid=265

Mencari nafkah dan rezeki menurut syi’ah

Mencari nafkah dan rezeki menurut syi’ah  haruslah dengan cara halal, kali kita  mengkaji seputar efek-efek negatif harta haram bagi kehidupan beragama. “Harta haram dapat mendatangkan kehidupan kelam bagi manusia,” ujarnya. Berikut ini adalah ringkasan pelajaran akhlak berharga ini:Mikraj Insani

Manusia diciptakan supaya ia bermikraj, sisi jasmaniahnya cemerlang, dan bergerak ke suatu tempat yang ia tidak akan mengenal selain Allah. Yaitu, ia diciptakan untuk meniti gerak kesempurnaan. Jika ia terjatuh di pertengahan jalan, selama Allah masih menjadi Tuhan, gerak ini masih tetap berlanjut dan ia harus bergerak menuju haribaan Qurb Ilahi.

Pada hakikatnya, manusia diciptakan untuk naik. Akan tetapi, sangat disayangkan, kadang-kadang ia memilih sendiri jalan untuk terjerambab dengan tangannya sendiri. Jika ia tidak sadar, maka keterjerambaban ini akan mengabadi sehingga ia akan terjerumus ke tingkat neraka Jahanam yang paling rendah. “Sesungguhnya orang-orang munafik berada di tingkat neraka paling rendah.” (QS. Al-Nisa’:145)

Sedikit penyelewengan dari jalan yang lurus dapat mengantarkan kita kepada keterjerumusan. Dalam frase ayat “tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus” yang harus kita baca dalam setiap shalat dengan memperhatikan maknanya, kita mengharap kepada Allah supaya tidak setitip pun penyelewengan muncul dalam diri kita, baik ke kanan maupun ke kiri. Di samping itu, kita juga memohon taufik kepada Allah supaya kita dapat mencapai tujuan akhir.

Jika kemauan dan taufik dapat berjalan beriringan, niscaya hidayah Ilahi akan menuntun tangan kita dan menunjukkan kepada kita jalan lurus yang lebih halus daripada sehelai rambut, lebih panas daripada api, dan lebih tajam daripada pedang berkilau. Hal ini akan berlanjut hingga kita berjumpa dengan Allah. Keberhasilan dalam bidang ini memerlukan perhatian yang sangat serius. Berpegang teguh kepada Al-Quran dan Itrah dapat menjadi penerang jalan kita, dan tawasul kepada Ahlul Bait as dapat membukakan jalan bagi kita.

Harta Haram Salah Satu Faktor

Salah satu sumber dan faktor kejatuhan manusia adalah harta haram. Makanan dan minuman haram memiliki banyak macam dan ragam. Makanan dan minuman memabukkan atau beralkohol adalah salah satu jenis makanan dan minuman haram ini. Jenis ini dapat memusnahkan umat manusia.

Yang akan kita kupas bersama pada kesempatan ini adalah harta haram yang dapat menjatuhkan kehidupan manusia. Al-Quran dan Ahlul Bait as selalu berpesan supaya kita menjauhi harta haram. Sebelum sperma terwujud sekalipun, banyak pesan supaya orang tua memperhatikan kehalalan makanan dan minuman mereka. Makanan dan minuman haram sangat berbahaya bagi sperma.

Dalam ajaran agama, sudah dijelaskan pengaruh negatif makanan dan minuman haran terhadap jiwa manusia. Oleh karena itu, Islam sangat menekankan kehalalan makanan dan minuman seorang ibu pada masa kehamilan dan menyusui, begitu pula kehalalan makanan yang disantap oleh anak-anak ketika kecil, dan begitu juga kehalalan manusia hingga akhir usianya.

Salah satu efek makanan haram adalah harta ini dapat merampas perhatian dan kesadaran kita; harta ini akan menjerumuskan kita ke dalam kelalaian. Jika hal ini sudah terjadi, kita tidak akan memiliki semangat untuk beribadah. Kita tidak akan merasakan kelezatan shalat. Lebih parah lagi, kita akan merasa lezat apabilal bermaksiat.

Kita akan sampai para suatu tingkatan yang menyebabkan kita merasa sulit untuk melakukan hubungan dengan Allah. Kita bukan hanya tidak memperoleh taufik untuk dapat mengerjakan shalat malam, bahkan taufik untuk mengerjakan shalat di awal waktu juga akan tersingkirkan dari diri kita.

Efek lain harta haram adalah seseorang akan ditimpa jahil murakkab. Yakni ia akan memandang perilaku buruk sebagai sebuah perilaku yang indah dan baik. Menurut penilaian Al-Quran, orang yang paling merugi kelak di akhirat adalah orang yang menganggap perilaku jeleknya sebagai perilaku yang baik. “Katakanlah maukah kalian Kami beritahukan tentang siapakah orang yang paling merugi? Mereka adalah orang-orang yang usaha mereka musnah di dunia, sedang mereka menyangka bahwa mereka sedang berbuat kebajikan.” (QS. Al-A’raf:103-104)

Anggota sebuah masyarakat yang bregelumuran harta haram pasti akan mengalami jahil murakkab. Mereka akan sampai pada sebuah titik dimana problematika kebudayaan mencengkeram mereka, sementara itu mereka berpikiran sedang memiliki budaya yang paling ideal. Budaya Islami di kalangan mereka dinilai sebagai sebuah khurafat. Hijab tidak memiliki nilai dalam pandangan mereka. Konsep ini dianggap sebagai sebuah khurafat. Mereka lebih memberikan nilai kepada model pakaian bangsa Barat dan mengolok-olokkan agama, shalat, masjid, dan mihrab. Sebaliknya, mereka mengacungkan jempol terhadap perilaku buruk dan kultur bangsa Barat.

Kelaliman dalam masyarakat seperti ini memiliki sebuah nilai. Riba dan uang pelicin menjadi sebuah budaya yang lumrah dan dianggap sebagai sebuah kelebihan.

Harta haram akan memutuskan hubungan manusia dengan Allah secara keseluruhan. Sebaliknya, harta ini akan menyambungkan manusia dengan setan. Jika ia telah menyambung hubungan dengan setan, niscaya ia akan terjerambab ke dalam sebuah jalan yang akan berakhir kepada keterjatuhan. Ia akan meniti jalan ini hingga ajal menjemputnya.

Sangat disayangkan lagi, di dunia akhirat, keterjatuhan ini juga masih berlanjut. Kita memohon kepada Allah jangan sampai kita terjerumus ke dalam tempat hina ini sehingga keterjatuhan kita masih tetap berlangsung hingga pada hari kiamat kelak.

Lebih dari itu semua, orang yang menggunakan harta haram masih harus mengganti hak orang lain pada hari kiamat kelak. Tentu masalah ini tidak ada hubungannya dengan keterjemusan dan siksanya di Jahanam kelak.

Allah swt pernah bersumpah demi keagungan dan kemuliaan-Nya sembari berfirman, “Aku mungkin memaafkan hak-Ku. Tapi Aku tidak akan pernah memaafkan hak manusia.”

Oleh karena itu, pada hari kiamat kelak, seluruh ibadah dan perbuatan baik pengutang akan diberikan kepada pemiutang supaya ia rela. Jika penghutang tidak memiliki amal kebaikan atau amal kebaikannya sudah habis, maka dosa-dosa pemiutang akan ditransfer ke buku amal pengutang.

Harta haram memiliki banyak efek negatif lain yang tidak mungkin bisa dikupas tuntas pada kesempatan ini. Atas dasar ini, mencari harta halal khususnya pada masa sekarang ini, sekalipun sangat sulit, tapi harus dilakukan.

Sikap Tegas Imam Shadiq as

Pada suatu hari, Imam Shadiq as mengutus seorang pembantunya seraya berkata,

“Untuk menjalankan roda kehidupan, saya memerlukan sebuah penghasilan.”

Setelah berkata demikian, Imam Shadiq as menyerahkan sekantong uang senilai 1000 keping emas supaya pembantu itu melakukan sebuah perniagaan.

Akhirnya, sang pembantu membeli sebuah barang niaga dan berangkat ke Mesir bersama para pedagang. Di pertengahan jalan, ia berjumpa dengan kafilah perdagangan yang sedang kembali dari Mesir. Ia pun menanyakan kondisi barang niaga yang telah dibelinya itu kepada mereka. Mereka mengatakan barang niaga itu sangat dibutuhkan oleh seluruh rakyat Mesir.

Mendengar berita itu, para pedagang yang ada dalam kafilah niaga ini pun bersepakat untuk menjual barang niaga sebesar dua kali lipat harga pembelian. Setelah kembali dari perniagaan, pembantu itu sangat gembira dan meletakkan dua kantong uang di hadapan Imam Shadiq as sembari memberikan laporan perjalanan niaga tersebut.

Mendengar laporan itu, Imam Shadiq as sangat murka lantaran pembantu itu telah menjual mahal barang niaga yang telah dibawanya. “Maha Suci Allah! Kalian saling sepakat untuk mengeruk keuntungan satu dinar dari sesama muslimin?”, tanya Imam Shadiq as.

Setelah bertanya demikian, Imam Shadiq as hanya mengambil modal pertama seraya berkata, “Saya tidak memerlukan keuntungan seperti ini.”

Setelah berkata demikian, Imam Shadiq as berkata, “Pertempuran pedang lebih mudah daripada mencari harta yang halal.” (Al-Kafi, jld. 5, hlm. 161)

Harta Haram dan Pendidikan Anak

Harta haram tidak hanya menjerumuskan seseorang ke dalam jurang keterjatuhan. Harta ini juga akan menyengsarakan anak keturunannya. Kondisi kebudayaan mengenaskan dan dekadensi moral yang dialami oleh masyarakat kita sekarang ini bersumber dari harta haram yang diberikan oleh orang tua kepada anak-anak mereka. Kondisi sebagian pemuda dan pemudi sangat buruk sehingga kita katakan bahwa kita sudah tidak memiliki kesucian dan kepekaan komunal.

Dekadensi moral dan etika telah mendominasi masyarakat kita dengan sangat berani. Kesucian telah hengkang dari kalbu kaum wanita dan kepekaan telah sirna dari dada kaum pria. Akhirnya, hal ini menjadi sebuahu nilai di tengah masyrakat luas kita.

Mengapa hal ini sampai terjadi? Kita kan pengikut Mazhab Syiah. Kita memiliki syiar yang sangat ideal dari sisi agama dan mazhab. Kita adalah para pecinta Ahlul Bait as. Mengapa semua ini bisa terjadi? Semua ini lantaran harta haram.

Di perkantoran kita masih ditemukan orang yang tidak bekerja, menyepelekan kerja, dan uang pelicin masih digemari. Sangat jelas, uang yang diterima oleh mereka yang menerima harta suap atau di kantor tidak bekerja atau malas kerja adalah harta haram. Anak-anak mereka lantaran suapan haram ini pasti akan kehilangan kesucian mereka. Lebih buruk lagi apalagi hal ini telah menjadi sebuah nilai dalam diri mereka. Mereka tidak pernah pergi ke masjid dan menganggap hal-hal spiritual sebagai sebuah khurafat. Mereka hanya menyibukkan diri dengan telpon genggam. Mengerikan sekali. HP ini telah menjadi sarang setan bagi sebagian kalangan muda mudi.

Pasar kita bukan pasar yang Islami. Riba, penjualan dengan harga mahal, dan penimbunan barang sering terjadi dalam bentuk yang sangat menakjubkan. Penipuan dalam transaksi jual beli sering terjadi. Jelas, pedagang seperti ini tidak akan dapat menyerahkan putra dan putri yang suci kepada masyarakatnya.

Oleh karena itu, kita kadang-kadang menyaksikan seorang ayah memiliki hubungan khusus dengan masjid (ahli masjid). Tapi anak-anaknya bukan hanya muak melihat masjid, mereka malah mengolok-olok ayah mereka yang sedang pergi ke masjid.

Ketika khumus sudah menjadi sebuah realita yang dianggap sebagai anti nilai dalam kehidupan masyarakat, jelas makanan yang tersebar di tengah masyarakat ini adalah makanan haram. Ketika anak-anak kita memakan makanan ini, mereka bukan hanya malas mendengar kata agama, tapi malah terjerumus ke dalam keterjatuhan yang menakjubkan.

Belajar dari Sejarah

Anak-anaku kaum muda! Belajarlah dari sejarah. Pada masa kekuasaan Mutawakkil Abbasi, salah seorang alim yang bernama Syuraik memiliki hubungan khusus dengan istana. Mutawakkil meminta kepadanya supaya menjadi Qadhil Qudhat (posisi setingkat Mahkamah Agung). Syuraik dengan berani menjawab, “Pemerintahanmu adalah pemerintahan yang zalim.” Ia tidak menerima tawaran itu.

“Paling tidak jadilah guru bagi anak-anakku,” pinta Mutawakkil lagi. “Ini juga sejenis pembantuan terhadap kezaliman, dan saya tidak akan pernah menerima,” jawab Syuraik tegas.

“Jika begitu, jadilah tamuku dalam makan malam kali ini,” pinta Mutawakil. Lantaran tidak menemukan alasan untuk menolak, Syuraik menerima permintaan ini dan menyantap makan malam istana. Ia pun lantas kembali ke rumah.

Setelah pulang ke rumah, pemikiran menyeleweng lantaran menyantap makanan haram menguasai pikiran Syuraik.

Memang sudah selayaknya demikian. Jika seseorang memakan harta haram, maka sangat tidak mungkin ia akan memiliki pikiran Ilahi dan spiritual. Harta haram adalah fasilitas paling bagi setan yang dapat mempermudah tugasnya.

Oleh karena itu, pikiran satanis merasuk ke dalam relung hati Syuraik. Menurut pikirannya, jika saya menerima posisi Qadhil Qudhat, maka saya dapat berkhidmat kepada masyarakat melalui jalan ini.

Rayuan setan telah menguasai diri Syuraik dan menggambarkan posisi Qadhil Qudhat sebagai sebuah posisi yang sangat indah dan bermanfaat. Lantas ia berpikir lagi, jika saya dapat mendidik anak-anak Mutawakil, tentu hal ini sangatlah bernilai. Mengapa saya harus menolak masalah suci ini?

Dari sejak permulaan malam hingga pagi hari, Syuraik merenungkan pikiran-pikiran satanis yang telah merasuki dirinya. Pada hari berikutnya, ia pergi menemui Mutawakil dan menyatakan kesiapan untuk menerima kedua posisi tersebut. Lantaran khidmatnya yang besar terhadap istana, Mutawakil menentukan gaji bulanan yang sangat besar untuk Syuraik.

Makanan haram, sekalipun hanya sekadar makan malam, dapat memperdaya manusia untuk siap menjual agamanya. Lebih anehnya, Syuraik sendiri menyadari penyelewengan dirinya dan bahwa dirinya telah menjual agama. Sayangnay, harta haram tidak mengizinkan dia kembali.

Pada suatu hari, ketika tengah menerima gaji, Syuraik melihat bahwa satu keping emas cacat. Dengan tujuan menukar keping emas itu, ia pergi menemui petugas yang membagi-bagikan gaji. Petugas itu menjawab, “Memangnya kenapa bila sekeping emas di antara kepingan-kepingan ini cacat? Memang kamu telah menjual harta warisan dari ayahmu sebagai ganti kepingan-kepingan ini?”

Syuraik dengan kesal menjawab, “Tidak! Untuk menerima kepingan-kepingan ini, saya telah menjual agamaku. Untuk itu, saya tidak akan pernah menutup mata sekalipun sekeping.”

Amirul Mukminin Ali as ketika mendengar berita bahwa gubenurnya mendatangi jamuan orang-orang kaya dan menyantap makanan seperti gaya mereka sangat marah sekali. Ia menulis surat pedas kepadanya, “Menghadiri jamuan pertamuan orang-orang kaya dan menyantap makanan golongan kelas tinggi tidak layak bagi gubernurku. Saya sebagai pemimpin rakyat hanya mencukupkan diri dengan dua keping roti dan dua pakaian bertambal untuk sehari. Mungkinkah saya menghabiskan harta Baitul Mal hanya demi menyantap makanan lezat dan pakaian halus?” (Nahjul Balaghah, surat no. 45)

Para aparat negara dan pegawai, pedagang, ulama, dan semua lapisan lapisan masyarakat harus camkan bersama bahwa harta haram akan menjerumuskan seseorang ke dalam sebuah jurang yang setelah itu tidak ada tempat kembali.

Apa Kata Tokoh Indonesia Tentang Syi’ah ?? Gelombang pro Syi’ah pusingkan wahabi

.

 

Said Agil Siradj (Ketua Umum PB NU)

Ajaran syiah tidak sesat dan termasuk Islam seperti halnya sunni. Di universitas di dunia manapun tidak ada yang menganggap Syiah sesat(tempo.co)

Din Syamsuddin (Ketua Umum PP Muhammadiyah)

Tidak ada beda Sunni dan Syi’ah. Dialog merupakan jalan yang paling baik dan tepat, guna mengatasi perbedaan aliran dalam keluarga besar sesama muslim(republika.co.id)


Buya Syafii Ma’arif (Cendikiawan Muslim, Mantan Ketua PP Muhammadiyah)

Kalau Syiah dikalangan mazhab, dianggap sebagai mazhab kelima, (okezone.com)


Amin Rais (Mantan Ketua PP Muhammadiyah)

Sunnah dan Syi’ah adalah madzhab-madzhab yang legitimate dan sah saja dalam Islam

(satuislam.wordpress.com)


Marzuki Ali (Ketua DPR RI)

“ Syi’ah itu mahzab yang diterima di negara manapun diseluruh dunia, dan tidak ada satupun negara yang menegaskan bahwa Islam Syi’ah adalah aliran sesat

(okezone.com)


Jusuf Kalla (Mantan Wakil Presiden RI)
Harus ada toleransi terhadap perbedaan karena perbedaan adalah rahmat (tempo.co)


Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA (Cendikiawan Muslim, Direktur Sekolah PascaSarjana UIN Jakarta)

Syiah adalah bagian integral dari umat Islam dan tidak ada perbedaan yang prinsipil dan fundamental dalam Syiah dan Sunni, kecuali masalah kepemimpinan politik

“ Fatwa haram atau sesat Syiah itu tidak diperlukan, baik secara teologis, ibadah dan fiqh karena pertaruhannya Ukhuwah Islamiyah di Indonesia,”

(republika.co.id)

Prof. Dr. Komaruddin Hidayat (Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

“ Syiah merupakan bagian dari sejarah Islam dalam perebutan kekuasaan, dari masa sahabat, Karenanya akidahnya sama, Alqurannya, dan nabinya juga sama,”

(republika.co.id)

KH. Alie Yafie (Ulama Besar Indonesia)

Dengan tergabungnya Iran yang mayoritas bermazhab Syiah sebagai negara Islam dalam wadah OKI tersebut, berarti Iran diakui sebagai bagian dari Islam. Itu sudah cukup. Yang jelas, kenyataannya seluruh dunia Islam, yang tergabung dalam 60 negara menerima Iran sebagai negara Islam.(tempointeraktif)

Rhoma Irama ( Seniman dan Mubaligh )

Tuhan kita sama, nabi kita sama, kiblat kita sama, sholat kita sama, puasa kita sama, zakat kita sama, haji kita sama, kenapa harus saling mengkafirkan(tempo.co)

Slamet Effendy Yusuf (Ketua PB NU)

Caranya terus menjaga persamaan sesame Umat Islam, bukan mencari perbedaannya,

(republika.co.id)

Muhammad Mahfud MD (Ketua MK)

Kalau saya mengatakan semua keyakinan itu tidak boleh diintervensi oleh negara. Keyakinan itu tak boleh diganggu orang lain, kecuali dia mengganggu keyakinan orang lain,

(Okezone.com)

Prof. Dr. Umar Shihab (Ketua MUI Pusat)

Syiah bukan ajaran sesat, baik Sunni maupun Syiah tetap diakui Konferensi Ulama Islam International sebagai bagian dari Islam,

(rakyamerdekaonline.com)

Alm, Buya Hamka (Mantan Ketua Umum MUI Pusat)

Mengutip pernyataan Imam Syafi’i

Jika saya dituduh Syiah karena mencintai keluarga Muhammad Saw, maka saksikanlah wahai Jin dan Manusia, bahwa saya ini orang Syiah. Jika dituduhkan kepada saya bahwa saya Syiah karena membela Imam Ali, saya bersaksi bahwa saya Syiah

(majalah.tempointeraktif.com)

KH Nur Iskandar Sq (Ketua Dewan Syuro PPP)

Kami sangat menghargai kaum Muslimin Syiah,

(Inilah.com)

Aliran Syi’ah Di Nusantara, O L E H: PROF. DR. H. ABOEBAKAR ATJEH

PENDAHULUAN.

Sesudah saya menulis beberapa kitab mengenai Mazhab Syi’ah, terutama Syi’ah Isna Asyar Imamiyah atau Mazhab Ahlil Ba’it, dan tersiar tidak saja diseluruh Indonesia, tetapi juga diluar Negeri, misalnya di Malaysia, banyak orang bertanya kepada saya, kapan aliran Syi’ah itu masuk ke Indonesia.

Saya jawab, bahwa mengenai Islam, aliran Syi’ah-lah yang mulamula masuk ke Indonesia, melalui orang2 Hindu, yang sudah masuk Islam, dan yang terserak ditepi pantai pulau2  indonesia mengurus perdagangan dengan bangsa2 Asing yang datang berdagang ke Indonesia itu. Ada yang termasuk Mazhab Ahlil Ba’it, dan ada yang menyeleweng diantara orang2 Syi’ah yang datang ke Indonesia ini. Kitab2 dalam Bahasa Belanda, diantaranya, “De Leering van  alisongo” ada dijelaskan hal itu dan kitab2 yang lain misalnya karangan Prof.Dr. C. Snouck Hurgronje. Prof. Dr. Pangeran Aria Hussain Djayadiningrat, B.J.O. Schrieke, dll. menyebutkan, bahwa orang2 Islam yang mula2 masuk ke Indonesia itu adalah orang2 Syi’ah, dengan lain perkataan yang dinamakan „golongan Sayid atau Syarif” yang kebanyakkannya kemudian menjadi raja-raja di Nusantara. Keterangan yang lebih lanjut dapat juga dibaca dalam kitab2 penerbitan gerakan Ba Alawi, yang teratur sekali mendaftarkan keturunan Ali bin Abi Thalib di Indonesia.

Sekali-kali bukanlah golongan Salaf yang mula pertama masuk ke Indonesia menyiarkan agama Islam, boleh jadi juga golongan Salaf tetapi Salaf Syi’ah, yang kebanyakannya di-kejar2 di tanah Semenanjung Arab oleh Bani Abbas di Timur atau Bani Umayyah di Barat, lalu mereka lari ke Asia dan menyiarkan agama Islam disini.

Maka saya catatlah beberapa hal tentang kedatangan orang2 Syi’ah itu ke Indonesia, mula-mula atas permintaan bahagian kebudayaan dari Pemerintah Malaysia, kemudian saya terbitkan disini sebagai risalah ini, untuk dibaca oleh bangsa Indonesia sendiri. Atas keterangan saya ini saya mempunyai lengkap dokumentasi. Demikianlah adanya.

Jakarta, 24 Juli 1977.

Wassalam,

H. Aboebakar Atjeh.

NAMA DAN AJARAN.

NAMA Syi’ah itu pada awal mulanya berarti golongan, firqah dalam bahasa Arab. Tetapi telah pada permulaan Islam nama ini terutama digunakan untuk suatu golongan yang tertentu, yaitu golongan yang sepaham dan membela Ali bin Abi Thalib, khalifah yang keempat, suami dari anak junjungan kita Nabi Muhammad s.a.w., bernama Fatimah dan kemenakan penuh dari Nabi, karena ia anak pamannya Abu Thalib, saudaranya ayahnya.

Dalam masa salaf, zaman Nabi dan sahabatnya, perkataan ini belum digunakan orang, tetapi untuk itu dipakai perkataan Ahlil Bait atau Alawi atau Bani Ali atau Ba Alawi. Orang-orang Syi’ah itu, artinya orang-orang yang masuk golongan Saidina A l i , mempercayai bahwa Saidina A l i itulah orang yang berhak menjadi pengganti Nabi sesudah wafatnya, begitu pula khalifahan itu turun-menurun dari padanya, sebagai orang yang berhak menjadi Imam, yaitu kepala masyarakat kaum muslimin, karena mereka itulah, yang juga dinamakan Ahlil Bait, yang lebih mengetahui dan lebih dekat serta lebih meyakini akan ajaran Nabi Muhammad.

Uraian yang panjang lebar tentang segala sesuatu mengenai Syi’ah, sudah saya uraikan dalam karangan saya, “Syi’ah, rasionalisme dalam Islam”, (Semarang, 1972), dan kitab “Al-Ja’fari, Mashaf Ahlil Bait” (sedang dicetak). Disana saya uraikan lengkap mengenai sejarah terjadi dan pertumbuhannya, perkembangan aliran dan mashafnya mengenai tafsir, ilmu liadtts, ilmu fiqh, tarikh tasyriq, bermacammacam aliran Syi’ah, seperti Isyna Asysar Imamiyah, Zaidiyah, Isma’ iliyah, Jabaliyah, dll. Imam-Imam dan sejarah perjuangannya, ulamaulama dan pengarang-pengarang, penyiaran kitab-kitabnya, yang bersifat agama dan ilmu pengetahuan, jasa-jasanya dalam penyiaran dan perkembangan Islam seluruh dunia.

Beberapa kejadian sesudah wafat Nabi, seperti bangkit kembali Bani Umayah dan Bani Abbas, dengan kerajaan-kerajaannya, yang kemudian, juga bercekcokan dengan keturunan Ali bin Abi Thalib, pembunuhan atas diri khalifah Usman, yang dituduhkan secara palsu oleh Yazid bin Mu’awiyah, kepada Ali dll. menyebabkan pada akhirnya keluarga-keluarga Ahlil Bait ini, mengungsi kedaerah Persia dan India, Cina, Asia Tengah, Afrika dan Nusantara yang dapat menampung mereka, dan menyelamatkannya. Hal ini terutama sesudah terjadi pembunuhan atas diri Sayidina Hasan dgn racun, dan Sayidina Husain dalam peperangan di Karbala. Sayidina A l i sendiri dalam th. 40 H.

(661 M) dibunuh oleh salah seorang fanatik, Ibn Muijam, dari golongan Khawarij, dan sesudah gugur pula anaknya dalam pertempuran yang dahsat dimedan peperangan Karbala pada th. 61 H. (680 M), sebagai putra Mahkota yang melawan Yazid dari Bani Umayah, maka makin bertambah tambahlah hebatnya perkembangan golongan Syi’ah ini, yang meluap kesebelah timur, terutama Persia dan India, dan Asia Tengah serta Afrika Utara. Sebenarnya hubungan Iran-Indonesia telah berlangsung lama dan selalu baik. Dalam buku „Al-Islam Fi Indonesia” karangan Dzya Shahab dan Haji Abdullah b. Nuh, yang diterbitkan “Badan Penerbit Saudi Arabia” Jeddah, dikisahkan bahwa pelayaran laut ke Asia Tenggara dan Asia Timur lama dikuasai orangorang Persia bersama Arab. Hubungan teluk Persia dengan Indonesia lalulintas kuat. Banyak kota-kota di Indonesia di diami orang-orang Persia dan Arab. Juga dinukil dari buku Al-Damashky, yang mengatakan dalam bukunya „Nakhbat-al-Dahr” bahwa arusperpindahan Mus limin ke Indonesia, meningkat pada zaman bani Umayah, yang dikenal karena kezalimannya.

Ibn Batuta, pelancong Marokko diabad ke 13 (787 H) menyatakan bahwa ketika mengunjungi Samudra dan Pasai dia banyak bertemu dengan Muslimin dan orang-orang Persia. Terdapat ulama besar Abdullah Shah Muhammad bin Shaikh Taher (wafat 787 H).

Pada zaman Malik al-Kamil terdapat Qadhi (hakim) Al-Sharief Amir Sayyid Al-Shirazi. Sedangkan dizaman Al-Malik al-Zahir, terdapat ulama besar Tajuddin Al-Isphahani dan banyak lagi yang namanama mereka terukir dalam nisan-nisan diatas kuburnya masing2″.

Ibn Batuta berkata pula bahwa wakil Laksamana di Samudra- Pasai adalah seorang Persia bernama Behruz. Terdapat sebuah desa di Samudra kubur dari Hisauddin yg wafat pada tahun 1420 M. Menurut Sir Richard Winsted, kuburannya sangat menarik karena terukir beberapa shair dari Sa’di, pujangga Iran yang dikubur di Shiraz, a.1. berbunyi :

Ribuan tahun akan datang dan pergi diatas kubur kita melintasi Selama itu air mengalir dan angin Saba mengembus dan waktu hidup segera terputus Mengapa melintasi kubur orang dengan jalan angkuh lantang ?

Disamping itu kita juga lihat berbagai nama raja-raja di Indonesia memakai gelar-gelar yang dipakai juga di Iran. Berbagai adat istiadat di Jawa, Sumatra dan Sulawesi banyak persamaannya dengan yang ada di Iran. Kebiasaan-kebiasaan tidak menikahkan atau merayakan pesta-pesta pada bulan Suro, mirip dengan kebiasaan Iran. Demikian pula kisah bubur merah bubur putih dan cerita-cerita yatim, mempunyai latar belakang yang sama.

Prof. Husein Jayadiningrat almarhum, banyak mengadakan penelitian mengenai hubungan kebudayaan Iran-Indonesia, dimana kemudian Prof. Husein Jayadiningrat mengatakan banyak pengaruh Iran dalam bahasa Indonesia.

Dalam aliran Sufi di Indonesia banyak masuk pengaruh Tasauf Persia seperti pengaruh Junaid, Hallaj, Jalaluddin al Rumi, Shams al-Tebrisi. Belum lagi pengaruh Al-Gazali yang demikian popuier di Indonesia. Cerita-cerita Iskandar Zulkarnaen, Kisah Am’r Hamzah, Kisah Yusuf dan Zulaikha, Mu’jizat-mu’jizat para Nabi sangat terkenal dikawasan ini berasal dari literatuur Iran.

Di daerah ini aliran Syi’ah dianut, dan bersama dengan orangorang Persia dan India ulama-ulama dan pemimpin-pemimpin Syi’ah itu pergi ke Nusantara untuk menyiarkan agama Islam menurut pahamnya, sambil melanjutkan perdagangan dengan Timur Jauh, yang sudah terjadi sejak dahulu, Lih. karangan saya “Sejarah Al-Qur’an” (Surabaya-Malang, 1956. eet. ke-IV).

Keturunan dari Sayidina Hasan biasa sehari-hari dinamakan Syarif, dari Sayidina Husain disebut Syayid, keturunan wanita masingmasing dinamakan Syarifah dan Syayidah. Perlu dicatat disini, bahwa hijrah dari pada keturunan Ahlil Bait ini, banyak ke Mesir, dan dari sana kedaerah-daerah Islam yang lain, sebagaimana banyak yang hijrah ke Persia dan India, yang kemud’an kedaerah Islam yang lain.

Baik juga pembaca memperhatikan sebuah kitab baru yang diterbitkan oleh “Al-Majlisul A’la Lisy-Syu’unil Islamiyah” di Cairo, yang bernama “Ahlul Bait fi Misr”, karangan Ust. Abdul Hafid Faragli (Cairo Desember 1974 M).

AHLIL BAIT, DAN MASHAFNYA

Dalam kitab karangan saya mengenai “Syi’ah, nasionalisme dalam Islam” (Semarang, 1972), saya uraikan tentang pengikut Syi’ah li ini dengan mashafnya, yang bernama Ahlil Bait, sebagai berikut.

Memang disana — sini kita mendengar kecaman terhadap Mashaf Ahlil Bait, yang menggunakan hadits-hadits tersendiri dan berbuat bid’ah. misalnya oleh pengarang sejarah yang terkenal Ibn Khaldun (Muqaddimah, hal. 274), tetapi acap kali orang lupa, bahwa dibelakang tuduhan-tuduhan itu terdapat politik propaganda Bani Umayah atau Bani Abbas, yang membenci mashaf ini, karena ia teruntuk khusus bagi Syi’ah Ali bin Abi Thalib. Untuk kemaslahatan dan keselamatan diri serta karangan-karangannya, banyak penyusun-penyusun kitab dalam segala bidang meninggalkan kemegahan bagi Syi’ah, meskipun pada bathinnya kadang-kadang mereka membenarkannya.

Mengenai jawaban ilmiyah atas kecaman Ibn Khaldun, bacalah kitab “Al-lmam as-Shadiq wal Mazahibil Arba’ah”, karangan Asad Haidar, diantara lain jilid kesatu, hal. 216 — 218. Sebenarnya bukan tidak beralasan, baik Bani Umayyah maupun Bani Abbas, menuduh Syi’ah Ali senantiasa kalah menggerakkan pemberontakan rakyat terhadap pemerintahan mereka. Jiwa pengajaran Islam dalam daerahnya banyak dititik beratkan kepada kehidupan duniawi, melalui jalan kasar atau jalan halus terhadap ulama-ulamanya, sedang ajaran Islam menurut Mashaf Ahlil Bait lebih banyak ditekankan kepada kehidupan dunia dan akhirat.

Jiwa pengajaran Imam As-Shadiq diantara lain adalah kemerdekaan roh, yang sangat dihargakan tinggi oleh Islam, dan dengan demikian pengikut-pengikutnya selalu berdaya upaya meiepaskan kemerdekaan jiwanya itu dari pada belenggu kekuasaan yang dianggap zalim ketika itu. Sejak berdirinya mashaf ini terikat dengan dua peninggalan Nabi yang kuat “As-sagalain” yaitu Kitabullah dan Itrah Rasulnya, Qur’an dan keluarga Nabi, yang berpadu keduanya, tidak berccrai dalam penunaian kewajibannya untuk memberi petunjuk dan hidavat kepada umat. (“Haditsuts Tsaqalain”, 1952 M., penerbitan “Damt Taqrib bainal Mazahibil Islamiyah”).

Qur’an mencegah memberi bantuan kepada orang yang berbuat zalim dan mempercayainya. Dalam sebuah firman Tuhan berseru :

“Jangan kamu lekatkan kepercayaanmu kepada mereka yang berbuat zalim karena pasti kamu akan masuk neraka. Tidak ada lain pemimpinmu kecuali Allah, yang lain tidak akan dapat menolongmu” (Qur’an surat Hud, ayat 113).

Ajaran seperti dalam masa Nabi ini sudah tidak sesuai lagi dengan masa Bani Umayyah dan Bani Abbas yang tamak kekayaan dan bertindak secara kekerasan. Mereka menganggap ajaran-ajaran Imam as-Shadiq itu ditujukan kepadanya.

Dengan penuh keberanian Imam menjalankan terus ajaran semacam ini. Pengikut-pengikutnya diajar meresapkan rasa adil, yang merupakan pokok terpenting daripada dasar-dasar penetapan hokum Islam. Murid-muridnya hanya mematuhi peraturan-peraturan yang tidak melampaui batas Tuhan, yaitu Qur’an dan mentaati imam-imam yang adil serta memelihara agama, imam-imam yang ingin damai, bermutu tinggi dalam akhlak dan budi pekerti.

Sebagai akibatnya rakyat tidak mau mencari penjelasan dalam urusannya kepada hakim-hakim pemerintah yang d’anggap zalim itu, menjauhkan dirinya dari ulama-ulama yang ditunggangi oleh pemerintah (Abu Na’im Halyatul Aulia, III : 195). Dengan demikian Khalifah Mansur As-Saffah dan Hajjaj bin Yusuf lalu mengambil tindakan, dan gugurlah ulama-ulama hadits dan fiqh dalam mempertahankan agamanya itu.

Imam As-Shadiq menghendaki, agar disamping pemerintah dunia,  terdapat pimpinan agama, yang betul-betul menjalankan kebijaksanaannya menurut hukum Tuhan, berdasarkan kepada da’wah yang benar kebajikan, keadilan, persamaan ukhuwah Islamiyah umum, peradaban yang baik dan kebudayaan yang benar, membasmi hawa nafsu, membasmi bid’ah dan kesesatan, yang semuanya itu dapat diperoleh hanya dari keturunan suci, pemimpin-pemimpm mashaf ini. Karena merekalah yang sanggup memimpin umat kepada agamanya, membawanya kepada kebahagiaan, kepada tujuan-tujuan yang mulia dan tinggi, kepada contoh-contoh yang tinggi.

Mashaf Ahlil Bait ini adalah mashaf yang terdahulu lahir dalam sejarahnya, karena sebenarnya bukan Imam As-Shadiq yang meletakkan batu pertama dan menaburkan benihnya, tetapi ialah Rasulullah sendiri. Nabilah yang meletakkan sumber-sumber dan peraturannya dengan ucapannya menyuruh berpegang kepada Qur’an dan keluarganya, agar umat jangan tersesat (Hadits).

Mashaf ini terlahir dalam masa Nabi dan Imam yang pertama ialah Ali bin Abi ThaVb, Imam yang paling tinggi nilainya dan paling banyak ilmunya. Ia merupakan diri Nabi Muhammad mengikutinya alam segala waktu, menampung ilmu langsung dari padanya, memperoleh tasyri’amali sahabatnya dikampung dan dalam perjalanan, ia duduk jika Nabi duduk, ia bekerja jika Nabi bekerja. Rasulullah adalah guru langsung dari A l i , pendidik dan pengasuhnya.

Penyair Mutanabbi menggambarkan keindahan pewarisan ilmu  itu kepada A l i sebagai berikut :

Kuletakkan sanjunganku kepada pewaris, Pewaris Nabi, wasiat Rasul, Karena ia nur cahaya berbaris, Sambung menyambung, susul menyusul. Sesuatu yang tetap terus menerus, Pasti akhirnya berdiri sendiri, Busah lenyap karena arus, Laksana sifat matahari. Tatkala Ali wafat, gerakan ilmiyah dan pimpinan mashaf ini dipimpin oleh puteranya, Imam Hasan, cucu Rasulullah dan mainan hatinya. Dialah tempat rakyat mengembalikan urusannya dan segala persengketaan. Tetapi urusan mashaf itu tidak berjalan dengan lancar, karena tekanan beberapa kejadian dan saling sengketa dengan Mu’awiyah. Kecurangan-kecurangan Mu’awiyah terhadap keluarga A l I dan kekejaman-kekejamannya yang banyak menumpahkan darah, menghambat kemajuan perkembangan hukum. Kita ketahui bahwa perjanjian antara Hasan dan Mu’awiyah untuk menyelamatkan perkembangan hukum dan ajaran Islam, yang sebenarnya, tidak ditepati oleh Mu’awiyah.

Masa Imam Husain yang menggantikan saudaranya, lebih kacau lagi. Tidak saja peperangan-peperangan sudah terbuka, tetapi kekuasaan yang telah dicapai oleh Mu’awiyah digunakannya dengan sengaja untuk merusakkan kedudukan hukum kaum muslimin. Urusan peradilan diserahkan kepada anaknya Jazid, seorang fasik dalam berbuat dosa dan kufur yang tidak ada taranya. Kemudian ia menjadi khalifah buat orang Islam, menjadi imam yang duduk diatas singgasana kekhalifahan Islam.

Siapa Yazid ? Dalam “As-Sa’ral Anwal Fil Islam”, karangan Muhammad Abdul Baqi (hal. 79) kita baca, bahwa ia seorang fasik yang durhaka, ia membolehkan berzina, memperkenankan meminum-minuman keras, membolehkan berzina, memperkenankan nyayian-nyanyian dalam mejelis-majelis kehormatan menjadikan adat kebiasaan meminum anggur dalam sidang-sidang pengadilan, memberikan rantai dan kalung anjing dan monyet mainannya dengan emas, sedang ratusan orang Islam disekeliling tempat itu mati kelaparan.

Lalu menjadilah kedudukan hukum Islam ketika itu sangat buruk. Imam Husain tidak dapat berdiam diri, ia terpaksa bangkit membela kebenaran, melakukan amar-ma’ruf nahi munkar, hingga terpaksa ia mengorbankan jiwanya dengan cara yang sangat menyedihkan scbagai pahlawan Islam.

Urusan peradilan Islam dan pimpinan mashaf berpindah kepada anaknya Imam Ali bin Husain, yang bergelar Zainal Abidin, seorang yang sangat wara’ dan taqwa dalam masanya, tetapi juga

seorang alim dalam segala bidang ilmu Islam. Dengan cara diamdiam ia meneruskan usaha ayahnya,, yang meskipun suasana ketika itu sangat buruk, melahirkan banyak ulama-ulama ahli hukum dan ahli hadits.

Masa anaknya Imam Al-Baqir, memimpin mashaf Ahlil Bait ini, suasana politik sudah agak berubah, pemerintah Bani Umayyah sudah mulai lemah, diserang kanan kiri dan dibenci oleh rakyat karena sifat feodalnya. Pengajaran-pengajaran Ahlil Bait digiatkan kembali dimana-mana, ulama-ulamanya memancar pergi menyiarkan ajaran Kitabullah dan Sunnah Nabi di Madinah dan dalam MasjidU Haram, terutama ruang yang terkuat dengan nama “Ruang Ibn Mahil”. Kemajuan yang sangat pesat dicapai dalam masa Imam As-Shadiq.

Ditiap negeri sudah ada orang alim yang mengajar mashaf ini. Madrasah Imam As-Shadiq di Madinah merupakan sebuah universitas yang besar, yang dikunjungi oleh mahasiswa dari seluruh pojok bumi Islam. Banyak yang mengirimkan utusan-utusannya. Sejarah pendidikannya menerangkan, bahwa ia seorang mujtahid besar; Tidak ada pertanyaan yang tidak dijawab dan jawabannya itu menjadi sumber hukum pula bagi murid-muridnya.

Terkenal sebuah ucapannya : “Tanyakanlah kepadaku sebelum aku mati, tidak akan ada seorangpun dapat memberikan kepadamu penjelasan seperti yang engkau dengar daripadaku” (Tazkiratul Huffaz, II : 157). Mengapa tidak demikian, karena dialah pewaris ilmu kakeknya yang masyhur itu. Mengenai A l i bin Abi Thalib, Nabi berkata : „Aku ini gudang ilmu dan Ali pintunya” (Hadits).

Maka oleh karena itu sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam As-Shadiq dari ayahnya Al-Baqir, dari ayahnya Zainal Abidin, dari Husain bin Ali dan dari Nabi, dianggap sanad yang paling baik dan paling kuat Riwayat semacam ini dinamakan “Silsilah  zahabiyah”, urutan keemasan demikian tersebut dalam kitab “Ma’-rifah Ulumut Hadits, karangan Hakim An-Naisaburi, hal. 55.

Jelaslah kepada kita mengapa ulama-ulama mengutamakan mashaf ini dalam sesuatu penetapan hukum. Tidak lain sebabnya melainkan karena salurannya sangat bersih. Pemerintah melihat bahayanya orang banyak dari mencari hokum kepada Imam As-Shadiq, dan tidak mau mendatangi hakim-hakim dan pengadilan resmi. Lalu diambil siasat, menyuruh ulamanya mengeluarkan fatwa, bahwa pintu ijtihad hukum Islam sudah tertutup.

Mashaf Ahlil Bait, yang kemudian terkenal dengan Mashaf Al- Ja’fari, tidak mau mentaati siasat pemerintah ini, pertama karena rakyat tidak mau mematuhinya, kedua karena menyebabkan orang Islam menjadi beku, tidak mau berfikir dan menggunakan akal, satusatunya anugerah Tuhan yang sangat mulia kepada manusia. Sebagai akibat keputusan ini, pemerintah menganggap-anggap mashaf itu meneutang kebijaksanaannya dan menghukum orang-orang yang tidak taat itu.

Dengan alasan ini pemerintah menganggap mashaf Ahlil Bait musuhnya, lalu dinyatakan sebagai suatu golongan yang dianggap keluar dari Islam karena salah i’tikadnya, padahal ulama-ulama Ahlil Bait tidak mau mentaatinya karena hakim-hakim itu zalim, dan umat Islam diperintahkan meninggalkan orang-orang yang zalim itu dan rajanya.

Sebagaimana terjadi dalam salah satu permusuhan, pemerintahan Bani Abbas lalu mencari-cari dan membuat-buat alasan untuk memburuk-burukkan mashaf ini dan Syi’ah A l i yang memeluknya. Mereka menggunakan uang untuk menggaji mubaligh-mubaligh yang menyampaikan kecaman-kecaman mereka dalam mesjid-mesjid, menggunakan ahli-ahli pidato yang ulung dijalan-jalan, mengumpulkan ulama-ulama untuk mengeluarkan fatwa yang sesuai dengan hawa nafsu mereka untuk menyerang Syi’ah sebagai musuh negara dan sebagai musuh Islam.

Mereka menyiarkan berita bohong, bahwa Syi’ah mengkafirkan semua sahabat Nabi, bahwa mereka tidak beramal menurut Qur’an dll. Dengan demikian diracuni pikiran rakyat dan digerakkan untuk membasmi golongan yang disebut salah itu. Bacalah kitab “Imam As-Shadiq wal Mazhahihil Arba’ah”, karangan Asad Haidar, terutama jilid ketiga, hal. 21 — 23.

Dengan demikian pula tuduhan-tuduhan yang bukan-bukan kepada Syi’ah ini berlarut-larut dari generasi-kegenerasi, dari ulamakeulama dari kitab kekitab, sebagaimana yang akan kita singgung juga dimana ada kesempatan.

ALI DAN QUR’AN.

Ali bin Muhammad At-Thaus dalam kitabnya “Sa’dus Su’ud”, berdasarkan keterangan Abu Ja’far bin Mansur dan Muhammad bin Marwan, berkata, bahwa pengumpulan Qur’an dalam masa Abu Bakar oleh Zaid bin Sabit gagal, karena banyak dikeritik oleh Ubay, Ibn Mas’ud dan Salim, dan kemudian terpaksalah Usman mengadakan usaha mengumpulkan ayat-ayat Qur’an lebih hati-hati dan seksama, dibawah pengawasan Ali bin Abi Thalib (Az-Zanjani, hal. 45). Maka pengumpulan Qur’an dengan pengawasan Ali bin Abi Thalib inilah yang berhasil, karena pengumpulan itu, tidak saja disetujui oleh Ubay, Abdullah bin Mas’ud dan Salam Maulana Abu Huzaifah, tetapi juga oleh sahabat-sahabat yang lain. Mashaf Usman inilah yang kita namakan Qur’an umat Islam sekarang ini, yang tidak saja wahyu-wahyunya benar seperti yang disampaikan Nabi, tetapi bahasanya dan bunyi ucapannya sesuai dengan aslinya. Usman membuat beberapa buah diantara mashaf ini, sebuah untuk dirinya, sebuah untuk umum di Madinah, sebuah untuk Mekkah, sebuah untuk Kufah, sebuah untuk Basrah dan sebuah untuk Syam. Ibn Fazlullah al-Umri pernah melihat mashaf Usman ini pada pertengahan abad ke-VII H. dalam masjid Damsyiq (baca Maslikul Absar, I 195, c. Mesir), dan banyak orang menyangka, bahwa naskah mashaf ini pernah disimpan dalam perpustakaan di Liningrad, yang kemudian dipindahkan kesalah satu perpustakaan di Inggeris (Az-Zanjani, 46). Pengarang Sejarah Qur’an yang terkenal Abu Abdullah Az-Zanjani ini dalam kitabnya “Tarikhul Qur’an”, hal. 46, menerangkan bahwa ia pernah melihat dalam bulan Zulhijjah, th. 1353 H . dalam perpustakaan, yang bernama “Darul Kutub Al-AU>wiyah”, di Nejef sebuah mashaf dgn. khat Kufi, dan tertulis pada akhirnya “Ditulis oleh Ali bin Abi Thalib dalam th. 40 Hijrah”.

Al-Amadi At-Tughlabi, seorang ulama fiqh dan ilmu kalam, mgl. 617 H, menerangkan dalam kitabnya ”Al-Ajkarul Akbar”, bahwa mashaf-mashaf yang masyhur dalam zaman sahabat itu dibacakan kepada Nabi dan diperlihatkan mashafnya kepada Nabi. Ibn Sirin mendengar Ubaidah As-Salmani berkata, bahwa bacaan yang diperdengarkan kepada Nabi mengenai Qur’an pada saat-saat hampir wafatnya, adalah bacaan yang sampai sekarang dipergunakan orang.

Jika ada pembicaraan mengenai Qur’an A l i ” (yang sebenarnya mashaf Ali), yang berbeda dengan mashaf-mashaf Ubay bin Ka’ab (mgl. 20 H), Abdullah bin Mas’ud (mgl. 32 H), mashaf Abdullah bin Abbas (mgl. 68 H) dan mashaf Abu Abdullah Ja’far bin Muhammad As-Shadiq, adalah perbedaan mengenai susunan bahagian Qur’an, yang dinamakan “Surat”, bukan perbedaan mengenai ayat2 dan dialeknya, yang sesudah Ali dengan aktif turut menyusun mashaf itu dalam masa Usman sudah tidak berbeda lagi. Jika ada perkataan yang menyebut “Qur’an Syi’ah yang dimaksudkan ïalah mashaf asli A l i bin Abi Thalib atau mashaf asli imam Ja’far Shadiq, yang sekarang tidak ada lagi sudah menjadi mashaf Usman dengan ijma’ sahabat-sahabat Nabi ketika itu. Orang-orang Syi’ah memakai Qur’an Usman itu sebagaimana kita memakainya.

Jadi tuduhan, bahwa A l i mempunyai Qur’an yang berlainan ayatayatnya daripada wahyu yang diturunkan Tuhan kepada Muhammad, dengan disaksikan oleh sahabat, dan bahwa Qur’an itu, sesudah ditambah atau dikurangi, digunakan khusus oleh golongan Syi’ah, tidak benar sama sekali adanya. Tuduhan i n i ditolak oleh sejarah dan oleh ulama-ulama Syi’ah sendiri, diantara lain oleh Abul Qasim A l – K h u l i , pengarang tafsir Syi’ah Imamiyah yang terkenal “Al-Bayan fi Tafsiril Qur’an” (Nejef, 1957). Dan juz yang pertama, pada halaman 171 dan berikutnya, dikupas panjang lebar, bahwa A l i b i n A b i Thalib tidak mempunyai mashaf yang berlainan ayat2nya dari mashaf-mashaf Sahabat lain, kecuali berlainan susunan Suratnya. Mashaf A l i yang dipusakai dari Nabi, penuh diberi catatan-catatan mengenai tanzil, masa dan sebab turun ayat, mengenai ta’wil, pengertian dan maksud yang pelik, yang berasal dari keterangan Nabi sendiri, selanjutnya mengenai ayat-ayat nasikh dan mansukh, ayat-ayat ahkam dan mutasyabihah (Tafsir As-Shafi, muk. VI : 11), mengenai halal dan haram, mengenai had atau hukum sampai kepada tetek bengek (Muk. Tafsir Al-Burhan hal. 27), ditolak semua oleh A l – K h u l i tuduhan yang tidak benar itu (172 — 175).

A l – K h u l i mengatakan sebagai khulasah, bahwa penambahan dalam mashaf A l i bukan ayat-ayat Qur’an, yang disuruh sampaikan oleh Nabi kepada ummatnya, dan bahwa tuduhan semacam ini adalah tidak berdasarkan kepada dalil yang benar, karena dengan ijma dalam masa Usman sudah dihilangkan semua penyelewengan atau tahrif.

Sebenarnya segala sesuatu mengenai Qur’an, baik sejarah turunnya wahyu, sejarah pengumpulannya dan penyusunan Qur’an dan penulisan mashaf, penterjemahan serta penafsirannya, sudah saya bicarakan dalam sebuah kitab khusus mengenai persoalan ini, yang saya namakan “Sejarah Al-Qur’an”, cetakan terakhir di Jakarta 1953, tetapi belum saya tinjau dari sudut pendirian golongan Syi’ah. Bahwa A l i bin Abi Thalib mempunyai bahagian dan kedudukan penting dalam penyusunan Al-Qur’an bukanlah suatu persoalan yang mesti dipertengkarkan, baik ulama-ulama Syi’ah, ulama-ulama Ahlus-Sunnah, maupun ulama-ulama aliran lain dalam Islam, semuanya mengakui bahwa Ali-lah yang mengetahui paling lengkap tentang turunnya wahyu-wahyu Tuhan kepada Nabi Muhammad, karena dialah yang mengikuti Nabi sejak permulaan keangkatannya menjadi Rasul dan selalu berdampingan dengan Rasulullah sebagai keluarga terdekat dalam segala keadaan. Disamping itu ia termasuk penulispenulis wahyu, yang ditunjuk oleh Nabi untuk mencatat tiap-tiap ada wahyu turun, baik siang ataupun malam hari.

Sahabac-sahabat dalam masa Nabi banyak yang sudah tahu menulis, dan kesenian menulis ini oleh Rasulullah sangat diperkembangkan. Bangsa Arab yang sudah tinggi kebudayaan sebelum Islam, sudah menggunakan huruf Hiri, suatu kota kebudayaan yang letaknya kira-kira tiga mil dari Kufah, dekat Nejef sekarang ini, dan oleh karena itu dinamakan juga huruf Kufi, begitu juga huruf Anbari, suatu kota dekat sungai Eufrat, tiga puluh mil sebelah barat Baghdad, semuanya berasal dari kemajuan kebudayaan Arab Kindah. Dari sebuah riwayat dari Ibn Abbas diterangkan asal-usul huruf ini masuk ketanah Hajaz dari Yaman (Kindah), bahkan sejarah pemakaian huruf ini sampai kepada Thari’, kepada Khaflajan, penulis wahyu yang diturunkan kepada Nabi Hud.

Abu Abdullah az-Zanjani menerangkan bahwa khat ini dimasukkan oleh Nabi Muhammad ke Madinah melalui orang-orang Yahudi, yang mengajarkan anak-anak Islam menulis. Ada sepuluh orang diantara kaum muslimin yang ahli dalam huruf ini diantaranya Sa’id bin Zaharah, Munzir bin Umar, Ubay bin Wahab, Zaid bin Sabit, Raff bin Malik dan Aus bin Khuli. yang kemudian ditambah dengan tawanan Badr, yang mengajarkan huruf-huruf ini kepada anak-anak Islam.

Bahwa wahyu-wahyu yang turun kepada Nabi ditulis dan dicatat orang merupakan mashaf simpanannya masing-masing tidaklah mengherankan, karena ada empat puluh tiga orang yang ditugaskan menulis wahyu itu dengan khat Nasakh, diantaranya yang termasyhur ialah Khalifah empat Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali, selanjutnya Abu Sufyan dengan dua anaknya Mu’awiyah dan Yazid, Sa’id ibn Ash dan anaknya Isan dan Khalid, Zaid bin Sabit, Zubair bin Awam Thalhah bin Ubaidillah. Sa’ad bin Abi Waqqs, Amir bin Fahiah, Abdullah ibn Argam, Abdullah bin Rawahah, Abdullah bin Sa’ad bin Abi Sarah, Ubay bin Ka’ab, Sabit ibn Qais, Hanzalah ibn Rabi’, Syurahbil bin Hasanah, Ula bin Hadrami, Khalid ibn Walid, Amr ibn Ash, Mughirah bin Syu’bah, Mu’aiqib bin Abi Fatimah ad-Dausi, Huzaifah ibn Yaman, Huwaithib bin Abdul ‘Uzza Al-Amiri, baik dalam masa Nabi maupun sesudah wafatnya.

Meskipun demikian yang tetap mengikuti Nabi dan yang dipercayanya adalah catatan dua orang, yaitu Zaid bin Sabit dan A l i bin Abi Thalib. Demikian kata Az-Zanjani dan menambahkan, bahwa banyak riwayat2 menerangkan, kedua orang itulah yang dengan sungguh-sungguh menghadapi penulisan dari pengumpulan wahyu itu.

Bukhari meriwayatkan dari Barra, bahwa tatkala turun wahyu “tidak sama orang mu’min yang diam dengan mereka yang menderita kemelaratan dan yang berjihad diatas jalan Allah” (Surat An-Nisa). Nabi dengan segera berkata : “Panggil Zaid datang kepadaku, membawa lah tinta dan tulang belikat unta”, dan sesudah Zaid datang, ia berkata : “Tulislah selengkapnya ayat i n i ” (Zanjani, hal. 20).

Dalam sebuah ceritera, Umar diperingatkan orang bahwa adiknya Fatimah telah masuk Islam. Umar marah dan pulang kerumahnya, didapatinya pada adiknya itu wahyu tertulis diatas perkamen sedang dibacanya. Hal ini terjadi dikala Umar belum masuk Islam, dan karena membaca wahyu yang tertulis itu, ia lalu masuk Islam.

Semua itu menunjukkan, bahwa Rasulullah menghendaki Qur’an itu ditulis dan penulisan itu sudah dimulai dalam masa hidupnya dan dengan petunjuk serta pengawasannya. Dalam masa Rasulullah Qur’an itu ditulis diatas tulang-tulang, kepingan batu, potongan daun atau kain, acapkali juga diatas kain sutera atau kulit kering dan diatas tulang belikat unta. Sudah menjadi

kebiasaan bangsa Arab menulis catatan demikian dan menamakannya “suhuf”, bungkusannya dinamakan „mashaf”. Sahabat-sahabat penting mempunyai mashaf itu secara lengkap atau tidak. Juga untuk Nabi diperbuat mashaf itu dan disimpan dirumahnya. Muhammad ibn Ishak menerangkan dalam ,,Fihris”nya, bahwa Qur’an yang ditulis dihadapan Rasulullah itu adalah diatas batu, tulang dan belikat unta. Bukhari menerangkan, bahwa Zaid bin Sabit pernah mengatakan:

„Kucari Qur’an itu dan kukumpulkannya dari batu, tulang dan dari hafalan orang”.

Al-’Isyasyi, seorang ahli Tafsir Imamiyah, menerangkan dalam Tafsirnya, bahwa Ali bin Abi Thalib pernah berkata : „Rasulullah mevvasiatkan kepadaku, bahwa sesudah kukuburkan dia aku tidak keluar dari rumahku hingga aku menyusun Kitab Allah itu, yang tertulis pada pelepah korma dan pada tulang belikat unta”. Sebuah riwayat dari A l i bin Ibrahim bin Hasyim Al-Qummi, seorang ahli Hadits Imamiyah yang termasyhur, menerangkan, bahwa Abu Bakar Al’-Hadhrami pernah mendengar Abu Abdillah Ja’far bin Muhammad berceritera, bahwa Nabi ada berpesan kepada Ali bin Abi Thalib :

„Hai. Ali ! Qur’an itu ada dibelakang tempat tidurku dalam suhuf, sutera dan kertas. Ambil dan susunlah baik-baik, jangan engkau hilangkan sebagaimana Yahudi menghilangkan Taurat”. Ali memungut Qur’an itu dan mengumpulkannya dalam satu bungkusan kain kuning kemudian dicapnya. Al Haris Al-Muhasibi menerangkan, bahwa mengumpulkan Qur’an itu bukanlah suatu perbuatan bid’ah tetapi terjadi atas perintah Nabi, dan juga meletakkan ayat-ayat pada tempatnya atas petunjuk Nabi sendiri.

Meskipun yang menulis wahyu banyak dalam zaman Nabi, tetapi yang mengumpulkannya hingga lengkap merupakan mashaf tidak berapa orang. Yang dianggap pengumpulan yang agak lengkap oleh Muhammad bin Ishak ialah Ali bin Abi Tha}ib, Sa’ad bin Ubaid bin Nu’man Aï-Aus’, wafat dalam perang Qadisiyah tahun 15. H. Abu Darda Uwaimir bin Zaid, beroleh langsung dari Nabi, wafat tahun 32 H. Muaz bin Jalal bin Aus, yang dinamakan Nabi imam ulama, wafat tahun 18 H., Abu Zaid Sabit ibn Zaid bin Nu’man, Ubay bin Ka’ab bin Qais, seorang yang sangat dipuji Nabi2 bacaannya. mgl. Di Madinah th. 22 H, Ubaib bin Mu’awiyah, dan Zaid bin Sabit, penulis wahyu Rasulullah dan juru bahasanya, mgl. th. 45 H. Zaid bin Sabit adalah seorang yang sangat dicinta oleh Nabi dan dihormati oleh Ahlil Baitnya.

Demikian bunyi satu riwayat tentang mereka yang mengumpulkan Qur’an dalam masa Nabi, yang kurang sempurna disempurnakan sesudah wafat Nabi. Banyak riwayat lain yang berbeda jumlah dan namanya, tetapi Al-Khawarizmi berdasarkan keterangan Ali bin Riyah menerangkan, bahwa yang lengkap mengumpulkan Qur’an dalam masa Rasulullah ialah Ali bin Abi Thalib dan Ubay bin Ka’ab.

Riwayat-riwayat menunjukkan, bahwa Ali bin Abi Thalib adalah orang yang mula-mula menulis Qur’an menurut tertib turun ayat, mencatat ayat mansukh terlebih dahulu dari nasikh dan memberikan catatan2 lain dalam mashafnya. Hal ini diceriterakan juga oleh Ibn Sirin.

Juga dibenarkan oleh Ibn Hajar, bahwa A l i menyusun Qur’an menurut tertib turun ayat, beberapa waktu dibelakang wafat Nabi Muhammad. Dalam kitab Syarh Al-Kafi Salih Al-Quzwini dari Ibn Qais Al-Halali menerangkan, bahwa Ali bin Abi Thalib sesudah wafat Nabi tidak keluar dari rumahnya karena menyusun Qur’an dan mengumpulkannya sampai selesai semuanya. Kemudian ia menulis catatan ayat-ayat nasikh dan mansukh, ayat-ayat mukhamah dan mutasyabih.

Kata Imam Muhammad bin Muhammad bin Nu’man, salah seorang ulama Syi’ah terbesar, dalam kitabnya „Al-Irsyad”, bahwa A l I dalam mashafnya mendahulukan ayat-ayat mansukh dari ayat-ayat nasikh, dan menulis ta’wil ayat-ayat serta tafsirnya dengan terperinci.

Syahrastani dalam mukaddimah Tafsirnya menerangkan, bahwa semua sahabat sepakat ilmu Qur’an itu khusus buat Ahlil Bait. Beberapa sahabat bertanya kepada Ali bin Abi Thalib, apakah ilmu pengetahuan Qur’an hanya dikhususkan kepada Ahlil Bait. Ali menjawab, bawa ilmu tentang Qur’an, masa dan sebab-sebab turunnya begitu juga ta’wilnya, khusus buat Ahlil Bait, karena merekalah orang-orang yang terdekat dengan Nabi Muhammad (Az-Zanjani, Tarikhul Qur’an, Cairo. 1935. hal. 26).

AHLI TAFSIR SYI’AH.

Baik orang Syi’ah maupun orang ahli Sunnah menganggap Ali bin Abi Thalib adalah ahli tafsir Qur’an yang pertama dim. Sejarah Islam karena ia masih mendapati Nabi yang selalu memberi petunjuk dalam pengertian dan ta’rif daripada wahyu-wahyu Tuhan yang mentaati paham manusia biasa. Sudah kita katakan, bahwa Ali tidak saja berjasa mengawasi pengumpulan ayat-ayat Qur’an, tetapi juga mempunyai pengetahuan tentang sejarah turunnya ayat dan surat, tentang ayat hukum dan mutasyabih, ayat nasikh dan mansukh, bahkan ada riwayat yang mengatakan, bahwa ia mempunyai enam puluh macam ilmu Qur’an, dan sebagaimana yang sudah kita katakan, mashafnya penuh dengan catatan2, seperti masih dapat dilihat beberapa lembar dari padanya dalam perpustakaan di Nejef.

Seperti sudah kita terangkan bahwa Ali bin Abi Thalib adalah salah seorang sahabat yang paling banyak meriwayatkan tentang Qur’an, sedang Ibn Abbas yang menjadi murid A l i , pernah berceritera, bahwa Ali bin Abi Thalib adalah orang yang sangat tahu tentang ilmu lahir dan ilmu ghaib dari Al-Qur’an yang mulia. Sejarah hidup Ali tidak kita ulang lagi disini.

Salah seorang dari Ahli Tafsir Syi’ah adalah Ubay bin Ka’ab dari golongan Anshar. Sayuthi menghitungnya dalam karangannya yang terkenal „Al-ltqan” termasuk jumlah sepuluh orang ahli tafsir dari sahabat kurun pertama, dan Nabi sangat mencintainya. Ia meninggal tahun 30 H.

Abdullah bin Abbas adalah anak paman Nabi, yang sejak kecil sudah diramalkan oleh Nabi menjadi seorang ahli ilmu Qur’an, dan juga yang oleh Sayuthi dimasukkan sahabat sepuluh kurun pertama, yang hafal dan ahli Qur’an. Ada orang mengatakan bahwa ia orang yang ahli tentang tafsir daripada Tabi’in Mekkah. Tafsirnya sampai sekarang masih didapat orang dan terkenal dengan „Tafsir Ibn Abbas”, ia meninggal th. 68 H . Orang-orang Syi’ah menganggap tafsir itu mu’ tamad dan banyak digunakan untuk menguatkan pendirian-pendiriannya.

Dari golongan Tabi’in sesudah itu kita sebutkan nama-nama Maisam bin Jahya at-Tamanar (mgl. 60 H.), seorang khatib Syi’ah yang terkenal di Kuffah dan seorang ahli ilmu Kalam : Said bin Zubair (mgl. 94 H) yang pernah menyusun sebuah tafsir Qur’an dan banyak dipetik orang pendapatnya. Abu Saleh Miran dari Basrah (mgl. Sesudah abad pertama hijrah), murid Ibn Abbas, Thaus Al-Yamani (mgl. 106 H). Juga murid Ibn Abbas, yang oleh Ibn Taymiyah, Ibn Quthai bah dli sangat dipuji kecerdasannya dan dimasukkan kedalam golongan sahabat A l i .

Kemudian dapat kita sebutkan sebagai ahli-ahli yang ulung ialah Imam Muhammad al-Baqir (mgl. 114 H.), Ibn Nadim banyak menyebutkan nama-nama kitabnya mengenai tafsir dan ilmu-ilmu Qur’an yang lain. Abdul Jarud, seorang Syi’ah yang terkenal banyak meriwayatkan.

sesuatu dari Al-Baqir mengenai Qur’an. Tidak kurang pentingnya kita sebutkan nama Jabar bin Yazid Al-Ju’fï, yang menulis juga sebuah tafsir dan ia meninggal tahun 127 H. Suda Al-Kabir, nama yang sebenarnya Isma’il bin Abdurrahman, juga mempunyai sebuah tafsir yang oleh banyak orang dijadikan sumber keterangan mengenai ilmu Qur’an. Untuk jangan keliru kita bedakan antara Suda As-Saghir bukan seorang Syi’ah dan Suda Al-Kabir adalah seorang ahli tafsir Syi’ah yang terkenal (mgl. 127 H).

Saya tidak ingin menyebutkan semua ahli tafsir Syi’ah itu disini dengan perincian sejarah hidupnya, karena terlalu banyak. Dari penyelidikan saya dan dibenarkan oleh beberapa keterangan Ahli sejarah Islam, ternyata orang-orang Syi’ah banyak terkenal sebagai ulama dalam segala bidang, dan giat mengarang dalam bermacam-macam ilmu sejak hari-hari pertama fatsu kurun pertama.

Terutama dalam ilmu Qur’an yang pada waktu itu merupakan persoalan yang sangat penting, banyak terdapat pengarang-pengarang Syi’ah yang tcrkemuka. Sedangkan selanjutnya sebagai ahli tafsir kita sebutkan Abu Hamzah As Samali. Tabi’in dan meninggal 150 H., Abu Jamadah As-Saluli (mgl. pada pertengahan abad ke II H.) Abu Ali Al-Hariri (mgl. idem), Abu Alim bin Faddal, Abu Thalib bin Shalat (mgl. akhir abad ke-II), Muhammad bin Khalil Al-Barqi (mgl. idem), Hisyam bin Muhammad As-Said Al-Kalbi (mgl. 206 H), Al Waqidi (mgl. 207 H.), Yunus bin Abdurrahman Ali Yatin, Hasan bin Mahbub As-Sarrad (mgl. 224 H.), Abu Usman Al-Mazani (mgl. 248 H.), Muhammad bin Mas’ud A/-Ayasyi, Farrad bin Ibrahim, Ali bin Mahziar Al Ahwazi, Husain bin Said Al-Ahwazi, Hasan bin Ahwazi, Hasan bin Khalid Al-Barqi Ibrahim As-Saqafi meninggal 283 H.

Ahmad bin Asadi, hampir semua keluarga Al-Qummi mengarang tafsir. Al-]aludi, As-Suli, Al-Dlurjan’, Al-Musawi, Ibn Nu’man, At- Thusi, At-Tabrasi, Ar-Rawandi (mgl. 573 H.) M-Fatital Asy-Syirazi (mgl. 948 H.), As-Sabzawari (mgl. 910 H.), Azwari Al-Masyadi, Al- Hamdani, Al-Bahrani (mgl. 1107 H.) Jawad bin Hasan Al-Balaghi (mgl. 1302 H), dll. masing-masing menerangkan tafsir Qur’an yang ditinjau dari segala sudut ilmu. Ada yang lucu, kadang-kadang orang Salaf yang menamakan diri anti Syi’ah, menggunakan tafsir Syi’ah dengan tidak mengetahui pengarangnya.

Sebagaimana dalam ilmu tafsir, kita dapati pengarang-pengarang Syi’ah yang ulung dalam ilmu Qur’an yang lain, misalnya dalam ayatayat hukum khusus mengenai mashaf Syi’ah seperti pengarang Al-Kalbi, (mgl. 146 H.), Ar-Rawandi (mgl. 573 H.), As-Sayuri (mgl. 792.), Al-Ardabli (mgl. 993 H.), Al-Kazimi (mgl. abad ke-II H).

Astrabadi (mgl. 1026 H.), Al-]azairi (mgl. 1151 H.), dll. yang kitabnya sekarang dipakai diseluruh dunia. Juga dalam ilmu Qur’an lain terkenal ulama2 Syi’ah misalnya mengenai ayat-ayat Mutasyabih, seperti Hamzah bin Habib (mgl. 156 H.), meskipun menurut Sayuti orang yang mula-mula mengarang dalam ilmu ini ialah A)l-Kasa’i (mgl. 182 H.), kedua-duanya adalah

juga ahli Qira’at Tujuh. Kemudian terkenal namanya Muhammad bin Ahmad Al-Wazir (mgl. 433 H.), Ibn Syahrassyaub al-Muzandra (mgl. 588 H.), dll.

Dalam Gharibul Qur’an adalah Aban Ibn Tughlab (mgl. 141 H.), Ada orang mengatakan Abu Ubaidah (bukan Syi’ah), tetapi Abu Ubaidah meninggal tahun 200H, kemudian dari masa Ibn Tughlab. Selanjutnya yang mengarang dalam bidang ini ialah Muftadhall Salmah, Ibn Darid (mgl 321 H.), Abu Hasan al-Adawi Asy-Syamsyathi (mgl. permul. abad ke-IV), semuanya ulama Syi’ah.

Karangan-karangan mengenai Asbabun Nuzul dihari-hari pertama juga diperbuat oleh golongan Syi’ah, seperti Ibn Abbas (mgl. 67 H), Muhammad bin Khalid ai-Barqi (mgl. akhir abad ke-IT H), Ibrahim bin Muhammad As-Sakaji (mgl. 283 H) Abdul Azis bin Yahya al-Jaludi (mgl. 330 H), Ibnul Hijam dalam abad yang ke-IV juga semuanya ulama Syi’ah.

Selanjutnya mengenai nasikh dan mansukh juga yang mula-mula dan banyak mengarang orang-orang Syi’ah, seperti Abdurrahman al-Asam (abad ke-II), Ad-Damiri (abad ke-Il), Ibn al Kadri mgl. 246 H) atau anaknya Hisyam (mgl. 207 H), Ibnal Fadhal mempunyai kitab nasikh dan mansukh, sebagaimana Al-Qummi, baik Ahmad bin Muhammad maupun A l i bin Ibn Ibrahim, selanjutnya pengarang Syi’ah yang pertama juga didalam bidang ini ialah Al-Jatudi (mgl. 330 H), dan Suduq bin Babuwaih al-Qummi (mgl. 381 H).

Dalam ilmu Majazul Qur’an yang memulainya ialah ulama Syi’ah, seperti Ibn al-Mustanir (mgl. 206 H.), pendeknya dalam segala bidang ilmu Qur’an, seperti ilmu mengenai pembagian Qur’an ilmu mengenai perhentian membaca dan menyambung ayat Qur’an, ilmu mengenai wakaf, ilmu mengenai i’rab, ilmu mengenai sejarah titik dan baris, ilmu mengenai fadilat membaca Qur’an (ada yang mengatakan Ubai bin Ka’ab yang meninggal 30 H), ada yang mengatakan Muhammad Idris Asy-Syafi’i (mgl. 204 H), ilmu bermacam-macam qira’at ilmu tadwid, dan ilmu-ilmu lain mengenai kitab suci, yang terbanyak ditulis oleh ulama-ulama Syi’ah dan mereka juga yang memulainya.

Mengenai nama-nama kitabnya saya tidak sebutkan disini, karena sangat banyaknya. Saya hanya mempersilahkan saudara membacanya dalam kitab “A’yanusy Syi’ah”, Jus I, bahagian ke-2, halaman 53 – 74 (Beint, 1960).

HADITS DAN JA’FAR SHADIQ

Dalam uraian-uraian yang telah lalu, telah kita jelaskan, bahwa kedudukan Imam Jafar As-Shadiq mengenai pendidikan ulama2 Ahlul Hadits dan ahlul Ra’yi atau Ahlul Qiyas, yang lama-kelamaan merupakan imam-imam mazhab yang terpenting seperti Malik bin Anas dan Abu Hanifah dll. Mashaf-mashaf itu ada yang menggabungkan dirinya dalam ikatan Ahlus Sunnah, ada yang dalam ikatan mashaf Ahlul Bait, karena dalam hukum fiqh ingin melanjutkan cara berfikir Imam Ja’far As-Shadiq, yang mereka namakan Fiqh Al-Ja’far, dengan mengutamakan hadits-hadits riwayat Ahlul Bait atau perawiperawi dari ulama-ulama Syi’ah sendiri.

Dalam salah satu bahagian kita sudah jelaskan, bahwa tidak kurang dari empat ratus orang muridnya yang mengarang kitabkitab fiqh menurut jalan ini. Usul fiqh untuk mashaf Al-Ja’far ini, yang terkenal dengan pokok persoalan empat ratus, dikumpulkan dalam empat buah kitab besar, yang masing-masing bernama A\l-Kafi, Al-lsttbsar, At-Tahzib dan Ma La Yahduruhul Fiqh. Inilah kitab-kitab hadits yang terbesar dan menjadi pokok bagi ulama-ulama Syi’ah yang terkenal dengan Kitab Empat sebagaimana terkenal dengan Kitab Enam dalam pengumpulan hadits bagi penganut Ahlus Sunnah.

Imam Ja’far As-Shadiq sangat bijaksana sekali dalam menciptakan ulama ulamanya, yang kemudian disiarkan keseluruh negara Islam untuk membasmi keyakinan-keyakinan yang salah, memerangi sifat ilhad dan zindiq, berdebat tentang aqidah yang tidak benar, mengalahkan firqah-firqah yang menyeleweng dari ayaran Islam dalam masa pancaroba dan zaman kekacauan politik dan agama itu. Ulama-ulamanya terdapat di Irak, Khurasan, Harnas, Syam, Hadramaut, dll, terutama di Kufah dan Madinah dimana bibit keyakinan Syi’ah ini sudah tertanam dan tumbuh dengan suburnya.

Imam Ja’far mempersiapkan ulama2 muridnya menurut pembawaannya masing2 dan menurut kebutuhan daerah. yang mengirimkan utusan kepadanya. Oleh karena pengetahuannya sangat luas dalam segala bidang, mudah baginya melakukan hal yang demikian itu.Ulama-ulamanya ada yang diuntukkan mengajar, ada yang diuntukkan buat berdebat dsb.

Aban ibn Tughlab dikhususkan pendidikannya untuk ilmu fiqh, dan diperintahkan duduk dalam mesjid memberi fatwa kepada orang banyak dalam hukum fiqh, Hanaran bin A’yun ditugaskan menjawab masalah-masalah yang bertali dengan ilmu Qur’an, Zararah bin A’yun untuk berdebat dalam fiqh, Mu’min at-Thaq dalam masalah ilmu kalam, Thayyar dalam perkara amal ketaatan, Hisyam bin Hakam dalam berdebat mengenai immamah dan i’tikad Syi’ah dsb. Maka mengalirlah orang-orang itu ketiap-tiap kota untuk menghadapi manusia dan berda’wah menurut mashaf Ahlil Bait.

Tidak cukup tempat untuk menyebutkan nama ulama-ulama itu satu persatu, serta sejarah perjuangannya. Meskipun demikian beberapa tokoh terpenting akan kita bicarakan dibawah ini.

Aban bin Tughlab bin Rabah, yang digelarkan Abu Sa’id al-Bakri al-Jariri (mgl. 141 H.), adalah ulama yang sangat terhormat dalam kalangan Syi’ah. Ia pernah belajar pada Imam Zainal Abidin, Al-Baqir dan As-Shadiq. Ia mempunyai majlis pengajaran khusus dalam mesjid.

Ia ulama fiqh Imamiyah yang terkenal menurut pendapat Yaqut, meriwayatkan banyak hadits dari A l i bin Husain, Abu Ja’far dan Abu Abdullah, fasih bahasa Arab, banyak mengetahui tentang pengertian Al-Qur’an, menurut Ahmad ibn Hanbal boleh dipercayai benar ucapannya, seorang yang tinggi adabnya, hadits riwayatnya banyak diambil oleh Muslim, Tarmizi, Abu Daud, An Nasa’i dan Ibn Majah.

Diantara gurunya juga ialah Al-Hakam bin Utaibah al-Kindi (mgl. 115 H), salah seorang perawi dalam Kitab Enam hadits Ahlus Sunnah, Fudhail bin Umar al-Fuqaimi (mgl. 110 H, yang hadits Ahlus banyak dipetik oleh Muslim dan Abu Ishaq Umar bin Abdullah al-Hamdani (mgl. 217 H.), salah seorang ulama Tabi’in dan perawi Hadits dalam Kitab Enam.

Banyak muridnya tersiar dimana-mana dan menjadi ulama-ulama besar. seperti Musa bin ‘Uqbah al-Asadi (mgl. 141 H.), salah seorang yang riwayat haditsnya banyak dimuat dalam Kitab Enam, Syi’bah bin al-Hajjaj, Hammad bin Zaid al-Azadi, seorang ahli hadits yang terkenal (mgl. 197 H), mendapat pujian dari Ibn Mahdi dan Imam Ahmad tentang kejujurannya, Sufyan bin ‘Uyaynah, yang riwayat hidupnya sudah dimuat dimana-mana. Muhammad bin Khazim at-Tamimi (mgl. 195 H), juga banyak digunakan orang riwayat haditshaditsnya termuat dalam kitab Enam oleh Ahmad Ibn Hanbal, oleh  Ishak bin Rahuwaih, Ibn Madani dan Ibn Mu’in, terutama hadits2nya yang dihafalnya dari Al-A’masy, dan Abdullah ibn Mubarak al-Hanzali (mgl. 181 H), seorang ulama besar yang sangat dipercayai, pernah menyelidiki hadits dan menulisnya dari empat ribu ulama.

Semua ulama-ulama hadits ini dipuji oleh Ibn Hajar dan Al-Khazraji dalam kitab-kitabnya yang terkenal.Aban bin Tughlab menghafal tidak kurang dari tiga ribu hadits  dari Imam As-Shadiq, ahli dalam fiqh Al-Ja’fari atau mashaf Ahlil Bait, termasuk tokoh Syi’ah yang terpenting. Atas pertanyaan Abu Balad, Aban menerangkan, apa arti Syi’ah padanya. Katanya : “Syi’ah itu ialah golongan manusia yang memegang kepada ucapan Ali, apabila tentang sesuatu masalah dari Nabi dipertengkarkan orang sudah mempertengkarkan ucapan dan sikap A l i ” . (Asad Haidar, III; 57).

Diantara kitab-kitabnya ialah Gharibul Qur’an, mengenai Kitabul Fadha’il Kitab Ma’anil Qur’an, Kitabul Qira’at dan Kitabul Usul mengenai riwayat mashaf Syi’ah, dan banyak lagi yang lain-lain sebagaimana yang disebut dalam Fihra’at, karangan At-Thusi.

Diantara ulama yang terbesar juga, kita sebut Aban bin Usman al-Lu’lu’i (mgl. 200 H), berasal dari Kufah, pernah tinggal lama di Basrah, banyak hadits-haditsnya mengenai syair, keturunan dan hari hari penting bangsa Arab, berguru pada Abu Abdullah, Abdul Hasan, Musa bin Ja’far dll. Diantara kitabnya, yang disebutkan orang disanasini ialah Al-Mabda, Al-Mab’as, Al-Maghazi, Al-Wafah, As-Wafah, As-Saqifah dan Ar-Ridah (baca Mu’jamul Udaba’ 1.108 — 109, Lisa nul Mizan I ; 24, Fihrasat At-Thusi, hal. 18 dll). Banyak sekali muridmuridnya yang menyiarkan pahamnya kesana-kesini, tidak kita sebutkan disini seorang demi seorang. Ulama-ulama Syi’ah yang lain dalam fiqh diantaranya Barid bin Ma’awiyah al’Ajadi (mgl. 150 H), sahabat Al-Baqir, dan As-Shadiq, ahli hadits dan fiqh, mempunyai kedudukan istimewa dalam mashaf Ahlil Bait, termasuk golongan enam orang yang sangat ahli dalam hukum fiqh, yaitu Zararah bin A’yun, Ma’ruf bin Kharbuz, Barid Al-Ajali, Abu Basir al-Asadi, Fudhil bin Yassar dan Muhammad bin Muslim At-Tha’ifi. Ia banyak meriwayatkan hadits dari Imam Baqir dan Imam As-Shadiq, yang sangat memuji-muji dia. Barid adalah salah seorang penulis yang terkenal dalam masa Imam As-Shadiq. Kemudian kita sebutkan pula Jamil bin Darraj an- Nakko’i termasuk sahabat Imam As-Shadiq dan anaknya Abu Hasan Musa, banyak mengarang dan meriwayatkan hadits-hadits, begitu juga Jamil bin Salih al-Asadi, dicintai oleh Imam As-Shadiq dan anaknya Musa.

Lain dari pada itu juga kita sebutkan Hammad bin Usman (mgl. 190 H) dan Hammad bin Isa al-Juhni, kedua-duanya sahabat Imam As-Shadiq dan Imam Al-Kazim dan kedua-duanya ahli fiqh dan hadits Ahlil Bait.

Tidak kurang pentingnya kita sebut Hubaid bin Sabit at-Kahili, berasal dari Kufah (mgl. 122 H), salah seorang dari pada Tabi’in dan perawi Kitab hadits Enam, banyak meriwayatkan hadits dari Zainal Abidin, Imam Al-Baqir dan anaknya As-Shadiq, begitu juga tidak kurang pentingnya kita peringatkan Hamzah bin Thayyar, salah seorang ulama fiqh Syi’ah dan tokohnya dalam ilmu kalam, memperdebatkan persoalan-persoalan yang menguntungkan mashaf Ahlil Bait, banyak sekali murid-muridnya tersiar dimana-mana.

Meskipun demikian yang lebih penting lagi kita bicarakan disini adalah dua tokoh ulama Syi’ah yang terbesar yang dalam perkembangan paham mashaf Al-Ja’fari dalam segala bidang, yaitu Mu’min Thaq dan Hisyam bin Hakam.

Mu’min Thaq adalah Muhammad bin A l i bin Nu’man al-Bajali, berasal dari Kufah, sahabat kental dari Imam Ja’far dan pencintanya. Mu’min Thaq adalah gelarnya yang berarti mu’min yang serba sanggup, demikian kesanggupannya dalam segala ilmu, sehingga ia dapat mengalahkan Imam Abu Hanifah dalam banyak persoalan, dan sehingga Abu Hanifah ini menamakannya Syaithan Thaq, sedang yang kesanggupannya luar biasa. Ulama-ulama Khawarij oleh Mu’min Thaq ini dikalahkan semuanya, tidak ada seorangpun diantara mereka yang berdebat dengannya dapat bertahan.

Hisyam pernah menemui Zaid Ibn Zainal Abidin, Ali bin Husain Zainal Abidin, Ilmunya banyak sekali, terutama sangat alim dim. Ilmu fiqh, ilmu kalam, hadits dan gubahan sajak. Ia sangat pandai dalam berdebat dan menggunakan kata-kata, tajam pandangan dan pikirannya dalam meninjau persoalan agama. Sambil berniaga ia mengunjungi banyak kota-kota Islam dan menyiarkan mashaf Ahli Bait. Sebagai contoh kita sebutkan perdebatan antaranya dan Abu Hanifah.

Abu Hanifah : Apa hukum nikah mut’ah padamu ?

Mu’min Thaq : Halal.

Abu Hanifah : Apakah boleh anakmu dan saudara-saudaramu bernikah mut’ah dengan orang lain ?

Mu’min Thaq : Yang demikian adalah sesuatu yang dihalalkan Tuhan, apa boleh buat. Tetapi sobat bagaimana hukum bier padamu ?

Abu Hanifah : Halal.

Mu’min Thaq : Apakah engkau akan girang, jika anakmu dan saudaramu menjadi pemabuk bier ?

Mu’min Thaq menulis kitab berisi perdebatan antaranya dengan

Abu Hanifah. Meskipun isi buku itu merupakan sendagurau dan penggeli hati tetapi berisi hukum-hukum fiqh dan cara berfikir antara seorang ulama Ahluh-Ra’yi dengan ulama Ahlil Bait.

Ibn Nadim menyebut bahwa dia adalah ulama kurun keempat, karena ia meninggal dalam tahun 385 H . Diantara kitab-kitab yang dikarangnya ialah mengenai persoalan Imamah, Ma’rifat, penolakan terhadap Mu’tazilah mengenai Imam Mafdhul, mengenai kehidupan Thalhah, Zubair dan Aisyah, mengenai penetapan wasiat, sebuah kitab yang bergelar “Kerajaan dan jangan kerjakan”.

Sebagaimana sudah kita katakan bahwa ia termasuk orang yang sangat dicintai oleh Imam As-Shadiq, yang pernah berkata : “Ada empat orang manusia yang kucintai hidup dan matinya, yaitu Barid bin Mu’awiyah al-Ajali, Zararah bin A’yun, Muhammad bin Muslim dan Abu Ja’far al-Ahwal”.

Gelaran senda gurau Syaitan Thaq oleh Abu Hanifah kepada Muhammad Al-Bajali oleh musuh-musuhnya disiar-siarkan secara sebaliknya sehingga musuh-musuh Syi’ah memakai nama-nama itu untuk membuktikan kesesatannya.

Belum dapat kita tutup karangan ini sebelum kita sebutkan Hisyam bin Hakam, al-Kindi (mgl. 197 H), lahir di Kufah, beberapa waktu berdagang di Baghdad, kemudian ditinggalkannya usahanya dan pergi belajar kepada Imam As-Shadiq sampai menjadi seorang alim dan sahabat Imam Musa Al-Kazim.

Hisyam adalah seorang yang banyak sekali pengetahuannya tentang mashaf-mashaf dalam Islam, sangat luas ilmunya dalam filsafat, seorang ahli ilmu kalam Syi’ah yang ulung, seorang yang petah lidahnya dalam mempertahankan persoalan imamah bagi Syi’ah. Zarkali mengatakan, bahwa Hisyam bin Hakam adalah seorang ahli hokum fiqh, ahli ilmu kalam dan manthik. Dr. Ahmad Amin mengatakan bahwa. Hisyam bin Hakam adalah tokoh ilmu kalam Syi’ah terbesar, murid dari Ja’far As-Shadiq seorang yg tidak dapat dipatahkan alasannya, sehingga Imam As-Shadiq, pernah memuji kêpribadiannya : “Hai H i syam, engkau selalu dikuatkan pendapatmu dgn. roh suci”. Imam Ridha mengatakan : “Moga2 Allah memberi rahmat kepada Hisyam, karena ia adalah seorang hamba yang salih”. Harun ar-Rasyid memuji Hisyam demikian : “Lidah Hisyam lebih dapat menghancurkan jiwa manusia daripada seribu pedang”.

Tatkala ia mendekati Imam As-Shadiq, orang besar ini segera melihat bahwa Hisyam seorang yg cerdas otaknya, seorang ikhlas dan seorang yang beriman, oleh karena itu lalu dididiknya Hisyam sampai menjadi seorang besar dalam ilmu pengetahuan menurut mashafnya, seorang tokoh filsafat, seorang yang bersih aqidahnya, yang dapat mempertahankan mashaf Ahlil Bait dari pada serangan-serangan aliran-aliran Islam lain yang memusuhinya, yaitu aliran-aliran yangsudah banyak dipengaruhi oleh filsafat Yunani.

Hisyam ahli dalam ilmu fiqh, hadits dan tafsir, dan banyak meriwayatkan hadits-hadits dalam segala bidang hukum. Didalam kitabkitab hadits dan fiqh banyak disebutkan riwayatnya, diantara lain oleh As-Sirfi, Al-Ajali, Al-Yaqthain dll. Ia banyak sekali mengarang kitab2 dalam segala bidang ilmu, diantara lain, sebagaimana yg. Disebutkan oleh Ibn Nadim, mengenai imamah, mengenai falsafat, mengenai penolakan terhadap orang2 zindiq, penolakan-penolakan terhadap musuh Syi’ah, mengenai Jabariyah dan Qadariyah dll. yang tinggi nilai dan mutunya.

Yang lebih aneh tentang dirinya ialah bahwa ia dapat membawa dirinya diterima oleh Harun ar-Rasyid dan oleh golongan Syi’ah. Untuk mengetahui, betapa hati-hati ia mengeluarkan pendapat-pendapatnya agar orang-orang mengerti tetapi tidak tersinggung perasaannya, kita sebut suatu percakapan antara Harun ar-Rasyid dengan Hisyam sebagai dibawah ini :

Harun ar-Rasyid: Hai Hisyam, tahukah engkau bahwa Ali pernah mengadukan Abbas kepada Abu Bakar ?

Hisyam : Sungguh ada. Harun ar-Rasyid : Mana yang lazim terhadap sahabatnya, Ali-kah atau Abbas ? (Hisyam sadar akan dirinya, bahwa persoalan ini untuk memancing sikapnya. Jika ia mengatakan Abbas yg zalim ia dianggap menghinakan Rasyid, Jika ia mengatakan Ali yang zalim ia merusakkan keyakinannya sebagai orang Syi’ah. KemudianHisyam berfikir dan mengeluarkan pendapatnya).

Hisyam: Kedua-duanya tidak zalim. Harun ar-Rasyid : Jika tidak ada yang zalim, bagaimana masuk di ‘akal, kedua-duanya datang mengadu pada Abu Bakar ?

Hisyam: Boleh saja daulat tuanku. Dua orang malaikat pernah mengadu nasibnya kepada Nabi Daud, sedang tak ada seorang diantaranya yang zalim, tetapi kedua-duanya ingin hendak memperingatkan suatu kejadian. Demikian pula Abbas dan Ali datang kepada Abu Bakar, datang hendak memperingatkan suatu kejadian, sedang keduaduanya tidak ada yang zalim.

Jawaban ini rupanya sangat mendapat penerimaan pada Khalifah Harun ar-Rasyid, dan oleh karena itu ia termasuk orang yang disenanginya, meskipun dalam bathinnya ia tetap mencintai A l i dan keturunannya.

Demikian beberapa patah kata tentang keistimewaan Hisyam sebagai ulama terbesar dan tokoh terpenting dalam mashaf Ahlil Bait. Ia dicintai oleh ulama-ulama dari aneka mashaf dan aliran, baik oleh musuh maupun oleh kawannya. Tuduhan-tuduhan Jahiz, dan dibelakang ini Dr. Ahmad Amin, bahwa Hisyam bin Hakam adalah penganut aliran Rifdhi dan membenci semua sahabat Nabi, oleh golongan Syi’ah tidak dapat diterima. Yang jelas adalah, bahwa Hisyam mencintai Ahlil Bait dan menyiarkan kecintaan ini dalam ajaran-ajarannya.

KEDATANGAN ISLAM DI NUSANTARA.

Kedatangan Islam di Nusantara sama dengan waktu kedatangan orang-orang Syi’ah ketempat ini, baik sebagai pedagang, maupun sebagai pengembara atau ahli da’wah, baik memakai nama Arab, maupun sudah merupakan keturunan orang-orang Persia atau India. Dr. C. Snouck Hurgronje menceriterakan dalam bukunya “De-Islam in Nederlandcsh-Indie” Serie II, No. 9 dari “Groote Godsdiensten” tentang masuknya Islam ke Nusantara sebagai berikut :

Tatkala raja Mongol Hulagu dalam thn. 1258 M. menghancurkan Baghdad yang lebih daripada lima abad lamanya merupakan Ibu negeri kerajaan Islam, kelihatan seakan-akan kesatuan kerajaan-kerajaan Islam itu lenyap. Hanya setengah abad sebelum kejadian yang penting itu berlaku, Islam dengan secara tenang berkembang dan masuk kepulau-pulau Nusantara dan sekitarnya. Perkembangan ini tidak dicampuri oleh sesuatu usaha Pemerintah mana juapun. Negara-negara pesisir Sumatera, seluruh Jawa, keliling pantai Borneo dan Sulawesi, begitu juga beberapa banyak pulau-pulau kecil yang lain, satu-persatu dimasuki oleh Islam, terutama dengan usaha saudara-saudara Islam atau orang-orang Islam yang ingin memperoleh tempat tinggal yang baru, datang dari daerah sebelah Barat. Usaha itu dibantu pula oleh anak negeri yang sudah masuk Islam didaerah pesisir, sebagian turut menyiarkan da’wah agama itu kedaerah pedalaman, dan sebahagian lagi pergi berlayar menyiarkan keyakinannya yang baru itu kepulaupulau yang terdekat, baik secara damai maupun secara jihad.

Batu-batu nisan yang bertulis, yang memuatkan ceritera-ceritera lama dalam kalangan anak negeri, begitu juga catatan-catatan yang ditinggalkan oleh seorang Venesia, Marco Polo, dari abad ke-XIII, begitu juga kisah pelayaran dari seorang peninjau Arab, Ibn Bathuthah, yang masih tersimpan sejak abad ke XIV, menerangkan kepada kita akan adanya sebuah kerajaan Islam di Sumatera Utara, bernama Pasé. Tentang masuknya Islam ke Minangkabau, ke Palembang, ke-Jambi dan kedaerah-daerah pesisir yang lain dari pulau itu, tidaklah kita ketahui pada permulaannya dengan kenyataan-kenyataan yang dapat kita percaya. Tentang kedatangan Islam di Jawa, akan kita bicarakan nanti dibawah ini.

Di Jawa kejatuhan kerajaan Hindu Majapahit kira-kira dalam th. 518 M., merupakan hasil yang gilang-gemilang bagi perjuangan yang gigih oleh mubaligh anak neger; sendiri, yang umumnya dinamakan Wali Sembilan (Wali Songo). Dalam abad ke-XVI itu juga telah berdin di Jawa kerajaan-kerajaan Islam Mataram, Banten dan Cirebon, yang meng-Islamkan seluruh rakyatnya.

Tentang pengetahuan mengenai masuknya agama baru ini kepulau-pulau yang lain, kita umumnya hanya mempunyai sumbersumber penerangan yang berasal dari anak negeri semata-mata, yang tefdiri dari dongeng-dongeng mengenai tempat kejadian sejarah, begitu juga beberapa kejadian-kejadian dan beberapa silsilah yang tidak lengkap. Isinya daripada dongeng-dongeng yang menceriterakan tentang orang-orang masuk Islam itu hampir semuanya ada bersamaan.

Seorang Wali Islam, biasanya datang dari negeri asal Islam, negeri Arab, mendapat mimpi diberi perintah oleh Nabi Muhammad, untuk berangkat dengan segera kesuatu daerah orang khafir, yang tidak berapa jauh letaknya dari tempat itu. Kedatangannya kenegeri tersebut biasanya sudah diumumkan kepada beberapa orang penduduknya, baik dengan mimpi atau dengan tanda alamat yang lain. Wali itupun berangkatlah, dan perjalanannya terjadi dalam sekejap mata, tak ada suatu rintangan-pun yang menghalanginya, gunung tidak lautpun tidak merintangi perlawatannya. Dengan keajaiban yang luar biasa, melebihi sihir2 orang khafir itu, wali yang suci itu dengan segera dapat mengembangkan ajaran Nabi Muhammad dan memperbanyak pemeluknya. Maka seketika itu juga berduyun-duyunlah orang-orang kafir itu datang menemui wali yang suci itu untuk bersama-sama mengerjakan Sembahyang secara Islam.

Ceritera yang demikian itu berakhir, bahwa ajaran Islam dengan segera berkembang ditempat itu, baik dengan berjihad atas jalan Allah maupun dengan da’wah yang dilakukan secara damai. Demikian kata Dr. C. Snouck Hurgronje. Tentang cara berkembang Islam di Nusantara dan bangsa mana yang mula-mula membawanya kemari, ia menerangkan sbb:

Jauh sebelum lahir Islam sudah banyak datang orang-orang dari Hindustan yang mencari tempat tinggal (kolonisasi) di Jawa dan pulau-pulau yang terletak disekitarnya, serta membawa peradaban yang disiarkannya ditempat-tempat itu.

Sesudah orang-orang Hindu masuk Islam, maka orang-orang Hindu yang Islam ini meneruskan jalan penghidupan yang sudah ditempuh dahulu itu. Orang-orang inilah yang mula-mula memperkenalkan Islam kepada bangsa-bangsa kita diseluruh Nusantara. Kedalam orangorang Hindu ini, termasuk orang-orang Syi’ah, meskipun memakai nama Persia atau Hindu, seperti nama Ar-Raniri, terambil dari perkataan Render di India, tetapi ia adalah seorang dari ulama Ahlil Bait.

Baca karangan Dr. Tujimah. Selanjutnya dapat kita jelaskan, bahwa barangkali mungkin sebelum kedatangan ke Nusantara, mereka sudah pernah ada ditengah-tengah bangsa-bangsa Islam yang lain, dan mungkin pula sudah bertempat tinggal dahulu disalah satu daerah Nusantara, tetapi belum memperlihatkan pengaruh yang berarti tentang keyakinan baru itu. Maka dengan jalan itu dengan mudah Islam tersiar di Nusantara, karena orang-orang kita disebelah Timur ini telah mempelajari agama Hindu pada orang-orang Hindu yang sebelumnya dating kemari. Penduduk Jawa dan Sumatera tidak begitu sukar menyesuaikan diri dengan kehidupan orang Hindu dan agama Hindu.

Segala ceritera, bahwa didalamnya digambarkan kejadian-kejadian yang semasa dengan Nabi atau dengan khalifah-khalifahnya sebagai yang terdapat disalin dalam bahasa Melayu (Indonesia), mungkin sudah banyak menyimpang dari pada kejadian-kejadian yang sebenarnya.

Kedalam masyarakat Islam Nusantara dengan jalan itu sudah dimasukkan pengaruh-pengaruh aliran, misalnya pengaruh Syi’ah, sebagaimana yang terdapat didaerah-daerah pesisir Malabar dan koromandel juga terdapat di Nusantara seluruhnya. Meskipun dikatakan Islam disitu diajarkan menurut Ahli Sunnah, tetapi pemeriksaan menunjukkan, bahwa banyak masalah-masalah sehari-hari yang dipecahkan menurut mashaf Syi’ah. Lain dari pada itu terdapat disana

disini paham Sufi menurut Mashaf Hululiyah atau Wihdatul Wujud, sementara waktu terdapat pula dalam Iapisan rakyat rendah takhayul-takhayul yang tidak sedikit banyaknya.

Semua kejadian itu menunjukkan, bahwa Islam di Nusantara pada zaman Purbakala itu tidak diterima langsung dari orang Arab Perhubungan dengan Mekkah dan Madinah baru mulai terbuka dalam abad yang ke-VII, dan pada ketika itu terjadilah hubungan yang langsung antara kedua kota suci itu dengan penduduk Nusantara, yang naik haji dan belajar disana, meskipun terkenal dengan nama masyarakat ‘Jawa” yang tidak sedikit jumlahnya. Orang-orang inilah yang boleh dianggap mula-mula mempelajari Islam pada sumber daerah tempat lahirnya Nabi Muhammad. Mereka yang pulang ketanah airnya tidak sedikit kemudian membuka tantangan terhadap ajaran-ajaran dan cara berfikir, yang dimasukkan orang-orang sebelumnya melalui Hindustan mengenai Islam, sebagaimana kemudian kedatangan orangorang Arab dari Hadramaut ke Nusantara membawa pengaruh dalam cara meyakini Islam dan berfikir.

BILAKAH MASUK ALIRAN SYI’AH KE NUSANTARA.

Diatas sudah saya kemukakan pendapat penulis-penulis Barat dan Timur tentang masuk agama Islam ke Nusantara, yang dalam kalar.gan Mubaligh-mubaligh Islam itu terdapat Ahlil Bait atau orang2  Syi’ah.

Persoalan ini sudah saya kupas waktu diadakan “Seminar mengenai sejarah masuknya Islam ke Indonesia”, yang diadakan pada tanggal 17 sampai 20 Maret 1963 di Medan, dan pidato saya mengenai persoalan tersebut, yang berjudul “Berita tentang Perlak dan Pasai” dimuat dalam sebuah risalah besar yang diterbitkan oleh panitia Seminar, terutama dibawah pimpinan M . Said. Selain dari saya bicarakan tentang mubaligh-mubaligh Islam dizaman purbakala itu, yang terdiri

dari pada orang-orang Arab, Persia dan India saya jelaskan, bahwa kebanyakan dari pada mubaligh-mubaligh itu pada waktu tersebut memang berasal dari pada orang-orang, yang mengunjungi Aceh, dan Malaka, memasuki Nusantara dari Persia dan India, meskipun banyak diantaranya telah menggunakan nama-nama negeri-negeri tempat lahirnya di Persia dan di India itu. Dalam uraian saya itu saya telah mengambil beberapa kesimpulan, yaitu :

1. Islam ke Indonesia mula pertama di Aceh, tidak mungkin d;daerah lain,

2. Penyiar Islam pertama di Indonesia tidak hanya terdiri dari saudagar India dan Gujarat, tetapi juga terdiri dari mubaligh-mubaligh Islam dari bangsa Arab,

3. Diantara mashaf pertama dipeluk di Aceh ialah Syi’ah dan Syafi’i,

4. Pemeriksaan yang teliti dan jujut akan dapat menghasilkan tahun yang lebih tua untuk sejarah masuknya agama Islam ke Indonesia.- Sebagai keterangan ialah karena Aceh itu merupakan pelabuhan yang pertama disinggahi kapal-kapal layar yang masuk ke Nusantara dari Hadramaut dan Gujarat. dan kemudian meneruskan pelayarannya ke Malaka, diantaranya ada yang berlayar ke Cina, seperti Marcopolo, Ibn Batuthah, dan Soelaiman,’ ) seorang Arab pelancong yang terkenal, dan sebaliknya kapal-kapal ini mengangkut orangorang dari Nusantara dari Aceh ke Mekkah, sehingga oleh karena itu Aceh itu dinamakan “Aceh Serambi Mekkah” 1 ) Lih. “Sejarah perkembangan Islam di Timur Jauh”, karangan Sayydd Alwi bin Thahir Al-Haddad, (Jakarta, 1957; hal. 9 dst.)

(Nama “Aceh tanah rencong” adalah nama yang diberikan pada daerah ini dalam masa peperangan dengan Belanda). Begitu juga jemaah Haji yang datang dari Jawa atau dari daerah Indonesia Timur, berkumpul dulu di Aceh, dan dari sana barulah berangkat dengan kapalkapal Gujarat itu ke Arab. Di Kuala Aceh masih terdapat sebuah kampong yang bernama “Kampong Jawa”, yang didalamnya tidak terdapat seorangpun, yang berasal dari Jawa.

ad. 2. Mengenai keadaan mubaligh-mubaligh dari Arab ke Indonesia, diantara kitab-kitab sejarah yang dikarangkan oleh Nabi ketimuran Belanda, banyak juga diceritakan dalam kitab “De Hadramieten in Ned. — Indie”, karangan S.A. Al-Attas, dan kitab-kitab lain, yang saya ceriterakan kembali secara ringkas dalam kitab “Sejarah Hidup A.W- Hasyim”, pada waktu saya membahas gerakan “Ar-Rabithah Al-Alawiyah” dan gerakan “Al-Irsyad”.

Keterangan yang lebih tua mengenai kedatangan mubaligh dari Persia dan India ke Nusantara, dapat kita baca dalam penyelidikan, yang dilakukan oleh dua ahli sejarah, yaitu Sayyid Moestafa At-Thabathaba’I dan Sayyid Dhiya’ Shahab yang terjadi sekitar bulan November 1960, berjudul “Hubungan Kebudajaan Indonesia — Iran” (Haulal ‘Alaqatith Thaqafiyah Baina Iran wa Indonesia), yang diterbitkan dalam th. 1339 oleh “The Iranian Cultural Office Jalan Budi Kemuliaan 4 A Jakarta — Indonesia”.

Diantara lain ia berkata : “Dekat Surabaya terdapat sebuah kota Gresik namanya, sebuah kota yang bersejarah di Jawa Timur. Di kota itu kami lihat bekasbekas yang sudah tidak terurus dan kuburan lama dari penyebarpenyebar Islam dan Alim Ulama, diantaranya kuburan Maulana Malik Ibrahim, yang wafat dalam th. 822 H. atau 1419 M. Beliau adalah boleh jadi seorang Iran asal dari Kashan. Dr. H.J de Graaf dalam bukunya “Geschiedenis van Indonesia”, hal. S7, menulis a.1. : Malik Ibrahim dalam mulut rakyat disebut “Orang Barat” ia ternyata masih dipandang sebagai seorang asing sangat boleh jadi seorang pedagang Persia asal dari Gujarat, yang masih belum begitu menjadi kaulanegara di Jawa, sehingga masih perlu didatangkan batu nesan dari negara asalnya seperti yang telah terjadi dengan raja-raja kecil di Sumatera Pantai Utara. Ketika saya melihat-lihat dan jalan-jalan diantara kuburan-kuburan itu, sedang matahari akan masuk, keperaduannya ,disebelah Barat, teringatlah saya akan kata-kata Imam Zainul Abidin, yang dalam bahasa Indonesianya k.1. seperti berikut “Tangan malaikat telah mencabut beberapa nyawa -dari abad ke-abad dan merobah duma ini dan membenamkan dalam tanah dari’ mereka yang saya kenal.

Bermacam-macam orang itu semua diantar kannya kedalam tanah. Hai jiwa, sampai kapankah kau bersandar atas kehidupan dan atas dunia ini dan kau perhaiikau kemakmurannya saya ? Apakah engkau tidak menarik pclajaran dari masa yang lalu dan ingat akan beribu-ribu orang yang; sudah tertutup oleh tanah dan sahabat-sahabatmu yang telah dipindahkan kedunia baka ? Lihatlah ummat-ummat yang lalu, zaman-zaman yang lampau» rajaraja yang kejam, dihancurkan oleh zaman, dihapus oleh mati, tanpa bekas didunia, dan hanya diceritanya saja yang masih ada. Mereka semua menjadi tulang, hancur lebur dalam tanah, rumah-rumah dan istana-istananya menjadi kosong ” Di kota Gresik kami bertemu dengan salah seorang yang terkenal, yaitu Sayyid Hasyim Asegaff. Dengan beliau kami banyak berbicara tentang soal-soal Syi’ah dan buku-bukunya.

Kuburan-kuburan penyebar Islam yang dulu dan ulama-ulama yang banyak terdapat di Indonesia. Di Sumatera Utara umpamanya dulu ada kuburan raja-raja dan penyebar Islam dll., tetapi banyak yang sudah hilang. Suatu pandangan yang menyedihkan.

Diantara ulama-ulama Iran yang ada kuburannya ialah Sayyid Syarif Khair bin Amir Ali Istrabadi, yang wafat dalam th. 833 H. dan Na’ina Husain al-Din. Diatas kuburan Na’ina Husain al-Din ini terdapat tulisan Persia, syair Muslihuddin Sa’id.

Setelah saya kembali dari Surabaya saya berniat untuk mempelajari soal-soal ini. Saya cari keterangan-keterangan di perpustakaanperpustakaan dan dimusium-musium dan saya mendapat tulisan Dr. H.K.J. Cowan tentang kuburan ini, yang membuktikan bekas-bekas kebudayaan Iran dan bahasa Iran dikepulauan ini.

Karangan Dr. K.H.J. Cowan yang dimaksud oleh kedua penyelidik Islam Ath-Thabathaba’i dan Dhiya Shahab ini berjudul “A Persicm Inscription in Nort Sumatra”, yang dimuat dalam Majalah “Tijdschrift voor Taal-, Land en Volkendunde, Deel LXXX, 1940″.

Pedagang-pedagang Iran dan India sering kali datang kenegeri Indonesia. Ahli sejarah juga menyebutkan bahwa dipasar-pasar Banten Lama banyak terdapat pedagang Iran dan Khorasan (bangsa Iran juga), yang mendagangkan batu-batu berharga dan obat-obat. Orang-orang Arab dan Iran melintasi lautan kepulau-pulau ini dalam abad ke-X untuk berdagang dan menyiarkan agama Islam.

Pelayaran itu bertambah banyak ke Tiongkok pada zaman raja Chu ïsang, dan dipasar-pasar Pasai di Sumatra banyak terdapat pedagang- pedagang asing. diantaranya orang-orang Iran. Dalam sejarah disebutkan bahwa kapal-kapal dari Timur Jauh telah mengunjungi teluk Persia dan sudah tentu kapal-kapal itu menyinggahi kota-kota kedua pesisir pantai teluk itu.

RAJA-RAJA DARI KETURUNAN SYI’AH ATAU AHLIL BAIT DI NUSANTARA

L-W-C- van den Burg, dalam bukunya, “Le Hadramaut et les Arabs et India”, mengatakan : “Adapun hasil yang nyata dalam penyiaran agama Islam adalah dari orang-orang golongan Sayyid dan Syarif. Dengan perantaraan mereka, agama Islam tersiar diantara rajaraja Hindu di Jawa dan suku-suku yang belum beragama. Selain dari mereka ini, ada juga penyiar-penyiar Islam itu datang dari Arab Hadramaut”.

Sayed Alwi bin Tahir Al-Haddad, memberi komentar atas keterangan ini dalam kitabnya “Sejarah Perkembangan Islam di Timur Jauh” (Jakarta, 1957), bahwa agama Islam tersiar dan berkembang di Sumatera sedikit demi sedikit, sebagaimana tersiarnya Islam di Malabar dan Koromandel, dan diantara penyiar-penyiar agama Islam yang terkenal, banyak sekali diantara mereka adalah suku Sayid (Alawi). Pengarang ini mengemukakan, bahwa An-”Nihyatul Arab Fi Fununil Adab” dan Al-Dimasyqi, dalam kitabnya “Nuchbatuddahr Fi Ajaib el bar war bahr”, pernah menyebut tempat-tempatnya tersyiar agama Islam pada hari-hari pertama itu, yaitu dipulau-pulau “Hindia Timur” sampai ke India, dipulau Surandib (Sailan), antara Saribazah (Sri Wijaya) di Sumatera, dan Kelah (Kedah) di Semenanjung Melayu dan terus kepulau Zabaj atau Ranj (Kalimantan).

Ditempat-tempat tersebut berakarlah agama Islam itu, dan sebagai akibatnya tegaklah kerajaan-kerajaan kecil yang merupakan pemerintahan. Menurut sejarah keturunan sultan2 Brunai yang dimuat dalam the Journal of the Straits Branch of the Royal Asiatic Society di Singapore No. 1 sampai 5 thn. 1878 — 1880, yang disimpan di Raffles Library, dikatakan bahwa penyiar-penyiar agama Islam disana terdiri dari suku Sayid Syarif yang terikat dengan keluarga sultan-sultan di pulau-pulau Filipina.

Dalam sejarah Serawak juga dikatakan bahwa Sultan Barakat berasal dari keturunan Sayidina Hussein bin A l i (“A History of Serawak under two whit Rajabhs” S. Baring Gould, Raffles Library, Singapore).

Demikianlah terdapat riwayat raja-raja disekitar Mindanau, di Manila, dan di Sulu. Di Pontianak sampai sekarang masih terdapat keturunan raja-raja dari suku Al-Gadri. dalam silsilah, bahwa nenek moyang Sultan-sultan Brunei, Sulu dan Mindanau adalah kakak beradik dari pada keturunan Syarif Ali Zainal Abidin, keturunan Nabi Muhammad yang pindah dari Hadramaut, Arab Selatan ke Johor, Malaya Selatan dan berkembang disekitar daerah ini.

Diatas sudah diterangkan raja-raja di Aceh, yang nisannya menyebut gelar Al-Malik atau Raja, misalnya ada nisan yang terdapat di Blang Me, pada kuburan Al-Malik Al-Kamil (mgl. 7 Jumadil Awal 607 H/1210 M). Disampingnya terdapat kuburan Ya’cub, saudara misannya, yaitu seorang Panglima yang meng-Islamkan orang-orang Gayo dan beberapa suku di Sumatera Barat (mgl. 15 Muharram 630H/ 1237, M.)- Kemudian terdapat disana kuburan Al-Malik As-Salih, yang sudah dibicarakan diatas oleh Thabathaba’i dan Dr. Cowan, dengan nama Na’ina Husamuddin atau Husainnuddin (saya juga pernah melihat kuburan ini, dan saya tidak membaca “Naina”, tetapi huruf yang sudah rusak ini saya lebih yakin membaca “Maulana”, (mgl. 8 Ramaddan 696 H./1296 M). Maulana atau Malfi biasa digunakan di India untuk sahib-sahib atau orang-orang istimewa pengetahuan Islamnya atau kekuasaannya.

Al-Haddad, dan dalam terjemah Indonesia Dhiya Shahab, mengatakan dalam karangannya tersebut diatas, bahwa sesudah Sultan Al-Malik As-Salih ini memerintah pula anaknya Sultan Muhammad Al- Zahir (mgl. 12 Julhiyyah 726 H /1325 M ). Sesudah sultan ini memerintah pula anaknya bernama Sultan Ahmad bin Muhammad Al-Zahir.

Kuburannya terdapat di Meunasah Meucet didesa Blang Me, yang pada waktu hidupnya bergelar Abi Zainal Abidin (mgl. 4 Jumadil akhir 809 H /1406 M.), dan kemudian anaknya pula yang bergelar A l i Zainal Abidin (mgl. 811 H/1408 M.), yang sesudah mangkat digantikan oleh Abdullah Salahuddin dan isterinya Buhaya binti Zainal Abidin.

Kuburan-kuburan di Aceh terdapat bertabur pada beberapa tempat sekitar Gedung dan Baju, Meunasah Mancang, Blang Me, Pase, Samudra, dll. Al-Haddad berpendapat, bahwa keluarga-keluarga inilah merupakan asal-usul raja-raja Brunei, Cermin Lama, Serawak dan negerinegeri yang takluk padanya, juga raja-raja Sulu, Sibuh (Subuh), Mindanau dan Kanawi yaitu pulau yang boleh jadi yang dinamakan dalam kitab-kitab lama dalam bahasa Arab “Al-Alawiyah” dan menurut paham kami dari karangan Dr. Nageeb Saliby dalam bahagian tentang kepulauan-kepulauan yang banyaknya kira-kira seribu tujuh ratus pulau dimana disebut negeri-negeri. Ia berkata : “Jajahan yang terbesar ialah pulau Kanawi dimana berdiam seorang Syarif Alawi yang terkuat dipulau itu”.

Nama Al-Alawiyah dipulau itu disebut oleh pengarang “Nuchbatud dahr”. Selain di Aceh, yang raja-rajanya dalam susunan sejarah Pemerintah Aceh terdapat juga, gelar-gelar Sayyid dan Syarif, seperti Badrul Alam Syarif Hasyim Jamaluddin (1699/1702 ML). Syarif Lam Tui (1702 – 1903 M), Syarif Syaiful Alam (1815 – 1820 M), juga terdapat didaerah-daerah lain di Sumatera golongan Ahlil Bait ini turut memerintah, misalnya di Palembang dengan silsilah yang panjang,

seperti Tuan Fakih Jamaluddin yang bermakam di Talang Sura (1161 M.), yang ternyata, bahwa nama-namanya yang lengkap adalah Syayic Jamaluddin Agung bin Ahmad bin Abdul Malik bin Alwi bin Muhammad, seterusnya sampai kepada Syaidina Husain. Dalam silsilah ini disebut bahwa Jamaluddin Akbar. itu mempunyai tujuh orang anak, tetapi yang disebut keturunannya ialah dari Zainul Akbar, yang menurunkan raja-raja Palembang, Pangeran-pangeran dan radenraden di Palembang, Sunan Giri dan Sunan Ampel. Ada orang berpendapat bahwa raden itu berasal dari perkataan Arab “ruhuddin” (jiwa agama) yang kemudian menjadi gelar bangsawan dari orang Jawa.

Sebuah silsilah yang terdapat di Banyuwangi, Jawa, juga bersamaan dengan silsilah yang terdapat di Palembang. Dengan demikian, melalui penyiaran agama kita dapati darahdarah Ahlil Bait ini bertabur dan bercampur dengan darah raja-raja Nusantara, baik diseluruh daerah Malaysia, termasuk yang terpenting Malaya, maupun di kepulauan Indonesia, baik di Ambon, dimana sampai sekarang terdengar nama Sayid Parintah, yang mengatur pemberontakan Patimura terhadap Belanda, maupun di Borneo dan Sulawesi, Halmahera, bahkan sampai ke Irian Barat, Terutama di Jawa, dalam masa da’wah Wali Sembilan (Wali songo), banyak sekali campuran darah Ahlil Bait ini dengan anak negeri dan sultan-sultan dan rajaraja dari zaman, Mataram Islam.

O L E H: PROF. DR. H. ABOEBAKAR ATJEH Diterbitkan oleh ISLAMIC RESEARCH INSTITUTE J A K A R T A 1977.

Cucu-Cucu :

Cm Yunjta Ichsani lahir 8 Yuni 1966, Gut Mulhia Zulfa latór 12 Mart 1968, Cut Neily Yulina lahir 20 Y u l i 1969, Teuku Irmansyab lahir 24 Yanuari 1972, Teuku Arniansyah lahir ,’i0 Deseniher 1975

BAHAN BACAAN

Prof. Dr. H. Aboebakar Aceh : “Syi’ah, Rasionalisme dalam Islam”, (Semarang, 1972). Prof. Dr. H . Aboebakar Aceh : “Sejarah Al-Qur’an” (Surabaya – Malang, 1956 eet. ke-IV).

Abdul Hafid Faragli : “Ahlul Bait fi Misr”, (Cairo Desember 1974). Asad Haidar : “Al-Imam as-Shadiq wal Mazahilil Arba’ah”, (hal. 216 – 218). Haditsuts Tsaqalain”, 1952 M. Penerbitan „Darut Taqrib bainal Mazahibil Islamiyah”. Muhammad Abdul Baqi : „As-Sa’ral Anwal Fil Islam”. Hakim An-Naisaburi : “Ma’rifah Ulumul Hadits”. Abu Abdullah Az-Zanjani : “Tarikhul Qur’an.” Dr. C. Snouck Hurgronje : “De Islam in Nederlancsh-Indie”, Serie II, No. 9, dari “Groote Godsdiensten”. Sayyid Alawi bin Thahir Al-Haddad : “Sejarah Perkembangan Islam di Timur Jauh”, Jakarta, 1957. Dr. H. J. de Graaf : “Geschiedenis Van Indonesia”, (hal. 87). Dr. K.H.J. Cowan : “A Persian Inscription in Nort Sumatra” dimuat Dalam Majallah “Tijdschrift Voor Taal, Land en Vilkendunde, Deel LXXX, 1940″. L.W.C. Van den Burg : Le Hadramaut et les Arabs et India”.

Nasiruddin Al-Tusi tak mampu menghentikan ulah dan kebiadaban Hulagu Khan yang membumihanguskan kota metropolis intelektual dunia, Baghdad, pada tahun 1258 M.

Ilmuwan serba bisa. Julukan itu rasanya amat pantas disandang Nasiruddin Al-Tusi. Sumbangannya bagi perkembangan ilmu pengetahuan modern sungguh tak ternilai besarnya.

Selama hidupnya, ilmuwan Muslim dari Persia itu mendedikasikan diri untuk mengembangkan beragam ilmu seperti, astronomi, biologi, kimia, matematika, filsafat, kedokteran, hingga ilmu agama Islam.

Sarjana Muslim yang kemasyhurannya setara dengan teolog dan filsuf besar sejarah gereja, Thomas Aquinas, itu memiliki nama lengkap Abu Ja’far Muhammad ibn Muhammad ibn Al-Hasan Nasiruddin Al-Tusi.

Ia lahir pada 18 Februari 1201 M di Kota Tus yang terletak di dekat Meshed, sebelah timur laut Iran. Sebagai seorang ilmuwan yang amat kondang di zamannya, Nasiruddin memiliki banyak nama. Antara lain Muhaqqiq Al-Tusi, Khuwaja Tusi, dan Khuwaja Nasir.

Nasiruddin lahir di awal abad ke-13 M, ketika dunia Islam tengah mengalami masa-masa sulit. Pada era itu, kekuatan militer Mongol yang begitu kuat menginvasi wilayah kekuasaan Islam yang amat luas. Kota-kota Islam dihancurkan dan penduduknya dibantai habis tentara Mongol dengan sangat kejam.

Menurut JJ O’Connor dan EF Robertson, pada masa itu dunia diliputi kecemasan. Hilangnya rasa aman dan ketenangan itu membuat banyak ilmuwan sulit untuk mengembangkan ilmu pengetahuan.

Nasiruddin pun tak dapat mengelak dari konflik yang melanda negerinya. Sejak kecil, Nasiruddin digembleng ilmu agama oleh ayahnya yang berprofesi sebagai seorang ahli hukum di Sekolah Imam Keduabelas.

Selain digembleng ilmu agama di sekolah itu, Nasiruddin juga mempelajari beragam topik ilmu pengetahuan lainnya dari sang paman. Menurut O’Connor dan Robertson, pengetahuan tambahan yang diperoleh dari pamannya itu begitu berpengaruh pada perkembangan intelektual Nasiruddin.

Pengetahuan pertama yang diperolehnya dari sang paman antara lain logika, fisika, dan metafisika. Selain itu, Nasiruddin juga mempelajari matematika pada guru lainnya. Ia begitu tertarik pada aljabar dan geometri.

Ketika menginjak usia 13 tahun, kondisi keamanan kian tak menentu. Pasukan Mongol di bawah pimpinan Jengis Khan yang berutal dan sadis mulai bergerak cepat dari Cina ke wilayah barat. Sebelum tentara Mongol menghancurkan kota kelahirannya, dia sudah mempelajari dan menguasai beragam ilmu pengetahuan.

Untuk menimba ilmu lebih banyak lagi, Nasiruddin hijrah dari kota kelahirannya ke Nishapur—sebuah kota yang berjarak 75 kilometer di sebelah barat Tus.

Di kota itulah, Nasiruddin menyelesaikan pendidikan filsafat, kedokteran, dan matematika. Dia sungguh beruntung, karena bisa belajar matematika dari Kamaluddin ibn Yunus. Kariernya mulai melejit di Nishapur. Nasiruddin pun mulai dikenal sebagai seorang sarjana yang hebat.

Pada tahun 1220 M, invasi militer Mongol telah mencapai Tus dan kota kelahiran Nasiruddin pun dihancurkan. Ketika situasi keamanan tak menentu, penguasa Ismailiyah Nasiruddin ‘Abdurrahim mengajak sang ilmuwan itu untuk bergabung.

Tawaran itu tak disia-siakannya. Nasiruddin pun bergabung menjadi salah seorang pejabat di Istana Ismailiyah. Selama mengabdi di istana itu, Nasiruddin mengisi waktunya untuk menulis beragam karya yang penting tentang logika, filsafat, matematika, serta astronomi. Karya pertamanya adalah kitab Akhlag-i Nasiri yang ditulisnya pada 1232 M.

Pasukan Mongol yang dipimpin Hulagu Khan—cucu Jengis Khan—pada tahun 1251 M akhirnya menguasai Istana Alamut dan meluluh-lantakannya. Nyawa Nasiruddin selamat, karena Hulagu ternyata sangat menaruh minat terhadap ilmu pengetahuan.

Hulagu yang dikenal bengis dan kejam memperlakukan Nasiruddin dengan penuh hormat. Dia pun diangkat Hulagu menjadi penasihat di bidang ilmu pengetahuan.

Meski telah menjadi penasihat pasukan Mongol, sayangnya Nasiruddin tak mampu menghentikan ulah dan kebiadaban Hulagu Khan yang membumihanguskan kota metropolis intelektual dunia, Baghdad, pada tahun 1258 M.

Terlebih, saat itu Dinasti Abbasiyah berada dalam kekuasaan Khalifah Al-Musta’sim yang lemah. Terbukti, militer Abbasiyah tak mampu membendung gempuran pasukan Mongol.

Meski tak mampu mencegah terjadinya serangan bangsa Mongol, paling tidak Nasiruddin bisa menyelamatkan dirinya dan masih berkesempatan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang dimilikinya.

“Hulagu sangat bangga karena berhasil menaklukkan Baghdad dan lebih bangga lagi karena ilmuwan terkemuka seperti Al-Tusi bisa bergabung bersamanya,” papar O’Connor dan Robertson dalam tulisannya tentang sejarah Nasiruddin.

Hulagu juga amat senang, ketika Nasirrudin mengungkapan rencananya untuk membangun Observatorium di Maragha.

Saat itu, Hulagu telah menjadikan Maragha yang berada di wilayah Azerbaijan sebagai ibu kota pemerintahannya.

Pada tahun 1259 M, Nasiruddin pun mulai membangun observatorium yang megah. Jejak dan bekas bangunan observatorium itu masih ada hingga sekarang.

Observatorium Maragha mulai beroperasi pada tahun 1262 M. Pembangunan dan operasional observatorium itu melibatkan sarjana dari Persia dibantu astronom dari Cina.

Teknologi yang digunakan di observatorium itu terbilang canggih pada zamannya. Beberapa peralatan dan teknologi penguak luar angkasa yang digunakan di observatorium itu ternyata merupakan penemuan Nasiruddin, salah satunya adalah ‘kuadran azimuth’.

Selain itu, dia juga membangun perpustakaan di observatorium itu. Koleksi bukunya tebilang lengkap, terdiri dari beragam ilmu pengetahuan. Di tempat itu, Nasiruddin tak cuma mengembangkan bidang astronomi saja. Dia pun turut mengembangkan matematika dan filsafat.

Di observatorium yang dipimpinnya itu, Nasiruddin Al-Tusi berhasil membuat tabel pergerakan planet yang sangat akurat. Kontribusi lainnya yang amat penting bagi perkembangan astronomi adalah kitab Zij-i Ilkhani yang ditulis dalam bahasa Persia dan lalu diterjemahkan dalam bahasa Arab. Kitab itu disusun setelah 12 tahun memimpin Observatorium Maragha.

Selain itu, Nasiruddin juga berhasil menulis kitab terkemuka lainnya berjudul Al-Tadhkira fi’ilm Al-Hay’a (Memoar Astronomi). Nasiruddin mampu memodifikasi model semesta episiklus Ptolomeus dengan prinsip-prinsip mekanika untuk menjaga keseragaman rotasi benda-benda langit.

Nasiruddin meninggal dunia pada 26 Juni 1274 M di Baghdad. Meski begitu, jasa dan kontribusinya dalam pengembangan ilmu pengetahuan masih tetap dikenang. Namanya, dibadikan mejadi salah satu nama kawah di bulan

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU) Said Agil Siraj menegaskan bahwa PB NU tidak akan pernah menyatakan Syiah sesat.

Foto foto  Ormas Ahlulbait Indonesia (ABI)  Silaturahmi Ke PB NU
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU) Said Agil Siraj menegaskan bahwa PB NU tidak akan pernah menyatakan Syiah sesat.
Category List
ed_img_4743
Image Detail Image Download
ed_img_4690
Image Detail Image Download
ed_img_4696
Image Detail Image Download
ed_img_4706
Image Detail Image Download
ed_img_4710
Image Detail Image Download
ed_img_4716
Image Detail Image Download
ed_img_4723
Image Detail Image Download
ed_img_4736
Image Detail Image Download
ed_img_4737
Image Detail Image Download
Kamis, 10 Mei 2012 11:53 administrator
Email Cetak PDF

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU) Said Agil Sirad menegaskan bahwa PB NU tidak akan pernah menyatakan Syiah sesat. Pernyataan tersebut disampaikan saat menerima rombongan DPP Ahlulbait Indonesia yang bersilaturahmi ke kantor PB NU rabu (9/5).

“PB NU tidak akan pernah mengatakan bahwa syiah sesat, jika syiah sesat sebagian peta dunia Islam ada yang hilang dong, wah itu sayang sekali, “katanya.

Tidak hanya itu lanjutnya,memang ada upaya yang nya untuk mengganggu keharmonisan antara Syiah dan NU, mereka iri akan keharmonisan tersebut. Karena memang keharmonisan ini adalah kedekatan tradisi yang dimiliki antara warga Nahdliyin dan Syiah.

“Kaum-kaum wahabi jelas tidak suka keharmonisan antara Syiah dan Nahdliyin. Mereka memang berusaha mengganggu agar dapat memecah belah persatuan dan keharmonisan ini, “ sambungnya.

Mungkin targetnya, setelah berhasil memecah belah umat Islam Indonesia, mereka ingin memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia ini, ia melanjutkan.

Dalam silaturahmi ini rombongan Ahlulbait Indonesia dipimpin langsung oleh ketua umumnya, Ustadz Hasan Dalil Alaydrus, anggota Dewan Syuro Utadz Husein Shahab, didampingi juga oleh Sekjend Ustadz Ahmad Hidayat, wasekjend Ustadz Syafinnudin, dan beberapa pengurus DPP Ahlulbait lainnya.

Kunjungan ini juga menegaskan bahwa Ahlulbait Indonesia dan Nahdlatul Ulama tidak dalam posisi yang berseberangan, bahkan kehangatan dan keharmonisan tergambar jelas selama pembicaraan berlangsung.

Dalam silaturahmi ini berkembang wacana untuk menjalin kerjasama dan meningkatkan hubungan antar kedua ormas.

Ustad Hasan Dalil mengungkapkan bahwa demi memperkuat dan menjaga umat Islam Indonesia juga NKRI, perlu dijalin kerjasama yang lebih erat antar kedua ormas.

“Kedepan kedua ormas mesti meningkatkan kerjasama, saling memperkuat, dan mengingatkan. Ini penting karena ormas lah yang menjadi tulang punggung kedaulatan bangsa Indonesia ini,”pungkasnya

kenapa shalawat sunni tidak pernah menyebut wa Ash-hâbih/dan para sahabatnya, dan apalagi dengan pelengkap kata Ajmaîn/dan seluruh sahabatnya!!

Wahai hamba-Ku, semakin tua usiamu, semakin keriput kulitmu, semakin lemah tulangmu, semakin dekat ajalmu, semakin dekat pula engkau bertemu dengan-Ku. Malulah karena-Ku, karena Aku pun malu melihat ketuaanmu, dan Aku pun malu menyiksamu di dalam neraka

Dalam sebuah hadits qudsi Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya setiap pagi dan sore Allah SWT selalu memandang wajah orang yang sudah tua, kemudian Allah SWT berfirman: Wahai hamba-Ku, semakin tua usiamu, semakin keriput kulitmu, semakin lemah tulangmu, semakin dekat ajalmu, semakin dekat pula engkau bertemu dengan-Ku. Malulah karena-Ku, karena Aku pun malu melihat ketuaanmu, dan Aku pun malu menyiksamu di dalam neraka.

Dikisahkan bahwa pada suatu ketika Imam Ali sedang tergesa-gesa berjalan menuju masjid untuk melakukan jamaah shubuh. Akan tetapi dalam perjalanan – di depan beliau – ada seorang kakek tua yang berjalan dengan tenang. Kemudian Imam Ali memperlambat langkah kaki tidak mendahuluinya karena memuliakan dan menghormati kakek tua tersebut. Hingga hampir mendekati waktu terbit matahari barulah beliau sampai dekat pintu masjid. Dan ternyata kakek tua tersebut berjalan terus tidak masuk ke dalam masjid, yang kemudian Imam Ali akhirnya mengetahui bahwa kakek tua tersebut adalah seorang Nasrani.

Pada saat Imam Ali masuk ke dalam masjid beliau melihat Rasulullah SAW beserta jamaah sedang dalam keadaan ruku’. (Sebagaimana diketahui bahwa ikut serta ruku’ bersama dengan imam berarti masih mendapatkan satu rakaat). Rasulullah SAW waktu itu memanjangkan waktu ruku’nya hingga kira-kira dua ruku’. Kemudian Imam Ali ber-takbiratul ihram dan langsung ikut serta ruku’.

Setelah selesai shalat para sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW: Wahai Rasulullah tidak biasanya engkau ruku’ selama ini, ada apakah gerangan? Beliau menjawab: Pada waktu aku telah selesai ruku’ dan hendak bangkit dari ruku’ tiba-tiba datang malaikat Jibril AS meletakkan sayapnya di atas punggungku, sehingga aku tidak bisa bangkit dari ruku’. Para sahabatpun bertanya: Mengapa terjadi demikian? Beliau menjawab: Aku sendiri pun tidak tahu.

Kemudian datanglah malaikat Jibril AS dan berkata: Wahai Muhammad, sesungguhnya Ali waktu itu sedang bergegas menuju masjid untuk jama’ah shubuh, dan di perjalanan ada seorang kakek tua Nasrani berjalan di depannya, Ali pun tidak mengetahui kakek tua itu beragama Nasrani. Ali tidak mau mendahuluinya karena dia sangat menghormati dan memuliakan kakek tua tersebut. Kemudian aku diperintah oleh Allah SWT untuk menahanmu saat ruku’ sampai Ali datang dan tidak terlambat mengikuti jama’ah shubuh. Selain itu Allah SWT juga memerintah malaikat Mikail untuk menahan matahari menggunakan sayapnya hingga matahari tidak bersinar sampai jama’ah selesai.

Demikianlah hikmah kisah teladan Imam Ali yang sangat menghormati dan memuliakan orang yang tua walaupun beragama Nasrani. Semoga bermanfaat bagi kita semua.

Berebut Merek Lupa Esensi

Dua istilah yang sejak lama telah dimonopoli kelompok tertentu untuk mempropagandakan viliditasnya dalam mewakili Sunnah dan ajaran musrin Islam! Kelompok tertentu itu mengklaim bahwa kelompoknya lah satu-satunya yang mewakili ajaran/Sunnah Nabi saw. secara utuh dan kâffah! Sedangkan kelompok lain adalah Ahli Bid’ah yang menyimpang dari kemurnian ajaran dan Sunnah Nabi Islam!

Dahulu penamaan ini dimonopoli oleh kelompok Ahli hadis yang barisan terdepannya adalah kaum Hanâbilah (kelompok yang dalam akidahnya mengadopsi pemikiran yang dirancang Ahmad bin Hanbal, khususnya dalam masalah ketuhanan dan terlebih lagi dalam masalah sifat Allah)…. kaum Syi’ah, Mu’tazailah dan kelompok-kelompok lain digolongkan dalam Ahli Bid’ah!

Dengan kemunculan Abul Hasan Al Asy’ari yang merancang akidah barunya (di mana sebelumnya, selama kurang lebih empat puluh tahun ia bermazhab Mu’tazilah bahkan seorang tokoh pemberlanya, dan kemudian mendadak berbalik arah menentang mazhab Mu’tazilah dan membela Ahli Hadis dan merancang akidah baru yang tidak sepenuhnya persis dengan akidah Ahli hadis)… dengan kemunculannya, nama Ahlu Sunnah menjadi monopoli kaum Asy’ariyah! Maka siapapun selain yang berakidah Asyi’ari adalah Ahli Bid’ah!

Dengan kebangkitan kaum Wahhâbi yang sering kerkedok dengan nama Salafi yang dimotori oleh para ulama AS dan dengan dukungan penuh real AS… mereka merebut kembali monopoli nama Ahlu Sunnah hanya untuk mereka.. kini giliran kaum Asy’ariyah dikeluarkan dari Ahlu Sunnah… dalam keyakinan mereka kaum Asy’ariyah adalah Ahli Bid’ah!

Setelah keterangan singkat di atas, saya mengajak Anda merenungkan sejauh mana monopoli penamaan itu berguna?

Apakah dengan merebut nama dan hak paten merek Ahlu Sunnah seorang denagn otomatis benar-benar di atas Sunnah dan Ajaran Nabi saw.? Atau kepatuhan dan konsistensi dalam menjalankan Sunnah Nabi saw. secara utuh yang akan menentukan apakah dia/kelompok itu termausl Ahlu Sunnah atau Ahli Bid’ah!

Dalam Al Qur’an Allah Swt mengecam kaum Yahudi, Nashrani dan Shabi’in yang hanya sibuk memperebutkan kursi istimewa di sisi Allah dengan hanya mengandalkan nama dan gelar keanggotaan! Hal mana mestinya cukup menkadi pelajaran berharga bagi kaum Muslimin agar tidak terjebak dalam lembah kesesatan seperti umat-umat terdahulu!

Shalawat Kepada Nabi Saw. Adalah Bukti Kecil!

Di sini saya tidak ingin membebani pembaca dengan ratusan contoh kasus untuk mmebuktikan siapa yang Ahlu Sunnah dan siapa yang terjatuh dalam lembah penyimpangan sehingga berhak disebut sebagai Ahlu Bid’ah! Kasus praktik bershalawat atas Nabi saw. semestinya sudah cukup menjadi bukti di sampinh ratusan bukti lain.

Kendati para ulama dan para muhaddis Ahlusunnah telah meriwayatkan dan menshahihkan hadis yang mengatakan bahwa Nabi saw. dalam mengajarkan ibadah shalawat selalu menyertakan menyebutkan Ahlulbitnya as.; Allâhumma Shalli ‘Alâ Muhammad wa Âli Muhammad. Tidak ada satupun hadis shahih yang mengajarkan shalawat tanpa menyebut wa Âli Muhammad… sebagaimana tidak ada satu hadis pun baik yang maudhû’/palsu dan dh’aif/lemah apalagi yang shahih yang menyebutkan bahwa Nabi saw. menyertakan menyebut wa Ash-hâbih/dan para sahabatnya…  dan apalagi dengan pelengkap kata Ajmaîn/dan seluruh sahabatnya!!

Lalu mengapakan dan atas dasar apakah umat Islam Ahlusunnah menjalankan praktik menyimpang dengan menggurukan kata wa Âli Muhammad ? Siapakah yang mengajarkan bahwa ibdaha shalawat itu harus dengan mengurangi kata wa Âli Muhammad? Siapakah yang mengajarkan mereka menambah kata wa Ash-hâbih atau wa shahbih? Bukankan menambah dalam ibadah sesuatu yang tidak diajarkan sebagaimana juga menguranginya adalah itu Bid’ah? Bukankan pelaksana praktik bid’ah lebih pantas menyabdang gelar Ahlu Bid’ah bukan Ahlu Sunnah?!

Sementara kaum Syi’ah baik kaum awamnya apalagi ulamanya konsisten menjalan praktik ibadah shalawat sesuai yang diajarkan Nabi saw. jadi merekalah yang Ahlu Sunnah!

Dalam kesempatan singkat ini saya mengharap kapada seluruh ulama Ahlusunnah untuk mengajukan satu bukti dari Al Qur’an dan Sunnah Nabi yang shahihah bahwa ibadah shalawat yang diajarkan Nabi Muhammad saw. itu tanpa menyebutkan wa Âlihi? Sebagimana saya menanti mereka mampu menyebutkan satu nash saja (kalau menghadirkan nash shahih mereka kerepotan maka saya akan tolerir walaupun hanya nash tidak shahih yang mereka hadirkan) bahwa Nabi mengajarkan kita agar juga menyebut para sahabatnya dalam shalawat!

Tantangan saya tidak dibatasi waktu… Saya akan sabar menanti walau sampai menjelang kiamat tiba!!

Bukankah ini bukti bahwa mereka Anti Sunnah Nabi saw. dalam ibadah Shalawat? Kalau bukan itu alasannya… kira-kira apa yang menjadikan mereka turun temurun menggugurkan sebuah kata kunci dalam sebuah amal ibadah shalawat?! Dan jika mereka menyebut kata wa Âlihi (yang memang diperintahkan Nabi saw.) mereka segera menyusulnya dengan kata wa Ash-hâbihi! Bukankah demikian yang kita saksikan dari kalian wahai kalian yang mengaku Ahlusunnah?!

Inilah contoh bid’ah yang kalian warisi dari Salaf kalian… yang telah terpengaruh oleh kesesatan Bani Umayyah yang siang malam memerangi Ahlulbait Nabi as…. kini kesesatan dan penyimpangan itu benar-benar telah berubah dan diyakini sebagai Sunah!

“Tujuan dari para Anbiyah diutus ke muka bumi adalah untuk mengajarkan ilmu dan mendidik umat manusia. Mengapa harus dibarengkan mengajar ilmu dan mendidik? Karena ilmu tanpa pendidikan tidak ada faidahnya, orang berilmu yang tidak terdidik justru akan menjadi orang yang paling berbahaya dan paling banyak menimbulkan kerusakan di muka bumi.”

Menurut Kantor Berita ABNA, Ayatullah Al Uzhma Luthfullah Shafi Ghulpagani dalam pertemuannya dengan sejumlah budayawan di kota Busyhahr Republik Islam Iran menyatakan bahwa tidak ada satupun ilmu dan ma’rifat yang lebih mulia dan lebih agung dari ma’rifat dan hidayah Ahlul Bait As. Beliau berkata, “Manusia jika menginginkan budaya yang sebenarnya, maka ia harus mencarinya dalam petunjuk Al-Qur’an lalu setelah itu petunjuk dari Ahlul Bait, misalnya dalam Nahjul Balaghah, Shahifah Sajjadiyah dan perkataan-perkataan Ahlul Bait lainnya.”

Lebih lanjut beliau menjelaskdisi dan kebiasaan Aimmah as adalah petunjuk dan hidayah bagi manusia, tidak terlepas dari dua unsur, ilmu dan akhlak.”

Ulama Syiah yang dikenal juga sebagai ulama marja taklid tersebut dalam penjelasan selanjutnya menyebutkan, “Jika kita menghendaki ma’rifat dan pengenalan lebih dalam mengenai Tuhan, Kenabian, Ma’ad (hari akhirat), akhlak, keadilan dan sebagainya maka kita dapat menemukan dari mutiara-mutiara hikmah yang pernah disampaikan oleh para Aimmah as. Madrasah Ahlul Bait adalah madrasah teragung dan termulia untuk mendapatkan semua ilmu, pendidikan, akhlak serta keteladanan.”

“Alhamdulillah, kita bersyukur mengenal agama yang telah mendapat pengakuan dari ribuan ilmuan dan peneliti yang menyatakan tidak ada agama yang lebih sempurna dan lebih lengkap berbicara mengenai kemanusiaan selain Islam. Dan tidak ada manhaj yang lebih memperjuangkan kemanusiaan selain manhaj Nabi Muhammad Saww beserta keluarganya As.” Ungkap beliau lebih lanjut.

Ayatullah Shafi Ghulpaghani pada bagian lain dari ceramahnya yang ditujukan kepada sejumlah budayawan yang hadir menyatakan, “Kalian sebagai budayawan harus mengetahui, fakultas ilmu dan pendidikan lebih tinggi dari semua fakultas yang ada. Tujuan dari para Anbiyah diutus ke muka bumi adalah untuk mengajarkan ilmu dan mendidik umat manusia. Mengapa harus dibarengkan mengajar ilmu dan mendidik? Karena ilmu tanpa pendidikan tidak ada faidahnya, orang berilmu yang tidak terdidik justru akan menjadi orang yang paling berbahaya dan paling banyak menimbulkan kerusakan di muka bumi.”

Beliau melanjutkan, “Kita melihat buktinya dalam dunia sekarang, tidak sedikit yang menjadi penguasa dan pemimpin justru berlaku zalim. Mereka bukan orang-orang bodoh yang tidak berlimu. Mereka berilmu hanya saja tidak terdidik karena itu tidak memiliki akhlak yang baik. Kita lihat Eropa dan AS zalim kepada bangsa-bangsa yang lain padahal mereka dalam ilmu pengetahuan dan tekhnologi jauh lebih maju, namun mereka tidak mendapatkan pendidikan akhlak.”

“Anbiyah as diutus selainkan mengajarkan ilmu dan pengetahuan, mereka juga menyempurnakan akhlak manusia. Mereka meluruskan penyimpangan-penyimpangan akhlak yang terjadi di masyarakat yang mereka temui. Sebagaimana pernah diucapkan oleh seorang tokoh besar, kita membutuhkan ilmu dan mendukung kemajuan ilmu dan pengetahuan namun lebih dari itu kita lebih membutuhkan akhlak.”ujarnya lebih lanjut.

Guru besar Hauzah Ilmiyah Qom tersebut kemudian menyatakan bahwa umat Islam tidak boleh tertinggal dalam mengejar ilmu dan pengetahuan, bahkan umat Islam harus berada dalam barisan terdepan dalam hal kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Beliau berkata, “Mengejar ilmu setinggi-tingginya adalah perintah Nabi Muhammad saww, agar umat Islam tidak membutuhkan bantuan dan peranan umat lain. Umat Islam harus mandiri dan mampu membangun peradaban dengan kemampuan sendiri, sehingga tidak dipandang remeh oleh umat-umat yang lain.”

Ayatullah Shafi Ghulpaghani dengan tegas menyatakan seorang muslim harus memiliki akhlak yang baik yang dengan akhlak baik itu ia melakukan interaksi dan komunikasi dengan yang lainnya, sehingga diharapkan dengan akhlak yang baik itu seorang muslim menjadi panutan dan teladan dalam masyarakatnya. “Kita harus mempersaksikan diri bahwa kita adalah seorang muslim, kitab kita Al-Qur’anul Karim, Nabi kita Muhammad saww dan manhaj kita manhaj Ahlul Bait as. Pemuda muslim hari ini harus tahu bahwa nasib Islam dimasa datang ada di tangan mereka. Dan lebih dari semua itu, apapun yang dilakukan seorang muslim dalam mendidik diri dan menuntut ilmu harus diniatkan karena mengharapkan keridhaan Allah Swt.”

Dipenghujung ceramahnya, Ayatullah Shafi Ghulpaghani menegaskan, “Dengan semua anugerah dan nikmat yang telah diberikan namun tidak mampu mencapai kemajuan maka sesungguhnya kita telah berlaku zalim, bukan hanya kepada diri sendiri namun juga kepada Allah Swt. Segala sesuatunya akan dimintai pertanggungjawaban kelak di hadapan Allah Swt.”